Updates from Juni, 2019 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:13 am on 27 June 2019 Permalink | Balas  

    Benarkah jumlah asma-ul-Husna adalah 99 ? 

    Benarkah jumlah asma-ul-Husna adalah 99 ?

    Al-Qur’an tidak berbicara apa-apa menyangkut jumlah nama-nama Tuhan yang dikenal dengan istilah asmaul-husna, adapun keterangan yang menyebutkan jumlahnya sebanyak sembilan puluh sembilan hanya bisa didapati dari sejumlah Hadis Nabi, seperti :

    Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama,

    barangsiapa hafal mencakup keseluruhannya, dia masuk syurga. – Hadis riwayat Bukhari

    Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, barangsiapa memeliharanya, dia masuk syurga. – Hadis riwayat Turmudzi dari Abu hurairah

    Selain kedua riwayat diatas, Ibnu Majah yang juga salah seorang periwayat hadis terkenal telah meriwayatkan jumlah asmaul-husna sampai 114 nama (jadi ada 15 nama lebih banyak dari riwayat Turmudzi dan Bukhari yang hanya berjumlah 99). Begitu juga dengan Imam Thabrani yang meriwayatkan sampai 130 nama, sementara al-Qurtubhy menyebutkan hanya sampai 117 nama saja.

    Mengomentari adanya perbedaan dalam jumlah asmaul-husna itu menurut Imam Baihaqi lebih disebabkan adanya campur tangan dari perawi hadist itu sendiri, baik berupa pendapat pribadi, penambahan ataupun pengurangannya.

    Dengan demikian, secara global bisa kita katakan bahwa Tuhan memiliki asma-ulhusna yang tidak akan bisa tergenggam dalam suatu cakupan dan tidak terbatas dalam hitungan, karena secara alamiah, kesemua sifat-Nya telah terbentang didalam setiap bentuk ciptaan-Nya diseluruh semesta raya.

    Katakanlah : Jika laut menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, pasti akan habis laut itu sebelum usai kalimat-kalimat Tuhanku (tertulis), meskipun (lalu) kita datangkan tambahan (laut) sebanyak itu juga ! – Qs. 18 al-kahf : 109

    Nama-nama Tuhan berfungsi sebagai perantara Tuhan dengan alam ciptaan-Nya agar semua ciptaan-Nya tersebut kenal dengan diri-Nya dan bisa memanggil-Nya jadi dalam hal ini setiap nama-nama-Nya haruslah dipahami sebagai cara Tuhan menjalin hubungan dengan hasil kreasi-Nya (yaitu para makhluk-Nya).

    Didalam salah satu do’anya, Nabi Muhammad berkata :

    Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang Engkau miliki, Engkau menamakannya untuk diri-Mu, atau nama yang telah Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang telah Engkau ajarkan kepada seorang diantara makhluk-Mu, atau yang Engkau punyai dalam ilmu ghaib disisi-Mu. – Hadis riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban

    Berikut variasi asma-ul-husna dari versi orang yang meriwayatkannya :

    99 ASMA-UL-HUSNA MENURUT VERSI BUKHARI & TURMUDZI

    1. ar-Rohman Maha Pengasih
    2. ar-Rohim Maha Penyayang
    3. al-Malik Maha Merajai
    4. al-Quddus Maha Suci
    5. as-Salam Maha Penyelamat
    6. al-Mukmin Maha Mengamankan
    7. al-Muhaimin Maha Pembela
    8. al-Aziz Maha Mulia
    9. al-Jabbar Maha Pemaksa
    10. al-Mutakabbir Maha Besar
    11. al-Khaliq Maha Pencipta
    12. al-Mushawwir Maha Pembentuk
    13. al-Ghaffar Maha Pengampun
    14. al-Qahir Maha Keras
    15. al-Wahhab Maha Pemberi
    16. ar-Razzaq Maha Penganugerah
    17. al-Fattah Maha Pembuka
    18. al-Alim Maha Mengetahui
    19. al-Qabidh Maha Memegang
    20. al-Basith Maha Menghamparkan
    21. al-Khafidh Maha Memudahkan
    22. ar-Rafi’ Maha Mengangkat
    23. al-Mu’iz Maha Memuliakan
    24. al-Muzil Maha Merendahkan
    25. as-Sami’ Maha Mendengar
    26. al-Bashir Maha Melihat
    27. al-Hakam Maha Bijaksana
    28. al-Adlu Maha Adil
    29. al-Latif Maha Halus
    30. al-Khabir Maha Selidik
    31. al-Halim Maha Penyantun
    32. al-Azhim Maha Agung
    33. al-Ghafur Maha Pengampun
    34. as-Syakur Maha Mensyukuri
    35. al-Aliyya Maha Tinggi
    36. al-Kabir Maha Besar
    37. al-Hafizh Maha Melindungi
    38. al-Muqith Maha Menentukan
    39. al-Hasib Maha Memperhitungkan
    40. al-Jalil Maha Utama
    41. al-Karim Maha Mulia
    42. al-Raqib Maha Pengawas
    43. al-Mujib Maha Memperkenankan
    44. al-Wasi’ Maha Luas
    45. al-Hakim Maha Bijaksana
    46. al-Wadud Maha Cinta
    47. al-Majid Maha Jaya
    48. al-Ba’its Maha Pembangkit
    49. as-Syahid Maha Menyaksikan
    50. al-Haq Maha Hak
    51. al-Wakil Maha Mengatasi
    52. al-Qawiyyu Maha Kuat
    53. al-Matin Maha Teguh
    54. al-Waliyyu Maha Setia
    55. al-Hamid Maha Terpuji
    56. al-Muhshi Maha Menghitung
    57. al-Mubdi’u Maha Memulai
    58. al-Mu’id Maha Mengembalikan
    59. al-Muhyi Maha Menghidupkan
    60. al-Mumit Maha Mematikan
    61. al-Hayyu Maha Hidup
    62. al-Qayyim Maha Tegak
    63. al-Wajid Maha Mengadakan
    64. al-Maajid Maha Mulia
    65. al-Wahid Maha Esa
    66. al-Ahad Maha Esa
    67. as-Shamad Maha Pergantungan
    68. al-Qadir Maha Kuasa
    69. al-Muqtadir Maha Pemberi Kuasa
    70. al-Muqaddim Maha Mendahulukan
    71. al-Muakhir Maha Mengakhirkan
    72. al-Awwal Maha Permulaan
    73. al-Akhir Maha Kemudian
    74. az-Zhahir Maha Zhahir
    75. al-Bathin Maha Bathin
    76. al-Wali Maha Melindungi
    77. al-Muta’alli Maha Meninggikan
    78. al-Barr Maha Penyantun
    79. at-Tawwabu Maha Penerima Tobat
    80. al-Muna’am Maha Pemberi nikmat
    81. al-Muntiqam Maha Pembela
    82. al-Afuwwu Maha Pemaaf
    83. ar-Ra’uf Maha Belas Kasih
    84. Malikul-Muluk Maha Raja di raja
    85. Zul Jalali Wal Ikram Maha Luhur dan Mulia
    86. al-Muqsith Maha Menimbang
    87. al-Jami’ Maha Mengumpulkan
    88. al-Ghani Maha Kaya
    89. al-Mughni Maha Mengkayakan
    90. al-Mani Maha Menghalangi
    91. ad-Dharr Maha Memudharatkan
    92. an-Nafi’ Maha Pemaaf
    93. an-Nur Maha Cahaya
    94. al-Hadi Maha Menunjuki
    95. al-Badi Maha Pencipta yang baru
    96. al-Baqi Maha Kekal
    97. al-Warits Maha Pewaris
    98. ar-Rasyid Maha Cendikiawan
    99. as-Shabur Maha Penyabar

    NAMA-NAMA TAMBAHAN DAN URUTAN ASMA-UL-HUSNA MENURUT VERSI IBNU MAJAH DARI AL-ARAJ:

    1. al-Bari’ Maha Pemelihara
    2. al-Rasyid Maha Cendikiawan
    3. al-Burhan Maha Pembukti
    4. as-Syadid Maha Keras
    5. al-Waqi Maha Pemelihara
    6. al-Qaim Maha Berdidi
    7. al-Hafiz Maha Menjaga
    8. an-Nazhir Maha Melihat
    9. as-Sami’ Maha Mendengar
    10. al-Mu’thi Maha Pemberi
    11. al-Abad Maha Abadi
    12. al-Munir Maha Menerangi
    13. at-Taam Maha Sempurna
    14. al-Qadim Maha Kekal
    15. al-Witru Maha Esa

    NAMA-NAMA TAMBAHAN DAN URUTAN ASMA-UL-HUSNA MENURUT VERSI THABRANI:

    1. ar-Raab Maha Memelihara
    2. al-Ilah ilahi
    3. al-Hanan Maha Kasih
    4. al-Manan Maha Pemberi Anugerah
    5. al-Bari’ Maha Menjadikan
    6. al-Qaimul Fard Maha Berdiri Sendiri
    7. al-Qadir Maha Menentukan
    8. al-Farad Maha Sendiri
    9. al-Mughits Maha Membantu
    10. ad-Da’im Maha Kekal
    11. al-Hamid Maha Terpuji
    12. al-Jamil Maha Indah
    13. as-Shadiq Maha Benar
    14. al-Muwalli Maha Memimpin
    15. an-Nashir Maha Penolong
    16. al-Qadim Maha Dahulu
    17. al-Witru Maha Esa
    18. al-Fathir Maha Pencipta
    19. al-Allam Maha Mengetahui
    20. al-Malik Maha Raja
    21. al-Ikram Maha Mulia
    22. al-Mudabbir Maha Mengatur
    23. al-Maalik Maha Memiliki
    24. as-Syakur Maha Mensyukuri
    25. ar-Rafi’ Maha Tinggi
    26. Zul Thawil Maha Mempunyai Kekuasaan
    27. Zul Ma’arij Maha Mempunyai Jenjang/ tahapan
    28. Zul Fadhlil Khalaq Maha Mempunyai Kelebihan Makhluk
    29. al-Mun’im Maha Pemberi Nikmat
    30. al-Mutafadhal Maha Utama
    31. as-Sari’ Maha Cepat

    NAMA-NAMA TAMBAHAN ASMA-UL-HUSNA MENURUT VERSI IBNU HAZMI :

    1. al-Khafi Maha Tersembunyi
    2. al-Ghallab Maha Menang
    3. al-Musta’an Maha Penolong

    ————-

    Sumber utama :

    Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin abdul wahhab, Ketuhanan Yang Maha Esa menurut Islam, Terj. Drs. Dja’far Soedjarwo, Penerbit Al Ikhlas, Surabaya, hal. 845

    Iklan
     
  • erva kurniawan 1:03 am on 26 June 2019 Permalink | Balas  

    Indahnya Hidup Bersahaja 

    Indahnya Hidup Bersahaja

    Oleh: Aa Gym

    Bismillahirrohmaanirrohiim,

    Saudara-saudaraku Sekalian,

    Kita tidak perlu bercita-cita membangun kota Jakarta, lebih baik kita bercita-cita tiap orang bisa membangun dirinya sendiri. Paling minimal punya daya tahan pribadi terlebih dahulu. Karenanya sebelum ia memperbaiki keluarga dan lingkungannya minimal dia mengetahui kekurangan dirinya. Jangan sampai kita tidak mengetahui kekurangan sendiri. Jangan sampai kita bersembunyi dibalik jas, dasi dan merk. Jangan sampai kita tidak mempunyai diri kita sendiri. Jadi target awal dari pertemuan kita adalah membuat kita berani jujur kepada diri sendiri. Mengapa demikian? Sebab seorang bapak tidak bisa memperbaiki keluarganya, kalau ia tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri. Jangan mengharap memperbaiki keluarga kalau memperbaiki diri sendiri saja tidak bisa. Bagaimana berani memperbaiki diri, jika tidak mengetahui apa yang mesti diperbaiki.

    Kita harus mengawali segalanya dengan egois dahulu, sebab kita tidak bisa memperbaiki orang lain kalau diri sendiri saja tidak terperbaiki. Seorang ustad akan terkesan omong kosong, jika ia berbicara tentang orang lain agar memperbaiki diri sedang ia sendiri tidak benar. Dalam bahasa Al-Qur”an, “Sangat besar kemurkaan Allah terhadap orang berkata yang tidak diperbuatnya”.

    Mudah-mudahan seorang ibu yang tersentuh mulai mengajak suaminya. Seorang anak mengajak orang tuanya, di kantor seorang bos yang berusaha memperbaiki diri diperhatikan oleh bawahannya dan membuat mereka tersentuh. Seorang kakek dilihat oleh cucunya kemudian tersentuh.

    Mudah-mudahan dengan kegigihan memperbaiki diri nantinya daya tahan rumah mulai membaik. Kalau sudah daya tahan rumah membaik insyaAllah, kita bisa berbuat banyak untuk bangsa kita ini. Mudah-mudahan nanti setiap rumah tangga visinya tentang hidup ini menjadi baik.

    Tahap selanjutnya adalah mau dibawa kemana rumah tangga kita ini, apakah mau bermewah-mewahan, mau pamer bangunan dan kendaraan atau rumah tangga kita ini adalah rumah tangga yang punya kepribadian yang nantinya akan menjadi nyaman. Jangan sampai rumah tangga kita ini menjadi rumah tangga yang hubuddunya, karena semua penyakit akarnya dari cinta dunia ini. Orang sekarang menyebutnya materialistis.

    Bangsa ini roboh karena pecinta dunianya terlalu banyak. Acara tv membuat kita menjadi yakin bahwa dunia ini alat ukurnya adalah materi. Pelan tapi pasti kita harus mulai mengatakan dunia ini tidak ada apa-apanya. Di dunia ini kita hanya mampir. Dengan konsep yang kita kenal yaitu rumus “tukang parkir”. Yang tadinya bangga dengan merk menjadi malu dengan topeng yang dikenakannya. Nanti pelan-pelan akan menjadi begitu.

    Bukannya kita harus hidup miskin. Nanti akan terjadi suasana di rumah tidak goyah, lebih sabar, melihat dunia menjadi tidak ada apa-apanya dan tidak sombong. Lihat kembali rumus “tukang parkir”, ia punya mobil tidak sombong, mobilnya ganti-ganti tidak takabur, diambil satu persatu sampai habis tidak sakit hati. Mengapa ? karena tukang parkir tidak merasa memiliki hanya tertitipi.

    Ketika melihat orang kaya biasa saja karena sama saja cuma menumpang di dunia ini jadi tidak menjilat, kepada atasan tidak minder, suasana kantor yang iri dan dengki jadi minimal.

    Saudara-saudaraku Sekalian,

    Jadi visi kita terhadap dunia ini akan berbeda. Kita tidak bergantung lagi kepada dunia, tidak tamak, tidak licik, tidak serakah. Hidup akan bersahaja dan proporsional.

    Sekarang kita sedang krisis, masa ini dapat menjadi momentum karena dengan krisis harga-harga naik, kecemasan orang meningkat, ini kesempatan kita buat berdakwah.

    Mau naik berapa saja harganya tidak apa-apa yang penting terbeli. Jika tidak terjangkau jangan beli, yang penting adalah kebutuhan standar tercukupi. Orang yang sengsara bukan tidak cukup tetapi karena kebutuhannya melampaui batas. Padahal Allah menciptakan kita lengkap dengan rezekinya.

    Mulai dari buyut kita yang lahir ke dunia tidak punya apa-apa sampai akhir hayatnya masih makan dan dapat tempat berteduh terus. Orang tua kita lahir tidak membawa apa-apa sampai saat ini masih makan terus, berpakaian, dan berteduh. Begitu pula kita sampai hari ini. Hanya saja disaat krisis begini kita harus lebih kreatif. Mustahil Allah menciptakan manusia tanpa rezekinya kita akan bingung menghadapi hidup. Semua orang sudah ada rezekinya.

    Dan barangsiapa yang hatinya akrab dengan Allah dan yakin segala sesuatu milik Allah, tiada yang punya selain Allah, kita milik Allah. Kita hanya mahluk dan yang membagi, menahan dan mengambil rezeki adalah Allah. Orang yang yakin seperti itu akan dicukupi oleh Allah.

    Jadi kecukupan kita bukan banyak uang, tetapi kecukupan kita itu bergantung dengan keyakinan kita terhadap Allah dan berbanding lurus dengan tingkat tawakal. Allah berjanji “Aku adalah sesuai dengan prasangka hamba-Ku”. Jadi jangan panik. Allah penguasa semesta alam.

    Ini kesempatan buat kita untuk mengevaluasi pola hidup kita. Yang membuat kita terjamin adalah ketawakalan. Jadi yang namanya musibah bukan kehilangan uang, bukan kena penyakit, musibah itu adalah hilangnya iman. Dan orang yang cacat adalah yang tidak punya iman, ia gagal dalam hidup karena tidak mengerti mau kemana.

    Jadi kita tidak punya alasan untuk panik. Krisis seperti ini ada diman-mana, kita harus kemas agar berguna bagi kita. Kita tidak bisa mengharapkan yang terbaik terjadi pada diri kita, tapi kita bisa kemas agar menjadi yang terbaik bagi diri kita. Kita tidak bisa mengharapkan orang menghormati kita, tapi kita bisa membuat penghinaan orang menjadi yang terbaik bagi diri kita.

    Hal pertama yang harus kita jadikan rahasia kecukupan kita adalah ketawakalan kita dan kedua adalah prasangka baik kepada Allah, yang ketiga adalah Lainsakartum laadziddanakum,”Barangsiapa yang pandai mensyukuri nikmat yang ada, Allah akan membuka nikmat lainnya. Jadi jangan takut dengan belum ada, karena yang belum ada itu mesti ada kalau pandai mensyukuri yang telah ada.

    Jadi dari pada kita sibuk memikirkan harga barang yang naik lebih baik memikirkan bagaimana mensyukuri yang ada. Karena dengan mensyukuri nikmat yang ada akan menarik nikmat yang lainnya. Jadi nikmat itu sudah tersedia. Jangan berpikir nikmat itu uang. Uang bisa jadi fitnah. Ada orang yang dititipi uang oleh Allah malah bisa sengsara, karena ia jadi mudah berbuat maksiat. Yang namanya nikmat itu adalah sesuatu yang dapat membuat kita dekat dengan Allah. Jadi jangan takut soal besok/lusa, takutlah jika yang ada tidak kita syukuri.

    Satu contoh hal yang disebut kurang syukur dalam hidup itu adalah kalau hidup kita itu Ishro yaitu berlebihan, boros, dan bermewah-mewahan. Hati-hati yang suka hidup mewah, yang senang kepada merk itu adalah kufur nikmat. Mengapa? Karena setiap Allah memberi uang itu ada hitungannya. Mereka yang terbiasa glamour, hidup mewah, yang senang kepada merk termasuk yang akan menderita karena hidupnya akan biaya tinggi. Pasti merk itu akan berubah-ubah tidak akan terus sama dalam dua puluh tahun. Harus siap-siap menderita karena akan mengeluarkan uang banyak utnuk mengejar kemewahannya, untuk menjaganya dan untuk perawatannya.

    Dia juga akan disiksa oleh kotor hati yaitu riya’. Makin mahal tingkat pamernya makin tinggi. Dan pamer itu membutuhkan pikiran lebih, lelah dan tegang karena rampok akan berminat. Inginnya diperlihatkan tapi takut dirampok jadinya pening. Makin tinggi keinginan pamer makin orang lain menjadi iri/dengki. Pokoknya kalau kita terbiasa hidup mewah resikonya tinggi. Ketentraman tidak terasa. Hal yang bagus itu adalah yang disebut syukur yaitu hidup bersahaja atau proporsional. Kalau Amirul Mukminin hidupnya sangat sederhana, kalau seperti kita ini hidup bersahaja saja, biaya dan perawatan akan murah.

    Kalau kita terbiasa hidup bersahaja peluang riyanya kecil. Tidak ada yang perlu dipamerkan. Bersahaja tidak membuat orang iri. Dan anehnya orang yang bersahaja itu punya daya pikat tersendiri. Pejabat yang bersahaja akan menjadi pembicaraan yang baik. Artis yang sholeh dan bersahaja selalu bikin decak kagum. Ulama yang bersahaja itu juga membuat simpati.

    Juga harus hati-hati kita sudah capai-capai hidup glamor belum tentu dipuji bahkan saat sekarang ini akan dicurigai.Yang paling penting sekarang ini kita nikmati budaya syukur dengan hidup proporsional.

    Jangan capai dengan gengsi, hal itu akan membuat kita binasa. Miliki kekayaan pada pribadi kita bukan pada topeng kita. Percayalah rekan-rekan sekalian kita akan menikmati hidup ini jika kita hidup proporsional.

    Nabi Muhammad SAW tidak memiliki singgasana, istana bahkan tanda jasa sekalipun hanya memakai surban Tetapi tidak berkurang kemuliaanya sedikitpun sampai sekarang. Ada orang kaya dapat mempergunakan kekayaannya. Dia bisa beruntung jika ia rendah hati dan dermawan. Tapi ia bisa menjadi hina gara-gara pelit dan sombong. Ada orang sederhana ingin kelihatan kaya inilah yang akan menderita. Segala sesuatu dikenakan, segalanya dicicil, dikredit. Ada juga orang sederhana tapi dia menjadi mulai karena tidak meminta-minta, jadi terjaga harga dirinya. Dan ada orang yang mampu dan ia menahan dirinya ini akan menjadi mulia.

    Mulai sekarang tidak perlu tergiur untuk membeli yang mahal-mahal, yang bermerk. Supermarket, mal dan sebagainya itu sebenarnya tidak menjual barang-barang primer. Allah Maha Menyaksikan.

    Apa yang dianjurkan Islam adalah jangan sampai mubadzir. Rasul SAW itu kalau makan sampai nasi yang terakhir juga dimakan, karena siapa tahu disitulah barokahnya. Kalau kita ke undangan pesta jangan mengambil makanan berlebihan. Ini sangat tidak islami. Memang kita enak saja rasanya tapi demi Allah itu pasti dituntut oleh Allah. Dan itu mempengaruhi struktur rezeki kita, karena kita sudah kufur nikmat. Kita harus bisa mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita karena tidak ada yang kecil dimata Allah. Tidak ada pemborosan karena semua dihitung oleh Allah.

    Contohnya mandi, kalau bisa bersih dengan lima sampai tujuh gayung tapi mengapa harus dua puluh gayung. Kita mampu beli air tetapi bukan untuk boros. Ini penting kalau ingin barokah rezekinya, hematlah kuncinya.

    Kalau merokok biaya yang kita keluarkan adalah besar hanya untuk membuang asap dari mulut kita. Jangan cari alasan. Seharusnya sudah saatnya berhenti merokok. Cobalah ingat ini uang milik Allah.

    Kemudian sabun mandi, jangan memakai sesuka kita, takarlah atau kalau perlu pakai sabun batangan. Kenapa kalau kita bisa hemat tidak kita lakukan. Uang penghematan kita bisa gunakan untuk sedekah atau menolong orang yang lebih membutuhkan. Sedekah itu tidak akan mengurangi harta kita kecuali bertambah dan bertambah.

    Ini pelajaran supaya hidup kita dijamin oleh Allah. Kita tidak bisa terjamin oleh harta/tabungan, kalau Allah ingin membuat penyakit seharga dua kali tabungan kita sangat gampang bagi Allah. Tidak ada yang dapat menjamin kita kecuali Allah oleh karena itu jangan merasa aman dengan punya tabungan, tanah, dan warisan. Dengan gampang Allah dapat mengambil itu semua tanpa terhalang. Aman itu justru kalau kita bisa dekat dengan Allah. Mati-matian kita jaga kesehatan, kalau Allah inginkan lain gampang saja. Semua harta tidak bisa kita nikmati, tetapi kalau Allah melindungi kita Insya Allah.

    Marilah hidup hemat, tetapi hemat bukan berarti pelit. Proporsional atau adil adalah puncak dari ahlak Contohnya HP, kalau tidak terlalu perlu jual saja lagi. Janganlah dimiliki kalau hanya untuk gaya saja. Penghematan akan mengundang barokah inilah yang disebut syukur nikmat. Tujuan bukan mencari uangnya tetapi mempertanggung jawabkan setiap rupiah yang Allah titipkan.

    Hal lain yang membuat barokah adalah jika kita dapat mendayagunakan semua barang-barang kita. Di gudang kita pasti banyak barang yang tidak kita pakai tetapi sayang untuk dibuang. Coba lihat lemari pakaian kita banyak baju-baju lama, begitu juga sepatu-sepatu lama kita. Keluarkanlah barang-barang yang tidak berharga tersebut.

    Misalkan dirumah kita ada panci yang sudah rongsokan, jika kita keluarkan ternyata merupakan panci idaman bagi orang lain. Di rumah kita tidak terpakai tetapi jika dipakai orang lain dengan kelapangannya dan mengeluarkan doa bisa jadi itulah yang membuat kita terjamin.

    Kalau kita ikhlas, demi Allah itu lebih menjamin rezeki kita daripada tidak terpakai di rumah. Setiap barang-barang yang tidak bermanfaat tetapi bermanfaat bagi orang lain itulah pengundang rezeki kita. Bersihkan rumah kita dari barang-barang yang tidak berguna. Lebih baik rusak digunakan orang lain daripada rusak dibiarkan di rumah, itu akan barokah rezekinya.

    Ini kalau kita ingin terjamin, namanya teori barokah. Kita tidak akan terjamin dengan teori ekonomi manapun. Sudah berapa banyak sarjana ekonomi yang dihasilkan oleh universitas di negeri ini tetapi Indonesia masih saja babak belur.

    Rumusnya pertama adalah bersahaja, kedua adalah total hemat, ketiga adalah keluarkan yang tidak bermanfaat, yang keempat adalah setiap kita mengeluarkan uang harus menolong orang lain atau manfaat.

    Kalau mau belanja niatkan jangan hanya mencari barang tetapi juga menolong orang. Belilah barang di warung pengusaha kecil yang dapat menolong omzetnya. Hati-hati dengan menawar, pilihannya kalau itu merupakan hal yang adil. Jangan bangga kalau kita berhasil menawar. Nabi Muhammad SAW bahkan kalau beli barang dilebihkan uangnya dari harga barang yang sebenarnya. Tidak akan berkurang harta dengan menolong orang. Jangan memilih barang-barang yang bagus semua pilihlah yang jeleknya sebagian. Kita itu untung jika membuat sebanyak mungkin orang lain untung. Jangan jadi bangga ketika kita sendiri untung orang lain tidak.

    Jika kita jadi pengusaha, kita jadi kaya ketika karyawannya diperas tenaganya, gajinya hanya pas buat makan, sedang kita berfoya-foya, demi Allah kita akan rugi. Pengusaha Islam sejati tidak akan berfoya-foya, ia akan menikmati karyawannya sejahtera. Sehingga tidak timbul iri, yang ada adalah cinta. Cinta membuat kinerja lebih bagus, perusahaan lebih sehat. Kalau kapitalis, pengusahanya bermewah-mewah ketika bawahannya menderita. Jadi timbul dendam dan iri setiap ada kesempatan akan marah seperti yang terjadi di Bandung kemarin. Tetapi kalau kita senang mensejahterakan mereka, anaknya kita sekolahkan. Dia merasa puas dan itulah namanya keuntungan.

    Jadi mulai sekarang setiap membelanjakan uang harus menolong orang, membangun ekonomi umat. Jadi setiap keluar harus multi manfaat bukan hanya dapat barang. Dengan membeli barang di warung kecil mungkin uangnya untuk menyekolahkan anaknya, membeli sejadah, membeli mukena, Subhanallah.

    Saudara-saudaraku Sekalian,

    Jadi krisis seperti ini akan berdampak positif kalau kita bisa mengemasnya dengan baik. Nantinya ketika strategi rumah kita sudah bersahaja, kehidupan kita jadi efisien, anak-anak terbiasa hidup hemat, kita di rumah tidak mempunyai beban dengan banyaknya barang.

    Barang yang ada di rumah harus ada nilai tambahnya, bukan biaya tambah. Setiap blender harus ada nilai produktifnya misalnya untuk membuat jus kemudian dijual, pasti barokah. Bukannya membuat biaya tambah karena harus diurus, dirawat dan membutuhkan pengamanan, barang yang seperti ini tidak boleh ada di rumah kita. Rezeki kita pasti ada tinggal kita kreatif saja. Tidak perlu panik Allah Maha Kaya.

    Sebagai amalan lainnya, dalam situasi sesulit apapun tetaplah menolong orang lain karena setiap kita menolong orang lain kita pasti ditolong oleh Allah. Jika makin pahit, makin getir harus makin produktif bagi orang lain. Baik sukses maupun tidak tetap lakukan dimanapun kita berada. Ketika kita sedang berjalan kaki, kemudian ada mobil yang hendak parkir bisa kita beri aba-aba. Ketika kita menyetir mobil ada yang mau menyebrang, dahulukan saja, kita tidak tahu apa yang akan menimpa kita esok hari. Ketika kita sedang mengantri ada orang yang memotong, berhentilah sebentar, dengan mengalah berhenti barang lima menit tetapi membuat banyak orang bahagia.

    Jadi insya Allah kalau hati kita sudah berbenah baik, krisis ini akan lebih membuat hidup kita lurus. Hidup ini tidak akan kemana-mana kecuali menunggu mati. Latihlah supaya kita sadar bahwa kita pasti mati tidak membawa apa-apa. Kita hanya mampir sebentar di dunia ini.

    Alhamdulilahirobil”alamin

     
  • erva kurniawan 7:47 am on 25 June 2019 Permalink | Balas  

    Journey to Islam: Bernard Nababan mantan Pendeta, Ragu pada isi Alkitab 

    Journey to Islam: Bernard Nababan mantan Pendeta, Ragu pada isi Alkitab

    Menjadi seorang pendeta adalah harapan kedua orang tuanya.

    Bermula dari rencana melakukan misi diperkampungan Muslim, berlanjut pada memenuhi tawaran dialog dengan para tokoh masyarakat muslim, namun akhirnya kehendak Allah SWT mengantarkan Bernard Nababan pada Hidayah Islam. Bahkan, ia akhirnya menjadi juru dakwah dalam agama Islam.

    Saya lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, 10 November 1966. Saya anak ke-3 dari tujuh bersaudara. Kedua orang tua memberi saya nama Bernard Nababan. Ayah saya adalah seorang pendeta Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Sumatra Utara. Sedangkan, ibu seorang pemandu lagu-lagu rohani di gereja. Sejak kecil kami mendapat bimbingan dan ajaran-ajaran kristiani. Orang tua saya sangat berharap salah seorang dari kami harus menjadi seorang pendeta. Sayalah salah satu dari harapan mereka.

    Kemudian, saya disekolahkan di lingkungan yang khusus mendidik para calon pendeta, seperti Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Kristen. Lalu berlanjut pada Sekolah Tinggi Teologi (STT) Nomensen, yaitu sekolah untuk calon pendeta di Medan. Di kampus STT ini saya mendapat pendidikan penuh. Saya wajib mengikuti kegiatan seminari. Kemudian, saya diangkat menjadi Evangelist atau penginjil selama tiga tahun enam bulan pada Gereja HKBP Sebagai calon pendeta dan penginjil pada Sekolah Tinggi Teologi, saya bersama beberapa teman wajib mengadakan kegiatan di luar sekolah, seperti KKN (Kulah Kerja Nyata).

    Tahun 1989 saya diutus bersama beberapa teman untuk berkunjung ke suatu wilayah. Tujuan kegiatan ini, selain untuk memberi bantuan sosial kepada masyarakat, khususnya masyarakat muslim, juga untuk menyebarkan ajaran Injil. Dua prioritas inilah yang menjadi tujuan kami berkunjung ke perkampungan muslim. Memang, sebagai penginjil kami diwajiban untuk itu. Sebab, agama kami (Kristen) sangat menaruh perhatian dan mengajarkan rasa kasih terhadap sesamanya.

    Berdialog

    Dalam kegiatan ini saya sangat optimis. Namun, sebelum misi berjalan, saya bersama teman-teman harus berhadapan dulu dengan para pemuka kampung. Mereka menanyakan maksud kedatangan kami. Kami menjawab dengan terus terang. Keterusterangan kami ini oleh mereka (tokoh masyarakat) dijawab dengan ajakan berdialog. Kami diajak ke rumah tokoh masyarakat itu. Di sana kami mulai berdialog seputar kegiatan tersebut. Tokoh masyarakat itu mengakui, tujuan kegiatan kami tersebut sangat baik. Namun, ia mengingatkan agar jangan dimanfaatkan untuk menyebarkan agama. Mereka pada prinsipnya siap dibantu, tapi tidak untuk pindah agama.

    Agama Kristen, masih menurut tokoh masyarakat itu, hanya diutus untuk Bani Israel (orang Israel) bukan untuk warga di sini, Kami hanya diam. Akhirnya, tokoh masyarakat itu mulai membuka beberapa kitab suci agama yang kami miliki, dari berbagai versi. Satu per satu kelemahan Alkitab ia uraikan. la juga membahas buku Dialog Islam-Kristen antara K.H. Baharudin Mudhari di Madura dengan seorang pendeta.

    Dialog antara kami dan tokoh masyarakat tersebut kemudian terhenti setelah terdengar azan magrib. Kemudian, kami kembali ke asrama sebelum kegiatan itu berlangsung sukses. Dialog dengan tokoh masyarakat tersebut terus membekas dalam pikiran saya. Lalu, saya pun membaca buku Dialog Islam Kristen tersebut sampai 12 kali ulang. Lama-kelamaan buku itu menpengaruhi pikiran saya. Saya mulai jarang praktek mengajar selama tiga hari berturut-turut. Akhirnya, saya ditegur oleh pendeta. Pendeta itu rupanya tahu saya berdialog dengan seseorang yang mengerti Alkitab. “Masa’ kamu kalah sama orang yang hanya tahu kelemahan Alkitab. Padahal kamu telah belajar selama 3,5 tahun. Dan kamu juga pernah mengikuti kuliah seminari,” katanya dengan nada menantang dan sinis.

    Kabur dari Asrama

    Sejak peristiwa itu, saya jadi lebih banyak merenungkan kelemahan-kelemahan Alkitab. Benar juga apa yang dikatakan tokoh masyarakat itu tentang kelemahan kitab suci umat Kristen ini. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti menjadi calon pendeta. Saya harus meninggalkan asrama. Dan pada tengah malam, dengan tekad yang bulat saya lari meninggalkan asrama. Saya tak tahu harus ke mana. Jika pulang ke rumah, pasti saya disuruh balik ke asrama, dan tentu akan diinterogasi panjang lebar.

    Kemudian saya pergi naik kendaraan, entah ke mana. Dalam pelarian itu saya berkenalan dengan seorang muslim yang berasal dari Pulau Jawa. Saya terangkan kepergian saya dan posisi saya yang dalam bahaya. Oleh orang itu, saya dibawa ke kota Jember, Jawa Timur. Di sana saya tinggal selama satu tahun. Saya dianggap seperti saudaranya sendiri. Saya bekerja membantu mereka. Kerja apa saja. Dalam pelarian itu, saya sudah tidak lagi menjalankan ajaran agama yang saya anut. Rasanya, saya kehilangan pegangan hidup.

    Selama tinggal di rumah orang muslim tersebut, saya merasa tenteram. Saya sangat kagum padanya. Ia tidak pemah mengajak, apalagi membujuk saya untuk memeluk agamanya. la sangat menghargai kebebasan beragama. Dari sinilah saya mulai tertarik pada ajaran Islam. Saya mulai bertanya tentang Islam kepadanya. Olehnya saya diajak untuk bertanya lebih jauh kepada para ulama. Saya diajak ke rumah seorang pimpinan Pondok Pesantren Rhoudhotul ‘Ulum, yaitu K.H. Khotib Umar.

    Kepada beliau saya utarakan keinginan untuk mengetahui lebih jauh tentang ajaran Islam. Dan, saya jelaskan perihal agama dan kegiatan saya. Tak lupa pula saya jelaskan tentang keraguan saya pada isi Alkitab yang selama ini saya imam sebagai kitab suci, karena terdapat kontradiksi pada ayat-ayatnya. Setelah saya jelaskan kelemahan Alkitab secara panjang lebar, K.H. Khotib Umar tampak sangat terharu. Secara spontan beliau merangkul saya sambil berkata, “Anda adalah orang yang beruntung, karena Allah telah memberi pengetahuan pada Anda, sehingga Anda tahu bahwa Alkitab itu banyak kelemahannya.”

    Setelah itu beliau mengatakan, jika ingin mempelajari agama Islam secara utuh, itu memakan waktu lama. Sebab, ajaran Islam itu sangat luas cakupannya. Tapi yang terpenting, menurut beliau adalah dasar-dasar keimanan agama Islam, yang terangkum dalam rukun iman.

    Masuk Islam

    Dari uraian K.H. Khotib Umar tersebut saya melihat ada perbedaan yang sangat jauh antara agama Islam dan Kristen yang saya anut. Dalam agama Kristen, saya mengenal ada tiga Tuhan (dogma trinitas), yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus. Agama Kristen tidak mempercayai kerasulan Muhammad SAW, Bahkan, mereka menuduhnya tukang kawin. Mereka juga hanya percaya kepada tiga kitab suci, Taurat, Zabur, dan Injil.

    Ajaran Kristen tidak mempercayai adanya siksa kubur, karena mereka berkeyakinan setiap orang Kristen pasti masuk surga. Yang terpenting bagi mereka adalah tentang penyaliban Yesus, yang pada hakekatnya Yesus disalib untuk menebus dosa manusia di dunia.

    Penjelasan K.H. Khotib Umar ini sangat menyentuh hati saya. Penjelasan itu terus saya renungkan. Batin saya berkata, penjelasaan itu sangat cocok dengan hati nurani saya. Lalu, kembali saya bandingkan dengan agama Kristen. Ternyata agama Islam jauh lebih rasional (masuk di akal) daripada agama Kristen yang selama ini saya anut. Oleh karena itu saya berminat untuk memeluk agama Islam.

    Keesokan harinya, saya pergi lagi ke rumah KH. Khotib Umar untuk menyatakan niat masuk Islam. Beliau terkejut dengan pernyataan saya yang sangat cepat. Beliau bertanya, “Apakah sudah dipikirkan masak-masak?” “Sudah,” suara saya meyakinkan dan menyatakan diribahwa hati saya sudab mantap.

    Lalu beliau membimbing saya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebelum ikrar saya ucapkan, beliau memberikan penjelasan dan nasehat. Di antaranya, “Sebenarnya saat ini Anda bukan masuk agama Islam, melainkan kembali kepada Islam. Karena dahulu pun Anda dilahirkan dalam keadaan Islam. Lingkunganmulah yang menyesatkan kamu. Jadi, pada hakikatnya Islam adalah fitrah bagi setiap individu manusia. Artinya, keislaman manusia itu adalah sunnatullah, ketentuan Allah. Dan, menjauhi Islam itu merupakan tindakan irrasional. Kembali kepada Islam berarti kembali kepada fitrahnya,” ujar beliau panjang lebar. Saya amat terharu. Tanpa terasa air mata meleleh dari kedua mata saya.

    Sehari setelah berikrar, saya pun dikhitan. Nama saya diganti menjadi Syamsul Arifin Nababan. Saya kemudian mendalami ajaran Islam kepada K.H. Khotib Umar dan menjadi santrinya. Setelah belajar beberapa tahun di pondok pesantren, saya amat rindu pada keluarga. Saya diizinkan pulang. Bahkan, beliau membekali uang Rp 10.000 untuk pulang ke Sumatra Utara.

    Dengan bekal itu saya akhirnya berhasil sampai ke rumah orang tua. Dalam perjalanan, banyak kisah yang menarik yang menunjukkan kekuasaan Allah. Sampai di rumah, ibu, kakak, dan semua adik saya tidak lagi mengenali saya, karena saya mengenakan baju gamis dan bersorban. Lalu, saya terangkan bahwa saya adalah Bernard Nababan yang dulu kabur dari rumah. Saya jelaskan pula agama yang kini saya anut. Ibu saya amat kaget dan shock. Kakak-kakak saya amat marah. Akhirnya saya diusir dari rumah.

    Usiran merekalah yang membuat saya tegar. Saya kemudian pergi ke beberapa kota untuk berdakwah. Alhamdulillah, dakwah-dakwah saya mendapat sambutan dari saudaraudara kaum muslimin. Akhirnya saya terdampar di kota Jakarta. Aktivitas dakwah saya makin berkembang. Untuk mendalami ajaran-ajaran agama, saya pun aktif belajar di Ma’had al-Ulum al-Islamiyah wal abiyah atau UPIA Jakarta.

    ***

    Oleh Maulana Albaz dari Buku “Saya memilih Islam” Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/ oleh Mualaf Online Center (MCOL) http://www.mualaf.com

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 18 June 2019 Permalink | Balas  

    Peristiwa Karbala 

    Peristiwa Karbala

    Pada tahun enam puluh Hijriyah Kholifah Muawiyah meninggal dunia di Syam. Kemudian sesuai dengan wasiatnya maka yang menggantikannya adalah putranya yang bernama Yazid.

    Penunjukan ini tentu mengundang reaksi dari para tokoh, terutama dari keluarga besar Bani Hasyim. Sebab kebiasaan jelek dari Yazid, seperti meminum minuman keras dan lainnya yang jelas jelas melanggar agama, bukan rahasia lagi bagi masyarakat saat itu.

    Tapi karena tangan besi yang dilakukan oleh pemerintah saat itu, maka sangat sedikit dari masyarakat yang berani menentangnya.

    Selanjutnya guna mendapatkan Baiat dari Sayyidina Husin ra yang berada di Madinah, maka Yazid memerintahkan Walid bin Ugbah Kepala daerah Madinah, untuk mendapatkan Baiat dari cucu Rosululloh Saw tesebut.

    Malam harinya Walid bin Ugbah segera mendatangi Sayyidina Husin ra, tapi beliau beralasan bahwa orang seperti dia tidak boleh Baiat sembunyi-sembunyi, tapi harus Baiat dihadapan halayak ramai.

    Kemudian dalam rangka menghindari Baiat kepada Yazid, malam itu juga Sayyidina Husin ra bersama keluarganya secara diam-diam meninggalkan Madinah menuju Mekah. Tepatnya malam minggu tanggal dua puluh delapan Rajab tahun enam puluh Hijriyah.

    Berita sampainya Sayyidina Husin ra dan keluarganya di Mekah tersebar keberbagai daerah .Orang-orang Kufah yang dikenal sebagai Syi’ ahnya Imam Ali kw dan Imam Husin ra begitu mendengar berita tersebut, segera berkirim surat ke Sayyidina Husin ra. Mereka meminta agar Sayyidina Husin ra mau datang ke Kufah untuk di baiat sebagai Kholifah. Dan apabila tidak mau, maka beliau harus bertanggung jawab dihadapan Alloh SWT, atas kedholiman yang terjadi.

    Namun meskipun surat yang dikirim dari Kufah tidak ada henti-hentinya, Sayyidina Husin ra tetap tidak mau pergi ke Kufah.

    Hal mana karena beliau masih ingat penghianatan orang-orang Kufah terhadap ayahnya dan saudaranya. Mereka mengaku sebagai Syi’ahnya Ahlul Bait, tapi kenyataannya mereka justru berkhianat.

    Setelah melalui berbagai surat gagal, maka orang-orang Kufah tersebut mengutus beberapa orang guna menemui Sayyidina Husin ra, meminta pada beliau agar mau datang ke Kufah untuk di Baiat sebagai Kholifah.

    Sebagai orang yang arif lagi bijaksana, walaupun sudah berkali kali di khianati oleh orang-orang yang mengaku sebagai Syi’ahnya Ahlul Bait, beliau akhirnya mengutus Muslim bin Agil (sepupunya) ke Kufah guna membuktikan apa yang sudah mereka sampaikan.

    Sesampainya Muslim bin Agil ra di Kufah, puluhan ribu penduduk Kufah menyambutnya serta membaiatnya sebagai wakil dari Sayyidina Husin ra.

    Muslim bin Agil segera mengirim surat ke Sayyidina Husin ra, memberitahukan mengenai keadaan dan apa yang terjadi di Kufah, serta mengharap agar Sayyidina Husin ra segera berangkat ke Kufah.

    Setelah menerima surat tersebut, Sayyidina Husin ra. segera memutuskan untuk segera berangkat ke Kufah. Kemudian rencana tersebut beliau sampaikan ke famili-familinya serta sahabat-sahabatnya.

    Abdulloh bin Abbas sepupu Imam Ali kw begitu mendengar rencana Sayyidini Husin ra tersebut, segera mendatangi Sayyidina Husin ra dan menasihatinya agar menggagalkan rencananya. Sebab Abdulloh bin Abbas ra tahu benar watak orang-orang Kufah yang selalu mengaku sebagai pecinta Ahlul Bait tersebut.

    Dengan harapan dapat menyelamatkan negara dari orang-orang yang tidak layak memimpin negara, maka Sayyidina Husin ra terpaksa menolak nasehat Abdulloh bin Abbas dan tetap akan berangkat ke Kufah.

    Kemudian pada tanggal sembilan Dhulhijjah (hari Tarwiyah) Sayyidina Husin ra bersama keluarganya dan beberapa orang Anshor meninggalkan Mekah menuju Kufah.

    Namun apa yang terjadi di Kufah ?

    Yazid yang menggantikan ayahnya di Syam, begitu mendengar bahwa orang-orang Kufah sudah memihak dan membaiat Muslim bin Agil ra sebagai wakil dari Sayyidina Husin ra , segera mengangkat Ubaidillah bin Ziyad sebagai Kepala Daerah Kufah yang baru menggantikan Nu’man bin Basyir.

    Berbeda dengan Kepala Daerah yang lama, Ubaidillah bin Ziyad orangnya tegas, kejam, cerdik, dan lihai serta pandai mempengaruhi penduduk Kufah. Sehingga tidak lama kemudian penduduk Kufah sudah berpaling dari Muslim bin Agil ra. Mereka yang menyatakan dirinya sebagai Syi’ahnya Ahlul Bait dan membaiat Muslim bin Agil ra sebagai wakil dari Sayyidina Husin ra itu telah berkhianat. Mereka berubah haluan , mereka terpengaruh oleh bujukan dan rayuan Ubaidillah bin Ziyad dan berbalik menjadi pengikut Yazid.

    Muslim bin Agil ra tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa apa melihat keadaan yang menyedihkan tersebut, bahkan setelah melalui pengejaran, akhirnya Muslim bin Agil ra meninggal dunia (Syahid).

    Sayyidina Husin ra yang sedang diperjalanan bersama rombongannya dari Mekah ditambah orang-orang yang bergabung dengannya diperjalanan, ketika mendengar berita mengenai keadaan di Kufah serta kematian Muslim bin Agil ra, segera berkata kepada rombongannya sbb;

    Hai orang-orang, kita telah dikhianati oleh orang-orang Kufah. Barang siapa akan meninggalkan rombongan, saya persilahkan dan dia tidak bersalah.

    Mendengar kata-kata Sayyidina Husin ra dan mengetahui keadaan di Kufah, maka sebagian rombongannya ada yang meninggalkan rombongan. Tinggal Sayyidina Husin ra dan rombongannya yang datang bersamanya dari Mekah.

    Tidak lama kemudian, Sayyidina Husin ra dan rombongannya dihadang oleh pasukan Ibin Ziyad yang berkekuatan seribu personil dipimpin oleh Al Hur bin Yazid At Tamimi.

    Selanjutnya begitu berhadapan dengan mereka, Sayyidina Husin ra segera berkata; Wahai orang-orang, sebelumnya saya mohon maaf kepada Alloh dan kepada kalian, sebenarnya saya tidak akan datang ketempat kalian terkecuali setelah menerima surat-surat dari kalian dan utusan kalian yang meminta pada saya agar saya mau datang ketempat kalian. Dan sekarang saya sudah datang, apabila kalian dengan senang hati mau menerima kami, maka kami akan masuk kota kalian. Tapi jika kalian tidak senang dengan kedatangan kami, maka kami akan kembali ketempat dari mana kami berangkat.

    Setelah mendengar kata-kata Sayyidina Husin ra mereka menjawab; Kami hanya diperintah untuk membawa kalian ke Ibin Ziyad.

    Mendengar kata-kata tersebut Sayyidina Husin ra segera mengajak rombongannya kembali ke Mekah, tapi dihalangi oleh Al Hur dan anak buahnya.

    Melihat kelakuan mereka tersebut Sayyidina Husin ra bertanya ; Apa maksud kalian?

    Al Hur menjawab; Saya tidak diperintah untuk memerangimu, tapi saya diperintah untuk membawamu kehadapan Ibin Ziyad. Karenanya jangan kemana – mana dulu, sampai aku mengirim surat ke Ibin Ziyad. Dan kamu juga berkirimlah surat ke Yazid dan Ibin Ziyad, semoga Alloh menyelamatkan saya dari urusanmu.

    Tidak berapa lama kemudian, datang Umar bin Saad bersama tentaranya yang berjumlah empat ribu orang. Tepatnya hari itu, jum’at tanggal lima Muharrom tahun enam puluh satu Hijriyah.

    Kemudian Umar bin Saad memberi tahu Sayyidina Husin ra bahwa Ibin Ziyad memerintahkannya, agar melarang Sayyidina Husin ra mengambil air, sampai Sayyidina Husin ra mau membaiat Yazid.

    Selanjutnya oleh karena Sayyidina Husin ra tidak mau Baiat kepada Yazid, maka sejak saat itu Sayyidina Husin ra dan rombongannya dilarang mengambil air.

    Tapi tidak lama kemudian, melihat banyak anak anak yang kehausan dan melihat akibat dari tindakannya tersebut, hati Umar mulai iba, kemudian dia berkirim surat ke Ibin Ziyat meminta Izin.

    Mengapa Umar bin Saad berubah sikapnya agak lunak? Diceritakan bahwa perubahan tersebut diantaranya dikarenakan telah terjadi satu peristiwa yang luar biasa, dimana saat itu Sayyidina Husin ra karena haus, pergi kesungai untuk minum dan mengambil air untuk minumnya kaum wanita dan anak-anak. Tapi beliau dihalangi oleh perajurit Umar bin Saad. Saat itu ada seorang yang bernama Abdulloh bin Abi Hushoin berkata kepadanya: Hai Husin, tidakah engkau melihat air yang jernih itu?. Tapi demi Alloh aku bersumpah bahwa engkau tidak akan meminumnya, meskipun satu tetes., hingga engkau mati kehausan.

    Mendengar dan melihat sikap orang yang benar-benar ingin melihat dia mati kehausan itu, Sayyidina Husin ra segera meninggalkan tempat tersebut dalam keadaan haus yang luar biasa, sambil berdoa memohon kehadirat Alloh Swt agar orang tersebut merasakan dahaga yang tidak bisa dihilangkan.

    Tidak lama setelah Sayyidina Husin ra memanjatkan doanya, Abdullah bin Abi Hushoin merasa haus yang luar biasa. Sehingga dia tidak sanggup menahan dahaganya. Iapun segera minum, namun meskipun dia sudah minum banyak, tapi rasa hausnya masih tetap. Karenanya dia terus minum, sampai perutnya yang besar itu terasa kembung.

    Tak tahan merasa dahaga tapi perutnya terasa penuh air, maka diapun akhirnya tuntah tuntah. Namun kejadian ini tidak berhenti, karena rasa haus yang dia rasakan tidak berhenti. Selanjutnya setiap dia minum, dia selalu tuntah, karena perutnya yang sudah kembung itu tidak bisa lagi menerima air.

    Akhirnya dalam keadaan lemas dan tidak berdaya dia menghembuskan nafas yang terakhir sambil memegang lehernya

    Kejadian tersebut disaksikan oleh beberapa temannya sehingga menjadi pembicaraan anak buah Umar bin Saad. Mungkin kejadian ini menambah alasan, mengapa sikap Umar bin Saad berubah agak lunak dan meminta izin Ke Ibin Ziyad.

    Ternyata Ibin Ziyad setelah membaca surat dari Umar bin Saad tersebut justru marah. Kemudian dia Segera mengirim Syamer bin Dhil Jausyan membawa surat untuk Umar bin Saad yang isinya menolak permintaan Umar dan memberi tahu bahwa dia dalam menghadapi Sayyidina Husin ra, hanya diberi dua pilihan yaitu antara Baiat kepada Yazid atau perang.

    Selanjutnya oleh karena Sayyidina Husin ra tidak mau Baiat kepada Yazid, maka pagi harinya Umar bin Saad segera mempersiapkan tentaranya guna menyerang Sayyidina Husin ra.

    Kemudian melihat musuh sudah bersiap-siap akan menyerang, maka Sayidina Husin ra segera mempersiapkan pasukannya guna menghadapi Umar bin Saad dan pasukannya. Sedang kaum wanita disuruh tetap tinggal didalam kemah bersama putranya yang bernama Ali Al Aushot yang sedang sakit.

    Melihat musuh yang begitu banyak jumlahnya, diperkirakan mencapai lima ribu orang, sedang beliau dan orang-orangnya hanya berjumlah tujuh puluh dua orang, maka beliau hanya bisa pasrah kepada Alloh Swt. Namun beliau tidak takut dan tidak gentar serta tidak mengenal Tagiyah dalam menghadapi musuh-musuhnya yang begitu banyak.

    Beliau menghadapi mereka dalam keadaan puasa, karena hari itu tepat tanggal sepuluh Muharrom. Dimana Rosululloh Saw berpuasa pada hari itu dan memerintahkan para Sahabat agar berpuasa. Bahkan agar berbeda dengan orang-orang Yahudi yang juga berpuasa pada hari itu, maka Rosululloh Saw juga memerintahkan agar Umatnya berpuasa pada tanggal sembilan Muharrom, yang kemudian dikenal dengan puasa Tasua dan Asyuro.

    Tetesan air mata

    Ada satu kejadian yang luar biasa, yang perlu kami sampaikan disini, dan sekaligus sebagai pelajaran bagi kita.

    Pagi sepuluh Muharrom itu, disaat Sayyidina Husin ra sedang memperhatikan musuh yang ada dihadapannya dan akan menyerangnya, tiba-tiba air matanya menetes. Hal ini menunjukkan ada sesuatu yang membuatnya menangis.

    Melihat kejadian tersebut, Siti Zainab ra yang ada didekatnya segera bertanya ; Mengapa air matamu sampai menetes wahai saudaraku, apakah engkau takut?. Padahal engkau akan bertemu dengan saudaramu, ibumu, ayahmu dan datukmu Rosululloh Saw

    Sayyidina Husin ra segera menjawab: Bukan karena itu air mataku menetes, tapi aku melihat orang-orang yang akan membunuhku itu masuk Neraka. Maka aku merasa kasihan pada mereka dan aku memohon kepada Alloh Swt agar mereka dimasukkan Surga.

    Sungguh kejadian ini membuktikan kebesaran jiwa serta kemuliaan sifat dan akhlaq Sayyidina Husin ra. Sesuatu yang telah diwarisinya dari datuknya baginda Rosululloh Saw. Seorang yang telah menyandang gelar, sebagai Rahmatan Lil Alamin.

    Alloh Swt telah berfirman: Dan kami tidak mengutusmu terkecuali membawa Rahmat bagi seluruh Alam.

    Bukan hanya anak buahnya atau pecintanya yang didoakan masuk Surga, tapi sampai musuh musuhnya dan orang-0rang yang akan membunuhnya , beliau doakan masuk Surga.

    Beliau Sayyidina Husin ra menginginkan kehidupan mereka, tapi mereka justru menginginkan kematiannya.

    Demikian Sayyidina Husin ra, seorang Ahlul Bait yang berhati mulia, pemaaf dan tidak sedikitpun mempunyai rasa dendam pada orang lain. Baik terhadap musuh-musuhnya atau orang-orang yang akan membunuhnya, apalagi terhadap orang-orang yang telah berjasa terhadap Rosululloh Saw dan islam .

    Kejadian diatas sebagai pelajaran bagi kita, agar kita tidak cepat-cepat mengumpat atau mencacimaki orang-orang yang yang berbuat jelek kepada kita dan Ahlul Bait, tapi kita doakan mereka, semoga mereka mendapat hidayah dari Alloh Swt.

    Selanjutnya tidak lama kemudian kedua pasukan sudah berhadapan. Pada awalnya difihak Sayyidina Husin ra, barisan depan ditempati oleh putra-putra Sayyidina Husin ra dan putra-putra saudaranya. Namun kemudian orang-orang Anshar yang bersamanya sejak awal, memerotes dan berkata kepadanya; Wahai putra dari putri Rosululloh Saw, kita sudah ada kesepakatan, bahwa dalam setiap pertempuran kami orang-orang Anshor akan selalu ditempatkan dibarisan terdepan. Tapi mengapa sekarang kami ditempatkan dibarisan kedua?.

    Kemudian Sayyidina Husin ra menjawab; Benar kami ada perjanjian dengan kalian, tapi kali ini biarlah keluargaku yang berada digaris depan, dan kalian cukup dibarisan kedua saja.

    Mendengar jawaban Sayyidina Husin ra tersebut, orang-orang Anshor itu berkata; Jadi kami diletakkan dibarisan kedua itu agar apabila kalian gugur, maka kami akan dibiarkan oleh musuh. Sebab yang dikehendaki oleh musuh adalah kalian. Dan selanjutnya apabila kami pulang, maka penduduk Madinah akan berkata; Kalian senang karena pulang dalam keadaan selamat, sedang pemimpin (Sayid) kita, kalian tinggalkan dalam keadaan gugur, dibunuh oleh musuh-musuh kita.

    Demi Alloh kami akan gugur bersama kalian, dalam mempertahankan kebenaran.

    Akhirnya mereka diijinkan untuk menempati barisan terdepan.

    Tidak lama kemudian terjadilah pertempuran, dan oleh karena pertempuran ini tidak seimbang, meskipun dari fihak Sayyidina Husin ra sudah menunjukan perlawanan yang luar biasa, maka dari fihak Sayyidina Husin ra korban mulai berjatuhan. Satu demi satu sahabatnya dan keluarganya gugur dan akhirnya Sayyidina Husin ra sendiri juga gugur Syahid.

    Berbagai cara mereka lakukan saat menyerang dan membunuh Sayyidina Husin ra, tapi kami selaku penulis buku ini tidak dapat menguraikan kebiadaban tersebut. Dan Kami hanya bisa berucap, Innaa Lillaah Wa Innaa Ilaihi Roojiuun.

    Sebenarnya Sayyidina Husin ra sudah merasa bahwa dirinya akan meninggal pada hari itu , sebab pada pagi hari itu, beliau bermimpi bertemu dengan datuknya, dimana Rosululloh Saw saat itu berkata kepadanya; Malam ini engkau berbuka bersama kami.

    Karenanya disaat saudarinya meminta kepadanya agar beliau mau membatalkan puasanya sebelum berperang, beliau menjawab: Saya akan berbuka bersama datukku.

    Dengan demikian hari itu atau hari Asyuro adalah hari kemenangan dan kegembiraan bagi Sayidina Husin ra, sebab pada hari itu beliau bertemu dengan Rosululloh saw, bertemu dengan ayahnya Imam Ali kw dan dengan ibunya Fathimah Az Zahra ra serta dengan saudaranya Sayyidina Hasan ra. Sehingga hari itu merupakan hari yang sudah lama dinanti-nantikannya.

    Karena kebenaranlah beliau berkorban, dan karena berkorban itu beliau mendapat kedudukan yang sangat tinggi disisi Alloh Swt sebagai Syahid.

    Satu-satunya anak lelaki dari Sayyidina Husin ra yang masih hidup dan selamat dari kekejaman orang orang Kufah atau orang-orang yang pernah mengaku sebagai Syi’ahnya Ahlul Bait adalah Sayyidina Ali Zainal Abidin atau Ali Al Aushot ra. Beliau selamat karena saat itu beliau sedang sakit dan berada didalam kemah bersama kaum wanita.

    Kemudian setelah peperangan selesai, semua keluarga Sayyidina Husin ra yang masih hidup , yang terdiri dari orang orang perempuan dan Sayyidina Ali Zainal Abidin ra ditawan dan dibawa ke Ibin Ziyad di Kufah. Tidak ketinggalan kepala Sayyidina Husin ra dan kepala kepala Sahabatnya juga dibawa kehadapan Ibin Ziyad . Jarak antara Karbala dengan Kufah kurang lebih dua puluh lima Mil.

    Selanjutnya atas perintah Ibin Ziyad, kepala kepala tersebut diarak keliling kota..

    Sayyidina Ali Zainal Abidin ra sendiri hampir dibunuh dihadapan Ibin Ziyad andaikata Sayyidah Zainab ra (saudari Imam Husin ra) tidak melarang mereka, sambil merangkulnya.

    Kemudian para tawanan dan kepala Sayyidina Husin ra dibawa dari Kufah ketempat Yazid di Damaskus (Syam). Pada awalnya Yazid yang sebelumnya senang dengan tindakan Ibnu Ziyad tersebut, begitu menyaksikan apa yang ada dihadapannya mulai menyesal. Terutama setelah melihat reaksi penduduk Damaskus yang tidak senang melihat apa yang terjadi. Tapi karena tujuannya untuk politik, yaitu mempertahankan kekuasaannya, maka selanjutnya kepala Sayyidina Husin ra diarak keberbagai daerah.

    Namun sesampainya arak-arakan tersebut dikota Asgolan (Palestina), maka atas perintah Kepala Daerah Asgolan yang dikenal berbudi baik, kepala Sayyidina Husin ra segera dimakamkan.

    Menurut ahli sejarah keberadaan kepala Sayyidina Husin ra di Asgolan berlangsung hingga tahun lima ratus empat puluh delapan hijriyah.

    Selanjutnya, disaat Asgolan dibawah kekuasaan Fatimiyyun di Mesir. Pada waktu itu Kepala Daerah Asgolan mengirim surat ke Mesir memberi tahu kepada Kholifah, bahwa orang orang barat berencana menguasai Asgolan (Palestina). Saya takut jika Asgolan sampai dikuasai mereka, maka apa yang ada di Asgolan akan dibawa ketempat mereka. Dan oleh karena kepala Sayyidina Husin ra berada di Asgolan, maka saya khawatir mereka juga akan mengambilnya dan dibawa kenegara mereka. Untuk itu kirimlah orang yang anda percayai untuk mengurus dan membawa kepala tersebut.

    Setelah menerima surat tersebut, pemerintahan Fatimiyyun di mesir segera mengirim pasukan ke Asgolan dengan dibekali uang yang cukup guna keperluan pemindahan kepala Sayyidina Husin.

    Ssesampainya kembali mereka di Mesir, maka penduduk Mesir dan pemerintahan saat itu menyambut dengan khidmat kedatangan kepala Sayyidina Husin ra tersebut. Selanjutnya dimandikan, dan yang mengherankan saat itu darahnya masih segar belum kering serta mengeluarkan bau yang sangat harum.

    Setelah selesai dimandikan, kemudian kepala Sayyidina Husin ra dimakamkan disatu tempat di Cairo Mesir, yang sekarang dikenal dengan Masjid Al Husin dan selalu diziarahi oleh kaum Muslimin yang berdatangan dari seluruh penjuru dunia.

    Demikian akhir dari perjalanan kepala Sayyidina Husin ra

    Adapun Sayyidina Ali Zainal Abidin bin Husin ra dan saudari saudarinya serta bibinya yaitu Siti Zainab ra, maka setelah mereka dibawa kehadapan Yazid, dimana sikap Yazid yang sebelumnya tidak sopan berubah baik dan menghormati mereka, maka mereka segera meninggalkan Damaskus (syam) menuju Madinah.

    Kedatangan mereka disambut oleh penduduk Madinah. Mereka merasa sedih dan ikut berduka cita atas wafatnya Sayyidina Husin ra dan keluarganya di Karbala.

    Yang aneh, penduduk Kufah yang ikut bergabung dengan Ibin Ziyad dan ikut bersekongkel dalam pembunuhan terhadap Sayyidina Husin ra tersebut akhirnya menyesali perbuatan mereka. Mereka banyak yang menangis menyesal, karena perbutan mereka Sayyidina Husin ra dan keluarganya menjadi korban dan meninggal di Karbala.

    Seorang Ahli sejarah yang dikenal dengan sebutan Al Ya’qubi (Ulama Syi’ah) menerangkan dalam buku sejarah yang dikarangnya : Bahwa ketika Sayyidina Ali Zainal Abidin ra memasuki Kota Kufah, beliau melihat orang-orang yang mengaku sebagai Syi’ahnya ayahnya menangis. Kemudian beliau berkata;

    Kalian membunuhnya tapi kalian menangisinya. Siapa yang membunuhnya jika bukan kalian, kalianlah yang membunuhnya.

    Demikian kesaksian Sayyidina Ali Zainal Abidin ra atas menangisnya orang-orang Syi’ah yang selalu mengaku sebagai pecinta Ahlul Bait.

    Sejarah mencatat, bahwa orang-orang yang telah membunuh Sayyidina Husin ra itu akhirnya menyesali perbuatan mereka, dan dibawah pimpinan Sulaiman bin Sord mereka segera membentuk persatuan yang mereka namakan Attawwaabuun. Sebagai wadah bagi orang-orang Syi’ah yang telah berkhianat terhadap Sayyidina Husin ra dan keluarganya.

    Itulah sebabnya sampai sekarang orang-orang Syi’ah jika memperingati hari terbunuhnya Sayyidina Husin ra atau hari Asyuro selalu dengan menangis. Bahkan ada yang memukuli badannya sampai berdarah, sebagai penebusan dosa atas perbuatan yang mereka lakukan terhadap Ahlul Bait di Karbala.

    Ulama-ulama kita menilai cara mereka tersebut, merupakan satu perbutan Bid’ah (Dholalah), karena sangat menyimpang dari ajaran Rosululloh Saw.

    Rosululloh Saw pernah bersabda :

    Bukan dari golonganku, orang-orang yang suka memukuli wajahnya dan merobek kantongnya (pakaiannya) serta menyerukan kepada perbuatan jahiliyah.

    Dalam sabdanya yang lain, beliau melarang orang-orang menangisi orang-orang yang sudah mati, seperti yang dilakukan orang-orang syi’ah sekarang, mereka berkumpul dan menangis bersama-sama, dengan berteriak-teriak, sebentar memuji dan sebentar melaknat serta memukuli badannya.

    Selanjutnya guna menguatkan cara mereka tersebut, mereka membuat Hadist-Hadist palsu dengan mengatas namakan Ahlul Bait. diantaranya sebagai berikut:

    1. Barang siapa menangis atau menangis-tangiskan dirinya atas kematian Husin , maka Alloh Swt akan mengampuni semua dosa dosanya, baik yang sudah dilakukan maupun yang akan dilakukan.
    2. Barang siapa menangis atau menangis-tangiskan dirinya atas kematian Husin, maka wajiblah (pastilah) dirinya mendapat surga.

    Demikian jaminan dari Ulama-Ulama Syi’ah, cukup menangis atas kematian Sayyidina Husin ra pasti masuk Surga.

    Disamping riwayat-riwayat diatas, masih banyak lagi riwayat-riwayat palsu yang mereka buat, tidak kurang dari 458 (empat ratus lima puluh delapan) riwayat, mengenai ziarah kemakam Imam-imam Syi’ah, bahkan dari jumlah tersebut 338 (tiga ratus tiga puluh delapan) khusus mengenai kebesaran dan keutamaan serta pahala besar bagi peziarah kemakam Imam Husin ra atau ke Karbala. Sebagai contoh :

    1. Barang siapa ziarah kemakam Imam Husin sekali, maka pahalanya sama dengan haji sebanyak 20 kali.
    2. Barang siapa ziarah kemakam Imam Husin di Karbala pada hari arafah, maka pahalanya sama dengan haji 1.000.000 kali bersama Imam Mahdi, disamaping mendapatkan pahalanya memerdekakan 1000 (seribu) budak dan pahalanya bersodaqoh 1000 ekor kuda.
    3. Barang siapa ziarah ke makam Imam Husin pada Nisfu Sya’ban maka sama dengan ziarah Allah di ‘Arasy-Nya.
    4. Barang siapa ziarah kemakam Imam Husin diKarbala pada hari Asyura, maka akan mendapat pahala dari Allah sebanyak pahalanya orang haji 2000 kali dan diberi pahalanya orang umroh sebanyak 2000 kali dan diberi pahalanya orang yang berperang bersama Rasululllah saw 2000 kali.
    5. Andaikata saya katakan mengenai pahalanya ziarah ke makam Husin niscaya kalian tinggalkan ibadah haji dan tidak seorangpun yang akan mengerjakan haji.

    ItuIah diantara hadist-hadist palsu yang bersumber dari kitab Syi’ah “ WASAAIL ASY-SYI’AH” oleh Al Khurrul Amily (ulama Syi’ah).

    Sebenarnya setiap Muslim akan merasa sedih dan berduka, apabila mendengar atau membaca sejarah terbunuhnya Sayyidina Husin ra dan keluarganya di Karbala. Tetapi juga dapat kita ketahui, bagaimana ketabahan beliau dalam menghadapi musuh-musuhnya yang begitu banyak. Beliau tidak takut dan tidak gentar serta tidak mengenal Tagiyah. Karena kebenaranlah beliau berkorban, dan karena berkorban itu beliau mendapat kedudukan yang sangat tinggi sebagai Syahid.

    Demikian Peristiwa Karbala yang oleh Dunia Islam dikenal sebagai : PENGHIANATAN SYI’AH TERHADAP AHLUL BAIT

     

    Kiriman Sahabat: Al Pacitan

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 17 June 2019 Permalink | Balas  

    Teguh Saat Menghadapi Kematian. 

    Teguh Saat Menghadapi Kematian.

    Orang-orang kafir dan ahli maksiat tidak akan mendapatkan keteguhan pada saat yang paling kritis, sehingga mereka tidak dapat mengucapkan kalimat syahadat saat kematiannya, hal tersebut pertanda Suu’ul khotimah (akhir kehidupan yang buruk), sebagaimana ada kisah bahwa seseorang yang sedang menghadapi sakratul maut dikatakan kepadanya : Bacalah Laa ilaaha illallah, akan tetapi kepalanya digelengkan kekiri dan kekanan sebagai tanda penolakan darinya.

    Ada juga yang lain saat sakratul maut berucap: ‘Ini potongannya bagus, yang ini harganya murah”, ada juga yang menyebut-nyebut bidak-bidak catur, atau ada juga yang melantunkan bait-bait lagu atau menyebut-nyebut kekasihnya.

    Hal tersebut terjadi karena semua itulah yang menyita perhatiannya semasa hidupnya. Bahkan dikisahkan bahwa diantara mereka ada yang bermuka hitam dan berbau busuk dan membelakangi kiblat saat ruh mereka keluar. La haula wala quwwata illah billah.

    Adapun orang baik dan pengikut sunnah, maka Allah akan memberikan keteguhan pada mereka saat-saat kematiannya sehingga mereka dapat mengucapkan syahadatain. Dan wajah mereka tampak berseri-seri serta berbau harum dan menampakkan kegembiraan saat ruhnya keluar.

    Terdapat sebuah contoh bagi orang yang Allah berikan keteguhan saat menghadapi kematiannya. Dia adalah Abu Zur’ah Arrozi, salah seorang pemimpin dari ulama hadits. Berikut uraian ceritanya:

    Berkata Abu Ja’far Muhammad bin Ali, pencatat Abu Zur’ah: “Kami mendatangi Abu Zur’ah di Ma’ Syahran (sebuah nama tempat) saat dia menghadapi sakratul maut, sementara disisinya terdapat Abu Hatim, Ibnu Warih dan Munzir bin Syazan serta yang lainnya. Lalu mereka menyebut-nyebut hadits tentang talqin :

    “Talqinlah (tuntunlan) orang yang sedang menghadapi kematiannya dengan bacaan Laa ilaaha illallah “

    Akan tetapi mereka agak sungkan untuk mentalqinkan Abu Zur’ah. Akhirnya mereka sepakat untuk meriwayatkan hadits tersebut. Maka berkatalah Ibnu Warih: “ telah meriwayatkan kepada kami Abu ‘Ashim, dari Abdul Hamid bin Ja’far dari Shalih’. dan tatkala menyebut Ibnu Abi’.., dia tidak dapat meneruskannya-, maka berkatalah Abu Hatim: “telah meriwayatkan kepada kami Bundaar dari Abu ‘Ashim dari Abdul Hamid bin Ja’far dari Shalih, kemudian dia tidak dapat meneruskannya juga, sementara yang lainnya terdiam saja, maka berkatalah Abu Zur’ah yang sedang dalam sakaratul maut seraya membuka matanya, : Telah meriwayatkan kepada kami Bundaar, dari Abu ‘Ashim, dari Abdul Hamid, dari Shalih Ibnu Abi Uraib dari Katsir bin Murroh dari Mu’az bin Jabal dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Siapa yang akhir perkataannya La ilaaha illallah, maka dia akan masuk syurga’ setelah itu ruhnya keluar dari dirinya. Semoga Allah merahmatinya.

    Terhadap orang seperti merekalah Allah ta’ala berfirman:

    “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) : “Jangannlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (Fushshilat : 30)

    ***

    Ya Allah jadikan kami termasuk diantara mereka, kami mohon kepada-Mu keteguhan dalam setiap urusan dan tekad untuk mendapatkan petunjuk.

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 16 June 2019 Permalink | Balas  

    Taubat 

    Taubat

    Oleh: Syaikh Ibn Utsaimin

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu, Taubat adalah kembali dari bermaksiat kepada Allah menuju ketaatan kepadaNya. Taubat itu disukai oleh Allah -subhanahu wata’ala-, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al-Baqarah: 222).

    Taubat itu wajib atas setiap mukmin, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (At-Tahrim: 8).

    Taubat itu salah satu faktor keberuntungan, “Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur: 31).

    Keberuntungan ialah mendapatkan apa yang dicarinya dan selamat dari apa yang dikhawatirkannya.

    Dengan taubat yang semurni-murninya Allah akan menghapuskan dosa-dosa meskipun besar dan meskipun banyak, “Katakanlah, ‘Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Az-Zumar: 53).

    Jangan berputus asa, wahai saudaraku yang berdosa, dari rahmat Tuhanmu. Sebab pintu taubat masih terbuka hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya. Nabi -shollallaahu’alaihi wasallam- bersabda,

    “Allah membentangkan tanganNya pada malam hari agar pelaku dosa pada siang hari bertaubat, dan membentangkan tanganNya pada siang hari agar pelaku dosa pada malam hari bertaubat hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya.” (HR. Muslim dalam at-Taubah, no. 2759).

    Betapa banyak orang yang bertaubat dari dosa-dosa yang banyak dan besar, lalu Allah menerima taubatnya. Allah -subhanahu wata’ala- berfirman,

    “Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membu-nuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, ber-iman dan mengerjakan amal shalih; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Furqan: 68-70).

    Taubat yang murni ialah taubat yang terhimpun padanya lima syarat:

    Pertama, Ikhlas karena Allah, dengan meniatkan taubat itu karena mengharapkan wajah Allah dan pahalanya serta selamat dari adzabnya.

    Kedua, menyesal atas perbuatan maksiat itu, dengan bersedih karena melakukannya dan berangan-angan bahwa dia tidak pernah melakukannya.

    Ketiga, meninggalkan kemaksiatan dengan segera. Jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak Allah -subhanahu wata’ala-, maka ia meninggalkannya, jika itu berupa perbuatan haram; dan ia segera mengerjakannya, jika kemaksiatan tersebut adalah meninggalkan kewajiban. Jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak makhluk, maka ia segera membebaskan diri darinya, baik dengan mengembalikannya kepada yang berhak maupun meminta maaf kepadanya.

    Keempat, bertekad untuk tidak kembali kepada kemaksiatan tersebut di masa yang akan datang.

    Kelima, taubat tersebut dilakukan sebelum habis masa penerimaannya, baik ketika ajal datang maupun ketika matahari terbit dari tempat terbenamnya. Allah -subhanahu wata’ala- berfirman,

    “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang’.” (An-Nisa’: 18).

    Nabi -shollallaahu’alaihi wasallam- bersabda,

    “Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya, maka Allah menerima taubatnya.” (HR. Muslim dalam adz-Dzikr wa ad-Du’a’, no. 2703)

    Ya Allah, berilah kami taufik untuk bertaubat semurni-murninya dan terimalah amalan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

    Sumber:

    Risalah fi Shifati Shalatin Nabi a, hal. 44-45, Syaikh Ibn Utsaimin.

    Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 15 June 2019 Permalink | Balas  

    Mengingat nikmat surga dan azab neraka serta mengingat mati. 

    Mengingat nikmat surga dan azab neraka serta mengingat mati.

    Surga adalah tempat kegembiraan dan pelipur lara serta terminal dari perjalanan seorang mu’min, dan jiwa secara fitrah tidak akan bersedia untuk berkorban, beramal dan teguh pendirian kecuali jika dia mengetahui akan adanya balasan yang akan meringankan segala kesulitan serta memudahkan jalan yang penuh dengan kesulitan dan rintangan.

    Siapa yang mengetahui akan adanya imbalan ini tentu akan merasakannya ringannya tugas yang berat, sebab dia mengetahui jika dirinya tidak teguh maka dia akan kehilangan syurga yang luasnya sebesar langit dan bumi, sementara itu disisi lain jiwa manusia membutuhkan sesuatu yang dapat mengangkatnya dari unsur bumi ke alam yang tinggi.

    Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjadikan mengingat syurga sebagai sarana untuk memperkokoh keteguhan para sahabatnya, dalam hadits hasan shahih, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menemui Yasir, Ammar dan Ummu Ammar yang sedang disiksa di jalan Allah Subhanahu wata’ala, maka beliau Bersabda kepada mereka:

    “Sabarlah wahai keluarga Yasir, sabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya janji untuk kalian adalah syurga” [Riwayat Hakim 3/383, haditsnya Hasan Shahih, lihat takhrijnya dalam Fiqhusshirah tahqiq Albani hal 103

    Demikian juga halnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengucapkan kepada orang-orang Anshor:

    “Sesungguhnya kalian setelahku akan menemukan sifat-sifat egoisme, maka bersabarlah kalian sampai kalian menemukanku di Haudh (telaga/hari kiamat)” [Muttafaq Alaih]

    Begitu juga dengan mempelajari dua kelompok (yang bahagia dan celaka) dialam kubur, dalam Mahsyar, Hisab, Mizan, Shiroth, dan semua tempat di akhirat.

    Demikian juga halnya dengan mengingat mati, akan melindungi seorang muslim dari kejatuhan, dan menahannya manakala berhadapan dengan larangan-larangan Allah sehingga dia tidak melampauinya. Karena jika seseorang mengetahui bahwa kematian lebih dekat kepadanya dari tali sendalnya, dan waktunya mungkin tinggal beberapa saat saja, dia tidak akan membiarkan dirinya tergelincir atau melakukan perbuatan yang menyimpang. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Perbanyaklah kalian mengingat sesuatu yang akan menghancurkan segala kelezatan (kematian)” [Riwayat Turmuzi, 2/50 dan di shahihkan dalam Irwa’ul Ghalil, 3/145]

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 14 June 2019 Permalink | Balas  

    Riwayat Tahun Hijriah. 

    Riwayat Tahun Hijriah.

    Tahun Hijriah adalah sistim penanggalan Islam yang didasarkan atas peredaran bulan [qomariyah]. Maka disebut juga Tahun Qomariyah. Penamaan yang lebih populer adalah ‘Tahun Hijriah’. Karena awal tarikh hijriah dihitung dari hijrahnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, dari Mekah ke Madinah.

    Sedangkan sistim penanggalan yang didasarkan pada waktu perputaran bumi mengelilingi matahari disebut sistim penanggalan Syamsiah atau disebut juga kelender Masehi. Karena didasarkan pada awal kelahiran Isa Almasih.

    Hijrah berasal dari kata yang artinya : memalingkan muka dari seseorang dan tidak memperdulikan lagi. Seorang muslim yang terpaksa meninggalkan kampung halaman atau tanah airnya karena agama disebut Muhajir. Yang dianggap hari hijrah ialah hari tanggal 8 Rabi’ul Awwal – 20 September 622M. Penetapan tahun Hijriah dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Tepatnya pada tahun ke-empat ia berkuasa, yakni hari Kamis, 8 Rabi’ul Awwal 17 H.

    Tarikh Islam mulai dihitung dari tanggal 1 Muharram, yaitu 15 Juli 622 M. Menurut perhitungan, tarikh islam kira-kira 11 hari lebih singkat dari tahun menurut perhitungan peredaran matahari. Sedikit informasi untuk menghitung bagaimana tahun hijriah (H) bertepatan atau sebaliknya dengan tahun masehi (M) maka dapat dipakai rumus M = 32/33 ( H+622 ) atau sebaliknya H = 33/32 (M-622).

    Sebelum penetapan tahun Hijriah, dari masa ke masa, orang Arab menandai tahun berdasarkan peristiwa-peristiwa penting. Seperti penamaan ‘Tahun Azan’ sebagai tahun pertama, karena pada saat itulah di syari’atkan azan. Atau penamaan ‘Tahun Wada’ yang artinya ‘perpisahan’ sebagai tahun kesepuluh. Sebab pada masa itulah, Nabi melaksanakan ‘haji wada’ yang merupakan haji terakhir sebagai perpisahan dengan kaum muslimin. Ketika Rasulullah lahir, tahunnya dinamakan Tahun Gajah, karena pada tahun tersebut bersamaan dengan terjadinya serangan tentara bergajah yang hendak menurunkan Ka’bah.

    Perhitungan tahun kamariah sendiri sudah dikenal jauh sebelum Islam. Satu tahun kamariah lamanya 354 hari, 8 jam, 47 menit dan 46 detik. Terdiri dari 12 bulan, masing-masing lamanya 29 hari, 12 jam, 44 menit dan 3 detik. Perhitungan waktu berdasarkan matahari dan bulan disebut dalam Al Qur’an [ QS Yuunus; 10:5]

    “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia tentukan perjalanannya, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan hisab. Allah menjadikan tidak lain kecuali dengan benar……………….”

    Tahun Hijriah terdiri dari 12 [dua belas] bulan dengan jumlah hari 30 dan 29 yang silih berganti setiap bulan. Yakni : Muharram, Shafar, Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awwal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqaidah, Dzulhijjah. Penetapan bulan sebanyak 12 ini, sesuai dengan firman Allah SWT [At Taubah; 9:36]

    “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan; dalam ketetapan Allah, sejak hari Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya empat bulan yang dihormati [ Muharram, Rajab, Dzulqaidah dan Dzulhijjah]. Demikian itulah ketetapan agama yang lurus, ……………. ”

    ***

    Kiriman Sahabat Meilany

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 13 June 2019 Permalink | Balas  

    Teguh saat menghadapi ujian 

    Teguh saat menghadapi ujian

    Goyahnya pendirian yang sering menimpa hati. Diantara sebabnya adalah karena mendapatkan ujian, hati yang menghadapi cobaan kesenangan atau kesulitan akan mudah goyah kecuali orang-orang yang memiliki bashirah yang telah menyiram hatinya dengan keimanan.

    Diantara ujian-ujian tersebut adalah:

    Fitnah Harta:

    “Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh l Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran) “ (At-Taubah : 75-76)

    Fitnah Kedudukan.

    “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaann-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi : 28)

    Dan tentang kedua fitnah yang telah disebutkan di muka, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam Bersabda:

    “Dua srigala kelaparan yang dilepas ditengah domba tidak lebih membahayakan dari orang yang mengejar-ngejar harta dan kemuliaan atas agamanya” [Riwayat Imam Ahmad dalam Musnad 3/460, dan terdapat dalam Shahih Al-Jami’ 5496]

    Maksudnya adalah bahwa orang yang rakus mengejar harta dan kedudukan lebih besar bahayanya terhadap agamanya ketimbang (bahaya) dua ekor serigala kelaparan yang dilepas di hadapan domba.

    Fitnah Istri:

    “Sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka “ (At-Taghabun ; 14)

    Fitnah Anak :

    Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Anak merupakan (sebab yang mendatangkan) ketakutan, kebakhilan dan kesedihan” [Riwayat Abu Ya’la 2/305, dan terdapat riwayat-riwayat lain yang serupa, terdapat dalam Shahih Al-Jami’ 7037]

    Fitnah Intimadasi, Tekanan dan Kezholiman.

    Contoh yang paling bagus untuk hal ini adalah sebagaimana yang terdapat dalam Firman Allah Ta’ala:

    “Binasalah dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar ketika mereka duduk di sekitarnya Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu’min itu melainkan karena orang-orann mu’min itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu” (Al-Buruj : 4-9)

    Imam Bukhori meriwayatkan dari Khabbab Radhiallahu’anhu, dia berkata : “Kami mengadu kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam saat dia sedang bersandar dengan burdahnya disisi Ka’bah, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Orang-orang sebelum kalian ada yang dibawa dan dibuatkan galian untuknya kemudian dikuburkan didalamnya, ada juga yang dibawakan gergaji kemudian diletakkan diatas kepalanya hingga dirinya terbelah dua, ada juga yang disisir dengan sisir besi hingga daging dan tulangnya, semua itu tidak menghalangi mereka dari agama mereka “ [Riwayat Bukhori, Lihat Fathul Bari 12/215]

    Fitnah Dajjal.

    Ini merupakan fitnah terbesar dalam kehidupan:

    “Wahai manusia, tidak ada fitnah yang lebih besar diatas muka bumi ini sejak diciptakannya Adam selain dari fitnah Dajjal……Wahai hamba Allah, wahai manusia : Teguhkanlah diri kalian, sungguh aku akan menyebutkan ciri-cirinya dan belum ada seorang Nabipun yang menyebutkan ciri-cirinya “ [Riwayat Ibnu Majah 2/1359, lihat Shahih Al-Jami’ 7752]

    Berkaitan dengan fase keteguhan hati dan penyimpangannya dihadapan fitnah ini, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Fitnah itu mempengaruhi hati sebagaimana tikar (memberikan bekas kepada orang yang tidur) selembar demi selembar, hati yang menerima (fitnah) akan diberikan titik hitam, sedangkan hati yang menolaknya akan diberi titik putih, hingga terdapat dua hati, yang satu putih bersih tidak akan terpengaruh fitnah selamanya, sedangkan yang lainnya hitam pekat, bagaikan wajan yang terbalik, tidak mengetahui yang ma’ruf dan mecegah yang munkar kecuali apa yang diperturutkan hawa nafsunya “ [Riwayat Ibnu Majah 2/1359, lihat Shahih Jami’ 7752]

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 12 June 2019 Permalink | Balas  

    Menjama’ Shalat 

    Menjama’ Shalat

    Shalat yang dapat dijama’ adalah Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’. Dapat dikerjakan di awal waktu (jama’ taqdim) dan dapat pula dikerjakan di akhir waktu (jama’ takhir).

    Sebab-sebab boleh menjama’ shalat :

    Safar

    Dari Anas ra., dia berkata, “Jika Rasulullah ShalallaHu alaiHi wa sallam berpergian sebelum matahari tergelincir, beliau akhirkan Zhuhur hingga waktu ‘Ashar. Beliau turun dari kendaraannya lalu menjama’ keduanya. Dan jika matahari sudah tergelincir sebelum melakukan perjalanan, maka beliau shalat Zhuhur lalu naik kendaraan” (HR. Al Bukhari no. 1112, Muslim no. 704, Abu Dawud no. 1206 dan An Nasa’i I/248)

    Hujan

    Dari Nafi’ ra., “Jika Abdullah Ibnu Umar ra. mengumpulkan para amir (gubernur) antara Maghrib dan Isya ketika hujan, maka dia menjama’ shalat bersama mereka” (HR. Muslim no. 706 dan Ibnu Majah no. 1070)

    Dari Musa bin Uqbah, “Ketika turun hujan, Umar bin Abdul Aziz pernah menjama’ shalat Maghrib dengan Isya di akhir waktu, sedangkan Sa’id al Musayyib, Urwah bin Az Zubair, Abu Bakar bin Abdurahman serta ulama zaman itu bermakmum di belakangnya. Namun mereka tidak mengingkari perbuatan tersebut” (HR. Al Baihaqi III/168-169, dishahihkan oleh Syaikh Albani di Kitab Irwaa’ul Ghaliil III/40)

    Karena ada Suatu Kebutuhan

    Dari Ibnu Abbas ra., dia berkata, “Rasulullah ShalallaHu alaiHi wa sallam pernah menjama’ shalat Zhuhur dengan ‘Ashar di Madinah, tidak dalam keadaan takut maupun hujan” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiihul Jaami’ush Shaghiir no. 1068).

    Abu Zubair berkata, “Lalu aku bertanya pada Sa’id, ‘Kenapa beliau melakukannya ?’, Dia menjawab, ‘Aku pernah bertanya hal yang sama kepada Ibnu Abbas. Lalu dia berkata, ‘Beliau tidak ingin memberatkan salah seorang pun dari umatnya’”.

    Imam An Nawawi berkata dalam Syarh Muslim V/129, “Sejumlah imam berpendapat tentang bolehnya menjama’ shalat dalam keadaan mukim bagi orang yang tidak menjadikannya kebiasaan”. Pendapat ini diperkuat oleh zhahir perkataan Ibnu Abbas ra., “Beliau tidak ingin memberatkan umatnya”. Dia tidak menyebutkan alasan sakit atau yang lainnya. WallaHu a’lam.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengungkapkan dalam Majmu’atul Rasail wa Masail II/26-27, “Menjama’ shalat bukanlah termasuk sunnah perjalanan seperti menqashar shalat, tetapi ia dilakukan karena suatu hajat baik ketika sedang dalam perjalanan atau tidak. Rasulullah juga menjama’ shalat pada saat tidak dalam perjalanan supaya tidak memberatkan umatnya”

    [Menjama’ shalat, walaupun dikerjakan di akhir waktu, urutan shalatnya tidak berubah. Contoh, ketika menjama’ shalat Maghrib dengan Isya di waktu Isya maka yang dikerjakan adalah shalat maghrib terlebih dahulu baru kemudian shalat Isya, wallaHu a’lam-ini adalah hasil konsultasi saya dengan Redaksi Majalah Al Furqan, namun saya belum mendapatkan dalil naqlinya, mungkin ada yang bisa membantu ?]

    ***

    Maraji’ :

    Ensiklopedi Fatwa Syaikh Albani, Penyusun : Mahmud Ahmad Rasyid, Pustaka As Sunnah, Jakarta, Cetakan Pertama, Juni 2005 M.

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 11 June 2019 Permalink | Balas  

    Jadilah Seperti Ubi 

    Jadilah Seperti Ubi

    Apa yang terjadi jika sepotong ubi dan sebutir telur dimasukkan ke dalam air mendidih? Apakah kedua benda itu keluar dari panci panas dalam keadaan yang sama dengan keadaan sebelum direbus? Air mendidih mengubah ubi dan telur itu.

    Namun perubahan yang terjadi pada kedua benda itu sangat bertolak belakang. Setelah direbus, telur menjadi keras. Sebaliknya, ubi menjadi lembut. Kedua benda itu berada dalam panci yang sama dan air mendidih yang sama,namun reaksi mereka berbeda. Telur akan muncul dalam keadaan keras, sedangkan ubi akan muncul dalam keadaan lembut.

    Dalam hidup ini, ada masa dimana kita harus masuk ke dalam panci yang berisi air mendidih, yaitu musibah dan penderitaan. Dalam suatu musibah, kita merasakan betapa sakit dan nyeri direbus dalam air mendidih. Musibah dan penderitaan bisa terasa sangat kejam dan menyakitkan bagaikan menusuk tulang, hati, dan sumsum. Apalagi ketika musibah demi musibah datang menimpa bagaikan tak ada habisnya. Kita seperti terhempas lemas. Kita menunduk dan menarik nafas panjang, kita bertanya

    lirih: ‘Oh, Tuhan, mengapa ini harus terjadi?’

    Namun kenyataan adalah kenyataan.Musibah itu sudah atau sedang terjadi. Jadi yang lebih mendesak bukanlah persoalan mengapa musibah ini terjadi, melainkan bagaimana menghadapinya, bagaimana bisa melewati dan mengatasi musibah ini.

    Bagaimana bisa survive dalam dan dari musibah ini. Jika musibah dan penderitaan merupakan ibarat direbus dalam panci, soalnya adalah bagaimana kita akan keluar dari panci itu. Apakah kita akan keluar sebagai telur atau ubi?

    Ada orang yang keluar dari musibah dalam keadaan yang sangat tertekan. Mukanya selalu suram. Ia menyendiri. Hidupnya menjadi pahit dan getir. Sikapnya terhadap orang lain menjadi kaku. Ia menjadi keras. Ia ibarat telur yang setelah keluar dari air mendidih menjadi keras.

    Sebaliknya, ada orang yang setelah keluar dari musibah justru menjadi bijak dan matang. Ia merasa damai dengan dirinya. Sikapnya hangat dan ramah. Ia tersenyum dan menyapa. Ia menjadi lembut. Ia ibarat ubi yang setelah digodok justru menjadi lembut.

    Dampak itu bisa begitu berbeda,sebab pandangan dan ketahanan orang terhadap penderitaan dan musibah berbeda-beda.

    Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Penderitaan dan musibah tidak dapat dihindarkan. Itu adalah bagian dari hidup. Hidup adalah ibarat roda, sebentar di atas, sebentar di bawah. Hidup ini ada enaknya dan ada tidak enaknya, yaitu masuk dalam panci dan direbus dalam air mendidih. Soalnya, apakah kita akan keluar dari panci panas itu sebagai telur rebus yang keras ataukah sebagai ubi yang lembut?

    Apakah kita akan keluar dari sebuah musibah sebagai orang yang kaku dan keras atau sebaliknya, sebagai orang yang berhati lembut? Agaknya, dalam suatu musibah, kita boleh belajar berbisik: ‘Tuhan, biarlah saya menjadi seperti ubi … seperti sepotong ubi rebus yang lembut, hangat, dan manis’.

    ***

    Kiriman Yohana Yasmine

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 10 June 2019 Permalink | Balas  

    Shalat Qashar 

    Shalat Qashar

    Mengqashar shalat merupakan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaiHi wa sallam ketika beliau dalam keadaan safar dan merupakan sedekah dari Allah Ta’ala kepada kaum muslimin. Dia berfirman,

    “Dan apabila kamu berpergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu(QS An Nisa’ : 101)

    Ya’la bin Umayah, dia menanyakan ayat ini pada Umar bin Khaththab ra. [tentang] firman Allah Ta’ala, “jika kamu takut diserang orang-orang kafir”, padahal orang-orang sudah dalam keadaan aman. Umar ra. berkata, “Dulu aku juga bingung dengan masalah ini, lalu aku menanyakannya pada Rasulullah Shalallahu ‘alaiHi wa sallam, lantas beliau Shalallahu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

    ‘Itu adalah shadaqah dari Allah untuk kalian, maka terimalah shadaqah-Nya’” (HR. Muslim no. 686, Abu Dawud no. 1187, An Nasa’i III/116, Ibnu Majah no. 1065 dan At Tirmidzi no. 5025)

    Ibnu Abbas ra. berkata, “Melalui lisan Nabi kalian, Allah mewajibkan shalat empat raka’at dalam keadaan mukim, dua raka’at ketika safar dan satu raka’at ketika dalam keadaan takut” (HR. Muslim no. 687, Abu Dawud no. 1234, dan An Nasa’i III/118)

    Ibnu Umar ra. berkata, “Aku pernah menemani perjalanan Rasulullah, dan beliau tidak pernah shalat lebih dari dua raka’at hingga Allah mewafatkannya” (HR. Al Bukhari no. 1102, Muslim no. 689, Abu Dawud no. 1211 dan An Nasa’i III/123)

    Batasan Jarak Shalat Qashar

    Para ulama memiliki banyak pendapat yang berbeda dalam menentukan batasan jarak diperbolehkannya mengqashar shalat. Sampai-sampai Ibnu Al Mundzir dan yang lainnya menyebutkan lebih dari 20 pendapat dalam masalah ini. Yang rajih adalah, “Pada dasarnya tidak ada batasan jarak yang pasti, kecuali yang disebut safar dalam bahasa Arab, yaitu bahasa yang digunakan Nabi Shalallahu ‘alaiHi wa sallam saat berkomunikasi dengan mereka (orang-orang Arab)” (Al Muhalla V/21)

    Syaikh Muhammad bin Musa Al Nashr (murid Syaikh Albani) mengatakan tentang masalah ini ketika berkunjung ke Indonesia, “Musafir atau tidak, itu kembali kepada ukuran ‘urf (adat kebiasaan yang dikenal masyarakat). Misalnya, bila ‘urf masyarakat disini (disini maksudnya adalah kota Malang, Jawa Timur) menganggap orang yang pergi ke Jakarta adalah sebagai seorang musafir, maka pada saat itu dia boleh mengqashar dan menjama’shalat”

    Tempat Diperbolehkannya Mengqashar Shalat

    Mayoritas ulama berpendapat bahwa disyari’atkan mengqashar shalat ketika meninggalkan tempat mukim dan keluar dari daerah tempat tinggal. Dan tidaklah disempurnakan shalat menjadi 4 raka’at sampai memasuki rumah pertama (di dalam tempat tinggalnya).

    Anas ra. berkata, “Aku shalat dzuhur empat raka’at bersama Nabi di Madinah. Sedangkan di Dzul Hulaifah dua raka’at” (HR. Al Bukhari no. 1089, Muslim no. 690, Abu Dawud no. 1190, At Tirmidzi no. 544 dan An Nasa’i I/235)

    Sampai Kapankah Diperbolehkannya Mengqashar Shalat ?

    Jika seorang musafir tinggal di suatu daerah untuk menunaikan suatu kepentingan, namun tidak berniat mukim, maka dia [dapat] melakukan qashar hingga meninggalkan daerah tersebut.

    Dari Jabir ra., dia berkata, “Nabi Shalallahu ‘alaiHi wa sallam tinggal di Tabuk selama dua puluh hari sambil tetap mengashar shalat” (HR. Abu Dawud no. 1223, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 1094)

    Jadi, kedudukan seseorang sebagai musafir akan gugur ketika ia berniat untuk bermukim di suatu tempat. Namun ia diperbolehkan untuk mengqashar shalat selama sembilan belas hari setelah berniat untuk bermukim, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas ra., “Nabi Shalallahu ‘alaiHi wa sallam tinggal selama 19 hari sambil melakukan qashar. Jika kami melakukan safar selama 19 hari, maka kami melakukan qashar. Dan jika lebih dari itu, maka kami menyempurnakan shalat” (HR. Al Bukhari no. 1080, At Tirmidzi no. 547, dan Ibnu Majah no. 1075)

    ***

    Maraji’

    Majalah As Sunnah, Edisi 11/Tahun VIII/1425 H/2005 M, halaman 9.

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 9 June 2019 Permalink | Balas  

    Puasa Syawwal 

    Puasa Syawwal

    Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa berpuasa Ramadhan dan meneruskannya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, berarti dia telah berpuasa satu tahun.” (HR. Imam Muslim dan Abu Dawud). Juga ada hadits lainnya yang menguatkan masyru’iyah puasa syawwal, yaitu: Dari Tsauban ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Puasa Ramadhan pahalanya seperti puasa 10 bulan. Dan puasa 6 hari setelahnya (syawwal) pahalanya sama dengan puasa 2 bulan. Dan keduanya itu genap setahun”.

    Dalam hadits tersebut diterangkan, bahwa pahala orang yang berpuasa Ramadhan dan enam hari di bulan Syawwal sama pahala dengan puasa setahun. Jika satu kebaikan dihitung sepuluh pahala (sesuai dengan QS. Al-An’ am:160), berarti puasa Ramadhan selama satu bulan dihitung 10 bulan. Dan puasa enam hari di bulan Syawwal dihitung dua bulan. Jadi total jumlahnya adalah satu tahun.

    Sebagian ulama memperbolehkan tidak harus berturut-turut enam hari, namun pahalanya sama dengan yang melaksanakannya secara langsung setelah Hari Raya. Puasa Syawal juga boleh dilakukan di pertengahan atau di akhir bulan Syawwal.

    Hikmah disyari’atkannya puasa enam hari di bulan Syawwal adalah sebagai pengganti puasa Ramadhan yang dikhawatirkan ada yang tidak sah. Demikian juga untuk menjaga agar perut kita tidak lepas kontrol setelah sebulan penuh melaksanakan puasa, kemudian diberi kesempatan luas untuk makan dan minum. Lebih dari itu, puasa Syawal adalah ibadah sunnah yang sangat dianjurkan oleh ajaran agama kita.

    Imam Malik menghukumi makruh puasa tersebut. Karena ditakutkan adanya keyakinan dan anggapan bahwa puasa enam hari di bulan Syawwal masuk puasa Ramadhan. Apabila tidak ada kekhawatiran seperti alasan Imam Malik di atas, maka disunahkan puasa enam hari. Bagi yang tidak berhalangan atau sakit, mari berlomba-lomba untuk memperbanyak pahala. La haula wala quwwata illa billah.

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 8 June 2019 Permalink | Balas  

    Syawal 

    Syawal

    Bulan suci Ramadhan yang di dalamnya penuh dengan rahmat, berkah, ampunan, serta pembebasan dari api neraka bagi umat Islam, kini telah berlalu. Seperti sabda Rasulullah SAW, ”Langit pun menangis dengan perginya Ramadhan,” tak sedikit umat Islam yang baru saja menunaikan ibadah puasa selama bulan suci, benar-benar merasa sedih dengan berakhirnya Ramadhan.

    Kini, kita berada di bulan Syawal. Secara bahasa, kata Syawal akar kata dari syala yasyulu syawwal artinya meningkat (irtafa’). Yang meningkat adalah ibadah dan muamalah yang kita lakukan. Misalnya, pertama, selama Ramadhan kita selalu mengikuti shalat Subuh berjamaah di masjid. Bahkan, tak jarang yang mengikuti kuliah Subuh yang digelar di masjid-masjid tersebut. Yang menjadi pertanyaan adalah mampukah kita setelah Ramadhan melaksanakan shalat Subuh berjamaah?

    Kedua, selama Ramadhan kita rutin melakukan tadarus Al-Quran, bahkan tak jarang ada yang seperti mengejar target dalam membacanya sampai hatam berkali-kali. Yang menjadi pertanyaan adalah masihkah kita membaca dan mengkaji Al-Quran di bulan Syawal?

    Ketiga, selama Ramadhan kita begitu peduli kepada fakir, miskin, dan kaum dhuafa. Dengan murah hati kita membagi-bagikan paket sembako, mengadakan acara buka puasa bersama dengan kaum dhuafa, bahkan ada yang sampai membagikan paket Lebaran. Yang menjadi pertanyaan adalah masihkah kita menjadi dermawan di tengah situasi perekonomian yang carut-marut?

    Keempat, selama Ramadhan kita sering beriktikaf di masjid-masjid untuk merenungi dosa dan segala perbuatan buruk kita kepada Allah dengan harapan mendapat maghfirah-Nya. Yang menjadi pertanyaan adalah mampukah kita meningkatkan ibadah iktikaf di bulan Syawal dan bulan-bulan lainnya? Kelima, selama Ramadhan, mungkin kita termasuk orang yang tak pernah absen melaksanakan qiyamulail dan shalat dhuha. Yang menjadi pertanyaan adalah masihkah kita melaksanakan ibadah sunah yang sangat tinggi derajatnya di hadapan Allah di luar Ramadhan?

    Pertanyaan-pertanyaan tersebut hendaklah menjadi renungan bagi kita bahwa dengan datangnya Syawal, maka sesuai dengan artinya yaitu meningkat, kita tingkatkan pula ibadah kepada Allah yang akan berdampak pada kesalehan pribadi dan ibadah kepada sesama manusia yang membawa kita kepada kesalehan sosial. Jangan mengartikan kembali ke fitrah berarti kita kembali seperti bayi yang baru dilahirkan dari perut ibunya kemudian dengan seenaknya melakukan perbuatan yang dilarang Allah.

    Ibadah Ramadhan yang membekas berbuah taqwa sebagaimana difirmankan Allah dalam QS Al-Baqarah: 183. Karena itu, di dalam Ramadhan kita disuruh oleh Allah SWT untuk mencari bekal sebanyak-banyak guna menghadapi sebelas bulan berikutnya. Jangan jadikan puasa Ramadhan yang telah kita lakukan hanya mendapatkan haus dan lapar. Ramadhan merupakan pemantik semangat untuk meningkatkan ibadah pribadi dan ibadah sosial di luar Ramadhan. Kemenangan di hari Idul Fitri

    ***

    (Dari Hikmah Republika)

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 7 June 2019 Permalink | Balas  

    Puasa 6 hari di bulan Syawal 

    Puasa 6 hari di bulan Syawal

    1. Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa berpuasa penuh di bulan Romadhon lalu menyambungnya dengan (puasa) 6 (enam) hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama 1 (satu) tahun. (HR. Muslim).”
    2. Puasa Syawal & Sya’ban bagaikan sholat sunnah Rowatib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi saw di berbagai riwayatnya. Mayoritas puasa fardhu (puasa Romadhon) yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.
    3. Membiasakan puasa setelah Romadhon menandakan diterimanya puasa Romadhon, karena apabila ALLAH swt menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan : ” Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya”. Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.
    4. Wallahu’alam bi showab
     
  • erva kurniawan 1:36 am on 6 June 2019 Permalink | Balas  

    Lebaran Cara Rasul, Ikuti Yuks! 

    Lebaran Cara Rasul, Ikuti Yuks!

    Fajar 1 Syawal menyingsing, menandai berakhirnya bulan penuh kemuliaan. Senyum kemenangan terukir di wajah-wajah perindu Ramadhan, sambil berharap kembali meniti Ramadhan di tahun depan. Satu persatu kaki-kaki melangkah menuju tanah lapang, menyeru nama Allah lewat takbir, hingga langit pun bersaksi, di hari itu segenap mata tak kuasa membendung airmata keharuan saat berlebaran. Sementara itu, langkah sepasang kaki terhenti oleh sesegukan gadis kecil di tepi jalan. “Gerangan apakah yang membuat engkau menangis anakku?” lembut menyapa suara itu menahan beberapa detik segukan sang gadis.

    Tak menoleh gadis kecil itu ke arah suara yang menyapanya, matanya masih menerawang tak menentu seperti mencari sesosok yang amat ia rindui kehadirannya di hari bahagia itu. Ternyata, ia menangis lantaran tak memiliki baju yang bagus untuk merayakan hari kemenangan. “Ayahku mati syahid dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah,” tutur gadis kecil itu menjawab tanya lelaki di hadapannya tentang Ayahnya.

    Seketika, lelaki itu mendekap gadis kecil itu. “Maukah engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu, Muhammad Ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan serta Husain menjadi saudaramu?” Sadarlah gadis itu bahwa lelaki yang sejak tadi berdiri di hadapannya tak lain Muhammad Rasulullah SAW, Nabi anak yatim yang senantiasa memuliakan anak yatim. Siapakah yang tak ingin berayahkan lelaki paling mulia, dan beribu seorang Ummul Mukminin?

    Begitulah lelaki agung itu membuat seorang gadis kecil yang bersedih di hari raya kembali tersenyum. Barangkali, itu senyum terindah yang pernah tercipta dari seorang anak yatim, yang diukir oleh Nabi anak yatim. Rasulullah membawa serta gadis itu ke rumahnya untuk diberikan pakaian bagus, terbasuhlah sudah airmata. Lelaki agung itu, shalawat dan salam baginya.

    ***

    Lebaran, bagi kita sangat identik dengan pakaian bagus. Tak harus baru, setidaknya layak dipakai saat bersilaturahim di hari kemenangan itu. Namun tak dapat dipungkiri, bagi sebagian besar masyarakat kita, memakai pakaian baru sudah menjadi budaya. Mungkin budaya ini merujuk pada kisah di atas, bahwa Rasul pun memakai pakaian yang bagus di hari raya. Tidak sedikit uang yang dikeluarkan untuk menyambut lebaran, bahkan bagi sebagian orang, tak cukup satu stel pakaian baru disiapkan, mengingat tradisi silaturahim berlebaran di Indonesia yang lebih dari satu hari.

    Tak ada yang salah dengan budaya baju baru itu, ambil sisi positifnya saja, bahwa keceriaan hari kemenangan bolehlah diwarnai dengan penampilan yang lebih baik. Sekaligus mencerminkan betapa bahagianya kita menggapai sukses penuh arti selama satu bulan menjalani Ramadhan. Baju baru bukan cuma fenomena, bahkan sudah menjadi budaya. Tetapi ada cara berlebaran Rasulullah yang tak ikut kita budayakan, yakni menceriakan anak yatim dengan memberikan pakaian yang lebih pantas di hari istimewa.

    Anak-anak kita bangga menghitung celana dan baju yang baru saja kita belikan. Tak ketinggalan sepatu dan sandal yang juga baru. Dapatlah kita bayangkan betapa cerianya mereka saat berlebaran nanti mengenakan pakaian bagus itu. Tapi siapakah yang akan membelikan pakaian baru untuk anak-anak yatim? Tak ada Ayah atau Ibu yang akan mengajak mereka menyambangi pertokoan dan memilih pakaian yang mereka suka. Dapatkah kita bayangkan perasaan mereka berada di tengah-tengah riuh rendah keceriaan anak-anak lain berbaju baru, sementara baju yang mereka kenakan sudah usang.

    Rasulullah tak hanya berbaju bagus saat berlebaran, tetapi juga mengajak seorang anak yatim ikut berbaju bagus, sehingga nampak tak berbeda dengan Hasan dan Husain. Lelaki agung itu, tahu bagaimana menjadikan hari raya juga istimewa bagi anak-anak yatim. Mampukah kita meniru cara Rasul berlebaran?

    Kalau kita mampu membeli beberapa stel pakaian untuk anak-anak kita, adakah sedikit yang tersisihkan dari rezeki yang kita dapat untuk membeli satu saja pakaian bagus untuk pantas dipakai oleh anak-anak yatim tetangga kita. Kebahagiaan 1 Syawal semestinya tak hanya milik anak-anak kita, hari istimewa itu juga milik mereka.

    Maka, ikuti yuks! Gerakan LCR (Lebaran Cara Rasul). Gerakan ini, saya yakin sudah banyak yang melakukannya di berbagai tempat. Namun jika lebih banyak lagi orang-orang beruntung seperti kita yang mau membudayakan LCR ini, akan lebih banyak senyum anak yatim yang tercipta di hari bahagia.

    Bayu Gawtama

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 5 June 2019 Permalink | Balas  

    Meneladani Rasulullah SAW Berhari Raya 

    Meneladani Rasulullah SAW Berhari Raya

    Dari Anas ra., Rasulullah SAW pernah bersabda,

    “Aku datang kepada kalian sedangkan kalian memiliki dua hari raya yang menjadi ajang permainan kalian pada masa Jahiliyyah. Dan sesungguhnya Allah telah menganti keduanya dengan yang lebih baik, yaitu hari raya ‘Iedul Adh-ha (An Nahri) dan ‘Iedul Fithri (Al Fithri)” (HR. Ahmad III/103, Abu Dawud no. 1134, An Nasa’i III/179 dan Al Baghawi no. 1098, hadits ini shahih)

    ‘Ied berarti suatu hari dimana terjadi perkumpulan. Imam Ibnu ‘Abidin menjelaskan bahwa disebut ‘Ied, karena pada hari itu Allah Ta’ala memiliki berbagai macam kebaikan yang diberikan kepada hamba – hambaNya diantaranya : berbuka (tidak berpuasa) setelah adanya larangan makan dan minum, zakat fithrah, penyempurnaan haji dengan thawaf, daging kurban dan lainnya. Dan karena kebiasaan yang berlaku pada hari tersebut adalah kegembiraan, kebahagiaan, keceriaan dan hubur (kenikmatan) (Kitab Haasyiyatu Ibni ‘Abidin II/165)

    Beberapa sunnah Rasulullah SAW dalam berhari raya adalah sebagai berikut :

    1.. Makan terlebih dahulu ketika berangkat pada hari raya ‘Iedul Fithri dan tidak makan ketika berangkat pada hari raya ‘Iedul Adh-ha.

    Dari Buraidah ra., ia berkata, “Nabi SAW tidak berangkat pada hari raya ‘Iedul Fithri sampai beliau makan terlebih dahulu dan pada hari raya ‘Iedul Adh-ha beliau tidak makan sampai pulang, kemudian beliau makan dari daging hewan – hewan kurbannya” (HR. At Tirmidzi no. 542, Ibnu Majah no. 1756, Ad Darimi I/375 dan Ahmad V/352, hadits ini hasan)

    2.. Berhias diri.

    Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’aad (I/441) mengatakan, “Nabi biasa berangkat (ke tanah lapang) pada hari raya ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adh-ha dengan pakaian yang paling bagus”

    Di dalam kitab Al Mughni (II/228), Ibnu Qudamah mengatakan, “Dan itu menunjukan bahwa berhias diri bagi mereka pada kesempatan seperti ini (hari raya ‘Ied) sudah sangat populer”

    3.. Mengambil jalan lain ketika berangkat dan pulang dari shalat ‘Ied.

    Dari Jabir ra., dia berkata, “Jika hari raya ‘Ied tiba, Nabi SAW biasa mengambil jalan lain (ketika berangkat dan pulang)” (HR. Bukhari no. 986)

    4.. Bertakbir pada hari raya ‘Ied ketika berangkat ke tempat pelaksanaan shalat.

    Allah SWT berfirman, “Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kalian bersyukur” (QS Al Baqarah 185)

    Telah tetap suatu riwayat bahwa Nabi SAW biasanya berangkat menunaikan shalat pada hari raya ‘Ied, lalu beliau bertakbir hingga sampai di tempat pelaksanaan shalat, bahkan sampai shalat akan dilaksanakan. Dan jika shalat dilaksanakan, beliau menghentikan bacaan takbir (HR. Ibnu Abi Syaibah, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam kitab Silsilah Al Ahaadiits Ash Shahiihah no. 170)

    Salah satu ucapan takbir yang dilakukan oleh sahabat Rasulullah SAW yaitu Abdullah bin Mas’ud ra. adalah sebagai berikut,

    “Allahu Akbar Allahu Akbar, Laa ilaHa illallaHu wallaHu Akbar, Allahu Akbar wa lillaHiil hamdu” (HR. Ibnu Abi Syaibah II/168, hadits ini shahih)

    Dan ucapan takbir ini dilakukan dengan suara lantang seperti yang dilakukan oleh sahabat Abdullah bin Umar ra. ketika pergi untuk melaksanakan (HR. Ad Daruquthni, hadits ini shahih)

    [Hendaknya takbir ini tidak dilakukan secara bersama – sama/berjama’ah, atau dibawah 1 komando karena hal tersebut menyelisihi sunnah]

    5.. Melaksanakan Shalat ‘Ied. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata,

    “Bahwasannya Nabi SAW mengerjakan shalat dua raka’at pada hari raya, dan tidak mengerjakan shalat lainnya sebelum maupun sesudahnya” (HR. Bukhari no. 989, At Tirmidzi no. 537, An Nasa’i III/193 dan Ibnu Majah no. 1291)

    Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Kitabnya Fathul Baari II/476 mengatakan, “Bahwa shalat ‘Ied itu ditetapkan dengan tidak adanya shalat sebelum maupun sesudahnya”

    6.. Mendengarkan Khutbah setelah shalat ‘Ied.

    Dari Ibnu Abdullah bin As Sa’ib, dia berkata, “Aku pernah menghadiri shalat ‘Ied bersama Nabi SAW dan ketika selesai shalat, beliau berkata,

    ‘Sesungguhnya kami akan berkhutbah, barangsiapa ingin duduk untuk mendengarkan khutbah maka dipersilahkan duduk. Dan barangsiapa yang ingin pergi , maka dipersilahkan untuk pergi’” (HR. Abu Dawud no. 1155, An Nasa’I III/185, Ibnu Majah no. 1290 dan Al Hakim I/295, hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Al Irwaa III/96-98)

    Ibnul Qayyim mengatakan dalam kitabnya Zaadul Ma’aad (I/448), “Nabi memberikan keringanan bagi orang yang menghadiri shalat ‘Ied untuk duduk mendengarkan khutbah atau pergi”

    7.. Memberikan ucapan selamat.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan dalam kitabnya Majmuu’ Al Fataawaa (XXIV/253), “Adapun ucapan selamat pada hari raya ‘Ied, sebagaimana ucapan mereka terhadap sebagian lainnya jika bertemu setelah shalat ‘Ied adalah ‘TaqabbalallHu minnaa wa minkum’ (Semoga Allah SWT menerima amal kami dan kalian”

    Tetapi Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak pernah memulai untuk mengucapkan ucapan tersebut kepada seseorang. Dan jika dia (orang tersebut) yang memulai, maka aku akan menjawabnya” (disebutkan oleh Al Jalal As Suyuthi dalam kitab Al Haawi lil Fatawaa I/81-82)

    ***

    Maraji’  Disarikan dari Buku Meneladani Rasulullah SAW dalam Berhari Raya, Syaikh Ali Hasan bin Ali Al Halabi Al Atsari*, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Bogor, Cetakan Pertama, September 2005.

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 4 June 2019 Permalink | Balas  

    Lafazh Takbiran Sahabat Rasulullah SAW 

    Lafazh Takbiran Sahabat Rasulullah SAW

    Oleh : Syaikh Ali Hasan bin Ali Al Halabi Al Atsari

    Sebatas pengetahuan kami (Syaikh Ali Hasan), tidak ada satu hadits Nabi pun yang shahih dalam menjelaskan sifat takbir (pada hari raya ‘Ied). Akan tetapi ada riwayat dari sebagian sahabat Nabi SAW, seperti Ibnu Mas’ud ra. pernah mengucapkan, “AllaHu Akbar AllaHu Akbar, Laa ilaHa illallaHu wallaHu Akbar, Allahu Akbar wa lillaHiil hamdu” (HR. Ibnu Abi Syaibah II/168, hadits shahih)

    Ibnu Abbas ra. juga pernah mengucapkan, “AllaHu Akbar, AllaHu Akbar, AllaHu Akbar wa lillaHil hamd, AllaHu Akbar wa ajallu, AllaHu Akbar ‘alaa maa Haadaanaa” (HR. Al Baihaqi III/315, hadits shahih)

    Dan diriwayatkan oleh Abdurrazzaq yang diantara jalannya terdapat pada Al Baihaqi dalam kitab As Sunan Al Kubra (III/316) dengan sanad shahih dari Salman al Khair ra., dia mengatakan, “KabbirullaHu, AllaHu Akbar, AllaHu Akbar, AllaHu Akbar”

    Cukup banyak manusia menyelisihi dzikir yang bersumber dari kaum salafush shalih, dengan membaca dzikir – dzikir lain, melakukan penambahan , serta membuat lafazh – lafazh baru yang tidak memiliki dasar sama sekali.

    Sehingga Al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Baari (II/536) mengatakan, “Dan zaman sekarang ini telah terjadi penambahan dalam hal takbir tersebut yang tidak memiliki dasar sama sekali”

    Maraji: Buku Meneladani Rasulullah SAW dalam Berhari Raya, Syaikh Ali Hasan bin Ali Al Halabi Al Atsari*, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Bogor, Cetakan Pertama, September 2005.

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 3 June 2019 Permalink | Balas  

    Sholat Taraweh (5) 

    Sholat Taraweh (5)

    Mengapa 20 rakaat bukan 8 rakaat ? (5/5)

    Dalam Sunan Baihaqiy dengan isnad yang shahih sebagaimana ucapan Zainuddin Al Iraqi dalam kitab “Syarah Taqrib”, dari As-Sa’ib bin Yazid ra. katanya: “Mereka (para shahabat) adalah melakukan shalat pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab ra. pada bulan Ramadlan dengan 20 raka’at.

    Imam Malik dalam kitab “Al Muwaththa” meriwayatkan dari Yazid bin Rauman katanya: “Adalah orang-orang pada zaman Khalifah Umar bin Khattab ra. melakukan shalat dengan 23 raka’at. Dan Imam Al Baihaqi telah mengumpulkan kedua riwayat tersebut dengan menyebutkan bahwa mereka melakukan witir tiga raka’at. Dan para ulama’ telah menghitung apa yang terjadi pada zaman Umar bin Khattab sebagai ijma’.

    Perlu kita ketahui bahwa shalat tarawih itu adalah dua raka’at satu salam, menurut madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dalam hal ini madzhab Syafi’i berpendapat: “Wajib dari setiap dua raka’at; sehingga jika seseorang melakukan shalat tarawih 20 raka’at dengan satu salam, maka hukumnya tidak sah”.

    Madzhab Hanafi, Maliki dan Hambali berpendapat: “Disunnatkan melakukan salam pada akhir setiap dua raka’at. Sehingga jika ada orang yang melakukan shalat tarawih 20 raka’at dengan satu salam, dan dia duduk pada permulaan setiap dua raka’at, maka hukumnya sah tetapi makruh. Dan jika tidak duduk pada permulaan setiap dua raka’at maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat dari para imam madzhab”.

    Adapun madzhab Syafi’i berpendapat: “Wajib melakukan salam pada setiap dua raka’at. Maka jika orang melakukan shalat tarawih 20 raka’at dengan satu salam, hukumnya tidak sah; baik dia duduk atau tidak pada permulaan setiap dua raka’at”. Jadi menurut para ulama’ Syafi’iyyah, shalat tarawih itu harus dilakukan dua raka’at dua raka’at dan salam pada permulaan setiap dua raka’at.

    Adapun ulama’ madzhab Hanafi berpendapat: “Jika seseorang melakukan shalat empat raka’at dengan satu salam, maka empat raka’at tersebut adalah sebagai ganti dari dua raka’at menurut kesepakatan mereka. Adapun jika seseorang melakukan shalat lebih dari empat raka’at dengan satu salam, maka ke absahannya diperselisihkan. Ada yang berpendapat sebagai ganti dari raka’at yang genap dari shalat tarawih, dan ada yang berpendapat tidak sah”.

    Para ulama’ dari madzhab Hambali berpendapat bahwa shalat seperti tersebut sah tetapi makruh dan dihitung duapuluh raka’at. Sedang para ulama madzhab Maliki berpendapat:”Shalat yang demkian itu sah dan dihitung duapuluh raka’at. Dan orang yang melakukan shalat demikian itu adalah orang yang meninggalkan kesunnatan tasyahhud dan kesunnatan salam pada setiap dua raka’at; dan yang demikian itu adalah makruh”. Rasulullah saw. bersabda:

    “Shalat malam itu dua raka’at, dua raka’at. Maka jika salah seorang dari kamu sekalian khawatir akan shubuh, maka dia shalat satu raka’at yang menjadi witir baginya dari shalat yang telah dia lakukan”.

    Dan yang menunjukkan bahwa bilangan shalat tarawih 20 raka’at selain dari dalil-dalil tersebut di atas, adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Humaid dan At Thabrani dari jalan Abu Syaibah bin Usman dari Al Hakam dari Muqassim dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah saw. telah melakukan shalat pada bulan Ramadlan 20 raka’at dan witir.

    === Wallohu a’lam bish-shawab ====

     
  • erva kurniawan 2:16 am on 2 June 2019 Permalink | Balas  

    Sholat Taraweh (4) 

    Sholat Taraweh (4)

    Mengapa 20 rakaat bukan 8 rakaat ? (4/5)

    Pengarang dari kitab “Al Fiqhu ‘Ala al Madzaahibil Arba’ah” menyatakan bahwa shalat tarawih itu adalah 20 raka’at menurut semua imam madzhab kecuali witir.

    Dalam kitab “Mizan” karangan Imam Asy-Sya’rani halaman 148 dinyatakan bahwa termasuk pendapat Imam Abu Hanifah, Asy-Syafi’i dan Ahmad, shalat tarawih itu adalah 20 raka’at. Imam Asy-Syafi’i berkata: “20 raka’at bagi mereka itu adalah lebih saya sukai!”. Dan sesungguhnya shalat tarawih dengan berjama’ah itu adalah lebih utama beserta pendapat Imam Malik dalam salah satu riwayat dari beliau, bahwa shalat tarawih itu adalah 36 raka’at.

    Dalam kitab “Bidaayatul Mujtahid” karangan Imam Qurthubi juz I halaman 21 diterangkan bahwa shalat tarawih yang Umar bin Khattab mengumpulkan orang-orang untuk melakukannya dengan berjama’ah adalah disukai; dan mereka berbeda pendapat mengenai jumlah raka’at yang dilakukan orang-orang pada bulan Ramadlan. Imam Malik dalam salah satu dari kedua pendapat beliau, Imam Abu Hanifah, Imam As Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal memilih 20 raka’at selain shalat witir.

    Pada pokoknya Imam Madzhab Empat tersebut di atas memilih bahwa shalat tarawih itu adalah 20 raka’at selain shalat witir. Sedang orang yang berpendapat bahwa shalat tarawih itu adalah 8 (delapan) raka’at adalah menyalahi dan menentang terhadap apa yang telah mereka pilih. Dan sebaiknya pendapat orang ini dibuang dan tidak usah diperhatikan, karena tidak termasuk golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yaitu golongan yang selamat, yang mengikuti sunnah Rasulullah saw. dan para shahabat beliau.

    Akan tetapi ada yang berpendapat bahwa shalat tarawih delapan raka’at itu adalah berdasarkan hadits ‘A’isyah ra. sebagaimana disebutkan di muka.

    Hadits tersebut tidak sah untuk dijadikan dasar shalat tarawih, karena maudlu’ dari hadits tersebut apa yang nampak jelas adalah shalat witir. Dan sebagaimana kita ketahui, shalat witir itu paling sedikit adalah satu raka’at dan paling banyak adalah sebelas raka’at.

    Dan Rasulullah saw. pada waktu itu melakukan shalat sesudah tidur empat raka’at dengan dua salam tanpa disela, lalu melakukan shalat empat raka’at dengan dua salam tanpa disela, kemudian melakukan shalat tiga raka’at dengan dua salam juga tanpa disela.

    Yang menunjukkan bahwa hadits ‘A’isyah ra. ini adalah shalat witir:

    1.. Ucapan ‘A’isyah:”Apakah engkau tidur sebelum engkau melakukan witir?” Sesungguhnya shalat tarawih itu dikerjakan sesudah shalat isyak dan sebelum tidur.

    2.. Sesungguhnya shalat tarawih itu tidak didapati pada selain bulan Ramadlan.

    Dengan demikian, maka sudah tidak ada dalil yang menentang kebenaran shalat tarawih 20 raka’at. Imam Al-Qasthalani dalam kitab “Irsyadus Saarii” syarah dari Shahih Bukhari berkata: “Apa yang sudah diketahui, yaitu apa yang dipakai oleh “jumhur ulama'” adalah bahwa bilangan / jumlah raka’at shalat tarawih itu 20 raka’at dengan sepuluh kali salam, sama dengan lima kali tarawih yang setiap tarawih empat raka’at dengan dua kali salam selain witir, yaitu tiga raka’at.

    (Bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 1 June 2019 Permalink | Balas  

    Sholat Taraweh (3) 

    Sholat Taraweh (3)

    Mengapa 20 rakaat bukan 8 rakaat ? (3/5)

    Telah diriwayatkan dari Sayyidah A’isyah ra. bahwa Nabi Muhammad saw. keluar sesudah tengah malam pada bulan Ramadhan dan beliau melakukan shalat di masjid, maka para shahabat melakukan shalat dengan shalat beliau. Lalu pada pagi harinya para shahabat tersebut memperbincangkan shalat mereka dengan Rasulullah saw., sehingga pada malam kedua orang bertambah banyak. Kemudian Nabi saw. melakukan shalat dan orang-orang melakukan shalat dengan shalat beliau. Pada malam ketiga tatkala orang-orang bertambah banyak sehingga masjid tidak mampu menapung para jama’ah, Rasulullah saw. tidak keluar pada para jama’ah sehingga beliau keluar untuk melakukan shalat shubuh. Dan setelah beliau shalat shubuh,beliau menghadap kepada para jama’ah dan bersabda: “Sesungguhnya tidaklah dikhawatirkan atas kepentingan kalian tadi malam; akan tetapi aku takut apabila shalat malam itu diwajibkan atas kamu sekalian, sehingga kalian tidak mampu melaksanaknnya !”.

    Kemudian Rasulullah saw. wafat dan keadaan berjalan demikian pada zaman kekhalifahan Abu Bakar dan permulaan kekhalifahan Umar bin Khattab ra. Kemudian Khalifah Umar bin Khattab ra. mengumpulkan orang-orang laki-laki untuk berjama’ah shalat tarawih dengan diimami oleh Ubai bin Ka’ab dan orang-orang perempuan berjama’ah dengan diimami oleh Usman bin Khatsamah. Oleh karena itu Khalifah Usman bin Affan berkata pada masa pemerintahan beliau: “Semoga Allah menerangi kubur Umar sebagaimana Umar telah menerangi masjid-masjid kita”. Yang dikehendaki oleh hadits ini adalah bahwa Nabi saw. keluar dalam dua malam saja.

    Menurut pendapat yang masyhur adalah bahwa Rasulullah saw. keluar pada para shahabat untuk melakukan shalat tarawih bersama mereka tiga malam, yaitu tanggal 23, 25 dan 27, dan beliau tidak keluar pada mereka pada malam 29. Sesungguhnya Rasulullah saw tidak tiga malam berturut-turut adalah karena kasihan kepada para shahabat. Dan beliau shalat bersama para shahabat delapan raka’at; tetapi beliau menyempurnakan shalat 20 raka’at di rumah beliau dan para shahabat menyempurnakan shalat di rumah mereka 20 raka’at, dengan bukti bahwa dari mereka itu didengar suara seperti suara lebah. Sesungguhnya Nabi saw. tidak menyempurnakan bersama para shahabat 20 raka’at di masjid adalah karena kasihan kepada mereka.

    Dari hadits ini menjadi jelas, bahwa jumlah shalat tarawih yang mereka lakukan itu tidak terbatas hanya delapan raka’at, dengan bukti bahwa mereka menyempurnakannya di rumah-rumah mereka. Sedang pekerjaan Khalifah Umar ra. telah menjelaskan bahwa jumlah raka’atnya adalah duapuluh, pada sa’at Umar ra. mengumpulkan orang-orang di masjid dan para shahabat menyetujuinya serta tidak didapati seorangpun dari orang-orang sesudah beliau dari para Khulafa’ur Rasyidun yang berbeda dengan Umar. Dan mereka terus menerus melakukan shalat tarawih dengan berjama’ah 20 raka’at. Dalam hal ini Nabi Muhammad saw. telah bersabda:

    “Wajib atas kamu sekalian mengikuti sunnahku dan sunnah dari Al Khulafa’ur Rasyidun yang telah mendapat petunjuk; dan gigitlah sunnah-sunnah tersebut dengan gigi geraham (berpegang teguhlah kamu sekalian pada sunnah-sunnah tersebut). HR Abu Dawud

    Nabi Muhammad saw. juga pernah bersabda sebagai berikut:

    “Ikutlah kamu sekalian dengan kedua orang ini sesudah aku mangkat, yaitu Abu Bakar dan Umar”. HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah.

    Telah diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab telah memerintahkan Ubai dan Tamim Ad Daari melakukan shalat tarawih bersama orang-orang sebanyak 20 raka’at. Dan Imam Al Baihaqi telah meriwayatkan dengan isnad yang shahih, bahwa mereka melakukan shalat tarawih pada masa pemerintahan Umar bin Khattab 20 raka’at, dan menurut satu riwayat 23 raka’at. Dan pada masa pemerintahan Usman bin Affan juga seperti itu, sehingga menjadi ijma’. Dalam satu riwayat, Ali bin Abi Talib ra. mengimami orang-orang dengan 20 raka’at dan shalat witir dengan tiga raka’at.

    Imam Abu Hanifah telah ditanya tentang apa yang telah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab ra., maka beliau berkata:”Shalat tarawih itu adalah sunnat mu’akkadah. Dan Umar ra. tidaklah menentukan bilangan 20 raka’at tersebut dari kehendaknya sendiri. Dalam hal ini beliau bukanlah orang yang berbuat bid’ah. Dan beliau tidak memerintahkan shalat 20 raka’at, kecuali berasal dari sumber pokoknya yaitu dari Rasulullah saw.”

    Khalifah Umar bin Khattab ra. telah membuat sunnah dalam hal shalat tarawih ini dan telah mengumpulkan orang-orang dengan diimami oleh Ubai bin Ka’ab, sehinggaUbai bin Ka’ab melakukan shalat tarawih dengan berjama’ah, sedangkan para shahabat mengikutinya. Di antara para shahabat yang mengikuti pada waktu itu terdapat: Usman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, ‘Abbas dan puteranya, Thalhah, Az Zubair, Mu’adz, Ubai dan para shahabat Muhajirin dan shahabat Ansor lainnya ra. Dan pada waktu itu tidak ada seorangpun dari para shahabat yang menolak atau menentangnya, bahkan mereka membantu dan menyetujuinya serta memerintahkan hal tersebut. Dalam hal ini Nabi Muhammad saw. pernah bersabda:

    “Para shahabatku adalah bagaikan bintang-bintang di langit. Dengan yang mana saja dari mereka kamu sekalian mengikuti, maka kamu sekalian akan mendapatkan petunjuk”.

    Memang, pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz ra. yang pada waktu itu beliau mengikuti orang Madinah, bilangan shalat tarawih itu ditambah dan dijadikan 36 raka’at. Akan tetapi tambahan tersebut dimaksudkan untuk menyamakan keutamaan dengan penduduk Makkah; karena penduduk Makkah melakukan thawaf di Baitullah satu kali sesudah shalat empat raka’at, artinya dua kali salam. Maka Umar bin Abdul Aziz ra. yang pada waktu itu mengimami para jama’ah berpendapat untuk melakukan shalat empat raka’at dengan dua kali salam sebagai ganti dari thawaf.

    Ini adalah dalil dari kebenaran ijtihad dari para ulama’ dalam menambahi apa yang telah datang dari ibadah yang telah disyari’atkan, karena sama sekali tidak perlu diragukan, bahwa setiap orang diperbolehkan untuk melakukan shalat sunnat semampu mungkin pada waktu malam atau siang hari, kecuali pada waktu-waktu yang dilarang untuk melakukan shalat.

    (Bersambung)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: