Melubangi Kapal


kapalMelubangi Kapal

Setiap perbuatan yang melanggar hukum syarak adalah kemaksiatan. Dan setiap kemaksiatan pasti akan merugikan diri orang yang berbuat dan membahayakan diri orang lain. Perbuatan maksiat itu ibarat perbuatan melubangi kapal. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda : “Perumpamaan keadaan suatu masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah SWT adalah ibarat suatu rombongan yang naik sebuah perahu. Lalu mereka mebagi tempat duduknya masing-masing, ada yang dibagian atas dan sebagian lagi dibagian bawah. Bila ada orang dibagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk dibagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah itu berkata, ‘seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak menggangu orang lain yang di atas. Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa”. (HR.Bukhari).

Peminum khamr, pezina, pencuri, penjudi, koruptor, pelaku kolusi, pelaku ketidakadilan, dan pelanggar hukum syarak lainnya, atau tidak menerapkannya secara utuh, jelas itu sebuah kemaksiatan. Dampak perbuatan itu akan dirasakan oleh orang lain.

Maraknya tindak kriminal dan asusila, banjir yang melanda berbagai wilayah, kekeringan dan kebakaran hutan baru-baru ini, adalah sebagian contoh akibat kesalahan manusia. Boleh jadi hanya sebagian manusia melakukan kemaksiatan itu, tetapi banyak yang tidak berdosa (ikut) menanggungnya.

Islam tidak mengenal sikap individualis atau cuek bebek terhadap orang lain dan lingkungannya. Sikap individualis pada dasarnya akan membiarkan orang lain bebas berbuat (melanggar batas hukum Allah SWT). Tetapi sebaliknya, Islam mewajibkan Amar Makruf Nahi Mungkar, sehingga setiap jiwa tidak menanggung derita dunia dan akherat karena sebuah kemaksiatan seseorang.

Allah SWT mengingatkan kita dalam firman-Nya ; “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang orang-orang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”.(QS.An-Anfaal:25).

Menjaga batas-batas hukum Allah atau ber-Amar Makruf Nahi Mungkar sehingga “kapal” kehidupan bermasyarakat tidak tenggelam karena tidak seorang pun melubanginya, adalah perkara yang teramat penting. Lebih penting daripada sekedar berdiam diri dan khusyuk berdoa dihadapan Allah SWT. Karena Rasulullah SAW bersabda : “Kalian harus mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran. Bila tidak demikian, tentu Allah akan menjadikan orang-orang jahat diantaramu menguasai kalian. (Dan) Bila ada orang baik diantaramu berdoa (untuk keselamatan) maka doanya tidak akan dikabulkan”.(HR.Al-Bazzar & Thabrani).

(dikutip dari kolom Hikmah-Republika).