Updates from November, 2015 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 2:44 am on 30 November 2015 Permalink | Balas  

    Macam-Macam Hati 

    kaya hatiMacam-Macam Hati

    Sebaik-baiknya hati adalah yang bersih suci dari keburukan, yang tunduk kepada yang haaq (kebenaran) dan petunjuk yang diliputi kebaikan. Di dalam Hadits dikatakan,

    Hati itu ada 4 macam :

    1. Hati yang tidak berselaput, di dalamnya terdapat pelita yang menerangi. Ini hati orang mukmin.
    2. Hati yang hitam tak tentu tempatnya. Ini hati orang kafir.
    3. Hati yang terbelenggu diatas kulitnya. Ini hati orang munafik.
    4. Hati yang mendatar, padanya terdapat iman dan nifaq (kemunafikan). Perumpamaan iman yang meliputinya seperti batang tumbuhan yang disirami air tawar. Sedangkan perumpamaan nifaq seperti setumpuk kudis yang diselaputi nanah dan darah busuk. Maka yang mana di antara keduanya berkuasa, kesitulah hati tertarik.

    Hati yang ke-4 inilah yang terdapat pada kebanyakan kaum muslimin. Amalnya bercampur aduk sehingga keburukannya lebih banyak daripada kesempurnaannya. Dalam Hadits lain dikatakan,

    “Sesungguhnya iman itu bermula muncul di dalam hati sebagai sinar putih, lalu membesar, hingga seluruh hati menjadi putih. Sedangkan nifaq itu bermula muncul di dalam hati seperti noda-noda hitam, lalu menyebar, hingga seluruh hati menjadi hitam.”

    Sesungguhnya iman akan bertambah dengan cara menambah amal saleh disertai keikhlasan. Sedangkan nifaq akan bertambah dengan cara mengerjakan amal buruk, seperti meninggalkan perkara wajib dan melakukan larangan agama. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW,

    “Barangsiapa melakukan dosa, maka akan tumbuh dalam hatinya setitik hitam. Jika ia bertobat, maka terkikislah titik hitam itu dari hatinya. Jika ia tidak bertobat, maka menyebarlah titik hitam itu sehingga seluruh hatinya menjadi hitam.”

    Hal ini sesuai dengan firman Allah,

    “Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang mereka selalu kerjakan itu menutupi hati mereka.” (QS. 73:14)

    Seorang manusia tidak akan ditimpa suatu musibah, kecuali karena dosanya sendiri. Sebagaimana dikatakan di dalam Al-Qur’an,

    “Dan musibah apa saja yang menimpa kamu maka itu disebabkan oleh perbuatanmu sendiri.” (QS. 42:30)

    Maka dari itu, hendaklah kita berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam dosa. Jika pun sudah terlanjur, maka hendaklah bersegera bertaubat. Bukankah dikatakan di dalam Al-Qur’an,

    “Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. 49:11)

    “(Dialah) Yang mengampuni dosa dan menerima taubat, Yang pedih siksanya, Yang mempunyai karunia. Tiada tuhan selain Dia dan hanya kepada-Nya-lah tempat kembali.” (QS. 40:3)

    “Dan tiada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang kembali kepada Allah. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya.” (QS. 40:13-14)

    ***

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

    Iklan
     
  • erva kurniawan 1:42 am on 29 November 2015 Permalink | Balas  

    Meluruskan hati 

    kaya hatiMeluruskan hati

    Hendaknya kita menaruh perhatian yang lebih kepada hati dan batin kita. Rasulullah SAW berkata,

    “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan amal-amal kalian, tapi sesungguhnya Allah melihat kepada hati dan niat-niat kalian.”

    Karena itu hendaknya kita menyatukan amal dengan hati, ucapan dengan amal, membenarkan niat dan keikhlasan, membersihkan batin dan meluruskan hati. Karena hal tersebut adalah sumber segala perkara.

    “Ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam tubuh ini ada segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”

    Hal tersebut dikarenakan hati itu mudah berubah dan senantiasa goncang, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,

    “Sesungguhnya hati itu lebih cepat berbolak-balik daripada makanan yang sedang mendidih dalam periuk.”

    Maka dari itu, beliau SAW sering berdoa,

    “Wahai (Tuhan) Yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.”

    Beliau SAW juga bersabda,

    “Sesungguhnya hati itu terletak antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman. Jika Dia berkehendak, diluruskannya, atau jika Dia berkehendak (yang lain), dibengkokkannya.”

    Nabi SAW sendiri sering bersumpah dengan mengatakan,

    “Tidak, demi Tuhan Yang Maha membolak-balikkan hati…”

    Allah SWT menceritakan tentang Nabi Ibrahim AS,

    “Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, pada hari dimana harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat” (QS. 26:87-89)

    Oleh karena itu, perbanyaklah membaca doa,

    “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau sesatkan hati-hati kami setelah Engkau memberikan kami hidayah, dan limpahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Pemberi.” (QS. 3:8)

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 28 November 2015 Permalink | Balas  

    Hati yang Keras dan Lalai 

    kaya hatiHati yang Keras dan Lalai

    Waspadalah dari hati yang keras (qoswah)!. Yakni kerasnya hati dan membeku sehingga nasihat pun tidak berpengaruh. Jika kematian disebut, ia tak merasa takut atau ngeri, begitu pula jika mendengar janji-janji Allah dan ancaman tentang keadaan akhirat.

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Sesuatu yang paling jauh dari Allah Ta’ala adalah hati yang keras.”

    Rasulullah SAW juga bersabda,

    “Termasuk dari sesuatu yang celaka adalah 4 perkara : hati yang keras, mata yang beku, cinta dunia dan panjang angan-angan.”

    Beliau menambahkan,

    “Ketahuilah!, Allah tidak akan menerima doa dari hati orang yang lalai.”

    Hati yang lalai adalah hati yang tidak sabar dan tidak mau tahu ketika diperingatkan karena keasyikannya bekerja dan bermain dengan keindahan dunia dan hawa nafsu.

    Firman Allah SWT,

    “Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri, penuh rasa takut, tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. 205:7)

    Allah melarang Rasul-Nya untuk tidak menjadi orang yang lalai, sebagaimana Dia melarang untuk tidak mentaati orang-orang yang lalai atau pun mengikuti jejak mereka.

    “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya lalai dari mengingat Kami serta memperturutkan hawa nafsunya, dan keadaannya itu melampaui batas.” (QS. 18:28)

    Orang-orang yang dianggap lalai jika :

    Membaca Al-Qur’an atau mendengarnya tetapi tidak merenungkan maknanya, tidak mengikuti perintah dan larangannya. Begitu pula hadits Rasulullah SAW dan ucapan para Salafus Sholih ra.

    Tidak mengingat mati dan hal-hal sesudah mati apakah ia tergolong ahlus sa’adah (orang yang bahagia) atau ahlus syaqowah (orang yang celaka), dan tidak memikirkannya.

    Tidak sering bergaul dengan ulama-ulama yang mengingatkannya tentang agamanya, menyadarkannya tentang kehidupan yang abadi, nikmat-nikmat Allah, janji dan ancaman-Nya.

    Jika ia tidak mendapatkan alim ulama, seharusnyalah buku-buku para alim ulama tersebut bisa sebagai pengantinya. Insya Allah tidak akan pernah dunia ini kosong dari dari para alim ulama, meskipun kerusakan jaman telah merata.

    “Senantiasa segolongan dari umatku yang berdiri teguh diatas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka siapapun yang menentangnya, hingga tiba ketentuan dari Allah SWT.”

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 27 November 2015 Permalink | Balas  

    Taqwa 

    taqwaTaqwa

    Ibnu Rajab Ra  (Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam): Orang- orang yang bertaqwa adalah orang  yang takut kepada Allah dan siksa-NYA ketika dia meninggalkan petunjuk  yang diketahui, dan mengharap rahmat-NYA ketika membenarkan wahyu yang dia turunkan.

    ‘Umar bin Abdul Aziz ra : Taqwa bukanlah hanya berpuasa pada siang hari, shalat malam dan menggabungkan kedua amalan ini.Namun taqwa adalah meninggalkan apa  yang diharamkan Allah SWT, dan menunaikan kewajiban-NYA. Barang siapa yang diberi karunia kebaikan setelahnya, itu adalah kebaikan diatas kebaikan.

    Tholq bin Habib ra : Taqwa adalah taat kepada Allah diatas cahaya-NYA (ilmu) dg mengharapkan pahala-NYA dan meninggalkan maksiat diats cahaya Allah SWT karena takut akan siksa-NYA.

    Ibnu Mas’ud ra : Taqwa adalah Allah ditaati dan tidak didurhakai, diingat dan tidak dilupakan, disyukuri (kenikmatan-NYA) dan tidak diingkari.

    Abu Hurairah ra : Beliau di tanya tentang taqwa, maka beliau menjawab:”apakah kamu pernah menginjak jalanan  yang berduri?”

    “ya..” Jawab penanya

    “lalu apa  yang kamu lakukan?”tanya Abu Hurairah

    Dia berkata : “Jika aku melihat duri maka aku menghindarinya, atau aku lewati atau aku memagarinya”.

    Abu Hurairah berkata : “Itulah taqwa.”

    ***

    Henri

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 26 November 2015 Permalink | Balas  

    Amal Puasa 

    amalan baikAmal Puasa

    Abullaits Assamarqandi (Tanbihull Ghafillin) meriwatkan dengan sanadnya dari Zaid bin Aslam berkata : Rasulullah berkata :

    Amal perbuatan itu ada lima, Amal dibalas sama, dan amal yang menentukan, dan amal sepuluh kali pahalanya, dan amal tujuh ratus kali pahalanya dan amal yang tidak diketahui pahalanya kecuali allah SWT.

    Adapun amal perbuatan yang balasannya sama, yaitu orang yang berbuat kejahatan dibalas satu, atau seseorang yang niat akan berbuat kebaikan tetapi tidak jadi berbuat, maka dicatatlah sebagai suatu kebaikan. Adapun amal yang menentukan maka orang menghadap kepada AllahSWT tidak menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu apapun pasti masuk ke syurga, dan orang yang menghadap kepada Allah SWT dengan mempersekutukan Allah Swt dengan lain-lainNYA maka masuk neraka.

    Adapun amal yang mendapat 10 X lipat, maka berbuat hasanat dicatat baginya 10 pahalanya. Adapun amal yang mendapat tujuh ratus, maka tiap amal memperjuangkan agama allah atau perbelanjaan dalam jihad Fisabilliah, adapun amal yang tidak diketahui pahalanya kecuali Allah sendiri adalah Puasa.

    Wassalam

    Henri

     
  • erva kurniawan 5:44 pm on 25 November 2015 Permalink | Balas  

    Macam-Macam Cinta 

    cintaMacam-Macam Cinta

    Diantara Para ulama Ada yang membagi cinta menjadi 2 bagian dan ada yg membaginya menjadi 4. Menurut  Asy Syech Muhammad bin Abdulwahab Al yamani bahwa cinta itu ada 4 :

    1. Cinta Ibadah, yaitu Mencntai Allah SWT dan Apa-apa yg dicintaiNYA dg dalil dan hadist sebagai berikut

    “Maka Allah aka mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-NYA” (Al Maidah 54 )

    “Dan Orang -orang beriman lebih cinta kepada Allah (Al Baqoroh : 165).

    1. Cinta Syirik, Yaitu Mencintai Allah SWT dan juga selain-NYA

    “Dan diantara manusia ada yang menjadikan selain Allah tandingan-tandingan (Bagi Allah),mereka mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah (Q.S : 2 :165 )

    1. Cinta Maksiat, Yaitu Cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yg diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yg diperintahkan-NYA. Allah SWT berfirman:

    “Dan Kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat” (Al Fajr :20)

    1. Cinta Tabiat, Yaitu seperti cinta kepada Anak, keluarga ,diri, harta dan perkara lain yg dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah SWY berfirman :

    “Ketika mereka (Saudara-saudara Yusuf AS) berkata : ‘Yusuf  dan Adiknya lebih dicintai oleh Bapak kita daripada kita,” (Yusuf :8).

    Jika Cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Apabila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut, sehingga seperti cinta kita kepada Allah SWT atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini beruba menjadi cinta syirik..

    (Dikutip dari Kitab Al Qaulul Mufid fi Addilatit Tauhid  hal 114 )

     
  • erva kurniawan 2:35 am on 24 November 2015 Permalink | Balas  

    Burdah : Analisis Historis 

    #Qosidah Burdah 1Burdah : Analisis Historis

    Term ”Burdah” yang selama ini kita kenal  tidak hanya tertuju kepada gubahan-gubahan al-Bushiri. Burdah ternyata juga memiliki akar yang kuat dalam budaya dan kesejarahan sastra di masa Rasulullah SAW.

    1. Burdah Masa Nabi Muhammad saw.

    Barangkali, selama ini kita, kalangan pesantren, hanya mengenal Burdah karya al-Bushiri semata. Padahal, ada kasidah Burdah lain yang muncul jauh sebelum al-Bushiri lahir (abad ke tujuh H, atau abad tiga belas M.). Kasidah itu adalah bait-bait syair yang di gubah oleh seorang sahabat yang bernama lengkap Ka’ab bin Zuhair bin Abi Salma al-Muzny. Sebagai ungkapan persembahan buat Nabi Muhammad Saw. Ka’ab termasuk salah seorang Muhadrom, yakni penyair dua zaman: Jahiliyah dan Islam.

    Ada kisah menarik dibalik kemunculan Burdah Ka’ab bin Zuhair ini. Mulanya, ia adalah seorang penyair yang suka menjelek-jelekkan Nabi dan para sahabat dengan gubahan syairnya, kemudian ia lari untuk menghindari luapan amarah para sahabat Nabi.

    Pada peristiwa Fathu Makkah (penaklukan kota Mekah), saudara Ka’ab yang bernama Bujair bin Zuhair berkirim surat padanya yang berisikan antara lain: anjuran agar Ka’ab pulang dan menghadap Rasulullah. Ka’ab-pun kembali dan bertobat. Lalu ia berangkat menuju Madinah dan menyerahkan dirinya kepada Rasul melalui perantaraan sahabat Abu Bakar. Diluar dugaan Ka’ab, ia justru mendapat kehormatan istimewa dari baginda. Begitu besarnya penghormatan itu, sampai-sampai Rasul rela melepaskan Burdah (jubah yang terbuat dari kain wol/sufi)nya dan memberikannya pada Ka’ab.

    Dari sini, Ka’ab kemudian menggubah qasidah madahiyah (syair-syair pujaan) sebagai persembahan pada baginda Nabi yang terkenal dengan nama kasidah “Banat Su’ad” (Wanita-wanita Bahagia.)

    Kasidah ini terdiri dari 59 bait, dan disebut juga kasidah Burdah. Di antara prosa berirama gubahan Ka’ab adalah “Aku tahu bahwa Rasul berjanji untuk memaafkanku/dan pengampunannya adalah dambaan setiap insan/Dia adalah pelita yang menerangi mayapada/pengasah pedang-pedang Allah yang terhunus”

    Burdah (jubah) pemberian Nabi itu, kemudian dibeli oleh sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan dari putra Ka’ab. Dan biasa dipakai oleh khalifah-khalifah setelah Mu’awiyah pada hari-hari besar.

    1. Burdah Al-Bushiri

    Kasidah Burdah karya Syaikh al-Bushiri, adalah salah satu karya sastra Islam paling populer. Ia berisikan sajak-sajak pujian kepada Nabi Muhammad Saw. yang biasa dibacakan pada setiap bulan maulid/Rabiul Awal, bahkan di beberapa belahan negeri Islam tertentu, Burdah kerapkali dibacakan dalam setiap even.

    Sajak-sajak pujian untuk Nabi dalam kesusastraan Arab di masukkan dalam genre (bagian) al-madaih al-Nabawiyah. Sedang dalam kesusastraan Persia dan Urdu, dikenal sebagai kesusastraan na’tiyah (bentuk plural na’t yang berarti pujian). Dalam tradisi sastra Arab, al-mada’ih atau na’tiyah mula-mula ditulis oleh Hasan ibnu Tsabit, Ka’ab bin Malik dan Abdullah bin Rawahah. Sedang yang paling terkenal ialah Ka’ab bin Zuhair.

    Pada abad ke-11 H., muncul seorang penyair al-madaih terkemuka, Sa’labi, yang juga seorang kritikus sastra. Namun munculnya al-Bushiri dengan Burdahnya, sebagaimana munculnya karya Majduddin Sana’i dalam bahasa Persia, al-madaih atau na’tiyah mencapai fase baru, yaitu tahapan sufistik, karena bernuansa nafas tasawuf.

    Lahirnya karya kedua penyair ini yang membuat puisi al-madaih berkembang pesat dalam kesusastraan Islam. Khusus karya al-Bushiri, selain sangat populer, ia juga sangat besar pengaruhnya terhadap kemunculan berbagai bentuk kesenian umat Islam. Karya al-Bushiri juga memberikan pengaruh yang tidak sedikit dalam mengoptimalkan metode dakwah Islamiyah, pendidikan dan ilmu retorika (ilmu Badi’ )

    Nama Burdah muncul setelah pengarangnya mengemukakan latar belakang penciptaan karya monumentalnya ini. Ketika al-Bushiri mendapat serangan jantung, sehingga separuh tubuhnya lumpuh, dia berdoa tak henti-hentinya sembari mencucurkan air mata, mengharapkan kesembuhan dari Tuhan. Kemudian dia membacakan beberapa sajak pujian. Suatu saat dia tidak dapat menahan kantuknya, lantas tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya, ia berjumpa Nabi Muhammad saw. Setelah Nabi menyentuh bagian tubuhnya yang lumpuh, beliau memberikan jubah sufi (Burdah) kepada al-Bushiri “Kemudian aku terbangun dan kulihat diriku telah mampu berdiri seperti sediakala” ujar Syekh al-Bushiri.

    Awalnya, al-Bushiri memberi nama karyanya ini dengan nama kasidah Mimiyah, karena bait-bait sajaknya diakhiri dengan huruf Mim, selanjutnya kasidah ini dikenal dengan kasidah Bara’ah, sebab menjadi cikal bakal sembuhnya sang pujangga dari kelumpuhannya. Hanya saja nama “kasidah Burdah” lebih populer di kalangan umat Islam dibanding sebutan yang lain.

    Kasidah Burdah terdiri atas 162 sajak dan ditulis setelah al-Bushiri menunaikan ibadah haji di Mekkah. Dari 162 bait tersebut, 10 bait tentang cinta, 16 bait tentang hawa nafsu, 30 tentang pujian terhadap Nabi, 19 tentang kelahiran Nabi, 10 tentang pujian terhadap al-Qur’an, 3 tentang Isra’ Mi’raj, 22 tentang jihad, 14 tentang istighfar, dan selebihnya (38 bait) tentang tawassul dan munajat.

    Kasidah Burdah telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia; seperti Persia, India, Pakistan, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Pastun, Indonesia, Sindi dan lain-lain. Di Barat, ia telah diterjemahkan antara lain ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol dan Italia.

    Buletin Istinbat, Edisi Khusus Bulan R. Awal 1425 H

    ***

    Arland

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 23 November 2015 Permalink | Balas  

    Mempertanyakan Otoritas Akal 

    akalMempertanyakan Otoritas Akal

    Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna. Dia dikaruniai sebuah media untuk mengenali segala sesuatu. Media untuk menampung sekian banyak memori yang ditangkap. Sarana untuk menguak rahasia ciptaan Tuhan di muka bumi. Sebuah kemampuan kognitif yang membedakannya dari makhluk-makhluk Tuhan yang lain; yaitu Akal.

    Begitu pentingnya akal, sampai-sampai al-Qur’an menyebutkannya dengan berulang-ulang. Berapa kali al-Qur’an menyinggung kalimat, Afalaa ta’qiluun (apakah kamu tidak berpikir?), fa’tabiruu ya ulil albab (hendaklah berpikir wahai orang-orang yang berakal!), Aku turunkan kitab pada kalian, mengenai diri kalian. Apakah kalian tidak berpikir?” (Qs. al-Anbiya’:10).

    Untuk menguak kandungan makna ayat-ayat “misterius” dibutuhkan sebuah akal yang benar-benar mumpuni. Wama ya’lamu ta’wilahu illa Allah wa al-rasikhuun fi al-ilm (Qs. al-Imran:7). Kalimat al-Rasikhuun berarti orang yang mempunyai pengetahuan yang luas (intelek). Gelar ini hanya bisa diperoleh oleh orang yang berakal cerdas dan tanggap.

    Wahyu Allah atau al-Qur’an menekankan perhatiannya pada dasar-dasar agama. Al-Qur’an kemudian menyerahkan tugas untuk menerjemahkannya ke dalam bentuk perintah dan petunjuk dalam kehidupan sehari-hari kepada manusia. Dia dituntut untuk menjaga dan mengembangkan hukum yang digali sesuai dengan konteks zaman. Dengan kemampuan yang dimiliki mereka menentukan sebuah hukum dari al-Qur’an. Itulah yang kemudian menyebabkan adanya istinbat, ijtihad, dan perselisihan pendapat antar cendikiawan Islam.

    Demikian pula dalam sebuah hadits, “Berpikir sekejap saja lebih baik dari pada ibadah selama 70 tahun”. Dengan akal akan dapat menguak rahasia ciptaan Allah. Dengan demikian dampak positifnya adalah bagi keimanan. Tak heran jika kemudian para intelektual Islam mengatakan bahwa akal tidak bisa dipisahkan dari Islam. Pada akhirnya mereka mengklaim Islam sebagai agama yang selalu menggunakan akal. Al-Islam diin al-‘aql.

    Di sisi lain, dalam sebuah literatur keislaman disebutkan bahwa Sayyidina ‘Ali r.a pernah bersabda “Bila akal menjadi pijakan agama, maka bagian bawah sepatu (Khuf) lebih pantas untuk dibasuh, daripada bagian atasnya” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Hadits ini diperkuat dengan statemen Imam al-Syafi’i tentang dekadensi umat Islam “Manusia tidak akan bodoh dan tidak akan berbeda pendapat kecuali ketika manusia meninggalkan lisan Arab (Islam, al-Qur’an atau wahyu) dan cenderung pada lisan Aristoteles (filsafat)”.

    Dalam redaksi di atas Imam Syafi’i memberi gambaran mengenai konsekuensi dari dua buah ajaran. Ajaran pertama lebih cenderung untuk membawa manusia pada sebuah solidaritas keagamaan yang cukup kuat; al-Qur’an yang memakai bahasa Arab. Ajaran kedua adalah ajaran yang cenderung berselisih pendapat antara satu dengan yang lain, filsafat.

    Sejarah mencatat bahwa perbedaan pendapat dalam filsafat telah menjadi tradisi. Aristoteles membantah dan menghujat Plato, gurunya sendiri. Ibnu Sina tidak sepakat dengan Aristoteles dan demikian seterusnya (lihat: Tahafut al-Falasifah, Abu Hamid al-Ghazali).

     

    Penyebab utama dari terjadinya selisih pendapat tersebut adalah karena ukuran (mizan al-fikri) yang dipakai ilmu filsafat adalah akal, sedangkan kemampuan akal per-indivudu manusia berbeda dalam menangkap dan menginterpretasi sebuah konteks sebab berbedanya kecerdasan dan ketajamannya (lihat: al-Islam wa al-Aql, Abd. Halim Mahmud).

    Maka dalam banyak ritual Islam seperti sujud, wudlu’, mandi besar dan kewajiban shalat akal seseorang tidak mampu untuk merasionalkannya: ada batas-batas tertentu yang tidak bisa dijangkaunya; ada banyak tempat yang tidak bisa dijamah oleh kemampuan kognitif seseorang.

    Di samping kadangkala akal tidak bisa memuaskan hasrat seseorang. Al-Ghazali justru terjebak dalam kebingungan setelah dia memasuki dunia filsafat. Pengembaraan rohani yang dialami al-Ghazali mencapai titik klimaksnya setelah beliau tahu inkonsistensi akal. Beliau menggambarkannya dalam kitab Munqidz min al-Dhalal: jika kita melihat benda dari jauh, maka akal mengatakan itu “A”. Setelah benda itu semakin dekat, akal akan menyuruh kita mengatakan itu “B”. Setelah benda itu ada di depan mata akal akan mengatakan bahwa itu “C” -dan keputusan terakhir itu belum tentu benar. Dari sinilah kemudian beliau meninggalkan dunia filsafat.

    Di sini sekilas ada paradoksal doktrin yang mendasar: makalah Imam ‘Ali r.a mentiadakan peran akal sama sekali dalam agama. Akal tidak memiliki peran. Padahal banyak ayat yang menganjurkan untuk memakai akal dalam menentukan hukum syara’.

    Di manakah sebetulnya posisi akal dalam Islam? Sebetulnya, jika kita telaah dengan lebih cermat dan mendalam antara agama dan akal tidak bertentangan. Bahkan justru saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Agama (al-Qur’an) tidak akan bisa dipaham tanpa bantuan akal yang cerdas (Qs. Al-Imran ayat 7). Akal tidak akan mencapai tingkatan tertinggi tanpa agama. Keduanya bagaikan prosesor dan layar monitor yang tidak bisa dipisahkan. Hanya saja, peran agama-sebagai prosesor-lebih penting dan berarti dalam menentukan langkah-langkah yang akan diambil. Artinya, ketika akal dan agama berseberangan, yang diprioritaskan adalah agama. Agama akan selalu menuntun kita pada kebenaran sejati dari Allah. Sedangkan akal terkadang justru menyeret kita pada bahaya kesesatan yang terselubung.

    Konklusinya, agama menuntun akal seseorang dalam semua aspek kehidupan yang bila ditinggalkan akan menyesatkan dan tidak pernah sampai pada kebenaran sejati. Semua aspek itu meliputi: satu, keyakinan dan akidah agama (teologi). Kedua, hukum-hukum agama (syari’at) dan ketiga Prinsip-prinsip moral dan etika (norma sosial). Selain ketiga daerah di atas, akal lebih mendominasi. Seperti untuk menjawab pelbagai permasalahan cosmos (alam, planet dan lain sebagainya) (lihat: al-Islam wa al-Aql : 27).

    Akal juga sangat dibutuhkan untuk menguak rahasia kekuasaan Allah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang seharusnya disertai dengan keimanan dan ketakwaan yang tinggi kepada Allah. Al-Qur’an sangat menganjurkan umat Islam untuk mempelajari ilmu-ilmu kauniyah (tentang alam, geografi dsb.) untuk kemajuan dan mengembalikan supremasi Islam yang hilang, seperti pada masa al-Faraby, al-Jabary, Ibnu Hamdun, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Al-Ghazaly dan tokoh lain di abad pertengahan. Terobosan fenomenal mereka memberikan catatan dengan tinta emas pada sejarah Islam.

    Dus, jika demikian, pantaslah kiranya kalau Islam kita sebut sebagai agama rasional; rasional dengan daerah kekuasaan yang ada di bawah doktrin syariat. Al-Din qa’id li al-aql. Tidak seperti praktek yang dilakukan oleh orang-orang Liberalis yang memposisikan akal sebagai qa’id (penuntun) bagi agama.

    Walluhu a’lam bis-shawab,

    ***

    Arland

     
  • erva kurniawan 5:30 pm on 22 November 2015 Permalink | Balas  

    Darah dan Kehormatan Umat Islam 

    taubat 3Darah dan Kehormatan Umat Islam

    Di hari akhir nanti, ada pihak-pihak yang akan merugi dan menyesal. Mereka adalah orang-orang yang selalu berusaha berbuat kerusakan di muka bumi. Menghidupkan kebencian dan kedengkian di kalangan manusia. Senang dengan kehancuran, pengrusakan, kekejian di kalangan mukminin. Tidak hanya itu, bahkan mereka senantiasa mengidamkan hilangnya nikmat orang lain, benci bila orang lain merasakan kesenangan dan kebahagiaan. Semua aktivitas tersebut lengkap pula dengan perilaku mereka yang suka menyakiti orang lain, baik dengan perkataan, perbuatan , atau bahkan sampai kepada pembunuhan jiwa manusia.

    Padahal kita mengetahui bahwa para hamba adalah tanggungan Allah. Terlebih lagi kaum muslimin dan orang beriman merekalah kekasih Allah sesuai dengan tingkat keimanan mereka. Ketika kaum mukminin disakiti berarti mereka menyakiti Allah dan rasulNya. Allah janjikan kepada mereka.

    ” Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan RasulNya, Allah akan melaknatinya di dunia dan akhirat dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan” (al Ahzaab 57)

    Perbuatan jelek mereka terhadap kaum muslimin berbuah keburukan dan kehinaan. Memikul dosa yang besar dan berat dengan sebab tindakan menyakitkan yang diperbuat kepada manusia. Tak heran apabila manusia menyingkir dari kekejian dan keburukan mereka. Inilah yang disinyalir oleh rasul kita alaihi ash sholatu wassalam

    ‘Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat ialah orang yang dipisahkan oleh manusia, atau ditinggalkan oleh manusia karena takut terhadap perbuatan kejinya” (hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

    Hal-hal yang termasuk kejelekan terhadap mukminin adalah menghinakan dan merendahkan kehormatan kaum mukminin. Banyak contoh untuk hal ini, diantaranya adalah membeberkan kekurangan orang beriman di muka umum, menfitnah mereka, atau memperlakukan mereka seperti hewan yang tak ada harganya. Ini semua adalah trik dan makar dari syetan yang menghasut manusia untuk mengumbar kata, berburuk sangka dan mencelakakan manusia.

    Kehormatan dan darah kaum mukminin sangat mahal di sisi Allah, tak layak bagi seorang pun menumpahkannya tanpa hak. Sungguh barang siapa yang membunuh satu jiwa di kalangan muslimin seakan-akan dia telah membunuh manusia secara keseluruhan. Dan barang siapa yang menghidupkannya seakan telah menghidupkan seluruh manusia. Mari kita jaga serta bela darah dan kehormatan kaum muslimin.

    ***

    Arland

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 6 November 2015 Permalink | Balas  

    Hukum Mencela Agama Lain 

    89masjidHukum Mencela Agama Lain

    Allah swt berfirman, “Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.  Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka.  Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (al-An’am:108).

    Islam melarang kaum muslimin mencela sesembahan orang-orang kafir tanpa pengetahuan.  Ketentuan ini ditujukan agar pencelaan itu tidak berakibat pencelaan balik terhadap Allah swt.  Mencela kekafiran, kesyirikan, dan sesembahan-sesembahan palsu selain Allah swt adalah perkara yang hukum asalnya mubah.  Akan tetapi jika pencelaan itu mengakibatkan dicelanya Allah dan kesucian kaum muslimin, maka pencelaan terhadap sesembahan-sesembahan orang-orang kafir tersebut menjadi haram dilakukan.

    Berdasar ayat di atas, para ‘ulama ushul menetapkan suatu kaidah, “Wasilah (perantara) menuju keharaman adalah haram”.  Setiap perbuatan mubah  jika disangka kuat akan mengantarkan kepada keharaman, maka perbuatan itu menjadi haram.

    Ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw yang termaktub dalam shahih Bukhari dan Muslim, “Termasuk dosa besar seorang laki-laki yang mengolok dua orang tuanya.”  Kemudian shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah saw, bagaimana seorang laki-laki itu bisa mengolok dua orang tuanya?  Rasul menjawab, “Ia mengolok bapak seorang laki-laki, dan lelaki itu mengolok bapaknya, kemudian ia mengolok ibu lelaki  itu, dan laki-laki itu balas mengolok ibunya.”

    Allah swt juga berfirman, “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang dzalim diantara mereka, dan katakanlah, “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.” (al-‘Ankabut;46)

    Ibnu Jarir dan Ibnu Abiy Hatim menuturkan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas ra, yang mengisahkan tentang komentar orang-orang kafir tatkala turun firman Allah swt,  “Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (al-An’am:108).  Orang-orang kafir pun berkata, “Wahai Mohammad, sungguh engkau hentikan pencelaanmu terhadap sesembahan-sesembahan kami, atau kami akan memaki sesembahanmu.  Kemudian Allah melarang kaum muslimin mencela berhala-berhala mereka yang mengakibatkan mereka mencela Allah tanpa batas dan tanpa pengetahuan.”

    Ayat tersebut menjelaskan bahwa setiap umat menyakini bahwa perbuatan, dan agamanya adalah paling baik.  Mereka tidak ingin seorangpun mencela agama mereka.  Mencela manusia hanyalah hak Allah.  Allah tidak memberikan mencela manusia kepada Rasul.  Para rasul, tidak lain kecuali menyampaikan dengan terang, dan berdakwah dengan hikmah, dan mau’idhah al-hasanah (contoh yang baik).

    Namun, keterangan di atas tidak boleh ditafsirkan bahwa kita harus bermanis muka, dan bersikap nifaq (terhadap aqidah agama bathil) dan meninggalkan aktivitas menyeru kepada kebenaran.  Namun, maksudnya adalah tidak “melecehkan” (sesembahan agama bathil) hingga menyebabkan terjadinya pelecehan dan penghinaan balik.

    Ketika Allah swt mengutus Musa as dan Harun as kepada Fir’aun, Allah berfirman kepada keduanya, “Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayatKu, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingatKu. Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”(Thaha:43).  Nabi Musa pun tatkala menyeru kepada raja Fir’aun, beliau as menyeru dengan perkataan yang sangat halus dan sopan, “Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling”. (Thaha:48).

    Islam memerintahkan kita untuk tidak mencela pemeluk keyakinan-keyakinan non Islam, walupun keyakinan mereka layak untuk mendapatkan celaan.  Sebab, pencelaan yang tidak didasarkan pada pengetahuan akan memadamkan cahaya aqal dan menyalakan naluri permusuhan dalam jiwa.  Selain itu, pencelaan tanpa dasar pengetahuan juga akan menutup pintu penerimaan terhadap  da’wah Islam.  Di sisi lain, Islam telah memerintahkan kita untuk menjelaskan kebathilan ‘aqidah-‘aqidah bathil, serta menunjukkan kehinaan dan keburukannya bila keyakinan itu dipeluk dan diamalkan, dengan cara yang jelas dan argumen yang kuat.

    ya Allah jangan Engkau hukum kami jika kami tersalah atau kami lupa.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 5 November 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Do’a Tak Diijabah 

    Doa masuk masjidMengapa Do’a Tak Diijabah

    (KH. Abdullah Gymnastiar)

    Pada suatu hari Sayidina Ali Karamallaahu Wajhah, berkhutbah di hadapan kaum Muslimin. Ketika beliau hendak mengakhiri khutbahnya, tiba-tiba berdirilah seseorang ditengah-tengah jamaah sambil berkata, “Ya Amirul Mu’minin, mengapa do’a kami tidak diijabah? Padahal Allah berfirman dalam Al Qur’an, “Ud’uuni astajiblakum” (berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu).

    Sayidina Ali menjawab, “Sesungguhnya hatimu telah berkhianat kepada Allah dengan delapan hal, yaitu :

    1. Engkau beriman kepada Allah, mengetahui Allah, tetapi tidak melaksanakan kewajibanmu kepada-Nya. Maka, tidak ada mamfaatnya keimananmu itu.
    2. Engkau mengatakan beriman kepada Rasul-Nya, tetapi engkau menentang sunnahnya dan mematikan syari’atnya. Maka, apalagi buah dari keimananmu itu?
    3. Engkau membaca Al Qur’an yang diturunkan melalui Rasul-Nya, tetapi tidak kau amalkan.
    4. Engkau berkata, “Sami’na wa aththa’na (Kami mendengar dan kami patuh), tetapi kau tentang ayat-ayatnya.
    5. Engkau menginginkan syurga, tetapi setiap waktu melakukan hal-hal yang dapat menjauhkanmu dari syurga. Maka, mana bukti keinginanmu itu?
    6. Setiap saat sengkau merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Allah, tetapi tetap engkau tidak bersyukur kepada-Nya.
    7. Allah memerintahkanmu agar memusuhi syetan seraya berkata, “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh bagi(mu) karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongan supaya mereka menjadi penghuni neraka yang nyala-nyala” (QS. Al Faathir [35] : 6). Tetapi kau musuhi syetan dan bersahabat dengannya.
    8. Engkau jadikan cacat atau kejelekkan orang lain di depan mata, tetapi kau sendiri orang yang sebenarnya lebih berhak dicela daripada dia.

    Nah, bagaimana mungkin do’amu diterima, padahal engkau telah menutup seluruh pintu dan jalan do’a tersebut. Bertaqwalah kepada Allah, shalihkan amalmu, bersihkan batinmu, dan lakukan amar ma’ruf nahi munkar. Nanti Allah akan mengijabah do’amu itu.

    Dalam riwayat lain, ada seorang laki-laki dating kepada Imam Ja’far Ash Shiddiq, lalu berkata, “Ada dua ayat dalam Al Qur’an yang aku paham apa maksudmu?”

    “Bagaimana dua bunyi ayat itu?” Tanya Imam Ja’far. Yang pertama berbunyi “Ud’uuni astajib lakum” (Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan bagimu), (QS. Al Mu’min [40] : 60). Lalu aku berdo’a dan aku tidak melihat do’aku diijabah,” ujarnya.

    “Apakah engkau berpikir bahwa Allah akan melanggar janji-Nya?” tanya Imam Ja’far.

    “Tidak,” jawab orang itu.

    “Lalu ayat yang kedua apa?” Tanya Imam Ja’far lagi.

    “Ayat yang kedua berbunyi “Wamaa anfaqtum min syai in fahuwa yukhlifuhuu, wahuwa khairun raaziqin” (Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rizki yang sebaik-baiknya), (QS. Saba [34] : 39). Aku telah berinfak tetapi aku tidak melihat penggantinya,” ujarnya.

    “Apakah kamu berpikir Allah melanggar janji-Nya?” tanya Imam Ja’far lagi.

    “Tidak,” jawabnya.

    “Lalu mengapa?” Tanya imam Ja’far.

    “Aku tidak tahu,” jawabnya.

    Imam Ja’far kemudian menjelaskan, “Akan kukabarkan kepadamu, Insya Allah seandainya engkau menaati Allah atas apa yang diperintahkan-Nya kepadamu, kemudian engkau berdo’a kepada-Nya, maka Allah akan mengijabah do’amu. Adapun engkau berinfak tidak melihat hasilnya, kalau engkau mencari harta yang halal, kemudian engkau infakkan harta itu di jalan yang benar, maka tidaklah infak satu dirham pun, niscaya Allah menggantinya dengan yang lebih banyak. Kalau engkau berdo’a kepada Allah, maka berdo’alah kepada-Nya dengan Jihad Do’a. Tentu Alah akan menjawab do’amu walaupun engkau orang yang berdosa.”

    “Apa yang dimaksud Jihad Do’a?” sela orang itu.

    Apabila engkau melakukan yang fardhu maka agungkanlah Allah dan limpahkanlah Dia atas segala apa yang telah ditentukan-Nya bagimu. Kemudian, bacalah shalawat kepada Nabi SAW dan bersungguh-sungguh dalam membacanya. Sampaikan pula salam kepada imammu yang memberi petunjuk. Setelah engkau membaca shalawat kepada Nabi, kenanglah nikmat Allah yang telah dicurahkan-Nya kepadamu. Lalu bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat yang telah engkau peroleh.

    Kemudian engkau ingat-ingat sekarang dosa-dosamu satu demi satu kalau bisa. Akuilah dosa itu dihadapan Allah. Akuilah apa yang engkau ingat dan minta ampun kepada-Nya atas dosa-dosa yang tak kau ingat. Bertaubatlah kepada Allah dari seluruh maksiat yang kau perbuat dan niatkan bahwa engkau tidak akan kembali melakukannya. Beristighfarlah dengan seluruh penyesalan dengan penuh keikhlasan serta rasa takut tetapi juga dipenuhi harapan.

    Kemudian bacalah, “Ya Allah, aku meminta maaf kepada-Mu atas seluruh dosaku. Aku meminta ampun dan taubat kepada-Mu. Bantulah aku untuk mentaati-Mu dan bimbinglah aku untuk melakukan apa yang Engkau wajibkan kepadaku segala hal yang engkau ridhai. Karena aku tidak melihat seseorang bisa menaklukkan kekuatan kepada-Mu, kecuali dengan kenikmatan yang Engkau berikan. Setelah itu, ucapkanlah hajatmu. Aku berharap Allah tidak akan menyiakan do’amu,” papar Imam Ja’far.

    ***

     
  • erva kurniawan 5:17 am on 4 November 2015 Permalink | Balas  

    Amar Makruf Nahi Mungkar 

    pertolongan-AllahAmar Makruf Nahi Mungkar

    “Orang-orang yang beramar makruf nahi mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. 3:104)

    Maksud beruntung disini adalah sukses dan bahagia di dunia dan akherat. Amar makruf nahi mungkar adalah syiar Islam yang terbesar dan merupakan asas Islam serta tugas utama kaum muslimin. Rasulullah SAW bersabda :

    “Barangsiapa yang melihat suatu kemungkaran diantaramu, maka hendaknya ia merubahnya dengan tangannya (kekuasaannya). Jika ia tak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tak mampu, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.”

    “Bukan dari golongan kami orang-orang yang tidak mengasihi yang muda dan tidak menghormati yang tua, serta tidak menyuruh berbuat baik dan melarang yang mungkar.”

    “Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya, hendaklah engkau beramar makruf nahi mungkar dan mencegah orang yang berbuat zalim, atau jika tidak maka Allah akan menurunkan azab-Nya kepada kamu sekalian.”

    Sabda Nabi SAW pula :

    “Jika umatku takut berkata kepada yang zalim ‘Ya zalim,’ maka terlepaslah amanat darinya,”

    yakni lenyaplah kebaikan umat itu dan dekatlah padanya masa kehancuran.

    Sikap berdiam diri karena telah yakin bahwa dakwahnya akan ditolak adalah perbuatan yang keliru. Karena berdakwah adalah hal yang paling utama. Ironisnya jika seseorang itu dicela atau dicuri hartanya meskipun sedikit, maka ia akan marah dan tidak berdiam diri. Hal itu karena ia beranggapan bahwa dunia ini lebih penting daripada agama Allah. Selain itu, mengapa mereka masih saja bergaul dengan orang-orang yang berbuat larangan, padahal mereka beralasan bahwa dakwahnya pasti ditolak. Bukankah Allah telah melarang kita untuk duduk bersama orang-orang yang enggan tunduk kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.

    Rasulullah SAW pernah menceritakan tentang Bani Israil yang melakukan kemungkaran, lalu para ulama mereka melarang, tetapi tidak diindahkan. Meskipun begitu para ulama tersebut tetap bergaul dengan mereka, yang lalu menyebabkan Allah melaknat mereka semua melalui lisan Nabi-Nabi Allah, Daud AS dan Isa bin Maryam AS. Juga demikian kisah yang terjadi pada ahlul qaryah yang dilarang untuk menangkap ikan pada hari Sabtu, tetapi mereka tetap melakukannya. Maka mereka pecah menjadi 3 golongan :

    1. Kelompok yang melanggar larangan Allah dengan tetap menangkap ikan pada hari Sabtu.
    2. Kelompok yang patuh pada larangan Allah dengan mencegah kelompok pertama, tetapi tetap bergaul dengan mereka.
    3. Kelompok yang patuh dengan mencegah kelompok pertama dan menjauhkan diri dengan mereka.

    Allah menurunkan azab kepada mereka dimana kelompok pertama dan kedua pasti terkena, karena keduanya bercampur-baur, meskipun ada diantara mereka yang tidak berbuat larangan. Hanya kelompok yang ketigalah yang selamat.

    “Kami selamatkan mereka yang melarang perbuatan buruk, dan Kami timpahkan azab yang pedih kepada orang-orang yang zalim karena mereka selalu berbuat kefasikan.”

    “Kami laknat mereka sebagaimana Kami melaknat orang-orang yang melanggar (perintah Allah) pada hari Sabtu.”

    Amar makmuf nahi mungkar tidak berarti menyingkap aib orang lain

    Nabi SAW bersabda :

    “Barangsiapa yang berusaha mengorek rahasia saudaranya, maka Allah pasti akan mengorek rahasianya.”

    Kita tidak boleh langsung percaya kepada berita-berita kecuali jika kita melihatnya sendiri bahwa pembawa berita itu adalah orang yang saleh dan dapat dipercaya. Sebab husnudz dzon kepada sesama muslim adalah wajib. Yang diwajibkan kepada kita adalah berbuat baik dan mencegah maksiat jika kita melihat seseorang yang tidak patuh terhadap perintah Allah atau melanggar hukum-Nya.

    Bijaksana dan lemah lemut dalam beramar makruf nahi mungkar

    Sifat lemah lembut dan kasih sayang adalah jalan utama dalam mengajak orang ke jalan yang benar dan patuh kepada Allah. Sebagaimana maksud hadits Nabi SAW, sifat kasih sayang jika ada dalam suatu perkara niscaya akan mendatangkan kebaikan, dan sebaliknya jika sifat tersebut tidak ada, pasti akan mendatangkan keburukan. Allah berfirman :

    “Maka dengan rahmat Allah, engkau dapat bersikap lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar dan berhati keras, tentu mereka akan semakin menjauhkan diri darimu.” (QS. 3:159)

    ***

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

    Mutiara Hikmah Nashoih Diniyyah

     
  • erva kurniawan 3:12 am on 3 November 2015 Permalink | Balas  

    Golongan yang Selamat 

    kisah-teladan-islamGolongan yang Selamat

    Rasulullah SAW bersabda :

    “Kaum Yahudi telah berpecah-belah menjadi 71 golongan. Kaum Nasrani telah berpecah-belah menjadi 72 golongan. Maka umatku juga akan berpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali 1 golongan saja.”

    Rasulullah SAW pernah ditanya oleh para sahabat tentang siapakah golongan yang selamat itu. Lalu beliau menjawab :

    “Mereka adalah orang-orang yang mengikuti langkahku, dan langkah sahabat-sahabatku.”

    Beliau SAW juga berpesan jika terjadi perpecahan maka hendaknya kita berpihak kepada golongan yang terbesar/terbanyak (As-Sawad Al-A’dhom), dan itulah golongan Ahli Sunnah Wal Jamaah. Merekalah golongan yang selamat karena selalu berpegang teguh pada Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah SAW, ajaran yang dibawa oleh para salafus sholeh (pendahulu yang shaleh) dari para sahabat dan pengikut mereka radhiyallahu anhum (semoga Allah meridhoi mereka).

    Alhamdulillah kita sekalian telah mengakui dan meridhoi Allah SWT sebagai Tuhan kita, Islam sebagai agama kita, Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul kita, Al-Qur’an sebagai pedoman kita, Ka’bah sebagai kiblat kita dan Muslimin sebagai saudara kita. Kita percaya terhadap semua Kitab yang diturunkan oleh Allah, para Rasul yang diutus-Nya, qodho dan qodar-Nya yang baik dan yang buruk, dan percaya bahwa kiamat itu pada suatu saat akan tiba. Kita percaya bahwa agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah dari Allah, dan kita mempercayai semua yang telah dibawa oleh beliau SAW. Insya Allah kita hidup dan mati atas dasar itu semua dan akan dibangkitkan bersama orang-orang yang aman, yang tidak takut dan tidak pula sedih. Amin…

    Rasulullah SAW bersabda :

    “Orang yang merasakan kelezatan iman adalah orang yang ridho bahwa Allah adalah Tuhannya, Islam adalah agamanya, dan Muhammad adalah Nabi-Nya.”

    Beliau SAW juga bersabda :

    “Barangsiapa yang membaca 3x di pagi hari dan sore hari kalimat

    ‘radhiitu billahi robban wa bil Islami diinan wa bi Muhammadin nabiyyan’

    (aku rela bahwa Allah adalah Tuhanku, Islam adalah agamaku, dan Muhammad adalah Nabiku)

    maka ia berhak mendapat keridhoan Allah SWT.”

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

    Mutiara Hikmah Nashoih Diniyyah

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 2 November 2015 Permalink | Balas  

    Mati di dalam Islam 

    sholat-jenazah-21Mati di dalam Islam

    Mengenai ayat “Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam” merupakan perintah Allah agar kita hendaknya mati dalam agama Islam. Karena Allah tidak menerima agama selain Islam, sebab hanya Islamlah agama yang diridhoi-Nya.

    “Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah adalah Islam. Barangsiapa yang mencari agama selain Islam tidak akan diterima darinya dan di akherat termasuk orang-orang yang merugi.”

    Firman-Nya lagi :

    “Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu dan telah kucukupkan atasmu nikmatku dan telah kuridhoi bagimu Islam sebagai agamamu.”

    Lantas jika Allah memerintahkan agar mati di dalam Islam, padahal Dia telah berfirman Engkau tidak mungkin memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allahlah yang memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki. Bagaimanakah ini?. Sesungguhnya manusia tidak dapat dan tidak mampu membuat dirinya mati di dalam Islam, tetapi Allahlah yang memberikan jalan baginya. Adapun tahapan-tahapan yang seharusnya dilakukan adalah sebagai berikut :

    • Menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
    • Berdoa kepada Allah untuk mewafatkannya dalam agama Islam dan dalam keadaan husnul khotimah.
    • Bersyukur kepada Allah atas nikmat Islam.
    • Takut mati dalam keadaan suul khotimah.

    Di dalam Al-Qur’an diceritakan bahwa Nabi Yusuf dan Nabi Ya’qub AS berdoa :

    “Kamu (Allah) adalah penguasa di dunia dan akherat, matikanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku bersama orang-orang yang sholeh”

    Padahal setiap Nabi adalah maksum dan pasti mati dalam keadaan Islam. Demikian pula diceritakan bahwa para tukang sihir Fir’aun yang bertobat berdoa :

    “Ya Allah, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami sebagai muslim.”

    Begitu juga wasiat Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ya’qub AS kepada anak-anaknya :

    “Wahai anakku, sesungguhnya Allah telah memilihkan kepadamu agama Islam, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam.”

    Begitulah cara Allah mengajar dan mendidik Nabi-Nabi-Nya dan para sholihin.

    Hendaknya manusia berusaha untuk menjaga dan memperkuat keislamannya dan senantiasa taat pada perintah Allah. Barangsiapa yang menggampangkan perintah Allah, dikhawatirkan ia kelak mati suul khotimah. Juga hendaknya ia menjauhi maksiat dan dosa karena hal tersebut melemahkan dan merendahkan keislamannya, membuat goyah asas-asas Islam sehingga tercabut darinya, sebagaimana firman Allah :

    “Kemudian akibat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah azab yang pedih karena mereka selalu mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu menolaknya.”

    Al-Habib Ali bin Abu Bakar As-Sakron berkata :

    “Barangsiapa yang menggampangkan adab (Nabawi) suatu ketika ia akan meninggalkan adab dan menggampangkan sunnah. Barangsiapa yang menggampangkan sunnah, suatu saat ia akan meninggalkan sunnah dan menggampangkan fardhu. Barangsiapa yang menggampangkan fardhu, dikhawatirkan ia akan mati dalam keadaan tidak membawa iman.”

    Hendaknya kita terus-menerus berdoa agar mati dalam keadaan husnul khotimah, sebagaimana yang diajarkan :

    “Yallah bihaa, yallah bihaa, yallah bi husnil khotimah”

    karena syaithon akan berkata :

    “Aduh celaka, orang yang memohon husnul khotimah itu telah mematahkan tulang punggungku. Aduh celaka, kapan ia mau membangga-banggakan amalnya?. Aku khawatir ia mengetahui tipu dayaku.”

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

    Mutiara Hikmah Nashoih Diniyyah

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 1 November 2015 Permalink | Balas  

    Takut Mati Suul Khatimah 

    jenazahTakut Mati Suul Khatimah

    Hendaknya kita banyak memuji dan bersyukur atas nikmat Islam karena itu adalah sebesar-besarnya dan setinggi-tingginya nikmat yang ada. Sekiranya Allah memberi dunia seisinya kepada seseorang tanpa memberi Islam maka itu hanya menjadi bencana baginya dan tempatnya di neraka. Sebaliknya jika Allah mengkaruniakannya Islam tanpa memberi dunia maka hal itu tidak membahayakannya dan jika ia mati dalam Islam maka tempatnya adalah di surga.

    Kita juga harus selalu merasa cemas dan takut akan suul khotimah karena tidak ada jaminan Allah untuk tidak akan merubah hati kita. Dialah yang memberi petunjuk dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Dalam hadits shahih Rasulullah SAW bersabda :

    “Demi dzat yang tiada Tuhan selain-Nya, sungguh salah seorang diantara kamu beramal dengan amal ahli surga sehingga jarak antara dia dan surga tinggal sehasta saja, lalu kitabnya mendahuluinya dan iapun beramal dengan amalan ahli neraka, maka masuklah ia ke dalam neraka. Demikian juga sesungguhnya ada diantara kamu beramal dengan amal ahli neraka sehingga jarak antara dia dan neraka tinggal sehasta saja, lalu kitabnya mendahuluinya dan iapun beramal dengan amalan ahli surga, maka masuklah ia ke dalam surga.”

    Hadits diatas telah merisaukan ahli takwa dan orang-orang yang lurus jalannya, maka bagaimana seharusnya sikap orang yang sering alpa dan keliru dalam urusan agamanya ?

    Sebagian salaf berkata :

    “Demi Allah, tiada seorangpun akan selamat dari agamanya. Jika ia diselewengkan oleh Allah, niscaya ia akan terseleweng. Oleh karena itu mereka senantiasa hidup dalam kebimbangan kalau-kalau mereka diwafatkan dalam keadaan suul khotimah meski amal mereka banyak dan dosa mereka amat sedikit”.

    Setengah dari mereka berkata :

    “Sekiranya aku diberi pilihan antara mati dalam Islam di pintu kamar dengan mati syahid di pintu rumah niscaya aku pilih mati dalam Islam di pintu kamar, karena aku tidak tahu apa yang terlintas di hatiku antara pintu kamar dan pintu rumah.”

    Seorang sholeh berkata kepada temannya :

    “Jika telah tiba ajalku kelak, hendaknya kamu duduk disamping kepalaku dan perhatikan apakah aku mati dalam Islam atau tidak. Jika engkau dapati aku mati dalam Islam, maka ambillah segala harta peninggalanku dan juallah, lalu belikan gula-gula dan buah badam, kemudian bagikanlah kepada anak-anak. Jika aku mati dalam keadaan tidak Islam, maka beritahukanlah kepada orang banyak matiku sebelum menshalati jenazahku, agar mereka mengetahui keadaan matiku sebelum menshalatinya.”

    Menjelang meninggalnya, rekannya berkata, “Aku telah mendapatinya mati dalam Islam.” Maka ia pun bersedekah kepada anak-anak.

    Kebanyakan orang-orang yang mati suul khotimah disebabkan karena ia mengabaikan shalat fardhu, zakat, suka memecah-belah kaum muslimin, suka mengurangi takaran dan timbangan, suka menipu kaum muslimin, menyusahkan dan mengelincirkan mereka, suka mengaku-ngaku sebagai wali Allah atau juga mengingkari para wali-Nya, dan melakukan perkara-perkara yang keji lainnya. Selain itu mereka adalah para ahli bid’ah dalam agama, yang menanamkan rasa ragu-ragu kepada Allah dan Rasul-Nya serta keberadaan hari akhir. Dan tiada terlindung dari semua itu kecuali orang-orang yang dirahmati Allah. Doa Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad :

    “Ya Allah, Wahai Yang Maha Mengasihi orang-orang pengasih, kami mohon kepada-Mu dengan cahaya-Mu yang pengasih utnuk mematikan kami sebagai orang-orang muslim dan mengumpulkan kami ke dalam golongan orang-orang sholeh dengan selamat, wahai Tuhan semesta alam.” Amin…

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

    Mutiara Hikmah Nashoih Diniyyah

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: