Updates from Maret, 2019 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:58 am on 31 March 2019 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 3) 

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 3)

    Ilmunya

    Imam Bukhari adalah seorang yang menguasai ilmu Riwayat Hadits dan Dirayah menyebabkan beliau terkemuka dalam beberapa lapangan ilmu agama serta ilmu yang bersangkutan dengannya.

    Ilmu Imam Bukhari dapat dibagi menjadi :

    1- Ilmu Hadits:

    Yang dimaksudkan dengan ilmu Hadits ialah penjagaan atau hafalan beliau terhadap Hadits dan pengetahuannya tentang Sanad-sanad Hadits serta perbedaannya. Imam Bukhari telah mencapai tahap yang tinggi dalam ilmu ini. Apa yang ada pada Imam Bukhari merupakan sebahagian dari tanda kekuasaan Allah yang Maha Tinggi.

    Di antara kisah yang membuktikan kehebatan beliau ialah:

    Yusuf bin Musa Al-Marwazi berkata: Sewaktu aku berada di universitasnya di Basrah, satu ketika aku mendengar orang berteriak: Wahai penuntut ilmu! Muhammad bin Ismail yaitu Imam Bukhari telah datang, lalu mereka semua berjumpa dengan beliau. Ketika itu aku bersama mereka, maka kami dapati seorang lelaki yang berjanggut hitam. Beliau telah shalat di belakang tiang. Setelah selesai mereka duduk bersama Imam Bukhari dalam bentuk bulatan dan meminta beliau mengadakan satu majelis untuk menulis Hadits untuk mereka. Beliau memberi kesanggupan kepada mereka untuk mengadakan majelis tersebut, lalu diumumkan sekali lagi dalam Masjid Basrah: Wahai penuntut ilmu! Muhammad bin Ismail Imam Bukhari telah datang, lalu kami meminta beliau mengadakan satu majelis menulis Hadits, beliau telah setuju untuk mengadakan majelis tersebut esok di tempat sekian. Pada keesokannya datanglah para perawi Hadits, para Hafiz dan para Fuqaha’ serta pendebat sehingga mencapai jumlah seribu orang. Maka Abu Abdullah duduk untuk membaca Hadits dan mereka mencatatnya. Sebelum memulai majelis tersebut beliau berkata: Wahai penduduk Basrah! Aku masih muda, kamu semua meminta aku membacakan Hadits untuk kamu, aku akan membacakan Hadits-hadits yang aku ambil dari ulama negeri ini semoga kamu mendapat faedah darinya, yaitu yang tiada di sisi kamu.

    Yusuf bin Musa berkata: Ummat merasa heran mendengar kata-katanya. Kemudian beliau mulai membacakan Hadits dan mereka mencatatnya. Beliau membacakan Hadits yang diambil dari ahli Hadits Basrah yang tidak ada di sisi mereka.

    Imam Bukhari berkata: Aku telah menulis Hadits yang aku ambil lebih dari seribu guru dan aku menulis sepuluh ribu Hadits dari setiap mereka dan kesemua Hadits yang aku hafal aku sebut sanadnya.

    Abu Al-Azhar telah berkata: Ditaksirkan empat ratus orang murid yang mempelajari Hadits, mereka berkumpul selama tujuh hari, mereka suka berguru dengan Muhammad bin Ismail. Mereka gabungkan sanad Syam dengan sanad Iraq, sanad Yaman dengan sanad Mekah dan Madinah. Mereka tidak mendapati kesalahan pada Sanad atau Matan dalam Hadits yang diambil dari beliau. Bukhari berkata: Aku tidak akan mengemukakan Hadits yang aku riwayatkan dari sahabat dan Tabi’in melainkan aku telah mengetahui kelahiran sebahagian dari mereka dan wafatnya serta tempat kediaman mereka. Aku juga tidak akan meriwayatkan Hadits Sahabat walaupun sebuah Hadits, begitu juga Taabi’en, yaitu Hadits yang tidak sampai kepada Rasulullah melainkan Hadits itu mempunyai fakta yang jelas dalam Al-Quran dan Hadits yang lain. Aku akan menghafal masalah tersebut dari kitab Allah dan Sunnah Rasulullah. Imam Bukhari berkata lagi: Aku menghafal seratus ribu Hadits yang Sahih dan aku juga menghafal dua ratus ribu Hadits yang tidak Sahih.

    2- Ilmu Tafsir:

    Berhubung dengan ilmu tafsir Imam Bukhari telah memberi perhatian sebagaimana yang diberikan oleh seorang ahli Hadits yang mengetahui Sanad, juga sebagaimana seorang ahli bahasa yang mengerti maksud lafadz-lafadz seperti seorang faqih mengeluarkan hukum-hukum. Kita akan dapati dengan jelas semua itu apabila diperhatikan kitab (Tafsir) dalam Sahih beliau. Dalam bidang tafsir Imam Bukhari telah menulis kitab (At-Tafsir Al-Kabir). Lihat kitab-kitab susunan beliau.

    3- Ilmu Fiqih:

    Pengetahuan Imam Bukhari yang banyak tentang Hadits, Bahasa Arab dan pengetahuannya sejak kecil tentang mazhab ahli Fiqih serta pembahasan hukum oleh para Sahabat dan para Tabi’in telah menjadikan beliau menulis dalam bidang Fiqih sewaktu berumur 18 tahun. Ketika itu beliau telah digolongkan sebagai seorang ahli Fiqih yang terkenal, seorang Mujtahid yang terkemuka sehingga para guru yang mengetahui kecemerlangan beliau mengakuinya. Mereka adalah:

    1- Naim bin Hamad Al-Khaza’i berkata: Muhammad bin Ismail adalah seorang yang paling fakih di kalangan umat ini.

    2- Muhammad bin Basyar (Kota) berkata: Beliau merupakan ulama yang paling fakih pada zaman kami. Ketika beliau ke Basrah, ummat berkata: Penghulu orang fakih telah datang.

    3- Abu Mus’ib az-Zuhri berkata: Muhammad bin Ismail merupakan ulama yang paling fakih dan amat mendalam dalam bidang Hadits di sisi kami lebih dari Imam Ahmad bin Hambal, lalu seorang lelaki yang mengikuti pengajiannya berkata: Tuan telah keterlaluan. Abu Mus’ib menjawab: Sekiranya kamu sempat menemui Imam Malik lalu kamu memperhatikan mukanya dan muka Muhammad bin Ismail nescaya kamu akan berkata: Kedua-duanya setaraf dalam bidang Hadits dan Fiqih. Pengakuan ulama setelah beliau telah mengangkat Imam Bukhari menyamai taraf Imam Malik sebagai Imam negeri Hijrah (Madinah).

    Di antara peristiwa yang menyebabkan Imam Bukhari terkenal ialah beliau memberi fatwa di hadapan gurunya yang begitu fakih lagi alim yaitu Ishak bin Rahawiah mengenai masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh guru Ishak. Ummat memberi perhatian sewaktu beliau menceritakan tentang dirinya:

    Suatu ketika aku bersama guru Ishak bin Rahawiah, beliau telah ditanya mengenai seorang lelaki yang telah menceraikan isterinya dalam keadaan lupa, Ishak diam berfikir beberapa waktu, lalu aku menyela: Nabi s.a.w telah bersabda yang bermaksud: (Allah memaafkan perbuatan dosa yang dilakukan oleh umatku dalam keadaan tidak sadar selagi dia tidak melakukan atau mengucapkannya dengan sungguh-sungguh) perbuatan yang dimaksud ialah satu perbuatan yang mencakup tiga perkara: Perbuatan bersama hati atau ucapan bersama hati, sedangkan lelaki ini melakukannya tanpa keyakinan dari hatinya, lalu guru Ishak berkata kepadaku: Engkau telah membantuku, semoga Allah membantu kamu. Kemudian beliau memberi fatwa berdasarkan Hadits tersebut.

    Imam Bukhari telah memasukkan dalam kumpulannya yang bernama (As-Sahih) dengan permasalahan yang pelik berhubungan dengan Fiqih. Ini menunjukkan pengetahuannya yang luas serta mendalam berhubungan dengan masalah Fiqih. Ini dapat dilihat bagaimana beliau menyusun bab-bab Fiqih disertai dengan penyelesaian bagi permasalahan Fiqih yang rumit dan menyebabkan para ulama selanjutnya tidak mampu untuk memahaminya melainkan dengan usaha yang kuat. Kemungkinan banyak orang merasa susah untuk memahaminya menyebabkan mereka kebingungan.Di dalam kitab as-Sahih dan kitab susunan beliau yang lain terdapat pendapat yang terpilih berkaitan dengan permasalahan Fiqih, ini menunjukkan keunggulan beliau karena tidak mengikuti orang lain dalam mengeluarkan fatwa.

    Di antaranya:

    1- Tidak wajib mandi apabila memasukkan zakar ke dalam faraj kecuali setelah keluar air mani tetapi mandi adalah untuk lebih berhati-hati.

    2- Air yang sedikit atau banyak tidak menjadi najis sekiranya dimasuki najis melainkan air itu telah berubah.

    3- Dapat membaca ayat Al-Quran dalam tandas.

    4- Dapat membasuh air mani dan menggosoknya untuk menghilangkan air mani tersebut.

    5- Dapat menyikat rambut dengan tulang bangkai seperti gajah dan seumpamanya.

    6- Paha bukan aurat tetapi menutupnya lebih baik (berhati-hati). Bagi laki-laki.

    7- Dapat membaca syair dengan berirama dalam masjid, dapat bermain pedang dan tidur dalamnya.

    8- Orang yang shalat wajib membaca surah Al-Fatihah pada setiap rakaat waktu dia menjadi imam atau makmum atau shalat seorang diri dan waktu dia shalat dengan bacaan kuat maupun perlahan.

    9- Rakaat tidak dihitung walaupun sempat rukuk.

    10- Dapat membaca qunut sebelum atau sesudah rukuk.

    11- Dapat berbicara setelah selesai mendirikan shalat karena hajat tertentu.

    12- Shalat Jum’at diwajibkan kepada penduduk kota dan desa.

    13- Tidak wajib shalat Jum’at bagi orang yang sudah shalat Hari Raya.

    14- Seorang wanita dapat mengeluarkan zakat untuk suaminya serta anak yatim peliharaannya.

    15- Harta zakat dapat diberikan kepada orang yang ingin mengerjakan Haji.

    16- Sebuah negara dapat mengeluarkan zakat untuk negara lain.

    17- Orang yang bersedekah tidak dapat membeli lagi barang yang telah disedekahkan.

    18- Ibadah Umrah wajib sebagaimana wajibnya ibadah Haji.

    19- Ibadah Haji dapat diganti dengan ibadah Umrah bagi orang yang tidak mempunyai binatang untuk sembelihan (Dam).

    20- Seorang wanita tidak wajib memakai kerudung sewaktu bersama (hambanya dan hamba orang lain ).

    21- Orang yang buta dapat menjadi saksi.

    22- Wanita yang memakai hijab/cadar dapat menjadi saksi jika suaranya dikenali.

    23- Boleh seorang wanita memakan harta suaminya dengan baik tanpa izin dari suaminya.

    24- Seorang wanita harus memberi hormat kepada lelaki lain dan mengurusnya walaupun dia sudah mempunyai suami.

    25- Seorang wanita dapat merawat pasien laki-laki.

    26- Boleh menyebut kejahatan orang-orang yang sering melakukan kejahatan.

    27- Keputusan hakim tidak dapat menghalalkan yang haram dan tidak dapat mengharamkan yang halal.

    Ini merupakan sebahagian dari pendapat Imam Bukhari. Semua pendapat tersebut bersumberkan nas-nas dari Sanad yang Sahih. Kemungkinan Imam Bukhari telah membuat perbahasan yang panjang dan terperinci serta perbincangan untuk beberapa masalah, sebagaimana yang telah beliau lakukan terhadap dua masalah (yaitu membaca ayat Al-Quran di belakang imam) dan (mengangkat tangan ketika shalat) dalam dua rakaat yang beliau karang berhubung dengan dua masalah tersebut (lihat kitab susunan beliau).

    4- Ilmu Sejarah dan Biografi:

    Imam Bukhari telah menguasai ilmu tersebut dan tidak ada orang yang sebanding dengannya. Beliau menguasai terhadap ilmu tersebut semenjak masih kecil. Beliau telah mulai menulis berkaitan dengan ilmu sejarah dan biografi sewaktu muda. Beliau menceritakan tentang dirinya: Ketika aku

    berumur delapan belas tahun, aku mulai menulis cerita-cerita para sahabat dan para Tabi’in, menulis sejarah Madinah di sebelah Maqam Nabi s.a.w dan aku menulis kitab itu pada malam bulan purnama.

    Beliau berkata lagi: Satu nama walaupun kecil nilainya aku tetap menganggap nama itu mempunyai cerita melainkan aku tidak mau memanjangkan penulisanku. Kitab yang beliau maksudkan sebagai sejarahnya yaitu kitab yang bernama (AT-TARIKH AL-KABIR). Kitab ini adalah untuk menyempurnakan penyusunan beliau menurut babnya. Beliau tidak meninggalkan seorang pun orang yang diambil ilmu darinya melainkan beliau menyebut nama orang tersebut dalam dua kitabnya yaitu (AT-TARIKH AL-AUSAT) dan (AS-SOGHIR) yang menunjukkan keilmuan dan ma’rifatnya tentang biografi, tarikh kehidupan dan sejarah manusia (lihat kitab susunan beliau).

    5- Ilmu Jarah dan Ta’dil:

    Imam Bukhari merupakan orang yang pertama mengemukakan ilmu Jarah dan Ta’dil serta menyokongnya. Kenapa tidak? Imam Bukhari merupakan hafiz yang seolah-olah Sanad Hadits semenjak zaman sahabat sampai zaman beliau di bawah perhatian dan jagaannya. Beliau membedakan antara pencatat Hadits serta menguasainya dengan orang yang mencampur aduk serta melakukan kebohongan. Imam Bukhari telah mengatakan tentang masalah perawi Hadits tentang kecacatan perawi dan memperbaikinya, tetapi beliau membuat perbedaan yang kentara karena beliau berhati-hati terhadap lafadz-lafadz yang dikemukakan berhubung dengan masalah Jarah dan Ta’dil karena khawatir menyebutkan aib orang lain. Inilah antara sifat wara’ dan budi pekertinya dari sudut kehati-hatian.

    Terdapat kata-katanya: Aku terlalu ingin berjumpa dengan Allah dan Allah tidak menghukum aku karena menyebutkan aib orang lain di belakangnya serta kata-katanya: Tidak ada orang yang memarahi aku di akhirat. Ummat berkata kepadanya: Setengah orang memarahi kamu dalam kitab sejarah. Mereka berkata: Dalam kitab Imam Bukhari terdapat cerita aib orang lain. Lalu Imam Bukhari menjawab: Kami meriwayatkan Hadits secara riwayat, kami tidak memindahkan Hadits yang kami buat sendiri dan sesungguhnya Nabi s.a.w bersabda: (Sejahat-jahat saudara Asyirah). Bermakna Rasulullah memberi kelonggaran sekiranya ia untuk kebaikan.

    Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-‘Asqolani berkata ketika menerangkan metoda yang dibawa oleh Imam Bukhari: Imam Bukhari amat berhati-hati dan begitu bertanggungjawab ketika mengatakan sesuatu berhubung dengan perawi Hadits. Ini dapat dirasakan oleh orang yang begitu mengamati kritikan dan kata-kata beliau berhubung dengan Jarah dan Ta’dil. Kata-kata beliau yang paling banyak ialah (mereka tidak mengatakan tentangnya, berhubung dengan rawi ini. Ada perbincangan di kalangan ulama, para ulama tidak membicarakannya) dan seumpamanya malah sedikit sekali beliau berkata: (pendusta atau pereka Hadits) sebaliknya beliau berkata: (Dia telah mengatakan si fulan itu pendusta, dia telah menuduh si fulan yaitu tuduhan dusta). Karya Imam Bukhari berhubung dengan Jarah dan Ta’dil merupakan satu bahagian dari karya beliau dalam kitab sejarah sebagaimana telah disebut bahwa beliau mulai menulis kitab ketika umur masih muda. Ulama setelah Imam Bukhari juga turut menggunakan cara yang sama ketika menulis seperti Abi Hatim, Ibnu Hibban dan selain keduanya.

    6- Ilmu Ilal yaitu cacat yang tersembunyi pada Hadits:

    Ilmu ini merupakan ilmu Hadits yang begitu terperinci dan paling rumit karena ia tersembunyi. Imam Bukhari berada di martabat yang tinggi, serta berpendirian yang tetap berhubung dengan masalah ini. Melalui intisari pengetahuan beliau itulah telah menghasilkan kitab beliau yang agung yaitu (As-Sahih) Ahli Hadits yang tidak memahami serta tidak memberi pengamatan yang baik terhadap ilmu ini maka biasanya ia tidak mampu untuk menyusun kitab Hadits yang membedakan antara Hadits Sahih dan tidak Sahih serta selamat dari menerima kritikan sebagaimana yang terjadi kepada (Sahih Imam Bukhari) walaupun hafalan beliau begitu luas dan banyak riwayat yang didapatnya.

    Imam Bukhari telah berkata: Aku tidak akan duduk untuk mengajar Hadits sehingga aku mengetahui Hadits yang Sahih dan Hadits yang palsu atau lemah. Imam Bukhari Rahimahullah tergolong dari kalangan para imam yang ahli mengetahui tentang ilmu ini. Beliau berada di kedudukan yang teratas selanjut Imam Ahmad dan Ibnu Al-Madini. Mengapa tidak? sedangkan gurunya Ibnu Al-Madini sendiri tidak begitu mampu untuk menguasai ilmu ini dan beliau merupakan lulusan serta anak muridnya.

    Beliau sendiri yang menceritakan tentang Al-Madini: Aku tidak rasa diriku kerdil bila berhadapan dengan para ulama melainkan berhadapan dengan Ali bin Al-Madini. Sesungguhnya Abu Zara’ah ar-Razi telah menghadiri majelis pengajian dengan Al-Madini dalam keadaan rendah diri bertanya tentang cacat dalam Hadits. Ilmu ini terdapat dalam penyusunan Imam Bukhari. Hampir tidak luput kitab susunan beliau dari ilmu ini, di mana beliau telah menulis kitab yang asing berkaitan dengan kecacatan dalam Hadits (lihat kitab susunan beliau).

    Imam Tirmizi merupakan lulusan dari didikan Imam Bukhari. Imam Tirmizi merupakan ketua dalam bidang ini. Kebanyakan kumpulan dan susunannya berhubung dengan cacat Hadits, yaitu Al-Ilal Al-kabir. Beliau telah menyerap ilmu cacat Hadits dari gurunya, Imam Bukhari.

    7- Ilmu Bahasa:

    Imam Bukhari tidak terkenal atau cemerlang dalam ilmu bahasa karena beliau sibuk dengan ilmu lain tetapi beliau pada dasarnya telah menguasai sebagian ilmu tersebut yang merupakan ilmu alat, yang harus dikuasai untuk mendalami serta memahami ilmu lain. Tanda-tanda yang menunjukkan bahwa beliau menguasai ilmu bahasa ialah sebagaimana yang telah beliau tulis di beberapa tempat dalam (Kitab As-Sahih) yang berhubungan dengan tafsir ayat-ayat Al-Quran yang sulit dipahami serta gagasan beliau walaupun beliau banyak menyerap dari kitab (Abi Ubaidah Ma’mar bin Al-Muthanni) tetapi besar kemungkinan beliau memperolehnya dengan usaha beliau sendiri.

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 30 March 2019 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 2) 

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 2)

    Pendidikannya

    Kecerdikan dan kebijaksanaannya:

    Imam Bukhari telah dianugerahkan hafalan yang cepat, tekun dan ingatan yang kuat, malah tidak ada orang seperti beliau pada zaman itu yang memiliki kecerdikan, kebijaksanaan dan pengamatan yang sama sepertinya, juga cepat menyampaikan apa yang dia kehendaki. Ini terjadi ketika beliau masih kanak-kanak dan belum baligh.

    Ada orang yang telah mendengar beliau menceritakan tentang dirinya. Katanya: Aku telah diilhamkan untuk menghafal Hadits dan ketika itu aku berada di tempat menghafal Al-Quran. Penulisnya Muhammad bin Abi Hatim bertanya: Berapa umur tuan ketika itu? Imam Bukhari menjawab: Sepuluh tahun atau kurang, kemudian aku keluar dari pusat hafalan Al-Quran dan aku mulai berselisih pendapat dengan guru-guru ku dan guru-guru lain.

    Selanjutnya beliau bercerita: Suatu hari guru membaca Hadits kepada Ummat: Sufian meriwayatkan dari Abu Az-Zubair dari Ibrahim, aku menyela: Abu Az-Zubair tidak meriwayatkan hadits dari Ibrahim, lalu dia mengusirku.

    Kemudian aku berkata kepadanya: Silakan rujuk kitab sekiranya kamu memilikinya. Maka guru pulang dan merujuk Hadits, kemudian kembali lagi dan bertanya kepada Imam Bukhari: Bagaimana yang sebenarnya wahai anak?

    Maka aku menjawab: Sanad yang sebenarnya ialah: Az-Zubair, yaitu Ibnu Adi meriwayatkan dari Ibrahim. Maka Guru mengambil pena dan membaiki kitabnya. Guru berkata kepadaku: Engkau benar. Ummat bertanya: Berapakah umur tuan ketika membetulkan kesalahpahaman Guru tersebut? Beliau menjawab: Sebelas tahun.

    Hasyid bin Ismail berkata: Imam Bukhari sering berselisih pendapat dengan kami lalu dikemukakan kepada guru-guru Basrah. Ketika itu beliau masih kecil, beliau tidak pernah mencatat pelajaran Hadits sekian lama, maka kami mencercanya selama enam belas hari lalu beliau berkata: Sekian lama kamu mencerca aku, keluarkan apa yang telah kamu tulis, maka kami mengeluarkannya, semuanya lebih dari lima belas ribu Hadits lalu Imam Bukhari membaca kesemuanya yang beliau ingat, menyebabkan kami memperbaiki catatan kami berdasarkan hafalannya.

    Abu Bakar Al-Kalwazani berkata: Aku tidak pernah melihat orang seperti Muhammad bin Ismail, dia telah mengambil kitab dan mengkajinya sunguh-sungguh, dia mampu mengahafal kesemua Taraf Hadits dengan sekali baca. Semua ini adalah kelebihan yang Allah telah berikan kepada Imam Bukhari. Kelebihan itulah meletakkan dirinya sebagai ahli dalam bidang Hadits, sehingga melebihi ulama yang setaraf dengannya, juga melebihi orang yang mempunyai kedudukan dalam ilmu.

    Imam Bukhari mulai menuntut ilmu:

    Sebagaimana yang telah diketahui bahwa Imam Bukhari mula menuntut ilmu sebelum beliau baligh. Minatnya telah terpatri dalam darah dagingnya seolah-olah beliau diciptakan untuk urusan ini. Harta peninggalan ayahnya telah membantu beliau untuk menuntut ilmu dan beliau telah berkata: Aku telah menggunakan sebanyak lima ratus dirham setiap bulan untuk mencari ilmu, apa yang ada di sisi Allah itu adalah lebih baik dan kekal.

    Beliau telah menghadiri majelis ilmu, menghafal Al-Quran dan menghafal kitab-kitab yang telah dikarang oleh para ulama. Kitab pertama yang dihafal oleh beliau ialah karya Abdullah bin Al-Mubarak, Waqi’ bin Al-Jarrah, kitab yang berkaitan dengan kitab-kitab sunan, masalah zuhud dan masalah-masalah lain. Imam Bukhari juga tidak meninggalkan permasalahan fiqih dan pendapat ulama.

    Imam Bukhari menceritakan sendiri tentang pribadinya dengan berkata: Ketika berumur enam belas tahun aku telah menghafal kitab-kitab karya Ibnu Mubarak dan Waki’, juga aku telah mengetahui kata-kata mereka yaitu pendapat para ulama.

    =====================

    Pengembaraannya

    Merantau untuk mencari ilmu sudah menjadi satu keharusan serta sifat yang ada pada setiap ahli Hadits. Ketika Imam Bukhari ingin menuntut ilmu ahli Hadits, beliau telah menghayati cara yang telah dilakukan olah para ahli Hadits dan mengikuti cara mereka. Imam Bukhari tidak langsung berpuas hati menerima Hadits dari para ulama dalam negerinya saja tetapi beliau telah merantau untuk mencari ilmu tersebut. Beliau telah menjelajahi negara-negara Islam. Perjalanannya yang pertama ialah pada tahun 210 Hijrah , yaitu ketika berumur 16 tahun sewaktu beliau pergi ke Mekah mengerjakan Haji bersama ibu dan kakaknya.

    Beberapa buah negara yang telah beliau singgahi :

    1- Khurasan dan negeri sekitarnya.

    2- Basrah.

    3- Kufah.

    4- Baghdad.

    5- Hijaz (Mekah dan Madinah).

    6- Syam.

    7- Jazirah (yaitu beberapa buah kota yang terletak antara sungai Dajlah dan Furat).

    8- Mesir.

    Imam Bukhari berkata: Aku telah memasuki Syam, Mesir dan Jazirah sebanyak dua kali Basrah sebanyak empat kali dan bermukim di Hijaz selama enam tahun dan aku tidak ingat berapa kali aku telah memasuki Kufah dan Baghdad bersama para ahli Hadits.

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 29 March 2019 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 1) 

    Al Imam Bukhari Rahimahullah

    Riwayat Hidup

    Namanya: Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah.

    Nama panggilannya: Abu Abdullah

    Keturunannya:

    1- Al-Ju’fi: Ini adalah nasab keturunan Arab, penyebabnya: Al-Mughirah, adalah kakek dari ayah Imam Bukhari yang telah memeluk Islam di hadapan Al-Yaman Al-Ju’fi, Lalu dinasabkan kepadanya sebagai nasab kepada pemimpin.

    2- Bukhari: adalah nisbat kepada negerinya.

    Kelahirannya: Pada hari Jum’at, pada 13 Syawal tahun 194 H.

    Tempat kelahirannya: Bukhara.

    Sejarahnya ketika kecil:

    Ismail – ayah Imam Bukhari merupakan seorang ahli Hadits, tetapi beliau selama hidupnya tidak banyak meriwayatkan Hadits. Beliau disebut oleh anaknya dalam kitab (AT-TARIKH AL-KABIR) bahwa beliau sempat berjumpa dengan Hammad bin Zaid dan Abdullah bin Al-Mubarak, juga telah mendengar Hadits dari Malik bin Anas.

    Ismail meninggal dunia ketika Imam Bukhari masih kecil. Beliau dipelihara oleh ibunya dalam keadaan yatim. Tetapi ayahnya telah meninggalkan harta yang banyak, halal lagi diberkati. Ketika hampir meninggal ayahnya berkata: (Aku tidak mendapati satu dirham pun hartaku ini dari benda yang haram begitu juga tidak ada satu dirham pun dari benda yang syubhat). Uang tersebut digunakan oleh Imam Bukhari untuk menuntut ilmu.

    Imam Bukhari telah mengerjakan ibadah Haji sewaktu kecil bersama ibu dan kakaknya (Ahmad). Selanjutnya Imam Bukhari menetap berdekatan dengan Mekah untuk menuntut ilmu dalam waktu yang tertentu.

    Kisah Imam Bukhari hilang penglihatan:

    Ghanjar telah menceritakan dalam (kitab sejarah Imam Bukhari) dan kitab yang lain: Bahwa Imam Bukhari telah hilang penglihatannya sewaktu kecil. Ketika ibunya melihat Nabi Ibrahim di dalam mimpi, di mana Nabi Ibrahim berkata kepada ibunya: Wahai ibu Bukhari ! Allah telah mengembalikan penglihatan anakmu disebabkan doamu yang banyak, menyebabkan penglihatan Bukhari kembali pulih sebagaimana biasa. Ini adalah di antara karamah yang Allah karuniakan kepada Imam Bukhari sewaktu kecil.

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 28 March 2019 Permalink | Balas  

    Al Imam Bukhari Rahimahullah Ketika Syawal tiba Bukhari… 

    Al Imam Bukhari Rahimahullah

    Ketika Syawal tiba, Bukhari serasa hadir di depan mata. Anda pun mengenal nama besar itu: Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari (194 H/810 M – 256 H /870 M). Dialah salah seorang perawi hadis terpercaya. Pada bulan Syawal ia lahir, pada bulan Syawal pula ia wafat.

    Nama Imam Bukhari mengingatkan kita pada kota Bukhara di Asia Tengah, di belahan timur Turkistan. Itulah salah satu pusat perdagangan masyarakat Arab pada abad ke-8 M, dan jadi tempat berkuasanya Dinasti Samanid pada abad ke-9 hingga 10 M sebelum jatuh ke tangan Genghis Khan pada 1220 dan Tamerlane pada 1370. Kini Bukhara adalah salah satu *oblast* (provinsi) di Uzbekistan.

    Di kota itulah Bukhari lahir pada 13 Syawal 194 H/19 Juli 810 M. Orang tuanya adalah muslimin keturunan Iran. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil. Ibunyalah yang mengasuh dan mendidiknya dengan baik. Bukhari pun tumbuh jadi anak cemerlang. Konon, ketika masih remaja ia sudah mampu menghafal puluhan ribu hadis.

    Pada usia 16 tahun ia bersama ibunya mengadakan perjalanan ibadah haji ke Mekah. Sejak itulah ia berkelana mengumpulkan hadis, menyusuri dunia Muslim untuk memungut ingatan dan catatan tentang ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad SAW.

    Pada usia 18 tahun ia menyusun karya pertamanya, yang menuturkan riwayat sahabat-sahabat Nabi serta para penerusnya. Ia pun menyusun kitab lainnya, antara lain *At-Tarikh Al-Kabir* (Sejarah Akbar) yang menuturkan riwayat para perawi hadis, dan *Al-Adab Al-Mufrad* yang menghimpun hadis perihal etika dan perilaku.

    Dalam buku *Sejarah Tuhan* (Mizan, 2001, hal 221), Karen Armstrong menyebut Imam Bukhari — juga Imam Muslim atau Abul Husain Muslim bin Al-Hijjaj Al-Qusyairi (202 H – 261 H) — sebagai ‘editor’. “Hadis dan Sunnah telah dikumpulkan selama abad kedelapan dan kesembilan oleh sejumlah editor. Yang paling terkemuka di antara mereka adalah Ismail Al-Bukhari dan Muslim ibnu Hijjaj Al-Qusyairi,” tulisnya.

    Memang, apa yang dikerjakan oleh para pengkaji seperti Imam Bukhari pada dasarnya adalah pekerjaan editor. Ia merekam ingatan, mengumpulkan catatan, menelusuri sumber, menimbang keabsahan informasi, memilih dan memilah-milah keterangan, serta menyusun laporan.

    Bayangkan, selama sekitar 16 tahun Imam Bukhari berkelana di dunia Muslim. Dari Saudi hingga Mesir, dari Syiria hingga Iraq, ia mencari orang-orang yang menghafal ucapan dan mengingat perbuatan Sang Nabi. Konon, narasumber yang ditemuinya lebih dari 1000 orang, dan keterangan yang dikumpulkannya lebih dari 600. 000 butir. Informasi sebanyak itu ia sunting hingga tersaring sekitar 7.275 butir yang dianggap sahih. Hanya editor kawakan yang mampu menyaring dan menyunting informasi dari ratusan ribu menjadi ribuan, dan hasilnya meyakinkan.

    Hasil kerja keras Imam Bukhari yang amat terkenal adalah *Al-Jami’ As-Sahih (Kumpulan yang Sahih)*. Itulah kumpulan hadis yang hingga kini dianggap sebagai kumpulan hadis terpercaya, teristimewa oleh kalangan Suni. Untuk mudahnya, selama ini kita terbiasa menyebut koleksi itu *Sahih Bukhari*.

    Belakangan muncul versi Indonesia dari ringkasan atas Sahih Bukhari. Judulnya, *Ringkasan Shahih Al-Bukhari* (Mizan, 1997). Kitab aslinya berjudul *Al-Tajrid Al-Shahih li Ahadits Al-Jami’ As-Sahih*, dan disusun oleh Al-Imam Zainuddin Ahmad bin Abdul-Lathif Az-Zabidi. Imam Az-Zabidi berasal dari Zabid, Yaman, dan wafat pada 893 H/1488 M.

    Karya Imam Az-Zabidi merupakan semacam perasan dari *Al-Jami’ As-Sahih*. Ringkasannya saja, dalam terjemahan Indonesia itu, mencapai ketebalan lebih dari 900 halaman. Menurut penerbitnya, *Ringkasan Shahih Al-Bukhari* telah mengalami sembilan kali cetak ulang.

    Cukup banyaknya orang Indonesia yang membaca *Sahih Bukhari* tentu turut membuktikan kehandalan kerja sang editor dari Bukhara itu. Orang percaya pada otoritas, ketekunan, kejujuran, dan kesungguhannya dalam mengumpulkan rekaman yang otentik dari ucapan dan perbuatan Sang Nabi. Betapa uletnya Imam Bukhari berupaya menjamin otentisitas dari keterangan yang dihimpunnya. “Saya telah menulis tentang 1.800 orang, yang masing-masing memiliki ucapan Nabi, tapi apa yang telah saya tulis itu hanyalah orang-orang yang lulus uji kesahihan yang saya tetapkan,” begitulah konon sekali waktu Imam Bukhari pernah bertutur, seperti yang dikutip dalam situs *Kitaabun*.

    Secara teologis, Imam Bukhari memang dianggap konservatif. Pandangannya berseberangan dengan pandangan kaum Mu’tazilah. Dalam hal hukum agama, ia berdiri di lingkungan mazhab Syafi’i. Ia pun dikenal dekat dengan Ahmad Ibnu Hanbal, bahkan konon menyetujui pandangan Ibnu Hanbal, terutama perihal Alquran.

    Pada hari tuanya, seperti yang dicatat dalam *Encyclopaedia Britannica Deluxe Edition 2004 CD-ROM*, sikap dan pandangan Imam Bukhari membuatnya terlibat dalam pertentangan teologis di Nishapur. Ia pun meninggalkan kota itu, dan kembali ke Bukhara. Namun, di kota kelahirannya pun, ia rupanya menghadapi masalah. Sempat ia diminta untuk mengajar gubernur Bukhara dan anak-anaknya, tapi sang imam menolak permintaan itu. Akibatnya, Imam Bukhari dipaksa meninggalkan Bukhara, dan pergilah ia ke Khartank, Tadzikistan.

    Imam Bukhari wafat di pengasingannya di Khartank, pada 1 Syawal 256 H/31 Agustus 870 M dalam usia 62 tahun. Di kota kecil itu, di dekat Samarkand, ia bernisan. Hingga kini ke tempat itu para peziarah berdatangan.

    ***

    REPUBLIKA Minggu, 27 Nopember 2005 *SELISIK * *Editor dari Bukhara * *Hawe Setiawan *

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 27 March 2019 Permalink | Balas  

    Mu’awiyah bin Abi Sufyan ra adalah Sahabat Nabi SAW yang Mulia 

    Mu’awiyah bin Abi Sufyan ra adalah Sahabat Nabi SAW yang Mulia

    Oleh : Ustadz Abu Ubaidah

    Imam Ibnul Mubarak rhm. berkata, “Mu’awiyyah dalam pandangan kami adalah ujian. Apabila kami mendapati seorang yang memandang Mu’awiyah dengan sinis, maka kami pun mencurigai sikapnya terhadap para sahabat Nabi Muhammad SAW” (Tarikh Dimasyq 59/209 oleh Ibnu Asakir)

    Sungguh mengherankan, keharuman nama Mu’awiyah ra. dan sejarah perjalanan hidupnya yang begitu indah dalam kitab-kitab hadits dan sejarah yang terpercaya, kini telah dinodai oleh suara sumbang mulut-mulut dan goresan tangan manusia-manusia yang memutarbalikan sejarah dan memendam fakta!

    Ironisnya pemikiran ini telah lama subur dalam buku-buku pendidikan sejarah di berbagai tingkatan madrasah negeri ini, mulai dari Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah hingga Perguruan Tinggi. Sehingga semenjak dini anak-anak telah dibina untuk membenci seorang sahabat Rasulullah SAW bernama Mu’awiyah ra.

    Dalam gambaran mereka Mu’awiyah ra. adalah musuh bebuyutan Khalifah Ali bin Abi Thalib ra.! Mu’awiyah ra. adalah seorang yang menghalalkan darah saudaranya hanya karena ambisi terhadap kekuasaan! Dan gambaran-gambaran mengerikan lainnya.

    Oleh karena itu perkenankanlah penulis memaparkan hadits-hadits dan atsar tentang Mu’awiyah ra. dan penjelasan terhadap keutamaannya :

    1. Mu’awiyah ra. berkata, “Sesungguhnya kalian telah melakukan shalat! Sungguh kami telah menemani Rasulullah SAW, tidaklah kami melihat beliau SAW telah melakukan shalat tersebut, dan sungguh beliau telah melarangnya, yakni 2 rakaat setelah ashar” (HR. Bukhari no. 3766, Ahmad 4/99 dan lainnya).

    Imam Bukhari berdalil dengan hadits ini bahwa persabatan Mu’awiyah ra dan Nabi SAW sudah cukup menunjukan keutamaan beliau yang sangat besar.

    Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 7/131 mengatakan, “Dengan kejelian beliau (Bukhari) berdalil dengan hadits yang dapat menghantam pemikiran (Syiah) Rafidhah”.

    1. Dia (Abu Sufyan) berkata, “Mu’awiyah engkau jadikan sekretarismu ?”, Nabi SAW menjawab, “Ya” (HR. Muslim no. 2501, Ibnu Hibban no. 7209, dan lainnya)

    Segi pendalilan hadits ini amat jelas, yaitu Mu’awiyah ra. termasuk para penulis wahyu untuk Rasulullah SAW (Al Bidayah 8/119 oleh Al Hafizh Ibnu Katsir)

    Demikian pula dikatakan oleh seluruh Ulama yang menulis biografinya (biografi Mu’awiyah ra.) seperti Abu Nu’aim, Ibnu Abdil Barr, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar dan lainnya (Lihat pula Zadul Ma’ad 1/113 oleh Ibnul Qayyim)

    1. Dari Irbad bin Sariyah ra., Rasulullah SAW bersabda, “Ya Allah, ajarkan Mu’awiyah ilmu tulis dan hitung dan lindungi dia dari siksa” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1938, Ibnu Hibban no. 2278, Ahmad 4/127 dan lainnya, hadits hasan lighairihi, Imam Adz Dzahabi berkata, “Hadits ini memiliki penguat yang kuat”)
    2. Nabi SAW berdoa untuk Mu’awiyah, “Ya Allah, jadikanlah dia penunjuk dan yang diberi petunjuk, tunjukilah ia dan berilah manusia petunjuk karenanya” (HR Bukhari dalam Tarikh 4/1/327, At Tirmidzi 2/316, Ibnu Asakir 16/684-686 dan Adz Dzahabi dalam Siyar 8/38, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah 4/615-618)
    3. Umar bin Khaththab ra. berkata tatkala mengangkatnya sebagai gubernur Syam, “Janganlah kalian menyebut Mu’awiyah kecuali dengan kebaikan” (Kitab Al Bidayah 8/125 oleh Ibnu Katsir)
    4. Ali bin Abi Thalib ra. berkata sepulangnya dari Perang Shiffin, “Wahai manusia, janganlah kalian membenci kepemimpinan Mu’awiyah, seandainya kalian kehilangan dia, niscaya kalian akan melihat kepala-kepala bergelantungan dari badannya (banyak pembunuhan)” (Kitab Al Bidayah 8/134 oleh Ibnu Katsir)
    5. Abdullah bin Umar ra. berkata, “Ayahku Umar lebih baik daripada Mu’awiyah tetapi Mu’awiyah lebih pandai berpolitik darinya” (Kitab Al Bidayah 8/138 oleh Ibnu Katsir)
    6. Abdullah bin Abbas ra. berkata, “Saya tidak melihat seorang yang lebih arif tentang kenegaraan daripada Mu’awiyah” (Kitab Al Bidayah 8/138 oleh Ibnu Katsir)
    7. Seorang tabi’in, Zuhri, berkata, “Mu’awiyah bekerja pada pemerintahan Umar bin Khaththab bertahun-tahun dan tiada cela sedikitpun darinya” (Kitab As Sunnah 1/444 oleh Al Khallal)
    8. Abu Mas’ud Al Muafa bin Imran pernah ditanya, “Wahai Abu Mas’ud siapakah yang lebih utama, Umar bin Abdul Aziz ataukah Mu’awiyah ?”. Dengan nada marah ia berkata, “Seorang sahabat nabi tidak bisa dibandingkan dengan seorang pun. Mu’awiyah adalah sahabat Nabi sekaligus iparnya dan penulis wahyunya” (Tarikh Dimasyq 59/208)
    9. Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang yang mencela Mu’awiyah ra. dan Amr bin Ash ra, lalu ia menjawab, “Tak seorangpun berani mencela keduanya kecuali mempunyai tujuan jelek” (Tarikh Dimasyq 59/210)
    10. Ibnu Taimiyyah berkata, “Ia (Mu’awiyah) adalah awal raja dan kepemimpinannya adalah rahmat” (Kitab Majmu’ Fatawa 4/478 dan Kitab Minhaj As Sunnah 6/232)
    11. Ibnu Abil Izzi Al Hanafi berkata, “Raja pertama kaum muslimin adalah Mu’awiyah dan ia adalah sebaik-baiknya raja kaum muslimin” (Syarah Kitab Aqidah Thahawiyah hal. 722)
    12. Adz Dzahabi berkata dalam biografinya, “Amirul Mukminin, raja Islam. Mu’awiyah adalah raja pilihan yang keadilannya mengalahkan kezhaliman” (Kitab Siyar 3/120, 159)

    Demikianlah hadits-hadits yang shahih dan atsar salafush shalih tentang keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan ra. Akhirnya penulis berkata seperti apa yang dikatakan oleh Imam Ibnu Katsir rhm., “Cukuplah bagi kami untuk memaparkan hadits-hadits shahih, hasan dan jayyid daripada hadits yang palsu dan mungkar” (Al Bidayah 8/122)

    Maraji’

    Disarikan dari tulisan Ustadz Abu Ubaidah Al Atsari, Majalah Al Furqan, Lajnah Dakwah Ma’had Al Furqan, Gresik, Edisi 12, Tahun IV, Rajab 1426 H, hal. 14-20.

     
  • erva kurniawan 2:06 am on 26 March 2019 Permalink | Balas  

    Keutamaan dan Hak Sahabat Rasulullah SAW 

    Keutamaan dan Hak Sahabat Rasulullah SAW

    Berikut ini adalah hadits-hadits shahih yang menceritakan keutamaan Sahabat Rasulullah SAW,

    Dari Abdullah bin Mas’ud ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Khairun naasi qarnii tsummal ladziina yaluunaHum tsummal ladziina yaluunaHum” yang artinya “Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku, kemudian zaman berikutnya, kemudian zaman berikutnya” (HR. Bukhari no. 3651 dan Muslim no. 2533)

    Abu Burdah meriwayatkan dari bapaknya, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Wa ahshaabii amanatun liummatii faidzaa dzahaba ashhaabii ataa ummatii maa yuu’aduun” yang artinya “Dan sahabatku adalah pengaman bagi umatku, jika sahabatku telah pergi maka akan datang apa yang telah dijanjikan atas umatku” (HR. Muslim no. 2531)

    Rasulullah SAW bersabda, “Inna amannan naasi ‘alayya fii maaliHi washuhbatiHi abuubakrin” yang artinya “Sesungguhnya yang paling besar jasanya padaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar” (HR. Bukhari no. 3654 dan Muslim no. 2382)

    Sa’ad bin Abi Waqqash ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “IiHan yabnal khaththaabi wal ladzii nafsii biyadiHi maa laqiyakasy syaithaanu saalikan fajjan qaththu illaa salaka fajjan ghaira fajjik” yang artinya “Bahagialah wahai Ibnul Khaththab, demi Allah, setiap kali setan berpas-pasan denganmu pada satu jalan ia pasti memilih jalan lain selain jalan yang engkau lalui” (HR. Bukhari no. 3683 dan Muslim no. 2396)

    Rasulullah SAW bersabda perihal Utsman bin Affan ra., “Alaa astahii min rajulin tastahii minHul malaa-ikatu” yang artinya “Tidakkah aku malu terhadap lelaki yang para malaikat malu terhadapnya !?” (HR. Muslim no. 1401)

    Dari Abu Sarihah ra. atau Zaid bin Arqam ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Man kuntu maulaaHu fa’aliyun maulaaHu” yang artinya “Barangsiapa yang mengangkat diriku sebagai walinya maka Ali adalah walinya juga” (HR. Ahmad dalam Kitab Al Fadhaail no. 959, At Tirmidzi, An Nasa’i dalam Kitab Khashaaish Ali no. 76 dan Ibnu Abi Syaibah, hadits ini shahih)

    Dari Irbad bin Sariyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Wa man ya’isy minkum fasayarakh tilaafan katsiran fa’alaikum bimaa ‘araftum min sunnatii wa sunnatil khulafaair raasyidiin al maHdiyyiin” yang artinya “Barangsiapa yang hidup sepeninggalku ia pasti melihat perselisihan yang amat banyak. Hendaklah kalian tetap memegang teguh sunnahku yang kalian ketahui dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang berada diatas petunjuk” (HR. Imam Ahmad dalam Kitab Musnad IV/126-127, Abu Dawud no. 4607, At Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 42 dan Ad Darimi no. 95, hadits ini shahih)

    Dan masih banyak hadits-hadits shahih maupun atsar yang menceritakan tentang keutamaan para Sahabat Rasulullah SAW dan tentu saja keutamaan mereka banyak juga disebutkan di dalam Al Qur’an Al Karim, maka dari itu mereka radhiyallaHu ‘anHum memiliki hak-hak istimewa yang harus dipenuhi oleh seluruh kaum muslimin diantaranya :

    Mencintai mereka ra. Perlu diketahui mencitai mereka berarti kita telah mewujudkan konsekwensi cinta terhada Allah SWT, sebab Allah SWT telah mengabarkan bahwa Dia telah ridha terhadap para sahabat ra.

    “Rabb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal” (QS At Taubah 21)

    Memohonkan rahmat dan ampunan untuk mereka ra. Sebagai realisasi firman Allah SWT,

    “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (yaitu sesudah kaum Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Yaa Rabb kami, berilah ampun kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang beriman, Yaa Rabb kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang ‘” (QS Al Hasyr 10)

    1. Menahan lisan dari membicarakan kesalahan mereka ra. apalagi mencela mereka ra. Hal ini karena kesalahan mereka ra. sangatlah sedikit dibandingkan dengan kebaikan mereka ra. yang begitu banyak, apalagi sumber kesalahan mereka bersumber dari ijtihad yang diampuni. Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Laa tasubbuu ashhaabii fawal ladzii nafsii biyadiHi lau anfaqa ahadukum mitsla uhudin dzaHaban maa balagha mudda ahadiHim walaa nashiifaHu” yang artinya “Janganlah kalian mencela sahabatku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya seandainya seorang diantara kalian berinfak emas seperti gunung Uhud, sungguh belum menyamai satu mud seorang diantara mereka, tidak pula separuhnya” (HR. Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2541)

    Nabi SAW juga bersabda,

    “Idzaa dzukira ashhaabii fa-amsikuu” yang artinya “Apabila disebut sahabatku maka diamlah” (Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Ash Shahihah no. 34)

    Maka dari itu Al Munawi berkata, “Yakni apa yang terjadi diantara mereka berupa peperangan dan persengketaan, (maka diamlah) secara wajib dari mencela mereka dan membicarakan mereka dengan tidak pantas, karena mereka adalah sebaik-baiknya umat” (Kitab Faidhul Qadir 1/347)

    Sedangkan sikap membela sahabat dan mencela para pencela sahabat adalah warisan para ulama salafush shalih. Imam Abu Zur’ah Ar-Raazi Rahimahullahu berkata , “Apabila anda melihat seseorang mencela salah satu sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam maka ketahuilah bahwa dia itu zindiq, karena Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam menurut kami adalah benar dan Al-Qur’an itu benar. Sesungguhnya yang menyampaikan Al-Qur’an dan hadits kepada kita adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam. Mereka (yang mencela para sahabat) hanyalah ingin mencela para saksi kita untuk membatalkan Al-Qur’an dan sunnah, padahal celaan itu lebih pantas untuk mereka dan mereka adalah orang-orang zindiq” [lihat Kitab Al-Kifaayah fii ‘ilmil riwaayah oleh Al-Khatib Al-Baghdadi hal.67].

    Dan Imam Al-Barbahaari Rahimahullahu berkata dalam Kitab Syarhus sunnah hal 50 no.104, “Apabila anda melihat seseorang mencela para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam maka ketahuilah bahwa dia itu pemilik ucapan yang jelek dan pengekor hawa nafsu”.

    Akhirnya, Yaa Allah saksikanlah bahwa kami mencintai sahabat Nabi-Mu dan berlepas diri dari perilaku kaum Syi’ah Rafidhah (dan selainnya) yang mencela sahabat Nabi-Mu.

    Maraji’

    1. Mengenal Keutamaan Mutiara Zaman, Hamd bin Abdillah bin Ibrahim Al Humaidi, Darul Haq, Jakarta, Cetakan Pertama, Agustus 2002 M.
    2. Disarikan dari Tulisan Ustadz Abu Ubaidah Al Atsari, Majalah Al Furqan, Lajnah Dakwah Ma’had Al Furqan, Edisi 12, Tahun IV, Rajab 1426 H, hal. 20.
     
  • erva kurniawan 1:21 am on 25 March 2019 Permalink | Balas  

    Mengembalikan Kepada Allah dan Rasul-Nya 

    Mengembalikan Kepada Allah dan Rasul-Nya

    “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah rasul,  dan ulil amri di antara kamu. Jika kamu berselisih tentang suatu  perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasul, jika kamu  benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir; yang demikian itu  lebih utama dan lebih baik kesudahannya”. [Q.S. 4:59]

    Ayat di atas dan ayat-ayat lain yang serupa kerap disalahpahami oleh  sebagian umat Islam dengan mengartikan “mengembalikan kepada rasul”  sebagai “mengembalikan kepada hadits”.

    Untuk mendudukkan dengan benar topik ketaatan dan pengembalian  kepada rasul ini, marilah sebelumnya kita pahami apa yang dijelaskan  oleh Allah di dalam Al-Qur’an tentang (para) rasul.

    1. Apakah Tugas Para Rasul Itu?

    “Dan setelah datang kepada mereka seorang rasul dari sisi Allah,  yang membenarkan apa (Kitab) yang ada pada mereka, segolongan dari  orang-orang yang diberi Kitab melemparkan Kitab Allah ke belakang  punggungnya, seolah-olah mereka tidak mengetahui”. [Q.S. 2:101]

    “Wahai Pemelihara kami, bangkitkanlah untuk mereka seorang rasul  dari kalangan mereka, yang akan membacakan ayat-ayat Engkau, dan  mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan Kebijaksanaan serta  mensucikan mereka; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha  Bijaksana”. [Q.S. 2:129] (Ayat dengan redaksi serupa: 2:151,  3:164, 62:2)

    “Dan tidaklah Pemeliharamu memusnahkan suatu negeri sebelum Dia  mengutus seorang rasul di ibukotanya, yang membacakan ayat-ayat Kami  kepada mereka”. [Q.S. 28:59]

    “Seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Allah yang menjelaskan,  supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan berbuat  kebaikan dari kegelapan kepada cahaya. [Q.S. 65:11]

    “Wahai rasul, sampaikanlah apa-apa yang diturunkan kepadamu dari  Pemeliharamu, dan jika tidak kamu kerjakan, maka kamu tidak  menyampaikan Pesan (risalah)-Nya”. [Q.S. 5:67]

    “Siapakah yang lebih kuat kesaksiannya? Allah menjadi saksi antara  aku dan kamu, dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya aku  memberi peringatan dengannya kepadamu dan kepada orang-orang yang  telah sampai, apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan- tuhan lain di samping Allah?”. [Q.S. 6:19]

    “Wahai golongan jin dan manusia, apakah belum datang padamu rasul- rasul dari antara kamu sendiri yang menceritakan ayat-ayat-Ku  kepadamu dan memberi peringatan kepadamu mengenai pertemuan hari  ini?” [Q.S. 6:130] (Ayat dengan redaksi serupa: 7:35, 39:71)

    “Dan sekiranya Kami membinasakan mereka dengan suatu azab  sebelumnya, tentu mereka berkata: `Wahai Rabb kami, mengapa tidak  Engkau utus seorang rasul kepada kami supaya kami mengikuti ayat- ayat Engkau sebelum kami dihina dan direndahkan?'” [Q.S. 20:134]  (Ayat dengan redaksi serupa: 28:47)

    Dari kutipan ayat-ayat di atas, ada enam tugas yang diemban oleh  para rasul:

    • Membenarkan kitab yang ada pada manusia
    • Membacakan ayat-ayat Allah
    • Menyampaikan ayat-ayat Allah
    • Memberi peringatan dengan Al-Qur’an
    • Menceritakan ayat-ayat Allah
    • Mengajak umat untuk mengikuti ayat-ayat Allah

    Sebagai manusia, rasulpun mengadukan keadaannya kepada Allah. Dan  pengaduan rasul itu tidak lepas dari tugasnya untuk menyampaikan Al- Qur’an.

    “Dan rasul berkata: `Wahai Pemeliharaku, sesungguhnya kaumku  menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diperdulikan.'” [Q.S.  25:30]

    Silahkan cermati. Tidak satu ayat pun tentang tugas rasul di dalam  Al-Qur’an yang keluar dari tema sentral “penyampaian pesan-pesan  Allah (Al-Qur’an)”.

    1. Adakah Kewenangan Rasul Untuk Mengadakan Sesuatu Di Luar  Ayat-Ayat Allah?

    “Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul, dan berhati- hatilah. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa (kewajiban) atas  rasul Kami hanyalah menyampaikan dengan jelas.” [Q.S. 5:92] (Ayat  dengan redaksi serupa: 5:99, 29:18, 64:12)

    Rasul tidak mempunyai kewenangan untuk mengada-adakan sesuatu di  luar ayat-ayat Allah. Malahan, sebuah ancaman keras menanti  terhadap pelanggaran atas ketentuan ini.

    “Dan seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan suatu perkataan atas  (nama) Kami, niscaya Kami pegang dia dengan tangan kanan, kemudian  pasti Kami potong urat jantungnya.” [Q.S. 69:44-46]

    1. Masih Adakah Rasul?

    Sebuah pertanyaan kritis berbunyi: “Rasulullah Muhammad kan sudah  wafat, lalu bagaimana hari ini kita bisa mengembalikan perkara  kepada rasul kalau tanpa kitab hadits?”

    Pertanyaan di atas terlontar atas asumsi bahwa pada jaman sekarang  ini sudah tidak ada lagi rasul. Setelah Nabi Muhammad wafat,  berakhirlah kerasulan.

    Benarkan demikian? Mari kita tarik kesimpulan dari ayat-ayat Allah  berikut ini…

    “Dan tiap-tiap umat ada rasulnya, maka apabila telah datang rasul  mereka, diputuskan (perkara) diantara mereka dengan adil, dan mereka  tidak dizalimi.” [Q.S. 10:47]

    “Dan orang-orang kafir dihalau berbondong-bondong ke Jahanam,  sehingga apabila mereka sampai pintu-pintunya dibuka, dan penjaga- penjaganya berkata kepada mereka: ‘Tidakkah rasul-rasul datang  kepada kamu dari kalangan kamu sendiri yang membacakan kepadamu ayat- ayat Tuhanmu, dan memberi peringatan tentang pertemuan hari ini?’  Mereka menjawab: `benar’. Tetapi telah pasti berlaku azab terhadap  orang-orang kafir.” [Q.S. 39:71]

    “Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan dengan bahasa kaumnya  supaya dia menjelaskan kepada mereka; kemudian Allah menyesatkan  siapa yang Dia kehendaki, dan Dia memberi petunjuk kepada sesiapa  yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. [Q.S.  14:4]

    Untuk dapat membacakan ayat-ayat Allah kepada kita pada hari ini,  maka rasul yang dimaksud haruslah masih hidup. Dan tentunya ia  bukan Nabi Muhammad, karena beliau telah wafat lebih dari 1400 tahun  yang lalu.

    Misi kerasulan tidak terhenti dengan wafatnya Nabi Muhammad. Rasul  terus dibangkitkan pada setiap umat meskipun sudah tidak ada lagi  nabi. Kenabian sudah ditutup dengan diutusnya Nabi Muhammad.

    “Muhammad bukanlah bapak seorang laki-laki diantara kamu, tetapi  adalah rasul Allah dan penutup Nabi-Nabi. Dan Allah Maha Mengetahui  segala sesuatu.” [Q.S. 33:40]

    Kesimpulan

    Sesuai tuntunan Al-Qur’an, kaum muslim hendaknya mengembalikan  urusannya kepada rasul agar rasul memberikan putusan sesuai dengan  apa yang telah diajarkan Allah (Al-Qur’an).

    Para rasul itu senantiasa ada di antara kita, dan berbicara dalam  bahasa kita. Kita mengenalnya bukan dari tanda khusus di tubuhnya,  bukan pula dari keajaiban yang dihadirkannya. Kita mengenalnya dari  apa yang disampaikan dan diajarkannya yang tidak lain adalah ayat- ayat Allah (Al-Qur’an) semata.

    “Dan tiada yang menghalangi manusia untuk beriman apabila petunjuk  datang kepada mereka, selain bahwa mereka berkata: `Adakah Allah  membangkitkan seorang manusia sebagai rasul?’  Katakanlah: `Sekiranya ada malaikat berjalan-jalan di bumi ini  dengan tenteram, tentu Kami turunkan dari langit seorang malaikat  sebagai rasul.'” [Q.S. 17:94-95]

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 24 March 2019 Permalink | Balas  

    Mukjizat Al-Qur’an 

    Mukjizat Al-Qur’an

    Berbicara tentang Al-Qur’an adalah berbicara tentang sebuah buku yang istimewa. Bagaimana tidak istimewa, ketika buku-buku lain diciptakan oleh para doktor, cendekiawan, ataupun negarawan, buku yang satu ini diciptakan oleh Tuhan melalui utusannya yang mulia Nabi Muhammad.

    Ada banyak tantangan untuk menguji kebenaran Al-Qur’an dari zaman ke zaman. Sebagian menguji atas dasar ketidakpercayaan, sebagian menguji atas dasar kebencian, sebagian lagi menguji murni demi memuaskan hasrat intelektualnya.

    Penemuan demi penemuan di bidang sains yang tak terpikirkan oleh orang-orang terdahulu telah dengan sangat fasih membuktikan bahwa Al- Quran adalah sebuah buku yang diciptakan oleh Pencipta alam semesta.

    Teori Big Bang

    Teori big bang yang ditemukan pada abad 20 ini secara sederhana menyatakan bahwa alam semesta ini terbentuk dari suatu ledakan. Dari sebuah esensi yang padu terjadilah perpisahan berupa ledakan besar (big bang). Al-Qur’an menjelaskan fenomena penciptaan alam semesta ini dengan sebuah ayat berikut:

    “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air. Maka mengapa mereka tiada juga beriman?” [Q.S. 21:30]

    Gunung Sebagai Pasak

    Ilmuwan geologi menemukan fakta bahwa gunung-gunung terbentuk dari proses tumbukan lempeng kerak bumi. Lempeng kulit bumi yang lebih cepat gerakannya melesak ke dalam perut bumi dan lempeng kulit bumi yang kalah cepat terangkat menjadi gunung. Jadi, gunung-gunung memiliki “akar” menghunjam dalam yang berfungsi sebagai paku/pasak bagi kerak bumi. Fungsi pemancangan gunung ini diistilahkan “isostasi”.

    “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan?, dan gunung- gunung sebagai pasak?” [Q.S. 78:6-7]

    Dinding Virtual Antara Dua Lautan

    Adanya dua lautan yang bertemu namun tidak bercampur telah ditemukan oleh para ahli kelautan. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan “tegangan permukaan”, air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. Fenomena ini terbukti bagaimana air Laut Tengah memasuki Samudera Atlantik melalui Selat Gibraltar namun suhu, kadar garam, dan kerapatan air antara dua laut itu tidak berubah sama sekali.

    “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” [Q.S. 55:19-20]

     Segala Sesuatu Berpasangan

    Berpasang-pasangan ternyata tidak hanya ada pada jenis kelamin makhluk hidup saja. Paul Dirac, pemenang hadiah Nobel Fisika tahun 1933 dari Inggris mengemukakan bahwa materi mempunyai pasangan yang disebut “anti-materi”. Anti materi ini memiliki sifat yang berseberangan dengan materi, dimana elektron anti-materi bermuatan positif dan protonnya bermuatan negatif. Ini berlawanan dengan sifat materi yang mempunyai elektron bersifat negatif dan proton bersifat positif.

    “Tersanjunglah yang telah menciptakan semuanya berpasangan-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari yang mereka tidak ketahui.” [Q.S. 36:36]

    Sejarah Masa Depan

    Tidak hanya dalam bidang sains Al-Qur’an menunjukkan mukjizatnya sebagai sebuah buku yang tidak mungkin diciptakan oleh manusia. Di dalam tataran sejarah pun Al-Qur’an dengan tepat meramalkan masa depan dengan mengabarkan kemenangan imperium Romawi. Ayat tentang kemenangan ini dulu menjadi bahan bulan-bulanan kaum musyrik karena dianggap menggambarkan sesuatu yang mustahil. Pada masa itu Romawi sedang menghadapi kekalahan telak dari Persia. Selain kalah dari Persia, bangsa Avar pun sudah mencapai dinding batas Konstantinopel. Emas dan perak yang ada di gereja dilebur untuk modal perang; para gubernur banyak yang memberontak kepada Kaisar Heraklius. Semua kondisi mengarah pada satu kepastian: keruntuhan imperium Romawi.

    Keajaiban terjadi 7 tahun setelah ayat tentang kemenangan Romawi diturunkan (627 M). Dalam sebuah pertempuran yang menentukan di Nineveh, Romawi mengalahkan Persia. Semua terhenyak tak percaya, akhirnya Persia harus menandatangani perdamaian yang mewajibkannya mengembalikan seluruh wilayah Romawi.

    “Alif, Lam, Mim. bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman” [Q.S. 30:1-4]

    Dari beberapa pengungkapan bukti-bukti kebenaran “tingkat tinggi” di atas, Allah mengajak kita untuk merenungkannya:

    “Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an? Jika ia bukan dari sisi Allah, tentu mereka mendapati di dalamnya banyak perselisihan.” [Q.S. 4:82]

    Pihak-pihak yang tidak percaya ada yang berusaha membuat kitab tandingan untuk menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukanlah kitab yang istimewa karena mereka pun bisa membuat yang seperti itu. Terhadap orang-orang ini Allah menyambut dengan sebuah tantangan terbuka:

    Katakanlah: Jika berkumpul manusia dan jin untuk membuat yang seperti Al-Qur’an ini, mereka tidak akan bisa membuatnya, walau sebagian dari mereka membantu sebagian yang lain. [Q.S. 17:88]

    Sumber temuan sains: http://www.keajaibanalquran.com

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 23 March 2019 Permalink | Balas  

    Konsisten Dalam Beramal 

    Konsisten Dalam Beramal

    Dari Aisyah r.a., ia berkata bahwa sesungguhnya Nabi SAW masuk rumah Aisyah, waktu itu ada seorang perempuan, dan beliau bertanya, ”Siapakah dia?” Aisyah menjawab, ”Ini adalah Si Fulanah yang terkenal shalatnya.” Nabi bersabda, ”Wahai Fulanah, beramallah sesuai kemampuanmu. Demi Allah Dia tidak akan jemu untuk menerima amalmu, sehingga kamu sendirilah yang merasa jemu. Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah yaitu yang dikerjakan secara terus-menerus (konsisten).” (HR Bukhari dan Muslim).

    Hadits ini menggambarkan, Islam tidak menyukai orang yang berlebihan dalam hal apa saja. Jangankan dalam hal yang berkaitan dengan masalah duniawi, sampai dalam hal ibadahpun tidak diperkenankan untuk berlebihan. Al Quran diturunkan bukanlah untuk kesengsaraan tapi untuk membahagiakan manusia. Berlebihan dalam ibadah akan membuat kita sengsara dan orang lain pun bisa sengsara karena hak-hak mereka terabaikan. Islam adalah agama mudah dan moderat serta agama yang memperhatikan keseimbangan antara semua aspek kehidupan manusia. Seorang muslim tidak boleh puasa sepanjang tahun dan shalat sepanjang malam terus menerus sehingga tidak tidur dan mengabaikan kewajiban lainnya seperti terhadap keluarga, terhadap diri, dan masyarakat. Kita dituntut untuk selalu konsisten dalam melaksanakan ibadah kita tanpa harus memforsir semua kemampuan.

    Anas r.a. meriwayatkan Nabi SAW masuk masjid dan menemukan tali yang terpasang memanjang antara dua tiang. Beliau lantas bertanya, ”Tali apakah ini?” Para sahabat menjawab, ”Zainab yang memasangnya, dan tali ini dipergunakan sebagai pegangan bila terasa capai dalam shalatnya.” Nabi SAW bersabda, ”Lepaskan tali itu, jika di antara kalian shalat, maka shalatlah dalam keadaan segar dan bila merasa capai, tidurlah.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Rasululah SAW pernah memberi nasihat kepada sahabat, ”Sesungguhnya agama itu mudah, dan siapa saja yang mempersulit agama maka ia akan kalah. Oleh karena itu sedang-sedanglah, dekatkanlah diri kalian kepada Allah SWT dan bersuka hatilah kalian serta pergunakanlah waktu pagi, sore, serta sedikit di waktu malam untuk mendekatkan diri. ” (HR Bukhari).

    Sahabat, salah satu indikator amal ibadah yang bisa kita lakukan secara optimal dalam kondisi suka hati, tidak berlebihan dan menyengsarakan namun tidak juga kurang, adalah amalan saat Ramadhan. Jika saat Ramadhan kita sanggup mengkaji Al-Quran dan melakukan shalat tarawih, tentunya kita bisa konsisten membaca Al- Quran dan menegakkan qiyamul lail? Jika saat Ramadhan kita senang memakai busana muslimah dan datang ke pengajian paling tidak seminggu sekali, bukan hal yang aneh jika kita konsisten mengenakannya? Jika selama Ramadhan kita rajin ke masjid dan fasih dalam menyeru kepada kebaikan, sudah sepantasnya jika kita konsisten melakukannya? Semoga kita termasuk orang-orang yang disukai Allah karena selalu menjaga konsistensi dalam beramal.

    ***

    Diambil dari Hikmah Republika

     
  • erva kurniawan 3:09 pm on 22 March 2019 Permalink | Balas  

    Belajar Al-Qur’an 

    Belajar Al-Qur’an

    Dalam upaya kita kaum muslim untuk mempelajari Al-Qur’an, hal yang pertama harus kita yakini adalah bahwa Allah memudahkan Al-Qur’an itu untuk dipelajari.

    “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an itu untuk peringatan. Maka adakah orang yang mau memikirkan?” [Q.S. 54:17] (Ayat dengan redaksi serupa: 54:22, 54:32, 54:40)

    Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat Ketika membuka lembaran-lembaran Al-Qur’an kita menemukan sebuah susunan yang unik dan mungkin dirasa kurang memuaskan. Susunannya dikatakan unik karena topik-topik yang dibahas didalam Al-Qur’an umumnya tidak termuat utuh dalam sebuah cuplikan ayat-ayat yang berurutan.

    Sekadar contoh, ketentuan tentang shalat dapat kita temukan di dalam surat Al-Baqarah ayat (3), kemudian ayat (43), (45), (83) dan pada surat-surat lainnya di dalam Al-Qur’an.

    Begitulah Al-Qur’an. Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang jelas menetapkan sebuah ketentuan secara tegas (muhkamat) dan terdapat pula ayat-ayat yang serupa (mutasyabihat) dan tersebar pada berbagai surat di dalam Al-Qur’an.

    Adanya ayat-ayat yang serupa (mutasyabihat) disamping ayat-ayat yang tegas (muhkamat) adalah untuk memisahkan antara orang-orang beriman dengan orang-orang yang hatinya menyimpang.

    “Dialah yang menurunkan al-Kitab kepadamu, di dalamnya ada ayat-ayat muhkamat (tegas). Itulah ibu al-Kitab, dan yang lain mutasyabihat (serupa). Adapun orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat darinya untuk menginginkan pertikaian, dan mencari-cari interpretasinya. Tiada yang mengetahui interpretasinya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, `Kami beriman kepadanya; semua itu dari sisi Pemelihara kami’; dan tidak dapat mengambil pelajaran, kecuali orang-orang yang berakal.” [Q.S. 3:7]

    Tahap-Tahap Belajar Al-Quran

    1. Bahasa

    Kendala pertama yang mencuat ketika ingin mempelajari Al-Qur’an biasanya adalah masalah penguasaan bahasa Arab. Para pemuka agama yang hatinya menyimpang menjadikan kendala ini senjata untuk menakut- nakuti umat agar asing dari Al-Qur’an sehingga cukup ucapan mereka (pemuka agama) saja yang dijadikan dasar untuk beragama.

    Tentu saja menguasai bahasa Arab adalah sebuah nilai lebih, namun itu bukan syarat untuk dapat menangkap pesan-pesan Allah. Dewasa ini terdapat banyak karya-karya terjemahan Al-Qur’an dalam berbagai bahasa, tidak ketinggalan pula berjenis-jenis kamus untuk mengecek kecocokan kata.

    Dapat atau tidaknya kita menangkap pesan Allah yang ada di dalam Al- Qur’an tidak bergantung pada ilmu bahasa Arab kita melainkan pada karunia iman yang ada di dalam hati kita.

    Allah yang mengatur apakah kita akan dibuat paham atau tidak!

    “Jika Kami membuatnya sebuah Qur’an dalam bahasa asing, tentu mereka berkata: `Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? Apakah dalam bahasa asing sedang orangnya berbahasa Arab?’ Katakanlah: `Al-Qur’an ini adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman di dalam telinga mereka ada sumbat, dan Al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka; mereka itu seperti dipanggil dari tempat yang jauh.” [Q.S. 41:44]

    “Sesungguhnya ia adalah Al-Qur’an yang mulia, dalam Kitab yang terpelihara, tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang dibersihkan. Suatu penurunan dari Pemelihara semesta alam.” [Q.S. 56:77-80]

    1. Menyusun Ayat-Ayat Berdasarkan Topik

    Hal ini (menyusun ayat-ayat berdasarkan topik) adalah masalah inti yang luput dari kaum muslim selama ini. Al-Qur’an sendiri memerintahkan penyusunan berdasarkan topik ini didalam perintah `Ratil’.

    “Bangunlah pada waktu malam, kecuali sedikit. Separuhnya atau kurang daripadanya sedikit. Atau lebih atasnya, dan susunlah (rattili) Al- Qur’an dengan sebuah penyusunan (tartiila). Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepada kamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bagian pertama malam lebih kuat dan lebih berkesan. Sesungguhnya pada siang hari kamu mempunyai urusan yang panjang.” [Q.S. 73:2-7]

    `Ratil’ adalah kata bahasa Arab yang berarti: `menyusun hal-hal yang serupa’.

    Sebagai contoh: Tank-tank yang dibariskan bersama disebut `Ratil Dababat’ (susunan tank-tank). Tidak dikatakan `Ratil’ dalam bahasa Arab bila hal-hal yang disusun tidak serupa (misalkan di dalam sebuah barisan terdapat tank-tank, mobil-mobil, dan pesawat-pesawat maka kata `Ratil’ tidak dapat digunakan).

    Oleh karena itu, apabila misalnya kita ingin mengetahui apa yang dikatakan Allah tentang `zakat’, maka kita dapat mulai dengan mengutip semua ayat-ayat yang bicara tentang topik `zakat’ di dalam Al-Qur’an dan kemudian `menyusunnya bersama-sama’ (Tartiil).

    Ayat-ayat yang serupa (mutasyabihat) ini dikumpulkan untuk melihat pengertian menyeluruh dari sebuah topik sehingga kita terhindar dari kesalahan karena langsung manarik kesimpulan dari sebuah ayat yang serupa (mutasyabihat) sebagaimana diperingatkan Allah pada Q.S. 3:7 di atas.

    1. Menarik Pengertian Dari Ayat-Ayat

    Setelah kita mengumpulkan ayat-ayat tentang suatu topik tertentu maka sekarang waktunya bagi kita untuk `menarik pengertian’.

    “Sesungguhnya Pemeliharamu mengetahui bahwa kamu berjaga-jaga hampir dua per tiga malam, atau separuhnya, atau satu per tiganya, dan segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menentukan malam dan siang. Dia mengetahui bahwa kamu tidak akan menjumlahkannya, dan Dia menerima taubat kamu. Maka pahamilah (faqra’u) dari al-Qur’an semudah yang dapat. Dia mengetahui bahwa antara kamu ada yang sakit, dan yang lain antara kamu berpergian di bumi, mencari pemberian Allah, dan yang lain berperang di jalan Allah. Maka pahamilah (faqra’u) darinya semudah yang dapat.” [Q.S. 73:20]

    Kata `Iqra’ berarti: `memahami/ mengerti sebuah arti’. Sayangnya kata ini sekarang biasa diartikan dengan hanya `membaca’. `Iqra’ adalah turunan dari kata `qarana’ yang berarti `menyusun sesuatu bersama-sama’.

    Sebagai contoh: Ketika seseorang membaca majalah, maka ia `Yatlu’ majalah (bukan qar’a atau iqr’a)… Sedangkan ketika seorang guru mengajarkan teori Newton kepada muridnya, dia `Yaqra’ pelajaran (menjelaskan/ memahamkan) kepada murid.

    Fase menarik sebuah pengertian dari ayat-ayat Al-Qur’an ini adalah fase paling krusial dimana kesalahan mungkin saja terjadi.

    Perhatikan faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya kesalahan:

    –             Tidak mengumpulkan ayat-ayat serupa dengan lengkap

    –             Terdapat penterjemahan kata yang tidak tepat

    –             Diperlukan pengetahuan teknis untuk memahami ayat-ayat tertentu dengan lebih baik.

    Misalkan ayat-ayat tentang penciptaan alam semesta akan lebih baik dijelaskan oleh orang yang memang mendalami ilmu fisika

    Disamping itu tidak lupa kita meminta perlindungan dari godaan syetan yang ingin mengintervensi hati kita ke dalam keragu-raguan.

    “Apabila kamu memahami Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan itu tidak ada baginya kuasa atas orang-orang yang beriman, dan bertawakal kepada Pemelihara mereka.” [Q.S. 16:98-99]

    1. Perhatikan penjelasan orang lain dan ikuti pengertian yang terbaik.

    Meskipun sudah menarik pengertian yang kita `rasa’ tepat, tetaplah terbuka terhadap masukan-masukan dari orang lain. Bisa jadi ada pandangan berbeda yang lebih tepat disebabkan adanya ayat-ayat ataupun contoh-contoh di dalam Al-Qur’an yang luput dari pengamatan kita.

    Jangan langsung apriori atau membantah. Simak dan diamlah sejenak …

    “Dan apabila dijelaskan Al-Qur’an, dengarkanlah dan diamlah supaya kamu dirahmati.” [Q.S. 7:204]

    Orang-orang yang mendapat petunjuk Allah dan menggunakan akalnya tidak akan mempertahankan pendapatnya atas dasar ego. Ia akan mengikuti yang `terbaik’ dari beberapa pendapat berbeda yang ada.

    “Orang-orang yang mendengarkan perkataan dan mengikuti yang paling baik darinya, mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah; mereka itulah orang-orang yang mempunyai pikiran.” [Q.S. 39:18]

    Dalam menjalani proses belajar Al-Qur’an ini kita harus bersabar dan tidak lupa bahwa guru sebenarnya dalam memahami Al-Qur’an adalah Allah. Mintalah kepada-Nya agar kita ditambahkan pengetahuan.

    “Dan janganlah kamu tergesa-gesa dengan Al-Qur’an sebelum wahyunya disempurnakan kepadamu. Dan katakanlah: `Wahai Pemeliharaku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” [Q.S. 20:114]

    ***

    Kiriman Sahabat Debusemesta

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 1 March 2019 Permalink | Balas  

    Adakah hal yang meringankan dalam sholat Oleh Armansyah… 

    Adakah hal yang meringankan dalam sholat?

    Oleh: Armansyah

    Tidak bisa dipungkiri, sholat dianggap oleh kebanyakan dari umat Islam sebagai sebuah ritual yang sangat berat untuk dikerjakan apalagi untuk melengkapinya sejumlah lima waktu seperti yang diperintahkan oleh Allah melalui Nabi-Nya.; Belum lagi dengan banyaknya syarat-syarat yang ditetapkan oleh para ulama sehingga sholat dirasakan semakin kompleks dan penuh aturan. Padahal sebenarnya ajaran Islam tidak rumit apalagi bersifat memberatkan umatnya.

    Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menginginkan kesukaran bagimu – Qs. 2 al-Baqarah: 185

    Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya – Qs. 6 al-an’aam: 152

    Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, sabdanya: sesungguhnya Islam itu mudah ; dan barang siapa yang memperberatnya, ia akan dikalahkan oleh agamanya – Hadis Riwayat Bukhari

    Islam sebagai agama wahyu merupakan ajaran rasional, tidak bertentangan dengan fitrah manusia yang diciptakan oleh Yang Maha pembuat wahyu itu sendiri.; karenanya, pembuat mobil Kijang tentu tidak akan memberikan buku petunjuk (manual book) untuk mobil Sedan, demikian juga sebaliknya.

    Begitulah Islam, dia diturunkan oleh Allah yang menciptakan manusia, maka bagaimana mungkin Allah akan menurunkan buku petunjuk berisi pedoman yang tidak sesuai dengan karakteristik manusia itu sendiri?

    Sesuai isi hadis diatas, Nabi berpesan agar manusia tidak memperberat ajaran Islam sebab hanya akan membuat manusia itu dikalahkan oleh agama. Dimana akhirnya tidak akan ada amal yang sempat diperbuat oleh simanusia itu sendiri karena dia selalu memandang semua perintah agama itu sulit dan berat untuk dilakukan sehingga akhirnya tidak ada satupun kewajiban agama yang dijalankannya. Perintah sholat salah satu kewajiban yang memiliki banyak kemudahan dalam praktek pengamalannya, berikut beberapa poin penting kemudahan tersebut:

    1.. Jika saat waktu sholat tiba namun mata mengantuk, maka lebih utama untuk menundanya setelah bangun dari tidur:

    Dari ‘Aisyah: Sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: ‘Apabila seseorang dari kamu mengantuk dan dia hendak sholat maka tidurlah sampai kantuknya hilang. Karena apabila seseorang sholat dalam keadaan mengantuk, dia tidak sadar, bisa saja dia hendak meminta ampun kepada Tuhan tetapi dia malah memaki dirinya sendiri’ – Hadis Riwayat Bukhari

    2.. Bila memang kita belum melakukan sholat namun ketiduran, maka sholat boleh dikerjakan saat bangun tidurnya:

    Dari Abu Qatadah ia berkata: ‘Sahabat-sahabat menceritakan kepada Nabi Saw tentang tertidurnya mereka sebelum sholat, lalu Nabi Saw bersabda: sesungguhnya didalam tidur itu tidak ada kelalaian karena kelalaian itu hanyalah dalam keadaan terjaga karenanya apabila salah seorang diantara kamu lupa sholat atau tertidur maka sholatlah ketika ingat ! ‘ – Hadis Riwayat Nasai dan Tirmidzi

    3.. Bila bangun kesiangan tetapi sholat subuh belum ditunaikan, tetap syah mengerjakannya meskipun hari sudah tidak lagi subuh:

    Dari Abu Rajak dari ‘Auf dari Imran, katanya: Adalah kami pada suatu perjalanan bersama dengan Nabi Saw dan kami berjalan malam hari dan ketika larut malam, tidurlah kami dan tidak ada tidur yang lebih nyenyak dari itu bagi orang musafir tidak ada yang membangunkan kami selain panas matahari.

    Nabi Saw apabila beliau tidur tidak dibangunkan sampai beliau bangun sendirinya, kami tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam tidurnya. Setelah umar bangun dan dilihatnya apa yang terjadi pada orang banyak (mereka masih tidur sementara matahari telah tinggi) maka umar yang berkepribadian keras lalu bertakbir dan dikeraskannya suaranya membaca takbir itu hingga bangunlah Nabi Saw;

    Setelah Nabi bangun, mereka mengadukan kepada Nabi hal kesiangan mereka ; Jawab Nabi: tidak mengapa dan mari kita berangkat !

    lalu Nabi berangkat dan setelah berjalan tidak seberapa jauh, Nabi berhenti dan meminta air untuk berwudhu’, lalu Nabi berwudhu’ dan orang banyakpun dipanggil untuk sholat, maka sholatlah Nabi bersama mereka – Hadis Riwayat Bukhari

    4.. Bila lupa mengerjakan sholat, maka boleh melakukannya setelah ingat.

    Dari Anas, dari Nabi Saw sabdanya:’Barang siapa yang lupa mengerjakan sholat maka sholatlah setelah dia ingat tidak ada hukuman baginya selain dari itu dan kerjakanlah sholat untuk mengingat Tuhan.’ – Hadis Riwayat Bukhari

    5.. Bila tubuh sedang letih, boleh melakukan sholat sambil duduk

    Nabi Saw datang kerumah Zainab (salah seorang puteri beliau)

    Kebetulan disitu ada tali terbentang antara dua tonggak; Nabi bertanya: tali apa ini? Orang banyak menjawab: tali untuk Zainab apabila ia letih mengerjakan sholat berpeganglah ia ditali itu ;

    Sabda Nabi: Tidak boleh, bukalah !

    Hendaklah kamu mengerjakan sholat menurut kesanggupannya ; apabila telah letih, duduklah – Hadis Riwayat Bukhari

    6.. Bila cuaca sedang panas, bisa menunggu hingga sampai keadaan cuaca mereda

    Dari Abu Dzar, ia berkata: ‘Kami pernah bersama Nabi Saw, ketika muadzin hendak azan Zhuhur, Nabi bersabda: Tunggulah sampai dingin ; Kemudian muadzin hendak azan lagi, Nabi bersabda kepadanya: ‘Tunggulah sampai dingin’ ! ; Sehingga kami melihat bayangan bukit, lalu Nabi bersabda: Sesungguhnya panas itu uap neraka, karenanya bila keadaan sangat panas maka akhirkanlah waktu sholat sampai dingin !’ – Hadis Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim

    7.. Bila saat sholat berbenturan dengan waktu makan, maka boleh mendahulukan makan sebab sholat dalam keadaan lapar sementara makanan sudah siap diatas meja hanya akan membuat pikiran tidak tenang dan konsentrasi sholat menjadi terganggu

    Dari ‘Aisyah, bahwa Nabi Saw bersabda: ‘ Apabila akan didirikan sholat, sedangkan makan malam telah dihidangkan maka dahulukanlah makan malam itu’ – Hadis Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim

    8.. Bila sedang dalam perjalanan, kita boleh menyingkat sholat yang tadinya berjumlah empat raka’at menjadi dua raka’at saja

    Dari Ibnu Umar, r.a, katanya: ‘Pernah saya menemani Nabi Saw dan sholat beliau dalam perjalanan tidak lebih dari dua raka’at’ – Hadis Riwayat Bukhari

    9.. Wanita yang sedang dalam keadaan menstruasi diperbolehkan untuk meninggalkan sholat mereka

    Dari ‘Aisyah r.a: . (disingkat -pen) ; Nabi menjawab: ‘Karena itu, apabila datang darah haid, tinggalkan sholat dan bila darah haid itu habis maka mandilah untuk sholat ‘ – Hadis Riwayat Bukhari

    10.. Boleh mengerjakan sholat dimana saja tanpa harus melakukannya disurau, masjid dan sejenisnya:

    Dari Jabir bin Abdullah r.a, katanya: ‘Rasulullah Saw pernah bersabda: dijadikan bumi untukku menjadi alat bersuci dan tempat sujud; karena itu, sholatlah kamu dimana saja kamu mendapati waktu sholat – Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim

    11.. Kerjakanlah sholat sesuai kondisi tubuh:

    Dari ‘Ali, r.a, katanya: bersabda Nabi Saw: ‘ Sholatlah orang yang sakit dengan berdiri jika ia bisa ; bila tidak mampu maka sholatlah dengan duduk ; jika tidak mampu untuk sujud, isyaratkan saja dengan kepala ; dan dijadikannya sujudnya itu lebih rendah dari ruku’nya ; jika tidak mampu sholat duduk, maka sholatlah sambil berbaring kekanan serta menghadap kiblat; jika tidak mampu juga maka sholatlah dengan menelentang ; sedang kedua kakinya membujur kearah kiblat’ – Hadis Riwayat Daruquthni

    12.. Sholat tidak menghalangi kita untuk tetap menjaga balita

    Dari Abu Qatadah al Anshari: Sesungguhnya Rasulullah Saw sholat sambil mendukung Umamah binti zainab binti Rasulullah; apabila Nabi sujud, diletakkannya Umamah itu dan saat ia berdiri didukungnya kembali – Hadis Riwayat Bukhari

    Dari Abu Hurairah berkata: Kami Sholat Isya’ beserta Nabi ; Apabila beliau bersujud, Hasan dan Husen melompat atas punggungnya; Karena itu, apabila Nabi mengangkat kepalanya beliau mengangkat Hasan dan Husen dari punggung dengan lembut dan mendudukkannya ke lantai; ketika Nabi kembali sujud, Hasan dan Husen kembali menduduki punggungnya ; demikian keadaan itu berlangsung hingga selesai sholat sesudah selesai sholat, Nabi mendudukkan salah seorangnya keatas pahanya – Hadis Riwayat Ahmad

    13.. Meskipun sholat berjemaah itu baik, namun bila sebagai makmum kita datang terlambat padahal imam sudah memulai raka’at sholatnya, tidak perlu berlari mengejar ketinggalan:

    Dari Abu Hurairah, katanya: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda: ‘Apabila kamu mendapati orang telah sholat, janganlah kamu berlari-lari mengejarnya berjalanlah seperti biasa dan hendaklah kamu bersikap tenang diraka’at mana kamu dapatkan, teruskanlah dan mana yang ketinggalan maka sempurnakanlah – Hadis Riwayat Bukhari

    14.. Hujan dan becek tidak menghalangi sholat

    Kata Abu Sa’id al Khudri: ‘Datang awan gelap, maka hujanlah hari sampai bocor atap masjid dan atap itu dari pelepah batang korma ; lalu orang sholat dan kulihat Rasulullah Saw sujud diatas air dan tanah hingga kulihat bekas-bekas tanah dikeningnya – Hadis Riwayat Bukhari

    Demikianlah beberapa poin kemudahan yang ada dalam sholat yang sudah diberikan Allah melalui Rasul-Nya dan telah diteladani pula oleh keluarga dan sahabatnya, sehingga tidak ada alasan bagi kita selaku umat Islam untuk melalaikan sholat apalagi sampai membuatnya seolah suatu ritual yang sangat rumit dan tidak manusiawi.

    ***

    Sholatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku sholat

    Hadis Riwayat Ahmad dan Bukhari dari Malik bin al-huwairits

    Wassalam

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: