Updates from Desember, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:49 am on 31 December 2012 Permalink | Balas  

    Sudahkah anda bersukur 

    Sudahkah anda bersukur

    Musim terus berganti, waktu terus berlalu, usia kian bertambah. Banyak yang sudah kita lalui di kehidupan ini. Ada masa dimana kita merasa senang. Tatkala Anda menemukan pekerjaan idaman Anda, mendapatkan promosi, dan terus menapaki tangga karir yang lebih tinggi dengan fasilitas yang lebih baik pula, Anda memiliki perasaan senang. Ini mungkin merupakan salah satu titik puncak dalam kehidupan Anda. Dunia seakan sangat indah masa itu.

    Tak dapat dielakkan, ada pula masa dimana Anda mengalami begitu banyak masalah. Anda merasa sangat tertekan. Proyek Anda mengalami hambatan ini dan itu, atasan Anda terus menuntut Anda dengan kinerja tertentu, persoalan rumah tangga, kejenuhan dan lain sebagainya. Pada titik ini, Anda menjadi sangat bingung, konsentrasi Anda terpecah, wajah Anda muram, dan antusiasme serta semangat Anda semakin menurun.

    Musim boleh berganti, waktu boleh berlalu, tapi Anda harus terus belajar menjadi orang yang bijak. Bila Anda sedang melalui masa-masa yang senang, apa yang Anda lakukan? Anda tentunya bersyukur. Bila Anda sedang melalui badai dalam hidup Anda, apa yang Anda lakukan? Biasanya, mengeluh. Setiap manusia normal, pasti pernah mengeluh. Memang hal tersebut bukan sesuatu yang salah, tapi mengeluh juga bukan sesuatu yang baik dan bijak. Anda merasa kecewa, Anda merasa jenuh, bahkan Anda marah terhadap orang lain sebagai manifestasi dari permasalahan yang Anda hadapi. Jelas ini tidak baik bagi mental Anda. Lalu apa yang harus Anda lakukan?

    Yang harus Anda lakukan adalah BERSYUKUR.

    Mari kita ubah paradigma berpikir kita. Anda harus mensyukuri segala permasalahan yang terjadi dalam hidup Anda. Jadilah orang yang memiliki sikap yang positif. Sebagian dari Anda (yang memiliki sikap negatif) mungkin akan berpikir ” Ah, teori… Ngomong sih gampang… Belum tau aja.” Kalau Anda berpikir demikian, tidak apa, Anda dapat terus melanjutkan kehidupan dengan cara-cara lama dan paradigma Anda sendiri. It’s your life anyway. Sebagian lagi dari Anda (yang memiliki sikap positif atau memiliki keinginan untuk berubah) akan bertanya “Saya mau, bagaimana caranya?”

    Mulailah dengan hal-hal kecil yang dapat menjadi latihan mental bagi Anda.

    • Bersyukur atas hari ini. Anda memiliki Anda masih dapat bernafas sementara banyak orang yang untuk bernafas saja masih memerlukan bantuan. (lihat di rumah sakit)
    • Bersyukur atas hari ini. Anda memiliki pekerjaan sementara banyak orang terpaksa harus mengemis untuk hidup. (lihat di jalanan, anak-anak dan orangtuanya mengemis)
    • Bersyukur atas hari ini. Anda dapat mengenyam pendidikan yang layak sementara banyak orang yang membacapun tidak bisa. (lihat di daerah terpencil tanpa sekolah)
    • Bersyukur atas hari ini. Anda masih dapat makan enak sementara di belahan dunia yang lain banyak orang yang menjadi kurus kering dan kurag gizi (lihat berita di TV yang terjadi di Afrika)
    • Bersyukur atas hari ini. Bersyukur karena Anda mengalami masalah. Bersyukur karena masalah diperkenankan terjadi dalam hidup Anda. Bersyukur karena masalah hadir membantu untuk membentuk pribadi Anda.

    Ambil waktu tenang sejenak di sela-sela kesibukan Anda atau mungkin malam hari sebelum Anda tidur. Pejamkan mata Anda agar dapat lebih berkonsentrasi. Lakukan refleksi diri. Lihat kembali perjalan hidup Anda. Mengapa Anda ada di sini saat ini? Berapa banyak sudah hal-hal luar biasa, hal-hal baik dan positif yang terjadi pada hidup Anda? Syukurilah. Lihat juga berapa banyak permasalahan yang muncul dan sudah Anda lalui? Syukurilah. Rasakan di setiap detik kehidupan Anda.

    Bersyukurlah karena badai pasti berlalu. Ingat, ada musim berikutnya dalam hidup Anda. Ada babak baru di hadapan Anda. Siapkan diri Anda untuk musim yang baru dengan sejuta keindahan di dalamnya.

    ***

    Oleh Erwin Arianto,SE

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 30 December 2012 Permalink | Balas  

    Belajarlah dari Khadijah 

    Belajarlah dari Khadijah

    Oleh: Fatimah Usman

    ”ALLAH tidak menganugerahkan kepadaku seorang istri sebagai pengganti yang lebih baik daripada Khadijah ra. Dia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkari kenabianku; dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakan diriku; dia membantuku dengan harta kekayaannya ketika orang lain tidak mau memberiku, dan dari rahimnya Allah menganugerahkan anak-anak bagiku, bukan dari perempuan lain.”

    Demikian terjemahan dari Sabda Rasulullah Muhammad SAW yang seringkali didengar oleh para sahabat beliau, termasuk oleh istri beliau sesudahnya, Aisyah, sehingga dia sangat cemburu kepada Khadijah sekalipun sudah almarhum.

    Khadijah adalah seorang istri yang penuh dengan sifat keibuan, mampu menjadi pelipur lara di saat sang suami (waktu itu belum menjadi nabi) mengalami kehausan kasih sayang karena sejak kecil sudah yatim-piatu. Beliau istri yang penyabar dan penuh perhatian, sekalipun suami (Muhammad) suka pergi untuk ber-tahannuts (menyendiri dan merenung) di gua-gua di luar Kota Makkah. Beliau sebagai penyejuk dan penenang jiwa, termasuk saat suaminya pulang ke rumah di pagi buta dalam keadaan ketakutan. Tubuhnya gemetar, dengan wajah yang pucat pasi dan terbata-bata menceriterakan kejadian dahsyat yang baru saja dialami.

    Di Gua Hira malam itu, Muhammad didatangi seseorang yang belum pernah dikenalnya, yang ternyata malaikat Jibril. Melalui Jibril, beliau menerima lima ayat dari surat Al-‘Alaq, yang terjemahnya: ”Bacalah (hai Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari sesuatu yang menggantung. Bacalah, dan Tuhanmu yang Paling Mulia yang telah mengajari dengan pena. Mengajari manusia, apa saja yang tidak diketahuinya.”

    Ketakutan dan kegelisahan suami seketika lenyap di saat Khadijah merangkul dan mendekap ke dada beliau dengan sikap lembut dan dengan kata-kata yang menghibur, sehingga tenanglah hati Muhammad sampai tertidur di sampingnya.

    Di saat itulah, Khadijah diam-diam mengunjungi saudaranya yang bernama Waraqah bin Naufal, dan menceriterakan kejadian yang telah dialami suami, dan beliau memperoleh kepastian bahwa Muhammad telah dipilih oleh Allah menjadi Nabi!

    Rasa syukur bercampur kagum dan cinta, ingin sekali beliau menyampaikan perasaan itu secepatnya kepada suami. Maka di saat sang suami menyatakan bahwa dirinya diperintahkan untuk mengajak manusia menyembah hanya kepada Allah, dan ”siapakah kiranya orang yang mau kuajak?”, Khadijah segera menjawab dengan mantap penuh keyakinan: ”Aku yang menyambut ajakanmu wahai Muhammad! Ajaklah aku sebelum mengajak orang lain, aku mengaku Islam, membenarkan kerasulanmu dan mengimani Tuhanmu.”

    Tidak hanya sebagai mukmin-mukminah pertama, Khadijah juga merelakan seberapa pun harta bendanya dipergunakan untuk membiayai dakwah yang penuh hambatan. Beliau yang terkenal sebagai pengusaha ekspor-impor yang disegani kala itu, kaya raya, dan bangsawan, sama sekali tak keberatan ketika harus meninggalkan kemegahannya untuk hidup mengungsi ke Syi’ib Abu Thalib yang sangat sederhana, demi menyelamatkan agama barunya dari amukan kaum Quraisy.

    Siksaan dan penindasan dari kafir (Quraisy) yang menabuh genderang perang, bertahun-tahun beliau alami bersama keluarga, namun ketabahan dan kesetiaan beliau kepada suami dan perjuangannya tetap mengagumkan setiap orang. Belum lagi lelabuh beliau dalam melahirkan dan mendidik enam putra-putri Rasulullah Muhammad SAW yang sangat dicintai, yakni: Qasim, Abdullah (keduanya meninggal di saat kecil), Zaynab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, dan Fathimah.

    Seperempat abad Khadijah membuktikan dirinya sebagai istri shalihah. Oleh karenanya secara jujur Rasulullah mengakui, keberadaannya tak pernah tergantikan! Jiwanya tetap hidup meski jasadnya telah wafat, bayangannya tetap menyertai sepanjang kehidupan Rasulullah. Hal itu terlihat, setiap beliau bercerita atau mendengar nama Khadijah disebut, wajah beliau langsung berbinar-binar bahagia. Cinta kasih beliau kepada Khadijah menjadikan beliau tak pernah menduakannya.

    Keteladanan seorang ummul mukminin yang akan tetap abadi sepanjang sejarah hidup umat Islam di dunia. Seorang istri yang siap hidup bersama suami dalam suka dan dukanya, dalam sehat dan sakitnya, dalam penindasan dan pengagungannya. Istri yang siap menjadi bemper bagi perjuangan suci sang suami, tanpa rasa takut akan risiko besar yang harus dihadapinya. Istri yang senantiasa memiliki semangat untuk menyinkronkan setiap langkah positif suaminya (bukan hanya sebatas mendukung), sehingga upaya seiring-sejalan dalam mengarungi hidup lebih mudah dilakukan, sekalipun pada dasarnya memiliki perbedaan-perbedaan yang sangat jelas.

    ***

    Penulis adalah dosen IAIN Walisongo Semarang.

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 29 December 2012 Permalink | Balas  

    Bersaksilah Karena Allah 

    Bersaksilah Karena Allah

    Allah berfirman, “Hendaklah kalian tegakkan persaksian karena Allah.” (QS. Ath-Thalaq: 2)

    Jangan bersaksi karena hanya ingin disebut orang yang berkata benar. Jadikanlah persaksian dan ucapan Anda karena Allah, dengan mengharap pahala dan ridha-Nya.

    Jika Anda belajar, jadikan belajar itu hanya karena Allah, jika berjihad, jadikan jihad itu hanya karena Allah. Jika berderma, jadikan derma itu hanya karena Allah.

    Jika Anda belajar karena ingin disebut sebagai seorang intelektual, maka api neraka telah menyala untuk Anda. Begitu juga jika berjihad agar disebut sebagai pejuang; dan berderma agar disebut dermawan. Karena itu, ada sebuah hadits yang menguraikan soal itu:

    Dalam riwayat Muslim, dari Abu Hurairah ra.; “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, `Sesungguhnya orang yang pertama kali disidang pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Dia akan dihadapkan pada nikmat-nikmatnya dan dia mengenalnya. (Allah) berkata, `Apa yang engkau lakukan dengan itu semua?’ `Aku telah berperang demi Engkau, hingga aku mati syahid. (Allah) berkata, `Engkau bohong! Engkau berperang agar disebut sebagai orang yang pemberani.’ Kemudian orang itu diseret kedalam api neraka. Kemudian orang yang belajar ilmu, mengajarkannya dan membaca Al- Qur’an. Dia dihadapkan kepada nikmat-nikmatnya dan dia mengenalnya. (Allah) berkata, `Apa yang engkau lakukan dengan semua ini?’ `Aku telah belajar ilmu, mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an demi Engkau,’ jawabnya. (Allah) berkata, `Engkau bohong! Engkau belajar agar dikatakan sebagai orang yang pintar dan engkau membaca Al- Qur’an agar dikatakan sebagai seorang qari’ (pembaca Al-Qur’an). Kemudian orang itu diseret kedalam api neraka. Kemudian orang yang diluaskan rizkinya oleh Allah. Dia dihadapkan kepada nikmat- nikmatnya dan dia mengenalnya. (Allah) berkata, `Apa yang engkau lakukan dengan ini semua?’ `Aku selalu mendermakannya demi Engkau di jalan yang Engkau suka.’ (Allah) berkata, `Engkau bohong! Engkau berderma agar dikatakan sebagai seorang dermawan.’ Kemudian orang itu diseret kedalam api neraka.”

    Jadikanlah shalatmu, ibadahmu, kehidupanmu dan kematianmu hanya untuk Allah.

    “Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah aku diperintahkan dan aku adalah yang pertama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS.Al-An’am: 162-163)

    Hadits-hadits yang berhubungan dengan perkara di atas:

    Rasulullah SAW bersabda, tentang orang yang dimasukkan ke dalam perlindungan Allah pada hari ketika tak ada lagi selain perlindungan- Nya, “Yaitu dua orang yang mencintai karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah.” Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

    Abu Daud dan Ahmad meriwayatkan, “Ada tiga hal yang jika ketiganya ada dalam diri seseorang maka ia pasti merasakan manisnya iman: (1) Allah dan Rasulnya lebih dicintai dari segalanya, (2) Mencintai atau tidak mencintai, karena Allah. (3) Tidak mau kembali kepada kekufuran, seperti halnya tidak mau untuk dilemparkan ke neraka.”

    Sabdanya yang lain, dalam riwayat Abu Daud dan Ahmad, “Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah dan melarang karena Allah, maka telah sempurnalah imannya.”

    Dalam hadits yang lain, “Sesungguhnya setiap derma yang engkau keluarkan karena Allah, engkau akan mendapatkan pahala karenanya, bahkan derma yang engkau berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Nabi SAW juga bersabda, “Jika seseorang membiayai hidup keluarganya dan dia melakukannya untuk mencari ridha Allah– maka berarti dia sudah bersedekah.” (HR. Bukhari)

    Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah berkata pada hari Kiamat, `Dimanakah orang-orang yang mencintai karena keagungan-Ku? pada hari ini, Aku akan melindunginya, ketika tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Ku.” (HR. Muslim)

    Dari Abu Hurairah ra. Nabi SAW bersabda, “Seseorang mengunjungi saudaranya di desa lain, kemudian Allah mengutus satu malaikat di jalannya. Ketika malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya, `Engkau hendak kemana?’ Dia menjawab, `Saya ingin mengunjungi saudara saya di desa ini.’ Malaikat itu bertanya lagi, `Adakah oleh-oleh yang akan engkau berikan untuknya?’ Dia menjawab, `Tidak ada, selain hanya saya mencintainya karena Allah.’ Malaikat itu berkata, `Aku adalah utusan Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya (saudaramu) karena Allah.'” (HR. Muslim)

    Dari Abu Muslim Al-Khulani, ia berkata, Aku mendatangi masjid penduduk Damaskus kebetulan terdapat sekelompok orang yang di dalamnya nampak beberapa sahabat Rasulullah yang senior. Diantara mereka terdapat seorang pemuda yang matanya bercelak dan bersinar. Setiap kali mereka berselisih tentang sesuatu, mereka mengembalikan perselisihan itu kepada pemuda tersebut, pemuda yang masih remaja. Aku (Abu Muslim Al-Khulani) bertanya kepada teman dudukku, `Siapakah pemuda itu?’ Dia menjawab, `Dia adalah Mu’adz Ibn Jabal.’ Kemudian aku datang pada sore hari, mereka tidak hadir, dan aku datang pada pagi hari, mereka juga tidak datang. Aku berangkat pergi, namun tiba- tiba aku melihat pemuda itu sedang shalat di dekat sebuah tiang. Aku duduk mendekat dan berusaha menghampiri. Dia memberi salam dan aku mendekatinya lagi. Aku berkata kepadanya, `Aku mencintai karena Allah.’ Aku mendekatinya lagi dan dia berkata, `Apa yang engkau katakana?’ Aku berkata, `Aku mencintai karena Allah.’ Dia berkata, `Aku mendengar Rasulullah bercerita tentang Tuhannya yang berkata, `Orang-orang yang saling mencintai karena Allah akan berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan Arsy pada hari tidak ada naungan kecuali naungan Allah.’ Kemudian aku keluar sampai bertemu dengan Ubadah ibn Shamit dan aku menceritakan kepadanya tentang apa yang diceritakan oleh Muadz ibn Jabal. Ubadah ibn Shamit kemudian berkata, `Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda tentang Tuhannya yang berkata, `Cinta-Ku pasti untuk orang-orang yang saling mencinta karena Aku. Cinta-Ku pasti untuk orang-orang yang saling memberi karena Aku. Orang-orang yang Saling membeberi karena Aku. Orang-orang yang saling mencintai karena Allah akan berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya di bawah naungan Arsy pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah.” (HR. Ahmad)

    Dalam Riwayat Tirmidzi ada hadits, “Allah berkata, `Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku akan mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya dan didoakan oleh para nabi dan orang-orang yang mati syahid’.”

    Apabila anda mencintai suatu kaum karena Allah, maka anda akan dikumpulkan bersama mereka pada hari Kiamat. Dari Abo Musa ra., `Ditanyakan kepada Nabi SAW., `Seseorang mencintai suatu kaum dan dia tidak pernah bertemu mereka?’ Nabi bersabda, `Seseorang akan bersama orang yang dicintai’.” (HR. Bukhari)

    ***

    Musthafa al-`Adawy *Fikih Akhlak*

    Dari: jkmhal.com

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 28 December 2012 Permalink | Balas  

    Nasehat – Nasehat Seputar Membaca Al-Qur’an 

    Nasehat – Nasehat Seputar Membaca Al-Qur’an  

    Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Al-Qur’an adalah sumber hukum yang pertama bagi kaum muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Quran serta kemuliaan para pembacanya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharap perniagaan yang tidak akan merugi.” (Faathir : 29).

    Al-Qur’an adalah ilmu yang paling mulia, karena itulah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya bagi orang lain, mendapatkan kemuliaan dan kebaikan dari pada belajar ilmu yang lainya. Dari Utsman bin Affan radhiyallah ‘anhu , beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya(HR. Muslim)

    Diriwayatkan juga oleh Imam Al-Bukhari, bahwa yang duduk di majlis Khalifah Umar Shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana beliau bermusyawarah dalam memutuskan berbagai persoalan adalah para ahli Qur’an baik dari kalangan tua maupun muda.

    Keutamaan membaca Al-Qur’an di malam hari

    Suatu hal yang sangat dianjurkan adalah membaca Al-Qur’an pada malam hari. Lebih utama lagi kalau membacanya pada waktu shalat. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya: “Diantara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus (yang telah masuk Islam), mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu malam hari, sedang mereka juga bersujud (Shalat).” (Ali Imran: 113)

    Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menerangkan ayat ini menyebutkan bahwa ayat ini turun kepada beberapa ahli kitab yang telah masuk Islam, seperti Abdullah bin Salam, Asad bin Ubaid, Tsa’labah bin Syu’bah dan yang lainya. Mereka selalu bangun tengah malam dan melaksanakan shalat tahajjud serta memperbanyak memba-ca Al-Qur’an di dalam shalat mereka. Allah memuji mereka dengan menyebut-kan bahwa mereka adalah orang-orang yang shaleh, seperti diterangkan pada ayat berikutnya.

    Jangan riya’ dalam membaca Al-Qur’an

    Karena membaca Al-Qur’an merupa-kan suatu ibadah, maka wajiblah ikhlas tanpa dicampuri niat apapun. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya: “Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menuaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5).

    Kalau timbul sifat riya’ saat kita membaca Al-Qur’an tersebut, kita harus cepat-cepat membuangnya, dan mengembalikan niat kita, yaitu hanya karena Allah. Karena kalau sifat riya’ itu cepat-cepat disingkirkan maka ia tidak mempengaruhi pada ibadah membaca Al-Qur’an tersebut. (lihat Tafsir Al ‘Alam juz 1, hadits yang pertama).

    Kalau orang membaca Al-Qur’an bukan karena Allah tapi ingin dipuji orang misalnya, maka ibadahnya tersebut akan sia-sia. Diriwayatkan dari Abu Hurairah , bahwa Rasulullah n bersabda, artinya:

    “Dan seseorang yang belajar ilmu dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an maka di bawalah ia (dihadapkan kepada Allah), lalu (Allah) mengenalkan-nya (mengingatkannya) nikmat-nikmatnya, iapun mengenalnya (mengingatnya), Allah berfirman: Apa yang kamu amalkan padanya (nikmat)? Ia menjawab: Saya menuntut ilmu serta mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an padaMu (karena Mu). Allah berfirman : Kamu bohong, tetapi kamu belajar agar dikatakan orang “alim”, dan kamu mem-baca Al-Qur’an agar dikatakan “Qari’, maka sudah dikatakan (sudah kamu dapatkan), kemudian dia diperintahkan (agar dibawa ke Neraka) maka diseretlah dia sehingga dijerumuskan ke Neraka Jahannam.” (HR. Muslim)

    Semoga kita terpelihara dari riya’.

    Jangan di jadikan Al-Qur’an sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan dunia.

    Misalnya untuk mendapatkan harta, agar menjadi pemimpin di masyarakat, untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi, agar orang-orang selalu meman-dangnya dan yang sejenisnya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya: “…Dan barang siapa yang menghen-daki keuntungan di dunia, kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya kebaha-gianpun di akhirat. (As-Syura: 20).”Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki …” (Al Israa’ : 18)

    Jangan mencari makan dari Al-Qur’an

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bacalah Al-Qur’an dan janganlah kamu (mencari) makan dengannya dan janganlah renggang darinya (tidak membacanya) dan janganlah berlebih-lebihan padanya.” (HR. Ahmad, Shahih).

    Imam Al-Bukhari dalam kitab shahih-nya memberi judul satu bab dalam kitab Fadhailul Qur’an, “Bab orang yang riya dengan membaca Al-Qur’an dan makan denganNya”, Maksud makan dengan-Nya, seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari.

    Diriwayatkan dari Imran bin Hushain radhiyallah ‘anhu bahwasanya dia sedang melewati seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an di hadapan suatu kaum . Setelah selesai membaca iapun minta imbalan. Maka Imran bin Hushain berkata: Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Barangsiapa membaca Al-Qur’an hendaklah ia meminta kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Maka sesungguhnya akan datang suatu kaum yang membaca Al- Qur’an lalu ia meminta-minta kepada manusia dengannya (Al-Qur’an) (HR. Ahmad dan At Tirmizi dan ia mengatakan: hadits hasan)

    Adapun mengambil honor dari mengajarkan Al-Qur’an para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Para ulama seperti ‘Atha, Malik dan Syafi’i serta yang lainya memperbolehkannya. Namun ada juga yang membolehkannya kalau tanpa syarat. Az Zuhri, Abu Hanifah dan Imam Ahmad tidak mem-perbolehkan hal tersebut.Wallahu A’lam.

    Jangan meninggalkan Al-Qur’an.

    Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya: “Dan berkata Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. (Al-Furqan: 30).

    Sebagian orang mengira bahwa meninggalkan Al-Qur’an adalah hanya tidak membacanya saja, padahal yang dimaksud di sini adalah sangat umum. Seperti yang dijelaskan Ibnu Katsir dalam tafsirnya tentang ayat ini. Dia menjelaskan bahwa yang dimaksud meninggalkan Al-Qur’an adalah sebagai berikut;

    • Apabila Al-Qur’an di bacakan, lalu yang hadir menimbulkan suara gaduh dan hiruk pikuk serta tidak mendengarkannya.
    • Tidak beriman denganNya serta mendustakanNya
    • Tidak memikirkanNya dan memahamiNya
    • Tidak mengamalkanNya, tidak menjunjung perintahNya serta tidak menjauhi laranganNya.
    • Berpaling dariNya kepada yang lainnya seperti sya’ir nyanyian dan yang sejenisnya.

    Semua ini termasuk meninggalkan Al-Qur’an serta tidak memperdulikan-nya. Semoga kita tidak termasuk orang yang meninggalkan Al-Qur’an. Amin.

    Jangan ghuluw terhadap Al-Qur’an

    Maksud ghuluw di sini adalah berlebih-lebihan dalam membacaNya. Diceritakan dalam hadits yang shahih dari Abdullah bin Umar radhiyallah ‘anhu beliau ditanya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah benar bahwa ia puasa dahr (terus-menerus) dan selalu membaca Al-Qur’an di malam hari. Ia pun menjawab: “Benar wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah memerintah padanya agar puasa seperti puasa Nabi Daud alaihis salam , dan membaca Al-Qur’an khatam dalam sebulan. Ia pun menajwab: Saya sanggup lebih dari itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: bacalah pada setiap 20 hari (khatam). Iapun menjawab saya sanggup lebih dari itu. Rasulullah berasabda : Bacalah pada setiap 10 hari. Iapun menjawab: Saya sanggup lebih dari itu, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bacalah pada setiap 7 hari (sekali khatam), dan jangan kamu tambah atas yang demikian itu.” (HR. Muslim)

    Diriwayatkan dari Abdu Rahman bin Syibl radhiyallah ‘anhu dalam hadits yang disebutkan diatas: “Dan janganlah kamu ghuluw padanya. (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi). Wallahu ‘a’lam bishshawab.

    ***

    (Sumber Rujukan: Tafsir Ibnu Katsir jilid 3 hal. 306; Shahih Bukhari dan Shahih Muslim (Muhktasar).; Fathu Al Bari jilid 10 kitab fadhailil Qur’an, Al Hafiz IbnuHajar ; At-Tibyan Fi Adab Hamalatil Qur’an, An Nawawi Tahqiq Abdul Qadir Al Arna’uth; Fadhail Al-Qur’an, Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, Tahqiq Dr. Fahd bin Abdur Rahman Al Rumi.)

    Oleh: Chandra Kusumantoro

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 27 December 2012 Permalink | Balas  

    Ujian Allah 

    Ujian Allah

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Sungguh Allah akan menguji kamu dengan berbagai cobaan, sebagaimana kamu menguji (membakar) emas dengan api. Ada orang yang keluar (dari ujian tersebut) seperti emas murni, orang itulah yang dilindungi Allah dari kejelekan; ada juga orang yang keluar seperti emas yang tidak murni, orang itu masih dipenuhi keraguan; dan terakhir ada orang yang keluar seperti emas hitam, orang itulah yang terkena fitnah (siksa).”  (HR Al Hakim dalam al-Mustadrak dan dia menganggapnya shahih no 7878. Hadits ini diriwayatkan juga oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam)

    Pernah Anda mengamati begaimana emas dibakar dengan api? Jika menginginkan emas murni 24 karat, Anda harus memanggangnya di atas api yang lebih besar. Diantara manusia itu ada yang keluar (dari ujian) bak emas murni, yaitu emas yang bersih dan bening seketika. Adakah di antara kita orang yang keluar seperti emas murni tersebut? Jika ada, berarti ialah orang yang dilindungi Allah SWT.

    Ada lagi orang yang keluar (dari ujian tersebut) dalam keadaan bingung, suatu saat ia memuji Allah dan di lain kesempatan dia kembali kepada kebiasaannya (bermaksiat). Ada lagi tipe orang yang keluar seperti emas yang hitam pekat yang sudah menjadi arang. Golongan manusia jenis inilah yang terlaknat.

    Di hari kiamat setiap kita akan ditanya. Nah, seperti apakah Anda? Termasuk jenis emas manakah Anda? murni, campuran, atau…??

    Mungkin kita tidak pernah mengalami musibah seperti yang dialami Nabi Yaqub as. Meskipun Allah sangat menyayanginya, Dia tetap mengujinya. Kalau Allah menguji Anda dengan suatu musibah, janganlah mengatakan, “Sungguh, Allah sedang murka kepadaku.” Ya Allah, mengapa Engkau menimpakan ini kepadaku?” Janganlah sekali-kali Anda mengucapkan kata-kata itu, karena sesungguhnya Allah menyayangi Anda. Mungkin Anda mempunyai dosa yang Anda tanggung hingga Anda masuk neraka Jahannam. Allah SWT tidak menginginkan Anda masuk neraka. Allah hendak menyucikan diri Anda dan memasukkan Anda ke dalam surgaNya. Karena itu, Allah menguji Anda dengan musibah. Pada hari kiamat, Allah menginginkan Anda berdiri tegak di hadapanNya. Untuk itu, Allah terlebih dahulu menyucikan diri Anda di dunia ini.

    (sumber: romantika Yusuf, Amru Khalid, maghfirah pustaka, 2004)

    ***

    Dari: Erwin Arianto, SE

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 26 December 2012 Permalink | Balas  

    Niat Saja Tak Cukup, Berbuatlah 

    Niat Saja Tak Cukup, Berbuatlah

    Sore kemarin sebuah pelajaran kembali saya dapatkan. Kali ini dari Ayahanda sahabat saya yang tahun lalu baru saja menunaikan ibadah haji. Ia nampak bahagia bisa menjalankan ibadah ke tanah suci, sebahagia semua orang yang pernah berhaji. Bercerita ia tentang berbagai pengalamannya selama menjadi tamu Allah, tentang makam Rasulullah dan semua hal menakjubkan di tanah suci.

    Namun dari semua cerita itu, ada satu bagian yang benar-benar menarik perhatian. Yakni ketika sampai pada cerita tentang, bagaimana ia bisa berangkat pergi haji, padahal uang tabungannya belumlah mencukupi. Kisah-kisah unik dan ajaib tentang orang-orang yang pergi haji pun berlanjut, dan kisah dari Ayahanda sahabat saya ini menambah daftar panjangnya. Kita pernah mendengar ada seorang pengemis yang bisa berangkat haji lantaran ia senantiasa menjaga mulutnya dari kata-kata yang sia-sia. Begitu pun kisah tentang tukang sol sepatu yang bisa berhaji karena kebaikannya terhadap tetangganya.

    Kisah Ayahanda sahabat saya ini, mungkin tak sedramatis kisah-kisah mengagumkan sebelumnya. Namun cukuplah untuk memberi semangat baru, terutama bagi orang-orang seperti saya yang kebanyakan keinginan namun sering hanya berujung di bab niat saja. “Pergi haji, jangan cuma niat. Jangan hanya punya keinginan, sebab semua orang pun punya keinginan itu. Tapi tidak semua orang mau merealisasikan kenginannya itu E

    Beliau tidak sedang bicara tentang orang-orang kaya harta yang sebenarnya mampu berkali-kali pergi haji, namun tak juga berangkat. Yang dimaksud beliau, adalah orang-orang yang punya keinginan kuat, namun tak pernah menunjukkan keinginannya itu dengan satu perbuatan. “Saya orang yang tidak punya, tetapi saya sangat ingin pergi berhaji, karenanya saya menabung sedikit demi sedikit. Ketika tahun kemarin saya pergi haji, apakah tabungan saya sudah cukup? Tentu saja belum! Tapi Allah melihat niat yang saya iringi dengan usaha untuk mewujudkannya dengan cara menabung. Inilah cara Allah memudahkan jalan orang-orang yang mau berusaha, Eterangnya bersemangat.

    Kalimat-kalimat yang mengalir darinya, sangat menyejukkan sekaligus mencerahkan. Tertohok diri ini mendengarnya, namun juga menyenangkan bisa mendapat nasihat yang bermanfaat. Betapa sering dan mudahnya kita berucap, “Yang penting niat dulu, niat baik saja kan sudah dicatat malaikat E

    Boleh jadi betul bahwa niat baik itu tercatat, tapi jangan-jangan malaikat bosan melihat catatan harian kita hanya dipenuhi kumpulan dan daftar niat. Namun tak sekali pun pernah menunjukkan i’tikad untuk mewujudkannya. Sangat mungkin saat ini Allah menunggu-nunggu kapan kita bekerja merealisasikan kumpulan niat itu, sementara kita tetap asik menggantang niat yang tak pernah terwujud itu. Seperti kisah Ayahanda sahabat saya itu, mungkin Allah tak perlu menunggunya sampai ia mampu mencukupi biaya haji. Tapi Allah hanya mau melihat –sekali lagi, hanya mau melihat- adakah hal yang diperbuat untuk merealisasikan niat tersebut. Akhirnya, tak perlu sampai mencukupi biaya haji, beliau bisa berangkat ke tanah suci menjadi tamu Allah. Maha Suci Allah.

    Begitu pun dengan kita. Mari lihat kembali daftar niat yang pernah kita tuliskan, kemudian satu persatu kita upayakan untuk merealisasikannya. Insya Allah, Allah bersama malaikat dan rasul akan melihat apa yang kita kerjakan. Soal hasil akhir, kita serahkan sepenuhnya kepada Allah.

    ***

    Oleh: Bayu Gawtama

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 25 December 2012 Permalink | Balas  

    Kesenangan (Cinta) Duniawi yang Melalaikan 

    Kesenangan (Cinta) Duniawi yang Melalaikan

    Firman Allah :

    (38:30) Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat ta’at (kepada Tuhannya),

    (38:31) (ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore,

    (38:32) maka ia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan”.

    (38:33) “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku. Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu”.

    Empat ayat diatas adalah dari Surot Shood, menceritakan suatu kisah ibrah berkenaaan kesenangan / kecintaan duniawi yang bisa melalaikan ketaatan terhadap perintah Allah.

    Ayat pertama, (38:30) informasi kepada kita bahwa Allah memberikan karunia kepada Nabi Daud as, seorang anak yang merupakan sebaik-baik hamba Allah dan amat taat kepada Allah, yaitu Nabi Sulaiman as.

    Ayat kedua, (38:31) menceritakan bahwa Nabi Sulaiman punya hoby memelihara kuda. Dan kuda-kudanya sangat terlatih. Namun karena hobynya ini membuat lalai dalam mengingat Allah, sehingga ia berkata :

    Ayat ketiga, (38:32) “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan”. Karena kesenangannya dalam memelihara kuda dan melatihnya membuat ia lalai lalu ia mengambil keputusan :

    Ayat ke empat, (38:33) “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku”. Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.

    Apa yang dilakukan Nabi Sulaiman as, merupakan sebuah kisah yang patut kita ambil ibrahnya, betapa pentingnya untuk ingat terhadap perintah Allah dan jangan sampai kita lalai terhadap mengingat Allah karena kesibukan duniawi sesaat.

    Lalu mari kita renungkan surot at-Tawbah ayat 24 dibawah ini :

    (9:24) Katakanlah: “jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”.

    Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

    Semoga Allah melindungi kita dalam pemeliharaan dan pendidikan-Nya agar lebih mencintai Allah, Rasul dan Jihad. Jangan sampai kecintaan ataupun kesenangan kita terhadap bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga kita, harta kekayaan yang kita usahakan, perniagaan yang kita khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kita sukai membuat kita lalai dalam mengingat Allah.

    Karena jika kita tidak segera toubat dari kelalaian terhadap Allah, Rasul dan Jihad maka akan termasuk orang-orang yang fasik. Na’udzubillah min zalik.

    Wassalam

    • Beribadah karena manusia itu munafiq
    • Meninggalkan ibadah karena manusia itu musyrik

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 24 December 2012 Permalink | Balas  

    Jangan Sampai Amal Kita Hangus! 

    Jangan Sampai Amal Kita Hangus!

    Sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk, sabda Rasulullah SAW kepada para sahabat. Mendengar kabar menarik tersebut, semua mata tertuju ke pintu masjid. Dalam benak para sahabat, terbayang sesosok orang yang luar biasa.

    Tiba-tiba masuklah seorang pria yang mukanya masih basah dengan air wudhu. Penampilannya biasa-biasa saja. Ia pun bukan orang terkenal. Abu Umamah Ibnu Jarrah, demikian namanya. Bayangan para sahabat akan sosok luar biasa tidak menjadi kenyataan.

    Keesokan harinya, peristiwa serupa terulang kembali. Demikian pula hari ketiga.

    Para sahabat penasaran, Amal apa gerangan yang dimiliki orang ini sampai-sampai Rasul menyebutnya calon penghuni surga? Salah satunya Abdullah bin Amr bin ‘Ash. Ia pun meminta izin kepada Abu Umamah untuk menginap tiga hari di rumahnya.

    Tiga hari tiga malam Abdullah memperhatikan, mencermati, bahkan mengintip tuan rumah. Namun tidak ada satu pun yang istimewa. Hari-hari yang ia lewati tidak jauh beda dengan sahabat-sahabat lain. Ibadahnya pun biasa-biasa saja.

    Pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Aku harus berterus terang kepadanya, ujar Abdullah. Ia pun bertanya, Amal apa yang engkau lakukan sehingga Rasulullah memanggilmu calon penghuni surga? Jawaban Abu Umamah sungguh mengecewakan, Apa yang engkau lihat itulah.

    Ketika Abdullah hendak pergi, tiba-tiba tuan rumah berkata, Wahai saudaraku, sesungguhnya aku tidak pernah iri dan dengki terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Sebelum tidur, saya pun selalu bersihkan hati dari ujub, takabur, kedengkian, dan rasa dendam.

    Ada banyak ibrah dari kisah ini. Namun ada satu yang pasti, hanya orang yang bersih hatilah (qolbun saliim) yang akan memasuki surga tertinggi, juga bertemu dengan Al-Khaliq, Allah Azza wa Jalla. Difirmankan, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (QS Asy Syu’araa [26]: 87).

    Kebersihan hati adalah password untuk membuka pintu surga. Sesedikit apa pun amal, tetap akan bisa memasukkan orang ke surga, asal ia memiliki hati yang bersih. Sebaliknya, sebanyak apa pun amal, tidak akan berarti sama sekali bila kita memiliki hati penuh penyakit.

    Abu Umamah layak ditiru. Ia bukan sahabat sekaliber Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan atau pun Ali bin Abi Thalib. Ibadahnya pun tidak seterkenal Abu Darda, Abdurrahman bin Auf, Salman Al Farisi, juga beberapa sahabat lainnya. Namun, derajatnya di mata Allah dan Rasul-Nya demikian tinggi, hingga Rasulullah SAW memvonis ia sebagai calon penghuni surga. Mengapa? Sebab hatinya bersih dari penyakit dan lapang dari kebencian dan dendam. Sehingga semua amal kebaikannnya tetap utuh dan bernilai di hadapan Allah SWT.

    Karena itu, selain sibuk memperbanyak amal kebaikan, kita pun harus sibuk menjaga hati dari penyakit-penyakit membahayakan. Sebab, percuma saja kita menghiasai diri dengan berjuta-juta amalan–wajib maupun sunnat, sedang hati tidak pernah kita bersihkan. Sebaliknya, walau amal kita biasa-biasa saja, namun dibingkai kebersihan hati, maka nilainya akan jauh lebih tinggi di hadapan Allah. Lebih baik makan sayur kacang di mangkuk yang bersih, daripada makan gule spesial yang ditaruh di mangkuk penuh kotoran. Ideal tentu makan gule spesial di mangkuk bersih. Atau banyak ibadah dengan landasan qalbun saliim.

    Namun setan tidak akan tinggal diam. Mereka akan berusaha menghancurkan amal-amal yang tengah kita kumpulkan saat Ramadhan ini. Maka, sekali lagi, di tengah kesibukan kita beramal, jangan lupakan hati kita. Lindungi dari penyakit-penyakit penghancur amal. Menurut Rasul SAW, ada tiga penyakit yang akan menghanguskan amal kita.

    Pertama, takabur atau sombong. Menurut Imam Al Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin, takabur akan menjadi batas pemisah antara seseorang dengan kemuliaan akhlak. Betapa tidak, orang takabur akan selalu mendustakan kebenaran, menganggap rendah orang lain dan meninggikan dirinya. Jangankan banyak, sedikit saja di hati kita ada sikap takabur, maka surga akan menjauh, amal-amal jadi tidak berarti. Disabdakan, Tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat sikap takabur walaupun sebesar debu. (HR Muslim).

    Kedua, hasud atau iri dengki. Ciri khas seorang pendengki adalah adanya ketidakrelaan ketika orang lain mendapat nikmat dan sangat berharap nikmat tersebut segera lenyap darinya. Bahasa kerennya, susah melihat orang lain senang, dan senang melihat orang lain susah . Kedengkian sangat efektif menghancurkan kebaikan. Rasulullah Saw. menegaskan, Dengki itu dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).

    Ketiga, riya atau beramal karena mengharap pujian orang lain. Riya adalah tingkatan terendah dari amal. Rasul menyebutnya syirik kecil yang juga efektif menghapuskan kebaikan. Allah Azza wa Jalla tidak akan menerima suatu amal yang di dalamnya terdapat seberat debu saja berupa riya. Sebuah hadis qudsi mengungkapkan pula bagaimana murkanya Allah kepada orang yang riya dalam amalnya. Pada hari kiamat Allah berfirman, ketika semua manusia menlihat catatan amal-amalnya, Pergilah kamu semua kepada apa yang kamu jadikan harapan (riya) di dunia. Lihatlah apakah kamu semua memperoleh balasan dari mereka? (HR Ahmad dan Baihaqi). Dalam Alquran, diungkapkan pula bahaya riya, Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria (QS Al Maa’un [107]: 4-6).

    Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menjaga hati dan amalan kita dari kebinasaan. Semoga.

    ***

    sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 23 December 2012 Permalink | Balas  

    Ketika Abu Nawas Berdoa Minta Jodoh 

    Ketika Abu Nawas Berdoa Minta Jodoh

    Rina Yuliana – detikRamadan

    Jakarta – Ada saja cara Abu Nawas berdoa agar dirinya mendapatkan jodoh dan menikah. Karena kecerdasan dan semangat dalam dirinya, akhirnya Abu Nawas mendapatkan istri yang cantik dan shalihah.

    Sehebat apapun kecerdasan Abu Nawas, ia tetaplah manusia biasa. Kala masih bujangan, seperti pemuda lainnya, ia juga ingin segera mendapatkan jodoh lalu menikah dan memiliki sebuah keluarga.

    Pada suatu ketika ia sangat tergila-gila pada seorang wanita. Wanita itu sungguh cantik, pintar serta termasuk wanita yang ahli ibadah. Abu Nawas berkeinginan untuk memperistri wanita salihah itu. Karena cintanya begitu membara, ia pun berdoa dengan khusyuk kepada Allah SWT.

    “Ya Allah, jika memang gadis itu baik untuk saya, dekatkanlah kepadaku. Tetapi jika memang menurutmu ia tidak baik buatku, tolong Ya Allah, sekali lagi tolong pertimbangkan lagi ya Allah,” ucap doanya dengan menyebut nama gadis itu dan terkesan memaksa kehendak Allah.

    Abu Nawas melakukan doa itu setiap selesai shalat lima waktu. Selama berbulan-bulan ia menunggu tanda-tanda dikabulkan doanya. Berjalan lebih 3 bulan, Abu Nawas merasa doanya tak dikabulkan Allah. Ia pun introspeksi diri.

    “Mungkin Allah tak mengabulkan doaku karena aku kurang pasrah atas pilihan jodohku,” katanya dalam hati.

    Kemudian Abu Nawas pun bermunajat lagi. Tapi kali ini ganti strategi, doa itu tidak diembel-embeli spesifik pakai nama si gadis, apalagi berani “maksa” kepada Allah seperti doa sebelumnya.

    “Ya Allah berikanlah istri yang terbaik untukku,” begitu bunyi doanya.

    Berbulan-bulan ia terus memohon kepada Allah, namun Allah tak juga mendekatkan Abu Nawas dengan gadis pujaannya. Bahkan Allah juga tidak mempertemukan Abu Nawas dengan wanita yang mau diperistri. Lama-lama ia mulai khawatir juga. Takut menjadi bujangan tua yang lapuk dimakan usia. Ia pun memutar otak lagi bagaimana caranya berdoa dan bisa cepat terkabul.

    Abu Nawas memang cerdas. Tak kehabisan akal, ia pun merasa perlu sedikit “diplomatis” dengan Allah. Ia pun mengubah doanya.

    “Ya Allah, kini aku tidak minta lagi untuk diriku. Aku hanya minta wanita sebagai menantu Ibuku yang sudah tua dan sangat aku cintai Ya Allah. Sekali lagi bukan untukku Ya Tuhan. Maka, berikanlah ia menantu,” begitu doa Abu Nawas.

    Barangkali karena keikhlasan dan “keluguan” Abu Nawas tersebut, Allah pun menjawab doanya.

    Akhirnya Allah menakdirkan wanita cantik dan salihah itu menjadi istri Abu Nawas. Abu Nawas bersyukur sekali bisa mempersunting gadis pujaannya. Keluarganya pun berjalan mawaddah warahmah. ( rmd / rmd )

    ***

    Sumber: ramadan.detik.com

     
    • ZULFITRIANSYAH PUTRA 10:30 am on 23 Desember 2012 Permalink

      Reblogged this on Zulfitriansyah Putra.

    • mulyono 7:37 pm on 26 Maret 2013 Permalink

      abu nawas terkenal slengean tapi hatinya baik

    • madans 9:17 am on 2 Mei 2013 Permalink

      lucu mau dicoba aaah

  • erva kurniawan 1:30 am on 22 December 2012 Permalink | Balas  

    Meneladani Akhlak Rasulullah 

    Meneladani Akhlak Rasulullah

    “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah menjadi bangkai? Maka, tentulah kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” QS Al Hujuraat:12

    Menapaki hari demi hari dari bulan Ramadhan yang paling utama di antara segala bulan ini ternyata kita tidak semata-mata sedang menjalani suatu kewajiban dari Allah. Akan tetapi pada hakikatnya kita tengah menapaki nikmat demi nikmat, pahala demi pahala, serta ampunan demi ampunan dari-Nya.

    Rasulullah SAW diutus oleh Allah ke dunia ini bertugas untuk menyempurnakan akhlak. Beliau ajarkan akhlak mulia pada keluarga, sahabat, dan umatnya. Terhadap siapa pun beliau menghormati. Beliau tidak berbicara cepat seperti orang angkuh. Namun beliau juga tidak berbicara pelan seperti orang yang malas berkata-kata.

    Lisan Rasulullah dilimpahi curahan berkah yang melimpah. Beliau berbicara jelas, tegas, penuh makna dan menghujam ke hati para shahabat yang mendengarnya. Ucapan beliau sarat dengan hikmah, indah dan bernilai. Beliau tidak berbicara kecuali perlu. Beliau selalu membuka dan menutup pembicaraan dengan menyebut nama Allah.

    Dengan demikian, maka sangat mustahil bagi Rasulullah SAW untuk berburuk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain atau menceritakan keburukan orang lain tanpa sepengetahuan mereka.

    Allah berfirman dalam hadits Qudsi, yang artinya : “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku. Kalau ia berprasangka baik, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Bila ia berprasangka buruk, maka keburukan akan menimpanya”.

    Allah SWT menuntun manusia hidup dengan adab kesopanan yang luhur. Jika mereka berpegang dengan adab tersebut, insya Allah akan tumbuh rasa cinta dan kebersamaan di antara mereka. Hidup bermasyarakat akan rawan konflik. Disengaja atau tidak selalu saja akan muncul potensi sakit hati. Dan Allah telah mengajari kita agar hidup jauh dari prasangka buruk (su’uzhan), mencari-cari kesalahan orang (tajassus), dan (ghibah) yaitu membicarakan aib saudaranya, yang jika mereka mendengarnya tentu akan sakit hati dan membencinya.

    Berburuk sangka atau su’uzhan akan membuat hati kita capek dan busuk. Kita tahu bahwa prasangka-prasangka buruk akan memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Selain merusak hati su’uzhan juga akan melenyapkan kebahagiaan, merusak akhlak dan akan menodai kedudukan kita di sisi Allah. Jika kita sadar bahwa su’uzhan itu buruk akibatnya, maka mengapa kita tidak berbaik sangka (husnuzhan) saja kepada orang lain?

    Saat kita mengucapkan salam pada orang lain, kemudian tidak mendapat jawaban sedikit pun, maka cobalah untuk berbaik sangka. Siapa tahu orang yang kita salami tidak mendengar suara kita atau mungkin saja ia tengah konsentrasi berdzikir pada Allah. Biasakanlah kita melatih diri untuk mencari seribu satu alasan positif agar dapat memaklumi orang lain. Respons positif kita bisa dijadikan salah satu cara untuk menghindari kebiasaan ber-su’uzhan.

    Orang yang gemar berburuk sangka, maka akan menderita sendiri. Hidupnya akan sempit, sesempit gelas yang terisi air. Kalau dimasukkan ke dalamnya sesendok garam saja, maka akan terasa asin seluruh airnya. Berbeda dengan danau, walaupun dimasukkan sekarung garam, maka airnya tidak akan menjadi asin, sebab airnya melimpah. Demikian juga hati kita, jika hati kita sempit sesempit gelas maka sedikit saja masalah akan membuat hati kita sakit. Dan bila hati sudah sakit maka apa pun yang terjadi, akan terlihat buruk oleh mata kita. Maka jika kita gemar berbaik sangka (husnuzhan), insya Allah hidup akan terasa tenang dan lapang.

    Lingkungan juga dapat membentuk akhlak seseorang. Lingkungan orang-orang beriman dan terpuji akhlaknya, insya Allah akan menghindarkan diri kita dari berburuk sangka. Ketika ada orang tak dikenal datang ke rumah kita, jangan langsung su’uzhan. Tapi juga jangan sampai hilang kewaspadaan, waspada tetap dibutuhkan di samping kewajiban kita berbaik sangka. Kita kenali yang mendatangi rumah kita, maka jangan langsung kita su’uzhan terlebih dahulu. Tapi, tidak ada salahnya kalau kita selalu waspada agar dapat mengendalikan keadaan dengan tepat.

    Belajar untuk mencari seribu satu alasan sebagai jawaban dari berbagai permasalahan dapat menjadikan kita selalu husnuzhan dengan tepat. Jangan sampai kita berbaik sangka pada para penjahat. Bisa-bisa, sebelum kita menyadarinya ternyata kita telah menjadi korban kejahatannya. Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau kita berbaik sangka pada maling. Ber-husnuzhan juga ada ilmunya, jangan sampai kita tertipu karena telah ber-husnuzhan pada orang yang tidak tepat. Ber-husnuzhan lah pada orang beriman dan akhlaknya mulia. Dan biasakanlah untuk selalu dapat memaklumi sikap orang lain dan tetap harus waspada.

    Selain menghindari su’uzhan, Allah mengajarkan hamba-Nya melalui Rasulullah SAW untuk tidak ber-tajassus (mencari-cari aib orang lain) dan ber-ghibah (menceritakan aib orang lain). Dua hal buruk ini sangat akrab sekali dalam kehidupan manusia. Kadang malah bisa menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan.

    Ghibah adalah menyebut-nyebut seseorang tentang hal-hal yang tidak ia sukai dan tanpa sepengetahuannya. Ghibah itu dimisalkan dengan memakan daging bangkai, sebab dengan ber-ghibah berarti kita telah merobek-robek kehormatan pribadi dan orang lain yang serupa dengan merobek-robek dan memakan daging yang sudah menjadi bangkai. Lebih dari itu, ayat dari surat al Hujuraat sebagaimana tersebut di atas, menganggap bahwa daging yang dimakan itu adalah daging saudara sendiri yang telah mati, sebagai gambaran betapa kejinya perbuatan seperti itu yang dianggap menjijikan oleh perasaan orang lain.

    Saudaraku, apabila kita terlanjur ber-su’uzhan, tajassus, dan ghibah, maka wajiblah bagi kita untuk bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya. Ketika perbuatan dosa itu kita lakukan, maka secara langsung kita harus bertaubat, yaitu dengan cara berhenti dari perbuatan dosa dan menyesal atas keterlanjurannya serta bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi perbuatan yang sudah terlanjur dilakukan itu.

    Selain bertaubat, kita harus meminta maaf pada orang yang telah kita sakiti dengan su’uzhan, tajassus, dan ghibah yang telah kita lakukan. Jika kita tidak sempat meminta maaf padanya karena ia telah tiada, maka doakanlah kebaikan bagi diri dan keluarganya. Dengan demikian, mudah-mudahan Allah mengampuni dosa yang telah kita perbuat dan tentu saja kita berharap menjadi golongan orang-orang yang bertakwa. Wallahu a’lam.

    ***

    (KH Abdullah Gymnastiar )

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 21 December 2012 Permalink | Balas  

    Riya, Penghapus Catatan Amal Kebaikan 

    Riya, Penghapus Catatan Amal Kebaikan

    Jakarta – Pada waktu sahur, seorang Abid (orang yang sedang beribadah) membaca surat ‘Thaa Haa’ di biliknya yang berdekatan dengan jalan raya. Selesai membaca, dia merasa sangat mengantuk. Lalu ia putuskan untuk tidur.

    Dalam tidurnya, dia bermimpi melihat seorang laki-laki turun dari langit dan menbawa Alquran. Lelaki itu datang menemuinya dan segera membuka kitab suci itu di depannya. Dijelaskannya surat ‘Thaa Haa’, dan diperlihatkannya halaman demi halaman agar terlihat jelas oleh Abid.

    Abid melihat setiap kalimat surat itu dicatat sepuluh amal kebajikan sebagai pahala bacaannya, kecuali satu kalimat saja yang catatannya dihapus. Lalu Abid bertanya, “Demi Allah, sesungguhnya aku telah membaca seluruh surat ini tanpa meninggalkan satu kalimat pun. Tetapi mengapa catatan pahala untuk kalimat ini dihapus?”

    “Benar seperti katamu, engkau memang tidak meninggalkan satu kalimat pun dalam bacaanmu tadi, dan untuk kalimat itu sudah dicatatkan pahalanya, tetapi tiba-tiba kami mendengar perintah dari arah Arasy, ‘Hapuskan catatan itu dan gugurkan pahala untuk kalimat itu!’ karena itulah kami segera menghapusnya,” jawab lelaki itu

    Dalam mimpinya Abid menangis dan berkata, “Kenapa tindakan itu dilakukan?”

    “Semua ini karena engkau sendiri, ketika membaca surat Thaa Haa tadi, seorang hamba Allah melewati jalan dekat rumahmu, engkau sadar akan hal itu, lalu engkau meninggikan suara bacaanmu agar terdengar oleh hamba Allah tersebut. Kalimat yang tiada catatan pahala itulah yang telah engkau baca dengan suara tinggi.” jelas si lelaki.

    Si ABid terjaga dalam tidurnya, “Astagfirullahal’adzim! sungguh licin virus riya menyusup ke dalam hatiku, dan sungguh besar bahayanya. Dalam sekejap mata, ibadahku dimusnahkan,” tuturnya.

    ***

    Rina Yuliana – detikRamadan

     
    • nadya 8:15 am on 2 Maret 2013 Permalink

      adaa cerita yang lain gak .. .??

  • erva kurniawan 1:11 am on 20 December 2012 Permalink | Balas  

    Ahmadinejad 

    Ahmadinejad

    Sebelum menjabat sebagai presiden Iran beliau adalah walikota Teheran, periode 2003-2005. Teheran, ibukota Iran, kota dengan sejuta paradoks, memiliki populasi hampir dua kali lipat dari Jakarta, yaitu sebesar 16 juta penduduk. Untuk bisa menjadi walikota dari ibukota negara tentu sudah merupakan prestasi tersendiri mengingat betapa Iran adalah negara yang dikuasai oleh para mullah. Ia bukanlah ulama bersorban, tokoh revolusi, dan karir birokrasinya kurang dari 10 tahun. Beliau tinggal di gang buntu, maniak bola, tak punya sofa di rumahnya, dan kemana-mana dengan mobil Peugeot tahun 1977. Penampilannya sendiri jauh dari menarik untuk dijadikan gosip, apalagi jadi selebriti. Rambutnya kusam seperti tidak pernah merasakan sampo dan sepatunya itu-itu terus, bolong disana-sini, mirip alas kaki tukang sapu jalanan di belantara Jakarta.

    Nah! Kira-kira dengan modal dan penampilan begini apakah ia memiliki kemungkinan untuk menjabat sebagai walikota Depok saja, umpamanya? Dalam tempo setahun pertanyaan tentang kemampuannya memimpin terjawab. Warga Teheran menemukan bahwa walikotanya sebagai pejabat yang bangga bisa menyapu sendiri jalan-jalan kota, gatal tangannya jika ada selokan yang mampet dan turun tangan untuk membersihkannya sendiri, menyetir sendiri mobilnya ke kantor dan bekerja hingga dini hari sekedar untuk memastikan bahwa Teheran dapat mejadi lebih nyaman untuk ditinggali. “Saya bangga bisa menyapu jalanan di Teheran.” Katanya tanpa berusaha untuk tampil sok sederhana. Di belahan dunia lain sosoknya mungkin dapat dijadikan reality show atau bahkan aliran kepercayaan baru. Sejak hari pertama menjabat ia langsung mengadakan kebijakan yang bersifat religius seperti memisahkan lift bagi laki-laki dan perempuan (ini tentu menarik hati para wanita di Teheran), menggandakan pinjaman lunak bagi pasangan muda yang hendak menikah dari 6 juta rial menjadi 12 juta rial, pembagian sup gratis bagi orang miskin setiap pekan, dan… menjadikan rumah dinas walikota sebagai museum publik! Ia sendiri memilih tinggal di rumah pribadinya di kawasan Narmak yang miskin yang hanya berukuran luas 170 m persegi. Ia bahkan melarang pemberian sajian pisang bagi tamu walikota mengingat pisang merupakan buah yang sangat mahal dan bisa berharga 6000 rupiah per bijinya. Ia juga menunjukkan dirinya sebagai pekerja keras yang sengaja memperpanjang jam kerjanya agar dapat menerima warga kota yang ingin mengadu. Namun salah satu keberhasilannya yang dirasakan oleh warga kota Teheran adalah spesialisasinya sebagai seorang doktor di bidang manajemen transportasi dan lalu lintas perkotaan. Sekedar untuk diketahui, kemacetan kota Teheran begitu parahnya sehingga saya pernah dikirimi salah satu foto lelucon dari berbagai belahan dunia dengan judul “Only in …” . salah satunya dari Teheran dengan judul “Only in Teheran” dengan foto kemacetan lalu lintasnya yang bisa bikin penduduk Jakarta menertawakan kemacetan lalu lintas di kotanya. Secara dramatis ia berhasil menekan tingkat kemacetan di Teheran dengan mencopot lampu-lampu di perempatan jalan besar dan mengubahnya menjadi jalur putar balik yang sangat efektif. Setelah menjabat dua tahun sebagai walikota Teheran ia masuk dalam finalis pemilihan walikota terbaik dunia World Mayor 2005 dari 550 walikota yang masuk nominasi. Hanya sembilan yang dari Asia, termasuk Ahamdinejad.

    Tapi itu baru awal cerita. Pada tanggal 24 Juni 2005 ia menjadi bahan pembicaraan seluruh dunia karena berhasil menjadi presiden Iran setelah mengkanvaskan ulama-cum-mlliter Ali Hashemi Rafsanjani dalam pemilihan umum. Bagaimana mungkin padahal pada awal kampanye namanya bahkan tidak masuk hitungan karena yang maju adalah para tokoh yang memiliki hampir segalanya dibandingkan dengannya? Dalam jajak pendapat awal kampanye dari delapan calon presiden yang bersaing, Akbar hasyemi Rafsanjani, Ali Larijani, Ahmadinejad, Mehdi Karrubi, Mohammed Bhager Galibaf, Mohsen Meharalizadeh, Mohsen Rezai, dan Mostafa Min, popularitas Ahmadinejad paling buncit.

    Pada masa kampanye ketika para kontestan mengorek sakunya dalam-dalam untuk menarik perhatian massa, Ahmadinejad bahkan tidak sanggup untuk mencetak foto-foto dan atributnya sebagai calon presiden. Sebagai walikota ia menyumbangkan semua gajinya dan hidup dengan gajinya sebagai dosen. Ia tidak mampu untuk mengeluarkan uang sepeser pun untuk kampanye! Sebaliknya ia justru menghantam para calon presiden yang menggunakan dana ratusan milyar untuk berkampanye atau yang bagi-bagi uang untuk menarik simpati rakyat. Pada pemilu putaran pertama keanehan terjadi, Nama Ahmadinejad menyodok ke tempat ketiga. Di atasnya dua dedengkot politik yang jauh lebih senior di atasnya, Akbar Hashemi Rafsanjani dan Mahdi Karrubi. Rafsanjani tetap menjadi favorit untuk memenangi pemilu ini mengingat reputasi dan tangguhnya mesin politiknya.

    Tapi rakyat Iran punya rencana dan harapan lain, Ahmadinejad memenangi pemilu dengan 61 % sedangkan Rafsanjani hanya 35%. Logika real politik dibikin jungkir balik olehnya.

    Ahmadinejad memang penuh dengan kontroversi. Ia presiden yang tidak berasal dari mullah yang selama puluhan tahun telah mendominasi hampir semua pos kekuasaan di Iran, status quo yang sangat dominan. Ia juga bukan berasal dari elit yang dekat dengan kekuasaan, tidak memiliki track-record sebagai politisi, dan hanya memiliki modal asketisme, yang untuk standar Iran pun sudah menyolok. Ia seorang revolusioner sejati sebagaimana halnya dengan Imam Khomeini dengan kedahsyatan aura yang berbeda. Jika Imam Khomeini tampil mistis dan sufistis, Ahamdinejad justru tampil sangat merakyat, mudah dijangkau siapapun, mudah dipahami dan diteladani. Ia adalah sosok Khomeini yang jauh lebih mudah untuk dipahami dan diteladani. Ia adalah figur idola dalam kehidupan nyata.

    Seorang ‘satria piningit’ yang mewujud dalam sosok nyata. Sebagaimana mentornya, ia tidak terpengaruh oleh kekuasaan. Kekuasaan seolah tidak menyentuh karakter-karakter terdalamnya. Ia seolah memiliki ‘kepribadian ganda’, di satu sisi ia bisa bertarung keras untuk merebut dan mengelola kekuasaan, dan di sisi lain ia bertarung sama kerasnya menolak segenap pengaruh kekuasaan agar tidak mempengaruhi batinnya. Tidak bisa tidak, dengan karakter yang demikian kompleks itu seorang revolusioner macam Ahmadinejad memang ditakdirkan untuk membuat banyak kejutan dan drama pada dunia. Ia memangkas semua biaya dan fasilitas kedinasan yang tidak sine-qua-non terutama dengan urusan pribadi. Dalam pandangannya, untuk mewujudkan masyarakat Islam yang maju dan sejahtera, pejabat negara haruslah memiliki standar hidup yang sama dengan rakyat kebanyakan., mencerminkan kehidupan nyata dari masyarakatnya, dan tidak hidup di menara gading. Ia menetapkan PPN baru bagi orang-orang kaya dan mengunakan dananya untuk membangun perumahan bagi rakyat miskin. Ia membawa ‘uang minyak ke piring-piring orang miskin’ dengan program “Reza Love Fund” (Reza adalah Imam ke delapan kaum Syiah) dengan mengalokasikan 1,3 milyar dollar untuk program bantuan bagi kalangan muda untuk menikah, memulai usaha baru, dan membeli rumah. Meski mengagumi Imam Khomeini dan hidup asketis tidak berarti ia konservatif.

    Ia bahkan tampil moderat. Ketika ditanya apakah ia akan mengekang penggunaan jilbab yang kurang Islami di kalangan remaja Teheran, ia menjawab,:”Orang cenderung berpikir bahwa kembali ke nilai-nilai revolusioner itu hanya urusan memakai jilbab yang baik. Masalah sejati bangsa ini adalah lapangan kerja dan perumahan untuk semua, bukan apa yang harus dipakai.”

    Meski telah terpilih menjadi presiden ia sama sekali tidak mengubah penampilannya. Ia tetap tampil bersahaja dan jauh dari pamor kepresidenan. Pada salah satu acara dengan kalangan mahasiswa salah satu peserta menanyakan penampilannya yang tidak menunjukkan tampang presiden tersebut. Dengan lugas ia menjawab,:”Tapi saya punya tampang pelayan. Dan saya hanya ingin menjadi pelayan rakyat.”

    Air mata saya mengalir membaca ini. Subhanallah! Alangkah rendah hatinya pemimpin satu ini. Tak salah jika ia dicintai oleh bagitu banyak mahluk.

    ***

    (Dari Buku “Ahmadinejad, David di Tengah Angkara Goliath Dunia” terbitan Himah Teladan, kelompok Mizan)

     
    • LANA 1:34 pm on 26 Desember 2012 Permalink

      kapan di indonesia menemukan pemimpin seperti ini? saya sangat kagum dengan beliau.

  • erva kurniawan 1:38 am on 19 December 2012 Permalink | Balas  

    Akhir Hayat ‘Sang Biola Padang Pasir’ 

    Akhir Hayat ‘Sang Biola Padang Pasir’

    Jakarta – A’sya bin Qais, namanya. Walau pun matanya buta, namun syairnya memukau setiap orang yang mendengarnya. Karena kelebihannya di bidang dalam bersyair, dirinya mendapat gelar ‘Shannajatul Arab’; Biola bangsa Arab.

    Dalam tradisi arab dahulu, kedudukan suatu kaum ditentukan oleh dua hal: penyair dan petarung yang ulung. Karena alasan inilah, A’sya mendapatkan kedudukan di mata orang-orang sekitarnya. Walau tidak dipungkiri, ada kebiasaan jelek pada dirinya. Suka main wanita, gonta ganti pasangan, suka minum, dan juga suka judi.

    Suatu ketika, ia mendengar ada seorang lelaki yang mengaku nabi. Sosok yang sangat dipercaya. Tidak punya cela. Semakin hari, namanya semakin dikenal di seluruh penjuru tanah Arab. Hampir semua orang membicarakannya. Hanya saja, ia tidak jarang mendengar isu-isu negatif yang terkait dengan lelaki tersebut. Ia semakin penasaran. Semenjak itu, ia bertekad untuk menemui lelaki yang menjadi buah bibir bangsa arab itu. Ia ingin bergabung dalam barisannya, kalau ia betul-betul nabi.

    Dengan mengendarai unta, A’sya bertolak menuju Mekah. Lalu ke Madinah. Tidak mudah untuk bisa ke sana. Medannya berat. Ditambah lagi, cuaca gurun yang sangat panas. Memang, A’sya betul-betul telah nekat.

    Ternyata, perjalanan A’sya bin Qais, biola bangsa arab itu, untuk menemui Muhammad tercium oleh orang-orang arab di Makkah. Tentu, ini sangat berbahaya. Seandainya ia benar-benar mengikuti ajaran Muhammad, habislah sudah. Ia akan gunakan kemampuannya untuk mengampanyekan ajarannya yang baru. Kalau itu terjadi, seluruh bangsa arab pasti akan mengikuti Muhammad. Ini tidak bisa dibiarkan. Apalagi belum lama berlalu diadakan perjanjian Hudaibiyah, kesepatakan damai, antara bangsa arab di Makkah dengan Muhammad.

    Seketika itu Abu Sufyan bin Harb menemui A’sya bin Qais.

    “Hai A’sya, kamu mau kemana?” tanya Abu Sufyan.

    A’sya menjawab,”Aku ingin menemui Muhammad.”

    “Kamu tahu, kalau dia melarang pengikutnya meminum Khamr, berbuat zina dan bermain judi,” kata Abu Sufyan, menakut-nakuti A’sya. Abu Sufyan tahu bahwa Khamr, bermain wanita dan judi telah mendarah daging dalam diri A’sya.

    “Kalau masalah zina, ia telah meninggalkanku. Walau aku belum meninggalkannya. Kalau khamr (tuak) hasratku dengannya telah terpenuhi. Sedangkan untuk judi, semoga saja aku bisa mendapatkan gantinya,” ujar A’sya, diplomatis. Tidak bergeming sedikit pun.

    Abu Sufyan tidak putus asa. “Aku ada tawaran istimewa untukmu, kalau kamu mau?” Abu Sufyan mencoba menggodanya.

    “Apa yang kamu tawarkan?” balas A’sya penasaran.

    “Begini, kami telah mengikat perjanjian dengan Muhammad. Maka, sebaiknya engkau kembali saja untuk tahun ini dan kamu bisa mendapatkan seratus onta merah. Seandainya Muhammad beruntung, kamu bisa menemuinya setelah itu. Akan tetapi, bila kami yang beruntung, dirimu sudah mendapatkan ganti rugi dari perjalananmu kali ini,” Abu Sufyan menawarkan sesuatu yang menarik.

    Onta merah adalah onta terbaik pada masa itu. Kendaraan mewah untuk ukuran sekarang. Apalagi seratus ekor. Hanya dengan menunda perjalanan hingga tahun depan, ia bisa mendapatkan kekayaan, kalau di kurskan ke rupiah bisa Rp 1-5 miliar.

    Rupanya A’sya mulai tergoda. “Aku belum yakin,” tukas A’sya diplomatis.

    Dengan serta merta Abu Sufyan mengajak A’sya mampir ke rumahnya. Sesampainya mereka disana, Abu Sufyan mengumpulkan para sahabatnya. “Kawan-kawan bangsa Quraisy, ini adalah A’sya. Seandainya ia jadi bergabung bersama Muhammad, akibatnya bisa membahayakan kalian semua selaku bangsa arab. Oleh karena itu, kumpulkan seratus onta merah!”

    Kawan-kawan Abu Sufyan segera mengumpulkan seratus onta yang diminta oleh pemimpin mereka. Setelah terkumpul, semuanya diberikan kepada A’sya. Bersamaan dengan itu A’sya semakin penasaran. Apalagi ketika onta-onta mereka itu diserahkan. Akhirnya, ia pun mengambil keputusan final; mengurungkan perjalanannya untuk menemui Muhammad.

    Hati A’sya, sang biola bangsa arab, hatinya pun berbunga-bunga. Rezeki nomplok, pikirnya. Hanya saja itu semua tidak berlangsung lama. Ketika sampai di Yamamah, ia jatuh dari ontanya. Tidak hanya sampai di situ. Begitu A’sya terjatuh, onta itu menginjakkan kakinya ke tubuh lelaki itu. A’sya pun menghembuskan nafas terakhirnya hingga belum sempat menikmati kekayaan yang ia terima.

    Godaan di tengah jalan seringkali melalaikan seseorang dari tujuan. (rmd/rmd)

    ***

    Abdul Rochim – detikRamadan

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 18 December 2012 Permalink | Balas  

    Belajar Dari Lebah Dan Madu Opsi 

    Belajar dari Lebah dan Madu Opsi

    Oleh: Aa Gym

    Dari perut Lebah itu keluarlah minuman (Madu) yang macam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memikirkan (Q.S. An Nahl 69)

    Allah menciptakan Lebah ini bukan semata-mata jadi Lebah. Tetapi jadi pelajaran bagi kita. Karena tidak ada satupun yang Allah ciptakan sia-sia. Apa hikmah yang dapat kita ambil dari Lebah ini?

    Saudaraku di seluruh penjuru. Aa tertarik tentang Madu. Madu ini asalnya adalah sari-sari bunga yang dikumpulkan oleh Lebah, yang setelah diproses dalam tubuh Lebah akan dihasilkan Madu. Masuknya adalah sesuatu yang bagus, yaitu sari dan bunga, dan keluarnya jauh lebih bagus yaitu Madu. Madu ini bermanfaat bagi dirinya, manfaat bagi manusia, menjadi obat menyehatkan, menyembuhkan, memperbaiki kulit, berbagai hal, dahsyat sekali.

    Artinya kalau sesuatu itu dimasukkan input yang bagus-bagus, yang positif-positif, maka hasilnya akan jauh lebih positif, jauh lebih baik. Kalau kita terbiasa mengambil input secara berpikir dan cara bertindak yang positif, masukan yang kita simpan di pikiran yang positif, disimpan didalam hati kita bagus-bagus seperti bunga. Maka akan lahirlah pribadi yang seperti Madu. Cemerlang, manfaat, jadi obat, jadi penerang orang yang didalam kegelapan. Penyemangat orang-orang yang lunglai, menumbuhkan bibit-bibit kebajikan, serta menebar bibit-bibit kemuliaan.

    Nah tampaknya dalam hidup berkeluarga sebaiknya juga seperti ini, sangat senang mengumpulkan input-input positif, dan biasa menyebarkan sesuatu yang positif.

    Ingin sekali ya seperti Lebah, menjadi wanita yang selalu berpikir positif. Ketika melihat apapun yang ada di sekelilingnya. Sehingga pikirannya tidak sempat berpikir negatif. Yang membuat seseorang cepat maju bahkan mudah sekali untuk menjadi pribadi yang bisa mengajak orang lain karena selalu berpikir positif.

    Ya jadi memang tabungan kita ini, tabungan pikiran itu harus kita olah, sehingga yang masuk yang positif. Di setiap kejadian pasti ada hikmah. Pikirannya itu membangun bukan merusak. Mempersatukan bukan mencerai berai, menyemangati bukan melemahkan. Pokoknya pikiran yang positif-positif maka nanti akan lahirlah perilaku positif. Inilah yang harus kita evaluasi pada diri kita. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

    Semoga Allah menjadikan hari ini, hari penuh berkah, hari penuh perubahan menuju kebaikan. Hari yang penuh manfaat. Amin ya rabbal alamin.

    ***

    dtjakarta.or.id

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 17 December 2012 Permalink | Balas  

    Abu Nawas dan Rumah yang Sempit 

    Abu Nawas dan Rumah yang Sempit

    Dikisahkan, hiduplah seorang laki-laki yang tinggal di sebuah rumah yang luas. Ia tinggal bersama seorang istri dan 3 orang anaknya yang masih kecil-kecil. Suatu saat laki-laki itu merasa rumahnya semakin sempit. Dia mempunyai keinginan untuk memperluas rumahnya tetapi enggan untuk mengeluarkan biaya.

    Setelah berpikir, pergilah dia ke rumah Abu Nawas, si cerdik yang sangat tersohor di negeri Islam saat itu. Laki-laki itu meminta saran dari Abu Nawas bagaimana cara memperluas rumah tanpa harus mengeluarkan biaya.

    Mendengar kisahnya, Abu Nawas menyuruh laki-laki itu untuk membeli sepasang ayam jantan dan betina kemudian kandangnya ditaruh di dalam rumah. Laki-laki itu merasa aneh dengan saran Abu Nawas, tetapi tanpa berpikir panjang dia pergi ke pasar dan membelinya.

    Hari berikutnya dia datang kembali ke rumah Abu Nawas. Dia mengeluh rumahnya semakin sempit dan bau karena ayam-ayam yang dibelinya. Mendengar cerita itu, Abu Nawas hanya tersenyum dan menyuruh menambahkan sepasang bebek yang kandangnya juga ditaruh di dalam rumah. Dia bertambah heran, tetapi dia tetap menuruti nasehat Abu Nawas.

    3 Hari berlalu, datanglah dia ke rumah Abu Nawas lagi. Dia bercerita kalau rumahnya semakin semrawut semenjak kehadiran bebek. Abu Nawas justru menyuruhnya untuk menambahkan kambing yang kandangnya juga ditaruh dalam rumah.

    Hari berikutnya laki-laki itu kembali datang ke rumah Abu Nawas. Lelaki itu menceritakan bahwa istrinya marah sepanjang hari, anak-anaknya menangis, hewan-hewan berkotek dan mengembik, ditambah hewan-hewan itu juga mengeluarkan bau tak sedap. Abu Nawas hanya tersenyum mendengarnya. Kemudian Abu Nawas menyuruhnya untuk menjual hewan-hewan itu satu persatu mulai dari ayam yang dijual terlebih dahulu, bebek, kemudian yang terakhir kambing.

    Datanglah lelaki itu ke rumah Abu Nawas setelah selesai menjual kambingnya.

    Abu Nawas:”Kulihat wajahmu cerah hai fulan, bagaimana kondisi rumahmu saat ini?”

    Si lelaki:”Alhamdulillah ya abu, sekarang rasanya rumahku sangat lega karena ayam dan kandangnya sudah tidak ada. Kini istriku sudah tidak marah-marah lagi, anak-anakku juga sudah tidak rewel.”

    Abu Nawas: “(sambil tersenyum) Nah nah, kau lihat kan, sekarang rumahmu sudah menjadi luas padahal kau tidak menambah bangunan apapun atau memperluas tanah bangunanmu. Sesungguhnya rumahmu itu cukup luas, hanya hatimu sempit sehingga kau tak melihat betapa luasnya rumahmu. Mulai sekarang kau harus lebih banyak bersyukur karena masih banyak orang yang rumahnya lebih sempit darimu. Sekarang pulanglah kamu, dan atur rumah tanggamu, dan banyak-banyaklah bersyukur atas apa yang dirizkikan Tuhan padamu, dan jangan banyak mengeluh.”

    ***

    Ramdhan Muhaimin – detikRamadan

    *Berbagai sumber

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 16 December 2012 Permalink | Balas  

    Merenunglah Sejenak Saja 

    Merenunglah Sejenak Saja

    Perang Tabuk semakin dekat. Terlihat guratan wajah keheranan merambah wajah para sahabat. Terlebih wajah para sahabat terkemuka. Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bi Affan dan ALi bin Abi Thalib menatap wajah Rosulullah saw dengan tatapan penuh tanya.

    Mereka sama sekali tidak menyangka akan ada kalimat tanya dari Rosulullah saw, “Apakah kalian benar-benar beriman?”.

    Para sahabat tidak menjawab. Mereka tidak habis mengerti. Tiga belas tahun mereka menyertai Rosulullah saw di Mekah. Hijrah ke Madinahpun mereka lakukan. Ada yang harus meninggalkan istri dan anaknya. Ada pula yang harus meninggalkan orang tuanya.

    Yang pasti para sahabat meninggalkan harta benda dan tanah iirnya. Mereka senantiasa berada di sisi Rosulullah saw diberbagai peperangan sebelumnya. Karena itu, mereka tidak menjawab. Namun Rosulullah saw malah mengulang pertanyaannya sebanyak tiga kali.

    Akhirnya Umar bin Khattab menjawab, “Benar ya Rosulullah. Mereka benar-benar beriman dan aku seperti mereka.”

    Mendengar jawaban Umar, Rosulullah saw pun tersenyum. Sesaat Rosulullah saw bertanya lagi, “Apakah kalian benar-benar sabar?”.

    Para sahabat yang sempat lega melihat senyum Rosulullah saw kembali terdiam. Diam dalam keheranannya. Sulit bagi mereka untuk memahami kalimat tanya itu. Karena itu, mereka kembali tidak menjawab.

    Namun Rosulullah saw kembali mengulang pertanyaannya hingga tiga kali. Lagi-lagi Umar bin Khatab menjawab, “Benar ya Rosulullah. Mereka adalah komunitas yang benar-benar sabar. Dan aku seperti mereka.”

    Ada senyum lega tersungging di wajah Rosulullah saw ketika mendengar jawaban Umar bin Khattab. Begitulah cara Rosulullah saw, mengajak para sahabat untuk merenung sejenak. Merenung tentang hal yang paling mendasar, yaitu tentang iman dan sabar. Menakar iman dan sabar yang paling tepat adalah disaat kritis, disaat tidak normal. Disaat seperti itu, terlihat jelas kondisi kita sesungguhnya. Terlebih lagi pada saat menjelang perang.

    Dipuncak kondisi kritis Rosulullah saw mengajak para sahabat untuk merenung sejenak tentang iman dan sabar. Pada kondisi sulit memang akan terukur kedalaman iman dan kekuatan sabar kita.Iman akan menjadi penyebab seluruh aktivitas kita. Akibat amal yang paling kita damba adalah cinta dan ridhaNYA.

    Karenanya kita harus berupaya untuk senantiasa bersabar berada dijalanNYA, yaitu jalan ibadah dan dakwah. Dengan beribadah, kita bisa berbuat shalih untuk diri kita sendiri.Sedangkan melalui dakwah, kita bisa amat bermanfaat untuk orang lain.

    Karenanya merenunglah sejenak saja. Merenung tentang iman dan sabar. Tentang cinta dan ridhaNYA. Setelah itu, merenunglah tentang orangtua, istri, suami dan anak-anak kita. Bahkan merenunglah tentang surga dan neraka. Atau merenunglah tentang apa saja dan siapa saja yang bisa menggairahkan iman kita. Merenunglah sejenak lalu rasakan manisnya iman.

    ***

    (*disalin dari Simfoni Cinta oleh Hamy Wahjunianto)

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 15 December 2012 Permalink | Balas  

    Ahli Syukur 

    Ahli Syukur 

    Oleh : Aa Gym

    Bismillahirrahmanirrahim

    Assalamualaikum wr.wb.

    Pemirsa yang budiman alhamdulillah Allah mempertemukan kita dalam nikmat yang kalau kita syukuri akan berbuah nikmat yang lebih besar.

    Andai kata sebuah lemari yang penuh dengan makanan yang lezat, tapi terkunci. Mana yang lebih dahulu kita pikir dan kita lakukan. Isi lemari atau kunci lemari?

    Kuncilah yang menjadi pembuka nikmat yang ada, oleh karena itu kalau kita dengar janji Allah, Seandainya engkau syukuri nikmat Allah, Allah akan membuka pintu nikmat lainnya dan jika tidak engkau syukuri maka nikmat akan mengundang azab yang pedih.

    Lima kiat Syukur :

    1. Hati yakin semua nikmat hanyalah dari Allah, selain Allah itu hanyalah jalan untuk mendapatkan nikmat Allah.
    2. Doa Alhamdulillah, lisan selalu memuji Allah. Hilangkan diri dari keinginan dipuji, karena semua yang membuat kita dipuji pastilah sumbernya Allah. Cerdas otak milik Allah, Kaya harta titipan Allah, ingin bersyukur pujilah Allah, kembalikan kepada Allah
    3. Orang yang bersyukur kepada Allah adalah orang yang paling berterimakasih kepada sesama. Makin sering mengingat jasa orang, makin ingin berterimakasih, makin termasuk ahli syukur, dan itulah yang mengundang nikmat
    4. Gunakan semua pemberian Allah untuk mendekat kepada pemberiNya.
    5. Ceritakan nikmat ini, bukan agar kita dipuji tapi agar semua orang ingat kepada Allah yang Maha Terpuji.

    Nikmat yang ada saat ini akan berubah jadi nikmat yang hakiki ketika kita bisa mensyukurinya, tetapi nikmat yang ada saat ini bisa berubah menjadi malapetaka jika kita tidak terampil mensyukurinya.

    Doa

    Ya Allah ya Rabbal’alamin

    Golongkan kami menjadi ahli syukur atas segala nikmat yang Engkau berikan kepada kami, juga pada Ibu-Bapak kami. Dan bimbing kami ya Allah agar kami bisa mengerjakan amal sholeh yang dapat mencapai-menggapai ridho-Mu. Dan golongkan kami semua menjadi hamba-hambaMu yang Engkau ridhoi, hambaMu yang Sholeh.

    Ya Allah jangan biarkan nikmat yang Engkau beri membuat kami kufur terhadap karuniaMu. Ampuni jikalau selama ini nikmat kami gunakan untuk berbuat maksiat.

    Ya Allah bimbinglah kami agar umur yang tersisa ini menjadi ahli syukur atas sekecil apapun karunia yang Engkau beri, ahli sabar atas ujian yang kami hadapi dan ahli ikhtiar dijalan yang Engkau ridhoi.

    Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzabannar

    Amiin ya Allah ya Rabbal’alamin

    Pemirsa yang budiman selamat menikmati nikmat tiada bertepi menjadi ahli syukur.

    Wassalamualaikum wr.wb.

    ***

    dtjakarta.or.id

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 14 December 2012 Permalink | Balas  

    Jadilah Yang Paling Baik 

    Jadilah Yang Paling Baik

    ” Jadilah yang paling baik dari dua orang manusia.” – Muhammad Rasulullah SAW –

    Kebanyakan manusia salah dalam mengartikan makna menjadi paling baik dalam hidup ini. Apakah itu dalam hubungan antara dua orang atau lebih dalam kaitannya dengan pekerjaan, bisnis, usaha, persahabatan sampai bertetangga.

    Banyak orang yang berusaha menjadi paling baik dibandingkan dengan orang lain dengan cara mengalahkannya, merendahkannya atau menyingkirkannya. Banyak juga yang berusaha menjadi lebih baik dibanding orang lain dengan ukuran penampilan luar atau ukuran duniawi semata, seperti mobil lebih mewah, rumah lebih besar, pakaian dan asesories lebih mahal, dll. Ada juga orang yang berusaha menjadi paling baik dibandingkan orang lain dengan ukuran lebih tinggi dalam kedudukan atau pangkat dan jabatan, lebih tinggi dibanding lainnya dalam hal kehormatan, kesombongan, popularitas, keegoan pribadi, dll.

    Kalau mencermati makna sesungguhnya dari rangkaian nasehat bijak Muhammad Rasulullah SAW diatas, sesungguhnya bukan hal seperti ini yang menjadi makna terdalam. ” Jadilah yang paling baik dari dua orang manusia” yang dimaksudkan adalah lebih baik dibanding orang lain dalam hal mengutamakan kepentingan orang lain. Menjadi lebih baik dibanding orang lain dalam hal memberikan manfaat bagi orang lain. Lebih baik dalam menjaga kerendahan hati, dalam berbagi kebaikan, dalam kejujuran, menolong orang lain, mengembangkan sikap empati, dalam cinta kasih dan kesetiaan. Kalau kita sebagai pengusaha, jadilah pengusaha paling baik diantara orang lain, dengan cara menjalankan bisnis dengan mengedepankan kejujuran, berorientasi pada memberikan banyak manfaat bagi orang lain, mengutamakan kepentingan konsumen, memberikan pelayanan yang baik, dll.

    Kalau kita sebagai karyawan, berusahalah menjadi paling baik dibandingkan dengan orang lain dengan membantu orang lain, memberikan pelayanan lebih baik, mengutamakan kepentingan orang lain, mengedepankan kejujuran, dll.

    Marilah kita renungkan, dalam berbagai bidang kegiatan kita, baik sebagai pengusaha, sebagai karyawan, sebagai keluarga, sebagai pemimpin, sebagai warga masyarakat, apakah sudah meneladani sikap seperti ini ?. Berusahalah menjadi orang paling baik dalam kehidupan ini, bukan hanya diukur dari penampilan duniawi tetapi dari manfaat yang kita berikan dalam kehidupan. Semoga Anda mendapatkan inspirasi dan motivasi pada hari ini 1

    Sumber: Menjadi Orang Paling Baik oleh Eko Jalu Santoso, Founder Motivasi Indonesia,

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 13 December 2012 Permalink | Balas  

    Semangat Sebagai Kunci Kebahagiaan Opsi 

    Semangat Sebagai Kunci Kebahagiaan Opsi

    Oleh : Aa Gym

    Bismillahirahmanirrahim

    Kepribadian manusia sangat tergantung kepada suasana hati yang dipengaruhi pikiran. Seumpama teko, ia hanya mengeluarkan isinya. Bila isinya teh, maka yang keluar pun teh. Kalau isinya air bening, maka teko itu pun hanya mengeluarkan air bening.

    Demikian halnya dengan kepribadian seseorang. Bila hatinya sedang diliputi kegembiraan, maka terpancarlah rasa sukacita itu dari raut wajah, tutur kata gerak-gerik, dan perilaku fisik lainnya. Sebaliknya, hati yang sedih sebagai buah dari pikiran yang kusut. Tercermin pulalah dalam penampilan, tatapan mata, desahan nafas, raut wajah, atau kelesuan tubuhnya.

    Memang, tubuh hanyalah alat ekspresi dari kondisi hati. Sehingga, Rosulullah saw. pernah bersabda, “Di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau daging itu baik, maka baik pula tubuhnya, tetapi kalau daging itu buruk, maka buruklah seluruh sikapnya. Ia adalah hati.”

    Oleh karena itu, sekiranya dalam mengarungi hidup ini kita merasa kurang berprestasi, kurang berkualitas, atau jemu dan tidak bergairah dalam menghadapi hari demi hari, sehingga kehadiran kita kurang memiliki arti, baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan, maka ketahuilah bahwa semua itu sama sekali bukan disebabkan oleh adanya kesulitan-kesulitan yang menghimpit, melainkan lantaran kurang terampilnya kita dalam mengelola suasana hati, sehingga menjadi tidak sanggup memompa dan membakar semangat. Padahal, bukankah semua bahan bakunya telah disiapkan oleh Allah yang Maha Rahman secara adil dan sempurna, di dalam diri kita sendiri?

    “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk,” demikian firman-Nya. Jadi, tidak ada kekurangan menurut ilmu Allah. Diri kita sudah disiapkan dengan sempurna untuk menjadi diri sendiri, yang memiliki potensi sama untuk meraih kualitas pribadi terbaik yang berhak mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

    Jadi, tidak ada kekurangan menurut ilmu Allah. Diri kita sudah disiapkan dengan sempurna untuk menjadi diri sendiri, yang memiliki potensi sama untuk meraih kualitas pribadi terbaik yang berhak mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

    Sungguhpun kita dapati beberapa kekurangan menempel pada tubuh ini, sesungguhnya kekurangan lahir itu amatlah semu. Dan itupun semata-mata didasarkan atas penilaian kita saja yang sudah pasti senantiasa diselimuti hawa nafsu. Sesungguhnya kekurangan-kekurangan yang Dia berikan pada jasad (lahir) ini merupakan alat yang amat potensial untuk mengembangkan kualitas hati.

    Bahwa justru dengan kekurangan yang ada, hati menjadi terlindung dari riya, sum’ah, dan takabur, sehingga menjadi terlatih untuk selalu ridha dan sabar. Bukankah bersikap sabar itu lebih sulit dan berat ketika mendapatkan nikmat ketimbang saat didera musibah? Disamping itu, hati pun niscaya akan terlatih menjadi ahli syukur karena ternyata musibah kekurangan yang ada itu pasti teramat kecil dibandingkan dengan nikmat kesempurnaan lainnya yang melimpah ruah.

    Walhasil, bila kekurangan itu membuat kita menjadi minder (rendah diri), pemalu, kecewa, atau bahkan putus asa, maka jelaslah semua ini karena diciptakan oleh perasaan sendiri sebagai akibat salah mengatur suasana hati. Sehingga, tidak hanya akan merugikan diri sendiri, tetapi bukan tidak mungkin orang lain pun ikut terkena getahnya.

    Maka, mengantisipasi kondisi semacam ini, kuncinya hanya satu: kesadaran penuh bahwa hidup didunia ini hanya mampir sebentar saja karena memang bukan disinilah tempat kita yang sebenarnya. Asal usul kita adalah dari surga dan tempat itu yang memang layak bagi kita. Jika berminat dan bersungguh-sungguh berjuang untuk mendapatkannya, maka Allah pun sebenarnya sangat ingin membantu kita untuk kembali ke surga.

    Bukalah kitabullah Al-Qur’an dan lihatlah janji-janji yang difirmankanNya. Betapa banyak amalan yang amat kecil dan sederhana bisa membuat dosa kita diampuni dan diberi pahala berlipat ganda.

    Sahabat, kita memang harus bertindak cermat agar “sang umur”, sebagai modal hidup kita, benar-benar efektif dan termanfaatkan dengan baik. Sebab, bisa jadi kita tak lama lagi hidup di dunia ini. Akankah sisa umur ini kita habiskan dengan kesengsaraan dan kecemasan padahal semua itu sama sekali tidak mengubah apapun, kecuali hanya menambah tersiksanya hidup kita? Tidak!, sudah terlalu lama kita menyengsarakan diri. Harus kita manfaatkan sisa umur ini dengan sebaik-baiknya agar mendapat kebahagiaan kekal di dunia dan di akhirat nanti.

    Kebanyakan kita suka tenggelam dalam kesengsaraan, persis seperti kapal selam yang bocor, semakin banyak bocornya, semakin cepat pula tenggelamnya. Sepertinya kita ini adalah orang-orang yang tidak dapat mengatur pikiran dengan baik. Kerap terhantui oleh masa lalu, berangan-angan dan cemas akan hari esok, semua itu membanjiri dan menenggelamkan pikiran, sehingga tak sempat lagi berfikir banyak untuk hari ini. Padahal, hari kita justru hari ini.

    Sekiranya masa lalu kita buruk dan kurang sukses, justru akan menjadi baik dengan baiknya hari ini. Begitupun jika kita merindukan hari esok yang baik, maka kita peroleh dengan berlaku semaksimal mugkin pada hari ini. Sekali lagi, hari milik kita adalah hari ini. Maka, kita buat sukses dengan gemilang. Apa yang terjadi di masa lalu adalah bahan pendorong untuk hari ini. Bergelimang dosa pada hari yang lalu menjadi pemicu untuk bertaubat pada hari ini. Janganlah pikiran kita dipenuhi dengan ingatan akan banyaknya dosa, namun penuhilah dengan pikiran tentang bagaimana caranya agar memperoleh ampunan dari Allah pada hari ini.

    Karenanya, gelorakan semangat untuk bertaubat sesempurna mungkin. Kelemahan dan kegagalan masa lalu tidak usah menjadi buah fikiran berlama-lama. Kuasailah pikiran dengan baik dan kerahkan seoptimal mungkin agar memperoleh kesuksessan dan kebahagiaan pada hari ini.

    Bila air dari gelas tumpah, apalah perlunya pikiran dan hati tenggelam dalam kesedihan dan kekecewaan berlarut-larut. Biarlah semuanya terjadi sesuai dengan ketetapan Allah. Kuatkan pikiran kita untuk mencari air yang baru. Dengan demikian, Insya Allah tumpahnya air akan menjadi keuntungan karena kita mendapatkan pahala sabar serta pahala ikhtiar.

    Dan yang terlebih penting lagi, kita akan dilimpahi aneka nikmat baru yang lebih besar karena kita telah menjadi ahli syukur nikmat. Bukankah Allah Azza wa Jalla telah berjanji, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim (140):7)

    Jadi, jangan pikiran kita terjerat oleh rasa malu. Kemarin jelek, maka hari ini harus bagus, sehingga hari esok pun menjadi cerlang cemerlang!. Aturlah pikiran kita dengan baik dan cegahlah dari hal-hal yang dapat merusak suasana hari ini. Kondisikan agar kita selalu mampu berpikir positif.

    Mengapa kita harus gelisah memikirkan nikmat yang belum tampak? Padahal, semua yang kita inginkan mutlak kuncinya adalah qudrah dan iradah Allah. Dan Dia sangat memperhatikan perilaku kita setiap saat. Sekiranya Allah, tidak menghendaki, maka tidak akan pernah terjadi apapun jua. Namun sekiranya Dia menhendaki sesuatu, maka tiada sesuatu pun yang dapat menolaknya.

    Allah berfirman, “Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya, kecuali Dia. Dan jika Allah menhendaki kebaikan bagimu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus (10) : 107)

    Tegasnya, siapapun yang memiliki cita-cita luhur, yakinlah bahwa hari ini adalah kunci untuk hari esok. Sekiranya Allah menyaksikan hari ini penuh dengan perjuangan dan pengabdian yang gigih, sarat semangat dan gairah hidup, shalat tepat waktu dan khusyuk, bibir dilimpahi dengan bacaan Qur’an dan dzikir, kerap berbuat kebaikan pada sesama, maka niscaya Dia akan membukakan jalan bagi kesuksessan hidup kita.

    Semoga Allah menggolongkan kita menjadi hamba-hambanya yang penuh semangat dan gairah hidup untuk menyempurnakan ikhtiar di jalan yang diridhai-Nya, sehingga singkat di dunia benar-benar penuh kesan dan arti.

    ***

    Rangkuman Pengajian MMQ Humas DT Jakarta

    dtjakarta.or.id

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 12 December 2012 Permalink | Balas  

    3 ‘Kebohongan’ Nabi Ibrahim AS 

    3 ‘Kebohongan’ Nabi Ibrahim AS

    Hasan Fauzi – detikRamadan

    Selama masa hidupnya, Nabi Ibrahim AS melakukan tiga ‘kebohongan’.

    ‘Kebohongan’ pertama

    Orang-orang kafir Babilonia memiliki hari besar yang mereka rayakan tiap tahun di alun-alun kota. Ketika hari raya itu tiba, Nabi Ibrahim AS diajak oleh ayahnya untuk menyaksikannya. Namun, ia tidak mau mengikutinya dengan alasan sakit, seperti dalam firman Allah SWT pada Alquran surat Ash-Shaaffaat 88-89, “Lalu dia memandang sekilas ke bintang-bintang, kemudian dia (Ibrahim) berkata, ‘Sesungguhnya aku sakit’.”

    Nabi Ibrahim AS membuat alasan itu untuk melancarkan rencananya menghancurkan berhala-berhala yang akan ditinggalkan saat semua orang menghadiri perayaan besar tersebut. Nabi Ibrahim AS kemudian menghancurkan semua berhala dengan kapak, kecuali berhala yang terbesar. Dia kemudian meletakkan kapak di tangan berhala terbesar tersebut.

    Sebagaimana disebutkan dalam sejarah, ayah Nabi Ibrahim AS merupakan pembuat berhala.

    ‘Kebohongan’ kedua

    Setelah Nabi Ibrahim AS menghancurkan semua berhala, kecuali yang terbesar, dan meletakkan kapak di tangan kanan berhala terbesar itu, masyarakat yang baru kembali dari perayaan kaget melihat sesembahan mereka hancur. “Mereka berkata, ‘Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zhalim.” (QS Al-Anbiyaa:59)

    Kemudian di antara mereka ada yang berkata, “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim.” (QS Al-Anbiyaa:60)

    Menurut Ibnu Mas’ud, mereka yang menunjuk bahwa Nabi Ibrahim AS pelakunya adalah mereka yang pernah mendengar Nabi Ibrahim berkata, “Dan demi Allah, sungguh, aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya.” (QS Al-Anbiyaa:57).

    Nabi Ibrahim AS kemudian dibawa dan “disidang”. Setelah berkumpul, “Mereka bertanya, ‘Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?’ Dia (Ibrahim) menjawab, ‘Sebenarnya patung besar itu yang melakukannya.” (QS Al-Anbiyaa:62-63)

    Nabi Ibrahim AS berkata seperti itu agar mereka segera menjawab bahwa patung-patung itu tidak dapat berbicara, hingga akhirnya mereka mengakui bahwa patung-patung itu hanyalah benda mati yang tidak bisa berbuat apa-apa.

    ‘Kebohongan’ ketiga

    Pada suatu hari Nabi Ibrahim AS bersama istrinya, Sarah, datang ke suatu tempat yang dikuasai seorang Firaun zhalim, untuk menetap sementara di sana. Firaun itu diberitahu oleh ajudannya bahwa ada seorang lelaki yang tinggal bersama wanita yang sangat cantik jelita. Firaun tersebut mengutus utusannya untuk menemui Ibrahim. Sang utusan bertanya, “Siapakah wanita yang tinggal bersamamu?”. Nabi Ibrahim AS menjawab, “Dia adalah adikku.”. Lalu Nabi Ibrahim AS mendatangi Sarah dan berkata, “Wahai Sarah, di muka Bumi ini tidak ada orang yang beriman kecuali aku dan kamu. Dan di depan sana ada seseorang yang datang dan bertanya kepadaku tentang dirimu, maka aku katakan padanya bahwa kamu adalah adikku. Oleh karena itu, janganlah kamu katakan yang lain selain yang aku katakan.”

    Maksud ucapan Nabi Ibrahim ‘AS yang mengatakan bahwa Sarah adalah adiknya adalah “saudara seagama” (ukhtun fid-diin). Sedangkan maksud “di muka Bumi ini tidak ada orang yang beriman kecuali aku dan kamu” adalah tidak ada pasangan mukmin lain selain aku dan kamu. Alasannya adalah, karena Nabi Luth AS pada saat itu juga beriman, sama seperti mereka. Nabi Luth AS adalah keponakan Nabi Ibrahim AS.

    Menurut sejarawan, Firaun dalam kisah tersebut merupakan saudara dari Adh-Dhahhak, Firaun yang sangat terkenal kezhalimannya. Firaun tersebut bernama Sinan bin Ulwan bin Ubaid bin Auj bin Imlaq bin Lawaz bin Sam bin Nuh. Sedangkan riwayat Ibnu Hisyam dalam kitab “At-Tijan” menyebutkan, firaun tersebut adalah Amru bin Umrul Qais bin Mailepon bin Saba.

    ***

    Sumber: buku Qashash Al-Anbiyaa’, 2002, karya Ibnu Katsir

    ramadan.detik.com

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 11 December 2012 Permalink | Balas  

    Cinta Besar Muhammad Yunus 

    Cinta Besar Muhammad Yunus

    Adalah seorang bernama Muhammad Yunus yang tinggal di Bangladesh. Waktu itu, Yunus baru meraih gelar doktornya di AS. Dengan semangat yang menggebu ia mengajar ekonomi di salah satu universitas di Bangladesh. Sebuah negeri yang sedang dilanda kelaparan. Begitu ia selesai mengajar dan keluar kelas, ia langsung menghadapi kengerian yang sangat luar biasa. Ia melihat kerangka hidup berseliweran di sekelilingnya. Ia menjadi saksi mata orang-orang yang sekarat menanti ajal.

    Yunus merasa semua yang ia pelajari, semua yang ia ajarkan hanyalah teori ekonomi yang muluk-muluk, yang indah-indah. Hanya ilusi. Ketika nyatanya semuanya tak memberi arti bagi kehidupan orang-orang disekelilingnya. Perenungannya yang dalam, membawa Yunus untuk mulai mempelajari dan mencari tahu kehidupan orang-orang miskin di sekitar kampusnya. Yunus mulai melakukan sesuatu yang dapat ia kerjakan sebagai sesama manusia untuk mencegah kematian walaupun hanya menyangkut satu orang saja.

    Akhirnya Yunus mulai membantu membiayai seorang ibu pembuat bangku kecil dari bambu (dingklik, jejodog) di satu desa. Lama kelamaan semakin banyak ibu yang dibiayai oleh Yunus dari hasil meminjam uang di bank kampusnya. Yunus dapat meyakinkan pihak bank bahwa orang-orang desa sanggup mengembalikan uang yang dipinjamnya. Dan ternyata benar, dari satu orang yang dibiayai Yunus menjadi ratusan orang. Dari satu desa berkembang menjadi ratusan desa. Hingga 25 tahun kemudian tepatnya pada tanggal 2 Oktober 1983 Yunus mendirikan sebuah bank resmi yang independen. Grameen Bank. Sebuah organisasi unik yang didirikan dengan tujuan utama menyalurkan kredit mikro bagi kaum miskin di Bangladesh. Tanpa agunan! Kini Grameen Bank bergerak di 46.000 desa lebih di Bangladesh melalui 1.267 cabang, dengan 12.000 pegawai. Grameen Bank meminjamkan lebih dari 4,5 miliar dolar AS.

    Muhammad Yunus merupakan teladan pribadi yang hebat. Dia mampu merasakan adanya kebutuhan orang-orang disekitarnya. Lantas ia menanggapi bisikan hati nuraninya dengan memanfaatkan ilmu, empati serta cintanya yang besar terhadap kehidupan. Yunus menjawab kebutuhan banyak orang di sekelilingnya dengan solusi sederhana pada mulanya.

    Yunus menemukan suara panggilan jiwa dan mengilhami orang lain untuk menemukan kemerdekaan jiwa mereka.

    Nobel Perdamaian tahun 2006 yang baru saja diumumkan dengan penuh keharuan, diraih Muhammad Yunus dan Grameen Bank. Komite Nobel memutuskan bahwa salah satu pilar terpenting dari perdamaian adalah pemberantasan kemiskinan. Peduli pada kaum papa dan wanita. Yunus dan banknya memang pantas mendapatkannya untuk apa yang telah ia lakukan bagi kaum miskin di negaranya. Memberdayakan. Memberi kail bukan ikan.

    ***

    [Sebagian data diambil dari : The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness – Stephen R Covey]

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 10 December 2012 Permalink | Balas  

    Si Belang dan Si Botak yang Tak Pandai Bersyukur 

    Si Belang dan Si Botak yang Tak Pandai Bersyukur

    Rina Yuliana – detikRamadan

    Jakarta – Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah terdapat kisah tentang Si Belang, Si Botak dan Si Buta. Ketiga orang itu diuji oleh Allah dengan penyakit sehingga dijauhi oleh masyarakat.

    Suatu ketika datang malaikat Jibril kepada Si Belang. Jibril bertanya apakah yang diinginkan oleh Si Belang. Si belang menginginkan kulit yang bagus dan paras yang tampan. Jibril mengelus Si Belang dan kemudian penyakitnya sembuh. Jibril juga bertanya harta apakah yang disenangi, kemudian Si Belang menjawab, ‘unta’. Jibril memberinya seekor unta. Begitu juga dengan Si Botak dan Si Buta. Mereka didatangi malaikat, disembuhkan penyakitnya dan diberi harta.

    Harta yang mereka miliki berkembang menjadi banyak. Allah memerintahkan Jibril untuk mendatangi mereka kembali. Allah ingin menguji rasa syukur yang mereka miliki. Datanglah Jibril kepada Si Belang. Jibril menyamar menjadi orang miskin dan mempunyai penyakit belang dikulitnya.

    Malaikat Jibril berkata, “Saya adalah seorang miskin dan telah kehabisan bekal di tengah perjalanan ini, dan sampai hari ini tidak ada harapanku kecuali hanya kepada Allah, kemudian kepadamu. Saya benar-benar meminta pertolongan kepadamu dengan menyebut Dzat yang telah memberi engkau paras yang tampan dan kulit yang halus serta harta kekayaan, saya meminta kepadamu seekor unta untuk bekal melanjutkan perjalanan saya,”

    Namun, Si Belang tidak mau memberikan pertolongan itu.

    Dia berkata, “Sesungguhnya saya mempunyai harta kekayaan ini dari nenek moyang,”

    Begitu juga ketika malaikat Jibril pergi kepada Si Botak. Si Botak yang sudah kaya juga tidak mau memberikan pertolongan kepada orang miskin yang sebenarnya adalah seorang malaikat.

    Selanjutnya malaikat Jibril mendatangi si buta. Dia meminta pertolongan kepada Si Buta seperti dia minta pertolongan kepada 2 orang sebelumnya. Dia menyamar menjadi seorang buta yang miskin.

    Mendengar kisah orang miskin yang sebenarnya malaikat Jibril itu, Si Buta menjawab,

    “Saya dulu adalah orang buta, kemudian Allah mengembalikan penglihatan saya, dan dulu saya orang miskin, kemudian Allah memberi kekayaan seperti ini. Maka, ambillah apa yang kamu inginkan. Demi Allah, sekarang saya tidak akan memberatkan sesuatu kepadamu yang kamu ambil karena Allah,”.

    Mendengar perkataan Si Buta yang tulus, malaikat Jibril lalu berkata, “Peliharalah harta kekayaanmu, sebenarnya kamu hanyalah diuji dan Allah benar-benar ridha terhadap kamu dan Allah telah memurkai kepada kedua kawanmu,”

    Si Belang dan Si Botak yang tidak mau memberikan pertolongan akhrinya dikembalikan seperti semula. Sedangkan Si Buta yang bersyukur atas nikmat yang diberikan tetap diberi kesehatan dan kekayaan oleh Allah.

    ***

    Sumber: ramadan.detik.com

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 9 December 2012 Permalink | Balas  

    Kebaikan Yang Indah 

    Kebaikan Yang Indah

    Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa,”Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kamu?” Mereka menjawab,” Kebaikan.” [An Nahl; 16:30]

    Seorang wanita baru pindah ke sebuah kota kecil. Setelah berada di sana beberapa waktu, ia mengeluh kepada tetangganya tentang pelayanan buruk yang dialaminya di apotek setempat. Ia meminta tolong pada tetangganya agar mau menyampaikan kritiknya pada pemilik apotek itu.

    Beberapa hari kemudian wanita pendatang tersebut pergi lagi ke apotek itu. Pemilik apotek menyambutnya dengan senyum lebar sambil mengatakan betapa senangnya ia melihat wanita itu berkenan datang kembali ke apoteknya, dan berharap wanita dan suaminya menyukai kota mereka. Bukan hanya itu, pemilik apotek itu bahkan menawarkan diri membantu wanita dan suaminya menguruskan berbagai hal agar mereka bisa menetap di kota itu dengan nyaman. Lalu, ia pun mengirimkan apa yang dipesan wanita itu dengan cepat dan baik.

    Wanita itu merasa senang dengan perubahan luar biasa yang ditunjukkan oleh pemilik apotek. Kemudian, ia melaporkan hal itu pada tetangganya. Katanya, “Anda tentu sudah menyampaikan kritik saya mengenai betapa buruk pelayanannya waktu itu.”

    “Oh, tidak,” jawab tetangganya. “Sebenarnya saya tidak menyampaikan kritik anda pada mereka. Saya harap anda tidak keberatan. Saya katakan pada pemilik apotek itu betapa anda terkagum-kagum melihat caranya mendirikan apotek di kota kecil ini. Dan, anda merasa apoteknya adalah salah satu apotek dengan pelayanan terbaik yang pernah anda temui.”

    Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan(disediakan) kebaikan dan tambahan (ridha Allah) serta muka-muka mereka tidak tertutup oleh kehitaman dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah ahli surga yang mereka kekal di dalamnya [Yuunus; 10:26]

    ***

    Sumber: Editor Rekan Kantor

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 8 December 2012 Permalink | Balas  

    Taubat Pembersih Qolbu 

    Taubat Pembersih Qolbu 

    Oleh: Ningrum M.

    Bismillahirrahmanirrahimm

    Suatu kehidupan sampai akhir hayat pastinya tidak akan sepi dari suasana  hati terhadap suasana hati yang gembira hari ini besok sedih. Baru gembira  menit berikut bisa sedih. Kenapa? Jadi sampai akhir hayat kita tidak akan  berhenti bertemu dengan dua hal yang kontras. Sebentar sedih,  setelah itu  gembira,  setelah gembira setelah itu sedih,  saat ini bahagia besok kena  fitnah.

    “Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang  menyucikan diri” ( Qs. Al-Baqarah:222)

    Bagaimana Taubat sebagai pembersih Qolbu ? Kalau qolbu kita bisa bersih  dialah yang bakal membawa kita menuju kepada ketenangan, tapi kalau qolbu  kita banyak polkadotnya (titik-titiknya) itu yang susah terijabah, itu yang  susah bawaannya ngotot dan emosi. Yang kita inginkan adalah hati yang  bersih, kalau hati kita hitam harus dibersihkan dengan taubat dan istighfar  sehingga lama kelamaan hitamnya akan hilang, kita berharap dengan  riyadhohnya akan tertetes jiwa Allah dalam hati kita.

    Bertaubatlah kepada Allah setiap waktu karena itu dianjurkan oleh Allah SWT  sebagaimana firman-Nya dalam QS An-Nuur ayat 31 “Bertaubatlah kalian semua  kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung”. Mau  menjadi untung atau rugi, kita lah yang memilih. Taubat merupakan sarana  yang mengatar hamba menjadi kekasih Allah, artinya jangan berjalan selain  bersama Allah.

    Rasulullah SAW bersabda :”Kadangkala timbul perasaan dalam hatiku maka aku  beristighfar memohon ampun kepada Allah 100 kali”. Beda sekali dengan kita  istighfar kita itu kejar setoran, maksudnya, kalau mau istighfar itu  menggugurkan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita maka istighfarnya  tembakkan kepada kesalahan yang kita tuju. Mudah-mudahan istighfar kita yang  100 hanya membersihkan kesalahan kita yang hanya 10, sehingga kita surplus  90, ini namanya istighfar  kita adalah berkualitas. Jadi terjawab mengapa  istighfar 100 kali tapi masih jutek? karena tidak yakin Allah menghapus  noda-noda yang membekas.

    Oleh karena itu, usahakan untuk senantiasa bertafakaur sepanjang hidupmu.  Renungkan apa yang telah engkau perbuat setiap hari? Apa yang telah engkau  perbuat di siang hari? jika engkau melakukannya dalam ketaatan maka  bersyukurlah dan sebaliknya maka bersegeralah menuju ampunannya. Jangan  menyesali diri dengan tertawa bahagia, tapi sesalilah dengan jujur,  kekecewaan, penyesalan yang mendalam. Jadi kalau kita ingin dipandang oleh  Allah dari Arsy’-Nya dengan penuh cinta, maka tafakurilah segala sesuatu  yang salah kemudian bergegaslah untuk beristighfar. Namun kalau dia tidak  menyesali maka merugilah ia. Efeknya dari ini adalah Allah akan menggantikan  kesedihan dengan keceriaan, kehinaan dengan kemulyaan, kegelapan dengan  cahaya dan ketertutupan dengan ketersingkapan yang ada. Inilah reward dari  Allah, barang siapa yang  melakukan kesalahan hendaknya dia bergegas  beristighfar, bukankah ini yang kita impikan suatu kepribadian yang  bercahaya  sebagai muslimah, sesuatu kesedihan menjadi kesenangan, bukankah  ini yang kita impikan suatu kepribadian yang penuh cahaya sehingga terbuka  cahaya pikir.

    Allah SWT tidak akan menghitung-hitung kesalahan hamba-Nya, ia paham bahwa  hambanya akan segera beristighfar, betapa pentingnya suatu instropeksi diri  pada setiap waktu, bukan hanya pada saat ulang tahun. Justru dari sholat ke  sholat kita harus beristighfar yang dapat menghapus kesalahan-kesalahan  kita. Seorang ahli tafakur dia akan senantiasa peka terhadap kesalahannya  artinya dia tidak ingin terperangkap kedalam lubang yang kedua kalinya.  Tentu dia akan tegap lagi, menginginkan kasih sayang Allah.

    Oleh karena itu hendaknya engkau tujukan semua amal perbuatanmu untuk Allah,  barang siapa amal perbuatannya jatuh kedalam dosa maka qolbunya akan menjadi  gelap gulita. Kalau kita senantiasa melakukan kesalahan tetapi Allah tetap  saja mengaruniakan kepada kita rizki yang berlimpah itu berarti kasih sayang  Allah lebih utama dibanding murka Allah kepada kita.

    Jangan sekali-kali melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh Allah SWT  karena kita tidak akan pernah luput dari pengawasan dan perlindunganNya.  Berbuat kesalahan itu ibarat api sementara kegelapan adalah asapnya, jadi  seperti orang yang menyalakan perapian dirumah selama 70 tahun bukankah  rumah tsb akan gelap. Inilah perwujudan orang-orang yang salah. Ia baru  menjadi bersih dengan taubat kepada Allah, jika engkau bertaubat kepada  Allah bekas-bekas salah tersebut bisa menjadi sirna. Ketahuilah bahwa taubat  adalah terminal pertama, segala bentuk ibadah akan diterima Allah jika  didahuli dengan niat.

    Kedaan hamba yang melakukan salah sama seperti periuk besi diatas api,  semakin lama semakin menghitam warnanya, kalau kita ingat salah ingat priuk  jangan ingat wajah cantik, tidak kelihatan nanti salahnya, walaupun dicuci  ia tidak akan kembali. Setiap mukmin jika melakukan kesalahan maka akan  timbul bintik hitam pada qolbunya, jika ia bertaubat, beristighfar memohon  ampunan maka bintik hitam tadi akan terhapus. Nah, istighfar yang baik  adalah bukan istighfar yang kejar setoran., tetapi salah mana yang akan kita  tuju. Taubatlah yang bisa mencuci hitamnya qolbu sehingga amal-amal saleh  bisa tampak terang diterima oleh Allah SWT. Jika ini bisa dilakukan maka  hidup akan menjadi lebih baik. Sebab taubat merupakan karunia menjadi lebih  baik, yang diberikan kepada hambanya yang dikehendaki. Kadang kala seorang  budak yang kurus berhasil melakukan taubat tetapi majikannya tidak, mungkin  pembantu kita jauh lebih mulia daripada kita. Nur nya lebih bercahaya  daripada kita.

    Jadi orang-orang yang suka bertaubat, disini Allah memposisikan diri-Nya  sebagai orang yang mencintai hambanya  bukan sebagai yang dicintai.  Bayangkan Allah yang mencintai, Ya Allah cintailah aku, berikanlah aku cinta  yang bisa mendekatkan aku kepadaMu, Ikrar ingin dicintai Allah adalah  resikonya siap atau tidak kita untuk mendahulukan Allah dan berserah diri.  Orang yang merasa senang dengan sesuatu itu jika mengetahui kadar dan nilai  sesuatu itu, jika engkau menebarkan intan permata maka  kepada binatang  melata niscaya mereka lebih menyenangi gandum, artinya termasuk kelompok  manakah kita ini? Jika kita orang yang bertaubat berarti kita termasuk orang  yang dicintai Allah, tetapi jika tidak kita termasuk orang yang zhalim.

    Bagi kita yang mempunyai salah menumpuk jangan berputus asa terhadap rahmat  Allah SWT dengan berkata sudah berapa kali aku bertaubat dan menyesal. Kalau  hati ingin terawat bersih maka harus dirawat dengan ibadah yang baik dengan  kalimah Allah, kerja yang prestasi di jalan yang lurus. Boleh jadi solehah  yang gaul.

    Suatu ketika Syeikh Abu Hasan As-Sadjili bercerita, aku pernah ditegur  “Wahai Ali bersihkanlah bajumu dengan pertolongan Allah, pastilah ia akan  selalu terpelihara” “bajuku yang mana? Allah telah memberimu pakaian  ma’rifat yaitu tauhiid, lalu pakaian mahabbah yaitu cinta kepada Allah,  kemudian pakaian islam, siapa yang mengenal Allah yang lain tidak berarti  baginya. Barang siapa orang-orang yang bersama-Ku maka Aku cintai. Jadi,  kalau masih marah, masih tidak sabar, berarti Allah belum berada di dalam  jiwanya. Apa salahnya? ingat-ingat lagi apakah kesalahan yang telah kita  lakukan kepada Allah SWT, kemudian bertaubatlah..

    ***

    dtjakarta.or.id

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 7 December 2012 Permalink | Balas  

    Kerja Itu Cuma Selingan, Untuk Menunggu Waktu Shalat 

    Kerja Itu Cuma Selingan, Untuk Menunggu Waktu Shalat

    Ketika Pak Heru, atasan saya, memerintahkan untuk mencari klien yang bergerak di bidang interior, seketika pikiran saya sampai kepada Pak Azis. Meskipun hati masih meraba-raba, apa mungkin Pak Azis mampu membuat kios internet, dalam bentuk serupa dengan anjungan tunai mandiri dan dari kayu pula, dengan segera saya menuju ke bengkel workshop Pak Azis.

    Setelah beberapa kali keliru masuk jalan, akhirnya saya menemukan bengkel Pak Azis, yang kini ternyata sudah didampingi sebuah masjid. Pak Azispun tampak awet muda, sama seperti dulu, hanya pakaiannya yang sedikit berubah. Kali ini dia selalu memakai kopiah putih. Rautnya cerah, fresh, memancarkan kesan tenang dan lebih santai. Beungeut wudhu-an ( wajah sering wudhu), kata orang sunda. Selalu bercahaya.

    Hidayah Allah ternyata telah sampai sejak lama, jauh sebelum Pak Azis berkecimpung dalam berbagai dinamika kegiatan Islam. Hidayah itu bermula dari peristiwa angin puting-beliung, yang tiba-tiba menyapu seluruh atap bengkel workshop-nya, pada suatu malam kira-kira lima tahun silam. “Atap rumah saya tertiup angin sampai tak tersisa satupun. Terbuka semua.” cerita Pak Azis.”Padahal nggak ada hujan, nggak ada tanda-tanda bakal ada angin besar. Angin berpusar itupun cuma sebentar saja.”

    Batin Pak Azis bergolak setelah peristiwa itu. Walau uang dan pekerjaan masih terus mengalir kepadanya, Pak Azis tetap merasa gelisah, stres & selalu tidak tenang. “Seperti orang patah hati, Ndra. Makan tidak enak, tidur juga susah.”cerita Pak Azis lagi.

    Lama-kelamaan Pak Azis menjadi tidak betah tinggal di rumah dan stres. Padahal, sebelum kejadian angin puting-beliung yang anehnya hanya mengenai bengkel workshop merangkap rumahnya saja, Pak Azis merasa hidupnya sudah sempurna. Dari desainer grafis hingga jadi arsitek. Dengan keserbabisaannya itu, pak Azis merasa puas dan bangga, karena punya penghasilan tinggi. Tapi setelah peristiwa angin puting-beliung itu, pak Azis kembali bangkrut, beliau bertanya dalam hati : “apa sih yang kurang” apa salahku ” ?

    Akhirnya pak Azis menekuni ibadah secara mendalam “Seperti musafir atau walisongo, saya mendatangi masjid-masjid di malam hari. Semua masjid besar dan beberapa masjid di pelosok Bandung ini, sudah pernah saya inapi.” Setahun lebih cara tersebut ia jalani, sampai kemudian akhirnya saya bisa tidur normal, bisa menikmati pekerjaan dan keseharian seperti sediakala.

    “Bahkan lebih tenang dan santai daripada sebelumnya.”

    “Lebih tenang ? Memang Pak Azis dapet hikmah apa dari tidur di masjid itu ?”

    “Di masjid itu ‘kan tidak sekedar tidur, Ndra. Kalau ada shalat malam, kita dibangunkan, lalu pergi wudhu dan tahajjud. Karena terbiasa, tahajjud juga jadi terasa enak. Malah nggak enak kalau tidak shalat malam, dan shalat-shalat wajib yang lima itu jadi kurang enaknya, kalau saya lalaikan. Begitu, Ndra.”

    “Sekarang tidak pernah terlambat atau bolong shalat-nya, Pak Azis ?”

    “Alhamdulillah. Sekarang ini saya menganggap bhw yg utama itu adalah shalat. Jadi, saya dan temen-temen menganggap kerja itu cuma sekedar selingan aja.” “Selingan ?”

    “Ya, selingan yang berguna. Untuk menunggu kewajiban shalat, Ndra.” Untuk beberapa lama saya terdiam, sampai kemudian adzan ashar mengalun jelas dari masjid samping rumah Pak Azis. Pak Azis mengajak saya untuk segera pergi mengambil air wudhu, dan saya lihat para pekerjanyapun sudah pada pergi ke samping rumah, menuju masjid. Bengkel workshop itu menjadi lengang seketika. Sambil memandang seluruh ruangan bengkel, sambil berjalan menuju masjid di samping workshop, terus terngiang-ngiang di benak saya : “Kerja itu cuma selingan, Ndra. Untuk menunggu waktu shalat…”

    Sepulangnya dari tempat workshop, sambil memandang sibuknya lalu lintas di jalan raya, saya merenungi apa yang tadi dikatakan oleh Pak Azis. Sungguh trenyuh saya, bahwa setelah perenungan itu, saya merasa sebagai orang yang sering berlaku sebaliknya. Ya, saya lebih sering menganggap shalat sebagai waktu rehat, cuma selingan, malah saya cenderung lebih mementingkan pekerjaan kantor. Padahal sholat yang akan bantu kita nantinya…(sungguh saya orang yang merugi..) Kadang-kadang waktu shalat dilalaikan sebab pekerjaan belum selesai, atau rapat dengan klien dirasakan tanggung untuk diakhiri.

    Itulah penyebab dari kegersangan hidup saya selama ini. Saya lebih semangat dan habis-habisan berjuang meraih dunia, daripada mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan kekal di akhirat nanti. Padahal dunia ini akan saya tinggalkan juga, kenapa saya begitu bodoh..

    Saya lupa, bahwa shalat adalah yang utama. Mulai saat itu saya berjanji untuk mulai shalat di awal waktu..

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 6 December 2012 Permalink | Balas  

    Renungan: Dosa Bukan Akhir Segalanya 

    Renungan: Dosa Bukan Akhir Segalanya

    Siapa yang berani mengaku dirinya tidak pernah melakukan dosa? Saya yakin setiap manusia selain Nabi Muhammad SAW, pasti pernah melakukan dosa, baik dosa kecil, besar, sembunyi-sembunyi ataupun yang terang-terangan. Pernah salah seorang teman Saya bercerita bahwa dia pernah tergelincir berbuat dosa. Dia merasa frustasi dan menyesal sekali. Sampai-sampai dia berputus asa bahwa sudah tidak ada gunanya lagi beribadah karena pasti tidak akan diterima oleh Alloh SWT. Kalaupun beribadah, rasa ragu selalu menyusup dalam hatinya, keraguan akankah dosanya diampuni oleh Alloh, ragu akankah amal ibadahnya di terima oleh Alloh.

    Jujur, Saya pun sering bertanya-tanya dalam hati apakah amal ibadah Saya, sholat, puasa, sedekah akan diterima oleh Alloh sedangkan Saya pernah berbuat dosa dan mungkin bahkan masih sering mengulang dosa. Sampai akhirnya Saya merenungi syair dari salah satu kelompok nasyid dari Malaysia The Zikr yang sedang saya dengar melalui MP3:

    Tuhan…..

    Dosaku menggunung tinggi, namun rahmatMu melangit luas….

    Selangkah ku rapat padaMu, seribu langkah Kau rapat padaku….

    Tuhan

    Walau sering ku tobat mungkir….

    Namun pengampunanMu tak pernah berhenti

    Astagfirullah…..Saya tersadar bahwa ternyata rahmat dan ampunan Alloh sangatlah luas. Terutama buat hambanya yang benar-benar mau bertobat. Dosa yang pernah kita lakukan bukanlah akhir dari segalanya. Bukan berarti dengan berbuat dosa telah tertutup pintu rakhmat tuk menggapai cinta Ilahi, asalkan kita bertobat dengan sebenar-benarnya tobat.

    Setidaknya dengan pengalaman tergelincir pada dosa membuat kita lebih waspada dan berhati-hati agar tidak tergelincir untuk yang kedua kalinya. Bahkan membuat kita semakin bersemangat untuk terus memperbaiki diri menjadi yang lebih baik, Insyaalloh.

    Satu lagi kegelisahan Saya dan mungkin juga Anda rasakan adalah seperti syair Abunawas berikut ini:

    Ilaahi lastu lil firdausi ahlan Walaa aqwaa ‘alan naaril jahiimi. Fahabli taubatan waghfir dzunuubi Fainnaka ghoofirun dzanbil adhiimi.

    Dzunuubi mitslu a’daadir rimaali Fahabli taubatan yaa Dzal Jalaali Wa umriy naaqisun fi kulli yaumi Wadzanbi zaaidun kaifahtimaali

    Wahai Tuhan ku tak layak ke syurga Mu Namun tak pula aku sanggup ke nerakaMu Ampunkalah dosaku terimalah tobatku Sesungguhnya Engkaulah pengampun dosa2 besar

    ***

    Dari Bunda Naila

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 5 December 2012 Permalink | Balas  

    Lelaki Kubah dan Tukang Pos 

    Lelaki Kubah dan Tukang Pos

    Cerpen Adek Alwi

    Ia lelaki tua pembuat kubah yang bekerja setelah fajar dan berhenti saat pudar matahari. Tujuh hari sepekan, tiga puluh hari sebulan — diseling kegiatan lain yang tak bisa diabaikan: makan, tidur, ke masjid di hari Jumat, bersapaan dengan tetangga atau kenalan yang lewat. Juga dengan tukang pos muda yang selalu berhenti di tepi jalan di luar pagar halaman. Setiap kali sepeda motor tukang pos itu terdengar si tua itu akan menelengkan kepala yang nyaris botak serta beruban. Menegak-negakkan punggung yang bungkuk, dan mendekat tertatih-tatih. “Wah. Kosong, Pak Kubah!” sambut si tukang pos.

    “Kosong?”

    “Mungkin besok,” suara tukang pos seperti membujuk.

    “Ya. Mudah-mudahan.” Pembuat kubah itu manggut-manggut. “Banyak surat diantar hari ini?”

    “Lumayan, Pak Kubah. Semoga isinya pun berita gembira.”

    “Mudah-mudahan. Menyenangkan dapat menggembirakan orang, Pak Pos.”

    “Tapi awak hanya tukang pos, Pak Kubah.”

    “Hehehe. Tidak ada Pak Pos malah kegembiraan tak jadi sampai.”

    “Terima kasih. Mudah-mudahan besok giliran Pak Kubah.”

    “Mudah-mudahan.”

    Tukang pos itu selalu berhenti di luar pagar meski tahu tidak ada surat untuk laki-laki tua itu. Pembuat kubah itu tidak punya siapa-siapa dalam hidupnya. Kecuali tetangga, pemesan kubah, orang lepau tempat makan, serta penjual bahan untuk kubah. Istrinya meninggal belasan tahun lalu. Satu-satunya anaknya, lelaki, mati waktu kecil.

    Tetapi si tua itu mengesankan seolah anak itu masih ada, sudah dewasa, dan merantau seperti lazimnya anak-anak muda kota itu. Begitu didengar si tukang pos muda waktu baru bertugas di kota itu, menggantikan tukang pos tua yang kini pensiun dan berleha-leha dengan cucu.

    “Kurang waras?” tanya tukang pos muda itu mula-mula pada tukang pos tua. “Tidak. Tidak. Bahkan ramah. Juga rajin. Kerja sejak pagi, berhenti menjelang magrib. Bayangkan. Tiap hari begitu, sudah berpuluh tahun.”

    “Sejak muda hanya membuat kubah?”

    “Kata orang, sejak kecil,” ujar tukang pos tua. “Langganannya tidak cuma dari kota ini saja. Tapi tak pernah dia pasang tarif.”

    “Maksud Bapak?”

    “Ia hanya menyebut modal pembuat kubah. Terserah, mau dibayar berapa.”

    “Wah!”

    “Betul. Dan punggungnya tambah bungkuk tiap selesai bikin kubah.” Tukang pos muda itu kembali melongo. “Maksudnya bagaimana?”

    “Punggung si pembuat kubah itu,” ujar tukang pos tua menjelaskan. “Tiap kali selesai membuat kubah tampak makin lengkung, membuat mukanya seperti mendekat terus ke tanah. Seolah-olah ingin mencium tanah!”

    Mungkin karena cerita-cerita itu, atau iba pada kesendirian lelaki tua itu serta takjub melihat ketabahannya menanti surat yang tak kunjung tiba, si tukang pos muda akhirnya memenuhi permintaan tukang pos tua yang sudah pensiun. Kecuali hari libur dan Minggu ia berhenti di pinggir jalan mengucapkan tak ada surat dan bicara sejenak dengan si pembuat kubah. Saat ia melaju lagi di jalan dilihatnya lelaki tua itu kembali bekerja. Punggungnya lengkung — teramat lengkung tidak ubahnya batang-batang padi yang buahnya sudah masak. “Nah! Betul, kan?” sambut si tukang pos tua saat tukang pos muda itu bertamu sore-sore ke rumahnya dan bercerita.

    Tukang pos muda itu membenarkan. “Tapi kenapa bisa begitu?” dia bilang. “Entah, tak ada yang tahu. Sejak tugas di kota ini saya dapati seperti itu. Boleh jadi hanya pembuat kubah itu sendiri yang tahu.” “Tidak pernah Bapak tanya?”

    “Tak tega saya. Dia baik dan ramah sekali,” jawab tukang pos tua. “Saya cuma singgah tiap hari, bicara sebentar saling bertanya kabar, lalu bilang tidak ada surat dan mungkin besok.”

    Tetapi tukang pos muda itu tega bertanya. Dan pembuat kubah tua itu terkekeh mendengarnya. “Ada-ada saja,” dia bilang. “Kalau padi memang seperti itu, Pak Pos. Eh, mestinya hati manusia juga, ya. Tetapi punggung saya, hehehe, ada-ada saja Pak Pos Tua dan orang-orang itu.”

    “Jadi Pak Kubah sama sekali tidak merasa? Bahwa punggung….”

    “Hehehe. Punggung ini tentu saja tambah bungkuk, Pak Pos. Dulu tak begini. Maklumlah, semakin tua. Agaknya setua ayah Pak Pos. Ah, tidak. Pasti saya lebih tua. Pasti. Tapi anak saya itu, ya, anak saya mungkin sebaya dengan Pak Pos. Eh, belum ada tiba surat dia?”

    “Oh. Belum, Pak Kubah. Kosong. Mudah-mudahan besok.”

    “Ya, besok. Mudah-mudahan.” Pembuat kubah itu manggut-manggut.

    Sejak itu si tukang pos muda berhenti tiap hari di pinggir jalan di luar pagar si pembuat kubah. Tidak kecuali hari libur atau Minggu. Apalagi, sebagai orang baru di kota itu belum banyak ia punya kenalan — untuk kawan berbincang seusai kerja atau di saat senggang. Ibunya di kampung sudah mencari gadis yang patut untuk pendamping hidupnya dan ia pun telah setuju tetapi belum berani melamar mengingat gaji yang tak memadai untuk berdua. Tukang pos itu juga tidak mendambakan yang muluk-muluk. Tapi, menurutnya, hidup dalam perkawinan seyogianya lebih baik daripada saat masih sendiri.

    Kadang, tukang pos itu juga memarkir sepeda motornya di halaman sekaligus bengkel lelaki tua itu, hingga mereka leluasa bercakap-cakap. Pembuat kubah itu pun senang ditemani. Kadang-kadang, meski dicegah si tukang pos dia berteriak ke lepau seberang jalan memesan dua gelas teh, juga pisang goreng, dan mereka lalu bercakap-cakap sambil minum teh serta menyantap pisang goreng.

    Pembuat kubah itu bercakap-cakap sambil terus bekerja, dan tukang pos muda itu memperhatikan serta bertanya-tanya. Wajah si tua itu dilihatnya berseri-seri meski kulitnya keriput. Lengannya coklat, dan kukuh serupa kayu. Urat-urat tangannya hijau bertonjolan, melingkar-lingkar bagai cacing. Tangan tua itu amat cekatan melipat atau membulat-bulatkan seng. Menggunting, atau menokok-nokok dengan palu kayu. Atau mematri. Semua dilakukan si pembuat kubah tanpa buru-buru, sambil bercakap-cakap dengan si tukang pos. “Hebat!” puji si tukang pos muda.

    “Ya?”

    “Hebat benar Pak Kubah bekerja!” ulang tukang pos. “Cekatan, seolah mudah saja pekerjaan itu buat Pak Kubah.”

    “O. Hehehe. Alah bisa karena biasa, Pak Pos. Seperti Pak Pos mengantar surat dengan sepeda motor.”

    “Dan ikhlas,” ujar si tukang pos.

    “Hehehe. Kalau tidak tentu berat terasa,” sambut si pembuat kubah. Mereka terus bercakap-cakap. Si tukang pos terus pula memperhatikan tangan si pembuat kubah. Juga tubuhnya. Tubuh lelaki tua itu tentu tampak lebih tinggi, juga besar, kalau saja punggungnya tidak melengkung bungkuk dan badannya lisut. Tetapi wajahnya selalu berseri meski kulitnya keriput. Tukang pos itu berpikir, apakah wajah ayahnya –yang samar-samar saja ia ingat– akan keriput dan berseri andai sempat jadi tua. Jika tak wafat saat ia di sekolah dasar. Wajahnya juga. Apakah nanti keriput, tapi juga berseri-seri, seandainya Tuhan memberi dia usia panjang? “Berapa umur Pak Kubah tahun ini?” tanya tukang pos itu.

    “Hehehe. Tak jelas, Pak Pos. Tapi pasti sudah panjang, sebab punggung ini tak kuat lagi menyangga tubuh.” Pembuat kubah itu tertawa lagi.

    Musim hujan kemudian singgah di kota itu. Meski tidak selalu lebat dan lebih kerap berujud gerimis tapi tiap hari mendesis. Kadang-kadang sore, sepanjang malam, pagi, atau siang hari. Tukang pos itu berteduh di bawah pohon atau emperan toko bila hujan turun deras, dan kembali berkeliling ketika hujan menjelma gerimis. Tubuhnya tertutup mantel, sebatas leher ke atas saja mencogok bak kura-kura. Tapi di kepalanya ada pet. Mukanya ditutupi sapu tangan seperti perampok.

    Pembuat kubah itu sudah menggeser tempat kerjanya dari bawah pohon jambu ke emperan rumah agar terhindar dari hujan maupun tempias. Sedikit jauh dari pagar. Tapi telinganya tajam. Tiap kali terdengar suara sepeda motor tukang pos ia telengkan kepalanya. Tukang pos itu mulanya hendak lewat saja karena sapu tangannya sudah kuyup dan mukanya perih ditusuk-tusuk gerimis. Atau cukup ia melambai, dan teriak, “Kosong, Pak Kubah!” Namun, dia tepikan sepeda motor begitu tiba dekat pagar laki-laki tua itu. Dan pembuat kubah itu mendekat tertatih-tatih setelah menegak-negakkan punggung.

    “Wah. Kosong, Pak Kubah!”

    “Kosong?”

    “Kosong. Tapi, mungkin besok.”

    “Ya, ya. Besok. Mudah-mudahan. Singgahlah dulu. Ngopi.”

    “Terima kasih. Masih banyak surat harus diantar.” Dan tukang pos itu melaju pula. Sejenak dilihatnya lelaki tua itu tertatih-tatih di bawah gerimis, menuju emperan rumah. Punggungnya makin bungkuk seolah ingin sekali mencium tanah.

    Seperti biasa musim hujan cukup lama di kota itu. Atap, pohon, dan jalan-jalan tidak pernah kering. Orang-orang berpayung ke mana-mana. Berbaju hangat, jas, jaket atau mantel, sebab angin pun rajin bertiup meski tak pernah jadi badai.

    Tukang pos itu juga tak lepas-lepas dari mantel, pet serta sapu tangan menutup sebagian wajah. Dan walau sejenak, serta dengan muka terlihat makin putih juga perih ditusuk gerimis, ia berhenti dekat pagar berucap “kosong Pak Kubah, mungkin besok” dengan suara, bibir, dan dada bergetar. Kemudian dilihatnya lagi lelaki tua itu kembali melangkah, terbungkuk-bungkuk di bawah gerimis menuju emperan rumah.

    Tetapi, suatu hari, tukang pos itu merasa jadi manusia paling bahagia sedunia. Meski masih pucat malah makin perih ditusuk gerimis yang terus mendesis, wajahnya berseri. Belum tiga menit lalu ia bersorak kepada pembuat kubah itu, dan kali ini tidak dengan dada serta suara yang bergetar: “Surat Pak Kubah!”

    “Surat?”

    “Ya. Surat! Dari anak Pak Kubah!”

    Pembuat kubah itu menerimanya dengan jemari bergetar. Dan saat tukang pos itu melaju pula di jalan dilihatnya laki-laki tua itu masih berdiri di bawah rinyai hujan, melambai-lambaikan tangan.

    Lenteng Agung, 23 Juli 2005

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 4 December 2012 Permalink | Balas  

    Sejarah Kodifikasi Al-Quran 

    Sejarah Kodifikasi Al-Quran

    Mushaf Al Quran yang ada di tangan kita sekarang ternyata telah melalui perjalanan panjang yang berliku-liku selama kurun waktu lebih dari 1400 tahun yang silam dan mempunyai latar belakang sejarah yang menarik untuk diketahui. Selain itu jaminan atas keotentikan Al Quran langsung diberikan oleh Allah SWT yang termaktub dalam firman-Nya QS.AL Hijr -(15):9: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr (Al Quran), dan kamilah yang akan menjaganya”..

    Al-Quran pada jaman Rasulullah SAW.

    Pengumpulan Al Quran pada zaman Rasulullah SAW ditempuh dengan dua cara:

    Pertama : al Jam’u fis Sudur

    Para sahabat langsung menghafalnya diluar kepala setiap kali Rasulullah SAW menerima wahyu. Hal ini bisa dilakukan oleh mereka dengan mudah terkait dengan kultur (budaya) orang arab yang menjaga Turast (peninggalan nenek moyang mereka diantaranya berupa syair atau cerita) dengan media hafalan dan mereka sangat masyhur dengan kekuatan daya hafalannya.

    Kedua : al Jam’u fis Suthur

    Yaitu wahyu turun kepada Rasulullah SAW ketika beliau berumur 40 tahun yaitu 12 tahun sebelum hijrah ke madinah. Kemudian wahyu terus menerus turun selama kurun waktu 23 tahun berikutnya dimana Rasulullah. SAW setiap kali turun wahyu kepadanya selalu membacakannya kepada para sahabat secara langsung dan menyuruh mereka untuk menuliskannya sembari melarang para sahabat untuk menulis hadis-hadis beliau karena khawatir akan bercampur dengan Al Quran. Rasul SAW bersabda “Janganlah kalian menulis sesuatu dariku kecuali Al Quran, barangsiapa yang menulis sesuatu dariku selain Al Quran maka hendaklah ia menghapusnya ” (Hadis dikeluarkan oleh Muslim (pada Bab Zuhud hal 8) dan Ahmad (hal 1).

    Biasanya sahabat menuliskan Al Quran pada media yang terdapat pada waktu itu berupa ar-Riqa’ (kulit binatang), al-Likhaf (lempengan batu), al-Aktaf (tulang binatang), al-`Usbu ( pelepah kurma). Sedangkan jumlah sahabat yang menulis Al Quran waktu itu mencapai 40 orang. Adapun hadis yang menguatkan bahwa penulisan Al Quran telah terjadi pada masa Rasulullah s.a.w. adalah hadis yang di Takhrij (dikeluarkan) oleh al-Hakim dengan sanadnya yang bersambung pada Anas r.a., ia berkata: “Suatu saat kita bersama Rasulullah s.a.w. dan kita menulis Al Quran (mengumpulkan) pada kulit binatang “.

    Dari kebiasaan menulis Al Quran ini menyebabkan banyaknya naskah-naskah (manuskrip) yang dimiliki oleh masing-masing penulis wahyu, diantaranya yang terkenal adalah: Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Salin bin Ma’qal.

    Adapun hal-hal yang lain yang bisa menguatkan bahwa telah terjadi penulisan Al Quran pada waktu itu adalah Rasulullah SAW melarang membawa tulisan Al Quran ke wilayah musuh. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah kalian membawa catatan Al Quran kewilayah musuh, karena aku merasa tidak aman (khawatir) apabila catatan Al Quran tersebut jatuh ke tangan mereka”.

    Kisah masuk islamnya sahabat `Umar bin Khattab r.a. yang disebutkan dalam buku-bukus sejarah bahwa waktu itu `Umar mendengar saudara perempuannya yang bernama Fatimah sedang membaca awal surah Thaha dari sebuah catatan (manuskrip) Al Quran kemudian `Umar mendengar, meraihnya kemudian memba-canya, inilah yang menjadi sebab ia mendapat hidayah dari Allah sehingga ia masuk islam.

    Sepanjang hidup Rasulullah s.a.w Al Quran selalu ditulis bilamana beliau mendapat wahyu karena Al Quran diturunkan tidak secara sekaligus tetapi secara bertahap.

    Al-Quran pada zaman Khalifah Abu Bakar as Sidq

    SEPENINGGAL Rasulullah SAW, istrinya `Aisyah menyimpan beberapa naskah catatan (manuskrip) Al Quran, dan pada masa pemerintahan Abu Bakar r.a terjadilah Jam’ul Quran yaitu pengumpulan naskahnaskah atau manuskrip Al Quran yang susunan surah-surahnya menurut riwayat masih berdasarkan pada turunnya wahyu (hasbi tartibin nuzul).

    Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya sebab-sebab yang melatarbelakangi pengumpulan naskah-naskah Al Quran yang terjadi pada masa Abu Bakar yaitu Atsar yang diriwatkan dari Zaid bin Tsabit r.a. yang berbunyi:

    “Suatu ketika Abu bakar menemuiku untuk menceritakan perihal korban pada perang Yamamah , ternyata Umar juga bersamanya. Abu Bakar berkata :” Umar menghadap kapadaku dan mengatakan bahwa korban yang gugur pada perang Yamamah sangat banyak khususnya dari kalangan para penghafal Al Quran, aku khawatir kejadian serupa akan menimpa para penghafal Al Quran di beberapa tempat sehingga suatu saat tidak akan ada lagi sahabat yang hafal Al Quran, menurutku sudah saatnya engkau wahai khalifah memerintahkan untuk mengumpul-kan Al Quran, lalu aku berkata kepada Umar : ” bagaimana mungkin kita melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah s. a. w. ?” Umar menjawab: “Demi Allah, ini adalah sebuah kebaikan”.

    Selanjutnya Umar selalu saja mendesakku untuk melakukannya sehingga Allah melapangkan hatiku, maka aku setuju dengan usul umar untuk mengumpulkan Al Quran.

    Zaid berkata: Abu bakar berkata kepadaku : “engkau adalah seorang pemuda yang cerdas dan pintar, kami tidak meragukan hal itu, dulu engkau menulis wahyu (Al Quran) untuk Rasulullah s. a. w., maka sekarang periksa dan telitilah Al Quran lalu kumpulkanlah menjadi sebuah mushaf”. Zaid berkata : “Demi Allah, andaikata mereka memerintahkan aku untuk memindah salah satu gunung tidak akan lebih berat dariku dan pada memerintahkan aku untuk mengumpulkan Al Quran. Kemudian aku teliti Al Quran dan mengumpulkannya dari pelepah kurma, lempengan batu, dan hafalan para sahabat yang lain).

    Kemudian Mushaf hasil pengumpulan Zaid tersebut disimpan oleh Abu Bakar, peristiwa tersebut terjadi pada tahun 12 H. Setelah ia wafat disimpan oleh khalifah sesudahnya yaitu Umar, setelah ia pun wafat mushaf tersebut disimpan oleh putrinya dan sekaligus istri Rasulullah s.a.w. yang bernama Hafsah binti Umar r.a.

    Semua sahabat sepakat untuk memberikan dukungan mereka secara penuh terhadap apa yang telah dilakukan oleh Abu bakar berupa mengumpulkan Al Quran menjadi sebuah Mushaf. Kemudian para sahabat membantu meneliti naskah-naskah Al Quran dan menulisnya kembali. Sahabat Ali bin Abi thalib berkomentar atas peristiwa yang bersejarah ini dengan mengatakan : ” Orang yang paling berjasa terhadap Mushaf adalah Abu bakar, semoga ia mendapat rahmat Allah karena ialah yang pertama kali mengumpulkan Al Quran, selain itu juga Abu bakarlah yang pertama kali menyebut Al Quran sebagai Mushaf).

    Menurut riwayat yang lain orang yang pertama kali menyebut Al Quran sebagai Mushaf adalah sahabat Salim bin Ma’qil pada tahun 12 H lewat perkataannya yaitu : “Kami menyebut di negara kami untuk naskah-naskah atau manuskrip Al Quran yang dikumpulkan dan di bundel sebagai MUSHAF” dari perkataan salim inilah Abu bakar mendapat inspirasi untuk menamakan naskah-naskah Al Quran yang telah dikumpulkannya sebagai al-Mushaf as Syarif (kumpulan naskah yang mulya). Dalam Al Quran sendiri kata Suhuf (naskah ; jama’nya Sahaif) tersebut 8 kali, salah satunya adalah firman Allah QS. Al Bayyinah (98):2 ” Yaitu seorang Rasul utusan Allah yang membacakan beberapa lembaran suci. (Al Quran)”

    Al-Quran pada jaman khalifah Umar bin Khatab

    Tidak ada perkembangan yang signifikan terkait dengan kodifikasi Al Quran yang dilakukan oleh khalifah kedua ini selain melanjutkan apa yang telah dicapai oleh khalifah pertama yaitu mengemban misi untuk menyebarkan islam dan mensosialisasikan sumber utama ajarannya yaitu Al Quran pada wilayah-wilayah daulah islamiyah baru yang berhasil dikuasai dengan mengirim para sahabat yang kredibilitas serta kapasitas ke-Al-Quranan-nya bisa dipertanggungjawabkan Diantaranya adalah Muadz bin Jabal, `Ubadah bin Shamith dan Abu Darda’.

    Al-Quran pada jaman khalifah Usman bin `Affan

    Pada masa pemerintahan Usman bin ‘Affan terjadi perluasan wilayah islam di luar Jazirah arab sehingga menyebabkan umat islam bukan hanya terdiri dari bangsa arab saja (‘Ajamy). Kondisi ini tentunya memiliki dampak positif dan negatif.

    Salah satu dampaknya adalah ketika mereka membaca Al Quran, karena bahasa asli mereka bukan bahasa arab. Fenomena ini di tangkap dan ditanggapi secara cerdas oleh salah seorang sahabat yang juga sebagai panglima perang pasukan muslim yang bernama Hudzaifah bin al-yaman. Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa suatu saat Hudzaifah yang pada waktu itu memimpin pasukan muslim untuk wilayah Syam (sekarang syiria) mendapat misi untuk menaklukkan Armenia, Azerbaijan (dulu termasuk soviet) dan Iraq menghadap Usman dan menyampaikan kepadanya atas realitas yang terjadi dimana terdapat perbedaan bacaan Al Quran yang mengarah kepada perselisihan.

    Ia berkata : “wahai usman, cobalah lihat rakyatmu, mereka berselisih gara-gara bacaan Al Quran, jangan sampai mereka terus menerus berselisih sehingga menyerupai kaum yahudi dan nasrani “.

    Lalu Usman meminta Hafsah meminjamkan Mushaf yang di pegangnya untuk disalin oleh panitia yang telah dibentuk oleh Usman yang anggotanya terdiri dari para sahabat diantaranya Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin al’Ash, Abdurrahman bin al-Haris dan lain-lain.

    Kodifikasi dan penyalinan kembali Mushaf Al Quran ini terjadi pada tahun 25 H, Usman berpesan apabila terjadi perbedaan dalam pelafalan agar mengacu pada Logat bahasa suku Quraisy karena Al Quran diturunkan dengan gaya bahasa mereka.

    Setelah panitia selesai menyalin mushaf, mushaf Abu bakar dikembalikan lagi kepada Hafsah. Selanjutnya Usman memerintahkan untuk membakar setiap naskah-naskah dan manuskrip Al Quran selain Mushaf hasil salinannya yang berjumlah 6 Mushaf.

    Mushaf hasil salinan tersebut dikirimkan ke kota-kota besar yaitu Kufah, Basrah, Mesir, Syam dan Yaman. Usman menyimpan satu mushaf untuk ia simpan di Madinah yang belakangan dikenal sebagai Mushaf al-Imam. Tindakan Usman untuk menyalin dan menyatukan Mushaf berhasil meredam perselisihan dikalangan umat islam sehingga ia manual pujian dari umat islam baik dari dulu sampai sekarang sebagaimana khalifah pendahulunya Abu bakar yang telah berjasa mengumpulkan Al Quran.

    Adapun Tulisan yang dipakai oleh panitia yang dibentuk Usman untuk menyalin Mushaf adalah berpegang pada Rasm alAnbath tanpa harakat atau Syakl (tanda baca) dan Nuqath (titik sebagai pembeda huruf).

    Tanda Yang Mempermudah Membaca Al-Quran

    Sampai sekarang, setidaknya masih ada empat mushaf yang disinyalir adalah salinan mushaf hasil panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit pada masa khalifah Usman bin Affan. Mushaf pertama ditemukan di kota Tasyqand yang tertulis dengan Khat Kufy. Dulu sempat dirampas oleh kekaisaran Rusia pada tahun 1917 M dan disimpan di perpustakaan Pitsgard (sekarang St.PitersBurg) dan umat islam dilarang untuk melihatnya. Pada tahun yang sama setelah kemenangan komunis di Rusia, Lenin memerintahkan untuk memindahkan Mushaf tersebut ke kota Opa sampai tahun 1923 M. Tapi setelah terbentuk Organisasi Islam di Tasyqand para anggotanya meminta kepada parlemen Rusia agar Mushaf dikembalikan lagi ketempat asalnya yaitu di Tasyqand (Uzbekistan, negara di bagian asia tengah).

    Mushaf kedua terdapat di Museum al Husainy di kota Kairo mesir dan Mushaf ketiga dan keempat terdapat di kota Istambul Turki. Umat islam tetap mempertahankan keberadaan mushaf yang asli apa adanya. Sampai suatu saat ketika umat islam sudah terdapat hampir di semua belahan dunia yang terdiri dari berbagai bangsa, suku, bahasa yang berbeda-beda sehingga memberikan inspirasi kepada salah seorang sahabat Ali bin Abi Thalib yang menjadi khalifah pada waktu itu yang bernama Abul-Aswad as-Dualy untuk membuat tanda baca (Nuqathu I’rab) yang berupa tanda titik.

    Atas persetujuan dari khalifah, akhirnya ia membuat tanda baca tersebut dan membubuhkannya pada mushaf. Adapun yang mendorong Abul-Aswad ad-Dualy membuat tanda titik adalah riwayat dari Ali r.a bahwa suatu ketika Abul-Aswad adDualy menjumpai seseorang yang bukan orang arab dan baru masuk islam membaca kasrah pada kata “Warasuulihi” yang seharusnya dibaca “Warasuuluhu” yang terdapat pada QS. At-Taubah (9) 3 sehingga bisa merusak makna.

    Abul-Aswad ad-Dualy menggunakan titik bundar penuh yang berwarna merah untuk menandai fathah, kasrah, Dhammah, Tanwin dan menggunakan warna hijau untuk menandai Hamzah. Jika suatu kata yang ditanwin bersambung dengan kata berikutnya yang berawalan huruf Halq (idzhar) maka ia membubuhkan tanda titik dua horizontal seperti “adzabun alim” dan membubuhkan tanda titik dua Vertikal untuk menandai Idgham seperti “ghafurrur rahim”.

    Adapun yang pertama kali membuat Tanda Titik untuk membedakan huruf-huruf yang sama karakternya (nuqathu hart) adalah Nasr bin Ashim (W. 89 H) atas permintaan Hajjaj bin Yusuf as-Tsaqafy, salah seorang gubernur pada masa Dinasti Daulah Umayyah (40-95 H). Sedangkan yang pertama kali menggunakan tanda Fathah, Kasrah, Dhammah, Sukun, dan Tasydid seperti yang-kita kenal sekarang adalah al-Khalil bin Ahmad al-Farahidy (W.170 H) pada abad ke II H.

    Kemudian pada masa Khalifah Al-Makmun, para ulama selanjutnya berijtihad untuk semakin mempermudah orang untuk membaca dan menghafal Al Quran khususnya bagi orang selain arab dengan menciptakan tanda-tanda baca tajwid yang berupa Isymam, Rum, dan Mad.

    Sebagaimana mereka juga membuat tanda Lingkaran Bulat sebagai pemisah ayat dan mencamtumkan nomor ayat, tanda-tanda waqaf (berhenti membaca), ibtida (memulai membaca), menerangkan identitas surah di awal setiap surah yang terdiri dari nama, tempat turun, jumlah ayat, dan jumlah ‘ain.

    Tanda-tanda lain yang dibubuhkan pada tulisan Al Quran adalah Tajzi’ yaitu tanda pemisah antara satu Juz dengan yang lainnya berupa kata Juz dan diikuti dengan penomorannya (misalnya, al-Juz-utsalisu: untuk juz 3) dan tanda untuk menunjukkan isi yang berupa seperempat, seperlima, sepersepuluh, setengah Juz dan Juz itu sendiri.

    Sebelum ditemukan mesin cetak, Al Quran disalin dan diperbanyak dari mushaf utsmani dengan cara tulisan tangan. Keadaan ini berlangsung sampai abad ke16 M. Ketika Eropa menemukan mesin cetak yang dapat digerakkan (dipisah-pisahkan) dicetaklah Al-Qur’an untuk pertama kali di Hamburg, Jerman pada tahun 1694 M.

    Naskah tersebut sepenuhnya dilengkapi dengan tanda baca. Adanya mesin cetak ini semakin mempermudah umat islam memperbanyak mushaf Al Quran. Mushaf Al Quran yang pertama kali dicetak oleh kalangan umat islam sendiri adalah mushaf edisi Malay Usman yang dicetak pada tahun 1787 dan diterbitkan di St. Pitersburg Rusia.

    Kemudian diikuti oleh percetakan lainnya, seperti di Kazan pada tahun 1828, Persia Iran tahun 1838 dan Istambul tahun 1877. Pada tahun 1858, seorang Orientalis Jerman , Fluegel, menerbitkan Al Quran yang dilengkapi dengan pedoman yang amat bermanfaat.

    Sayangnya, terbitan Al Quran yang dikenal dengan edisi Fluegel ini ternyata mengandung cacat yang fatal karena sistem penomoran ayat tidak sesuai dengan sistem yang digunakan dalam mushaf standar. Mulai Abad ke-20, pencetakan Al Quran dilakukan umat islam sendiri. Pencetakannya mendapat pengawasan ketat dari para Ulama untuk menghindari timbulnya kesalahan cetak.

    Cetakan Al Quran yang banyak dipergunakan di dunia islam dewasa ini adalah cetakan Mesir yang juga dikenal dengan edisi Raja Fuad karena dialah yang memprakarsainya. Edisi ini ditulis berdasarkan Qiraat Ashim riwayat Hafs dan pertama kali diterbitkan di Kairo pada tahun 1344 H/ 1925 M. Selanjutnya, pada tahun 1947 M untuk pertama kalinya Al Quran dicetak dengan tekhnik cetak offset yang canggih dan dengan memakai huruf-huruf yang indah. Pencetakan ini dilakukan di Turki atas prakarsa seorang ahli kaligrafi turki yang terkemuka Said Nursi.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 3 December 2012 Permalink | Balas  

    Tips Orangtua Jika Mengetahui Anak Menyalahgunakan Narkoba 

    Tips Orangtua Jika Mengetahui Anak Menyalahgunakan Narkoba

    Fenomena penyalahgunaan Narkoba menjadi pembicaraan semua pihak, khususnya orang tua. Perang terhadap Narkoba telah dikumandangkan. Orang tua menjadi sangat khawatir dengan pergaulan anak-anaknya. Kekhawatiran ini membuat para orang tua atau pihak yang merasa bertanggung jawab terhadap masa depan remaja dan pemuda mulai mendirikan LSM anti Narkoba dan panti rehabilitasi untuk ketergantungan Narkoba. Seminar, sarasehan, kelompok studi tentang narkoba dan penanggulangannya sudah sangat banyak dilakukan, termasuk melatih dan merekrut sejumlah orang untuk menjadi tenaga penyuluhan untuk memerangi Narkoba. Di pihak lain, pengedar tampaknya semakin menjadi-jadi, bahkan mengedarkan narkoba sampai kepada pelajar SD.

    Fenomena penyalahgunaan Narkoba menjadi pembicaraan semua pihak, khususnya orang tua. Perang terhadap Narkoba telah dikumandangkan. Orang tua menjadi sangat khawatir dengan pergaulan anak-anaknya. Kekhawatiran ini membuat para orang tua atau pihak yang merasa bertanggung jawab terhadap masa depan remaja dan pemuda mulai mendirikan LSM anti Narkoba dan panti rehabilitasi untuk ketergantungan Narkoba. Seminar, sarasehan, kelompok studi tentang narkoba dan penanggulangannya sudah sangat banyak dilakukan, termasuk melatih dan merekrut sejumlah orang untuk menjadi tenaga penyuluhan untuk memerangi Narkoba. Di pihak lain, pengedar tampaknya semakin menjadi-jadi, bahkan mengedarkan narkoba sampai kepada pelajar SD.

    Anak kita terperangkap penyalahgunaan Narkoba tentu saja tidak terlepas dari masalah yang mendorongnya, seperti terpengaruh teman sebaya atau lingkungan di mana dia bergaul atau karena tidak harmonisnya hubungan antara anak dan orang tua sehingga si anak melakukan pelarian dengan mengkonsumsi Narkoba.

    Bagi remaja, hubungan teman sebaya meluas dan menduduki peran utama pada kehidupan mereka. Teman sebaya secara tipikal menggantikan peran keluarga sebagai hal utama untuk sosialisasi dan aktivitas waktu luang. Remaja memiliki hubungan teman sebaya yang bervariasi dan membuat norma dan system nilai yang berbeda. Faktor resiko teman sebaya dapat digambarkan sebagai berikut : Berhubungan dengan teman sebaya yang menggunakan obat-obatan memiliki kecenderungan yang besar juga menggunakan obat-obatan. Tekanan negatif dari teman sebaya dapat menjadi resiko tersendiri. Contoh anak yang sebenarnya berasal dari keluarga baik-baik, mendapat nilai baik di sekolah dan tinggal di lingkungan yang baik pula, namun akhirnya terperangkap mengkonsumsi narkoba karena pengaruh temannya.

    Berikut tips yang barangkali berguna bagi orang tua yang redaksi sarikan dari buku Penanggulangan Terpadu Penyalahgunaan Narkoba Berbasis Masyarakat di DKI Jakarta:

    • Berusahalah tenang. Kendalikan emosi, marah, tersinmggung atau rasa bersalah tidak ada gunanya.
    • Jangan tunda masalah. Hadapilah kenyataan itu. Adakan dialog terbuka dengan anak dengan sikap tenang. Kemukakan apa yang Anda ketahui, tidak dengan cara menuduh. Jangan pada saat ia masih berada dalam pengaruh Narkoba.
    • Dengarkan anak dan beri dorongan nonverbal kepadanya. Dialog dengan anak merupakan kunci pemecahan masalah. Jangan rendahkan harga dirinya. Buatlah agar ia merasa aman dan nyaman berbicara dengan Anda.
    • Jika ia mau mengakui hal itu, hargailah kejujurannya. Anda pun perlu bersyukur karena dapat menciptakan keterbukaan itu.
    • Jujur terhadap diri sendiri. Beri contoh sikap jujur dan terbuka. Mau mengakui kelemahan dan kesalahan sendiri. Jangan membela diri atau merasa diri benar. Saling memaafkan untuk kesalahan sikap, kata-kata atau perbuatan di masa lalu yang menyakitkan orang lain.
    • Jika perlu minta bantuan pihak ketiga , jika sulit mengendalikan emosi, minta bantuan pihak ketiga yang dapat melakukan pendekatan yang lebih baik.
    • Tingkatkan hubungan dalam keluarga teliti hubungan dengan anak/anggota keluarga lain. Selesaikan konflik pribadi yang ada. Rencanakan rekreasi dengan anak atau anggota kelurga lain.
    • Bangun kehidupan berdisiplin, untuk menjauhkan anak dari lingkungan di mana Narkoba digunakan.
    • Cari Pertolongan tenaga profesi, pusat pengobatan atau rehabilitasi. Dengan atau tanpa seizin anak, berkonsultasilah kepada tenaga ahli.
    • Pendekatan kepada orangtua teman anak pemakai Narkoba, kunjungi orangtua teman anak Anda yang menggunakan Narkoba pada waktu yang tepat. Ungkapkan apa yang Anda ketahui dengan hati-hati dan bijaksana. Ajaklah bekerjasama menghadapi masalah itu.

    Lalu bagaimana caranya agar orangtua dapat mencegah penyalahgunaan Narkoba di rumah? Berikut Tipsnya:

    1. Menjadi teladan atau role model dalam budaya anti-Narkoba, anti kekerasan dan disiplin diri:

    • Orangtua yang juga menyalahgunakan narkoba tidak memiliki wibawa terhadap anaknya untuk juga tidak menggunakannya.
    • Perlihatkan kemampuan orangtua untuk berkata tidak dan untuk meminta tolong jika perlu
    • Tidak menggunakan cara kekerasan (tindakan dan kata-kata) terhadap anak dan orang lain. Hormati hak-hak asasi anak dan orang lain. Perlakukan anak atau orang lain dengan adil dan bijaksana.
    • Hidup secara tertib dan teratur.

    2. Membantu anak mengembangkan kemampuan menolak tekanan kelompok sebaya untuk menggunakan Narkoba atau terlibat dalam kekerasan:

    • Beritahu anak mengenai haknya melakukan hak yang cocok bagi dirinya didasari rasa tanggung jawab, sehingga jika ada teman yang memaksa atau membujuk, ia berhak untuk menolaknya.
    • Bimbing anak mencari kawan sejati, yang tidak menjerumuskan dirinyaa dalam hal yang merugikan atau merusak.
    • Ajarkan anak menolak tawaran penyalahgunaan Narkoba.
    • Mengetahui jadwal kegiatan anak dan siapa kawan-kawannya.

    3. Mendukung kegiatan anak yang sehat dan kreatif:

    • Mendukung kegiatan anak di sekolah, berolahraga, memiliki hobi, bermain musik, dan lain-lain tanpa menuntut anak agar berprestasi atau menang.
    • Orangtua melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan anak. Anak sangat menghargai saat-saat orangtua melibatkan diri dalam kegiatan mereka.

    4. Membuat kesepakatan bersama tentang norma dan peraturan :

    • Anak ajar hidup yang teratur. Dorong anak belajar bertanggung jawab dengan menetapkan aturan bagi perilaku atau kegiatannya sehari-hari. Termasuk tidak menyalahgunakan Narkoba.
    • Tetapkan hal itu secara adil dan tuliskan peraturan-peraturan itu.

    ***

    Sumber BNN

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 2 December 2012 Permalink | Balas  

    Pengakuan Nakata Khaula 

    Pengakuan Nakata Khaula

    Menutupt aurat? tak pernah terlintas baginya. Maklum, ia seorang aktifis feminis. Namur wanita asal Jepang ini berubah total dan justru menemukan kedamaian setelah mengenal Islam. Baca pengakuan seorang mantan aktifis feminisme ini

    Ketika saya kembali ke dalam pangkuan Islam, agama asli semua manusia, sebuah perdebatan sengit sedang terjadi di sekolah-sekolah Prancis tentang jilbab di kalangan pelajar perempuan-terutama keturunan imigran TImur-Tengah-hingga beberapa waktu lamanya (hal itu terjadi karena ada kebijakan pelarangan penggunaan jilbab dari otoritas Prancis, pen). Mayoritas pelajar berpendapat, public-dalam hal ini sekolah negeri-seharusnya bersikap netral dalam urusan agama, termasuk tentang tudung kepala (jilbab). Tidak dapat dipungkiri, kelompok Muslim di Prancis turut membayar pajak yang lumayan besar jumlahnya.

    Menurut saya, pihak sekolah hendaknya menghargai keyakinan seseorang atau kelompok dalam menjalankan ajaran agamanya sepanjang orang atau kelompok itu tidak mengganggu kegiatan rutin sekolah, apalagi sampai melanggar disiplin. Namun, tampaknya pemerintah Prancis sedang menghadapi gejolak social dengan meningkatnya jumlah pengangguran. Mereka merasa kehidupan ekonomi mereka terancam dengan makin banyaknya pekerja imigran Arab. Banyaknya penggunaan jilbab di kota-kota atau di sekolah-sekolah semakin memicu perasaan mereka itu.

    Pada kenyataannya, memang semakin banyak perempuan Arab imigran yang memakai jilbab, terlepas dari pandangan bahwa fenomena itu akan segera menghilang seperti halnya ketika sekularisme Barat menanamkan pengaruhnya di dunia Arab (Timur-Tengah). Ketahanan pelaksanaan ajaran Islam itu sering dianggap sebagai upaya kelompok Islam di mana saja untuk mengembalikan kebaggaan dan identitas mereka yang pernah hilang ditelan kolonialisme Barat.

    Di Jepang sendiri, sikap seperti itu mungkin dianggap sama dengan sikap tradisional konservatif orang Jepang yang muncul sebagai perwujudan perasaan anti-Barat. Sesuatu yang dalam pandangan bangsa Jepang adalah serupa dengan pengalaman yang kami rasakan sejak kami berinteraksi dengan budaya Barat pada zaman Restorasi Meiji. Bangsa Jepang saat itu memunculkan sikap penentangan terhadap gaya hidup yang tidak lagi tradisional dan mengikuti model pakaian Barat. Ada kecenderungan dalam suatu masyarakat untuk bersikap konservatif terhadap segala hal yang baru tanpa mau melihat kebaikan atau keburukannya.

    Perasaan seperti itu masih ada diantara kelompok non-Muslim di Prancis yang memandang bahwa penggunaan jilbab menunjukkan ketundukan para penggunanya sebagai budak budaya tradisional seolah-olah jilbab adalah ikon pengekangan. Oleh karena itu, sikap gerakan pembebasan dan pembelaan atas kaum hawa selalu terfokus pada upaya mendorong perempuan Muslim agar melepaskan jilbab-jilbab mereka sebagai tanda pembebasan itu atau mereka belum dianggap bebas sebelum jilbab-jilbab itu lepas dari kepala mereka.

    Pandangan yang naïf seperti itu, bagi kelompok Muslim, menunjukkan dangkalnya pengetahuan mereka tentang Islam di dalam gerakan pembebasan perempuan. Hal ini akibat kebiasaan mencampuradukkan pandangan secular dan nilai-nilai eklektisisme agama sehingga mereka tidak mampu lagi menangkap kesempurnaan Islam sebagai agama yang universal dan abadi.

    Hal itu berbeda sekali dengan kenyataan bahwa semakin banyak perempuan non-Muslim dan non-Arab dari seluruh penjuru dunia yang kembali ke pangkuan Islam. Bahkan, mereka melaksanakan kewajiban berjilbab atas kesadaran mereka sendiri dan bukan atas desakan tradisi yang dipandang berorientasi pada kekuasaan laki-laki atas perempuan (masculine-oriented).

    Saya adalah salah seorang diantara perempuan non-Arab (sebelumnya non-Muslim) yang dengan penuh kesadaran memakai jilbab bukan karena bagian dari identitas kelompok atau tradisi Islam semata atau memiliki signifikansi pada kelompok social dan politik tertentu, melainkan karena jilbab adalah identitas keyakinan saya, yaitu Islam. Bagi kelompok non-Muslim, jilbab tidak hanya dianggap sebagai penutup kepala, tetapi sebagai penghalang yang menyebabkan para perempuan itu tidak punya akses ke dunia yang luas. Seolah-olah, perempuan Muslimah tercerabut dari kebebasan yang seharusnya mereka rengkuh di dunia yang sekular.

    Sebelumnya, saya pernah diperingatkan tentang kemungkinan hilangnya kebebasan saya saat memutuskan untuk kembali ke pangkuan Islam. Saya diberitahu bentuk jilbab itu berbeda-beda menurut daerahnya masing-masing atau pemahaman dan kesadaran agamanya. Di Prancis, saya memakai jilbab yang sederhana-lebih tepat disebut penutup kepala-yang sesuai dengan mode dan sekedar tersampir di kepala sehingga terkesan modis.

    Namun ketika saya berada di Arab Saudi, saya memakai gamis hitam yang menutupi seluruh tubuh saya, termasuk mata. Jadi,saya telah merasakan sendiri penggunaan jilbab dari model yang paling sederhana hingga model yang dianggap kebanyakan orang paling “mengekang”. Mungkin Anda bertanya, apa makna jilbab bagi saya? Meski banyak buku dan artikel tentang jilbab, hampir semuanya cenderung ditulis dari sudut pandang “orang luar” (laki-laki). Saya harap tulisan ini dapat menjelaskan makna jilbab dari sudut pandang “orang dalam” (perempuan).

    Ketika saya memutuskan untuk kembali ke dalam pangkuan Islam, saya tidak berpikir tentang pelaksanaan ibadah shalat lima kali sehari atau tentang penggunaan jilbab. Barangkali saat itu saya khawatir jika saya terlalu dalam memikirkan hal itu, saya tidak akan pernah sampai pada keputusan yang tepat. Bahkan, hal itu mungkin akan mempengaruhi niat saya untuk bepaling ke Islam. Sebelum saya berkunjung ke sebuah masjid di Paris, sebetulnya saya tidak tertarik sama sekali terhadap Islam, termasuk tentang sholat dan penggunaan jilbab. Bahkan, tidak pernah terbayang sedikitpun. Namun sejak itu, keinginan saya kembali ke pangkuan Islam begitu kuat untuk dikalahkan pikiran-pikiran tentang tanggung jawab yang akan saya emban sebagai seorang Muslim, Alhamdulillah.

    Saya baru mulai merasakan keuntungan dan manfaat jilbab sesudah saya mendengarkan khotbah di sebuah masjid di Paris. Bahkan saat itu, saya tetap menggunakan kerudung kepala saya saat keluar dari masjid. Khotbah itu telah menjadi sebuah keputusan spiritual tersendiri seperti pengalaman saya sebelumnya dan saya tidak ingin kepuasan itu hilang. Mungkin karena cuaca yang dingin hingga saya tidak terlalu merasakan adanya kerudung di kepala. Selain itu, saya merasa bersih, suci, dan terjaga dari kotoran dalam arti yang fisik atau psikis. Saya merasa seolah berada di dalam lindungan Allah SWT. Sebagai orang asing di Paris, terkadang saya merasa tidak nyaman dengan pandangan liar laki-laki ke arah saya. Dengan jilbab, saya merasa lebih terlindung dari pandangan liar itu.

    Jilbab membuat saya bahagia sebagai wujud ketaatan dan manifestasi iman saya kepada Allah SWT. Saya tidak perlu meyakinkan diri saya lagi karena jilbab telah menjadi tanda bagi semua orang, terutama sesame Muslim, sehingga memperkuat ikatan persaudaraan Islam (Ukhuwwah Islamiyyah). Memakai jilbab sudah menjadi sesuatu yang spontan saya lakukan, bahkan dengan sukarela. Pada awalnya, saya berpikir tidak ada seorang pun yang dapat memaksa saya untuk memakai jilbab. Jika mereka memaksa, saya pasti menentang mereka. Namun, buku Islam pertama mengenai jilbab yang saya baca sangat moderat. Buku itu hanya menyebutkan, “Allah SWT sangat menekankan pemakaian jilbab.”

    Oleh karena Islam-seperti yang ditunjukkan dengan makna Islam, yaitu penyerahan diri-saya pun melaksanakan kewajiban keislaman saya dengan sukarela dan tanpa merasa kesulitan. Alhamdulillah. Selain itu, jilbab mengingatkan semua manusia bahwa Tuhan itu ada dan senantiasa mengingatkan saya untuk bersikap Islami. Seperti halnya petugas polisi yang tampak lebih professional dengan seragam mereka, saya pun merasa lebih Muslimah dengan jilbab yang saya pakai.

    Dua pekan sesudah saya kembali ke pangkuan Islam, saya pulang ke Jepang untuk menghadiri pernikahan keluarga. Setelah itu, saya memutuskan untuk tidak meneruskan pendidikan di Sastra Perancis yang telah kehilangan daya tariknya. Sebagai gantinya, saya memilih kajian Arab dan Islam.

    Sebagai seorang Muslimah yang baru dengan pemahaman Islam yang belum banyak, tinggal di kota kecil di Jepang dan jauh dari lingkungan Islam membuat saya merasa terisolasi. Namun, keterisolasian itu semakin menguatkan keislaman saya tahu saya tidak sendiri karena Allah SWT senantiasa menemani. Saya harus membuang semua pakaian saya dan, berkat bantuan beberapa teman, saya membuat patokan sendiri yang mirip pakaian orang Pakistan. Saya tidka merasa terganggu dengan pandangan orang yang tertuju kepada saya!

    Sesudah enam bulan berada di Jepang, hasrat untuk mempelajari segala hal tentang Arab tumbuh begitu besar hingga saya memutuskan untuk pergi ke Kairo, Mesir, karena di sana saya punya seorang kenalan. Saya tinggal di rumah keluarga teman saya. Namun, tidak seorang pun keluarga teman saya itu dapat berbahasa Inggris (apalagi Jepang!). Seorang wanita menjabat tangan saya dan mengajak saya masuk ke dalam rumahnya. Ia memakai jubah hitam yang menutupi dirinya dari kepala hingga ujung jari. Bahkan, wajahnya pun tertutup. Meski di Riyadh saya telah terbiasa dengan hal itu, saya ingat saat itu saya terkejut.

    Apalagi, saya teringat dengan kasus jilbab di Prancis. Saat itu, saya memandang perempuan dalam jubah sebagai,” perempuan yang diperbudak budaya Arab karena tidak tahu Islam” (kini saya tahu menutup wajah bukan kewajiban dalam ajaran Islam, melainkan sebagai tradisi etnis semata).

    Saya ingin mengatakan kepada wanita Kairo itu bahwa ia telah berlebihan dalam berpakaian sehingga tampak tidak alami dan tidak lazim. Namun, saya justru diingatkan wanita itu bahwa jilbab buatan saya sendiri tidak cocok digunakan di luar rumah-sesuatu yang tidak saya setujui sebelumnya karena saya merasa sudah memenuhi tuntutan jilbab bagi Muslimah.

    Saya pun membeli beberapa bahan baju dan membuat pakaian wanita dalam ukuran yang lebih panjang, disebut juga khimar, yang menutup sempurna bagian pinggul ke bawah dan tangan. Saya bahkan siap menutup wajah saya, sesuatu yang dipakai sebagian besar saudara Islam saya. Meski demikian, mereka tetaplah minoritas di Kairo.

    Secara umum, pemuda Mesir yang sedkit atau banyak terpengaruh budaya Barat masih menjaga jarak dengan perempuan yang memakai khimar dan memanggil mereka dengan sebutan ukhti. Laki-laki Mesir memperlakukan kami dengan penuh hormat dan sopan. Oleh karena itu, perempuan yang memakai khimar saling menjalin persaudaraan sehingga mereka turut menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW-seorang Muslim hendaknya memberi salaam kepada Muslim lain yang ditemui di jalan, dikenal atau tidak dikenalnya.

    Persaudaraan mereka yang lebih tepat untuk ditekankan itu didasari keimanan kepada Alloh SWT dibandingkan perempuan yang hanya memakai kerudung sebagai bagian dari bagian dari budaya dan bukan bagian dari keimanan. Sebelum berpaling ke pangkuan Islam, saya sangat senang memakai pakaian dengan model celana yang memungkinkan saya bergerak aktif meskipun bukan rok feminine. Namun, long dress yang biasa saya pakai di Kairo cukup nyaman bagi saya. Saya merasa anggun dan lebih santai.

    Dalam budaya Barat, warna hitam adalah warna favorit untuk acara malam karena menguatkan kecantikan pemakainya. Saudara-saudara baru saya yang di Kairo pun tampak sangat cantik dengan khimar hitam mereka dan sangat menunjang cahaya ketakwaan yang terpancar dari wajah-wajah mereka (meski begitu, mereka sangat berbeda dengan suster Katholik Roma yang dulu menjadi eprhatian utama ketika saya berkesempatan mengunjungi Paris tidak berapa lama sesudah saya tinggal di Riyadh, Arab Saudi).

    Saat itu, saya berada dalam satu metro (trem dalam kota) dengan suster-suster itu dan saya tersenyum karena keserupaan pakaian kami. Pakaian yang dipakai suster itu merupakan tanda ketakwaan mereka kepada tuhan seperti halnya Muslimah. Saya etrkadang merasa aneh dengan orang-orang yang tidak banyak mengkritik jubah yang dipakai suster Katholik Roma, tetapi mereka mengkritik dengan tajam jilbab yang dipakai Muslimah, terlepas dari pandangan bahwa keduanya dianggap melambangkan terorisme dan tekanan. Namun, saya tidak bermaksud mengabaikan jilbab dengan warna yang lebih cerah selain hitam karena pada kenyataannya sejak dulu saya bekeinginan memakai pakaian dengan gaya yang relijius seperti suster Katholik Roma jauh sebelum saya berpaling ke pangkuan Islam!

    Meski demikian, saya menolak orang yang menganjurkan saya tetap memakai khimar sekembalinya saya ke Jepang. Saya akan marah kepada setiap Muslimah yang tidak begitu menyadari pentingnya ajaran Islam : sepanjang kita sudah menutup diri kita sesuai tuntunan syariat, kita boleh memakainya sesuai model yang kita inginkan. Apalagi, setiap budaya memiliki cirinya sendiri-sendiri sehingga pemakaian khimar hitam di Jepang hanya akan membuat orang berpikir saya orang gila dan mereka akan emnolak Islam jauh sebelum saya mengenalkan Islam dengan baik kepada mereka. Perdebatan kami biasanya seputar masalah itu.

    Sesudah tinggal selama enam bulan di Kairo, saya sudah terbiasa dengan pakaian long dress sehingga saya mulia berpikir untuk tetap memakainya meskipun di Jepang. Komprominya, saya akan membuat khimar dengan aneka warna yang cerah atau putih dengan harapan orang Jepang tidak akan terlalu kaget dengan hal itu daripada saya hanya memakai khimar warna hitam. Ternyata saya betul. Reaksi orang Jepang lebih baik dengan khimar putih dan mereka lebih cenderung menduga saya sebagai yang relijius. Saya mendengar seorang gadis Jepang yang berkata kepada temannya bahwa saya seorang suster Buddha : betapa miripnya antara Muslimah, suster Buddha, dan suster Katholik Roma!

    Sekali waktu di dalam sebuah kereta, orang tua yang berada dis ebelah saya menanyakan alasan saya memakai baju yang tidak biasa dipakai banyak orang. Ketika saya jelaskan bahwa saya seorang Muslimah dan Islam mengajarkan kepada perempuan agar menutup tubuh mereka supaya terlindung secara fisik maupun psikis, orang tua itu tampaknya sangat tertarik. Saat ia turun dari kereta, ia berterima kasih dan mengatakan bahwa ia ingin sekali berbicara banyak tentang Islam dengan saya.

    Dalam waktu sekejap, ternyata jilbab menjadi factor yang dominant dalam memancing keingintahuan orang tentang Islam. Apalagi, orang Jepang bukanlah orang yang lazim berbicara banyak tentang agama. Sama seperti di Kairo, jilbab berperan sebagai tanda diantara sesama Muslimah, di Jepang pun hal yang sama saya lakukan.

    Pernah suatu kali ketika dalam suatu perjalanan, saya berkeliling dan bertanya-tanya benarkah rute yang saya ambil ini. Pada saat itu, saya melihat sekelompok perempuan memakai jilbab. Saya pun mendekati mereka dan kami bersalaman satu sama lain.

    Namun, ayah saya cemas ketika saya pertama kembali ke Jepang dengan menggunakan pakaian lengan panjang dan kepala tertutup rapat, padahal cuaca sedang panas meskipun saya sendiri merasa bahwa jilbab justru melindungi saya dari sinar matahari. Saya sendiri justru merasa tidak nyaman melihat adik eprempuan saya hanya memakai celana pendek sehingga tampak paha dan kakinya. Saya sering malu-bahkan sebelum saya kembali ke pangkuan Islam-terhadap perempuan yang memperlihatkan pantat dan pinggul mereka dengan pakaian yang ketat dan tipis.

    Saya merasa seperti melihat sesuatu yang seharusnya tersembunyi. Jika pemandangan seperti itu saja membuat saya malu sebagai perempuan, saya tidak dapat membayangkan dampaknya jika dilihat laki-laki. Oleh karena itu, Islam memerintahkan manusia berpakaian sopan dan tidak telanjang di ruang public meskipun di ruangan khusus perempuan atau laki-laki.

    Jelaslah, penerimaan sesuatu yang telanjang dalam suatu masyarakat berbeda-beda menurut pemahaman masyarakat atau individunya. Misalnya, di Jepang limapuluh tahun yang lalu, berenang dengan memakai baju renang yang setengah tertutup sudah dianggap vulgar, tetapi sekarang bikin sudah dianggap biasa. Namun, jika ada perempuan berenang dengan baju renang topless, ia dianggap tidak punya malu.

    Lain halnya jika topless di pantai selatan Prancis yang sudah dianggap biasa. Begitu pun di beberapa pantai di Amerika Serikat. Kaum nudis sudah berani bertelanjang ria seolah-olah mereka baru dilahirkan. Jika kaum nudis ditanya tentang perempuan liberal yang menolak jilbab-mengapa mereka masih menutupi pantat dan pinggul mereka padahal keduanya sama alamiahnya dengan wajah dan tangan-apakah perempuan liberal mau memberikan jawaban yang jujur? Definisi tentang bagia tubuh perempuan yang harus tetap pribadi ternyata sangat bergantung pada fantasi dan ksesenangan laki-laki di sekitar mereka yang mengaku-ngaku sebagai feminis. Namun di dalam Islam, kita tidak akan menemui masalah semacam itu karena Alloh SWT telah menetapkan definisi tentang bagian tubuh perempuan dan laki-laki yang boleh dan tidak boleh diperlihatkan di ruang public. Kita pun patuh dan mengikutinya.

    Jika saya melihat cara berpakaian manusia sekarang (telanjang atau hampir telanjang), buang air sembarangan, atau bercintaan di tempat umum, saya cenderung memandang mereka seperti makhluk yang tidak punya malu sehingga menjatuhkan martabat mereka hingga ke derajat binatang.

    Di Jepang, perempuan hanya memakai make up saat keluar rumah dan sedikit sekali memperhatikan penampilan diri mereka di rumah sendiri. Padahal, Islam mengajarkan perempuan agar selalu tampil cantik bagi suaminya sehingga ia akan berusaha tampil menarik pula baginya. Tentu, dengan begitu muncul keanggunan dalam hubungan antara suami isitri di dalam Islam.

    Muslim sering dituduh sebagai kelompok orang yang terlalu sensitive menyangkut tubuh manusia, tetapi tingkat kejahatan seksual yang terjadi akhir-akhir ini semakin menegaskan pentingnya pakaian sopan. Orang luar mungkin melihat Islam seperti melihat Muslim yang tampak kaku. Padahal jika dilihat dari dalam, ada kedamaian, kebebasan, dan kebahagiaan yang tidak akan pernah mereka rasakan sebelumnya. Menjalankan Islam-bagi Muslim yang terlahir di tengah keluarga Muslim atau orang yang kembali ke dalam pangkuan Islam-lebih disukai daripada jalan hidup bebas yang ditawarkan sekularisme.

    ***

    [ditulis ulang oleh Kartika dari buku “Mereka Yang Kembali”, Zenan Asharfillah, penerbit Pustaka Zaman, Jakarta, 2003/Hidayatullah.com]

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 1 December 2012 Permalink | Balas  

    Shadaqah Menyembuhkan Penyakit 

    Shadaqah Menyembuhkan Penyakit

    Di antara problematika kehidupan yang banyak dihadapi manusia adalah ditimpa berbagai macam penyakit, baik jasmani maupun rohani. Dan untuk mengobati penyakit, beragam ikhtiar dan usaha dilakukan oleh manusia. Ada di antara manusia yang menyalahi syari’at Islam dalam melakukan ikhtiar, seperti mendatangi dukun, orang pintar dan paranormal. Namun banyak juga yang sadar tentang bahaya perdukunan, sehingga mereka pun berusaha mencari pengobatan dengan cara yang sesuai dengan syari’at Islam, seperti mendatangi dokter, berbekam, mengonsumsi habbatus sauda’ (jinten hitam) dan madu, atau dengan cara ruqyah syar’iyyah.

    Dalam tulisan kali ini akan dibahas tentang salah satu sebab syar’i untuk memperoleh kesembuhan, simak dan resapilah nasehat Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau telah bersabda, “Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan ber-shadaqah.” (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih al-Jami’)

    Cobalah iringi ikhtiar dan usaha yang kita lakukan secara syar’i dalam mencari kesembuhan dengan bershadaqah dan tanamkanlah niat shadaqah tersebut di dalam hati kita agar Allah subhanahu wata’ala menyembuhkan penyakit yang sedang menimpa kita.

    Sebab-Sebab Syar’i untuk Memperoleh Kesembuhan

    Pertama: Melakukan ikhtiar secara Islami dan jangan melakukan ikhtiar yang terlarang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah yang menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah kalian tapi jangan berobat dengan cara yang diharamkan” (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah)

    Kedua: Meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah subhanahu wata’ala adalah satu-satunya Dzat Yang Maha Menyembuhkan, sedangkan makhluk yang terlibat proses pengobatan seperti dokter, tabib, obat-obatan dan hal-hal yang terkait lainnya, itu semua hanyalah sarana menuju kesembuhan, dan buanglah sejauh mungkin keyakinan-keyakinan dan ungkapan-ungkapan yang menyimpang dari aqidah tauhid, seperti seseorang mengungkapkan perkataan setelah memperoleh kesembuhan, “Dokter Fulan memang hebat, obat itu memang manjur,” dan ungkapan-ungkapan keliru lainnya.

    Ke tiga: Dekatkan diri dan tingkatkan ketaqwaan kepada Allah subhanahu wata’ala, serta mohonlah kepada-Nya ampunan atas dosa-dosa yang kita perbuat, karena salah satu hikmah Allah subhanahu wata’ala menurunkan penyakit pada diri kita adalah agar kita kembali ke jalan-Nya.

    Ke empat: Bertawakkallah kepada-Nya dan berdo’alah selalu kepada Allah subhanahu wata’ala Dzat Yang Maha Menyembuhkan segala penyakit, agar penyakit segera diangkat dari diri kita dan janganah bosan untuk berdo’a, sebab kita tidak tahu kapan Dia menjawab do’a kita. Perhatikan sebab-sebab terkabulnya do’a serta penuhi syarat-syaratnya.

    Ke lima: Bershadaqahlah semampu kita karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjanjikan kesembuhan melalui shadaqah, dan tepislah jauh-jauh anggapan bahwa bershadaqah itu mengurangi harta kita, justru Allah subhanahu wata’ala akan melipatgandakan harta kita. Dan niatkanlah shadaqah untuk memperoleh kesembuhan dari Allah subhanahu wata’ala.

    Ke enam: Yakini dan tanamkan keyakin-an sedalam-dalamnya bahwa Allah subhanahu wata’ala akan menyembuhkan penyakit kita.

    Kisah-Kisah Nyata Orang Sembuh Setelah Bershadaqah

    Syaikh Sulaiman Bin Abdul Karim Al-Mufarrij berkata, “Wahai saudaraku yang sedang sakit, shadaqah yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah shadaqah yang diniatkan untuk memperoleh kesembuhan, boleh jadi anda telah banyak melakukan shadaqah, tetapi hal itu tidak anda lakukan dengan niat untuk mendapatkan kesembuhan dari Allah subhanahu wata’ala, oleh karena itu coba anda lakukan sekarang dan tumbuhkanlah kepercayaan dan keyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala akan menyembuhkan diri anda. Isilah perut para fakir miskin hingga kenyang, atau santunilah anak yatim, atau wakafkanlah harta anda, atau melakukan shadaqah jariah, karena sesungguhnya shadaqah tersebut dapat mengangkat dan menghilangkan berbagai macam penyakit dan berbagai macam musibah dan cobaan, dan hal seperti itu sudah banyak dialami oleh orang-orang yang diberi taufiq dan hidayah oleh Allah subhanahu wata’ala, sehingga mereka memperoleh obat penawar yang bersifat rohani (termotivasi oleh keimanan, ketaatan dan  keyakinan pada Allah subhanahu wata’ala) dan itu lebih bermanfaat daripada sekedar obat-obat biasa. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, juga telah melakukan pengobatan dengan metode pengobatan ruhaniyah ilahiyyah (yaitu pengobatan yang menitikberatkan pada aspek keimanan, ketaatan dan keyakinan pada Allah subhanahu wata’ala). Demikian juga dengan para generasi salafus shaleh, mereka juga selalu bershadaqah sesuai kadar sakit dan derita yang menimpa mereka, dan shadaqah yang mereka keluarkan adalah harta mereka yang sangat berkualitas. Wahai saudaraku yang sedang sakit janganlah anda bakhil terhadap diri anda sendiri, sekaranglah waktunya untuk shadaqah.” (Shifatun ‘Ilaajiyyah Tuzilu Al-Amraadh bi Al-Kulliyyah)

    Kisah Pertama: Ada seseorang bertanya kepada Abdullah Bin Mubarak rahimahullah, tentang penyakit di lututnya yang telah diderita semenjak tujuh tahun. Dia telah melakukan bermacam usaha untuk mengobatinya dan telah bertanya kepada para dokter, tetapi belum merasakan hasil manfaatnya. Maka Abdullah Bin Mubarak rahimahullah, berkata kepadanya, “Pergilah anda mencari sumber air dan galilah sumur di situ karena orang-orang membutuh-kan air! Aku berharap ada air yang memancar di situ, maka orang itu pun melakukan apa yang disarankan oleh beliau, lalu dia pun sembuh.” (Kisah ini dikutip dari Shahih At-Targhib)

    Kisah Ke dua: Ada seseorang yang diserang penyakit kanker. Dia sudah keliling dunia untuk mengobati penya-kitnya, tetapi belum memperoleh kesembuhan. Akhirnya dia pun bershadaqah kepada seorang ibu yang memelihara anak yatim, maka melalui hal itu Allah subhanahu wata’ala menyembuhkan dia.

    Kisah Ke tiga: Kisah ini langsung diceritakan oleh orang yang menga-laminya kepada Syaikh Sulaiman Bin Abdul Karim Al-Mufarrij, Dia berkata kepada beliau, “Saya mem-punyai seorang putri balita yang menderita suatu penyakit di sekitar tenggorokannya. Saya telah keluar masuk ke beberapa rumah sakit dan sudah konsultasi dengan banyak dokter, namun tidak ada hasil apa pun yang dirasakan. Sedangkan penyakit putriku tersebut semakin memburuk, bahkan untuk menghadapi penyakitnya tersebut, hampir-hampir saya ini yang jatuh sakit dan perhatian seluruh anggota keluarga tersita untuk mengurusinya. Dan yang bisa kami lakukan hanya memberikan obat untuk mengurangi rasa sakitnya saja. Kalaulah bukan karena rahmat Allah subhanahu wata’ala rasa-rasanya kami sudah putus asa olehnya. Namun apa yang di angan-angankan itu pun datang dan terkuaklah pintu kesulitan yang kami alami selama ini. Suatu hari ada seorang yang shalih menghubungiku lewat telephon lalu menyampaikan hadits Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam, “Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan bershadaqah.” Saya katakan kepada orang shalih tersebut, sungguh saya sudah banyak bershodaqoh! Lalu kata beliau kepadaku, “Bershadaqahlah kali ini dengan niat agar Allah subhanahu wata’ala menyembuhkan putrimu. Mendengar hal itu saya langsung mengeluarkan shadaqah yang sangat sederhana kepada seseorang yang fakir, namun belum ada perobahan pada putriku. Lalu hal itu saya sampaikan kepada orang shalih tersebut. Dia pun mengatakan kepada saya, “Anda adalah orang yang banyak dapat nikmat dan punya banyak harta. Cobalah engkau bershadaqah dalam jumlah yang lebih banyak.” Setelah mendengar itu, maka saya pun mengisi mobil saya sepenuh-penuhnya dengan beras, lauk pauk, dan bahan makanan lainnya, lalu saya bagi-bagikan langsung kepada orang-orang yang membutuh-kannya, sehingga mereka sangat senang menerimanya. Dan demi Allah (saya bersumpah) saya tidak akan lupa selama-lamanya, ketika shadaqah

    tersebut selesai saya bagi-bagikan, Alhamdulillah putriku yang sedang sakit tersebut sembuh dengan sempurna. Maka saat itu saya pun menyakini bahwa di antara sebab-sebab syar’i yang paling utama untuk meraih kesembuhan adalah shadaqah. Dan sekarang atas berkat karunia dari Allah subhanahu wata’ala putriku tersebut telah tiga tahun tidak mengalami sakit apa pun, Dan mulai saat itulah saya banyak-banyak mengeluarkan shodaqoh terutama mewakafkan harta saya pada hal-hal yang baik, dan (Alhamdulillah) setiap hari saya merasakan nikmat dan kesehatan pada diri saya sendiri maupun pada keluarga saya serta saya juga merasakan keberkahan pada harta saya. (Isnen Azhar)

    ***

    Sumber: alsofwah.or.id

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: