Updates from September, 2013 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 3:50 am on 30 September 2013 Permalink | Balas  

    Investasi Waktu 

    WaktuInvestasi Waktu

    Bayangkan bila ada sebuah bank yang memberi pinjaman uang kepada anda sejumlah Rp. 86.400,- setiap paginya. Semua uang itu harus anda gunakan. Dan pada malam hari, bank akan menghapus sisa uang yang tidak anda gunakan selama sehari.

    Coba tebak!!, apa yang akan anda lakukan?

    Tentu saja, menghabiskan semua uang pinjaman itu. Betul nggak ? (dalam hati kecil anda tentu akan mengatakan iya yaa! )

    Setiap makhluk yang ada di alam inipun telah dianugerahi oleh NYA bank semacam itu; yang diantara kita kenal dengan nama WAKTU.

    Setiap pagi, ia akan memberi anda 86.400 detik. Pada malam harinya ia akan menghapus sisa waktu yang tidak anda gunakan untuk tujuan baik. Dan dia tidak akan memberikan sisa waktunya pada anda. Juga dia tidak memberikan waktu tambahan. Setiap hari ia akan membuka satu rekening baru untuk anda. Setiap malam ia akan menghanguskan yang tersisa.

    Jika anda tidak menggunakannya maka kerugian akan menimpa anda. Anda tidak bisa menariknya kembali. Juga, anda tidak bisa meminta “uang muka” untuk keesokan hari. Anda harus hidup di dalam simpanan hari ini.

    Maka dari itu, investasikanlah untuk kesehatan, kebahagiaan dan kesuksesan anda

    Jarum jam terus berdetak, waktu terus berjalan tanpa henti-hentinya. Gunakan waktu anda sebaik-baiknya.

    Untuk lebih mengetahui pentingnya waktu SETAHUN, tanyakan pada murid yang gagal kelas.

    Untuk lebih mengetahui pentingnya waktu SEBULAN, tanyakan pada ibu yang melahirkan bayinya prematur.

    Untuk lebih mengetahui pentingnya waktu SEMINGGU, tanyakan pada editor majalah mingguan.

    Untuk Lebih mengetahui pentingnya waktu SEJAM, tanyakan pada kekasih, istri atau anak anda yang sedang menunggu untuk bertemu.

    Untuk lebih mengetahui pentingnya waktu SEMENIT, tanyakan pada orang yang ketinggalan pesawat terbang. Untuk lebih mmengetahui pentingnya waktu SEDETIK, tanyakan pada orang yang baru saja terhindar dari kecelakaan.

    Untul lebih mengetahui pentingnya waktu SEMILIDETIK, tanyakan pada ruh di yaumil akhir nanti yang menyesal dan berharap kembali ke dunia barang semili detik untuk bertobat padaNYA.

    NAH bapak-bapak dan saudara-saudaraku semua; Hargailah setiap waktu yang anda miliki. Dan ingatlah waktu tidak akan mau menunggu siapa-siapa.

    Sahabat paling baik dari kebenaran adalah waktu, musuhnya yang paling besar adalah nafsu & prasangka, dan pengawalnya yang paling setia adalah kerendahan hati.

    ***

    Dari Sahabat

    Iklan
     
  • erva kurniawan 3:39 am on 29 September 2013 Permalink | Balas  

    Indahnya Kasih Sayang 

    kasih-sayang-ibuIndahnya Kasih Sayang

    Mahasuci Allah, Zat yang mengaruniakan kasih sayang kepada makhluk- makhluk-Nya. Tidaklah kasih sayang melekat pada diri seseorang, kecuali akan memperindah orang tersebut, dan tidaklah kasih sayang terlepas dari diri seseorang, kecuali akan memperburuk dan menghinakan orang tersebut.

    Betapa tidak? Jikalau kemampuan kita menyayangi orang lain tercerabut, maka itulah biang dari segala bencana, karena kasih sayang Allah Azza wa Jalla ternyata hanya akan diberikan kepada orang- orang yang masih hidup kasih sayang di kalbunya. Seperti kejadian yang menimpa Arie Hanggara yang kisahnya pernah diangkat di film layar lebar. Ia menemui ajal karena dianiaya oleh ayah kandungnya sendiri. Begitulah, kekejian demi kekejian, kebiadaban demi kebiadaban menjadi perlambang kehinaan martabat manusia. Hal ini terjadi, tiada lain karena telah tercerabutnya karunia kasih sayang yang Allah semayamkan di dalam kalbunya.

    Karenanya, tidak bisa tidak, kita harus berjuang dengan sekuat tenaga agar hati nurani kita hidup. Tidak berlebihan jikalau kita mengasahnya dengan merasakan keterharuan dari kisah-kisah orang yang rela meluangkan waktu untuk memperhatikan orang lain. Kita dengar bagaimana ada orang yang rela bersusah-payah membacakan buku, koran, atau juga surat kepada orang-orang tuna netra, sehingga mereka bisa belajar, bisa dapat informasi, dan bisa mendapatkan ilmu yang lebih luas.

    Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, “Allah SWT mempunyai seratus rahmat (kasih sayang), dan menurunkan satu rahmat (dari seratus rahmat) kepada jin, manusia, binatang, dan hewan melata. Dengan rahmat itu mereka saling berbelas-kasih dan berkasih sayang, dan dengannya pula binatang-binatang buas menyayangi anak-anaknya. Dan (Allah SWT) menangguhkan 99 bagian rahmat itu sebagai kasih sayang- Nya pada hari kiamat nanti.” (H.R. Muslim).

    Dari hadis ini nampaklah, bahwa walau hanya satu rahmat-Nya yang diturunkan ke bumi, namun dampaknya bagi seluruh makhluk sungguh luar biasa dahsyatnya. Karenanya, sudah sepantasnya jikalau kita merindukan kasih sayang, perhatian, dan perlindungan Allah SWT, tanyakanlah kembali pada diri ini, sampai sejauhmana kita menghidupkan kalbu untuk saling berkasih sayang bersama makhluk lain?!

    Kasih sayang dapat diibaratkan sebuah mata air yang selalu bergejolak keinginannya untuk melepaskan beribu-ribu kubik air bening yang membuncah dari dalamnya tanpa pernah habis. Kepada air yang telah mengalir untuk selanjutnya menderas mengikuti alur sungai menuju lautan luas, mata air sama sekali tidak pernah mengharapkan ia kembali. Sama pula seperti pancaran sinar cerah matahari di pagi hari, dari dulu sampai sekarang ia terus-menerus memancarkan sinarnya tanpa henti, dan sama pula, matahari tidak mengharap sedikit pun sang cahaya yang telah terpancar kembali pada dirinya. Seharusnya seperti itulah sumber kasih sayang di kalbu kita, ia benar- benar melimpah terus tidak pernah ada habisnya.Tidak ada salahnya agar muncul kepekaan kita menyayangi orang lain, kita mengawalinya dengan menyayangi diri kita dulu.

    Mulailah dengan menghadapkan tubuh ini ke cermin seraya bertanya- tanya: Apakah wajah indah ini akan bercahaya di akhirat nanti, atau justru sebaliknya, wajah ini akan gosong terbakar nyala api jahannam? Tataplah hitamnya mata kita, apakah mata ini, mata yang bisa menatap Allah, menatap Rasulullah SAW, menatap para kekasih Allah di surga kelak, atau malah akan terburai karena kemaksiyatan yang pernah dilakukannya? Bibir kita, apakah ia akan bisa tersenyum gembira di surga sana atau malah bibir yang lidahnya akan menjulur tercabik- cabik?!

    Perhatikan pula tubuh tegap kita, apakah ia akan berpendar penuh cahaya di surga sana, sehingga layak berdampingan dengan si pemiliki tubuh mulia, Rasulullah SAW, atau tubuh ini malah akan membara, menjadi bahan bakar bersama hangusnya batu-batu di kerak neraka jahannam? Ketika memandang kaki, tanyakanlah apakah ia senantiasa melangkah di jalan Allah sehingga berhak menginjakkannya di surga kelak, atau malah akan dicabik-cabik pisau berduri. Bersihnya kulit kita, renungkanlah apakah ia akan menjadi indah bercahaya ataukah akan hitam legam karena gosong dijilat lidah api jahannam?

    Mudah-mudahan dengan bercermin sambil menafakuri diri, kita akan lebih mempunyai kekuatan untuk menjaga diri kita.Jangan pula meremehkan makhluk ciptaan Allah, sebab tidaklah Allah menciptakan makhluk-Nya dengan sia-sia. Semua yang Allah ciptakan syarat dengan ilmu, hikmah, dan ladang amal. Semua yang bergerak, yang terlihat, yang terdengar, dan apasaja karunia dari Allah Azza wa Jalla adalah jalan bagi kita untuk bertafakur jikalau hati ini bisa merabanya dengan penuh kasih sayang.

    Dikisahkan di hari akhir datang seorang hamba ahli ibadah kepada Allah dengan membawa aneka pahala ibadah, tetapi Allah malah mencapnya sebagai ahli neraka, mengapa? Ternyata karena suatu ketika si ahli ibadah ini pernah mengurung seekor kucing sehingga si kucing tidak bisa mencari makan dan tidak pula diberi makan oleh si ahli ibadah ini. Akhirnya mati kelaparanlah si kucing ini. Ternyata walau ia seorang ahli ibadah, laknat Allah tetap menimpa si ahli ibadah ini, dan Allah menetapkannya sebagai seorang ahli neraka, tiada lain karena tidak hidup kasih sayang di kalbunya.

    Tetapi ada kisah sebaliknya, suatu waktu seorang wanita berlumur dosa sedang beristirahat di pinggir sebuah oase yang berair dalam di sebuah lembah padang pasir. Tiba-tiba datanglah seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya seakan sedang merasakan kehausan yang luar biasa. Walau tidak mungkin terjangkau kerena dalamnya air di oase itu, anjing itu tetap berusaha menjangkaunya, tapi tidak dapat. Melihat kejadian ini, tergeraklah si wanita untuk menolongnya. Dibukalah slopnya untuk dipakai menceduk air, setelah air didapat, diberikannya pada anjing yang kehausan tersebut. Subhanallah, dengan ijin Allah, terampunilah dosa wanita ini.Demikianlah, jikalau hati kita mampu meraba derita makhluk lain, insyaAllah keinginan untuk berbuat baik akan muncul dengan sendirinya.

    Kisah lain, ketika suatu waktu ada seseorang terkena penyakit tumor yang sudah menahun. Karena tidak punya biaya untuk berobat, maka berkunjunglah ia kepada orang-orang yang dianggapnya mampu memberi pinjaman biaya. Bagi orang yang tidak hidup kasih sayang dikalbunya, ketika datang orang yang akan meminjam uang ini, justru yang terlintas dalam pikirannya seolah-olah harta yang dimilikinya akan diambil oleh dia, bukannya memberi, malah dia ketakutan hartanya akan habis atau bahkan jatuh miskin. Tetapi bagi seorang hamba yang tumbuh kasih sayang di kalbunya, ketika datang yang akan meminjam uang, justru yang muncul rasa iba terhadap penderitaan orang lain. Bahkan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam akan membayangkan bagaimana jikalau yang menderita itu dirinya. Terlebih lagi dia sangat menyadari ada hak orang lain yang dititipkan Allah dalam hartanya. Karenanya dia begitu ringan memberikan sesuatu kepada orang yang memang membutuhkan bantuannya. Ingatlah, hidupnya hati hanya dapat dibuktikan dengan apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain dengan ikhlas. Apa artinya hidup kalau tidak punya manfaat? Padahal hidup di dunia cuma sekali dan itupun hanya mampir sebentar saja. Tidak ada salahnya kita berpikir terus dan bekerja keras untuk menghidupkan kasih sayang di hati ini.

    Insya Allah bagi yang telah tumbuh kasih sayang di kalbunya, Allah Azza wa Jalla, Zat yang Maha Melimpah Kasih Sayang-Nya akan mengaruniakan ringannya mencari nafkah dan ringan pula dalam menafkahkannya di jalan Allah, ringan dalam mencari ilmu dan ringan pula dalam mengajarkannya kepada orang lain, ringan dalam melatih kemampuan diri dan ringan pula dalam membela orang lain yang teraniaya, subhanallah.

    Cara lain yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk menghidupkan hati nurani agar senantiasa diliputi nur kasih sayang adalah dengan melakukan banyak silaturahmi kepada orang-orang yang dilanda kesulitan, datang ke daerah terpencil, tengok saudara-saudara kita di rumah sakit, atau pula dengan selalu mengingat umat Islam yang sedang teraniaya, seperti di Bosnia, Chechnya, Ambon, Halmahera, atau di tempat-tempat lainnya.

    Belajarlah terus untuk melihat orang yang kondisinya jauh di bawah kita, insya Allah hati kita akan melembut karena senantiasa tercahayai pancaran sinar kasih sayang. Dan hati-hatilah bagi orang yang bergaulnya hanya dengan orang-orang kaya, orang-orang terkenal, para artis, atau orang-orang elit lainnya, karena yang akan muncul justru rasa minder dan perasaan kurang dan kurang akan dunia ini, masya Allah.

    ***

    Sumber: Manajemen Qolbu

    Oleh : K.H. Abdullah Gymnastiar

     
  • erva kurniawan 4:29 am on 28 September 2013 Permalink | Balas  

    Tentang Sholat 

    sholat-dhuhaTentang Sholat

    1 – Niat Sembahyang : Sebenarnya memelihara taubat kita dari dunia dan akhirat.

    2 – Berdiri Betul : Fadilatnya, ketika mati dapat meluaskan tempat kita di dalam kubur.

    3 – Takbir-ratul Ihram : Fadilatnya, sebagai pelita yang menerangi kita di dalam kubur.

    4 – Fatihah : Sebagai pakaian yang indah-indah di dalam kubur.

    5 – Ruqu’ : Sebagai tikar kita di dalam kubur.

    6 – I’tidal : Akan memberi minuman air dari telaga al-kautsar ketika di dalam kubur.

    7 – Sujud : Memagar kita ketika menyeberangi titian SIROTOL-MUSTAQIM.

    8 – Duduk antara 2 Sujud : Akan menaung panji-panji nabi kita di dalam kubur.

    9 – Duduk antara 2 Sujud (akhir) : Menjadi kendaraan ketika kita di padang Masyar.

    10 – Tahiyat Akhir : Sebagai penjawab bagi saat ditanya oleh mungkar nangkir di dalam kubur.

    11 – Selawat Nabi : Sebagai dinding api neraka di dalam kubur.

    12 – Salam : Memelihara kita di dalam kubur.

    13 – Tertib : Akan pertemukan kita dengan Allah S.W.T

    Dari Abdullah bin ‘Amr R.A., Rasulullah S.A.W. bersabda, “Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • lazione budy 3:41 am on 1 Oktober 2013 Permalink

      Membawa Sholat dalam kehidupan, memaknai kehidupan dalam sholat.

  • erva kurniawan 4:18 am on 27 September 2013 Permalink | Balas  

    Jangan Buat Allah Cemburu 

    sabarJangan Buat Allah Cemburu

    Diambil dari buku “Memoar Hasan Al-Banna”, semoga kita bisa meneladaninya….amin.

    Sudah menjadi kebiasaan kami, dalam rangka memperingati maulid Nabi setiap malam sejak tanggal 1 hingga 12 Rabi’ul Awal secara berombongan dan bergiliran selalu mengunjungi rumah salah seorang ikhwan. Malam itu tibalah giliran rumah Syaikh Syalbi Ar-Rijal yang menjadi jadwal kunjungan.

    Kamipun berangkat seperti biasanya,setelah Isya. Kami berangkat secara berombongan dengan mengalunkan qasidah (nasyid) dengan penuh gembira. Saya melihat rumah Syaikh Syalbi sangat terang, bersih dan rapi. Dihidangkanlah serbat, kopi, dan qirfah seperti biasanya. Kami duduk dan meminta nasihat-nasihat Syaikh Syalbi.

    Ketika kami hendak pergi, ia berkata dengan senyum yang lembut,” Datanglah kalian besok pagi-pagi sekali, agar kita bisa menguburkan Ruhiyah bersama-sama.” Ruhiyah adalah putri beliau satu-satunya. Allah mengaruniakan Ruhiyah kepadanya kurang lebih setelah sebelas tahun dari usia pernikahannya. Ia sangat mencintainya, sehingga ia tidak pernah meninggalkan sekalipun sedang sibuk bekerja.

    Ruhiyah kemudian tumbuh menjadi seorang gadis. Ia menamai “RUHIYAH” karena putrinya ini menempati kedudukan “ruh” pada dirinya. Tentu kami terperanjat.

    “Kapan ia meninggal?” tanya kami spontan. “Tadi, menjelang maghrib!” jawabnya tenang. “Kenapa Syaikh tidak memberi tahu kami semenjak tadi, sehingga kami dapat mengajak kawan yang lain untuk kemari bersama-sama?”

    Ia menjawab,”Apa yang terjadi telah meringankan kesedihanku. Pemakaman telah berubah menjadi peristiwa yang membahagiakan. Apakah kalian masih menginginkan nikmat Allah yang lebih besar lagi dari pada nikmat ini?”

    Pembicaraanpun akhirnya berubah menjadi pelajaran tasawuf yang disampaikan oleh Syaikh Syalbi. Beliau mengemukakan bahwa kematian putrinya itu adalah kecemburuan Allah kepada hatinya. Memang sesungguhnya Allah SWT. merasa cemburu kepada hati para hamba-Nya yang shalih, apabila sampai terikat dengan selain-Nya, atau apabila ia berpaling kepada selain-Nya.

    Beliau mengambil bukti dalil dengan kisah Ibrahim AS. Hati Ibrahim terikat dengan Ismail, sehingga akhirnya Allah swt. memerintahkannya untuk menyembelih putranya Ismail. Ketika hati nabi Ya’qub terikat dengan Yusuf, Allah swt. pun membuat Yusuf hilang dari sisinya sekian tahun. Oleh karena itu, seharusnya jangan sampai hati seorang hamba itu terikat dengan selain Allah swt. Kalau tidak demikian, maka sebenarnya ia adalah pendusta dalam hal pengakuan kecintaannya.

    Beliau juga membawakan kisah Al-Fudhail bin ‘Iyadh. Fudhail pernah memegang tangan putrinya yang terkecil dan mengecupnya, lalu putrinya itu bertanya kepadanya, “Wahai ayahanda, apakah ayah mencintaiku?” “Tentu saja putriku,” jawab sang ayah. Lalu ia berkata,”Demi Allah, sebelum hari ini, saya tidak pernah mengira bahwa ayah sebagai seorang pendusta.” Fudhail bertanya,” Bagaimana bisa begitu? Berapa kali saya berdusta?” Ia menjawab,”Saya telah mengira bahwa dengan keberadaan ayah yang seperti ini dalam berhubungan dengan Allah, berarti ayah tidak mencintai seorang pun selain-Nya. Fudhail pun menangis seraya berkata,”Duhai Tuhanku, sampai anak sekecil ini dapat membongkar riya’ hamba-Mu yang bernama Fudahil ini?”

    Demikianlah pelajaran Syaikh Syalbi dari sebuah pembicaraan menjadi sebuah pelajaran. Syaikh Syalbi berupaya membahagiakan dan melembutkan hati kami seraya memalingkannya dari kepedihan musibah ini. Setelah itu kami pun pulang. Kami tidak mendengar sama sekali suara wanita yang meratap dan tidak mendengar adanya kata-kata kotor. Yang kami lihat hanyalah ekspresi kesabaran dan kepasrahan kepada Allah Yang Mahatinggi dan Mahabesar.

    Get the point…

     
  • erva kurniawan 4:05 am on 26 September 2013 Permalink | Balas  

    Dzikir 

    itikaf2Dzikir

    (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring … (QS Ali Imran 191).

    Dzikir atau mengingat Allah merupakan aktivitas yang dilakukan terutama oleh hati dan lisan berupa tasbih atau menyucikan Allah Ta’ala, memuji, dan menyanjung-Nya, menyebutkan sifat-sifat kebesaran dan keagungan serta keindahan dan kesempurnaan-Nya. Dzikir telah menjadi kebiasaan kaum Muslimin dalam mengarungi kehidupan sehari-hari atas dasar kesadaran bahwa itu merupakan perintah Allah dan rasul-Nya.

    Rasulullah menyebut orang yang tidak mengingat Allah sebagai orang yang mati, “Perumpamaan orang-orang yang dzikir kepada Allah dengan yang tidak adalah seperti orang yang hidup dengan yang mati,” (HR Bukhari).

    Banyak sekali perintah Allah dan rasul-Nya untuk berdzikir di antaranya QS Al Baqoroh: 152. Rasullah bersabda, “Ada dua kalimat yang ringan diucapkan lisan, tetapi berat dalam timbangan dan disukai oleh Allah yaitu, Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil azhim.” Dalam hadis lain, “Dzikir yang paling utama ialah La ilaha ilallah, sedangkan doa yang paling utama ialah Alhamdulillah.” (HR Nasai).

    Keutamaan dzikir tidak terbatas pada tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir. Setiap orang yang beramal karena Allah, demi menaati perintah-Nya maka, ia disebut dzikir kepada Allah SWT. Demikian yang dikatakan oleh Said bin Zubair ra dan ulama lainnya. Atha ra berkata, “Majelis dzikir adalah majelis halal dan haram yang membahas bagaimana Anda menjual dan membeli, shalat, shaum, menikah, bermuamalah, dan pergi haji.” Rasulullah bersabda, “Jika kamu lewat taman-taman surga hendaklah kamu ikut bercengkrama!” Mereka bertanya, “Apa taman-taman surga itu, Ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Halaqoh-halaqoh dzikir, karena sesungguhnya Allah SWT mempunyai malaikat yang berkeliling mencari halaqoh-halaqoh dzikir, apabila mereka mendatangi orang-orang yang berdzikir tersebut akan berhenti dan melingkari mereka”. (HR Tirmidzi). Ibnu Mas’ud ra jika mengucapkan hadis ini, berkata, “Aku tidak maksudkan itu halaqoh-halaqoh yang membahas kisah-kisah, melainkan halaqoh yang membahas fikih.” Diriwayatkan oleh Anas ra bahwa maknanya begitu juga.

    Dengan demikian, dzikirnya seorang Muslim dalam kondisi saat ini adalah tidak sebatas pada ucapan-ucapan tasbih, takbir, tahmid, dan istigfar, tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita dalam setiap aktivitas kita senantiasa terikat pada perintah dan larangan Allah SWT.

    Apalagi dalam kondisi yang serba semrawut dan penuh ketidakjelasan seperti sekarang ini, di mana krisis yang tak kunjung berakhir, kerusuhan, teror, huru-hara, dan pemaksaan kehendak masih terus menghantui dan membayangi kehidupan kita. Sudah sepatutnya kita lebih mempergiat aktivitas berdzikir. Karena pada hakikatnya semua musibah yang menimpa kita adalah cobaan, ujian, sekaligus azab dari Allah lantaran perbuatan kita sendiri yang tidak bertahkim dan mengatur segala aspek kehidupan kita dengan apa yang diturunkan Allah yaitu Islam. Allah SWT berfirman: Telah banyak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar (Islam). (QS Ar-Ruum: 41).

    ***

    Zamah Saari

     
  • erva kurniawan 4:35 am on 25 September 2013 Permalink | Balas  

    Menggapai Ketenangan Jiwa yang Islami 

    dzikirMenggapai Ketenangan Jiwa yang Islami

    Dalam perkembangan hidupnya, manusia seringkali berhadapan dengan berbagai masalah yang mengatasinya berat. Akibatnya timbul kecemasan, ketakutan dan ketidaktenangan, bahkan tidak sedikit manusia yang akhirnya kalap sehingga melakukan tindakan-tindakan yang semula dianggap tidak mungkin dilakukannya, baik melakukan kejahatan terhadap orang lain seperti banyak terjadi kasus pembunuhan termasuk pembunuhan terhadap anggota keluarga sendiri maupun melakukan kejahatan terhadap diri sendiri seperti meminum minuman keras dan obat-obat terlarang hingga tindakan bunuh diri.

    Oleh karena itu, ketenangan dan kedamaian jiwa sangat diperlukan dalam hidup ini yang terasa kian berat dihadapinya. Itu sebabnya, setiap orang ingin memiliki ketenangan jiwa. Dengan jiwa yang tenang kehidupan ini dapat dijalani secara teratur dan benar sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Untuk bisa menggapai ketenangan jiwa, banyak orang yang mencapainya dengan cara-cara yang tidak Islami, sehingga bukan ketengan jiwa yang didapat tapi malah membawa kesemrautan dalam jiwanya itu. Untuk itu, secara tersurat, Al-Qur’an menyebutkan beberapa kiat praktis.

    1. Dzikrullah.

    Dzikir kepada Allah Swt merupakan kiat untuk menggapai ketenangan jiwa, yakni dzikir dalam arti selalu ingat kepada Allah dengan menghadirkan nama-Nya di dalam hati dan menyebut nama-Nya dalam berbagai kesempatan. Bila seseorang menyebut nama Allah, memang ketenangan jiwa akan diperolehnya. Ketika berada dalam ketakutan lalu berdzikir dalam bentuk menyebut ta’awudz (mohon perlindungan Allah), dia menjadi tenang. Ketika berbuat dosa lalu berdzikir dalam bentuk menyebut kalimat istighfar atau taubat, dia menjadi tenang kembali karena merasa telah diampuni dosa-dosanya itu. Ketika mendapatkan kenikmatan yang berlimpah lalu dia berdzikir dengan menyebut hamdalah, maka dia akan meraih ketenangan karena dapat memanfaatkannya dengan baik dan begitulah seterusnya sehingga dengan dzikir, ketenangan jiwa akan diperoleh seorang muslim, Allah berfirman yang artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram (13:28).

    Untuk mencapai ketenangan jiwa, dzikir tidak hanya dilakukan dalam bentuk menyebut nama Allah, tapi juga dzikir dengan hati dan perbuatan. Karena itu, seorang mu’min selalu berdzikir kepada Allah dalam berbagai kesempatan, baik duduk, berdiri maupun berbaring.

    2. Yakin Akan Pertolongan Allah.

    Dalam hidup dan perjuangan, seringkali banyak kendala, tantangan dan hambatan yang harus dihadapi, adanya hal-hal itu seringkali membuat manusia menjadi tidak tenang yang membawa pada perasaan takut yang selalu menghantuinya. Ketidaktenangan seperti ini seringkali membuat orang yang menjalani kehidupan menjadi berputus asa dan bagi yang berjuang menjadi takluk bahkan berkhianat.

    Oleh karena itu, agar hati tetap tenang dalam perjuangan menegakkan agama Allah dan dalam menjalani kehidupan yang sesulit apapun, seorang muslim harus yakin dengan adanya pertolongan Allah dan dia juga harus yakin bahwa pertolongan Allah itu tidak hanya diberikan kepada orang-orang yang terdahulu, tapi juga untuk orang sekarang dan pada masa mendatang, Allah berfirman yang artinya: Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tentram hatimu karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (3:126, lihat juga QS 8:10).

    Dengan memperhatikan betapa banyak bentuk pertolongan yang diberikan Allah kepada para Nabi dan generasi sahabat dimasa Rasulullah Saw, maka sekarangpun kita harus yakin akan kemungkinan memperoleh pertolongan Allah itu dan ini membuat kita menjadi tenang dalam hidup ini. Namun harus kita ingat bahwa pertolongan Allah itu seringkali baru datang apabila seorang muslim telah mencapai kesulitan yang sangat atau dipuncak kesulitan sehingga kalau diumpamakan seperti jalan, maka jalan itu sudah buntu dan mentok. Dengan keyakinan seperti ini, seorang muslim tidak akan pernah cemas dalam menghadapi kesulitan karena memang pada hakikatnya pertolongan Allah itu dekat, Allah berfirman yang artinya:

    Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang beriman: “bilakah datangnya pertolongan Allah?”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (QS 2:214).

    3. Memperhatikan Bukti Kekuasaan Allah.

    Kecemasan dan ketidaktenangan jiwa adalah karena manusia seringkali terlalu merasa yakin dengan kemampuan dirinya, akibatnya kalau ternyata dia merasakan kelemahan pada dirinya, dia menjadi takut dan tidak tenang, tapi kalau dia selalu memperhatikan bukti-bukti kekuasaan Allah dia akan menjadi yakin sehingga membuat hatinya menjadi tentram, hal ini karena dia sadari akan besarnya kekuasaan Allah yang tidak perlu dicemasi, tapi malah untuk dikagumi. Allah berfirman yang artinya:

    Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?”. Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tenang (tetap mantap dengan imanku)”. Allah berfirman: (“kalau begitu) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah, kemudian letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS 2:260).

    4. Bersyukur.

    Allah Swt memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang amat banyak. Kenikmatan itu harus kita syukuri karena dengan bersyukur kepada Allah akan membuat hati menjadi tenang, hal ini karena dengan bersyukur, kenikmatan itu akan bertambah banyak, baik banyak dari segi jumlah ataupun minimal terasa banyaknya. Tapi kalau tidak bersyukur, kenikmatan yang Allah berikan itu kita anggap sebagai sesuatu yang tidak ada artinya dan meskipun jumlahnya banyak kita merasakan sebagai sesuatu yang sedikit.

    Apabila manusia tidak bersyukur, maka Allah memberikan azab yang membuat mereka menjadi tidak tenang, Allah berfirman yang artinya: Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rizkinya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat(QS 16:112).

    5. Tilawah, Tasmi’ dan tadabbur Al-Qur’an.

    Al-Qur’an adalah kitab yang berisi sebaik-baik perkataan, diturunkan pada bulan suci Ramadhan yang penuh dengan keberkahan, karenanya orang yang membaca (tilawah), mendengar bacaan (tasmi’) dan mengkaji (tadabbur) ayat-ayat suci Al-Qur’an niscaya menjadi tenang hatinya, manakala dia betul-betul beriman kepada Allah Swt, Allah berfirman yang artinya: Allah telah menurunkan perkataan yang baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhanya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya (QS 39:23).

    Oleh karena itu, sebagai mu’min, interaksi kita dengan al-Qur’an haruslah sebaik mungkin, baik dalam bentuk membaca, mendengar bacaan, mengkaji dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Manakala interaksi kita terhadap Al-Qur’an sudah baik, maka mendengar bacaan Al-Qur’an saja sudah membuat keimanan kita bertambah kuat yang berarti lebih dari sekedar ketenangan jiwa, Allah berfirman yang artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal (QS 8:2).

    Dengan berbekal jiwa yang tenang itulah, seorang muslim akan mampu menjalani kehidupannya secara baik, sebab baik dan tidak sesuatu seringkali berpangkal dari persoalan mental atau jiwa. Karena itu, Allah Swt memanggil orang yang jiwanya tenang untuk masuk ke dalam syurga-Nya, Allah berfirman yang artinya: Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam syurga-Ku (QS 89:27-30).

    Akhirnya, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memantapkan ketenangan dalam jiwa kita masing-masing sehingga kehidupan ini dapat kita jalani dengan sebaik-baiknya.

    ***

    Oleh: Drs. H. Ahmad Yani

     
  • erva kurniawan 3:56 am on 24 September 2013 Permalink | Balas  

    Berdoalah kepada Tuhanmu 

    berdoa-2Berdoalah kepada Tuhanmu

    Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

    Q.S.7 (Al A’raf): 55. Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

    Ayat ini mengandung adab-adab dalam berdo’a kepada Allah. Berdo’a adalah suatu munajat antara seorang hamba dengan Tuhannya untuk menyampaikan suatu permintaan agar Allah dapat mengabulkannya. Maka berdo’a kepada Allah hendaklah dengan sepenuh kerendahan hati, dengan betul- betul khusyu’ dan berserah diri. Kemudian berdo’a itu disampaikan dengan suara lunak dan lembut yang keluar dari hati sanubari yang bersih. Berdo’a dengan suara yang keras, menghilangkan kekhusyu’an dan mungkin menjurus kepada ria dan pengaruh-pengaruh lainnya dan dapat mengakibatkan do’a itu tidak dikabulkan Allah. Tidak perlulah doa itu dengan suara yang keras, sebab Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

    Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari ra dia berkata: Ketika kami bersama-sama Rasulullah saw. dalam perjalanan, kedengaranlah orang-orang membaca takbir dengan suara yang keras. Maka Rasulullah bersabda, “Sayangilah dirimu jangan bersuara keras, karena kamu tidak menyeru kepada yang pekak dan yang jauh. Sesungguhnya kamu menyeru Allah Yang Maha Mendengar lagi Dekat dan Dia selalu beserta kamu.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Bersuara keras dalam berdo’a, bisa mengganggu orang, lebih-lebih orang yang sedang beribadat, baik dalam masjid atau di tempat-tempat ibadat yang lain, kecuali yang dibolehkan dengan suara keras, seperti talbiyah dalam musim haji dan membaca takbir pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Allah SWT memuji Nabi Zakaria as yang berdo’a dengan suara lembut.

    Firman Allah: Q.S.19 (Maryam): 3. yaitu tatkala ia berdo’a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.

    Kemudian ayat ini ditutup dengan peringatan: “sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Maksudnya dilarang melampaui batas dalam segala hal, termasuk berdoa. Tiap-tiap sesuatu sudah ditentukan batasnya yang harus diperhatikan, jangan sampai dilampaui. Firman Allah: Q.S.2 (Al Baqarah): 229. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim.

    Bersuara keras dan berlebih-lebihan dalam berdo’a termasuk melampaui batas, Allah tidak menyukainya. Termasuk juga melampaui batas dalam berdo’a, meminta sesuatu yang mustahil adanya menurut syara’ ataupun akal, seperti seseorang meminta supaya dia menjadi kaya, tetapi tidak mau berusaha atau seseorang menginginkan agar dosanya diampuni, tetapi dia masih terus bergelimang berbuat dosa dan lain-lainnya. Berdo’a seperti itu, namanya ingin merubah sunnatullah yang mustahil terjadinya. Firman Allah: Q.S.35 (Fatir): 43. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapatkan pergantian bagi sunnah Allah dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.

    Termasuk juga melampaui batas, bila berdo’a itu dihadapkan kepada selain Allah atau dengan memakai perantara orang yang sudah mati. Cara yang begini adalah melampaui batas yang sangat tercela. Berdo’a itu hanya dihadapkan kepada Allah saja, tidak boleh menyimpang kepada yang lain. Berdo’a dengan memakai perantara (wasilah) kepada orang yang sudah mati termasuk yang melampaui batas juga, seperti orang yang menyembah dan berdoa kepada malaikat, kepada wali-wali, kepada matahari, bulan dan lain-lainnya.

    Firman Allah: Q.S.17 (Al Isra): 56-57. Katakanlah: “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, makan mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya”.

    Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah), dan mereka mengharapkan rahmat Nya dan takut akan azab Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.

    Hadis Rasulullah saw: Diriwayatkan dari Abu Hurairah dia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw, “Mintalah kepada Allah wasilah untukku. Mereka bertanya: Ya Rasulullah, apakah wasilah itu? Rasulullah menjawab: “Dekat dengan Allah Azza Wa Jalla, kemudian Rasulullah membaca ayat: (mereka sendiri) mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat kepada Allah.” (HR Turmudzi dari Ibnu Mardawaih)

    Lampiran: (terjemah secara lafzhiyah) bismi [dengan nama] -llaahi [Allah] -rrahmaani [Maha Pemurah] -rrahiim(i) [Maha Penyayang]

    Surah Al A’raaf [Tempat tertinggi] (7): 55. ud’uu [berdo’alah kamu] rabbakum [Tuhanmu] tadharru’an [berendah diri] wakhufyah(tan) [dan suara yang lembut] innahuu [sesungguhnya Dia] laa yuhibbu [tidak menyukai] -lmu’tadiin(a) [orang-orang yang melampaui batas].

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:48 am on 23 September 2013 Permalink | Balas  

    Informasi Geologi dalam Al-Quran 

    7 lapisan bumiInformasi Geologi dalam Al-Quran

    Bagaimana Anda menunjukkan bukti tentang agama ini kepada mereka yang tidak mengerti tentang Bahasa Arab atau pun tidak mengetahui sesuatu pun tentang ketidakmungkinan ditirunya Al-Quran? Apakah hal ini satu-satunya cara bagi mereka untuk mempelajari bahasa Arab dan menguasai ilmunya? Jawabannya, tentu saja, adalah ‘TIDAK’, Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung, telah menunjukkan kemurahannya kepada mereka dan kepada generasi-generasi yang lain dengan mengirimkan bukti-bukti yang sesuai untuk semua manusia, apa pun ras mereka, bahasa mereka atau kapan pun mereka berada.

    Kami hadirkan Profesor Palmer, seorang ahli ilmu bumi terkemuka di Amerika. Dia mengepalai sebuah komite yang mengorganisasikan Ulang Tahun Masyarakat Geologi Amerika. Ketika kami bertemu dengan dia, kami menunjukkan berbagai macam keajaiban sains di dalam Al-Quran dan Sunnah, dia sangat tercengang. Saya teringat sebuah anekdot ketika kami menginformasikan kepadanya bahwa Al-Quran menyebutkan bagian paling bawah dari bumi dan menyatakan bahwa bagian tersebut dekat dengan Jerusalem, di mana sebuah pertempuan terjadi antara Persia dan

    Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia berfirman dalam Al-Quran:

    Alif Laam Miim, Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang paling rendah (adnal-ardh) dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang (Quran 30:1-3)

    Istilah adna bisa berarti lebih dekat dan paling bawah. Para penafsir Al-Quran, semoga Allah ridha kepada mereka semua, berpendapat bahwa adnal-ardh berarti tanah paling dekat ke Semenanjung Arab. Akan tetapi, arti kedua juga tetap bisa diterapkan. Dengan cara ini, Al-Quran yang Suci memberikan satu kata dengan beberapa arti, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw ketika dia mengatakan:

    Aku telah dikaruniai dengan kata-kata yang paling mudah difahami. [Al-Bukhari dan Muslim]

    Ketika kita meneliti bagian paling bawah dari bumi, kita menemukan bahwasanya bagian tersebut secara tepat berada di titik di mana Roma dikalahkan. Ketika kami menginformasikan hal ini kepada Profesor Palmer, dia mempertentangkan dengan mengatakan bahwa ada beberapa daerah lain yang lebih rendah dari pada yang disebutkan dalam Al-Quran. Dia memberikan contoh-contoh dan nama-nama dari beberapa daerah di Eropa dan Amerika. Kami meyakinkan dia bahwa informasi kami sahih dan benar. Dia memiliki globe secara topografi yang menunjukkan pengangkatan dan penurunan. Dia mengatakan bahwa akan jadi mudah untuk membuktikan mana bagian paling bawah di bumi dengan globe tersebut. Dia memutar globe tersebut dengan tangannya dan memfokuskan telunjuknya pada daerah dekat Jerusalem. Mengherankan, di sana ada tanda panah kecil yang mengarah pada daerah dengan kalimat: ‘bagian terendah di muka bumi.’

    Profesor Palmer segera mengakui bahwa informasi kami adalah benar adanya. Dia kemudian berkata, sebagaimana Anda ketahui sekarang dengan globe ini, yang mengatakan bahwa ini  sebenarnya adalah bagian paling bawah dari bumi.

    Profesor Palmer: Tempat dari daerah tersebut adalah Laut Mati, yaitu di sini, dan menariknya, label di globe ini mengatakan ‘titik terendah bumi’. Maka sesungguhnya hal ini didukung oleh penafsiran dari kata yang dimaksud.

    Profesor Palmer bahkan lebih tercengang ketika dia menemukan bahwa Al-Quran berbicara tentang masa lalu dan menjelaskan bagaimana awal mula penciptaan dimulai; bagaimana bumi dan langit-langit diciptakan; bagaimana air dipancarkan keluar dari kedalaman bumi; bagaimana pegunungan ditancapkan di atas tanah; bagaimana tanam-tanaman pertama kali ditumbuhkan; bagaimana bumi saat ini, menjelaskan pegunungan, menjelaskan fenomena-fenomenanya, menjelaskan perubahan-perubahan pada permukaan bumi sebagaimana disaksikan di Semenanjung Arab. Dia bahkan menjelaskan masa depan dari pada tanah Arab dan masa depan dari seluruh bumi. Di sini, Profesor Palmer mengakui bahwa Al-Quran adalah buku yang sangat menakjubkan yang menjelaskan masa lalu, masa sekarang dan masa depan.

    Sebagaimana para ahli sains lainnya, Profesor Palmer pada mulanya ragu-ragu. Akan tetapi segara sesudahnya dia datang dengan pendapatnya. Di Kairo, dia mempresentasikan sebuah makalah penelitian yang berkaitan dengan aspek yang tak bisa ditiru dari pengetahuan tentang ilmu bumi yang berada dalam Al-Quran. Dia mengatakan bahwa dia tidak mengetahui bagaimana keadaan sains sesungguhnya pada masa Nabi Muhammad diutus. Akan tetapi dari apa yang kita ketahui tentang sedikitnya pengetahuan dan arti pada masa itu, tidak ragu lagi bahwa kita bisa menyimpulkan bahwa Al-Quran adalah sebuah cahaya dari ilmu Tuhan yang diwahyukan kepada Muhammad saw. Inilah kesimpulan Profesor Palmer:

    Kita memerlukan penelitian tentang sejarah Timur Tengah pada awal tradisi penyampaian dari mulut ke mulut untuk mengetahui apakah sesungguhnya kejadian sejarah semacam itu telah dilaporkan. Jika ternyata tidak ada rekaman, maka hal ini menguatkan kepercayaan kita bahwa Allah telah mengirimkan melalui Muhammad saw sedikit dari pengetahuan-nya yang mana baru kita temukan belum lama berselang ini. Kita mencari tindak lanjut dialog pada topik sains di dalam Al-Quran dalam konteks ilmu bumi. Terima kasih banyak.

    Sebagaimana Anda lihat, inilah salah satu dari raksasa di bidang ilmu bumi di dunia kita saat ini, datang dari Amerika. Dia tidak ragu-ragu untuk mengikuti dan membeberkan pendapatnya. Akan tetapi dia masih memerlukan seseorang untuk menunjukkan kebenaran kepadanya. Orang-orang barat dan orang-orang timur keduanya telah hidup di tengah-tengah perseteruan antara agama dan sains. Perseteruan ini, bagaimana pun juga, tidak bermanfaat, karena pesan-pesan yang lalu telah didistorsikan. Oleh karena itu, Allah mengirimkan Nabi Muhammad saw dengan Islam untuk meluruskan apa-apa yang telah dirusak.

    Seseorang mungkin akan bertanya: ‘Bagaimana nantinya orang-orang ini menerima apa yang kita katakan kepada mereka ketika kita secara materi berada di luar mereka dan kita tidak mengikuti agama kita secara dekat?’ Jawaban saya kepada mereka adalah bahwa pengetahuan meningkatkan kepedulian seseorang yang memperolehnya. Orang-orang berpengetahuan peduli hanya pada fakta-faktanya, tidak pada gambaran di luarnya. Kejayaan Islam saat ini justru terletak pada pengetahuan ini dan kemajuan sains. Sains modern bisa akan tetapi hanyalah akan menundukkan kepalanya kepada referensi kepada buku Allah dan kepada Sunnah Nabi-nya saw.

    Sifat alami, Al-Fitrah, yang telah diciptakan oleh Allah atas manusia tidak mencapai ketenangan kecuali dengan jalan Islam atau iman. Mereka yang tidak memiliki iman berada dalam kondisi yang tidak mudah dan bingung. Lebih jauh lagi, atmosfer kebebasan di dunia Barat telah menolong para ahli sains Barat untuk mengekspresikan apa yang mereka percayai tanpa rasa takut. Kami telah mendengar banyak di antara mereka di dalam episode-episode ini yang menegaskan dan mengenalkan keajaiban di abad ini, Al-Quran, yang akan tetap bertahan hidup sampai Hari Akhir.

    ***

    Diterjemahkan dari paper http://www.gulfdc.com

     
  • erva kurniawan 4:44 am on 22 September 2013 Permalink | Balas  

    Mengapa Menunda Pernikahan Rosulullah pernah berkata kepada Ali… 

    pernikahan-42Mengapa Menunda Pernikahan ?

    Rosulullah pernah berkata kepada Ali ra: Hai Ali, ada 3 perkara yang jangan kamu tunda-tunda pelaksanaannya, yaitu shalat apabila tiba waktunya, jenazah apabila sudah siap penguburannya, dan wanita bila menemukan pria sepadan yang meminangnya (HR. Ahmad)

    Kalau kita tanya seseorang pemuda/pemudi, Mengapa belum menikah? Maka jawabanya antara lain:

    1. Masih kuliah/menuntut ilmu.

    Dikhawatirkan bila menikah akan mempengaruhi prestasi belajar dan mempengaruhi persiapan masa depan. Hal ini sesungguhnya tergantung dari manajemen waktu, waktu yang biasanya dipakai untuk hura-hura setelah waktu kuliah, diganti dengan mencari nafkah atau bercengkrama dengan keluarga.

    Disisi lain, bisa menghemat sewa kamar (kost-kost an), dapat saling membantu mengerjakan tugas (kalau satu bidang studi) atau dapat memperluas wawasan diskusi interdisipliner misalnya suami studi ilmu komputer dan istri akutansi maka diskusi komputasi akutansi akan nyambung, atau biologi dengan kimia diskusi tentang biokimia.

    2. Bila menikah akan terkekang tidak bisa bebas lagi, tidak bisa kongkow-kongkow di mal setelah pulang kuliah atau kerja, bertambah beban tanggung jawab untuk memberi nafkah istri dan anak. Sedangkan Rosul bersabda: “Bukan golonganku orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah kemudian ia tidak menikah” (HR Thabrani).

    3. Belum siap dalam hal materi/rezeki.

    Banyak yang beranggapan kalau mau menikah harus siap materi, yang berarti harus punya jabatan yang mapan, rumah minimal BTN, kendaraan dll, sehingga bila belum terpenuhi semua itu, takut untuk “maju”. Sedangkan Allah menjamin akan memberikan rizki bagi yang menikah seperti dalam firmanNYA: Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:32).

    Rasulullah SAW bersabda : Carilah oleh kalian rezeki dalam pernikahan dalam kehidupan berkeluarga) ” (HR Imam Dailami dalam musnad Al Firdaus).

    4. Tidak ada/belum ada jodoh

    Masalah memilih jodoh telah di jelaskan pada tazkiroh 2 pekan yang lalu, dibawah ini adalah pesan Rosul SAW: Imam Thabrani meriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa menikahi wanita karena kehormatannya (jabatan), maka Allah SWT hanya akan menambah kehinaan; barang siapa menikah karena hartanya, maka Allah tidak akan menambah kecuali kefakiran; barang siapa menikahi wanita karena hasab (kemuliaannya), maka Allah hanya akan menambah kerendahan. Dan barang siapa yang menikahi wanita karena ingin menutupi (kehormatan) matanya, membentengi farji (kemaluan) nya, dan mempererat silaturahmi, maka Allah SWT akan memberi barakah-Nya kepada suami-istri tersebut”.

    Imam Abu Daud & At Tirmidzi meriwayatkan,bahwa Rasulullah SAW bersabda : Tetapi nikahilah wanita itu karena agamanya. Sesungguhnya budak wanita yang hitam lagi cacat, tetapi taat beragama adalah lebih baik dari pada wanita kaya & cantik tapi tidak taat beragama)”. Bukan berarti Rasulullah SAW mengabaikan penampilan fisik dari pasangan kita, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda : Kawinilah wanita yang subur rahimnya dan pecinta ” (HR Abu Daud, An Nasai & Al Hakim).

    Tiga kunci kebahagiaan suami adalah: Istri yang solehah: yang jika dipandang membuat semakin sayang, jika kamu pergi membuat tenang karena bisa menjaga kehormatannya dan taat pada suami”.

    4. Mungkin masih ada alasan lainya, yang tidak akan dibahas disini misalnya: karena kakak (apalagi wanita) belum menikah, karena orang tua terlalu selektif memilih calon mantu, dll.

    Manfaat menikah di usia muda:

    1. Menjaga kesucian fajr (kemaluan) dari perzinaan serta menjaga pandangan mata. (QS 24: 30-31).

    2. Dapat melahirkan perasaan tentram (sakinah), cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah) dalam hati. (QS 30:21).

    3. Segera mendapatkan keturunan, di mana anak akan menjadi Qurrata A’yunin penyejuk mata, penyenang hati) (QS 25:74) Karena usia yang baik untuk melahirkan bagi wanita antara 20-30 tahun, diatas umur tersebut akan beresiko baik bagi ibu maupun sang baby.

    4. Memperbanyak ummat Islam. Seperti yang dipesankan Rosul, beliau akan membanggakan jumlah ummatnya yang banyak nanti di akhirat.

    Kemuliaan menikah:

    Barang siapa menggembirakan hati istri, (maka) seakan-akan menangis takut kepada Allah. Barang siapa menangis takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya dari neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Manakala suami merengkuh telapak tangan istri (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami-istri itu dari sela-sela jarinya.” HR Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id Al-Khudzri r.a.)

    Juga dapat ditambahkan, bahwa Islam memberi nilai yang tinggi bagi siapa yang telah menikah, dengan menikah berarti seseorang telah melaksanakan SEPARUH dari agama Islam!, tinggal orang tersebut berhati-hati melaksanakan yang separuhnya lagi agar tidak sesat.

    Rosul SAW bersabda: Barang siapa menikah, maka dia telah menguasai separuh agamanya, karena itu hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi (HR Al Hakim).

    Kehinaan melajang/membujang: Orang yang paling buruk diantara kalian ialah yang melajang (membujang)dan seburuk-buruk mayat (diantara) kalian ialah yang melajang (membujang)” HR Imam, diriwayatkan juga oleh Abu Ya’la dari Athiyyah bin Yasar).

    Itulah yang dapat saya sampaikan kali ini, silakan menambah pengetahuan ikhwati semua yang berencana menikah dengan membaca buku tentang pernikahan atau keluarga islami yang banyak dijual, antara lain:

    *Cahyadi Takariawan: Pernik-Pernik Rumah Tangga Islami

    *Muhammad Fauzil Adhim: Kupinang Engkau dengan Hamdalah

    *Mustaghfiri Asror: Hak dan Kewajiban Suami Istri.

    *Sholih Al Fauzan: Pemuda Islam di Seputar Persoalan yang Dihadapi.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:35 am on 21 September 2013 Permalink | Balas  

    Rindu Itu Pun Tertembus 

    al-quran 2Rindu Itu Pun Tertembus

    Seorang pemuda berumur 15 tahun, dia telah ditinggalkan oleh ayahnya – seorang bangsawan yang kaya raya, sehingga memperoleh harta warisan yang sangat banyak

    Pada suatu hari dia mengikuti majlis pengajian yang diadakan oleh Syaikh Abdul Wahid. Dalam majlis itu ada seorang jamaah pengajian yang membaca surah At-Taubah ayat 111, “… sungguh Allah telah membeli diri orang mu’minin, jiwa dan harta mereka dengan jannah.”

    Lalu pemuda tadi bertanya, “Yaa, Abdul Wahid! Sungguhkah Allah telah membeli dari qaum mu’minin jiwa dan harta mereka dengan jannah?”

    “Ya! Benar wahai anakku tercinta”.

    Lalu ia berkata,”Yaa Abdul Wahid, saksikanlah bahwa aku telah menjual diri dan hartaku untuk mendapatkan jannah!”

    “Wahai anakku! Sesungguhnya tajamnya pedang itu berat dihadapi, dan kau masih anak-anak. Aku khawatir kalau-kalau engkau tidak tabah, tidak sabar sehingga tidak kuat melanjutkan perjuangan ini.” Kata Abdul Wahid.

    Pemuda itu menjawab, “Aku menjual diri kepada Allah untuk mendapatkan jannah lalu lemah? Saksikanlah sekali lagi bahwa aku telah menjual diriku kepada Allah!”

    Maka pemuda itu segera men-shadaqah-kan semua hartanya kecuali kuda dan pedangnya, dan sekedar harta untuk bekalnya. Dan ketika telah tiba pada masa keberangkatan pasukan, maka dialah yang pertama-tama tiba dan mengucapkan, “Assalaamu’alaika yaa Abdul Wahid.”

    “Wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh, semoga Allah memberikan keuntungan dalam jualanmu”.

    Dalam perjalanan, pemuda itu selalu shaum di waktu siang dan bangun di waktu malam, menjaga pasukan, serta melayani keperluan-keperluan pasukan. Bahkan dia merangkap memelihara ternak-ternak pasukan, sehingga sampailah pasukan muslimin tersebut di perbatasan Negeri Ruum.

    Menjelang pertempuran, pasukan tersebut beristirahat di suatu tempat. Karena lelah pemuda tersebut jatuh tertidur. Namun tiba-tiba dia terjaga dan berseru lirih, “Ah! Alangkah rindunya aku pada ‘Ainul Mardhiyah.” Orang-orang yang mendengarnya terheran-heran dan mengira pemuda itu mengingau.

    Maka Abdul Wahid mendekat, “Wahai anakku! Siapakah ‘Ainul Mardhiyah itu?”

    Pemuda itu kemudian bertutur :

    Aku tadi tertidur sebentar, tiba-tiba aku bermimpi ada orang yang datang kepadaku dan berkata, “Mari aku bawa kamu kepada ‘Ainul Mardhiyah”.

    Lalu aku dibawa ke suatu kebun di tepi sungai yang airnya jernih segar, dan di sana banyak gadis-gadis cantik yang lengkap dengan perhiasannya – yang tidak dapat aku katakan.

    Ketika melihat kepadaku, mereka gembira dan berkata, “Itulah suami ‘Ainul Mardhiyah!” Kemudian aku ucapkan, “Assalaamu’alaikum, apakah di sini tempatnya ‘Ainul Mardhiyah?” Mereka menjawab, “KAmi hanyalah hamba dan pelayannya, teruslah berjalan ke depan”.

    Aku meneruskan perjalanan. Tiba-tiba bertemu dengan sungai susu yang tidak berubah rasanya di tengah-tengah taman tersebut, yang juga dikelilingi oleh gadis-gadis yang sangaat cantik lengkap dengan perhiasannya. Ketika mereka melihat kepadaku langsung berseru, “Demi Allah! Itu suami ‘Ainul Mardhiyah sudah tiba”. Lalu aku memberi salam, “Assalaamu’alaikum! Apakah diantara anda ada yang bernama ‘Ainul Mardhiyah?”. Mereka menjawab, “Kami hanyalah hamba dan pelayannya. Silahkan berjalan terus…”

    Aku pun meneruskan perjalanan. Tiba-tiba di suatu lembah aku bertemu dengan sungai anggur yang digunakan sebagai tempat bersuka ria oleh gadis-gadis yang sangat cantik molek. Begitu cantiknya, sehingga aku lupa pada kecantikan gadis-gadis sebelumnya. Lalu aku memberi salam, “Assalaamu’alaikum! Apakah diantara anda ada yang bernama ‘Ainul Mardhiyah?”. Mereka menjawab, “Tidak! Kami hanyalah hamba dan pelayannya. Teruslah tuan berjalan ke depan…”

    Lalu aku pun meneruskan perjalanan. Tiba-tiba aku bertemu dengan sungai madu dan kebunnya penuh dengan gadis-gadis cantik, yang kecantikannya bagaikan cahaya. Maka aku ucapkan salaam, “Assalaamu’alaikum! Apakah di sini ada ‘Ainul Mardhiyah?” Mereka menjawab, “Yaa Waliyallah, kami hamba dan pelayannya. Majulah terus…”

    Dan ketika aku berjalan lagi tiba-tiba melihat sebuah bangunan dari permata yang berlubang. Di depan bangunan itu ada seorang gadis yang menjaga pintu yang sangaaatt cantik lengkap dengan perhiasannya. Aku mengira inilah ‘Ainul Mardhiyah. Ketika gadis itu melihatku, ia begitu gembira dan berseru, “Wahai ‘Ainul Mardhiyah! Inilah suamimu telah datang!” Dugannku ternyata keliru, akupun dipersilahkan masuk oleh gadis tersebut.

    Aku langsung masuk ke bangunan itu. Dalam sebuah ruangan, aku melihat seorang gadis yang sedang duduk di atas tilam yang bertaburkan permata, yaqut, dan berlian. Dan ketika melihatnya, aku benar-benar terpesona karena begitu cantiknya.

    “Marhaban wahai kekasihku…! Hampir tiba pertemuan kita…”, sambutnya dengan senyum yang sangaaaatt manisss. Ingiiinnn sekali aku mendekapnya…

    “Shabar dulu! Engkau belum resmi menjadi suamiku, karena engkau masih di dunia. Insya Allah, malam ini engkau akan berbuka di sini…”

    … kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku tersadar bahwa itu hanya mimpi. Wahai Abdul Hamid, rasanya aku sudah tidak sabar lagi…

    Tiba-tiba terlihat pasukan musuh. Maka genderang perang pun ditabuh bertalu-talu. Pemuda tersebut lantas berlari menyambut musuh bersama-sama dengan pasukan muslimin yang lain.

    Ketika berhadapan dengan pasukan musuh, langsung diayunkan pedangnya sambil terus merangsak maju menyerbu. Terhitung sembilan pasukan musuh roboh seketika. Pada hitungan kesepuluh, sebilah pedang telah mendahuluinya. Pemuda tersebut roboh berlumur darah. Dia meninggal dunia dengan tersenyummm. Kerinduan itupun akhirnya tertembus…

     

    {dikisahkan kembali dari : Tanbihul Ghaafilin hal. 1004-1009}

    **

    “Dan janganlah mengira bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup terus di sisi Rabb-nya dengan mendapatkan rizqi.” [Ali ‘Imraan : 169]

    “… permisalan ahlul jannah yang dijanjikan buat orang-orang yang bertaqwa, di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr yang lezat bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan serta maghfirah dari Rabb-nya…” [Muhammad : 15]

     
  • erva kurniawan 4:40 am on 20 September 2013 Permalink | Balas  

    Hikmah Pengharaman Babi 

    babiHikmah Pengharaman Babi

    Hal ini penting untuk diketahui, terutama oleh pemuda-pemuda kita yang sering pergi ke negara-negara Eropa dan Amerika, yang menjadikan daging babi sebagai makanan pokok dalam hidangan mereka.

    Dalam kesempatan ini, saya sitir kembali kejadian yang berlangsung ketika Imam Muhammad Abduh mengunjungi Perancis. Mereka bertanya kepadanya mengenai rahasia diharamkannya babi dalam Islam. Mereka bertanya kepada Imam, “Kalian (umat Islam) mengatakan bahwa babi haram, karena ia memakan sampah yang mengandung cacing pita, mikroba-mikroba dan bakteri-bakteri lainnya. Hal itu sekarang ini sudah tidak ada. Karena babi diternak dalam peternakan modern, dengan kebersihan terjamin, dan proses sterilisasi yang mencukupi. Bagaimana mungkin babi-babi itu terjangkit cacing pita atau bakteri dan mikroba lainnya.?”

    Imam Muhammad Abduh tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dan dengan kecerdikannya beliau meminta mereka untuk menghadirkan dua ekor ayam jantan beserta satu ayam betina, dan dua ekor babi jantan beserta satu babi betina.

    Mengetahui hal itu, mereka bertanya, “Untuk apa semua ini?” Beliau menjawab, “Penuhi apa yang saya pinta, maka akan saya perlihatkan suatu rahasia.”

    Mereka memenuhi apa yang beliau pinta. Kemudian beliau memerintahkan agar melepas dua ekor ayam jantan bersama satu ekor ayam betina dalam satu kandang. Kedua ayam jantan itu berkelahi dan saling membunuh, untuk mendapatkan ayam betina bagi dirinya sendiri, hingga salah satu dari keduanya hampir tewas. Beliau lalu memerintahkan agar mengurung kedua ayam tersebut.

    Kemudian beliau memerintahkan mereka untuk melepas dua ekor babi jantan bersama dengan satu babi betina. Kali ini mereka menyaksikan keanehan. Babi jantan yang satu membantu temannya sesama jantan untuk melaksanakan hajat seksualnnya, tanpa rasa cemburu, tanpa harga diri atau keinginan untuk menjaga babi betina dari temannya.

    Selanjutnya beliau berkata, “Saudara-saudara, daging babi membunuh ‘ghirah’ orang yang memakannya. Itulah yang terjadi pada kalian. Seorang lelaki dari kalian melihat isterinya bersama lelaki lain, dan membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan seorang bapak di antara kalian melihat anak perempuannya bersama lelaki asing, dan kalian membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan was-was, karena daging babi itu menularkan sifat-sifatnya pada orang yang memakannya.”

    ***

    Dari buku: Hidangan Islami: Ulasan Komprehensif Berdasarkan Syari`at dan Sains Modern

    Penulis: Syeikh Fauzi Muhammad Abu Zaid

    Penerjemah: Abdul Hayyie al Kattani

     
  • erva kurniawan 4:36 am on 19 September 2013 Permalink | Balas  

    Episode Abdullah 

    nasehat-quran1Episode Abdullah

    Abdullah menatap penuh harap ingin diberi roti ketika menyaksikan teman-temannya dengan lahap mengunyah roti yang terlihat amat lezat. Abdullah kembali harus menahan air liurnya kala teman-temannya menyeruput aneka sirop dan berebut coklat. Tak tahan menyaksikan semua itu, bocah berusia tujuh tahun itu akhirnya berlari meninggalkan kerumunan bocah-bocah yang tengah berpesta menuju sang Ummi dalam tenda pengungsi.

    “Ummi…. lapar…,” seru bocah Somalia yang tinggal tulang belulang itu. Bocah hitam yang amat kurus itu menekan perut kempisnya kuat-kuat untuk mengurangi rasa lapar yang melilit. Abdullah lantas menarik lengan sang Ummi dan menuntunnya ke luar tenda untuk memperlihatkan apa yang dilakukan teman-taman sebayanya. “Mi… lihatlah mereka makan dengan lahapnya. Mereka kenyang dan mereka bahagia,” ucapnya dengan nada seolah minta persetujuan sang Ummi agar ia boleh bergabung dengan mereka. “Tidak! Tidak nak…! Kau tak boleh melakukan itu. Kita tak boleh menjual aqidah hanya dengan segenggam roti, sepotong coklat dan segelas sirop,” sang Ummi berucap lembut namun bernada tegas. “Dulu para sahabat pun pernah mengalami kelaparan seperti kita, dan mereka tetap sabar. Mereka tetap memegang teguh Islam. Rasulullah yang kita cintai mengabarkan ‘syurga’ buat orang-orang yang lapar dalam membela Islam. Lalu kenapa kita harus menukar syurga itu dengan kesenangan dunia yang hina dan sementara ini, Nak…? Masih ingatkah ….. ketika Abimu masih ada beliau pernah bercerita tentang ‘Ahlus Suffah’? Orang-orang yang belajar hadits pada Rasul dan mereka tinggal di masjid karena mereka rata-rata miskin. Mereka kelaparan kemudian jatuh waktu melakukan shalat saking tak kuatnya menahan lapar dan lemahnya badan. Melihat itu, Rasul datang menghampiri sambil berkata: “Jika engkau tahu balasan lapar yang kau derita ini (balasan syurga) pasti engkau ingin lebih lapar dari ini. Ahlus Suffah pun menjawab: “Ya Rasulullah, saya tidak menyesal dengan keadaan ini, dan saya ingin lebih lapar lagi.” Ummi berharap, kau bisa setegar Ahlus Suffah tersebut”, ucap sang Ummi penuh harap.

    Mendengar kisah Ahlus Suffah itu, Abdullah menjadi bersemangat kembali. Kini terlihat binar terang dalam mata cekungnya. “Ummi, aku pamit mau muraja’ah hafalan Quran. Sudah tiga hari ini aku lalai,” ucap Abdullah seraya menghambur ke luar tenda. Bocah kecil yang sudah hafal sepuluh juz itu menuju tempat sunyi sambil menggenggam Quran kecil.

    **

    Mendung kelabu masih saja menggayuti kota Wajir, wilayah terburuk para pengungsi Somalia. Kekumuhan dan kelaparan sudah teramat akrab dengan orang-orang yang menempati wilayah ini. Sudah tak heran lagi bila di sini terlihat seonggok mayat yang dikerumuni lalat lantas membusuk menebarkan baunya kemana-mana. Dan bukan hal asing pula menyaksikan bocah-bocah telanjang karena tak memiliki baju berlarian tersaruk-saruk ke sana ke mari sambil mengorek-ngorek timbunan sampah untuk mencari sesuap makanan yang bisa dimasukkan ke dalam mulutnya. Itulah keadaan sebagian besar orang-orang Somalia yang komit terhadap Islam. Negeri yang terkenal dengan julukan ‘gudang para hafidz’ itu di ambang kehancuran.

    Kelaparan dan kehausan rupanya tak menimpa seluruh orang Somelia. Sebagian mereka ada yang bersahabat dengan organisasi yang mengibarkan bendera ‘Penyelamat Manusia’. Mereka yang mau bergabung dengan organisasi tersebut akan dapat menikmati roti lezat dan segelas susu setiap pagi dan sore. Sebagian imbalan atas roti dan susu itu, mereka menerima buku-buku cerita tentang sesuatu yang bisa menyelamatkan manusia dari muka bumi.

    Abdullah berjalan tenang sembil mengulang-ulang hafalan Quran. Ketika melewati sekelompok anak-anak yang tengah mengunyah roti dan coklat, tak ada rasa iri di hatinya. Di antara gerombolan anak-anak itu tampak seorang pemuda gagah tengah membacakan sebuah buku cerita bergambar. Anak-anak Somalia itu asyik menyimak dongengan sang pemuda berkulit putih. Tampaknya, cerita yang dibawakan sang pemuda begitu serunya sampai-sampai terdengar anak-anak bersuara riuh rendah.

    Di antara gerombolan anak-anak itu ada yang memanggil Abdullah ketika ia berlalu di hadapan mereka. “Abdullah ini roti dan coklat untukmu. Mari duduk di sini kita mendengarkan cerita yang menarik,” ucap bocah itu sambil mengacung-acungkan roti dan coklat di tangannya. Sang pemuda -menghentikan kisahnya. Dengan senyum manis, ia melambaikan tangan agar Abdullah mendekat dan bergabung bersama mereka. Mendengar tawaran mereka, Abdullah menggeleng penuh izzah. “Tidak, aku tidak doyan roti dan coklat itu. Aku mau makan roti dan coklat yang disediakan Allah di syurga saja. Lagi pula, aku sibuk mau menghafal Quran. Untuk apa duduk bersenang-senang mendengarkan cerita tak berarti,” ucap Abdullah sambil berlalu. Sementara teman-temannya hanya dapat menatap punggung kurus itu dengan tatap hampa.

    “Anak siapa Abdullah itu…..?,” tanya sang pemuda pada anak-anak yang mengerumuninya. “Ia anak syaikh Ahmad,” jawab bocah-bocah itu serempak “Syaikh Ahmad ustadz di wilayah ini. Beliau terkenal sebagai hafidz Quran yang mengajarkan ilmunya pada kami semua. Abdullah sekarang sudah hafal sepuluh juz, sedang kami baru hafal juz ‘amma,” ucap mereka lagi. Pemuda bule itu cuma bisa menganggukan kepala mendengar cerita bocah-bocah itu tentang Abdullah, bocah kurus yang berani menolak tawaran roti dan coklat.

    ***

    Kehadiran pasukan PBB yang diawali dengan kedatangan tentara AS itu terasa juga pengaruhnya di Wajir. Walaupun konsentrasi pasukan PBB itu ada di Mogadishu, ibukota Somalia, beberapa divisi tentara AS juga mengadakan operasi di desa-desa, termasuk di Wajir. Bahkan setelah upaya AS menangkap Jenderal Farah Aidid gagal, operasi mencari pimpinan yang dicintai rakyat Somalia itu makin intensif dilakukan. Beberapa pekan terakhir ini, jalan-jalan di kota Wajir mulai dipenuhi oleh lalu lalangnya kendaraan lapis baja dan pasukan yang menginterogasi penduduk yang dicurigai sebagai pendukung Jenderal Aidid.

    Sepak terjang pasukan AS ini amat menyakitkan rakyat Somalia. Beberapa pemuda yang dicurigai mendapat perlakuan tak manusiawi. Perempuan dan anak-anak tak terkecuali. Protes yang dilakukan pemuka desa sama sekali tak digubris. Balasan bagi mereka yang melawan adalah mati. Beberapa hari yang lalu, seorang ustadz dibunuh hanya karena keluar malam, yakni untuk memberi ta’lim di suatu masjid. ‘Operasi Harapan’ yang selama ini digaungkan tak lebih hanyalah menjadikan banyak wilayah Somalia menjadi neraka.

    Dalam perjalanan pulang menuju tenda pengungsian, Abdullah bertemu dengan beberapa serdadu kulit putih yang tengah berkumpul menikmati makanan. Sambil tertawa dan bernyanyi riuh mereka menarik perhatian para pejalan kaki. Abdullah menatap sinis pada tentara kafir itu. Seorang serdadu berdiri dan melambaikan tangan menyuruh Abdullah mendekat. Karena penasaran, bocah itu mendekat. Oh, rupanya serdadu itu bermaksud memberinya makanan. Abdullah menggeleng ketika serdadu itu menyodorkan sekantong makanan. Ia ragu, jangan-jangan terdapat makanan haram di dalamnya, apalagi ia melihat minuman yang mereka teguk semuanya dari jenis khamar. Ia pun menggeleng ketika serdadu kulit putih itu menghadiahinya buku-buku bergambar menarik yang mengisahkan kasih sayang kaum yang menyebut dirinya pengikut Sang Penyelamat Manusia. “Aku sudah punya ini!”, ucap Abdullah dengan bangganya mengacungkan Quran pemberian Umminya. “Aku tak butuh buku-buku jelek itu,” katanya lagi dengan tatap mata menghujam. Anak Syaikh Ahmad itu lantas berlari meninggalkan gerombolan serdadu asing. Namun, baru beberapa langkah kaki kurus itu berlari, tubuhnya keburu terkapar bersimbah darah. Ya, sebutir peluru telah menembus punggungnya. Peluru serdadu bule itu telah menelan nyawa bocah kurus yang telah hafal sepuluh juz al-Qur’an, namun tak seorang pun memprotes dan membalas dendam atas kematian bocah ini. Semua bisu, bungkam dan diam .

    Para serdadu yang mengaku pengibar panji-panji demokrasi, pembela hak asasi manusia dan penyebar kasih sayang ini ternyata begitu biadab. Mayat Abdullah mereka angkut lalu dilemparkan di antara tumpukan sampah.

    • * * *

    Wanita setengah baya itu berjalan terseok. Ia tengah mencari sang putra yang sejak pagi belum kembali. Seorang diri ia menyusuri lorong-lorong Wajir yang kumuh. Mata bening wanita itu terbelalak ketika melihat sesosok tubuh mungil tergeletak di antara tumpukan sampah yang membusuk dan penuh lalat.

    Ia semakin mendekat ke arah tubuh kecil kurus itu. Ya, semakin dekat wanita itu semakin hafal dengan bentuk tubuh yang tergeletak itu. Sampai kemudian ia yakin tubuh itu adalah tubuh anaknya. Direngkuhnya tubuh kecil itu, lalu dipeluknya erat-erat. Air matanya tak kuasa untuk tidak menitik. Darah kering menghiasi tubuh kaku dan dingin itu. Ya …. anak dambaan jiwa penerus perjuangan suminya itu kini telah mati bersimbah darah. Namun wanita itu segera tersenyum ketika melihat tangan anaknya yang sudah jadi mayat itu menggenggam erat alqur’an pemberiannya. Dengan langkah tegap, Ummu Abdullah memangku tubuh putranya yang telah syahid.

    “Aku harus bersyukur karena punya anak tidak mati sia-sia. Sementara banyak teman seusianya mati sambil memeluk buku berjudul ‘Sang Penyelamat Manusia’. Tapi Abdullah mati sambil mendekap alqur’an…”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:27 am on 18 September 2013 Permalink | Balas  

    Antara Pria dan Wanita 

    etika-suami-isteriAntara Pria dan Wanita

    Kali ini kita membahas bagaimana Islam memandang kedudukan pria dan wanita. Apakah benar seperti anggapan para orientalis Barat bahwa Islam memandang rendah wanita dan pria lebih dominan ?, benarkah Islam menentang emansipasi wanita ?.

    Islam memandang pria dan wanita dalam 3 hal, yaitu:

    1. Sebagai manusia

    Sebagai seorang manusia Islam tidak membedakan pria dan wanita, masing-masing tidak berbeda dari segi aspek kemanusiaannya dan tidak saling melebihi satu sama lain. Masing-masing mempunyai kebutuhan jasmani seperti: rasa lapar, dahaga, buang hajat, dll. Juga mempunyai naluri seperti: mempertahankan hidup, seksual dan beragama serta sama-sama mempunyai akal. Dengan adanya kesamaan pria dan wanita sebagai manusia ini maka Islam juga memberikan aturan yang sama, seperti: sama-sama wajib shalat, zakat, puasa, haji, da’wah, aturan halal-haram, aturan akhlaq, dll. Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (At-Taubah 71).

    2. Sifat kelelakian dan kewanitaan

    Dalam hal sifat ini masing-masing mempunyai fitrah masing-masing dan saling berbeda, wanita mengalami haid, melahirkan, menyusui, mengasuh anak, dst, sedangkan pria sebagai pemimpin keluarga, mencari nafkah, dst. Untuk itu Islam juga mempunyai aturan yang berbeda diantara keduanya, seperti dalam hal warisan, kesaksian, menutup aurat, pemberian mahar, mencari nafkah, pemimpin keluarga, jihad, dll.

    3. Sebagai bagian dari anggota masyarakat

    a. Interaksi pria dan wanita

    • Interaksi yang melahirkan kenikmatan. Hal ini merupakan interaksi yang haram karena tidak sesuai dengan syariah, misalnya: pacaran, selingkuh, berkhalwat, dll.
    • Interaksi yang melestarikan keturunan. Seharusnya semua interaksi antara pria dan wanita untuk melestarikan keturunan (gharizah an-na’u), artinya harus melalui ikatan pernikahan terlebih dahulu Islam dalam memandang adanya interaksi pria dan wanita mengakui adanya naluri seksual dan hal itu alamiah serta merupakah fitrah manusia, naluri tersebut tidak perlu dijauhi/dicegah karena Islam tidak mengenal kerahiban (seperti: pendeta Budha atau pastor Katolik). Hanya saja naluri tersebut harus disalurkan semata-mata untuk melestarikan keturunan (pernikahan).

    Diantara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari diri kalian sendiri supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Diapun menjadikan diantara kalian rasa kasih sayang (Ar-Rum 21).

    b. Interaksi mu’amalah Dalam hal mu’amalah (seperti dalam bidang pendidikan, kesehatan, industri, perdagangan, pertanian, dll) maka Islam memberikan kelonggaran berinteraksi antara pria dan wanita.

    Dalam hal interaksi yang melahirkan kenikmatan (haram) dengan interaksi mu’amalah (halal) kadang sangat tipis perbedaannya. Misalnya seorang atasan (pria) berduaan dengan bawahannya (wanita) dalam berdiskusi masalah pekerjaan (mu’amalah atau halal) akan tetapi pada saat atasan mulai tertarik dengan kecantikan atau keseksian bawahannya maka hal ini sudah haram dan harus segera dicegah atau dipisahkan. Untuk itu kita perlu sangat berhati-hati dalam hal interaksi yang melahirkan kenikmatan ini dan harus dihindarkan.

    Dilain hal dokter kandungan (laki-laki) dibolehkan melihat aurat wanita yang paling pribadi sekalipun karena itu termasuk mu’amalah (bidang kesehatan), walaupun memang dianjurkan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter kandungan wanita.

    Dari uraian diatas diharapkan pembaca mendapat gambaran betapa Islam sangat menghargai kehomatan wanita karena dengan cara demikianlah kehidupan ini menjadi nikmat dunia dan akhirat. Coba kita lihat, bukankah semua kerusakan yang terjadi selama ini karena begitu longgar dan bebasnya interaksi pria dan wanita ini. Pria dan wanita bebas bertemu kapanpun, dimanapun dan dengan siapapun, akibatnya timbullah kehamilan diluar nikah, aborsi, perkosaan, pelacuran, perselingkuhan, dll.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:19 am on 17 September 2013 Permalink | Balas  

    Sholat setahun = Sholat 27 Tahun 

    sholat-subuhSholat setahun = Sholat 27 Tahun

    Perintah Allah SWT: “Hai orang-orang beriman, bila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli (pekerjaan)… “ (QS Al-Jumu’ah 62:9).

    Sholat setahun = Sholat 27 Tahun? Sekedar membandingkan, sholat sendiri dengan sholat berjamaah

    Islam sangat menganjurkan umatnya untuk melakukan shalat berjamaah. Rasul saw banyak menyebutkan keistimewaan shalat berjamaah. Antara lain, “Sholat berjamaah lebih utama dari solat sendirian, dengan dua puluh kali derajat.” (Muttafaq alaih)

    Sholat berjamaah juga hukumnya sunnah muakkad, yakni sunnah yang sangat ditekankan untuk dilakukan, bagi kaum laki-laki. Imam Maliki dan Hambali, bahkan mengatakan sholat berjamaah hukumnya wajib.

    Mari kita renungkan perbedaan pahala yang kita peroleh antara shalat berjamaah dengan shalat seorang diri berdasarkan hadits Rasulullah yang disebutkan di atas.

    • Solat sendirian = 1 derajat x 365 hari (setahun) x 5 waktu = 1.825 derajat
    • Solat berjamaah = 27 derajat x 365 hari (setahun) x 5 waktu = 49.275 derajat

    Jelas di sini, sembahyang sendirian selama 27 tahun, derajatnya sama dengan setahun solat berjama’ah. Bayangkan pahala ganda yang Allah karuniakan bagi orang yang mengerjakan sholat berjamaah. Ini sebenarnya memberi gambaran kepada kita betapa hikmah perintah Allah dan RasulNYa tersembunyi, yang terkadang tidak kita sadari, atau kita sepelekan. Karena itu, mari tunaikan perintah dan perintah Allah SWT dan Rasulullah saw dalam sholat berjamaah.

    Anda ingin beramal shaleh, tolong kirimkan artitel ini kepada sesama muslim, baik keluarga, sahabat dan siapapun yang anda kenal.

    ***

    Wassalam

    Imam Puji Hartono

     
    • lazione budy 4:51 am on 17 September 2013 Permalink

      Saya sudah tahu hukumnya ini sejak SD tapi masih saja berat untuk melangkah ke masjid. Heran deh,.

  • erva kurniawan 4:24 am on 16 September 2013 Permalink | Balas  

    5 Prinsip Komunikasi dengan Anak 

    ibu dan anak lelakinya berdoa5 Prinsip Komunikasi dengan Anak

    1. Jangan pernah menganggap anak bodoh atau tak tahu apa-apa

    Berbeda dengan anggapan banyak orang dewasa ini, anak yang paling kecil sekalipun sebenarnya sudah menyerap banyak hal dari lingkungannya. Ia melihat, merasakan, mendengar dan memikirkan (meski masih dalam kapasitas yang terbatas). Kadangkadang bahkan dengan kepekaan yang luar biasa. Expect more they’ll give you more.

    2. Hatihati dengan kemampuan orang tua menghipnotis anak

    Prinsip programming komputer garbage in garbage out (sampah yang masuk, sampah yang keluar), benar-benar terbukti dalam pendidikan anak. Kalau orang tua ingin memperoleh output yang berkualitas, masukkanlah bahan-bahan mentah yang baik. Pujian, penghargaan, katakata manis, omelan yang proporsional dan tidak rnerendahkan harga diri anak; semuanya menentukan output itu. Sebaliknya, celaan dan hinaan akan menghipnotis anak bahwa dirinya tak berharga sampai ia dewasa.

    3. Dibutuhkan kelenturan dan fleksibilitas

    Kadang-kadang, orang tua perlu menjadi ‘pelindung dan pahlawan’, kadang-kadang sebagai teman dan sahabat, dan pada waktunya nanti sebagai seorang ayah/ibu yang realistis menerima berbagai kondisi dan keterbatasan. Tentu dibutuhkan kepekaan untuk itu. Misalnya pada saat sulit, orang tua justru berhenti bersikap sebagai sahabat dan lebih bertindak sebagai pelindung. Sesudah konfrontasi atau krisis, tidak peduli berapapun usianya, anak membutuhkan suasana terlindungi. Ia, dan juga kita, membutuhkan ‘ruang’, yang lebih tenang; kita bisa memberinya dengan bersikap sebagai pelindung. Misalnya, dengan berbicara tenang, pandang mata anak. Jangan hujani dengan terlalu banyak pertanyaan. Syukur alhamdulillah, kebanyakan orang tua sebenarnya sudah dibekali naluri untuk bertindak peka seperti ini, meski semata-mata mengandalkan naluri pun tak terlalu tepat.

    4. Semaksimal mungkin menyediakan tiga unsur penting komunikasi yakni; waktu, sentuhan dan bicara

    Tiga faktor utama inilah yang menentukan apakah komunikasi orang tua dan anak akan sehat, apakah anak akan tumbuh kembang normal dan sehat serta siap memasuki dunia luas. Apakah ia akan tumbuh menjadi anak yang penuh percaya diri dan siap menghadapi tantangan, atau anak penakut dan rendah diri. Bahkan ayah/ibu yang sangat sibuk pun sebenarnya bisa tetap menyediakan waktu yang cukup bagi anak mereka. Ada teknik-teknik untuk itu; misalnya, dengan memberi anak beberapa menit perhatian yang tak terbagi dalam sehari.

    Semua orang memiliki yang disebut skin hunger for langer; rasa lapar akan sentuhan. Tak perduli berapa usia kita, kita membutuhkan kasih sayang yang diwujudkan dengan sentuhan. Ini bisa berarti, cubit, sayang, gelitikan, gulat atau ciuman. Selama masih bisa, sebanyakbanyaknya sentuhan itu pada anak; tidak akan lama lagi mereka sudah akan merasa malu dicium oleh ayah/ibu mereka. Namun, jangan berhenti karena mereka malu dicium; sentuh dengan cara lain, misalnya merangkul bahu atau menggelitik. Pada dasamya, mereka tetap membutuhkannya. Akan halnya bicara, banyak hal yang bisa diperhatikan. Misalnya saja, orang tua dapat berbicara pada anak lewat mendongeng, bacaan ayat suci, nyanyian, ‘goda menggoda’, humor dan lelucon. Berbicara adalah juga mendengar dengan baik dan peka; membaca raut muka serta pengungkapan isi hati. Berbicara adalah memuji, mengomeli, sesekali mengancam, menyatakan cinta, menyatakan kesedihan dan kekecewaan. Berbicara adalah menghargai pendapat anak, memintanya menghargai pendapat orang lain. Berbicara bicara serius, ringan ataupun sambil lalu.

    5. Menggunakan kreativitas

    Tidak semua ketrampilan dan pengetahuan diperoleh seketika. Karena itu dibutuhkan keberanian mencoba dan kreativitas. Dua faktor Bantu orang tua menghadapi berbagai tantangan yang mungkin tak bisa dicegah, seperti godaan dari luar rumah. Contoh ketika seorang ibu terpaksa mengambil keputusan pindah dari lingkungan yang sekarang, karena dirasa tak lagi aman bagi perkembangan anakanaknya.

    Bagaimana bila orang tua merasa ‘terlanjur’ salah dalam berkomunikasi dengan anak? Alhamdulillah, Allah Ta’ala melengkapi manusia dengan kemampuan melupakan suatu pengalaman buruk dan bangkit kembali dari kegagalannya. Karena itu, selamat mencoba resep berkomunikasi dengan anak ini. Semoga Allah memudahkan langkah kita semua.

    Dikutip dari Makalah Shanti W:E: Soekanto pada Seminar Sehari Komunikasi Efektif Orang Tua dan Anak.

     
  • erva kurniawan 4:13 am on 15 September 2013 Permalink | Balas  

    Lentera Istana Uma 

    Jadilah-Pelita (1)Lentera Istana Umar

    Suatu malam, Umar bin Abdul Azis sedang sibuk bekerja di salah satu ruangan istananya. Tak disangkanya, salah seorang putranya masuk hendak membicarakan sesuatu.

    “Untuk perkara apakah wahai putraku ke sini, untuk urusan negarakah ataukah urusan keluarga kita?” begitu tanya Umar.

    “Urusan keluarga, wahai ayahanda”, jawab sang anak.

    Maka secepat kilat Umar mematikan lentera di ruangan tersebut  sehingga gelap gulita suasananya.

    “Mengapa ayahanda mematikan lentera itu?”, tanya sang anak dengan penuh keheranan.

    “Anakku, lentera ini milik negara, minyaknya juga dibeli dengan uang negara, sehingga hanya boleh dipergunakan untuk urusan negara, bukankah engkau datang untuk urusan keluarga?” begitu Umar menjelaskan.

    Tak lama kemudian Umar mengambil lentera lain dari ruangan dalam dan berkata: “Anakku sekarang bicaralah, lentera ini milikku dan minyaknya juga dibeli dengan uangku sendiri, maka kita berhak memakainya untuk pembicaraan mengenai keluarga kita”, demikian Umar menegaskan.

    Kisah Umar ini sering dikutip para ustad, da’i, aktivis Islam dan para kyai untuk menjadi contoh bagaimana Umar yang juga sering dijuluki khulafaur rasyidin yang  ke-5 sangat berhati-hati dalam menjaga urusan ummat, memisahkan hak dan kewajiban pribadi dan negara. Menjaga benar dirinya akan hal-hal syubhat dan begitu takut dirinya kelak diadili karena mendzalimi rakyatnya.

    Sejatinya ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita peroleh. Pelajaran yang tidak hanya untuk direnungi di ruang-ruang kosong dan hampa akan realita. Pelajaran untuk menjadi pembanding dan pengingat di tengah-tengah kenyataan yang harus dihadapi dalam kehidupan harian para pelayan ummat atau pejabat publik dalam bahasa modern sekarang ini. Kisah Umar begitu mudah kita tuturkan dan begitu indah dan menenteramkan kita dengarkan. Tetapi senyatanya sulit dan bahkan sulit sekali dijalankan dan begitu langka dan bahkan nyaris sulit sekali kita temukan  pada jaman sekarang.

    Lantas, mari kita kupas satu persatu kisah Umar ini, untuk diambil pelajarannya.

    Pertama, kisah kesungguhan hidup sederhana. Sebelum ditunjuk sebagai khalifah, Umar dikenal kaya. Akan tetapi begitu ditunjuk sebagai penguasa, maka ia lepaskan semua kekayannya dan memilih kehidupan yang sangat sederhana sampai-sampai keluarganya mengeluh akan hal ini. Menurut ukuran para raja saat itu, sungguh sangat pantas seorang penguasa yang daerah kekuasannya membentang dari Yaman di sebelah Tenggara, Mesir di sebelah Barat, Persia di sebelah Timur Laut, melebihi kekuasaan para Raja-Raja atau Amir di Timur Tengah sekarang ini, duduk dengan megah dengan singgasana bertaburkan intan permata, pakaian kebesaran yang indah dan kendaraan yang nyaman. Akan tetapi menyadari betapa beratnya tanggung-jawab seorang khalifah, maka ia memilih jalan sederhana, jalan sunyi yang jauh dari hidup glamour dan foya-foya. Jalan yang tidak lazim, pilihan hidup aneh dan jauh dari keumuman para raja dan penguasa pada jamannya.

    Tetapi sikap hidup sederhananya tidak lantas sederhana prestasinya. Bahkan di masa kepemimpinan Umar, dalam buku-buku sejarah dituturkan tidak ada lagi orang yang menerima zakat di negri muslim, ini menggambarkan kemakmuran hidup rakyatnya. Dan di masanya seekor keledai tidak merasa takut berjalan ditengah padang pasir khawatir diterkam serigala, sebuah gambaran akan keamanan negara. Kesederhanaan hidupnya berbanding terbalik dengan prestasinya dalam menjalankan roda pemerintahan. Kesederhanaan hidupnya menjadi kemuliaan dirinya di hadapan manusia seluruhnya. Saat harta dan tahta ada di genggamannya, hatinya tidak lantas menggenggamnya. Dunia ada dalam tangannya tetapi tidak di hatinya.

    Sederhana tentu bukan berarti miskin. Lawan kata sederhana adalah mewah, gaya hidup gemerlap, glamor yang menampakkan semua kemegahan tampilan luar. Sederhana juga bukan berarti lemah, tetapi sejatinya adalah mengambil aksesoris dunia secukupnya dan tidak berlebih. Sifat ini muncul dan lahir dari kedalaman hati, bahwa kemuliaan, harga diri dan kehormatan muncul bukan bersumber dari duniawi, tetapi semua itu karena pribadi seseorang.

    Mungkin kaum muslimin sekarang akan bertanya: bukankah itu jaman dulu yang sangat jauh dari realita sekarang. Mari kita tengok di sebuah negri berbalut salju, Norwegia. Di Negri ini beberapa tahun lalu, ada seorang Perdana Menteri yang memang juga seorang pengusaha, membeli sebuah mobil diatas rata-rata penduduk Norwegia dengan uangnya sendiri. Maka tak lama kemudian, ramailah media masa mengkritiknya, dan akhirnya sang Perdana Menteri ini menjual lagi mobil mewahnya. Di sebuah negeri yang pasti kisah Umar ini tidak pernah dituturkan, masih ada sifat malu para pemimpinnya karena kritik rakyatnya. Akhirnya ia rela melepaskan mobil mewahnya. Padahal tidak ada UU yang melarang ia menggunakan mobil mewah yang dibeli dengan uangnya sendiri. Tetapi ia seorang pemimpin, seorang Perdana Menteri yang harus peka atas kehidupan rakyatnya.

    Atas kesadaran seperti itu, ia rela menggunakan mobilnya yang seperti normalnya rakyatnya menggunakan mobil.  Ia tidak ingin tampil beda dari kebanyakan rakyatnya.

    Atau tengoklah, bagaimana Wapres Muhammad Hatta yang tidak memberitahu istrinya akan rencana sanering (pemotongan nilai mata uang) yang akan dilakukan negara, sehingga pada saat sanering dilakukan, uang tabungan istrinya yang dikumpulkan berbulan-bulan untuk membeli mesin jahit, nilainya berkurang, padahal sesaat sebelum sanering uang tabungan tersebut hampir mencukupi. Ia tahu menjaga rahasia negara yang kalau dia obral bisa menguntungkan sebagian dan merugikan sebagian lainnya. Maka ia mengambil sikap seorang negarawan, rahasia negara harus dijaga walauun terhadap keluarganya sendiri.

    Atau kisah kesederhanaan Muhammad Natsir sang perdana mentri yang kita kenal dengan mosi integralnya sehingga menyelamatkan NKRI, ia menolak mobil dinas yang disediakan negara.

    Bagaimanakah kisah ini diperbandingkan dengan kehidupan para pelayan ummat (baca pejabat publik) yang dulunya bersemangat menuturkan kisah Umar ini sebagai landasan memupuk cita-cita besar akan perjuangan masa depan. Sebuah cita-cita yang di rajut di balik dinding-dinding rumah petak sempit, diruangan masjid sederhana, di padepokan nun jauh di pelosok desa. Saat itu, tidak ada bayangan sama sekali akan dunia dengan segala kemewahannya yang kelak mungkin ditemuinya. Jangankan membayangkan mobil mewah, rumah besar, jabatan tinggi, sekedar untuk maka layak tiga kali sehari dengan lauk daging saja susah. Sekedar membeli susu anaknya saja belum tentu kesampaian.

    Kedua, memisahkan kepentingan pribadi, keluarga dan golongan dari kepentingan negara dan rakyat. Jabatan khalifah adalah amanah ummat, tangguh-jawab atas rakyat. Harus ada pemisahan yang jelas antara fasilitas negara dan kekayaan pribadi. Kekuasaan untuk mengelola kekayaan negara, bukan berarti boleh dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Umar telah metelakkan contoh yang kokoh, ditinjau dari ilmu tata negara sekarang ini, Umar telah menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance atau menerapkan tata kelola pemerintahan yang baik. Tidak membiarkan kekayaan negara di manfaatkan untuk dirinya atau keluarganya atau golongannya, melainkan fasilitas negara hanya untuk rakyat. Ia juga tidak bermaksud menggunakan pengaruhnya sebagai kepala negara demi memuluskan proyek-proyek pemerintah untuk memperkaya diri, keluarga atau golongannya. Sungguh teladan yang sangat sempurna. Hendaknya begitulah para pelayan ummat (pejabat publik) dalam menjalankan tanggung-jawab jabatannya.

    Di Jepang, kita mendengar ada seorang pejabat mundur dengan sukarela karena memberi perlakuan khusus atas rekan bisnisnya untuk mendapatkan proyek.

    Atau tengoklah kisah Muh Hatta diatas, keteguhannya menjaga rahasia negara berupa informasi sanering ia jaga benar, sampai-sampai istrinyapun tidak ia beri tahu. Sehingga uang tabungannya yang sudah dikumpulkan berbulan-bulan untuk membeli mesin jahit nilainya mengecil karena sanering. Padahal apalah salahnya Muh Hatta memberi tahu saja informasi itu, sehingga dengan tambahan sedikit uang istrinya sudah bisa membeli mesin jahit sebelum sanering dilakukan. Toh ini bukan korupsi. Tetapi sekali lagi, teladan luar biasa dari seorang pejabat publik yang tahu memisahkan kepentingan negara dan kepentingan pribadi.

    Bagaimana di negri ini? Kita membaca seorang wakil rakyat, pemimpin sebuah partai, memanggil seorang pejabat kementrian untuk datang ke kantor partainya. Tidakkah ia malu pada Umar yang mematikan lentera Istananya karena anaknya datang untuk urusan keluarga. Pada jaman Umar, tentu teori “tata kelola pemerintahan yang baik atau good corporate governance” mungkin belum ada, tetapi ia sudah mempraktekkkannya. Sangat sulit dimengerti, bahwa pencampur adukan kepentingan publik dan golongan terjadi begitu nyata.  Kalaulah tujuannya memang baik yaitu meyampaikan permasalahan umum, yang pasti cara seperti ini salah, karena tidak sesuai dengan logika sehat menjalankan pemerintahan.

    Semoga pelajaran  Lentera Istana Umar masih belum terlambat untuk diingat dan dicontoh.

    Wassalam

    ***

    Oleh Akhmad

     
  • erva kurniawan 4:52 am on 14 September 2013 Permalink | Balas  

    Membiasakan Anak Putri Menggunakan Hijab yang Sesuai Syariat 

    doaMembiasakan Anak Putri Menggunakan Hijab yang Sesuai Syariat

    Anak putri yang masih kecil harus dibiasakan merasa malu dan mencintai hijab. Selagi anak putri itu sudah mencapai umur lima tahun, maka dia dibiasakan mengenakan celana panjang dibawah gaunnya dan mengenakan kerudung yang menutup seluruh kepalanya dengan warna yang lembut, sesuai dengan usianya. Tabiat anak kecil adalah suka meniru. Jika dia melihat ibunya mengikuti hijab menurut syariat, maka dia pun akan merasa senang mengenakan hijab seperti yang dikenakan ibunya. Sehingga selagi sudah mencapai usia baligh, dia sudah terbiasa mengenakan pakaian penutup, sesuai dengan syariat.

    [Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (Al-Ahzab:59)]

    Sumber: Ensiklopedi Wanita Muslimah

    Haya Binti Mubarok Al-Barik

     
    • varezta 11:09 pm on 14 September 2013 Permalink

      Tapi mas memang makhluk yg namanya wanita itu susah diatur

  • erva kurniawan 4:31 am on 13 September 2013 Permalink | Balas  

    Takdir 

    kerjaTakdir

    Oleh : Armansyah

    Takdir adalah ketentuan yang sudah diatur dan ditetapkan oleh Allah yang Maha Kuasa terhadap semua ciptaan-Nya, mulai dari makhluk terkecil hingga makhluk terbesar, mulai dari yang tampak maupun yang tidak nampak oleh mata lahiriah kita, sejak yang paling-paling baik sampai yang paling-paling buruk.

    Seorang manusia sejak ia ditakdirkan untuk terlahir dan menjadi ada dia sudah memilki jalan hidup ataupun takdir yang jutaan atau mungkin malah milyran jumlahnya. Masing-masing takdir ini berbeda satu dengan yang lain tergantung dari langkah maupun sikap yang dikerjakan. Disini hukum kausalitas atau sebab-akibat mulai berlaku.

    Jika saya tampar muka saya sendiri konsekwensinya saya pasti merasakan sakit akibat tamparan tersebut, demikian kira-kira contoh hukum sebab-akibat.

    Pada masa pemerintahan Umar Bin Khatab, pernah suatu waktu beliau akan mengadakan kunjungan kesuatu daerah, namun tiba-tiba dia mendapat kabar dari salah seorang sahabat bahwa daerah yang akan dia kunjungi tersebut ditimpa oleh bencana penyakit kulit yang menular.

    Khalifah menunda kunjungannya kedaerah tersebut hingga penyakit tersebut dapat teratasi. Sikap Khalifah Umar ini mendapatkan cukup banyak pertanyaan dari para sahabat lainnya. Pertanyaan mereka kira-kira seperti ini : Apakah tuan sudah tidak percaya kepada takdir Allah sehingga takut terkena penyakit menular tersebut ?

    Khalifah Umar menjawab : “Aku bukan tidak percaya kepada takdir Allah. Manusia tidak dapat berlari dari Kausalita yang berlaku. Hanya saja manusia dapat memilih takdir mana yang akan dia tempuh. Aku menghindari takdirku dari terkena penyakit menular untuk memasuki takdirku yang lain.”

    Sebelumnya, jauh diwaktu Nabi sendiri masih hidup, beliau pernah menegur seorang sahabatnya yang begitu ingin bergegas mengerjakan Sholat didalam masjid sehingga begitu turun dari kuda dia langsung masuk begitu saja tanpa menghiraukan hewan peliharaannya tersebut.

    Ketika ditanya Nabi mengapa orang tersebut melepaskan kudanya begitu saja tanpa merasa takut kehilangannya, orang itu menjawab bahwa dia percaya kepada Allah, dia pasrah apapun yang akan terjadi.

    Perbuatannya ini tidak dibenarkan oleh Nabi. Dia menyuruh orang itu untuk terlebih dahulu menambatkan kuda sebagaimana mestinya, agar tidak lepas dan hilang baru kemudian menyerahkan kepada Allah segala ketentuan lainnya. Jika setelah kuda itu ditambatkan dalam pengertian dicarikan upaya agar tidak hilang dan lepas namun masih juga hilang nantinya …. maka itu baru takdir Allah yang pun tidak terlepas dari takdir-takdir lain yang berjalan paralel didalam kehidupan ini.

    Mungkin anda tertawa jika saya mengatakan kausalita takdir anda tergantung dengan kausalita takdir saya, bagaimana bisa ? kita sendiri baru berkenalan sekarang dan inipun hanya melalui tulisan yang dijembatani oleh milis myQers atas fasilitas Internet, pesawat telepon, pulsa telepon, modem dan komputer.

    Namun sekarang saya buktikan bahwa kausalita takdir masing-masing kita ini saling berkaitan (paralel) :

    Coba anda bayangkan, bila saja orang yang bernama Thomas Alpha Edison, James Watt, Abraham Lincoln Bell, Bill Gates tidak pernah terlahir didunia ini atau katakanlah mereka terlahir namun tidak menjadi seperti sekarang ini … kira-kira, apakah saat ini kita bisa saling berkenalan seperti ini melalui internet ? Apakah kira-kira peradaban kita sekarang ini sama seperti yang kita jalani saat ini ?

    Jawabnya tidak ! Oleh karena mereka ada dan oleh karena hasil kreatifitas mereka maka dunia bisa menjadi seperti ini, kita tidak perlu lagi berkirim surat melalui burung merpati, kita tidak juga perlu lagi mempelajari ilmu telepati karena kehadiran pesawat telepon yang membuat komunikasi bisa terjadi antara 2 orang atau lebih dari tempat yang sangat berjauhan sekalipun, bahkan kita tidak perlu repot memikirkan bagaimana caranya bisa menerima telepon saat sedang berada dijalan raya sebab handphone sudah pula terlahir.

    Kita tidak juga bingung membuat sistem pengarsipan manual yang menumpuk kertas sebab sudah ada komputer dan sudah ada pula bermacam aplikasi, bahasa pemrograman dan sarana-sarana penunjang lainnya diciptakan orang.

    Bahkan untuk belajar agamapun kita tidak perlu jauh-jauh datang ketanah Arab hanya untuk mempelajari Tafsir al-Mizan, Tafsir at-Thabari, kitab-kitab Hadis dan sebagainya dan seterusnya sebab dengan adanya komputer dan Internet maka kita bisa mempelajarinya bahkan sambil menonton televisi dirumah ditemani secangkir kopi susu dan di-iringi musi lembut Diego Modena lewat Imploranya.

    Contoh lain, bila kita menebangi hutan terus-terusan maka karena sebab itu akan mengakibatkan terjadi banjir, tanah longsor dan sebagainya yang bisa saja merugikan orang lain. Begitu pula jika kita ingin anak dan istri kita sholeh, ya harus ada proses pembelajaran bagi mereka dan harus pula ada contoh dari orang yang paling dekat dengan mereka.

    Kesimpulannya, dengan sebab takdir orang lain maka kitapun bisa menentukan takdir pada diri kita masing-masing, mau apa, mau jadi bagaimana diri kita, mau sebejat apa atau mau seshaleh apa, mau berjalan keneraka atau berjalan kesurga dan lain sebagainya.

    Ini semua membuktikan bahwa hidup adalah suatu rangkaian yang saling berhubungan sampai pada titik paling kecil sekalipun, baik disadari maupun tidak disadari.

    Karenanya Allah berfirman :

    Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. – Qs. 13 ar-Ra’d 11

    Lalu pertanyaan lainnya sekarang : Seberapa jauh intervensi Allah terhadap kebebasan manusia dalam menentukan sikap dan hidupnya ?

    Jawaban dari pertanyaan ini akan kembali pada sejauh mana kausalitas pada diri kita telah kita maksimalkan kearah yang positip, menuju kreativitas yang menciptakan hubungan sebab-akibat bagi diri dan sejarah orang lain.

    Allah tidak menginginkan seseorang menjadi jahat, bukti bahwa Dia sudah mengutus banyak Nabi dan Rasul-Nya, sudah mengutus para mujahid-mujahid yang memberikan pencerahan disetiap jaman dan tempat sebagai jalan (sebab-akibat) orang lain untuk berbuat baik dan meninggalkan kejahatan.

    Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. -Qs. al-Baqarah 2:276

    Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. -Qs. al-An’am 6:12

    Akan halnya seorang penjahat tetap menjadi penjahat, seorang penzinah tetap menjadi penzinah, seorang pengkhianat tetap menjadi pengkhianat itu bukan karena Allah mentakdirkan dirinya harus seperti itu, sebab sekali lagi ini adalah akibat dari sebab yang dia lakukan sendiri :

    Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. -Qs. ali Imran 3:117

    Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarah, dan jika ada kebajikan sebesar zarah, niscaya Allah akan melipat gandakan dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. -Qs. an-Nisa’ 4:40

    Semuanya berlaku sama,

    Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (kehendak Allah [nilai-nilai positip]), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. -Qs. 17 al-Israa’ :15

    Kita semua dilahirkan dengan membawa sifat baik dan buruk, ini fitrah (sesuatu yang natural) sebagai bekal dan bukti kemanusiawian kita, saat kita hanya dibekali dengan sifat yang baik saja maka ini bukan fitrah dan tentu kita bukan manusia, begitupula bila kita hanya dibekali sifat buruk saja maka itupun bukan fitrah.

    Fitrahnya kita ya seperti ini, tinggal lagi mau bagaimana kita memprogram fitrah yang ada.

    Jika anda yakin hidup anda akan happy ending maka berupayalah agar itu bisa menjadi terwujud, kejar dan cari takdir tersebut dari sekian juta atau sekian milyar takdir-takdir anda yang ada di Lauhful Mahfudz.

    Allah memang merencanakan semua makhluk-Nya berakhir bahagia, akan tetapi Allah memberikan kebebasan bagi manusia untuk tetap menentukan model bahagia seperti apa dan akhir yang bagaimana yang dia inginkan.

    Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. -Qs. al-Baqarah 2:185

    Rencana Allah tidak berjalan dengan mengabaikan hukum-hukum yang pun sudah ditetapkan-Nya sendiri.

    Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. -Qs. 33:62

    Kita berdoa dan berusaha dalam hidup ini agar semua modul-modul dari semua sintaksis pemrograman Allah yang teramat sangkat kompleks ini berjalan dengan baik, kita berdoa agar Allah memberikan bantuan (mengintervensi) atas semua usaha yang kita lakukan dengan memberikan jalur link pada hukum sebab-akibat yang baik, sholeh dan positip.

    Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.Tiap-tiap manusia terikat dengan apayang dikerjakannya. -Qs. 52 ath-Thuur :21

    Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. -Qs. 2 al-Baqarah: 186

    Jika saya boleh menganalogikan dengan dunia saya sehari-hari, maka orang yang mengabaikan doa adalah orang yang tidak mengerti proses hukum yang berlaku, dia terjebak dalam logika pengulangan (looping) If … Then…Else yang tidak berakhir dengan kata End If, bagaikan seorang Web Master yang setelah selesai membangun sebuah website yang bagus tetapi dia bingung harus membuat link kesitus yang mana sebab dia tidak menjalin hubungan komunikasi dan kerjasama dengan Web Master lain dan dia akan berkutat dalam situsnya sendiri hingga siapapun yang berkunjung kesana pasti akan menemukan kebosanan saja, itulah makanya Allah menyebut orang yang demikian sebagai orang yang sombong.

    Dan berbuat baiklah (lakukanlah kerjasama dan jalinlah komunikasi yang harmonis) kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan orang-orang dalam tatahukummu Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. -Qs. an-Nisa’ 4:36

    Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. -Qs. an-Naml 27:31

    Wassalam.

     
  • erva kurniawan 4:30 am on 12 September 2013 Permalink | Balas  

    Semua Manusia itu Sama 

    salamanSemua Manusia itu Sama

    Dalam pandangan Islam, semua manusia itu sama, tidak dibeda-bedakan karena status social, harta, tahta, keturunan, atau latar belakang pendidikan. Manusia yang paling mulia derajatnya di sisi Allah adalah yang paling tinggi kadar ketaqwaannya diantara mereka.

    Syekh ‘Abdul Qadir Jailani berkata:

    • bila engkau bertemu dengan seseorang, hendaknya engkau memandang dia itu lebih utama daripada dirimu dan katakan dalam hatimu: “boleh jadi dia lebih baik di sisi Allah daripadadiriku ini dan lebih tinggi derajatnya.”
    • Jika dia orang yang lebih kecil dan lebih muda umurnya daripada dirimu, maka katakanlah dalam hatimu: “boleh jadi orang kecil ini tidak banyak berbuat dosa kepada Allah,sedangkan aku adalah orang yang telah banyak berbuat dosa,maka tidak diragukan lagi kalau derajat dirinya jauh lebih baik daripada diriku.”
    • Bila dia orang yang lebih tua, hendaknya engkau mengatakan dalam hati: “orang ini telah lebih dahulu beribadah kepada Allah daripada diriku.”
    • Jikadia orang yang “Alim,maka katakana dalamhatimu: “orang ini telah diberi oleh Allah sesuatu yang tidak bisa kuraih, telah mendapatkan apa yang tidak bisa aku dapatkan, telah mengetahui apa yang tidak aku ketahui, dan telah mengamalkan ilmunya.”
    • Bila dia orang yang bodoh, maka katakana dalam hatimu: “orang ini durhaka kepada Allah karena kebodohannya, sedangkan aku durhaka kepada-Nya, padahal aku mengetahuinya. Aku tidak tahu dengan apa umurku akan Allah akhiri atau dengan apa umur orang bodoh itu akan Allah akhiri (apakah dengan husnul khatimah atau dengan su’ul khatimah)
    • Bila dia orang kafir, maka katakana dalam hatimu: “aku tidak tahu, bisa jadi dia akan masuk Islam,lalu menyudahi seluruh amalannya dengan amal shalih, dan bisa jadi aku terjerumus menjadi kafir, lalu meyudahi seluruh amalanku dengan amal buruk.”

    ***

    Sumber: Nashaihul Ibad, Imam Nawawi Al-Bantani

     
  • erva kurniawan 4:19 am on 11 September 2013 Permalink | Balas  

    Satu Doa Ketika Gelisah Meruyak 

    berdoa-2Satu Doa Ketika Gelisah Meruyak

    “Hasbunallah wani’mal Wakil”

    (Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung) (QS. Ali Imron 3:173)

    April kelabu di musim tak tentu. Bukankah panas yang terik dan hujan yang deras seringkali bertukar kulit di beberapa bulan terakhir ini? Pun kabar mala dan petaka di hidup keseharian kita. Semua kian akrab di telinga. Tapi April, segala ketidak menentuan itu kian berkelindan bagi beberapa persona yang dilanda musibah, yang dirundung gelisah. Dan sejumlah sahabat saya diantaranya.

    Sahabat pertama; Aziz, begitu kerap saya memanggilnya, nampak begitu layu di pertengahan April. Air mukanya keruh. Matanya mengabarkan hampa. Ia tidak lagi tampil ekspresif seperti dulu. Ia tiba-tiba menjadi sosok yang rapuh. Kepada saya, Aziz menuturkan pangkal soal kegundahannya itu: “Inilah minggu terberat dalam hidupku. Aku shock! Tanpa pemberitahuan sedikitpun, aku dan beberapa teman di PHK secara tiba-tiba. Aku stres, stres bagai petir di siang bolong”

    Saat itu, suaranya seperti menghimpun amarah, resah dan lelah dalam satu wadah, yang kemudian dihempaskan ke saya. Maka saya pun bersetia hati menjadi ‘tong sampah’-nya. Sejak itulah, saya tahu, ia menimang-nimang kegelisahan dari hari ke hari.

    Sahabat kedua; Dinda namanya. Cantik, solehah dan seorang mahasiswi S2 sebuah perguruan tinggi negeri yang tengah menanam rasa serupa; gelisah dan cemas yang tak berbeda. Di ujung telepon, saya mendengar isak tangisnya yang pilu seraya berkata: “A…a…ku tak sanggup lagi. Ha…tiku tak sanggup menampung penyesalan ini. Pa…dahal, pernikahan itu tinggal selangkah lagi. Tapi ia me..mutuskan komitmen karena hal se..pele…”

    Kala itu, getaran sesak yang merasuki dadanya juga menghujam batin saya. Setiap kata yang meluncur di bibirnya seperti kidung nestapa yang sendu. Selanjutnya, saya menerima pesan-pesan pendek (sms) kekecewaan dan kegelisahan yang belum juga musnah.

    Saya yakin, anda mahfum, kenapa Aziz dan Dinda akhirnya larut dalam kecamuk gelisah itu. Sebab setiap kata, mungkin, pernah mengecapnya di suatu masa. Terlebih bila gelisah itu sudah berkecambah di segala ranah. Ia, diam-diam, merasuki setiap lini kehidupan kita. Semua terasa buram dan muram. Kondisi inilah yang saya khawatirkan juga meruyak di ceruk-ceruk jiwa Aziz dan Dinda dan saudara-saudara seiman lainnya.

    Saya jadi teringat lirik lagu bertajuk Kembali Pada Allah yang didendangkan Opick: Bila hati gelisah / Tak tenang, tak tentram / Bila hatimu goyah / Terluka, merana / Jauhkah hati ini dari Tuhan, dari Allah? / Hilangkah dalam hati zikirku, imanku? / Hanya dengan Allah, hatimu akan menjadi tenang / Dengan mengingat Allah / Hilanglah semua kegelisahan / Cukuplah hanya Allah / Hati bergantung, berserah diri / Hasbulallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wani’ma nashir…

    Hmm. Saya tercekat di lengkingan merdu Opick tatkala ia melafalkan hasbulallah wa ni’mal wakil. Bukankah sebaris kalimat ini pernah dzikir-zikir Nabi Ibrahim ketika maut tengah mengintainya?

    Di negeri Babilonia hidup seorang raja yang sangat zalim. Namrud bin Kan’an bin Kusy, namanya. Seturut catatan sejarah, Namrud dan segenap rakyatnya adalah para penyembah patung. Konon, dalam lingkungan sosial seperti inilah Nabi Ibrahim as lahir dan tumbuh dewasa. Tak aneh bila ayahanda Ibrahim sendiri pun seorang penyembah berhala sejati. Kendati demikian, Ibrahim sendiri bukanlah sosok yang mudah manut dengan keadaan yang menyesatkan. Ia bukanlah tipikal anak yang takluk pada kehendak semena-mena orang tua. Di matanya, kebiasaan ayah dan rakyat Babilonia menjadikan benda mati sebagai Tuhan itu jelas-jelas sebuah kedunguan. Sesuatu yang tidak logis. Irasional, tak masuk akal. Maka ia pun berontak. Ia bertekad menghancurkan patung-patung sesembahan rakyat Babilonia tersebut. Dengan sebilah kapak tajam yang terhunus di tangannya, ia merangsek masuk ke tempat dimana berhala-berhala itu di pancangkan. Sejurus kemudian kapak Ibrahim telah berayun-ayun, melesat-lesat, menghantam patung-patung itu. Semua roboh, hancur berkeping-keping, kecuali satu patung yang paling besar. Di patung besar itulah, Ibrahim mengalungkan kapak sebagai sebuah taktik jitu menguji keyakinan rakyat Babilonia.

    Keesokan harinya ketika rakyat Babilonia hendak beribadah, semua tiba-tiba histeris dan terperanjat bukan kepalang melihat tuhan-tuhan mereka telah roboh dan hancur. Mereka kalap, marah dan langsung menyelidiki siapa gerangan pelakunya. Setelah mengorek informasi ke sana sini, sosok Ibrahim pun terkuak sebagai tersangka. Ia pun disidang di pengadilan babilonia. Kepada para hakim Ibrahim berkilah. Ia tidak mengakui bahwa tindakan anarki itu perbuatannya. Ia berdalih bahwa patung yang paling besar itulah yang berbuat:

    “Bukankah kapak itu tergantung di lehernya? Tanyalah padanya!” mereka tercengang dan meradang atas jawaban Ibrahim.

    “Mana bisa patung itu bicara?” jawab mereka kesal.

    Akhirnya Ibrahim berkata kembali: “Tidak bisa? Lalu kenapa kalian menyembahnya? Setan telah memperdaya kalian. Kembalilah kepada Allah! Dialah Tuhan Yang Maha Esa.”

    Namun orang-orang yang sesat memang tidak mau mengakui kekalahannya. Akhirnya, para hakim tetap memutuskan vonis mati Ibrahim dengan cara membakarnya hidup-hidup. Kita tahu, akhirnya, Ibrahim pun tak bisa melawan. Ia rela raganya dijilati api, tapi ia tidak ridho jiwanya terlalap si jago merah. Maka Ibrahim pun berpasrah diri. Pada detik-detik genting inilah, mulutnya dan hatinya basah oleh lafal ‘hasbunallah wa ni’mal wakil’ (cukup Allah sebagai penolongku, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung). Dan Allah mendengar doa lirih Ibrahim, hingga satu firman pun turun: “Hai api, jadilah dingin! Jadilah keselamatan bagi Ibrahim!” dan api itu akhirnya tak mampu melahap tubuh Ibrahim. Ia selamat. Ia menumpas segala kegundahannya bersama kekuatan Illahi yang bersemayam di qolbunya.

    Ibrahim tak sendiri. Junjungan kita, Rasulullah saw, pun mendedahkan doa senada tatkala sebagian tentaranya bersikap setengah hati menghadapi pasukan musyrik yang senjata dan bekal perangnya lebih bayak. Ternyata kata hasbunallah wa ni’mal wakil yang ditutur Rasul Muhammad saw itu langsung menepis rasa takut pasukannya sehingga mereka mengucap hal yang serupa dan iman mereka pun kian berkembang.

    Begitulah, Ibrahim dan Muhammad akhirnya mampu menggerus kecemasan jiwanya bersama energi Ilahi hasbunallah wa ni’mal wakil. Wajar bila keajaiban sukses pun berpihak di sisi mereka. Padahal kita tahu, rasa gelisah mereka adalah bahaya maha dahsyat bernama maut. Dan kita, umatnya, juga Aziz dan Dinda, kadangkala menggelepar sekarat bila sejumlah harapan duniawi kita punah sebelum waktunya. Kita tiba-tiba menjadi manusia yang paling malang. Sepi, sendiri dan hidup dalam jeri. Tidak hanya itu, kita -acapkali- menggugat Sang Kholiq: ‘Ya Allah, kenapa hal ini terjadi dalam hidupku?’ Pada titik inilah, saya pikir, lirik Opick di atas terasa menggedor-gedor nurani: Bila hati mulai goyah/ terluka, merana/ Jauhkah hati ni dari Tuhan, dari Allah?

    Kegelisahan Negatif atau Kegelisahan Positif

    Heidegger, seorang filsuf Jerman abad 20, suatu kali pernah menta’rifkan kegelisahan atau kecemasan (angst) sebagai berikut: suasana hati dasariah yang menyingkap ketakberumahan dan ketakberkampunghalaman manusia. Bila kondisi ini bermukim di dalam hati kita, maka itu sebuah proses tersingkapnya kesadaran diri kita dari ketakberumahannya kita di dunia ini.

    Oleh karena itu, rasa ini sejatinya semakin meneguhkan ihwal kefanaan manusia, ketidakkekalan dirinya di jagad dunia ini. Tak aneh, bila Allah mencap ciptaan-Nya ini sebagai makhluk yang berselimut keluh kesah dan gelisah. “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah…” (QS. Al-Ma’aarij: 19)

    Sayangnya, suasana gelisah ini seringkali menggiring manusia pada keyakinan bahwa rumah dan kampung halaman yang hakiki itu berada di dunia. Hal ini, bisa dilihat dari kenestapaan yang umumnya membuat kita larut dalam kecemasan dan kegelisahan yang parah. Saya menyebut kondisi ini dengan kegelisahan negatif, sejenis kegelisahan yang meringkus harapan dan semangat hidup seseorang untuk berani melangkah lagi. Pada titik ini, lazimnya orang akan cenderung tidak kreatif, mengeluh, marah-marah, dan bertindak impulsif. Jiwanya tidak tenang, dan hatinya rusuh oleh segenap peristiwa pahit yang menimpanya. Ia lupa bahwa kemalangan, kekecewaan dan kegelisahan ini adalah kesementaraan. Karena itulah, saya sepakat ketika filsuf Epictetus mengatakan bahwa manusia tidak diganggu oleh peristiwa-peristiwa, melainkan oleh pandangannya sendiri tentang peristiwa-peristiwa itu. Begitu pula dengan manusia yang mengelola kegelisahannya secara negatif. Ia melihat peristiwa yang tengah menyusahkannya itu semisal kutukan, selayak kelam yang berjelaga.

    Sebaliknya, bila seseorang melihat kejadihan pahit yang melandanya itu sebagai sebuah berkah, seumpama anugerah tersembunyi yang suatu saat akan menyembul tiba-tiba, maka ialah sosok yang saya sebut sebagai manusia yang memiliki kegelisahan positif. Pada titik ini, seseorang berusaha mengoptimalkan energi kreatifnya semaksimal mungkin. Ia berpikir positif, tidak mengeluh, dan tidak larut dalam kecemasan, dalam keterpurukan. Ia, menurut sufi Hazrat Salahedin Ali Nader Angha, adalah karakter yang senantiasa menganggap peristiwa-peristiwa pahit sebagai sesuatu yang tidak “buruk”, melainkan lebih merupakan pengalaman-pengalaman yang darinya kita bisa belajar untuk lebih dewasa.

    Ia percaya bahwa Sang Pemilik Maha, Allah azza wajalla, tengah menyingkap tabir mukjizat-Nya, ia yakin bahwa Allah sedang menyibak sendi-sendi rahasia-Nya hingga ia menemukan sebuah pintu keberkahan yang tidak disangka-sangkanya. Pada momen seperti inilah ia berusaha menjadi manusia yang mengaktualisasikan dirinya sebesar mungkin. Ia menggali potensi, bakat, dan kapasitas kemampuan yang selama ini dimilikinya. Bahkan seorang psikolog bernama Abraham Maslow dalam buku Motivation and Personality-nya menganggap orang-orang seperti inilah yang layak disebut orang-orang sukses.

    Dan saya yakin, kegelisahan positif ini tidak tumbuh menyelubungi jiwa seseorang begitu saja. Ia bukan sesuatu yang taken for granted. Ia hadir ketika keyakinan hati seorang hamba menerbitkan Allah di sisinya. Ia tempatkan sang Rahman sebagai Sahabat dan Penolong sejatinya seraya terus melafal-lafal hasbunallah wa ni’mal wakil di hatinya.

    Barangkali, tak aneh bila Simone Weil, intelektual kiri yang berubah menjadi seorang mistikus abad 20, berkata begini, “Bagi manusia spiritual (beriman), kemalangan menimbulkan perasaan bahwa Tuhan telah meninggalkan anda. Tetapi, jika Anda bisa bangkit dari kegelapan, iman Anda akan jadi lebih dalam dan Anda akan merasakan salah satu misteri besar kehidupan.”

    Semoga saja Aziz, Dinda, dan siapapun yang tengah dilanda gelisah tengah bersiap menyongsong datu misteri besar itu. Amin.

    ***

    Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 4:55 am on 10 September 2013 Permalink | Balas  

    Wanita Shalihah 

    wanita sholehahWanita Shalihah

    Oleh : K.H. Abdullah Gymnastiar

    Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri. MULIALAH wanita shalihah. Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan. Jika ia wafat, Allah akan menjadikannya bidadari di surga. Kemuliaan wanita shalihah digambarkan Rasulullah Saw. dalam sabdanya, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim).

    Dalam Al-Quran surat An-Nur: 30-31, Allah Swt. memberikan gambaran wanita shalihah sebagai wanita yang senantiasa mampu menjaga pandangannya. Ia selalu taat kepada Allah dan Rasul Nya. Make up- nya adalah basuhan air wudhu. Lipstiknya adalah dzikir kepada Allah. Celak matanya adalah memperbanyak bacaan Al-Quran. Wanita shalihah sangat memperhatikan kualitas

    kata-katanya. Tidak ada dalam sejarahnya seorang wanita shalihah centil, suka jingkrak-jingkrak, dan menjerit-jerit saat mendapatkan kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian intan yang penuh makna dan bermutu tinggi. Dia sadar betul bahwa kemuliaannya bersumber dari kemampuannya menjaga diri (iffah).

    Wanita shalihah itu murah senyum.

    Baginya, senyum adalah shadaqah. Namun, senyumnya tetap proporsional. Tidak setiap laki-laki yang dijumpainya diberikan senyuman manis. Senyumnya adalah senyum ibadah yang ikhlas dan tidak menimbulkan fitnah bagi orang lain. Wanita shalihah juga pintar dalam bergaul. Dengan pergaulan itu, ilmunya akan terus bertambah. Ia akan selalu mengambil hikmah dari orang-orang yang ia temui. Kedekatannya kepada Allah semakin baik dan akan berbuah kebaikan bagi dirinya maupun orang lain. Ia juga selalu menjaga akhlaknya. Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah kemampuannya memelihara rasa

    malu. Dengan adanya rasa malu, segala tutur kata dan tindak tanduknya selalu terkontrol. Ia tidak akan berbuat sesuatu yang menyimpang dari bimbingan Al-Quran dan Sunnah. Ia sadar bahwa semakin kurang iman seseorang, makin kurang rasa malunya. Semakin kurang rasa malunya, makin buruk kualitas akhlaknya.

    Pada prinsipnya, wanita shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Rambu-rambu kemuliaannya bukan dari aneka aksesoris yang ia gunakan. Justru ia selalu menjaga kecantikan dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain. Kecantikan satu saat bisa jadi anugerah yang bernilai. Tapi jika tidak hati-hati, kecantikan bisa jadi sumber masalah yang akan menyulitkan pemiliknya sendiri. Saat mendapat keterbatasan fisik pada dirinya, wanita shalihah tidak akan pernah merasa kecewa dan sakit hati. Ia yakin bahwa kekecewaan adalah bagian dari sikap kufur nikmat. Dia tidak akan merasa minder dengan keterbatasannya. Pribadinya begitu indah sehingga make up

    apa pun yang dipakainya akan memancarkan cahaya kemuliaan. Bahkan, kalaupun ia “polos” tanpa make up sedikit pun, kecantikan jiwanya akan tetap terpancar dan menyejukkan hati orang-orang di sekitarnya. Jika ingin menjadi wanita shalihah, maka belajarlah dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang kita temui. Ambil ilmunya dari mereka. Bahkan kita bisa mencontoh istri-istri Rasulullah Saw. seperti Aisyah. Ia terkenal dengan kekuatan pikirannya. Seorang istri seperti beliau bisa dijadikan gudang ilmu bagi suami dan anak-anak.

    Contoh pula Siti Khadijah, figur istri shalihah penentram batin, pendukung setia, dan penguat semangat suami dalam berjuang di jalan Allah Swt. Beliau berkorban harta, kedudukan, dan dirinya demi membela perjuangan Rasulullah. Begitu kuatnya kesan keshalihahan Khadijah, hingga nama beliau banyak disebut-sebut oleh Rasulullah walau Khadijah sendiri sudah meninggal.

    Bisa jadi wanita shalihah muncul dari sebab keturunan. Seorang pelajar yang baik akhlak dan tutur katanya, bisa jadi gambaran seorang ibu yang mendidiknya menjadi manusia berakhlak. Sulit membayangkan, seorang wanita shalihah ujug-ujug muncul tanpa didahului sebuah proses. Di sini, faktor keturunan memainkan peran. Begitu pun dengan pola pendidikan, lingkungan, keteladanan, dan lain-lain. Apa yang tampak, bisa menjadi gambaran bagi sesuatu yang tersembunyi. Banyak wanita bisa sukses. Namun tidak semua bisa shalihah. Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri. Tidak akan rugi jika seorang remaja putri menjaga sikapnya saat mereka berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Bertemanlah dengan orang-orang yang akan menambah kualitas ilmu, amal, dan ibadah kita. Ada sebuah ungkapan mengatakan, “Jika kita ingin mengenal pribadi seseorang maka lihatlah teman-teman di sekelilingnya.”

    Peran wanita shalihah sangat besar dalam keluarga, bahkan negara. Kita pernah mendengar bahwa di belakang seorang pemimpin yang sukses ada seorang wanita yang sangat hebat. Jika wanita shalihah ada di belakang para lelaki di dunia ini, maka berapa banyak kesuksesan yang akan diraih. Selama ini, wanita hanya ditempatkan sebagai pelengkap saja, yaitu hanya mendukung dari belakang, tanpa peran tertentu yang serius. Wanita adalah tiang Negara. Bayangkanlah, jika tiang penopang bangunan itu rapuh, maka sudah pasti bangunannya akan roboh dan rata dengan tanah. Tidak akan ada lagi yang tersisa kecuali puing-puing yang nilainya tidak seberapa.

    Kita tinggal memilih, apakah akan menjadi tiang yang kuat atau tiang yang rapuh? Jika ingin menjadi tiang yang kuat, kaum wanita harus terus berusaha menjadi wanita shalihah dengan mencontoh pribadi istri-istri Rasulullah. Dengan terus berusaha menjaga kehormatan diri dan keluarga serta memelihara farji-nya, maka pesona wanita shalihah akan melekat pada diri kaum wanita kita. Wallahua’lam.

    ***

    Sumber: MQ Media On Line – Kolom AaGym – Taushiah

     
  • erva kurniawan 4:55 am on 9 September 2013 Permalink | Balas  

    Penyembuhan Kanker dengan Shalat Tahajud 

    tahajudPenyembuhan Kanker dengan Shalat Tahajud

    Shalat Tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang yang melakukannya mendapatkan tempat (maqam) terpuji di sisi Allah (Qs Al-Isra:79) tapi juga sangat penting bagi dunia kedokteran. Menurut hasil penelitian Dr. Mohammad Sholeh, dosen IAIN Surabaya, salah satu shalat sunnah itu bisa membebaskan seseorang dari serangan infeksi dan penyakit kanker.

    Tidak percaya? “Cobalah Anda rajin-rajin sholat tahajjud. Jika anda melakukannya secara rutin, benar,khusuk,dan ikhlas, niscaya anda terbebas dari infeksi dan kanker”, ucap Sholeh. Ayah dua anak itu bukan “tukang obat” jalanan.

    Dia melontarkan pernyataanya itu dalam desertasinya yang berjudul “Pengaruh Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Respons ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan siko-neuroimunologi”. Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar dokt or dalam bidang ilmu kedokteranpada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, yang dipertahankannya Selasa pekan lalu.

    Selama ini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya merupakanibadah salat tambahan atau sholat sunah. Padahal jika dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya,khusuk dan ikhlas, secara medis sholat itu menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi. (coping).

    Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar menggugurkan status sholat yang muakkadah (Sunah mendekati wajib). Ia menitikberatkan pada sisi rutinitas sholat, ketepatan gerakan, kekhusukan, dan keikhlasan.

    Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai mis teri, dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol.

    Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari-atau setelah pukul 24:00- normalnya antara 69-345 nmol/liter. “Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan. Begitu sebaliknya. Ujarnya seraya menegaskan temuannya ini yang membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin.

    DR. Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian terhadap 41responden sisa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjud selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan sholat tahjjud selama dua bulan.

    Sholat dimulai pukul 02-00-3:30 sebanyak 11* rakaat, masing masing dua rakaat empat kali salam plus tiga rakaat. Selanjutnya, hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di Surabaya (paramita, Prodia dan Klinika) Hasilnya, ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin bertahajjud secara ikhlas berbeda jauh dengan orang yang tidak melakukan tahajjud.

    Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajuud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuan individual untuk menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi dengan stabil. “jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah, juga sekaligus sarat dengan muatan psikologis yang dapat mempengaruhi kontrol kognisi.

    Dengan cara memperbaiki persepsi dan motivasi positif dan coping yang efectif, emosi yang positif dapat menghindarkan seseorang dari stress,” Nah, menurut DR. Sholeh, orang stress itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infek si. Dengan sholat tahjjud yang dilakukan secara rutin dan disertai perasaan ikhlas serta tidak terpaksa,seseorang akan memiliki respons imun yang baik, yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker.

    Dan, berdasarkan hitungan tekhnik medis menunjukan, sholat tahajjud yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai ketahanan tubuh yang baik.

    “Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu dan Berkurbanlah”, (Q.S Al-Kautsar:2) Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya.

    Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita ???????

    Seorang Doktor di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu itu telah membuka sebuah klinik yang bernama “Pengobatan Melalui Al Quran” Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran.

    Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya. Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah.

    Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal. Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang waktu yang diwajibkan oleh Islam.

    Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal.

    Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya” karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.

    Kesimpulannya : Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang apalagi lagi bukan yang beragama Islam walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal.

    Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang  tidak segan-segan untuk melakukan hal hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan secara lebih normal.

    Maka tidak heranlah timbul bermacam macam gejala-gejala sosial masyarakat saat ini.

     
  • erva kurniawan 3:07 am on 8 September 2013 Permalink | Balas  

    Putus Asa 

    kerja kerasPutus Asa

    Oleh : Hidayatul Karomah

    Manusiawi apabila seseorang merasakan sedih atau kecewa atas sesuatu. Rasulullah SAW pun demikian, dalam doanya beliau senantiasa memohon supaya Abu Tholib, sang paman yang amat dicintai, dibukakan pintu hidayah untuk beriman dan memeluk Islam. Namun apa mau dikata, hingga ajal menjemput sang paman tidak juga mengucap syahadat sebagai ikrar seorang Muslim.

    Segala daya upaya telah dilakukan diiringi doa telah dipanjatkan pula, namun apa yang diharapkan tak juga menjadi kenyataan. Namun, tentu tidak tepat apabila memvonis usaha kita sia-sia.

    ”Katakanlah, Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az-Zumar [39]: 53).

    Di tengah upaya yang kita rasa telah maksimal, alangkah bijak apabila senantiasa menata batin menghadapi segala kemungkinan yang akan kita dapatkan. Kemungkinan terbaik maupun terburuk, kemungkinan berhasil maupun tidak berhasil. Ingatlah, ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah [2]: 216).

    Menata hati untuk bisa menerima apa yang tengah kita hadapi, akan lebih berarti daripada berlarut-larut dalam kesedihan yang bisa membuat jatuh dalam keputusasaan.

    Apabila seseorang telah jatuh dalam keputusasaan, pikiran menjadi kosong, hidup terasa hampa dan tak berguna lagi. Hal ini memudahkan setan menjerumuskan dalam tindakan yang sangat fatal dan berbahaya. Fatal dunia dan akhirat. Na’udzubillahi min dzalik.

    Dengan menerima secara legowo dan senantiasa berpikir positif akan membuka pikiran mencari solusi, mengurai berbagai masalah atau cobaan. Karena sesungguhnya berputus asa tak mendatangkan manfaat apa pun kecuali tumpukan kerugian demi kerugian.

    Bagaimana mengatasi keputusasaan yang telanjur datang? Ingatlah selalu Allah tidak akan menimpakan cobaan di luar kesanggupan hamba-hamba-Nya. Apa yang kita terima, mungkin terasa berat di awalnya, namun kita tak tahu hikmah apa yang terkandung di dalamnya, yang mungkin justru akan menjadi ‘penyelamat’ kita di kemudian hari. Jadi, optimislah, karena Allah selalu beserta kita.

    ***

    Republika.co.id

     
  • erva kurniawan 4:05 am on 7 September 2013 Permalink | Balas  

    Shalat, Bagaimanapun Tetap Kewajiban! 

    sujud-shalat-di-masjidShalat, Bagaimanapun Tetap Kewajiban!

    Oleh Eko Hardjanto

    ”Setiap hari kubuka mata dari tidur di pagi hari sambil sesaat termenung, aku masih hidup. Seberapa baikkah shalatku. ”

    Teringat dulu ketika manusia agung itu menahan pedih di kala sakaratul maut, inilah yang diucapkannya, “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu. ” Di luar pintu rumah Az-Zahra tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii”, “Umatku, umatku, umatku.” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang dima’sum itu.

    Mari renungkan, betapa luar biasa amal shalat, sehingga Rasulullah masih sempat mewarisi wasiat shalat di akhir hidupnya, yaitu ketika rasa sakit tak ada yang menandingi lagi.

    • Shalat, ia amal utama setelah syahadat, amal pertama diperhitungkan di akhirat.
    • Shalat, ia mencerminkan kehidupan, dengannya tercegah perbuatan keji dan mungkar.
    • Shalat, ia diperintahkan Allah langsung ketika Rasulullah Mi’raj di suatu malam.

    Lalu mari renungkan kisah para pejuang, di masa lalu, di padang pasir, di masa kini, di kegelapan hutan, di puncak gunung, dalam persembunyian.

    • Shalat, ia membuat seorang luka berdiri di waktu malam, di tengah amuk pertempuran.
    • Shalat, ia bagaikan rehat karena keringat dan darah seharian.
    • Shalat, ia sarana mengadu dan memohon pertolongan.
    • Shalat, ia sebuah amal para mujahid sebelum tiang gantungan

    Coba renungkan kisah di kala sakit di pembaringan.

    Shalat, ia dikerjakan dalam duduk, ataupun berbaring, tetap ia sebuah kewajiban.

    Dan sebuah akhir yang sangat perlu direnungkan.

    Shalat, ia dilakukan bagi manusia yang tak kuasa dalam diam, sesaat menuju pekuburan.

    Saudaraku, itulah shalat, sebuah kewajiban 17 kali ruku’ dalam sehari semalam yang seringkali tak lengkap, tanpa makna, bahkan hilang.

    Setiap hari kubuka mata dari tidur di pagi hari sambil sesaat termenung, aku masih hidup. Seberapa baikkah shalatku.

    ***

    Robbij’alni muqiimassholaati wamindzurriyati Ya Allah jadikan aku dan keturunanku orang-orang yang mendirikat sholat.

    ***

    Rotterdam, 18 Jumaadil Awwal 1428 H.

    Di balik meja kantor, hanya mendengar suara Adzan ”Islamic Finder”

     
  • erva kurniawan 4:47 am on 6 September 2013 Permalink | Balas  

    Tingkatan Manusia Ketika Shalat 

    sholat-subuhTingkatan Manusia Ketika Shalat

    Tingkatan manusia ketika shalat berbeda-beda. Ada lima tingkatan yang perlu Anda perhatikan sebagai tolok ukur, di tingkat manakah Anda berada.

    Dalam pengantar buku Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa tidak akan ada yang bisa memahami dan merasakan nilai tingkatan-tingkatan ini kecuali orang-orang yang bergerak menaiki tingkatan itu. Tahukah Anda maksud saya?

    Tingkatan Pertama

    Di sinilah letak orang-orang yang tidak menjaga waktu shalat. Ia tidak menjaga wudhu, tidak juga rukun-rukun shalat yang zhahir serta kekhusyukan. Orang semacam ini akan mendapat hukuman atas shalatnya sebagaimana disepakati oleh semua ulama.

    Tingkat Kedua

    Disini terletak orang-orang yang menjaga waktu shalat, menjaga wudhu dan juga rukun-rukun shalat yang zhahir, namun ia melalaikan kekhusyukan. Orang seperti ini akan dihisab shalatnya dengan keras.

    Kebanyakan orang berada dalam tingkatan ini. Iya, kan?

    Saya lihat Anda mulai berpikir. Ini pertanda baik, sebab Anda mulai perhatikan pada diri sendiri.

    Tingkatan Ketiga

    Di tingkat ini terletak orang-orang yang menjaga waktu shalat, menjaga wudhu, dan juga rukun-rukun shalat yang zhahir, Ia tampak berjuang gigih melawan setan. Di awal-awal tampak ia bisa khusyuk, tapi kemudian setan berhasil mencurti perhatiannya. Ia kembali melawan, dan demikian seterusnya silih berganti. Orang seperti ini akan tertutup kekurangannnya.

    Ia berjuang gigih dalam shalatnya. Tentu ia akan mendapat dua pahala, pahala shalat di bagian mana ia berhasil khusyuk dan pahala perjuangan melawan setan.

    Tingkatan semacam ini sering terjadi. Sebab seseorang akan sering mengalami perubahan keadaan, dan setan pun terus berusaha untuk mendapatkan kesempatan menggoda.

    Tingkatan Keempat

    Ditingkat ini terletak orang-orang yang menjaga waktu shalat, menjaga wudhu, menjaga rukun-rukun shalat, dan melaksanakan shalat dengan khusyuk. Ini merupakan tingkatan yang sangat tinggi, sebab ia menang melawan setan setelah perjuangan yang amat gigih. Orang seperti ini akan mendapat pahala penuh.

    Anda tampak mengatakan, “Kalau begitu inilah tingkatan yang terakhir. Maka, yang tepat adalah empat tingkatan dan bukannya lima.” Saudaraku, jangan terburu-buru. Simaklah sekarang tingkatan berikutnya:

    Tingkatan Kelima

    Tingkatan ini adalah tempat bagi orang yang menjaga penuh waktu shalat, wudhu, rukun-rukun, dan kekhusyukan. Orang ini juga menanggalkan hati dan menyerahkannya sepenuh jiwa kepada Allah SWT. Orang ini tidak lagi berada didunia. Ia ada bersama Allah. Tidak lagi terkait dengan ikatan-ikatan dunia. Ia tidak lagi melihat atau mendengar. Inilah maksud ucapan Rasulullah SAW, “Pucuk kebahagiaanku terletak di dalam shalat.” Orang semacam ini adalah orang istimewa yang dekat dengan Rabbnya.

    Sebelumnya Anda telah mengira tidak ada lagi tingkatan setelah tingkatan keempat.

    Sungguh, kebaikan orang-orangh shalih masih merupakan kejelekan bagi orang-orang istimewa. Alangkah kasihan orang yang tidak mampu merasakan kemanisan ini.!

    Saudaraku tercinta, sekarang jawab pertanyaan berikut: “Di tingkat mana Anda berada?”

    Berdoalah kepada Allah, agar Ia menjadikan Anda golongan orang-orang istimewa.

    ***

    http://www.jkmhal.com

    die *Ibadah Sepenuh Hati* Amru Khalid

     
  • erva kurniawan 5:35 am on 5 September 2013 Permalink | Balas  

    Keteladanan Shalahuddin Al-Ayyubi dalam Perang Salib 

    bendera perangKeteladanan Shalahuddin Al-Ayyubi dalam Perang Salib

    Bermula dari perebutan wilayah Palestina, peperangan pasukan Kristen-Islam berlangsung sekitar 174 tahun. Bagaimana akhlaq Islam dari peristiwa ini?

    Pemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang lelaki kami memenggal kepala-kepala musuh; lainnya menembaki mereka dengan panah-panah, sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara; lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkannya ke dalam api menyala. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Kami berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah kecil jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Biara Sulaiman, tempat dimana ibadah keagamaan kini dinyanyikan kembali. Di sana, para pria berdarah-darah disuruh berlutut dan dibelenggu lehernya.”

    Kisah di atas bukan skenario film yang fiktif, tapi sungguh-sungguh pernah terjadi. Itu adalah pengakuan seseorang bernama Raymond, salah satu serdadu Perang Salib I. Pengakuan ini didokumentasikan oleh August C Krey, penulis buku The First Crusade: The Accounts of Eye-Witnesses and Praticipants (Princeton and London: 1991).

    Bagi kaum Muslimin, Perang Salib I (1096-1099) memang menyesakkan. Menurut catatan Krey, hanya dalam tempo dua hari, 40.000 kaum Muslimin dan Yahudi di sekitar Palestina, baik pria maupun wanita, dibantai secara massal dengan cara tak berperikemanusiaan. Cara pembantaiannya tergambar dalam pengakuan Raymond di atas.

    Sepak Terjang Tentara Salib

    Sejak tentara Islam yang dipimpin Khalifah Umar bin Khattab (638 M) yang berhasil membebaskan Palestina dari dari kekaisaran Byzantium (Romawi Timur) sampai abad ke-11 M, Palestina berada di bawah pemerintahan Islam dan merupakan kawasan yang tertib dan damai. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Islam hidup bersama. Namun kedamaian itu seolah lenyap ditelan bumi begitu Tentara Salib datang melakukan invasi.

    Ceritanya bermula ketika orang-orang kekhalifahan Turki Utsmani merebut Anatolia (Asia Kecil, sekarang termasuk wilayah Turki) dari kekuasaan Raja Byzantium, Alexius I. Raja ini kemudian minta tolong kepada Paus Urbanus II, guna merebut kembali wilayah itu dari cengkeraman kaum yang mereka sebut “orang kafir”.

    Paus Urbanus II segera memutuskan untuk mengadakan ekspedisi besar-besaran yang ambisius (27 November 1095). Tekad itu makin membara setelah Paus menerima laporan bahwa Khalifah Abdul Hakim—yang menguasai Palestina saat itu—menaikkan pajak ziarah ke Palestina bagi orang-orang Kristen Eropa. “Ini perampokan! Oleh karena itu, tanah suci Palestina harus direbut kembali,” kata Paus.

    Perang melawan kaum Muslimin diumumkan secara resmi pada tahun 1096 oleh Takhta Suci Roma. Paus juga mengirim surat ke semua raja di seluruh Eropa untuk ikut serta. Mereka dijanjikan kejayaan, kesejahteraan, emas, dan tanah di Palestina, serta surga bagi para ksatria yang mau berperang.

    Paus juga meminta anggota Konsili Clermont di Prancis Selatan—terdiri atas para uskup, kepala biara, bangsawan, ksatria, dan rakyat sipil—untuk memberikan bantuan. Paus menyerukan agar bangsa Eropa yang bertikai segera bersatu padu untuk mengambil alih tanah suci Palestina. Hadirin menjawab dengan antusias, “Deus Vult!” (Tuhan menghendakinya!)

    Dari pertemuan terbuka itu ditetapkan juga bahwa mereka akan pergi perang dengan memakai salib di pundak dan baju. Dari sinilah bermula sebutan Perang Salib (Crusade). Paus sendiri menyatakan ekspedisi ini sebagai “Perang Demi Salib” untuk merebut tanah suci.

    Mobilisasi massa Paus menghasilkan sekitar 100.000 serdadu siap tempur. Anak-anak muda, bangsawan, petani, kaya dan miskin memenuhi panggilan Paus. Peter The Hermit dan Walter memimpin kaum miskin dan petani. Namun mereka dihancurkan oleh Pasukan Turki suku Seljuk di medan pertempuran Anatolia ketika perjalanan menuju Baitul Maqdis (Yerusalem).

    Tentara Salib yang utama berasal dari Prancis, Jerman, dan Normandia (Prancis Selatan). Mereka dikomandani oleh Godfrey dan Raymond (dari Prancis), Bohemond dan Tancred (keduanya orang Normandia), dan Robert Baldwin dari Flanders (Belgia). Pasukan ini berhasil menaklukkan kaum Muslimin di medan perang Antakiyah (Antiokia, Suriah) pada tanggal 3 Juni 1098.

    Sepanjang perjalanan menuju Palestina, Tentara Salib membantai orang-orang Islam. Tentara Jerman juga membunuhi orang-orang Yahudi. Rombongan besar ini akhirnya sampai di Baitul Maqdis pada tahun 1099. Mereka langsung melancarkan pengepungan, dan tak lupa melakukan pembantaian. Sekitar lima minggu kemudian, tepatnya 15 Juli 1099, mereka berhasil merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslimin. Kota ini akhirnya dijadikan ibukota Kerajaan Katolik yang terbentang dari Palestina hingga Antakiyah. .

    Teladan Shalahuddin Al-Ayyubi

    Pada tahun 1145-1147 berlangsung Perang Salib II. Namun pada peperangan ini tidak terjadi pertempuran berarti karena ekspedisi perang tentara Eropa yang dipimpin oleh Raja Louis VII dari Perancis gagal mencapai Palestina. Mereka tertahan di Iskandariyah lalu kembali ke negara asalnya.

    Perang besar-besaran baru terjadi sekitar empat dasawarsa berikutnya pada Perang Salib III (1187-1191). Pada masa itu, Kekhalifahan Islam terpecah menjadi dua, yaitu Dinasti Fathimiyah di Kairo (bermazhab Syi’ah) dan Dinasti Seljuk yang berpusat di Turki (bermazhab Sunni). Kondisi ini membuat Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima perang Dinasti Fathimiyah, merasa prihatin. Menurutnya, Islam harus bersatu untuk melawan Eropa-Kristen yang juga bahu-membahu.

    Melalui serangkaian lobi, akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil menyatukan kedua kubu dengan damai. Pekerjaan pertama selesai. Shalahuddin kini dihadapkan pada perilaku kaum Muslimin yang tampak loyo dan tak punya semangat jihad. Mereka dihinggapi penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Spirit perjuangan yang pernah dimiliki tokoh-tokoh terdahulu tak lagi membekas di hati.

    Shalahuddin lantas menggagas sebuah festival yang diberi nama peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tujuannya untuk menumbuhkan dan membangkitkan spirit perjuangan. Di festival ini dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai jihad.

    Festival ini berlangsung dua bulan berturut-turut. Hasilnya luar biasa. Banyak pemuda Muslim yang mendaftar untuk berjihad membebaskan Palestina. Mereka pun siap mengikuti pendidikan kemiliteran.

    Shalahuddin berhasil menghimpun pasukan yang terdiri atas para pemuda dari berbagai negeri Islam. Pasukan ini kemudian berhasil mengalahkan Pasukan Salib di Hittin (dekat Acre, kini dikuasai Israel) pada 4 Juli 1187. Pasukan Kristen bahkan akhirnya terdesak dan terkurung di Baitul Maqdis.

    Dua pemimpin tentara Perang Salib, Reynald dari Chatillon (Prancis) dan Raja Guy, dibawa ke hadapan Shalahuddin. Reynald akhirnya dijatuhi hukuman mati karena terbukti memimpin pembantaian yang sangat keji kepada orang-orang Islam. Namun Raja Guy dibebaskan karena tidak melakukan kekejaman yang serupa.

    Tiga bulan setelah pertempuran Hittin, pada hari yang tepat sama ketika Nabi Muhammad diperjalankan dari Mekah ke Yerusalem dalam Isra’ Mi’raj (bertepatan 2 Oktober 1187), pasukan Shalahuddin memasuki Baitul Maqdis. Kawasan ini akhirnya bisa direbut kembali oleh pasukan Islam setelah 88 tahun berada dalam cengkeraman musuh.

    Sejarawan Inggris, Karen Armstrong, menggambarkan, pada tanggal 2 Oktober 1187 itu, Shalahuddin dan tentaranya memasuki Baitul Maqdis sebagai penakluk yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang mulia. Tidak ada dendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang dianjurkan Al-Qur`an dalam surat An-Nahl ayat 127: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”

    Permusuhan dihentikan dan Shalahuddin menghentikan pembunuhan. Ini sesuai dengan firman dalam Al-Qur`an: “Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya untuk Allah. Jika mereka berhenti (memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan lagi, kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 193)

    Tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh dan tidak ada perampasan. Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Shalahuddin bahkan menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah. Ia membebaskan banyak tawanan, meskipun menyebabkan keputusasaan bendaharawan negaranya yang telah lama menderita. Saudara lelakinya, Al-Malik Al-Adil bin Ayyub, juga sedih melihat penderitaan para tawanan sehingga dia meminta Salahuddin untuk membawa seribu orang di antara mereka dan membebaskannya saat itu juga.

    Beberapa pemimpin Muslim sempat tersinggung karena orang-orang Kristen kaya melarikan diri dengan membawa harta benda, yang sebenarnya bisa digunakan untuk menebus semua tawanan. [Uskup] Heraclius membayar tebusan dirinya sebesar sepuluh dinar seperti halnya tawanan lain, dan bahkan diberi pengawal pribadi untuk mempertahankan keselamatan harta bendanya selama perjalanan ke Tyre (Libanon).

    Shalahuddin meminta agar semua orang Nasrani Latin (Katolik) meninggalkan Baitul Maqdis. Sementara kalangan Nasrani Ortodoks–bukan bagian dari Tentara Salib—tetap dibiarkan tinggal dan beribadah di kawasan itu.

    Kemenangan tentara Islam yang dipimpin Shalahuddin membuat marah dunia Kristen. Mereka kemudian mengirimkan pasukan gabungan Eropa yang dipimpin Raja Perancis Phillip Augustus, Kaisar Jerman Frederick Barbarossa dan Raja Inggris Richard “Si Hati Singa” (the Lion Heart).

    Pada masa ini pertempuran berlangsung sengit. Pada tahun 1194, Richard yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dalam sejarah Inggris, memerintahkan untuk menghukum mati 3000 orang Islam, yang kebanyakan di antaranya wanita-wanita dan anak-anak. Tragedi ini berlangsung di Kastil Acre.

    Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin secara sembunyi-sembunyi berusaha mendatanginya. Ia mengendap-endap ke tenda Richard. Begitu tiba, bukannya membunuh, malah dengan ilmu kedokteran yang hebat Shalahudin mengobati Richard hingga akhirnya sembuh.

    Richard terkesan dengan kebesaran hati Shalahuddin. Ia pun menawarkan damai dan berjanji akan menarik mundur pasukan Kristen pulang ke Eropa. Mereka pun menandatangani perjanjian damai (1197). Dalam perjanjian itu, Shalahuddin membebaskan orang Kristen untuk mengunjungi Palestina, asal mereka datang dengan damai dan tidak membawa senjata. Selama delapan abad berikutnya, Palestina berada di bawah kendali kaum Muslimin.

    ***

    Perang Salib IV berlangsung tahun 1202-1204. Bukan antara Islam dan Kristen, melainkan antara Takhta Suci Katolik Roma dengan Takhta Kristen Ortodoks Romawi Timur di Konstantinopel (sekarang Istambul, Turki).

    Pada Perang Salib V berlangsung tahun 1218-1221. Orang-orang Kristen yang sudah bersatu berusaha menaklukkan Mesir yang merupakan pintu masuk ke Palestina. Tapi upaya ini gagal total.

    Kaisar Jerman, Frederick II (1194-1250), mengobarkan Perang Salib VI (1228), tapi tanpa pertempuran yang berarti. Ia lebih memilih berdialog dengan Sultan Mesir, Malik Al-Kamil, yang juga keponakan Shalahuddin. Dicapailah Kesepakatan Jaffa. Isinya, Baitul Maqdis tetap dikuasai oleh Muslim, tapi Betlehem (kota kelahiran Nabi Isa `alaihis-salaam) dan Nazareth (kota tempat Nabi Isa dibesarkan) dikuasai orang Eropa-Kristen.

    Dua Perang Salib VII (1248-1254) dan Perang Salib VIII (1270) dikobarkan oleh Raja Perancis, Louis IX (1215-1270). Tahun 1248 Louis menyerbu Mesir tapi gagal dan ia menjadi tawanan. Perancis harus menyerahkan emas yang sangat banyak untuk menebusnya.

    Tahun 1270 Louis mencoba membalas kekalahan itu dengan menyerang Tunisia. Namun pasukannya berhasil dikalahkan Sultan Dinasti Mamaluk, Bibars. Louis meninggal di medan perang.

    Sampai di sini periode Perang Salib berakhir. Namun, beberapa sejarawan Katholik menganggap bahwa penaklukan Konstantinopel (ibukota Byzantium, Romawi Timur) oleh Sultan Muhammad II Al-Fatih dari Turki (1453) juga sebagai Perang Salib. Penaklukan Andalusia, kawasan Spanyol Selatan yang diperintah dinasti Bani Ummayyah, oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella (1492), juga dianggap Perang Salib.

    ***

    Agung Pribadi, Pambudi.

    hidayatullah.com

     
  • erva kurniawan 4:17 am on 4 September 2013 Permalink | Balas  

    Keserakahan Pria dan Wanita 

    siluet Masjid NabawiKeserakahan Pria dan Wanita

    Keserakahan menjadi sejarah tertua umat manusia. Sejak zaman nabi Adam sampai nanti hari kiamat. Keserakahan adalah menifestasi dari ego yang terlalu besar, sehingga tidak mempedulikan orang lain. Hasilnya, adalah masalah.

    Ketika nabi Adam dan ibu Hawa masih digambarkan berada di surga, mereka digelincirkan oleh setan dengan senjata keserakahan. Rayuan setan baru membuahkan hasil ketika setan mengiming-imingi Adam dan Hawa dengan kehidupan kekal abadi. Ya, mereka bakal bisa hidup kekal kalau memakan buah Khuldi…

    Padahal itu adalah ‘buah larangan’. Dilarang oleh Allah. Akan tetapi karena iming-iming memperoleh kehidupan kekal abadi, Adam dan Hawa pun ‘nekat’ melanggar perintah itu. Maka terbukalah aurat mereka berdua. Mereka, kemudian menutupinya dengan daun-daun surga. Allah menggolongkan mereka sebagai orang-orang yang mendurhakai perintah Allah. Dan tersesatlah mereka karenanya. Menuai masalah.

    QS. Al Baqarah (2): 35

    Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.

    QS. Thaahaa (20): 115

    Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.

    QS. Thaahaa (20): 120-121

    Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

    Maka keduanya memakan buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.

    Untungnya, Allah adalah Dzat Yang Maha Mengampuni dan Maha Menyayangi. Allah mengampuni kesalahan itu. Dan kemudian memasukkan mereka ke dalam golongan hamba-hambaNya yang bertaubat dan golongan hamba-hamba yang saleh.

    QS. Al A’raaf (7): 23

    Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.

    Coba cermati, betapa dahsyatnya kekuatan keserakahan yang ada di dalam diri manusia. Dan ini telah bersemayam di dalam jiwa kita sejak awal. Maka, kalau kita tidak waspada, setan akan dengan mudah menggelincirkan kita sebagaimana telah menggelincirkan Adam dan Hawa.

    Kisah keserakahan ini terulang kembali pada anak keturunan Adam. Pada generasi kedua manusia, yaitu antara Qabil dan Habil. Keduanya adalah anak-anak Adam & Hawa. Qabil membunuh saudaranya, Habil, karena iri dan serakah terhadap apa yang dianugerahkan Allah kepada Habil. Ia tak bisa melawan nafsu serakahnya, maka ia pun tergelincir oleh tipu daya setan.

    Cerita ini diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, agar kita bisa mengambil pelajaran darinya. Bahwa keserakahan selalu menghasilkan masalah, penyesalan dan penderitaan.

    QS. Al Maa’idah (5): 27

    Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.

    QS. Al Maa’idah (5): 30

    Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.

    Cerita keserakahan yang lain terjadi pada jaman nabi Musa, yaitu Qarun. Ia adalah tokoh legendaris yang sangat kaya raya, sekaligus mewakili watak keserakahan dan kesombongan. Maka Allah membenamkan Qarun beserta harta bendanya ke dalam bumi lewat kejadian gempa.

    Permukaan Bumi retak-retak dan merekah, menelan seluruh harta bendanya. Sekaligus dirinya. Sehingga, kini, kalau ada orang menemukan harta benda yang terpendam di dalam tanah, mereka menyebutnya sebagai harta Karun.

    QS. Qashash (28): 76

    Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”.

    QS. Qashash (28): 81

    Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Ddan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).

    Dalam sejarah modern, bukan hanya lelaki yang menunjukkan keserakahan, melainkan juga para wanita. Barangkali ini terkait dengan gerakan emansipasi yang semakin menguat di jaman modern.

    Meskipun, sejarah keserakahan itu telah terjadi di abad-abad terdahulu di negara-negara tua seperti Mesir, Romawi, India, China dan Eropa dalam bentuk yang berbeda. Mereka biasanya muncul di belakang layar. Di balik kekuasaan raja atau penguasa tertentu yang telah bertekuk lutut kepadanya…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:07 am on 3 September 2013 Permalink | Balas  

    Permata dalam Hati Kita 

    restianti-siluetPermata dalam Hati Kita

    Setiap musibah ternyata selalu memberikan hikmah tersendiri. Ledakan bom di hotel JW Marriot adalah salah satu contohnya. Banyak eksekutif yang merasa was-was untuk pergi makan siang, apalagi berperilaku ”macam-macam” pada jam makan siang. Tidak sedikit pula yang kembali menekuni agama.

    Seorang eksekutif mengirimkan e-mail berjudul ”Betapa Dekatnya Kita dengan Maut.” Ia bercerita mengenai suaminya yang luput dari tragedi itu. Ia pun berpesan kepada teman-temannya untuk benar-benar menghargai waktu yang ada dan hidup rukun dengan orang-orang yang kita sayangi. ”Kita tidak pernah tahu bagaimana akhir perjalanan hidup kita,” ujarnya.

    Seorang sekretaris yang luput dari kejadian itu juga mengirimkan e-mail bernada serupa. Siang itu ia bersama 29 sekretaris dari berbagai perusahaan memenuhi undangan pihak hotel untuk makan siang di Kafe Syailendra. Namun, makan siang tersebut tertunda karena anggota rombongan masih ingin melihat beberapa area hotel. Di saat itulah bom meledak. Kafe Syailendra hancur. Pada saat-saat kritis itulah di tengah reruntuhan kaca, bau mesiu, lumuran darah, suara sirene dan histeris dari semua orang ia benar-benar merasakan kehadiran Tuhan.

    Mengingat kematian memang merupakan cara paling efektif untuk menjadi sadar dan terbangun. Inilah satu-satunya hal yang paling pasti di dunia ini. Kematian juga tidak ada kaitannya dengan usia, kesehatan, dan jenis pekerjaan. Karena itu, siapapun Anda, Anda begitu dekat dengan kematian!

    Sayang, kesadaran seperti ini seringkali hilang seiring dengan berjalannya waktu. Kita mulai melupakannya, tenggelam dalam rutinitas, dan kembali ”tertidur” sampai sebuah musibah lain datang kembali ”membangunkan” kita.

    Persoalannya, kenapa kita sering berada dalam keadaan ”tertidur?” Kita sering tertidur karena kita tidak berusaha menyelami diri kita sendiri. Kita tidak terbiasa berkaca, melihat ke dalam diri, dan melakukan refleksi. Kita ”bangun” hanya karena terkejut, kemudian kita pun ”tertidur” kembali. Memang, selama Anda tidak dapat menyelami diri sendiri, rutinitas dan keseharian Anda akan segera menutup celah untuk meniti ke dalam diri. Dan, peristiwa-peristiwa yang mengagetkan tadi akan segera terlupakan.

    Untuk melakukan perjalanan ke dalam, kita memang harus meluangkan waktu untuk merenung dan mengambil jarak dari kesibukan kita. Lihatlah diri Anda sendiri, dan tanyakan tiga pertanyaan penting: ”Siapakah aku?,” ”Mengapa aku ada di sini?,” dan ”Kemana aku akan pergi?” Dengan menjawabnya Anda akan menemukan makna hidup ini. Dan, begitu menemukannya, Anda akan merasa tenang dan lapang. Anda dapat melihat dunia dengan kacamata yang berbeda. Dan yang pasti, Anda kini sudah benar-benar hidup!

    Manusia memang telah diciptakan dengan sempurna. Buktinya, semua perlengkapan yang kita perlukan untuk hidup bahagia sudah ada dalam diri kita sendiri. Bahkan, semua jawaban terhadap persoalan apapun sudah tersedia di sana.

    Kekayaan batin yang kita miliki luar biasa banyaknya. Sayang, banyak orang yang tidak menyadari hal ini. Mereka sibuk mengumpulkan benda, uang, jabatan. Mereka menyangka akan lebih bahagia bila memiliki lebih banyak harta. Namun, kenyataannya tidaklah demikian. Mereka selalu merasa kurang.

    Bahkan, semakin menumpuk kekayaan, semakin mereka ingin lebih dan lebih lagi. Orang seperti ini sesungguhnya adalah orang yang miskin. Orang ”kaya” yang sebenarnya adalah mereka yang membutuhkan paling sedikit. Mereka sudah cukup puas karena telah menemukan kekayaan berlimpah di dalam diri mereka sendiri. Mereka benar-benar sadar bahwa permata yang asli terdapat di dalam jiwa kita sendiri.

    Semua kekayaan yang kita butuhkan untuk hidup bahagia sudah tersedia di dalam diri kita. Kalaupun kita masih membutuhkan hal-hal di luar itu, jumlahnya tidak banyak. Kalau Anda memiliki sandang, pangan, dan papan saja, itu sudah cukup! Bukannya saya hendak menghibur Anda, apalagi diri saya sendiri. Saya hanya mengatakan yang sebenarnya. Apa yang Anda miliki itu sudah cukup. Sangat cukup untuk hidup bahagia.

    Ini bukan berarti kita tidak boleh mengumpulkan harta. Silakan teruskan usaha dan bisnis Anda. Mengumpulkan harta untuk dapat berbagi dengan orang lain adalah tindakan mulia. Tapi, jangan pernah lupa akan kekayaan yang tidak ternilai dalam jiwa Anda sendiri. Jarang ada orang yang kaya secara fisik dan masih memelihara ketentraman batin.

    Biasanya kesibukan dengan dunia luar membuat kita lupa pada dunia dalam. Banyak orang kaya yang sebenarnya sangat menderita. Orang-orang ini sering berpura-pura bahagia di depan kamera televisi. Padahal, mereka selalu resah dan dibayangi ketakutan sepanjang hidupnya.

    Kekayaan fisik sering membuat kita terputus dari sumber kebahagiaan yang sejati. Kita kehilangan akses dengan jiwa kita beserta kekayaan yang terpendam di dalamnya. Padahal, kekayaan ini tidak terbatas dan dapat Anda akses kapanpun Anda mau. Di dalam jiwa inilah bersemayam sumber segala kebahagiaan. Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

    ***

    Arvan Pradiansyah, penulis buku You Are A Leader!

     
    • vanerz88 12:09 pm on 3 September 2013 Permalink

      Aku berlindung kpd allah dari kehidupan yg melalaikan

  • erva kurniawan 3:55 am on 2 September 2013 Permalink | Balas  

    Tiga Kunci Hidup yang Bahagia 

    hamdalahTiga Kunci Hidup yang Bahagia

    Apakah rahasia hidup yang bahagia itu? Banyak orang yang mengidentikkan kebahagiaan dengan segala sesuatu yang berada di luar kita, seperti harta benda yang kita miliki. Apakah Anda akan berbahagia jika mempunyai rumah yang indah, mobil mewah, penghasilan yang berlimpah, dan pasangan hidup dan anak-anak yang tampan dan cantik? Mungkin Anda akan mengatakan ”ya.” Tapi, percayalah itu tidak akan berlangsung lama.

    Kebahagiaan yang disebabkan hal-hal di luar kita adalah kebahagiaan semu. Kebahagiaan itu akan segera hilang begitu Anda berhasil memiliki barang tersebut. Anda melihat kawan Anda membeli mobil mewah, handphone yang canggih, atau sekadar baju baru. Anda begitu ingin memilikinya.

    Anehnya, begitu Anda berhasil memilikinya, rasa bahagia itu segera hilang. Anda merasa biasa-biasa saja. Bahkan, Anda mulai melirik orang lain yang memiliki barang yang lebih bagus lagi daripada yang Anda miliki. Anda kembali berangan-angan untuk memilikinya. Demikianlah seterusnya. Dan Anda tidak akan pernah bahagia.

    Budha Gautama pernah mengatakan, ”Keinginan-keinginan yang ada pada manusia-lah yang seringkali menjauhkan manusia dari kebahagiaan.” Ia benar. Kebahagiaan adalah sebuah kondisi tanpa syarat. Anda tidak perlu memiliki apapun untuk berbahagia. Ini adalah sesuatu yang sudah Anda putuskan dari awal.

    Coba katakan pada diri Anda sendiri, ”Saya sudah memilih untuk bahagia apapun yang akan terjadi.” Anda akan merasa bahagia walaupun tidak memiliki harta yang banyak, walaupun kondisi di luar tidak sesuai dengan keinginan Anda. Semua itu tidak akan mengganggu karena Anda tidak menempatkan kebahagiaan Anda disana.

    Kebahagiaan yang hakiki terletak di dalam diri Anda sendiri. Inti kebahagiaan ada pada pikiran Anda. Ubahlah cara Anda berpikir dan Anda akan segera mendapatkan kebahagiaan dan ketentraman batin.

    Ada tiga pikiran yang perlu senantiasa Anda tumbuhkan. Saya mendapatkan gagasan mengenai tiga kunci kebahagiaan ini setelah merenungkan arti tasbih, tahmid dan takbir yang kita ucapkan tiap hari tapi sering tanpa makna yang mendalam. Saya kira ajaran seperti ini bukan hanya kita temukan dalam Islam saja, tetapi juga dalam ajaran agama yang lain.

    Kunci pertama kebahagiaan adalah rela memaafkan. Coba renungkan kata subhanallah. Tuhanlah yang Maha Suci, sementara manusia adalah tempat kesalahan dan kealpaan. Kesempurnaan manusia justru terletak pada ketidaksempurnaannya. Dengan memahami konsep ini, hati Anda akan selalu terbuka untuk memaafkan orang lain.

    Seorang dokter terkenal Gerarld Jampolsky menemukan bahwa sebagian besar masalah yang kita hadapi dalam hidup bersumber dari ketidakmampuan kita untuk memaafkan orang lain. Ia bahkan mendirikan sebuah pusat penyembuhan terkemuka di Amerika yang hanya menggunakan satu metode tunggal yaitu, rela memaafkan!

    Kunci kedua adalah bersyukur. Coba renungkan kata alhamdulillah. Orang yang bahagia adalah orang yang senantiasa mengucapkan alhamdulillah dalam situasi apapun. Ini seperti cerita seorang petani miskin yang kehilangan kuda satu-satunya. Orang-orang di desanya amat prihatin terhadap kejadian itu, namun ia hanya mengatakan, alhamdulillah.

    Seminggu kemudian kuda tersebut kembali ke rumahnya sambil membawa serombongan kuda liar. Petani itu mendadak menjadi orang kaya. Orang-orang di desanya berduyun-duyun mengucapkan selamat kepadanya, namun ia hanya berkata, alhamdulillah.

    Tak lama kemudian petani ini kembali mendapat musibah. Anaknya yang berusaha menjinakkan seekor kuda liar terjatuh sehingga patah kakinya. Orang-orang desa merasa amat prihatin, tapi sang petani hanya mengatakan, alhamdulillah. Ternyata seminggu kemudian tentara masuk ke desa itu untuk mencari para pemuda untuk wajib militer. Semua pemuda diboyong keluar desa kecuali anak sang petani karena kakinya patah. Melihat hal itu si petani hanya berkata singkat, alhamdulillah.

    Cerita itu sangat inspiratif karena dapat menunjukkan kepada kita bahwa apa yang kelihatannya baik, belum tentu baik. Sebaliknya, apa yang kelihatan buruk belum tentu buruk. Orang yang bersyukur tidak terganggu dengan apa yang ada di luar karena ia selalu menerima apa saja yang ia hadapi.

    Kunci ketiga kebahagiaan adalah tidak membesar-besarkan hal-hal kecil. Coba renungkan kalimat Allahu akbar. Anda akan merasa bahwa hanya Tuhanlah yang Maha Besar dan banyak hal-hal yang kita pusingkan setiap hari sebenarnya adalah masalah-masalah kecil. Masalah-masalah ini bahkan tidak akan pernah kita ingat lagi satu tahun dari sekarang.

    Penelitian mengenai stres menunjukkan adanya beberapa hal yang merupakan penyebab terbesar stres, seperti kematian orang yang kita cintai, kecelakaan lalu lintas, dan sebagainya. Hal-hal seperti ini bolehlah Anda anggap sebagai hal yang ”agak besar.” Tapi, bukankah hal-hal ini hanya kita alami sekali-sekali dan pada waktu-waktu tertentu? Kenyataannya, kebanyakan hal-hal yang kita pusingkan dalam hidup sebenarnya hanyalah masalah-masalah kecil.

    ***

    Oleh: Arvan Pradiansyah

    Dosen UI & Pengamat Manajemen SDM

     
  • erva kurniawan 4:54 am on 1 September 2013 Permalink | Balas  

    Berikan, dan Lupakan! 

    sedekahBerikan, dan Lupakan!

    Suatu malam hujan turun dengan lebat diiringi angin kencang dan petir yang menyambar-nyambar. Malam itu telepon berdering di rumah seorang dokter. ”Istri saya sakit,” terdengar suara minta pertolongan. ”Dia sangat membutuhkan dokter segera.

    ” Si dokter menjawab, ”Dapatkah bapak menjemput saya sekarang? Mobil saya sedang masuk bengkel.” Mendengar jawaban itu, lelaki tersebut menjadi berang. ”Apa?!” katanya dengan marah. ”Saya harus pergi menjemput dokter pada malam yang berhujan lebat seperti ini?”

    Coba Anda renungkan cerita inspiratif diatas. Kita senantiasa meminta sesuatu kepada orang lain, sayangnya, kita seringkali lupa untuk memberi. Kita tak sadar bahwa apapun yang kita berikan sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri, bukan untuk siapa-siapa.

    Di dunia ini tak ada yang gratis. Segala sesuatu ada harganya. Seperti halnya membeli barang, Anda harus memberi terlebih dahulu sebelum meminta barang tersebut. Kalau Anda seorang penjual, Anda pun harus memberikan pelayanan dan menciptakan produk sebelum meminta imbalan jasa Anda. Inilah konsep ”memberi sebelum meminta” yang sayangnya sering kita lupakan dalam kehidupan sehari-hari.

    Padahal ”memberi sebelum meminta” adalah sebuah hukum alam. Kalau Anda ingin anak Anda mendengarkan apa yang Anda katakan, Andalah yang harus memulai dengan mendengarkan keluh kesah mereka. Kalau Anda ingin karyawan atau bawahan Anda bekerja dengan giat, Andalah yang harus memulai dengan memberikan perhatian, dan lingkungan kerja yang kondusif. Kalau Anda ingin disenangi dalam pergaulan, Anda harus memulainya dengan memberikan bantuan dan keperdulian kepada orang lain.

    Orang yang tak mau memberi adalah mereka yang senantiasa dihantui perasaan takut miskin. Inilah orang-orang yang ”miskin” dalam arti yang sesungguhnya. Padahal, di dunia ini berlaku hukum kekekalan energi. Kalau Anda memberikan energi positif kepada dunia, energi itu tak akan hilang. Ia pasti kembali kepada Anda.

    Persoalannya, banyak orang mengharapkan imbalan perbuatan baiknya langsung dari orang yang ditolongnya. Ini suatu kesalahan. Dengan melakukan hal itu, Anda justru membuat bantuan tersebut menjadi tak bernilai. Anda mempraktikkan manajemen ”Ada Udang Di Balik Batu.” Anda tak ikhlas dan tak tulus. Ini pasti segera dapat dirasakan oleh orang yang menerima pemberian Anda. Jadi, alih-alih menciptakan kepercayaan pemberian Anda malah akan menghasilkan kecurigaan.

    Agar dapat efektif, Anda harus berperilaku seperti sang surya yang memberi tanpa mengharapkan imbalannya. Untuk itu tak cukup memberikan harta saja, Anda juga harus memberikan diri Anda, dari hati Anda yang paling dalam. Jangan pernah memikirkan imbalannya. Anda hanya perlu percaya bahwa apapun yang Anda berikan suatu ketika pasti kembali kepada Anda. Ini merupakan suatu keniscayaan, suatu hukum alam yang sejati.

    Sebetulnya semua orang di dunia ini senantiasa memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Namun, kita dapat membedakannya menjadi dua tipe orang. Orang pertama kita sebut sebagai orang yang egois. Merekalah orang yang selalu meminta tetapi tak pernah memberikan apapun untuk orang lain. Orang ini pasti dibenci dimana pun ia berada.

    Jenis orang kedua adalah orang yang juga mementingkan diri sendiri, tetapi dengan cara mementingkan orang lain. Mereka membuat orang lain bahagia agar mereka sendiri menjadi bahagia. Ini sebenarnya juga konsep mementingkan diri sendiri tetapi sudah diperhalus. Kalau Anda selalu memberikan perhatian dan bantuan kepada orang lain, banyak orang yang akan menghormati dan membantu Anda. Kalau demikian, Anda sebenarnya sedang berbuat baik pada diri Anda sendiri.

    Bagaimana kalau Anda membaktikan diri Anda untuk menolong anak-anak terlantar dan orang-orang miskin? Ini pun sebenarnya adalah tindakan ”mementingkan diri sendiri dengan cara mementingkan orang lain.” Anda mungkin tak setuju dan mengatakan, ”Bukankah saya tidak mendapatkan apa-apa. Saya kan bekerja dengan sukarela.

    ” Memang benar, Anda tidak mendapatkan apa-apa secara materi, tetapi apakah Anda sama sekali tidak mendapatkan apa-apa? Jangan salah, Anda tetap akan mendapatkan sesuatu yaitu kepuasan batin. Kepuasan batin inilah yang Anda cari. Anda membantu orang lain supaya mendapatkan hal ini.

    Jadi, apapun yang kita lakukan di dunia ini semuanya adalah untuk kepentingan kita sendiri. Orang-orang yang egois sama sekali tak memahami hal ini. Mereka tak sadar bahwa mereka sedang merusak diri mereka sendiri.

    Sementara orang-orang yang baik budinya sadar bahwa kesuksesan dan kebahagiaan baru dapat dicapai kalau kita membuat orang lain senang, menang, dan bahagia. Hanya dengan cara itulah kita akan dapat menikmati kemenangan kita dalam jangka panjang. Inilah hukum Menang-Menang (win-win) yang berlaku dimana saja, kapan saja dan untuk siapa saja.

    ***

    Oleh: Arvan Pradiansyah, penulis buku You Are A Leader!

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: