Updates from Oktober, 2015 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 7:26 pm on 31 October 2015 Permalink | Balas  

    Wasiat ulama tentang takwa 

    taqwaWasiat ulama tentang takwa

    Takwa adalah melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya secara lahir dan batin seraya merasakan keagungan Allah, kewibawaan, ketakutan dan rasa cemas terhadap-Nya.

    Sebagian para mufasir dalam mengartikan firman Allah “Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa” berkata, “Allah SWT harus ditaati dan tidak boleh dimaksiati, harus diingat dan tidak boleh dilupakan, harus disyukuri dan tidak boleh dikufuri.” Karena pada dasarnya manusia tidak akan mampu untuk benar-benar takwa kepada Allah meskipun dia mempunyai 1 juta jiwa, 1 juta umur dan menafkahkan hartanya untuk mentaati Allah dan mencintai-Nya. Hal itu karena Allah mempunyai hak yang amat besar atas hamba-hamba-Nya dan juga lantaran hebatnya kebesaran dan kemuliaan kedudukan-Nya yang tinggi.

    Rasulullah SAW sendiri sebagai orang yang paling sempurna dalam menunaikan hak-hak Allah berkata dalam doanya, “Aku berlindung dengan ridho-Mu dari murka-Mu. Aku berlindung dengan ampunan-Mu dari pembalasan-Mu. Aku berlindung dengan-Mu dari-Mu. Aku tak sanggup menghitung pujian atas-Mu sebagaimana Engkau memuji atas Dzat-Mu sendiri.”

    Allah SWT menciptakan malaikat-malaikat yang sejak diciptakan selalu ruku’ dan sujud kepada Allah dan selalu bertasbih dan bertaqdis, tak kenal lelah dan tak disibukkan oleh selain-Nya. Lalu kelak di hari kiamat mereka berkata, “Maha suci Engkau. Bagi-Mu segala puji. Kami tidak mengenal-Mu sebenar-benarnya pengenalan dan Kami tidak menyembah-Mu sebenar-benarnya ibadah kepada-Mu.”

    Sebagian ulama berkata, “Ayat ‘Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa’ terganti dengan ayat ‘Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuan yang ada padamu.’ ” Sebagian lagi berkata, “Ayat kedua adalah menerangkan ayat pertama dan bukan sebagai pengganti.” Pendapat kedua inilah yang insya Allah benar, karena Allah Ta’ala tidak memberatkan seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Allah berhak memerintah apa saja yang Dia kehendaki, namun Dia selalu meringankan dan memudahkan.

    “Allah hendak memberi keringanan kepadamu dan manusia itu diciptakan bersifat lemah.” (QS. 4:28)

    “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. 2:185)

    Imam Ghozali menerangkan dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin :

    Ketika turun ayat “Hanya bagi Allah-lah apa-apa yang ada di langit dan di bumi. Jika menampakkan apa yang ada di hatimu atau kamu menyembunyikannya maka pasti Allah akan menghisabnya”, para sahabat merasa gelisah. Lalu mereka datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Kami telah dibebani sesuatu yang kami tidak mampu menanggungnya.” Mereka berpahaman bahwa Allah akan membalas dan menghisab mereka baik yang mereka lakukan ataupun yang masih terlintas dalam hati. Rasulullah SAW berkata, “Apakah kalian hendak berkata sebagaimana yang dikatakan oleh Bani Israil ‘Kami dengar, tapi tidak patuh?’. Jangan begitu !. Katakanlah ‘Kami dengar dan kami patuh, kami mohon ampunan-Mu wahai Tuhan, kepada-Mu lah kami akan kembali.’ ” Lalu para sahabat memahaminya. Allah lantas menurunkan ayat-Nya :

    “Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan padanya dari Tuhannya dan begitu juga orang-orang yang beriman.” (QS. 2:285)

    Allah memberitakan bahwa oleh sebab doa orang-orang yang beriman itu, Allah tidak akan memberatkan sesuatu yang mereka tidak sanggup memikulnya, yang dibuat karena salah tidak sengaja atau lupa. Sesungguhnya Allah mengabulkan doa para sahabat dengan meringankan dan memudahkan serta mengangkat beban yang merisaukan mereka. Karena itu, kita wajib bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla. Hal ini sesuai dengan hadits :

    “Dimaafkan atas umatku kekhilafan, lupa atau perbuatan yang terpaksa dilakukan, dan juga apa yang terlintas di hati selagi mereka tidak mengatakan atau mengamalkan.”

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

    Mutiara Hikmah Nashoih Diniyyah

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 22 October 2015 Permalink | Balas  

    Etika Membaca Al-Qur’an 

    Reciting-QuranEtika Membaca Al-Qur’an

    1. Sebaiknya orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan sudah berwudhu, suci pakaiannya, badannya dan tempatnya serta telah bergosok gigi.
    2. Hendaknya memilih tempat yang tenang dan waktunya pun pas, karena hal tersebut lebih dapat konsentrasi dan jiwa lebih tenang.
    3. Hendaknya memulai tilawah dengan ta`awwudz, kemudian basmalah pada setiap awal surah selain selain surah At-Taubah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Apabila kamu akan mem-baca al-Qur’an, maka memohon perlindungan-lah kamu kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk“. (An-Nahl: 98).
    4. Hendaknya selalu memperhatikan hukum-hukum tajwid dan membunyikan huruf sesuai dengan makhrajnya serta membacanya dengan tartil (perlahan-lahan). Allah berfirman yang Subhanahu wa Ta’ala artinya: “Dan Bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan”. (Al-Muzzammil: 4).
    5. Disunnatkan memanjangkan bacaan dan memperindah suara di saat membacanya. Anas bin Malik Radhiallaahu anhu pernah ditanya: Bagaimana bacaan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam (terhadap Al-Qur’an? Anas menjawab: “Bacaannya panjang (mad), kemudian Nabi membaca “Bismillahirrahmanirrahim” sambil memanjangkan Bismillahi, dan memanjangkan bacaan ar-rahmani dan memanjangkan bacaan ar-rahim”. (HR. Al-Bukhari). Dan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam juga bersabda: “Hiasilah suara kalian dengan Al-Qur’an”. (HR. Abu Daud, dan dishahih-kan oleh Al-Albani).
    6. Hendaknya membaca sambil merenungkan dan menghayati makna yang terkandung pada ayat-ayat yang dibaca, berinteraksi dengannya, sambil memohon surga kepada Allah bila terbaca ayat-ayat surga, dan berlindung kepada Allah dari neraka bila terbaca ayat-ayat neraka.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Shad: 29).

    Dan di dalam hadits Hudzaifah ia menuturkan: “……Apabila Nabi terbaca ayat yang mengandung makna bertasbih (kepada Allah) beliau bertasbih, dan apabila terbaca ayat yang mengandung do`a, maka beliau berdo`a, dan apabila terbaca ayat yang bermakna meminta perlindungan (kepada Allah) beliau memohon perlindungan”. (HR. Muslim).

    1. Hendaknya mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan baik dan diam, tidak berbicara. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu men-dapat rahmat”. (Al-A`raf: 204).
    2. Hendaklah selalu menjaga al-Qur’an dan tekun membacanya dan mempelajarinya (bertadarus) hingga tidak lupa. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Peliharalah Al-Qur’an baik-baik, karena demi Tuhan yang diriku berada di tangan-Nya, ia benar-benar lebih liar (mudah lepas) dari pada unta yang terikat di tali kendalinya”. (HR. Al-Bukhari).
    3. Hendaknya tidak menyentuh Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman yang artinya: “Tidak akan menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”. (Al-Waqi`ah: 79).
    4. Boleh bagi wanita haid dan nifas membaca al-Qur’an dengan tidak menyentuh mushafnya menurut salah satu pendapat ulama yang lebih kuat, karena tidak ada hadits shahih dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam yang melarang hal tersebut.
    5. Disunnatkan menyaringkan bacaan Al-Qur’an selagi tidak ada unsur yang negatif, seperti riya atau yang serupa dengannya, atau dapat mengganggu orang yang sedang shalat, atau orang lain yang juga membaca Al-Qur’an.
    6. Termasuk sunnah adalah berhenti membaca bila sudah ngantuk, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “?pabila salah seorang kamu bangun di malam hari, lalu lisannya merasa sulit untuk membaca Al-Qur’an hingga tidak menyadari apa yang ia baca, maka hendaknya ia berbaring (tidur)”. (HR. Muslim).

    ***

    alsofwah.or.id

     
  • erva kurniawan 2:32 am on 21 October 2015 Permalink | Balas  

    Penyakit dan Obatnya 

    Reciting-QuranPenyakit dan Obatnya

    Oleh : Firdaus

    Sakit yang dialami manusia boleh jadi karena kelalaian memelihara kesehatan. Kelalaian itu dapat berupa tidak disiplin dalam pola makan dan minum, kurang istirahat, olahraga, maupun faktor psikologis dan lainnya. Dalam berbagai literatur Islam ditemukan informasi bahwa perut merupakan sumber utama penyakit. Oleh sebab itu, banyak sekali tuntutan Islam melalui Alquran dan hadis tentang makan dan minum untuk mengisi perut. Larangan Islam agar tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang haram dan disiplin mengonsumsi yang halal bertujuan supaya manusia sehat lahir dan batin.

    Perintah untuk sederhana dalam makan dan minum, dan menjauhkan diri dari berlebih-lebihan, mendukung agar manusia sehat. Allah berfirman, ”Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan, Allah tidak senang kepada orang yang berlebih-lebihan (QS 7: 31). Ketidaksenangan Allah terhadap orang-orang yang berlebih-lebihan ditampakkan dengan mendatangkan penyakit kepada mereka. Sehubungan dengan itu, Rasulullah SAW menganjurkan setiap Muslim untuk makan dan minum secukupnya.

    Beliau bersabda, ”Cukuplah bagi putra Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Kalaupun harus dipenuhkan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan sepertiga sisanya untuk pernapasannya.” (HR Tirmidzi). Penyakit yang menimpa seseorang boleh jadi karena cobaan dan ujian Allah. Dalam hal ini, yang bersangkutan dituntut sabar menghadapinya. Sebab, sabar dalam kondisi ini mendatangkan pahala bagi dirinya di sisi Allah. Sakit pun dapat berupa siksaan Allah terhadap seseorang karena kedurhakaan dan dosa yang dilakukan selama ini. Ini dimaksudkan Allah agar ia kembali ke jalan yang diridhai-Nya.

    Rasulullah SAW bersabda, ”Penyakit merupakan cambuk Allah di bumi ini, dengannya Dia mendidik hamba-hamba-Nya.” (Al-Hadis). Islam menganjurkan orang yang sakit untuk berobat. Sikap sabar dan rela terhadap penyakit yang menimpa diri, tidak boleh melemahkan upaya untuk berobat. Rasulullah SAW bersabda, ”Berobatlah karena tiada satu penyakit yang diturunkan Allah, kecuali diturunkan pula obat penangkalnya, selain dari satu penyakit, yaitu ketuaan.” (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi). Hadis ini melahirkan sikap optimistis bagi setiap Muslim yang sedang mengalami sakit secara fisik untuk selalu berobat kepada siapa pun, selama caranya benar dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.

    Apabila seseorang mengalami sakit mental atau kejiwaan, maka obat yang ampuh baginya adalah iman dan Alquran. Alquran dapat menjadi penawar dan melindungi manusia dari gangguan kejiwaan. Allah berfirman, ”Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS 17:82).

    Untuk itu, Alquran harus dibaca, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari agar kesehatan jiwa diperoleh. Dengan disiplin mengikuti tuntutan Islam dalam makan dan minum serta membaca dan mengamalkan Alquran akan membuat setiap Muslim sehat lahir dan batin.

    ***

    Republika

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 20 October 2015 Permalink | Balas  

    Niat 

    niatNiat

    Dalam bukunya An-Nashoih Ad-Diniyyah wal Washoyah Al-Imaaniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad memulai dengan pujian dan sholawat serta hadits Rasulullah SAW tentang pentingnya niat.

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya dan sesungguhnya segala sesuatu dibalas dengan niatnya. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa berhijrah karena dunia yang dituntutnya, atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada niat hijrahnya.” (HR. Bukhori & Muslim)

    Beliau juga bersabda, “Agama adalah nasehat.” Para sahabat bertanya, “Kepada siapa ya Rasul ?.” Beliau SAW menjawab, “Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan orang-orang awamnya.” (HR. Muslim)

    Hukum niat ada beberapa macam. Ada yang wajib seperti ketika akan shalat, puasa Ramadhan dan lain-lain. Ada pula sunnah seperti memulai sesuatu yang sifatnya sunnah.

    Hijrah ada 2 pengertian :

    • Hijrah/pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, seperti hijrahnya Rasulullah SAW, Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa dan lain-lain.
    • Hijrah dari maksiat menuju taat, sebagaimana yang dimaksud di dalam taubat.

    Hijrah juga dapat diniatkan untuk Allah, juga untuk Rasul-Nya seperti berziarah ke makam Rasulullah SAW. Beliau bersabda :

    “Barangsiapa berziarah kepadaku, maka wajiblah atasnya syafaatku.”

    Al-Habib Abdullah Al-Haddad menerangkan bahwa kitab beliau berisi nasehat keagamaan dan wasiat keimanan. Beliau berharap agar buku tersebut dapat bermanfaat dan dimanfaatkan sebagai peringatan bagi beliau dan saudara semuslim. Beliau menyusun dengan ungkapan yang mudah sehingga dapat dipahami oleh khalayak umum dan khusus dari ahli iman dan Islam. Semoga kiranya buku tersebut dikarang dengan ikhlas karena Allah Yang Maha Mulia, dapat mendekatkan antara beliau dan Allah di surga Na’im dan menjadikan buku tersebut bermanfaat secara merata bagi kaum muslimin. Amin…

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 19 October 2015 Permalink | Balas  

    Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 

    nabi-muhammad-rasulullah-sawMaulid Nabi Besar Muhammad SAW

    Oleh Erwin Ashari *

    Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai bin Hakim bin luay bin Ghalib bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Nazar bin muad bin Adnan (yang Nasabnya bersambung kepada Ismail a.s. bin Ibrahim a.s.)

    Baginda Rasulallah s.a.w. dilahirkan pada pagi hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal tahun gajah bertepatan pada tanggal 20 April tahun 571 M. Menjelang dan di saat kelahiran beliau banyak hal-hal luar biasa yang terjadi sebagai ungkapan selamat datang dari alam semesta.

    Sebagaimana diriwayatkan Baihaqi dari fatimah binti Tsaqfiah, beliau berkata: “Ketika saya menghadiri kehadiran Nabi saya melihat rumah (Tempat Nabi lahir) dipenuhi sinar, dan saya melihat bintang-bintang mendekat sehingga saya mengira bintang-bintang itu akan jatuh ke rumah tersebut.”

    Diriwayatkan juga bahwa ketika Siti Aminah Melahirkan Rasulallah, beliau melihat cahaya yang dengannya tampak jelas Istana di Syam, padahal ketika itu beliau berada di Mekah. Dan pada malam kelahiran beliau, bumi bergetar dengan getaran yang sangat dahsyat sehingga meluluhlantakkan seluruh berhala-berhala yang ada di sekitar Ka’bah dan merobohkan gereja-gereja serta istana raja Persia dan juga mematikan api yang selama ini disembah oleh warga Persia.

    Dari segi Nasab, Rasulallah terlahir dari keturunan yang memiliki prestise tinggi. Ayahnya Abdullah adalah keturunan Bani Hasyim, kabilah Arab yang sangat disegani pada saat itu. Sedangkan Ibunya, Siti Aminah tergolong bangsawan Quraisy yang sangat terpandang.

    Abdullah dan Aminah tidak termasuk ke dalam golongan penyembah berhala. Rasulallah sendiri telah menegaskan dalam sabdanya: “Sesungguhnya Allah telah memilih dari anak-anak Ibrahim Ismail. Dan memilih dari Anak-anak Ismail Kinanah. Dan memilih dari Bani Kinanah Suku Quraisy. Dan memililih dari Suku Quraisy Bani Hasyim, dan Allah memilihku dari bani Hasyim.” Jadi Rasulallah adalah orang yang terpilih dari orang dan golongan-golongan terpilih.

    Rasulullah dilahirkan ke muka bumi ini sebagai rahmat bagi alam semesta. Berbeda halnya dengan rasul-rasul sebelum beliau yang diturunkan hanya untuk golongan tertentu. Kerasulan dan Kenabian beliau pun mendapat pengakuan dari Agama-agama sebelum Islam jauh hari sebelum beliau dilahirkan.

    Seperti yang tertera di dalam Injil Barnabas pasal 72. “Sesungguhnya Aku meskipun terbebas, namun ketika sebagian manusia ketika mengatakan hakikatku adalah sebagai Tuhan dan anak Tuhan, Allah tidak menyukai pernyataan ini. Dan Allah menghendaki agar setan tidak mentertawai aku dan tidak menghinaku kelak, maka Allah membaguskan dengan kelembutan dan rahmat_nya agar tertawaan dan hinaan di dunia disebabkan kematian Yahudza. Dan semua orang mengira bahwa aku disalib. Tetapi penghinan ini akan berakhir sampai datangnya Muhammad Rasulullah. Apabila ya! datang ke dunia, maka ia akan memperingati seluruh manusia dari kekeliruan ini, dan menghilangkan perasangka ini dari hati manusia.”

    Kesaksian ini juga tertera dalam Taurat, “Dan Tuhan datang dari Sinai Dan naik dari Sả’îr dan muncul dari gunung Fârân.” Dalam buku ‘Udzmaturrasul karangan Muhammad Athiah el-Abrasyi dijelaskan bahwa ayat di atas mengandung makna kenabian tiga orang Nabi, yaitu Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s. dan Nabi Muhammad s.a.w. Gunung Sinai adalah tempat Musa a.s. Dan Allah bercakap-cakap. Adapun ‘Sa’îr” adalah nama desa di Bethlehem, tempat lahirnya Nabi Isa a.s. sedang yang dimaksud dengan “Fârân” adalah Mekah, tempat dilahirkannya nabi Muhammad s.a.w.

    Pada setiap tanggal 12 Rabiul Awwal umat Islam di seluruh dunia selalu memperingati hari kelahiran Rasul yang agung ini, yang lebih dikenal dengan istilah “Maulid Nabi” dengan berbagai macam acara yang diformat dengan nuansa Islami.

    Hal ini membuktikan keagungan Nabi Muhammad s.a.w. Bukan hanya orang muslim yang kagum kepada beliau. Orang non-Muslim juga banyak yang mengakui keangungannya. Seperti Thomas Carlyle yang mengagumi beliau dari segi kepahlawanannya. Marcus Dods dengan keberanian moralnya. Nazmi Luke dengan metode pembuktian ajarannya. dan Michael H. Hart yang terkagum-kagum dengan pengaruh yang ditinggalkannya.

    Suatu keharusan dan kewajaran bagi umat Islam untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad s.a.w agar bisa mengambil suri tauladan yang ada padanya. Sebab beliau sendiri memperingati maulidnya. Malah peringatan ini bukan hanya setahun sekali diperingatinya, melainkan setiap minggu. hal ini terbukti ketika beliau ditanya oleh seorang sahabat tentang puasa hari Senin. Beliau menjawab, “Hari senin itu adalah hari kelahiranku.” Semoga dengan peringatan Maulid Nabi kita bisa lebih dalam menghayati dan mengamalkan suri tauladan yang telah beliau berikan.

    Wallahu a’lamu bisshowab.

    ***

    • Penulis adalah Mahasiswa PS Universitas al-azhar, Cairo-Mesir.
     
  • erva kurniawan 1:17 am on 19 October 2015 Permalink | Balas  

    Shalat 

    sujud-shalat-di-masjidShalat

    Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah)dengan sabar dan shalat. (Q.S Al Baqoroh:153)

    Jika Anda diliputi ketakutan, dihimpit kesedihan, dan dicekik kerisauan, maka segeralah bangkit untuk melakukan sholat, niscaya jiwa anda akan kembali tentram dan tenang! sesungguhnya shalat itu atas izin Allah, sangatlah cukup untuk hanya sekedar menyirnakan kesedihan dan kerisauan.

    Setiap kali dirundung kegelisahan, Rasulullah SAW selalu meminta kepada BIlal bin Rabah, “Tenangkanlah kami dengan sholat, wahai Bilal. “(Al Hadist). Begitulah shlat benar-benar merupakan suatu penyejuk hati dan sumber kebahagaian bagi rasulullah SAW.

    Saya telah banyak membaca sejarah hidup beberapa tokoh kita. dan pada umumnya, mereka sama dalam satu hal: saat dihimpit banyak persoalan sulit dan menghadapi banyak cobaan, mereka meminta pertolongan Allah dengan shalat Khusyu’. Begitulah mereka mencari jalan keluar, sehingga kekuatan, semangat dan tekad hidup mereka pun pulih kembali.

    Shalat Khauf diperintahkan untuk dikerjakan pada saat-saat genting. Yakni saat nyawa terancam oleh hunusan pedang lawan yang dapat meyebabkan kekalahan. Ini merupakan isyarat bahwa sebaik-baik penenang jiwa dan penentram hati adalah shalat yang khusyu’.

    Bagi generasi umat manusia yang sedang banyak menderita penyakit kejiwaan seperti saat ini, hendaklah rajin mengenal masjid dan menempelkan keningnya diatas lantai tempat sujud dalam rangka meraih ridha Allah, dengan begitu, niscaya ia akan selamat dari berbagai himpitan bencana. Akan tetapi, bila ia tidak segera mengerjakan kedua hal tadi, niscaya airmatanya justru akan membakar kelopak matanya dan kesedihan akan menghancurkan urat syarafnya. Maka menjadi semakin jelas bahwa, seseorang memiliki kekuatan apapun yang dapat menghantarkannya kepada ketenangan dan ketentraman hati selain shalat

    Salah satu nikmat Allah yang paling besar jika kita mau berfikir adalah bahwa, shalat wajib lima waktu dalam sehari semalam dapat menebus dosa-dosa kita dan mengangkat derajat kita disisi Rabb kita. Bahkan Shalat lima waktu juga dapat menjadi obat paling mujarab untuk mengobatipelbagai kekalutan yang kita hadapi dan obat yang sangat manjur untuk berbagai macam penyakit yang kita derita. Betapapun, shalat mampu meniupkan ketulusan iman dan kejernihan iman kedalam relung hati, sehingga hati pun selalu ridha dengan apa saja yang telah ditentukan Allah.

    Lain halnya dengan orang yang lebih senang menjauhi masjid dan meninggalkan shalat. Mereka niscaya akan hidup dari satu kesusahan kesusahan yg lain, dari guncangan jiwa yang satu keguncangan jiwa yang lain, dan dari kesengsaraan satu kesengsaraan yg lain.

    “Dan Orang-orang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. (Q.s Muhammad :8).

    Wassalam

    ***

    Kiriman Sahabat Henri

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 18 October 2015 Permalink | Balas  

    3 Kesalahan yang Selalu Berulang Dalam Kehidupan Kita 

    itikaf3 Kesalahan yang Selalu Berulang Dalam Kehidupan Kita

    Pertama : Menyia-nyiakan waktu.

    Kedua : Membicarakan hal-hal yang tidak berguna. “Diantara kualitas keislaman seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak berguna untuk dirinya” (Al Hadist).

    Ketiga : Memberikan porsi perhatian terlalu besar terhadap masalah-masalah sepele. Misal Suka mendengarkan kabar burung, ramalan,dan gosip. Kesenangan seperti itu hanya membuat orang menjadi paranoid, menciptakan kecemasan didalam hati, dan melenyapkan kedamaian didalam hati.

    Rasulullah kmengajarkan kepada pamannya Abbas satu doa yang menghimpunkan antara kebahagian dunia dan akhirat : “Ya Allah, Sesungguhnya aku memohon kepadaMU ampunan dan afiat. ”

    Doa ini mencakup dan melingkupi semua hal. Didalamnya ada kebaikan dunia dan Akhirat.

    “Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala didunia, dan pahala diakhirat.” (Q.S Ali Imran :148 }

    “Ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka” Q.S Thaha ::123

    ***

    Kiriman Sahabat Henri

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 17 October 2015 Permalink | Balas  

    Takwa 

    takwaTakwa

    Dalam suatu ayat-Nya Allah berfirman,

    “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan jangan sekali-kali kamu mati kecuali mati dalam keadaan beragama Islam.”

    Isi ayat ini merupakan perintah Allah SWT kepada hamba-Nya yang mukmin agar bertakwa. Takwa juga merupakan perintah bagi orang-orang yang terdahulu,

    “Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang telah diberi kitab sebelum kamu dan juga kepadamu agar bertakwa kepada Allah.”

    Takwa merupakan kunci dan sebab yang mengantarkan kita kepada segala kebaikan dunia dan akherat serta lahir dan batin. Takwa merupakan dinding kokoh dan benteng teguh yang menyelamatkan kita dari segala keburukan.

    Manfaat takwa :

    1. Keikutsertaan Allah dalam memelihara kita

    “Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”

    1. Diberi ilmu ladunni (ilmu pemberian langsung dari Allah)

    “Bertakwalah kepada Allah niscaya Allah akan mengajarimu.”

    1. Diberi furqon (pembeda antara yang hak dan yang batil)

    “Wahai orang-orang yang beriman, jika engkau bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan kepadamu furqon, menghapuskan kesalahanmu dan mengampunimu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

    1. Selamat dari api neraka

    “Dan tak seorang pun diantaramu kecuali mendatangi neraka. Hal itu bagi Tuhanmu adalah perkara yang sudah ditetapkan. Kemudian akan selamatkan orang-orang yang bertakwa.”

    “Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka. Mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita.”

    Sebagaimana telah diketahui bahwa tak seorang pun yang dapat menahan pedihnya siksa Allah dan api neraka. Bahkan begitu dahsyatnya, sampai-sampai seluruh Nabi menangis ketakutan dan berdoa,

    “Wahai Tuhanku! Diriku, diriku. Wahai Tuhanku, selamatkanlah aku, selamatkanlah aku.”

    Kecuali junjungan kita Nabi Muhammad SAW berkata,

    “Wahai Tuhanku! Umatku umatku.”

    Jembatan (as-shirath) adalah jembatan yang amat tipis, bahkan lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Dibawahnya terdapat api neraka yang menganga. Panjangnya 500 tahun mendaki, 500 tahun mendatar dan 500 tahun menurun. Tidak ada yang menyelamatkan kita darinya kecuali dengan takwa.

    1. Dikeluarkan dari segala kesempitan, mendapat rejeki melimpah dari arah tak terduga-duga, dimudahkan segala perkaranya dan mendapat pahala yang besar.

    “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Dia akan memberi jalan keluar dan memberi rejeki dari arah yang tak terduga-duga.”

    “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan kemudahan bagi segala urusannya.”

    “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan melipat-gandakan pahala baginya.”

    1. Dijanjikan surga

    “Itulah surga yang diwariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.”

    “Perumpamaan surga yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa…”

    “Dan (dihari itu) didekatkan surga kepada orang-orang yang bertakwa.”

    “Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa di sisi Tuhan mereka adalah surga yang penuh kenikmatan.”

    “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa di dalam taman-taman, sungai-sungai dan di suatu tempat yang disukai disi Tuhan yang Maha Kuasa.”

    1. Mulia di dunia dan akherat

    “Sesungguhnya orang yang mulia disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”

    Allah mewujudkan kemuliaan seseorang pada ketakwaannya, bukan pada keturunan, harta dan selainnya. Bahkan dengan takwalah semua hal kebaikan dapat diraih.

    Disebutkan di dalam suatu syair,

    “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka ia mendapat keuntungan yang berlimpah ruah.”

    Di syair lain dikatakan,

    “Barangsiapa yang mengetahui Allah tapi tidak mengisinya dengan ma’rifah, itulah orang yang celaka.

    Tiada kemudhorotan dalam taat, segala bencana dalam ketaatan dapat dicegah. Tidaklah seorang hamba mulia dengan kekayaannya, karena kemuliaan hakiki untuk orang yang bertakwa.”

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 16 October 2015 Permalink | Balas  

    Antara Kita dan Rasulullah SAW 

    nabi-muhammad-rasulullah-sawAntara Kita dan Rasulullah SAW

    Dr. Muhammad Fazlur Rahman Ansari pernah melukiskan sosok Rasulullah sebagai berikut :

    Nabi Muhammad tingginya sedang-sedang saja, agak kurus, namun bahunya lebar, berdada bidang, bertulang dan berotot kokoh. Rambutnya terurai hampir ke pundaknya, berwarna hitam pekat dan sedikit ikal. Meskipun lanjut usianya, beliau cuma memiliki kira-kira 20 lembar uban saja, itu pun barangkali karena beban yang beliau emban saat menerima “wahyu Allah”.

    Wajahnya yang jernih berbentuk bulat telur, agak memerah kekuning-kuningan. Alisnya melengkung panjang, yang mendebarkan setiap yang memandang. Bola matanya yang hitam bundar terbingkai bulu-bulu tebal dan panjang, tampak bersinar cemerlang. Nabi suci berhidung mancung namun estetis, giginya selalu diurus rajin berderet rapi, seputih mutiara. Wajahnya penuh janggut sehingga tampak jantan. Kulitnya lembut dan bersih, berwarna campuran merah-putih. Tangannya halus laksana sutra, nyaris melebihi tangan seorang gadis. Langkahnya cepat dan luwes, namun berat, bagai makhluk yang bergerak dari tempat tinggi ke tempat rendah. Andai menengokkan wajahnya, beliau juga membalikkan seluruh tubuhnya. Segenap gerak-gerik dan kehadirannya terpuji dan mengandung kharisma. Ekspresinya halus kesendu-senduan. Dan tawanya lebih jarang ketimbang senyumnya yang ramah.

    Para pejuang kebenaran yang sejati!. Barangkali tak kurang di antara kita secara fisik yang bersosok mirip-mirip Rasulullah. Namun sayang sejuta sayang, Rasulullah tawanya lebih jarang ketimbang senyum ramahnya, sebaliknya kita bahkan sering terlampau banyak tertawa cekakakan kolokan, sambil malas memberikan senyum ramah terhadap orang lain, disebabkan oleh sifat sombong dan takabur.

    Selanjutnya Rasulullah dilukiskan bahwa meskipun telah memiliki kekuasaan penuh di negerinya, dihormati oleh segala lapisan masyarakat, makan-minumnya, perabot rumah tangganya, bahkan segenap kebiasaan hidupnya sungguh amatlah sederhana. Namun sebaliknya, kita baru saja memiliki kekuasaan secuil, hidup sudah ingin mewah, makan-minumnya ingin yang mahal-mahal, cara hidup disulap menjadi ala Minak Jinggo. Feodalisme kedodoran, ditata secara jor-joran.

    Dari sejarah Islam yang tak terselewengkan, tersimak bahwa Rasulullah merupakan pelindung yang amat dipercaya oleh segenap umat yang dilindunginya. Bedanya dengan kita, tidak jarang kita ini sok melindungi rakyat, padahal kenyataannnya sebaliknya, memeras rakyat secara halus, demi kejayaan dunia yang sementara.

    Rasulullah merupakan pribadi yang anggun dan amat pendiam. Namun, andai beliau berkata, tekanannya pasti dan jujur sehingga melontarkan wibawa terhadap siapa yang mendengarnya. Sebaliknya, kita-kita ini kadang terlampau banyak mengoceh tanpa isi, yang menurut kata peribahasanya “tong kosong nyaring bunyinya !”. Karena terlampau banyak ngoceh, boro-boro wibawa muncul, sebab isi ocehannya tak sama dengan wujud amalannya.

    Keindahan pribadi Rasulullah semakin tampak pula karena sedikit makanan yang didapatnya senantiasa dibaginya kepada siapa pun yang kebetulan lewat dan membutuhkannya. Di luar rumah beliau, ada serambi yang senantiasa dipenuhi oleh fakir-miskin yang sepenuhnya hidup dari belas-asih beliau. Namun sayang, sebaliknya kita yang penuh makanan bru di juru-bro di panto, terkadang lupa kepada sang fakir yang lapar. Boro-boro membikin serambi bagi fakir-miskin, didekati orang yang berpakaian compang-camping saja, standing kita terasa anjlok ke comberan. Duit receh bagian para manusia papa lebih asyik dibelanjakan ice cream yang segar lezat ketimbang digusur hidup tak subur.

    Santapan Rasulullah sehari-hari sekedar kurma dan air atau roti tawar. Madu dan susu merupakan minuman yang disukainya, namun amat jarang ternikmati (oleh beliau) karena dianggap mewah. Sebaliknya, kita terkadang uring-uringan ngambek andai makan tak ada lauk-pauknya yang enak, kendati penghasilan teramat minim. Akhirnya yang melanda kita-kita ini “lebih besar pasak daripada tiang”, segala penyakit nemplok di badan gara-gara utang bergudang-gudang.

    Selama hidupnya, Rasulullah hampir tak pernah memukul siapa pun. Ucapan yang paling kasar yang pernah terlontar dari mulut beliau ialah “semoga dahinya berlumuran lumpur”. Tatkala diminta untuk mengutuk seseorang, beliau bahkan menjawab, “Aku diutus bukanlah untuk mengutuk seseorang, namun justru untuk mendoakan umat manusia.” Sebaliknya pukul-memukul bagi kita merupakan “pekerjaan tangan” sehari-hari, terutama memukul anak. Ucap sumpah Nabi yang dirasanya paling kasar, bahkan sebaliknya bagi kita itulah yang dirasakan paling halus. Sebelum mengucapkan kata “bedebah”, “setan”, atau “kunyuk”, rasanya sumpah-serapah kita terhadap orang lain belumlah afdol.

    Terhadap orang-orang besar, Rasulullah bersikap sopan. Dan pula terhadap si kecil, keramah-tamahannya teramat mulia. Sebaliknya, kita terkadang hanya sopan dan hormat terhadap orang-orang besar karena butuh akan koneksinya. Namun terhadap si kecil yang tidak dibutuhkan, persetan penghormatan!.

    Para pejuang kebenaran yang sejati!. Nabi Besar Muhammad Rasulullah senantiasa besar perhatiannya terhadap alam ini, yang tampak maupun yang tidak tampak, kendati beliau tunaaksara. Sebaliknya, kita yang pinter baca, gara-gara waktu cuma dihabiskan guna menumpuk-numpuk harta, alam tak terperhatikan sejengkal pun, tafakur menjadi tumpul, syukur menjadi kufur!.

    Selanjutnya, meskipun Rasulullah telah berhasil menguasai jazirah Arab, sepatu atau gamisnya yang sobek, masih saja dijahitnya sendiri, memerah susu sendiri, menyalakan perapiannya juga sendiri. Kita terkadang sebaliknya, baru menjadi penguasa yang sedeng-sedeng saja, pembantu minta lusinan. Segalanya pakai pembantu, cuma cebok saja yang tidak. Kita, sobek sepatu sedikit, lempar ke tempat sampah, takut kehilangan prestise diri. Malu palsu semarak di kalbu!.

    Bila melakukan perjalanan jauh, beliau membagi suapan dengan pembantunya. Kita juga sering membagi, namun yang kita bagi adalah perbedaan. Andai kita menikmati goreng ayam kalkun, pembantu mah cukup disodori ikan asin saja plus sambel oncom!.

    Muhammad Rasulullah amat ketat dengan dietnya lewat berpuasa penuh kerelaan. Sebaliknya kita, diet dilaksanakan karena penyakit meraja-lela. Jadi, diet kita adalah diet yang terpaksa, bukan diet yang bernilai ibadah. Oleh sebab dietnya penuh ketidak-relaan, maka sumpeklah jiwa, nesu menggebu… membarakan angkara murka!.

    Dalam kehidupan pribadinya, Rasulullah amat bijaksana. Diperlakukannya sahabat atau bukan, kaya atau miskin, kuat atau lemah, secara adil. Sebaliknya kita, termasuk saya, sering iseng membikin-bikin kebijaksanaan mendadak demi harga diri. Si kaya, kita beri tempat paling depan. Si miskin, biar gek-sor di lantai lembab. Si lemah biarlah mampus. Keadilan cuma buat segelintir orang!.

    Kemenangan militer beliau tidak menyebabkan adigung-adiguna, rasa sombong atau ingin megah, karena niat perjuangannya adalah untuk kemaslahatan bersama. Oleh sebab itu, Rasulullah tak suka mendapat semacam penghormatan protokoler yang dibikin-bikin. Namun, tak sedikit di antara kita yang sebaliknya, karena kita telah ketularan gila puji. Perjuangan kita terkadang diniati demi kedigjayaan kita sendiri, bukan niat demi kebenaran Tuhan. Oleh sebab kita sudah gila puji, maka penghormatan protokoler pun seakan menjadi idaman bagi setiap yang kuasa. Hidung mereka bangga, pundak ditarik ke langit, tatkala setiap orang berdiri keirei menyambut kedatangan kita dengan takzim, sehingga kita lupa akan rukuk dan sujud terhadap Yang Agung.

    Kehidupan Rasulullah amatlah realistis. Beliau berkuasa bukanlah untuk mendandani kekuasaannya, melainkan untuk menyelamatkan umatnya dari kebodohan. Sebaliknya, terkadang kita tidak realistis, dikarenakan berkuasa cumalah demi segembung perut. Kekuasaan kita terkadang bukan demi menghilangkan kebodohan, melainkan sebaliknya untuk membodohi umat.

    Rasulullah tinggal bersama istri-istrinya, yang dinikahinya dengan jiwa sosial itu, dalam sebuah pondok kecil yang amat sederhana beratap jerami. Tiap-tiap kamar dipisah dengan pohon-pohon palma yang direkat dengan lumpur. Sebaliknya, istri-istri kita yang denok demplon, yang dinikahi berdasarkan nafsu birahi belaka, disimpan di istana-istana mungil, di villa-villa mewah di tepi perbukitan, dengan masing-masing dihadiahi mobil-mobil luks yang mengkilap, demi saling tutup mulut, demi perdamaian antar bini.

    Masih banyak sebenarnya kepribadian Rasulullah yang amat terpuji. Namun, satu lagi saja yang perlu disampaikan, yakni ketulusan dan keikhlasan dirinya dalam menganjurkan kebajikan dan kesederhanaan, yang telah dibuktikannya secara gamblang tatkala beliau wafat. Ternyata beliau tidak meninggalkan warisan harta secuil pun. Yang ditinggalkannya cumalah “warisan ketauhidan”. Sayang, kita yang masih jauh dari ketakwaan ini melakukan sebaliknya. Berkat kerja menumpuk-numpuk kekayaan, warisan yang bergudang-gudang malah memancing perang campuh antar ahli waris. Rebutan warisan yang kerap terjadi, boro-boro menyimpulkan kuat talinya silaturrahmi, melainkan (menyebabkan) sakinah acak-acakan, saudara sekandung malah menjadi musuh bebunyutan!!

    Mudah-mudahan saja perbedaan yang menyolok ini tak tampak di masa-masa mendatang. Ingat, harta adalah modalnya ibadah!!

    ***

    [Disarikan dari Tafakur Di Galaksi Luhur, Dedi Suardi, hal. 175-179]

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 15 October 2015 Permalink | Balas  

    Cara Mengatasi Keloyoan 

    sholat 1Cara Mengatasi Keloyoan

    Satu-satunya Cara agar Tidak Loyo: Takwa kepada Allah

    Seseorang yang memahami bahwa akar dari kelalaian ini (suatu penyakit perilaku yang berbahaya) terletak pada kelemahan iman, hendaknya segera beralih kepada metode-metode yang telah diajarkan di dalam al-Qur’an guna menyembuhkan dirinya sendiri dari penyakit ini. Pertama-tama, ia mesti menyadari bahwa sumber kekuatan yang utama adalah kesadaran terhadap Allah dan mengerahkan upaya-upaya untuk mencapainya. Melalui perenungan yang dalam ia harus berjuang mencapai keimanan yang dalam pula. Ia mesti berdoa kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya, sambil tidak ragu-ragu melakukan apa saja yang dapat memperbaiki keadaannya.

    Tidak diragukan, dalam keadaan demikian ini seseorang perlu menggunakan akalnya. Di dalam al-Qur’an, Allah menunjukkan bahwa menggunakan akal adalah cara yang dapat membimbing seseorang untuk menuju ke jalan yang benar. Seseorang mesti memikirkan wujud dan kebesaran Allah, kasih sayang-Nya kepada umat manusia, dan selanjutnya memahami pentingnya berupaya untuk menggapai keridhaan-Nya. Demikian pula, ia mesti memikirkan tujuan ia diciptakan dan bagaimana Allah mengujinya. Ia mesti menyadari bahwa Allah bersamanya dan senantiasa melihat dan mendengarnya. Ia harus senantiasa mengingat bahwa apa pun yang dikerjakannya, entah itu dianggap penting atau sepele, diketahui oleh Allah dan bahwa kelak ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa-apa yang dikerjakannya pada Hari Pengadilan nanti.

    Ia juga harus mengingat bahwa kematian sangat dekat dan dapat mendatanginya secara tiba-tiba. Lagi pula, ia mesti memahami kenyataan bahwa hidup di dunia ini singkat saja dan bahwa menyibukkan diri untuk melakukan amal-amal kebajikan agar mendapat surga merupakan hal yang sangat penting.

    Ia hendaknya merenungkan betapa indahnya surga dan kesenangan luar biasa dari berbagai macam kenikmatan yang ada di sana, dan berupaya untuk memahami konsep keabadian. Ia hendaknya menyadari bahwa neraka adalah sebuah tempat yang diciptakan hanya untuk memberikan kesengsaraan kepada tubuh dan jiwa manusia; tak ada hal-hal yang baik, menggembirakan dan menyenangkan di sana, dan para penghuninya akan tinggal di sana untuk selama-lamanya. Ia harus menyadari bahwa ia akan dirundung penyesalan yang mendalam setiap saat dalam kehidupan abadinya nanti bila ia tidak mengindahkan peringatan ini dengan serius.

    Jika seseorang memikirkan dengan serius, tentulah ia akan sampai pada kesimpulan yang tepat. Ia akan melihat bahwa daripada menemui akhir seperti itu, adalah lebih mudah bila mengikuti suara hatinya dan berpegang teguh kepada agama secara sungguh-sungguh. Dengan begitu, ia akan membuat keputusan yang tepat dan mencurahkan segenap kehidupannya – tidak lebih dari beberapa dasawarsa saja – untuk mencapai keridhaan Allah, kasih sayang dan rahmat-Nya, dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh surga yang dijanjikan oleh Allah.

    Merenungkan kemungkinan untuk berada di neraka walau hanya sesaat saja menyebabkan seseorang mengubah tingkah lakunya karena neraka adalah tempat dimana rasa sesal di dunia ini dapat dibandingkan dengan rasa sesal yang dirasakan di sana. Demikian pula, tak ada rasa sakit di dunia ini yang lebih berat daripada rasa sakit di neraka.

    Dengan membaca ayat-ayat yang berkenaan dengan neraka, dalam rangka memperoleh sebuah pemahaman yang utuh tentangnya sebagai sesuatu yang mesti dihindari adalah cara yang efektif agar menjadi lebih bersemangat.

    Setiap orang hendaknya memikirkan fakta-fakta ini dan menyadari bahwa kurangnya semangat adalah hasil dari penyimpangan cara pandang atas dunia ini dan akhirat, dan selanjutnya mulai menyibukkan diri dengan amal-amal saleh sesegera mungkin. Ia harus ingat bahwa kelalaian yang ditunjukkannya dalam menghadapi kejadian-kejadian di seputar dirinya dapat menyebabkannya, pada saat itu, kehilangan kepekaan hati nuraninya secara menyeluruh.

    Dengan demikian, ia harus segera menghindari kondisi semacam itu:

    “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.s. al-Hadid: 16).

    Pada ayat lain Allah juga mengingatkan tentang mengerasnya hati:

    “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (Q.s. al-Baqarah: 74).

    Pada ayat di atas Allah telah memberikan sebuah contoh mengenai bebatuan yang darinya muncul air dan bebatuan lainnya yang pecah berantakan karena takut kepada-Nya. Takut kepada Allah, sebagaimana diungkapkan dalam contoh ini, akan membuat orang-orang yang tidak bersemangat menjadi bersemangat, dan membimbing mereka untuk menerapkan nilai-nilai kesalehan sehingga mereka dapat berlomba-lomba dalam kebajikan di jalan Allah.

    ***

    1 Yaitu mereka mengerjakan amal yang semasa hidupnya di dunia tidak memberikan manfaat apa pun kepada mereka, karena tidak disertai keimanan atau dilakukan untuk mencari keridhaan Allah.

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 14 October 2015 Permalink | Balas  

    Masjid al-Ijabah 

    masjid al ijabahMasjid al-Ijabah

    Masjid yang berada di Madinah ini selalu diziarahi oleh para jamaah haji dan umrah. Masjid al-Ijabah dikenal dengan nama Masjid Bani Mu’awiyah. Masjid al-Ijabah artinya ‘masjid diperkenankannya doa’. Letak masjid ini di bagian utara permukaan Baqi’, agak ke sebelah kiri sedikit. Masjid ini terkenal, karena di tempat itu Rasulullah pernah singgah, lalu shalat dua rakaat. Sahabat-sahabat lain yang turut bersama Rasulullah melaksanakan pula shalat yang sama. Setelah shalat, Nabi berdoa panjang sekali. Selesai berdoa Nabi menghadap ke arah para sahabatnya dan bersabda :

    “Ada tiga hal yang kudoakan kepada Allah – di tempat ini. Dua hal  dikabulkan [ijabah] oleh-Nya dan yang satu lagi tidak dikabulkan. Pertama, kumohonkan kepada Allah agar umatku jangan dibinasakan karena kekurangan (kelaparan). Permohonanaku ini dikabulkan Allah. Kedua, kupintakan agar umatku jangan disiksa (dibinasakan) dengan musibah karam (ditenggelamkan). Permintaanku yang kedua ini dikabulkan juga. Ketiga, kudoakan agar umatku jangan binasa karena perpecahan (permusuhan) sesama mereka. Doa yang ketiga ini tidak diperkenankan.” (HR Muslim)

    [Dr. H. Muslim Nasution]

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 13 October 2015 Permalink | Balas  

    Aku berhutang budi padanya (SAW) 

    MuhammadAku berhutang budi padanya (SAW)

    oleh M. H. Durrani

    Tigapuluh tahun lalu, pada usia yang masih muda, aku telah memeluk Kristen karena pengaruh sebuah Sekolah Misi. Aku telah menghabiskan sebagian besar hidupku di gereja di Inggris sebagai Pendeta Anglikan sejak 1939 hingga 1963. Islam datang pada diriku sebagai musim semi datang pada bumi yang dingin setelah musim dingin yang gelap. Demikianlah aku kembali kepelukan Islam, agama nenek-moyangku.

    Peristiwa kembaliku ke Islam ini disebabkan datangnya semacam “ilham” yang dianugerahkan padaku melalui sebuah mimpi dimana aku merasa telah diberi rahmat secara pribadi oleh Nabi Muhammad yang Suci. Kini aku bersyukur kepada Tuhan dan berdoa bagi Junjungan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, penyelamat orang-orang yang bergelimang dosa.

    Perubahan dalam hati datang semata dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Bahkan sebenarnyalah, tanpa petunjukNya, semua usaha kita mempelajari, semua usaha kita mencari, semua daya upaya kita untuk menemukan Kebenaran justru dapat membawa kita pada kesesatan…

    Aku berani mengatakan bahwa tak seorang pun yang masuk ke dalam Islam yang tak berhutang budi pada Hazrat Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Atas belas-kasihnya pada si orang tersebut, pertolongan, petunjuk, ilhamnya… dan sebagai contoh pribadi yang mulia dimana Tuhan dengan cintaNya yang besar telah mengutusnya kepada kita agar dapat kita ikuti.

    Aku pun berangsur mulai secara serius mempelajari kehidupan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Aku kemudian sadar bahwa sungguh suatu dosa menghujat orang Suci pilihan Tuhan itu, yang membangun kukuasaan Tuhan di tengah manusia murtad, penyembah berhala dan orang-orang yang berkelakuan tak terpuji.

    Dia memenuhi tugasnya dengan tidak melalui berbagai bujukan duniawi, tidak melalui tekanan-tekanan, tidak melalui cara-cara tiran, namun melalui pekerti dan ahlak yang amat memikat, melalui kepribadian dan moral yang membuat orang jatuh hati, serta melalui ajaran-ajarannya yang membuat orang yakin.

    Bisakah orang membayangkan contoh yang lebih tinggi dari pengorbanan diri, rasa kesetiakawanan dan kebaikan hati pada mahluk lain, dibanding orang yang mau mengorbankan kebahagiaan dirinya sendiri demi kebaikan orang lain ini? Sementara orang-orang lain itu – yang kebaikannya ia perjuangkan sekuat tenaga – adalah mereka yang melemparinya, memperlakukannya secara kasar, mengusirnya dan tak memberinya sejengkal pun tempat di pengasingan… dan di atas semua itu, ia tetap dengan usahanya yang sungguh-sungguh bagi kebaikan mereka?

    Adakah seorang yang jujur mau melalui penderitaan yang demikian besar untuk sebuah alasan yang mengada-ada? Dapatkah seorang yang culas, tidak jujur dan hanya berangan-angan mampu menunjukkan keteguhan dan kesungguhan yang luarbiasa bagi cita-citanya, dengan tetap tegar bertahan hingga titik akhir – dan tetap tenang serta tak sedikit pun terpengaruh – dalam menghadapi berbagai bahaya, siksaan dan rintangan macam apa pun yang bisa kita bayangkan, sementara seluruh negeri menghunus senjata melawan dirinya?

    Bukti apalagi yang kita perlukan untuk meyakini tujuan yang murni dan sempurna ini? Siapa lagi pribadi yang lebih dapat dipercaya kecuali dia yang menerima anugerah dan pemberian begitu unik melalui cara-cara penuh rahasia, toh secara gamblang dia bukakan sumber semua pencerahan dan ilham yang ia peroleh.

    Semua faktor ini membawa kita pada kesimpulan yang sulit disangkal: bahwa pribadi seperti ini sebenarnyalah seorang Utusan Tuhan – Rasulullah. Itulah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Dia adalah keajaiban dalam hal sifat-sifat yang terpuji, kesempurnaan dalam ahlak dan perilaku baik. Kepribadian dan moralnya, ajaran dan pencapaian-pencapaiannya semua tegak sebagai bukti Kenabiannya yang tak bisa dipertanyakan.

    Siapa pun manusia, yang mempelajari hidup dan ajarannya dengan tanpa prasangka, akan memberikan kesaksian bahwa sesungguhnyalah dia Nabi Utusan Tuhan sejati, dan Al-Quran, Kitab yang ia anugerahkan bagi umat manusia, adalah Kitab Wahyu Tuhan yang sebenarnya. Tak ada pencari kebenaran yang serius dan tak berprasangka mampu berkelit dari kepastian ini.

    ***

    1. H. Durrani , seorang Pendeta Anglikan Inggris keturunan India Selatan, kemudian menjadi Pendeta di Queta, Pakistan, yang memperoleh hikmah masuk ke dalam Islam. Petikan-petikan diambil dari tulisannya “Islam – The Light of My Life”.
     
  • erva kurniawan 1:01 am on 12 October 2015 Permalink | Balas  

    Apa Yang Membangkitkan Gairah Orang-Orang Beriman 

    Lemah ImanApa Yang Membangkitkan Gairah Orang-Orang Beriman

    Pengamatan atas Keindahan Ciptaan Allah

    Kemana pun seseorang memandang, ia akan mendapati contoh-contoh indahnya ciptaan Allah yang menakjubkan. Di dalam ayat-ayat al-Qur’an Allah berfirman:

    “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Q.s. Fushilat: 53).

    Orang-orang beriman senantiasa bangkit gairahnya tatkala mereka memperhatikan susunan dan kesempurnaan yang terus menerus diciptakan oleh Allah di setiap sudut alam semesta ini. Mereka menyaksikan adanya kebijakan, keagungan, dan keindahan tiada tara di balik keajaiban-keajaiban ini, dan timbul perasaan bahagia di dalam hatinya ketika merenungkan keagungan ciptaan Allah tadi.

    Mereka merasa heran tatkala memperhatikan orang-orang yang tetap tidak memiliki kepekaan atas keajaiban-keajaiban ini. Jika orang-orang semacam itu mau mendengarkan suara hati nuraninya sebentar saja dan berpikir dengan jujur, maka mereka pun pasti akan merasakan keagungan dan betapa eloknya ciptaan Allah.

    Sebagaimana dinyatakan di dalam banyak ayat al-Qur’an, kesempurnaan ciptaan Allah benar-benar sangat mengesankan sehingga siapa pun yang mau menggunakan hati nuraninya dapat menyaksikannya. Dalam sebuah ayat dinyatakan bahwa ketika orang-orang beriman memikirkan adanya keagungan di dalam ciptaan Allah, mereka pun merasa takjub:

    “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (Q.s. Ali Imran: 191).

    Orang-orang beriman yang merenungkan dengan sungguh-sungguh hal-hal yang masuk di dalam kesadarannya menyadari, bahwa penciptaan langit dan bumi merupakan tanda adanya kebijaksanaan dan kekuasaan yang abadi.

    Mereka menyadari bahwa Allah menyimpan ratusan bahkan ribuan maksud dalam setiap ciptaan-Nya dan mereka benar-benar merasa sangat takjub susunannya atas kesempurnaan.

    Tidak sebagaimana perasaan gusar yang dimiliki oleh masyarakat jahiliah, seseorang mendapat bimbingan ke jalan Allah yang lurus karena adanya rasa takjub dan bahagia. Konsekuensi dari rasa takjub dan pemahaman yang menyeluruh ini adalah semakin kuat rasa keimanan, bahwa tidak ada tuhan selain Allah.

    Semakin orang-orang beriman berpikir mengenai keindahan dan keelokan makhluk-makhluk yang terdapat di sekitar mereka, maka mereka pun semakin menyadari kekuasaan, kebijaksanaan, dan keagungan Allah, dimana merupakan satu-satunya kawan dan pelindung bagi seseorang.

    Mereka pun bersegera berdzikir kepada-Nya, memuji-Nya, dan berlindung kepada-Nya dari azab-Nya, sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas tadi: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

    Menyaksikan Rahmat dan Keindahan

    Orang-orang yang paling merasakan takjub atas berbagai rahmat Allah dan mendapatkan paling banyak kenikmatan darinya adalah mereka yang beriman. Mereka tahu bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Allah dan menyadari bahwa apa pun peristiwa yang mereka temui dan mereka lihat merupakan rahmat daripada-Nya. Dengan demikian suatu keindahan tertentu memiliki makna yang sangat berarti bagi mereka dibandingkan bagi orang-orang lainnya.

    Alasan lain mengapa orang-orang beriman dapat merasakan takjub, adalah karena mereka dapat memperhatikan secara rinci dan detail apa-apa yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Mereka yang tidak dapat menggunakan akalnya secara semestinya dan tidak merenungkan secara mendalam atas kejadian-kejadian yang ada hanya akan memahami penampakan lahirnya saja.

    Dengan demikian, rasa takjub mereka sangatlah terbatas. Akan tetapi sebaliknya, bagi orang-orang beriman, mereka mampu melihat sisi-sisi yang berkaitan dengan keimanan dan maksud-maksud Ilahiah yang terkandung di dalam segala sesuatu yang mereka jumpai.

    Dengan demikian, mereka dapat menghargai banyak detail dan rahmat yang memberikan kebahagiaan serta rasa kagum yang lebih besar.

    Alasan lainnya lagi mengapa orang-orang beriman dapat melihat rahmat-rahmat ini secara mendetail dan lebih memiliki kesan adalah sebagai berikut: seseorang yang bersikap sombong kepada Allah tidak dapat mengenali keindahan dan keajaiban ciptaan-Nya, karena bila ia mengakui kekuasaan Allah itu berarti ia mengakui kekurangan dirinya.

    Karena ia tidak dapat menerima hal ini, maka ia pun tidak akan mampu melihat keindahan yang terdapat pada makhluk-makhluk sebagaimana mestinya. Bahkan andaikata ia memperhatikan makhluk-makhluk itu, ia lebih suka menjelaskannya begitu saja dan menekan rasa kekagumannya.

    Lepas dari sikap angkuh dan kepura-puraan, orang-orang beriman tidak pernah luput dalam menghargai keindahan benda-benda dan menyaksikan kehebatan ciptaan Allah, dan mereka pun menyatakan perasaan dalam hatinya serta kekagumannya secara terbuka. Misal, tatkala mereka menyaksikan sekuntum bunga mawar atau warna ungu yang dapat ditangkap oleh mata, maka bangkitlah kebahagiaan memandang keindahan itu dan mereka pun menyadari bahwa ini adalah perwujudan dari sifat Allah yang indah “al-Jamil”.

    Keindahan dan pesona yang terpancar dari makhluk-makhluk mengarahkan mereka untuk merenungkan kekuasaan yang tidak terhingga serta keindahan sang Pencipta. Dalam perenungan ini mereka semakin merasa takjub, karena mereka dapat merasakan bahwa semua keindahan ini telah diciptakan untuk mereka dan bahwa semuanya itu adalah karunia dari Allah.

    Mereka merasakan kekaguman dengan mengetahui bahwa semua itu adalah tanda-tanda kasih sayang Allah kepada mereka. Mereka berpikir dengan bahagia bahwa sekalipun semua keindahan ini tidak banyak berarti bagi banyak orang, namun mereka telah menjadi orang-orang yang beruntung, telah menjadi kekasih-kekasih Allah yang mendapatkan kebahagiaan paling banyak dari rahmat-rahmat-Nya.

    Mereka merasa bersyukur bahwa Dia telah menganugerahkan kepada mereka kesempatan untuk melihat keindahan-keindahan ini dan telah mencurahkan karunia-Nya kepada mereka, dan mereka merasakan kebahagiaan yang amat sangat karena dapat bersyukur kepada Allah.

    Mereka merasa bahagia karena Allah telah memberinya mata untuk melihat keindahan-keindahan ini, kesadaran yang jernih untuk memahaminya, dan keimanan yang tulus untuk mensyukurinya. Mereka merasa diistimewakan, karena banyak orang yang tidak dapat menikmati kebahagiaan dari hal-hal yang indah diakibatkan oleh kebutaan ruhaninya. Namun mereka dapat melihat dan menikmati keindahan-keindahan ini karena Allah telah memilih mereka dan menjadikan mereka mencintai agama.

    Selain itu, setelah mereka merenungkan berbagai rahmat, desain-desainnya yang sempurna serta kebijakan abadi yang terwujud di dalamnya, mereka meningkatkan rasa takzim kepada Allah dan kekaguman mereka atas keindahan ciptaan-Nya. Sebagaimana firman Allah:

    “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu minta kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Q.s. Ibrahim: 34).

    Dengan demikian, mereka dalam keadaan takjub atas berbagai karunia yang tidak terkira jumlahnya yang ada di dunia ini. Dengan rasa syukur kepada Allah mereka bergembira karena berpikir bahwa Allah telah memberikan semua karunia ini dari rahmat-Nya; Ia telah memberikan karunia sebanyak ini, padahal kalau mau dapat saja Ia memberinya lebih sedikit dari ini. Allah berfirman:

    “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.s. Ibrahim: 7).

    Dengan mengingat bahwa Allah akan menambah nikmat lebih banyak lagi kepada mereka yang bersyukur adalah kebahagiaan tambahan.

    Dengan mengetahui bahwa Allah telah menciptakan bagi mereka masa hidup yang penuh dengan karunia dan keindahan serta suatu takdir yang senantiasa membawa kebaikan membuat semangat mereka segar kembali.

    Orang beriman menyadari bahwa Allah melindungi dan melimpahkan kasih sayang-Nya kepadanya setiap saat, dan kedua hal ini adalah karunia dari-Nya. Sungguh, Allah melimpahkan kasih sayangnya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan seseorang berjalan ke arah kehidupan yang menyenangkan dan membahagiakan hanyalah semata-mata karena Allah telah menetapkannya.

    Fakta ini telah ditekankan di dalam banyak ayat seperti berikut ini:

    “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia pilih.” (Q.s. al-Qashash: 68).

    “Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekufuran) kepada cahaya (iman).” (Q.s. al-Baqarah: 257).

    “Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Q.s. al-Baqarah: 213).

    Seorang yang beriman tahu bahwa ia berhutang budi atas rahmat-rahmat yang dinikmatinya itu kepada Allah. Allah telah memilihnya, memberinya kesempatan untuk hidup dengan nyaman, menjauhkannya dari kejahatan, dan menciptakannya dengan kemampuan-kemampuan khusus, dimana hal ini benar-benar sangat menyenangkannya.

    Dengan gairah ia pun kembali kepada-Nya dan bekerja sungguh-sungguh demi mendapatkan keridhaan-Nya, baik melalui sikap maupun perilakunya. Sebagaimana ketika ia mengamati keindahan-keindahan yang ada di dunia ini, ia berpikir tentang surga, pasti betapa sempurna dan tiada cacatnya keindahan-keindahan di surga sana, dan menjadi sangat bergairah untuk mencapainya.

    Semangat yang ada pada diri orang-orang beriman dinyatakan dalam sabda Nabi Muhammad saw.: “Sungguh, dalam setiap tasbih adalah sedekah, dalam setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan dalam mengatakan ‘Tidak ada tuhan selain Allah’ adalah sedekah pula.” (H.r. Muslim dan Ahmad).

    Apa yang telah disebutkan di atas tadi hanyalah sedikit contoh dari hal-hal yang membangkitkan gairah orang-orang beriman. Artikel ini terlalu terbatas untuk menyebutkan semua rincian tentang hal-hal yang diperhatikan oleh orang-orang beriman. Cakrawala pandangan mereka luas, dan kemampuan refleksi mereka juga kuat. Kesenangan yang tidak pernah dialami oleh orang-orang kafir adalah karunia besar yang dianugerahkan kepada orang-orang beriman.

    Cinta dan Persahabatan

    Kebanyakan orang mengeluh karena tidak dapat menemukan cinta dan persahabatan sejati di sepanjang hidup mereka dan benar-benar merasa yakin bahwa adalah hal yang mustahil untuk mendapatkannya. Hal ini memang benar bagi mereka yang hidup di tengah-tengah masyarakat jahiliah, yang tidak pernah meraih cinta dan persahabatan sejati, oleh karena rasa kasih sayang yang mereka berikan satu sama lain sering kali adalah karena dorongan kepentingan. Begitu mereka tidak lagi mendapatkan keuntungan-keuntungan yang dapat diraih, keakraban yang selama ini mereka anggap sebagai cinta atau persahabatan pun berakhir.

    Orang-orang yang mengalami cinta dan persahabatan sejati serta menjalaninya dengan makna yang sesungguhnya adalah orang-orang beriman. Alasan utamanya, sebagaimana dinyatakan di muka dalam buku ini, adalah karena mereka mencintai satu sama lain, bukan karena mencari keuntungan, namun hanyalah semata-mata karena orang-orang yang mereka cintai itu adalah orang-orang yang memiliki iman yang tulus dan taat.

    Apa yang membuat seseorang dicintai dan memiliki daya tarik untuk dijadikan teman adalah karena ketakwaannya kepada Allah, dan kesalehannya yang telah membuat seseorang hidup dengan nilai-nilai al-Qur’an secara cermat.

    Seseorang yang hidup dengan nilai-nilai al-Qur’an juga mengetahui karakteristik-karakteristik apa saja yang mesti dimilikinya agar dapat dijadikan sebagai seorang teman yang berharga, dan dia pun mengambil karakteristik-karakteristik ini sesempurna mungkin. Dan demikian pula, ia pun dapat mengapresiasi karakteristik-karakteristik yang dapat dikagumi pada orang lain dan dapat mencintai dengan sesungguhnya.

    Selama pemahaman mengenai hal ini senantiasa ada dan nilai-nilai Qur’ani meliputi diri mereka, kebahagiaan yang diperoleh dari cinta dan persahabatan tidak pernah hilang. Lebih jauh lagi, semakin orang itu memperlihatkan akhlak yang baik, kesenangan dan kebahagiaan yang mereka dapati dari cinta dan persahabatan pun senantiasa meningkat.

    Tatkala mereka saling memperhatikan satu sama lain sifat-sifat khas yang ada pada diri orang-orang beriman, tanda-tanda adanya iman dan nurani, ketulusan, ketakwaan kepada Allah dan kesalehan, maka gairah mereka pun semakin tumbuh subur. Gairah mereka terasa terbangkitkan karena berada di tengah-tengah lingkungan orang-orang yang mendapat keridhaan dan kasih sayang dari Allah serta senantiasa cenderung untuk berusaha meraih kedudukan yang tinggi di akhirat kelak.

    Begitulah, mereka merasa bahagia bersahabat dengan orang-orang yang oleh Allah sendiri telah dijadikan sebagai para kekasih-Nya.

    Oleh karena kecintaan di antara mereka dilandasi oleh sebuah pemahaman tentang persahabatan yang kekal selamanya, maka kecintaan itu tidak akan berkurang atau berakhir dengan adanya kematian. Sebaliknya, justru makin kekal secara sempurna.

    Dari aspek inilah pemahaman tentang cinta bagi orang-orang beriman berbeda dengan pemahaman masyarakat jahiliah. Cinta dan persahabatan pada masyarakat jahiliah tidak dilandasi niat untuk senantiasa bersama selama-lamanya, maka mereka pun tidak dapat mempraktikkan konsep-konsep kesetiaan, kepercayaan, dan amanah yang sejati.

    Jika dua orang yang mengaku sebagai kawan membuat suatu syarat khusus yang melandasi persahabatan mereka, maka itu berarti mereka dapat mengakhiri pertemanan mereka kapan saja. Kedua belah pihak yang menyadari adanya kemungkinan ini pun lalu bersikap saling hati-hati satu sama lain dan merasa tidak nyaman.

    Kehatian-hatian merusak ketulusan, dimana hal ini merupakan prasyarat dalam menjalin cinta dan persahabatan. Dalam hubungan-hubungan yang sifatnya duniawi orang-orang senantiasa memperhitungkan adanya kemungkinan berakhirnya persahabatan mereka dan, dengan demikian, mereka pun menghindari untuk menunjukkan sifat ketulusan dimana nantinya dapat membuat mereka merasa malu bila kelak keramah-tamahan ini telah berakhir.

    Di lain pihak, bagi orang-orang beriman, mereka memiliki ketulusan dan tidak pernah bersikap pura-pura. Seseorang yang berniat untuk bersama-sama dengan orang lain untuk selama-lamanya adalah seseorang yang telah memiliki komitmen untuk menunjukkan kesetiaan, cinta, dan persahabatan yang tiada putus-putusnya.

    Karakteristik istimewa mengenai cinta dan persahabatan dari orang-orang beriman ini, yaitu kesediaan untuk bersama-sama selama-lamanya, membuat mereka dapat memperoleh kebahagiaan yang besar dari kasih sayang yang mereka alami serta kegembiraan karena punya harapan untuk berada bersama-sama dengan orang-orang yang mereka cintai di surga nanti.Ini juga merupakan kesenangan, karena adanya kepastian, sehingga mereka akan bersikap setia kepada orang-orang yang mereka cintai selama-lamanya.

    Melindungi Kebenaran

    “Mengapa kamu tidak mau berperang demi membela agama Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau’.” (Q.s. an-Nisa’: 75).

    Di dalam ayat ini Allah meminta perhatian atas situasi orang-orang yang tertindas dan menunggu adanya dukungan atau sekutu. Ayat ini berkenaan dengan upaya untuk melindungi orang-orang yang tidak bersalah yang tidak mampu untuk membela hak-hak mereka sendiri, menolong mereka dan menjamin adanya keselamatan atas diri mereka sebagai sebuah tanggung jawab bagi orang-orang beriman.

    Orang-orang beriman yang memiliki kesadaran atas tanggung jawab-tanggung jawab mereka merasakan adanya hasrat dan keinginan yang sangat besar untuk menyelamatkan orang-orang yang tertindas hanya karena mereka beriman kepada Allah. Mereka memiliki nurani dan pemahaman yang tepat tentang keadilan, maka mereka pun tidak pernah mau memaafkan adanya penindasan terhadap orang-orang yang tidak bersalah; maka, mereka pun memberikan dukungan secara moral dan material. Untuk tujuan inilah gairah dan semangat mereka memberikan keberanian dan kekuatan yang sangat besar kepada mereka.

    Allah juga meminta tanggung jawab kepada orang-orang beriman untuk memerangi kemungkaran dan mencegahnya, dimana hal ini menambah semangat mereka. Memerangi kemungkaran, menghapuskan tirani dari muka bumi, dan mewujudkan perdamaian serta kesejahteraan adalah termasuk diantara perbuatan-perbuatan yang paling mulia dan luhur bagi kemanusiaan.

    Mengenai pentingnya memenuhi tugas untuk mencegah kemungkaran ini dinyatakan di dalam al-Qur’an:

    “Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (Q.s. al-A’raf: 165).

    Di dalam al-Qur’an banyak nabi yang disebutkan karena semangat dan keteguhan mereka dalam membela kebenaran dan memerangi kemungkaran. Nabi Musa a.s. misalnya, telah berjuang keras untuk menyelamatkan Bani Israel dari tirani Fir’aun. Dalam al-Qur’an, Fir’aun digambarkan sebagai “Berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.” (Q.s. Yunus: 83). Dia telah memperbudak bangsa Mesir, membunuh anak laki-laki mereka dan menistakan anak-anak perempuan mereka.

    Allah mewahyukan kepada Nabi Musa a.s.:

    “Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dan katakanlah: ‘Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israel bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk’.” (Q.s. Thaha: 47).

    Maka beliau pun mendatangi Fir’aun dan memintanya untuk menghentikan tiraninya atas bangsanya dan membiarkan mereka untuk meninggalkan Mesir bersamanya.

    Ayat ini memberikan contoh betapa Nabi Musa a.s. memikul tanggung jawab untuk melindungi bangsanya, dan untuk inilah ia berjuang tiada henti selama bertahun-tahun hingga akhirnya tirani Fir’aun pun tamat riwayatnya. Selain itu, beliau pun berjuang untuk memperkuat moral bangsanya, dan dengan sabar menyeru mereka agar memohon pertolongan kepada Allah. Sungguh, sebagai hasil dari semangat dan keteguhan yang diperlihatkannya, Allah pun memberikan kemenangan kepada beliau dan para pengikutnya atas diri Fir’aun.

    Sebagaimana diungkapkan oleh contoh-contoh semacam ini, orang-orang beriman senantiasa berada pada pihak yang benar, yaitu berada bersama-sama dengan orang-orang yang memiliki kasih sayang, toleransi, sikap siap membantu dan rela berkorban ketika menghadapi orang-orang yang melakukan keangkara-murkaan, tidak adil, dan mementingkan diri sendiri. Mereka senantiasa berjuang untuk menghentikan tirani para penindas dan membebaskan mereka yang tertindas.

    Dalam melakukan hal ini, mereka merasakan gairah dan kebahagiaan karena dapat memenuhi perintah Allah. Dan melalui amal kesalehan ini mereka menerapkan keadilan yang disukai oleh Allah, mendengarkan suara hati nurani mereka, hidup dengan nilai-nilai Qur’ani, dan menjaga keselamatan orang-orang yang tidak berdosa. Maka mereka pun memperoleh kebahagiaan dari semua amal kebajikan ini dan pahala-pahala yang mereka terima.

    Komitmen dari orang-orang beriman dalam masalah ini meningkatkan akhlak mereka. Badiuzzaman (Said Nursi) memberi tahu akan fakta bahwa mereka yang memikul tanggung jawab besar dengan niat untuk memperoleh keridhaan Allah akan mencapai kematangan moral: “Manakala seseorang punya komitmen pada dirinya sendiri dengan tujuan-tujuan yang mulia, maka amal-amalnya pun menjadi semakin ikhlas. Dan ketika ia melakukan amal-amal yang semakin banyak demi kepentingan kaum muslimin, maka dia sendiri mencapai kematangan moral.”1

    Ibadah

    Bagi orang-orang beriman mencari keridhaan dan kecintaan Allah merupakan suatu hal yang mendapat prioritas atas segala hal lainnya. Dengan demikian, sepanjang hayatnya mereka terus menerus mencari jalan untuk makin mendekatkan diri kepada-Nya. Allah telah memerintahkan:

    “Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (Q.s. al-Ma’idah: 35).

    Orang-orang beriman memandang bahwa menjalankan kewajiban-kewajiban ibadah yang diperintahkan di dalam al-Qur’an adalah termasuk sarana yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah. Meskipun demikian, mereka menyadari bahwa hanya melakukan hal ini saja tidaklah cukup, dan yang lebih penting lagi adalah adanya keikhlasan dan semangat yang dirasakan oleh seseorang ketika sedang beribadah.

    Sesungguhnya, Allah telah menyatakan bahwa daging dan darah dari hewan-hewan korban itu tidak akan sampai kepada-Nya namun ketakwaan dari orang-orang yang berkorban itulah yang akan sampai kepada-Nya:

    “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.s. al-Hajj: 37).

    Kesadaran atas fakta ini mengarahkan orang-orang beriman untuk menyibukkan diri di dalam amal-amal saleh dengan penuh semangat untuk menjalankan suatu kewajiban dalam beribadah. Mereka memahami bahwa keikhlasan adalah sifat yang paling dihargai oleh Allah. Bahwa amal-amal yang dikerjakan dengan ikhlas karena Allah mendapat penghargaan yang besar di mata Allah, juga disebutkan di dalam sebuah Hadis Nabi Muhammad saw., di mana seorang mukmin yang baik digambarkan sebagai seseorang yang merasakan kebahagiaan ketika mengerjakan shalat, menjalankan ibadah kepada Tuhannya dengan sebaik-baiknya, dan menaati-Nya ketika sedang dalam keadaan sunyi.

    Di dalam al-Qur’an banyak diberikan contoh mengenai semangat dan gairah yang dirasakan oleh orang-orang beriman dalam menjalankan ibadah. Beberapa di antaranya akan disebutkan dalam halaman-halaman selanjutnya.

    Membaca al-Qur’an

    Di dalam al-Qur’an Allah memberikan gambaran mengenai orang-orang beriman:

    “Sesungguhnya orang-orang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri.” (Q.s. as-Sajdah: 15).

    Bersujud ketika dibacakan ayat-ayat al-Qur’an merupakan tanda adanya keimanan yang kuat dan kebahagiaan yang mereka rasakan karena menjadi hamba Allah.

    Mereka merasa sangat bersuka cita karena memiliki al-Qur’an, kitab yang diwahyukan Allah yang mencakup semua pengetahuan, dengan menyadari bahwa setiap ayat dari al-Qur’an adalah manifestasi dari kasih sayang, rahmat, dan keadilan Allah terhadap diri mereka.

    Lebih jauh lagi, mereka merasakan kebahagiaan yang sangat besar di dalam jiwa mereka karena telah diberi nikmat kesadaran yang jernih sehingga mereka dapat memahami semua itu.

    Dengan demikian, mereka pun merasa dekat kepada Allah dan merasakan adanya keterikatan yang mendalam dengan-Nya, yang memberikan mereka perasaan tenang. Di dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa orang-orang beriman menyungkur sujud, menangis karena perasaan yang mereka alami tatkala mendengarkan firman-firman Allah:

    “Katakanlah: ‘Berimanlah kamu kepadaNya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).’ Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: ‘Mahasuci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (Q.s. al-Isra’: 107-9).

    Di dalam ayat-ayat di atas Allah memberitahukan bahwa al-Qur’an, manakala dibacakan kepada orang-orang beriman, meningkatkan rasa rendah diri mereka, yaitu ketakutan dan rasa takzim mereka kepada-Nya. Dan Allah memberitahukan kepada kita bahwa para nabi pun juga menyungkur sujud, sambil menangis karena perasaan mereka ketika mendengar ayat-ayat Allah:

    “Mereka adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Q.s. Maryam: 58).

    Di dalam ayat lainnya dinyatakan bahwa kulit-kulit orang-orang beriman yang takut kepada Allah bergetar manakala mereka mendengar ayat-ayat al-Qur’an:

    “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.” (Q.s. az-Zumar: 23).

    Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah Hadis Nabi Muhammad saw. bahwa orang-orang beriman mengetahui bahwa pahala bagi mereka yang membaca al-Qur’an dan berdzikir kepada Allah adalah begitu besarnya, dan hal itu semakin menambah gairah mereka: “Bertakwalah kepada Allah, karena Dialah yang akan membuat baik semua hal yang merisaukanmu. Bacalah al-Qur’an dan senantiasalah mengingat Allah, karena dengan demikian kalian akan diingat pula di langit sana, dan akan menjadi cahaya bagimu di muka bumi ini.” (H.r. Ahmad).

    Doa

    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.s. al-Baqarah: 186).

    Allah telah menyeru semua orang untuk berdoa. Dia telah memberitahukan kepada mereka bahwa Dia lebih dekat kepada mereka dibandingkan urat leher mereka sendiri. Dia mendengar mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya, dan Dia pun akan menjawab doa-doa mereka. Kesempatan yang diberikan oleh Allah tersebut kepada manusia dan bahwa Dia menjadi saksi atas segala hal yang mereka ucapkan atau pikirkan adalah penyebab munculnya rasa suka cita bagi orang-orang beriman, rasa suka cita karena mengetahui bahwa Allah ada bersama mereka, perlindungan-Nya yang senantiasa diberikan atas diri-diri mereka, dan karunia-Nya terhadap mereka.

    Dengan alasan inilah orang-orang beriman berlindung kepada Tuhan mereka dengan perasaan yang sangat mendalam, benar-benar merasakan perlunya mendapat bimbingan dari-Nya, dan senantiasa memohon pertolongan-Nya setiap saat. Penyebab kegembiraan yang lain adalah bahwa tidak ada batas bagi mereka untuk meminta apa saja kepada Allah.

    Setiap orang berpeluang untuk memohon apa saja yang diperlukannya, baik hal itu penting atau tidak penting, yang sifatnya ruhaniah maupun material. Allah menjawab doa dari hamba-hamba-Nya sesuai dengan apa yang terbaik bagi mereka.

    Bertobat untuk Mendekatkan Diri kepada Allah

    Manusia mudah membuat kesalahan. Adalah suatu hal yang mustahil untuk mengharapkan bahwa ada seseorang yang mengetahui segala hal atau dapat melakukan apa saja dengan sempurna karena dunia ini adalah tempat di mana Allah menguji manusia.

    Manusia hanya akan tinggal sementara waktu saja di dunia, di mana dia akan memperoleh sifat-sifat yang lebih baik melalui petunjuk Tuhannya, dan kemudian akan melanjutkan perjalanannya ke akhirat, yang merupakan tempat tinggalnya yang abadi.

    Itulah sebabnya mengapa kesalahan, ketidaksempurnaan dan kegagalan adalah hal lumrah di dunia ini, dimana merupakan tempat untuk melakukan ujian. Hal yang penting adalah bagaimana caranya untuk tidak terus menerus melakukan kesalahan, namun sesegera mungkin mengikuti kebenaran begitu mengenalinya, dan meninggalkan kebiasaan buruk sebelumnya.

    Proses ini terus berkesinambungan menuju penyempurnaan, sekalipun orang-orang beriman menyadari bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang lemah dan tidak sempurna. Dengan demikian, mereka pun meminta ampunan dari Allah dan bertobat. Tobat, suatu bentuk ibadah yang penting dan diperintahkan di dalam al-Qur’an, membuat mereka merasakan kebahagiaan ruhaniah.

    Manakala orang-orang beriman melakukan kesalahan, mereka tidak memperlihatkan sikap pesimis; akan tetapi mereka merasakan adanya harapan bahwa Allah akan mengampuni mereka. Begitu mereka menyadari bahwa mereka telah melakukan suatu perbuatan dosa, mereka segera meminta perlindungan kepada Allah dan memohon ampunan-Nya.

    Allah menggambarkan karakteristik dari hamba-Nya yang ikhlas ini di dalam al-Qur’an:

    “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.s. Ali Imran: 135).

    Kabar gembira dari Allah bahwa Dia menerima tobat dari hamba-hamba-Nya yang ikhlas mendatangkan harapan dan kegembiraan. Hal ini karena hingga kematian datang kepada mereka, bahkan orang yang paling jahat pun di dunia ini memiliki kesempatan untuk menyucikan dirinya dari dosa dan memperoleh atribut untuk memasuki surga.

    Allah menggambarkan rahmat dan kasih sayang-Nya terhadap semua umat manusia sebagai berikut:

    “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Q.s. az-Zumar: 53).

    Dengan merasakan kasih sayang dan rahmat Allah kepada mereka dan mengharapkan ampunan-Nya setiap saat mereka kembali kepada-Nya mendatangkan rasa cinta dan kegembiraan yang mendalam di dalam hati orang-orang beriman.

    Menyampaikan Nilai-nilai Luhur al-Qur’an

    Allah memerintahkan dibentuknya suatu jamaah di tengah-tengah umat manusia yang menyeru kepada kebaikan:

    “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.s. Ali Imran: 104).

    Sesuai dengan seruan yang tercantum di dalam ayat ini orang-orang beriman memiliki keikhlasan, berupaya untuk menyampaikan kebaikan nilai-nilai akhlak yang terdapat di dalam al-Qur’an, menunjukkan kerusakan akhlak yang terdapat di tengah-tengah masyarakat jahiliah, dan dengan kehendak Allah, membimbing manusia ke jalan yang benar. Karena mereka sendiri sudah merasakan kedamaian dan kenyamanan dengan cara hidup yang Islami, mereka pun mengharapkan agar orang lain juga dapat mengalami hal yang sama.

    Selanjutnya, karena mengetahui bahwa neraka benar-benar ada, mereka ingin melindungi semua orang dari siksaan yang kekal dengan cara mendorong mereka untuk menjalani kehidupan yang diridhai oleh Allah, karena amal-amal seseorang di dunia ini menentukan kehidupan abadinya kelak di surga atau neraka. Bahkan keselamatan abadi bagi satu orang saja punya arti yang besar bagi orang-orang beriman.

    Dengan alasan inilah mereka punya komitmen untuk mengorbankan apa saja dalam rangka menyelamatkan seseorang dari neraka dan membimbingnya menuju ampunan dan kasih sayang Allah. Barangkali mereka akan mencurahkan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun, siang dan malam, guna membantu seseorang agar menerapkan nilai-nilai Islami yang baik.

    Demikian pula, mereka pun dengan bersemangat mengeluarkan harta kekayaannya demi hal ini. Semangat yang mereka rasakan memberikan kekuatan yang besar baik secara fisik maupun ruhani. Hingga akhir hayatnya mereka tidak pernah berhenti menyampaikan pesan-pesan Allah dengan cara yang paling baik dan paling bijaksana.

    Meskipun demikian, perlu dijelaskan bahwa sekalipun semua upaya mereka tidak mendatangkan hasil atas turunnya hidayah kepada satu orang pun, mereka tidak akan pernah merasa frustrasi karena tugas dari seorang mukmin hanyalah sekadar menyampaikan pesan, sedangkan Allahlah yang sesungguhnya memberikan hidayah kepada seseorang.

    Dari al-Qur’an kita tahu bahwa banyak penyembah berhala di Mekkah yang tidak memeluk Islam, sekalipun Nabi Muhammad saw. telah melakukan berbagai upaya dengan tulus dan sungguh-sungguh. Akan tetapi usaha-usaha yang telah beliau saw. kerjakan tadi tetap mendapatkan ganjaran, dan Allah mewahyukan kepada beliau saw.:

    “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Q.s. al-Qashash: 56).

    Di dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa semua nabi telah menunjukkan komitmen yang sama dalam menyampaikan risalah dari Tuhan mereka. Kesukaran-kesukaran yang mereka hadapi tidak pernah mematahkan semangat mereka. Bahkan sebaliknya, mereka senantiasa melakukan berbagai upaya untuk menunjukkan jalan yang benar kepada umat mereka.

    Upaya-upaya penuh semangat yang telah dilakukan oleh Nabi Nuh a.s. telah digambarkan sebagai berikut:

    “Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah berdakwah kepada kaumku malam dan siang, namun dakwah itu hanya menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku berdakwah kepada mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. Kemudian sesungguhnya aku telah berdakwah kepada mereka (untuk beriman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (berdakwah kepada) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun’.” (Q.s. Nuh: 5-10).

    Sebagaimana diungkapkan dalam ayat-ayat tadi, Nabi Nuh a.s. telah menyampaikan risalah Tuhannya dengan semangat yang tinggi untuk mendamaikan hati umatnya. Meskipun mereka selalu menolak namun beliau tidak pernah patah semangat dalam menyampaikan atribut-atribut Allah. Kendati demikian, umatnya yang berkepala batu selalu saja berpaling setiap kali mereka mendengarkan kebenaran. Karena semangat dan rasa suka cita yang dirasakannya dalam menjalankan perintah Allah untuk menyampaikan pesan-Nya, Nabi Nuh a.s. tidak mencela sikap mereka namun beliau terus saja melanjutkan tugasnya dengan keteguhan yang tiada henti.

    Meskipun umatnya menunjukkan keangkuhan, beliau berupaya mencari cara-cara lain yang memungkinkan guna melunakkan hati mereka. Niat beliau adalah untuk membebaskan mereka dari kerusakan masyarakat jahiliah dengan cara mengingatkan kepada mereka mengenai kebesaran Allah, baik secara terbuka maupun tertutup.

    Perlu diingat bahwa upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Nabi Nuh a.s. dan yang lainnya dalam menyampaikan risalah ini, dengan semangat yang tinggi dan keikhlasan, tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa ganjaran. Insya Allah, setiap kata yang disampaikan dan setiap detik yang dicurahkan di jalan-Nya akan mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda.

    “Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (Q.s. at-Taubah: 112).

    Berpikir tentang Surga

    Salah satu hal yang paling menimbulkan perasaan gembira bagi orang-orang beriman adalah surga dan karunia-karunia yang akan mereka peroleh di sana. Surga adalah tempat yang selama ini belum pernah ada dalam kehidupan dunia ini; tak ada satu pun cacat dan celanya kehidupan di sana.

    Surga diciptakan bukan sebagai ujian, sebagaimana kehidupan di dunia ini, namun adalah tempat untuk memberikan ganjaran. Lagi pula, Allah memang sengaja menciptakan dunia ini sebagai tempat yang tidak sempurna sehingga umat manusia merindukan surga dan berjuang keras untuk mencapainya. Seseorang yang berjuang untuk mencapai kesempurnaan, seumur hidupnya menginginkan surga dengan semangat yang lebih besar lagi.

    Di akhirat nanti orang-orang beriman akan bergembira karena telah diselamatkan dari siksa neraka, yang selama hidupnya mereka telah berjuang untuk menghindarinya. Pada sisi lain, mereka yang memerangi agama Allah, dan orang-orang yang mengikuti al-Qur’an, serta mereka yang menentang orang-orang beriman dan berupaya menindas mereka akan mendapatkan ganjaran yang sepadan sebagai bukti keadilan Allah.

    Bagaimana ganjaran yang akan diterima oleh orang-orang semacam ini dan kegembiraan yang dirasakan oleh orang-orang beriman tatkala mereka menyaksikannya, dinyatakan di dalam al-Qur’an:

    “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang beriman. Dan apabila orang-orang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini,(2 orang-orang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Q.s. al-Muthaffifin: 29-36).

    Fakta bahwa kelak orang-orang yang tidak beriman akan mendapatkan ganjaran yang sepantasnya dari Allah, menyembuhkan luka di hati orang-orang mukmin. Sungguh, hanya dengan memikirkan janji Allah saja sudah dapat membangkitkan rasa suka cita di hati orang-orang beriman.

    Selain itu, mengingat salam dan ucapan selamat datang dari para malaikat di surga dan betapa kedudukan orang-orang beriman akan ditinggikan di sana adalah sumber kebahagiaan utama. Mereka akan bertemu dengan malaikat-malaikat Allah yang akan mengantar mereka ke surga, tempat tinggal mereka yang abadi.

    Sementara mereka yang tidak mau mengabdi kepada Allah dalam hidupnya di dunia ini, akan berada dalam ketakutan dan kesakitan ketika disergap oleh malaikat azab, sementara orang-orang beriman diiringi oleh malaikat-malaikat rahmat berada dalam kedamaian dan keamanan.

    Harapan ini membuat orang-orang beriman merasakan kegembiraan yang luar biasa. Bagaimana mereka akan dipertemukan di dalam surga nanti digambarkan di dalam al-Qur’an sebagai berikut:

    “(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum’. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Q.s. ar-Ra’d: 23-4).

    “(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): ‘Salamun ‘alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.s. an-Nahl: 32).

    Alasan lain mengapa pemikiran tentang surga ini membangkitkan kegembiraan di hati orang-orang beriman tidak ragu lagi adalah karunia yang dijanjikan kepada mereka yang selama ini belum dapat mereka bayangkan seperti apa wujudnya. Namun yang lebih membahagiakan lagi daripada itu adalah manakala mereka mendapatkan keridhaan Allah, suatu tujuan yang selama ini sangat mereka inginkan dan perjuangkan seumur hidup mereka:

    “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin(3 dan Anshar(4 dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (Q.s. at-Taubah: 100).

    Dalam ayat di atas Allah memberikan kabar gembira bahwa Dia akan meridhai orang-orang yang dimasukkan-Nya ke dalam surga. Demikianlah, ditekankan di dalam al-Qur’an bahwa karunia terbesar di dalam surga adalah keridhaan Allah:

    “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (Q.s. at-Taubah: 72).

    Selain itu, Allah memberikan kabar yang lebih baik lagi kepada orang-orang beriman mengenai karunia surga:

    “Salam, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (Q.s. Yasin: 85).

    Dan ini adalah ganjaran terbaik bagi perjuangan tulus yang telah dilakukan oleh orang-orang beriman sepanjang hidup mereka.

    Orang-orang beriman juga merasakan kegembiraan manakala memikirkan betapa indahnya surga, dimana jauh dari apa yang dapat dibayangkan oleh manusia, sekalipun sudah banyak diberikan gambaran yang rinci di dalam al-Qur’an. Allah telah berfirman bahwa di sana nanti terdapat banyak keindahan dan karunia yang selama ini pernah diinginkan oleh jiwa manusia atau yang selama ini dapat dibayangkannya.

    Cakrawala pandang manusia di dunia ini terlalu terbatas untuk dapat memberikan gambaran yang sepenuhnya mengenai berbagai macam karunia abadi tadi. Sungguh, surga dipenuhi dengan hadiah-hadiah mengejutkan yang tiada henti-hentinya bagi orang-orang beriman. Memikirkan hadiah-hadiah mengejutkan ini saja dan mengetahui bahwa mereka dengan izin Allah akan hidup kekal selamanya membuat mereka merasa sangat berbahagia.

    Bahkan sejak sekarang pun orang-orang beriman telah mengetahui karunia-karunia tertentu di surga, karena telah mendapatkan gambaran-gambaran dari al-Qur’an. Misalnya, orang-orang beriman mengetahui bahwa kelak mereka akan bersama-sama dengan kawan-kawan dan orang-orang yang mereka cintai. Mereka akan berkawan dengan para nabi, syuhada, siddiqin, dan orang-orang saleh terdahulu dan akan mendapatkan penghormatan menjadi sahabat-sahabat orang-orang suci yang diridhai oleh Allah.

    Mereka akan menemui cinta dan persahabatan sejati di sana, dan tidak akan pernah merasa bosan.

    Setan tak akan dapat mendekati para penduduk surga; ia akan dilemparkan ke dalam siksaan yang abadi di dalam api neraka, maka di surga nanti setiap orang akan memiliki sifat-sifat yang baik, tulus, dan jujur di hadapan Tuhan mereka. Di sana tidak akan dijumpai akhlak-akhlak buruk yang ada pada masyarakat jahiliah (seperti kebencian, kemarahan atau dengki); semua sifat-sifat jelek ini akan hilang untuk selama-lamanya.

    Di surga nanti tidak akan ada kesulitan-kesulitan seperti yang terdapat di dunia ini. Mereka tidak perlu cemas atas rencana-rencana jahat dari orang-orang munafik. Orang-orang beriman akan diangkat derajatnya selama-lamanya, hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan di tengah-tengah kenikmatan apa pun yang diinginkan oleh nafsu mereka.

    Semua orang akan diciptakan dengan bentuk yang sempurna dan dibebaskan dari segala macam cacat. Bentuk tubuh mereka elok, memiliki perasaan saling menyayangi dan berusia setara. Hukum-hukum alam yang berlaku sebagaimana di dunia ini tidak lagi berjalan; suatu kehidupan baru dengan kenikmatan-kenikmatan baru telah tersedia untuk mereka yang imannya terjamin.

    Selain itu, surga adalah sebuah tempat yang berisi kemegahan-kemegahan fisik seperti mahligai-mahligai, pohon-pohon yang senantiasa berbuah dan mudah dipetik, sungai madu, dan keindahan-keindahan yang menarik hati lainnya.

    Lebih dari itu, “keabadian”, sebuah konsep yang dalam pikiran manusia sulit untuk dibayangkan, berlaku di surga. Kehidupan di surga tidak hanya terbatas selama ratusan, ribuan, miliaran, atau triliunan tahun … namun kehidupan di sana adalah kehidupan yang kekal abadi.

    Manusia tidak akan merasa letih dan jenuh tinggal di sana, dan ia akan merasakan kesenangan yang besar selama-lamanya dalam setiap saat yang dilewatinya.

    Memikirkan tentang kenikmatan-kenikmatan ini, sementara dirinya masih berada di dunia, dan harapan untuk mencapai surga merupakan sumber semangat dan hasrat utama orang-orang beriman. Dengan rangsangan untuk memperoleh kenikmatan-kenikmatan tersebut, mereka menjadi semakin bergairah dan melakukan upaya-upaya yang lebih banyak untuk menjadi hamba-hamba Allah yang layak menjadi penghuni surga. Sebagaimana digambarkan di dalam al-Qur’an, mereka berlomba-lomba satu sama lain dalam melakukan amal kebajikan dan berjuang untuk menjadi pemenang terbaik untuk mendapatkan “surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Q.s. Ali Imran: 133).

    ***

    1 The Rules of Struggle, hlm. 45.

    2 Pada hari pengadilan

    3 Mereka yang berhijrah dari Mekkah dan tinggal di Madinah karena Islam.

    4 Penduduk Madinah yang telah memeluk Islam dan menolong Rasulullah saw. dan para sahabatnya yang berhijrah ke sana.

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 11 October 2015 Permalink | Balas  

    Jauhi Siksaan Kematian 

    berapa-lama-kita-dikuburJauhi Siksaan Kematian

    Written by Taufikmalin.

    Allah yang Mematikan dan menghidupkan. Allah meminta pertanggung jawaban atas tugas-tugas yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Al Qur’an adalah buku petunjuk untuk  menjalankan tugas-tugas. Nabi Muhammad saw adalah seorang manusia biasa  sebagai teladan.  Manusia demikian asyiknya dengan kehidupannya sehingga ia lupa bahwa dari hari kesehari,dari saat ke saat, ia makin mendekati MAUT.

    Maut tidak mengenal besar kecil, tua muda,miskin kaya, pangkat tinggi rendah, semua akan didatangi maut, kalau ajal sudah tiba. Inilah suatu kepastian yang tidak dapat diingkari, bahwa pada suatu hari, besok atau lusa, sebulan atau setahun, atau beberapa tahun lagi tiap diri yang hidup harus merasakan MATI.

    Dari Al Qur’an kita dapat tahu, bahwa “tiap2 yang bernyawa akan merasakan mati” (QS 29:57). Tidak mungkin dapat diperlambat atau di percepat dengan jalan apapun, sebagaimana dijelaskan dalam Al qur’an (QS.4:78).

    Kita disuruh untuk datang melayat kerumah keluarga atau teman yang meninggal dengan maksud , selain hubungan silaturrahmi, juga untuk mengingatkan bahwa kita suatu waktu akan mati.

    Kita melihat mayat terhantar didepan kita, masih cukup lengkap dengan anggota badannya, lengkap dengan panca indra di kepalanya, tetapi semua itu sudah tidak bergerak lagi, semua sudah sunyi, walaupun ia diseru oleh orang yang dikasihinya.

    Keluarga tidak hendak bercerai dengan dia, tetapi sebentar lagi badannya akan menjadi busuk, tidak mau disimpan lagi, harus lekas lekas dikuburkan.

    Inilah akhir dari perjalanan hidup manusia dan tidak akan pernah kembali !

    Dengan melayat ketempat orang meninggal,diharapkan timbul Keinsyafan dan kesadaran, agar sisa hidup yang masih tinggal supaya kita pergunakan sebaik baiknya, semanfaat faatnyauntuk manusia disekeliling kita. dengan berbuat baik, menolong, dan berkarya yang bermanfaat, serta sering beristigfar kepada Allah atas dosa 2 yang disengaja tau tidak sengaja.

    Janganlah!.kita seperti binatang korban; kambing atau lembu waktu hari Raya Haji, kitika kita melihat kambing disembelih, merintis kesakitan, tapi teman2nya yang berada  disampingnya, acuh tidak acuh saja dan tidak takut, sedangkan sebentar lagi giliran mereka mau di sembelih.

    Mereka tidak sedikit merasa takut akan disembelih dan tidak berusaha untuk menghindari malapetaka kesakitan yang akan menimpanya.

    Apakah kita yang berakal demikian pula…? Apakah tidak merasa takut akan sikasaa mati..?

    Sarat untuk dapat berjumpa dengan Allah di  syurga adalah;

    “beriman dan berbuat baik,berkarya bermanfaat, untuk orang banyak, serta tidak sirik dalam berbuat baik. Berhati bersih. Dan terakhir mohon maaf dan mohon rahmat Allah swt.

    Kalau punya kekayaan harta dan uang, lebih baik digunakan untuk menolong orang, akan menjadi pahala untuk keakhirat, dari pada menyimpan dan menumpuk harta dirumah dan di Bank.

    Sebab Al quran mengatakan bahwa harta dan anak istri mu tidak akan dapat menolong mu untuk masuk syurga.

    Kalau tidak punya harta, tapi mempunyai  pemikiran dan tenaga lebih baik dipergunakan untuk menolong famili dan orang banyak sebagai amal saleh yang dapat untuk menolong kita ke syurga. sebab ilmu dan kesehatan baik kalau tidak dimanfaatkan untuk kebaikan orang banyak tidak akan menjadikan pahala.Ilmu akan ikut bersamanya kekubur.

    APAKAH YANG AKAN TERJADI SETELAH MANUSIA MATI.?

    Jasmani atau tubuh yang sudah ditinggalkan “ROH” akan kembali ke tanah. Jasmani yang terdiri dari CEL CEL sudah tidak berarti apa apa lagi, akan membusuk dalam udara terbuka, oleh sebab itulah Islam menentukan jenazah harus lekas di kuburkan. Cel cel yang terdiri dari zat2 kimia,akan kembali dan bergabung ke-masing2 zat. Zat Ca. kembali ke zat Ca, zat asam kembali ke zat asam, air akan bergabung kembali ke air dst.

    Roh yang sudah berpisah akan kembali ke alam “Barzach” menunggu sampai hari kebangkitan, dimana “sangkala dibunyikan” dan semua bangkit dari kubur.(QS.36:51).

    Apa yang terjadi sewaktu Roh berpisah dari tubuh..? Waspadalah apabila nyawa telah sampai mendekati kerongkongan…! Keluarga berkata; siapakah yang dapat menolong nya dari sensara kematian ini…??? Diapun yakin bahwa peristiwa itu adalah sa’at perpisahan dengan dunia dan kemewahan.

    Maka bertautlah betis kanan dan betis kira.. Pada hari itu kamu dihalau menghadap Tuhan mu..! (QS 75:26-30)

    Dari Al Quran kita dapat mengetahui bahwa manusia2 yang dhurhaka dan tidak mengikuti paraturan Allah swt, Malaikat datang memukul mukul muka dan punggung mereka dan mengatakan; tanggunglah siksaan hukum Allah kepada diri mu. (QS 8:50).

    Orang orang yang melawan akan peringatan2 Tuhan, sejak dari dunia sudah disiksa, dan waktu roh berpisah juga sudah disiksa dengan pukulan pukulan keras dari Malaikat.Apalagi siksaan2 dikubur dan di Neraka.

    Inilah peringatan Allah kepada manusia yang menentang Allah.

    1. Quran memberitahukan, bagaimana tersiksanya isi Neraka dengan buah buah panas, dan berduri,minuman air mendidih dam kotor, duduk diatas api yang menyala, setiap kulit yang terbakar dan terkupas diganti dengan kulit baru yang lain..(terjemahan umum.) (QS 4:56) (74:29)

    2.”Pada hari penyesihan (hari pertanggungan jawaban) itu adalah suatu waktu tertentu, pada hari ditiupkannya “sangka kala, kamu akan datang ketempata perhentian secara berkelompok kelompok dan langit pun dibuka, makaterdapatlah beberapa pintu.

    Sedangkan gunung2 digusur sampai jadi fata morgana sesungguhnya Jahanam itu adalah pos-jaga tempat melakukan pemeriksaan oleh penjaganya dan untuk tempat kembali bagi orang orang yang dhurhaka (melampaui batas).mereka tinggal didalamnya ber abad abad lamanya.

    Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak pula mendapat minuman selain air yang mendidih dan nanah sebagai balasan yang setimpal.!!

    3…Dalam kubur kamu akan melihat dengan yakin akan neraka jahanam yang panas, yang kemudian kamu akan ditanya akan perbuatan2 kamu dengan harta,pangkat dan anak2 istri yang kamu miliki sementara. (QS. 102:1-8) (terjemahan umum)

    4.Sesungguhnya orang orang yang takut kepada Allah (mematuhi aturan2 Allah ) mendapat keberuntungan berup kebun-buah2an dan anggur pilihan dll.(QS.78 :31-33).

    1. Adapun bagi orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan mampu menahan dirinya dari hawa nafsunya.(QS79:40)

    Perlu kita renungkan peringatan2 Allah di atas, seharusnyalah kita merasa insyaf dan sadar,bahwa kita akan mati dan berpisah dengan sanak famili dan harta di dunia untukselama lamanya.

    Hendaklah kita merasa takut akan azab Allah yang pedih, baik waktu mati,waktu dalam kubur dan Neraka. Janganlah kita seperti binatang Domba yang mau disembelih  yang acu tidak acu saja akan kematian yang menimpa diri sendiri.

    Marilah kita berdoa kepada Allah swt

    Yaa Allah yaa Tuhan kami, ampunilah dosa dosa kami, baik yang kecil maupun yang besar, sengaja atau tidak sengaja, kelalaian dan ketaktahuan kami, berilah kami kekuatan bimbingan agar kami dapat melakukan perbuatan2 baik , pembicaraan-  pem bicaraan yang bermanfaat, jauhilah kami dari siksaan kematian,siksaan dalam kubur dan neraka yaa Allah. Kami takut yaa Allah, kepada siapa lagi kami mohon pertolongan kalau bukan kepada Mu, yang Berkuasa dan Maha Penyayang. yaa Allah yaa Tuhan kami. Amin.

    Terimakasih, semoga ada manfaatnya, kalau ada kesalahan mohon dimaafkan dan kalau ada yang benar itu datang dari Allah swt.

    Wabilahit taufik walhidayah

    Wassalamu’alaikum wr wb

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 10 October 2015 Permalink | Balas  

    Istri Shalihah Yang Ku Dambakan 

    istri solekhahIstri Shalihah Yang Ku Dambakan

    Oleh: Indra Subni

    “Baiti jannati” itulah untaian kata indah yang keluar dari bibir mulia Rasulullah SAW, dalam mengilustrasikan kehidupan rumah tangga beliau yang sakinah mawaddah warohamah dan penuh kebahagiaan.

    Kebahagiaan dalam rumah tangga seorang muslim tidaklah didasari oleh harta dan kecantikan semata, walau tak dapat dipungkiri, kalau keduanya merupakan salah satu faktor penunjang.

    Kalau kita cermati lebih lanjut dan menghayati kehidupan rumah tangga Rasul SAW, kita akan menemukan dua faktor utama yang menyebabkan rumah beliau seperti syurga. Dua faktor tersebut adalah suami shaleh dan istri yang shalehah, kenapa??, karena keduanya orang yang paham betul bagaimana cara membahagiakan pasangan hidupnya.

    Suami shaleh adalah seorang suami yang selalu ingat bahwa Allah memerintahkannya agar ia mempergauli istrinya dengan baik dan ia tahu bahwa istri merupakan amanah yang dititipkan Allah kepadanya, karenanya, membahagiakan istri merupakan ibadah baginya.

    Demikian pula dengan istri yang shalehah, ia mengerti betul bahwa ketaatannnya kepada suami adalah perintah Rasul dan merupakan ibadah yang dijanjikan pahala oleh yang Maha Pengasih. Begitulah, suami yang shaleh dan istri shalehah apabila mereka berdua saling mencintai maka keduanya akan selalu berusaha merealisasikan cinta tersebut dengan saling membahagiakan pasangannya. Namun jika keduanya tidak saling mencintai (kayaknya nggak mungkin, ya!!??) atau salah seorang diantara keduanya tidak mencintai yang lain atau pada saat-saat kesel dan sebel, niscaya mereka tidak akan menyakiti satu sama lain.

    Pada kesempatan kali uraian lebih menitik beratkan pembahasan tentang wanita shalehah tanpa mengurangi eksistensi pria shaleh, karena pada prinsipnya mereka mempunyai tuntutan dan pahala yang sama. Allah berfirman : “Barang siapa yang mengerjakan amalan-amalan shaleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk kedalam syurga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. (Qs 4 : 12). Lihat juga firman Qs 9 : 71 dan Qs 33 : 35.

    Rasulullah SAW sangat menganjurkan kepada para pemuda agar mereka lebih mempriorotaskan memilih dzaatuddin (baca : wanita shalihah) untuk dijadikan pendamping hidupnya. Beliau bersabda yang artinya : “Wanita dinikahi karena empat perkara : “karena hartanya, kecantikannya, nasabnya dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama (shalehah) niscaya engakau akan bahagia”. (Muttafaqun Alaih)

    Wanita shalihah?.. Ia merupakan sosok makhluk lembut yang menjadi idaman bagi setiap muslim yang shaleh. Karena pada dirinya terdapat perhiasan terindah di dunia ini sebagaimana disinyalir oleh Sang pembawa kabar gembira Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang artinya : “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita shalehah”. Lantas seperti apasih wanita shalehah itu???. Untuk mengetahui jawabannya baca aja terus, promosi nich. J

    Wanita shalehah adalah wanita yang benar-benar mengahambakan diri kepada Allah dan beribadah hanya kepadaNya. Ia menjauhkan diri dari perbuatan syirik baik kecil apalagi besar, tidak menyembah kecuali kepada Allah, tidak minta kepada kuburan atau pohon beringin, tidak memberi sesaji kepada Ratu Laut Selatan atau ratu-ratu lainnya, tidak kedukun, nggak make jimat dan banyak lagi perbuatan syirik yang dapat meluluh lantakan amal shaleh Allah berfirman yang artinya : “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada Nabi-nabi sebelummu : “Jika k amu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tetulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sambah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.

    Lebih gawat lagi Allah tidak akan mengampuni dosa syirik sebagaimana termaktub dalam firmanNya yang artinya : “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa selain dari syirik itu bagi siapa saj yang di kehendakiNya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka ia telah tesesat sejauh-jauhnya”.(QS 4 : 116)

    Wanita shalehah adalah wanita yang taat, patuh dan berbakti kepada kedua orang tuanya, Allah SWT menyelaraskan perintah beribadah hanya kepadanya dengan perintah berbuat baik dengan orang tua. Perhatiakan firman Allah dalam Qs Al-Israa’ ayat 23-24 yang artinya : “Dan Tuhanmu telah memrintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka da n ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. Lihat juga Qs 31 : 13-15

    Wanita shalihah adalah wanita yang menjadikan shalat sebagai kebahagian tersendiri baginya, seperti yang dilalkukan oleh idolanya, Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa’i dari Anas Ra : “Dan kujadikan shalat sebagai permata hatiku”. Ia tidak lalai mendirikan shalat tepat pada waktunya, khusu’ dalam shalat-shalatnya, gemar berpuasa dan bersedekah, sungguh- sungguh dalam do’anya antara takut dan penuh harap.

    Wanita shalehah?.. Jilbab adalah pakaiannya, busana muslimah yang menutup rapat seluruh auratnya, pakaian yang disyariatkan oleh Sang Penguasa jagad raya kepadanya. Allah berfirman yang artinya : “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin : “hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Jilbab adalah syi’ar islam, hanya jilbab yang menjadi pembeda antara muslimah dan wanita kafir di tempat umum. Wanita shalehah tahu apapun yang disyari’atkan Allah kepada manusia, tidak lain untuk kebaikan mereka.

    Wanita shalehah?. Dalam dirinya terkumpul kebaikan akhlak, adab baginya lebih baik dari zahab (emas), penghias bibirnya adalah zikrullah dan bacaan Al-Qur’an, pemerah pipinya adalah rasa malu, eye shadawnya gahdul bashar dan ia selalu menjaga kesuciannya sebagai aplikasi dari firman Allah yang artinya : “Katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudungnya kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasanya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudar-saudara leleki mereka, atau putra- putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (Qs 24 : 31).

    Ia juga menjaga dirinya dari sentuhan laki-laki yang bukan muhrim, baik melalui bersalaman apalagi diraba-raba. (Iiii ngeriii).Rasul SAW bersabda yang artinya : “Sekiranya ditusukkan jarum besi ke kepala salah seorang diantara kamu, itu lebih baik dari pada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (HR At-Thabroni dan Baihaqi dari mi’qol bin yasaar)

    Wanita shalehah adalah wanita yang terdidik dengan tarbiyah islamiyah, terus memperdalam ilmu syar’i, aktif dalam kegiatan dakwah beramar makruf nahi mungkar.

    Wanita shalehah.?. Ia senantisa berusaha menghindari ikhtilat, berkhalwat, apalagi pacaran. Pacaran? makhluk apaan tuh????. Tidak la yau. Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “‘Tidaklah laki-laki dan perempuan berkhalwat (berdua-duaan) kecuali yang ketiganya adalah setan”.(Hr Tirmizi)

    Wanita shalehah?. Hari-hari libur dari ritualnya ia ganti dengan hal-hal yang bermanfaat, membaca buku-buku islam, mendengar kaset-kaset ceramah, memperbanyak sedekah dan lain sebagainya.

    Pendeknya, wanita shalehah adalah sosok wanita yang taat melaksanakan perintah Allah, sungguh-sungguh terhadap kewajiban dan hirs terhadap nawafil, sehingga ia dapat menggapai cintaNya sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits qudsy yang dirwayatkan oleh Imam Bukhary dari Abi Hurairah yang artinya : “Rasul bersabda : “Allah berfirman : “Barang siapa yang menjadikan selain Ku sebagai sekutu, Aku telah mengizinkan agar ia diperangi, tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih dari yang Aku wajibkan, dan hambaku itu selalu mendekatkan diri kepadaKu dengan nawafil (amalan sunnah) sehingga Aku mencintainya, apabila Aku telah mencintainya, Akulah pendengaranya yang ia gunakan untuk m endengar dan pengelihatannya yang ia gunakan untuk melihat dan tangannya yang ia gerakan dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan, apabila ia meminta kepadaKu niscaya Aku beri dan apabila ia meminta perlindungan niscaya Aku lindungi (Hr Bukhary)

    Dan meninggalkan laranganNya, berusaha menghindari yang makhruh dan sungguh-sungguh menjauhi yang haram. Namun bukan berarti ia tak pernah melakukan kesalahan dan dan luput dari perbuatan dosa, tidak, karena tidak ada di muka bumi ini orang yang tak penah berdosa sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW yang artinya : “Setiap anak Adam pernah melakukan perbuatan dosa, dan sebaik-baiknya orang yang yang berbuat dosa adalah orang-orang yang bertaubat”. Sebagai manusia biasa, ia terkadang terjerumus pada perbuatan maksiat, akan tetapi ia akan cepat bertaubat dari kesalahannya tersebut dan bersegera menuju ampunan Allah sebagaimana termaktub dalam firmanNya yang artinya : “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapalagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Qs 3 : 135).

    Seluruh hari-harinya adalah ibadah, praktis dari bangun tidur sampai tidur lagi dipenuhi dengan ibadah, no time withouth ibadah begitulah mottonya. Maka jadilah ia seorang muslimah yang berakidah bener, ibadah seeur, akhlak bageur, berbadan seger dan otaknya pun pinter. So pemuda muslim akan ngiler, trus ngincer untuk selanjut nguber. Nah lho…..

    Wanita shalehah?. Ketika di khitbah oleh seorang muslim yang shaleh dan multazim, ia tidak menolaknya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “Jika datang kepadamu (mengkhitbah) orang yang kamu ridha dien dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia, bila tidak, akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar”. Ia memprioritaskan dua syarat dien dan akhlak, namun tidak terlalu ghulu (berlebihan) dalam menyaring dan menentukan pilihan, sebab ia tahu tidak ada orang zaman sekarang yang imannya setaraf dengan Abu Bakar atau Umar. Cukuplah baginya pemuda yang shaleh dan multazim, itulah yang ia nantikan.

    Suami?, ah gadis mana yang tidak mengenangkan suami, pendamping dan pasangan hidup, yang akan memberikan kebahagiaan dan keceriaan? Rasanya semua gadis mengimpikannya. Akan dinantinya saat-saat kedatangan sang pujaan hati dengan debar bahagia di dada, dengan rona memerah dipipi, terlambunglah angan dan teruntailah harapan : “Akankah kumiliki suami idaman nan shaleh?, suami yang dapat dijadikan tempat berbagi, tempat belajar, tempat mencurahkan isi hati , tempat bermanja, juga tempat menyerahkan ketaatan agar tercapai ridha Ilahi, suami yang menjadi qowam yang dapat menggandeng tangan pasangannya menuju syurga Allah, suami yang menjadi teladan, suami yang menjadi pendidik, suami yang menjadi kecintaan, aah pantas kiranya tak boleh sembar angan memilih suami?…

    Wanita shalehah?.. Saat memasuki jenjang pernikahan, terbetik azam dalam hatinya, untuk mengoptimalkan diri dalam mencurahkan ketaatan kepada suaminya, terngiang di telinganya nasehat seorang ibu Umamah binti Harits kepada putrinya dimalam pernihkahan sang putri tercinta : “Wahai putriku tersayang? Sesungguhnya nasehat ini jika ditinggalkan karena keagungan adab maka kutinggalkan ia untukmu. Nasehat ini merupakan peringatan bagi orang yang lalai (lupa) dan petunjuk bagi yang berakal, jika seorang wanita tidak butuh terhadap pernikahan, niscaya kedua orang tuanya lebih tidak membutuhkannya, akan tetapi keduanya sangat membutuhkannya, karena wanita diciptakan untuka lelaki dan laki-laki diciptakan untuk wanita. Putriku sayang? kini engkau akan berpisah dari udara dan dunia remaja yang akupun telah melaluinya. Kini engkau akan menjalani hidup baru yang juga pernah kujalani, menuju kehidupan yang belum engkau ketahui dan teman yang belum engkau pahami, dia akan menjadi raja dan pelindung bagimu. Jadilah engkau budaknya, niscaya dia akan menjadi budak yang dekat denganmu, ingat dan peliharalah sepuluh point yang akan menjadi modal dan simpanan bagimu.

    Yang pertama dan kedua adalah : Tunduk berkhidmat kepadanya disertai dengan qona’ah. Memperhatikan ucapannya disertai dengan to’ah (taat).

    Yang ketiga dan ke empat : menjaga persaan mata dan hidungnya, jangan sampai matanya melihat sesuatu yang jelek darimu dan jangan tercium olehnya kecuali sesuatu yang harum dan wangi.

    Adapun yang kelima dan enam : perhatikanlah watu makan dan tidurnya, karena rasa lapar dapat menimbulkan emosi dan kurang tidur bisa mengundang amarah.

    Yang ke tujuh dan delapan : menjaga hartanya serta menaruh hormat terhadap keluarganya, aturlah hartanya dengan baik dan pergauilah keluarganya sebaik mungkin.

    Dan yang ke sembilan dan sepuluh : jangan engkau maksiat dan menentangnya, jangan pula engkau beberkan rahasianya, bila engkau menentangnya maka engkau telah mengobarkan kemarahannya dan jika engkau membeberkan rahasianya niscaya engkau tidak akan merasa aman akan kepergiannya. Kemudian jangan sampai engkau menampakkan kegembiraan jika ia sedang bersedih dan jangan pula menampakkan kesedihan bila ia sedang gembira.

    Wanita shalehah?.. Ia tahu bahwa kehidupan rumah tangga tidak melulu berjalan mulus, berbentangkan permadani. Kehidupan rumah tangga tak ubahnya sebuah kapal yang berlayar di tengah samudra, terkadang tenang dengan ombak dan riak-riak kecil, namun dilain waktu angin kencang melanda, badai menghantam, ombak bergulung seakan ingin menenggelamkan kapal dan seluruh isinya. Saat seperti itulah peranan suami istri teruji, jika mereka kompak, bahu-membahu dengan saling pengertian, InsyaAllah biduk akan selamat sampai ketepian.

    Wanita shalehah?.. Ia menjadi sesuatu yang paling berharga bagi suaminya setelah ketakwaannya kepada Allah, bila dipandang oleh sang suami menimbulkan rasa bahagia dihati. Sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits yang artinya : “tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang muslim setelah takwa kepada Allah dan lebih baik baginya selain dari istri yang shalehah, apabila ia memerintahnya dia akan mentaatinya, jika ia melihat kepadanya dia membahagiakannya, jika bersumpah kepadanya dia menepatinya dan bila ia tidak berada di dekatnya dia menjaga dirinya juga harta suaminya”. (HR Ibnu Majah). Ia tidak memasukkan lelaki kerumahnya tanpa seizin sang suami dan selalu menjaga harga diri dan kepercayaan suaminya. Allah berfirman yang artinya : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan kerena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka”. (Qs 4 : 34). Ia selalu ridha dengan apa yang diberikan suami, betapapun kecilnya pemberian itu dan tidak pernah menuntut sesuatu yang tidak tergapai oleh penghasilan sang suami.

    Wanita shalehah?.. Ia sabar saat-saat sang suami meninggalkannnya untuk menuntut ilmu, mencari rizki, atau kepentingan dakwah dan menyambut kepulangan suami dengan senyum mengembang dan wajah ceria.

    Wanita shalehah?.. Apabila suaminya dilanda futur, semangatnya mengendur, ia tampil menegur “Mas kok loyyo”, memberikan motivasi dan mengobarkan semangat juangnya.

    Wanita shalehah?.. Ia selalu melahirkan generasi robbani, mengenalkan putra-putrinya kepada Allah sejak dini, bahkan sebelum sang anak itu terlahir kedunia. Mengasuhnya dengan sabar dan penuh keibuan, mendidiknya dengan pendidikan islami, mengajari Sunnah-sunnah Nabi, akhlakul karimah dan lain sebagainya. Ibu adalah madrasatul Ula bagi putra-putrinya.

    Dengan demikian ia akan menjadi mar’ah shalehah, zaujah muti’ah dan ummu madrasah. Singkatnya, wanita shalehah adalah gambaran sosok hamba Allah, pengikut Rasul, anak, istri, ibu dan anggota masyarakat yang baik dan menjadi uswah hasanah bagi orang lain.

    Indah nian alunan nasyid yang berbunyi : “Sungguh indah permata dunia, intan mutu manikam, emas dan berlian yang memikat hati. Namun tiada seindah bunga wanita shalehah harapan agama??.

    Demikianlah beberapa sifat dan karakter wanita shalehah yang kudambakan, dan juga oleh setiap pemuda muslim yang berakal sehat.

    Akankah aku mendapatkannya?

    Wallahu A’la wa A’lam

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 9 October 2015 Permalink | Balas  

    Godaan Orang Berilmu 

    bukuGodaan Orang Berilmu

    Republika, oleh : Okrisal Eka Putra

    Menuntut ilmu pengetahuan di samping merupakan kewajiban juga memerlukan kehati-hatian. Allah menyiapkan ujian yang harus kita lalui agar menjadi seorang penuntut ilmu yang ikhlas dan memberikan manfaat untuk manusia lain.

    Rasullah bersabda, ”Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk bersaing dengan ulama atau untuk berdebat dengan orang jahil atau untuk menarik perhatian orang lain, akan masuk neraka.” (Abu Hurairah).

    Hadis ini memberikan perincian tentang godaan yang sering dialami oleh para penuntut ilmu dan para ilmuwan dalam proses pengamalan ilmunya. Memang, Allah menyebutkan dalam Alquran bahwa akan meninggikan derajat orang yang memiliki ilmu dari orang yang tidak berilmu. Dalam surat Al-Mujadalah ayat 11, Allah befirman, ”Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang diberikan ilmu pengetahuan.”

    Banyak lagi kelebihan yang diberikan Allah kepada orang yang berilmu, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Bukankah para malaikat mau sujud kepada Nabi Adam setelah Allah mengajarkan beberapa ilmu kepada Nabi Adam AS, ketika sebelumnya malaikat meragukan manusia karena menganggap sebagai makhluk yang suka permusuhan. Tujuan pokok kita menuntut ilmu adalah untuk semakin tunduk dan patuh kepada ajaran Allah. Semakin tinggi ilmu yang kita raih semakin baik ibadah kita. Bukan sebaliknya, semakin banyak ilmu yang kita miliki semakin berani terhadap larangan-larangan Allah.

    Di antara godaan tersebut yaitu berupa sifat riya dan bangga dengan ilmu yang diberikan Allah. Sifat ini memang sering menggoda dan hanya orang yang dilindungi Allah yang bisa menghindarinya. Godaan pertama yang akan dihadapi adalah perasaan ingin dianggap ilmuwan agar bisa bersaing dengan ilmuwan lain. Pikiran dan emosi hanya disibukkan dengan melihat orang lain dan berusaha untuk mengunggulinya sehingga melupakan tujuan dasar menuntut ilmu.

    Godaan kedua, ini peringatan untuk orang yang suka berdebat dengan orang lain, ilmu yang diberikan Allah hanya untuk menyombongkan diri dengan keinginan untuk mengalahkan orang lain dalam berdebat agar menganggap kita lebih hebat dari lawan debat kita. Perdebatan tidak akan memberikan hasil apa-apa kecuali sifat bangga dengan ilmu yang dianugerahkan Allah.

    Dalam sebuah ayat, Allah berfirman, ”Taatlah kamu kepada Allah dan Rasul dan jangan suka berbantah-bantahan, karena hanya akan mengakibatkan kegagalan dan menghilangkan wibawamu, sabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46).

    Godaan ketiga, menuntut ilmu agar orang lain memperhatikan kita. Ini biasa terjadi bagi penuntut ilmu yang merantau ke daerah lain. Ketika pulang kampung, misalnya, ada keinginan untuk dimuliakan orang karena kita diberi Allah kesempatan kuliah, sedangkan teman-teman yang lain cuma tamat sekolah menengah saja.

    Mudah-mudahan dengan kembali merenungkan tujuan menuntut ilmu, supaya semakin taat kepada Allah, akan bisa menghindarkan diri dari godaan yang akan menjerumuskan kita ke dalam neraka. Amin.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:06 pm on 8 October 2015 Permalink | Balas  

    Telaga Cermin 

    kayu tumbang di telaga warnaTelaga Cermin

    Suatu ketika di sebuah sabana, berkumpullah kelompok harimau. Di kelompok itu, juga tinggal beberapa harimau muda yang baru mulai belajar berburu. Ada seekor harimau muda yang terlihat menjauh dari kelompok itu. Dia ingin mencari tantangan.

    Kaki-kaki mudanya melintasi rumput-rumput yang belum terjamah. Matanya terlihat waspada mengawasi sekitarnya. Tanpa disadari, kakinya menuju sebuah telaga yang menjorok ke dalam. Airnya begitu bening, memantulkan apa saja yang terlihat di atasnya. Sang harimau muda terkejut, ketika dilihatnya ada seekor harimau lain di sana. “Hei…ada harimau lain yang tinggal di dalam air.”

    Kucing besar itu masih tertegun ketika melihat harimau di telaga itu selalu mengikuti setiap gerak-geriknya. Ketika dia mundur menjauh, harimau dalam telaga itu pun ikut menghilang. Sesaat kemudian, harimau itu menyembulkan kepalanya, oh, ternyata harimau telaga itu masih ada. Dipasangnya senyum persahabatan, dan ada balasan senyum dari arah telaga. “Akan kuberitahu yang lain. Ada seekor harimau baik hati yang tinggal di tempat ini.”

    Kabar tentang harimau dalam telaga itu pun segera diberitahukannya. Ada seekor harimau lain yang tertarik, dan ingin membuktikan cerita itu. Setelah beberapa saat, sampailah dia di telaga itu. Dengan berhati-hati, hewan belang itu memperhatikan sekeliling. Ups..kakinya hampir terperosok ke dalam telaga. Dia terlihat mengaum, seraya menyembulkan kepalanya ke arah lubang telaga. “Hei…ada harimau yang sedang marah di dalam sana,” begitu pikirnya dalam hati. Harimau itu kembali menyeringai, memamerkan seluruh taring miliknya. Dia menunjukkan muka marah. Ohho, ternyata harimau dalam telaga pun tak kalah, dan melakukan tindakan serupa.

    “Ah, temanku tadi pasti berbohong.” Tak ada harimau baik dalam telaga itu. Aku hampir saja dimakannya. Lihat, wajahnya saja terlihat marah, dan selalu menggeram. Aku tak mau berteman dengan harimau dalam telaga itu.” Harimau yang masih marah itu segera bergegas pergi. Rupanya ia tidak menyadari bahwa harimau dalam telaga itu, sesungguhnya adalah pantulan dari dirinya.

    ***

    Pandangan orang lain, sama halnya dengan cermin dan telaga, adalah pantulan dari sikap kita terhadap mereka. Dugaan dan sangkaan yang kerap muncul, bisa jadi adalah refleksi dari perlakuan kita terhadap mereka. Baik dan buruknya suatu tanggapan, tak lain merupakan balasan dari diri kita sendiri. Layaknya cermin dan air telaga, semuanya akan memantulkan bayangan yang serupa. Tak kurang dan tak lebih.

    Agaknya kita perlu mencari sebuah cermin besar untuk berkaca. Menatap seluruh wajah kita, dan mengatakan kepada orang di dalam cermin itu. Tataplah dalam-dalam, seakan ingin menyelami seluruh wajah itu dan berkata, “Sudahkah saya menemukan wajah yang bersahabat di dalam sana?” Teman, cobalah menatap wajah kita dalam-dalam, dan cobalah jujur menjawabnya, “Sudahkah kutemukan wajah yang bersahabat di dalamnya?”

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 7 October 2015 Permalink | Balas  

    INDANYA BERAMAL SALEH 

    sedekahIndahnya Beramal Shaleh

    Written by Taufikmalin

    Allah Maha Penolong dan Maha Pembimbing. Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Pemurah Al Qur’an adalah sumber ilmu kebahagian, kesejahteraan, kedamaian kita. Rasulullah saw adalah orang yang istimewa dan sangat berjasa kepada kehidupan manusia sampai akhir zaman.

    Waktu kecil, saya berpendapat, bahwa amal saleh itu adalah memasukkan uang ke kotak amal yang ada di masjid atau yang sering dibawa oleh peminta-minta. Karena di kotak itu tertulis “Kotak amal”.

    Kedua, bahawa beramal saleh adalah menjalankan shalat, sedekah, mengaji, berpuasa, membayar zakat naik haji, sebagaimana di nasehatkan oleh orang tua dan guru-guru ngaji saya. Makin banyak amal saleh kita makin banyak pahala yang dicatat oleh malaikat dan inilah yang akan menolong orang masuk surga.

    Alhamdulillah, setelah membaca dan memahami buku pedoman hidup manusia yaitu Al Qur’an dan Hadits, saya mengerti bahwa yang dimaksud amal saleh itu bukan perbuatan-perbuatan dan ibadah-ibadah yang disebut diatas saja. Amal saleh juga meliputi semua perbuatan atau karya-karya yang bermanfaat untuk manusia dan makhluk Tuhan lainnya, dengan niat karena Allah swt.

    Berikut adalah contoh-contoh amal saleh yang bisa kita kerjakan sehari-hari:

    Amal-amal saleh dengan mulut:

    1. Senyum, membuat orang bahagia
    2. Berkata yang baik dan berfaedah
    3. Memberikan ilmu, sebagai guru,dosen,mubaligh, da’i dan lain-lain
    4. Menulis buku ilmu yang berfaedah untuk manusia
    5. Berniat dalam hati.

    Beramal-amal saleh dengan tindakan dan karya

    1. Mengambil duri dari jalan adalah amal saleh, apalagi;
    2. Membuat jalan dan pengairan untuk kebaikan umum
    3. Bertani , berladang, mengasilkan sayur-mayur untuk manusia
    4. Perikanan, menangkap ikan di laut dan beternak ikan
    5. Perternakan di mana ternaknya bermanfaat untuk orang banyak
    6. Berdagang, menolong mendistribusikan hasil tani dan pabrik memudahkan orang mendapatkan barang yang diperlukan
    7. Mendirikan pabrik untuk mengolah barang yang diperlukan masyarakat banyak, misalnya membuat mie instan, minyak, sabun, kecap, mobil, sepeda motor, kapal laut
    8. Mendirikan sekolah, rumah sakit, masjid, hotel dan gedung tempat bekerja, lapangan sepak bola
    9. Dan ribuan macam aktifitas lainnya yang tak terhitung banyaknya

    Semua perbuatan dan karya yang dikerjakan semata-mata untuk kebaikan hidup manusia dan makhluk lainnya, dan diniatkan karena perintah Allah swt memakmurkan bumi (QS.11:61), akan dicatat oleh malaikat sebagai amal saleh kita.

    Allah menyatakan orang-orang yang akan masuk surga itu adalah orang yang beriman dan beramal-saleh dan tidak sirik. Allah juga mengatakan orang yang masuk surga adalah yang berhati bersih (QS.26:89).

    Kalau hatinya bersih bening, maka setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata yang bermanfaat, dan menyenangkan. Tapi kalau hatinya kotor, maka yang keluar dari mulutnya adalah fitnah, gosip, berbicara yang menyakiti hati orang, berbohong, membukakan aib orang lain, dan kata kata yang dapat merugikan orang lain. Semuanya merupakan perbuatan dosa.

    Seorang pemuda bertanya, “Mengapa Allah tidak berfirman bahwa yang akan masuk surga itu adalah orang-orang yang melaksanakan shalat, atau puasa, atau zakat atau naik haji.”

    Shalat adalah latihan memperbaiki diri, bukan tujuan. Shalat adalah tiang agama, suatu latihan yang intensif dan berkelanjutan. Lima kali sehari manusia harus melapor dan menghadap Allah (shalat).

    Shalat wajib dilaksanakan agar manusia bisa mencapai derajat mulia mencintai Allah swt. Bila meninggalkannya maka dapat dikatakan sebagai sikap ingkar. Ia akan mudah dirayu oleh setan untuk diajak ke arah yang merusak, merugikan, dan menzhalimi seseorang, yang akhirnya kehidupannya di dunia sengsara, dan di akhirat akan mendapat azab yang pedih dari Allah swt.

    Janji Allah tidak pernah mungkir dan meleset. Berzakat dan naik haji adalah latihan-latihan yang intensif juga dari Allah untuk manusia. Manusia mempunyai sifat bawaan dari kecil: lemah, rakus, ingkar, zolim dan adanya setan yang selalu menipu manusia.

    Dengan latihan yang intensif itu akan terciptalah manusia yang berakhlaq mulia dan terpuji yaitu; yang selalu ingat Allah, jujur, disiplin, taat akan syariat Tuhan dan lainnya. Dalam diri mereka timbul sifat pemurah, kasih sayang, berani karena benar sabar, rajin bekerja, bersih rohani dan jasmani dan pandai bersyukur.

    Kalau kita lihat sejarah, umat islam di Arab adalah sumber ilmu;Ilmu aljabar, science, kesehatan, fisika, bahasa, mathematika, dll. Kejayaan Islam mundur setelah Negara Negara di jajah oleh penjajah dari negar2 Islam di afrika sampai ke Indonesia. Indonesia di jajah lebih kurang 350 tahun. Coba bayangkan 5 generasi dibawah pengaruh penjajah.

    Semenjak itulah para ulama-ulama memindahkan aktivitas kehidupannya ke kampung kampung, mereka bertani, mendirikan sekolah agama, agar para pemuda pemudi islam jangan sampai belajar di kota kota disekolah sekolah penjajah.

    Alhamdulillah, kita mengucapkan banyak terimakasih kepada para ulama zaman itu yang mana Umat Islam dan agamanya tidak bisa dimusnahkan. Ini suatu hal yangat positif. Agama Islam sangat berjaya di Negara Spanyol tapi bisa dimusnahkan, sehingga tiada lagi peninggalan2 islam seperti Mesdjid dll.

    Walaupun penjajah tidak bisa memusnahkan umat Islam dengan agamanya di Indonesia, tapi mereka berhasil membuat umat islam terbelakang dari kemajuan2 dibandingakan dengan negara2 lainnya. Umat Islam terbelakang dalam bermacam2 aspek penghidupan antara lain; ekonomi, ilmu pengetahuan, produktifitas, technologi, kesehatan, pertahanan dll. Indonesia menjadi suatu bangsa yang konsumtif. Artinya umat islam kita di Indonesia kurang produktif, kurang berbuat baik atau beramal saleh yang dikehendaki oleh Allah dan Rasulullah saw. Syurga didunia dan akhirat akan diberikan kepada orang orang yang banyak berbuat baik atau beramal saleh dan beriman kepada Allah.

    Sebahagian umat Islam terperangkap oleh ajaran2 yang salah kaprah, atau salah konsepsi dalam menghayati uacapan2 Rasulullah saw baik yang tertulis dalam Al Quran maupun yang tertulis di Hadits2. kita sering mendengar di Mesdji2 yang diucapkan oleh Khotib ;

    “Rasulullah saw melihat bahwa di syurga itu kebanyakan orang orang miskin, sedangkan dalam neraka kebanyakan wanita2” HR Muslim-Bukhary.

    “Dunia itu terkutuk, dan terkutuk pula seluruh isinya. Kecuali (dzikir) mengingat Allah dan yang berkaitan dengannya, orang alim (shalih) serta orang yang belajar agama.” (HR. Tirmidzi dan beliau berkata hadits ini hasan)

    “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)

    “Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR.Turmudzi, beliau berkata: hadits hasan shahih).

    Telah datang hadits shahih yang mencela orang yang menirukan gerakan seseorang, dan larangan dari yang demikian itu, dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda, ‘Sungguh saya tidak suka menirukan seseorang dan sungguh bagi saya seperti ini dan seperti ini’. Shahih dikeluarkan oleh Imam Ahmad (6/136-206), At-Tirmidzi (2501).

    Dari kelima Hadits2 diatas jelas sekali bagi kita, sebahagian para khotip2 mengajak umatnya untuk mejauhi dari pekerjaan yang produktif, membuat barang barang yang dibutuhkan oleh manusia, atau membuat fabrik2 yang bisa mengolah barang barang baku yang diberikan oleh Allah menjadi barang barang yang bermanfaat untuk kehidupan manusia; misalnya membuat fabrik speda, mobil, TV, alat2 rumah tangga, kantor dan sekolah dan pertanian dll. Sebahagaian Para khotip mengajak umatnya untuk tidak mencintai materi, menjauhi kehidupan duniawi sebagaimana orang orang Non Islam.

    Akhirnya umat menjadi kurang aktif dalam bidang produktif, ekonomi, science dan technologi dll. Inilah akibat dari penjajahan yang sangat fatal dan harus diperbaiki, dirobah, diluruskan kembali ajaran2 islam yang telah dibelokan oleh para penjajah selama 350 tahun. Sekarang kita sudah merdeka tapi belum lepas dari belenggu pemahaman penjajah.

    Marilah kita panjatkan doa kepada Allah Yang Maha mendengar dan Maha Pengampun;

    Yaa allah yaa Tuhan kami ampunilah dosa dosa kami atas kebodohan kami, kelemahan kami, kelalaian kami dan ketidak tahuan kami yaa Allah kepada siapa lagi kami bermohon kalau bukan kepada Mu yaa Allah.

    Yaa Allah yaa tuhan kami, tunjukilah kami, berilah kami kekuatan, berilah kami hidayah, berilah kami ide2 yang dapat membawa kami dari keterbelakangan, kehinaan, kelemahan dalam segala spek penghidupan. Yaa Allah yaa Tuhan kami, jadikanlah kami orang orang yang pandai mensyukuri semua pemberian Mu ini agar kami dapat mengoilahnya dengan baik dan bermanfaat untuk orang banyak.

    Yaa Allah berikalan kami ilmu pengetahuan yang luas, rezeki yang banyak agar kami dapat menolong orang yang memelukan, sumbuhkanlah kami dari segala penyakit qolbu dan fisik agar hidup kami bermanfaat untuk agama dan umat Mu yaa Allah.

    Yaa Allah jadikan lah qolbu kami qolbu yang bersih jernih dan bening yang selalu merindukanMu, jauhilah qolbu kami dari sifat; malas, benci, sombong, iri hati, dan amarah. Semoga sisa sisa hidup kami ini penuh kenikmatan dalam bekerja untuk Mu yaa Allah yaa Rabbal alamin.

    Demikianlah terimakasih semoga ada manfaatnya. Kalau ada yang benar datang dari Allah dan kalau ada yang salah datang dari kami yang lemah, mohon dimaafkan dan ditegur.

    Wassalamu’alaikum wr wb.

     
  • erva kurniawan 5:01 pm on 6 October 2015 Permalink | Balas  

    Kebencian 

    Kisah cinta Laila MajnunKebencian

    Islam adalah agama yang sangat menentang persengketaan, permusuhan, perkelahian. Sebaliknya pula Islam adalah agama yang menjunjung tinggi perdamaian dan persaudaraan. Karena begitu pentingnya hidup rukun sampai-sampai Rasulullah bersabda: “Tidaklah halal bagi seorang muslim untuk meninggalkan saudaranya lebih dari tiga malam. Keduanya juga saling bertemu, tetapi mereka tidak saling mengacuhkan satu sama lain. Yang paling baik diantara keduanya yang terlebih dahulu memberi salam.” (HR.Muslim).

    Tujuh abad yang lalu seorang penyair sufi dari Balakh, Jalaludin Rumi, suatu ketika pernah berucap “tanpa cinta dunia akan membeku”. Ungkapan ini kita rasakan sepanjang masa akan kebenarannya, terutama disaat gelompang matrealisme ateistik mendominasi dalam setiap gerak langkah manusia, dimana imbas dari pada itu semua kebrutalan saling benci- membenci seakan menjadi santapan hari-hari.

    Benci (al-karahah) adalah lawan dari emosi cinta (al-mahabbah), ia merupakan gambaran tentang perasaan menganggap tidak baik, perasaan tidak menerima atau perasaan ketidaksukaan serta merasa jijik. Juga perasaan ingin menjauhi obyek-obyek yang menimbulkan perasaan ini baik itu berupa orang, keadaan, perbuatan. Kedua hal tersebut (cinta dan benci) merupakan fitrah emosional yang telah dianugrahkan Allah SWT pada seluruh manusia. Bagi seorang muslim cinta dan benci haruslah berdasarkan proporsional syari’at. Karena bisa jadi sesuatu yang kita benci sebetulnya baik bagi kita. atau sebaliknya sesuatu yang kita cintai justru sangat buruk bagi kita. Jika halnya menjadi demikian, betapa banyaknya orang yang akan menjadi korban akibat dari tidak bisa menempatkan arti cinta dan benci ini.

    Allah SWT berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia sangat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia sangat buruk bagimu. Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah : 216).

    Muslim dan mukmin adalah dua kata selalu dikaitkan dengan kata Ahsin (berbuat baiklah)dan ahbib (cintailah), sesungguhnya kata-kata itu mengandung makna yang sangat dalam, kata mukmin berasal dari kata amnun (aman/tidak kacau). Mukmin adalah yang mampu menjaga atau menghadirkan rasa aman. Oleh karena itu apabila seseorang ingin menjadi mukmin, hendaklah memulainya dengan berbuat ihsan (kebaikan) kepada siapa saja, tetangganya, lingkungannya dan lain sebagainya bahkan sampai kepada lawan politiknya.

    Adapun akar kata muslim adalah salamun, yang dari akar kata ini melahirkan kata Islam yang mempunyai makna damai sentosa. Muslim berarti yang mampu menghadirkan kedamaian sentosa. Dalam termenologi moral Islam, bila seorang muslim bisa menghargai orang lain, menghargai hak milik orang lain, maka kedamaian akan dapat terwujud. Namun, hal tersebut akan muncul bila ia terus berpegang kepada kelima rukun Islam. Tanpa memegang teguh lima perinsip dasar Islam tersebut, mustahil kedamaian akan terwujud dilingkungan dimana ia tinggal.

    Asy Syaikh al-Allamah Al Imam Muhammad Hayat As Sindi berkata, “Janganlah kalian melakukan apa yang menyebabkan saling membenci, karena hal itu akan menyebabkan kerusakan di dunia dan di akhirat.” Al imam Al Hafizh Rajab Al Hambali pun pernah berujar tentang hal ini. Ia berkata “Sesama muslim dilarang saling membenci dalam hal selain karena Allah, apalagi atas dasar nafsu, karena sesama muslim telah dijadikan Allah bersaudara dan persaudaraan itu saling cinta bukan saling membenci.”

    Perasaan benci ibarat api dalam sekam, sewaktu-waktu ia akan bisa membakar, bila seorang pemimpin sudah tidak lagi menyayangi orang yang dipimpinnya berarti ia sudah menyimpan api dalam dirinya. Apabila suami sudah membenci sang istri, tetangga telah saling benci antara sesama tetangganya, pemimpin sudah tidak menyenangi hak milik rakyatnya, maka tiada lain mereka telah menyimpan api didalam dirinya. Kondisi seperti ini tentulah sangat berbahaya dalam tatanan hidup bermasyarakat.

    Ia (kebencian) akan dapat merusak moral dan norma-norma. Ekspresi sebuah kebencian tidak lain adalah sikap hasud yang dilarang Islam. Hasad adalah iri dan bersifat dengki terhadap orang atau kelompok lain, bahkan sebisa mungkin untuk menghilangkan atau menjatuhkan semua kepemilikan yang menjadi lawannya tersebut. Dari sinilah hasad berubah menjadi hasutan, bagaimana merekayasa isu atau gosip tanpa fakta untuk meyakinkan orang lain, agar saling membenci atau menganiaya orang lain atau kelempok tertentu.

    Rasa benci yang kemudian melahirkan permusuhan diantara umat manusia itu akan terus menumbuhkan kebencian-kebencian yang baru. Para antropolog sering berguyon bahwa untuk mendamaikan manusia dibumi ini perlu mendatangkan makhluk dari plenet lain hingga akhirnya mereka bersatu untuk melawannya.

    Keimanan mempersempit wilayah kebencian dan mencairkan permusuhan di hati orang mukmin. Seseorang tidak perlu membenci saudara seimannya hanya karena perbedaan suku bangsa, warna kulit, strata sosial, jabatan apalagi kepentingan pribadi. Kalaupun kita harus membenci, itu hanya bisa dilakukan karena Allah.

    Rasulullah SAW bersabda: “Sekuat-kuatnya ikatan iman adalah persaudaraan karena Allah, cinta karena Allah, dan membenci karena Allah.” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas).

    Al-Qur’an memuji orang-orang mukmin yang datang setelah kaum Anshar dan Muhajirin karena mereka berdo’a kepada Allah agar Allah mengahapus dosa-dosa orang-orang mukmin yang telah mendahului mereka, dan agar tidak menjadikan kebencian serta kedengkian dalam hati mereka terhadap orang-orang yang beriman.

    “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdoa : Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara- saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Dan janganlah engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al Hasyr : 10).

    Oleh karena itu persaudaraan yang hakiki adalah merupakan nikmat terbesar dalam penataan hubungan sesama muslim, hanyalah memungkinkan terjadi manakala ia terdapat ta’lif al-qalb (pertautan hati, perasaan dan pikiran) antara satu dengan yang lainnya. Sebaliknya, adalah mustahil persaudaraan itu terkait erat, manakala hati, perasaan dan pikiran saling bertentangan. Hati yang menyatu, akan menyikapi perbedaan dengan husnuzh-zhan (berbaik sangka) dan tasamuh (toleransi) .

    Rasulullah SAW bersabda: “Manusia akan tetap berada di dalam kebaikan selama dia tidak mempunyai rasa benci.” (HR. Thabrani).

    Dan dalam sebuah sabdanya, Rasulullah mengingatkan bahwa kedengkian dan kebencian merupakan salah satu penyakit umat yang sangat berbahaya, dan sangat mempengaruhi agamanya, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Penyakit umat terdahulu telah merambah kepadamu semua, yaitu: kebencian dan kedengkian. Kebencian itu adalah pencukur. Aku tidak berkata pencukur rambut, tetapi pencukur agama.” (HR. Bazzar dari Zubair).

    Wallahu ‘Alam.

    ***

    Kiriman Indra Subni

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 5 October 2015 Permalink | Balas  

    Temuan Ilmiah Terbaru Dan Al Quran 

    al-quran 3Temuan Ilmiah Terbaru Dan Al Quran

    Ayat Al Quran Dan Alam Semesta

    Dalam Surat al-Isra ayat ke-88, Allah menunjukkan keagungan Al Quran:

    “Katakanlah: ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini; niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.'” (QS. Al Isra: 88)

    Allah menurunkan Al Quran kepada manusia empat belas abad yang lalu. Beberapa fakta yang baru dapat diungkapkan dengan teknologi abad ke-21 ternyata telah dinyatakan Allah dalam Al Quran empat belas abad yang lalu. Hal ini menunjukkan bahwa Al Quran adalah salah satu bukti terpenting yang memungkinkan kita mengetahui keberadaan Allah.

    Dalam Al Quran, terdapat banyak bukti bahwa Al Quran berasal dari Allah, bahwa umat manusia tidak akan pernah mampu membuat sesuatu yang menyerupainya. Salah satu bukti ini adalah ayat-ayat (tanda-tanda) Al Quran yang terdapat di alam semesta.

    Sesuai dengan ayat “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS. Fushilat: 53), banyak informasi yang ada dalam Al Quran ini sesuai dengan yang ada di dunia eksternal. Allah-lah yang telah menciptakan alam semesta dan karenanya memiliki pengetahuan mengenai semua itu. Allah juga yang telah menurunkan Al Quran. Bagi orang-orang beriman yang teliti, sungguh-sungguh, dan arif, banyak sekali informasi dan analisis dalam Al Quran yang dapat mereka lihat dan pelajari.

    Meskipun demikian, perlu diingat bahwa Al Quran bukanlah buku ilmu pengetahuan. Tujuan diturunkannya Al Quran adalah sebagaimana yang diungkapkan dalam ayat-ayat berikut:

    “Alif lam ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan Yang Mahakuasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim: 1)

    untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir.” (QS. Al Mu’min: 54)

    Singkatnya, Allah menurunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi orang-orang beriman. Al Quran menjelaskan kepada manusia cara menjadi hamba Allah dan mencari ridha-Nya.

    Betapapun, Al Quran juga memberi informasi dasar mengenai beberapa hal seperti penciptaan alam semesta, kelahiran manusia, struktur atmosfer, dan keseimbangan di langit dan di bumi. Kenyataan bahwa informasi dalam Al Quran tersebut sesuai dengan temuan terbaru ilmu pengetahuan modern adalah hal penting, karena kesesuaian ini menegaskan bahwa Al Quran adalah “firman Allah”. Menurut ayat “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (Surat an-Nisa: 82), terdapat keserasian yang luar biasa antara pernyataan di dalam Al Quran dan dunia eksternal.

    Pada halaman-halaman berikut kita akan membahas kesamaan yang luar biasa antara informasi tentang alam semesta yang ada dalam Al Quran dan dalam ilmu pengetahuan.

    “Dia yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.” (Surat Al Mulk: 3-4)

    history.bigbangTeori Dentuman Besar (Big Bang) Dan Ajarannya

    Persoalan mengenai bagaimana alam semesta yang tanpa cacat ini mula-mula terbentuk, ke mana tujuannya, dan bagaimana cara kerja hukum-hukum yang menjaga keteraturan dan keseimbangan, sejak dulu merupakan topik yang menarik.

    Pendapat kaum materialis yang berlaku selama beberapa abad hingga awal abad ke-20 menyatakan, bahwa alam semesta memiliki dimensi tak terbatas, tidak memiliki awal, dan akan tetap ada untuk selamanya. Menurut pandangan ini, yang disebut “model alam semesta yang statis”, alam semesta tidak memiliki awal maupun akhir.

    Dengan memberikan dasar bagi filosofi materialis, pandangan ini menyangkal adanya Sang Pencipta, dengan menyatakan bahwa alam semesta ini adalah kumpulan materi yang konstan, stabil, dan tidak berubah-ubah. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi abad ke-20 menghancurkan konsep-konsep primitif seperti model alam semesta yang statis. Saat ini, pada awal abad ke-21, melalui sejumlah besar percobaan, pengamatan, dan perhitungan, fisika modern telah mencapai kesimpulan bahwa alam semesta memiliki awal, bahwa alam diciptakan dari ketiadaan dan dimulai oleh suatu ledakan besar.

    Selain itu, berlawanan dengan pendapat kaum materialis, kesimpulan ini menyatakan bahwa alam semesta tidaklah stabil atau konstan, tetapi senantiasa bergerak, berubah, dan memuai. Saat ini, fakta-fakta tersebut telah diakui oleh dunia ilmu pengetahuan. Sekarang, marilah kita lihat bagaimana fakta-fakta yang sangat penting ini dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

    “Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Surat al-Hadid: 1-2)

    alam-semestaPemuaian Alam Semesta

    Pada tahun 1929, di observatorium Mount Wilson di California, seorang astronom Amerika bernama Edwin Hubble membuat salah satu temuan terpenting dalam sejarah astronomi. Ketika tengah mengamati bintang dengan teleskop raksasa, dia menemukan bahwa cahaya yang dipancarkan bintang-bintang bergeser ke ujung merah spektrum. Ia pun menemukan bahwa pergeseran ini terlihat lebih jelas jika bintangnya lebih jauh dari bumi. Temuan ini menggemparkan dunia ilmu pengetahuan. Berdasarkan hukum-hukum fisika yang diakui, spektrum sinar cahaya yang bergerak mendekati titik pengamatan akan cenderung ungu, sementara sinar cahaya yang bergerak menjauhi titik pengamatan akan cenderung merah. Pengamatan Hubble menunjukkan bahwa cahaya dari bintang-bintang cenderung ke arah warna merah. Ini berarti bahwa bintang-bintang tersebut senantiasa bergerak menjauhi kita.

    Tidak lama sesudah itu, Hubble membuat temuan penting lainnya: Bintang dan galaksi bukan hanya bergerak menjauhi kita, namun juga saling menjauhi. Satu-satunya kesimpulan yang dapat dibuat tentang alam semesta yang semua isinya bergerak saling menjauhi adalah bahwa alam semesta itu senantiasa memuai.

    Agar lebih mudah dimengerti, bayangkan alam semesta seperti permukaan balon yang tengah ditiup. Sama seperti titik-titik pada permukaan balon akan saling menjauhi karena balonnya mengembang, benda-benda di angkasa saling menjauhi karena alam semesta terus memuai. Sebenarnya, fakta ini sudah pernah ditemukan secara teoretis. Albert Einstein, salah seorang ilmuwan termasyhur abad ini, ketika mengerjakan Teori Relativitas Umum, pada mulanya menyimpulkan bahwa persamaan yang dibuatnya menunjukkan bahwa alam semesta tidak mungkin statis. Namun, dia mengubah persamaan tersebut, dengan menambahkan sebuah “konstanta” untuk menghasilkan model alam semesta yang statis, karena hal ini merupakan ide yang dominan saat itu. Di kemudian hari Einstein menyebut perbuatannya itu sebagai “kesalahan terbesar dalam kariernya”.

    Jadi, apakah pentingnya fakta pemuaian alam semesta ini terhadap keberadaan alam semesta?

    Pemuaian alam semesta secara tidak langsung menyatakan bahwa alam semesta bermula dari satu titik tunggal. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa “satu titik tunggal” yang mengandung semua materi alam semesta ini pastilah memiliki “volume nol” dan “kepadatan tak terbatas”. Alam semesta tercipta akibat meledaknya titik tunggal yang memiliki volume nol tersebut. Ledakan hebat yang menandakan awal terbentuknya alam semesta ini dinamakan Ledakan Besar (Big Bang), dan teori ini dinamai mengikuti nama ledakan tersebut.

    Harus dikatakan di sini bahwa “volume nol” adalah istilah teoretis yang bertujuan deskriptif. Ilmu pengetahuan hanya mampu mendefinisikan konsep “ketiadaan”, yang melampaui batas pemahaman manusia, dengan menyatakan titik tunggal tersebut sebagai “titik yang memiliki volume nol”. Sebenarnya, “titik yang tidak memiliki volume” ini berarti “ketiadaan”. Alam semesta muncul dari ketiadaan. Dengan kata lain, alam semesta diciptakan.

    Fakta ini, yang baru ditemukan oleh fisika modern pada akhir abad ini, telah diberitakan Al Quran empat belas abad yang lalu:

    “Dia Pencipta langit dan bumi.” (QS. Al An’am:101)

    Jika kita membandingkan pernyataan pada ayat di atas dengan teori Ledakan Besar, terlihat kesamaan yang sangat jelas. Namun, teori ini baru diperkenalkan sebagai teori ilmiah pada abad ke-20.

    Pemuaian alam semesta merupakan salah satu bukti terpenting bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan. Meskipun fakta di atas baru ditemukan pada abad ke-20, Allah telah memberitahukan kenyataan ini kepada kita dalam Al Quran 1.400 tahun yang lalu:

    “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.” (Surat Adz-Dzariyat:47)

    Pada tahun 1948, George Gamov mengemukakan gagasan lain mengenai teori Ledakan Besar. Dia menyatakan bahwa setelah terbentuknya alam semesta dari ledakan hebat, di alam semesta seharusnya terdapat surplus radiasi, yang tersisa dari ledakan tersebut. Lebih dari itu, radiasi ini seharusnya tersebar merata di seluruh alam semesta.

    Bukti “yang seharusnya ada” ini segera ditemukan. Pada tahun 1965, dua orang peneliti bernama Arno Penzias dan Robert Wilson, menemukan gelombang ini secara kebetulan. Radiasi yang disebut “radiasi latar belakang” ini tampaknya tidak memancar dari sumber tertentu, tetapi meliputi seluruh ruang angkasa. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa gelombang panas yang memancar secara seragam dari segala arah di angkasa ini merupakan sisa dari tahapan awal Ledakan Besar. Penzias dan Wilson dianugerahi Hadiah Nobel untuk temuan ini.

    020597COBE_OVPada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit Cosmic Background Explorer (COBE) ke angkasa untuk melakukan penelitian mengenai radiasi latar belakang. Pemindai sensitif pada satelit hanya membutuhkan waktu delapan menit untuk menegaskan perhitungan Penzias dan Wilson. COBE telah menemukan sisa-sisa ledakan hebat yang mengawali terbentuknya alam semesta.

    Bukti penting lain berkenaan dengan Ledakan Besar adalah jumlah hidrogen dan helium di ruang angkasa. Pada penghitungan terbaru, diketahui bahwa konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta sesuai dengan penghitungan teoretis konsentrasi hidrogen-helium yang tersisa dari Ledakan Besar. Jika alam semesta tidak memiliki awal dan jika alam semesta ada sejak adanya keabadian (waktu yang tak terhingga), seharusnya hidrogen terpakai seluruhnya dan diubah menjadi helium.

    Semua bukti kuat ini memaksa komunitas ilmiah untuk menerima teori Ledakan Besar. Model ini merupakan titik terakhir yang dicapai oleh para ahli kosmologi berkaitan dengan awal mula dan pembentukan alam semesta.

    Dennis Sciama, yang membela teori keadaan ajeg (steady-state) bersama Fred Hoyle selama bertahun-tahun, menggambarkan posisi terakhir yang mereka capai setelah terkumpulnya semua bukti tentang teori Ledakan Besar. Sciama mengatakan bahwa ia telah ambil bagian dalam perdebatan sengit antara para pembela teori keadaan ajeg dan mereka yang menguji dan berharap dapat menyangkal teori tersebut. Dia menambahkan bahwa dulu dia membela teori keadaan ajeg bukan karena menganggap teori tersebut benar, melainkan karena berharap bahwa teori itu benar. Fred Hoyle bertahan menghadapi semua keberatan terhadap teori ini, sementara bukti-bukti yang berlawanan mulai terungkap. Selanjutnya, Sciama bercerita bahwa pertama-tama ia menentang bersama Hoyle. Akan tetapi, saat bukti-bukti mulai bertumpuk, ia mengaku bahwa perdebatan tersebut telah selesai dan teori keadaan ajeg harus dihapuskan.

    Prof. George Abel dari University of California juga mengatakan bahwa sekarang telah ada bukti yang menunjukkan bahwa alam semesta bermula miliaran tahun yang lalu, yang diawali dengan Dentuman Besar. Dia mengakui bahwa dia tidak memiliki pilihan lain kecuali menerima teori Dentuman Besar.

    Dengan kemenangan teori Dentuman Besar, konsep “zat yang kekal” yang merupakan dasar filosofi materialis dibuang ke tumpukan sampah sejarah. Jadi, apakah yang ada sebelum Dentuman Besar, dan kekuatan apakah yang menjadikan alam semesta ini “ada” melalui sebuah dentuman besar, jika sebelumnya alam semesta ini “tidak ada”? Pertanyaan ini jelas menyiratkan, dalam kata-kata Arthur Eddington, adanya fakta “yang tidak menguntungkan secara filosofis” (tidak menguntungkan bagi materialis), yaitu adanya Sang Pencipta. Athony Flew, seorang filsuf ateis terkenal, berkomentar tentang hal ini sebagai berikut:

    Semua orang tahu bahwa pengakuan itu baik bagi jiwa. Oleh karena itu, saya akan memulai dengan mengaku bahwa kaum ateis Stratonician telah dipermalukan oleh konsensus kosmologi kontemporer. Tampaknya ahli kosmologi memiliki bukti-bukti ilmiah tentang hal yang menurut St. Thomas tidak dapat dibuktikan secara filosofis; yaitu bahwa alam semesta memiliki permulaan. Sepanjang alam semesta dapat dianggap tidak memiliki akhir maupun permulaan, orang tetap mudah menyatakan bahwa keberadaan alam semesta, dan segala sifatnya yang paling mendasar, harus diterima sebagai penjelasan terakhir. Meskipun saya masih percaya bahwa hal ini tetap benar, tetapi benar-benar sulit dan tidak nyaman mempertahankan posisi ini di depan cerita Dentuman Besar.

    Banyak ilmuwan, yang tidak secara buta terkondisikan menjadi ateis, telah mengakui keberadaan Yang Maha Pencipta dalam penciptaan alam semesta. Sang Pencipta pastilah Dia yang menciptakan zat dan ruang/waktu, tetapi Dia tidak bergantung pada ciptaannya. Seorang ahli astrofisika terkenal bernama Hugh Ross mengatakan:

    Jika waktu memiliki awal yang bersamaan dengan alam semesta, seperti yang dikatakan teorema-ruang, maka penyebab alam semesta pastilah suatu wujud yang bekerja dalam dimensi waktu yang benar-benar independen dari, dan telah ada sebelum, dimensi waktu kosmos. Kesimpulan ini sangat penting bagi pemahaman kita tentang siapakah Tuhan, dan siapa atau apakah yang bukan Tuhan. Hal ini mengajarkan bahwa Tuhan bukanlah alam semesta itu sendiri, dan Tuhan tidak berada di dalamnya

    Zat dan ruang/waktu diciptakan oleh Yang Maha Pencipta, yaitu Dia yang terlepas dari gagasan tersebut. Sang Pencipta adalah Allah, Dia adalah Raja di surga dan di bumi.

    Allah memberi tahu bukti-bukti ilmiah ini dalam Kitab-Nya, yang Dia turunkan kepada kita manusia empat belas abad lalu untuk menunjukkan keberadaan-Nya.

    Wallahu Alam

    ***

    Kiriman Arland

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 4 October 2015 Permalink | Balas  

    Kesempurnaan Di Alam Semesta 

    galaksi 2Kesempurnaan Di Alam Semesta

    “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.” (QS. Al Mulk: 3-4)

    Di alam semesta, miliaran bintang dan galaksi yang tak terhitung jumlahnya bergerak dalam orbit yang terpisah. Meskipun demikian, semuanya berada dalam keserasian. Bintang, planet, dan bulan beredar pada sumbunya masing-masing dan dalam sistem yang ditempatinya masing-masing. Terkadang galaksi yang terdiri atas 200-300 miliar bintang bergerak melalui satu sama lain. Selama masa peralihan dalam beberapa contoh yang sangat terkenal yang diamati oleh para astronom, tidak terjadi tabrakan yang menyebabkan kekacauan pada keteraturan alam semesta.

    Di seluruh alam semesta, besarnya kecepatan benda-benda langit ini sangat sulit dipahami bila dibandingkan dengan standar bumi. Jarak di ruang angkasa sangatlah besar bila bandingkan dengan pengukuran yang dilakukan di bumi. Dengan ukuran raksasa yang hanya mampu digambarkan dalam angka saja oleh ahli matematika, bintang dan planet yang bermassa miliaran atau triliunan ton, galaksi, dan gugus galaksi bergerak di ruang angkasa dengan kecepatan yang sangat tinggi.

    rotasi-bumiMisalnya, bumi berotasi pada sumbunya dengan kecepatan rata-rata 1.670 km/jam. Dengan mengingat bahwa peluru tercepat memiliki kecepatan rata-rata 1.800 km/jam, jelas bahwa bumi bergerak sangat cepat meskipun ukurannya sangat besar.

    Kecepatan orbital bumi mengitari matahari kurang-lebih enam kali lebih cepat dari peluru, yakni 108.000 km/jam. (Andaikan kita mampu membuat kendaraan yang dapat bergerak secepat ini, kendaraan ini dapat mengitari bumi dalam waktu 22 menit.)

    Namun, angka-angka ini baru mengenai bumi saja. Tata surya bahkan lebih menakjubkan lagi. Kecepatan tata surya mencapai tingkat di luar batas logika manusia. Di alam semesta, meningkatnya ukuran suatu tata surya diikuti oleh meningkatnya kecepatan. Tata surya beredar mengitari pusat galaksi dengan kecepatan 720.000 km/jam. Kecepatan Bima Sakti sendiri, yang terdiri atas 200 miliar bintang, adalah 950.000 km/jam di ruang angkasa.

    Kecepatan yang luar biasa ini menunjukkan bahwa hidup kita berada di ujung tanduk. Biasanya, pada suatu sistem yang sangat rumit, kecelakaan besar sangat sering terjadi. Namun, seperti diungkapkan Allah dalam ayat di atas, sistem ini tidak memiliki “cacat” atau “tidak seimbang”. Alam semesta, seperti juga segala sesuatu yang ada di dalamnya, tidak dibiarkan “sendiri” dan sistem ini bekerja sesuai dengan keseimbangan yang telah ditentukan Allah.

    “Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya.” (QS. AlAn’am: 101-104)

    193097_sistem-tata-surya_663_382Orbit Dan Alam Semesta Yang Berotasi

    Salah satu sebab utama yang menghasilkan keseimbangan di alam semesta, tidak diragukan lagi, adalah beredarnya benda-benda angkasa sesuai dengan orbit atau lintasan tertentu. Walaupun baru diketahui akhir-akhir ini, orbit ini telah ada di dalam Al Quran:

    “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS. Al Anbiya:33)

    Bintang, planet, dan bulan berputar pada sumbunya dan dalam sistemnya, dan alam semesta yang lebih besar bekerja secara teratur seperti pada roda gigi suatu mesin. Tata surya dan galaksi kita juga bergerak mengitari pusatnya masing-masing. Setiap tahun bumi dan tata surya bergerak 500 juta kilometer menjauhi posisi sebelumnya. Setelah dihitung, diketahui bahwa bila suatu benda langit menyimpang sedikit saja dari orbitnya, hal ini akan menyebabkan hancurnya sistem tersebut. Misalnya, marilah kita lihat apa yang akan terjadi bila orbit bumi menyimpang 3 mm lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya.

    “Selagi berotasi mengitari matahari, bumi mengikuti orbit yang berdeviasi sebesar 2,8 mm dari lintasannya yang benar setiap 29 km. Orbit yang diikuti bumi tidak pernah berubah karena penyimpangan sebesar 3 mm akan menyebabkan kehancuran yang hebat. Andaikan penyimpangan orbit adalah 2,5 mm, dan bukan 2,8 mm, orbit bumi akan menjadi sangat luas dan kita semua akan membeku. Andaikan penyimpangan orbit adalah 3,1 mm, kita akan hangus dan mati.” (Bilim ve Teknik, Juli 1983)

    matahariMatahari

    Berjarak 150 juta km dari bumi, matahari menyediakan energi yang kita butuhkan secara terus-menerus.

    Pada benda angkasa yang berenergi sangat besar ini, atom hidrogen terus-menerus berubah menjadi helium. Setiap detik 616 miliar ton hidrogen berubah menjadi 612 miliar ton helium. Selama sedetik itu, energi yang dihasilkan sebanding dengan ledakan 500 juta bom atom.

    Kehidupan di bumi dimungkinkan oleh adanya energi dari matahari. Keseimbangan di bumi yang tetap dan 99% energi yang dibutuhkan untuk kehidupan disediakan oleh matahari. Separo energi ini kasatmata dan berbentuk cahaya, sedangkan sisanya berbentuk sinar ultraviolet, yang tidak kasatmata, dan berbentuk panas.

    Sifat lain dari matahari adalah memuai secara berkala seperti lonceng. Hal ini berulang setiap lima menit dan permukaan matahari bergerak mendekat dan menjauh 3 km dari bumi dengan kecepatan 1.080 km/jam.

    Matahari hanyalah salah satu dari 200 juta bintang dalam Bimasakti. Meskipun 325.599 kali lebih besar dari bumi, matahari merupakan salah satu bintang kecil yang terdapat di alam semesta. Matahari berjarak 30.000 tahun cahaya dari pusat Bimasakti, yang berdiameter 125.000 tahun cahaya. (1 tahun cahaya = 9.460.800.000.000 km.)

    solar apexPerjalanan Matahari

    “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yasin:38)

    Berdasarkan perhitungan para astronom, akibat aktivitas galaksi kita, matahari berjalan dengan kecepatan 720.000 km/jam menuju Solar Apex, suatu tempat pada bidang angkasa yang dekat dengan bintang Vega. (Ini berarti matahari bergerak sejauh kira-kira 720.000×24 = 17.280.000 km dalam sehari, begitu pula bumi yang bergantung padanya.)

    imagesLangit Tujuh Lapis

    “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.” (QS. Ath-Thalaq:12)

    Dalam Al Quran Allah menyebutkan tujuh surga atau langit. Ketika ditelaah, atmosfer bumi ternyata terbentuk dari tujuh lapisan. Di atmosfer terdapat suatu bidang yang memisahkan lapisan dengan lapisan. Berdasarkan Encyclopedia Americana (9/188), lapisan-lapisan yang berikut ini bertumpukan, bergantung pada suhu.

    Lapisan pertama TROPOSFER: Lapisan ini mencapai ketebalan 8 km di kutub dan 17 km di khatulistiwa, dan mengandung sejumlah besar awan. Setiap kilometer suhu turun sebesar 6,5 C, bergantung pada ketinggian. Pada salah satu bagian yang disebut tropopause, yang dilintasi arus udara yang bergerak cepat, suhu tetap konstan pada -57 C.

    Lapisan kedua STRATOSFER: Lapisan ini mencapai ketinggian 50 km. Di sini sinar ultraviolet diserap, sehingga panas dilepaskan dan suhu mencapai 0 C. Selama penyerapan ini, dibentuklah lapisan ozon yang penting bagi kehidupan.

    Lapisan ketiga MESOSFER: Lapisan ini mencapai ketinggian 85 km. Di sini suhu turun hingga -100 C.

    Lapisan keempat TERMOSFER: Peningkatan suhu berlangsung lebih lambat

    Lapisan kelima IONOSFER: Gas pada lapisan ini berbentuk ion. Komunikasi di bumi menjadi mungkin karena gelombang radio dipantulkan kembali oleh ionosfer.

    Lapisan keenam EKSOSFER: Karena berada di antara 500 dan 1000 km, karakteristik lapisan ini berubah sesuai aktivitas matahari.

    Lapisan ketujuh MAGNETOSFER: Di sinilah letak medan magnet bumi. Penampilannya seperti suatu bidang besar yang kosong. Partikel subatom yang bermuatan energi tertahan pada suatu daerah yang disebut sabuk radiasi Van Allen.

    Gunung Mencegah Gempa Bumi

    “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang.” (QS. Luqman:10)

    “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An-Naba:7)

    Informasi yang diperoleh melalui penelitian geologi tentang gunung sangatlah sesuai dengan ayat Al Quran. Salah satu sifat gunung yang paling signifikan adalah kemunculannya pada titik pertemuan lempengan-lempengan bumi, yang saling menekan saat saling mendekat, dan gunung ini “mengikat” lempengan-lempengan tersebut. Dengan sifat tersebut, pegunungan dapat disamakan seperti paku yang menyatukan kayu.

    Selain itu, tekanan pegunungan pada kerak bumi ternyata mencegah pengaruh aktivitas magma di pusat bumi agar tidak mencapai permukaan bumi, sehingga mencegah magma menghancurkan kerak bumi.

    batas-laut-tawar-dan-asinAir Laut Tidak Saling Bercampur

    “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS. Ar-Rahman:19-20)

    Pada ayat di atas ditekankan bahwa dua badan air bertemu, tetapi tidak saling bercampur akibat adanya batas. Bagaimana ini dapat terjadi? Biasanya, bila air dari dua lautan bertemu, diduga airnya akan saling bercampur dengan suhu dan konsentrasi garam cenderung seimbang. Namun, kenyataan yang terjadi berbeda dengan yang diperkirakan. Misalnya, meskipun Laut Tengah dan Samudra Atlantik, serta Laut Merah dan Samudra Hindia secara fisik saling bertemu, airnya tidak saling bercampur. Ini karena di antara keduanya terdapat batas. Batas ini adalah gaya yang disebut “tegangan permukaan”.

    Dua Kode Dalam Besi

    Besi adalah satu dari empat unsur yang paling berlimpah di bumi. Selama berabad-abad besi merupakan salah satu logam terpenting bagi umat manusia. Ayat yang berkenaan dengan besi adalah sebagai berikut:

    Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia.” (QS. Al Hadid:25)

    Ayat ini melibatkan dua kode matematika yang sangat menarik.

    “Al Hadid” (besi) adalah surat ke-57 di dalam Al Quran. Nilai numerik (dalam sistem “Abjad” Arab, setiap huruf memiliki nilai numerik) huruf-huruf dari kata “Al Hadid” jumlahnya sama dengan 57, yakni nomor massa besi.

    Nilai numerik (Abjad) dari kata “Hadid” (besi) sendiri, tanpa penambahan “al”, jumlahnya 26, yakni nomor atom besi.

    ***

    Wallahualam

    Kiriman Arland

     
    • ayuNisa 6:40 pm on 4 Oktober 2015 Permalink

      subhanallah … amat kecil manusia dalam hamparan ciptaan2Nya.

  • erva kurniawan 6:47 pm on 3 October 2015 Permalink | Balas  

    Hartamu Tidak Menambah Umurmu Sedetik Pun 

    sedekah 1Hartamu Tidak Menambah Umurmu Sedetik Pun

    Kapan terbetik dalam hatimu bahwa hartamu akan menambah umurmu, maka sungguh engkau seperti yang disebutkan oleh Allah ttg orang yang terus mengumpulkan harta dan pelit karena menyangka hartanya akan menambah usianya.

    Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu kami dapat mengkekalkannya.  (QS. Al-Humazah : 2-3)

    Justru sikap pelitlah yang merusak umur dan menghilangkan keberkahannya, sebaliknya perbuatan baik terlebih lagi bersedekah bagi kerabat dan fakir miskin serta anak-anak yatim yang akan menambah umurnya.

    Ingatlah engkau dilahirkan dalam kondisi tidak membawa sepeser pun harta, maka demikian pula tatkala kau dibangkitkan tidak membawa sepeser pun harta yang selama ini engkau kumpulkan siang dan malam tanpa mengenal lelah

    Namun jika hartamu kau sedekahkan di Jalan Allah, maka amal sedekahmu akan menemanimu di alam kubur dan pada hari kiamat kelak.

    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Setiap orang dibawah naungan sedekahnya hingga diputuskan hukum diantara manusia”. (HR Ahmad dan Hakim dan dishahihkan oleh Al-Albani)

    Kenapa seorang mayit memilih “bersedekah” jika bisa kembali hidup ke dunia…?

    Sebagaimana firman Allah:

    “Wahai Rabbku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah” {QS. Al Munafiqun:10}

    Kenapa dia tidak mengatakan :

    “Maka aku dapat melaksanakan umroh”

    “Maka aku dapat melakukan sholat atau puasa” dll?

    Berkata para ulama : Tidaklah seorang mayit menyebutkan “sedekah” kecuali karena dia melihat besarnya pahala dan imbas baiknya setelah dia meninggal.

    Maka, perbanyaklah bersedekah, karena seorang mukmin akan berada dibawah naungan sedekahnnya.

    Oleh : Syeikh Maher al-Mueaqly hafidzahullah

    [Imam Masjidil Haram, Mekah al-Mukarramah]

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: