Updates from April, 2010 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:06 am on 30 April 2010 Permalink | Balas  

    Masih Adakah Ahli Kitab? 

    Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut mari kita lihat surat Rasulullah SAW kepada pembesar bangsa Romawi, Heraklius, sebagai berikut:

    Dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya Kepada Heraklius, pembesar Bangsa Romawi Keselamatan atas orang yang mengikuti hidayah (Islam), amma ba’du,

    “Maka sesungguhnya aku mengajakmu kepada seruan Islam, Islamlah pasti engkau akan selamat dan Allah akan memberikan kepadamu pahala dua kali lipat. Tetapi jika engkau berpaling, maka sesungguhnya engkau (berdosa) dan akan menanggung dosa rakyatmu dan (kemudian beliau SAW mengutip firman Allah surat Ali Imran ayat 64)

    ‘Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian lain Ilah selain Allah’. Jika mereka berpaling maka katakanlah, ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang – orang yang berserah diri (kepada Allah)” (HR. Al Bukhari no. 7 dan Muslim no. 1773)

    Fiqh Hadits:

    Rasulullah SAW telah mengirim surat kepada pembesar Romawi, Heraklius yang beragama nasrani (Kristen) yang mana di dalam suratnya Rasulullah SAW mengutip firman Allah SWT, “Hai Ahli Kitab …”. Hal ini menunjukan bahwa pembesar Romawi yang bernama Heraklius adalah seorang ahli kitab.

    Jadi yang dimaksud ahli kitab adalah orang – orang yang beragama yahudi dan nasrani baik yang dahulu dan sekarang, yang belum merubah kitab mereka (Taurat dan Injil) ataupun yang telah merubah kitab mereka. Karena pada masa Rasulullah SAW atau masa Heraklius, isi kitab Taurat dan Injil telah banyak mengalami perubahan.

    Maraji’:

    Disarikan dari buku Al Masaa-il Jilid 5, Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Darus Sunnah Press, Jakarta, Cetakan Pertama, November 2005, Hal. 162-169

    [Rasulullah SAW bersabda kepada sahabat Mu’adz bin Jabal ra. ketika beliau mengutusnya ke negeri Yaman, “Innaka sata’tii qauman aHla kitaab fa-idzaa ji’tuHum fad’uHum ilaa AnyasyHaduu an laa ilaaHa illallaHu wa anna muhammadan rasuulullaH” yang artinya “Sesungguhnya engkau akan menjumpai kaum ahli kitab, jika engkau bertemu dengan mereka maka dakwahkanlah bahwa tiada tuhan yang disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah” (HR. Bukhari, Muslim dan lainnya, dari Abdullah bin Abbas ra.)]

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 29 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , makhluk malaikat,   

    Relatifitas Waktu Penghuni Langit dan Bumi 

    Alam semesta demikian besamya. Siapakah yang menghuni? Apakah hanya manusia saja. Ataukah ada makhluk lain. Sampai sekarang ilmu Astrobiologi belum menemukan data-data yang signifikan. Semuanya, baru pada tingkat dugaan dan asumsi-asumsi. Karena itu, agaknya kita belum bisa bersandar pada data data empirik untuk membahas tentang penghuni alam semesta ini. Meskipun, baru baru ini NASA telah memperoleh data adanya air di Mars lewat pesawat tidak berawaknya. Akan tetapi semua itu masih jauh dari memadai untuk mengatakan di sana ada kehidupan.

    Untuk itu, akan lebih baik jika kita mendasarkan pembahasan kita pada informasi dari Al Quran. Di dalam Al Quran, makhluk ciptaan Allah disebut hanya ada 6 macam, yang 3 berakal, dan 3 lainnya tidak yaitu: malaikat, jin, manusia, binatang, tanaman, dan benda mati.

    Makhluk Malaikat

    Malaikat adalah makhluk yang diciptakan Allah khusus untuk ‘membantu’ Allah mengurus alam semesta ciptaanNya. Bukan berarti Allah ‘kewalahan’ dalam mengurus alam semesta ini dan kemudian butuh bantuan malaikat. Allah berfirman bahwa Dia selalu dalam kesibukan mengurusi alam semesta.

    QS. Ar Rahman (55) : 29, “Semua yang ada di langit dan di Bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.”

    Pada hakikatnya, yang sibuk mengurusi alam semesta adalah Allah semata. Karena, toh malaikat adalah ciptaan Allah. Akan tetapi Allah membuat sebuah mekanisnne yang memang melibatkan malaikat dalam interaksiNya dengan makhluk-makhluk yang lain terutama manusia hal ini, misalnya, terlihat dari firmanNya berikut ini.

    QS Asy Syuraa (42) : 51, “Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

    Bukan karena Allah tidak mampu berkomunikasi dengan makhluk ciptaanNya, justru sebaliknya, badan manusia terlalu ringkih untuk bisa berkomunikasi dengan Allah. Jangankan ‘berhadapan’ dengan Allah, berdekatan dengan Matahari saja badan manusia pasti hancur. Demikian pula pancaindera kita, terlalu lemah untuk untuk bisa berkomunikasi dengan Dzat Yang Maha Agung itu. Maka, ada mekanisme tertentu untuk bisa berkomunikasi denganNya. Nah, di antaranya adalah dengan melewati malaikat.

    Malaikat adalah makhluk Allah yang badannya terbuat dari cahaya. Badan cahaya itu lantas diberi Ruh oleh Allah. Maka jadilah makhluk malaikat.  Karena badannya terbuat dari cahaya, maka badan malaikat itu memiliki berbagai keunggulan, jauh di atas manusia atau makhluk Al lah lainnya. Bobotnya sangat ringan. Karena itu kecepatannya sangat tinggi. Bahkan tertinggi di alam semesta.

    Kecepatan cahaya adalah 300.000 km per detik. Karena itu, malaikat juga bisa bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi itu. Jika mau, malaikat bisa bergerak mengelilingi Bumi sebanyak 8 kali hanya dalam waktu 1 detik.  Dengan kecepatan setinggi itu, malaikat lantas memiliki berbagai kelebihan. Di antaranya, malaikat memiliki waktu yang sangat panjang dibandingkan dengan waktu manusia. Terjadilah relatifitas waktu, sebagaimana diinformasikan Allah dalam ayat berikut ini.

    QS Al Ma’arij (70) : 4, “Naik malaikat dan ruh kepadaNya dalam waktu sehari yang kadarnya 50.000 tahun.”

    Secara eksplisit Allah menginformasikan kepada kita bahwa sehari bagi malaikat adalah seperti 50.000 tahun bagi manusia. Kenapa bisa demikian? Karena malaikat memiliki kecepatan yang sangat tinggi. Ilmu Fisika Modern menjelaskan, bahwa bagi makhluk yang bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, maka waktu akan bergerak lamban baginya.

    Malaikat sebagai utusanNya diberi kecepatan yang tertinggi di alam semesta agar bisa menyelesaikan berbagai tugasnya dengan mudah. Dengan demikian, tugas yang sangat beragam itu bisa, diselesakan dengan baik. Termasuk mendampingi orang-orang yang beriman dalam menghadapi berbagai persoalannya.

    Kecepatan malaikat yang demikian tinggi itu bukan hanya berpengaruh pada cepatnya gerakan saja, melainkan juga berpengaruh pada panjang pendeknya waktu, sehingga terjadilah relatifitas waktu.

    QS. Fushilat (41) : 30, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (sambil mengatakan): janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan Surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

    Berbagai kelebihan tersebut membawa konsekuensi yang luas pada hubungan kita dengan malaikat. Misalnya, jika malaikat mau mengurus kita, katakanlah mencatat perbuatan manusia, mereka hanya membutuhkan waktu yang sangat singkat Anggaplah malaikat sedang mengamati perbuatan kita selama beberapa menit. Sebenamya waktu manusia sudah berjalan bertahun tahun.

    Sehingga peradaban manusia modern yang diperkirakan berusia 50.000 tahun sejak penciptaan Adam itu, bagi malaikat baru terjadi sehari yang lalu, alias kemarin. Atau, katakanlah usia alam semesta yang diperkirakan 12 miliar tahun ini, bagi malaikat baru berusia 240.000 hari alias sekitar 660 tahun saja.

    Maka jangan heran jika di Al Qur’an terdapat banyak informasi tentang relatifitas waktu itu. Misalnya Allah mengatakan bahwa sehari pada hari kiamat memiliki kadar 1000 tahun, seperti firman berikut ini.

    QS Al Hajj (22) : 47, “Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali. kali tidak akan menyalahi janji Nya Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”

    Contoh yang lain, ada manusia yang pada hari kiamat itu ditanya oleh Allah tentang lamanya dia tinggal di Bumi. Mereka mengatakan bahwa mereka tinggal di Bumi itu hanya sekitar satu hari saja. Akan tetapi, orang yang lain ada yang menjawabnya 10 hari.

    QS. Thahaa (20) : 103 – 104, “Mereka berbisik bisik di antara mereka : kami tidak berdiam (di dunia) melainkan hanya sepuluh (hari). Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanya sehari saja.

    Dengan adanya relatifitas waktu tersebut, maka kita bisa memahami firman Allah yang mengatakan bahwa kiamat sudah dekat. Sudah kelihatan tanda-tandanya. Akan tetapi, sampai sekarang belum juga terjadi. Padahal sejak zaman nabi Muhammad sampai sekarang, waktu manusia sudah berjalan hampir 1500 tahun.

    Di’sisi’, Allah waktu berjalan sangat lambat. (Tetapi Allah tidak terikat dimensi waktu. Justru ‘waktu’ yang berada di dalam Allah). Karena itu, meskipun waktu alam semesta di mata manusia sudah berjalan sekitar 12 miliar tahun, Allah mengatakan bahwa proses penciptaan alam semesta ini di sisi Allah hanya butuh waktu 6 hari! Jadi setiap tahap penciptaan alam semesta hanya butuh waktu penciptaan Masing-masing 1 hari saja. Dan sampai sekarang proses tersebut belum berhenti.

    Kembali kepada malaikat. Malaikat adalah makhluk cahaya yang didesain memiliki berbagai kelebihan oleh Allah. Mereka bisa bergerak ke mana saja di alam semesta ini, sebagaimana digambarkan dalam QS Al Ma’arij : 4 tersebut di atas. Perjalanan malaikat dari Bumi menuju langit, misalnya, digambarkan hanya ditempuhnya dalam waktu sehari saja. Padahal manusia menempuhnya dalam waktu 50.000 tahun.

    Bahkan bukan hanya perjalanan fisik di langit dunia, tetapi malaikat juga memiliki kelebihan untuk bisa menembus dimensi dimensi langit pertama sampai dengan langit ke tujuh. Malaikat adalah makhluk dari langit ketujuh, yang berdimensi 9

    Tugas malaikat beragam. Mulai dari menyampaikan wahyu kepada para nabi, ‘mencatat’ perbuatan manusia, menyampaikan rezeki, sampai kepada penjaga Surga dan Neraka. Semua itu dilakukan malaikat persis sesuai perintah Allah. Malaikat tidak pernah membangkang terhadap perintah Allah. Setiap saat mereka selalu bertasbih memuji kebesaran Allah.

    QS. Al Anbiyaa’ : 19 – 20, “Dan kepunyaanNyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat malaikat yang di sisiNya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembahNya, dan tiada merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. “

    QS. Faathir : 1,  “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan Bumi yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang bersayap dua-dua, tiga-tiga, empat empat. Allah menambah apa yang Dia kehendaki tentang ciptaanNya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

     
    • ari kurniawan 5:50 pm on 29 April 2010 Permalink

      Maha Besar Allah yg telah menciptakan mahluk dan segala sesuatu yg di dalamnya terdapat pelajaran bagi kita. Subhanallah…

    • eL Abee 7:05 am on 30 April 2010 Permalink

      Yang benar “relativitas”

    • sabil 3:00 pm on 30 April 2010 Permalink

      saya penasaran ! mau baca ! tapi ini terlalu panjang ..

    • tary 8:50 pm on 30 April 2010 Permalink

      Allahu akbar….Maha Besar Allah.Dia lah yang Maha Sempurna.
      Subhanallah…..

    • phallend 8:44 pm on 12 Mei 2010 Permalink

      klo trllu pnjsng y d copy, d print trus d bw plg&d bc d rmh j.. gtu j kok repot..

    • MISBAHUDIN 12:03 am on 20 Januari 2011 Permalink

      SUBEHANALLAH MAHA SUCI ENGKAU YA ALLAH YG TELAH MENJADIKAN SEMUA INI TIDAK SIA SIA AMPUNI HAMBAMU INI DAN JAUHKAN KAMI DARI SIKSAMU. AMIIN

  • erva kurniawan 1:16 am on 28 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: penyakit wanita hamil   

    Perut Hamil Tapi Tak Ada Janin 

    Jakarta, Kehamilan adalah proses yang diimpikan banyak perempuan. Tapi kadang kehamilan yang terjadi tak seperti yang diimpikan, salah satunya adalah mengalami hamil anggur. Perut ibu hamil membesar tapi di dalamnya kosong tak ada janin.

    Dalam kamus kedokteran sebenarnya tidak ada istilah hamil anggur. Istilah ini hanya digunakan oleh masyarakat awam apabila seorang perempuan hamil tapi kehamilannya gagal membentuk janin dalam kandungan, dunia kedokteran mengenalnya dengan istilah Mola hidatidosa.

    “Hamil anggur sama seperti hamil biasa, tapi rahimnya kosong dalam arti tidak ada bayinya. Dinamakan hamil anggur karena berisi gelembung-gelembung cairan bening seperti buah anggur atau gelembung udara,” ujar dr Ifzal Asril SpOG sat dihubungi detikHealth, Kamis (31/12/2009).

    Bagaimana bisa ketahuan hamil anggur?

    dr Ifzal menuturkan kehamilan ini bisa dideteksi saat usia kehamilan 8-10 minggu. Apabila saat usia kehamilan tersebut dilakukan pemeriksaan USG (ultrasonografi) dan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan adanya bayi, maka ada kemungkinan perempuan tersebut mengalami hamil anggur.

    Penyebab dari seorang perempuan mengalami hamil anggur adalah akibat status gizi yang buruk dari perempuan tersebut semenjak dirinya belum hamil atau akibat kelainan genetik pada kromosom yang berasal dari sperma atau sel telurnya.

    “Hamil anggur ini bisa diketahui apabila sudah melakukan pemeriksaan USG, kadang hamil anggur ini juga ditandai dengan pembesaran perut yang tidak normal misalnya usia kehamilan baru 4 bulan tapi perutnya sudah terlihat seperti hamil 6 bulan,” ujar dokter yang berpraktik di RSIA Hermina Jatinegara Jakarta.

    Jika seseorang mengalami hamil anggur, maka perawatan yang harus dilakukannya adalah dengan cara dikuret sama seperti jika seseorang mengalami keguguran. Kuret ini berguna untuk membersihkan rahim. Dua bulan setelah dikuret, pasien harus melakukan pemeriksaan darah untuk melihat kadar dari hormon hamilnya. Jika kadarnya sudah normal, maka orang tersebut sudah bisa hamil lagi.

    “Tapi jika kadar hormon hamilnya masih tinggi atau justru lebih tinggi dari sebelumnya, maka harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan pengobatan berupa kemoterapi. Karena hamil anggur ini ada yang bersifat jinak tapi ada juga yang ganas. Kalau ganas bisa menyebar ke organ-organ lain, makanya harus dilakukan kemoterapi,” ungkap dokter lulusan FKUI ini.

    Sel hamil anggur yang ganas ini bisa juga disebabkan karena kurang bersihnya saat melakukan kuret, sehingga masih ada sel yang melekat di dinding rahim. Jika tidak dilakukan perawatan lebih lanjut ada kemungkinan sel ini akan berubah menjadi kanker.

    Karena tetap mengandung hormon hamil, maka saat seorang perempuan melakukan cek kehamilan dengan menggunakan test pack hasilnya tetap menunjukkan tanda positif. Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, tidak ada salahnya melakukan pemeriksaan USG jika sudah memasuki usia kehamilan 8-10 minggu.

    ***

    Detik.health.com (ver/ir)

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 27 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: walimah   

    Walimah yang Paling Buruk di Sisi Allah 

    Dari Abi Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Makanan yang paling buruk adalah makanan walimah. Yaitu bila orang miskin yang ingin datang tidak diundang sebaliknya orang yang tidak butuh (orang kaya) malah diundang. Siapa yang tidak mendatangi undangan itu termasuk makshiat kepada Allah dan rasul-Nya.” (HR Muslim)

    Fawaid

    1. Walimah itu seharusnya bermanfaat untuk memberi makan orang-orang yang membutuhkan, baik fakir, miskin atau anak-anak yatim. Jangan sampai wallimah itu hanya memberi makan buat orang yang pada hakikatnya tidak terlalu butuh karena sudah kaya.
    2. Walimah yang demikian itu dipandang oleh Rasulullah SAW sebagai walimah yang tidak baik, yaitu dengan menyebutkan bahwa makanan pada walimah itu adalah seburuk-buruk hidangan.
    3. Namun pengertian hadits ini bukan berarti menu makanan itu menjadi haram hukumnya sehingga tidak boleh dimakan, melainkan maksudnya adalah bila sebuah walimah itu dikemas sedemikian rupa dengan melupakan orang miskin dan dikhususkan hanya orang kaya saja yang boleh hadir, maka walimah itu adalah walimah yang buruk. Tidak selayaknya seorang muslim menyelenggarakan walimah yang seperti itu.
    4. Hadits ini juga menjadil landasan dalil keharusan seseorang untuk memenuhi undangan bila diundang.

    ***

    eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 6:28 pm on 26 April 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    Ketika Kita Singgah Sejenak 

    Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar

    Bayangkanlah bila suatu ketika ada seseorang yang menjanjikan hadiah berupa sebuah rumah mewah lengkap dengan isinya. Begitu indah dan sempurnanya rumah itu, sehingga baru membayangkannya saja Anda sudah merasakan suatu kenikmatan dan kebahagiaan tersendiri. Rumah itu terletak di kota “A” dan anda diminta untuk pergi sendiri ke sana. Diberinya anda sejumlah ongkos untuk bekal selama perjalanan hingga sampai tujuan. Tetapi di tengah perjalanan nanti Anda diminta singgah terlebih dahulu disebuah kampung. Ya, sekedar singgah sejenak!

    Sungguh termasuk orang yang malang apabila ketika sampai di kampung tersebut Anda malah terpana dan lalu menganggap kampung tersebut teramat indah. Melihat gubuk disangka istana. Melihat kolam kecil disangka danau. Bahkan melihat kue serabi anda sangka martabak spesial. Pendek kata, mata dan penilaian Anda menjadi kabur dan tertipu oleh karena keterpanaan yang menerpa.

    Saking merasa senangnya Anda dengan kampung itu, sampai-sampai lupa dengan pesan semula bahwa anda hanya disuruh singgah sejenak saja. Anda tinggal berlama-lama di sana dan tentu saja ongkos pemberian yang cukup untuk sampai tujuan itu malah anda habiskan di kampung itu. Akibatnya, tidak usah heran ketika yang menyuruh dan memberi ongkos akan murka tatkala mengetahui Anda ternyata tidak pergi ke kota yang diminta.

    Nah, ketahuilah bahwa kota “A” itu tiada lain adalah akhirat, sedangkan kampung yang anda hanya disuruh singgah sejenak itu tak lain pula adalah kampung dunia ini.

    Salahkah apabila Dia Yang Mahabaik itu, yang telah menjajikan surga Jannatun Na’im – padahal apapun yang dijanjikanNya pasti ditepati dan tidak akan meleset sedikitpun – dan tak lupa pula memberi bekal perjalanan yang cukup berupa karunia nikmat rizki, tidak menyembunyikan “kekecewaannya” melihat tingkah laku kita yang tak pandai manjaga amanah, dengan berfirman, “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai?” (Q.S. Ar Ruum 30: 7) “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui,” demikian firmanNya pula. (Q.S. Al Ankabuut 29: 64)

    Kebanyakan di antara kita ternyata memang gemar bertindak yang “mengecewakan” seperti itu. Kampung dunia ini sebenarnya tidak ada apa-apanya, namun sebagian besar orang ternyata terpedaya oleh keindahan fatamorgananya. Padahal, semua yang dititipkan Alloh kepada kita, baik berupa otak, tenaga, harta, waktu, dan sebagainya, itu semua sebenarnya bukan untuk kampung dunia ini karena ia hanyalah tempat mampir atau singgah sejenak saja.

    Dunia tak lebih sekedar tempat transit belaka kendatipun untuk ini Alloh Azza wa Jalla pasti mencukupi kita dengan rizkinya. Dengan catatan, sepanjang “ongkos” tersebut tidak dhamburkan sia-sia. Alloh memampirkan kita di dunia ini seraya tahu persis akan segala apa yang kita butuhkan, lebih tahu daripada apa yang sebenarnya kita perlukan, kalau ongkos yang ada itu kita jadikan betul-betul untuk bekal kepulangan nanti, maka subhanallah, kita akan kaget bahwa betapa Alloh akan mencukupi kita dengan limpahan karunianya.

    Akan tetapi, sayang sebagian besar orang tidak mengerti bahwa semua yang dititipkan Alloh itu sebenarnya untuk bekal pulang, sehingga seluruh waktunya habis tandas hanya untuk mengejar-ngejar segala hal yang bersifat duniawi. Padahal tidak akan kemana-mana dunia ini. Bukankah ketika masih berada di rahim bundapun kita tetap diberi dunia (rizki) padahal toh kita tidak berdoa, tidak shalat tidak ikhtiar ke mana pun.

    Kita memang disuruh menyempurnakan ikhtiar, tetapi bukan semata-mata untuk mencari dunia. Ikhtiar kita secara sempurna pada hakikatnya untuk bekal kepulangan kita ke akhirat kelak. Jadi, jaminan dari Alloh untuk kehidupan dunia ini sebenarnya ditujukan kepada orang yang bersungguh-sungguh menyempurnakan ikhtiarnya.

    Untuk bekal kehidupan dunia ini, rejeki itu oleh Alloh dibiarkan tergantung. Lalu, Dia seolah-olah berfirman, “Ini rejekimu, kalau engkau ikhtiar, akan kau dapatkan apa yang telah ditetapkan bagimu. Kalau ikhtiarnya di jalanKu, maka tidak hanya rejekimu yang kau dapati, tetapi pahalapun akan engkau peroleh. Itulah keberkatan untukmu; di dunia ternikmati, di akhiratpun jadi manfaat. Sebaliknya, bila ikhtiarmu itu di jalan yang Aku murkai, yakni niat maupun caranya tidak benar, maka tetaplah akan kau dapati apa yang telah menjadi bagianmu, hanya, berubah statusnya menjadi haram. Rejekinya tetap didapat tetapi tidak mengandung manfaat dan keberkahan.

    Memang, ada sebagian orang yang selama hidupnya begitu sibuknya banting tulang, seakan-akan takut tidak kebagian makan. Apa yang telah diperolehnya dikumpulkannya dengan seksama demi agar anak-anaknya terjamin masa depannya.

    Ada juga orang yang ketika hidup ini teramat sibuk merindukan penghargaan sehingga dia capek menata rumah, capek membeli ini itu, capek mematut-matut diri dengan motivasi semata-mata ingin dihargai orang. Disisi lain ada juga orang yang hidupnya hanya mencari kepuasan, sehingga uang yang telah dikumpul-kumpulkannya dipakainya untuk pergi melancong kemana saja yang dia suka.

    Bagi orang yang tahu hakikat kehidupan ini, maka pastilah yang dicarinya itu bukan dunia, melainkan Yang Memiliki Dunia! Kalau orang lain bekerja banting tulang untuk mencari uang, maka kita bekerja demi mencari Yang Membagikan Uang. Kalau orang lain belajar ingin mencari ilmu, maka kita belajar karena mencari Yang Memberi Ilmu. Kalau orang lain sibuk mengejar prestasi demi ingin dihargai dan dipuji sesama, maka kitapun sibuk mengejar prestasi demi mendapatkan penghargaan dan pujian dari yang Yang Maha Menggerakkan siapapun yang menghargai.

    Jadi jelas perbedaannya, Bagi orang yang tujuannya dunia, pasti kesibukannya hanya sebatas ingin mendapatkan itu saja. Sedangkan bagi yang tahu ilmunya, maka yang dicari itu langsung tembus kepada pemilik dan penguasa segala-galanya. Bagi sebagian orang, tatkala membutuhkan uang, tetapi uang itu tidak didapatkan, jelas yang muncul adalah rasa kecewa. Sebaliknya bagi kita, saat membutuhkan uang, maka kita berikhtiar sekuat tenaga bukan untuk mengejar uang semata, melainkan Allohlah yang kita kejar. Soal dapat atau tidak dapat tak ada masalah karena Alloh tidak akan pernah lupa memberikan karuniaNya. Kesibukan kita berikhtiar pasti sudah dicatat oleh Alloh. Tidak ada yang rugi, tidak ada pula yang gagal.

    Kalau orang bekerja karena ingin dihargai, maka bagi kita semua itu tidak ada apa-apanya karena Allohlah sebagai penguasa alam semesta yang menjadi tujuan segala perbuatan kita. Kadang-kadang penghargaan manusia justru menjadi ujian bagi kita. Sebab manakala seseorang memuji kita, maka hakikatnya bukanlah karena kita layak dipuji, melainkan karena Alloh saja yang menutupi segala aib dan keburukan kita, sehingga orang menyangka kita ini layak dipuji.

    Bagi orang yang mengetahui rahasia di balik suatu kejadian, datangnya pujian itu akan membuatnya tambah malu karena itu berarti Alloh memperlihatkan sesuatu, bahkan tidak jarang pujian itu ternyata lebih baik dari kenyataan sebenarnya yang ada pada diri kita. Kalau kita mau jujur, sungguh tidak pantas dan tidak cocok pujian itu dialamatkan kepada kita. Karenanya, janganlah lekas terpana oleh pujian manusia.

    Mengapa ada orang yang bisa mendaki gunung walaupun dengan bekal dan alat seadanya? Mengapa ada orang yang berani menyeberangi lautan walaupun hanya dengan menggunakan perahu sederhana? Jawabnya, karena kekuatan terbesar adalah motivasinya. Demikian halnya kalau motivasi kita hanya sebatas dunia ini, maka tidak usah heran kalau dia akan mudah terpedaya. Akan tetapi, tidak akan pernah lelah kita mencari apapun juga karena yang kita tuju adalah Dia Yang Maha Perkasa!

    Walhasil, tampaknya wajib bagi siapapun menyadari bahwa dunia ini hanya tempat singgah sejenak belaka, kalaulah Alloh berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Alloh kepadamu (Kebahagiaan) negeri akhirat, (tetapi) janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashas 28: 77). Maka itu semata-mata dimaksudkan agar kita pandai mensyukuri apapun yang telah dianugerahkan Alloh kepada kita selama hidup didunia ini. Adapun kebahagiaan dan kenikmatan yang kekal dan hakiki, itulah yang akan kita dapati di akhirat.

    ***

    Sumber: Buletin Dakwah Qolbun Salim Edisi 03, Ramadhan 1422 H Divisi Humas – Daarut Tauhiid Jakarta

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 25 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: sahabat rasulullah   

    Keutamaan dan Hak Sahabat Rasulullah SAW 

    Berikut ini adalah hadits – hadits shahih yang menceritakan keutamaan Sahabat Rasulullah SAW,

    Dari Abdullah bin Mas’ud ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Khairun naasi qarnii tsummal ladziina yaluunaHum tsummal ladziina yaluunaHum” yang artinya, “Sebaik – baik manusia adalah pada zamanku, kemudian zaman berikutnya, kemudian zaman berikutnya” (HR. Bukhari no. 3651 dan Muslim no. 2533)

    Abu Burdah meriwayatkan dari bapaknya, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Wa ahshaabii amanatun liummatii faidzaa dzahaba ashhaabii ataa ummatii maa yuu’aduun” yang artinya, “Dan sahabatku adalah pengaman bagi umatku, jika sahabatku telah pergi maka akan datang apa yang telah dijanjikan atas umatku” (HR. Muslim no. 2531)

    Rasulullah SAW bersabda, “Inna amannan naasi ‘alayya fii maaliHi washuhbatiHi abuubakrin” yang artinya, “Sesungguhnya yang paling besar jasanya padaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar” (HR. Bukhari no. 3654 dan Muslim no. 2382)

    Sa’ad bin Abi Waqqash ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “IiHan yabnal khaththaabi wal ladzii nafsii biyadiHi maa laqiyakasy syaithaanu saalikan fajjan qaththu illaa salaka fajjan ghaira fajjik” yang artinya, “Bahagialah wahai Ibnul Khaththab, demi Allah, setiap kali setan berpas-pasan denganmu pada satu jalan ia pasti memilih jalan lain selain jalan yang engkau lalui” (HR. Bukhari no. 3683 dan Muslim no. 2396)

    Rasulullah SAW bersabda perihal Utsman bin Affan ra., “Alaa astahii min rajulin tastahii minHul malaa-ikatu” yang artinya, “Tidakkah aku malu terhadap lelaki yang para malaikat malu terhadapnya !?” (HR. Muslim no. 1401)

    Dari Abu Sarihah ra. atau Zaid bin Arqam ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Man kuntu maulaaHu fa’aliyun maulaaHu” yang artinya, “Barangsiapa yang mengangkat diriku sebagai walinya maka Ali adalah walinya juga” (HR. Ahmad dalam Kitab Al Fadhaail no. 959, At Tirmidzi, An Nasa’i dalam Kitab Khashaaish Ali no. 76 dan Ibnu Abi Syaibah, hadits ini shahih)

    Dari Irbad bin Sariyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Wa man ya’isy minkum fasayarakh tilaafan katsiran fa’alaikum bimaa ‘araftum min sunnatii wa sunnatil khulafaair raasyidiin al maHdiyyiin” yang artinya, “Barangsiapa yang hidup sepeninggalku ia pasti melihat perselisihan yang amat banyak. Hendaklah kalian tetap memegang teguh sunnahku yang kalian ketahui dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang berada diatas petunjuk” (HR. Imam Ahmad dalam Kitab Musnad IV/126-127, Abu Dawud no. 4607, At Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 42 dan Ad Darimi no. 95, hadits ini shahih)

    Dan masih banyak hadits – hadits shahih maupun atsar yang menceritakan tentang keutamaan para Sahabat Rasulullah SAW dan tentu saja keutamaan mereka banyak juga disebutkan di dalam Al Qur’an Al Karim, maka dari itu mereka radhiyallaHu ‘anHum memiliki hak – hak istimewa yang harus dipenuhi oleh seluruh kaum muslimin diantaranya:

    Mencintai mereka ra. Perlu diketahui mencitai mereka berarti kita telah mewujudkan konsekwensi cinta terhada Allah SWT, sebab Allah SWT telah mengabarkan bahwa Dia telah ridha terhadap para sahabat ra.

    “Rabb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal” (QS At Taubah 21)

    Memohonkan rahmat dan ampunan untuk mereka ra. Sebagai realisasi firman Allah SWT, “Dan orang – orang yang datang sesudah mereka (yaitu sesudah kaum Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Yaa Rabb kami, berilah ampun kepada kami dan saudara – saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang – orang beriman, Yaa Rabb kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS Al Hasyr 10)

    Menahan lisan dari membicarakan kesalahan mereka ra. apalagi mencela mereka ra. Hal ini karena kesalahan mereka ra. sangatlah sedikit dibandingkan dengan kebaikan mereka ra. yang begitu banyak, apalagi sumber kesalahan mereka bersumber dari ijtihad yang diampuni. Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Laa tasubbuu ashhaabii fawal ladzii nafsii biyadiHi lau anfaqa ahadukum mitsla uhudin dzaHaban maa balagha mudda ahadiHim walaa nashiifaHu” yang artinya, “Janganlah kalian mencela sahabatku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya seandainya seorang diantara kalian berinfak emas seperti gunung Uhud, sungguh belum menyamai satu mud seorang diantara mereka, tidak pula separuhnya” (HR. Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2541)

    Nabi SAW juga bersabda, “Idzaa dzukira ashhaabii fa-amsikuu” yang artinya, “Apabila disebut sahabatku maka diamlah” (Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Ash Shahihah no. 34)

    Maka dari itu Al Munawi berkata, “Yakni apa yang terjadi diantara mereka berupa peperangan dan persengketaan, (maka diamlah) secara wajib dari mencela mereka dan membicarakan mereka dengan tidak pantas, karena mereka adalah sebaik – baiknya umat” (Kitab Faidhul Qadir 1/347)

    Sedangkan sikap membela sahabat dan mencela para pencela sahabat adalah warisan para ulama salafush shalih. Imam Abu Zur’ah Ar-Raazi Rahimahullahu berkata, “Apabila anda melihat seseorang mencela salah satu sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam maka ketahuilah bahwa dia itu zindiq, karena Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam menurut kami adalah benar dan Al-Qur’an itu benar. Sesungguhnya yang menyampaikan Al-Qur’an dan hadits kepada kita adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam. Mereka (yang mencela para sahabat) hanyalah ingin mencela para saksi kita untuk membatalkan Al-Qur’an dan sunnah, padahal celaan itu lebih pantas untuk mereka dan mereka adalah orang-orang zindiq” [lihat Kitab Al-Kifaayah fii ‘ilmil riwaayah oleh Al-Khatib Al-Baghdadi hal.67].

    Dan Imam Al-Barbahaari Rahimahullahu berkata dalam Kitab Syarhus sunnah hal 50 no.104, “Apabila anda melihat seseorang mencela para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam maka ketahuilah bahwa dia itu pemilik ucapan yang jelek dan pengekor hawa nafsu”.

    Akhirnya, Yaa Allah saksikanlah bahwa kami mencintai sahabat Nabi-Mu dan berlepas diri dari perilaku kaum Syi’ah Rafidhah (dan selainnya) yang mencela sahabat Nabi-Mu.

    ***

    Maraji’

    1. Mengenal Keutamaan Mutiara Zaman, Hamd bin Abdillah bin Ibrahim Al Humaidi, Darul Haq, Jakarta, Cetakan Pertama, Agustus 2002 M.
    2. Disarikan dari Tulisan Ustadz Abu Ubaidah Al Atsari, Majalah Al Furqan, Lajnah Dakwah Ma’had Al Furqan, Edisi 12, Tahun IV, Rajab 1426 H, hal. 20.

    KuHanyaOrangBiasa

    MURNIKAN TAUHID, TEGAKAN SUNNAH

    Dari Abu Dzar ra., Rasulullah SAW bersabda, “Jibril berkata kepadaku, ‘Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka pasti dia masuk surga” (HR. Bukhari)

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 24 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: bila menelan permen karet, menelan permen karet, permen karet   

    Jika Permen Karet Tertelan 

    Jakarta, Orangtua kadang tidak mengizinkan anaknya makan permen karet karena takut anak menelan permen karet tersebut. Apa yang terjadi jika permen karet tersebut tertelan oleh anak-anak?

    Mungkin beberapa orang pernah mendengar kabar burung bahwa permen karet yang tertelan akan tetap tinggal di dalam perut selama 7 tahun. Tapi kabar tersebut tidaklah benar. Meskipun permen karet tidak dapat dicerna oleh perut seperti makanan lain, tapi sistem pencernaan bisa memindahkannya melalui aktivitas usus dan akan terbuang melalui feses saat anak buang air besar.

    Tapi bukan berarti tertelan permen karet tidak berbahaya. Seperti dikutip dari Kidshealth, Minggu (3/1/2010), jika permen karet yang tertelan besar atau sering tertelan permen karet yang kecil-kecil bisa menimbulkan bahaya seperti dapat menghambat saluran pencernaan.

    Anak-anak kecil biasanya belum mengerti bahwa permen karet berbeda dengan permen yang biasa dikonsumsinya, karena permen ini hanya untuk dikunyah bukan ditelan seperti permen lainnya. Sebaiknya anak di bawah usia 5 tahun tidak diberikan permen karet, karena di usia tersebut anak belum bisa memahami bahwa permen karet tidak boleh ditelan.

    Permen karet biasanya terbuat dari pemanis, perasa dan bahan sintetis (gum resin). Tubuh manusia dapat menyerap pemanis seperti gula dan bisa menambah kalori jika permen karet tersebut mengandung gula yang tinggi. Tapi pencernaan manusia tidak bisa mencerna gum resin. Biasanya dengan bantuan gerakan peristaltik dari usus (usus mendorong bahan tersebut), maka permen karet tersebut akan keluar saat orang BAB.

    Salah satu bahaya terbesar jika permen karet yang dimakannya tertelan adalah anak berisiko tersedak. Ini biasanya terjadi pada anak yang belum memiliki mekanisme mengunyah dan menelan yang baik. Karena jika anak tersedak dan menutup saluran pernapasannya, hal ini bisa membuat anak susah bernapas dan berakibat fatal seperti kematian.

    Rata-rata anak yang lebih tua atau orang dewasa tidak terlalu memiliki risiko yang berbahaya jika tertelan permen karet. Tapi tidak ada salahnya jika orangtua memberikan pengertian terlebih dahulu sebelum memberikan permen karet pada anaknya.

    ***

    Detik.health.com

     
    • info-perkebunan.blogspot.com 7:28 pm on 26 April 2010 Permalink

      Terima kasih infonya….
      sangat bermanfaat…

    • Dayat 4:16 pm on 14 Desember 2010 Permalink

      keren infonya..

    • rani 9:03 am on 3 Maret 2012 Permalink

      terima kasih atas semu nya
      semoga benar akan keluar dari bab
      karna saya sangat cemas karana saya juga pernah teteln
      saya hanya kuatir akan usus buntu
      :D

  • erva kurniawan 1:39 am on 23 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah Kepala Ikan 

    Alkisah pada suatu hari, diadakan sebuah pesta emas peringatan 50 tahun pernikahan sepasang kakek-nenek. Pesta ini pun dihadiri oleh keluarga besar kakek dan nenek tersebut beserta kerabat dekat dan kenalan.

    Pasangan kakek-nenek ini dikenal sangat rukun, tidak pernah terdengar oleh siapapun bahkan pihak keluarga mengenai berita mereka perang mulut. Singkat kata mereka telah mengarungi bahtera pernikahan yang cukup lama bagi kebanyakan orang. Mereka telah dikaruniai anak-anak yang sudah dewasa dan mandiri baik secara ekonomi maupun pribadi. Pasangan tersebut merupakan gambaran sebuah keluarga yang sangat ideal.

    Disela-sela acara makan malam yang telah tersedia, pasangan yang merayakan peringatan ulang tahun pernikahan mereka ini pun terlihat masih sangat romantis. Di meja makan, telah tersedia hidangan ikan yang sangat menggiurkan yang merupakan kegemaran pasangan tersebut. Sang kakek pun, pertama kali melayani sang nenek dengan mengambil kepala ikan dan memberikannya kepada sang nenek, kemudian mengambil sisa ikan tersebut untuknya sendiri.

    Sang nenek melihat hal ini, perasaannya terharu bercampur kecewa dan heran.Akhirnya sang nenek berkata kepada sang kakek, “Suamiku, kita telah melewati 50 tahun bahtera pernikahan kita. Ketika engkau memutuskan untuk melamarku, aku memutuskan untuk hidup bersamamu dan menerima dengan segala kekurangan yang ada untuk hidup sengsara denganmu walaupun aku tahu waktu itu kondisi keuangan engkau pas-pasan. Aku menerima hal tersebut karena aku sangat mencintaimu. Sejak awal pernikahan kita, ketika kita mendapatkan keberuntungan untuk dapat menyantap hidangan ikan, engkau selalu hanya memberiku kepala ikan yang sebetulnya sangat tidak aku suka, namun aku tetap menerimanya dengan mengabaikan ketidaksukaanku tersebut karena aku ingin membahagiakanmu. Aku tidak pernah lagi menikmati daging ikan yang sangat aku suka selama masa pernikahan kita. Sekarangpun, setelah kita berkecukupan, engkau tetap memberiku hidangan kepala ikan ini. Aku sangat kecewa, suamiku. Aku tidak tahan lagi untuk mengungkapkan hal ini.”

    Sang kakek pun terkejut dan bersedihlah hatinya mendengarkan penuturan Sang nenek. Akhirnya, sang kakek pun menjawab, “Istriku, ketika engkau memutuskan untuk menikah denganku, aku sangat bahagia dan aku pun bertekad untuk selalu membahagiakanmu dengan memberikan yang terbaik untukmu. Sejujurnya, hidangan kepala ikan ini adalah hidangan yang sangat aku suka. Namun, aku selalu menyisihkan hidangan kepala ikan ini untukmu, karena aku ingin memberikan yang terbaik bagimu. Semenjak menikah denganmu, tidak pernah lagi aku menikmati hidangan kepala ikan yang sangat aku suka itu. Aku hanya bisa menikmati daging ikan yang tidak aku suka karena banyak tulangnya itu. Aku minta maaf, istriku.”

    Mendengar hal tersebut, sang nenek pun menangis. Merekapun akhirnya berpelukan. Percakapan pasangan ini didengar oleh sebagian undangan yang hadir sehingga akhirnya merekapun ikut terharu.

    **

    Moral Of The Story:

    Kadang kala kita terkejut mendengar atau mengalami sendiri suatu hubungan yang sudah berjalan cukup lama dan tidak mengalami masalah yang berarti, kandas di tengah-tengah karena hal yang sepele, seperti masalah pada cerita di atas.

    Kualitas suatu hubungan tidak terletak pada lamanya hubungan tersebut, melainkan terletak sejauh mana kita mengenali pasangan kita masing-masing. Hal itu dapat dilakukan dengan komunikasi yang dilandasi dengan keterbukaan. Oleh karena itu, mulailah kita membina hubungan kita berlandaskan pada kejujuran, keterbukaan dan saling menghargai satu sama lain.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • putrasubuh 2:03 am on 23 April 2010 Permalink

      wow,..cerita ini,kirain aku cerita dongeng tentang ikan menjdi manusia.hehehe.sungguh bgus cerita ini,isinya mengharukan.

      btw ikan apa tuch pic nya…?hah.jdi laper.

      bagus mas ceritanya.

    • Benz 12:13 am on 24 April 2010 Permalink

      Good Story,..

    • Abi Salsa 6:18 am on 24 April 2010 Permalink

      Pelajaran yg menarik, keikhlasan hati terkadang perlu di utarakan, agar tidak terjadi salah komunikasi

    • rizal 6:15 pm on 5 Mei 2010 Permalink

      harusnya nenek terbuka dengan apa yang dia tidak suka… begitu pula dengan kakek. dengan begitu keduany bisa saling memahami. ya pada intinya kita harus terbuka terhadap keadaan tetapi jangan sampai menyinggung perasaan orang lain.

  • erva kurniawan 1:30 am on 22 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Curhat Anak 

    Hampir disetiap malam, seorang ibu dan anak selalu bercerita tentang semua kejadian yang dialami selama 1 harian di luar rumahnya

    “Ma, tadi aku di sekolah, tampar mukanya si fulan.” cerita anak sambil memandang wajah mamanya yang dibuat senormal mungkin.

    “Eemm, emang si fulan, salah apa..sampe kamu tampar mukanya?” tanya mama sedatar mungkin.

    “Habis, aku kesal sama fulan Ma..”jawab sang anak yang terlihat mulai berkaca-kaca matanya

    “Apa yang sudah si fulan lakukan..sampe kamu kesal padanya..?”

    “Habis, dia katain mama, katanya mama masih kecil..” jawab anak polos.

    “Hahaha, lho baru dikatain gitu aja, koq segitu kesalnya, sampe orang ditampar segala? Memang kenyataannya mama kecil, lagipula bagus dunk itu berarti mama masih muda, jadi si fulan bilang mama kecil.” goda mama.

    “Tapi, aku enggak suka, dia katain mama.?” katanya yang mulai kesal.

    “Lho, memang gara2nya apa sich sampe si fulan, pake bawa2 katain mama segala?” tanya mama.

    “Tadi kita semua lagi bercanda ma, terus si fulan, pukul aku terus aku balas memukulnya, eeh dia langsung katain mama ku masih kecil, ya udah aku tampar aja lagi mukanya, aku bilang sama si fulan, kalau kamu marah sama aku, pukul dan katain aku aja, tapi jangan kamu bawa-bawa mamaku, memangnya mamaku salah apa sama kamu?” cerita sang anak yang mulai menangis.

    “Terus..” tanya mama pada anaknya

    “Terus kata si fulan, ya udah katain aja aku lagi, ya udah aku balas aja katain, dasar anak tukang sate?!”

    “Hush..!!kenapa kamu jadi ikutan si fulan, katain ayahnya?! Memang ayahnya salah apa sama kamu?” tegur mama sedikit keras.

    “Habis, fulan yang suruh aku balas ma?” bela sang anak.

    “Kamu enggak suka, mama dikatain sama si fulan? Lalu kenapa kamu juga ikutan katain ayahnya si fulan? Kamu kasihan sama mama, karena kamu enggak mau mama dibilang seperti itu sama si fulan. Kasihan juga dunk, ayahnya si fulan yang enggak tahu apa-apa dibawa oleh keributan kamu berdua. Itu berarti kamu tidak ada bedanya sama si fulan. Harusnya tamparan itu sudah cukup, kamu berikan padanya, dan enggak usah lagi kamu bawa orang tuanya.”

    Dan terlihat air mata yang masih menggenang di sudut matanya yang masih menyimpan rasa kesal, karena tidak ingin mamanya dibilang spt itu. Dan untuk mengalihkan pikirannya

    “Hayo, sekarang tidur sudah malam.” Alihkan mama dan disambut masih ada rasa kesal terlihat diwajah anak tertuanya.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • muhammad aanx farhan 1:39 am on 22 April 2010 Permalink

      kayaknya seneng tuh maen sama anak..??
      jadi pengen uy..??

    • tary 9:16 am on 22 April 2010 Permalink

      Didikan dan pelajaran yang baik untuk anak2….

  • erva kurniawan 1:39 am on 21 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Alloh Maha Mengetahui Yang Terbaik Untuk Hambanya 

    “Akhirnya ada juga Le Bis yang lewat. Kita pulang Le. Ya Allah, kok ya tega ya nda mau berhenti. Sabar ya Le, insya Allah akan ada lagi Bis yang lewat. “

    Bayi lelaki berumur sebelas bulan itu hanya tersenyum senyum mendengar perkataan ibunya. Kembali Ibu itu melambaikan tangannya kepada Bis yang lewat tapi tetap saja Bis itu tidak mau berhenti. Bayi itu tertawa, “Le…le…kok kamu bisa bisanya tertawa.”

    Bayi lucu itu tidak mau tahu teriknya mentari saat itu.

    “Alhamdulillah…ada juga yang berbaik hati mau berhenti.”

    “Cepet Bu cepet!“ ujar kondektur.

    “Ya Allah, Bis nya penuh Le, tapi ga apa apa, yang penting kita bisa pulang Le.“

    “Jogja , jogja!“ teriak sang kondektur mencari penumpang.

    “Lha wong sudah penuh sesak begini kok masih cari penumpang. “

    “Mas! Pie toh mas, sesak begini kok“ salah seorang penumpang geram.

    Tiba tiba bayi lelaki itu menangis. “Aduh Le, jangan nangis toh Le”

    Tapi bayi itu makin keras tangisnya. Suasana panas saat itu makin membuat para penumpang tidak nyaman, apalagi dengan kondisi penuh sesaknya manusia didalam bis tersebut.

    “Bu, anak e bisa disuruh diam nda sih?“ ujar salah seorang penumpang di sebelahnya.

    “Maaf pak, maaf. “

    “Huh, udah banyar mahal mahal, tapi kaya begini“ salah seorang lagi marah marah.

    “Saya ini mau tidur, disuruh diam bisa nda sih“ ujar seorang ibu ibu gemuk dibelakangnya.

    “Hey, anak siapa itu, macet begini bikin pusing saja“ teriak pak sopir.

    “Suruh turun saja pak sopir” teriak penumpang belakang.

    “Iya, turuni saja. Wong sudah sesak begini kok“ tambah yang lain.

    “Kalau anak itu nda mau diam, lebih baik kalian turun saja“ ujar pak kondektur.

    “Bapak bapak, Ibu ibu, siapa yang nda setuju kalau ibu ini disuruh turun?“ tanya salah seorang penumpang sambil berdiri.

    Semua terdiam.

    “Suruh turun saja“ salah seorang kakek berkata.

    “Ibu turun saja disini. Cari bis yang lain saja“ kata kondektur.

    “Maaf bapak bapak ibu ibu, kalau anak saya ini mengganggu, tapi anak ini kan masih kecil, belum mengerti apa apa. Tolonglah kami. Tolong“

    “Wah, nda bisa Bu, anak ibu ini main kenceng saja nangisnya. Disini banyak penumpang yang mau istirahat“ tambah pak Kondektur.

    Dengan tidak hormat, Ibu dan anak itu dipaksa turun dari bis.

    “Ya Allah, kok ya ada manusia manusia seperti itu. Kok ya nda kasihan sama anak bayi ini. Le, le, kamu tuh bikin susah ibumu saja le.“

    Dengan tertatih, ibu itu mencoba menyetop mobil yang lewat saat itu sambil berjalan berkilo-kilo meter. Dan sampai akhirnya.

    “Lho, ibu mau kemana, sudah hampir gelap begini kok. Kasihan anaknya.“ Tanya sang pengemudi.

    “Maaf, dek. Boleh ibu menumpang sampai kota”

    “Oh tentu tentu. Masuk Bu.“ jawab sang pengemudi.

    “Ternyata masih ada anak muda baik hati seperti adik ini ya.” Si bayi itu tertawa tawa ketika mereka menumpang dimobil itu.

    “Ibu ini sebenarnya mau kemana toh?“ Tanya sang pengemudi.

    “Saya mau ke Jogja, mau pulang.“

    “Wah, kebetulan kalau begitu, saya juga mau kerumah mbah yang ada di Jogja. Kalau begitu saya antar ibu sampai rumah, kasihan bayi ne.“ ujar sang pengemudi.

    “Tapi saya masih bingung, kenapa kok ya bisa ibu ini sendirian ditengah sawah tadi?“

    “Oh, saya itu juga bingung dek, kok ya ada orang yang tega menurunkan saya, gara gara anak saya ini terus terusan nangis.“ jawab si Ibu

    “Masa sih bu.  Wah, kalau itu kebangetan toh bu.“ timpal sang pengemudi.

    **

    Beberapa jam kemudian.

    “Wah, ada apa ya kok nda biasa biasanya macet begini. Mas mas, aqua nya satu mas. Mas, ada apa toh mas, kok bisa macet begini ? panjang ya mas macet nya?“ tanya anak muda itu.

    “Wah iya mas, katanya ada kecelakaan bis didepan sana.“ jawab penjual minuman.

    “Oh…terimas kasih ya..mas. Ini bu, kalau ibu haus.“

    “Oh, ini toh bisnya, ya Allah bisnya hangus terbakar, oh pantes. Tabrakan dengan truk besar.“ heran anak muda itu.

    Prit prit prit, seorang polisi sedang mengatur jalannya arus lalu lintas yang macet itu.

    “Pak ada yang selamat pak?“

    “Kasihan dek, semua penumpang dan sopirnya tewas.“ jawab Polisi.

    “Ya Allah, alhamdulillah. Le, kamu untung kamu nangis le.“ kata si Ibu

    “Lha kok, ibu malah alhamdulillah wong ada musibah seperti ini kok.“ timpal sang pengemudi

    “Dek, ini lho dek bis yang ibu naiki itu.“

    “Ha, yang bener toh bu? Ya Allah. Kalau begitu anak ibu ini sudah menyelamatkan ibu lho. Itu adalah kasih sayang Allah bu, lewat anak ibu ini.”

    “Ya..Allah, apa jadinya kalau saya dan anak saya masih menumpang bis itu ya…dek, alhamdulillah Alhamdulillah.”

    ~ Diambil dari kisah nyata ~

    Sesungguhnya Allah itu maha mengetahui apa apa yang terbaik untuk hambanya. karena itu pandai pandailah mencari Hikmah dibalik sebuah musibah dan ingat lah selalu untuk bersabar. Karena Allah selalu bersama orang orang yang sabar.

    ***

    Sumber: tulisan sahabat

     
    • tary 4:46 pm on 22 April 2010 Permalink

      Kita harus tetap yakin dibalik semua kejadian pasti da hikmahnya dan Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya.Allah sangat menyayangi kita semua.

    • annisa 7:51 am on 23 April 2010 Permalink

      nice story..Ya.. memang orang sabar di sayang Allah..

  • erva kurniawan 8:26 pm on 20 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kesombongan Dikalahkan Oleh Pribadi Bertauhid 

    Raja Persia, Kusro yang selalu menganggap enteng terhadap bangsa gurun pasir, tertegun dan tidak percaya atas kenyataan bahwa bangsa Arab yang primitif ini berani menantang mereka, yang kemudian merobek-robek surat Rasulullah yang mengundangnya untuk menerima ajaran Islam. Raja yang sombong ini merasa terhina karena surat yang datang dari seorang “Bekas Gembala” itu dianggapnya lancang sekali telah berani mengajarinya tentang kebenaran, padahal ia seorang penakluk dunia. Maka raja ini tidak sudi mengakui perbatasan antara negerinya dengan jazirah Arab, yang ketika itu sudah menjadi Islam sebelum wafatnya Rasulullah. Oleh karena itu perbatasan ini selalu mereka ganggu.

    Maka atas usul Khalid bin Walid, khalifah Abu Bakar mengirim bantuan laskar ke perbatasan, hingga mencapai 10.000 orang. Panglima Hurmuzan dari Persia lengkap dengan barisan bergajah mereka dengan pongahnya mencoba menghadang pasukan Khalid bin Walid, dengan tentara lebih dari 100.000 orang tentara bergajah.

    Khalid memulai serangannya dengan mengirimkan surat terlebih dahulu. Dalam surat itu Khalid menawarkan 3 pilihan :

    1. Damai, dengan syarat masing2 menghormati perbatasan negara yang ada
    2. Menerima Ajaran Islam, yang akan menjalin ukhuwah Islamiyah antara kedua rakyat yang ada. Maka tidak akan ada soal perbatasan lagi
    3. Jika kedua pilihan itu tidak bisa diterima, maka bersiaplah kalian menghadapi kami yang datang dengan laskar yang berani hidup, namun ingin mati (syahid) karena kerinduan kami pada Allah.

    Hurmuzan mengalami goncangan jiwa yang dahsyat, karena bagi mereka tidak pernah ada istilah “ingin mati”. Namun karena kesombongan bangsa ini terhadap bangsa Arab yang mereka anggap masih terbelakang itu, mereka memilih tawaran perang, apalagi mereka melihat perlengkapan barisan Muslim ketika itu paling tinggi hanyalah panah dan kuda. Kuda itupun terbatas bagi perwira menengah ke atas, sedangkan lasykar yang lainnya hanya berjalan kaki atau berkendara unta. “Apakah kuda sanggup berhadapan dengan gajah yang kuat ini?” demikian pikir panglima Persia yang sombong itu.

    Khalid mengerahkan barisan Muslimin maju menyerbu di bawah pimpinannya sendiri yang berpacu di depan, dengan mengendarai kudanya yang berlari cepat Khalid menerobos barisan musuh yang paling tebal sambil mengayunkan pedangnya, sehingga terbentuk jalur mayat manusia yang bergelimpangan. Hingga jalur mayat ini menuju ke tempat panglima Hurmuzan, maka paniklah seluruh serdadu Persia. Mereka porak poranda kehilangan kepercayaan diri dan menyerahkan diri pada Khalid.

    Tentara Persia yang menyerah diperlakukan Khalid dengan wajar dan baik sebagaimana Rasulullah mengajarkan. Harta benda mereka tidak diambil dan dirusak, bahkan tentara yang tadinya buruh tani yang tidak pernah punya tanah itu diberi hak untuk mempunyai tanah seseuai dengan kemampuan mereka menggarapnya. Maka merekapun berbondong-bondong masuk Islam.

    Ketika itu salah seorang sahabat Khalid mengingatkan bahwa esok akan masuk bulan Zulhijjah, maka Khalid merasakan kerinduan dalam hatinya akan baituLlah. Yang kemudian memutuskan untuk naik haji. Lalu dengan diiringi beberapa sahabatnya khalid segera berderap pulang ke Mekkah untuk mengejar waktu demi melakukan haji dan meninggalkan kerajaan Persia yang baru saja ditaklukannya.

    Ketika Khalifah Abu Bakar mendapat laporan akan kemenangan Khalid yang gemilang ditambah pula oleh kecerobohan Khalid meninggalkan medan sebelum sempat mengadan pengamanan seperlunya, maka Khalifah menulis, “Disamping rasa syukurku kepada Allah SWT dan tanpa mengurangi rasa hormatku atas keteguhan iman dan kecintaanmu kepada Allah, aku wajib memperingatkan engkau, bahwa meninggalkan medan sebelum mengadakan pengamanan seperlunya bukanlah tindakan seorang panglima yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, kami perintahkan agar engkau pulang ke posmu secepatnya”.

    Sadar akan kesalahannya ini, Khalid segera melaksanakan perintah Khalifah itu sesudah menyelesaikan ibadah hajinya dan melakukan tawaf wada.

    Ketika pasukan Islam di front Romawi Timur membutuhkan tambahan bantuan menghadapi tentara Romawi yang sangat canggih persenjataannya, maka khalifah Abu Bakar memanggil Khalid agar pulang meninggalkan Persia dan pergi memperkuat fornt menghadapi Romawi. Khalid kemudian mengambil kebijakan sesudah disetujui Abu Bakar langsung menuju ke Jerusalam tanpa pulang dulu ke Madinah. Yang kemudian Khalid harus menaklukan negeri-negeri yang terletak antara Persia dan Romawi Timur itu.

    Negeri-negeri itu dapat ditaklukan oleh Khalid satu persatu dalam waktu relatif singkat. Maka nama Khalid bin Walid sebagai penakluk yang gagah perkasa dan pahlawan yang tak terkalahkan menjadi tersiar kemana-mana.

    Anak muda di Madinah pun mulai menyanyikan syair-syair yang memuji-muji kepahlawanan panglima Khalid. Dan sementara itu khalifah Abu Bakar wafat dan digantikan oleh Umar bin Khatab.

    Sesampainya Khalid di front Romawi, lalu langsung mengadakan rapat untuk mengatur strategi menaklukkan tentara Romawi yang canggih itu. Ketika Khalid sedang memimpin rapat strategi, maka tibalah utusan dari Madinah yang membawa surat dari Khalifah Umar, yang ditujukan kepada panglima Khalid. Yang kemudian Khalid membaca surat tersebut, lalu melipat dan memasukkannya ke dalam saku dan meneruskan rapat penting itu. Dan ternyata surat itu berisi pemberhentian Khalid sebagai panglima dan perintah agar menyerahkan pimpinan kepada bawahannya.

    Esoknya Khalid masih memimpin penyerangan perdana terhadap front Romawi ini. Ketika dilihatnya panglima di bawahnya sudah mampu melanjutkan perjuagan dengan strategi yang dibuat, maka pimpinan diserahkannya dan Khalidpun langsung pulang ke Madinah menemui Khalifah Umar.

    Sesampainya di Madinah, maka ia langsung menemui Khalifah Umar dan menanyakan apa gerangan alasan maka ia diberhentikan tiba-tiba. Apakah karena kekurangan fahamannya tentang urusan keuangan? “Aku harus mengakui kekuranganku dalam mengurus buku keuangan ini, namun aku bersumpah dengan nama Allah, bahwa aku tak pernah mengambil satu sen pun dari dana yang disediakan oleh negara, bahkan uang pribadiku banyak yang kusumbangkan untuk perjuangan ini.” Kata Khalid kepada Umar.

    “Aku sungguh yakin akan kejujuranmu dan keikhlasanmu, wahai saudaraku, sehingga aku tidak pernah merasa curiga akan manajemen dana perjuangan ini, walaupun aku yakin, bahwa sebagai panglima engkau tetap merupakan penanggung jawab terakhir terhadap manajemen ini” Ucap Khalifah Umar kepada Panglima Khalid

    “Lantas, mengapa sampai aku dipecat tanpa alasan yang tepat?” tukas Khalid dengan suara yang agak tajam

    Umar menatap wajah Khalid dan berkata “Aku sekedar melakukan tugasku menyelamatkan tauhidnya umat. Engkau adalah panglima yang gagah perkasa, dan Rasulullah saw. Sendiri yang telah mengangkatmu memegang jabatanmu itu. Sejak itu engkau belum pernah terkalahkan di setiap medan pertempuran, sehingga rakyat sudah mulai menyanyikan lagu yang memuji dan memuja namamu di samping memuji Allah SWT. Aku takut akan hal ini dan berkembang menjadi kenyataan seolah engkaulan satu-satunya yang sanggup memenangkan seluruh perjuangan ini dengan atau tanpa syafa’at Allah SWT. Bukankah dengan demikian mereka menjadi musyrikin? Maka aku ingin buktikan kepada mereka, bahwa Umar, hamba Allah yang lemah dan hina ini, telah sanggup menjatuhkan engkau panglima yang gagah perkasa. Dengan demikian kuharap mereka kembali memuji dan memuja hanya kepada Allah SWT.”

    Mendengar keterangan Umar yang tegas menegakkan tauhid itu Khalid menerima kebijakan Khalifah yang arif itu dengan ikhlash. Maka besoknya Khalid kembali ke medan perang membantu rekan2nya yang sedang berjuang di front Romawi Timur. Khalid maju di bawah pimpinan bekas bawahannya sebagai prajuri biasa.

    Ketika ditanyakan orang kepadanya mengapa ia terus juga berjuang sesudah dipecat oleh Umar sebagai panglima, maka Khalid menjawab tegas, “Aku berjuang bukan karena Umar, aku berjuang semata karena Allah SWT.”

    **

    Masih adakah pribadi-pribadi tauhid yang tulen seperti abu bakar, umar bin khattab dan khalid bin walid saat ini?

    Ya Rabb, dimana Kau sembunyikan pribadi seperti para sahabat

    Ya Rabb, tampakanlah pribadi seperti para sahabat ini kepermukaan

    Dan jadikanlah pribadi yang taat dan patuh hanya kepadaMu menjadi pemimpin kami

    Hingga kami turut akan semua perintah dari amanah yang diembannya.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 19 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Harga Sebuah Baju 

    Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University. Mereka meminta janji.

    Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

    “Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut.

    “Beliau hari ini sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat.

    “Kami akan menunggu,” jawab sang Wanita.

    Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak.

    Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.

    “Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,” katanya pada sang Pimpinan Harvard. Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka.

    Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.

    Sang wanita berkata padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkah?” tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

    Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. “Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan.”

    “Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.”

    Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung?! Kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.”

    Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang.

    Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan,”Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?”

    Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan. Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.

    Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.

    Catatan:

    Kita, seperti pimpinan Harvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai. Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju, acap menipu.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • KutuBacaBuku 1:33 am on 19 April 2010 Permalink

      hmm … ini kisah nyata sejarah terbentuknya Stanford yah ?? atau hanya anekdot ??

      Klo ini kisah nyata, sepertinya banyak juga contoh2 lain seperti Bob Sadino ketika masuk mall, dan tokoh2 lain. Miris memang … tp kan mereka sendiri yg rugi

    • zal daus 3:03 am on 22 April 2010 Permalink

      bukan Alllah menyukai keindahan…..pakai lah yang pantas bagi kita yang tidak menyiratkan kesombongan.

    • annisa 8:04 am on 23 April 2010 Permalink

      ya.. memang kesederhanaan itu bagus untuk kita,
      harga pakaian yg mahal dgn murah sama2 bermanfaat untuk menutup aurat..:D

    • sentrabaju 10:33 pm on 3 Mei 2010 Permalink

      Kebanyakan orang hanya melihat orang lain dari fisiknya saja. padahal keunikan seseorang bukan dari sisi fisiknya, tetapi dari hati dan perbuatannya. Orang dikenang bukan dari baju yang dipakainya tetapi dari perbuatan yang dilakukannya.

  • erva kurniawan 1:01 am on 18 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Jangan Ada Dusta 

    oleh: Dewi Mar’atusshalihah”

    “Sofi, carikan aku calon istri…”

    Waaaaa…….. Gimana ini…, nyari kemana? Supermarket, Tanah Abang, Glodok, atau Toko Kelontong? Emang Gampang kayak nyari kacang rebus, gitu? Enak aja… Nyomblangin… Mau ngasih berapa sih prangkonya? he he, matre… Tapi bagaimanapun, aku kan baik hati…cieeee…….

    ***

    Ku obrak-abrik memori otakku. Ku buka album kenanganku, mulai dari yang di TK hingga kini di kampusku. Ku bolak-balik buku telponku, kularik dari A sampai Z. Yang mana yang cocok dengan Fahrur, rekan Rohisku. Ups…, Fatima Khairunnisa. Teman SMAku di Yogya dulu.

    Gadis manis berlesung pipit, dengan kacamata yang menambah cantik wajah ovalnya. Yang memperkenalkanku untuk berjilbab, membawaku masuk Rohis, mengajariku menjadi muslimah sejati. Temanku yang seindah namanya. Puteri kesayangan Nabi, yang memang khairunnisa, sebaik-baik perempuan. Inilah sebaik-baik pilihan, untuk Fahrur.

    ***

    Liburan mid-semester, aku pulang ke Yogya sebentar, yang juga untuk melanjutkan misiku, mencarikan istri.

    ***

    Parangtritis, pantai di sebelah selatan Yogyakarta. Karang yang menjulang, ombak yang saling berkejaran di bawah birunya langit, yang katanya menjadi persemayaman Nyi Roro Kidul, Ratu cantik Pantai Selatan, wallahu a’lam.

    Namun, di tempat inilah kami bernostalgia, mengenang masa-masa di SMA, bersama sobatku, calon mangsaku.

    Setelah lelah berjalan, berlari, melompat dan melepaskan jerit ketika gulungan ombak menghampiri kaki. Kami duduk bersisian berkiblatkan laut, diam membisu membiarkan matahari tenggelam di lautan lepas, dalam gulungan buih putih di permukaan biru, berkejaran dan terantuk pada sebongkah cadas, tak bosan-bosannya menyapa dan membelai cadas sambil mengulang-ulang nyayiannya dalam irama yang datar.

    Hanya jeritan camar yang menjadi pengiring irama abadi di pinggir pantai itu. Kubayangkan, kehidupan manusia itu seperti benturan buih dan cadas.

    Cadas telah mengukuhkan kekuatannya ketika dia terus menerus dibenturkan oleh besar kecilnya riak buih yang menghantam. Tanpa jeda.

    Manusia yang baik adalah manusia yang kuat seperti cadas. Jangan yakini kekuatan manusia sebelum dibenturkan oleh realitas. Cadas telah tawakal dan pasrah diri untuk menerima gempuran-gempuran buih kenyataan yang didorong oleh badai takdir. Gempuran itu tak boleh melemahkan, meluluhkan ataupun menghancurkan.

    Jadilah seperti cadas, gempuran menjadikannya lebih kuat dari sebelumnya.

    “Kenapa nggak dengan kamu aja Sofi?”, tanyanya ketika dengan perlahan ku tawarkan niatku untuk mencarikan istri rekan dakwahku.

    Ku hanya tersenyum, dengan datar. Dan kembali kuyakinkan Nisa, bahwa ia adalah makhluk-Nya, yang dikirimkan oleh-Nya, untuk menemani dan menguatkan langkah dakwah sobatku.

    Rembang mulai turun, setengah bola api dari semesta telah tenggelam di lautan barat. Lapis awan oranye diam bermandi cahaya matahari yang makin lama makin lemah sinarnya.

    Sementara ratusan burung berkumpul mengitari awan itu, seakan salam penghormatan terakhir pada hari yang sebentar lagi akan ditinggalkan.

    Waktunya pulang, dengan membawa seribu perasaan lega di hati, atas persetujuan sobatku.

    ***

    Kulangkahkan kakiku memasuki pelataran rumah yang sudah tak asing lagi. tempat kami berdua bercanda, bercengkerama sepulang sekolah dulu.

    Pohon jambu itu masih ada.

    Lima tahun yang lalu, aku nangkring diatas sana, memilih jambu yang telah ranum memerah. Lalu tiba-tiba kuteriak dan terjatuh, karna seluruh tubuhku telah dipenuhi semut Rangrang. Di teras itu, kami makan rujak bersama, hingga merah semua wajah kami, penuh keringat, kepedasan.

    Di teras itu, kini bersanding pemilik rumah itu, pemilik nama indah itu, Fatimah Khairunnisa, bersama shobatku.

    ***

    “Ono opo tho ‘Ndhuk, kok pulang dengan wajah mbesengut begitu…?”

    Ku peluk Ibuku yang semakin menua, dengan rambut ditumbuhi uban satu-dua. Ingin ku luapkan perasaanku, namun ku tak tega menambahi beban yang telah menggelayuti wajah keriputnya.

    “Yo wis, cepat mandi, lalu lihat aja di dapur, Ibu sudah masak sayur kesukaanmu…”

    Ibu, ibu, Ini yang membuatku kangen untuk pulang terus.

    Nasi liwet, Pindang goreng, Bening Jowo, dan tak bisa ketinggalan sambel terasi.

    Wah, kalau sudah begini, Brad Pitt lewat pun aku tak peduli.

    ***

    Malam ini, begitu nikmatnya ku berasyik masyuk menyapa-Mu

    Di sajadah panjang ini, ku limpahkan semua derai tangisku

    Tuhan, aku bukan Khadijah, Sang ummahatul mukminin, dengan sejuta talenta, yang telah mengajukan diri mendampingi hidup Sang Rasul mulia.

    Aku bukan Srikandi, sang Wanodya ayu tama ngambar arumming kusuma, yang mempunyai mata nDamar kanginan, hidung mBawang tunggal, bulu mata nanggal sepisan, dan pipi yang nDuren sejuing. Sehingga berani ngunggah-unggahi Arjuna.

    Aku hanya gadis yang belajar dari seorang ibu yang berhati rembulan bersemangat mentari, dan seorang ayah yang segarang singa selembut sutra.

    Ku tak layak Tuhan.

    Ku tatap dinding kamarku, terpampang besar sekali gambaran rencana masa depanku, yang tersusun rapi dalam “Peta Hidup”, seperti yang diajarkan Bunda Marwah.

    Kususuri kotak demi kotak umurku. Mataku terpaku pada kotak ke 26, di tahun 2007. Ada dua point tertulis disana, S3, dan menikah. Kutulis sedikit footnote kecil disana “F”, hanya itu.

    Tuhan, maafkan hamba telah lancang. Bukan kuberniat mendahului qadha-Mu. Ini hanya harapanku, rencanaku, inginku. Namun, keputusan-Mu, itu yang pasti.

    Ku ambil Tip Ex. Tak boleh kutulis inisial apapun di kotak peta hidupku.

    Tuhan, jangan biarkan ku menangisi perkara yang telah Kau jamin dan Kau tetapkan. Namun permudahkan aku menangisi dosa dan kerinduanku pada-Mu. Nisa, hadiah terindahku untuknya.

    ***

    Petang menjelang, tasyakuran pernikahanpun usai.

    Setelah tamu-tamu pulang, meninggalkan lelah sekaligus gembira kedua mempelai dan keluarga, Fahrur segera menuju kamarnya, menyendiri, tergugu di atas sajadah. Lirih ia bergumam; Sofi, semoga ini hadiah terindahmu. Semoga ku bisa menepis perasaan ini.

    Ku takut memetikmu, ku tak layak disisimu. Cukup bagiku hadiahmu ini. Ku kan jaga, istriku, pilihanmu, amanahmu.

    Ku teringat akan puisi yang ku dapatkan dari temanmu, tentang surat cinta, yang menyentakkan kesadaranku, mematahkan nyaliku untuk menyuntingmu.

    (ehhh…puisi siapa ya ini….)

    **

    Wanita suci

    Bagiku kau bukanlah bunga

    Tak mampu aku samakan kau dengan bunga-bunga

    Terindah dan terharum sekalipun

    Bagiku manusia adalah mahluk terindah

    Tersempurna dan tertinggi

    Bagiku dirimu salah satu manusia terindah

    Tersempurna dan tertinggi

    Karenanya kau tak membutuhkan persamaan

    Wanita Suci

    Dengan menatapmu, telah membuatku terus mengingatmu

    Dan memenuhi kepalaku dengan inginkanmu

    Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku

    Membuatku inginkan dirimu sepenuh hati, seluruh jiwa sesemangat mentari

    Dirimu terlalu suci untuk hadir dalam khayalku

    Yang penuh dengan lumpur…

    Wanita suci

    Menghabiskan waktu berdua denganmu bagai mimpi tak berujung

    Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu

    Meski ujung penutupmupun tak pernah berani kusentuh

    Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku…

    Karena aku biasa memakaikan topeng keindahan pada wajah burukku

    Meniru pakaian para rahib, kiai dan ulama

    Meski hatiku lebih kotor dari kubangan lumpur

    Wanita suci

    Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci

    Yang dengan sepenuh diri membawamu pada Ilahi

    Untuknya dirimu ada

    Tunggu sang lelaki suci menjemputmu

    Atau kejar sang lelaki suci itu

    Dialah hakmu, seperti dicontohkan ibunda Khadijah

    Jangan ragu…, jangan malu…

    Wanita suci

    Bariskan harapanmu pada istikharah penuh ikhlas

    Relakan Tuhan pilihkan lelaki suci bagimu

    Mungkin sekarang atau nanti…

    Bahkan mungkin tak ada, sampai kau mati

    Karena kau terlalu suci,

    untuk semua lelaki,

    dalam permainan ini

    Karena lelaki suci itu menantimu di istana kekal

    Yang kau bangun dengan kekhusu’an ibadah

    Wanita suci

    Pilihan Tuhan tak selalu seindah inginmu

    Tapi itulah pilihan-Nya

    Tak ada yang lebih baik dari pilihan-Nya

    Sang Kekasih Tertinggi

    Tempat kita memberi semua cinta

    Dan menerima cinta yang tak terhingga

    Dalam tiap detik hidup kita

    (untuk yg ada disana, Dia-lah Maha Pembuat Skenario Terbaik, biarlah Dia yang menentukan)

    ***

    telah diterbitkan di majalah KUBAH, Agustus 2005

     
  • erva kurniawan 4:52 am on 17 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Pengantin Bidadari 

    Raudhah Al Muhibbin wa Al Musytaqin (Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu)

    Sebagai seorang pengantin, wanita lebih cantik dibanding seorang gadis. Sebagai seorang ibu, wanita lebih cantik dibanding seorang pengantin. Sebagai istri dan ibu, ia adalah kata-kata terindah di semua musim dan dia tumbuh menjadi lebih cantik bertahun-tahun kemudian.

    ***

    Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid. Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat. Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.

    Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah.

    “Coba engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”, nasihat mereka.

    Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi. Sambil tersenyum beliau berkata, “Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?”

    “Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun.

    “Katakanlah aku yang mengutusmu”, sahut Baginda Nabi.

    “Baiklah ya Rasul”, dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah si Fulan.

    Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan, “Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?” Tanya Fulan.

    “Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si A.” Jawab Zulebid sedikit gugup.

    “Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada putriku.” Fulan menemui putrinya dan bertanya, “bagaimana pendapatmu wahai putriku?”

    Jawab putrinya, “Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah saw, maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya.”

    Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya.

    Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai Anda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?”

    Jawab istrinya, ” Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin.”

    Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang. Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya.

    “Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang. Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini.”

    Istrinya menyahut, “Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu”

    ***

    Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhid, ketika sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya.

    Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat.

    Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama teman sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya. Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya, Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.

    ***

    Senja datang Angin mendesau, sepi. Pasir-pasir beterbangan. Berputar-putar.

    Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di tumpukan mayat musuh. Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para syuhada lain.

    Tanpa dimandikan…

    Tanpa dikafankan…

    Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid. Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut. Para sahabat terdiam membisu. Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk mata beliau. Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah. Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau.

    Akhirnya keadaan kembali seperti semula. Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah. “Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau menangis?”

    Jawab Rasul, “Aku menangis karena mengingat Zulebid. Oo..Zulebid, pagi tadi engaku datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”

    “Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?” Tanya sahabat lagi.

    “Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulebid,” Jawab Rasulullah.

    “Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?” Tanya mereka lagi.

    “Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid, beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulebid. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya….”

    ***

    Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta segala Maha Karya.

    Malam menjelang. Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata. Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula.

    Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini apabila aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu.”

    Dan kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku.

    Istri Zulebid, terdiam. Matanya basah. Ada sesuatu yang menggenang disana. Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi. Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir. Ia menggerakkan bibirnya.

    “Suamiku, aku mencintaimu. Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita. Aku ikhlas.”

    ***

    Somewhere over the rainbow, way up high

    There’s a land that I heard of once on a lullaby

    Somewhere over the rainbow, skied are blue

    And the dreams that you dare to dream

    really do come true..

    Dan, akan kemanakah kumbang terbang

    Pada siapa rindu mendendam

    Kekasih yang terkasih

    Pencinta dan yang dicinta

    Semua berurai air mata

    Sedih, ataukah bahagia…..?

    ***

    Untuk para pengantin bidadari

     
    • husnul khatimah 4:10 pm on 21 April 2010 Permalink

      subhanallah indah nian cerita’a ..

    • umi 1:41 pm on 22 April 2010 Permalink

      Subhanallah…
      Boleh kah sy meng-copy cerita ini?

    • salwa 8:53 am on 24 Maret 2011 Permalink

      Ass …
      cerita mas erva emnk keren,,, salud pokok ny !!!!!!!!

  • erva kurniawan 7:31 pm on 16 April 2010 Permalink | Balas  

    Doa Malam yang Mustajab 

    Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bangun pada malam hari dan berkata, “Laa ilaHa illallaHu wahdaHu laa syariikalaH, laHul mulku wa laHul hamdu, yuhyii wa yumiitu biyadiHil khairu, wa Huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir, subhaanallaH wal hamdulillaH wa laa ilaHa illallaHu wallaHu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illa billaH’

    [Tiada ilah kecuali Allah satu- satunya tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nyalah seluruh kerajaan dan seluruh pujian. Dia menghidupkan dan mematikan dengan di tangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah kecuali Allah dan Allah Maha Besar. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah]

    kemudian dia berkata, ‘Allahummaghfirlii’ [Ya Allah ampunilah aku]

    atau dia berdoa, maka akan dikabulkan doanya. Dan jika dia bangun lalu shalat maka diterimalah shalatnya” (HR. Bukhari 1/387 dan Abu Dawud 4/314)

    Aku telah membaca doa ini agar aku sembuh dari sakit kemudian Allah SWT menyembuhkanku. Dan aku membacanya agar pekerjaan-pekerjaan yang melelahkan menjadi mudah, kemudian Allah memudahkannya untukku.

    Aku menasehatkan kepada seluruh kaum muslimin yang sedang mengalami kesulitan, terutama saudara-saudaraku di Palestina, Afghanistan dan di negeri-negeri muslim lainnya, agar mereka berserah diri kepada Allah SWT saja dan membaca doa ini, dibarengi dengan usaha sebagai perantara seperti mempersiapkan diri untuk berjihad dengan harta dan senjata.

    Dan juga kepada saudara-saudaraku sesama muslim di seluruh dunia agar mereka mendoakan saudara-saudara kita sesama muslim yang terusir dari kampung halaman mereka, semoga Allah menolong dan menguatkan mereka serta mengembalikan mereka ke negeri mereka yang semula, terutama saudara-saudara kita di Palestina.

    Sebab doa seorang muslim kepada saudaranya secara diam-diam adalah termasuk doa yang mustajab sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’” (Kitab Shahih Muslim no. 2733), terutama doa yang penuh berkah di atas yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan yang telah mendatangkan manfaat bagi banyak orang.

    Semoga Bermanfaat

    ***

    Oleh : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, adalah murid Syaikh Albani

     
  • erva kurniawan 7:13 pm on 15 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: masjid al qiblatain, masjid qiblatain   

    Masjid Qiblatain Masjid Berkiblat Dua 

    Sebuah peristiwa penting berupa perpindahan arah kiblat dialami Rasulullah  SAW dan para sehabat saat sedang melakukan shalat dzuhur berjamaah di Masjid Qiblatain. Itulah mengapa masjid ini dinamai Qiblatain yang berarti dua kiblat.

    Syahdan ketika Rasulullah SAW sedang melakukan salat dzuhur (riwayat lain menyebutkan salat ashar) berjamaah di Masjid Qiblatain, mendadak turun wahyu (Q.S. Al-Bagarah:114) yang memerintahkan mengubah arah kiblat dari Masjidil Aqsa di Palestina (utara) ke Ka’bah di Masjidil Haram di Mekkah (selatan).

    “Sungguh Kami melihat mukamu, menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwu berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”

    Padahal, ketika turun wahyu tersebut shalat telah berlangsung dua rakaat. Maka begitu mendengar wahyu tersebut, serta merta Rasulullah SAW dan para shahabat langsung memindahkan arah kiblatnya atau memutar arah 180 derajat. Dan peristiwa perpindahan kiblat itu dilakukan sama sekali tanpa membatalkan shalat. Juga tidak dengan mengulangi shalat dua rakaat sebelumnya. Ayat itu sendiri adalah ayat yang diturunkan kepada Rasulullah SAW yang telah lama mengharapkan dipindahkannya kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram.

    Peristiwa yang terjadi pada tahun 2 H, atau tepatnya 17 bulan setalah nabi Muhammad hijrah ke Madinah (Sumber: dari Muhammad Husain Haekal, “Sejarah Hidup Muhammad”, hal. 22, Litera AntarNusa) itulah yang menjadi cikal bakal pemberian nama Masjid Qiblatain yang berarti dua kiblat. Sebelum dinamai Qiblatain karena perubahan arah kiblat itu, masjid yang terletak di atas bukit kecil di utara Harrah Wabrah, Madinah, itu bernama Masjid Bani Salamah.

    Tadinya di dekat Masjid Qiblatain ada telaga yang diberi nama Sumur Raumah, sebuah sumber air milik orang Yahudi. Mengingat pentingnya air untuk masjid, maka atas anjuran Rasulullah SAW, Usman bin Affan kemudian menebus telaga tersebut seharga 20 ribu dirham dan menjadikannya sebagai wakaf. Air telaga tersebut hingga sekarang masih berfungsi untuk bersuci dan mengairi taman di sekeliling masjid, serta kebutuhan minum penduduk sekitar. Hanya bentuk fisiknya sudah tidak kelihatan, karena ditutup dengan tembok.

    Dalam perkembangannya, pemugaran Masjid Qiblatain terus-menerus dilakukan, sejak zaman Umayyah, Abbasiyah, Utsmani, hingga zaman pemerintahan Arab Saudi sekarang ini. Pada pemugaran-pemugaran terdahulu, tanda kiblat pertama masih jelas kelihatan. Di situ diterakan bunyi QS. AlBaqarah: 114, ditambah larangan bagi siapa saja yang shalat agar tidak menggunakan kiblat lama itu.

    Berziarah ke Masjid Qiblatain mengandung banyak hikmah. Selain ibadah shalat wajib dan sunat di sana, jamaah dapat juga memetik ibrah (suri teladan) dari para pejuang Islam periode awal (as-sabiqunal awwalun) yang begitu gigih menyebarkan risalah Islamiyah, melaksanakan perintah Allah SWT baik dalam segi ibadah mahdlab (ritual), seperti berjamaah, mengganti kiblat, dan menyucikan diri, maupun dalam segi ibadah ghair mahdlah (sosial) seperti menyisihkan harta untuk kepentingan umat, untuk memugar masjid dan lain sebagainya.

    Bila mengacu pada peristiwa di atas, maka kita perlu memberitahukan arah kiblat yang sebenarnya meski kepada orang yang sedang shalat. Dan baginya boleh merubah atau membetulkan arah posisi kiblat meski dalam shalat, tanpa perlu mengulangi rakaat yang salah arahnya. TC Nar

    ***

    Sumber: Majalah Travel Club

     
    • Sakti 7:00 pm on 16 April 2010 Permalink

      Assalamualaikum,

      Salam kenal mas…

      Saya sangat senang menemukan blog ini. Isinya sangat menarik, inspiratif buat saya dan banyak hal-hal yang saya belum ketahui…

      Terimakasih sudah menuliskannya disini dan saya minta ijin, mungkin nanti beberapa artikel akan saya tulis ulang di blog-blog milik saya (tentu saya akan tautkan ke artikel bersangkutan disini :) ).

    • eemoo 9:43 am on 5 Mei 2010 Permalink

      nice blog gan…
      mau share link untuk gambar masjid2 dunia –> http://www.majestad.wordpress.com
      http://www.eemoo.wordpress.com

    • Asti 2:57 pm on 21 Mei 2010 Permalink

      Salam kenal mas, artikel tentang mesjid Quba bagus dan boleh dong disebarkan. Namun ada koreksi sedikit, bahwa kejadian perubahan arah kiblat bukan tahun tahun 12 H, tetapi tahun 2 H, atau tepatnya 17 bulan setalah nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Sumber dari Muhammad Husain Haekal, “Sejarah Hidup Muhammad”, hal. 22, Litera AntarNusa.

  • erva kurniawan 7:02 pm on 14 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: hajar aswad   

    Hajar Aswad Batu Surga Saksi Kita di Akhirat 

    Diyakini sebagai batu surga, Hajar Aswad bakal menjadi saksi kita di akhirat kelak. Karena itulah, meski sunah hukumnya, ribuan jamaah haji berupaya sekuat tenaga untuk dapat menciumnya. Meski hanya sunah, setiap jamah haji selalu berupaya untuk sebisa mungkin dapat mencium Hajar Aswad (batu hitam). Selain diyakini sebagai batu surga, konon, Hajar Aswad kelak akan menjadi saksi kita di akhirat.

    Terletak di sudut selatan Kabah pada ketinggian 1,10 meter dari lantai Masjidil Haram, batu hitam berukuran 25 x 17 cm ini selalu menyedot perhatian jamaah haji. Mereka berusaha untuk dapat menciumnya, atau paling tidak dapat ber-ihtilam (menyalaminya atau mencium tangan ketika tawaf).

    Meski demikian, untuk melakukan ritual ini (mencium Hajar Aswad), setiap orang dituntut kesabarannya, mengingat banyaknya jamaah haji yang memiliki niat serupa. Karena itu, tidak dibenarkan jika kita memaksakan untuk menciumnya sembari menyakiti jemaah yang lainnya. Apalagi jika hal itu memicu keributan dengan sesama jamaah. Di lain pihak, karena hukumnya bukan wajib melainkan sunah, sejauh ini Pemerintah Arab Saudi tidak menyediakan sarana sebagaimana tawaf dan sa’i.

    Apa makna di balik prosesi mencium Hajar Aswad? Konon, mencium Hajar Aswad adalah lambang perjanjian kita dengan Allah SWT. Hajar Aswad melambangkan “tangan Allah”. Mencium Hajar Aswad-baik dari dekat maupun dari jauh melambangkan perjanjian kita dengan “menjabat” tangan Allah. Seakan-akan kita berkata, “Ya Allah, saya berjanji bahwa mulai saat ini saya telah masuk ke dalam lingkaran-Mu, dan tidak akan pernah keluar dari lingkaran-Mu ini”. Karena itu, jika ada kesempatan dan kemampuan, setiap jamaah disunahkan untuk mencium Hajar Aswad.

    Mulanya Putih

    Menurut sejarahnya, Hajar Aswad adalah batu yang diberikan Malaikat Jibril kepada Nabi Ismail AS ketika diperintah mencari batu oleh ayahnya, Nabi Ibrahim AS yang hendak meninggikan Kabah. Kala itu, Hajar Aswad menyala-nyala karena saking putihnya. Cahayanya menyinari Barat dan Timur.

    Tapi mengapa Hajar Aswad sekarang berwarna hitam? Ada beberapa versi mengenai hal ini. Hajar Aswad itu berubah warnanya menjadi hitam pekat karena diduga kuat akibat peristiwa kebakaran yang terjadi di zaman Quraisy dan di era Ibnu Zubair. Akibatnya Hajar Aswad mengalami keretakkan yang kemudian diikat oleh Ibnu Zubair dengan perak ketika ia merenovasinya.

    Versi lainnya menyebutkan, berubahnya warna Hajar Aswad dari semula abyad (putih) menjadi aswad (hitam) karena dosa-dosa anak cucu Adam. Dalam kaitan ini ada sabda Rasulullah SAW yang artinya, “Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, berwarna lebih putih dari susu. Dosa-dosa anak cucu Adam-lah yang menjadikannya hitam”. Mana yang benar? Wallaahua’lam.

    Dalam kaitan versi kedua, Ibnu Zhahirah mengingatkan bahwa dosa-dosa anak manusia saja bisa menghitamkan batu, apalagi pengaruhnya terhadap hati manusia. Ini jelas sebagai peringatan kepada anak cucu Adam agar hanya kepada Allah SWT sajalah kita bertumpu.

    Hajar Aswad yang sekarang adalah 8 bongkahan kecil akibat pecahnya batu yang semula besar. Kedelapan bongkahan itu masih tersusun rapi pada tempatnya seperti sekarang. Pecahnya batu itu terjadi pada zaman Qaramithah, yaitu sekte dari Syi’ah Al-Bathiniyyah dari pengikut Abu Thahir Al-Qaramathi yang mencabut Hajar Aswad dan membawanya ke Ihsa’ pada tahun 319 Hijriyah. Tetapi batu itu dikembalikan lagi pada tahun 339 Hijriah.

    Gugusan yang terbesar berukuran sebuah kurma yang tertanam di batu besar lain dan dikelilingi oleh ikatan perak inilah yang senantiasa dirindui setiap muslim untuk dapat menciumnya. Batu yang terletak dalam lingkaran perak itulah yang diusahakan jamaah haji untuk dapat menciumnya, bukan batu yang berada di sekitarnya.

    Dalam perkembangannya, Hajar Aswad pernah mengalami renovasi pada zaman Raja Fahd, tepatnya pada bulan Rabiul Awal 1422 Hijriyah. Kini, setiap tahun menjelang musim haji, Hajar Aswad senantiasa dibersihkan berbarengan dengan pencucian Kabah. Pada saat inilah, biasanya Pemerintah Arab Saudi memberi kesempatan kepada tamu-tamu kerajaan untuk menyaksikan pencucian Kabah sekaligus mencium Hajar Aswad. TC Nar

    ***

    Sumber: Majalah Travel Club

     
  • erva kurniawan 10:05 am on 13 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Utusan Malaikat Maut 

    Dikisahkan bahwa malaikat maut bersahabat dengan Nabi Ya’qub As. Suatu ketika Nabi Ya’qub berkata kepada Malaikat maut, ” Aku menginginkan sesuatu yang harus kau penuhi sebagai tanda persaudaraankita”.

    “Apakah itu?” Tanya Malaikat maut.

    “Jika ajalku telah dekat, beritahulah aku!” pinta Ya’qub As.

    Malaikat maut berkata, “Baik, aku akan memenuhi permintaanmu, aku tidak hanya akan mengirimkan satu utusanku, namun aku akan mengirim dua atau tiga utusanku”.

    Dan setelah mereka bersepakat, kemudian mereka berpisah. Setelah beberapa lama malaikat maut kembali menemui nabi Ya’qub. Kemudian nabi Ya’qub bertanya, “Wahai sahabatku, apakah engkau datang untuk berziarah atau mencabut nyawaku?”

    “Aku datang untuk mencabut nyawamu” Jawab malaikat maut.

    “Lalu dimana ketiga utusanmu?” tanya Nabi Ya’qub As.

    “Sudah kukirim” jawab malaikat maut, “Putihnya rambutmu setelah hitamnya, lemahnya tubuhmu setelah kekarnya, dan bongkoknya badanmu setelah tegapnya. Wahai Ya’qub, itulah utusanku untuk setiap Bani adam.”

    Wassalam

    ***

     
    • akhil muslim 8:20 pm on 15 Mei 2010 Permalink

      setiap makhluk hidup pasti akan mati……..maka kita harus selalu siap dengan makhluk yang satu ini, yakni kematian

  • erva kurniawan 9:47 am on 12 April 2010 Permalink | Balas  

    Apa Pantas Kita Berharap Surga? 

    Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk.

    Sholat lima waktu? Sudah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek pula. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, dilipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua itu belum termasuk catatan, “Kalau tidak terlambat” atau “Asal nggak bangun kesiangan”.

    Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

    Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka.

    Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

    Baca Qur’an sesempatnya, tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya.

    Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?

    Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.

    Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, itu pun dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudahlah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

    Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata miliki Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun.

    Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

    Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel, setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini?

    Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

    Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surge Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu?

    Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri? Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun. Selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah.

    Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

    Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga.

    Bukankah Rasulullah yang tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu, hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.

    Bagaimanakah sikap kita ketika bersimpuh di pangkuan orang tua ketika iedul Fitri yang baru berlalu? Apakah hari itu….hanya hari biasa yang dibiarkan berlalu tanpa makna………???

    Apakah siang harinya kita sudah mengantuk dan akhirnya tertidur lelap…? Apakah kita merasa sulit tuk meneteskan air mata…??? atau bahkan kita menganggap cengeng……??? sampai sekeras itukah hati kita….???

    Ya Allah ya Rabb-ku, jangan Kau paling hati kami menjadi hati yg keras, sehingga meneteskan air matapun susah, merasa bersih, merasa suci, merasa tak bersalah, merasa tak butuh orang lain, merasa modernis, Idealis dan visionis. Padahal dibalik cermin masa depan yang kami banggakan terlukis bayang hampa tanpa makna dan kebahagiaan semu penuh ragu, Astaghfirullaah Yaa Allah, ampunilah segenap khilaf kami. Amien.

    ***

     
  • erva kurniawan 7:39 am on 11 April 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    Alquran Menghitung Kecepatan Cahaya 

    NAMA Albert Einstein melekat dengan dunia fisika dan menjadi ikon fisika modern. Rumus E = mc^2 dianggap sebagai rumus Einstein yang dalam pandangan awam merupakan “rumus” untuk membuat bom atom. Albert Einstein memang pantas dianggap sebagai tokoh utama yang memimpin revolusi di dunia fisika.

    Salah satu teorinya yang mendobrak paradigma fisika berbunyi “kecepatan cahaya merupakan tetapan alam yang besarannya bersifat absolut dan tidak bergantung kepada kecepatan sumber cahaya dan kecepatan pengamat”.

    Menurut Einstein, tidak ada yang mutlak di dunia ini (termasuk waktu) kecuali kecepatan cahaya. Selain itu, kecepatan cahaya adalah kecepatan tertinggi di alam ini. Artinya, tidak mungkin ada (materi) yang kecepatannya melebihi kecepatan cahaya. Pendapat Einstein ini mendapat dukungan dari hasil percobaan yang dilakukan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 oleh Michelson-Morley, Fizeu, dan Zeeman.

    Di mata awam, postulat Einstein ini memunculkan banyak keanehan. Misalnya, sejak dulu logika kita berpendapat bahwa jika kita bergerak dengan kecepatan v1 di atas kendaraan yang berkecepatan v2, kecepatan total kita terhadap pengamat yang diam adalah v1 + v2. Tetapi, menurut Einstein, cara penghitungan tersebut salah karena dapat mengakibatkan munculnya kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya.

    Oleh karena itu, menurut Einstein, formula penjumlahan kecepatan yang benar adalah sebagai berikut= (v1 +v2) / (1 + (v1 x v2 / c2)).

    ***

    Sinodik dan Siderial

    Dalam menghitung gerakan benda langit, digunakan dua sistem yaitu Sinodik dan Siderial. Sistem Sinodik didasarkan pada gerakan semu Bulan dan Matahari dilihat dari Bumi. Sistem ini menjadi dasar perhitungan kalender Masehi di mana satu bulan = 29,53509 hari.

    Sistem Siderial didasarkan pada gerakan relatif Bulan dan Matahari dilihat dari bintang jauh (pusat semesta). Sistem ini menjadi dasar perhitungan kalender Islam (Hijriah) di mana satu bulan = 27,321661 hari . Ahli-ahli astronomi selalu mendasarkan perhitungan gerak benda langit (mechanical of Celestial) kepada sistem Siderial karena dianggap lebih eksak dibandingkan sistem Sinodik yang mengandalkan penampakan semu dari Bumi.

    ***

    Sinyal dari Alquran

    Mengetahui besaran kecepatan cahaya adalah sesuatu yang sangat menarik bagi manusia. Sifat unik cahaya yang menurut Einstein adalah satu-satunya komponen alam yang tidak pernah berubah, membuat sebagian ilmuwan terobsesi untuk menghitung sendiri besaran kecepatan cahaya dari berbagai informasi.

    Seorang ilmuwan matematika dan fisika dari Mesir, Dr. Mansour Hassab Elnaby merasa adanya sinyal-sinyal dari Alquran yang membuat ia tertarik untuk menghitung kecepatan cahaya, terutama berdasarkan data-data yang disajikan Alquran. Dalam bukunya yang berjudul A New Astronomical Quranic Method for The Determination of the Speed C , Mansour Hassab Elnaby menguraikan secara jelas dan sistematis tentang cara menghitung kecepatan cahaya berdasarkan redaksi ayat-ayat Alquran. Dalam menghitung kecepatan cahaya ini, Mansour menggunakan sistem yang lazim dipakai oleh ahli astronomi yaitu sistem Siderial.

    Ada beberapa ayat Alquran yang menjadi rujukan Dr. Mansour Hassab Elnaby. Pertama, “Dialah (Allah) yang menciptakan Matahari bersinar dan Bulan bercahaya dan ditetapkannya tempat bagi perjalanan Bulan itu, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan ” (Q.S. Yunus ayat 5).

    Kedua, ” Dialah (Allah) yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan masing-masing beredar dalam garis edarnya” (Q.S. Anbia ayat 33).

    Ketiga, “Dia mengatur urusan dari langit ke Bumi, kemudian (urusan) itu kembali kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu” (Q.S. Sajdah ayat 5).

    Dari ayat-ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa jarak yang dicapai “sang urusan” selama satu hari adalah sama dengan jarak yang ditempuh Bulan selama 1.000 tahun atau 12.000 bulan. Dalam bukunya, Dr. Mansour menyatakan bahwa “sang urusan” inilah yang diduga sebagai sesuatu “yang berkecepatan cahaya”.

    **

    Hitungan Alquran

    Dari ayat di atas dan menggunakan rumus sederhana tentang kecepatan, kita mendapatkan persamaan sebagai berikut:

    C x t = 12.000 x L ……………(1)

    C = kecepatan “sang urusan” atau kecepatan cahaya

    t = kala rotasi Bumi = 24 x 3600 detik = 86164,0906 detik

    L = jarak yang ditempuh Bulan dalam satu edar = V x T

    Untuk menghitung L, kita perlu menghitung kecepatan Bulan. Jika kecepatan Bulan kita notasikan dengan V, maka kita peroleh persamaan:

    V = (2 x phi x R) / T

    R = jari-jari lintasan Bulan terhadap Bumi = 324264 km

    T = kala Revolusi Bulan = 655,71986 jam, sehingga diperoleh

    V = 3682,07 km / jam (sama dengan hasil yang diperoleh NASA)

    Meski demikian, Einstein mengusulkan agar faktor gravitasi Matahari dieliminir terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang lebih eksak.

    Menurut Einstein, gravitasi matahari membuat Bumi berputar sebesar:

    a = Tm / Te x 360°

    Tm = Kala edar Bulan = 27,321661 hari

    Te = Kala edar Bumi = 365,25636 hari, didapat a= 26,92848°

    Besarnya putaran ini harus dieliminasi sehingga didapat kecepatan eksak Bulan adalah

    Ve= V cos a.

    Jadi, L = ve x T, di mana T kala edar Bulan = 27,321661 hari = 655,71986 jam

    Sehingga L = 3682,07 x cos 26,92848° x 655,71986 = 2152612,336257 km

    Dari persamaan (1) kita mendapatkan bahwa C x t = 12.000 x L

    Jadi, diperoleh C = 12.000 x 2152612,336257 km / 86164,0906 detik

    C = 299.792,4998 km /detik

    Hasil hitungan yang diperoleh oleh Dr. Mansour Hassab Elnaby ternyata sangat mirip dengan hasil hitungan lembaga lain yang menggunakan peralatan sangat canggih. Berikut hasilnya :

    Hasil hitung Dr. Mansour Hassab Elnaby C = 299.792,4998 km/detik

    Hasil hitung US National Bureau of Standard C = 299.792,4601 km/ detik

    Hasil hitung British National Physical Labs C = 299.792,4598 km/detik

    Hasil hitung General Conf on Measures C = 299.792,458 km/detik

    **

    Penutup

    Lepas dari benar tidaknya interpretasi yang dilakukan oleh Dr. Mansour Hassab Elnaby, usaha demikian menunjukkan betapa kitab suci Alquran memiliki tantangan bagi para ilmuwan untuk lebih kreatif dan tajam dalam mengungkap fenomena-fenomena alam.

    Boleh jadi, apa yang disajikan Dr. Mansour Hassab Elnaby merupakan bukti tambahan bahwa Alquran benar-benar datang dari Sang Khalik.

    ***

    Oleh: Wildaiman, Alumni Matematika ITB, Guru Matematika Pontren Al Masudiyah-Cigondewah Kab. Bandung,

     
    • rago 2:21 pm on 14 April 2010 Permalink

      Al’quran adalah ciptaan ALLAH yang maha dahsyat oleh karena itu wahai manusia berlomba-lombalah berbuat kebaikan karena azab Allah sangatlah pedih

    • arabidol 7:57 pm on 21 April 2010 Permalink

      2 Petrus 3:8 Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.

    • zainoel 8:30 pm on 21 Juli 2011 Permalink

      subhanallah……. engkaulah yang maha agung ya robb….

  • erva kurniawan 7:18 am on 10 April 2010 Permalink | Balas  

    Pemaaf Suatu Keperibadian Yang Indah 

    Ketika kita bergaul dengan orang lain, aka terjadi berbagai peristiwa, ada yang menyenangkan dan ada yang menyakitkan hati. Disaat orang melakukan berbagai kesalahan terhadap kita dalam pergaulan tersebut, hendaknya kita bermurah hati memaafkannya. Firman Allah menjelaskan, “Jadilah engkau orang yang pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al A’raf : 199)

    Sifat pemaaf merupakan lambang keperibadian yang indah, sebab didalam sanubari orang yang suka memaafkan orang lain itu tersimpan keikhlasan dan kerelaan hati yang suci. Orang pemaaf itu pastilah terhindar dari sifat dendam. Dia menganggap bahwa kesalahan orang lain terhadapnya itu merupakan ‘kekeliruan’ dan’ kelemahannya’ selaku manusia.

    Al Qur’an selalu membimbing kita kearah menjadi orang yang berbudi tinggi dan menolong orang lain. Pemaaf berarti kita telah menghormati orang lain sebagaimana kita mengormati diri sendiri.

    Firman Allah menjelaskan, “Maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka.” (QS. Ali Imran : 159)

    Memaafkan orang lain yang bersalah, berarti kita telah membebaskan mereka dari dosa bersalah, sekalipun mereka tidak meminta dibebaskan. Merupakan suatu perbuatan terpuji karena menghapuskan dosa dan kesalahan saudara-saudara kita sesama manusia, terutama sesama muslim.

    Tujuan memberi maaf orang yang bersalah, walaupun ia tidak meminta maaf, ialah menginginkan perdamaian dan menghilangkan permusuhan serta ingin membantu seseorang dari menanggung dosa kesalahannya itu. Sifat cinta perdamaian dan ingin berbuat baik dalam bentuk membebaskan orang lain dari dosa, itulah yang disuruh oleh agama Islam.

    Sifat pemaaf salah satu ciri-ciri orang yang bertakwa, yang patuh dan taat kepada ajaran agama. Firman Allah SWT menjelaskan, “Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartannya, baik diwaktu lapang dan sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali Imran : 133-134).

    ***

    Sumber: Penenang Jiwa dan Pikiran.

     
    • salsabila putri 11:06 am on 16 Juli 2012 Permalink

      jadilah orang yg pemaaf

  • erva kurniawan 6:53 am on 9 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: mencela, mencerca   

    Mencerca Dan Mencela 

    Oleh : Ustadz Muhammad bin Hasan Baharun

    Mencerca dan mencela adalah jelas perbuatan tak terpuji, tapi mengapa orang masih suka melakukannya? Padahal Al-Qur’an dalam surat-surat 9:74,79; 12:31,92; 49:11 dan 68:11,30 berbicara soal cela dan cerca. Salah satunya Allah berfirman, “Celaka berat bagi para pencerca dan pengumpat.” (QS. 104:1)

    Kebiasaan buruk tersebut agaknya meningkat belakangan ini baik dalam pertemuan umum maupun melalui media massa dan menjadi semacam pekerjaan rutin insan yang tipis iman. Simaklah omongan sebagian orang bila lepas kesibukannya, selalu mengumpat dan mencerca orang lain. Bak kata pepatah “kuman di seberang lautan kelihatan, tapi gajah di pelupuk mata sendiri tak ketahuan.”

    Allah berfirman dalam kitab suci-Nya yang melukiskan dalam bentuk metafor, “Orang yang suka mencerca itu ibarat memakan daging saudaranya sendiri sesama muslim.”

    Dalam suatu riwayat, Nabi SAW bersabda, “Seorang dikatakan muslim ialah apabila saudaranya sesama muslim selamat dari lidah dan tangannya.” (HR. An-Nawawy)

    Akhir-akhir ini di media massa banyak orang yang mencerca orang lain, bahkan sudah menjurus pada pelanggaran privasi seseorang dan sudah menjadi kebiasaan. Di tempat-tempat umum seperti di sekolah, kampus, kantor dan lapangan, banyak orang cerca-mencerca, malahan terhadap terhadap sesamanya yang sudah mendahului kita ke alam baka. Karena mudahnya lidah mengucap, hingga cerca dan gosip seperti sesuatu yang lumrah disampaikan. Bahkan sebagian menganggap hal itu sebagai tanda keakraban. Atau ada yang bilang bahwa hal itu menunjukkan sikap yang kritis. Tentu saja itu semua keliru!

    Di jaman Nabi SAW, pernah ada orang mencerca Sahabat beliau. Baginda Nabi SAW pun lantas bersabda, “Jangan Anda mencerca para Sahabatku!. Seandainya Anda belanjakan harta sebesar gunung Uhud, niscaya amal Anda tak akan dapat mengalahkan jasa para Sahabatku.” (Muttafaqun alaihi)

    Kemudian dalam kesempatan lain, beliau berpesan, “Jika ada seseorang yang mencerca para Sahabatku, katakanlah, ‘semoga laknat Allah atas kejahatanmu.'”

    Pangkal gosip dan cerca adalah lidah. Diriwayatkan bahwa Lukman Al-Hakim, seorang arif yang termasyhur itu pernah disuruh majikannya membeli daging yang baik untuk menjamu tetamu yang bertandang. Kemudian Lukman membeli hati dan lidah. Sang majikan marah dan menanyakan mengapa ia membeli hati dan daging. Ia pun menjawab, “Tidakkah ini daging yang baik seperti yang tuan pesan. Sebab hati merupakan sumber amal perbuatan yang baik, sedangkan lidah dapat menjalin tali persaudaraan. Dari keduanya, seseorang dapat membangun kebajikan.”

    Pada saat yang lain majikan itu memerintahkan Lukman membeli daging yang busuk, untuk diketahui, kiranya jenis daging apa yang akan dibeli olehnya. Kemudian ia pun pulang dari pasar membawa hati dan lidah. Tersentaklah majikan tersebut dan bertanya kenapa gerangan ia membeli barang yang sama, padahal ia disuruh membeli daging yang paling busuk. Ia menjawab, “Benar tuanku, ini daging terbusuk. Hati adalah daging yang paling baik dan sekaligus juga yang paling busuk. Ia sumber kedengkian dan rasa congkak. Sedangkan lidah merupakan alat untuk melaknat, mencerca dan mencaci orang lain.”

    Oleh karena itu jagalah lidah kita dari perbuatan mencerca dan mencela yang dapat merusak segala amal kebajikan, seperti api yang melahap kayu bakar. Bersihkanlah hati dari rasa dendam dan dengki, sebab lidah merupakan cerminan gejolak hati. Bila hati bersih, lidah niscaya tidak akan bertutur kecuali yang baik. Sebaliknya bila hati tercemar, maka lidah akan mudah berkata-kata yang buruk.

    ***

    [Disarikan dari Sorotan Cahaya Ilahi, M. Baharun, hal. 37-40, cetakan I, penerbit Pustaka Progressif, 1995]

     
    • cahyo 1:47 pm on 28 April 2010 Permalink

      Indah sekali,,selain pandangan mata,hati dan lidahpun harus dijaga.

  • erva kurniawan 6:47 am on 8 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Wanita Yang Teguh Menggenggam Tauhid 

    “Semoga muslimah sekalian bisa mengambil hikmah dan mengikuti jejak keduanya, meninggal dalam keadaan teguh menggenggam “Tauhid.” ”

    Alkisah di negeri Mesir, Fir’aun terakhir yang terkenal dengan keganasannya bertahta. Setelah kematian sang isteri, Fir’aun kejam itu hidup sendiri tanpa pendamping. Sampai cerita tentang seorang gadis jelita dari keturunan keluarga Imran bernama Siti Asiah sampai ke telinganya. Fir’aun lalu mengutus seorang Menteri bernama Haman untuk meminang Siti Asiah.

    Orangtua Asiah bertanya kepada Siti Asiah, “Sudikah anakda menikahi Fir’aun ?”

    “Bagaimana saya sudi menikahi Fir’aun. Sedangkan dia terkenal sebagai raja yang ingkar kepada Allah ?”

    Haman kembali pada Fir’aun. Alangkah marahnya Fir’aun mendengar kabar penolakan Siti Asiah.

    “Haman, berani betul Imran menolak permintaan raja. Seret mereka kemari. Biar aku sendiri yang menghukumnya !”

    Fir’aun mengutus tentaranya untuk menangkap orangtua Siti Asiah. Setelah disiksa begitu keji, keduanya lantas dijebloskan ke dalam penjara. Menyusul kemudian, Siti Asiah digiring ke Istana. Fir’aun kemudian membawa Siti Asiah ke penjara tempat kedua orangtuanya dikurung. Kemudian, dihadapan orangtuanya yang nyaris tak berdaya, Fir’aun berkata, “He, Asiah. Jika engkau seorang anak yang baik, tentulah engkau sayang terhadap kedua orangtuamu. Oleh karena itu, engkau boleh memilih satu diantara dua pilihan yang kuajukan. Kalau kau menerima lamaranku, berarti engkau akan hidup senang, dan pasti kubebaskan kedua orangtuamu dari penjara laknat ini. Sebaliknya, jika engkau menolak lamaranku, maka aku akan memerintahkan para algojo agar membakar hidup-hidup kedua orangtuamu itu, tepat dihadapanmu.”

    Karena ancaman itu, Siti Asiah terpaksa menerima pinangan Fir’aun. Dengan mengajukan beberapa syarat, yaitu Fir’aun harus membebaskan orangtuanya, Fir’aun harus membuatkan rumah untuk ayah dan ibunya, yang indah lagi lengkap perabotannya dan Fir’aun harus menjamin kesehatan, makan, minum kedua orangtuanya.

    Siti Aisyah bersedia menjadi isteri Fir’aun. Hadir dalam acara-acara tertentu, tapi tak bersedia tidur bersama Fir’aun. Sekiranya permintaan-permintaan tersebut tidak disetujui, Siti Asiah rela mati dibunuh bersama ibu dan bapaknya.

    Akhirnya Fir’aun menyetujui syarat-syarat yang diajukan Siti Asiah. Fir’aun lalu memerintahkan agar rantai belenggu yang ada di kaki dan tangan orangtua Siti Asiah dibuka. Singkat cerita, Siti Asiah tinggal dalam kemewahan Istana bersama-sama Fir’aun. Namun ia tetap tak mau berbuat ingkar terhadap perintah agama, dengan tetap melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.

    Pada malam hari Siti Asiah selalu mengerjakan shalat dan memohon pertolongan Allah SWT. Ia senantiasa berdoa agar kehormatannya tidak disentuh oleh orang kafir, meskipun suaminya sendiri, Fir’aun.

    Untuk menjaga kehormatan Siti Asiah, Allah SWT telah menciptakan iblis yang menyaru sebagai Siti Asiah. Dialah iblis yang setiap malam tidur dan bergaul dengan Fir’aun.

    Fir’aun mempunyai seorang pegawai yang amat dipercaya bernama Hazaqil. Hazaqil amat taat dan beriman kepada Allah SWT. Beliau adalah suami Siti Masyitoh, yang bekerja sebagai juru hias istana, yang juga amat taat dan beriman kepada Allah SWT. Namun demikian, dengan suatu upaya yang hati-hati, mereka berhasil merahasiakan ketaatan mereka terhadap Allah. Dari pengamatan Fir’aun yang kafir.

    Suatu kali, terjadi perdebatan hebat antara Fir’aun dengan Hazaqil, disaat Fir’aun menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang ahli sihir, yang menyatakan keimanannya atas ajaran Nabi Musa a.s. Hazaqil menentang keras hukuman tersebut. Mendengar penentangan Hazaqil, Fir’aun menjadi marah. Fir’aun jadi bisa mengetahui siapa sebenarnya Hazaqil. Fir’aun lalu menjatuhkan hukuman mati kepada Hazaqil. Hazaqil menerimanya dengan tabah, tanpa merasa gentar sebab yakin dirinya benar.

    Hazaqil menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan tangan terikat pada pohon kurma, dengan tubuh penuh ditembusi anak panah. Sang istri, Masyitoh, teramat sedih atas kematian suami yang amat disayanginya itu. Ia senantiasa dirundung kesedihan setelah itu, dan tiada lagi tempat mengadu kecuali kepada anak-anaknya yang masih kecil.

    Suatu hari, Masyitoh mengadukan nasibnya kepada Siti Asiah. Diakhir pembicaraan mereka, Siti Asiah menceritakan keadaan dirinya yang sebenarnya, bahwa iapun menyembunyikan ketaatannya dari Fir’aun. Barulah keduanya menyadari, bahwa mereka sama-sama beriman kepada Allah SWT dan Nabi Musa a.s.

    Pada suatu hari, ketika Masyitoh sedang menyisir rambut puteri Fir’aun, tanpa sengaja sisirnya terjatuh ke lantai. Tak sengaja pula, saat memungutnya Masyitoh berkata, “Dengan nama Allah binasalah Fir’aun.”

    Mendengarkan ucapan Masyitoh, Puteri Fir’aun merasa tersinggung lalu mengancam akan melaporkan kepada ayahandanya. Tak sedikitpun Masyitoh merasa gentar mendengar hardikan puteri. Sehingga akhirnya, ia dipanggil juga oleh Fir’aun.

    Saat Masyitoh menghadap Fir’aun, pertanyaan pertama yang diajukan kepadanya adalah, “Apa betul kau telah mengucapkan kata-kata penghinaan terhadapku, sebagaimana penuturan anakku. Dan siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini?”

    “Betul, Baginda Raja yang lalim. Dan Tiada Tuhan selain Allah yang sesungguhnya menguasai segala alam dan isinya.”jawab Masyitoh dengan berani.

    Mendengar jawaban Masyitoh, Fir’aun menjadi teramat marah, sehingga memerintahkan pengawalnya untuk memanaskan minyak sekuali besar. Dan saat minyak itu mendidih, pengawal kerajaan memanggil orang ramai untuk menyaksikan hukuman yang telah dijatuhkan pada Masyitah. Sekali lagi Masyitoh dipanggil dan dipersilahkan untuk memilih, jika ingin selamat bersama kedua anaknya, Masyitoh harus mengingkari Allah. Masyitoh harus mengaku bahwa Fir’aun adalah Tuhan yang patut disembah. Jika Masyitoh tetap tak mau mengakui Fir’aun sebagai Tuhannya, Masyitoh akan dimasukkan ke dalam kuali, lengkap bersama kedua anak-anaknya.

    Masyitoh tetap pada pendiriannya untuk beriman kepada Allah SWT. Masyitoh kemudian membawa kedua anaknya menuju ke atas kuali tersebut. Ia sempat ragu ketika memandang anaknya yang berada dalam pelukan, tengah asyik menyusu. Karena takdir Tuhan, anak yang masih kecil itu dapat berkata, “Jangan takut dan sangsi, wahai Ibuku. Karena kematian kita akan mendapat ganjaran dari Allah SWT. Dan pintu surga akan terbuka menanti kedatangan kita.”

    Masyitoh dan anak-anaknyapun terjun ke dalam kuali berisikan minyak mendidih itu. Tanpa tangis, tanpa takut dan tak keluar jeritan dari mulutnya. Saat itupun terjadi keanehan. Tiba-tiba, tercium wangi semerbak harum dari kuali berisi minyak mendidih itu.

    Siti Asiah yang menyaksikan kejadian itu, melaknat Fir’aun dengan kata-kata yang pedas. Iapun menyatakan tak sudi lagi diperisteri oleh Fir’aun, dan lebih memilih keadaan mati seperti Masyitoh.

    Mendengar ucapan Isterinya, Fir’aun menjadi marah dan menganggap bahwa Siti Asiah telah gila. Fir’aun kemudian menyiksa Siti Asiah, tak memberikan makan dan minum, sehingga Siti Asiah meninggal dunia.

    Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Siti Asiah sempat berdoa kepada Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam firman-Nya, “Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata : “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi_mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (Q.S. At-Tahrim [66] : 11)

    Demikian kisah Siti Asiah dan Masyitoh. Semoga muslimah sekalian bisa mengambil hikmah dan mengikuti jejak keduanya, meninggal dalam keadaan teguh menggenggam “Tauhid.”

    ***

    Oleh : Rasyan Ridha. Penulis adalah peminat sejarah. Tinggal di Bandung.

     
  • erva kurniawan 6:29 am on 7 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , hakekat menikah, , , , ,   

    Carilah Iman Yang Separuh Lagi 

    Bismillaahir-rahmaanir-rahiim

    Sahabat,

    Ketika salah seorang sahabat bernama Ukaf bin Wida’ah al-Hilali menemui Rasulullah saw dan mengatakan bahwa ia belum menikah, beliau bertanya, “Apakah engkau sehat dan mampu?” Ukaf menjawab, “Ya, alhamdulillah.” Rasulullah saw bersabda, “Kalau begitu, engkau termasuk teman setan. Atau engkau mungkin termasuk pendeta Nasrani dan engkau bagian dari mereka. Atau (bila) engkau termasuk bagian dari kami, maka lakukanlah seperti yang kami lakukan, dan termasuk sunnah kami adalah menikah. Orang yang paling buruk diantara kamu adalah mereka yang membujang. Orang mati yang paling hina di antara kamu adalah orang yang membujang.” Kemudian Rasulullah saw menikahkannya dengan Kultsum al-Khumairi. (HR Ibnu Atsir dan Ibnu Majah)

    Anas bin Malik ra berkata, telah bersabda Rasulullah saw, “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.” (Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim)

    Pernah suatu ketika tiga orang shahabat datang bertanya kepada istri-istri Nabi saw tentang peribadatan beliau. Setelah mendapat penjelasan, masing-masing ingin meningkatkan peribadatan mereka. Salah seorang berkata, “Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus.” Yang lain berkata, “Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan kawin selamanya.” Ketika hal itu didengar oleh Nabi saw, beliau keluar seraya bersabda, “Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa diantara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga mengawini perempuan. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Ibnu Mas’ud ra pernah berkata, “Jika umurku tinggal sepuluh hari lagi, sungguh aku lebih suka menikah daripada aku harus menemui Allah swt sebagai seorang bujangan.” (Ihya Ulumuddin hal. 20)

    Dalam suatu kesempatan Imam Malik pernah berkata, “Sekiranya saya akan mati beberapa saat lagi, sedangkan istri saya sudah meninggal, saya akan segera menikah.” Demikian rasa takut pengarang kitab al-Muwatha’ ini kepada Allah kalau ia meninggal dalam keadaan membujang. (30 Pertunjuk Pernikahan dalam Islam, Drs. M. Thalib)

    Lalu kenapa kita masih menahan diri untuk menikah? Pengalaman mengajarkan bahwa ternyata kita dapat menjadi semacam tempat penyalur rejeki (dari Allah) bagi orang-orang yang lemah diantara kita (istri dan anak-anak, bahkan orangtua dan mertua sekaligus). Itu dapat terjadi manakala kita telah buat keputusan untuk mengambil tanggung jawab atas mereka. Seakan-akan Allah mengatakan bahwa Dia akan membantu kita untuk mewujudkan setiap niat baik dan tangung jawab kita.

    Allah swt menyukai orang-orang yang dapat ‘mewakili’-Nya dalam hal pembagian rejeki. Salah satu kesukaan-Nya adalah bahwa Dia akan berikan lebih banyak lagi rejeki kepada wakil-wakil-Nya agar hal itu dapat bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya yang ada dibawah tanggung-jawab mereka. Dan Allah (yang menyenangi orang-orang yang berbuat baik) menyukai mereka yang mengambil tanggung-jawab atas urusan-urusan yang disukai-Nya.

    Percayalah bahwa ketika kita buat keputusan untuk menikah, itu berarti bahwa kita sedang menyenangkan Allah. Pada saat yang sama, kita menjadikan setan stress dan ‘uring-uringan’. Pada gilirannya nanti, Allah akan memperlihatkan bahwa hanya kepada-Nyalah semua makhluk bergantung dan mendapatkan rejekinya. Sementara itu, setan bekerja lebih keras lagi untuk menanamkan rasa takut terhadap segala resiko (yang mungkin timbul) dari pernikahan, sekaligus dia menampakkan ‘kebaikan-kebaikan’ hidup sendiri (membujang).

    Bila kita menikah, padahal saat ini kita (misalnya) seperti ‘tulang punggung’ bagi keluarga orangtua, maka Allah yang maha pengasih dan maha penyayang tidak akan menambah berat beban yang harus kita pikul, bahkan Dia akan meringankannya melalui pernikahan. Nampaknya hal ini tidak bisa masuk akal, akan tetapi demikianlah ketetapan Allah dalam memelihara ciptaan-Nya. Akal kita memang sangat terbatas, bahkan sekedar untuk memahami ciptaan-Nya saja hamper-hampir kita tidak mampu.

    Bila kita menikah, sedangkan kita tidak sedikitpun punya niatan untuk meninggalkan bakti kepada orangtua dan hubungan baik dengan sanak-saudara, niscaya Allah akan memberi jalan keluar bagi masalah-masalah yang mungkin timbul terhadap mereka. Segala sesuatu datang dari Allah dan semuanya akan kembali kepada-Nya. Keadaan seberat apapun, pasti tidak akan menyusahkan-Nya sedikitpun dalam menyelesaikan masalah-masalah keseharian kita.

    Bila kita menikah, maka kita akan (segera) masuk ke dalam orang-orang yang beruntung yang akan diakui sebagai ummat Rasulullah saw. Begitu besarnya perhatian Rasulullah saw akan hal nikah sehingga seseorang seperti Julabib, (maaf) yang punya wajah jelek, hitam, miskin dan tidak punya keberanian untuk nikah (karena keadaannya) pun ‘digesa’ dan didorong untuk menikah. Seakan Rasulullah marah kepada mereka yang sudah masuk dalam kategori layak nikah namun dia mengabaikannya.

    Untuk itu, hendaknya tidak seorangpun merasa kecil hati dengan keadaannya saat ini. Banyak keadaan dimana orang-orang memandang bahwa keadaan kita jauh lebih baik daripada mereka. Barangkali orang-orang di luar kita tidak sepenuhnya memahami keadaan kita, akan tetapi pada kenyataannya memang selalu ada orang-orang yang posisinya jauh dibawah kita dan selalu ada orang-orang yang keadaannya lebih buruk daripada kita.

    Lalu dari mana kita mulai? Orang-orang tua yang arif-bijaksana selalu mengingatkan agar kita selalu memperbaharui niat kita, menguatkannya hingga kita berazam untuk mewujudkan sesuatu yang kita hajatkan. Dengan ijin Allah, niat yang kuat (azam) akan dapat mengaktifkan fikir, menggerakkan anggota badan dan melibatkan segala sesuatu di sekitar kita untuk merealisasikan apa yang kita niatkan. Untuk perkara yang tidak baik saja Allah memberinya ijin, lalu bagaimana pula bila niat itu sesuatu yang Allah sukai?

    Langkah selanjutnya adalah doa. Dengan menguatkan niat, doa kita akan terasa lebih berkesan. Ada masa-masa tertentu setiap hari ketika Allah merespon doa secara ‘cash’ (tunai). Tidak seorangpun tahu rahasia ini, sehingga orang yang bersungguh-sungguh (dengan urusan doa yang diijabah ini) tidak akan menyiakan masanya, sehingga tidak ada masa kecuali selalu dalam berhubungan dengan Sang pengijabah doa.

    Langkah berikutnya, yakni seiring dengan doa yang sedang kita panjatkan, adalah ikhtiar. Kita boleh menyukai siapa saja, yang agama kita membenarkannya untuk kita menikahinya. Akan tetapi ketetapan pasangan kita adalah hak Allah. Kita boleh memilih dan memilah, tapi yakin kita adalah bahwa keputusan Allah adalah yang terbaik buat kita. Allah mengetahui sedangkan kita tidak tahu kecuali sebatas pada apa yang diberitahukan-Nya kepada kita.

    Bila kita menyukai seseorang untuk menjadi pasangan (suami atau istri) kita lalu hal itu sesuai dengan keinginan dan ilmu kita, akan tetapi Allah (dengan keluasan ilmu-Nya) tidak menghendakinya terjadi, maka pernikahan itu tidak akan dapat diwujudkan meski seluruh jin dan manusia membantu kita. Bila kita menyukai seseorang dan Dia sendiri telah menetapkannya untuk kita, maka pernikahan akan terwujud meskipun seluruh jin dan manusia menghalanginya.

    Bila kita tidak suka kepada seseorang sedangkan Allah suka agar kita menyenangi dan menikahinya, ini adalah suatu pertanda bahwa Allah menyimpan banyak kebaikan yang (sebagian besarnya) dirahasiakan-Nya agar menjadi  ‘surprise’ bagi kita pada saat yang ditentukan-Nya sendiri kelak, baik di dunia ataupun di akhirat. Dan kesukaan Allah yang lain adalah bahwa Dia mecurahkan kebaikan yang semakin bertambah dan berlipat kepada hamba-hamba yang diridhoi-Nya.

    Dari banyak pengalaman, saat menjelang pernikahan (setelah kita buat keputusan untuk itu) adalah masa-masa yang sering dipenuhi dengan kecamuk ‘perang bathin’. Seolah ini adalah perang antara kebaikan dan keburukan. Bila kita terus maju dengan segala resikonya, kita akan menang lalu sampailah kita ke gerbang pernikahan. Sebaliknya, bila kita ragu dan menjadi terhalang dengan ‘hal-hal kecil’, kita akan kalah dan kita tidak akan sampai ke gerbang itu. Maka bila kita sudah buat keputusan, kita mesti buang jauh segala bentuk keraguan dan kita mesti belajar untuk menjadi tidak peduli dengan segala rintangan. Subhanallah.

    Oleh: Subhan ibn Abdullah

     
    • wajar 8:35 am on 8 April 2010 Permalink

      subhanallah.. bagus artikelnya
      saya ijin copas boleh atau tidak??

    • rahmadani 3:33 pm on 12 April 2010 Permalink

      saya izin copas yah,..

    • dini 10:05 am on 17 April 2010 Permalink

      Subhanallah…………tambah terbuka pintu hati untuk segera menunaikan kewajiban carilah iman yang separuh lagi, terimakasih buat mas erva artikelnya bagus banget………

    • murray 5:18 pm on 16 Mei 2010 Permalink

      saya tersadar setelah baca artikel ini… terimakasih

    • bayu setia pambudi 1:50 pm on 7 Februari 2012 Permalink

      semoga q mendapatkan seseorang yang sesuai aamin ya rabb!
      izin copas y!

    • pks petir 5:51 pm on 31 Desember 2012 Permalink

      Asslmkm,, salam ukhuwah, izin share yaa,,

  • erva kurniawan 3:57 am on 6 April 2010 Permalink | Balas  

    Diet Rasulullah 

    Rasulullah merupakan teladan yang baik dalam mengendalikan diri. Kita harus melihat berbagai cara dan berbagai jenis makanan yang paling disukai oleh Rasulullah. Diantara makanan yang disukai oleh baginda yang dikatakan oleh Aisyah bahw Rasulullah suka daging yang enak dan madu. (HR. Bukhari)

    Rasulullah SAW tidak mau mengumpulkan dalam perutnya dengan berbagai macam makanan. Jika baginda memakan daging, baginda tidak menambahnya dengan yang lain. Jika baginda memakan kurma, baginda tidak memakan jenis makanan yang lain. Jika baginda memakan roti, maka cukuplah roti itu saja bagi baginda, jika baginda hanya menemui susu tanpa roti, itupun sudah mencukupi bagi baginda.

    Menurut Sayyidah Aisyah, perut rasulullah SAW tidak pernah penuh sampai kenyang, baginda tidak pernah meminta makanan, lalu memakan, itu tidak disukainya. Bila keluarga baginda memberi makanan, makanan itu baginda makan begitu juga minuman, apa saja yang diberikan oleh keluarga baginda, baginda tidak menolaknya. Oleh sebab itu baginda berkata : “Aku lapar sehari dan aku kenyang sehari. Bila aku lapar aku bersabar dan berdo’a dengan merendahkan diri kepada Allah, dan bila aku kenyang aku akan bersyukur kepada Allah SWT”.

    Rasulullah apabila ingin makan, baginda makan sebelum terlalu lapar, dan berhenti sebelum terlalu kenyang. Bukan harus menuruti kehendak hawa nafsu, dengan memakan sebanyak-banyaknya dari makanan yang lezat menurut selera kita. Sehingga memenuhi perut.

    Madu adalah sejenis makanan yang dapat menjaga seseorang dari serangan berbagai penyakit, sebagaimana sabda Rasulullah dari Abu Hurairah, “Jika setiap orang menjilat madu tiga kali setiap pagi dalam setiap bulan, dia tidak akan menderita sakit keras”.

    Demikianlah cara Rasulullah dalam mengatur kehidupan baginda, yang dapat kita tiru dalam menjalani kehidupan kita pada abad modern ini. Sehingga kita tidak mudak terpengaruh dengan berbagai kemewahan yang membuat kita lupa diri sendiri. Makanan berlebihan itu juga dapat mengakibatkan besarnya hawa nafsu, yang dapat merusak diri dan dapat menyebabkan hidup menjadi keluh kesah dan tidak tenteram.

    ***

    Sumber : Penenang Jiwa dan Pikiran

     
  • erva kurniawan 3:27 am on 5 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Doa Kang Suto 

    Pernah saya tinggal di Perumnas Klender. Rumah itu dekat mesjid yang sibuk. Siang malam orang pada ngaji. Saya tak selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain.

    Lingkungan sesak itu saya amati. Tak cuma di mesjid. Di rumah-rumah pun setiap habis magrib saya temui kelompok orang belajar membaca Al Quran. Anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.

    Di jalan Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme. Mereka cabang sebuah tarekat yang inti ajarannya berserah pada Tuhan. Mereka banyak zikir. Solidaritas mereka kuat. Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana.

    Dua puluh tahun lebih di Jakarta, tak saya temukan corak hidup macam itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini?

    Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca sajak di Senayan. Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba jadi superstar pengajian (ceramahnya melibatkan panitia, stadion, puluhan ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi saya dibuat bertanya: jawaban sosiologis apa yang harus diberikan buat menjelaskan gairah Islam, termasuk di kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?

    Di Klender yang banyak mesjid itu saya mencoba menghayati keadaan. Sering ustad menasihati, “Hiasi dengan bacaan Quran, biar rumahmu teduh.”

    Para “Unyil” ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya, orang seperti kemarok terhadap agama.

    Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan, setapak demi setapak.

    Ustad Betawi itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena, biarpun sudah tua, ia masih bersemangat belajar. Katanya, “Menuntut ilmu wajib hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat amal kita cuma tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita tak sia-sia.”

    Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai. Alip, ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa menirukan pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, ‘ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain.

    “Ain, Pak Suto,” kata Ustad Bentong bin H. Sabit.

    “Ngain,” kata Kang Suto.

    “Ya kaga bisa nyang begini mah,” pikir ustad.

    Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang runyem itu. Tapi Kang Suto tak putus asa. Dia cari guru ngaji lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto diajarinya baca Al-Fatihah.

    “Al-kham-du …,” tuntun guru barunya.

    “Al-kam-ndu …,” Kang Suto menirukan. Gurunya bilang, “Salah.”

    “Alkhamdulillah …,” panjang sekalian, pikir gurunya itu.

    “Lha kam ndu lilah …,” Guru itu menarik napas. Dia merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Quran.

    Kang Suto takut. “Mau belajar malah cari dosa,” gerutunya.

    Ia tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah, minta pandangan keagamaan saya.

    “Begini Kang,” akhirnya saya menjawab. “Kalau ada ustad yang bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima tidaknya, urusan Tuhan. Lagi pula bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka semua, dan surga isinya cuma Arab melulu.” Kang Suto mengangguk-angguk.

    Saya ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang tak fasih berdoa. Beliau langsung ditegur Tuhan. “Biarkan, Musa. Yang penting ketulusan hati, bukan kefasihan lidahnya.”

    “Sira guru nyong,” (kau guruku) katanya, gembira.

    Sering kami lalu bicara agama dengan sudut pandang Jawa. Kami menggunakan sikap semeleh, berserah, pada Dia yang Mahawelas dan Asih. Dan saya pun tak berkeberatan ia zikir, “Arokmanirokim,” (Yang Pemurah, Pengasih).

    Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi. Ia membisikkan kegelisahannya pada Tuhan.

    “Ya Tuhan, adakah gunanya doa hamba yang tak fasih ini. Salahkah hamba, duh Gusti, yang hati-Nya luas tanpa batas.”

    Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya, mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi.

    ***

    Mohammad Sobary, Editor, No.21/Thn.IV/2 Februari 1991

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • annisa 3:54 pm on 15 April 2010 Permalink

      subhanallah.. cerita yg bagus..,
      semoga kita tidak berputus asa dari Rahmat Allah..,
      karena sbg manusia biasa tentu kita banyak kekurangan
      dlm mencari ilmu-Nya, dan semoga Allah memaafkan kita smua amiin…

  • erva kurniawan 3:11 am on 4 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Tawakal Dan Ikhtiar 

    Secara singkat AA Gym menyatakan bahwa manusia harus Tawakal, harus percaya bahwa Allah SAW itu sangat sayang kepada Umat Manusia, oleh karena itu telah menyediakan segala yang ada di bumi ini untuk keperluan manusia.

    Tapi menurut AA Gym manusia tidak cukup hanya Tawakal. Karena Allah juga tidak suka kepada manusia yang tidak berupaya, tidak ber-Ikhtiar.

    Dicontohkan oleh AA Gym bahwa manusia itu hendaknya memperhatikan apa yang dilakukan oleh seekor cecak ketika dia harus menghidupi dirinya mencari makan.

    Cecak itu adalah binatang yang melata, merayap, padahal makanannya adalah nyamuk (binatang yang bisa terbang).

    Teryata cecak itu tetap tawakal, dia percaya Allah tidak akan menyia nyiakan dia tanpa makanan di dunia ini, tapi cecak juga mengerti bahwa untuk tetap dapat hidup, tidak cukup hanya tawakal. Bila hanya berbekal Tawakal, maka dia tak akan bisa menangkap cecak yang selalu terbang.

    Jadi apa yang harus dibuat nya selain tawakal? Nah cecak harus berusaha (Ikhtiar), dia akan berupaya mengejar nyamuk yang dapat terbang.

    Bagaimana caranya? Cecak lalu bertindak seolah olah dia itu benda mati, kadang kadang secara diam diam dia juga harus merayap. Semua perbuatannya itu dilakukan dengan hati hati, supaya nyamuk tidak sadar, bahwa didekat nya ada seekor cecak yang siap menyergapnya.

    Setelah ada nyamuk yang betul betul dekat, maka HAP, lalu ditangkap. (ingat lagu anak2 berjudul cecak cecak didinding?).

    Lalu AA Gym juga mencontohkan bagaimana seorang sosok manusia yang telah mengikuti langkah langkah seperti cecak.

    Seorang manusia yang percaya (tawakal) tapi dia juga berikhtiar

    Adalah seorang penjual mangga, dia percaya bahwa semua perbuatan yang didasari dengan tawakal pasti disenangi oleh Allah, tapi dia tidak semata mata mengandalkan ke-tawakalannya tersebut, dia juga berikhtiar.

    Pagi pagi setelah sholat subuh, dia lap satu persatu mangga mangga yang hendak di jual nya (supaya sedap dipandang mata), setelah itu ditatanya mangga mangga itu dalam tumpukan yang tersusun dengan baik di keranjang yang hendak dipikulnya.

    Sang istri melihat kerajinan suaminya mempersiapkan dagangan nya itu, ketika suami berangkat, sang istri mendoakan semoga rezeki dilimpahkan Allah kepada suami nya yang tawakal dan rajin itu.

    Dipasar, pedagang mangga itu tidak hanya sendirian, disebelah kanan dan kiri banyak juga penjual mangga seperti halnya dia yang sedang berupaya mencari sesuap nasi.

    Bila ada seorang ibu atau bapak yang mampir di tempat dagang nya, maka pedagang kita ini melayani dengan sopan, tidak marah bila ditawar oleh calon pembeli, dan tidak juga kesal bila ternyata pembeli itu tidak jadi membeli, atau malah akhirnya membeli di lapak sebelahnya.

    Dalam hati nya si pedagang berkata, saya telah berikhtiar sebaik-baiknya, saya pun tawakal, bahwa Allah senantiasa memperhatikan rezeki saya, maka ketika sore tiba, pulang lah dia kerumah, disambut oleh sang istri, yang menanyakan bagaimana peruntungan hari ini.

    Pedagang kita menjawab, alhamdulillah bu, tidak ada yang beli, tapi saya sudah puas bu, tidak ada satu kali pun pikiran saya buruk, tak satu patah kata yang kasar keluar dari mulut saya, sebaliknya saya telah melayani para calon pembeli dengan ramah, hati mereka rata-rata terhibur oleh keramahan saya, saya telah berhasil membuang jauh jauh rasa dengki saya kepada pedagang disebelah, ketika pembeli yang semula menawar manggaku, ternyata membeli dari lapak nya. Saya telah berbuat banyak kebaikan bu, tapi tidak satupun Mangga kita terjual.

    Maka istrinya pun membalas, alhamdulillah Pak, itu lah rezeki kita.

    Maka mereka berdua mengucapkan doa syukur, kepada Allah SAW.

    Namun, tak berapa lama kemudian datang lah anak mereka, dengan berteriak teriak gembira, “Bapak, Ibu, alhamdulillah saya telah terpilih sebagai mahasiswa yang mendapat beasiswa”.

    Nah, rezeki bukan hanya berbentuk uang, rezeki bisa berbentuk apa saja, dan ternyata rezeki itu tidak harus datang melalui diri kita, tapi dapat saja melalui anak kita, melalui istri kita, bahkan melalui orang tua kita.

    rezeki bisa berupa kesehatan

    rezeki bisa berupa kerukunan keluarga

    rezeki bisa berbentuk bea siswa yang diterima oleh anak

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • djembut 1:48 pm on 23 September 2012 Permalink

      sip om

  • erva kurniawan 2:46 am on 3 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Permohonan Si Miskin Dan Si Kaya 

    Sebuah cerita teladan diambil dari buku “1001 Kisah Teladan”

    Nabi Musa AS memiliki ummat yang jumlahnya sangat banyak dan umur mereka panjang-panjang. Mereka ada yang kaya dan juga ada yang miskin.

    Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa AS. Ia begitu miskinnya pakaiannya compang-camping dan sangat lusuh berdebu. Si Miskin itu kemudian berkata kepada Baginda Musa AS, “Ya Nabiullah, Kalamullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar Allah SWT menjadikan aku orang yang kaya.

    Nabi Musa AS tersenyum dan berkata kepada orang itu, “Saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah SWT. Si Miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, Bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan pun jarang, dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja”!.

    Akhirnya Si Miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya.

    Beberapa waktu kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa AS. Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya. Ia berkata kepada Nabi Musa AS, “Wahai Nabiullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu.

    Nabi Musa AS pun tersenyum, lalu ia berkata, “Wahai saudaraku, janganlah kamu bersyukur kepada Allah SWT.”

    “Ya Nabiullah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Alah SWT?. Allah SWT telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat. Telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah SWT telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya”, jawab Si Kaya itu. Akhirnya Si Kaya itu pun pulang ke rumahnya.

    Kemudian terjadi adalah Si Kaya itu semakin Allah SWT tambah kekayaannya karena ia selalu bersyukur. Dan Si Miskin menjadi bertambah miskin. Allah SWT mengambil semua kenikmatan-Nya sehingga Si Miskin itu tidak memiliki selembar pakaianpun yang melekat di tubuhnya. Ini semua karena ia tidak mau bersyukur kepada Allah SWT.

    Semoga bermanfaat

    ***

     
    • rizky TheFallen 2:16 pm on 3 April 2010 Permalink

      subhanallah.. apa di zaman sekarang masih banyak orang kaya yang kayak gitu?

    • Hendra 9:03 pm on 6 April 2010 Permalink

      MasyaAllah… Smoga allah menjadi kan kita orang2 yg bersyukur. Amin

    • annisa 10:45 am on 12 April 2010 Permalink

      Subhanallah.. sbnarnya.. dari cerita itu bisa terlihat bahwa semua saling membutuhkan.., si miskin butuh harta, si kaya ingin mengurangi hartanya, dan Allah sudah memberi solusi dgn ZAKAT,
      jika si kaya berzakat, sedeqah atw peduli dgn yg kekurangan di sekelilingnya..maka dia akan kaya hati dan hati menjadi senang, dan artinya si Kaya tlah menjadi Tangan2 Allah u/ menolong si Miskin..,

      Semoga kita selalu dapat memberikan kelebihan harta / uang kita walaupun sedikit kepda yg lebih membutuhkan..
      aamiinn..

    • Irfan 9:44 am on 22 April 2010 Permalink

      minta izin copas ya……..

    • akhil muslim 7:59 pm on 15 Mei 2010 Permalink

      kita harus semakin bersyukur atas kenikmatan-kenikmatan yang allah anugrahkan kepada kita…………agar kita semakin kaya dalam kehidupan dunia terlebih akhirat…bukan hanya sekedar kaya harta tapi juga hati……….dan kaya ilmu dan kaya amal……..

    • Sri Mulyati 9:11 pm on 19 September 2010 Permalink

      izin share ya….syukron

  • erva kurniawan 8:13 pm on 2 April 2010 Permalink | Balas  

    Ketika Dosa Sedalam Samudra 

    Pernahkah kita menghitung dosa yang kita lakukan dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, bahkan sepanjang usia kita?

    Andaikan saja kita bersedia menyediakan kotak kosong, lalu kita masukkan semua dosa-dosa yang kita lakukan, kira-kira, apa yang terjadi?

    Saya menduga kuat bahwa kotak tersebut tak berbentuk kotak lagi, karena tak mampu menahan muatan dosa kita.

    Bukankah shalat kita masih ” bolong-bolong “? Bukankah shalat kita sering terlambat, dikerjakan mau habis waktunya dan tidak khusyuk? Bukankah kita pernah menahan hak faqir miskin?

    Bukankah kita pernah, bahkan sering berbohong, mengingkari janji, bersumpah dengan sumpah yang palsu, bersikap munafiq, mencerca manusia, mengejeknya, menuduhnya, berburuk sangka padanya, iri hati, hasad, mengobarkan rasa benci membenci dan dendam pada seseorang?

    Bukankah kita pernah merasa diri paling benar, paling pintar dari orang lain, ta’adjub, riya, sombong, marah yang tak pada tempatnya, angkuh, congkak, hebat, dan tinggi dari orang lain?

    Bukankah karena lidah kita, tangan kita, badan, kaki kita, mata dan hati kita pernah menyakiti manusia lainnya?

    Bukankah kita pernah menyelipkan kertas amplop pada petugas administrasi demi untuk kelancaran urusan kita, bermanis muka, lain di mulut, lain dihati, bersikap munafik pada pejabat dan penguasa, menyandarkan urusan padanya, agar kita dipandang pegawai yang baik dan banyak kerja, pada hakikatnya banyak yang tidak kita kerjakan, malah kita asyik berdiri didepan computer, chatting dan melihat situs-situs yang tidak baik, menghabiskan waktu memakan harta yang tidak berhak kita makan, tanpa kita menyadarinya, bahwa hal itu bukan hak kita.

    Bukankah kita pernah menerima uang yang tak jelas statusnya, sehingga pendapatan kita berlipat ganda?

    Bukankah kita sering tak mau menolong orang yang meminta bantuan pada kita, menolong saudara kita yang dalam kesulitan, walaupun kita sanggup menolongnya?

    Daftar ini akan bisa semakin sangat panjang bila diteruskan.

    Lalu apa yang harus kita lakukan?

    Allah SWT berfirman dalam surat Az Zumar (39:53), “Katakanlah wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya (kecuali syirik).  Sesungguhnya Dialah yang maha pengampun lagi maha penyayang.”

    Indah benar ayat ini, Allah menyapa kita dengan panggilan yang bernada teguran, namun tidak diikuti kalimat yang berbau murka. Justru Allah mengingatkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Allahpun menjanjikan kita untuk mengampuni dosa-dosa kita.

    Karena itu, kosongkanlah lagi kotak-kotak yang penuh tadi dengan taubat padaNya. Kita kembalikan kotak itu seperti keadaannya semula, kita kembalikan jiwa kita kepada jiwa yang fitri dan bersih.

    Jika kita punya onta lengkap dengan segala perabotannya, lalu tiba-tiba onta itu hilang, bukankah kita sedih?

    Bagaimana pula jika onta itu tiba-tiba kembali berjalan menuju kita lengkap dengan segala perbekalannya, bukankah kita merasa bahagia?

    Rasulullah SAW bersabda, “ketahuilah Allah akan lebih senang lagi melihat hambaNya yang berlumuran dosa kembali kepadaNya.”

    Allah berfirman, “Kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah padaNya, sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi “. (Q. S.  39:54 )

    Seperti onta yang sesat jalan, dan mungkin telah tenggelam didasar lautan samudra, mengapa kita tak berusaha berjalan kembali menuju Allah, dan menangis di “kaki kebesaranNya”, mengakui kesalahan kita, dan memohon ampunanNya.

    Wahai Tuhan Yang kasih SayangNya lebih besar dari MurkaNya. Ampuni kami ya Allah.

    ***

    Disampaikan di “renungan” pengajian Muttaqin Kairo.

    Oleh: Rahima

     
    • annisa 10:26 am on 6 April 2010 Permalink

      Astaghfirullah al adzhiimmi…,
      hanya kata itu yang mampu terucap mengingat dosa2 yg telah di lakukan..hizk.. hizk..
      Allahumma a’inna ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatik..

    • Hendra 8:57 pm on 6 April 2010 Permalink

      Astagfirullah alaziim….

    • dian 10:28 am on 7 Desember 2011 Permalink

      Astagfirullah al adzhiim…
      patut dibaca semua orang, izin share di FB, shukran….

  • erva kurniawan 7:49 pm on 1 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: manfaat sholat,   

    Dahsyatnya Manfaat Gerakan Sholat 

    Salat adalah amalan ibadah yang paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Gerakan-gerakannya sudah sangat melekat dengan gestur (gerakan khas tubuh) seorang muslim. Namun, pernahkah terpikirkan manfaat masing-masing gerakan? Sudut pandang ilmiah menjadikan salat gudang obat bagi berbagai jenis penyakit.

    Saat seorang hamba telah cukup syarat untuk mendirikan salat, sejak itulah ia mulai menelisik makna dan manfaatnya. Sebab salat diturunkan untuk menyempurnakan fasilitasNya bagi kehidupan manusia. Setelah sekian tahun menjalankan salat, sampai di mana pemahaman kita mengenainya.

    TAKBIRATUL IHRAM

    Postur: berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar telinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah.

    Manfaat: Gerakan ini melancarkan aliran darah, getah bening (limfe) dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancar ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.

    RUKUK

    Postur: Rukuk yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang.

    Manfaat: Postur ini menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat syaraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi relaksasi bagi otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah latihan kemih untuk mencegah gangguan prostat.

    I’TIDAL

    Postur: Bangun dari rukuk, tubuh kembali tegak setelah, mengangkat kedua tangan setinggi telinga.

    Manfaat: I’tidal adalah variasi postur setelah rukuk dan sebelum sujud. Gerak berdiri bungkuk berdiri sujud merupakan latihan pencernaan yang baik. Organ organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Efeknya, pencernaan menjadi lebih lancar.

    SUJUD

    Postur: Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai.

    Manfaat: Aliran getah bening dipompa ke bagian leher dan ketiak. Posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Karena itu, lakukan sujud dengan tumakninah, jangan tergesa gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Postur ini juga menghindarkan gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik rukuk maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.

    DUDUK

    Postur: Duduk ada dua macam, yaitu iftirosy (tahiyyat awal) dan tawarruk (tahiyyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki.

    Manfaat: Saat iftirosy, kita bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan syaraf nervus Ischiadius. Posisi ini menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarruk sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (urethra), kelenjar kelamin pria (prostata) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan dengan benar, postur ini mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarruk menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.

    SALAM

    Gerakan: Memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal.

    Manfaat: Relaksasi otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala d! an menjaga kekencangan kulit wajah.

    **

    Beribadah secara, kontinyu bukan saja menyuburkan iman, tetapi mempercantik diri wanita luar-dalam.

    PACU KECERDASAN

    Gerakan sujud dalam salat tergolong unik. Falsafahnya adalah manusia menundukkan diri serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dari pantatnya sendiri. Dari sudut pandang ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai kekebalan tubuh dari sudut pandang psikologis) yang didalami Prof Sholeh, gerakan ini mengantar manusia pada derajat setinggi-tingginya. Mengapa?

    Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan darah. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Itu artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tumakninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan.

    Risetnya telah mendapat pengakuan dari Harvard Universitry, AS. Bahkan seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan masuk Islam setelah diam-diam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud.

    PERINDAH POSTUR

    Gerakan-gerakan dalam salat mirip yoga atau peregangan (stretching). Intinya untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan salat dibandingkan gerakan lainnya adalah salat menggerakan anggota tubuh lebih banyak, termasuk jari kaki dan tangan.

    Sujud adalah latihan kekuatan untuk otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggaan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.

    MUDAHKAN PERSALINAN

    Masih dalam pose sujud, manfaat lain bisa dinikmati kaum hawa. Saat pinggul dan pinggang terangkat melampaui kepala dan dada, otot-otot perut (rectus abdominis dan obliquus abdominis externuus) berkontraksi penuh. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lama. Ini menguntungkan wanita karena dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila, otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami ia justru lebih elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan serta mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).

    PERBAIKI KESUBURAN

    Setelah sujud adalah gerakan duduk. Dalam salat ada dua macam sikap duduk, yaitu duduk iftirosy (tahiyyat awal) dan duduk tawarruk (tahiyyat akhir). Yang terpenting adalah turut berkontraksinya otot-otot daerah perineum. Bagi wanita, inilah daerah paling terlindung karena terdapat tiga lubang, yaitu liang persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih.

    Saat duduk tawarruk, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum. Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi! ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.

    AWET MUDA

    Pada dasarnya, seluruh gerakan salat bertujuan meremajakan tubuh. Jika tubuh lentur, kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika dilakukan secara rutin, maka sel-sel yang rusak dapat segera tergantikan. Regenerasi pun berlangsung lancar. Alhasil, tubuh senantiasa bugar.

    Gerakan terakhir, yaitu salam dan menengok ke kiri dan kanan punya pengaruh besar pada kekencangan. kulit wajah. Gerakan ini tak ubahnya relaksasi wajah dan leher. Yang tak kalah pentingnya, gerakan ini menghindarkan wanita dari serangan migrain dan sakit kepala lainnya.

     
    • aresaja 1:20 pm on 2 April 2010 Permalink

      postingan yang sangat bermanfaat… mohon izin copy paste… salam kenal… http://aresaja.wordpress.com

    • Hendra tanjung 1:39 pm on 2 April 2010 Permalink

      Assalamuallaikum.wr wb. Slam knal. Kang gmana ya cra copy paste na lewat opmin tp pake hp. Aq slalu bca artikel akang tp maaf klo ngak ksi komen

    • zuhdi 10:37 am on 19 April 2010 Permalink

      amt bermanfaat bgt kang…izin copy paste jg ya… slm kenal

    • Mhd Rasyid Ridho 2:56 pm on 24 April 2010 Permalink

      Subhanallah…., trimakasih atas article ini. Mohon izin copy paste.

    • iswandi 1:53 pm on 3 Juli 2010 Permalink

      Subhanallah…..,terima ksh atas artikel nya,semoga ini menjadikan pelajaran penting dalam kehidupan sehari-hari saya…mohon izin copy paste nya. assalamualaikum wr.wb

    • munawir 11:54 am on 10 Mei 2011 Permalink

      hiii sunguh banyak mamfaat gerakan sholat
      sesenguh nya olah raaga itu adalah …pengobataan tradi sional …yaayaaya i like it

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: