Updates from November, 2010 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:23 am on 30 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ibnu 'Arabi, Kaya Tanpa Terjebak Nafsu Keduniawian 

    Ibnu ‘Arabi yang dikenal dengan sebutan Syekh al-Akbar, tiba di Tunisia. Ia bertemu dengan seorang nelayan yang tinggal di gubuk berdinding lumpur kering. Nelayan itu dikenal sangat dermawan. Setiap hari ia melaut. Namun, seluruh hasil tangkapannya ia sedekahkan kepada orang-orang miskin. Sedangkan untuknya sendiri, hanya sepotong kepala ikan untuk direbus sebagai lauk makan malamnya.

    Nelayan itu kemudian belajar kepada Ibnu ‘Arabi. Selang beberapa waktu, nelayan itu pun menjadi seorang syekh yang juga punya murid. Suatu ketika, salah seorang muridnya meminta izin untuk mengadakan perjalanan ke Spanyol.

    Sang nelayan mengijinkan dan berpesan agar menemui Ibnu ‘Arabi untuk meminta nasihat. Sudah bertahun-tahun nelayan itu merasa perkembangan jiwanya tak lagi mengalami kemajuan, ia membutuhkan nasehat Ibnu ‘Arabi.

    Sesampainya di kota tempat tinggal Ibnu ‘Arabi, murid nelayan itu menanyakan tempat ia bisa bertemu Ibnu ‘Arabi. Orang-orang yang ditanya menunjuk ke puncak bukit, ke sebuah puri yang tampak seperti istana. Melihat tempat yang ditunjuk orang-orang, murid itu sangat terkejut, betapa sangat duniawinya kehidupan Ibnu ‘Arabi. Jauh dibandingkan dengan kehidupan guru tercintanya yang sangat sederhana.

    Dengan enggan, ia melangkahkan kakinya ke arah puri itu. Sepanjang jalan ke puri, ia melalui ladang-ladang yang terawat baik dan jalan-jalan yang indah, lengkap dengan kumpulan domba, kambing, dan sapi. Ia menyempatkan diri bertanya kepada orang-orang di ladang, siapa pemilik semua ladang dan ternak ini.

    Setiap yang ditanya menjawab, milik Ibnu ‘Arabi. Keragu-raguan membayangi pikirannya, bagaimana mungkin orang yang sangat materialis seperti itu bisa menjadi seorang sufi terkemuka. Apalagi setelah ia sampai puri itu. Tak pernah ia melihat bagunan seindah dan semegah ini, bahkan dalam mimpi sekalipun.

    Murid sang nelayan itu tak bisa menyembunyikan kegeramannya ketika bertemu Ibnu ‘Arabi. Ia sangat marah ketika mendengar pesan Ibnu ‘Arabi yang diamanahkan kepadanya untuk disampaikan kepada gurunya, sang nelayan. Ibnu ‘Arabi berkata, “Sampaikan kepada gurumu, dirinya masih terikat pada keduniawian.”

    Sekembalinya murid itu ke kampung halamannya, ia menyampaikan pesan itu kepada gurunya. Sungguh ia tak menduga sikap gurunya. Mendengar pesan itu, gurunya mengatakan, “Ia benar! Ia sungguh tak peduli sama sekali dengan semua yang ada padanya. Sementara aku, ketika setiap malam menyantap kepala ikan, aku masih saja berharap seandainya saja kepala ikan itu adalah seekor ikan yang utuh.”  (imam) – ilustrasi: viky

    ***

    Sumber: Cinta Bagai Anggur – Syekh Ragip Frager, Ph. D

    ramadan.detik.com/read/2010/08/18/101742/1422304/985/ibnu-arabi-kaya-tanpa-terjebak-nafsu-keduniawian

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 29 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ujian Cinta di Geger Kalong 

    Oleh Bahtiar HS

    “Pak Herman, gimana nih, Pak?”

    Pak Suherman Rosyidi, dosen Fakultas Ekonomi Unair yang tetangga saya itu menoleh kepada asal suara. Dua orang sekretaris Dekan menegurnya di pintu masuk ruang itu. Keduanya perempuan. Seorang, sebut saja Bu A sudah memiliki 3 orang anak. Dan Bu B sudah menikah tetapi belum dikaruniai anak.

    “Gimana apanya, Bu?” tanya Pak Herman pada mereka.

    “Gimana kok Aa’ Gym menikah lagi, Pak?” keluh Bu A. “Kenapa mesti poligami?”

    Pak Herman tersenyum. Kalau ada masalah-masalah seperti ini, anggota Dewan Ekonomi Syariah itu memang biasa menjadi “jujugan”. Tempat bertanya atau mengadu. Beliau kemudian menghampiri kedua ibu muda itu.

    “Begini, Bu,” kata Pak Herman. “Coba jawab pertanyaan saya dengan jujur dan ikhlas, dari hati nurani ibu yang paling dalam.”

    “Apa itu, Pak?” sergah Bu B.

    “Tolong pilih satu di antara dua,” kata Pak Herman berteka-teki. “Kalau ibu disuruh memilih, antara: merelakan suami ibu menikah lagi atau merelakan suami ibu melacur, ibu pilih yang mana?”

    Kedua wanita itu terperanjat seperti mendapatkan pertanyaan yang tak pernah didengar sekalipun selama hidupnya.

    ”Kok pertanyaannya seperti itu, Pak?” protes Ibu A.

    “Saya tak memilih dua-duanya, Pak!” tegas Ibu B.

    “Ok. Ok,” potong Pak Herman. “Jikalau pertanyaan itu terlalu berat untuk dijawab, pertanyaannya saya ganti.”

    “Diganti gimana, Pak?”

    “Saya ganti begini,” lanjut Pak Herman. “Jikalau ada seorang isteri diberikan pilihan — bukan Anda berdua, lho? — yaitu merelakan suaminya menikah lagi atau merelakan suaminya melacur, kira-kira isteri itu milih yang mana?”

    Kedua ibu itu saling berpandangan. Keraguan segera merayap dalam senyap. Pak Herman sendiri dengan sabar menunggu. Dan dalam sepuluh-lima belas detik kemudian, seseorang menjawab.

    “Ya, pilih suami menikah lagi, Pak?” kata Bu A sambil melirik, mengharap dukungan Bu B di sebelahnya. “Bukan begitu, Bu?”

    Bu B mengangguk-angguk. “Ya, gimana lagi kalau pilihannya hanya itu.”

    “Alhamdulillah,” jawab Pak Herman. “Ibu-ibu ternyata masih bersih.”

    “Masih bersih gimana, Pak?” tanya keduanya hampir berbarengan.

    “Ibu-ibu masih bersih,” jelas dosen itu. “Masih bisa membedakan antara yang benar dan yang bathil. Antara yang halal dan yang haram.”

    ***

    “Saya heran sama orang Indonesia, Pak Herman!” seru Bu Icy dengan logat Amerikanya yang tak bisa dihilangkan.

    “Heran gimana, Bu?” tanya Pak Herman pada temannya yang sesama dosen itu. Sudah berbilang tahun wanita itu mengajar di kampus ini sejak ia menikah dengan orang Indonesia asli.

    “Mengapa mereka menolak poligami yang nyata-nyata ada dan dibolehkan di dalam Islam?” tanyanya sungguh.

    Pak Herman sejenak tersentak. Bagaimanapun yang ada di hadapannya itu adalah wanita Barat. Bukan muslimat lagi. Ia penganut Kristen. “Menurut Ibu, apa yang menyebabkan mereka seperti itu?”

    “Masalahnya sudah jelas, Pak Herman. Kalian, orang Indonesia, sudah terkontaminasi dengan apa yang datang dari Barat.”

    “Apa itu?”

    “Kapitalisme!”

    “Kapitalisme?”

    “Ya. Sebuah pandangan yang menganggap segala yang dipunya sebagai ‘milik’. Suami saya adalah milik saya. Bukan dan tak akan menjadi milik wanita lain. Tak logis dalam benak mereka untuk berbagi suami dengan orang lain. Itulah ruh kapitalisme, Pak.”

    Pak Herman manggut-manggut. Tak dinyana, perempuan “barat” itu punya pendapat sedemikian. Ia memang telah banyak belajar tentang Islam, meski sayang belum memeluknya hingga sekarang.

    “Sedangkan dalam pandangan Islam, semua yang ada ini ‘kan milik Tuhan?” lanjut wanita itu. “Sehingga, berbagi dalam Islam adalah sesuatu yang common-sense.” Pak Herman kemudian bertanya, “Lantas menurut Ibu, apa masalahnya dengan penolakan poligami?”

    “Masalahnya, Pak, ketika pintu poligami ditutup,” kata wanita asing itu, “maka pintu pelacuran akan terbuka lebar-lebar.”

    ***

    Itulah pengantar perbincangan seputar poligami oleh Ust. Suherman Rosyidi – kami memanggil beliau Pak Herman — di Masjid Rungkut Jaya Ahad pagi ini. Agaknya fenomena heboh Aa’ Gym yang menikah lagi itu turut menghangatkan beranda masjid ini setelah diguyur hujan semalam.

    “Kalau saya baca press release Aa’ Gym awal Desember lalu,” kata saya turut menanggapi, “sebenarnya ada 4 calon yang diajukan Aa’ Gym sebagai isteri kedua. Satu, gadis. Kedua, janda tanpa anak. Ketiga, janda dengan cukup banyak anak. Dan keempat, nenek-nenek gampang masuk angin.”

    Hadirin tersenyum. Saya berusaha menahan diri.

    “Aa’ Gym sebenarnya sudah memilih yang ketiga, janda dengan cukup banyak anak,” kata saya melanjutkan. “Hanya saja, ia mantan model. Sebagaimana banyak laki-laki yang poligami, biasanya isteri keduanya adalah seorang gadis, lebih muda dan cantik ketimbang isteri pertama. Coba jika seandainya Aa’ Gym memilih calon yang keempat, pasti tidak akan terjadi kehebohan seperti ini, Pak!”

    Gerr. Dan Ust. Herman pun tersenyum. “Tetapi, apa salahnya Aa’ Gym memilih janda dengan sekian anak?” tanyanya kepada hadirin seakan ingin mendapat jawaban. “Apa salahnya jika janda itu mantan model? Apa salahnya juga jika seandainya dia memilih seorang gadis sebagai isteri kedua?”

    “Bukankah Rasul setelah Khadijah meninggal mengambil Saudah, seorang janda yang sudah sangat tua umurnya, menjadi isteri keduanya, Pak?” sergah saya.

    “Apakah serta-merta kita harus mencontohnya demikian pula?” jawab Pak Herman.

    “Juga apakah kita harus menunggu isteri pertama kita meninggal sebelum menikah lagi, sebagaimana Rasul baru menikah lagi setelah Khadijah meninggal?”

    Saya termangu. Jamaah yang lain pun tepekur di tempat duduknya masing-masing.

    “Tentu tidak,” lanjut Pak Herman. “Abu Bakar, Umar, Usman dan para sahabat yang lain tidak menunggu isteri pertama mereka meninggal dulu untuk melakukan poligami.”

    ***

    “Fenomena Aa’ Gym ini persis seperti peristiwa penyembelihan Ismail as oleh Nabi Ibrahim as,” simpul Pak Edy sambil menyelonjorkan kaki di beranda masjid. Ceramah shubuh oleh Pak Herman baru saja usai.

    “Fenomena apa itu, Pak?” tanya saya.

    “Ujian cinta!” katanya penuh misteri.

    “Ujian cinta bagaimana?”

    “Ya. Nabi Ibrahim diuji oleh Allah, mana yang lebih dicinta: Ismail, anak yang kelahirannya didambanya berpuluh tahun ataukah Allah SWT?”

    Saya dan beberapa jamaah yang masih bertahan di beranda manggut-manggut.

    “Demikian juga dengan poligami Aa’ Gym,” katanya melanjutkan. “Jika jamaah Aa’ Gym begitu saja meninggalkan pengajian MQ ketika tahu Aa’ menikah lagi, itu berarti mereka selama ini datang mendengarkan taushiyah hanya karena Aa’ Gym. Cinta mereka sebatas hanya kepada Aa’ Gym. Tak lebih. Cinta mereka bukan kecintaan yang tulus kepada Allah.”

    “Betul juga, sampean. Lantas apa hubungannya dengan Nabi Ibrahim dan Ismail?” “Peristiwa poligami Aa’ Gym ini seperti penyembelihan Ibrahim atas Ismail, yakni pemisahan antara yang benar-benar cinta kepada Allah dan yang sekadar cinta kepada manusia. Entah cinta kepada seorang anak. Ataukah cinta kepada seorang pendakwah.”

    Saya setuju dengan tetangga saya itu. Saya juga sependapat dengan Ibu Sirikit Syah sebagaimana tulisannya di Jawa Pos 13 Desember 2006 yang lalu. Barangkali dengan peristiwa ini Allah ingin menunjukkan kepada kita bahwa Aa’ Gym bukanlah ‘dewa’. Justru karenanya Ia telah menyelamatkan kita dari “cinta yang salah”. Dan di sisi lain, kita akan tersadarkan bahwa dai kondang itu ternyata manusia biasa seperti kita.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Totok 10:38 am on 13 Desember 2010 Permalink

      saya sangat tertarik dengan artikel mengenai islam
      seperti artikel yang anda tulis ini.
      saya Mohon ijin tanya, kenapa anda sering menggunakan gambar teratai dalam artikel anda?

    • erva kurniawan 3:51 pm on 13 Desember 2010 Permalink

      Sebenarnya banyak artikel pada blog saya in yang bukan saya penulisnya, seperti tulisan ini, penulis aslinya adalah Bahtiar HS.
      Mengenai gambar yang digunakan itu adalah Bunga Teratai atau Water Lili, tidak ada alasan spesifik mengapa sering memakai gambar itu, hanya karena tidak ada ide gambar yang tepat menggambarkan cerita itu, alasan lain saya suka gambar itu karena menyejukkan dan natural.
      Wassalam

  • erva kurniawan 1:13 am on 28 November 2010 Permalink | Balas  

    Misteri Hidup Lagi Setelah Mati Beku 

    Misteri Hidup Lagi Setelah Mati Beku

    AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

    Seattle, Dalam beberapa kasus, orang yang mati kedinginan pada suhu ekstrem bisa hidup lagi. Seorang peneliti berhasil menjelaskan fenomena ini lewat eksperimen yang dilakukan dengan ragi dan cacing tanah.

    Mati beku atau ‘freezes to death’ dipicu oleh suhu dingin yang terlalu ekstem, yang sering terjadi di pegunungan atau daerah beriklim dingin. Meski sangat jarang, seseorang yang mati beku bisa hidup kembali.

    Kasus pertama terjadi pada musim dingin 2001, menimpa Erika, seorang bayi 13 bulan di Kanada. Gara-gara hanya mengenakan popok saat berkeliaran di luar rumah, ia tewas dengan suhu tubuh anjlok hingga 16 derajat celcius.

    Saat ditemukan, jantung bayi itu diperkirakan telah berhenti berdenyut selama 2 jam. Ajaibnya, jantung si bayi kembali berdenyut tak lama setelah dihangatkan dan diberi napas buatan.

    Kasus berikutnya terjadi di Jepang pada tahun 2006. Seorang pria, Mitsutaka Uchikoshi hilang di Gunung Rokko yang bersalju dan ditemukan 23 hari kemudian dalam kondisi membeku dan tidak menunjukkan tanda-tanda adanya metabolisme.

    Pria ini akhirnya hidup lagi setelah dibawa ke tempat yang lebih hangat, dan diberi pertolongan. Bahkan kondisi kesehatannya dilaporkan pulih tak lama kemudian.

    Didahului dengan kondisi anoksia (tidak memiliki oksigen)

    Ilmuwan dari Fred Hutchinson Cancer Research Center, Mark B. Roth, Ph.D. berusaha menjelaskan fenomena ini lewat sebuah eksperimen. Seperti dikutip dari Science Daily, Jumat (11/6/2010), Roth menggunakan ragi dan embrio cacing tanah (nematoda).

    Pada eksperimen pertama, ia menyimpan ragi dan embrio tersebut pada suhu di atas titik beku. Dalam waktu 24 jam, 99 persen dari makhluk itu benar-benar mati dan tidak bisa hidup lagi meski dihangatkan.

    Berikutnya, ragi dan embrio cacing diletakkan dalam lingkungan kurang oksigen sebelum dibekukan dalam keadaan anoksia (tidak memiliki oksigen). Pada percobaan ini, 66 persen ragi dan 97 embrio cacing bisa hidup lagi setelah dihangatkan dan diberi cukup oksigen.

    Kondisi anoksia, menurut Roth telah menyebabkan siklus sel berhenti sehingga kedua jenis makhluk hidup tersebut menjadi mati suri. Didukung suhu dingin, maka secara biologis siklus sel terjaga untuk tetap stabil selama mati suri sehingga tidak benar-benar mati.

    “Ketika makhluk hidup mati suri dalam kondisi demikian, risiko terjadinya kesalahan dalam proses biologis yang memicu kematian akan berkurang,” ungkap Roth.

    Penelitian yang didanai oleh NIH dan National Science Foundation ini akan dipublikasikan secara online dalam jurnal Molecular Biology of the Cell edisi 1 Juli mendatang. (up/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/06/11/180018/1376577/763/misteri-hidup-lagi-setelah-mati-beku?l993306763

     
    • myun 9:12 am on 30 November 2010 Permalink

      terima kasih infonya ya..
      kunjungi repository unand

    • Great Bare Photos 3:18 am on 3 Juni 2013 Permalink

      Great blog! Have you got any tips and hints for ambitious writers?

      I’m hoping to start my own site soon but I’m a little lost on everything.
      Would you propose starting with a free platform like WordPress or
      go for a paid option? There are so many choices out there that I’m completely overwhelmed .. Any tips? Bless you!

    • Judson 10:52 pm on 4 Juni 2013 Permalink

      Greetings from Los angeles! I’m bored to tears at work so I decided to browse your blog on my iphone during lunch break. I love the knowledge you provide here and can’t wait to take
      a look when I get home. I’m amazed at how quick your blog loaded on my mobile .. I’m not even using
      WIFI, just 4G .. Anyhow, good site!

    • Big Busted Lactoids 11:59 pm on 4 Juni 2013 Permalink

      Have you ever thought about publishing an ebook or guest authoring on other websites?

      I have a blog based on the same ideas you discuss and would really like to have you share some stories/information.
      I know my visitors would value your work. If you’re even remotely interested, feel free to shoot me an e-mail.

    • Phyllis 3:22 pm on 10 Juni 2013 Permalink

      I run a cooking blog where I share my tasty recipes and tricks and tips
      that I know coming from my many years of creating meals.
      I try really hard to enhance my blog not less than 3 times
      each week. I have had the blog for about 3 months, which I suppose is a pretty good amount of time.
      However, my blog doesn’t get very many hits . When I look for my posts on Search engines, it’s really hard for me to discover them.
      I found your blog on the very first page of DuckDuckGo when i looked for Misteri Hidup Lagi Setelah Mati
      Beku | Sampaikan Walau Satu Ayat, for this reason i believe you must
      be a very skilled, care to share some tips with me?

  • erva kurniawan 1:08 am on 27 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kepuasan Ada Di Rasa Syukur 

    Siang itu tadi temanku tiba-tiba nelpon. Makan siang yuk, ajaknya. Oke, jawabku. So she picked me up at the lobby of Jakarta Stock Exchange Building.

    Selepas SCBD, kami masih belum ada ide mau makan dimana. Ide ke soto Pak Sadi segera terpatahkan begitu melihat bahwa yang parkir sudah sampai sebrang-sebrang.

    Akhirnya kami memutuskan makan gado-gado di Kertanegara. Bisa makan di mobil soalnya sampai di sana masih sepi. Baru ada beberapa mobil. Kami masih bisa milih parkir yang enak. Mungkin karena masih pada jumatan. Begitu parkir, seperti biasa, joki gado-gado sudah menanyakan mau makan apa, minum apa.

    Kami pesan dua porsi gado-gado + teh botol. Sambil menunggu pesanan, kami pun ngobrol. So, ketika tiba2 ada seorang pemuda lusuh nongol di jendela mobil kami, kami agak kaget.

    “Semir om?” tanyanya. Aku lirik sepatuku. Ugh, kapan ya terakhir aku nyemir sepatuku sendiri? Aku sendiri lupa. Saking lamanya. Maklum, aku kan karyawan sok sibuk…Tanpa sadar tangan ku membuka sepatu dan memberikannya pada dia. Dia menerimanya lalu membawanya ke emperan sebuah rumah. Tempat yang terlihat dari tempat kami parkir. Tempat yang cukup teduh. Mungkin supaya nyemirnya nyaman.

    Pesanan kami pun datang. Kami makan sambil ngobrol. Sambil memperhatikan pemuda tadi nyemir sepatu ku. Pembicaraan pun bergeser ke pemuda itu. Umur sekitar 20-an. Terlalu tua untuk jadi penyemir sepatu. Biasanya pemuda umur segitu kalo tidak jadi tukang parkir or jadi kernet, ya jadi pak ogah. Pandangan matanya kosong. Absent minded. Seperti orang sedih. Seperti ada yang dipikirkan. Tangannya seperti menyemir secara otomatis. Kadang2 matanya melayang ke arah mobil-mobil yang hendak parkir (sudah mulai ramai).

    Lalu pandangannya kembali kosong. Perbincangan kami mulai ngelantur kemana-mana. Tentang kira2 umur dia berapa, pagi tadi dia mandi apa enggak, kenapa dia jadi penyemir dll. Kami masih makan saat dia selesai menyemir. Dia menyerahkan sepatunya pada ku. Belum lagi dia kubayar, dia bergerak menjauh, menuju mobil-mobil yang parkir sesudah kami.

    Mata kami lekat padanya. Kami melihatnya mendekati sebuah mobil. Menawarkan jasa. Ditolak. Nyengir. Kelihatannya dia memendam kesedihan. Pergi ke mobil satunya. Ditolak lagi. Melangkah lagi dengan gontai ke mobil lainnya. Menawarkan lagi. Ditolak lagi. Dan setiap kali dia ditolak, sepertinya kami juga merasakan penolakan itu.

    Sepertinya sekarang kami jadi ikut menyelami apa yang dia rasakan. Tiba-tiba kami tersadar. Konyol ah. Who said life would be fair anyway. Kenapa jadi kita yang mengharapkan bahwa semua orang harus menyemir? Hihihi…

    Perbincangan pun bergeser ke topik lain. Di kejauhan aku masih bisa melihat pemuda tadi, masih menenteng kotak semirnya di satu tangan, mendapatkan penolakan dari satu mobil ke mobil lainnya. Bahkan, selain penolakan,di beberapa mobil, dia juga mendapat pandangan curiga.

    Akhirnya dia kembali ke bawah pohon. Duduk di atas kotak semirnya. Tertunduk lesu…Kami pun selesai makan. Ah, iya. Penyemir tadi belum aku bayar. Kulambai dia. Kutarik 2 buah lembaran ribuan dari kantong kemejaku. Uang sisa parkir. Lalu kuberikan kepadanya. Soalnya setahu ku jasa nyemir biasanya 2 ribu rupiah Dia berkata kalem “Kebanyakan om. Seribu aja”.

    BOOM. Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatiku. It-just-does-not-compute-with-my-logic! Bayangkan, orang seperti dia masih berani menolak uang yang bukan hak-nya.

    Aku masih terbengong-bengong waktu nerima uang seribu rupiah yang dia kembalikan. Se-ri-bu Ru-pi-ah. Bisa buat apa sih sekarang? But, dia merasa cukup dibayar segitu. Pikiranku tiba-tiba melayang. Tiba-tiba aku merasa ngeri. Betapa aku masih sedemikian kerdil. Betapa aku masih suka merasa kurang dengan gaji ku. Padahal keadaanku sudah sangat jauh lebih baik dari dia.

    Tuhan sudah sedemikian baik bagiku, tapi perilaku-ku belum seberapa dibandingkan dengan pemuda itu, yang dalam kekurangannya, masih mau memberi, ke aku, yang sudah berkelebihan.

    Siang ini aku merasa mendapat pelajaran berharga.

    Siang ini aku seperti diingatkan.

    Bahwa kejujuran itu langka.

    Bahwa kepuasan itu adanya di rasa syukur

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 26 November 2010 Permalink | Balas  

    Sikap Memaafkan dan Manfaatnya bagi Kesehatan 

    Penulis : Harun Yahya

    KotaSantri.com : Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al-Qur’an adalah sikap memaafkan, “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raaf, 7:199).

    Dalam ayat lain, “… dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nuur, 24 : 22).

    Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al-Qur’an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik, “… dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. At-Taghaabun, 64 : 14).

    Juga dinyatakan dalam Al-Qur’an, bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. “Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.” (QS. Asy-Syuura, 42 : 43).

    Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih, dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an, “… menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.” (QS. Ali Imraan, 3 : 134).

    Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al-Qur’an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu.

    Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu. Oleh karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.

    Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat, baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress (tekanan jiwa), susah tidur, dan sakit perut, sangatlah berkurang pada orang-orang ini.

    Dalam bukunya, Forgive for Good (Maafkanlah demi Kebaikan), Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran, seperti harapan, kesabaran, dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat, dan stres.

    Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa, “Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih (memperburuk keadaan).”

    Sebuah tulisan berjudul “Forgiveness” (Memaafkan), yang diterbitkan Healing Current Magazine (Majalah Penyembuhan Masa Kini) edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional, bahkan kesehatan jasmani mereka.

    Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

    Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan, sebagaimana segala sesuatu lainnya, haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al-Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.

    ***

    [harunyahya.com]

    Sikap Memaafkan dan Manfaatnya bagi Kesehatan

    Penulis : Harun Yahya

    KotaSantri.com : Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al-Qur’an adalah sikap memaafkan, “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raaf, 7:199).

    Dalam ayat lain, “… dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nuur, 24 : 22).

    Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al-Qur’an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik, “… dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. At-Taghaabun, 64 : 14).

    Juga dinyatakan dalam Al-Qur’an, bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. “Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.” (QS. Asy-Syuura, 42 : 43).

    Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih, dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an, “… menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.” (QS. Ali Imraan, 3 : 134).

    Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al-Qur’an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu.

    Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu. Oleh karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.

    Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat, baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress (tekanan jiwa), susah tidur, dan sakit perut, sangatlah berkurang pada orang-orang ini.

    Dalam bukunya, Forgive for Good (Maafkanlah demi Kebaikan), Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran, seperti harapan, kesabaran, dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat, dan stres.

    Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa, “Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih (memperburuk keadaan).”

    Sebuah tulisan berjudul “Forgiveness” (Memaafkan), yang diterbitkan Healing Current Magazine (Majalah Penyembuhan Masa Kini) edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional, bahkan kesehatan jasmani mereka.

    Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

    Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan, sebagaimana segala sesuatu lainnya, haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al-Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya. [harunyahya.com]

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 25 November 2010 Permalink | Balas  

    Topeng 

    Bismillahirrohmanirrohim…..

    Assalamu’alaykum wr wb,

    Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Bayyinah ayat 7: “Sesungguhnya orang-orang yg beriman dan mengerjakan amal Saleh, mereka itu adalah sebaik-baik mahluk”.

    Ditegaskan dalam surat Al-Hijr ayat 8: “Berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yg beriman”.

    Sabda Nabi Muhammad SAW: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan hartamu, tetapi Ia melihat kepada hati dan amalmu”.

    Seorang bijak bernama Lukman Al- Hakim memberi nasihat kepada anaknya: “Wahai anakku, janganlah engkau meremehkan seseorang yang berbaju usang, karena Tuhanmu dan Tuhannya adalah satu. Janganlah engkau agungkan seseorang karena baju atau pangkatnya, sebab baju atau pangkat itu bukanlah merupakan zat dan sifat seseorang.”

    Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 212: “Kehidupan Dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yg beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia daripada mereka dihari kiamat.”

    Allah SWT dan RasulNya Muhammad SAW mengingatkan kita bahwa “memang baik menjadi orang penting, tetapi jauh lebih penting lagi bila kita menjadi orang baik.”

    Mudah-mudahan kita tidak mudah terpesona dengan baju, tetapi menjadi orang yg hanya terpesona dengan keindahan wajah yang berada dibalik Topeng.

    Wassalamu’alaykum wr wb.

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 24 November 2010 Permalink | Balas  

    Bisakah Manusia Menghamili Binatang? 

    Bisakah Manusia Menghamili Binatang?

    Vera Farah Bararah – detikHealth

    Jakarta, Kasus penyimpangan seksual antara manusia dengan binatang atau yang disebut Zoophila terus bermunculan. Yang sering menjadi pertanyaan banyak orang, bisakah binatang tersebut hamil oleh sperma laki-laki?

    Seperti dikutip dari Thebrightesthub.com, Jumat (11/6/2010) pada permukaan sperma terdapat reseptor yang bisa melengkapi reseptor di sel telur.

    Jadi jika reseptor di sperma tidak bisa melengkapi reseptor di sel telur, maka pembuahan tidak akan terjadi. Selain itu binatang yang berasal dari spesies berbeda pun tidak bisa berkembang biak satu sama lain.

    Akibat perbedaan reseptor ini maka sperma dari manusia hanya bisa mengenali sel telur dari manusia, begitu juga sebaliknya sperma binatang tidak bisa menghamili manusia.

    Selain itu susunan genetik dari satu spesies dengan spesies berbeda lainnya tidak bisa menghasilkan keturunan, sehingga jawaban untuk pertanyaan ini tentu saja sperma manusia tidak bisa menghamili binatang.

    Hal ini juga turut diamini oleh Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, Sp.And, FAACS, Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) saat dihubungi detikHealth, Jumat (11/6/2010). Prof Wimpie menuturkan seorang manusia tidak mungkin bisa menghamili binatang.

    Prof Wimpie mengatakan seseorang yang tertarik bersetubuh dengan binatang bisa diklasifikasikan apakah sekedar iseng atau murni mengalami penyimpangan seksual.

    “Untuk kasus manusia yang menyetubuhi binatang harus dilihat terlebih dahulu apakah ia memang memiliki penyimpangan atau hanya keisengan saja. Jika hanya dilakukan sekali lalu timbul penyesalan, maka bukan disebut dengan penyimpangan atau kelainan,” ungkap pengajar di Bagian Andrologi dan Seksologi, Pusat Studi Anti-Aging Medicine Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali ini.

    Prof Wimpie menjelaskan jika seseorang merasa terangsang dengan binatang atau saat dihadapakan pada pilihan antara binatang atau manusia ia memilih binatang, maka orang tersebut dapat dinyatakan memiliki penyimpangan atau kelainan.

    Untuk kasus seperti ini, tidak ada perawatan khusus yang bisa diberikan oleh orang tersebut untuk menyembuhkan penyimpangan ini.

    “Sementara itu jika seseorang yang menyetubuhi binatang hanya karena iseng akibat tidak ada pelampiasan untuk nafsu seksualnya, maka kondisi ini masih bisa disembuhkan karena bukan berupa penyimpangan,” ujar dokter yang mendapatkan gelar seksolog dari University of Washington, Amerika Serikat.

    Menyetubuhi binatang juga sangat berbahaya bagi kesehatan salah satunya adalah penularan penyakit dari binatang tersebut ke manusia (zoonosis). Perpindahan kuman ini bisa melalui cairan vagina, urin, saliva atau feses. Dalam hal ini manusia tersebut juga sangat rentan untuk terkena infeksi seksual. (ver/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/06/11/163006/1376475/763/bisakah-manusia-menghamili-binatang?l993306763

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 23 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: zoophilia   

    Penderita Zoophilia Ketahuan Bercinta dengan Kuda 

    Penderita Zoophilia Ketahuan Bercinta dengan Kuda

    Vera Farah Bararah – detikHealth

    Carolina, Zoophilia merupakan perilaku seksual menyimpang yang membuat seseorang tertarik melakukan hubungan seksual dengan hewan atau keinginan abnormal untuk memiliki kontak dengan binatang. Seorang pria dari Carolina Selatan, AS divonis bersalah karena ketahuan berhubungan seks dengan seekor kuda.

    Pria yang bernama Rodell Vereen dijatuhi hukuman selama 3 tahun penjara. Dirinya mengaku bersalah untuk kedua kalinya dalam dua tahun dan dikenai pasal menyalahgunakan makhluk hidup. Vereen itu juga diperintahkan untuk tidak mendekati kandang kuda milik Kenley Barbara yang berhasil menangkap Vereen yang sedang bercumbu dengan kuda.

    “Saya minta maaf tentang apa yang telah saya lakukan, saya tidak bermaksud untuk melakukan semua itu. Ini salah saya. Saya minta maaf atas apa yang telah saya lakukan untuk diri saya sendiri,” ujar Vereen dalam persidangan Rabu 4 November 2009, seperti dikutip dari Hindustan Times, Selasa (10/11/2009).

    Vareen resmi tertangkap pada Juli 2009 setelah Kenley Barbara mencurigainya memasuki gudang di Lazy B Stables dalam waktu yang lama. Gudang tersebut berada sekitar 20 mil timur laut pantai Myrtle. Kenley sendiri telah memperhatikan gerak gerik dari Vereen selama seminggu, hingga akhirnya dirinya memutuskan untuk memasang kamera dan merekam apa yang terjadi antara Vereen dengan kuda tua berusia 21 tahun yang bernama Sugar.

    Kenley sudah menaruh curiga ketika menjumpai kudanya mulai bertingkah aneh dan mendapati infeksi di tubuh Sugar. Selain itu dirinya juga melihat ada hal-hal yang berubah di sekeliling gudang tersebut. Ini bukanlah pertama kalinya Vereen ditangkap.

    Pada akhir tahun 2007 lalu, Kenley juga menemukan Vereen sedang tertidur di tumpukan jerami setelah sebelumnya kedapatan menyerang kudanya. Akibat perbuatannya tersebut Vereen harus menjalani masa percobaan dan terdaftar sebagai pelaku pelanggar seks.

    Hakim menjatuhkan hukuman bagi Vereen selama 5 tahun penjara. Tapi ia bisa mendapat keringanan menjadi 3 tahun, jika berhasil menyelesaikan masa percobaannya dengan baik. Selain itu, Vereen juga diharuskan menjalani perawatan mental setelah keluar dari penjara dan harus menjauhi kandang kuda milik Kenley.

    “Saya cukup senang dengan vonis yang ada, tapi saya berharap Vereen punya waktu lebih banyak berada di penjara. Karena selama setahun ini saya sudah merasa sangat tersiksa dan menyebabkan banyak kesulitan,” ujar Kenley.

    Seperti dikutip dari Medterm, sebenarnya kelainan yang terjadi pada Vereen ini disebut dengan Zoophilia. Ini merupakan suatu kelainan seksual yang melibatkan ketertarikan seksual dengan hewan atau keinginan abnormal untuk memiliki kontak dengan binatang.

    Zoophilia itu sendiri merupakan salah satu bentuk paraphilia (perilaku seksual yang menyimpang). Binatang yang paling sering dijadikan korban adalah kuda dan anjing.

    Penyebab dari penyimpangan seksual ini masih belum dapat diketahui dengan pasti, ada beberapa yang menyebutkan karena terlalu dekat dengan binatang peliharaan atau merasa jenuh dan bosan jika bercinta dengan manusia.

    Sampai saat ini belum ditemukan obat apa yang bisa digunakan untuk menyembuhkannya, pengobatan yang digunakan untuk penderita zoophilia ini biasanya hanya berfungsi untuk mengurangi frekuensinya saja. Kelainan ini bisa sangat merugikan, karena menyebabkan mudahnya terjadi transmisi kuman atau bakteri dari binatang tersebut ke manusia yang disebut dengan zoonosis.

    Kuman yang berpindah itu bisa berupa leptospirosis, toksoplasma atau kuman lainnya. Perpindahan kuman ini bisa melalui cairan vagina, urin, saliva atau feses. Dalam hal ini manusia tersebut juga sangat rentan untuk terkena infeksi seksual.

    (ver/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2009/11/10/150038/1239020/763/penderita-zoophilia-ketahuan-bercinta-dengan-kuda

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 22 November 2010 Permalink | Balas  

    Bersetubuh Dengan Sapi 

    Selasa, 09/09/2008 10:12 WIB

    Pria Bali Tertangkap Basah Setubuhi Sapi

    Gede Suardana – detikNews

    Denpasar – Nengah Sutarya tertangkap basah sedang bersetubuh dengan seekor sapi betina. Perbuatan mesum itu dilakukan Sutarya di kandang sapi ‘malang’ itu.

    Peristiwa aneh tapi nyata itu terjadi di Desa Julah, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng Bali. Dalam waktu singkat, peristiwa yang terjadi pada Agustus lalu itu menyebar dan membuat geger warga Buleleng.

    “Dia kepergok seorang warga sedang telanjang sambil memegang pantat sapi betina milik keponakannya di tegalan dekat kandang sapi itu,” kata Ketua Kelian (kepala) Desa Pakraman Julah, Ketut Sidemen, Senin (8/9/2008).

    Akibat perbuatannya, Sutarya harus menanggung biaya upacara Pecaruan Balik Sumpah. Upacara ini dilakukan untuk membersihkan desa yang ternoda oleh perbuatan Sutaryo. Termasuk juga untuk mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari.

    “Sebelum upacara Pecaruan itu digelar, Desa Adat Julah dinyatakan sebel (kotor) sehingga harus dibersihkan secara niskala (alam gaib),” ungkap Sidemen.

    (gds/djo)

    http://www.detiknews.com/read/2008/09/09/101246/1002806/10/pria-bali-tertangkap-basah-setubuhi-sapi

    ***

    Jumat, 11/06/2010 12:49 WIB

    Remaja Jembrana ‘Dinikahkan’ dengan Sapi yang Disetubuhinya

    Gede Suardana – detikNews

    Jembrana – Nasib anak baru gede (ABG) berinisial GA (18), warga Desa Yehembang, Kabupaten Jembrana, Bali, sungguh malang. Ia “dinikahkan” dengan sapi yang disetubuhinya.

    Prosesi “pernikahan”  ini merupakan bagian dari ritual pembersihan desa yang dianggap kotor akibat perbuatan menyimpang GA dengan seekor sapi . Namun, belum ada penjelasan dari pihak desa makna dari upacara “pernikahan” tersebut.

    Prosesi pembersihan desa tersebut dimulai sekitar pukul 12.00 Wita, Jumat (11/6/2010). Sebelum acara dimulai, ratusan warga Desa Yehembang memadati lokasi persetubuhan AG  dengan sapi di tepi pantai Banjar Pasar.

    Dalam prosesi “pernikahan” itu, si pemuda menggunakan pakaian adat Bali sedangkan sapi betina ini dihias dengan kain putih. GA dan sapi bersanding hanya berjarak satu meter. Upacara “pernikahan” ini dipimpin seorang pemangku.

    GA tampak murung saat “dinikahkan” dengan sapi. Ia banyak menunduk. Tak ada kata yang terucap. “Mungkin saja ia sedih dan malu karena ditonton banyak orang,” kata seorang warga, Nyoman Listri, yang sengaja datang untuk menyaksikan ritual tersebut.

    Upacara “pernikahan” yang merupakan bagian dari ritual pembersihan desa dari kotor mendapat penjagaan dari polisi.

    Selanjutnya, usai “pernikahan” tersebut, ritual akan dilanjutkan dengan menenggelamkan sapi ke tengah laut dan memandikan si pemuda.

    (gds/nrl)

    ***

    http://www.detiknews.com/read/2010/06/11/124955/1376254/10/remaja-jembrana-dinikahkan-dengan-sapi-yang-disetubuhinya

     
    • elhazard 7:36 pm on 22 November 2010 Permalink

      masyaallah kalau manusia menuruti Hawa nafsu. akal pun jadi seperti binatang.

    • sony julian 1:15 pm on 20 Februari 2012 Permalink

      Mungkin manusia sudah ga ada lagi yang mau ama dia??

    • Jual batu 3:43 am on 22 April 2012 Permalink

      Wah unik sekali kejadian seperti ini. . .bener2 dah!. . .kunjungan bgadang pagi! :-)

  • erva kurniawan 1:28 am on 21 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    HP dan Kambing 

    Bukan bermaksud sara, tapi semoga bisa diambil hikmahnya.

    Janganlah bersifat mubazir, karena masih banyak disekitar kita yang tidak memiliki kesempatan atau kelebihan seperti yang kita miliki. Selalu ingat bahwa segala sesuatunya ada lah milik Sang Pencipta.

    Kututup hidung ketika melewati kerumunan kambing. Baunya yang menyengat ternyata tidak mengganggu penjualnya. Dalam hati sempat juga ngedumel sich “Nih orang mau jualan kambing gak melihat-lihat tempat apa? Masak jual hewan yg bau itu di dekat kios-kios elektronik. Kenapa nggak sekalian aja jualan di dalam mall?” gerutuku dalam hati. Orang yang lalu lalang, ada yang cuek, ada yang menutup hidung, ada juga yang justeru menghampiri hewan bau itu.

    Kupercepat langkah kakiku melewati tempat tersebut, mataku menatap lurus ke depan, tepat ke sebuah kios penjual HP. Memang kios itulah yang menjadi tujuanku ke tempat ini. Kuraba saku celana, masih tersimpan HP type lama yang sudah 5 tahun aku gunakan. Sebenarnya HP tersebut tidak bermasalah, masih layak untuk di gunakan, baik bertelepon maupun ber-SMS. Tetapi untuk saat ini, HP tersebut sangatlah “tidak layak” digunakan di tempat umum. Sering saat aku berangkat atau pulang kantor menggunakan KRL menyaksikan penumpang yang menggunakan HP terkini, canggih, suara polyphonic, ada radio, MP3 bahkan kamera foto & video. Suaranya merdu sekali saat ada telepon masuk, bisa lagu klasik ataupun lagu pop yang sedang top dari penyanyi papan atas. Sering aku ikut melantunkan dalam hati lagu yang kebetulan aku tahu dan seakan ingin agar pemiliknya tidak segera mengangkat telepon tersebut agar aku bisa lebih lama mendengarkan lagu yang sedang di gandrungi banyak orang itu.

    Memang luar biasa perkembangan teknologi saat ini, satu alat bisa mewakili berbagai macam fungsi alat-alat lainnya. Tidak perlu membawa walkman untuk mendengarkan lagu, tidak perlu bawa kamera untuk berfoto. Cukup bawa satu buah HP, semua itu sudah bisa terwakili. Bahkan saat ini ada semacam fasilitas untuk berbicara sekaligus melihat lawan bicara di seberang, kalau tidak salah 3G (mohon maaf kalau istilahnya salah, maklum belum pernah pakai)

    Kadang cukup kaget juga sich saat tahu siapa saja pemilik alat-alat canggih tersebut. Dari pegawai kantoran macam aku, pengusaha, pegawai negeri, pegawai toko & mall bahkan pedagang bakso sekalipun. Sekali waktu sempat kulihat, pegawai toko VCD di Glodok saling bertukar lagu lewat fasilitas bluetooth. HP yang ada di saku celanaku, jangankan kamera, fasilitas bluetooth pun tak ada, lelucon yang sering di lontarkan kawan-kawan adalah “Mau dikirimin lagu bagus nggak? Pakai Bluetooth aja, kan HP kamu emang rada “b u t u t” pasti bisa dech……..” Dan seperti biasa aku cuma bisa nyengir sambil ikut tertawa.

    Sekarang semua itu akan berubah, dengan susah payah aku kumpulkan sebagian gajiku untuk menggantikan rasa “malu” dengan “kebanggaan” bertelepon di tempat umum. Tidak sia-sia pengorbananku selama setahun ini, dengan terkumpulnya dana 3 juta untuk mengganti HP lama dengan HP baru, yang saya pikir dengan dana tersebut cukuplah membeli HP canggih.

    Belum sampai di depan kios HP yang kutuju, sempat terdengar pertanyaan dari orang yang menghampiri pedagang kambing tadi.

    “Bang, kambing yang itu harganya berapa bang ?”

    Si pedagang menjawab ” Satu juta pak”

    “Kok mahal amat sih bang?”

    “Itu yang terbesar pak, sehat lagi. Sangat pantas untuk Qurban !” “Wah kalau segitu sih, mana sanggup saya beli? Berapa sih hasil dari ngasong bang!”

    (“ooo ternyata orang itu adalah pedagang asongan” ujarku dalam hati)

    “Kalau yang coklat itu berapa bang? Itu yang rada kecilan”

    “Itu 750 ribu pak, harga pas, nggak ngambil untung besar lho pak.”

    “Saya cuma ada 650 ribu bang, boleh ya………?”

    “Wah pak , kalau segitu sih belum dapat, ongkos angkut ke sininya saja sudah mahal, bagaimana kalau yang putih itu saja” kata si pedagang sambil menunjuk kambing yang lebih kecil

    “Yah sudahlah, dari pada besok belum tentu terbeli” katanya pasrah “ini juga dari hasil nabung 3 tahun yang lalu, bang”.

    Seketika aku terkesiap, tiba-tiba rasa malu muncul dan mengalir deras dalam hati-ku rasa malu ini bahkan melebihi rasa malu saat kawan-kawan mencemooh HP butut-ku. Kuhentikan langkah kaki ini, tiba-tiba sekali aku jadi tertarik mendekati hewan yang bau itu. Bayangan HP baru perlahan-lahan hilang, berganti dengan bayangan gema Takbir saat kambing, domba dan sapi di sembelih dengan menyebut asma Allah.

    “Terima kasih ya Allah, Kau telah memberikan rasa malu pada hati manusia”.

    ***

    Oleh Bagus Hariyadi

     
    • putri 9:39 am on 1 November 2011 Permalink

      ijin kopi kang, syukron

  • erva kurniawan 1:16 am on 20 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ya Allah, Kapan Aku Mengangkat Koperku Sendiri…? 

    Saat itu adalah bulan Muharram tahun 1424 H. Seorang pria bernama Mamat yang bekerja di Bandara Soekarno-Hatta sedang sibuk mengangkat koper-koper penumpang. Koper bukan sembarang koper. Semua koper yang baru saja dibongkar dari pesawat Saudia Airlines itu memiliki kesamaan; berbentuk besar, berwarna biru tua dan bertuliskan nama pemilik, nomer kloter dan asal kota. Koper-koper tersebut adalah milik jemaah haji yang baru saja selesai menunaikan ibadah haji di Tanah Suci pada tahun itu.

    Setiap kali mengangkat satu koper, Mamat selalu membaca basmalah dan shalawat kepada Rasulullah Saw. Sudah berpuluh koper yang ia angkat, hingga rasa itu muncul di dadanya. Pada kali selanjutnya, tatkala tangannya menggamit pegangan koper, ia sempat membaca doa kecil kepada Allah Sang Penguasa Alam di dalam hatinya,

    “Ya Allah, kapan saya mengangkat koperku sendiri seperti ini…?!” Sebenarnya yang ia maksud adalah ia begitu berharap dapat berangkat haji ke Baitullah. Rupanya Allah mendengar jeritan hati Mamat. Hanya selang 4 bulan saja, Subhanallah, namanya keluar sebagai salah seorang dari 17 orang pegawai yang mendapatkan jatah naik haji tahun itu atas biaya kantor. Mamat pun amat bersyukur kepada Allah Ta’ala karenanya.Namun kebahagiaan ini tidak serta-merta membuat Mamat puas hati. Ia tahu bahwa berita ini boleh jadi akan membuat Iis, istrinya bersedih. Sebab hanya dia saja yang dapat berangkat naik haji, padahal mereka berdua selalu berdoa kepada Allah Swt agar dapat berangkat naik haji bersama-sama.Maka tatkala menyampaikan berita ini pun, Mamat amat hati-hati dalam mengemasnya.

    “Semoga tidak ada bahasa yang terpeleset dan melukai hati”, itulah harapan Mamat.

    “Is…. Akang minta maaf ya sama kamu…” Mamat mencoba membuka percakapan dengan meminta maaf terlebih dahulu.

    “Emangnya ada apa, Kang?” sang istri bertanya. “Akang ingin beritahukan sesuatu ke kamu, tapi kamu jangan marah ya… apalagi sedih…?” sambut Mamat.

    Kalimat itu membuat Iis menjadi gelisah. Ia coba tenangkan hati untuk mendengar berita gak enak ini. Mamat pun kemudian menyambung kalimatnya dengan nada hati-hati, “Is… Akang hari ini mendapat kejutan. Akang terpilih menjadi salah satu karyawan yang akan diberangkatkan haji oleh kantor…” “Alhamdulillah….!!!”

    Iis berteriak kegirangan. Ia langsung melompat ke arah Mamat suaminya dan memeluknya dengan erat.

    Dengan bersemangat Iis berkata, “Kirain berita sedih…! Berita bagus kayak begini kok dibawa sedih kayak begitu Kang? Iis ikut senang ngedengernya!”

    “Ya… emang sebenarnya ini adalah berita gembira, cuma yang bikin Akang takut membuat kamu sedih adalah ….. karena Akang gak punya duit untuk ngeberangkatin kamu, Is!

    Akang khan cuma pegawai kecil seperti kamu tahu… Kalau saja, duit itu ada, tentu Akang akan ajak kamu juga untuk berhaji ke rumah Allah!”

    Iis lalu mengerti kegundahan yang berkecamuk dalam hati suaminya. Sambil tersenyum, Iis berujar, “Udah kang gak usah dipikirin, Iis rela melepas Akang naik haji. Tapi jangan lupa doain Iis ya biar cepat nyusul!” Akhirnya, apa yang dikhawatirkan Mamat tentang perasaan istrinya pun tidak berlaku. Sekali lagi Mamat bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla karenanya.

    Hari itu adalah jadwal Mamat untuk berangkat haji. Seperti kebiasaan orang kampungnya, maka kepergian Mamat diantar dengan adzan dan iqamat. Pembacaan shalawat dustur yang dikumandangkan oleh seorang ustadz pun membuat semua orang haru meneteskan air mata. Saat itulah, Mamat berpamitan dengan menyalami serta merangkul orang-orang yang ia kenal seraya meminta restu. Semua anggota keluarga, kerabat, tetangga, sanak famili menghadiri acara itu. Semuanya sudah bersalaman dan berangkulan dengan Mamat. Hingga saat Mamat hendak naik ke atas kendaraan, saat itulah tiba giliran Iis mencium punggung telapak tangan suaminya dan suasana haru pun tercipta.

    Air mata suami-istri itu pun jatuh membasahi bumi. Saat mereka berdua berpelukan, Iis berucap, “Kang Mamat…., jangan lupa untuk doain Iis ya di Baitullah… panggil-panggil nama Iis di sana. Insya Allah, Iis dan anak-anak ikhlas ngelepas Akang. Semoga kita semua, dengan doa kang Mamat, bisa nyusul berangkat haji bareng-bareng…!” Tak kuasa Mamat menahan tangis.

    Pelukan itu makin ia pererat. Ia hanya mampu mengucapkan kata ‘Amien’. Dalam hati, Mamat berucap agar Allah Swt juga berkenan mengajak istri dan anak-anaknya untuk berhaji seperti dia. Di dalam kendaraan Mamat masih sempat berdoa kepada Allah Swt untuk keluarga yang ia tinggalkan: ALLAHUMMA ANTAS SHAHIBU FIS SAFAR, WAL KHALIFATU FIL AHLI. HR. Muslim  “Ya Allah, Engkau adalah pendampingku dalam perjalanan. Engkau juga yang menggantikan aku untuk menjaga keluarga yang ditinggalkan… Amien” HR. Muslim.

    Usai membaca doa, ia pusatkan konsentrasinya untuk khusyuk beribadah kepada Allah Swt. 42 hari Mamat menuntaskan semua ritual ibadah haji di kota suci Mekkah Al Mukarramah dan Madinah Al Munawwarah. Semuanya dijalani dengan begitu khusyuk dan nikmat. Sesampainya di tanah air pun, ia langsung mendapatkan sebuah titel baru dari masyarakat. Kini ia dikenal dengan panggilan Haji Mamat di kampungnya.

    Lepas 6 bulan setelah kepulangannya dari tanah suci. Iis istrinya yang dulu sempat berucap ikhlas melepas kepergian suaminya ke tanah suci, pagi itu ia kelepasan berujar bahwa dirinya sebenarnya begitu ingin juga berangkat ke tanah suci untuk berhaji. Kalimat itu dituturkan dengan nada sedih yang mengguncang hati Mamat.

    Kegundahan itu memang pernah diduga sebelumnya oleh Mamat. Namun baru kali ini kegundahan itu membuncah, dan tercetus lewat penuturan akan kerinduan untuk datang ke rumah Allah Swt dalam ritual haji. Muslim atau muslimah mana yang tidak mau untuk berhaji?

    Maka demi menghibur hati Iis, Mamat pun berujar kepadanya, “Is… kamu memang berhak untuk berangkat haji seperti orang lain, tapi Akang belum cukup punya uang. Sekarang kita hanya mampu untuk berdoa kepada Allah Swt…. Dia Maha Kuasa…. Jangankan minta haji…. minta yang lebih dari itu Dia pun amat kuasa. Nanti malam kita bangun ya untuk shalat tahajud…! kata ustadz, doa pada sepertiga malam terakhir amat dikabul. Nanti kita doa sama-sama untuk minta naik haji. Insya Allah akan dikabulkan… percaya deh!”

    Demikian ajakan Mamat kepada istrinya untuk melakukan shalat tahajud dan berdoa bersama nanti malam. Dan ajakan itu, disambut dengan anggukan kepala oleh Iis tanda setuju. Rupanya Mamat pulang dari kerja tidak seperti biasa. Hari itu ia tiba di rumah lewat dari pukul 20.00 WIB. Rupanya ada pekerjaan ekstra yang ia lakukan. Biasanya Mamat sudah tiba di rumah pukul 5 sore. Mungkin, ada pesawat lain yang tiba di luar jadwal, sehingga beberapa kuli panggul seperti Mamat disiagakan untuk bongkar muatan.Mamat pulang dengan badan yang letih. Usai menjalani shalat Isya, ia langsung rebahan di atas kasur dan langsung tertidur. Rasa letih membuatnya lupa untuk makan malam terlebih dahulu, atau menyapa keluarganya yang masih menunggu kedatangannya. Iis dapat memaklumi hal itu. Tidak beberapa lama kemudian, Iis pun menyusul tidur di atas ranjang bersama suaminya.

    Seperti apa yang telah mereka janjikan, Iis terjaga dan bangkit dari tidur pada pukul 3 pagi. Kemudian ia tepuk-tepuk kaki suaminya. Karena terlalu letih, Mamat tak sanggup untuk bangkit dan hanya berujar, “Ah…ah…!” tanda bahwa ia tak sanggup membuka mata. Iis langsung bangkit menuju kamar mandi. Usai berwudhu, ia kembali lagi ke kamar untuk bertahajud. Sajadah telah dibentangkan dan mukena pun telah ia kenakan. Sebelum melakukan shalat, untuk kedua kalinya Iis menepuk kaki Mamat agar ia bangun dan melakukan shalat tahajud bersama-sama. Sekali lagi, Mamat hanya mengeluarkan kata, “Ahh…ahh…!” Ia terlalu lelah untuk bangkit dan menyusul istrinya untuk bertahajud. Iis pun memaklumi. Raut wajah Mamat yang letih sudah mengabarkan bahwa ia terlalu lelah bekerja hari itu. Iis pun melafalkan takbiratul ihram tanda ia memulai shalat tahajud. Begitu khusyuk shalat yang Iis dirikan, dan di atas pembaringan Mamat pun menyaksikan sosok istrinya yang bermukena sedang menjalankan shalat. Namun ia dalam kondisi antara tidur dan terjaga. Kata orang, ini adalah tidur ayam. Tidur tak mau, bangun tak kuasa. Setiap gerakan shalat yang Iis lakukan selalu ia iringi dengan tetesan air mata. Sungguh…, seolah Allah Swt hadir menyambut kedatangan Iis dalam keheningan malam itu. Hingga kedekatan dengan Sang Maha Pencipta pun dapat dirasakan oleh Iis yang menjalankan shalat tahajud. Tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Sudah satu jam lebih Iis melakukan shalat dan dzikir kepada Allah Swt. Waktu telah menunjukkan pukul 4 lebih. Dan ia berkeinginan untuk bermunajat kepada Allah Swt dalam lantunan dan rangkaian doa yang ia bacakan.

    “Allahumma, ya Allah… Izinkan hamba-Mu ini untuk dapat berhaji ke rumah-Mu. Mudahkan jalan hamba…. Lapangkanlah rezeki kami. Engkau Yang Maha Kuasa atas segalanya…. Berikan perkenanmu agar aku sanggup datang ke rumah-Mu untuk beribadah dan memakmurkannya… Dengarkan doaku dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu…!” Dalam kesyahduan doa yang dibaca oleh Iis kepada Tuhannya, rupanya Mamat pun sempat mengamini di dalam hati tanpa sepatah kata pun terucap. Sungguh, malam itu telah terbangun sebuah jalinan suci antara seorang hamba dengan Allah Swt dalam rangkaian doa yang penuh hikmat dan cita.Adzan Shubuh mulai terdengar di beberapa masjid dan mushalla. Untuk terakhir kali, Iis membangunkan Mamat suaminya sambil berujar, “Pak Haji… ayo bangun! Malu sama tetangga. Masa sudah haji enggak shalat Shubuh berjamaah? Ayo bangun, Kang….!” Mamat pun bangkit.

    Berat sekali rasanya ia mengangkat badan. Setelah berwudhu, ia pun mengenakan pakaian yang bersih lalu berangkat menuju mushalla untuk melaksanakan shalat Shubuh. Mamat mengucapkan salam saat masuk kembali ke rumah. Iis dan anak-anak pun sudah bangun semua. Inilah rumah yang berkah. Semua sudah terjaga dan bangkit untuk menyongsong hari yang indah. Mamat kemudian meminta Iis membuatkan secangkir kopi untuknya. Kemudian dengan tasbih di tangan, ia baru saja hendak menempelkan pantatnya ke kursi sofa di ruangan depan. Namun tiba-tiba hasratnya untuk duduk, dihentikan oleh dering telfon yang berbunyi keras di pagi hari.

    Mamat pun mengangkat gagang telfon. “Assalamu’alaikum….. ini dari mana dan mau bicara dengan siapa?” Mamat membuka pembicaraan. “Mat… ini teh Sulis, Iis ada nggak?” demikian suara di seberang menjawab. Mamat pun tahu bahwa orang yang menelfon ini rupanya adalah kakak iparnya sendiri. Tanpa berpikir panjang, Mamat pun memanggil Iis yang saat itu sedang hendak membuatkan kopi untuknya. Mamat kembali duduk di atas kursi sofa.

    Sementara Iis duduk di lantai untuk menerima telfon. Baru saja Iis mengucapkan salam kepada teh Sulis, namun setelah itu tidak ada satu patah kata pun yang meluncur dari mulut Iis. Yang ada adalah deraian air mata dan kata, ‘iya Teh!’ berulang-ulang diucapkan. Pembicaraan telfon di pagi hari itu sudah lebih dari 10 menit berlangsung. Melihat istrinya terus menangis, Mamat menduga bahwa ada berita buruk yang terjadi terhadap keluarga hingga pagi-pagi begini sudah menelfon dan membuat istrinya menangis. Mamat mengira bahwa ada salah seorang familinya berpulang kepangkuan Ilahi. Gagang telfon itu kemudian diletakkan Iis.

    Ia masih sesenggukan menahan tangis. Iis mencoba mengangkat wajah dan menghadap ke arah suaminya. Saat itu Mamat mencoba menyelak dengan pertanyaan, “Siapa yang meninggal, Is..?” Masih sesenggukan Iis menjawab, “Gak ada yang meninggal, Kang!”

    “Lalu kenapa kamu menangis kayak begitu, emangnya berita sedih apa yang diceritain teh Sulis?” Mamat masih mengejar dengan pertanyaan yang lebih menukik. Saat itulah Iis menceritakan hal sebenarnya,

    “Kang…., barusan teh Sulis bilang bahwa ia berniat berangkat haji tahun ini. Kebetulan kang Andi suaminya lagi banyak kerjaan. Kang Andi gak bisa nemenin…. Teh Sulis tadi nanya saya, kamu khan belum berhaji, mau gak saya ajak? Teh Sulis mau bayarin biaya haji saya…. tapi saya disuruh minta izin dulu ke Akang. Iis gak nyangka, Kang…. begitu cepat Allah menjawab doa yang baru saja Iis sampaikan dalam tahajud. Sekarang, pilihan mah ada di Akang. Jika Akang izinkan, saya siap. Kalau Akang enggak izinin saya juga ikhlas…!”

    Iis berhenti sejenak mengatur nafasnya yang masih sesenggukan. Air mata itu masih menetes tanda haru dan syukur atas doa yang Allah Swt kabulkan. Sementara Mamat masih terdiam, terperangah dan takjub atas kemurahan Tuhan. Mamat langsung merangkul istrinya ke dalam dekapan. Mamat berujar, “Kamu boleh berangkat haji untuk beribadah dan nemenin teh Sulis. Akang ikhlas mengizinkan kamu dan merawat anak-anak di rumah. Silahkan kamu berhaji untuk melengkapi agama kamu, Is!”

    Keduanya masih berpelukan erat tanda haru dan syukur atas nikmat Allah Swt yang tiada ternilai. Dalam keharuan tersebut ternyata masih tersisa sebuah penyesalan dalam dada Mamat yang kemudian terbersit di hatinya, “Coba, saya ikut bangun tahajud dan berdoa kepada Allah untuk minta haji. Mungkin bisa berangkat bareng-bareng juga kali ya….?!”

    Itulah kisah sepasang suami-istri hamba Allah Swt yang dimudahkan untuk berhaji ke Baitullah. Semoga Anda dan saya dapat menerima anugerah serupa. Amien!

    “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. 2:185) .

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 19 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: Keutamaan Makkah   

    Keutamaan Makkah 

    Oleh: Iman Zuhair (Pembina Tahfizhul Qur’an di Makkah)

    Makkah adalah baitul atiq (rumah suci tertua). Ia adalah tanah haram, dan tempat yang aman. Allah SubahaHu wa Ta’ala memuliakan dan meninggikan nilainya. Ia mempunyai kedudukan agung dan tempat yang tinggi yang tidak bisa ditandingi oleh apapun. Bagaimana tidak? Sementara didalamnya terdapat masjid yang pertama kali dibangun untuk manusia, supaya mereka menyembah dan mendekatkan diri kepada Rabbnya. Masjid itu dibangun kembali oleh Ibrahim al-Khalil, yang nilainya semakin tinggi ketika Allah Ta’ala mengutus Nabi terakhir salalLaahu ‘alayhi wa sallam.

    Ia adalah tempat berkumpulnya fadhilah dan keutamaan. Didalamnya diangkat derajat dan diampuni kesalahan. Disana orang berlomba-lomba dalam kebaikan. Ia adalah tempat rahmah dan rumah ibadah.

    Keutamaan Makkah sangat banyak, agar kaum muslimin mengetahui keagungan rumah ini dan kedudukannya disisi Allah Ta’ala, berikut ini sebagian darinya:

    1. Di sana terdapat rumah ibadah yang pertama kali di bumi.

    Allah SubhanaHu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia” (Al-Imran 96)

    Al-Hasan al-Bashri berkata: “Ia adalah masjid pertama kali didalamnya Allah disembah”

    2. Ia adalah tanah haram (suci) disisi Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.

    RasululLaah salallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku diperintah untuk menyembah Tuhan Pemilik negeri yang telah Dia haramkan ini, dan bagi-Nya lah segala sesuatu. Aku diperintah agar aku menjadi orang yang muslim”.

    Di Makkah, Allah haramkan makhluq-Nya untuk menumpahkan darah secara haram, atau berbuat aniaya terhadap seseorang, atau berburu hewan buruannya, atau dicabut pepohonannya. Dalam shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Syuraih radiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Makkah itu diharamkan oleh Allah, bukan oleh manusia, tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menumpahkan darah, menebang pepohonannya. Apabila ada seseorang beralasan dengan perangnya Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam (untuk menaklukan Makkah), maka katakan padanya: ‘Allah mengizinkan untuk rasul-Nya, bukan untukmu!’, Karena sesungguhnya diizinkan untukku sesaat disiang hari, tetapi sekarang kembali diharamkan, sebagaimana sebelumnya. Maka yang hadir hendaknya menyampaikan kepada yang tidak hadir”.

    3. Ia adalah tempat yang aman.

    Allah SubhanaHu wa Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo’a: ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rejeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”.” (Al Baqarah: 126)

    Sebagian ahli tafsir mengatakan, bahwa makna kata “aman” adalah aman dari penguasa dhalim juga aman dari siksa seperti tempat-tempat lain, seperti amblas (tenggelam) kedalam tanah, tenggelam dengan air dan lainnya dari bentuk-bentuk murka Allah Ta’ala yang bisa mengenai semuai negeri selainnya.

    4. Tampat yang paling dicintai Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

    Dari Abdillah bin Adi bin Hamra Al-Zuhri ia berkata: “Saya melihat Rasulullah diatas kendaraannya, sedang berdiri di Jarwal, beliau bersabda: ‘Demi Allah, engkau adalah tempat yang terbaik dan paling dicintai oleh Allah Ta’ala, andai aku tidak diusir darimu, pasti aku tidak akan keluar.” (Hadits Riwayat Nasa’i)

    5. Keutamaan shalat di Makkah tidak bisa disaingi oleh keutamaan manapun.

    Shalat disana sama dengan 100.000 kali shalat ditempat lain.

    6. Benteng dari Dajjal; ia tidak akan masuk kedalamnya sebagai bentuk penjagaan dari Allah SubhanaHu wa Ta’ala.

    Dari Anas bin Malik radiyalLaahu ‘anhu, Nabi salallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Tidak ada satu tempatpun melainkan Dajjal akan memasukinya, kecuali Makkah dan Madinah, karena tidak ada satu celahpun pada keduanya melainkan dijaga para malaikat. Kemudian Madinah akan menggoncang penduduknya tiga kali, dengannya Allah akan mengeluarkan orang kafir dan munafik.” (Hadits Riwayat Bukhari)

    7. Zamzam

    Zamzam merupakn kekeramatan Ismail ‘AlayhisSalam dan ibunya, Allah subhanaHu wa Ta’ala mengalirkan mata air ini untuk keduanya yang menjadi sumber air abadi hingga akhir jaman di negeri yang tandus tanpa pohon dan air. Allah Ta’ala menjadikanya sebagai pengilang dahaga, obat dan makanan bagi peminumnya. Dari Abu Dzar al-Ghiffari rasiyalLaahu ‘anhu, RasululLaah salallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Zamzam adalah makanan dan obat bagi peminumnya”. Hadits Riwayat Bazaar dan Thabrani dalam as-Shaghir, dishahihkan oleh Al Albani.

    8. Haramnya menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang hajat sebagai penghormatan dan pemuliaan terhadapnya.

    Diharamkan bagi seseorang apabila buang hajat ditempat terbuka sementara tidak ada yang menghalanginya baik ia menghadap atau membelakangi Ka’bah. Dari Abu Hurairah radiyalLaahu ‘anhu, RasululLaah salallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Apabila kalian hendak buang hajat, maka janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya, akan tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat (jadikan kiblat sebelah kanan atau kiri kalian)”, (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

    9. Makkah sebagai pusat daratan.

    Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah SubhanaHu wa Ta’ala (Qur’an Surah Al-Syura’ ayat 7)

    Ibn Abbas berkata dalam tafsir ayat ini: “Ummu alQura’ adalah Makkah, sementara wa man haulahaa (sekitarnya) adalah bumi seluruhnya”

    Sebuah penelitian modern menunjukkan bahwa Makkah yang dimuliakan oleh Allah SubhanaHu wa Ta’ala adalah merupakan pusat daratan di bumi. Hasil ini dicapai oleh sejumlah peneliti, diantaranya adalah Dr. Husain Kamaluddin, salah seorang Imuwan Mesir ketika menggambar peta dunia untuk menunjukkan arah kiblat bagi kaum muslimin, ternyata Makkah berada ditengah-tengah daratan yang ada di muka bumi, dan bahwasanya daratan-daratan yang lain tersebar disekitar Makkah dengan penyebaran yang teratur.

    10. Makkah sebagai kiblat bagi kaum muslimin.

    Ini merupakan keutamaan lain dari baitulLaah al-Haram, seluruh kaum muslimin dibelahan timur dan barat menghadap kearahnya. Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah kelangit, maka sungguh Kami akan memalingkan mukamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan” (Qur’an Surah al-Baqarah ayat 144)

    11. Berniat melakukan kekejian (yang berhisab).

    Berniat melakukan kekejian didalamnya ada hisabnya, berbeda dengan tempat selain Makkah dimana seseorang tidak akan disiksa karena berniat melakukan kejahatan kecuali setelah benar-benar melakukannya atau mengucapkannya.

    Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim disitu maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud didalamnya melakukan kejahatan secara dzalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (Qur’an Surah al-Hajj ayat 25)

    Yang dimaksud ilhad ini adalah condong atau keluar dari agama yang sudah digariskan oleh Allah Ta’ala, termasuk didalamnya syirik, kufur, melakukan sesuatu yang diharamkan, atau meninggalkan apa yang diwajibkan, atau menodai keharaman (kesucian) tanah haram.

    Inilah sebagian keutamaan baitulLaah al-Haram, kita memohon kepada Allah SubnahaHu wa Ta’ala agar memperkenankan kita untuk melaksanakan haji dan umrah kepadaNya berkali-kali. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla lah yang berhak diminta, serta mampu untuk mengabulkannya, dan segala puji bagi Allah Rabb sekalian alam.

    ***

    Qiblati edisi 03 tahun II – Desember 2006 M / Dzulqa’dah 1427 H

     
    • slamet syarifin 2:55 pm on 29 Mei 2011 Permalink

      makkah adalah tempat yang indah didunia. .
      ;-)

    • Sutan Syahrirsyah 9:22 am on 6 Maret 2012 Permalink

      makkah adalah tempat yang paling ajaib di seluruh dunia, dan tidak tempat lain yang dapat menyaingi keajaibaban makkah almukarromah

    • Rahimah 9:25 pm on 16 Maret 2012 Permalink

      Maha Kaya Allah, tidak ada yang dapat menandinginya.

    • abuYasir 12:40 pm on 13 September 2012 Permalink

      اللهم ارزقنا زيارة الى بيتك المعظم ورسولك المكرم فى هذه السنة و فى كل سنة بأحسن الحال
      Ya Alloh rizkikanlah kepada kami untuk menziarohi rumah Mu yang agung dan Rosul Mu yang mulia di tahun ini dan setiap tahun dengan sebaik-baik keadaan,Amin

    • elan 5:47 am on 22 April 2013 Permalink

      makkah, kami merindukanmu.. Ya Allah mudahkanlah kami untuk menunaikan kewajiban rukun Islam yang kelima ini… syukran

  • erva kurniawan 6:22 pm on 18 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: hipertensi, , , tekanan darah tinggi   

    Kenapa Makan Kambing Bikin Tensi Naik? 

    Vera Farah Bararah – detikHealth

    Jakarta, Makan kambing saat hari raya kurban sudah jadi tradisi. Tapi jangan sampai kebanyakan makan kambing atau daging karena tekanan darah bisa naik tinggi. Kenapa makan kambing cepat bikin tensi naik?

    Daging kambing yang dikonsumsi memang bisa menyebabkan tekanan darah seseorang menjadi tinggi, apalagi jika orang tersebut sudah memiliki riwayat hipertensi (tekanan darah tinggi). Naiknya tekanan darah ini disebabkan oleh energi yang dihasilkan dari daging kambing yang dikonsumsi tersebut sangat tinggi.

    “Dalam 100 gram daging kambing yang dibuat sate bisa menghasilkan energi sebanyak 150 kalori. Kalori yang masuk ini akan diubah menjadi lemak tubuh,” ujar Dr dr Saptawati Bardosono, MSc, saat dihubungi detikHealth, Jumat (27/11/2009).

    Dokter yang akrab disapa Tati ini menjelaskan jika 100 gram daging kambing dijadikan gulai maka akan menghasilkan kalori sebesar 125 kalori. Sedangkan jika diolah menjadi sop kambing akan menghasilkan kalori sebesar 35 kalori karena orang tidak hanya makan dagingnya saja tapi juga beserta kuah sop dan sayuran di dalamnya.

    Sedangkan cara yang paling aman untuk mengkonsumsi daging kambing adalah dengan mengonsumsinya bersama sayuran seperti tomat, wortel atau kentang untuk mengurangi jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh.

    “Jadi kalau makan sate kambing, acarnya juga dimakan jangan hanya dijadikan hiasan saja. Sedangkan bagi penderita hipertensi lebih baik tidak makan sama sekali, karena daging kambing itu sangat gurih jadi pasti susah untuk membatasinya,” ujar dokter Tati.

    Hal yang menyebabkan daging kambing menjadi sangat gurih adalah lemak yang terdapat dalam daging tersebut. Karena jika dilihat melalui mikroskop, daging kambing itu sendiri sebenarnya dilapisi oleh lemak. Ini karena kambing merupakan salah satu binatang yang jarang gerak sehingga dagingnya banyak mengandung lemak.

    Selain menyertakan sayuran dalam mengonsumsinya, sebaiknya masyarakat tidak makan lemak yang berwarna putih dari daging kambing itu serta kurangi kue kering yang manis dan sirup-sirup yang bisa menambah jumlah kalori dalam tubuh.

    “Untuk membakar 150 kalori yang berasal dari 100 gram daging kambing saja, seseorang harus berlari lebih dari satu jam,” ungkap staf departemen ilmu gizi dan juga dosen di FKUI ini.

    Untuk itu bagi penderita darah tinggi sebaiknya mengonsumsi daging putih saja seperti ikan atau ayam, karena mengandung lemak yang sedikit. Bagi pecinta daging kambing jangan lupa untuk mengonsumsi sayuran dan berolahraga setelah makan untuk mengurangi jumlah kalori dan lemak yang masuk ke dalam tubuh.

    (ver/ir)

    ***

    Sumber: detikHealth

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 17 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Umrah 

    1. Latar Belakang

    Prinsip utama saya sejak beranjak dewasa sampai sebelum perjalanan umroh ini adalah: “Tak ada keajaiban”. Segala sesuatu harus masuk logika, masuk akal, dan jauh dari hal-hal yang tak masuk akal. Segala sesuatu mesti ada penjelasan ilmiahnya.

    Oleh karena itu pandangan saya selalu mengacu kepada konsep hukum-hukum fisika, sosial, dan hukum psikologi. Tak ada kejadian yang pernah bisa melanggar hukum alam. Setiap pohon pisang akan berbuah pisang, setiap mahluk hidup mempunyai siklus biologi sesuai spesisnya, setiap apapun didunia ini tidak ada yang bisa lepas dari hukum absolut alam semesta. Takkan pernah ada cimpedak berbuah nangka kecuali dalam sajak. Takkan pernah ada orang kebal peluru. Takkan pernah ada keajaiban, keanehan, atau anomali hukum alam.

    Sebelumnya saya hanya tertawa mendengar cerita-cerita keajaiban ataupun kejadian luar biasa yang kerap terjadi pada orang yang melakukan ibadah haji atau umroh di tanah suci. Mungkin itu hanya kebetulan, atau mungkin itu hanya bohong belaka. Sehingga kajian saya mengenai telaah agama islam, selalu mengacu kepada analisa, sentesa, konseptual, dan hipotesa. Pendeknya, tak ada alat yang saya miliki untuk telaah tersebut selain metode ilmiah, sampai saya dipaksa harus menyadari instrumen lain yang sesungguhnya ada dan tak pernah saya gunakan.

    2. Perjalanan I: Jkt-Jeddah

    Saya berangkat dengan apa adanya menuju Jeddah. Instruksi saya kepada secretaries yang membooking perjalanan untuk mengambil paket yang paling murah, paling singkat, dan paling efisien. Boleh dikata niat saya bukan untuk ibadah, tapi untuk sebuah hipotesa.

    Diperjalanan, saya bertemu dengan seorang Haji yang telah beberapa kali berhaji dan berumroh, H. Tabrani (63), mantan walikota Jakarta Timur, kelahiran Aceh.

    Kamipun terlibat diskusi dipesawat. Saya katakan bahwa saya datang ke Mekkah bukan untuk cari umur panjang, rejeki, kemakmuran, kekayaan, dsb. Saya katakana saya hanya ingin mencari petunjuk, hidayah bahwa Al-Qur’an adalah memang benar datangnya dari Allah dan bukan konsepnya Muhammad. Saya ingin tahu hipotesa saya benar atau salah.

    H.Tabrani berkata, ” Insya Allah you akan dapat semua itu. Namun semua akan tergantung dari cara you memandangnya, apakah fenomena itu adalah sebuah petunjuk, atau hanya sebuah kebetulan “.

    2.1. Kejadian 1

    Beberapa saat setelah beliau bicara, tiba-tiba mesin pesawat mati satu. Penumpang pun diharap kembali ketempat duduk masing-masing dan memasang sabuk pengaman. Penerbangan baru berlangsung 45 menit. 5 menit kemudian kedua mesin Boeing 747 disayap kiri mati. Pilot pun memberitahukan bahwa pesawat harus kembali ke Airport Soekarno Hatta.

    Kemudian pesawat mengalami turbulens yang menyeramkan disertai jeritan penumpang, sementara saya melihat kejendela pembuangan bahan bakar mulai dilakukan. Ini merupakan pemandangan yang sama sekali tidak menyenangkan.

    Saat itu saya mulai takut dan berfikir tentang kematian. Berkali-kali saya terbang, baru kali ini mengalami kejadian yang demikian. Apakah tempat yang saya tuju memang luar biasa? Ataukah ini hanya kebetulan saja? Dengan sisa mesin dan kekuatan yang ada, pesawat terbang miring dan mendongak, sementara yang saya lihat dibawah hanya lautan lepas. Namun akhirnya pesawat dapat mendarat di Soekarno Hatta dengan selamat, diiringi beberapa mobil pemadam yang siap siaga.

    Kami semua di inapkan di Horison Hotel-Ancol. Di Hotel diskusi saya dengan Bp H. Tabrani berlanjut.

    Saya tanya ; Aca:” Pak Haji, kok susah bener ya mau ke Mekkah aja?”

    “Baru kali ini saya saya naik pesawat kayak begini”

    H. Tabrani: ” You kurang niat kali… ini khan bukan perjalanan biasa”.

    Aca: Apanya yang luar biasa. Secara teknis tetap sama”

    H. Tabrani: ” Wah…you boleh pilih, melihat ini sebagai sebuah Kebetulan, atau sebuah kebesaran Allah!”

    Aca: ” Tapi Pak, kenapa kalau Allah mau kasih pelajaran Semua satu pesawat terkena getahnya, padahal khan Ada penumpang lain seperti Bapak yang sudah berniat bulat umroh tetapi juga batal “.

    H. Tabrani: ” Andry…you khan tahu tidak semua penduduk Indonesia bobrok mentalnya, tetapi, jika Allah mau kasih pelajaran khusus hampir seluruh rakyat Indonesia terkena dampaknya”. ” Bisa jadi karena you dengan niat hipotesa atheis itu-kita semua satu pesawat terkena akibatnya”. “Coba dech.. you pikirin! ”

    Akhirnya saya mulai tafakur, mencoba untuk merendahkan hati, sholat isya’-dan membaca niat untuk umroh. Saya mulai membuka-buka buku-buku petunjuk menjalankan umroh. Walau saya jarang (hampir tidak pernah) berdo’a, saya baca-baca do’a nya.

    2.2. Kejadian 2

    Esoknya kami berangkat dengan pesawat lain. Dan ketika itu saya melonjak kegirangan, karena saya di up-grade ke first class. Waduh, enak juga, 10 jam terbang tanpa harus berdesakan dengan fasilitas lainnya yang tidak sama dengan economi.

    Tiba-tiba H. Tabrani datang, ” Wah you koq disini?

    ” Aca: ” Alhamdulillah saya di up-grade Pak ”

    H. Tabrani: ” Waduh…enak benerrrr, you udah niat umroh? ”

    Aca: ” Udah Pak, semalam saya tafakur, berdo’a dan membaca niat ”

    H. Tabrani: “Bagus kalau begitu. You sekarang melihat kan Allah bisa memberikan imbalan kenikmatan secara Langsung ”

    Aca: “Loh tapi Pak Haji, ini khan petugas maskapai yang Ngatur!?”

    H. Tabrani: ” Bukan! ini Allah yang ngatur, melalui tangan petugas”

    Aca: ” Wah ini mungkin hanya kebetulan saja Pak!” ” Nggak masuk akal kalo Cuma karena niat, saya langsung diberi kenikmatan oleh Allah “.

    H. Tabrani: ” OK… khan saya sudah bilang dari kemarin, semua terserah you saja, apakah you mau melihat dengan kacamata kebetulan, atau kacamata iman!”

    H. Tabrani pun mulai sewot dengan saya. Entah karena nggak di up-grade atau karena sikap saya yang dianggapnya wangkeng.

    2.3. Kejadian 3

    Dipesawat, saya dikenalkan oleh pramugari kepada 2 orang penumpang yang menekuni manajemen pikiran. Dian, pramugari yang sebelumnya terlibat diskusi agama dengan saya dan H. Tabrani, menyarankan agar masalah saya diungkapkan kepada mereka. Kamipun berkenalan, seorang bernama Nur Cahyo, seorang lagi bernama Kartiko (mungkin muridnya).

    Saya jelaskan permasalahan utama saya. Akhirnya ia menjelaskan, ” Saudara Andry, selama ini saya tahu anda telah banyak berupaya, namun upaya itu belum optimum. Apa sebab-karena saudara hanya menggunakan sebahagian yakni bagian kiri saja dari otak saudara “.

    “Karena otak, mempunyai 2 belahan, belahan kiri yang fungsinya untuk menganalisa, kalkulasi, logika, konsentrasi, hipotesa, dsb, dan belahan kanan yang berfungsi mencerna keindahan, emosi, seni (spt musik), euphoria, keimanan, dan sebagainya. Kedua belahan otak tersebut harus saudara gunakan. Wajar kalau saudara hanya mengandalkan analisa dan mendewakan sirkuit logika”.

    “Ada daerah kekuasaan Tuhan yang tidak dapat dianalisa dan didiskusikan. Daerah tersebut hanya dapat dicerna oleh perasaan yang kita sebut iman”. “Loh…itu khan basic prinsip Quantum Learning, saya tahu benar itu”, kilah saya. “Betul…bagus kalau anda tahu, tapi pernahkah anda terapkan dalam pencarian ini?”.

    Saya mulai bingung dengan pertanyaan Kartiko. Saya tahu benar ilmu itu, karena saya sering jadi pembicara tentang metode belajar dan bekerja menggunakan keseimbangan otak kiri-kanan. Kepala saya seperti dipentung oleh senjata saya sendiri.

    Kartiko melanjutkan, “Jika yang saudara cari adalah petunjuk, ia dapat berupa ilham, mimpi, atau fenomena dan kejadian-kejadian yang tak masuk akal. Saudara tak akan bisa menelaah semua itu nanti di perjalanan dengan otak kiri (analisa) saja. Hasilnya akan saudara pisah-pisah dan terlihat tidak berkaitan satu sama lain. Namun apabila saudara gunakan juga otak kanan (intuisi/rasa/iman), hasilnya akan sangat menakjubkan”.

    H. Tabrani pun ikut terlibat diskusi, dan ia banyak membenarkan perkataan Kartiko. Sebelum Kartiko kembali ke kursi duduknya, saya bertanya kepadanya, “Anda kuliah dimana?”.

    Kartikopun menjawab “Politeknik Mekanik Swiss”.

    “Astaga, angkatan berapa?”. “Angkatan 88”, jawabnya.

    Akhirnya, kami pun bertambah mesra. Saya mulai menarik hipotesa dengan kedua belahan otak saya;

    1. Apakah instrumen ini berguna (telaah menggunakan kedua belahan otak) untuk pencarian saya?
    2. Kenapa saya tak pernah menggunakannya, padahal saya tahu dan gandrung dengan ilmu itu?
    3. Apakah ia hanya seorang kenalan di pesawat, ataukah sebuah petunjuk agar saya menggunakan instrumen itu dalam perjalanan sekarang dan nanti?
    4. Apakah pertemuan kami ini hanya sebuah kebetulan?
    5. Apakah Kartiko juga seorang yang kebetulan berlatar belakang pendidikan sama dengan saya sehingga jalan berfikir kami sepertinya klop!?

    Saya kembali membahas ini dengan H. Tabrani. Beliau seperti biasa sambil sewot, “Terserah you mau lihat dari kacamata kebetulan a/ kacamata kebesaran Allah!”.

    Sayapun mulai tak percaya dengan diri saya. Saya mulai goyah dengan pandangan saya selama ini.

    2.4. Kejadian 4

    Akhirnya kami pun tiba di Jeddah, yang kemudian perjalanan disambung ke Madinah. Malam hari kita berangkat sholat Isya’ ke Masjid Nabawi. Disini Rasululloh di makamkan, jelas H. Tabrani.

    “Kok kuburan di Masjid Pak Haji, nggak bener itu!”

    “Wah you ini mau sholat apa nggak!”. “You khan bisa sholat karena orang yang dimakamkan disini!”.

    Tanpa banyak bantah saya ikuti ajakannya sholat diluar (halaman) Masjid (karena larut, pintu masuk sudah ditutup). Saya sholat tepat disamping pintu makam Rasululloh, sedang H. Tabrani sholat 5 meter didepan saya.

    Tiba-tiba, baru saja saya takbiratul ihrom, pintu disamping saya berdebum. Sayup-sayup berdebum. Seperti suara orang kerja. Tapi lebih mirip suara orang marah-marah membanting meja atau kursi.

    Tiba-tiba perasaan takut saya datang. Akhirnya saya batalkan sholat saya, pindah menjauhi makam Rasululloh. Makam orang yang saya pikir pembuat Al-Qur’an. Dan saya mulai dihantui pemikiran tersebut. Sholat saya sudah nggak bisa khusuk lagi.

    “Andry…kamu kenapa pindah sholatnya?”, tanya H. Tabrani.

    “Nggak tahu tuh Pak, ada suara berisik dipintu, sepertinya pintu itu mau dibuka orang “, jawab saya.

    “Suara berisik apa “.

    “Loh Pak Haji nggak denger barusan ”

    “Enggak ah…, Iqbal…kamu dengar suara?” “Enggak Pak…”

    Perasaan saya mulai nggak karuan. Rasa takut dicampur rasa bersalah. Saya coba analisa pakai belahan kiri, bahwa mungkin posisi saya yang tegak lurus dengan pintu menyebabkan saya bisa dengar, namun mereka karena tidak tegak lurus, mereka tak bisa mendengar. Tapi harusnya juga dengar. Mustahil tidak, karena suara itu keras koq.

    Akhirnya saya ceritakan ke H. Tabrani tentang perasaan kacau saya. Saya ceritakan bahwa saya pernah menulis e-mail yang berpendapat apakah semua ini bisa-bisa nya Muhammad. Kala itu saya tetap menyangsikan kronologi turunnya wahyu. Hingga saya mensejajarkan posisi Muhammad dengan Napoleon, Karl Marx, Einstein, Aristoteles, Plato, dan pemikir besar dunia lainnya.

    “Wah…kalau you udah sadar itu salah, you mesti minta maaf besok didalam Masjid, tepat disamping makamnya kalau bisa “, kilah H. Tabrani.

    Esok hari, pagi-pagi sekali kami bangun, berangkat menuju Masjid Nabawi. Masjid besar dengan halaman yang juga besar. Dengan terhuyung sambil ngantuk (karena nggak biasa bangun dan sholat shubuh) saya berjalan menyusuri halaman Masjid seperti menyusuri 2 kali panjang lapangan bola. Seluruh lantainya ditutupi Pualam putih.

    Setelah melewati pintu utama, saya berjalan memasuki ruang dalam Masjid area perluasan King Fadh. Saking besarnya, pandangan lepas kita tak dapat melihat ujung Masjid lainnya. Lantai, dinding dan Tiang ditutupi marmer yang di polish licin. Setiap tiang terdapat lubang AC yang dapat mengatur suhu ruangan otomatis.

    Kami terus berjalan menuju Raudah (batas bangunan asli Masjid yang dibangun Muhammad) melewati area perluasan King Azis. Antara perluasan King Fadh dan King Azis terdapat Kubah yang dapat terbuka dan tertutup otomatis. Sempat terfikir oleh saya, betapa besar biaya yang diperlukan untuk ini semua.

    Namun saya coba tahan pemikiran negatif itu dan menggantikannya dengan fikiran betapa besar pengaruh Muhammad sampai sekarang hingga dapat terwujud Masjid sebesar dan seagung ini.

    Kamipun hampir mencapai Raudhah, namun tak bisa masuk karena penuhnya. Setelah sholat Shubuh, saya dianjurkan H. Tabrani untuk berdo’a di area Raudhah.

    “Kenapa …?”, tanya saya.

    “Berdoa disana Insya Allah lebih amat makbul (dijawab oleh Allah terhadap permintaan doa kita).

    Sempat terbesit pertanyaan saya, apakah doa orang yang berdoa di Masjid Dago Atas tidak makbul? Namun saya mulai menahan diri terhadap pemikiran dan pertanyaan model itu.

    Setelah berdoa, kamipun berdesakan keluar melalui Pintu Jibril, pintu yang melewati tepat muka makam Rasululloh. Saya ambil barisan paling kiri, barisan yang paling dekat dengan sisi makam. Kami berjalan berdesakan, perlahan, penuh sesak namun sangat tertib. Dari kejauhan saya melihat pagar makam yang didalamnya gelap tak ada cahaya. Dalam antrian perlahan saya mendekati makam. Di dalam pagar terlihat tiga makam yang ditutupi kain. Saya tak tahu yang mana Makam Rasululloh, yang mana makam Abu Bakar, dan yang mana makam Khadijah, isteri Nabi.

    2.5. Kejadian 5

    Disepanjang makam berdiri 4 orang tua dengan badan tinggi bersorban yang selalu menepis tangan orang yang mencoba memegang pagar dengan meratap.

    “Musyrik!!!”, hardiknya.

    Mereka senantiasa menjaga perilaku setiap orang yang mencoba ziarah dengan kelakuan aneh. Disini saya mulai mengerti arti Islam sebagai agama Tauhid. Agama yang ber-illah hanya dan hanya kepada Allah. Tiada kepada yang lain, tiada pula kepada para Nabinya. Nabi hanya sebagai pembawa RisalahNYA, MandatarisNYA, dan bukan tempat untuk meminta atau berdo ‘a. Nabi juga bukanlah anakNYA, karena beranak pinak adalah perilaku ciptaaNYA dan bukan salah satu sifatNYA/perilakuNYA. Musyrik atau Syirik, mensyarikatkan Allah dengan sesuatu lainnya adalah satu-satunya perbuatan dosa yang tidak pernah diampuni Allah.

    Bukan maksud saya menyindir, tapi sering kali orang melakukan “HUMANISASI”. Imajinasi bentuk alien (mahluk luar angkasa) tak pernah jauh lari dari bentuk manusia, berbadan, berkepala, bertangan dan berkaki. Film-film kartun Hollywood, selalu menampilkan bentuk perilaku binatang yang bertingkah polah bagai manusia, dan berbentuk fisik yang sudah dirobah menjadi mirip manusia.

    Dongeng-dongeng binatang buku cerita untuk anak kecil juga demikian. Robot sekarang dan masa datang, mengambil analogi kerja tubuh dan bentuk badan manusia.

    Sampai-sampai Tuhan atau Dewa-dewa yang digambarkannya pun mirip bentuk manusia. Adapula yang menganalogikan perilaku Tuhannya seperti manusia dengan perilaku beranak pinak. Disini saya merasa mendapat petunjuk, bahwa Muhammad NabiNYA, bukan anakNYA, bukan tempat meminta.

    Ketika saya tiba persis dimuka makam, seseorang dengan suara yang berat dibelakang saya berkata perlahan. Tidak keras namun tidak berbisik. Kedua tangannya memegang pundak saya dari belakang. Ia berkata dalam bahasa Arab, ” Ya Rasululloh…ini aku, aku datang kepadamu, bukan untuk meminta sesuatu yang lain.

    Aku hanya ingin meminta maaf kepadamu ya Habiballoh. Aku hanya mengagumimu namun aku tak pernah memujimu. Aku fikir aku telah menempatkanmu pada posisi yang tinggi, namun ternyata engkau lebih mulia dari itu. Aku tidak mencela engkau namun aku sadar aku telah melecehkan engkau. Aku minta maaf ya Rasululloh”.

    Pembaca, saya dapat mengerti hampir seluruh ucapannya dalam bahasa Arab itu, namun saya belum pernah belajar Nahu sorob atau bahasa Arab! Saya jadi bingung sendiri. Saya lihat dipundak saya salah satu tangannya yang memegang pundak saya dari belakang, besar sekali dan hitam legam. Waktu saya menolah kebelakang, orang tersebut seperti dari Afrika, tinggi luar biasa, hitam legam.

    Ia mengucapkannya sambil merintih menahan tangis. Rasa haru, menyesal luar biasa, dan sedikit ketakutan pun menyelimuti saya. Saya tak ucapkan kata apapun. Semua yang akan saya ucapkan telah diucapkan orang dibelakang saya dalam bahasa Arab yang saya tiba-tiba mengertinya.

    Keluar pintu Jibril, saya menunduk menahan tangis dan haru, agar tak terlihat H. Tabrani dan Iqbal puteranya. H. Tabrani tahu itu. Merekapun mempercepat langkah agar tetap didepan saya. Saya coba cari orang tinggi besar hitam tadi. Mungkin karena ramai kerumunan, saya tak dapat menemukannya.

    Sesampai di Hotel, kamipun mendiskusikannya. Terutama tentang dapat mengertinya saya terhadap ucapan dalam bahasa Arab.

    Saya bilang: “Mungkin begini Pak, karena saya dihantui rasa bersalah,dan memang saya akan berkata minta maaf, maka persepsi saya terhadap apa yang diucapkan orang tadi adalah persepsi fikiran saya”.

    H. Tabrani: “Itu mungkin. Mungkin saja. Tapi mungkin juga petunjuk, bahwa beliau (Rasululloh) tahu benar isi hati anda, dan beliau dengan akhlaknya yang mulia sudah memaafkan you tentunya”.

    Aca: ” Ah masak sich Pak. Sedemikian mudah dan cepatnya saya mendapat petunjuk ”

    H. Tabrani: ” Temen you dan saya khan sudah berkali-kali mengatakan, semua itu terserah you saja. Apakah you mau anggap itu semua kebetulan atau sebuah petunjuk. Berkali-kali saya mengatakan-terserah you saja!”

    Saya mulai tak banyak membantah. Saya benar-benar mulai berfikir, bahwa tak ada yang namanya kebetulan. Semua sudah ada aturannya, semua sudah ada sebab akibatnya. Ada sebuah “hukum sebab-akibat” yang berlaku absolut dialam semesta ini. Hukum Sebab-Akibat itu diatas hukum-hukum lainnya. Juga diatas hukum fisika, sosial, maupun psikologi yang saya anut selama ini.

    Saya mulai meyakini ini sebagai Hukum Sunatulloh, dan bukan hokum psikologi. Bukan efek kebetulan karena rasa bersalah. Bukan efek kebetulan kondisional akibat suasana yang khusuk, sakral atau magic/angker. Melainkan hukum Sunatulloh kepada orang yang mencari ridhoNYA, orang yang mencari jalan yang diridhoNYA. Namun saya tak berani berfikir bahwa saya sudah berada pada jalan yang benar, dalam “The right track”. Namun yang jelas, saya mulai lebih berhati-hati dan tidak gegabah.

    3. Perjalanan di Madinnah

    Setelah melewati waktu Zuhur, kami melakukan City Tour, ketempat-tempat bersejarah antara lain, Masjid Kuba-Masjid pertama di Madinnah yang dibuat Rasululloh. Masjid Kiblat-Masjid dimana ditengah sholat Rasululloh mendapatkan wahyu untuk sholat menghadap Ka’bah/Mekkah, yang sebelumnya menghadap Masjidil Aqso’, sehingga sholat tersebut beliau lakukan 2 roka’at menghadap Masjidil Aqso’ dan 2 roka’at sisanya menghadap Ka’bah. Karena kasus ini orang Kafir Quraisy berkomentar Muhammad pemimpin yang plin-plan.

    Dibimbing oleh Tour Guide, kami berkunjung ke Jabal Uhud, tempat di mana terjadi Perang Uhud. Terlintas dibenak saya cuplikan film “The Massage” di mana Hamzah, Panglima perang kaum Mukmin yang dibunuh dengan tombak oleh salah seorang budak suruhan Hindun, isteri Abu Sofyan, pemimpin kaum kafir Quraisy yang sangat memusuhi Nabi. Pada peperangan tersebut kaum Muslimin kalah yang disebabkan tindakan indisipliner pasukan panah.

    Kami juga mengunjungi makam Fatimah, dimana dekat makam dahulunya terdapat parit besar yang dikenal sebagai Perang Khandak. Perang dimana pada saat itu kaum kafir dari berbagai bangsa dan negara memboikot dan meng-embargo kaum muslim selama kurang lebih 2 tahun, dimana sekeliling Madinnah pada saat itu dibuat Parit besar yang memisahkan/melindunginya. Disini saya melihat bahwa perjuangan Rasulloh adalah bertahan dan bukan menyerang. Konsep yang diajukan Rasululloh adalh sebuah konsep dimana penguasa kafir tidak menyukainya. Konsep tersebut hanya mendapat tanggapan dari kaum Anshor yang bertempat tinggal di Madinnah hingga Nabi harus hijrah/pindah kesana.

    Saya akhirnya bertanya kepada Tour Guide, bagaimana dengan tindakan Nabi yang saya anggap ekspansi nekat yakni tindakan Nabi mengirim surat dari Madinnah kepada Mekkah, Mesir, Roma, Persia, Abesinia, dan Negos (Ethiopia).

    Madinnah tidak sebesar dan sekuat Mekkah, namun tindakan Nabi mengirim surat kepada Negara-negara tersebut adalah nekat (kalau tidak mau dibilanggila). Analoginya mungkin seperti Vietnam, negara kecil yang baru berdiri, tanpa angkatan bersenjata yang jelas, mengirim pesan kepada Indonesia, Australia, Amerika, Rusia, dan European Community untuk takluk dan tunduk dibawah kekuasaanya.

    “Oh tidak, ini tidak seperti demikian “, jawab Tour Guide. “Urusan Rasululloh bukan urusan kekuasaan. Konsep Rasululloh bukan konsep negara, sehingga surat yang dibuat bukan surat kekuasaan . Surat itu berisikan ajakan beragama Islam. Konsep Rasululloh adalah konsep agama, bukan konsep pemerintahan”.

    “Lho, kalau bukan urusan kekuasaan, bagaimana dengan Daulat Bani Umayah, kepemimpinan Islam setelah Ali, yang ekspansi kekuasaanya dengan cepat dan pesat sampai ke Cordova, Spanyol, daratan China, dan berbagai belahan dunia lain, sehingga Islam tidak hanya bicara didalam Masjid, namun juga dipemerintahan, dimasyarakat, hingga berlaku hukum yang hanya kita dengar sekarang secara sayup-sayup ‘hukum Islam’? Bagaimana kita memberlakukan sebuah peraturan tanpa adanya kedaulatan? Bagaimana kita bicara rajam bagi yang berzinah, sementara lokalisasi pelacuran mendapat izin dari pemerintahan Pemda setempat? Bagaimana memberlakukan hukum Islam tanpa pemerintahan Islam? “, demikian saya bertanya.

    Tour Guide tersebut tak dapat melanjutkan penjelasannya. Sayapun menjelaskan, “Mas Syaiful…saya mohon maaf loh, saya dalam pencarian, saya bukan sok tahu, tapi saya memang benar-benar tidak tahu, dan saya benar-benar ingin tahu, kayak apa sich konsep Rasululloh yang disampaikan pada saat itu?”.

    Tour Guide: “Baiklah, anda silahkan tanya kepada orang yang lebih tahu, saya terus terang belum tahu benar untuk hal ini “.

    Aca: “Terimakasih Mas…saya akan simpan pertanyaan ini”.

    Beberapa orang mungkin beranggapan ini tidak penting, namun saya berfikir bahwa ini sangat penting. Dalam pencarian / perjalanan ini saya tak menemukan jawaban, namun saya yakin insya Alloh, suatu saat, dalam pencarian saya yang berikutnya, saya dapat menemukan jawabannya…Amien.

    3.1. Kejadian 6

    Setelah sholat Ashar, akhirnya kamipun bersiap-siap untuk ber-umroh. Pak H. Tabrani mengajarkan saya untuk memakai pakaian Ihrom. Ia menjelaskan untuk memakai pakaian Ihrom, 2 lembar kain yang dililit dipinggang, satunya lagi di bahu.

    “Latihan pakai kain kafan “, demikian penjelasannya. Meskipun ia bukan Tourist Guide, namun ia begitu telaten mengajarkannya pada saya. Meskipun kadang-kadang menghardik saya, seperti waktu saya tanya kenapa koq nggak boleh pakai celana dalam. Ia hanya menjawab “Jangan didebat!!! ini daerah otak kanan! “. Untung saya sudah rada kalem sekarang karena beberapa kali mengalami peristiwa2 yang lalu, kalau tidak, mungkin sewotnya H. Tabrani berkelanjutan.

    Setelah mengambil niat di Miqod, diperjalanan kami mulai membaca Talbiah: Labbaik Allohumma labbaik Labbaik Lasyarika laka labbaik Innal hamda, Wal nikmata, Laka wal mulk La syarikalak

    Ya Allah, aku datang memenuhi panggilanmu Tiada syarikat bagimu. Sesungguhnya segala puji, segala nikmat, dan segala kuasa Hanyalah dari engkau. Tiada syarikat bagimu. Pembacaan Talbiah baik di pesawat maupun diperjalanan/bus, sangat diliputi rasa haru yang luar biasa.

    Kamipun tiba di Mekkah, kota Haram. Hotel kami cukup dekat dengan Masjidil Haram. Sementara barang-barang diurus oleh petugas travel, kami berwudhu di Hotel, kami langsung memasuki Masjidil Haram, sebuah Masjid yang paling terkenal yang mungkin paling tua didunia. Saat itu saya belum merasakan pesonanya.

    Namun setelah melepas sandal dan memasuki Masjid, saya terdiam melihat benda hitam pekat persegi empat yang berada ditengah-tengah Masjid. Ka’bah ternyata berukuran lebih besar dari perkiraan saya. Saya menahan tangis didepan rombongan tapi tak kuasa. Dengkul saya lemas luar biasa. Sulit sekali menggambarkan pesonanya. Saya kurang tahu persis pada saat itu tapi saya percaya Iqbal, anak Pak H. Tabrani yang pertama kali Umroh juga terdiam tak bersuara tak bergerak. Ia juga mengalami hal yang sama.

    Saya lemas dan duduk. Saya berusaha perlahan-lahan bergerak mendekat, namun semakin dekat, semakin tak kuasa menahan tangis. Akhirnya saya mulai meraung seperti anak kecil. Saya menangis sambil duduk tidak mengerti kenapa. Dan saya tahu persis saat itu saya tidak sedih.

    Benda itu berada ditengah-tengah Masjid, besar, besar sekali. Hitam pekat sekali. Benar-benar saya tak mengira bahwa Ka’bah berukuran sebesar itu. Saya tidak pernah berfikiran bahwa di dalamnya ada Allah sedang bersemayam. Sepintas hanya sebuah batu yang disusun dan dilapis kain hitam. Namun saya melihat sedemikian banyaknya manusia mengitarinya melakukan yang disebut tawaf. Bukankah ini bukti dari hasil kerja Muhammad.

    Analisa saya bermain, apakah sekian banyaknya manusia datang kesini hanya ditipu satu orang yang bernama Muhammad. Namun intuisi saya juga bermain, bahwa kegiatan ini pasti bukan baru dimulai kemarin. Kegiatan ini dilakukan pasti sejak ajaran Muhammad. Pendapat ini adalah pendapat awal saya yang kemudian di konfirmasikan beberapa hari kemudian oleh H. Tabrani bahwa kegiatan ini sudah ada bahkan sejak milata Ibrahim, bapak besar berbagai bangsa yang melahirkan agama Yahudi, Nasrani (bukan Kristen), yang kemudian juga Islam.

    Saya mulai tawaf putaran pertama. Sambil air mata bercucuran (tanpa malu-malu lagi sebab kanan kiri sayapun demikian) saya dibimbing H. Tabrani membaca do’a-do’a putaran pertama. Posisi kami sangat dekat dengan Ka’bah dan senantiasa saya semakin merapat kedalam. Kami merasa seperti memasuki sebuah gravitasi luar biasa yang menarik ketengah. Seolah kami bergerak perlahan bersama tanpa menginjak bumi (seperti melayang), semakin rapat dan semakin pekat ketengah. Kita tak kuasa menentukan arah (kecuali sedikit), kita hanya dapat berserah diri mengikuti arus putaran itu. Sambil memegang buku do’a kecil, saya coba baca juga artinya. Disitu terdapat do’a permintaan umur panjang dan keturunan yang banyak serta soleh. Saya tanya ke H. Tabrani, ” Loh Pak…kok ada permintaan seperti ini ya…?. H. Tabrani menjawab, “Ya memang ada, khan saya sudah katakan boleh minta apa saja”.

    Pada tawaf putaran kedua, saya kembali membaca do’a khusus untuk putaran kedua-sambil juga melihat artinya. Agak sulit memang karena banyak jama’ah Iran berbadan besar berdo’a lantang sekali. Kadang saya tak mendengar suara H. Tabrani sehingga sulit mengikuti apa yang didiktenya. Kembali saya lihat artinya, ” Loh…Pak, koq disini ada permintaan terhadap rezeki yang banyak”. H. Tabrani pun kembali menjawab, ” Ya memang boleh. Anda saja yang Cuma minta petunjuk dan nggak mau minta yang lain. Minta harta boleh…habis -kalau tidak-anda mau minta ke siapa lagi kalau bukan sama Dia “.

    Pada tawaf putaran ketiga, saya kembali membaca do’a sambil membaca artinya. Terdapat dengan jelas disitu “Tijarotan Lantabur ” yang artinya “perdagangan yang jauh dari rugi”. Saya kembali bertanya dengan lebih antusias karena masalahnya erat dengan kehidupan saya yang memang bergerak di bidang ini. “Loh-loh…ini lebih aneh lagi Pak…kok boleh minta dagang agar jauh dari rugi, ini khan urusan dunia. Bagaimana kita bisa rugi-ya karena manajemen yang buruk, sedangkan bagaimana kita bisa untung? Ya dengan manajemen yang baik? “. Akhirnya H. Tabrani mulai sewot lagi, ” You khan bilang waktu dipesawat, bahwa you hanya minta petunjuk, betul ndak…?” “Betul Pak “, jawab saya. ” OK kalau begitu nggak usah do’a saja …” , tegas H. Tabrani.

    Analisa dan intuisi saya jalan lagi, dan tiba-tiba saya teringat surat Al-Fatihah, ayat 4, “Iyya ka na’ budu wa iyya ka’ nastaiyn”. Kepadamulah kami menyembah dan hanya kepadamulah kami minta pertolongan. Saya fikir ini harus berlaku pada semua hal-segala hal  segala sesuatu-termasuk hal-hal duniawi seperti bisnis. Sehingga musyrik hukumnya jika kita meminta pertolongan dalam bidang bisnis kepada Kadin, Pemda, Katabelece Pejabat untuk menggoalkan proyek kita. Haram hukumnya meminta pertolongan kepada Bagian Purchasing untuk melakukan bisnis dengan kita.

    Permintaan tolong hanyalah kepada Allah semata. Adapun, Kadin, Pemda, Pejabat, dan bag Purchasing, hanyalah perantara. Hal ini jangan dianggap sepele, karena ini yang akan menentukan strategi manajemen perusahaan kita, apakah kita akan melakukan KKN atau melakukannya dengan pendekatan lain.

    Akhirnya dengan pemahaman yang seperti ini, saya kembali berdo’a dengan segala kerendahan hati. Meminta kepada yang mempunyai, memohon kepada pemilik yang sesungguhnya, meminta kepada Penguasa yang sesungguhnya, penguasa segala sesuatu, penguasa absolut. Statemen awal saya di pesawat, sekarang terbantai semua. Saya ternyata tak hanya meminta pertunjuk, tetapi saya-dengan kesadaran baru ini-juga meminta duniawi.

    Demikian saya melihat Rahman rohim Allah. Jika kita meminta dunia saja, Allah mungkin saja berikan, dan mungkin juga tidak. Namun jika kita meminta keridhoan akhirat-insya Allah kita juga akan mendapat dunia. Persis lagu Bimbo yang dinyanyikan Sam. Persis juga sama dengan do’a-do’a di akhir tawaf yakni fiddunia hasanah-wa fil akhiroti khasanah. Saya pun kembali berdo’a dengan lebih khusuk, dengan kesadaran baru-tanpa banyak pertanyaan lagi.

    3.2. Kejadian 7

    Usai tawaf, kami menuju sumur zam-zam yang terletak didalam areal masjidil Haram bagian bawah. Disini saya kembali tercengang. Sebuah mata air yang hampir tak mungkin ada di daerah ini. Mekkah dapat anda lihat sebagai pegunungan batu. Masjidil Haram berada di tengah-tengah seperti lembah, sekelilingnya dapat anda temukan hanyalah bukit batu yang sangat sulit dihancurkan. Ini pula yang menyebabkan pembangunan konstruksi di kota Mekkah sangat lamban. Jangankan tumbuhan subur, kurma pun malas tumbuh disini. Ironisnya, terdapat air sumur zam-zam yang debitnya luar biasa besar yang dipompa dengan pipa-pipa sampai ke Madinah, Jeddah, Yaman, dan daerah lainnya selain untuk keperluan orang ber Hajji. Berjuta-juta orang datang setiap harinya, namun sumur ini tak pernah ada keringnya. Analisa dan rasa saya mulai jalan. Andaikan memang ada sungai bawah tanah yang mengalir dibawah Mekkah, akankah bertahan sedemikian lamanya? Perhitungannya bukan 1400 tahun yang lalu, melainkan perhitungan dari Ibrahim. Entah berapa ribu tahun. Karena sungai bawah tanah dapat berubah alirannya hanya dalam kurun waktu puluhan tahun saja. Namun sumur zam-zam ini tak pernah kering dan senantiasa menyediakan air yang dibutuhkan Jamaah yang datang ke sini. Seolah olah ia ada memang untuk kebutuhan ibadah ini. Saat itu tak ada lagi dibenak saya teori kebetulan yang dahulu.

    Pada saat Sya’i, rukun Umroh berikutnya, saya melihat manusia banyak yang berjalan, sebahagian berlari, antara dua bukit batu, Syofa’ dan Marwah. Dipisahkan oleh pembatas tengah, kami mulai melintasi area Sya’i. Sesekali saya melihat wajah cantik wanita Turki dengan hidung mancung kulit putih bulu mata boros (Saat tawaf maupun Sya’i dilarang menutup cadar muka-namun ada sebahagian mazhab na, namun saya mengira pasti luar biasa untuk ukuran orang Melayu. Agak lama baru saya sadar bahwa saya mulai kurang khusyuk karena melakukan “olah raga leher”.

    Akhirnya saya bertanya kepada H. Tabrani, ” Pak…koq pakai lari-lari segala sich? “. “Begini “- jawabnya perlahan, “Dulu sewaktu Siti Khajar, isteri Nabi Ibrohim, ia berjalan sambil berlari-lari kecil mencari air antara bukit Syofa’ dan bukit Marwah, sementara anaknya Ismail ditinggal sejarak tertentu dari Ka’bah. Air yang dilihatnya ternyata hanyalah fatamorgana. Sedangkan air yang sesungguhnya justru keluar didekat kaki Ismail.

    Dari sini saya pun semakin yakin dan menarik kesimpulan, bahwa Ka’bah bukan dibangun oleh Muhammad, melainkan Nabi Ibrohim, pendahulu untuk Musa, Isya, dan Muhammad, yang melahirkan 3 agama besar, Yahudi, Nasrani, dan Islam.

    Seusai Sya’i kami pun menggunting rambut, pertanda selesainya ibadah Umroh kita. Semoga Makbul.

    Sesampai di Hotel, kelelahan kami luar biasa. Kaki saya kering pecah-pecah. Saya belum pernah merasakan pegal-pegal seperti sekarang ini. Saya fikir, bagaimana dengan kaum wanita atau Ibu-ibu. Pasti lebih capek. Tapi kelihatannya sama aja tuch.

    Salah seorang jamaah haji wanita bercerita tentang anak temannya yang sekarang tinggal di Hotel Hilton Mekkah yang tak dapat menyelesaikan tawafnya karena mencret (penyakit yang lebih cepat dari pada jet). Kotoran alias tokai nya sedemikian banyaknya sehingga ia pun kewalahan. Wueeek…sangat menjijikkan kata jamaah yang lain menambahkan. Kepala rombongannya pun membawanya pulang kembali ke Hotel. Kami tak tahu bagaiman ia mengatasi problem mencretnya yang merembes sampai pakaian Ihrom, namun akhirnya semua tahu, bahwa ia mengenakan celana dalam pada pakaian ihromnya. Sesuatu yang dilarang dalam Umroh. Saya jadi teringat sewaktu H. Tabrani membentak saya dalam masalah tersebut. Pantas – dalam hati saya.

    3.3. Kejadian 8

    Tak ada yang khusus bagi saya dalam kejadian ini. Kejadian ini terjadi pada saat saya hendak mencium batu Ka’bah. Disitu terjadi antrean yang luar biasa. Didepan saya terdapat seorang wanita muda dan cantik berpakaian Turki yang hendak mencium batu Ka’bah (sisi kiri Ka’bah, bukan Hajarul Aswad). Mungkin karena pemikiran jijiknya terhadap batu yang sudah dicium oleh jutaan manusia pada hari itu, maka ia mengeluarkan tisu, mengelap, dan menggosok bagian yang hendak diciumnya. Melihat kejadian itu, Bapak mertua saya pernah menceritakan perihal yang seperti ini berkaitan dengan gelas stainless air zam-zam untuk diminum yang menempel pada setiap keran zam-zam.

    Seorang Dokter, kawan Bapak mertua saya pergi Haji, merasa jijik dan mengatakannya kepada Bapak mertua saya perihal gelas stainless yang sudah diminum berjuta-juta mulut orang. Ini tidak steril katanya. Dokter itu meminum juga air zam-zam dengan perasaan jijik/geli. Keesokannya, apa yang terjadi. Mulutnya bengkak sariawan sampai ke leher. Bapak mertua saya mengingatkan akan ucapannya kemarin perihal gelas tersebut. Bapak mertua mengingatkan sang Dokter untuk meminumnya sekali lagi dengan gelas tersebut tetapi dengan perasaan yang berbeda, yakni perasaan iklas. Keesokannyapun sang Dokter sembuh dari sariawan seperti sedia kala. Wanita tersebut tetap asyik membersihkan batu Ka’bah dengan tisunya, sementara antrean sudah mulai panjang dan berdesakan. Ingin sekali saya melarangnya, namun karena nggak bisa bahasa Turki, lagian nggak lucu khan kenalan didepan Ka’bah.

    Ketika ia hendak mencium batu Ka’ bah -mungkin setelah ia merasa bersih- desakan dari kerumunan orang dibelakang tak tertahankan hingga mendorong wanita itu pada saat ia menciumnya sehingga benturan hidung mancung dan batu tak dapat terelakkan. Ia pun selesai mencium batu Ka’bah dengan hidung mimisan (berdarah).

    Kuwalat atau apa ini namanya ya? Hati yang kurang bersih?

    Saya jadi teringat cerita Ka’bah di surat Al-Fiil dimana tentara Abrahah yang mengendarai Gajah pada masa itu dibuat tak berdaya oleh burung-burung Ababil.

    Saya semakin mengerti mekanisme ghoib. Mekanisme yang tidak kasat mata. Bahkan mekanisme ini pun abstrak tak simetris. Terjadi di kasus ini namun kadang tidak di kasus itu. Semuanya parsial-kondisional, namun saya fikir standarnya sama jika kita ukur dari perasaan hati yang dalam. Mekanisme tersebut tak kan pernah dapat diukur karena sifatnya yang relatif tak pernah sama pada setiap individu. Meskipun ia bukan ada di alam fisika, namun saya yakin ia ada dan bekerja secara setimbang. Saya cenderung menyebutnya Metafisika daripada Supranatural yang lebih berbau klenik / sihir, trick sulap yang diyakini sebagai salah atu keajaiban oleh orang musyrik.

    Mekanisme ghoib pada alam Metafisika inipun bekerja pada kawan saya Iqbal dimana setiap harinya, sepulang kami dari sholat, ia kehilangan sandal. Bahkan sehari dapat lebih dari sekali ia kehilangan sandal. Ia mencoba berdo’a dan bertaubat dosa apa kiranya yang telah ia buat. Namun tetap saja ia kehilangan sandal setiap harinya, hingga ia harus membawa 5 real setiap sholat guna menjaga apabila sandalnya hilang. Tahukah anda, kejadian kecil disini-dapat menimbulkan akibat besar disana. Saya ambil contoh misalnya, hilangnya sandal Iqbal, mengakibatkan ia harus membeli sandal di toko dimuka Masjid. Penjual di toko tersebut seharusnya melayani seorang calon pembeli wanita misalnya, namun karena Iqbal membeli, maka ia tidak jadi melayani wanita itu. Wanita itu pergi lebih cepat. Dalam perjalanannya pulang, ia mengalami kecelakaan mobil (mis. ditabrak mobil). Seandainya Iqbal tidak kehilangan sandal, wanita tersebut mungkin akan 10 menit lebih lama untuk jalan pulang, yang tentu saja tak mengakibatkan ia mengalami kecelakaan.

    Bukan disitu saja, sang suami wanita tadi (yang katakan seorang jenderal), yang seharusnya berangkat melakukan perjalanan luar negeri guna menandatangani sebuah kesepakatan perang, membatalkan rencananya, sehingga kesepakatan serangan atau perang tadi ditangguhkan. Hilangnya sandal seorang Iqbal, dapat mengakibatkan tercegahnya sebuah rencana perang atau penyerbuan.

    Ini contoh ekstreem yang memang hanya teori main-main, tetapi saya yakin bahwa semua ini ada mekanismenya dan jangan coba-coba untuk mengurainya, karena ia terlalu abstrak dan hanya tunduk patuh pada sang Maha Penguasa. Penguasa alam fisika dan non fisika.

    3.4. Kejadian 9

    Malam besok adalah malam terakhir saya di Mekkah, oleh karenanya saya minta kepada Tour guide untuk mengantar saya ke Goa Hira’ pagi-pagi sekali. Tak ada anggota rombongan yang mau ikut. Tidak juga H. Tabrani maupun Iqbal anaknya. ” OK, nggak apa-apa, saya tetap mau berangkat sendiri”, tegas saya kepada Tour guide. Jadi biaya travel maupun biaya Tour guide saya tanggung sendirian. Kamipun merencanakannya. Paginya seusai sholat Shubuh, saya berkemas bersiap berangkat, dengan tas ransel dan sepatu sport. Dengan menggunakan taksi, kami tiba dikaki bukit Gua Hira’. Perjalanan sampai kepuncak memakan waktu kurang lebih satu jam. Terbayang oleh saya ketika Nabi pulang pergi setiap harinya sampai ke puncak. Gua Hira’ ternyata sangat kecil. Lebih mirip dua batu yang saling bersandar daripada sebuah Gua. Ditemani Tour guide, saya sujud ditempat Nabi Muhammad duduk menyendiri 1422 tahun yang lalu.

    Dalam sujud saya bicara dalam hati, “Ya Malaikat Jibril, kenapa koq Nabi Muhammad diberi wahyu, kenapa saya tidak?”. “Kenapa Nabi Muhammad dapat berjumpa denganmu, kenapa saya tidak?” Tanpa sholat dan do’a, tanpa meratap ke gua apalagi membuang sesaji (hanya sujud dan berkata dalam hati seperti diatas saja), kami pulang menuruni bukit. Saya pun membahas pertanyaan saya di dalam hati tadi kepada Tour guide. Saya juga sering menyendiri di Villa, menyendiri di kaki bukit Gn. Gede, tetapi kenapa tak pernah datang yang namanya Jibril. Saya jadi ingat cerita-cerita para sufi yang mempelajari hakekat sehingga pergi kegunung-gunung menyendiri, lepas dari hubungan sosial, serta tak mempedulikan situasi dan kondisi diri.

    Apakah tindakan Nabi Muhammad pada kala itu seperti para sufi tersebut? Pertanyaan inipun saya simpan kembali tanpa tahu jawabannya. Esok hari terakhir, hari dimana saya mesti melakukan tawaf wada’, tawaf terakhir/ tawaf perpisahan dengan Ka’bah. Saya tidur cepat setelah sholat Isya”.

    Subuh dini hari saya bangun, ketika saya hendak menggosok gigi, saya tiba-tiba tersadar, “Subhanalloh, tadi malam saya bermimpi bertemu Jibril”. Buru-buru saya ketok kamar H. Tabrani. Saya bangunkan ia, dan saya ceritakan mimpi saya.

    “Bagaimana ceritera mimpinya?”, H. Tabrani bertanya.

    “Begini Pak, sesuatu berbentuk manusia dengan peci hitam datang kepada saya. Saya bertanya siapa anda? Ia menjawab saya Jibril, kemudian ia mengajak saya untuk ikut. Saya berjalan mengikutinya, dan tiba-tiba kami tiba di sebuah Masjid.

    Didalam mimpi saya Jibril berkata, “ini Masjidil Aqsa”. “Disini terdapat salah satu keajaiban yang anda cari”. H. Tabrani pernah melawat ke Masjidil Aqsa’. H. Tabrani berfikir sejenak, kemudian ia menjawab, mungkin yang dimaksud adalah “The Dome of the Rock. Sebuah batu yang berada tepat ditengah Masjid”. “Aneh memang batu itu. Ia menggantung, dan berada tepat ditengah-tengah Masjid, kami semua juga nggak ngerti kenapa begitu”. Terus bagaimana tanya H. Tabrani. Terus Jibril bilang begini Pak, “Tolong Masjid ini dipelihara”. H. Tabrani menepak kepala “Waduh…repot ini”. “Kenapa Pak?”, tanya saya.

    “Masjid itu dikuasai Yahudi. You Nggak bisa keluar masuk seenaknya”.

    “You sholat dibatasi disana, Cuma 5 menit “.

    “Wah saya nggak bisa jelasin artinya “.

    “Tapi yang jelas, saya yakin you adalah orang yang disayang Allah”.

    “Subhanalloh”. Saya sudah berumur 63 thn, tapi saya belum pernah mimpi bertemu Jibril, tapi you…you…luar biasa”.

    Saya juga tidak mengerti sampai sekarang arti mimpi saya, dimana saya tidur di Mekkah, bermimpi dibawa seseorang yang berkata sebagai Malaikat Jibril, yang kemudian membawa saya ke Masjidil Aqsa’ di Palestin. Saya jadi merinding.

    Saya takut sendiri dengan kejadian-kejadian yang saya alami. Saya takut untuk berbuat macam-macam. Saya mengalami semua ini dalam perjalanan ke Mekkah. Kesadaran saya seperti sekarang ini amat saya syukuri, namun yang paling saya takuti, adalah deviasinya, perubahannya apabila saya tidak menjaganya. Apa yang akan terjadi nanti ditanah air.

    Saya harus menghadapi dunia nyata yang penuh dengan godaan. Tidak seperti waktu di Mekkah, dimana fikiran, jiwa dan raga kita bisa khusuk serta kita jaga kebersihannya. Dari perjalanan ini, tidak semua kejadian saya ceritakan, hanya yang saya anggap penting saja, namun sebenarnya, kejadian kecil lainnya yang merujuk kepada hidayah yang tidak saya ceritakan karena terlalu panjang banyak saya alami, namun saya mempunyai beberapa kesimpulan:

    1. Allah itu benar adanya yang menciptakan segala sesuatu.
    2. Wahyu Allah turun pada setiap kurun waktu tertentu.
    3. Wahyu Allah juga turun kepada Muhammad yang diutus sebagai Rasulnya.
    4. Allah tidak punya banat/sarikat/kompetitor.
    5. Allah menurunkan Wahyunya kepada Muhammad yang kemudian dibakukan dalam bentuk kitab yang bernama Al-Qur’an.
    6. Al-Qur’an adalah statemen dari Allah yang didalamnya berisikan petunjuk bagi manusia yang ingin berserah diri kepadanya.
    7. Al-Qur’an bukan buatan Muhammad atau ideologi Muhammad.
    8. Haji dan Umroh penting adanya dan bukan bisa-bisanya Muhammad. Biaya yang demikian mahal, sebanding bahkan melebihi hasil yang kita dapat dari perjalanannya.
    9. Daging Babi, darah, Alkohol, Judi, Zinah, dan perbuatan maksiat lainnya adalah haram hukumnya. Tak perlu dianalisa secara metode ilmiah, karena justifikasinya akan selalu ditemukan manusia guna menghalalkannya, namun demikian, coba fikirkan dengan instrument rasa/intuisi dari hati yang dalam, bermanfaatkah jika dilakukan.
    10. Kita manusia adalah manusia yang paling istimewa, karena kita mempunyai 2 pilihan, berserah diri kepada kemauan Pencipta, atau berserah diri kepada kemauan kita sendiri.
    11. Ada mekanisme Ghoib yang tidak kelihatan, yang memberikan balasan positif apabila kita berbuat positif, berbalas negatif apabila kita berbuat negatif.
    12. Mekanisme Ghoib, berlaku pada orang-orang yang dicintai Allah, namun bagi yang sudah kelewatan, ia akan dibiarkan, karena Allah menegur dengan sapaan hirarki. Peringatan pertama mungkin dengan mencolek, jika ia tak mau, Allah peringati ia dengan menepak, jika ia tak juga sadar Allah peringati ia dengan menempeleng keras, namun jika ditempeleng keras ia tetap dableg dengan perbuatan negatifnya, Allah akan membiarkannya, karena hanya hari akhir setelah matinya yang akan membalasnya kekal abadi di Neraka Jahanam.
    13. Mekkah dan Madinah bukan tanah suci (seperti yang saya duga sebelumnya pada tulisan Muhammad punya bisa ), melainkan tanah Haram, daerah dimana diharamkan bagi siapa saja berbuat kerusakan, dan itupun hanya pada batas-batas tertentu yang sudah diberi patok/tanda.

    ***

    Sumber  Sahabat

     
    • putri 2:54 pm on 21 Desember 2010 Permalink

      izin copy yaa…

  • erva kurniawan 1:20 am on 16 November 2010 Permalink | Balas  

    Ibadah Haji 

    Alkisah, di padang Arafah Ali bin Husain bertanya kepada Zuhri, ” Menurut engkau , berapakah kira-kira orang yang wukuf disini?”

    Kata Zuhri,”Menurut perkiraanku ada sekitar empat atau lima ratus ribu orang. Semuanya Haji, mereka menuju Allah dengan harta mereka dan berteriak-teriak memanggil-Nya.”

    Ali bin Husain pun berkata,” Hai Zuhri, sebenarnya sedikit sekali yang haji.”

    Zuhri tentu saja keheranan,”Sebanyak itu apakah sedikit?”

    Ali lalu menyuruh Zuhri mendekatkan wajahnya kepadanya. Kemudian Ali mengusap wajahnya dan menyuruhnya melihat kembali.

    Zuhri terkejut. Kini ia melihat monyet-monyet berkeliaran dengan menjerit-jerit. Hanya sedikit manusia diantara kerumunan monyet-monyet itu.

    Ali mengusap wajah Zuhri kedua kalinya. Ia kini menyaksikan Babi-babi, dan sedikit sekali manusia.

    Pada usapan yang ketiga, Zuhri melihat banyaknya serigala dan sedikit sekali manusia.

    Berkat sentuhan orang Salih, Zuhri dapat melihat kebalik tubuh-tubuh mereka yang sedang wukuf di Arafah. Tuhan berkenan menyingkapkan tirai baginya, sehingga pandangannya menjadi sangat tajam. Ia terkejut dan kebingungan, karena begitu banyaknya orang yang tampak lahirnya adalah manusia, tetapi hakikatnya binatang. Ia pun berfikir, apakah kebanyakan kita hanyalah manusia secara tampilan, dan binatang secara hakiki?.

    Ibadah Haji adalah perjalanan manusia untuk kembali kepada fitrah kemanusiaannya. Rupanya kesibukan pada dunia telah melemparkan kita dari kemanusiaan kita. Kita jatuh menjadi mahluk yang lebih rendah; bukannya menjadi khalifah Allah SWT, tetapi justru kita menjadi Monyet, babi, dan serigala. Oleh karena itu, para jemaah haji dari satu sisi dapat dilihat ibarat rombongan binatang yang ingin kembali menjadi manusia.

    Para jamaah haji semestinya meninggalkan segala sifat kebinatangannya. Seperti ular, mereka harus mencampakkan kulit lamanya agar menjalani kehidupan baru. Baju -baju kebesaran, yang sering dipergunakan untuk mempertontonkan kepongahan, harus dilepaskan. Lambang-lambang status, yang sering dipakai untuk memperoleh perlakuan istimewa, harus dikubur dalam lubang bumi. Sebagai gantinya, mereka memakai kain kafan, pakaian seragam yang akan dibawanya nanti ketioka kembali ketempat asalnya.

    Para jemaah haji harus meninggalkan intrik-intrik monyet, kerakusan babi, dan kepongahan serigala. Mereka harus menjadi manusia lagi. Seorang haji adalah ibarat anak kecil yang baru dikeluarkan dari perut ibunya, yaitu : suci dan telanjang; yang selanjutnya ia akan melangkah dengan langkah-langkah kesucian, kejujuran, kerendahan hati, dan pengabdian.

    Marilah kita renungkan , berapa banyakkah diantara jutaan orang yang beruntung dapat terhimpun di Arafah adalah Haji, dalam artian manusia yang sudah kembali kepada fitrahnya? Berapa besarkah diantara mereka yang sudah meninggalkan selama-lamanya sifat-sifat kebinatangannya, dan sebagai gantinya menyerap Rahman-Rahimnya Allah? Mungkin kita tidak pernah tahu.

    Jika Ibadah Haji dilakukan dengan Khusuk maka ada tiga keutamaan yang dapat dirasakan menurut sebagian orang yang telah menunaikannya, yaitu :

    1. Kenikmatan dalam beribadah.
    2. Doa yang makbul
    3. Ketajaman introspeksi

    Sebagaimana lazimnya suatu perjalanan, maka dibutuhkan perbekalan. Perbekalan untuk menunaikan ibadah Haji paling sedikit ada tiga, yaitu :

    1. Ikhlas (tanpa ragu-ragu)
    2. Sabar
    3. Berserah Diri

    Rasulullah SAW , telah bersabda, “bahwa Iman manusia itu amat mudah berubah, yaitu laksana bulu ayam yang digantungkan di padang pasir.”

    Oleh karena itu, oleh karena itu, boleh jadi penurunan iman itu terjadi pada saat menunaikan ibadah haji. Ada beberapa kiat untuk mempertahankan atau meraih kembali iman yang turun :

    1. Sering-sering melaksanakan Thowaf
    2. Laksanakan setiap hari qiyamul lail
    3. Rajin membaca Al-Qur’an
    4. Hati selalu diisi dengan Zikir
    5. Batasi dalam berbicara.

    Setiap Jemaah Haji adalah Tamu Allah, oleh karena itu usahakanlah agar menjadi Tamu yang Sopan.

    ***

    Diringkas dari sentuhan Kalbu karya Ir. Permadi Alibasyah

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 15 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    Dahsyatnya Sedekah 

    Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang bersedekah? Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :

    Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?” Allah menjawab, “Ada, yaitu besi” (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).

    Para malaikat pun kembali bertanya, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?”

    Allah yang Mahasuci menjawab, “Ada, yaitu api” (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).

    Bertanya kembali para malaikat, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?”

    Allah yang Mahaagung menjawab, “Ada, yaitu air” (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).

    “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?” Kembali bertanya para malaikat.

    Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, “Ada, yaitu angin” (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).

    Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?”

    Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.”

    Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

    Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.

    Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.

    Apalagi kedahsyatan seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas? Pada suatu hari datang kepada seorang ulama dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita mengenai sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bis antar kota beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan bis yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di kurs-kursi di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua orang yang selamat, bahkan tidak terluka sedikit pun. Mereka itu, ya kedua akhwat itulah. Keduanya mengisahkan kejadian tersebut dengan menangis tersedu-sedu penuh syukur.

    Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat tidak kurang suatu apa? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya ketika itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafazkan zikir.

    Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, bahwa inilah sebagian dari fadhilah (keutamaan) bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka. Allah Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang pada hampir setiap desah nafas selalu membangkang terhadap perintah-Nya pada hampir setiap gerak-gerik kita tercermin amalan yang dilarang-Nya, toh Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira.

    Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai dan alpa. Demi Allah, semua ini datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh ke-ikhlas-an semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.

    Dari pengalaman kongkrit kedua akhwat ataupun kutipan hadits seperti diuraikan di atas, dengan penuh kayakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya.

    Inilah barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah. Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui,” demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 261).

    Seruan Rasulullah itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, “Ya, Rasulullah. Harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah.”

    “Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan,” jawab Rasulullah.

    Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. “Ya, Rasulullah. Saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya,” ujarnya.

    Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam.

    Mengapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan Rasulullah tersebut? Ini tiada lain karena yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Medan perang adalah medan pertaruhan antara hidup dan mati. Kendati begitu para sahabat tidak ada yang mendambakan mati syahid di medan perang, karena mereka yakin apapun yang terjadi pasti akan sangat menguntungkan mereka. Sekiranya gugur di tangan musuh, surga Jannatu naÃÊm telah siap menanti para hamba Allah yang selalu siap berjihad fii sabilillaah. Sedangkan andaikata selamat dapat kembali kepada keluarga pun, pastilah dengan membawa kemenangan bagi Islam, agama yang haq!

    Lalu, apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk bersedekah? Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!

    Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Allah sendiri membuat perbandingan, sebagaimana tersurat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, seperti yang dikemukakan di awal tulisan ini.

    ***

    Oleh: K.H. Abdullah Gymnastiar

     
    • bayu setia pambudi 11:27 am on 7 Februari 2012 Permalink

      izin copas y! katanya di sampaikan wlau satu ayat !

  • erva kurniawan 1:52 am on 14 November 2010 Permalink | Balas  

    Bunga 700% 

    Coba buka Al-Baqarah:261 berikut :

    Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah  adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

    Keterangan :

    Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain. Sebutir benih akan menumbuhkan tujuh bulir, tiap bulir terangkai seratus biji.

    1x 7 x 100 = 700.

    Sekarang bayangkan, ternyata berinfaq di rekening Bank Akhirat ini telah menjanjikan bunga sebesar 700% plus bonus dilipatgandakan lagi oleh Allah untuk orang-orang yang terpilih. Di dunia manakah ada sebuah Bank yang memberikan bunga 700% kalau tidak bank tersebut akan …bankrut !!

    Sungguh aneh dan disayangkan, betapa banyak orang-orang yang hanya tergiur buaian janji-janji bank di dunia ….. apalagi kalau di provokasi menabung duit hadiahnya duit. Deposito berbunga tinggi 14 % …. dan lain-lain. Sehingga orang lupa bahwa besok kita akan mati dan tidak akan membawa uang-uang yang ada di dunia ini.

    Sudah waktu-nya semua orang memikirkan investasinya dalam bentuk deposito di Bank Akhirat melalui sarana berinfaq di jalan Allah. Bahwa setiap keeping uang yang kita infaqkan tersebut akan berlipat 700% seperti janji Allah yang pasti tersebut. Harapan kita semoga setiap keping amal kita Insya Allah akan menjadi Amal Jariyah, dimana setiap amal jariyah yang berguna selama amal tersebut masih bermanfaat di dunia ini (seperti rumah sakit mendirikan masjid, dunia pendidikan Islam, kegiatan dakwah, dll) maka amal ini akan tidak terputus meskipun kita sudah mati.

    Seperti hadist berikut ini :

    Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Amal jariyah, anak yang shalih yang mendo’akannya atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’I dan Ahmad).

    Demikian semoga bermanfaat untuk lebih mengairahkan lagi semangat untuk berinfaq di jalan Allah.

    Wassalam,

    Oleh: Djayus Sunarso.

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 13 November 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    Mukjizat Al-Qur’an Secara Statistik 

    Berikut ini adalah penemuan Dr. Tariq Al-Suwaidan, seorang sarjana muslim. Islamic Gateway dan ummah.net telah mengkaji hal ini.Mu’jizat yang ditemukan beliau itu sebagai berikut :Jumlah suatu kata dalam Al-Quran sama dengan jumlah lawan katanya.

    Kata/arti ———————- Lawan kata/arti ———— jumlah

    Al-Dunya/dunia ————- Al-Akhira/akhirat ———–115

    Al-Malaikah/malaikat —– Al-Shayateen/syaitan ——- 88

    Al-Hayat/hidup ————- Al-Maut/mati —————–145

    Al-Rajul/lelaki ————– Al-Marha/perempuan ——- 24

    Jumlah kata bulan dan hari di dalam Al Qur’an sesuai dengan jumlah bulan dan jumlah hari dalam satu tahun

    Kata/arti —————————— jumlah

    Al-Shahar/Bulan ———————- 12

    Al-Yaom/Hari ————————365

    Jumlah kata darat dan laut di dalam Al Qur’an sesuai dengan perbandingan luas antara luas permukaan daratan dan lautan di Bumi.

    Kata/arti ————–jumlah———- perbandingan (%)

    Al-Bahar/Laut ——– 32—————–71.11

    Al-Bar/Darat ———- 13—————– 28.89

    Total——————– 45 —————-100.00

    Jika dibandingkan dengan kenyataan yang ada di dunia, ternyata luas permukaan lautan terhadap luas permukaan bumi adalah 70%, dan daratan adalah 30%.

    ***

    Sumber: Saudi Gazette Daily

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 12 November 2010 Permalink | Balas  

    Hidup : antara Adzan dan Sholat 

    Manusia hidup tak lebih seperti kita mau sholat, ketika datang waktu mau sholat, adzan dikumandangkan, sama seperti kita lahir, lalu kemudian sholat dilaksanakan, sama seperti saat kita mati disholatkan.

    Jadi sebenarnya umur manusia diduni tak lama dalam hitungan Allah, cuma selama jeda antara adzan dan sholat. Lalu apa yang kita harapkan dan kita cari dalam waktu yang sempit seperti itu??

    Jawabnya tak lain, berwudhlu (bersiap-siap untuk sholat), lalu istighfar sebanyak2nya kalo sempat sholat sunat..

    Dalam hidup pun seperti itu, menjelang disholatkan, mari kita berwudhlu dunia, membersihkan kotoran hati, kotoran jiwa dan lainnya, lalu mari kita bertawaddu’ nah sholat sunat dalam hidup adalah carilah kebahagiaan yang bisa kita peroleh dalam hidup.

    Perjalanan menuju akhir (kematian) seperti hal nya menunggu waktu sholat (wajib), semuanya udah pasti, ada lima waktu, sholat subuh, dzuhur, ashar, maghrib dan isya. Begitu pula hal nya kematian manusia, semuanya udah pasti dan udah dipastikan Allah, hanya kita gak tau masuk kloter yang mana, apakah masuk yang subuh (bayi), dzuhur (remaja), ashar (dewasa), maghrib (setengah baya) atau yang paling alot isya (udah bangkotan banget).

    Dari pada menerka-nerka kita masuk ke golongan/kloter yang mana, akan lebih baik kalo kita siapkan diri dengan berwudlu, lalu dzikir sambil menunggu Imam memimpin sholat.

    Jadi dari pada hidup was-was menunggu akhir, atau ada pula yang berlagak tidak tau bahwa jalan pasti berujung, marilah benahi wudhlu kehidupan, perbanyak dzikir kehidupan sambil menanti datangnya hari, dimana kita tak lagi berdiri di shaff sholat, tidak lagi menjadi makmum ataupun tak lagi menjadi imam dalam sholat, melainkan menjadi sebab orang bersholat (kita disholatkan).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 11 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: Tanda-Tanda Lemah Iman Dan Kiat Untuk Mengatasinya   

    Tanda-Tanda Lemah Iman dan Kiat Untuk Mengatasinya 

    Tanda-tanda Lemah Iman

    1. Terus menerus melakukan dosa dan tidak merasa bersalah
    2. Berhati keras dan tidak berminat untuk membaca Al-Qur’an
    3. Berlambat-lambat dalam melakukan kebaikan, seperti terlambat untuk melakukan shalat
    4. Meninggalkan sunnah
    5. Memiliki suasana hati yang goyah, seperti bosan dalam kebaikan dan sering gelisah
    6. Tidak merasakan apapun ketika mendengarkan ayat Al-Qur’an dibacakan, seperti ketika Allah mengingatkan tentang hukumanNya dan janji-janjiNya tentang kabar baik.
    7. Kesulitan dalam berdzikir dan mengingat Allah
    8. Tidak merasa risau ketika keadaan berjalan bertentangan dengan syari’ah
    9. Menginginkan jabatan dan kekayaan
    10. Kikir dan bakhil, tidak mau membagi rezeki yang dikaruniakan oleh Allah
    11. Memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan, sementara dirinya sendiri tidak melakukannya.
    12. Merasa senang ketika urusan orang lain tidak berjalan semestinya
    13. Hanya memperhatikan yang halal dan yang haram, dan tidak menghindari yang makruh
    14. Mengolok-olok orang yang berbuat kebaikan kecil, seperti membersihkan masjid
    15. Tidak mau memperhatikan kondisi kaum muslimin
    16. Tidak merasa bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu demi kemajuan Islam
    17. Tidak mampu menerima musibah yang menimpanya, seperti menangis dan meratap-ratap di kuburan
    18. Suka membantah, hanya untuk berbantah-bantahan, tanpa memiliki bukti
    19. Merasa asyik dan sangat tertarik dengan dunia, kehidupn duniawi, seperti merasa resah hanya ketika kehilangan sesuatu materi kebendaan
    20. Merasa asyik (ujub) dan terobsesi pada diri sendiri

    Hal-hal berikut dapat meningkatkan keimanan kita:

    1. Tilawah Al-Qur’an dan mentadabburi maknanya, hening dan dengan suara yang lembut tidak tinggi, maka Insya Allah hati kita akan lembut. Untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, yakinkan bahwa Allah sedang berbicara dengan kita.
    2. Menyadari keagungan Allah. Segala sesuatu berada dalam kekuasaannya. Banyak hal di sekitar kita yang kita lihat, yang menunjukkan keagunganNya kepada kita. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendakNya. Allah maha menjaga dan memperhatikan segala sesuatu, bahkan seekor semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam dalam kepekatan malam sekalipun.
    3. Berusaha menambah pengetahuan, setidaknya hal-hal dasar yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara berwudlu dengan benar. Mengetahui arti dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang berilmu.
    4. Menghadiri majelis-majelis dzikir yang mengingat Allah. Malaikat mengelilingi majels-majelis seperti itu.
    5. Selalu menambah perbuatan baik. Sebuah perbuatan baik akan mengantarkan kepada perbuatan baik lainnya. Allah akan memudahkan jalan bagi seseorang yang bershadaqah dan juga memudahkan jalan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. Amal-amal kebaikan harus dilakukan secara kontinyu.
    6. Merasa takut kepada akhir hayat yang buruk. Mengingat kematian akan mengingatkan kita dari terlena terhadap kesenangan dunia.
    7. Mengingat fase-fase kehidupan akhirat, fase ketika kita diletakkan dalam kubut, fase ketika kita diadili, fase ketika kita dihadapkan pada dua kemungkinan, akan berakhir di surga, atau neraka.
    8. Berdo’a, menyadari bahwa kita membutuhkan Allah. Merasa kecil di hadapan Allah.
    9. Cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus kita tunjukkan dalam aksi. Kita harus berharap semoga Allah berkenan menerima shalat-shalat kita, dan senantiasa merasa takut akan melakukan kesalahan. Malam hari sebelum tidur, seyogyanya kita bermuhasabah, memperhitungkan perbuatan kita sepanjang  hari itu.
    10. Menyadari akibat dari berbuat dosa dan pelanggaran. Iman seseorang akan bertambah dengan melakukan kebaikan, dan menurun dengan melakukan perbuatan buruk.
    11. Semua yang terjadi adalah karena Allah menghendaki hal itu terjadi. Ketika musibah menimpa kita, itupun dari Allah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 9 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Tangisan Seorang Pemimpin Yang Takut Pada Alloh 

    UMAR bin ABDUL AZIZ, Dia seorang hafizh, mujtahid, sangat mendalam ilmunya, zuhud,ahli ibadah dan sosok pemimpin kaum Muslimin yang sejati. Dia juga disebut Abu Hafsh,dari suku Quraisy,Bani Umayyah. Istrinya, Fathimah pernah berkata, “ Dikalangan kaum laki-laki memang ada yang shalat dan puasanya lebih banyak dari Umar. Tetapi aku tidak melihat seorangpun yang lebih banyak ketakutannya kepada Allah daripada Umar, jika masuk rumah ia langsung menuju tempat shalatnya, bersimpuh dan menangis sambil berdoa kepada Alloh hingga tertidur. Kemudian dia bangun dan berbuat seperti itu sepanjang malam.”

    Takkala menyampaikan khutbah terakhirnya, Umar bin Abdul Aziz naik keatas mimbar, memuji Alloh, lalu berkata, “ Sesungguhnya ditanganmu kini tergenggam harta orang-orang yang binasa. Orang-orang yang hidup pada generasi mendatang akan meninggalkannya, seperti yang telah dilakukan oleh generasi yang terdahulu. Tidakkah kamu ketahui bahwa siang dan malam kamu sekalian mengarak jasad yang siap menghadap Allah, lalu kamu membujurkannya di dalam rekahan bumi, tanpa tikar tanpa bantal, lalu kamu menimbunnya dalam kegelapan bumi ?. Jasad itu telah meninggalkan harta dan kekasih-kekasihnya. Dia terbujur dikolong bumi, siap menghadap hisab. Dia tak mampu berbuat apa-apa menghadapi keadaan sekitarnya dan tidak lagi membutuhkan semua yang ditinggalkannnya. Demi Allah, kusampaikanhal ini kepadamu sekalian, karena aku tidak tahu apa yang terbatik didalam hati seorang seperti yang kuketahui pada diriku sendiri “

    Selanjutnya Umar bin Abdul Aziz menarik ujung bajunya, menyeka air mata, lalu turun dari mimbar. Sejak itu dia tidak keluar rumah lagi kecuali setelah jasadnya sudah membeku.

    Diriwayatkan dari Abdus-Salam, mantan budak Maslamah bin Abdul Malik, dia berkata: “ Umar bin Abdul Aziz pernah menangis, melihat ia menangis, istrinya dan semua anggota keluarganya pun ikut menangis, padahal mereka tidak tahu persis apa pasalnya mereka ikut-ikutan menangis”.

    Setelah suasana reda, Fathimah, istrinya bertanya: “Demi ayahku sebagai jaminan, wahai Amirul Mukminin, apa yang membuat engkau menangis? “. Umar bin Abdul aziz menjawab, “ Wahai fathimah, aku ingat akan persimpangan jalan manusia takkala berada di hadapan Alloh, bagaimana sebagian diantara mereka berada di sorga dan sebagian lain berada di neraka

    ***

    Sumber: http://www.mediamuslim.info

     
    • Alfa Ajinata 6:45 pm on 13 November 2010 Permalink

      Bagus, sangat mendidik sekali.
      Saya juga mempunyai cerita-cerita islam,mungkin Bapak Erva kurniawan juga mau bertukar link dengan saya untuk cerita islami di http://alfafiv.co.cc
      terima kasih .

  • erva kurniawan 1:07 am on 8 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Hikayat Iblis : Dialog Iblis vs Rasulullah SAW 

    Allah SWT telah memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis supaya dia menghadap Rasulullah saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disukai maupun yang dibencinya. Hikmatnya ialah untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad SAW dan juga sebagai peringatan dan perisai kepada umat manusia.

    Maka Malaikat itu pun berjumpa Iblis dan berkata, “Hai Iblis! Bahwa Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberi perintah untuk menghadap Rasullullah saw. Hendaklah engkau buka segala rahasiamu dan apapun yang ditanya Rasulullah hendaklah engkau jawab dengan sebenar-benarnya. Jikalau engkau berdusta walau satu perkataan pun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu, serta disiksa dengan azab yang amat keras.”

    Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan. Maka segeralah dia menghadap Rasulullah SAW dengan menyamar sebagai seorang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai, panjangnya seperti ekor lembu.

    Iblis pun memberi salam, sehingga 3 kali tidak juga dijawab oleh Rasulullah saw. Maka sambut Iblis (alaihi laknat),

    “Ya Rasulullah! Mengapa engkau tidak mejawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?” Maka jawab Nabi dengan marah, “Hai Aduwullah seteru Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Janganlah mencoba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam a.s sehingga keluar dari syurga, Habil mati teraniaya dibunuh Qabil dengan sebab hasutanmu, Nabi Ayub engkau tiup dengan asap beracun ketika dia sedang sujud sembahyang hingga dia sengsara beberapa lama, kisah Nabi Daud dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu.

    Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wajalla, cuma salammu saja aku tidak hendak menjawabnya karena diharamkan Allah. Maka aku kenal baik-baik engkaulah Iblis, raja segala iblis, syaitan dan jin yang menyamar diri. Apa kehendakmu datang menemuiku?”

    Taklimat Iblis, “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Karena engkau adalah Khatamul Anbiya maka dapat mengenaliku. Kedatanganku adalah diperintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, tiadalah aku berani menyembunyikannya.”

    Maka Iblis pun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata, “Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatah pun niscaya hancur leburlah badanku menjadi abu.”

    Apabila mendengar sumpah Iblis itu, Nabi pun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah satu peluangku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar oleh sekalian sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai kepada seluruh umatku.

    Pertanyaan Nabi (1):

    “Hai Iblis! Siapakah sebesar-besar musuhmu dan bagaimana aku terhadapmu?”

    Jawab Iblis:

    “Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara segala musuhku di muka bumi ini.”

    Maka Nabi pun memandang muka Iblis, dan Iblis pun menggeletar karena ketakutan. Sambung Iblis, “Ya Khatamul Anbiya! Ada pun aku dapat merubah diriku seperti sekalian manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suara pun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah.

    Kiranya aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu. Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu jugalah aku berusaha menarik mereka kepada kafir, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku.”

    Pertanyaan Nabi (2):

    “Hai Iblis! Bagaimana perbuatanmu kepada makhluk Allah?”

    Jawab Iblis:

    “Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, terbuai dengan makan minum, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda daripada emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan haram.

    Demikian juga ketika pesta yang bercampur antara lelaki dan perempuan. Disana aku lepaskan sebesar-besar godaan supaya hilang peraturan dan minum arak. Apabila terminum arak itu maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga kepada pekerjaan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.

    Apabila mereka teringat akan salah mereka lalu hendak bertaubat atau berbuat amal ibadat, aku akan rayu mereka supaya mereka menangguhkannya. Bertambah keras aku goda supaya menambahkan maksiat dan mengambil isteri orang. Bila kena goda hatinya, datanglah rasa ria, takabur, megah, sombong dan melengahkan amalnya. Bila pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat.”

    Pertanyaan Nabi (3):

    “Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambahkan laknat yang besar serta siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?”

    Jawab Iblis:

    “Semuanya itu adalah anugerah daripada Allah Yang Maha Besar juga. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa Diriku telah beribu-ribu tahun menjadi ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke satu langit yang tinggi. Kemudian Aku tinggal di dunia ini beribadat bersama sekalian Malaikat beberapa waktu lamanya.

    Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan lelaki (Nabi Adam) lalu dititahkan seluruh Malaikat memberi hormat kepada lelaki itu, kecuali aku yang ingkar. Oleh karena itu Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu bertukar menjadi keji dan kelam. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikurniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.

    Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah Khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itu pun aku masih tidak puas hati dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga Hari Kiamat.

    Sebelum Engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia serta tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadat serta balasan pahala dan syurga mereka. Kemudian aku turun ke dunia, dan memberitahu manusia yang lain daripada apa yang sebenarnya aku dapatkan, dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid’ah dan carut-marut.

    Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak dibenarkan oleh Allah untuk naik ke langit serta mencuri rahasia, kerana banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku berkeras juga hendak naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tenteraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu. Maka besarlah kesusahanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut.”

    Pertanyaan Nabi (4):

    “Hai Iblis! Apakah yang pertama engkau tipu dari manusia?”

    Jawab Iblis:

    “Pertama sekali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir juga ada dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, aku akan tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikut kemauan jalanku”

    Pertanyaan Nabi (5):

    “Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, bagaimana keadaanmu?”

    Jawab Iblis:

    “Sebesar-besarnya kesusahanku. Gementarlah badanku dan lemah tulang sendiku. Maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda seorang manusia, pada setiap anggota badannya.

    Setengah-setengahnya datang pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, terlupa bilangan rakaatnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, sentiasa hendak cepat habis sholatnya, hilang khusyuknya – matanya sentiasa menjeling ke kiri kanan, telinganya senantiasa mendengar orang bercakap serta bunyi-bunyi yang lain. Setengah Iblis duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya dia tidak kuasa sujud berlama-lama, penat atau duduk tahiyat dan dalam hatinya senantiasa hendak cepat habis sholatnya, itu semua membawa kepada kurangnya pahala. Jika para Iblis itu tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan seberat-berat hukuman.”

    Pertanyaan Nabi (6):

    “Jika umatku membaca Al-Quran karena Allah, bagaimana perasaanmu?”

    Jawab Iblis:

    “Jika mereka membaca Al-Quran karena Allah, maka rasa terbakarlah tubuhku, putus-putus segala uratku lalu aku lari daripadanya.”

    Pertanyaan Nabi (7):

    “Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?”

    Jawab Iblis:

    “Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya.”

    Pertanyaan Nabi (8):

    “Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?”

    Jawab Iblis:

    “Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya kepadaku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatatkan dosanya selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam mendoakan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemuliaan orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya, serta dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa barulah aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasa.”

    Pertanyaan Nabi (9):

    “Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?”

    Jawab Iblis:

    “Seluruh sahabatmu juga adalah sebesar – besar seteruku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satu tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata: “Seluruh sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk.”

    Saidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan engkau sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Tambahan pula dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Saiyidatina Aisyah yang juga banyak menghafadz Hadits-haditsmu.

    Saidina Umar Al-Khattab pula tidaklah berani aku pandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah segala tulang sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan, “Jikalau adanya Nabi sesudah aku maka Umar boleh menggantikan aku”, karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’.

    Saidina Usman Al-Affan lagi, aku tidak bisa bertemu, karena lidahnya senantiasa bergerak membaca Al-Quran. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak dua kali. Karena taatnya, banyak Malaikat datang melawat dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan, “Barang siapa menulis Bismillahir rahmanir rahim pada kitab atau kertas-kertas dengan dakwat merah, nescaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid.”

    Saidina Ali Abi Talib pun itu aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadat serta beliau adalah golongan orang pertama memeluk agama Islam dan tidak pernah menundukkan kepalanya kepada sebarang berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu’ – dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau sendiri berkata, “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya.” Tambahan pula dia menjadi menantumu, semakin aku ngeri kepadanya.”

    Pertanyaan Nabi (10):

    “Bagaimana tipu daya engkau kepada umatku?”

    Jawab Iblis:

    “Umatmu itu ada tiga macam. Yang pertama seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril a.s, “Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat.” Yang kedua umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal soleh, tawakal dan kebajikan. Yang ketiga umatmu seperti Firaun; terlampau tamak dengan harta dunia serta dihilangkan amal akhirat. Maka akupun bersukacita lalu masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku hela ke mana saja mengikuti kehendakku. Jadi dia senantiasa bimbang kepada dunia dan tidak hendak menuntut ilmu, tiada masa beramal ibadat, tidak hendak mengeluarkan zakat, miskin hendak beribadat.

    Lalu aku goda agar minta kaya dulu, dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka dilupakan beramal, tidak berzakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia senantiasa bimbang akan hartanya dan setengahnya asyik hendak merebut dunia harta, bercakap besar sesama Islam, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk jalan maksiat, tempat judi dan perempuan lacur.”

    Pertanyaan Nabi (11):

    “Siapa yang serupa dengan engkau?”

    Jawab Iblis:

    “Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang belajar agama Islam.”

    Pertanyaan Nabi (12):

    “Siapa yang mencahayakan muka engkau?”

    Jawab Iblis:

    “Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu, pemungkir janji.”

    Pertanyaan Nabi (13):

    “Apakah rahasia engkau kepada umatku?”

    Jawab Iblis:

    “Jika seorang Islam pergi buang air besar serta tidak membaca doa pelindung syaitan, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari.”

    Pertanyaan Nabi (14):

    “Jika umatku bersatu dengan isterinya, bagaimana hal engkau?”

    Jawab Iblis:

    “Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya serta membaca doa pelindung syaitan, maka larilah aku dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya, dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak maka anak itu akan gemar kepada pekerjaan maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku yang dahulu makan daripadanya. Walaupun mereka makan, tiadalah merasa kenyang.”

    Pertanyaan Nabi (15):

    “Dengan jalan apa dapat menolak tipu daya engkau?”

    Jawab Iblis:

    “Jika dia berbuat dosa, maka dia kembali bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah segeralah mengambil air wudhu’, maka padamlah marahnya.”

    Pertanyaan Nabi (16):

    “Siapakah orang yang paling engkau lebih sukai?”

    Jawab Iblis:

    Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu.”

    Pertanyaan Nabi (17):

    “Hai Iblis! Siapakah saudara engkau?”

    Jawab Iblis:

    “Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka (mendusin) di waktu subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian jua pada waktu zuhur, asar, maghrib dan isya’, aku beratkan hatinya untuk sholat.”

    Pertanyaan Nabi (18):

    “Apakah jalan yang membinasakan diri engkau?”

    Jawab Iblis:

    “Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Quran dan sholat tengah malam.”

    Pertanyaan Nabi (19):

    “Hai Iblis! Apakah yang memecahkan mata engkau?”

    Jawab Iblis:

    “Orang yang duduk di dalam masjid serta beriktikaf di dalamnya”

    Pertanyaan Nabi (20):

    “Apa lagi yang memecahkan mata engkau?”

    Jawab Iblis:

    “Orang yang taat kepada kedua ibu bapanya, mendengar kata mereka, membantu makan pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda,’Syurga itu di bawah tapak kaki ibu'”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • dannu 8:58 am on 11 November 2010 Permalink

      Subhanallah..
      Allah mh besar ,,Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

    • rendi 4:34 pm on 9 Desember 2010 Permalink

      mantap gan……

    • fajar 5:02 pm on 6 April 2011 Permalink

      top markotop…,sip jos..

  • erva kurniawan 1:51 am on 7 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: , tanda kiamat, Terjadinya kiamat Menurut Islam   

    Terjadinya Qiyamat Menurut Islam 

    http://www.mediamuslim.info

    Beriman kepada hari qiyamat merupakan unsur pokok keimanan dalam Islam. Tanpa beriman kepada hari qiyamat, iman seseorang tidak akan diterima. Sebagaimana tidak diterima apabila tidak beriman kepada Allah, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan qadha qadar dariNya.

    Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “…Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari kemudian (qiyamat), maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.“(An-Nisaa’:136).

    Mengenai kepastian adanya Hari Qiyamat itu sendiri Allah menegaskan dalam firman-firmanNya, diantaranya: “Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-sekali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (At-Taghabun 64:7).

    Allah subhannahu wa ta’ala berfirman pula, yang artinya : “…serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (qiyamat) tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.” (As-Syura 42:7)

    Dan firman Allah Subhannahu wa Ta’ala yang artinya: “Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (An-Naml 27:82).

    Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala yang artinya : “Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari qiyamat), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir.” (Al-Anbiyaa’: 96-97).

    Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala yang artinya : “Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah qiyamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata : Ambillah, bacalah kitabmu (ini). Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab (perhitungan) terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan): Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu. Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: Wahai alangkah baiknya sekiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku. (Allah berfirman): Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin.” (Al-Haaqqah 69:13-34).

    Masih banyak ayat-ayat lain di dalam Al-Qur’an yang menegaskan tentang hari qiyamat.

    Tanda-Tanda Kiamat

    Adapun tanda-tanda qiyamat, Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam menjelaskan dengan beberapa haditsnya. Diantaranya: “Sesungguhnya qiyamat itu tidak akan terjadi sebelum adanya sepuluh tanda-tanda qiyamat, yaitu tenggelam di Timur, tenggelam di Barat, tenggelam di Jazirah Arab, adanya asap, datangnya Dajjal, Dabbah (binatang melata yang besar), Ya’juj dan Ma’juj, terbit matahari dari sebelah barat, keluar api dari ujung Aden yang menggiring manusia, dan turunnya Nabi Isa.” (Hadits Riwayat Muslim).

    Penjelasan Nabi Shallallahu `alaihi wasallam dalam sabdanya yang lain: “Dajjal datang kepada umatku dan hidup selama 40 tahun, lalu Allah mengutus Isa bin Maryam, kemudian ia mencari Dajjal dan membinasakannya. Kemudian selama 70 tahun manusia hidup aman dan damai, tak ada permusuhan antara siapapun. Sesudah itu Allah meniupkan angin yang dingin dari arah negeri Syam (kini Suriah, pen). Maka setiap orang yang dalam hatinya masih ada kebajikan meskipun sebesar atom, pasti menemui ajalnya. Bahkan jika seandainya seseorang dari kamu masuk ke dalam gunung, pasti angin itu mengejarnya dan mematikannya. Maka sisanya tinggal orang-orang jahat seperti binatang buas (fii khiffatit thoiri wa ahlaamis sibaa’), mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran. Dan syetan menjelma pada mereka (manusia) lalu berkata: Maukah kamu mengabulkan? Manusia berkata: Apa yang akan kamu perintahkan kepada kami? Syetan lalu memerintahkan kepada mereka agar menyembah berhala, sedang mereka hidup dalam kesenangan. Kemudian ditiuplah sangkakala. Tapi seorangpun tak akan mendengarnya kecuali orang yang tajam pendengarannya. Dan orang yang pertama kali mendengarnya yaitu seorang laki-laki yang mengurusi untanya. Nabi bersabda: Maka matilah semua manusia. Kemudian turunlah hujan seperti hujan gerimis. Maka keluarlah dari situ jasad manusia (dari kubur-kuburnya). Kemudian ditiup lagi sangkakala, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu. Lalu dikatakan kepada mereka: Wahai manusia, marilah menghadap kepada Tuhanmu dan merekapun berada di Mahsyar karena mereka akan diminta tanggung jawabnya. Kemudian dikatakan kepada mereka, pergilah kamu karena neraka telah dinyalakan, lalu dikatakan lagi: Dari berapakah? Lalu dikatakan lagi: Dari setiap seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang. Begitulah keadaannya pada hari anak dijadikan beruban dan pada hari betis disingkap (hari Qiyamat yang menggambarkan orang sangat ketakutan yang hendak lari karena huru-hara Qiyamat).” (Hadits Riwayat Muslim).

    Sabda Nabi Shallallahu `alaihi wasallam ketika berkhutbah: “Wahai manusia, bahwasanya kamu nanti akan dihimpun Allah dalam keadaan telanjang kaki, telanjang bulat, dalam keadaan kulup (tidak dikhitan). Ingatlah bahwa orang yang mula-mula diberi pakaian adalah Ibrahim AS. Ingatlah bahwa nanti ada di antara umatku yang didudukkan di sebelah kiri. Ketika itu aku berkata: Ya Tuhan, (mereka itu adalah) sahabatku. Lalu Tuhan berkata: Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sesudah kamu (wafat).” (HR Muslim).

    Pertanggung Jawaban

    Mengenai pertanggungan jawab perbuatan, Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi wasallam bersabda: “Pada hari Qiyamat, setiap hamba tak akan melangkah sebelum ditanya empat hal, yaitu tentang umur untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, dan (kesehatan) badannya untuk apa ia pergunakan.” (HR Tirmidzi, hadits hasan shahih, dan teks ini menurut riwayat Muslim).

    Tentang dahsyatnya keadaan Qiyamat sampai manusia tak ingat pada lainnya, adapun penjelasannya: “Dari Aisyah , Bahwa ia teringat Neraka lalu menangis, maka Rasulullah ` bertanya: Apa yang menyebabkan engkau menangis? Aisyah menjawab: Aku teringat pada Neraka, hingga aku menangis. Apakah pada hari Qiyamat kamu akan ingat pada keluargamu? Jawab Nabi Shallallahu `alaihi wasallam : Adapun di tiga tempat, orang tidak teringat pada yang lainnya, yaitu ketika ditimbang amalnya sebelum dia mengetahui berat ringannya amal kebaikannya. Ketika buku catatan amalnya beterbangan sebelum dia mengetahui di mana hinggapnya buku itu, di sebelah kanan, kiri, atau di belakangnya. Dan ketika meniti titian/jembatan (shirath) yang terbentang di punggung neraka Jahannam sebelum dia melaluinya.” (HR Abu Daud, hadits hasan).

    Itulah peristiwa Qiyamat yang wajib kita yakini beserta tanda-tandanya. Semuanya itu merupakan hal yang ghaib, hanya Allah yang mengetahui, sedang Nabi Shallallahu `alaihi wasallammengkhabarkan itu dari wahyu Allah. Maka hal-hal yang tak sesuai dengan penjelasan Allah dan RasulNya mesti kita tolak, meskipun datangnya dari orang yang mengaku intelek, pakar, ataupun mengaku telah menyelidiki bertahun-tahun dengan metode yang disebut ilmiah dan canggih. Sebaliknya, kalau itu datang dari Allah dan RasulNya, maka wajib kita imani. Dan beriman kepada Hari Qiyamat itu merupakan halyangtermasuk pokok di dalamIslam seperti tersebut di atas. Mengingkarinya berarti rusak keimanannya.

    ***

    (Dikutip dari: Minhajul Muslim , oleh Abu Bakr Al-Jazairi)

    http://www.mediamuslim.info

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 6 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: , memaknai kematian   

    Memaknai Kematian 

    Ibnu Umar RA berkata, ”Aku dating menemui Nabi Muhammad SAW bersama 10 orang, lalu salah seorang Anshar bertanya, siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasulullah? Nabi menjawab, orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan.” (HR Ibnu Majah)

    Manusia yang senantiasa mengingat kematian akan memendekkan angan-angannya, lebih menyegerakan berkarya, dan gemar berbuat kebajikan. Dia menginsyafi diri bahwa setiap manusia, baik kaya atau miskin, memiliki jabatan tinggi atau rendah, pintar atau bodoh, dan fisik sempurna atau cacat, semuanya akan kembali menyatu dengan tanah. Sendiri dalam kegelapan menghadapi malaikat maut.

    Allah berfirman dalam surat Al Jumu’ah (62) ayat 8, ”Katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

    Perbedaan terbesar orang yang mengingat kematian dengan tidak ialah terletak pada kehati-hatian bersikap, kerendahan hati, keikhlasan, amal kebaikan, dan kezuhudannya. Harta, tahta, kata, dan cinta dunia yang ia miliki tak memengaruhi pandangannya terhadap semua manusia. Ia memahami manusia sama-sama sebagai makhluk ciptaan Allah yang akan kembali pada-Nya dan mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya. Hanya tingkatan takwa yang membedakan kedudukan masing-masing manusia.

    Ia tak segan menguras harta untuk membantu kesusahan orang lain. Jabatan atau tahta, ia fungsikan sebesar-besarnya untuk memaslahatan seluruh rakyat dan bukannya malah membebani hidup rakyat. Cinta, kata, serta popularitas, ia gunakan untuk melakukan banyak pencerahan agar kehidupan masyarakat terangkat lebih baik.

    Mengingat kematian akan melembutkan hati yang keras, kaku, dan beku. Syafiah RA mengisahkan seorang perempuan mengadu kepada Aisyah RA tentang kekesatan hatinya, lalu Aisyah berkata, ”Perbanyaklah mengingat kematian niscaya hatimu menjadi lembut.” Kemudian perempuan itu melakukannya sehingga hatinya menjadi lembut.

    Ka’ab sahabat Rasulullah mengungkapkan bahwa siapa yang mengetahui kematian pasti segala penderitaan dan kesusahan dunia menjadi ringan baginya. Sebab, kematian adalah kafarat bagi setiap Muslim. Sungguh manusia cerdas ialah yang bisa memaknai kematian dengan benar dan mengantarkannya pada kemulian hakiki.

    ***

    Sumber: Republika.co.id

     
    • ridwan 7:34 am on 6 November 2010 Permalink

      artikelnya bagus, ijin dicopy. trims

    • sri Mulyati 9:40 pm on 7 November 2010 Permalink

      izin copi ya…..syukron

  • erva kurniawan 1:23 am on 5 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: adab masuk masjid   

    Etika Di Masjid 

    Berdo`a di saat pergi ke masjid. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu beliau menyebutkan: Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila ia keluar (rumah) pergi shalat (di masjid) berdo`a: “Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, dan cahaya pada lisanku, dan jadikanlah cahaya pada pendengaranku dan cahaya pada penglihatanku, dan jadikanlah cahaya dari belakangku, dan cahaya dari depanku, dan jadikanlah cahaya dari atasku dan cahaya dari bawahku. Ya Allah, anugerahilah aku cahaya”. (Muttafaq’alaih).

    Berjalan menuju masjid untuk shalat dengan tenang dan khidmat. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Apabila shalat telah diiqamatkan, maka janganlah kamu datang menujunya dengan berlari, tetapi datanglah kepadanya dengan berjalan dan memperhatikan ketenangan. Maka apa (bagian shalat) yang kamu dapati ikutilah dan yang tertinggal sempurnakanlah. (Muttafaq’alaih).

    Berdo`a disaat masuk dan keluar masjid. Disunatkan bagi orang yang masuk masjid mendahulukan kaki kanan, kemudian bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam lalu mengucapkan:

    (Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu)”

    Dan bila keluar mendahulukan kaki kiri, lalu bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam kemudian membaca do`a:

    “(Ya Allah, sesungguhnya aku memohon bagian dari karunia-Mu)”. (HR. Muslim).

    Disunnatkan melakukan shalat sunnah tahiyatul masjid bila telah masuk masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang di antara kamu masuk masjid hendaklah shalat dua raka`at sebelum duduk”. (Muttafaq alaih).

    Dilarang berjual-beli dan mengumumkan barang hilang di dalam masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila kamu melihat orang yang menjual atau membeli sesuatu di dalam masjid, maka doakanlah “Semoga Allah tidak memberi keuntungan bagimu”. Dan apabila kamu melihat orang yang mengumumkan barang hilang, maka do`akanlah “Semoga Allah tidak mengembalikan barangmu yang hilang”. (HR. At-Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Dilarang masuk ke masjid bagi orang makan bawang putih, bawang merah atau orang yang badannya berbau tidak sedap. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah atau bawang daun, maka jangan sekali-kali mendekat ke masjid kami ini, karena malaikat merasa terganggu dari apa yang dengan-nya manusia terganggu”. (HR. Muslim). Dan termasuk juga rokok dan bau lain yang tidak sedap yang keluar dari badan atau pakaian.

    Dilarang keluar dari masjid sesudah adzan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila tukang adzan telah adzan, maka jangan ada seorangpun yang keluar sebelum shalat”. (HR. Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Tidak lewat di depan orang yang sedang shalat, dan disunnatkan bagi orang yang sholat menaroh batas di depannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Kalau sekiranya orang yang lewat di depan orang yang sedang sholat itu mengetahui dosa perbuatannya, niscaya ia berdiri dari jarak empat puluh itu lebih baik baginya daripada lewat di depannya”. (Muttafaq alaih).

    Tidak menjadikan masjid sebagai jalan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah kamu menjadikan masjid sebagai jalan, kecuali (sebagai tempat) untuk berzikir dan shalat”. (HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh Al-Albani).

    Tidak menyaringkan suara di dalam masjid dan tidak mengganggu orang-orang yang sedang shalat. Termasuk perbuatan mengganggu orang shalat adalah membiarkan Handphone anda dalam keadaan aktif di saat shalat.

    Hendaknya wanita tidak memakai farfum atau berhias bila akan pergi ke masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu (kaum wanita) ingin shalat di masjid, maka janganlah menyentuh farfum”. (HR. Muslim).

    Orang yang junub, wanita haid atau nifas tidak boleh masuk masjid. Allah berfirman: “(Dan jangan pula menghampiri masjid), sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi”. (an-Nisa: 43).

    Aisyah Radhiallaahu anha meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda kepadanya: “Ambilkan buat saya kain alas dari masjid”. Aisyah menjawab: Sesungguhnya aku haid? Nabi bersabda: “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. (HR. Muslim).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 4 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Bunda, Luar Biasa 

    Seorang anak terlahir normal, tanpa cacat sedikit pun. Proses kelahirannya berlangsung normal, tanpa operasi caesar. Tetapi proses panjang selama Sembilan bulan sebelum melahirkan itulah yang tidak normal. Bahkan, jika bukan karena kuasa Allah, takkan pernah terjadi sebuah kelahiran yang menakjubkan ini. Selain faktor Allah, tentu saja ada sang bunda yang teramat luar biasa…

    Pekan pertama setelah mengetahui bahwa dirinya positif hamil, Sinta mengaku kaget bercampur haru. Perasaan yang luar biasa menghinggapi seisi hidupnya, sepanjang hari-harinya setelah itu. Betapa tidak, sekian tahun lamanya ia menunggu kehamilan, ia teramat merindui kehadiran buah hati penyejuk jiwa di rumah tangganya. Dan kenyataannya, Allah menanamkan sebentuk amanah dalam rahimnya. Sinta pun tersenyum gembira.

    Namun kebahagiaan Sinta hanya berlangsung sesaat, tak lebih dari dua pekan ia menikmati hari-hari indahnya, ia jatuh sakit. Dokter yang merawatnya tak bisa mendiagnosa sakit yang diderita Sinta. Makin lama, sakitnya bertambah parah, sementara janin yang berada dalam kandungannya pun ikut berpengaruh. Satu bulan kemudian, Sinta tak kunjung sembuh, bahkan kondisinya bertambah parah. Dokter mengatakan, pasiennya belum kuat untuk hamil sehingga ada kemungkinan jalan untuk kesembuhan dengan cara menggugurkan kandungannya.

    Sinta yang mendengar rencana dokter, langsung berkata “tidak”. Ia rela melakukan apa pun untuk kelahiran bayinya, meski pun harus mati. “bukankah seorang ibu yang meninggal saat melahirkan sama dengan mati syahid?” ujarnya menguatkan tekad.

    Suaminya dan dokter pun sepakat menyerah dengan keputusan Sinta. Walau mereka sudah membujuknya dengan kalimat, “kalau kamu sehat, kamu bisa hamil lagi nanti dan melahirkan anak sebanyak kamu mau”. Namun Santi tak bergeming. Janin itu pun tetap bersemayam di rahimnya.

    Waktu terus berjalan, memasuki bulan ketiga, Sinta mengalami penurunan stamina. Keluarga sudah menangis melihat kondisinya, tak sanggup melihat penderitaan Sinta. Tak lama kemudian, dokter menyatakan Sinta dalam keadaan kritis. Tidak ada jalan lain, janin yang sudah berusia hampir empat bulan pun harus segera dikeluarkan demi menyelamatkan sang bunda.

    Dalam keadaan kritis, rupanya Sinta tahu rencana dokter dan keluarganya. Ia pun bersikeras mempertahankan bayinya. “Ia berhak hidup, biar saya saja yang mati untuknya”. Santi pun memohon kepada suaminya untuk mengabulkan keinginannya ini. “Mungkin saja ini permintaan terakhir saya Mas, biarkan saya meninggal dengan tenang setelah melahirkan nanti. Yang penting saya bisa melihatnya terlahir ke dunia,” luluhlah sang suami.

    Pengguguran kandungan pun batal.

    Bulan berikutnya, kesehatan Sinta tak berangsur pulih. Di bulan ke enam kehamilannya, ia drop, dan dinyatakan koma. Satu rumah dan dua mobil sudah habis terjual untuk biaya rumah sakit Sinta selama sekian bulan. Saat itu, suami dan keluarganya sudah nyaris menyerah. Dokter dan pihak rumah sakit sudah menyodorkan surat untuk ditandatangani suami Sinta, berupa surat izin untuk menggugurkan kandungan. Seluruh keluarga sudah setuju, bahkan mereka sudah ikhlas jika Allah berkehendak terbaik untuk Sinta dan bayinya.

    Seorang bunda memang selalu luar biasa. Tidak ada yang mampu menandingi cintanya, dan kekuatan cinta itu yang membuatnya bertahan selama enam bulan masa kehamilannya. Maha Suci Allah yang berkenan menunjukkan kekuatan cinta sang bunda melalui Sinta, menjelang sang suami menandatangani surat izin pengguguran, Santi mengigau dalam komanya. “Jangan, jangan gugurkan bayi saya. Ia akan hidup, begitu juga saya” Kemudian ia tertidur lagi dalam komanya.

    Air mata meleleh dari pelupuk mata sang suami. Ia sangat menyayangi isteri dan calon anaknya. Surat pun urung ditandatanganinya, karena jauh dari rasa iba melihat penderitaan isterinya, ia pun sangat memimpikan bisa segera menggendong buah hatinya. Boleh jadi, kekuatan cinta dari suami dan isteri ini kepada calon anaknya yang membuat Allah tersenyum.

    Allah Maha Kuasa. Ia berkehendak tetap membuat hidup bayi dalam kandungan Sinta meski sang bunda dalam keadaan koma. Bahkan, setelah hampir tiga bulan, Sinta tersadar dari komanya. Hanya beberapa hari menjelang waktu melahirkan yang dijadwalkan. Ada kekuatan luar biasa yang bermain dalam episode cinta seorang Sinta. Kekuatan Allah dan kekuatan cinta sang bunda.

    Bayi itu pun terlahir dengan selamat dan normal, tanpa cacat, tanpa operasi caesar. “Mungkin ini bayi termahal yang pernah dilahirkan. Terima kasih Allah, saya tak pernah membayangkan bisa melewati semua ini,” ujar Sinta menutup kisahnya.

    ***

    Sumber: Bunda, Luar Biasa! oleh Bayu Gawtama

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 3 November 2010 Permalink | Balas  

    Menegur Pasangan secara Bijak 

    Penulis : Aa Gym

    KotaSantri.com : Tidak ada manusia ideal di dunia ini, selain Rasullullah SAW. Karena itu, kita harus siap menerima kekurangan dan kelebihan diri dan pasangan kita. Syukuri kelebihannya dan bersabarlah dengan kekurangannya. Ketika kita menemukan kekurangan pasangan, bantu ia memperbaikinya, bukan menghakimi. Kita mengenal rumus 2B2L (berani mengakui kelebihan dan jasa orang; bijak terhadap kekurangan dan kesalahan orang; lupakan jasa dan kebaikan diri; lihat kekurangan dan kesalahan diri).

    Dalam QS. An-Nahl [16] ayat 125, Allah SWT berfirman, Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Kata-kata hikmah adalah kata-kata terpilih, yang paling utama di antara yang baik. Orang yang berdakwah, menyeru dengan hikmah, adalah orang yang menyeru dengan cara terbaik di antara cara yang baik. Termasuk saat memberi kritikan.

    Kritik dengan keterbukaan akan datang kalau seseorang merasa aman memberi masukan, tidak membela diri saat dikritik atau malah balik menyerang. Karena itu, untuk membangun keluarga yang mudah menerima kritik, ada tiga hal yang harus dimiliki. Pertama, miliki visi yang sama, sehingga tradisi saling menasehati dan keterbukaan akan mudah diwujudkan. Kedua, miliki ilmu mengkritik yang baik; tidak menyerang, melukai, berdasarkan data dan fakta, bukan dengan emosional semata. Dan ketiga, berlatih dan terus berlatih.

    Secara umum, ada beberapa tips sederhana untuk mengritik pasangan.

    1. Perhatikan situasi dan kondisi.
    2. Jangan mengritik pasangan saat sedang marah, capek, lapar, banyak masalah, dan sebagainya.
    3. Gunakan kata-kata sopan dan halus.
    4. Berikan pujian dan penghargaan proporsional sebelum mengritik.
    5. Hindari menegur di depan umum.
    6. Jangan terlalu sering mengritik.
    7. Menegur bukan berarti melampiaskan kejengkelan. Karena itu, jangan menyerang orangnya, tapi “seranglah” kesalahannya.
    8. Redakan dahulu kemarahan kita. Kalau amarah sudah reda, baru memberikan kritikan.

    ***

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 2 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ini Uang Halal 

    Kira-kira pertengahan Ramadhan, pagi hari menjelang sampai ke gerbang kampus. Sebuah papan pengumuman terpampang dipinggir sawah di pendakian setelah terminal Kampung Koto. “Tanah di jual 1024 m2”, lengkap dengan nomor telepon 0751 xx xxx. Bukannya saya ingin membeli tanah tersebut, dengan gaji dosen biasa jelas mana sanggup. Tanah tersebut pasti harga nya sangat mahal, terletak di dekat sebuah kampus terkenal, seperti kata Menteri Pendidikan beerapa waktu lalu, ketika pemberian gelar Doktor Honouris Causa pada Presiden Republik Indonesia SBY dulu. “Tapi tidak apalah coba ditanyakan saja, sambil mengingat nomor telepon yang tercantum pada papan tersebut”, guman saya sendiri sambil berlalu.

    Sesampai di kampus, sepeda motor bekas cicilan saya parkir di belakang kampus. Sejenak memandang ke arah barat, pemandangan laut dari atas sungguh cantik sekali, capek di jalan terasa terhapus. Saya berdiri dan menarik telepon saku dari kantong celana, tidak terasa satu lembar uang dua puluh ribuan terjatuh secara tidak sengaja. Namun entah kenapa uang tersebut saya biarkan saja. “Biarlah sebentar, setelah menelpon yang punya tanah tersebut, uang tersebut akan saya ambil lagi”, hati saya berkata.

    Setelah menghubungi yang punya tanah tadi, ternyata memang mahal sekali, jauh dari beberapa ratus ribu dari saya kira. “Nantilah pada suatu saat kalau uang saya sudah cukup tanah seperti itu dapat dibeli juga”, kata hati saya. Saya berlalu, sedikitpun tidak teringat satu lembar uang dua puluh ribuan sempat tergeletak seperti barang tidak bernyawa.

    Sesampai di ruang kerja, setumpuk buku bahan kuliah sudah disiapkan. Jam 8.30 pagi tersebut saya harus masuk kelas. Memang benar, sekumpulan mahasiswa telah berkumpul di dapan kelas. Kelas pun segera di mulai.

    Tidak terasa dua jam telah berlalu, kuliah pun selesai.Seperti biasa kepuasan seorang Dosen adalah setelah kuliah selesai, mahasiswa penuh dan menyimak sampai pembicaraaan usai. Badan saya terasa kehabisan asai, tenggorokan kering terasai, namun puasa belum selesai.

    Sebelum kembali ke ruang kerja, saya mampir ke kantor Pak Kajur untuk melihat apa-apa. Akan tetapi sebelum sampai di sana, menjelang akhir anak tangga lantai dua, tiba-tiba batin “tercenung”, “uang”, terpana. Uang dua puluh ribuan saya, yang jatuh dari saku celana, saya tadi belum sempat saya ambil an tadi saya berlalu begitu saj. Tampa pikir panjang, saya langsung balik kanan, dan setengah berlari ke belakang gedung. Saya tidak peduli setengah mahasiswa yang berkumpul di pelataran gedung agak heran, menyapa.

    Sesampai di belakang kantor jurusan teknik mesin, ternyata uang dua puluh ribuan tersebut telah sirna. Tidak berbekas, sudah lebih dua jam, pasti telah banyak orang lalu lalang, baik mahasiswa, maupun Dosen sebahagian lewat di sana. Dengan hati sedikit menyesal, atas kelalaian ini keadaan ini harus juga diterima. “Yang bukan hak kita, ya memang milik kita”, kata sayai.

    Dua puluh ribu bukan uang kecil untuk ukuran saya, satu lembar tersebut cukup menghidupi satu hari keluarga saya. Namun yang nama nya bukan rejeki, apa yang ditanganpun mudah sekali sirna.

    Hampir satu bulan berlalu, Senin hari pertama masuk kantor, setelah satu minggu setelah Hari Raya telah molor, saya sampai kembali ke kampus ditempat yang sama di mana saya menyia-nyiakan uang dua puluh ribu saya. Hari masih pagi, suasana masih lengang dan sepi, setelah melintas di ruang labor, saya sampai di koridor. Sesaat sebelum sampai di tangga saya berpapasan dengan salah seorang mahasiswa. “Pak”, katanya. Segera saya menyalaminya, dan berkata. “Minal Aidin wal Fazin”. “Sama-sama Pak”, katanya. Saya berlalu beberapa langkah, tiba-tiba kembali mahasiswa tersebut menyapa,”Pak”, katanya. “Bapak pernah kehilangan uang.”. Sebelum selesai dia berkata saya menyahut, “duapuluh ribu”. “Ya pak,uang tersebut tergeletak di samping kendaraan Bapak” katanya kembali.

    Segera dia masuk ke dalam ruangan laboratorium dan mengambil sesuatu di kantong yang tergantung dinding, dan menyerahkan satu lembar kertas kepada saya. Ternyata memang benar satu lembar uang dua puluh ribuan. Dengan tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepadanya saya berkata, “ini uang halal” sambil mengangkat uang tersebut. Dia tertawa dan sayapun berlalu. Saya senang, atau sangat senang sekali, bukan karena uang saya kembali, akan tetapi saya sangat sengat senang bahwa mahasiswa saya, mahasiswa Jurusan Teknik Mesin ternyata sangat putih, bersih pada tahun ini.

    Saya pandang uang tersebut dan saya tempel dinding untuk, hanya sekedar untuk mengingat mahasiswa saya.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • fikrie 7:52 pm on 14 November 2010 Permalink

      subhanallah, sy terharu membacanya =]

  • erva kurniawan 1:08 am on 1 November 2010 Permalink | Balas  

    Pengemis Bukan Si Kantong Tipis 

    Kemas Irawan Nurrachman dan Moehammad Samoedera Harapan – Tim Laporan Khusus Jakarta.

    Anggapan mengemis hanya dilakoni orang miskin bisa berubah bila bertemu kakek yang satu ini. Penampilannya memang memelas, namanya saja orang sudah tua. Umurnya 70 tahun tentu kulit sudah kerut merut. Sudah begitu bajunya compang-camping pula.

    Dan di siang yang terik itu, kakek itu menggelesot saja di depan teater Senen, Jakarta Pusat. Setiap ada orang lewat, ia mengulurkan tangannya. Hati siapa yang tidak iba. Kasihan orang sudah setua itu pasti sudah tidak bisa bekerja, mungkin begitulah pikir orang yang mengangsurkan uang kepadanya.

    Tapi jangan salah. Kakek tua itu adalah Cahyo. Ia berasal dari Madura, Jawa Timur. Sudah menjadikan pengemis sebagai profesi utama sejak dua tahun lalu. Dan pendapatannya dari pekerjaan tidak terhormat itu ternyata besar. Bahkan mengalahkan pegawai kantoran.

    “Dalam setengah hari saya bisa mendapatkan Rp120 ribu. Bahkan dalam sehari bias mencapai Rp200 ribu. Karena sekarang jarang ada orang memberikan Rp 200, minimal biasanya Rp 500,” cetus kakek ini.

    Cahyo awalnya bekerja menjadi pemulung dan tinggal bersama anaknya di Pademangan. Namun karena sudah tua, pria asal Madura itu tidak kuat lagi melakoni kerja pemulung yang berat. Ia kemudian beralih profesi menjadi pengemis di sekitar Senen. Kakek ini lalu mengontrak rumah petak di Kampung Gaplok, Senen. Biaya sewanya Rp 150 ribu per bulan termasuk listrik. Di sini ia tinggal bersama dua orang cucunya yang juga menjadi peminta-minta. “Iya mau bagaimana lagi? Itung-itung ada pemasukan tambahan,” kata Cahyo soal cucunya.

    Cucu Cahyo biasanya mangkal di Perempatan ITC Cempaka Putih. Mereka dibawa orang yang lebih dewasa sehingga penghasilan pun dibagi dua. Dalam sehari rata-rata cucu Cahyo membawa pulang Rp 70-90 ribu. Banyak uang tidak membuat Cahyo lupa menabung. Uang itu biasanya kemudian dipakai untuk ongkos pulang kampung. Bila pulang kampung, kakek ini memegang Rp 3 juta untuk biaya hidup selama seminggu di sana.

    Selain untuk ongkos, sisa tabungan dibelikan sapi. Kini setelah dua tahun bekerja di Jakarta, Cahyo sudah bisa memiliki 8 ekor sapi. Setiap pulang kampung, kakek ini membeli 3-4 ekor sapi.

    Untuk merawat binatang ternak itu, si kakek membayar orang. “Setelah itu nanti hasilnya dibagi dua dengan yang merawat. Itung-itung untuk bagi-bagi rezeki,” katanya santai. Dengan penghasilan yang lumayan itu, jangan heran bila Cahyo betah menjadi pengemis. Ia tidak kapok melakoni profesi tidak terhormat itu meski sudah pernah ditangkap trantib.

    Penangkapan itu terjadi beberapa bulan lalu. Saat itu Cahyo sedang berada di depan bioskop Senen. Hari itu si kakek tidak membayar uang keamanan. Maka ia pun dilaporkan dan ditangkap trantib. Untuk bisa bebas lagi, Cahyo terpaksa harus membayar Rp 600 ribu. Kini Cahyo lebih berhati-hati. Ia telah menemukan trik agar tidak tertangkap lagi. Setiap hari ia tidak lupa membayar uang keamanan pada preman Senen. Hasilnya hingga kini tidak pernah ada masalah lagi saat terjadi razia.

    Keberadaan pengemis seperti Cahyo ini diketahui benar oleh Dinas Kesejahteraan Sosial (Dinas Kesos) DKI Jakarta. Dalam razia, instansi yang dipimpin Syarif Mustofa ini sering menemukan bukti pengemis bukan berasal dari orang miskin.

    Syarif Mustofa pun lantas menyebut para pengemis sebagai pemalas. Mereka pura-pura menjadi gelandangan di Jakarta, padahal di kampungnya mereka cukup berada. “Saya membuktikan sendiri bahwa mereka orang berada, karena saya pernah mengantar mereka sampai ke depan rumah?” kata Syarif.

    Berdasarkan realitas itu, menurut Syarif, solusi paling tepat mengurangi jumlah gepeng di Jakarta adalah dengan tidak menaruh belas kasihan pada kelompok ini. Warga Jakarta diimbau tidak memberikan uang kepada para pengemis di jalanan. Uang sebaiknya disumbangkan pada badan amal yang bisa dipertanggungjawabkan. (iy)

     
    • ahmad 12:38 pm on 1 November 2010 Permalink

      wong indonesia podo gendeng

    • ananda 7:29 am on 3 November 2010 Permalink

      agar tidak menjadi kebiasaan bagi para pengemis.sumbangkan hartamu ke badan amal yg bisa dipertanggungjawabkan.

    • taqyfauzan 10:41 am on 6 Juli 2011 Permalink

      kerennnnnn

    • Musianto 12:41 pm on 11 Oktober 2011 Permalink

      geleng2.

    • iman 2:27 pm on 25 Oktober 2011 Permalink

      mantap triknya……… hmmm

    • sony julian 1:07 pm on 20 Februari 2012 Permalink

      Budaya malu yang hilang…

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: