Updates from September, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:00 am on 30 September 2012 Permalink | Balas  

    Cara Menyucikan Hati 

    Cara Menyucikan Hati

    Hati itu bagaikan kaca mata. Kalau kita menggunakan kaca mata yang bening, apa yang kita lihat akan tampak apa adanya. Yang putih akan jelas putihnya, yang coklat muda akan jelas warna aslinya. Namun kalau kita menggunakan kaca mata hitam, apa yang kita lihat tidak akan sesuai aslinya. Yang putih akan kelihatan abu muda dan warna coklat muda akan menjadi coklat tua. Demikian juga hati, kalau hati jernih, kita akan melihat realita itu apa adanya, sementara kalau hati kita kotor atau hitam, kita akan melihat realita itu tidak seperti sebenarnya.

    Oleh karena itu, mulia tidaknya seseorang tidak dilihat dari tampilan lahiriahnya tapi dari performa batiniah atau hatinya.

    “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta-hata kamu tapi melihat hati dan perbuatanmu.” (H.R. Muslim).

    Al Qurtubi berkata, “Ini sebuah hadits agung yang mengandung pengertian tidak diperbolehkankannya bersikap terburu-buru dalam menilai baik atau buruknya seseorang hanya karena melihat gambaran lahiriah dari perbuatan taat atau perbuatan menyimpangnya.

    Ada kemungkinan di balik pekerjaan saleh yang lahiriah itu, ternyata di hatinya tersimpan sifat atau niat buruk yang menyebabkan perbuatannya tidak sah dan dimurkai Allah swt. Sebaliknya, ada kemungkinan pula seseorang yang terlihat teledor dalam perbuatannya atau bahkan berbuat maksiat, ternyata di hatinya terdapat sifat terpuji yang karenanya Allah swt. memaafkannya.

    Sesungguhnya perbuatan-perbuatan lahir itu hanya merupakan tanda-tanda dhanniyyah (yang diperkirakan) bukan qath’iyyah (bukti-bukti yang pasti). Oleh karena itu tidak diperkenankan berlebih-lebihan dalam menyanjung seseorang yang kita saksikan tekun melaksanakan amal saleh, sebagaimana tidak diperbolehkan pula menistakan seorang muslim yang kita pergoki melakukan perbuatan buruk atau maksiat. Demikian Imam Qurtubi menjelaskan dalam tafsirnya.

    Rasulullah saw. bersabda dalam riwayat lain,

    “Ali bin Abi Thalib r.a. menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tiada satu hati pun kecuali memiliki awan seperti awan menutupi bulan. Walaupun bulan bercahaya, tetapi karena hatinya ditutup oleh awan, ia menjadi gelap. Ketika awannya menyingkir, ia pun kembali bersinar.” (H.R.Bukhari dan Muslim)

    Hadits ini memberikan ilustrasi yang sangat indah. Hati manusia itu sesungguhnya bersih atau bersinar, namun suka tertutupi oleh awan kemaksitan hingga sinarnya menjadi tidak tampak. Oleh sebab itu, kita harus berusaha menghilangkan awan yang menutupi cahaya hati kita. Bagaimana caranya?

    1. Introspeksi diri

    Introspeksi diri dalam bahasa arab disebut Muhasabatun Nafsi, artinya mengidentifikasi apa saja penyakit hati kita. Semua orang akan tahu apa sebenarnya penyakit qalbu (hati) yang dideritanya itu.

    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S.Al-Hasyr 59 : 18)

    2. Perbaikan Diri

    Perbaikan diri dalam bahasa populer disebut taubat. Ini merupakan tindak lanjut dari introspeksi diri. Ketika melakukan introspeksi diri, kita akan menemukan kekurangan atau kelemahan diri kita. Nah, kekurangan-kekurangan tersebut harus kita perbaiki secara bertahap. Alangkah rugi kalau kita hanya pandai mengidentifikasi kelemahan diri tapi tidak memperbaikinya.

    “Hai orang-orang yang beriman, Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkah kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,..” (Q.S.At-Tahrim 66:8)

    3. Tadabbur Al Qur’an

    Tadabbur Al Qur’an artinya menelaah isi Al-Qur’an, lalu menghayati dan mengamalkannya. Hati itu bagaikan tanaman yang harus dirawat dan dipupuk. Nah, di antara pupuk hati adalah tadabbur Qur’an. Allah menyebutkan orang-orang yang tidak mau mentadabburi Qur’an sebagai orang yang tertutup hatinya. Artinya, kalau hati kita ingin terbuka dan bersinar, maka tadabburi Qur’an.

    “Mengapa mereka tidak tadabbur (memperhatikan) Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci atau tertutup.” (Q.S.Muhammad 47 : 24)

    4. Menjaga Kelangsungan Amal Saleh

    Amal saleh adalah setiap ucapan atau perbuatan yang dicintai dan diridoi Allah swt. Apabila kita ingin memiliki hati yang bening, jagalah keberlangsungan amal saleh sekecil apapun amal tersebut. Misalnya, kalau kita suka rawatib, lakukan terus sesibuk apapun, kalau kita biasa pergi ke majelis ta’lim, kerjakan terus walau pekerjaan kita menumpuk. Rasulullah saw bersabda,

    “.Beramallah semaksimal yang kamu mampu, karena Allah tidak akan bosan sebelum kamu bosan, dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang kontinyu (terus-menerus) walaupun sedikit.” (H.R. Bukhari)

    5. Mengisi Waktu dengan Zikir

    Zikir artinya ingat atau mengingat. Dzikrullah artinya selalu mengingat Allah. Ditinjau dari segi bentuknya, ada dua macam zikir. Pertama, zikir Lisan, artinya ingat kepada Allah dengan melafadzkan ucapan-ucapan zikir seperti Subhannallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa Ilaaha illallah, dll. Kedua, Zikir Amali, artinya zikir (ingat) kepada Allah dalam bentuk penerapan ajaran-ajaran Allah swt. dalam kehidupan. Misalnya, jujur dalam bisnis, tekun saat bekerja, dll. Hati akan bening kalau hidup selalu diisi dengan zikir lisan dan amali.

    “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Q.S.Al-Ahzab 33 : 41-42)

    “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah 2 :152)

    6. Bergaul dengan Orang-Orang Saleh

    Lingkungan akan mempengaruhi perilaku seseorang. Karena itu, kebeningan hati erat juga kaitannya dengan siapakah yang menjadi sahabat-sahabat kita. Kalau kita bersahabat dengan orang yang jujur, amanah, taat pada perintah Allah, tekun bekerja, semangat dalam belajar, dll., diharapkan kita akan terkondisikan dalam atmosfir (suasana) kebaikan. Sebaliknya, kalau kita bergaul dengan orang pendendam, pembohong, pengkhianat, lalai akan ajaran-ajaran Allah, dll., dikhawatirkan kita pun akan terseret arus kemaksiatan tersebut. Kerena itu, Allah swt.. mengingatkan agar kita bergaul dengan orang-orang saleh seperti dikemukakan dalam ayat berikut.

    “Dan bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di waktu pagi dan petang, mereka mengharapkan keridoan-Nya, dan janganlah kamu palingkan kedua matamu dari mereka karena menghendaki perhiasan hidup dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya; dan adalah keadaan itu melewati batas.” (Q.S. Al-Kahfi 18 : 28)

    7. Berbagi Kasih dengan Fakir, Miskin, dan Yatim

    Berbagi cinta dan ceria dengan saudara-saudara kita yang fakir, miskin, dan yatim merupakan cara yang sangat efektif untuk meraih kebeningan hati, sebab dengan bergaul bersama mereka kita akan merasakan penderitaan orang lain. Rasulullah saw. bersabda,

    “Abu Hurairah r.a. bercerita, bahwa seseorang melaporkan kepada Rasulullah saw. tentang kegersangan hati yang dialaminya. Beliau saw. menegaskan, “Bila engkau mau melunakkan (menghidupkan) hatimu, beri makanlah orang-orang miskin dan sayangi anak-anak yatim.” (H.R. Ahmad).

    8. Mengingat Mati

    Modal utama manusia adalah umur. Umur merupakan bahan bakar untuk mengarungi kehidupan. Kebeningan hati berkaitan erat dengan kesadaran bahwa suatu saat bahan bakar kehidupan kita akan manipis dan akhirnya habis. Kesadaran ini akan menjadi pemacu untuk selalu membersihkan hati dari awan kemaksiatan yang menghalangi cahaya hati. Rasulullah saw. menganjurkan agar sering berziarah supaya hati kita lembut dan bening.

    “Anas r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Dulu, aku pernah melarang kalian berziarah ke kuburan. Namun sekarang, berziarahlah, karena ia dapat melembutkan hati, mencucurkan air mata, dan mengingatkan akan hari akhirat.” (H.R.Hakim)

    9. Menghadiri Majelis Ilmu

    Hati itu bagaikan tanaman, ia harus dirawat dan dipupuk. Di antara pupuk hati adalah ilmu. Karena itu, menghadiri majelis ilmu akan menjadi media pensucian hati. Rasulullah saw. menyebutkan bahwa Allah swt. akan menurunkan rahmat, ketenangan dan barakah pada orang-orang yang mau menghadiri majelis ilmu dengan ikhlas.

    “Tidak ada kaum yang duduk untuk mengingat Allah, kecuali malakikat akan menghampirinya, meliputinya dengan rahmat dan diturunkan ketenangan kepada mereka, dan Allah akan menyebutnya pada kumpulan (malaikat) yang ada di sisi-Nya.” (H.R. Muslim)

    10. Berdo’a kepada Allah swt.

    Allah swt. Maha Berkuasa untuk membolak balikan hati seseorang. Karena itu sangat logis kalau kita diperintahkan untuk meminta kepada-Nya dijauhkan dari hati yang busuk dan diberi hati yang hidup dan bening. Menurut Ummu salamah r.a,. do’a yang sering dibaca Rasulullah saat meminta kebeningan hati adalah: Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Wahai yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah hatiku berpegang pada agama-Mu). Perhatikan riwayat berikut,.

    “Syahr bin Hausyab r.a. mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah, “Wahai ibu orang-orang yang beriman, do’a apa yang selalu diucapkan Rasulullah saw. saat berada di sampingmu?” Ia menjawab: “Do’a yang banyak diucapkannya ialah, ‘Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Wahai yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah qalbuku pada agama-Mu).” ” Ummu Salamah melanjutkan, “Aku pernah bertanya juga, “Wahai Rasulullah, alangkah seringnya engkau membaca do’a: “Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika.” Beliau menjawab: “Wahai Ummu Salamah, tidak ada seorang manusia pun kecuali qalbunya berada antara dua jari Tuhan Yang Maha Rahman. Maka siapa saja yang Dia kehendaki, Dia luruskan, dan siapa yang Dia kehendaki, Dia biarkan dalam kesesatan.” (H.R.Ahmad dan Tirmidzi. Menurutnya hadits ini hasan)

    Selain do’a di atas, Ibnu Abbas r.a. menceritakan bahwa ketika menginap di rumah Rasulullah saw., ia pernah mendengar beliau mengucapkan do’a berikut,

    “Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, di lidahku cahaya, di pendengaranku cahaya, di penglihatanku cahaya. Jadikan di belakangku cahaya, di hadapanku cahaya, dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya. Ya Allah berikan kepadaku cahaya.” (H.R.Muslim)

    Kesimpulannya, hati merupakan panglima untuk seluruh anggota jasad kita. Kalau hati bening, kelakuan kita pun akan beres. Tapi kalau hati kita busuk, seluruh amaliah pun busuk. Ada sepuluh cara agar kita memiliki hati yang suci, yaitu; Introspeksi diri, perbaikan diri, tadabbur Qur’an, menjaga kelangsungan amal saleh, mengisi waktu dengan zikir, bergaul dengan orang-orang saleh, berbagi kasih dengan fakir miskin dan anak yatim, mengingat mati, menghadiri majelis ta’lim, dan berdo’a kepada Allah swt. Mudah-mudahan Allah swt. selalu memberi kepada kita hati yang bening. Amiin . Wallahu A’lam

    ***

    Sumber : percikan-iman.com

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 29 September 2012 Permalink | Balas  

    Tangisan Sang Nabi 

    Tangisan Sang Nabi

    Setiap pohon yang tidak berbuah, seperti pohon pinus dan pohon cemara, tumbuh tinggi dan lurus, mengangkat kepalanya ke atas, dan semua cabangnya mengarah ke atas. Sedangkan semua pohonnya yang berbuah menundukkan kepala mereka, dan cabang-cabang mereka mengembang ke samping.

    Rasulullah adalah orang yang paling rendah hati, meskipun dia memiliki segala kebajikan dan keutamaan orang-orang dahulu kala dan orang-orang sekarang, dia seperti sebuah pohon yang berbuah. Menurut sebuah riwayat, beliau bersabda, “Aku diperintahkan untuk menunjukkan perhatian kepada semua manusia, untuk bersikap baik hati kepada mereka. Tidak ada Nabi yang sedemikian diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh manusia selain aku.”

    Kita tahu bahwa beliau dilukai kepalanya, ditanggalkan giginya, lututnya berdarah karena lemparan batu, tubuhnya dilumuri kotoran, rumahnya dilempari kotoran ternak. Beliau di hina, dan di siksa dengan keji.

    Saat beliau berdakwah di Thaif, tak ada yang didapatkannya kecuali hinaan dan pengusiran yang keji. Ketika Rasulullah menyadari usaha dakwahnya itu tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Thaif. Tetapi penduduk Thaif tidak membiarkan beliau keluar dengan aman, mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemparan batu yang mengenai Nabi demikian hebat, sehingga tubuh beliau berlumuran darah.

    Dalam perjalanan pulang, Rasulullah Saw. menjumpai suatu tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut. Di sana beliau berdoa begitu mengharukan dan menyayat hati. Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan Nabi, sehingga Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemuinya. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril memberi salam seraya berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.” Sambil berkata demikian, Jibril memperlihatkan para malaikat itu kepada Rasulullah Saw.

    Kata malaikat itu, “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintah tuan. Jika tuan mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”

    Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah Saw. dengan sifat kasih sayangnya berkata, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.”

    Ketika Makkah berhasil ditaklukkan, beliau berkata kepada orang-orang yang pernah menyiksanya, “Bagaimanakah menurut kalian, apakah yang akan kulakukan terhadapmu?” Mereka menangis dan berkata, “Engkau adalah saudara yang mulia, putra saudara yang mulia.” Nabi Saw. bersabda, “Pergilah kalian! Kalian adalah orang-orang yang dibebaskan. Semoga Allah mengampuni kalian.” (HR. Thabari, Baihaqi, Ibnu Hibban, dan Syafi’i).

    Abu Sufyan bin Harits, sepupu beliau, lari dengan membawa semua anak-anaknya karena pernah menyakiti Rasul Saw., maka Ali bin Abi Thalib Ra. bertanya kepadanya, “Hai Abu Sufyan, hendak pergi kemanakah kamu?” Ia menjawab, “Aku akan keluar ke padang sahara. Biarlah aku dan anak-anakku mati karena lapar, haus, dan tidak berpakaian.”

    Ali bertanya, “Mengapa kamu lakukan itu?” Ia menjawab, “Jika Muhammad menangkapku, niscaya dia akan mencincangku dengan pedang menjadi potongan-potongan kecil.”

    Ali berkata, “Kembalilah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya dengan mengakui kenabiannya dan katakanlah kepadanya sebagaimana yang pernah dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf, ..Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). (QS. Yusuf [12]: 91).

    Abu Sufyan pun kembali kepada Nabi Saw. dan berdiri di dekat kepalanya, lalu mengucapkan salam kepada beliau seraya berkata, Wahai Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan engkau atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). (QS. Yusuf [12]: 91).

    Rasulullah Saw. pun menengadahkan pandangannya, sedang air matanya membasahi pipinya yang indah hingga membasahi jenggotnya. Rasulullah menjawab dengan menyitir firman-Nya, .Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. (QS. Yusuf [12]: 92).

    Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, “Bacakan al-Quran kepadaku.”

    Ibnu Mas’ud berkata, “Bagaimana aku membacakannya kepada Engkau, sementara al-Quran itu sendiri diturunkan kepada Engkau?”

    “Aku ingin mendengarnya dari orang lain,” jawab beliau. Lalu Ibnu Mas’ud membaca surat an-Nisa hingga firman-Nya, Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (QS. an-Nis・[4]: 41).

    Begitu bacaan tiba pada ayat ini, beliau bersabda, “Cukup.”

    Ibnu Mas’ud melihat ke arah beliau, dan terlihatlah olehnya bahwa beliau sedang menangis.

    Dalam kisah ini kita memperoleh pelajaran berharga, bahwa Rasulullah Saw. sangat mencintai umat manusia. Beliau sangat mengharapkan agar orang-orang kafir itu beriman. Karena balasan kekafiran adalah neraka yang menyala-nyala. Rasulullah sendiri pernah melihat neraka. Dia melihat sungguh mengerikan neraka itu. Hingga ketika menyadari hal itu, mengalirlah airmatanya dengan deras.

    Abu Dzar Ra. meriwayatkan dari Nabi Saw., bahwa beliau mendirikan shalat malam, sambil menangis dengan membaca satu ayat yang diulang-ulangi, yaitu, Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau juga. (QS. al-Maidah [5]: 118).

    Dan diriwayatkan saat hari kiamat tiba, beliaulah orang yang pertama kali dibangkitkan. Yang diucapkannya pertama kali adalah, “Mana umatku? Mana umatku? Mana umatku?” Beliau ingin masuk surga bersama-sama umatnya. Beliau kucurkan syafaat kepada umatnya sebagai tanda kecintaan beliau terhadap mereka. Beliau juga sering berdoa, Allahumma salimna ummati. Ya Allah selamatkan umatku.

    Keadaan diri Nabi Muhammad Saw. digambarkan Allah Swt. dalam firman-Nya, Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. at-Taubah [9]: 129).

    Alangkah buruknya akhlak kita bila tak mencintai Nabi, sebagaimana Nabi mencintai kita, berkorban untuk kita, dan meneteskan airmatanya untuk kita. Di sini, apakah kita hanya berdiam diri saat Nabi dihina, seolah kita bukan lagi umatnya. Apakah kita rela Nabi berdakwah seorang diri dan kemudian dilempari batu hingga berdarah-darah, sementara umatnya yang begitu banyak hanya bisa berdiam diri? Tangisan sang Nabi hendaknya menjadi pengingat kita, untuk lebih mencintainya, membelanya, bahkan berkorban nyawa untuknya, sebagaimana ia telah berkorban nyawa untuk kita agar kita selamat dari siksa neraka.

    ***

    Oleh Chandra Kurniawan

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 28 September 2012 Permalink | Balas  

    Jangan Su’udzon (Buruk Sangka) Kepada Allah 

    Jangan Su’udzon (Buruk Sangka) Kepada Allah

    “Barang siapa yang mengira lenyapnya kasih sayang Allah dari ketetapan (Qodar) Allah, maka yang seperti ini adalah karena dangkalnya pandangan iman”

    Menduga duga tentang pemberian Allah, terutama berburuk sangka kepada-Nya atas nikmat nikmat-Nya adalah perbuatan dosa. Seorang hamba dilarang menduga bahwa Allah telah mengurangi kasih sayang dan pemberian-Nya karena sesuatu bencana yang sedang dialami oleh si hamba.

    Seorang hamba hendaklah dapat merasakan pemberian Allah sebagai anugerah, maka ia pun harus dapat merasakan percobaan dari Allah itu juga suatu anugerah kasih sayang dari Allah Swt. Hikmahnya seorang hamba dalam keadaan kesusahan, atau sedang tertimpa bencana, ia akan bertambah dekat kepada Allah Swt. Dengan dekatnya si hamba kepada-Nya, maka akan berlimpahlah kasih sayang kepada si hamba. Itulah anugerah yang tak ada taranya. Orang yang keimanannya tebal, akan menerima setiap bencana, selain sebagai ujian atas keimanan, termasuk Allah menunjukkan kasih sayang dan rahmat-Nya kepada si hamba, sebagai bukti Allah adalah Robbun (pengasuh, pendidik) bagi alam semesta dan seluruh makhluk-Nya. Nabi Muhammad Saw dalam hal ini bersabda, “Allah Ta’ala menguji seorang hamba dengan bencana. Apabila si hamba sabar menerima, maka ia termasuk pilihan. Apabila ia ridho menerima, maka ia termasuk orang istimewa.”

    Seperti diterangkan pula dalam hadits sahabat Abi Huroiroh bahwa Nabi Saw bersabda, “Tiada apapun yang menimpa seorang Mukmin berupa bencana dan menderita kesusahan, kecuali semua itu menjadi sebab untuk menghilangkan dosa dosanya.” (HR Bukhori dan Muslim).

    Sahabat Ibnu Mas’ud juga meriwayatkan dari hadits lain, ia menyebut, “Bahwasanya tiada seorang muslim pun yang tertimpa kerusakan dan penyakit, atau bencana yang lebih ringan lagi, kecuali Allah Ta’ala akan menggugurkan dosa dosanya, bagaikan gugurnya daun dari dahan pohon.”

    Manusia sebagai hamba Allah dalam menjalankan hidupnya di dunia ini hendaklah jauh dari prasangka jelek kepada Allah, agar jiwanya tidak risau dan tertimpa penyakit yang dapat menegangkan syaraf. Ia harus berprasangka baik (Husnudzon) kepada Maha Pencipta. Ia harus penuh keyakinan bahwa Allah Ta’ala Maha Adil dan Maha Pemelihara. Allah telah membagi rahmat-Nya kepada manusia sesuai dengan rencana Allah.

    Tidak ada kebaikan yang telah dilaksanakan oleh manusia kecuali sebelumnya telah melalui ujian. Demikian juga tiada bencana yang menimpa manusia kecuali itu pun sebagai ujian. Barangsiapa yang melalui ujian Allah, maka ia berada di jalan Allah. Ia sedang berada di medan jihad. Allah ta’ala sangat menyenangi seorang hamba yang ridho menerima ujian dan cobaan serta menang dalam medan jihad. Allah mencintai dan meridhoi hamba tersebut. Rahmat Allah yang diberikan untuk manusia bisa terjadi di dunia ini juga, dan bisa pula di tunda di akhirat. Itu akan menunjukkan kehebatan dan kekuasaan-Nya kepada manusia, bersamaan dengan itu pula Allah menunjukkan kasih sayang dan keadilan-Nya.

    Ummul Mukminin Sayidah Aisya ra. meriwayatkan pula sabda junjungan Rosulullah Saw, “Barangsiapa diuji dengan beberapa kesulitan, dan ia dapat mengatasi kesulitan itu dengan ketabahan dan menerimanya dengan ikhlas, tertulis baginya di sisi Allah dengan derajat yang mulia dan dihapus dosa dosanya.”

    Seorang muslim yang sholeh tidak boleh mengira dan berprasangka bahwa Allah tidak memperhatikan lagi dirinya. Karena perkiraan seperti ini adalah pandangan yang sempit dan dangkal. Seorang muslim memandang Allah tidak semata mata dari segi pemberian Allah yang jelas dan dirasakan dengan alam jasmani, akan tetapi ia harus melihat pemberian Allah dari sisi yang lain yang tidak dapat dilihat dan dinyatakan dengan mata kepala.

    Ia harus melihat pemberian Allah dengan mata rohani, sehingga mampu merasakan kekayaan rohani yang dimilikinya itu adalah pemberian Allah. Keselamatan, kesehatan, ketenangan, keyakinan iman dan banyak lagi lainnya adalah kekayaan rohani yang sangat mahal harganya. Allah Ta’ala tidak pernah melupakan hamba hamba-Nya, manusialah yang lupa kepada-Nya. Karena sedikit sekali manusia yang bersyukur kepada pencipta-Nya.

    ***

    Narasumber : Mutumanikam dari kitab “Al-Hikam”

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 27 September 2012 Permalink | Balas  

    Ya Allah ! 

    Ya Allah !

    (Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta pada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.) (Q.S. Ar-Rahman: 29)

    Ketika laut bergemuruh, ombak menggunung, dan angin bertiup kencang, semua penumpang akan panik dan menyeru: “Ya Allah!” Ketika seseorang tersesat di tengah gurun pasir, kendaraan menyimpang jauh dari jalur, dan para kafilah bingung menentukan arah perjalanannya, nereka akan menyeru: ” Ya Allah !”

    Ketika musibah menimpa, bencana melanda, dan tragedi terjadi, mereka yang tertimpa akan selalu berseru: ” Ya Allah!”

    Ketika pintu-pintu permintaan telah tertutup, dan tabir-tabir permohonan telah digeraikan, orang-orang mendesah: “Ya Allah!”

    Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan terasa sempit, harapan terputus dan semua jalan pintas membuntu, mereka pun menyeru: ” Ya Allah!”

    Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup, dan jiwa terasa tertekan oleh beban berat kehidupan yang harus Anda pikul, menyerulah : “Ya Allah!” Kuingat Engkau saat alam gelap gulita dan wajah zaman berlumuran debu hitam Ku sebut nama-Mu dengan lantang di saat fajar menjelang dan fajar pun merekah seraya menebar senyuman indah

    Setiap ucapan baik, doa yang tulus, rintihan yang jujur, air mata yang menetes penuh keikhlasan, dan semua keluhan yang menggundahgulanakan hati adalah hanya pantas ke hadirat-Nya.

    Setiap dini hari menjelang, tengadahkan kedua telapak tangan, julurkan lengan penuh harap, dan arahkan terus tatapan matamu ke arah-Nya untuk memohon pertolongan! Ketika lidah bergerak, tak lain hanya untuk menyebut, mengingat, dan berdzikir dengan nama-Nya. Dengan begitu hati akan tenang, jiwa akan damai, syaraf tak lagi menegang, dan iman kembali berkobar-kobar. Demikianlah, dengan selalu menyebut nama-Nya, keyakinan akan semakin kokoh. Karena (Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya.) (QS. Asy-Syura:19)

    Allah: Nama yang paling bagus, susunan huruf yang paling indah, ungkapan yang paling tulus, dan kata yang sangat berharga. (Apakah kamu tahu ada seseorang yang sama dengan Dia (yang patut di sembah)?) (QS. Maryam:65)

    Allah: milik-Nya semua kekayaan, keabadian, kekuatan, pertolongan, kemuliaan, kemampuan, dan hikmah. (Milik siapakah kerajaan hari ini? Milik Allah Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.) (QS. Ghafir: 16)

    Allah: dari-Nya semua kasih sayang, perhatian, pertolongan, bantuan, cinta dan kebaikan. (Dan, apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).) (QS. An-Nahl:53)

    Allah: pemilik segala keagungan, kemuliaan, kekuatan dan keperkasaan. Betapapun kulukiskan keagungan-Mu dengan deretan huruf, Kekudusan-Mu tetap meliputi semua arwah Engkau tetap yang Maha Agung, sedang semua makna, akan lebur, mencair, ditengah keagungan-Mu, wahai Rabku

    Ya Allah, gantikanlah kepedihan ini dengan kesenangan, jadikanlah kepedihan ini awal kebahagiaan, dan sirnakan rasa takut ini menjadi rasa tentram. Ya Allah, dinginkan panasnya kalbu ini dengan salju keyakinan, dan padamkan bara jiwa dengan air keimanan. Wahai Rabb, anugerahkan pada mata yang tak dapat terpejam ini rasa kantuk dari-Mu yang menentramkan. Tuangkan dalam jiwa yang bergolak ini kedamaian. Dan, ganjarlah dengan kemenangan yang nyata. Wahai Rabb, tunjukkanlah pandangan yang kebingungan ini kepada cahaya-Mu. Bimbinglah sesatnya perjalanan ini ke arah jalan-Mu yang lurus. Dan tuntunlah orang-orang yang menyimpang dari jalan-Mu merapat ke hidayah-Mu.

    Ya Allah, sirnakan keraguan terhadap fajar yang pasti datang dan memancar terang, dan hancurkan perasaan yang jahat dengan secerah sinar kebenaran. Hempaskan semua tipu daya setan dengan bantuan bala tentara-Mu.

    Ya Allah, sirnakan dari kami rasa sedih dan duka, dan usirlah kegundahan dari jiwa kami semua.

    Kami berlindung kepada-Mu dari setiap rasa takut yang mendera. Hanya kepada-Mu kami bersandar dan bertawakal. Hanya kepada-Mu kami memohon, dan hanya kepada-Mu lah semua pertolongan. Cukuplah Engkau sebagai Pelindung kami, karena Engkaulah sebaik Pelindung dan Penolong. “Karena pembelajaran bertambahlah ilmu, karena dzikir bertambahlah kecintaan, dan karena tafakur bertambahlah ketakutan” Wallahu A’lam

    ***

    Sumber :La Tahzan DR. ‘Aidh al-Qarni

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 26 September 2012 Permalink | Balas  

    Yang Lalu Biarlah Berlalu 

    Yang Lalu Biarlah Berlalu

    Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan di dalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu, sama artinya dengan membunuh semangat, memutuskan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi.

    Bagi orang yang berpikir, berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak pernah dilihat kembali. Cukup di tutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam ‘ruang’ penglupan, diikat dengan tali yang kuat dalam ‘penjara’ pengacuhan selamanya. Atau, diletakkan di dalam ruang gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak akan sanggup memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali, karena memang ia sudah tidak ada.

    Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam. Selamatkan diri Anda dari bayangan masa lalu! Apakah Anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ketempatnya terbit, seorok bayi ke perut ibunya, air susu ke payudara sang ibu, dan air mata ke kelopak mata? Ingatlah, keterikatan Anda, dengan masa lalu, keresahan Anda atas apa yang telah terjadi padanya, keterbakaran emosi jiwa Anda oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa Anda pada pintunya, adalah kondisi yang sangat naif, ironis, memprihatinkan, dan sekaligus menakutkan.

    Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa depan, mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Dalam Al-Qur’an, setiap usai menerangkan kondisi suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan, “Itu adalah umat yang lalu.” Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah.

    Orang yang berusaha kembali ke masa lalu. Adalah tak ubahnya orang yang menumbuk tepung, atau orang yang menggergaji serbuk kayu.

    Syahdan, nenek moyang kita dahulu selalu mengingatkan orang yang meratapi masa lalunya demikian: “janganlah engkau mengeluarkan mayat-mayat itu dari kuburnya.” Dan konon, kata orang yang mengerti bahasa binatang, sekawanan binatang sering bertanya kepada seekor keledai begini, “Mengapa engkau tidak menarik gerobak.”

    “Aku benci khayalan,” jawab keledai.

    Adalah bencana besar, manakala kita rela mengabaikan masa depan dan justru hanya disibukkan oleh masa lalu. Itu, sama halnya dengan kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puing-puing yang sudah lapuk. Padahal, betapapun seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu, niscaya mereka tidak akan pernah mampu. Sebab, yang demikian itu sudah mustahil pada asalnya.

    Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melihat dan sedikitpun menoleh kebelakang. Pasalnya, angin akan selalu berhembus ke depan, air akan mengalir ke depan, setiap kafilah akan selalu berjalan ke depan dan segala sesuatu bergerak maju ke depan. Maka itu, janganlah pernah melawah sunah kehidupan! Wallahu a’lam

    ***

    Narasumber: La Tahzan dari DR. ‘Aidh al-Qarni

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 25 September 2012 Permalink | Balas  

    Pikirkan dan Syukurilah ! 

    Pikirkan dan Syukurilah !

    Ingatlah setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada Anda. Karena Dia telah melipatkan nikmat-Nya dari ujung rambut hingga ke bawah kedua telapak kaki. (Jika kamu menghitung nikmat Anllah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya.) (QS. Ibrahim:34)

    Kesehatan badan, keamanan negara, sandang pangan, udara dan air, semuanya tersedia dalam hidup kita. Namun begitulah Anda memilki, dunia, tetapi tidak pernah menyadarinya. Anda menguasai kehidupan tetapi tak pernah mengetahuinya. (Dan, Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir batin) (QS. Luqman:20) Anda memiliki dua mata, satu lidah, dua bibir, dua tangan, dan dua kaki. (Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?) (QS. Arrahman:13)

    Apakah Anda mengira bahwa, berjalan dengan kedua kaki itu sesuatu yang sepele, sedang kaki acap kali menjadi bengkak bila digunakan jalan terus menerus tiada henti? Apakah Anda mengira bahwa berdiri tegak di atas kedua betis itu sesuatu yang mudah, sedang keduanya bisa saja tidak kuat dan suatu ketika patah?

    Maka sadarilah, betapa hinanya diri kita manakala tertidur lelap, ketika sanak saudara di sekitar Anda masih banyak yang tidak bisa tidur karena sakit yang mengganggunya? Pernahkan Anda merasa nista manakala dapat menyantap makanan lezat dan minuman dingin saat masih banyak orang di sekitar Anda yang tidak bisa makan dan minum karena sakit?

    Coba pikirkan, betapa besarnya fungsi pendengaran, yang dengannya Allah menjauhkan Anda dari ketulian. Coba renungkan dan raba kembali mata Anda yang tidak buta. Ingatlah dengan kulit Anda yang terbebas dari penyakit lepra dan supak. Dan renungkan betapa dahsyatnya fungsi otak Anda yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan. Adakah Anda ingin menukar mata Anda dengan Emas sebesar gunung Uhud, atau menjual pendengaran Anda seharga perak satu bukit? Apakah Anda mau membeli istana-istana yang menjulang tinggi dengan lidah Anda hingga Anda bisu? Maukan Anda menukar kedua tangan Anda dengan untaian mutiara, sementara tangan Anda buntung?

    Begitulah sebenarnya Anda berada dalam kenikmatan tiada tara dan kesempurnaan tubuh, tetapi Anda tidak menyadarinya. Anda tetap merasa resah, suntuk, dan gelisah meskipun Anda masih mempunyai nasi hangat untuk di santap, air segar untuk di teguk, waktu yang tenang untuk tidur pulas, dan kesehatan untuk terus berbuat.

    Anda acapkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga Anda pun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jiwa Anda mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera. Padahal, sesungguhnya Anda masih memegang kunci kebahagiaan, memiliki jembatan pengantar kebahagiaan, karunia, kenikmatan dan lain sebagainya. Maka pikirkanlah semua itu dan kemudian syukurilah! (Dan, pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan.) (QS. Adz-Dzariyat:21)

    Pikirkan dan renungkan apa yang ada pada diri, keluarga, rumah, pekerjaan, kesehatan, dan apa saja yang tersedia di sekeliling Anda. Dan janganlah termasuk golongan (Mereka mengetahui nikmat Allah, Kemudian mereka mengingkarinya.) (QS. AN-Nahl:83)

    Karena pembelajaran bertambahlah ilmu, karena dzikir bertambahlah kecintaan, dan karena tafakur bertambahlah ketakutan.

    Wallahu a’lam

    ***

    Di sadur: La Tahzan dari DR. ‘Aidh al-Qarni

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 24 September 2012 Permalink | Balas  

    Kagum Melihat Cicak Menyambut Rizeki 

    Kagum Melihat Cicak Menyambut Rizeki

    Cicak-cicak di dinding, diam-diam merayap. Datang seekor nyamuk, Hap..! lalu ditangkap

    Inilah sebait lagu yang sangat populer di kalangan anak-anak balita, sebuah lagu yang sederhana tetapi lagu tersebut dapat menyatu dalam kehidupan anak-anak kita.

    Kenapa saya jadi teringat lagu tersebut? Sebab ketika hari sudah menjelang malam, dan ketika saya mau memejamkan mata untuk beristirahat, tiba-tiba di dinding kamar terlihat seekor cicak yang merayap dari tempat persembunyiaannya menuju ‘suatu’ tempat tertentu. Dan …hap! cicak tersebut telah menangkap seekor nyamuk yang datang `menuju’ dirinya.

    Peristiwa ini tampaknya biasa saja, seperti peristiwa lainnya yang sering kita saksikan dalam kehidupan ini. Tetapi kalau kita cermati lebih lanjut, maka tampaklah sesuatu yang istimewa dalam lagu ini. Dan tentu kita menjadi kagum kepada penciptanya.

    Point penting yang terdapat dalam syair lagu tersebut adalah, bahwa nyamuk sebagai makanan dari cicak, justru dia yang aktif menuju/mendekati mulut cicak. Andaikata nyamuk tidak terbang menuju cicak, maka secara logika tidak akan mungkin cicak bisa mendapatkan rezekinya. Sebab nyamuk memiliki sayap dan ia bisa terbang dengan gesitnya, sementara cicak tidak bisa terbang, dan hanya bisa merayap saja.

    Cicak hanya akan bisa menangkap seekor nyamuk, sebagai rezeki yang dikirim oleh Allah Swt, apabila ia mau berusaha dengan cara merayap, menggerakkan dirinya ke arah yang tepat. Yaitu di sekitar manakah posisi ‘rezeki’ itu berada.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 23 September 2012 Permalink | Balas  

    Bertemu Kembali Dengan Rumah 

    Bertemu Kembali Dengan Rumah

    Setelah seharian, atau lebih, kita meninggalkan rumah dan keluarga, tentu perasaan rindu pada suasana rumah akan muncul kembali. Mungkin makan di luar rumah dengan makanan yang istimewa sudah kita lakukan, tapi kita akan kembali rindu dengan makanan yang lebih istimewa yang ada di atas meja makan di rumah kita. Meskipun hanya dengan lauk pauk sederhana.

    Justru keistimewaan akan muncul pada kesederhanaan itu, jika kerinduan sudah menjalar di hati. Demikian juga dengan keberadaan rumah dan halaman kita. Demikian pula dengan keberadaan anak-anak kita, ibu kita, ayah kita, suami-listri kita, atau anggota keluarga lainnya. Semuanya adalah istimewa.

    Pernah suatu saat mengunjungi teman saya. Salah satu yang dibicarakan dalam obrolan itu adalah tentang kesehatan anak-anaknya. Ia mempunyai lima orang anak, yang paling besar usia tujuh belas tahun, yang paling kecil masih berumur satu tahun. Di sela-sela tawa riangnya, ia selalu merasa bersyukur kepada Allah, bahwa anak-anaknya sehat semuanya. Ketika semua anaknya berkumpul nonton televisi di ruang keluarga, ia melihat anaknya satu persatu, yang tingkahnya berbeda-beda. Alhamdulillah anak-anak sehat semua. Saya selalu merasa menjadi orang yang kaya, begitu melihat anak-anak ada di rumah dan dalam kondisi sehat semua…

    Demikian kata-kata yang sering ia ucapkan. Saya hanya bisa mengambil sebuah kesimpulan, dari kata-kata teman saya itu, bahwa kekayaan yang paling utama adalah kesehatan.

    Kalau kesimpulan itu kita tarik ke atas, maka kesimpulan itu akan menjadi lebih universal. Sehat adalah sebuah kondisi prima. Kalaulah itu dikenakan pada kita sebagai insan yang memiliki lahir dan bathin atau jasmani dan ruhani, maka sehat yang sempurna adalah jika kita memiliki sehat di jasmani kita, dan jugs sehat di ruhani kita.

    Demikian dengan kondisi rumah kita. Ada rumah yang secara fisik nampak sehat, indah dan menawan hati. Ada rumah yang secara ruhani memiliki keindahan yang lebih tinggi. yaitu rumah yang di dalamnya bisa membuat tentramnya hati. Yang itu diakibatkan oleh para penghuninya yang rendah hati.

    Rumah adalah tempat kita kembali dari perjalanan kita. Rumah adalah tempat kita berteduh dari gangguan cuaca. Dengan kembalinya kita setiap hari / setiap waktu, ke rumah kita masing-masing, maka sebenarnya kita sedang berlatih untuk pulang…

    Keteduhan jiwa yang paling hakiki adalah ketika seorang hamba kembali kepada Tuhannya. Kembali mendapatkan kasih sayangNya. Setelah lama merantau kesana kemari, yang kadang tak tentu arah, mengurusi duniawi yang kadang sering salah.

    Dengan melihat rumah kita, mari kita ingat akan rumah kita yang sesungguhnya. Mari kita kembali kepada ridha Ilahi…

    Mencari ilmu, mencari rezeki, adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup ini. Tetapi ketika Sang Khaliq telah memanggil, ketika suara adzan telah diserukan, mari kita penuhi untuk sujud dan rukuk, dalam nikmat yang hakiki…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 22 September 2012 Permalink | Balas  

    Dimana Tempat Sembunyi Yang Aman? 

    Dimana Tempat Sembunyi Yang Aman?

    Tahukah kita, adakah suatu tempat yang paling aman untuk bersembunyi? Dimana tempat itu? Aman bagi seseorang, apakah juga aman bagi orang yang lain? Dari intaian siapa, kita bisa menyembunyikan diri?

    Inilah sebuah cerita yang cukup menarik, lucu, dan mengandung pelajaran bagi kita semua. Saya punya seorang famili, yang cukup lucu dan menarik kalau ia lagi bercerita tentang pengalamannya.

    Cara ia bercerita menyebabkan yang mendengarkannya menjadi begitu tertarik. Ibarat mau pergi menjadi terduduk lagi untuk mendengarkan kisahnya.

    Ketika bulan puasa datang, pada umumnya sebagai hamba Allah yang taat beribadah, orang-orang akan ramai menyambutnya dengan gembira. Tetapi ada juga sekelompok orang yang menjadi repot dan menjadi susah jika ramadhan tiba. Apalagi jika ia berada di lingkungan keluarga muslim yang taat. Atau bertetangga dengan orang-orang alim. Atau berada di lingkungan yang kental dengan suasana religius.

    Seorang yang `setengah-setengah’ Ia akan serba susah dengan datangnya bulan ramadhan. Mau puasa takut kelaparan, tidak puasa malu dengan tetangga. Maka setiap datangnya bulan puasa menjadi sebuah ‘malapetaka’ bagi orang-orang seperti dia. Tidak terkecuali dengan pak ‘NR’ yang pada saat mudanya ia punya pengalaman menarik. Tentang hal itu.

    Ceritanya, terjadi di hari ketiga bulan puasa. Hari itu, pak NR, sejak pagi sudah berpuasa dengan ‘gagah’. Tetapi begitu hari sudah mulai siang, perutnya sudah mulai berbunyi. Ditahan-tahannya rasa lapar itu sekuat-kuatnya, dan iapun berhasil menjalankan puasa sampai dengan jam 15.00

    Tetapi jam berikutnya, ia sudah mulai gelisah. Ingin rasanya berbuka tetapi malu dengan seisi rumah yang semuanya ternyata juga berpuasa.

    Karena sudah tidak tahan lagi, akhirnya pak NR diam-diam pergi keluar rumah untuk berbuka dengan cara sembunyi di tempat yang paling aman, yang dirasa tidak akan ada orang yang mengetahuinya.

    Maka dipilihnyalah sebuah restoran non muslim. Yang jaraknya dari rumah cukup jauh. Sehingga tidak mungkin ada tetangga atau teman yang melihatnya. Apalagi restoran non muslim, pasti akan aman dari pantauan orang muslim, yang sedang berpuasa.

    Maka setelah sampai di depan restoran tersebut pak NR berindap-indap masuk ke dalam. Di dalam restoran itu ternyata sudah cukup banyak orang yang lagi makan. Tentu dengan menu khususnya masing-masing. Akhirnya pak NR mengambil duduk di tempat yang paling sudut, yang di sebelahnya terdapat papan kayu pembatas kursi.

    Selanjutnya pak NR memesan makanan yang sesuai dengan seleranya. Karena pengunjung cukup banyak, maka makanan yang dipesannya begitu lama sekali baru selesai dibuat oleh juru masaknya.

    Hampir satu jam pak NR menunggu selesainya pesanan yang telah dipilihnya itu. Sehingga setelah waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 lebih barulah makanan yang dipesan itu selesai dibuat.

    Maka meskipun agak sedikit kecewa karena menunggunya terlalu lama, bahkan waktu maghrib pun sebenarnya sudah tinggal beberapa saat lagi. Karena sudah kepalang basah, dimakannya juga pesanan itu. Dan pak NR pun ‘berbuka’ puasa pada waktu yang sudah hampir maghrib.

    Setelah selesai makan dengan perasaan yang tidak karuan, sehingga rasa makanannya pun menjadi tidak enak lagi. Pak NR kembali berindap-indap menuju ke kasir untuk membayar makanan. Takut-takut kalau ia sampai ketahuan oleh orang yang dikenalnya.

    Ketika pak NR menuju ke tempat kasir itulah, ada seseorang yang juga berdiri dari tempat duduknya yang berbatas dinding kayu dengannya, orang itu juga berindap-indap menuju tempat kasir untuk membayar makanan yang telah selesai di santapnya.

    Apa yang terjadi? Ternyata dengan begitu kagetnya, orang tersebut menyapa lebih dulu kepada pak NR. Lho koq mas NR di sini? Lagi apa mas? kata orang itu sambil menutupi mulutnya yang masih ada sedikit bekas makanan.

    Sahut pak NR : Lho kok pak MS juga disini? Lagi beli makanan buat buka pak? Jawab pak MS, i iya mas…!. Mari ya… saya duluan!. Sambil pak MS cepat-cepat pergi meninggalkan pak NR, yang sedang kaget dan juga bengong sembari membayar makanan )..

    Wah…wah..seru sekali pokoknya. Pingin makan di tempat yang tersembunyi, ehh,…nggak taunya juga ada orang yang bersembunyi. Bahkan duduk bersebelahan dengan saya. Eh eh,..lha kok ternyata, la adalah tetangga depan rumah yang sehari-harinya berpenampilan muslim sejati. Wah,… wah, saya malu sekali. Wah, tentu dia lebih malu lagi, ya. He he he. Wah, sungguh sulit ya, mencari tempat yang tersembunyi itu?! Kata pak NR, sambil menutup kisahnya yang diceritakannya kepada saya.

    Apa yang kita dapatkan dari peristiwa yang cukup unik dan konyol itu?

    Benar kata pak NR, ternyata tidak ada tempat yang tersembunyi

    Kalau Allah menghendaki, dimanapun saja kita sembunyi akan bertemu dengan sesuatu yang kita hindari.

    Pak NR sembunyi, pak MS juga sembunyi dari penglihatan orang lain, ternyata keduanya saling mengetahui keadaan masing-masing yang berbuka puasa sebelum waktunya.

    Uniknya, keduanya bersembunyi, tetapi ternyata mereka duduk bersebelahan yang hanya dihalangi oleh dinding kayu sebagai pembatas kursi.

    Kita mungkin juga baru menyadari bahwa, dunia ini begitu kecilnya, dimanakah lagi kita mau sembunyi? Semua telah nyata bagi Allah Swt. Kemana saja kita berlari, disitulah Allah mengetahui.

    Semoga pak NR ikhlas, bahwa kisah uniknya telah tertulis dalam diskusi ini. Dengan harapan akan ditemuinya berapa hikmah yang insya Allah akan mempunyai manfaat di kemudian hari…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 21 September 2012 Permalink | Balas  

    Cara Allah Memberi Rezeki 

    Cara Allah Memberi Rezeki

    Andaikata, uang kita diambil satu bagian, lalu dikembalikan sebanyak tujuh belas kali lipat, maukah kita? Andaikata, yang mengambil tidak memberitahu lebih dahulu, kalau nantinya akan dibayar dengan berlipat ganda, maukah kita?

    Marilah kita ikuti pengalaman nyata seorang bapak muda yang cukup menarik untuk dikaji. Sebutlah Pak A. Sekitar 14 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1988, seorang muda yang baru dikarunia seorang anak, is bekerja sambil menyelesaikan kuliahnya yang tinggal sebentar lagi selesai. Gaji yang didapatkan dari pekerjaannya itu setiap bulannya dapat dikatakan sangat tidak cukup untuk biaya hidupnya beserta istri dan seorang anak kecilnya.

    Suatu hari yang “naas” ia pulang dari kerjanya. Dengan penuh gembira ia membawa pulang gaji pertamanya yang sebesar Rp. 40.000,- (Empat puluh ribu rupiah). Dengan perasaan bangga dan penuh dengan rasa gembira ingin ditunjukkannya hasil kerjanya itu kepada istri tercintanya.

    Ingin sekali ia cepat-cepat sampai di rumah dan dengan uang itu ia ingin belanja bersama istri dan anaknya, maklum gaji pertama adalah gaji yang mempunyai nilai “historis” tinggi.

    Setelah sampai di rumah apa yang terjadi? Ternyata dompet yang berisi gaji satu bulan tersebut sudah tidak ada di saku celananya alias kecopetan ketika ia pulang dari tempat kerjanya.

    Bisa dibayangkan betapa sedih, kecewa dan bingungnya ia ketika itu. Andaikata bisa, mungkin ia akan menangis sejadi-jadinya. Bahkan mungkin ia akan protes kepada tuhan yang telah “mengijinkan” peristiwa itu terjadi. Karena ia telah bekerja dengan keringatnya tanpa kenal lelah dengan penghasilan yang halal demi keluarga tercinta.

    Waktu satu bulan sungguh terasa sangat lama untuk menunggu gaji tersebut. Tapi apa mau dikata gaji pertamanya sudah harus ia relakan untuk tidak ia miliki saat itu. Bagaimana jika peristiwa itu terjadi pada diri kita? Sanggupkah kita menerimanya dengan ikhlas?

    Apa yang ia lakukan selanjutnya? Ia duduk terdiam tanpa bisa berkata apa-apa sambil memandang istri dan anaknya, mengapa hal ini harus terjadi pada dirinya? Dalam kondisi seperti itu dengan hati terasa pedih ia mencoba tegar dan berpikir praktis. Biarlah uangnya hilang, toh peristiwa sudah terjadi, mau diapa lagi….?”

    Akhirnya diambilnya keputusan untuk tetap berusaha kalau-kalau dompet tersebut masih mungkin untuk ditemukan, walaupun secara logika sangat kecil kemungkinannya untuk mendapatkan kembali uangnya tersebut. Ia berusaha mengambil hikmah dari kejadian itu meskipun dengan perasaan yang tidak karuan sedihnya.

    Keputusan segera diambilnya, yaitu tetap berusaha untuk mencoba mendapatkan kembali dompetnya karena di dalamnya ada beberapa surat berharga, diantaranya stnk kendaraan bermotor, ktp, dan beberapa surat penting lainnya.

    Akhirnya untuk mendapatkan kembali surat-surat yang hilang tersebut ia menulis surat pembaca pada sebuah surat kabar, yang intinya: biarlah uang itu hilang, asal surat-suratnya dapat kembali, dan ia berharap jika ada orang yang menemukan dompet itu, ia minta tolong agar di antarkan ke alamat yang tertera dalam ktp tersebut.

    Apa yang dilakukan hari-hari berikutnya? Setiap hari ia membaca surat kabar, kalau-kalau ada berita tentang dompetnya yang hilang. Ketemukah dompet tersebut? ternyata tidak!

    Lalu dimanakah keindahannya peristiwa itu? Keindahannya ialah terletak pada keharusannya ia membaca surat kabar tersebut. Seolah-olah Allah menyuruh dia untuk membaca surat kabar setiap hari, dengan cara “mengijinkan” seseorang untuk mengambil dompetnya…

    Lalu apa yang terjadi hari berikutnya? Dengan membaca surat kabar setiap hari, tanpa terasa suatu saat ia menemukan suatu tulisan pada disiplin ilmu yang dikuasainya yang menurut pendapatnya hal itu kurang tepat, akhirnya ia mencoba menulis untuk mengulas dan menyanggahnya.

    Waktu berjalan dengan cepat. Ia telah lupa pada dompetnya yang hilang, dan saat itu ia asyik menulis sesuai dengan kemampuannya yang sesuai pula dengan disiplin ilmunya.

    Hal ini berlangsung beberapa bulan sejak terjadinya peristiwa naas tersebut. Selanjutnya ia sering menulis dan menanggapi tulisan orang lain sampai berulang-ulang sehingga ia menjadi seorang penulis. Meskipun masih pemula, pada surat kabar tersebut. Lalu?

    Karena kemampuannya menulis dinilai cukup baik, oleh pimpinan perusahaan ia dipanggil dan ditawari untuk bekerja diperusahaan tersebut dengan gaji pertama Rp 750.000,- Tujuh belas kali lipat lebih tinggi dibanding uangnya yang telah hilang waktu itu.

    Itulah rupanya jawaban Allah atas kejadian yang menimpa seseorang, bila sabar menerimanya. Allah “meminjam” 1 bagian, dan kini dikembalikan menjadi tujuh belas kali lipat lebih.

    Waktu berjalan terus tanpa terasa, dan pada saat saya menulis ini, ia telah mencapai sukses gemilang dengan penghasilan yang ribuan kali lipat dibanding uang yang hilang dulu.

    Apakah ini merupakan puncak keindahan dari peristiwa yang terjadi di hari “naas” itu, atau bahkan Allah Yang Maha kuasa akan menunjukkan pada sesuatu yang lebih indah lagi….wallahu’alam.

    Yang pasti, ukuran sukses yang paling besar adalah hati yang damai, dan bahagia yang tercapai. Saya yakin setiap orang pernah mengalami kejadian yang senada dengan kejadian diatas. Hanya saja mungkin skala dan situasinya yang berbeda.

    Marilah kita renungkan perjalanan hidup kita masing-masing, pasti kita pernah mengalami suatu kejadian, dimana kejadian tersebut kita sangka sesuatu yang menyusahkan, merugikan, dan menyedihkan.

    Tetapi hal itu akan berubah menjadi sesuatu yang indah, apabila seseorang sabar menerimanya. Akhirnya muncullah hikmah yang sangat besar yang tiada tersangka sebelumnya.

    Sungguh, Allah Maha Perencana dari segala macam kejadian dan peristiwa. Setiap peristiwa yang sudah terjadi, bagi seorang muslim merupakan ketetapan Allah yang sangat indah. Karena disitulah letak ukuran dan ujian kualitas taqwa seseorang…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 20 September 2012 Permalink | Balas  

    Istikamah Menjalankan Amalan Kecil 

    Istikamah Menjalankan Amalan Kecil

    Baiknya amal perbuatan itu, sebagai dari hasil baiknya budi dan hati, dan baiknya hati adalah hasil dari kesungguhan menjalankan perintah Allah, yaitu tidak bergerak dari apa yang didudukkan oleh-Nya (Ibnu Atha’ilah).

    Baiknya amal sangat tergantung dari baiknya hati, dan baiknya hati sangat tergantung dari istikamahnya diri untuk selalu dekat dengan Allah. Demikian kiranya maksud pernyataan Imam Ibnu Atha’ilah tersebut.

    Saudaraku, istikamah dalam kebaikan adalah hal penting dalam hidup. Sebab, sebuah amal yang dilakukan secara istikamah, walaupun kecil, perlahan tapi pasti akan mendekatkan kita kepada Allah. Karena itu, tidak ada amal kecil menurut pandangan Allah. Yang menentukan besar kecilnya sebuah amal adalah keikhlasan hati saat melakukannya.

    Ada sebuah kisah tentang Imam Al Ghazali. Suatu malam Hujjatul Islam ini bermimpi berada di Hari Perhitungan. Dari sekian banyak amalnya, ada satu amal yang sangat disukai Allah melebihi amal-amal lainnya. Ternyata bukan shalat, puasa, bukan karya-karya besarnya, atau hafalan Alqurannya, namun karena keikhlasannya menolong seekor lalat.

    Ceritanya, saat ia sedang menulis, tiba-tiba seekor lalat jatuh ke dalam tinta. Segera saja Imam Al Ghazali mengambil lalat itu, membersihkan tinta dari tubuhnya, lalu melepaskannya.

    Kisah ini tentunya jangan sampai mengecilkan arti ibadah, menuntut dan menyebarkan ilmu, atau berjihad di jalan Allah. Kisah ini semata-mata menunjukkan betapa sesuatu yang kita anggap remeh bisa bernilai istimewa di sisi Allah.

    Karena itu, orang ikhlas tidak pusing memikirkan besar kecilnya amal. Yang ia pikirkan adalah bagaimana agar amal tersebut diterima Allah dan bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya manusia.

    Sejatinya, tidak ada sesuatu yang besar di dunia ini tanpa kehadiran yang kecil. Semua yang besar tersusun dari hal-hal kecil. Buku misalnya. Ia adalah kumpulan bab; bab adalah kumpulan paragraf; paragraf adalah kumpulan kalimat; kalimat adalah kumpulan kata; kata adalah kumpulan huruf; dan huruf adalah kumpulan titik. Maka setebal apapun buku, hakikatnya adalah kumpulan dari titik.

    Demikian pula dengan kesalehan dan kemuliaan akhlak. Ia adalah kumpulan dari amal kebaikan yang dilakukan terus-menurus dengan penuh keikhlasan. Seseorang dianggap ahli tahajud bila setiap malam ia istikamah menjalankannya.

    Sebaliknya, kita sulit menyebutnya ahli tahajud bila ia hanya sekali dua kali melakukan tahajud. Intinya, akhlak mulai lahir dari kebiasaan, kebiasaan lahir konsistensi kita menjalankan sebuah amal, walau amal itu kita dianggap ringan dan kecil.

    Bila yang besar itu bentukan yang kecil, maka kita jangan sekali-kali menyepelekan yang kecil. Sebaliknya, kita harus membiasakan diri melakukan hal-hal kecil secara istikamah, selain menjalankan perintah-perintah yang wajib.

    Senyum dengan tulus adalah hal kecil yang nilai kebaikannya luar biasa. Termasuk pula memungut sampah, membersihkan kamar mandi, mengongkosi teman, berbagi makanan, meminjamkan buku, menengok orang sakit, memaafkan yang bersalah, bersedekah, mau mendengarkan, ucapan yang baik, dsb. Andai kita istikamah (konsisten) melakukannya, jangan heran bila Allah akan mengangkat derajat kita di hadapan manusia lain.

    Ada baiknya kita mulai membuat program untuk membiasakan diri melakukan hal-hal kecil bernilai ibadah. Saat bangun tidur misalnya, istikamahlah berzikir, membersihkan tempat tidur, membersihkan diri, berwudhu, menyapa atau tersenyum manis kepada anak dan pasangan kita. Atau saat berjumpa orang lain, dahulukan diri untuk tersenyum, mengucapkan salam, menyapa dengan penuh kesopanan. Saat hendak beraktivitas dahului dengan membaca basmalah dan mengakhirinya dengan hamdalah. Ketika hendak tidur, kita bisa mengawalinya dengan berwudhu, shalat witir, dzikir, atau membebaskan pikiran dari kedengkian dan kebencian terhadap orang lain.

    Saudaraku, terus dan teruslah melakukan amal-amal kecil. Insya Allah, dengan rahmat dan kasih sayang-Nya, Allah akan mengaruniakan kita kemuliaan akhlak. Amin.

    KH Abdullah Gymnastiar

    ***

    Sumber :Republika Online

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 19 September 2012 Permalink | Balas  

    Jangan Kagum 

    Jangan Kagum

    Perasaan kagum kepada sesuatu hal adalah sesuatu yang sah-sah saja. Apalagi, kalau rasa kagum itu menjadi sebuah motivasi untuk lebih bersemangat lagi dalam mencapai sesuatu hal yang dikaguminya itu. Seperti halnya kita merasa kagum kepada orang yang shalatnya selalu tepat waktu, padahal orang itu sangat sibuk sekali dengan pekerjaanya. Atau kita pun merasa kagum kepada orang-orang besar yang dikenal dalam catatan sejarah. Ujian, cobaan, dan bencana mereka hadapi seperti kucuran air hujan atau hembusan angin. Dan, kita juga tahu bahwa dibarisan paling depan dari mereka adalah pemimpin semua makhluk, Nabi Muhammad SAW. Dalam perjalanannya menuju Madinah, dia bersembunyi didalam gua bersama sahabatnya, Abu Bakar ra. Pada saat musuh sudah mendekati mereka, ia berkata kepada sahabatnya itu,

    “Jangan kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah (9): 40).

    Subhanallah…, Allahu Akbar… Kita tahu, bahwa Rasulullah SAW adalah sosok pemimpin yang paling sempurna, sehingga jarang sekali melakukan kesalahan. Orang pun menjadi kagum dan percaya kepada beliau. Walau demikian, tatkala melakukan kekeliruan, Rasul berbesar hati untuk mengakuinya. Beliau pun tidak segan-segan menuruti nasihat para sahabatnya bila memang pendapatnya dianggap lebih baik. Dan ini merupakan salah satu bukti dari sekian banyak kisah Rasulullah SAW yang membuat kita kagum kepadanya.

    Maka, kita pun termotivasi oleh orang-orang yang kita kagumi itu, sehingga diri kita tergerak untuk mengikuti langkah mereka dan berupaya untuk lebih baik lagi dari mereka. Tetapi, yang jadi masalah adalah kalau kekaguman kepada orang atau sesuatu hal itu berlebihan, sehingga menimbulkan fanatisme buta. Yaitu, sikap fanatik dan melampaui batas terhadap pendapat atau tokoh tertentu. Fanatisme ini dapat menghalangi seseorang untuk mengikuti kebenaran. Karena terlalu kagum dengan tokoh, madzhab, organisasi atau kelompok, sehingga orang itu bisa mengabaikan Al-Qur’an dan sunah.

    Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang memperhatikan dengan kagum Basyar As-Sulaimi yang sedang shalat dengan khusyu’ Ketika Basyar selesai shalat, ia berkata pada laki-laki tersebut:

    “Janganlah kamu kagum dan tertipu melihat ibadah saya. Saya khawatir, karena sesungguhnya Iblis laknatullah telah menyembah Allah selama bertahun-tahun kemudian dia durhaka seperti keadannya sekarang.” (Hilyatul Aulia, 6/241/Tarbawi Edisi 28 Th.3 hal.14)

    Dan, didalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman mengenai wanita-wanita yang kagum kepada keelokan paras Nabi Yusuf as. dan menjadi celaka karena kekagumannya itu, sebagaimana firman-Nya :

    “Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka”. Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia”. (QS. Yusuf (12): 31)

    Sebuah fakta mengatakan bahwa, dulu Indonesia sempat kagum (ujub) dengan kemajuan ekonomi, tapi ternyata membuat orang-orangnya takabur, hingga terpuruk seperti sekarang ini. Maka, janganlah berlebihan dalam mengungkapkan perasaan kagum kita kepada sesuatu hal atau kepada diri kita sendiri sekalipun, sebab, kekaguman pada diri sendiri (ujub) adalah pangkal kesombongan. Allah SWT berfirman,

    “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya dimuka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.” (QS. Al-A’raf (7): 146)

    Ali bin Abi Thalib ra., berkata: “Janganlah sekali-kali engkau menyaingi Allah dalam keagungan-Nya dan menyerupai-Nya dalam kesombongan-Nya. Sebab, sesungguhnya Allah menghinakan setiap orang yang angkuh dan merendahkan setiap orang yang sombong.”

    Oleh karena itu, agar dapat menghilangkan sifat sombong dan memiliki akhlaq tawadhu, maka kita harus sering merenungkan nikmat yang Allah berikan kepada kita dan juga dengan merenungkan manfaat tawadhu dan kerugian sombong, mencontoh akhlaq orang-orang sholeh terdahulu yang tawadhu dan banyak berteman dengan orang-orang yang tawadhu dan juga tidak lupa bermohon kepada Allah untuk selalu berbuat baik. Sebab, kebaikan itu sangat mudah dilakukan oleh siapa saja yang oleh Allah dimudahkan untuk melakukannya. Allah memiliki simpanan kebaikan yang banyak sekali, yang akan dikaruniakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan, Allah juga mengalirkan keutamaan, kepada orang-orang yang baik yang senang melakukan kebaikan.

    Sahabat-sahabat sekalian, mudah-mudahan kita termasuk orang yang akan dikaruniakan kebaikan, sehingga kita menjadi orang yang mudah melakukan kebaikan. Dan, mudah-mudahan kita juga tidak termasuk orang-orang yang suka mengeluarkan perasaan kagum yang berlebihan, sehingga kita tidak tergolong dalam orang yang fanatisme buta yang justru akan menyesatkan kita semua. Nauzubillahimindzalik

    Wallahu A’lam

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 18 September 2012 Permalink | Balas  

    Kenali Rambu-Rambu Pembatas Lintasan Hati 

    Kenali Rambu-Rambu Pembatas Lintasan Hati

    Prasangka memang hanya lintasan hati. Karenanya, berprasangka sebenarnya manusiawi. Tak ada orang yang mampu meredam atau menahan yang namanya lintasan hati. Tak ada orang yang tak pernah memiliki prasangka buruk terhadap orang lain. Tak seorang pun bisa menghilangkan lintasan hatinya. Itu sebabnya , para sahabat mengajukan keberatannya kepada Rasulullah saat turun ayat, “Dan bila engkau menampakkan apa yang ada dalam hatimu, atau engkau menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatan itu.” (QS. Al-Baqarah: 284) Para sahabat yakin tak mampu melawan lintasan hatinya, jika itu termasuk hitungan amal mereka. Akhirnya Allah menurunkan ayat selanjutnya, “Allah tidak akan memberikan beban kepada seseorang kecuali sebatas kemampuannya.”

    Imam Al-Ghazali mengurai penjelasan buruk sangka dalam satu sub tema tentang ghibah, membicarakn keburukan orang lain. Menurutnya buruk sangka tak lain adalah ghibah bathiniyah (membicarakan keburukan orang lain dengan hati). “Sebagaimana Anda diharamkan untuk menyebut keburukan orang lain, maka demikian juga Anda diharamkan untuk berburuk sangka pada saudara Anda.” Demikian kata Imam Al-Ghazali. Apa yang harus dilakukan agar bisa menghindari bahya buruk sangka?

    Pertama, tumbuhkan empati kepada orang yang menjadi objek buruk sangka. Rasakan lah bila objek buruk sangka itu diri Anda sendiri yang sangat mungkin mengalami banyak kekurangan. Tips ini sama dengan apa yang dianjurkan Imam Al-Ghazali, ketika ia membahas masalah ghibah.

    Untuk menghindari ghiban, menurut Imam Al-Ghazali, salah satunya dengan merasakan bagaimana bila yang menjadi objek pembicaraan itu adalah diri sendiri. Bila kita senang mendengarkannya, maka teruskanlah bicara. Tapi bila tidak, maka jauhilah pembicaraan negatif itu. Sama dengan kondisi ghibah dalam hati, cara menghindarinya dengan membandingkan kondisi kita dengan kondisi orang yang menjadi objek prasangka.

    Kedua, teliti dari mana sumber perasaan negatif, atau buruk sangka itu muncul. Bila ia datang dari informasi seseorang, langkah yang paling baik adalah melakukan pertanyaan lebih detail tentang asal-usul berita miring itu. Apakah nara sumber berita itu benar-benar mengetahui secara autentik tentang kejasian yang memunculkan prasangka itu? Atau bisa juga ditanyakan langsung kepada yang bersangkutan tentang benar tidaknya berita negatif tersebut. Bila Anda merasakan bahwa informasi itu belum tentu benar, berupayalah menghapuskan memori informasi itu dari pikiran Anda.

    Ada riwayat hadits menari yang disampaikan oleh Imam Ahmad dengan sanad shahih. Suatu ketika ada seorang lelaki melewati suatu kaum yang sedang berada dalam sebuah majlis. Orang laki-laki itu mengucapkan salam, mereka pun menjawab ucapan salam tersebut. Tapi tak berapa jauh orang itu pergi, salah seorang dari majlis itu berkata, “Sesungguhnya aku membenci orang itu karena Allah.” Orang yang mendengar perkataan itu terkejut dan mengatakan, “Buruk sekali apa yang engkau ucapkan. Demi Allah aku akan ajukan perkataan ini pada Rasulullah.”

    Orang yang telah lewat itu kemudian dipertemukan oleh Rasulullah dengan orang yang memiliki prasangka buruk itu. “Mengapa kamu membencinya?” tanya Rasul. “Aku tetangganya, dan mengenalnya. Demi Allah aku tidak pernah melihatnya melakukan shalat kecuali yang diwajibkan,” katanya. Orang itu berkata, “Tanyalah wahai Rasulullah, apakah ia pernah melihatku mengakhirkan shalat di luar waktunya atau aku pernah salah berwudhu, ruku’ atau sujud?” Orang yang berprasangka buruk itu mengatakan, “Tidak.” Kemudian ia mengatakan, “Demi Allah, aku tidak pernah melihatnya berpuasa sebulan kecuali pada bulan yang dipuasai oleh orang baik dan durhaka.” Orang yang dituduh itu mengatakan,“ Tanyakan wahai Rasulullah, “Apakah dia pernah melihatku tidak pusa pada bulan Ramadhan, atau aku mengurangi haknya?” Orang itu pun menjawab, “Tidak.”

    Tapi ia masih menambahkan lagi alasan kebenciannya. “Demi Allah aku belum pernah melihatnya memberi orang yang meminta-minta atau orang miskin sama sekali, aku juga tidak pernah melihatnya menginfakkan sesuatu dijalan Allah kecuali zakat yang juga dilakukan oleh orang yang baik dan durhaka,” katanya. Orang yang dituduh itu mengatakan, “Tanyakan padanya ya Rasulullah, apakah aku pernah mengurangi zakat ataukah aku pernah mendzalimi pemungut zakat yang memintanya?” Orang itu menjawab, “Tidak”  Akhirnya Rasulullah berkata pada orang yang melontarkan kebencian tanpa alasan yang jelas itu. “Pergilah, barangkali dia lebih baik daripada dirimu,” Ujar Rasulullah.

    Ketiga, bila sumber informasi itu muncul dari dalam hati sendiri tanpa sebab-sebab yang jelas, kecuali sekedar penampilan lahir atau kecurigaan belaka. Beristighfar dan mohon ampunlah kepada Allah SWT. , atas kekeliruan lintasan hati negatif itu. “Seseorang tidak boleh meyakini keburukan orang lain kecuali bila telah nyata dan tidak dapat diartikan dengan hal lain kecuali hanya dengan keburukan,” nasihat Imam Al-Ghazali.

    Beliau mencontohkan bila seseorang mencium bau minuman khamr dari mulut seseorang, ia masih belum boleh memastikan bahwa ia telah meminum khamr, karena masih ada kemungkinan untuk dikatakan bahwa ia telah minum khamr, karena masih ada kemungkinan untuk dikatakan bahwa dia berkumur-kumur saja dan tidak meminumnya, atau mungkin dia dipaksa meminumnya.

    Menurut Imam Al-Ghazali, sesuatu yang tidak disaksikan dengan mata kepala dan tidak didengar dengan telinga sendiri, tapi muncul didalam hati, maka itu tidak lain merupakan bisikan setan yang harus ditolak, karena syetan adalah makhluk yang fasik. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakkan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya.” (QS. Al-Hujaimah: 6)

    Keempat, sadarilah bahwa lahiriah seseorang tidak selalu identik dengan batinnya. Islam sama sekali tidak mengajarkan penilaian seseorang dari aspek lahirnya. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk tubuh kalian, tapi melihat pada hati kalian.”

    Dalam hadits yang shahih yang lain disebutkan pula bagaimana Rasulullah menggambarkan bahwa kondisi orang yang secara lahiriyah kurang baik, berdebu, rambutnya kumal, dan banyak dipandang hina oleh seseorang, tapi orang tersebut adalah yang paling didengar doanya oleh Allah SWT. Sebaliknya, orang yang bersih, dan menarik penampilan lahirioyahnya, ternyata orang itulah yang memiliki penilaiantidak baik dimata Allah SWT.

    Naif sekali, merasa curioga dan buruk sangka karena alasan lahir. Allah SWT bahkan menjelaskan bahwa diantara orang munafik biasanya memiliki penampilan yang memukau. “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum.” (QS. Al-Munafikun: 4)

    Kelima, terimalah fakta bahwa setiap orang pasti telah lepas kontrol sesekali. Tidak perlu mengembangkan perasaan dan dugaan terlalu besar dengan sesuatu kesalahan yang dilakukan seseorang. Kesalahan itu adalah sesuatu hal yang lumrah bagi manusia. Karenanya coba arahkan perhatian itu pada diri sendiri, bukan pada orang lain. Terlalu besar memperhatikan kesalahan orang lain, merupakan menjadi sebab seseorang menjadi mudah mencurigai dan berburuk sangka. Ingatlah prinsip yang diajarkan Rasulullah Saw. Berbahagialah orang yang disibukkan oleh aib dan kesalahan dirinya, ketimbang sibuk oleh aib dan kesalahan orang lain.

    Keenam, salah satu pemicu buruk sangka, prasangka adalah rasa was-was atau beyangan ketakutan yang akan kita terima akibat pihak tertentu. Untuk mengatasinya, tumbuhkan keyakinan kuat bahwa Allah SWT Maha Mengetahui dan Maha Kuasa atas seluruh gerak-gerik hamba-Nya. Apa saja yang terjadi merupakan kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Keyakinan ini akan memunculkan kepasrahan dan ketenangan, serta tidak mudah membayangkan risiko pahit yang belum tentu benarnya. Keyakinan ini juga yang akan mengusir perasaan was-was dan bayangan menakutkan yang tak jelas ujung pangkalnya.

    Ketujuh, untuk mematahkan gangguan syetan, terapi yang paling penting adalah dengan dzikir kepada Allah SWT dan berusaha memperbanyak amal-amal ketaatan. Keduanya akan sangat menciptakan suasana hati yang hidup, bersih dan jernih. Hal ini lebih jauh akan menumbuhkan kualitas iman yang semakin tidak mudah bagi syetan untuk bersemayam didalam hati. Disinilah, seseorang akan mendapat cahaya Allah SWT sehingga pandangannya akan mengarah pada firasay yang benar, takutlah dari firasat seorang mukmin karena ia melihat dengan Nur Allah (HR. Turmudzi)

    Kedelapan, mintakan ampun kepada orang yang menjadi objek prasangka tanpa alasan yang jelas. itu adalah salah satu kafarat ghibah yang disebutkan Imam Al-Ghazali ra. Menurutnya, doa tersebut dapat menjengkelkan syetan sehingga syetan tidak bisa memasukan lintasan negatif atas seseorang . Prasangka, menurutnya sama dengan ghibah dalam hati. Maka, tebusannya antara lain dengan memohon ampunan kepada Allah atas saudara yang dicurigai itu.[]

    ***

    Majalah Tarbawi, Edisi 17 Th.2/28 Pebruari 2001

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 17 September 2012 Permalink | Balas  

    Khawatirkanlah Masa Depan, Asalkan… 

    Khawatirkanlah Masa Depan, Asalkan…

    Alkisah, Iwan baru saja terkena PHK dan mendapat pesangon yang dicicil enam kali.

    Setelah satu bulan tenggelam dalam keputus-asaan, ia membaca beberapa buku mengenai pengembangan diri. Dari situ, Iwan menanam sekeping pelontar semangat ke dalam dirinya: “Badai pasti berlalu. Bulan depan, mungkin saja aku sudah bebas dari krisis keuangan.” Maka naiklah semangatnya setinggi langit.

    Dengan semangat setinggi langit, Iwan mulai berusaha merintis jalan baru. Cicilan pesangonnya yang kedua ia jadikan modal. Dengan modal ini, ia kirim selusin surat lamaran per minggu ke beberapa perusahaan. “Di antara jutaan perusahaan,” pikir Iwan, “tentulah ada yang membutuhkan aku, lulusan diploma yang berpengalaman.” Namun sampai sebulan, tiada panggilan.

    Bulan berikutnya, Iwan menanam lagi sekeping pengobar semangat di dalam dirinya: “Siapa pun pasti berhasil kalau bersikap penuh semangat menghadapi masa sulit, bahkan walau tampak tiada harapan.” Maka melambunglah kembali kobaran semangat Iwan.

    Dengan kembali berkobarnya semangat dirinya, dikirimnya lagi selusin surat lamaran per minggu. Kali ini ke sejumlah perusahaan yang membutuhkan lulusan diploma tanpa peduli pengalaman kerja. Sampai sebulan, tetap belum ada balasan.

    Bulan selanjutnya, Iwan menanam lagi sekeping peluncur semangat di dalam dirinya: “Roda selalu berputar. Tahun depan, pasti giliranku naik ke atas.” Maka meroketlah spirit Iwan.

    Dengan spirit yang meroket ini, dikirimnya selusin surat lamaran per minggu ke banyak perusahaan yang membutuhkan lulusan SMU yang berpengalaman. Sampai sebulan, keadaan belum berubah.

    Bulan berikutnya, semangat Iwan mulai goyah. Tapi, ia merasa tak punya pilihan lain. Sebab itu, telinganya makin dia buka lebar-lebar, mendengar seruan para suporter: “Jangan menyerah. Teruslah mencoba dan mencoba lagi. Sebab, orang yang tidak pernah mencoba takkan maju. Sebaliknya, yang pantang menyerah pasti sukses.” Maka larilah Iwan mengejar cita-cita.

    Setelah dibawanya cicilan pesangon yang kelima, dikirimnya lagi selusin surat lamaran per minggu. Kali ini ke berbagai perusahaan yang membutuhkan lulusan SMU tanpa peduli pengalaman kerja. Sampai sebulan, akhirnya… (pembaca jangan kaget, ya…), lamarannya masih belum membuahkan hasil!

    Kami tidak terlalu kaget mendapati gigihnya Iwan mengirim surat lamaran. Kami bisa menduga kenapa dia terus berjuang ‘pantang menyerah’ secara begitu. Pasalnya, buku-buku pengembangan diri yang dia baca memang selalu berseru: “Jangan menyerah!”

    Kami pun tidak terlalu kaget mendapati kenapa para penulis buku tersebut selalu menyeru para pembaca untuk jangan menyerah dalam keadaan apa pun. Pasalnya, karena hidup dalam budaya Nasrani, mereka sering mendengar dan mengucap kata-kata dari Injil yang menekankan seruan begitu. Konon, Yesus bersabda: “… Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai keyakinan sebesar biji sawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung ini, ‘Pindahlah dari tempat ini ke sana, Emaka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Matius 17: 20)

    Hanya saja, Iwan (dan pembaca muslim lainnya) tampaknya belum tahu bahwa Al-Qur’an berkata lain. Ia belum sadar, “takkan ada yang mustahil” itu berlaku hanya bagi Allah. Padahal, di kitab suci kita, Allah telah menyindir: “Apakah manusia memperoleh segala yang dia harapkan? [Tidak!] Maka segala kesudahan dan permulaan itu milik Allah.” (QS an-Najm [53]: 24-25) Jadi, bagi kita manusia, ada (sedikit-banyak) harapan yang mustahil kita capai.

    “Aduh!” mungkin Anda mengaduh, “aku jadi khawatir. Jangan-jangan banyak harapanku yang mustahil tercapai di masa depan.”

    Kalau perasaan Anda begitu, silakan Anda simak untaian kata-kata Buya Hamka di buku Tasauf Modern berikut ini.

    Kalau takut disiksa [di neraka], singkirkan dosa. Kalau takut rugi berniaga, hendaklah hati-hati. Kalau takut pekerjaan ditimpa bahaya, jangan lupa mengawasinya. …

    Karena menurut sunnatullah: dikuncikan rumah [lebih] dahulu, baru orang maling tertahan masuk; ditutupkan pintu kandang [lebih dahulu], baru musang tak mencuri ayam.

    Jadi, boleh-boleh saja Anda khawatirkan masa depan Anda, asalkan Anda berupaya meng-antisipasi-nya secerdas-cerdasnya.

    ***

    Oleh: M. Shodiq Mustika

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 16 September 2012 Permalink | Balas  

    Keshalihan Itu Menembus Segala Batas 

    Keshalihan Itu Menembus Segala Batas

    Suasana di Madinah begitu mencekam. Hari-hari terasa lamban berjalan. Telah lima tahun Rasulullah dan kaumnya tinggal di kota baru itu. Selama masa itu telah benyak peristiwa besar terjadi. Tetapi, hari itu kaum Muslimin menghadapi peristiwa paling genting sepanjang sejarah perjuangan mereka. Menghadapi saat-saat menegangkan, dikepung kafir Quraisy dan Yahudi dari segala penjuru.

    Biang dari semua itu adalah Yahudi Bani Nadhir. Para pembesarnya begitu antusias membakar semangat orang-orang kafir Quraisy. Mengajkak mereka menumpas kaum Muslimin. Tidak hanya itu Bani Nadhir juga memprovokasi dan mengajak Yahudi Bani Ghathafan,Bani Fuzarah, dan Bani Murrah yang memang telah punya dendam kesumat kepada kaum Muslimin. Dalam pada itu, tiba-tiba Yahudi Bani Quraidah yang telah terikat perjanjian dengan Rasulullah dan kaum Muslimin juga mmengkhianati. Keguncangan datang berlapis-lapis.

    Dengan usulan Salman Al-Farisi, kaum Muslimin menggali parit. Mereka bahu membahu bekerja keras. Tetapi suasana menakutkan tak serta merta hilang. Apalagi orang-orang munafik didalam kota Madinah tidak mau turut bekerja. Siang dan malam silih berganti. Kaum Muslimin tidak bisa kemana-mana. Segalanya begitu menakutkan.

    Buku-buku sirah menulis panjang lebar tentang perang yang dikenal dengan Perang Ahzab (sekutu) atau Perang Khandaq (parit) itu. Allah menggambarkan betapa dahsyatnya goncangan yang terjadi saat itu, seperti dalam firman-Nya, “(yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ketenggorokan, dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka.” (QS. Al-Ahzab: 10).

    Hingga ketika segalanya mencapai puncaknya, Allah SWT mnurunkan karunia dan pertolongan-Nya. Para tentara sekutu itu diobrak-abrik Allah melalui tentaranya dibuni. Dikirimnya angin topan yang dahsyat dan malaikat. Allah SWT mengisahkan, “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu, ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ahzab: 9)

    Begitulah. Akhirnya Rasulullah dan orang-orang beriman itu diselamatkan Allah. Banyak pelajaran penting dari Perang Ahzab. Satu diantaranya , bahwa karunia Allah itu menembus segala batas. Seperti juga angin dan pasir yang menghancurkan tentara sekutu kafir itu, seperti itu pula dalam hidup ini, ada banyak tentara Allah yang bertebaran di muka bumi. Bila Allah berkehendak, mereka bisa diperintahkan menolong kaum Muslimin. Mungkin konteksnya tidak selalu dalam medan jihad perang. Tetapi bisa saja dalam lingkup kehidupan sehari-hari pribadi seorang Mukmin.

    Terlalu banyak rahasia hidup yang tidak kita ketahui. Karenanya kita semua sangat berharap kepada karunia Allah, kita memang boleh berhitung. Tentang apa saja. Juga tentang hidup yang berliku-liku. Tetapi, hidup tak selamanya berjalan dalam dalam kalkulasi matematis. Ada ruang lain yang harus kita yakini. Karena diluar diri kita, diluar seluruh makhluk langit dan bumi, ada kekuasaan Allah. Itulah ruang lain itu. Kita semua adalah hamba Allah Yang Maha Kuasa. Karenanya, kita perlu kepada kekuatan, pertolongan, dan dukungan Allah. Tidak ada yang bisa hidup tanpa pertolongan Allah. Allah SWT berfirman, “Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu. Dan jika Allah membiarkan kamu (tidak memberikan pertolongan), maka siapa gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. Ali Imran: 160)

    Suka duka hidup ini, sering kali tidak bisa kita tebak. Apa yang menurut kita akan berjalan kearah yang baik, bisa jadi berujung dengan keburukan. Apa yang kita sangka tidak menyenangkan, ternyata akhirnya sangat membahagiakan. Apalagi musibah, bencana, dan malapetaka, seringkali datang dengan sangat tiba-tiba. Lalu, dalam sekejap tatanan hidup secara sosial maupun material yang bertahun-tahun kita bangun menjadi luluh lantak. Nyawa orang-orang yang kita cintai pun melayang.

    Tidak semua yang kita rencanakan pasti berhasil. Karena hidup ini bukan lurus tanpa belokan. Terlalu banyak rahasia Allah yang tidak kita ketahui. Kalu untuk sekedar makan atau minum, atau menyambung nyawa, Allah akan memberikannya untuk orang beriman maupun untuk orang kafir. Tetapi soal berkah, pembelaan Allah, karunia, pahala, bimbingan, petunjuk, penghargaan, bahkan janji surga, itu hanya diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin.

    Kita tidak sekedar perlu makan dan minum. Bagi seorang mukmin, hidup tidak sekedar mengisi perut dan menyambung nafas. Ada pemaknaan jauh lebih tinggi, terhormat, dan mengantarkan kita pada harga diri kemanusiaan yang paling tinggi: sebagai khalifah. Wakil Allah dimuka bumi, yang tugasnya kepada Allah, memakmurkan bumi, dan menegakkan agama-Nya.

    Itu semakin menegaskan, bahwa kita harus mendekat kepada Allah. Dengan beragam amal keshalihan. Agar, dengan amal-amal itu, Allah berkenan menurunkan berkah-berkah-Nya, dalam bentuk apapun, yang menjadi penguat perjalanan hidup kita. Dalam bahasa Islam, mengharapkan berkah dengan mempersembahkan amal keshalihan ini disebut dengan tawassul. Artinya, memohon sesuatu kepada Allah dengan terlebih dahulu mempersembahkan amal keshalihan tertentu, yang amal itu sendiri dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 35)

    Karunia-karunia ini harus dimohonkan kepada Allah. Dengan cara semaksimal mungkin agar kita menjadi orang yang shalih. Karena berkah-berkah kesalihan itulah yang diharapkan bisa menurunkan karunia tersebut. Itu pun sesungguhnya tidak serta mertasemua karunia Allah murni karena amal kita. Mungkin kebanyakan merupakan kebaikan (ihsan) dari Allah. Kalau sekedar mengandalkan amal kita, kita bisa menghitung. Sudah seberapa kualitas amal kita? Tidak akan sebanding dengan karunia Allah.

    Bahkan, kadang apa yang kita nikmati dari karunia hidup ini boleh jadi lantaran berkah dari keshalihan orang lain, seperti para da’i yang tak kenal henti untuk terus berjuang dijalan Allah, mencegah kepada kemungkaran dan menyerukan kepada kebaikan, atau pada orang-orang tertindas yang terus berdoa, taau orang-orang miskin yang tetap menjaga kehormatan dirinya, atau para orang tua kita yang setiap malam menangis kepada Allah meminta agar anak-anaknya, yang juga darah dagingnya jangan sampai menjadi sampah masyarakat.

    Alangkah bodohnya kita, bila memandang alur hidup ini sangat individual. Merasa diri segala-galanya. Sejarah sendiri membuktikan, mereka yang mendapatkan karunia dari Allah, adalah mereka yang telah mempersembahkan kepada Allah begitu banyak keshalihan. Kalaupun tidak banyak secara jumlah, mungkin secara mutu dan kualitas amal. Berkah dan karunia itu tidak gratis, kecuali apa yang memang merupakan kebaikan Allah secara Cuma-Cuma untuk makhluk hidup-Nya.

    Lihatlah para pejuang dijalan Allah. Mereka mempersembahkan puncak tertinggi dari bentuk amal keshlihannya. Lalu gugur di medan jihad. Maka mereka pun mendapat berkah yang sangat luar biasa, sebagai mana firman Allah SWT., “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran: 169). Selain itu, orang yang gugur syahid bisa memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari keluarganya. Ia mendapat isteri para bidadari, dan mendapat banyak sekali kemuliaan di surga Allah.

    Berkah-berkah keshalihan memang banyak bentuknya. Kadang berupa rezeki yang bermanfaat, anak yang shalih, suami atau isteri yang shalih dan shalihat, atau bentuk-bentuk lainnya yang masih banyak lagi. Seperti kisah Ummu Salamah sebelum menjadi isteri Rasulullah. Ia bertutur, bahwa ketika suaminya, Abu Salamah meninggal, ia sangat sedih. Abu Salamah sendiri seorang sahabat yang terkenal keshalihannya, juga berperan besar dalam hijrah. Sampai-sampai Ummu Salamah berkata, “Aduhai, siapakah lelaki muslim yang lebih baik dari Abu Salamah?”

    Tetapi Ummu Salamah berusaha tegar. Ia lantas mengucapkan doa yang diajarkan Rasulullah SAW. “Allahumma ajirni fii musibatii wakhluflii khairan minhaa (ya Allah, anugerahi ganjaran dalam musibahku ini, dan berikanlah aku ganti dengan yang lebih baik). Akhirnya, Ummu Salamah benar-benar mendapat ganti seorang suami, yang tentu lebih baik dari Abu Salamah. Karena suami barunya itu adalah Rasulullah SAW.

    Setiap kita bisa mengejar berkah-berkah keshalihan itu. Dari pintu yang bermacam-macam. Karena Allah telah berjanji, dan janji Allah pasti ditepati, bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan siapapun yang beramal shalih. Jalan mengejar berkah keshalihan itu sebanyak jalan menuju amal kebaikan itu sendiri. Dari yang terkecil hingga yang terbesar. Dari yang bobotnya ringan hingga yang bernilai sangat tinggi.

    Hidup ini memang memerlukan keberanian. Tetapi, keberanian seorang mukmin terlebih dulu dengan iman dan amalnya, sebelum dengan bentuk-bentuk kekuatan lainnya. Siapa yang mendekat kepada Allah sejengkal, Allah akan mendekat kepadanya sehasta. Siapa yang menuju Allah dengan berjalan, Allah akan mendekat kepadanya dengan berlari. Demikian seterusnya.

    Dimalam-malam yang tak lagi ada suara. Ketika segala yang bergerak menjadi diam. Ketika hati jauh dari hiruk pikuk kehidupan yang congkak. Itu adalah saat-saat terindah untuk bersimpuh kepada Allah. Saat yang tepat untuk mendidik jiwa kepuncak kejujurannya, bahwa ternyata kita bukan apa-apa. Bahkan tak bisa memberikan jaminan apap bagi bagi detik-detik kehidupan kita berikutnya. Kini saatnya kia kembali kepada tuntunan Allah, dengan iman dan amal shalih, sebaik dan sebanyak yang kita bisa.[]

    ***

    Majalah Tarbawi, Edisi 38 Hal. 6 Th.4/4 Juli 2002

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 15 September 2012 Permalink | Balas  

    Pergi Haji Modal ‘Seratus Rupiah’ 

    Pergi Haji Modal ‘Seratus Rupiah’

    Tahun 1991, ibadah haji, ONH-nya sekitar enam juta rupiah.

    Bertambah lama seiring dengan perubahan nilai tukar rupiah, ONH semakin misalnya tujuh juta, sembilan juta, dua belas juta, dua puluh satu juta, dua puluh lima juta rupiah,

    Bagaimana kalau ada orang yang pergi haji dengan modal ‘seratus rupiah’ saja…?

    Pada hari minggu pagi yang cerah, seperti biasanya saya pergi belanja di salah satu pasar. Suatu ketika saya belanja palawija pada seorang ibu setengah baya. Ada satu hal yang membuat saya terpana. Saya sangat tertarik melihat cara ibu tersebut melayani pembelinya.

    Karena tertarik, maka setiap saya pergi ke pasar tersebut saya selalu memperhatikan lebih seksama lagi terhadap perilakunya. Beberapa kali saya perhatikan menjadikan saya lebih ‘penasaran’ untuk lebih mengikuti secara rutin kejadian demi kejadian yang ‘diperagakan’ oleh ibu tersebut.

    Katakanlah ia bernama Ibu Asih. Apa yang dilakukannya setiap ia melayani pembelinya? Yang membuat saya kagum tiada habisnya ialah, setiap ia selesai menjual barang dagangannya, secara spontan mulutnya selalu bergumam lirih dengan ucapan “Alhamdulillah”

    Apakah dagangannya laku sedikit atau laku banyak, selalu saja mulutnya bergumam alhamdulilaah sebagai ungkapan rasa syukurnya.

    Yang lebih menarik lagi ialah setiap ada orang peminta-minta yang menengadahkan tangannya, tidak satupun yang tidak diberinya, demikian pula tak satupun seorang pengamen yang lewat yang tidak diberinya.

    Meskipun ia sedang sibuk melayani orang-orang yang sedang membeli barang dagangannya, selalu saja ia menyempatkan tangannya untuk memberi mereka. Diambilnya uang logam seratus rupiah, yang rupanya sudah disediakan untuk orang-orang tersebut. Sayangnya saya tidak pernah bertanya kepadanya kira-kira ada berapa puluh orang dalam satu hari ia memberi orang miskin dan para pengamen tersebut .

    Ini sebuah kejadian yang nampaknya biasa-biasa saja. Tetapi memiliki nilai yang sangat tinggi dalam kehidupan sosial maupun dalam kehidupan religius. Ucapan syukur beserta penghayatan dan sekaligus pengamalannya telah diperagakan oleh ibu Asih. Meskipun dengan cara sederhana dan dengan nilai rupiah yang kecil.

    Hal ini sangat berbeda sekali dengan kondisi sebuah toko yang lebih besar, yang letaknya tidak seberapa jauh dari ibu penjual palawija ini.

    Di depan toko itu tertempel kertas putih bertuliskan kalimat yang cukup ‘sopan’ yaitu : ‘maaf ngamen gratis’

    Sebuah retorika yang cukup sopan dan lembut, tetapi jika dilihat dari sudut pandang yang lebih arif, kita bisa menyimpulkan bahwa hati dan perasaan ibu Asih jauh lebih lembut dari pemilik toko tersebut.

    Saya menaksir bahwa keuntungan yang diraih oleh pemilik toko tersebut nampaknya cukup besar setiap harinya. Tetapi ia tidak mau dan tidak rela ‘berbagi rasa’ dengan para pengamen dan para pengemis, walaupun hanya seratus rupiah saja.

    Sungguh sangat berbeda dengan kondisi ibu Asih, yang dagangannya jauh lebih kecil dibanding toko tersebut, tetapi ia mempunyai hati yang lembut dan rasa welas asih kepada para pengamen dan para peminta-minta.

    Setelah saya amati sekian lama, hasil dari perilaku ibu Asih tersebut sungguh luar biasa. Kami perhatikan barang dagangannya bertambah lama semakin bertambah besar. Dan klimaksnya, beberapa waktu yang lalu ia dapat pergi menunaikan ibadah Haji bersama suaminya.

    Dan saya pun merenung. Allah telah mengganti nilai seratus rupiah yang diperuntukkan bagi orang-orang miskin itu. Sekarang tumbuh menjadi dua buah ONH bu Asih dan suaminya. Sungguh luar biasa!

    Satu lagi yang dapat saya simpulkan, bahwa ucapan alhamdulillaah di bibir ibu Asih mempunyai timbangan setara dengan lima puluh juta rupiah. Subhaanallah…

    Apa janji Allah Swt ?

    QS. Ibrahim : 7

    “Barangsiapa yang mensyukuri nikmatKu, pasti akan Aku tambah, dan barang siapa yang lalai dan kufur terhadap nikmatKu, maka tunggulah siksaKu amatlah pedihnya ”

    Melihat contoh sederhana dalam kehidupan semacam ini, sebagai orang yang beriman tentu hati kita menjadi tergerak untuk menirunya. Meniru kelemah lembutan hatinya. Meniru kepeduliannya. Meniru rasa percaya dirinya akan balasan dari Allah Swt. Dan meniru bagaimana cara mengungkapkan rasa syukurnya.

    Yah, kadang-kadang manusia memang harus banyak belajar dari manusia lainnya. Bahkan dari semua peristiwa yang telah terjadi. Karena semua peristiwa yang telah terjadi di dunia ini adalah contoh berharga yang harus kita pelajari, kita baca, dan kita renungkan. Semua itu merupakan ilmu Allah yang sangat mahal nilainya.

    Dengan ‘modal’ seratus rupiah, bu Asih berangkat Haji bersama suami…!

    QS. Al Baqarah: 152

    Maka ingatlah kepadaKu, supaya Aku juga ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu, dan janganlah menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 14 September 2012 Permalink | Balas  

    Misteri Persoalan Manusia 

    Misteri Persoalan Manusia

    Insya Allah, setiap orang pernah pergi ke pasar. Entah untuk keperluan belanja, mengantar keluarga, atau karena keperluan lainnya. Jika kita suatu saat berada di pasar, maka lihatlah lalu lalang manusia dengan ekspresinya yang bermacam-macam, yang menunjukkan kepentingan dan emosi yang berbeda-beda pula.

    Bisakah kita melihat kehadiran Allah Yang Maha Kuasa, ketika kita menyaksikan keanekaragaman manusia, dan keanekaragaman barang-barang yang berada di dalam pasar?

    Mungkin yang perlu kita pertanyakan kepada diri sendiri, adalah mengapa ribuan barang yang ada di dalam pasar tersebut selalu ada saja yang membeli dan memerlukannya? Setiap orang yang pergi ke pasar dan perlu untuk membeli atau menjual barang, berarti dia sedang mempunyai persoalan pada dirinya dan keluarganya.

    Apabila di dalam pasar ada seribu saja jenis barang yang berbeda, dan apabila suatu saat barang-barang tersebut laku karena dibutuhkan orang, berarti setidaknya ada seribu persoalan yang berbeda, dalam diri orang-orang yang pergi ke pasar tersebut.

    Yang sangat hebat dan menjadi misteri adalah, bahwa persoalan yang muncul dengan tingkat variasi yang berbeda pada setiap orang, dapat dijawab dan diselesaikan oleh persoalan orang lain dengan variasi yang berbeda pula….

    Putra pak Aman yang masih duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar, suatu saat diberitahu oleh ibu gurunya agar makan sayuran yang cukup supaya badannya tumbuh sehat dan cepat besar. Bu Aman yang kebetulan sedang sakit minta bantuan pak Aman untuk pergi ke pasar agar membeli sayuran atas permintaan anaknya tersebut. Maka pak Aman pagi-pagi berangkat ke pasar naik angkutan umum untuk membeli sayuran yang dimaksud.

    Pada saat yang bersamaan Bagus, seorang anak petani di suatu desa yang jaraknya cukup jauh dari pasar, tidak punya uang untuk membayar sekolahnya. ‘Kebetulan’ saat itu musim petik sayur tiba, maka orang tua Bagus pergi ke pasar untuk menjual sayuran hasil kebunnya. Setelah berada di pasar ‘kebetulan’ lagi ia bertemu dengan pak Aman yang juga sedang membutuhkan sayuran untuk keperluan anaknya. Maka terjadilah transaksi jual beli sayuran antara pak Aman dan bapaknya Bagus.

    Sungguh sederhana kejadian tersebut. Tetapi jika diperhatikan dan direnungkan, sungguh luar biasa!

    Pada ‘moment’ transansaksi itu bertemulah berbagai kepentingan yang saling menolong dan saling memberikan solusi bagi persoalan masing-masing.

    Di sini nampak, bahwa persoalan-persoalan yang kelihatannya tidak memiliki keterkaitan, ternyata setelah diperhatikan dengan seksama menjadi satu rumpun persoalan yang kemudian mempunyai hubungan sangat erat.

    Yaitu :

    • Peristiwa Ibu guru yang menjelaskan ilmunya
    • Kurikulum Sekolah Dasar tentang pentingnya ilmu Gizi
    • Bu Aman yang sedang sakit minta kerelaan suaminya untuk pergi ke pasar
    • Pak Aman yang bersedia pergi ke pasar untuk membeli sayur
    • Sopir angkutan umum yang berangkat bekerja pagi hari
    • Peraturan sekolah yang mengharuskan Bagus membayar uang sekolah
    • Musim petik sayur yang ‘kebetulan’ sedang tiba
    • Putra pak Aman yang tumbuh menjadi sehat

    Dari ilustrasi sederhana ini nampak sekali betapa sebuah persoalan, bisa membias menjadi bermacam-macam persoalan yang antara satu dengan lainnya saling terkait dengan erat, dan saling memberi solusi.

    Kalau hal tersebut dibicarakan dengan logika matematis memang akan menjadi nampak aneh! Tetapi dengan menggunakan logika iman, nampak jelas semua keterkaitan tersebut.

    Bisakah kita mencari jawabnya? Dimanakah letak keterkaitannya? antara kurikulum kelas tiga SD dengan keberangkatan sopir angkot pagi hari? siapa yang membangunkan sopir angkot untuk bangun pagi? antara keikhlasan pak Aman pergi ke Pasar dengan keperluan Bagus membayar sekolah? antara peraturan sekolah dengan musim petik sayur? antara keinginan badan sehat dengan rezeki sopir angkot? siapa yang mengatur persoalan semua itu? apakah semua itu sekedar kebetulan saja? jika hal itu kebetulan, kenapa berjuta peristiwa itu terjadi di setiap saat dan waktu? Dan terus berkelanjutan, sehingga dusnia tetap lestari? berapa ribukah jumlah pasar yang ada di propinsi Jawa Timur? berapa juta persoalan manusia yang ada di pulau Jawa ‘saja’? mungkin semua manusia menganggap persoalannya paling rumit dan paling berat. Tetapi Allah Swt justru menyelesaikan persoalan setiap manusia dengan persoalan manusia yang lain….betapa Dahsyatnya, betapa Agungnya, dan betapa Indahnya Dzat Yang Maha

    Tinggi itu dalam mengatur urusanNya…. ….subhaanallah….wal hamdulillaahi wa laa ilaaha ilallahu Allahu Akbar..!

    Satu kesimpulan yang membuat kita menjadi tertegun adalah, ternyata setiap persoalan yang kita hadapi menjadi solusi bagi persoalan orang lain. Bahkan juga mungkin sekali sebagai jalan keluar bagi persoalan kita lainnya…

    Berarti setiap kita punya persoalan, mungkin itulah sebuah jawaban dari do’a yang sering kita munajatkan sebagai solusi dari persoalan yang lain ….. ? Wallaahua’lam

    Begitulah kiranya, salah satu cara Allah untuk melestarikan kehidupan dunia. Barang siapa yang mampu melihat (persoalan) dirinya, Ia akan mampu melihat (kasih sayang)Tuhannya.

    QS. Al Baqarah : 115

    Dan kepunyaan Allah-lah timur dan beret, make ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 13 September 2012 Permalink | Balas  

    Indahnya Saling Memberi 

    Indahnya Saling Memberi

    Zaman bertambah maju! Demikian sebuah ungkapan tentang zaman sekarang ini. Secara umum hal ini dapat ditengarai dari keadaan masyarakat kita. Kondisi sekarang memang relatif lebih baik’ dibanding zaman dahulu. Sebut saja era 1970-an. Ketika itu, dari sekian keluarga yang ada di kampung saya berada, yang mempunyai pesawat televisi hanya ada dua orang saja.

    Sehingga kalau ada pertandingan sepak bola dunia misalnya, atau ada pertandingan tinju kelas dunia, atau acara menarik lainnya yang ada di televisi, sebagian besar penduduk yang ingin melihat akan berbondong-bondong menuju ke rumah yang mempunyai televisi tersebut.

    Sekitar satu jam sebelum pertunjukkan dimulai, kami semua pemuda maupun orang tua sudah berjubel mencari tempat duduk yang enak di dekat televisi agar bisa melihat dengan jelas. Demikian sekedar gambaran betapa sekarang ini zaman sudah semakin maju.

    Kini, di kampung tempat tinggal saya dahulu -sekitar 900 keluarga – tidak satu pun yang tidak mempunyai televisi. Apakah rumah mewah yang di dalamnya terdapat lebih dari satu pesawat televisi, ataukah gubuk-gubuk kecil sederhana yang hanya punya satu ruangan saja, semua rumah sudah ada televisinya. Zaman sudah berubah!

    Bersamaan dengan ‘kemajuan’ zaman, maka situasi dan kodisi juga berubah secara drastis dan mengejutkan. Tetapi perubahan demi perubahan itu menjadi tidak terasa karena kita semua juga mengikuti perubahan yang terjadi, sehingga terjadilah penyesuaian perubahan pada masing-masing orang.

    Sebagai ilustrasi sederhana, kita ketahui bahwa bumi tempat kita berpijak ini bergerak mengelilingi matahari dengan kecepatan yang sangat tinggi yaitu sekitar 107.000 km/jam. Dan pada saat yang bersamaan pula bumi kita juga berputar pada sumbunya dengan kecepatan sekitar 1.600 km/jam. Baik secara revolusi maupun secara rotasi bumi mengalami perubahan posisi yang sangat cepat dan bermakna.

    Mengapa kita tidak merasakannya? Jawabnya, adalah karena kita juga mengikuti perubahan itu. Kita telah lengket di bumi tempat kita berpijak, disebabkan adanya gravitasi bumi. Bayangkan andaikata kita manusia yang ada dibumi ini tidak dipengaruhi oleh gravitasi bumi. Dan kita berada pada posisi ‘bebas’, padahal bumi terus berputar dan bergerak dengan begitu cepatnya…

    Kira-kira apa yang akan terjadi ? Tentu kita manusia akan hancur berantakan dan ludes, karena akan tertabrak dan ‘tertampar’ oleh ribuan bangunan dan ribuan pohon-pohon besar yang ada di sekitar kita yang ikut berputar karena mengikuti rotasi bumi. Untung saja dengan penuh kasih sayangNya Allah Swt memberlakukan gravitasi bagi manusia. Sehingga manusia juga ikut berputar mengikuti rotasi bumi dengan `nyaman’…

    Berkaitan dengan kemajuan zaman yang semakin modern ini, marilah kita saksikan sebuah kejadian lain…!

    Ternyata kehidupan di sekitar kita semuanya juga berubah. Termasuk pasar tempat kita belanja. Yang dahulu kita belanja di pasar tradisional, kini perilaku kita juga berubah. Kita sering belanja di tempat-tempat belanja modern yaitu di supermarket. Saat ini sudah demikian menjamur dan banyak bermunculan disetiap kota besar maupun kota kecil di seluruh pelosok negeri.

    Jika kita bandingkan kedua pasar itu, ada suatu perbedaan yang sangat menyolok dan cukup signifikan antara situasi pasar tradisional dan supermarket sebagai pasar modern.

    Belanja di supermarket, lebih praktis, lebih efektif, serta lebih bersih keadaannya. Sehingga waktu pun menjadi lebih efisien. Dan suasana belanja mungkin menjadi lebih nyaman. Di supermarket semua barang sudah ada label harganya. Sudah ditimbang sesuai dengan ukurannya. Tak ada tawar menawar antara penjual dan pembeli. Mungkin itulah ciri dari masyarakat modern! Semua ingin serba cepat dan praktis.

    Tetapi, pada kondisi itu kalau kita renungkan, dan kita cermati dengan seksama, ada sesuatu yang hilang, Mari kita kenang kembali, suasana ketika masing-masing dari diri kita pernah belanja di pasar tradisional. Yang sampai sekarangpun sebenarnya masih banyak kita jumpai.

    Pernah suatu ketika saya belanja di pasar ‘pagi’ di kampung saya. Pada saat itu tanpa sengaja saya melihat suatu ‘adegan’ yang cukup menarik untuk ditulis dalam diskusi ini. Seorang ibu setengah baya, membeli buah alpukat di salah satu penjual yang ada di pasar tersebut.

    Setelah terjadi dialog kecil dalam proses jual beli yang cukup akrab, ibu tersebut menawar dengan harga tertentu. Selanjutnya si penjual mengambilkan buah alpukat yang bagus-bagus sebanyak 10 buah ditambah satu. Sehingga buah alpukat yang dibeli menjadi sebelas buah dengan harga kesepakatan untuk sepuluh buah alpukat. (Dalam bahasa jawa, satu biji alpukat yang diberikan oleh si penjual disebut welasan).

    Ada tiga point penting yang cukup menarik untuk diperhatikan dalam proses jual beli tersebut, yang di pasar modern mungkin tidak pernah terjadi.

    Niat baik si penjual (yang sudah merupakan tradisi) memberi welasan pada si pembeli. Niat baik si penjual ketika memilihkan buah yang bagus. Proses komunikasi yang sangat akrab dan saling menghargai antara penjual dan pembeli

    Dalam waktu yang hampir bersamaan, terjadi pula di sebelah kejadian tersebut satu peristiwa yang tidak kalah menariknya.

    Seorang ibu muda membeli gula merah sebanyak satu kg. Yang menarik adalah ketika si penjual menimbang gula merah, daun timbangannya sangat mantap, melebihi berat 1 kg sebagai kesepakatan jumlah gula yang dibeli.

    Di sini terjadi sebuah tradisi budaya yang sangat indah, yaitu budaya memberi dari seorang penjual kepada pembeli.

    Dan yang lebih menarik lagi adalah, dikarenakan si penjual mempunyai niat yang baik ketika melakukan proses penimbangan, maka saya lihat si pembeli juga tidak mau ‘kalah’ dalam hal berbuat baik. Ketika si penjual berupaya mencari uang kecil sebagai uang kembalian dari jual beli tersebut, si pembeli tidak mau menerimanya.

    Kata pembeli : “…kersane bu, mboten usah ngangge susuk, njenengan sampun mantepake timbangan kangge kulo… ( biarlah bu, tidak usah pakai uang kembalian, toh, ibu juga telah memberi cukup banyak kelebihan timbangan gula ini untuk saya…)”,

    Kata penjual: “…maturnuwun bu, nyuwun ikhlase penggalih nggih …?( terima kasih bu, mohon keikhlasan hati, ya…?!)” Balas pembeli : “…oh, inggih bu, sami-sami..,( oh, iya bu, sama-sama…)”

    Inilah sebuah adegan sederhana dalam proses jual beli di pasar tradisional yang sangat menarik dan sangat Islami, yang tentu tidak akan kita jumpai di dalam supermarket. Point yang menarik dari kejadian sederhana itu adalah

    Adanya niat baik si penjual ketika memberi lebih banyak dari berat timbangan yang ditentukan. Niat baik si pembeli ketika membalas pemberian si penjual

    Permohonan maaf, untuk saling mengikhlaskan. Terjadinya proses ‘saling memberi’ yang sangat indah.

    “Saling memberi” adalah kata kunci dalam sebuah kehidupan sosial yang sangat harmonis, yang sangat Islami, yang di zaman modern ini semakin pudar dan semakin langka saja.

    Allah Swt, begitu menghargai orang-orang yang mempunyai semangat untuk memberi. Bahkan kata Allah dalam Al Qur’an Al Karim, salah satu sifat dari orang yang bertaqwa adalah suka memberi, baik ia dalam kondisi sedang lapang mau pun senang. Atau ketika kondisi sedang sempit dan susah.

    Q.S. Ali Imran:134

    (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

    Kejadian itu tampak sederhana. Suatu peristiwa keseharian yang ‘sepele’. Dan merupakan hal yang rutin. Tetapi kalau diamati dengan sesungguhnya, akan tampaklah keindahan peristiwa itu.

    Maka bagi seorang yang beriman dia akan selalu merasa bahwa Allah Yang Maha Kuasa, ternyata selalu ‘hadir Edimana saja dan kapan saja untuk memberi pelajaran kepada hambaNya.

    Timur dan barat adalah kepunyan Allah, oleh sebab itu kemana saja kita hadapkan muka, disana akan bertemu dengan Allah, sesungguhnya Allah Maha Luas kekuasaanNya dan Dia Maha Mengetahui.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 12 September 2012 Permalink | Balas  

    Berapa Harga Diri Kita? 

    Berapa Harga Diri Kita?

    Adakah uang receh, sudah tersiapkan di mobil kita? Sebab ketika lampu jalanan berwarna merah, anak-anak kecil itu bertebaran mengais rezekinya.

    Suatu ketika kami sekeluarga pergi ke tempat keramaian, sebuah pusat pertokoan. Kami berhenti di salah satu trafic light di tengah kota karena lampu sedang menunjukkan warna merah.

    Pada saat itu seperti biasanya beberapa anak jalanan bertebaran mencari ‘rezeki’ masing-masing dari beberapa pengendara mobil yang lagi berhenti.

    Sebagian besar dari mereka adalah para pengamen jalanan, dengan rata-rata usia sekitar 15 tahunan. Bahkan ada yang masih imut-imut sekitar umur 5 tahunan. Anak-anak kecil tersebut bernyanyi membawa sebatang kayu yang diberi logam bekas penutup botol kecap sehingga kalau digoyang akan mengeluarkan bunyi….

    Ada juga yang tanpa membawa apa-apa, pokoknya nyanyi, sambil mendekati setiap mobil yang berhenti di lampu merah.

    Pemandangan semacam itu menjadi biasa, karena setiap saat kita akan bertemu dengan mereka di jalanan. Sehingga tak akan membekas di hati, karena ya sudah setiap hari kita menemuinya.

    Tetapi marilah kita mencoba, menerobos hati kita yang ‘membaja’ tersebut. Cobalah melihat diri kita yang begitu banyak nikmat yang telah kita terima. Mulai dari nikmat sehat kita, nikmat rezeki kita, nikmat ilmu, nikmat kesempatan, nikmat keluarga yang bahagia. Bandingkan keadaan mereka dengan keadaan kita.

    Ah, sungguh hati ini akan bergetar. Lantas kita menjadi bersyukur, lantas kita menjadi kasihan, lantas kita menjadi merasa agak malu kalau tidak memberi, lantas kita menjadi merasa bersalah kalau membiarkan mereka, lantas kita merasa berdosa kalau kita lewat tanpa berbuat apa-apa untuk mereka…

    Pada saat itu mobil kami berada di urutan ke enam di belakang mobil-mobil yang bagus, bahkan di depan kami salah satunya adalah mobil mewah. Mereka para anak jalanan itu bertebaran menuju ‘mobilnya’ masing-masing. Anak yang ada di deretan mobil kami masih kecil sekitar usia 6 tahunan. Ia menengadahkan tangannya yang kotor dan kurus itu ke kaca mobil-mobil yang ada di depan kami.

    Terjadi sebuah pemandangan yang cukup mengharukan, karena semua mobil yang ada di depan kami ternyata tidak memberi sepeserpun kepada anak-anak kecil ini. Semua kacanya tertutup rapat karena mereka menikmati segarnya udara dingin di dalam mobil. Sementara di luar mobil anak-anak kecil itu juga sedang `menikmati’ panasnya terik matahari. Kami lihat mobil-mobil itu semua acuh tak acuh terhadap anak-anak kecil ini, yang sebenarnya jika mereka memberi seratus rupiah saja, sudah ada kelegaan di hati anak-anak kecil itu.

    Akhirnya anak-anak itu sampai ke mobil kami. Maka saya suruh adik saya yang masih berusia 10 tahun untuk memberikan uang kepada mereka. Uang tersebut memang sudah kami sediakan di mobil untuk anak-anak jalanan dan orang minta-minta lainnya.

    Sambil memberikan uang ‘recehan Ekepada anak-anak jalanan tersebut, adik saya bergumam :”..waduh mobil-mobil di depan kita itu bagus-bagus ya… pasti orang yang punya mobil adalah orang yang banyak duitnya… tetapi kok nggak memberi uang ya…?! Kasihan sekali anak-anak itu, mungkin mereka sudah sejak pagi tadi berdiri di tengah jalan ini…!”

    Mendengar kata-kata adik saya ini, saya jadi terharu. Padahal biasanya kami memberi ya dengan perasaan biasa saja tanpa teringat apa-apa karena semacam itu adalah hal yang rutin dilakukan oleh siapa saja. Tetapi setelah ada kata-kata tersebut maka perasaan trenyuh, haru, kasihan, merasa bersalah, muncul lagi di hati saya. Saya jadi berfikir. Betapa banyaknya orang-orang yang kondisinya lebih dari cukup, yang rezekinya dilebihkan oleh Allah Swt tidak mau peduli dengan kondisi masyarakatnya…

    Saya jadi teringat perkataan nabi Muhammad rasulullah saw. Kata beliau: “Sungguh belum dikatakan sebagai orang yang beriman, apabila ada orang tidur pulas kekenyangan, sementara ada tetangganya yang kelaparan.”

    Menarik sekali apa yang disampaikan Rasulullah Seseorang yang tidak tahu kalau ada tetangganya sedang kelaparan, ia sudah dikategorikan orang yang tidak beriman, ketika ia tertidur karena kekenyangan. Padahal kan orang yang tertidur itu tidak mengetahui kalau ada tetangganya yang sedang kelaparan? Mengapa ia masih dikatakan tidak beriman?

    Insya Allah artinya bahwa kita sebagai manusia yang hidup bersosial dengan manusia lainnya ini, seharusnya selalu aktif memperhatikan kondisi masyarakat kita. Meskipun yang sedang lapar itu tidak berada di hadapan, kita tetap dikategorikan sebagai orang yang salah. Bahkan dikatakan tidak beriman, jika itu terjadi di lingkungan kita.

    Kalaulah dalam keadaan yang tidak tahu saja, sudah dikatakan sebagai orang yang tidak beriman, bagaimana dengan kondisi diatas. Dimana anak-anak itu mendatangi kita menengadahkan tangannya untuk minta secuil rezeki kita?

    Masihkah kita bangga dengan sebutan kita sebagai orang Islam? Satu hal yang sangat ironis, adalah jika mobil-mobil yang acuh tersebut, ternyata di kaca mobilnya tertulis sebuah stiker yang sangat ‘keren’: “ISLAM IS OUR LIFE”.

    Ya Semoga dengan merenungi kejadian ‘rutin’ yang sering kita jumpai di masyarakat kita ini, paling tidak kita akan berbuat sesuatu…

    Kejadian di jalan itu tentu hanyalah sekedar contoh kecil saja. Semoga kita sebagai hamba Allah yang diberi rezeki yang cukup olehNya, kita juga ikut andil dalam meringankan beban saudara-saudara kita yang cukup memprihatinkan itu. Walaupun nilainya sangat kecil, walaupun yang kelihatannya tidak berarti apa-apa. Mari kita berbuat sebisa mungkin.

    Kata Ali bin Thalib: “… lebih baik memberi walaupun sedikit, dari pada tidak sama sekali…”

    InsyaAllah kita semua yakin bahwa masih sangat banyak orang-orang yang mempunyai kepedulian tinggi di masyarakat. Masih sangat banyak wali Allah yang dengan kedermawanannya telah berbuat banyak di masyarakat ini. Karena memang disinilah letak ‘harga’ kita dimata Allah Swt.

    Allah Maha Melihat, kepada siapa saja yang berbuat kebajikan, meskipun tangan kirinya tidak melihat ketika tangan kanannya memberikan sesuatu. Allahpun Maha Melihat kepada siapa yang berbuat kerusakan, meskipun dilakukannya di tempat yang tersembunyi tiada orang sama sekali…

    QS. Al Baqarah : 271

    Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 11 September 2012 Permalink | Balas  

    I am a Second Wife 

    I am a Second Wife

    Sekitar tiga bulan lalu, the Islamic Forum yang diadakan setiap Sabtu di Islamic Center New York kedatangan peserta baru. Pertama kali memasuki ruangan itu saya sangka ia wanita Bosnia. Dengan pakaian Muslimah yang sangat rapih, blue eyes, dan kulit putih bersih. Pembawaannya pun sangat pemalu, dan seolah seseorang yang telah lama paham etika Islam.

    Huda, demikianlah wanita belia itu memanggil dirinya. Menurutnya, baru saja pindah ke New York dari Michigan ikut suami yang berkebangsaan Yaman. Suaminya bekerja pada sebuah perusahaan mainan anak-anak (toys).

    Tak ada menyangka bahwa wanita itu baru masuk Islam sekitar 7 bulan silam. Huda, yang bernama Amerika Bridget Clarkson itu, adalah mantan pekerja biasa sebagai kasir di salah satu tokoh di Michigan. Di toko inilah dia pertama kali mengenal nama Islam dan Muslim.

    Biasanya ketika saya menerima murid baru untuk bergabung pada kelas untuk new reverts, saya tanyakan proses masuk Islamnya, menguji tingkatan pemahaman agamanya, dll. Ketika saya tanyakan ke Huda bagaimana proses masuk Islamnya, dia menjawab dengan istilah-istilah yang hampir tidak menunjukkan bahwa dia baru masuk Islam. Kata- kata “alhamdulillah”.”Masya Allah” dst, meluncur lancar dari bibirmya.

    Dengan berlinang air mata, tanda kebahagiaannya, Huda menceritakan proses dia mengenal Islam.

    “I was really trapped by jaahiliyah (kejahilan)”, mengenang masa lalunya sebagai gadis Amerika.

    “I did not even finish my High School and got pregnant when I was only 17 years old”, katanya dengan suara lirih.

    Menurutnya lagi, demi mengidupi anaknya sebagai `a single mother’ dia harus bekerja. Pekerjaan yang bisa menerima dia hanyalah grocery kecil di pinggiran kota Michigan.

    Suatu ketika, toko tempatnya bekerja kedatangan costumer yang spesial. Menurutnya, pria itu sopan dan menunjukkan `respek’ kepadanya sebagai kasir. Padahal, biasanya, menurut pengalaman, sebagai wanita muda yang manis, setiap kali melayani pria, pasti digoda atau menerima kata-kata yang tidak pantas. Hingga suatu ketika, dia sendiri berinisiatif bertanya kepada costumernya ini, siapa namanya dan tinggal di mana.

    Mendengar namanya yang asing, Abdu Tawwab, Huda semakin bingung. Sebab nama ini sendiri belum pernah didengar. Sejak itu pula setiap pria ini datang ke tokonya, pasti disempatkan bertanya lebih jauh kepadanya, seperti kerja di mana, apakah tinggal dengan keluarga, dll.

    Perkenalannya dengan pria itu ternyata semakin dekat, dan pria itu juga semakin baik kepadanya dengan membawakan apa yang dia sebut `reading materials as a gift”. Huda mengaku, pria itu memberi berbagai buku-buku kecil (booklets).

    Dan hanya dalam masa sekitar tiga bulan ia mempelajari Islam, termasuk berdiskusi dengan pria tersebut. Huda merasa bahwa inilah agama yang akan menyelamatkannya.

    “Pria tersebut bersama isterinya, yang ternyata telah mempunyai 4 orang anak, mengantar saya ke Islamic Center terdekat di Michigan. Imam Islamic Center itu menuntun saya menjadi seorang Muslimah, alhamdulillah!”, kenang Huda dengan muka yang ceria.

    Tapi untuk minggu-minggu selanjutnya, kata Huda, ia tidak berkomunikasi dengan pria tersebut. Huda mengaku justeru lebih dekat dengan isteri dan anak-anaknya. Kebetulan lagi, anaknya juga berusia tiga tahun, maka sering pulalah mereka bermain bersama. “Saya sendiri belajar shalat, dan ilmu-ilmu dasar mengenai Islam dari Sister Shaima, nama isteri pria yang mengenalkannya pada Islam itu.

    Kejamnya Poligami

    Suatu hari, dalam acara The Islamic Forum, minggu lalu, datang seorang tamu dari Bulgaria. Wanita dengan bahasa Inggris seadanya itu mempertanyakan keras tentang konsep poligami dalam Islam. Bahkan sebelum mendapatkan jawaban, perempuan ini sudah menjatuhkan vonis bahwa “Islam tidak menghargai sama sekali kaum wanita”, katanya bersemangat.

    Huda, yang biasanya duduk diam dan lebih banyak menunduk, tiba-tiba angkat tangan dan meminta untuk berbicara. Saya cukup terkejut. Selama ini, Huda tidak akan pernah menyelah pembicaraan apalagi terlibat dalam sebuah dialog yang serius. Saya biasa berfikir bahwa Huda ini sangat terpengaruh oleh etiket Timur Tengah, di mana kaum wanita selalu menunduk ketika berpapasan dengan lawan jenis, termasuk dengan gurunya sendiri.

    “I am sorry Imam Shamsi”, dia memulai.

    “I am bothered enough with this woman’s accusation”, katanya dengan suara agak meninggi.

    Saya segera menyelah: “What bothers you, sister?”.

    Dia kemudian menjelaskan panjang lebar kisah hidupnya, sejak masa kanak-kanak, remaja, hingga kemudian hamil di luar nikah, bahkan hingga kini tidak tahu siapa ayah dari anak lelakinya yang kini berumur hampir 4 tahun itu. Tapi yang sangat mengejutkan saya dan banyak peserta diksusi hari itu adalah ketika mengatakan: “I am a second wife.”

    Bahkan dengan semangat dia menjelaskan, betapa dia jauh lebih bahagia dengan suaminya sekarang ini, walau suaminya itu masih berstatus suami wanita lain dengan 4 anak.

    “I am happier since then”, katanya mantap.

    Dia seolah berda’wah kepada wanita Bulgaria tadi: “Don’t you see what happens to the western women around? You are strongly opposing polygamy, which is halaal, while keeping silence to free sex that has destroyed our people”, jelasnya.

    Saya kemudian menyelah dan menjelaskan kata “halal” kepada wanita Bulgaria itu. “I know, people may say, I have a half of my husband. But that’s not true”, katanya.

    Lebih jauh dia menjelaskan bahwa poligami bukan hanya masalah suami dan isteri. Poligami dan kehidupan keluarga menurutnya, adalah masalah kemasyarakatan. Dan jika seorang isteri rela suaminya beristeri lagi demi kemaslahatan masyarakat, maka itu adalah bagian dari pengorbanannya bagi kepentingan masyarakat dan agama. Kami yang dari tadi mendengarkan penjelasan Huda itu hanya ternganga. Hampir tidak yakin bahwa Huda adalah isteri kedua, dan juga hampir tidak yakin kalau Huda yang pendiam selama ini ternyata memiliki pemahaman agama yang dalam.

    Saya kemudian bertanya kepada Huda: “So who is your husband?”

    Dengan tertawa kecil dia menjawab “the person who introduced me to Islam”.

    Dan lebih mengejutkan lagi: “his wife basically suggested us to marry”, menutup pembicaraan hari itu.

    Diskusi Islamic Forum hari itu kita akhiri dengan penuh bisik-bisik. Ada yang setuju, tapi ada pula yang cukup sinis. Yang pasti, satu lagi rahasia terbuka. Saya sendiri hingga hari ini belum pernah ketemu dengan suami Huda karena menurutnya, “he is a shy person. He came to the Center but did not want to talk to you”, kata Huda ketika saya menyatakan keinginan untuk ketemu suaminya.

    “Huda, may Allah bless you and your family. Be strong, many challenges lay ahead in front of you”, nasehatku. Doa kami menyertaimu Huda, semoga dikuatkan dan dimudahkan!

    ***

    Oleh: M. Syamsi Ali

    Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York.

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 10 September 2012 Permalink | Balas  

    Mengingat Mati 

    Mengingat Mati

    Satu hal yang harus senantiasa diingat oleh setiap diri adalah ‘kematian E Allah telah menjadikan kematian sebagai satu perkara yang harus melekat dalam hati seorang Mukmin. Hakikat hidup adalah menanti kematian, bukan menghindarkannya. Allah SWT. telah menjelaskan fakta ini lewat firman-Nya, “Setiap jiwa merasakan kematian, kemudian kepada Kami kalian akan dikembalikan.” (Qs. Al-‘Ankabût [29]: 57).

    Kematian itu ibarat gelas, setiap orang pasti akan merasakannya. Atau, kematian itu laksana pintu, setiap orang akan memasukinya. Kematian adalah syarat bertemu dengan Allah. Oleh sebab itu, seorang Muslim sejati tidak pernah menganggap kematian sebagai kematian. Ia hanya transit: dari dunia menuju akhirat. Dari kematian sementara menuju kehidupan hakiki: kampung akhirat. Ia hanya merupakan titik akhir dari perjalanan seorang manusia di dunia.

    Bagi orang-orang kafir, kematian ‘tidak pernah ada E karena menurut mereka dunia ini lah segalanya. Mereka bahkan membantah adanya hari ‘kebangkitan’ Allah menjelaskan sikap ingkar mereka ini, “Dan tentu mereka akan mengatakan: “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan sekali-kali kita tidak akan dibangkitkan.” (Qs. Al-An‘âm [6]: 29).

    Lebih tegas Allah menjelaskan, “Dan seandainya kalian melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentu kalian melihat peristiwa yang mengharukan). Berfirman Allah: “Bukankah kebangkitan ini benar?” Mereka menjawab: “Sungguh benar, demi Tuhan kami.” Allah berfirman: “Karena itu rasakanlah azab ini, disebabkan kalian mengingkari (nya).” (Qs. Al-An‘âm [6]: 31).

    Tapi tidak bagi seorang Mukmin. Mereka benar-benar yakin dengan adanya kebangkitan. Dan kebangkitan itu pasti terjadi dan diawali dengan kematian. Orang yang mengingkari kebangkitan adalah orang-orang yang sangat merugi, karena benar adanya. “Sungguh telah merugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas pungung mereka. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.” (Qs. Al-An‘âm [6]: 31).

    Maut adalah pemutus segalanya. Ia disebut oleh Kanjeng Nabi SAW. sebagai hâdim al-ladzdzât, pemutus segala bentuk kenikmatan. Orang yang mati tidak lagi bisa merasakan nikmatnya teh manis di pagi hari, atau kopi di malam hari. Ia juga tidak bisa merasakan bagaimana nikmatnya berkumpul dengan istri dan anak-anak; dengan orangtua dan tetangga. Atau, dia tidak bisa lagi menikmati keindahan dan panorama alam yang telah didesain oleh Allah sedemikian indahnya. Semuanya putus oleh “maut”.

    Orang yang berakal adalah yang mengerti kewajibannya di dunia ini. Ia tidak akan lama. Hanya ‘Mampir Ngombe’ kata orang Jawa. Ia laksana musafir yang berteduh di sebuah pohon yang rindang bernama dunia, setelah itu ia akan meninggalkannya. Tempatnya yang hakiki bukan di sini, tapi di ‘kampung akhirat’

    Kewajiban orang yang berakal, kata Ibnu al-Jauzy, adalah yang mempersiapkan diri untuk kematiannya.. Karena, menurut beliau, ia tidak tahu kapan kematian dari Tuhannya datang, dan tidak tahu kapan akan dipanggil? Saya melihat kebanyakan manusia telah tertipu oleh masa muda. Mereka lupa bahwa mereka akan meninggalkan teman-temannya dan dilalaikan oleh panjang angan-angan (thûl al-’amal). Mungkin seorang alim yang mukhlis akan berkata kepada dirinya: “Sibukkan dirimu dengan menuntut ilmu sekarang, kemudian beramallah dengan ilmu itu esok hari. Lalu ia berleha-leha dengan alasan ‘sedang rehat’ dan mengakhirkan persiapan untuk taubat. Dia tidak menghindarkan perbuatan gibah atau mendengarnya. Barangsiapa yang melakukan subhat (keraguan) dan berharap dapat menghapusnya dengan perbuatan wara’ dia telah lupa bahwa maut datang dengan tiba-tiba. Orang yang berakal adalah yang memberikan hak setiap kesempatan

    yang ada. Jika maut menemuinya dengan tiba-tiba, ia telah bersiap-siap dan jika dia telah memperolah apa yang diangan-angankanya, maka bertambah kebaikannya,” demikian catat ‘Allâmah Ibnu al-Jauzyi dalam Shayd al-Khâthir-nya.

    Bisa jadi kita termasuk orang yang berakal, sebagaimana yang digambarkan oleh Ibnu al-Jauzy. Tetapi, bisa saja sebaliknya: kita adalah orang yang bodoh, tidak tahu kewajiban untuk menyambut maut ketika datang menjelang. Dunia hanyalah ‘sendau gurau’ tidak lebih. Tapi, sendau gurau ini ternyata banyak membuat kita ‘puyeng’ dan tidak berdaya untuk melepaskan diri dari cengkraman dan jeratnya. Padahal, Allah telah menjelaskan dengan gamblang, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan sendau gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kalian memikirkannya (memahaminya).” (Qs. Al-An‘âm [6]: 32).

    Bagi orang yang kaya raya, dunia bisa saja menjadi istana. Bagi si miskin, kemiskinannya bisa saja menjadikannya sebagai alat demonstrasi menentang tawakkal dan tidak sabar atas bagian yang diberikan Allah kepadanya. Lebih dari itu, kemiskinannya menjadikan dia lalai akan kematian. Bukankah kematian itu tidak pandang bulu. Ia akan datang kepada seorang presiden, tanpa minta izin. Ia juga bisa datang kepada pedagang asongan di stasiun kereta api tanpa belas kasihan. Ia akan menjelang orangtua yang sudah jompo dan juga kepada anak kecil, bahkan ketika masih menjadi janin di perut ibunya. Kematian itu ibarat buah kelapa. Ia bisa jatuh kapan saja. Sebelum jadi buah, ia bisa jatuh karena tersenggol lebah ketika menghisap madunya. Ketika muda, ia juga bisa jatuh. Dan ia bisa jatuh ketika sudah tua dan berminyak. Kita semua akan dihampiri oleh kematian. Allah SWT. telah memberikan warning agar kita tidak dilalaikan oleh kemegahan dunia.

    “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur. Jangan begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu), dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka Jahannam. Dan sesungguhnya kalian benar-benar akan melihatnya dengan ‘aynul yaqin’ kemudian kalian pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian megah-megahkan di dunia itu).” (Qs. Al-Takâtsur [102]: 1-8).

    Maka, kewajiban setiap individu Mukmin di duni ini adalah beramal saleh. Hari-hari yang telah lalu harus ia jadikan sebagai pijakan dan barometer untuk melangkah ke arah yang lebih baik. Ia harus melakukan muhasabah diri. Sayyidina ‘Umar ra. memberikan teladan yang cukup baik dalam bermuhasabah, sehingga adagiumnya sangat terkenal.

    (Hisablah diri kalian, sebelum kalian dihisabEdi hari kiamatEdan timbanglah amal kalian sebelum ditimbang, dan bersiaplah untuk menghadap Allah: “Pada hari itu kalian dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaan kalian yang tersembunyi (bagi Allah) (Qs. Al-Hâqqah [69]: 18).

    Semoga amal kita semakin hari semakin baik, dan menjadikan kita benar-benar siap untuk menyambut kematian. Wallahu a‘lamu bi al-shawab.

    ***

    Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi.

     
  • erva kurniawan 11:26 am on 9 September 2012 Permalink | Balas  

    Ternyata Tidak Ada Wanita Cantik 

    Ternyata Tidak Ada Wanita Cantik

    Ketika saya mengurus STNK kendaraan yang sedang habis waktu, saya memarkir kendaraan di depan kantor samsat. Kebetulan waktu itu sedang ramai sekali. Sehingga kendaraan yang parkir pun berjubel sampai keluar batas areal parkir.

    Ketika sudah selesai mengurus administrasi, kami menuju kendaraan yang kami parkir. Sambil menunggu membayar parkir, saya memperhatikan sebuah dialog pendek antara tukang parkir dengan seorang wanita muda yang barusan mengambil sepeda motornya.

    Rupaya sedang terjadi kesalahfahaman tentang besarnya uang parkir. Saya lihat wanita muda itu cemberut sambil membayar ke tukang parkir. Sementara si tukang parkir yang masih muda, mukanya bersungut-sungut sambil ngedumel tiada habisnya. Setelah wanita muda itu pergi, si tukang parkir melampiaskan rasa kecewanya sambil berteriak cukup keras. “…wah, wah, wah,.. sekarang ini tidak ada lagi wanita cantik, semua cemberut, semua makan hati, yaakh, maklumlah baru satu hari harga BBM naik…”

    Saya baru teringat, memang kejadian itu adalah satu hari setelah diumumkannya kenaikkan harga BBM. Begitu mendengar ungkapan dengan nada kesal dari tukang parkir tersebut, saya secara bersamaan tersenyum geli. Dan tukang parkir pun spontan tersenyum juga sambil berkata “… wah, ternyata masih ada wanita yang cantik, meskipun harga BBM naik”

    Senyum memang kunci dari ekspresi seseorang. Senyum adalah `wakil’ suasana hati seseorang. Apalagi kalau senyum itu wajar, tidak dibuat-buat. Sungguh akan mencerminkan kebahagiaan hati.

    Allah dalam merencanakan sebuah ekspresi senyuman, sungguh luar biasa. Senyuman seseorang dapat membias ke seluruh wajah. Sehingga jika seseorang sedang tersenyum, maka semua anggota wajahnya ikut senyum dan ikut gembira. Sebaliknya mulut yang cemberut juga akan membias ke seluruh raut wajah seseorang.

    Jika seseorang sedang cemberut, maka seluruh bagian wajahnya juga ikut cemberut. Mengapa bisa demikian? Karena sumber perubahan wajah seseorang adalah hati.

    Begitu hatinya senang, bibir tersenyum. Coba perhatikan. Semua wajah menjadi ikut tersenyum, riang dan gembira. Orang yang melihatpun ikut jadi senang dan gembira.

    Demikian pula sebaliknya, jika hati cemberut, merasa tidak senang, maka akan mempengaruhi bentuk bibir. Jika bibir sudah menunjukkan ekspresi tidak bagus, maka seluruh anggauta wajahpun ikut cemberut. Ah, luar biasa memang. Jaringan otot yang dibentangkan oleh Allah Swt di seluruh wajah seseorang begitu halus, dan begitu pekanya.

    Kalau pembaca ingin membuktikan betapa sebuah senyuman bisa mempengaruhi seluruh wajah, dan bisa mempengaruhi siapa saja yang melihatnya, buatlah sebuah percobaan sederhana sbb:

    Gambarlah sebuah bulatan, sebagai perumpaan muka seseorang. Buatlah dua mata, hidung, dan dua telinga pada `muka` tersebut.

    Pertama, buatlah sebuah garis mendatar, sebagai wakil dari mulut.

    Maka kesan yang akan kita tangkap dari wajah tersebut adalah sebuah wajah yang serius. Mata, hidung, dahi, pipi, bahkan telinganya, seolah-olah juga ikut serius.

    Kedua, hapuslah mulut tersebut, buatlah sebuah garis melengkung ke bawah di bekas mulut tadi, sebagai wakil dari mulut yang sedang senyum.

    Maka kesan yang akan kita tangkap dari wajah tersebut adalah sebuah wajah yang riang dan gembira. Mata, hidung, dahi, pipi, bahkan telinga dari wajah tersebut, seolah-olah juga ikut riang gembira. Aneh bukan? Padahal matanya tetap, tidak diganti, hidung juga tetap, telinga juga tetap.

    Ketiga, hapuslah kembali mulut tadi, buatlah sebagai penggantinya sebuah garis melengkung ke atas sebagai wakil dari mulut yang sedang cemberut.

    Maka kesan yang akan kita tangkap dari wajah tersebut adalah sebuah wajah yang cemberut, sedih, dan putus asa. Anehnya mata, hidung, dahi, pipi, maupun telinga dari wajah tersebut juga seolah-olah ikut cemberut, dan sedih…

    Manakah, yang harus kita pilih? Sama-sama menggerakkan bibir, kearah mana sudut bibir kita harus kita gerakkan? Ke bawah, yang akan menyebabkan semua orang menjadi senang, ataukah ke atas yang akan membuat semua yang melihatnya ikut menjadi susah.

    Jika anda seorang wanita, kata tukang parkir tadi anda akan menjadi semakin cantik jika anda tersenyum. Sebaliknya, tentu saja akan menjadi jelek, kalau kita terus saja cemberut. Seperti wanita di tempat parkir yang cemberut, sehingga tukang parkirpun kesal dibuatnya.

    Aisyah ra, pernah bercerita. Aku lama sekali tidak pernah melihat rasulullah saw tertawa terbahak-bahak sampai terlihat urat lehernya. Jika beliau tertawa, hanyalah senyum (HR. Bukhari)

    ***

    Dari Sahabat

     
    • cak rynem 12:36 pm on 9 September 2012 Permalink

      tulisannya keren

      postingannya ringan dibaca..:)
      semangat terus untuk menulis

      salam kenal
      saya rynem
      kalau berkenan silahkan mampir ke blog ku……
      folloback juga ya buat nambah temen sesama blogger,,
      kalau mau tukeran LINK silahkan
      salam blogger

  • erva kurniawan 1:19 am on 8 September 2012 Permalink | Balas  

    Tiga Tipe Manusia 

    Tiga Tipe Manusia

    “Berani hadapi tantangan menjadi manusia tipe malaikat, yang selalu mempercayai informasi akurat profesional yang akhirnya siap berubah dari detik per detik dalam menghadapi kehidupan?”

    Ada tiga tipe manusia dalam menghadapi persoalan kehidupan.

    Pertama, adalah manusia tipe malaikat, yaitu suatu tipe manusia yang mudah percaya dan segera bertindak selama data-datanya akurat dan profesional.

    Kedua, adalah manusia tipe manusia, yaitu suatu tipe manusia yang baru mau percaya setelah mengalami kejadian, walaupun sudah diberi bukti-bukti yang akurat.

    Ketiga, adalah manusia tipe setan, tetap saja tidak percaya walaupun sudah diberi bukti-bukti yang akurat dan sudah mengalami kejadian dari yang tidak dipercayai itu.

    Studi kasus sederhana, ketika zaman sekarang ekonomi sangat sulit, maka langkah efektif untuk menangani ekonomi kehidupan, bisa menggunakan dua pendekatan yaitu menghemat dan menambah penghasilan. Betapapun kecilnya penghasilan kita, tetap harus melakukan penghematan sekuat tenaga.

    Dan betapapun kecilnya peluang penghasilan tambahan kita, tetap harus berusaha melakukan penambahan penghasilan betapapun kecilnya. Kalau kasus ini diaplikasikan kepada tiga tipe manusia tadi, maka prilakunya akan sangat jauh berbeda.

    Manusia tipe pertama, yaitu manusia tipe malaikat.

    Manusia tipe ini, selalu percaya selama data-datanya akurat dan profesional. Sehingga dengan kondisi ekonomi yang sulit ini, prilaku-prilaku penghematan namun tidak pelit, selalu dilakukan dari detik per detik. Dan prilaku menambah penghasilan dari detik per detik juga selalu dilakukan tapi tetap menjaga agar tidak merugikan banyak orang.

    Manusia tipe kedua, yaitu manusia tipe manusia.

    Manusia tipe ini, memang percaya bahwa menghemat itu penting, namun tetap saja tidak mau menghemat, dan mau menghemat setelah dirinya dihadapkan pada kesulitan keuangan yang akut. Sehingga keinginan menghematnya, sudah tidak ada yang dihemat. Dan prilaku menambah penghasilan dari detik per detik juga tetap tidak dilakukan. Mereka akan melakukannya ketika keuangan sudah sangat menipis, sehingga tenaga untuk mengumpulkan uang saja sudah tidak ada.

    Manusia tipe ketiga, yaitu manusia tipe setan.

    Manusia tipe ini, adalah manusia yang selalu percaya terhadap informasi akurat dan profesional bahwa hidup harus menghemat, tidak pelit dan dapat menambah penghasilan yang tidak merugikan banyak orang. Namun kenyataan yang ada adalah tetap tidak menghemat, walaupun dirinya sudah kekurangan keuangan akut dan tetap tidak ada keinginan menambah penghasilan detik per detik, walaupun peluang sangat terbuka lebar di depan mata.

    Manusia tipe ini, lebih senang boros dan membeli banyak hal bukan karena kebutuhan tetapi karena keinginan belaka, walaupun uang yang diboroskan dari hasil menengadahkan tangannya yang kokoh itu, agar mendapatkan belas kasihan banyak orang.

    Setiap diri kita, berhak menentukan pilihannya sendiri. Namun, berhati-hatilah salah memilih pilihannya sendiri. Kalau memilih manusia tipe malaikat, berarti menjadi manusia siap berubah. Memilih manusia tipe manusia, berarti mau berubah setelah mengalami kejadian. Sedangkan memilih manusia tipe setan, berarti tetap tidak mau berubah, walaupun informasi manajerial kehidupan setiap detik selalu didapatkan.

    Berani hadapi tantangan menjadi manusia tipe malaikat, yang selalu mempercayai informasi akurat profesional yang akhirnya siap berubah dari detik per detik dalam menghadapi kehidupan? Atau tetap bertahan menjadi manusia tipe setan, selalu banyak informasi akurat untuk kemajuan dirinya, namun tetap saja tidak mau berubah. Bagaimana pendapat sahabat !!!

    ***

    Oleh : Masrukhul Amri, Knowledge Entrepreneur

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 7 September 2012 Permalink | Balas  

    Bertafakur di Depan Anak Kembar 

    Bertafakur di Depan Anak Kembar

    “Wah, sungguh seperti pinang dibelah dua,” begitu celetuk teman saya, ketika kami menjenguk istri teman yang barusan melahirkan anak kembarnya.

    Ketika kedua baby itu digendong keluar oleh ibunya untuk menemui kami. Saya melihat betul-betul sama ‘persis’ kedua anak itu. Seolah-olah bagaikan pinang dibelah dua. Tak ada bedanya!

    Ketika itu umur kedua bayi mungil tersebut masih berapa hari saja. Matanya, hidungnya, dahinya, pipinya, telinganya, bahkan rambutnyapun nampak sama. Persis sekali. Maka muncullah sebutan ‘kembar tersebut.

    Tetapi setelah sekarang keduanya besar, saya melihat ada suatu perubahan pada keduanya. Yaitu bahwa wajahnya sekarang sudah bisa dibedakan. Tidak seperti waktu berusia beberapa hari, yang wajah keduanya begitu persisnya.

    Demikian juga dengan saudara saya, ia punya anak kembar dua. Yang diberi nama nina dan nani. Bertambah besar, kedua orang tuanya semakin bisa membedakan keduanya. Sehingga dengan sangat mudahnya kedua orang tuanya bisa mengenali mereka. Siapa yang namanya nina, dan siapakah yang namanya nani. !

    Saya bertambah ta’jub dengan kebesaran Allah Swt dalam mencipta dan ‘memproses’ bentuk tubuh para makhlukNya. Bertambah lama kita memperhatikan dan melihat anak kembar dengan lebih teliti, maka kita akan bertambah mengenalinya.

    Sehingga kita bisa menyimpulkan, bahwa ternyata Allah Swt dalam mencipta bentuk maupun rupa makhluk ciptaanNYa, semua berbeda. Tak ada yang sama persis. Hanya kita saja yang menganggap keduanya kembar. Padahal tidaklah sama.

    Demikian juga dengan makhluk ciptaanNya yang lain, yang sangat luar biasa banyaknya, ternyata semuanya memiliki wajah yang berbeda.

    “…inni wajjahtu wajhiya lilladzii fatharassamawaati wal ardha hanifan musliman wamaa anaa minal musyrikiin.” Kuhadapkan wajah (dan hatiku) kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan berserah diri, dan aku bukanlah dari golongan kaum musryikin.

    Inilah sebuah ikrar yang tulus dari seorang hamba yang sedang melakukan pengabdiannya kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Raja di hari ini dan juga Raja di hari kemudian. Penguasa di dunia ini dan juga Penguasa di hari akhir nanti.

    Wajah sebagai saksi yang dihadapkan ke hadirat Tuhan dari seorang hamba adalah wajah fisiknya dan juga wajah hatinya. Ketika seorang hamba sedang shalat maka wajahnya tertunduk patuh dan taat terhadap apa yang diucapkannya dalam do’a shalatnya.

    Dengan memperhatikan wajah, maka seseorang akan mengetahui bahwa Allah benar-benar Maha Pencipta. Tidak usahlah ‘wajah hati’ yang begitu misteri. Dari ‘wajah fisik’ saja, jika diperhatikan dengan seksama, kita akan menjadi orang yang benar-benar tunduk akan kebesaran Allah Swt.

    Mari kita memperhatikan wajah kita! Katakanlah penduduk bumi saat ini berjumlah lima milyar orang yang terdiri dari berbagai macam bangsa dan suku bangsa. Perhatikan, untuk bangsa Indonesia saja, dan misalnya untuk suku jawa saja. Betapa wajah setiap orang tidak ada yang sama meskipun umurnya sama.

    Meskipun warna kulitnya sama, tetapi ada “sesuatu” yang membuat orang tersebut tidak sama, meskipun dikatakan orang sebagai dua saudara kembar “bagaikan pinang dibelah dua”. Tetap saja ada sesuatu yang membuat orang tuanya mengenali bahwa keduanya tidak sama.

    Itulah Kebesaran dan ketelitian Allah Swt dalam mencipta makhlukNya sangat luar biasa indahnya, dan sangat hebat fungsi dan kegunaannya. Pada suku bangsa yang sama saja, tidak ada wajah yang sama, apa lagi pada penduduk dunia yang berbeda bangsa dan warna kulitnya.

    Seperti halnya wajah manusia yang tak pernah sama, sekarang marilah kita bayangkan bagaimana wajah makhluk l ciptaan Allah lainnya. Berapa milyar jumlah burung yang ada di Indonesia?

    Insya Allah wajahnya juga tak ada yang sama, sehingga setiap induk burung akan mengenali wajah para anaknya yang sedang menunggunya untuk mendapatkan makan darinya.

    Lalu, ada berapa ratus juta jumlah wajah burung yang berbeda di bumi Indonesia `saja’ ? Bagaimana dengan ular, bagaimana dengan semut, bagaimana dengan binatang melata lainnya? Bagaimana dengan kehidupan tumbuhan, misalnya saja bunga mawar dimana setiap lekuk, warna dan indahnya setiap bunga juga tidak sama? Bagaimana dengan kehidupan laut yang luasnya lebih besar dibanding daratan? wajah ikan yang tak sama, batu karang yang tak sama, mutiara yang tak sama, dan tumbuhan laut lainnya yang juga tak terhitung jumlahnya itu?

    Itupun masih benda-benda di Bumi kita, yang besarnya bumi hanya sebesar debu yang melayang di jagad raya yang sangat luar biasa besarnya ini. Masya Allah, semua dicipta dengan tingkat variasi yang sangat luar biasa…

    Dan yang lebih mencengangkan hati, adalah bahwa di setiap ciptaanNya, tidak ada satu bendapun yang tidak berguna bagi lainnya. Semua tak ada yang sia-sia. “…rabbana maa khalaqta hadza bathilan…”

    Itulah ayat-ayat Allah yang tak terhitung jumlahnya yang beserakan di bumi dan dilangit dengan tingkat variasi yang luar bisa, yang manusia tak akan sanggup menghitungnya.

    QS. Al- Kahfi 18 : 109

    Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).

    Sampai disini mungkin kita berhenti sejenak. Dan kita sebagai manusia hanya bisa berucap sambil mata berkaca-kaca, subhanallah…subhanallah…

    Dari menyaksikan peristiwa anak kembar saja, kita telah bertemu dengan kedahsyatan ciptaan Allah. Itupun baru ciptaanNya! Yang ada di bumi saja! Belum di planet yang lain. Belum di matahari, di bintang yang lain, galaxy, di ruang kosong antar galaxy. Lalu di langit kedua, ke tiga, sampai langit ke tujuh….

    Pernahkah ketika shalat, kita menitikkan air mata karena kita sering merasa paling pandai, paling kaya, paling berjasa, paling berkuasa, sehingga dengan tiada terasa kita telah menyombongkan diri kita?

    Mari kita pandang sekali lagi ciptaan Allah yang bertebaran di sekeliling kita, dan kitapun akan menemukan eksistensi Allah di setiap sudut ciptaanNya.

    QS. Al Baqarah : 115

    Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • tiwirahayu 8:12 pm on 14 September 2012 Permalink

      dri bca’an d atas, d katakn bahwa segalany yg d ciptakn allah swt. smua bermanfaat. tapi, apa kgunaan bnatang yg tlah d hramkan allah untk kt, (b1&b2), sdangkn menyntuhny sja udh haram. :)

  • erva kurniawan 1:09 am on 6 September 2012 Permalink | Balas  

    Suara Merdu Sang Pengamen 

    Suara Merdu Sang Pengamen

    Seorang ibu setengah baya, tiba-tiba naik ke dalam bus kota yang beropersi antara jalan Aceh dan Kampus Universitas Padjadjaran di kota Bandung. Para penumpang bus agak heran, sebab selama mereka menumpang bus di route itu, belum pernah melihat pengamen tersebut. Sehingga para penumpang pun memperhatikan keberadaan pengamen ‘asing’ itu meskipun dengan sikap acuh tak acuh.

    Yang menarik adalah, ibu tersebut tidak membawa peralatan apa-apa. Sebelum ia beraksi menyanyikan lagu seperti kebanyakan pengamen, ia memberikan sebuah ‘kata sambutan’ yang cukup menarik.

    Kata sambutan yang cukup singkat itu ternyata bisa menyita perhatian para penumpang bus. Ibu yang penampilannya sangat sederhana ini, menceritakan kondisi keluarganya yang saat itu sedang dilanda musibah tanah longsor di suatu daerah. Maka dengan modal nekat dari rasa malu, ia mencari rezeki dengan jalan menyanyi di dalam bus. Dan hari itu adalah penampilan ‘perdananya’ di dalam bus itu.

    Setelah selesai mengungkapkan suara hatinya, ibu pengamen ini melantunkan sebuah tembang dari daerah jawa barat. Dan seketika, seluruh suara hiruk pikuk di dalam bus menjadi berhenti. Semua penumpang terkesiap mendengarkannya. Seolah-olah semua orang terkena pengaruh ‘magis’.

    Suara ibu ini cukup merdu, tetapi yang membuat semua orang terkesima adalah karena adanya semacam kekuatan tersembunyi dari ekspresi yang sangat menggetarkan hati. Sehingga muncullah sebuah penjiwaan yang luar biasa.

    Mungkin, saat itu ia teringat keadaan anak-anaknya yang sedang terkulai sakit di rumahnya. Begitu ia berhenti melantunkan tembang yang membuat semua orang trenyuh, kontan saja hampir semua penumpang memberi uang dengan nilai yang jauh diatas ‘harga’ pengamen ‘reguler’. Bahkan kawan saya ‘IM’ yang menceritakan kejadian itu, ia memberikan uang sebesar lima ribu rupiah.

    Tentu saja nilai lima ribu rupiah waktu itu, bagi seorang pengamen ‘dadakan’ seperti dia sungguh sangat luar biasa. Belum penumpang-penumpang lainnya… tetapi saya hanya melihat sekali saja wanita itu, sebab hari-hari berikutnya meskipun setiap hari saya naik bus di route tersebut, yang datang adalah pengamen-pengamen tetap lainnya ….. ” Demikian kata menutup ceritanya.

    Dari cerita itu, saya masih bisa merasakan bahwa IM sangat terkesan dengan peristiwa itu. Yang menjadi fokus perhatian saya mendengarkan cerita itu ialah, betapa para penumpang bisa serempak memberikan uangnya dengan nilai yang jauh di atas kebiasaannya.

    Andaikata, saya ambil rata-rata untuk seorang pengamen jalanan ketika itu harganya adalah seratus rupiah, maka nilai lima ribu rupiah yang diberikan kepada ibu pengamen itu, merupakan nilai yang besar, dengan kelipatan lima puluh kalinya. Sungguh luar biasa….!

    Mengapa hal itu bisa terjadi? Ada beberapa kemungkinan yang membuat kondisi dan suasana ajaib itu bisa terjadi.

    Yang pertama, adalah adanya keikhlasan hati seorang ibu yang sedang sedih luar biasa. Ia berani dan tidak malu tampil di dalam bus lantaran teringat anak-anaknya yang berjumlah lima orang, yang kini sedang tergeletak sakit. Keikhlasan dan kondisinya yang sedang dirundung malang itu memberikan kekuatan yang tiada tara kepadanya.

    Yang kedua, adanya keikhlasan hati para penumpang bus dalam memberikan sebagian rezekinya kepada seseorang yang sedang membutuhkannya. Keikhlasan itu muncul setelah mereka mendengar dan bisa menghayati sebuah pesan kemanusiaan.

    Yang ketiga, adanya ‘komunikasi antar hati’ antara seorang ibu yang membutuhkan bantuan demi anak-anaknya, dengan pendengarnya.

    Yang keempat, adanya unsur tepat waktu dan tepat tempat. Andaikata ibu tersebut waktu itu masuk di tempat bus yang lain, mungkin akan berbeda suasananya dengan suasana di bus yang kini sedang kita bahas ini.

    Alasan yang pertama, kedua dan ketiga, adalah alasan kemanusiaan. Hal itu akan bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Secara umum siapa saja yang kondisinya sedang nyaman, bila ia dihadapkan pada suasana lain, dimana ada orang yang sedang membutuhkan uluran tangannya, kemungkinan besar akan berusaha membantunya. Selain itu juga adanya sebuah komunikasi hati yang tepat.

    Kata sebuah kata bijak, “Jika berkata dengan mulut, sampainya ke telinga, Jika berkata dengan hati, sampainya ke nurani..”

    Ibu tersebut dalam berkomunikasi tidak lagi menggunakan mulutnya, tetapi yang ia sampaikan adalah kegundahan hatinya yang begitu mendalam. Sehingga pesan itu tersampaikan tidak terbatas di telinga saja, tetapi bisa menembus hati para pendengarnya.

    Alasan yang keempat, adalah alasan yang sangat spesial. Siapakah yang menuntun dan menggerakkan hati ibu ini untuk menuju bus yang tepat dalam waktu yang tepat pula? Tentu jawabnya hanya ada satu. Yang mengatur semua itu adalah sebuah kehendak yang mempunyai kekuatan luar biasa. Dialah Allah Swt Sang Maha Pengatur Kehidupan Manusia.

    Dialah Dzat Yang Maha berkehendak. Dialah yang berkehendak menyuruh langkah kaki ibu yang sedang susah itu menuju bus yang tepat. Dialah Yang Maha Berkehendak untuk menggerakkan hati para penumpang bus untuk memberikan sebagian rezekinya.

    Dengan melihat peristiwa di dalam bus itu, seolah kita sedang diingatkan oleh Allah Swt. Bahwa di dalam setiap peristiwa yang sedang terjadi Allah ingin melihat, menguji, dan mengukur, siapakah diantara hamba-hambaNya yang sabar, dan siapa pula yang pandai bersyukur.

    Barang siapa yang diuji dengan musibah ia sabar, dan ketika diuji dengan nikmat ia bersyukur, insyaAllah dialah sebenarnya orang-orang yang berhasil dalam menjalankan misi kehidupannya…

    Allah selalu bersama dengan orang-orang yang sabar, dan Allah selalu bersama dengan orang yang pandai bersyukur.

    “Orang yang menikmati makanan lalu ia bersyukur, adalah seperti orang yang sedang berpuasa yang sabar.”

    (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban dari Abu Hurairah)

    Artinya, dalam kehidupan ini kita sedang bermain-main dalam rentang dimensi syukur dan sabar. Semoga dengan selalu berikhtiar dan berdo’a kepada Allah Swt, kita akan bisa berhasil melewatinya. Insya Allah…

    ***

    Dari Sahabat

     
    • bejono777 8:43 pm on 6 September 2012 Permalink

      sabar, syukur adalah ibadah tapi berkeluhkesah di khalayak apakah juga diajarkan kita dianjurkan utk berikhtiar dan bertawakal, tapi itu mungkin yang bisa dilakukan oleh ibu itu

  • erva kurniawan 1:00 am on 5 September 2012 Permalink | Balas  

    Perbedaan di Ranting Pohon 

    Perbedaan di Ranting Pohon

    Adakah tanaman yang tumbuh di depan rumah kita? Atau samping rumah? Atau di belakang rumah? Baik yang sengaja kita tanam dengan teratur sehingga nampak begitu indahnya, atau yang tumbuh liar dengan sendirinya. Pernahkah kita memperhatikannya?

    Sambil membaca diskusi ini, jika anda sedang di perhatikan tanaman yang ada di sekitar rumah. Atau tanaman dimana saja berada. Bisakah kita melihat sesuatu yang sangat berharga disana?

    Bisa jenis rerumputan, jenis perdu, atau jenis tanaman keras yang berbuah, seperti pohon mangga, pohon rambutan, pohon durian. Atau jenis tanaman berbunga seperti mawar, anggrek, melati, bougenvile, kembang sepatu, …dsb.

    Pada suatu minggu pagi, saya bersih-bersih halaman di depan rumah. Seperti biasanya saya membersihkan halaman rumah sekedarnya, hitung-hitung sambil olah raga pagi.

    Ketika saya merapikan tanaman bougenvile yang ada di depan rumah, kebetulan ada bagian ranting yang terpotong sepanjang lebih kurang 20 cm. Di ujungnya masih ada beberapa bunga yang berwarna merah tua.

    Saya ambil untuk ke tempat sampah. Tapi, tiba-tiba terpikir oleh saya sesuatu. Kemudian, saya hitung jumlah daun yang ada di ranting kecil itu. Dan juga menghitung bunga yang masih ada di bagian ujung ranting itu.

    Ternyata jumlah daunnya masih ada 40 daun, jumlah bunganya ada 15 Helai. Yang sangat menarik dari sebatang ranting kecil itu adalah keadaan dan posisi daun maupun bunganya yang berbeda antara satu dengan lainnya. Semakin saya perhatikan, semakin nampak berbagai perbedaan yang terdapat pada daun-daun maupun pada bunga-bunga bougenvile itu.

    Karakteristik daunnya :

    • Ada yang berwarna hijau tua,
    • Ada yang berwarna hijau setengah tua,
    • Ada yang berwarna hijau agak muda,
    • Ada yang berwarna hijau muda agak kekuningan.
    • Ada yang basah bekas terkena air hujan, Ada yang kering,
    • Ada yang kotor terkena debu jalanan, Ada yang masih bersih,
    • Ada yang miring ke arah kiri,
    • Ada yang ke kanan,
    • Ada yang posisinya di bawah,
    • Ada yang berada di pucuk ranting,…..

    Demikian pula dengan keadaan bunganya

    • Ada yang warna merah tua,
    • Ada yang merah agak muda,
    • Ada yang masih kuncup,
    • Ada yang sudah hampir layu,… dsb..

    Betapa banyak karakteristik yang berbeda dari daun-daun itu. Demikian juga dengan bunganya, satu dengan yang lain tidak ada yang sama. Semua berbeda. Tetapi justru dengan adanya berbagai perbedaan itu, pohon bougenvile itu menjadi nampak indah mempesona.

    Yang menjadi pikiran saya, jika pada ranting yang hanya sepanjang 20 cm saja sudah memiliki perbedaan sebanyak 40 buah, dan pada bunganya terdapat perbedaan sebanyak 15 buah. Saya jadi merenung, kalau begitu pada seluruh pohon bougenvile itu terdapat berapa daun yang berbeda? Ada berapa bunga yang juga berbeda?

    Sekali lagi justru dengan adanya perbedaan-perbedaan itu pohon menjadi nampak lebih indah. Nampaklah dari ‘kejadian Eitu bahwa masing-masing daun dapat ‘menghargai’ perbedaan yang terjadi. Demikian pula masing-masing bunga juga bisa ‘menghargai’ perbedaan yang ada. Kembali saya merenung.

    Bagaimana dengan pohon-pohon yang lebih besar lagi? Yang jumlah daunnya tak terhitung banyaknya? Pasti perbedaan itu lebih, hebat lagi..

    Dari peristiwa tidak sengaja itu, beberapa hari kemudian saya mengamati pohon cemara. Seperti pada pohon bougenvile, saya juga mengamati ranting daun cemara sepanjang lebih kurang 20 cm. Saya semakin tertegun, dan berdecak kagum terhadap ciptaan Allah yang kita sebut ‘pohon’ itu

    Pada sebuah ranting kecil sepanjang 20 cm yang saya amati, ternyata setelah saya hitung berisi 54 tangkai daun cemara. Dimana setiap tangkai kecil tadi terdapat rata-rata 140 daun cemara. Sehingga pada setangkai ranting cemara yang panjangnya hanya 20 cm, terdapat daun cemara sebanyak : 54 x 140 daun == 7.560 daun cemara. Selanjutnya saya mencoba berhitung sederhana. Ketika saya memperhatikan sebatang pohon cemara yang tingginya sekitar 10 meter ‘saja’ dengan perkiraan diameter rimbun daun rata-rata 1 meter, maka pada pohon tersebut akan terdapat sekitar : 37.800.000 daun cemara. Subhaanallah.

    Lalu apa yang membuat saya tertegun ?

    Seperti hal pada pohon bougenvile, ternyata dari sebatang pohon cemara yang daunnya berjumlah sekitar 37.800.000 tersebut, tidak satupun daun, yang memiliki karakteristik yang sama dengan daun lainnya. Baik dilihat dari posisi daunnya, maupun ditinjau dari jumlah zat pewarnanya…perhatikanlah

    Ada daun yang posisinya diatas, ditengah, ataupun dibawah. Ada daun yang miring ke kiri, ada yang ke kanan Ada daun yang bergerak lembut diterpa angin, ada yang diam saja.

    Ada daun yang warnanya hijau tua, hijau muda, agak kering, tersiram embun pagi, terbungkus debu, terjatuh karena angin, ….dsb. semua daun memiliki ciri yang tidak sama… subhaanallah…

    Sungguh, di dalam diri sebatang pohon cemara saja, Allah telah menunjukkan kehebatanNya. Dia mencipta makhluk yang namanya daun dengan tingkat variasi yang luar biasa hebatnya.

    Semua berbeda, tetapi justru dengan perbedaan posisi dan karakteristik tersebut menjadikan pohon cemara menjadi nampak indah dan menawan. Dari penciptaan sebatang pohon cemara ini, Allah menunjukkan pada kita betapa dari hal perbedaan yang sebanyak 37.800.000 itu menjadikan alam ini menjadi indah mempesona

    Lalu ada berapa ratus juta pohon cemara, di perbukitan dan gunung yang ada di jawa timur saja? subhaanallah. Lalu bagaimana dengan daun pada jenis pohon lainnya? Pohon beringin, pohon jambu, pohon kelapa, dan lain-lainnya…? Yang ada di Pulau Jawa, di hutan-hutan di Kalimantan, di Sumatera, di Papua, atau bahkan di seluruh permukan bumi ini?

    Allahu Akbar walillahil hamd,

    Hanya orang-orang yang bertaqwalah yang bisa mengambil pelajaran dari itu semua. Point penting yang dapat kita ambit adalah : “Perbedaan yang luar biasa itu justru menjadikan indahnya alam raya”

    Bisakah kita mengambil hikmah dan manfaat dari keberadaan daun yang kecil tersebut? Bisakah kita melihat indahnya perbedaan pada kehidupan kita? di keluarga kita, di masyarakat kita, di bangsa tercinta ini? Satu hal yang perlu kita renungkan bersama,…

    Semua perbedaan tersebut adalah dilihat dari sudut pandang manusia, dengan kaca mata ‘apa adanya’. Tetapi kalau kita mencoba melihatnya secara agak mendalam, maka pada hakekatnya semua yang nampak beda tadi adalah sama, yaitu semua dicipta oleh Allah Swt, melalui zat cemara yang sama, dari bumi yang sama, dari air yang sama…dengan firmanNya “kun fayakun” maka melalui proses yang ‘sangat rumit’ jadilah apa yang dikehendaki Allah…

    Allah-lah yang menumbuhkan itu semua. Pohon-pohon itu tumbuh bukan kehendak kita. Tetapi tumbuh karena kehendak Allah Swt. Untuk memberi pelajaran pada manusia agar memperoleh ilmu tentang EksistensiNya.

    Semua Ciptaan Allah, baik benda, maupun peristiwa, lebih-lebih tentang keberadaan manusia yang nampak beda itu, ternyata pada hakekatnya adalah sama dalam pandangan Allah. Tidak ada perbedaan yang signifikan, kecuali amal perbuatan dan taqwanya kepada Allah Swt.

    QS. Al-Waqi’ah ; 63-64

    “…Inna akramakum ‘indallaahi atqaakum…”

    Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 4 September 2012 Permalink | Balas  

    Siapa Penjahit Ahli Itu? 

    Siapa Penjahit Ahli Itu?

    Untunglah penjahitnya sangat ahli. Kalau tidak, tentulah bahan yang sudah jelek, robek-robek dan kotor ini akan menjadi pakaian yang sangat jelek pula.

    Pak JK, awalnya adalah seorang pemuda yang sangat ‘aktif Edalam kehidupan ‘abu-abu’. Atau bahkan kehidupan yang agak gelap. Ia berkecimpung dalam kehidupan itu cukup lama.

    “Saat itu, pergaulan saya, cara mencari rezeki, sampai dalam ibadah, semua tak ada yang benar. Kenangnya.

    “Alhamdulillah, sekarang, meskipun dalam hal ekonomi saya dan keluarga saat ini sedang kesulitan, tetapi hati kami gembira. Yah, semua kita buat ketawa ajalah…”sahut Yn, istri pak Jk.

    Pak Jk dan istrinya Yn sudah lama membina rumah tangga. Saat ini mereka sedang membesarkan kedua anaknya yang sudah beranjak remaja.

    Ketika malam itu saya mampir ke rumahnya, mereka berdua menyambut dengan penuh antusias. Maklum sudah kurang lebih dua tahun kami nggak pernah ke rumahnya.

    Saat berada di rumahnya, saya perhatikan ada sesuatu yang lain dibanding dua atau tiga tahun yang lalu. Kalau dahulu rumahnya penuh dengan barang-barang dagangan, tetapi gersang dari suasana keagamaan, kini rumah itu telah ‘berisi’.

    Selama dua tahun terakhir, setelah mereka datang dari ibadah haji, sebetulnya saya sudah beberapa kali mampir kerumahnya, tetapi tidak jadi masuk ke rumah sebab selalu bersamaan dengan adanya aktifitas pengajian.

    Dahulu kehidupan ekonominya menjulang, kehidupan spiritual tidak nampak sama sekali. Mungkin tertutup oleh sibuknya mengurusi duniawi. Sekarang ketika kehidupan ekonominya menurun, justru kehidupan rumah tangga mereka nampak meningkat dan lebih harmonis. Bahkan kami rasakan, keluarga itu kini ‘lebih hidup’ dan lebih berisi dalam menjalankan amanah Ilahi.

    Kurang lebih satu setengah jam kami ngobrol, sungguh asyik sekali. Sehingga waktu 90 menit itu terasa kurang. Malam itu mereka berdua ‘melampiaskan Ecerita-cerita unik yang mereka temui sejak mereka mau berangkat ibadah haji. Padahal ketika itu mereka tidak punya uang sepereserpun. Termasuk pengalaman-pengalaman spiritual yang mereka temui di sepanjang perjalanan haji.

    Mereka bergantian, memberikan informasi seputar kehidupan mereka yang dirasa sangat aneh. Mulai dari awal perkawinannya yang tidak punya pekerjaan tetap, sampai dengan kesuksesan ekonomi. Saat itu omsetnya sampai ratusan juta rupiah. Ironisnya ketika mereka akan melakukan ibadah haji, justru kondisi ekonominya menurun tajam.

    Ada saja yang menyebabkan kami rugi, dan akhirnya kami terpuruk dalam kondisi yang cukup memprihatinkan. Tetapi satu hal yang menjadi prinsip kami. Bahwa ONH yang kami bayarkan untuk pergi ibadah itu, betul-betul kami saring. Jangan sampai sedikit pun terkena uang yang tidak benar.

    Kami tidak perduli dengan kondisi kami yang saat itu tidak punya uang. Modal kami dan tekad kami pergi haji hanya satu, yaitu mohon ampun kepada yang membuat hidup. Kami merasa sudah terlalu banyak berbuat khilaf dan salah. Tapi tekad dan keinginan tersebut ternyata betul-betul berat.

    Sebab setelah itu datanglah berbagai cobaan demi cobaan secara bergantian. Bersamaan itu kondisi ekonomi pun semakin menurun”

    “Tetapi anehnya, kami bisa menerima cobaan dan ujian itu dengan tabah dan tawakal” kata pak Jk. Semua cobaan itu kami ikuti aja, seperti mengikuti aliran air, yang kami tidak tahu, kemana kami akan dibawa…”

    Pokoknya kami ikut ajalah, sambil belajar hidup..” Sampai sekarang ini sudah berjalan dua tahun. Tapi kami merasa waktu berjalan begitu cepatnya….! Pokoknya setelah pulang dari haji, kehidupan ekonomi kami, tambah hancur deh, kayak mimpi aja ya..” kata mereka.

    Tetapi anehnya, dengan kondisi kami yang sedang turun kami jadi lebih bersyukur. Sebab, berawal dari menurunnya ekonomi itulah, kami menjadi sadar. Dan alhamdulillah Mas..Jk bisa berubah menjadi seperti itu. Hati sayapun mengalami perubahan yang sangat berarti.

    Kalau dahulu, wah, jangankan shalat! Tapi sekarang, dengan kondisi ekonomi yang sangat sulit ini, justru kami rajin menjalankan shalat malam! Saya lebih tentram seperti ini dari pada seperti dahulu, yang selalu berurusan dengan dagangan yang tak ada henti-hentinya, sampai-sampai lupa pada segala sesuatu…” katanya Yn.

    “Tetapi sebagai manusia biasa, ujian dan cobaan ini sungguh berat lho…! Bayangkan aja kalau dahulu seperti itu, kini seperti Andaikata bisa memilih, tentu saya kepingin rezekinya seperti dahulu, hatinya seperti sekarang…he he he.. “kata Yn. Insya Allaah…, sahut saya.

    Satu hal yang tak akan dapat dilupakan oleh mereka, adalah terjadinya suatu peristiwa ketika mereka mau berangkat haji. Ketika semua orang sekitarnya mengerti bahwa keluarga pak Jk, ini mau berangkat haji. Para tetangganya selalu bertanya

    Kapan pak, kapan bu, syukurannya? Waduh rasanya hati ini seperti diiris pisau.” kata pak Jk.

    Bayangkan duit sepeserpun tidak punya, bagaimana mau ngadakan syukuran? Ketika itu uang yang ada, hanya tinggal dua ratus lima puluh ribu rupiah saja. Akhirnya uang yang tinggal sekian itu, mereka titipkan di acara syukuran RT. untuk ikut ‘nebeng’ syukuran haji.

    “Ketika acara resmi sudah selesai, dan tiba waktunya makan, sungguh kami berdua menjadi deg-degan setengah mati. Semua orang menikmati makanan dengan lahapnya, sungguh kami tidak berani makan.!

    Kami takut kalau makanan yang tersedia tidak cukup. Apalagi setelah kami melihat jumlah mereka yang datang. Betapa gemetarnya hati kami. Perkiraan tamu yang datang hanya sekitar tetangga kanan kiri saja. Itupun sudah berjumlah dua ratus lima puluh orang

    Tetapi malam itu yang datang tidak kurang dari enam ratus orang. Keringat dingin membasahi sekujur tubuh kami. Bahkan saya sempat bersembunyi dibawah meja untuk melihat orang-orang yang makan, dan melihat apakah masih cukup makanan yang tersedia itu, kata Yn.

    Kami hanya bisa berucap “.. ya Allah, ya Allah, berkali-kali..”tidak bisa berucap lainnya, saking gugup dan takutnya. Tetapi ada satu keanehan yang terjadi saat itu. Ternyata semua tamu bisa makan, bahkan masih ada kelebihan makan yang cukup banyak setelah acara selesai…”

    Kami berdua, hanya bengong. Sungguh, kami hanya bisa menangis saja. Tidak percaya dengan kejadian yang baru saja kami alami. Ya Allah, ya Allah…”

    Demikian salah satu kejadian mau berangkat haji…yang tak kan terlupakan selamanya…”Kata pak Jk dan Mbak Yn hampir bersamaan.

    Wah, kalau melihat kehidupan kami dahulu seperti itu, dan sekarang bisa seperti kami hanya bisa bertanya pada diri sendiri, kok bisa ya? Sekarang

    Mas Jk, menjadi orang yang Pinter masak…lho” kata Yn sambil menahan ketawanya.

    Malam itu ketika kami ke rumahnya, saya lihat Pak Jk, dan Mbak Yn berbinar-binar. Mereka saat itu nampak gembira, selalu berseri. Meskipun kondisi ekonominya sangat sulit….

    Saya hanya bisa mengatakan ;”Pak Jk, mbak Yn, jangan kuatirlah., ujian itu hanya sebentar kok. Buktinya secara bathin kalian berdua beserta keluarga sekarang bahagia sekali. Toh, memiliki uang banyak itu kan maksudnya juga untuk mambahagiakan bathin kita, kalau bathin sudah bahagia, dan semua kebutuhan juga sudah terpenuhi..walaupun mencarinya dengan perjuangan yang sangat sulit, kan sama saja..! Dengan kesabaran pak Jk sekarang semua yang nampaknya sulit itu rupanya menjadi mudah, Iya kan…? Dengan izin Allah, insya Allah semuanya akan menjadi lebih baik lagi Eok, hibur saya. Kamipun tertawa bersama.

    Hari sudah cukup malam. Saya lihat beberapa orang sudah mulai berdatangan ke rumah pak Jk membawa kitab Al-Qur’an. Rupanya malam itu di rumah pak Jk sedang ada aktifitas rutin kajian al-qur’an bersama. Maka sayapun mohon pamit…

    Pak Jk. Menutup pembicaraan saya, sambil mengantar saya keluar dari rumahnya.

    Hebat ya ‘PENJAHIT’nya! Kain yang sudah rusak, robek, dan kotor seperti saya masih bisa diubah menjadi baju yang layak untuk dipakai…” katanya sambil tertawa lepas. Alhamdulillaah…; jawab saya….!

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 3 September 2012 Permalink | Balas  

    Nikmatnya Tidur di Atas Becak 

    Nikmatnya Tidur di Atas Becak

    Ranjang mewah, atau tikar kasar, keduanya adalah sama. Mobil mewah, atau becak, keduanya juga sama. Rumah mewah di tengah kota, atau gubuk reyot dipinggir sawah, keduanya juga sama….

    Saya membeli kursi makan satu set. Ketika kursi itu didatangkan ke rumah, ada tetangga sebelah rumah yang mengetahuinya. Beberapa hari kemudian ia ‘bertamu’ ke rumah saya, sambil menyengajakan diri untuk duduk di kursi makan yang baru kami beli itu. Duduk di kursi baru itu, ia bercanda dengan menggoyang-ngoyangkan tubuhnya.

    Waduh, enaknya kursi ini. Empuk, nyaman, membuat orang kerasan saja ya. Wah, pasti dengan duduk dikursi ini makanan menjadi enak, makan tempe akan terasa sate ya…he he he,.”

    Pada waktu itu, di daerah saya, makanan sate dianggap sangat bergengsi. Sedangkan tempe sebagai makanan sehari-hari dianggap bermartabat jauh dibawah sate.

    Demikianlah kata-kata yang secara spontan muncul dari ucapannya. Kata-kata itu tanpa sengaja tertanam begitu kuat di hati saya. Sehingga pada saat-saat tertentu, kata-kata itu sering muncul lagi. Bahkan kadang-kadang sebagai kata-kata yang memiliki makna.

    Memang dalam waktu satu atau dua hari, ketika kami menikmati kursi baru tersebut, rasanya setiap makanan menjadi lebih enak dan lebih nikmat. Tetapi rupanya itu hanya berlaku sekitar tiga hari saja. Setelah terjalanani hari-hari berikutnya, perasaan kami kembali seperti semula. Lauk tempe, ya tetap seperti tempe! Tidak seperti sate lagi…

    Keberadaan ‘lauk tempe terasa sate’ paling-paling hanya berlaku 3 hari. Setelah itu tidak lagi Apalagi ketika perasaan sedang nggak enak. Lagi sedih. Lagi ada persoalan. Wah, wah,.. keadaan bisa terbalik. Makan sate jadi terasa tempe. Atau ‘gula menjadi pahit rasanya’.

    Artinya, ‘hebat’nya dunia materi, seindah dan sebagus apapun, posisinya masih kalah, dan masih sangat jauh dibawah dunia non materi kita. Misalkan saja kita yang baru saja membeli baju bagus. Betapa senangnya hati. Apalagi kalau warna dan ukurannya cocok. Begitu ‘PD’nya kita. Ke mana pun kita pergi, hati selalu gembira dan senang.

    Kalau kita baru membeli mobil bagus, betapa nikmatnya duduk menyetir mobil itu. Hati berbunga-bunga. Mengemudikan mobil kemana saja tiada capek. Gembira dan bahagia.

    Kalau kita baru membeli ranjang yang bagus, mungkin yang sedikit mewah dibanding milik kita sebelumnya, wah, betapa nikmatnya tidur di atasnya..

    Beberapa hal tersebut di atas, sekedar contoh betapa saat-saat kita baru memiliki harta benda yang sebelumnya kita inginkan, begitu senangnya hati. Begitu gembira.

    Tetapi setelah waktu berjalan ‘sedikit’ saja, ternyata telah terjadi perubahan rasa pada diri kita. Setelah apa yang kita inginkan sudah menjadi milik kita, ternyata hanya dalam hitungan hari saja, semua itu menjadi ‘biasa’ kembali tidak memberikan kontribusi perasaan bahagia lagi.

    Kalau melihat dari beberapa hal tersebut, maka ada sebuah kesimpulan yang cukup menarik. Yaitu bahwa perasaan senang atau bahagia, ternyata letaknya hanya berada di angan-angan kita. Atau bahkan berada pada ‘permainan’ perasaan kita.

    Apa saja yang kita miliki, akan menjadikan kita bahagia, jika kita bisa ‘noto ati’ dalam menyikapinya. Baju baru, mobil baru, ranjang baru, rumah baru, semua benda itu sekedar memberi kontribusi sesaat saja. Setelah itu tidak sama sekali. Dan kembali bergantung pada bagaimana kita bisa menata hati. Disinilah nampak bagaimana ajaibnya sang waktu.

    Dengan berjalanannya sang waktu, maka perasaan bisa berubah. Sikap marah, bisa berubah menjadi sabar, perasaan gembira bisa berubah menjadi sedih. Semua berada pada kisaran sang waktu.

    Saya teringat ketika dulu masih duduk di bangku SMP, banyak di antara teman-teman saya yang sekolah membawa sepeda pancal. Begitu keren dan bahagianya mereka. Begitu perasaan saya.

    Ingin rasanya bisa sekolah membawa sepeda seperti mereka. Ketika saya sudah duduk di SMA, banyak sekali teman-teman yang ke sekolah membawa sepeda motor. Ah, begitu senang dan bahagianya hati ini jika bisa sekolah membawa sepeda motor seperti mereka…

    Dan ketika saya berada di Perguruan Tinggi, ada diantara teman saya yang membawa mobil ketika kuliah. Betapa hebatnya. Mereka bisa membawa mobil ketika kuliah. Sementara saya tetap jalan kaki seperti dulu, ketika duduk di bangku Sekolah Dasar…

    Tetapi setelah saya sedikit demi sedikit bisa membeli beberapa hal yang saya inginkan itu, ternyata perasaan bahagia seperti yang saya bayangkan waktu itu, tidak ada lagi. Kalaupun ada nilainya sudah merosot jauh dari bayangan semula. Jadi nilai bahagia pada sebuah material, begitu cepatnya terkikis oleh `waktu’.

    Saya jadi teringat pada ‘ilmu puasa’. Ketika seseorang sedang berpuasa, sering kita jumpai, pada siang harinya ia kepingin segala macam makanan yang enak-enak. Misalnya : ketika seseorang pada siang hari kebetulan melihat ice juice kesukaannya, ia akan membayangkan betapa nikmatnya apabila nanti malam, ia bisa minum ice juice tersebut.

    Jika pada siang ia melihat nasi gudeg kesukaannya, ia juga akan membayangkan betapa nikmatnya apabila nanti malam ia mendapatkan nasi gudeg itu.

    Demikian pula dengan makanan atau minuman lainnya. Ia akan membayangkan betapa nikmat saat ‘nanti’ malam itu telah tiba.

    Tetapi rupanya suasana hati kepingin bahagia itu ‘hanya’ terjadi pada waktu siang saja. Yaitu ketika seseorang bisa ber’imajinasi’ tentang bahagia.

    Apa yang terjadi? Setelah sampai waktunya, semua keinginan itu nilainya merosot tajam. Rasa ice juice, kalau sudah sampai waktunya, tidak ‘sehebat’ yang dibayangkan sebelumnya. Rasa nasi gudeg, atau makanan apa saja setelah kita dapatkan, ternyata rasanya juga biasa-biasa saja. Itulah umumnya perasaan manusia.

    Apa saja yang belum berada di tangan, nampaknya sangat indah dan mempesona, seakan-akan kita pasti akan bahagia jika mendapatkannya. Tetapi setelah kita dapatkan semua itu ternyata biasa-biasa saja. Dan kembali kita kepingin lagi dengan sesuatu yang belum kita dapatkan. Demikian seterusnya. Sehingga kepuasan pun tak akan pernah kita dapatkan. Kebahagiaan yang dikejar-kejar itu, ternyata hanya terdapat dalam bayangan saja.

    Kata Allah dalam Al Qur’an al Kariim

    QS. Al-Alaq : 6-7

    Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.

    Kita diingatkan oleh Allah Swt, bahwa jika manusia berada dalam keadaan serba cukup, sering tidak bisa melihat kecukupan yang ada pada dirinya. Yang nampak justru ‘milik’ orang lain. Sehingga dengan berbagai cara dikejarnya sesuatu yang belum jadi miliknya itu.

    Maka oleh Al-Qur’an orang-orang itu disindir sebagai orang yang melampaui batas..

    Tentu, hal itu insya Allah tidak terjadi bagi orang yang beriman. Karena selalu menyandarkan semua persoalannya pada Allah Swt. Seorang yang beriman, insya Allah mampu melihat apa yang telah diperolehnya sebagai anugerah yang digunakan untuk kepentingan di jalan Allah. Sehingga akan selalu membantu manusia lainnya yang memerlukan uluran tangannya.

    Sekitar sebulan yang lalu, saat hari sudah mulai malam, saya pergi ke sebuah pasar yang letaknya berada di dekat tempat tinggal saya. Ketika itu di pojok serambi sebuah toko, terlihat oleh saya seorang tua tertidur pulas di atas becaknya…. Nikmat sekali nampaknya.

    Entah karena capek atau nunggu penumpang, pak tua ini tidur begitu pulas. Sampai sedikit mendengkur. Saya perhatikan, dalam tidurnya itu, bapak tua itu berselimutkan kain sarung, dan berbantalkan tangannya sendiri. Dengan posisi badan yang agak terbungkuk karena tempat duduk becak tidak bisa memuat seluruh tubuhnya.

    Begitu besar kekuasaan dan keadilan Allah Swt, Dia memberikan anugerahNya kepada pengayuh becak, dengan suatu nilai yang tidak dimiliki oleh orang yang serba kecukupan.

    Orang yang serba kekurangan itu, mampu meraih nikmatnya tidur di tengah keramaian orang-orang yang lagi berbelanja. Dengan begitu nyamannya. Sementara banyak orang yang ranjangnya mewah, tetapi ia tidak mendapatkan nikmatnya tidur, seperti yang dimiliki bapak tua pengayuh becak itu…..

    Dengan uang, memang kita bisa membeli ranjang atau tempat tidur yang mewah beserta dengan segala aksesorisnya. Tetapi uang itu tidak bisa membeli nikmatnya tidur seperti yang diperagakan oleh pak tua pengayuh becak itu.

    Andaikata nikmat tidur harus dibeli dengan uang, sungguh kasihan orang yang tiada punya kekayaan untuk membelinya….

    Jika ada seseorang bisa tidur nyenyak di dalam kamar mewahnya, sementara ada seorang lain yang juga bisa tidur nyenyak di dalam gubuk reyotnya maka rumah mewah dan gubuk reyot itu pun menjadi sama.

    Berarti, kamar mewah, gubuk reyot, dan becak, menjadi sama. Karena semuanya bisa menjadikan seseorang tertidur nyenyak di dalamnya…

    Sungguh sifat Adil dan Kasih Sayang dari Sang Maha Pencipta, telah kita temukan pada diri tukang becak yang sedang tertidur pulas ini

    Dengan menyaksikan seseorang yang bisa tidur pulas di atas becaknya, sungguh kita kembali bertemu dengan Kekuasaan Allah Swt.

    QS. Al Baqarah : 115

    “Timur dan barat adalah kepunyan Allah, oleh sebab itu kemana saja engkau hadapkan mukamu, disana akan bertemu dengan Allah, sesungguhnya Allah Maha Luas kekuasaanNya dan Dia Maha Mengetahui.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 2 September 2012 Permalink | Balas  

    Melihat Peristiwa Di ‘Alam Gaib’ 

    Melihat Peristiwa Di ‘Alam Gaib’

    Bisakah kita melihat ‘makhluk’ dimensi lain? Bagaimana rupa mereka itu? Apakah mereka juga memakai kendaraan seperti kita? Apakah mereka juga bersosialisasi? Apakah mereka juga bisa terluka ?

    Inilah sebuah peristiwa yang sangat unik. Bukan penggalan cerita televisi, yang lagi ‘musim’ menceritakan keberadaan alam gaib. Seperti sinetron Jinny oh Jinny, tuyul mbak yul, Jin dan Jun, atau sinetron sejenisnya….

    Waktu itu sore hari, hujan sedang rintik-rintik membasahi bumi. Matahari sudah turun di ufuk barat, menunjukkan waktu maghrib hampir tiba. Para binatang ternak sudah masuk ke kandangnya masing-masing, bahkan yang namanya ayam, tidak berani lagi berkeliaran di pelataran karena matanya tidak lagi bisa melihat ketika senja telah tiba.

    Para santri dan jamaah masjid keluar dari rumahnya untuk menuju masjid atau mushalla atau surau tempat mereka melakukan shalat berjamaah. Pada saat itu saya sedang berada di perjalanan. Kendaraan yang saya kemudikan melintasi sebuah daerah yang tidak asing bagi saya. Saya sering kali melalui jalan tengah kota.

    Mobil bergerak perlahan, karena cuaca lagi remang-remang disertai hujan rintik. Di depan sebuah bangunan yang agak tua, tiba-tiba kipas pembersih kaca mobil sebelah kiri terlepas dan jatuh.

    Maka dengan perlahan saya hentikan mobil. Kira-kira berjarak lima puluh meter ke depan. Saya pun mencari kipas yang terjatuh.

    Anehnya, dalam waktu yang cukup lama, saya tidak juga menemukan kipasnya. Bahkan sampai berjalan dengan jongkok dalam jarak yang cukup jauh dari kejadian itu, tidak juga benda itu saya temukan.

    Hari sudah mulai gelap. Suara adzan maghrib dari surau terdekat lamat-lamat sudah mulai menghilang. Mungkin, orang–orang di masjid sudah mulai melakukan shalat berjamaah.

    Karena sampai jauh tidak juga saya temukan benda yang saya cari itu, maka dengan agak frustasi saya kembali ke tempat mobil yang saya hentikan itu.

    Saya memutuskan balik ke mobil. Ketika berjalan ke arah mobil, dari arah belakang saya melaju sebuah mobil berwarna putih. Kira-kira hanya berjarak satu meter dari tempat saya berjalan.

    Persis di samping saya, mobil putih itu menabrak dua orang yang lagi menyeberang jalan. Maka terjadilah peristiwa tabrakan itu dengan diikuti suara yang sangat keras.

    Tentu saja saya terkejut. Kejadiannya sangat tiba-tiba. Saya saksikan semua kejadian itu dengan begitu jelas. Mobil berwarna putih itu berhenti sekitar satu meter dari tempat saya berdiri.

    Yang tragis adalah, di bawah ban mobil depan masih tergeletak seorang wanita tua. Ia mengenakan kain panjang bermotif batik. Darah berceceran di sekitar tubuhnya. Sementara, seorang lelaki tua juga tergeletak di depan mobil dengan jarak sekitar dua meter dari mobil itu. Di dekat laki-laki itu terdapat keranjang yang berisi beberapa kain yang juga tercecer berserakan di tengah jalan. Sungguh pemandangan yang sangat menggiriskan hati di cuaca yang agak remang-remang.

    Begitu paniknya saya menyaksikan kejadian itu. Tak ayal lagi saya berteriak minta bantuan orang-orang di sekitar. Saya bergegas menghentikan setiap mobil yang lewat agar menolongnya. Saya masih ingat bahwa mobil yang saya hentikan waktu itu, yang pertama kali lewat adalah mobil kijang warna biru metalik. Kemudian mobil taft warna hijau tua. Kemudian masih ada dua mobil lagi di belakangnya yang ikut berhenti.

    Ketika saya menghentikan mobil taft warna hijau tua itu saya sempat memegang tangan seorang laki-laki yang duduk di kursi depan sebelah kiri, dan saya tarik dia supaya keluar dari mobilnya untuk menolong kecelakaan itu.

    Bahkan saya sempat mencegat mobil angkutan umum di deretan paling belakang. Saya masuk ke dalam mobil angkutan itu. Di dalamnya banyak sekali penumpang duduk berjubel. Saya minta tolong pada mereka, tetapi para penumpang itu tidak memperdulikan saya, mereka hanya berdiam diri tanpa komentar apa-apa…..

    Sayapun turun dari angkot itu dan saya bergegas lagi menuju ke tempat kecelakaan yang jaraknya hanya beberapa meter. Saya berjalan agak cepat kearah kejadian dengan menerobos keramaian orang-orang yang berkerumun. Sambil sesekali menoleh kearah belakang, kalau-kalau ada bantuan lain yang datang menolong.

    Ketika sampai di titik kejadian, setelah melewati kerumunan banyak orang, saya menjadi terbengong dan terpaku. Ternyata orang yang tertabrak itu sudah tidak ada lagi di tempatnya. Tidak ada darah. Tidak ada keranjang. dan tidak ada pakaian yang tercecer.

    Saya menoleh ke arah mobil warna putih itu. Ternyata mobil itu juga tidak ada. Mobil kijang biru, juga tidak ada. Mobil taft juga tidak ada. Termasuk angkutan umum yang disesaki penumpang…

    Saya pun menoleh ke tempat orang-orang yang berkerumun. Ah, mereka juga tidak ada semuanya…. Keadaan di jalan itu sunyi senyap. Tak ada seorangpun yang berdiri disitu. Tak ada sebuah pun mobil yang lewat. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan baru terjadi sebuah peristiwa. Saya terkesiap, tidak mampu berkata-kata. Apa sebenarnya yang sedang terjadi …?

    Di tengah-tengah kondisi hati yang berkecamuk, saya melihat di dekat kejadian itu ada sebuah warung kecil. Di dalamnya ada seorang bapak tua yang berjualan rokok. Dia menggunakan ikat kepala, layaknya orang yang berasal dari daerah jawa tengah. Orang tua itu sedang asyik mengisap rokoknya, sambil melayangkan pandangannya lurus-lurus kedepan, seperti orang yang lagi melamun.

    Saya dekati bapak tua itu, dan saya pun bertanya kepadanya : “…Pak, kemana orang-orang itu semua, bapak melihat kejadian tadi? ‘Orang tua itu tidak sedikit pun menoleh ke arah saya. Tapi ia menjawab: kejadian apa? Saya sejak tadi di sini tidak ada kejadian apa-apa…! ”

    Bulu kuduk saya berdiri, mendengar jawaban itu. Saya usap kedua mata saya, saya cubit lengan saya. Saya tidak sedang bermimpi. Tapi saya baru saja menyaksikan suatu peristiwa yang luar biasa.

    Akhirnya dengan perasaan yang tidak karuan, saya cepat-cepat pulang menuju rumah. Saya masih penasaran. Keesokan harinya pagi-pagi sekali saya menuju ke tempat kejadian itu untuk mencari kembali kipas kaca mobil yang terlepas tadi malam. Sekalian sambil ingin menyaksikan ulang bekas peristiwa tadi malam. Sesampai di tempat kejadian itu saya bertambah merinding…!

    Ternyata, selain kipas mobil tidak saya temukan, satu lagi yang membuat saya termangu adalah, di tempat itu ternyata sunyi sekali. Tidak ada seorang pun yang berjualan, tidak ada bekas-bekas kecelakaan, bahkan penjual rokok beserta warungnya pun tidak ada …!

    Saya tetap penasaran. Saking tidak kuatnya menahan gejolak hati, keesokan harinya saya bercerita kepada beberapa orang teman dekat.

    Satu hal lagi yang membuat bulu kuduk menjadi berdiri…!

    Ketika saya bercerita tentang hal itu, ada seseorang yang memberikan kesaksiannya. Ia pernah diberi tahu oleh orang tuanya, bahwa di tempat kejadian yang saya ceritakan itu memang pernah terjadi peristiwa yang persis seperti apa yang saya lihat itu. Tetapi katanya, peristiwa itu sudah terjadi sekitar dua belas tahun yang lalu…. Subhaanallah! Mendengar kesaksian itu semua orang saling pandang….! Berbagai perasaan berkecamuk jadi satu. Antara percaya dan tidak percaya. Antara heran dan penasaran.

    Ada satu lagi yang lebih aneh, ternyata penjual rokok beserta warungnya itu juga misterius. Ia tidak mengetahui kalau ada kejadian yang `begitu hebat’ di dekatnya! Berarti antara penjual rokok dan kecelakaan itu terjadi pada dua dunia yang berbeda, sebab mereka tidak saling mengetahui….

    Pembaca, dari kejadian itu, apa yang terpikir di benak kita? Semoga kita semakin mengakui bahwa betapa kecilnya diri kita ini.

    Ada satu kesimpulan menarik darinya, yaitu ternyata ada dunia lain yang sedang berlangsung di samping dunia kita ini. Allah Swt telah sedikit membuka tabir tentang rahasia alam ciptaanNya yang luar biasa itu kepada kita semua.

    Bahwa di balik dunia kita, ternyata memang ada suatu kehidupan lain. Bahwa kehidupan itu, satu dengan lainnya, berada pada tingkatan atau pada dimensi yang berbeda. Sehingga penjual rokok yang penuh misteri itupun tidak mengetahui terjadinya kecelakaan yang ada di dekatnya.

    Antara peristiwa kecelakaan, dengan penjual rokok itu, terpisah oleh sebuah tabir. Saat saya menyaksikan kejadian itu, rupanya Allah sedang menyingkap tabir itu sedikit, sehingga saya bisa ‘menonton’ dunia yang tidak sama secara bersamaan di waktu maghrib itu….

    Terjadi adanya relatifitas waktu antara kejadian yang saat itu saya saksikan dengan kejadian sesungguhnya, yang katanya peristiwa itu terjadi sudah dua belas tahun yang telah lalu.(…wallahu ‘alam)

    Waktu maghrib adalah waktu khusus yang mungkin harus diperhatikan oleh setiap manusia. Saat itu matahari telah turun, dimana akan terjadi pergantian dari siang menuju malam. Waktu semacam itu oleh agama kita disebut waktu maghrib, yang perlu sekali pada saat itu manusia menyembah dan mengagungkan Tuhannya. Allaahu Akbar..!

    Dengan mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram, membuktikan bahwa manusia tak mempunyai daya apa-apa. Saya jadi teringat petuah para orang tua kepada anak-anaknya di zaman dahulu. Jika waktu senja telah datang, jika waktu shalat maghrib telah tiba, janganlah lagi ada yang diluar rumah…masuklah ke dalam rumah, cepat ambil air wudhu’ untuk melakukan shalat maghrib dalam rangka mengabdi dan menyembah kepada Tuhannya langit dan bumi ini.

    Semoga dari peristiwa aneh tersebut, kita dapat mengambil positifnya. Semoga kita bertambah yakin akan datangnya hari perhitungan, yang akan terjadi pada dunia lain setelah terjadinya hari berbangkit kelak.

    Semoga semua itu akan menjadikan kita semakin yakin akan Kekuasaan Allah yang tiada terhingga. Dan semoga menjadikan kita semua lebih berhati-hati dalam menjalani hidup ini… Insya Allah..

    ***

    Dari Sahabat

     
    • dewa 2:32 am on 25 Februari 2013 Permalink

      di dunia ini,
      tidak ada yang tidak mungkin,
      niat, yakin, dan sabar,
      adalah kunci berbagai kemungkinan,
      konsultasikan.
      085729111654

    • Satya 11:12 pm on 8 Maret 2013 Permalink

      Setiap kecelakaan di manapun, jika terdapat darah, maka darah itu akan menjadi Alam,
      darah merupakan sebuah alam di dalam diri manusia. waktu maghrib adalah waktu keluarnya mahluk halus dan jiwa2 yang terpenjara
      Alhamdulillah anda masih di beri keselamatan

    • esdua 4:56 pm on 16 April 2013 Permalink

      terlepas dr benar/tidaknya cerita diatas, sy sarankan kpd siapa saja untuk tidak terkecoh tipuan syetan yg menyesatkan. yakinlah kpd firman alloh swt bhw kita manusia adalah makhluk ciptaannya yg diberi mandat untuk memakmurkan bumi. jadi apapun diluar itu, abaikan saja dan kembalilah kpd mandat yg sudah dibebankan diatas pundak kita. manusia..

  • erva kurniawan 1:30 am on 1 September 2012 Permalink | Balas  

    Do’a Seorang Tukang Becak 

    Do’a Seorang Tukang Becak

    Pak Samin, seorang tukang becak. Ia sudah lama menggeluti pekerjaannya. Dan mempunyai prestasi yang cukup mencengangkan. Sejak kecil ia tidak pernah mengenal bangku sekolah. Tetapi kini ia telah menjadi seorang sukses dengan menikmati kehidupan hari tuanya yang penuh damai dan sejahtera.

    Cerita ini saya dapatkan dari seorang kawan, ketika kami ngobrol. Pak ‘DJ’ Kawan saya ini, dengan penuh antusias menceritakan ‘sejarah’nya Samin.

    Pak Samin mempunyai dua orang anak lelaki, yang dua-duanya kini sudah menjadi perwira Angkatan Darat. Kedua anak tersebut lulus SMA, dan dua-duanya masuk pendidikan militer, AKABRI.

    Sebagai seorang yang tidak punya biaya, untuk bisa menyekolahkan kedua orang anaknya pak Samin mencari biaya dengan cara yang lain. Cara apa yang bisa diterapkan oleh seorang tukang becak seperti dia? Ia tidak punya pekerjaan sampingan. Juga tidak berpendidikan?

    Ketika pak DJ bertanya, “…Pak Samin!, kok bisa ya, bapak menyekolahkan kedua anak bapak, sampai di AKABRI? Wah, berapa biaya yang bapak keluarkan, dan bagaimana cara bapak mendapatkan biaya itu ?”

    “Pak DJ, saya ini kan tukang becak, dari mana saya dapatkan biaya? Sejak anak saya sekolah di SMP, saya sudah kewalahan mencarikan biaya. Tetapi alhamdulillah sejak saat itu saya bisa terus menyekolahkannya dengan cara saya sendiri. Yaitu saya terus berdo’a tidak kenal putus sepanjang hari dan malam. Itu saya lakukan selama puluhan tahun. Sejak saya menyadari bahwa tidak mungkin saya mencari biaya sendiri untuk menyekolahkan kedua anak saya. Tentu harus ada yang menolong saya untuk menyekolahkan.”

    Tanya Pak DJ : Siapa yang bapak maksud dapat menolong untuk mencarikan biaya itu? Siapa lagi kalau bukan Gusti Allah kang Maha Kuasa? katanya.

    Pak DJ berdecak kagum. ”pak Samin, kalau boleh saya tahu, do’a apa yang bapak sampaikan selama puluhan tahun itu, sehingga bapak bisa seperti ini?”

    Jawab pak Samin : “..saya juga nggak bisa do’a yang panjang-panjang pak. Saya hanya berdo’a kepada Gusti Allah yang Maha Kuasa, agar kami sekeluarga mendapatkan ridhaNya…”

    Pak Samin menambahkan: “…Saya menangis sepanjang malam untuk mendapatkan ridhaNYa, selain itu tidak! Saya tidak pernah minta untuk mendapatkan biaya sekolah. Saya tidak pernah untuk minta agar saya kaya, bahkan saya tidak berani minta agar saya bahagia…saya takut minta yang macam-macam, saya hanya minta untuk mendapatkan ridhaNya saja…”

    Mendengar jawaban itu, pak Dj termangu. Dan terdiam dalam seribu bahasa. Sungguh luar biasa do’a itu. Seorang yang miskin, yang secara ekonomi serba kesulitan dalam hidupnya. Tetapi do’a yang dipanjatkannya bukan minta kemudahan dalam kehidupan. Yang diminta sangat simpel. Tetapi justru nilainya jauh lebih tinggi dari kebutuhannya saat itu. Yang dimintanya adalah keridhaan Allah Yang Maha Kuasa….subhaanallah.

    Kalaulah Allah Swt, sebagai Dzat Yang Berkuasa atas segala sesuatu sudah meridhainya, maka tak ada kata mustahil. Semua yang mengatur Dia. Apa yang dibutuhkan oleh hambaNya, Dialah yang memproses.

    Jika seorang yang dicintaiNya sedang membutuhkan biaya, maka Dialah Dzat Yang Maha Kaya itu. Jika seorang HambaNya sedang kesulitan akan sesuatu, maka Dialah yang akan memudahkannya. Dengan menjadi hambaNya, sungguh manusia akan mendapatkan sesuatu dariNya sebelum ia memintanya.

    Hadits Qudsi:

    “Apabila seorang hamba datang kepadaku, dan ia sibuk mengingatKu sampai lupa memohon keperluannya sendiri, maka Aku akan memberikan sesuatu yang terbaik baginya sebelum minta kepadaKu.”

    (HR. Bukhari, Baihaqi)

    Sungguh kita semua menjadi malu kepada diri sendiri. Kita sering minta kepada Allah yang macam-macam, lebih-lebih ketika kita sedang dirundung kesulitan.

    Do’a pak Samin sungguh sangat indah dan sangat universal. Ia ‘hanya’ meminta ridha. Dengan mendapatkan ridhaNya itulah, insyaAllah semua kebutuhan manusia akan terkandung di dalamnya. Dan itu telah dibuktikan oleh seorang tukang becak yang luar biasa

    Sebagai tetangga, pak DJ kagum luar biasa. Dan sangat bangga serta sangat bersyukur punya tetangga seperti pak Samin. Pak Samin kini menjadi orang yang bahagia dalam kehidupannya. Ia menempati rumah yang cukup layak. Bapak dari dua orang perwira….

    ***

    Dari Sahabat

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: