Menjama’ Shalat


Menjama’ Shalat

Shalat yang dapat dijama’ adalah Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’. Dapat dikerjakan di awal waktu (jama’ taqdim) dan dapat pula dikerjakan di akhir waktu (jama’ takhir).

Sebab-sebab boleh menjama’ shalat :

Safar

Dari Anas ra., dia berkata, “Jika Rasulullah ShalallaHu alaiHi wa sallam berpergian sebelum matahari tergelincir, beliau akhirkan Zhuhur hingga waktu ‘Ashar. Beliau turun dari kendaraannya lalu menjama’ keduanya. Dan jika matahari sudah tergelincir sebelum melakukan perjalanan, maka beliau shalat Zhuhur lalu naik kendaraan” (HR. Al Bukhari no. 1112, Muslim no. 704, Abu Dawud no. 1206 dan An Nasa’i I/248)

Hujan

Dari Nafi’ ra., “Jika Abdullah Ibnu Umar ra. mengumpulkan para amir (gubernur) antara Maghrib dan Isya ketika hujan, maka dia menjama’ shalat bersama mereka” (HR. Muslim no. 706 dan Ibnu Majah no. 1070)

Dari Musa bin Uqbah, “Ketika turun hujan, Umar bin Abdul Aziz pernah menjama’ shalat Maghrib dengan Isya di akhir waktu, sedangkan Sa’id al Musayyib, Urwah bin Az Zubair, Abu Bakar bin Abdurahman serta ulama zaman itu bermakmum di belakangnya. Namun mereka tidak mengingkari perbuatan tersebut” (HR. Al Baihaqi III/168-169, dishahihkan oleh Syaikh Albani di Kitab Irwaa’ul Ghaliil III/40)

Karena ada Suatu Kebutuhan

Dari Ibnu Abbas ra., dia berkata, “Rasulullah ShalallaHu alaiHi wa sallam pernah menjama’ shalat Zhuhur dengan ‘Ashar di Madinah, tidak dalam keadaan takut maupun hujan” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiihul Jaami’ush Shaghiir no. 1068).

Abu Zubair berkata, “Lalu aku bertanya pada Sa’id, ‘Kenapa beliau melakukannya ?’, Dia menjawab, ‘Aku pernah bertanya hal yang sama kepada Ibnu Abbas. Lalu dia berkata, ‘Beliau tidak ingin memberatkan salah seorang pun dari umatnya’”.

Imam An Nawawi berkata dalam Syarh Muslim V/129, “Sejumlah imam berpendapat tentang bolehnya menjama’ shalat dalam keadaan mukim bagi orang yang tidak menjadikannya kebiasaan”. Pendapat ini diperkuat oleh zhahir perkataan Ibnu Abbas ra., “Beliau tidak ingin memberatkan umatnya”. Dia tidak menyebutkan alasan sakit atau yang lainnya. WallaHu a’lam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengungkapkan dalam Majmu’atul Rasail wa Masail II/26-27, “Menjama’ shalat bukanlah termasuk sunnah perjalanan seperti menqashar shalat, tetapi ia dilakukan karena suatu hajat baik ketika sedang dalam perjalanan atau tidak. Rasulullah juga menjama’ shalat pada saat tidak dalam perjalanan supaya tidak memberatkan umatnya”

[Menjama’ shalat, walaupun dikerjakan di akhir waktu, urutan shalatnya tidak berubah. Contoh, ketika menjama’ shalat Maghrib dengan Isya di waktu Isya maka yang dikerjakan adalah shalat maghrib terlebih dahulu baru kemudian shalat Isya, wallaHu a’lam-ini adalah hasil konsultasi saya dengan Redaksi Majalah Al Furqan, namun saya belum mendapatkan dalil naqlinya, mungkin ada yang bisa membantu ?]

***

Maraji’ :

Ensiklopedi Fatwa Syaikh Albani, Penyusun : Mahmud Ahmad Rasyid, Pustaka As Sunnah, Jakarta, Cetakan Pertama, Juni 2005 M.

Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

Iklan