Updates from Agustus, 2016 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:01 am on 31 August 2016 Permalink | Balas  

    Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (5/5) 

    38berdoaTuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (5/5)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Tuntutan dan etika di dalam berdoa, bukan hanya menghendaki kita berdoa untuk diri sendiri, akan tetapi ia juga menghendaki kita mendoakan untuk orang lain terutama kepada ibu bapa, zuriat keturunan, ahli keluarga, saudara mara, muslimin dan muslimat sama ada yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Doa yang seumpama ini banyak tersebut di dalam Al-Qur’an. Di antaranya ialah doa Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam di dalam surah Ibrahim ayat 41 yang tafsirnya :

    “Wahai Tuhan kami! Berilah keampunan bagiku dan bagi kedua ibu bapaku serta bagi orang-orang yang beriman, pada masa berlakunya hitungan amal dan pembalasan.”

    Ibu bapa adalah orang yang terutama sekali untuk didoakan oleh anak-anak sebagai membalas jasa keduanya memelihara dan mendidik di waktu kecil. Anjuran ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al-Isra’ ayat 24 yang tafsirnya :

    “Dan doakanlah (untuk mereka dengan berkata): “Wahai Tuhanku! Cucurilah rahmat kepada mereka berdua (ibu bapaku) sebagaimana mereka telah mencurahkan kasih sayangnya memelihara dan mendidikku semasa kecil.”

    Sesungguhnya doa anak-anak kepada kedua ibu bapa adalah besar manfaatnya, lebih-lebih lagi apabila keduanya telah meninggal dunia. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Apabila seseorang meninggal dunia, terputus amalnya daripadanya melainkan daripada tiga (sumber); daripada sedekah jariah atau ilmu yang dimanfaatkan atau anak salih yang mendoakannya.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengangkat darjat seseorang hamba yang salih di dalam syurga, maka dia berkata: “Wahai Tuhanku! Dari mana saya memperoleh darjat ini?” Allah menjawab: “(Ianya) daripada doa permohonan keampunan yang dilakukan oleh anakmu.”

    (Hadits riwayat Ahmad)

    Sebagaimana anak-anak dianjurkan berdoa untuk kedua ibu bapa, begitu juga ibu bapa adalah dianjurkan supaya mendoakan anak-anak mereka sebagaimana Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam berdoa untuk anaknya yang tersebut di dalam surah Ash-Shaffat ayat 100 yang tafsirnya :

    “Wahai Tuhanku! Kurniakanlah kepadaku anak yang tergolong daripada orang-orang yang salih.”

    Mendoakan orang lain lebih-lebih lagi orang yang tiada hadir dan tanpa pengetahuannya adalah lebih cepat dan mudah dikabulkan sebagaimana yang diriwayatkan daripada Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash berkata, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Doa yang paling cepat diterima ialah doa seseorang bagi seseorang yang lain yang tidak hadir.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Manakala daripada Ummu Ad-Darda’ berkata, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Doa seorang muslim bagi saudaranya yang tidak hadir adalah mustajab. Di sisi kepalanya ada malaikat yang diwakilkan setiap kali dia berdoa bagi saudaranya itu. Malaikat yang diwakilkan itu pula berkata: “Amin, dan bagimu seumpama (yang didoakan).”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Imam Nawawi Rahimahullah Ta’ala berkata bahawa doa yang semacam ini mustajab karena keikhlasan orang yang mendoakan itu. Setengah ulama salaf apabila mereka hendak berdoa untuk diri mereka sendiri, mereka akan mendoakan juga saudara mereka yang muslim dengan doa yang seumpamanya karena cara doa seperti ini adalah mustajab, di samping mereka juga akan mendapat seumpama apa yang mereka doakan bagi saudara mereka yang muslim itu. (lihat Syarh Shahih Muslim 9/44)

    Oleh karena itu juga, adalah disunatkan meminta agar didoakan oleh orang-orang yang mempunyai kelebihan seperti orang-orang salih sekalipun dia (orang yang meminta didoakan itu) mempunyai kedudukan yang lebih baik daripada orang tersebut (orang yang diminta supaya mendoakan), berdasarkan riwayat daripada Ibnu Umar daripada Umar bin Al-Khaththab Radhiallahu ‘anhu yang maksudnya :

    “Sesungguhnya dia (Umar) meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan umrah. Lalu Nabi bersabda: “Wahai saudaraku! Sertakan kami di dalam doamu dan jangan engkau melupakan (untuk mendoakan) kami.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Dari itu janganlah berdoa untuk diri sendiri sahaja, berdoalah untuk orang lain juga hatta kepada orang yang bukan berugama Islam sekalipun, tetapi dengan syarat bukan doa yang berbentuk permohonan keampunan bagi mereka, karena ianya dilarang sebagaimana firman Allah di dalam surah At-Taubah ayat 113 yang tafsirnya :

    “Tidaklah dibenarkan bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, meminta ampun bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang itu kaum kerabat sendiri, sesudah nyata bagi mereka bahawa orang-orang musyrik itu adalah ahli neraka.”

    Doa yang diharuskan kepada orang yang bukan Islam ialah doa agar mereka mendapat hidayat, sihat tubuh badan dan seumpamanya yang layak disebutkan untuk orang yang bukan Islam sebagaimana diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Thufail bin ‘Amr datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kabilah Daus telah menderhaka dan enggan (menerima Islam), mohonlah (berdoalah) kepada Allah agar keburukan ke atas mereka” Orang-orang menyangka bahawa Baginda akan berdoa memohon sesuatu keburukan ke atas mereka (kabilah Daus). Maka Baginda bersabda: “Ya Allah! Berikanlah hidayat kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka sebagai orang-orang Islam.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Selain daripada itu juga yang berhubung dengan doa, setiap orang Islam hendaklah menghindari daripada menzalimi dan menganiayai orang lain sekalipun kepada orang yang berbuat maksiat karena doa orang yang dizalimi itu adalah sangat mustajab sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Mu’az bin Jabal ketika Baginda mengutusnya ke Yaman yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma yang maksudnya :

    “Dan takutlah engkau akan doa orang yang dizalimi, sesungguhnya (doa orang yang dizalimi itu) tidak ada di antaranya dan di antara Allah pendinding.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Diriwayatkan pula daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Doa orang yang dizalimi itu adalah mustajab, sekalipun dia adalah seorang yang berbuat maksiat, karena kemaksiatannya itu adalah tertanggung ke atas dirinya sendiri.”

    (Hadits riwayat Ahmad)

    Akhirnya sebagai penutup, setiap orang Islam hendaklah memperbanyakkan doa. Berdoa adalah menunjukkan akan ingatan kepada Allah Yang Maha Berkuasa. Mengingat Allah hendaklah dilakukan di setiap masa sama ada di waktu senang atau susah. Begitulah juga dengan amalan dalam berdoa hendaklah dilakukan di setiap masa lebih-lebih lagi di waktu senang dan mewah, dengan itu apabila di waktu susah doa akan mudah diperkenankan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallah ‘anhu yang maksudnya:

    “Barangsiapa suka supaya dikabulkan doanya oleh Allah di waktu kesulitan dan kesusahan, maka hendaklah dia memperbanyakkan doa di waktu senang.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    —– SELESAI —-

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 30 August 2016 Permalink | Balas  

    Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (4/5) 

    berdoa 1Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (4/5)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Di antara azan dan iqamah. Daripada Anas bin Malik berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Doa di antara azan dan iqamah tidak akan ditolak. Berkata para sahabat: “Maka apa yang patut kami katakan wahai Rasulullah (ketika itu)?” Nabi bersabda: “Pohonlah kepada Allah keafiatan di dunia dan di akhirat.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    vii) Ketika berhadapan dengan musuh di dalam peperangan. Diriwayatkan daripada Sahl bin Sa’d As-Sa’idi bahawasanya dia berkata yang maksudnya :

    “Dua masa dibukakan keduannya pintu-pintu langit dan sedikit sekali doa orang yang berdoa ditolak; ketika panggilan untuk mendirikan sembahyang dan berhadapan dengan musuh dalam peperangan.”

    (Hadits riwayat Malik)

    viii) Ketika sujud di dalam sembahyang. Daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sehampir-hampir seorang hamba kepada Tuhannya adalah (ketika) dia sujud, maka kamu perbanyakkanlah doa.”

    (Hadits riwayat Muslim An-Nasa’i, Abu Daud dan Ahmad)

    ix) Ketika mendengar kokokan ayam. Ini adalah berdasarkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya:

    “Apabila kamu mendengar kokokan ayam maka mohonlah kepada Allah daripada kelebihanNya, sesungguhnya ayam itu telah melihat malaikat dan apabila kamu mendengar pekikan suara keldai maka mohonlah perlindungan dengan Allah daripada syaitan, sesungguhnya keldai itu telah melihat syaitan.”

    (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

    Adapun sebab digalakkan berdoa pada waktu itu, adalah bagi mengharapkan pengaminan malaikat kepada doa yang dibacakan dan permohonan keampunan mereka kepada orang yang berdoa dan persaksian mereka terhadap keikhlasan orang yang berdoa. (Lihat Fath Al-Bari 6/508 dan Syarh Shahih Muslim 9/41)

    Oleh karena itu juga ketika mengucapkan amin pada surah Al-Fatihah di dalam sembahyang adalah saat dimakbulkan doa karena para malaikat turut juga mengaminkan pada ketika itu berdasarkan riwayat daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Apabila imam mengucapkan amin maka hendaklah kamu mengucapkan amin, sesungguhnya sesiapa yang bertepatan aminnya dengan amin malaikat nescaya diampuni baginya apa yang terdahulu daripada dosanya.”

    (Hadits riwayat Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

    x) Ketika waktu hujan. Diriwayatkan daripada Sahl bin Sa’d berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Dua ketika (di mana doa) tidak ditolak atau sedikit sekali yang ditolak: (iaitu) berdoa ketika azan dan ketika pertempuran sedang berkecamuk (dan dalam satu riwayat mengatakan) dan ketika hujan.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    xi) Ketika meminum air zam zam. Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Air Zamzam itu menurut kehendak tujuan meminumnya. Jika engkau meminumnya untuk memohonkan kesembuhan dengannya nescaya Allah akan menyembuhkanmu dan jika engkau meminumnya untuk memohon perlindungan nescaya Allah akan melindungimu dan jika engkau meminumnya bagi melepaskan rasa dahagamu nescaya Allah akan melepaskannya dan jika engkau meminumnya bagi kekenyanganmu nescaya Allah akan mengenyangkanmu, ia (air Zamzam) itu adalah lekukan daripada pukulan malaikat Jibril dan minuman Nabi Ismail.”

    (Hadits riwayat Ad-Daraquthni dan Al-Hakim)

    xii) Ketika membaca Al-Quran terutama apabila khatam. Diriwayatkan daripada ‘Imran bin Hushain berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Barangsiapa yang membaca Al-Quran maka bermohonlah (berdoa) kepada Allah dengan Al-Quran, sesungguhnya akan datang suatu kaum yang membaca Al-Quran meminta (upah dan sedekah) kepada manusia dengan membacanya.”

    Hadits riwayat Tirmidzi)

    Diriwayatkan pula daripada Mujahid Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Telah diutus seseorang kepadaku dan dia berkata: “Sesungguhnya kami menjemputmu karena kami hendak mengkhatam Al-Quran dan sesungguhnya telah sampai kepada kami bahawa doa diperkabulkan ketika mengkhatam Al-Quran. Berkata Mujahid: “Maka mereka berdoa dengan beberapa doa (ketika khatam Al-Quran).”

    (Riwayat Ad-Darimi)

    xiii) Di tempat-tempat yang mulia karena keberkatannya dan kemuliaan yang dikurniakan oleh Allah seperti di Masjidilharam, Masjid An-Nabawi dan Masjid Al-Aqsa. Para ulama berpendapat bahawa berdoa di tempat-tempat ini adalah mustajab karena melihat kepada keberkatan dan kemuliaannya di samping rahmat Allah yang luas di tempat-tempat tersebut. Diriwayatkan daripada Abu Darda’ Radhiallahu ‘anhu daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Satu kali sembahyang di Masjidilharam adalah menyamai dengan seratus ribu kali sembahyang, dan satu kali sembahyang di masjidku (Masjid An-Nabawi) menyamai dengan seribu kali sembahyang, dan satu kali sembahyang di Baitulmaqdis menyamai dengan lima ratus kali sembahyang.”

    (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 29 August 2016 Permalink | Balas  

    Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (3/5) 

    berdoa 3Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (3/5)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Berterusan berdoa dan mengulang-ngulang doa sebanyak tiga kali dan tidak berputus asa serta tergesa-gesa menganggap doa tidak diperkabulkan. Diriwayatkan daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya:

    “Sesungguhnya Allah Ta’ala menyukai orang-orang yang mengulang-ngulang di dalam berdoa.”

    (Hadits riwayat Baihaqi)

    Daripada Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyenangi supaya seseorang itu berdoa tiga-tiga kali dan beristighfar tiga-tiga kali.”

    (Hadits riwayat Abu Daud dan Ahmad)

    Manakala daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Dikabulkan (doa) salah seorang daripada kamu selama dia tidak tergesa-gesa iaitu dengan berkata: “Aku sudah berdoa (tetapi) tidak dikabulkan.”

    (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

    Tersebut di dalam kitab Al-Futuhat Ar-Rabbaniyyah ‘ala Al-Adzkar An-Nawawiyah, Makki menyebutkan bahawa jarak masa doa Nabi Zakaria ‘Alaihissalam memohon dikurniakan zuriat dengan berita gembira adalah 40 tahun. Begitu juga sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu ‘Athiyyah daripada Ibnu Jarir, Muhammad bin Ali dan Adh-Dhahhak bahawa doa Nabi Musa ‘Alaihissalam kepada Firaun tidak diperkenankan melainkan setelah 40 tahun berlalu.

    Sesungguhnya kadang-kadang doa belum diperkenankan kerana doa itu menjadi pahala yang disimpan di akhirat nanti dan adakalanya menjadi sebab dipalingkan seseorang itu daripada sesuatu keburukan dengan sebab doanya itu. Oleh itu adalah lebih baik terus menerus berdoa daripada merungut-rungut doa tidak dikabulkan. Daripada Abu Sa’id Al-Khudri berkata sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Tiada seorang muslim berdoa dengan satu doa, bukan doa yang mengandungi dosa dan bukan doa yang memutuskan silaturrahim, melainkan Allah akan mengurniakan dengan doanya itu salah satu daripada tiga perkara: sama ada dipercepatkan (disegerakan) baginya doanya itu, atau disimpan baginya pahala doanya itu di akhirat (sebagai balasan), atau dihindarkan daripadanya sesuatu keburukan seumpamanya. Mereka berkata: “Kalau begitu baiklah kami memperbanyakkan doa”. Bersabda Nabi: “Allah lebih banyak menerima doa hamba-hambanya.”

    (Hadits riwayat Ahmad)

    1. Memilih dan mengutamakan waktu-waktu dan tempat-tempat atau ketika dimana doa mudah dan cepat dikabulkan. Di antaranya ialah:
    2. i) Di satu pertiga akhir waktu malam dan selepas menunaikan sembahyang fardu. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahawasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun tiap-tiap malam ke langit dunia ketika tinggal satu pertiga akhir waktu malam berfirman: “Barangsiapa yang berdoa kepadaKu maka Aku akan mengabulkannya baginya, barangsiapa meminta kepadaKu maka Aku akan memberinya, barangsiapa memohon keampunanKu maka Aku mengampuninya.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Diriwayatkan daripada Abu Umamah Radhiallahu ‘anhu berkata, telah ditanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Doa apakah yang lebih didengar (dikabulkan)?” Nabi bersabda: “(Doa tatkala) satu pertiga terakhir malam dan sesudah sembahyang fardu.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    1. ii) Malam Lailatulqadar. Firman Allah di dalam surah Al-Qadr ayat 3-5 yang tafsirnya :

    “Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu, turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun berikut). Sejahteralah malam (yang berkat itu) hingga terbit fajar.”

    Manakala diriwayatkan daripada Sayyidatina Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata yang maksudnya:

    “Aku berkata: “Wahai Rasulullah! Apa pendapatmu (katamu) jika aku mengetahui malam Lailatulqadar daripada mana-mana malam, apa yang hendak aku baca pada malam itu?” Nabi bersabda: “Engkau bacalah Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Mulia, suka mengampuni maka ampunilah aku.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    iii) Hari Arafah. Diriwayatkan daripada ‘Amr bin Syuaib daripada bapanya daripada neneknya sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sebaik-sebaik doa ialah doa pada hari Arafah dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan ialah tiada tuhan melainkan Allah yang tunggal yang tiada sekutu bagiNya. BagiNya kekuasaan dan bagiNya puji-pujian dan Dia Maha Berkuasa ke atas tiap-tiap sesuatu.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    1. iv) Bulan Ramadhan. Ini adalah kerana bulan Ramadan ialah bulan yang agung, bulan yang mulia lagi berkat serta dibukakan pintu-pintu syurga dan ditutup pintu-pintu neraka. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sesungguhnya telah datang kepada kamu Bulan Ramadan bulan yang diberkati, Allah memfardukan kepada kamu berpuasa di dalamnya. Dalam bulan Ramadan dibuka pintu-pintu syurga dan dikunci pintu-pintu neraka dan dibelenggu syaitan-syaitan.”

    (Hadits riwayat Ahmad)

    Tambahan lagi orang yang berpuasa itu tidak ditolak sebagaimana yang yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya:

    “Tiga golongan yang tidak ditolak doa mereka: Orang yang berpuasa sehinggalah dia berbuka, imam (pemerintah) yang adil dan doa orang yang dizalimi.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    1. v) Hari dan malam Jumaat. Daripada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir berkata, telah bersabda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Sesungguhnya hari Jumaat itu adalah penghulu segala hari dan hari yang paling agung di sisi Allah dan ia (hari Jumaat) adalah lebih agung di sisi Allah dari Hari Raya Adha dan Hari Raya Fitri. Pada hari Jumaat itu terdapat lima peristiwa penting. (Iaitu) Allah mencipta Nabi Adam, Allah menurunkan Nabi Adam ke bumi, Allah mewafatkan Nabi Adam, pada hari itu ada satu waktu, bila seorang hamba memohon kepada Allah pasti Allah mengurniakannya selama mana dia tidak meminta yang haram dan pada hari itu juga terjadinya Hari Kiamat. Tiada satu malaikat Muqarrib, tidak juga langit, bumi, angin, gunung, dan lautan kecuali mereka itu merasa takut akan hari Jumaat.”

    (Hadits riwayat Ibnu Majah)

    Diriwayatkan pula daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Apabila malam Jumaat, jika engkau berdaya bangun pada satu pertiga malam yang akhir, maka sesungguhnya padanya ada satu waktu yang dipersaksikan (oleh Allah dan para malaikat) dan doa pada waktu itu mustajab.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 28 August 2016 Permalink | Balas  

    Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (2/5) 

    Doa masuk masjidTuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (2/5)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Berdoa dengan jalan bertawassul dengan amal saleh. Allah berfirman di dalam surah Al-Ma’idah ayat 35 yang tafsirnya :

    “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang boleh menyampaikan kepadaNya (dengan mematuhi perintahNya dan meninggalkan laranganNya).”

    Manakala diriwayatkan daripada Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda maksudnya :

    “Tiga orang keluar berjalan-jalan lalu mereka kehujanan, maka mereka masuk ke dalam sebuah gua yang terdapat di sebuah gunung. Lalu (apabila hendak keluar) mereka terhalang oleh satu batu besar. Nabi bersabda: “Lantas berkata sebahagian mereka (salah seorang) kepada yang lain: “Berdoalah kamu kepada Allah dengan amal salih yang paling baik yang telah kamu lakukan. Maka berdoa salah seorang daripada mereka: “Ya Allah! Sesungguhya aku mempunyai ibu bapa yang sangat tua. Dulu aku selalu keluar mengembala, kemudian aku datang untuk memerah susu, aku membawa air susu selanjutnya untuk aku berikan kepada ibu bapaku lalu keduanya minum, kemudian barulah aku beri minum anakku, keluargaku dan isteriku. Maka pada satu malam aku terhalang (memberi minum keduanya) karena aku datang (membawa susu) sedang keduanya sedang tidur. Nabi menyabdakan kata orang itu: “Aku (benci) tidak suka untuk membangunkan keduanya walaupun anak-anak menggeliat-geliat kelaparan di kakiku. Maka begitulah keadaan kebiasaanku dan kebiasaan mereka berdua sehingga terbit fajar. Ya Allah! Jika Engkau mengetahui bahawa aku telah melakukan sedemikian itu karena semata-semata untuk mendapatkan keredaanMu, maka bebaskanlah kami daripada kesusahan ini yang dari situ kami boleh melihat langit”. Nabi bersabda: “Lalu dibebaskanlah mereka (dengan bergerak satu pertiga batu besar itu). Berdoa seorang lagi yang lain: “Ya Allah! Jika Engkau mengetahui bahawa aku dulu pernah mencintai seorang perempuan iaitu salah seorang anak perempuan bapa saudaraku sebagaimana cinta yang mendalam seorang lelaki kepada seorang perempuan. Perempuan itu mengatakan: “Engkau tidak akan memperoleh sedemikian itu daripadanya sehingga engkau memberinya seratus dinar” Lalu aku berusaha sehingga aku berhasil mengumpulkannya (wang sebanyak itu), maka ketika aku duduk di antara kedua kakinya, dia (wanita itu) berkata: “Bertakwalah engkau kepada Allah dan janganlah engkau merosakkan mahkota kegadisan kecuali dengan haknya”. Lalu aku berdiri dan meninggalkannya, maka jika engkau mengetahui bahawa aku melakukan sedemikian itu karena semata-mata mengharapkan keredaanMu, maka bebaskanlah kami daripada kesusahan ini”. Nabi bersabda: “Maka Allah membebaskan mereka (dengan bergerak batu itu) dua pertiga”. Berdoa pula seorang yang lain: “Ya Allah! Jika Engkau mengetahui bahawa aku mengupah seorang pekerja dengan beberapa cupak gandum lalu aku memberinya dan dia menolak untuk mengambil (upahnya). Lalu aku senghaja mengambil dari beberapa cupak gandum itu lalu aku tanam sehingga aku belikan daripada hasilnya seekor lembu dan pengembalanya, kemudian dia datang seraya berkata: “Wahai Hamba Allah! Berikan (kepadaku) hak saya”. Maka aku berkata: “Pergilah engkau kepada lembu itu dan pengembalanya, sesungguhnya itu adalah milikmu”. Pekerja itu berkata: “Adakah engkau menghinaku?” Aku menjawab: “Aku tidak menghinamu tetapi memang lembu itu benar-benar milikmu.” Ya Allah! Jika Engkau mengetahui bahawa aku melakukan hal sedemikian itu karena semata-mata mendapatkan keredaanMu maka bebaskanlah kami”. Maka dibebaskanlah kitu daripada mereka.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    1. Berdoa menghadap ke kiblat dan mengangkat dua tangan sekira-kira nampak putih ketiak dan menyapu kedua tapak tangan ke muka setelah selesai. Daripada ‘Abbad bin Tamim Al-Mazini bahawa ia mendegar bapa saudaranya berkata maksudnya :

    “Pada satu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pergi keluar memohon dikurniakan hujan. Maka Baginda membelakangi orang sambil berdoa mengadap kiblat dan membalikkan selendangnya, kemudian baginda bersembahyang dua rakaat.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu itu ada kemuliaan dan sesungguhnya semulia-mulia majlis ialah majlis yang dihadapkan ke kiblat.”

    (Hadits riwayat Ath-Thabarani dan Al-Hakim)

    Diriwayatkan pula daripada Anas Radhiallahu ‘anhu berkata maksudnya :

    “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangannya sewaktu berdoa sehingga ternampak putih kedua ketiaknya.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Daripada Umar bin Al-Khatthab Radhiallahu ‘anhu berkata maksudnya :

    “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda mengangkat kedua tangannya sewaktu berdoa, Baginda tidak akan menurunkan keduanya sehinggalah Baginda menyapukan keduanya ke mukanya.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    1. Bersungguh-sungguh dalam berdoa dan merasa penuh yakin akan diperkenankan. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu maksudnya :

    “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kamu yakin diperkenankan dan ketahuilah Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai serta tidak sungguh-sungguh.”

    1. Berdoa disertai dengan kerendahan hati, khusyuk dengan jiwa yang tulus ikhlas,merendahkan suara di antara berbisik dan nyaring dan diiringi dengan perasaan takut azab Allah dan penuh harapan dengan limpah kurniaNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam surah Al-A’raf ayat 55 tafsirnya :

    “Berdoalah kepada Tuhan kamu dengan merendah diri dan (dengan suara) perlahan-lahan.”

    Perkara ini ditekankan juga oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam sabdanya yang diriwayatkan daripada Abu Musa Al-Asy’ari Radhiallahu ‘anhu maksudnya :

    “Wahai Manusia! Berlembutlah kamu terhadap diri kamu sesungguhnya kamu tidak berdoa kepada yang tuli dan tidak juga yang ghaib, sesungguhnya Dia bersama kamu. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat yang berkat namaNya dan tinggi kebesaranNya.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Di dalam surah Al-Anbiya’ ayat 90, Allah berfirman maksudnya :

    “Sesungguhnya mereka sentiasa berlumba-lumba dalam mengerjakan kebaikan, dan sentiasa berdoa kepada Kami dengan penuh harapan serta gerun takut dan mereka pula sentiasa khusyuk (dan taat) kepada Kami.”

    1. Tidak berdoa dengan sesuatu yang tidak selayaknya seperti perkara yang tidak munasabah dan mustahil. Maka oleh karena itu adalah lebih utama berdoa dengan doa-doa yang ma’tsur yang datang daripada Al-Quran dan Sunnah dan para sahabat. Di samping doa-doa tersebut jauh daripada permohonan yang tidak selayaknya, doa-doa tersebut bersifat umum, menyeluruh dan padat. Daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata maksudnya :

    “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyukai doa yang menyeluruh maknanya dan dia tinggalkan selain daripada itu.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Oleh karena itu doa yang paling banyak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam baca sebagaimana yang diriwayatkan daripada Anas Radhiallahu ‘anhu berkata maksudnya :

    “Adalah doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang terbanyak sekali (Baginda baca ialah): “Ya Allah! Ya Tuhan kami! Kurniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharakanlah kami daripada azab api neraka.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 27 August 2016 Permalink | Balas  

    Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (1/5) 

    ibu dan anak lelakinya berdoaTuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (1/5)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Berdoa merupakan salah satu daripada elemen yang penting dalam kehidupan seorang muslim. Ia merupakan pengakuan hamba terhadap kekuasaan Allah yang mutlak terhadap segala yang berlaku, manakala dari segi yang lain pula ia adalah bentuk pengabdian seorang hamba kerana hadirnya perasaan berhajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berdasarkan ini, doa mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Allah dan Allah menyukai orang yang berdoa kepadaNya. Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Dalam hadits yang lain pula, daripada Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Mohonlah kebaikan/kelebihan daripada Allah kerana sesungguhnya Allah suka diminta kebaikan/kelebihan dan sebaik-baik ibadah adalah menunggu kelapangan (terlepas daripada kesusahan).”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Doa adalah penggerak dalaman yang memberikan kekuatan, keyakinan, harapan dan keberkatan dalam apa jua amal perbuatan. Maka tidak hairan di dalam Islam setiap langkah sesuatu perbuatan, ada doa-doanya tertentu yang digalakkan supaya diamalkan sama ada sebelum memulakan sesuatu perbuatan ataupun selepas melakukannya. Semua ini tidak lain, bagi menggalakkan orang-orang Islam agar sentiasa berdoa dan bagi menggambarkan bahawa berdoa itu adalah salah satu daripada keperluan yang penting di dalam mencari keberkatan, keredaan dan perlindungan Allah sepenuhnya pada mencapai segala apa yang dilakukan. Sebab itu orang yang enggan berdoa bukan sahaja dia telah menutup bagi dirinya berbagai-bagai pintu kebaikan, malah dia juga akan mendapat kemurkaan daripada Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu yang maksdunya :

    “Sesungguhnya orang yang tidak meminta (berdoa) kepada Allah, Dia (Allah) marah kepadanya.”

    Kelebihan atau fadhilat doa itu amat besar dan banyak sekali. Melalui doa, keampunan dan rahmat diperolehi, dan melalui doa juga musibah dan kesusahan terhindar. Pendeknya, jika Allah menghendaki dan merestui doa hambanya, tiada ada satu daya kuasa pun yang dapat menghalangnya dan Allah tidak akan mensia-siakan keikhlasan orang yang berdoa. Allah Ta’ala berfirman di dalam surah Al- Baqarah ayat 186 yang tafsirnya :

    “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): “Sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka menyahut seruanKu (dengan mematuhi perintahKu), dan hendaklah mereka beriman kepadaKu supaya mereka menjadi baik dan betul.”

    Imam Al-Ghazali Rahimahullahu Ta’ala berkata:

    “Jika ada orang bertanya, apa manfaat doa itu padahal qada (ketentuan Allah) tidak dapat dihindarkan. Ketahuilah bahawa qada juga boleh menghindarkan suatu bala dengan berdoa. Maka doa adalah menjadi sebab bagi tertolaknya suatu bala bencana dan adanya rahmat Allah sebagaimana juga halnya bahawa perisai adalah menjadi sebab bagi terhindarnya seseorang daripada senjata dan air menjadi sebab bagi tumbuhnya tumbuh-tumbuhan di muka bumi.”

    Perkara ini diperkuatkan lagi dengan firman Allah di dalam surah Ar-Ra’d ayat 39 yang tafsirnya :

    “Allah menghapuskan apa jua yang dikehendakiNya dan Dia juga menetapkan apa jua yang dikehendakiNya. Dan (ingatlah) pada sisiNya ada ibu segala suratan.”

    Manakala daripada Salman Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Tidak tertolak qada itu melainkan oleh doa dan tidak bertambah di dalam umur itu melainkan oleh kebajikan.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Dalam menghuraikan hadits di atas, pengarang kitab Bahr Al-Madzi membawakan masalah qadha mubram dan qadha mu’allaq tentang makna kedua-dua jenis qadha itu dan hubungannya dengan doa: “(Kata ulama) Qadha Mubram itu ialah suatu yang ditentukan Allah di dalam ilmunya tiada boleh diubah dan tiada boleh ditukar akan dia dan qadha mu’allaq itu seperti suatu perkara yang berta’liq sekiranya engkau berdoa nescaya diperkenankan apa-apa doamu dan jika sekiranya engkau berbuat kebaktian dan silaturrahim nescaya dipanjangkan umurmu dan sekiranya tiada diperbuat kebaktian dan tiada berdoa, maka tiadalah diperkenankan dan ditambah umur menurut dan bertentang dengan barang yang di dalam ilmuNya. Maka qadha mu’allaq itulah yang ditolak oleh doa.” (Lihat Bahr Al-Madzi 13-14/196)

    Adapun kelebihan orang yang berdoa itu sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan daripada Salman Al-Farisi yang maksudnya :

    “Sesungguhnya Allah itu Hidup dan Maha Pemberi, Dia malu jika seseorang mengangkat kedua tangannya kepadaNya lalu Dia mengembalikan kedua tangannya (membalas doa orang itu) dalam keadaan kosong serta rugi.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Di dalam ayat dan hadits tersebut, jelas diterangkan bahawa apabila seorang hamba berdoa kepada Allah, nescaya Allah akan mengabulkan doanya dan tidak akan membiarkan doanya itu kosong sahaja. Tetapi perlu diingat bahawa untuk mendapat doa yang dimakbulkan, adab-adab atau peraturan berdoa mestilah dipelihara oleh setiap orang yang berdoa. Jika seseorang memohon sesuatu kepada seorang raja, dia akan menjaga adab-adab dan peraturan-peraturannya dari berbagai-bagai segi, maka berdoa dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tentulah lebih patut lagi dia menjaga adab dan tatacara berdoa agar doa yang dipanjatkan akan dimakbulkan. Di antara tuntutan-tuntutan dan etika di dalam berdoa itu ialah:

    1. Memelihara sumber rezeki seperti makanan, minuman dan pakaian daripada sumber yang haram sebagaimana diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Wahai manusia! Sesungguhnya Allah itu baik (suci bersih daripada segala kekurangan), Dia (Allah) tidak menerima kecuali yang baik (halal), dan Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul. Maka Dia (Allah) berfirman: “Wahai para rasul makanlah dari benda-benda yang baik lagi halal dan kerjakanlah amal-amal salih; sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Mu’minun: 51) Dan Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah daripada benda-benda yang baik (halal) yang telah Kami berikan kepada kamu” (Al-Baqarah: 172). Kemudian Rasulullah menyebutkan berkenaan seorang lelaki yang melakukan perjalanan yang jauh, yang kusut rambutnya lagi berdebu, dia menadahkan tangannya ke langit sambil (berkata): “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku (berdoa), (padahal) makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan yang haram,bagaimana doanya itu hendak dimakbulkan?”

    (Hadits riwayat Muslim)

    1. Berwudhu dan memulakan serta mengakhiri doa dengan menyebut dan memuji-muji nama Allah serta memberi selawat dan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Daripada Abu Musa Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Aku datang masuk ke rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang Baginda di atas katil yang ditenun dengan tali dan di atasnya hamparan. Tenunan tali pada katil itu membekas pada punggung dan kedua lambung Baginda, lalu aku memberitahu kepada Baginda akan berita kami dan berita Abu Amir (yang terbunuh di dalam peperangan Awthas) yang berkata (kepadaku): “Katakanlah kepada Nabi, mintakanlah keampunan untukku” Lalu Baginda minta diambilkan air maka Baginda pun berwudhu. Kemudian Baginda mengangkat kedua tangannya lalu berdoa: “Ya Allah! Ampunilah Ubaid Abu Amir.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Doa adalah zikir (mengingati) kepada Allah. Berdasarkan ini diriwayatkan daripada Muhajir Bin Qunfudz Radhiallahu ‘anhu ang maksudnya :

    “Sesungguhnya dia (Muhajir bin Qunfudz) datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang Nabi membuang air kecil. Maka dia memberi salam kepada Baginda, maka tidak dijawab oleh Baginda sehinggalah Baginda berwudhu kemudian memberikan alasan kepadanya dengan bersabda: “Sesungguhnya aku benci menyebut nama Allah Azza wa Jalla kecuali aku di dalam keadaan bersih (daripada hadats kecil).”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Adapun menyebut dan memuji-muji Allah terutama dengan nama-nama Al-Asma’ Al-Husna dan memberi selawat dan salam kepada Nabi, dijelaskan di dalam surah Al-A’raf ayat 180 yang tafsirnya :

    “Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka serulah (dan berdoalah) kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu.”

    Daripada Anas Radhiallahu ‘anhu berkata:

    “Setiap doa itu terhalang sehinggalah diucapkan selawat ke atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

    (Hadits riwayat Ad-Dailami)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 26 August 2016 Permalink | Balas  

    Kebaikan Itu Menentramkan Hati 

    niat baikKebaikan Itu Menentramkan Hati

    Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan seramah wujudnya, dan kebaikan sebaik rasanya. Karena orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat dari semua itu adalah mereka yang melakukannya. Mereka ini akan merasakan ‘makna’ nya seketika itu juga dalam jiwa, akhlak, dan nurani mereka. Sehingga mereka selalu berlapang dada, tenang, tenteram dan damai.

    Ketika kita diliputi kegundahan dan sedih, berbuat baiklah terhadap sesama. Memberi sedekah kepada yang papa, menolong mereka yang terzhalimi, meringankan beban sesama yang menderita, memberi makan sesama yang kelaparan, menjenguk orang sakit dan membantu orang yang terkena musibah. Niscaya kita akan mendapatkan kedamaian dan ketentraman di hati. Kita akan merasakan kebahagiaan dalam semua sisi kehidupan kita.

    Kebaikan itu laksana wewangian yang tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemakainya, tetapi juga kepada orang-orang yang berada di sekitarnya. Kebajikan itu terasa bagai obat-obat manjur yang tersedia di apotik orang-orang yang berhati baik dan bersih. Menebar senyum yang manis dan tulus adalah sedekah jariah. Seperti tersirat dalam tuntunan akhlak, “……meski engkau hanya menemui saudaramu dengan wajah berseri.” [Al-Hadits]

    Kunjungilah taman-taman kebajikan, sibukkan diri kita dengan memberi, mengunjungi, membantu, menolong dan meringankan beban sesama. Insya Allah kita akan mendapatkan kebahagiaan dari semua sisinya : rasa, warna dan hakekatnya.

    “Dan bukan karena sesuatu nikmat-pemberian di sisinya dari seorang yang akan dibalasnya. Tetapi ia mengharapkan karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasaan-ridha.” [QS 92 -Al Lail]

    Dikutip dari ‘La Tahzan’ -Jangan Bersedih! – DR. ‘Aidh al-Qarni

     
  • erva kurniawan 2:41 am on 25 August 2016 Permalink | Balas  

    Fadhilat Surah Al Baqarah 

    baqorohFadhilat Surah Al Baqarah

    (Patut diketahui : untuk menambah keyakinan kebesaran Al-Qur’an)

    Imam al-Baihaqi dari Imam Shalshal berkata: “Barangsiapa membaca surat baqarah maka dipakaikan kepada mahkota di Syurga.”

    Imam Ibnu Zanjawai dari Imam Wahab ibn Munabih mengatakan: “Barangsiapa membaca Surat Baqarah dan Ali Imran pada malam Jumat maka baginya nur cahaya membentang antara Arsy dan dasar bumi.”

    Abu Mas’ud Albadri ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca dua ayat dari akhir surah Al-Baqarah, maka cukuplah baginya dari hal-hal yang membencikan. Dan menurut sebahagian pendapat: sama dengan bersembahyang malam).”

    Ibnu Abbas ra. bercerita: Pada suatu ketika Jibrail berada di sisi Nabi SAW. tiba-tiba terdengar suara dari atas, maka ia mengangkat kepalanya dan berkata: ini sebuah pintu di langit, pada hari ini dibuka, dan turun seorang malaikat, memberi salam dan berkata: “Bergembiralah dengan dua cahaya penerangan yang diberikan oleh Allah kepadamu, dan belum pernah diberikan kepada seseorang Nabi sebelum kamu, iaitu:Fatihul kitab dan akhir surah Al-Baqarah. Tiada engkau membaca suatu huruf daripadanya, melainkan pasti permintaanmu di beri.”

     
  • erva kurniawan 2:26 am on 24 August 2016 Permalink | Balas  

    Fadhilat Surah Yasin 

    yasin1to9Fadhilat Surah Yasin

    (Patut diketahui : untuk menambah keyakinan kebesaran Al-Qur’an)

    At-Tirmizi mengikhraj hadis dari Anas RA dari Nabi SAW, beliau bersabda:

    “Sungguh bagi tiap sesuatu adalah jantung sedang jantung al-Quran adalah surah Yasin; maka Allah mencatat untuknya sebab bacaan surah Yasin tersebut senilai bacaan al-Quran sepuluh kali.”

    Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Barangsiapa mengamalkan bacaan surah Yasin setiap malam lalu ia meninggal maka ia mati Syahid.”

    “Barangsiapa membaca surah Yasin pada malam hari maka di pagi hari ia terampun dosanya.”

    “Siapa saja, orang muslim, tatkala akan meninggal di bacakan surah Yasin maka turunlah untuk setiap satu huruf sepuluh malaikat; mereka berdiri berbaris di hadratnya memohonkan rahmat dan keampunan untuknya, pula menyaksikan di mandikan jenazah, menghantarnya, mennyembahyangkannya juga ikut hadir di dalam pemakamnya.

    Dan siapa sahaja, orang islam, membaca surah Yasin ketika sakratulmaut tidak hendak mengambil rohnya sehingga kehadiran Malaikat  Ridwan dengan membawa seteguk minuman Syurga dan di minumkan kepadanya di atas pembaringannya dan dirasakan kesegarannya ketika di ambil nyawanya juga kesegaran kelak di dalam kubur dan ia tidak memerlukan telaga para nabi, hingga masuk Syurga ia selalu merasakan kesegaran.”

    Dari Yahya ibn Katsir, katanya: “Sampai kepadaku bahawa sesiapa membaca surah Yasin di waktu pagi hari maka ia selalu di dalam kegembiran hingga petang hari dan siapa membacanya diwaktu petang hari maka ia selalu dalam kegembiraan hingga pagi hari.”

    Dengan isnad sahih diriwayatkan dari Au akar dan Ibnu Abbas RA maksudnya” Barangsiapa membaca surah Yasin, sampai pada ayat “Iz JAA aHal mursaluun” berdoa memohon kepada Allah, maka dikabulkan permohonannya.

    Di Dalam hadis di sebutkan:

    “Surah Yasin itu di baca untuk maksud apa saja.”

     
  • erva kurniawan 2:40 am on 23 August 2016 Permalink | Balas  

    Kebaikan Itu Sangat Mudah Dilakukan 

    tetes-airKebaikan Itu Sangat Mudah Dilakukan

    Ketika itu satu jam menjelang shalat Zhuhur di Masjidil Haram cuaca sangatlah terik. Tiba-tiba seorang lelaki yang sudah sangat tua berdiri dan memberikan air dingin kepada orang-orang yang hadir dan beri’tikaf di tempat itu. Tangan kanannya memegang sebuah gelas, dan tangan kirinya memegang yang sebuah lagi. Dia memberi minum jamaah dengan air zam-zam. Setelah seseorang selesai minum maka dia mengambil air dan kembali memberi minum kepada yang lain. Betapa banyak orang yang ia beri minum. Keringatnya mengucur deras sedangkan orang-orang hanya menunggu giliran mendapatkan air minum dari orang tua tadi. Semangat, kesabaran dan kecintaannya kepada kebaikan, serta wajahnya yang selalu menebar senyum saat memberi minum sangatlah mengagumkan.

    Ternyata kebaikan itu sangat mudah dilakukan oleh siapa saja yang oleh Allah dimudahkan untuk melakukannya. Allah memiliki simpanan kebaikan yang banyak sekali, yang akan mengaruniakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah mengalirkan keutamaan kepada orang-orang yang baik yang senang melakukan kebaikan kepada sesama dan tidak senang melihat keburukan menimpa sesama.

    Abu Bakar siap menempuh semua bahaya pada saat hijrah untuk melindungi Rasulullah. Abu Ubaidah tidak tidur malam di tengah tentaranya yang nyenyak tertidur. Umar bin al-Khaththab keliling kota Madinah pada saat penduduk Madinah sedang terlelap tidur. Pada musim paceklik, Umar hanya bisa membolak- balikan badan karena lapar, sebab makanannya sendiri ia bagikan kepada rakyatnya. Hatim rela tidur dalam keadaan lapar asal tamu-tamunya kenyang. Ibnul Mubarak memberi makanan kepada orang lain padahal ia sendiri dalam keadaan puasa.

    “Mereka memberi makan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang-orang tawanan” [AL Insaan: 76:8 ]

    Demikian seperti diceritakan oleh DR. ‘Aidh al-Qarni dalam bukunya La Tahzan.

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 22 August 2016 Permalink | Balas  

    Aku Anak Pelacur 

    ibu-anak-siluetAku Anak Pelacur

    Pernahkan Anda dihina, dicibirkan ato dijadikan gunjingan, bahkan selalu dipojokan, karena profesi dari ortu? Hal ini pasti akan Anda rasakan, apabila Anda dilahirkan dari rahim seorang pelacur, sundal, lonte, PSK, perek, atau nama lain apa sajalah yang dapat mewakili sebutan seorang penjaja tubuh dan cinta. Aku memang anak seorang pelacur, walaupun aku sendiri tidak ingin menjadi anak pelacur. Bila aku boleh memilih, pasti aku akan memilih mempunyai orang tua yang baik-baik, lahir dari suatu perkawinan yang sah. Tapi, apakah aku punya pilihan? Hidup memang sebuah pilihan, tetapi tidak untuk memilih dari siapa manusia dilahirkan.

    Orang sekampung memperlakukan kami sekeluarga seperti juga penderita penyakit AIDS. Bukan hanya dicibirkan saja, tetapi dalam keadaan apapun juga aku selalu disalahkan. Cemohan dan hinaan sebagai anak pelacur melekat di tubuhku sejak kecil. Apabila aku bertengkar dengan anak tetangga, pasti aku yang selalu disalahkan dengan cemohan, “pantas saja anak ini nakal sebab ibunya juga seorang pelacur. Betapa pedih dan sakitnya hatiku mendengar hinaan seperti itu, tapi aku tidak bisa membela diri. Apakah seorang anak pelacur harus selalu salah? Apakah aku tidak bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus dikaitkan dengan pekerjaan ibu? Hinaan ini bukannya hanya berlaku dirumah saja, tetapi disekolahan atau dimanapun juga aku berada.

    Apabila aku menceritakan kesedihanku kepada Ibu, Ibu hanya bisa membelai kepalaku dengan lembut, sambil turun air matanya berlinang, karena ia bisa turut merasakan betapa pedihnya penderitaanku. Walaupun aku tidak dididik menjadi anak soleh, tetapi Ibu selalu berharap agar anaknya bisa menjadi seorang wanita karir yang berpendidikan, ia tidak ingin aku terjerumus, sehingga mengikuti jejaknya. Nasehat Ibuku selalu terngiang dikupingku: “Janganlah tiru jejak kehidupan emak yang suram ini. Cukup hanya emak yang terperosok dalam kegelapan, hidup dalam kehinaan, tak punya harga diri.”

    Aku tidak pernah mengenal ayahku, sedangkan Ibu sendiripun tak mengerti siapa bapak sahnya. Ibu menjadi pekerja seks sebab dia tidak mempunyai apa-apa. Dia tidak mempunyai ijasah atau ketrampilan yang bisa digunakan untuk mencari uang. Aku yakin menjadi seorang pekerja seks bukan pilihan ibu, tapi sebuah keterpaksaan. Jika ada pilihan pekerjaan lain, aku yakin ibu pasti akan meninggalkan pekerjaan itu, karena kehidupan serba kekurangan inilah yang memaksanya menjalani profesi terkutuk. Dan aku tetap mengasihi Ibuku seperti juga layaknya anak-anak lain mengasihi Ibunya, aku tidak pernah merasa jijik ataupun muak terhadap Ibuku, apakah ini salah? Walaupun demikian aku selalu berdoa, apapun yang akan terjadi didalam kehidupanku, aku tidak ingin anakku mengalami nasib yang sama dengan mendapatkan Ibu seorang pelacur.

    Tetapi rupanya takdir dan jalan kehidupan seseorang itu bukanlah pilihan sendiri, suatu hari aku di perkosa oleh para pemuda sekampung, karena mereka menilai apabila Ibunya seorang pelacur pasti anaknyapun sudah tidak perawan lagi, padahal usiaku baru saja 15 tahun. Betapa sakitnya badanku terlebih lagi hati dan perasaanku, sehingga aku mulai merasa jijik terhadap diriku sendiri, aku sudah menilai diriku kotor dan hina, walaupun ini bukannya keinginanku melainkan karena hasil dari pemerkosaan para pemuda yang menilai aku sama seperti Ibuku. Apakah dalam hal ini aku bisa menyalahkan Ibuku?

    Hancurlah sudah harapanku maupun harapan Ibuku untuk menjadikan aku beda daripada Ibuku. Karena satu-satunya mahkota kehidupanku telah direnggut dengan paksa, mahkota yang menjadikan diriku lebih terhormat dibanding dengan Ibuku di mata masyarakat. Sesuatu yang diharapkan dapat menghapus citra jelek anak seorang pelacur telah hilang dalam waktu satu malam. Apakah Tuhan telah mentakdirkan aku untuk mengikuti jejak Ibuku menjadi seorang pelacur? Apakah Tuhan telah merencanakan bertambahnya seorang pelacur di muka bumi ini dengan hancurnya kebanggaan hidupku? Dan apakah Tuhan masih mau mengangkatku dari lembah kegelapan hidup yang selama ini mengikuti ke mana langkahku pergi?

    Malapetaka yang menimpa diriku ini diketahui oleh orang sekampung. Apakah ada rasa iba atau prihatian akan kejadian yang menimpa diriku, boro-boro bahkan aku semakin dipojokan oleh mereka, mereka menilai apa yang terjadi dengan diriku itu hal yang sewajarnya sebagai hukuman karma atas dosa ibuku. Hal ini membuat harga diriku semakin jatuh, aku merasa malu, sehingga jangankan pergi ke sekolah keluar rumah pun aku merasa malu.

    Dua bulan kemudian sejak kejadian yang mengenaskan tersebut Dokter menyatakan bahwa aku hamil. Kehamilan yang sama sekali tidak kuinginkan, kehamilan karena peristiwa tragis itu. Diperkosa.

    Anakku akan lahir sebagai anak haram, walaupun ia memang tidak berdosa, tapi dia pasti akan menanggung segala beban yang tidak seharusnya ditanggung olehnya kelak. Seperti halnya aku yang tak tahu siapa bapakku, hal seperti itu pulalah yang akan dialaminya nanti, dikucilkan, dicela, dijauhi, seperti halnya yang terjadi dengan diriku.

    Tak ada seorang anakpun yang mau lahir sebagai anak haram. Aku juga tak mau dia menderita, karena mungkin jika dia boleh memilih, dia pasti akan memilih untuk tidak dilahirkan. Karena kelahirannnya tidaklah diinginkan terutama oleh masyarakat yang serba munafik ini.

    Apakah masih ada masa depan untuku, setelah lahirnya bayi tersebut? Apakah aku akan mampu mengasihi bayi yang tak berdosa tersebut, seperti layaknya seorang Ibu mengasihi anaknya?

    Aku sudah tidak memiliki masa depan lagi, usiaku masih muda belia, pendidikanpun tidak kumiliki, sehingga rupanya aku sudah ditakdirkan untuk mengikuti jejak dari Ibuku! Tetapi dilain pihak aku tidak ingin bayi ini nanti mengalami nasib yang sama seperti yang juga pernah kualami sampai saat ini. Mungkin jalan satu-satunya yang terbaik ialah memilih agar bayi ini tidak dilahirkan, seperti juga apa yang dianjurkan oleh emak! Apakah Tuhan itu benar-benar mengasihi umat-Nya? Apakah masih ada masa depan untukku maupun untuk bayiku?

    Apakah mungkin takdir yang sedang kualami ini merupakan hukum karma, karena prilaku dari emak? Apakah aku bisa menyalahkan emak ataupun membencinya, karena aib yang menimpa diriku ini?

    Sehingga tersirat dalam pikiranku mungkin ada baiknya untuk bunuh diri saja, sehingga dengan demikian, anak yang tak berdosa inipun tidak perlu dilahirkan dan akupun tidak perlu mengikuti jejak dari emak, mungkin inilah keinginan Tuhan dariku untuk mati dalam usia 15 tahun.

    Dari Rita (Bukan nama sebenarnya)

    Mungkin ada pembaca yg bersedia memberikan saran untuk Rita yang merasa sedang berada di jalan kehidupan yang buntu.

     
    • bknurbaeti 4:22 pm on 30 Juni 2017 Permalink

      Rita cantiiiiik…… aq mengerti apa yang Rita rasakan, sangat mengerti. Ok kita urai permasalahannya. Diperkosa dan hamil tentunya bukan kehendak kita, saranku jangan digugurkan dan jangan bunuh diri, sebabRita akan berbuat dosa berlipat ganda. Biarkan bayi itu lahir.

      Bagaimana kalau Rita bersama ibu dan bayi hijrah ke kota lain dan mulai dengan kehidupan baru. Ambil nilai raport atau ijazah yang dimiliki, kalau Rita usianya 15 tahun berarti kelas 3 SMP? Kalau sudah lulus SMP ya sukur, tapi kalau belum, ambil raport dan lanjutkan di SMP, kemudian lanjutkan ke SMK/SMA. Kalau keuangan tidak memungkinkan, coba bekerja di Salon/Penjahit, apa saja dan sekolah Paket C.

      Memang tidak mudah, tapi yang dapat mengubah kehidupan kita hanya diri kita sendiri. Ibu dapat mengikuti kursus menjahit, salon, ikut bisnis MLM atau apa saja yang penting halal dan dapat mengubah kehidupan. Tentunya ibu sudah semakin tua, sebaiknya Ibu beralih profesi.

      Itu saja yang dapat aq sarankan Rit, semoga dapat menjadi pencerahan. selamat berjuang, semoga sukses.

    • Pak Tawang 10:42 pm on 17 Juli 2017 Permalink

      Bener kata bu bknurbaeti jln terbaik adalah hijrah sebab masyarakat disitu sdh tdk respon malah bikin smakin mnderita. Cri kampng, dsa ato kota yg lbh baik pnduduknya

  • erva kurniawan 1:08 am on 21 August 2016 Permalink | Balas  

    Melubangi Kapal 

    kapalMelubangi Kapal

    Setiap perbuatan yang melanggar hukum syarak adalah kemaksiatan. Dan setiap kemaksiatan pasti akan merugikan diri orang yang berbuat dan membahayakan diri orang lain. Perbuatan maksiat itu ibarat perbuatan melubangi kapal. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda : “Perumpamaan keadaan suatu masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah SWT adalah ibarat suatu rombongan yang naik sebuah perahu. Lalu mereka mebagi tempat duduknya masing-masing, ada yang dibagian atas dan sebagian lagi dibagian bawah. Bila ada orang dibagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk dibagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah itu berkata, ‘seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak menggangu orang lain yang di atas. Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa”. (HR.Bukhari).

    Peminum khamr, pezina, pencuri, penjudi, koruptor, pelaku kolusi, pelaku ketidakadilan, dan pelanggar hukum syarak lainnya, atau tidak menerapkannya secara utuh, jelas itu sebuah kemaksiatan. Dampak perbuatan itu akan dirasakan oleh orang lain.

    Maraknya tindak kriminal dan asusila, banjir yang melanda berbagai wilayah, kekeringan dan kebakaran hutan baru-baru ini, adalah sebagian contoh akibat kesalahan manusia. Boleh jadi hanya sebagian manusia melakukan kemaksiatan itu, tetapi banyak yang tidak berdosa (ikut) menanggungnya.

    Islam tidak mengenal sikap individualis atau cuek bebek terhadap orang lain dan lingkungannya. Sikap individualis pada dasarnya akan membiarkan orang lain bebas berbuat (melanggar batas hukum Allah SWT). Tetapi sebaliknya, Islam mewajibkan Amar Makruf Nahi Mungkar, sehingga setiap jiwa tidak menanggung derita dunia dan akherat karena sebuah kemaksiatan seseorang.

    Allah SWT mengingatkan kita dalam firman-Nya ; “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang orang-orang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”.(QS.An-Anfaal:25).

    Menjaga batas-batas hukum Allah atau ber-Amar Makruf Nahi Mungkar sehingga “kapal” kehidupan bermasyarakat tidak tenggelam karena tidak seorang pun melubanginya, adalah perkara yang teramat penting. Lebih penting daripada sekedar berdiam diri dan khusyuk berdoa dihadapan Allah SWT. Karena Rasulullah SAW bersabda : “Kalian harus mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran. Bila tidak demikian, tentu Allah akan menjadikan orang-orang jahat diantaramu menguasai kalian. (Dan) Bila ada orang baik diantaramu berdoa (untuk keselamatan) maka doanya tidak akan dikabulkan”.(HR.Al-Bazzar & Thabrani).

    (dikutip dari kolom Hikmah-Republika).

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 20 August 2016 Permalink | Balas  

    Kiamat Kelak : Dimanakah Tempat Kita ?. 

    muhammad 2Kiamat Kelak : Dimanakah Tempat Kita ?.

    Rasulullah SAW ditanya : “Bagaimana menurut Rasulullah SAW tentang seseorang yang mencintai suatu kaum /seseorang, padahal ia belum pernah bertemu dengan mereka itu? “.

    Rasulullah SAW menjawab : “Seseorang akan selalu bersama dengan orang yang dia cintai”. (hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

    Jika seseorang mencintai yang lain atas dasar karena Allah SWT, meskipun tidak pernah bertemu dengan yang dicintainya itu, maka dia akan tercatat bersama-sama dengan golongan Allah SWT.

    Seorang Muslim yang mencintai Rasulullah SAW dan para sahabatnya serta seluruh pengikutnya, maka pada hari Kiamat kelak dia akan berada bersama Rasulullah SAW dan para sahabatnya serta seluruh pengikutnya itu.

    Sebaliknya jika seorang Muslim lebih mencintai kaum dari golongan kafir (Ahli Kitab dan kaum Munafik) daripada mencintai saudara sesama Muslim (para pengikut Rasulullah SAW), maka pada hari Kiamat kelak dia akan berada bersama golongan kafir dari para Ahli Kitab dan kaum Munafik itu.

    Wallahualambisawab.

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 19 August 2016 Permalink | Balas  

    I’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (3/3) 

    itikafI’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (3/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Manakala isteri yang berniat i’tikaf dengan nazar tanpa izin suami, maka suami boleh melarang isteri daripada melakukannya i’tikaf itu. Jika isteri meneruskan i’tikafnya itu, maka bagi suami berhak melarang atau menegah daripada meneruskan i’tikaf tersebut. Sebaliknya jika isteri diizinkan oleh suami melakukan i’tikaf tersebut sama ada dengan ditentukan masa i’tikaf atau sebaliknya dan i’tikaf itu disyaratkan dengan berturut-turut maka tidak harus bagi suami menegah isteri daripada berbuat demikian. Kerana penentuan masa tidak harus diakhirkan dan syarat berturut-turut itu tidak harus diselang-selikan. Demikian juga tidak harus membatalkan ibadah wajib ketika melakukan ibadah tanpa uzur.

    Menurut pendapat al-ashah, jika isteri mendapat izin melakukan i’tikaf tanpa menentukan masanya dan tidak disyaratkan berturut-turut, maka suami boleh menegah isterinya melakukan i’tikaf tersebut.

    Perkara Yang Harus Dilakukan Oleh Orang Yang Beri’tikaf

    Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmuk (6/514-517) telah menyebutkan perkara-perkara yang harus dilakukan oleh orang yang beri’tikaf, iaitu:

    1. Harus bagi orang yang beri’tikaf itu bersuci, mandi dan menghias diri. Di samping itu dia mestilah menjaga kebersihan masjid. Sesungguhnya telah sabit bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala sedang beri’tikaf di masjid telah menghulurkan kepalanya kepada isterinya ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha yang berada di dalam biliknya untuk disikatkan kepala Baginda pada hal isteri Baginda pada waktu itu sedang haid, sebagaimana dalam satu riwayat disebutkan:

    Maksudnya: “Sesungguhnya ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menghulurkan kepala Baginda kepadaku tatkala Baginda dalam masjid untuk disikat dan Baginda tidak akan masuk ke rumah kecuali ada keperluan ketika Baginda beri’tikaf”.

    (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Dalam hadis yang lain ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata:

    Maksudnya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menghulurkan kepalanya sedang aku di dalam bilik ku dan menyikat rambut Baginda. Ketika itu aku dalam haid”.

    (Hadis riwayat Muslim)

    1. Harus bagi lelaki dan perempuan memakai bau-bauan dan memakai pakaian yang indah atau berharga. Imam As-Syafi’e berkata dalam kitab Al-Mukhtasar (Al-Majmuk: 6/515):

    Maksudnya: “Tidak mengapa orang yang beri’tikaf sama ada lelaki dan perempuan memakai pakaian (yang indah), makan dan memakai wangian”.

    Walau bagaimanapun bagi perempuan tidak diharuskan berbuat demikian sekiranya di masjid tersebut ada lelaki yang kemungkinan akan tercium bau-bauan yang dipakai itu.

    1. Harus bagi orang yang beri’tikaf itu melakukan akad nikah di dalam masjid.
    2. Harus membaca dan mempelajari Al-Qur’an dan sebarang ilmu pengetahuan. Menurut Imam As-Syafi’e dan para pengikutnya bahawa perkara sedemikian itu lebih afdhal daripada melakukan sembahyang-sembahyang sunat (nafilah) kerana mempelajari ilmu itu fardhu kifayah.
    3. Sekiranya yang beri’tikaf itu berhajat kepada berjual beli, maka harus baginya berakad jual beli di masjid tanpa berlebihan seperti membawa bersama barang yang diakadkannya itu. Jika berlaku sedemikian hukumnya adalah makruh.
    4. Tidak harus melakukan sesuatu pekerjaan di dalam masjid kecuali kerana hajat seperti menjahit atau menampal kain yang koyak ataupun memperbaiki sesuatu yang ditakuti rosak.
    5. Harus bagi orang yang beri’tikaf makan minum di dalam masjid dengan mengambil kira akan menjaga kebersihan masjid dan tidak mencemarkannya.

    NB : Harus = bahasa Indonesia artinya boleh, Tidak Harus = Tidak Boleh.

    Perkara Yang Membatalkan I’tikaf

    Perkara-perkara yang membatalkan i’tikaf itu ialah:

    1. Bersetubuh sama ada keluar air mani atau sebaliknya, sekalipun ia dilakukan di luar masjid atau ketika keluar qadha hajat atau sebagainya yang mengharuskan dia keluar masjid. Kecuali bagi i’tikaf sunat tidaklah membatalkan i’tikaf dan ia di lakukan di luar masjid. Begitu juga tidak membatalkannya bagi orang yang lupa dan jahil mengenai haramnya bersetubuh ketika dalam i’tikaf. (Mughni Al-Muhtaj: 1/452 dan Al-Majmuk: 6/512)
    2. Keluar mani tanpa bersetubuh dengan cara berseronok-seronok hingga menaikkan syahwat dengan ikhtiarnya. Oleh itu haram bagi orang yang beri’tikaf melakukan sesuatu yang boleh membangkitkan syahwat sehingga membawa kepada persetubuhan. Inilah juga pendapat Ar-Rafi’e yang mengatakan bahawa pendapat al-ashah di sisi jumhur ulama ialah apabila perbuatan berseronok-seronok itu menyebabkan keluar air mani maka batallah i’tikaf itu, jika sebaliknya maka tidaklah membatalkannya. (Al-Majmuk: 512-513 dan Mughni Al-Muhtaj: 1/452)
    3. Gila dan pitam yang berpanjangan. (Al-Majmuk: 6/504-505)
    4. Murtad dan mabuk. (Al-Majmuk: 6/506)
    5. Keluar haid dan nifas. Jika seseorang wanita dating haid atau nifas maka batal i’tikafnya. (Al-Majmuk: 6/507)

    Penutup

    Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahawa ibadah i’tikaf merupakan ibadah badaniyah yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sepanjang hidup Baginda. Ini menandakan akan besarnya ganjaran dan pahala yang diberikan kepada orang yang melakukan.

    Apatah lagi, i’tikaf yang disertakan dengan puasa, seseorang itu akan bertambah hampir kepada Allah kerana tujuan i’tikaf itu adalah pembersihan hati dan jiwa dengan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menjauhkan diri daripada kegiatan atau aktiviti-aktiviti keduniaan. Oleh kerana itu untuk mencapai matlamat itu dianjurkan orang yang beri’tikaf  memperbanyak sembahyang sunat, berzikir kepada Allah, berdoa meminta ampun (istighfar), mengucapkan selawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam atau membaca Al-Qur’an di samping bacaan-bacaan lain yang boleh mendekatkan diri kepada Allah.

    ==== selesai ====

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 18 August 2016 Permalink | Balas  

    I’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (2/3) 

    itikaf 2I’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (2/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Mengikut qaul jadid pula, seorang perempuan tidak sah beri’tikaf di masjid rumahnya (bilik khas sembahyang di dalam rumah) sebab ia bukan masjid, buktinya ialah masjid rumah tidak dilarang orang yang berjemaah duduk di dalamnya untuk melakukan perkara-perkara yang dilarang di dalam masjid seperti berhenti bagi orang yang junub di dalam masjid dan sebagainya. Di samping itu isteri-isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga melakukan i’tikaf di dalam masjid. (Tuhfah Al-Muhtaj: 3/366)

    Menurut pendapat yang ashah di kalangan ulama Syafi’eyah, (Al-Majmu’: 6/473)  seseorang yang bernazar untuk beri’tikaf di dalam mana-mana masjid selain daripada Masjid Al-Haram, Masjid An-Nabawi dan Masjid Al-Aqsa, maka nazar itu adalah harus bahkan dia boleh melakukannya di mana-mana masjid kecuali jika dia bernazar untuk beri’tikaf di dalam salah sebuah daripada  tiga masjid (yaitu Masjid Al-Haram, Masjid An-Nabawi dan Masjid Al-Aqsa), maka dia wajib beri’tikaf di dalam masjid yang ditentukan itu. Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh ‘Umar Radhiallahu ‘anhu yang maksudnya :

    “Sesungguhnya ‘Umar bin Al-Khattab telah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau berkata: “Aku telah bernazar pada ketika zaman  Jahiliyah untuk beri’tikaf satu malam di Masjid Al-Haram?”

    Baginda menjawab dan bersabda: “Laksanakanlah nazar engkau”

    (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Kesimpulannya ulama mazhab Maliki dan Syafi’e mengharuskan i’tikaf di mana-mana masjid, sementara ulama mazhab Hanafi dan Hanbali mensyaratkannya di masjid Jami’. Manakala jumhur ulama tidak mengharuskan i’tikaf di masjid rumah (bilik khas sembahyang di dalam rumah) sedangkan ulama mazhab Hanafi pula mengharuskan demikian kepada orang perempuan. (Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu: 699-700)

    1. Al-lubthu yaitu berhenti di dalam masjid. Menurut pendapat ashah ulama Syafi’e disyaratkan tempoh berhenti itu panjang sedikit daripada masa thuma’ninah di dalam sembahyang sama ada dalam keadaan berdiri, duduk atau sambil berjalan di ruangan masjid. Tidak memadai sekadar thuma’ninah atau kurang daripada itu. Bahkan lama berhenti itu tidak ditentukan masanya sehinggakan berniat nazar i’tikaf bagi tempuh sebentar atau selama satu jam, sah i’tikaf tersebut. Menurut Imam Syafi’e afdhal berniat i’tikaf selama satu hari bagi mengelakkan daripada khilaf (percanggahan ulama).

    Sunat berniat i’tikaf untuk mendapatkan pahala bagi orang yang melintas (lalu) dalam masjid seperti masuk dari pintu dan keluar dari pintu lain dan sebagainya, dan tidak memadai i’tikaf itu bagi orang lalu dalam masjid tanpa niat.

    1. Niat: Ketika hendak memulakan i’tikaf disyarat berniat i’tikaf. Ia tidak sah dilakukan tanpa niat sama seperti sembahyang dan ibadah-ibadah lain karena niat itu adalah ibadah sama ada ibadat itu berbentuk wajib seperti nazar atau selainnya. Matan Kitab Al-Minhaj menyebutkan bahawa disyaratkan niat ketika memulakan i’tikaf dan begitu juga ketika melakukan i’tikaf nazar (wajib). Ini bertujuan untuk membezakan dengan i’tikaf sunat, sebagaimana dinyatakan oleh Khatib As-Syarbini pengarang kitab Mughni Al-Muhtaj. (1/453)

    Menurut Imam An-Nawawi pula, memadai i’tikaf jika seseorang berniat i’tikaf secara mutlaq (tidak menentukan masa i’tikaf) sekalipun lamanya satu hari atau satu bulan. Dalam kes tidak menentukan masa i’tikaf ini, jika dia keluar daripada masjid kemudian masuk semula ke dalam masjid, hendaklah dia memperbaharui niat i’tikafnya sekalipun keluar karena qadha hajat atau sebagainya. Kecuali ketika dia keluar untuk mengqadha hajat itu dia berazam untuk masuk semula, tidaklah perlu memperbaharui niatnya. (al-Majmuk: 6/487 dan Mughni Al-Muhtaj:1/453)

    Bagi i’tikaf yang ditentukan masanya seperti berniat i’tikaf sunat selama satu hari atau satu bulan atau berniat nazar selama beberapa hari (tidak ditentukan masanya) dan tidak pula disyaratkan berturut-turut, dalam perkara ini menurut qaul ashah, tidak wajib memperbaharui niat jika seseorang itu hendak keluar bagi tujuan qadha hajat dan masuk semula ke dalam masjid. Kecuali bagi tujuan yang lain (selain qadha hajat) sekalipun masanya itu panjang atau sekejap, disyaratkan memperbaharui niat i’tikaf itu. (Al-Majmuk: 6/487 dan Mughni Al-Muhtaj:1/453)

    Begitu juga bagi i’tikaf nazar beberapa hari dengan berturut-turut, jika dia keluar masjid sehingga memutus hari berturut-turut itu  dengan tujuan yang lain (selain qadha hajat atau mandi junub karena bermimpi) disyaratkan baginya memperbaharui niat. Akan tetapi, jika dia keluar bagi tujuan qadha hajat atau mandi junub karena bermimpi tanpa memutus hari berturut-turut tersebut, tidaklah wajib memperbaharui niatnya. (Al-Majmuk: 6/487-488 dan Mughni Al-Muhtaj: 1/454)

    Puasa Bagi Orang Yang Beri’tikaf

    Menurut Imam Syafi’e dalam qaul jadid dan para pengikutnya bahawa harus juga melakukan i’tikaf itu tanpa berpuasa, akan tetapi afdhal melakukan i’tikaf itu dengan berpuasa. I’tikaf juga sah di waktu malam sahaja dan pada hari-hari Tasyriq dan hari raya. Walau bagaimanapun menurut kebanyakan ulama Syafi’e puasa bukanlah syarat bagi sahnya i’tikaf.

    Jika seseorang itu bernazar melakukan i’tikaf satu hari atau lebih dengan berpuasa, maka memadailah dia melakukan i’tikaf dengan puasa tanpa khilaf (percanggahan) ulama dan tidak diasingkan puasa itu daripada i’tikaf. Begitulah juga sebaliknya. Manakala jika seseorang itu bernazar i’tikaf dan puasa atau bernazar i’tikaf dengan berpuasa, bolehkah kedua-duanya disatukan? Menurut pendapat yang ashah di kalangan mazhab Syafi’e memadai keduanya disatukan dan itulah pendapat jumhur dan nash daripada perkataan Imam As-Syafi’e. (Al-Majmuk: 6/475-477) Bahkan wajib disatukan sebagaimana disebut dalam matan kitab Mughni Al-Muhtaj (1/453)

    I’tikaf Bersyarat

    Seseorang yang bernazar untuk melakukan i’tikaf selama beberapa hari dan disyaratkan dalam nazarnya itu bahawa dia akan keluar sekiranya dihinggapi penyakit atau karena menziarahi pesakit atau keluar karena mencari ilmu, maka sah syarat-syaratnya itu. Oleh itu dia dibolehkan keluar melakukan perkara-perkara yang disyaratkan dalam nazarnya tetapi hendaklah dia bersegera kembali beri’tikaf sebaik sahaja kerja-kerja itu selesai. Sekiranya dia lambat kembali tanpa uzur, batal i’tikafnya dan dia hendaklah memulai semula i’tikafnya dan wajib memperbaharui niat i’tikaf tersebut. (Al-Majmuk: 6/520 & 488)

    Hukum Mengenai Perempuan Yang Beri’tikaf

    Perempuan sah melakukan i’tikaf sebagaimana para isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya. Untuk jelasnya beberapa hukum mengenai perempuan yang beri’tikaf sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Majmuk (Al-Majmuk: 6/470-471) :

    1. Tidak sah dan tidak harus seorang perempuan beri’tikaf tanpa izin daripada suami. Jika isteri bernazar untuk melakukan i’tikaf dengan kebenaran suami, sebagai contoh ia ditentukan selama 2 hari, menurut Imam An-Nawawi harus bagi isteri tersebut masuk ke masjid tanpa memerlukan izin daripada suami, karena kebenaran nazar itu adalah izin untuk masuk ke masjid. Jika nazar tersebut tidak ditentukan dengan masa, maka tidak harus bagi isteri masuk ke masjid tanpa izin suami.
    2. Jika seorang isteri masuk masjid melakukan i’tikaf sunat tanpa izin suami atau sebaliknya, maka harus bagi suami melarang meneruskan i’tikaf itu tanpa khilaf (percanggahan ulama).
     
  • erva kurniawan 1:56 am on 17 August 2016 Permalink | Balas  

    I’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (1/3) 

    itikaf3I’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (1/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    I’tikaf ialah suatu ibadah yang mempunyai kelebihan dan hikmat tertentu. Di antaranya membersihkan hati daripada sifat-sifat yang tercela, menyerahkan diri sepenuhnya beribadah kepada Allah demi memohon darjat yang tinggi, menjauhkan diri daripada kesibukan dunia yang menghalang daripada mendekatkan diri kepadaNya.

    Maksud asal pensyariatan i’tikaf itu ialah menanti sembahyang untuk berjemaah. Diibaratkan orang yang beri’tikaf itu seperti Malaikat yang tidak melakukan dosa kepada Allah, melakukan segala apa yang disuruh dan bertasbih malam dan siang. (Al-Mausu’ah Al-Feqhiyyah: 5/207)

    I’tikaf tidak terikat dengan waktu bahkan sunat beri’tikaf pada setiap waktu, sama ada di bulan Ramadhan mahupun di bulan-bulan lain. Cuma ia lebih dituntut dan afdhal, jika dilakukan pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan kerana fadhilat beri’tikaf pada bulan tersebut lebih banyak dibandingkan waktu-waktu pada bulan-bulan lain.

    Pengertian I’tikaf

    I’tikaf dari segi bahasa bermaksud diam dan duduk berhenti pada sesuatu tempat, tidak kira sama ada tempat itu baik atau sebaliknya. Manakala menurut pengertian syarak i’tikaf bermaksud duduk di dalam masjid oleh seseorang yang tertentu dengan niat. (Al-Fiqh Al-Islam Wa Adillatuh: 2/693)

    Tuntutan I’tikaf

    I’tikaf disyariatkan dalam Islam melalui Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ ulama.

    Di antara dalil-dalil yang menunjukkan tentang tuntutan i’tikaf itu sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang tafsirnya :

    “Dan janganlah kamu setubuhi isteri-isteri kamu ketika kamu sedang beri’tikaf di dalam masjid. Itulah batas-batas larangan Allah, maka janganlah kamu menghampirinya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat hukumNya kepada sekalian manusia supaya mereka bertaqwa”.

    (Surah Al-Baqarah: 187)

    Allah berfirman di dalam ayat yang lain yang tafsirnya :

    “Dan ingatlah ketika Kami jadikan Rumah Suci (Baitullah) itu tempat tumpuan bagi umat manusia (untuk beribadat Haji) dan tempat yang aman; dan jadikanlah oleh kamu Maqam Ibrahim (tempat berdiri Nabi Ibrahim) itu tempat sembahyang. Dan Kami perintahkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il (dengan berfirman): “Bersihkanlah RumahKu (Ka’bah dan Masjid Al-Haram dari segala perkara yang dilarang) untuk orang-orang yang bertawaf, dan orang-orang yang beri’tikaf (yang tetap tinggal padanya), dan orang-orang yang ruku’ dan sujud”.

    (Surah Al-Baqarah: 125)

    Dalil daripada As-Sunnah pula ialah hadis riwayat Ibnu ‘Umar, Anas dan ‘Aisyah Radhiallahu ‘anhum yang maksudnya :

    “Daripada ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiallahu ‘anhuma telah berkata: “Sesungguhnya Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan”.

    (Hadis Riwayat Al-Bukhari)

    Dalam hadis yang lain yang maksudnya :

    “Daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha iaitu isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahawa sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Baginda melakukan amalan i’tikaf tersebut sehingga Baginda wafat. Kemudian para isteri Baginda meneruskan amalan i’tikaf selepas itu”.

    (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Ulama sepakat mengenai pandangan Az-Zuhri yang mengatakan: “Sungguh aneh manusia, bagaimana boleh mereka meninggalkan i’tikaf. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sesuatu dan meninggalkan sesuatu tetapi Baginda tidak pernah meninggalkan i’tikaf sehingga wafat”. I’tikaf juga pernah terdapat di dalam syariat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam (Al-Fiqh wa Adillatuhu: 2/694) sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

    “Dan kami perintahkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il (dengan berfirman): “Bersihkanlah RumahKu (ka’bah dan Masjid Al-Haram dari segala perkara yang dilarang) untuk orang-orang yang bertawaf dan orang-orang yang beri’tikaf (yang tetap tinggal padanya) dan oang-orang yang ruku’ dan sujud”.

    (Surah Al- Baqarah: 125)

    Hukum Dan Waktu I’tikaf

    Hukum i’tikaf adalah sunat muakkad. Ia dilakukan pada setiap waktu sama ada dalam bulan Ramadhan ataupun pada bulan-bulan lain. Afdhal melakukan i’tikaf itu pada sepuluh hari yang terakhir daripada bulan Ramadhan (Nihayah Al-Muhtaj: 3/214) sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Menurut Imam As-Syafi’e dan para pengikutnya, bagi orang yang ingin mendapatkan pahala sunnah (mengikut perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan i’tikaf 10 terakhir bulan Ramadhan) sayugialah dia masuk masjid dengan niat i’tikaf sebelum masuk matahari hari ke 20 (malam ke 21) Ramadhan dan keluar daripada masjid pada malam hari raya selepas masuk matahari. Malahan lebih afdhal lagi jika dia kekal di dalam masjid hingga malam hari raya dan sembahyang hari raya serta keluar pada hari raya tersebut. (Raudhah: 2/255 dan Al-Majmuk: 6/469)

    Bagi sesiapa yang beri’tikaf sehari semalam atau lebih hendaklah memulakan i’tikaf itu (di masjid) sebelum matahari terbenam dan keluar daripada masjid setelah masuk matahari hari berikutnya. (Al-Majmuk: 6/483)

    Kategori I’tikaf

    I’tikaf terbahagi kepada dua iaitu i’tikaf sunat dan i’tikaf wajib. I’tikaf sunat ialah berniat i’tikaf sunat kerana Allah Ta’ala sama ada dengan masa sebentar (lahzah), satu hari, satu hari satu malam atau sebagainya. Manakala i’tikaf wajib hanya dengan cara bernazar untuk melakukannya sebagaimana pendapat jumhur ulama mengenainya. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah: 5/208)

    Rukun I’tikaf

    Rukun I’tikaf ada empat perkara:

    1. Mu’takif iaitu orang yang mengerjakan i’tikaf. Syarat bagi orang yang beri’tikaf itu hendaklah beragama Islam, berakal, suci daripada junub, haid dan nifas. I’tikaf itu sah dilakukan oleh lelaki, perempuan dan kanak-kanak mumayyiz.
    2. Mu’takiffun fihi iaitu tempat melakukan i’tikaf. Tempat i’tikaf disyaratkan di dalam masjid kerana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, isteri dan para sahabat Baginda hanya beri’tikaf di dalam masjid. Tidak ada perbezaan dari segi hukum, beri’tikaf di dalam masjid, sama ada di atas bumbung (suthuh), beranda dan halaman (ruhbah) masjid. (Tuhfah Al-Muhtaj: 3/464 dan Nihayah Al-Muhtaj: 3/216) Imam As-Syafi’e dan pengikutnya bersepakat mengenai menara masjid yang terletak di halaman masjid yang dinaiki oleh bilal dan lainnya juga tidak membatalkan i’tikaf. (Al-Majmu’: 6/494-496)

    Menurut pengarang kitab Tuhfah beri’tikaf adalah lebih utama dilakukan di Masjid Jami’ (masjid tempat mendirikan sembahyang Jumaat dan sembahyang berjemaah) berbanding dengan masjid lain. Ini adalah untuk mengelak daripada bercanggah (khilaf) dengan pendapat yang mewajibkannya. Lagipun berjemaah di masjid Jami’ lebih ramai dan tidak perlu lagi keluar untuk bersembahyang Jumaat. (Tuhfah Al-Muhtaj: 3/465).

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 16 August 2016 Permalink | Balas  

    Taubatnya Malik Bin Dinar 

    taubat (1)Taubatnya Malik Bin Dinar

    Diriwayatkan dari Mali bin Dinar, dia pernah ditanya tentang sebab-sebab dia bertaubat, maka dia berkata : “Aku adalah seorang polisi dan aku sedang asyik menikmati khamr, kemudian aku beli seorang budak perempuan dengan harga mahal, maka dia melahirkan seorang anak perempuan, aku pun menyayanginya.

    Ketika dia mulai bisa berjalan, maka cintaku bertambah padanya. Setiap kali aku meletakkan minuman keras dihadapanku anak itu datang padaku dan mengambilnya dan menuangkannya di bajuku, ketika umurnya menginjak dua tahun dia meninggal dunia, maka aku pun sangat sedih atas musibah ini.

    Ketika malam dipertengahan bulan Sya’ban dan itu di malam Jum’at, aku meneguk khamr lalu tidur dan belum shalat isya’. Maka akau bermimpi seakan-akean qiyamat itu terjadi, dan terompet sangkakala ditiup, orang mati dibangkitkan, seluruh makhluk dikumpulkan dan aku berada bersama mereka, kemudian aku mendengar sesuatu yang bergerak dibelakangku.

    Ketika aku menoleh ke arahnya kulihat ular yang sangat besar berwarna hitam kebiru-biruan membuka mulutnya menuju kearahku, maka aku lari tunggang langgang karena ketakutan,

    Ditengah jalan kutemui seorang syaikh yang berpakaian putih dengan wangi yang semerbak, maka aku ucapkan salam atasnya, dia pun menjawabnya, maka aku berkata :

    “Wahai syaikh ! Tolong lindungilah aku dari ular ini semoga Allah melindungimu”. Maka syaikh itu menangis dan berkata padaku :

    “Aku orang yang lemah dan ular itu lebih kuat dariku dan aku tak mampu mengatasinya, akan tetapi bergegaslah engkau mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu”,

    Maka aku bergegas lari dan memanjat sebuah tebing Neraka hingga sampai pada ujung tebing itu, aku lihat kobaran api Neraka yang sangat dahsyat, hampir saja aku terjatuh kedalamnya karena rasa takutku pada ular itu. Namun pada waktu itu seorang menjerit memanggilku,

    “Kembalilah engkau karena engkau bukan penghuni Neraka itu!”, aku pun tenang mendengarnya, maka turunlah aku dari tebing itu dan pulang. Sedang ular yang mengejarku itu juga kembali. Aku datangi syaikh dan aku katakan,

    “Wahai syaikh, aku mohon kepadamu agar melindungiku dari ular itu namun engkau tak mampu berbuat apa-apa”. Menangislah syaikh itu seraya berkata, “Aku seorang yang lemah tetapi pergilah ke gunung itu karena di sana terdapat banyak simpanan kaum muslimin, kalau engkau punya barang simpanan di sana maka barang itu akan menolongmu”

    Aku melihat ke gunung yang bulat itu yang terbuat dari perak. Di sana ada setrika yang telah retak dan tirai-tirai yang tergantung yang setiap lubang cahaya mempunyai daun-daun pintu dari emas dan di setiap daun pintu itu mempunyai tirai sutera.

    Ketika aku lihat gunung itu, aku langsung lari karena kutemui ular besar lagi. Maka tatkala ular itu mendekatiku, para malaikat berteriak : “Angkatlah tirai-tirai itu dan bukalah pintu-pintunya dan mendakilah kesana!” Mudah-mudahan dia punya barang titipan di sana yang dapat melindunginya dari musuhnya (ular).

    Ketika tirai-tirai itu diangkat dan pintu-pintu telah dibuka, ada beberapa anak dengan wajah berseri mengawasiku dari atas. Ular itu semakin mendekat padaku, maka aku kebingungan, berteriaklah anak-anak itu :

    “Celakalah kamu sekalian!, Cepatlah naik semuanya karena ular besar itu telah mendekatinya”. Maka naiklah mereka dengan serentak, aku lihat anak perempuanku yang telah meninggal ikut mengawasiku bersama mereka. Ketika dia melihatku, dia menangis dan berkata :

    “Ayahku, demi Allah!” Kemudian dia melompat bak anak panah menuju padaku, kemudian dia ulurkan tangan kirinya pada tangan kananku dan menariknya, kemudian dia ulurkan tangan kanannya ke ular itu, namun binatang tersebut lari.

    Kemudian dia mendudukkanku dan dia duduk di pangkuanku, maka aku pegang tangan kanannya untuk menghelai jenggotku dan berkata : “Wahai ayahku! Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah”. (QS. Al-Hadid : 16).

    Maka aku menangis dan berkata : “Wahai anakku!, Kalian semua faham tentang Al-Qur’an”, maka dia berkata :

    “Wahai ayahku, kami lebih tahu tentang Al-Qur’an darimu”, aku berkata :

    “Ceritakanlah padaku tentang ular yang ingin membunuhku”, dia menjawab :

    “Itulah pekerjaanmu yang buruk yang selama ini engkau kerjakan, maka itu akan memasukkanmu ke dalam api Neraka”, akau berkata :

    “Ceritakanlah tentang Syaikh yang berjalan di jalanku itu”, dia menjawab : “Wahai ayahku, itulah amal shaleh yang sedikit hingga tak mampu menolongmu”, aku berkata :

    “Wahai anakku, apa yang kalian perbuat di gunung itu?”, dia menjawab : “Kami adalah anak-anak orang muslimin yang di sini hingga terjadinya kiamat, kami menunggu kalian hingga datang pada kami kemudian kami memberi syafa’at pada kalian”. (HR. Muslim dalam shahihnya No. 2635).

    Berkata Malik : “Maka akupun takut dan aku tuangkan seluruh minuman keras itu dan kupecahkan seluruh botol-botol minuman kemudian aku bertaubat pada Allah, dan inilah cerita tentang taubatku pada Allah”.

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 15 August 2016 Permalink | Balas  

    Fadhilat Surah Al Baqarah 

    baqorohFadhilat Surah Al Baqarah

    (Patut diketahui : untuk menambah keyakinan akan kebesaran Al-Qur’an)

    Imam al-Baihaqi dari Imam Shalshal berkata: “Barangsiapa membaca surat baqarah maka dipakaikan kepada mahkota di Syurga.”

    Imam Ibnu Zanjawai dari Imam Wahab ibn Munabih mengatakan: “Barangsiapa membaca Surat Baqarah dan Ali Imran pada malam Jumat maka baginya nur cahaya membentang antara Arsy dan dasar bumi.”

    Abu Mas’ud Albadri ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca dua ayat dari akhir surah Al-Baqarah, maka cukuplah baginya dari hal-hal yang membencikan. Dan menurut sebahagian pendapat: sama dengan bersembahyang malam.”

    Ibnu Abbas ra. bercerita: Pada suatu ketika Jibril berada di sisi Nabi SAW. tiba-tiba terdengar suara dari atas, maka ia mengangkat kepalanya dan berkata: ini sebuah pintu di langit, pada hari ini dibuka, dan turun seorang malaikat, memberi salam dan berkata:”Bergembiralah dengan dua cahaya penerangan yang diberikan oleh Allah kepadamu, dan belum pernah diberikan kepada seseorang Nabi sebelum kamu, iaitu:Fatihul kitab dan akhir surah Al-Baqarah. Tiada engkau membaca suatu huruf daripadanya, melainkan pasti permintaanmu di beri.”

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 14 August 2016 Permalink | Balas  

    Dosa 

    Taubat 1DOSA

    Dosa (Dzanb) ialah meninggalkan sesuatu yang diperintahkan-Nya atau mengerjakan sesuatu yang dilarang-Nya, baik itu berupa ucapan maupun perbuatan, baik yang tampak maupun yang tidak tampak.

    Sesuatu yang harus diperhatikan dan sangat mengkhawatirkan ialah sebagian kaum muslimin meremehkan dosa, mereka tidak segan-segan melakukannya, berbuat maksiat kepada Allah SWT baik secra sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan.

    Dalam Islam, dikenal adanya dosa kecil (Shaghair) dan dosa besar (Kabair). Suatu dosa kecil dapat menjadi dosa besar apabila peluang untuk melakukannya sangat kecil dan tidak ada pendorongnya untuk melakukan dosa itu, meremehkan dosa yang telah dilakukannya, serta tidak memperdulikan rasa takutnya kepada Allah SWT. Sesudah itu dia akan mengajukan alasan ini dan itu, perintah Allah SWT diabaikan, tidak memperhatikannya dan perasaannya tidak tegerak oleh ancaman serta siksa Allah SWT. Setiap kali dosa dipandang besar oleh seorang hamba, maka dosa itu dianggap kecil disisi Allah SWT. Setiap kali dosa itu dianggap remeh oleh seorang hamaba, maka dosa itu menjadi besar disisi Allah SWT.

    Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi : “Demi ‘Izzah-Ku dan demi ke-Agungan-Ku, Aku tidak mengumpulkan dua rasa takut dan dua rasa aman pada seorang hamba-Ku. Bila ia merasa aman dari-Ku ketika didunia, maka Aku jadikan ia ketakutan pada hari Kiamat. Dan apabila ia takut kepada-Ku ketika didunia, maka Aku jadikan ia aman pada hari Kiamat. Dan Allah memperingatkanmu terhadap-Nya dan Allah Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya”.

    Abu Hurairah ra. mengatakan bahwasanya Rasulullah SAW, bersabda, : “Setiap ummatku akan mendapat ampunan, kecuali muhajirun ‘orang-orang yang melakukannya terang-terangan’ . Diantara yang terhitung muhajirun ialah apabila ada orang berbuat dosa di malam hari dan Allah SWT telah menutupinya, kemudian pada waktu pagi ia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku berbuat ini dan itu’. Allah SWT telah menutupi perbuatannya di malam hari, tetapi paginya ia membuka apa yang telah ditutup oleh Allah SWT”. (HR.Bukhari-Muslim).

    Ibnu Abil-‘Izz Rahimahullah pernah berkata, ” Bila dosa besar diiringi dengan rasa malu, takut, dan perasaan berat menanggungnya akan menjadi ringan. Sedangkan dosa kecil yang tidak diiringi dengan sedikitpun rasa malu, tidak perduli, tidak takut dan meremehkannya, maka akan menjadi dosa besar”.

    Asad bin Musa menyebutkan didalam kitab Az-Zuhd bahwa Abu Ayyub Al-Anshari pernah berkata, “Sungguh ada orang yang berbuat kebaikan, lalu ia percaya akan masuk surga karenanya. Sehingga ia melupakan dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Akhirnya ia bertemu Allah SWT dalam keadaan dipenuhi dengan dosa-dosa itu. Sebaliknya, ada orang yang berbuat kesalahan, lalu terus menerus menyesalinya, sampai ia bertemu Allah SWT dalam keadaan bersih”.

    Ibnu Mas’ud ra. pernah berkata, “Sesungguhnya orang Mukmin melihat dosa seperti ia berada di lereng gunung dan takut kalau-kalau gunung itu menimpanya. Sedangkan orang jahat melihat dosa seperti melihat seekor lalat yang hinggap dihidungnya. maka ia dengan mudah mengibaskannya begitu saja “.

    Anas bin Malik ra. pernah berkata, “Sesungguhnya kalian sekarang melakukan perbuatan yang kalian lihat lebih kecil dari sehelai rambut, Tetapi pada zaman rasulullah SAW kami menganggapnya dosa besar yang membinasakan”.

    Sekarang pada zaman ini, bahkan suatu perbuatan dosa sudah dianggap bukan sebagai perbuatan dosa, dengan jumawa kita berani berdalih kepada Allah SWT bahwa kriteria dosa haruslah mengikuti perkembangan zaman. Sesungguhnya segala pahala dan azab hanya dari sisi-Nya, dan ingatlah azab-Nya sungguh sangat pedih. Wallahualambisawab.

    ***

    Kiriman Sahabat: Rifky Pradana

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 13 August 2016 Permalink | Balas  

    Siapakah Kafir Itu? 

    kafir1Siapakah Kafir Itu?

    “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata : ‘Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam, padahal Al-Masih (sendiri) berkata : ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun “. (QS.Al-Maidah:72).

    “Al-Masih putra Maryam itu hanyalah rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya baiasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu)”. (QS.Al-Maidah:75).

    “Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (QS.Al-Maidah:77).

    “Hai Ahli Kitab, Sesungguhnya telah datang kepadamu rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan”. (QS.Al-Maidah:15).

    “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: ‘Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan’. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS.Al-Maidah:19).

    “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan : ‘Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)’, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) diantara yang demikian (iman atau kafir)”. (QS.An-Nisa:150).

    “merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan”. (QS.An-Nisa:151).

    ***

    Kiriman Sahabat : Rifky Pradana

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 12 August 2016 Permalink | Balas  

    Sekilas Tentang ZINA. 

    zinaSekilas Tentang ZINA.

    Ahmad meriwayatkan dengan sanad hasan, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : “Umatku senantiasa dalam keadaan baik selagi ditengah mereka tidak menyebar perzinaan. Jika perzinaan menyebar ditengah mereka, maka Allah SWT segera akan menurunkan azab-Nya secara menyeluruh”.

    Ahmad mentakhrij dengan sanad yang rawi-rawinya tsiqat, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah berkata kepada sahabat-sahabatnya : ” ‘Apa pendapatmu sekalian tentang zina ?’, meraka menjawab, ‘Keharaman yang diharamkan Allah SWT dan Rasul-Nya, dan ia haram hingga hari Kiamat’. Lalu beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya, ‘Seorang laki-laki menzinahi sepuluh wanita, lebih ringan hukumannya daripada dia menzinahi wanita tetangganya’ “.

    Ahmad, Abud-Dunya, Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan dia menshahihkannya, dari Nabi Muhammad SAW, beliau berkata : “Jaminlah bagiku enam perkara dari dirimu sekalian, niscaya aku akan menjamin sorga bagimu, yaitu jujurlah jika kamu berbicara, penuhilah jika kamu berjanji, laksanakanlah jika kamu dipercaya, jagalah kemaluanmu, tundukanlah pandangan matamu dan kuasailah tanganmu”. Disebutkan didalam perkataan Nabi Muhammad SAW : “Lesbi adalah perzinaan diantara sesama wanita”, beliau juga berkata : “Tiga golongan yang Allah SWT tidak akan menerima dari mereka ucapan Syahadat La Illaha Illallah, yaitu laki-laki yang menaiki dan yang dinaiki (pelaku homoseksual), wanita yang menaiki dan yang dinaiki (lesbian), dan pemimpin yang lalim”.

    Al-Baihaqy meriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda : “Tatkala sedang mi’raj, aku melewati beberapa orang laki-laki yang kulitnya diguntingi dengan gunting dari api neraka. Aku bertanya, “Siapakah meraka ini wahai Jibril ? “. Jibril menjawab, “Orang-orang yang berhias untuk memamerkan perhiasannya”. Beliau berkata, “Kemudian aku melewati sumur yang baunya busuk, dan kudengar didalamnya ada suara yang keras. Aku bertanya, ‘Siapakah mereka itu wahai saudaraku Jibril ?”. Jibril menjawab, “Para wanita yang berhias untuk memamerkan perhiasan dan melakukan sesuatu yang tidak halal baginya”.

    Kiriman: Rifky Pradana

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 11 August 2016 Permalink | Balas  

    Doa Kang Suto 

    Doa masuk masjidDoa Kang Suto

    (Tulisan M. Sobary)

    Pernah saya tinggal di Perumnas Klender. Rumah itu dekat mesjid yang sibuk. Siang malam orang pada ngaji. Saya tak selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain.

    Lingkungan sesak itu saya amati. Tak cuma di mesjid. Di rumah-rumah pun setiap habis magrib saya temui kelompok orang belajar membaca Al Quran. Anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.

    Di jalan Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme. Mereka cabang sebuah tarekat yang inti ajarannya berserah pada Tuhan. Mereka banyak zikir. Solidaritas mereka kuat. Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana.

    Dua puluh tahun lebih di Jakarta, tak saya temukan corak hidup macam itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini? Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca sajak di Senayan. Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba jadi superstar pengajian (ceramahnya melibatkan panitia, stadion, puluhan ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi saya dibuat bertanya: jawaban sosiologis apa yang harus diberikan buat menjelaskan gairah Islam, termasuk di kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?

    Di Klender yang banyak mesjid itu saya mencoba menghayati keadaan. Sering ustad menasihati, “Hiasi dengan bacaan Quran, biar rumahmu teduh.”

    Para “Unyil” ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya, orang seperti kemarok terhadap agama.

    Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan, setapak demi setapak.

    Ustad Betawi itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena, biarpun sudah tua, ia masih bersemangat belajar. Katanya, “Menuntut ilmu wajib hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat amal kita cuma tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita tak sia-sia.”

    Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai. Alip, ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa menirukan pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, ‘ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain.

    “Ain, Pak Suto,” kata Ustad Bentong bin H. Sabit.

    “Ngain,” kata Kang Suto.

    “Ya kaga bisa nyang begini mah,” pikir ustad.

    Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang runyem itu. Tapi Kang Suto tak putus asa. Dia cari guru ngaji lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto diajarinya baca Al-Fatihah.

    “Al-kham-du …,” tuntun guru barunya.

    “Al-kam-ndu …,” Kang Suto menirukan. Gurunya bilang, “Salah.”

    “Alkhamdulillah …,” panjang sekalian, pikir gurunya itu.

    “Lha kam ndu lilah …,” Guru itu menarik napas. Dia merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Quran.

    Kang Suto takut. “Mau belajar malah cari dosa,” gerutunya.

    Ia tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah, minta pandangan keagamaan saya.

    “Begini Kang,” akhirnya saya menjawab. “Kalau ada ustad yang bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima tidaknya, urusan Tuhan. Lagi pula bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka semua, dan surga isinya cuma Arab melulu.”

    Kang Suto mengangguk-angguk.

    Saya ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang tak fasih berdoa. Beliau langsung ditegur Tuhan. “Biarkan, Musa. Yang penting ketulusan hati, bukan kefasihan lidahnya.”

    “Sira guru nyong,” (kau guruku) katanya, gembira.

    Sering kami lalu bicara agama dengan sudut pandang Jawa. Kami menggunakan sikap semeleh, berserah, pada Dia yang Mahawelas dan Asih. Dan saya pun tak berkeberatan ia zikir, “Arokmanirokim,” (Yang Pemurah, Pengasih).

    Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi. Ia membisikkan kegelisahannya pada Tuhan.

    “Ya Tuhan, adakah gunanya doa hamba yang tak fasih ini. Salahkah hamba, duh Gusti, yang hati-Nya luas tanpa batas …”

    Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya, mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi …

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 10 August 2016 Permalink | Balas  

    Fadhilat Basmallah. 

    basmallah 3Fadhilat Basmallah.

    (Patut diketahui : untuk menambah keyakinan kebesaran Al-Qur’an)

    Barangsiapa membaca Bismillah 21X ketika hendak tidur maka aman ia dari syaitan, kecurian, maut mendadak dan bala.

    Barangsiapa membaca Bismillah ketika hendak bersetubuh(jimak) maka anaknya kelak cerdas dan terbuka hatinya serta menjadi anak yang soleh dan baginya kebajikan sejumlah tarikan nafas anaknya itu.

    Barangsiapa membaca Bismillah 41X pada telinga orang pingsan maka ia akan segera siuman.

    Barangsiapa membaca Bismillah 313X dan selawat atas Nabi Muhammad S.A.W 100X pada hari Ahad di saat matahari terbit dengan menghadap ke kiblat maka Allah Taala memberi rezeki tanpa di duga bersamaan fadhal dan kemurahan Allah Taala.

    Barangsiapa membaca Bismillah 786X di tiupkan pada air lalu di minumkan kepada orang yang bebal selama tujuh hari di saat matahari terbit maka lenyaplah kebebalannya dan ia akan hafal apa yang di dengarnya.

    Barangsiapa membaca Bismillah 50X di hadapan orang zalim atau penguasa yang bengis maka ia akan tunduk atau ketakutan.

    Barangsiapa menulis Bismillah 101X di atas kertas lalu di letakan di sawah padinya maka sawahnya akan subur dan terpelihara dari bencana. Dan kalau di tulis pada kain kafan 70X maka mayat yang berselimut kafan itu akan aman dari bahaya Munkar dan Nakir juga ia terlindung dari siksa kubur.

    Tiada daripada seorang hamba yang berkata “bismillahirrohmanirrohim” melainkan hancur syaitan seperti hancur timah di atas api.

    Ibnu Jabir berkata, ketika turun “bismillahirrohmanirrohim” lari segala awan ke Masyrik dan berdiam segala angin dan bergerak gerak lautan dan menanti segala binatang mendengar dengan telinganya dan di rejam segala syaitan daripada langit dan bersumpah Allah dengan kebesaran Nya tiada di sebutkan namanya atas penyakit melainkan sembuh akan dia dan tiada di sebut akan dia atas suatu melainkan di berkatkan padanya.

    TERLINDUNG DARI SYAITAN, PENCURI DAN MATI MENDADAK.

    Jika di baca 21 kali sewaktu hendak tidur, maka Insya Allah dalam waktu semalam itu di jaga oleh Allah s.w.t. dari syaitan, pencuri dan mati mendadak.

    UNTUK MEREMEHKAN ORANG ZALIM.

    Jika anda baca 50 kali di hadapankan pada orang yang zalim maka orang itu di remehkan (di hinakan) oleh Allah s.w.t.

    SUPAYA TIDAK DI RUSAK JIN DAN SYAITAN.

    Jika di tulis sebanyak 101 kali, lalu di masukkan dalam botol dan di sumbat, kemudian di pendamkan di dalam (di tengah) sawah. Insya Allah sawah itu di selamatkan dari bahaya.

    ***

    Maroji’ : Jauhar Mauhub dan Hajat untuk Rawatan, Perlindung dan Doa.

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 9 August 2016 Permalink | Balas  

    Surah Al-Ashr 

    al-ashrSurah Al-Ashr

    Demi masa. (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (3)

    Apakah Iman Itu ?

    Kami tidak mendifinisikan iman di sini dengan definisi fiqih, akan tetapi kami membicarakan tentang tabiatnya dan nilainya dalam kehidupan.

    Iman adalah hubungan wujud insani yang fana, kecil, dan terbatas ini dengan asal yang  mutlak dan azali serta abadi yang menjadi sumber semesta. Oleh karena itu ia berhubungan dengan wujud yang berasal dari sumber itu, berhubungan dengan aturan-aturan yang mengatur alam semesta ini, dan berhubungan dengan kekuatan rasional.

    Dan rasa ketuhananlah yang membingkai arahan yang darinya manusia menerima pandangan-pandangannya, tata nilainya, timbangan-timbangannya, norma-normanya, syari’atnya, dan undang-undangnya, dan segala sesuatu yang menghubungkannya dengan Allah, dengan alam semesta, atau dengan sesama manusia. Dengan begitu maka tersingkirlah dari kehidupannya hawa nafsu dan kepentingan pribadi, dan digantikan dengan syari’at dan keadilan. Dan rasa ketuhanan ini akan meninggikan perasaan manusia beriman dengan nilai manhajnya, dan mengunggulkannya atas pola pandang jahiliah, tata nilai, dan norma-normanya, dan atas semua tata nilai yang dikembangkan dari ikatan-ikatan dunia nyata walaupun ia cuma seorang diri yang bersikap begitu. Karena ia menghadapi semuanya dengan pola pandang, tata nilai, dan norma-norma yang bersumber dari Allah secara langsung. Karena itu, apa yang dari Allah inilah yang lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih patut diikuti dan dihormati.

    Amal Saleh

    Amal saleh merupakan buah alami bagi iman, dan gerakan yang didorong oleh adanya hakikat iman yang mantap di dalam hati. Jadi, iman merupakan hakikat yang aktif dan dinamis, yang apabila sudah mantap di dalam hati maka ia akan berusaha merealisasikan diri di luar dalam bentuk amal saleh. Inilah iman Islami, yang tidak mungkin stagnan (mandeg) tanpa bergerak, tidak mungkin hanya bersembunyi tanpa menampakkan diri dalam bentuk yang hidup di luar diri orang yang beriman. Apabila ia tidak bergerak dengan gerakan yang otomatis ini, maka iman itu palsu atau telah mati. Keadaannya seperti bunga yang tidak dapat menahan bau harumnya. Ia menjadi sumber otomatis. Kalau tidak, berarti ia tidak ada wujudnya.

    Dari sinilah tampak nilai iman bahwa ia adalah harakah gerakan, amal, pembangunan, dan pemakmuran yang menuju kepada Allah. Iman bukan sekadar lintasan, dan bukan sesuatu yang pasif yang tersimpan di dalam hati. Dan ia juga bukan sekadar niat-niat baik yang tidak terwujud dalam gerakan nyata. Dan ini adalah karakter Islam yang menonjol yang menjadi kekuatan pembangunan yang sangat besar di dalam kehidupan.

    Inilah pengertiannya, selama iman itu sebagai ikatan dengan manhaj Rabbani. Dan manhaj ini adalah gerakan yang konstan dan berkesinambungan di dalam wujud semesta, yang bersumber dari suatu perencanaan dan menuju kepada tujuan. Sedang panduan iman kepada manusia merupakan panduan untuk merealisasikan gerakan yang merupakan karakter semesta, yaitu gerakan yang baik, bersih, konstruktif, yang sesuai dengan manhaj yang bersumber dari Allah.

    Saling Menasihati untuk Menaati Kebenaran dan Bersabar

    Saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran ini terlukis dalam keberadaan umat Islam atau Jama’ah Muslimah dengan bentuknya yang khas, ikatannya yang istimewa, dan arahnya yang sama. Jama’ah yang merasakan keberadaannya sebagaimana mereka merasakan kewajibannya, mengerti hakikat sesuatu yang harus diutamakan, yang bersumber dari iman dan amal saleh, yang meliputi masalah kepemimpinan manusia di jalan iman dan amal saleh, lantas saling menasihati dengan nasihat yang dapat membangkitkan semangatnya untuk mengemban amanat terbesar ini.

    Dari celah-celah lafal tawaashi saling menasihati dengan maknanya, tabiatnya, dan hakikatnya, tampaklah potret umat atau jama’ahyang kompak dan saling bertanggung jawab. Umat pilihan, umat yang baik, umat yang penuh pengertian, umat yang bermutu di muka bumi dengan berpegang pada dan menegakkan kebenaran, keadilan, dan kebaikan. Ini merupakan gambaran paling tinggi dan paling indah bagi umat pilihan. Demikianlah yang dikehendaki Ilam terhadap umat Islam, ia menghendaki umat Islam sebagai umat terbaik, kuat, penuh pengertian, tanggap, sensitif trhadap kebenaran dan kebaikan, dan saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran, yang dilakukan dengan penuh kasih sayang, penuh solidaritas, tolong-menolong, dan penuh rasa persaudaraan, yang selalu disiram dengan kata tawaashi dalam Al-Qur`an.

    Kepemimpinan Kaum Muslimin

    Nah sekarang, kita lihat dari celah-celah dustur (aturan pokok) yang dilukiskan oleh Al-Qur`an bagi kehidupan golongan yang beruntung dan selamat dari kerugian ini, maka kita akan terperanjat karena melihat kerugian (pandangan, sikap dan praktik hidup yang merugikan) sedang mengepung manusia di semua tempat di muka bumi ini tanpa kecuali. Kita merasa ngeri terhadap kesia-siaan hidup yang dialami manusia ini di dunia sebelum di akhirat nanti. Kita meresa ngeri dengan melihat manusia sudah berpaling demikian jauh dari kebaikan yang dilimpahkan Allah kepada mereka, di samping telah hilangnya pemerintahan yang baik dan beriman yang menegakkan kebenaran di muka bumi ini. Demikianlah, sedang kaum muslimin sendiri atau orang-orang yang mengaku beragama Islam dengan pernyataan yang lembut telah begitu jauh dari kebaikan ini, dan jauh berpaling dari manhaj yang dipilihkan Allah buat mereka, jauh berpaling dari dustur yang disyariatkan-Nya bagi umat mereka, dan jauh dari jalan satu-satunya yang dapat menyelamatkan mereka dari kerugian dan kesia-siaan. Dan, kawasan tempat munculnya kebaikan ini pertama kali telah meninggalkan bendera yang dipancangkan oleh Allah ini, yaitu bendera iman, karena bergantung pada bendera-bendera kesukuan dan kebangsaan yang dengan bernaung di bawah kibarannya tidak diperoleh lagi kebaikan di dalam sejarahnya secara total. Ia tidak lagi mendapat sebutan di bumi dan di langit, sehingga datang Islam dan mengibarkan buat mereka bendera yang dinisbatkan kepada Allah ini, yang tiada sekutu bagi-Nya, bendra yang diberi nama dengan nama Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, yang diberi tanda dengan tanda Allah yang tiada sekutu bagi-Nya. Bendera yang di bawah kibarannya bangsa Arab mendapat kemenangan, memandu dan memimpin kemanusiaan dengan kepemimpinan yang baik, kokoh, tangkas, dan membawa keselamatan untuk pertama kali dalam sejarah mereka dan sejarah kemanusiaan yang panjang.

    Ustadz Abul Hasan an-Nadawi berkata, “Kaum muslimin telah lahir, dan memimpin dunia, dan melepaskan bangsa-bangsa yang tertipu dari kepemimpinan manusia yang mengeskploitasinya dan bertindak buruk terhadapnya, dan mereka memandu manusia untuk menempuh jalan kehidupan dengan cepat, seimbang, dan adil.

    Banyak sekali sifat yang mereka miliki yang menjadikan mereka layak memimpin bangsa-bangsa ini, dan dapat menjamin kebahagiaan dan keberuntungan mereka di bawah naungannya dan di bawah kepemimpinannya .

    Pertama,  mereka memiliki kitab dan syari’at yang diturunkan dari Tuhan. Maka mereka tidak membuat undang-undang dan syari’at berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka, karena nafsu itu merupakan sumber kejahilan, kekeliruan, dan kezaliman. Kedua, mereka tidak mengendalikan pemerintahan dan kepemimpinan tanpa pendidikan akhlak dan membersihkan jiwanya. Ketiga, mereka bukan pelayan suku tertentu dan bukan utusan bangsa atau negeri tertentu, yang mengusahakan kemakmuran dan memenuhi kepentingannya saja, dan bukan hanya untuk mengamankan kelebihan dan keunggulannya atas bangsa-bangsa dan negara-negara lain. Mereka hanya ditugaskan untuk membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah saja. Keempat, tidak akan dijumpai peradaban yang baik dan saleh kecuali bila dibimbing oleh keseimbangan beragama, moral, pikiran dengan fisik, yang dengannya manusia dapat dengan mudah mencapai kesempurnaan kemanusiaannya.

    **

    Inilah sebagian dari masa-masa bahagia yang dialami manusia di bawah naungan dustur Islami yang fondasinya telah dipasang oleh surah al-Ashr, di bawah bendera keimanan yang dikibarkan oleh jama’ah yang beriman, beramal saleh, saling menasihat untuk mentaati kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.

    Nah, ke manakah hilangnya semua itu sebagaimana yang dialami manusia sekarang di semua tempat? Mereka mengalami kerugian dalam peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Mereka buta dari kebaikan besar yang dulu dibawa oleh bangsa Arab untuk semua manusia ketika mereka mengarak panji-panji Islam dan hidup di bawah kepemimpinannya. Kemudian bendera itu diturunkan, dan tiba-tiba saja ia berada di belakang kafilah, dan kafilah itu berjalan menuju kepada kehampaan dan kerugian. Dan sesudah itu, semua bendera dan panji-panji menjadi milik syetan, tidak ada satu pun bendera untuk Allah. Semuanya untuk kebatilan, tidak ada satu pun bendera kebenaran. Semuanya untuk kebutaan dan kesesatan, tidak ada satu pun bendera petunjuk dan cahaya. Semuanya untuk kerugian, dan tidak ada satu pun bendera untuk keberuntungan. Sebenarnya, bendera dan panji-panji Allah senantiasa ada, ia menantikan tangan yang dapat mengangkat dan mengibarkannya, dan menantikan umat yang mau berjalan di bawah kibarannya menuju kepada kebaikan, petunjuk, kesalehan, dan kebahagiaan.

    Dikutip dari buku: Tafsir Fi Zhilalil Qur’an

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 8 August 2016 Permalink | Balas  

    Dosa dan Etika 

    etikaDosa dan Etika

    Dikirim oleh: Rifky Pradana

    Seringkali timbul suatu pertanyaan, kapankah suatu perbuatan itu merupakan suatu dosa ?.

    Ketika kita tak mendasarkan perbuatan kita menurut persepsi hukum-hukum Allah SWT, tetapi mendasarkan perbuatan kita dengan hukum/norma/etika pada masyarakat lingkungan kita, maka bisa jadi ketika kita memakan makanan haram (daging babi/meminum minuman beralkohol/khamr), tak harus membuat kita menyembunyikan perbuatan kita itu dari orang banyak, dan tak membuat hati kita merasa malu atau nyesek. Padahal perbuatan itu menurut ketentuan hukum Allah SWT adalah dosa.

    Ketika para wanita mengenakan busana yang seksi (pusernya kelihatan, sebagai misal), justru merasa bangga dan memamerkannya kepada semua orang, tak jengah berjalan-jalan dikeramaian bahkan menjadi semakin bangga ketika seribu pasang mata memandang puser itu dengan penuh selera. Etika yang permisif tak melarang perbuatan itu, bahkan sudah menjadi mode busana modern bagi sebagian remaja kita, padahal menurut ketentuan hukum Allah SWT, perbuatan itu adalah dosa, karena memperlihatkan aurat wanita kepada yang bukan muhrimnya. Kemudian, dimanakah batas dosa atau tak doa itu ?, tak lain dan tak bukan hanyalah ketentuan hukum Allah SWT dalam kaitannya dengan Perintah-Nya dan Larangan-Nya, jika kita mengaku bahwa tak ada Ilah yang patut disembah kecuali Allah SWT dan mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya.

    Wallahualambisawab.

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 7 August 2016 Permalink | Balas  

    Teka Teki Imam Al-Ghazali 

    itikafTeka Teki Imam Al-Ghazali

    Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya ( Teka-Teki ) : Imam Ghazali = ” Apakah yang paling dekat dengan diri kita didunia ini?”

    Murid 1 = ” Orang tua ”

    Murid 2 ” Guru

    Murid 3 = ” Teman ”

    Murid 4 = ” Kaum kerabat

    Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185).

    Imam Ghazali = ” Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”

    Murid 1 = ” Negeri Cina ”

    Murid 2 = ” Bulan”

    Murid 3 = ” Matahari ”

    Murid 4 = ” Bintang-bintang ”

    Iman Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama”.

    Iman Ghazali = ” Apa yang paling besar didunia ini ?”

    Murid 1 = ” Gunung ”

    Murid 2 ” Matahari ”

    Murid 3 = ” Bumi ”

    Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita,jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”

    Imam Ghazali = ” Apa yang paling berat didunia

    Murid 1 = ” Baja”

    Murid 2 = ” Besi”

    Murid 3 = ” Gajah ”

    Imam Ghazali” Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah(pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka karena gagal memegang amanah.”

    Imam Ghazali = ” Apa yang paling ringan di dunia ini ?”

    Murid 1 = ” Kapas”

    Murid 2 ” Angin ”

    Murid 3 = ” Debu ”

    Murid 4 = ” Daun-daun”

    Imam Ghazali = ” Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT.

    Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat ”

    Imam Ghazali = ” Apa yang paling tajam sekali didunia ini”

    Murid- Murid dengan serentak menjawab = “Pedang ”

    Imam Ghazali = ” Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri “

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 6 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (9) 

    quran 2Hikayat Iblis (9)

    Rasulullah SAW berkata kepada Iblis, “Andaikan tidak setiap apa yang engkau ucapkan itu didukung oleh ayat-ayat dari Kitab Allah tentu aku tidak akan membenarkanmu”.

    Lalu Iblis berkata lagi, “Wahai Muhammad, saya memohon kepada Allah agar saya bisa melihat anak-cucu Adam, sementara mereka tidak bisa melihatku. Kemudian Allah menjadikan aku bisa mengalir melalui peredaran darah mereka. Diriku bisa berjalan kemanapun sesuai kemauan diriku dan dengan cara bagaimana pun. Kalau saya mau dalam sesaat pun bisa. Kemudian Allah berfirman kepadaku. ‘Engkau bisa melakukan apa saja yang kau minta’. Akhirnya saya merasa senang dan bangga sampai hari Kiamat. Sesungguhnya orang yang mengikutiku lebih banyak daripada orang yang mengikutimu. Sebagian besar anak-cucu Adam akan mengikutiku sampai hari Kiamat”.

    Iblis melanjutkan lagi,

    “Saya memiliki anak yang saya beri nama Atamah. Ia akan kencing di telingan seorang hamba ketika ia tidur meninggalkan sjalat Atamah (Isya’). Andaikan tidak karenanya tentu manusia tidak akan tidur terlebih dahulu sebelum menjalankan shalat.

    Saya juga punya anak yang saya beri nama Mutaqadhi. Apabila ada seorang hamba melakukan ketaatan (ibadah) dengan rahasia dan ingin menutupinya, maka anak saya tersebut senantiasa membatalkannya dan dipamerkan ditengah-tengah manusia, sehingga semua manusia tahu. Akhirnya Allah membatalkan sembilan puluh sembilan dari seratus pahala. Sehingga yang tersisa hanya satu pahala. Sebab setiap ketaatan yang dilakukan secara rahasia akan diberi seratus pahala.

    Saya punya anak lagi yang bernama Kuhyal, dimana ia bertugas mengusapi celak mata semua orang yang sedang berada di majelis pengajian dan ketika khatib sedang berkuthbah. Sehingga mereka terkantuk dan akhirnya tidur, tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan para ulama. Mereka yang tertidur tidak akan ditulis pahala sedikitpun untuk selamanya”. Iblis melanjutkan lagi,

    “Setiap kali ada perempuan keluar mesti ada setan yang duduk di pinggulnya, ada pula yang duduk di daging yang mengelilingi kukunya.

    Dimana mereka akan menghiasi kepada orang-orang yang melihatnya. Kedua setan itu kemudian berkata kepadanya, ‘Keluarkan tanganmu’. Akhirnya ia mengeluarkan tangannya, kemudian kukunya tampak, lalu kelihatan nodanya”.

    Iblis melanjutkan lagi,

    “Wahai Muhammad, sebenarnya saya tidak bisa menyesatkan sedikit pun. Akan tetapi saya hanya akan mengganggu dan menghiasi. Andaikan saya memiliki hak dan kemampuan untuk menyesatkan, tentu saya tidak membiarkan segelintir manusia pun di muka bumi ini yang masih sempat mengucapkan dua kalimat Syahadat, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya’. Tidak akan ada lagi orang yang shalat dan berpuasa.

    Sebagaimana engkau wahai Muhammad, tidak berhak untuk memberikan hidayah sedikit pun kepada siapa saja. Akan tetapi engkau adalah seorang utusan dan penyampai amanat dari Allah. Andaikan engkau memiliki hak dan kemampuan untuk memberi hidayah, tentu engkau tidak akan membiarkan segelintir orang kafir pun di muka bumi ini. Engkau hanyalah sebagai argumentasi (Hujjah) Allah SWT terhadap mahluk-Nya. Sementara saya hanyalah menjadi sebab celakanya orang yang sebelumnya sudah dicap oleh Allah sebagai orang celaka. Orang yang bahagia dan beruntung adalah orang yang dijadikan bahagia oleh Allah sejak dalam perut ibunya, sedangkan orang yang celaka adalah orang yang dijadikan celaka oleh Allah sejak dalam perut ibunya”

    Rasulullah SAW kemudian membacakan firman Allah SWT : “ Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia ummat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi Rahmat oleh Tuhanmu’. (QS.Hud:118-119). Kemudian beliau Nabi SAW melanjutkan dengan firman Allah SWT : “ Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku”. (QS.Al-Ahzab:38).

    Lantas Rasulullah SAW berkata lagi kepada iblis, “ Wahai Abu Murrah (iblis), apakah engkau masih mungkin bertobat dan kembali kepada Allah, sementara saya akan menjaminmu masuk surga”.

    Iblis menjawab, “ Wahai Rasulullah, Ketentuan telah memutuskan dan Qalam pun telah kering dengan apa yang terjadi seperti ini hingga hari Kiamat nanti. Maka Maha Suci Allah Yang telah menjadikanmu sebagai tuan para Nabi dan Khathib para penduduk Surga, Dia telah memilih dan mengkhususkan dirimu. Sementara Dia telah menjadikan saya sebagai tuan orang-orang celaka dan Khatib para penduduk Neraka. Saya adalah mahluk yang celaka lagi terusir. Ini adalah akhir dari apa yang saya beritahukan kepadamu, dan saya mengatakan sejujurnya “.

    Segala Puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam, Awal dan Akhir, Dhahir dan Bathin. Dan semoga Shalawat dan Salam sejahtera tetap diberikan kepada seorang Nabi yang Ummi dan kepada para keluarga dan sahabatnya serta para Utusan dan para Nabi.

    (selesai) ::

    Dikutip dari Syajaratul-Kaun, doktrin tentang pribadi manusia pilihan, Muhammad SAW, yang ditulis oleh Asy-Syaikh Al-Akbar Muhyidin Ibnu Arabi (Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali Al-Hatimi Ath-Tha’i Al-Andalusia), 17 Ramadhan 560 H – 22 Rabi’uts-Tsani 638 H .

    ::

    Semoga bermanfaat buat kita semua, para pengikut Rasulullah SAW, manusia pilihan, tuan para Nabi dan Khathib para penduduk Surga. Semoga pula kita diberikan-Nya kemampuan dan ketebalan iman untuk mengiktu Al-Qur’an & Al-Hadits, kemudian dihari berbangkit nanti oleh Allah SWT, kita digolongkan didalam barisan dan kelompoknya Nabi Muhammad SAW. Amin. Akhirul kalam, afwan jika ada kekeliruan dan apabila menjadikan kurang berkenan.

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 5 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (8) 

    quranHikayat Iblis (8)

    “Berapa kebutuhan yang pernah engkau minta kepada Tuhanmu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Sepuluh macam” , jawab Iblis. “Apa saja itu wahai mahluk terkutuk ? “, tanya Rasulullah SAW. Iblis pun menjawab :

    “Saya meminta-Nya agar saya bisa berserikat dengan anak-cucu Adam dalam harta kekayaan dan anak-anak mereka. Akhirnya Allah mengizinkanku berserikat dalam kelompok mereka. Itulah maksud firman Allah SWT : “Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka”. (QS.Al-Isra”:64).

    Setiap harta yang tidak dikeluarkan zakatnya, maka saya ikut memakannya. Saya juga ikut makan makanan yang bercampur riba dan haram serta segala harta yang tidak dimohonkan perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.

    Setiap orang yang tidak memohon perlindungan kepada Allah dari setan ketika bersetubuh dengan istrinya, maka setan akan ikut bersetubuh. Akhirnya melahirkan anak yang mendengar dan taat kepadaku. Begitu pula orang yang naik kendaraan dengan maksud mencari penghasilan yang tidak dihalalkan, maka saya adalah temannya. Itulah maksud firman Allah SWT : “Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki”. (QS.Al-Isra”:64). Saya memohon kepada-Nya agar saya punya rumah, maka rumahku adalah kamar mandi. Saya memohon agar saya punya masjid, akhirnya pasar menjadi masjidku. Saya memohon agar saya punya Al-Qur”an, maka syair adalah Al-Qur”anku. Saya memohon agar saya punya adzan, maka terompet adalah penggilan adzanku. Saya memohon kepada-Nya agar saya punya tempat tidur, maka orang-orang mabuk adalah tempat tidurku. Saya memohon agar saya memiliki teman-teman yang menolongku, maka kelompok Al-Qadariyyah menjadi teman-teman yang membantuku. Dan saya memohon agar saya memiliki teman-teman dekat, maka orang-orang yang menginfakkan harta kekayaannya untuk kemaksiatan adalah teman dekatku. Itulah maksud firman Allah SWT :

    “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (QS.Al-Isra”:27) “.

    (bersambung)

     
    • Ibnu Putra 4:08 pm on 5 Agustus 2016 Permalink

      Kang, mohon dicek ke sahih-an kisah diatas kang…. saya takut kalau ternyata tidak sahih akan memberatkan akang nanti di akhirat…

      nuhun

    • erva kurniawan 8:52 am on 26 Agustus 2016 Permalink

      Terima kasih Pak Ibnu Putra

      Mohon kebijakan para pembaca untuk memilah artikel/ bacaan yang sesuai, seandainya ada keraguan agar tidak dijalankan, kami disini juga mendapatkan dari sumber lain

      Wallahu a’lam bish-shawab

  • erva kurniawan 1:26 am on 4 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (7) 

    quran34Hikayat Iblis (7)

    “Siapa yang paling celaka menurut engkau ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang-orang yang kikir”, jawab Iblis.

    “Apa yang paling menyita pekerjaanmu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Majelis orang-orang alim”, jawab Iblis

    “Bagaimana cara engkau makan ? “, tanya Rasulullah SAW. “Dengan tangan kiriku dan jari-jemariku”, jawab Iblis.

    “Dimana engkau mencari tempat berteduh untuk anak-anakmu diwaktu panas ?”, tanya Rasulullah SAW. “Dibawah kuku manusia”, jawab Iblis.

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 3 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (6) 

    quran_tasbih_01Hikayat Iblis (6)

    “Wahai mahluk yang terkutuk, apa yang mengakibatkan punggungmu patah ? “, tanya Rasulullah SAW. “Suara ringkik kuda untuk berperang membela agama Allah SWT “ , jawab Iblis.

    “Apa yang membuat hatimu panas ? “, tanya Rasulullah SAW. “Banyak beristighfar kepada Allah, baik di malam hari maupun di siang hari”, jawab Iblis.

    “Apa yang membuatmu merasa malu dan hina ? “, tanya Rasulullah SAW. “Sedekah secara rahasia”, jawab Iblis.

    “Apa yang menjadikan matamu buta ? “, tanya Rasulullah SAW. “Shalat diwaktu sahur”, jawab Iblis.

    “Apa yang dapat mengendalikan kepalamu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Memperbanyak sholat berjamaah”, tutur Iblis.

    “Siapa orang yang paling membahagiakanmu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang sengaja meninggalkan shalat”, tutur Iblis.

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 2 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (5) 

    quranHikayat Iblis (5)

    Kemudian Rasulullah SAW meneruskan pertanyaannya, “Wahai mahluk yang terkutuk, siapa teman dudukmu ? “. “Orang-orang yang suka makan riba”, jawab Iblis.

    “Lalu siapa teman dekatmu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang berzina”, jawab Iblis.

    “Siapa teman tidurmu ?”, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang mabuk “, jawab Iblis.

    “Siapa tamumu ? “ , tanya Rasulullah SAW. “Pencuri”, jawab Iblis.

    “Siapa utusanmu ? “,tanya Rasulullah SAW. “Tukang sihir “, jawab Iblis.

    “Apa yang menyenangkan pandangan matamu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang bersumpah dengan talak”, jawab Iblis.

    “Siapa kekasihmu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang meninggalkan shalat Jum’at “, jawab Iblis.

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 1 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (4) 

    quran 1Hikayat Iblis (4)  

    “Siapa menurut engkau hamba-hamba Allah SWT yang mukhlis itu ? “ tanya Rasulullah SAW.

    Iblis menjawab dengan panjang lebar, “Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa orang yang masih suka dirham dan dinar (harta) adalah belum bisa murni karena Allah SWT. Apabila saya melihat seseorang sudah tidak menyukai dirham dan dinar, serta tidak suka dipuji, maka saya tahu bahwa ia adalah orang yang mukhlis karena Allah, lalu saya tinggalkan. Sesungguhnya seorang hamba selagi masih suka harta dan pujian, sedangkan hatinya selalu bergantung pada kesenangan-kesenangan duniawi, maka ia akan lebih taat kepadaku daripada orang-orang yang telah saya jelaskan kepadamu. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa cinta harta itu termasuk dosa yang paling besar ?, apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa cinta kedudukan adalah termasuk dosa yang paling besar ?, apakah engkau tidak tahu, saya memiliki tujuh puluh ribu anak, sedangkan setiap anak dari jumlah tersebut memiliki tujuhpuluh ribu setan. Diantara mereka ada yang sudah saya tugaskan untuk menggoda ulama, ada yang saya tugaskan untuk menggoda para pemuda, ada yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang yang sudah tua. Anak-anak muda bagi kami tidak masalah, sedangkan anak-anak kecil lebih mudah kami permainkan sekehendak saya. Diantara mereka juga ada yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang yang tekun beribadah, dan ada juga yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang zuhud. Mereka keluar-masuk dari kondisi ke kondisi lain, dari satu pintu ke pintu lain, sehingga mereka berhasil dengan menggunakan cara apapun. Saya ambil dari mereka nilai keikhlasan dalam hatinya, sehingga mereka beribadah kepada Allah dengan tidak ikhlas, sementara mereka tidak merasakan hal itu. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa Barshish seorang rahib (pendeta) yang berbuat ikhlas karena Allah selama tujuh puluh tahun, sehingga dengan doanya ia sanggup menyelamatkan orang-orang yang sakit. Akan tetapi saya tidak berhenti menggodanya sehingga ia sempat berbuat zina dengan seoarng perempuan, membunuh orang dan mati dalam kondisi kafir ?. Inilah yang disebutkan oleh Allah SWT dalam kitab-Nya dengan firman-Nya : “(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia : “Kafirlah kamu” , maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata, “sesungguhnya aku cuci tangan darimu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan Semesta Alam”. (QS.Al-Hasyr:16). Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa kebohongan itu dari saya, saya adalah yang berbohong pertamakali. Orang yang berbohong adalah temanku. Barangsiapa bersumpah atasnama Allah dengan berbohong maka ia adalah kekasihku. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa saya pernah bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan atasnama Allah, “Bahwa saya akan memberi nasihat kepada kalian berdua”. Maka sumpah bohong itu menyenangkan hatiku. Sedangkan menggunjing dan mengadu domba adalah buah santapan dan kesukaanku. Kesaksian dusta adalah penyejuk mataku dan kesenanganku. Barangsiapa bersumpah dengan menceraikan istrinya (talak) maka hampir tidak akan bisa selamat, sekalipun hanya sekali. Andaikan itu benar, yang karenanya orang membiasakan lidahnya mengucapkan kata-kata tersebut, istrinya akan menjadi haram. Kemudian dari pasangan tersebut menghasilkan keturunan sampai hari Kiamat nanti yang semuanya hasil dari anak-anak zina. Sehingga seluruhnya masuk neraka hanya gara-gara satu ucapan. Wahai Muhammad, sesungguhnya diantara ummatmu ada orang yang menunda-nunda shalatnya dari waktu ke waktu. Ketika ia hendak menjalankan shalat maka saya selalu berada padanya dan menggangu sembari berkata kepadanya, “Masih ada waktu, teruskan engkau sibuk dengan urusan dan pekerjaan yang engkau lakukan” sehingga ia menunda shalatnya, dan kemudian shalat diluar waktunya. Akibatnya dengan shlat yang dikerjakan diluar waktunya itu akan dipukul di kepalanya. Kalau saya merasa kalah, maka saya mengirim kepadanya salah seorang dari setan-setan manusia yang akan menyibukkan waktunya. Kalau dengan usaha itu saya masih kalah, maka saya tinggalkan sampai ia menjalankan shalat. Ketika dalam shlatnya saya berkata kepadnya, “Lihatlah ke kanan dan ke kiri “. Akhirnya ia melihat. Maka pada saat itu wajahnya saya usap dengan tangan saya, kemudian saya menghadap didepan matanya sembari berkata, “engkau telah melakukan apa yang tidak akan menjadi baik selamanya”. Wahai Muhammad, engkau tahu, bahwa orang yang banyak menoleh dalam shalatnya, Allah akan memukul kepalanya dengan shalat tersebut. Kalau dalam shalat ia sanggup mengalahkan saya, sementara ia shalat sendirian, maka saya perintahkan untuk tergesa-gesa. Maka ia mengerjakan sholat seperti ayam yang mencocok benih-benih untuk dimakan dan segera meninggalkannya. Kalau ia sanggup mengalahkan saya, dan shalat berjamaah, maka saya kalungkan rantai dilehernya. Ketika ia sedang ruku” saya tarik kepalanya keatas sebelum imam bangun dari ruku” dan saya turunkan sebelum imam turun. Wahai Muhammad, engkau tahu, bahwa orang yang melakukan sholat seperti itu, maka batal shalatnya, dan di hari Kiamat nanti Allah akan menyalin kepalanya dengan kepala keledai. Kalau dengan cara tersebut saya masih kalah, maka saya perintahkan meremas-remas jari-jemarinya sehingga bersuara, sedangkan ia sedang shalat, karenanya ia termasuk orang-orang yang bertasbih kepadaku padahal ia sedang shalat. Kalau dengan cara tersebut masih juga tidak mempan, maka saya tiup hidungnya sehingga ia menguap, sementara ia sedang shalat. Kalau ia tidak menutupi mulutnya dengan tangannya maka setan masuk kedalam perutnya, sehingga ia semakin rakus dengan dunia dan berbagai perangkapnya. Ia akan selalu mendengar dan taat kepadaku. Bagaimana ummatmu bisa bahagia wahai muhammad, sementara saya memerintah orang-orang miskin untuk meninggalkan shalat, dan saya berkata kepadanya, “Shalat bukanlah kewajiban kalian, shlata hanya kewajiban orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah”. Saya pun berkata kepada orang yang sakit, “Tinggalkan shalat, karena shalat bukanlah kewajibanmu. Shalat hanyalah kewajiban orang-orang yang diberi nikmat kesehatan. Sebab Allah sudah berfirman, “…dan tidak apa-apa bagi seorang yang sedang sakit…”(QS.An-Nur:61). Kalau engkau sudah sembuh baru melakukan shalat. Akhirnya ia mati dalam kondisi kafir. Apabila ia mati dengan meninggalkan shlat ketika sedang sakit, maka ia akan bertemu Allah dengan dimurkai. Wahai Muhammad, jika saya menyimpang dan berdusta kepadamu, maka hendaknya engkau memohon kepada Allah agar saya dijadikan debu yang lembut. Wahai Muhammad, apakah engkau masih juga merasa gembira terhadap ummatmu, sementara saya bisa memurtadkan seperenam dari ummatmu untuk keluar dari Islam ?”.

    (bersambung)

     

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: