Updates from Maret, 2013 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:59 am on 31 March 2013 Permalink | Balas  

    Yang Sering Kita Dapati Di Dalam Shalat Jama’ah 

    khusukDiriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Seseorang imam itu dijadikan supaya diikuti. Oleh itu, janganlah kamu melakukan perkara-perkara yang berbeda dengannya. Apabila dia bertakbir, takbirlah. Apabila dia rukuk, rukuklah. Apabila dia membaca “Samiallahuliman hamidah” bacalah “Allahumma robbana lakal hamdu” dan apabila dia sujud, sujudlah. Apabila dia sembahyang dalam keadaan duduk, sembahyanglah juga dalam keadaan duduk (HR : Bukhori, Muslim, Nasaie, Ibnu Majah, Abu Daud)

    Dari hadist diatas sudah jelas bahwa kita harus mengikuti gerakan Imam, karena Rasulullah Saw juga pernah bersabda, bahwa bacaan Imam adalah Bacaan makmum (Beberapa Imam ada perbedaan tentang hadist ini), untuk lebih jelasnya silahkan dibaca artikel dibawah ini.

    Yang Sering Kita Dapati Di Dalam Shalat Jama’ah

    Di dalam shalat berjama’ah, kita sering menjumpai berbagai pemandangan dan perilaku yang beraneka ragam. Di antaranya, ada yang terkesan mengganggu dan kurang membuat enak di antara para jama’ah. Tulisan di bawah merupakan kumpulan dari berbagai hal yang sering dijumpai di dalam shalat berjama’ah. Disusun berdasarkan pengalaman yang dialami sendiri oleh penulis dan dari hasil tanya jawab dengan beberapa orang jama’ah. Di antara yang pokok dan perlu untuk diketengahkan adalah sebagai berikut:

    1. Ada sebagian orang yang berdiri di dalam shaf secara tidak tegak lurus, meliuk-liuk ke kanan dan ke kiri (gontai), kadang kaki kanan maju dan kadang kaki kiri layaknya orang yang tidak kuat berdiri. Jika ia orang yang sudah tua mungkin bisa dimaklumi, akan tetapi jika yang melakukan hal itu seorang yang masih gagah dan kedua kakinya pun kokoh, maka hal itu tidak sepantasnya. Biasanya orang yang demikian karena merasa malas dan berat dalam menunaikan shalat.

    2. Ada di antara sebagian orang yang ketika shalat dimulai, langsung menerobos ke shaf awal atau mencari tempat tepat di belakang imam. Padahal shaf depan telah penuh dan ia datang belakangan sehingga menjadi saling berhimpitan dan membuat orang lain terganggu. Jika ia memang menginginkan shaf depan atau di belakang imam, maka seharusnya ia datang lebih awal.

    3. Dan sebaliknya ada juga sebagian orang yang datang ke masjid lebih awal, namun ia tidak segera menempati shaf depan tetapi malah mengam-bil tempat di bagian tengah atau belakang, ia biarkan shaf depan atau posisi belakang imam diambil orang lain, padahal ia merupakan tempat yang utama. Ini adalah kerugian, karena telah membiarkan sesuatu yang berharga lewat begitu saja tanpa mengambilnya serta menghalangi dirinya dari memperoleh kebaikan.

    4. Sebagian orang juga ada yang berlebih-lebihan di dalam merapatkan shaf, yakni terus mendorongkan kakinya dengan kuat, padahal antara dia dan sebelahnya sudah saling merapat-kan kaki. Sehingga menjadikan orang yang berada di sebelahnya terganggu, tidak tenang dan tidak khusyu’ di dalam shalatnya. Sebaliknya, ada orang yang meremehkan masalah ini, sehingga membiarkan antara dia dengan orang di sebelahnya ada celah untuk syetan.

    5. Ada sebagian juga yang bersema-ngat dalam menerapkan sunnah di dalam shalat, namun terkadang dengan cara terlarang yaitu mengganggu sesama muslim. Dan sudah maklum, bahwa menjauhi sesuatu yang terlarang lebih didahulukan daripada menjalankan yang mustahab (sunnah). Sebagai contoh adalah seseorang yang merenggangkan kedua tangannya ketika sujud, sehingga sikunya mendorong bagian dada orang yang di sampingnya, atau duduk tawaruk (tahiyat akhir) dalam shaf yang sempit dan membiarkan badannya mendorong kepada orang yang di sebelahnya sehingga mengganggunya.

    6. Ada juga di antara mereka yang tatkala berdiri dalam shalat dan bersedekap, sikunya di dada orang lain yang ada di sampingnya, apalagi dalam kondisi shaf yang rapat, tempat yang sempit dan berdesakan. Seharusnya ia bersikap lemah-lembut terhadap sesama muslim, sebisa mungkin merubah posisi dengan menyelaraskan kedua tangan yang bersedekap terhadap orang yang berada di sampingnya.

    7. Ada pula di antara jama’ah yang ketika mendapati imam sedang sujud atau duduk, ia tidak segera mengikuti apa yang sedang dilakukan imam tersebut. Akan tetapi, ia menunggu hingga imam berdiri untuk raka’at selanjutnya. Kesalahan ini sering sekali terjadi, padahal yang benar adalah hendaknya ia bersegera mengi-kuti imam masuk ke dalam jama’ah shalat, tanpa memandang apa yang sedang dilakukan imam. Mengenai hal ini, Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda,

    ‘Apabila kalian mendatangi shalat sedangkan kami sedang sujud, maka ikutlah sujud, dan janganlah kalian memperhitungkannya dengan sesuatu.’

    Walaupun ia tidak mendapatkan raka’at tersebut (kecuali jika mendapatkan rukuk), namun ia mendapatkan pahala atas apa yang telah ia kerjakan itu.

    8. Ada pula sebagian jama’ah yang ketika datang dan mendapati imam sedang rukuk, ia lalu berdehem, pura-pura batuk, atau berbicara dengan suara agak keras supaya imam mendengar lalu menunggunya (memanjangkan rukuknya). Hal ini jelas mengganggu orang-orang yang sedang shalat, dan membuat mereka tidak tenang (gelisah). Yang diperintahkan syari’at adalah hendaknya ia masuk shaf dalam keadaan tenang dan tidak terburu-buru, jika mendapatkan rukuk, maka alhamdulillah dan kalau ketinggalan, maka hendaknya ia menyempurnakan.

    9. Di antara sebagian orang ada pula yang terburu-buru masuk shaf untuk mengejar rukuk, ia bertakbir dengan tujuan untuk rukuk, padahal seharusnya takbir itu adalah takbiratul ihram yang memang hanya dilakukan dalam posisi berdiri. Yang disyariatkan adalah hendaknya ia bertakbir dua kali, pertama takbiratul ihram dan ini merupakan rukun, sedang takbir kedua untuk rukuk yang dalam hal ini adalah mustahab (sunnah).

    10. Ada juga orang yang bertakbir untuk mengejar rukuk, namun imam keburu mengangkat kepala. Maka berarti ia memulai rukuk ketika imam telah selesai mengerjakannya, dan ia menganggap, bahwa dirinya telah mendapatkan satu raka’at. Ini merupakan kesalahan dan ia tidak terhitung mendapatkan satu raka’at, sebab untuk mendapatkan satu raka’at seseorang harus mengucapkan minimalnya satu bacaan tasbih (subhana rabbiyal ‘adzim) secara tuma’ninah bersama rukuknya imam.

    11. Terkadang pula kita mendapati orang (makmum) yang mengeraskan bacaan shalat dalam shalat sirriyah, sehingga mengganggu orang yang berada di sebelahnya. Selayaknya dalam shalat jama’ah, seseorang jangan mengangkat suaranya hingga terdengar orang lain, cukuplah bacaan itu terde-ngar oleh dirinya sendiri. Termasuk dalam hal ini adalah seseorang yang membaca al-Fatihah dengan suara agak keras dalam shalat jahar setelah imam selesai membacanya. Sebaiknya, ia diam untuk mendengarkan bacaan imam atau membaca Al-Fatihah sekedar yang terdengar oleh dirinya sendiri. Juga orang yang melafalkan niat dengan suara yang terdengar orang lain, bahkan hal ini merupakan perkara bid’ah, karena niat itu tempatnya di hati dan Nabi serta para shahabat tidak pernah melafalkan niat.

    12. Sebagian orang ada yang shalat di masjid dengan mengenakan pakaian kumal seadanya, pakaian kotor atau pakaian tidur. Padahal Allah Subhannahu wa Ta’ala telah berfirman dalam surat al-A’raf : 31.

    ‘Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan.’ (QS. 7:31)

    Jika seseorang akan masuk ke rumah seorang pejabat, atau mau berangkat ke kantor, maka tentu ia akan memilih pakaian yang bagus bahkan yang paling bagus. Maka ketika akan ke masjid tentu lebih utama lagi. Sebagian orang memang ada yang bekerja di tempat-tempat yang meng-haruskan pakaian mereka kotor (seperti bengkel, buruh, tani dan lain-lain, red), sehingga ketika shalat dengan baju kotor mereka beralasan karena kondisi pekerjaan yang mengharuskan demikian. Maka penulis menyarankan agar orang tersebut mengkhususkan satu pakaian yang bersih dan hanya dipakai waktu shalat saja.

    13. Ada pula sebagian orang yang mendatangi masjid, padahal baru saja makan bawang merah atau bawang putih (dan yang semisalnya seperti petai, jengkol dan lain-lain, red), sehingga menebarkan aroma yang tidak sedap. Dalam sebuah hadits, Nabi n telah bersabda,

    ‘Barang siapa yang makan bawang merah atau bawang putih, maka janganlah sekali-kali mendekati masjid kami.’

    Sama halnya dengan orang yang menghisap rokok yang juga menebarkan bau tidak sedap sebagaimana bawang dan yang semisalnya. Para ulama sepakat bahwa rokok itu merusak dan berbahaya, serta menghisapnya adalah haram pada setiap waktu, bukan ketika mau shalat saja.

    14. Ada pula di antara sebagian jama’ah yang tidak perhatian terhadap lurusnya shaf dalam shalat. Maka kita melihat di antara mereka ada yang agak lebih maju atau lebih mundur di dalam shaf, dan tidak lurus dengan para jama’ah yang lain, padahal masjid-masjid sekarang pada umumnya telah membuat garis shaf atau tanda-tanda lain. Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam telah memperingatkan hal itu dengan sabdanya,

    ‘Janganlah kalian berbeda (berselisih) di dalam shaf, sebab hati kalian akan menjadi berselisih juga.’

    Seharusnya setiap makmum berusaha meluruskan diri dengan melihat kanan kirinya, kemudian merapatkan pundak dan telapak kaki antara satu dengan yang lain.

    ***

    Dari: Ketut Junaedi

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 30 March 2013 Permalink | Balas  

    Klasifikasi Orang Di Dalam Melaksanakan Shalat 

    sujudKlasifikasi Orang Di Dalam Melaksanakan Shalat

    1. Orang yang selalu menjaga shalat-nya. Yaitu dengan menunaikannya secara baik dan benar serta berjama’ah di masjid. Ia segera memenuhi panggilan shalat ketika mendengar adzan, selalu berusaha berada di shaf terdepan di belakang imam. Di sela-sela menunggu imam, ia gunakan waktu untuk berdzikir, membaca Al-Qur’an hingga didirikan shalat. Orang yang melakukan ini akan mendapatkan pahala yang besar dan terbebas dari dua hal, yaitu dari api neraka dan dari nifaq, sebagaimana tersebut dalam hadits riwayat Imam at-Tirmidzi dari Anas.
    2. Orang yang melakukan shalat dengan berjama’ah namun sering atau selalu terlambat. Ia selalu ketinggalan takbiratul ihram, satu atau dua raka’at dan bahkan sering datang pada waktu tahiyat akhir. Bagi para salaf ketinggalan takbiratul ihram bukanlah masalah kecil, sehingga mereka sangat perhatian agar tidak ketinggalan di dalamnya.
    3. Orang melakukan shalat secara berjama’ah karena takut orang tua. Mereka melakukan shalat dengan berjama’ah karena mencari ridha orang tuanya, sehingga tatkala orang tuanya tidak ada di rumah atau sedang bepergian, maka ia tidak lagi mau berjama’ah, lebih-lebih dalam shalat Shubuh.
    4. Orang yang tidak pernah shalat berjama’ah di Masjid. Ia mendatangi masjid hanya sekali dua kali saja atau ketika Hari Jum’at saja, mereka berdalil dengan pendapat sebagian orang yang mengatakan, bahwa shalat berjama’ah itu bukan sesuatu yang wajib. Padahal Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam tidak memberikan rukhshah kepada seorang yang buta untuk shalat di rumah, maka selayaknya seorang muslim mendahulukan ucapan Nabinya.
    5. Orang melakukan shalat secara asal-asalan. Yaitu tidak menyempurnakan rukuk, sujud serta rukun-rukun dan kewajiban yang lain. Dalam shalatnya ia tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali, bahkan mungkin hanya sekedar ikut-ikutan shalat dan gerak saja.
    6. Orang yang melakukan shalat sesuai syarat dan rukunnya, namun ia tidak menghayati dan mengerti. Ia melakukan shalat dengan raga-nya secara baik, akan tetapi pikirannya mengembara dalam urusan dunia, hatinya pun tidak tertuju pada apa yang sedang ia kerjakan saat itu.

    ***

    Sumber, ‘Ashnafunnas Fish Shalah’

    Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnid.

    Dicopy dari: alsofwah.or.id

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 29 March 2013 Permalink | Balas  

    Orang Kaya yang Kaya 

    kaya hatiOrang Kaya yang Kaya

    Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

    Sahabatku, sungguh beruntung orang kaya yang kaya. Kaya akan harta dan hati. Kita terkadang melihat seseorang kaya karena banyaknya harta, mewahnya rumah dan bagusnya mobil. Pernahkah kita menilai orang yang miskin (papa) disebut kaya? Kita telah melupakan definisi kaya yang hakiki; karena itu kekayaan seseorang tidak bisa diukur dari sisi hartanya, melainkan dari segi maknanya.

    Tidak sedikit kita menemukan bahwa orang yang memiliki kekayaan dinilai dari dunia. Padahal kekayaan yang sesungguhnya adalah kaya dengan ilmu. limu adalah kekayaan yang nilainya lebih tinggi dari materi, bahkan Allah meninggikan orang yang berilmu beberapa derajat. Karena orang yang berilmu akan dihargai daripada orang yang tidak berilmu. Ini definisi pertama dari orang kaya yang kaya. Kedua, orang kaya yang memiliki hati (yang) ikhlas, lapang, Seseorang yang diberi kekayaan dengan cinta yang lapang dan ikhlas akan merasakan sendiri kenikmatannya.

    Artinya, yang kaya bukanlah yang memiliki banyak materi melainkan yang memiliki hati yang ikhlas dan lapang. Ketiga, seseorang yang memiliki kekayaan berupa anak shaleh dan shalehah. Anak yang shaleh dan shalehah merupakan aset terbesar bagi orangtua. Dalam hadits dikatakan bahwa, jika anak Adam telah meninggal, maka putuslah semua amalnya; kecuali tiga perkara yaitu shadaqah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang shaleh. Keempat, adalah kaya dengan infak/shadaqah. Karena ia yakin bahwa setiap harta yang digunakan di jalan Allah tidak akan berkurang, dan bahkan akan bertambah, bertambah, dan bertambah. Dengan infak itulah rezeki kita akan menambah berat pahala di hari perhitungan nanti.

    Saudaraku, marilah jadikan diri kita menjadi orang kaya “yang kaya” dan orang miskin “yang kaya”. Yakni kaya dengan ilmu, hati, anak shaleh-shalehah, dan kaya dengan infak/shadaqah. Karena hal itulah yang menjadi sumber kebahagiaan yang akan kita peroleh, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 28 March 2013 Permalink | Balas  

    Kekuasaan Allah 

    syukurKekuasaan Allah

    Di Alkitab, Genesis 32:25-28 disebutkan Yakub berkelahi melawan Allah sejak malam hingga fajar menyingsing. Karena Allah tak dapat mengalahkan Yakub, maka Allah memukul sendi pangkal paha Yakub dan berkata bahwa Yakub telah melawan Allah dan Manusia dan Yakub menang. Adakah ini artinya Allah kalah melawan Yakub?:

    Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing.

    Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu.

    Lalu kata orang itu: “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.”

    Bertanyalah orang itu kepadanya: “Siapakah namamu?” Sahutnya: “Yakub.”

    Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” [Genesis 32:24-28]

    Dalam Injil Matius diceritakan bagaimana Tuhan Yesus ditangkap, diludahi, dan dipukul oleh manusia:

    27:27 Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus.

    28 Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya.

    29 Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: “Salam, hai Raja orang Yahudi!”

    30 Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya.

    31 Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan.[Matius 27:27-31]

    Dalam Islam disebut bahwa jangankan seorang Yakub. Seluruh manusia pun Allah yang Maha Kuasa dapat memusnahkan dengan mudah!

    “Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” [Faathir:16-17]

    “Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain. “ [Al An’aam:133]

    Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2008/03/17/perbandingan-agama-yahudi-kristen-dan-islam/

    Mohon sebarkan!

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 27 March 2013 Permalink | Balas  

    Keutamaan “Kalimat Laa Ilaha Illallah” 

    lailahaillahKeutamaan “Kalimat Laa Ilaha Illallah”

    Ibnu Rajab dalam Kalimatul Ikhlas mengatakan,”Kalimat Tauhid (yaitu Laa Ilaha Illallah, pen) memiliki keutamaan yang sangat agung yang tidak mungkin bisa dihitung.” Lalu beliau rahimahullah menyebutkan beberapa keutamaan kalimat yang mulia ini. Di antara yang beliau sebutkan :

    Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ merupakan harga surga

    Suatu saat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mendengar muadzin mengucapkan ’Asyhadu alla ilaha illallah’. Lalu beliau mengatakan pada muadzin tadi, ”Engkau terbebas dari neraka.” (HR. Muslim no. 873)

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ”Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga” (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621)

    Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ adalah kebaikan yang paling utama

    Abu Dzar berkata, ”Katakanlah padaku wahai Rasulullah, ajarilah aku amalan yang dapat mendekatkanku pada surga dan menjauhkanku dari neraka.” Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,”Apabila engkau melakukan kejelekan (dosa), maka lakukanlah kebaikan karena dengan melakukan kebaikan itu engkau akan mendapatkan sepuluh yang semisal.” Lalu Abu Dzar berkata lagi,”Wahai Rasulullah, apakah ’laa ilaha illallah’ merupakan kebaikan?” Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,”Kalimat itu (laa ilaha illallah, pen) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.” (Dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas, 55)

    Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ adalah dzikir yang paling utama

    Hal ini sebagaimana terdapat pada hadits yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam (hadits marfu’), ”Dzikir yang paling utama adalah bacaan ’laa ilaha illallah’.” (Dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas, 62)

    Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ adalah amal yang paling utama, paling banyak ganjarannya, menyamai pahala memerdekakan budak dan merupakan pelindung dari gangguan setan

    Sebagaimana terdapat dalam shohihain (Bukhari-Muslim) dari Abu Hurairoh radhiyallahu ’anhu, dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda, ”Barangsiapa mengucapkan ’laa il aha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli syay-in qodiir’ [tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu] dalam sehari sebanyak 100 kali, maka baginya sama dengan sepuluh budak (yang dimerdekakan, pen), dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 kejelekan, dan dia akan terlindung dari setan pada siang hingga sore harinya, serta tidak ada yang lebih utama darinya kecuali orang yang membacanya lebih banyak dari itu.” (HR. Bukhari no. 3293 dan HR. Muslim no. 7018)

    Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ adalah Kunci 8 Pintu Surga, orang yang mengucapkannya bisa masuk lewat pintu mana saja yang dia sukai

    Dari ’Ubadah bin Shomit radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa mengucapkan ’saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa ’Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh dari-Nya, dan (bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya dan neraka pun benar adanya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki.” (HR. Muslim no. 149)

    (Lihat Kalimatul Ikhlas, 52-66. Sebagian dalil yang ada sengaja ditakhrij sendiri semampu kami)

    Inilah sebagian di antara keutamaan kalimat syahadat laa ilaha illallah dan masih banyak keutamaan yang lain.

    ***

    Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

    Artikel http://rumaysho.com

     
    • firman 9:10 pm on 14 November 2014 Permalink

      nuhun

  • erva kurniawan 1:16 am on 26 March 2013 Permalink | Balas  

    Orang Tua Kita 

    siluet keluarga 2Orang Tua Kita

    Pagi ini berangkat kantor ketika turun dari bus aku lihat bapak tua yang sedang memikul beban berat di pundaknya, dari fisiknya yang sudah renta mungkin umur bapak ini sudah hampir 70 tahun, tapi ketika aku melihat beliau sedang memikul pisang dagangan nya mungkin untuk di jual atau barusan habis belanja. Tampak sekali bapak ini kepayahan. Pingin sekali aku bisa membantu tapi akhirnya aku hanya bisa menatap iba, dan berdoa Ya Robb muliakan beliau

    Dan kemarin di bus aku bareng dengan seorang ibu, melihat dari keriput kulitnya umur ibu ini mungkin dah hampir 60 tahun tapi waktu itu beliau naik metromini dan dengan membawa beban belanjaan yang habis di belinya di pasar kebayoran, sudah kelihatan letih si ibu harus berdiri di bus karena memang tak ada lagi tempat duduk bahkan bus penuh sesak.

    Beberapa malam yang lalu aku sempat menyaksikan sekilas acara di TV, semacem reality Show yang di kemas dalam format humor. Acara yang di pandu oleh tokoh pelawak yang lagi hit di negeri ini, menghadirkan bintang tamu ayah kandung si presenter ini. Aku sedih melihat si bapak yang memang kelihatan orang dari kampung jadi bahan tertawaan dan candaan oleh anak nya sendiri.

    Sahabat..

    Pernahkah berfikir seperti apa perjuangan orang tua kita untuk memberi makan kita, melindungi kita, membahagiakan kita. Dengan tetesan darah, keringat dan airmata mereka berjuang, mungkin sosok2 diatas hanya segelintir contoh. Bahkan ada yang lebih berat lagi perjuangannya.

    Pernahkah kita membayangkan bagaimana orang tua kita dulu mencari uang untuk menyekolahkan kita, membelikan baju baru, membelikan apapun yang kita inginkan tanpa mengharap balas, setiap hari kita hanya menerima kebaikannya, kasih sayangnya yang tiada lelah dan tiada bosan.

    Pernahkah kita renungkan mungkin demi kita ayah dan ibu kita rela di caci maki orang, mungkin demi kita ayah ibu kita rela menahan malu mencari pinjaman uang, pernahkan kita renungkan itu???. Bahkan mungkin demi kita ayah ibu kita rela menahan lapar, menahan keinginan untuk memiliki baju yang bagus, untuk memiliki barang yang mewah. Tapi apa yang telah kita berikan pada mereka?? Sanggupkah kita membalas segala budinya, bahkan untuk bericara dengan lembut pun terasa begitu berat bibir ini. Bahkan mungkin kita sering menolak perintahnya, mengabaikan nasehatnya.

    Sahabat….

    Pepatah mengatakan ” orang tua kaya anak jadi raja, anak kaya orang tua jadi pembantu” pepatah ini bukan omong kosong belaka, karena banyak fakta yang membuktikan seperti itu. Ketika orang tua kaya segala keinginan anak dipenuhi tetapi ketika anak kaya tak jarang orang tua di perlakukan seperti pembantu, untuk mengurus anak, menjaga anak, bahkan menjaga rumah. Akankah kita juga seperti itu??

    Sahabat…

    Mari kita renungkan, dan intropeksi diri masing-masing terutama untuk diriku sendiri bagaimana perilaku kita selama ini, sudah kah kita termasuk anak yang berbakti, sudah sanggupkah kita menjaga lisan ini agar tidak menyakiti hati mereka, dan apa yang sudah kita lakukan untuk mebahagiakan mereka??, sudah kah kita mendoakan mereka di setiap sholat kita??

    Semoga kita termasuk anak yang berbakti dan bisa menjadi seorang anak yang soleh & solehah sehingga kita bisa menjadi penolong kedua orang tua kita kelak di yaumil akhir. Semoga kita bisa Mebahagiakan mereka di dunia dan akherat. Amiin

    “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh , dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” Q.S 4/36

    Wass

    Zrie_Kla

    ***

    Dari Sri Mulyani

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 25 March 2013 Permalink | Balas  

    Pengalaman Rohani: Mowo Purwito Disadarkan Sifat Wajib Allah 

    syukurPengalaman Rohani: Mowo Purwito Disadarkan Sifat Wajib Allah

    Untuk sebagian besar umat Islam, terutama mereka yang tinggal di kampung, 20 sifat wajib Allah merupakan lafal yang sering diucapkan. Apalagi, buat mereka yang belajar di madrasah-madrasah maupun di majelis taklim. Bahkan kadang, 20 sifat wajib Allah ini dibaca dengan irama menarik, untuk mempermudah diingat dan dihafal.

    Lain lagi, buat Mowo Purwito Rahardjo. Bagi pria kelahiran Situbondo 28 Oktober 1965 ini, 20 sifat wajib bagi Allah tersebut telah membimbingnya menjadi seorang Muslim. ”Saya belajar teologi sudah lama tetapi yang saya pakai untuk perbandingan karena saya ingin melihat Islam justru pelajaran anak kelas 6 SD yang berbicara tentang 20 sifat wajib Allah kemudian ada asma al husna. Saya coba pelajari. Setelah saya dalami sifat wajib Allah, di situ saya membaca sifat-sifat Allah dari wujud, qidam, baqa, dan ada sebuah pernyataan yang sangat mengganggu pikiran saya bahwa Allah itu bersifat mukhalafatu lil hawadisi (berbada dengan makhluknya),” ungkap Mowo ketika mengisahkan pengalamannya menjadi seorang Muslim di Jakarta Rabu (14/2) malam.

    Suami dari Amik S Fatmawati SH ini pun tercengang membaca sifat wajib Allah tersebut. ”Saya tercengang, agak bingung juga dengan pernyataan ini membuat saya gelisah. Teryata zat Allah ini zat yang tidak sama setiap makhluk, zat yang tidak berfisik, zat yang tidak berjasad, yang sangat dibedakan dengan siapapun,” ujarnya.

    Bagi Mowo, ini sangat masuk akal juga karena Allah tidak berjasad dan berada di ruang yang tidak dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu mustahil Allah itu masuk ke dalam konsep ruang dan waktu. “Mustahil, Allah itu melakukan degradasi nature dari Sang Pencipta menyerupai ciptaannya.”

    Kekaguman tentang sifat-sifat wajib bagi Allah, terus menyentak sanubari ayah tiga putra ini. ”Saya juga menjumpai sifat Allah yang lain yaitu Allah qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri). Allah itu independen, berdiri sendiri, tidak bergantung kepada kita. Jadi untuk menyelamatkan manusia dengan kalamnya kun fayakun dengan kehendaknya maka jadilah.”

    Allah itu kekuasaannya tidak dibatasi oleh siapapun. Pemikiran ini membawa Mowo pada perenungan mengenai konsep Allah dan “proses tiga dalam satu” (trinitas). Dalam agamanya yang lama, konsep tentang Tuhan terjawab dalam polemik yang cukup panjang.

    Menilik ke belakang, tak mudah bagi Mowo untuk menjadi seorang Muslim. Semua bermula sejak tahun 2004, saat ia masih menjadi dosen sosiologi agama, fenomenologi agama, dan etika Kristen. Suatu hari, rekannya yang mengajar Islamologi (keislaman), meninggal dunia.

    Mencari dosen dalam waktu singkat tidak mudah. Apalagi untuk Islamologi, kendati mengajarkan keislaman, sang dosen harus beragama Kristen. “Akhirnya diputuskan secara darurat, sayalah yang menggantikan beliau mengajar tentang keislaman.”

    Ia bersyukur almarhum rekannya itu meningalkan modul dan diktat yang lengkap. Ajaran Islam-Kristen dikomparasi secara doktrinal. “Kita tahu bahwa ada beberapa titik-titik krusial yang menjadi polemik antara Islam dan Kristen khususnya kalau kita belajar tentang teos (Tuhan) dan logos (manusia) serta cosmos (alam semesta). Belum lagi kalau bicara kitab suci dan angelos (malaikat),” tambahnya.

    Tak ingin memberi pengertian yang salah pada mahasiswanya, ia mendalami Islam, khususnya bagaimana Islam menyoroti Kristen dari sudut ketuhanan. Sampai akhirnya menemukan “teori” 20 sifat wajib bagi Allah. September 2006 lalu ia bersyahadat.

    Mowo berlatar belakang pendidikan sosiologi. Kandidat Master of Art Religion ini dikenal sebagai pengajar teologi di Perguruan Tinggi Nusantara Malang, Jawa Timur dan beberapa STT di Malang. “Saya belajar di sekolah keteologian sampai mendapat gelar sarjana teologi,” ungkapnya yang mengaku mestinya 14 Februari lalu ia sudah diwisuda sebagai Master of Art Religion.

    Mowo sendiri tidak mempermasalahkan kenapa gelar tersebut belum disandangnya. Bagi dia, hidayah Islam yang diterimanya sudah lebih dari segalanya.

    Menurut dia, masing-masing agama punya klaim sendiri-sendiri. “Tapi kenapa saya harus memilih, ini tentang sebuah pilihan. Untuk memilih ini perlu perjalanan, perjuangan, perlu sebuah perenungan yang cukup dalam yang saya lakukan dari waktu ke waktu,” tegas pria yang pernah menjabat wakil sekretaris DPC Partai Damai Sejahtera (PDS) Malang, Jawa Timur ini.

    Lelaki ini memang dikenal aktif berorganisasi. Berbagai posisi penting dalam organisasi Kristen pernah dijalankannya. Selain pernah dipercaya sebagai pengurus DPC Partai Damai Sejahtera, Mowo pun pernah aktif di LSM Kristen bernama The Nation Care of Indonesia. Ia menjabat sebagai ketua Departemen Pengembangan Spiritualitas periode 2002-2006. Ia juga menjadi pengurus di Departemen Pemberdayaan Masyarakat di Gereja Kristen Injil Nusantara yang berkedudukan di kota Malang. n dam

    ***

    Drs Mowo Purwito R Dip HRD STh

    Tempat/Tgl. Lahir : Situbondo, 28-Oktober-1965

    Istri: Amik S Fatmawati SH

    Anak: Dida Nafiri (16 tahun) Dinar Naufal (12 tahun) Delpbel Oktobrian (8 tahun)

    Pendidikan: – S1 – FISIP Univ Merdeka Malang lulus tahun 1988 – Diploma Human Resources Development, tahun 1993 – Sarjana Theologia (STh)

    Seminari Alkitab Nusantara Malang –

    Kandidat Master of Art Religion (MAR), seharusnya diwisuda bulan Februari 2007 (drop out karena pindah agama)

    Sertifikat : Mendapat sertifikat dari Fuller Housing Minsitry, California, 2006 untuk terjun pada pelayanan Christianity Development, di Louisiana, USA, yang seharusnya berangkat bersama keluarga bulan Desember 2006 (dibatalkan karena pindah agama)

    Pekerjaan Sekarang: – Ketua Departemen Sumber Daya Manusia Forum Arimatea Jakarta – Kristolog dan Pemerhati Masalah Sosial Agama (dam)

    ***

    Republika Online

     
    • bejono777 6:11 am on 25 Maret 2013 Permalink

      hidayah melalui tradisi Islam di daerah, alhamdulillah

  • erva kurniawan 1:56 am on 24 March 2013 Permalink | Balas  

    Al quran, pola pikir dan gaya hidup 

    alif laam mimAl Quran, Pola Pikir dan Gaya Hidup

    Alquran dan hadis dapat mempengaruhi pola pikir manusia. Pola pikir seseorang yang meyakini dan selalu mempelajari Alquran dan hadis berbeda dengan pola pikir seseorang yang tidak meyakini dan mempelajarinya.

    Seseorang yang selalu mempelajari Alquran menyadari bahwa hidup di dunia ini sementara, sedangkan hidup yang abadi ada di akhirat. Oleh karena itu ia akan menggunakan waktu dan hartanya sebaik mungkin. Dia ikhlas dalam berzakat, berinfaq dan sedekah; tidak menumpuk harta, atau bangga & memamerkannya, tapi produktif dengan hartanya.

    Efisien dalam menggunakan waktu, mencari rejeki untuk menolong Allah, banyak bergerak dijalan Allah,mengisi setiap hembusan nafasnya dengan bezikir dan istigfar, tidak mengisi waktu dengan hal yang sia-sia, bahkan ada yang tidak cukup istirahat karena kelak ada waktu khusus untuk istirahat selamanya bila telah dipanggil yang Maha Kuasa.

    Sedang-sedang saja dalam segala hal. Tidak mengukur kesuksesan dengan materi, tidak mencari pangkat dan kedudukan, tidak mencari popularitas, pujian dan ketenaran, tapi berbuat baik sesegera mungkin agar dapat mengumpulkan amal shaleh dengan kualitas dan kuantitas terbaik di mata Allah.

    “Jika telah selesai dalam suatu pekerjaan, maka lakukanlah pekerjaan yang lain” (94:7)

    Sabar dalam menghadapi ujian dan bersyukur dengan nikmat yang diperoleh. Selalu mencari ilmu yang disukai Allah, menyayangi orang lain karena Allah dan membenci orang yang menentang Allah dan RasulNya.

    Bila manusia selalu berinteraksi dengan Alquran maka dunia seperti tanpa batas. Aturan yang dipakai, pola pikir dan gaya hidup manusia akan sama, walaupun sifat manusia berbeda-beda.

    Sebenarnya manusia tidak dapat berbuat apapun tanpa Allah, sejak dilahirkan hingga wafat. Namun Allah telah meninggikan manusia dengan akalnya dibandingkan dengan mahluk yang lain.

    Bila tidak digunakan sesuai perintah Allah, maka akal manusia juga yang akan menjauhkannya dari Allah swt.

    Semoga dengan tulisan ini Allah semakin memberi kesempatan kita untuk selalu berinteraksi dengan Alquran dan hadis.

    Wallahu ‘alam bis shawab.

    ***

    Oleh Vivin Alvina

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 23 March 2013 Permalink | Balas  

    Dan Gerbong Kereta Pun Bersaksi 

    pedagang kereta apiDan Gerbong Kereta Pun Bersaksi

    “Kemarin kau tak mengaji. Hari ini tak mengaji, tak sembahyang pula kau, mau jadi manusia macam apa kau nak,” tegur seorang ibu kepada anak lelakinya yang baru berusia sekitar delapan tahun.

    “Bukannya tak mau sembahyang mak. Di kereta banyak pembeli, kan sayang. Lagipula itu kan rejeki,” sanggah sang anak yang masih menggendong kotak rokok dan permen dagangannya.

    “Hey , apa kau bilang??? Rejeki tu sudah ada yang mengaturnya. Bukan kau yang menentukan apa kau dapat rejeki atau tidak hari ini. Kalau kau tak berdoa pada-Nya, mungkin esok kau tak seberuntung hari ini,”.

    Kata-kata itu, sungguh membuat ku terkesima. Sebuah cuplikan fragmen keimanan yang kutangkap hanya beberapa menit saat kuberdiri di Stasiun Kereta Api Pasar Minggu, Jakarta, tak seberapa masa menjelang Maghrib. Ada gemuruh yang menderu di dalam dada ini melihat pemandangan menakjubkan di depanku, terlebih mendengar dialog yang lumayan menggetarkan itu. Betapa tidak, seorang ibu yang tengah menggendong anaknya yang masih balita, ditemani putri sulungnya yang berusia tidak lebih dari dua belas tahun, meski tidak serapih muslimah-muslimah yang biasa kutemui di kampus-kampus atau perkantoran, tapi ia berusaha untuk menutupi bagian kepalanya dengan jilbab lusuh, bahu membahu bersama sang Ayah berdagang di emperan stasiun KA Pasar Minggu. Sementara anaknya yang lelaki, diberinya tanggungjawab berjualan rokok, tissue dan permen di gerbong KA Jabotabek.

    Mari, ingin sekali kuajak Anda merenung tentang mereka sebelum bicara tentang diri kita sendiri. Setiap dini hari mata terjaga mendahului kokok ayam paling pagi untuk mengepak barang-barang yang akan digelar di stasiun kereta api yang berdebu, kadang sesak di pagi dan sore hari saat jam pergi dan pulang kantor, yang sudah pasti tak berpengatur udara. Tak ada kursi empuk selain alas koran yang tidak jarang membuat pinggang dan tulang bokong mereka pegal-pegal sekaligus panas, jika tak sering-sering bangun, kemudian duduk kembali sekedar melancarkan peredaran darah. Keringat yang keluar tak bisa diukur dari nine to five seperti kebanyakan kita. Sedangkan si bocah lelaki keluar masuk dan turun naik dari gerbong ke gerbong, dari pagi hingga sore menjelang dengan segala bentuk bahaya yang senantiasa menanti.

    Tapi, tak sedikitpun mereka ragu bahwa Dia-lah yang mengatur semua rizki bagi manusia, tidak terkecuali mereka. Sehingga sedemikian marahnya si ibu setelah mendapat laporan dari si sulung bahwa anak lelakinya sudah dua hari tak mengaji, dan hari ini kedapatan tak sembahyang Dzuhur.

    Kemudian mari tengok diri ini. Di pagi hari tak perlu memanggul karung dan dus yang berat, untuk menggelarnya terpal di emperan manapun. Kita hanya perlu naik kendaraan menuju kantor, duduk di kursi yang empuk, mungkin tak ada peluh yang harus dibasuh karena seharian bekerja di ruangan ber-AC, dan tidak jarang masih mendapatkan pelayanan khusus dari office boy.

    Namun dengan kondisi yang demikian lebih baik, tidak jarang dzuhur dan ashar tertinggal, minimal sholat dzuhurnya menjelang ashar. Itu pun jika sempat. Seringkali kesibukan dan terlalu banyak pekerjaan menjadi alasan untuk tak melafazkan barang satu ayatpun kalimah-Nya. Tak mengertikah kita bahwa mungkin saja Dia yang maha mengatur rizki itu tak lagi memberikan kita semua kesibukan yang hari ini menjadi alasan untuk tak mendekati-Nya?

    Sungguh, enggankah kita membiarkan semua pekerjaan, komputer, meja kerja, kursi empuk, telepon yang berdering-dering itu kelak menjadi saksi di hadapan Allah, bahwa mereka pernah ditinggal oleh pemiliknya di waktu-waktu tertentu saat kita bermunajat pada-Nya?

    Adzan Maghrib pun berkumandang, kuikuti punggung-punggung mereka yang menuruti langkah-langkah kecil menuju mushola.

    ***

    Oleh: Bayu Gawt

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 22 March 2013 Permalink | Balas  

    Rumah Kita (Sudahkah Menjadi Home Atau Sekedar House?) 

    homeRumah Kita (Sudahkah Menjadi Home Atau Sekedar House?)

    Oleh : Marina Lidya S. Pd

    “Selamat datang di kawasan hunian yang bervisi Baiti Jannati dengan misi Rahmatan Lil’alamin. Dibangun berdasarkan konsep minimalis dengan mengutamakan azaz-azaz efisiensi dan efektivitas serta pengoptimalisasian setiap sudut ruangan yang mencerminkan kesederhanaan dan kebersahajaan hidup penghuninya.”

    Untaian kalimat di atas sepintas memang seperti promo dari sebuah developer hunian tapi bukan. Itu adalah sebuah refleksi saya terhadap rumah idaman saya di dunia, mungkin juga idaman sebagian orang yang mengutamakan esensi dan kesederhanaan. Sebuah rumah idaman yang tidak hanya sekedar house tapi juga home bagi penguhuninya.

    Memang home dan house artinya sama-sama rumah. Namun berbeda peruntukannya dalam kalimat. Misalnya antara broken house dan broken home. Kalau broken house bangunan rumahnya yang rusak. Tapi kalau broken home, bisa jadi bangunan rumahnya tidak rusak, namun telah hilang perasaan cinta dan rindu antara penghuni rumah. Yang ada hanya kekakuan yang diselingi pertengkaran yang kemudian menghadirkan rasa sakit hati, benci, bahkan dendam. Itulah dia, rumah tangga yang hancur alias keluarga berantakan.

    Jadi dapat dikatakan bahwa home lebih kepada suasana kejiwaan dan atmosfir yang terbangun dalam suatu rumah, tempat atau bangunan lainnya. Sehingga dapat dimaknakan home sebagai suatu tempat yang menawarkan rasa nyaman dan betah. Dengan demikian, di mana pun tempat kita beraktivitas, apakah itu di kantor kita, toko kita, ruang kelas kita, semuanya sebenarnya dapat kita `sulap’ menjadi home. Sehingga kita dan orang-orang yang juga beraktivitas di sana atau sekedar mampir, merasa nyaman dan betah. Dan, tentunya tempat paling utama yang harus kita jadikan home adalah rumah kita. Sehingga setiap penghuni rumah senantiasa rindu pulang. Terpatri pada diri mereka semboyan “No Place Like Home” (tidak ada tempat seperti (senyaman) di rumah. Atau yang lebih indah lagi, dengan ungkapan Baiti Jannati, rumahku syurgaku. Bagaimana tidak, indahnya jannah yang setiap orang rindu dan ingin pulang ke sana. Begitu juga bila rumah yang telah jadi menjadi `syurga’ dunia bagi penghuninya. Tentu selalu dirindu dan kalau sudah pergi ke tempat lain rasanya ingin cepat pulang untuk melepas segenap kepenatan dan melupakan segala kepedihan di luar sana.

    Ukuran besar kecil rumah atau megah tidaknya rumah, sangatlah relatif. Yang utama adalah atmosfir yang menyelubungi rumah tersebut. Ada yang rumahnya white house bak istana tapi serasa neraka bagi penghuninya sehingga mereka mencari home-home lain di luar. Ada juga yang rumahnya KPR BTN RSS (Kredit Pemilikan Rumah Bangunannya Tidak Normal Rasanya Sempit Sekali), namun jannah bagi mereka. Tentu setiap orang mengidamkan rumah kalau bisa kombinasi antara bangunan yang baik dengan suasana psikologis dan atmosfir yang menyenangkan.

    Rumah yang home bukanlah hotel yang meskipun nyaman tapi hanya untuk sekedar menginap. Juga bukanlah yang ruang makannya laksana restoran yang meskipun kursi makan dan menunya istimewa, namun hanya menawarkan suasana kaku dan formil, kering dari cinta, sepi dari canda, jauh dari pembelajaran dan kosong dari nasehat. Kata anak- anak pengajian, “Kagak ada ruhnya!”. Rumah yang home adalah rumah yang akan selalu menjadikan penghuninya dari waktu ke waktu semakin sholeh, cerdas, berakhlakul karimah dan semakin kuat rasa cinta dan rindu di antara mereka.

    Saya berusaha memikirkan ciri-ciri home yang saya idamkan. Mungkin ini akan memberkan inspirasi bagi Anda, atau mungkin Anda sudah meraihnya, dan bahkan sudah melebihi yang saya pikirkan. Selamat, ya! Do’akan saya segera menyusul.

    Kira-kira poin-poin berikut inilah yang ingin saya hadirkan di home idaman saya :

    1. Tumbuh dan berkembangnya aktivitas ibadah. Hal ini dapat dilihat dari ketaatan penghuni rimah akan perintah Allah dan hidupnya sunnah-sunnah Rasulullah.
    2. Tumbuh dan berkembangnya aktivitas keilmuan. Hal ini dapat ditandai dengan tersedianya sarana-sarana penunjang ilmu dan pengetahuan. Seperti adanya ruangan yang cukup representatif untuk diadakannya pengajian. Di satu pojoknya ada mini home library atau little book corner yang menyimpan berbagai koleksi buku, surat kabar, jurnal, majalah, kliping, atau artikel penting. Tersedianya sarana bermain anak yang edukatif. Tak kalah pentingnya adalah seperti home theatre yang mengoleksi berbagai CD dan VCD ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi seisi rumah. Terutama bagi putra- putri kita yang sedang berada dalam masa `the golden ages’ mengingat sebagian besar acara TV yang semakin membuat resah orang beriman. Dan kalau memungkinkan, ada perangkat komputer yang connect ke internet agar memperoleh informasi yang luas dan cepat.
    3. Terpatrinya perilaku hidup bersih, rapi dan berdisiplin pada diri setiap penghuni rumah. Bila ada najis segera dibersihkan, tidak ada saluran yang mampet, kotoran yang mengendap atau bau yang tidak sedap. Barang-barang yang berserakan dan ruangan yang berantakan segera dirapikan. Seluruh anggota keluarga berdisiplin dan bertanggungjawab melaksanakan tugas yang menjadi bagiannya.
    4. Adanya perhatian yang besar terhadap kesehatan. Terwujud dari penyusunan menu makanan yang halal, baik dan seimbang zat gizinya. Serta adanya jadwal untuk berolahraga. Dan diupayakan penyisihan dana untuk check up kesehatan.
    5. Melekatnya sikap sederhana dan bersahaja. Baik dalam makanan, minum, berpakaian, perkataan, dan gaya hidup, serta terbangunnya azaz-azaz efisiensi, efektivitas, optimalisasi dan kemampuan menyusun skala prioritas kehidupan.
    6. Orang tua, terutama Ayah, sang kepala keluarga mengayomi dan melindungi keluarga. Yang tercermin dari kegigihannya mencari nafkah yang halal. Bersama ibu berusaha menciptakan controlling system yang bekerja efektif agar putra-putri terlindungi dan jauh dari perilaku-perilaku menyimpang dan membahayakan aqidah, fisik, dan mental. Seperti pergaulan bebas, narkoba, bid’ah dholalah, fenomena homo/ transseksual (gay/ lesbi/ waria), dan lain-lain.
    7. Terbinanya suasana demokratis. Setiap anggota keluarga dapat mengekspresikan perasaan dan pendapatnya. Berkembangnya iklim tausiyah. Tiada acara kumpul-kumpul keluarga melainkan senantiasa disisipi taujih.
    8. Seisi rumah memiliki sensitivitas terhadap lingkungan sekitar. Senantiasa menjalin dan menjaga silaturrahim dengan tetangga. Selalu terpanggil untuk bergabung dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan dan fardhu kifayah. Ayah dan anak laki-laki selalu shalat di mesjid. Serta memiliki perhatian terhadap lestarinya ekosistem.

    Demikianlah cirri-ciri home yang saya idamkan. Mudah-mudahan rumah Anda sudah menjadi home ataupun jannah bagi Anda dan keluarga. Sehingga Anda senantiasa merindukannya dan selalu ingin pulang. Tidak ada lagi keinginan untuk berlama-lama di warung kopi atau kafe. Enyahlah sudah ungkapan “Gue sebel di rumah” dari anak remaja kita.

    Bila setiap keluarga yang merupakan unit termungil pembentuk negara dan pembangun peradaban ini, telah menemukan home ataupun jannahnya. Dan telah berhasil menjadikan penghuninya dari waktu ke waktu semakin sholeh, solid, cerdas, dan berakhlak karimah. Maka insya Allah akan tercapailah seperti yang tercantum dalam QS 34:15, Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Amin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 21 March 2013 Permalink | Balas  

    Untung Saja, Allah Tidak Mengabulkan Doa Kami 

    doaUntung Saja, Allah Tidak Mengabulkan Doa Kami

    Mengapa seseorang yang do’anya tak dikabulkan, Justru ia bersyukur..?

    Waktu di Masjidil Haram, memang sangat banyak waktu kita untuk bertafakur. Maka bertafakurlah pada hal-hal yang positif untuk melihat Allah. Untuk bertemu dengan Allah. Agar hidup ini menjadi semakin bermakna, dan agar kita akan selalu bisa bersamaNya.

    Ketika aku bertafakur menyendiri, aku teringat pada sebuah kejadian nyata yang sangat perlu untuk aku tuliskan di diskusi ini.

    Suatu saat ada seorang teman yang bercerita tentang pengalamannya yang sangat unik dan menarik.

    Pak Kusuma, pernah naik mobil bersama keluarganya dari kota Malang menuju kota Solo. Mereka berangkat naik mobil pribadi. Berangkatnya malam hari. Dipilihnya malam hari agar perjalanan menjadi nyaman, dengan harapan mereka bisa istirahat dalam perjalanan yang cukup jauh itu.

    Udara malam itu cukup cerah. Sebelum mereka berangkat, kondisi mobil dikontrolnya dengan teliti. Mulai dari kondisi ban mobil sampai dengan peralatan kunci mobil. Setelah semua cukup aman dan sudah lengkap, berangkatlah mereka satu keluarga menuju kota Solo. Mobil itu dikemudikan oleh pak sopir mereka. Dalam kondisi normal perjalanan kedua kota itu akan ditempuh selama lebih kurang enam sampai dengan tujuh jam.

    Pak Kusuma dan keluarganya berangkat sekitar pukul 21.00, dengan harapan menjelang subuh sekitar pukul 04.00 sudah sampai di kota tujuan. Di awal perjalanan mereka tidak menemui kendala dan hambatan yang berarti. Semua lancar-lancar saja. Mobil pun melaju dengan nyaman ke arah kota Solo. Tetapi ketika perjalanan sudah mencapai setengah lebih dari jarak yang ditempuh, yaitu ketika mobil berada di daerah Ngawi, tiba-tiba saja mobil berhenti dan macet. Maka para penumpangpun bangun semua dari tidurnya.

    Kata mereka :

    “ada apa pak Sopir..?”

    “Ndak tahu pak, koq tiba-tiba mobil macet..” Penumpang lain pun menanggapi :

    “wah kenapa ya…? Mogoknya di tempat yang sepi lagi…”

    “iya…,” jawab yang lain.

    “Sekarang masih jam 02.00 dini hari…, wah kemana kita cari pertolongan ?”

    Jawab pak sopir :

    “pak, biar saya yang cari pertolongan. Semua di dalam mobil saja”

    “Saya mau naik bus yang ke arah Solo atau kota terdekat dari sini. Mudah-mudahan secepatnya akan saya dapatkan seorang montir ahli.” Mudah-mudahan pula segera ada bus yang lewat.”

    “Saya nggak tahu kenapa koq tiba-tiba mobil ini macet…padahal sebelum berangkat tadi sudah saya kontrol semuanya.!”

    “Baiklah” jawab yang lain.

    Maka pak sopir pun keluar dari mobil, ia berdiri di pinggir jalan untuk mencegat bus yang ke arah solo.

    Kurang lebih satu jam, pak sopir berdiri, dan tidak satu pun bus lewat. Padahal biasanya sekitar lima belas menit selalu saja ada bus yang lewat. Ada apa gerangan? Pikir para penumpang. Tidak terkecuali pak Kusuma

    Maka semua penumpang pun berdo’a agar secepat-nya ada bus yang lewat, agar kesulitan mereka cepat teratasi.

    Dalam kondisi semacam itu, tiba-tiba ada sebuah pikiran aneh dalam diri pak Kusuma. Ia berbicara pada dirinya sendiri. Katanya :”Bagaimana ya, cara Allah menolong kami yang dalam kondisi seperti ini? Jauh dari keramaian, di tengah malam, tak ada rumah di sekeliling, bahkan bus pun tak ada yang lewat….Tapi sungguh saya yakin bahwa Allah akan menolong hambaNya yang sedang mengalami kesulitan seperti ini. Tetapi bagaimana ya, caranya…? Rasanya seperti nggak mungkin ada pertolongan datang pada saat seperti ini…”

    Waktu pun terus berjalan! Tanpa terasa hampir dua jam mereka menunggu bus lewat. Tetapi tak ada yang kunjung lewat. Sehingga mereka hampir frustasi dibuatnya.

    Ketika semua penumpang dan juga pak sopir yang berdiri menunggu bus lewat hampir putus asa, tiba-tiba terlihat dari kejauhan lampu sebuah sepeda motor yang redup. Setelah sepeda motor tersebut dekat dengan mobil, terlihat seorang pengendara memakai jaket tebal sebagai pelindung tubuh dari dinginnya malam.

    Ketika persis di dekat mobil yang lagi macet itu, pengendara membelokkan sepedanya ke sebelah kiri. Ternyata di dekat mobil mereka itu ada sebuah rumah kecil sederhana yang tidak nampak sebelumnya, karena gelapnya malam. Tambahan lagi banyak pohon-pohon besar yang menutupinya.

    Sang pengendara sepeda motorpun berhenti di depan rumah terpencil itu. Tidak tahu apa penyebabnya, tiba-tiba pak sopir yang belum menemukan bus lewat itu menghampiri pengendara sepeda motor yang lagi mengetuk pintu rumah sederhana.

    Ketika pak sopir sudah dekat dengan si pengendara, dan ketika si pengendara sepeda motor melepas Helm nya….tiba-tiba pak sopir berteriak saking terkejutnya!

    Hei, mas Haris! koq anda di sini? ada keperluan apa?”

    Lho, anda ‘koq juga disini, sedang ngapain?” “Wah, kebetulan sekali mas. Ini Iho, mobil yang saya bawa ini lagi mogok. Dan saya nggak tahu, apa penyebabnya..! Wah, tolong ya mas…!?”

    “…oh, begitu,.. Ada lampu senter?”

    “Ada mas..!”jawab pak sopir!

    Maka diambilnya lampu senter dari dalam mobil mereka. Kemudian mas Haris mulai beraksi memperbaiki mobil tersebut. Anehnya tidak begitu lama, mesin mobil itu sudah bisa diperbaiki. Ternyata kerusakannya tidak terlalu berat. Tetapi kerusakan yang sedang terjadi itu, justru tidak diketahui oleh pak sopir. Tidak lebih dari lima menit, selesailah mobil tersebut diperbaiki oleh pak Haris, si pengendara sepeda motor.

    Sebenarnya siapakah pengendara sepeda motor itu? Mengapa begitu cepat ia bisa memperbaiki mobil yang lagi mogok?

    Ketika aku menuangkan cerita singkat ini, akupun menjadi merinding…

    Ternyata si pengendara sepeda motor itu, adalah montir ahli di sebuah bengkel langganan pak sopir, di kota Malang. Ia lagi menjenguk keluarganya yang rumahnya persis di dekat mobil yang lagi mogok tersebut…

    Maka tidak heran jika ia begitu cepat dapat memperbaiki kerusakan mobil mereka.

    Yang menjadikan aku termangu, adalah :

    Mengapa pengendara sepeda motor itu ke rumah familinya pada waktu malam hari, kenapa tidak siang hari saja? Dan mengapa waktunya persis dengan mobil yang lagi membutuhkan pertolongan? Apa yang menyebabkannya ?

    Mengapa mobil tersebut mogoknya tepat berada di dekat rumah itu? Apa pula yang menyebabkannya ?

    Mengapa kerusakan mobil yang cukup sederhana itu, pak sopir tidak bisa memperbaikinya? Apa yang menyebabkannya ?

    Mengapa sampai lama tidak ada bus lewat, sehingga akhirnya pak sopir bisa bertemu dengan mas Haris sang pengendara sepeda motor yang ahli memperbaiki mobil itu? Apa yang menyebabkan?

    Dan apa pula yang menyebabkan pak Kusuma sekeluarga pergi ke kota Solo, berangkat malam hari, dan jam berangkatnya begitu ‘tepat’ sehingga terjadilah peristiwa yang cukup unik di kota Ngawi itu…?

    Aku-pun berandai-andai,…

    Andaikata dalam waktu singkat ada bus lewat, dan pak sopir ikut bus tersebut untuk mencari montir ke kota berikutnya, sungguh menjadi runyam persoalannya…. Montir belum tentu didapatkan. Para penumpang mobil yang kebanyakan masih anak-anak itu, tentu akan mengalami rasa takut berkepanjangan ditinggal sendirian di tempat yang gelap semacam itu.

    Andaikata mobil tersebut mogok di lokasi lima puluh meter saja, lebih jauh dari tempat terjadinya peristiwa itu, tentu pak sopir tidak akan bertemu dengan si pengendara sepeda motor.

    Andaikata berangkatnya si pengendara sepeda motor, satu jam saja lebih lambat dari saat itu, atau ketika di perjalanan ia mengalami trouble dengan kendaraannya, maka tak akan bertemulah mereka semuanya.

    Andaikata do’a para penumpang mobil itu dikabulkan Allah pada saat itu juga, agar pak sopir bisa pergi ke Solo naik bus …… Akh, sungguh mereka akan kalang-kabut sendiri….

    Andaikata….. andaikata…

    Ah, sungguh terlalu banyak kita berandai-andai. Tetapi ada satu hal yang perlu kita renungkan bersama. Bahwa setiap kejadian yang ada di muka bumi ini, bahkan juga yang ada di langit, semua tak ada yang terjadi dengan sendirinya. Tak ada yang terjadi dengan sia-sia. Tak ada yang terjadi secara kebetulan. Semua karena kehendak Sang Maha Kuasa, yang mencipta alam raya ini. Yang setiap hari Dia dalam kesibukan mengatur semua urusan dan persoalan para makhlukNya.

    QS. Ar-Rahmaan (55) : 29-30

    Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

    Satu hal lagi yang perlu kita renungkan,

    Mengapa bus-bus yang biasanya sering lewat itu, pada saat itu, tak ada yang lewat? Padahal mereka memiliki penumpang yang sangat banyak. Tentu semuanya menginginkan perjalanannya tidak terhambat dan tidak terlambat sampai pada tujuannya.

    Andaikata terlambatnya para bus itu, dikarenakan para sopirnya masih istirahat di suatu tempat, siapa yang menyuruh mereka istirahat?

    Andaikata terlambatnya para bus itu, dikarenakan ada penumpang yang sakit perut ketika makan malam, dan ia harus ke kamar mandi dalam waktu yang agak lama di suatu rumah makan, siapa yang menyebabkan sakit perut?

    Andaikata ada bus yang bannya gembos terkena paku di jalan, sehingga harus memperbaiki, dan mengganti ban mobil. Siapakah yang menyebabkannya? Mengapa ada paku yang tepat mengenai ban mobil pada bus yang sedang ditunggu oleh pak sopir yang mobilnya lagi mogok di kota Ngawi?

    Andaikata terlambatnya semua bus tersebut, dikarenakan adanya kemacetan lalu lintas yang dikarenakan terlambatnya Kereta Api yang melintasi jalanan, siapa yang menyebabkan itu semua?

    … Sungguh masih banyak hal-hal yang menyebabkan semua itu bisa terjadi. Berpuluh, bahkan mungkin bisa beratus-ratus variable penyebabnya….

    Hal apa yang bisa kita ambil dari peristiwa unik tersebut?

    Sebuah pelajaran menarik, telah kita dapatkan dari peristiwa itu. Andaikata Allah mengabulkan do’a para penumpang mobil mogok, agar ada bus yang lewat, pada saat pak sopir menunggu bus, maka tentu tidak teratasi permasalahan mobil mogok itu.

    Dengan kata lain, Allah telah menolong para penumpang mobil mogok itu dengan cara, ‘tidak mengabulkan do’a mereka!’ Tetapi Allah mengabulkan harapan mereka, menolong mereka dari kesulitan…

    Pak Kusuma menutup ceritanya dengan mata berkaca-kaca menahan jatuhnya setetes air mata…

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 20 March 2013 Permalink | Balas  

    Cerita kecil tahajjud : Abu Yazid Al-Bisthami 

    tahajjudCerita Kecil Tahajjud : Abu Yazid Al-Bisthami

    Ketika sedang shalat tahajjud, dia melihat anaknya yang masih kecil bangun disampingnya. Dia merasa kasihan kepada anak itu karena malam begitu dingin. Oleh Karena itu Dia berkata, “Anakku, tidurlah! Malam masih panjang.” Namun, anak itu berkata,” Tetapi mengapa ayah bangun?”

    Abu yazid menjawab,” Anakku, Dia telah memintaku agar bangun untuk-Nya.” Anak itu berkata,” aku telah menghafal firman Allah Swt., Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang -orang yang bersamamu.(QS AL MUZZAMIL [73]: 20) Siapakah mereka yang berdiri bersama Nabi Saw.?”

    Abu yazid menjawab,”Mereka adalah para sahabatnya” Anak itu berkata, “Jangan larang aku untuk menemanimu dalam ketaaatan kepada Allah.”

    Abu yazid kebingungan dan berkata,” Anakku, kamu masih kanak-kanak, belum baligh”

    Anak itu berkata,”Ayah, aku melihat ibu menyalakan api dari potongan-potongan ranting yang kecil lalu menjalar ke kayu yang besar. Aku takut Allah menyiksa kami (anak-anak) lebih dahulu daripada orang-orang dewasa jika kami lalai untuk taat kepada-Nya.”

    Ketika itu, Abu yazid merinding karena takut kepada Allah. Dia berkata “Subhanallah. Anakku, bangunlah!! Kamu lebih pantas berdiri dihadapan Allah dari pada ayahmu!!”

    BAGAIMANA ANDA MENDIDIK ANAK ANDA DIRUMAH?? Dengan pekik kesakitan-nya kah? Dengan tangan besikah? Dengan gaya “anak kesayangan?”-kah, atau dengan KEDAHSYATAN seperti yang dilakukan Abu Yazid Al Bisthami?

    Jika anda tidak memikirkannya mulai sekarang, kapan lagi? Saat anda kesakitan dihimpit kubur dan tak ada doa penyejuk dari anak anda? Atau saat ditanya oleh Sang Pemilik Barat dan Timur tentang amanat yang dititipkan ke anda?? Tolong sedikit saja direnungkan akhi/ukhti..

    HAL JAZA UL IHSANI ILLAL IHSAN

    Oleh: Rediyan Setiawan

     
    • inna 12:02 pm on 30 April 2013 Permalink

      dr kisah d atas kt dpat mngetahui gunakanlah didikan dgn tangan besi atas nama ALLAH SWT sebagai bekal berjumpa dgn nya

  • erva kurniawan 1:48 am on 19 March 2013 Permalink | Balas  

    Ketika Aku Meminta Sedikit 

    jodohKetika Aku Meminta Sedikit

    Oleh: Rico Atmaka

    Sahabat-sahabat, ketika usiaku 25 tahun, aku sudah memiliki niat untuk menikah, meskipun hanya sekedar niat, tanpa keilmuan yang cukup. Karena itu, aku meminta jodoh kepada Allah dengan banyak kriteria. Dan Allah-pun belum mengabulkan niatku.

    Ketika usiaku 30 tahun, semua orang-orang yang ada di sekelilingku, terutama orang tuaku, mulai bertanya pada diriku dan bertanya-tanya pada diri mereka sendiri. Maukah aku segera menikah atau mampukah aku menikah? Dalam doaku, aku kurangi permintaanku tentang jodoh kepada Allah. Rupanya masih terlalu banyak. Dan Allah-pun belum mengabulkan niatku.

    Ketika usiaku 35 tahun, aku bertekad, bagaimanapun caranya, aku harus menikah. Saat itulah, aku menyadari, terlalu banyak yang aku minta kepada Allah soal jodoh yang aku inginkan. Mulailah aku mengurangi kriteria yang selama ini menghambat niatku untuk segera menikah, dengan bercermin pada diriku sendiri.

    Ketika aku minta yang cantik, aku berpikir sudah tampankah aku?

    Ketika aku minta yang cukup harta, aku berpikir sudah cukupkah hartaku?

    Ketika aku minta yang baik, aku berpikir sudah cukup baikkah diriku?

    Bahkan ketika aku minta yang solehah, bergetar seluruh tubuhku sambil berpikir keras di hadapan cermin, sudah solehkah aku?

    Ketika aku meminta sedikit…..Ya Allah, berikan aku jodoh yang sehat jasmani dan rohani dan mau menerima aku apa adanya, masih belum ada tanda-tanda Allah akan mengabulkan niatku.

    Dan ketika aku meminta sedikit…sedikit…sedikit…lebih sedikit…..Ya Allah, siapapun wanita yang langsung menerima ajakanku untuk menikah tanpa banyak bertanya, berarti dia jodohku. Dan Allahpun mulai menujukkan tanda-tanda akan mengabulkan niatku untuk segera menikah. Semua urusan begitu cepat dan mudah aku laksanakan. Alhamdulillah, ketika aku meminta sedikit, Allah memberi jauh lebih banyak. Kini, aku menjadi suami dari seorang istri yang melahirkan dua orang anakku.

    Sahabatku, 10 tahun harus aku lewati dengan sia-sia hanya karena permintaanku yang terlalu banyak. Aku yakin, sahabat-sahabat jauh lebih mampu dan lebih baik daripada yang suadh aku jalani. Aku yakin, sahabat-sahabat tidak perlu waktu 10 tahun untuk mengurangi kriteria soal jodoh. Harus lebih cepat!!! Terus berjuang saudaraku, semoga Allah merahmati dan meridhoi kita semua. Amin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 18 March 2013 Permalink | Balas  

    Cinta di Hari Tua 

    cinta di hari tuaCinta di Hari Tua

    Oleh Sakti Wibowo

    Saat itu saya dalam perjalanan pulang kampung. Karena trayek bis hanya sampai kota Ngadirojo, sebuah kota kecil sekitar dua puluh kilo dari tempat tinggal saya, saya harus nyambung angkutan lokal dari Ngadirojo ke Baturetno.

    Matahari belum sempurna terbit saat saya memutuskan memilih sebuah minibus, berbaur dengan para pedagang kerupuk, serabi, tempe, bahkan kambing dan ayam. Untuk kambing, jelas tempatnya terpisah, ditempatkan di bagasi. Sementara, beberapa keranjang berisi ayam yang tak berhenti berkeciap berikut bau kotorannya yang memengapkan ruangan minibus, tumpang tindih dengan kardus-kardus berisi kerupuk dan makanan ringan lainnya, menjejali pintu utama.

    Setelah minibus berjalan sekitar lima belas menit, dua orang penumpang naik. Seorang nenek tua yang terlihat sedang sakit, berjalan dengan menggunakan tongkat bambu wulung yang dipotong seadanya. Melihat warna mengilap di bagian pegangan tongkat, saya menyimpulkan bahwa tongkat itu telah cukup lama dipakai sehingga meninggalkan bekas yang khas. Seorang kakek di belakangnya. Tak kalah renta. Saya menaksir usianya sekitar awal delapan puluhan.

    Minibus penuh sesak. Tak ada bangku kosong. Sang nenek tertatih-tatih saat menaiki minibus. Bahkan, sang kondektur harus mengangkatnya dengan susah payah, sementara si kakek menyusul di belakangnya, membantu sang kondektur-kendati saya yakin, bantuan ‘tenaga’ si kakek tidak berpengaruh apa-apa, malah mungkin justru merepotkan.

    Saya tawarkan tempat duduk saya kepada si nenek, namun ia ragu-ragu. Hanya senyuman-saya merasa senyum ini begitu sedap dan ikhlas-yang dihadiahkannya. Saya mencoba meyakinkannya. “Silakan, Mbah! Saya nggak apa-apa, kok, berdiri. ”

    Masih dengan ragu-ragu, si nenek kemudian bercerita bahwa ia hendak periksa ke Dokter ‘X’, seorang dokter yang cukup terkenal di Baturetno.

    Ketika sekali lagi saya menawarkan bangku dengan bergegas berdiri, ia menatap kedua kakinya yang terlihat kaku. “Saya tidak bisa duduk, ” katanya. “Boleh untuk si Mbah saja?” ia menunjuk sang kakek.

    Tentu saja, saya mengangguk, mempersilakan duduk sang kakek. Dan, setelah itu, yang saya lihat adalah hal yang sungguh dramatis. Sang nenek, karena kedua kakinya tidak bisa ditekuk, ternyata memang benar tidak bisa duduk dengan wajar. Suaminyalah yang duduk, dan setengah memangku isterinya itu dengan penuh kasih. Sebelah tangan renta keriputnya-yang tak bisa menyembunyikan gemetar-berpegangan pada sandaran bangku, sedangkan sebelah lagi melingkar di tubuh renta isterinya. Sedangkan sang nenek, berpegangan pada pundak lelakinya.

    Saya tak tahu pasti apa yang lintas dalam pikiran masing-masing. Yang saya lihat hanyalah ‘kesempurnaan’ cinta seorang manusia. Saya begitu terharu dan merasa tak akan mampu menaksir kedalaman cinta keduanya. Cinta yang bertahan hingga di usia senja. Saya hanya sanggup mereka-reka dialog seperti apa yang layak untuk adegan semenakjubkan ini. Begini:

    Si lelaki, dengan bahu kokoh dan lengannya yang perkasa, menawarkan rasa aman kepada isterinya. “Tenanglah, Sayang, tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi. Kau akan aman berada di sampingku. ”

    Sementara si wanita, dengan kepasrahan seorang isteri, menyandarkan kepalanya di dada bidang itu, “Bawalah aku ke mana kau pergi, Kekasih! Sebab aku tahu, kaulah waliku di akhirat nanti. Bawalah, dan aku akan serta. Tak peduli sakit ini. Tak usah khawatir, sebab aku tak mengeluhkannya. Bukankah kita hanya semata berusaha mencari kesembuhan-Nya?”

    • * *

    Saya masih melihat-dan tak ingin melewatkannya-saat sang kakek menuntun isterinya menyeberang jalan. Ya, sementara banyak pasangan yang cintanya meredup saat memasuki usia kepala lima, atau malah jauh sebelumnya.

    Saya teringat bagaimana banyak pasangan, di hari tuanya memilih hidup terpisah. Bukan bercerai. Sang ibu mengikut tinggal di rumah anaknya, sedang si kakek di rumah anaknya yang lain. Kalaupun ada yang lebih ‘harmonis’ dari itu, tetap saja saya akan begitu sulit mendapatkan sepasang kakek-nenek membahasakan cinta dengan begitu romantis.

    Sayang, saya lupa tidak menanyakan nama keduanya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 17 March 2013 Permalink | Balas  

    Cerita kecil tahajjud : Umar bin Abdul Aziz 

    tahajjudCerita Kecil Tahajjud : Umar bin Abdul Aziz

    Suatu ketika, istri Umar, Fathimah, menangis hingga matanya bengkak. Dua saudaranya, Maslamah binAbdul Malik dan Hisyam bin Abdul Malik menemuinya dan bertanya, “Apa yang telah terjadi padamu? Apakah kamu bersedih karena suamimu? Dia memang pantas untuk membuatmu bersedih. Atau, apakah kamu kehilangan bagian dari keduniaan? Bukankah kami beserta harta dan keluarga kita ada di hadapanmu?” Dia menjawab “Bukan. Tidak satu pun dari semua itu yang membuatku bersedih. Akan tetapi, pada malam tadi, aku melihat suatu pemandangan aneh pada dirinya. Aku tahu, pasti ada perkara besar dan menakutkan yang membuatnya berprilaku seperti itu. Sungguh, jika aku mengetahui nya, hatiku akan tenang.”

    Kedua saudaranya bertanya, : Apa yang kamu lihat pada dirinya?” Fathimah menjawab, : Pada malam itu aku melihat dia sedang shalat. Ketika membaca ayat’ Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan gunung – gunung seperti bulu yang dihamburkan-hamburkan (QS Al Qari’ah [101] :4-5) dia menjerit,’Oh! Betapa buruk keadaanku pada subuh ini!’ Kemudian, dia duduk dan merebahkan diri. Dia mulai bersikap dingin kepadaku. Aku mengira bahwa nyawanya akan melayang. Kemudian, dia menjadi tenang sehingga aku mengira bahwa dia telah wafat. Lalu, dia siuman dan berkata, ‘Oh! betapa buruk keadaanku pada subuh ini!’ Kemudian dia duduk, lalu mulai mondar-mandir di dalam rumah. Dia berkata, ‘Celakalah aku! Bagaimana keadaanku pada hari manusia seperti anai-anai yang betebaran dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.’ Demikian keadaannya hingga terbit fajar. Kemudian, dia jatuh seperti mayat hingga terdengar suara azan untuk shalat subuh. Demi Allah, setiap kali mengingat kejadian pada malam itu, aku tidak sanggup menahan tetesan air mata (Sirah wa Manaqib ‘Umar bin Abdul Aziz karya Ibn Al-Jauzi, h.323.324)

    Ya Robb. Berikankah dihati kami NYAWA disetiap ayat-Mu, biarlah dada ini berat, biarlah nafas ini tersengal dan beratnya ketukan jantung serta biarlah dahaga ujung mata ini terpenuhi dengan derasnya air mata kerinduan memenuhi panggilan Mu di ujung malam ini. Ahh. aku rindu malam-Mu ya Robb

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 16 March 2013 Permalink | Balas  

    Mati 

    takziahMati

    Oleh : H Ahmad Fudholi

    Kematian adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan oleh manusia. Apa pun cara yang dilakukan, kematian akan tetap menghampirinya. Sekokoh apa pun bangunan yang dibuat, kalau sudah sampai waktunya, kematian pasti datang.

    Tidak ada cara untuk menghadapinya, selain kepasrahan. Itulah ketentuan yang sudah ditetapkan di setiap pundak manusia. Jadi percuma saja lari dari kematian. Kemana pun larinya dan sejauh apa pun jaraknya, kalau sudah tiba masanya, setiap manusia akan tetap mati. Hanya ada satu kunci menghadapi kematian yaitu kepasrahan total menyambut kedatangnnya.

    Kematian tidak hanya dialami oleh manusia. Binatang dan tumbuh-tumbuhan juga akan merasakan mati, sebagaimana mereka merasakan hidup. Lebih dari itu, makhluk yang tak kasat mata juga akan bernasib sama. Termasuk jin dan iblis, serta makhluk yang paling taat seperti malaikat. Semuanya akan mati.

    Sebagaimana firman Allah SWT, ”Setiap yang bernyawa akan merasakan mati, kecuali yang mempunyai kemampuan menghidupkan dan mematikan. Dia akan tetap hidup dan selalu hidup, Dialah Allah, Tuhan seluruh alam.” Menyikapi kenyataan ini, seharusnya manusia mempunyai kesadaran dirinya tidak mempunyai kekuasaan apa pun menghadapi ketentuan Ilahi. Dia hanya makhluk yang lemah, yang harus pasrah dengan kehendak sang Penguasa.

    Manusia hanyalah makhluk kecil yang hidup di atas permukaan bumi. Lebih kecil lagi atau sangat kecil jika dibandingkan dengan kebesaran alam raya ini. Dan tidak ada artinya sama sekali bila berhadapan dengan kebesaran Allah. Harta yang dimilikinya tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan kekayaan Allah, kalau dia merasa kaya. Dia amat bodoh jika dibandingkan dengan kepandaian Allah, bila dia merasa pintar.

    Kebanggaan-kebanggaan yang dimiliki akan lebur bila berhadapan dengan kebanggaan yang Allah miliki. Karena itu, tidak sepantasnya manusia menyombongkan diri di hadapan Allah dan juga makhluk-Nya.

    Sebaliknya, manusia harus bersikap tawaduk dalam hidupnya. Menghindari sikap arogan dalam berkata dan bertindak dengan manusia. Berlaku lemah lembut pada setiap makhluk, sopan santun dalam bertutur, menyebarkan salam ketulusan, dan menyayangi setiap ciptaan Allah.

    Bagaimana pun, manusia adalah makhluk yang lemah. Apa pun yang dimiliki tidak bisa membuatnya kuat. Kita tetap akan musnah bersama kebanggaan dan kekayaan yang dimilikinya.

    Mengingat lemahnya manusia dan ketidakmampuannya menghadapi maut, manusia seharusnya memperkaya diri dengan amal kebaikan. Karena hanya amal baiklah yang dapat memberikan kebahagiaan pada kehidupan selanjutnya. Wallahu alam bish shawab.

    ***

    sumber: http://www.republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 15 March 2013 Permalink | Balas  

    Cerita Kecil Tahajjud : ‘Ibad bin Basyar r.a 

    tahajjudCerita Kecil Tahajjud : ‘Ibad bin Basyar r.a

    Jabir bin Abdullah berkata “Kami pergi bersama Rasulullah Saw. Dibelakang kami ada seorang laki-laki yang menguntit kami. Dia bersumpah tidak akan berhenti sebelum dapat menumpahkan darah para sabagat Muhammad. Dia pun mengikuti jejak kami. Disuatu tempat, Rasulullah minta singgah untuk rehat. Beliau lalu memberikan mandate keamanan kepada ‘Ammar bni Yasir, sementara ‘Ibad bin Basyar melakukan shalat.

    Penguntit tadi datang. Dia mengarahkan panahnya kepada Ibad bin Basyar sehingga mengenainya. Ibad mencabut tiga anak panah yang menancap di tubuhnya. Namun, dia terus ruku’ dan sujud. Kemudian, Rasulullah bangun. Ketika mengetahui hal tersebut, para sahabat yang menyertai perjalanan Rasulullah bernazar untuk membunuh orang itu. Seseorang sahabat Muhajirin yang melihat keadaan Ibad langsung berkata ” Subhanallah.. mengapa engkau tidak membangunkan ku ketika pertama kali terkena panah?” Ibad menjawab, “aku sedang shalat dengan membaca Surah Al-Kahfi. Aku tidak ingin menghentikannya” (HR Abu dawud, Ibn Hibban, dan Al-Hakim)

    Hai pelamar dan perindu bidadari, Bangunlah, niscaya kau menyuntingnya, Lawanlah nafsu dengan ketabahan melepaskannya, Bangun malam merupakan mahar untuknya, Wahai peminang bidadari jika kau mau, Inilah waktunya menyerahkan mahar !!

    HAL JAZA UL IHSANI ILLAL IHSAN

    ***

    Oleh: Rediyan Setiawan

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 14 March 2013 Permalink | Balas  

    Siksa Kubur dan Penderitaannya 

    mayat2Siksa Kubur & Penderitaannya

    Dari Barrak ‘Azib: Kami bersama Rasulullah saw mengiringi jenazah sahabat Anshar. Setelah sampai di pemakaman beliau duduk dan kami pun duduk di sekitarnya seperti ada burung di kepala kami. Kemudian beliau mengangkat kepala seraya bersabda, “Berlindunglah kalian kepada Allah dari siksa kubur!”

    Beliaupun mengulanginya hingga tiga kali. Kemudian beliau meneruskan perkataannya bahwa orang mukmin ketika akan mati didatangi malaikat yang wajahnya putih seperti matahari. mereka duduk di depannya sambil memegang kafan surga.

    Tidak lama kemudian datang pula malaikat maut duduk di sebelahnya dan menyeru padanya, “Hai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan dan keridlaan Allah swt”. Lalu ruhnya mengalir keluar seperti tetesan air, ia diterima dan dimasukkan kafan, kemudian dibawa keluar. Baunya harum seperti minyak kasturi untuk selanjutnya dibawa naik. Setiap melewati kumpulan para malaikat mereka bertanya, “Ruh siapakah yang harum ini?” Pertanyaan itu dijawab dengan ruhnya fulan bin fulan.

    Hal demikian terus berlangsung hingga ke langit. Para penghuninya menyambut baik kedatangan ruh terebut. Setiap menaiki jenjangnya, malaikat Muqarrabun mengantarkan hingga langit ke tujuh. Allah berfirman, “Tulislah ketentuannya di surga ‘Illiyyin!”. Lalu dikembalikan ke bumi karena dari sanalah Kami ciptakan dan ke dalamnya Kami pulangkan. Pada saatnya akan Kami bangkitkan. Maka bergabunglah kembali ruh tersebut dengan jasadnya di dalam kubur.

    Tidak lama kemudian datanglah malaikat Munkar-Nakir seraya bertanya, “Siapakah Tuhanmu?” Dijawab: Allah Tuhanku. “Apa agamamu?” Dijawab: Islam agamaku. “Bagaimana tanggapanmu terhadap orang yang diutus di tengah-tengah kamu?” Dijawab: Beliau utusan Allah. “Dari mana pengetahuan itu?” Dijawab: Aku belajar dari kitab Allah, iman kepadanya dan membenarkannya.

    Maka datanglah panggilan, “Betul hambaku, berikan kepadanya hamparan dan pakaian surga. Bukakan pintu yang menuju surga agar harum dan hawanya ia nikmati. Lapangkan kuburnya sejauh mata memandang. Lalu datanglah sesosok yang tampan lagi harum baunya dan berkata: “Terimalah kabar gembira yang dulu dijanjikan Tuhan.” Dijawab: Siapa sebenarnya dirimu itu? “Aku adalah jelmaan amal baikmu dulu.” Dijawab: Ya Allah, segerakan hari Kiamat agar aku dapat cepat-cepat berkumpul bersama keluarga dan sahabat-sahabatku.

    Kemudian Nabi saw melanjutkan ceritanya. Sedangkan bagi orang kafir, ketika akan mati. Mereka didatangi oleh malaikat yang hitam mukanya lagi hitam pakaiannya dan mereka duduk di depannya. Tidak lama kemudian datang pula malaikat maut duduk di sebelahnya dan berkata, “Hai ruh jahat. Keluarlah menuju kemarahan Allah. Tersebarlah ke semua anggota tubuhnya.” Lalu ruh dicabut, seperti mencabut besi dari bulu basah. Urat dan ototnya putus-putus. Ruh itu diterima dan dimasukkan ke dalam kain hitam untuk dibawa keluar. Baunya busuk seperti bangkai. Lalu ruh itu dibawa naik. Setiap melewati kumpulan malaikat, mereka bertanya, “Ruh jahat siapakah yang busuk itu?” Pertanyaan itu dijawab dengan, “Ruh fulan bin fulan”. Jawaban itu terdengar sampai ke langit. Ketika akan masuk, pintu tidak dibukakan.

    Nabi saw pun membaca ayat “…sekali-kali tidak akan dibukakan pintu-pintu langit buat mereka. Dan tidak dapat masuk surga kecuali jika ada unta yang masuk ke dalam lubang jarum ini (sesuatu hal yang mustahil). Demikianlah balasan bagi orang-orang yang dhalim.” (QS al-A’raf: 40)

    Lalu perintah Allah, “Tulislah ketentuannya di neraka Sijjin, dan lemparkanlah ruh itu.” Allah berfirman “Barangsiapa menyekutukan Allah. Tidak ada bedanya seperti terjun dari langit lalu disambar burung besar atau dibanting angin ke jurang curam sejauhnya.” (QS al-Hajj: 31)

    Kemudian ruh tersebut melekat lagi ke tubuhnya di dalam kubur. Tidak lama kemudian datang malaikat Munkar-Nakir dan memeganginya lagi menggertak: “Siapa Tuhanmu?” Dijawab: Aku tidak kenal. “Apa agamamu?” Dijawab: Aku belum mengenalnya. “Bagaimana tanggapanmu tentang orang yang diutus di tengah-tengah hidupmu?” Dijawab: Itupun aku tidak kenal.

    Maka datanglah seruan keras, “Dusta dia, hamparkan dan bukakan pintu neraka baginya.” Lalu terasalah hawa panasnya, kuburnya menghimpit dan hancurlah tulang rusuknya. Tidak lama kemudian datang seorang yang buruk rupa, berbau busuk dan menggertak, “Sambutlah hari buruk bagimu. Saat yang dulu kamu membantahnya ketika diperingatkan.” Ditanyalah kepadanya, “Siapakah kamu ini?” Dijawab bahwa ia adalah perilaku jahatnya. Lalu jenazah itu pun berkata, “Ya Tuhan, tundalah dulu hari Kiamat. Jangan terburu-buru hari Kiamat.”

    Dari Abu Hurairah ra., Nabi saw bersabda, Bahwasanya orang mukmin dikunjungi malaikat yang memegang kain sutra berisi minyak kasturi di saat sakratul maut. Ia mencabut ruhnya dengan pelan seperti mengambil rambut dari dalam adonan seraya menyeru “Hai jiwa yang tenang. Pulanglah ke hadirat Tuhanmu dengan hati puas dan diridlai Tuhan”. (QS al-Fajr: 27-28)

    Pulanglah dengan rahmat dan ridla Allah. Ketika ruh keluar, lalu diletakkan pada minyak kasturi dan bunga-bunga dalam bungkusan sutra dan ditunjukkan ke surga ‘Illiyyin.

    Bagi orang kafir ketika sakratul maut, malaikat membawa kain bulu berisi api. Lalu ruh dicabut dengan sekerasnya dari tubuhnya dan dikatakan kepadanya, “Hai jiwa yang jahat. Keluarlah menuju kemarahan Tuhan. Menuju tempat terhina dan siksaNya.” Sesudah ruh keluar, lalu diletakkan di atas bara api mendidih, dilipat dan dibawa ke neraka Sijjin.

    Dari Abdullah bin Umar ra. katanya, Seorang mukmin ketika masuk kubur menjadi luaslah kuburnya hingga 70 hasta. Bunga-bunga harum bertaburan. Sutra dihamparkan baginya. Sedikit hafalan dari al-Qur’an menjadi penerang baginya seperti cahaya matahari, layaknya seperti pengantin baru. Tiada seorangpun yang berani membangunkannya dari tidurnya kecuali sang kekasih (demikianlah nikmatnya)….

    Bagi orang kafir, kuburan menjadi sempit hingga tulang rusuknya hancur ditelah. Ular sebesar leher unta menghampirinya dan menyabit-nyabit dagingnya sampai hanya tinggal tulang belulang. Malaikat yang buta tuli lagi bisu memukulnya dengan gada besi. Jeritannya tidak didengar dan keadaannya tidak dilihat. Ditambah lagi hidangan siksa api neraka pada setiap pagi dan sore.

    Sehubungan dengan itu al-Faqih Abu Laits as-Samarqandiy menegaskan bahwa barangsiapa yang menghendaki selamat dari siksa kubur, maka lakukanlah hal di bawah ini secara berkesinambungan:

    1. Shalat lima waktu
    2. Banyak bersedekah
    3. Selalu membaca al-Qur’an
    4. Banyak bertasbih (minimal lafal Subhanallah).

    Dan tinggalkanlah perkara di bawah ini:

    1. Dusta
    2. Khianat
    3. Adu domba
    4. Menyisakan air kencing, seperti disabdakan oleh Nabi saw, “Bersihkanlah air kencing dengan sebersihnya. Karena kebanyakan siksa kubur akibat air kencing (yang tersisa, sekalipun sudah dibersihkan)”.

    Rasul saw bersabda “Empat perkara dibenci Allah, yaitu:

    1. Main-main ketika shalat
    2. Bergurau di tengah-tengah baca al-Qur’an
    3. Berkata keji ketika puasa
    4. Tertawa-tawa di kuburan”

    Muhammad bin as-Samak berpesan bahwa ketika melihat kuburan, “Janganlah tenang dan diamnya kubur membujuk Anda karena tidak sedikit orang bingung di dalamnya. Janganlah ratanya kubur menipu Anda karena di dalamnya terdapat perbedaan yang mencolok antara penghuni yang satu dengan yang lain. Maka bagi akal sehat, sebaiknya sering memikirkan kuburan sebelum masuk ke dalamnya.”

    Sufyan ats-Tsauri berpesan, “Barangsiapa sering memikirkan tentang kubur, pastilah ia memperoleh kebun surga. Tetapi bagi yang melupakannya, pasti terjerumus ke jurang neraka.”

    Sayyidina Ali ra. berpesan dalam khutbahnya, “Hai sekalian manusia. Pikirkanlah maut yang tidak mungkin kamu hindari. Di mana saja engkau berada ia pasti menghampirimu. Engkau lari maka diapun mengejarnya. Ia selalu terikat pada ubun-ubunmu. Lalu sebaiknya carilah jalan selamat. Carilah jalan selamat. Dan cepatlah karena kubur di belakangmu selalu mengejar. Ingatlah bahwa kubur merupakan kebun surga atau jurang neraka. Setiap hari ia memperingatkan kita bahwa dia adalah rumah gelap, tempat sunyi dan rumah ulat-ulat. Pikirkanlah bahwa sesudah itu kamu masuk hari yang lebih mengerikan. Anak kecil menjadi beruban. Orangtua menjadi bingung seperti mabuk. Para ibu lupa dengan bayi yang disusuinya. Wanita yang hamil tapi kandungannya gugur. Suatu kenyataan yang sulit diingkari bahwa mereka bukan mabuk akibat minuman keras. Tetapi siksa Allah yang dahsyat lagi mengerikan. Pikirkanlah sekali lagi bahwa setelah itu akan terjadi kobaran api neraka yang sangat panas lagi curam. Dengan besi sebagai perhiasan, darah bercampur nanah yang mengalir darinya. Jauh dari rahmat Allah. Menangislah orang Islam dan berkata bahwa di samping itu terdapat surga seluas langit dan bumi bagi orang yang bertakwa. Mudah-mudahan Allah menyelamatkan kami dari azab yang pedih dan memasukkan kami ke dalam surga kenikmatan. Amin.”

    Pesan Usayid bin Abdurrahman: Aku memperoleh kabar bahwa seorang mukmin yang meninggal ketika dibawa dalam keranda berkata, “Cepatlah membawaku dalam keranda ini.” Dan setelah masuk kubur tanahnya berbicara, “Aku senang ketika kamu hidup di atasku.” Tetapi saat seorang yang kafir meninggal, dirinya berkata, “Pulangkan aku ini”, katanya di dalam keranda. Setelah masuk kubur, tanah pun mengomel, “Sejak dulu aku benci padamu ketika kau hidup di atasku. Lebih-lebih sekarang setelah kau mati, aku tidak habis-habisnya membencimu.”

    Bahwasanya Utsman bin Affan ra. menangis ketika berdiri di atas kubur. Seseorang bertanya padanya, “Mengapa Anda menangis karena kubur? Ketika menerangkan mengenai surga dan neraka Anda tidak menangis.” Jawabnya, “Rasulullah saw bersabda: Kubur adalah tempat awal bagi akhirat. Jika seseorang selamat dalam kubur maka harapan baik baginya. Karena sesudah itu ringan baginya. Tetapi jika seseorang celaka dalam kubur maka pertanda buruk. Karena sesudah itu sangat berat baginya.”

    Abdul Hamid bin Mahmud al-Maghuli berpesan: Aku sedang duduk bersama Ibnu Abbas. Lalu datanglah serombongan orang yang bertanya kepadanya, “Kami jamaah haji. Salah seorang dari kami ada yang meninggal di daerah Dzatish-shifah. Lalu kami mengurusnya dan sewaktu menggali kubur ternyata ada ular melingkarinya. Kemudian kami pindah ke kubur lain, ternyata ada ularnya pula. Hal ini kami lakukan hingga tiga kali dan ternyata setiap kubur terdapat ularnya. Lalu apa yang kami lakukan terhadap jenazah itu?” Ibnu Abbas menjawab, “Itulah amal perbuatan sang almarhum ketika di dunia. Sebaiknya kuburlah ular itu. Demi Allah jika bumi ini kau gali semua, pasti kau akan menemukan ular di dalamnya.” Lalu pulanglah mereka selesai menguburkan jenazah tersebut dan mengembalikan barang bawaan (bekal) perjalanan hajinya pada keluarganya. Rombongan itu pun bertanya pada sang keluarga mengenai perbuatan selama hidupnya. Sang istri almarhum menjawab, “Dia penjual gandum dalam karung. Untuk makan sehari-harinya dia ambilkan dari karung tersebut dan menggantinya dengan tangkai-tangkai gandum seberat gandum yang dimakannya sehari.”

    Abu Laits as-Samarqandiy menjelaskan perihal kisah tersebut dan berpesan bahwa khianat adalah penyebab siksa kubur. Kisah nyata di atas merupakan peringatan bagi kita agar tidak mudah berkhianat. Dikatakan bahwa setiap hari bumi menyeru manusia sebanyak lima kali, yakni:

    • Hai umat manusia! Kalian hidup dan berjalan di atas punggungku. Ke dalam perutkulah kalian mati dan dikembalikan.
    • Hai umat manusia! Kalian makan di atasku. Di dalam perutku kalian dimakan ulat.
    • Hai umat manusia! Kalian bersenang-senang di atasku. Di dalam perutku kalian akan menangis.
    • Hai umat manusia! Di atas punggungku kalian bersorak sorai dan bersedih di dalam perutku.
    • Hai umat manusia! Di atas punggungku kalian berbuat maksiat dan di dalam perutku kalian disiksa.

    Amr bin Dinar bercerita bahwa ada seorang penduduk Madinah yang memiliki saudara perempuan di sebelah kota yang sedang sakit. Tidak lama kemudian ia meninggal. Setelah sang jenazah dikubur, sang penduduk Madinah teringat bahwa ada sesuatu yang ikut terkubur saat pemakaman. Kemudian dengan bantuan beberapa orang penduduk setempat, ia menggali lagi kuburan saudaranya. Benda miliknya yang terkubur pun diketemukannya kembali. Namun ketika ia membuka sedikit liang lahatnya, ia melihat api yang menyala. Kemudian kuburan itu diratakan lagi dan ia pulang dan menanyakan pada ibunya, “Apakah yang dilakukan saudaraku semasa hidupnya?” Sang ibu menjawab, “Mengapa engkau bertanya tentang itu padahal ia telah meninggal dunia?” Ia pun terus mendesak ibunya agar menjawab pertanyaannya. Hingga sang ibu menjawab, “Ia selalu mengakhirkan waktu shalatnya. Melengahkan kesucian dan mengadu domba sesama tetangga.” Itulah sebabnya mengapa ia disiksa dalam kuburnya. Oleh karenanya barangsiapa menghendaki selamat dari siksa kubur, maka hindarilah perilaku adu domba baik antar tetangga maupun dengan orang lain.

    Dari Barrak bin ‘Azib, Nabi saw bersabda, Ketika orang Islam ditanya dalam kubur maka mengakui tiada Tuhan yang lain kecuali Allah dan Nabi Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Firman Allah: “Allah mengokohkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam hidupnya di dunia dan akhirat.” (QS Ibrahim:27) Keteguhan orang mukmin akan dialami dalam menghadapi tiga fase. Rincian dari fase-fase tersebut adalah sebagai berikut:

    1. Melihat malaikat maut

    • Terpelihara dari kekafiran dan istiqamah dalam tauhid sehingga saat nyawanya keluar dia tetap dalam keadaan Islam.
    • Malaikat menyenangkan dirinya dengan rahmat.
    • Ditujukkan tempat kediaman surganya.

    2. Menjawab pertanyaan Munkar-Nakir

    • Jawaban dengan ilham yang diridlai Allah.
    • Tiada rasa gentar ataupun takut.
    • Tidak berada dalam kubur tetapi dalam kebun surga.

    3. Perhitungan amal (yaumul hisab)

    • Semua pertanyaan dijawab benar dengan ilham Allah
    • Perhitungannya ringan dan mudah.
    • Semua dosa dan kesalahannya diampuni. Namun beberapa ulama menyatakan bahwa fase-fase tersebut terdiri dari empat, yaitu maut, kubur, perhitungan, dan fase shirat (meniti jembatan dengan secepat kilat).

    Pertanyaan dalam kubur. Seandainya orang bertanya mengenai pertanyaan-pertanyaan dalam kubur seperti apakah bentuknya. Maka berikut adalah beberapa pendapat ulama:

    • Setengahnya menyatakan bahwa pertanyaan ditujukan pada ruh (jiwanya). Ketika itu jiwa masuk raga namun hanya sampai di dada.
    • Setengah lainnya mengatakan bahwa ruh berada di antara raga dan kafan pembungkus.

    Pertanyaan-pertanyaan dalam kubur hendaknya diterima dengan penuh iman tanpa banyak perdebatan tentang tata caranya. Umumnya ada dua faktor penyebab mengapa orang dapat membantah mengenai pertanyaan dalam kubur tersebut, yakni:

    • Pernyataan kubur tidak masuk akal karena bertentangan dengan sunnatullah (hukum alam).
    • Tidak adanya bukti atau dalil bahwa pertanyaan kubur diterima akal sehat dan sejalan dengan hukum alam.

    Kemudian jika kedua faktor tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk membantah ataupun menolak mengenai adanya pernyataan dalam kubur. Hal ini berarti dia bukanlah orang yang beragama. Karena orang yang beragama Islam yang beriman, dituntut oleh imannya untuk mengakui adanya kenabian dan mukjizat. Para Nabi mulai dari Adam as. hingga Muhammad saw. adalah manusia biasa dan berperilaku serupa. Tetapi mereka memiliki berbagai keistimewaan yang bertentangan dengan sunnatullah. Bukan hanya mukjizat seperti tongkat yang berubah menjadi ular, tongkat yang membelah lautan, tongkat yang menyemburkan mata air dari batu oleh Nabi Musa as, api yang mendingin bagi Nabi Ibrahim as.,maupun kemampuan menghidupkan orang mati bagi Nabi Isa. Kesemua mukjizat tersebut tidak ada yang mampu dinalar oleh akal manusia. Bahkan kenabian pun bertentangan dengan hukum alam karena wahyu yang mereka terima terkadang langsung dari Allah swt lewat mimpi ataupun lewat perjumpaan dengan malaikat. Tidak semua manusia mampu menerima wahyu, bahkan harusnya binasa jika mengikuti hukum alam. Tetapi para Nabi adalah manusia terpilih, kuat dan tangguh. Mengenai bukti atau dalil tentang adanya pertanyaan kubur sudah cukup memadai dari hadits-hadits Nabi yang termuat dalam kitab ini. Hal tersebut merupakan landasan kuat untuk berpijak bagi orang yang mau beriman.

    Firman Allah: “Barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka penghidupan yang sempit akan menimpanya (termasuk siksa–atau berupa pertanyaan dalam kubur menurut penafsiran para ahli tafsir) dan kelak di hari Kiamat Kami akan kelompokkan mereka dalam keadaan buta.” (QS Thaahaa: 124)

    Adapun bukti ataupun dalil mengenai hal itu bisa kita dapatkan dari firman Allah dalam al-Qur’an surat Ibrahim ayat 27 yang telah tertera di atas. Penjelasan dalam hadits antara lain sebagai berikut. Abu Laits as-Samarqandiy meriwayatkan dari Said ibn Musayyah, dari Umar ra., Nabi saw bersabda, “Ketika mukmin masuk kubur, datanglah dua malaikat untuk mengujinya, mendudukkan dan mengajukan pertanyaan kepadanya. Padahal ia masih mendengar suara sandal pengantarnya yang pulang dari melawat jenazah tersebut. Lalu kedua malaikat bertanya, “Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? dan siapa nabimu?” Jawabnya, “Allah Tuhanku, Islam agamaku dan Nabi Muhammad saw nabiku.” Kata kedua malaikat, “Yang mengokohkanmu pada ucapan itu adalah Allah dan kamu boleh tidur nyenyak.” Demikian arti firman Allah (QS Ibrahim: 27). Bagi mereka yang aniaya, Allah tidak memberi petunjuk dengan taufikNya dan disesatkan. Sehingga ketika mereka menerima pertanyaan dari malaikat tentang ketiga hal di atas, mereka menjawab dengan, “Tidak tahu.” Menerima jawaban tersebut, kedua malaikat berkata, “Tidak tahu? Terimalah pukulan gada ini!” Maka dengan pukulan tersebut sang jenazah menjerit hingga semua makhluk mendengarnya kecuali manusia dan jin.

    Dari Abu Hazim, dari Ibnu Umar ra., Rasul saw bersabda, “Wahai Umar, apa yang kau lakukan ketika malaikat berdua (Munkar-Nakir) datang mengujimu di kubur. Rupa kedua malaikat adalah hitam semu biru, siungnya mengguris bumi, rambutnya panjang dan suaranya sekeras petir. Matanya pun seperti kilat menyambar.” Umar balik bertanya, “Ya Rasul, sadarkan pikiranku saat itu seperti sekarang?” Rasul menjawab, “Ya, kau sadar seperti saat ini.” Umar pun menyahut, “Kalau begitu saya akan atasi keduanya dengan izin Allah swt.” Rasul saw pun bersabda, “Umar adalah orang yang diberi taufik (oleh Allah).”

    Dari Abu Hurairah, Rasul saw bersabda, Setiap jenazah akan mendengkur yang akan terdengar oleh semua hewan kecuali manusia. Jika manusia mendengarnya, maka mereka pasti akan pingsan. Lalu ketika sang jenazah diantar ke pemakaman, ia mengatakan, “Percepat langkahmu, jika kalian tahu balasan amal baik di depanku, pasti kalian akan mempercepatnya.” Hal itu berlaku bagi orang yang baik. Sedangkan bagi orang yang jahat ketika jenazahnya diantar ke pemakaman maka ia berkata, “Tidak perlu terburu-buru. Jika kalian tahu bahaya mencekam di depanku, pastilah kalian akan memperlambat.” Sesudah masuk kubur datanglah dua malaikat yang hitam semu biru dari arah kepalanya. Lalu ibadah (shalatnya) menolak kedatangan mereka, “Jangan datang dari arahku. Terkadang ia terjaga semalaman mengkhawatirkan hal seperti ini.” Ketika mereka datang dari arah kaki ditolak oleh ketaatan pada kedua orangtuanya, “Jangan lewat arahku. Karena ia berjalan tegak mengkhawatirkan hal seperti ini.” Kedatangan malaikat dari arah kanan juga ditolak, “Jangan lewat arahku, ia bersedekah, mengkhawatirkan hal seperti ini.” Sedangkan kedatangan dari arah kiri ditolak puasanya, “Jangan melewati aku. Karena ia lapar dan dahaga mengkhawatirkan hal seperti ini.” Kemudian sang jenazah dibangunkan dan ditanya, “Tahukah orang yang menyampaikan ajaran kepadamu?” Sahutnya, “Siapa dia?” “Yaitu Nabi Muhammad saw.” Jawabnya,”Aku bersaksi bahwa ia Rasul Allah swt.” Malaikat berdua berkata, “Kamu hidup menjadi orang mukmin, dan mati sebagai mukmin. Lapanglah kuburnya dan terbukalah karomah Allah baginya. Marilah kita mohon taufik dan benteng dari Allah. Mohon perlindungan dari nafsu sesat lagi menyesatkan serta terlena. Mohon perlindungan dari siksa kubur sebagaimana Nabi saw berlindung darinya.”

    Dari ‘Aisyah ra.: Semula aku tidak mengerti tentang adanya siksa kubur sampai seorang wanita Yahudi datang minta sesuatu kepadaku. Setelah kuberi sesuatu ia mendoakanku, “Mudah-mudahan Allah menyelamatkan aku dari siksa kubur.”

    Aku menyangka ucapan tersebut hanyalah tipuan Yahudi hingga akhirnya aku sampaikan hal tersebut pada Nabi saw. Beliau bersabda, “Bahwasanya siksa kubur adalah benar. Setiap muslim harus berlindung darinya, menyiapkan bekal amal baik secukupnya. Karena Allah masih memudahkan amal baik selama ia hidup di dunia. Nanti kalau sudah masuk ke dalam kubur, amal baik sedikitpun tidak akan diperkenankan Allah. Sekalipun ia ingin melakukannya, hingga tinggal penyesalan yang tersisa. Maka bagi akal sehat, hendaknya berpikir tentang hal itu (kematian). Mereka yang sudah mati sangat menginginkan (jika dapat) untuk melakukan shalat 2 rakaat, menyebut kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’ sekali, bertasbih sekali. Tetapi semuanya itu tidak diperkenankan.”

    Hal ini mengherankan manusia yang masih hidup mengapa hari-hari kehidupan mereka disia-siakan untuk bermain tak berarti dan terlena.

    Hai saudaraku, jangan sia-siakan hidupmu karena kehidupanmu adalah pokok kejayaanmu. Kamu dapat dengan mudah mengumpulkan keuntungan sebesar-besarnya jika menghargai pokoknya. Nanti akan tiba saatnya kamu tidak dapat melakukan hal itu karena sudah mati. Sekalipun kamu menginginkan untuk beriman, beramal dan beribadah kepada Allah swt.

    Akhirnya marilah kita berdoa memohon taufik kepada Allah, mempersiapkan bekal yang mencukupi di waktu sangat hajat agar tidak menyesal di kemudian hari. Memohon agar dimudahkan ketika sakratul maut dan di kubur. Amin. Bahwasanya Dia Yang Maha Pengasih, Maha Mencukupi dan sebaik-baik Wakil. Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Agung

    ***

    Dari: Tanbihul Ghafilin (Pengingat manusia yang lengah)

    Karya Abu Laits as-Samarqandiy

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 13 March 2013 Permalink | Balas  

    Ketika Allah menjadi alasan paling utama 

    akad-nikah-erva-kurniawan-titik-rahayuningsih (1)Ketika Allah menjadi alasan paling utama

    Sahabat-sahabat, ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka aku berani memutuskan untuk menikah dan menyegerakannya.

    Ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka aku berani memutuskan dengan siapa aku akan menikah. Aku tidak banyak bertanya tentang calon istriku, aku jemput dia di tempat yang Allah suka, dan satu hal yang pasti, aku tidak ikut mencampuri ataupun mengatur apa-apa yang menjadi urusan Allah. Sehingga aku nikahi seorang wanita tegar dan begitu berbakti kepada suami.

    Ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak melihat segala kekurangan istriku. Dan sekuat tenaga pula, aku mencoba membahagiakan dia.

    Ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka menetes air mataku saat melihat segala kebaikan dan kelebihan istriku, yang rasanya sulit aku tandingi.

    Ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka akupun berdoa, Yaa Allah, jadikan dia, seorang wanita, istri dan ibu anak-anakku, yang dapat menjadi jalan menuju surgamu. Amin.

    Sahabat-sahabat, kalau Allah menjadi alasan paling utama untuk menikah, maka seharusnya tidak ada lagi istilah, mencari yang cocok, yang ideal, yang menggetarkan hati, yang menentramkan jiwa, yang…..yang….yang……dan 1000 “yang”……lainnya…..Karena semua itu baru akan muncul justru setelah melewati jenjang pernikahan. Niatkan semua karena Allah dan harus yakin kepada Sang Maha Penentu segalanya.

    ***

    Oleh: Rico Atmaka

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 12 March 2013 Permalink | Balas  

    Jenuh 

    jenuhJenuh

    Oleh : Reza Ervani

    J : Jangan Berlebihan

    Ada seorang wanita yang datang pada Aisyah. Aisyah memuji wanita itu sebagai ahli ibadah yang luar biasa, karena saking tekunnya ia menyediakan tongkat untuk berpegangan jika ia sudah tidak kuat berdiri ketika sholat.

    Ketika hal itu disampaikan pada Nabi saw. Nabi bersabda : Jangan berlebihan, Allah itu tidak akan jenuh hingga engkau jenuh.

    Atur ritme dalam segala hal, agar tak usang.

    E : Efektifkan Komunikasi

    Logika apa yang paling bisa menjelaskan maraknya friendster, ramainya sms, dan larisnya free talk walaupun tengah malam. Intinya sederhana, karena manusia diciptakan dengan kebutuhan untuk bercerita dan berbagi. Curhat dong, cari teman bercerita

    N : Naik Ke Tantangan Berikutnya

    Looking for new challenges. Ummat ini dilahirkan untuk menjadi ummat terbaik, khairu ummah, ini sunatullah. Melanggarnya hanya akan melahirkan kejenuhan. Kejenuhan bergerak, kejenuhan beramal, kejenuhan berinisatif. Naiklah ke anak tangga berikutnya, agar kau bisa uji kekuatanmu lebih jauh.

    U : Undur Sejenak untuk Maju Lebih Jauh

    Ijlis Bina’ Nu’min Sa-ah, begitu ujar sahabat Nabi. Berhentilah sejenak, perbaharui iman, bersihkan sepatu yang sudah berdebu, asah kembali pedang yang tumpul, ambil air wudhu cuci wajahmu hingga bisa menatap ke depan lebih jauh lagi.

    H : Hasbiyallah wa Ni’mal Wakill Ni’mal Maula Wa Ni’man Nashir

    Sungguh kejenuhan itu adalah masalah hati. Dan Maha Penggenggam hati hanyalah Allah semata. Qolbu itu artinya yang berbolak-balik, ketika ia berbalik atau tertutup debu maka cahaya Allah akan terhalang, maka lahirlah kejenuhan. Maka tengadahkan tanganmu padaNya, minta Ia jaga hatimu agar tidak mati karena enggan dan malas.

    Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa (Al Quran Al Karim Surah Al Qalam ayat 10 – 12)

    Naudzubillahi min dzalik,

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 11 March 2013 Permalink | Balas  

    Majmu’ Syarif Kamil 

    DoaMajmu’ Syarif Kamil

    TAAWUDZ

    A ‘uudzubillaahi minasysyaithaanir rajiim.

    Rasulullah saw. memerintahkan membaca taawudz, antara lain ketika:

    1. Memulai membaca Alquran
    2. Memulai berdoa dan berdzikir.
    3. Mengucapkan ketika sedang dalam kemarahan, kekhawatiran, ketakutan, keraguan dll.

    Rasulullah saw. menerangkan beberapa fadilah membaca taawuz, antara lain:

    1. Melindungi diri dari segala kejahatan.
    2. Menghilangkan nafsu amarah.
    3. Menimbulkan ketenangan hati.

    BASMALLAH

    Bismillaahir rahmaanir rahiim

    Basmalah diucapkan setiap kali akan memulai perbuatan baik. Rasulullah saw. menerangkan fadilah basmalah yaitu:

    1. Salah satu nama dari nama-nama Allah swt.
    2. Allah swt. memberikan kalimat basmalah hanya kepada Nabi Sulaiman a.s dan Rasulullah saw.
    3. Menghindarkan diri dari gangguan setan.
    4. Mendapatkan keberkahan dalam setiap urusan.

    HASBALLAH

    Hasbunallaah wa ni’mal wakiil. Ni’mal maula wa ni’man nashiir

    Rasulullah saw. mengungkapkan bahwa orang yang membaca kalimat hasbalah akan mendapatkan kekuatan dalam menghadapi masalah.

    ISTIRJA’

    Innaa lillaahi wa innaa ilayhi raaji’uun

    Kalimat istirja’ diucapkan saat mendapatkan cobaan dan musibah, baik besar maupun kecil, seperti ketakutan, kelaparan, kematian dan lain-lain. Kalimat ini bertujuan mengingatkan orang yang tertimpa musibah supaya menjadi orang yang sabar. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa orang yang mengucapkan istirja’ dan bersabar saat ditimpa musibah akan mendapatkan, antara lain;

    1. Berkah, rahmat dan petunjuk Allah swt.
    2. Pahala dalam musibah.
    3. Pengganti yang lebih baik.
    4. Rumah di surga.

    ISTIGHFAR

    Istighfar adalah mengucapkan kalimat Astaghfirullaahal ‘azhiim

    Istighfar diucapkan dengan penuh keikhlasan untuk memohon ampunan dan bertobat kepada Allah SWT. Rasulullah saw. Menganjurkan untuk membaca istighfar setiap saat agar selalu dekat dengan Allah SWT, walaupun mengucapkan istighfar hanya satu kali, tetapi dengan hati yang ikhlas, Insya Allah diterima Allah swtâ?¦ Rasulullah saw. menjelaskan fadillah istighfar, di antaranya :

    1. Mendapatkan pangampunan Allah swt.
    2. Menenangkan diri ketika marah.
    3. Menadapatkan jalan keluar dari kesusahan dan kesempitan.
    4. Mendapatkan rezeki yang tidak terduga.
    5. Buku catatan amal di hari kiamat kelak akan memberikan kesenangan.

    SHALAWAT

    Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa alii sayyidinaa Muhammad.

    Shalawat adalah permohonan kepada Allah swt. Agar memberikan berkah dan rahmat kepada nabi Muhammad saw. Beserta keluarga dan para sahabatnya. Apabila diucapkan sebelum atau sesudah berdoa, menjadikan doa segera naik ke langit. Rasulullah saw. Menerangkan beberapa fadilah bagi pembaca shalawat, antara lain:

    1. Setiap bershalawat satu kali, Allah swt bershalawat sepuluh kali untuknya.
    2. Allah swt. meninggikan derajat 10 kali,memberikan 10 kebajikan, menghapuskan 10 kejahatan, dan membebaskan dari kemunafikan.
    3. Mendapatkan tempat yang paling utama bersama Rasulullahsaw. Di hari kiamat, mendapatkan tempat di surga bersama syuhada, dan jauh dari api neraka.
    4. Jika membaca masing-masing 10 kali pada pagi dan sore hari, mendapatkan syafaat Rasulullah saw di hari kiamat. Jika membaca 3 kali pada siang dan malam hari, mendapatkan pengampunan dosa selam sehari semalam.
    5. Mendapatkan keberkahan dalam setiap urusan penting, terpelihara dari kesusahan dan menjadi orang yang dermawan.
    6. Sebagai pengganti zakat dan sedekah (pembersihan diri dari dosa) bagi orang-orang yang tidak memiliki kewajiban berzakat dan tidak memiliki kelebihan harta.

    AL BAAQIYAATUSH SHAALIHAT

    Al baaqiyaatush shaalihat terdiri atas kalimat

    1. Tasbih : Subhaanallah
    2. Tahmid : Alhamdulillah
    3. Takbir : Allahu akbar
    4. Hauqqalah : Laa hawla walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim

    Kalimat-kalimat tersebut merupakan bagian dari perbendaharaan surga. Pembaca mendapatkan fadilah kandungan kalimat al-Baqiyatush shalihat walaupun hanya membaca sekali, lebih utama apabila dibaca sesering mungkin. Rasulullah saw. Menjelaskan fadilah bagi pembaca al-Baqiyatush shalihat, diantaranya :

    1. Dicintai Allah swt.
    2. Dicintai Rasulullah saw.
    3. Dilindungi malaikat.
    4. Dimintakan ampunan oleh malaikat kepada Allah swt.
    5. diberikan pahala satu pohon di surga.

    Rasulullah saw. juga menerangkan, pembaca salah satu atau beberapa kalimat yang termasuk dalam kalimat al-Baqiyatush shalihat secara terpisah, tetap akan mendapatkan fadilah, di antaranya :

    1. Pahala tasbih mengisi separuh timbangan, hamdalah memenuhi timbangan dan takbir memenuhi antara langit dan bumi.
    2. Membaca tasbih, tahmid atau takbir adalah sedekah.
    3. Jika membaca tasbih, takbir atau tahlil maka Allah swt. menghapuskan 25 kejahatan.
    4. Jika membaca hamdalah, maka Allah swt.menghapuskan 30 kejahatan.
    5. Pembaca Subhaanallaahi wa bihamdihii sebanyak 100 kali dalam satu hari diampuni dosanya dan dituliskan 1000 kebajikanbaginya.
    6. Jika membaca Subhaanallaahi wa bihamdihii,subhaanallaahil ‘azhiim maka memberatkan timbangan amal dan disayangi Allah yang Maha Penyayang.
    7. Membaca hauqqalah, sama dengan mendapatkan obat untuk 99 macam penyakit, atau paling sedikit mendapatkan ketenangan hati.
    8. Bagi pembaca, Laa ilaaha illallaah wahdahuu laa syarikalah, lahulmulku walahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syay inqadiir sebanyak 10 kali, maka Allah swt membukakan pintu langit untuknya, memperkenankan permintaannya dan menghapuskan keburukannya.
    9. Jika membaca, Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syarikalah, lahulmulku walahul hamdu yuhyii wayumiitu wahuwal hayyuladzii laayamuutu biyadihilkhairu wahuwa ‘alaa kulli syay inqadiir. Niscaya Allah sat. memasukkannya ke dalam surga Na’im.

    Wassalam

    ***

    Oleh : Tutik

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 10 March 2013 Permalink | Balas  

    Memimpin dengan Rendah Hati 

    mahkotaMemimpin dengan Rendah Hati

    Pemimpin, kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah pelayan umatnya. Bukan sebaliknya, bagai “raja” yang selalu minta dilayani

    Setelah diumumkan pengangkatannya menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz menyendiri di rumahnya. Tak ada orang yang menemui, beliau pun tak mau keluar menemui seorang.

    Dalam kesendirian itu, beliau menghabiskan waktu dengan bertafakkur, berdzikir, dan berdoa. Pengangkatannya sebagai khalifah tidak disambutnya dengan pesta, tetapi justru dengan cucuran air mata.

    Tiga hari kemudian beliau keluar. Para pengawal menyambutnya, hendak memberi hormat. Umar malah mencegahnya. “Kalian jangan memulai salam kepadaku, bahkan salam itu kewajiban saya kepada kalian.”

    Itulah perintah pertama Khalifah kepada pengawal-pengawalnya.

    Umar menuju ke sebuah ruangan. Para pembesar dan tokoh telah menunggunya. Hadirin terdiam dan serentak bangkit berdiri memberi hormat. Apa kata beliau?

    “Wahai sekalian manusia, jika kalian berdiri, saya pun berdiri. Jika kalian duduk, saya pun duduk. Manusia itu sebenarnya hanya berhak berdiri di hadapan Rabbul-‘Alamin.”

    Itulah yang dikatakan pertama kali kepada rakyatnya.

    Buka Hati

    Sikap pemimpin dalam Islam, sejatinya memang harus demikian. Sebagaimana kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pemimpin adalah pelayan umatnya.

    Sabda Nabi itu sungguh istimewa, sebab seorang pemimpin biasanya seperti seorang raja. Dan sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz mewarisi budaya yang demikian itu; hidup dalam gelimang kemewahan dan kekuasaan.

    Ternyata Umar tidak serta merta meneruskan budaya yang sebenarnya menguntungkannya secara pribadi itu. Beliau tak mau dihormati berlebihan dan hidup dalam kemewahan. Ia memilih sikap rendah hati dan sederhana.

    Sebagai pemimpin besar, bersikap rendah hati, sederhana, dan melayani tentu tidak mudah. Apalagi bila kesempatan bermewah-mewah itu memang terbuka di depan mata, siapa tak tergiur?

    Di negeri kita ini, kedudukan dan jabatan malah jadi rebutan. Bahkan banyak yang mati-matian berkorban apa saja, dengan segala cara, untuk mendapatkannya. Setelah berhasil meraihnya, pertama kali yang dilakukan adalah pesta kemenangan. Kemudian segeralah digunakan aji mumpung. Sim salabim, jadilah OKB (Orang Kaya Baru). Gaya hidup dan pergaulannya berbeda dengan sebelumnya. Seolah menikmati kemewahan itulah memang impiannya.

    Mari kita membuka hati ini. Dengan berbagai upaya dan gaya hidup mewah itu, apa sih sesungguhnya dicari? Dengan mobil mewah, rumah megah, pakaian serba mahal, apa sebenarnya yang dirindukan lubuk hati? Mungkin terdetak dorongan…hidup terhormat dan dimuliakan.

    Tentu mencapai hidup seperti itu suatu yang normal saja. Malah aneh kalau ada orang bercita-cita hidup hina dan direndahkan. Tetapi benarkah kemuliaan dan kehormatan dapat dicapai dengan hidup berbungkus kemewahan? Coba sebutkan nama-nama orang yang menggetarkan hati karena kemuliaan dan kehormatannya. Cermati satu per satu. Benarkah hati Anda terkesan karena kemewahan mereka?

    Mari kita bercermin kepada Umar. Kita tenangkan hati dan jernihkan pikiran sejenak. Andai beliau memilih cara hidup mewah dan bermain kekuasaan sebagaimana raja-raja yang lain, akankah memiliki nama harum seperti saat ini?

    Mungkin saja kemewahan singgasana bisa menjadi topeng kemuliaan di muka rakyat. Tetapi berapa lama “kemuliaan” seperti itu bisa bertahan?

    Lihatlah para pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan untuk kesombongan dan kemewahan. Bagaimana akhir kehidupan mereka? Masa tua tidak hidup damai, malah gundah gulana karena dijerat hukum. Terbukti bahwa kemuliaan yang dibungkus materi hanyalah semu dan tipuan belaka.

    Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai orang-orang sombong. “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.” (Luqman: 18-19)

    Misi Mulia

    Ya, memang tidak mudah untuk selalu rendah hati dan memilih hidup melayani. Apalagi kalau terjebak pada dorongan biologis dan egoisme semata. Maunya justru dilayani.

    Ketika sedang memegang kekuasaan, yang dipikirkan adalah apa yang dapat diambil dengan posisi ini, bukan kebaikan apa yang dapat diberikan pada orang lain. Melayani dirasakan sebagai suatu kehinaan, seolah yang harus melakukan adalah orang-orang rendahan. Padahal melayani inilah misi mulia yang sebenarnya diamanahkan Allah kepada hamba-Nya yang terpilih; Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti jejaknya.

    “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiyaa’: 107).

    Dengan berbagi rahmat, tersebarlah belas kasih dan kedamaian dalam kehidupan.

    Dalam bekerja, seorang pemimpin akan senantiasa berpikir bagaimana karyawannya sejahtera. Karyawan pun berpikir bagaimana bisa memberikan layanan terbaik melalui pekerjaannya.

    Sebagai pemimpin keluarga, seorang ayah yang mengasihi keluarganya akan mengantar pada suasana sakinah. Anak-anaknya pun termotivasi untuk meneladani dan berbakti kepada kedua orangtuanya.

    Setiap orang yang melayani dengan ikhlas berarti telah berpartisipasi menebar rahmat ke seluruh alam. Itulah tugas terhormat seorang pemimpin. Dan setiap kita pada hakikatnya adalah pemimpin, begitu sabda Rasulullah.

    Bila setiap orang berpikir minta dilayani, yang terjadi justru krisis. Pemimpin minta dilayani stafnya. Majikan memeras para karyawan. Petugas mempersulit rakyat. Orientasinya bukan rahmatan lil ‘alamin, tetapi keuntungan pribadi.

    Kekayaan alam yang mestinya untuk kesejahteraan rakyat, malah dikuras untuk bermewah-mewah diri dan kroninya. Hutan digunduli sehingga banjir dan longsor di sana-sini. Rakyatlah yang jadi korban.

    Melihat perilaku pemimpin yang seperti itu, rakyat pun ikut-ikutan mencari keuntungan sendiri. Sudah kaya dan berkecukupan, namun belum bersyukur dan malah berebut bantuan yang mestinya untuk fakir miskin. Sungguh cara hidup yang tidak akan berujung kepada kemuliaan, tetapi justru kehinaan. Dan inilah yang banyak disaksikan di sekeliling kita sekarang.

    “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Israa’: 16)

    Agar mampu rahmatan lil ‘alamin, kita perlu mentransformasi diri. Pusat diri yang sebelumnya egoisme dan hawa nafsu, harus diganti dengan kebeningan nurani.

    Sumber Inspirasi

    Bayangkan kalau ada orang yang rendah hati, menghormati sesama, dan suka melayani. Tidakkah hati Anda menyukai dan terkesan dengan keikhlasannya?

    Orang yang demikian itu akan membahagiakan hati sesama. Kalau dia seorang bapak, keluarganya akan menghormatinya dengan tulus. Kalau seorang ibu, anak-anaknya tentu akan senantiasa merindukan. Kalau seorang pemimpin, tentu akan menginspirasi hati sekalian rakyatnya.

    Umar bin Abdul Aziz telah membuktikan keberkahan rendah hati. Meski hanya menjabat dua tahun, terjadi perubahan besar. Akhlak rakyatnya yang sebelumnya buruk seketika berubah menjadi baik.

    Umat akan terinspirasi pemimpin yang rendah hati dan teramat jujur itu. Yang menjadi pembicaraan heboh saat itu di berbagai sudut kota, warung, sampai pinggiran ladang di desa adalah masalah iman dan amal shalih. Mungkin seheboh dunia ini ketika dihipnotis oleh perhelatan Piala Dunia yang belum lama berakhir.

    Masyarakat giat bekerja dan sejahtera. Kemakmuran mencapai puncaknya. Rakyat berdaya ekonominya dan mereka berlomba menunaikan zakat. Fakir miskin terentaskan sehingga sangat sulit mencari orang yang menerima zakat. Memberi dan memberi, itu yang menjadi paradigma mereka. Bukan meminta dan meminta.

    “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” ( Al-A’raaf: 96)

    Alam dan binatang pun digambarkan turut berbahagia. Para gembala yang biasanya takut kambingnya terancam dimakan oleh serigala, saat itu kedua binatang ini seolah berteman saja. Pintu keberkahan dibuka Allah bila manusia telah menunaikan tugas sebagai khalifah.

    Atas prestasi gemilang itu, tidak mengherankan jika beliau digolongkan sebagai Khulafa’ Ar-Rasyidin kelima setelah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan Ali.

    ***

    Oleh : Hanif Hannan/Hidayatullah

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 9 March 2013 Permalink | Balas  

    Doa Sapu Jagad 

    Doa_Sapu_JagatDoa Sapu Jagad

    Mengapa ada istilah do’a sapu jagad…?

    Apa dan bagaimana perannya…?

    Begitu populernya do’a ini. Sebuah do’a yang tertera dalam kitab suci Al-Qur’an, surat Al-Baqarah ayat 201. Di dalam kegiatan manasik haji, do’a ini menjadi idola para calon jamaah haji. Maklum dengan hafal do’a ini, konon akan mempermudah para jama’ah dalam melakukan aktivitas perjalanan hajinya.

    Do’a ini mampu mengganti do’a-do’a lain, yang begitu banyak tersebar dalam setiap aktivitas di tanah haram. Begitu populernya do’a ini, sehingga setiap orang ketika melakukan do’a untuk memohon sesuatu kepada Allah, baik secara pribadi maupun secara kolektif, selalu ditutup dengan do’a ini.

    QS. Al-Baqarah (2) : 200 – 202

    Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah kepada Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyangmu, atau berzikir lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.

    Sungguh sangat layak do’a ini disebut sebagai doa ‘sapu jagad’ atau doa universal, sebab :

    1. Jangkauannya kini & nanti (dunia & akhirat)

    Apa yang diinginkan oleh do’a ini memiliki jangkauan yang sangat luas. Isi dalam do’a ini tidak menginginkan suatu yang bersifat materi, tetapi lebih kepada sesuatu yang memiliki makna lebih penting, lebih luas, lebih menyeluruh, dengan masa yang sangat panjang. Tidak terbatas pada kehidupan dunia saja tetapi, menjangkau pada kehidupan akhir yang lebih abadi, lebih kekal, dan lebih indah dibanding dengan kehidupan kini.

    QS. Al-A’laa (87) : 16-17

    Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.

    QS. Qashash (28) : 77

    Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan, janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

    Meskipun urusan duniawi begitu kecilnya dibandingkan dengan urusan akhirat, tetapi tetap urusan duniawi jangan dilupakan. Karena melalui dunia inilah keberhasilan akhirat akan kita dapatkan.

    2. Mengapa formulasinya dunia lebih dahulu? Apakah lebih penting dunia dibanding akhirat?

    Seseorang bertanya dalam suatu diskusi agama.

    “Apabila akhirat lebih penting, mengapa di dalam kita berdo’a, yang diucapkan lebih dahulu, atau yang diminta lebih dahulu adalah kebahagiaan dunia? Bukan kebahagiaan akhirat? Apa maksudnya?”

    Maka dengan bijaksana, sang ustadz-pun menjawab:

    “Benar, bahwa akhirat itu memang lebih penting. Dengan didahulukannya sebutan dunia, bukan ‘berarti dunia yang lebih penting, tetapi justru akhirat-lah yang jauh lebih penting.”

    Lanjut pak Ustadz :

    “Rasul pernah mengatakan bahwa hidup ini bagaikan garis lurus. Jika anda yakin seperti apa yang disampaikan Rasulullah, maka sebenarnya dunia dan akhirat berada pada satu garis lurus. Artinya kita akan bertemu dengan akhirat setelah kita melalui dunia ini.”

    Dengan kata lain, jika yang kita tuju hanya dunia saja, kita tidak akan bertemu dengan akhirat. Karena letaknya akhirat di ujung perjalanan. Sebaliknya jika yang kita tuju adalah kehidupan akhirat, kita pasti akan bertemu dan melewati dunia.” “Hal itu dikarenakan posisi dunia berada pada jarak yang lebih dekat, sementara akhirat berada pada penghujung perjalanan manusia….”

    “…alhamdulillaah, saya mengerti ustadz, terima kasih…” jawab sang penanya.

    3. Perbandingan dunia dan akhirat?

    Selain masalah sebutan yang mendulukan dunia daripada akhirat, perbandingan dunia dan akhirat selalu saja menjadi bahan pembicaraan dalam setiap diskusi.

    Kata seseorang peserta diskusi :

    “Dunia ini begitu luasnya, bumi tak ada artinya dibanding dengan besarnya alam semesta raya yang sulit diukur batasnya. Lalu bagaimana dengan kehidupan akhirat nanti? Seberapa luas kehidupan akhirat nanti?”

    Pak Ahmad, sebagai salah satu peserta diskusi mencoba menjawabnya :”…tentu kita tidak bisa mengukur secara pasti luasnya negeri akhirat, tetapi saya teringat kata rasulullah saw, bahwa perbandingan dunia dengan akhirat seperti setetes air yang jatuh dari ujung jari kita ke dalam samudera. Sementara air yang ada di samudera itulah akhirat nanti…!

    Berarti benar-benar kehidupan dunia yang nampaknya luas dan besar ini, tidak ada artinya sama sekali, dibanding dengan kehidupan akhirat. Yang jauh lebih luas, jauh lebih kekal, jauh lebih abadi, dan jauh lebih indah…” Peserta diskusinya pun membenarkan pendapatnya.

    Begitu pendapatnya disetujui oleh peserta lain, Ahmad pun membuka Al-Qur’an yang ada di tangannya, dan ia mengutip sebuah ayat Al-qur’an yang berbunyi :

    Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di ahirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

    (QS. Al-Hadiid 57 : 20)

    4. Digunakan sebagai penutup do’a

    Disebut do’a sapu jagad, karena do’a ini telah disepakati oleh para ulama, bahwa berdo’a tanpa do’a ini rasanya tidak lengkap. Bahkan begitu populernya do’a sapu jagad ini, sampai seorang non Islam yang bekerja sebagai fotografer pada suatu acara pernikahan, ia hafal betul. Setelah pak ustadz membaca do’a “Rabbanaa aatina fiddunya hasanah…”ini, sang fotografer pun mengetahui bahwa do’a telah menjelang selesai. Dan ia siap bertugas untuk memotret acara berikutnya.

    Pak Robert sang juru potret itu, ketika ditanya oleh seseorang yang kebetulan duduk di sebelahnya, mengapa ia mengetahui bahwa do’a pada acara itu sudah menjelang selesai? ia menjawab :

    “wah, saya sudah hafal betul. Do’a sepanjang apa pun menurut pengalaman saya, jika sudah sampai pada do’a tersebut berarti do’a sudah hampir selesai.” Katanya.

    5. Tidak berani minta surga

    Satu hal yang perlu kita ingat dan kita renungkan, ialah bahwa dalam do’a ini kita tidak diajari untuk meminta surga. Sementara dalam kehidupan kita sehari-hari apabila kita bertanya pada setiap orang, apa yang mereka inginkan jika mereka berbuat baik? Mungkin lebih dari sembilan puluh persen mereka akan mengatakan minta surga. Tetapi do’a sapujagad ini, do’a yang paling dihafal oleh seluruh umat Islam ini adalah do’a yang di dalamnya tidak mengajarkan untuk minta surga. Ada apa gerangan? Mengapa?

    Dari seluruh ayat Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat kata-kata surga, tidak satu pun ayat yang mengatakan bahwa manusia dengan perbuatan baiknya yang telah dilakukan ketika hidup di dunia, dengan sendirinya ia akan masuk surga. Tetapi yang ada di dalam Al-Qur’an ialah bahwa Allah-lah yang akan memasukkan surga kepada siapa yang dikehendakiNya. Allah menggunakan kekuasaanNya, dan akan memasukkan surga kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Surga adalah milik Allah. Surga adalah sebuah hadiah dari Allah bagi orang yang berhasil dalam perjuangannya ketika di dunia.

    Surga adalah tempat kenikmatan yang diberikan oleh Allah Swt. Surga bukan ada dengan sendirinya. Surga bukan tujuan akhir bagi seorang hamba. Sebab tujuan akhir dari perjalanan manusia adalah Allah Swt. Dzat Yang Maha Indah, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Bijaksana, Raja di hari kemudian, Dialah Allah Azza walla, Dzat Yang Maha segala Maha…. Yang hanya kepadaNya semua akan kembali.

    QS. At-Taubah (9) : 21

    Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal,

    QS. An-Nisa’ (4) :13

    Hukum-hukum tersebut itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.

    QS.Al-Insan (76) : 31

    Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmat-Nya (surga). Dan bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih.

    6. Yang diminta dalam do’a sapu jagad

    Dalam do’a tersebut yang diharapkan dan diminta oleh seorang hamba kepada Tuhannya ada tiga aspek utama. Yang hal tersebut secara eksplisit lebih dipentingkan dari pada surga.

    1. Dunia yang Khasanah

    Apakah dunia yang khasanah itu? Dunia yang khasanah adalah kehidupan dunia yang menentramkan hati, yang menjadikan jiwa menjadi tenang dan damai. Merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Bisa sabar terhadap ujian dan cobaan yang menimpa, serta selalu bersyukur terhadap nikmat yang yang diberikan.

    QS. Al-Fajr (89) : 27-30

    Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.

    2. Akhirat yang Khasanah

    Apakah akhirat yang khasanah itu? Kehidupan di hari akhir nanti tak ada pilihan lain kecuali surga atau neraka. Surga adalah tempat balasan bagi orang-orang yang berhasil dalam kehidupannya. Ia telah sukses menjalankan perintah Allah, dan dengan rela ia meninggalkan larangan-laranganNya.

    Sementara neraka adalah tempat siksa bagi orang-orang yang ingkar kepada Allah. Mereka selalu melakukan perbuatan yang dilarangNya dan tidak pernah menjalankan apa yang diperintahkanNya.

    Di alam akhirat nanti, orang-orang yang mendapatkan akhirat khasanah, mereka betul-betul bahagia. Selain mendapatkan surga yang telah dijanjikan Allah, mereka juga bertemu dengan Allah swt dalam keadaan bahagia.

    QS. Al-Hasyr (59) : 20

    Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.

    QS.Al-Kahfi (18) : 31

    Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat-istirahat yang indah;

    QS. Ali-Imran (3) : 12

    Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: “Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya”.

    3. Terhindar dari siksa api neraka

    Neraka, adalah seburuk-buruknya tempat kembali. Demikian informasi dari Al-Qur’an al Karim. Bahkan bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu. uih, begitu menggiriskan…tentu saja sebagai hamba yang beriman kita mohon untuk dihindarkan dari siksa neraka ini. Karenanya do’a sapu jagad tersebut, betul-betul do’a yang tepat, yang universal, yang dipakai untuk penutup dari segala do’a.

    QS. Ali-Imran (3) : 10

    Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka,

    QS. Ali-Imran (3) : 192

    Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh, telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

    7. Yang penting adalah mendapat ampunanNya

    Mohon ampun adalah salah satu sifat dari orang yang taqwa. Di dalam Al-Qur’an disebutkan bagaimana ciri-ciri orang yang bertaqwa yang selalu mohon ampunan Allah

    QS. An-Nisa’ (4) : 106

    dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    QS. An-Nisa’ (4) : 110

    Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    QS. Ali-Imran (3) : 17

    (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta’at, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.

    Bahkan mohon ampun di waktu malam (waktu sahur), merupakan salah satu ciri istimewa bagi orang yang bertaqwa. Bangun di waktu sepertiga malam ketika sebagian besar manusia terlelap dalam tidurnya, seorang hamba yang bertaqwa bangun dari tidurnya. Bergegas ia ke kamar mandi mengambil air wudhu. Dibasuhnya semua perilaku yang salah, melalui tangannya. Dibasuhnya ucapan yang sering khilaf melalui mulutnya. Dibasuhnya pandangannya, dibasuhnya nafasnya, dibasuhnya fikirannya… Dan akhirnya dibasuhnya kedua kakinya dengan maksud agar langkah kakinya yang sering tak terarah itu menjadi bersih, suci, untuk menghadap sang Ilahi.

    Dan akhirnya setelah semua anggota wudhu’ sudah dibasuhnya dengan khusyu, ia mengangkat kedua tangannya untuk bermunajat kepada Allah:

    “Asyhadu an laa ilaaha illallahu wahdahu la syarika lahu, wa asyhadu anna Muhammad abduhu warasuluhu. Allahummaj’alni minattawwabina, waj’alni minal mutathahhiriina.” (HR. Attirmidzi)

    Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah jadikanlah aku sebagai golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang suci.

    Dengan wudhu yang semacam itu, maka terasa begitu lapang dada ini. Maka ketika seorang hamba mengangkat kedua tangannya untuk memulai shalat, yaitu ketika takbiratul ihram, niscaya hatinya akan terfokus hanya untuk Allah semata. Bacaan saat itu terasa menggetarkan dada. Dan insya Allah, Allah Swt sebagai Dzat Yang Maha Pengampun akan memaafkan segala kesalahan hambaNya.

    Ampunan adalah kunci surga. Tak ada seorang pun yang bisa masuk surga tanpa ampunanNya. Sebab manusia selalu berpeluang untuk melakukan kesalahan.

    Seorang yang mendapatkan ampunanNya insya Allah jalannya akan lurus. Dan insya Allah akan mendapat kesuksesan dalam hidupnya. Baik di dunia ini lebih-lebih dalam kehidupan akhirat nanti.

    Sungguh tak seorang pun yang bersih dari khilaf dan salah. Manakala seorang hamba terlanjur berbuat salah, maka mohon ampun itulah obat mujarabnya. Dengan bertaubat sebenar-benarnya taubat, insya Allah terbukalah hijab yang menutupi hatinya. Karena hijab inilah yang membuat manusia menjadi tertutup nuraninya, sehingga sering berbuat salah. Dan Allah pun, insya Allah akan memberikan ampunan yang tiada terhingga itu, untuk hamba yang dicintaiNya..

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 8 March 2013 Permalink | Balas  

    Filsafat Ilmu 

    ilmuFilsafat Ilmu

    Oleh : Reza Ervani

    Bismilahirrahmanirrahiim

    Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Al Quran Al Karim Surah Ali Imran ayat 190-191)

    Merenungkan Penciptaan Langit dan Bumi, dan bergantinya siang dan malam

    Ada sunatullah, hukum-hukum alam, formulasi fisika, pola serasi yang membina langit dan bumi. Ilmu yang kita punya semata-mata hanya merupakan interpretasi dari semua itu

    Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (Al Quran Al Karim Surah Ar Rahman ayat 7-9)

    Mencari Tanda-tanda Kebesaran Allah

    Tafakkaru fii khalqillah wa laa tafakkaru fi dzatillah”

    Ah, sepandai-pandainya engkau, sekali lagi, yang sedang kau pelajari hanya tanda-tanda kebesarannya. Di cakupan ruang dan waktu ini, kau hanya sedang belajar tentang ayat-ayatNya, hingga saat nanti Ia izinkan engkau bertemu denganNya.

    Mereka berpegang pada iman sebagai akar ilmu, melahirkan ketekunan

    Berpegang pada patok iman, agar kau tak terlempar jauh dan tak bisa kembali. Saat ada hubungan yang belum kau temukan kaitannya, kembalikan kepada Sang Penguasa Yang Maha Tahu segalanya. Ia akan anugerahkan engkau ketekunan dalam lingkaran luas yang sejuk.

    Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”. (Al Quran Al Karim Surah Al Qashash ayat 80)

    Memanfaatkan ilmu, sebuah interpretasi amal, melahirkan teknologi

    Silahkan merambah lahan ilmu seluas-luasnya, tapi agar ada manfaatnya, amalkan, interpretasikan dalam karya, yang biasa kita sebut sebagai teknologi. Agar perguruan tinggi tak jadi menara gading, agar semakin tinggi ilmu, semakin terang pula cahaya pencerahan pada masyarakat awam.

    Penghambaan

    Setelah kau dapatkan, tunduk sujud. Karena semakin kau tahu, semakin sadarlah engkau bahwa dirimu tak setara setitik debu di lautan ilmuNya yang Maha Luas. Kau mintakan padaNya agar ilmu tak membawamu kepada logika tak bertuan. Kau mintakan agar ilmuNya menjaga ilmu yang diamanahkan padamu.

    Selamat Mencari Ilmu

    Allahu’Alam

     
    • under sink water filtration 12:59 am on 28 Maret 2013 Permalink

      Today, I went to the beachfront with my children.

      I found a sea shell and gave it to my 4 year old daughter and said “You can hear the ocean if you put this to your ear.” She placed the shell to her ear and screamed.

      There was a hermit crab inside and it pinched her ear.
      She never wants to go back! LoL I know this is totally off topic but
      I had to tell someone! Cheers!

  • erva kurniawan 1:12 am on 7 March 2013 Permalink | Balas  

    Cerita Kecil Tahajjud : ALI BIN ABI THALIB R.A 

    tahajjudCerita Kecil Tahajjud : ALI BIN ABI THALIB R.A

    Dalam Dhirar Al-Shida’i, disebutkan ungkapan yang menggambarkan keadaan ‘Ali r.a, “Dia merasa asing terhadap dunia dan segala dan keheningannya. Saya bersaksi bahwa saya telah melihatnya di beberapa tempat berdirinya. Ketika malam telah melabuhkan tirainya dan bintang-bintang telah redup cahayanya, dia berdiri di mihrabnya sambil memegang janggutnya. Dia menggerakkan tubuhnya (dalam shalat) seperti orang yang kuat dan menangis seperti orang yang bersedih. Dia berkata “Hai dunia, tipulah orang lain selainku. Engaku telah menampakkan diri padaku dan merindukanku. Sayang, aku telah menceraikanmu dengan talak tiga tanpa ada peluang untuk rujuk lagi. Umurmu pendek, penghisabanmu sulit, dan bahayamu sangat besar. Oh, betapa sedikitnya bekalku, betapa panjang perjalananku, dan betapa sunyi jalanku.”

    Ali r.a berkata ” berbahagialah jiwa yang menunaikan kewajibannya kepada Tuhannya, yang menahan kesedihannya, dan matanya tidak terpejam pada malam hari. Apabila kantuk menyerangnya, dia terlentang di atas lantai dan berbantalkan telapak tangannya. Matanya terus terjaga karena takut pada tempat kembali di akhirat nanti. Lambungnya jauh dari tempat tidurnya. Bibirnya selalu basah dengan zikir kepada Allah. Karena istigfar yang terus menerus,dosa-dosanya berguguran bagaikan daun di musim kering. Itulah jiwa yang pantas masuk kedalam golongan Allah.”

    Bagaimana dengan anda?? Sudah berani tahajud??

    HAL JAZA UL IHSANI ILLAL IHSAN

    Wassalam

    ***

    Oleh: Rediyan Setiawan

     
    • mizsemberpink 4:17 pm on 8 Maret 2013 Permalink

      #JLEEBB… Subhanallah atas postingan yg menggugah hati ini… mohon ijin co-paste ya..

    • Ilham 7:23 am on 10 Maret 2013 Permalink

      Syukron

  • erva kurniawan 1:48 am on 6 March 2013 Permalink | Balas  

    Memutar Video Kehidupan 

    RollFilm1Memutar Video Kehidupan

    Bisakah di Masjidil Haram memutar video…?

    Pak Imran, seorang jamaah dari Makassar, pernah bercerita tentang pengalaman ruhaninya ketika berada di dekat ka’bah. Sejak berangkat dari tanah air pak Imran sudah mempunyai pendirian, bahwa nanti sesampai di Mekah, khususnya ketika di masjidil Haram, ia tidak akan mencium hajar aswad seperti keinginan para jamaah haji pada umumnya.

    Entah apa yang menyebabkan pendiriannya semacam itu. Tetapi satu hal yang pak Imran inginkan yaitu bahwa ia ingin berdo’a senikmat mungkin di dinding Ka’bah. Yang disebut multazam! Keinginan tersebut rupanya sudah terpatri kuat-kuat dalam hatinya sejak pak Imran mengikuti manasik haji.

    Sesampai di Masjidil Haram, begitu pak Imran melihat setiap jamaah ternyata ingin mencium hajar aswad, hati pak Imran tetap tidak tergerak sedikit pun untuk menciumnya. Bahkan ketika ada seorang jamaah perempuan yang ingin mencium hajar aswad, pak Imran dengan gigihnya mengawal orang sebut dari kerumunan jama’ah lainnya. Dan akhirnya orang tersebut berhasil menciumnya. Maka dengan wajah sangat puas, orang tersebut mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga kepada pak Imran.

    Ternyata sudah ada beberapa orang yang tertolong oleh pak Imran berkaitan dengan masalah pencium hajar aswad. Keesokan harinya, pak Imran ternyata tergoda juga untuk ikut merasakan bagaimana rasanya bisa mencium batu hitam itu. Maka dengan teknik dan pengalaman yang ia miliki, ketika ia beberapa kali berhasil menolong orang lain, pak Imran mulai beraksi mendekati hajar aswad.

    Berdesak-desakan di antara kerumunan orang banyak, dan dengan teknik ‘canggih’ yang dimilikinya, pak Imran yang posisinya berada jauh dari ka’bah bisa berangsur-angsur bergerak mendekati hajar aswad. Akh, betapa gembiranya hati pak Imran.

    Dalam hati pak Imran cukup berbangga dengan caranya ia bisa mendekati hajar aswad di tengah keramaian yang luar biasa itu. Ketika dirinya tinggal meraih batu itu untuk diciumnya, ternyata pak Imran merasa kesulitan. Beberapa kali ia mental keluar lagi. Begitu sudah dekat mukanya ke batu tersebut, tinggal menciumnya saja, kembali ada semacam gelombang manusia yang menghantamnya, dan kembali ia terpental dan tidak berhasil untuk menciumnya. Sampai akhirnya pak Imran putus asa.

    Maka ia membiarkan saja ketika dirinya mengikuti putaran thawaf sampai akhirnya ia keluar dan menjauh dari hajar aswad yang ditujunya. Dan pak Imran pun hanya bisa mengeluh seorang diri:

    ” …Kenapa ya, kemarin begitu mudahnya aku menolong orang lain, bahkan beberapa orang bisa aku lindungi untuk membantu mereka bisa mencium hajar aswad. Tetapi sekarang ketika giliranku untuk menciumnya, begitu sulitnya aku mencapainya. Padahal tinggal sejengkal saja…. Tapi tetap saja aku gagal untuk menciumnya…”

    Akhirnya pak Imran merasa betul-betul gagal dalam upayanya mencium batu hitam yang terkenal dengan nama hajar aswad itu.

    Pada keesokan harinya, pak Imran sudah melupakan kejadian itu. Ia dan keluarganya menuju masjid untuk melakukan aktivitas rutin yang berupa thawaf maupun shalat di masjidil Haram.

    Ketika hari menjelang dhuhur, pak Imran mendapat tempat duduk di shaf yang agak dekat dengan ka’bah. Di tengah kerumunan jama’ah yang luar biasa banyaknya itu, pak Imran berusaha mendekati ka’bah. Ia tidak ambil peduli tentang kegagalannya mencium hajar aswad kemarin. Kini pak Imran terfokus ingin sekali mohon ampun atas segala kesalahannya, baik selama ia melakukan perjalanan musim haji ini, atau juga kesalahan masa lalunya.

    Pak Imran begitu gagal mencium hajar aswad kemarin, sudah merasa bahwa ada kesalahan yang besar yang ia lakukan. Yaitu ia telah merasa berbangga diri dapat menolong beberapa jamaah perempuan ketika ia di dekat hajar aswad. Ia merasa bahwa yang membuat beberapa orang tersebut bisa mencium hajar aswad karena berkat pertolongannya. Pak Imran kini merasa sadar. Bahwa semua peristiwa adalah karena Allah semata. Ia sungguh merasa salah. Maka ingin sekali pak Imran saat itu bertaubat, dan mohon ampun kepada Allah atas segala kekeliruannya.

    Tanpa disadarinya, pak Imran berjalan menuju ke arah ka’bah. Yaitu pada suatu area sempit, tetapi begitu banyaknya kerumunan para jama’ah di tempat itu. Pak Imran terus saja maju ke arah kerumunan para jamaah. Hatinya begitu ingin masuk ke dalam kerumunan itu.

    Ketika pak Imran sudah dekat dengan ka’bah, tiba-tiba kerumunan itu ‘membuka’ memberi jalan pada pak Imran. Maka dengan begitu mudahnya pak Imran masuk ke dalam berjubelnya para jamaah, dan iapun langsung menempelkan muka dan tangannya, dan juga seluruh tubuhnya di dinding ka’bah. Sambil tiada hentinya air matanya meleleh membasahi pipinya. Tak tahu apa yang diucapkannya.

    Yang jelas seluruh perasaannya tumpah bersama air matanya membasahi dinding ka’bah. Begitu nikmatnya pak Imran, seluruh persoalan hidupnya seolah tak ada lagi. Semua ia serahkan kepada Sang Penciptanya. Pak Imran pun tenggelam dalam dekapan Sang Kekasih.

    Ketika kutanyakan apa yang dirasakan saat itu, pak Imran hanya bisa menjawab :

    “… Saya barusan memutar video kehidupan saya. Saya melihat dengan jelas betapa banyaknya saya melakukan kesalahan dan kekeliruan. Bahkan saya merasa sering lupa mensyukuri nikmat Allah yang begitu banyak saya terima setiap harinya… Ah, betapa tidak adilnya saya. Allah begitu murahnya memberi apa saja untukku. Sementara aku begitu tak tahu diri. Kemurahan itu, aku tukar dengan pengabdian yang tidak semestinya….”

    Yang aneh, kata pak Imran :

    “…Begitu lamanya saya berada di Multazam. Padahal banyak sekali orang antri, dan banyak yang tidak mempunyai kesempatan meskipun hanya sesaat untuk sekedar berdo’a. Sementara saya bisa begitu lamanya melihat video kehidupan saya…”

    Ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan atau bahkan menjadikan kesimpulan pak Imran.

    Ternyata jika sejak awal hati itu sudah tidak ingin akan sesuatu, ada saja jalannya, sehingga keinginan yang muncul secara spontan, tidak akan tercapai. Karena tidak sesuai dengan maksud hati semula. Contohnya adalah ketika ia sudah sejak awal tidak ingin mencium hajar aswad, sampai berupaya semaksimum apa pun, tetap saja keinginan pak Imran itu tak terwujud. Bahkan ironisnya ia bisa menolong dan membantu beberapa jamaah yang ingin mencium hajar aswad, sampai mereka bisa melakukannya.

    Sebaliknya jika sejak awal hati sudah terfokus akan sesuatu, dan hati sudah begitu inginnya untuk menikmatinya, ada saja jalannya, maka dengan mudahnya akan terwujudlah keinginan itu. Contohnya adalah begitu mudahnya pak Imran meraih multazam. Bahkan ia bisa berlama-lama disitu.

    Menurut pak Imran begitu mudahnya ia mencapai maksud hatinya. Menurut kesimpulan pak Imran, hati memiliki kekuatan yang luar biasa dahsyatnya. Bisa membuat sesuatu menjadi mudah. Juga bisa membuat sesuatu menjadi sulit. Bergantung bagaimana sikap hati kita.

    Ketika hati tak tergerak untuk mencium hajar maka dengan upaya apa pun tetap saja keinginan itu tak tercapai. Ketika hati sejak awal berangkat sudah dengan ikhlas berniat ingin berdo’a di multazam, maka begitu mudahnya mencapai keinginan itu.

    Bersabda Rasulullah saw :

    Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk badan dan rupamu, tetapi Allah melihat langsung dan memperhatikan niat dan keikhlasan dalam hatimu.

    (HR. Muslim, dari Abu Hurairah)

     

    Oleh Sahabat: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 5 March 2013 Permalink | Balas  

    Febiana Kusuma Ariesta: Masuk Islam Setelah Meragukan Natal Yesus 

    Febi-Ummu-Zaki_produktif3Febiana Kusuma Ariesta: Masuk Islam Setelah Meragukan Natal Yesus

    Ketika hidayah Ilahi datang tak ada kekuatan apapun yang mampu membendung. Potensi akal, kajian ilmiah dan perenungan yang mendalam, menyampaikannya pada hidayah Ilahi. Mantan guru Sekolah Minggu di gereja ini pun berikrar masuk Islam dan memilih jalan tauhid wal jihad. Dahsyatnya ujian dan musibah datang silih berganti, justru menambah kokohnya iman sang muallaf. Allahu Akbar!!!*

    Tiga puluh tiga tahun silam, Febiana Kusuma Ariesta dilahirkan dalam keluarga besar Kristen fanatik. Kakek dan neneknya adalah aktivis gereja. Bahkan ibunya seorang misionaris yang aktif menginjili hingga ke Nusakambangan.

    Dari keluarga aktivis di gereja itulah Febi mengenal Kristen hingga terdidik untuk menjadi aktivis gereja. Semasa kecil, ia beribadah di GPIB Cinere, ketika remaja ia pindah ke Gereja Alfa Omega di Semarang. Pada masa remaja, saat SMA Febi menjadi guru Sekolah Minggu di gereja.

    “Opung saya, laki-laki dan perempuan itu semua aktif di gereja. Dari merekalah saya mengenal Kristen dan aktif di gereja. Sejak saat itu saya mulai aktif di kegiatan gereja, saat natal itu ada drama dan paduan suara,” ujarnya kepada IDC Voa-Islam, Ahad lalu.

    Saat mengikuti drama Natal itulah imannya sedikit demi sedikit mulai goyah. Akal dan hati nuraninya tidak bisa menerima peringatan hari ulang tahun kelahiran Tuhan. Penelitiannya berlanjut ketika ia membaca kisah Natal dalam Alkitab (Bibel).

    …Saat mengikuti drama Natal imannya mulai goyah. Akal dan hati nuraninya tak bisa menerima peringatan hari ulang tahun kelahiran Tuhan…

    Dalam Injil Lukas pasal 2 diceritakan bahwa pada saat kelahiran Yesus, para penggembala ternak berada di padang Yudea.

    *“**Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di** **padang** **menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam”* (Lukas 2:8).

    Menurut ilmu meteorologi dan geofisika, keadaan cuaca di Timur Tengah pada tanggal 25 Desember dan sekitarnya, di wilayah Yudea daerah kelahiran Yesus, adalah musim salju yang sangat dingin. Mustahil para penggembala membawa ternaknya ke padang pada malam hari di musim salju yang sangat dingin?

    Febi menyimpulkan bahwa Yesus tidak mungkin lahir tanggal 25 Desember karena tidak sesuai dengan situasi kelahiran Yesus yang tercatat dalam Bibel.

    “Jadi buat saya ini tidak masuk akal. Sejak saat itu kehidupan saya mulai tidak tenang dan mulai mencari-cari keyakinan yang benar,” jelasnya.

    Dalam kegalauan iman, Febi berusaha lebih aktif ke gereja untuk mencari jawaban. Tapi yang ia dapatkan bukan ketenangan, malah merasakan banyak keganjilan.

    …Dalam kegalauan iman, semakin aktif ke gereja untuk mencari jawaban, yang ia dapatkan bukan ketenangan, malah merasakan banyak keganjilan…

    Sebelum dibabtis Febi mengikuti Katekisasi gereja untuk pendalaman iman. Saat belajar itu Febi makin menemukan banyak pertanyaan dan keraguan yang belum terjawab.

    Salah satu doktrin Kristen yang terasa ganjil di benaknya adalah inkarnasi Tuhan menjadi manusia Yesus untuk ditangkap, diolok-olok, disiksa, dicambuk, disesah, diludahi dan disalib hingga tewas mengenaskan di tiang salib (Markus 10:34).

    “Ini tidak masuk akal, kok ada Tuhan yang menjelma jadi manusia lalu disiksa dan disalib. Kalau Tuhan itu Maha Pengampun dan penuh Kasih, kenapa tidak dia ampuni saja dosa manusia tanpa prosedur sadis seperti itu?” ujarnya.

    Suatu hari Febi diajak keluarganya ke Yogyakarta untuk berziarah rohani di Gua Maria Lourdes. Di situ saya disuruh membaca Doa Bapa Kami: “Bapa kami yang di surga, dipermuliakanlah kiranya nama-Mu. Datanglah kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu, seperti di surga, demikian juga di atas bumi. Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Dan ampunilah kiranya kepada kami segala kesalahan kami, seperti kami ini sudah mengampuni orang yang berkesalahan kepada kami. Dan janganlah membawa kami kepada pencobaan, melainkan lepaskanlah kami daripada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.”

    Setelah merenungi Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus di Taman Getsemani dalam Injil Matius 6:9-13 ini, Febi makin ragu terhadap doktrin Trinitas.

    “Saya kemudian berpikir, sebenarnya Yesus itu siapa? Kok Yesus mengajarkan berdoa kepada Bapak yang ada di surga, Tuhan itu ada berapa?” kenangnya.

    Semakin mendalami Bibel, Febi semakin meragukan doktrin ketuhanan Yesus. Injil Matius 4:1-11 menceritakan bahwa Yesus dibawa Roh ke padang gurun untuk dicobai iblis. Febi semakin meragukan doktrin ketuhanan Yesus. Jika Yesus adalah Tuhan atau penjelmaan Tuhan, mengapa dia bisa dicobai iblis yang jahat? Ini bertentangan dengan Surat Yakobus 1:13, bahwa Tuhan tidak dapat dicobai oleh yang jahat.

    …Kalau Yesus itu Tuhan, kok bisa dia dicobai oleh iblis yang Dia ciptakan sendiri. Keyakinan saya bertambah bahwa agama Kristen ini tidak benar…

    “Bibel mengisahkan Yesus yang penjelmaan Tuhan itu dicobai iblis. Kalau dia Tuhan kok bisa dia dicobai oleh iblis yang Dia ciptakan sendiri. Itu yang membuat keyakinan saya bertambah bahwa agama Kristen ini tidak benar,” simpulnya.

    MENGENAL ISLAM DARI PEMBANTU

    Dalam kegalauan, Allah punya rencana lain, menuntun Febi kepada Islam melalui pembantu rumahnya. Suatu hari Febi melihat pembantunya wudhu dan menunaikan shalat dengan mengenakan mukena putih.

    “Kamu ngapain?” tanya Febi. “Sedang shalat dan berdoa,” jawab sang pembantu.

    “Lalu untuk apa kamu wudhu dulu sebelum shalat?” lanjut Febi. “Karena untuk menghadap Allah Yang Maha Suci kita harus bersih dan suci,” jelasnya.

    Rupanya dialog singkat itu sangat berkesan di hati Febi. Penjelasan sang pembantu itu bisa diterima logikanya. “Kalau mau bertemu orang penting seperti bos saja harus rapih dan bersih, masa mau menghadap Tuhan kita tidak bersih?” pikirnya.

    Sejak itulah Febi mulai membanding-bandingkan Islam dengan Kristen. Beberapa keunggulan Islam dalam benak Febi waktu itu adalah persamaan semua orang di rumah ibadah. Di masjid tidak ada perbedaan shaf antara orang kaya dan orang miskin. Tidak masalah bila konglomerat maupun pejabat shalat di belakang orang miskin. Sementara hal yang sama tidak pernah terjadi di gereja.

    Keistimewaan Islam lainnya, Al-Qur’an biasa dibaca sampai khatam dari surat Al-Fatihah yang pertama sampai ayat terakhir surat An-Nas. Sementara dalam kekristenan tidak ada tradisi membaca secara tuntas dari kitab Kejadian pasal satu sampai kitab Wahyu yang terakhir. “Kalau orang Islam baca Al-Qur’an itu dari awal sampai khatam tapi kalau di Kristen itu bacanya hanya sepenggal-sepenggal,” terangnya.

    …Keraguannya terhadap doktrin ketuhanan Yesus mulai terjawab. Dalam sebuah ayat Injil Yesus berterus terang bahwa dirinya adalah nabi utusan Allah…

    Umat Islam melaksanakan shalat Jum’at karena ada perintahnya dalam Al-Qur’an. Tapi umat Kristen beribadah pada hari Minggu, padahal dalam 10 Firman Bibel ada perintah menguduskan hari Sabat (Sabtu). “Sepuluh Titah Allah itu kan hal yang harus ditaati, salah satunya adalah diperintahkan agar menguduskan hari Sabat. Tapi kenapa orang Kristen itu ke gerejanya hari Minggu?” paparnya.

    Dalam pengembaraan iman itu, keraguan Febi terhadap doktrin ketuhanan Yesus mulai terjawab. Sebuah ayat Injil menjadi kelegaan imannya, di mana Yesus berterus terang bahwa dirinya adalah nabi utusan Allah.

    Dalam Injil Yohanes 12:49 Yesus berkata: “Sebab aku berkata-kata bukan dari diriku sendiri, tetapi Bapa yang mengutus aku, Dialah yang memerintahkan aku untuk mengatakan apa yang harus aku katakan dan aku sampaikan.”

    “Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa Yesus itu adalah utusan Allah,” ujarnya.

    Setamat SMA Febi melanjutkan pendidikan ke Universitas Indonesia (FISIP UI). Di awal kuliah, ia tak bisa mememdam kerinduannya untuk memeluk agama yang benar. Pada tahun 1997 ia pun memutuskan untuk hijrah menjadi pemeluk Islam. Secara formalitas, ia mengikrarkan dua kalimat syahadat di sebuah masjid di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur pada tahun 1998.

    Setelah masuk Islam, Febi sangat menikmati hidup baru dan ibadahnya, meski masih tinggal satu atap dengan kedua orang tua yang beda akidah. Suatu hari, tanpa sengaja Febi shalat di kamarnya tanpa mengunci pintu. * Qadarullah*, ketika sedang khusyuk shalat ayahnya masuk kamar. Febi pun disidang oleh keluarga.

    …Kalau kamu masuk Islam silakan keluar dari sini. Buat papa tidak masalah kehilangan anak satu, buat papa agama itu prinsip…

    “Kalau kamu masuk Islam silakan keluar dari sini. Buat papa tidak masalah kehilangan anak satu, buat papa agama itu prinsip,” ancam sang ayah.

    Tak gentar dengan ancaman ayahnya, Febi pun angkat kaki dari rumah tanpa membawa perbekalan apapun. Tak ada bekal pakaian, perhiasan maupun uang yang dibawanya, karena semua ditahan ayahnya. Febi meninggalkan rumah hanya dengan sehelai pakaian yang melekat di badan. Febi memilih pergi kepada kerabat jauh yang beragama Islam.

    DIJEBAK MASUK KRISTEN DAN DIPAKSA MAKAN BABI

    Setahun kemudian, tepatnya 1999 Febi menikah dengan pria yang diharapkan bisa membimbing dan menjaganya dalam berislam secara kaffah. Celakanya, Febi salah memilih suami yang diidam-idamkan. Sang suami ber-KTP Islam yang menjadi pendamping hidupnya ternyata seorang pemuja kemusyrikan. Amaliah ibadahnya adalah menyembah Nyai Roro Kidul dan hal-hal beraroma mistis lainnya.

    Aktivitas kemusyrikan ini pun memicu perceraian Febi dengan suaminya. Febi bercerai dengan suaminya setelah dikaruniai seorang anak: Aufa Jhose Zaqi Nugraha. Untuk menafkahi dan membiayai sekolah anaknya, Febi bekerja sebagai pembantu rumah tangga selama 1,5 tahun di Pekanbaru, lalu menjadi pembantu Restoran di Bogor.

    Suatu hari di tahun 2010, Febi mendapat panggilan dari ibunya di Semarang, katanya sedang ada masalah dan minta Febi pulang untuk ikut membantu menyelesaikan masalah. Tanpa pikir panjang, Febi pun meluncur bersama Zaqi ke Semarang memenuhi panggilan ibunya.

    …Febi dikelilingi oleh pendeta dan anggota Komsel. Sambil berkomat kamit doa dalam nama Yesus, sang pendeta memegang kepalanya…

    Sesampai di rumah, ternyata Febi dijebak untuk dipaksa masuk Kristen lagi. Di sana ia disambut oleh pendeta dan para aktivis Kristen yang tergabung dalam Komunitas Sel (Komsel) gereja. Disaksikan Zaqi, Febi dikelilingi oleh pendeta dan anggota Komsel. Sambil berkomat kamit doa dalam nama Yesus, sang pendeta memegang kepala Febi, sementara jemaat lainnya memegang badannya supaya tidak berontak.

    Sang pendeta meneriakkan nama Yesus untuk mengusir roh jahat yang dianggap bersarang dalam diri Febi. Sejurus kemudian ia membisikkan ke telinga Febi dengan setengah memaksa agar mau mengucapkan kalimat untuk menerima Yesus sebagai tuhan dan juruselamat penebus dosa.

    Febi yang sudah tidak berdaya melawan tak bisa berbuat banyak. Tapi Allah memberikan karomah sehingga mulutnya terkunci rapat tak bisa berkata sepatah kata pun.

    “Itu yang membuat saya heran. Saya yakin itu adalah kuasa Allah. Mulut saya tidak bisa terbuka. Demi Allah waktu itu mulut saya seperti terkunci. Saya waktu itu hanya bisa nangis,” kenangnya.

    Seluruh jemaat yang hadir pun tak kehabisan akal. Mereka memaksa Febi makan daging babi sebagai simbol bahwa ia menentang ajaran Islam yang mengharamkan babi. Pada hari itu tak ada menu makanan apapun selain babi.

    …Mereka memaksa Febi makan daging babi sebagai simbol bahwa ia menentang ajaran Islam yang mengharamkan babi…

    Gagal memaksa Febi, Zaqi pun menjadi sasaran kristenisasi oleh neneknya. Ia diajak berdoa bersama dengan cara menirukan doa neneknya yang misionaris itu. Tapi dengan tegas Zaqi menolaknya. “Oma silakan doa sama Yesus, tapi Zaqi mau berdoa sama Allah saja,” ujarnya polos.

    Akhirnya keberanian Febi pun tersulut hingga lahirlah pertengkaran hebat antara Febi dan ibunya. “Mama, saya sayang sama mama tetapi saya lebih sayang sama Allah!” ujar Febi.

    Tak mau kalah, karena malu di hadapan jemaat Komsel gereja, sang ibu pun berteriak menghardiknya. “Pergi kau dari sini, kau tidak sayang sama mama dan kau bukan anak mama lagi!” bentaknya.

    Usai insiden itu, Febi pindah ke Bogor, menikah dengan seorang ikhwan aktivis Islam. Tinggal di rumah petak yang sangat minimalis, Febi merajut rumah tangga bahagia meski serba kekurangan. Berbagai ujian dan musibah datang silih berganti, namun Febi tetap tegar di jalan tauhid dan jihad.

    Betapapun berat ujian yang menimpanya, Febi tak bergeming dari Islam. Tak ada penyesalan apapun hijrah kepada tauhid. “Allah itu Maha Besar. Apa yang menurut manusia tidak bisa terjadi menurut Allah segala hal bisa saja terjadi. Islam itu indah buat saya sekalipun ujiannya berat,” tutupnya. [bornaskopen, ahmed widad, n’mux]

    ***

    Sumber : http://www.voa-islam.com

     
    • Eka Herlina 4:56 am on 12 Maret 2013 Permalink

      Saya berpkiran sm tentang apa yg dituliskan didlm bacaan ini.saya adalah seorang yg beragama hindu masuk kristen karena swami penganut agama itu.banyak pertanyaan2 saya tentng cara ibdh mereka dan saya membandingkannya denga agama islam.saya mohon bimbingannya lebih lanjut!

  • erva kurniawan 1:36 am on 4 March 2013 Permalink | Balas  

    Kisah Perdebatan A. Hassan Dengan Tokoh Atheis 

    allahKisah Perdebatan A. Hassan Dengan Tokoh Atheis

    Oleh: Artawijaya

    Editor Pustaka Al Kautsar

    Gedung milik organisasi Al-Irsyad, Surabaya, hari itu penuh sesat dipadati massa. Almanak menunjukkan tahun 1955. Kota Surabaya yang panas, serasa makin panas dengan dilangsungkannya debat terbuka antara Muhammad Ahsan, seorang atheis yang berasal dari Malang, dengan Tuan A. Hassan, guru Pesantren Persatuan Islam, Bangil. Meski namanya berbau Islam, Muhammad Ahsan adalah orang atheis yang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, dan tidak pula meyakini bahwa alam semesta ini ada Yang Maha Mengaturnya. Ia juga menyatakan manusia berasal dari kera, bukan dari tanah sebagaimana dijelaskan Al-Qur’an.

    Menurut keterangan Ustadz Abdul Jabbar, guru Pesantren Persis, yang menyaksikan perdebatan itu, hadirin yang datang cukup membludak. Lebih dari ratusan massa datang berkumpul, mengular sampai ke luar gedung. Mereka mengganggap perdebatan ini penting, karena Muhammad Ahsan, telah secara terbuka di Surat Kabar Harian Rakyat, 9 Agustus 1955, meragukan keberadaan Tuhan. Ia juga menolak keyakinan Islam bahwa orang yang berbuat kebaikan di dunia, akan dibalas di akhirat kelak. Ahsan berkeyakinan, segala sesuatu tercipta melalui evolusi alam, dan akan musnah dengan hukum alam juga. Dalam surat kabar itu, ia menyatakan lugas, “Pencipta itu mestinya berbentuk. Tidak mungkin suatu pencipta tidak berbentuk, “tulisnya.

    Atas pernyataan itu, Hasan Aidit, Ketua Front Anti Komunis, menghubungi A. Hassan agar bersedia bertukar pikiran dengan tokoh atheis itu. Sebelumnya, Hasan Aidit dan Bey Arifin sudah melayangkan tantangan debat di forum Study Club Surabaya pada 12 Agustus 1955, namun rencana itu gagal. Ia kemudian menyusun rencana agar Ahsan yang atheis itu dipertemukan dengan A. Hassan, sosok yang dikenal ahli dalam berdebat soal-soal keislaman. A. Hassan dan Muhammad Ahsan bersedia bertemu di forum terbuka.

    Singkat kata, perdebatan terbuka benar-benar terjadi. Karena dikhawatirkan akan berlangsung panas, maka panitia memberikan beberapa peraturan kepada hadirin yang datang menyaksikan. Hadirin tak boleh bertepuk tangan, tidak boleh bersorak sorai, tidak boleh saling berbicara, tidak menampakkan gerak-gerik yang merendahkan salah seorang pembicara, dan tidak boleh mengganggu ketentraman selama berlangsungnya perdebatan.

    Sementara untuk orang yang berdebat dibuat aturan pula. Masing-masing berdiri di satu podium dan diberi mikrophone, kemudian saling bertukar pertanyaan dan jawaban. Sementara pimpinan acara, yaitu Hasan Aidit, duduk di sebuah meja didampingi seorang sekretaris untuk mencatat jalannya perdebatan. Tugas pimpinan acara adalah mengatur jalannya perdebatan, dan menegur siapa saja yang melanggar aturan.

    Setelah dibuka dengan ceramah dari KH. Muhammad Isa Anshary, tokoh Persatuan Islam yang juga petinggi Partai Masyumi, acara pun di mulai. Perdebatan berlangsung dalam format tanya jawab dan saling menyanggah pendapat yang diajukan.

    Berikut point-point penting dari ringkasan perdebatan itu. Tokoh atheis Muhammad Ahsan akan disingkat menjadi (MA), sedangkan A. Hassan disingkat menjadi (AH):

    A.H: Saya berpendirian ada Tuhan. Buat membuktikan keadaan sesuatu, ada beberapa macam cara; dengan panca indera, dengan perhitungan, dengan kepercayaan yang berdasar perhitungan, dengan penetapan akal. Makatentang membuktikan adanya Tuhan, tuan mau cara yang mana? M.A: Saya mau dibuktikan adanya Tuhan dengan panca indera dan perhitungan dan berbentuk. Karena tiap-tiap yang berbentuk, seperti kita semua, mestinya dijadikan oleh yang berbentuk juga.

    A.H: Tidak bisa dibuktikan Tuhan dengan panca indera, karena ada banyakperkara yang kita akui adanya, tetapi tidak dapat dibuktikan dengan panca indera..

    M.A: Seperti apa?

    A.H: Tuan ada punya akal, fikiran, dan kemauan? M.A : Ada

    A.H : Bisakan tuan membuktikan dengan panca indera?

    M.A: Tidak bisa

    A.H: Bukan suatu undang-undang ilmi (ilmiah) dan bukan aqli bahwa tiap-tiapsatu yang berbentuk itu penciptanya mesti berbentuk juga. Ada banyakperkara, yang tidak berbentuk dibikin oleh yang berbentuk.

    M.A: Seperti apa?

    A.H : Saya berkata-kata, perkataan saya tidak berbentuk sedang saya sendiriyang menciptakannya berbentuk. Bom atom berbentuk dan bisa menghancurkan semua yang berbentuk di sekelilingnya, sedang akal yang membikinnya tidakberbentuk. Kekuatan elektrik (listrik) tidak berbentuk, tetapi bisa menghapuskan dan melebur semua yang berbentuk. Jadi, buat mengetahui sesuatu, tidak selamanya dapat dengan panca indera. Dan pencipta sesuatu yang berbentuk, tidak selalu mesti berbentuk.

    • * *

    A.H: Di dalam dunia ini adakah negeri yang dinamai London, Washington, danMoskow?

    M.A: Ada

    A.H: Apakah tuan sudah pernah ke negeri-negeri itu?

    M.A: Belum

    A.H: Maka dari manakah tuan tahu adanya negeri itu?

    M.A: Dari orang-orang

    A.H: Bisa jadi diantara orang-orang itu ada yang belum pernah kesana.Walaupun bagaimanapun keadaannya, buat tuan, adanya negeri- negeri itu, hanya dengan perantaraan percaya, bukan dengan panca indera.

    M.A: Ya, memang begitu.

    A.H: Dari pembicaraan kita, ternyata ada terlalu banyak perkara yang kitaterima dan akui adanya semata-mata dengan kepercayaan danperhitungan, bukan dengan panca indera.

    M.A: Ya memang begitu

    A.H: Oleh itu, tentang adanya Tuhan, tidak usah kita minta bukti dengan pancaindera, tetapi cukup dengan perhitungan dan pertimbangan akal, sebagaimana kita akui adanya ruh, akal, kemauan, fikiran, percintaan,kebenciaan, dan lain-lain.

    M.A: Ya, saya terima.

    A.H: Bila tuan tidak ber-Tuhan, tentulah tidak beragama. Dari itu semua, baikdan jahat tentunya tuan timbang dengan fikiran dan akal. Maka menurutfikiran, apakah tuan merasa perlu ada keadilan dan keadilan itu perludibela hingga tidak tersia-sia?

    M.A: Ya, perlu ada keadilan dan perlu dibela

    A.H: Apakah tuan makan benda berjiwa?

    M.A: Kalau binatang yang sedang berjiwa saya tidak makan

    A.H: Saya tidak maksudkan binatang yang sedang hidup, tetapi daging binatang-binatang: Sapi dan kambing yang dijual dipasar.

    M.A: Ya, saya makan

    A.H: Itu berarti tidak adil, tuan zalim

    M.A: Mengapa tuan berkata begitu?

    A.H: Karena menyembelih binatang itu, menurut fikiran satu kesalahan dan Kezaliman M.A: Saya tidak bunuh binatang-binatang itu, tetapi penjualnya

    A.H : Kalau tuan tidak makan dagingnya, tentu orang-orang tidak sembelih binatangnya. Jadi, tuan adalah seorang dari yang menyebabkan binatang-binatang itu disembelih. Baiklah kita teruskan, apa tuan berbuat (lakukan)kalau tuan digigit nyamuk?

    M.A: Saya bunuh

    A.H: Bukankah itu satu kezaliman?

    M.A: Saya bunuh nyamuk itu lantaran ia gigit saya

    A.H: Menurut keadilan fikiran, jika nyamuk gigit tuan, mestinya tuan balas gigit dia. Balas dengan membunuh itu tidak adil.(tuan M.A tertawa dan hadirin bertepuk tangan. Padahal dalam kesepakatan debat, ini dilarang)

    • * *

    A.H: Tuan ada menulis di “Suara Rakyat” tanggal 9 Agustus 1955 tentang seorang yang keluar buntutnya dan terus memanjang, lalu ia minta pada Rumah Sakit Malang supaya dipotong dan dihilangkan. Karena semakin panjang, semakin menyakitkan. Apakah (dengan tulisan itu) tuan bermaksud dengan itu bahwa manusia berasal dari monyet?

    M.A: Ya, betul

    A.H: Apakah tuan menganggap bahwa buntut orang itu kalau tidak dibuang dan terus memanjang, niscaya dia jadi monyet?

    M.A: Ya, betul begitu

    A.H: Jika demikian berarti monyet berasal dari manusia, bukan manusia berasal dari monyet.(Tuan M.A tertawa, hadirin juga terbahak dan bertepuk tangan, lupa dengan peraturan majelis)

    Perdebatan sengit yang akhirnya diselingi derai tawa dan tepuk tangan karena keahlian A. Hassan yang mampu mematahkan argumen dengan gaya yang santai, lucu, dan ilmiah, ini dikenang sepanjang massa sebagai debat terbaik A. Hassan dengan tokoh atheis tersebut. Perdebatan ini sendiri berlangsung dua kali. Debat pertama berlangsung selama dua setengah jam, dan berakhir dengan pernyataan Ahsan menerima apa yang disampaikan oleh A. Hassan. Ia menyatakan menerima dan kembali pada Islam. Namun dalam pertemuan pertama, A. Hassan meminta Ahsan untuk berpikir dulu, sebelum menerima apa yang disampaikan. Akhirnya pada pertemuan kedua yang berlangsung selama dua jam, Ahsan benar-benar menerima dalil-dalil dan argumentasi yang disampaikan A. Hassan. Tokoh atheis itu akhirnya kembali ke pangkuan Islam. Kisah perdebatan antara A. Hassan dengan tokoh atheis ini kemudian didokumentasikan dalam sebuah buku oleh A. Hassan dengan judul, “Adakah Tuhan?”

    Kini, tradisi meluruskan kekeliruan dan kesesatan dengan cara mengajak bertukar pikiran dalam debat terbuka harus kembali digalakkan. Tujuannya, agar umat bisa tahu, mana yang keliru dan mana yang benar. Yang terpenting, jangan jadikan debat sebagai ajang untuk menghina dan mencaci maki lawan.

    ***

    Sumber : islampos.com

     
    • achmad usman 10:50 am on 5 Maret 2013 Permalink

      orang atheis : tdk percaya Alllah ( Allah GAIB ) , segala sesuatu hrs bisa dinalar dgn akal , men TUHAN kan AKAL , apapun yg tdk bisa dicerna akal dianggap mustahil , mereka lupa bahwa akal sangat terbatas kemampuannya , akal lah yg dianggap tuhan oleh atheis / pendapat manusia berasal dari kera ,itu teori darwin , darwin yahudi tulen , ingin membantah se olah manusia pertama bukan nabi ADAM, tapi kera , maksutnya ingin “melemahkan” isi alquran bahwa Adam manusia pertama , tapi kera…tapi teori darwin terbantahkan , sejak ahli anatomi manusia di inggris menyatakan bahwa kepala manusia pada tubuh kera itu ( kera yg diyakini asal manusia ) di meseum inggis yg tersimpan ratusan tahun , ternyata kepala manusia itu hasil cangkokon yg canggih , artinya tubuh kera di cangkok kepala manusia yg sudah mati.

  • erva kurniawan 1:24 am on 3 March 2013 Permalink | Balas  

    Sujud Terakhir 

    Mati saat SujudSujud Terakhir

    Shaf pertama penuh berdesak-desakan. Habib Abdulqadir bin Abdurrahman as-Saqqaf mengisyaratkan kepada habib Najib bin Taha as-Saqqaf agar maju ke shaf pertama di belakang beliau.

    Melihat shaf pertama yang telah penuh berdesak-desakkan itu habib Najib bin Taha berkata, “Shaf pertama telah penuh, wahai habib.”

    Mendengar jawaban itu habib Abdulqadir menjawab dengan penuh kewibawaan, “Wahai anakku, majulah, kau tak mengetahui maksudku!”

    Jawaban itu menjadikan habib Najib bin Taha spontan maju ke shaf pertama, walaupun harus memaksakan diri mendesak shaf yang telah penuh itu.

    “Allaahu akbar”. Shalat jumat mulai didirikan. Habib Abdulqadir membaca surat al-Fatihah, lalu membaca surat setelahnya dalam keadaan menangis.Di rakaat kedua pada sujud terakhir, beliau tak kunjung bangkit dari sujudnya. Suara nafasnya terdengar dari speaker masjid.

    Karena sujud itu sudah sangat lama, maka habib Najib bin Taha memberanikan diri untuk menggantikan beliau. “Allaahu akbar”, Ucapan salam untuk mengakhiri shalat diucapkan.

    Para jamaah berhamburan lari ke depan ingin mengetahui apa yang terjadi pada habib Abdulqadir. Saat itu mereka mendapati habib Abdulqadir tetap dalam keadaan sujud tak bergerak. Lalu tubuh yang bersujud itu dibalik oleh para jamaah, dan terlihatlah wajah habib Abdulqadir. Maasya-allaah, setiap orang yang melihat wajah beliau, menitikkan air mata. Bagaimana tidak menitikkan air mata? Mereka melihat wajah habib Abdulqadir tersenyum dengan jelas sekali. Tersenyum bahagia.

    Habib Abdulqadir wafat dalam keadaan menikmati amal yang terindah. Di saat melakukan ibadah yang teragung yaitu shalat. Mendirikan shalat itu dalam kondisi yang terutama, yaitu shalat berjamaah. Melakukan shalat yang bermuatan besar, yaitu shalat jumat. Pada saat melaksanakan rukun shalat yang terutama, yaitu sujud. Dalam posisi yang terpenting, yaitu sebagai imam shalat jumat. Di tempat yang paling utama, yaitu masjid. Di hari yang paling utama, yaitu hari jumat.

    ***

    husi – N – abil

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 2 March 2013 Permalink | Balas  

    Shalat Subuh dengan Wudhu Isya 

    Tawaf&Ka'bahShalat Subuh dengan Wudhu Isya

    Mengapa seseorang mampu melakukan shalat subuh,

    dengan menggunakan wudhu’ Isya’nya…?

    Pak Imam adalah salah satu jama’ah haji yang aku kunjungi ketika ia pulang dari ibadah haji. Ada sesuatu yang nampak aneh dalam pandanganku terhadap diri pak Imam ini. Ketika berangkat dahulu pak Imam adalah seorang jama’ah yang biasa-biasa saja, tak ada keistimewaan apa pun dalam pandanganku. Tetapi kurang lebih empat puluh hari aku tidak bertemu, kini wajahnya tampak beda. Ada semacam aura yang menyejukkan hati, sehingga membuat orang yang memandangnya menjadi kerasan dan menjadi senang.

    Ketika aku minta oleh-oleh cerita dari pengalamannya ketika di tanah haram, ada sesuatu yang menurutku sangat menarik dan patut untuk direnungkan.

    “Ketika saya di sana, saya menggunakan aji mumpung..,” katanya.

    “Karena sangat sulit untuk bisa ke sana lagi. Di samping biayanya tambah lama menjadi tambah mahal, kesempatan dan kesehatan juga belum tentu bisa menunjangnya.” lanjutnya.

    “Karena itulah, saya menggunakan kesempatan yang ada itu, untuk beribadah semaksimal mungkin yang saya bisa.”

    “Suatu saat, ketika saya ke masjid untuk melakukan shalat isya, ketika mau pulang, sandal saya nggak ketemu. Saya cari kemana-mana, tetap saja tidak ketemu. Padahal sandal itu saya bawa ke dekat tempat saya melakukan shalat…”

    “Karena nggak ada sandal, maka saya putuskan malam itu saya tidak pulang ke hotel, tetapi saya ingin beribadah sebaik-baiknya di malam itu.”

    Maka sejak waktu shalat isya’, saya terus melakukan aktivitas ibadah dengan konsentrasi sebaik-baiknya.”

    “Setelah melakukan shalat isya’ berjamaah, seperti biasanya saya melakukan shalat sunah. Selanjutnya saya membaca Al-Qur’an sebisa saya. Begitu terasa capek, saya pun kembali melakukan shalat sunah lagi. Tiba-tiba terfikir saat itu, bahwa saya ingin shalat di setiap penjuru ka’bah. Maka saya pun shalat dua rakaat berturut-turut berputar ke arah kanan mengelilingi ka’bah. Hal itu terus saya lakukan sampai akhirnya saya kembali pada posisi saya ketika pertama kali melakukan shalat isya’.

    Entah berapa kali dan berapa rakaat saya melakukan shalat-shalat itu. Tanpa terasa tiba-tiba terdengar suara bilal yang sudah mengumandangkan adzan subuh…”

    ” Saya terkejut sekali! Betapa cepatnya waktu satu malam. Sejak waktu isya’ sampai dengan adzan subuh seolah-olah hanya sebentar saja..begitu cepatnya waktu berlalu.”

    “Yang saya sendiri menjadi heran adalah, bahwa saya semalaman insya Allah tidak batal wudhu’ sehingga terus saja melakukan aktivitas di dalam masjid. Ya shalat, ya baca Al-Qur’an…. Dan tiba-tiba waktu subuh pun telah masuk. Barulah kemudian saya pergi ke kamar mandi untuk memperbarui wudhu’ saya, serta untuk keperluan lainnya..”

    Aku pulang dari rumah pak Imam sambil merenung mendengar ceritanya yang cukup unik itu. “Sungguh hebat pak Imam,” kataku dalam hati. Sampai Allah memberlakukan relativitas waktu bagi dirinya. Waktu yang panjang seolah menjadi pendek. Berkat kekhusyu’annya, ia bisa melakukannya dengan ringan dan enak, tidak merasa berat. Bahkan semua itu secara tidak sadar ia lakukan dengan wudhu’nya shalat isya’. Sungguh benar firman Allah! orang yang khusyu’ akan merasa ringan dalam menjalankan aktivitasnya.

    QS. Al-Baqarah (2) : 45

    Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.

    Mungkin demikian pula halnya dengan orang-orang yang khusyu’ dalam hidupnya. Waktu dunia yang cukup lama, misalnya: enam puluh tahun, tujuh puluh tahun, delapan puluh tahun atau bahkan lebih, dalam diri orang yang khusyu’ menjadi terasa sebentar saja. Karena ia sibuk untuk berbuat kebajikan. Sibuk untuk mengabdikan dirinya, agar seluruh aktivitas hidupnya selalu mempunyai nilai ibadah di hadapan Allah Swt.

    QS. Thaha (20) : 104

    Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: “”Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sehari saja.”

    ***

    Oleh Sahabat: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 1 March 2013 Permalink | Balas  

    Kisah Nyata Karomah: Kulit anggota tubuh yang dibasuh air wudhu berubah warna menjadi putih 

    quranKisah Nyata Karomah: Kulit anggota tubuh yang dibasuh air wudhu berubah warna menjadi putih

    Syahid ketika diserang pasukan Kroasia di Bosnia pada tahun 1993. Berumur pertengahan dua puluhan. Kisah dari orang pertama.

    Seorang pemain bola tangan, ia adalah anggota tim nasional bola tangan Qatar. Ia datang ke Bosnia pada akhir 1992. Abu Khalid menyukai tugas jaga (ribath), ia biasa mengambil tugas jaga double shift selama empat jam di tengah cuaca yang dingin.

    Abu Khalid seorang mujahid yang sangat tawadhu dan shalih. Kulitnya hitam karena ia

    keturunan negro, namun para mujahidin melihat nur (cahaya) pada wajahnya. Ada dua

    buah tanda bekas sujud di keningnya akibat lamanya ia bersujud dalam shalat malamnya yang panjang.

    Suatu hari ia pernah ditanya, “Kapan engkau akan kembali ke negaramu, Abu Khalid?” Abu Khalid menjawab, “Saya ingin syahid di sini.”

    Abu Khalid pernah berkata pada seorang mujahid, “Dulu ketika di Qatar, saya telah membeli pakaian tempur untuk pergi dan berperang di Afghanistan, tetapi ibu saya mencegah kepergian saya. Tetapi insya-Allah, kali ini, dengan pakaian tempur yang sama, saya akan syahid di Bosnia.”

    Sebelum sebuah operasi melawan Kroasia, saat menerima pembagian kelompok oleh Amir, ia berbisik pada seorang mujahid di sampingnya, “Insya-Alllah, kali ini ALLAH akan mengambil saya menjadi seorang syahid.”

    Kemudian ia melakukan perjalanan dengan mobil bersama lima orang mujahidin lainnya,

    salah satunya adalah Wahiuddin al-Misri, Amir Mujahidin (semoga Allah meridhainya).

    Mereka tersesat dan masuk sejauh 7 kilometer ke dalam wilayah musuh. Pasukan Kroasia menembaki mereka dengan senjata anti pesawat hingga mobil mereka terpental 6 meter ke udara. Semua mujahidin di dalamnya keluar dan bertempur hingga syahid.

    Dua bulan kemudian, saat jenazah mereka dikembalikan, para mujahidin dapat mengenali mereka, kecuali jenazah Abu Khalid Al-Qatari. Jenderal Bosnia yang mengantarkan para jenazah mengeluarkan jenazah yang terakhir, jenazah itu berkulit putih dan wajahnya juga berwarna putih. “Ini saudara kalian yang terakhir.”

    Para mujahidin mengatakan, “Ini bukan saudara kami, saudara kami punya kulit yang hitam.”

    Kemudian para mujahidin memeriksa lebih lanjut jenazah itu. Mereka membuka bajunya

    dan menemukan bahwa dari bagian leher ke bawah, kulit jenazah itu berwarna hitam.

    Kemudian mereka membuka lengan bajunya dan menemukan bahwa dari siku ke atas, kulit jenazah itu berwarna hitam, sedangkan pada bagian lengan dan tangannya berwarna putih.

    Kemudian mereka menggulung celana panjangnya, dan menemukan bahwa kakinya

    berkulit putih, namun dari tumit ke atas berwarna hitam.

    Salah satu mujahid yang menyaksikan berkomentar, bahwa sesuai dengan hadits Rasulullah SAW tentang ciri-ciri orang beriman pada hari kiamat ialah bahwa anggota tubuh mereka yang dibasuh air wudhu akan bercahaya. Demikianlah yang terjadi pada jenazah Abu Khalid al-Qatari, semoga Allah SWT menerimanya di antara para syuhada.

    “Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada Hari Kiamat dalam keadaan bercahaya

    wajahnya dan amat putih bersih tubuhnya oleh sebab bekas-bekas wudhu. Oleh itu,

    barang siapa di antara kamu hendak memperpanjangkannya (menambah cahaya),

    maka baiklah dia melakukannya dengan sempurna.” (Hadis riwayat Bukhari dan

    Muslim)

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorang pun dari umatku kecuali aku mengenalnya pada hari kiamat kelak.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulallah, bagaimana anda mengenali mereka di tengah banyaknya makhluk?” Beliau menjawab, “Tidakkah kamu lihat, jika di antara sekumpulan kuda yang berwarna hitam terdapat seekor kuda yang berwarna putih di dahi dan kakinya? Bukankah kamu dapat mengenalinya?” “Ya”, jawab shahabat. “Sesungguhnya pada hari itu umatku memancarkan cahaya putih dari wajahnya bekas sujud dan bekas air wudhu’. (HR Ahmad dan Tirmizy)

    ***

    Dikutip dari buku “Biografi dan Karomah Syuhada Jihad Bosnia (Kisah Nyata)”

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: