Updates from Juli, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:00 am on 31 July 2012 Permalink | Balas  

    Malam Seribu Bulan 

    Malam Seribu Bulan

    Sungguh telah aku tutrunkan dia (Al Qur’an) dalam Lailatul Qodar. Tahukah kamu apa itu Lailatul Qodar. Lailatul Qodar itu lebih menjadi pilihan ketimbang seribu bulan.Para malaikat dan (Jibril yang menjadi Ruh), turun di malam itu atas izin Tuhan mereka (mengurai) segala (belitan) urusan. Mereka menyapa “salam” (selamat bagi semua, hamba Allah yang teguh). Malam seribu bulan itu (menebarkan berkahnya) samapai fajar menyingsingkan pijar.

    Ketika datang Lailatul Qodar, Kanjeng Nabi sedang sujud. Bersamaan dengan datangnya, hujan turun dengan derasnya. Air hujan yang pealn-pelan menggenangi tempat sujud Kanjeng Nabi, yang dengan lembut menyapa kulit muka beliau, sama sekali tak mengurangi keasyikan beliau menikmati prosesi malaika tyang dipimpin JIbril turun membelai dan menebar al qadar di muka bumi. Kanjeng Nabi yang tenggelam dalam keasyikannya. Keasyikan berbeda yang tak ada seorang perawipun mengisahkannya secara imajiner, dilukiskan seorang ulama sebagai yang tiada taranya. Terbukti dengan sujud Kanjeng Nabi yang sangat panjang, sangat lama dan tidak mempedulikan bagian gemercik air hujan yang makin lama membahasi pipi-mulia Kanjeng Nabi. Beliau sama sekali tidak bergeming. Tenggelam dalam keasyikan mendalam mengikuti prosesi malaikat dalam tabuh merdu segala merdu. Dlaam kidiung keselamatan membuluh perindu, yang didedangkan tak henti sampai fajar menyapa semesta. Malaikat pun menorehkan keindahan di mana-mana. Di hati pemburu Laialtul Qodar. Di hati kita. Wao! Betapa!

    Kita telah melakukan ancang-ancang sejak awal Ramadhan dan nafsu selama sua puluh hari penuh telah kita latih menyabari amal yang paling membosankan sekalipun. Kita lakukan amal yang di luar Ramadhan tidak pernah kita kerjakan. Tarawih, tadarrus, dan sedekah. Kita telah melatih hati dan nafsu kita untuk memiliki ketahanan dan daya tahan kuat demi pahala yang terhitung kelipatannya. Di antara kita bahkan ada yang sudah memulaiiktikafsejak tanggal sebelas, lalu meneruskannya dengan lebih intens hingga Ramadhan berakhir. I’tikaf adalah adalah bagian dari ibadah yang paling ringan. Hanya thenguk-thenguk, duduk diam di masjid, tanpa bacaan, tanpa menggerakkan anggota badan, bahkan terkantuk-kantuk, namun punya nilai dan berpahala. Kanjeng Nabi menganjurkan kepada kita menagguk datangnya Lailatul Qodar dengan ber i’tikaf itu, dengan ibadah paling ringan itu. Agar semua kita bisa melaksanakan dan memperoleh keunggulan malam seribu bulan yang dahsyat itu, yang setiap mukmin pasti mendambakannya itu.

    Gusti Allah menggambarkan, Lailatul Qodar (seharusnya) menjadi pilihan ketimbang seribu bulan. Artinya, dia sangat diikhtiarkan sungguh-sungguh oleh setiap shaim. Dan itu tidaklah terlalu berat. Dia berada dalam satu malam pada lima malam (saja) yang dijanjikan pasti datang , yaitu pada malam-malam tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadhan. Begitu menurut Kanjeng Nabi. Di antara kita (dari sekian Muslim yang berpuasa) telah memanjakan nafsu dan keinginan untuk lebih suka bersantai sebelum malam-malam itu menjelang. Tidur dan merenung. Setelah malam-malam itu lewat, kita berbuat sesuka nafsu keinginan kita. Sepanjang tahun. Gusti Allah dan Kanjeng Nabi menginginkan agar orang-orang beriman dapat menikmati pemandandan sangat indah , prosesi malaikat yang dipimpin JIbril turun ke bumi dengan gebyar warna-warni indah pelangi yang serasi. Sambil menebar janji pahala tak terhingga kelipatannya, hanya satu malam saja ditangguk oleh shaimyang berlega hati “thaharri berupaya bersungguh-sungguh “menemukannya”. Sungguh.

    Kit asemua percaya itu, karena kita mukmin yang beriman pada yang bghaib. Prosesi malaikat Laialatul Qodar itu ghaib dan hanya bisa disaksikan dengan mata hati yang tajam, bening, dan bersih dari “roin” (cemar duniawi yang menyaput nurani karena perbuatan tak bermutu yang dilakukan sehari-hari). Selama dua puluh hari kita telah mengelap gemerlap hari kita, membersihkannya dari “roin” sehingga manakala kita berlega hati meneguhkan konsentrasi penuh mencegat iring-iringan prosesi malaikat dan Ruh di malamal-qadar itu, dengan mata hati kita yang telah beningitu, niscaya kita akan dapat menyaksikan keindahan tiada tara itu. Keindahan malam seribu bulan.

    Mudah-mudahan di malam itu kita sempat menggumamkan doa : “Rabbana Inna Ka ‘Afuwun Karim, Tuhibbul ‘afwa fa’fu anna”. “Duh Gusti, Paduka Maha Pengampun lagi Maha Pemurah, Paduka menyukai pengampunan, ampunkan dosa kami.” Kembalikan Gusti, perekat kebangsaan kami, perekat keindonessiaan kami. Amin.

    ***

    K.H. Cholil Bisri

    “Ketika Nurani Bicara” Rosda 1999, hal 15-17.

    Iklan
     
  • erva kurniawan 1:15 am on 30 July 2012 Permalink | Balas  

    Mas, Kok Tidak Sholat Berjama’ah? 

    Mas, Kok Tidak Sholat Berjama’ah?

    Sebagian besar masjid-masjid kaum muslimin saat ini kita lihat kosong dari jama’ah baik siang maupun malam. Pemandangan ini hampir merata kita temui di setiap tempat, baik di desa maupun di kota. Inilah buah dari kekurangfahaman mereka dalam ilmu syariat, khususnya yang berkaitan dengan hukum sholat berjama’ah.

    Sehingga bila kita tanyakan kepada seseorang, “Mengapa tidak sholat di masjid, kok malah sholat di rumah?”, boleh jadi ia menjawab, “Ah, itu kan cuma sunnah saja…”

    Astaghfirullah!!, semoga Alloh memahamkan kepada kaum muslimin tentang syariat yang mulia ini.

    Apa Hukum Sholat Berjama’ah?

    Ketahuilah, bahwa pendapat yang benar dan rajih dalam masalah ini ialah sholat berjamaah itu wajib (bagi laki-laki, adapun bagi kaum wanita, sholat di rumah lebih baik daripada sholat di masjid walaupun secara berjama’ah). Inilah pendapat yang didukung oleh dalil dalil yang kuat dan merupakan pendapat jumhur (seluruh) ulama dari kalangan sahabat dan tabi’in, serta para imam madzhab (Kitabus Sholat karya Ibnul Qoyyim).

    Perintah Alloh Ta’ala Untuk Sholat Berjamaah dan Ancaman Nabi Yang Sangat Keras Bagi Yang Meninggalkannya

    “Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ (dalam keadaan berjamaah).” (Al Baqoroh: 43). Perhatikanlah wahai saudaraku, konteks kalimat dalam ayat ini adalah perintah, dan hukum asal perintah adalah wajib.

    Rosululloh telah bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku yang ada di tangan-Nya, ingin kiranya aku memerintahkan orang-orang untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan mereka untuk menegakkan sholat yang telah dikumandangkan adzannya, lalu aku memerintahkan salah seorang untuk menjadi imam, lalu aku menuju orang-orang yang tidak mengikuti sholat jama’ah, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka.” (Shahih HR. Bukhori)

    Hadits di atas menunjukkan wajibnya (fardhu ain) sholat berjama’ah, karena jika sekedar sunnah niscaya beliau tidak sampai mengancam orang yang meninggalkannya dengan membakar rumah. Rosululloh tidak mungkin menjatuhkan hukuman semacam ini pada orang yang meninggalkan fardhu kifayah, karena sudah ada orang yang melaksanakannya. (Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al Asqolani)

    Diriwayatkan dari Abu Huroiroh, seorang lelaki buta datang kepada Rosululloh dan berkata, “Wahai Rosululloh, saya tidak memiliki penunjuk jalan yang dapat mendampingi saya untuk mendatangi masjid.” Maka ia meminta keringanan kepada Rosululloh untuk tidak sholat berjama’ah dan agar diperbolehkan sholat di rumahnya. Kemudian Rosululloh memberikan keringanan kepadanya. Namun ketika lelaki itu telah beranjak, Rosululloh memanggilnya lagi dan bertanya, “Apakah kamu mendengar adzan?”, Ia menjawab, “Ya”, Rosululloh bersabda, “Penuhilah seruan (adzan) itu.” (Shahih HR. Muslim).

    Perhatikanlah, jika untuk orang buta saja yang tidak memiliki penunjuk jalan itu tidak ada rukhsoh (keringanan) baginya, maka untuk orang yang normal lebih tidak ada rukhsoh lagi baginya.” (Al Mughni karya Ibnu Qudamah). Andaikan memang shalat berjama’ah ketika itu tidak wajib, untuk apa seorang leleki yang buta mesti repot-repot harus bertanya dan meminta keringanan kepada Rasululloh, sementara untuk orang yang sehat saja tidak wajib? Hal ini salah satu bukti tentang wajibnya shalat berjama’ah.

    Hanya Orang Munafik Saja Yang Sengaja Meninggalkan Sholat Jama’ah

    Sahabat besar Ibnu Mas’ud rodhiyallohu’anhu berkata tentang orang-orang yang tidak hadir dalam sholat jama’ah: “Telah kami saksikan (pada zaman kami), bahwa tidak ada orang yang meninggalkan sholat berjama’ah kecuali orang munafik yang telah diketahui kemunafikannya atau orang yang sakit”.

    Lalu bagaimana seandainya Ibnu Mas’ud hidup di zaman kita sekarang ini, apa yang akan beliau katakan???

    ***

    (Disarikan oleh Abu Hudzaifah Yusuf dari terjemah kitab Sholatul Jama’ah Hukmuha wa Ahkamuha karya DR. Sholih bin Ghonim As-Sadlan)

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 29 July 2012 Permalink | Balas  

    Bingkailah Puasamu dengan Cinta 

    Bingkailah Puasamu dengan Cinta

    “Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tanganNya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih disukai Allah daripada harum minyak kasturi.” (HR. Bukhari).

    “Ada anak bertanya pada bapaknya, buat apa berlapar-lapar puasa”, lagu Bimbo itu kunyanyikan di depan Ayah berulang-ulang di tengah sebuah siang bulan Ramadhan yang panas. Sebenarnya aku tidak berniat apa-apa. Kebetulan lagu itu sedang hits dan sering muncul di radio sehingga mulutku yang hobi nyanyi ini latah dan terus menerus menyanyikannya. Tapi terus terang sebagai anak kecil yang baru belajar puasa, terkadang teks lagu itu ingin sekali kutanyakan kepada Ayah.

    Ayah melambaikan tangannya kepadaku dan akupun mendekat.”Panggil uda dan uni semua ke sini. Ayah ingin bicara., ya.” Maka akupun keliling ke kamar atas, kamar bawah dan juga ke tetangga sebelah mencari uda dan uniku. Alhamdulillah dalam beberapa menit saja tugas itu dapat kuselesaikan. Mereka semua kini duduk bersila di hadapan Ayah.

    “Anak-anakku. Kini kalian sedang berpuasa dan berusaha menahan haus, lapar bahkan juga menjaga mata dan telinga dari seluruh keburukan. Ayah ingin tahu apa tujuan kalian berpuasa?”, Ayah menunjuk salah seorang anaknya. “Ya untuk menjalani perintah Allah, Ayah”.”Hmm..Kita kan hamba Allah, maka kita wajib menjalankan perintahNya”, jawab yang lain.

    Ayah tersenyum bangga dengan kesungguhan jawaban yang diberikan. “Jawaban kalian sesungguhnya bagus dan tidak salah sama sekali. Benar kita menjalankan ibadah puasa karena memenuhi perintah Allah. Kita ini hamba Allah. Hamba itu artinya budak. Seorang budak tentulah harus memenuhi kehendak tuannya tanpa boleh bertanya-tanya. Jika seorang budak selalu bertanya terhadap perintah-perintah tuannya tentulah budak itu akan dimarahi oleh tuannya. Terlebih lagi jika budak itu menentang perintah tuannya dan mematuhi tuan yang lain. Wajar lah jika tuan tersebut menghukumnya dengan keras.”Demikianlah nuansa hati yang harus ditumbuhkan saat kita mengerjakan seluruh perintah Allah. Jangan pernah terdetik di hati untuk bertanya-tanya kenapa harus begini dan mengapa tidak begitu. Jawaban yang mutlak untuk semua perintah itu adalah: karena Allah Tuhan yang menciptakan saya, Tuhan yang saya sembah, Tuhan yang saya harapkan kasihNya di dunia dan di akhirat, telah memerintahkannya kepada saya, hambaNya dan budakNya.

    “Kita ini ada di dunia karena diciptakan Allah. Bisa hidup karena diberi makan, minum dan udara oleh Allah. Sungguh celaka kita jika terdetik niat lain sewaktu beribadah selain karena memenuhi kehendak dan perintah Allah. Oleh itu, jangan pernah memotivasi dirimu dalam menjalankan ibadah puasa ini karena hikmah-hikmah duniawi. Seperti kata orang-orang, puasa itu untuk diet, supaya hemat, supaya sehat, supaya ini, supaya itu. Seluruh kata-kata itu akan mencemarkan ketulusan niatmu dalam berpuasa untuk mencapai syurga dan ridho Allah SWT.

    “Namun anak-anakku dalam perintah berpuasa ini ada nuansa lain yang Allah inginkan dari kita. Puasa ini bukan hanya sebuah perintah yang diwajibkan Allah Tuhan semesta alam kepada manusia sebagai hambaNya. Justru kita dapat merasakan getaran cinta Penguasa Alam Raya dalam perintah puasa ini. Pahami getaran cinta dan kasih Allah itu dapat dirasakan pada ayat dan hadits berikut:

    1. FirmanNya dalam surah al-Baqarah 183 – 184.

    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (183). (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka bagi siapa saja diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.”(184)

    Subhanallah, lihatlah betapa tegasnya Allah memerintahkan kewajiban berpuasa ini Allah pada ayat 183. Namun pada ayat 184 Allah mengeluarkan statemen yang toleran: “Bagi siapa saja yang sakit atau sedang dalam perjalanan bolehlah menggantinya pada hari yang lain”. Subhanallah..Allah itu Tuhan Penguasa Alam. Seluruh makhluk perlu kepadaNya dan Dia tidak ada keperluan kepada satu makhluk pun. Allah menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada pada keduanya. Allah berkuasa penuh untuk menghidupkan atau menghancurkan kita. Tapi kenapa Raja segala Raja itu mewajibkan sesuatu dengan tegasnya, tetapi kemudian malah mengeluarkan pengecualian-pengecualian?

    Seorang raja yang memiliki kekuasaan tidak akan pernah melakukan hal itu saat mengeluarkan titah perintahnya. Bahkan seorang bos atau majikan tidak akan berbuat demikian. Dalam ilmu manajemen sebuah Surat Keputusan berlapis seperti itu justru dikhawatirkan dapat melahirkan nuansa ketidakdisiplinan di kalangan pekerja. Tapi Allah bukan raja, bukan bos dan bukan majikan. Allah Tuhan yang menjalin hubungan kasih dengan makhluk yang diciptakanNya. Allah memerintahkan puasa dengan nuansa cinta dan kasihNya yang dalam terhadap para hambaNya.

    2. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari Nabi Muhammad SAW bersabda :

    “Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tanganNya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih disukai Allah daripada harum minyak kasturi.” (HR. Bukhari)

    Cobalah pahami oleh kalian, apa arti ungkapan dalam hadits ini. Bukankah ini ungkapan cinta yang melimpah dari Allah kepada orang yang berpuasa? Kita semua juga paham bahwa bau mulut orang yang berpuasa di bumi manapun pasti sangat busuk. Itu wajar karena perutnya sedang kosong sehingga asam lambung dapat memanjat sampai ke dinding mulut. Saat berbicara, menguap atau bahkan sekedar membuka mulut saja langsung mulut akan menyebarkan aroma yang membuat orang menutup hidungnya.

    “Namun di sisi Allah, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dari minyak kasturi. Bukankah ini ungkapan cinta Allah yang berlimpah terhadap orang-orang yang berpuasa? Maaf, nanti kalau kalian sudah menikah dan cinta kasih yang mendalam sudah tumbuh antara suami dan istri hal-hal ini baru dapat dipahami dengan sempurna. Banyak sekali suami yang sedang cinta setengah mati dengan istrinya akan mengatakan, “Aduhai..istriku, harum sekali bau mulutmu”. Padahal istrinya baru bangun tidur dan belum gosok gigi. Mengapa? Tentulah karena cintanya yang begitu mendalam terhadap sang istri.

    3. Dalam sebuah hadits Qudsi:

    “Puasa itu untukKu dan biarkan Aku yang akan menganugerahkan pahalanya.” (HR. Muslim)

    Lagi dan lagi kita harus memuji Allah atas besarnya cinta kasih Allah terhadap orang yang berpuasa. Banyak sekali amal perbuatan kita ini yang pahalanya dijanjikan Allah kepada kita secara kalkulatif. Contoh, sholat jama’ah menaikkan derajat kita di sisi Allah hingga 27 derajat. Bersedekah dilipat gandakan Allah pahalanya hingga 700 kali lipat. Begitu pula sholat di Masjidil Haram yang pahalanya 100.000 lebih utama dibandingkan sholat di masjid biasa. Semuanya dijanjikan Allah dalam hitungan-hitungan yang jelas. Tapi, untuk puasa Allah mengungkapkan apresiasiNya yang tinggi. “Puasa itu untukKu dan biar Aku yang menganugerahkan pahalanya.””Bukankah ini sebuah ungkapan sentimental yang diwarnai dengan kecintaan? Bagaikan seorang raja yang menentukan imbalan dan gaji standar bagi seluruh rakyatnya. Semua rakyat mendapat imbalan yang sama untuk pekerjaannya. Raja sendiri tidak pernah menyampaikan upah itu secara langsung ketangan rakyatnya. Ia hanya memerintahkan menteri dan bawahannya untuk memberikan imbalan tersebut. Tetapi ada sebuah tugas khusus yang sangat disukai oleh raja. Siapa saja yang mengerjakannya raja itu sendiri yang akan turun untuk menyerahkan imbalannya secara langsung. Bahkan raja itu juga merahasiakan jumlah imbalan yang akan diterima oleh orang yang menyelesaikan tugas khusus itu.”Allah memiliki perumpamaan yang tidak akan dapat kita bayangkan.

    Contoh-contoh tadi itu hanya agar kamu paham. Agar kamu mengerti betapa sentimentilnya puasa ini di sisi Allah. Ada rona-rona cinta berserakan di udara Ramadhan. Meskipun matahari begitu panas memanggang kulit kita, dan rasa haus begitu tega mendera kerongkongan kita. Terutama jika melihat botol-botol air di kulkas yang dingin berembun. MasyaAllah, rasanya copot jantung! Tapi kita menyingkirkan itu semua dan menderita untuk menjalin cinta dengan Allah yang amat besar cintaNya di bulan puasa ini.”Anak-anakku, kalian memang hanya hamba Allah SWT. Namun di bulan Ramadhan ini Allah menebar kasih dan cintaNya bahkan untuk hamba-hambaNya yang hina seperti kita ini. Maka jangan biarkan cinta Allah bertepuk sebelah tangan. Allah cinta dan sayang kepadamu, maka sambutlah cintanya dengan ikhlas berpuasalah hanya untuk ZatNya.”Orang yang sedang dalam bercinta tidak akan pernah mengeluh meski harus berkorban banyak. Pengorbanan justru menjadi sebuah tantangan yang makin mengobarkan api cinta dan rindu. Para sahabat dahulu berpuasa di hari yang panas dan tetap menjaga puasanya meskipun harus berperang melawan musuh Allah. Ada seorang sahabat yang terluka parah dan dibawa ke belakang. Namun ia tetap tidak ingin membatalkan puasanya. Saat hari sudah mulai senja keadaannya sudah amat kritis. Para sahabat yang lain amat kasihan melihat dirinya.”Berbukalah wahai fulan, engkau tetap akan mendapat ganjaran Allah”.”Jika aku berbuka dan ditakdirkan Allah meninggal dunia hari ini, maka kapankah aku dapat menggantikan puasaku itu? Tapi karena waktu berbuka sudah hampir tiba, carikanlah sedikit air untukku. Bawalah tamengku ini untuk menampung air minum.”

    Maka beberapa sahabat pergi mencari air untuk berbuka puasa sahabatnya yang sedang sekarat. Tak berapa lama mereka berhasil menemukan sumber air. Maka dicucilah perisai cembung itu dan diisi dengan air bersih. Namun alangkah terkejutnya mereka, ketika hendak menegukkan air ke mulut sahabat itu, ternyata ia telah meninggal dunia. Ia telah pergi berbuka di syurga bersama para bidadari. Masya Allah, inilah orang-orang yang benar hatinya dalam bercinta denganMu”.

    Ayah meneteskan air mata saat mengakhiri ceritanya mengenai kekentalan cinta para sahabat Rasulullah SAW terhadap Allah SWT. Semoga setiap Ramadhan kita rindui kehadirannya agar kembali terbuka peluang menjalin cinta kasih dengan Allah.

    Allahumma baarik lanaa fi Sya’banWa Ballighnaa Ramadhaan..

    (Ya Allah, berkahilah hidup kami di bulan Sya’ban dan sampaikan usia kami ke bulan Ramadhan) Amin Ya Mujibas Saailin.

    ***

    Kolom : Ust. H. Arsil Ibrahim, MA

     
    • Riska andani simargolang 12:10 am on 5 Agustus 2012 Permalink

      Assalamualikum wr.wb
      subhanallah artikelnya bagus banget…
      :)

      tp sebelumnya maaf saya mau bertanya, karna saya sdikit bingung..
      dlam artikel tersebut dikatakan..

      3. Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi:

      “Puasa itu untukKu dan biarkan Aku yang akan menganugerahkan pahalanya.” (HR. Muslim)

      Bukan’a firman tu adalah perkataan Allah dalam AL Qur’a, sedangkan Hadist adalah perkataan rasul??

      tlg di jawab ya admin…
      trmksih sblm’a..

      waalaikumsalam…

    • erva kurniawan 3:42 pm on 6 Agustus 2012 Permalink

      Terima kasih atas masukannya :)

  • erva kurniawan 1:48 am on 28 July 2012 Permalink | Balas  

    Analogi Puasa 

    Analogi Puasa

    Tadi pagi selepas Sholat Subuh, saya bertemu dengan seorang Bapak (sebut saja Beliau). Dari sejak azan Subuh ketika saya datang ke mesjid, Beliau selalu duduk di pojokkan saf kedua dan tampak khusu’ berdoa. Setelah selesai Sholat, beliau tetap berada di tempatnya dengan terdiam dan tampak sedang bertafakur. Ketika saya sedang menuju ke bawah (mesjid kami 2 tingkat dimana tingkat dua dipakai untuk ibadah sholat sementara bagian bawah untuk pengajian anak-anak (TPA)), ada suara yang memanggil saya, “Dik sebentar dik!”.

    Saya terkejut dan mencari suara itu datangnya darimana. Ternyata Beliau yang memanggil saya. Kemudian saya menghampirinya.

    “Ada apa, Pak?”

    Beliau menjawab,”Boleh mengganggu sebentar”.

    Jawab saya,”Oh tidak apa-apa lagipula ini masih pagi dan masih ada waktu untuk ngobrol-ngobrol”. Akhirnya mengucapkan terima kasih atas berkenannya saya untuk menemaninya ngobrol.

    “Tahu ga dik? Saya tahu adik dari tadi selalu memperhatikan saya sejak masuk mesjid sampai selesai sholat tadi” kata Beliau.

    Terkejut saya mendengarnya karena perasaan saya, Beliau dari awal sampai akhir selalu menunduk dan dengan khusu’nya berdoa tapi kok tahu saya memperhatikannya.

    “Kok Bapak tahu sih?” kata saya.

    Beliau tidak menjawab tetapi hanya tersenyum. Kemudian Beliau memperkenalkan diri dan namanya sama dengan sahabat Rasul SAW yang menjadi Khalifah ke-dua pada jaman setelah Rasul SAW wafat. Beliau juga bertanya nama, alamat dan sudah berapa saya tinggal.

    Setelah bicara kesana kemari, Beliau bertanya,”Kapan mulai Puasa Ramadhan?”.

    Jawab saya ” Ya tinggal sekitar 1 bulan lagi pak”.

    “Alhamdulillah” jawab Beliau. “Bagaimana puasa ramadhan tahun lalu dik? Lancar?” tanya Beliau.

    “Puasa Ramadhan tahun lalu saya tidak mendapatkan apa-apa Pak selain lapar dan haus”, jawab saya dengan polosnya.

    “Jarang saya mendapatkan jawaban seperti ini dik” kata Beliau. Kok bisa sih apa ada yang aneh dalam hati saya. Kata Beliau banyak orang yang belum bisa menjawab apabila ada pertanyaan seperti itu. Setelah itu Beliau dengan lancarnya menjelaskan tentang analogi puasa. Nah ini cerita serunya (pikir saya saat itu) Beliau menganalogikan antara puasa dengan Pesta Olahraga seperti Olimpiade, Asian Games, Sea Games, Piala Dunia, Euro sampai Piala Thomas-Uber dan lain-lain. Beliau menjelaskannya seperti ini:

    1. Puasa dan Pesta Olahraga pada akhir/ujungnya yang ingin dicapai adalah prestasi.

    Prestasi dalam olahraga adalah medali (emas,perak dan perunggu), Piala Kejuaraan dan lain-lain. Kalau puasa adalah diterimanya puasa oleh Allah secara utuh tanpa ada yang kurang maupun lebih (maaf saya kurang bisa menjelaskan dengan dalil-dalil dalam Qur’an dan Hadist seperti Beliau jelaskan kepada saya).

    2. Bagaimana prestasi dapat diraih dengan hasil yang luar biasa?

    Prestasi diperoleh dengan latihan/kerja keras dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan sampai pada hari H (hari pertandingan) Kalau kita latihannya benar dan mengikuti apa yang telah diprogramkan seperti atlet Cina, Rusia dan Amerika Serikat dengan program yang terstruktur maka tidak heran mereka selalu menjadi nomor satu (wahid). Puasa pun juga begitu, selama 11 bulan sebelum Puasa Ramadhan seharusnya kita latih tanding dengan melakukan puasa Senin-Kamis, puasa Nabi Daud, Puasa Muharram dan lain-lain sehingga ketika pada hari H-nya (bulan Ramadhan) kita akan mendapatkan prestasi yang paling baik dihadapan Allah SWT.

    3. Prestasi selama pertandingan juga bisa diperoleh dengan konsentrasi.

    Nah ini yang kadang-kadang atlet sering blunder yang harusnya dapat emas malah hanya dapat perak atau perunggu atau tidak mendapatkan apa-apa. Puasa pun demikian, konsentrasi kita harus dimulai dari sahur sampai azan maghrib, biasanya yang mengakibatkan konsentrasi puasa kita buyar adalah saat terakhir yaitu menjelang berbuka. Coba kita jujur dengan sendiri, saking sudah laparnya akhirnya kadang-kadang kita selalu lihat jam, bernafsu ingin beli makanan ini itu, dan kadang-kadang nungguin makanan di meja makan. Padahal Rasul mencontohkan kita untuk berbuka dengan teh manis dan tiga butir korma. Perkataan beliau membuat pikiran saya ke pertandingan Piala Champion MU VS Munchen tahun 1999, dimana menit terakhir pada kedudukan 1-1 Ole Gunnar Solkjaer membobol gawang Kahn. Gol itulah memupuskan harapan Munchen menjadi juara karena kurang konsentrasinya pemain-pemain Munchen pada menit-menit terakhir. Hahahahaha kayak pengamat bola aja.

    4. Prestasi itu diperoleh melalui kerja keras, latih tanding dan disiplin.

    Fokusnya adalah ke pertandingan yang sebenarnya dan tidak memikirkan lagi hal-hal yang remeh temeh karena sudah direncanakan secara matang. Itulah gunannya perencanaan yang sistematis menurut versi Beliau. Puasa Ramadhanpun demikian. Beliau menjelaskan bagaimana puasa hanya dijadikan ajang untuk mengumbar umbar uang (coba dipikir besaran mana pengeluaran selama bulan puasa atau bukan bulan puasa), yang dipikirkan THR, jarang orang bisa beritikaf di mesjid selama 10 hari terakhir karena semua berkonsentrasi mencari uang untuk lebaran (jadi selama 11 bulan ngapain kata Beliau, wah dalam hati saya berat nih karena kebutuhan dan pendapatan tidak seimbang tiap bulannya tapi boleh juga kalau ga dicoba khan ga pernah tahu) Saya berpikir bisa, bagaimana kalau tiap hari saya masukkan ke celengan rata-rata Rp 20 ribu-30 ribu tanpa pernah saya colek-colek tuh celengan sampai bulan Ramadan kalau dihitung bisa mencapai Rp 6-7 juta. Wah benar juga tuh Bapak. Istilah Beliau mengenai puasa bulan Ramadhan bagi orang jaman sekarang : 10 hari pertama ramai di mesjid, 10 hari kedua ramai di mall-mall/pusat perbelanjaan dan 10 hari terakhir ramai di terminal/stasiun/bandara (yang seharusnya bulan penuh rahmat, penuh pengampunan dan menjauhkan kita dari api neraka)

    5. Yang lebih penting lagi, prestasi dapat diperoleh dengan dukungan dan doa dari orang tua, saudara, teman sampai Presiden seperti atlet Indonesia yang mau ke Olimpiade Beijing mohon doa restu dan pamitan dengan Presiden SBY dengan harapan mendapatkan prestasi yang terbaik.

    Puasa pun juga demikian, sebelum puasa Ramadhan, kita berziarah ke makam orang tua kita yang telah meninggal atau berkunjung ke orang tua yang masih hidup, saudara, teman, dan tetangga disekitar lingkungan kita untuk memohonkan maaf atas kesalahan kita selama 11 bulan, mohon doa restu agar dimudahkan ibadah kita selama bulan puasa karena makin banyak orang yang mendoakan kita makin makbul ibadah kita sehingga dapat diterima Allah SWT.(Sirothol mustaqim – jalan lurus/jalan tol)

    6. Jadi kalau sudah prestasi dicapai orang tidak perlu bertanya-tanya lagi karena sudah tersiar di koran-koran, majalah, radio, tv dan internet serta ditambah hadiah dari mana-mana.

    Semua orang bangga dengan prestasi kita terutama orang tua, orang-orang terdekat sampai Presiden karena membawa nama baik bangsa dan negara. Sama dengan puasa ketika prestasi puasa kita dijalankan dengan baik sesuai dengan Standar Operation Procedur (SOP) dari Allah SWT maka tampak dari penampilan, tingkah laku, amal perbuatan dan rejeki akan selalu mengalir. Jadi kalau ditanya oleh orang tua ataupun orang lain, bagaimana puasa Ramadhan kemarin atau apa yang didapat selama bulan puasa Ramadhan maka kita bercerita dengan lancar, gembira, panjang lebar karena kita telah mendapatkan puncak prestasi tertinggi dari Allah SWT.

    Itulah penjelasan Beliau tentang analogi Puasa Ramadhan. Persis jam 6.30 pagi saya pamitan dan saya katakan nanti saya kembali lagi karena mau pesan kopi dan makanan kecil. Tidak enak dan nikmat ngobrol tanpa kopi dan pisang goreng hehehehe. Sekitar 30 menit kemudian saya kembali lagi ke mesjid dengan harapan akan dapat ilmu pengetahuan dan pengalaman dari Beliau dan sayang untuk dilewatkan. Ternyata beliau sudah tidak ada di tempat ketika saya tanyakan ke penjaga mesjid tentang Beliau. Penjaga mesjid mengatakan sejak selesai subuh tadi mesjid kosong tidak ada siapa-siapa. Lho kok begitu khan dari subuh saya ngobrol dengan seorang Bapak sambil menyebutkan ciri-cirinya. Apakah penjaga tadi tidak mendengar suara kami berbicara. Penjaga mesjid mengatakan tidak mendengar apa-apa dan juga tidak tidur dari subuh serta selalu membersihkan lantai dua setiap selesai sholat subuh. Aneh. Jadi sejak subuh tadi saya berdiskusi dengan siapa. Manusia atau makhluk gaib. Dalam hati masa bodo lah tetapi saya bersyukur mendapatkan ilmu tentang puasa dan dapat menambah wawasan pikiran tentang agama yang saya anut. Begitulah ceritanya dan mudah-mudahan mendapatkan manfaat dari cerita ini.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 27 July 2012 Permalink | Balas  

    Lailatul Qadr Menurut Dua Pemikir Tasawuf Berbeda Zaman 

    Lailatul Qadr Menurut Dua Pemikir Tasawuf Berbeda Zaman.

    Lailatul qadr adalah malam istimewa, malam keutamaan. Keutamaan itu, menurut Nasaruddin Umar, pengajar IAIN Jakarta, berupa vibrasi (getaran) spiritual.

    Lail adalah malam. Perspektif tawasuf memandangnya sebagai sisi feminin. Lawan katanya nahr, siang, sebagai sisi maskulin. Lailatul qadr menonjolkan nuansa feminin dalam arti nurturing: kelembutan, kehangatan, kemesraan, pengayoman. Lawannya struggle: perebutan, keangkuhan, penguasaan, ketegaran.

    Lailatul qadr memancarkan pesan agar hamba Allah menciptakan kualitas feminin dalam dirinya, yakni membangun rasa kasih. “Jalur tercepat menjumpai Allah adalah jalur feminin. Makanya disebutkan dalam hadis Nabi, `Al-jannatu tahta aqdamil ummahat, surga itu di bawah telapak kaki ibu,” kata Nasaruddin.

    Ibu dalam nash (teks) tersebut bermakna kualitas feminin, yang bisa pula dicapai kaum laki-laki. Yakni mencapai kecerdasan spiritual yang sangat berbeda dengan kecerdasan intelektual. Kecerdasan spiritual jauh lebih dahsyat.

    Kalau kita salat dengan mengandalkan logika, yang teringat bukan Tuhan. Mungkin nostalgia, proposal yang kita susun, atau munculnya ide-ide segar. Padahal dalam ibadah khusus, yaitu salat yang cuma beberapa menit itu, kita dituntut benar-benar ingat Tuhan. Dengan kecerdasan spiritual orang bisa menangis saat teringat Tuhan, dan merasakan keindahan tersendiri di dalam batinnya. “Dengan begitu, salatnya punya bekas,” kata Nasaruddin.

    Lalu, apa kaitan kecerdasan spiritual dengan lailatul qadr?

    “Lailatul qadr itu password atau entry point mencontoh sifat-sifat Tuhan,” ujarnya. Sayangnya, orang menyambut lailatul qadr dengan hiruk-pikuk dan berbau mitos. “Lailatul qadr jangan dimitoskan. Ada yang menunggu air membeku, kalau sudah dilihatnya air membeku, saat itulah ia berdoa. Bukan itu yang dimaksud malam kemuliaan.” Lailatul qadr jangan diukur dimensi waktu di bumi. Sebab, malam di sini berarti masih siang di tempat lain. Begitu juga sebaliknya, malam di sana, siang di sini.

    Lailatul qadr itu simbol, bukan fakta. Kalau memang fakta, ukuran malamnya ukuran mana, malam di Arab Saudi atau di Indonesia? Pahami lailatul qadr sebagai suasana batin feminin: indah, lembut, penuh kepasrahan, dan kehangatan terhadap Tuhan.

    Sampai di sini Nasaruddin bertemu dengan Hamka, penulis buku Tasawuf Modern, bahwa inti lailatul qadr adalah pencerahan. Bagi Hamka, yang dimaksud lailatul qadr adalah seperti masuk Islamnya Umar ibn Khattab, tatkala membaca lembaran mushaf yang direbutnya paksa dari adiknya, “Thaha! Tidaklah Kami turunkan kepada engkau Al-Quran supaya engkau sengsara. Melainkan peringatan bagi orang yang takut. Diturunkan oleh yang menjadikan bumi dan langit yang tinggi. Yaitu Yang Mahamurah, yang bersemayam di Arasy (ayat 1 sampai 5).

    Umar membacanya dua tiga kali, diulang-ulangnya. Ayat itu merasuk ke kalbunya, lalu datang suasana batin yang mengubah arah hidupnya. “Di mana Muhammad. Bawa aku kepadanya.” Dan Umar pun masuk Islam. “Itulah saat kemuliaan yang melebihi 1.000 bulan,” tulis Hamka.

    Atau tatkala seorang pemuda merayap-rayap pada malam hari, mencari perempuan untuk diajaknya bermaksiat. Tiba-tiba dari satu rumah berlentera terang terdengar suara merdu. Segera tahu si pemuda, di situlah berdiam perempuan rupawan tak bersuami. Dia masuk, lantas tertegun-tegun memandangi paras rupawan sang perempuan yang ternyata sedang membaca Al-Quran. Makin tertegun dia tatkala telinganya mendengar suara perempuan itu sampai pada bacaan: Alam ya’ni lilladziina `aamanuu, an takhsya’a quluubuhum lidzikrillahi wamaa nazala minal haqqi, belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman buat tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah Dia turunkan?” (Al-Hadid:36).

    Si pemuda merasa ayat itu seakan-akan dipukulkan kepadanya. Bergetarlah dia merasakan ada iman di lubuk jiwanya, yang selama ini telah diselubungi hawa nafsu. Ambruklah saat itu jua segala syahwat, ia meluncur turun, lari menuju masjid menegakkan salat. Sejak itu berubah hidupnya, menjadi manusia saleh. Pemuda itu tak lain Fudhail ibn Ayyadh. “Malam tatkala dia mendengar ayat Quran, lalu tergetar hatinya dan berubahlah perilakunya, itulah lailatul qadr.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 26 July 2012 Permalink | Balas  

    Puasa Yang Terlupakan 

    Puasa yang Terlupakan

    Yang sering kita lupakan, mengapa selama bulan Ramadan pengeluaran untuk kebutuhan konsumsi dapur justru meningkat. Ini fenomena global di mana saja. Di dunia Arab pun demikian. Fenomena yang musti kita resahkan bersama. Bukankah “urusan perut” itu remeh sekali, dan mestinya pengeluaran menjadi mengecil selama Ramadan, karena kita makan hanya dua kali dari kebiasaan sehari tiga kali?

    Bukankah kita ini, selama ini, berpuasa setelah kenyang bersahur dan siap menyantap hidangan bebuka pada sore hari? Miskinkah kita? Bukankah tujuan puasa adalah untuk berlatih miskin? Tapi mengapa acara berbuka terlalu diformalisasi, harus ada kolak, ada ini ada itu, yang biasanya nggak ada diada-adakan? Seperti itukah puasa? Akhirnya makna puasa tetap saja hilang, karena kita tetap ingin nampak kaya, dan bahkan berusaha nampak lebih kaya lagi? Membeli ini dan itu?

    Berbuka itu kan yaa hanya sekedar utk membatalkan puasa. Hanya itu. Mengapa kita tidak sederhana saja, seperti biasanya. Bahkan seharusnya meniadakan yang biasanya ada, dan kita sisihkan untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan.

    Kawan-kawan yang saya cintai, indah sekali ketika Qur’an menuturkan “orang yang berpuasa” memakai kalimat “saaih” (orang yang berkelana, dari siyaahah = berkelana). Maksudnya orang yang berpuasa itu perumpamaannya orang yang mengolah badannya dengan tujuan selanjutnya mengolah ruhnya. Menahan lapar, dahaga, dll, guna memuluskan jalan menuju alam rohani. Kita tidak akan mencapai alam rohani dengan sekedar menahan lapar sehari, setelah kenyang menyantap sahur dan menyiapkan menu buka seenak-enaknya. Beratkah puasa seperti ini? Ringan sekali bukan? Sadarlah kita itu puasanya anak kecil. Apalagi di musim penghujan dan musim dingin seperti sekarang, jarang rasa haus dan dahaga.

    Sadarlah kita, tak jarang merindukan puasa karena sekedar menuruti refleksi ikatan-ikatan perasaan dengan bentuk-bentuk lahiriyah suasana Ramadan: selama Ramadan ramai “kuliah subuh”, semarak masjid dengan tarawih dan tadarus, kekhasan santapan kolak hangat, dll. Semua anak kecil pun pasti merasakan hal yang demikian, merindukan suasana Ramadan itu. Anak kelas 4 SD sudah tak keberatan berpuasa, dia merindukan puasa dan suasana Ramadan seperti itu.

    Tapi sadarkah kita bahwa anak-anak kecil itu belum mampu menemukan sesungguhnya makna dan tujuan puasa? Apakah kita tetap seperti mereka, tetap kerdil, sekedar merindukan hal-hal yang demikian remehnya? Kita jangan membohongi batin kita sendiri, marilah kita tanya setulusnya kepada hati kita, “apakah kita hanya sekedar merindukan hal-hal di atas itu dan melupakan apa makna puasa itu sendiri, atau betul-betul ingin merasakan kepedihan saudara-saudara kita yang kelaparan dan kedinginan di pengungsian, tinggal di kemah-kemah lusuh?”. Mengapa kita harus berbuka bersama segala, apa tujuannya? Hanya sekedar menuruti keinginan bertemu kawan, ramai-ramai berbuka bareng? Hanya itu? Ya, siapa saja kalau ketemu kawan pasti senang, apalagi dalam acara yang dipersiapkan secara istimewa. Tapi sekali lagi, hal-hal spt itu hanyalah sekedar kesenangan-kesenangan lahir yang tak ada kaitannya sama sekali dengan substansi puasa. Tidakkah kita pikirkan biaya tiket Surabaya-Jakarta, Bandung-Jakarta, yang bisa didonasikan ke hal-hal yang lebih darurat, bisa untuk membeli buku untuk memperbanyak koleksi perpustakaan misalnya, belum lagi rugi waktu dll. Berkumpul bermusyawarah itu penting, tapi demikian pentingkah berkumpul untuk berbuka?

    Saatnya kita merenung bersama dengan hati yang jernih penuh kontemplasi. Yang paling sederhana, coba kita mengkalkulasi pengeluaran urusan pribadi, apakah semakin membengkak atau mengecil selama Ramadan. Kalau membengkak, maka hakekatnya kita tidak berpuasa sama sekali. Kita harus puas hanya sebatas menahan lapar dan dahaga. Dan itu kerugian yang teramat besar.

    Saatnya kita “mengencangkan ikat pinggang” sendiri, sambil melonggarkan belanja kita di jalan Allah. Ada cerita menarik dan mengesankan kaitannya dengan hal ini: Masa kecilnya Kiai Sahal (Rais Aam PBNU). Di saat menjelang hari raya Idul Fitri, Sahal kecil mendapat tugas rutin tahunan dari Romonya (KH. Mahfudh Salam). Tugas itu adalah membagi-bagikan pakaian-pakaian baru untuk kawan-kawannya yang fakir-miskin di kampungnya. Sementara dia sendiri tak pernah digantikan bajunya pada hari lebaran.

    Aah…seandainya kita bisa meniru.

    **

    Ya Allah Ya Aziz Berilah hambamu kekuatan Iman untuk mendapatkan Janjimu di bulan Ramadhan … Ya Rahim. Ya Allah Ya Ghofar Bukalah pintu hati kami untuk dapat mendengarkan seruan Mu .. Ya Rahman Ya Allah Ya Wujud Bukalah Pintu gerbang pengetahuanmu untuk kami yang bodoh ini …Ya Baqa

    “Mohon ma’af saya kepada semua atas segala apa yang telah saya lakukan baik secara Qauliyah, Filliyah, Maliyah maupun Qalbiyah, semoga kita bisa menjalani Puasa tahun ini dengan hati bersih”

    Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 25 July 2012 Permalink | Balas  

    Nabi Yahya dan Iblis 

    Nabi Yahya dan Iblis

    Kisah berikut tentang perjumpaan Nabi Yahya dengan Iblis yang membawa perangkap.

    “Untuk apa itu, Iblis?”

    “Ini syahwat, untuk memikat manusia.”

    “Adakah padaku yang bisa kaujerat?”

    “Tak ada,” kata Iblis. “Tapi pernah terjadi suatu malam. Engkau makan kenyang, lalu aku menjeratmu, sehingga engkau malas sembahyang.”

    “Ah, kalau begitu aku tidak akan makan kenyang lagi.”

    “Menyesal sekali, aku sudah membuka rahasia itu kepadamu.”

    Kata guru ngaji di kampung, orang yang makan kenyang malas beribadah. Tubuh jadi gemuk, badan terasa berat, dan bawaan-nya ingin tidur melulu. Kata mereka, “Jika kamu dalam keadaan kenyang, anggaplah dirimu sedang lumpuh.” Abu Bakr r.a. pernah mengatakan, “Sejak aku masuk Islam belum pernah aku mengenyangkan perut, karena ingin merasakan nikmatnya ibadah.”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Senjakala Adirata 12:51 am on 27 Juli 2012 Permalink

      kaget aku baca dialog nabi yahya sama iblis…… hmmmm bisa jadi kaca buat refleksi ni. :D

    • bejono777 6:26 am on 1 Agustus 2012 Permalink

      perut sember segala masalah termaasuk penyakit………

    • Ecko 9:06 pm on 5 Agustus 2012 Permalink

      Aq baru sadar kalo aq tlah sangat brdusta karena sering meninggalkan shalat

    • ciink an suroso 7:48 am on 8 Agustus 2012 Permalink

      aku berlindung kepada Allah dari perbuatan syetan yang kejam..

  • erva kurniawan 1:10 am on 24 July 2012 Permalink | Balas  

    Puasa : Menuju Makan yang Sejati 

    Puasa : Menuju Makan yang Sejati

    “Makan hanya ketika lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang” adalah formula tentang kesehatan hidup. Tidak hanya menyangkut tubuh, tapi juga keseluruhan mental sejarah. Ia adalah contoh soal lebih dari sekadar teori keilmuan tentang keefektifan dan efisiensi.

    Selama ini pemahaman-pemahaman nilai budaya kita cenderung mentabukan perut. Orang yang hidupnya terlalu profesional dan hanya mencari uang, kita sebut “diperbudak oleh perut”. Para koruptor kita gelari “hamba perut” yang mengorbankan kepentingan negara rakyat demi perutnya sendiri.

    Padahal ia bukanlah hamba perut. Sebab, kebutuhan perut amat sederhana dan terbatas. Ia sekadar penampung dan distributor sejumlah zat yang diperlukan untuk memelihara kesehatan tubuh. Perut tidak pernah mempersoalkan, apakah kita memilih nasi pecel atau pizza, lembur kuring atau masakan Jepang.

    Yang menuntut lebih pertama-tama adalah lidah. Perut tidak menolak untuk disantuni dengan jenis makanan cukup seharga seribu rupiah. Tetapi lidah mendorong kita harus mengeluarkan sepuluh ribu, seratus ribu atau terkadang sejuta rupiah.

    Mahluk lidah termasuk yang menghuni batas antara jasmani dengan rohani. Satu kaki lidak berpijak di kosmos jasmani, kaki lainnya berpijak di semesta rohani. Dengan kaki yang pertama ia memanggul kompleks tentang rasa dan selera; tidak cukup dengan standar 4 sehat 5 sempurna, ia membutuhkan variasi dan kemewahan. Semestinya cukup di warung pojok pasar, tapi bagian lidah yang ini memperkuda manusia untuk mencari berbagai jenis makanan, inovasi, dan paradigma teknologi makanan, yang dicari ke seantero kota dan desa. Biayanya menjadi ratusan kali lipat.

    Dengan kaki lainnya lidah memikul penyakit yang berasal dari suatu dunia misterius yang bernama mentalitas, nafsu, serta kecenderungan -kecenderungan aneh yang menyilati budaya manusia. Makan yang dalam konteks perut hanya berarti menjaga kesehatan, di kaki lida itu diperluas menjadi  bagian dari kompleks kultur, status sosial, gengsi, foedalisme, kepriyayian, serta penyakit-penyakit kejiwaan komunitas manusia lainnya.

    Kecenderungan ini membuat makan tidak lagi sejati dengan konteks perut dan kesehatan tubuh, melainkan dipalsukan, dimanipulir atau diartifisialkan menajadi urusan kultur dan peradaban yang biayanya menjadi sangat mahal. BUdaya artifisialisasi makan ini dieksploitasi dan kemudian dipacu oleh etos industrialisasi segala bidang kehidupan, serta disahkkan oleh kepercayaan budaya makan, pembaruan teknologi konsumsi, jenis makanannya, panggung tempat makannya, nuansanya, lagu-lagu pengiringnya, pewarnaan meja kursi, dindingnya hingga karaokenya.

    Artifisialisasi budaya makan itu akhirnya menciptakan berbagai ketergantungan manusia, sehingga agar selamat sejahtera dalam keterlanjuran ketergantungan itu, manusia bernegosiasi di bursa efek, menyunat uang proyek, memborong barang-barang, bahkan berperang membunuh satu sama lain.

    Padahal perut hanya membutuhkan “makan ketika lapar dan berhenti makan sebelum kenyang”.

    Maka yang bernama “makan sejati” ialah makan yang sungguh-sungguh untuk perut. Adapun yang pada umumnya kita lakukan selama ini adalah “memberi makan kepada nafsu”. Perut amat sangat terbatas dan Allah mengajarinya untuk tahu membatasi diri. Sementara nafsu adalah api yang tiada terhingga skala pembesaran atau pemuaiannya. Jika filosofi makan dirobek dan dibocorkan menuju banjir bandang nafsu tidak terbatas, jika ia diartifisialkan dan dipalsukan dan tampaknya itulah satu sahan utama berbagai konflik dan ketidakadilan sejarah ummat manusia, maka sesungguhnya itulah contoh paling konkret dari terbunuhnya efisiensi dan keefektifan. Rekayasa budaa makan pada masyarakat kita, dari naluri sehari-hari hingga aplikasinya di pasal-pasal rancangan pembangunan jangka pendek dan jangka panjang, mengandung inefisiensi atau keborosan dan keserakahan, yang terbukti mengancam alam dan kehidupan manusia sendiri, disamping sangat itdak efektif mencapai hakikat tujuan makan itu sendiri.

    ***

    Emha Ainun Nadjib

    Dari buku : “Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiyai”, Risalah Gusti 1994, hal 15-21

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 23 July 2012 Permalink | Balas  

    Sudahkah kita menjaga Puasa kita? 

    Sudahkah kita menjaga Puasa kita?        

    Rasulullah SAW bersabda : “Puasa adalah perisai (tabir penghalang dari perbuatan dosa). Maka apabila seseorang dari kamu sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan sesuatu yang keji dan janganlah ia berbuat jahil.” (Hadits Riwayat Bukhari – Muslim)

    “Lima hal yang dapat membatalkan puasa: berkata dusta, ghibah (menggunjing), memfitnah, sumpah dusta dan memandang dengan syahwat.” (Hadits Riwayat Al-Azdiy)

    “Barangsiapa yang tidak dapat meninggalkan perkataan kotor dan dusta selama berpuasa, maka Allah SWT tidak berhajat kepada puasanya.” (Hadits Riwayat Bukhari)

    “Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan , keduanya bersekutu dalam perbuatan dosa.” (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)

    “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu kecuali haus dan lapar.” (Hadits Riwayat Turmudzi)

    Imam Al-Ghazali berkata : “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya itu, selain lapar dan haus. Sebab puasa itu bukanlah semata-mata menahan lapar dan haus, akan tetapi adalah menahan hawa nafsu. Boleh jadi orang tersebut berdusta, menggunjing dan memandang dengan syahwat, sehingga yang demikian itu membatalkan hakikat puasa.” (Ihya’ Ulumiddin)

    Para Ulama berkata: “Betapa banyak orang yang berpuasa padahal ia berbuka (tidak berpuasa) dan betapa banyak orang yang berbuka padahal ia berpuasa.” Yang dimaksud dengan orang yang berbuka tetapi berpuasa ialah menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan dosa sementara ia tetap makan dan minum. Sedangkan yang dimaksud dengan berpuasa tapi berbuka ialah yang melaparkan perutnya sementara ia melepaskan kendali bagi anggota tubuh yang lain.” (Ihya’ Ulumiddin)

    Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya puasa itu adalah amanah, maka hendaknya masing-masing kamu menjaga amanahnya.” (Hadits Riwayat Al-Kharaithy)

    Sudahkah kita menjaga puasa kita?

    ***

    Referensi : Asrar Ash-Shaum min Ihya’ Ulumiddin, Imam Al-Ghazali

     
    • andika 7:45 am on 25 Juli 2012 Permalink

      mohon ijin untuk mencopy

    • ali 12:54 am on 7 Agustus 2012 Permalink

      mnt tlong tuk dijlsin makna dr sabda rosullullah yg dikemukakan oleh bukhori-muslim & conthx di khdpan shri-hari.trim’s

  • erva kurniawan 1:28 am on 22 July 2012 Permalink | Balas  

    Ghibah dan Puasa 

    Ghibah dan Puasa

    Dari ‘Ubaid r.a, dia berkata : “Di masa Rasulullah SAW, beliau memerintahkan orang-orang berpuasa selama satu hari. Lalu mereka pun berpuasa. Saat itu ada dua orang wanita berpuasa, dan mereka sangat menderita karena lapar dan dahaga pada sore harinya. Kemudian kedua wanita itu mengutus seseorang menghadap Rasulullah SAW, untuk memintakan izin bagi keduanya agar diperbolehkan menghentikan puasa mereka. Sesampainya utusan tsb kepada Rasulullah SAW, beliau memberikan sebuah mangkuk kepadanya untuk diberikan kepada kedua wanita tadi, seraya memerintahkan agar kedua-duanya memuntahkan isi perutnya ke dalam mangkuk itu. Ternyata kedua wanita tsb memuntahkan darah dan daging segar, sepenuh mangkuk tersebut, sehingga membuat orang-orang yang menyaksikannya terheran-heran. Dan Rasulullah SAW bersabda : “Kedua wanita ini berpuasa terhadap makanan yang dihalalkan Allah tetapi membatalkan puasanya itu dengan perbuatan yang diharamkan oleh-Nya. Mereka duduk bersantai sambil menggunjingkan orang-orang lain. Maka itulah ‘daging-daging’ mereka yang dipergunjingkan.” (Hadits Riwayat Ahmad)

    “Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan , keduanya bersekutu dalam perbuatan dosa.” (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)

    “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita dusta dan banyak memakan yang haram.” (Al-Qur’an Surat Al-Maidah : 42)

    Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. “ (Al-Qur’an Surat Al-Hujuraat:12)

    ***

    REFERENSI: Ihya Ulumiddin, Imam Al-Ghazali

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 21 July 2012 Permalink | Balas  

    Berdo’a dalam Puasa 

    Berdo’a dalam Puasa.

    Nabi Muhammada SAW pernah bersabda kepada para sahabat, “ada tiga (kelompok) orang yang sekali-sekali tidak akan ditolak do’anya oleh Allah. Pertama, do’a orang yang berpuasa. Kedua, do’a kepala negara yang adil. Ketiga, do’anya orang yang teraniaya.”

    Nabi Mengatakan bahwa Ramadahan itu adalah bulan penuh rahmah pada sepuluh hari pertama, penuh maghfirah pada sepuluh hari kedua, dan kebebasan dari api neraka pada sepuluh hari terakhir.

    Al Qur’an memberikan beberapa makna untuk Kata Do’a, bisa berarti istighatsah (permohonan bantuan dan pertolongan), permintaan, percakapan, memanggil, dan memuji. Dengan rajin berdo’a Insya Allah motivasi kita berpuasa, yaitu Taqwa, Insya Allah akan tercapai.

    Lebih tegas lagi Nabi SAW berkata, :”Do’a itu adalah ibadah, artinya mengabdikan diri kepada Allah. Kemudian beliau membuka Al Qur’an, “Tuhanmu telah berfirman : “Berdo’alah kamu dan mintalah kamu kepada-Ku, niscaya aku menerima permintaanmu, sesungguhnya mereka yang sombong tidak mau berdo’a kepada-Ku akan masuk kedalam neraka jahanam sebagai seorang hina-dina.”

    Agar do’a kita diterima Allah, sebaiknya kita patuhi tata cara berdo’a, antara lain hati kita harus ikhlas, konsentrasikan pikiran kepada siapa kita memohon, lalu kaji ulang apa apa yang kita mohonkan, lalu serahkan segala urusan kepada Nya. Nabi SAW berkata : “Allah tidak mengabulkan do’a dari hati yang ceroboh, Allah juga tidak mengabulkan do’a yang dicampuri dosa dan dalam keadaan memutus silaturahim.

    Mengapa do’a kita tidak diterima Allah, padahal Ia berjanji akan mengabulkannya?

    Seorang Sufi menjawab : Tujuh sebab do’a yang ditolak yaitu :

    1. Apa yang kita perbuat menyebabkan Allah murka.
    2. Mengaku hamba Allah tetapi tidak patuh
    3. Al Qur’an dibaca, tetapi perintah dan laranganNya diabaikan
    4. Mengaku umat Muhammad tetapi tidak melaksanakan sunnahnya
    5. Mengaku dunia ini tidak berharga disisi Allah, tetapi merasa senang kepadanya
    6. Tahu bahwa dunia tidak kekal, tetapi tingkah laku kita menggambarkan seakan-akan dunia ini kekal selamnya
    7. Mengaku akhirat itu lebih baik dari dunia, tetapi kita selalu mengutamakan dunia dan tidak bersungguh-sungguh terhadap akhirat.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 20 July 2012 Permalink | Balas  

    Panduan Amaliyah Ramadhan 

    PANDUAN AMALIYAH RAMADHAN

    Muqoddimah

    Ramadhan bagi umat Islam bukan sekedar salah satu nama bulan qomariyah,tapi dia mempunyai makna tersendiri . Ramadhan bagi seorang muslim adalah rihlah (perjalanan) dari kehidupan materialistis kepada kehidupan ruhiyah,dari kehidupan penuh berbagai masalah keduniaan menuju kehidupan yang penuh tazkiyatus nafs dan riyadhotur ruhiyah. Kehidupan yang penuh dengan amal taqorrub kepada Allah.muali dari tilawah Al-Qur-an,menahan syahwat dengan shiyam,sujud dalam qiyamul lail, ber’itikaf di masjid, dan lain-lain. Semua ini dalam rangka merealisasikan inti ajaran dan hikmah puasa ramadhan yaitu : agar kalian menjadi orang yang bertaqwa. (Al-Baqarah:183 dan akhir Al-Hijr)

    Ramadhan juga merupakan bulan latihan bagi peningkatan kualitas pribadi seorang muslim. Hal ini terlihat pada esensi puasa yakni agar manusia selalu dapat meningkatkan nilainya di hadapan Allah SWT dengan bertaqwa, disamping melaksanakan amaliyah-amaliyah positif yang ada pada bulan Ramadhan.

    Diantara amaliyah-amaliyah-amaliyah Ramadhan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW baik amaliyah ibadah maupun amaliyah ijtijma’iyah adalah sebagai berikut :

    1. Shiyam (puasa)

    Amaliyah terpenting selama bulan Ramadhan tentu saja adlah shiyam (puasa),sebagaimana termaktub dalam firman Allah pada surat Al-Baqarah:183-187 Dan diantara amaliyah shiyam ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah ialah :

    a. Berwawasan yang benar tentang puasa dengan mengetahui dan menjaga rambu-rambunya.

    “Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya”(HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi).

    b. Tidak meninggalkan Shiyam, walaupun sehari dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at Islam.

    Rasulullah SAW bersabda bahwa : “Barang siapa tidak puasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshoh atau sakit,hal itu merupakan dosa besar yang tidak bisa ditebus bahkan seandainya ia berpuasa selama hidup” (HR at Turmudzi).

    c. Menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai shiyam

    Rasulullah SAW pernah bersabda : “Bukanlah (hakikat) shiyam itu sekedar meninggalkan makan dan minum,melainkan meninggalkan pekerti sia-sia (tak bernilai) dan kata-kata bohong” (HR Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah). Rasulullah juga bersabda bahwa : “Barang siapa berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan mempraktekkannya,maka tidak ada nilai bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekedar meninggalkan makan dan minum” (HR Bukhori dan Muslim)

    d. Bersungguh-sungguh melakukan shiyam dengan menempati aturan-aturannya.

    Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan sepenuh Iman dan kesungguhan,maka akan diampunkan dosa-dosa yang pernah dilakukan” (HR Bukhori,Muslim dan Abu Daud).

    e. Bersahur, Makanan yang berkah (al ghoda’ al mubarok).

    Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda bahwa : “Makanan sahur semuanya bernilai berkah.maka jangan anda tinggalkan,sekalipun hanya dengan seteguk air. Allah dan para Malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur” (HR Ahmad). Dan di sunnahkan mengakhiri makan sahur.

    f. Ifthor, berbuka puasa.

    Rasulullah pernah menyampaikan bahwa salah satu indikasi kebaikan umat manakala mereka mengikuti sunnah dengan mendahulukan ifthor (berbuka puasa) dan mengakhirkan sahur. Dalam hal berbuka puasa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Sesungguhnya termasuk hamba Allah yang paling dicintai olehNya,ialah mereka yang bersegera berbuka puasa”. (HR Ahmad dan Tarmidzi). Bahkan beliau mendahulukan ifthor walaupun hanya dengan ruthob (kurma mengka),atau tamr (kurma) atau air saja” (HR Abu Daud dan Ahmad).

    g. Berdo’a.

    Sesudah hari itu menyelesaikan ibadah puasa dengan ber ifthor, Rasulullah SAW seperti prilaku yang beliau lakukan sesudah menyelesaikan suatu ibadah, dan sebagai wujud syukur kepada Allah. Rasulullah bahkan mensyari’atkan agar orang-orang berpuasa banyak memanjatkan do’a,sebab do’a mereka akan dikabulkan oleh Allah. Dalam hal ini beliau pernah bersabda: ” Ada tiga kelompok manusia yang do’anya tidak ditolak oleh Allah. Yang pertama ialah do’a orang-orang yang berpuasa sehingga mereka berbuka” (HR Ahmad dan Turmudzi)

    2. Tilawah (membaca) Al-Qur’an

    Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. (OQ Al Baqaroh:185). Pada bulan ini Malaikat Jibril pernah turun dan menderas Al-Qur’an dengan Rasulullah SAW (HR Bukhori). Maka tidak aneh kalau Rasulullah SAW (yang selalu menderas Al-Qur’an di sepanjang tahun ini) lebih sering menderasnya pada bulan Ramadhan. Imam Az Zuhri pernah berkata : ” Apabila Ramadhan datang maka kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca Al-Qur’an. Hal ini tentu saja dilakukan dengan tetap mempertahankan tajwid (kaedah membaca Al-Qur’an”. Dan esensi dasar diturunkannya Al-Qur’an untuk ditadabburi,dipahami dan diamalkan (QS.Shod:29).

    3. Ith’am ath tho’am (memberikan makanan dan Shodaqoh lainnya).

    Salah satu Amaliyah Ramadhan Rasulullah ialah memberikan Ifthor (santapan berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa. Seperti beliau sabdakan “Barang siapa yang memberikan Ifthor kepada orang-orang yang berpuasa,maka ia mendapatkan pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu,tanpa mengurangi pahala orang yang berpusa tersebut” (HR Turmudzi dan An Nasa’I).

    Hal memberi makan dan sedekah selama bulan Ramadhan ini bukan hanya untuk keperluan ifthor melainkan juga untuk segala kebajikan, Rasulullah yang dikenal Dermawan dan penuh peduli terhadap nasib umat, pada bulan Ramadhan kedermawanan dan kepeduliannya tampil lebih menonjol,kesigapan beliau dalam hal ini bahkan dimisalkan sebagai “Lebih cepat dari Angin”(HR Bukhori).

    4. Memperhatikan Kesehatan

    Shaum memang termasuk kategori Ibadah (murni),sekalipun demikian agar nilai maksimal ibadah puasa dapat diraih, Rasulullah justru mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa dibawah ini :

    a. Menyikat gigi dengan siwak (HR Bukhori dan Abu Daud)

    b. Berobat seperti dengan berbekam (Al Hijamah) seperti yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim

    c. Memperhatikan penampilan,seperti pernah diwasiatkan Rasulullah SAW kepada sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud RA, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut (HR Al Haitsami)

    5. Memperhatikan Harmoni Keluarga

    Sekalipun puasa adalah ibadah yang khusus di peruntukkan kepada Allah, yang memang juga mempunyai nilai khusus dihadapan Allah,tetapi agar hal tersebut diatas dapat terealisir dengan lebih baik, maka Rasulullah justru mensyari’atkan agar selama berpuasa umat tidak mengabaikan harmoni dan hak-hak keluarga. Seperti yang diriwayatkan oleh istri-istri beliau,selama bulan Ramadhan tetap selalu memenuhi hak-hak keluarga beliau. Bahkan ketika Rasulullah berada dalam puncak praktek ibadah shaum yakni I’tikaf,harmoni itu tetap terjaga.

    6. Memperhatikan Aktivitas da’wah dan sosial

    Kontradiksi dengan kesan dan perilaku umum tentang berpuasa, Rasulullah SAW justru menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh Amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut dimuka, beliau juga aktif melakukan da’wah,kegiatan sosial,perjalanan jauh dan jihad. Dalam sembilan kali Ramadhan yang pernah beliau alami beliau misalnya melakukan perjalanan ke Badr (tahun 2 H), Mekkah (tahun 8 H), dan ke Tabuk (tahun 9 H),mengirimkan 6 sariyah (pasukan jihad yang tidak secara langsung beliau ikuti/pimpin) dll.

    7. Qiyam Ramadhan (Sholat Tarawih)

    Diantara kegiatan ibadah Rasulullah selama bulan Ramadhan ialah ibadah Qiyam al lail, yang belakangan lebih populer disebut sholat Tarowih. Hal demikian ini beliau lakukan bersama dengan para sahabat beliau. Sekalipun karena kekhawatiran bila akhirnya sholat Tarowih (berjama’ah) itu menjadi diwajibkan oleh Allah, Rasulullah kemudian meninggalkannya. (HR Bukhori Muslim). Dalam situasi itu riwayat yang shohih menyebutkan bahwa Rasulullah shalat Tarowih dalam 11 raka’at dengan bacaan2 yang panjang (HR Bukhori Muslim). Tetapi ketika kekhawatiran tentang pewajiban sholat Tarowih itu tidak ada lagi, kita dapatkan riwayat lain, juga dari Umar ibn al Khothob RA, yang menyebutkan jumlah raka’at sholat Tarawih adalah 21 atau 23 raka’at (HR Abdur Razaq dan al Baihaqi). Mensikapi perbedaan raka’at ini bagus juga bila kita cermati pendapat dan kajian dari Ibnu hajar al Asqolani asy Syafi’I, seorang tokoh yang dijuluki sebagai amirul mu’minin fi hadist, beliau menyampaikan bahwa : Beberapa Informasi tentang jumlah raka’at Tarowih menyiratkan ragam sholat sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing, kadang ia mampu melaksanakan shalat dalam 11 raka’at,kadang 21 dan terkadang 23 raka’at pula. Hal demikian itu kembali juga semangat dan antusiasme masing-masing. Dahulu mereka yang sholat dengan 11 raka’at itu dilakukan dengan bacaan yang panjang sehingga mereka bertelekan diatas tongkat penyangga, sementara mereka yang sholat dengan 21 dan 23 raka’at mereka membaca bacaan-bacaan yang pendek (dengan tetap memperhatikan thoma’ninah sholat) sehingga tidak menyulitkan.

    8. I’tikaf

    Diantara Amaliyah sunnah yang selalu dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam bulan Ramadhan ialah I’tikaf,yakni berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Seperti dilaporkan oleh Abu Sa’id al Khudri RA, hal demikian ini pernah beliau lakukan pada awal Ramadhan,pertengahan Ramadhan dan terutama pada 10 terakhir bulan Ramadhan. Ibadah yang demikian penting ini dianggap berat sehingga ditinggalkan oleh orang-orang Islam, maka tidak aneh jika Imam az Zuhri berkomentar : Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan ibadah I’tikaf, padahal Rasulullah SAW tak pernah meninggalkannya semenjak beliau datang ke Madinah sehingga wafatnya disana.

    9. Lailat al Qadr

    Selama bulan Ramadhan ini terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer disebut sebagai lailat al Qodr, yang lebih berharga dari seribu bulan (QS. Al Qodr : 1-5). Rasulullah tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meraih Lailat al Qodr terutama pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan puasa (HR Bukhori Muslim). Dalam hal ini Rasulullah menyampaikan bahwa : Barang siapa yang sholat pada malam Lailatul Qodr berdasrkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu”. (HR Bukhori Muslim).

    10. Umroh

    Umroh atau haji kecil bagus juga apabila dilaksanakan pada bulan Ramadhan,sebab nilainya bisa berlipat-lipat, sebagaimana pernah di sabdakan Rasulullah kepada seorang wanita dari Anshor bernama Ummu Sinan: “Agar apabila datang bulan Ramadhan ia melakukan umroh,karena nilainya setara haji bersama Rasulullah SAW.(HR Bukhori Muslim).

    11. Zakat Fithr

    Pada hari-hari terkahir bulan ramadhan Amaliyah yang di sunnahkan oleh Rasulullah SAW ialah membayarkan zakat fithr,suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh umat Islam baik laki-laki maupun perempuan ,baik dewasa maupun anak-anak (HR Bukhori Muslim). Zakat Fithr ini juga berfungsi sebagai pelengkap penyucian untuk pelaku puasa dan untuk membantu kaum fakir miskin.(HR Abu Daud dan Ibnu Majah)

    12. Ramadhan bulan Taubat menuju Fithroh

    Selama sebulan penuh secara berduyun-duyun umat kembali kepada Allah yang maha pemurah juga maha pengampun . Beliaulah Dzat yang menyampaikan bahwa pada setiap malam bulan Ramadhan Allah membebaskan banyak hamba Nya dari Api neraka (HR Rirmidzi dan Ibnu Majah). Karena inilah satu kesempatan emas agar umat dapat kembali, bertaubat agar mereka selesai melaksanakan ibadah puasa mereka benar-benar kembali kepada fthroh nya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 19 July 2012 Permalink | Balas  

    I’tikaf 

    Pengajian Ramadhan : I’tikaf

    I’tikaf dalam pengertian bahasa berarti berdiam diri yakni tetap di atas sesuatu. Sedangkan dalam pengertian syari’ah agama, I’tikaf berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadr. Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda :

    “Dari Ibnu Umar ra. ia berkata, Rasulullah saw. Biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

    “Dari Abu Hurairah R.A. ia berkata, Rasulullah SAW. biasa beri’tikaf pada tiap bulan Ramadhan sepuluh hari, dan tatkala pada tahun beliau meninggal dunia beliau telah beri’tikaf selama dua puluh hari. (Hadist Riwayat Bukhori).

    Sebagian ulama mengatakan bahwa ibadah I’tikaf hanya bisa dilakukan dengan berpuasa.

     Tujuan I’tikaf.

    1. Dalam rangka menghidupkan sunnah sebagai kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam rangka pencapaian ketakwaan hamba.

    2. Sebagai salah satu bentuk penghormatan kita dalam meramaikan bulan suci Ramadhan yang penuh berkah dan rahmat dari Allah swt.

    3. Menunggu saat-saat yang baik untuk turunnya Lailatul Qadar yang nilainya sama dengan ibadah seribu bulan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam surat 97:3.

    4. Membina rasa kesadaran imaniyah kepada Allah dan tawadlu’ di hadapan-Nya, sebagai mahluk Allah yang lemah.

     Rukun I’tikaf.

    I’tikaf dianggap syah apabila dilakukan di masjid dan memenuhi rukun-rukunnya sebagai berikut :

    1. Niat. Niat adalah kunci segala amal hamba Allah yang betul-betul mengharap ridla dan pahala dari-Nya.

    2. Berdiam di masjid. Maksudnya dengan diiringi dengan tafakkur, dzikir, berdo’a dan lain-lainya.

    3. Di dalam masjid. I’tikaf dianggap syah bila dilakukan di dalam masjid, yang biasa digunakan untuk sholat Jum’ah. Berdasarkan hadist Rasulullah saw.

    “Dan tiada I’tikaf kecuali di masjid jami’ (H.R. Abu Daud)

    4. Islam dan suci serta akil baligh.

     Cara ber-I’tikaf.

    1. Niat ber-I’tikaf karena Allah. Misalnya dengan mengucapkan : Aku berniat I’tikaf karena Allah ta’ala.

    2. Berdiam diri di dalam masjid dengan memperbanyak berzikir, tafakkur, membaca do’a, bertasbih dan memperbanyak membaca Al-Qur’an.

    3. Diutamakan memulai I’tikaf setelah shalat subuh, sebagaimana hadist Rasulullah saw.

    “Dan dari Aisyah, ia berkata bahwasannya Nabi saw. apabila hendak ber-I’tikaf beliau shalat subuh kenudian masuk ke tempat I’tikaf. (H.R. Bukhori, Muslim)

    4. Menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak berguna. Dan disunnahkan memperbanyak membaca: Ya Allah sesungguhnya Engkau Pemaaf, maka maafkanlah daku.

    Waktu I’tikaf.

    1. Menurut mazhab Syafi’i I’tikaf dapat dilakukan kapan saja dan dalam waktu apa saja, dengan tanpa batasan lamanya seseorang ber-I’tikaf. Begitu seseorang masuk ke dalam masjid dan ia niat I’tikaf maka syahlah I’tikafnya.

    2. I’tikaf dapat dilakukan selama satu bulan penuh, atau dua puluh hari. Yang lebih utama adalah selama sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan sebagaimana dijelaskan oleh hadist di atas.

    Hal-hal yang membatalkan I’tikaf.

    1. Berbuat dosa besar.

    2. Bercampur dengan istri.

    3. Hilang akal karena gila atau mabuk.

    4.Murtad (keluar dari agama).

    5. Datang haid atau nifas dan semua yang mendatangkan hadas besar.

    6. Keluar dari masjid tanpa ada keperluan yang mendesak atau uzur, karena maksud I’tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan tujuan hanya untuk ibadah. 7. Orang yang sakit dan membawa kesulitan dalam melaksanakan I’tikaf.

    Hikmah Ber-I’tikaf .

    1. Mendidik diri kita lebih taat dan tunduk kepada Allah.

    2. Seseorang yang tinggal di masjid mudah untuk memerangi hawa nafsunya, karena masjid adalah tempat beribadah dan membersihkan jiwa.

    3. Masjid merupakan madrasah ruhiyah yang sudah barang tentu selama sepuluh hari ataupun lebih hati kita akan terdidik untuk selalu suci dan bersih.

    4. Tempat dan saat yang baik untuk menjemput datangnya Lailatul Qadar.

    5. I’tikaf adalah salah satu cara untuk meramaikan masjid.

    6. Dan ibadah ini adalah salah satu cara untuk menghormati bulan suci Ramadhan.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 18 July 2012 Permalink | Balas  

    17 Kekeliruan Umum Selama Ramadhan 

    17 Kekeliruan Umum Selama Ramadhan

    Meski Ramadhan bulan adalah bulan ampunan, untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang kini ‘menyapa’ kita, di bawah ini kami sarikan 16 kekeliruan umum yang sering dialami umat Islam selama Ramadhan

    Hanya orang yang tidak tahu dan enggan saja yang tidak segera bergegas menyambut bulan suci ini dalam arti yang sebenarnya, lahir maupun batin. “Berapa banyak orang yang berpuasa (tapi) tak memperoleh apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga belaka”. (HR. Ibnu Majah & Nasa’i)

    Namun, setiap kali usai kita menunaikan ibadah shiyam, nampaknya terasa ada saja yang kurang sempurna dalam pelaksanaannya, semoga poin-poin kesalahan yang acap kali masih terulang dan menghinggapi sebagian besar umat ini dapat memberi kita arahan dan panduan agar puasa kita tahun ini, lebih paripurna dan bermakna.

    1. Merasa sedih, malas, loyo dan tak bergairah menyambut bulan suci Ramadhan

    Acapkali perasaan malas segera menyergap mereka yang enggan menahan rasa payah dan penat selama berpuasa. Mereka berasumsi bahwa puasa identik dengan istirahat, break dan aktifitas-aktifitas non-produktif lainnya, sehingga ini berefek pada produktifitas kerja yang cenderung menurun. Padahal puasa mendidik kita untuk mampu lebih survive dan lebih memiliki daya tahan yang kuat. Sejarah mencatat bahwa kemenangan-kemenangan besar dalam futuhaat (pembebasan wilayah yang disertai dengan peperangan) yang dilancarkan oleh Rasul dan para sahabat, terjadi di tengah bulan Ramadhan.

    Semoga ini menjadi motivator bagi kita semua, agar tidak bermental loyo & malas dan tidak berlindung di balik kata “Aku sedang puasa”.

    2. Berpuasa tapi enggan melaksanakan shalat fardhu lima waktu

    Ini penyakit yang –diakui atau tidak– menghinggapi sebagian umat Islam, mereka mengira bahwa Ramadhan cukup dijalani dengan puasa semata, tanpa mau repot mengiringinya dengan ibadah shalat fardhu. Padahal shalat dan puasa termasuk rangkaian kumulatif (rangkaian yang tak terpisah/satu paket) rukun Islam, sehingga konsekwensinya, bila salah satunya dilalaikan, maka akan berakibat gugurnya predikat “Muslim” dari dirinya.

    3. Berlebih-lebihan dan boros dalam menyiapkan dan menyantap hidangan berbuka serta sahur

    Ini biasanya menimpa sebagian umat yang tak kunjung dewasa dalam menyikapi puasa Ramadhan, kendati telah berpuluh-puluh kali mereka melakoni bulan puasa tetapi tetap saja paradigma mereka tentang ibadah puasa tak kunjung berubah. Dalam benak mereka, saat berbuka adalah saat “balas dendam” atas segala keterkekangan yang melilit mereka sepanjang + 12 jam sebelumnya, tingkah mereka tak ubahnya anak berusia 8-10 tahun yang baru belajar puasa kemarin sore.

    4. Berpuasa tapi juga melakukan ma’siat

    Asal makna berpuasa bermakna menahan diri dari segala aktifitas, dalam Islam, ibadah puasa membatasi kita bukan hanya dari aktifitas yang diharamkan di luar Ramadhan, bahkan puasa Ramadhan juga membatasi kita dari hal-hal yang halal di luar Ramadhan, seperti; Makan, minum, berhubungan suami-istri di siang hari. Kesimpulannya, jika yang halal saja kita dibatasi, sudah barang tentu hal yang haram, jelas lebih dilarang. Sehingga dengan masa training selama sebulan ini akan mendidik kita menahan pandangan liar kita, menahan lisan yang tak jarang lepas kontrol, dsb. “Barang siapa yang belum mampu meninggalkan perkataan dosa (dusta, ghibah, namimah dll.) dan perbuatan dosa, maka Allah tak membutuhkan puasanya (pahala puasanya tertolak).

    5. Sibuk makan sahur sehingga melalaikan shalat shubuh, sibuk berbuka sehingga melupakan shalat maghrib

    Para pelaku poin ini biasanya derivasi dari pelaku poin 3, mengapa ? Sebab cara pandang mereka terhadap puasa tak lebih dari ; “Agar badan saya tetap fit dan kuat selama puasa, maka saya harus makan banyak, minum banyak, tidur banyak sehingga saya tak loyo”. Kecenderungan terhadap hak-hak badan yang over (berlebihan).

    6. Masih tidak merasa malu membuka aurat (khusus wanita muslimah)

    Sebenarnya momen Ramadhan bila dijalani dengan segala kerendahan hati, akan mampu menyingkap hijab ketinggian hati dan kesombongan sehingga seorang Muslimah akan mampu menerima segala tuntunan dan tuntutan agama ini dengan hati yang lapang. Menutup aurat, misalnya, akan lebih mudah direalisasi ketimbang di bulan selain Ramadhan. Mari kita hindari sifat-sifat nifaq yang pada akhir-akhir ini sangat diumbar dan dianggap sah, Ramadhan serba tertutup, saat lepas Ramadhan, lepas pula jilbabnya, inilah sebuah contoh pemahaman agama yang parsial (setengah-setengah), tidak utuh.

    7. Menghabiskan waktu siang hari puasa dengan tidur berlebihan

    Barangkali ini adalah akibat dari pemahaman yang kurang tepat dari sebuah hadits Rasul yang berbunyi “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” Memang selintas prilaku tidur di siang hari adalah sah dengan pedoman hadits diatas, namun tidur yang bagaimana yang dimaksud oleh hadits diatas? Tentu bukan sekedar tidur yang ditujukan untuk sekedar menghabiskan waktu, menunggu waktu ifthar (berbuka) atau sekedar bermalas-malasan, sehingga tak heran bila sebagian -besar- umat ini bermental loyo saat berpuasa Ramadhan. Lebih tepat bila hadits diatas difahami dengan; Aktifitas tidur ditengah puasa yang berpahala ibadah adalah bila ; Tidur proporsional tersebut adalah akibat dari letih dan payahnya fisik kita setelah beraktifitas; Mencari rezeki yang halal, beribadah secara khusyu’ dsb. T idur proporsional tersebut diniatkan untuk persiapan qiyamullail (menghidupkan saat malam hari dengan ibadah) . Tidur itu diniatkan untuk menghindari aktifitas yang -bila tidak tidur- dikhawatirkan akan melanggar rambu-rambu ibadah Ramadhan, semisal ghibah (menggunjing), menonton acara-acara yang tidak bermanfaat, jalan-jalan untuk cuci mata dsb. Pemahaman hadits diatas nyaris sama dengan pemahaman hadits yang menyatakan bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum daripada minyak misk (wangi) disisi Allah, bila difahami selintas maka akan menghasilkan pengamalan hadits yang tidak proporsional, seseorang akan meninggalkan aktifitas gosok gigi dan kebersihan mulutnya sepanjang 29 hari karena ingin tercium bau wangi dari mulutnya, faktanya bau mulut orang yang berpuasa tetap saja akan tercium kurang sedap karena faktor-faktor alamiyah, adapun bau harum tersebut adalah benar adanya secara maknawi tetapi bukan secara lahiriyah, secara fiqh pun, bersiwak atau gosok gigi saat puasa adalah mubah (diperbolehkan)

    8. Meninggalkan shalat tarwih tanpa udzur/halangan

    Benar bahwa shalat tarawih adalah sunnah tetapi bila dikaji secara lebih seksama niscaya kita akan dapatkan bahwa berpuasa Ramadhan minus shalat tarawih adalah suatu hal yang disayangkan, mengingat amalan sunnah di bulan ini diganjar sama dengan amalan wajib.

    9. Masih sering meninggalkan shalat fardhu 5 waktu secara berjama’ah tanpa udzur/halangan ( terutama untuk laki-laki muslim )

    Hukum shalat fardhu secara berjama’ah di masjid di kalangan para fuqaha’ adalah fardhu kifayah, bahkan ada yang berpendapat bahwa hukumnya adalah fardhu ‘ain, berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang mengisahkan bahwa beliau rasanya ingin membakar rumah kaum Muslimin yang tidak shalat berjama’ah di masjid, sebagai sebuah ungkapan atas kekecewaan beliau yang dalam atas kengganan umatnya pergi ke masjid.

    10. Bersemangat dan sibuk beribadah sunnah selama Ramadhan tetapi setelah Ramadhan berlalu, shalat fardhu lima waktu masih tetap saja dilalaikanIni pun contoh dari orang yang tertipu dengan Ramadhan, hanya sedikit lebih berat dibanding poin-poin diatas. Karena mereka Hanya beribadah di bulan Ramadhan, itupun yang sunnah-sunnah saja, semisal shalat tarawih, dan setelah Ramadhan berlalu, berlalu pula ibadah shalat fardhunya.

    11. Semakin jarang membaca Al Qur’an dan maknanya

    12. Semakin jarang bershadaqah

    13. Tidak termotivasi untuk banyak berbuat kebajikan

    14. Tidak memiliki keinginan di hatinya untuk memburu malam Lailatul Qadar Poin nomor 8, 10, 11, 12 dan 13 secara umum, adalah indikasi-indikasi kecilnya ilmu, minat dan apresiasi yang dimiliki oleh seseorang terhadap bulan Ramadhan, karena semakin besar perhatian dan apresiasi seseorang kepada Ramadhan, maka sebesar itu pula ibadah yang dijalankannya selama Ramadhan.

    5. Biaya belanja & pengeluaran ( konsumtif ) selama bulan Ramadhan lebih besar & lebih tinggi daripada pengeluaran di luar bulan Ramadan (kecuali bila biaya pengeluaran itu untuk shadaqah)

    16. Lebih menyibukkan diri dengan belanja baju baru, camilan & masak-memasak untuk keperluan hari raya pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan

    17. Lebih sibuk memikirkan persiapan hari raya daripada amalan puasa

    Mereka lebih sibuk apa yang dipakai di hari raya dibanding memikirkan apakah puasanya pada tahun ini diterima oleh Allah Ta’aala atau tidak Orang-orang yang biasanya mengalami poin-poin nomor 14, 15 dan 16 adalah orang-orang yang tertipu oleh “fatamorgana Ramadhan”, betapa tidak ? Pada hari-hari puncak Ramadhan, mereka malah menyibukkan diri mereka dan keluarganya dengan belanja ini-itu, substansi puasa yang bermakna menahan diri, justru membongkar jati diri mereka yang sebenarnya, pribadi-pribadi “produk Ramadhan” yang nampak begitu konsumtif, memborong apa saja yang mereka mampu beli. Tak terasa ratusan ribu hingga jutaan rupiah mengalir begitu saja, padahal di luar Ramadhan, belum tentu mereka lakukan. Semoga sentilan yang menyatakan bahwa orang Islam tidak konsisten dengan agamanya, karena di bulan Ramadhan yang seharusnya bersemangat menahan diri dan berbagi, ternyata malah memupuk semangat konsumerisme dan cenderung boros, dapat menggugah kita dari “fatamorgana Ramadhan”.

    Semoga Allah menganugerahi kita dengan rahmat-Nya, sehingga mampu menghindari kesalahan-kesalahan yang kerap kali menghinggapi mayoritas umat ini, amin. Hanya dengan keikhlasan, perenungan dan napak tilas Rasul, insya Allah kita mampu meng-up grade (naik kelas) puasa kita, wallaahu a’lam bis shawaab.

    ***

    (Ahmad Rizal, Alumni STAIL, dan KMI Gontor-Ponorogo/Hidayatullah)

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 17 July 2012 Permalink | Balas  

    Ramadhan Cinta 

    Ramadhan Cinta

    Ramadhan adalah bulan pembuktian cinta. Ketundukan adalah cinta, kebajikan adalah cinta, derma adalah cinta, dan menata jiwa lebih dewasa adalah cinta. Ramadhan, saatnya memberi makna istimewa pada cinta kita

    (Anis Matta)

    Dan, ramadhan kembali tiba!

    Sudah siapkah kita menyambutnya..?. Tentu, setiap diri kita punya jawaban masing-masing. Jawaban yang berbeda-beda. Sungguh beruntung mereka yang penuh suka cita menyambutnya, dengan perasaan senang karena dipertemukan lagi dengan bulan yang mulia ini. Merugi, mereka yang biasa saja, bermalas-malas menyambutnya, apalagi mereka yang tak senang atau merasa terkekang karenanya. Padahal kalau kita memahaminya, sungguh banyak hikmah yang bisa petik pada setiap ramadhan tiba.

    Di dalam hadits Qudsi, Allah SWT berfirman “Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasanya” (Muttafaqun’alaih). Dalam dimensi ini, kita memaknai bagaimana ibadah puasa adalah ibadah khusus. Ini adalah kesempatan kita untuk membuktikan cinta, kerendahan hati seorang hamba kepada sang khalik. Apa yang kita lakukan, puasa yang kita lakukan di bulan ramadhan, Dialah yang akan membalasnya. Bulan ini juga memberi kesempatan kita terhapus atas segala dosa-dosa kita. Doa-doa ampunan atas segala kesalahan terkabulkan, tentu dengan semangat pengharapan terdalam dari diri kita.

    Lewat perantaraan Rasulullah, juga disebutkan tentang keistemewaan orang yang berpuasa “ Sesungguhnya di surga ada satu pintu bernama Al-Rayyan, dari pintu ini akan masuk orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat, tidak ada siapapun selain mereka yang akan memasuki pintu ini, dikatakan, mana orang-orang yang berpuasa..?. Lalu mereka semua berdiri, tidak ada satupun yang memasuki pintu ini, jika orang-orang yang berpuasa telah masuk, maka pintu itu ditutup, sehingga tidak ada seorang pun selain mereka yang memasukinya”. (Muttafaqun’alaih).

    Inilah dimensi transendental. Dimensi keTuhanan. Allah SWT telah menjanjikan kepada hambanya dengan kenikmatan kelak di kemudian hari jika benar-benar melakukan ibadah puasa dengan semestinya, sesuai sunnah-sunnah yang diajarkan Rasulullah. Maka, tak ada yang kita lakukan, selain kita memaknai bulan ini dengan bulan pembuktian cinta kita. Kita isi hari-hari puasa kita dengan ibadah-ibadah untuk semakin mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Bukan untuk apa-apa, semata-mata untuk meraih keridhoan Allah saja.

    Lantas, bagaimana dimensi kemanusiaannya..?. Puasa, sebenarnya ada wujud solidaritas kemanusiaan. Sebulan penuh kita melakukan puasa, menahan lapar dan haus sepanjang pagi dan siang. Makna yang bisa kita ambil sebenarnya melatih kepekaan sosial kita, kepedulian kita kepada sesama. Kita, mungkin hanya sebulan merasakan lapar dan dahaga, tapi diluar sana, bisa jadi teramat banyak yang setiap hari menahan lapar, sudah terbiasa hidup dengan amat kesulitan dan memprihatinkan. Para pengemis itu, gelandangan itu, buruh-buruh kasar itu, orang-orang pinggiran kota itu, petani miskin itu.

    Sungguh inilah bulan pembuktian cinta kita kepada sesama. Melihat dengan mata hati kita, teramat bersyukur kita sebenarnya. Sepanjang pagi dan siang mungkin kita sama-sama menahan lapar. Tapi ketika sore tiba, saat berbuka puasa, makanan-makanan enak toh masih sempat kita santap. Tidakkah kita pantas bersyukur karenanya ?. Bagaimana pembuktiannya, salah satunya adalah dengan derma kita untuk sesama, semangat untuk memberi dan berbagi dengan sesama. Kita asah mata hati kita untuk lebih peka atas nasib dan penderitaan orang lain. Lantas, kita berikan kebahagiaan sepanjang kita bisa untuk mereka. Membuat mereka sejenak tersenyum.

    Demikianlah ramadhan cinta menyapa kita, tidakkah kita merindukannya..?

    ***

    Oleh Yon’s Revolta

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 16 July 2012 Permalink | Balas  

    Bagaimana Menyambut Ramadhan 

    Bagaimana Menyambut Ramadhan

    Segala puji bagi Allah tuhan sekalian alam.

    Sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada baginda Nabi Muhammad s.a.w.. Mari kita mohon kepada Allah, Dzhat Yang Maha Agung, semoga menjadikan kita termasuk orang-orang yang apabila mendapatkan rizqi bersyukur, apabila mendapatkan cobaan bersabar dan apabila melakukan dosa atau kesalahan mau meminta ampunan. Umat Islam saat ini sedang berada dalam masa yang sangat mencemaskan dan dalam perjalanan sejarahnya yang penuh onak dan duri. Tidak sedikit negara-negara Islam saat ini mengalami penderitaan yang sangat berat berupa kemiskinan, ditindas, dibantai, dijajah dlsb.

    Ramadhan sebentar lagi akan tiba, dan ini merupakan suatu momentum yang sangat tepat bagi kita kaum muslimin untuk menyamakan persepsi bahwa kita ini sebenarnya adalah satu tubuh, apabila salah satu organ tubuh terserang sakit maka seluruh tubuh akan merasakan sakit yang sama. Bulan Ramadhan juga merupakan ajang kita untuk “bertadharru’, meratap kepada Allah agar segala kesusahan, kedlaliman dan diskriminasi dijauhkan dari kita. Dan semoga umat ini juga ditunjukkan jalan yang benar, yaitu jalan dimana para pejuang kebenaran diberikan kejayaan atas orang-orang pembuat kerusakan. Semoga Allah menggandeng tangan umat ini kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Tinggal beberapa hari lagi, kita kedatangan bulan Romadhan. Sudah sewajarnya kita menyambutnya dengan suka cita. Dulu para sahabat dan tabi’in senantiasa memanjatkan do’a agar di pertemukan kembali dengan bulan Ramadhan. “Ya Allah sampaikan kami kepada bulan Ramadhan berikutnya”.

    Keutamaan Ramadhan.

    Keutamaan ini bisa dilihat dari turunnya Al-Qur’an pada bulan Ramadhan. Ini merupakan tanda yang cukup jelas betapa mulianya bulan ini, karena Al-Qur’an adalah Kalamullah yang diturunkan untuk menjadi petunjuk dan pedoman hidup bagi umat manusia. Allah berfirman “Bulan Ramadhan merupakan bulan dimana diturunkan al-Qur’an di dalamnya untuk menjadi petunjuk bagi manusia, dan tanda-tanda dari petunjuk dan pembeda (dari yang benar dan batil)”. Untuk itulah Allah mewajibkan kaum muslimin untuk memanfaatkan bulan ini dengan sebaik-baiknya dengan melaksanakan puasa sebagai realisasi rasa syukur kita kepada Allah atas ni’mat bulan Ramadhan, “Barangsiapa menemukan bulan (Ramadhan) maka berpuasalah”. Ramadhan merupakan bulan puasa, bulan mendirikan sholat, bulan memperbanyak membaca al-Qur’an, bulan yang penuh rahmat, maghfiroh dan pembebasan dari api neraka, bulan dimana segala amal kebajikan dilipatgandakan dan amal keburukan dan maksiat dimaafkan, bulan segala do’a dikabulkan, dan derajatnya ditinggikan. Allah mewajibkan puasa ini agar kita bisa bertaqwa dengan sesungguhnya, sebagaimana firman Allah :

    “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu melaksanakan puasa sebagaimana yang diwajibkan atas kaum sebelummu, agar kamu bertaqwa”.

    Taqwa adalah buah yang diharapkan mampu di hasilkan oleh puasa. Buah tersebut akan menjadi bekal orang beriman dan periasai baginya agar tidak terjatuh dalam jurang kemaksyiatan. Seorang ulama sufi pernah berkata tentang pengaruh taqwa bagi kehidupan seorang muslim; “Dengan bertaqwa, para kekasih Allah bisa terlindungi dari perbuatan yang tercela, dalam hatinya diliputi rasa takut kepada Allah sehingga menyebabkannya senantiasa terjaga di malam hari untuk beribadah, lebih suka menahan kesusahan dari pada mencari hiburan, rela merasakan lapar dan haus, merasa dekat dengan ajal sehingga mendorongnya untuk memperbanyak amal kebajikan. Taqwa merupakan kombinasi kebijakan dan pengetahuan, serta gabungan antara perkataan dan perbuatan.

    Di antara keutamaan bulan Ramadhan adalah seperti yang dijelaskan Rasulullah s.a.w. : “Ketika datang malam pertama dari bulan Ramadhan seluruh syaithan dibelenggu, dan seluruh jin diikat. Semua pintu-pintu neraka ditutup , tidak ada satu pintu pun yang terbuka. Semua pintu sorga ibuka hingga tidak ada satupun pintu yang tertutup. Lalu tiap malam datang seorang yang menyeru; “Wahai orang yang mencari kebaikan kemarilah; wahai orang yang mencari keburukan menyingkilah. Hanya Allah lah yang bisa menyelamatkan dari api neraka”. (H.R.Tirmidzi.)

    Dalam riwayat Bukhari dari Abu Hurairoh RA berkata: berkata Rasulullah SAW: “Ketika telah masuk bulan Ramadhan maka dibuka pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka jahannam, dan dibeleggu semua syaithan”. Dalam Riwayat Bukhari yang lain; “ketika telah tiba bulan Ramadhan maka di bukakan pinti-pintu sorga”.

    Jadi di dalam bulan yang suci ini Allah menjauhkan semua penyebab kehancuran dan kemaksiatan, syaitan diikat dan dibelenggu, hingga tidak kuasa untuk membujuk manusia melakukan kemaksiatan yang keji dan terlarang, karena manusia sibuk melakukan ibadah, mengekang hawa nafsu mereka dengan beribadah, berdzikir dan membaca al-Qur’an. Ini sekaligus penggugah hamba beriman bahwa tidak ada alasan lagi untuk meninggalkan ibadah dan taat kepada Allah ataupun melakukan maksiat karena sumber utama penyebab kemaksiatan, yaitu syetan telah dibelenggu.

    Ditutupnya pintu neraka mempunyai arti bahwa setiap hamba hendaknya tidak lagi melakukan perkara yang munkar dan mengekang diri dari menuruti hawa nafsunya, karena neraka sebagai tempat pembalasannya sedang ditutup. Pintu neraka ditutup semata untuk menghukum syaithan dan saat itulah selayaknya kemaksiatan berkurang dan sirna lalu digantikan dengan perbuatan mulia dan kebajikan.

    Sementara dibukanya pintu-pintu sorga mengisyaratkan terhamparnya kesempatan seluas-luasnya untuk meraih sorga dalam bulan Ramadhan. Iyadl berkata: ini merupakan tanda bagi para malaikat bahwa bulan yang istimewa telah tiba agar mereka menghormatinya dan menghadang syetan dari pekerjaannya mengganggu orang mu’min. Bisa juga itu mengisyaratkan banyaknya pahala dan ampunan yang diturunkan Allah agar mereka yang mengharapkannya berlomba-lomba meningkatkan amal ibadahnya dan agar mereka yang memimpikannya semakin berusaha mendapatkannya. Bisa juga maksud dibukanya pintu sorga adalah terbukanya kesempatan bagi hamba Allah untuk lebih meningkatkan ketaatan, dengan terbukanya semua jalan kataatan dan tertutupnya jalan-jalan syetan. Adapun maksud terbukanya pintu-pintu langit adalah kata kiasan bagi turunnya rahmat Allah dan terbukanya tirai penutup bagi amal-amal hamba, di satu pihak karena taufiq Allah dan di lain pihak karena semua amal akan diterima Allah pada bulan tersebut. Taibi berkata : Malaikat diperintahkan memintakan rahmat kepada Allah untuk hambanya yang berpuasa dan agar mereka mendapatkan derajat yang mulia.

    Maka sangat beruntunglah bagi mereka yang mau memanfaatkan kesempatan tersebut, dan mudah-mudahan menjadi salah satu dari mereka yang dimuliakan dan diselamatkan dari api neraka di bulan suci tersebut. Sesungguhnya Allah membebaskan hamba-Nya dari siksa neraka karena beberapa amal : ada yang karena mentauhidkan Allah, ada yang karena sholat dan zakat, dan pembebasan pada bulan Ramadhan adalah karena puasa dan barakah yang terkandung di dalamnya, dengan banyaknya dzikir dan taubat yang di lakukan dalam bulan suci itu. Nabi Muhammad s.a.w. telah menceritakan dari tuhannya (Allah).; “Barang siapa berpuasa di bulan suci itu dengan beriman dan mengharap pahala dari sisi Allah maka diampuni segala dosa yang telah ia lakukan” dan barang siapa menghidupkan malam lailatul qadar dengan beriman dan bertulus hati maka diampunilah dosa yang telah ia lakukan.

    Berpuasa disertai dengan ketulusan niyat dan ikhlas akan mengantarkan hamba mendapatkan ampunan dan mendatangkan rahmat dan keridloan dari Allah. Inilah kesempatan yang terbuka bagi orang beriman agar berlomba-lomba dalam beramal kebajikan dan meninggalkan kemungkaran. Saudaraku!! jangan lewatkan kesempatan ini, apalagi sampai merugi dalam perkara ini, tidak saja kehilangan modal yang telah ada ditanganmu namun juga tidak sepeser pun keuntungan yang kau dapat, padahal di sana banyak orang-orang yang mendapatkannya. “Dan pada itu berlomba-lombalah orang-orang yang berlomba” (Q.S. 84:26).

    ***

    Oleh: Dr. Muhammad Hasan Abdul Baqi (Dewan Da’wah dan Tarbiyah, International Islamic Universtiy Islamabad)

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 15 July 2012 Permalink | Balas  

    Terminal Cinta Terakhir 

    Terminal Cinta Terakhir

    Memasuki ambang keagungan Ramadhan kali ini yang saya ingat suatu bagian dari ceramah orang yang saya cintai, yakni ustadz Yasin Hasan Abdullah ketika beliau tampil di Pesantren Daruttauhid Malang 1990.

    Beliau mengemukanan hal yang sederhana. “sekedar sesungging senyum saja dari seorang istri kepada suaminya, Allah memberinya pahala setakaran dengan satu kali salat tarawih.” Kemudian dengan tersenyum “nakal” belaiau melanjutkan dengan kalimat satire, “oleh karena itu, bagi kaum wanita kalau pas bulan Ramadhan tak bisa salat tarawih, tersenyum sajalah…”

    Ada dua sisi dari kepingan uang ” fatwa ustadz kita ini.

    Pertama,  beliau menjelaskan secara implosot betapa Islam sebagai agama, sejak semula sangat matang menyediakan inti-inti nilai (level rohani dan filosofi) beserta  komprehensinya, untuk diterjemahkan oleh para khalifah-Nya menjadi sistem nilai (level tata budaya), kemudian diterapkan, diimplementasikan, dimanifestasikan atau diwujud-kongkretakan (level bodang-bidang empiris) pada semua dan setiap langkah perilaku daan masyarakat.

    Jangankan soal tata hukum, etika sosial, moralitas politik atau berbagai keperluan mikro dan makro pergaulan, kebudayaan dan peradaban manusia” demikian kira-kira beliau melanjutkan fatwanya itu dalam hati. “Sedangkan sesungging senyum pun diurus nilainya oleh Allah melalui formula bimbingan-Nya yang bernama Islam.”

    Sisi kedua “keping uang” fatwa ustadz Yasun ialah otokritik halus terhadap tradisi “latah pahala” dalam budaya keagaman pada umumnya kaum muslimin.

    Pahala bukan saja “tidak baik”, bahkan pahala itu idaman lihur stiap hamba-Nya. Tetapi, pahala barulah sebuah “terminal” dalam perjalanan spiritual (tauhid) manusia menuju Allah yang mutlak dan abadi. Karena makna tauhid yakni menyaatukan diri kepada Allah adalah proses transformasi dari kesentaraan menuju kekekalan, dari kesemuan menuju kesejatian, atau dari posisi berjarak menuju jumbuh atau kesatuan dengan Dia yang Maha tak Terbayangkan itu.

    Saya menyebut pahala sebagai salah satu “terminal”. Artinya, ia bukan sesuatu yang harus kita jauhi, melainkan justru kita datangi. Atau lebih tepatnya kita singgahi, kemudian kita tinggalkan. Lantas kemana? Ke “terminal cinta terakhir”. Siapa lagi Dia kalau bukan Allah.

    Jadi samasekali tak salahnya beribadat demi mencari pahala. Tetapi benarkah kit aberhenti di situ?

    Mari kita renungkan kedalaman makna syahadat kita. Laa ilaaha illallah. Tak ada Tuhan Selain Allah. Apa artinya budaya Allah? Dia lah yang penting, yang utama, yang ujung segala ujung tujuan hidup kita. Secara kebudayaan kita berikrar, tak ada yang penting selain Allah, bukan tak ada yang penting selain pahala. Apa pentingnya pahala, jika kelak sudah diperkenankan “memperoleh” Allah.

    Kalau beribadat dengan orientasi dan target pahala, rasanya kok kita ini terhadap Allah pedagang pemburu laba. Padahala Allah kurang memberi apa kepada kita, hidung otak, hati, lidah, duka, dan kebahagiaan. Sementara kita tak pernah dan sanggup memberri apa pun kepada-Nya, bahkan begitu malas memberi suatu kesejatian hakikat diri kita sendiri.

    Kalau obsesi kita adalah pahala dan surga, dan kalau kita adalah pahala dan surga, dan kalau kita utamakan, jadinya kok pahala itulah yang kita Tuhankan. Apa tak malu kita kepada-Nya, pada akal dan perasaan kita sendiri.

    “Ibadat kapitalis” itu namanya. Kaum sufi menyebut kita Muslim hayawani, pelaku ibadat yang terminologinya terbatas pada surga dan neraka. Padahal keduanya hanya formula yang oleh Tuhan disesuaikan dengan idiom bahasa manusia untuk menggambarkan bentuk kebahagiaan dan kesengsaraan yang asli, keuntungan dan kerugian sesungguhnya.

    Padahal kita yang kurang serius meningkatkan mutu kemusliman sesudah memeluk Islam berpuluh-puluh tahun lamanya masih seret maju dari jenis kemusliman yang lebih rendah itu, yakni Muslim rabbani.

    Itu taraf kemusliman “birokrasi” atau “kepegawaian”. Kita melakukan salat, zakat, puasa, dan lain-lain karena  “takut pada atasan”. Kalau biasanya atasan kita camat, kasubdit, kabag atau mandor, maka dalam urusan ibadat mahdhoh, atasan kita hana Tuhan itu sendiri. Jadi kita jungkir balik di masjid dalam subtansi untuk “mengisi tanda tangan presensi”, supaya “gaji” kita tidak dipotong atau takut di-PHK.

    Kita ini memang aneh. Entah kenapa kok malas belajar kepada Rasulullah Muhammad, yang merupakan teladan utama tingkat Muslim rabbani. Muslim yang sehari berikrar, “Sesungguhnya salatku, hidupku, matiku semata-mata untuk Allah belaka,”dan melaksanakan-nya dalam implementasi kongkret kehidupannya.

    Padahal tiap salat kita juga rajin mengucapkan kalimat itu lho. Tetapi, bila sudah di kantor, ketika mengurus proyek, makelaran, membayangkan masa depan, bergaul dengan ini itu, masuk toko serba ada- anehnya Allah kok jadi nomor 27. Heran. Kita ini memang mahluk yang mbandel. Tak cocok disebut ahsani taqwim, sebaik-baik ciptaan Allah. Hiii! malu ya sama Dia!

    Puasa itu adalah metoda (tarikat) yang luar biasa untuk memproses diri jadi ahsani taqwi, tak sekedar anusia Indonesia seutuhnya.” Lha wong Allah sendiri yang menciptakan metoda itu/ Dia mewajibkan puasa karena menjamin bahwa ia lebih sempurna dibanding segala penemuan metodik kita untuk merekayasa penyempurnaan kemanusiaan kita.

    Saya sendiri tak pernah selesai mengitung makna puasa. Ya untuk “peragian” rohani. Ya untuk melatih segala anasir yang baik dari mentalitas dan kejiwaan. Ya untuk menghayati secaa total betapa sia-sianya benda, kekayaan, pangkat, kenyang, enak, serta segala macam ciri dunia yang tiap hari kita kempit habis-habisan. Macam-macamlah, tak terhingga jumlah manfaatnya. Puasa membawa kita ambil jarak dari segala sesuatu  selain Allah yang selama ini menenggelamkan diri kita. Diri yang hanya satu ini kita berikan kepada dunia sampai habis, lantas apa yang tersisa untuk Allah? Padahal setiap saat kita berjanji sehidup semati, gunung kan kudaki lautan kan kusebrangi untuk Allah semata.

    Dalam Ramadhan sekarang ini apa ya tega kita kepada diri kita sendiri bila terus-terusan berpusasa dengan kadar dan target yang begini-begini terus.

    Untunglah kita-kita ini tetap dijaga oleh Allah untuk tetap Muslim terus, mmeskipun tak -naik tingkat dari barisan “ban kuning”. Dengan tetap Muslim setidaknya terpelihara pengetahuan kita bahwa Allah selalu begitu kasih memberi jalan benar kepada hamba-hamba-Nya. Antara lain melalui kewajiban puasa. Bayangkan andaikata Allah tak mewajibkan puasa, mungkin kita jadi lupa pada cinta dan tuntunan-Nya.

    Apalagi puasa itu diwajibkan bagi seluruh manusia. Juga salat, zakat, amal saleh, dan seterusnya. Banyak lho orang berkata “kalau Anda Muslim, Anda diwajibkan salat, puasa, zakat…”seolah-olah kalau kita tidak Muslim lantas tidak berdosa kalau tidak salat. Lucu.

    Kalau begitu, enakan tidak Muslim, bisa terbebas dari dosa tak salat, dosa maling, dosa korupsi, dosa menindas, dosa menggusur…

    ***

    Cak Nun

    “Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiyai”, Risalah Gusti, 1994.

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 14 July 2012 Permalink | Balas  

    Ada Semangat dalam Ramadhan 

    Ada Semangat dalam Ramadhan

    Oleh Satria Hadi Lubis

    Suatu ketika, seorang alim diundang berburu. Sang alim hanya dipinjami kuda yang lambat oleh tuan rumah. Tak lama kemudian, hujan turun dengan derasnya. Semua kuda dipacu dengan cepatnya agar segera kembali ke rumah. Tapi kuda sang alim berjalan lambat. Sang alim kemudian melepas bajunya, melipat dan menyimpannya, lalu membawa kudanya ke rumah. Setelah hujan berhenti, dipakainya kembali bajunya. Semua orang takjub melihat bajunya yang kering, sementara baju mereka semuanya basah, padahal kuda yang mereka tunggangi lebih cepat. Dengan perasaan heran, tuan rumah bertanya kepada sang alim, ”Mengapa bajumu tetap kering?” ”Masalahnya kamu berorientasi pada kuda, bukan pada baju,” jawab sang alim ringan sambil berlalu meninggalkan tuan rumah.

    Dalam perjalanan hidup, kadangkala kita mengalami kesalahan orientasi (persepsi) seperti tuan rumah dalam cerita di atas. Kita menginginkan sesuatu namun tidak memiliki orientasi seperti yang diinginkan, sehingga akhirnya kita tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Begitu pula dalam menjalankan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang menginginkan ibadahnya di bulan Ramadhan dapat merubah dirinya menjadi lebih baik. Namun setelah Ramadhan, ternyata sifat dan perilakunya kembali seperti semula. Tak berubah secara signifikan. Ia hanya mendapatkan lapar dan haus. Persis seperti yang disabdakan Nabi saw, ”Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa pun, kecuali lapar dan haus.”

    Hal itu karena orientasinya keliru. Ia tidak tahu hikmah di balik keagungan bulan Ramadhan. Salah satu dari sekian banyak hikmah Ramadhan yang sering dilupakan orang adalah fungsinya sebagai pembangkit semangat hidup. Ramadhan sesungguhnya adalah bulan motivasi (syahrul hamasah). Ramadhan semestinya mampu menjadikan setiap muslim yang beribadah di dalamnya menjadi termotivasi hidupnya. Coba kita lihat apa yang terjadi pada diri nenek moyang kita (para sahabat dan ulama sholihin) setelah ditempa Ramadhan. Mereka menjadikan Ramadhan sebagai ajang pembakaran semangat yang membara. Sejarah mencatat dengan tinta emas sepak terjang mereka yang produktif. Banyak orang yang tak tahu, karena memiliki motivasi yang tinggi, umat Islam terdahulu menjadi penguasa dunia selama lebih kurang 14 abad. Lebih lama daripada kejayaan Eropa. Apalagi dari Amerika yang baru berjaya di akhir abad ini.

    Kejayaan Islam yang demikian lama di masa lalu tak bisa dipisahkan dari semangat nenek moyang kita untuk selalu bersemangat dan produktif dalam berkarya. Beberapa contoh bisa disebutkan di sini. Ibnu Jarir, misalnya, mampu menulis 14 halaman dalam sehari selama 72 tahun. Ibnu Taymiyah menulis 200 buku sepanjang hidupnya. Imam Ghazali adalah peneliti di bidang tasawuf, politik, ekonomi dan budaya sekaligus. Al-Alusi mengajar 24 pelajaran dalam sehari. Sedang Jabir bin Abdullah rela menempuh perjalanan selama satu bulan demi mendapatkan satu riwayat hadits. Fatimah binti Syafi’i pernah menggantikan lampu penerangan untuk ayahnya (Imam Syafi’i) sebanyak 70 kali. Semangat mereka terangkum dalam perkataan Abu Musa Al-Asy’ari ra.yang pernah ditanya oleh sahabatnya, ”Mengapa Anda tidak pernah mengistirahatkan diri Anda?” Abu Musa menjawab, ”Itu tidak mungkin, sesungguhnya yang akan menang adalah kuda pacuan!” Suatu ungkapan indah yang menggambarkan semangat yang membara, jiwa yang selalu ingin berkompetisi, berani dan pantang menyerah.

    Semangat Itu Ada di Depan Kita

    Semangat nenek moyang kita yang luar biasa dalam beramal tak bisa dilepaskan dari orientasi mereka yang benar terhadap fungsi ibadah dalam Islam, termasuk fungsi ibadah Ramadhan sebagai ajang melejitkan motivasi (achievement motivation training). Beda dengan kebanyakan kaum muslimin saat ini yang lebih memahami ibadah Ramadhan sebagai kegiatan seremonial dan tradisi tanpa makna.

    Beberapa bukti yang menunjukkan fungsi Ramadhan sebagai bulan pemotivasian adalah:

    1. Shaum (puasa)

    Tahukah Anda bahwa kekuatan semangat dapat mengalahkan kekuatan fisik? Itulah yang Allah latih kepada kita di bulan Ramadhan. Selama sebulan kita dilatih untuk mengalahkan nafsu yang berasal dari tubuh kasar kita; nafsu makan, minum, dan seksual. Kenyataannya, di bulan Ramadhan kita mampu mengalahkan tarikan nafsu demi memenangkan semangat ruh kita. Sayangnya, latihan itu tidak dilanjutkan dalam skala kehidupan yang lebih luas dan dalam waktu yang lebih lama setelah Ramadhan, sehingga banyak di antara kita yang hidupnya tidak bersemangat dan produktif dalam beramal. Padahal kunci motivasi itu adalah kemampuan mengalahkan kekuatan fisik. Itulah yang kita lihat pada diri Abdullah bin Ummi Maktum ra.yang matanya buta tapi ngotot untuk ikut berperang bersama Rasulullah. Juga pada diri Cut Nyak Dien atau Jenderal Sudirman, yang pantang menyerah kepada pasukan kolonial walau dalam kondisi sakit parah.

    2. Tarawih

    Ramadhan sebagai syahrul hamasah juga terlihat dalam pelaksanaan sholat tarawih. Sholat tarawih artinya sholat (di waktu malam) yang dilakukan dengan santai. Di zaman sahabat, sholat tarawih biasa dilakukan sepanjang malam. Dengan bacaan yang panjang dan diselingi juga dengan istirahat yang lama. Bahkan pernah dalam satu riwayat, para sahabat melakukan sholat tarawih berjama’ah sampai menjelang subuh. Hikmah dari ibadah tarawih yang dilakukan dengan santai dan tidak terburu-buru adalah untuk membentuk watak kesabaran dan ketekunan. Kita tahu, kesabaran dan ketekunan adalah kunci dari motivasi. Tidak mungkin seseorang itu termotivasi dan produktif berkarya tanpa memiliki sifat sabar dan tekun. Watak inilah yang dimiliki oleh nenek moyang kita, sehingga mereka menjadi umat yang jaya di masa lalu. Hal ini berbeda dengan pelaksanaan sholat tarawih di masa kini. Di mana waktunya tidak lebih dari 1-2 jam. Bahkan seringkali dilakukan tergesa-gesa. Hikmah tarawih sebagai ibadah yang melatih watak kesabaran dan ketekunan menjadi hilang, sehingga lenyap pulalah salah satu sarana pelatihan umat Islam untuk menjadi orang yang termotivasi hidupnya.

    3. I’tikaf

    Sarana lain yang disediakan Allah SWT untuk membentuk ruh semangat adalah i’tikaf. Ibadah i’tikaf berarti diam menyepi (untuk mengingat Allah) dan meninggalkan kesibukan duniawi. Bagi laki-laki, i’tikaf dilakukan di masjid. Sedang bagi perempuan dilakukan pada ruangan khusus di rumahnya. Nabi Muhammad saw tidak pernah meninggalkan ibadah i’tikaf ini sepanjang hidupnya. Hal ini juga dilakukan oleh para sahabat dan orang-orang sholih sepeninggal beliau. Sudah menjadi hal yang lazim di masa nenek moyang kita bahwa setiap Ramadhan masjid penuh dengan orang-orang yang i’tikaf.

    Bandingkan dengan kondisi sekarang. I’tikaf menjadi ibadah yang asing bagi kebanyakan kaum muslimin. Padahal ibadah ini sangat penting untuk kontemplasi diri. Dalam i’tikaf, kita melakukan uzlah (pertapaan) sebagai modal penting untuk bangkit dari keterpurukan atau sebagai momen untuk berubah. Nabi Muhammad saw berubah dari manusia biasa menjadi manusia luar biasa (nabi) setelah uzlah ke Gua Hiro. Lalu Allah menggantikan sarana uzlah tersebut dengan i’tikaf untuk kita. Agar kita meniru perubahan menjadi manusia luar biasa tersebut seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad saw.. Allah meminta kita agar mengulangi momen uzlah tersebut setiap tahun, sehingga kita selalu termotivasi untuk berubah semakin baik dari tahun ke tahun. Dari bulan ke bulan. Bahkan dari hari ke hari. Nabi saw bersabda, ”Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemaren, ia celaka. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, ia merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemaren, ia beruntung.”

    Ramadhan sebagai bulan pemotivasian seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh kita semua. Sungguh beruntunglah mereka yang menggunakan Ramadhan sebagai ajang peningkatan motivasi hidupnya. Lalu dengan modal Ramadhan ia mengisi hari-harinya di luar Ramadhan dengan semangat yang membara untuk beramal melesat ke angkasa kemuliaan. Sungguh, ada semangat dalam Ramadhan.

    ***

    Satria Hadi Lubis, MM, MBA

    Konsultan Manajemen Kehidupan dan Penulis Buku-Buku Pengembangan Pribadi

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 13 July 2012 Permalink | Balas  

    Mengenal Makanan Manis Favorit Berbuka Puasa 

    Mengenal Makanan Manis Favorit Berbuka Puasa

    Betapa nikmatnya saat berbuka puasa, kita makan kurma atau minum seteguk air. Lagi pula, secara kesehatan keduanya pun dapat segera memulihkan kondisi lemah tubuh kita. Jadi, prinsip makanan buka puasa ini sangat dianjurkan menggunakan makanan yang mudah cerna, hingga tidak merepotkan kerja lambung yang telah beristirahat demikian lama.

    Selain faktor itu, sebaiknya makanan yang kita makan saat berbuka puasa adalah memiliki nilai kalori tinggi agar stamina tubuh kita segera pulih dan mengandung air sebagai pengganti cairan yang banyak terbuang seharian. Pokoknya, makanan pembuka itu dapat dikatakan sebagai “makanan manis”. Dan untuk kondisi saat ini makanan tersebut banyak macamnya, di antaranya kurma dan kolak.

    Berpuasa menjadikan tubuh manusia sehat dan terhindar dari gejala-gejala penyakit. Makanan manis adalah di antara petunjuk yang bisa kita lakukan agar kita sehat di saat puasa. Apa buktinya?

    Puasa akan berdampak pada sebuah sel-sel tubuh di mana reaksi-reaksi biokimiawi berlangsung. Di kala alat pencernaan beristirahat, energi yang dibutuhkan diambil dari cadangan karbohidrat dan timbunan lemak. Zat gizi yang masuk diubah menjadi molekul-molekul yang sangat kecil, kemudian diserap dan masuk dalam darah, diteruskan ke sel-sel. Bahan karbohidrat diserap dalam bentuk glukosa. Sedangkan lemak diserap dalam bentuk asam lemak.

    Selanjutnya, glukosa dan lemak dibawa darah ke hati, otak, dan otot untuk membentuk energi. Melalui rantai reaksi yang sangat panjang dihasilkan energi CO2. Jika orang makan berlebihan maka kelebihan glukosa akan bergabung membentuk cadangan glikogen. Cadangan ini digunakan sewaktu orang berpuasa.

    Selama berpuasa (+/- 14 jam) kebutuhan energi diambil dari cadangan glikogen dan lemak. Pada siang hari lemak terus-menerus mengalami perombakan sehingga alat-alat tubuh yang dilapisi lemak dapat bernapas dengan lega dan timbunan lemak yang berbahaya dapat digunakan dan tergeser. Berikutnya, pada malam hari kita makan. Di sinilah terjadi lagi penyimpanan zat-zat energi. Seandainya perombakan dan penyimpanan ini terjadi sebulan penuh, tentunya akan terjadi proses penggantian yang terus-menerus. Dan hasilnya akan terjadi peremajaan sel.

    Untuk bagian otak, lain lagi. Kita tahu, otak terdiri dari jaringan lipid atau lemak. Dan lemak di otot berbeda dengan lemak di otak. Bila jaringan lemak di otak ini juga ikut terkuras, maka terjadi kerusakan pada jaringan otak. Energi untuk otak semuanya berasal dari zat gula.

    Selama berpuasa zat gula ini datang dari hati. Dan kalau cadangan zat gula di hati habis, hati mencoba mengolah zat-zat lain menjadi zat gula untuk otak. Atas dasar inilah, mungkin mengapa kita disunahkan untuk cepat makan makanan yang manis-manis pada saat berbuka puasa.

    Makanan Manis

    Pada umumnya umat Islam yang sedang saum banyak yang menyunahkan untuk memakan buah kurma masak terlebih dulu sebelum memakan makanan lainnya. Hal itu sesuai dengan anjuran para ulama, “Makanlah buah kurma 1-2 buah sebelum memakan makanan lainnya pada saat berbuka puasa.”

    Buah kurma (Phoenix dactylifera) memiliki bentuk silindris, warnanya kuning hingga cokelat kemerahan. Dagingnya tebal, membalut sebutir biji. Kondisi kulit yang tipis membuat daging buahnya mudah dimasuki ragi dari udara, selanjutnya memfermentasi karbohidrat. Saking tingginya kadar gula, buah ini tidak perlu pengawet lagi. Pengeringan biasanya dilakukan oleh matahari.

    Kandungan kalori kurma cukup tinggi (317 kal/100 gr), sehingga sangat cocok untuk memulihkan stamina yang anjlok. Kalori yang dihasilkan mayoritas berasal dari karbohidrat.

    Selain sebagai “bahan bakar” utama tubuh, fungsi lain zat itu adalah mencegah terjadinya oksigen lemak yang tidak sempurna sehingga menghasilkan bahan-bahan keton berupa asam asetoasetat, aseton, dan asam beta-hidroksi-butiran, yang dibentuk dalam hati dan dikeluarkan melalui urine dengan mengikat basa berupa ion natrium; dapat menyebabkan ketidakseimbangan natirum dan dehidrasi, ketosis atau asidosis yang dapat merugikan tubuh.

    Buah kurma ini, selain mengandung karbohidrat, kurma yang masaknya terdapat serat. Semakin dikeringkan nilainya kemungkinan bisa semakin tinggi karena terbentuk resistant starch. Termasuk dalam kategori ini adalah selulosa dan hemiselulosa dari dinding sel tanaman, serta pektin dan gummy, yang merupakan komponen nonstrukral sel tanaman. Kandungan selulosa amat berguna untuk mengatur peristatik usus, sedangkan hemiselulosa dan pektin mampu menyerap banyak air dalam usus besar sehingga memberi bentuk pada sisa makanan yang akan dikeluarkan.

    Unsur lain yang tidak boleh dilupakan dari kurma adalah fosfor (mineral terbanyak kedua dalam tubuh setelah kalsium) yang merupakan unsur pokok asam nukleat dan membran sel; menjadi faktor esensial pada seluruh reaksi pembentukan energi dalam sel; juga sebagai komponen berbentuk kristal dari tulang rangka.

    Kolak Menu Favorit Makanan Manis

    Salah satu menu favorit keluarga saat puasa di bulan Ramadhan adalah kolak. Adapun bahan menu kolak yang sering digunakan adalah pisang, labu, kolang-kaling, dan lainnya.

    Buah Pisang

    Tanaman golongan famili Musaceae yang bernama latin Musa paradisiaca ini sebagai pembuka dan kerap kali ‘direnangkan’ dalam kolak. Tanaman pisang ini memiliki banyak varietas. Nilai kalori pisang adalah antara 68-146 kalori/100 gr dengan b.d.d. 70-85 %. Seratnya terdiri dari selulosa, pektin, dan hemiselulosa yang dapat diandalkan untuk menurunkan kolesterol darah, melindungi jantung, serta dijadikan wahana pertumbuhan bakteri baik dalam saluran pencernaan.

    Sementara itu, kandungan mineral dari pisang yang menonjol adalah kalium. Sebuah pisang kira-kira memiliki 440 mg. Kalium berfungsi antara lain untuk menjaga keseimbangan air dalam tubuh, kesehatan jantung, menurunkan tekanan darah, dan membantu pengiriman oksigen ke dalam otak. Kelebihan lainnya, seperti diungkap Yin-Fang dan Cheng-Jun dalam Fruits as Medicine, adalah menghindarkan konstipasi, tenggorokan kering dan susah menelan, hemoroid hingga tak jarang terjadi perdarahan, hipertensi, paru-paru rasa terbakar disertai sesak napas dan batuk-batuk, nyeri bengkak, seperti bisul, sakit pada waktu bangun pagi, setelah mabuk berat.

    Buah Labu

    Berbagai jenis makanan dari labu sesungguhnya tidak asing bagi masyarakat di berbagai daerah. Di Sumatera Barat yang terkenal kerativitasnya dalam memasak, labu telah dibuat menjadi berbagai jenis makanan yang menarik. Tekstur buah labu biasanya padat, renyah dan berasa manis, serta banyak mengandung air.

    Di sejumlah daerah tanaman yang memiliki nama latin Cucurbita moschata ini termasuk suku Cucurbiaceae, dikenal dengan nama yang berbeda-beda. Di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, buah ini dikenal dengan nama waluh atau labu-merah. Di Madura disebut labuh, sedangkan di Malaysia disebut dengan labu-metah. Ada pula yang menyebutnya labu-parang.

    Buah labu ini, jika dimasak untuk kolak, sebaiknya bijinya disertakan. Menurut hasil penelitian, biji labu (yang merah atau kuning) banyak mengandung zat yang berguna bagi kesehatan. Dalam biji labu yang bewarna merah, ditemukan sejumlah asam amino langka, seperti m-karboksifenilalanina, pirazoalanina, asam aminobutirat, etilasparagina, dan strulina. Biji labu merah juga mengandung mineral Zn (seng) dan Mg (magnesium), yang sangat penting untuk kesehatan organ reproduksi, termasuk kelenjar prostat. Ada juga kandungan lemak utama, seperti asam linoleat, asam oleat dan sedikit asam linolenat. Juga vitamin E (tokoferol) dan karotenoid, yaitu lutein dan beta-karoten.

    Labu juga mengandung sejumlah asam amino penting yang diperlukan kelenjar prostat, yaitu alanina, glisina dan asam glutamat. Asam amino ini ditemukan baik di labu merah dan labu kuning. Kandungan asam amino ini memiliki khasiat bisa mencegah atau mengatasi hipertrofi atau pembesaran prostat jinak (begin prostatic hyperplasia) pada kaum pria.

    Biji Kolang Kaling

    Kebanyakan orang suka salah menduga, yaitu menyangka kalau kolang kaling ini buah. Padahal, sebetulnya biji. Buahnya sendiri berwarna hijau saat muda dan agak kekuningan ketika tua. Pohonnya dikenal dengan nama aren (Arenga pinnata). Saat bulan puasa, makanan ini sering hadir bersama pisang dalam kolak.

    Di sini, yang patut diwaspadai adalah kolang kaling ini bukan bahan makanan yang kuat disimpan lama. Kerusakannya ditandai dengan timbulnya bau asam atau keluarnya lendir. Guna memperpanjang masa simpan, penggantian air peredam secara berkala perlu dilakukan. Cara lain yang bisa menjaminnya lebih awet yaitu dibuat manisan.

    Walaupun dari segi gizi, nilai kalori kolang-kaling tidak seberapa, kandungan airnya terbilang berlimpah. Unsur lain yang dimilikinya adalah pati, berfungsi sebagai cadangan energi dan penguat tekstur. Melalui proses pemanasan, baik pembakaran maupun perebusan (biasa dilakukan saat proses pengambilan), pati akan mengental dan membentuk gel, dinamakan pregelatinized starch. Pati seperti ini sangat sulit dicerna dan bisa menyebabkan cepat kenyang. Akhirnya, selamat menyantap makanan manis saat berbuka puasa. Semoga makanan manis yang kita makan mendapat berkah dari-Nya, memulihkan stamina dan menyehatkan tubuh kita. Amin.

    ***

    Oleh: Siswono

    Penulis adalah sanitarian dan tergabung di Himpunan ahli kesehatan lingkungan

    Sumber: suarapembaruan.com

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 12 July 2012 Permalink | Balas  

    Keadilan Rasulullah 

    Keadilan Rasulullah

    Tatkala Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam merasa ajalnya sudah dekat, beliau mengumpulkan para sahabat. Kemudian, beliau menyampaikan pidatonya:

    ”Sahabat-sahabatku sekalian! Ajalku mungkin sudah dekat, dan aku ingin menghadap Allah dalam keadaan suci bersih. Mungkin selama bergaul dengan Anda sekalian, ada yang pernah aku pinjam uangnya atau barangnya dan belum aku kembalikan atau belum aku bayar, sekarang ini juga aku minta ditagih. Mungkin ada di antara kalian yang pernah aku sakiti, sekarang ini juga aku minta dihukum qishos (hukuman balasan). Mungkin ada yang pernah aku singgung perasaannya, sekarang ini juga aku minta maaf.”

    Para sahabat hening, karena merasa tidak mungkin hal itu akan terjadi. Tapi, tiba-tiba seorang sahabat mengangkat tangan dan melaporkan satu peristiwa yang pernah menimpa dirinya.

    ”Ya Rasulullah! Saya pernah terkena tongkat komando Rasulullah saw pada saat Perang Badar. Ketika Rasulullah saw mengayunkan tongkat komandonya, kudaku menerjang ke depan dan aku terkena tongkat Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Aku merasa sakit sekali, apakah hal ini ada qishos-nya!” Nabi Muhammad saw menjawab, ”Ya, ini ada qishos-nya jika kamu merasa sakit.” Rasul pun menyuruh Ali bin Abi Tholib mengambil tongkat komandonya yang disimpan di rumah Fatimah. Setelah Ali bin Abi Thalib tiba kembali membawa tongkat komando, Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam menyerahkan kepada sahabatnya untuk melaksanakan qishos.

    Seluruh sahabat yang hadir di majelis itu hening, apa kira-kira yang akan terjadi jika Rasulullah dipukul dengan tongkat itu. Di tengah keheningan itu, Ali bin Abi Tholib tampil ke depan: ”Ya Rasulullah! Biar kami saja yang dipukul oleh orang ini. Abu Bakar dan Umar bin Khattab juga ikut maju. Tetapi, Rasulullah memerintahkan, Ali, Abu Bakar, dan Umar agar mundur, sambil berkata, ”Saya yang berbuat, saya yang dihukum, demi keadilan”.

    Situasi tambah hening. Tetapi, di tengah-tengah keheningan itu tiba-tiba sahabat yang siap jadi algojo itu berkata,: ”Tapi di saat saya terkena tongkat komando, saya tidak pakai baju.” Mendengar itu langsung Rasulullah membuka bajunya di depan para sahabat.

    Kulit Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam tampak bercahaya, tetapi ciri ketuaan sudah terlihat jelas. Menyaksikan hal ini para sahabat tambah khawatir, Ali bin Abi Tholib tampil lagi ke depan memohon kepada Rasul agar dia saja yang di-qishos. Tapi, Rasulullah saw langsung memerintahkan agar Ali mundur, karena hukuman itu harus dijalankan sendiri demi keadilan.

    Tiba-tiba sahabat ini menjatuhkan tongkatnya langsung merangkul dan mencium Rasulullah saw dan berkata: Ya Rasulullah! Saya tidak bermaksud melaksanakan qishos, saya hanya ingin melihat kulit Rasulullah saw menyentuh dan menciumnya. Sahabat-sahabat yang lain tersentak, gembira. Rasulullah langsung berkata, ”Siapa yang ingin melihat ahli surga, lihatlah orang ini.”

    Kisah itu menunjukkan betapa Rasulullah sangat menjunjung nilai keadilan. Beliau, sebagai kepala negara sekaligus Nabi, sangat ikhlas menerima hukuman qishos dari rakyatnya sendiri”.

    Wassalaamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Nugraha 5:13 pm on 15 Juli 2012 Permalink

      Sungguh mulia akhlak-Mu yg rosulullah..

    • ciink an suroso 7:58 am on 8 Agustus 2012 Permalink

      maha benar Allah dengan segala firmannya.

      hukum aku sesuai dg kesalahan yg aku perbuat.

      Allah Maha Besar..

    • hendrik 10:01 am on 11 Oktober 2012 Permalink

      mohon petunjuk hadist dan Quran mana cerita tersebut….?

  • erva kurniawan 1:26 am on 11 July 2012 Permalink | Balas  

    Panduan I’tikaf Ramadhan 

    Panduan I’tikaf Ramadhan

    Diantara rangkaian ibadah-ibadah dalam bulan suci Ramadhan yang dangat dipelihara sekaligus diperintahkan (dianjurkan ) oleh Rasulullah SAW adalah i’tikaf. setiap muslim dianjurkan (disunnatkan) untuk beri’tikaf di masjid, terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. I’tikaf merupakan sarana meditasi dan kontemplasi yang sangat efektif bagi muslim dalam memelihara keislamannya khususnya dalam era globalisasi, materialisasi dan informasi kontemporer.

    Definisi I’tikaf

    Para ulama mendefinisikan i’tikaf yaitu berdiam atau tinggal di masjid dengan adab-adab tertentu, pada masa tertentu dengan niat ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT . Ibnu Hazm berkata: I’tikaf adalah berdiam di masjid dengan niat taqorrub kepada Allah SWT pada waktu tertentu pada siang atau malam hari. (al Muhalla V/179)

    Hukum I’tikaf

    Para ulama telah berijma’ bahwa i’tikaf khususnya 10 hari terakhir bulan Ramadhan merupakan suatu ibadah yang disyariatkan dan disunnatkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sendiri senantiasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari. A’isyah, Ibnu Umar dan Anas ra meriwayatkan: “Adalah Rasulullah SAW beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan ” HR. Bukhori & Muslim) Hal ini dilakukan oleh beliau hingga wafat, kecuali pada tahun wafatnya beliau beri’tikaf selama 20 hari. Demikian halnya para shahabat dan istri beliau senantiasa melaksanakan ibadah yang amat agung ini. Imam Ahmad berkata: ” Sepengetahuan saya tak seorang pun ulama mengatakan i’tikaf bukan sunnat”.

    Fadhilah (keutamaan) I’tikaf

    Abu Daud pernah bertanya kepada Imam Ahmad: Tahukan anda hadits yang menunjukkan keutamaan I’tikaf? Ahmad menjawab : tidak kecuali hadits lemah. Namun demikian tidaklah mengurangi nilai ibadah I’tikaf itu sendiri sebagai taqorrub kepada Allah SWT. Dan cukuplah keuatamaanya bahwa Rasulullah SAW, para shahabat, para istri Rasulullah SAW dan para ulama’ salafus sholeh senantiasa melakukan ibadah ini.

    Macam-macam I’tikaf

    I’tikaf yang disyariatkan ada dua macam; satu sunnah, dan dua wajib. I’tikaf sunnah yaitu yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk bertaqorrub kepada Allah SWT seperti i’tikaf 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dan I’tikaf yang wajib yaitu yang didahului dengan nadzar (janji), seperti : “Kalau Allah SWT menyembuhkan sakitku ini, maka aku akan beri’tikaf.

    Waktu I’tikaf

    Untuk i’tikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinadzarkan, sedangkan i’tikaf sunnah tidak ada batasan waktu tertentu. Kapan saja pada malam atau siang hari, waktunya bisa lama dan juga bisa singkat. Ya’la bin Umayyah berkata: “Sesungguhnya aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk i’tikaf”.

    Syarat-syarat I’tikaf

    Orang yang i’tikaf harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut :

    1. Muslim
    2. Berakal
    3. Suci dari janabah ( junub), haidh dan nifas.

    Oleh karena itu i’tikaf tidak diperbolehkan bagi orang kafir, anak yang belum mumaiyiz (mampu membedakan), orang junub, wanita haidh dan nifas.

    Rukun-rukun I’tikaf

    1. Niat (QS. Al Bayyinah : 5), (HR: Bukhori & Muslim tentang niat)
    2. Berdiam di masjid (QS. Al Baqoroh : 187)

    Disini ada dua pendapat ulama tentang masjid tempat i’tikaf . Sebagian ulama membolehkan i’tikaf disetiap masjid yang dipakai shalat berjama’ah lima waktu. Hal itu dalam rangka menghindari seringnya keluar masjid dan untuk menjaga pelaksanaan shalat jama’ah setiap waktu. Ulama lain mensyaratkan agar i’tikaf itu dilaksanakan di masjid yang dipakai buat shalat jum’at, sehingga orang yang i’tikaf tidak perlu meninggalkan tempat i’tikafnya menuju masjid lain untuk shalat jum’at. Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafi’iyah bahwa yang afdhol yaitu i’tikaf di masjid jami’, karena Rasulullah SAW i’tikaf di masjid jami’. Lebih afdhol di tiga masjid; masjid al-Haram, masjij Nabawi, dan masjid Aqsho.

    Awal dan akhir I’tikaf

    Khusus i’tikaf Ramadhan waktunya dimulai sebelum terbenam matahari malam ke 21. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : ” Barangsiapa yang ingin i’tikaf dengan ku, hendaklah ia beri’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan (HR. Bukhori). 10 (sepuluh) disini adalah jumlah malam, sedangkan malam pertama dari sepuluh itu adalah malam ke 21 atau 20. Adapun waktu keluarnya atau berakhirnya, kalau i’tikaf dilakukan 10 malam terakhir, yaitu setelah terbenam matahari, hari terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi beberapa kalangan ulama mengatakan yang lebih mustahab (disenangi) adalah menuggu sampai shalat ied.

    Hal-hal yang disunnahkan waktu i’tikaf

    Disunnahkan agar orang yang i’tikaf memperbanyak ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT, seperti shalat, membaca al-Qur’an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat kepada Nabi SAW, do’a dan sebagainya. Termasuk juga didalamnya pengajian, ceramah, ta’lim, diskusi ilmiah, tela’ah buku tafsir, hadits, siroh dan sebagainya. Namun demikian yang menjadi prioritas utama adalah ibadah-ibadah mahdhah. Bahkan sebagian ulama meninggalkan segala aktifitas ilmiah lainnya dan berkonsentrasi penuh pada ibadah-ibadah mahdhah.

    Hal-hal yang diperbolehkan bagi mu’takif (orang yang beri’tikaf)

    1. Keluar dari tempat i’tikaf untuk mengantar istri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW terhadap istrinya Shofiyah ra. (HR. Riwayat Bukhori Muslim)
    2. Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan bau badan.
    3. Keluar dari tempat keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan kecil, makan, minum (jika tidak ada yang mengantarkannya), dan segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di masjid. Tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluanya .
    4. Makan, minum, dan tidur di masjid dengan senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.

    Hal-hal yang membatalkan I’tikaf

    1. Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan, meski sebentar, karena meninggalkan salah satu rukun i’tikaf yaitu berdiam di masjid.
    2. Murtad (keluar dari agama Islam)
    3. Hilangnya akal, karena gila atau mabuk
    4. Haidh & Nifas
    5. Berjima’ (bersetubuh dengan istri) (QS. 2: 187). Akan tetapi memegang tanpa syahwat, tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan istri- istrinya.
    6. Pergi shalat jum’at ( bagi mereka yang membolehkan i’tikaf di mushalla yang tidak dipakai shalat jum’at)

    Wallahu’alam.

    ***

    Sumber : The Indonesian Muslim Student Association of North America

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 10 July 2012 Permalink | Balas  

    Bagaimana Hukum Air Laut itu 

    Bagaimana Hukum Air Laut itu

    Air Laut itu hukumnya suci dan halal bangkainya, sebagaimana sabda Rasulullah sholallhu ‘alahi wasallam:

    Dari Abu Hurairah radhiAllahu ‘anhu, ia berkata : “Rasulullah sholallahu ‘alahi wasallam ditanya oleh seorang lali-laki, ia bertanya : Ya Rasulullah, sesungguhnya kami berlayar di laut, dan kami membawa sedikit air (tawar) jika kami berwudhu dengan air itu, kami akan kehausan, apakah kami boleh berwudhu dengan air laut? Kemudian Rasulullah menjawab: “Laut it suci airnya, halal bangkainya”. {Riwayat Imam yang Lima, dan berkata At Tirmidzi Hadist ini Hasan Shahih}. [Naiul Authar : Hadist No. 1]

    Hadist ini menerangkan bahwa Air laut itu suci airnya dan juga bangkainya halal. Sebagai catatan tentu saja bangkai yang dimaksud adalah bangkai yang masih segar bukan bangkai yang sudah membusuk, karena dalam syari’at ini selain kita diperintah untuk memakan yang halal tapi harus disertai dengan kadar makanan yang baik, sebagaimana Firman Allah Ta’ala:

    Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 9 July 2012 Permalink | Balas  

    Sabar 

    Sabar    

    Dari Suhaib r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)

    Sekilas Tentang Hadits :

    Hadits ini merupakan hadits shahih dengan sanad sebagaimana di atas, melalui jalur Tsabit dari Abdurrahman bin Abi Laila, dari Suhaib dari Rasulullah SAW, diriwayatkan oleh:

    • Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Zuhud wa Al-Raqa’iq, Bab Al- Mu’min Amruhu Kulluhu Khair, hadits no 2999.
    • Imam Ahmad bin Hambal dalam empat tempat dalam Musnadnya, yaitu hadits no 18455, 18360, 23406 & 23412.
    • Diriwayatkan juga oleh Imam al-Darimi, dalam Sunannya, Kitab Al- Riqaq, Bab Al-Mu’min Yu’jaru Fi Kulli Syai’, hadits no 2777.

    Makna Hadits Secara Umum

    Setiap mukmin digambarkan oleh Rasulullah saw. sebagai orang yang memiliki pesona, yang digambarkan dengan istilah `ajaban’. Pesona berpangkal dari adanya positif thinking seorang mukmin. Ketika mendapatkan kebaikan, ia refleksikan dalam bentuk syukur terhadap Allah swt. Karena ia paham, hal tersebut merupakan anugerah Allah. Dan tidaklah Allah memberikan sesuatu kepadanya melainkan pasti sesuatu tersebut adalah positif baginya. Sebaliknya, jika ia mendapatkan suatu musibah, ia akan bersabar. Karena ia yakin, hal tersebut merupakan pemberian sekaligus cobaan bagi dirinya yang ada rahasia kebaikan di dalamnya. Sehingga refleksinya adalah dengan bersabar dan mengembalikan semuanya kepada Allah swt.

    Urgensi Kesabaran

    Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran setengah keimanan. Sabar memiliki kaitan erat dengan keimanan: seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. Oleh karena itu, Rasulullah saw. menggambarkan ciri dan keutamaan orang beriman sebagaimana hadits di atas.

    Makna Sabar

    Sabar merupakan istilah dari bahasa Arab dan sudah menjadi istilah bahasa Indonesia. Asal katanya adalah “shabara”, yang membentuk infinitif (masdar) menjadi “shabran”. Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Menguatkan makna seperti ini adalah firman Allah dalam Al-Qur’an: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)

    Perintah bersabar pada ayat di atas adalah untuk menahan diri dari keingingan `keluar’ dari komunitas orang-orang yang menyeru Rabnya serta selalu mengharap keridhaan-Nya. Perintah sabar di atas sekaligus juga sebagai pencegahan dari keinginan manusia yang ingin bersama dengan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah swt.

    Sedangkan dari segi istilahnya, sabar adalah menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.

    Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam Al-Khawas, “Sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan Al-Qur’an dan sunnah. Sehingga sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidakmampuan. Rasulullah saw. memerintahkan umatnya untuk sabar ketika berjihad. Padahal jihad adalah memerangi musuh-musuh Allah, yang klimaksnya adalah menggunakan senjata (perang).”

    Sabar Sebagaimana Digambarkan Dalam Al-Qur’an

    Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri, terdapat 103 kali disebut dalam Al-Qur’an, baik berbentuk isim maupun fi’ilnya. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah swt.

    1. Sabar merupakan perintah Allah. “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 153). Ayat-ayat yang serupa Ali Imran: 200, An-Nahl: 127, Al-Anfal: 46, Yunus: 109, Hud: 115.
    2. Larangan isti’jal (tergesa-gesa). “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka…” (Al-Ahqaf: 35)
    3. Pujian Allah bagi orang-orang yang sabar: “…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Baqarah: 177)
    4. Allah akan mencintai orang-orang yang sabar. “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)
    5. Kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar. Artinya Allah senantiasa akan menyertai hamba-hamba-Nya yang sabar. “Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46)
    6. Mendapatkan pahala surga dari Allah. (Ar-Ra’d: 23 – 24)

    Kesabaran Sebagaimana Digambarkan Dalam Hadits

    Sebagaimana dalam Al-Qur’an, dalam hadits banyak sekali sabda Rasulullah yang menggambarkan kesabaran. Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mencantumkan 29 hadits yang bertemakan sabar. Secara garis besar:

    1. Kesabaran merupakan “dhiya’ ” (cahaya yang amat terang). Karena dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah mengungkapkan, “…dan kesabaran merupakan cahaya yang terang…” (HR. Muslim)
    2. Kesabaran merupakan sesuatu yang perlu diusahakan dan dilatih secara optimal. Rasulullah pernah menggambarkan: “…barang siapa yang mensabar-sabarkan diri (berusaha untuk sabar), maka Allah akan menjadikannya seorang yang sabar…” (HR. Bukhari)
    3. Kesabaran merupakan anugerah Allah yang paling baik. Rasulullah mengatakan, “…dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (Muttafaqun Alaih)
    4. Kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang mukmin, sebagaimana hadits yang terdapat pada muqadimah; “Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, karena segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur karena (ia mengatahui) bahwa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah baik baginya.” (HR. Muslim)
    5. Seseorang yang sabar akan mendapatkan pahala surga. Dalam sebuah hadits digambarkan; Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, `Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya, kemudian diabersabar, maka aku gantikan surga baginya’.” (HR. Bukhari)
    6. Sabar merupakan sifat para nabi. Ibnu Mas’ud dalam sebuah riwayat pernah mengatakan: Dari Abdullan bin Mas’ud berkata”Seakan-akan aku memandang Rasulullah saw. menceritakan salah seorang nabi, yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah, kemudia ia mengusap darah dari wajahnya seraya berkata, `Ya Allah ampunilah dosa kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari)
    7. Kesabaran merupakan ciri orang yang kuat. Rasulullah pernah menggambarkan dalam sebuah hadits; Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah.” (HR. Bukhari)
    8. Kesabaran dapat menghapuskan dosa. Rasulullah menggambarkan dalam sebuah haditsnya; Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullan saw. bersabda, “Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, mara bahaya dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut.” (HR. Bukhari & Muslim)
    9. Kesabaran merupakan suatu keharusan, dimana seseorang tidak boleh putus asa hingga ia menginginkan kematian. Sekiranya memang sudah sangat terpaksa hendaklah ia berdoa kepada Allah, agar Allah memberikan hal yang terbaik baginya; apakah kehidupan atau kematian. Rasulullah saw. mengatakan; Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah salah seorang diantara kalian mengangan- angankan datangnya kematian karena musibah yang menimpanya. Dan sekiranya ia memang harus mengharapkannya, hendaklah ia berdoa, `Ya Allah, teruskanlah hidupku ini sekiranya hidup itu lebih baik untukku. Dan wafatkanlah aku, sekiranya itu lebih baik bagiku.” (HR. Bukhari Muslim)

    Bentuk-Bentuk Kesabaran

    Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga:

    1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah. Merealisasikan ketaatan kepada Allah, membutuhkan kesabaran, karena secara tabiatnya, jiwa manusia enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Ditinjau dari penyebabnya, terdapat tiga hal yang menyebabkan insan sulit untuk sabar. Pertama karena malas, seperti dalam melakukan ibadah shalat. Kedua karena bakhil (kikir), seperti menunaikan zakat dan infaq. Ketiga karena keduanya, (malas dan kikir), seperti haji dan jihad.
    2. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Meninggalkan kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti ghibah (baca; ngerumpi), dusta, dan memandang sesuatu yang haram.
    3. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah, seperti mendapatkan musibah, baik yang bersifat materi ataupun inmateri; misalnya kehilangan harta dan kehilangan orang yang dicintai.

    Kiat-kiat Untuk Meningkatkan Kesabaran

    Ketidaksabaran (baca; isti’jal) merupakan salah satu penyakit hati, yang harus diterapi sejak dini. Karena hal ini memilki dampak negatif pada amal. Seperti hasil yang tidak maksimal, terjerumus kedalam kemaksiatan, enggan melaksanakan ibadah. Oleh karena itulah, diperlukan beberapa kiat guna meningkatkan kesabaran. Di antaranya:

    1. Mengikhlaskan niat kepada Allah swt.
    2. Memperbanyak tilawah (membaca) Al-Qur’an, baik pada pagi, siang, sore ataupun malam hari. Akan lebih optimal lagi manakala bacaan tersebut disertai perenungan dan pentadaburan.
    3. Memperbanyak puasa sunnah. Puasa merupakan ibadah yang memang secara khusus dapat melatih kesabaran.
    4. Mujahadatun nafs, yaitu sebuah usaha yang dilakukan insan untuk berusaha secara giat untuk mengalahkan nafsu yang cenderung suka pada hal-hal negatif, seperti malas, marah, dan kikir.
    5. Mengingat-ingat kembali tujuan hidup di dunia. Karena hal ini akan memacu insan untuk beramal secara sempurna.
    6. Perlu mengadakan latihan-latihan sabar secara pribadi. Seperti ketika sedang sendiri dalam rumah, hendaklah dilatih untuk beramal ibadah dari pada menyaksikan televisi, misalnya. Kemudian melatih diri untuk menyisihkan sebagian rezeki untuk infaq fi sabilillah.
    7. Membaca-baca kisah-kisah kesabaran para sahabat, tabi’in maupun tokoh-tokoh Islam lainnya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 8 July 2012 Permalink | Balas  

    Mengutuk Orang Muslim 

    Mengutuk Orang Muslim

    Yang dimaksudkan dengan mengutuk ialah mendoakan orang lain agar mendapat kecelakaan. Mengutuk adalah satu perbuatan yang terlarang kita lakukan sesama muslim. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah SAW. di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud:

    ” Mencaci orang Islam itu termasuk fasik dan membunuhnya termasuk kafir.”

    Rasulullah SAW. bersabda: “Mengutuk seorang mukmin itu seperti membunuhnya.” [HR Jamaah selain Ibnu Majah, hadis riwayat Tsabit bin Adl-Dlahak]

    Nabi SAW. bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba bila melaknat seseorang niscaya laknat itu akan naik ke langit kemudian menutup pintu pintu langit di bawahnya, lalu turun ke bumi menutup pintu pintu yang lain, kemudian mengambil tangan kanan di tangan kirinya, apabila tidak memenuhi sasarannya, ia kembali kepada orang yang dilaknat dan jika tidak bisa ia akan kembali kepada orang yang melaknatnya.” [HR Abu Daud]

    Rasulullah SAW. bersabda ” Tidaklah para pelaknat itu dapat jadi penolong dan saksi di hari kiamat.” [HR Muslim dan Abu Daud]

    Rasulullah SAW. bersabda: “Tidak pantas seorang teman baik, mengutuk temannya” [HR Muslim dari Abu Hurairah]

    Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah SAW. bersabda:

    “Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencerca, bukan yang suka menjuluki, bukan yang suka berbuat keji, dan bukan juga orang yang suka membicarakan yang keji”.

    Dari hadis hadis tersebut di atas telah diterangkan bahwa mengutuk orang mukmin itu termasuk perbuatan yang berdosa, karena kutukan dan laknat itu menjadi hak dan wewenang ALLAH SWT saja, dalam menghukum setiap hambanya. Sehingga kita dilarang mengutuk karena kegunaan kutukan itu mengharapkan supaya ALLAH SWT. mencabut semua nikmat yang telah diberikan kepada hamba tersebut baik nikmat lahir maupun nikmat batin, supaya dia (orang yang dilaknat) tidak memperoleh nikmat dan anugerahNya. Oleh karena itu Rasulullah SAW. melarang perbuatan itu, bahkan menganjurkan sebaliknya yaitu supaya saling mendoakan sesama muslim agar mendapat nikmat dan kurnia dari ALLAH SWT.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 7 July 2012 Permalink | Balas  

    Mengapa Doa tak terkabul 

    Mengapa Doa tak terkabul

    KETIKA Ibrahim bin Adham, seorang ulama tasawuf yang terkemuka, sedang berjalan disebuah pasar di kota Basrah, sekumpulan manusia menghampirinya lalu bertanya kepadanya:

    “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (Al-Mukmin:6)

    “Kami telah menyeru-Nya berkali-kali tetapi Allah masih tidak menjawab dan memperkenankan seruan kami itu.”

    Maka Ibrahim bin Adham pun berkata:

    “Wahai kaum Basrah! Sesungguhnya hati kamu itu telah mati dalam beberapa perkara.

    “Kamu telah mengenal Allah, tetapi kamu tidak menunaikan hak-Nya. “Kamu telah membaca Kitab Allah, tetapi kamu tidak beramal dengannya.

    “Kamu mendakwa bahwa kamu cintakan Rasulullah saw tetapi kamu tinggalkan sunnahnya.

    “Kamu telah katakan bahwa maut itu adalah benar tetapi kamu tidak bersedia menghadapinya.

    “Kamu telah katakan bahwa kamu takutkan api neraka tetapi kamu telah meridhoi diri kamu padanya.

    “Kamu telah katakan bahwa kamu kasihkan syurga tetapi kamu tidak beramal semata-mata untuknya. “Kamu sibuk dengan keaiban saudara-saudara kamu tetapi kamu lupa menutup keaiban kamu. “Kamu telah merasai nikmat Tuhan kamu tetapi kamu tidak bersyukur pada-Nya.

    “Kamu telah mengebumikan mayat-mayat saudara kamu yang telah meninggal dunia tetapi kamu tidak mengambil contoh dan pelajaran atas kematian mereka. “Bagaimanakah Allah swt hendak memperkenankan seruan kamu itu?”

    Jika kita meneliti apa yang telah dikatakan oleh Ibrahim bin Adham itu, Maka kita dapati bahwa nasihatnya itu sesuai dengan firman Allah yang artinya : Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. (Surah Al-Baqarah: 186)

    Kita perlu mawas diri bahwa seseorang Muslim itu tidak harus Selalu bertumpu kepada ayat pendek ini, malah hendaklah dia meneruskan pemahamannya pada ayat ini: Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Surah Al-Baqarah: 186)

    Justeru itu, hendaklah kita menyahut segala perintah Allah dan meninggalkan segala laranganNya. Di sini juga kita dapat mengambil pelajaran, diantaranya:

    Umumnya susunan kata pada orang yang berdoa mengesankan bahwa Seseorang hamba ingin sekali dan tidak sabar agar doanya terkabul secepat mungkin, namun apabila mereka dapati doa mereka itu sudah terkabul, maka mereka terus meninggalkan doa itu sama sekali.

    Sikap ini diibaratkan oleh Ibnu Qayyim seperti seorang insan menanam sesuatu benih. Mereka menjaga dan mengairinya setiap saat. Apabila mereka dapati usaha itu lewat dan mendatangkan hasil, maka ia terus ditinggalkannya. Rasulullah saw pernah bersabda yang artinya :

    Diperkenankan (doa) salah seorang daripada kamu, jika dia tidak berniat mengharapkan hasilnya dengan segera. Baginda menambah lagi …aku pernah menyeru (Tuhanku), tapi tidak diperkenankan bagiku.

    Baginda bersabda lagi yang bermakna : Jangan sekali-kali kamu lemah dalam berdoa. Tidak mendatangkan kebinasaan jika seseorang itu menyertai dirinya dengan berdoa.

    Allah berfirman pula dalam Kitab Suci-Nya yang artinya : Jadilah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Surah Al-Baqarah: 45).

     
    • Andri wisnu 11:19 am on 10 Juli 2012 Permalink

      saya menyukai blog anda, rekomendasi dari istri untuk mengunjungi blog ini, isi postingannya membuat pencerahan bagi saya, thank nice info

  • erva kurniawan 1:08 am on 6 July 2012 Permalink | Balas  

    Neraka oh Neraka 

    Neraka oh Neraka

    Kehebatan apinya

    Abu Hurairah meriwayatkan:

    “Ketika Rasulullah berkata: Api dunia kamu adalah satu dari 70 bagian api neraka;”lalu seseorang bertanya;”Ya Rasulullah, adakah ia tidak akan mencukupi untuk membakar orang kafir? Maka Rasulullah menjawab “Api neraka mempunyai 69 bagian lebih dari api biasa di dunia,dan kesemuanya adalah sangat panas sebagaimana api dunia. (Riwayat Bukhari)

    Kesan neraka pada dunia saat ini

    Kesan-kesan kehebatan neraka dapat dirasakan di dunia ini berdasarkan hadis Rasulullah:

    Diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

    Rasulullah bersabda: Api neraka mengadu kepada Allah dengan berkata;”Hai Tuhanku, bagian-bagian padaku memakan di antara satu sama lain. “Lalu Allah membenarkannya mengambil dua pernafasan yaitu pada musim sejuk dan pada musim panas. Inilah sebabnya mengapa kamu terasa terlalu panas dan terlalu sejuk,” Riwayat Bukhori

    Makanan penduduk neraka

    Penduduk neraka tetap diberi makanan walaupun makanan ini tidak menyuburkan badan mereka.

    Firman Allah:

    “Mereka tidak memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri,yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” Al Ghasiyah 6-7

    Minuman ahli neraka

    1. Hamim (air yang mendidih)

    Firman Allah:

    “Inilah neraka Jahannam yang didustakan oleh orang-orang yang berdosa. Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air yang mendidih yang memuncak panasnya.”

    2. Ghassaq (nanah dan darah)

    Firman Allah:

    “Maka tiada seorang teman pun baginya pada hari ini di sini.Dan tiada makanan sedikit pun kecuali dari darah dan nanah.Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.” Al Haqqah 35-37

    3. Sadid (air danur (nanah) yang keluar dari tubuh ahli neraka)

    Firman Allah:”Dihadapan mereka ada neraka Jahannam,dan ia diberi minum dari air danur(nanah yang keluar dari tubuh ahli neraka.” Ibrahim 16

    4. Air seperti Tembaga cair

    Firman Allah:

    “Dan jika mereka meminta minum,niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti tembaga yang mendidih yang menghanguskan muka mereka.Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling hina.” Al Kahfi 29.

    Pakaian ahli neraka

    1. Pakaian dari api

    Firman Allah: “Inilah dua golongan(mukmin dan kafir) yang bertengkar,mereka saling bertengkar mengenai tuhan mereka.Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian dari api neraka.Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka.” Al Hajj 19

    2. Pakaian dari minyak tar

    Firman Allah: “Pakaian mereka adalah dari minyak tar dan muka mereka diliputi oleh jilatan api neraka.” Ibrahim 50.

    Bahan bakar api neraka

    Bahan bakar neraka adalah terdiri dari manusia dan jin yang kafir dan ingkar kepada Allah,batu-batu termasuk patung berhala.

    Firman Allah; “Hai orang yang beriman.Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;penjaganya malaikat yang kasar,yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya dan mengerjakan apa yang diperintahkanNya.” (At Tahrim 6)

    Penduduk neraka

    Imran bin Husin meriwayatkan bahawa Rasulullah bersabda:

    “Aku melihat ke dalam syurga dan mendapati kebanyakan penduduknya adalah orang miskin,dan aku melihat ke dalam neraka,aku mendapati kebanyakan penduduknya adalah wanita,” Riwayat Bukhori.

    Nama-nama neraka

    Neraka mempunyai beberapa nama sebagaimana telah disebutkan di dalam Al Quran, iaitu:

    1. Jahannam –

    Firman Allah yang artinya “Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai.” An- Naba:21

    2. Latho

    Firman Allah yang bermaksud “Sekali-kali tidak dapat sesungguhnya neraka (Latho) itu adalah api yang bergolak, yang mengelupaskan kulit kepala” – Al- Ma’arij; 15-16.

    3. Al-Hutamah

    “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Hutamah. Dan tahukah kamu apa Hutamah itu? Iaitu api yang disediakan Allah yang dinyalakan, yang naik sampai ke hati.” Al – Humazah 4-7

    4. Sa’ir

    Yang disebutkan dalam surah Asy-Syura:7 yang artinya: ..Sesungguhnya masuk ke syurga dan segolongan masuk ke neraka sa’ir.’

    5. Saqar

    Firman Allah yang artinya “Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Saqar. Tahukah kamu apakah neraka Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia.”

    6. Al- Jahim

    “Dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat.” Asy-Syura :91

    7. Al- Hawiyah

     “Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. …. yaitu api yang sangat panas.” Al- Qari’ah;8-11.

    Penjaga neraka

    Al Quran menyebutkan bahwa jumlah penjaga neraka itu sembilan belas seperti yang difirmankan oleh Allah dalam surah Al- Muddaththir ayat 30-31. Salah satu dari sembilan belas itu adalah Malik, penjaga pintu neraka. Allah telah menyebutkan namanya dalam Al-Qur’an yang artinya “Mereka berseru, Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja. Dia menjawab; Kamu akan tetap tinggal di neraka ini.”

    Inikah rumah masa depan kita ?

    NAUDZUBILLAHI MIN DZALIK

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 5 July 2012 Permalink | Balas  

    Takabbur 

    Takabbur

    Sombong atau takabur (takabbur) adalah sifat hati yang terkeji (madzmumi) dan merupakan satu daripada penyakit hati yang membawa akibat kebinasaan diri. Pengertian tentang takabur dapat difahami dari maksud beberapa hadist yang berikut :

    Rasulullah bersabda, “Dianggap sebagai takabur itu ialah menolak apa yang benar dan mengaggap hina kepada orang lain”. (HR. Muslim).

    Bersabda Rasulullah saw kepada sahabatnya, Abu Dzar : “Takabur itu meninggalkan kebenaran dan engkau mengambil selain kebenaran. Engkau melihat orang lain dengan pandangan bahwa kehormatannya tidak sama dengan kehormatanmu, darahnya tidak sama dengan darahmu”.

    Rasulullah saw bertanya kepada sekumpulan Sahabat, “Tahukah kamu, orang gila yang sebenar-benarnya?” Para Sahabat menjawab, “Tidak tahu, ya Rasulullah”. Lalu Rasulullah menjelaskan, “Orang gila ialah orang yang berjalan dengan takabur, memandang rendah kepada orang lain, membusungkan dada, mengharapkan syurga sambil membuat maksiat dan kejahatannya membuat orang tidak aman dan kebaikannya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya”.

    Berdasarkan kisah di dalam al-Qur’an, makhluk yang pertama yang diserang dan menjadi mangsa penyakit takabur ialah Iblis (la’natullah). Walaupun diperintah oleh Allah swt, Iblis enggan menghormati Adam a.s (manusia dan nabi Allah yang pertama) karena dia menganggap dirinya lebih mulia daripada Adam. Katanya, “Aku lebih baik daripadanya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan daripada tanah” (QS 7:12). Iblis lalu dilaknat oleh Allah swt karena sifat takaburnya itu. Sekurang-kurangnya dua akibat kecelakaan yang menimpa Iblis karena ketakaburnya :

    Pertama, ia dimasukkan ke dalam golongan kafir. Allah Taala berfirman :

    Ia (Iblis) enggan dan menyombong diri (takabbur) dan ia termasuk golongan yang kafir (QS 2:34).

    Kedua, ia dimasukkan ke dalam golongan orang yang terhina dan tidak layak tinggal di syurga. Allah berfirman :

    Turunlah engkau dari syurga itu karena tidak patut (tidak layak) bagimu menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah. Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang hina. (QS 7:13).

    Sifat takabur itu dapat dikenali dari tutur kata dan tingkah laku bersumber dari lintasan hati yang mengandung rasa tinggi atau besar diri di samping merendah-kan mertabat orang lain atau menolak kebenaran.

    Mengikut Abu Yazid: “Seorang hamba itu selama masih mempunyai sangkaan, bahwa antara makhluk ada orang yg lebih buruk atau lebih jahat amalannya daripada dirinya sendiri, maka orang itu bersifat takabur”.

    Lalu Abu Yazid ditanya, “Kapan seseorang itu dapat disebut sebagai bertawadhuk(rendah hati)?”

    Abu Yazid menjawab, “Ketika ia tidak tahu bagaimana kedudukan serta keadaan dirinya sendiri”.

    Lawan sifat takbur itu ialah tawadhuk (tawadhdhuk atau dhi’ah), yaitu lintasan rasa rendah dan hina diri, termasuk pernyataan lewat perbuatan dan lisan. Dengan menyuburkan sifat dan sikap merendah hati dan pasrah kepada Allah, seseorang akan dapat mencegah penyakit takabur dan juga ujub. Tawaduk itu adalah sifat hati yang terpuji (mahmudi). Sifat ini membawa kemuliaan. Orang yang berkenaan akan mendapat kedudukan (derajat) yang tinggi di sisi Allah.

    Rasulullah saw bersabda, mafhumnya : Allah tidak akan memberi tambahan kepada seorang hamba karena gemar memberi maaf kecuali kemulian, dan tiada seorang pun yang merendahkan diri karena mengharapkan keridhaan Allah kecuali Allah akan memberi tingkat yang tinggi kepadanya (HR. Muslim).

    Takabur dan tawaduk masing-masing ada kalanya bersifat umum dan ada kalanya bersifat khusus. Orang yang merasakan tidak memadai dengan kerendahan atau kesederhanaan hidupnya dikatakan terjatuh ke dalam Takabur Umum. Sebaliknya, orang yang merasakan sudah berada  dengan keperluan hidup sekadar yang ada, walaupun yang rendah atau sederhana mutunya, dia termasuk dalam tawaduk umum. Adapun Takabur Khusus bersifat tertutup, tidak mau menerima, malah tidak bersedia untuk menerima kebenaran dari orang lain.

    Lawannya ialah Tawaduk Khusus yang bersifat terbuka, sentiasa melatih diri untuk menerima kebenaran tanpa mengira ada orang yang membawa kebenran itu hina atau mulia. Untuk mempertahankan tawaduk umum, kita hendaklah sentiasa menginggati pengalaman pahit yang pernah menimpa diri kita sejak mula dilahirkan dan senantiasa menginsafi diri kita sebagai hamba Allah, sekurang-kurangnya sebagaimana yang dikatakan oleh ulama:

    “Asal kamu dari setitik mani (nuthfah) yang anyir. Akhir kamu menjadi bangkai (mayat) yang busuk. Dan, di antara keduanya, sepanjang hayat, kamu menanggung kekotoran (najis) di dalam perut kamu”.

    Untuk mempertahan tawaduk khusus pula kita hendaklah sentiasa mengingati siksaan Allah Taala sebagai pembalasan, sekiranya kita menyeleweng daripada kebenaran dan berpanjangan di dalam kebatilan. Berbeda dengan sifat-sifat hati lain yang hanya mengotori amal ibadah dan memudaratkan perkara “cabang” saja dalam agama, takabur memudaratkan perkara “pokok”, mengotori agama dan akidah. Sekurang-kurangnya takabur mengakibatkan empat mudharat :

    1. terhalang dari mendapat kebenaran dan buta mata hati dalam makrifat terhadap ayat-ayat yang mengandung pengertian tentang hukum dan hikmat Allah. Allah Taala berfirman, mafhumnya:

    Aku akan memalingkan mereka dari ayat-ayat-Ku orang yang menyombongkan dirinya (takabur) di muka bumi tanpa alasan yang benar. (QS 7:146)

    Demikianlah Allah menguncikan hati setiap orang yang takabur lagi sewenang-wenang. (QS 40:35)

    2. dimurkai dan dibenci oleh Allah Taala, sebagaimana firman-Nya yang bermaksud :

    Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang membesarkan dirinya (takbur). (QS 16:23)

    Diriwayatkan : Nabi Musa a.s telah bertanya kepada Allah, “Hai, Tuhanku. Siapakah di antara makhluk-Mu yang paling Engkau murkai?”. Allah Taala berfirman, mafhumnya: Orang takbur hatinya, kasar lidahnya, terkelip-kelip matanya, bakhil tangannya dan jahat perangainya”.

    3. mendapat kehinaan dan siksaan di dunia sebelum di akhirat.

    Bersyair Khatimul-Asham, “Jauhkan dirimu dari mati dalam tiga keadaan, yaitu takabur, loba dan ujub. Sesungguhnya, orang yang takabur itu tidak dikeluarkan oleh Allah Taala dari dunia sehingga dia diperlihatkan dulu penghinaan ke atasnya kepada sekurang-kurangnya keluarganya sendiri. Orang yang loba tidak dikeluarkan dari dunia melainkan setelah merasa sangat memerlukan secuil roti dan seteguk air karena terlalu lapar dan dahaga tetapi tak lalu ditelannya. Dan, orang yang ujub juga tidak dikeluarkan dari dunia melainkan setelah diperlihatkan dirinya bergelimang dengan air kencing dan tahinya sendiri”.

    Gambaran penghinaan di akhirat pula terdapat dalam hadist dari Abu Hurairah r.a. Katanya, Rasulullah bersabda :

    “Orang-orang yang sombong, keras kepala dan takabur, akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti kumpulan semut, dipijak-pijak oleh manusia karena hinanya mereka di sisi Allah Ta’ala”.

    4. disiksa di akhirat dan dimasukkan ke dalam neraka, sebagaimana firman Allah Taala (tersebut dalam Hadis Qudsi), mafhumnya: Kebesaran itu selindang-Ku dan ‘adzmat (keagungan) itu kainku. Sesiapa merebut salah satu daripada yang dua itu, Aku masukkan dia ke neraka Jahannam.

    Rasulullah bersabda : “Tiada akan masuk syurga orang yang ada di dalam hatinya seberat biji sawi daripada sifat takabur” (HR. Muslim).

    Mengikut hadist yang lain, Rasulullah bersabda : “Wahai Abu Dzar, barangsiapa mati dalam keadaan hatinya ada sebesar debu sahaja dari sifat takabur, dia tidak akan tercium bau syurga kecuali bila bertaubat sebelum maut menjemputnya”.

    Biasanya faktor yang menimbulkan rasa takbur di hati seseorang itu ialah sesuatu kelebihan atau keistimewaan yang dimilikinya. Banyak faktornya. diantaranya sebagaimana yang dilantunkan oleh Imam al-Ghazali, yaitu : Ilmu, ibadah / amal, keturunan, kejelitaan atau ketampanan rupa paras, kekayaan harta benda, kekuasaan / kekuatan dan banyak pengikut / kaum keluarga.

    Demikianlah, memang sudah jelas sekali, sebagaimana yang telah berlaku. Iblis menjadi takabur karena faktor keturunannya (asal kejadiannya), Fir’aun karena kekuasaannya dan Qarun karena hartanya. Jadi, sesiapa yang memiliki kelebihan atau keistimewaan dalam hal-hal yang tersebut, hendaklah berhati-hati agar tidak terhanyut di lautan ghaflah atau menjadi lupa daratan sehingga hatinya dihinggapi penyakit takabur.

    Wallahu a’lam.

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 4 July 2012 Permalink | Balas  

    Renungan: Kisah yang Menyentuh 

    Renungan: Kisah yang Menyentuh

    Ada seorang istri memberikan tantangan kepada suaminya untuk hidup tanpa dirinya. Dia minta kepada suaminya untuk tidak ada komunikasi sama sekali di antara mereka selama sehari.

    Si istri berkata kepada suaminya itu, “Bila kamu bisa melewati itu, aku akan mencintaimu selamanya”. Dan sang suami pun setuju. Dia tidak sms/ telpon istrinya seharian.

    Tanpa dia ketahui bahwa istrinya hanya memiliki 24 jam untuk hidup, karena dia terkena kanker.  Keesokan harinya sang suami itu pulang ke rumah. Air matanya pun tiba2 menetes melihat istrinya sudah terbaring dengan surat di tangan yang bertuliskan:

    “Kamu Berhasil Sayang, bisakah kamu lakukan itu setiap hari.??”

    Don’t Ever lost contact with someone you love,  you’ll never know what’s gonna happen the next day, or the day after that.. Even a single “hi” or a “good morning”  Before you know that someone is no longer there….

    ***

    Dari Sahabat di Kaskus

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 3 July 2012 Permalink | Balas  

    dan Diapun tak Pernah Lagi Berani Menatap Wajah Suaminya 

    dan diapun tak pernah Lagi Berani Menatap Wajah Suaminya

    Pernikahan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.

    Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.

    Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran.

    Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.

    Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar selama Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”.

    Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”.Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.

    Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal.Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”.Sang istri pun bad rest di rumah sakit.

    Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”.“Haah, pergi?”. Kata sang istri.“Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri.

    Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.

    Dan subhanallah …Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan.

    Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.Hamper saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula.

    Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.(Diterjemahkan dari kisahk yang dituturkan oleh teman tokoh cerita ini, yang kemudian ia tulis dalam email dan disebarkan kepada kawan-kawannya)

    Sumber : kembanganggrek.com

     
    • Abdullah 5:34 am on 3 Juli 2012 Permalink

      Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

      sangat terharu mendengar ceritanya.
      cerita yg penuh dengan pesan moral dan teguran untuk kita semua..
      :)
      thx sobat, sudah mau berbagi kisah yg patut kita renungi.

    • maulana said 10:43 pm on 6 Juli 2012 Permalink

      subhanallah,,,, inikah laki laki yg sebenarnya, bersabar atas kehendak negatif sang istri pun dalam keadaan yang pahit pun dia terus berabar..
      sungguh nyata bagi ku sekarang bahwa bersabar terhadap sesuatu maka Allah akan berikan inayahnya…

    • tover pjtn 11:53 am on 7 Juli 2012 Permalink

      kehidupan nyata terkadang lebih aneh dari cerita fiksi….
      itulah sosok pemimpin yang di cari…

    • van rame 7:19 pm on 7 Juli 2012 Permalink

      ijin share……… :)

    • epmaster 10:08 am on 21 November 2012 Permalink

      subhanallah..mengharukan sekali..

  • erva kurniawan 1:49 am on 2 July 2012 Permalink | Balas  

    Jangan Sombong atau Jadilah Iblis 

    Jangan Sombong atau Jadilah Iblis

    Cerita tentang kesombongan, tentang takabur, tentang selalu berbangga diri, adalah sebuah kisah yang lebih tua dibanding penciptaan manusia. Ia hadir dan berawalketika manusia masih dalam perencanaan penciptaan. Karenahanya para malaikatmakhluk yang diciptakansebelum manusia, kesombongan sejatinyaberhulu dari malaikat.

    ADALAH Azazil, malaikat yang dikenal penduduk surga karena doanya mudah dikabulkan oleh Allah. Karena selalu dikabulkan oleh Allah, bahkan para malaikat pernah memintanya untuk mendoakan agar mereka tidak tertimpa laknat Allah.

    Tersebutlah suatu ketika saat berkeliling di surga, malaikat Israfil mendapati sebuahtulisan”Seorang hamba Allah yang telah lama mengabdi akan mendapat laknat dengan sebab menolak perintah Allah.”Tulisan yang tertera di salah satu pintu surga itu, tak pelak membuat Israfil menangis. Ia takut, itu adalah dirinya. Beberapa malaikat lain juga menangis dan punya ketakutan yang sama seperti Israfil, setelah mendengar kabar perihal tulisan di pintu surga itu dari Israfil. Mereka lalu sepakat mendatangi Azazil dan meminta didoakan agar tidak tertimpalaknat dari Allah.Setelah mendengar penjelasan dari Israfil dan para malaikat yang lain, Azazil lalu memanjatkan doa. “Ya Allah. Janganlah Engkau murka atas mereka.”

    Di luar doanya yang mustajab, Azazil dikenal juga sebagai Sayidul Malaikat alias penghulu para malaikat danKhazunal Janah (bendaharawan surga). Semua lapis langit dan para penghuninya, menjuluki Azazil dengan sebutan penuh kemuliaan meski berbeda-beda.Pada langit lapis pertama misalnya, iaberjuluk‘Aabid, ahli ibadah yang mengabdi luar biasa kepada Allah pada langit lapis pertama.

    Di langit lapis kedua,julukan pada Azazil adalah Raki Eatau ahli ruku kepada Allah. Saajid atau ahli sujud adalah gelarnya di langit lapis ketiga. Pada langit berikutnya ia dijuluki Khaasyi Ekarena selalumerendah dan takluk kepada Allah. Karena ketaatannya kepada Allah, langit lapis kelima menyebut Azazil sebagai Qaanit. Gelar Mujtahid diberikan kepada Azazil olehlangit keenam, karena ia bersungguh-sungguh ketika beribadah kepada Allah.Pada langit ketujuh, ia dipanggil Zaahid, karena sederhana dalam menggunakan sarana hidup.

    Selama 120 tahun, Azazil, si penghulu para malaikat menyandang semuagelar kehormatan dan kemuliaan, hingga tibalah ketika para malaikat melakukan musyawarah besar atas undangan Allah.Ketika itu, Allah, Zat pemilik kemutlakan dan semua niat, mengutarakan maksud untuk menciptakan pemimpin di bumi. ”Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang khalifah (pemimpin) di muka bumi,” begitulah firman Allah.

    Semua malaikat hampir serentak menjawab mendengar kehendak Allah.”Ya Allah, mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di muka bumi, yang hanya akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau. E Allah menjawab kekhawatiran para malaikat dan meyakinkan bahwa, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

    Allah lalu menciptakan manusia pertama yang diberi nama Adam. Kepada para malaikat, Allah memperagakan kelebihan dan keistimewaan Adam, yang menyebabkanpara malaikat mengakui kelebihan Adamatas mereka. Lalu Allah menyuruh semua malaikat agar bersujud kepada Adam, sebagai wujud kepatuhan danpengakuan atas kebesaran Allah. Seluruh malaikat pun bersujud, kecualiAzazil.

    “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat ‘Sujudlah kamu kepada Adam Emaka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”  (Al Baqarah: 34)

    Bersemi Sejak di Awal Surga

    Sebagai penghulu para malaikat dengan semua gelar dan sebutan kemuliaan, Azazil merasa tak pantas bersujud pada makhluk lain termasuk Adam karena merasa penciptaan dan statusnyayang lebih baik. Allah melihat tingkah dan sikap Azazil, lalu bertanya sembari memberi gelar baru baginya Iblis. “Hai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Kuciptakandengan kedua tanganKu. Apakah kamu menyombongkan diri (takabur) ataukah kamu merasa termasuk orang-orang yang lebih tinggi?”

    Mendengar pernyataan Allah, bukan permintaan ampun yang keluar dari Azazil, sebaliknyaia malahmenantang dan berkata, “Ya Allah, aku (memang) lebih baik dibandingkan Adam. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Adam Engkau ciptakan dari tanah. E Mendengar jawaban Azazil yang sombong, Allah berfirman. “Keluarlah kamu dari surga. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang diusir”.

    Azazil alias Iblis, sejak itu tak lagi berhak menghuni surga. Kesombongan dirinya, yang merasa lebih baik, lebih mulia dan sebagainya dibanding makhluk telah menyebabkannya menjadi penentang Allah yang paling nyata. Padahal Allah sungguh tak menyukai orang-orang yang sombong.

    “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. E

    Bibit kesombongan dari Azazil sejatinya sudah bersemai sejak Israfil danpara malaikat mendatanginya agar mendoakan mereka kepada Allah. Waktu itu, ketika mendengar penjelasan Israfil, Azazil berkata, ”Ya Allah! Hamba-Mu yang manakah yang berani menentang perintah-Mu, sungguh aku ikut mengutuknya E Azazil lupa, dirinya adalah jugahamba Allah dan tak menyadari bahwa kata “hamba Eyang tertera pada tulisan di pintu surga, bisa menimpakepada siapa saja, termasuk dirinya.

    Lalu, demi mendengar ketetapan Allah, Iblis bertambah nekat seraya meminta kepada Allah agar diberi dispensasi. Katanya,”Ya Allah, beri tangguhlah aku sampai mereka ditangguhkan. EAllah bermurah hati, dan Iblis mendapat apa yang dia minta yaitu masa hidup panjang selama manusia masih hidup di permukaan bumi sebagai khalifah.

    Dasar Iblis, Allah yang maha pemurah, masih juga ditawar.Ia lantas bersumpah akan menyesatkan Adam dan anak cucunya, seluruhnya, “Kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.” Maka kata Allah, “Yang benar adalah sumpah-Ku dan hanya kebenaran itulah yang Kukatakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka jahanam dengan jenis dari golongan kamu danorang-orang yang mengikutimu di antara mereka semuanya.”

    Menular pada Manusia

    Korban pertama dari usaha penyesatan yang dilakukan Iblis, tentu saja adalah Adam dan Hawa. Dengan tipu daya dan rayuan memabukkan, Nabi Adam as. dan Siti Hawa lupa pada perintah dan larangan Allah. Keduanya baru sadar setelah murka Allah turun.Terlambat memang, karena itu Adam dan Hawa diusir dari surga dan ditempatkan di bumi.

    Dan sukses Iblis menjadikan Adam dan Hawa sebagai korban pertama penyesatannya, tak bisa dilihat sebagai sebuah kebetulan. Adam dan Hawa, bagaimanapun adalah Bapak dan Ibu seluruh manusia, awal dari semua sperma dan indung telur. Mereka berdua, karena itu menjadi alat ukur keberhasilan atau ketidakberhasilan Iblis menyesatkan manusia. Jika asal usul seluruh manusia saja,berhasil disesatkan apalagi anak cucunya.

    Singkat kata, kesesatan yang di dalamnya juga ada sombong, takabur, selalu merasa paling hebat, lupa bahwa masih ada Allah E juga sangat bisa menular kepada manusia sampai kelak di ujung zaman.

    Di banyak riwayat, banyak kisah tentang kaum atau umat terdahulu yang takabur menentang dan memperolokkanhukum-hukum Allah, sehingga ditimpakan kepada mereka azab yang mengerikan. Kaum Aad, Samud, umat Nuh,kaum Luth, dan Bani Israil adalah sedikit contoh dari bangsa-bangsa yang takabur dan sombonglalu merekadinistakan oleh Allah, senista-nistanya.Karena sifat takabur pula, sosok-sosok sepertiFir’aun si Raja Mesir kuno, Qarun, Hamaan dan Abu Jahal juga mendapatkan azab yang sangat pedih di dunia dan pasti kelak di akhirat.

    Pada zaman sekarang, manusia sombong yang selalu menentang Allah bukanberkurang, sebaliknya malah bertambah. Ada yang sibuk mengumpulkan harta dan lalu menonjolkan diri dengan kekayaannya. Yang lain rajin mencari ilmu, namun kemudian takabur dan merasa paling pintar. Sebagian berbangga dengan asal usul keturunan; turunan ningrat, anak kiai, dan sebagainya. Ada juga yang merasa diri paling cantik, paling putih, paling mulus dibanding manusia lain.

    Mereka yang beribadah, shalat siang malam, puasa, zakat dan berhaji merasa paling saleh dan sebagainya. Ada yang meninggalkan perintah-perintah Tuhan hanya karena mempertahankan dan bangga denganbudaya warisan nenek moyang, dan seolah-olah segala sesuatu di luar budaya itu tak bernilai. Tak sedikit jugayang mengesampingkan larangan-larangan Allah hanya karena menguber era laju zaman modern yang selaludibanggakan.

    Sebagai manusia, orang-orang semacam itu tak bermanfaat sama sekali. Mata jamiah mereka memang melihat, tapi mata hatinya sudah buta melihat kebenaran dan kebesaran Allah.Allah telah dijadikan nomor dua, sementara yang nomor satu adalah diri dan makluk lain di sekitar dirinya. Hati mereka menjadi gelaptanpa nur iman sebagai pelita. Akal mereka tidak dapat membedakan antara yang hak (benar) dengan yang batil (salah).

    “Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri (takabur)” (Al Muddatstsir: 23).

    Iblis sebagai pelopor sifat takabur selalu mendoktrin kepada siapa saja sifat takabur, dan mewariskannya kepada jin dan manusia. Tujuannya jelas, untuk menyebarkan sumpah (Iblis) pada golongannya sebagaimana golongan setan dari jenis jin. Setan tentudominan untuk menjerumuskan dan menyesatkan bangsa jin, begitu pula setan dari golongan jenis manusia, sangat dominan untuk menjerumuskan dan menyesatkan bangsa manusia

    Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Al A’raaf: 179).

    Penawar Takabur

    Seperti penyakit hati yang lain, mengobati sifat dan sikap sombong bukan perkara mudah. Tak ada dokter, tabib, atau sinse yang sanggup mengobatinya. Dari yang tidak mudah itu, ada beberapa yang bisa disebut sebagai obat mengatasi sombong atau takabur.

    Pertama adalah tawadu atau merendahkan hati. Hanya dengansikap rendah hati, meyakini tak ada yang lebih dan tak ada yang patut dibanggakan dari diri dan apapun yang diperbuat diri, semua kesombongan bisa disingkirkan. Sikaptawadu bisa mengimbangi dan menetralkan jiwa dari sifat takabur, karena hanya dengan rendah hati manusia bisamelaksanakan perintah Allah.Seorang yang selalu rendah hati, maka padanyatidak akan ada rasa congkak dan besar diri apalagi merasa lebihdari yang lain. Ia senantiasa meyakinisesuatu yang istimewa pada dirinya atau orang lain, semata karena anugerah Allah.

    Tawakal adalah obat keduamelawan sombong. Dengan tawakal alias berserah diri sepenuhnya kepada Allah maka akal akan menyadari dan hati akan meyakini, semua yang terjadipada manusia dan seluruh makhluk adalah atas kehendak Allah dan karena itu tak layak bagi manusia untuk menyombongkan diri selain hanya berpasrah pada Allah. Sifat takabur senantiasa mengajak manusia untuk berbuat ingkar kepada Allah, sebaliknya tawakalsenantiasa menyuruh manusia berbuat menurut ketentuan Allah.

     “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal “ (Al Hujuraat : 13.)

    Ibarat manusia,maka akan didapati tawaduadalah sebagai ruh, dan tawakal sebagai jasad.Karena menyangkut tentang kesempurnaandimensi batiniah dan dimensi jasmaniah, maka sangat jelas keberadaan duasifat ini (tawadu dan tawakal) sangat menentukanuntuk menetralkan keberadaan nafsu (jiwa) yang bertempat antara ruh dan jasad (lahiriah dan batiniah), termasuk sifat sombong. Karena itu jika ruh dan jasad tadi tak bersatu, sulit bagi manusia bisa bisa mencapai derajat sebagaimanusia utuh atau insan kamil.

    Ia masih bisa disebut sombong, atau takabur. Sifat yang dibawa Azazil, malaikat yang dikutuk menjadi Iblis dan terusir dari surga Allah.

    ***

    Dikutip dari Majalah “KASYAF”

     
    • A Nizami 3:52 pm on 4 Desember 2012 Permalink

      Allah melarang kita untuk sombong:

      ”Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” [Al Israa’:37]

      Allah mengingatkan bahwa manusia diciptakan dari air mani yang tidak berharga. Pantaskah manusia bersikap sombong?

      ”Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air mani, maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” [Yaa Siin:77]

      Nabi berkata bahwa orang yang sombong meski hanya sedikit saja niscaya tidak akan masuk surga:

      Dari Ibn Mas’ud, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Tidak akan masuk sorga, seseorang yang di dalam hatinya ada sebijih atom dari sifat sombong”. Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Saw: “Sesungguhnya seseorang menyukai kalau pakainnya itu indah atau sandalnya juga baik”. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt adalah Maha Indah dan menyukai keindahan. Sifat sombong adalah mengabaikan kebenaran dan memandang rendah manusia yang lain” [HR Muslim]

      Read more http://media-islam.or.id/2007/11/20/janganlah-sombong

  • erva kurniawan 1:30 am on 1 July 2012 Permalink | Balas  

    Berkumpul Dan Berdo’a Yang Masyhur Pada Malam Nisfu Sya’ban 

    Berkumpul Dan Berdo’a Yang Masyhur Pada Malam Nisfu Sya’ban

    Jika malam nisfu sya’ban datang, sebagian kaum muslimin melakukan ibadah khusus seperti shalat dan membaca do’a. Apakah yang mereka lakukan itu disyari’atkan ? Adakah dalil yang menunjukkan kelebihan malam itu?

    Mengenai keutamaan malam nisfu sya’ban ini terdapat beberapa buah hadits, antara lain berbunyi :

    “Sesungguhnya Allah Ta’ala bertajalli (menampakkan diri) pada malam nisfu sya’ban kepada hamba-hamba-Nya serta mengabulkan do’a mereka, kecuali sebagian ahli maksiat.”

    Hadits ini dianggap hasan oleh sebagian orang dan dilemahkan oleh sebagian ulama yang lain, sehingga Al Faqih al Qadhi Abu Bakar bin al-Arabi berkata, “Tidak ada satupun hadits yang shahih mengenai keutamaan malam nisfu sya’ban.”

    Tidak terdapat satu pun riwayat dari Nabi saw. Dan para shahabat serta generasi pertama Islam—yang merupakan sebaik-baik generasi—bahwa mereka berkumpul di masjid-masjid untuk menghidupkan malam ini dan membaca do’a-do’a khusus serta melakukan shalat-shalat khusus pula sebagaimana yang kita lihat di beberapa negara Islam.

    Di beberapa negeri Islam, pada malam nisfu Sya’ban, orang-orang berkumpul di masjid-masjid. Mereka membaca surat Yasin, kemudian melakukan shalat dua raka’at dengan niat untuk panjang umur, lalu shalat dua raka’at lagi dengan niat agar kaya dan ‘tidak berkeperluan’ kepada orang lain. Setelah itu, membaca do’a yang tidak diriwayatkan dari seorangpun golongan salaf, yaitu do’a yang panjang, yang bertentangan dengan nash, dan bertentangan ma’nanya antara satu dengan yang lain. Dalam do’a itu mereka mengucapkan (yang artinya-peny):

    “Ya Allah, jika Engkau telah mencatat aku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka (sengsara), terhalang, terusir, atau sempit rejeki-ku, maka hapuskanlah ya Allah dengn karunia-Mu akan kecelakaan (kesengsaraanku), keterhalanganku,keterusiranku dan kesempitan rejeki-ku itu. Dan tetapkanlah aku di sisi-Mu di dalam Ummul Kitab sebagai orang yang bahagia, diberi rejeki, dan diberi pertolongan kepada kebaikan seluruhnya, karena sesungguhnya Engkau telah berfirman, dan firman-MU adalah benar, di dalam kitab-Mu yang Engkau turunkan dan melalui lisan Nabi-Mu yang Engkau utus (Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauh  Mahfuzh).”

    Makna ayat yang disebut dalam bagian terakhir do’a di atas (Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab) ialah bahwa sesuatu yang telah ditetapkan dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh) tidak mungkin dihapus atau ditambah dengan ketetapan baru. Kalau pun dapat dihapus atau dibuat ketapan yang baru itu bukan pada catatan Lauh Mahfuzh, melainkan pada selain itu, yaitu pada catatan malaikat dan lainnya. Jadi bagaimana mungkin seorang hamba dapat meminta kepada Tuhannya agar Dia menghapuskan dan menetapkan sesuatu yang baru di dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh)?

    Begitu pula do’a-do’a yang mereka ucapkan seperti: “Jika Engkau telah menentukan begitu dan begini………..maka hapuskanlah ini dan itu, atau perbuatlah begini dan begitu….” Hal itu menunjukkan keraguan, padahal Nabi saw. Menyuruh kita berdo’a kepada Allah dengan mantap dan sungguh-sungguh, tidak boleh merasa bimbang dan ragu-ragu. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa do’a nisfu Sya’ban tersebut salah dan tidak mempunyai landasan sama sekali.

    Dalam do’a tersebut juga terdapat ucapan :”Wahai Tuhanku,dengan tajalli agung pada malam nisfu Sya’ban yang mulia, yang pada malam itu segala urusan dijelaskan dan ditetapkan, hendaklah Engkau hilangkan bala bencana dari kami, baik yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui…..”

    Ucapan di atas juga merupakan kesalahan, karena yang dimaksud dengan malam dijelaskannya segala urusan yang penuh hikmah (tentang hidup, mati rejeki, nasib baik, nasib buruk, dan sebagainya) itu ialah malam diturunkannya Al Quran, malam al Qadar, malam tajalli yang teragung, yaitu pada bulan ramadhan menurut nash Al Quran. Allah berfirman:

    “Haa Miiiim. Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad Dukhan : 1-4)

    “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (AlQuran) pada malam kemuliaan“ (Al Qadr :1)

    “Bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran…” (Al-Baqarah:185)

    Jadi, secara meyakinkan dapat dikatakan bahwa yang dimaksud ‘malam dijelaskannya segala urusan yang penuh hikmah itu ‘ yang disebutkan dalam do’a nisfu Sya’ban tersebut adalah malam Al Qadar pada bulan ramadhan sebagaimana ijma’ ulama. Adapun riwayat dari Qatadah yang menyebutkan bahwa malam nisfu Sya’ban itu malam yang dijelaskannya segala urusan yang penuh hikmah merupakan riwayat dha’if dan mudhtharib (tidak meyakinkan). Sebelumnya dari Qatadah sendiri terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa malam itu ialah malam Al Qadar.

    Ibnu Katsir menilai dha’if hadits yang menerangkan bahwa pada malam nisfu Sya’ban telah ditetapkan ajal (manusia) dari bulan  sya’ban yang satu ke bulan sya’ban yang lain. Hal ini bertentangan dengan nash-nash (Al-Quran dan hadist yang shohih).

    Dari sini kita tahu bahwa do’a nisfu sya’ban tersebut penuh dengan kekeliruan dan kesalahan, dan merupakan do’a yang tidak ada riwayatnya dari nabi SAW, dari generasi umat terbaik (generasi sahabat, peny) dan tidak diriwayatkan dari kalangan salaf.

    Masalah berkumpul-kumpul (pada malam nisfu sya’ban) dalam bentuk yang seperti yang kita lihat dan kita dengar di beberapa negara Islam, itu merupakan bid’ah.  Seharusnya mengenai peribadatan kita hanya mengikuti riwayat yang ada.  Kita tidak boleh mengada-ada. Kita mesti mengikuti jalan kebenaran yang telah ditempuh orang-orang salaf, dan meninggalkan jalan keburukan (bid’ah) yang diciptakan orang khalaf (belakangan). Sebab, semua yang diadakan (dalam ibadah) adalah bid’ah, semua bid’ah adalah sesat, dan semua kesesatan adalah tempatnya di neraka (kullu bid’atin dholaalah wa kullu dhallaalatin fin naar, peny).

    Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk mengikuti apa yang datang dari Rasulullah saw.dan sahabat-sahabat beliau.

    ***

    (disalin dari: Hadyul Islam Fatawi Muashirah (terjemahan Jilid-1): Syaikh DR.Yusuf Qardhawy)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: