Dosa dan Etika


etikaDosa dan Etika

Dikirim oleh: Rifky Pradana

Seringkali timbul suatu pertanyaan, kapankah suatu perbuatan itu merupakan suatu dosa ?.

Ketika kita tak mendasarkan perbuatan kita menurut persepsi hukum-hukum Allah SWT, tetapi mendasarkan perbuatan kita dengan hukum/norma/etika pada masyarakat lingkungan kita, maka bisa jadi ketika kita memakan makanan haram (daging babi/meminum minuman beralkohol/khamr), tak harus membuat kita menyembunyikan perbuatan kita itu dari orang banyak, dan tak membuat hati kita merasa malu atau nyesek. Padahal perbuatan itu menurut ketentuan hukum Allah SWT adalah dosa.

Ketika para wanita mengenakan busana yang seksi (pusernya kelihatan, sebagai misal), justru merasa bangga dan memamerkannya kepada semua orang, tak jengah berjalan-jalan dikeramaian bahkan menjadi semakin bangga ketika seribu pasang mata memandang puser itu dengan penuh selera. Etika yang permisif tak melarang perbuatan itu, bahkan sudah menjadi mode busana modern bagi sebagian remaja kita, padahal menurut ketentuan hukum Allah SWT, perbuatan itu adalah dosa, karena memperlihatkan aurat wanita kepada yang bukan muhrimnya. Kemudian, dimanakah batas dosa atau tak doa itu ?, tak lain dan tak bukan hanyalah ketentuan hukum Allah SWT dalam kaitannya dengan Perintah-Nya dan Larangan-Nya, jika kita mengaku bahwa tak ada Ilah yang patut disembah kecuali Allah SWT dan mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya.

Wallahualambisawab.