Updates from Februari, 2020 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 7:51 am on 7 February 2020 Permalink | Balas  

    Jenaka dalam Kecerdasan 

    Jenaka dalam Kecerdasan

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Semua kita pasti sudah pernah mendengar nama Abu Nawas. Jika orang menyebut nama Abu Nawas maka langsung terbayang sosok pelawak kesohor atau tentang fikiran akal bulus yang sangat lembut,- tetapi konotasinya  negatip. Sesungguhnya tokoh Abu Nawas atau Abu Nuwas adalah seorang ahli hukum dan kritikus social yang sangat cerdas yang hidup pada zaman Daulah Abbasiyyah di Bagdad, dan sempat bertemu dengan dua khalifah (raja) pada periode hidupnya, yaitu Harun Al Rasyid dan al Ma`mun.

    Ia juga seorang penyair sufi , tetapi kekhasan Abu Nawas adalah kemampuannya mengekpressikan kecerdasannya secara jenaka,bahkan termasuk kepada Tuhan.. Kumpulan puisinya tercantum dalam buku Diwan- Abu Nuwas yang di Fakultas sastra Arab bukunya dijejerkan bersama dengan kumpulan puisi Imam Syafi`i ,Diwan al Imam al Syafi`i dan puisi Ali bin Abi Thalib,Diwan al Imam ~Ali, Diwan Syi`r Imam al Bulagha. Kecerdasan dan kejenakaan Abu Nuwas dapat dirasakan dari kisah-kisah sebagai berikut.

    Pertama

    Suatu hari Raja iseng-iseng uji nyali staf di kerajaannya. Di halaman depan kerajaan ada pohon jambu yang sedang berbuah. Raja mengikat seekor orang utan yang besar dan galak di pohon itu, lalu Raja mengumumkan; barang siapa bisa mengambil sebutir saja jambu dari pohon itu akan diberi hadiah seribu dinar. Orang banyak berusaha untuk mengambilnya, tetapi tidak ada seorangpun yang bisa, karena setiapkali mendekat pohon,orang utan yang galak itu segera menyongsongnya. Abu Nawas yang kala itu sedang bertamu ditawari ikut. Abu Nawas pun bersedia dan dengan santai ia mengambil beberapa batu kecil. Dengan cermat Abu Nawas melempari orang utan itu dengan batu-batu kecil. Sudah barang tentu orang utan yang galak itupun marah, tetapi ia tidak bisa menjangkau Abu Nawas karena kakinya terikat rantai ke pohon.  Puncak kemarahan orang utan itu terjadi, ia petik jambu didekatnya dan dibalas melemparnya ke Abu Nawas. Nah Abu Nawas tinggal menangkap jambu itu, dan Abu Nawas memenangkan hadiah Raja sebesar seribu dinar.

    Kedua

    Pada suatu hari, salah seorang keponakan Raja yang bernama Jafar berceritera kepada Raja,bahwa ia bermimpi menikahi seorang gadis yang bernama Zainab, seorang gadis yang terkenal di Bagdad karena kecerdasan dan kecantikannya. Raja dengan tanpa berfikir mendalam langsung mengomentari ceritera mimpi ponakannya. Wah itu mimpi yang baik, mimpimu itu isyarat petunjuk Tuhan. Begini saja, kalau kamu memang mau menikah dengan Zainab, serahkan pada pamanmu ini, biar aku yang urus. Sudah barang tentu Jafar, sang keponakan sangat gembira. Esoknya, Zainab dan kedua orang tuanya dipanggil menghadap raja, dan kepada mereka disampaikan bahwa ada isyarat Tuhan yang harus dilaksanakan , yaitu menjodohkan Jafar, keponakannya dengan Zainab. Biarlah kerajaan yang menyelenggarakan hajatannya.

    Kedua orang tua Zainab sudah barang tentu bersukacita, tetapi Zainab sendiri tidak bisa menerimanya. Hatinya menolak keras dijodohkan, apalagi hanya berdasar mimpi, tetapi mulutnya terkunci rapat. Kerajaan dengan bersukacita mengumumkan rencana pernikahan itu, dan tak lupa Raja pun menceriterakan kepada publik mimpi ponakanya yang ia fahami sebagai isyarat dari Tuhan yang harus dilaksanakan.

    Di rumah, Zainab  bingung tak tahu harus berbuat apa. Kedua orang tuanya dan bahkan segenap keluarganya dalam suasana bahagia menyongsong hari perkawinan dirinya, tapi dia sendiri hatinya hancur karena tidak menyukai Jafar, ponakan raja yang ia ketahui perilakunya tidak terpuji. Inginnya ia kabur dari rumah, tetapi itu pasti mencelakakan keluarga karena mempermalukan kerajaan.

    Sekedar mencari ketenangan Zainab mengadu kepada Abu Nawas. Abu Nawas bertanya. Kamu ingin pernikahanmu dengan Jafar berlangsung atau inginya gagal?  Pokoknya Saya tidak ingin menikah dengan Jafar, paman , jawab Zainab. Abu Nawas melanjutkan. Jika engkau ingin perkawinan itu gagal,engkau harus segera menghadap raja dan mengucapkan terima kasih karena Paduka telah menjalankan isyarat Tuhan melalui mimpi Jafar. Tapi, tapi bagaimana ? Zainab protes. Pokoknya, kata Abu Nawas, jika engkau ingin perkawinan itu gagal,laksanakan kata-kata saya.

    Dengan tidak begitu faham jalan fikiran Abu Nawas, Zainab menghadap Raja dan mengucapkan terimakasih. Sudah barang tentu Raja sangat senang mendengar kata-kata Zainab.

    Suatu pagi, ketika halaman kerajaan sudah didirikan tenda untuk acara pernikahan , Abu Nawas berada di atap istana raja, mencabuti genting-2 dan melemparkannya ke halaman. Sudah barang tentu gegerlah  istana. Abu Nawas di tangkap dan langsung di sidang di depan raja untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya–. Abu Nawas diancam dengan hukuman berat.

    Ketika Abu Nawas ditanya  oleh raja tentang motivasi dari apa yang dilakukan, dengan sangat sopan Abu Nawas menjawab. Paduka tuanku junjungan kami, ampunilah hamba orang kecil ini,hamba adalah orang kecil yang selalu mengidolakan baginda. Apapun yang menjadi kehendak paduka,kami selalu mengikutinya. Paduka junjungan kami,tiga malam berturut hamba bermimpi menaiki atap istana tempat paduka bersemayam. Hamba gelisah, dan akhirnya hamba yakin bahwa mimpi hamba adalah isyarat dari Tuhan untuk menyelamatkan paduka, dari ancaman yang kita belum tahu. Jangan-jangan di atap ada ancaman terhadap baginda. Oleh karena itu sebelum bencana itu menimpa baginda,hamba segera naik atap untuk melaksanakan isyarat Tuhan yang kami dapati dalam mimpi kami.Mohon ampun baginda.

    Sang Raja tercenung mendengar jawaban Abu Nawas. Raja sadar bahwa Abu Nawas itu orang cerdas. Raja pun sadar bahwa mengambil keputusan berdasar mimpi Jafar, keponakannya adalah sangat tidak bijaksana, bahkan berbahaya. Terbayang dalam fikiran Raja, apa lagi yang akan dilakukan Abu Nawas besok-besoknya dengan alasan mimpi. Sungguh berbahaya. Akhirnya Raja membatalkan rencana menikahkan Zainab dengan keponakannya.

    Ketiga

    Suatu hari Raja yang repressip itu melakukan kunjungan incognito meninjau proyek pembangunan taman di pinggir sungai Tigris. Ketika berada di pinggir sungai dan jauh dari rumah tiba-tiba sang raja ingin buang hajat. Rupanya raja sedang kena diare karena salah makan. Dengan sigap pengawal melakukan langkah darurat, yaitumembuyat WC tenda di pinggir sungai. Rajapun apa boleh buat masuk ke WC darurat itu.

    Melihat pemandangan itu, Abu nawas tiba-tiba lari ke arah hulu sungai dan langsung buang hajat di situ. Sudah barang tentu raja marah, karena tahi Abu Nawas pelan-pelan mendekati raja mengikuti arus air. Usai buang hajat, raja langsung memerintahkan pengawal untuk menangkap Abu Nawas. Abu Nawas di sidang dengan tuduhan menghina raja karena buang air besar di depan raja. Tetapi dengan amat sopan Abu Nawas menjawab. Aduh mohon ampun paduka junjungan kami. Sama sekali tidak ada setitikpun niat hamba menghina paduka. Hamba ini  orang yang sangat mengidolakan paduka. Dalam keadaan apapun paduka adalah pemimpin kami. Hamba selalu patuh berada di belakang paduka. Sedikitpun kami tidakberani mendahului paduka. Tetapi kamu buang hajat di depanku, bentak Raja.

    Adapun tentang buang hajat, mohon maaf paduka. Semula kami berada di belakang paduka, tiba-tiba hamba terkena diare.. Seandainya hamba langsung buang hajat di tempat, maka pasti tahi hamba akan mendahului tahi paduka yang mulia.Ini tidak boleh karena ini adalah satu penghinaan. Oleh karena itu paduka, dengan sangat berat kami—buru-buru lari ke depan untuk buang air di sana,agar tahi hamba tidak mendahului tahi paduka.

    Mendengar keterangan Abu Nawas, raja manggut-manggut dan bisa menerima alasan Abu Nawas. Abu Nawas bukan saja tidak dihukum,malah raja memberinya hadiah seribu dinar.

    Keempat,

    Abu Nawas jenaka bukan hanya kepada sesama manusia,kepada Tuhan pun ia suka bercanda. Salah satu candanya terekam dalam teks doa yang hingga kini banyak dihafal orang. Kata Abu Nawas,Ilahy,lastu lil firdausi ahla. Wala aqwa `alannar aljahimi. Fahabl itaubatan waghfir dzunubi.fa innaka ghofirun dzambil`adzimi. Artinya.Ya Tuhanku, rasanya hamba tak pantas masuk surgamu. Tetapi untuk masuk neraka, waduh sorry,hamba tak kuaaaat. Oleh karena itu ya Tuhan,mudahkanlah hamba untuk bertaubat dan ampunilah dosa kami. Bukankah Engkau Maha Pengampun bahkan terhadap dosa-dosa besar?.

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 6 February 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Ayyasy Bin Abi Rabiah Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Ayyasy Bin Abi Rabiah Radhiyallahu Anhu

    Ayyasy bin Abi Rabiah masih kerabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan memeluk Islam pada masa-masa awal. Ketika akan hijrah ke Madinah, ia berencana berangkat bertiga dengan Umar bin Khattab dan Hisyam bin Ash, dan bertemu di lembah Tanadhib, 6 mil dari Makkah. Tetapi Hisyam dihalangi dan disiksa oleh kaum kafir Quraisy, sehingga mereka hanya berangkat berdua.

    Setelah beberapa saat tiba di Quba, Abu Jahal bin Hisyam dan Harits bin Hisyam, yang masih saudara sepupunya datang membawa berita bahwa ibunya bersumpah tidak akan menyisir rambutnya bertemu dengannya, tidak akan berteduh dari panas matahari hingga melihat wajahnya. Mendengar hal itu, Ayyasy menjadi kasihan dengan ibunya, iapun bermaksud kembali ke Makkah. Tetapi Umar mengingatkannya, bahwa itu hanyalah tipu muslihat orang kafir agar ia meninggalkan agama Islam. Karena cintanya kepada sang ibu, Ayyasy berkata, “Aku akan kembali dan melaksanakan sumpah ibuku itu, sekaligus aku akan mengambil hartaku yang kutinggalkan di Makkah.”

    Sekali lagi Umar mengingatkan akan kelicikan muslihat orang kafir Quraisy, bahkan ia menjanjikan membagi dua hartanya dengan Ayyasy asalkan tidak kembali ke Makkah. Tetapi Ayyasy telah berketetapan hati kembali demi ibunya yang sangat dicintai dan dihargainya. Akhirnya Umar merelakan sahabatnya tersebut kembali, tetapi ia memberikan untanya yang penurut kepada Ayyasy, dengan pesan, jika sewaktu-waktu ia melihat gelagat tidak baik, hendaknya ia memacu unta tersebut kembali ke Madinah.

    Mereka bertiga kembali ke Makkah. Dan seperti yang dikhawatirkan Umar, Abu Jahal dan Harits memperdaya Ayyasy, tidak lama setelah mereka meninggalkan batas Madinah. Abu Jahal berkata, “Wahai keponakanku, demi Allah, ontaku ini sudah sangat kepayahan. Maukah engkau memboncengkan aku di punggung ontamu??”

    “Boleh!!” Kata Ayyasy, tanpa prasangka apapun.

    Kemudian ia menderumkan untanya, dan Abu Jahal naik di belakang Ayyasy. Tetapi seketika itu ia mendekap tubuh Ayyasy dengan erat, dan Hisyam mengeluarkan tali yang telah dipersiapkannya, dan mengikat Ayyasy dengan erat. Mereka membawanya ke Makkah dalam keadaan terikat. Sampai di Makkah, ia disiksa dengan hebat dan dipaksa untuk murtad, sehingga akhirnya ia menuruti kemauan mereka. Hal yang sama terjadi pada Hisyam bin Ash yang terpaksa murtad karena beratnya siksaan yang ditimpakan kepada mereka.

    Saat itu ada anggapan, orang yang murtad tidak akan diterima lagi taubatnya dan tidak berarti lagi keislamannya. Karena itu keduanya selalu dirundung kesedihan walaupun dalam keadaan bebas bergerak di Makkah. Tetapi kemudian turun wahyu Allah, surat az Zumar ayat 53-55, yang berisi larangan berputus asa dari Rahmat Allah, bahwa Allah mengampuni semua dosa-dosa. Umar mengirim seorang utusan dengan membawa surat kepada dua sahabatnya itu, yang memberitahukan turunnya wahyu Allah tersebut. Kemudian keduanya mengikuti utusan Umar tersebut ke Madinah dengan sembunyi-sembunyi, dan kembali ke pangkuan Islam.

    Sebagian riwayat menyebutkan, mereka berdua tidak sampai murtad, karena itu mereka diikat dan dipenjarakan di suatu tempat. Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda kepada para sahabat yang sedang berkumpul, “Siapakah yang sanggup mempertemukan aku dengan Ayyasy (bin Abi Rabiah) dan Hisyam (bin Amr)??”

    Walid bin Walid, yakni saudara Khalid bin Walid yang telah memeluk Islam sejak awal didakwahkan, berkata, “Wahai Rasulullah, sayalah yang akan membawa keduanya ke hadapan engkau!!”

    Setelah berpamitan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, Walid segera memacu untanya menuju Makkah. Ia memasuki kota Makkah dengan sembunyi-sembunyi, dan secara kebetulan ia bertemu dengan wanita yang ditugaskan mengantar makanan untuk Hisyam dan Ayyasy. Iapun mengikuti wanita tersebut, hingga mengetahui tempat penahanan keduanya, yakni sebuah rumah tanpa atap, tetapi pintunya dikunci dengan kuat.

    Ketika keadaan sepi dan aman, Walid memanjat tembok rumah tersebut untuk memasukinya. Setelah melepaskan ikatan yang membelenggu Hisyam dan Ayyasy, ketiganya keluar dengan memanjat tembok juga, dan meninggalkan Makkah dengan menunggang unta milik Walid yang memang cukup kuat, sehingga mampu membawa tiga orang tersebut hingga sampai di Madinah dengan selamat.

    Dalam perang Yarmuk di masa Khalifah Umar, Ayyasy terluka parah, begitu juga dengan Harits bin Hisyam dan Ikrimah bin Abu Jahl. Harits meminta dibawakan air, tetapi kemudian menyuruhnya untuk diberikan kepada Ikrimah. Sebelum sempat minum, Ikrimah meminta agar air diberikan kepada Ayyasy. Tetapi Ayyasy wafat sebelum sempat minum air tersebut. Ketika dibawa kembali ke Ikrimah, ia telah meninggal. Begitu juga ketika dibawa kepada Harits, ia telah wafat sebelum air minum itu kembali kepadanya.

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 5 February 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Thulaib Bin Umair Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Thulaib Bin Umair Radhiyallahu Anhu

    Thulaib bin Umair masih saudara sepupu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, ia memeluk Islam ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam masih berdakwah secara sembunyi-sembunyi di Darul Arqam, sehingga bisa dikatakan ia sebagai kelompok as Sabiqunal Awwalin. Setelah keislamannya, ia menemui ibunya, Arwa binti Abdul Muthalib, dan mengatakan kalau dirinya telah menjadi pengikut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan berserah diri kepada Allah. Menanggapi pengakuannya tersebut, sang ibu berkata, “Sesungguhnya yang lebih berhak kamu bantu adalah anak pamanmu itu (Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam), demi Allah jika kami mampu melakukan seperti yang dilakukan oleh kaum lelaki, sudah pasti aku akan mengikuti dan melindunginya.”

    Saat itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memang banyak mengalami halangan, cacian dan penyiksaan dalam mendakwahkan Islam. Mendengar jawaban ibunya tersebut, Thulaib berkata, “Apakah yang menghalangi ibu mengikutinya, padahal saudara laki-laki ibu, Hamzah, telah memeluk Islam?”

    “Aku akan menunggu apa yang dilakukan oleh saudara-saudara perempuanku, kemudian aku akan menjadi seperti mereka,” Kata Arwa.

    Tetapi Thulaib tidak puas dengan jawaban ibunya ini, ia terus mendesak dan berkata, “Sesungguhnya aku meminta dengan nama Allah, agar ibu menemuinya (yakni Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam), mengucapkan salam dan membenarkannya, dan mengucapkan kesaksian kepadanya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.”

    Melihat tekad dan kesungguhan Thulaib dalam mengajaknya kepada Islam, akhirnya Arwa luluh juga. Pada dasarnya ia memang ingin membela Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang masih keponakannya sendiri, ketika begitu banyak orang yang memusuhi dan menyakitinya. Ia akhirnya berkata, “Jika memang begitu, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah pesuruh-Nya.”

    Thulaib merasa gembira dengan keputusan ibunya, apalagi ia selalu didorong untuk membantu Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan juga menyiapkan kebutuhan Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dalam perjuangannya.

    Di riwayatkan bahwa Thulaib Bin Umair adalah Muslim pertama yang melukai seorang Musyrik yang bersikap lancang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

    Suatu ketika Auf Bin Sabrah as-Sahmi tengah melontarkan caci-maki kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam lalu Thulaib Bin Umair mengangkat tulang rahang unta dan memukulkannya kepadanya sehingga luka. Ada yang mengadukan hal itu kepada ibu beliau. Ibunya menjawab, “Thulaib telah membantu sepupunya, ia telah bersikap simpatik dengan perantaraan darahnya dan hartanya.”

    Sebagian berpendapat bahwa orang yang dipukul itu bernama Abu Ihab bin Aziz ad-Darimi. Sedangkan sebagian lagi berpendapat orang itu adalah Abu Lahab atau Abu Jahal. Menurut riwayat lain, ketika perbuatan itu diadukan kepada Ibunya , Ibunya  mengatakan, “Hari terbaik dalam kehidupan Thulaib adalah pada saat membela sepupunya. Dia Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang telah datang dengan kebenaran dari Allah Ta’ala.”

    Thulaib termasuk Muslim yang berhijrah ke Habasyah. Namun ketika sebuah kabar burung dari Makkah sampai ke Habasyah yang menyatakan bahwa Quraisy telah masuk Islam, beberapa Muhajirin Muslim kembali ke Makkah tanpa mengkonfirmasi kebenaran kabar itu. Salah satu dari mereka adalah Thulaib.

    Sekembalinya ke Makkah, mereka meminta perlindungan kepada para tokoh Makkah.

    Setelah Thulaib hijrah dari Makkah ke Madinah, dia tinggal di rumah Abdullah Bin Salamah al-Ajlani. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengikat persaudaraan antara Thulaib dengan Mundzir Bin Amru.

    Thulaib ikut serta pada perang Badar.

    Thulaib juga ikut serta pada perang Ajnadain yang terjadi pada bulan Jumadil Ula 13 Hijri. Pada perang tersebut beliau syahid pada usia 35 tahun. Ajnadain adalah nama tempat di Syria, di sana terjadi peperangan antara pasukan Muslim dengan Romawi, namun sebagian berpendapat bahwa beliau wafat pada perang Yarmuk.

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 4 February 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu (3) 

    Kisah Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu (3)

    Secara penampilan fisik, mungkin Abdullah bin Mas’ud tidak meyakinkan. Perawakan tubuhnya kurus dan kecil, tidak terlalu tinggi, kedua betisnya kecil dan kempes sehingga pernah menjadi bahan tertawaan beberapa sahabat. Hal itu terjadi ketika ia sedang memanjat dan memetik dahan pohon arak untuk digunakan sikat gigi (siwak) oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Melihat sikap mereka ini, beliau bersabda, “Tuan-tuan mentertawakan kedua betis Ibnu Mas’ud, padahal di sisi Allah, timbangan (kebaikan) keduanya lebih berat daripada gunung Uhud….”

    Abdullah bin Mas’ud tidak pernah tertinggal mengikuti pertempuran bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, begitu juga beberapa pertempuran pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar.

    Ketika perang Badar usai, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ingin mengetahui keadaan Abu Jahal, maka Abdullah bin Mas’ud pun beranjak pergi mencarinya, begitu juga beberapa sahabat lainnya. Sebenarnya saat pertempuran berlangsung, beliau telah didatangi dua pemuda Anshar, Mu’adz bin Amr bin Jamuh dan Muawwidz bin Afra. Mereka berdua mengaku telah membunuh Abu Jahal. Setelah memeriksa pedang kedua pemuda tersebut, beliau pun membenarkan pengakuan mereka. Hanya saja beliau ingin memperoleh kejelasan informasinya dan kepastian kematiannya.

    Ibnu Mas’ud bergerak di antara mayat yang bergelimpangan, dan akhirnya menemukan tubuh Abu Jahal, yang masih sekarat, nafasnya tinggal satu-satu. Tubuh Ibnu Mas’ud yang kecil berdiri di atas tubuh Abu Jahal yang kokoh kekar terkapar. Ia menginjak leher Abu Jahal dan memegang jenggotnya untuk mendongakkan kepalanya, dan berkata, “Apakah Allah telah menghinakanmu, wahai musuh Allah!!”

    “Dengan apa ia menghinakan aku? Apakah aku menjadi hina karena menjadi orang yang kalian bunuh? Atau justru orang yang kalian bunuh itu lebih terhormat? Andai saja bukan pembajak tanah yang telah membunuhku…”

    Memang, dua pemuda Anshar yang membunuhnya adalah para pekerja kebun kurma. Mungkin ia merasa lebih berharga jika saja yang membunuhnya adalah seorang pahlawan perang seperti Hamzah atau Umar. Kemudian ia berkata kepada Ibnu Mas’ud yang masih menginjak lehernya, “Aku sudah naik tangga yang sulit, wahai penggembala kambing….”

    Ibnu Mas’ud mengerti maksud Abu Jahal, ia melepaskan injakan pada lehernya. Tak berapa lama kemudian Abu Jahal tewas, ia memenggal kepala Abu Jahal dan membawanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Sampai di hadapan beliau, ia berkata, “Wahai Rasulullah, ini kepala musuh Allah, Abu Jahal…!”

    “Demi Allah yang tiada Ilah selain Dia,” Beliau mengucap tiga kali, kemudian bersabda lagi, “Allahu Akbar, segala puji bagi Allah yangtelah memenuhi janjiNya, menolong hambaNya dan mengalahkan pasukan musuhNya…”

    Ada suatu peristiwa berkesan pada Perang Tabuk yang selalu menjadi keinginan dan angan-angan Abdullah bin Mas’ud. Suatu malam ia terbangun dan ia melihat ada nyala api di arah pinggir perkemahan. Ia berjalan ke perapian tersebut, dan ia melihat tiga orang bersahabat, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, Abu Bakar dan Umar bin Khaththab sedang memakamkan jenazah salah seorang sahabat, Abdullah Dzulbijadain al Muzanni. Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam berada di lubang kuburan, Abu Bakar dan Umar berada di atas. Ia mendengar beliau bersabda, “Ulurkanlah kepadaku lebih dekat…!!”

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menerima jenazah Abdullah tersebut dan meletakkan di liang lahat, kemudian beliau berdo’a, “Ya Allah, aku telah ridha padanya, maka ridhai pula ia olehMu..!!”

    Melihat pemandangan tersebut, Ibnu Mas’ud berkata, “Alangkah baiknya jika akulah pemilik liang kubur itu….”

    Namun ternyata keinginannya tidak terpenuhi karena tiga orang mulia yang terbaik tersebut mendahuluinya menghadap Allah. Ia wafat pada zaman khalifah Utsman, dan dalam satu riwayat disebutkan, yang memimpin (mengimami) shalat jenazahnya adalah sahabat Ammar bin Yasir.

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 3 February 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu (2) 

    Kisah Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu (2)

    Suatu ketika Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ingin ada seseorang yang membacakan Al Qur’an kepada orang-orang Quraisy karena mereka belum pernah mendengarnya, dan ternyata Abdullah bin Mas’ud yang mengajukan dirinya. Tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengkhawatirkan keselamatannya, beliau ingin orang lain saja, yang mempunyai kerabat kaum Quraisy, yang bisa memberikan perlindungan jika ia disiksa. Tetapi Ibnu Mas’ud tetap mengajukan diri, bahkan setengah memaksa, sambil berkata, “Biarkanlah saya, ya Rasulullah, Allah pasti akan membela saya…!!”

    Sungguh suatu semangat besar yang didorong jiwa muda yang berapi-api, sehingga kurang mempertimbangkan keselamatan dirinya. Dan tanpa menunggu lagi, ia berjalan ke majelis pertemuan kaum Quraisy di dekat Ka’bah, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam membiarkannya. Sampai di sana, ia berdiri di panggung atau mimbar di mana orang-orang Quraisy biasanya melantunkan syair-syair mereka, dan mulai membaca ayat-ayat Qur’an dengan mengeraskan suaranya. Yang dibacanya adalah Surah ar Rahman. Orang-orang kafir itu memperhatikan dirinya sambil bertanya, “Apa yang dibaca oleh Ibnu Ummi Abdin itu?”

    Saat itu mereka belum mengetahui kalau Ibnu Mas’ud telah memeluk Islam, jadi mereka membiarkannya saja untuk beberapa saat lamanya.

    Salah satu dari orang Quraisy itu tiba-tiba berkata, “Sungguh, yang dibacanya itu adalah apa yang dibaca oleh Muhammad…!!”

    Merekapun bangkit menghampiri, dan memukulinya hingga babak belur. Namun selama dipukuli, ia tidak segera menghentikan bacaannya sebatas ia masih mampu melantunkannya. Ketika mereka berhenti memukulinya, ia segera kembali ke tempat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan para sahabat berkumpul. Melihat keadaan tubuhnya yang tidak karuan akibat pukulan-pukulan tersebut, salah seorang sahabat berkata, “Inilah yang kami khawatirkan akan terjadi pada dirimu!!”

    Tetapi dengan tegar Ibnu Mas’ud berkata, “Sekarang ini tak ada lagi yang lebih mudah bagiku daripada menghadapi musuh-musuh Allah tersebut. Jika tuan-tuan menghendaki, esok saya akan mendatangi mereka lagi dan membacakan lagi surah lainnya…”

    Mereka berkata, “Cukuplah sudah, engkau telah membacakan hal yang tabu atas mereka…!!”

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam hanya tersenyum melihat perbincangan di antara sahabat-sahabat beliau, tanpa banyak memberikan komentar apa-apa.

    Peristiwa tersebut menjadi pertanda awal dari apa yang diramalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, ia akan menjadi seorang yang terpelajar, yakni dalam bidang Al Qur’an dan ilmu keislaman lainnya. Sungguh suatu lompatan besar, dari seorang buruh upahan penggembala kambing, miskin dan terlunta-lunta, tiba-tiba menjadi seseorang yang ilmunya dibutuhkan banyak orang, khususnya dalam bidang Al Qur’an.

    Ia memang hampir tidak pernah terpisah dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, pengetahuannya terus tumbuh dan berkembang dalam bimbingan beliau. Ia mendengar 70 surah Al Qur’an langsung dari mulut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, dan tidak ada sahabat lainnya yang sebanyak itu mendengar langsung dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Ia juga selalu merekam (mengingat) peristiwa demi peristiwa yang berhubungan dengan surah-surah Al Qur’an. Jika ia mendengar kabar tentang seseorang yang mengetahui suatu peristiwa yang berhubungan dengan Al Qur’an, yang ia belum mengetahuinya, segera saja ia memacu untanya untuk menemui orang tersebut demi melengkapi pemahamannya.

    Tentang kemampuannya di bidang Al Qur’an, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Barang siapa yang ingin mendengar Al Qur’an tepat seperti ketika diturunkannya, hendaknya ia mendengar bacaan Al Qur’an Ibnu Ummi Abdin (yakni, Abdullah bin Mas’ud). Barang siapa ingin membaca Al Qur’an tepat seperti saat diturunkan, hendaklah ia membaca seperti bacaan Ibnu Ummi Abdin…” Beliau juga pernah bersabda, “Berpegang teguhlah kalian kepada ilmu yang diberikan oleh Ibnu Ummi Abdin…”

    Bahkan tak jarang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan Abdullah bin Mas’ud untuk membacakan suatu surah untuk beliau, dan beliau akan memerintahkannya berhenti setelah beliau tak dapat menahan tangis karena mendengar bacaannya. Beliau seolah dibawa “bernostalgia” dengan suasana ketika ayat tersebut diturunkan, karena bacaannya memang tepat seperti saat ayat-ayat Al Qur’an itu diturunkan.

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 2 February 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu (1) 

    Kisah Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu (1)

    Abdullah bin Mas’ud adalah seorang sahabat Muhajirin dari Bani Zahrah, termasuk dalam sahabat as sabiqunal awwalin, sahabat yang memeluk Islam pada masa awal didakwahkan. Perawakan tubuhnya pendek dan kurus, tidak seperti umumnya orang-orang Arab di masanya. Tetapi dalam hal ilmu-ilmu keislaman, khususnya dalam hal Al Qur’an, ia jauh melampaui para sahabat pada umumnya.

    Kisah keislamannya cukup unik, karena ia melihat dan mengalami secara langsung mu’jizat Rasulullah SAW.

    Ketika masih remaja, Abdullah bin Mas’ud bekerja mengembalakan kambing milik Uqbah bin Abi Mu’aith, salah seorang tokoh Quraisy yang sangat memusuhi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Suatu ketika saat sedang bekerja di suatu padang, dia didatangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan Abu Bakar yang sedang kehausan dan meminta susu. Tetapi karena hanya melaksanakan amanah menggembalakan, Abdullah bin Mas’ud pun tidak bisa memenuhi permintaan itu. Karena memang sedang kehausan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam meminta/meminjam anak kambing betina yang belum digauli pejantan, yang tentunya tidak mungkin mengeluarkan air susu.

    Ibnu Mas’ud remaja memenuhi permintaan beliau tersebut. Setelah anak kambing itu diletakkan di depan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau mengikat dan mengusap susunya dan berdoa dengan kata-kata yang tidak difahami Ibnu Mas’ud. Sungguh ajaib, kantung susunya jadi penuh dengan air susu, Abu Bakar datang dengan membawa batu cekung, dan memerah air susunya, Abu Bakar meminum susu tersebut sampai kenyang, kemudian memerah lagi dan memberikan kepada Ibnu Mas’ud. Dan terakhir Abu Bakar memerah lagi untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Setelah selesai minum, beliau berkata, “Mengempislah!!”

    Seketika kantung susu anak kambing itu mengempis kembali seperti semula, dan ia berlari kembali ke kumpulannya.

    Ibnu Mas’ud sangat takjub melihat pemandangan tersebut, ia mendekati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan minta diajarkan kata-kata yang diucapkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tersebut. Maka beliau menyampaikan tentang risalah Islamiah yang beliau bawa, dan seketika itu Abdullah bin Mas’ud memeluk Islam.

    Nabi Shallallahu  ‘Alaihi Wassalam memandang cukup dalam kepadanya, kemudian bersabda, “Engkau akan menjadi seorang yang terpelajar..!!”

    Tentu saja Ibnu Mas’ud tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, apalagi saat itu ia hanyalah seorang miskin yang mencari upah dengan menggembala kambing milik orang lain. Tetapi di sela-sela waktu senggangnya, ia selalu mendatangi majelis pengajaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sejak sebelum beliau menggunakan rumah Arqam bin Abi Arqam. Sedikit demi sedikit pengetahuannya makin bertambah, bahkan dengan cepat ia mampu menghafal dan menguasai wahyu-wahyu, yakni Al Qur’an.

     

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 1 February 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Ja’far Bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu (2) 

    Kisah Ja’far Bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu (2)

    Ja’far-pun menyebutkan berbagai macam perintah Islam yang harus dilaksanakan dan juga larangan-larangan yang harus ditinggalkan. Kemudian ia meneruskan, “….Tetapi kaum kami memusuhi kami, menyiksa dan menimbulkan berbagai cobaan dengan tujuan mengembalikan kami kepada penyembahan berhala dan menghalalkan berbagai macam keburukan seperti dahulu. Mereka menekan dan mempersempit ruang gerak kami, menghalangi kami dari melaksanakan ajaran agama kami sehingga Nabi kami Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan kami pergi ke negeri tuan, dan memilih tuan daripada orang lainnya…!! Kami gembira mendapat perlindungan tuan, dan kami berharap agar kami tidak didzalimi di sisi tuan, Wahai tuan Raja!!”

    Najasyi terdiam beberapa saat, merenungi penjelasan Ja’far yang panjang lebar tersebut. Kemudian ia berkata, “Apakah kalian bisa membacakan sedikit dari ajaran kalian kepadaku??”

    “Bisa, tuan Raja, ” Kata Ja’far.

    Kemudian ia membacakan beberapa ayat-ayat awal dari Surah Maryam. Najasyi dan beberapa orang uskup dengan ta’dhim mendengar bacaan Ja’far, tanpa terasa mereka berurai air mata sehingga membasahi jenggotnya.

    “Cukup,” Kata Najasyi, “Sesungguhnya ini dan apa yang dibawa Isa benar-benar keluar dari misykat yang sama…”

    Misykat adalah lubang di tembok tempat menaruh lampu, yang dari tempat itu cahaya menerangi seluruh ruangan. Dengan perkataannya itu berarti Najasyi mengakui bahwa Islam adalah agama wahyu, sebagaimana agama Nashrani yang dipeluknya.

    Kemudian Najasyi berpaling kepada dua utusan Quraisy tersebut dan berkata, “Pergilah kalian! Sungguh aku tidak akan pernah menyerahkan mereka kepada kalian, tidak akan pernah !!”

    Tak ada pilihan bagi keduanya kecuali pergi dari hadapan Najasyi. Tetapi Amr bin Ash sempat berkata pelan, “Demi Allah, besok aku akan mendatangkan mereka lagi dengan sesuatu yang bisa membinasakan mereka.”

    “Jangan lakukan itu,” Kata Ibnu Abi Rabiah, “Bagaimanapun mereka masih kerabat kita walaupun mereka menentang kita…!!”

    Tetapi Amr bin Ash tidak memperdulikan saran temannya tersebut. Esoknya ia menghadap Najasyi dan berkata, “Wahai tuan Raja, sesungguhnya mereka menyampaikan perkataan yang menyalahi Tuan dalam masalah Isa bin Maryam!!”

    Sekali lagi Najasyi mengirim utusan memanggil kaum muhajirin tersebut untuk menjelaskan masalah Isa. Mereka menjadi kaget dan risau, bagaimanapun juga mengenai Isa bin Maryam menjadi masalah yang krusial karena jelas-jelas Islam menolak ketuhanan Isa bin Maryam. Sempat terpikir untuk mencari jawaban yang bisa menyenangkan Najasyi, tetapi akhirnya semua ditepiskan, tidaklah mereka akan mengatakan sesuatu kecuali kebenaran semata.

    Ketika mereka dihadapkan dan Najasyi menanyakan hal tersebut, Ja’far berkata diplomatis, “Mengenai Isa bin Maryam, kami katakan seperti apa yang dinyatakan oleh Nabi kami Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, bahwa Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya, Roh-Nya dan Kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, sang Perawan Suci…”

    Sebenarnya sama saja dan juga lebih mudah kalau dikatakan, “Isa bin Maryam bukan Tuhan”. Tetapi itu akan langsung menghantam keyakinan Raja dan para pengikutnya. Di sinilah tampak kemampuan diplomatis yang dimiliki Ja’far bin Abu Thalib. Mereka telah siap dan pasrah atas keputusan dan kemarahan Raja Najasyi. Tetapi reaksi yang terjadi jauh di luar dugaan. Tiba-tiba Najasyi turun dari tahtanya, ia mengambil sepotong ranting yang ada di tanah dan berkata, “Demi Allah, Isa bin Maryam tidak melebihi apa yang kamu katakan, walaupun hanya sepanjang ranting ini. Kalian aman di sini, jika ada orang yang menghina dan mencerca kalian, dia akan menanggung denda. Aku tidak suka seandainya memiliki gunung emas, sedangkan aku menyakiti salah satu dari kalian.”

    Sebagian pembesar dan panglimanya tampak tidak senang dengan perkataan Najasyi, mereka mendengus marah. Najasyipun berkata, “Aku tidak perduli jika kalian marah, kembalikan hadiah yang diberikan oleh kedua orang itu (utusan Quraisy), Demi Allah, Allah tidak menerima suap dariku ketika Dia memberikan amanat kerajaan ini, karena itu aku tidak perlu menerima suap dalam urusan-Nya. Tidak juga Allah menuruti kemauan orang banyak dalam urusanku, sehingga aku tidak perlu menuruti kemauan kalian dalam urusanNya.”

    Dengan terpaksa mereka mengembalikan hadiah-hadiah tersebut kepada dua utusan Quraisy, dan keduanya keluar dari majelis Najasyi dengan terhina.

    Ja’far dan para muhajirin lainnya tetap tinggal di Habasyah sampai datang perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam agar mereka segera berhijrah lagi ke Madinah, itu terjadi di bulan Dzulhijjah 6 H, atau Muharam 7 H. Tetapi sebelum mereka meninggalkan bumi Habasyah, Raja an Najasyi menyatakan dirinya memeluk Islam, sesuai dengan seruan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, di hadapan Ja’far bin Abu Thalib.

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 31 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Ja’far Bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu (1) 

    Kisah Ja’far Bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu (1)

    Ja’far bin Abu Thalib masih saudara sepupu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, putra dari Abu Thalib, paman yang mengasuh beliau dari kecil, dan menjadi pelindung Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan dakwah Islamiah ketika masih di Makkah, walaupun akhirnya meninggal dalam kekafiran.

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sangat menyayangi Ja’far karena ia termasuk sahabat yang paling mirip dengan beliau. Beliau sendiri pernah bersabda kepadanya, “Engkau adalah yang paling mirip dengan akhlak dan rupaku!!”

    Ja’far dan istrinya, Amma binti Umais memeluk Islam pada masa-masa awal di Makkah. Tak pelak lagi mereka mendapat tekanan dan siksaan dari para pembesar kafir Quraisy. Memang tidak seberat dialami para budak seperti Bilal, Ammar bin Yasir, Khabbab bin Aratt dan beberapa lainnya. Tetapi kehidupan mereka di tanah kelahirannya sendiri menjadi tidak nyaman dan tidak bisa bebas melaksanakan ajaran agama barunya tersebut. Karena itu, ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menghimbau sahabat-sahabatnya untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), Ja’far dan istrinya segera menyambut seruan tersebut. Bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengangkatnya sebagai pimpinan rombongan Muhajirin pertama ini.

    Kaum kafir Quraisy merasa kecolongan karena beberapa orang muslim (sebanyak 83 lelaki dan 18/19 perempuan) lolos dari pengawasan mereka, dan berhasil hijrah ke Habasyah. Tetapi mereka tidak berdiam diri begitu saja, mereka berupaya keras bagaimana bisa mengembalikan mereka ke Makkah. Dikirimlah dua orang ahli diplomasi, Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah. untuk mempengaruhi Najasyi agar bersedia mengembalikan kaum muhajirin tersebut ke Makkah. Mereka menyiapkan berbagai macam hadiah dan bingkisan untuk memuluskan rencana tersebut. Setibanya di Habasyah, Amr bin Ash menemui para uskup terlebih dahulu dan memberikan berbagai hadiah, dengan harapan mereka memberikan dukungan kepadanya.

    Tiba waktu yang ditentukan, Amr bin Ash dan Ibnu Abi Rabiah menyampaikan hadiah dan bingkisan yang disiapkan untuk Najasyi, Raja Habasyah, kemudian menyampaikan maksud kedatangannya dengan gaya diplomasi yang manis dan memikat. Para uskuppun ikut berbicara, “Benar apa yang dikatakan mereka berdua, wahai Baginda Raja. Serahkan saja mereka kepada keduanya agar mereka bisa dikembalikan ke negerinya dan kepada kaum kerabatnya.”

    Tetapi Ashamah an Najasyi adalah seorang raja yang adil, berilmu dan beriman kuat (pada agama Nashrani yang dipeluknya) dan berakhlak mulia, persis seperti yang digambarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam kepada para sahabat yang akan berhijrah ke Habasyah. Ia tidak akan mengambil keputusan apapun hanya berdasarkan apa yang disampaikan oleh Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah. Karena itu ia memerintahkan agar rombongan muhajirin tersebut dibawa menghadap kepadanya.

    Kaum muslimin pun mendatangi majelis Najasyi dengan hati was-was. Mereka memang telah mengetahui kehadiran dua utusan Quraisy dan sepak terjangnya dalam upaya mengembalikan mereka ke Makkah. Merekapun menunjuk Ja’far bin Abu Thalib sebagai juru bicara menghadapi Najasyi. Setibanya di majelis itu, Najasyi berkata, “Agama seperti apakah yang kalian pegangi itu, sehingga karena agama tersebut kalian memecah belah kaum kalian, dan kalian tidak juga memeluk agama kami atau agama lainnya yang kami kenali?”

    Sebagai juru bicara kaum muhajirin yang ditunjuk, Ja’far maju menghadap ke Najasyi. Apa yang dikatakannya akan menjadi penentu, apakah mereka akan tetap tinggal di Habasyah dan dengan tenang bisa melaksanakan ibadah, atau apakah mereka akan kembali ke Makkah dan menjadi sasaran siksaan dan pengejaran untuk memaksa mereka kembali ke agama jahiliahnya?

    Ja’far berkata, “Wahai Tuan Raja, dulu kami pemeluk agama jahiliah yang menyembah berhala-berhala, memakan bangkai, berbuat mesum, yang kuat menindas yang lemah, memutuskan tali persaudaraan dan berbagai pekerti buruk lainnya. Lalu Allah mengutus seorang rasul dari kalangan kami sendiri, yang sangat kami kenali nasab, kejujuran, amanah dan kesucian hatinya. Beliau menyeru kami untuk hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukannya. Beliau juga memerintahkan kami untuk berbuat jujur, amanah…..”

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 30 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Utsman Bin Mazh’un Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Utsman Bin Mazh’un Radhiyallahu Anhu

    Utsman bin Mazh’un merupakan golongan awal yang masuk Islam, sebelum mencapai dua puluh orang, sehingga ia termasuk dalam golongan as sabiqunal awwalin. Pada awal keislamannya, ia pernah berhijrah ke Habasyah sampai dua kali untuk menghindari siksaan kaum kafir Quraisy. Ketika berhembus kabar bahwa orang-orang Quraisy telah menerima Islam, ia kembali ke Makkah. Tetapi ternyata itu hanya kabar bohong, bahkan mereka telah bersiap untuk menangkap dan menyiksa para sahabat yang baru kembali dari Habasyah tersebut. Untung bagi Utsman, pamannya Walid bin Mughirah (ayah Khalid bin Walid), menyatakan memberikan perlindungan keamanan kepadanya, sehingga orang-orang kafir Quraisy tidak bisa menyiksanya.

    Utsman bebas bergerak dan berjalan dimana saja di Makkah karena perlindungan Walid tersebut, tetapi ia melihat kaum muslimin lainnya dalam ketakutan, sebagian dalam derita penyiksaan. Ia jadi merasa tidak nyaman walau dalam keamanan, karena itu ia mengembalikan jaminan perlindungan pamannya tersebut, sehingga bisa merasakan seperti yang dirasakan oleh saudara muslim lainnya. Ketika Walid menanyakan alasannya, ia berkata, “Aku hanya ingin berlindung kepada Allah dan tidak suka kepada yang lain-Nya…”

    Suatu ketika ia melewati majelis orang kafir Quraisy yang sedang mendengarkan lantunan syair dari seorang penyair bernama Labid bin Rabiah. Seperti biasanya, para hadirin akan memberi applaus. Utsman bin Madz’un ikut memberi applaus ketika Labid menyampaikan salah satu baitnya, “Ingatlah, segala sesuatu selain Allah akan binasa.”

    Labidpun meneruskan bait syairnya, “Dan semua nikmat niscaya pasti sirna.”

    Spontan Utsman berteriak, “Dusta…!! Nikmat surga tidak akan pernah sirna…”

    Mendengar ada orang yang membantah syairnya, Labid jadi marah, ia meminta agar orang Quraisy bertindak karena ada yang mulai berani merusak forum mereka. Seseorang bangkit untuk memukul Utsman, tetapi ia membalas pukulannya tersebut, akibatnya salah satu matanya bengkak karena terpukul. Pamannya, Walid bin Mughirah, yang berada di sebelahnya berkata, “Kalau saja engkau masih berada dalam perlindunganku, matamu tidak akan mendapat musibah seperti itu!!”

    Mendengar komentar pamannya itu, Utsman justru menjawab dengan semangat, “Bahkan aku merindukan ini terjadi padaku, dan mataku yang satunya menjadi iri dengan apa yang dialami oleh saudaranya. Aku berada dalam perlindungan Dzat yang lebih mulia daripada kamu!”

    Ketika telah tinggal di Madinah, Utsman bin Mazh’un meninggal karena sakit, tidak gugur dalam pertempuran sebagai syahid. Hal ini sempat menimbulkan prasangka yang buruk, bahkan Umar bin Khaththab sempat berkata, “Lihatlah orang ini (yakni Utsman) yang sangat menjauhi kebesaran dunia (yakni zuhud), tetapi ia mati tidak dibunuh (mati syahid) !!”

    Persangkaan seperti itu terus bersemayam dalam pikiran banyak orang sampai akhirnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam wafat karena sakit dan tidak dalam pertempuran. Umar-pun berkata, “Alangkah sedihnya, orang yang paling mulia di antara kita telah meninggal dunia.”

    Prasangka seperti itupun jadi hilang, mereka tidak lagi memandang remeh kematiannya yang tidak dibunuh atau syahid di medang perang. Dan hal itu makin menguat ketika Khalifah Abu Bakar-pun meninggal juga karena sakit, tidak terbunuh di medan pertempuran. Kali ini Umar berkata, “Alangkah sedihnya, orang yang paling baik di antara kita telah meninggal dunia.”

    Utsman merupakan sahabat yang pertama meninggal di Madinah dan orang muslim pertama yang pertama kali dimakamkan di Baqi. Beberapa waktu kemudian putri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang juga istri Utsman bin Affan, Ruqayyah binti Muhammad meninggal, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Pergilah, wahai putriku, susullah saudara kita yang saleh, Utsman bin Mazh’un..!!”

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 29 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Khabbab Bin Arats Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Khabbab Bin Arats Radhiyallahu Anhu

    Khabbab bin Arats adalah seorang sahabat Muhajirin yang memeluk Islam pada masa-masa awal, ketika umat Islam belum mencapai dua puluh orang. Ia berasal dari golongan lemah, yakni hanya seorang budak yang bertugas membuat pedang atau peralatan dari besi lainnya. Sebagaimana sahabat-sahabat yang masuk Islam pada periode awal, ia mengalami penyiksaan yang tidak tanggung-tanggung. Statusnya sebagai budak membuat tuannya, Ummu Anmar bebas menyiksa dirinya. Ia diseterika dengan besi panas yang merah menyala, dipakaikan baju besi kemudian dijemur di panas padang pasir, juga pernah diseret di atas timbunan bara sehingga lemak dan darahnya mengalir mematikan bara tersebut.

    Khabbab pernah mengeluhkan beratnya siksaan yang dialaminya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau yang saat itu tengah bersandar pada Ka’bah beralaskan burdah, bersabda, “Wahai Khabbab, orang-orang yang sebelum kalian pernah disisir kepalanya dengan sisir besi, sehingga terlepas tulang dari dari daging dan uratnya, tetapi ia tidak berpaling dari agamanya. Ada pula yang dipenggal lehernya hingga kepalanya putus, namun ia tetap teguh dengan agamanya. Sungguh Allah Subhanahu Wata’ala akan memenangkan perjuangan agama ini sehingga suatu saat nanti, orang akan berkendaraan dari Shan’a hingga Hadramaut tanpa merasa takut kecuali hanya kepada Allah, sampai serigala bisa berdampingan dengan kambing (tanpa memangsanya). Namun sungguh kalian adalah orang yang suka tergesa-gesa.”

    Mendengar penuturan beliau itu, Khabbab pun ikhlas dengan penderitaannya dan berteguh dengan keimanannya. Ketika Islam telah mengalami kejayaan dan berbagai harta kekayaan melimpah, Khabbab justru duduk menangis sambil berkata, “Tampaknya Allah telah memberikan ganjaran atas segala penderitaan yang kita alami, aku khawatir tidak ada lagi ganjaran yang kita terima di akhirat, setelah kita terima berbagai macam kemewahan ini!!”

    Setelah itu Khabbab meletakkan seluruh hartanya pada bagian rumahnya yang terbuka, dan mengumumkan agar siapa saja yang memerlukan untuk mengambilnya tanpa meminta ijin dirinya. Ia berkata, “Demi Allah aku tidak akan mengikatnya dengan tali (yakni, tidak mempertahankan hartanya tersebut), dan tidak akan melarang orang yang akan meminta/mengambilnya!!”

    Setelah Khabbab terbebas dari perbudakannya karena ditebus dan dimerdekakan oleh Abu Bakar, ia berkhidmad untuk belajar Al Qur’an dan akhirnya menjadi salah seorang yang ahli (Qari) dalam Al Qur’an. Ia tengah mengajarkan Al Qur’an kepada Fathimah binti Khaththab dan suaminya ketika Umar datang menghajar keduanya karena keislamannya. Tetapi peristiwa itu justru menjadi pemicu Umar memeluk Islam.

    Khabbab hampir tidak tertinggal dalam berbagai pertempuran di medan jihad. Pada Perang Badr, ia bertugas menjaga kemah Rasulullah pada malam sebelum perang, dan ia melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam shalat semalaman hingga menjelang fajar. Ketika Khabbab bertanya tentang shalat yang sangat panjang itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab, “Itu adalah shalat yang penuh harapan dan ketakutan, aku berdoa kepada Allah dengan tiga permintaan, dua dikabulkan dan satu lagi dicegahNya. Aku berdoa : Ya Allah, janganlah umatku Engkau binasakan sampai habis karena kelaparan, dan Dia mengabulkannya. Aku berdoa : Ya Allah, Janganlah umatku engkau binasakan sampai habis karena serangan musuh, dan Dia mengabulkannya. Aku berdoa : Ya Allah, janganlah terjadi perpecahan dan perselisihan di antara umatku, maka Dia mencegah doaku ini.”

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 28 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Sa’id Bin Zaid Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Sa’id Bin Zaid Radhiyallahu Anhu

    Sa’id bin Zaid al Adawy Radhiyallahu ‘Anhu merupakan kelompok sahabat yang memeluk Islam pada masa-masa awal, sehingga ia termasuk dalam kelompok as Sabiqunal Awwalun. Ia memeluk Islam bersama istrinya, Fathimah binti Khaththab, adik dari Umar bin Khaththab. Sejak masa remajanya di masa jahiliah, ia tidak pernah mengikuti perbuatan-perbuatan yang umumnya dilakukan oleh kaum Quraisy, seperti menyembah berhala, bermain judi, minum minuman keras, main wanita dan perbuatan nista lainnya. Sikap dan pandangan hidupnya ini ternyata diwarisi dari ayahnya, Zaid bin Amru bin Naufal.

    Sejak lama Zaid bin Amru telah meyakini kebenaran agama Ibrahim, tetapi tidak mengikuti Agama Yahudi dan Nashrani yang menurutnya telah jauh menyimpang dari agama Ibrahim. Ia tidak segan mencela cara-cara peribadatan dan perbuatan jahiliah dari kaum Quraisy tanpa rasa takut sedikitpun. Ia pernah bersandar di dinding Ka’bah ketika kaum Quraisy sedang melakukan ritual-ritual penyembahannya, dan ia berkata, “Wahai kaum Quraisy, apakah tidak ada di antara kalian yang menganut agama Ibrahim selain aku??”

    Zaid bin Amru juga sangat aktif menentang kebiasaan kaum Quraisy mengubur hidup-hidup anak perempuannya, karena dianggap sebagai aib, seperti yang pernah dilakukan Umar bin Khaththab di masa jahiliahnya. Ia selalu menawarkan diri untuk mengasuh anak perempuan tersebut. Ia juga selalu menolak memakan daging sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah saat penyembelihannya, dan juga penyembelihan untuk berhala-berhala.

    Seakan-akan ia memperoleh ilham, ia pernah berkata kepada sahabat dan kerabatnya, “Aku sedang menunggu seorang Nabi dari keturunan Ismail, hanya saja, rasanya aku tidak akan sempat melihatnya, tetapi saya beriman kepadanya dan meyakini kebenarannya…..!!”

    Zaid bin Amru sempat bertemu dan bergaul dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sebelum beliau dikukuhkan sebagai Nabi dan Rasul, sosok pemuda ini (yakni, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam) sangat mengagumkan bagi dirinya, di samping akhlaknya yang mulia, pemuda ini juga mempunyai pandangan yang sama dengan dirinya tentang kebiasaan dan ritual jahiliah kaum Quraisy.

    Tetapi Zaid meninggal ketika Kaum Quraisy sedang memperbaiki Ka’bah, yakni, ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berusia 35 tahun.

    Dengan didikan seperti itulah Sa’id bin Zaid tumbuh dewasa, maka tak heran ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menyampaikan risalahnya, ia dan istrinya langsung menyambut seruan beliau. Tak ada ketakutan dan kekhawatiran walau saat itu kaum Quraisy melancarkan siksaan yang tak terperikan kepada para pemeluk Islam, termasuk Umar bin Khatthab, kakak iparnya sendiri yang merupakan jagoan duel di pasar Ukadz. Hanya saja ia masih menyembunyikan keislamannya dan istrinya. Sampai suatu ketika Umar yang bertemperamen keras itu mengetahuinya juga.

    Ketika itu Sa’id dan istrinya sedang mendapatkan pengajaran al Qur’an dari sahabat Khabbab bin Arats, tiba-tiba terdengar ketukan, atau mungkin lebih tepat gedoran di pintu rumahnya. Ketika ditanyakan siapa yang mengetuk tersebut, terdengar jawaban yang garang, “Umar..!!”

    Suasana khusyu’ dalam pengajaran al Qur’an tersebut menjadi kacau, Khabbab segera bersembunyi sambil terus berdoa memohon pertolongan Allah untuk mereka. Sa’id dan istrinya menuju pintu sambil menyembunyikan lembaran-lembaran mushaf di balik bajunya. Begitu pintu dibuka oleh Sa’id, Umar melontarkan pernyataan keras dengan sorot mata menakutkan, “Benarkan desas-desus yang kudengar, bahwa kalian telah murtad?”

    Sebelum kejadian itu, sebenarnya Umar telah membulatkan tekad untuk membunuh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Kemarahannya telah memuncak karena kaum Quraisy jadi terpecah belah, mengalami kekacauan dan kegelisahan, penyebab kesemuanya itu adalah dakwah Islamiah yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Dalam pemikiran Umar, jika ia menyingkirkan/membunuh beliau, tentulah kaum Quraisy kembali tenang seperti semula. Tetapi di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Nu’aim bin Abdulah yang memberitahukan kalau adiknya, Fathimah dan suaminya telah memeluk Islam. Nu’aim menyarankan agar ia mengurus kerabatnya sendiri saja, sebelum mencampuri urusan orang lain. Karena itu, tak heran jika kemarahan Umar itu tertumpah kepada keluarga adiknya ini.

    Sebenarnya Sa’id melihat bahaya yang tampak dari sorot mata Umar. Tetapi keimanan yang telah merasuk seolah memberikan tambahan kekuatan yang terkira. Bukannya menolak tuduhan, ia justru berkata, “Wahai Umar, bagaimana pendapat anda jika kebenaran itu ternyata berada di pihak mereka ??”

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 27 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abu Ubaidah Bin Harits Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Abu Ubaidah Bin Harits Radhiyallahu Anhu

    Sebelum perang Badar mulai pecah dan dua pasukan sedang berhadapan, tokoh kafir Quraisy, Utbah bin Rabiah, menantang duel satu persatu.

    Majulah putranya, Walid bin Utbah dan Ali bin Abi Thalib maju menghadapinya dan Ali berhasil membunuhnya.

    Kemudian majulah saudaranya Syaibah bin Rabiah dan paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, Hamzah bin Abdul Muthalib melayani tantangannya dan dengan mudah membunuhnya pula.

    Melihat anak dan saudaranya tewas di hadapannya, Utbah sendiri yang maju menuntut balas. Kali ini ia dihadapi oleh Ubaidah bin Harits. Mereka laksana dua tiang yang kokoh, saling beradu pukulan dan tampaknya kekuatan mereka seimbang. Ubaidah berhasil memukul pundak Utbah hingga patah, tetapi Utbah berhasil memotong betis kaki Ubaidah, keduanya tampak sekarat.

    Ali dan Hamzah maju membunuh Utbah, dan mereka membawa Ubaidah ke tempat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sedang berteduh.

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam meletakkan kepala Ubaidah di paha beliau, beliau mengusap wajahnya yang penuh debu. Ubaidah memandang beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, jika Abu Thalib melihat keadaanku ini, ia pasti akan mengetahui bahwa aku lebih berhak atas kata-kata yang pernah diucapkannya tersebut.

    Ubaidah memang masih paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan sepupu dari Abu Thalib. Ketika kaum kafir Quraisy berniat untuk membunuh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, bahkan mereka menawarkan seorang anak muda sebagai pengganti. Abu Thalib dengan tegas berkata, “(Kalian berdusta jika mengatakan) bahwa kami akan menyerahkannya (yakni Muhammad, tanpa kami melindunginya) sampai kami terkapar di sekelilingnya dan bahkan (untuk itu akan) menelantarkan anak-anak dan istri-istri kami sendiri.”

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tersenyum mendengar perkataannya, dan Ubaidah bertanya, “Apakah aku syahid, ya Rasulullah?””Ya,” Kata beliau, “Dan aku akan menjadi saksi untukmu!!”

    Sesaat kemudian Ubaidah meninggal, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menguburkannya di Shafra’, sebuah wadi antara Badar dan Madinah. Beliau sendiri yang turun ke kuburnya, dan beliau tidak pernah turun ke kuburan siapapun sebelumnya kecuali pada pemakaman Ubaidah bin Harits ini.

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 26 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abu Salamah Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Abu Salamah Radhiyallahu Anhu

    Abu Salamah Radhiyallahu ‘Anhu, atau nama aslinya Abdullah bin Abdul Asad, memeluk Islam pada masa permulaan Islam, begitu juga dengan istrinya, Ummu Salamah. Sebagian riwayat menyebutkan, ia orang ke sepuluh yang memeluk Islam.

    Karena tekanan dan gangguan yang begitu hebat dari kaum Quraisy, mereka berdua ikut hijrah ke Habasyah. Disanalah lahir anak mereka yang pertama Salamah.

    Setelah beberapa waktu di Habasyah, mereka kembali lagi ke Makkah.

    Ketika datang perintah hijrah ke Madinah, Abu Salamah dan Istrinya, Ummu Salamah pun memenuhi perintah ini, mereka berangkat menaiki onta. Anak satu-satunya yang masih kecil, Salamah dalam gendongan ibunya di dalam sekedup.

    Tetapi kaum kerabat Ummu Salamah, Bani Mughirah, tidak rela jika salah satu anggota kaumnya pergi ke Madinah, karena itu beberapa orang mengejar Abu Salamah dan merebut kendali onta yang membawa istri dan anaknya, mereka berkata, “Ini jiwamu, engkau memenangkannya atas kami. Tidakkah engkau tahu, atas dasar apa kami membiarkanmu berjalan dengannya di negeri ini?”

    Abu Salamah pun tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi tidak cukup sampai disitu, kerabat Abu Salamah dari Banu Abdul Asad ternyata tidak rela kalau Salamah sebagai bagian dari kaumnya berada di Banu Mughirah, karena itu mereka merebutnya dari Ummu Salamah. Setelah berhasil, ternyata mereka tidak membiarkan Salamah untuk ikut ayahnya hijrah ke Madinah.

    Walau kecintaannya begitu besar terhadap istri dan anaknya, perintah Allah dan RasulNya di atas segalanya. Abu Salamah tetap meneruskan hijrah ke Madinah tanpa orang-orang yang dicintainya. Setelah sekitar satu tahun berpisah, barulah Ummu Salamah dibiarkan kaumnya menyusul suaminya ke Madinah. Salamahpun diberikan bani Abdul Asad pada Ummu Salamah untuk dibawa ke Madinah.

    Abu Salamah ikut terjun dalam perang Badar dan Uhud. Pada perang Uhud, ia mengalami luka parah, yang berakibat ia menderita berkepanjangan.

    Ketika lukanya belum sembuh sepenuhnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menunjuk dirinya untuk memimpin pasukan kecil berkekuatan 150 orang sahabat, untuk menyerang Bani Asad bin Khuzaimah.

    Bani Asad menghimpun kekuatan secara rahasia untuk menyerang Madinah, yang dikoordinasikan oleh dua orang bersaudara, Thalhah dan Salamah bin Khuwailid.

    Pasukan yang dipimpin Abu Salamah ini berhasil melumpuhkan Bani Asad. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharam tahun 4 Hijriah. Tetapi akibat pertempuran ini, luka-lukanya pada perang Uhud yang belum sepenuhnya sembuh, menjadi kambuh kembali, bahkan semakin parah, sehingga akhirnya ia menemui syahid pada bulan Jumadil Akhir tahun 4 Hijriah.

    Dari pernikahannya dengan Ummu Salamah, ia mempunyai empat anak. Selain Salamah, anak lainnya adalah Umar, Durah, dan Zainab. Zainab ini masih di dalam kandungan ketika Abu Salamah wafat.

    Ketika masih hidupnya, Ummu Salamah pernah menginginkan agar mereka saling berjanji untuk tidak menikah lagi, jika salah satu dari mereka meninggal terlebih dahulu. Tetapi Abu Salamah menginginkan agar Ummu Salamah taat kepadanya sebagai suaminya, dan ia berkata, “Jika aku meninggal dahulu, menikahlah engkau.”

    Setelah itu Abu Salamah berdoa, “Ya Allah, apabila saya meninggal nanti, nikahkanlah Ummu Salamah dengan lelaki yang lebih baik daripada saya, yang tidak akan menjadikan hatinya bersedih, yang tidak akan memberikan kesulitan kepadanya.”

    Allah mengabulkan doa Abu Salamah ini, dan sepeninggal dirinya, ternyata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berkenan untuk menikahi Ummu Salamah.

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 25 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abu Ubaidah Bin Jarrah Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Abu Ubaidah Bin Jarrah Radhiyallahu Anhu

    Ketika itu waktunya shalat dhuhur, Umar berusaha menampilkan dirinya di dekat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Namun walau Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam telah melihat dirinya, beliau masih mencari-cari seseorang. Ketika pandangan beliau jatuh pada Abu Ubaidah, beliau bersabda, “Wahai Abu Ubaidah, pergilah berangkat bersama mereka, dan selesaikan apabila terjadi perselisihan di antara mereka….!”

    Inilah dia orang terpercaya itu, dan para sahabat lainnya tidak heran kalau ternyata Abu Ubaidah yang dimaksudkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Beberapa kali, dalam beberapa kesempatan berbeda, beliau menyebut Abu Ubaidah sebagai ‘Amiinul Ummah’, orang kepercayaan ummat Islam ini.

    Abu Ubaidah-pun menyertai rombongan tersebut kembali ke Najran, sebagaimana diperintahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Sebagian riwayat menyebutkan, dua dari tiga pemimpinnya masuk Islam setelah mereka tiba di Najran, Yakni Al Aqib atau Abdul Masih, pemimpin yang mengendalikan roda pemerintahan, dan As Sayyid atau Al Aiham atau Syurahbil, pemimpin yang mengendalikan masalah peradaban dan politik. Lambat laun Islam menyebar di Najran berkat bimbingan ‘Amiinul Ummah’ ini. Bahkan akhirnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengirimkan Ali bin Thalib untuk membantu Abu Ubaidah dalam urusan Shadaqah dan Jizyah dari masyarakat Najran yang makin banyak yang memeluk Islam.

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 24 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Al Arqam Bin Abil Arqam Radhiyallahu Anhu… 

    Kisah Al-Arqam Bin Abil Arqam Radhiyallahu Anhu

    Al-Arqam bin Abil Arqam termasuk orang – orang yang pertama memeluk Islam. Ada ulama yang mengatakan ia termasuk orang ketujuh yang memeluk Islam, sementara ulama yang lain mengatakan ia termasuk orang kesebelas. Namun yang jelas, rumah Al-Arqam adalah rumah tempat pusat dakwah pertama. Di rumah yang penuh berkah inilah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengajarkan Islam secara diam – diam kepada para pemeluk Islam pertama.

    Di saat Islam baru mulai diajarkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memerlukan sebuah tempat yang tenang untuk mengajarkan agama Allah ini. Maklumlah, saat itu seperti pemeluk Islam dimusuhi dan disiksa kaum musyrik. Akhirnya beliau memutuskan bahwa rumah Al-Arqam bin Abil Arqam yang terletak di dataran Shafa ini adalah tempat yang cocok. Tempat ini letaknya agak terpencil dan tak meimbulkan kecurigaan. Terbukti selama rumah itu digunakan tak ada satu pun tindakan penggerebekan dilakukan orang kafir.

    Banyak sekali orang memeluk Islam di rumah Al-Arqam yang diberkahi itu. Salah satu orang terakhir yang memeluk Islam di tempat itu adalah Umar bin Khattab. Setelah Umar memeluk Islam, dakwah mulai dilakukan secara terang – terangan. Ketika itu jumlah Kaum Muslimin telah mencapai 40 orang. Jadi sebelum itu, rumah Arqam telah menjadi sekolah dan tempat berlindung bagi 40 orang pemeluk Islam pertama.

    Ke – 40 orang pemeluk Islam pertama itu dikenal dengan nama Assabiqunal Awwalun. Mereka beriman ketika semua orang lain masih ingkar. Kelak mereka harus akan mengalami hijrah ke seberang lautan di Habasyah dan menempuh berbagai ujian berat lainnya.

    Al-Arqam bin Abil Arqam termasuk kelompok Muhajirin pertama yang hijrah ke Madinah. Ia juga terjun dalam Pertempuran Badar. Di perang ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memberikan rampasan perang berupa pedang kepada Al-Arqam. Baktinya kepada Islam diteruskan dengan terjun ke semua pertempuran genting yang lain.

    Para sejarawan masih berselisih tentang kapan Al-Arqam wafat. Ada yang bilang ia wafat pada hari yang sama dengan wafatnya Abu Bakar Ash-Shidiq. Ada juga yang mengatakan ia wafat setelah Abu Bakar di usia 80 tahun lebih. Ketika wafat, salah satu yang hadir dalam menshalatkan jenazahnya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash. Rupanya wasiat Al-Arqam kepada Sa’ad adalah bila ia wafat, Sa’ad diminta menshalati dan mendoakan jenazahnya.

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 23 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abdurrahman Bin Auf Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Abdurrahman Bin Auf Radhiyallahu Anhu

    Abdurrahman bin Auf termasuk dalam kelompok sahabat as Sabiqunal Awwalun, ia memeluk Islam pada hari-hari pertama Islam didakwahkan, yakni lewat perantaraan Abu Bakar ash Shiddiq. Ia juga termasuk dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga ketika masih hidupnya. Sembilan orang lainnya adalah empat khalifah Khulafaur Rasyidin, Abu Bakar, Umar Utsman dan Ali, kemudian Abu Ubaidah bin Jarrah, Sa’d bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam Radhiyallahu ‘Anhuma.

    Abdurrahman bin Auf termasuk seorang sahabat yang selalu berhasil dalam perniagaannya, sehingga hartanya selalu berlimpah. Apapun bidang usaha yang ditekuninya selalu memberikan keuntungan, sehingga ia sempat takjub atas dirinya sendiri, dan berkata, “Sungguh mengherankan diriku ini, seandainya aku mengangkat batu tentulah kutemukan emas dan perak di bawahnya.”

    Namun kekayaannya yang melimpah tidak menjadikannya takabur. Orang yang belum pernah mengenalnya, bila bertemu untuk pertama kali, mereka tidak akan bisa membedakan antara dirinya sebagai tuan dan pelayan/pegawainya, karena kesederhanaan penampilannya.

    Pernah ia dipusingkan dengan hartanya yang begitu berlimpah sehingga ia begitu gelisah dan tidak bisa tidur. Istrinya yang bijak dan penuh keimanan memberikan saran yang bisa menentramkan hatinya. Sang istri berkata, “Hendaknya hartamu engkau bagi tiga, dengan sepertiganya, engkau carilah saudaramu seiman yang berhutang dan lunasilah hutang mereka. Sepertiganya lagi, carilah saudaramu seiman yang memerlukan uang dan berilah mereka pinjaman. Dan sepertiganya lagi, engkau pakai sebagai modal perniagaanmu…”

    Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menyeru agar umat Islam bersedekah untuk mendanai Perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf menyedekahkan seluruh hartanya yang berjumlah sekitar 200 uqiyah atau 8000 dirham. Umar bin Khaththab mengadukan sikap Abdurrahman kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam karena tidak menyisakan apapun untuk keluarganya, sedangkan ia sendiri menyedekahkan separuh hartanya sebanyak 100 uqiyah, separuhnya lagi ditingalkan untuk keperluan keluarganya.

    Karena pengaduan Umar ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memanggilnya, kemudian bertanya, “Wahai Abdurrahman, apakah engkau meninggalkan sesuatu untuk keluarga yang engkau tinggalkan!”

    “Benar, ya Rasulullah!” Kata Abdurrahman, “Aku telah meninggalkan untuk keluargaku sesuatu yang lebih baik dan lebih banyak daripada apa yang kusedekahkan!”

    “Berapa?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bertanya.

    “Kebaikan dan rezeqi yang dijanjikan oleh Allah dan RasulNya!”

    Rasulullah Shallallahu’ ‘Alaihi Wassalam membenarkan sikapnya dan menerima alasan Abdurrahman tersebut.

    ***

     
  • erva kurniawan 2:59 am on 25 December 2019 Permalink | Balas  

    Kisah Zubair Bin Awwam Radhiyallahu Anhu (2) 

    Kisah Zubair Bin Awwam Radhiyallahu Anhu (2)

    Inilah memang dahsyatnya bahaya fitnah, sehingga orang-orang terpilih di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam saling berperang satu sama lainnya.

    Ada perbedaan pendapat tentang syahidnya Zubair. Satu riwayat menyebutkan, ketika pertempuran mulai berlangsung dan dari kedua pihak berjatuhan korban tewas, Ali menangis dan menghentikan pertempuran, padahal saat itu posisinya dalam keadaan memang. Ali meminta kehadiran Thalhah dan Zubair untuk melakukan islah. Ali mengingatkan Thalhah dan Zubair berbagai hal ketika bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, termasuk ramalan-ramalan beliau tentang mereka bertiga. Thalhah dan Zubair menangis mendengar penjabaran Ali dan seolah diingatkan akan masa-masa indah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, apalagi saat itu mereka melihat Ammar bin Yasir ikut bergabung dalam pasukan Ali. Masih jelas terngiang sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ketika ‘kerja bakti’ membangun masjid Nabawi, “Aduhai Ibnu Sumayyah (yakni, Ammar bin Yasir), ia akan terbunuh oleh kaum pendurhaka…..!!”

    Zubair dan Thalhah memutuskan menghentikan pertempuran dan ia menyarungkan senjatanya, kemudian berbalik menemui pasukannya. Tetapi ada anggota pasukan yang tidak puas dengan keputusan ini dan mereka memanah keduanya hingga tewas. Sebagian riwayat menyebukan pembunuhnya dari pasukan Ali, riwayat lain dari pasukan Bashrah sendiri.

    Sedangkan riwayat lain menyebutkan, pertempuran berlangsung seru dan pasukan Bashrah dikalahkan oleh pasukan Ali, Thalhah dan Zubair bin Awwam gugur menemui syahidnya. Sedangkan Ummul Mukminin Aisyah dikirimkan lagi ke Madinah dengan pengawalan saudaranya, Muhammad bin Abu Bakar yang ada di fihak Ali.

    Zubair meninggal dalam usia 64 tahun, dan jenazahnya di makamkan di suatu tempat yang disebut Waadis Sibba, sekitar 7,5 km dari kota Bashrah, di Irak sekarang ini.

    Usai pertempuran, ketika Ali sedang beristirahat, datang salah seorang prajuritnya dan berkata, “Amr bin Jurmuz at Tamimi, pembunuh Zubair bin Awwam menunggu di luar, minta ijin untuk menghadap!!”

    Ali mengijinkannya. Amr masuk dengan pongahnya, ia mengira akan memperoleh pujian dan penghargaan karena telah membunuh seseorang yang memusuhi khalifah Ali. Tapi begitu bertatap muka, Ali membentaknya dengan keras, dan berkata, “Apakah pedang yang kamu bawa itu pedang Zubair??”

    Dengan gemetar ketakutan, ia berkata, “Benar, ini pedang Zubair, saya merampasnya setelah saya membunuhnya!”

    Ali mengambil pedang tersebut dari tangannya dan menggenggamnya penuh perasaan dan khusyu, diciumnya pedang yang pernah didoakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tersebut penuh rindu dan haru, hingga air mata membasahi pipinya, kemudian Ali berkata, “Pedang ini, Demi Allah, adalah pedang yang selama ini digunakan pemiliknya untuk membebaskan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dari berbagai marabahaya…..!!”

    Setelah itu Ali memandang Amr bin Jurmuz dengan mata menyala, “Mengenai dirimu, wahai pembunuh Zubair, bergembiralah dengan masuk neraka, atas apa yang kamu lakukan kepada putra Shafiyah ini….!”

    Amr berlalu dengan dongkol karena maksudnya tidak tercapai, sambil ia bergumam, “Aneh sekali tuan-tuan ini, telah kami bunuh musuh tuan, tetapi tuan katakan saya akan masuk neraka….!!”

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 24 December 2019 Permalink | Balas  

    Kisah Zubair Bin Awwam Radhiyallahu Anhu (1) 

    Kisah Zubair Bin Awwam Radhiyallahu Anhu (1)

    Sebagaimana para sahabat pada masa awal, keislamannya membawanya kepada penyiksaan dari kaum Quraisy, walau sebenarnya ia dari keluarga terhormat dan sangat disegani.

    Pamannya sendiri, Naufal bin Khuwailid yang dikenal dengan nama “Singa Quraisy”, pernah menggulungnya dengan tikar dan menggantungnya terbalik dalam keadaan terikat, dan di bawahnya ada api sehingga asapnya menyesakkan dadanya. Berbagai siksaan ditimpakan oleh kaum kerabatnya sendiri, tetapi semua itu tidak mampu mengembalikannya ke agama jahiliahnya.

    Karena makin kerasnya tekanan dan siksaan yang ditimpakan kaum kafir Quraisy pada orang-orang yang memeluk Islam, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengijinkan mereka untuk berhijrah ke Habasyah, dan Zubair termasuk di antaranya.

    Raja Habasyah, Najasyi memberikan perlindungan kepada para muhajirin ini, dan memberikan kebebasan untuk melaksanakan ibadahnya sendiri. Hal itu menimbulkan sekelompok orang melakukan pemberontakan, tidak setuju dengan sikap Najasyi tersebut. Sempat terjadi pertempuran, yang dalam pertempuran tersebut Zubair ikut berperan serta sebagai mata-mata untuk kepentingan Najasyi dan kaum muhajirin lainnya. Jika ternyata Najasyi kalah, ia harus segera memberitahukan agar kaum muslimin bisa segera meninggalkan bumi Habasyah. Tetapi Allah menghendaki kemenangan ada di pihak Najasyi, sehingga kaum muslimin dengan tenang tinggal di negeri Nashrani tersebut.

    Walau hidup dalam keadaan damai dan tenang melaksanakan ibadah, tetapi hati Zubair selalu gelisah. Sejak ia memeluk Islam, hatinya seolah terikat dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Ada kerinduan menggejolak untuk selalu bersama beliau, walau ada juga kekhawatiran. Karena itu, begitu mendengar keislaman Hamzah dan Umar bin Khaththab, yang membuat posisi kaum muslimin lebih kuat, ia segera kembali ke Makkah untuk bisa selalu bertemu dan melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, kapan saja kerinduannya itu datang.

    Zubair juga dikenal sebagai penunggang kuda yang handal. Dialah salah satu dari hanya dua penunggang kuda pasukan muslim pada Perang Badar, dan ia diserahi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memimpin front/sisi kanan. Satu lagi adalah Miqdad bin Aswad, diserahi untuk memimpin front kiri. Dengan pedang yang pernah didoakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, jiwa kepahlawanannya jadi makin menonjol. Dalam perang Badar tersebut ia mampu membunuh jagoan-jagoan Quraisy yang jadi andalan, seperti Naufal bin Khuwailid, Si Singa Quraisy yang masih pamannya sendiri, Ubaidah bin Said, Ibnul Ash bin Umayyah, dan lain-lain.

    Pada awal perang Uhud, Nabi Shallallahu  ‘Alaihi Wassalam mengangkat sebuah pedang dan berkata, “Siapa yang mau mengambil pedang ini dengan memberikan haknya??”

    Beberapa sahabat yang berkumpul tidak segera memberikan kesanggupan, maka Zubair bin Awwam segera menyahutnya, “Saya, ya Rasulullah.”

    Tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam hanya memandangnya sekilas, kemudian mengulangnya hingga tiga kali, dan hanya Zubair yang dengan segera menyanggupinya. Namun demikian beliau tidak menyerahkan pedang tersebut kepadanya. Ketika Abu Dujanah yang menyanggupinya, beliau langsung menyerahkannya. Ini bukan berarti Nabi Shallallahu  ‘Alaihi Wassalam tidak mempercayainya, tetapi Zubair telah memiliki pedang yang pernah didoakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sehingga ia tidak memerlukan pedang lainnya. Biarlah pedang tersebut dipegang dan dimiliki sahabat lain untuk mengukirkan kepahlawanannya kepada Islam.

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 23 December 2019 Permalink | Balas  

    Kisah Sa’d Bin Abu Waqash (3) 

    Kisah Sa’d Bin Abu Waqash (3)

    Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, dunia Islam dilanda badai fitnah dan telah membawa korban dengan syahidnya Utsman sendiri. Disusul ketika Khalifah ke-4 Ali bin Abi Thalib, badai fitnah belum juga reda. Banyak orang yang ambisius tampil ke gelanggang untuk merebut kedudukan Khalifah.

    Sa’d sebagai sahabat yang waktu itu masih hidup pun tidak urung ditampilkan orang untuk merebut kedudukan Khalifah Ali. Bahkan Hasyim bin Utbah, keponakannya sendiri mengusulkan agar Sa’d tampil dan merebut kekuasaan Ali. Dengan pongah, Hasyim berkata kepadanya : “Paman, di sini telah siap 100.000 pedang yang mengagap paman adalah orang yang lebih berhak duduk dalam kursi Khalifah. Bangkitlah wahai Paman dan rebutlah kursi kepemimpinan Khalifah itu”

    Sa’d terperanjat dan dengan tegas berkata kepada Hasyim :

    “Dari 100 ribu pedang yang akan kau berikan kepadaku, aku hanya ingin sebuah saja. Dan sebuah itu pun bila kutebaskan kepada sesama mukmin tidak akan mempan sedikit juga. Tapi sebaliknya bila kutebaskan ke leher orang musyrik pastilah putus batang lehernya”

    Mendengar jawaban sang paman, Hasyim mundur, ia memahami bahwa pamannya bukan orang yang gila pangkat atau jabatan. Apalagi untuk merebut kedudukan Ali, pantang baginya. Sa’d memang orang yang sederhana, meski kekayaannya melimpah dan banyak jabatan disodorkan kepadanya. Dalam usianya yang makin menua, hanya satu keinginannya, yaitu bisa menghadap Allah Subhanahu Wata’ala dengan tenang, membawa ketenangan manis dalam membela Islam.

    Pernah suatu ketika seblum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam wafat, dalam suatu majlis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam duduk bersama sahabatnya, tiba-tiba beliau berkata:

    “Tunggulah, sekarang akan datang di hadapan kalian seorang laki-laki penduduk Surga”

    Para sahabat kaget bercampur bingung, menoleh ke kanan dan ke kiri, siapa yang dimaksudkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, “Laki-laki penduduk Surga”. Ketika para sahabat sedang memikirkan maksud ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam itu, datanglah Sa’d. Para sahabat pun gembira menyambut kedatangannya.

    Hadiah berupa doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, muncul lantaran keikhlasan mematuhi segala perintah Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ia memang dikenal seorang ahli ibadah dalam pengertian luas, bukan semata-mata ibadah khusus seperti Sholat, puasa, zakat dan haji, tapi setiap amal perbuatannya itu semata-mata dilandasi oleh semangat pengabdian kepada Allah Subhanahu Wata’ala, yang berkobar-kobar di lubuk hatinya.

    Abdullah bin Amru bin Ash pernah datang menemuinya, menanyakan jenis ibadat dan amal perbuatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala, Sa’d menjawab sederhana: “Aku beribadah seperti yang biasa kita sama-sama lakukan, hanya saja aku tak pernah menaruh dendam atau niat jahat terhadap siapapun selagi ia masih sama-sama muslim”

    Cita-citanya itu terkabulkan, Ia wafat hanya dikafani oleh kain putih yang pernah dipakaikannya sewaktu ikut perang Badar, Peperangan yang sangat dasyat yang untuk pertama kalinya dihadapi kaum muslimin.

    Dalam perang itu, Sa’d mengenakan kain (lusuh) yang sampai akhir hayatnya disimpan baik-baik dan sekarang digunakan untuk mengkafani jasadnya.

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 22 December 2019 Permalink | Balas  

    Kisah Sa’d Bin Abu Waqash Radhiyallahu Anhu (2) 

    Kisah Sa’d Bin Abu Waqash Radhiyallahu Anhu (2)

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pernah menyatakan ada sepuluh sahabat yang dijamin pasti masuk surga, ketika mereka masih hidup. Selain empat sahabat Khulafaur Rasyidin, mereka adalah Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’id bin Zaid, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah bin Jarrah dan tentunya Sa’d bin Abi Waqqash sendiri. Ia memang tidak pernah tertinggal berjuang bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, bahkan ia adalah orang Arab pertama yang memanah di jalan Allah. Ia pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dalam suatu pasukan tanpa bahan makanan yang mencukupi, kecuali hanya daun-daun pohon hublah dan pohon samurah. Akibatnya ada beberapa anggota pasukan yang kotorannya seperti kotoran kambing karena sangat keringnya.

    Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam merasa begitu senang dan berkenan dengan perilaku Sa’d, beliaupun berdoa, “Ya Allah, tepatkanlah panahnya, dan kabulkanlah doanya.”

    Sejak saat itu, panah Sa’d merupakan senjata andalan dan sangat ditakuti oleh musuh. Siapapun yang menjadi sasaran panahnya, ia tidak akan lolos dan selamat lagi. Begitu juga dengan doanya, apapun yang dipanjatkannya seolah tak ada penghalang antara dirinya dengan Allah Subhanahu Wata’ala.

    Pernah suatu ketika ada seseorang yang memaki Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bib Awwam. Sa’d menasehatinya untuk menghentikan perbuatannya tersebut, tetapi orang tersebut masih terus saja memaki tiga orang sahabat utama tersebut. Sa’d pun mengancam akan mendoakan kepada Allah, tetapi dengan sinis ia berkata kepada Sa’d, “Kamu menakut-nakuti aku seolah engkau seorang Nabi saja….!”

    Sa’d pun akhirnya pergi ke masjid, ia berwudhu dan shalat dua rakaat, kemudian berdoa, “Ya Allah, kiranya menurut ilmu-MU, orang ini telah memaki sekelompok orang yang telah memperoleh kebaikan dari Engkau, dan sekiranya sikapnya tersebut mengundang kemurkaan-MU, aku mohon Engkau tunjukkan suatu pertanda yang akan menjadi pelajaran bagi yang lainnya….”

    Tidak lama kemudian, ada seekor unta yang menjadi liar masuk kerumunan orang. Anehnya ia seolah-olah mencari seseorang, dan ketika ditemukan lelaki yang memaki tiga sahabat tersebut, ia menerjang, menyepak dan menginjak-injak lelaki tersebut hingga tewas.

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 21 December 2019 Permalink | Balas  

    Kisah Sa’d Bin Abi Waqash Radhiyallahu Anhu (1) 

    Kisah Sa’d Bin Abi Waqash Radhiyallahu Anhu (1)

    Sa’d bin Malik az Zuhri, atau lebih dikenal sebagai Sa’d bin Abi Waqqash masih termasuk paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, tetapi usianya jauh lebih muda daripada beliau. Ia memeluk Islam ketika berusia 17 tahun, dan termasuk as sabiqunal awwalun. Sebagian riwayat menyatakan ia orang ke tiga, ke empat atau ke tujuh dari kalangan lelaki remaja/dewasa, yang jelas ia memeluk Islam lewat informasi dan pengaruh Abu Bakar.

    Hidayah itu datang berawal dari sebuah mimpi. Sa’d bermimpi matahari tidak muncul lagi sehingga dunia diliputi kegelapan. Tidak ada lagi bedanya siang dan malam. Tetapi kemudian muncul seberkas cahaya, yang di antara cahaya tersebut ada wajah-wajah yang dikenalinya, Abu Bakar, Zaid bin Haritsah dan Ali bin Abi Thalib. Ia bertanya, “Kapan kalian datang, tiba-tiba saja sudah ada di sini?”

    Mereka berkata, “Ya saat ini kami datang….”

    Setelah itu mereka lenyap dan Sa’d terbangun dari mimpinya. Ia gelisah memikirkan mimpinya sehingga fajar menjelang. Pagi harinya ia berangkat ke tempat pekerjaannya seperti biasa, tetapi tidak ada kegairahan kerja seperti hari-hari sebelumnya. Dalam keadaan yang demikian, Abu Bakar muncul. Mereka berbincang-bincang dan Abu Bakar menceritakan tentang risalah yang dibawa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, Abu Bakar mengajaknya untuk memeluk Islam seperti dirinya. Tiba-tiba saja suasana hatinya berubah menjadi cerah, seperti suasana mimpinya ketika berkas cahaya muncul menyibak kegelapan tanpa matahari. Tanpa pikir panjang ia menerima ajakan Abu Bakar, mereka berdua berjalan menuju tempat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, dan Sa’d berba’iat memeluk Islam.

    Ketika diketahui Sa’d bin Abi Waqqash masuk Islam, ibunya sangat tidak menyetujuinya, padahal Sa’d orang yang sangat menghormati dan menyantuni ibunya. Sang ibu menyuruh Sa’d untuk meninggalkan Islam, dan mengancam, “Wahai Sa’d, agama apa yang kamu peluk itu? Sekarang kau harus pilih, kau kembali ke agama nenek moyangmu, atau aku tidak akan makan dan minum sampai aku mati karena perbuatanmu itu?”

    Sa’d hanya berkata, “Jangan kau lakukan itu wahai Ibu, tetapi aku tidak akan meninggalkan agamaku ini.”

    Ibunya pun melaksanakan ancamannya, ia tidak makan dan minum. Hingga hari ketiga, ketika keadaan ibunya sudah sangat payah dan mengkhawatirkan, Orang-orang menjemput Sa’d dan menghadapkan pada ibunya. Sa’d akhirnya berkata, “Demi Allah, jika ibu mempunyai seribu nyawa, dan keluar satu persatu, aku tidak akan meninggalkan agama Islam ini.”

    Melihat tekad anaknya yang begitu kuat, tidak bisa ditawar-tawar lagi, akhirnya sang ibu mengalah dan makan minum lagi seperti biasanya, dan Sa’d pun tetap dengan baik bergaul dengan ibunya, walau tetap dalam agama jahiliahnya. Sebagian riwayat menyebutkan, peristiwa Sa’d dengan ibunya ini menjadi asbabun nuzul dari Surah Luqmanayat 14-15, tentang bagaimana bergaul dengan orang tua.

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 20 December 2019 Permalink | Balas  

    Kisah Zaid Bin Haritsah Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Zaid Bin Haritsah Radhiyallahu Anhu

    Keluarga Zaid bin Haritsah keluarga Arab biasa, yang ketika itu sedang mengunjungi kerabatnya di kampung Kabilah Bani Ma’an, dan Zaid kecil diajak serta. Takdir Allah menghendaki akan mengangkat derajadnya setinggi-tingginya, tetapi melalui jalan musibah. Tiba-tiba sekelompok perampok badui menjarah perkampungan Bani Ma’an tersebut, harta bendanya dikuras habis dan sebagian penduduknya ditawan untuk dijual sebagai budak, termasuk di antaranya adalah Zaid bin Haritsah.

    Zaid bin Haritsah yang masih kecil itu dijual di pasar Ukadz di Makkah, ia dibeli oleh Hakim bin Hizam. Oleh Hakim, ia diberikan kepada bibinya, Khadijah binti Khuwailid, yang tak lain adalah istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, dan akhirnya ia diberikan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam untuk menjadi khadam (pelayan) beliau. Walau saat itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam belum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, tetapi pendidikan yang diperoleh Zaid dari beliau merupakan pendidikan berbasis akhlak mulia, didikan yang berbasis kenabian yang menaikkan derajadnya, dan mengantarnya menjadi salah seorang kelompok sahabat as sabiqunal awwalin.

    Ketika ayahnya, Haritsah mendengar kabar bahwa putranya dimiliki olekeluarga bangsawan Quraisy di Makkah, ia bergegas mengumpulkan harta semampunya untuk menebusnya dari perbudakan. Ia mengajak saudaranya untuk menemaninya ke Makkah. Sesampainya di Makkah, ia menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan berkata, “Kami datang kepada anda untuk meminta anak kami, kami mohon anda bersedia mengembalikannya kepada kami dan menerima uang tebusan yang tidak seberapa banyaknya ini!!”

    “Tidak harus seperti itu,” Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, “Biarlah ia memilih sendiri. Jika ia memilih anda, saya akan mengembalikannya kepada anda tanpa tebusan apapun. Tetapi jika ia memilih saya, maka saya tidak bisa menolak orang yang dengan sukarela mengikuti saya…!”

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menyuruh seseorang untuk memanggil Zaid. Sementara itu tampak kegembiraan Haritsah dengan penjelasan beliau. Ia akan memperoleh kembali anaknya tanpa tebusan apapun, begitu pikirnya. Ketika Zaid telah datang, beliau berkata kepadanya, “Tahukah engkau, siapa dua orang ini?”

    “Ya, saya tahu,” Kata Zaid, “Yang ini ayahku, satunya lagi adalah pamanku…”

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menjelaskan permintaan ayahnya, dan juga tentang pilihan yang beliau berikan kepadanya. Tanpa berfikir panjang, Zaid berkata, “Tak ada pilihanku kecuali anda, andalah ayahku, dan andalah juga pamanku…!”

    Mendengar jawaban Zaid ini ayah dan pamannya terkejut, tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tampak berlinang air mata karena haru dan syukur. Beliau memang sangat menyayanginya seperti anak sendiri, sehingga bagaimanapun secara manusiawi, beliau akan merasa kehilangan jika Zaid memutuskan untuk kembali kepada keluarganya sendiri. Segera saja Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam membawa Zaid ke Ka’bah dimana biasanya para pembesar Quraisy berkumpul, kemudian beliau berkata lantang, “Saksikanlah oleh kalian semua, mulai hari ini Zaid adalah anakku, ia ahli warisku dan aku ahli warisnya…”

    Memang, budaya Arab saat itu membenarkan mengangkat anak yang statusnya sama seperti anak kandung. Sejak itu, Zaid dikenal dengan nama Zaid bin Muhammad.

    Setelah hijrah ke Madinah, Zaid tidak pernah terlewat berjuang bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq dan lain-lainnya, semua diterjuninya tanpa kenal menyerah. Jika Nabi Shallallahu  ‘Alaihi Wassalam mengirim suatu pasukan sementara beliau sendiri tidak mengikutinya, pastilah Zaid yang ditunjuk sebagai pemimpinnya. Misalnya perang al Jumuh, at Tharaf, al Ish, al Hismi dan beberapa peperangan lainnya.

    Tibalah pertempuran Mu’tah, sebuah pertempuran tidak berimbang antara pasukan muslim yang hanya 3.000 orang melawan pasukan Romawi dan sekutunya sebanyak 200.000 orang. Pemicu pertempuran ini adalah terbunuhnya utusan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ke Bushra, Harits bin Umair oleh Syurahbil bin Amr, pemimpin Balqa yang berada di bawah kekuasaan kaisar Romawi. Pasukan muslim 3.000 orang saat itu adalah yang terbesar yang pernah dipersiapkan beliau, dan beliau tidak pernah menyangka bahwa pasukan Romawi akan menghadapinya dengan prajurit sebanyak itu. Tetapi seperti memperoleh pandangan ke depan (vision), beliau menunjuk tiga orang sebagai komandan secara berturutan, pertama Zaid bin Haritsah, kedua Ja’far bin Abi Thalib dan ketiga Abdullah bin Rawahah.

    Ketika pasukan tiba di Mu’an, tidak jauh dari Mu’tah, mereka baru memperoleh informasi bahwa pasukan Romawi sebanyak 200.000 orang. Mereka bermusyawarah tentang jalan terbaik, sebab kalau nekad bertempur, sama saja dengan bunuh diri. Setelah banyak pendapat yang masuk, diputuskan untuk memberitahukan Nabi Shallallahu  ‘Alaihi Wassalam jumlah pasukan yang harus dihadapi. Setelah itu terserah petunjuk beliau, apa akan terus melawan? Menunggu bantuan? Atau apa nanti, terserah perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

    Tetapi pendapat tersebut ditentang oleh komandan lapis ke tiga, Abdullah bin Rawahah. Menurutnya, pertempuran ini adalah karena Allah dan Agama-Nya, bukan karena jumlah pasukan yang dihadapinya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam telah memerintahkan dan tugas mereka melaksanakannya. Apapun hasilnya adalah kebaikan semata, yakni kemenangan, atau gugur sebagai syahid. Pendapat Ibnu Rawahah tersebut seolah menyadarkan mereka, dan menggelorakan semangat berjihad kaum muslimin tersebut, bukan semata-mata takut dan bunuh diri.

    Pertempuran hebat antara 3.000 pasukan melawan 200.000 pasukan, sangat mudah diramalkan bagaimana kesudahannya. Dan seperti “diramalkan” Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, Zaid bin Haritsah gugur dengan luka-luka yang tidak bisa dibayangkan bagaimana parahnya, jauh lebih parah daripada luka-lukanya sepulang dari Thaif. Namun demikian tampak sesungging senyum di bibirnya, karena sesungguhnya-lah ia tak sempat melihat dan mengamati medan pertempuran. Kebun-kebun surga dan bidadari-bidadari yang jelita seolah menyerunya untuk segera datang, sehingga apapun dan siapapun yang menghalangi jalannya, ditebasnya habis dengan pedang dan tombaknya. Dan ia benar-benar telah merasa gembira dan ridha ketika tubuhnya roboh tak bergerak karena luka-luka yang dialaminya, sementara ruh-nya terbang tinggi memenuhi panggilan kasih sayang Ilahi. “Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji-‘ii ilaa robbiki roodhiyatan mardhiyyah, fadhkhuuli fii ‘ibaadii, wadhkhuulii jannatii….!!”

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 19 December 2019 Permalink | Balas  

    Biografi Kehidupan Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu (2) 

    Biografi Kehidupan Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu (2)

    Penulis: Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim hafizhahullah

    Sebagian Kisah Pancaran Akhlak Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu

    Salah satu bentuk didikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang jelas-jelas mencerminkan kepribadian beliau pada diri Ali adalah kesederhanaan (zuhud)-nya. Beberapa orang sahabat sering melihat Ali bin Abi Thalib menangis pada malam-malamnya, sambil berbicara sendiri, “Wahai dunia, apakah engkau hendak menipuku? Apakah kamu mengawasiku? Jauh sekali…jauh sekali… Godalah orang selain aku, sesungguhnya aku telah menceraikanmu dengan thalak tiga. Umurmu pendek, majelis-majelismu sangat hina, kemuliaan dan kedudukanmu sangat sedikit dan tidak berarti (akan habis). Alangkah sengsaranya aku, bekalku sedikit sedangkan perjalanan sangat jauh dan jalannya sangat berbahaya.”

    Itulah prinsip-prinsip mendasar dari akhlak Ali bin Abi Thalib, yang secara umum mewarnai jalan kehidupannya, termasuk ketika ia menjabat sebagai khalifah.

    Bekerja pada Orang Yahudi

    Suatu ketika Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengunjungi kedua cucunya, Hasan dan Husain, tetapi di sana beliau hanya menjumpai putrinya, Fathimah. Ketika beliau bertanya tentang keberadaan kedua cucunya, Fathimah berkata kalau keduanya sedang mengikuti ayahnya, Ali bin Abi Thalib, yang sedang bekerja menimba air pada orang Yahudi karena pada hari itu memang tidak ada persediaan makanan bagi mereka sekeluarga.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menjumpai Ali di kebun orang Yahudi itu, ia menimba air untuk menyiram tanaman di kebun tersebut dengan upah satu butir kurma untuk satu timba air. Hasan dan Husain sendiri sedang bermain-main di suatu ruang sementara tangannya sedang menggenggam sisa-sisa kurma. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berkata kepada Ali, “Wahai Ali, apa tidak sebaiknya engkau bawa pulang anak-anakmu sebelum terik matahari akan menyengat mereka?”

    Ali menjawab, “Wahai Rasulullah, pagi ini kami tidak memiliki sesuatu pun untuk dimakan, karena itu biarkanlah kami disini hingga bisa mengumpulkan lebih banyak kurma untuk Fathimah.”

    Rasulullah Shallallahu  ‘Alaihi Wassalam akhirnya ikut menimba air bersama Ali, hingga terkumpul beberapa butir kurma untuk bisa dibawa pulang.

    Pengadilan Atas Kepemilikan Baju Besi

    Ketika menjadi khalifah, Ali bin Abi Thalib telah kehilangan baju besinya pada perang Jamal. Suatu ketika ia berjalan-jalan di pasar, ia melihat baju besinya ada pada seorang lelaki Yahudi. Ali menuntut haknya atas baju besi itu dengan menunjukkan ciri-cirinya, tetapi si Yahudi bertahan bahwa itu miliknya.

    Ali mengajak si Yahudi menemui kadhi (hakim) untuk memperoleh keputusan yang adil. Yang menjadi kadhi adalah Shuraih, seorang muslim. Ali menyampaikan kepada kadhi tuntutan kepemilikannya atas baju besi yang sedang dibawa oleh si Yahudi. Ia menunjukkan ciri-cirinya, dan membawa dua orang saksi, Hasan putranya sendiri dan hambanya yang bernama Qanbar.

    Mendengar penuturan Ali, yang tak lain adalah Amirul Mukminin yang menjadi ‘Presiden’ kaum muslimin saat itu, Shuraih berkata dengan tegas, “Gantikan Hasan dengan orang lain sebagai saksi, dan kesaksian Qanbar saja tidak cukup!”

    “Apakah engkau menolak kesaksian Hasan?” Tanya Ali kepada Shuraih, “Padahal Rasulullah pernah bersabda Hasan dan Husain adalah penghulu pemuda di surga?”

    “Bukan begitu Ali,” Kata Shuraih, ia sengaja tidak menyebut Amirul Mukminin, karena begitulah kedudukannya di depan hukum, ia meneruskan, “Engkau sendiri pernah berkata bahwa tidak sah kesaksian anak untuk bapaknya.”

    Karena Ali tidak bisa menunjukkan saksi lain yang menguatkan kepemilikannya atas baju besi itu, Shuraih memutuskan baju besi itu milik si Yahudi, dan Ali menerima keputusan tersebut dengan lapang dada.

    Si Yahudi begitu takjub dengan peristiwa ini. Ia-pun mengakui kalau baju itu ditemukannya di tengah jalan, mungkin terjatuh dari unta milik Ali. Ia langsung mengucapkan syahadat, menyatakan dirinya masuk Islam, dan mengembalikan baju besinya kepada Ali. Tetapi karena keislamannya ini, justru Ali menghadiahkan baju besi tersebut kepadanya, dan menambahkan beberapa ratus uang dirham. Lelaki ini selalu menyertai Ali sehingga ia terbunuh syahid dalam perang Shiffin.

    Menjadi Khalifah

    Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu kurang dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ketika dia masih hidup, dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang ada sejak zaman Utsman bin Affan, menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslim sehingga menyebabkan perang tersebut. Tidak hanya selesai di situ, konflik berkepanjangan terjadi hingga akhir pemerintahannya. Pertempuran Shiffin yang melemahkan kekhalifannya juga berawal dari masalah tersebut. Ali bin Abi Thalib, seseorang yang memiliki kecakapan dalam bidang militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi negara karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumya.

    Pembunuhan Ali di Kufah

    Pada tanggal 19 Ramadan 40 Hijriyah, atau 27 Januari 661 Masehi, saat sholat di Masjid Agung Kufah, Ali diserang oleh seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam. Dia terluka oleh pedang yang diracuni oleh Abdurrahman bin Muljam saat ia sedang bersujud ketika sholat subuh. Ali memerintahkan anak-anaknya untuk tidak menyerang orang Khawarij tersebut, Ali malah berkata bahwa jika dia selamat, Abdurrahman bin Muljam akan diampuni sedangkan jika dia meninggal, Abdurrahman bin Muljam hanya diberi satu pukulan yang sama (terlepas apakah dia akan meninggal karena pukulan itu atau tidak). Ali meninggal dua hari kemudian pada tanggal 29 Januari 661 (21 Ramadan 40 Hijriyah) pada usia 59 tahun.

    Hasan bin Ali memenuhi Qisas dan memberikan hukuman yang sama kepada Abdurrahman bin Muljam atas kematian Ali.

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 18 December 2019 Permalink | Balas  

    Biografi Kehidupan Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu (1) 

    Biografi Kehidupan Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu (1)

    Penulis: Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim hafizhahullah

    Tumbuh dalam Didikan Kenabian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam

    Ali bin Abi Thalib masih sepupu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, putra dari Abi Thalib bin Abdul Muthalib, paman yang mengasuh beliau sejak usia delapan tahun. Pamannya ini bersama Khadijah, istri beliau menjadi pembela utama beliau untuk mendakwahkan Islam selama tinggal di Makkah, walau Abi Thalib sendiri meninggal dalam kekafiran.

    Ali bin Abi Thalib lahir sepuluh tahun sebelum kenabian, tetapi telah diasuh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sejak usia 6 tahun.

    Sebagian riwayat menyebutkan ia orang ke dua yang memeluk Islam, yakni setelah Khadijah, riwayat lainnya menyebutkan ia orang ke tiga, setelah Khadijah dan putra angkat beliau Zaid bin Haritsah. Bisa dikatakan ia tumbuh dan dewasa dalam didikan akhlakul karimah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan bimbingan wahyu. Maka tidak heran watak dan karakter Ali bin Abi Thalib mirip dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Dan secara keilmuan, ia mengalahkan sebagian besar sahabat lainnya, sehingga beliau Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pernah bersabda, “Ana madinatul ilmu, wa Ali baabuuha…”(Saya kotanya ilmu dan Ali adalah pintunya).

    Apalagi, ia kemudian dinikahkan dengan putri kesayangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam , Fathimah az Zahra, sehingga bimbingan pembentukan kepribadian Ali bin Abi Thalib oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam terus berlanjut hingga kewafatan beliau.

    Jiwa Perjuangan dan Kepahlawanan Ali bin Abi Thalib

    Salah satu yang terkenal dari Ali bin Abi Thalib adalah sifat ksatria dan kepahlawanannya. Bersama pedang kesayangannya yang diberi nama Dzul Fiqar, sebagian riwayat menyatakan pedangnya tersebut mempunyai dua ujung lancip, ia menerjuni hampir semua medan jihad tanpa sedikitpun rasa khawatir dan takut. Walau secara penampilan fisiknya Ali tidaklah kekar dan perkasa seperti Umar bin Khattab misalnya, tetapi dalam setiap duel dan pertempuran dengan pedangnya itu ia hampir selalu memperoleh kemenangan. Tidak berarti bahwa ia tidak pernah terluka dan terkena senjata musuh, hanya saja luka-luka yang dialaminya tidak pernah menyurutkan semangatnya.

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam seolah mengokohkan kepahlawanannya dengan sabda beliau, “Tiada pedang (yang benar-benar hebat) selain pedang Dzul Fiqar, dan tiada pemuda (yang benar-benar ksatria dan gagah berani) selain Ali bin Abi Thalib…” (Laa fatan illaa aliyyun).

    Ali bin Abi Thalib tidak pernah ketinggalan berjuang bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menerjuni medan pertempuran. Ketika perang Badar akan dimulai, tiga penunggang kuda handal dari kaum musyrik Quraisy maju menantang duel. Mereka dari satu keluarga, Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rab’iah dan Walid bin Utbah. Tampillah tiga pemuda Anshar menyambut tantangan mereka, Auf bin Harits al Afra, Muawwidz bin Harits al Afra dan Abdullah bin Rawahah. Tetapi tokoh Quraisy ini menolak ketiganya, dan meminta orang terpandang dari golongan Quraisy juga. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan Ubaidah bin Harits, Hamzah dan Ali bin Abi Thalib. Ali menghadapi Walid, sebagian riwayat menyatakan ia menghadapi Syaibah. Ini adalah pertempuran pertamanya, tetapi dengan mudah Ali mengalahkan lawannya, yang jauh lebih terlatih dan berpengalaman.

    Pada perang Uhud, ketika pemegang panji Islam, Mush’ab bin Umair menemui syahidnya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan Ali menggantikan kedudukannya. Tangan kiri memegang panji, tangan kanan mengerakkan pedang Dzul Fiqarnya, menghadapi serangan demi serangan yang datang. Tiba-tiba terdengar tantangan duel dari pemegang panji pasukan musyrik, yakni pahlawan Quraisy Sa’ad bin Abi Thalhah. Karena masing-masing sibuk menghadapi lawannya, tantangan tersebut tidak ada yang menanggapi, ia pun makin sesumbar, dan Ali tidak dapat menahan dirinya lagi. Setelah mematahkan serangan lawannya, ia meloncat menghadapi orang yang sombong tersebut, ia berkata, “Akulah yang akan menghadapimu, wahai Sa’ad bin Abi Thalhah. Majulah wahai musuh Allah…!!”

    Merekapun terlibat saling serang dengan pedangnya, di sela-sela dua pasukan yang bertempur rapat. Pada suatu kesempatan, Ali berhasil menebas kaki lawannya hingga jatuh tersungkur. Ketika akan memberikan pukulan terakhir untuk membunuhnya, Sa’ad membuka auratnya dan Ali-pun berpaling dan berlalu pergi, tidak jadi membunuhnya. Ketika seorang sahabat menanyakan alasan mengapa tidak membunuhnya, ia berkata, “Ia memperlihatkan auratnya, sehingga saya malu dan kasihan kepadanya…”

    Pada perang Khandaq, sekelompok kecil pasukan musyrik Quraisy berhasil menyeberangi parit, mereka ini antara lain, Amr bin Abdi Wudd, Ikrimah bin Abu Jahl dan Dhirar bin Khaththab. Segera saja Ali bin Abi Thalib dan sekelompok sahabat yang berjaga pada sisi tersebut mengepung mereka. Amr bin Abdi Wudd adalah jagoan Quraisy yang jarang memperoleh tandingan. Siapapun yang melawannya kebanyakan akan kalah. Ia melontarkan tantangan duel, dan segera saja Ali bin Abi Thalib menghadapinya. Amr bin Wudd sempat meremehkan Ali karena secara fisik memang ia jauh lebih besar dan gagah. Setelah turun dari kudanya, ia menunjukkan kekuatannya, ia menampar kudanya hingga roboh. Namun semua itu tidak membuat Ali gentar, bahkan dengan mudah Ali merobohkan dan membunuhnya. Melihat keadaan itu, anggota pasukan musyrik lainnya lari terbirit-birit sampai masuk parit untuk menyelamatkan diri.

    Menjelang perang Khaibar, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda sambil memegang bendera komando (panji peperangan), “Sesungguhnya besok aku akan memberikan bendera ini pada seseorang, yang Allah akan memberikan kemenangan dengan tangannya. Ia sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya”

    Esoknya para sahabat berkumpul di sekitar Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan sangat berharap dialah yang akan ditunjuk Beliau untuk memegang bendera tersebut. Alasannya jelas, ‘Sangat Mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya juga mencintainya’, derajad apalagi yang lebih tinggi daripada itu, dan itu diucapkan sendirioleh beliau. Pandangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berkeliling untuk mencari seseorang, para sahabat mencoba menunjukkan diri dengan harapan akan ditunjuk beliau. Tetapi beliau tidak menemukan yang dicari, maka beliau bersabda, “Dimanakah Ali bin Abi Thalib?”

    Seorang sahabat menjelaskan kalau Ali sedang mengeluhkan matanya yang sakit. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menyuruh seseorang untuk menjemputnya, dan ketika Ali telah sampai di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau mengusap mata Ali dengan ludah beliau dan mendoakan, seketika sembuh. Sejak saat itu Ali tidak pernah sakit mata lagi. Beliau menyerahkan panji peperangan kepada Ali. Ali berkata, “Wahai Rasulullah, aku akan memerangi mereka hingga mereka sama seperti kita!!”

    “Janganlah terburu-buru,” Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, “Turunlah kepada mereka, serulah mereka kepada Islam. Demi Allah, lebih baik Allah memberi hidayah mereka melalui dirimu, daripada ghanimah berupa himar yang paling elok sekalipun!!”

    Sebagian riwayat menyebutkan, pemilihan Ali sebagai pemegang komando atau panji, setelah dua hari sebelumnya pasukan muslim gagal merebut atau membobol benteng Na’im, benteng terluar dari Khaibar. Khaibar sendiri memiliki delapan lapis benteng pertahanan yang besar, dan beberapa benteng kecil lainnya.

    Ketika perisainya pecah pada peperangan ini, Ali menjebol pintu kota Khaibar untuk menahan serangan panah yang bertubi-tubi, sekaligus menjadikannya sebagai tameng untuk terus menyerang musuh. Usai perang, Abu Rafi dan tujuh orang lainnya mencoba membalik pintu tersebut tetapi mereka tidak kuat. Dalam peperangan ini benteng Khaibar dapat ditaklukkan dan orang-orang Yahudi yang berniat menghabisi Islam justru terusir dari jazirah Arabia.

    Begitulah, hampir tidak ada peperangan yang tidak diterjuninya, dan Ali bin Abi Thalib selalu menunjukkan kepahlawanan dan kekesatriaannya, sekaligus kualitas akhlaknya sebagai didikan wahyu, didikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 17 December 2019 Permalink | Balas  

    Biografi Kehidupan Utsman Bin Affan Radhiyallahu Anhu 

    Biografi Kehidupan Utsman Bin Affan Radhiyallahu Anhu

    Penulis: Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim hafizhahullah

    Utsman bin Affan, adalah sahabat Nabi Muhammad yang termasuk Khulafaur Rasyidin  (khalifah rasyid) yang ke-3. beliau dijuluki dzu nurain, yang berarti pemiliki dua cahaya, Julukan ini didapat karena Utsman telah menikahi puteri kedua dan ketiga dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum. Beliau juga dikenal sebagai pedagang kaya raya dan ekonom yang handal dan sangat dermawan. Banyak bantuan ekonomi yang diberikannya kepada umat Islam di awal dakwah Islam.

    Nasab

    Beliau adalah Utsman bin Affan bin Abi al-Ash bin Umayyah bin Abdu asy-Syam bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luwai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’addu bin Adnan (ath-Thabaqat al-Kubra, 3: 53).

    Amirul mukminin, dzu nurain, telah berhijrah dua kali, dan suami dari dua orang putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibunya bernama Arwa binti Kuraiz bin Rabiah bin Hubaib bin Abdu asy-Syams dan neneknya bernama Ummu Hakim, Bidha binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah. Dari sisi nasab, orang Quraisy satu ini memiliki kekerabatan yang sangat dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain sebagai keponakan Rasulullah, Utsman juga menjadi menantu Rasulullah dengan menikahi dua orang putrinya.

    Utsman bin Affan termasuk di antara sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga, beliau juga menjadi enam orang anggota syura, dan salah seorang khalifah al-mahdiyin, yang diperintahkan untuk mengikuti sunahnya.

    Sifat

    Utsman bin Affan adalah sahabat nabi yang memiliki sifat yang sangat pemalu, seperti dalam hadis berikut ini:

    “Orang yang paling penyayang di antara umatku adalah Abu Bakar, yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah Utsman, yang paling mengetahui tentang halal dan haram adalah Muadz bin Jabal, yang paling hafal tentang Alquran adalah Ubay (bin Ka’ab), dan yang paling mengetahui ilmu waris adalah Zaid bin Tsabit. Setiap umat mempunyai seorang yang terpercaya, dan orang yang terpercaya di kalangan umatku adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya 3:184)

    Utsman adalah seorang yang rupawan, lembut, mempunyai janggut yang lebat, berperawakan sedang, mempunyai tulang persendirian yang besar, berbahu bidang, rambutnya lebat, dan bentuk mulutnya bagus.

    Az-Zuhri mengatakan, “Beliau berwajah rupawan, bentuk mulut bagus, berbahu bidang, berdahi lebar, dan mempunyai telapak kaki yang lebar.”

    Sejarah

    Usman bin Affan lahir pada 574 Masehi dari golongan Bani Umayyah. Ia masuk Islam atas ajakan Abu Bakar dan termasuk golongan As-Sabiqun al-Awwalun (golongan yang pertama-tama masuk Islam).  Rasulullah sendiri menggambarkan Utsman bin Affan sebagai pribadi yang paling jujur dan rendah hati di antara kaum muslimin. Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah bertanya kepada Rasulullah, ‘Abu Bakar masuk tapi engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa?’ Rasullullah menjawab, “Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya?”

    Ikut hijrah

    Pada saat seruan hijrah pertama oleh Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ke Habbasyiah karena meningkatnya tekanan kaum Quraisy terhadap umat Islam, Utsman bersama istri dan kaum muslimin lainnya memenuhi seruan tersebut dan hijrah ke Habasyiah hingga tekanan dari kaum Quraisy reda. Tak lama tinggal di Mekah, Utsman mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam untuk hijrah ke Madinah. Pada peristiwa Hudaibiyah, Utsman dikirim oleh Rasullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam untuk menemui Abu Sofyan di Mekkah. Utsman diperintahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam untuk menegaskan bahwa rombongan dari Madinah hanya akan beribadah di Ka’bah, lalu segera kembali ke Madinah, bukan untuk memerangi penduduk Mekkah.

    Dermawan

    Pada saat Perang Dzatirriqa dan Perang Ghatfahan berkecamuk, dimana Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi memimpin perang, Utsman dipercaya menjabat walikota Madinah. Saat Perang Tabuk, Utsman mendermakan 950 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk perang Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya perang tersebut. Utsman bin Affan juga menunjukkan kedermawanannya tatkala membeli mata air yang bernama Rumah dari seorang lelaki suku Ghifar seharga 35.000 dirham. Mata air itu ia wakafkan untuk kepentingan rakyat umum. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.

    Terpilih Menjadi khalifah ketiga

    Setelah wafatnya Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua, diadakanlah musyawarah untuk memilih khalifah selanjutnya. Ada enam orang kandidat khalifah yang diusulkan yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdul Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Selanjutnya Abdul Rahman bin Auff, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah  mengundurkan diri hingga hanya Utsman dan Ali yang tertinggal. Suara masyarakat pada saat itu cenderung memilih Utsman menjadi khalifah ketiga. Maka diangkatlah Utsman yang berumur 70 tahun menjadi khalifah ketiga dan yang tertua, serta yang pertama dipilih dari beberapa calon. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram 24H. Utsman menjadi khalifah di saat pemerintah Islam telah betul-betul mapan dan terstruktur.

    Peran setelah terpilih menjadi khalifah ketiga

    Utsman bin Affan adalah khalifah kali pertama yang melakukan perluasan masjid al-Haram (Mekkah) dan masjid Nabawi (Madinah) karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). Ia mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid; membangun pertanian, menaklukan Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat. Jasanya yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf.

    Selama masa jabatannya, Utsman banyak mengganti gubernur wilayah yang tidak cocok atau kurang cakap dan menggantikaannya dengan orang-orang yang lebih kredibel. Namun hal ini banyak membuat sakit hati pejabat yang diturunkan sehingga mereka bersekongkol untuk membunuh khalifah.

    Wafat

    Selama masa jabatannya, Utsman banyak mengganti gubernur wilayah yang tidak cocok atau kurang cakap dan menggantikaannya dengan orang-orang yang lebih kredibel. Namun hal ini banyak membuat sakit hati pejabat yang diturunkan sehingga mereka bersekongkol untuk membunuh khalifah.

    Khalifah Utsman dikepung oleh pemberontak selama 40 hari dimulai dari bulan Ramadhan hingga Dzulhijah. Beliau diberi 2 ulimatum oleh pemberontak (Ghafiki dan Sudan), yaitu mengundurkan diri atau dibunuh. Meski Utsman mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan pemberontak, namun ia berprinsip untuk tidak menumpahkan darah umat Islam. Utsman akhirnya wafat sebagai syahid pada bulan Dzulhijah 35 H ketika para pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan membunuh Utsman saat sedang membaca Al-Quran. Persis seperti apa yang disampaikan Rasullullah perihal kematian Utsman yang syahid nantinya, peristiwa pembunuhan usman berawal dari pengepungan rumah Utsman oleh para pemberontak selama 40 hari. Utsman wafat pada hari Jumat 18 Dzulhijjah 35 H. Ia dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.

    ***

    Disebutkan sebuah riwayat yang shahih dari Abu Bakar ash-Shiddiq   bahwa beliau mendikte ‘Utsman   untuk menuliskan wasiatnya ketika akan meninggal dunia. Ketika sampai pada masalah tentang kekhalifahan, Abu Bakar   jatuh pingsan. Maka, ‘Utsman   menuliskan nama ‘Umar  . Ketika Abu Bakar siuman, ia berkata, “Nama siapa yang ditulis?”, ‘Utsman menjawab, “‘Umar.”. Abu Bakar berkata, “Seandainya kamu menulis namamu sendiri, maka sebenar-nya kamu layak untuk menjabatnya.”.

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 16 December 2019 Permalink | Balas  

    Biografi Kehidupan Umar Bin Khatab Radhiyallahu Anhu 

    Biografi Kehidupan Umar Bin Khatab Radhiyallahu Anhu

    Penulis: Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim hafizhahullah

    “Ya Allah…buatlah Islam ini kuat dengan masuknya salah satu dari kedua orang ini. Amr bin Hisham atau Umar bin Khattab.” Salah satu dari doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pada saat Islam masih dalam tahap awal penyebaran dan masih lemah. Doa itu segera dikabulkan oleh Allah. Allah memilih Umar bin Khattab sebagai salah satu pilar kekuatan Islam, sedangkan Amr bin Hisham meninggal sebagai Abu Jahal.

    Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Ayahnya bernama Khattab dan ibunya bernama Khatmah. Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol dari kaki dan tangannya, jenggot yang lebat dan berwajah tampan, serta warna kulitnya coklat kemerah-merahan.

    Beliau dibesarkan di dalam lingkungan Bani Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy. Beliau merupakan khalifah kedua didalam islam setelah Abu Bakar As Siddiq.

    Nasabnya adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qarth bin Razah bin ‘Adiy bin Ka’ab binLu’ay bin Ghalib.

    Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pada kakeknya Ka’ab. Antara beliau dengan Nabi selisih 8 kakek. lbu beliau bernama Hantamah binti Hasyim bin al-Mughirah al-Makhzumiyah. Rasulullah memberi beliau “kun-yah” Abu Hafsh (bapak Hafsh) karena Hafshah adalah anaknya yang paling tua; dan memberi “laqab” (julukan) al Faruq.

    Umar bin Khattab masuk Islam

    Sebelum masuk Islam, Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya dengan kaum Muslimin, bertaklid kepada ajaran nenek moyangnya, dan melakukan perbuatan-perbuatan jelek yang umumnya dilakukan kaum jahiliyah, namun tetap bisa menjaga harga diri. Beliau masuk Islam pada bulan Dzulhijah tahun ke-6 kenabian, tiga hari setelah Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam.

    Ringkas cerita, pada suatu malam beliau datang ke Masjidil Haram secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan bacaan shalat Nabi. Waktu itu Nabi membaca surat al-Haqqah. Umar bin Khattab kagum dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya sendiri- “Demi Allah, ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy.” Kemudian beliau mendengar Rasulullah membaca ayat 40-41 (yang menyatakan bahwa Al Qur’an bukan syair), lantas beliau berkata, “Kalau begitu berarti dia itu dukun.” Kemudian beliau mendengar bacaan Nabi ayat 42, (Yang menyatakan bahwa Al-Qur’an bukan perkataan dukun.) akhirnya beliau berkata, “Telah terbetik lslam di dalam hatiku.” Akan tetapi karena kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan terhadap agama nenek moyang, maka beliau tetap memusuhi Islam.

    Kemudian pada suatu hari, beliau keluar dengan menghunus pedangnya bermaksud membunuh Nabi. Dalam perjalanan, beliau bertemu dengan Nu`aim bin Abdullah al ‘Adawi, seorang laki-laki dari Bani Zuhrah. Lekaki itu berkata kepada Umar bin Khattab, “Mau kemana wahai Umar?” Umar bin Khattab menjawab, “Aku ingin membunuh Muhammad.” Lelaki tadi berkata, “Bagaimana kamu akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah, kalau kamu membunuh Muhammad?” Maka Umar menjawab, “Tidaklah aku melihatmu melainkan kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu.” Tetapi lelaki tadi menimpali, “Maukah aku tunjukkan yang lebih mencengangkanmu, hai Umar? Sesungguhnya adik perampuanmu dan iparmu telah meninggalkan agama yang kamu yakini.”

    Kemudian dia bergegas mendatangi adiknya yang sedang belajar Al Qur’an, surat Thaha kepada Khabab bin al Arat. Tatkala mendengar Umar bin Khattab datang, maka Khabab bersembunyi. Umar bin Khattab masuk rumahnya dan menanyakan suara yang didengarnya. Kemudian adik perempuan Umar bin Khattab dan suaminya berkata, “Kami tidak sedang membicarakan apa-apa.” Umar bin Khattab menimpali, “Sepertinya kalian telah keluar dari agama nenek moyang kalian.”

    Iparnya menjawab, “Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada agamamu?”

    Mendengar ungkapan tersebut Umar bin Khattab memukulnya hingga terluka dan berdarah, karena tetap saja saudaranya itu mempertahankan agama Islam yang dianutnya, Umar bin Khattab berputus asa dan menyesal melihat darah mengalir pada iparnya.

    Umar bin Khattab berkata, ‘Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin membacanya.’ Maka adik perempuannya berkata,” Kamu itu kotor. Tidak boleh menyentuh kitab itu kecuali orang yang bersuci. Mandilah terlebih dahulu!” lantas Umar bin Khattab mandi dan mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya. Ketika dia membaca surat Thaha, dia memuji dan muliakan isinya, kemudian minta ditunjukkan keberadaan Rasulullah.

    Tatkala Khabab mendengar perkataan Umar bin Khattab, dia muncul dari persembunyiannya dan berkata, “Aku akan beri kabar gembira kepadamu, wahai Umar! Aku berharap engkau adalah orang yang didoakan Rasulullah pada malam Kamis, ‘Ya Allah, muliakan Islam. Dengan Umar bin Khatthab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam.’ Waktu itu, Rasulullah berada di sebuah rumah di daerah Shafa.” Umar bin Khattab mengambil pedangnya dan menuju rumah tersebut, kemudian mengetuk pintunya. Ketika ada salah seorang melihat Umar bin Khattab datang dengan pedang terhunus dari celah pintu rumahnya, dikabarkannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Lantas mereka berkumpul. Hamzah bin Abdul Muthalib bertanya, “Ada apa kalian?” Mereka menjawab, ‘Umar (datang)!” Hamzah bin Abdul Muthalib berkata, “Bukalah pintunya. Kalau dia menginginkan kebaikan, maka kita akan menerimanya, tetapi kalau menginginkan kejelekan, maka kita akan membunuhnya dengan pedangnya.” Kemudian Nabi menemui Umar bin Khattab dan berkata kepadanya. “… Ya Allah, ini adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khattab.” Dan dalam riwayat lain: “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar.”

    Seketika itu pula Umar bin Khattab bersyahadat, dan orang-orang yang berada di rumah tersebut bertakbir dengan keras. Menurut pengakuannya dia adalah orang yang ke-40 masuk Islam. Abdullah bin Mas’ud berkomentar, “Kami senantiasa berada dalam kejayaan semenjak Umar bin Khattab masuk Islam.

    Kepemimpinan Umar bin Khattab

    Keislaman beliau telah memberikan andil besar bagi perkembangan dan kejayaan Islam. Beliau adalah pemimpin yang adil, bijaksana, tegas, disegani, dan selalu memperhatikan urusan kaum muslimin. Pemimpin yang menegakkan ketauhidan dan keimanan, merobohkan kesyirikan dan kekufuran, menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah. Beliau adalah orang yang paling baik dan paling berilmu tentang al-Kitab dan as-Sunnah setelah Abu Bakar As Siddiq.

    Kepemimpinan Umar bin Khattab tak seorangpun yang dapat meragukannya. Seorang tokoh besar setelah Rasulullah SAW dan Abu Bakar As Siddiq. Pada masa kepemimpinannya kekuasaan islam bertambah luas. Beliau berhasil menaklukkan Persia, Mesir, Syam, Irak, Burqah, Tripoli bagian barat, Azerbaijan, Jurjan, Basrah, Kufah dan Kairo.

    Dalam masa kepemimpinan sepuluh tahun Umar bin Khattab itulah, penaklukan-penaklukan penting dilakukan Islam. Tak lama sesudah Umar bin Khattab memegang tampuk kekuasaan sebagai khalifah, pasukan Islam menduduki Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium. Dalam pertempuran Yarmuk (636), pasukan Islam berhasil memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun 641, pasukan Islam telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun 639, pasukan Islam menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Dalam tempo tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna.

    Penyerangan Islam terhadap Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia telah mulai bahkan sebelum Umar bin Khattab naik jadi khalifah. Kunci kemenangan Islam terletak pada pertempuran Qadisiya tahun 637, terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Menjelang tahun 641, seseluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan Islam. Dan bukan hanya itu, pasukan Islam bahkan menyerbu langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642), mereka secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia. Menjelang wafatnya Umar bin Khattab di tahun 644, sebagian besar daerah barat Iran sudah terkuasai sepenuhnya. Gerakan ini tidak berhenti tatkala Umar bin Khattab wafat. Di bagian timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat mereka mendesak terus dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.

    Selain pemberani, Umar bin Khattab juga seorang yang cerdas. Dalam masalah ilmu diriwayatkan oleh Al Hakim dan Thabrani dari Ibnu Mas’ud berkata, ”Seandainya ilmu Umar bin Khattab diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan ilmu seluruh penghuni bumi diletakkan pada tepi timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar bin Khattab lebih berat dibandingkan ilmu mereka. Mayoritas sahabatpun berpendapat bahwa Umar bin Khattab menguasai 9 dari 10 ilmu. Dengan kecerdasannya beliau menelurkan konsep-konsep baru, seperti menghimpun Al Qur’an dalam bentuk mushaf, menetapkan tahun hijriyah sebagai kalender umat Islam, membentuk kas negara (Baitul Maal), menyatukan orang-orang yang melakukan sholat sunah tarawih dengan satu imam, menciptakan lembaga peradilan, membentuk lembaga perkantoran, membangun balai pengobatan, membangun tempat penginapan, memanfaatkan kapal laut untuk perdagangan, menetapkan hukuman cambuk bagi peminum “khamr” (minuman keras) sebanyak 80 kali cambuk, mencetak mata uang dirham, audit bagi para pejabat serta pegawai dan juga konsep yang lainnya.

    Namun dengan begitu beliau tidaklah menjadi congkak dan tinggi hati. Justru beliau seorang pemimpin yang zuhud lagi wara’. Beliau berusaha untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan rakyatnya.

    Dalam satu riwayat Qatadah berkata, ”Pada suatu hari Umar bin Khattab memakai jubah yang terbuat dari bulu domba yang sebagiannya dipenuhi dengan tambalan dari kulit, padahal waktu itu beliau adalah seorang khalifah, sambil memikul jagung ia lantas berjalan mendatangi pasar untuk menjamu orang-orang.” Abdullah, puteranya berkata, ”Umar bin Khattab berkata, ”Seandainya ada anak kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka Umar merasa takut diminta pertanggung jawaban oleh Allah Subhanahu Wata’ala.”

    Beliaulah yang lebih dahulu lapar dan yang paling terakhir kenyang. Beliau berjanji tidak akan makan minyak samin dan daging hingga seluruh kaum muslimin kenyang memakannya…

    Tidak diragukan lagi, khalifah Umar bin Khattab adalah seorang pemimpin yang arif, bijaksana dan adil dalam mengendalikan roda pemerintahan. Bahkan ia rela keluarganya hidup dalam serba kekurangan demi menjaga kepercayaan masyarakat kepadanya tentang pengelolaan kekayaan negara. Bahkan Umar bin Khattab sering terlambat salat Jum’at hanya menunggu bajunya kering, karena dia hanya mempunyai dua baju.

    Kebijaksanaan dan keadilan Umar bin Khattab ini dilandasi oleh kekuatirannya terhadap rasa tanggung jawabnya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sehingga jauh-jauh hari Umar bin Khattab sudah mempersiapkan penggantinya jika kelak dia wafat. Sebelum wafat, Umar berwasiat agar urusan khilafah dan pimpinan pemerintahan, dimusyawarahkan oleh enam orang yang telah mendapat ridha Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.  Mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidilah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf.

    Umar menolak menetapkan salah seorang dari mereka, dengan berkata, aku tidak mau bertanggung jawab selagi hidup sesudah mati. Kalau AIlah menghendaki kebaikan bagi kalian, maka Allah akan melahirkannya atas kebaikan mereka (keenam orang itu) sebagaimana telah ditimbulkan kebaikan bagi kamu oleh Nabimu.

    Wafatnya Umar bin Khattab

    Pada hari Rabu bulan Dzulhijah tahun 23 H Umar Bin Kattab wafat, Beliau ditikam ketika sedang melakukan Shalat Subuh oleh seorang Majusi yang bernama Abu Lu’luah, budak milik al-Mughirah bin Syu’bah diduga ia mendapat perintah dari kalangan Majusi. Umar bin Khattab dimakamkan di samping Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan Abu Bakar as Siddiq. Beliau wafat dalam usia 63 tahun.

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 15 December 2019 Permalink | Balas  

    Biografi Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu (3) 

    Biografi Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu (3)

    Penulis: Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim hafizhahullah

    Keutamaan

    Tidak ada lelaki yang memiliki keutamaan sebanyak keutamaan Abu Bakar Radhiallahu’anhu

    1. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah salah seorang mufti di masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam

    Oleh karena itu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menugasi beliau sebagai Amirul Hajj pada haji sebelum haji Wada’. Diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu:

    “Abu Bakar Ash Shiddiq mengutusku untuk dalam sebuah ibadah haji yang terjadi sebelum haji Wada’, dimana beliau ditugaskan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk menjadi Amirul Hajj. Ia mengutusku untuk mengumumkan kepada sekelompok orang di hari raya idul adha bahwa tidak boleh berhaji setelah tahunnya orang musyrik dan tidak boleh ber-thawaf di ka’bah dengan telanjang”

    Abu Bakar juga sebagai pemegang bendera Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika perang Tabuk.

    1. Abu Bakar Ash Shiddiq menginfaqkan seluruh hartanya ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menganjurkan sedekah

    Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu berkata:

    “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan kami untuk bersedekah, maka kami pun melaksanakannya. Umar berkata: ‘Semoga hari ini aku bisa mengalahkan Abu Bakar’. Aku pun membawa setengah dari seluruh hartaku. Sampai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bertanya: ‘Wahai Umar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Kujawab: ‘Semisal dengan ini’. Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bertanya: ‘Wahai Abu Bakar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Abu Bakar menjawab: ‘Ku tinggalkan bagi mereka, Allah dan Rasul-Nya’. Umar berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selamanya’” (HR. Tirmidzi)

    1. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah orang yang paling dicintai Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam

    ‘Amr bin Al Ash Radhiallahu’anhu bertanya kepada Nabi Shallallahu’alahi Wasallam:

    “Siapa orang yang kau cintai?. Rasulullah menjawab: ‘Aisyah’. Aku bertanya lagi: ‘Kalau laki-laki?’. Beliau menjawab: ‘Ayahnya Aisyah’ (yaitu Abu Bakar)” (HR. Muslim)

    1. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah khalil bagi Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam

    Imam Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu’anhu, ia berkata:

    “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkhutbah kepada manusia, beliau berkata: ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala memilih hamba di antara dunia dan apa yang ada di dalamnya. Namun hamba tersebut hanya dapat memilih apa yang Allah tentukan’. Lalu Abu Bakar menangis. Kami pun heran dengan tangisan beliau itu, hanya karena Rasulullah mengabarkan tentang hamba pilihan. Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lah orangnya, dan Abu Bakar lebih paham dari kami. Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    ‘Sesungguhnya orang yang sangat besar jasanya padaku dalam kedekatan dan kerelaan mengeluarkan harta, ialah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan mengangkat seorang kekasihku selain Rabbku pastilah aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan se-Islam dan kecintaan karenanya. Maka jangan ditinggalkan pintu kecil di masjid selain pintu Abu Bakar saja’”

    1. Allah Ta’ala mensucikan Abu Bakar Ash Shiddiq

    Allah Ta’ala berfirman:

    “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan” (QS. Al Lail: 17-21)

    Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar Ash Shiddiq. Selain itu beliau juga termasuk as sabiquunal awwalun, dan Allah Ta’ala berfirman:

    “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.  Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 100)

    1. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memberi tazkiyah kepada Abu Bakar

    Ketika Abu Bakar bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

    “Barangsiapa yang membiarkan kainnya terjulur karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. Abu Bakar berkata: ‘Sesungguhnya salah satu sisi sarungku melorot kecuali jika aku ikat dengan baik. Rasulullah lalu berkata: ‘Engkau tidak melakukannya karena sombong”” (HR. Bukhari dalam Fadhail Abu Bakar Radhiallahu’anhu)

    1. Abu Bakar Ash Shiddiq didoakan oleh Nabi untuk memasuki semua pintu surga

    “Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah” (HR. Al Bukhari – Muslim)

    1. Abu Bakar Ash Shiddiq melakukan banyak perbuatan agung dalam sehari

    Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    “Siapa yang hari ini berpuasa? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”

    “Siapa yang hari ini ikut mengantar jenazah? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”

    “Siapa yang hari ini memberi makan orang miskin? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”

    “Siapa yang hari ini menjenguk orang sakit? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”

    “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bersabda: ‘Tidaklah semua ini dilakukan oleh seseorang kecuali dia akan masuk surga’”

    1. Orang musyrik mensifati Abu Bakar Ash Shiddiq sebagaimana Khadijah mensifati Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

    Mereka berkata tentang Abu Bakar:

    “Apakah kalian mengusir orang yang suka bekerja untuk mereka yang tidak berpunya, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu dan selalu menolong di jalan kebenaran?” (HR. Bukhari)

    1. Ali Radhiallahu’anhu mengenal keutamaan Abu Bakar Ash Shiddiq

    Muhammad bin Al Hanafiyyah berkata, aku bertanya kepada ayahku, yaitu Ali bin Abi Thalib:

    “Manusia mana yang terbaik sepeninggal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam? Ali menjawab: Abu Bakar. Aku berkata: ‘Kemudian siapa lagi?’. Ali berkata: ‘Lalu Umar’. Aku lalu khawatir yang selanjutnya adalah Utsman, maka aku berkata: ‘Selanjutnya engkau?’. Ali berkata: ‘Aku ini hanyalah orang muslim biasa’” (HR. Bukhari)

     

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 14 December 2019 Permalink | Balas  

    Biografi Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu (2) 

    Biografi Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu (2)

    Penulis: Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim hafizhahullah

    Keutamaan

    Tidak ada lelaki yang memiliki keutamaan sebanyak keutamaan Abu Bakar Radhiallahu’anhu

    1. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah manusia terbaik setelah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dari golongan umat beliau.

    Ibnu ‘Umar Radhiallahu’anhu berkata:

    “Kami pernah memilih orang terbaik di masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Kami pun memilih Abu Bakar, setelah itu Umar bin Khattab, lalu ‘Utsman bin Affan Radhiallahu’anhu” (HR. Bukhari)

    Dari Abu Darda Radhiallahu’anhu, ia berkata:

    “Aku pernah duduk di sebelah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Tiba-tiba datanglah Abu Bakar menghadap Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berkata: ‘Sesungguhnya teman kalian ini sedang gundah‘. Lalu Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, antara aku dan Ibnul Khattab terjadi perselisihan, aku pun segera mendatanginya untuk meminta maaf, kumohon padanya agar memaafkan aku namun dia enggan memaafkanku, karena itu aku datang menghadapmu sekarang’. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam lalu berkata: ‘“Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar‘. Sebanyak tiga kali, tak lama setelah itu Umar menyesal atas perbuatannya, dan mendatangi rumah Abu Bakar sambil bertanya, “Apakah di dalam ada Abu Bakar?” Namun keluarganya menjawab, tidak. Umar segera mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Sementara wajah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam terlihat memerah karena marah, hingga Abu Bakar merasa kasihan kepada Umar dan memohon sambil duduk di atas kedua lututnya, “Wahai Rasulullah Demi Allah sebenarnya akulah yang bersalah”, sebanyak dua kali. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya ketika aku diutus Allah kepada kalian, ketika itu kalian mengatakan, ”Engkau pendusta wahai Muhammad”, Sementara Abu Bakar berkata, ”Engkau benar wahai Muhammad”. Setelah itu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian tidak jera menyakiti sahabatku?‘ sebanyak dua kali. Setelah itu Abu Bakar tidak pernah disakiti” (HR. Bukhari)

    Beliau juga orang yang paling pertama beriman kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, menemani Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan membenarkan perkataannya. Hal ini terus berlanjut selama Rasulullah tinggal di Mekkah, walaupun banyak gangguan yang datang. Abu Bakar juga menemani Rasulullah ketika hijrah.

    1. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah orang yang menemani Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam di gua ketika dikejar kaum Quraisy

    Allah Ta’ala berfirman,

    “Salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At Taubah: 40)

    As Suhaili berkata: “Perhatikanlah baik-baik di sini Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam  berkata ‘janganlah kamu bersedih’ namun tidak berkata ‘janganlah kamu takut’ karena ketika itu rasa sedih Abu Bakar terhadap keselamatan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sangat mendalam sampai-sampai rasa takutnya terkalahkan.”

    Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari hadits Anas bin Malik Radhiallahu’anhu, Abu Bakar berkata kepadanya:

    “Ketika berada di dalam gua, aku melihat kaki orang-orang musyrik berada dekat dengan kepala kami. Aku pun berkata kepada Rasulullah: ‘Wahai Rasulullah, kalau di antara mereka ada yang melihat kakinya, mereka akan melihat kita di bawah kaki mereka’. Rasulullah berkata: ‘Wahai Abu Bakar, engkau tidak tahu bahwa bersama kita berdua yang ketiga adalah Allah’”

    Ketika hendak memasuki gua pun, Abu Bakar masuk terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada hal yang dapat membahayakan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Juga ketika dalam perjalanan hijrah, Abu Bakar terkadang berjalan di depan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, terkadang di belakangnya, terkadang di kanannya, terkadang di kirinya.

    Oleh karena itu ketika masa pemerintahan Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu ada sebagian orang yang menganggap Umar lebih utama dari Abu Bakar, maka Umar Radhiallahu’anhu pun berkata:

    “Demi Allah,  satu malamnya Abu Bakar lebih baik dari satu malamnya keluarga Umar, satu harinya Abu Bakar masih lebih baik dari seharinya keluarga Umar. Abu Bakar bersama Rasulullah pergi ke dalam gua. Ketika berjalan, dia terkadang berada di depan Rasulullah dan terkadang di belakangnya. Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam heran dan berkata: ‘Wahai Abu Bakar mengapa engkau berjalan terkadang di depan dan terkadang di belakang?’. Abu Bakar berkata: ‘Ya Rasulullah, ketika saya sadar kita sedang dikejar, saya berjalan di belakang. Ketika saya sadar bahwa kita sedang mengintai, maka saya berjalan di depan’. Rasulullah lalu berkata: ‘Wahai Abu Bakar, kalau ada sesuatu yang aku suka engkau saja yang melakukannya tanpa aku?’ Abu Bakar berkata: ‘Demi Allah, tidak ada yang lebih tepat melainkan hal itu aku saja yang melakukan tanpa dirimu’. Ketika mereka berdua sampai di gua, Abu Bakar berkata: ‘Ya Rasulullah aku akan berada di tempatmu sampai memasuki gua. Kemudian mereka masuk, Abu Bakar berkata: Turunlah wahai Rasulullah. Kemudian mereka turun. Umar berkata: ‘Demi Allah, satu malamnya Abu Bakar lebih baik dari satu malamnya keluarga Umar’‘” (HR. Al Hakim, Al Baihaqi dalam Dalail An Nubuwwah)

    1. Ketika kaum muslimin hendak berhijrah, Abu Bakar Ash Shiddiq menyumbangkan seluruh hartanya. (Dalilnya disebutkan pada poin 8, pent.)
    2. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah khalifah pertama

    Dan kita diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk meneladani khulafa ar rasyidin, sebagaimana sabda beliau:

    “Hendaknya kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin setelahku. Gigitlah dengan gigi geraham kalian” (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan lainnya. Hadits ini shahih dengan seluruh jalannya)

    1. Abu Bakar Ash Shiddiq dipilih sebagai khalifah berdasarkan nash

    Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sakit keras, beliau memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat berjama’ah. Dalam Shahihain, dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha ia berkata:

    “Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sakit menjelang wafat, Bilal datang meminta idzin untuk memulai shalat. Rasulullah bersabda: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’. ‘Aisyah berkata: ‘Abu Bakar itu orang yang terlalu lembut, kalau ia mengimami shalat, ia mudah menangis. Jika ia menggantikan posisimu, ia akan mudah menangis sehingga sulit menyelesaikan bacaan Qur’an. Nabi tetap berkata: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’. ‘Aisyah lalu berkata hal yang sama, Rasulullah pun mengatakan hal yang sama lagi, sampai ketiga atau keempat kalinya Rasulullah berkata: ‘Sesungguhnya kalian itu (wanita) seperti para wanita pada kisah Yusuf, perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’”

    Oleh karena itu Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu berkata:

    “Apakah kalian tidak ridha kepada Abu Bakar dalam masalah dunia, padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah ridha kepadanya dalam masalah agama?”

    Juga diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata:

    “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata kepadaku ketika beliau sakit, panggilah Abu Bakar dan saudaramu agar aku dapat menulis surat. Karena aku khawatir akan ada orang yang berkeinginan lain (dalam masalah khilafah) sehingga ia berkata: ‘Aku lebih berhak’. Padahal Allah dan kaum mu’minin menginginkan Abu Bakar (yang menjadi khalifah). Kemudian datang seorang perempuan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengatakan sesuatu, lalu Nabi memerintahkan sesuatu kepadanya. Apa pendapatmu wahai Rasulullah kalau aku tidak menemuimu? Nabi menjawab: ‘Kalau kau tidak menemuiku, Abu Bakar akan datang’” (HR. Bukhari-Muslim)

    1. Umat Muhammad diperintahkan untuk meneladani Abu Bakar Ash Shiddiq

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

    “Ikutilah jalan orang-orang sepeninggalku yaitu Abu Bakar dan Umar” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Maajah, hadits ini shahih)

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 13 December 2019 Permalink | Balas  

    Biografi Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu (1) 

    Biografi Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu (1)

    Penulis: Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim hafizhahullah

    Nama

    Nama beliau -menurut pendapat yang shahih- adalah Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taiym bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay Al Qurasyi At Taimi.

    Kun-yah

    Beliau memiliki kun-yah: Abu Bakar

    Laqb (Julukan)

    Beliau dijuluki dengan ‘Atiq (عتيق) dan Ash Shiddiq (الصدِّيق).

    Sebagian ulama berpendapat bahwa alasan beliau dijuluki ‘Atiq karena beliau tampan. Sebagian mengatakan karena beliau berwajah cerah. Pendapat lain mengatakan karena beliau selalu terdepan dalam kebaikan. Sebagian juga mengatakan bahwa ibu beliau awalnya tidak kunjung hamil, ketika ia hamil maka ibunya berdoa,

    “Ya Allah, jika anak ini engkau bebaskan dari maut, maka hadiahkanlah kepadaku”

    Dan ada beberapa pendapat lain.

    Sedangkan julukan Ash Shiddiq didapatkan karena beliau membenarkan kabar dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan kepercayaan yang sangat tinggi. Sebagaimana ketika pagi hari setelah malam Isra Mi’raj, orang-orang kafir berkata kepadanya: ‘Teman kamu itu (Muhammad) mengaku-ngaku telah pergi ke Baitul Maqdis dalam semalam’. Beliau menjawab:

    “Jika ia berkata demikian, maka itu benar”

    Allah Ta’ala pun menyebut beliau sebagai Ash Shiddiq:

    “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (QS. Az Zumar: 33)

    Tafsiran para ulama tentang ayat ini, yang dimaksud ‘orang yang datang membawa kebenaran’ (جَاء بِالصِّدْقِ) adalah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan yang dimaksud ‘orang yang membenarkannya’ (صَدَّقَ بِهِ) adalah Abu Bakar Radhiallahu’anhu.

    Beliau juga dijuluki Ash Shiddiq karena beliau adalah lelaki pertama yang membenarkan dan beriman kepada Nabi Muhammad  Shallallahu’alaihi Wasallam. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam telah menamai beliau dengan Ash Shiddiq sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari:

    “Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan ‘Utsman. Gunung Uhud pun berguncang. Nabi lalu bersabda: ‘Diamlah Uhud, di atasmu ada Nabi, Ash Shiddiq (yaitu Abu Bakr) dan dua orang Syuhada’ (‘Umar dan ‘Utsman)”

    Kelahiran

    Beliau dilahirkan 2 tahun 6 bulan setelah tahun gajah.

    Ciri Fisik

    Beliau berkulit putih, bertubuh kurus, berambut lebat, tampak kurus wajahnya, dahinya muncul, dan ia sering memakai hinaa dan katm.

    Jasa-jasa

    Jasanya yang paling besar adalah masuknya ia ke dalam Islam paling pertama.

    Hijrahnya beliau bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam

    Ketegaran beliau ketika hari wafatnya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam

    Sebelum terjadi hijrah, beliau telah membebaskan 70 orang yang disiksa orang kafir karena alasan bertauhid kepada Allah. Di antara mereka adalah Bilal bin Rabbaah, ‘Amir bin Fahirah, Zunairah, Al Hindiyyah dan anaknya, budaknya Bani Mu’ammal, Ummu ‘Ubais

    Salah satu jasanya yang terbesar ialah ketika menjadi khalifah beliau memerangi orang-orang murtad

    Abu Bakar adalah lelaki yang lemah lembut, namun dalam hal memerangi orang yang murtad, beliau memiliki pendirian yang kokoh. Bahkan lebih tegas dan keras daripada Umar bin Khattab yang terkenal akan keras dan tegasnya beliau dalam pembelaan terhadap Allah. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu:

    “Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam wafat, dan Abu Bakar menggantikannya, banyak orang yang kafir dari bangsa Arab. Umar berkata: ‘Wahai Abu Bakar, bisa-bisanya engkau memerangi manusia padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah, barangsiapa yang mengucapkannya telah haram darah dan jiwanya, kecuali dengan hak (jalan yang benar). Adapun hisabnya diserahkan kepada Allah?’ Abu Bakar berkata: ‘Demi Allah akan kuperangi orang yang membedakan antara shalat dengan zakat. Karena zakat adalah hak Allah atas harta. Demi Allah jika ada orang yang enggan membayar zakat di masaku, padahal mereka menunaikannya di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, akan ku perangi dia’. Umar berkata: ‘Demi Allah, setelah itu tidaklah aku melihat kecuali Allah telah melapangkan dadanya untuk memerangi orang-orang tersebut, dan aku yakin ia di atas kebenaran‘”

    Begitu tegas dan kerasnya sikap beliau sampai-sampai para ulama berkata:

    “Allah menolong Islam melalui Abu Bakar di hari ketika banyak orang murtad, dan melalui Ahmad (bin Hambal) di hari ketika terjadi fitnah (khalqul Qur’an)”

    Abu Bakar pun memerangi orang-orang yang murtad dan orang-orang yang enggan membayar zakat ketika itu

    Musailamah Al Kadzab dibunuh di masa pemerintahan beliau

    Beliau mengerahkan pasukan untuk menaklukan Syam, sebagaimana keinginan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dan akhirnya Syam pun di taklukan, demikian juga Iraq.

    Di masa pemerintahan beliau, Al Qur’an dikumpulkan. Beliau memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkannya.

    Abu Bakar adalah orang yang bijaksana. Ketika ia tidak ridha dengan dilepaskannya Khalid bin Walid, ia berkata:

    “Demi Allah, aku tidak akan menghunus pedang yang Allah tujukan kepada musuhnya sampai Allah yang menghunusnya” (HR. Ahmad dan lainnya)

    Ketika masa pemerintahan beliau, terjadi peperangan. Beliau pun bertekad untuk pergi sendiri memimpin perang, namun Ali bin Abi Thalib memegang tali kekangnya dan berkata: ‘Mau kemana engkau wahai khalifah? Akan kukatakan kepadamu perkataan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika perang Uhud:

    ‘Simpanlah pedangmu dan janganlah bersedih atas keadaan kami. Kembalilah ke Madinah. Demi Allah, jika keadaan kami membuatmu sedih Islam tidak akan tegak selamanya‘. Lalu Abu Bakar Radhiallahu’anhu pun kembali dan mengutus pasukan.

    Beliau juga sangat mengetahui nasab-nasab bangsa Arab.

     
  • erva kurniawan 10:07 am on 25 July 2019 Permalink | Balas  

    Halal Buat Kami, Haram Buat Tuan 

    HALAL BUAT KAMI, HARAM BUAT TUAN

    ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al Hanzhali al Marwazi ulama terkenal di makkah yang menceritakan riwayat ini.

    Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka:

    “Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.

    “Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.

    “Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”

    “Tidak satupun”

    Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.

    “Apa?” ia menangis dalam mimpinya. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

    Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.

    “Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni . Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”

    “Kok bisa”

    “Itu Kehendak Allah”

    “Siapa orang tersebut?”

    “Sa’id bin Muhafah tukang sol sepatu di kota Damsyiq (damaskus sekarang)”

    Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun, Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.

    Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.

    “Ada, di tepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,

    “Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu

    “Betul, siapa tuan?”

    “Aku Abdullah bin Mubarak”

    Said pun terharu, “bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”

    Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun men ceritakan perihal mimpinya.

    “Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”

    “Wah saya sendiri tidak tahu!”

    “Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini.

    Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.

    “Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar : Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika laka.

    Ya Allah, aku datang karena panggilanMu. Tiada sekutu bagiMu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyaanMu dan kekuasaanMu. Tiada sekutu bagiMu.

    Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis

    Ya allah aku rindu Mekah. Ya Allah aku rindu melihat kabah. Ijinkan aku datang…..Ijinkan aku datang ya Allah..

    Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu.

    Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji.

    “Saya sudah siap berhaji”

    “Tapi anda batal berangkat haji”

    “Benar”

    “Apa yang terjadi?”

    “Istri saya hamil, dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”

    “Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?

    “ya sayang” “Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku”

    “Ustadz, sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.

    Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya.

    Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan :

    “tidak boleh tuan”

    “Dijual berapapun akan saya beli”

    “Makanan itu tidak dijual, tuan” katanya sambil berlinang mata.

    Akhirnya saya tanya kenapa?

    Sambil menangis, janda itu berkata “daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan” katanya.

    Dalam hati saya: Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim?

    Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa?”

    “Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak.

    “Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram”.

    Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang. Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.

    “Ini masakan untuk mu”

    Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.

    ”Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”

    Ya Allah……… disinilah Hajiku

    Ya Allah……… disinilah Mekahku.

    Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak bisa menahan air mata.

    ( buat yang akan naik haji …. atau yang sdh berhaji…. )

    Saudaraku ………………Ingat … Ada dua yang tidak kekal dalam diri manusia ! Yakni : Masa Muda dan Kekuatan Fisiknya. Jangan Lupa … Ada dua juga yang akan bermanfaat bagi semua orang ! Yakni : Budi Pekerti yang luhur serta Jiwa yang ikhlas memaafkan. Perhatikan .. Ada dua pula yang akan mengangkat derajat kemulian manusia ! Yakni : Rendah hati dan suka meringankan beban hidup orang lain. Dan ada dua yang akan menolak datangnya bencana ! Yakni : Sedekah serta menjalin hubungan silaturrahim. Semoga kita menjadi orang orang yang dimuliakan Allah swt aamiin.

    ***

    Rasulullah S.A.W bersabda :”Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala.”

    (HR. Al-Bukhari)

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 18 June 2019 Permalink | Balas  

    Peristiwa Karbala 

    Peristiwa Karbala

    Pada tahun enam puluh Hijriyah Kholifah Muawiyah meninggal dunia di Syam. Kemudian sesuai dengan wasiatnya maka yang menggantikannya adalah putranya yang bernama Yazid.

    Penunjukan ini tentu mengundang reaksi dari para tokoh, terutama dari keluarga besar Bani Hasyim. Sebab kebiasaan jelek dari Yazid, seperti meminum minuman keras dan lainnya yang jelas jelas melanggar agama, bukan rahasia lagi bagi masyarakat saat itu.

    Tapi karena tangan besi yang dilakukan oleh pemerintah saat itu, maka sangat sedikit dari masyarakat yang berani menentangnya.

    Selanjutnya guna mendapatkan Baiat dari Sayyidina Husin ra yang berada di Madinah, maka Yazid memerintahkan Walid bin Ugbah Kepala daerah Madinah, untuk mendapatkan Baiat dari cucu Rosululloh Saw tesebut.

    Malam harinya Walid bin Ugbah segera mendatangi Sayyidina Husin ra, tapi beliau beralasan bahwa orang seperti dia tidak boleh Baiat sembunyi-sembunyi, tapi harus Baiat dihadapan halayak ramai.

    Kemudian dalam rangka menghindari Baiat kepada Yazid, malam itu juga Sayyidina Husin ra bersama keluarganya secara diam-diam meninggalkan Madinah menuju Mekah. Tepatnya malam minggu tanggal dua puluh delapan Rajab tahun enam puluh Hijriyah.

    Berita sampainya Sayyidina Husin ra dan keluarganya di Mekah tersebar keberbagai daerah .Orang-orang Kufah yang dikenal sebagai Syi’ ahnya Imam Ali kw dan Imam Husin ra begitu mendengar berita tersebut, segera berkirim surat ke Sayyidina Husin ra. Mereka meminta agar Sayyidina Husin ra mau datang ke Kufah untuk di baiat sebagai Kholifah. Dan apabila tidak mau, maka beliau harus bertanggung jawab dihadapan Alloh SWT, atas kedholiman yang terjadi.

    Namun meskipun surat yang dikirim dari Kufah tidak ada henti-hentinya, Sayyidina Husin ra tetap tidak mau pergi ke Kufah.

    Hal mana karena beliau masih ingat penghianatan orang-orang Kufah terhadap ayahnya dan saudaranya. Mereka mengaku sebagai Syi’ahnya Ahlul Bait, tapi kenyataannya mereka justru berkhianat.

    Setelah melalui berbagai surat gagal, maka orang-orang Kufah tersebut mengutus beberapa orang guna menemui Sayyidina Husin ra, meminta pada beliau agar mau datang ke Kufah untuk di Baiat sebagai Kholifah.

    Sebagai orang yang arif lagi bijaksana, walaupun sudah berkali kali di khianati oleh orang-orang yang mengaku sebagai Syi’ahnya Ahlul Bait, beliau akhirnya mengutus Muslim bin Agil (sepupunya) ke Kufah guna membuktikan apa yang sudah mereka sampaikan.

    Sesampainya Muslim bin Agil ra di Kufah, puluhan ribu penduduk Kufah menyambutnya serta membaiatnya sebagai wakil dari Sayyidina Husin ra.

    Muslim bin Agil segera mengirim surat ke Sayyidina Husin ra, memberitahukan mengenai keadaan dan apa yang terjadi di Kufah, serta mengharap agar Sayyidina Husin ra segera berangkat ke Kufah.

    Setelah menerima surat tersebut, Sayyidina Husin ra. segera memutuskan untuk segera berangkat ke Kufah. Kemudian rencana tersebut beliau sampaikan ke famili-familinya serta sahabat-sahabatnya.

    Abdulloh bin Abbas sepupu Imam Ali kw begitu mendengar rencana Sayyidini Husin ra tersebut, segera mendatangi Sayyidina Husin ra dan menasihatinya agar menggagalkan rencananya. Sebab Abdulloh bin Abbas ra tahu benar watak orang-orang Kufah yang selalu mengaku sebagai pecinta Ahlul Bait tersebut.

    Dengan harapan dapat menyelamatkan negara dari orang-orang yang tidak layak memimpin negara, maka Sayyidina Husin ra terpaksa menolak nasehat Abdulloh bin Abbas dan tetap akan berangkat ke Kufah.

    Kemudian pada tanggal sembilan Dhulhijjah (hari Tarwiyah) Sayyidina Husin ra bersama keluarganya dan beberapa orang Anshor meninggalkan Mekah menuju Kufah.

    Namun apa yang terjadi di Kufah ?

    Yazid yang menggantikan ayahnya di Syam, begitu mendengar bahwa orang-orang Kufah sudah memihak dan membaiat Muslim bin Agil ra sebagai wakil dari Sayyidina Husin ra , segera mengangkat Ubaidillah bin Ziyad sebagai Kepala Daerah Kufah yang baru menggantikan Nu’man bin Basyir.

    Berbeda dengan Kepala Daerah yang lama, Ubaidillah bin Ziyad orangnya tegas, kejam, cerdik, dan lihai serta pandai mempengaruhi penduduk Kufah. Sehingga tidak lama kemudian penduduk Kufah sudah berpaling dari Muslim bin Agil ra. Mereka yang menyatakan dirinya sebagai Syi’ahnya Ahlul Bait dan membaiat Muslim bin Agil ra sebagai wakil dari Sayyidina Husin ra itu telah berkhianat. Mereka berubah haluan , mereka terpengaruh oleh bujukan dan rayuan Ubaidillah bin Ziyad dan berbalik menjadi pengikut Yazid.

    Muslim bin Agil ra tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa apa melihat keadaan yang menyedihkan tersebut, bahkan setelah melalui pengejaran, akhirnya Muslim bin Agil ra meninggal dunia (Syahid).

    Sayyidina Husin ra yang sedang diperjalanan bersama rombongannya dari Mekah ditambah orang-orang yang bergabung dengannya diperjalanan, ketika mendengar berita mengenai keadaan di Kufah serta kematian Muslim bin Agil ra, segera berkata kepada rombongannya sbb;

    Hai orang-orang, kita telah dikhianati oleh orang-orang Kufah. Barang siapa akan meninggalkan rombongan, saya persilahkan dan dia tidak bersalah.

    Mendengar kata-kata Sayyidina Husin ra dan mengetahui keadaan di Kufah, maka sebagian rombongannya ada yang meninggalkan rombongan. Tinggal Sayyidina Husin ra dan rombongannya yang datang bersamanya dari Mekah.

    Tidak lama kemudian, Sayyidina Husin ra dan rombongannya dihadang oleh pasukan Ibin Ziyad yang berkekuatan seribu personil dipimpin oleh Al Hur bin Yazid At Tamimi.

    Selanjutnya begitu berhadapan dengan mereka, Sayyidina Husin ra segera berkata; Wahai orang-orang, sebelumnya saya mohon maaf kepada Alloh dan kepada kalian, sebenarnya saya tidak akan datang ketempat kalian terkecuali setelah menerima surat-surat dari kalian dan utusan kalian yang meminta pada saya agar saya mau datang ketempat kalian. Dan sekarang saya sudah datang, apabila kalian dengan senang hati mau menerima kami, maka kami akan masuk kota kalian. Tapi jika kalian tidak senang dengan kedatangan kami, maka kami akan kembali ketempat dari mana kami berangkat.

    Setelah mendengar kata-kata Sayyidina Husin ra mereka menjawab; Kami hanya diperintah untuk membawa kalian ke Ibin Ziyad.

    Mendengar kata-kata tersebut Sayyidina Husin ra segera mengajak rombongannya kembali ke Mekah, tapi dihalangi oleh Al Hur dan anak buahnya.

    Melihat kelakuan mereka tersebut Sayyidina Husin ra bertanya ; Apa maksud kalian?

    Al Hur menjawab; Saya tidak diperintah untuk memerangimu, tapi saya diperintah untuk membawamu kehadapan Ibin Ziyad. Karenanya jangan kemana – mana dulu, sampai aku mengirim surat ke Ibin Ziyad. Dan kamu juga berkirimlah surat ke Yazid dan Ibin Ziyad, semoga Alloh menyelamatkan saya dari urusanmu.

    Tidak berapa lama kemudian, datang Umar bin Saad bersama tentaranya yang berjumlah empat ribu orang. Tepatnya hari itu, jum’at tanggal lima Muharrom tahun enam puluh satu Hijriyah.

    Kemudian Umar bin Saad memberi tahu Sayyidina Husin ra bahwa Ibin Ziyad memerintahkannya, agar melarang Sayyidina Husin ra mengambil air, sampai Sayyidina Husin ra mau membaiat Yazid.

    Selanjutnya oleh karena Sayyidina Husin ra tidak mau Baiat kepada Yazid, maka sejak saat itu Sayyidina Husin ra dan rombongannya dilarang mengambil air.

    Tapi tidak lama kemudian, melihat banyak anak anak yang kehausan dan melihat akibat dari tindakannya tersebut, hati Umar mulai iba, kemudian dia berkirim surat ke Ibin Ziyat meminta Izin.

    Mengapa Umar bin Saad berubah sikapnya agak lunak? Diceritakan bahwa perubahan tersebut diantaranya dikarenakan telah terjadi satu peristiwa yang luar biasa, dimana saat itu Sayyidina Husin ra karena haus, pergi kesungai untuk minum dan mengambil air untuk minumnya kaum wanita dan anak-anak. Tapi beliau dihalangi oleh perajurit Umar bin Saad. Saat itu ada seorang yang bernama Abdulloh bin Abi Hushoin berkata kepadanya: Hai Husin, tidakah engkau melihat air yang jernih itu?. Tapi demi Alloh aku bersumpah bahwa engkau tidak akan meminumnya, meskipun satu tetes., hingga engkau mati kehausan.

    Mendengar dan melihat sikap orang yang benar-benar ingin melihat dia mati kehausan itu, Sayyidina Husin ra segera meninggalkan tempat tersebut dalam keadaan haus yang luar biasa, sambil berdoa memohon kehadirat Alloh Swt agar orang tersebut merasakan dahaga yang tidak bisa dihilangkan.

    Tidak lama setelah Sayyidina Husin ra memanjatkan doanya, Abdullah bin Abi Hushoin merasa haus yang luar biasa. Sehingga dia tidak sanggup menahan dahaganya. Iapun segera minum, namun meskipun dia sudah minum banyak, tapi rasa hausnya masih tetap. Karenanya dia terus minum, sampai perutnya yang besar itu terasa kembung.

    Tak tahan merasa dahaga tapi perutnya terasa penuh air, maka diapun akhirnya tuntah tuntah. Namun kejadian ini tidak berhenti, karena rasa haus yang dia rasakan tidak berhenti. Selanjutnya setiap dia minum, dia selalu tuntah, karena perutnya yang sudah kembung itu tidak bisa lagi menerima air.

    Akhirnya dalam keadaan lemas dan tidak berdaya dia menghembuskan nafas yang terakhir sambil memegang lehernya

    Kejadian tersebut disaksikan oleh beberapa temannya sehingga menjadi pembicaraan anak buah Umar bin Saad. Mungkin kejadian ini menambah alasan, mengapa sikap Umar bin Saad berubah agak lunak dan meminta izin Ke Ibin Ziyad.

    Ternyata Ibin Ziyad setelah membaca surat dari Umar bin Saad tersebut justru marah. Kemudian dia Segera mengirim Syamer bin Dhil Jausyan membawa surat untuk Umar bin Saad yang isinya menolak permintaan Umar dan memberi tahu bahwa dia dalam menghadapi Sayyidina Husin ra, hanya diberi dua pilihan yaitu antara Baiat kepada Yazid atau perang.

    Selanjutnya oleh karena Sayyidina Husin ra tidak mau Baiat kepada Yazid, maka pagi harinya Umar bin Saad segera mempersiapkan tentaranya guna menyerang Sayyidina Husin ra.

    Kemudian melihat musuh sudah bersiap-siap akan menyerang, maka Sayidina Husin ra segera mempersiapkan pasukannya guna menghadapi Umar bin Saad dan pasukannya. Sedang kaum wanita disuruh tetap tinggal didalam kemah bersama putranya yang bernama Ali Al Aushot yang sedang sakit.

    Melihat musuh yang begitu banyak jumlahnya, diperkirakan mencapai lima ribu orang, sedang beliau dan orang-orangnya hanya berjumlah tujuh puluh dua orang, maka beliau hanya bisa pasrah kepada Alloh Swt. Namun beliau tidak takut dan tidak gentar serta tidak mengenal Tagiyah dalam menghadapi musuh-musuhnya yang begitu banyak.

    Beliau menghadapi mereka dalam keadaan puasa, karena hari itu tepat tanggal sepuluh Muharrom. Dimana Rosululloh Saw berpuasa pada hari itu dan memerintahkan para Sahabat agar berpuasa. Bahkan agar berbeda dengan orang-orang Yahudi yang juga berpuasa pada hari itu, maka Rosululloh Saw juga memerintahkan agar Umatnya berpuasa pada tanggal sembilan Muharrom, yang kemudian dikenal dengan puasa Tasua dan Asyuro.

    Tetesan air mata

    Ada satu kejadian yang luar biasa, yang perlu kami sampaikan disini, dan sekaligus sebagai pelajaran bagi kita.

    Pagi sepuluh Muharrom itu, disaat Sayyidina Husin ra sedang memperhatikan musuh yang ada dihadapannya dan akan menyerangnya, tiba-tiba air matanya menetes. Hal ini menunjukkan ada sesuatu yang membuatnya menangis.

    Melihat kejadian tersebut, Siti Zainab ra yang ada didekatnya segera bertanya ; Mengapa air matamu sampai menetes wahai saudaraku, apakah engkau takut?. Padahal engkau akan bertemu dengan saudaramu, ibumu, ayahmu dan datukmu Rosululloh Saw

    Sayyidina Husin ra segera menjawab: Bukan karena itu air mataku menetes, tapi aku melihat orang-orang yang akan membunuhku itu masuk Neraka. Maka aku merasa kasihan pada mereka dan aku memohon kepada Alloh Swt agar mereka dimasukkan Surga.

    Sungguh kejadian ini membuktikan kebesaran jiwa serta kemuliaan sifat dan akhlaq Sayyidina Husin ra. Sesuatu yang telah diwarisinya dari datuknya baginda Rosululloh Saw. Seorang yang telah menyandang gelar, sebagai Rahmatan Lil Alamin.

    Alloh Swt telah berfirman: Dan kami tidak mengutusmu terkecuali membawa Rahmat bagi seluruh Alam.

    Bukan hanya anak buahnya atau pecintanya yang didoakan masuk Surga, tapi sampai musuh musuhnya dan orang-0rang yang akan membunuhnya , beliau doakan masuk Surga.

    Beliau Sayyidina Husin ra menginginkan kehidupan mereka, tapi mereka justru menginginkan kematiannya.

    Demikian Sayyidina Husin ra, seorang Ahlul Bait yang berhati mulia, pemaaf dan tidak sedikitpun mempunyai rasa dendam pada orang lain. Baik terhadap musuh-musuhnya atau orang-orang yang akan membunuhnya, apalagi terhadap orang-orang yang telah berjasa terhadap Rosululloh Saw dan islam .

    Kejadian diatas sebagai pelajaran bagi kita, agar kita tidak cepat-cepat mengumpat atau mencacimaki orang-orang yang yang berbuat jelek kepada kita dan Ahlul Bait, tapi kita doakan mereka, semoga mereka mendapat hidayah dari Alloh Swt.

    Selanjutnya tidak lama kemudian kedua pasukan sudah berhadapan. Pada awalnya difihak Sayyidina Husin ra, barisan depan ditempati oleh putra-putra Sayyidina Husin ra dan putra-putra saudaranya. Namun kemudian orang-orang Anshar yang bersamanya sejak awal, memerotes dan berkata kepadanya; Wahai putra dari putri Rosululloh Saw, kita sudah ada kesepakatan, bahwa dalam setiap pertempuran kami orang-orang Anshor akan selalu ditempatkan dibarisan terdepan. Tapi mengapa sekarang kami ditempatkan dibarisan kedua?.

    Kemudian Sayyidina Husin ra menjawab; Benar kami ada perjanjian dengan kalian, tapi kali ini biarlah keluargaku yang berada digaris depan, dan kalian cukup dibarisan kedua saja.

    Mendengar jawaban Sayyidina Husin ra tersebut, orang-orang Anshor itu berkata; Jadi kami diletakkan dibarisan kedua itu agar apabila kalian gugur, maka kami akan dibiarkan oleh musuh. Sebab yang dikehendaki oleh musuh adalah kalian. Dan selanjutnya apabila kami pulang, maka penduduk Madinah akan berkata; Kalian senang karena pulang dalam keadaan selamat, sedang pemimpin (Sayid) kita, kalian tinggalkan dalam keadaan gugur, dibunuh oleh musuh-musuh kita.

    Demi Alloh kami akan gugur bersama kalian, dalam mempertahankan kebenaran.

    Akhirnya mereka diijinkan untuk menempati barisan terdepan.

    Tidak lama kemudian terjadilah pertempuran, dan oleh karena pertempuran ini tidak seimbang, meskipun dari fihak Sayyidina Husin ra sudah menunjukan perlawanan yang luar biasa, maka dari fihak Sayyidina Husin ra korban mulai berjatuhan. Satu demi satu sahabatnya dan keluarganya gugur dan akhirnya Sayyidina Husin ra sendiri juga gugur Syahid.

    Berbagai cara mereka lakukan saat menyerang dan membunuh Sayyidina Husin ra, tapi kami selaku penulis buku ini tidak dapat menguraikan kebiadaban tersebut. Dan Kami hanya bisa berucap, Innaa Lillaah Wa Innaa Ilaihi Roojiuun.

    Sebenarnya Sayyidina Husin ra sudah merasa bahwa dirinya akan meninggal pada hari itu , sebab pada pagi hari itu, beliau bermimpi bertemu dengan datuknya, dimana Rosululloh Saw saat itu berkata kepadanya; Malam ini engkau berbuka bersama kami.

    Karenanya disaat saudarinya meminta kepadanya agar beliau mau membatalkan puasanya sebelum berperang, beliau menjawab: Saya akan berbuka bersama datukku.

    Dengan demikian hari itu atau hari Asyuro adalah hari kemenangan dan kegembiraan bagi Sayidina Husin ra, sebab pada hari itu beliau bertemu dengan Rosululloh saw, bertemu dengan ayahnya Imam Ali kw dan dengan ibunya Fathimah Az Zahra ra serta dengan saudaranya Sayyidina Hasan ra. Sehingga hari itu merupakan hari yang sudah lama dinanti-nantikannya.

    Karena kebenaranlah beliau berkorban, dan karena berkorban itu beliau mendapat kedudukan yang sangat tinggi disisi Alloh Swt sebagai Syahid.

    Satu-satunya anak lelaki dari Sayyidina Husin ra yang masih hidup dan selamat dari kekejaman orang orang Kufah atau orang-orang yang pernah mengaku sebagai Syi’ahnya Ahlul Bait adalah Sayyidina Ali Zainal Abidin atau Ali Al Aushot ra. Beliau selamat karena saat itu beliau sedang sakit dan berada didalam kemah bersama kaum wanita.

    Kemudian setelah peperangan selesai, semua keluarga Sayyidina Husin ra yang masih hidup , yang terdiri dari orang orang perempuan dan Sayyidina Ali Zainal Abidin ra ditawan dan dibawa ke Ibin Ziyad di Kufah. Tidak ketinggalan kepala Sayyidina Husin ra dan kepala kepala Sahabatnya juga dibawa kehadapan Ibin Ziyad . Jarak antara Karbala dengan Kufah kurang lebih dua puluh lima Mil.

    Selanjutnya atas perintah Ibin Ziyad, kepala kepala tersebut diarak keliling kota..

    Sayyidina Ali Zainal Abidin ra sendiri hampir dibunuh dihadapan Ibin Ziyad andaikata Sayyidah Zainab ra (saudari Imam Husin ra) tidak melarang mereka, sambil merangkulnya.

    Kemudian para tawanan dan kepala Sayyidina Husin ra dibawa dari Kufah ketempat Yazid di Damaskus (Syam). Pada awalnya Yazid yang sebelumnya senang dengan tindakan Ibnu Ziyad tersebut, begitu menyaksikan apa yang ada dihadapannya mulai menyesal. Terutama setelah melihat reaksi penduduk Damaskus yang tidak senang melihat apa yang terjadi. Tapi karena tujuannya untuk politik, yaitu mempertahankan kekuasaannya, maka selanjutnya kepala Sayyidina Husin ra diarak keberbagai daerah.

    Namun sesampainya arak-arakan tersebut dikota Asgolan (Palestina), maka atas perintah Kepala Daerah Asgolan yang dikenal berbudi baik, kepala Sayyidina Husin ra segera dimakamkan.

    Menurut ahli sejarah keberadaan kepala Sayyidina Husin ra di Asgolan berlangsung hingga tahun lima ratus empat puluh delapan hijriyah.

    Selanjutnya, disaat Asgolan dibawah kekuasaan Fatimiyyun di Mesir. Pada waktu itu Kepala Daerah Asgolan mengirim surat ke Mesir memberi tahu kepada Kholifah, bahwa orang orang barat berencana menguasai Asgolan (Palestina). Saya takut jika Asgolan sampai dikuasai mereka, maka apa yang ada di Asgolan akan dibawa ketempat mereka. Dan oleh karena kepala Sayyidina Husin ra berada di Asgolan, maka saya khawatir mereka juga akan mengambilnya dan dibawa kenegara mereka. Untuk itu kirimlah orang yang anda percayai untuk mengurus dan membawa kepala tersebut.

    Setelah menerima surat tersebut, pemerintahan Fatimiyyun di mesir segera mengirim pasukan ke Asgolan dengan dibekali uang yang cukup guna keperluan pemindahan kepala Sayyidina Husin.

    Ssesampainya kembali mereka di Mesir, maka penduduk Mesir dan pemerintahan saat itu menyambut dengan khidmat kedatangan kepala Sayyidina Husin ra tersebut. Selanjutnya dimandikan, dan yang mengherankan saat itu darahnya masih segar belum kering serta mengeluarkan bau yang sangat harum.

    Setelah selesai dimandikan, kemudian kepala Sayyidina Husin ra dimakamkan disatu tempat di Cairo Mesir, yang sekarang dikenal dengan Masjid Al Husin dan selalu diziarahi oleh kaum Muslimin yang berdatangan dari seluruh penjuru dunia.

    Demikian akhir dari perjalanan kepala Sayyidina Husin ra

    Adapun Sayyidina Ali Zainal Abidin bin Husin ra dan saudari saudarinya serta bibinya yaitu Siti Zainab ra, maka setelah mereka dibawa kehadapan Yazid, dimana sikap Yazid yang sebelumnya tidak sopan berubah baik dan menghormati mereka, maka mereka segera meninggalkan Damaskus (syam) menuju Madinah.

    Kedatangan mereka disambut oleh penduduk Madinah. Mereka merasa sedih dan ikut berduka cita atas wafatnya Sayyidina Husin ra dan keluarganya di Karbala.

    Yang aneh, penduduk Kufah yang ikut bergabung dengan Ibin Ziyad dan ikut bersekongkel dalam pembunuhan terhadap Sayyidina Husin ra tersebut akhirnya menyesali perbuatan mereka. Mereka banyak yang menangis menyesal, karena perbutan mereka Sayyidina Husin ra dan keluarganya menjadi korban dan meninggal di Karbala.

    Seorang Ahli sejarah yang dikenal dengan sebutan Al Ya’qubi (Ulama Syi’ah) menerangkan dalam buku sejarah yang dikarangnya : Bahwa ketika Sayyidina Ali Zainal Abidin ra memasuki Kota Kufah, beliau melihat orang-orang yang mengaku sebagai Syi’ahnya ayahnya menangis. Kemudian beliau berkata;

    Kalian membunuhnya tapi kalian menangisinya. Siapa yang membunuhnya jika bukan kalian, kalianlah yang membunuhnya.

    Demikian kesaksian Sayyidina Ali Zainal Abidin ra atas menangisnya orang-orang Syi’ah yang selalu mengaku sebagai pecinta Ahlul Bait.

    Sejarah mencatat, bahwa orang-orang yang telah membunuh Sayyidina Husin ra itu akhirnya menyesali perbuatan mereka, dan dibawah pimpinan Sulaiman bin Sord mereka segera membentuk persatuan yang mereka namakan Attawwaabuun. Sebagai wadah bagi orang-orang Syi’ah yang telah berkhianat terhadap Sayyidina Husin ra dan keluarganya.

    Itulah sebabnya sampai sekarang orang-orang Syi’ah jika memperingati hari terbunuhnya Sayyidina Husin ra atau hari Asyuro selalu dengan menangis. Bahkan ada yang memukuli badannya sampai berdarah, sebagai penebusan dosa atas perbuatan yang mereka lakukan terhadap Ahlul Bait di Karbala.

    Ulama-ulama kita menilai cara mereka tersebut, merupakan satu perbutan Bid’ah (Dholalah), karena sangat menyimpang dari ajaran Rosululloh Saw.

    Rosululloh Saw pernah bersabda :

    Bukan dari golonganku, orang-orang yang suka memukuli wajahnya dan merobek kantongnya (pakaiannya) serta menyerukan kepada perbuatan jahiliyah.

    Dalam sabdanya yang lain, beliau melarang orang-orang menangisi orang-orang yang sudah mati, seperti yang dilakukan orang-orang syi’ah sekarang, mereka berkumpul dan menangis bersama-sama, dengan berteriak-teriak, sebentar memuji dan sebentar melaknat serta memukuli badannya.

    Selanjutnya guna menguatkan cara mereka tersebut, mereka membuat Hadist-Hadist palsu dengan mengatas namakan Ahlul Bait. diantaranya sebagai berikut:

    1. Barang siapa menangis atau menangis-tangiskan dirinya atas kematian Husin , maka Alloh Swt akan mengampuni semua dosa dosanya, baik yang sudah dilakukan maupun yang akan dilakukan.
    2. Barang siapa menangis atau menangis-tangiskan dirinya atas kematian Husin, maka wajiblah (pastilah) dirinya mendapat surga.

    Demikian jaminan dari Ulama-Ulama Syi’ah, cukup menangis atas kematian Sayyidina Husin ra pasti masuk Surga.

    Disamping riwayat-riwayat diatas, masih banyak lagi riwayat-riwayat palsu yang mereka buat, tidak kurang dari 458 (empat ratus lima puluh delapan) riwayat, mengenai ziarah kemakam Imam-imam Syi’ah, bahkan dari jumlah tersebut 338 (tiga ratus tiga puluh delapan) khusus mengenai kebesaran dan keutamaan serta pahala besar bagi peziarah kemakam Imam Husin ra atau ke Karbala. Sebagai contoh :

    1. Barang siapa ziarah kemakam Imam Husin sekali, maka pahalanya sama dengan haji sebanyak 20 kali.
    2. Barang siapa ziarah kemakam Imam Husin di Karbala pada hari arafah, maka pahalanya sama dengan haji 1.000.000 kali bersama Imam Mahdi, disamaping mendapatkan pahalanya memerdekakan 1000 (seribu) budak dan pahalanya bersodaqoh 1000 ekor kuda.
    3. Barang siapa ziarah ke makam Imam Husin pada Nisfu Sya’ban maka sama dengan ziarah Allah di ‘Arasy-Nya.
    4. Barang siapa ziarah kemakam Imam Husin diKarbala pada hari Asyura, maka akan mendapat pahala dari Allah sebanyak pahalanya orang haji 2000 kali dan diberi pahalanya orang umroh sebanyak 2000 kali dan diberi pahalanya orang yang berperang bersama Rasululllah saw 2000 kali.
    5. Andaikata saya katakan mengenai pahalanya ziarah ke makam Husin niscaya kalian tinggalkan ibadah haji dan tidak seorangpun yang akan mengerjakan haji.

    ItuIah diantara hadist-hadist palsu yang bersumber dari kitab Syi’ah “ WASAAIL ASY-SYI’AH” oleh Al Khurrul Amily (ulama Syi’ah).

    Sebenarnya setiap Muslim akan merasa sedih dan berduka, apabila mendengar atau membaca sejarah terbunuhnya Sayyidina Husin ra dan keluarganya di Karbala. Tetapi juga dapat kita ketahui, bagaimana ketabahan beliau dalam menghadapi musuh-musuhnya yang begitu banyak. Beliau tidak takut dan tidak gentar serta tidak mengenal Tagiyah. Karena kebenaranlah beliau berkorban, dan karena berkorban itu beliau mendapat kedudukan yang sangat tinggi sebagai Syahid.

    Demikian Peristiwa Karbala yang oleh Dunia Islam dikenal sebagai : PENGHIANATAN SYI’AH TERHADAP AHLUL BAIT

     

    Kiriman Sahabat: Al Pacitan

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 7 April 2019 Permalink | Balas  

    Ilmu Tentang Para Rawi 

    Ilmu Tentang Para Rawi

    Pembahasan tentang rawi sangat penting dalam kaitannya dengan pengetahuan derajat hadits, yakni shahih, hasan, dha’if, dapat diterima atau ditolaknya suatu hadits. Oleh karena itu, pembahasan tentang para rawi menjadi teramat penting dalam Mushthalah al-Hadits.

    Rawi adalah orang yang menerima hadits dan menyampaikannya dengan salah satu bahasa penyampaiannya. Para ulama mengklasifikasikan para rawi –dari segi banyak dan sedikitnya hadits yang mereka riwayatkan serta peran mereka dalam bidang ilmu hadits– menjadi beberapa tingkatan. Dan setiap tingkat diberi julukan secara khusus, yaitu:

    1. al-Musnid, adalah orang yang meriwayatkan hadits beserta sanadnya, baik ia mengetahui kandungan hadits yang diriwayatkannya atau sekedar meriwayatkan tanpa memahami isi kandungannya.
    2. al-Muhaddits. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Sayyid an-Nas, al-Muhaddits adalah orang yang mencurahkan perhatiannya terhadap hadits, baik dari segi riwayah maupun dirayah, hapal identitas dan karakteristik para rawi, mengetahui keadaan mayoritas rawi di setiap jamannya beserta hadits-hadits yang mereka riwayatkan; tambahan dia juga memiliki keistimewaan sehingga dikenal pendiriannya dan ketelitiannya[2]. Dengan kata lain ia menjadi tumpuan pertanyaan umat tentang hadits dan para rawinya, sehingga menjadi masyhur dalam hal ini dan pendapatnya menjadi dikenal karena banyak keterangan yang ia sampaikan lalu ditulis oleh para penanyanya. Ibnu al-jazari berkata, “al-Muhaddits adalah orang menguasai hadits dari segi riwayah dan mengembangkannya dari segi dirayah.”[3]
    3. al-Hafidh, secara bahasa berarti ‘penghapal’ Gelar ini lebih tinggi daripada gelar al-Muhaddits. Para ulama menjelaskan bahwa al-Hafidh adalah gelar orang yang sangat luas pengetahuannya tentang hadits beserta ilmu-ilmunya, sehingga hadits yang diketahuinya lebih banyak daripada yang tidak diketahuinya.”[4] Ibnu al-Jazari berkata, “al-Hafidh adalah orang yang meriwayatkan seluruh hadits yang diterimanya dan hapal akan hadits yang dibutuhkan darinya.”
    4. al-Hujjah, gelar ini diberikan kepada al-Hafidh yang terkenal tekun. Bila seorang hafidh sangat tekun, kuat dan rinci hapalannya tentang sanad dan matan hadits, maka ia diberi gelar al-Hujjah. Ulama mutaakhkhirin mendefinisikan al-Hujjah sebagai orang yang hapal tiga ratus ribu hadits, termasuk sanad dan matannya. Bilangan jumlah hadits yang berada dalam hapalan ulama, sebagaimana yang mereka sebutkan itu, mencakup hadits yang matannya sama tetapi sanadnya berbilang; dan yang berbeda redaksi/matannya. Sebab, perubahan suatu hadits oleh suatu kata–baik pada sanad atau pada matan–akan dianggap sebagai suatu hadits tersendiri. Dan seringkali para muhadditsin berijtihad dan mengadakan perlawatan ke berbagai daerah karena adanya perubahan suatu kalimat dalam suatu hadits seperti itu.
    5. al-Hakim adalah rawi yang menguasai seluruh hadits sehingga hanya sedikit saja hadits yang terlewatkan.
    6. Amir al-Mu’minin fi al-Hadits (baca: Amirul Mukminin fil Hadits) adalah gelar tertinggi yang diberikan kepada orang yang kemampuannya melebihi semua orang di atas tadi, baik hapalannya maupun kedalaman pengetahuannya tentang hadits dan ‘illat-‘illatnya, sehingga ia menjadi rujukan bagi para al-Hakim, al-Hafidh, serta yang lainnya. Di antara ulama yang memiliki gelar ini adalah Sufyan ats-Tsawri, Syu’bah bin al-Hajjaj, Hammad bin Salamah, Abdullah bin al-Munarak, Ahmad bin Hanbal, al-Bukhari, dan Muslim. Dan dari kalangan ulama mutaakhkhirin ialah al-Hafidh Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqalani dan lainnya.[5] Jadi yang menjadi ukuran tingkat keilmuan para ulama hadits adalah daya hapal mereka, bukan banyaknya kitab yang mereka miliki, sehingga orang yang memiliki banyak kitab namun tidak hapal isinya, TIDAK DAPAT disebut sebagai al-Muhaddits.

    Sayangnya, sebagian umat Islam dewasa ini telah menganggap ringan terhadap hadits dan mereka tidak memahaminya kecuali dengan membuka-buka lembaran demi lembaran kitab berdasarkan petunjuk daftar isinya, sehingga sebagian mereka tanpa memikirkan risikonya merendahkan penghapalan al-Qur’an dan hadits dengan hanya mengandalkan bertambahnya naskah kitab. Hal ini menunjukkan rendahnya batas pengetahuan mereka terhadap kelebihan para ulama terdahulu.

    Tercatatlah nama-nama para perawi Hadist ini seperti:

    • Bukhari, yang meninggal tahun 256 Hijriah atau 870 Masehi
    • Abu Daud, meninggal tahun 275 Hijriah atau 888 Masehi
    • Masa’i, meninggal tahun 303 Hijriah atau 915 Masehi
    • Muslim, meninggal tahun 261 Hijriah atau 875 Masehi
    • Tarmidzi, meninggal tahun 279 Hijriah atau 892 Masehi
    • Ibnu Majah, meninggal tahun 279 Hijriah atau 892 Masehi

    Catatan Kaki:

    [1] al-Manhaj al-Hadits karya as-Simahi pada bagian rawi, hal. 5

    [2] Tadrib ar-Rawi, hal. 11; pada bagian rawi, hal. 197

    [3] Syarh asy-Syarh karya Mullah Ali al-Qari’i, hal. 3

    [4] Sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Sayyid an-Nas dan al-Hafidh al-Mizzi. Lihat Tadrib ar-Rawi, hal. 10-11.

    [5] Dijelaskan oleh Syaikhuna al-‘Allamah Muhammad as-Simahi dalam kitab al-Manhaj al-Hadits bagian rawi, hal. 199-200, dan kami merujuk kepadanya menulis definisi-definisi di atas. adz-Dzahabi telah menulis kitab Tadzkirat al-Huffadh guna menghimpun para rawi yang bergelar al-Hafidh dengan arti mencakup pula para rawi yang bergelar al-Hujjah dan yang lebih tinggi lagi.

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 6 April 2019 Permalink | Balas  

    Imam Muslim 

    Imam Muslim

    Keharuman namanya tak akan pernah hilang sepanjang zaman. Dalam setiap ceramah, hampir semua ustadz selalu mengutip karya-karyanya. Beliau adalah ulama kenamaan, terutama dalam bidang dan ilmu hadits. Nama lengkap berikut silsilahnya adalah Imam Abu al-Husain Muslim bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi al-Naisaburi. Lahir tahun 204 H/ 820 M atau menurut riwayat lain 206 H/ 822 M.

    Beliau dinisbahkan kepada nenek moyangnya, Qusyair bin Ka’ab bin Rabiah bin Sha’sha’ah, suatu keluarga bangsawan besar di wilayah Arab. Di samping (penisbahan) kepada Qusyair, beliau juga dinisbahkan kepada Naisapur. Hal ini karena beliau putera kelahiran Naisapur, yakni kota kecil di Iran bagian timur laut.

    Pengembaraan

    Semenjak berusia kanak-kanak, Imam Muslim telah rajin menuntut ilmu. Didukung kecerdasan luar biasa, kekuatan ingatan, kemauan yang membaja, dan ketekunan yang mengagumkan, konon ketika berusia 10 tahun, beliau telah hafal al-Qur’an seutuhnya serta ribuan hadits berikut sanadnya. Sungguh prestasi yang teramat mengagumkan.

    Seperti halnya Imam al-Bukhari, Imam Muslim juga mengadakan pengembaraan intelektual ke berbagai negeri Islam, seperti Hijaz, Iraq, Syam, Mesir, Baghdad, dan lain-lain guna memburu hadits dan berguru pada ulama-ulama kenamaan. Beliau telah mengunjungi hampir seluruh pusat pengkajian hadits yang ada pada saat itu, bahkan terkadang dilakukannya berkali-kali, seperti ke Baghdad. Semua ini merupakan bukti konkret bahwa perhatian Imam Muslim terhadap peninggalan Nabi saw yang monumental ini sangat besar.

    Pengembaraan perdananya dimulai ke Makkah pada tahun 220 H sekaligus menunaikan ibadah haji. Kemudian pada tahun 230 H beliau melakukan pengembaraan intelektual yang secara spesifik untuk kepentingan hadits. Sedang lawatannya yang terakhir terjadi pada tahun 259 H ke Baghdad saat usianya mencapai 53 tahun. Dalam pengembaraannya itu, beliau tidak mengenal usia. Semenjak usia yang relatif masih sangat muda sampai berusia senja, beliau tidak pernah berhenti apalagi putus asa dalam pengembaraannya mengejar dan memburu Hadits Nabi saw.

    Guru dan muridnya

    Dalam lawatan intelektualnya, Imam Muslim tercatat banyak mengunjungi ulama-ulama kenamaan, tentunya dalam rangka mencari hadits. Beliau berguru kepada Yahya dan Ishak bin Rahawaih di Khurasan, Muhammad bin Mahran dan Abu Ghassan di Ray, Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah di Iraq, Said bin Manshur dan Abu MasUab di Hijaz, Tamr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya di Mesir. Beliau juga belajar dari Usman dan Abu Bakar (keduanya putra Abu Syaibah), Syaiban bin Farwakh, Abu Kamil al-Jury, Zuhair bin Harb, Amr al-Naqid, Muhammad bin al-Mutsanna, Muhammad bin Yasar, Harun bin Said al-UAili, Qutaibah bin Sa’id, dan yang tak boleh terlupakan beliau juga berguru pada Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

    Tidak sedikit para ulama yang meriwayatkan hadits dari Imam Muslim. Di antaranya terdapat ulama-ulama besar yang sederajat dengannya, seperti Abu Hafidh al-Razi, Musa bin Harun, Ahmad bin Salamah, Abu Bakar bin Khuzaimah, Yahya bin Said, Abu Tawwanah al-Ishfiroyini, dan Abu Isa al-Tirmidzi. Selain ulama-ulama di atas, yang juga tercatat sebagai murid Imam Muslim antara lain; Ahmad bin Mubarak al-Mustamli, Abu al-Abbas Muhammad bin Ishak bin al-Siraj. Di antara sekian banyak muridnya itu, yang paling istimewa adalah Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan, seorang ahli fiqih lagi zahid. Ia adalah perawat utama kitab Shahih Muslim.

    Selain karya besar Imam Muslim yang sangat monumental, yaitu kitab Shahih Muslim, beliau juga tercatat mempunyai buah karya lebih dari 20; antara lain: al-Ullal, al-Aqran, al-IntifaUbi Uhub al-Siba, Kitab Man Laisa Lahu Illa Rawin Wahid, Aulad al-Shahabah, Al-Musnad al-Kabir, Al-Thabaqat (Thabaqat al-Kubra), Kitab al-Mukhadramin, Al-JamiUal-Kabir, Kitab al-Tamyiz, Kitab al-Asma wa al-Kuna, Kitab Su’alatihi Ahmad bin Hanbal, dan sebagainya.

    Banyak ulama yang memandang Imam Muslim sebagai ulama hadits nomor dua setelah Imam al-Bukhari. Hal yang tidak mengherankan, mengingat Imam Muslim merupakan murid Imam al-Bukhari.

    Al Khatib al-Baghdadi mengatakan, Muslim telah mengikuti jejak al-Bukhari, memperhatikan ilmunya dan menempuh jalan yang dilaluinya. Pernyataan ini tidaklah berarti Imam Muslim hanyalah figur yang hanya mampu bertaqlid pada al-Bukhari, sebab Imam Muslim mempunyai ciri dan pandangan tersendiri dalam menyusun kitabnya. Beliau juga mempunyai metode baru yang belum pernah diperkenalkan ulama sebelumnya.

    Imam Muslim banyak menerima pujian dan pengakuan dari para ulama hadits maupun ulama lainnya. Al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan dengan sanad lengkap dari Ahmad bin Salamah, katanya “Saya melihat Abu Zur’ah dan Abu Hatim senantiasa mengistimewakan dan mendahulukan Muslim bin al-Hajjaj di bidang pengetahuan hadits sahih atas guru-guru mereka.”

    Ishaq bin Rahawaih pernah memuji Imam Muslim dengan perkataannya “Adakah orang yang seperti Muslim?” Demikian pula Ibn Abi Hatim menyatakan “Muslim adalah seorang hafidh (ahli hadis). Saya menulis hadits yang diterima dari dia di Ray.” Selanjutnya Abu Quraisy al-Hafidh menyatakan bahwa di dunia ini, orang yang benar-benar ahli di bidang hadits hanya empat, salah satunya adalah Muslim. Tentunya, yang dimaksud dengan pernyataan ini adalah ahli-ahli hadits terkemuka yang hidup pada masa Abu Quraisy.

    Dengan munculnya berbagai komentar dari para ulama terhadap kepakaran Imam Muslim dalam disiplin ilmu Hadits ini, cukuplah kiranya menjadi bukti awal bahwa beliau memang figur yang pantas mendapat sanjungan yang demikian, dan tentunya setelah al-Bukhari.

    Karya monumental

    Sejarah mencatat bahwa Imam Muslim merupakan ulama kedua yang berhasil menyusun kitab al-Jami’ al-shahih yang di kemudian hari terkenal dengan sebutan Shahih Muslim. Kitab ini berisi 10.000 hadits yang disebutkan secara berulang-ulang (mukarrar) atau sebanyak 3.030 buah hadits tanpa pengulangan. Hadits sejumlah itu disaring dengan sangat ketat dari 300.000 buah hadits selama kurun waktu 15 tahun.

    Berdasarkan kualitas keshahihannya, para ulama memasukkan karya Imam Muslim ini pada peringkat kedua setelah karya monumental Imam al-Bukhari (Shahih al-Bukhari). Hal ini karena syarat yang ditetapkan oleh Imam Muslim relatif lebih longgar daripada syarat yang ditetapkan Imam al-Bukhari. Dalam persambungan sanad (ittisal al-sanad) antara yang meriwayatkan (rawi) dengan yang menerimanya (marwi’anhu) atau antara murid dan guru menurut Imam Muslim hanya cukup syarat mu’asharah (semasa), tidak harus terjadi liqa’ (pertemuan) antara keduanya. Sementara Imam Al-Bukhari mensyaratkan terjadinya liqa ‘untuk menyatakan terjadinya persambungan sanad.

    Shahih Muslim merupakan hasil dari sebuah kehidupan yang penuh berkah. Pasalnya, ia dikerjakan secara terus-menerus oleh penulisnya, baik ketika berada di suatu tempat, dalam perjalanan pengembaraan, dalam situasi sulit maupun lapang, serta melalui proses pengumpulan, penghafalan, penulisan, dan penyaringan yang ekstra ketat. Sehingga kitab ini sebagaimana kita lihat, merupakan sebuah kitab shahih yang teramat baik dan sistematis. Oleh karena itu, tidak heran rasanya jika Imam Muslim sangat menyanjung dan mengagungkan kitab monumentalnya. Sebagai wujud kegembiraan atas karunia Allah yang diterimanya, beliau pernah bertutur “Apabila penduduk bumi ini menulis hadits selama 200 tahun, maka usaha mereka hanya akan berputar-putar di sekitar kitab musnad ini.” Maksud beliau adalah kitab Shahih Muslim itu.

    Adapun ketelitian, kecermatan, dan kehati-hatian beliau terhadap hadits yang dituangkan dalam kitab Shahih-nya itu dapat disimak dari penuturannya sebagai berikut:

    “Aku tidak mencamtumkan sesuatu hadits dalam kitabku ini melainkan dengan alasan. Aku juga tiada menggugurkan sesuatu hadits dari kitabku ini melainkan dengan alasan pula.”

    Spesifikasi Shahih Muslim

    Secara eksplisit, Imam Muslim tidak menegaskan syarat-syarat tertentu yang diterapkan dalam kitab Shahih-nya. Kendati demikian, para ulama telah menggali dan mengkaji syarat-syarat itu melalui penelitian yang serius terhadap kitab itu. Penelitian dan pengkajian ini membuahkan kesimpulan bahwa syarat-syarat yang diterapkan Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya adalah antara lain:

    Pertama, beliau tidak meriwayatkan hadits kecuali dari para periwayat yang adil, dlabith (kuat hafalan), dan dapat dipertanggungjawabkan kejujurannya.

    Kedua, beliau sama sekali tidak meriwayatkan hadits kecuali hadits-hadits musnad lengkap dengan sanad-nya), muttashil (sanad-nya bersambung), dan marfu’ (berasal dari Nabi saw). Keterangan Imam Muslim dalam muqaddimah kitab Shahih-nya akan lebih memberikan gambaran yang cukup jelas kepada kita mengenai syarat-syarat yang diterapkan Imam Muslim dalam karya besarnya. Beliau mengklasifikasikan hadits menjadi tiga katagori: hadits-hadits yang diriwayatkan oleh rawi adil dan kuat hafalan; hadits-hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang tidak diketahui keadaannya (majhul al-hal) dan sedang-sedang saja kekuatan hafalan dan ingatannya; hadits-hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah (hafalan dan ingatan) dan rawi yang haditsnya ditinggalkan orang .

    Untuk hadits katagori ketiga, Imam Muslim tidak meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya. Sementara apabila Imam Muslim meriwayatkan hadits katagori pertama, beliau senantiasa menyertakan pula hadits katagori kedua.

    Sebagai buah karya yang monumental, kitab Shahih Muslim memiliki beberapa ciri khusus, di antaranya; beliau menghimpun matan-matan hadits yang satu tema lengkap dengan sanad-nya pada satu tempat (bab), tidak memisahkannya dalam tempat yang berbeda, serta tidak mengulang-ulangnya, kecuali dalam kondisi yang mengharuskan, seperti untuk menambah faedah pada sanad atau matan hadits.

    Ketelitian dan kecermatan dalam menyampaikan kata-kata selalu dipertahankannya secara optimal, sehingga apabila seorang rawi berbeda dengan rawi lain dalam penggunaan redaksi yang berbeda, padahal makna (substansi) dan tujuannya sama ;yang satu meriwayatkan dengan suatu redaksi dan rawi lain meriwayatkan dengan redaksi yang lain pula; maka dalam hal ini Imam Muslim menjelaskannya. Selain itu, beliau berusaha menampilkan hadits-hadits musnad (hadits yang sanad-nya Muttashil) dan marfu’ (hadits yang dinisbahkan kepada Nabi saw). Karenanya, beliau tidak memasukkan perkataan-perkataan sahabat dan tabiin.

    Imam Muslim juga tidak banyak meriwayatkan hadits muallaq (hadits yang sanad-nya tidak ditulis secara lengkap). Di dalam kitab Shahih-nya hanya memuat 12 Hadis muallaq yang kesemuanya difungsikan sebagai mutabi’ atau penguat, bukan sebagai hadits utama (inti).

    Begitulah, akhirnya setelah mencapai usia 55 tahun, Imam Muslim menghembuskan nafas yang terakhir pada Ahad sore, 25 Rajab 261 H. Jenazahnya dikebumikan di salah satu daerah di luar Naisapur pada hari Senin. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Semoga Allah merahmati dan meridhainya, serta menerima jerih payahnya dalam menyebar luaskan ilmu-ilmu keislaman. Amin.

    ***

    Ali Mustofa Yaqub, Pengasuh Pesantren Darus-Sunnah, Guru besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 4 April 2019 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 7) 

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 7)

    Karyanya

    Sebagaimana kita ketahui Imam Bukhari bersungguh-sungguh menyampaikan ilmu melalui percakapan dan penulisan, beliau juga bersungguh-sungguh menulis berbagai ilmu. Allah telah menjadikannya bermanfaat bagi ummat selama kehidupan beliau. Setelah kematian beliau, banyak kitab yang telah dikarangnya dan kebanyakan telah sampai kepada kita. Di antaranya telah di cetak berulang kali. Manakala kitab beliau (At-Taarikh Al-Ausat) makhtuutaat yaitu masih lagi dalam bentuk Kitab ilmu Islam yang terdahulu. Begitu juga masih banyak karya-karya beliau yang masih belum terhitung jumlahnya.

    Pertama: Karya-karya beliau yang telah sampai kepada kita ialah:

    1- Al-Jaami’ As-Sahih:

    Dikenal dengan (Sahih Bukhari).

    2- At-Tarikh Al-Kabir:

    Ini merupakan karya yang paling indah dan baik menurut bab dan juga topiknya: Perawi-perawi Hadits semenjak dari zaman sahabat sampai ke zaman beliau serta mengandung pembahasan tentang kecacatan- kecacatan Hadits, Jarah, Ta’dil dan sebagainya. Ia telah dicetak di Hyderabad di India pada tahun 1691 M oleh Al-Allaamah Abdul Rahman Al-Mu’allimi Rahimahullah.

    3- At-Taarikh Al-Ausat:

    Kitab ini disusun selama beberapa tahun dan sampai kepada kita berbentuk Kitab ilmu Islam yang terdahulu.

    4- At-Taarikh As-Soghir:

    Kitab ini juga disusun selama beberapa tahun dan telah dicetak beberapa kali.

    5- Kitab Al-Kuna:

    Kitab ini dicetak sebagai lampiran kitab At-Taarikh Al-Kabir di percetakan Hyderabad.

    6- Adh-Dhu’afa’:

    Ternyata Imam Bukhari mempunyai dua buah kitab dengan nama tersebut, salah satu daripadanya Soghir (kecil) dan satu lagi Kabir (besar) juga telah sampai kepada kita (Ad-Dhu’afa’ As-Soghir). Kitab ini mengandung sejumlah perawi-perawi Hadits yang lemah dan ia pun telah dicetak.

    7- Al-Adab Al-Mufrad:

    Merupakan kitab adab dan akhlak yang baik menurut bab dengan cara terbaru dan telah dicetak sebanyak beberapa kali.

    8- Al-Qiraat Khalfa Al-Imam (Bacaan di belakang imam):

    Kitab ini dikenali sebagai (Juz Al-Qiraat). Imam Bukhari membentangkan di dalamnya masalah bacaan makmun di belakang imam dan menyokong hujah tentang diwajibkan membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat dalam apapun keadaannya sekalipun orang yang mendirikan shalat tersebut sebagai imam, makmun atau bersendirian, baik di dalam shalat yang tidak dikeraskan bacaannya ataupun yang tidak dan tidak dihitung rakaat tanpanya. Ia telah dicetak lebih dari satu kali.

    9- Mengangkat kedua-dua tangan di dalam shalat:

    Ia dikenali dengan (Juz Raf’ul Yadain) Imam Bukhari membentangkan masalah orang shalat mengangkat kedua-dua tangan ketika melakukan Takbiratul-ihram dan sewaktu berpindah rukun. Ia telah dicetak.

    10- Kejadian Perbuatan-perbuatan Hamba:

    Kandungannya adalah tentang masalah pegangan (akidah) yaitu perbuatan-perbuatan hamba adalah merupakan makhluk dan kalam Allah yaitu Al-Quran adalah bukan makhluk. Kitab ini telah dicetak berulang kali.

    Kedua: Karya-karya beliau yang belum diterbitkan :

    1- Berbuat Baik Terhadap Kedua Orang tua:

    Terdapat juga Haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Hajar dan perawi-perawi lain dari kalangan

    mutaakhirin.

    2- Al-Jami’ Al-Kabir:

    Telah disebut oleh Ibnu Tahir Al-Muqaddasi.

    3- Al-Musnad Al-Kabir:

    Telah disebut oleh Al-Farabri.

    4- At-Tafsir Al-Kabir:

    Juga telah disebut oleh Al-Farabri.

    5- Al-Asyribah (minuman):

    Telah disebut oleh Ad-Daaruqutni di dalam kitabnya (Al-Mu’talaf Wal Mukhtalaf).

    6- Al-Hibah (pemberian):

    Telah disebut oleh Waraqah Muhammad bin Abi Hatim.

    7- Usama As-Sahabah (Nama-nama Sahabat):

    Telah disebut oleh Abu Al-Qasim bin Mundah dan juga yang lain.

    8- Al-Mabsut:

    Telah disebut oleh A-Khalili di dalam kitabnya (Al-Irsyad) yaitu petunjuk.

    9- Al-Wihdan:

    Pokok pembahasannya: Orang yang hanya meriwayatkan satu Hadits saja dari kalangan sahabat dan telah diceritakan oleh Ibnu Mundah di dalam (Al-Makrifah).

    10- Al-Ilal (Kecacatan-kecacatan):

    Telah disebut oleh Abu Qasim bin Mundah.

    11- Al-Fawaid (faedah-faedah):

    Telah disebut oleh At-Tirmizi di dalam (Sunannya).

    12- Masalah Sahabat dan Tabi’in:

    Yaitu karya beliau yang pertama.

    13- Guru-guru beliau:

    Di dalamnya beliau telah menyebut tentang guru-gurunya yang menjadi tempat beliau berguru atau menerima ijazah dan ia telah disebut oleh Ibnu As-Subki.

    Kematiannya

    Setelah Imam Bukhari menerima ujian dari pemerintah Bukhara dan telah selamat darinya, beliau tidak tinggal lama di sana. Beliau telah pergi ke Kharatnak (sebuah desa di Samarkand) karena beliau mempunyai kerabat di sana dan beliau tinggal bersama mereka. Pada suatu malam telah kedengaran beliau berdoa selanjut melakukan shalat malam: (Ya Allah sesungguhnya bumi yang telah diluaskan untukku ini telah menyempitkan aku, maka bawalah aku kepadamu) Hampir sebulan setelah itu beliau meninggal dunia. Kejadian itu terjadi pada malam sabtu, malam Hari Raya Aidil Fitri tahun (256 H). Umur beliau ketika itu ialah 62 tahun kurang 13 hari, semoga beliau dirahmati dan diridhai oleh Allah.

    ***

    Sumber : CD Program Al Qur’an HARF Production.

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 3 April 2019 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 6) 

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 6)

    Ujiannya

    Imam Imam Bukhari tidak luput dari ditimpa ujian yang merupakan sunnah Allah s.w.t terhadap orang-orang soleh yang mengikuti jalan para rasul. Dua ujian besar dalam hidupnya:

    Ujian pertama: Berhubung dengan Al-Quran.

    Allah telah menganugerahkan ilmu dan ma’rifat kepada Imam Bukhari melebihi teman sepengajiannya menyebabkan beliau dikenali dan masyhur. Ini telah menimbulkan perasaan dengki di kalangan rekan-rekan beliau, lalu mereka menuduh Imam Bukhari mengatakan (Lafadz ayat Al-Quran yang kita ucapkan adalah makhluk) dan mereka menyebarkan perkara tersebut di Naisabur dan tempat lain supaya Ummat tidak lagi mendekati beliau. Orang yang mengetuai kumpulan itu ialah Al-Hafiz Muhammad bin Yahya Az-Zuhli. Abu Hamid Al-A’masyi berkata:

    Aku telah melihat Muhammad bin Ismail menghadiri jenazah Abu Usman bin Said bin Marwan, ketika itu Muhammad bin Yahya bertanya beliau tentang nama-nama dan gelaran-gelaran serta cacat yang

    tersembunyi dalam Hadits. Imam Bukhari menjawabnya dengan cepat seperti anak panah seolah-olah beliau membaca surah Al-Ikhlas, hampir sebulan kemudian Muhammad bin Yahya berkata: Sesiapa yang menghadiri majelis ilmu Bukhari jangan datang ke majelis pengajian kami, sesungguhnya ada orang yang menulis kepada kami dari Baghdad: Bahwa Bukhari telah berbicara sehubungan dengan beberapa perkara lalu kami melarang dia tetapi dia tidak menghiraukan larangan kami, kamu semua jangan mendekatinya, sesiapa yang mendekatinya jangan mendekati kami.

    Imam Bukhari berkata: Muhammad bin Yahya begitu iri hati terhadapku dengan apa yang aku peroleh dari ilmu. Sedangkan ilmu itu adalah pemberian Allah, Dia berikan kepada siapapun yang Dia kehendaki. Tuduhan yang dilemparkan kepada Imam Bukhari lebih kurang sama dengan apa yang difahamkan oleh Az-Zuhli. Disebabkan kebatilan yang memecah-belahkan masyarakat, Imam Bukhari menulis kitabnya [KHALQA AF’AALUL IBAAD] yaitu kejadian perbuatan hamba di mana beliau menerangkan dalam kitab ini perbedaan antara perbuatan hamba dengan perbuatan Kalamullah yaitu Al-Quran. Perbuatan hamba adalah makhluk, manakala Al-Quran yang tertulis dalam mushaf, dibaca dengan lidah, diturunkan melalui Jibril dengan lafadz dan hurufnya merupakan Kalamullah dan bukan makhluk. Ahli Sunnah telah bersepakat dengan Imam Bukhari dan tuduhan serta fitnahan tersebut adalah batal.

    Ujian kedua:

    Ketika berhadapan dengan ketua Bukhara Khalid bin Ahmad Az-Zuhli. Ketua Bukhara telah mengutus Ahmad bin Khalid berjumpa dengan Imam Bukhari: Silakan datang kepadaku dengan membawa kitab Al-Jami’, sejarah dan selain dari keduanya supaya aku dapat belajar dengan kamu, lalu beliau berkata kepada utusan Khalid: Aku tidak akan merendahkan martabat ilmu dan aku tidak memamerkannya di khalayak banyak. Sekiranya kamu memerlukan sesuatu dariku yang berhubungan dengan ilmu datanglah ke masjidku atau ke rumahku, sekiranya kamu tidak senang hati, kamu adalah sultan, kamu dapat menahan aku dari menyampaikan ilmu supaya keuzuranku itu menjadi hujah bagiku di hadapan Allah pada Hari Kiamat. Aku tidak akan menyembunyikan ilmu karena Rasulullah s.a.w bersabda:

    (Barang siapa yang ditanya tentang sesuatu ilmu dan dia menyembunyikan ilmu tersebut niscaya mulutnya akan dikengkang dengan besi dari neraka).

    Ketegangan yang terjadi antara kedua pihak telah menyebabkan ketua Bukhara meminta pertolongan Huraith bin Abu Al-Warqa’ dan selainnya supaya berbicara tentang mazhab Imam Bukhari dan menyebabkan beliau telah ditimpa dengan ujian sebagaimana yang telah lalu. Selanjutnya ketua Bukhara menghalau Imam Bukhari keluar dari negerinya. Imam Bukhari berdoa kepada Allah supaya membalas kejahatan mereka. Sebulan setelah itu terjadilah satu peristiwa seorang yang bernama At-Thohiriah. Manakala keluarga Huraith ditimpa kesulitan yang dahsyat sehingga tidak dapat digambarkan, adapun orang lain ditimpa kesulitan serta masalah anak masing-masing. Allah telah menimpakan berbagai bala bagi mereka.

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 2 April 2019 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 5) 

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 5)

    Sifat-sifat Terpujinya

    Di samping menuntut ilmu serta menyebarkannya Imam Bukhari juga beramal dengan ilmunya juga benar-benar taat kepada Allah. Dia adalah di antara para auliya’ yang terpilih dan orang-orang soleh serta dari kalangan orang yang baik-baik. Kebaikan yang beliau lakukan menimbulkan rasa kagum dalam hati ummat terhadapnya serta dipuji oleh mereka.

    Beliau banyak mengerjakan shalat, khusyuk dan banyak membaca Al-Quran. Penulis beliau Muhammad bin Abi Hatim berkata: Sesungguhnya Imam Bukhari shalat pada waktu bersahur sebanyak 13 rakaat termasuk 1 rakaat shalat witir. Penulis lain menyebut pula: Pada awal malam bulan Ramadan Imam Bukhari mengerjakan shalat bersama sahabatnya dengan membaca dua puluh ayat pada setiap rakaat sehingga khatam Al-Quran. Manakala pada waktu sahur beliau membaca dari pertengahan hingga satu pertiga Al-Quran serta mengkhatamkannya pada setiap tiga malam ketika waktu sahur. Al-Quran yang dibaca pada siang hari beliau mengkhatamkannya pada waktu berbuka. Dia berkata lagi: (Setiap kali waktu khatam Al-Quran beliau membaca doa).

    Satu cerita mengenainya: Suatu hari ketika beliau shalat, tiba-tiba seekor lebah menyengatnya sebanyak tujuh belas sengatan. Ketika selesai shalat beliau bertanya: Apakah yang membuatku sakit sewaktu aku shalat tadi. Para makmum memberitahu bahwa seekor lebah menyengatnya menyebabkan terdapat tujuh belas bagian yang bengkak. Sebelum meneruskan shalatnya dia berkata: Ketika aku disengat aku ingin sekali menyempurnakan ayat yang aku baca.

    Beliau banyak bersedekah, terlalu baik, sangat memuliakan orang lain, seorang yang suka merendah diri dan wara’. Antara kisah yang menunjukkan sifat-sifat tersebut ialah:

    1- Ketika beliau ingin membuat sesuatu, orang banyak yang datang membantunya. Dia mengangkat kayu yang belum selesai, lalu Ummat berkata kepadanya: Wahai ayah Abdullah, cukuplah (biarkan orang lain membuatnya) lantas beliau menjawab: Inilah yang memberi kebaikan kepadaku.

    Beliau menyembelih seekor lembu untuk Ummat. Ketika makanan masak beliau menjemput Ummat hampir seratus orang atau lebih datang bersamanya. Beliau tidak sangka mereka semua berkumpul sebegitu banyak. Semua orang yang hadir dijamunya, akhirnya hanya tinggal sekeping roti.

    2- Beliau diberi barang dagangan, lalu para pedagang bertemu dengannya pada waktu Isya dan mereka meminta untuk membeli barang dagangan tersebut dari beliau dengan keuntungan lima ribu dirham. Imam Bukhari berkata kepada mereka: Kamu mesti bertolak pada malam ini juga. Keesokannya datang rombongan pedagang yang lain, mereka meminta supaya barang itu dijual kepada mereka dengan keuntungan sebanyak sepuluh ribu dirham, tetapi beliau menolak permintaan tersebut dan berkata: Aku telah berniat untuk menjual barang ini kemarin kepada rombongan yang pertama. Lalu Imam Bukhari menyerahkan barangan itu kepada rombongan pertama. Beliau berkata: Aku tidak suka membatalkan niatku.

    3- Telah disebut bahwa beliau amat takut untuk mengatakan keburukan orang lain di belakang mereka dan beliau telah berkata: Aku tidak sekali-kali mengatakan aib seseorang di belakang mereka setelah aku ketahui bahwa ia adalah haram.

    4- Beliau tidak menjual atau membeli secara langsung karena takut melakukan perkara yang dilarang, beliau berkata: Aku tidak mengurusi membeli sesuatu barang secara langsung demikian juga menjualnya, aku menyuruh seseorang membeli untukku. Orang bertanya kepadanya: Kenapa? Beliau menjawab: Karena sewaktu proses jual beli terdapat penambahan, pengurangan dan bercampur-aduk antara yang benar dan salah.

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 1 April 2019 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 4) 

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 4)

    Guru-gurunya

    Imam Bukhari dapat mengetahui ada sekumpulan Atba’ At-Tabi’in lalu beliau meriwayatkan Hadits dari mereka begitu juga beliau meriwayatkan dari banyak lagi guru selain daripada mereka. Imam Bukhari pernah berkata: Aku telah menulis dari seribu delapan puluh orang. Mereka semuanya Ulama Hadits.

    Di antara guru-guru Imam Bukhari yang terkemuka ialah:

    1- Abu Asim An-Nabil.

    2- Makkiy bin Ibrahim.

    3- Muhammad bin Isa At-Tabba’.

    4- Ubaidullah bin Musa.

    5- Muhammad bin Salam Al-Bikandi.

    6- Ahmad bin Hambal.

    7- Ishak bin Mansur.

    8- Khalad bin Yahya bin Safuan.

    9- Ayub bin Sulaiman bin Bilal.

    10- Ahmad bin Isykab.

    dan masih banyak lagi selain daripada mereka yang menjadi tempat Imam Bukhari mengambil Hadits.

     

    Murid-muridnya

    Allah s.w.t mengaruniakan ingatan yang kuat kepada Imam Bukhari sebagaimana karunia Allah kepada penghafal Hadits, ilmu serta pengetahuan yang mendalam, beliau bersungguh-sungguh dalam menunaikan hak-hak Allah s.w.t melalui pemberianNya itu, maka beliau menumbuhkan majelis-majelis pengajian ilmu di mana beliau bersama dengan ummat membincangkan masalah mereka dan begitulah keadaan beliau biasanya apabila masuk ke sebuah negeri. Beliau akan dihadiri oleh banyak dari golongan manusia. Di kalangan mereka itu terdapat Hafiz-hafiz, ahli-ahli Fiqih dan lain-lain.

    Al-Hafiz Soleh Jazarah berkata: Sewaktu Muhammad bin Ismail berada di Baghdad, di mana aku menuntut ilmu dengannya dan majelis beliau juga dihadiri oleh lebih daripada dua puluh ribu orang manusia, dan hasil dari keadaan itu telah melahirkan berbagai golongan manusia cerdik pandai, di antara mereka ialah golongan para ilmuwan dan cendikiawan yang menggariskan manhaj beliau dan mereka menuruti jejak langkah beliau dari segi ilmu dan beristiqamah. Mereka ialah:

    1- Al-Imam Abu Al-Husin Muslim bin Hajjaj An-Naisaburi (204 – 261).

    Beliau ialah pengarang kitab (As-Sahih) yang terkenal. Sesungguhnya Ad-Daruqutni telah berkata: (Kalaulah bukan karena Imam Bukhari tentu Muslim tidak pergi dan datang)

    2- Al-Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmizi (210 – 279).

    Beliau ialah pengarang kitab (As-Sunan) yang terkenal.

    3- Al-Imam Soleh bin Muhammad, yang bergelar (Jazarah), (205 – 293).

    4- Al-Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishak bin Khuzaimah (223 – 311)

    pengarang kitab (As-Sahih Al-Masyhur).

    5- Al-Imam Abu Al-Fadli Ahmad bin Salamah An-Naisaburi (000 – 286).

    Beliau merupakan teman Imam Muslim dan beliau juga mempunyai kitab Sahih seperti (Sahih Muslim).

    6- Al-Imam Muhammad bin Nasri Al-Maruzi (202 – 294).

    Beliau adalah di antara ulama-ulama fiqih dari ahli Hadits.

    7- Al-Hafiz Abu Bakar bin Abu Daud Sulaiman bin Al-Asy’ath (230 – 316).

    8- Al-Hafiz Abu Al-Qasim Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz Al-Baghawi (214 – 317).

    9- Al-Hafiz Al-Qadhi Abu Abdullah Al-Husin bin Ismail Al-Mahamili (235 – 330).

    10- Al-Hafiz Abu Ishak Ibrahim bin Mu’aqqal An-Nasafi (*** – 295)

    salah seorang perawi kitab (As-Sahih) daripada Imam Bukhari.

    11- Al-Imam Abi Hamad bin Syakir An-Nasafi (*** – 311).

    Beliau juga merupakan salah seorang perawi kitab (As-Sahih).

    12- Al-Imam Abu Abdullah Muhammad bin Yusuf bin Matari Al-Farabri (231 – 320).

    Beliau merupakan salah seorang perawi kitab (As-Sahih) dan dari beliaulah tersebarnya di kalangan ummat.

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 31 March 2019 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 3) 

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 3)

    Ilmunya

    Imam Bukhari adalah seorang yang menguasai ilmu Riwayat Hadits dan Dirayah menyebabkan beliau terkemuka dalam beberapa lapangan ilmu agama serta ilmu yang bersangkutan dengannya.

    Ilmu Imam Bukhari dapat dibagi menjadi :

    1- Ilmu Hadits:

    Yang dimaksudkan dengan ilmu Hadits ialah penjagaan atau hafalan beliau terhadap Hadits dan pengetahuannya tentang Sanad-sanad Hadits serta perbedaannya. Imam Bukhari telah mencapai tahap yang tinggi dalam ilmu ini. Apa yang ada pada Imam Bukhari merupakan sebahagian dari tanda kekuasaan Allah yang Maha Tinggi.

    Di antara kisah yang membuktikan kehebatan beliau ialah:

    Yusuf bin Musa Al-Marwazi berkata: Sewaktu aku berada di universitasnya di Basrah, satu ketika aku mendengar orang berteriak: Wahai penuntut ilmu! Muhammad bin Ismail yaitu Imam Bukhari telah datang, lalu mereka semua berjumpa dengan beliau. Ketika itu aku bersama mereka, maka kami dapati seorang lelaki yang berjanggut hitam. Beliau telah shalat di belakang tiang. Setelah selesai mereka duduk bersama Imam Bukhari dalam bentuk bulatan dan meminta beliau mengadakan satu majelis untuk menulis Hadits untuk mereka. Beliau memberi kesanggupan kepada mereka untuk mengadakan majelis tersebut, lalu diumumkan sekali lagi dalam Masjid Basrah: Wahai penuntut ilmu! Muhammad bin Ismail Imam Bukhari telah datang, lalu kami meminta beliau mengadakan satu majelis menulis Hadits, beliau telah setuju untuk mengadakan majelis tersebut esok di tempat sekian. Pada keesokannya datanglah para perawi Hadits, para Hafiz dan para Fuqaha’ serta pendebat sehingga mencapai jumlah seribu orang. Maka Abu Abdullah duduk untuk membaca Hadits dan mereka mencatatnya. Sebelum memulai majelis tersebut beliau berkata: Wahai penduduk Basrah! Aku masih muda, kamu semua meminta aku membacakan Hadits untuk kamu, aku akan membacakan Hadits-hadits yang aku ambil dari ulama negeri ini semoga kamu mendapat faedah darinya, yaitu yang tiada di sisi kamu.

    Yusuf bin Musa berkata: Ummat merasa heran mendengar kata-katanya. Kemudian beliau mulai membacakan Hadits dan mereka mencatatnya. Beliau membacakan Hadits yang diambil dari ahli Hadits Basrah yang tidak ada di sisi mereka.

    Imam Bukhari berkata: Aku telah menulis Hadits yang aku ambil lebih dari seribu guru dan aku menulis sepuluh ribu Hadits dari setiap mereka dan kesemua Hadits yang aku hafal aku sebut sanadnya.

    Abu Al-Azhar telah berkata: Ditaksirkan empat ratus orang murid yang mempelajari Hadits, mereka berkumpul selama tujuh hari, mereka suka berguru dengan Muhammad bin Ismail. Mereka gabungkan sanad Syam dengan sanad Iraq, sanad Yaman dengan sanad Mekah dan Madinah. Mereka tidak mendapati kesalahan pada Sanad atau Matan dalam Hadits yang diambil dari beliau. Bukhari berkata: Aku tidak akan mengemukakan Hadits yang aku riwayatkan dari sahabat dan Tabi’in melainkan aku telah mengetahui kelahiran sebahagian dari mereka dan wafatnya serta tempat kediaman mereka. Aku juga tidak akan meriwayatkan Hadits Sahabat walaupun sebuah Hadits, begitu juga Taabi’en, yaitu Hadits yang tidak sampai kepada Rasulullah melainkan Hadits itu mempunyai fakta yang jelas dalam Al-Quran dan Hadits yang lain. Aku akan menghafal masalah tersebut dari kitab Allah dan Sunnah Rasulullah. Imam Bukhari berkata lagi: Aku menghafal seratus ribu Hadits yang Sahih dan aku juga menghafal dua ratus ribu Hadits yang tidak Sahih.

    2- Ilmu Tafsir:

    Berhubung dengan ilmu tafsir Imam Bukhari telah memberi perhatian sebagaimana yang diberikan oleh seorang ahli Hadits yang mengetahui Sanad, juga sebagaimana seorang ahli bahasa yang mengerti maksud lafadz-lafadz seperti seorang faqih mengeluarkan hukum-hukum. Kita akan dapati dengan jelas semua itu apabila diperhatikan kitab (Tafsir) dalam Sahih beliau. Dalam bidang tafsir Imam Bukhari telah menulis kitab (At-Tafsir Al-Kabir). Lihat kitab-kitab susunan beliau.

    3- Ilmu Fiqih:

    Pengetahuan Imam Bukhari yang banyak tentang Hadits, Bahasa Arab dan pengetahuannya sejak kecil tentang mazhab ahli Fiqih serta pembahasan hukum oleh para Sahabat dan para Tabi’in telah menjadikan beliau menulis dalam bidang Fiqih sewaktu berumur 18 tahun. Ketika itu beliau telah digolongkan sebagai seorang ahli Fiqih yang terkenal, seorang Mujtahid yang terkemuka sehingga para guru yang mengetahui kecemerlangan beliau mengakuinya. Mereka adalah:

    1- Naim bin Hamad Al-Khaza’i berkata: Muhammad bin Ismail adalah seorang yang paling fakih di kalangan umat ini.

    2- Muhammad bin Basyar (Kota) berkata: Beliau merupakan ulama yang paling fakih pada zaman kami. Ketika beliau ke Basrah, ummat berkata: Penghulu orang fakih telah datang.

    3- Abu Mus’ib az-Zuhri berkata: Muhammad bin Ismail merupakan ulama yang paling fakih dan amat mendalam dalam bidang Hadits di sisi kami lebih dari Imam Ahmad bin Hambal, lalu seorang lelaki yang mengikuti pengajiannya berkata: Tuan telah keterlaluan. Abu Mus’ib menjawab: Sekiranya kamu sempat menemui Imam Malik lalu kamu memperhatikan mukanya dan muka Muhammad bin Ismail nescaya kamu akan berkata: Kedua-duanya setaraf dalam bidang Hadits dan Fiqih. Pengakuan ulama setelah beliau telah mengangkat Imam Bukhari menyamai taraf Imam Malik sebagai Imam negeri Hijrah (Madinah).

    Di antara peristiwa yang menyebabkan Imam Bukhari terkenal ialah beliau memberi fatwa di hadapan gurunya yang begitu fakih lagi alim yaitu Ishak bin Rahawiah mengenai masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh guru Ishak. Ummat memberi perhatian sewaktu beliau menceritakan tentang dirinya:

    Suatu ketika aku bersama guru Ishak bin Rahawiah, beliau telah ditanya mengenai seorang lelaki yang telah menceraikan isterinya dalam keadaan lupa, Ishak diam berfikir beberapa waktu, lalu aku menyela: Nabi s.a.w telah bersabda yang bermaksud: (Allah memaafkan perbuatan dosa yang dilakukan oleh umatku dalam keadaan tidak sadar selagi dia tidak melakukan atau mengucapkannya dengan sungguh-sungguh) perbuatan yang dimaksud ialah satu perbuatan yang mencakup tiga perkara: Perbuatan bersama hati atau ucapan bersama hati, sedangkan lelaki ini melakukannya tanpa keyakinan dari hatinya, lalu guru Ishak berkata kepadaku: Engkau telah membantuku, semoga Allah membantu kamu. Kemudian beliau memberi fatwa berdasarkan Hadits tersebut.

    Imam Bukhari telah memasukkan dalam kumpulannya yang bernama (As-Sahih) dengan permasalahan yang pelik berhubungan dengan Fiqih. Ini menunjukkan pengetahuannya yang luas serta mendalam berhubungan dengan masalah Fiqih. Ini dapat dilihat bagaimana beliau menyusun bab-bab Fiqih disertai dengan penyelesaian bagi permasalahan Fiqih yang rumit dan menyebabkan para ulama selanjutnya tidak mampu untuk memahaminya melainkan dengan usaha yang kuat. Kemungkinan banyak orang merasa susah untuk memahaminya menyebabkan mereka kebingungan.Di dalam kitab as-Sahih dan kitab susunan beliau yang lain terdapat pendapat yang terpilih berkaitan dengan permasalahan Fiqih, ini menunjukkan keunggulan beliau karena tidak mengikuti orang lain dalam mengeluarkan fatwa.

    Di antaranya:

    1- Tidak wajib mandi apabila memasukkan zakar ke dalam faraj kecuali setelah keluar air mani tetapi mandi adalah untuk lebih berhati-hati.

    2- Air yang sedikit atau banyak tidak menjadi najis sekiranya dimasuki najis melainkan air itu telah berubah.

    3- Dapat membaca ayat Al-Quran dalam tandas.

    4- Dapat membasuh air mani dan menggosoknya untuk menghilangkan air mani tersebut.

    5- Dapat menyikat rambut dengan tulang bangkai seperti gajah dan seumpamanya.

    6- Paha bukan aurat tetapi menutupnya lebih baik (berhati-hati). Bagi laki-laki.

    7- Dapat membaca syair dengan berirama dalam masjid, dapat bermain pedang dan tidur dalamnya.

    8- Orang yang shalat wajib membaca surah Al-Fatihah pada setiap rakaat waktu dia menjadi imam atau makmum atau shalat seorang diri dan waktu dia shalat dengan bacaan kuat maupun perlahan.

    9- Rakaat tidak dihitung walaupun sempat rukuk.

    10- Dapat membaca qunut sebelum atau sesudah rukuk.

    11- Dapat berbicara setelah selesai mendirikan shalat karena hajat tertentu.

    12- Shalat Jum’at diwajibkan kepada penduduk kota dan desa.

    13- Tidak wajib shalat Jum’at bagi orang yang sudah shalat Hari Raya.

    14- Seorang wanita dapat mengeluarkan zakat untuk suaminya serta anak yatim peliharaannya.

    15- Harta zakat dapat diberikan kepada orang yang ingin mengerjakan Haji.

    16- Sebuah negara dapat mengeluarkan zakat untuk negara lain.

    17- Orang yang bersedekah tidak dapat membeli lagi barang yang telah disedekahkan.

    18- Ibadah Umrah wajib sebagaimana wajibnya ibadah Haji.

    19- Ibadah Haji dapat diganti dengan ibadah Umrah bagi orang yang tidak mempunyai binatang untuk sembelihan (Dam).

    20- Seorang wanita tidak wajib memakai kerudung sewaktu bersama (hambanya dan hamba orang lain ).

    21- Orang yang buta dapat menjadi saksi.

    22- Wanita yang memakai hijab/cadar dapat menjadi saksi jika suaranya dikenali.

    23- Boleh seorang wanita memakan harta suaminya dengan baik tanpa izin dari suaminya.

    24- Seorang wanita harus memberi hormat kepada lelaki lain dan mengurusnya walaupun dia sudah mempunyai suami.

    25- Seorang wanita dapat merawat pasien laki-laki.

    26- Boleh menyebut kejahatan orang-orang yang sering melakukan kejahatan.

    27- Keputusan hakim tidak dapat menghalalkan yang haram dan tidak dapat mengharamkan yang halal.

    Ini merupakan sebahagian dari pendapat Imam Bukhari. Semua pendapat tersebut bersumberkan nas-nas dari Sanad yang Sahih. Kemungkinan Imam Bukhari telah membuat perbahasan yang panjang dan terperinci serta perbincangan untuk beberapa masalah, sebagaimana yang telah beliau lakukan terhadap dua masalah (yaitu membaca ayat Al-Quran di belakang imam) dan (mengangkat tangan ketika shalat) dalam dua rakaat yang beliau karang berhubung dengan dua masalah tersebut (lihat kitab susunan beliau).

    4- Ilmu Sejarah dan Biografi:

    Imam Bukhari telah menguasai ilmu tersebut dan tidak ada orang yang sebanding dengannya. Beliau menguasai terhadap ilmu tersebut semenjak masih kecil. Beliau telah mulai menulis berkaitan dengan ilmu sejarah dan biografi sewaktu muda. Beliau menceritakan tentang dirinya: Ketika aku

    berumur delapan belas tahun, aku mulai menulis cerita-cerita para sahabat dan para Tabi’in, menulis sejarah Madinah di sebelah Maqam Nabi s.a.w dan aku menulis kitab itu pada malam bulan purnama.

    Beliau berkata lagi: Satu nama walaupun kecil nilainya aku tetap menganggap nama itu mempunyai cerita melainkan aku tidak mau memanjangkan penulisanku. Kitab yang beliau maksudkan sebagai sejarahnya yaitu kitab yang bernama (AT-TARIKH AL-KABIR). Kitab ini adalah untuk menyempurnakan penyusunan beliau menurut babnya. Beliau tidak meninggalkan seorang pun orang yang diambil ilmu darinya melainkan beliau menyebut nama orang tersebut dalam dua kitabnya yaitu (AT-TARIKH AL-AUSAT) dan (AS-SOGHIR) yang menunjukkan keilmuan dan ma’rifatnya tentang biografi, tarikh kehidupan dan sejarah manusia (lihat kitab susunan beliau).

    5- Ilmu Jarah dan Ta’dil:

    Imam Bukhari merupakan orang yang pertama mengemukakan ilmu Jarah dan Ta’dil serta menyokongnya. Kenapa tidak? Imam Bukhari merupakan hafiz yang seolah-olah Sanad Hadits semenjak zaman sahabat sampai zaman beliau di bawah perhatian dan jagaannya. Beliau membedakan antara pencatat Hadits serta menguasainya dengan orang yang mencampur aduk serta melakukan kebohongan. Imam Bukhari telah mengatakan tentang masalah perawi Hadits tentang kecacatan perawi dan memperbaikinya, tetapi beliau membuat perbedaan yang kentara karena beliau berhati-hati terhadap lafadz-lafadz yang dikemukakan berhubung dengan masalah Jarah dan Ta’dil karena khawatir menyebutkan aib orang lain. Inilah antara sifat wara’ dan budi pekertinya dari sudut kehati-hatian.

    Terdapat kata-katanya: Aku terlalu ingin berjumpa dengan Allah dan Allah tidak menghukum aku karena menyebutkan aib orang lain di belakangnya serta kata-katanya: Tidak ada orang yang memarahi aku di akhirat. Ummat berkata kepadanya: Setengah orang memarahi kamu dalam kitab sejarah. Mereka berkata: Dalam kitab Imam Bukhari terdapat cerita aib orang lain. Lalu Imam Bukhari menjawab: Kami meriwayatkan Hadits secara riwayat, kami tidak memindahkan Hadits yang kami buat sendiri dan sesungguhnya Nabi s.a.w bersabda: (Sejahat-jahat saudara Asyirah). Bermakna Rasulullah memberi kelonggaran sekiranya ia untuk kebaikan.

    Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-‘Asqolani berkata ketika menerangkan metoda yang dibawa oleh Imam Bukhari: Imam Bukhari amat berhati-hati dan begitu bertanggungjawab ketika mengatakan sesuatu berhubung dengan perawi Hadits. Ini dapat dirasakan oleh orang yang begitu mengamati kritikan dan kata-kata beliau berhubung dengan Jarah dan Ta’dil. Kata-kata beliau yang paling banyak ialah (mereka tidak mengatakan tentangnya, berhubung dengan rawi ini. Ada perbincangan di kalangan ulama, para ulama tidak membicarakannya) dan seumpamanya malah sedikit sekali beliau berkata: (pendusta atau pereka Hadits) sebaliknya beliau berkata: (Dia telah mengatakan si fulan itu pendusta, dia telah menuduh si fulan yaitu tuduhan dusta). Karya Imam Bukhari berhubung dengan Jarah dan Ta’dil merupakan satu bahagian dari karya beliau dalam kitab sejarah sebagaimana telah disebut bahwa beliau mulai menulis kitab ketika umur masih muda. Ulama setelah Imam Bukhari juga turut menggunakan cara yang sama ketika menulis seperti Abi Hatim, Ibnu Hibban dan selain keduanya.

    6- Ilmu Ilal yaitu cacat yang tersembunyi pada Hadits:

    Ilmu ini merupakan ilmu Hadits yang begitu terperinci dan paling rumit karena ia tersembunyi. Imam Bukhari berada di martabat yang tinggi, serta berpendirian yang tetap berhubung dengan masalah ini. Melalui intisari pengetahuan beliau itulah telah menghasilkan kitab beliau yang agung yaitu (As-Sahih) Ahli Hadits yang tidak memahami serta tidak memberi pengamatan yang baik terhadap ilmu ini maka biasanya ia tidak mampu untuk menyusun kitab Hadits yang membedakan antara Hadits Sahih dan tidak Sahih serta selamat dari menerima kritikan sebagaimana yang terjadi kepada (Sahih Imam Bukhari) walaupun hafalan beliau begitu luas dan banyak riwayat yang didapatnya.

    Imam Bukhari telah berkata: Aku tidak akan duduk untuk mengajar Hadits sehingga aku mengetahui Hadits yang Sahih dan Hadits yang palsu atau lemah. Imam Bukhari Rahimahullah tergolong dari kalangan para imam yang ahli mengetahui tentang ilmu ini. Beliau berada di kedudukan yang teratas selanjut Imam Ahmad dan Ibnu Al-Madini. Mengapa tidak? sedangkan gurunya Ibnu Al-Madini sendiri tidak begitu mampu untuk menguasai ilmu ini dan beliau merupakan lulusan serta anak muridnya.

    Beliau sendiri yang menceritakan tentang Al-Madini: Aku tidak rasa diriku kerdil bila berhadapan dengan para ulama melainkan berhadapan dengan Ali bin Al-Madini. Sesungguhnya Abu Zara’ah ar-Razi telah menghadiri majelis pengajian dengan Al-Madini dalam keadaan rendah diri bertanya tentang cacat dalam Hadits. Ilmu ini terdapat dalam penyusunan Imam Bukhari. Hampir tidak luput kitab susunan beliau dari ilmu ini, di mana beliau telah menulis kitab yang asing berkaitan dengan kecacatan dalam Hadits (lihat kitab susunan beliau).

    Imam Tirmizi merupakan lulusan dari didikan Imam Bukhari. Imam Tirmizi merupakan ketua dalam bidang ini. Kebanyakan kumpulan dan susunannya berhubung dengan cacat Hadits, yaitu Al-Ilal Al-kabir. Beliau telah menyerap ilmu cacat Hadits dari gurunya, Imam Bukhari.

    7- Ilmu Bahasa:

    Imam Bukhari tidak terkenal atau cemerlang dalam ilmu bahasa karena beliau sibuk dengan ilmu lain tetapi beliau pada dasarnya telah menguasai sebagian ilmu tersebut yang merupakan ilmu alat, yang harus dikuasai untuk mendalami serta memahami ilmu lain. Tanda-tanda yang menunjukkan bahwa beliau menguasai ilmu bahasa ialah sebagaimana yang telah beliau tulis di beberapa tempat dalam (Kitab As-Sahih) yang berhubungan dengan tafsir ayat-ayat Al-Quran yang sulit dipahami serta gagasan beliau walaupun beliau banyak menyerap dari kitab (Abi Ubaidah Ma’mar bin Al-Muthanni) tetapi besar kemungkinan beliau memperolehnya dengan usaha beliau sendiri.

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 30 March 2019 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 2) 

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 2)

    Pendidikannya

    Kecerdikan dan kebijaksanaannya:

    Imam Bukhari telah dianugerahkan hafalan yang cepat, tekun dan ingatan yang kuat, malah tidak ada orang seperti beliau pada zaman itu yang memiliki kecerdikan, kebijaksanaan dan pengamatan yang sama sepertinya, juga cepat menyampaikan apa yang dia kehendaki. Ini terjadi ketika beliau masih kanak-kanak dan belum baligh.

    Ada orang yang telah mendengar beliau menceritakan tentang dirinya. Katanya: Aku telah diilhamkan untuk menghafal Hadits dan ketika itu aku berada di tempat menghafal Al-Quran. Penulisnya Muhammad bin Abi Hatim bertanya: Berapa umur tuan ketika itu? Imam Bukhari menjawab: Sepuluh tahun atau kurang, kemudian aku keluar dari pusat hafalan Al-Quran dan aku mulai berselisih pendapat dengan guru-guru ku dan guru-guru lain.

    Selanjutnya beliau bercerita: Suatu hari guru membaca Hadits kepada Ummat: Sufian meriwayatkan dari Abu Az-Zubair dari Ibrahim, aku menyela: Abu Az-Zubair tidak meriwayatkan hadits dari Ibrahim, lalu dia mengusirku.

    Kemudian aku berkata kepadanya: Silakan rujuk kitab sekiranya kamu memilikinya. Maka guru pulang dan merujuk Hadits, kemudian kembali lagi dan bertanya kepada Imam Bukhari: Bagaimana yang sebenarnya wahai anak?

    Maka aku menjawab: Sanad yang sebenarnya ialah: Az-Zubair, yaitu Ibnu Adi meriwayatkan dari Ibrahim. Maka Guru mengambil pena dan membaiki kitabnya. Guru berkata kepadaku: Engkau benar. Ummat bertanya: Berapakah umur tuan ketika membetulkan kesalahpahaman Guru tersebut? Beliau menjawab: Sebelas tahun.

    Hasyid bin Ismail berkata: Imam Bukhari sering berselisih pendapat dengan kami lalu dikemukakan kepada guru-guru Basrah. Ketika itu beliau masih kecil, beliau tidak pernah mencatat pelajaran Hadits sekian lama, maka kami mencercanya selama enam belas hari lalu beliau berkata: Sekian lama kamu mencerca aku, keluarkan apa yang telah kamu tulis, maka kami mengeluarkannya, semuanya lebih dari lima belas ribu Hadits lalu Imam Bukhari membaca kesemuanya yang beliau ingat, menyebabkan kami memperbaiki catatan kami berdasarkan hafalannya.

    Abu Bakar Al-Kalwazani berkata: Aku tidak pernah melihat orang seperti Muhammad bin Ismail, dia telah mengambil kitab dan mengkajinya sunguh-sungguh, dia mampu mengahafal kesemua Taraf Hadits dengan sekali baca. Semua ini adalah kelebihan yang Allah telah berikan kepada Imam Bukhari. Kelebihan itulah meletakkan dirinya sebagai ahli dalam bidang Hadits, sehingga melebihi ulama yang setaraf dengannya, juga melebihi orang yang mempunyai kedudukan dalam ilmu.

    Imam Bukhari mulai menuntut ilmu:

    Sebagaimana yang telah diketahui bahwa Imam Bukhari mula menuntut ilmu sebelum beliau baligh. Minatnya telah terpatri dalam darah dagingnya seolah-olah beliau diciptakan untuk urusan ini. Harta peninggalan ayahnya telah membantu beliau untuk menuntut ilmu dan beliau telah berkata: Aku telah menggunakan sebanyak lima ratus dirham setiap bulan untuk mencari ilmu, apa yang ada di sisi Allah itu adalah lebih baik dan kekal.

    Beliau telah menghadiri majelis ilmu, menghafal Al-Quran dan menghafal kitab-kitab yang telah dikarang oleh para ulama. Kitab pertama yang dihafal oleh beliau ialah karya Abdullah bin Al-Mubarak, Waqi’ bin Al-Jarrah, kitab yang berkaitan dengan kitab-kitab sunan, masalah zuhud dan masalah-masalah lain. Imam Bukhari juga tidak meninggalkan permasalahan fiqih dan pendapat ulama.

    Imam Bukhari menceritakan sendiri tentang pribadinya dengan berkata: Ketika berumur enam belas tahun aku telah menghafal kitab-kitab karya Ibnu Mubarak dan Waki’, juga aku telah mengetahui kata-kata mereka yaitu pendapat para ulama.

    =====================

    Pengembaraannya

    Merantau untuk mencari ilmu sudah menjadi satu keharusan serta sifat yang ada pada setiap ahli Hadits. Ketika Imam Bukhari ingin menuntut ilmu ahli Hadits, beliau telah menghayati cara yang telah dilakukan olah para ahli Hadits dan mengikuti cara mereka. Imam Bukhari tidak langsung berpuas hati menerima Hadits dari para ulama dalam negerinya saja tetapi beliau telah merantau untuk mencari ilmu tersebut. Beliau telah menjelajahi negara-negara Islam. Perjalanannya yang pertama ialah pada tahun 210 Hijrah , yaitu ketika berumur 16 tahun sewaktu beliau pergi ke Mekah mengerjakan Haji bersama ibu dan kakaknya.

    Beberapa buah negara yang telah beliau singgahi :

    1- Khurasan dan negeri sekitarnya.

    2- Basrah.

    3- Kufah.

    4- Baghdad.

    5- Hijaz (Mekah dan Madinah).

    6- Syam.

    7- Jazirah (yaitu beberapa buah kota yang terletak antara sungai Dajlah dan Furat).

    8- Mesir.

    Imam Bukhari berkata: Aku telah memasuki Syam, Mesir dan Jazirah sebanyak dua kali Basrah sebanyak empat kali dan bermukim di Hijaz selama enam tahun dan aku tidak ingat berapa kali aku telah memasuki Kufah dan Baghdad bersama para ahli Hadits.

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 29 March 2019 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 1) 

    Al Imam Bukhari Rahimahullah

    Riwayat Hidup

    Namanya: Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah.

    Nama panggilannya: Abu Abdullah

    Keturunannya:

    1- Al-Ju’fi: Ini adalah nasab keturunan Arab, penyebabnya: Al-Mughirah, adalah kakek dari ayah Imam Bukhari yang telah memeluk Islam di hadapan Al-Yaman Al-Ju’fi, Lalu dinasabkan kepadanya sebagai nasab kepada pemimpin.

    2- Bukhari: adalah nisbat kepada negerinya.

    Kelahirannya: Pada hari Jum’at, pada 13 Syawal tahun 194 H.

    Tempat kelahirannya: Bukhara.

    Sejarahnya ketika kecil:

    Ismail – ayah Imam Bukhari merupakan seorang ahli Hadits, tetapi beliau selama hidupnya tidak banyak meriwayatkan Hadits. Beliau disebut oleh anaknya dalam kitab (AT-TARIKH AL-KABIR) bahwa beliau sempat berjumpa dengan Hammad bin Zaid dan Abdullah bin Al-Mubarak, juga telah mendengar Hadits dari Malik bin Anas.

    Ismail meninggal dunia ketika Imam Bukhari masih kecil. Beliau dipelihara oleh ibunya dalam keadaan yatim. Tetapi ayahnya telah meninggalkan harta yang banyak, halal lagi diberkati. Ketika hampir meninggal ayahnya berkata: (Aku tidak mendapati satu dirham pun hartaku ini dari benda yang haram begitu juga tidak ada satu dirham pun dari benda yang syubhat). Uang tersebut digunakan oleh Imam Bukhari untuk menuntut ilmu.

    Imam Bukhari telah mengerjakan ibadah Haji sewaktu kecil bersama ibu dan kakaknya (Ahmad). Selanjutnya Imam Bukhari menetap berdekatan dengan Mekah untuk menuntut ilmu dalam waktu yang tertentu.

    Kisah Imam Bukhari hilang penglihatan:

    Ghanjar telah menceritakan dalam (kitab sejarah Imam Bukhari) dan kitab yang lain: Bahwa Imam Bukhari telah hilang penglihatannya sewaktu kecil. Ketika ibunya melihat Nabi Ibrahim di dalam mimpi, di mana Nabi Ibrahim berkata kepada ibunya: Wahai ibu Bukhari ! Allah telah mengembalikan penglihatan anakmu disebabkan doamu yang banyak, menyebabkan penglihatan Bukhari kembali pulih sebagaimana biasa. Ini adalah di antara karamah yang Allah karuniakan kepada Imam Bukhari sewaktu kecil.

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 28 March 2019 Permalink | Balas  

    Al Imam Bukhari Rahimahullah Ketika Syawal tiba Bukhari… 

    Al Imam Bukhari Rahimahullah

    Ketika Syawal tiba, Bukhari serasa hadir di depan mata. Anda pun mengenal nama besar itu: Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari (194 H/810 M – 256 H /870 M). Dialah salah seorang perawi hadis terpercaya. Pada bulan Syawal ia lahir, pada bulan Syawal pula ia wafat.

    Nama Imam Bukhari mengingatkan kita pada kota Bukhara di Asia Tengah, di belahan timur Turkistan. Itulah salah satu pusat perdagangan masyarakat Arab pada abad ke-8 M, dan jadi tempat berkuasanya Dinasti Samanid pada abad ke-9 hingga 10 M sebelum jatuh ke tangan Genghis Khan pada 1220 dan Tamerlane pada 1370. Kini Bukhara adalah salah satu *oblast* (provinsi) di Uzbekistan.

    Di kota itulah Bukhari lahir pada 13 Syawal 194 H/19 Juli 810 M. Orang tuanya adalah muslimin keturunan Iran. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil. Ibunyalah yang mengasuh dan mendidiknya dengan baik. Bukhari pun tumbuh jadi anak cemerlang. Konon, ketika masih remaja ia sudah mampu menghafal puluhan ribu hadis.

    Pada usia 16 tahun ia bersama ibunya mengadakan perjalanan ibadah haji ke Mekah. Sejak itulah ia berkelana mengumpulkan hadis, menyusuri dunia Muslim untuk memungut ingatan dan catatan tentang ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad SAW.

    Pada usia 18 tahun ia menyusun karya pertamanya, yang menuturkan riwayat sahabat-sahabat Nabi serta para penerusnya. Ia pun menyusun kitab lainnya, antara lain *At-Tarikh Al-Kabir* (Sejarah Akbar) yang menuturkan riwayat para perawi hadis, dan *Al-Adab Al-Mufrad* yang menghimpun hadis perihal etika dan perilaku.

    Dalam buku *Sejarah Tuhan* (Mizan, 2001, hal 221), Karen Armstrong menyebut Imam Bukhari — juga Imam Muslim atau Abul Husain Muslim bin Al-Hijjaj Al-Qusyairi (202 H – 261 H) — sebagai ‘editor’. “Hadis dan Sunnah telah dikumpulkan selama abad kedelapan dan kesembilan oleh sejumlah editor. Yang paling terkemuka di antara mereka adalah Ismail Al-Bukhari dan Muslim ibnu Hijjaj Al-Qusyairi,” tulisnya.

    Memang, apa yang dikerjakan oleh para pengkaji seperti Imam Bukhari pada dasarnya adalah pekerjaan editor. Ia merekam ingatan, mengumpulkan catatan, menelusuri sumber, menimbang keabsahan informasi, memilih dan memilah-milah keterangan, serta menyusun laporan.

    Bayangkan, selama sekitar 16 tahun Imam Bukhari berkelana di dunia Muslim. Dari Saudi hingga Mesir, dari Syiria hingga Iraq, ia mencari orang-orang yang menghafal ucapan dan mengingat perbuatan Sang Nabi. Konon, narasumber yang ditemuinya lebih dari 1000 orang, dan keterangan yang dikumpulkannya lebih dari 600. 000 butir. Informasi sebanyak itu ia sunting hingga tersaring sekitar 7.275 butir yang dianggap sahih. Hanya editor kawakan yang mampu menyaring dan menyunting informasi dari ratusan ribu menjadi ribuan, dan hasilnya meyakinkan.

    Hasil kerja keras Imam Bukhari yang amat terkenal adalah *Al-Jami’ As-Sahih (Kumpulan yang Sahih)*. Itulah kumpulan hadis yang hingga kini dianggap sebagai kumpulan hadis terpercaya, teristimewa oleh kalangan Suni. Untuk mudahnya, selama ini kita terbiasa menyebut koleksi itu *Sahih Bukhari*.

    Belakangan muncul versi Indonesia dari ringkasan atas Sahih Bukhari. Judulnya, *Ringkasan Shahih Al-Bukhari* (Mizan, 1997). Kitab aslinya berjudul *Al-Tajrid Al-Shahih li Ahadits Al-Jami’ As-Sahih*, dan disusun oleh Al-Imam Zainuddin Ahmad bin Abdul-Lathif Az-Zabidi. Imam Az-Zabidi berasal dari Zabid, Yaman, dan wafat pada 893 H/1488 M.

    Karya Imam Az-Zabidi merupakan semacam perasan dari *Al-Jami’ As-Sahih*. Ringkasannya saja, dalam terjemahan Indonesia itu, mencapai ketebalan lebih dari 900 halaman. Menurut penerbitnya, *Ringkasan Shahih Al-Bukhari* telah mengalami sembilan kali cetak ulang.

    Cukup banyaknya orang Indonesia yang membaca *Sahih Bukhari* tentu turut membuktikan kehandalan kerja sang editor dari Bukhara itu. Orang percaya pada otoritas, ketekunan, kejujuran, dan kesungguhannya dalam mengumpulkan rekaman yang otentik dari ucapan dan perbuatan Sang Nabi. Betapa uletnya Imam Bukhari berupaya menjamin otentisitas dari keterangan yang dihimpunnya. “Saya telah menulis tentang 1.800 orang, yang masing-masing memiliki ucapan Nabi, tapi apa yang telah saya tulis itu hanyalah orang-orang yang lulus uji kesahihan yang saya tetapkan,” begitulah konon sekali waktu Imam Bukhari pernah bertutur, seperti yang dikutip dalam situs *Kitaabun*.

    Secara teologis, Imam Bukhari memang dianggap konservatif. Pandangannya berseberangan dengan pandangan kaum Mu’tazilah. Dalam hal hukum agama, ia berdiri di lingkungan mazhab Syafi’i. Ia pun dikenal dekat dengan Ahmad Ibnu Hanbal, bahkan konon menyetujui pandangan Ibnu Hanbal, terutama perihal Alquran.

    Pada hari tuanya, seperti yang dicatat dalam *Encyclopaedia Britannica Deluxe Edition 2004 CD-ROM*, sikap dan pandangan Imam Bukhari membuatnya terlibat dalam pertentangan teologis di Nishapur. Ia pun meninggalkan kota itu, dan kembali ke Bukhara. Namun, di kota kelahirannya pun, ia rupanya menghadapi masalah. Sempat ia diminta untuk mengajar gubernur Bukhara dan anak-anaknya, tapi sang imam menolak permintaan itu. Akibatnya, Imam Bukhari dipaksa meninggalkan Bukhara, dan pergilah ia ke Khartank, Tadzikistan.

    Imam Bukhari wafat di pengasingannya di Khartank, pada 1 Syawal 256 H/31 Agustus 870 M dalam usia 62 tahun. Di kota kecil itu, di dekat Samarkand, ia bernisan. Hingga kini ke tempat itu para peziarah berdatangan.

    ***

    REPUBLIKA Minggu, 27 Nopember 2005 *SELISIK * *Editor dari Bukhara * *Hawe Setiawan *

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 29 January 2019 Permalink | Balas  

    Bahlul Bahlul adalah kata yang biasa kita… 

    Bahlul

    “Bahlul” adalah kata yang biasa kita gunakan untuk mensifati orang yang bodoh, tapi tahukah dari mana asal kata itu..?

    Dikisahkan, sesungguhnya BAHLUL seorang yang dikenal sebagai orang gila di zaman Raja Harun Al-Rasyid (Dinasti Abbasiyah).

    Pada suatu hari Harun Al-Rasyid lewat di pekuburan, dilihatnya Bahlul sedang duduk disana.

    Berkata Harun Al-Rasyid kepadanya :

    “Wahai Bahlul, kapankah kamu akan berakal/sembuh dari gila.. ?”

    Mendengar itu Bahlul beranjak dari tempatnya dan naik keatas pohon, lalu dia memanggil Harun Al-Rasyid dengan sekuat suaranya dari atas pohon,

    ” Wahai Harun yang gila, kapankah engkau akan sadar….? “,

    Maka Harun Al-Rasyid menghampiri pohon dengan menunggangi kudanya dan berkata : “Siapa yang gila, aku atau engkau yg selalu duduk dikuburan…?”

    Bahlul berkata :

    “Aku berakal dan engkau yang gila”,

    Harun : “Bagaimana itu bisa…?”,

    Bahlul : “Karena aku tau bahwa istanamu akan hancur dan kuburan ini akan tetap ada, maka aku memakmurkan kubur sebelum istana, dan engkau memakmurkan istanamu dan menghancurkan kuburmu, sampai- sampai engkau takut untuk dipindahkan dari istanamu ke kuburanmu, padahal engkau tahu bahwa kamu pasti masuk dalam kubur, maka katakan wahai Harun siapa yang gila di antara kita…?”.

    Bergetarlah hati Harun, lalu menangis dengan tangisan yang sampai membasahi jenggotnya, lalu Harun berkata : “Demi ALLAH engkau yang benar, Tambahkan nasehatmu untukku wahai Bahlul”.

    Bahlul : “Cukup bagimu Al-Qur’an maka jadikanlah pedoman”.

    Harun : “Apa engkau memiliki permintaan wahai Bahlul….? Aku akan penuhi”.

    Bahlul : “Iya aku punya 3 permintaan, jika engkau penuhi aku akan berterima kasih padamu”.

    Harun : “mintalah…”

    Bahlul : 1. “Tambahkan umurku”.

    Harun : “Aku tak mampu”,

    Bahlul: 2. “Jaga aku dari Malaikat maut”.

    Harun : “Aku tak mampu”,

    Bahlul: 3. “Masukkan aku kedalam surga dan jauhkan aku dari api Neraka”.

    Harun : “Aku tak mampu”.

    Bahlul : “Ketahuilah bahwa engkau dimiliki (seorang hamba) dan bukan pemilik (Tuhan), maka aku tidak perlu padamu”.

    *Kisah ini dikutip dari kitab yang berjudul ﻋﻘﻼﺀ ﺍﻟﻤﺠﺎﻧﻴﻦ “Orang-orang Gila Yang Berakal”

    Tetapi kita menggunakan perkataan BAHLUL untuk mengatakan seseorang itu bodoh sedangkan ia adalah merupakan nama Ulama yang hebat.

    Makam Syech Bahlul Majnun Di Baghdad Irak.

     
  • erva kurniawan 3:40 am on 22 November 2018 Permalink | Balas  

    Kisah Sedekah Rasulullah dan Pengemis 

    Kisah Sedekah Rasulullah dan Pengemis

    Suatu hari ada seorang pengemis mengetuk pintu rumah Rasulullah Saw. Pengemis itu berkata:
    “saya pengemis ingin meminta sedekah dari Rasulullah.”
    Rasulullah bersabda:
    “Wahai Aisah berikan baju itu kepada pengemis itu”. Sayyidah Aisyah pun akhirnya melaksanakan perintah Nabi.
    Dengan hati yang sangat gembira, pengemis itu menerima pemberian beliau, dan langsung pergi ke pasar serta berseru di keramaian orang di pasar: “Siapa yang mau membeli baju Rasulullah? “. Maka dengan cepat berkumpullah orang-orang, dan semua ingin membelinya.

    Ada seorang yang buta mendengar seruan tersebut, lalu menyuruh budaknya agar membelinya dengan harga berapapun yang diminta, dan ia berkata kepada budaknya: jika kamu berhasil mendapatkannya, maka kamu merdeka. Akhirnya budak itupun berhasil mendapatkannya. Kemudian diserahkanlah baju itu pada tuannya yang buta tadi.

    Alangkah gemberinya si buta tersebut, dengan memegang baju Rasulullah yang didapat, orang buta tersebut kemudian berdoa dan berkata:
    “Yaa Rabb dengan hak Rasulullah dan berkat baju yg suci ini maka kembalikanlah pandanganku”.
    MaaSyaa Allah…dengan izin Allah, spontan orang tersebut dapat melihat kembali.

    Keesokan harinya, iapun pergi menghadap Rasulullah dengan penuh gembira dan berkata:
    “Wahai Rasulullah… pandanganku sudah kembali dan aku kembalikan baju anda sebagai hadiah dariku”.
    Sebelumnya orang itu menceritakan kejadiannya sehingga Rasulullah pun tertawa hingga tampak gigi gerahamnya.

    Kemudian Rasulullah bersabda kepada Sayyidah Aisyah:
    “Perhatikanlah baju itu wahai Aisyah, dengan berkahNya, ia
    telah mengkayakan orang yang miskin, menyembuhkan yang buta, memerdekakan budak dan kembali lagi kepada kita.”

    Subhanallah…

    Al-Imam as-Suyuti menyebutkan dalam salah satu kitabnya bahwa pahala shadaqah itu ada 5 macam:

    أَنَّ ثَوَابَ الصَّدَقَةِ خَمْسَةُ أَنْوَاعٍ : وَاحِدَةٌ بِعَشْرَةٍ وَهِيَ عَلَى صَحِيْحِ الْجِسْمِ ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِيْنَ وَهِيَ عَلَى الْأَعْمَى وَالْمُبْتَلَى ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِمِائَةٍ وَهِيَ عَلَى ذِي قَرَابَةٍ مُحْتَاجٍ ، وَوَاحِدَةٌ بِمِائَةِ أَلْفٍ وَهِيَ عَلَى الْأَبَوَيْنِ ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِمِائَةِ أَلْفٍ وَهِيَ عَلَى عَالِمٍ أَوْ فَقِيْهٍ اهـ
    (كتاب بغية المسترشدين)

    “Sesungguhnya pahala bersedekah itu ada lima kategori :
    1) Satu dibalas sepuluh (1:10) yaitu bersedekah kepada orang yang sehat jasmani

    2) Satu dibalas sembilan puluh (1:90) yaitu bersedekah terhadap orang buta, orang cacat atau tertimpa musibah, termasuk anak yatim dan piatu

    3) Satu dibalas sembilan ratus (1:900) yaitu bersedekah kepada kerabat yang sangat membutuhkan

    4) Satu dibalas seratus ribu (1: 100.000) yaitu sedekah kepada kedua orangtua

    5) Satu dibalas sembilan ratus ribu (1 : 900.000) yaitu bersedekah kepada orang yg alim atau ahli fiqih.
    [Kitab Bughyatul Musytarsyidin]

    Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk bermurah hati, suka bersedekah dengan ikhlas. Aamiiiin…

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 6 July 2017 Permalink | Balas  

    Keberanian dan Ketabahan Rasulullah 

    Keberanian dan Ketabahan Rasulullah

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai keberanian yang mengagumkan dan tiada tandingannya dalam membela agama dan menegakkan kalimatullah Ta’ala. Beliau mempergunakan nikmat-nikmat Allah Ta’ala yang dicurahkan atas beliau pada tempat yang semestinya. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha telah mengungkapkan hal itu dalam sebuah hadits:

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sama sekali memukul seorangpun kecuali dalam rangka berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau tidak pernah memukul pelayan dan kaum wanita.” (HR. Muslim)

    Di antara bukti keberanian beliau adalah kegigihan beliau dalam mendakwahkan agama Islam seorang diri menghadapi kaum kafir Quraisy dan pemuka-pemuka-nya. Demikian juga keteguhan beliau di atas keyakinan tersebut hingga Allah menurunkan pertolongan-Nya. Beliau tidak pernah mengeluh atau berkata: “Tidak ada yang sudi menyertaiku, sedangkan orang-orang semuanya memusuhiku.” Akan tetapi beliau bersandar serta bertawakkal kepada Allah dan tetap meneruskan perjuangan dakwah beliau.

    Beliau adalah seorang pemberani dan sangat teguh dalam memegang dan melaksanakan pendirian. Ketika orang-orang lari bercerai berai, beliau tetap teguh bagaikan karang.

    Beliau mengasingkan diri untuk beribadah di gua Hira’ selama beberapa tahun. Kala itu beliau belum merasakan gangguan dan orang-orang Quraisy pun belum memerangi beliau. Kaum kafir itu tidak menembakkan sebatang anak panah pun dari busurnya kecuali setelah beliau menyebarkan aqidah tauhid dan memerintahkan untuk memurnikan ibadah mereka kepada Allah semata. Beliau sangat mengherankan ucapan kaum kafir sebagaimana yang difirmankan Allah :

    “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka menjawab:”Allah”. Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” (Yunus: 31)

    Sementara itu mereka menjadikan berhala-berhala sebagai perantara antara mereka dengan Allah . Sebagaimana yang Allah firmankan:

    “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (Az-Zumar: 3)

    Padahal mereka juga meyakini tauhid Rububiyah, sebagaimana yang diungkapkan Allah , artinya:

    “Katakanlah: “Siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi?” mereka akan menjawab: “Allah”.

    Wahai saudaraku, lihatlah praktek-praktek syirik yang bertebaran di seantero negeri-negeri kaum muslimin, seperti memohon kepada orang yang sudah mati, bertawassul dengan perantaraan mereka, bernadzar karena mereka, takut serta mengharap kepada mereka. Sampai-sampai terputus hubungan antara mereka dengan Allah Ta’ala disebabkan kemusyrikan yang mereka lakukan. Mereka telah menempatkan orang-orang yang sudah mati setara dengan kedudukan Dzat Yang Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Allah berfirman:

    “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (se-suatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al-Maidah: 72)

    Sekarang kita beranjak dari rumah beliau menuju gunung yang berada di sebelah utara. Itulah gunung Uhud, disitulah terjadi peristiwa besar yang menunjukkan keperkasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan keteguhan serta kesabaran beliau atas luka yang diderita pada peperangan tersebut. Pada waktu itu wajah beliau yang mulia terluka dan beberapa gigi beliau patah serta kepala beliau terkoyak.

    Sahal bin Sa’ad t menceritakan kepada kita tentang luka yang diderita beliau . Ia berkata: “Demi Allah, aku benar-benar mengetahui siapakah yang mencuci luka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, siapakah yang menyiramkan airnya dan dengan apa luka itu diobati.” Ia melanjutkan: “Fathimah radhiyallahu ‘anha putri beliaulah yang mencuci luka tersebut, sementara Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu menyiramkan airnya dengan perisai. Namun ketika Fathimah radhiyallahu ‘anha melihat siraman air tersebut hanya menambah deras darah yang mengucur dari luka beliau, ia segera mengambil secarik tikar lalu membakarnya kemudian membungkus luka tersebut hingga darah berhenti mengucur. Pada peristiwa itu gigi beliau patah, wajah beliau terluka dan kepala beliau terkoyak lebar.” (HR. Al-Bukhari)

    Al-Abbas bin Abdul Muththalib radhiallaahu anhu menceritakan kepahlawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam peperangan Hunain. Ia berkata: “Ketika pasukan kaum muslimin tercerai berai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam justru memacu bighalnya ke arah pasukan kaum kafir, sementara aku terus memegang tali kekang bighal tersebut supaya tidak melaju dengan cepat. Saat itu beliau berkata:

    “Aku adalah seorang nabi bukanlah pendusta. Aku adalah cucu Abdul Muththalib.” (HR. Muslim)

    Sementara itu, penunggang kuda yang gagah berani, yang sudah masyhur dan terkenal dengan kisah-kisah kepahlawanannya, yaitu Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu menceritakan keberanian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut: “Apabila dua pasukan sudah saling bertemu dan peperangan sudah demikian sengit, kamipun berlindung di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada seorangpun yang paling dekat kepada musuh daripada beliau.” (HR. Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah , silakan lihat di dalam Shahih Muslim III / no.1401)

    Kesabaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam e dalam menyebarkan dakwah pantas dijadikan contoh dan teladan yang baik. Hingga akhirnya Allah Ta’ala menegakkan pilar-pilar Islam dan melebarkan sayapnya di segenap pelosok jazirah Arab, negeri Syam dan negeri-negeri di seberang sungai Tigris. Hingga tidak tersisa satu rumahpun kecuali telah dimasuki cahaya Islam.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    “Sesungguhnya aku telah mendapat berbagai teror dan ancaman karena membela agama Allah . Dan tidak ada seorangpun yang mendapat teror seperti itu. aku telah mendapat berbagai macam gangguan karena menegakkan agama Allah . Dan tidak seorangpun yang mendapat gangguan seperti itu. Sehingga pernah kualami selama 30 hari 30 malam, aku dan Bilal tidak mempunyai sepotong makanan pun yang layak untuk dimakan manusia kecuali sedikit makanan yang hanya dapat dipergunakan untuk menutupi ketiak Bilal.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)

    Walaupun harta dan ghanimah serta perbenda-haraan dunia dari kemenangan yang diberikan Allah kepada beliau terus mengalir, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mewariskan sesuatupun kepada umatnya, tidak dinar maupun dirham, beliau hanya mewariskan ilmu. Itulah warisan nubuwat, barangsiapa yang ingin mengambilnya, maka silakan maju untuk mengambilnya dan selamat berbahagia menerima warisan yang agung itu.

    ‘Aisyahradhiyallahu ‘anha menuturkan:

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak meninggalkan dinar, tidak pula dirham, tidak meninggalkan kambing, tidak pula unta. Beliau tidak mewasiatkan harta apapun.” (HR. Muslim)

    ***

    [taken from kitab : Sehari Di Kediaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, By : Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim]

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 5 July 2017 Permalink | Balas  

    Persahabatan Yang Tulus 

    Persahabatan Yang Tulus

    ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan: “Setiap kali disampaikan kepada beliau sesuatu yang kurang berkenan dari seseorang, beliau tidak mengatakan: “Apa maunya si ‘Fulan’ berkata demikian!” Namun beliau mengatakan: “Apa maunya ‘mereka’ berkata demikian!” (HR. At-Tirmidzi)

    Anas bin Malik radhiallaahu anhu menceritakan: “Pernah suatu kali seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan bekas celupan berwarna kuning pada pakaiannya (bekas za’faran). Biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat jarang menegur sesuatu yang dibencinya pada seseorang di hadapannya langsung. Setelah lelaki itu pergi, beliau pun berkata:

    “Alangkah bagusnya bila kalian perintahkan lelaki itu untuk menghilangkan bekas za’faran itu dari bajunya.” (HR. Abu Daud & Ahmad)

    Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

    “Inginkah aku kabarkan kepadamu oang yang diselamatkan dari api Neraka, atau dijauhkan api Neraka darinya? Yaitu setiap orang yang ramah, lemah lembut dan murah hati.” (HR. At-Tirmidzi)

    ***

    [taken from kitab : Sehari Di Kediaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, By : Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim]

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 14 January 2017 Permalink | Balas  

    Masuk Islamnya Umar Bin Khaththab Radhiyallahu Anhu 

    umarMasuk Islamnya Umar Bin Khaththab Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Amr bin Al-Ash dan Abdullah bin Abu Rabi’ah bertemu dengan orang-orang Quraisy dalam keadaan gagal meminta kembali sahabat-sahabat Rosululloh SAW dan Raja Najasyi tidak mengabulkan permintaan orang kafir Quraisy, maka pada saat itulah Umar ra masuk Islam. Beliau orang yang memiliki harga diri tinggi dan pantang dihina. Sahabat-sahabat Rosululloh SAW merasa terlindungi dengan masuk Islamnya Umar ra dan Hamzah bin Abdul Muththalib dan orang-orang Quraisy tidak berani menindas mereka. Abdullah bin Mas’ud berkata : “Tadinya kami tidak berani sholat disamping ka’bah hingga Umar bin Khaththab masuk Islam, Umar ra melawan orang-orang kafir Quraisy hingga ia (Umar ra) bisa sholat disamping ka’bah dan kami pun ikut sholat bersamanya” Masuk Islamnya Umar ra terjadi setelah beberapa shahabat Nabi SAW keluar hijrah ke Habasyah

    Allah menguatkan Islam dengan Umar bin Khaththab ra

    Al-Bakkai berkata bahwa Mis’ar bin Kidam berkata kepadaku dari Sa’ad bin Ibrahim yang berkata bahwa Abdullah bin Mas’ud berkata, “Sesungguhnya masuk Islamnya Umar bin khaththab adalah penaklukan. Hijrahnya adalah kemenangan dan pemerintahannya adalah rahmat. Tadinya kita tidak berani sholat di samping ka’bah hingga Umar bin Khaththab masuk Islam, Umar ra melawan orang-orang kafir Quraisy hingga ia (Umar ra) bisa sholat disamping ka’bah dan kami pun ikut sholat bersamanya”

    Riwayat Putri Abu Hatsmah tentang masuk islamnya Umar bin Khaththab ra.

    Ibnu Ishaq berkata, “telah berkata kepadaku Abdurrahman bin Al-Harits bin Abdullah bin Ayyasy bin Abu Rabi’ah dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Amr bin Rabi’ah dari ibunya, yaitu Ummu Abdullah binti Abu Hatsmah yang berkata : Demi Allah, kita akan pergi ke Habasyah, untuk itu Amir (suamiku) pergi untuk memenuhi sebagian kebutuhannya. Namun tiba-tiba Umar bin Khaththab (yang saat itu masih musyrik) telah berdiri dihadapanku”

    Ummu Abdullah berkata, “Sebelum ini kami mendapatkan gangguan dan penyiksaan yang amat kejam darinya”.

    Umar berkata, “Kelihatannya engkau akan pergi wahai Ummu Abdullah ?”

    Ummu Abdullah berkata, “Ya betul, kami akan pergi ke negeri Allah, Karena kalian telah menindas kami dan menganiaya kami hingga Allah telah memberi kami jalan keluar (hijrah)”

    Umar bin Khaththab berkata, “Semoga Allah menyertai kalian!”

    Ummu Abdullah berkata, “Saat itu kulihat kelembutan pada diri Umar bin Khaththab yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Kemudian ia pergi dan menurut penglihatanku ia amat sedih dengan kepergian kami”

    Ummu Abdullah berkata, “Tidak lama setelah itu, Amir datang dengan membawa kebutuhannya. Aku berkata kepadanya : Wahai Abu Abdullah, seandainya engkau tadi melihat kelembutan dan kesedihan Umar bin Khaththab atas kepergian kita”

    Abu Abdullah berkata, “Apakah engkau ingin dia masuk Islam?”

    Ummu Abdullah berkata, “Ya”.

    Abu Abdullah berkata, “Umar tidak masuk Islam hingga keledainya masuk Islam”

    Ummu Abdullah berkata, “Alangkah kerasnya Umar bin Khaththab dan betapa bencinya dia dengan Islam”

    Sebab langsung masuk Islamnya Umar bin Khaththab ra

    Ibnu Ishaq berkata, “Tentang sebab masuk Islamnya Umar bin Khaththab ra seperti disampaikan kepadaku bahwa saudara perempuannya Fathimah binti Khaththab yang diperistri Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail telah masuk islam beserta suaminya. Keduanya merahasikan keislamannya dari Umar bin khaththab. Nu’aim bin Abdullah An-Nahham, salah seorang dari kaumnya yaitu Bani Adi bin Ka’ab juga telah masuk Islam dan merahasiakan keislamannya karena takut kepada kaumnya. Khabab bin Al-Arat sering mondar-mandir pergi kerumah Fathimah bin Khaththab guna membacakan Al-Qur’an kepadanya. Pada suatu hari, Umar bin Khaththab keluar dari rumahnya dengan menghunus pedang dengan maksud mendatangi Rasulullah SAW dan beberapa sahabat beliau, karena ia mendengar kabar bahwa mereka berkumpul disalah satu rumah disafa. Jumlah mereka mendekati empat puluh orang (laki-laki dan perempuan). Saat itu Nabi SAW ditemani pamannya Hamzah bin Abdul Muththalib, Abu Bakar bin Abu Quhafah Ash Shiddiq dan Ali bin Abu Thalib.

    Sahabat-sahabat yang hadir dirumah tersebut adalah sahabat-sahabat yang tetap tinggal bersama Nabi SAW di makkah dan tidak ikut hijrah ke Habasyah. Di perjalanan Umar bin Khaththab bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah. Nu’aim bin Abdullah bertanya kepada Umar : Engkau akan kemana Umar? Umar ra menjawab : Aku hendak pergi kepada Muhammad, orang yang keluar dari agama kita dan memecah belah persatuan orang Quraisy, membodoh-bodohkan mimpi-mimpi kita, melecehkan dan menghina agama kita, maka aku akan membunuh dia Nu’aim bin Abdullah berkata : Demi Allah, sesungguhnya engkau tertipu oleh dirimu sendiri wahai Umar, Apakah Bani Abdu Manaf akan membiarkanmu melenggang diatas bumi setelah membunuh Muhammad? Kenapa engkau tidak pulang kepada keluargamu dan menangani permasalahan mereka? Umar bin Khaththab berkata : Ada apa dengan keluargaku ? Nu’aim berkata : Ya, saudara iparmu sekaligus saudara misanmu Sa’id bin Zaid bin Amr dan Fathimah binti Khaththab. Sungguh , Demi Allah, keduanya telah

    masuk Islam dan mengikuti agama Muhammad, oleh karena itu perhatikan keduanya. Umar bin Khaththab berbalik arah dan menuju rumah Fathimah binti Khaththab, ketika itu dirumah Fathimah binti Khaththab terdapat Khabbab bin Al-Arat yang sedang membacakan surat Thaha kepada keduanya. Ketika mereka mendengar suara Umar bin khaththab, Khabab bin Al-Arat bersembunyi disalah satu rumah, sedangkan Fathimah segera mengambil lembaran surat Thaha dan menyembunyikannya dibawah pahanya. Ketika mendekati rumah Fathimah sesungguhnya Umar telah mendengar bacaan surat Thaha, ketika Umar masuk rumah, ia berkata : Suara apa tadi yang aku dengar ? keduanya (Sa’id dan Fathimah) berkata : Aku tidak mendengar apa-apa. Umar bin Khaththab berkata : Demi Allah, sungguh aku telah mendapatkan berita bahwa kalian berdua telah mengikuti agama Muhammad. Kemudian Umar memukuli keduanya, karena Umar telah memukuli mereka berdua, maka Fathimah dan Sa’id berkata : Ya, kami telah masuk Islam dan beriman kepada Allah

    dan Rosul-Nya, silakan lakukan apasaja kepada kami. Ketika Umar melihat darah Fathimah adiknya, ia menyesal dan menyadari kekeliruannya, Umar berkata : Coba berikan lembaran apa yang aku dengar tadi agar aku melihat apa sesungguhnya yang dibawa Muhammad. (Umar bin Khaththab sesungguhnya juga seorang penulis) Fathimah berkata : Sungguh, Kami khawatir engkau akan merampas lembaran tersebut. Umar berkata : Engkau tidak perlu takut. Kemudian Umar bersumpah dengan nama tuhannya bahwa ia pasti akan mengembalikan lembaran itu setelah selesai membacanya. (Ketika Umar berkata seperti itu, Fathimah menginginkan umar masuk Islam) Fathimah berkata : Sesungguhnya engkau najis karena musyrik, lembaran ini tidak boleh disentuh kecuali oleh orang yang bersuci. Kemudian Umar berdiri dan mandi, usai mandi Fathimah memberikan lembaran tersebut. Dilembaran tersebut tertulis Thaaha. Umar membacanya dan ketika membaca permulaan surat, Umar berkata : Alangkah bagusnya dan mulianya perkataan ini. Ketika

    Khabab bin Al-Arat mendengar ucapan Umar, maka ia keluar dari persembunyiannya dan berkata kepada Umar : Hai Umar, Demi Allah, Aku berharap kiranya Allah menjadikanmu sebagai orang yang dido’akan Nabi-Nya, karena kemarin aku mendengar beliau Nabi SAW bersabda, “Ya Allah, kuatkan Islam ini dengan Abu Al-Hakam bin Hisyam atau dengan Umar bin Khaththab” Allah, dan Allah wahai Umar. Umar berkata : Hai Khabbab, tunjukkan kepadaku dimana Muhammad berada karena aku akan kesana dan kemudian masuk Islam. Khabbab bin Al-Arat berkata : Beliau Nabi SAW berada di Safa disalah satu rumah bersama beberapa orang dari sahabat-sahabatnya.

    Umar bin Khaththab menghunus pedang sambil menuju tempat Nabi SAW, ia mendobrak pintu rumah tempat berkumpul sahabat Nabi SAW, ketika mereka mendengar suaranya, salah seorang sahabat Nabi SAW mengintip dari celah pintu dan melihat Umar menghunus pedang. Sahabat itu kembali ketempat Nabi SAW dalam keadaan takut dan berkata : Wahai Rosululloh, dia Umar sedang menghunus pedangnya. Hamzah bin Abdul Muththalib (paman Nabi SAW) berkata : Biarkan dia masuk, jika ia menginginkan kebaikan, kita berikan kebaikan, jika ia menginginkan keburukan, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri. Nabi SAW bersabda, “Biarkan dia masuk” Salah seorang sahabat Nabi SAW membukakan pintu untuk Umar, kemudian Nabi SAW menyongsongnya dan menemuinya di bilik. Beliau Nabi SAW mengambil tempat tali celana atau ikatan bajunya, kemudian menarik Umar dengan tarikan yang keras sambil bersabda, “Apa yang membuatmu datang kemari wahai anak Khaththab? Demi Allah, aku melihat bahwa jika engkau tidak menghentikan tindakanmu selama ini, Allah akan menurunkan siksa kepadamu”

    Umar menjawab : Wahai Rasulullah, aku datang untuk beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan apasaja yang engkau bawa dari Allah. Mendengar ucapan Umar, maka Rasulullah bertakbir dengan keras dan karena takbir itulah para sahabat mengetahui bahwa Umar bin Khaththab ra telah masuk Islam. Kemudian para shahabat bangkit dari tempat duduknya dan merasa kuat dengan ke-islaman Umar bin Khaththab dan Hamzah bin Abdul Muththalib. Mereka mengetahui bahwa keduanya akan membentengi Rasulullah SAW dan menghadapi musuh-musuh Islam. (Ini adalah riwayat para perawi Madinah tentang keislaman Umar bin Khaththab ra ketika masuk Islam)

    Riwayat Atha’ dan Mujahid

    Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin Abu Najih Al Makki berkata kepadaku dari sahabat-sahabat Atha’ dan Mujahid, atau dari orang yang meriwayatkannya bahwa keislaman Umar bin Khaththab (seperti yang mereka katakana) bahwa Umar pernah berkata :

    “Aku tadinya jauh dari Islam, Aku pecandu minuman keras. Aku amat menyukainya dan meminumnya. Dulu kami mempunyai markas tempat orang Quraisy bertemu, markas tersebut terletak di bukit kecil dipemukiman keluarga Umar bin Abd bin Imran Al-Makhzumi. Pada suatu malam aku keluar rumah untuk mencari teman-temanku di markas tersebut.

    Aku mendatangi tempat mereka namun tidak menemukan seorangpun didalamnya. Aku (Umar bin Khaththab) berkata, “Sebaiknya aku pergi ke si fulan penjual minuman keras, agar aku mendapatkan minuman keras dan meminumnya”, kemudian aku pergi ketempat si fulan, namun tidak bertemu dengannya. Aku berkata, “Sebaiknya aku ke ka’bah dan thawaf didalamnya tujuh atau tujuh puluh kali”, kemudian aku datang ke masjid untuk thawaf di ka’bah. Namun tiba-tiba Rasulullah sudah disitu untuk berdiri sholat, jika Beliau Nabi SAW sholat menghadap Syam dan menjadikan ka’bah diantara beliau dan syam. Tempat sholat beliau Nabi SAW diantara dua tiang (tiang hitam dan tiang yamani) ketika Nabi SAW melihat aku berkata,”Demi Allah, alangkah baiknya jika aku mendekat kepada Muhammad malam ini agar aku dapat mendengar apa yang beliau katakan” aku juga berkata, “Seandainya aku mendekat dan mendengarkan apa yang beliau katakana tentu akan mengagetkan beliau” kemudian aku datang mendekat dari arah hajar aswad dan masuk

    dibawah kain hajar aswad. Aku berjalan pelan-pelan sedangkan Rasulullah sedang sholat dan membaca Al-Qur’an hingga aku berdiri tepat didepan kiblatnya. Tidak ada yang memisahkan kami kecuali kain ka’bah. Ketika aku mendengar bacaan Al-Qur’an hatiku tertarik, aku menangis dan Al-Qur’an membuatku berkeputusan masuk Islam. Aku diam terpaku ditempatku hingga Rasulullah SAW menyelesaikan sholatnya. Usai sholat, beliau Nabi SAW pergi, beliau berjalan hingga muncul dirumah Ibnu Abu Husain. Itulah jalan yang biasa beliau lewati, hingga beliau beliau melewati Al-Mas’a, kemudian berjalan di antara rumah Abbas bin Abdul Muththalib dengan rumah Ibnu Azhar bin Abdu Auf Az-Zuhri, kemudian berjalan dan muncul di rumah Al-Akhnas bin Syariq hingga beliau masuk rumahnya. Tempat tinggal beliau di rumah yang berwarna hitam putih di depan rumah Muawiyah bin Abu Sufyan. Aku buntuti beliau hingga masuk di antara rumah Abbas dan rumah Ibnu Azhar, dan berhasil menemukan beliau. Ketika Rasulullah SAW

    mendengar suara langkahku, beliau mengenaliku. Beliau menduga bahwa aku membuntutinya karena aku akan menyiksa beliau. Beliau menghardikku, kemudian bersabda, “Apa yang mendorongmu datang pada jam seperti ini, wahai anak Khaththab?” Aku menjawab, “Aku datang untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta kepada apa saja yang dibawa Rasul-Nya dari Allah”. Rasulullah SAW memuji Allah kemudian bersabda, “Sungguh Allah telah memberi petunjuk kepadamu, wahai Umar.”

    Setelah itu, beliau memegang dadaku dan mendo’akan biar aku tegar, kemudian aku berpaling dari Rasulullah sedangkan beliau Nabi SAW masuk kepada keluarganya.

    Ibnu Ishaq berkata, “Wallahu a’lam” atas kebenaran cerita tersebut.

    [Sumber : Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, judul asli As-Sirah An-Nabawiyah li Ibni Hisyam, karya Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al-Muafiri, penerbit Darul Fikr, Beirut 1415H]

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 13 January 2017 Permalink | Balas  

    Masuk Islamnya Paman Rasululloh SAW, Hamzah Bin Abdul Muththalib 

    singa_allahMasuk Islamnya Paman Rasululloh SAW, Hamzah Bin Abdul Muththalib

    Ibnu Ishaq berkata bahwa seseorang dari Aslum berkata kepadaku, “Abu Jahl berjalan melewati Rasululloh SAW di Safa. Ia mengganggu beliau, mencaci maki beliau dan melampiaskan dendamnya kepada beliau karena dianggap menghina agamanya dan melecehkan urusannya, namun Rasululloh SAW tidak menyahut sedikit pun. Ketika itu mantan budak wanita milik Abdullah bin Jud’an bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah sedang berada dirumahnya mendengar apa yang dikatakan Abu Jahl kepada Rasululloh SAW. Usai berkata itu, Abu Jahl pergi dari hadapan Rasululloh SAW. Ia pergi ke balai pertemuan orang-orang Quraisy di samping Ka’bah kemudian duduk bersama mereka.

    Tidak lama kemudian, Hamzah bin Abdul Muththalib ra datang dengan menghunus pedangnya sehabis berburu, karena ia gemar berburu. Jika Hamzah pulang dari berburu, ia tidak langsung pulang kerumah, namun terlebih dahulu thawaf di Ka’bah. Biasanya usai thawaf, jika ia berjalan melewati balai pertemuan orang-orang Quraisy, pasti ia berhenti untuk mengucapkan salam dan ngobrol dengan mereka. Hamzah adalah anak muda yang di segani di kalangan orang-orang Quraisy dan pantang dihina. Ketika ia berjalan melewati mantan budak wanita tersebut dan setelah Rasululloh SAW kembali kerumahnya, mantan budak wanita tersebut berkata kepadanya, “Wahai Abu Umarah, seandainya saja engkau tadi melihat apa yang diperbuat Abu Al-Hakam bin Hisyam terhadap keponakanmu, Muhammad! Abu Jahl melihat beliau di Safa, kemudian ia mengganggunya, mencaci makinya dan melakukan hal-hal yang beliau tidak sukai. Setelah itu, ia pergi dan Muhammad tidak menyahut omongannya sedikit pun”.

    Hamzah bin abdul muththalib marah karena Allah ingin memuliakannya. Ia pergi mencari Abu Jahl tanpa menggubris orang-orang lain. Ia berjanji, jika bertemu dengannya akan dihajarnya.

    Ketika Hamzah masuk masjid, ia melihat Abu Jahl sedang duduk bersama orang-orang Quraisy, kemudian ia berjalan ke arahnya. Ketika ia sudah ada di depannya, ia mengangkat pedangnya kemudian menghajar Abu Jahl hingga mengalami luka parah. Ia berkata, “Apakah engkau mencaci maki keponakanku, padahal aku seagama dengannya dan aku berkata seperti yang ia katakan? Silakan balas, jika engkau sanggup!” Beberapa orang dari Bani Makhzum mendekat kepada Hamzah untuk menolong Abu Jahl, namun Abu Jahl berkata, “Biarkan Abu Umarah (Hamzah). Demi Allah, aku telah menghina keponakannya dengan penghinaan yang buruk.” Hamzah ra pun resmi masuk Islam dan mengikuti ucapan Rasululloh SAW.

    Ketika Hamzah masuk Islam, orang-orang Quraisy sadar bahwa Rasululloh SAW telah kuat, terjaga dan Hamzah pasti melindunginya. Oleh karena itu, mereka mengurangi sebagian gangguan mereka terhadap beliau.

    ***

    [Sumber : Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, judul asli As-Sirah An-Nabawiyah li Ibni Hisyam, karya Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al-Muafiri, penerbit Darul Fikr, Beirut 1415H]

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 12 January 2017 Permalink | Balas  

    Khaulah Binti Tsa’labah 

    khoulah-bin-tsalabahKhaulah Binti Tsa’labah

    (Wanita Yang Aduannya Didengar Allah Dari Langit Ketujuh)

    Beliau adalah Khaulah binti Tsa`labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai wanita yang fasih dan pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari Ubadah bin Shamit r.a yang beliau menyertai perang Badar dan perang Uhud dan mengikuti seluruh perperangan yang disertai Rasulullah saw. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak laki-laki yang bernama Rabi`.

    Khaulah binti Tsa`labah mendapati suaminya Aus bin Shamit dalam masalah yang membuat Aus marah, dia berkata, “Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku.” Kemudian Aus keluar setelah mengatakan kalimat tersebut dan duduk bersama orang-orang beberapa lama lalu dia masuk dan menginginkan Khaulah. Akan tetapi kesadaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Islam. Khaulah berkata, “Tidak, jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkankan terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.

    Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah saw, lalu dia duduk di hadapan beliau dan menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dengan suaminya. Keperluannya adalah untuk meminta fatwa dan berdialog dengan nabi tentang urusan tersebut. Rasulullah saw bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut, aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.

    Wanita mukminah ini mengulangi perkatannya dan menjelaskan kepada Rasulullah saw apa yang menimpa dirinya dan anaknya jika dia harus cerai dengan suaminya, namun rasulullah saw tetap menjawab, “Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya”.

    Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Pada kedua matanya nampak meneteskan air mata dan semacam ada penyesalan, maka beliau menghadap kepada Yang tiada akan rugi siapapun yang berdoa kepada-Nya. Beliau berdo’a, “Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku”.

    Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah semacam Khaulah, beliau berdiri di hadapan Rasulullah saw dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighatsah dan mengadu tidak ditujukan melainkan untuk Allah Ta`ala. Ini adalah bukti kejernihan iman dan tauhidnya yang telah dipelajari oleh para sahabat kepada Rasulullah saw.

    Tiada henti-hentinya wanita ini berdo`a sehingga suatu ketika Rasulullah saw pingsan sebagaimana biasanya beliau pingsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah saw sadar kembali, beliau bersabda, “Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan al-Qur`an tentang dirimu dan suamimu kemudian beliau membaca firman-Nya (artinya), “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,”sampai firman Allah: “dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang pedih.”(Al-Mujadalah:1-4)

    Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar:

    Nabi : Perintahkan kepadanya (suami Khansa`) untuk memerdekan seorang budak

    Khaulah : Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang budak yang bisa dia merdekakan.

    Nabi : Jika demikian perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulan berturut-turut

    Khaulah : Demi Allah dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukan shaum.

    Nabi : Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin

    Khaulah : Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya.

    Nabi : Aku bantu dengan separuhnya

    Khaulah : Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah.

    Nabi : Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaulah dengan anak pamanmu itu secara baik. Maka Khaulah pun melaksanakannya.

    Inilah kisah seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada pemimpin anak Adam a.s yang mengandung banyak pelajaran di dalamnya dan banyak hal yang menjadikan seorang wanita yang mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dengan bangga dan perasaan mulia dan besar perhatian Islam terhadapnya.

    Ummul mukminin Aisyah ra berkata tentang hal ini, “Segala puji bagi Allah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telah datang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Rasulullah saw, dia berbincang-bincang dengan Rasulullah saw sementara aku berada di samping rumah dan tidak mendengar apa yang dia katakan, maka kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah” (Al-Mujadalah: 1)

    Inilah wanita mukminah yang dididik oleh Islam yang menghentikan Khalifah Umar bin Khaththab r.a saat berjalan untuk memberikan wejangan dan nasehat kepadanya. Beliau berkata, “Wahai Umar aku telah mengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di pasar Ukazh engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, kemudian berlalulah hari demi hari sehingga memiliki nama Amirul Mukminin, maka bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, ketahuilah barangsiapa yang takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya dan barangsiapa yang takut mati maka dia kan takut kehilangan dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap Adzab Allah.” Beliau katakan hal itu sementara Umar Amirul Mukminin berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengar perkataannya.

    Akan tetapi al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khaththab tidak tahan mengatakan kepada Khaulah, “Engkau telah berbicara banyak kepada Amirul Mukminin wahai wanita.!” Umar kemudian menegurnya, “Biarkan dia, tahukah kamu siapakah dia? Beliau adalah Khaulah yang Allah mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh, maka Umar lebih berhak untuk mendengarkan perkataannya. ”

    Dalam riwayat lain Umar bin Khaththab berkata, “Demi Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasehatnya kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia kehendaki, kecuali jika telah datang waktu shalat maka aku akan mengerjakan shalat kemudian kembali mendengarkannya sehingga selesai keperluannya.”

    (SUMBER: buku Mengenal Shahabiah Nabi SAW., karya Mahmud Mahdi al-Istanbuly dan Musthafa Abu an-Nashar asy-Syalaby, h.242-246, penerbit AT-TIBYAN)

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 16 August 2016 Permalink | Balas  

    Taubatnya Malik Bin Dinar 

    taubat (1)Taubatnya Malik Bin Dinar

    Diriwayatkan dari Mali bin Dinar, dia pernah ditanya tentang sebab-sebab dia bertaubat, maka dia berkata : “Aku adalah seorang polisi dan aku sedang asyik menikmati khamr, kemudian aku beli seorang budak perempuan dengan harga mahal, maka dia melahirkan seorang anak perempuan, aku pun menyayanginya.

    Ketika dia mulai bisa berjalan, maka cintaku bertambah padanya. Setiap kali aku meletakkan minuman keras dihadapanku anak itu datang padaku dan mengambilnya dan menuangkannya di bajuku, ketika umurnya menginjak dua tahun dia meninggal dunia, maka aku pun sangat sedih atas musibah ini.

    Ketika malam dipertengahan bulan Sya’ban dan itu di malam Jum’at, aku meneguk khamr lalu tidur dan belum shalat isya’. Maka akau bermimpi seakan-akean qiyamat itu terjadi, dan terompet sangkakala ditiup, orang mati dibangkitkan, seluruh makhluk dikumpulkan dan aku berada bersama mereka, kemudian aku mendengar sesuatu yang bergerak dibelakangku.

    Ketika aku menoleh ke arahnya kulihat ular yang sangat besar berwarna hitam kebiru-biruan membuka mulutnya menuju kearahku, maka aku lari tunggang langgang karena ketakutan,

    Ditengah jalan kutemui seorang syaikh yang berpakaian putih dengan wangi yang semerbak, maka aku ucapkan salam atasnya, dia pun menjawabnya, maka aku berkata :

    “Wahai syaikh ! Tolong lindungilah aku dari ular ini semoga Allah melindungimu”. Maka syaikh itu menangis dan berkata padaku :

    “Aku orang yang lemah dan ular itu lebih kuat dariku dan aku tak mampu mengatasinya, akan tetapi bergegaslah engkau mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu”,

    Maka aku bergegas lari dan memanjat sebuah tebing Neraka hingga sampai pada ujung tebing itu, aku lihat kobaran api Neraka yang sangat dahsyat, hampir saja aku terjatuh kedalamnya karena rasa takutku pada ular itu. Namun pada waktu itu seorang menjerit memanggilku,

    “Kembalilah engkau karena engkau bukan penghuni Neraka itu!”, aku pun tenang mendengarnya, maka turunlah aku dari tebing itu dan pulang. Sedang ular yang mengejarku itu juga kembali. Aku datangi syaikh dan aku katakan,

    “Wahai syaikh, aku mohon kepadamu agar melindungiku dari ular itu namun engkau tak mampu berbuat apa-apa”. Menangislah syaikh itu seraya berkata, “Aku seorang yang lemah tetapi pergilah ke gunung itu karena di sana terdapat banyak simpanan kaum muslimin, kalau engkau punya barang simpanan di sana maka barang itu akan menolongmu”

    Aku melihat ke gunung yang bulat itu yang terbuat dari perak. Di sana ada setrika yang telah retak dan tirai-tirai yang tergantung yang setiap lubang cahaya mempunyai daun-daun pintu dari emas dan di setiap daun pintu itu mempunyai tirai sutera.

    Ketika aku lihat gunung itu, aku langsung lari karena kutemui ular besar lagi. Maka tatkala ular itu mendekatiku, para malaikat berteriak : “Angkatlah tirai-tirai itu dan bukalah pintu-pintunya dan mendakilah kesana!” Mudah-mudahan dia punya barang titipan di sana yang dapat melindunginya dari musuhnya (ular).

    Ketika tirai-tirai itu diangkat dan pintu-pintu telah dibuka, ada beberapa anak dengan wajah berseri mengawasiku dari atas. Ular itu semakin mendekat padaku, maka aku kebingungan, berteriaklah anak-anak itu :

    “Celakalah kamu sekalian!, Cepatlah naik semuanya karena ular besar itu telah mendekatinya”. Maka naiklah mereka dengan serentak, aku lihat anak perempuanku yang telah meninggal ikut mengawasiku bersama mereka. Ketika dia melihatku, dia menangis dan berkata :

    “Ayahku, demi Allah!” Kemudian dia melompat bak anak panah menuju padaku, kemudian dia ulurkan tangan kirinya pada tangan kananku dan menariknya, kemudian dia ulurkan tangan kanannya ke ular itu, namun binatang tersebut lari.

    Kemudian dia mendudukkanku dan dia duduk di pangkuanku, maka aku pegang tangan kanannya untuk menghelai jenggotku dan berkata : “Wahai ayahku! Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah”. (QS. Al-Hadid : 16).

    Maka aku menangis dan berkata : “Wahai anakku!, Kalian semua faham tentang Al-Qur’an”, maka dia berkata :

    “Wahai ayahku, kami lebih tahu tentang Al-Qur’an darimu”, aku berkata :

    “Ceritakanlah padaku tentang ular yang ingin membunuhku”, dia menjawab :

    “Itulah pekerjaanmu yang buruk yang selama ini engkau kerjakan, maka itu akan memasukkanmu ke dalam api Neraka”, akau berkata :

    “Ceritakanlah tentang Syaikh yang berjalan di jalanku itu”, dia menjawab : “Wahai ayahku, itulah amal shaleh yang sedikit hingga tak mampu menolongmu”, aku berkata :

    “Wahai anakku, apa yang kalian perbuat di gunung itu?”, dia menjawab : “Kami adalah anak-anak orang muslimin yang di sini hingga terjadinya kiamat, kami menunggu kalian hingga datang pada kami kemudian kami memberi syafa’at pada kalian”. (HR. Muslim dalam shahihnya No. 2635).

    Berkata Malik : “Maka akupun takut dan aku tuangkan seluruh minuman keras itu dan kupecahkan seluruh botol-botol minuman kemudian aku bertaubat pada Allah, dan inilah cerita tentang taubatku pada Allah”.

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 26 April 2016 Permalink | Balas  

    Berzina Seribu Kali 

    taubat (1)Berzina Seribu Kali

    Pada suatu senja yang lengang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam dukacita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya.Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s. Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan uluk salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam “Silakan masuk”.

    Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia berkata, “Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya. Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.” Apakah dosamu wahai wanita ayu?” tanya Nabi Musa as terkejut. “Saya takut mengatakannya.” jawab wanita cantik.

    “Katakanlah jangan ragu-ragu!” desak Nabi Musa.

    Maka perempuan itupun terpatah bercerita, “Saya ……telah berzina.” Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.

    Perempuan itu meneruskan, “Dari perzinaan itu sayapun……lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya……. cekik lehernya sampai……tewas”, ucap wanita itu seraya menangis sejadi-jadinya.

    Nabi musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia menghardik Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi !…” teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.

    Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk keluar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, “Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobatdari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?”

    Nabi Musa terperanjat. Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?” Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril. “Betulkah ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?” ” Ada !” jawab Jibril dengan tegas

    “Dosa apakah itu?” tanya Musa kian penasaran.

    “Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar daripada seribu kali berzina” Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.

    Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sholat itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.

    Dalam hadist Nabi SAW disebutkan: Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang memmbakar 70 buah Al-Qur’an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka’bah. Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari diakherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia. Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita pezina dan dua hadist Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah.

    Tolong sebarkan kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahui. Subhanakallahumma wabihamdika asyadu’ala ilaha illa anta, astagfiruka wa’atubuilaik. Wassalam

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 13 February 2016 Permalink | Balas  

    Ibadah Yang Lebih Baik 

    shalat-khusyuIbadah Yang Lebih Baik

    Kisah Rabi’ah Al-Adawiyah, wanita sufi

    Ketika Rabi’ah ditanya tentang hakikat imannya, ia menjawab, “Aku tidak beribadah kepada Allah karena takut kepadaNya. Sehingga aku serupa saja dengan budak/pelayan yang buruk yang bekerja dengan rasa takut terhadap majikannya.

    Aku beribadah bukan karena mengharapkan surga sehingga aku serupa dengan budak yang buruk yang diberi sesuatu untuk pekerjaannya.

    Tetapi aku beribadah kepada Allah karena cinta dan rinduku kepada-Nya.”

    Kisah seorang Arab badui

    Seorang arab badui memasuki memasuki masjid lalu shalat. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a memandangnya dengan penuh perhatian.

    Seusai orang itu shalat, sambil memegang cambuk, Ali r.a. mendekatinya dan menyuruhnya mengulangi shalatnya. Sang badui lalu memperbagus shalatnya dengan kesempurnaan, khusyu’ dan thuma’ninah.

    Seusai shalat, Ali bin Abi Thalib r.a. bertanya : “Shalat mana yang lebih baik, yang pertama atau yang kedua?”

    Orang badui itu menjawab dengan polos, “Tentu saja yang pertama, sebab aku melakukannya untuk Allah, sedangkan shalat yang kedua karena aku takut kena cambuk Amirul Mukminin.

    ***

    L.Meilany

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 18 January 2016 Permalink | Balas  

    Gilingan Gandum Pengantar Ke Surga 

    gandumGilingan Gandum Pengantar Ke Surga

    Suatu ketika masuklah Rasulullah SAW menemui anandanya, Fatimah Az Zahra. Didapatinya Fatimah sedang menggiling syair (sejenis padi-padian) dengan menggunakan penggilingan tangan dari batu sambil menangis.

    Melihat hal itu, Rasulullah SAW bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Fatimah? Semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis, “kata Rasulullah

    Fatimah pun menjawab, “Ayahku, penggilingan dan urusan-urusan rumah tanggalah yang menyebabkan ananda menangis.” Lalu duduklah Rasulullah di sisi putrinya itu.

    Fatimah melanjutkan perkataannya,” Ayah, sudikah kiranya ayahanda meminta Ali mencarikan ananda seorang jariah untuk menolong ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah?”

    Mendengar perkataan anandanya ini maka bangkitlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu. Beliau lantas mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya mengucapkan Bismillaahirrahmaanirrahiim.

    Atas izin Allah, penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya. Rasulullah SAW meletakkan syair ke dalam penggilingan tersebut dengan tangannya. Penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada Allah SWT hingga habislah bulir-bulir syair itu digilingnya.

    Rasulullah SAW berkata pada gilingan tersebut : “Berhentilah berputar dengan izin Allah SWT,” maka seketika berhentilah penggilingan itu berputar. Dengan izin Allah SWT pula, menjadikan segala sesuatu dapat bertutur kata. Maka kata gilingan tersebut dalam bahasa Arab yang fasih, “Ya Rasulullah, demi Allah Guhan yang telah menjadikan baginda dengan kebenaran sebagai nabi dan Rasul-Nya. Kalaulah baginda menyuruh hamba menggiling syair dari masyriq sampai maghrib pun, niscaya hamba gilingkan semuanya.”

    Rasulullah SAW kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, “Bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fatimah Az Zahra di dalam surga.” Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu, kemudian diamlah dia.

    Rasulullah SAW bersabda pada anandanya :

    Ya Fatimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.

    Ya Fatimah, perempuan mana yang  berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya, maka Allah SWT  menjadikan antaranya dan neraka tujuh buah parit.

    Ya Fatimah, perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka, maka Allah SWT akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada 1000 orang lapar dan memberi pakaian pada 1000 orang telanjang.

    Ya Fatimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya, maka Allah SWT akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautsar pada hari kiamat.

    Ya Fatimah, yang lebih utama dari itu semua adalah keridloan suami terhadap istrinya. Jikalau suamimu tidak ridho kepadamu, tidaklah akan aku doakan kamu. Tidakkah engkau ketahui Fatimah, bahwa ridha suami itu daripada Allah SWT dan kemarahannya dari kemarahan Allah SWT?

    Ya Fatimah, apabila seorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah SWT akan mencatatkan baginya tiap-tiap hari 1000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1000 kejahatan. Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan, maka Allah SWT mencatatkan untuknya pahala orang-orang yang berjihad pada jalan  Allah yakni berperang sabil. Apabila ia melahirkan anak  maka keluarlah ia dari dosa-dosanya, seperti keadaannya pada hari ibunya melahirkannya, dan apabila ia meninggal, tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikit pun, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga, dan Allah SWT akan mengkaruniakannya pahala seribu haji dan seribu umrah, serta beristghfarlah untuknya 1000 malaikat hingga hari kiamat.

    Perempuan mana yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar, maka Allah SWT akan memakaikannya sepersalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya 1000 kebaikan dan dikaruniakan Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah.

    ***

    alisa anggraini

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 23 July 2015 Permalink | Balas  

    Nasihat yang Jitu 

    taubat 3Nasihat Yang Jitu

    Pada suatu hari Ibrahim bin Adham didatangi oleh seorang lelaki yang gemar melakukan maksiat. Lelaki tersebut bernama Jahdar bin Rabi’ah. Ia meminta nasehat kepada Ibrahim agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya.

    Ia berkata, “Ya Aba Ishak, aku ini seorang yang suka melakukan perbuatan maksiat. Tolong berikan aku cara yang ampuh untuk menghentikannya!”

    Setelah merenung sejenak, Ibrahim berkata, “Jika kau mampu melaksanakan lima syarat yang kuajukan, aku tidak keberatan kau berbuat dosa.”

    Tentu saja dengan penuh rasa ingin tahu yang besar Jahdar balik bertanya, “Apa saja syarat-syarat itu, ya Aba Ishak?”

    “Syarat pertama, jika engkau melaksanakan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan rezeki Allah,” ucap Ibrahim.

    Jahdar mengernyitkan dahinya lalu berkata, “Lalu aku makan dari mana? Bukankah segala sesuatu yang berada di bumi ini adalah rezeki Allah?”

    “Benar,” jawab Ibrahim dengan tegas. “Bila engkau telah mengetahuinya, masih pantaskah engkau memakan rezeki-Nya, sementara Kau terus-menerus melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintahnya?”

    “Baiklah,” jawab Jahdar tampak menyerah. “Kemudian apa syarat yang kedua?”

    “Kalau kau bermaksiat kepada Allah, janganlah kau tinggal di bumi-Nya,” kata Ibrahim lebih tegas lagi.

    Syarat kedua membuat Jahdar lebih kaget lagi. “Apa? Syarat ini lebih hebat lagi. Lalu aku harus tinggal di mana? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Allah?”

    “Benar wahai hamba Allah. Karena itu, pikirkanlah baik-baik, apakah kau masih pantas memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kau terus berbuat maksiat?” tanya Ibrahim.

    “Kau benar Aba Ishak,” ucap Jahdar kemudian. “Lalu apa syarat ketiga?” tanya Jahdar dengan penasaran.

    “Kalau kau masih bermaksiat kepada Allah, tetapi masih ingin memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempar bersembunyi dari-Nya.”

    Syarat ini membuat lelaki itu terkesima. “Ya Aba Ishak, nasihat macam apa semua ini? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?”

    “Bagus! Kalau kau yakin Allah selalu melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rezeki-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan terus melakukan maksiat kepada-Nya, pantaskah kau melakukan semua itu?” tanya Ibrahin kepada Jahdar yang masih tampak bingung dan terkesima. Semua ucapan itu membuat Jahdar bin Rabi’ah tidak berkutik dan membenarkannya.

    “Baiklah, ya Aba Ishak, lalu katakan sekarang apa syarat keempat?”

    “Jika malaikat maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum mau mati sebelum bertaubat dan melakukan amal saleh.”

    Jahdar termenung. Tampaknya ia mulai menyadari semua perbuatan yang dilakukannya selama ini. Ia kemudian berkata, “Tidak mungkin… tidak mungkin semua itu aku lakukan.”

    “Wahai hamba Allah, bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau dapat menghindari murka Allah?”

    Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya syarat yang kelima, yang merupakan syarat terakhir. Ibrahim bin Adham untuk kesekian kalinya memberi nasihat kepada lelaki itu.

    “Yang terakhir, bila malaikat Zabaniyah hendak menggiringmu ke neraka di hari kiamat nanti, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah!”

    Lelaki itu nampaknya tidak sanggup lagi mendengar nasihatnya. Ia menangis penuh penyesalan. Dengan wajah penuh sesal ia berkata, “Cukup-cukup ya Aba Ishak! Jangan kau teruskan lagi. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan beristighfar dan bertaubat nasuha kepada Allah.”

    Jahdar memang menepati janjinya. Sejak pertemuannya dengan Ibrahim bin Adham, ia benar-benar berubah. Ia mulai menjalankan ibadah dan semua perintah-perintah Allah dengan baik dan khusyu’.

    Ibrahim bin Adham yang sebenarnya adalah seorang pangeran yang berkuasa di Balakh itu mendengar bahwa di salah satu negeri taklukannya, yaitu negeri Yamamah, telah terjadi pembelotan terhadap dirinya. Kezaliman merajalela. Semua itu terjadi karena ulah gubernur yang dipercayainya untuk memimpin wilayah tersebut.

    Selanjutnya, Ibrahim bin Adham memanggil Jahdar bin Rabi’ah untuk menghadap. Setelah ia menghadap, Ibrahim pun berkata, “Wahai Jahdar, kini engkau telah bertaubat. Alangkah mulianya bila taubatmu itu disertai amal kebajikan. Untuk itu, aku ingin memerintahkan engkau untuk memberantas kezaliman yang terjadi di salah satu wilayah kekuasaanku.”

    Mendengar perkataan Ibrahim bin Adham tersebut Jahdar menjawab, “Wahai Aba Ishak, sungguh suatu anugrah yang amat mulia bagi saya, di mana saya bisa berbuat yang terbaik untuk umat. Dan tugas tersebut akan saya laksanakan dengan segenap kemampuan yang diberikan Allah kepada saya. Kemudian di wilayah manakah gerangan kezaliman itu terjadi?”

    Ibrahim bin Adham menjawab, “Kezaliman itu terjadi di Yamamah. Dan jika engkau dapat memberantasnya, maka aku akan mengangkat engkau menjadi gubernur di sana .”

    Betapa kagetnya Jahdaar mendengar keterangan Ibrahim bin Adham. Kemudian ia berkata, “Ya Allah, ini adalah rahmat-Mu dan sekaligus ujian atas taubatku. Yamamah adalah sebuah wilayah yang dulu sering menjadi sasaran perampokan yang aku lakukan dengan gerombolanku. Dan kini aku datang ke sana untuk menegakkan keadilan. Subhanallah, Maha Suci Allah atas segala rahmat-Nya.”

    Kemudian, berangkatlah Jahdar bin Rabi’ah ke negeri Yamamah untuk melaksanakan tugas mulia memberantas kezaliman, sekaligus menunaikan amanah menegakkan keadilan. Pada akhirnya ia berhasil menunaikan tugas tersebut, serta menjadi hamba Allah yang taat hingga akhir hayatnya.

    ***

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 16 July 2015 Permalink | Balas  

    Kisah Isteri Abulaswad Ad-Duali 

    Nasehat IbuKisah Isteri Abulaswad Ad-Duali

    Suatu ketika, Abulaswad ad-Duali bertengkar dengan isterinya. Demikian hebatnya pertengkaran itu, sampai-sampai berakhir dengan perceraian. Lalu masing-masing menuntut hak untuk mengasuh anak tunggal mereka yang masih kecil.

    Ketika itu, Gubernur Basrah dijabat oleh Ziyad bin Abih. Biasanya, gubernurlah yang bertindak sebagai hakim untuk memutuskan perkara. Namun, untuk menyelesaikan konflik mereka, Abulaswad ad-Duali dan isterinya memilih menghadap Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan.

    Dihadapan Khalifah, isteri Abulaswad, Ummu ‘Auf, mengadu, “Dia ingin mengambil hak aku berkenaan dengan pemeliharaan anakku. Sedangkan perutku adalah tempat pertumbuhannya, payudaraku adalah sumber minuman baginya, dan pangkuanku adalah tempat persemayamannya.”

    Abulaswad tak mau kalah, ia menjawab, ” Hanya dengan menyebut semua itu kamu ingin merebut dan menguasai anakku? Akulah yang pertama mengembannya sebelum kamu mengembannya. Aku yang meletakkan benihnya sebelum kamu melahirkannya, dan aku memberinya makan lebih banyak daripada yang engkau berikan.”

    Ummu ‘Auf menyanggah lagi, ” Benar, tapi kamu mengembannya dengan ringan. sedangkan aku mengembannya dengan berat. Kamu meletakkan ke rahimku dengan syahwat, sedangkan aku melahirkannya dengan susah payah. Dan kamu memberinya makanan dari hartamu, sedangkan aku memberinya makanan dari darahku.”

    Setelah mempertimbangkan baik-baik, Khalifah Muawiyah memutuskan bahwa anak itu diserahkan kepada ibunya.

    Kiriman Sahabat: Ummu ‘Auf.

     
  • erva kurniawan 7:22 am on 14 June 2015 Permalink | Balas  

    Memasuki bulan Ramadhan 

    PUASAMemasuki bulan Ramadhan

    Assalaamualaikum wr.wb.

    Ketika Rasulullah SAW. sedang berkhotbah pada suatu Sholat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan “Aamin” sampai 3x(tiga kali), dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Aamin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Aamin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Aamin sampai tiga kali. Ketika selesai sholat jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “Ketika aku sedang berhotbah, datanglah Malaikat Zibril dan berbisik, hai Rasullullah aamin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.

    Do’a Malaikat Zibril itu adalah sbb: “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

    • Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
    • Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami istri;
    • Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Maka Rasullahpun mengatakan Aamin sebanyak 3 kali.

    Dapat kita bayangkan, yang berdo’a adalah Malaikat dan yang mengaminkan adalah Rasullullah dan para sahabat, dan dilakukan pada hari Jum’at. Tentunya do’a tersebut akan didengar oleh Allah SWT Saya yakin bahwa kita semua tidak ingin kalau puasa kita tidak diterima oleh Allah SWT dan hanya merasakan lapar dan dahaga belaka.

    Oleh karena itu, bersama e-mail ini saya mengucapkan : “Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika di hari- hari kemarin ada perbuatan saya yang dirasakan kurang berkenan di hati rekan/sahabat/saudara saya sekalian, baik itu kesalahan yang di sengaja maupun tidak disengaja. Semoga Allah SWT. memberi kekuatan, terutama kekuatan iman kepada kita semua dalam menghadapi Ramadhan tahun ini, Amin”.

    Wassalaamualaikum wr. wb.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:13 pm on 22 April 2015 Permalink | Balas  

    Hilangnya Rasa Malu 

    081310_orangarabHilangnya Rasa Malu

    Pada zaman Khalifah Umar Bin Khattab, ada seorang pemuda yang menyerahkan diri untuk diadili karena telah membunuh sesama muslim. Pengadilan pun menjatuhkan hukum qisas. Khalifah menanyakan apa permohonan terhukum sebelum di-qisas. Ia memohon agar diperbolehkan pulang ke kampungnya untuk menyelesaikan amanah serta membayar hutang-hutang yang masih ditanggungnya. Permohonan itu dikabulkan dengan syarat adanya badal (orang yang menjamin, dan apabila si terhukum mangkir maka penjamin yang akan dihukum).

    Ketika ditanyakan siapa yang akan menjadi badal, si pemuda tak memiliki sanak famili di Madinah. Dari kerumunan orang, berteriaklah seseorang, “Aku siap menjadi penjaminnya.” Ternyata orang itu tak lain adalah Abu Dzar Al-Ghifari. Akhirnya si terhukum diberi waktu satu minggu untuk menyelesaikan keperluannya. Singkat cerita, sampai hari yang telah ditentukan si terhukum tak kunjung tiba. Orang-orang berkerumun dan menangis melihat sahabat Nabi SAW duduk di majlis qisas untuk dipenggal lehernya sebagai badal. Algojo pun telah siap dengan pedang terhunus, menanti aba-aba dari khalifah.

    Tiba-tiba dari kejauhan tampak pemuda itu memacu kudanya dengan cepat seraya bertakbir. Ia pun segera menghadap ke majlis qisas. Saat itulah ia ditanya, “Mengapa kamu kembali, padahal engkau dapat melarikan diri?” Pemuda itu menjawab, “Memang aku dapat melarikan diri, namun aku malu jika nanti tercatat dalam sejarah ada seorang muslim yang ingkar janji dan tidak menjaga harga dirinya sebagai muslim.”

    Mendengar jawaban yang tulus itu, tiga orang anak dari korban pembunuhan menghadap ke majlis dan berkata, “Kami putra dari yang dibunuh memaafkan orang ini. Akhirnya, pemuda itu pun lepas dari hukuman qisas. Saat itulah, Abu Dzar ditanya, “Kenapa engkau mau menjadi badal dari orang yang tak kau kenal? Abu Dzar pun menjawab, “Aku malu jika nanti tertulis dalam sejarah bahwa ada satu kejadian dimana seorang muslim minta jaminan ditengah saudaranya sesama muslim namun tak ada seorang pun yang menolongnya.”

    Lalu ketiga putra korban pun ditanya, “Mengapa kalian dengan begitu mudah memaafkan pembunuh ayahmu?” Mereka pun menjawab, “Kami pun juga malu seandainya nanti tergores dalam sejarah bahwa ada seorang muslim yang tidak mau memaafkan kesalahan saudaranya!”

    Sungguh besar hikmah dari kejadian diatas, bagaimana seorang muslim merasa malu jika tak mampu membantu sesamanya. Sabda Nabi SAW bahwa seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya begitu mengakar di hati mereka. mereka menyadari sepenuhnya bahwa persaudaraan atas dasar aqidah jauh lebih mulia daripada persaudaraan berdasar keturunan. Hubungan yang dibangun dengan sikap saling membantu ini merupakan kehendak Allah SWT dalam bentuk, cara maupun peraturan yang sesuai dengan fitrah kita sebagai manusia. Hal inilah yang akhirnya membuat ikatan hubungan sesama muslim menjadi kuat dan penuh kasih sayang sebagaimana yang digambarkan kisah diatas.

    Kehidupan Nabi dan para sahabat menunjukkan betapa indahnya persaudaraan diantara mereka. bagaimana mulianya hati kaum Anshar ketika menerima kedatangan saudaranya dari Makkah. Mereka membagi harta, pakaian dan rumah untuk ditempati oleh orang-orang yang baru mereka temui. Dalam kehidupan sehari-hari para sahabat, tak jarang mereka mendahulukan kepentingan saudaranya dibanding kepentingan mereka sendiri. Mereka merasa malu dan menyesal jika tak mampu membantu kesulitan saudaranya. Dan semua itu mereka lakukan hanya atas dasar persamaan aqidah.

    Sebuah pertanyaan harus ditujukan kepada diri kita, pernahkah kita merasa malu jika tak mampu membantu kesulitan sesama muslim? Pernahkah mata kita menangis ketika melihat penderitaan yang dialami saudara kita sesama muslim? Pernahkah hati kita merasa marah melihat saudara sesama muslim didzalimi kelompok lain?

    Jawabannya sudah jelas! Jangankan merasa malu, tergerak untuk membantu pun tidak, hati kita telah dibutakan oleh penyakit cinta dunia. Di depan mata kita, ribuan saudara muslim merintih membutuhkan uluran tangan, namun kita lebih memilih menggelar pesta pernikahan dengan beribu kemewahan. Kita juga lebih suka menumpahkan darah sesama muslim hanya karena masalah khilafiyah atau yang lebih memalukan lagi hanya karena masalah perbedaan partai. Lalu pantaskah kita mengaku sebagai umat Muhammad SAW? Hati kita telah dibekukan oleh nafsu duniawi hingga kita tak pernah mempedulikan keadaan saudara muslim yang lain.

    Ajaran jahiliyah yang hedonis dan individualis telah menjadi kiblat dalam kehidupan kita sehari-hari. Harta telah menjadi “Tuhan” dalam kehidupan kita. Akibatnya, kita takut harta kita berkurang jika membantu orang lain. Kita merasa apabila seseorang ditimpa kesusahan, maka itu adalah tanggung jawab pribadinya. Bahkan tak jarang, kita menindas dan mendzalimi sesama muslim untuk memperkaya diri sendiri. Fenomena ini terlihat di segala bidang, dari perdagangan hingga ke pemerintahan. Kita telah melalaikan perintah Allah dan Rasul-Nya.

    Sebagai akhir dari tulisan ini hendaklah kita selalu mengingat firman Allah SWT, “Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (MZ)

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 15 January 2015 Permalink | Balas  

    Petuah bagi Ahli Maksiat 

    air mataPetuah bagi Ahli Maksiat

    Suatu saat seorang ahli hikmah, Ibrahim bin Adham didatangi orang yang mengaku ahli maksiat. Ia mengutarakan niatnya untuk keluar dari kubangan dunia hitam. Ibrahim bin Adham memberikan nasihatnya, seraya berkata,

    “Jika ingin menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka tak mengapa kamu meneruskan kesukaanmu berbuat maksiat.”

    Mendengar perkataan Ibrahim, ahli maksiat dengan penasaran bertanya, “Ya, Abu Ishaq (panggilan Ibrahim bin Adham) apa syaratnya?”

    Ibrahim bin Adham berkata, “Pertama, jika ingin melakukan maksiat kepada Allah, janganlah kamu memakan rezeki-Nya.”

    “Lalu, aku harus makan dari mana? Bukankah semua yang di bumi ini rezeki Allah?” kata sang ahli maksiat penuh keheranan.

    Ibrahim bin Adham berkata lagi, “Ya, kalau sudah menyadarinya, masih pantaskah kamu memakan rezeki-Nya, sedangkan kamu melanggar perintah-perintah-Nya. Kemudian syarat kedua, kalau ingin bermaksiat kepada-Nya, maka jangan tinggal di bumi-Nya.”

    “Ya, Abu Ishaq, kalau demikian, aku tinggal di mana? Bukankah semua bumi dan isinya ini kepunyaan Allah?” kata lelaki itu.

    “Ya Abdullah, renungkanlah olehmu, apakah masih pantas memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sedangkan kamu masih hendak melanggar perintah-Nya?” kata Ibrahim.

    “Ya, benar,” tutur lelaki itu tertunduk pasrah,

    Ibrahim bin Adham kembali berkata, “Syarat ketiga, kalau ingin juga bermaksiat, mau makan rezeki-Nya dan tingal di bumi-Nya, maka carilah suatu tempat yang tersembunyi dan tidak dilihat-Nya.”

    “Ya, Abu Ishaq, mana mungkin Allah SWT tidak melihat kita?” ujarnya.

    Sang ahli maksiat pun terdiam merenungkan petuah-petuah Ibrahim. Lalu ia kembali bertanya, “Ya, Abu Ishaq, kini apa lagi syarat keempat?”

    “Kalau malaikat datang hendak mencabut ruhmu, katakanlah, ‘Undurlah kematianku. Aku ingin bertaubat dan melakukan amal shalih’,” kata Ibrahim.

    “Ya Abu Ishaq, mana mungkin malaikat maut akan mengabulkan permintaanku itu,” jawab lelaki itu. “Baiklah, ya Abu Ishaq. Sekarang syarat kelimanya apa lagi?” tanyanya lagi.

    “Kalau malaikat Zabaniyah hendak membawamu ke neraka di hari kiamat, janganlah kamu mau ikut bersamanya!”

    “Ya, Abu Ishaq, jelas mereka (malaikat Zabaniyah) tidak mungkin membiarkan aku menolak kehendak-Nya,” ujar lelaki itu.

    “Kalau demikian, jalan apa lagi yang dapat menyelamatkan dirimu ya Abdullah?” tanya Ibrahim bin Adham.

    “Ya Abu Ishaq, cukuplah! Cukup! Jangan engkau teruskan lagi. Mulai detik ini aku beristighfar dan bertaubat pada Allah,” ujar lelaki itu sambil menangis penuh penyesalan.

    ***

    Affan Madjrie (sabili)

     
  • erva kurniawan 2:46 am on 24 December 2014 Permalink | Balas  

    Terkena Api di Alam Kubur 

    berapa-lama-kita-dikuburTerkena Api di Alam Kubur

    Diceritakan dari Ibnu Hajar bahwa serombongan orang dari kalangan Tabi’in pergi berziarah ke rumah Abu Sinan. Baru sebentar mereka di rumah itu, Abu Sinan mengajak mereka untuk berziarah ke rumah tetangganya.

    “Mari ikut saya ke rumah tetangga saya untuk mengucapkan ta’ziah atas kematian saudaranya.” kata Abu Sinan kepada tamunya.

    Sesampainya di sana, mereka mendapati saudara si mati senantiasa menangis karena terlalu sedih. Para tamu telah berusaha menghibur dan membujuknya agar jangan menangis, tapi tidak berhasil. “Apakah kamu tidak tahu bahwa kematian itu suatu perkara yang mesti dijalani oleh setiap orang?” tanya para tetamu.

    “Itu aku tahu. Akan tetapi aku sangat sedih karena memikirkan siksa yang telah menimpa saudaraku itu.” jawabnya.

    “Apakah engkau mengetahui perkara yang ghaib?”

    “Tidak. Akan tetapi ketika aku menguburkannya dan meratakan tanah di atasnya telah terjadi sesuatu yang menakutkan. Ketika itu orang-orang telah pulang, tapi aku masih duduk di atas kuburnya. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam kubur “Ah….ah….Mereka tinggalkan aku seorang diri menanggung siksa. Padahal aku mengerjakan puasa dan solat”.

    Jeritan itu betul-betul membuatku menangis karena kasihan. Aku coba menggali kuburnya semula karena ingin tahu apa yang sudah terjadi di dalamnya. Ternyata kuburan itu telah penuh dengan api dan di leher si mayat ada rantai dari api. Karena kasihan kepada saudara, aku cuba untuk melepaskan rantai itu dari lehernya. Sesaat aku ulurkan tangan untuk membukanya, tanganku terbakar.”

    Lelaki itu menunjukkan tangannya yang masih hitam dan mengelupas kulitnya karena bekas terkana api dari dalam kubur kepada para tamu. Dia meneruskan ceritanya: “Lalu aku menimbun kubur itu seperti semula dan pulang dengan segera. Bagaimana kami tidak akan menangis apabila mengingati keadaan itu?”

    “Apa yang biasa dilakukan oleh saudaramu ketika di dunia?” tanya teman-teman Abu Sinan.

    “Dia tidak mengeluarkan zakat hartanya.” jawabnya.

    “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka sebagai karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imran: 180)

    ***

    (Diambil dari Kisah-kisah Islam)

    haris.satriawan@ifs.co.id

     
  • erva kurniawan 2:20 am on 23 December 2014 Permalink | Balas  

    BERMULA DARI KITA 

    Dakwah-Islam1Bermula Dari Kita

    Dwi Nopitasari

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Suatu hari ketika jam istirahat kerja di kantor, ada seorang sahabat yang menegur saya atas ucapan dan perbuatan yang dirasa tidak sesuai dengan apa yang pernah saya lontarkan kepada orang lain. Astagfirullah ! Ya Allah ampunkan hambamu yang lemah ini, betapa saya mengingatkan orang lain sementara saya sendiri melakukannya.

    Hal ini menjadi bahan perenungan saya untuk hari-hari selanjutnya. Sebagai manusia biasa dengan didasari oleh sifat ego, terkadang kita nggak sadar dan terlalu cepat untuk memvonis seseorang atas kesalahannya, bahkan langsung berburuk sangka terhadap orang tersebut. Tanpa kita mencoba berpikir atau melihat dari sisi-sisi lain kenapa sampai si Fulan melakukan hal demikian. Sementara mungkin di lain waktu tanpa kita sadari hal yang sama akan kita lakukan sendiri.

    Berungtunglah kalau ada sahabat-sahabat kita yang mau dan berani memberi kritikan dan saran untuk perbaikan diri kita, sebelum kita terlena dalam sifat uzub dan ria serta tenggelam dalam lautan kesombongan. Sayapun jadi teringat akan sebuah hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Dalam hadist tersebut Allah Ta’ala berfirman :

    “Kebesaran (Kesombongan) adalah pakain-KU dan Keagungan adalah sarung-KU. Barangsiapa merampas salah satu (dari keduanya) Aku lemparkan dia ke neraka (jahanam).”

    Dalam bermuhasabah sayapun jadi berpikir, sangatlah buruk pabila sifat sombong kita biarkan menggerogoti hati, karena bisa merusak amal kebaikan kita.Sehingga tidaklah heran, jika Nabi SAW. mencela perbuatan sombong dan membanggakan diri. Sebagaimana Sabdanya :

    “Sesungguhnya Allah SWT. telah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendahkan hati sehingga tidak ada lagi orang yang saling membanggakan diri terhadap orang lain ” (HR Muslim).

    Kejadian diatas menjadi pelajaran buat saya, bahwa sebelum kita mengubah orang lain kepada akhlak yang utama, mulailah terlebih dahulu dengan diri sendiri. Adalah aib bagi seorang manusia bila ia telah mengajari atau mendidik orang lain sedangkan dirinya sendiri masih perlu dididik dan diajari hal yang sama. Allah SWT. berfirman : “Mengapa kamu suruh orang lain melakukan kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab. Tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah : 44)

    Sungguh menjadi panutan bagi kita pula kalau Imam Hasan Basri terkenal di jamannya dulu bukan semata-mata karena beliau mengeksploitasi diri agar populer di masyarakat, melainkan terkenal otomatis akibat keluasan pengetahuan dan pemahaman ilmu agamanya serta kehalusan dan keluhuran budi pekertinya. Beliau seorang Ulama yang mumpuni tapi tawadhu’ rendah hati. Dapat dipahami jika setiap fatwa yang dikeluarkannya selalu dianut dan dipahami oleh masyarakatnya.

    Karena kredibiltasnya sebagai ulama yang hebat dan memikat hati inilah, maka para budak ( hamba sahaya) sempat berulangkali meminta bantuannya agar dalam khotbah Jumat, mengangkat topik nasib mereka, kaum sahaya, berulangkali permintaan serupa diajukan oleh para sahaya, berulangkali pula Iman Hasan Basri ternyata tak mengabulkan dan merealisirnya. Dari Jumat ke Jumat beliau tak pernah menyinggung segala masalah yang terkait dengan perbudakan. Sikap sang Imam Hasan Basri tadi tentu menimbulkan tanda tanya bin keanehan di hati para budak yang jamaah dalam Shalat Jumat.

    Ada apa gerangan? Mengapa Kyai Hasan Basri tak mampu memperjuangkan nasib kami? Bukankah Islam secara substansial mengarahkan ajaran pada penghapusan perbudakan? itulah segudang pertanyaan yang bergelayut dalam benak masing-masing hamba sahaya. Barulah pada suatu hari, setelah lama berselang, Imam Hasan Basri tiba-tiba mengangkat tema yang lama didamba kaum sahaya. Hasan Basri mengungkapkan nasib nestapa kaum sahaya yang perlu dibebaskan dari berbagai rantai dan belenggu perbudakan.

    Selesai Shalat Jumat, para budak kontan mengerumuni sang Ulama, menyalami, lantas berkata kepada beliau “Kenapa baru sekarang engkau mengungkapkan permasalahan kami, wahai Iman Hasan Basri?”

    Beliau menjawab, “Maafkan aku wahai saudaraku, Aku memang ingin menyampaikan persoalan kalian itu. Tapi, bagaimana mungkin aku sampaikan pesan kalian, sesuatu yang aku sendiri belum pernah melakukan? Ketika telah datang rizqi dan dari risky itulah aku bisa membebaskan seorang budak, barulah aku berani mendakwahkan dan menyerukan perbaikan nasib kalian.”

    Itulah sikap dan ucapan seorang ulama yang berani mendakwahkan dan atau menyerukan setelah dirinya terlebih dahulu memberikan contoh perbuatan. Itulah sikap dan ucapan seorang ulama yang konsisten antara ucapan dan perbuatan.

    Sangatlah sejalan dengan apa yang dikatakan Imam Ali, “Barangsiapa menjadi pemimpin, hendaklah ia mulai dengan mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain, dan mendidik dengan perilaku lebih dulu sebelum dengan lisan.(pen.- mungkin kita kasih contoh lewat perilaku/sikap kita terlebih dahulu, baru lewat lisan). Pengajar dan pendidik diri sendiri lebih berhak mendapatkan keagungan daripada pendidik dan pengajar untuk orang lain.” (Berarti semuanya bermula dari kita).

    “Pada hari kiamat seorang dihadapkan dan dilempar ke neraka. Orang-orang bertanya, ” Hai Fulan, mengapa kamu masuk neraka sedang kamu dahulu adalah orang yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah perbuatan mungkar? ” Orang tersebut menjawab, ” Ya benar, dahulu aku menyuruh berbuat makruf, sedang aku sendiri tidak melakukannya. Aku mencegah orang lain berbuat mungkar sedang aku sendiri melakukannya.” (HR. Muslim)

    Wassalam

    Siti Nurjanah

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 17 December 2014 Permalink | Balas  

    Perjalanan Hijrah Rasulullah SAW 

    Perjalanan Hijrah Rasulullah SAW

    Tatkala arRasul keluar dari kota Makkah bersama Abubakar, beliau menoleh dari atas bukit ke arah Makkah sambil berlinang air mata, dan berkata : “Sungguh demi Allah, engkaulah (Makkah) tempat yang paling aku cintai, dan kalau bukan karena kaumku mengusirku darimu, niscaya aku tidak akan keluar darimu”.

    Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, setelah 13 tahun berdakwah di kota Makkah. 13 Tahun lamanya beliau berdakwah di kota Makkah menghadapi seribu satu gangguan dan cobaan dari kaum-nya. Yang mana beliau dan muslimin Makkah menghadapi boikot orang-orang kafir selama bertahun-tahun, dikucilkan dan dihina oleh mereka. Tetapi sungguh besar kesabaran beliau. Tahun demi tahun beliau lalui di kota Makkah dibawah gangguan kaum musyrikin, sampai akhirnya gangguan yang beliau alami semakin berat setelah wafat pamannya dan istri beliau yang selalu setia didalam membela beliau. Sehingga pada puncaknya kaum musyrikin berusaha untuk membunuh Rasulullah dan mengepung rumah beliau di malam hijrahnya beliau.

    Sebelum peristiwa tersebut beliau telah memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk keluar dari Makkah dan menuju Madinah, dimana saat itu Islam berkembang dengan pesatnya di kota Madinah. Sehingga tatkala sahabat-sahabatnya meninggalkan kota Makkah atas perintah beliau, beliau tetap tinggal di kota Makkah menunggu perintah Hijrah dari Allah Ta’ala kepada beliau. Tatkala menerima perintah Hijrah tersebut, beliau memilih Abubakar AsSiddiq untuk menemani beliau dalam perjalanan Hijrah.

    Pada malam hijrah, setelah memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di pembaringan Rasulullah berselimutkan sorban Rasul dengan taruhan nyawa, maka arRasul keluar dari rumahnya yang telah di kepung oleh 40 pemuda yang berencana akan membunuh beliau. Allah membuat mereka tertidur semuanya sehingga Rasulullah keluar di hadapan mereka, bahkan menaburkan pasir diatas kepala mereka yang terlelap. Disini kita melihat bagaimana kuffar berencana, tetapi Allah juga memiliki rencana, dan rencana Allah di atas rencana mereka.

    Tatkala ArRasul keluar dari kota Makkah bersama Abubakar, beliau menoleh dari atas bukit ke arah Makkah sambil berlinang air mata, dan berkata : “Sungguh demi Allah, engkaulah (Makkah) tempat yang paling aku cintai, dan kalau bukan karena kaumku mengusirku darimu, niscaya aku tidak akan keluar darimu”. Maka Rasul pun melanjutkan perjalanannya di bawah kejaran orang orang kafir yang berusaha membunuh beliau. Sehingga beliau dan Abubakar terpaksa harus bersembunyi di dalam gua Tsur, selama bermalam-malam.

    Tatkala mereka sampai di mulut gua, maka Abubakar masuk terlebih dahulu untuk memastikan keamanan gua bagi Rasulullah, sehingga Abubakar menyumbat semua lubang yang ada di dalam gua tersebut dengan bahan yang beliau miliki, agar binatang yang bersarang di dalam lubang-lubang tersebut tidak keluar dan mengganggu Rasulullah. Sehingga habislah bahan yang beliau miliki untuk menutup lubang-lubang yang ada di dalam gua tersebut, dan masih tersisa satu lubang yang belum tertutup. Maka beliaupun menutup lubang tadi, dengan kakinya, lalu mempersilahkan Rasulullah untuk masuk. Rasul pun masuk, dan beristirahat di gua Tsur, dan tertidur di atas pangkuan Abubakar. Ternyata lubang yang disumbat oleh kaki Abubakar dihuni oleh seekor ular, dan ular tersebut berusaha untuk keluar dengan mematuk kaki Abubakar yang menghalangi jalan keluarnya. Berkali kali ular tersebut menyalurkan bisanya, akan tetapi Abubakar lebih suka menahan rasa sakit dan tidak bersuara, daripada membangunkan Rasulullah dari tidurnya. Tidak kuasa beliau menahan rasa sakit tersebut hingga meneteskan air mata, dan terjatuh air mata Abubakar di pipi Rasulullah. Rasul pun terjaga dan bertanya, “Mengapa engkau menangis wahai Abubakar ?” Abubakar menjawab bahwa kakinya telah dipatuk ular yang ada di dalam lubang tersebut. Maka mereka pun menyingkirkan ular yang telah mematuk kaki Abubakar. Rasulullah segera melihat kaki Abubakar yang telah dipatuk dan terkena bisa ular tersebut, maka Rasul pun menempelkan liurnya dengan jarinya ke kaki Abubakar. Abubakar menceritakan, “Saat itu juga langsung hilang rasa sakitku seolah olah tidak terjadi apa apa terhadap kakiku sama sekali”.

    Setelah masuknya Rasulullah dan Abubakar ke dalam gua, Allah mengutus laba-laba untuk membangun sarangnya menutupi mulut gua, juga merpati untuk membangun sarangnya dan bertelur di depan mulut gua. Sehingga mereka kaum musyrikin sampai di mulut gua di dalam pengejarannya terhadap Rasulullah. Mereka ragu untuk masuk ke dalam gua yang dihuni oleh Rasulullah tersebut. Bahkan keduanya bisa melihat dengan jelas kaki kaum musyrikin yang berdiri di mulut gua. Abubakar pun menangis karena mengkuatirkan Rasulullah, beliau berkata, “Ya Rasulullah, seandainya salah seorang mereka melihat kedalam gua dari posisi kakinya, maka mereka pasti akan melihat kita”. Rasul pun berkata, “Wahai Abubakar, bagaimana prasangka mu tentang dua orang, yang mana Allah Dzat ketiga yang bersama mereka? Ya Abubakar, janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”. Abubakar pun gembira dengan ucapan Rasul tersebut. Maka tiba tiba salah seorang musyrikin mengatakan, “barangkali keduanya ada didalam gua ini”, maka dijawab oleh temannya, “tidakkah engkau melihat sarang laba laba yang tebal ini yang menutupi mulut gua ini ? juga merpati yang bersarang dan bertelur di mulut gua ini ? Kalau mereka masuk ke dalam gua ini, maka pasti akan merusak sarang laba-laba ini dan memecahkan telur serta sarang merpati ini, maka mereka tidak mungkin ada didalam gua ini”. Lantas merekapun pergi, sungguh luar biasa pertolongan Allah terhadap Rasul dan pecintanya. Bermalam-malam Rasulullah SAW dan Abubakar bersembunyi didalam gua tersebut untuk menghindari kejaran orang musyrikin yang tetap berusaha untuk membunuhnya.

    Betapa banyak rintangan yang beliau hadapi di dalam menyebarkan syariat islam ini, hingga sampailah syariat tersebut kepada kita sekalian, setelah melalui sekian rintangan dan sekian cobaan, setelah mengorbankan sekian harta dan sekian nyawa, sekian malam yang dilalui dengan perut lapar, sekian bulan yang dihabiskan di medan perang serta padang pasir yang panas. Sedangkan kita menerima syariat tersebut dalam keadaan siap dan sudah di atas nampan. Sudah begitupun, masih banyak juga di antara kaum muslimin yang melempar nampan tersebut dan melupakan pengorbanan sang kekasih yang telah membawa nampan tersebut kepadanya.

    Bila kita membaca kisah Hijrah, kita akan menyadari bahwa pertolongan Allah senantiasa bersama mereka yang berjuang dan rela berkorban untuk Islam. Bukan mereka yang terbawa arus sesat di zaman yang penuh dengan kemaksiatan ini. Inilah pengorbanan Rasulullah, inilah pengorbanan Abubakar, inilah pengorbanan Ali bin Abi Thalib. Dan banyak lagi pengorbanan beliau dan para sahabat serta keluarga beliau untuk Islam.

    Sekarang yang jadi pertanyaan adalah : Apakah pengorbanan saya dan Anda untuk Islam?? Apakah disebut suatu pengorbanan orang yang lebih mementingkan pekerjaannya daripada waktu solat? Atau lebih mendahulukan sinetron daripada AlQuran? Atau menonton pertandingan sepak bola daripada Qiyamul lail? Anehnya sebagian orang islam lebih kuatir apabila telat ke kantor atau sekolah daripada telat solat subuh. Anehnya lagi orang islam lebih pandai menghujat sesama islam daripada menutupi aib orang yang seakidah dengannya.

    Semoga Allah melimpahkan taufiq dan hidayatNya kepada kaum muslimin Amiin…

    ***

    Kiriman Sahabat Arlan

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 9 December 2014 Permalink | Balas  

    Rasulullah dengan uang delapan dirham 

    masjid-siluetRasulullah dengan Uang Delapan Dirham

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    *ALLAHUMMA SALLY WA SALLIM WABARIK ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMAD *WA ALA ALIHI WA SAHBIHI AJMA’IIN

    Tak bisa dipungkiri Rasulullah SAW. sangat terkenal dengan pribadinya yang luhur dalam kehidupannya sehari hari.Beliau selalu menghormati sipapun yang dijumpainya dan menyantuni siapapun yang membutuhkan pertolongannya, tak ada perbedaan si miskin dan si kaya, yang berkedudukan maupun hamba sahaya.

    Hal ini dapat kita lihat seperti kisah di bawah ini.

    Pada suatu hari Rasulullah keluar rumahnya pergi ke pasar dengan membawa uang delapan dirham. Tiba-tiba beliau ketemu dengan seorang wanita yang sedang menangis di jalan. Nabi lantas bertanya kepada si wanita itu : “Apakah yang engkau tangiskan?”

    Wanita itu menjawab : “Aku disuruh oleh ahli keluargaku ke pasar dengan membawa uang dua dirham untuk membeli suatu keperluan, tetapi uang itu hilang olehku.”

    Mendengar itu Nabi memberikan kepada wanita itu dua dirham pula, sebanyak uangnya yang hilang, sehingga Nabi melanjutkan perjalannya ke pasar dengan uang enam dirham. Sebanyak empat dirham dibelikannya baju-Qamis yang lantas dipakainya sekaligus ke badannya, dan pulanglah beliau. Tiba-tiba seorang tua yang bertelanjang berseru-seru : “Barang siapa yang memberi aku pakaian niscaya Tuhan memberinya pula pakaian dari pakaian Surga. Maka dengan tidak berpikir panjang, Rasulullah membuka baju-qamis yang baru dibelinya itu dan diletakannya kepada orang tua itu; kemudian beliau kembali ke pasar. Setibanya di pasar beliau belilah pula baju-qamis yang seharga dua dirham, sebanyak sisa uangnya yang masih ditangan, dan dipakainya sekaligus.

    Waktu beliau pulang hari telah mulai malam, tiba-tiba ia melihat pula perempuan yang diberinya uang dirham tadi masih menangis. Rasulullah SAW. bertanya kepada wanita itu : “Apalagi yang engkau tangiskan ?”

    Wanita itu menjawab : “Demi ayah-bundaku, engkau Ya Rasul Allah, telah lama saya pergi dari keluargaku, saya takut akan siksa mereka.”

    Nabi menjawab : “Ayo mari hubungi keluarga engkau !”, dan beliaupun mengiringkan wanita itu ke rumahnya sehingga sampai ke rumah kompleks orang-orang Anshar yang kebetulan tidak ada di rumah kecuali kaum wanita belaka, karena laki-lakinya sedang bepergian.

    Nabi mengucapkan Salam kepada mereka : “Assalamu’alaikum warahmatullahi!”

    Salam itu di dengar oleh wanita-wanita itu, tetapi Nabi tidak mendengar suara menyahut dari dalam. Nabi mengulang Salamnya sekali lagi, dan karena tidak ada sahutan dari dalam, maka Nabi memberi Salam yang ketiga kalinya dengan suara yang agak keras. Maka barulah semua wanita yang berada dalam rumah itu menyahutnya dengan beramai-ramai : Assalamu’alaika Ya Rusulullah warahmatuhu wabarakatuhu, demi ayah dan ibu kami, engkau rupanya Ya Rasul Allah?

    Nabi bertanya kepada mereka kaun wanita itu : “Apakah kamu semua tidak mendengar saya mengucapkan Salam sejak permulaan?”

    “Benar! Kami mendengarnya, tetapi sebenarnya kami ingin sekali kalau engkau memperbanyak Salam kepada kami dan anak-cucu kami agar mendapat berkah dari Salam engkau itu.”

    Maka Nabi berkata : “Budak pembantu rumah tangga kamu ini terlambat datangnya kembali kepada kamu semua, dan dia takut kalau-kalau dia kamu siksa.”

    “Kami telah menerima pemaafan engkau untuk dia, Ya Rasul Allah, kami telah berikan kepada engkau siksaanya (dengan tidak menyahut Salam Nabi yang pertama dan yang keduda kali, Pen.), dan kami telah memerdekakannya karen ia telah seperjalanan dengan engkau Ya Rasul Allah ; karena itu ia bebas-merdeka karena Allah belaka.”

    Maka pulanglah Nabi kembali sambil berkata : “Saya tidak melihat delapan yang lebih besar berkahnya dari uang yang delapan dirham kali ini : aman olehnya orang yang ketakutan, terbeli pakaian olehnya orang yang bertelanjang dan termerdekakan olehnya hamba sahaya. Tidak ada seorang muslim yang memberi pakaian saudaranya sesama Islam, melainkan dia berada dalam pemeliharaan Allah selama pakaian itu lekat di badannya.”

    Demikianlah sifat-sifat utama yang melekat pada diri Nabi kita yang mulia itu, seorang yang mempunyai pribadi yang sangat mengasyikan. Betapa tidak ?! Di medan perang beliau seorang Jenderal yang berani menghunus mata pedangnya di hadapan musuh-musuhnya, tetapi di belakang garis pertempuran beliau seorang yang sangat ramah-tamah.

    Di medan jihat darahnya menetes karena peluru musuh, tetapi di atas tikar sembahyang air matanya meleleh karena khusyu’ dihadapan Tuhannya. Di dalam Mesjid ia merupakan guru dan imam-khatib yang bersemangat, dan di dalam masyarakat ia lautan budi, telaudan yang utama. Di hadapan Mahkamah ia hakim yang adil, di depan sahabat-mahasiswa, ia guru yang setia. Di dalam pemerintahan negara ia adalah negarawan yang ulung, dan dalam siasat diplomasi ia adalah seorang diplomat yang handal. Sungguh beliau dari segala segi adalah merupakan Insan Kamil yang sangat patut dijadikan contoh dan ikutan.

    Pribadi besar yang mengasyikan inilah yang telah diberi kepercayaan oleh Allah SWT. terpilih untuk menyampaikan firman-firmanNYA kepada makhluk insani di muka bumi ini, tugas sebagai penghubung antara bumi dan langit , antara makhluk dengan khaliknya.

    ***

    Sumber : Detik-Detik Terakhir Kehidupan Rasulullah ( K.H. Firdaus A.N)

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 5 December 2014 Permalink | Balas  

    Rasulullah Bendahara Yang Baik 

    harta karunRasulullah Bendahara Yang Baik

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Setelah bertahun-tahun perjuangan dan penderitaan, misi suci Nabi Muhammad SAW. akhirnya meraih kejayaan di semenanjung Arab. Panji-panji Islam berkibar di wilayah-wilayah yang luas meliputi cakrawala Persia dan Syria. Harta yang berlimpah-limpah mengalir ke Madinah dari berbagai negeri-negeri Persemakmuran Islam.

    Di antara putra-putri Nabi Muhammad, hanya Fatimah yang masih hidup saat itu. Setiap kali Fatimah datang, Rasulullah selalu menerimanya dengan penuh kasih sayang. Demikian juga Fatimah, setiap kali datang ia selalu merebahkan dirinya dalam dekapan sang ayah. Kemudian Rasulullah mendudukkan Fatimah disamping beliau sembari menyeka peluh yang membasahi wajah putri beliau dengan tangannya atau meraba dahinya dan mengecek kesehatan sang putri.

    Suatu hari Fatimah datang menemui Nabi. Setelah saling menanyakan kabar dan kesehatan masing-masing, Fatimah berkata kepada sang ayah dengan nada mengeluh, “Ayah, terlalu banyak mulut yang harus disuapi di rumahku. Aku dan suamiku, tiga putra kami, empat keponakan, seorang pembantu, belum lagi tamu-tamu yang datang silih berganti. Aku harus memasak sendirian untuk mereka semua. Aku merasa sangat letih dan kecapekan. Aku mendengar banyak tawanan wanita yang baru saja datang dari Madinah. Jika ayah bersedia memberiku salah satu dari mereka untuk membantuku, itu akan menjadi pertolongan yang sangat berharga bagiku.”

    ” Sayangku, semua kekayaan dan tawanan perang yang engkau lihat adalah milik masyarakat muslim. Aku hanyalah bendahara; tugasku adalah mengumpulkan mereka dari berbagai wilayah dan membagi-bagikan mereka kepada orang-orang yang berhak. Dan engkau bukan termasuk yang memiliki hak, anakku, oleh karena itu aku tidak bisa memberimu sesuatupun dari aset negara ini.” jawab Rasulullah dengan suara parau.

    Kemudian melanjutkan, ” Dunia adalah tempat untuk beramal. Lakukan tugas-tugasmu dengan baik. Jika engkau merasa lelah, ingatlah Allah dan mintalah pertolongan kepada-NYA. Dia akan memberimu ketabahan dan kekuatan.”

    ***

    Sumber : (diambil dari Hikayah Al-Bukhari- Kisah-kisah Teladan Rasulullah, Para Sahabat dan Orang-orang Saleh Karya M. Ebrahim Khan).

    Wassalam

    Kiriman: Siti Nurjannah

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 29 November 2014 Permalink | Balas  

    Wasiat Rasulullah Kepada Abi Dzar Al Giffary 

    muhammad-2Wasiat Rasulullah Kepada Abi Dzar Al Giffary

    Assalamualaikum wr.wb.

    Abu Dzar Al-Giffary adalah seorang sahabat Rasulullah yang terdekat dan amat mesra dengan beliau. Ia menyebut Rasulullah lain dari sahabat yang lain, menyebut beliau ” khalilie” (Sahabatku yang akrab). Abi Dzar menonjol dalam keikhlasannya berjuang, dan ia sangat cinta dan sayang kepada kaum fakir miskin, dan karena itu ia sering disebut sebagai Bapak kaum fakir miskin, dan ada pula ia digelari orang sebagai Bapak Sosialis Islam, Ia tidak kenal kompromi dalam membela kebenaran dan mengahancurkan kebatilan dari manapun juga datangnya.

    Ia beroposisi kepada khalifah Usman bin Affan yang berkuasa saat itu, karena dianggap Pemerintahan dikala itu terlalu royal dengan uang negara, disamping terlibat praktek KKN.

    Karena sikapnya yang radikal dan tidak kenal kompromi itu, pemerintahan Usman takut kepadanya karena pengaruhnya yang besar kepada umat sebagai sahabat Nabi SAW. yang terpercaya. Usman membuangnya ke Syria yang waktu itu diperintah oleh gubernur Muawiyah yang terkenal korup itu. Disana sikap Abi Dzar tetap seperti sedia kala, menyampaikan dakwahnya dengan peringatan peringatan yang keras. Ayat ayat yang dibacakan kepada Usman dibacakan pula kepada Muawiyah bin abi Sufyan itu. Gubernur Muawiyah menyogoknya dengan uang yang banyak, dengan maksud membungkam mulutnya, tetapi Abi Dzar tidak mempan untuk diperlakukan sedemikian itu. Ia tetap bicara di depan umum sesuai dengan fungsinya sebagai Ulama, yakni menyatakan kebenaran dimana saja, kapan saja dan terhadap siapa saja tanpa mengenal ruang dan waktu, tanpa terpengaruh dengan kondisi dan situasi. Dan sebagai waratsatul Anbiya’. dengan segala keberanian dan kejujurannya yang menonjol, Abi Dzar berkata kepada para penguasa waktu itu : ” Sekiranya kamu meletakkan pedang terhunus di leherku untuk mencegah aku dari mengucapkan kata-kata yang pernah aku terima dari Nabi SAW. niscaya aku akan terus juga bicara walaupun leherku akan putus”.

    Kalau kita mengikuti bagaimana caranya Rasulullah membina Abi Zhar Al-Giffary sehingga ia merupakan kader dan sahabat kesayangan Rasulullah yang konsukwen dan matang, tentulah kita tidak akan heran bila kita melihat sikap-sikap dan sepak terjang Abi Dzar yang militan dalam gerak dan dinamis serta korektif-konstruktif dalam sikap hidupnya.

    Pada suatu ketika yang senggang, Rasulullah mengajak Abu Dzar Al-Giffari berjalan jalan keluar kota dengan Rasulullah. Diwaktu saat yang senggang dan relax itulah Rasulullah menyampaikan amanah-amanah atau pesan pesan wasiat beliau sambil membina Abi Zhar secara khusus itu. Rasulullah membinanya supaya hidup sederhana, yakni di kala keduanya berada di dekat gunung Uhud yang terkenal dalam sejarah Islam, Nabi berkata kepadanya : “Andaikata gunung Uhud itu menjadi emas dan meminta supaya aku memilikinya, pasti aku menolaknya”. Dan dengarlah selanjutnya keterangan seperti Abi Dzar sendiri tentang pesan Rasulullah kepadanya seperti dibawah ini !

    Telah memerintahkan kepadaku sahabat akrabku (Khalilie) SAW. dengan tujuh perkara.

    1. Ia memerintahkan aku untuk mencintai dan mendekati kaum fakir miskin.
    2. Ia memerintahkan aku untuk memandang kepada orang yang dibawah aku (dalam urusan dunia) dan tidak memandang kepada orang yang diatasku.
    3. Ia memerintahkan aku menghubungkan tali kasih sayang sekalipun aku telah membelakang.
    4. Ia memerintahkan aku untuk tidak meminta sesuatu apapun kepada seseorang.
    5. Ia memerintahkan aku untuk tidak menaruh takut dalam berjuang pada jalan Allah terhadap reaksi celaan kaum reaksioner.
    6. Ia memerintahkan aku untuk menyatakan kebenaran walaupun pahit.
    7. Dan ia memerintahkan aku supaya banyak menggunakan kalimah : LA HAULA WALA QUWAWTA ILLA BILLAH, karena semua itu adalah simpanan yang terletak dibawah ‘Arasy.

    Demikianlah antara lain pesan-pesan Rasulullah sebelum beliau meninggal dunia, untuk membina para sahabatnya agar berjiwa besar, memiliki iman yang murni, sebersih-bersih tauhid dan keberanian moril yang tinggi dalam melanjutkan dakwah dan jihad beliau. Sungguh tepatlah firman Allah untuk memuji sikap moral dan moril para sahabatnya yang tinggi itu di dalam kitab suci Al-Qur’an :

    “Adalah kamu sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk umat manusia, kamu menyuruh dengan yang makruf dan melarang dari yang mungkar dan kamu percaya kepada Allah”. ( Al-Qur’an, Ali Imran 110).

    ***

    Sumber : Detik detik terakhir kehidupan Rasulullah (KH. Firdaus A.N)

    Kiriman Dwi Nopitasari

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 20 November 2014 Permalink | Balas  

    Miskin Tak Menghalangi Dakwah 

    Dakwah-Islam1Miskin Tak Menghalangi Dakwah

    Assalamualaikum wr.wb.

    Rasulullah SAW. sering mengalami lapar dalam hidupnya karena sejak semula memang Beliau berniat untuk puasa. Tak jarang pula Nabi Muhammad SAW. tak bermaksud puasa, namun karena tak ada makanan di rumahnya, beliau pun lantas berpuasa. Malahan, perut Rasulullah kadangkala diganjal batu akibat menahan lapar yang mendera, sementara Beliau tak punya sesuatu yang bisa dimakan.

    Suatu hari Rasulullah SAW. bertemu Abu bakar dan Umar sahabatnya, lantas menyapa, ” Apakah yang menyebabkan kalian berdua keluar pada siang terik ini?”

    Kedua sahabat menjawab kompak, ” Kami lapar wahai Rasul.”

    Berkata Rasulullah, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-NYA, saat ini saya sedang lapar juga.”

    Setelah itu Rasulullah mengajak kedua sahabat nya beranjak, bermaksud mencari rizqi. Kebetulan mereka bertiga lewat di depan rumah seorang Anshor bernama Abu Hisam bin At tijihan, dan kebetulan pula istri Abu Hisam melihat Nabi SAW. yang sedang melintasi. “Ahlan Wa Sahlan,” seru sang istri Anshor tadi menegur

    Mendengar teguran ini, Nabi Muhammad SAW. bertanya menimpali, ” Kemana Abu Hisam?”

    Wanita itu menjawab, ” Ia sedang mengambil air untuk kami.”

    Lalu tak lama Abu Hisam muncul. Ketika melihat siapa tamunya, ia amat bahagia sambil berkata “Alhamdulillah, hari ini tidak ada seorangpun yang lebih mulia tamunya, selain daripada tamuku.”

    Hisam segera mempersilahkan mereka masuk, lantas iapun segera pergi mengambil kurma yang kemudian dihidangkan kepada ketiga tamunya. Sementara Rasulullah dan kedua sahabatnya menyantap kurma, Abu hisam menyembelih kambing , secepatnya dimasak, dan akhirnya dihidangkan pula. Lantas Abu Hisam bersama ketiga tamu mulia menyantap hidangan dengan secukupnya.

    Selesai bersantap Rasululllah bersabda kepada kedua sahabatnya, “Demi Allah yang jiwaku berada ditangan-NYA. Pada hari kiamat nanti, kalian pasti akan ditanya tentang nikmat yang kalian rasakan tadi. Kalian telah didorong keluar rumah oleh rasa lapar, kemudian tidaklah kalian kembali melainkan sesudah mengecap rasa nikmat tadi.”

    HIKMAHNYA :

    1. Nabi Muhammad SAW. dan kedua sahabatnya adalah orang kaya, tapi hartanya dihabiskan untuk berjihad. Ingatlah, khadijah istri Nabi Muhammad SAW. adalah konglomerat Mekkah. Sedangkan, Abu bakar adalah orang kaya yang hartanya dimanfaatkan untuk kepentingan Islam termasuk membebaskan budak belian yang masuk Islam lantas disiksa sang majikan. Bilal misalnya, dibebaskan Abu Bakar dari Umayyah bin Khalaf dengan harga berlipat ganda dari harga kebiasaan. Ketika berhijrah ke Madinah Abu Bakar membawa serta kekayaannya yang berlimpah.

    Namun, saat menjelang Perang Badar, dia menyerahkan seluruh harta untuk mobilisasi biaya perang. Kala itu Rasulullah SAW. sempat bertanya kepadanya, “Apakah yang engkau tinggalkan untuk keluargamu wahai Abu Bakar?” Dengan mantap Abu Bakar menjawab, ” Aku tinggalkan mereka Allah dan Rasul-NYA.” Singkat kata, “Kemiskinan” Rasul dan sahabatnya bukan karena mereka malas bekerja, tapi seluruh hartanya dibelanjakan untuk menyebarkan Risalah Allah SWT. Barangkali kita tak mampu mencontoh sepenuhnya sikap Nabi Muhammad SAW dan dua sahabatnya tadi. Tapi, semangat mereka tetap harus diteladani, walaupun pada level yang lebih rendah.

    1. Kemiskinan tidak menjadi penghalang untuk menyebarkan kebenaran. Nabi Muhammad SAW. dan sahabat adalah orang tak berpunya, tapi tak berhenti dakwah kepada umatnya. Kemiskinan tak boleh menjadi penghalang untuk ibadah dan berbuat kebajikan, meski dilakukan sesuai kapasitas dan kemampuan. Keberhasilan dakwah bukan ditentukan oleh kekayaan dan kepangkatan, tapi oleh keyakinan dan kesungguhan.

    Orang kaya dan berpangkat belum tentu berhasil dalam dakwah jika tak dilandasi kesungguhan dan suri tauladan. Orang tua tak cukup mendakwahi anaknya untuk beriman hanya dengan memberi segala permintaan yang bersifat kebendaan.Yang paling penting adalah keteladanan dan kasih sayang.

    1. Risqi yang diberi Allah kepada Umat-NYA dapat melalui siapa saja, dan penyebabnya bisa apa saja. Risqi bisa datang dari sumber yang tak diduga duga. Tapi yang terpenting orang harus berusaha sambil berdoa, bukan hanya duduk di rumah saja. Terkait dengan kemiskinan, Nabi Muhammad SAW memang menyatakan ” Kefakiran dapat mendekatkan pada kekufuran.” Terbukti, tak sedikit orang sampai rela menjual aqidahnya hanya untuk mendapatkan harta yang tak seberapa.

    Namun, yang lebih menakutkan Nabi Muhammad SAW. bukanlah kemiskinan, tapi justru kekayaan berlebihan sebagaimana telah disabdakan, ” Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku kwatirkan atas kamu, tetapi aku khwatir bila terhampar luas bagimu dunia ini, sebagaimana telah terhampar pada orang orang sebelum kamu. Kemudian kamu berlomba-lomba sehingga Allah membinasakan kamu, sebagaimana Dia membinasakan mereka.” (H.R. Muslim dan Bukhari).

    Ingatkah anda akan kisah Qarun dan Tsa’labah ? Jadi, harta kekayaan hakekatnya juga cobaan atau bahkan fitnah, apakah kita sabar dan bersyukur terhadap kekayaan tersebut atau malah sebaliknya kufur pada nikmat Allah dengan kekayaan yang kita miliki itu.

    1. Pemuliaan tamu adalah wujud keimanan,

    ” Barangsiapa yang mengklaim sebagai orang beriman hendaknya memuliakan tamunya, tamu dalam perspektif Islam wajib dimuliakan, namun si tamu harus pula tahu diri dan aturan. Sebab, kewajiban memuliakan dikenakan dalam waktu tiga hari, sedangkan hari keempat dan seterusnya hukumnya berubah sunah. Pemuliaan tamu diupayakan sesuai kemampuan, bukan berlebihan apalagi sampai berhutang. Jika yang dipunyai hanya air putih belaka, asalkan dalam penerimaan dan penyuguhan dengan roman berseri tanda ketulusan hati, itulah yang lebih utama dilakukan daripada hidangan lezat tanpa ketulusan hati.

    Jika punya kelebihan, suguhan hendaknya bisa lebih menyenangkan namun tetap dengan keikhlasan tanpa perhitungan. Imam Syafi’i berkata, suguhan dari orang pemurah menjadi obat, sedangkan suguhan orang pelit bin kikir dapat menjadi penyakit.

    1. Tamu mulia bukanlah mereka yang berpangkat dan berharta, tapi tamu yang shalih, baik budi pekerti, serta mempunyai hikmah kebijakan (ilmu pengetahuan) yang mumpuni.

    Tamu yang datang dari kalangan orang kaya dan bertakhta, pada umumnya topik pembicaraan lebih banyak pada kebendaan dan jabatan sehingga mendorong hati kita merasa kurang, sementara tamu ahli kebijakan (ilmuan dan ulama) yang diperbincangkan adalah kebenaran, kebajikan, dan ilmu pengetahuan yang dapat merangsang kita mendapat ketentraman.

    ***

    Sumber : Kisah dan Hikmah (Seri Khasanah Islam) Dhurorudin Mashad

    Wassalam

    Siti Nurjannah

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 16 November 2014 Permalink | Balas  

    Tujuh Kata yang Dihapus Nabi 

    muhammad2Tujuh Kata yang Dihapus Nabi

    Dalam sejarah Islam dikenal apa yang dinamai dengan “Shulh Al-Hudaibiah”, yaitu Perjanjian Perdamaian yang disepakati pada tahun ke enam Hijri. Perjanjian ini merupakan perjanjian antara Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dengan Suhail bin Amr yang ketika itu mewakili mayoritas penduduk Makkah yang masih musyrik. Perjanjian ini dinilai oleh banyak sahabat Nabi sangat menguntungkan lawan, walaupun banyak pakar Al-Qur’an yang kemudian menilai bahwa Allah SWT menamainya fath mubiin (kemenangan yang sangat jelas bagi kaum muslim).

    “Sesungguhnya kami telah memenangkan engkau dengan kemenangan yang nyata” [ QS- Al Fat-h; 48:1 ]–

    “Siapa yang mendatangi Muhammad (untuk memeluk agama Islam) maka ia harus dikembalikan, tetapi yang meninggalkannya menuju Makkah tidak dapat dikembalikan.” Demikian salah satu butir perjanjian yang sulit dipahami oleh kebanyakan sahabat Nabi. Mengapa perjanjian itu disetujui Nabi? Namun demikian, reaksi yang ditimbulkannya belum seberapa dibandingkan dengan penghapusan tujuh kata yang dilakukan oleh Nabi ketika merumuskan naskah perjanjian tersebut.

    ” Tulislah wahai Ali, Bismillaahirahmaanirrahiim.” Ali r.a. pun menulis, tetapi dengan serta merta Suhail keberatan: “Kami tidak mengenal Al-Rahman, hapuslah kata itu dan tulislah ‘dengan namamu wahai Tuhan’,”

    Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menyetujui dan memerintahkan menghapus  basmalah sambil melanjutkan: “Inilah perjanjian perdamaian antara Muhammad Rasulullah dengan Suhail bin Amr.”

    “Tidak, tidak! Kalau kami mengakuimu sebagai pesuruh Allah, niscaya kami tidak memerangimu. Hapus itu, dan tulislah ‘Muhammad putra Abdullah’,”

    Sekali lagi Rasulullah menyetujui sambil berkata: “Demi Tuhan, aku adalah pesuruh Allah walau kalian mengingkarinya, hapuslah kata tersebut wahai Ali!”

    Ali r.a. tampak ragu, sementara para sahabat yang lain menggerutu. Umar bin Kaththab berkata: “Mengapa kita harus menerima kehinaan bagi agama kita?”

    “Tenanglah wahai Umar. Aku ini pesuruh Allah.” Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam lalu mengambil naskah rancangan perjanjian tersebut dan menghapusnya dengan tangannya sendiri kata-kata “Muhammad Rasul Allah”. Demikianlah tujuh kata, yaitu Bismi, Allah, Al-Rahmaan, Al-Rahiim, Muhammad, Rasul, dan Allah, dihapus oleh Nabi.

    Betapa luwes dan sabarnya sikap beliau menghadapi kaum musyrik demi perdamaian. Beliau sadar bahwa mereka sebenarnya tidak mengerti atau tidak mau mengerti. Tetapi, setelah diskusi ilmiah mereka samakan dengan perdebatan, keluwesan mereka nilai kelemahan, perjanjian yang telah disetujui mereka langgar, ketika itulah tidak ada jalan lain kecuali ketegasan, walaupun itu masih harus selalu diliputi oleh rahmat dan kasih sayang. Ketika memasuki kota Makkah sebagai sanksi atas pelanggaran perjanjian tersebut, beliau mengingatkan untuk tidak menumpahkan darah. Dikecamnya sahabat-sahabatnya yang bermaksud menjadikan hari tersebut sebagai hari pembalasan. “Tidak!” kata beliau, “ini adalah hari kasih sayang.” Adapun ‘semboyan’ yang disetujuinya adalah: “Akhun kariim wa ibnu akhn kariim” (saudara sebangsa yang mulia dan putra saudara sebangsa yang mulia).

    Sungguh agung manusia ini. Alangkah wajar kita meneladaninya.

    ***

    1. Quraish Shihab [Lentera Hati]
     
  • erva kurniawan 1:14 am on 11 November 2014 Permalink | Balas  

    Raihlah Cinta Allah 

    hidayah-allahRaihlah Cinta Allah

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Sudah menjadi fitrahnya, jika manusia diciptakan Allah SWT. menjadi makluk yang sempuna diantara semua ciptaan-NYA. Namun dibalik semua kelebihan yang dimilikinya, manusia dapat terjerambab kedalam jurang kehinaan, akibat dari kekhilafan, kesalahan yang memperturutkan hawa nafsu yang ditumpuk dalam keranjang dosa dan noda.

    Tetapi manakala si hamba datang menghadapkan muka menuju Sang Khalik pemilik rahmat dan rahim, dengan penuh penyesalan mengharap ampunan atas perbuatannya, maka yang hina bisa jadi mulia, yang fasik terangkat derajat menjadi mulia.Sesuai dengan firman Allah SWT. : (QS. 42:25)

    “Dia adalah Dzat yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya yang minta ampun atas kesalahan-kesalahnnya.”

    Hikmah dapat kita ambil dari kisah-kisah dibawah ini :

    Suatu hari ketika Khalifah Umar bin Khathab ra, menyusuri jalan-jalan kota Madinah, ia bertemu seorang pemuda yang lagi membawa botol dibawah bajunya. Khalifah berkata : “Botol apa yang kau bawa dibalik bajumu!”Sesungguhnya botol itu berisi arak. Si pemudah tersebut sangat malu dan takut gemetaran, sambil merintih dalam hati. “Ya Tuhanku, janganlah engkau membuat aku malu dihadapan Umar, maka aku berjanji tidak akan minum arak lagi selamanya.”

    Kemudian si pemuda baru berani berkata, “Wahai Amirrul mukminin, botol yang kubawa ini adalah cuka.”

    “Coba perlihatkan padaku agar aku bisa melihat”. Kemudian si pemuda membuka botol dihadapan Umar ra. dan ternyata berisi cuka.

    Renungkanlah sahabatku! Makluk yang bertobat hanya karena takut kepada makluk lain, itupun Allah merubah araknya bisa berubah cuka. Itu karena ikhlasnya bertobat kepada Allah. Andaikan ada orang ahli maksiat bertobat dengan tobat nashuha (sungguh-sungguh tobat) dan menyesali dosa-dosanya, maka Allah akan mengganti semua kemaksiatannya menjadi (pahala) ketaatan, sebagaimana Allah mengganti arak menjadi cuka.

    Hikayah : Utbah Al Ghulam.

    Utbah Al-Ghulam adalah orang yang berasal dari golongan fasik. Ia sangat terkenal sebagi orang yang bejat, rusak, dan amat gemar dengan mabuk-mabukkan. Suatu hari ia memasuki pengajian Majelis Taklim Hasan Al Bashri, yang tengah membaca ayat Allah ;

    “Apakah belum datang waktunya orang-orang beriman untuk menundukkan hati mereka dalam mengingat Allah!“ (QS. 57 Al-Hadid : 16). Tidakkan hati mereka sudah sepatutnya takut!

    Suatu hari Syekh Hasan Al Bashri ra. memberikan nasehat menafsirkan ayat diatas dengan penafsiran yang amat menyentuh, sehingga banyak orang menangis. Serta merta berdirilah seorang pemuda, lalu berkata; “Wahai orang yang bertakwa dan beriman, apakah Allah masih menerima tobatnya yang lemah dan fasik seperti aku! ”

    Syekh Hasan berkata, “Bisa. Allah menerima tobat akan kejahatanmu.” Utbah Al Ghulam mendengarkan saja langsung wajahnya pucat, tubuhnya gemetar, ia berteriak keras dan langsung pingsan.

    Ketika Ghulam sadar dari pingsanya, Kyai Hasan mendekatinya dan mengucapkan syair-syair dibawah ini :

    “Wahai pemuda maksiat, kepada Tuhan yang memiliki Arsy : Mengertikah engkau balasannya orang yang berbuat maksiat! Adalah neraka syi’ir bagi mereka, ia memiliki suara nyala api : menggelegar disaat ubun-ubun terpegang. Kalau engkau menerima neraka-neraka itu, silahkan berbuat maksiat ; bila tidak. jauhilah kemaksiatan. Semua kesalahan yang engkau kerjakan ; itu berarti engkau sudah menggadaikan dirimu (di Neraka), maka bersungguh- sungguhlah untuk melepaskan diri.”

    Dan Utbah Ghulam berteriak lebih lantang, ia pun jatuh pingsan kedua kalinya. Ketika sadar, ia berkata kepada syeikh Hasan Al-Basri ra. “Wahai syeikh, apakah benar Tuhan Yang Maha Penyayang menerima tobatnya orang seperti aku!”

    Syekh menjawab, “Tiada Dzat yang mampu menerima tobat orang yang menyimpang kecuali Tuhan Yang Maha Memaafkan.”

    Kemudian Utbah Al Ghulam mengangkat kepalanya ke atas sambil melafadzkan tiga doa :

    1. Tuhanku, Engkau menerima taubatku dan mengampuni dosa dosaku, maka muliakan aku dengan mudah faham dan hafal, lalu aku bisa menghafal dan memahami yang kudengar mengenai ilmu atau Al-Qur’an.
    2. Tuhanku, muliakan aku dengan suara merdu, sehingga yang mendengar bacaanku semakin lunak hatinya sekalipun dia memiliki hati sekeras batu.
    3. Tuhanku, berikan rizki yang halal padaku dari jalan yang tidak aku duga duga.

    Allah SWT. pun mengabulkan doanya, dia mudah paham dan hafal, setiap orang yang mendengar bacaan Al-Qur’an langsung tobat, dan setiap harinya pasti ada semangkuk kuah dan dua potong roti tanpa tahu siapa yang menaruh di depan rumahnya. Hal ini terus menerus sampai ia meninggal, dalam kedaan telah menjadi seorang Aulia Allah.

    Inilah keadaan orang yang benar-benar kembali ke jalan Allah, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala kebajikan dari perbuatan bagusnya. Sebagian ulama ada yang ditanya begini, “Apakah hamba yang bertobat mengerti, adakah tobatnya diterima atau tidak!”

    Jawabnya, “Dalam hal ini tidak ada putusan hukum secara pasti, akan tetapi semuanya memiliki tanda-tanda ;

    1. Ia melihat dirinya jauh dan terhindar dari maksiat.
    2. Ia merasakan hatinya selalu gembira, dan rasanya Tuhan sangat dekat sekali.
    3. Ia dekat dengan orang orang baik dan jauh dari orang-orang yang ahli berdosa, maka ia memandang segi dunia yang sedikit sudah terlalu banyak (puas), namun segi akhirat yang sudah banyak dikerjakan masih dianggap kecil (kurang).
    4. Dia menyibukan hatinya dengan sesuatu yang diwajibkan Allah Ta’ala.
    5. Ia menjaga lisannya ( tidak berkata kotor), selalu tafakur, dan selalu menyesali dosa-dosa yang pernah dikerjakan.”

    Ya Allah himpunkan kami ke dalam orang-orang yang selalu mengingat-MU, dan jauhkan kami dari siksaan kubur dan api neraka.

    Siramilah jiwa kami dengan Rahmat dan Kasih-Mu agar kami bisa menggapai Ridhomu.Tuntunlah hati kami untuk selalu beriman kepada-Mu, hingga kami kembali kepada-MU.

    Amin…….

    ***

    Sumber : Buku Rahasia Ketajaman Hati – Imam Ghazali.

    Wassalam

    Siti Nurjannah

     
  • erva kurniawan 2:44 am on 7 November 2014 Permalink | Balas  

    Keimanan Ja’far bin Abi Talib 

    Reciting-QuranKeimanan Ja’far bin Abi Talib

    Oleh: Ayah Raihan

    Bismillahirrahmanirrahiim

    Assalamu’alaikum warahhmatullahi wabarakatuhu,

    Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah 9:100)

    Dari Abu Said Al-Khudri ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jangan kalian mencaci maki/menghina para shahabatku, karena seandainya salah seorang diantara kalian berinfaq emas sebanyak gunung Uhud tak akan dapat menyamai derajat salah seorang diantara mereka, bahkan separuhnyapun tidak”. (HSR Bukhari, HSR Muslim, HSR Ahmad, HSR Abu Dawud dan HSR Tirmidzi).

    Dan kemudian daripada itu, saya ingin menuliskan ulang suatu kisah tentang keimanan seorang Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tulisan ini merupakan rangkuman dari berbagai sumber seperti Sirah Nabawiyah karya Syaikh Safiyurrahman, Muhammad karya Muhammad Husein Haykal dan Rijal Haular Rasul karya Khalid Muhammad Khalid. Saya harapkan dengan membaca kisah ini kita dapat mengambil teladan dari keimanan seorang Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Berikut kisahnya:

    Pada permulaan Islam, umat muslim yang pada saat itu jumlahnya masih sangat sedikit selalu mengalami ganguan, siksaan dan kekejaman kaum kafir quraisi. Melihat keadaan ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan kepada sahabat-sahabatnya untuk hijrah dari kota makkah. Pada saat itu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan kepada sahabat-sahabatnya agar berhijrah ke Abisinia (Etiopia), sebuah negri kaum nasrani yang pada saat itu diperintah oleh Najasyi (Negus). “Tempat itu diperintah seorang raja dan tak ada orang yang dianiaya disitu. Itu bumi jujur; sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua.” Didalam rombongan itu terdapat pula Ja’far bin Abi Talib, seorang sahabat yang mulia yang keimanannya sanggup mengalahkan kekhawatiranya tentang keselamatan jiwa dan raganya dan juga keselamatan kaum muslimin yang turut berhijrah ke Abisinia.

    Kisah keteguhan iman Ja’far bin Abi Talib ini dimulai ketika kaum quraisy tidak rela kaum muslimin bisa lepas dari cengkramannya. Mereka sangat khawatir jika kaum muslimin dibiarkan lolos ke negri lain akan mengakibatkan hal yang tidak baik bagi kedudukan mereka. Oleh karena itulah, mereka kemudian mengutus diplomat mereka yang sangat handal dan penuh dengan tipu muslihat yaitu ‘Amr bin’l-‘Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’a (pada saat itu masih musyrik).

    Kepada Najasyi (Negus) dan pembesar-pembesar Nasrani di Abisinia, mereka memberikan hadiah-hadiah yang melimpah guna memuluskan keinginan mereka agar Najasyi berkenan mengembalikan kaum muslimin ke Mekkah.

    Mereka berkata kepada Najasyi:

    “Paduka Raja, mereka datang ke negeri paduka ini adalah budak-budak kami yang tidak punya malu. Mereka meninggalkan agama bangsanya dan tidak pula menganut agama paduka; mereka membawa agama yang mereka ciptakan sendiri, yang tidak kami kenal dan tidak juga paduka. Kami diutus kepada paduka oleh pemimpin-pemimpin masyarakat mereka, oleh orang-orang tua, paman mereka dan keluarga mereka sendiri, supaya paduka sudi mengembalikan orang-orang itu kepada mereka. Mereka lebih mengetahui betapa orang-orang itu mencemarkan dan memaki-maki.”

    Kemudian Najasyi yang terkenal bijaksana ini memanggil kaum muslimin yang hijrah ke negrinya untuk dimintai keterangannya guna mendapatkan informasi yang seimbang.

    Najasyi berkata kepada kaum muslimin yang hijrah ke negrinya:

    “Agama apa ini yang sampai membuat tuan-tuan meninggalkan masyarakat tuan-tuan sendiri, tetapi tidak juga tuan-tuan menganut agamaku, atau agama lain?”

    Sebelumnya kaum muslimin telah bermusyawarah untuk memilih Ja’far bin Abi Talib sebagai juru bicara mereka. Maka kemudian dalam pertemuan dengan Najasyi itu Ja’far b. Abi Talib sebagai juru bicara kaum muslimin berkata:

    “Paduka Raja, ketika itu kami masyarakat yang bodoh, kami menyembah berhala, bangkaipun kami makan, segala kejahatan kami lakukan, memutuskan hubungan dengan kerabat, dengan tetanggapun kami tidak baik; yang kuat menindas yang lemah. Demikian keadaan kami, sampai Tuhan mengutus seorang rasul dari kalangan kami yang sudah kami kenal asal-usulnya, dia jujur, dapat dipercaya dan bersih pula. Ia mengajak kami menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa, dan meninggalkan batu-batu dan patung-patung yang selama itu kami dan nenek-moyang kami menyembahnya. Ia menganjurkan kami untuk tidak berdusta untuk berlaku jujur serta mengadakan hubungan keluarga dan tetangga yang baik, serta menyudahi pertumpahan darah dan perbuatan terlarang lainnya. Ia melarang kami melakukan segalah kejahatan dan menggunakan kata-kata dusta, memakan harta anak piatu atau mencemarkan wanita-wanita yang bersih. Ia minta kami menyembah Allah dan tidak mempersekutukanNya. Selanjutnya disuruhnya kami melakukan salat, zakat dan puasa. (Lalu disebutnya beberapa ketentuan Islam). Kami pun membenarkannya. Kami turut segala yang diperintahkan Allah. Lalu yang kami sembah hanya Allah Yang Tunggal, tidak mempersekutukan-Nya dengan apa dan siapa pun juga. Segala yang diharamkan kami jauhi dan yang dihalalkan kami lakukan. Karena itulah, masyarakat kami memusuhi kami, menyiksa kami dan menghasut supaya kami meninggalkan agama kami dan kembali menyembah berhala; supaya kami membenarkan segala keburukan yang pernah kami lakukan dulu. Oleh karena mereka memaksa kami, menganiaya dan menekan kami, mereka menghalang-halangi kami dari agama kami, maka kamipun keluar pergi ke negeri tuan ini. Tuan jugalah yang menjadi pilihan kami. Senang sekali kami berada di dekat tuan, dengan harapan di sini takkan ada penganiayaan.”

    Lalu Najasyi bertanya:

    “Adakah ajaran Tuhan yang dibawanya itu yang dapat tuan-tuan bacakan kepada kami?”

    Kemudian Ja’far bin Abi Talib menjawab “YA” dan ia membacakan Alqur’an Surat Maryam dari ayat 1 sampai ayat 33.

    Setelah mendengar ayat-ayat suci Alqur’an dibacakan kepadanya, maka Najasyi-pun menyadari bahwa kata-kata itu bersumber dari sumber yang sama dengan kata-kata yang diucapkan oleh Isa bin Maryam. Maka demi didengarnya kenyataan ini Najasyi-pun menolak permintaan dua utusan kaum quraisyi untuk mengembalikan kaum muslimin ke makkah.

    Setelah mendengar penolakan Najasyi, kedua utusan kaum kafir quraisyi merasa sangat terpukul sekali. Mereka berdua kemudian berpikir keras untuk melakukan muslihat guna melunnakkan hati Najasyi. Sampai akhirnya ‘Amr bin’l-‘Ash menemukan ide yang sangat briliant yang bukan hanya bisa menyebabkan Najasyi mengusir kaum muslimin dari negrinya tetapi bisa jadi akan menyebabkan Najasyi mengambil tindakan yang sangat tegas dan keras terhadap kaum muslimin. Semula Abdullah bin Abi Rabi’a tidak setuju dengan ide rekanya tersebut, sebab ia sangat menyadari bahwa ide tersebut bisa mencelakakan kaum muslimin sementara diantara kaum muslimin tersebut terdapat juga sanak saudaranya. Tetapi akhirnya ia menjadi luluh dengan kemauan ‘Amr bin’l-‘Ash yang hendak melakukan muslihat kejam terhadap kaum muslimin. Maka keesokan harinya mereka menghadap kepada Najasyi dan melontarkan pernyataan bahwa kaum muslimin telah mengeluarkan tuduhan yang luar biasa terhadap Isa bin Maryam.

    Maka demi didengarnya hal ini oleh Najasyi, seketika itu juga Najasyi memerintahkan untuk memanggil kaum muslimin ke hadapannya guna dimintai keterangan.

    Setelah mendengar pertanyaan Najasyi tentang Isa bin Maryam, maka Ja’far bin Abi Talib menjadi sangat khawatir, beliau sangat menyadari bahwa jika beliau mengatakan yang sebenarnya tentang Isa bin Maryam seperti yang terdapat dalam Alqur’an maka bisa jadi hal ini akan dapat mencelakakan keselamatan seluruh kaum muslimin yang berhijrah ke Abisinia. Beliau sangat menyadari bahwa beliau dan juga seluruh kaum muslimin yang hijrah ke Abisinia hanyalah pengungsi yang dengan budi baik Najasyi dapat menetap secara sementara di negri Abisinia yang mayoritas beragama Nasrani. Beliau juga sangat memahami budi baik penduduk Abisinia yang telah membolehkannya mengungsi di negri Abisinia. Jika beliau berkata jujur, maka bisa jadi akan menimbulkan kemarahan yang sangat luar biasa dari Najasyi dan seluruh penduduk Abisinia yang beragama Nasrani. Tetapi sebaliknya jika beliau mengatakan sesuatu yang hanya dapat menyenangkan Najasyi maka Ia akan mendapatkan murka Allah. Kedudukan Ja’far bin Abi Talib menyebabkan dirinya menjadi sangat terpojok diantara dua pilihan yang sangat menyulitkannya. Tetapi Ja’far bin Abi Talib adalah termasuk salah seorang pendahulu yang terlebih dahulu masuk Islam, yang beriman ketika kebanyakan manusia masih kafir, maka keimanannya yang begitu tangguh ini tidak dapat diragukan lagi, maka dengan mantap dan tanpa keraguan Ia berkata kepada Najasyi:

    “Tentang dia pendapat kami seperti yang dikatakan Nabi kami: ‘Dia adalah hamba Allah dan UtusanNya, RuhNya dan FirmanNya yang disampaikan kepada Perawan Mariam.”

    Seketika itu juga seluruh pembesar-pembesar Nasrani disekeliling Najasyi menjadi hiruk pikuk setelah mendengar pernyataan dari Ja’far bin Abi Talib. Tapi Najasyi adalah seorang yang arif dan bijaksana yang tidak terpengaruh oleh hiruk pikuk pendeta-pendeta Nasrani disekelilingnya. Beliau melihat pernyataan Ja’far bin Abi Talib ini dari sisi yang sangat bijaksana bahwa memang begitulah apa yang dinyatakan Isa bin Maryam tentang dirinya. Kemudian Najasyi membuat sebuah garis seraya berkata:

    “Antara agama tuan-tuan dan agama kami sebenarnya tidak lebih dari garis ini.”

    Kemudian Najasyi kembali menolak permintaan kedua utusan quraisyi untuk mengusir kaum muslimin dari Abisinia dan beliau bahkan mengembalikan seluruh hadiah yang diperolehnya dari dua utusan tersebut.

    Maka akhirnya kaum muslimin dapat tinggal di Abisinia dengan aman dan tentram. Mereka tetap tinggal di Abisinia selama beberapa tahun sampai penaklukan khaibar. Selama tinggal di Abisinia, kaum muslimin tinggal dengan damai dengan penduduk Abisinia yang Nasrani. Kaum muslimin menjalankan ibadah sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah. Mereka tetap teguh imannya dan tak hendak mencampuri urusan agama Nasrani. Mereka juga tidak mengucapkan selamat hari raya kepada penduduk Abisinia yang Nasrani walaupun mereka adalah pengungsi yang telah mendapatkan budi baik dari penduduk Abisinia yang beragama Nasrani. Hal ini adalah karena mereka, kaum muslimin, para pendahulu yang telah lebih dulu masuk Islam ini tak hendak merusak keimanannya dengan mencampur adukkan ajaran agama walaupun hanya sebatas pada ucapan selamat hari raya sekalipun. Tidak mungkin bagi mereka yang telah mempertaruhkan keselamatannya ketika mereka menjawab pertanyaan soal Isa bin Maryam akan menjadi “lembek” hanya karena alasan “sempit” seperti “balas budi”, “toleransi”, “kerukunan hidup beragama” dan atau yang lainnya.

    Itulah penggalan kisah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, yang keimanannya sanggup mengalahkan kekhawatirannya tentang keselamatan jiwa dan raganya dan juga keselamatan seluruh kaum muslimin yang turut berhijrah ke Abisinia. Mudah-mudahan dengan membaca kisah Ja’far bin Abi Talib ini kita dapat mengambil suatu pelajaran yang sangat berharga yaitu bahwa keimanan yang sempurna itu tidak hanya dibibir saja tetapi juga harus diyakini dalam hati dan diikuti dengan perbuatan yang benar yaitu dengan mengatakan yang hak apapun keadaannya dan tidak goyah oleh alasan-alasan “sempit” seperti “balas budi”, “toleransi”, “kerukunan hidup beragama”, “pluralisme” dan lain sebagainya.

    Wallahu’alam.

    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu,

    Hamba Allah

    Maraji’:

    1. Terjemahan Alqur’an Departement Agama RI.
    2. Sirah Nabawiyah karya Syaikh Safiyurrahman.
    3. Muhammad karya Muhammad Husein Haykal.
    4. Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah karya Khalid Muhammad Khalid.
     
  • erva kurniawan 2:39 am on 2 November 2014 Permalink | Balas  

    Amalan Yang Menyelamatkan dari Api Neraka 

    sedekah 1Amalan Yang Menyelamatkan dari Api Neraka

    Wahai Saudaraku sesama Muslim, Abu Zdar ra. pernah berkata:

    Saya pernah bertanya pada Rasulullah SAW.: “Perbuatan apa yang bisa menyelamatkan orang dari api neraka?

    Beliau menjawab: “Iman kepada Allah”.

    Saya berkata lagi: “Wahai Nabi Allah, dengan iman itu tentu ada amal perbuatan?”.

    Jawab Beliau: “Hendaklah engkau sedekahkan apa apa yang diberikan Allah.”

    Saya bertanya lagi: “Wahai Nabi Allah, kalau orang orang itu fakir miskin, tidak memiliki sesuatu?”

    Beliau menjawab: “Lakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar”.

    Saya bertanya pula: “Kalau orang itu tidak bisa melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar?”.

    Beliau bersabda pula: “Suruhlah dia mengajar orang bodoh”.

    Saya bertanya lagi: “Jika orang itu tidak bisa melakukannya?”.

    “Suruhlah dia membela orang yang dizalimi orang”, sabda Nabi pula.

    Saya bertanya lagi: “Kalau orang itu tergolong lemah, tidak sanggup membela orang yang teraniaya?”.

    Beliau menjawab seraya bertanya: “Perbuatan apa yang engkau inginkan dari rekanmu itu untuk bekal kebajikan? ! Suruhlah dia jangan menyakiti hati orang lain”.

    Saya bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, apakah perbuatan itu akan memasukannya ke dalam Surga?”.

    Lalu jawabnya lagi menegaskan: “Seorang mukmin yang telah mengerjakan salah satu dari perbuatan itu, akan dituntun masuk kedalam Surga”.

    Kami bisa membayangkan api neraka sebagai puncak siksaan lahir atau bathin yang ditimpakan kepada penjahat. Dan Surga sebagai suatu puncak penilaian kebajikan yang merupakan ganjaran lahir atau bathin pula, bagi orang orang yang beramal saleh di jalan Allah. Dalam hadist ini terlihat Rasulullah SAW. banyak menampilkan rahmat dan amal kebajikan, dan penilaian pahala tidaklah mensyaratkan orang harus mengerjakan semuanya. Melakukan satu saja, sudah cukup baik. Ya, hanya satu saja sudah bisa membawa si pelakunya ke puncak sana (Surga). Itulah makna kata kata agung yang diucapkan beliau pada penutup hadistnya itu. Demikianlah seperti yang diuraikan oleh Abu Zdar.

    Dalam kisah lain diceritakan oleh Rasulullah SAW. bagaikan seniman jenius, dimana beliau melukiskan pengertian rahmat itu dalam bentuk kisah yang indah dan menarik.

    “Seorang rahib dari Bani Israel telah beribadat pada Allah didalam sebuah biara selama enam puluh tahun. Pada suatu hari hujan pun turun dengan lebatnya dan pemandangan sekitarnya menjadi hijau. Sang rahib melepaskan pandangannya keluar biara seraya berkata: “Kalau aku turun keluar sambil berzikir menyebut nyebut nama Allah, tentulah akan menambah kebaikanku “.

    Diapun menuruni tangga sambil membawa dua potong roti. Sesampainya dia dibawah dia disambut oleh seorang wanita. Maka berbincang bincanglah mereka, dan dimabuk cinta serta tak sadarkan diri. Kemudian sang rahib pergi mandi ke sebuah kolam, lantas datanglah seorang peminta minta. Dia menunjuk pada dua potong rotinya agar si peminta minta mengambil makanan itu. Dan tiba tiba saja sang rahib meninggal dunia. Lalu ditimbangkanlah pengabdiannya selama enam puluh tahun itu dengan perbuatannya main dengan pelacur tersebut. Perbuatannya dengan sang pelacur ternyata mengalahkan semua kebaikannya. Kemudian pahala karena memberikan dua potong roti kepada si pengemis ditambahkan ke dalam pengabdiannya itu, maka ternyata timbangan kebaikannya menjadi lebih berat. Maka diapun diampuni ! “.

    Sungguh hebatnya Rasulullah SAW. meletakkan kedudukan rahmat pada puncak yang begitu agung, sehingga kita bisa melihat betapa Allah SWT. menimbang rahmat seseorang bukan dari besarnya, akan tetapi berdasarkan penampilan spiritual dari rahmat itu sendiri.

    Tiap karya seseorang sekalipun nampaknya kecil, bisa menyelamatkan orang itu dari bencana besar, seperti yang disabdakan Rasulullah: ” Perbuatan baik dapat mencegah menangnya keburukan”.

    ***

    Sumber: Diambil dari Buku Khalid Muhammad Khalid.

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 24 October 2014 Permalink | Balas  

    Rasulullah SAW. Adalah Suami Teladan 

    nabi-muhammad-saw1Rasulullah SAW. Adalah Suami Teladan

    Assalamualaikum wr.wb.

    Wahai saudara-saudariku sesama muslim, tidaklah dipungkiri kalau Rasulullah adalah sosok pribadi yang sangat mengagumkan dalam berbagai bidang ataupun berbagai urusan dunia wal akhirat., sehingga patutlah bagi kita untuk menjadikan Beliau sebagai sebaik-baiknya suri tauladan yang harus diikuti, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Ahzab ayat 21 yang berbunyi : Sesungguhnya dalam diri Rasulullah itu telah terdapat suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

    Dalam urusan rumah tanggapun Beliau adalah seorang suami yang menampilkan figur/sosok yang sempurna dimata para istrinya. Beliau adalah suami yang selalu mengayomi para istrinya, bersikap adil, bijaksana, lemah lembut, penyabar, tidak pernah marah menghadapi kecemburuan istrinya dan masih banyak lagi akhlak terpuji dari Sang Kekasih ALLAH tercinta ini.

    Sebagai contoh kisah, pada suatu hari Hafsah menyatakan keberatannya jika Rasulullah SAW, mencampuri hamba sahayanya yang bernama Mariyah Qibtiyah yang semula adalah budak yang dihadiahkan oleh Raja Mesir kepada Rasulullah SAW. Karena sikap Hafsah itu Rasulullah berjanji untuk tidak datang lagi ke rumah Mariyah Qibtiyah agar Hafsah tidak lagi membencinya dan menjadi senang.

    Janji yang diucapkan Rasulullah dimaksudkan untuk mengayomi istri-istrinya yang dahulu agar tidak timbul ketegangan dengan mereka. Akan tetapi sikap Rasulullah SAW. mendapat teguran dari Allah dengan turunnya ayat 1 QS. At-Tahriim (66). Selanjutnya, beliau tetap memperlakukan Mariyah sebagaimana istri istri beliau yang lain. Ia mendapat tempat tinggal seperti layaknya istri Rasulullah yang lain dan melayani Mariyah dengan baik.

    Dengan Mariyah ini Rasulullah SAW. dikaruniai seorang putra yang bernama Ibrahim. Hidup Ibramim tidaklah lama. Ia meninggal dalam usia bayi. Perlakuan Rasulullah kepada Mariyah, bekas budaknya, mendorong dan memberi contoh kepada kaum muslim untuk bersikap santun kepada budak, bahkan mendorongnya untuk membebaskan mereka sebagai tindakan menghargai kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh agama islam.

    Karena sikap yang ditunjukan oleh Rasulullah kepada Mariyah itulah kemudian istri-istri Rasulullah lainnya yang berasal dari kalangan terhormat akhirnya menghormati kedudukan Mariyah sebagai orang yang sangat dicintai oleh Rasulullah seperti istri istri yang lain.

    Dalam hal melayani kebutuhan istri-istrinya, Rasulullah berlaku adil. Beliau memberikan tempat tinggal, nafkah, pakaian, waktu kunjungan, dan giliran secara merata. Walaupun di antara istri Rasulullah ada yang cantik, muda, tua, sedang, kesemuanya Beliau perlakukan sama. Setiap istri mendapat giliran berkumpul satu malam. Sekalipun beliau dalam keadaan sakit, beliau tetap mengunjungi istri-istrinya seperti ketika sehat dan tinggal ditempat istri yang mendapat giliran berkumpul pada malam harinya.

    Apabila Rasulullah SAW. mengadakan suatu perjanalan, beliau melakukan undian.Siapa yang keluar, dialah yang berhak menemani beliau.

    Diantara sikap Rasulullah SAW. yang menghargai pendapat istrinya ialah mengajak istrinya bermusyawarah. Bahkan mereka diperkenankan mengajukan kritikan. Beliau mengawini seorang wanita setelah mendapat perkenan dari yang lain.

    Pada hari setelah dikukuhkan perjanjian Hudaibiyah, beliau memerintahkan orang orang Islam memotong rambut dan menyembelih kurban setelah diadakan perdamaian dengan pihak Quraisy, tetapi mereka tidak mengikuti perintah Nabi.

    Tampaknya orang orang islam tidak puas dengan isi perjanjian yang telah disepakati oleh Rasulullah. Mereka menggerundel menahan emosi. Beliau mendatangi istrinya, Ummu Salamah, yang langsung melihat gelagat yang kurang enak pada diri Rasulullah. Akhirnya Ummu Salamah berkata : ” Wahai Rasulullah, apakah engkau menginginkan hal itu? Keluarlah, tapi jangan berbicara dengan siapapun diantara kaum muslim, sampai engkau menyembelih kurban dan mendoakan orang yang memangkas rambutmu.”

    Beliau keluar dan melakukan seperti yang dianjurkan Ummu Salamah.Setelah orang-orang islam melihat apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. mereka menjadi heran. Akan tetapi, mereka segera melakukan seperti yang dilakukan Beliau.

    `Saydina Umar pernah bercerita : Pada suatu hari aku pernah marah besar terhadap istriku karena ia mengajukan kritikan, sedang aku tidak menginginkan hal seperti itu. Ia berkata : ” Mengapa engkau menolak bila aku mengajukan kritikan kepadamu? istri-istri Rasul juga mengkritik dan diantara mereka ada yang menghindarinya dari siang sampai malam.” Maka aku segera pergi menemui Hafsah, seraya berkata : ” Apakah kamu mengkritik Rasulullah? ” ” Benar,” jawab Hafsah. ” Sungguh merugilah di antara kalian yang berbuat seperti itu,” kataku.

    Jelaslah walaupun masalah kenegaraan dan umat begitu penting, tetapi Rasulullah benar-benar sangat memperhatikan dan menghargai pendapat-pendapat yang disumbangkan oleh istrinya kepada beliau.

    Dalam memberikan pelayanan kebutuhan biologis istrinya, beliau ternyata melakukannya dengan sangat baik, menarik, dan menggairahkan. Dalam hal ini Rasulullah SAW. bersabda :

    “Cucilah pakaianmu, pangkaslah rambutmu, bersiwaklah, berhiaslah, dan bersihkanlah dirimu, karena sesungguhnya Bani Israil tidak pernah berbuat seperti itu, sehingga wanita-wanita mereka suka berzina.” ( HR. Ibnu Asakir, dari ‘Ali)

    Walaupun Rasulullah SAW. berhadapan dengan istrinya di tempat tidur, beliau tetap menjaga kebersihan, baik badan maupun tempat, sehingga mampu merangsang istri untuk menikmati kesendirian dengan suaminya. Beliau sangat mengecam suami yang jorok dan tidak rapi pada saat berduaan dengan istrinya sehingga istri merasa muak dan cepat bosan. Hal seperti ini tentu akan merusak kedamaian rumah tangga.

    Rasulullah SAW. tidak pernah memukul istrinya dan mencela lelaki yang melakukannya kepada istrinya. Beliau bersabda : ” Tidakkah seseorang di antara kamu merasa malu memukul istrinya sebagaimana memukul seorang hamba sahaya? Ia memukulnya pada awal siang dan menggaulinya pada akhir siang.” ( HR.Asy-Syaikhany dan Tarmizi).

    Tidak jarang para istri beliau dirasuki kecemburuan sebagaimana layaknya para wanita. Akan tetapi, ketika kecemburuan ini mulai menampakan ketidakwajaran, beliau pun segera meluruskan dengan pendidikan yang baik. ‘ Aisyah ra. berkata : ” Aku belum pernah melihat orang membuat makanan seperti yang dibuat oleh Shafiyyah. Ketika ia sedang berada di rumahku, ia membuat makanan untuk Rasulullah. Tiba tiba badanku bergetar sehingga menggigil karena dibakar cemburu. Mangkok Shafiyyah kupecahkan, tapi kemudian aku merasa menyesal. Segera kukatakan kepada Rasulullah SAW. ” Wahai Rasulullah , apakah kaffarah perbuatanku tadi.” Beliau menjawab : Mangkok sama dengan mangkok, makanan sama dengan makanan.” ( HR. Abu Dawud dan Nasa’i).

    Ingatan Rasulullah SAW. tidak pernah lekang dari Khadijah yang sudah meninggal dunia.Tidak sampai di situ saja, beliau juga berbuat baik kepada setiap orang yang mempunyai hubungan dengan Khadijah sebagai perwujudan dari kenangan beliau kala masih bersama istri pertamanya. Beliau selalu menyebutkan kebaikan kebaikannya. Sampai-sampai ‘ Aisyah belum pernah mencemburui seorang wanita pun sebagaimana kecemburuannya terhadap Khadijah, meskipun ia sudah meninggal dunia.

    Mendengar Rasulullah menyanjung almarhumah, maka dengan geramnya berkatalah Aisyah : ” Khadijah lagi…., Khadijah lagi……seperti di dunia ini sudah tidak ada lagi wanita selain Khadijah.” Menanggapi sikap ‘Aisyah itu Rasulullah pergi meninggalkan ‘Aisyah dan tidak seberapa lama beliau kembali lagi. Masih dalam kecemburuannya Aisyah berkata : ” Buat apa engkau mengingat perempuan tua renta dan ujung mulutnya sudah merah, padahal Allah sudah menggatikannya dengan yang lebik baik bagimu? ”

    ” Demi Allah, Dia tidak pernah mengganti yang lebih baik dari Khadijah. Dia beriman kepadaku pada saat semua orang mendustakan aku. Dia ulurkan hartanya pada saat semua orang menahannya. Dia memberiku anak selagi yang lain tidak memberinya,” jawab Rasulullah.

    Dalam peristiwa lain, ” Aisyah pernah bercerita bahwa pada suatu hari Rasulullah masuk ke rumahnya.” Aisyah segera bertanya : ” Dimana seharian tadi?” ” Wahai Humairah, aku tadi di rumah Ummah Salamah,” jawab Beliau. ” Apakah engkau belum kenyang dirumah Ummu Salamah? ” tanyaku lagi. Beliau hanya tersenyum saja.

    Para istri beliau juga sering bercanda, dan beliaupun ikut bergabung dalam suasana kegembiraan mereka.

    Jelaslah bagi kita semua dengan memiliki beberapa istri denga sifat dan tingkah laku yang berbeda ataupun beragam, Rasulullah ingin menunjukan dan mengajari serta memberi contoh pada umatnya bahwa kelak umatnya yang laki-laki akan memiliki dan menghadapi istri dengan pola tingkah laku yang beragam sehingga apabila seorang suami menghadapi sikap istri yang begini, haruslah suami tersebut mencontohi Nabi ketika menghadapi istrinya si A, atau si B, dll.

    Bukannya hanya mencemoh atau mencela kekurangan, kelemahan istri, tetapi suami yang bijak yang bisa mencontohi sikap Nabi, akan menuntun seorang istri ke jalan yang diridhoi Allah SWT.

    Sehingga tidaklah benar tuduhan dari orang kafir atau dunia barat tentang keadaan Nabi yang memiliki beberapa orang istri dengan asumsi yang jelek/negativ. Selain untuk mengangkat harkat dan martabat kaum wanita Arab saat itu dari kehinaan dan kerendahan karena terikat tradisi jahilliyah mereka, juga untuk memperbanyak umat islam, disamping tujuan lainnya. Kesemuanya ini karena islam sangat memuliakan perempuan.

    Untuk itu, wahai para suami tuntunlah istrimu kejalan yang di ridhoi Allah. Sehingga kedamaian dapat menyelimuti ramah tanggamu. Bukankah seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya?

    ***

    Sumber : diambil dari sebuah buku karya Drs. M. Thalib.

    Wassalam

    Siti Nurjannah

     
  • erva kurniawan 7:09 am on 17 October 2014 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup Imam Abu Hanifah 

    abu hanifahRiwayat Hidup Imam Abu Hanifah

    Imam Abu Hanafih adalah seorang imam Mazhab yang besar dalam dunia Islam. Dalam empat mazhab yang terkenal tersebut hanya Imam Hanafi yang bukan orang Arab. Beliau keturunan Persia atau disebut juga dengan bangsa Ajam. Pendirian beliau sama dengan pendirian imam yang lain, yaitu sama-sama menegakkan Al-Quran dan sunnah Nabi SAW.

    Imam Hanafi dilahirkan pada tahun 80 Hijrah bertepatan tahun 699 Masehi di sebuah kota bernama Kufah. Nama Beliau sebenarnya ialah Nu’man bin Tsabit bin Zautha bin Maha. Kemudian lebih terkenal dengan sebutan Imam Hanafi.

    Kemasyhuran nama tersebut menurut para ahli sejarah ada beberapa sebab:

    1. Karena ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Hanifah, maka ia diberi julukan dengan Abu Hanifah.
    2. Karena semenjak kecilnya sangat tekun belajar dan menghayati setiap yang dipelajarinya, maka ia dianggap seorang yang hanif (kecenderungan/condong) pada agama. Itulah sebabnya ia terkenal dengan gelaran Abu Hanifah.
    3. Menurut bahasa Persia, Hanifah berarti tinta. Imam Hanafi sangat rajin menulis hadith-hadith, ke mana, ia pergi selalu membawa tinta. Karena itu ia dinamakan Abu Hanifah.

    Waktu ia dilahirkan, pemerintahan Islam berada di tangan Abdul Malik bin Marwan, dari keturunan Bani Umaiyyah kelima. Kepandaian Imam Hanafi tidak diragukan lagi, beliau mengerti betul tentang ilmu fiqih, ilmu tauhid, ilmu kalam, dan juga ilmu hadith. Di samping itu beliau juga pandai dalam ilmu kesusasteraan dan hikmah.

    Imam Hanafi adalah seorang hamba Allah yang bertakwa dan soleh, seluruh waktunya lebih banyak diisi dengan amal ibadah. Jika beliau berdoa matanya bercucuran air mata demi mengharapkan keridhaan Allah SWT. Walaupun demikian orang-orang yang berniat jahat selalu berusaha untuk menganiaya beliau.

    Sifat keberanian beliau adalah berani menegakkan dan mempertahankan kebenaran. Untuk kebenaran ia tidak takut sengsara atau apa bahaya yang akan diterimanya. Dengan keberaniannya itu beliau selalu mencegah orang-orang yang melakukan perbuatan mungkar, karena menurut Imam Hanafi kalau kemungkaran itu tidak dicegah, bukan orang yang berbuat kejahatan itu saja yang akan merasakan akibatnya, melainkan semuanya, termasuk orang-orang yang baik yang ada di tempat tersebut

    Sebagian dilukiskan dalam sebuah hadith Rasulullah SAW bahwa bumi ini diumpamakan sebuah bahtera yang didiami oleh dua kumpulan. Kumpulan pertama adalah terdiri orang-orang yang baik-baik sementara kumpulan kedua terdiri dari yang jahat-jahat. Kalau kumpulan jahat ini mau merusak bahtera dan kumpulan baik itu tidak mau mencegahnya, maka seluruh penghuni bahtera itu akan binasa. Tetapi sebaliknya jika kumpulan yang baik itu mau mencegah perbuatan orang-orang yang mau membuat kerusakan di atas bahtera itu, maka semuanya akan selamat.

    Sifat Imam Hanafi yang lain adalah menolak kedudukan tinggi yang diberikan pemerintah kepadanya. Ia menolak pangkat dan menolak uang yang dibelikan kepadanya. Akibat dari penolakannya itu ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Di dalam penjara ia disiksa, dipukul dan sebagainya.

    Gubernur di Iraq pada waktu itu berada di tangan Yazid bin Hurairah Al-Fazzari. Selaku pemimpin ia tentu dapat mengangkat dan memberhentikan pegawai yang berada di bawah kekuasaannya. Pernah pada suatu ketika Imam Hanafi akan diangkat menjadi ketua urusan perbendaharan negara (Baitul mal), tetapi pengangkatan itu ditolaknya. Ia tidak mau menerima kedudukan tinggi tersebut. Sampai berulang kali Gubernur Yazid menawarkan pangkat itu kepadanya, namun tetap ditolaknya.

    Pada waktu yang lain Gubernur Yazid menawarkan pangkat Kadi (hakim) tetapi juga ditolaknya. Rupanya Yazid tidak senang melihat sikap Imam Hanafi tersebut. Seolah-olah Imam Hanafi memusuhi pemerintah, karena itu timbul rasa curiganya. Oleh karena itu ia diselidiki dan diancam akan dihukum dengan hukum dera. Ketika Imam Hanafi mendengar kata ancaman hukum dera itu Imam Hanafi menjawab: “Demi Allah, aku tidak akan mengerjakan jabatan yang ditawarkan kepadaku, sekalipun aku akan dibunuh oleh pihak kerajaan.” Demikian beraninya Imam Hanafi dalam menegakkan pendirian hidupnya.

    Pada suatu hari Yazid memanggil para alim ulama ahli fiqih yang terkemuka di Iraq, dikumpulkan di muka istananya. Di antara mereka yang datang ketika itu adalah Ibnu Abi Laila. Ibnu Syblamah, Daud bin Abi Hind dan lain-lain. Kepada mereka, masing-masing diberi kedudukan resmi oleh Gubernur.

    Ketika itu Gubernur menetapkan Imam Hanafi menjadi Sekretaris Gubernur. Tugasnya adalah bertanggungjawab terhadap keluar masuk uang negara. Gubernur dalam memutuskan jabatan itu disertai dengan sumpah, “Jika Abu Hanifah tidak menerima pangkat itu maka ia akan dihukum dengan pukulan.”

    Walaupun ada ancaman seperti itu, Imam Hanafi tetap menolak jabatan itu, bahkan ia tetap tegas, bahwa ia tidak mau menjadi pegawai kerajaan dan tidak mau campur tangan dalam urusan negara.

    Karena sikapnya itu, akhirnya ditangkap oleh Gubernur. Kemudian dimasukkan ke dalam penjara selama dua minggu, dengan tidak dipukul. Lima belas hari kemudian baru dipukul sebanyak 14 kali pukulan, setelah itu baru dibebaskan. Beberapa hari sesudah itu Gubernur menawarkan menjadi hakim, juga ditolaknya. Kemudian ditangkap lagi dan dijatuhi hukuman dera sebanyak 110 kali. Setiap hari didera sebanyak sepuluh kali pukulan. Namun demikian Imam Hanafi tetap dengan pendiriannya. Sampai ia dilepaskan kembali setelah cukup 110 kali cambukan.

    Akibat dari pukulan itu muka dan seluruh badannya menjadi bengkak-bengkak. Hukuman cambuk itu sengaja untuk menghina Imam Hanafi. Walaupun demikian ketika Imam Hanafi disiksa ia sempat berkata. “Hukuman dera di dunia lebih ringan daripada hukuman neraka di akhirat nanti.” Ketika ia berusia lebih dari 50 tahun, ketua negara ketika itu berada di tangan Marwan bin Muhammad. Imam Hanafi juga menerima ujian. Kemudian pada tahun 132 H sesudah dua tahun dari hukuman tadi terjadilah pergantian pimpinan negara, dari keturunan Umaiyyah ke tangan Abbasiyyah, ketua negaranya bernama Abu Abbas as Saffah.

    Pada tahun 132 H sesudah Abu Abbas meninggal dunia diganti dengan ketua negara yang baru bernama Abi Jaafar Al-Mansur, saudara muda dari Abul Abbas as Saffah. Ketika itu Imam Abu Hanifah telah berumur 56 tahun. Namanya masih tetap harum sebagai ulama besar yang disegani. Ahli fikir yang cepat dapat menyelesaikan sesuatu persoalan.

    Suatu hari Imam Hanafi mendapat panggilan dari baginda Al-Mansur di Baghdad, supaya ia datang mengadap ke istana. Sesampainya ia di istana Baghdad ia ditetapkan oleh baginda menjadi kadi (hakim) kerajaan Baghdad. Dengan tawaran tersebut, salah seorang pegawai negara bertanya: “Adakah guru tetap akan menolak kedudukan baik itu?” Dijawab oleh Imam Hanafi “Amirul mukminin lebih kuat membayar kifarat sumpahnya daripada saya membayar sumpah saya.”

    Karena ia masih tetap menolak, maka diperintahkan kepada pengawal untuk menangkapnya, kemudian dimasukkan ke dalam penjara di Baghdad. Pada saat itu para ulama yang terkemuka di Kufah ada tiga orang. Salah satu di antaranya ialah Imam Ibnu Abi Laila. Ulama ini sejak pemerintahan Abu Abbas as Saffah telah menjadi mufti kerajaan untuk kota Kufah. Karena sikap Imam Hanafi itu, Imam Abi Laila pun dilarang memberi fatwa.

    Pada suatu hari Imam Hanafi dikeluarkan dari penjara karena mendapat panggilan dari Al-Mansur, tetapi ia tetap menolak. Baginda bertanya, “Apakah engkau menyukai keadaan seperti ini?”

    Dijawab oleh Imam Hanafi: “Wahai Amirul Mukminin semoga Allah memperbaiki Amirul Mukminin.

    Wahai Amirul Mukminin, takutlah kepada Allah, janganlah bersekutu dalam kepercayaan dengan orang yang tidak takut kepada Allah. Demi Allah saya bukanlah orang yang boleh dipercayai di waktu tenang, maka bagaimana saya akan dipercayai di waktu marah, sungguh saya tidak sepatutnya diberi jabatan itu.”

    Baginda berkata lagi: “Kamu berdusta, kamu patut dan sesuai memegang jabatan itu.” Dijawab oleh Imam Hanafi: “Amirul Mukminin, sungguh baginda telah menetapkan sendiri, jika saya benar, saya telah menyatakan bahwa saya tidak patut memegang jabatan itu. Jika saya berdusta, maka bagaimana baginda akan mengangkat seorang maulana yang dipandang rendah oleh bangsa Arab. Bangsa Arab tidak akan rela diadili seorang golongan hakim seperti saya.”

    Pernah juga terjadi, baginda Abu Jaffar Al-Mansur memanggil tiga orang ulama besar ke istananya, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Sufyan ats Tauri dan Imam Syarik an Nakhaei. Setelah mereka hadir di istana, maka ketiganya ditetapkan untuk menduduki pangkat yang cukup tinggi dalam kenegaraan, masing-masing diberi surat pelantikan tersebut.

    Imam Sufyan ats Tauri diangkat menjadi kadi di Kota Basrah, lmam Syarik diangkat menjadi kadi di ibu kota. Adapun Imam Hanafi tidak mau menerima pengangkatan itu di manapun ia diletakkan. Pengangkatan itu disertai dengan ancaman bahwa siapa saja yang tidak mau menerima jabatan itu akan didera sebanyak 100 kali deraan.

    Imam Syarik menerima jabatan itu, tetapi Imam Sufyan tidak mau menerimanya, kemudian ia melarikan diri ke Yaman. Imam Abu Hanifah juga tidak mau menerimanya dan tidak pula berusaha melarikan diri.

    Oleh sebab itu Imam Abu Hanifah dimasukkan kembali ke dalam penjara dan dijatuhi hukuman sebanyak 100 kali dera. Setiap pagi dipukul dengan cambuk sementara dileher beliau dikalung dengan rantai besi yang berat.

    Suatu kali Imam Hanafi dipanggil baginda untuk menghadapnya. Setelah tiba di depan baginda, lalu diberinya segelas air yang berisi racun. Ia dipaksa meminumnya. Setelah diminum air yang beracun itu Imam Hanafi kembali dimasukkan ke dalam penjara. Imam Hanafi wafat dalam keadaan menderita di penjara ketika itu ia berusia 70 tahun.

    Imam Hanafi menolak semua tawaran yang diberikan oleh kerajaan daulah Umaiyyah dan Abbasiyah adalah karena beliau tidak sesuai dengan kebijakan pemerintah yang mereka kendalikan. Oleh sebab itu mereka berusaha mengajak Imam Hanafi untuk bekerjasama menjadi pengikut mereka, dan karena mendapat penolakan akhirnya disiksa hingga meninggal, karena itulah Imam Hanafi menolak semua tawaran yang mereka berikan.

    Walluhu a’lam bish-shawab,-

    ***

    Dipetik Dari Buku :

    1001 Duka Himpunan Kisah-kisah Menyayat Hati Oleh Muhammad Isa Selamat,  Darul Numan

    dikirim oleh : Retno Wahyudiaty 2003

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 11 October 2014 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup Imam Malik 

    SalatMalikiStyle-502x300Riwayat Hidup Imam Malik

    Imam Malik dilahirkan di sebuah perkampungan kecil yang bernama Ashbah, yang terletak di dekat Kota Himyar jajahan Yaman. Nama aslinya ialah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir Al-Ashabally. Beliau adalah seorang ulama besar yang lahir di Madinah serta mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap dunia Islam.

    Ketika Imam Malik berusia 54 tahun, pemerintahan berada di tangan baginda Al-Mansur yang berpusat di Bagdad. Ketika itu di Madinah dipimpin oleh seorang Gubernur bernama Jaafar bin Sulaiman Al-Hasymi. Sementara itu Imam Malik juga menjabat sebagai mufti di Madinah. Di saat timbulnya masalah penceraian atau talak, maka Imam Malik telah menyampaikan fatwanya, bahwa talak yang dipaksakan tidak sah, artinya talak suami terhadap isteri tidak jatuh. Fatwa ini sungguh berlawanan dengan kehendak Gubernur, karena ia tidak mau hadith yang disampaikan oleh Imam Malik tersebut diketahui oleh masyarakat, sehingga akhirnya Imam Malik dipanggil untuk menghadap kepada Gubernur.

    Kemudian Gubernur meminta agar fatwa tersebut dicabut kembali, dan jangan sampai orang ramai mengetahui akan hal itu. Walaupun demikian Imam Malik tidak mau mencabutnya. Fatwa tersebut tetap disampaikan kepada khalayak ramai. Talak yang dipaksanya tidak sah. Bahkan Imam Malik sengaja menyiarkan fatwanya itu ketika beliau mengadakan ceramah-ceramah agama, karena fatwa tersebut berdasarkan hadith Rasulullah SAW yang harus diketahui oleh umat manusia.

    Akhirnya Imam Malik ditangkap oleh pihak kerajaan, namun ia masih tetap dengan pendiriannya. Gubernur memberi peringatan keras supaya fatwa tersebut dicabut dengan segera. Kemudian Imam Malik dihukum dengan dera dan diikat dengan tali dan dinaikkan ke atas punggung unta, lalu diarak keliling Kota Madinah. Kemudian Imam Malik dipaksa supaya menarik kembali fatwanya itu.

    Mereka mengarak Imam Malik supaya Imam merasa malu dan hilang pendiriannya. Tetapi Imam Malik masih tetap dengan pendiriannya itu. Karena ketegasannya itu, dia dihukum cambuk sebanyak 70 kali, yang menyebabkan tulang belakangnya hampir patah. Kemudian ia berkata kepada sahabat-sahabatnya:

    “Aku dihukum cambuk begitu berat lantaran fatwa ku. Demikian Said Al-Musayyid, Muhamad Al-Munkadir dan Rabiah telah dijatuhi hukuman demikian lantaran fatwanya juga.”

    Bagi Imam Malik hukuman semacam itu, bukanlah mengurangi pendiriannya, bahkan semakin bertambah teguh jiwanya. Ia tidak pernah takut menerima hukuman asalkan ia berada pada jalan kebenaran. Karena memang setiap perjuangan itu memerlukan pengorbanan. Imam Al-Laits, seorang alim menjadi mufti Mesir ketika itu, saat mendengar bahwa Imam Malik dihukum lantaran fatwanya ia berkata: “Aku mengharap semoga Allah mengangkat derajat Imam Malik atas setiap pukulan yang dijatuhkan kepadanya, menjadikan satu tingkat baginya masuk ke syurga.”

    Insya Allah.

    walluhu a’lam bish-shawab,-

    ***

    Dipetik Dari Buku :  1001 Duka Himpunan Kisah-kisah Menyayat Hati Oleh Muhammad Isa Selamat,  Darul Numan

    dikirim oleh : Retno Wahyudiaty

     
  • erva kurniawan 2:38 am on 10 October 2014 Permalink | Balas  

    Hati-hati Nongkrong Di Jalan 

    nabi-muhammad-saw1Hati-hati Nongkrong Di Jalan

    Berhati-hatilah duduk-duduk di pinggir jalan. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagi kami sesuatu yang tidak dapat kami tinggalkan. Dalam berkumpul itu kami berbincang-bincang.” Nabi SAW menjawab, “Kalau memang suatu keharusan, maka berilah jalan itu haknya.” Mereka bertanya lagi, “Apa yang dimaksud haknya itu, ya Rasulullah?” Nabi SAW menjawab, “Palingkan pandanganmu dan jangan menimbulkan gangguan. Jawablah tiap ucapan salam dan ber-amar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Duduk-duduk di pinggir jalan memang mengasyikkan. Disamping pasang aksi dan jual tampang, juga mengobrol ke sana ke mari, bercanda ria, dan menikmati pemandangan di depannya. Menggoda orang yang lewat, terutama perempuan tidak terlepas dari aktivitas itu. Bahkan sampai berani mengganggu dan merayu.

    Kegiatan seperti ini telah menjadi kesenangan dan membudaya di kalangan muda-mudi dari zaman ke zaman. Malahan bukan hanya pemuda-pemudi saja yang menyenangi duduk-duduk di pinggir jalan ini, tapi pada tingkat orang dewasa dan orang tua juga menyukainya.

    Di zaman Rasulullah SAW hal ini pun merupakan kesenangan para sahabat, sehingga beliau mewanti- wanti dan memberi batasan tentang adab-adab yang harus dipenuhi oleh orang-orang yang senang duduk-duduk di pinggir jalan. Di antara ketentuan-ketentuan itu seperti dalam hadits di atas :

    Pertama, palingkan pandangan. Pandangan mata, sesuatu hal yang membahayakan karena akan mempengaruhi hati dan menggerakkan nafsu birahi yang bergejolak. Walaupun cepatnya pandangan secepat larinya anak panah dari busurnya, ia akan menyangkut dalam hati. Dan hati bisa menyeret pada keinginan untuk melampiaskan hasratnya itu.

    Karena berbahaya pandangan mata itu, Allah memerintahkan untuk menundukkan pandangan itu. Perintah ini tertera dalam surah An-Nuur 30-31 :

    Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka…,”

    Ibnu Qayyim berkata, “Pandangan mata adalah penyebab dan penggerak utama adanya nafsu birahi, maka menjaga pandangan mata merupakan penjagaan atas kemaluan. Barangsiapa membiarkan pandangan matanya berkeliaran untuk melihat sela-sela kemaksiatan, sesungguhnya Allah telah menciptakan sebagai cermin dari hati. Jika hamba ini menggerakkan matanya guna memandang barang haram, niscaya hatinya akan menggerakkan dan mempengaruhi nafsu birahi dan hasratnya. Dan jika seseorang memelihara pandangan matanyanya, niscaya hati tidak akan menggerakkan nafsu birahi.

    Kedua, jangan mengganggu. Nongkrong-nongkrong di pinggir jalan terasa kurang asyik bila tidak menggoda dan mengganggu orang. Gatal lidah rasanya bila tidak melontarkan kata-kata pada orang yang lewat di depan matanya. Keinginan itu pastilah muncul bagi orang yang senang duduk- duduk di pinggir jalan, bahkan ada juga yang tujuannya memang demikian. Untuk Rasulullah SAW memberikan persyaratan untuk tidak mengganggu orang, bila pekerjaan nongkrong di pinggir jalan ini tidak bisa ditinggalkan. “Kaffuladzai”, jangan menimbulkan gangguan.

    Ketiga, membalas ucapan salam. Islam telah mengatur tentang adab-adab salam sedemikian rupa, yang mencakup hukum memberi salam, hukum menjawabnya dan siapa yang lebih duluan salam.

    Apabila berjumpa sesama muslim, Rasulullah memerintahkan untuk saling mengucapkan salam. Yang muda mendahului memberi salam kepada yang tua, yang lewat kepada yang duduk, yang berkendaraan kepada yang berjalan kaki, yang berjumlah sedikit kepada yang banyak, dan laki-laki memberi salam kepada wanita. Wanita dilarang memberi salam kepada laki-laki.

    Berdosa hukumnya bila ada salam tidak dijawab, karena hukum menjawab salam adalah wajib. Maka dengan itu Rasulullah memerintahkan untuk selalu menjawab salam orang yang lewat ketika kita nongkrong di pinggir jalan.

    Keempat, ber-amar ma’ruf nahi munkar. Bila suatu ketika di depan mata kita terjadi kezaliman, jangan sampai dibiarkan terjadi tanpa kita turun untuk mencegahnya. Sudah merupakan kewajiban bagi seseorang untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar. Cegahlah dengan tangan, atau dengan hati, tapi itu selemah-lemahnya iman. Jangan biarkan kemungkaran terjadi di depan mata kita, apalagi kita mampu untuk mencegahnya. Jika kita membiarkan, tunggulah siksa Allah di hari pembalasan kelak.

    “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla tidak menyiksa awam karena perbuatan dosa orang-orang yang khusus sehingga mereka melihat kemungkaran di hadapan mereka dan mereka mampu mencegahnya, tetapi mereka tidak mencegahnya. Kalau mereka berbuat demikian maka Allah menyiksa yang khusus dan yang awam.” (HR. Ahmad dan At-Thabrani).

    Kelima, tunjuki jalan bagi orang yang bertanya. Kewajiban lainnya bagi orang-orang yang duduk-duduk di pinggir jalan adalah memberikan bantuan dan menerangkan dengan jelas bagi orang yang memerlukan bantuan tersebut. Layani dengan baik, tanya apa keperluannya, mau ke mana, dan jawablah dengan baik lantas tunjuki jalan atau tempat yang dia cari, lebih baik lagi kalau diantarkan ke tempat yang dituju. Itulah kewajiban yang diperintahkan Rasulullah kepada orang- orang yang duduk-duduk di pinggir jalan.

    Nabi SAW mendatangi serombongan orang yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan, lalu beliau berkata, “kalau memang harus kamu lakukan maka balaslah ucapan salam dan tolonglah orang yang dizalimi. Tunjuki jalan bagi orang yang bertanya.” (HR. Abu Daud)

    Jelaslah bahwa Rasulullah SAW selalu menegur pada orang-orang yang duduk-duduk di pinggir jalan. Memalingkan pandangan, jangan mengganggu, menjawab salam, ber-amar ma’ruf nahi munkar, menolong orang yang dizalimi, dan menunjukkan jalan bagi orang yang bertanya. Bila hal-hal ini tidak bisa dilaksanakan, maka sebaiknya menghindari untuk duduk-duduk di pinggir jalan. Perbuatan ini membuka peluang untuk mengerjakan maksiat dan terus menambah tabungan dosa kita, yang akan dipertanggungjawabkan di hari kemudian. Pekerjaan yang demikian bila kita jauhi akan menghindarkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna, dan ini merupakan ciri orang beriman yang beruntung.

    “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna.” (QS. Al-Mu’minun: 1-3).

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 9 October 2014 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup Imam Asy-Syafi’iy (2/2) 

    Imam Syafi'iRiwayat Hidup Imam Asy-Syafi’iy (2/2)

    Imam Syafie bernama Muhammad bin Idris. Silsilah keturunan beliau adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Usman bin Syafie bin Saib bin Abdul Yazid bin Hasyim bin Abdul Mutalib bin Abdul Manaf. Keturunan beliau bertemu dengan keturunan Nabi Muhammad SAW pada cuctu Nabi Muhammad yang ketiga yaitu Abdul Manaf.

    Beliau dilahirkan di Ghuzah nama sebuah kampung yang termasuk daerah Palestina, pada bulan Rejab 150 H atau 767 Masehi. Tempat asal ayah dan bunda beliau yaitu di Kota Makkah. Imam Syafie lahir di Palestina karena ketika itu bundanya pergi ke daerah itu demi suatu keperluan. Namun di dalam perjalanan menuju Palestina tersebut ayahnya meninggal dunia, sementara Imam Syafie masih dalam kandungan ibunya. Setelah berumur dua tahun baru Imam Syafie dan ibunya kembali ke Kota Makkah.

    Ketika berumur 9 tahun beliau telah hafal Al-Quran 30 juz. Umur 19 tahun telah mengerti isi kitab Al-Muwatha’, karangan Imam Malik, tidak lama kemudian Al-Muwatha’ telah dihafalnya. Kitab Al-Muwatha’ tersebut berisi hadith-hadith Rasulullah SAW, yang dihimpun oleh Imam Malik.

    Karena kecerdasannya pada umur 15 tahun beliau telah diizinkan memberi fatwa di hadapan masyarakat dan sebagai guru besar ilmu hadith serta menjadi mufti dalam Masjidil Haram di Makkah.

    Ketika berumur 20 tahun beliau pergi belajar ke tempat Imam Malik di Madinah, setelah itu beliau ke Irak, Parsi dan akhirnya kembali ke Madinah. Pada usia 29 tahun beliau pergi ke Yaman untuk menuntut ilmu pengetahuan.

    Tentang ketaatan beliau dalam beribadah kepada Allah diceritakan bahwa setiap malam beliau membagi malam itu kepada tiga bagian. Sepertiga malam beliau gunakan kewajiban sebagai manusia yang mempunyai keluarga, sepertiga malam untuk solat dan zikir dan sepertiga lagi untuk tidur.

    Ketika Imam Syafie di Yaman, beliau diangkat menjadi rekan dan penulis pribadi Gubernur di Yaman, sekaligus menjadi guru besar di sana. Karena beliau termasuk orang pendatang, secara tiba-tiba memangku jabatan yang tinggi, maka ramai orang yang memfitnah beliau.

    Ahli sejarah menceritakan bahwa waktu sultan Harun Ar-Rasyid sedang marah terhadap kaum Syiah, sebab golongan tersebut berusaha untuk meruntuhkan kekuasaan Abbasiyah, mereka berhasrat mendirikan sebuah kerajaan Alawiyah yaitu keturunan Saidina Ali bin Abi Talib. Karena itu di mana kaum Syiah berada mereka diburu dan dibunuh.

    Suatu ketika datang surat baginda Sultan dari Baghdad. Dalam surat yang ditujukan kepada Wali negeri itu diberitahukan supaya semua kaum Syiah ditangkap. Untuk pertama kali yang ditangkap adalah para pemimpinnya, setelah pekerjaan penangkapan telah selesai semua mereka akan dikirimkan ke Baghdad. Semuanya dipenjara dan dirantai. Imam Syafie juga ditangkap, sebab di dalam surat tersebut bahwa Imam Syafie termasuk dalam jajaran para pemimpin Syiah.

    Peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadhan, Imam Syafie dibawa ke Baghdad dengan dirantai kedua belah tangannya. Dalam keadaan dibelenggu itu para tahanan disuruh berjalan kaki mulai dari Arab Selatan (Yaman) sampai ke Arab Utara (Baghdad), yang menempuh perjalanan selama dua bulan. Sampai di Baghdad belenggu belum dibuka, yang menyebabkan darah-darah hitam melekat pada rantai-rantai yang mengikat tangan mereka.

    Pada suatu malam pengadilan pun dimulai. Para tahanan satu persatu masuk ke dalam bilik pemeriksaan. Setelah mereka ditanya dengan beberapa kalimat, mereka dibunuh dengan memenggal leher tahanan tersebut. Supaya darah yang keluar dari leher yang dipotong itu tidak berserak ia dialas dengan kulit binatang yang diberi nama dengan natha’.

    Imam Syafie dalam keadaan tenang menunggu giliran, dengan memohon keadilan kepada Allah SWT. Kemudian beliau dipanggil ke hadapan baginda Sultan. Imam Syafie menyerahkan segalanya hanya kepada Allah SWT. Dengan keadaan merangkak karena kedua belah kaki beliau diikat dengan rantai, Imam Syafie mengadap Sultan. Semua para pembesar memperhatikan beliau.

    “Assalamualaika, ya Amirul Mukminin wabarakatuh.”

    Demikian ucapan salam beliau kepada baginda dengan tidak disempurnakan yaitu “Warahmatullah.”

    “Wa alaikassalam warahmatullah wabarakatuh.” Jawab baginda. Kemudian baginda bertanya: “Mengapa engkau mengucap salam dengan ucapan yang tidak diperintahkan oleh sunnah, dan mengapa engkau berani berkata-kata dalam majlis ini sebelum mendapat izin dari saya?”

    Imam Syafie menjawab: “Tidak saya ucapkan kata “Warahmatullah”   karena rahmat Allah itu terletak dalam hati baginda sendiri.” Mendengar kata-kata itu hati baginda jadi lembut. Kemudian Imam Syafie membaca surah An-Nur ayat 55 yang bermaksud:

    “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang soleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diredhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”

    Setelah membaca ayat di atas kemudian Imam Syafie berkata: “Demikianlah Allah telah menepati janjiNya, karena sekarang baginda telah menjadi khalifah, jawapan salam baginda tadi membuat hati saya menjadi aman.” Hati baginda menjadi bertambah lembut. Baginda Harun ar Rashid bertanya kembali: “Kenapa engkau menyebarkan faham Syiah, dan apa alasanmu untuk menolak tuduhan atas dirimu.”

    “Saya tidak dapat menjawab pertanyaan baginda dengan baik bila saya masih dirantai begini, jika belenggu ini dibuka Insya-Allah saya akan menjawab dengan sempurna. Lalu baginda memerintahkan kepada pengawal untuk membukakan belenggu yang mengikat lmam Syafie itu.

    Setelah rantai yang membelenggu kedua kaki dan tangannya itu dibuka, maka Imam Syafie duduk dengan baik kemudian membaca surah Hujarat ayat 6:

    “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq yang membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

    “Ya Amirul Mukminin, sesungguhnya berita yang sampai kepada baginda itu adalah dusta belaka. Sesungguhnya saya ini menjaga kehormatan Islam. Dan bagindalah yang berhak memegang adab kitab Allah karena baginda adalah putera bapa saudara Rasulullah SAW yaitu Abbas. Kita sama-sama menghormati keluarga Rasulullah. Maka kalau saya dituduh Syiah karena saya sayang dan cinta kepada Rasulullah dan keluarganya, maka demi Allah, biarlah umat Islam sedunia ini menyaksikan bahwa saya adalah Syiah. Dan tuan-tuan sendiri tentunya sayang dan cinta kepada keluarga Rasulullah.” Demikian jawab Imam Syafie.

    Baginda Harun ar Rasyid pun menundukkan kepalanya kemudian ia berkata kepada Imam Syafie: “Mulai hari ini bergembiralah engkau agar lenyaplah perselisihan antara kami dengan kamu, karena kami harus memelihara dan menghormati pengetahuanmu wahai Imam Syafie.”

    Demikianlah kehidupan Imam Syafie sebagai ulama besar, yang tidak lepas dari berbagai cobaan serta siksaan dari pihak yang tak mengerti akan hakikat kebenaran yang sesungguhnya. Hanya ketabahan dan keimanan serta pengetahuanlah yang dapat menghadapi setiap cobaan itu sebagai suatu ujian dari Allah SWT yang harus kita hadapi.

    wallohu a’lam bish-shawab,-

    ***

    Disadur dari buku :

    1001 Duka Himpunan Kisah-kisah Menyayat Hati Oleh Muhammad Isa Selamat,  Darul Numan

    Dari : Retno Wahyudiaty

     
  • erva kurniawan 2:51 am on 8 October 2014 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup Imam Asy-Syafi’iy (1/2) 

    Imam Syafi'iRiwayat Hidup Imam Asy-Syafi’iy (1/2)

    Beliau adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’iy Al-Mutholliby. Nasab beliau bertemu dengan Nabi SAW pada kakek beliau Abdu Manaf. Beliau dilahirkan di kota Ghuzzah pada tahun 105 H dan kemudian dibawa pindah ke kota Makkah. Disana beliau menuntut ilmu pada guru-gurunya yaitu pada Al-Imam Khalid Muslim Az-Zanuji, Fudhail bin ‘Iyadh, Sufyan bin Uyainah dan lain-lain.

    Pada saat umur beliau menginjak 22 tahun, beliau pergi menuju kota Madinah. Untuk mempersiapkan diri berguru pada Al-Imam Malik, beliau menghafalkan seluruh isi kitab Al-Muwaththo’ dalam jangka waktu 9 hari. Baru setelah itu beliau berguru pada Al-Imam Malik sampai akhirnya beliau menjadi murid yang paling pandai. Selain itu, beliau juga berguru kepada ulama Madinah dan Makkah.

    Pada saat usia beliau masih 18 tahun, beliau sudah menjadi seorang mufti. Disaat itu beliau juga sudah menguasai syair-syair arab dan ilmu-ilmu bahasa arab sampai-sampai Al-Asma’iy (seorang periwayat syair-syair arab) mendapat manfaat dari beliau dan mengambil dari beliau syair-syair kabilah Bani Hudzail.

    Kemudian berpindahlah beliau ke kota Iraq. Disana beliau berguru kepada Al-Imam Muhammad bin Hasan Asy-Syaibany (murid Al-Imam Abu Hanifah). Dari gurunya itu, beliau Al-Imam Asy-Syafi’iy mendapatkan ilmu dan membacakan kitab-kitabnya. Beliau juga sempat berguru kepada beberapa teman gurunya tersebut. Disinilah beliau Al-Imam Asy-Syafi’iy menulis sebuah kitab yang berjudul Al-Hujjah yang menghimpun madzhab beliau yang pertama (al-madzhab al-qodim). Banyak para ulama besar yang mengambil madzhab beliau itu, di antaranya adalah Al-Imam Ahmad dan Al-Imam Abu Tsur.

    Dari Iraq beliau kemudian pindah ke kota Mesir. Disini seringkali ijtihad beliau berbeda dari sebelumnya pada banyak masalah. Hal itulah yang menyebabkan beliau akhirnya menarik madzhabnya yang pertama (al-madzhab al-qodim) dan mengokohkan madzhabnya yang baru (al-madzhab al-jadid). Di kota Mesir, beliau mendiktekan kitabnya yang bernama Al-Um. Beliau juga mengarang sebuah kitab dalam ilmu ushul figih yang berjudul Ar-Risalah. Kitab inilah yang menjadi peletak dasar ilmu ushul figih dan kunci pembuka kesulitan-kesulitan di dalamnya.

    Al-Imam Asy-Syafi’iy dianggap sebagai pembaharu (mujaddid) abad kedua. Hal ini tidak lain disebabkan oleh karena beliau mampu menggabungkan ilmu hadits dan ilmu logika. Beliau telah mengokohkan kaidah-kaidah ilmu ushul figih. Selain itu beliau juga seorang pakar hadits, riwayat-riwayat dan perawi-perawinya. Beliau juga menguasai Al-Qur’an dan ilmu-ilmunya. Ditambah lagi beliau adalah seorang ahli sejarah, penyair, sastrawan dan pakar bahasa. Dan yang tak kalah pentingnya beliau adalah seorang yang sangat wara’, takwa dan zuhud di dunia.

    Sampai akhirnya beliau menghembuskan napas yang terakhir di kota Kairo pada tahun 203 H. Berkata Al-Imam Ahmad tentang Al-Imam Asy-Syafi’iy, “Keberadaan Al-Imam Asy-Syafi’iy bagaikan keberadaan matahari bagi dunia, dan bagaikan keberadaan kesehatan bagi tubuh.”  Beliau Al-Imam Ahmad juga berkata, “Dahulu ilmu figih ini sudah tertutup bagi manusia, sampai akhirnya Allah membukanya kembali dengan Asy-Syafi’iy.”  Berkata Al-Imam Abu Zur’ah, “Tidak ada orang alim yang sangat diagung-agungkan oleh umat Islam seperti Asy-Syafi’iy, semoga Allah memberi rahmat kepada mereka semua dan merestuinya.”

    [Diterjemahkan dari mukadimah kitab At-Taqriirat As-Sadiidah fi Al-Masaail Al-Mufiidah, qismul ibaadat, Al-Habib Zein bin Ibrahim Bin Sumaith, hal. 1-2]

    Diriwayatkan oleh Toyalisi dan Baihaqi, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kalian mencaci (suku) Quraisy, sesungguhnya kelak salah seorang ulama Quraisy akan memenuhi bumi ini dengan ilmunya”. Berkata Imam Ahmad bin Hanbal dan ulama lainnya, bahwa ulama quraisy yang dimaksud oleh Rasulullah disini adalah Imam Syafi’i. Juga diakui oleh para ulama zamannya, bahwa Imam Syafi’I adalah seorang mujaddid (pembaharu Islam).

    Ulama mengatakan bahwa : “Tak seorangpun di antara ahli hadist dengan alat tulis mereka, melainkan pasti Imam Syafi’I mempunyai jasa yang sangat besar terhadap mereka”.

    Al-Imam Syafi’I tumbuh dilingkungan yang penuh dengan kemiskinan, akan tetapi beliau banyak melazimi para ulama, dan belajar dari mereka. Bahkan beliau menulis ilmu yang didapatnya di atas tulang atau kulit dan lain sebagainya, karena beliau tidak memiliki alat tulis dan buku yang memadai.

    Beliau banyak berdakwah dan mengajar, sampai beliau pergi ke Yaman dan dikenal disana, lantas pergi ke Iraq dan dikenal disana, lalu ke Mesir sampai akhirnya meninggal di sana. Begitu banyak para murid dan pengikut beliau, sehingga salah seorang murid beliau berkata; “Aku melihat tujuh ratus kendaraan di muka pintu rumah Imam syafi’I, yang mana semuanya datang untuk menimba ilmu dari beliau”.

    Berkata Imam Syafi’I : “Orang yang berakal adalah orang yang terikat oleh akalnya dari hal hal yang tercela”.

    Beliau juga berkata : “Barangsiapa menyangka tidak menjadi mulia karena taqwa, maka orang tersebut tidak memiliki kemuliaan”.

    Kita melihat Imam Syafi’I dengan kecerdasan beliau, taqwa, ilmu dan akhlak beliau sebagaimana diakui oleh ulama salaf dan khalaf. Apabila kita renungkan bahwa betapa terbatasnya fasilitas yang dimiliki Syafi’I untuk menuntut ilmu, bahkan beliau tidak mampu memiliki alat tulis, sehingga harus menulis di atas tulang dan daun. Dan apa yang dimiliki oleh pelajar kita zaman sekarang ini ? Mereka memiliki alat tulis dan buku yang beragam, bahkan seragam dan sepatu yang setiap tahun diganti dengan yang baru. Akan tetapi betapa jauhnya kita tertinggal oleh para pendahulu kita yang tidak memiliki fasilitas yang kita miliki sekarang ini. Sehingga banyak diantara kaum muslimin sekarang ini yang minim pengetahuan agamanya, sampai tidak mengenal akan hal hal yang membatalkan wudhu, atau fardhu-fardhu wudhu, bahkan syarat sahnya wudhu. Bagaimana dengan wudhu mereka ? Bagaimana dengan solat mereka ? Bagaimana dengan puasa dan haji mereka ? Apabila hal-hal yang wajib mereka ketahui didalam agama tidak mereka ketahui.

    Kita terbuai oleh dunia kita yang fana ini. Sehingga orang tua, muda, besar, kecil, laki, perempuan yang mereka pentingkan adalah; bagaimana mencari kesejahteraan mereka di dunia yang akan mereka huni selama 60 atau 70 tahun (kalau panjang umur). Akan tetapi mereka melupakan kesejahteraan akherat yang pasti akan mereka huni tidak seribu atau dua ribu tahun, tidak satu juta atau dua juta tahun, akan tetapi kehidupan yang abadi, yang hanya ada dua alternatif, surga atau neraka.

    Banyak orang yang mengenal profil dari seorang artis, atau pemain bola, atau petinju, bahkan tokoh politikus. Akan tetapi betapa mengherankannya seorang muslim bisa mengenal mereka tadi, melebihi pengenalannya akan profil seorang ulama besar seperti Imam Syafi’I, atau toko- tokoh sahabat dan keluarga Rasulullah SAW, bahkan melebihi pengenalannya akan Rasulullah, Nabinya sendiri. Ia mampu menceritakan kepada anda akan riwayat hidup seorang petinju dunia, akan tetapi tidak tahu riwayat hidup Pemimpin Akherat (Nabi Muhammad). Tidak mengetahui dimana beliau dilahirkan dan dimakamkan. Tidak mengetahui usia beliau ketika menikah, menerima wahyu, hijrah dan wafat. Bahkan tidak mengetahui siapa anak dan istri Rasulullah.

    Perlu ada yang membangunkan muslimin dari tidur mereka yang lelap dan panjang ini. Perlu ada yang menyadari akan tujuan kehidupannya di dunia yang fana ini. Perlu ada yang menyadari bahwa ia tidak akan ditanya kelak dikuburan; berapa penghasilanmu, atau apa mobilmu, atau apa jabatanmu, atau siapa artis favoritmu, akan tetapi akan ditanyakan bagaimana perhatiannya terhadap syariat yang diturunkan Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala mempercepat pertolonganNya bagi kaum Muslimin, Amiin..

    Wallohu a’lam bish-shawab,-

    ***

    Dari: Retno Wahyudiaty

     
  • erva kurniawan 2:22 am on 25 September 2014 Permalink | Balas  

    Ammar bin Yasir 

    kudaAmmar bin Yasir

    Yasir bin ‘Amir, ayahanda ‘Ammar, berangkat meninggalkan negerinya di Yaman guna mencari dan menemui salah seorang saudaranya… Rupanya ia berkenan dan cocok tinggal di Mekah. Bermukimlah ia disana dan mengikat perjanjian persahabatan dengan Abu Hudzaifah Ibnul Mughirah.

    Abu Hudzaifah mengawinkan dengan salah seorang sahayanya bernama Sumayah binti Khayyath, dan dari perkawinan yang penuh berkah ini, dikarunia seorang putra bernama ‘Ammar.

    Keislaman mereka termasuk dalam golongan yang pertama, sebagaimana halnya dengan mereka yang pertama masuk Islam. Mereka cukup menderita dengan sikap kebiadaban dan kekejaman kaum Quraisy…

    Orang-orang Quraisy menjalankan siasat terhadap kaum muslimin sesuai suasana: seandainya mereka ini golongan bangasawan dan berpengaruh, mereka hadapi dengan ancaman dan gertakan. Abu Jahal, misalnya, menggertak dengan ungkapan, “Kamu berani meninggalkan agama nenek moyangmu padahal mereka lebih baik daripadamu! Akan kami uji sampai dimana ketabahanmu; akan kami jatuhkan kehormatanmu; akan kami rusak perniagaanmu; dan akan kami musnahkan harta bendamu!”

    Setelah itu, mereka lancarkan kepadanya perang urat syaraf yang amat sengit. Sementara, sekiranya yang beriman itu dari kalangan penduduk Mekah yang rendah martabatnya dan yang miskin; atau dari golongan budak belian, mereka didera dan disulutnya dengan api bernyala. Keluarga Yasir telah ditakdirkan oleh Allah SWT termasuk dalam golongan yang kedua ini. Maka, masuklah keluarga Yasir ke dalam kelompok yang mendapat perlakuan yang zalim dari mereka. Setiap hari, Yasir, Sumayyah, dan ‘Ammar dibawa ke padang pasir Mekah yang demikian panas, lalu didera dengan berbagai adzab dan siksa.

    Dengan cobaan itu, Sumayyah telah menunjukan kepada manusia sikap ketabahan, suatu kemuliaan yang tak pernah hapus dan kehormatan yang pamornya tak pernah luntur; suatu sikap yang telah menjadikannya seorang bunda kandung bagi orang-orang mu’min disetiap zaman, dan bagi para budiman sepanjang masa.

    Pengorbanan-pengorbanan mulia yang dahsyat itu tak ubahnya sebagai tumbal yang akan menjamin bagi agama dan ‘aqidah yang teguh dan tak akan lapuk. Ia juga menjadi teladan yang akan mengisi hati orang-orang beriman dengan rasa simpati, kebanggan dan kasih sayang; ia adalah menara yang akan menjadi pedoman bagi generasi-generasi mendatang untuk mencapai hakikat agama, kebenaran dan kebesarannya…

    Untuk meletakkan dasar, memancangkan tiang-tiang, dan memperkokoh agama-Nya, Allah memperlihatkan model contoh melalui para pemuka dan tokoh-tokoh utamanya dengan sikap pengorbanan harta dan jiwanya agar menjadi teladan istimewa bagi orang-orang beriman yang kemudian.

    Sumayyah, Yassir, dan ‘Ammar adalah termasuk teladan istimewa, sampai-sampai Rasulullah SAW setiap hari mennghampiri tempat dimana mereka mendapat siksaan dari orang-orang zalim.

    Pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW mengunjungi mereka, ‘Amar memanggilnya, katanya, “Wahai Rosulullah, adzab yang kami derita telah sampai ke puncak.” Maka, seru Rasulullah SAW, “Sabarlah, wahai Abal Yaqdhan… Sabarlah, wahai keluarga Yasir…Tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah syurga!”

    Betapa beratnya siksaan yang dialami ‘Ammar oleh kaum yang zalim, dilukiskan oleh kawan-kawannya dalam beberapa riwayat: berkata ‘Ammar bin Hakam, “Ammar itu disiksa – sampai-sampai ia tidak menyadari apa yang diucapkannya.” Berkata pula ‘Ammar bin Maimun, “Orang-orang musyrik membakar ‘Ammar bin Yasir dengan api.” Maka Rasulullah SAW lewat di tempatnya, lalu memegang kepalanya dengan tangan beliau, sambil bersabda, “Hai api, jadikan kamu sejuk dan dingin di tubuh ‘Ammar, sebagaimana kamu dulu juga sejuk dan dingin di tubuh Ibrahim!”

    Orang-orang musrik menghabiskan segala daya dan upaya dalam melampiaskan kezaliman dan kekejiannya terhadap ‘Ammar, sampai-sampai ia merasa dirinya benar-benar celaka, ketika siksaan itu mencapai puncaknya: didera, dicambuk, disalib di hamparan gurun yang panas, ditindih dengan batu laksana bara merah, dibakar dengan besi panas, bahkan sampai ditenggelamkan ke dalam air hingga sesak nafasnya dan mengelupas kulitnya yang penuh dengan luka. Ketika ia sampai tidak sadarkan diri karena siksaan yang demikian berat, orang-orang itu mengatakan kepadanya, “Pujalah olehmu Tuhan-Tuhan kami!” Mereka ajarkan kepadanya pujaan itu, sementara ia mengikutinya tanpa menyadari apa yang diucapkannya.

    Ketika ia siuman sebentar karena siksaannya berhenti, tiba-tiba ia sadar akan apa yang telah diucapkannya. Maka, hilanglah akalnya dan terbayanglah di ruang matanya, betapa besar kesalahan yang telah dilakukannya, suatu dosa besar yang tak dapat ditebus dan diampuni lagi…, Tetapi iradat Allah Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi telah memutuskan agar peristiwa yang mengharukan itu mencapai titik kesudahan yang amat luhur…. Tangan yang penuh berkah itu terulur menjabat tangan ‘Ammar sambil menyampaikan selamat kepadanya, “Bangunlah hai pahlawan! Tak ada sesalan atasmu dan tak ada cacat!”

    Sungguh benar apa yang telah difirmankan Allah SWT, artinya, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman,” padahal mereka belum lagi diuji?” (Q. S. Al-‘Ankabut: 2)

    “Apakah kalian mengira akan dapat masuk Syurga, padahal belum lagi terbukti bagi Allah orang-orang yang berjuang diantara kalian, begitupun orang-orang yang tabah?” (Q. S. Ali Imran: 142)

    “Sungguh, kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, hingga terbuktilah bagi Allah orang-orang yang benar dan terbukti pula orang-orang yang dusta.” (Q. S. Al-‘Ankabut: 3)

    “Apakah kalian mengira akan dibiarkan begitu saja, padahal belum lagi terbukti bagi Allah orang-orang yang berjaung diantara kalia?” (Q. S. At-Taubah: 16)

    “Dan musibah yang telah menimpa kalian disaat berhadapannya dua pasukan, adalah dengan adzin Allah, yakni agar terbukti baginya orang-orang yang beriman.” (Q. S. Ali Imran:166)

    ‘Ammar menghadapi cobaan dan siksaan itu dengan ketabahn luar biasa, hingga pendera-penderanya merasa lelah, lemah, dan bertekuk lutut di hadapan tembok keimanan yang maha kokoh. Memang, demikianlah Al-Qur’an mendidik para pemeluknya: menghadapi kekejaman dan kekerasan dengan kesabaran, keteguhan dan pantang menyerah, yang merupakan esensi dari keimanan.

    Suatu ketika, Rasulullah SAW menjumpai ‘Ammar; didapatinya ia sedang menangis, maka disapulah isak tangis itu dengan tangan beliau seraya sabdanya, “Orang-orang kafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkanmu kedalam air sampai kamu mengucapkan begini dan begitu…?”

    “Benar,” wahai Rasulullah,” ujar ‘Ammar sambil meratap. Maka sabda Rasullah sambil tersenyum, “Jika mereka memaksamu lagi, tidak apa, ucapkanlah seperti apa yang kamu katakan tadi!”

    Kemudian, Rasulullah membacakan kepadanya sebuah ayat:

    “Kecuali orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan.” (Q. S. An-nahl: 106)

    Setelah mendengarnya, kembalilah ‘Ammar dengan hati yang diliputi rasa haru, tenang, dan bahagia: seolah telah hilang semua penderitaan yang selama ini ia rasakan.

    ‘Amar menduduki martabat yang tinggi di tengah-tengah masyarakat Islam yang beriman; Rasulullah SAW amat sayang kepadanya; beliau sering membanggakannya kepada para sahabat lainnya, katanya, “Diri ‘Ammar dipenuhi keimanan sampai ke tulang pungungnya!”

    Ketika terjadi selisih faham antara Khalid bin Walid dengan ‘Ammar, Rasullah bersabda:

    “Siapa yang memusuhi ‘Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah; dan siapa yang membenci ‘Ammar, maka ia akan dibenci Allah!”

    Maka, tak ada pilihan bagi Khalid bin Walid, pahlawan Islam itu, selain segera mendatangi ‘Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta maaf. Mengenai perawakan ‘Ammar, para ahli riwayat melukiskannya sebagai berikut: Ia adalah seorang yang bertubuh tinggi dengan bahunya yang bidang dan matanya yang biru; seorang yang amat pendiam: tidak suka banyak bicara.

    Sepak terjangnya di dalam medan pertempuran, ‘Ammar termasuk pejuang militan yang tangguh. Ia senantiasa ikut bergabung bersama Rasulullah dalam semua perjuangan bersenjata seperti: perang Badar, Uhud, Khandak, dan Tabuk. Bahkan, tatkala Rasulullah telah mendahuluinya ke Ar-Rafiqul A’la, ia tidaklah berhenti, tetapi melanjutkan perjuangannya secara terus menerus. Saat pasukan kaum muslimin berhadap-hadapan dengan kaum Persi dan Romawi, termasuk kaum murtad, ‘Ammar – sebagai seorang prajurit yang gagah perkasa – selalu berada dibarisan pertama.

    Pada masa khalifah Umar, ‘Ammar bin Yasir, tokoh yang sangat perkasa dan kokoh imannya, juga dipilih untuk menjadi wali negeri di Kuffah; Ibnu Mas’ud sebagai bendaharanya. Kepada penduduknya, Ummar menulis sepucuk surat berita gembira dengan diangkatnya wali negeri baru itu, katanya: “Saya kirim kepada tuan-tuan ‘Ammar bin Yasir sebagai Amir, dan Ibnu Mas’ud sebagai bendahara dan wazir… Keduanya adalah orang-orang pilihan, dari golongan sahabat Muhammad SAW, dan termasuk pahlawan-pahlawan Badar!” Dalam melaksankan pemerintahan, ‘Ammar melakukan suatu sistem yang tidak dapat diikuti oleh orang-orang yang rakus akan dunia. Pangkat dan jabatannya tidak menambah kecuali keshalihan, zuhud dan kerendahan hatinya. Salah seorang yang hidup pada masanya di Kufah, Ibnu Abil Hudzail, bercerita, “Saya melihat ‘Ammar bin Yasir sewaktu menjadi amir di Kufah membeli sayuran di pasar, lalu mengikatnya dengan tali dan memikulnya di atas punggung dan membawanya pulang.”

    Suatu ketika, salah seorang awam berkata (menghina) kepada ‘Ammar bin Yasir, “Hai, yang telinganya terpotong!” Mendengar omongan orang itu, sang amir yang tidak kelihatan keamirannya, berkata, “Yang kamu cela itu adalah telingaku yang terbaik karena ia ditimpa kecelakaan waktu perang fi sabilillah.”

    Memang, telinga ‘Ammar itu putus dalam perang sabil di Yamamah. Ketika itu, Ammar bin Yasir maju bagaikan angin topan dan menyerbu barisan tentara Musailamatul Kadzab sehingga melumpuhkan kekuatan musuh. Ketika gerakan pasukan muslimin mengendor, pasukan kafirin segera membangkitkan semangatnya dengan seruannya yang gemuruh, hingga mereka kembali maju menerjang bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya.

    Abdullah bin Umar r.a. menceritakan peristiwa itu sebagai berikut: “Waktu perang Yamamah, saya melihat ‘Ammar sedang berada disebuah batu karang. Ia berdiri sambil berseru, “Hai kaum muslimin, apakah tuan-tuan hendak lari dari Syurga…? Inilah, saya: ‘Ammar bin Yasir, kemarilah tuan-tuan…! Ketika saya melihat dan memperhatikannya, kiranya sebelah telinganya telah putus beruntai-untai, sedang ia berperang dengan amat sengitnya.”

    Sementara itu, musuh-musuh Islam bergerak dibawah tanah: berusaha menebus kekalahannya dimedan tempur dengan jalan meyebarkan fitnah. Terbunuhnya Umar merupakan hasil pertama yang dicapai oleh gerakan atau subversi ini. Berhasilnya usaha mereka terhadap Umar, membangkitkan minat dan semangat mereka untuk melanjutkannya, mereka sebarkan fitnah dan nyalakan apinya disebagian besar negeri-negeri Islam. Gerakan ini menjalar ke Madinah. Apa yang terjadi pada Umar r.a., terjadi pula pada diri Utsman r.a.

    Peristiwa itu menyebabkan syahidnya Utsman r.a. dan terbukanya pintu fitnah yang melanda kaum muslimin. Sepeninggal Utsman, kekalifahan dipegang oleh Ali r.a. Mu’awiyah bangkit hendak merebut jabatan khalifah dari tangan Ali r.a. Para sahabat, disamping berpihak kepada Ali, ada juga yang membela Mu’wiyah.

    Tahukah anda, di pihak mana, ‘Ammar berdiri waktu itu? Ia berdiri di samping Ali bin Abi Thalib: bukan karena fanatik tetapi karena tunduk kepada kebenaran dan teguh memegang janji – Ali adalah Khalifah kaum muslimin. Dengan cahaya pandangan ruhani dan ketulusannya, ‘Ammar dapat mengetahui pemilik hak satu-satunya dalam perselisihan ini. Menurut keyakinannya: tak seorang pun berhak atas hal ini, selain imam Ali. Oleh karena itu, ia berdiri disampingnya. Ali r.a. merasa gembira atas sokongan yang diberikan oleh ‘Ammar. Keyakinan Ali r.a. bahwa ia berada pada pihak yang benar kian bertambah karena dukungan sahabatnya itu.

    Kemudian, datanglah saat perang Shiffin yang mengerikan itu. Imam Ali menghadapi pekerjaan penting ini sebagai tugas memadamkan pembangkangan dan pemberontakan. Sementara, ‘Ammar ikut bersamanya. Waktu itu, usianya telah mencapai 93 tahun. Ia bangkit menghunus pedangnya demi membela kebenaran yang menurut keimanannya harus dipertahankan.

    Pandangan terhadap pertempuran ini telah lama di maklumkannya dalam kata-kata sebagai berikut:

    “Hai ummat manusia! Marilah kita berangakat menuju gerombolan yang mengaku-ngaku hendak menuntutkan bela Utsman! Demi Allah, maksud mereka bukanlah hendak menuntutkan bahaya itu, tetapi sebenarnya mereka telah merasakan manisnya dunia dan telah ketagihan terhadapnya, dan mereka mengetahui bahwa kebanaran itu menjadi penghalang bagi pelampiasan nafsu serakah mereka. Mereka bukan yang berlomba dan tidak termasuk barisan pendahulu pemeluk agama Islam. Argumentasi apa sehingga mereka merasa berhak untuk ditaati oleh kaum muslimin dan diangkat sebagai pemimpin, dan tidak pula dijumpai dalam hati mereka perasaan takut kepada Allah, yang akan mendorong mereka mengikuti kebenaran…! Mereka telah menipu orang banyak dengan mengakui hendak menuntutkan bela kematian Utsman, padahal tujuan mereka yang sesungguhnya ialah hendak menjadi raja dan penguasa adikara!” Kemudian diambilnya bendera dengan tangannya, lalu dikibarkannya tinggi-tinggi diatas kepala sambil berseru, “Demi Dzat yang menguasai jiwaku, saya telah bertempur dengan mengibarkan bendera ini bersama Rasulullah SAW, dan inilah aku siap berperang pula dengan mengibarkannya sekarang ini! Demi nyawa saya berada dalam tangan-Nya, seandainya mereka menggempur dan menyerbu hingga berhasil mencapai kubu pertahanan kita, saya tahu bahwa kita pasti berada di pihak yang haq, dan mereka di pihak yang bathil”

    Orang-orang mengikuti ‘Ammar, mereka percaya kebenaran ucapannya. Berkatalah Abu Abdirrahman Sullami, “Kami ikut serta dengan Ali r.a. dipertempuran Shiffin, maka saya melihat ‘Ammar bin Yasir r.a. setiap ia menyerbu ke sesuatu jurusan atau turun ke suatu lembah, para sahabat Rasulullah pun mengikutinya, tak ubahnya ia bagai penji-panji bagi mereka”

    ‘Ammar teringat akan sabda Rasulnya, “Ammar akan di bunuh oleh golongan pendurhaka,” sehingga ia merasa peristiwa ini akan mengantarkannya menjadi syahid. Ia menerjuni akhir perjuangan hidupnya yang menonjol dengan gagah berani. Sebelum ia berangkat ke Rafiqul A’la, ia tanamkan pendidikan terakhir tentang keteguhan hati membela kebenaran.

    Berita tewasnya ‘Ammar segera tersebar, dan sabda Rasulullah SAW yang didengar oleh semua sahabatnya, sewaktu mereka sedang membina masjid di Madinah dimasa yang telah jauh sebelumnya, berpindah dari mulut ke mulut. Maka, sekarang jelaslah, siapa kiranya golongan pendurhaka itu, tidak lain adalah golongan yang membunuh ‘Ammar: yaitu dari pihak Mu’awiyah.

    Dengan kenyataan ini semangat dan kepercayaan pengikut-pengikut Ali kian bertambah. Sementara di pihak Mu’awiyah, keraguan mulai menyusup kedalam hati mereka, bahkan sebagian telah bersedia hendak memisahkan diri dan begabung dengan Ali.

    Setelah pemakaman ‘Ammar, beberapa saat kemudian kaum muslimin berdiri kerheran-heranan dikuburnya…! ‘Ammar berdendang di depan mereka di atas arena perjuangan, hatinya penuh dengan kemgembiraan, tak ubahnya bagi seorang perantau yang merindukan kampung halaman, tiba-tiba dibawa pulang, dan terlontarlah seruan dari mulutnya:

    “Hari ini aku akan berjumpa dengan para kekasih tercinta, dengan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.”

    Apakah ia telah mengetahui hari yang mereka ja njikan akan dijumpainya? Para sahabat saling jumpa-menjumpai dan bertanya, “Apakah anda masih ingat waktu sore hari itu di Madinah, ketika kita sedang duduk-duduk bersama Rasulullah SAW, dan wajahnya berseri-seri lalu bersabda, “Syurga telah merindukan ‘Ammar.”

    “Benar,” ujar yang lain. “Dan waktu itu, juga disebutnya nama-nama yang lain, diantaranya: ‘Ali, Salman dan Bilal…

    Sumber: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah, Khalid Muh. Khalid

     
  • erva kurniawan 2:09 am on 24 September 2014 Permalink | Balas  

    Kisah Abu Hurairah R.A. Mengawal Gudang Zakat. 

    hurairaKisah Abu Hurairah R.A. Mengawal Gudang Zakat.

    Dikatakan pada satu ketika Abu Hurairah r.a. telah diamanahkan oleh Rasulullah S.A.W. untuk menjaga gudang hasil zakat. Pada suatu malam Abu Hurairah r.a. melihat seseorang mengendap-gendap hendak mencuri, lalu ditangkapnya. Orang itu pun hendak dibawanya bertemu Rasulullah S.A.W. tetapi pencuri itu merayu minta dikasihani seraya menyatakan bahwa dia mencuri untuk menafkahi keluarganya yang kelaparan.

    Abu Hurairah r.a. merasa kasihan lalu melepaskan pencuri itu dengan berpesan agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.

    Keesokkan harinya peristiwa tersebut dilaporkan kepada Rasulullah S.A.W. Rasulullah S.A.W. tersenyum lalu bersabda bahwa pencuri itu pasti akan kembali.

    Ternyata keesokkan malamnya pencuri itu datang lagi. Sekali lagi Abu Hurairah r.a. menangkap pencuri itu lalu hendak dibawanya berjumpa dengan Rasulullah S.A.W. Sekali lagi, pencuri itu merayu dan membuat Abu Hurairah r.a. merasa kasihan lalu melepaskannya sekali lagi. Keesokkan harinya, dia melaporkan hal tersebut kepada Rasulullah S.A.W. yang mengulangi sabdanya bahwa pencuri itu pasti akan kembali.

    Dan ternyata benar, akhirnya pencuri itu ditangkap sekali lagi oleh Abu Hurairah r.a. dan mengancam akan membawanya menemui Rasulullah S.A.W. Pencuri itu merayu meminta dibebaskan sekali lagi lagi. Tetapi Abu Hurairah r.a. enggan melepaskannya, pencuri itu menyatakan dia akan mengajar sesuatu yang baik sekiranya ia di bebaskan. Pencuri itu menyatakan bahwa sekiranya seseorang itu membaca ayat Kursi sebelum tidur shaitan tidak akan menggangguinya.

    Abu Hurairah r.a. merasa tersentuh mendengarkan ajaran pencuri itu lalu melepaskannya pergi. Keesokkan harinya dia melaporkan peristiwa tersebut kepada Rasulullah S.A.W. yang bersabda, pencuri yang ditemuinya itu adalah pembohong besar, tetapi apa yang diajarkan kepada Abu Hurairah r.a. itu adalah perkara yang benar. Sebenarnya pencuri itu adalah shaitan yang dilaknat.

    Walaupun Abu Hurairah r.a. merupakan seorang yang papa pada mulanya, dia telah dipinang oleh salah seorang majikannya yang kaya raya untuk putrinya, Bisrah binti Gazwan. Ini menunjukkan betapa Islam telah mengubah pandangan seseorang dari membedakan kelas kepada menyanjung keimanan. Abu Hurairah r.a. dipandang mulia karena kealiman dan kesalihannya. Perilaku islami telah memuliakannya, lebih dari kemuliaan pada masa jahiliah yang memandang kebangsawanan dan kekayaan sebagai ukuran kemuliaan.

    Sejak menikah, Abu Hurairah r.a. membagi malamnya kepada tiga bagian: untuk membaca Al-Quran, untuk tidur dan keluarga, dan untuk mengulang-ulang hadis. Dia dan keluarganya tetap hidup sederhana walaupun setelah menjadi orang berada . Abu Hurairah r.a. suka bersedekah, menjamu tamu, bahkan memberi sedekah rumahnya di Madinah untuk pembantu-pembantunya.

    Rasulullah S.A.W. pernah mengutuskan Abu Hurairah r.a. berdakwah ke Bahrain bersama Al-Ala ibn Abdillah Al-Hadrami r.a. Dia juga pernah diutus bersama Quddamah r.a. untuk mengutip jizyah di Bahrain, sambil membawa surat ke Amir Al-Munzir ibn Sawa At-Tamimi.

    Mungkin disebabkan oleh itu, Abu Hurairah r.a. diangkat menjadi Gubernur Bahrain ketika Umar r.a. menjadi Amirul Mukminin. Tapi pada 23 Hijrah, Umar r.a. memecatnya kerana Abu Hurairah r.a. dituduh menyimpan uang yang banyak sehingga 10,000 dinar. Ketika pembicaraan, Abu Hurairah r.a. berhasil membuktikan bahwa harta itu diperolehinya dari berternak kuda dan pemberian orang. Khalifah Umar r.a. menerima penjelasan itu dan memaafkannya. Lalu dia diminta menerima jabatan gubernur kembali, tapi Abu Hurairah r.a. menolak.

    Penolakan itu diiringi lima alasan. “Aku takut berkata tanpa pengetahuan; aku takut memutuskan perkara bertentangan dengan hukum (agama); aku tidak mau didebat; aku tak mau harta benda hasil pencarianku disita; dan aku takut nama baikku tercemar,” katanya. Dia memilih untuk tinggal di Madinah, menjadi warga biasa yang memperlihatkan kesetiaan kepada Umar, dan para pemimpin sesudahnya.

    Khalifah Umar ibn Khattab r.a. pula pernah melarang Abu Hurairah r.a. menyampaikan hadis dan hanya membolehkan menyampaikan ayat Al-Quran. Ini disebabkan tersebar berita bahwa Abu Hurairah r.a. banyak memetik hadis palsu. Larangan khalifah baru dibatalkan setelah Abu Hurairah r.a. mengutarakan hadis mengenai bahaya hadis palsu.

    Hadis itu bermakna,

    “Barangsiapa yang berdusta padaku (Nabi S.A.W.) secara sengaja, hendaklah mempersiapkan diri duduk dalam api neraka.”

    Hadis ini diriwayatkan Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-Darimi, dan Ahmad ibn Hanbal.

    Suatu ketika kediaman Amirul Mukminin Ustman ibn Affan r.a. dikepung pemberontak, dalam peristiwa yang dikenal sebagai al-fitnatul kubra (fitnah/bencana besar), Abu Hurairah r.a. bersama 700 orang Muhajirin dan Anshar mengawal rumah tersebut. Meski dalam keadaan siap untuk bertempur, Khalifah Ustman ibn Affan r.a. melarang pengikut setianya itu memerangi kaum pemberontak.

    Pada masa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a. , Abu Hurairah r.a. menolak tawaran menjadi gubernur Madinah. Ketika terjadi pertemuan antara Khalifah Ali dan lawannya, Muawiyah ibn Abi Sufyan, ia bersikap berkecuali dan menghindari fitnah. Setelah Muawiyah berkuasa, Abu Hurairah r.a. dilantik menjadi gubernur Madinah setelah diusulkan oleh Marwan ibn Hakam. Di Kota Penuh Cahaya (Al-Madinatul Munawwarah) ini pula ia mengembuskan nafas terakhir pada 57 atau 58 H. (676-678 M.) dalam usia 78 tahun. Abu Hurairah r.a. meninggalkan sebanyak 5,374 hadis.

    Hadis Abu Hurairah r.a. yang disepakati Imam Bukhari dan Muslim berjumlah 325 hadis, oleh Bukhari sendiri sebanyak 93 hadis, dan oleh Muslim sendiri 189 hadis. Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a. juga terdapat dalam kitab-kitab hadis lainnya.

    Terdapat pula golongan yang memperdebatkan tentang kesahihan hadis-hadis yang di sampaikan oleh Abu Hurairah r.a. seperti dari golongan orientalis barat, Ignaz Goldizihar yang telah membuat kritikan terhadap hadis dan para perawinya termasuk Abu Hurairah. Tuduhan beliau telah mempengaruhi beberapa penulis Islam seperti Ahmad Amin dan Mahmud Abu Rayyuh untuk mengkritik kedudukan Abu Hurairah sebagai perawi hadis. Tuduhan-tuduhan ini telah disanggah oleh Mustafa al Sibai dalam al Sunnah wa Makanatuha halaman 273-283.

    Selain golongan ini terdapat juga kritikan kuat dari golongan Syiah. Ini mungkin disebabkan Abu Hurairah r.a. merupakan penyokong Ustman ibn Affan r.a. dan juga pernah menjadi pegawai dinasti Umayah. Penolakannya menyandang jabatan gubernur ketika ditawarkan oleh Ali r.a. dan ketiadaan hadis yang berisi pujian atau pengistimewaan kepada Ali dan keluarganya mungkin merupakan sebab-sebab lain Abu Hurairah dikritik oleh kaum Syiah.

    (tamat)

    ***

    Sumber : Al-Sofwah

     
  • erva kurniawan 2:42 am on 23 September 2014 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup Imam Ibnu Majah 

    sunan-ibnu-majah1Riwayat Hidup Imam Ibnu Majah

    Sumber : Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Ibn Majah adalah seorang kepercayaan yang besar, yang disepakati tentang kejujurannya, dapat dijadikan argumentasi pendapat-pendapatnya. Ia mempunyai pengetahuan luas dan banyak menghafal hadits.

    Nama Lengkap, Kelahiran dan Wafatnya

    Imam Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah ar-Rabi’i al-Qarwini, pengarang kitab As-Sunan dan kitab-kitab bemanfaat lainnya. Kata “Majah” dalam nama beliau adalah dengan huruf “ha” yang dibaca sukun; inilah pendapat yang sahih yang dipakai oleh mayoritas ulama, bukan dengan “ta” (majat) sebagaimana pendapat sementara orang. Kata itu adalah gelar ayah Muhammad, bukan gelar kakeknya, seperti diterangkan penulis Qamus jilid 9, hal. 208. Ibn Katsr dalam Al-Bidayah wan-Nibayah, jilid 11, hal. 52.

    Imam Ibn Majah dilahirkan di Qaswin pada tahun 209 H, dan wafat pada tanggal 22 Ramadhan 273 H. Jenazahnya dishalatkan oleh saudaranya, Abu Bakar. Sedangkan pemakamannya dilakukan oleh kedua saudaranya, Abu Bakar dan Abdullah serta putranya, Abdullah.

    Pengembaraannya

    Ia berkembang dan meningkat dewasa sebagai orang yang cinta mempelajari ilmu dan pengetahuan, teristimewa mengenai hadits dan periwayatannya. Untuk mencapai usahanya dalam mencari dan mengumpulkan hadits, ia telah melakukan lawatan dan berkeliling di beberapa negeri. Ia melawat ke Irak, Hijaz, Syam, Mesir, Kufah, Basrah dan negara-negara serta kota-kota lainnya, untuk menemui dan berguru hadits kepada ulama-ulama hadits. Juga ia belajar kepada murid-murid Malik dan al-Lais, rahimahullah, sehingga ia menjadi salah seorang imam terkemuka pada masanya di dalam bidang ilmu nabawi yang mulia ini.

    Aktivitas Periwayatannya

    Ia belajar dan meriwayatkan hadits dari Abu Bakar bin Abi Syaibah, Muhammad bin Abdullah bin Numair, Hisyam bin ‘Ammar, Muhammad bin Ramh, Ahmad bin al-Azhar, Bisyr bin Adan dan ulama-ulama besar lain.

    Sedangkan hadits-haditsnya diriwayatkan oleh Muhammad bin ‘Isa al-Abhari, Abul Hasan al-Qattan, Sulaiman bin Yazid al-Qazwini, Ibn Sibawaih, Ishak bin Muhammad dan ulama-ulama lainnya.

    Penghargaan Para Ulama Kepadanya

    Abu Ya’la al-Khalili al-Qazwini berkata: “Ibn Majah adalah seorang kepercayaan yang besar, yang disepakati tentang kejujurannya, dapat dijadikan argumentasi pendapat-pendapatnya. Ia mempunyai pengetahuan luas dan banyak menghafal hadits.”

    Zahabi dalam Tazkiratul Huffaz, melukiskannya sebagai seorang ahli hadits besarm mufasir, pengarang kitab sunan dan tafsir, serta ahli hadits kenamaan negerinya.

    Ibn Kasir, seorang ahli hadits dan kritikus hadits berkata dalam Bidayah-nya: “Muhammad bin Yazid (Ibn Majah) adalah pengarang kitab sunan yang masyur. Kitabnya itu merupakan bukti atas amal dan ilmunya, keluasan pengetahuan dan pandangannya, serta kredibilitas dan loyalitasnya kepada hadits dan usul dan furu’.”

    Karya-karyanya

    Imam Ibn Majah mempunyai banyak karya tulis, di antaranya:

    1. Kitab As-Sunan, yang merupakan salah satu Kutubus Sittah (Enam Kitab Hadits yang Pokok).
    2. Kitab Tafsir Al-Qur’an, sebuah kitab tafsir yang besar manfatnya seperti diterangkan Ibn Kasir.
    3. Kitab Tarikh, berisi sejarah sejak masa sahabat sampai masa Ibn Majah.

    Sekilas Tentang Sunan Ibn Majah

    Kitab ini adalah salah satu kitab karya Imam Ibn Majah terbesar yang masih beredar hingga sekarang. Dengan kitab inilah, nama Ibn Majah menjadi terkenal.

    Ia menyusun sunan ini menjadi beberapa kitab dan beberapa bab. Sunan ini terdiri dari 32 kitab, 1.500 bab. Sedang jumlah haditsnya sebanyak 4.000 buah hadits.

    Kitab sunan ini disusun menurut sistematika fiqh, yang dikerjakan secara baik dan indah. Ibn Majah memulai sunan-nya ini dengan sebuah bab tentang mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Dalam bab ini ia menguraikan hadits-hadits yang menunjukkan kekuatan sunnah, kewajiban mengikuti dan mengamalkannya.

    Kedudukan Sunan Ibn Majah di antara Kitab-kitab Hadits

    Sebagian ulama tidak memasukkan Sunan Ibn Majah ke dalam kelompok “Kitab Hadits Pokok” mengingat derajat Sunan ini lebih rendah dari kitab-kitab hadits yang lima.

    Sebagian ulama yang lain menetapkan, bahwa kitab-kitab hadits yang pokok ada enam kitab (Al-Kutubus Sittah/Enam Kitab Hadits Pokok), yaitu:

    1. Sahih Bukhari, karya Imam Bukhari.
    2. Sahih Muslim, karya Imam Muslim.
    3. Sunan Abu Dawud, karya Imam Abu Dawud.
    4. Sunan Nasa’i, karya Imam Nasa’i.
    5. Sunan Tirmizi, karya Imam Tirmizi.
    6. Sunan Ibn Majah, karya Imam Ibn majah.

    Ulama pertama yang memandang Sunan Ibn Majah sebagai kitab keenam adalah al-Hafiz Abul-Fardl Muhammad bin Tahir al-Maqdisi (wafat pada 507 H) dalam kitabnya Atraful Kutubus Sittah dan dalam risalahnya Syurutul ‘A’immatis Sittah.

    Pendapat itu kemudian diikuti oleh al-Hafiz ‘Abdul Gani bin al-Wahid al-Maqdisi (wafat 600 H) dalam kitabnya Al-Ikmal fi Asma’ ar-Rijal. Selanjutnya pendapat mereka ini diikuti pula oleh sebagian besar ulama yang kemudian.

    Mereka mendahulukan Sunan Ibn Majah dan memandangnya sebagai kitab keenam, tetapi tidak mengkategorikan kitab AlMuwatta’ karya Imam Malik sebagai kitab keenam, padahal kitab ini lebih sahih daripada Sunan Ibn Majah, hal ini mengingat bahwa Sunan Ibn Majah banyak zawa’idnya (tambahannya) atas Kutubul Khamsah. Berbeda dengan Al-Muwatta’, yang hadits-hadits itu kecuali sedikit sekali, hampir seluruhnya telah termuat dalam Kutubul Khamsah.

    Di antara para ulama ada yang menjadikan Al-Muwatta’ susunan Imam Malik ini sebagai salah satu Usulus Sittah (Enam Kitab Pokok), bukan Sunan Ibn Majah. Ulama pertama yang berpendapat demikian adalah Abul Hasan Ahmad bin Razin al-Abdari as-Sarqisti (wafat sekitar tahun 535 H) dalam kitabnya At-Tajrid fil Jam’i Bainas-Sihah. Pendapat ini diikuti oleh Abus Sa’adat Majduddin Ibnul Asir al-Jazairi asy-Syafi’i (wafat 606 H). Demikian pula az-Zabidi asy-Syafi’i (wafat 944 H) dalam kitabnya Taysirul Wusul.

    Nilai Hadits-hadits Sunan Ibn Majah

    Sunan Ibn Majah memuat hadits-hadits sahih, hasan, dan da’if (lemah), bahkan hadits-hadits munkar dan maudu’ meskipun dalam jumlah sedikit.

    Martabat Sunan Ibn Majah ini berada di bawah martabat Kutubul Khamsah (Lima Kitab Pokok). Hal ini karena kitab sunan ini yang paling banyaknya hadits-hadits da’if di dalamnya.

    Oleh karena itu tidak seyogyanya kita menjadikan hadits-hadits yang dinilai lemah atau palsu dalam Sunan Ibn Majah ini sebagai dalil. Kecuali setelah mengkaji dan meneliti terlebih dahulu mengenai keadaan hadits-hadits tersebut. Bila ternyata hadits dimaksud itu sahih atau hasan, maka ia boleh dijadikan pegangan. Jika tidak demikian adanya, maka hadits tersebut tidak boleh dijadikan dalil.

    Sulasiyyat Ibn Majah

    Ibn Majah telah meriwayatkan beberapa buah hadits dengan sanad tinggi (sedikit sanadnya), sehingga antara dia dengan Nabi SAW hanya terdapat tiga perawi. Hadits semacam inilah yang dikenal dengan sebutan Sulasiyyat.

    ***

    Sumber: Kitab Hadis Sahih yang Enam, Muhammad Muhammad Abu Syuhbah

    Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia.

     
  • erva kurniawan 2:23 am on 22 September 2014 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup Imam Nasa’i 

    sunan-an-nasa-i-6-vol-setRiwayat Hidup Imam Nasa’i

    Sumber : Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Imam Nasa’i juga merupakan tokoh ulama kenamaan ahli hadits pada masanya. Selain Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Jami’ At-Tirmizi, juga kaya besar Imam Nasa’I, Sunanus Sugra termasuk jajaran kitab hadits pokok yang dapat dipercaya dalam pandangan ahli hadits dan para kritikus hadits.

    Nama Lengkap dan Kelahirannya

    Ia adalah seorang imam ahli hadits syaikhul Islam sebagaimana diungkapkan az-Zahabi dalam Tazkirah-nya Abu ‘Abdurrahman Ahmad bin ‘Ali bin Syu’aib ‘Ali bin Sinan bin Bahr al-Khurasani al-Qadi, pengarang kitab Sunan dan kitab-kitab berharga lainnya. Juga ia adalah seorang ulama hadits yang jadi ikutan dan ulama terkemuka melebihi para ulama yang hidup pada jamannya.

    Dilahirkan di sebuah tempat bernama Nasa’ pada tahun 215 H. Ada yang mengatakan pada tahun 214 H.

    Pengembaraannya

    Ia lahir dan tumbuh berkembang di Nasa’, sebuah kota di Khurasan yang banyak melahirkan ulama-ulama dan tokoh-tokoh besar. Di madrasah negeri kelahirannya itulah ia menghafal Al-Qur’an dan dari guru-guru neerinya ia menerima pelajaran ilmu-ilmu agama yang pokok. Setelah meningkat remaja, ia senang mengembara untuk mendapatkan hadits. Belum lagi berusia 15 tahun, ia berankat mengembara menuju Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan Jazirah. Kepada ulama-ulama negeri tersebut ia belajar hadits, sehingga ia menjadi seorang yang sangat terkemuka dalam bidang hadits yang mempunyai sanad yang ‘Ali (sedikit sanadnya) dan dalam bidang kekuatan periwayatan hadits.

    Nasa’i merasa cocok tinggal di Mesir. Karenanya, ia kemudian menetap di negeri itu, di jalan Qanadil. Dan seterusnya menetap di kampung itu hingga setahun menjelang wafatnya. Kemudian ia berpindah ke Damsyik. Di tempatnya yang baru ini ia mengalami suatu peristiwa tragis yang menyebabkan ia menjadi syahid. Alkisah, ia dimintai pendapat tentang keutamaan Mu’awiyyah r.a. Tindakan ini seakan-akan mereka minta kepada Nasa’i agar menulis sebuah buku tentang keutamaan Mu’awiyyah, sebagaimana ia telah menulis mengenai keutamaan Ali r.a. Oleh karena itu ia menjawab kepada penanya tersebut dengan “Tidakkah Engkau merasa puas dengan adanya kesamaan derajat (antara Mu’awiyyah dengan Ali), sehingga Engkau merasa perlu untuk mengutamakannya?” Mendapat jawaban seperti ini mereka naik pitam, lalu memukulinya sampai-sampai buah kemaluannya pun dipukul, dan menginjak-injaknya yang kemudian menyeretnya keluar dari masjid, sehingga ia nyaris menemui kematiannya.

    Wafatnya

    Tidak ada kesepakatan pendapat tentang di mana ia meninggal dunia. Imam Daraqutni menjelaskan, bahwa di saat mendapat cobaan tragis di Damsyik itu ia meminta supaya dibawa ke Makkah. Permohonannya ini dikabulkan dan ia meninggal di Makkah, kemudian dikebumikan di suatu tempat antara Safa dan Marwah. Pendapat yang sama dikemukakan pula oleh Abdullah bin Mandah dari Hamzah al-‘Uqbi al-Misri dan ulama yang lain.

    Imam az-Zahabi tidak sependapat dengan pendapat di atas. Menurutnya yang benar ialah bahwa Nasa’i meningal di Ramlah, suatu tempat di Palestina. Ibn Yunus dalam Tarikhnya setuju dengan pendapat ini, demikian juga Abu Ja’far at-Tahawi dan Abu Bakar bin Naqatah. Selain pendapat ini menyatakan bahwa ia meninggal di Ramlah, tetapi yang jelas ia dikebumikan di Baitul Maqdis. Ia wafat pada tahun 303 H.

    Sifat-sifatnya

    Ia bermuka tampan. Warna kulitnya kemerah-merahan dan ia senang mengenakan pakaian garis-garis buatan Yaman. Ia adalah seorang yang banyak melakukan ibadah, baik di waktu malam atau siang hari, dan selalu beribadah haji dan berjihad.

    Ia sering ikut bertempur bersama-sama dengan gubernur Mesir. Mereka mengakui kesatriaan dan keberaniannya, serta sikap konsistensinya yang berpegang teguh pada sunnah dalam menangani masalah penebusan kaum Muslimin yang tetangkap lawan. Dengan demikian ia dikenal senantiasa “menjaga jarak” dengan majelis sang Amir, padahal ia tidak jarang ikut bertempur besamanya. Demikianlah. Maka, hendaklah para ulama itu senantiasa menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan. Namun ada panggilan untuk berjihad, hendaklah mereka segera memenuhi panggilan itu. Selain itu, Nasa’i telah mengikuti jejak Nabi Dawud, sehari puasa dan sehari tidak.

    Fiqh Nasa’i

    Ia tidak saja ahli dan hafal hadits, mengetahui para perawi dan kelemahan-kelemahan hadits yang diriwayatkan, tetapi ia juga ahli fiqh yang berwawasan luas.

    Imam Daraqutni pernah berkata mengenai Nasa’i bahwa ia adalah salah seorang Syaikh di Mesirr yang paling ahli dalam bidang fiqh pada masanya dan paling mengetahui tentang hadits dan perawi-perawi.

    Ibnul Asirr al-Jazairi menerangkan dalam mukadimah Jami’ul Usul-nya, bahwa Nasa’i bermazhab Syafi’i dan ia mempunyai kitab Manasik yang ditulis berdasarkan mazhab Safi’i, rahimahullah.

    Karya-kayanya

    Imam Nasa’i telah menulsl beberapa kitab besar yang tidak sedikit jumlahnya. Di antaranya:

    1. As-Sunanul-Kuba.
    2. As-Sunanus-Sugra, tekenal dengan nama Al-Mujtaba.
    3. Al-Khasa’is.
    4. Fada’ilus-Sahabah.
    5. Al-Manasik.

    Di antara karya-karya tersebut, yang paling besar dan bemutu adalah Kitab As-Sunan.

    Sekilas tentang Sunan An-Nasa’i

    Nasa’i menerima hadits dari sejumlah guru hadits terkemuka. Di antaranya ialah Qutaibah Imam Nasa’i Sa’id. Ia mengunjungi kutaibah ketika berusia 15 tahun, dan selama 14 bulan belajar di bawah asuhannya. Guru lainnya adalah Ishaq bin Rahawaih, al-Haris bin Miskin, ‘Ali bin Khasyram dan Abu Dawud penulis as-Sunan, serta Tirmizi, penulis al-Jami’.

    Hadits-haditsnya diriwayatkan oleh para ulama yang tidak sedikit jumlahnya. Antara lain Abul Qasim at-Tabarani, penulis tiga buah Mu’jam, Abu Ja’far at-Tahawi, al-Hasan bin al-Khadir as-Suyuti, Muhammad bin Mu’awiyyah bin al-Ahmar al-Andalusi dan Abu Bakar bin Ahmad as-Sunni, perawi Sunan Nasa’i.

    Ketika Imam Nasa’i selesai menyusun kitabnya, As-Sunanul-Kubra, ia lalu menghadiahkannya kepada Amir ar-Ramlah. Amir itu betanya: “Apakah isi kitab ini sahih seluruhnya?” “Ada yang sahih, ada yang hasan dan ada pula yang hampir serupa dengan keduanya,” jawabnya. “Kalau demikian,” kata sang Amir, “Pisahkan hadits-hadits yang sahih saja.” Atas permintaan Amir ini maka Nasa’i berusaha menyeleksinya, memilih yang sahih-sahih saja, kemudian dihimpunnya dalam suatu kitab yang dinamakan As-Sunanus-Sugra. Dan kitab ini disusun menurut sistematika fiqh sebagaimana kitab-kitab Sunan yang lain.

    Imam Nasa’i sangat teliti dalam menyusun kitab Sunanus Sugra. Karenanya ulama berkata: “Kedudukan kitab Sunan Sugra ini di bawah derajat Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, karena sedikit sekali hadits dha’if yang tedapat di dalamnya.” Oleh karena itu, kita dapatkan bahwa hadits-hadits Sunan Sugra yang dikritik oleh Abul Faraj ibnul al-Jauzi dan dinilainya sebagai hadits maudu’ kepada hadits-hadits tersebut tidak sepenuhnya dapat diterima. As-Suyuti telah menyanggahnya dan mengemukakan pandangan yang berbeda dengannya mengenai sebagian besar hadits yang dikritik itu. Dalam Sunan Nasa’i terdapat hadits-hadits sahih, hasan, dan dha’if, hanya saja hadits yang dha’if sedikit sekali jumlahnya. Adapun pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa isi kitab Sunan ini sahih semuanya, adalah suatu anggapan yang terlalu sembrono, tanpa didukung oleh penelitian mendalam. Atau maksud pernyataan itu adalah bahwa sebagian besar ini Sunan adalah hadits sahih.

    Sunanus-Sugra inilah yang dikategorikan sebagai salah satu kitab hadits pokok yang dapat dipercaya dalam pandangan ahli hadits dan para kritikus hadits. Sedangkan Sunanul-Kubra, metode yang ditempuh Nasa’i dalam penyusunannya adalah tidak meriwayatkan sesuatu hadits yang telah disepakati oleh ulama kritik hadits untuk ditinggalkan.

    Apabila sesuatu hadits yang dinisbahkan kepada Nasa’i, misalnya dikatakan, “hadits riwayat Nasa’i”, maka yang dimaksudkan ialah “riwayat yang di dalam Sunanus Sugra, bukan Sunanul-Kubra”, kecuali yang dilakukan oleh sebagian kecil para penulis. Hal itu sebagaimana telah diterangkan oleh penulis kitab ‘Aunul-Ma’bud Syarhu Sunan Abi Dawud pada bagian akhir uraiannya: “Ketahuilah, pekataan al-Munziri dalam Mukhtasar-nya dan perkataan al-Mizzi dalam Al-Atraf-nya, hadits ini diriwayatkan oleh Nasa’i”, maka yang dimaksudkan ialah riwayatnya dalam As-Suanul-Kubra, bukan Sunanus-Sugra yang kini beredar di hampir seluruh negeri, seperti India, Arabia, dan negeri-negeri lain. Sunanus-Sugra ini merupakan ringkasan dari Sunanul-Kubra dan kitab ini hampir-hampir sulit ditemukan. Oleh karena itu hadits-hadits yang dikatakan oleh al-Munziri dan al-Mizzi, “diriwayatkan oleh Nasa’i” adalah tedapat dalam Sunanul-Kubra. Kita tidak perlu bingung dengan tiadanya kitab ini, sebab setiap hadits yang tedapat dalam Sunanus-Sugra, terdapat pula dalam Sunanul-Kubra dan tidak sebaliknya.

    Mengakhiri pengkajian ini, perlu ditegaskan kembali, bahwa Sunan Nasa’i adalah salah satu kitab hadits pokok yang menjadi pegangan.

    ***

    Sumber: Kitab Hadits Sahih yang Enam, Muhammad Muhammad Abu Syuhbah

    Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 21 September 2014 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup Imam Abu Daud 

    H19-SunanAbuDawudRiwayat Hidup Imam Abu Daud

    Sumber : Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Setelah Imam Bukhari dan Imam Muslim, kini giliran Imam Abu Dawud yang juga merupakan tokoh kenamaan ahli hadits pada jamannya. Kealiman, kesalihan dan kemuliaannya semerbak mewangi hingga kini.

    Nama Lengkap dan Tahun Kelahirannya:

    Abu Dawud nama lengkapnya ialah Sulaiman bin al-Asy’as bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin ‘Amr al-Azdi as-Sijistani, seorang imam ahli hadits yang sangat teliti, tokoh terkemuka para ahli hadits setelah dua imam hadits Bukhari dan Muslim serta pengarang kitab Sunan. Ia dilahirkan pada tahun 202 H/817 M di Sijistan.

    Perkembangan dan Perlawatannya

    Sejak kecilnya Abu Dawud sudah mencintai ilmu dan para ulama, bergaul dengan mereka untuk dapat mereguk dan menimba ilmunya.

    Belum lagi mencapai usia dewasa, ia telah mempersiapkan dirinya untuk mengadakan perlawatan, mengelilingi berbagai negeri. Ia belajar hadits dari para ulama yang tidak sedikit jumlahnya, yang dijumpainya di Hijaz, Syam, Mesir, Irak, Jazirah, Sagar, Khurasan dan negeri-negeri lain. Perlawatannya ke berbagai negeri ini membantu dia untuk memperoleh pengetahuan luas tentang hadits, kemudian hadits-hadits yang diperolehnya itu disaring dan hasil penyaringannya dituangkan dalam kitab As-Sunan. Abu Dawud mengunjungi Baghdad berkali-kali. Di sana ia mengajarkan hadits dan fiqh kepada para penduduk dengan memakai kitab Sunan sebagai pegangannya. Kitab Sunan karyanya itu diperlihatkannya kepada tokoh ulama hadits, Ahmad bin Hanbal. Dengan bangga Imam Ahmad memujinya sebagai kitab yang sangat indah dan baik.

    Kemudian Abu Dawud menetap di Basrah atas permintaan gubernur setempat yang menghendaki supaya Basrah menjadi “Ka’bah” bagi para ilmuwan dan peminat hadits.

    Guru-gurunya

    Para ulama yang menjadi guru Imam Abu Dawud banyak jumlahnya. Di antaranya guru-guru yang paling terkemuka ialah Ahmad bin Hanbal, al-Qa’nabi, Abu ‘Amr ad-Darir, Muslim bin Ibrahim, Abdullah bin Raja’, Abu’l Walid at-Tayalisi dan lain-lain. Sebagian gurunya ada pula yang menjadi guru Imam Bukhari dan Imam Muslim, seperti Ahmad bin Hanbal, Usman bin Abi Syaibah dan Qutaibah bin Sa’id.

    Murid-muridnya (Para Ulama yang Mewarisi Haditsnya)

    Ulama-ulama yang mewarisi haditsnya dan mengambil ilmunya, antara lain Abu ‘Isa at-Tirmizi, Abu Abdur Rahman an-Nasa’i, putranya sendiri Abu Bakar bin Abu Dawud, Abu Awanah, Abu Sa’id al-A’rabi, Abu Ali al-Lu’lu’i, Abu Bakar bin Dassah, Abu Salim Muhammad bin Sa’id al-Ja