Updates from Agustus, 2013 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 3:47 am on 31 August 2013 Permalink | Balas  

    Tutuplah Aib Saudaramu 

    keluarga-muslimTutuplah Aib Saudaramu

    Oleh : Al Ustadzah Ummu Ishaq bintu Husein Al Atsariyyah

    Saudariku Muslimah,

    Bagi kebanyakan kaum wanita, ibu ibu ataupun remaja putri, bergunjing membicarakan aib, cacat, atau cela yang ada pada orang lain bukanlah perkara yang besar. Bahkan dimata mereka terbilang remeh, ringan dan begitu gampang meluncur dari lisan. Seakan akan obrolan tidak asyik bila tidak membicarakan kekurangan orang lain . ” Si Fulanah begini dan begitu….”. ” Si “Alanah orang nya suka ini dan itu…”

    Ketika asyik membicarakan kekurangan orang lain seakan lupa dengan diri sendiri. Seolah diri sendiri sempurna tiada cacat dan cela. Ibarat kata pepatah, ” Kuman diseberang lautan tampak, gajah dipelupuk mata tiada tampak.”

    Perbuatan seperti ini selain tidak pantas / tidak baik menurut perasaan dan akal sehat kita, ternyata syariat yang mulia pun mengharamkannya bahkan menekankan untuk melakukan yang sebaliknya yaitu menutup dan merahasiakan aib orang lain.

    Ketahuilah wahai saudariku, siapa yang suka menceritakan kekurangan dan kesalahan orang lain, maka dirinya pun tidak aman untuk diceritakan oleh orang lain. Seorang ulama salaf berkata , ” aku mendapati orang orang yang tidak memiliki cacat / cela, lalu mereka membicarakan aib manusia, maka manusia pun menceritakan aib aib mereka. Aku dapati pula orang orang yang memiliki aib namun mereka menahan diri dari membicarakan aib manusia yang lain, maka manusia pun melupakan aib mereka.” 1

    Tahukah engkau bahwa manusia itu terbagi dua :

    Petama : Seseorang yang tertutup keadaannya, tidak pernah sedikitpun diketahui berbuat maksiat. Bila orang seperti itu tergelincir dalam kesalahan maka tidak boleh menyingkap dan menceritakannya, karena hal itu termasuk ghibah yang diharamkan. Perbuatan demikian juga berarti menyebarkan kejelekan di kalangan orang orang yang beriman. Alloh SubhanaHu wa Ta’ala berfirman :

    ” Sesungguhnya orang orang yang menyenangi tersebarnya perbuatan keji 2 dikalangan beriman, mereka memperoleh azab yang pedih di dunia dan di akhirat … (An Nur : 19)

    Kedua : seorang yang terkenal suka berbuat maksiat dengan terang terangan, tanpa malu malu, tidak peduli dengan pandangan dan ucapan orang lain. Maka membicarakan orang seperti ini bukanlah ghibah. Bahkan harus diterangkan keadaannya kepada manusia hingga mereka berhati hati dari kejelekannya. Karena bila orang seperti ini ditutup tutupi kejelekannya, dia akan semakin bernafsu untuk berbuat kerusakan, melakukan keharaman dan membuat orang lain berani untuk mengikuti perbuatannya. 3

    Saudariku Muslimah….

    Engkau mungkin pernah mendengar hadits Rasululloh Shollallohu “alaihi wa Sallam yang berbunyi : ” Siapa yang melepaskan dari seseorang mukmin satu kesusahan yang sangat dari kesusahan dunia niscaya Alloh akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan dihari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Alloh akan memudahkannya di dunia dan nanti di akhirat . Siapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Alloh akan menutup aibnya didunia dan kelak di akhirat. Dan Alloh senantiasa menolong hambaNya selama hambaNya itu menolong saudaranya….(HR. Muslim no. 2699)

    Bila Demikian, engkau telah tahu keutamaan orang yang suka menutup aib saudaranya sesama muslim yang memang menjaga kehormatan dirinya, tidak dikenal suka berbuat maksiat namun sebaliknya ditengah manusia ia dikenal sebagai orang yang baik baik dan terhormat. Siapa yang menutup aib seorang muslim yang demikian keadaannya, Alloh SubhanaHu wa Ta’ala akan menutup aibnya di dunia dan kelak di akhirat.

    Namun bila disana ada kemaslahatan atau kebaikan yang hendak dituju dan bila menutupnya akan menambah kejelekan, maka tidak apa apa bahkan wajib menyampaikan perbuatan jelek / aib / cela yang dilakukan seseorang kepada orang lain yang bisa memberinya hukuman. Jika ia seorang istri maka disampaikan kepada suaminya. Jika ia seorang anak maka disampaikan kepada ayahnya. Jika ia seorang guru disebuah sekolah maka disampaikan kepada mudirnya (kepala sekolah). Demikian seterusnya. 4

    Yang perlu diingat, wahai saudariku, diri kita ini penuh dengan kekurangan, aib, cacat, dan cela. Maka sibukkan diri ini untuk memeriksa dan menghitung aib sendiri, niscaya hal itu sudah menghabiskan waktu tanpa sempat memikirkan dan mencari tahu aib orang lain. Lagi pula, orang yang suka mencari cari kesalahan orang lain untuk dikupas dan dibicarakan di hadapan manusia, Alloh SubhanaHu wa Ta’ala akan membalasnya dengan membongkar aibnya walaupun ia berada didalam rumahnya.

    Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Barzah Aslami radhiyallohu ‘anhu dari Rasululloh Shollallohu “alaihi wa Sallam :

    ” Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk kedalam hatinya 5. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari cari / mengintai aurot 6 mereka. Karena orang yang suka mencari cari aurot kaum muslimin, Alloh akan mencari cari aurotnya. Dan siapa yang dicari cari aurotnya oleh Alloh, niscaya Alloh akan membongkarnya didalam rumahnya (walaupun ia tersembunyi dari manusia).” (HR. Ahmad 4/420. 421, 424 dan Abu Dawud no. 4880. Kata Asy Syaikh Al Albani rahimahulloh dalam Shahih Abi Dawud : ” Hasan shahih.”)

    Abdulloh bin Umar radhiyallohu ‘anhu menyampaikan hadits yang sama, ia berkata, ” suatu hari Rasululloh Shollallohu “alaihi wa Sallam naik ke atas mimbar, lalu menyeru dengan suara yang tinggi :

    ” Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya dan iman itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah menjelekkan mereka, jangan mencari cari aurot mereka. Karena orang yang suka mencari cari aurot saudaranya sesama muslim, Alloh akan mencari cari aurotnya. dan siapa yang dicari cari aurotnya oleh Alloh, niscaya Alloh akan membongkarnya walau ia berada di tengah tempat tinggalnya (HR. At Tirmidzi no. 2032, dihasankan Asy Syaikh Muqbil rahimahulloh dalam Ash Shahibul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain, hadits no. 725. I/581)

    Dari hadits di atas tergambar pada kita betapa besarnya kehormatan seorang muslim. Sampai sampai ketika suatu hari Abdulloh bin Umar radhiyallohu ‘anHu memandang Ka’bah, ia berkata :

    ” Alangkah agungnya engkau dan besarnya kehormatanmu. Namun seorang mukmin lebih besar lagi kehormatannya disisi Alloh darimu. 7

    Karena itu saudariku…. Tutuplah cela yang ada pada dirimu dengan menutup cela yang ada pada saudaramu yang memang pantas ditutupi. Dengan engkau menutup cela saudaramu, Alloh SubhanaHu wa Ta’ala akan menutup celamu di dunia dan kelak di akherat. Siapa yang Alloh SubhanaHu wa Ta’ala tutup celanya didunianya, dihari akhir nanti Alloh SubhanaHu wa Ta’ala pun akan menutup celanya, sebagaimana sabda nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

    ” Tidaklah Alloh menutup aib seseorang hamba di dunia melainkan nanti di hari kiamat Alloh juga akan menutup aibnya. ” 8 (HR. Muslim no. 6537)

    Wallohu ta’ala a’lam bish showab

    ***

    1. Jami’ul Ulum Wal Hikam (2/291)

    2. Baik seseorang yang disebarkan kejelekannya itu benar benar terjatuh dalam perbuatan tersebut ataupun sekedar tuduhan yang tidak benar.

    3. Jami’ul Ulum Wal Hikam (2/293), Syarhul Arba’in Ibnu daqiqil Ied (hal 120), Qowa’id wa Fawa’id minal Arba’in An Nawawiyyah (hal 312)

    4. Syarhul Arba’in An Nawawiyyah, Asy Syaikh Ibnu Utsaimin (hal 390 – 391)

    5. Yakni lisannya menyatakan keimanan namun iman itu belum menancap didalam hatinya.

    6. Yang dimaksud dengan aurot disini adalah aib / cacat atau cela dan kejelekan. Dilarang mencari cari kejelekan seorang muslim untuk kemudian diungkapkan kepada manusia (tuhfatul Ahwadzi) 7. Diriwayatkan oleh Tirmidzi no. 2032

    8. Al Qodhi ‘Iyadh rahimahulloh berkata : ” tentang ditutupnya aib si hamba di hari kiamat, ada dua kemungkinan. Pertama: Alloh SubhanaHu wa Ta’ala akan menutup kemaksiatan dan aibnya dengan tidak mengumumkannya kepada orang orang yang ada di mauqif (padang mahsyar). Kedua Alloh SubhanaHu wa Ta’ala tidak akan menghisab aibnya dan tidak menyebut aibnya tersebut.” Namun kata Al Qodhi, sisi yang pertama lebih nampak karena adanya hadits lain.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim. 16/360) Hadits yang dimaksud adalah hadits dari Abdulloh bin ‘Umar radhiyallohu ‘anhu, ia berkata.”

    Aku pernah mendengar Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda : ” Sesungguhnya (dihari penghisaban nanti) Alloh mendekatkan seorang mukmin, lalu Alloh meletakkan tabir dan menutupi si mukmin (sehingga penghisabannya tersembunyi dari orang orang yang hadir di mahsyar), Alloh berfirman : ” Apakah engkau mengetahui dosa ini yang pernah kau lakukan ? Apakah engkau tahu dosa itu yang dulunya di dunia engkau kerjakan ? Si mukmin menjawab : “Iya, hamba tahu wahai Rabbku (itu dosa dosa yang pernah hamba lakukan).” Hingga ketika si mukmin itu telah mengakui dosa dosanya dan ia memandang dirinya binasa karena dosa dosa tersebut, Alloh memberi kabar gembira padanya: ” Ketika didunia Aku menutupi dosa dosamu ini, dan pada hari ini Aku ampuni dosa dosamu itu. ” Lalu diberikanlah padanya catatan kebaikan kebaikannya…” (HR. Al Bukhori dan Muslim)

    Dari : Majalah Asy Syariah Vol III / No. 30/1428 H / 2007

    Wassalamu’alaykum wa RohmatulloHi wa BarokatuHu

    Iklan
     
  • erva kurniawan 4:43 am on 30 August 2013 Permalink | Balas  

    Kado Terindah 

    kado6Kado Terindah

    Oleh Lizsa Anggraeny

    Mencari hadiah, ternyata bukan hal yang mudah. Sudah berkali-kali berputar di sepanjang pertokoan, tetap belum menemukan sesuatu yang sreg. Ingin rasanya mendapatkan kado terindah yang dapat membuat hati sang penerima merasa senang. Terutama jika kado tersebut akan diberikan pada seseorang yang teristimewa, sahabat dekat.

    Menyebut nama sahabat tersebut, rasanya begitu banyak kebaikan yang telah saya terima. Tak terhitung pula, barang pemberian darinya. Tanpa diminta, sepertinya ia selalu tahu apa yang sedang saya perlukan. Ketika saya belum memiliki overcoat untuk penahan di musim dingin, dengan baik hati, ia ‘melungsurkan’ satu overcoatnya untuk saya. Begitu juga ketika pindahan rumah, dengan baik hatinya ia ‘mewariskan’ beberapa peralatan rumah tangga. Pun ketika pulang dari berwisata, saya selalu kebagian oleh-oleh. Tak hanya barang, sahabat inipun akan memberikan bantuan berupa kata-kata penyemangat serta doa jika saya ‘curhat’. Dengan alasan itulah, saya ingin mencari kado untuknya. Sebagai balas budi dan untuk lebih mengakrabkan tali ukhuwah.

    Kembali ke pencarian kado, ketika sedang serius memilih barang, tiba-tiba dari arah belakang, kaki terasa ada yang menubruk. Reflek badan membalik ke belakang. Dan nampaklah, satu orang wanita muda Jepang dengan kursi rodanya. Dilihat dari penampilan, tubuhnya cacat tak bisa digerakkan. Hanya tangannya saja yang masih berfungsi untuk menggerakkan kursi roda otomatisnya. “Sumimasen… (Maaf…), ” berat terdengar suaranya disertai mimik bersalah ketika saya membalikan badan. Wajahnya tampak mulai tersenyum ketika saya katakan, “tidak apa-apa. ”

    Saya perhatikan, kursi rodanya nampak berjalan ke arah etalase lain. Dan mulai memperhatikan barang di sana. Tak tega membiarkanya sendiri, saya berlari kecil ke arahnya dan berkata, “Jika ada yang perlu diambilkan, saya akan bantu, ” Sesaat matanya memandang ke arah saya. Kemudian wajahnya tampak sumringah, terlihat hendak menganggukkan kepalanya yang sulit digerakan, sebagai tanda terima kasih.

    Entah kenapa, hari itu jadilah saya dan wanita Jepang berkursi roda tersebut melakukan windowshopping bersama. Dari ceritanya, ia telah mengalami cacat sejak kecil. Beberapa syarafnya tidak berkembang normal. Namun, ia tak pernah menyesal keadaan. Ia bersyukur masih diberi kesempatan hidup dengan ketidakberdayaannya. “Hidup harus disyukuri, ” begitu ucapnya. Cerita terputus ketika, seorang berseragam putih mendatangi. Perawat dari panti rehabilitasi-tempat tinggalnya sudah menjemput. Kami berpisah, tanpa sempat saling menanyakan tempat tinggal.

    Saya terduduk di bangku istirahat. Mulai mengamati diri. Mata dapat melihat, telinga mendengar, kaki bergerak bebas, tubuh normal. Tidak hanya itu, saya diberi kebebasan 24 jam menghirup udara gratis, diberi rizki, diberi kesehatan…. Subhanallah, begitu besar pemberian yang telah Allah berikan. Pemberian yang tak mungkin dapat dihitung. Tidak hanya jumlah, Allah swt pun telah memberikan sesuatu yang sangat berharga pada saya, yaitu memiliki iman Islam. Sebuah pemberian yang tak dapat diwariskan dari siapapun kecuali dari hidayah Allah.

    Untuk balas budi atas pemberian-Nya, apa yang telah saya berikan? Sudahkan saya memberikan kado istimewa yang indah, bagus yang dapat diterima oleh-Nya? Yang dapat mendekatkan diri saya pada-Nya? Bersyukur dan berterima kasih pada-Nya dengan hati yang ikhlas?

    Saya mulai mengingat-ngingat, terkadang shalat saya masih tidak tepat waktu. Sedekah hanya dilakukan ala kadarnya, puasa kadang hanya sebatas memenuhi yang wajib, dalam amalan pun mungkin terselip ria tanpa keikhlasan. Betapa saya belum bisa memberikan kado terindah atas semua pemberian dari-Nya. Ibadah, rasa syukur saya masih belum sebanding. Padahal dengan rasa cinta-Nya, Dia selalu memberi… Memberi dan Maha Pemberi.

    Saya kembali teringat wanita Jepang dengan kursi rodanya. Yang tetap bersyukur dengan semua keberadaannya. Teringat pula sahabat karib yang selalu selalu memberi. Betapa bahagianya saya bisa mengenal kedua orang tersebut. Yang secara tidak langsung mengingatkan diri, betapa banyak hal yang harus saya syukuri.

    Seolah tersadar, saya melirik jam tangan. Waktu ashar telah tiba. Bergegas saya meninggalkan bangku istirahat pertokoan tersebut. Mencari tempat yang kira-kira aman untuk shalat. Tak ingin rasanya waktu berharga ini dilewatkan. Karena saat inilah kesempatan saya untuk menumpahkan rasa syukur. Berterima kasih atas semua yang telah diberikan-Nya selama ini. Mudah-mudahan ini dapat menjadi amalan ‘kado’ terindah, yang dapat menunjukan bukti kecintaan saya pada Allah, Sang Maha Pemberi.

    ***

    “Adalah Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam shalat hingga kedua telapak kaki dan betisnya bengkak. Aisyah ra berkata kepada beliau, “Mengapa Anda mengerjakan yang demikian? Bukankah dosa Anda yang telah lalu maupun yang akan datang telah diampuni?” Beliau Rasulullah saw menjawab, “Apakah tidak sepantasnya jika aku menjadi seorang hamba yang selalu bersyukur?”(HR bukhari dan Muslim)

    Tokyo, aishliz et FLP-Jepang

    eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 4:15 am on 29 August 2013 Permalink | Balas  

    Lebah Madu 

    lebah-maduLebah Madu

    Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. (QS. An-Nahl, 16:68)

    Lebah madu membuat tempat penyimpanan madu dengan bentuk heksagonal. Sebuah bentuk penyimpanan yang paling efektif dibandingkan dengan bentuk geometris lain. Lebah menggunakan bentuk yang memungkinkan mereka menyimpan madu dalam jumlah maksimal dengan menggunakan material yang paling sedikit. Para ahli matematika merasa kagum ketika mengetahui perhitungan lebah yang sangat cermat. Aspek lain yang mengagumkan adalah cara komunikasi antar lebah yang sulit untuk dipercaya. Setelah menemukan sumber makanan, lebah pemadu yang bertugas mencari bunga untuk pembuatan madu terbang lurus ke sarangnya. Ia memberitahukan kepada lebah-lebah yang lain arah sudut dan jarak sumber makanan dari sarang dengan sebuah tarian khusus. Setelah memperhatikan dengan seksama isyarat gerak dalam tarian tersebut, akhirnya lebah-lebah yang lainnya mengetahui posisi sumber makanan tersebut dan mampu menemukannya tanpa kesulitan.

    Lebah menggunakan cara yang sangat menarik ketika membangun sarang. Mereka memulai membangun sel-sel tempat penyimpanan madu dari sudut-sudut yang berbeda, seterusnya hingga pada akhirnya mereka bertemu di tengah. Setelah pekerjaan usai, tidak nampak adanya ketidakserasian ataupun tambal sulam pada sel-sel tersebut. Manusia tak mampu membuat perancangan yang sempurna ini tanpa perhitungan geometris yang rumit; akan tetapi lebah melakukannya dengan sangat mudah. Fenomena ini membuktikan bahwa lebah diberi petunjuk melalui “ilham” dari Allah swt sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 68 di atas.

    Sejak jutaan tahun yang lalu lebah telah menghasilkan madu sepuluh kali lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Satu-satunya alasan mengapa binatang yang melakukan segala perhitungan secara terinci ini memproduksi madu secara berlebihan adalah agar manusia dapat memperoleh manfaat dari madu yang mengandung “obat bagi manusia” tersebut. Allah menyatakan tugas lebah ini dalam Al-Qur’an:

    Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An-Nahl, 16: 69)

    Tahukah anda tentang manfaat madu sebagai salah satu sumber makanan yang Allah sediakan untuk manusia melalui serangga yang mungil ini?

    Madu tersusun atas beberapa molekul gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, potasium, sodium, klorin, sulfur, besi dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas madu bunga dan serbuk sari yang dikonsumsi lebah. Di samping itu di dalam madu terdapat pula tembaga, yodium dan seng dalam jumlah yang kecil, juga beberapa jenis hormon.

    Sebagaimana firman Allah, madu adalah “obat yang menyembuhkan bagi manusia”. Fakta ilmiah ini telah dibenarkan oleh para ilmuwan yang bertemu pada Konferensi Apikultur Sedunia (World Apiculture Conference) yang diselenggarakan pada tanggal 20-26 September 1993 di Cina. Dalam konferensi tersebut didiskusikan pengobatan dengan menggunakan ramuan yang berasal dari madu. Para ilmuwan Amerika mengatakan bahwa madu, royal jelly, serbuk sari dan propolis (getah lebah) dapat mengobati berbagai penyakit. Seorang dokter asal Rumania mengatakan bahwa ia mencoba menggunakan madu untuk mengobati pasien katarak, dan 2002 dari 2094 pasiennya sembuh sama sekali. Para dokter asal Polandia juga mengatakan dalam konferensi tersebut bahwa getah lebah (bee resin) dapat membantu menyembuhkan banyak penyakit seperti bawasir, penyakit kulit, penyakit ginekologis dan berbagai penyakit lainnya.

    ***

    Dari Harunyahya.com

     
  • erva kurniawan 4:13 am on 28 August 2013 Permalink | Balas  

    Menghidupkan Qalbu 

    hati suciMenghidupkan Qalbu

    Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

    Kalau ada satu keberuntungan bagi manusia dibandinglkan dengan hewan, maka itu adalah bahwa manusia memiliki kesempatan untuk ma’rifat (kesanggupan mengenal Allah). Kesanggupan ini dikaruniakan Allah karena manusia memiliki akal dan -yang terutama selkali-Qalbu. Inilah karunia Allah yang sangat besar bagi manusia.

    Orang-orang yang yang hatinya benar-benar berfungsi akan berhasil mengenali dirinya dan pada akhirnya akan berhasil pula mengenali Tuhannya. Tidak ada kekayaan termahal dalam hidup ini, kecuali keberhasilan mengenal diri dan Tuhannya.

    Karenanya, siapa pun yang tidak bersungguh-sungguh menghidupkan Qalbunya, dia akan jahil, akan bodoh, baik dalam mengenali dirinya sendiri, lebih-lebih lagi dalam mengenal Allah Azza wa Jalla, Dzat yang telah menyernpurnakan kejadiannya dan pula mengurus tubuhnya lebih daripada apa yang bisa dia lakukan terhadap dirinya sendiri.

    Orang-orang yang sepanjang hidupnya tidak pernah marnpu mengenal dirinya dengan baik, tidak akan tahu harus bagaimana menyikapi hidup ini, apalagi merasakan indahnya hidup. Demikian pun, karena tidak mengenal Tuhannya, maka hampir dapat dipastilkan kalau yang dikenalnya hanyalah dunia ini saja, dan itu pun sebagian kecil belaka.

    Akibatnya, semua kaIkulasi perbuatannya, tidak bisa tidak hanya diukur oleh asesoris keduniaan belaka. Dia menghargai orang sernata-mata karena orang tersebut tinggi pangkat jabatan, dan kedudukannya ataupun banyak hartanya. Demilkian pula dirinya sendiri merasa berharga di mata orang, itu karena ia merasa memiliki kelebihan duniawi dibandingkan dengan orang lain. Ada pun dalam perkara harta, gelar, pangkat, dan kedudukan itu sendiri, dia tidak akan memperdulikan dari mana datangnya dan ke mana perginya karena yang penting baginya adalah ada dan tiada.

    Sebagian besar orang ternyata tidak mempunyai cukup waktu dan kesungguhan untuk bisa mengenali Qalbunya sendiri. Akibatnya, menjadi tidak sabar, apa yang harus dilakukan di dalam kehidupan dunia yang serba singkat ini. Sayang sekali, Qalbu itu -berbeda dengan dunia- tidak bisa dilihat dan diraba. Kendatipun demikian, kita hendaknya sadar bahwa hati inilah pusat segala kesejukan dan keindahan dalam hidup ini.

    Seorang ibu yang tengah mengandung ternyata mampu menjalani hari-harinya dengan sabar, padahal jelas secara duniawi tidak menguntungkan apa pun. Yang ada malah berat melangkah, sakit, lelah, mual. Walaupun demikian, sernua itu toh tidak membuat sang ibu berbuat aniaya terhadap jabang bayi yang dikandungnya.

    Datang saatnya melahirkan, apa yang bisa dirasakan seorang ibu, selain rasa sakit yang tak terperikan. Tubuh terluka, darah bersimbah, bahkan tak jarang berjuang di ujung maut. Ketika jabang bayi berhasil terlahir ke dunia, subhanallah, sang ibu malah tersenyurn penuh bahagia.

    Sang bayi yang masih merah itu pun dimomong siang malam dengan sepenuh kasih sayang. Padahal, tangisnya di tengah malam buta membuat sang ibu terkurangkan jatah istirahatnya. Siang malam dengan sabar ia mengganti popok yang sebentar-sebentar basah dan sebentar-sebentar belepotan eek bayi. Cucian pun tambah menggunung karena tak jarang pakaian sang ibu harus sering diganti karena terkena pipis si jantung hati. Akan tetapi, masya Allah, semua beban ‘derita’ itu toh tidak membuat ia berlaku kasar atau mencampakkan sang bayi.

    Ketika tiba saatnya si buah hati belajar berjalan, ibu pun dengan seksama membimbing dan menjaganya. Hatinya selalu cemas jangan-jangan si mungil yang tampak kian hari semakin lucu itu terjatuh atau terinjak duri. Saatnya si anak harus masuk sekolah, tak kurang-kurang menjadi beban orang tua. Demikian pula ketika memasuki dunia remaja, mulai tampak kenakalannya, mulai sering membuat kesal orang tua, sungguh menjadi beban batin yang tak ringan.

    Pendek kata, ketika kecil menjadi beban, sudah besar pun tak kurang-kurang menyusahkan. Begitu panjangnya rentang waktu yang harus dijalani orang tua dalam menanggung segala beban, namun begitu sedikit balas jasa anak. Bahkan tak jarang sang anak malah berbuat durhaka, menelantarkan, dan mencampakkan kedua orang tuanya begitu saja manakala tiba saatnya mereka tua renta.

    Mengapa orang tua bisa demikian tahan untuk terus-menerus berkorban bagi anak-anaknya? Karena, keduanya mempunyai Qalbu yang dari dalamnya terpancar kasih sayang yang tulus suci. Walaupun tidak ada imbalan langsung dari sang anak, namun Qalbu yang memiliki kasih sayang inilah yang membuatnya tahan terhadap segala kesulitan dan penderitaan. Bahkan sesuatu yang menyengsarakan pun terasa tidak menjadi beban.

    Oleh karena itu, beruntunglah orang yang ditakdirkan memiliki kekayaan berupa harta yang banyak. Akan tetapi, yang harus selalu kita jaga dan rawat adalah kekayaan batin kita berupa Qalbu ini. Qalbu yang penuh cahaya kebenaran akan membuat pemiliknya merasakan indah dan lezatnya hidup ini karena selalu akan merasakan kedekatan dengan Allah Azza wa Jalla. Sebaliknya, waspadalah bila cahaya Qalbu menjadi redup karena tidak bisa tidak akan membuat pemiliknya selalu merasakan kesengsaraan lahir batin karena senantiasa merasa, terjauhkan dari rahmat dan pertolongan-Nya.

    Allah Mahatahu segala lintasan hati. Dia menciptakan dunia beserta segala isinya ini dari unsur tanah dan itu berarti senyawa dengan tubuh kita karena sama-sama terbuat dari tanah. Karenanya, untuk memenuhi kebutuhan tubuh kita tidaklah cukup dengan berdzikir, tetapi harus dipenuhi dengan aneka perangkat dan makanan, yang ternyata sumbernya dari tanah pula.

    Bila perut terasa lapar, maka kita santap aneka makanan, yang sumbernya ternyata dari tanah. Bila tubuh kedinginan, kita pun mengenakan pakaian, yang bisa ditelusuri ternyata unsur-unsurnya bersumber dari tanah. Demikian pula bila suatu ketika tubuh kita menderita sakit, maka dicarilah obat-obatan, yang juga diolah dari komponen-komponen yang berasal dari tanah pula. Pendek kata, untuk segala keperluan tubuh kita mencarikan jawabannya dari tanah. Akan tetapi, kalbu ini ternyata fidak senyawa dengan unsur-unsur tanah, sehingga. ia hanya akan terpuaskan laparnya, dahaganya, sakitnya, serta kebersihannya semata-mata dengan mengingat Allah. Waa bi dzikrillaahi tathmaInnul quluub.”[Q.S. Ar-Rad (13): 28]. Camkan, hatimu hanya akan tenteram jikalau engkau selalu ingat kepada Allah.

    Kita akan mempunyai banyak kebutuhan untuk fisik kita, tetapi kita pun memiliki kebutuhan untuk kalbu kita. Karenanya, marilah kita mengarungi dunia ini sambil memenuhi kebutuhan fisik dengan unsur dunia, tetapi kalbu atau Qalbu kita tetap tertambat kepada Dzat Pemilik dunia. Dengan kata lain, tubuh kita sibuk dengan urusan dunia, tetapi hati kita harus sibuk dengan Allah yang memiliki dunia. Inilah sebenamya yang paling harus kita lakukan.

    Sekali kita salah dalam mengelola hati -tubuh dan hati sama- sama sibuk dengan urusan dunia -kita. pun akan stress jadinya. Hari-hari pun akan senantiasa diliputi kecemasan. Kita akan takut ada yang menghalangi, takut tidak kebagian, takut telegal, dan seterusnya. Ini semua. diakibatkan sibuknya seluruh jasmani dan ruhani kita dengan urusan dunia semata.

    Inilah sebenarnya yang sangat potensial membuat redupnya Qalbu kita. Kita sangat perlu meningkatkan kewaspadaan agar jangan sampai mengalami musibah semacam ini. Wallaahu a’lam.

     
  • erva kurniawan 4:11 am on 27 August 2013 Permalink | Balas  

    Meraih Hidayah Allah 

    hidayah-allahMeraih Hidayah Allah

    Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

    Pernah ada seseorang yang matanya ditutup, disuruh berjalan akhirnya menangis. Mengapa? Karena setiap langkahnya penuh dengan keraguan, ia merasa setiap langkahnya selalu beresiko, mungkin terpeleset atau tubuhnya membentur dinding.

    Begitulah kira-kira, kalau kita tidak mendapatkan cahaya dalam hidup ini, lalu bagaimana kalau hati kita tidak mendapatkan cahaya kebenaran?

    Orang yang tidak mendapatkan hidayah dari Allah, hidup ini terasa lelah, takut, tegang, was-was, cemas, gelisah dan bingung. Orang yang jauh dari agama, dari Alquran apapun yang diberikan Allah kepadanya pasti hanya akan membuat dirinya hina.

    Harta, gelar, pangkat, jabatan atau penampilan yang diberikan Allah, kalau tidak diiringi dengan ketaatan kepada Allah pasti akan menyiksa. Hidupnya hiruk-pikuk, rebutan, sikut sana sini, tidak peduli aturan dan etika.

    Tetapi kalau kita mendapat hidayah dari Allah, seperti berjalan diterang benderang. Mantap, tidak ada ketakutan pada mereka dan tidak pernah bersedih hati, dia tidak panik dengan dunia ini. Tapi dia aakan merasa galau kalau tidak mampu meyempurnakan apa yang bisa ia lakukan.

    Memang, disamping tetap istiqamah dalam meraih hidayah Allah, kitapun harus tetap memanjatkan doa karena langkah awal untuk meraih hidayah ini adalah dengan terus mencari ilmu sekuat tenaga. Karena makin banyak ilmu, maka makin produktif dalam beramal dan makin bening hati kita. Semoga Allah menjaga kita dari dicabutnya nikmat yang mahal, yaitu hidayah.

     
  • erva kurniawan 4:53 am on 26 August 2013 Permalink | Balas  

    Meniti Hari dengan Ilmu 

    ilmuMeniti Hari dengan Ilmu

    Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

    Saudaraku, hampir dipastikan tidak ada seorang pun yang mengharapkan dirinya terbelakang. Baik ilmu, keahlian, maupun penampilan. Seiring dengan itu sarana pun turut memenuhinya. Kini, bermunculan buku-buku terbitan baru, menjamurnya tempat kursus dan pelatihan-pelatihan, juga semaraknya model pakaian, tas, sepatu baru. Namun sayang, tidak banyak yang menyadari akan pentingnya hal tersebut.

    Itu bisa terjadi karena kesadaran yang kurang akan pentingnya ilmu sehingga lebih tertarik pada penampilan raga. Maka tak sedikit yang menganggarkan membeli sepatu baru daripada buku. Ada empat hal yang harus dilalui agar ilmu menjadi landasan dalam meniti hari.

    Pertama, menelisik diri. Kenapa harus banyak membaca, kenapa harus ikut pelatihan-pelatihan? Jika bukan untuk menjadikan diri lebih baik, apa lagi yang akan diperoleh. Dan, jika tidak melakukan hal tersebut apa yang akan didapat. Dari sana kita akan memperoleh kesadaran.

    Kedua, menindaktanjuti sikap sadar pada aplikasi. Dengan menyadari bahwa ilmu yang akan menjadikan kita kaya, tidak terbetakang, bisa bertahan dengan serta merta kita akan mencarinya.

    Ketiga, meyakini bahwa ilmu itu harus ‘dibeli’. Maka selagi ada uang, jangan pelit mengeluarkannya. Tung Desem Waringin, seorang pengusaha No 1 di Indonesia, harus mengeluarkan milyaran rupiah untuk pelatihan dalam hitungan hari. Diyakininya untuk mendapatkan ilmu yang baik, maka dapatkan dari orang yang baik pula. Walaupun harus mengeluarkan uang banyak, dan jauh tempat yang dituju tak menjadikannya rugi. Karena itu nilai tambah untuk kariernya. Namun jangan serta merta kita menganggap ilmu hanya bisa dibeli oleh orang yang berduit saja sehingga kita, yang diberi rezeki pas-pasan tidak berhak. Banyak peluang yang bisa kita lakukan tanpa uang. Tapi jangan disalahkan jika hasiInya juga pas-pasan.

    Keempat, ilmu yang diperoleh sertai dengan berlatih. Sangat disayangkan jika seabrek buku habis dibaca, hadir di seminar-seminar, dan berbagai pelatihan digeluti jika tidak ditindaktanjuti dengan latihan.

    Dengan demikian, saudaraku, ilmu menjadi keniscayaan. Awali dengan proses penyadaran akan pentingnya ilmu, tindak lanjuti dengan belajar dan berlatih, dan jangan pelit untuk menganggarkan dana. Dengan berbuat lebih, maka kita pun akan mendapatkan yang lebih.

    Wallahua’am.

     
  • erva kurniawan 4:47 am on 25 August 2013 Permalink | Balas  

    Cukuplah Hanya Allah 

    Ya AllahCukuplah Hanya Allah

    Penulis : Emilia Febru Handini

    Sesuatu yang menurut kita baik untuk diri kita, kadang tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Karena belum tentu menurut pandangan ALLAH sesuatu yang disukai itu membawa kita pada kebaikan untuk diri kita atau pun lingkungan sekitar kita, dan belum tentu pula bisa menghantarkan kedekatan dengan ALLAH Ta’ala.

    Sesuatu yang kita hindari atau yang tidak kita harapkan terjadi dalam kehidupan kita, belum tentu tidak baik untuk masa depan kita menurut kacamata ALLAH. Mungkin saja di balik ketidaksukaan atau ketidaknyamanan yang kita rasakan itu, ALLAH memberikan petunjuk kepada kita untuk melangkahkan kaki menuju fase hidup selanjutnya. Di balik kejadian yang tidak sesuai dengan harapan, ALLAH menuntun kita agar kita tak bingung dalam menentukan arah. Agar kita terselamatkan dari segala macam keburukan atau malapetaka.

    Sepertinya tidak terima. Sepertinya sulit untuk bisa mengikhlaskan hati. Sepertinya berat untuk menjalaninya. Seperti hampir tak menemukan pintu tanpa kunci. Tapi, semua kepahitan, kegetiran, dan keberatan itu hanya untuk sementara. Sampai kapan? Tak kan bisa terjawab, karena hanya Dia yang berhak mengatur diri kita. Hanya Dia yang berhak menentukan apa yang terbaik buat diri kita.

    Hari esok tak kan pernah ada yang tahu. Esok hanyalah milikNya. Jangan ciptakan harapan muluk-muluk, sebab biasanya tak kan terjadi, atau mungkin tidak terjadi. Tak usah pikirkan kebahagiaan diri, karena kebahagiaan tidak pernah berlabuh pada suatu titik, malah akan terus berlanjut seiring dengan kepahitan hidup yang harus kita lalui. Jalan tak bisa selamanya lurus. Kadang ada tikungan tajam yang harus kita lewati dengan penuh kehati-hatian, kadang jalan itu riskan penuh dengan bebatuan yang terjal, kadang banyak sekali belokan yang membuat diri bisa tersesat kehilangan arah.

    Sekarang mungkin kita sedang berada di jalan yang penuh dengan belokan yang membingungkan. Menuntut diri untuk membuat suatu keputusan dalam memilih belokan yang tepat. Harus ke mana melangkah? Belokan manakah yang akan menyelamatkan diri kita? Apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Akankah Tuhan terangi sinarNya?

    “… Dan hati kan menjadi tentram manakala kau pasrahkan semua hanya kepadaNya…” Ketika kebimbangan itu menyentuh nurani, ingatlah padaNya. Ketika merasa seperti tak ada pilihan arah tuk berjalan, tetapkan hati hanya kepadaNya. Ketika kebahagiaan sepertinya sangat jauh terjangkau, syukuri banyak nikmatNya. Ketika harapan seakan memudar, jangan pernah putus asa dari rahmatNya.

    ***

    KotaSantri.com

     
  • erva kurniawan 4:41 am on 24 August 2013 Permalink | Balas  

    Kerja Keras 

    kerja kerasKerja Keras

    “Maka apabila shalat telah selesai ditunaikan, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia (rezeki) Allah dan ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS Aljumu’ah [62]: 10)

    Ayat di atas menegaskan bahwa kita diperintahkan untuk mencari rezeki demi kelangsungan hidup di muka bumi ini. Rezeki, meski sudah diatur-Nya, tidak akan datang sendiri menghampiri kita tanpa ada usaha untuk memperolehnya. Perintah bertebaran di muka bumi untuk mencari rezeki mengandaikan sebuah usaha maksimal, kerja keras disertai ketekunan dan sikap tawakal kepada Allah SWT.

    Islam sangat menjunjung tinggi etos kerja. Bahkan dalam salah satu sabdanya Rasulullah SAW pernah menegaskan, “Sesungguhnya, bekerja mencari rezeki yang halal itu merupakan kewajiban setelah ibadah-ibadah fardhu.” (HR Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

    Jika kerja keras mencari rezeki merupakan kewajiban seorang Muslim setelah ibadah fardhu, masihkah kita merasa menjadi Muslim yang baik, ketika dalam jiwa kita masih tersimpan sikap malas dan tidak mau berusaha?

    Selayaknya, ketika ibadah fardhu telah ditunaikan, kita tempa diri kita dengan cucuran keringat karena bekerja keras. Hanya dengan cara inilah, kita bisa bangga dan menunjukkan kalau kita benar-benar seorang Muslim sejati. Seorang Muslim yang sanggup menghadapi hidup dengan penuh semangat juang yang tinggi, meyakini rezeki Allah sangat berlimpah dan disediakan bagi siapa saja yang mau berusaha menggapainya dengan bimbingan-Nya.

    Kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, selain menunjukkan jiwa serta kepribadian seorang Muslim, juga merupakan salah satu cara untuk menghapus dosa-dosa kita. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan karena kedua tangannya bekerja pada siang hari, maka pada malam harinya ia diampuni Allah.” (HR Ahmad)

    Dengan demikian jelaslah bahwa tidak ada ruang bagi sikap malas dalam ajaran Islam. Islam mengajarkan umatnya untuk bekerja keras, mencari karunia Allah di muka bumi ini dengan sikap gagah, sabar, dan pantang menyerah. Di sinilah letak ‘izzah–kehormatan, harga diri, sekaligus jati diri–seorang Muslim.

    Sebaliknya, sikap berpangku tangan, selalu mengharapkan bantuan orang lain, pasrah terhadap keadaan, tidak berusaha mengubah ke arah yang lebih baik menunjukkan kerendahdirian serta kehinaan seseorang. Wallahu a’lam bish-shawab.

    ***

    (Didi Junaedi HZ )

    republika.co.id

     
  • erva kurniawan 4:30 am on 23 August 2013 Permalink | Balas  

    Syukur 

    Bersyukur kepada AllahSyukur

    Oleh: Tim dakwatuna.com

    Ketika Nabi Sulaiman a.s. mendapatkan puncak kenikmatan dunia, beliau berkata, ”Ini adalah bagian dari karunia Allah, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur.” (An-Naml: 40). Ketika Qarun mendapatkan harta yang sangat banyak, dia mengatakan, “Sesungguhnya harta kekayaan ini, tidak lain kecuali dari hasil kehebatan ilmuku.” (Al-Qashash: 78).

    Dua kisah yang bertolak belakang di atas menghasilkan akhir kesudahan yang berbeda. Nabi Sulaiman a.s. mendapatkan karunia di dunia dan akhirat. Sedangkan Qarun mendapat adzab di dunia dan akhirat karena kekufurannya akan nikmat Allah.

    Demikianlah, fragmen hidup manusia tidak terlepas dari dua golongan tersebut. Golongan pertama, manusia yang mendapatkan nikmat Allah dan mereka mensyukurinya dengan sepenuh hati. Dan golongan kedua, manusia yang mendapatkan banyak nikmat lalu mereka kufur. Golongan pertama yaitu para nabi, shidiqqin, zullada, dan shalihin (An-Nisa’: 69-70). Golongan kedua, mereka inilah para penentang kebenaran, seperti Namrud, Fir’aun, Qarun, Abu Lahab, Abu Jahal, dan para pengikut mereka dari masa ke masa.

    Secara umum bahwa kesejahteraan, kedamaian dan keberkahan merupakan hasil dari syukur kepada Allah sedangkan kesempitan, kegersangan dan kemiskinan akibat dari kufur kepada Allah. (An-Nahl 112)

    Nikmat Allah

    Betapa zhalimnya manusia, bergelimang nikmat Allah tetapi tidak bersyukur kepada-Nya (Ibrahim: 34). Nikmat yang Allah berikan kepada manusia mencakup aspek lahir (zhaahirah) dan batin (baatinah) serta gabungan dari keduanya. Surat Ar-Rahman menyebutkan berbagai macam kenikmatan itu dan mengingatkan kepada manusia akan nikmat tersebut dengan berulang-ulang sebanyak 31 kali, “Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?”

    Baca dan tadabburilah surat Ar-Rahman. Allah yang Maha Penyayang memberikan limpahan nikmat kepada manusia dan tidak ada satu makhluk pun yang dapat menghitungnya. Dari awal sampai akhir surat Ar-Rahman, Allah merinci nikmat-nikmat itu.

    Dimulai dengan ungkapan yang sangat indah, nama Allah, Dzat Yang Maha Pemurah, Ar-Rahmaan. Mengajarkan Al-Qur’an, menciptakan manusia dan mengajarinya pandai berkata-kata dan berbicara. Menciptakan mahluk langit dengan penuh keseimbangan, matahari, bulan dan bintang-bintang. Menciptakan bumi, daratan dan lautan dengan segala isinya semuanya untuk manusia. Dan menciptakan manusia dari bahan baku yang paling baik untuk dijadikan makhluk yang paling baik pula. Kemudian mengingatkan manusia dan jin bahwa dunia seisinya tidak kekal dan akan berakhir. Hanya Allah-lah yang kekal. Di sana ada alam lain, akhirat. Surga dengan segala bentuk kenikmatannya dan neraka dengan segala bentuk kengeriannya. “Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?”

    Sarana Hidup (Wasa-ilul Hayah)

    Sungguh Maha Agung nama Rabbmu Yang Mempunyai kebesaran dan karunia. Marilah kita sadar akan nikmat itu dan menysukurinya dengan sepenuh hati. Dalam surat An-Nahl ayat 78, ada nikmat yang lain yang harus disyukuri manusia, “ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”

    Cobalah renungkan! Bagaimana jika manusia hidup di dunia dalam kondisi buta, maka dia tidak dapat melihat. Seluruh yang ada di hadapannya adalah sama. Tidak dapat melihat keindahan warna-warni dan tidak dapat melihat keindahan alam semesta. Coba sekali lagi renungkan! Bagaimana jadinya jika manusia hidup di dunia dalam keadaan buta dan tuli. Maka dia tidak dapat berbuat apa-apa. Dan coba sekali lagi renungkan! Jika manusia hidup di dunia dalam keadaan buta, tuli, dan gila. Maka hidupnya dihabiskan di rumah sakit, menjadi beban yang lainnya. Demikianlah nikmat penglihatan, pendengaran, dan akal. Demikianlah nikmat sarana kehidupan (wasail al-hayat).

    Pedoman Hidup (Manhajul Hayah)

    Sekarang apa jadinya jika manusia itu diberi karunia oleh Allah mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan akal untuk berpikir. Kemudian mata itu tidak digunakan untuk melihat ayat-ayat Allah, telinga tidak digunakan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, dan akal tidak digunakan untuk mengimani dan memahami ayat-ayat Allah. Maka itulah seburuk-buruknya makhluk. Mereka itu seperti binatang. Bahkan, lebih rendah dari binatang (Al-A’raf: 179).

    Demikianlah, betapa besarnya nikmat petunjuk Islam (hidayatul Islam) dan pedoman hidup (manhajul hayah). Nikmat ini lebih besar dari seluruh harta dunia dan seisinya. Nikmat ini mengantarkan orang-orang beriman dapat menjalani hidupnya dengan lurus, penuh kejelasan, dan terang benderang. Mereka mengetahui yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram.

    Al-Qur’an banyak sekali membuat perumpamaan orang yang tidak menjadikan Islam sebagai pedoman hidup, diantaranya digambarkan seperti binatang secara umum dan binatang tertentu secara khusus, seperti; anjing, keledai, kera dan babi (Al-A’raf: 176, Al-Jumu’ah: 5, Al-Anfal: 55, Al-Maidah: 60). Diumpamakan juga seperti orang yang berjalan dengan kepala (Al-Mulk: 22), buta dan tuli (Al Maidah: 71), jatuh dari langit dan disambar burung (Al-Hajj: 31) kayu yang tersandar (Al-Munafiqun: 4) dan lainnya.

    Pertolongan (An-Nashr)

    Ada satu bentuk kenikmatan lagi yang akan Allah berikan kepada orang-orang beriman disebabkan mereka komitmen dengan manhaj Allah dan berdakwah untuk menegakkan sistem Islam, yaitu pertolongan Allah, “ Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)

    Pertolongan Allah itu sangat banyak bentuknya, diantaranya perlindungan dan tempat menetap (al-iwaa), dukungan Allah sehingga menjadi kuat (ta’yiid), rizki yang baik-baik, kemenangan (al-fath), kekuasaan (al-istikhlaaf), pengokohan agama (tamkinud-din) dan berbagai macam bentuk pertolongan Allah yang lain (Al-Anfaal: 26, Ash-Shaaf: 10-13 dan An-Nuur: 55).

    Segala bentuk kenikmatan tersebut baik yang zhahir, bathin, maupun gabungan antara keduanya haruslah direspon dengan syukur secara optimal. Dan dalam bersyukur kepada Allah harus memenuhi rukun-rukunnya.

    Rukun Syukur

    Para ulama menyebutkan bahwa rukun syukur ada tiga, yaitu i’tiraaf (mengakui), tahaddust (menyebutkan), dan Taat.

    Al-I’tiraaf

    Pengakuan bahwa segala nikmat dari Allah adalah suatu prinsip yang sangat penting, karena sikap ini muncul dari ketawadhuan seseorang. Sebaliknya jika seseorang tidak mengakui nikmat itu bersumber dari Allah, maka merekalah orang-orang takabur. Tiada daya dan kekuatan kecuali bersumber dari Allah saja. “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Fathir: 15)

    Dalam kehidupan modern sekarang ini, orang-orang sekular menyandarkan segala sesuatunya pada kemampuan dirinya dan mereka sangat menyakini bahwa kemampuannya dapat menyelesaikan segala problem hidup. Mereka sangat bangga terhadap capaian yang telah diraih dari peradaban dunia, seolah-olah itu adalah hasil kehebatan ilmu dan keahlian mereka. Pola pikir ini sama dengan pola pikir para pendahulu mereka seperti Qarun dan sejenisnya. “Sesungguhnya harta kekayaan ini, tidak lain kecuali dari hasil kehebatan ilmuku.” (Al-Qashash: 78)

    Dalam konteks manhaj Islam, pola pikir seperti inilah yang menjadi sebab utama masalah dan problematika yang menimpa umat manusia sekarang ini. Kekayaan yang melimpah ruah di belahan dunia Barat hanya dijadikan sarana pemuas syahwat, sementara dunia Islam yang menjadi wilayah jajahannya dibuat miskin, tenderita, dan terbelakang. Sedangkan umat Islam dan pemerintahan di negeri muslim yang mengikuti pola hidup barat kondisi kerusakannya hampir sama dengan dunia Barat tersebut, bahkan mungkin lebih parah lagi.

    I’tiraaf adalah suatu bentuk pengakuan yang tulus dari orang-orang beriman bahwa Allah itu ada, berkehendak dan kekuasaannya meliputi langit dan bumi. Semua makhluk Allah tidak ada yang dapat lepas dari iradah (kehendak) dan qudrah (kekuasaan) Allah.

    At-Tahadduts

    “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.” (Ad-Duhaa: 11)

    Abi Nadhrah berkata, “Dahulu umat Islam melihat bahwa di antara bentuk syukur nikmat yaitu mengucapkannya.” Rasul saw. bersabda, “Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih pada manusia.” (Abu Dawud dan At Tirmidzi). Berkata Al-Hasan bin Ali, “Jika Anda melakukan (mendapatkan) kebaikan, maka ceritakan kepada temanmu.” Berkata Ibnu Ishak, “Sesuatu yang datang padamu dari Allah berupa kenikmatan dan kemuliaan kenabian, maka ceritakan dan dakwahkan kepada manusia.”

    Orang beriman minimal mengucapkan hamdalah (alhamdulillah) ketika mendapatkan kenikmatan sebagai refleksi syukur kepada Allah. Demikianlah betapa pentingnya hamdalah, dan Allah mengajari pada hamba-Nya dengan mengulang-ulang ungkapan alhamdulillah dalam Al-Qur’an dalam mengawali ayat-ayat-Nya.

    Sedangkan ungkapan minimal yang harus diucapkan orang beriman, ketika mendapatkan kebaikan melalui perantaraan manusia, mengucapkan pujian dan do’a, misalnya, jazaakallah khairan (semoga Allah membalas kebaikanmu). Disebutkan dalam hadits Bukhari dan Muslim dari Anas r.a., bahwa kaum Muhajirin berkata pada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah saw., orang Anshar memborong semua pahala.” Rasul saw. bersabda, “Tidak, selagi kamu mendoakan dan memuji kebaikan mereka.”

    Dan ucapan syukur yang paling puncak ketika kita menyampaikan kenikmatan yang paling puncak yaitu Islam, dengan cara mendakwahkan kepada manusia.

    At-Tha’ah

    Allah menyebutkan bahwa para nabi adalah hamba-hamba Allah yang paling bersyukur dengan melaksanakan puncak ketaatan dan pengorbanan. Dan contoh-contoh tersebut sangat tampak pada lima rasul utama: Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s., dan Nabi Muhammad saw. Allah swt. menyebutkan tentang Nuh a.s. “Sesungguhnya dia (Nuh a.s.) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (Al-Israa: 3)

    Dan lihatlah bagaimana Aisyah r.a. menceritakan tentang ketaatan Rasulullah saw. Suatu saat Rasulullah saw. melakukan shalat malam sehingga kakinya terpecah-pecah. Berkata Aisyah r.a., “Engkau melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa yang lalu dan yang akan datang.” Berkata Rasulullah saw., “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” (Muslim)

    Dalam riwayat lain disebutkan dari Atha, berkata, aku bertanya pada ‘Aisyah, “Ceritakan padaku sesuatu yang paling engkau kagumi yang engkau lihat dari Rasulullah saw.” Aisyah berkata, “Adakah urusannya yang tidak mengagumkan? Pada suatu malam beliau mendatangiku dan berkata, “Biarkanlah aku menyembah Rabbku.” Maka beliau bangkit berwudhu dan shalat. Beliau menangis sampai air matanya mengalir di dadanya, kemudian ruku dan menangis, kemudian sujud dan menangis, kemudian mengangkat mukanya dan menangis. Dan beliau tetap dalam kondisi seperti itu sampai Bilal mengumandangkan adzan salta.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah saw., apa yang membuat engkau menangis padahal Allah sudah mengampuni dosa yang lalu dan yang akan datang?” Rasul saw. berkata, “Tidak bolehkah aku menjadi hamba Allah yang bersyukur?” (Ibnul Mundzir, Ibnu Hibban, Ibnu Mardawaih, dan Ibnu ‘Asakir).

    Tambahan Nikmat

    Refleksi syukur yang dilakukan dengan optimal akan menghasilkan tambahan nikmat dari Allah (ziyadatun ni’mah), dalam bentuk keimanan yang bertambah (ziyadatul iman), ilmu yang bertambah, (ziyadatul ‘ilmi), amal yang bertambah (ziyadatul amal), rezeki yang bertambah (ziyadatur rizki) dan akhirnya mendapatkan puncak dari kenikmatan yaitu dimasukan ke dalam surga dan dibebaskan dari api neraka. Demikianlah janji Allah yang disebutkan dalam surat Ibrahim ayat 7, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

    ***

    Dakwatuna.com

     
  • erva kurniawan 4:26 am on 22 August 2013 Permalink | Balas  

    Melukis Sejarah 

    kisahMelukis Sejarah

    Bagaimanapun juga sejarah pasti akan mencatat setiap peristiwa; tertulis maupun tidak. Setiap orang yang melihat akan memberi persaksian kepada generasi selanjutnya tentang apa ia saksikan pada zamannya; peristiwa, tokoh, kepahlawanan, keadilan, kecerdasan, kebodohan, keberanian, kepengecutan dan lain sebagainya. Catatan sejarah anak manusia tidak akan pernah sepi dari berbagai kejadian dan kumpulan cerita kehidupan.

    Hingga kini, tercatat beberapa nama yang menjadi simbol dari sebuah karakter. Misalnya,dalam kepemimpinan; Nabi Muhammad, dalam keadilan; Umar Bin Khatab, dalam kelembutan; Ahnaf, dalam keberanian; Antarah, dalam kecerdasan; Iyas bin Muawiyah, dalam kedunguan; Habannaqah, dalam syi’ir; Al-Mutanabbi, dalam kebagusan; Nabi Yusuf, dalam kesabaran; Nabi Ayyub, dalam kebohongan; Musailamah, dalam kemunafikan; Abdullah Ibnu Ubay, dalam hikmah dan kebijaksanaan; Luqman, dalam hadits; Al-Bukhari, dan dalam Tasawuf; Al-Junaid.

    Di saat hidupnya, mungkin mereka tidak pernah mengira bahwa sosoknya akan dijadikan simbol sebuah sifat tertentu. Mereka menjalani hidup sesuai alur pikiran masing-masing. Tidak ada niat untuk dijadikan orang yang “ter..”. oleh orang-orang sesudahnya. Tapi kemudian sejarahlah yang mengabadikan namanya.

    Kita semua pasti akan menjadi bagian sejarah di masa depan. Saat generasi telah berganti; saat jatah hidup dimakan usia, saat umur berlalu mengiringi waktu, saat jarak terpaut begitu jauh dengan masa kehidupan kita saat ini. Saat itulah generasi baru akan bercerita tentang kakeknya, pamannya, bapaknya atau seseorang (yang mungkin itu saya atau anda) yang pernah diceritakan orang kepadanya.

    “Dan begitulah masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)” (Q.S. Ali Imran: 140)

    Adalah hal yang tidak mungkin mengubah catatan sejarah yang telah tertulis dan diabadikan oleh zaman. Yang bisa dilakukan adalah merancang sejarah diri sebaiknya-baiknya. Apa yang kita inginkan menjadi citra diri masa mendatang bisa dituliskan sejak saat ini.

    Saya teringat sebuah nasehat; ”ukirlah kenangan, lukislah sejarah, dan jalanilah hidup dengan carta terbaik. Bagaimana engkau menjalani hidup, begitu pulalah kesan orang-orang disaat kematianmu”

    Wassalam

    ***

    Dari: Umarulfaruq Abubakar

     
  • erva kurniawan 4:17 am on 21 August 2013 Permalink | Balas  

    Tafsir Ayat Kursi: Memahami Keagungan Kursi Allah 

    ayat-kursiTafsir Ayat Kursi: Memahami Keagungan Kursi Allah

    Oleh: DR. Attabiq Luthfi, MA

    “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk)Nya, tidak mengantuk dan tidak pula tidur. MilikNya segala apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seizinNya. Allah Mengetahui apa-apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka. Sedangkan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah luasnya meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan adalah Allah Maha Tinggi lagi Maha Agung”.

    Ayat di atas yang masyhur dengan nama ayat kursi terdapat di dalam surah Al-Baqarah ayat 255. Penamaan ayat ini bukan ijtihad para ulama, tetapi Rasulullah sendiri yang menamakannya. Tersebut dalam salah satu riwayat bahwa ketika Rasulullah saw ditanya oleh salah seorang sahabatnya tentang “ayat apa yang paling agung dari kitabullah?” Beliau menjawab, “Ayat Kursi”, kemudian Rasulullah membaca ayat ini. (Hadits riwayat Imam Ahmad dan Nasa’i). Dan memang, kata “kursi” sendiri terdapat di dalam ayat ini yang menjadi salah satu argumen penamaan ayat ini seperti juga penamaan surah-surah Al-Qur’an yang lain.

    Ayat kursi sangat kental dengan nuansa akidah, terutama akidah kepada Allah swt, yaitu akidah akan sifat-sifat Allah yang berbeda dengan sifat seluruh makhlukNya. Kejelasan akan sifat-sifat Allah sangatlah penting untuk menghindari dominasi khurafat, mitos dan syubhat yang kerap kali menutupi hati dan pandangan manusia. Justru Islam datang untuk menyelamatkan dan membersihkan hati manusia dari timbunan kotoran yang demikian berat, serta dari kesesatan dan kebingungan dalam kegelapan. Sehingga secara korelatif dijelaskan pada ayat setelahnya: “Tidak ada paksaan dalam beragama”, bahwa akidah yang dibawa oleh Islam adalah akidah yang berdasarkan kerelaan hati setelah mendapat keterangan dan penjelasan yang terang benderang, bukan berdasarkan pemaksaan dan tekanan.

    Menurut Ibnu Athiyah, yang dimaksud dengan kursi, berdasarkan hadits-hadits Rasulullah saw, adalah makhluk Allah yang agung yang berada di antara Arsy Allah swt, sedangkan Arsy Allah tentunya lebih besar berbanding kursiNya. Perbandingan antara keduanya seperti yang dituturkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits riwayat Abu Dzar, “Bukanlah kursi Allah yang berada di Arsy Allah itu melainkan hanya seperti sebuah lingkaran besi yang dilemparkan di salah satu penjuru bumi”.

    Penyebutan kata “kursi” yang secara fisik inderawi bisa digambarkan layaknya kursi tempat duduk manusia, begitu juga ungkapan “dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya” sememangnya menurut Sayyid Qutb adalah untuk memudahkan manusia memahami dan menggambarkan keagungan dan luasnya kekuasaan Allah yang meliputi langit dan bumi, “Luasnya Kursi Allah meliputi langit dan bumi”. Ungkapan dalam kalimat deskripsi inderawi seperti ini akan memberikan kesan yang kuat dan mendalam serta mantap di dalam hati mengenai hakikat yang dimaksud.

    Berdasarkan analisa bahasa yang dikemukakan oleh Az-Zamakhsyari bahwa penyebutan sifat-sifat Allah yang terkandung dalam ayat kursi ternyata tidak menggunakan kata penghubung (wau athaf) yang biasa digunakan dalam susunan kalimat bahasa Arab untuk menghubungkan antara satu kata dengan kata lainnya. Redaksi yang demikian ini menunjukkan kekuatan bayan (penjelasan) pada seluruh sifat-sifat Allah swt yang tersebut dalam ayat ini. Paling tidak terdapat empat penjelasan tentang sifat-sifat Allah dalam ayat kursi, yaitu: pertama, penjelasan akan keesaan Allah dalam mengatur seluruh makhlukNya. Kedua, penjelasan bahwa Allah adalah Raja atas seluruh makhluk yang diaturNya. Ketiga, penjelasan akan luasnya ilmu Allah yang mencakup seluruh makhlukNya, sampai kepada mereka yang diridhoi dan berhak mendapat syafa’atNya dengan mereka yang tidak berhak mendapatkannya. Dan keempat, penjelasan tentang pengetahuan Allah akan seluruh maklumat yang tersebar di langit dan bumi.

    Wajar jika Ibnu Katsir menyimpulkan bahwa ayat kursi merupakan ayat yang paling agung dalam Al-Qur’an (A’dlomu ayatin fil Qur’an) dan memiliki kedudukan dan keutamaan yang banyak. Di antara keutamaan ayat kursi seperti yang ditegaskan dalam beberapa hadits Rasulullah diantaranya: pertama, ayat kursi merupakan pelindung dan benteng dari godaan syetan. Kedua, nilai ayat kursi setara dan sebanding dengan seperempat Al-Qur’an.

    Sebuah kisah yang diutarakan oleh ayah Abdullah bin Ubay bin Ka’ab menjadi bukti nyata akan keampuhan ayat kursi sebagai pelindung. Ia menceritakan bahwa pada suatu malam ketika melihat-lihat kebun kurma miliknya, tiba-tiba ia terserempak dengan seekor hewan yang mirip dengan seorang anak yang baru menginjak usia baligh. Maka ayah Abdullah bin Ubay bin Ka’ab mengucapkan salam yang langsung dijawab oleh anak itu. Kemudian dengan nada penasaran ia bertanya, “Siapakah kamu? Apakah kamu dari golongan jin atau manusia?”. Dengan singkat anak itu menjawab, “Dari golongan jin”. Akhirnya ia meminta jin itu untuk mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Ternyata ketika disentuh, tangannya seperti tangan anjing dan juga bulunya. Maka aku bertanya, “Apakah demikian jin diciptakan?”. Jin itu menjawab, “Bahkan ada yang lebih hebat dari ini”. “Apakah yang mengundang kamu datang kemari?”. Ayah Abdullah bin Ubay kembali bertanya. “Telah sampai berita kepadaku bahwa engkau adalah seorang yang sangat dermawan. Aku ingin mendapatkan sedekahmu”. “Jika memang demikian, aku ingin bertanya, apa yang dapat melindungi kami dari godaanmu?”. Pinta Abdullah bin Ubay. Dengan tegas, jin itu menjawab, “Ayat kursi”. Keesokan harinya, Ayah Abdullah bin Ubay menceritakan kepada Rasulullah apa yang dialaminya tadi malam. Maka Rasulullah bersabda, “Apa yang dikatakan oleh jin itu benar, tetapi dia tetap makhluk yang kotor”. (Diriwayatkan oleh Al-Hakim).

    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dijelaskan kedudukan ayat kursi yang senilai dengan seperempat Al-Qur’an. Anas bin Malik menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bertanya kepada salah seorang sahabatnya, “Wahai fulan, sudahkan kamu menikah?”. Sahabat itu menjawab, “Saya tidak memiliki apapun untuk menikah”. Rasulullah bertanya kembali, “Bukankah bersama engkau (hafal) Al-Ikhlash?”. Ia menjawab, “Benar wahai Rasulullah”. Rasulullah menjelaskan, “Ia sebanding dengan seperempat Al-Qur’an”. Rasulullah terus bertanya pertanyaan yang sama sampai terakhir Rasulullah bertanya, “Bukankah bersama engkau (hafal) ayat kursi?”. Ia menjawab, “Benar ya Rasulullah”. Maka Rasulullah bersabda, “Ia senilai dengan seperempat Al-Qur’an”.

    Keagungan ayat kursi semakin jelas karena ayat ini secara terperinci mengandungi penjelasan akan sifat-sifat dzat Allah swt; dari sifat Wahdaniyah yang dinyatakan oleh Allahu La Ilaha Illah Huwa”, Sifat Maha Hidup yang berkekalan (Al-Hayyu), sifat Maha Kuasa dan berdiri sendiri (Al-Qayyum), bahkan sifat Qayyum Allah diperkuat dengan penafian akan segala yang mengarah kepada kelemahan, seperti “Tidak mengantuk dan tidak tidur”. Begitu juga dengan sifat memiliki yang berkuasa untuk melakukan apa saja terhadap makhluk yang dimilikiNya. Sifat iradah (berkehendak) yang ditunjukkan oleh kalimat “mandzalladzi yasyfa’u…”, dan iradah Allah di sini adalah pada urusan yang paling besar, yaitu syafa’at yang tidak dimiliki oleh siapapun kecuali atas izin Allah swt. Juga sifat “Ilm yang dinyatakan oleh “ya’lamu ma baina…..”. Terakhir sifat-sifat dzatiyyah Allah ditutup dengan sifat yang menunjukkan ketinggian dan keagunganNya, “Wahuwal Aliyyul Adzim”. Ibnu Abbas menuturkan, “Yang sempurna dalam ketinggian dan keagunganNya”.

    Inilah sifat penutup bagi ayat kursi untuk menetapkan ke-Esa-an Allah pada kebesaran dan ketinggianNya. Alif Lam Ma’rifah yang digunakan dalam kedua sifat terakhir “Al-Aliyyu Al-Adzimu” sesungguhnya untuk membatasi sifat itu hanya milik Allah Yang Maha Suci, tanpa ada yang bersekutu denganNya. Bahkan tidak ada seorang hamba pun yang berusaha mencapai posisi kebesaran dan ketinggian seperti ini melainkan Allah akan mengembalikannya kepada kehinaan dan kerendahan di akhirat kelak Allah swt berfirman, “Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi..” (Al-Qashash: 83)

    Demikianlah ayat kursi hendaknya dijadikan prinsip dan acuan dalam berinteraksi dengan Allah dan dengan seluruh makhlukNya. Hanya Allah Pemilik segala sifat kesempurnaan, sedangkan manusia tidak layak memakai pakaian kebesaran Allah. Keyakinan yang mendalam akan seluruh sifat-sifat Allah akan mampu melahirkan perasaan khauf (takut) akan murka dan azab Allah jika kita melanggar aturanNya. Begitu juga akan mampu melahirkan sifat raja’ (penuh harap) kepada kasih sayang dan rahmat Allah swt.

    http://www.dakwatuna.com

     
  • erva kurniawan 4:03 am on 20 August 2013 Permalink | Balas  

    Obat Hati 

    quranObat Hati

    Dibalik kemajuan materi yang dicapai oleh peradaban manusia modern, tersimpan penderita-penderita penyakit batin yang dilanda perasaan nelangsa dan gersang di dalam jiwanya. Sebagian dari mereka yang menderita sakit ini berpaling ke dunia tasawuf, meditasi, dan filsafat guna mencari penawar atas rasa sakit yang ada di relung dada itu.

    Bagi orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah telah menurunkan Peringatan-Nya berupa kitab al-Qur’an sebagai obat untuk menenteramkan hati.

    “Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kamu satu peringatan dari Rabb kamu, dan satu penyembuhan bagi apa yang di dalam dada, dan satu petunjuk, dan satu rahmat, bagi orang-orang mukmin.” (Q.S. 10:57)

    “Dan Kami menurunkan dari al-Qur’an, satu penyembuhan, dan satu rahmat bagi orang-orang mukmin…” (Q.S. 17:82)

    “Orang-orang yang beriman, hati mereka tenteram dengan peringatan Allah – dengan peringatan Allah, hati tenteram.” (Q.S. 13:28)

    Al-Qur’an tidak bisa dilepaskan dari sifatnya sebagai kitab petunjuk. Untuk itu penggunaan al-Qur’an sebagai obat adalah dengan cara menyelami maknanya, bukan dengan misalnya meminum air yang telah dicelupi beberapa ayatnya.

    Diantara waktu untuk menelaah al-Qur’an adalah pada malam hari. Sisihkanlah sebagian dari waktu malam kita untuk amalan yang akan memperkaya jiwa ini.

    “Sesungguhnya Pemeliharamu mengetahui bahwa kamu berjaga-jaga hampir dua per tiga malam, atau separuhnya, atau satu per tiganya, dan segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menentukan malam dan siang. Dia mengetahui bahwa kamu tidak akan menjumlahkannya, dan Dia menerima taubat kamu. Maka pahamilah (faqra’u) dari al-Qur’an semudah yang dapat. Dia mengetahui bahwa antara kamu ada yang sakit, dan yang lain antara kamu berpergian di bumi, mencari pemberian Allah, dan yang lain berperang di jalan Allah. Maka pahamilah (faqra’u) darinya semudah yang dapat…” (Q.S. 73:20)

    Selain malam, waktu yang juga digunakan untuk mendalami al-Qur’an adalah fajar. Jadi ketika fajar kita tidak saja melakukan amalan shalat, tetapi juga membuka al-Qur’an dan memahami pesan-pesan di dalamnya.

    “Lakukanlah shalat dari terbenam matahari hingga kegelapan malam, dan bacaan (qur’an) fajar; sesungguhnya bacaan fajar disaksikan.” (Q.S. 17:78)

    Saat mengawali penelaahan al-Qur’an kita mohon kepada Allah agar melindungi kita dari pengaruh syaitan yang mungkin ingin mengintervensi.

    “Apabila kamu memahami al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari syaitan yang dirajam.” (Q.S. 16:98)

    Kemudian kita mulai membaca al-Qur’an dengan penuh pemahaman. Hayati setiap kata dari ayat yang sedang kita baca tanpa tergesa-gesa ingin segera beralih ke ayat berikutnya ataupun ingin segera menamatkan pembacaan al-Qur’an.

    “Dan janganlah kamu tergesa-gesa dengan al-Qur’an sebelum wahyunya disempurnakan kepadamu. Dan katakanlah: `Wahai Pemeliharaku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Q.S. 20:114)

    Sebagaimana pesan pada Surat 73:20, al-Qur’an dibaca/dipahami semudah yang dapat. Tidak ada batasan ataupun target harus berapa ayat yang diselesaikan setiap kali menelaah al-Qur’an.

    Pada saat berinteraksi dengan al-Qur’an, cobalah “mendengarkan” apa yang sedang disampaikan Allah melalui ayat-ayat yang sedang kita baca. Mungkin Allah menceritakan kisah orang-orang terdahulu yang dapat menjadi cermin dari apa yang baru kita alami. Atau Dia uraikan rahasia/hikmah di balik kejadian yang sedang kita hadapi. Bisa juga Allah mencerahkan kita dengan mengungkapkan hakikat keberadaan kita di dunia ini.

    Apapun yang disampaikan Allah, sadarilah bahwa kita sedang terhubung dengan Sang Tabib yang setiap patah perkataan-Nya adalah obat.

    KONTRA INDIKASI

    Al-Qur’an adalah obat penawar yang dikhususkan bagi orang-orang yang beriman. Sebaliknya bagi orang-orang yang tidak beriman, al-Qur’an hanya menambah kisruh hati mereka yang keruh.

    “Tetapi bagi orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, bagi mereka, ia menambah kekotoran mereka, dan mereka mati sedang mereka orang-orang yang tidak percaya (kafir).” (Q.S. 9:125)

    ***

    Sumber: allah-semata.com

     
    • lazione budy 6:31 am on 20 Agustus 2013 Permalink

      Benar, baca Al Quran itu bisa membuat hati tenang dan tentram. Baca dengan tenang dan khidmat di waktu selesai Magrib dan Subuh. Malamnya baca artinya (bahasa Indonesia) dan hayati. Masya Allah…

    • M. ALY SUWAIM 9:01 pm on 5 November 2013 Permalink

      Alhamdulillah,,, insya allah akan saya coba. trims

  • erva kurniawan 4:32 am on 19 August 2013 Permalink | Balas  

    Akhir yang Berbeda 

    mati-suri-dalam-buzzleAkhir yang Berbeda

    Dari Seorang Sahabat

    Semoga kita termasuk dalam orang2 yang khusnul khotimah….amien….

    Tatkala masih dibangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

    Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri : “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan! ” Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang mukmin dan itulah shalat orang orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk munajat kepada Allah.

    Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.

    Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan,tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.

    Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirian … banyak waktu luang … pengetahuanku terbatas. Aku mulai jenuh … tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain.

    Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah aku lupakan. Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas disebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol … tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadian yang sungguh tragis.

    Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah … Laailaaha Illallaah ..” perintah temanku. Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding. Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat … Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi … keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.

    Tak ada gunanya … Suara lagunya terdengar semakin melemah … lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak … keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun. Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening… Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk).

    Ia berkata “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia. “Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara bagaiman seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin. Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat khusyu’ sekali.

    Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali pada kebiasaanku semula … Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan!.

    Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu …. sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika. Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan.Dia masih sangat muda, wajahnya begitu bersih.Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.

    Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an … dengan suara amat lemah. “Subhanallah ! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an? Darah mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu.Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur’an seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian “Aku akan menuntunya membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu … apalagi aku sudah punya pengalaman.” aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh kebelakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang.

    Kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meningal. Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis air mataku deras mengalir.Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan..Sampai di rumah sakit …..Kepada orang-orang di sana, kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan.

    Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan di shalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah. Semua ingin ikut menyolatinya. Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari senin. Disana almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin.

    Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dia santuni. Bahkan juga membawa permen untuk dibagikan kepada anak-anak kecil.

    Bila tiba saatnya kelak, kita menghadap Allah Yang Perkasa. hanya ada satu harap, semoga kita menjadi penghuni surga. Biarlah dunia jadi kenangan, juga langkah-langkah kaki yang terseok, di sela dosa dan pertaubatan. Hari ini, semoga masih ada usia, untuk mengejar surga itu, dengan amal-amal yang nyata : “memperbaiki diri dan mengajak orang lain ” Allah Swt berfirman: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Al-Imran :185)

    Rasulullah Saw telah mengingatkan dalam sabadanya, “Barangsiapa yang lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.”

    Saudaraku Siapa yang tau kapan, dimana, bagaimana, sedang apa, kita menemuai tamu yang pasti menjumpai kita, yang mengajak menghadap Allah SWT, Orang yang cerdik dan pandai adalah yang senantiasa mengingat kematian dalam waktu waktu yang ia lalui kemudian melakukan persiapan persiapan untuk menghadapinya.

    **

    Note : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang terus mengalir walau seseorang sudah mati adalah ilmu yang bermanfaat.

    Begitulah hendaknya engkau nasehati dirimu setiap hari karena engkau tidak menyangka mati itu dekat kepadamu bahkan engkau mengira engkau mungkin hidup lima puluh tahun lagi, Kemudian engkau menyuruh dirimu berbuat taat, sudah pasti dirimu tidak akan patuh kepadamu dan pasti ia akan menolak dan merasa berat untuk mengerjakan ketaatan.

    Nasehat ini terutama untuk diri saya sendiri, dan saudara-saudaraku seiman pada umumnya.

    Jazakumullah khairan katsiran

    Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

     
  • erva kurniawan 4:28 am on 18 August 2013 Permalink | Balas  

    Memikat Cinta 

    cinta di hari tuaMemikat Cinta

    Oleh Indah Prihanande

    “Aku nyari – nyari koki yang cocok buat lidahmu, ternyata ada di dalam diriku! He… He, masakan spesial untukmu malam ini”

    SMS dari suami saya yang terlalu Pede ini datang begitu melambungkan rasa bahagia. Kejutan yang bagi saya tidaklah kecil nilainya. Amat berharga dan bernilai emosi tinggi.

    Saya hafal dengan kebiasaannya. Ketika dia mengirimkan pesannya tersebut, hampir bisa dipastikan dia tengah berkutat didapur. Meramu masakan yang entah apa namanya. Biasanya semua bumbu instant dicampur ke dalam masakan: kecap asin, minyak wijen, garam, bawang goreng siap pakai, dan lain-lainnya. Hanya dia saja yang tahu persis rumus masakannya. “Rahasia” katanya setiap kali saya iseng menanyakan kunci keberhasilannya.

    Padahal saya tidak serius untuk sungguh-sungguh ingin mengetahui racikannya tersebut. Saya tahu pasti, bumbu racikannya adalah campuran dari semua bumbu instant yang ada didapur kami.

    Tapi saya tak perduli, itu tak teramat penting. Yang terpenting adalah nilai-nilai kejutan yang selalu disodorkannya selama ini membuat hidup saya terasa lebih hidup dan penuh warna.

    Suami saya mempunyai cara sederhana dan memikat untuk menunjukan perhatiannya. Selama ini, saya terhipnotis dengan kejutan-kejutan yang disampaikannya dengan gaya yang segar dan menyenangkan itu.

    Kali ini saya tengah sibuk dikejar dengan tugas di kantor. Dan dari pagi saya belum sempat memberi kabar apapun untuknya. Tanpa diminta dengan sukarela dia mengirimkan setangkai bunga mawar yang indah lengkap dengan sebaris kalimat yang tertulis:

    “Hai, terima aja apa adanya ya. Tq”

    Ada tawa yang nyaris meledak! Saya tergelitik dengan usaha dan kerja kerasnya untuk menjadi sedikit romantis. Apa yang dikirimnya itu seketika menyegarkan fikiran dan perasaan. Walau hanya melalui SMS, mawar itu telah saya terima dengan rasa syukur tak terhingga.

    ***

    Ya, begitulah. Dia telah banyak mengajarkan tentang sebuah perhatian kecil di tengah keterbatasan waktu dan materi yang kami miliki.

    Ketika kita tidak bisa memberikan hal-hal besar menyenangkan yang membutuhkan ketersediaan materi untuk pasangan kita, kita harus bisa mencari, menemukan, untuk kemudian mengaplikasikan perhatian kecil tersebut dalam keseharian kita. Tak perduli betapa padatnya kesibukan yang kita miliki, seharusnya hal tersebut menjadi perhatian khusus yang tidak terganggu oleh alasan apapun.

    Bukankah di tengah perjalanan kita bisa berkirim SMS dengan kata-kata menyenangkan dan kalimat motivasi yang membuatnya bersemangat? Bukankah kita bisa memberikan kejutan dengan mengirimkan surat pujian kita untuknya yang dikirim lewat pos ke alamat kantornya? Atau jika ada sedikit uang, pergi saja ketoko buku, belikan buku yang terkait dengan hobi dan minatnya. Tidak sulit bukan?

    Kita bisa melakukannya dengan cara dan gaya dan menurut kemampuan masing-masing. Yang dibutuhkan hanyalah mau atau tidak untuk melakukannya.

    Yuk, kita buat proyek ini berjalan ditahun ini. Kita beri judul: Proyek Sederhana, Memikat dan Penuh Cinta!

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:03 am on 17 August 2013 Permalink | Balas  

    Imam Bukhari 

    penaImam Bukhari

    Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah bahkan dalam kitab-kitab Fiqih dan Hadits, Hadits hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.

    Nama lengkapnya cukup panjang: Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari. Karena lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Ia dikenal sebagai Bukhari. Lahir 13 Syawal 194 H (21 juli 810 M). Taklama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya

    Bukhari dididik dalam keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab As-Siqat, Ibnu Hibban menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara’ dalam arti berhati hati terhadap hal hal yang bersifat syubhat (ragu-ragu) hukumnya terlebih lebih terhadap hal yang haram. Ayahnya adalah seorang ulama bermadzhab Maliki dan merupakan mudir dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.

    Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang masyhur di Bukhara . pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia mengunjungi kota suci terutama Mekkah dan Madinah, dimana dikedua kota suci itu dia mengikuti kuliah para guru besar hadits. Pada Usia 18 tahun dia menerbitkan kitab pertama Kazaya Sahabah wa Tabi’in, hafal kitab-kitab hadits karya Mubarak dan Waki bin Jarrah bin Malik. Bersama gurunya Syekh Ishaq, menghimpun hadits hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan 80.000 perawi disaring menjadi 7275 hadits.

    Bukhari diakui memiliki daya hapal tinggi, yang diakui kakaknya Rasyid bin Ismail. Sosoknya yang kurus tidak tinggi tidak pendek kulitnya agak kecoklatan, ramah dermawan dan banyak menyumbangkan hartanya untuk pendidikan.

    Penelitian Hadits Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.

    Namun tidak semua hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat/pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami’al-Shahil yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.

    Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya seperti Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim.

    Karya Imam Bukhari antara lain Al-Jami’ ash Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari, Al-Adab al Mufrad, At Tharikh as Shaghir, At Tarikh Al Awsat, At Tarikh al Kabir, At Tafsir Al Kabir, Al Musnad al Kabir, Kitab al `Ilal, Raf’ul Yadain fis Salah, Birrul Walidain, Kitab Ad Du’afa, Asami As Sahabah dan Al Hibah.

    Diantara guru guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain Ali ibn Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma’in, Muhammad ibn Yusuf Al Faryabi, Maki ibn Ibrahim Al Bakhi, Muhammad ibn Yusuf al Baykandi dan ibn Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip dalam kitab Shahih-nya

    Dalam meneliti dan menyeleksi hadits dan diskusi dengan para perawi. Imam Bukhari sangat sopan. Kritik-kritik yang ia lontarkan kepada para perawi juga cukup halus namun tajam. Kepada Perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, “perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam di dari hal itu” sementara kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia menyatakan “Haditsnya diingkari”. Bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. Dia berkata “Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan hadits hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan”.

    Banyak para ulama atau perawi yang ditemui sehingga Bukhari banyak mencatat jati diri dan sikap mereka secara teliti dan akurat. Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebuah hadits, mencek keakuratan sebuah hadits ia berkali-kali mendatangi ulama atau perawi meskipun berada di kota-kota atau negeri yang jauh seperti Baghdad, Kufah, Mesir, Syam, Hijaz seperti yang dikatakan beliau “Saya telah mengunjungi Syam, Mesir dan Jazirah masing-masing dua kali, ke Basrah empat kali menetap di Hijaz selama enam tahun dan tidak dapat dihitung berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits.”

    Disela-sela kesibukannya sebagai sebagai ulama, pakar hadits, ia juga dikenal sebagai ulama dan ahli fiqih, bahkan tidak lupa dengan kegiatan kegiatan olahraga dan rekreatif seperti belajar memanah sampai mahir, bahkan menurut suatu riwayat, Imam Bukhari tidak pernah luput memanah kecuali dua kali.

    Di Naisabur, Bukhara, Samarkand dan Wafatnya Beliau Kebesaran akan keilmuan beliau diakui dan dikagumi sampai ke seantero negeri negeri Islam. Di Naisabur, tempat asal imam Muslim seorang Ahli hadits yang juga murid Imam Bukhari dan yang menerbitkan kitab Shahih Muslim, kedatangan beliau pada tahun 250 H disambut meriah, juga oleh guru Imam Bukhari Sendiri Muhammad bin Yahya Az-Zihli.

    Dalam kitab Shahih Muslim, Imam Muslim menulis. “Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, saya tidak melihat kepala daerah, para ulama dan warga kota memberikan sambutan luar biasa seperti yang mereka berikan kepada Imam Bukhari”. Namun kemudian terjadi fitnah yang menyebabkan Imam Bukhari meninggalkan kota itu dan pergi ke kampung halamannya di Bukhara. Seperti halnya di Naisabur, di Bukhara beliau disambut secara meriah. Namun ternyata fitnah kembali melanda, kali ini datang dari Gubernur Bukhara sendiri, Khalid bin Ahmad Az-Zihli yang akhirnya Gubernur ini menerima hukuman dari Sultan Uzbekistan Ibn Tahir.

    Tak lama kemudian, atas permintaan warga Samarkand sebuah negeri tetangga Uzbekistan , Imam Bukhari akhirnya menetap di Samarkand ,. Tiba di Khartand, sebuah desa kecil sebelum Samarkand , ia singgah untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Dan Akhirnya meninggal pada tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas Shalat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri.

    ***

    Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia .

     
  • erva kurniawan 4:54 am on 16 August 2013 Permalink | Balas  

    Berawal dari Mata, Turun ke Hati 

    kaya hatiBerawal dari Mata, Turun ke Hati

    Berawal dari mata, turun ke hati. Begitulah ungkapan yang terkenal, apalagi bagi yang sedang jatuh cinta. Ungkapan ini banyak dibenarkan orang, karena kenyataannya setelah melihat dengan mata perasaan jatuh hatilah yang timbul.

    Tetapi bukan itu yang kita bahas. Kita pasti sudah mengetahui fungsi mata dengan baik. Dengan mata dibuka, kita bisa berjalan tanpa menabrak. Bayangkan kalau nikmat ALLAH yang satu ini dicabut. Dunia terasa gelap. Kita tentu tahu bagaimana rasanya ketika mati lampu. Rumah kita gelap. Dan bila mata kita buta, pasti terasa lebih gelap.

    Wajah kita yang ganteng atau cantik pun tidak terlihat lagi. Berjalan meraba-raba. Berpegangan dengan orang. Tidak bisa menikmati pemandangan di gunung, pantai, atau taman. Tidak bisa lagi membaca Al Quran, kitab panduan kita.

    Bila nikmat itu dicabut dari kita, kita baru merasakan pedihnya tanpa mata. Kita mungkin akan memohon kepada ALLAH untuk mengembalikan nikmat itu kepada kita. “Ya ALLAH, aku mohon kembalikan mataku yang dulu bisa melihat. Dengannya aku berjanji tidak akan menyia-nyiakannya untuk banyak membaca Al Quran. Aku akan fungsikan mata ini dengan baik ya ALLAH. Tidak akan aku melihat sembarangan lagi, yang membuat aku bermaksiat padaMU. Aku mohon kepadaMU ya ALLAH”. Mungkin itu doa yang akan dipanjatkan ketika nikmat itu dicabut dari ALLAH.

    Dari mata turun ke hati. Dari mata, kita bisa merasakan betapa ALLAH telah memberikan karunia yang begitu besar. Hanya dari mata saja, kita seharusnya bisa merasakannya. Lalu mengapa hati kita masih keras dengan membiarkan mata jelalatan bermaksiat.

    Seharusnya dari mata, hati kita bisa menjadi lebih jernih. Hati yang diliputi syukur kepada nikmat ALLAH. Ya, dari mata turun ke hati.

    ***

    Arief Rachman

     
  • erva kurniawan 4:31 am on 15 August 2013 Permalink | Balas  

    Sang Lelaki dan Sang Wanita 

    nasehat ibundaSang Lelaki dan Sang Wanita

    Dalam praktek kehidupan sehari-hari, laki-laki dan perempuan lantas memiliki ruang-ruang aktivitas sendiri-sendiri. Keduanya memiliki pasang surut dan dinamikanya sendiri-sendiri.

    Mayoritas laki-laki ingin tampil sebagai lelaki. Mereka ingin menguatkan fitrah lelakinya itu dengan berbagai atribut yang semakin menegaskan kelaki-lakiannya. Mulai dari pakaian, pekerjaan, rumah tangga, sampai berbagai aksesoris dalam kehidupannya.

    Demikian pula perempuan. Sebagian besar mereka juga ingin menampilkan kewanitaannya. Karena itu segala aktivitas mereka bertujuan untuk menonjolkan perbedaan itu. Semakin berbeda semakin menarik. Semakin sama, semakin membosankan. Begitulah kira-kira semangatnya. Dan itu memang terbukti kebenarannya. Dan memang begitulah seharusnya.

    Maka segala upaya dan energi pun dikerahkan untuk memberikan kepuasaan terhadap ekspresi gender itu. Secara individual, mayoritas lelaki ingin menampilkan diri sebagai sosok yang kekar dan kokoh. Pelindung wanita. Karena itu ingin diunggul-unggulkan dan dihormati.

    Sedangkan mayoritas wanita merasa senang jika dilindungi, disayangi dan dihargai. Karena itu kebanyakan justru mereka menempatkan diri dalam posisi itu.

    Lelaki cenderung agresif, sedangkan wanita cenderung defensif. Lelaki cenderung aktif, wanita cenderung pasif. Ini menjadi semacam insting gender. Memang ada beberapa perkecualian, pada sebagian lelaki dan wanita. Akan tetapi, kalau kita bicara secara statistik, maka sifat mayoritasnya adalah seperti itu.

    Sebagai contoh, kalau ada seorang laki-laki yang kerempeng, tak berotot, berkulit lembut, pasif, tak bisa melindungi, tak mampu menafkahi, dan sebagainya, maka lelaki seperti ini kurang diminati oleh wanita untuk menjadi pasangannya. Kebanyakan wanita ingin punya pasangan lelaki yang bisa melindunginya. Baik dalam artian fisik, finansial, maupun psikis alias kejiwaan.

    Lelaki yang lebih kokoh secara fisik lebih disukai oleh kebanyakan wanita, meskipun tidak harus seperti seorang binaragawan. Seorang lelaki yang kaya, juga lebih disukai wanita daripada lelaki yang miskin. Demikian pula lelaki yang memiliki kedewasaan sikap lebih disukai oleh kebanyakan wanita. Meskipun, ada beberapa perkecualian pada orang-orang tertentu. Tetapi sekali lagi kita bicara dalam skala mayoritas.

    Sebaliknya, kalau anda bertanya pada seorang lelaki, wanita macam apakah yang dia rindukan untuk menjadi pasangannya, maka anda akan memperoleh kondisi sebaliknya. Kebanyakan lelaki menyukai wanita yang berkulit lembut dan tidak terlalu berotot.

    Mereka juga lebih suka wanita yang tidak lebih kaya darinya. Kecuali lelaki itu memang ingin “berlindung” kepada sang wanita. Banyak kasus perceraian terjadi disebabkan oleh kalah tingginya penghasilan lelaki dibandingkan dengan wanita. Dan ini menjadi sumber pertengkaran terus menerus di dalam keluarga tersebut. Sekali lagi jika ditanyakan kepada lelaki – dengan kondisi normal – mereka akan lebih suka jika merekalah yang menafkahi keluarganya.

    Para lelaki juga lebih suka kepada wanita yang bermanja-manja kepadanya, butuh perlindungannya, butuh bimbingannya. Ini menjadi salah satu alasan, kenapa banyak pasangan lelaki dan perempuan selalu lebih tua si lelaki. Meskipun ada juga yang sebaliknya. Akan tetapi itu minoritas.

    Namun demikian, lelaki juga suka kepada wanita yang mandiri dalam kewanitaannya. Termasuk dalam sikap keibuannya. Itu bisa berarti keibuan bagi anak-anaknya, tapi sekaligus “keibuan” bagi pasangannya.

    Menariknya, sang wanita juga menyukai dirinya sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya, sekaligus juga sebagai “ibu” bagi pasangannya. Tentu saja selama hubungan pasangan itu berjalan normal dan saling menghargai.

    Intinya, jika kita melihat kepada fitrah masing-masing, lelaki dan perempuan itu akan memperoleh kepuasan dan kebahagiaannya jika mereka bisa memenuhi fitrahnya. Lelaki sebagai lelaki dan perempuan sebagai perempuan…

    Sebagian pendapat menduga, ini adalah produk budaya. Artinya, kebiasaannya sejak dulu memang demikian, sehingga membentuk patron yang demikian pula.

    Akan tetapi, penelitian lebih lanjut tentang otak lelaki dan perempuan, ternyata menunjukkan bahwa mereka memang berbeda secara biologis. Bukan hanya fisik, melainkan sampai ke psikis dan perilakunya, dikarenakan fungsi otak dan hormon yang berbeda.

    Bisa saja kondisi ini dibentuk dan direkayasa untuk berubah, akan tetapi ketika lelaki dan perempuan itu berinteraksi lebih dekat, akan muncul kecenderungan untuk kembali ke fitrah semula. Jika dipaksakan berubah, yang terjadi adalah pertengkaran dan kemudian mereka bakal berpisah atau bercerai. Konsep pasangan akan runtuh. Dan kemudian mereka akan memilih hidup sendiri-sendiri. Lantas, bermunculanlah penyakit-penyakit sosial dikarenakan kegagalan tersebut.

    Ini adalah fitrah alam. Seperti halnya siang dan malam. Bisa saja dipaksakan seseorang mengalami siang terus menerus, atau malam terus menerus, tetapi yang terjadi adalah masalah bagi yang bersangkutan.

    Ini juga seperti konsep sosialisme yang komunis. Sama rasa, sama rata. Semua manusia disamaratakan. Padahal sesungguhnya setiap kita adalah berbeda. Memiliki keinginan yang berbeda. Ingin tampil berbeda. Ingin berekspresi secara berbeda. Memiliki kemampuan yang juga berbeda. Dan pasti memiliki ukuran kepuasan dan kebahagiaan yang berbeda.

    Ketika dipaksa sama, itu hanya akan berjalan sementara waktu. Sekian lama kemudian, semuanya bakal runtuh. Sebagaimana kita saksikan pada sistem komunisme di dunia internasional. Akan tetapi sistem individualisme dan liberalisme yang keterlaluan pun bakal menemui masalah, karena sesungguhnyalah semua manusia memiliki fitrah untuk berpasang-pasangan.

    Kembali kepada lelaki dan perempuan, masing-masing harus memperoleh porsi yang sesuai dengan fitrahnya. Individu yang berbeda, yang diciptakan untuk berpasangan dan membantu satu sama lain.

    Sebagai individu mereka harus memperoleh penghormatan dan penghargaan. Akan tetapi sebagai pasangan, mereka harus bisa saling memberi kepada pasangannya agar terjadi keseimbangan dalam fungsi sosialnya. Setiap kita adalah makhluk individu yang sekaligus makhluk sosial. Individualisme yang sosialis. Atau sosialisme yang individualis…

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 4:21 am on 14 August 2013 Permalink | Balas  

    Dan Kita Mengembara Menuju Rumah-NYA 

    berlayarDan Kita Mengembara Menuju Rumah-NYA

    Dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuh.

    Sungguh Tuhanku benar-benar Maha Pengampun dan lagi Maha Penyayang (QS. Huud 11:41)

    Dan luka selalu menyimpan sesuatu yang menyesakkan jiwa. Raida, ibu muda beranak satu, mengeluhkan ihwal itu di suatu sore.

    “Wah, saya jadi ngeri naik kapal dan pesawat. Bahkan naik bus sekalipun. Saya jadi trauma. Apalagi melihat kecelakaan pesawat dan kapal laut yang banyak memakan korban, saya tambah malas untuk bepergian. Kalau bisa saya tidak ingin kemana-mana. Saya sudah pusing, saya mau di rumah saja.”

    “Kenapa bisa begitu bu?”

    “Saya pernah mengalami kecelakaan bis yang cukup serius. Alhamdulillah, hampir semua penumpang selamat. Hanya dua orang yang meninggal. Tapi saya dan penumpang lainnya rata-rata terluka. Waktu itu, saya sendiri mengalami cedera dan patah tulang agak serius. Yang membuat saya trauma; teriakan histeris para penumpang, detik-detik menakutkan sebelum terjadi tabrakan…ihh… mengerikan.”

    Kisah Bu Raida pun berhenti di kata ‘mengerikan’ itu. Sejenak saya terhenyak. Tercenung, merenung: Bagaimana dengan mereka yang selamat dari Adam Air? Bagaimana dengan mereka yang lolos dari KM Levina? Adakah kata ‘mengerikan’ terasa cukup mewakili luka itu, rasa maut di ujung tanduk itu?

    Inilah sebuah kondisi ketika luka meninggalkan ceruk-ceruk gulita di benak mereka yang lolos dari pelbagai musibah itu; luka yang belum sembuh selepas tragedi tragis itu, luka yang terus menyesakkan jiwa. Dan kita biasa menyebutnya itulah trauma! Dan Bu Raida, hanyalah secuil kisah pedih mengenainya. Namun, bagaimanakah bila di setiap orang yang trauma memiliki kesimpulan yang serupa Bu Raida; menjadi malas untuk bergerak, bepergian dan melakukan perjalanan?

    Nah, bila maut yang menjadi sumber kecemasan. Bu Raida dan orang yang senasib dengannya, maka bukankah maut tidak pernah memilih ruang dan waktu? Kapanpun, dimanapun ia bebas memilih. Tapi, jika maut bukan pangkal soalnya, melainkan perkara bagaimana maut menjemput Bu Raida, atau ihwal ketakutan-ketakutan yang membayangi Bu Raida selama berada dalam perjalanan, saya jadi teringat peribahasa Cina yang berbunyi, “Perjalanan ribuan mil dimulai dari satu langkah pertama.”

    Kenapa? Sebab, langkah pertamalah yang menentukan keberlanjutan kisah perjalanan kita. Ia, pada hakikatnya, serupaniat. Bisa juga kita sebut visi. Atau apalah namanya yang membuat kita untuk memutuskan untuk mengadakan perjalanan entah kemana. Yang jelas, di titik inilah, sebetulnya, kita menghimpun tujuan dan harapan. Bolehlah ia kita sebut sebagai starting point penentu keberhasilan perjalanan kita.

    Lalu, bagaimanakah langkah pertama perjalanan kita seharusnya dimulai?

    Di sinilah, saya teringat doa yang pernah dibaca Nabi Nuh as. Di atas. Semoga saja anda, terutama mereka yang pernah mengenyam dunia pesantren, masih mengingat kisah terbitnya doa tersebut. Kendati demikian, bila memori anda telah berkarat, seperti saya, mari kita ingat kembali potongan kisah itu:

    Syahdan, ketika mayoritas penduduk negeri Armenia membantah seruan kebajikan Nuh as., sebuah titah Allah –melalui malaikat jibril- turun menyapanya: “wahai Nuh, tanamlah benih pohon dari surga ini.” Nuh -yang selama 950 tahun berdakwah di hadapan mereka- bersegera menanamnya. Dalam beberapa tahun, pohon itupun tumbuh dan berkembang menjulang begitu tinggi. Ajaibnya, sejak pohon itu dibenamkan ke bumi hingga tumbuh besar; tak ada satupun bayi yang lahir. Setelah itu, jibril kembali menghampiri Nuh untuk menyampaikan wahyu Allah bahwa pohon itu harus segera ditebang dan dibuat bahtera.

    Kontan saja, perintah Allah yang satu ini menjadi bahan cemoohan penduduk Armenia yang kafir. Pasalnya negeri dimana mereka tinggal adalah dataran tandus. Musim penghujan pun belum datang. Untuk apa bahtera besar yang tengah digarap Nuh dan pengikutnya itu? Dan Allah memang punya rencana. Dia, Pemilik Sang Maha, tiba-tiba mengirim risalah wahyu untuk sang nabi, “Wahai Nuh, segeralah berkemas! Himpunlah orang-orang yang beriman yang menjadi pengikutmu! Jangan lupa hewan-hewan jantan dan betina!”

    Wahyu itu menyebar begitu cepat. Semua yang beriman sibuk. Semua berkemas. Semua bergegas. Dan, ketika bahtera itu memuat Nuh dan pengikutnya dan hewan-hewannya, dan barang-barangnya, tiba-tiba langit berubah kelam. Awan tebal memanyungi bumi. Dan hujan dahsyat pun turun menggenangi tempat mereka berpijak. Bukan hanya hujan, segenap mata air pun memancar. Tak ayal air bah pun melanda negeri, menyapu desa, melahap kota. Saat itulah, perahu yang dibuat Nuh dan pengikutnya mulai bergerak. Pada momen inilah, Nuh berkata: “Bismillahi majraahaa wa mursahaa inna rabbi laghafuur rahiim.”

    Di mata alim Thabathaba’i, lafal Basmallah yang dibaca Nuh adalah sebuah asa agar senarai kebajikan dan keberkahan senantiasa menyertai perjalanan bahtera mereka, terhitung sejak mereka bertolak dan berlabuh.

    Yah, pada akhirnya langkah pertama pengembaraan kita itu memang Basmalah sebagaimana yang dicontohkan Nuh. Pada kata inilah, ketika kita mulai menjejakkan langkah kali pertama di atas satu kendaraan, kita seharusnya dapat membebaskan diri dari kelebat risau, cekam, dan trauma yang nyeri, ia menjadi tempat untuk merenung kembali niat perjalanan kita; apakah untuk tujuan yang baik atau malah sebaliknya?

    Kata inipun seyogyanya menjadi suluh bagi relung batin kita agar gelisah dan gundah yang kita khawatirkan itu menghilang selama kita menempuh perjalanan. Bayangkanlah, ketika doa Nuh ini kita panjatkan, kita tengah bepergian bersama Allah, kita tengah mempersilahkan segenap pasrah pada Sang Kholik yang meulurh di jiwa kita. Dan bila kemungkinan terburuk itu terjadi, saya yakin Allah Maha baik untuk memberi ganjaran kepada hamba-Nya yang kerap mendzikir namaNya di setiap detik hidupnya.

    Dalam pada itu, tak salah bila Thabathaba’i selanjutnya menegaskan, “Mengaitkan satu pekerjaan atau persoalan dengan nama Allah swt, merupakan cara untuk memeliharanya dari kehancuran, kebinasaan, kerusakan, kesesatan, dan kerugian. Kenapa? Karena Allah swt adalah Yang Maha Tinggi dan Maha Kuat yang tak bisa disentuh oleh kebinasaan, kefanaan, dan kelemahan, sehingga apa yang berkaitan dengan-Nya tidak akan tersentuh oleh keburukan.”

    Bagi saya pribadi, terlepas dari doa Nuh yang kita baca, yang layak kita cermati juga adalah perjalanan kita sendiri. Ini bukan lagi perkara kendaraan apa yang kita gunakan selama bepergian, tapi soal bagaimanakah sebetulnya kita memknai setiap perjalanan itu sendiri?

    Setiap Kita Adalah Seorang Musafir

    Dan hidup adalah sebuah perjalanan, sebuah pengembaraan. Kita, pada hakikatnya, bukan seorang pemukim, yang menetap dan bercita-cita tidak ingin berhijrah serta melanglang kemana-mana. Kita selayaknya menjadi sang pengelana, seorang pejalan yang terus menerus berstatus musafir.

    Bukankah Nabi Muhammad saw suatu kali pernah mengabarkan perkara ini? Sabdanya. “Hiduplah engkau di dunia seperti orang asing atau seperti seorang musafir.”

    Dalam pada itu, ihwal hadis ini para ulama menafsirkannya seperti ini “janganlah engkau condong kepada dunia, janganlah engkau menjadikannya sebagai tempat tinggal abadi; janganlah terbetik dalam hatimu untuk tinggal lama padanya; dan janganlah engkau terikat dengannya kecuali sebagaimana terikatnya orang asing di negeri perantauannya, sebab orang asing sejatinya tidak akan terikat di negeri kelananya kecuali sedikit sekali dari sesuatu yang dia butuhkan.”

    Sebagai mukmin, bila merujuk wasiat Nabi dia tas, setiap kita adalah seorang musafir, seorang yang melakukan perjalanan demi menunaikan tugas suci Sang Tuan, Allah Azza wa jalla. Karena itu siapakah diantara kita yang berhasil menjadi hamba yang paling bagus mengemban amanah-Nya? (Ya Allah, semoga kami, hamba-hamba-Mu yang dhoif termasuk musafir yang berhasil).

    Pesan rasulullah inilah yang kian meyakinkan saya bahwa di setiap safar (perjalanan) kita, kemanapun kita pergi, kendaraan apapun yang kita gunakan adalah ruang menguji jiwa kita. Di setiap rangkaian safar, kita kerap kali menjumpai beragam lapis masyarakat; pelbagai suasana hati yang tak menentu; pikiran-pikiran yang kadang lurus, kadang juga berkelok-kelok.

    Pada rupa-rupa pengalaman itulah, kita menyerap makna dan sejumlah hikmah. Kita menyimpan segenap suka dan duka sebagai bekal kenangan ketika pulang ke rumah-Nya, sebagai modal cerita ketika tetitah di rumah-Nya, sebagai pertanggungjawaban yang akan dituntut Sang Pemilik Rumah, Allah Azza wa jalla. Maka Sang rahman pun berkata, “Inna ilaina iyabahum, tsumma ina’alaina hisabahum, Kepada Kami-lah mereka kembali, kewajiban Kami-lah untuk memeriksa mereka semua,” (QS. Al-Ghaasyiyah: 25-26). Wajar bila Imam Ghozali dalam Kimiya yi sa’adat (Alchemy of Happiness) menuturkan bahwa: “Kunci untuk memahami diri adalah hati-bukan hati secara fisik melainkan hati yang diberikan Tuhan kepada kita, yang datang ke dunia sebagai pengelana mengunjungi negeri asing dan segera kembali ke negeri asalnya.”

    Akhir kalam, saya kira, Bu Raida dan teman-teman senasib dengannya atau kita sendiri memang perlu menghidmati bahwa-meski tidak berniat mengadakan perjalanan kemana-mana (atau memilih berdiam di suatu tempat) lantaran trauma atu hal lainnya- sejatinya, kita pun tengah bersafar; kita tengah di negeri rantau. Dengan sikap inilah, doa Nuh yang kita lafalkan akan terasa menjadi safar yang terindah, safar yang juga bernilai ibadah.

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 4:13 am on 13 August 2013 Permalink | Balas  

    Belahan Jiwa 

    jodohBelahan Jiwa

    Ada kalanya seseorang memiliki pasangan hidup berparas menarik, tapi omongannya pedas dan menyakitkan. Yang lain barangkali rupawan, ucapan enak didengar tetapi sangat boros. Ada pula seseorang yang pandai menyenangkan pasangan, pandai mengatur keuangan, namun kurang rajin beribadah.

    “Manusia itu seperti unta. Di antara 100 ekor unta, sangat sulit kamu menemukan seekor yang sangat baik tunggangannya.” (HR Bukhari Muslim).

    Bagi istri hampir tidak mungkin mendapatkan suami yang gagah perkasa, mulia, dermawan, berilmu luas, banyak sedekah, pandai mengendalikan amarah, mudah memaafkan orang lain, dan romantis. Bagi suami hampir tidak mungkin memiliki seorang istri yang cantik, pandai menyenangkan suami, cekatan, pintar mengelola keuangan, rajin beribadah, serta sejuta sifat baik lainnya.

    Nasihat Rasulullah SAW, berkenaan kekurangan yang ada pada pasangan kita, “Hendaknya seorang mukmin tidak meninggalkan seorang mukminah. Kalau dia membenci suatu perangai pada diri istrinya, dia pasti menyenangi perangai yang lain.” Pesan Rasulullah senapas dengan firman-Nya, “Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An Nisa [4]: 19).

    Tentu saja bukan berarti kita membiarkan begitu saja beberapa aib ataupun kekurangan pasangan kita. Harus ada usaha berupa perkataan (nasihat lisan) maupun perbuatan (nasihat dengan teladan) untuk memperbaiki kekurangan pasangan. Namun tentu saja, usaha perbaikan tersebut harus dengan keikhlasan serta cara yang sebaik mungkin kita mampu.

    Hendaknya kita melihat tindakan memberi nasihat merupakan penunaian kewajiban menyampaikan ilmu ataupun nilai kebaikan yang orang lain pada saat itu belum memilikinya. Tentu saja dengan tetap menyadari orang yang kita nasihati memiliki beberapa kelebihan yang tidak kita miliki. Selain ikhlas dalam menasihati, penting pula ikhlas dalam menerima nasihat. Ketika kita dinasihati, hendaknya kita kendalikan serta lunakkan hati kita untuk ikhlas menerimanya.

    Adakalanya suatu nasihat kebenaran akan mendapatkan penolakan ketika cara penyampaiannya salah. Hendaknya kita pandai memilih metode dan waktu yang lebih tepat untuk menasihati pasangan kita. Bil hikmah wa mau’idzhatul hasanah, dengan hikmah serta pelajaran utama. Semoga apa yang dicontohkan banyak rumah tangga publik figur belakangan ini, tidak terjadi pada kita. Amin.

    ***

    Oleh: Ratiko

    http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=14

     
  • erva kurniawan 4:09 am on 12 August 2013 Permalink | Balas  

    Berinvestasi Kebaikan 

    investasiBerinvestasi Kebaikan

    Ada sebuah nasehat bijak dari almarhumah Ibu saya dan selalu tertanam dalam hati saya sampai kini adalah, agar selalu “menanamkan kebaikan” dalam hidup ini. Saya yakin, sebagian besar manusia sudah menerima nasehat bijak seperti ini dari para orang tua atau ibu mereka. Inti dari nasehat itu adalah agar kita menempatkan cita-cita paling penting dalam hidup adalah selalu “menanamkan kebaikan.”

    Kalau kita menelaah dari nilai-nilai kehidupan keagamaan, nasehat ini sangat relevan dengan apa yang secara tegas disampaikan oleh Allah Tuhan Yang Maha Esa dalam kitab suci-Nya yang menyatakan, “Tidak ada yang dapat diunggulkan bagi manusia, kecuali apa yang dia usahakan untuk kebaikan secara individu”. Kebaikan secara individu menjadi panjatan dalam menata diri untuk menjadi pribadi yang berkualitas dalam meraih kehidupan yang penuh potensi dan keagungan.

    Kebaikan secara individu menjadi landasan penting dalam pembangun kualitas pribadi kita. Apakah dalam keluarga, dalam organisasi, dalam pekerjaan maupun dalam bisnis, hubungan antar manusia akan semakin meningkat dan semakin mendalam, bila senantiasa dilandasi kebaikan individu dan kesedian berbagi kebaikan dengan orang lain. Kebaikan dari masing-masing individu ini dapat menjadikan kebaikan dalam masyarakat, sehingga terbangun kehidupan yang damai dan bahagia.

    Dimata seorang ibu, “menanamkan kebaikan” dalam hidup merupakan nasehat paling penting. Menaburkan kebaikan hendaknya menjadi cita-cita terpenting dalam hidup ini. Karena menaburkan kebaikan berarti menghidupkan sumber energi positif dari dalam diri untuk orang lain dan alam semesta. Energi ini akan kembali kepada kita dan memberikan berbagai kemudahan dalam kehidupan.

    Menjadi apapun kita saat ini, apakah presiden, menteri, konglomerat, direktur utama, manager atau pegawai biasa, memiliki pangkat apapun kita, apakah jenderal, kolonel, kapten atau prajurit biasa, memiliki gelar apapun diri kita, apakah profesor, doktor, master, sarjana atau lainnya, yang terpenting adalah “menanamkan kebaikan” kepada orang lain. Semua pangkat, gelar dan jabatan itu, tidak akan memberikan makna bagi kualitas pribadi seseorang bahkan hanya akan berakhir dengan kesia-siaan kalau tidak digunakannya untuk menanamkan kebaikan.

    Banyak pintu-pintu kebaikan yang dapat dilakukan dan menjadi sumber energi positif keberhasilan, seperti:

    1. Kalau memiliki ilmu, gunakanlah untuk mencerdaskan orang lain

    2. Kalau memiliki harta, gunakan untuk kebaikan banyak orang

    3. Kalau memiliki kekuasaan, gunakanlah untuk mensejahterakan banyak orang

    4. Kalau memiliki tenaga, gunakan untuk membantu banyak orang

    5. Kalau menjadi penegak hukum, berikanlah perlindungan dan keadilan kepada banyak orang

    6. Kalau menjadi pengusaha, jalankan usaha untuk memberiakn manfaat dan kebaikan banyak orang

    7. Dan lainnya

    Intinya mulailah dengan hal-hal sederhana dan mudah dilakukan sesuai dengan kemampuan diri kita. Mulailah dari lingkungan terdekat, seperti orang-orang yang Anda temui setiap hari, lingkungan rumah sekitar Anda, lingkungan kerja. Dan yang penting sekecil apapun kebaikan itu, mulailah sekarang ini juga.

    Semakin banyak menaburkan benih-benih kebaikan berarti semakin banyak melepaskan energi positif dari dalam diri. Orang yang pertama merasakan manfaat dari berbuat kebaikan adalah mereka yang melakukannya. Mereka akan merasakan “buah”nya seketika itu dalam jiwa, akhlak, dan hati nuraninya. Sehingga hatinya akan terjaga kejernihannya. Hidup akan terasa lebih mudah, merasakan lapang dada, tenang, tenteram dan damai.

    Mereka yang dapat menggunakan potensi dirinya untuk menaburkan benih-benih kebaikan, maka akan memberikan kemudahan dalam hidup. Inilah prinsip menjadikan setiap kehadiran kita adalah rahmat bagi orang lain dan alam semesta atau “rahmatan lil alamin”.

    Salam Motivasi Nurani.

    ***

    Oleh Eko Jalu Santoso

    Eko Jalu Santoso adalah seorang professional dan praktisi dunia usaha, Founder Motivasi Nurani Indonesia, Penulis Buku “The Art of Life Revolution”, Elex Media Komputindo.

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 11 August 2013 Permalink | Balas  

    Puasa 6 Hari Bulan Syawwal 

    Puasa 6 Hari Bulan Syawwal

    Segala puji bagi Allah subhanahu wat’ala, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga besar serta para shahabatnya.

    Berikut ringkasan hukum-hukum seputar puasa enam hari di bulan Syawwal, semoga dapat bermanfa’at bagi semua.

    A. Hukumnya

    Puasa enam hari di bulan Syawwal hukumnya adalah sunnah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari hadits Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia (pahalanya) seperti puasa setahun penuh.” (HR.Ahmad, V/417; Muslim, II/822; Abu Daud, 2433; At-Turmudzi, 1164)

    Ibnu Qudamah rahimahullah berkata di dalam kitab Al-Mughni, “Puasa enam hari di bulan Syawwal hukumnya mustahab (dianjurkan sekali) menurut kebanyakan para ulama.”

    Di dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah (Ensiklopedia Islam) disebutkan, Jumhur ulama fiqih seperti madzhab Maliki, madzhab Asy-Syafi’i, madzhab Hanbali dan ulama muta’akhkhirin madzhab Hanafi berpendapat, puasa enam hari di bulan Syawwal adalah sunnah, sementara seperti dinukil dari Abu Hanifah, beliau berpendapat makruh berpuasa enam hari di bulan Syawwal baik itu secara terpisah-pisah maupun secara berturut-turut.”

    B. Keutamaannya

    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan bahwa siapa saja yang berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka pahalanya seperti berpuasa setahun penuh, sebagaimana terdapat di dalam hadits di atas. Nabi shallallahu alaihi wasallam menafsirkan hal itu dengan mengatakan, “Siapa yang berpuasa enam hari setelah ‘Iedul Fithri, maka ia merupakan pelengkap satu tahun. Barangsiapa yang melakukan satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya ” Di dalam riwayat lain disebutkan, “Allah menjadikan satu kebaikan (setara) dengan sepuluh kali lipatnya, (puasa) satu bulan dengan (pahala puasa) sepuluh bulan dan puasa enam hari dengan (pahala puasa) setahun penuh.” (HR. An-Nasa’i dan Ibn Majah. Lihat, Shahih at-Targhib Wa At-Tarhib, I/421)

    Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Para ulama berkata, “(Pahala) puasa itu seperti setahun penuh karena satu kebaikan senilai sepuluh kali lipatnya dan satu Ramadhan senilai dengan pahala sepuluh bulan dan enam hari dengan pahala dua bulan.”

    Imam Ahmad rahimahullah dan An-Nasa’i, meriwayatkan dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “(Ganjaran) Puasa Rama-dhan senilai dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) senilai dengan (puasa) dua bulan, maka itulah puasa selama setahun penuh.” (HR. Ibnu Khuzaimah di dalam kitab shahihnya)

    C. Buah-Buahnya

    Berikut kami nukil ucapan Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah:

    1. Puasa enam hari di bulan Syawwal setelah Ramadhan menyempurnakan pahala puasa setahun penuh.
    2. Puasa Syawwal dan Sya’ban adalah ibarat shalat sunnah rawatib sebelum atau sesudah shalat fardhu. Dengan begitu, maka ketimpangan dan kekurangan yang terdapat pada shalat fardhu dapat disempurnakan, karena pada hari Kiamat nanti amalan-amalan wajib akan disem-purnakan dengan amalan-amalan sunnah. Kebanyakan manusia dalam menjalankan puasa wajib pasti memiliki kekurangan dan ketimpangan, karena itu ia mem-butuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.
    3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah subhanahu wat’ala menerima amal seseorang hamba, pasti Dia akan memberikan taufiq untuk melakukan amal shalih setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan, “Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya.” Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan sesuatu kebaikan, lalu diikuti dengan keburukan, maka hal itu merupa-kan tanda tertolaknya amal yang pertama dan tidak terkabulnya.
    4. Sebagaimana yang telah disinggung, konsekuensi dari puasa Ramadhan adalah mendapatkan ampunan atas dosa-dosa masa lalu.
    5. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya Iedul Fithri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah ‘Iedul Fithri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan Qiyamul-lail hingga kedua kakinya bengkak, lantas ada yang bertanya kepadanya, “Kenapa kamu lakukan ini padahal Allah sudah mengampuni dosamu yang dulu dan yang akan datang?” Beliau menjawab, “Tidakkah selayaknya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?”

    Allah subhanahu wat’ala telah memerintahkan para hamba-Nya agar bersyukur atas nikmat puasa Ramadhan, dengan ucapan maupun ungkapan rasa syukur lainnya. Dan di antara ungkapan rasa syukur seorang hamba atas taufiq-Nya dalam menjalankan puasa Ramadhan, pertolongan, dan ampunan atas dosanya adalah ber-puasa setelah itu sebagai manivestasi rasa syukur terhadap-Nya.

    Bila mendapatkan taufiq melakukan shalat malam, maka sebagian ulama salaf ada yang berpuasa pada siang hari esoknya dan menjadikan puasanya itu sebagai rasa syukur atas taufiq-Nya dalam melakukan shalat malam tersebut.

    Permasalahan-Permasalahan Terkait

    1. Dianjurkan sekali memulai puasa Syawwal pada hari ke-2 sebab hal itu merupakan bentuk menyegerakan berbuat baik.
    2. Boleh berpuasa secara terpisah dalam bulan Syawwal tersebut dan tidak harus berurutan, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dengan lafazh mutlak puasa dan tidak menyebut harus berurutan atau terpisah-pisah.
    3. Siapa yang telah berpuasa Syawwal pada tahun tertentu, maka tidak harus baginya berpuasa di tahun mendatangnya, namun hal itu dianjurkan sekali baginya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Amalan-amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten (yang terus menerus) sekalipun sedikit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha)
    4. Diharuskan meniatkan puasa dari malam pada puasa enam hari di bulan Syawwal dan puasa-puasa sunnah yang Muqayyad (terikat, tidak mutlak) berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Barangsiapa yang tidak meniatkan puasa dari malam harinya sebelum fajar, maka tidak (sah) puasanya) ” (HR. An-Nasa’i, dishahihkan Syaikh Al-Albani) [Terdapat pendapat lain yang tidak mensyaratkan niat dari malam hari-nya selain pada puasa Ramadhan berdasarkan hadits yang lain-red]
    5. Menyempurnakan puasa enam hari di bulan Syawwal bukan suatu keharusan; siapa yang mampu menyempurnakannya, maka hal itu lebih baik dan barangsiapa yang tidak mampu, maka tidak apa-apa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Orang yang berpuasa sunnah adalah pemilik perintah atas dirinya sendiri; jika mau, ia berpuasa dan bila mau, boleh berbuka (tidak berpuasa).” Imam An-Nawawi rahimahullah di dalam kitabnya al-Majmu’ (VI:395) mengatakan, “Sanadnya Jayyid.”
    6. Bagi orang yang memiliki kewajiban mengqadha puasa Ramadhan, sebaiknya mengqadha hari-hari yang ditinggalkan dari puasa Ramadhan itu terlebih dulu sebab hal itu lebih terjamin bagi tanggungan diri (hutang) nya. Juga, karena amal wajib harus didahulu-kan atas amal sunnah.

    Para ulama berbeda pendapat mengenai orang yang mendahulukan puasa enam hari di bulan Syawwal atas mengqadha puasa wajib (Ramadhan) dalam dua pendapat:

    Pertama, Keutamaan puasa enam hari di bulan Syawwal tidak dapat diraih kecuali oleh orang yang telah mengqadha puasa Ramadhan yang batal karena udzur. Dalilnya, hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu di atas. Penyebutan berpuasa Ramadhan dapat terealisasi hanya bagi siapa saja yang telah menyempurnakan bilangannya.

    Kedua, Keutamaan puasa enam hari di bulan Syawwal dapat diraih oleh orang yang melakukannya sebelum mengqqadha puasa Ramadhan yang batal karena ‘udzur, sebab siapa saja yang tidak berpuasa pada hari-hari di bulan Ramadhan karena ‘udzur, maka dapat dikatakan telah berpuasa Ramadhan. Bila ia berpuasa enam hari di bulan Syawwal sebelum mengqadha, maka ia juga meraih pahala mengiringi puasa Ramadhan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal yang diurutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut.

    Tampaknya, pendapat ke dua lebih tepat apalagi keutamaan yang dimaksud itu tidak hanya bergantung pada selesainya mengqadha puasa sebelum enam hari di bulan Syawwal, sebab pahala puasa Ramadhan yang setara puasa sepuluh bulan dapat terealisasi dengan menyempurnakan puasa wajib, baik secara (penunaian pada waktunya) atau Qadha (penunaian di luar waktu asli). Allah subhanahu wat’ala telah memperluas waktu dalam mengqadha seperti dalam ayat 185 surat Al-Baqarah. Sedangkan puasa enam hari di bulan Syawwal merupakan keutamaan yang khusus pada bulan ini saja, di mana ia akan terlewatkan bila waktunya lewat. Sekalipun demikian, memulai dengan membebaskan tanggungan diri (hutang) melalui puasa wajib adalah lebih utama dari menyibukkan diri dengan puasa sunnah. Akan tetapi orang yang berpuasa Qadha setelah itu, maka ia juga mendapatkan keutamaan, sebab tidak ada dalil yang menafikannya, wallahu a’lam.

    Dalam hal ini, dalam fatwanya, Syaikh Ibnu Baz rahimahullah ketika ditanya tentang mana yang lebih didahulukan; melakukan puasa enam hari di bulan Syawwal ataukah mengqadha Ramadhan, maka beliau berpendapat lebih baik mendahulukan puasa Qadha sekali pun kehilangan kesempatan berpuasa enam hari di bulan Syawwal. (Hanif Yahya, Lc).

    ***

    Sumber: Ahkaam Shiyaam as-Sitt Min Syawwal karya Muhammad bin ‘Abdullah bin Shalih Al-Habdan.

    http://www.alsofwah.or id/?pilih=lihatannur&id=402

     
  • erva kurniawan 2:03 am on 10 August 2013 Permalink | Balas  

    Kemaksiatan dan Pengaruhnya 

    89masjidKemaksiatan dan Pengaruhnya

    Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan dosa, maka terbentuklah noda hitam dalam hatinya. Jika ia melepaskan dosa, istighfar dan taubat, bersihlah hatinya. Ketika mengulangi dosa lagi, bertambahlah noda hitamnya, sehingga menguasai hati. Itulah Roon (rona) yang disebutkan dalam Al-Qur’an, “Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (HR At-Tirmidzi).

    Maksiat dan dosa mempunyai pengaruh yang sangat dahsyat dalam kehidupan umat manusia. Bahayanya bukan hanya berpengaruh di dunia tetapi sampai dibawa ke akhirat. Bukankah Nabi Adam a.s. dan istrinya Siti Hawwa dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke dunia karena dosa yang dilakukannya? Dan demikianlah juga yang terjadi pada umat-umat terdahulu.

    Disebabkan karena dosa, penduduk dunia pada masa Nabi Nuh a.s. dihancurkan oleh banjir yang menutupi seluruh permukaan bumi. Karena maksiat, kaum ‘Aad diluluhlantakkan oleh angin puting beliung. Karena ingkar pada Allah, kaum Tsamud ditimpa oleh suara yang sangat keras memekakkan telinga sehingga memutuskan urat-urat jantung mereka dan mati bergelimpangan. Karena perbuatan keji kaum Luth, buminya dibolak-balikkan dan semua makhluk hancur, sampai malaikat mendengar lolongan anjing dari kejauhan. Kemudian diteruskan dengan hujan bebatuan dari langit yang melengkapi siksaan bagi mereka. Dan kaum yang lain akan mendapatkan siksaan yang serupa. Jika tidak terjadi di dunia, maka di akhirat akan lebih pedih lagi. (Al-An’am: 6)

    Desember 2005 dunia juga baru menyaksikan musibah yang maha dahsyat terjadi di Asia: Tsunami menghancurkan ratusan ribu umat manusia. Terbesar menimpa Aceh. Semua itu harus menjadi pelajaran yang mendalam bagi seluruh umat manusia, bahwa Allah Maha Kuasa. Disebutkan dalam musnad Imam Ahmad dari hadits Ummu Salamah, Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Jika kemaksiatan sudah mendominasi umatku, maka Allah meratakan adzab dari sisi-Nya”. Saya berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah di antara mereka ada orang-orang shalih?” Rasulullah menjawab, “Betul.” “Lalu bagaimana dengan mereka?” Rasul menjawab, “Mereka akan mendapat musibah sama dengan yang lain, kemudian mereka mendapatkan ampunan dan keridhaan Allah.”

    Akar Kemaksiatan

    Semua kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia, baik yang besar maupun yang kecil, bermuara pada tiga hal. Pertama; terikatnya hati pada selain Allah, kedua; mengikuti potensi marah, dan ketiga; mengikuti hasrat syahwat. Ketiganya adalah syirik, zhalim, dan keji. Puncak seseorang terikat pada selain Allah adalah syirik dan menyeru pada selain Allah.

    Puncak seseorang mengikuti amarah adalah membunuh; dan puncak seseorang menuruti syahwat adalah berzina. Demikianlah Allah swt. menggabungkan pada satu ayat tentang sifat ‘Ibadurrahman, “Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (Al-Furqaan: 68)

    Dan ciri khas kemaksiatan itu saling mengajak dan mendorong untuk melakukan kemaksiatan yang lain. Orang yang berzina maka zina itu dapat menyebabkan orang melakukan pembunuhan; dan pembunuhan dapat menyebabkan orang melakukan kemusyrikan. Dan para pembuat kemaksiatan saling membantu untuk mempertahankan kemaksiatannya. Setan tidak akan pernah diam untuk menjerumuskan manusia untuk melakukan dosa dan kemaksiatan. Setan senantiasa mengupayakan tempat-tempat yang kondusif untuk menjadi sarang kemaksiatan.

    Oleh karena itu agar terhindar dari jebakan kemaksiatan, manusia harus melakukan lawan dari ketiganya, yaitu: pertama; menguatkan keimanan dan hubungan hati dengan Allah swt. dengan senantiasa mengikhlaskan segala amal perbuatan hanya karena Allah. Kedua; mengendalikan rasa marah, karena marah merupakan pangkal sumber dari kezhaliman yang dilakukan oleh manusia. Dan ketiga; menahan diri dari syahwat yang menggoda manusia sehingga tidak jatuh pada perbuatan zina.

    Pengaruh Maksiat

    Seluruh manusia mengakui bahwa kesalahan yang terkait dengan hubungan antar manusia di dunia secara umum dapat mengakibatkan kerusakan secara langsung. Orang-orang yang membabat hutan hingga gundul akan menyebabkan kerusakan lingkungan, longsor, dan kebanjiran. Sopir yang mengendalikan mobilnya secara ugal-ugalan dan melintasi rel kereta yang dilalui kereta, berakibat sangat parah, ditabrak oleh kereta. Orang yang membunuh orang tanpa hak, maka dia akan senantiasa dalam kegelisahan dan penderitaan. Orang yang senantiasa bohong, hidupnya tidak akan merasa tenang.

    Dan pada dasarnya pengaruh kesalahan, dosa, dan kemaksiatan bukan saja yang terkait antar sesama manusia, tetapi antara manusia dengan Allah. Siapakah orang yang paling zhalim, ketika mereka diberi rezki oleh Allah dan hidup di bumi Allah kemudian menyekutukan Allah, tidak mentaati perintah-Nya, dan melanggar larangan-Nya. Jika kesalahan yang dibuat antar sesama manusia akan menimbulkan bahaya, maka kesalahan akibat tidak melaksanakan perintah Allah atau melanggar larangan-Nya, maka akan lebih berbahaya lagi, di dunia sengsara dan di akhirat disiksa. “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

    Beberapa pengaruh maksiat diantaranya:

    1. Lalai dan keras hati

    Al-Qur’an menyebut bahwa orang-orang yang bermaksiat hatinya keras membatu. “Karena mereka melanggar janjinya, kami kutuki mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka Telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ma-idah: 13)

    Berkata Ibnu Mas’ud r.a., “Saya menyakini bahwa seseorang lupa pada ilmu yang sudah dikuasainya, karena dosa yang dilakukan.”

    Orang yang banyak berbuat dosa, hatinya keras, tidak sensitif, dan susah diingatkan. Itu suatu musibah besar. Bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa orang yang senantiasa berbuat dosa, hatinya akan dikunci mati, sehingga keimanan tidak dapat masuk, dan kekufuran tidak dapat keluar.

    2. Terhalang dari ilmu dari rezeki

    Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba diharamkan mendapat rezeki karena dosa yang dilakukannya” (HR Ibnu Majah dan Hakim)

    Berkata Imam As-Syafi’i, “Saya mengadu pada Waqi’i tentang buruknya hafalanku. Beliau menasihatiku agar meninggalkan maksiat. Dan memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat.”

    Orang yang banyak melakukan dosa waktunya banyak dihabiskan untuk hal-hal yang sepele dan tidak berguna. Tidak untuk mencari ilmu yang bermanfaat, tidak juga untuk mendapatkan nafkah yang halal. Banyak manusia yang masuk dalam model ini. Banyak yang menghabiskan waktunya di meja judi dengan menikmati minuman haram dan disampingnya para wanita murahan yang tidak punya rasa malu. Sebagian yang lain asyik dengan hobinya. Ada yang hobi memelihara burung atau binatang piaraan yang lain. Sebagian lain, ada yang hobi mengumpulkan barang antik meski harus mengeluarkan biaya tak sedikit. Sebagian yang lain hobi belanja atau sibuk bolak-balik ke salon kecantikan. Seperti itulah kualitas hidup mereka.

    3. Kematian hati dan kegelapan di wajah

    Berkata Abdullah bin Al-Mubarak, “Saya melihat dosa-dosa itu mematikan hati dan mewariskan kehinaan bagi para pelakunya. Meninggalkan dosa-dosa menyebabkan hidupnya hati. Sebaik-baiknya bagi dirimu meninggalkannya. Bukankah yang menghancurkan agama itu tidak lain para penguasa dan ahli agama yang jahat dan para rahib.”

    Sungguh suatu musibah besar jika hati seseorang itu mati disebabkan karena dosa-dosa yang dilakukannya. Dan perangkap dosa yang dikejar oleh mayoritas manusia adalah harta dan kekuasaan. Mereka mengejar harta dan kekuasaan seperti laron masuk ke kobaran api unggun.

    Tanda seorang bergelimangan dosa terlihat di wajahnya. Wajah orang-orang yang jauh dari air wudhu dan cahaya Al-Qur’an adalah gelap tidak enak dipandang.

    4. Terhalang dari penerapan hukum Allah

    Penerapan hukum Allah berupa syariat Islam di muka bumi adalah rahmat dan karunia Allah dan memberikan keberkahan bagi penduduknya. Ketika masyarakat banyak yang melakukan kemaksiatan, maka mereka akan terhalang dari rahmat Islam tersebut. (Lihat Al-Maa-idah: 49 dan Al-A’raaf: 96)

    5. Hilangnya nikmat Allah dan potensi kekuatan

    Di antara nikmat yang paling besar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah pertolongan dan kemenangan. Sejarah telah membuktikan bahwa pertolongan Allah dan kemenangan-Nya diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang taat. Sebaliknya, kekalahan dan kehancuran disebabkan karena maksiat dan ketidaktaatan.

    Kisah Perang Uhud harus menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman. Ketika sebagian pasukan perang sibuk mengejar harta rampasan dan begitu juga pasukan pemanah turun gunung ikut memperebutkan harta rampasan. maka terjadilah musibah luar biasa. Korban berjatuhan di kalangan umat Islam. Rasulullah saw. pun berdarah-darah.

    Kisah penghancuran Kota Baghdad oleh pasukan Tartar juga terjadi karena umat Islam bergelimang kemaksiatan. Khilafah Islam pun runtuh, selain dari faktor adanya konspirasi internasional yang melibatkan Inggris, Amerika Serikat, dan Israel, karena umat Islam berpecah belah dan kemaksiatan yang mereka lakukan.

    Umar bin Khattab berwasiat ketika melepas tentara perang: “Dosa yang dilakukan tentara (Islam) lebih aku takuti dari musuh mereka. Sesungguhnya umat Islam dimenangkan karena maksiat musuh mereka kepada Allah. Kalau tidak demikian kita tidak mempunyai kekuatan, karena jumlah kita tidak sepadan dengan jumlah mereka, perlengkapan kita tidak sepadan dengan perlengkapan mereka. Jika kita sama dalam berbuat maksiat, maka mereka lebih memiliki kekuatan. Jika kita tidak dimenangkan dengan keutamaan kita, maka kita tidak dapat mengalahkan mereka dengan kekuatan kita.”

    Oleh karena itu umat Islam dan para pemimpinnya harus berhati-hati dari jebakan-jebakan cinta dunia dan ambisi kekuasaan. Jauhi segala harta yang meragukan apalagi yang jelas haramnya. Karena harta yang syubhat dan meragukan, tidak akan membawa keberkahan dan akan menimbulkan perpecahan serta fitnah. Kemaksiatan yang dilakukan oleh individu, keluarga, dan masyarakat akan menimbulkan hilangnya nikmat yang telah diraih dan akan diraih. Dan melemahkan segala potensi kekuatan. Waspadalah!

    ***

    Oleh: Tim dakwatuna.com

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 9 August 2013 Permalink | Balas  

    Sikap Memaafkan dan Manfaatnya bagi Kesehatan 

    Sikap Memaafkan dan Manfaatnya bagi Kesehatan

    Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:

    Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur’an, 7:199)

    Dalam ayat lain Allah berfirman: “…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An Nuur, 24:22)

    Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur’an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:

    … dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

    Juga dinyatakan dalam Al Qur’an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. “Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.” (Qur’an 42:43)

    Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, “...menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.” (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)

    Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keeping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.

    Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur’an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.

    Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.

    Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang

    Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:

    Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.

    Sebuah tulisan berjudul “Forgiveness” [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

    Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan -sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 8 August 2013 Permalink | Balas  

    Membuka Lembaran Baru Idul Fitri 

    Membuka Lembaran Baru Idul Fitri

    Oleh: Aa Gym

    Saudara-saudaraku yang budiman, “Taqobbalalloohu Minna Wa Minkum Shiyamana Wa Shiyamakum” Semoga Allah menerima amal-amal kita dan juga shaum – shaum kita selama ini.

    Saudaraku, ini adalah saat yang paling kita rindukan… dimana kita mengakhiri Ramadhan ini dengan semangat baru; bahwa hidup kita masing-masing akan berubah menjadi lebih baik. Kita harus bertekad untuk membuka lembaran baru dalam hidup ini dan kita isi hanya dengan catatan-catatan terbaik.

    Oleh karena itu sesudah Ramadhan ini kita bertekad bahwa apa yang kita lakukan dilandasi niat dan cara yang terbaik. Percayalah bahwa rezeki dan kemuliaan dari Allah tidak akan tertukar dan tidak akan pernah meleset, yang berbahaya bagi kita adalah kalau kita berbusuk hati dan bertindak dengan cara yang tidak disukai oleh Allah.

    Kalau kita ingin tahu kebahagiaan dan penderitaan kita, cukuplah dengan evaluasi diri. Kita akan tahu bahwa semua bala bencana sesungguhnya kitalah yang mengundangnya. Saudaraku, bulan Ramadhan telah berakhir dan akan berganti dengan bulan yang penuh dengan perjuangan lainnya.

    Inilah bulan dimana kita bisa membuktikan hasil latihan kita dibulan Ramadhan. Andaikata kita tidak bisa memperbanyak amal sebanyak di bulan Ramadhan maka perbanyaklah kegigihan untuk menjaga diri, jangan biarkan diri kita berbuat sesuatu yang bisa merugikan orang lain. Amal-amal kita Insya Allah akan utuh jika kita tidak membiarkan diri kita berbuat sesuatu yang tidak bernilai “Qad aflaha man zakkaahaa, Wa qad khaaba man dassaahaa” (Q.S: Asy Syams: 9-10) Artinya : Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan dirinya, Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.

    Oleh karena itu jagalah diri kita, boleh jadi sahabat akan pulang ke kampungnya masing-masing oleh karenanya berusahalah untuk menjaga diri dari kesombongan dan kedengkian, jagalah diri kita dari sifat riya. Ketika bergaul dengan siapapun, berusahalah untuk senantiasa menjaga diri kita.

    Mudah-mudahan hasil jerih payah kita selama 1 bulan ini kalau kemudian kita lanjutkan dengan kegigihan menjaga diri, Insya Allah semoga kita akan terbentuk seperti yang diisyaratkan la ‘allakum tattaquun yaitu orang yang bertakwa yang cirinya adalah sangat indah dan mulia akhlaknya.

    Percayalah, bahwa hidup kita cuma sekali dan sebentar dan belum tentu kita berjumpa dengan Ramadhan yang akan datang, jangan sia-siakan apa yang sudah kita lakukan di bulan ramadhan ini dengan menodainya dengan akhlak yang buruk. Cukuplah bagi kita akhlak yang mulia dari hati yang bening dan amal yang lurus di jalan Allah. Wallahu a’lam

    ***

    Sumber : Artikel Manajemen Qolbu Online

     
  • erva kurniawan 4:53 am on 7 August 2013 Permalink | Balas  

    Satu Diri yang Terpisah 

    pasangan_serasiSatu Diri yang Terpisah

    Laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan sekaligus persamaan. Dalam diri laki-laki ada kadar sifat-sifat perempuan. Sebaliknya pada diri perempuan ada kadar sifat-sifat lelaki. Sifat-sifat lawan jenisnya itu akan muncul lebih besar seiring dengan kadar hormon yang bekerja pada dirinya. Jika ada lelaki disuntik hormon perempuan, maka ia akan bertingkah ke arah perempuan. Sebaliknya, jika seorang perempuan disuntik hormon lelaki, ia pun bakal bertingkah seperti lelaki. Kenapa bisa demikian?

    Jawabnya adalah: karena laki-laki dan perempuan itu sebenarnya berasal dari diri yang satu. Cikal bakal yang sama. Yaitu Stem Sel. Inilah sebuah body yang terbentuk sesaat setelah sel telur dibuahi oleh sperma.

    Hanya dalam waktu beberapa jam, kedua sel dari bapak dan ibu itu bergabung dan melebur menjadi sel tunggal. Separo sifat-sifat bapak melebur dengan separo dari sifat-sifat ibu. Dan kemudian berkembang menjadi bayi berkelamin berbeda, dalam pengaruh hormon sebagaimana telah kita bahas di bagian sebelum ini. Lebih detil akan kita bahas dalam diskusi lain tentang proses penciptaan manusia di dalam rahim.

    Berikut ini adalah salah satu ayat yang bercerita bahwa laki-laki dan perempuan itu sebenarnya berasal dari satu diri, yang berkembang biak.

    QS. An Nisaa’ (4): 1

    Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan pasangannya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta (tolong) satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

    Karena berasal dari diri yang satu, maka struktur dasar antara manusia laki-laki dan manusia perempuan sebenarnya adalah sama. Mereka sama-sama memiliki otak. Namun otak ini menjadi agak berbeda setelah berkembang dalam pengaruh hormon yang berbeda.

    Mereka juga sama-sama memiliki sistem seks, akan tetapi lantas membentuk tampilan yang tidak sama karena pengaruh hormon yang berbeda. Payudara laki-laki tidak berkembang, sedangkan pada wanita berkembang, nnisalnya. Pada perempuan terbentuk vagina, rahim dan indung telur, sementara pada lelaki terbentuk penis dan testis. Postur lelaki lebih kekar, berotot, dan pinggulnya relatif kecil, sedangkan pada wanita sebaliknya. Dan seterusnya, dengan segala kekhasan masing-masing. Akan tetapi, sebenarnyalah mereka adalah “makhluk sama, yang berbeda”.

    Dari satu dipecah jadi kutub yang berbeda. Karena itu, akan menjadi sempurna kembali jika kedua perbedaan itu disatukan untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing.

    Namun meskipun berasal dari diri yang satu, wanita dan lelaki memiliki fungsi dengan kutub yang berbeda. Bagaikan kutub utara dan kutub selatan, memiliki arah yang berlawanan.

    Ya, ibarat kutub-kutub di planet Bumi, sama-sama dibutuhkan untuk membentuk fungsi Bumi yang utuh. Jika salah satu kutub bumi itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka Bumi akan mengalami masalah.

    Jika wanita tidak berfungsi sebagai wanita, dan lelaki tidak berfungsi sebagai lelaki, maka keduanya akan memperoleh masalah. Hilang keseimbangan. Karena sebenarnya keduanya adalah satu diri, dengan kutub yang berbeda.

    Karena itu dalam konsep Jawa, suami istri disebut sebagai Garwa – siGarane nyaWa – alias belahan jiwa. Ini menunjukkan kepada konsep saling melengkapi untuk menjadi satu diri kembali. Di dalam Al-Qur”an pun ditegaskan dengan istilah “berpasang-pasangan”.

    QS. An Najm (53): 45

    Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan,

    Karena berpasangan, maka jika masing-masing hidup menyendiri, atau bersama tetapi meninggalkan prinsip berpasangan, keduanya pun bakal memperoleh masalah juga.

    Jadi, setiap kita harus mengacu kepada konsep dasar penciptaan itu. Karena, itulah memang fitrah laki-laki dan perempuan. Keduanya diciptakan berbeda bukan untuk saling menjatuhkan melainkan justru untuk saling mengimbangi. Saling melengkapi. Untuk itu, di bawah ini saya kutipkan lagi ayat berikut, dengan penekanan yang berbeda.

    QS. An Nisaa’ (4): 1

    Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan pasangannya; dan daripada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta (tolong) satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

    Cobalah cermati kalimat yang saya tebalkan. Bahwa wanita dan lelaki itu diciptakan untuk saling tolong menolong, satu sama lain. Dan tolong-menolong itu dilakukan bukan karena apa-apa, melainkan karena Allah semata.

    Tolong menolong dalam hal apa? Dalam semua hal yang berkait dengan kesempurnaan dan kebahagiaan hidup kita. Dalam “membuat” anak. Dalam mendidik dan membesarkannya. Dalam mengelola rumah tangga. Dalam bekerja mencari rezeki. Dalam belajar ilmu pengetahuan. Dalam berkehidupan sosial. Dan lain sebagainya.

    Dan, kemudian adalah sangat menarik, Allah menutup ayat itu dengan penegasan: peliharalah hubungan silaturahim – hubungan yang penuh kasih sayang. Sebagai perekat untuk mengabadikan aktivitas saling tolong menolong itu. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu sekalian…

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 4:44 am on 6 August 2013 Permalink | Balas  

    Meminta Jabatan 

    KURSI JABATANMeminta Jabatan

    Semua manusia baik laki-laki maupun perempuan suatu saat akan menerima jabatan dalam suatu tatanan kehidupan bermasyarakat baik bersifat umum maupun khusus. Jabatan merupakan suatu kebutuhan esensi yang mendasar, maka Islam hadir melihat bagaimana memandang suatu jabatan yang dapat menyelamatkan manusia dari mengarungi kehdupan didunia maupun diakherat kelak.

    Jabatan telah hadir menyentuh sendi-sendi kehidupan manusia dari jabatan terendah (Operator,Tukang sapu, Satpam, office boy, RT, Lurah, dsb) sampai yang tertinggi (Presiden, Mentri,Pengusaha, Manager, direktur ataupun Owner)…artinya sesuatu yang mempunyai kesepakan umum baik yang tertulis maupun yang tersirat itulah makna Jabatan.

    Dari Abu Said Abdurrahman bin Saumah berkata bahwa Rosulullah saw bersabda ”Wahai Abdurrahman bin Saumah, janganlah kamu meminta jabatan. Apabila kamu diberi dan tidak memintanya, maka kamu akan mendapat pertolongan Allah dalam melaksanakannya. Dan jika kamu diberi jabatan karena memintanya, maka jabatan itu diserahkan sepenuhnya (HR. Bukhari & Muslim dalam Kitab Riyadush Shalihin Abu Fajar Alqalami-Abd. Wahid Albanjari hal-280).

    Dari hadis diatas maka seluruh umat Nabi Muhammad SAW siapapun dan dimanapun berada dilarang meminta jabatan. Kini terdapat fenomena orang-orang berlomba-lomba meraih jabatan. Mengapa Islam melarang meminta jabatan paling tidak ada dua hikmah dari hadis diatas yaitu : Pertama, orang yang berambisi mendapat jabatan akan cenderung menempuh cara-cara yang tidak halal yang akhirnya besar kemungkinan jabatan itu akan banyak disalah gunakan. Jabatan tidak lagi dianggap sebagai amanah yang harus dipertanggung jawabkan. Kedua, Orang yang mendapat jabatan karena ambisi, ia akan dibebani dengan jabatan itu. Berat nya pekerjaan dan tanggung jawab harus ia jalani sendiri. Dengan Ambisinya dapat memudarat kan dirinya sehingga meminta suatu jabatan sesuatu yang lazim.

    Syarat-syarat memperoleh jabatan. Dari Abu Dzar ra. Berkata : aku bertanya kepada Nabi SAW, mengapa beliau tidak memberi jabatan kepadaku. Maka Nabi saw menepuk bahuku dan berkata ” Wahai Abu Dzar, sesungguhnya kamu adalah orang yang lemah sedangkan jabatan adalah suatu kepercayaan yang pada hari kiamat merupakan suatu kehinaan dan penyesalan. Kecuali bagi pejabat yang dapat memanfaatkan kewajiban sebaik-baiknya. (HR. Bukhari. Riyadush Shalihin hal-281).

    Dari kedua hadis diatas boleh tidaknya seseorang menduduki suatu jabatan dan agar selamat dunia dan akherat adalah Kepercayaan, Kejujuran, Keahlian dan Ketakwaan mutlak harus dimiliki. Marilah kita introspeksi diri sudahkah kita termasuk memperoleh jabatan selama ini dari kedua hadis tersebut? Hanya diri kita yang jujur yang dapat menjawabnya.

    ***

    Oleh: Bambang Wijonarso

     
  • erva kurniawan 4:20 am on 6 August 2013 Permalink | Balas  

    Hukum Merokok 

    rokok (1)Hukum Merokok, No Smoking

    Oleh: Dr. Ir. M. Romli, Msc

    Rokok, dulu makruh, kini haram. Sepintas, ini mungkin terasa aneh. Wong hukum kok berubah-ubah, yang dari dulu diketahui makruh sekarang dikatakan haram.

    Hal ini disebabkan kita masih sering mencampuradukkan antara pengertian syariah dan fiqih. Syariah adalah hukum yang diwahyukan oleh Allah SWT, sebagaimana tercantum dalam Al-Quran dan Sunnah. Apa yang telah ditetapkan 14 abad yang lalu berupa hukum Syariah itu, tetap berlaku hingga kini bahkan sampai akhir jaman nanti, tidak berubah.

    Lain halnya dengan Fiqih. Fiqih adalah hukum Islam yang dideduksi dari syariah untuk menjawab situasi-situasi spesifik yang tidak secara langsung ditetapkan oleh hukum syariah. Penetapan hukum berdasarkan deduksi ini dapat saja berubah tergantung pada situasi dan kondisi dimana hukum itu diterapkan. Kedua istilah yang sebenarnya tidak sama ini, hingga kini masih sering dipukul rata saja dengan sebutan, Hukum Islam.

    Lima Ratus Silam

    Budaya (me) rokok termasuk gelaja yang relatif baru di dunia Islam. Tak lama setelah Chirstopher Columbus dan penjelajah-penjelajah Spanyol lainnya mendapati kebiasaan bangsa Aztec ini pada 1500, rokok kemudian tersebar dengan cepatnya ke semenanjung Siberia dan daerah Mediterania. Dunia Islam, pada saat itu berada dui bawah kekhilafahan Ustmaniyah yang berpusat di Turki. Setelah diketahui adanya sebagian orang Islam yang mulai terpengaruh dan mengikuti kebiasaan merokok, maka dipandang perlu oleh penguasa Islam saat itu untuk menetapkan hukum tentang merokok.

    Pendekatan yang digunakan untuk menetapkan hukum merokok, adalah dengan melihat akibat yang nampak ditimbulkan oleh kebiasaan ini. Diketahui bahwa merokok menyebabkan bau nafas yang kurang sedap. Fakta ini kemudian dianalogkan dengan gejala serupa yang dijumpai pada masa Rasulullah Saw, yaitu larangan mendatangi masjid bagi orang-orang yang habis makan bawang putih/bawang merah mentah, karena bau tak sedap yang ditimbulkannya. Hadist mengenai hal ini diriwayatkan antara lain oleh Ibnu Umar, ra, dimana Nabi bersabda, “Siapa yang makan dari tanaman ini (bawang putih) maka jangan mendekat masjid kami” (HR Bukhari-Muslim).

    Sebagaimana kita ketahu, di penghujung sholat setiap orang memberikan salam, yang bisa bertemu muka satu dengan yang lainnya. Dapat dibayangkan, betapa tidak nyamannya bila ucapan salam ke kanan-kiri itu menebarkan “wangi” bawang mentah! Berdasarkan analogi tersebut, para ulama Islam saat itu berpendapat bahwa merokok hukumnya makruh (tercela).

    Kini, Haram

    Demikianlah hukum merokok yang sampai saat ini kita pahami, makruh. Lima ratus tahun berselang, fakta-fakta medis menunjukkan bahwa rokok tidak sekedar menyebabkan bau nafas tak sedap, tetapi juga berakibat negatif secara lebih luas pada kesehatan manusia.

    Sebenarnya pengaruh buruk dari merokok terhadap kesehatan telah diperkirakan sejak awal abad XVII (Encyclopedia Americana, Smoking and Health, p.70 1989). Namun demikian, rupanya perlu waktu hingga 350 tahun untuk mengumpulkan bukti-bukti ilmiah yang cukup untuk meyakinkan dugaan-dugaan itu.

    Kenaikan jumlah kematian akibat kanker paru-paru yang diamati pada awal abad XX telah menggelitik dimulainya penelitian-penelitian ilmiah tentang hubungan antara merkokok dan kesehatan. Sejalan dengan peningkatan pesat penggunaan tembakau, penelitian pun lebih dikembangkan, khususnya pada tahun-tahun 1950-an dan 1960-an.

    Laporan penting tentang akibat merokok terhadap kesehatan dikeluarkan oleh The Surgeon General’s Advisory Committee on Smoking and Health di Amerika Serikat pada tahun 1964. Dua tahun sebelumnya The Royal College of Physician of London di Inggris telah pula mengeluarkan suatu laporan penelitian penting yang mengungkapkan bahwa merokok menyebabkan penyakit kanker paru-paru, bronkitis, serta berbagai penyakit lainnya.

    Hingga tahun 1985 sudah lebih dari 30.000 paper tentang rokok dan kesehatan dipublikasikan. Sekarang ini tanpa ada keraguan sedikitpun disimpulkan bahwa merokok menyebabkan kanker paru-paru baik pada laki-laki maupun wanita. Diketahui juga bahwa kanker paru-paru adalah penyebab utama kematian akibat kanker pada manusia. Merokok juga dihubungkan dengan kanker mulut, tenggoroka, pankreas, ginjal, dan lain-lain.

    Bukti-bukti ilmiah tentang pengaruh negatif rokok terhadap kesehatan yang telah diringkaskan di atas mengharuskan kita untuk meninjau kembali status hukum makruh merokok yang selama ini kita ketahui. Beberapa fakta berikut ini sangatlah relevan untuk dijadikan bahan perenungan dan pertimbangan, sebelum sebatang rokok lagi mulai anda “nikmati” :

    1. Rokok menyebabkan kanker dan kanker menyebabkan kematian, maka merokok menyebabkan kematian. Hukum tentang perbuatan semacam ini secara terang dijelaskan dalam syariat Islam, antara lain ayat Al-Quran yang terjemahannya adalah: “…dan janganlah kamu membunuh jiwa…” (QS 6:151)

    2. Tubuh kita pada dasarnya adalah amanah dari Allah yang harus dijaga. Mengkonsumsi barang-barang yang bersifat mengganggu fungsi raga dan akal (intoxicant) hukumnya haram, misalnya alkohol, ganja dan sebangsanya. Perhatikan firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib adalah kekejian, termasuk perbuatan setan.Jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu sukses” (QS 5:90). Kemudian dijelaskan lebih lanjut dalam sebuah hadist yang dikumpulkan oleh Muslim dan Abu Dawud, dimana Nabi Saw berkata, “Setiap yang mengganggu fungsi akal (intoxicant) adalah khamr dan setiap khamr adalah haram”.

    3. Merokok hampir selalu menyebabkan gangguan pada orang lain. Asap rokok yang langsung diisapnya berakibat negatif tidak saja pada dirinya sendiri, tapi juga orang lain di sekitarnya. Asap rokok yang berasal dari ujung puntung maupun yang dikeluarkan kembali dari mulut dan hidung si perokok, menjadi “jatah” orang-orang disekelilingnya. Ini yang disebut passive smoking atau sidestream smoking yang berakibat sama saja dengan mainstream smoking. Berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan bahaya (mudharat) bagi diri sendiri apalagi orang lain, adalah hal yang terlarang menurut syariat. Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Laa dharar wa laa dhiraar”.

    4. Harta yang kita miliki tidaklah pantas untuk dibelanjakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaa, misalnya dengan membakarnya menjadi abu dan asap rokok. Tegakah kita melihat selembar uang berwajah kartini dibakar setiap minggunya? Perhatikan ayat-ayat Alquran sebagai berikut: “…dan janganlah menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sungguh para pemboros adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar pada Tuhannya” (QS 17: 26-27). Sungguh ayat ini adalah suatu deskripsi yang sangat serius

    Kesimpulan

    Uraian singkat di atas cukuplah kiranya membuktikan bahwa kebiasaan merokok merupakan suatu perbuatan yang terlarang menurut ajaran Islam. Merokok tidak saja memberikan mudharat bagi pelakunya, tetapi juga bagi orang-orang lain di sekitarnya. Merokok tidak dapat memberikan manfaat apapun bagi pelakunya, sehingga membelanjakan harta untuk rokok termasuk dalam kategori pemborosan (tabdzir) yang sangat dicela oleh Islam.

    Perlu ditegaskan di sini bahwa Islam pada dasarnya adalah suatu sistem yang membangun, bukan yang menghancurkan. Islam tidak datang untuk menghancurkan kebudayaan, moral maupun kebiasan-kebiasaan umat manusia, tetapi ia datang untuk memperbaiki kondisi umat manusia. Dengan demikian segala sesuatunya dilihat dari persepektif kesejahteraan umat manusia, apa yang merugikan dihilangkan dan apa yang bermanfaat dikonfirmasikan. Dalam Al-Quran ditegaskan bahwa Islam adalah suatu sistem yang:

    “..menyuruh mengerjakan ma’ruf dan melarang perbuatan mungkar, dan menghalalkan segala cara yang baik dan mengharamkan segala yang buruk…” (QS. 7:157).

    Mudah-mudahan kita sekalian diberi kekuatan untuk selalu melakukan apa yang diperintahkan Allah SWT dan RasulNya, dan meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya.

    Wallahu a’lam

    ***

    Penulis adalah auditor LPPOM MUI, Direktur APN dan Staf Dosen Jurusan Teknologi Industri-FATETA, IPB.

    Sumber: Jurnal Halal No. 5 / I / Mei – Juni 1995

     
    • lazione budy 10:42 pm on 12 Agustus 2013 Permalink

      Haram.
      Saya ikuti anjuran Muhammadyah beberapa tahun yg lalu dan sampai sekarang tidak akan merokok.
      Lebih banyak mudaratnya.

  • erva kurniawan 5:43 am on 5 August 2013 Permalink | Balas  

    Definisi, Urgensi, dan Buah-Buah Taubat 

    taubat 1Definisi, Urgensi, dan Buah-Buah Taubat

    1. Definisi

    • Menurut bahasa: Kembali – Menurut istilah: Kembali mendekat pada Allah setelah menjauh dari-Nya. Hakikat taubat adalah: Menyesal terhadap apa yang telah terjadi, meninggalkan perbuatan tersebut saat ini juga, dan ber-azam yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut dimasa yang akan datang.

    2. Urgensi Taubat

    • Banyak yang tidak tahu akan hakikat taubat, syarat, dan adab-adabnya. Oleh karena itu banyak yang bertaubat hanya dengan lisan saja, sedangkan hati mereka kosong. Para ulama mengatakan: Taubatnya para pembohong adalah taubat dengan ujung lidah mereka, mereka mengatakan: “Saya mohon ampun dan bertaubat pada Alloh”. Tapi mereka tidak berhenti melakukan maksiat.
    • Allah memerintahkan untuk bertaubat. Allah mengulang perintah tersebut 87 kali. Allah juga memerintahkan Rasulullah untuk bertaubat. Allah berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS. 24:31). Dalam ayat yang lain Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya” (QS. 66: 8 ). Rasulullah bersabda: “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah sesungguhnya saya bertaubat kepada Allah dalam sehari 100 kali” (HR. Muslim).
    • Siapa yang tidak bertaubat kepada Allah berarti dzalim terhadap dirinya. Allah berfirman: “Barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. 49:11).
    • Taubat adalah ibadah yang paling utama. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (QS. 2: 222). Dalam sebuah hadist dikatakan: “Demi Allah, Allah lebih bergembira dari pada seorang mu’min…” dst.

    3. Buah-Buah Taubat

    • Taubat itu jalan menuju keberuntungan. Allah berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS. 24:31). Ibnul Qoyyim berkata: “Janganlah mengharapkan keberuntungan kecuali orang-orang yang bertaubat”.
    • Malaikat berdo’a untuk orang-orang yang bertaubat. Allah berfirman: “(Malaikat-malaikat) yang memikul `Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): ‘Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala’” (QS. 40:7).
    • Mendapat kemudahan hidup dan rizki yang luas. Allah berfirman: “dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan” (QS. 11:3). Dan firman Allah: “Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS. 11:52).

    Dan Allah berfirman: “maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu – sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun – niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada-mu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.’”

    • Penghapus kesalahan dan pengampun dosa. Dalam hadis qudsi, Rasulullah bersabda: “Wahai anak adam, sesungguhnya engkau telah berdo’a pada-Ku dan mengharap pada-Ku, Aku telah ampunkan dosa-dosamu dan Aku tak menghiraukan. Wahai anak adam, andaikan dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau meminta ampunan pada-Ku, Aku akan mengampunimu, dan Aku tidak menghiraukan. Wahai anak Adam, andaikan kamu datang pada-Ku dengan kesalahan sebesar Bumi, kemudian engkau tidak pernah mensekutukan pada-Ku dengan suatu apapun, Aku akan datang padamu dengan ampunan sebesar bumi pula.” Dan Rasulullah bersabda: “Orang yang bertaubat dari kesalahan bagaikan orang yang tidak punya dosa.” Dalam hadis yang lain: “Taubat itu menghapuskan dosa-dosa yang lalu.”
    • Hati menjadi bersih dan bersinar. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang mu’min jika melakukan perbuatan dosa, maka akan terjadi titik hitam di dalam kalbunya, jika dia bertaubat dan minta ampun pada Allah, kembali cemerlang hatinya, jika dosanya bertambah, bertambah pula titik hitam tersebut, hingga menutupi hatinya. Itulah “ar-ron” yang disebut oleh Alloh dalam firman-Nya: ‘Sekali-kali tidak (demikian) sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’” (HR. Tirmidzi).
    • Dicintai Allah. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

    ***

    Al-Ikhwan.net

    Abu Nu’man Mubarok

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 4 August 2013 Permalink | Balas  

    Indahnya Hidup Sehat Lahir dan Bathin 

    Indahnya Hidup Sehat Lahir dan Bathin

    Oleh : Aa Gym

    Rangkuman MMQ Istiqlal

    Saudaraku yang budiman, tidaklah suatu pesawat tinggal landas, kecuali harus mengetahui landasan udara yang dituju. Demikian juga dengan kapal laut, tidak akan membuang sauh kecuali mengetahui persis tujuan yang akan dituju. Bulan suci ramadhan tidak akan kita jalani kecuali tujuan yang akan dituju. Namun tidak sedikit orang yang hidup tanpa jelas mengetahui tujuan hidupnya. Hari-hari yang dilalui tanpa ditentukan dengan jelas akan target yang nyata. Untuk tujuan akherat, tujuan kita dalam hidup ini ialah berjumpa dengan Allah SWT yang Maha Menciptakan kita. Ada lima kiat yang mudah-mudahan bisa menjadi bekal pulang kita ke akherat nanti.

    Tujuan yang pertama, adalah kuat iman. Apapun boleh kita lakukan asal bisa menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Hidup kita akan kokoh kalau iman kita kuat. Dan menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang akan memperlemah iman. Beberapa ciri dari orang yang kuat iman, yakni :

    1. Diberikan nikmat oleh Allah SWT, dia bersyukur, syukur menjadi kebaikan.
    2. Diberikan ujian oleh Allah SWT, dia bersabar, sabar jadi kebaikan.

    Tujuan yang kedua, adalah sehat lahir bathin, sebagaimana dalam hadist “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah dibanding mukmin yang lemah”(HR Muslim).

    Tujuan yang ketiga, adalah akur. Sebagai contoh, kita diberikan nikmat kuat iman dan sehat lahir bathin, tetapi punya banyak musuh, maka hati tidak akan merasakan ketenangan. Kemanapun kita pergi, tidak akan merasakan kenyamanan, karena pikiran kita dipenuhi dengan hal-hal yang negatif.

    Tujuan yang keempat, adalah manfaat. Khoirunnas ‘anfa uhum linnaas (sebaik-baik manusia adalah manusia yang membawa manfaat bagi sesamanya).

    Tujuan yang kelima, selama hidup didunia adalah husnul khotimah yakni akhir kehidupan yang baik. Kita harus mempunyai target, kapanpun kita meninggal harus dalam keadaan husnul khotimah. Segala puji hanya untuk Allah SWT yang merahasiakan kematian kita. Akibatnya setiap waktu yang kita jalani, dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dengan tidak menunda amal kebaikan sekecil apapun, karena dalam pandangan Allah SWT tidak ada hal yang kecil. Setiap perbuatan akan kembali kepada pembuatnya. Kalau kita menonton TV, yang menjadi pertanyaan, apakah berman3faat atau tidak? Apakah akan menjadi tuntunan ke arah kebaikan atau sekedar tontonan yang tidak bermanfaat? Oleh karena itu, kita harus bisa menggunakan waktu yang diberikan Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Apabila datang waktu shalat, kita gunakan dengan hadir lebih awal di masjid, menempati shaf yang terdepan. Orang yang selalu ingat husnul khotimah, tidak akan menyia-nyiakan niat, kesempatan, memohon ampunan kepada Allah SWT dan tidak akan menggunakan waktu yang diberikan untuk berbuat kemaksiatan.

    Rasulullah SAW adalah seorang pribadi yang sehat. Dalam suatu riwayat, diketahui bahwa beliau hanya dua kali sakit sepanjang hidupnya. Dalam usia enam puluh tiga tahun, badannya sehat atletis dan kuat. Hidup sehat merupakan hal yang sangat penting.Kalau kita tidak sehat, kita akan kehilangan banyak hal, kehilangan iman dan segala-galanya. Ada lima kiat untuk hidup sehat :

    1. Udara, kalau kita tidak makan, Insya Allah kuat selama lima belas hari. Jikalau tidak minum,insya Allah badan kita akan kuat selama lima hari. Namun apabila kita tidak bernafas, insya Allah hanya bisa bertahan selama dua menit. Karena udara adalah hal yang salah satu faktor yang sangat penting yang bisa menentukan hidup kita sehat atau tidak. Semoga kita bisa menjaga tubuh kita dari udara yang bisa merusak kesehatan. Rokok yang kita ketahui bahwa bisa merusak kesehatan tubuh, di antaranya: penyakit jantung, kanker, impotensi, gangguan janin,dan sebagainya. Dalam suatu penelitian,diketahui bahwa satu batang rokok mengandung lebih dari satu trilliun radikal bebas yang apabila kita hisap akan merusak membran-membran sel yang ada di tubuh kita. Hampir dapat dipastikan, bahwa perokok yang mengisi tubuhnya dengan asap rokok, tinggal menunggu waktu.

    2. Air, Rasulullah SAW membagi tiga dari isi tubuhnya, yakni sepertiga pertama isi dari perut nabi adalah makanan, sepertiga yang kedua adalah oksigen, sepertiga yang ketiga adalah air. Setelah diteliti diketahui bahwa tujuh puluh persen (70%) dari tubuh kita adalah air. Banyaklah meminum air yang bersih sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Air zamzam pun setelah diteliti di negara Jepang, bahwa air zamzam merupakan air hexagonal terbaik. Hexagonal ialah bentuk struktur molekul segi enam yang paling bagus dan mudah mengikat oksigen, mineral, dan mudah pula untuk diserap oleh tubuh kita. Yang pada akhirnya membuat sel kita menjadi segar.

    3. Pola makan, Rasulullah SAW apabila beliau makan, akan berhenti sebelum kenyang. Kita makan bukan untuk enak melainkan untuk ibadah. Maka, tubuh kita akan produktif untuk berbuat banyak yang bermanfaat. Mari kita berusaha untuk menjaga tubuh kita dari makanan-makanan yang tidak memberikan manfaat. Menjaga dari makanan yang mengandung bahan pengawet, pewarna, makanan-makanan instant dengan makanan yang mengandung sayuran, buah-buahan, dan menghentikan makan sebelum kita kenyang,serta perbanyaklah shaum. Karena shaum itu menyehatkan. Rasulullah SAW bersabda ” Shaumlah, niscaya engkau akan sehat “. Dalam dunia kedokteran diketahui bahwa ada tiga hal : meningkatkan hormon kegembiraan, maka akan membantu konsentrasi kita untuk lebih fokus. Daya tahan tubuh akan lebih baik, kekebalan tubuh yang bisa membantu kita untuk tetap sehat. Sel-sel tubuh seimbang, yang akan menghasilkan anti-oksidan yang tinggi. Maka orang-orang yang sering melaksanakan shaum, baik shaum sunnah senin-kamis atau shaum daud maka insya Allah badan kita akan seimbang dan sehat.

    4. Istirahat yang memadai, Baginda tercinta Rasulullah SAW ternyata beliau istirahat setelah shalat isya dan bangun pada sepertiga malam terakhir. Setelah diteliti bahwa produksi eritrosit atau sel darah merah yang terbaik dibuat sebelum jam dua belas malam. Dengan cepat istirahat dan cepat bangun maka badan kita akan sehat.

    5. Olahraga yang teratur, berolah raga dengan jadwal yang teratur akan membantu mengkondisikan badan kita menjadi fit disertai dengan makanan dan vitamin yang dapat memberikan energi yang diperlukan untuk membantu aktifitas kita sehari-hari.

    “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada merekajalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (Q.S Al-Ankabuut 29 : 69)

    Wallahu a’lam bis shawwab..

    ***

    Sumber dtjakarta.or.id

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 3 August 2013 Permalink | Balas  

    Perlukah Hati Kita Istirahat? 

    Perlukah Hati Kita Istirahat?

    Oleh: Abuluthfia

    Yang paling penting yang ada di dalam jasad kita adalah hati dan yang paling penting yang ada dalam hati adalah iman yang merupakan sebagai pelita hati. Sifat iman sama dengan sifat hati yaitu bolak- balik atau yazid wa yankus. Oleh karena itu yang paling berkepentingan dalam menjaga dan memelihara hati adalah manusia itu sendiri. Sebab, kalau dibiarkan begitu saja maka hati itu akan menjadi hati yang berpenyakit atau mungkin juga menjadi mati. Kalau sudah begitu, maka nafsu yang akan menguasainya. Dan efeknya akan menjalar kepada anggota tubuh yang lain.

    Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di dalam tubuh anak Adam terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah tubuh itu seluruhnya, dan anggota-anggota tubuh yang lain akan membuatnya baik. Apabila segumpal daging itu rusak, maka rusak pula tubuh itu seluruhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati.”

    Hati adalah tempat untuk melihat Rabb. Ketika dihati sudah tertancap sebuah keyakinan, maka akan muncul sebuah kebahagiaan yang akan mengalirkan kedamaian dan keteduhan ke dalam ruh dan jiwa. Dari situ kebahagiaan akan meluap kepada yang lain.

    Ulama terkenal Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Hati yang mencapai kedamaian dan ketenteraman, mengantar pemiliknya dari ragu menjadi yakin, dari kebodohan kepada ilmu, dari lalai kepada taat, dari riya kepada ikhlas, dari lemah kepada teguh, dan dari sombong kepada tahu diri”

    Dan ini merupakan hasil dari pengistirahatan hati dari hawa nafsu duniawi yang selalu menggerogoti hati manusia. Sebab, hawa nafsu dan syahwat badani termasuk penyakit hati yang sering menghinggapi manusia. Apabila hawa nafsu itu telah masuk dan menusuk hati, maka rusaklah hati, dan apabila dibiarkan saja, ia akan membusuk dan sukar untuk disembuhkan. Dosa akibat hawa nafsu itu akibat setetes kotoran yang jatuh diatas lembaran hati manusia. Sekali manusia berbuat dosa, satu titik kotoran melekat diatas hati. Apabila tidak dicegah, tetesan dosa itu lama kelamaan akan menutup seluruh permukaan hati, maka gelaplah hati. Ia tertutup dari sinar iman karena sudah dipenuhi oleh kegelapan dan hawa nafsu.

    Jadi, mengistirahatkan hati menjadi sesuatu yang harus dilakukan sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini,

    Rasulullah SAW bersabda, “Istirahatkanlah hati kalian walaupun sejenak. Jika hati kalian tidak di istirahatkan (diporsir), maka hati kalian akan berubah menjadi buta.” (HR. Bukhari-Muslim)

    Istirahatnya hati bagi seorang muslim yaitu dengan zikrullah kepada Allah SWT.

    “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS. Ar-Ra’d (13): 28)

    Apalagi di bulan Ramadhan yang mulia ini. Dan ini merupakan momentum yang sangat baik untuk mengistirahatkan hati. Sebab, di bulan ini kita diwajibkan berpuasa, dianjurkan melakukan muamalah yang lainnya seperti membaca Al-Qur’an, zikrullah, qiyamul-lail, shadaqah, I’tikaf, dll. Coba kita simak apa kata Ibnul Qayyim rahimahullah ketika menjelaskan beberapa hikmah i’tikaf, beliau berkata, “Kelurusan hati dalam perjalanannya menuju Allah sangat bergantung kepada kuat tidaknya hati itu berkonsentrasi mengingat Allah dan merapikan kekusutan hati serta menghadapkannya secara total kepada Allah….. Perlu diketahui bahwa makan dan minum yang berlebihan, kepenatan jiwa dalam berinteraksi sosial, terlalu banyak berbicara dan tidur akan menambah kekusutan hati bahkan dapat menceraiberaikannya dan menghambat perjalanannya menuju Allah atau melemahkan langkahnya. Maka sebagai konsekuensi rahmat Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengasih terhadap hamba-hamba-Nya, Allah mensyari’atkan ibadah puasa atas mereka untuk menghilangkan kebiasaan makan dan minum secara berlebih-lebihan serta membersihkan hati dari noda-noda syahwat yang menghalangi perjalanannya menuju Allah. Dan Allah mensyari’atkan i’tikaf yang inti dan tujuannya adalah menambat hati untuk senantiasa mengingat Allah, menyendiri mengingat-Nya, menghentikan segala kesibukan yang berhubungan dengan makhluk, dan memfokuskan diri kepada Allah semata. Sehingga kegundahan dan goresan-gorasan hati dapat diisi dan dipenuhi dengan dzikrullah (mengingat Allah), mencintai dan menghadap kepada-Nya.”

    Wallahu A’lam

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 2 August 2013 Permalink | Balas  

    Kembali kepada Allah 

    Kembali kepada Allah

    Seorang Muslim yang memahami hakikat Ramadhan, akan merasa berat berpisah dengan bulan mulia ini. Ia berharap sepanjang tahun diisi Ramadhan. Dalam Shirah Nabawiyyah diungkapkan betapa sedihnya Rasulullah SAW dan para sahabat ketika Ramadhan berlalu. Hati mereka harap-harap cemas, takut jatah umur yang tersisa tidak menyampaikan mereka pada Ramadhan tahun berikutnya. Perpisahan mereka dengan Ramadhan, bagaikan perpisahan dengan kekasih yang amat dicintai.

    Namun, dengan kasih sayang-Nya, Allah SWT mengganti berlalunya Ramadhan dengan aneka kebahagiaan. Tidak hanya kebahagiaan di dunia namun juga kebahagiaan di akhirat. Dosa-dosa diampuni, amalan dilipatgandakan, jiwa dan raga menjadi bersih. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang mendirikan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan balasan Allah niscaya diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari).

    Lalu kebahagiaan sesungguhnya akan mereka raih ketika di akhirat, yaitu kesempatan berjumpa dan menatap wajah Allah Azza wa Jalla. Disabdakan, “Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan yang membahagiakan ketika berbuka (termasuk pada saat Idul Fitri) ia bahagia dan ketika bertemu dengan Tuhannya ia pun bahagia karena puasanya itu.”(HR Bukhari).

    Hal paling khas selepas Ramadhan adalah kembalinya orang-orang beriman kepada fitrah penciptaannya. Yaitu kecucian jiwa dan bebasnya jiwa manusia dari penghambaan selain kepada Allah SWT. Difirmankan, Hadapkan wajahmu dengan lurus pada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS Ar Rum [30]: 30)

    Walau tidak berbicara dalam konteks Ramadhan, ayat ini sangat relevan dengan nuansa Ramadhan dan Idul Fitri. Orang yang telah menikmati jamuan Allah di bulan Ramadhan hendaklah tetap dalam karakteristik penciptaan-Nya dan potensi kemanusiaan yang selalu siap menerima kebenaran.

    Menurut Ibn Abdil Bar dan Ibn Athiyah, fitrah adalah ciptaan dan bentuk atau karakter yang Allah ciptakan dalam diri manusia. Fitrah ini telah disiapkan sehingga manusia bisa mengidentifikasi dan membedakan berbagai ciptaan Allah. Lalu ia menjadikannya dalil untuk mengetahui eksistensi dan mengimani Allah. Sedangkan dalam tafsir Al Qurtubhi XIV/29, mengutip gurunya, Abu Abbas, ayat tersebut mengungkapkan bahwa Allah telah menciptakan kalbu (akal) anak Adam agar siap menerima kebenaran. Seperti halnya mata diciptakan untuk melihat dan telinga diciptakan untuk mendengar. Selama akal manusia tetap dalam fitrahnya maka ia akan mengenali kebenaran.

    Dapat kita simpulkan bahwa kembalinya kita kepada fitrah adalah kembalinya kita kepada aturan Allah SWT secara kaffah dan menyeluruh. Allah yang telah menciptakan manusia, kehidupan dan alam semesta ini, sudah tentu akan menciptakan aturan untuk makhluk-Nya. Misalnya pengaturan tata surya, mampukah manusia mengaturnya? Ataukah mereka bergerak sendiri? Bagaimana jadinya jika tidak adanya aturan dan penjagaan Dzat Pencipta? Pastilah jagat raya ini akan hancur. Begitu pun manusia. Yang berhak mengatur akan kehidupan manusia hanya Allah semata. Dia mengetahui apa yang dibutuhkan manusia, tiada kepentingan dari aturan tersebut selain untuk kebahagiaan hamba-Nya.

    Fitrah manusia membutuhkan agama dan sistem hidup yang sesuai dengan fitrahnya. Agar semua perilaku dalam mengejawantahkan nilai-nilai fitrah tersebut bisa terlaksana dengan baik. Karena itu, fitrah manusia akan membuang agama dan sistem hidup yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Allah SWT memberikan potensi kepada manusia berupa gharizah at-tadayyun (naluri beragama). Sebab keterbatasan dan kelemahannya, manusia membutuhkan Dzat Mahaagung yang patut disembah. Dan Akal yang diberikan Allah SWT agar mampu memastikan adanya Al Khaliq dan tunduk patuh kepada-Nya.

    Sejatinya, kita menjadikan kemenangan Idul Fitri ini menjadi kemenangan kaum Muslimin seluruhnya, yakni bergabungnya kekuatan besar yang keluar dari rasa syukur kepada Allah SWT, untuk meraih rahmatan lil’alamin dari aturannya yang sempurna. Sehingga rahmat dan keridhaan Allah akan tercurah kepada segenap kaum Muslimin.

    Kini apa alasan kita untuk tidak menginternalisasikan aturan-aturan Allah dalam kehidupan kita. Mulai dari hal terkecil sampai hal terbesar. Mulai dari makan, minum, ke toilet, berumah tangga, bekerja hingga kehidupan bernegara. Bukankah kita meyakini bahwa Islam adalah agama fitrah? Yang mengatur manusia dengan Khalik-nya, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan dirinya sendiri.

    Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu,” demikian pesan Allah dalam QS Al Baqarah [2] ayat 208. Wallaahu a’lam. (tri )

    ***

    Sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 1 August 2013 Permalink | Balas  

    Indahnya Ramadhan – Mengendalikan Diri 

    Indahnya Ramadhan – Mengendalikan Diri

    Oleh: Aa Gym

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Subhanallah, walhamdulillah, walaailaahaillallah, wallahuakbar. Semoga Allah SWT mengkaruniakan kepada kita semua keterampilan mengendalikan diri. Tidak ada yang bahaya dalam hidup ini, selain sikap kita sendiri.karena ternyata bahaya besar dalam hidup ini ialah ketika kita tidak berhasil mengendalikan diri kita dengan baik.

    Salah satu ciri orang bahagia dan bertaqwa ialah yang paling terampil mengendalikan dirinya dengan tepat. Sehingga dapat melalui rintangan yang ada. Kita bisa melatih diri selama ramadhan.

    Yang pertama ialah pikiran, pikiran akan mempengaruhi suasana hati. Kalau kita berpikir seseorang akan mengancam diri kita, maka pikiran kita akan langsung merasa tidak nyaman. Kita sering tidak nyaman dalam hidup karena pikiran kita terfokus pada hal-hal yang negatif dan mengakibatkan kita menjadi menderita. Seharusnya bagaimana sikap kita menyikapi hal ini?

    Seharusnya bulan Ramadhan bulan latihan untuk berpikir positif. Kalau pikiran kita hanya tertuju kepada makhluk, maka akan gelisah. Namun bila pikiran kita tertuju kepada pencipta makhluk yakni Allah SWT maka insyaallah tidak akan gelisah. Semakin lambat mengalihkan pikiran kita kepada Allah, semakin gelisah. Semakin cepat mengalihkan pikiran kita kepada Allah, maka akan semakin tenteram. “Alaa bidzikrillahi tatma’innulquluub”.

    Melihat kekurangan orang lain, akan jengkel. Melihat kelebihan orang lain, akan tenang. Mari kita mencari seribu satu alasan untuk memaafkan orang lain. Kendalikan pikiran, mencari hikmah, berdzikir, mencari Allah SWT insyaallah tenteram.

    Kita sering melihat lukisan kuda, dan kita terpesona kepada yang melukisnya. Kenapa melihat kuda yang nyata, kita tidak memuji Sang Maha Pencipta-Nya? Kita melihat adik kita memainkan boneka, dan kita memuji pabrik bonekanya. Kenapa melihat bayi memainkan boneka, kita tidak memuji yang Maha Pencipta?

    Setiap kejadian terjadi atas ijin dan kehendak Allah SWT. Setiap kejadian yang terjadi pasti ada hikmahnya. Kita jangan terfokus kepada makhluk, fokuslah kepada yang Maha Menciptakan makhluk.

    Selamat menikmati mengolah pikiran, kalau kita tidak terampil mengolah pikiran, ciri yang paling khas adalah gelisah. Apakah kita tidak boleh gelisah? Jawabnya “harus”, tetapi gelisahnya bukan karena urusan dunia, melainkan urusan akherat. Sebagai contoh : takut kalau shalat kita tidak diterima, amal yang tidak ikhlas, takut di yaumal hisab tidak husnul khotimah.

    Yang kedua, latihan mengendalikan keinginan. Kesengsaraan itu karena diperbudak oleh keinginan. Yang bagus ialah menginginkan sesuatu yang disukai oleh Allah SWT. Untuk keinginan dunia, memperbanyak do’a dan memohon petunjuk yang terbaik dalam pandangan Allah SWT. Apapun yang kita inginkan, syaratnya ialah :

    1. Allah SWT suka atau tidak dengan keinginan kita.
    2. Istiqharah, memohon petunjuk dan bimbingan dari Allah SWT. Sebagaimana terdapat dalam firman Allah SWT : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah maha mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS.2 : 216).

    Keinginan timbul dari pandangan, cobalah untuk menahan pandangan dari yang tidak membawa manfaat. Kalau kita ingin membeli sesuatu, pertanyaannya adalah, bukan ingin atau tidak ingin? Tetapi, kita perlu atau tidak perlu? Karena keinginan tidak akan pernah ada habisnya. Rasulullah SAW menggambar sebuah kotak dan didalamnya digambarkan ditengah kotak tersebut sebuah garis lurus yang melewati kotak tersebut, apa artinya? Kotak tersebut diartikan sebagai umur, sedangkan garis lurus didalam kotak tersebut digambarkan sebagai keinginan.

    Yang ketiga, mengendalikan amarah. Kenapa kita marah? Prinsip dasarnya ialah ketidaksiapan mental menerima yang tidak sesuai dengan keinginan dan harapan kita. Kalau kita marah, kepentingannya nafsu dan cenderung menyakiti orang lain. Sedangkan kalau kita tegas, kepentingannya adil. Maka berlaku adillah, karena adil dekat dengan taqwa.

    Sebagai analogi, kalau kita marah bagaikan menancapkan paku ke dinding. Semakin sering kita marah, semakin banyak paku yang akan menancap di dinding. Lisan kita seperti paku yang ditancapkan ke dinding atau hati orang yang kita sakiti. Seandainya kita meminta maaf kepada orang yang telah kita sakiti, maka paku tersebut akan lepas dari dinding, namun kita akan meninggalkan bekas lubang paku di dinding.

    Yang keempat, mengendalikan lisan. Sebagaimana sabda Rasullulah SAW “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang benar atau diam” (HR.Bukhari Muslim). Mari kita jaga lisan kita dari perkataan-perkataan yang sia-sia, yang tidak membawa manfaat.

    Setiap perkataan yang kita ucapkan bagaikan anak panah yang kita lepaskan melesat dari busurnya. Apabila sudah terlepas, maka tidak dapat kita tarik kembali. Oleh karena itu, alangkah lebih baik setiap perkataan yang akan kita ucapkan hendaknya dipikirkan terlebih dahulu.

    Semoga kita bisa belajar untuk tidak mudah menyinggung perasaan orang lain dan tidak mudah tersinggung oleh perkataan orang lain. Karena tidak setiap yang ingin kita katakan, harus kita katakan. Ada empat kriteria orang yang berbicara :

    • Orang yang berjiwa besar, yang jika berbicara ada 3 hal yang akan didapat, yakni : membicarakan ilmu, mencari hikmah dari setiap kejadian, dan berdzikir untuk mengingat Allah SWT.
    • Orang yang biasa-biasa, yang mempunyai ciri suka menceritakan peristiwa atau kejadian itu saja.
    • Orang yang rendahan, yang mempunyai ciri-cirinya suka mengeluh dan mencela kejadian yang ada.
    • Orang yang dangkal ialah orang yang senang membicarakan dirinya sendiri dengan tujuan untuk pamer.

    Wallahu’alam bis shawab.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ***

    Rangkuman Majelis Manajemen Qolbu Al-Azhar

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: