Updates from Oktober, 2013 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 3:31 am on 31 October 2013 Permalink | Balas  

    Cinta dan Perkawinan Menurut Plato 

    cincin-kawinCinta dan Perkawinan Menurut Plato

    Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?

    Gurunya menjawab, Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”

    Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun. Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”

    Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”

    Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan,tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana,jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”

    Gurunya kemudian menjawab “Jadi ya itulah cinta”

    Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”

    Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

    Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/ subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

    Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?” Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan,ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat,jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”

    Gurunyapun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”

    Catatan kecil:

    Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.

    Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, Ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, Karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

    Wassalam

    Iklan
     
  • erva kurniawan 2:24 am on 30 October 2013 Permalink | Balas  

    Gajian 

    sampah bagimu rejeki bagikuGajian

    Gaji standard rejeki……???

    Musa merasa was was , memikirkan siapa yang akan memberi makan kambing kambingnya di Madyan ,ketika perintah Allah datang  untuk memanggul tugas memerangi kezhalman di bumi Mesir.

    Adalah hal yang fitrah jika timbul kegamangan dalam batinnya, mengingat selama ini dialah yang ngupokoro dan nggulowenthah ternak ternak tersebut.

    Sebagai manusia biasa, kita sering gamang ketika tangan yang kita gunakan untuk menebang pohon , tidak menghasilkan perolehan kayu seperti yang kita bayangkan. Padahal  anak istri di rumah telah menunggu kedatangan kita, agar mereka bisa mencicipi kenyangnya nasi dan enaknya bersendawa.

    Hal yang lumrah ketika kita bertanya  dalam hati “cukupkah rejeki hari ini?”

    Di era industri seperti sekarang ini, tuntutan emosi akan barang barang yang bisa memanjakan tubuh kita, telah memicu sebagian besar kita dalam arena perlombaan yang seharusnya tidak sampai menyempitkan makna rejeki.

    Ketika dia  tidak bisa memanjakan kakinya dengan kendaraan yang dikredit lewat perjuangan OT-nya, sebetulnya dia sedang menikmati rejeki kaki yang masih bisa digerakkan, keringat yang bisa menetes, mata yang mampu memandang sawangan alam yang dipentaskan oleh sang Pencipta.

    Ketika kegundahan nuraninya harus menerima prosentase kenaikan gaji yang tidak sesuai dengan harapannya, sebetulnya dia sedang menikmati rejeki rasa sungkowo yang bisa dimanfaatkan untuk kekhusyukan sujud yang panjang dan kemanisan membaca Al qur’an.

    Ketika pembatasan OT diberlakukan, sebetulnya dia sedang menikmati indahnya bercanda tawa dan bercengkrama dengan anak dan istri di rumah.

    Ketika terpaksa HP yang dia punyai harus dijual, sebetulnya dia sedang menikmati mesranya  bertemu dengan kawan-kawan lewat obrolan gratis tanpa pulsa .

    Ketika budaya materi menggejala dan meminggirkan nilai nilai rasa yang dipergilirkan olehNya kepada hamba hambanya, ketika itu kita harus waspada bahwa Allah tidak pernah membatasi pemberianNya , bahkan terkesan “Royal” atau “Nyah-Nyoh” terhadap makhluk-makhluknya. Hanya kita yang sering menyempitkannya.

    Ketika Hanifa, seorang bocah  berumur 2,5 tahun itu melantunkan do’a ….Allohumma barik lana fiimaa rozaqtanaa waqinaa ‘adzaa bannar……..

    Ketika  keberkahan rejeki menjadi harapannya, ketika rejeki yang kita punya bisa kita maximalkan nilai kemanfaatannya, ketika kita bisa mengeffisienkan nilai barang barang kita, ketika itu hanya ada satu harapan mudah mudahan rejeki yang terlimpah pada kita menyelamatkan  diri kita dari sambaran api neraka, dan mengantarkan si empunya pada maqom yang mulia di dunia fana dan negeri yang baka.

     
    • lazione budy 2:50 am on 30 Oktober 2013 Permalink

      merasa kaya lebih baik dari pada merasa miskin, karena kaya miskin itu relative.

  • erva kurniawan 3:19 am on 29 October 2013 Permalink | Balas  

    Heran 

    itikafHeran

    Aku heran melihat orang berbangga dengan baju mewahnya, bukankah itu menunjukkan kekurangannya bahwa ternyata ia mempunyai tubuh yang tidak sempurna….dan aku berpikir apakah ia kelak akan dapat berbangga dengan penampilannya itu di padang Masyhar.?

    Aku pun heran melihat orang bangga dengan kata-kata kasarnya serta perkataan manisnya(sindiran kecil & janjinya) yang dapat membuat orang sakit hati, bukankah itu menunjukkan kekurangannya dalam ilmu Bahasa dan aku berpikir apakah ia kelak akan dapat berbangga dengan pertanyaan di Alam Kuburnya.?

    Aku heran melihat orang bebangga dengan make-up dan aksesoris ditubuhnya, bukankah itu menunjukkan bahwa wajahnya tidak sebagus aslinya, dan aku berpikir apakah ia masih dapat berbangga kelak ketika berhadapan dengan Rabbinya.?

    Aku heran melihat orang bangga dengan rumahnya yang megah,bukankah itu menunjukkan bahwa ia masih memerlukan tempat berteduh di bumi Allah yang sudah ditundukkan untuknya ini, dan aku berpikir apakah ia masih dapat berteduh kelak di Masyhar ketika jarak matahari hanya beberapa jengkal darinya.

    Aku heran melihat orang bangga dengan kendaraannya, bukankah itu menunukkan kelemahannya bahwa ia masih memerlukan sarana untuk bergerak dibumi Allah yang kecil ini, dan aku berpikir apakah ia kelak masih dapat berbangga dengan kendaraannya ketika harus melewati titian shirot yang melintang di atas neraka.

    Aku heran melihat orang bebangga dengan tanah luas dan kebun-kebun yang dimilikinya, bukankah itu menunjukkan bahwa ia masih memerlukan tempat pijakan di bumi Allah ini, dan aku berpikir apakah ia kelak akan mampu mendapatkan tanah di surga meskipun hanya beberapa sentimeter.

    Aku heran melihat orang berlomba-lomba mencari makanan mewah hanya untuk mengisi perutnya, bukankah itu menunjukkan dia masih memerlukan benda lain untuk bertahan hidup, dan aku berpikir apa makanannya kelak di akhirat nanti.

    Wassalam

    ***

    Dari: Saudara Muslim

     
    • lazione budy 3:23 am on 29 Oktober 2013 Permalink

      Aku akan lebih heran ketika ada manusia yang tanpa ambisi sehingga tak memerlukan semuanya. Noted it too!

  • erva kurniawan 2:08 am on 28 October 2013 Permalink | Balas  

    Menikmati Celaan dan Hinaan 

    ghibahMenikmati Celaan dan Hinaan

    Kejernihan dan kekotoran hati seseorang akan tampak jelas tatkala dirinya ditimpa kritik, celaan, atau penghinaan orang lain. Bagi orang yang lemah akal dan imannya, niscaya akan mudah goyah dan resah. Ia akan sibuk menganiaya diri sendiri dengan memboroskan waktu untuk memikirkan kemungkinan melakukan pembalasan. Mungkin dengan cara-cara mengorek-ngorek pula aib lawannya tersebut atau mencari dalih-dalih untuk membela diri, yang ternyata ujung dari perbuatannya tersebut hanya akan membuat dirinya semakin tenggelam dalam kesengsaraan batin dan kegelisahan.

    Persis seperti orang yang sedang duduk di sebuah kursi sementara di bawahnya ada seekor ular berbisa yang siap mematuk kakinya. Tiba-tiba datang beberapa orang yang memberitahukan bahaya yang mengancam dirinya itu. Yang seorang menyampaikannya dengan cara halus, sedangkan yang lainnya dengan cara kasar. Namun, apa yang terjadi? Setelah ia mendengar pemberitahuan itu, diambilnya sebuah pemukul, lalu dipukulkannya, bukan kepada ular namun kepada orang-orang yang memberitahukan adanya bahaya tersebut.

    Lain halnya dengan orang yang memiliki kejernihan hati dan ketinggian akhlak. Ketika datang badai kritik, celaan, serta penghinaan seberat atau sedahsyat apapun, dia tetap tegar, tak goyah sedikit pun. Malah ia justru dapat menikmati karena yakin betul bahwa semua musibah yang menimpanya tersebut semata-mata terjadi dengan seijin Allah Azza wa Jalla.

    Allah tahu persis segala aib dan cela hamba-Nya dan Dia berkenan memberitahunya dengan cara apa saja dan melalui apa saja yang dikehendaki-Nya. Terkadang terbentuk nasehat yang halus, adakalanya lewat obrolan dan guyonan seorang teman, bahkan tak jarang berupa cacian teramat pedas dan menyakitkan. Ia pun bisa muncul melalui lisan seorang guru, ulama, orang tua, sahabat, adik, musuh, atau siapa saja. Terserah Allah.

    Jadi, kenapa kita harus merepotkan diri membalas orang-orang yang menjadi jalan keuntungan bagi kita? Padahal seharusnya kita bersyukur dengan sebesar-besar syukur karena tanpa kita bayar atau kita gaji mereka sudi meluangkan waktu memberitahu segala kejelekkan dan aib yang mengancam amal-amal shaleh kita di akhirat kelak.

    Karenanya, jangan aneh jika kita saksikan orang-orang mulia dan ulama yang shaleh ketika dihina dan dicaci, sama sekali tidak menunjukkan perasaan sakit hati dan keresahan. Sebaliknya, mereka malahan bersikap penuh dengan kemuliaan, memaafkan dan bahkan mengirimkan hadiah sebagai tanda terima kasih atas pemberitahuan ihwal aib yang justru tidak sempat terlihat oleh dirinya sendiri, tetapi dengan penuh kesungguhan telah disampaikan oleh orang-orang yang tidak menyukainya.

    Sahabat, bagi kita yang berlumur dosa ini, haruslah senantiasa waspada terhadap pemberitahuan dari Allah yang setiap saat bisa datang dengan berbagai bentuk.

    Ketahuilah, ada tiga bentuk sikap orang yang menyampaikan kritik. Pertama, kritiknya benar dan caranya pun benar. Kedua, kritiknya benar, tetapi caranya menyakitkan. Dan ketiga, kritiknya tidak benar dan caranya pun menyakitkan.

    Bentuk kritik yang manapun datang kepada kita, semuanya menguntungkan. Sama sekali tidak menjatuhkan kemuliaan kita dihadapan siapapun, sekiranya sikap kita dalam menghadapinya penuh dengan kemuliaan sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Karena, sesungguhnya kemuliaan dan keridhaan-Nyalah yang menjadi penentu itu.

    Allah SWT berfirman, “Dan janganlah engkau berduka cita karena perkataan mereka. Sesungguhnya kekuatan itu bagi Allah semuanya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yunus [10] : 65)

    Ingatlah, walaupun bergabung jin dan manusia menghina kita, kalau Allah menghendaki kemuliaan kepada diri kita, maka tidak akan membuat diri kita menjadi jatuh ke lembah kehinaan. Apalah artinya kekuatan sang mahluk dibandingkan Khalik-nya? Manusia memang sering lupa bahwa qudrah dan iradah Allah itu berada di atas segalanya. Sehingga menjadi sombong dan takabur, seakan-akan dunia dan isinya ini berada dalam genggaman tangannya. Naudzubillaah!!!

    Padahal, Allah Azza wa Jalla telah berfirman, “Katakanlah, Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan. Engkau berikan kerajaan kepada orang Kau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Kau kehendaki. Engkau muliakan yang Kau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Kau Kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali ‘Imran [3] : 26)

    ***

    Oleh: Ahmad

     
  • erva kurniawan 4:56 am on 27 October 2013 Permalink | Balas  

    Kentang 

    kentangKentang

    Suatu ketika, ada seorang guru yang meminta murid-muridnya untuk membawa satu kantung plastik bening ke sekolah. Lalu, ia meminta setiap anak untuk memasukkan beberapa kentang di dalamnya. Setiap anak, diminta untuk memasukkan sebuah kentang, untuk setiap orang yang tak mau mereka maafkan.

    Mereka diminta untuk menuliskan nama orang itu, dan mencantumkan tanggal di dalamnya. Ada beberapa anak yang memiliki kantung yang ringan, walau banyak juga yang memiliki plastik kelebihan beban.

    Mereka diminta untuk membawa kantung bening itu siang dan malam. Kemana saja, harus mereka bawa, selama satu minggu penuh. Kantung itu, harus ada di sisi mereka kala tidur, diletakkan di meja saat belajar, dan ditenteng saat berjalan.

    Lama-kelamaan kondisi kentang itu makin tak menentu. Banyak dari kentang itu yang membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Hampir semua anak mengeluh dengan pekerjaan ini. Akhirnya, waktu satu minggu itu selesai.

    Dari semua anak, agaknya banyak yang memilih untuk membuangnya daripada menyimpannya terus menerus.

    Pekerjaan ini, setidaknya, memberikan hikmah spiritual yang besar sekali buat anak-anak. Suka-duka saat membawa-bawa kantung yang berat, akan menjelaskan pada mereka, bahwa, membawa beban itu, sesungguhnya sangat tidak menyenangkan. Memaafkan, sebenarnya, adalah pekerjaan yang lebih mudah, daripada membawa semua beban itu kemana saja kita melangkah.

    Ini adalah sebuah perumpamaan yang baik tentang harga yang harus kita bayar untuk sebuah kepahitan yang kita simpan, dan dendam yang kita genggam terus menerus. Getir, berat, dan meruapkan aroma yang tak sedap, bisa jadi, itulah nilai yang akan kita dapatkan saat memendam amarah dan kebencian.

    Sering kita berpikir, memaafkan adalah hadiah bagi orang yang kita beri maaf. Namun, kita harus kembali belajar, bahwa, pemberian itu, adalah juga hadiah buat diri kita sendiri. Hadiah, untuk sebuah kebebasan.

    Kebebasan dari rasa tertekan, rasa dendam, rasa amarah, dan kedegilan hati.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:52 am on 26 October 2013 Permalink | Balas  

    Do’a 

    doaDo’a   

    Nu’man bin Bashir ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kalian akan melihat orang beriman saling berkasih sayang satu sama lain, mencintai satu sama lain, bersahabat satu sama lain bagaikan satu tubuh. Ketika satu bagian tangan (dari tubuh) merasakan sakit, maka menyebabkan keseluruhan tubuh akan menjadi lemah dan merasa sakit” ( Misykat : 422 )

    Abu Musa ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seorang beriman dengan orang yang beriman lainnya seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain (dengan tiap batanya)”. (ibid)

    Ibnu Umar ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, maka jangan menyusahkannya dan jangan menyerahkannya (kepada musuh-musuh ketika ia di dalam kesusahan)”. (ibid)

    Amir bin Malik, ketua Bani Sulaym meminta bantuan kepada Rasulullah SAW untuk menghadapi musuh kaumnya. Rasulullah SAW menerima permohonannya dan mengirim 70 orang sahabat ra.hum. yang mereka terdiri dari para Quraa (ahli dalam bacaan Al-Qur’an). Kaum Bani Sulaym kemudian menawan para sahabat ra.hum. di sebuah tempat yang bernama Bir Ma’una dan kemudian membunuh mereka. Jibril AS memberitahukan peristiwa ini kepada Rasulullah SAW dan menyampaikan pesan terakhir dari para Quraaa tersebut, “Kabarkan kepada orang-orang bahwa kami telah berjumpa Rabb kami. Dia (Allah) ridha kepada kami dan kami ridha kepada-Nya”. Kejadian ini telah menyebabkan Rasulullah SAW mengalami kesedihan yang mendalam. Abdullah bin Mas’ud ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah membaca Qunut Nazilah selama satu bulan “mengutuk” Bani Sulaym (Bukhari 2:586)

    Berdasarkan riwayat-riwayat di atas, para Fuqaha telah menggariskan bahwa apabila Ummat ini dalam krisis mereka harus mengikuti sunnah untuk mengamalkan Qunut Nazilah dan berdo’a untuk Ummat.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:48 am on 25 October 2013 Permalink | Balas  

    Separuh Perjalanan 

    perjalananSeparuh Perjalanan

    Aku sudah menempuh kira-kira separuh perjalanan, kamu seperberapa……???

    Musa menyusuri tepian lautan, dengan satu harapan bisa menemukan orang yang disebut sebut oleh Allah lebih pandai dari dirinya.

    Dan betul, sosok Khaidir yang memberi wulangan akan makna kehidupan, tak mampu dicerna oleh Musa, biarpun dia seorang Nabi. Pertemuannya dengan Sang Khaidir mengajarkan kepadanya, bahwa banyak hikmah tersembunyi di setiap kejadian yang berlaku di pentas dunia yang ramai ini.

    Bayangkan, secara hukum dunia manapun tindakan membunuh anak kecil yang dilakukan oleh Khaidir tidak akan bisa dibenarkan, baik secara hukum pidana maupun hukum moral.

    Tetapi, Subhanallah,….. kita mesti harus tertunduk dan bersujud bila melihat hikmah yang diselipkan disebalik kejadian itu.

    Sekarang, dunia telah mengalami percepatan. Manusia telah disibukkan oleh urusan dunia yang membawanya pada percepatan. Ketika kita mencoba berhenti sejenak, taruh kata cuti, mudik pulang kampung ke Jawa misalnya, kita akan tercengang cengang dengan realita yang begitu cepat.” Oh….mbah itu sudah mati kepleset, oh……temanmu yang sering ke rumah sini juga sudah mati tabrakan. Oh….si Anu sudah punya anak lagi. Oh… Si Itu sudah pensiun dari pabrik tebu,….. dan segudang kecengangan yang kita dengar dan kita temui.

    Semestinya kita merenungi, ada apa di balik percepatan dunia ini..?

    Penghantaran waktu yang mestinya harus dititi dengan untaian perjalanan yang bermakna, karena detik per detik menjanjikan keuntungan bila kita kelola dengan baik, sepertinya hanyut dalam nuansa perlombaan, “….kamu OT nya berapa jam……..wah aku cuma 100 jam. ………..

    Tanpa disadari bahwa detik perdetik yang kita kumpulkan bila kita sebandingkan dengan rentetan angka di ATM, tak sebanding dengan harga waktu saat kita uangkan di akhirat.

    Mari kita berandai andai untuk melancong ke akhirat. Tempat pelancongan yang sudah mulai di tempuh oleh mbah mbah saya.

    Taruhlah di tempat pelancongan itu kita berpesiar 1 juta tahun, kita disuruh cari bekal di dunia 60 tahun, kalau satu hari di pelancongan kita pakai bekal satu hari di dunia, setelah 60 tahun habis bekal.

    Bila dipaksa 60 tahun dunia ini untuk keperluan 1 juta tahun dalam pelancongan, maka betapa mahalnya waktu dunia ini.

    Bila ternyata di pelancongan tidak hanya 1 juta tahun tapi “abada” atau selamanya, apa yang bisa dikatakan untuk mengganti kata mahal di dunia ini. Mungkin saking mahalnya, maka waktu di dunia ini tidak bisa di beli. begitu kira kira.

    Jadi karena tak bisa dibeli, akan kah kita telantarkan tanpa makna.

    Satu detik di dunia akan kita rasakan mahalnya ketika kita berada di pelancongan akhirat.

    Pergulatan waktu, pergulatan emosi, pergulatan kepentingan, pergulatan tangis dan tawa setiap saat berkecamuk di kehidupan kita, tetapi kita akan terkagum kagum pada Sang Pencipta ketika kita bisa memandang Hikmah yang Dia selipkan di sebaliknya. Begitu ngeglonya………………

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:38 am on 24 October 2013 Permalink | Balas  

    Kisah Pianis Muda 

    pianoKisah Pianis Muda

    Kisah ini terjadi di Rusia. Seorang ayah, yang memiliki putra yang berusia kurang lebih 5 tahun, memasukkan putranya tersebut ke sekolah musik untuk belajar piano. Ia rindu melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang terkenal. Selang beberapa waktu kemudian, di kota tersebut datang seorang pianis yang sangat terkenal. Karena ketenarannya, dalam waktu singkat tiket konser telah terjual habis. Sang ayah membeli 2 buah tiket pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya.

    Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser dimulai, kursi telah terisi penuh, sang ayah duduk dan putranya tepat berada di sampingnya. Seperti layaknya seorang anak kecil, anak ini pun tidak betah duduk diam terlalu lama, tanpa sepengetahuan ayahnya, ia menyelinap pergi. Ketika lampu gedung mulai diredupkan, sang ayah terkejut menyadari bahwa putranya tidak ada di sampingnya. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan, dan sedang berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis tersebut. Didorong oleh rasa ingin tahu, tanpa takut anak tersebut duduk di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang sederhana, twinkle2 little star.

    Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar adanya suara piano mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba-aba terlebih dahulu, dan ia langsung menyorotkan lampunya ke tengah panggung. Seluruh penonton terkejut, melihat yang berada di panggung bukan sang pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis pun terkejut, dan bergegas naik ke atas panggung. Melihat anak tersebut, sang pianis tidak menjadi marah, ia tersenyum dan berkata “Teruslah bermain”, dan sang anak yang mendapat ijin, meneruskan permainannya. Sang pianis lalu duduk, di samping anak itu, dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu, ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu, dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut. Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah, karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung. Sang anak jadi GR (Gede Rasa), pikirnya “Gila, baru belajar piano sebulan saja sudah hebat!” Ia lupa bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk di sebelahnya, mengisi semua kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.

    Apa implikasinya dalam hidup kita

    Kadang kita bangga akan segala rencana hebat yang kita buat, perbuatan-perbuatan besar yang telah berhasil kita lakukan. Tapi kita lupa, bahwa semua itu terjadi karena Allah ada di samping kita. Kita adalah anak kecil tadi, tanpa ada Allah di samping kita, semua yang kita lakukan akan sia-sia. Tapi bila Allah ada di samping kita, sesederhana apapun hal yang kita lakukan hal itu akan menjadi hebat dan baik, bukan saja buat diri kita sendiri tapi juga baik bagi orang di sekitar kita.

    Semoga kita tidak pernah lupa bahwa ada Allah di samping kita.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:17 am on 23 October 2013 Permalink | Balas  

    Jendela Rumah sakit 

    Siluet sholatJendela Rumah sakit

    Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang di antaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang ada di kamar itu.

    Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya.

    Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.

    Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela di perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya. Selama satu jam itulah, pria ke dua merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.

    “Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah.”

    Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan detil, sedangkan pria yang lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan itu. Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah.

    Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk di dekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas. Meski pria yang ke dua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah.

    Begitulah seterusnya, dari hari ke hari. Dan, satu minggu pun berlalu.

    Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu. Perawat itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatu ya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.

    Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG!!!

    Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun.

    “Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup,” kata perawat itu.

    (Source Unknown)

    ***

    Teman, saya percaya, setiap kata selalu bermakna bagi setiap orang yang mendengarnya. Setiap kata, adalah layaknya pemicu, yang mampu menelisik sisi terdalam hati manusia, dan membuat kita melakukan sesuatu. Kata-kata, akan selalu memacu dan memicu kita untuk menggerakkan setiap anggota tubuh kita, dalam berpikir, dan bertindak.

    Saya juga percaya, dalam kata-kata, tersimpan kekuatan yang sangat kuat. Dan kita telah sama-sama melihatnya dalam cerita tadi. Kekuatan kata-kata, akan selalu hadir pada kita yang percaya.

    Saya percaya, kata-kata yang santun, sopan, penuh dengan motivasi, bernilai dukungan, memberikan kontribusi positif dalam setiap langkah manusia. Ujaran-ujaran yang bersemangat, tutur kata yang membangun, selalu menghadirkan sisi terbaik dalam hidup kita. Ada hal-hal yang mempesona saat kita mampu memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Menyampaikan keburukan, sebanding dengan setengah kemuraman, namun, menyampaikan kebahagiaan akan melipatgandakan kebahagiaan itu sendiri.

    Dan akhirnya saya percaya, kita semua, saya mampu untuk melakukan itu semua. Menyampaikan setiap ujaran dengan santun, dengan sopan, akan selalu lebih baik daripada menyampaikannya dengan ketus, gerutu, atau dengan kesal. Sampaikanlah semua itu dengan bijak, dengan santun. Saya percaya kita bisa.

    Terima kasih telah membaca.

     
  • erva kurniawan 2:07 am on 22 October 2013 Permalink | Balas  

    Merawat Cinta dalam Nuansa Ibadah 

    Kisah cinta Laila MajnunMerawat Cinta dalam Nuansa Ibadah

    Banyak orang mengakui arti penting dalam rumah tangga. Banyak orang selalu mencari cara bagaimana agar pohon cinta senantiasa bersemi, tak layu dimakan usia dan tak lekang oleh problema. Banyak jalan menuju kelanggengan cinta, tapi tahukah Anda dimana kuncinya?

    Arief dan Fatimah sudah lebih dari lima tahun menikah dan memiliki empat anak yang masih kecil-kecil. Arief adalah seorang guru SD dengan penghasilan pas-pasan. Di sela kesibukannya merawat anak-anak,Fatimah membantu menambah pendapatan keluarga dengan berjualan makanan kecil. Himpitan ekonomi seringkali menjadi awal dari munculnya pertengkaran demi pertengkaran. Bagi mereka, hidup terasa begitu berat dan menyiksa. Suasana yang dominan adalah kerja keras, keluh kesah dan kekakuan. Tidak ada lagi kehangatan komunikasi, boro-boro ngomong cinta. Ada apa dengan cinta mereka?

    Ponco dan Sinta adalah pasangan eksekutif muda yang sukses. Semua yang menjadi impian orang muda mereka miliki; rumah, kendaraan, status sosial, liburan ke luar negeri. Tapi, semakin hari Ponco dan Sinta semakin merasa asing. Mereka tenggelam dalam dunianya sendiri. Memang selalu ada kecupan di pagi hari, telepon rutin saat makan siang, hadiah kejutan saat ulang tahun perkawinan atau liburan bersama di akhir tahun, tapi, mengapa aktifitas cinta mereka terasa hambar?

    Ada apa dengan cinta, apa makna dan hakikat cinta, siapa sebenarnya yang menumbuhkan cinta dan bagaimana seharusnya memupuk pohon cinta? Simak tulisan berikut-diramu berdasarkan uraian dari beberapa narasumber, pakar masalah cinta dan perkawinan untuk menjawab rasa penasaran Anda.

    Hakikat cinta

    Menurut Dra Ieda Poernomo Sigit Sidi, Psi, konsultan masalah perkawinan dan keluarga, secara psikologis cinta dapat dimaknai sebagai perasaan terhadap seseorang yang bisa mendorong munculnya keinginan untuk bahagia, menyenangkan, dan meringankan beban orang yang dicintainya. KH Rahmat Abdullah, Pimpinan Iqro, Bekasi, mengatakan, cinta menumbuhkan keinginan untuk selalu menyelamatkan, membahagiakan dan memberikan hal-hal yang bermanfaat pada orang yang dicintai. Oleh karena itu, kata Rahmat mengutip pendapat IbnU Abbas, hubungan jasadiyah sebagai muara dan puncak tumpahan segala perasaan harus diterjemahkan sebagai upaya memberi bukan merampas. “Lewat hubungan itu, orang Ingin melimpahkan bukan mengharapkan, Ingin pasangannya mendapatkan yang paling baik, paling membahagiakan. Bukan dia memuaskan diri dengan itu.”

    Lebih jauh, Rahmat mengaitkan konsep cinta dengan ketaatan pada Allah Swt. Artinya, cinta sebagai kekuatan yang dapat mendorong seseorang berkorban untuk orang yang dicintainya haruslah diletakkan dalam rangka mentaati perintah Allah, yaitu, menjaga diri dan keluarganya dari api neraka serta berbuat baik pada pasangan. Karena itu, kata Rahmat, Allah mencegah hal-hal yang dapat merusak hubungan cinta dan menganjurkan hal-hal yang dapat mengokohkannya. Misalnya, larangan saling berdiam diri dan perintah menumbuhkan iklim dialogis dan kebersamaan dalam rumah tangga. Dr. Setiawan Budi Utomo, anggota Dewan Syariah Nasional Majlis Ulama Indonesia, menyebutnya sebagai cinta karena Allah dan mencintai dijalan Allah ( al hubbu fillah wa billah ).

    Cinta memang memiliki kekuatan luar biasa dalam nenggerakkan jiwa. Menurut Rahmat, menyitir kisah salafussaleh, cinta sejati membuat pemiliknya dapat bersabar kala menderita, sanggup mensyukuri apa yang dirasakannya, berhasil mengubah derita menjadi kelezatan bahkan rela melupakan segala kepedihan kala berhadapan dengan yang dicintainya. Siapakah yang dapat menghadirkan cinta sejati dalam hati kita? Rahmat mengatakan, Allah lah yang menjadikan diantara suami istri itu rasa kasih dan sayang sebagai salah satu tanda kekuasaan-Nya. “Mawaddah warrohmah itu dari Allah, Dia yang menggerakkan hati seseorang untuk mencintai pasangannya:’ kata Setiawan. Ieda pun berpendapat serupa. Dalam pandangannya, jodoh harus dipahami sebagai ketentuan Allah (takdir). “Nggak bisa dijelaskan kenapa kita jatuh cinta pada orang itu dan tidak pada yang lain. Tuhan yang memberikan itu.”

    Berawal dari keshalehan pribadi

    Kata Ieda, perasaan cinta pada pasangan memang bersifat fluktuatif, naik turun tergantung pada kondisi interaksi suami istri dalam kehidupan sehari-hari. Jika ada hal yang mengganggu perasaan, ada hal yang menimbulkan kekecewaan, misalnya, respon yang diberikan pasangan tidak sesuai dengan yang diharapkan atau pasangan tidak merespon cinta, maka cinta dapat berubah menjadi kesal, bahkan benci.

    Jika kebencian telah mendominasi hati, maka suasana yang muncul dalam interaksi pasangan suami istri adalah kebekuan, kegersangan dan kehambaran. Bukankah kita tidak pernah mencitakan situasi seperti ini saat melangkah memasuki gerbang pernikahan. Nah, bagaimana sih merawat cinta? Benarkah tumbuh kembangnya cinta sejati pada pasangan hidup mensyaratkan wujudnya keshalehan pribadi (kekuatan ruhiyah) dalam diri mereka yang menginginkannya?

    Menjawab persoalan ini, Setiawan menunjuk ayat AI Quran yang berbunyi: “Apabila kalian mencintai Aku maka ikutilah Aku”. “Karena itu, katanya, perasaan cinta harus dibuktikan dengan komitmen perjodohan atas dasar kesolehan (agama). Artinya, pernikahan sebagai wadah penyemaian bibit cinta harus menjadikan agama sebagai pertimbangan utama dan menomorsekiankan pertimbangan lainnya. “Kalau itu tidak dijaga, maka otomatis cinta pun akan luntur.”

    Rahmat mengatakan, karena Allah yang menghadirkan cinta, Allah yang menguasai hati manusia, maka mohonlah pada-Nya agar la merawat cinta tersebut dihati kita. Lihat skenario Nabi Musa yang pelik: dicari tentara di rumah, dihanyutkan dalam peti ke sungai, sampai ke istana tapi tidak ada yg cedera dari beliau.

    Kenapa? Sebab Allah berfirman: “Aku tanamkan dalam dirimu kecintaan dari-Ku, agar engkau dibentuk dalam pengawasan mata-Ku.” Setiap orang yg melihat Nabi Musa akan tertarik, jatuh hati. Jika Allah mencintai hamba-Nya maka la tidak akan diam. “Jibril Aku mencintai si Fulan di bumi, maka kamu harus mencintainya.” Dan Jibril pun mengajak malaikat langit untuk mencintai fulan.

    Betapa tingginya cinta yang berasal dari Allah, sehingga saat salah satu pihak berkurang, usaha untuk mencintai tetap jalan.Menurut pendapat Setiawan, ini menunjukkan bahwa ada kolerasi positif antara hubungan ritual seseorang dengan Allah yang menghasilkan kekuatan ruhiyah dan hubungannya dengan kekasihnya (pasangannya,red). “Semakin dekat seseorang pada Allah, semakin ia memiliki kekuatan untuk mencintai pasangannya, begitupun sebaliknya, Jika hubungan seseorang dengan Allah buruk, maka ia akan menemui hal yang tidak menyenangkan pada perilaku pasangannya,” kata konsultan syariah di Bank Indonesia ini.

    Ciri kekuatan ruhiyah

    Kekuatan ruhiyah memiliki kemampuan yang tinggi dalam merawat cinta dan mempertahankan komitmen pernikahan, apa saja ciri-cirinya? Ciri-ciri orang yang memiliki kekuatan ruhiyah, menurut Setiawan, antara lain mampu mengendalikan emosi, melakukan banyak ibadah ritual pada Allah, kedekatan pada Allah yang tampak dari aktifitas keseharian, lebih sensitif dan empati pada penderitaan orang lain.

    Sedangkan secara psikologis, kata Ieda, seseorang yang mengenal dirinya, bertanggung jawab atas dirinya sendiri, memikirkan orang lain, dan mampu bertanggung jawab atas orang lain, adalah orang yang memiliki kematangan pribadi. Selain itu, ia bisa menampung aspirasi orang lain, bisa beradaptasi, luwes dalam bersikap dan bisa menghargai pendapat orang lain sekali pun berbeda dengan pendapatnya. “Dia juga bisa menata emosinya, dia tahu kapan dia harus bicara, kepada siapa, seberapa jauh, jadi dia menjaga interaksi lingkungan dengan baik.”

    Rahmat Abdullah menyebutkan ciri-ciri kekuatan ruhiyah bukan sekedar yang diaplikasikan pada fenomena ibadah zhahir semisal dzikir, tilawah dan tahajud tapi benar-benar ibadah yang menjadi malakah (capa-bility) jiwa. “Gerak dzikirnya bukan hanya lidah, tetapi gerak hati yang menyatu dengan jasad. Kekuatan dzikir bisa menopang batin, sebaliknya jiwa yang matang bisa mendorong lahirnya bekerja.”

    Bertanggungjawab dan lebih tenang

    Dengan keshalehan dan kesabaran, kata Setiawan, seseorang akan lebih tenang dalam menghadapi konflik atau terpaan masalah. Perbedaan perspektifkah, pertengkarankah atau yang lainnya akan dijadikan sebagai bumbu-bumbu yang menambah erat hubungan suami istri. “Konflik yang terjadi tidak dimasukkan ke dalam hati sehingga bisa membakar hati. Berbeda jika terjadi pada orang yang tidak soleh dan tidak sabar, konflik akan ditumpuk menjadi endapan, seperti bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak.”

    Dengan kata lain, Ieda mengatakan jika seseorang memiliki kekuatan ruhiyah, kestabilan jiwa, maka ia akan mencintai pasangannya dengan kesadaran penuh terhadap tanggungjawab. Menurut Ieda, tuntutan pertangunganjawaban di hadapan Allah membuat mereka tetap berusaha merawat cintanya agar makin besar dan kuat, apa pun masalah yang dihadapi. “Langkah mereka dilandasi keinginan beribadah, mengikuti sunah Rasul, mendidik anak-anak sebagai amanah Allah, sehingga tidak berpikir macam-macam. Yang penting bagaimana menyenangkan suami atau istri.”

    Praktik Ibadah untuk Cinta

    Rahmat mengatakan bahwa praktik ibadah yang dilakukan secara bersama dapat menjadi sarana perawat ibadah yang ampuh. Misalnya, shalat malam berjamaah. Kata Rahmat mengutip hadits Nabi, Allah merahmati seorang istri yang membangunkan suaminya untuk shalat malam, jika tidak mau ia akan memercikkan air hingga terbangun, atau sebaliknya. Bahkan, kata Setiawan, Rasulullah setiap malam mengajak keluarganya shalat malam, bukan hanya istrinya tetapi juga cucunya. “Ibarat kalau kita ingin berlayar, harus menjadikan seluruh anggota kapal sepaham, bukan hanya sebagian.”

    Pada bagian lain, Rahmat mengisahkan, bahwa jika datang ke rumah Aisyah, Rasulullah akan bertanya, apakah ada makanan hari ini? Aisyah menjawab tidak ada. Maka Rasul berkata, “Ya sudah, tidak apa-apa. Saya berpuasa saja hari ini.”Ini kan suatu yg mengagumkan buat istrinya. Begitu hebatnya ruhaniah beliau.”

    Senada dengan pendapat Rahmat dan Setiawan, ,Ieda mengatakan bahwa praktik ibadah ritual yang mengantarkan pada hakikat ibadah akan mempengaruhi perilaku seseorang, mempengaruhi kecerdasan emosionalnya, termasuk kemampuannya dalam menata emosi, beradaptasi dan berinteraksi dengan pasangan. “Kematangan spiritual bisa membantu tercapainya kematangan pribadi. Kan orang yang spiritualnya tinggi, jadi bagus. Dia bisa menata perilakunya.”

    Idealnya, rumah tangga dipertahankan dengan cinta hingga akhir. Bagaimana jika tak ada lagi cinta? Menurut Setiawan, rumah tangga dapat bertahan tanpa cinta, sepanjang masih ada komitmen, misi dan visi pernikahan, juga tekad dan kemauan. Katanya, orang sering mencampuradukkan hubungan suami istri itu dengan cinta, padahal ini berbeda. Jika sudah tak ada cinta, kekuatan ruhiyah seseorang tetap dapat melahirkan rasa tanggungjawab, terhadap anak-anak, terhadap masa depan mereka, untuk mempertahankan rumahtangga.

    Kata Rahmat, kehidupan rumah tangga tidak hanya soal romantis, tapi ada tanggungjawab. Suatu hari ada orang yang mengadu pada Khalifah Umar bahwa ia sudah tidak mencintai mencintai istrinya. Umar berkata, apakah setiap rumah tangga harus dibangun di atas cinta? Usahakanlah untuk menanam benih cinta, suatu saat kamu akan menemukan. Berkata Rahmat, “Kalau mau ingin dapet cinta. Tanam benihnya. Paksakan diri. Buat laki2 bersifat baik, melindungi. Buat perempuan taat kepada Allah, taat pada suami, menjaga diri.”

    Terawat hingga kiamat

    Menurut Setiawan, dalam ayat lain dijelaskan bahwa pada hari kiamat nanti orang-orang yang dekat (termasuk suami istri, red) akan menjadi musuh satu sama lain, kecuali orang yang bertaqwa. Itu menunjukkan bahwa ikatan ketaqwaan itulah yang akan memastikan erat tidaknya, dekat tidaknya hubungan seseorang dengan pasangannya. Kenapa? Karena itulah ikatan yang abadi, itulah yang akan konsisten dan tetap eksis, bahkan hingga hari akhir. “Wajah cantik bisa luntur karena sifatnya temporer.” Jadi, merawat cinta dengan ikatan ruhiyah, ikatan spiritual membuat cinta awet terawat hingga hari kiamat. Tidakkah kita ingin tetap dipersatukan dengan pasangan kita di surga kelak?

    ***

    Oleh: Dwi septiawati Djafat; Laporan Dina, Maria, Vieny

     
  • erva kurniawan 4:57 am on 21 October 2013 Permalink | Balas  

    Indahnya Cinta 

    cintaIndahnya Cinta

    Cinta adalah bagian dari fitrah, orang yang kehilangan cinta dia tidak normal tetapi banyak juga orang yang menderita karena cinta. Bersyukurlah orang-orang yang diberi cinta dan bisa menyikapi rasa cinta dengan tepat.

    Hikam: “Dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah tempat kembali yang baik.” (Al-Qur`an: Al-Imron ayat 14)

    Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

    Cinta memang sudah ada didalam diri kita, diantaranya terhadap lawan jenis. Tapi kalau tidak hati-hati cinta bisa menulikan dan membutakan kita.

    Cinta yang paling tinggi adalah cinta karena Allah cirinya adalah orang yang tidak memaksakan kehendaknya. Tapi ada juga cinta yang menjadi cobaan buat kita yaitu cinta yang lebih cenderung kepada maksiat. Cinta yang semakin bergelora hawa nafsu, makin berkurang rasa malu. Dan, inilah yang paling berbahaya dari cinta yang tidak terkendali.

    Islam tidak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta tapi mengarahkan cinta tetap pada rel yang menjaga martabat kehormatan, baik wanita maupun laki-laki. Kalau kita jatuh cinta harus hati-hati karena seperti minum air laut semakin diminum semakin haus. Cinta yang sejati adalah cinta yang setelah akad nikah, selebihnya adalah cobaan dan fitnah saja.

    Cara untuk bisa mengendalikan rasa cinta adalah jaga pandangan, jangan berkhalwat berdua-duaan, jangan dekati zina dalam bentuk apapun dan jangan saling bersentuhan.

    Bagi orang tua yang membolehkan anaknya berpacaran, harus siap-siap menanggung resiko. Marilah kita mengalihkan rasa cinta kita kepada Allah dengan memperbanyak sholawat, dzikir, istighfar dan sholat sehingga kita tidak diperdaya oleh nafsu, karena nafsu yang akan memperdayakan kita. Sepertinya cinta padahal nafsu belaka.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:13 am on 20 October 2013 Permalink | Balas  

    Kurma Mencegah Serangan Stroke..! 

    kurma001Kurma Mencegah Serangan Stroke..!

    Kandungan kalorinya yang tinggi dan mudah dicerna oleh tubuh memang cocok kalau dikonsumsi saat berbuka puasa. Namun, ada khasiat yang lebih istimewa: kurma bisa menurunkan risiko serangan stroke berkat tingginya kalium yang dikandungnya.

    Buah-buahan dikenal sebagai sumber utama vitamin, terutama vitamin C dan mineral. Sudah begitu, kandungan energi atau kalorinya pun rendah, sebab lemak yang dikandungnya juga rendah. Namun, ada pengecualian, misalnya kurma.

    Kandungan lemak pada kurma juga bisa diabaikan. Namun, karbohidratnya yang tinggi membuat buah ini bisa menyediakan energi yang tinggi pula. Malah paling tinggi diantara keluarga besar buah-buahan. Keunggulan lainnya, kurma mengandung zat gizi penting bagi fungsi tubuh, terutama jantung dan pembuluh darah, yaitu kalium. Fungsi mineral ini membuat denyut jantung makin teratur, mengaktifkan kontraksi otot, serta membantu mengatur tekanan darah.

    Itulah sebabnya kurma menjadi istimewa. Apalagi, beberapa penelitian membuktikan, makanan tinggi kalium bisa menurunkan risiko serangan stroke.

    Cukup Lima Butir Sehari..!

    Dari penelitian terhadap pola makan yang dilakukan terhadap 859 orang pria dan wanita berusia di atas 50 tahun di Kalifornia Utara, AS, diketahui, perbedaan kecil konsentrasi kalium pada pola makan bisa memprediksi mereka yang diperkirakan berpeluang meninggal akibat stroke 12 tahun kemudian. Tak ada seorang pun yang asupan kaliumnya paling tinggi (lebih dari 3.500 mg setiap hari) meninggal akibat stroke.

    Sebaliknya, orang yang secara teratur mengonsumsi kalium paling rendah (kurang dari 1.950 mg setiap hari) mempunyai risiko stroke fatal jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Di antara mereka yang konsumsi kaliumnya paling rendah, harapan meninggal akibat stroke 2,6 kali pada pria dan 4,8 kali pada wanita.

    Makin banyak makanan kaya kalium yang dikonsumsi biasanya makin kecil kemungkinan orang menderita stroke. Para peneliti menyimpulkan dengan hanya makan satu porsi ekstra makanan kaya kalium (minimal 400 mg setiap hari) risiko fatal bisa diturunkan sampai 40%. Batas krisis 400 mg kalium itu mudah sekali Anda penuhi dengan makan kurma kering sekitar 65 g saja, atau setara dengan lima butir kurma.

    Makanan tinggi kalium, menurut Dr. Louis Tobian, Jr., pakar penyakit darah tinggi dari Minnesota University AS, juga bisa membantu menurunkan tekanan darah serta bisa memberi kekuatan tambahan dalam mencegah stroke secara langsung, bagaimana pun kondisi tekanan darah seseorang.

    Untuk membuktikan hal itu, Dr. Tobian melakukan eksperimen pada dua kelompok tikus yang terserang hipertensi. Satu kelompok tikus diberi diet tinggi kalium dan kelompok lain diet kalium normal. Hasilnya luar biasa. Diantara kelompok tikus yang mendapat asupan kalium tinggi, tak satu pun mengalami perdarahan otak. Sementara 40% pada kelompok tikus yang mendapat kalium normal menderita stroke ringan yang dibuktikan dengan adanya perdarahan otak.

    Dari hasil penelitian itu, Dr Tobian menarik kesimpulan, konsumsi ekstra kalium bisa menjaga dinding arteri tetap elastis dan berfungsi normal. Keadaan ini membuat pembuluh darah tidak mudah rusak akibat tekanan darah.

    Jadi jelas, kurma yang secara tradisional disuguhka sebagai salah satu hidangan untuk berbuka puasa di Bulan Ramadhan, bukan makanan pembuka yang biasa. Diam-diam ia menyimpan senjata potensial antistroke dan antiserangan jantung. Meski demikian, untuk memastikan dampak positif kurma, aagknya masih perlu dibuktikan lebih lanjut melalui penelitian.

    Memiliki Aktivitas Seperti Aspirin

    Selain kalium yang berguna bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah, kurma juga mengandung salisilat. Zat ini, dikenal sebagai bahan baku aspirin, obat pengurang atau penghilang rasa sakit dan demam.

    Salisilat bersifat mencegah pembukan darah, antiinflamasi, dan berdampak melenyapkan rasa nyeri. Kecuali itu, menurut Nurfi Afriansyah, staf peneliti KIE Gizi Puslitbang Gizi Bogor, seperti dikutip Ayahbunda, salisilat juga bisa mempengaruhi prostaglandin (kelompok asam lemak hidroksida yang merangsang kontraksi otot polos, menurunkan tekanan darah).

    Sementara itu, Jean Carper lewat bukunya Food,Your Miracle Medicine menyatakan kurma mempunyai aktivitas seperti aspirin. Kurma kering , katanya, sangat tinggi kandungan salisilat alias aspirin alaminya. Buah ceri, prune dan kismis kering yang juga kaya akan kalium ikut beruntung karena mereka juga mengandung salisilat.

    Orang yang peka dengan aspirin, kalau menyantap makanan mengandung salisilat, akan bereaksi mirip dengan orang minum aspirin. Karena itu, pakar kesehatan yang mendalami alergi biasanya akan mewanti-wanti mereka yang peka terhadap aspirin supaya menjauhi makanan mengandung salisilat, termasuk kurma.

    Di lain pihak, para pakar tergugah rasa ingin tahunya terhadap perkembangan bahwa salisilat pada makanan bisa memberikan prestasi yang sama dengan minum aspirin. Memang, ada studi yang membuktikan, aspirin reguler dosis rendah (kurang atau separuh dosis yang biasa diminum per hari) sanggup membantu mencegah serangan jantung atau stroke.

    Berdasarkan hal itu, para pakar mengharapkan, dosis rendah salisilat dalam makanan yang dikonsumsi secara kontinyu bisa juga meredakan sakit kepala.

    Komposisi Gizi

    Buah kurma bisa disantap langsung, dalam keadaan kering atau segar. Disamping itu, juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai hidangan seperti aneka produk roti, permen, es krim, selada dan sirup.

    Di negeri Arab kurma bahkan mendapat tempat yang cukup baik di masyarakat. Buah berbentuk silinder dengan biji beralur tunggal ini biasanya dikonsumsi bersama hasil olahan susu.

    Nilai gizi utama yang diandalkan memang kandungan karbohidrat sederhananya, alias gulanya, yang tinggi. Kandungan karbohidratnya berkisar dari sekitar 60% pada kurma lembek (yang dipanen sewaktu masih lembek dan mentah) hingga sekitar 70% pada kurma kering (yang mengering di pohon, terjemur matahari)

    Kebanyakan varietas kurma mengandung gula glukosa (jenis gula yang ada dalam darah) atau fruktosa (jenis gula yang terdapat dalam sebagian besar buah-buahan). Namun, satu varietasnya yang bernama Deglet Noor yang tumbuh di Kalifornia hanya mengandung gula sukrosa (dikenal juga sebagai gula pasir).

    Menurut dr. Anwar El Mufti dari Mesir, seperti dikutip harian “Buana Minggu”, kurma mengandung zat gula 70%. Sebagian besar zat gula yang terdapat di dalamnya sudah diolah secara alami dan tidak berbahaya bagi kesehatan. Seperti halnya gula pada buah-buahan yang dinamai fruktosa, zat ini mudah dicerna dan mudah dibakar oleh tubuh. Dengan demikian akan menghasilkan tenaga yang tinggi, tanpa mempersulit tubuh untuk mnegolah, mencerna, dan menjadikannya sebagai gizi yang baik. Itu sebabnya mengapa kurma dianggap sebagai buah yang ideal untuk hidangan berbuka puasa ataupun sahur.

    Segelas air yang mengandung glukosa, menurut Dr. David Conning, direktur jenderal British Nutrition Foundation, seperti dikutip Panasea, akan diserap tubuh dalam 20-30 menit, tetapi gula yang terkandung dalam kurma baru habis terserap dalam tempo 45-60 menit. Makanya, orang yang makan cukup banyak kurma pada waktu sahur akan menjadi segar dan tahan lapar, sebab bahan pangan ini juga kaya akan serat.

    Keunggulan kurma lainnya mengandung berbagai vitamin penting, seperti vitamin A, tiamin, dan riboflavin dalam jumlah yang bisa diandalkan, serta niasin dan kalium dalam jumlah yang sangat andal. Selain itu, buah ini ternyata juga memuat berbagai zat gizi lain seperti zat besi, vitaminB, asam nikotinat serta serat (bukan zat gizi) dalam jumlah memadai.

    Dalam setiap 100 g kurma kering terkandung vitamin A 50 IU, tiamin 0,09 mg, riboflavin 0,10 mg, niasin 2,20 mg, serta kalium 666 mg. Zat-zat gizi itu berfungsi membantu melepaskan energi, menjaga kulit dan saraf agar tetap sehat serta penting untuk fungsi jantung.

    Riboflavin dan niasin. Misalnya, akan membantu melepaskan energi dari makanan, sementara tiamin membantu melepaskan energi dari karbohidrat. Vitamin A dan niasin memainkan peranan dalam membentuk dan memelihara kulit yang sehat. Tiamin penting bagi sel-sel saraf, sementara niasin menjaga fungsi normal saraf.

    Kurma juga mengandung banyak mineral penting , seperti magnesium, potasium dan kalsium. Mineral-mineral itu sangat diperlukan oleh tubuh. Serat yang terdapat dalam kurmaberfungsi melunakkan usus dan mengaktifkannya, yang secara alami bisa mempermudah buang air besar. Dalam kurma juga terdapat semacam hormon (potuchsin) yang bisa menciutkan pembuluh darah dalam rahim, sehingga bisa mencegah perdarahan rahim. Selamat berpuasa……

    Wassalamualaikum.wr.wb.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:16 am on 19 October 2013 Permalink | Balas  

    Hari terakhir Rasulullah 

    HaMuhammad SAWri terakhir Rasulullah, sebuah renungan

    Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya.

    Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.”

    Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan  penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,”keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya didunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu ru mah Rasulullah masih tertutup. Sedang didalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

    Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

    Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.  “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrai l melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-oran g lemah di antaramu.” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi.

    Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:00 am on 18 October 2013 Permalink | Balas  

    Renungan Jum’at : Menghargai Umur 

    kuburanRenungan Jum’at : Menghargai Umur

    Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan yang menciptakan manusia dari tanah kemudian dari air mani dan yang telah menetapkan umur manusia dalam lauh Mahfuzh, maka sedikitpun tidak bisa dikurangi atau ditambah. Ia menjadikan mati dan hidup sebagai ujian supaya diketahui siapa di antara manusia yang paling baik amalnya.

    Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, begitu juga kepada para shahabat, tabi’in dan para pengikut jejak beliau yang setia sampai hari akhir.

    Kaum muslimin yang dirahmati Allah. Tidak ada yang lebih berharga dalam kehidupan ini baik itu dunia serta isinya bila dibanding dengan taqwa, karena hanya taqwa saja yang menjadikan hidup manusia berarti. Oleh sebab itu, marilah kita tingkatkan taqwa kita dengan memperbanyak amal shaleh agar umur yang dikaruniakan Allah kepada kita lebih bermanfaat dan berharga.

    Kaum muslimin yang berbahagia. Suatu hari, di bawah terik matahari yang menyengat, dengan keringat mengalir deras, seorang ibu bergegas menuju rumah sakit. Betapa hancur perasaannya ketika ia mengetahui hasil pemeriksaan tiga anaknya yang dinyatakan positif mengidap virus HIV. Virus dari penyakit laknat yang banyak menyerang penduduk dunia akibat dari pergaulan bebas dan budaya jahili yang bertentangan dengan aturan Allah. Betapa hati sang ibu pilu menahan sedih tak mampu berbuat apa-apa melihat anak-anaknya yang tak berdaya pelan tapi pasti bayangan maut sudah menyeringai di depan mata. Pelan tapi pasti, detik-detik dari sisa umurnya mereka lalui dengan kepasrahan, ketundukan dan taqarrub kepada Allah, mereka lebih khusyuk dari orang lain, mereka lebih takut dari orang-orang di sekitarnya. Pelan tapi pasti maut telah menanti dengan taringnya yang menakutkan.

    Kaum muslimin yang berbahagia. Apakah kita tidak sadar kalau maut itu selalu mengintai kita setiap saat? Maut tidak pernah pilih kasih kepada siapa saja ia mesti datang. Tidak peduli ia sehat atau sakit, tidak peduli ia seorang anak, pemuda atau orang tua, kalau sudah datang ajalnya, pasti maut akan menjemput tanpa permisi lagi. Karena itulah, mari kita jadikan sisa umur kita lebih berarti. Kita jadikan sisa nafas kita ini bermanfaat bagi akhirat kita. Kita bersyukur kepada Allah, karena sampai saat ini kita masih diberikan nikmat umur, kita sangat berterima-kasih kepada Allah karena sampai detik ini kita masih bisa menghirup udara kehidupan. Sehingga untuk mengungkapkan rasa gembira dan syukur sering diwujudkan dengan pesta ulang tahun. Namun pernahkah kita berfikir berapa persenkah dari umur kita yang bernilai dan berharga? Pernahkah kita merenung berapa persen dari usia kita yang telah kita siapkan untuk akhirat kita? Maka seorang muslim akan kembali menengok kepada tujuan asasi diciptakannya manusia. Ia akan menuju kepada orientasi hidup sebenarnya yaitu ibadah kepada Allah yang artinya :

    “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

    Maka jelaslah, umur kita yang sebenarnya adalah: detik-detik yang kita gunakan bersujud kepada Allah, umur kita yang paling berharga adalah saat-saat yang kita habiskan di medan jihad. Umur kita yang paling bernilai adalah saat-saat bersama Al-Qur’an, saat-saat bersama majlis-majlis zikir dan ilmu. Oleh sebab itu, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri berapa persenkah umur kita yang berharga? Berapa persenkah dari umur kita yang kita siapkan untuk ibadah? Sebab banyak orang yang berumur panjang namun umurnya tidak berharga sama sekali. Hidup mereka hanya untuk makan dan memuaskan hawa nafsunya. Hidup mereka hanya untuk berfoya-foya, hidup mereka hanya untuk dunia. Akhirnya kelak di hari kiamat tiada yang tinggal pada mereka kecuali penyesalan dan kerugian, seperti yang digambarkan oleh Al-Quran surat Fathir ayat 37:

    “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang shaleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apakah Kami tidak memanjangkan umur kalian dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kalian pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolongpun.”

    Kaum muslimin yang dirahmati Allah. Seorang mu’min tidaklah patut tertipu dengan usianya yang masih muda atau terlena dengan kenikmatan yang diberikan oleh Allah. Sehingga ia mengulur-ulur waktu atau bahkan lupa untuk beribadah. Karena walau bagaimanapun panjang umurnya, namun yang akan bermanfaat di akherat adalah masa-masa yang ia gunakan untuk beribadah kepada Allah. Sedang yang lainnya akan hilang seperti debu di atas bacu licin yang tersiram hujan hilang tak berbekas. Akhirnya marilah kita renungi firman Allah yang artinya :

    “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan saling menasehati dengan kebaikan dan saling menasehati dengan kesabaran.” (Q.S. Al-Ashr:1-3).

    Kaum muslimin yang berbahagia. Kita sebagai orang yang beriman tidak patut lalai dari beribadah kepada Allah sebelum kita dijemput oleh maut yang selalu mengintai setiap saat, karena hanya dengan ibadah itu saja hidup kita ini bisa bernilai, dan bisa menyelamatkan kita pada hari kiamat.

    Umur panjang belum tentu lebih baik dari umur pendek. Tapi sebaik-baik umur adalah umur yang panjang digunakan untuk beramal shaleh yang banyak. Dan sejelek-jelek umur adalah yang pendek dan semuanya digunakan untuk kejelelekan.

    Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman

    Wassalam

    ***

    Oleh: Seno

    Normal
    0

    false
    false
    false

    IN
    X-NONE
    X-NONE

    MicrosoftInternetExplorer4

    Renungan Jum’at : Menghargai Umur

    Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan yang menciptakan manusia dari tanah kemudian dari air mani dan yang telah menetapkan umur manusia dalam lauh Mahfuzh, maka sedikitpun tidak bisa dikurangi atau ditambah. Ia menjadikan mati dan hidup sebagai ujian supaya diketahui siapa di antara manusia yang paling baik amalnya.

    Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, begitu juga kepada para shahabat, tabi’in dan para pengikut jejak beliau yang setia sampai hari akhir.

    Kaum muslimin yang dirahmati Allah. Tidak ada yang lebih berharga dalam kehidupan ini baik itu dunia serta isinya bila dibanding dengan taqwa, karena hanya taqwa saja yang menjadikan hidup manusia berarti. Oleh sebab itu, marilah kita tingkatkan taqwa kita dengan memperbanyak amal shaleh agar umur yang dikaruniakan Allah kepada kita lebih bermanfaat dan berharga.

    Kaum muslimin yang berbahagia. Suatu hari, di bawah terik matahari yang menyengat, dengan keringat mengalir deras, seorang ibu bergegas menuju rumah sakit. Betapa hancur perasaannya ketika ia mengetahui hasil pemeriksaan tiga anaknya yang dinyatakan positif mengidap virus HIV. Virus dari penyakit laknat yang banyak menyerang penduduk dunia akibat dari pergaulan bebas dan budaya jahili yang bertentangan dengan aturan Allah. Betapa hati sang ibu pilu menahan sedih tak mampu berbuat apa-apa melihat anak-anaknya yang tak berdaya pelan tapi pasti bayangan maut sudah menyeringai di depan mata. Pelan tapi pasti, detik-detik dari sisa umurnya mereka lalui dengan kepasrahan, ketundukan dan taqarrub kepada Allah, mereka lebih khusyuk dari orang lain, mereka lebih takut dari orang-orang di sekitarnya. Pelan tapi pasti maut telah menanti dengan taringnya yang menakutkan.

    Kaum muslimin yang berbahagia. Apakah kita tidak sadar kalau maut itu selalu mengintai kita setiap saat? Maut tidak pernah pilih kasih kepada siapa saja ia mesti datang. Tidak peduli ia sehat atau sakit, tidak peduli ia seorang anak, pemuda atau orang tua, kalau sudah datang ajalnya, pasti maut akan menjemput tanpa permisi lagi. Karena itulah, mari kita jadikan sisa umur kita lebih berarti. Kita jadikan sisa nafas kita ini bermanfaat bagi akhirat kita. Kita bersyukur kepada Allah, karena sampai saat ini kita masih diberikan nikmat umur, kita sangat berterima-kasih kepada Allah karena sampai detik ini kita masih bisa menghirup udara kehidupan. Sehingga untuk mengungkapkan rasa gembira dan syukur sering diwujudkan dengan pesta ulang tahun. Namun pernahkah kita berfikir berapa persenkah dari umur kita yang bernilai dan berharga? Pernahkah kita merenung berapa persen dari usia kita yang telah kita siapkan untuk akhirat kita? Maka seorang muslim akan kembali menengok kepada tujuan asasi diciptakannya manusia. Ia akan menuju kepada orientasi hidup sebenarnya yaitu ibadah kepada Allah yang artinya :

    “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

    Maka jelaslah, umur kita yang sebenarnya adalah: detik-detik yang kita gunakan bersujud kepada Allah, umur kita yang paling berharga adalah saat-saat yang kita habiskan di medan jihad. Umur kita yang paling bernilai adalah saat-saat bersama Al-Qur’an, saat-saat bersama majlis-majlis zikir dan ilmu. Oleh sebab itu, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri berapa persenkah umur kita yang berharga? Berapa persenkah dari umur kita yang kita siapkan untuk ibadah? Sebab banyak orang yang berumur panjang namun umurnya tidak berharga sama sekali. Hidup mereka hanya untuk makan dan memuaskan hawa nafsunya. Hidup mereka hanya untuk berfoya-foya, hidup mereka hanya untuk dunia. Akhirnya kelak di hari kiamat tiada yang tinggal pada mereka kecuali penyesalan dan kerugian, seperti yang digambarkan oleh Al-Quran surat Fathir ayat 37:

    “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang shaleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apakah Kami tidak memanjangkan umur kalian dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kalian pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolongpun.”

    Kaum muslimin yang dirahmati Allah. Seorang mu’min tidaklah patut tertipu dengan usianya yang masih muda atau terlena dengan kenikmatan yang diberikan oleh Allah. Sehingga ia mengulur-ulur waktu atau bahkan lupa untuk beribadah. Karena walau bagaimanapun panjang umurnya, namun yang akan bermanfaat di akherat adalah masa-masa yang ia gunakan untuk beribadah kepada Allah. Sedang yang lainnya akan hilang seperti debu di atas bacu licin yang tersiram hujan hilang tak berbekas. Akhirnya marilah kita renungi firman Allah yang artinya :

    “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan saling menasehati dengan kebaikan dan saling menasehati dengan kesabaran.” (Q.S. Al-Ashr:1-3).

    Kaum muslimin yang berbahagia. Kita sebagai orang yang beriman tidak patut lalai dari beribadah kepada Allah sebelum kita dijemput oleh maut yang selalu mengintai setiap saat, karena hanya dengan ibadah itu saja hidup kita ini bisa bernilai, dan bisa menyelamatkan kita pada hari kiamat.

    Umur panjang belum tentu lebih baik dari umur pendek. Tapi sebaik-baik umur adalah umur yang panjang digunakan untuk beramal shaleh yang banyak. Dan sejelek-jelek umur adalah yang pendek dan semuanya digunakan untuk kejelelekan.

    Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman

    Wassalam

    ***

    Oleh: Seno

    /* Style Definitions */
    table.MsoNormalTable
    {mso-style-name:”Table Normal”;
    mso-tstyle-rowband-size:0;
    mso-tstyle-colband-size:0;
    mso-style-noshow:yes;
    mso-style-priority:99;
    mso-style-qformat:yes;
    mso-style-parent:””;
    mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
    mso-para-margin-top:0cm;
    mso-para-margin-right:0cm;
    mso-para-margin-bottom:10.0pt;
    mso-para-margin-left:0cm;
    line-height:115%;
    mso-pagination:widow-orphan;
    font-size:11.0pt;
    font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
    mso-ascii-font-family:Calibri;
    mso-ascii-theme-font:minor-latin;
    mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
    mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
    mso-hansi-font-family:Calibri;
    mso-hansi-theme-font:minor-latin;
    mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
    mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

     
  • erva kurniawan 3:53 am on 17 October 2013 Permalink | Balas  

    Seperti Malaikat 

    siluet ontaSeperti Malaikat

    Innallaaha ma ‘anaa … Rasulullah menenangkan sahabatnya, Abu Bakar Shiddik yang ketakutan saat bersembunyi dari kejaran pasukan kafir yang hendak membunuh mereka, di gua Tsur. Saat itu mereka tengah dalam perjalanan hijrah menuju Kota Madinah. Rasulullah yakin, Allah segera menurunkan para malaikat untuk melindungi dan menyelamatkan mereka. Dan keyakinan itu terbukti, seperti dikisahkan bahwa ada seekor laba-laba yang membuat sarangnya menutupi mulut gua segera setelah kedua hamba Allah itu masuk gua. Tindakan laba-laba itu tentulah dapat mengelabui orang-orang yang mengejar Rasulullah, sehingga mereka berpikir, mustahil Rasulullah masuk ke dalam gua tanpa merusak sarang laba-laba.

    Di Thaif, Jibril seolah ‘marah’ melihat kekasih Allah, Muhammad Saw dihina, dicaci, diejek sebagai penipu, diludahi bahkan disakiti dengan lemparan batu saat menerangkan ajaran Islam kepada kaum di tempat itu. ‘Kemarahan’ malaikat pendamping setia Rasulullah itu ditunjukkan dengan tawarannya untuk membalikkan gunung-gunung di sekitar Thaif untuk membinasakan kaum yang menindas Rasul dan para sahabat itu.

    Dalam perang Badar, tiga ratus pasukan mukminin mampu memukul mundur pasukan kafir Quraisy yang jumlahnya sangat tidak sebanding, yakni tiga kali lebih banyak dari pasukan yang dipimpin Rasul. Rasulullah dan para sahabat yang bersyukur merayakan kemenangan itu merasa yakin, Allah dan para malaikat-Nya lah yang ‘turun tangan’ membantu mengalahkan musuh, disamping semangat tinggi, keberanian yang tak diragukan serta kehebatan berperang para pasukannya.

    Masih banyak kisah-kisah yang bisa kita hadirkan untuk membuktikan betapa Allah sangat peduli dengan mengirimkan para malaikat untuk membantu kaum mukminin dalam segala hal. Seperti yang dibuktikan para pejuang mujahidin Afghanistan saat berperang melawan pasukan Rusia. Secara logika, adalah mustahil kesederhanaan persenjataan dan keterbatasan amunisi yang dimiliki pejuang Afghan mengalahkan kehebatan senjata otomatis dan modern miliki pasukan Rusia. Belum lagi ditambah dengan kendaraan lapis baja serta serangan udara yang mematikan dari Rusia. Sebuah buku kecil yang terbit sekitar akhir tahun 1980-an yang ditulis oleh Dr. Abdullah Azzam, Ayaaturrohman fii Jihadil Afghan, banyak mengisahkan pertolongan-pertolongan Allah dengan menurunkan malaikat-malaikat-Nya untuk membantu perjuangan mujahidin Afghan.

    Kini, sebagian orang memudar keyakinannya akan datangnya pertolongan Allah seperti yang pernah dialami kaum mukminin sebelumnya. Bahkan tidak sedikit yang berpikir, malaikat-malaikat Allah itu hanya turun pada saat Rasulullah masih ada. Padahal seharusnya kita meyakini bahwa Allah tetap menurunkan para malaikat-Nya guna membantu hamba-hamba-Nya yang beriman, para abdi Allah yang komitmen pada agamanya, dan mereka yang tak selangkahpun mundur atau keluar dari jalan perjuangan menegakkan, membela agama Allah.

    Dalam banyak kesempatan, saat kesedihan melanda, datang seseorang saudara yang dengan caranya sendiri mencoba membuat kita tersenyum, sekaligus mengajarkan kita agar senantiasa kuat menerima segala bentuk cobaan. Saat kesulitan datang, ada saudara lain memberikan jalan keluar sehingga kita tak gelap mata dan dengan mudah menyelesaikan setiap persoalan yang terasa begitu rumit untuk dipecahkan. Saudara-saudaranya yang menghibur dikala sedih, menunjukkan jalan keluar dari kesesatan, mereka bukanlah malaikat. Tetapi apa yang dilakukannya seperti malaikat yang dihadirkan Allah bagi orang-orang yang memerlukannya.

    Mereka yang lebih kuat ketika mengangkat orang-orang yang lemah sehingga dapat ‘terbang’ bersama, para dermawan yang menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim piatu, orang yang memberikan pertolongan saat terjadi musibah, bencana alam, atau orang-orang yang sekedar menyapa lembut menyentuh hati seseorang yang terluka, atau juga mereka yang ikhlas memaafkan kekeliruan orang yang berbuat salah. Termasuk sahabat-sahabat yang menyentil kita dengan nasihatnya saat diri ini salah melangkah. Allah seperti menurunkan para malaikat-Nya saat itu, tanpa kita sadari. Seperti halnya Jibril dan ribuan malaikat yang pernah membantu Rasulullah dan kaum mukminin sebelumnya, ‘malaikat-malaikat’ yang berada di sekeliling kita saat ini pun memberikan bantuannya tanpa berharap balasan, tak meminta pujian dan penghargaan dari siapapun. Bagi mereka, mengulurkan tangan kepada orang yang membutuhkan pertolongan menjadi kebahagiaan tersendiri, selain juga bentuk rasa syukur telah diberikan nikmat lebih oleh Allah, juga bagian lain dari ibadah.

    Bersyukurlah, Allah masih berkenan menurunkan malaikat-malaikat-Nya yang menyertai saudara, sahabat, atau siapapun yang kita sadari atau tidak telah banyak membantu. Dari yang terjatuh hingga mampu berdiri tegak, dari yang terpuruk sampai bangkit menatap masa depan yang cerah, yang tersenyum setelah kesedihan melanda, yang melonjak gembira saat meraih prestasi setelah sebelumnya merasa putus asa, dan dari yang terkulai lemah menjadi penuh semangat bergelora. Meski para ‘malaikat’ itu tak pernah berharap balasan, tentu mereka juga punya satu harapan, agar kita pun senantiasa menjadi malaikat bagi orang lain. Irwin Saranson dan koleganya (1991) melakukan penelitian terhadap 10.000 pelajar SMU, dari penelitiannya tersebut terungkap bahwa para pelajar yang diperlihatkan slide yang berisi tiga puluh delapan foto tentang aksi donor darah, mengalami kenaikan 17% untuk mendonorkan darah mereka daripada yang tidak melihat foto tersebut. Melihat orang lain “melakukan perbuatan yang benar dan baik” membangkitkan hasrat bawah sadar untuk meniru perbuatan tersebut.

    Maka, jadilah (seperti) malaikat bagi orang lain, sehingga tak ada lagi yang pernah berpikir, Allah telah membenci ummat-Nya karena tak lagi menolong …. Wallaahu a’lam bishshowaab

    ***

    Bayu Gautama

     
    • lazione budy 4:40 am on 17 Oktober 2013 Permalink

      Kasih contoh dengan teladan. Kalau kita ngajak donor kita sendiri harus donor. Kita koar koar jaga kebersihan maka kita sudah mempraktekan.
      Saya percaya sang penulis tangan kanan mencatatnya walau sebesar biji sawi. Noted!

      :D

  • erva kurniawan 1:01 am on 16 October 2013 Permalink | Balas  

    Ikrar 

    melempar_jumrahIkrar

    Setelah semuanya usai, maka berjanji untuk diri sendiri, menjadi penting adanya…

    Saat-saat akhir perjalanan ibadah haji adalah ketika para jama’ah berikrar di Mina dengan cara melemparkan ‘senjata’ yang telah diambilnya di waktu malam dari mudzdalifah. Mereka melempar jumrah ke tiga tempat, yaitu: jumratul ula, jumratul wustha, dan jumratul aqobah.

    Inilah sebuah ikrar yang sangat penting dari rangkaian perjalanan haji. Inilah sebuah ‘janji’ dari setiap jama’ah haji sebelum mereka pulang ke tanah air. Janji kepada dirinya sendiri. Janji telah menjadi hamba Allah yang taat, yang akan selalu menganggap setan dan perbuatannya sebagai musuh utamanya. Dalam janji ini, yang menjadi saksi adalah diri sendiri. Bukan orang lain. Dan tentu Allah Swt sebagai saksi utamanya.

    Ketika nabi Ibrahim as akan melaksanakan perintah Allah, maka setan dengan berbagai caranya menggoda dan mempengaruhi hati nabi Ibrahim agar menentang perintah Allah. Tetapi dengan kekuatan hatinya dan dengan kekuatan iman serta cintanya kepada Allah, berhasillah nabi Ibrahim melempar dan menjauhi pengaruh syaitani.

    Kini tinggallah para jamaah haji, bagaimana mereka berikrar dan berjanji untuk tetap memusuhi perbuatan syaitani tersebut. Setelah kembali menjalani aktivitas sehari-harinya.

    Ikrar adalah sebuah moment penting dalam hidup beragama. Dengan ikrar manusia menjadi mampu untuk berkomitmen dan beristiqomah.

    Rukun islam yang pertama, sebelum menjalani rukun yang lain, seorang muslim harus berikrar dan menjiwai dua kalimat syahadat. Kalimat kesaksian bahwa Tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

    Dalam setiap kita melakukan shalat, sebelum membaca Al-Fatihah, disunahkan untuk membaca do’a iftitah, yang di dalamnya terdapat sebuah ikrar yang indah dari seorang hamba kepada tuhannya. “…inna shalaati wa nusuki, wamah yaaya wamamaati, lillaahi rabbil alamiin…”

    Sesungguhnya, shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, hanyalah karena Allah tuhan semesta alam..

    Bahkan dalam masalah iman, janji adalah suatu kebajikan yang harus ditepati. Allah akan menagih janji itu. Sebab Allah Maha Mengetahui segala apa yang diperbuat manusia.

    QS. Al-Baqarah (2) : 177

    Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

    QS.An-Nahl (16) : 91

    Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.

    Proses melakukan ikrar, sungguh sangat berat. Seorang jamaah harus berjuang melawan situasi dan kondisi yang sangat melelahkan, baik secara fisik maupun mental. Tidak jarang ketika melakukan proses melempar jumrah tersebut, terjadi banyak kurban. Ada yang terinjak, tertindih, tergencet, terdorong, sampai tak bisa bernafas. Bahkan sampai-sampai banyak yang meninggal dunia dalam proses tersebut. Sebuah proses yang memerlukan perjuangan keras, dengan komitmen yang tinggi.

    Ketika pak Yono, sedang melempar jumrah, saat itu ia terpisah dengan rombongan. Semua sudah pulang kembali ke tenda masing-masing, pak Yono belum pulang juga. Sehingga dihinggapi rasa khawatir yang sangat dalam. Tetapi setelah lama ditunggu, akhirnya ia datang juga dengan nafas memburu, dengan pakaian dan rambut yang lusuh. Pak Yono bercerita, dengan penuh haru.

    “Ya Allah, sungguh saya sudah pasrah, andaikata saya harus menghadap Allah pada saat itu juga. Sungguh luar biasa! Lautan manusia menghimpit saya. Dari kiri, kanan, muka, belakang… Bahkan kaki saya tidak menginjak tanah lagi. Kedua kaki saya terangkat, badan saya terombang-ambing kesana kemari…ya Allah..” Kenangnya sambil mengusap keringat dan air matanya.

    Inilah sebuah ikrar, yang memerlukan perjuangan yang ekstra keras untuk mencapainya. Semoga ikrar itu menjadikan motivasi tersendiri bagi para jama’ah haji dalam kehidupan kesehariannya… insyaAllah.

    ***

    Dari: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 15 October 2013 Permalink | Balas  

    Perjalanan Ma’rifatullah 

    Perjalanan Ma’rifatullah

    Tersebutlah Asy Syibli, seorang murid Imam Ali Zainal ‘Abidin. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, ia segera menemui Ali untuk menyampaikan pengalaman hajinya. Terjadilah percakapan di antara mereka.

    “Wahai Syibli, bukankah engkau telah selesai menunaikan ibadah haji?,” tanya Ali. Ia menjawab, “Benar, wahai Guru.”

    “Apakah engaku berhenti di Miqat, lalu menanggalkan semua pakaian yang terjahit, dan kemudian mandi?” Asy Syibli menjawab, “Benar.”

    “Ketika berhenti di Miqat, apakah engkau bertekad untuk menanggalkan semua pakaian maksiat dan menggantinya dengan pakaian taat? Ketika menanggalkan semua pakaian terlarang itu, adakah engkau pun menanggalkan sifat riya, nifaq serta segala syubhat? Ketika mandi sebelum memulai ihram, adakah engkau berniat membersihkan dari segala pelanggaran dan dosa?”

    Asy Syibli menjawab, “Tidak.”

    “Kalau begitu, engkau tidak berhenti di Miqat, tidak menanggalkan pakaian yang terjahit, dan tidak pula membersihkan diri!”

    Ali bertanya kembali, “Ketika mandi dan berihram serta mengucapkan niat, adakah engkau bertekad untuk membersihkan diri dengan cahaya tobat? Ketika niat berihram, adakah engkau mengharamkan atas dirimu semua yang diharamkan Allah? Ketika mulai mengikatkan diri dalam ibadah haji, apakah engkau rela melepaskan semua ikatan selain Allah?”

    “Tidak,” jawabnya.

    “Kalau begitu, engkau tidak membersihkan diri, tidak ber-ihram, tidak pula mengikatkan diri dalam haji!”

    Bukankah engkau telah memasuki Miqat, lalu shalat dua rakaat, dan setelah itu engkau mulai ber-talbiyah? “Ya, benar.”

    Apakah ketika memasuki Miqat engkau meniatkannya sebagai ziarah menuju keridhaan Allah? Ketika shalat dua rakaat, adakah engkau berniat mendekatkan diri kepada Allah? “Tidak wahai Guru.”

    “Kalau begitu engkau tidak memasuki Miqat, tidak ber-talbiyah dan tidak shalat ihram dua rakaat!,” tegas Ali Zainal ‘Abidin.

    Apakah engkau memasuki Masjidil Haram, memandang Kabah serta shalat di sana? “Benar.”

    Ketika memasuki Masjidil Haram, apakah engkau berniat mengharamkan dirimu segala macam ghibah? Ketika sampai di Mekah, apakah engkau bertekad untuk menjadikan Allah satu-satunya tujuan? “Tidak,” jawabnya.

    Sesungguhnya, engkau belum memasuki Masjidil Haram, tidak memandang Kabah, serta tidak shalat pula di sana!

    Ali bertanya kembali, “Apakah engkau telah ber-thawaf dan berniat untuk berjalan serta berlari menuju keridhaan Allah? “Tidak.”

    “Kalau begitu, engkau tidak ber-thawaf dan tidak pula menyentuh rukun-rukunnya!”

    Tanpa bosan Ali kembali bertanya, “Apakah engkau berjabat tangan dengan Hajar Aswad dan shalat di Maqam Ibrahim?” Dijawabnya, “Benar.”

    Mendengar jawaban itu, Ali Zainal ‘Abidin menangis, seraya berucap, “Oooh, barangsiapa berjabat tangan dengan Hajar Aswad, seakan ia berjabat tangan dengan Allah. Maka ingatlah, janganlah sekali-kali engkau menghancurkan kemuliaan yang telah diraih, serta membatalkan kehormatanmu dengan aneka dosa!”

    Cucu Rasulullah SAW ini terus mencecar muridnya. “Saat berdiri di Maqam Ibrahim, apakah engkau bertekad untuk tetap berada di jalan taat serta menjauhkan diri dari maksiat? Ketika shalat dua rakat di sana, apakah engkau bertekad untuk mengikuti jejak Ibrahim serta menentang semua bisikan setan?” “Tidak.”

    “Kalau begitu engkau tidak berjabat tangan dengan Hajar Aswad, tidak berdiri di Maqam Ibrahim, tidak pula shalat dua rakaat!”

    Lanjutnya, “Apakah ketika melakukan Sa’i, antara Shafa dan Marwah, engkau menempatkan diri di antara harapan akan rahmat Allah dan rasa takut menghadapi murka-Nya?” “Tidak,” jawab Asy Syibli.

    “Kalau begitu, engkau tidak melakukan perjalanan antara dua bukit itu! Ketika pergi ke Mina, apakah engkau bertekad agar orang-orang merasa aman dari gangguan lidah, hati, serta tanganmu?” “Tidak.”

    Ali menggelengkan kepala, “Kalau begitu, engkau belum ke Mina! Apakah engkau telah Wukuf di Arafah, mendaki Jabal Rahmah, mengunjungi Wadi Namirah, serta memanjatkan doa-doa di bukit Shakharaat?” “Benar seperti itu.”

    “Ketika Wukuf di Arafah, apakah engkau menghayati kebesaran Allah, serta berniat mendalami ilmu yang dapat mengantarkanmu kepada-Nya? Apakah ketika itu engkau merasakan kedekatan yang demikian dekat denganmu? Ketika mendaki Jabal Rahmah, apakah engkau mendambakan Rahmat Allah bagi setiap Mukmin? Ketika berada di Wadi Namirah, apakah engkau berketetapan hati untuk tidak meng-amar-kan yang ma’ruf, sebelum engkau meng-amar-kannya pada dirimu sendiri? Serta tidak melarang seseorang melakukan sesuatu sebelum engkau melarang diri sendiri? Ketika beraad di antara bukit-bukit sana, apakah engkau sadar bahwa tempat itu akan menjadi saksi segala perbutanmu?” “Tidak.”

    “Kalau begitu, engkau tidak wukuf di Arafah, tidak mendaki Jabal Rahmah, tidak mengenal Wadi Namirah, tidak pula berdoa di sana!” “Apakah engkau telah melewati kedua bukit Al ‘Alamain, melakukan shalat dua rakaat sebelumnya, lalu meneruskan perjalanan ke Muzdalifah untuk memungut batu-batu di sana, lalu melewati Masy’aral Haram?” “Ya benar.”

    “Ketika shalat dua rakaat, apakah engkau meniatkannya sebagai shalat syukur, pada malam menjelang sepuluh Dzulhijjah, dengan mengharap tersingkirnya segala kesulitan serta datangnya segala kemudahan? Ketika lewat di antara bukit itu dengan sikap lurus tanpa menoleh kanan kiri, apakah saat itu engkau bertekad untuk tidak bergeser dari Islam; tidak dengan hatimu, lidahmu, dan semua gerak gerikmu? Ketika berangkat ke Muzdalifah, apakah engkau berniat membuang jauh segala maksiat serta bertekad untuk beramal yang diridhai-Nya? Ketika melewati Masy’aral Haram, apakah engkau mengisyaratkan untuk bersyiar seperti orang-orang takwa kepada Allah?” “Tidak.”

    “Wahai Syibli, sesungguhnya engkau tidak melakukan itu semua!” Ali Zainal ‘Abidin melanjutkan, “Ketika engkau sampai di Mina, apakah engkau yakin telah sampai di tujuan dan Tuhanmu telah memenuhi semua hajatmu? Ketika melempar Jumrah, apakah engkau meniatkan untuk melempar dan memerangi iblis, musuh besarmu? Ketika mencukur rambut (tahallul), apakah engkau bertekad untuk mencukur segala kenistaan? Ketika shalat di Masjid Khaif, apakah engkau bertekad untuk tidak takut, kecuali kepada Allah dan tidak mengharap rahmat kecuali dari-Nya semata? Ketika memotong hewan kurban, apakah engkau bertekad untuk memotong urat ketamakan; serta mengikuti teladan Ibrahim yang rela mengorbankan apa pun demi Allah? Ketika kembali ke Mekah dan melakukan Thawaf Ifadhah, apakah engkau meniatkannya untuk ber-ifadhah dari pusat rahmat Allah, kembali dan berserah kepada-Nya?”

    Dengan gemetar, Asy Syibli menjawab, “Tidak wahai Guru.”

    “Sungguh, engkau tidak mencapai Mina, tidak melempar Jumrah, tidak ber-tahallul, tidak menyembelih kurban, tidak manasik, tidak shalat di Masjid Khaif, tidak Thawaf Ifadhah, tidak pula mendekat kepada Allah! Kembalilah, kembalilah! Sesungguhnya engkau belum menunaikan hajimu!”

    Asy Syibli menangis tersedu, menyesali ibadah haji yang telah dilakukannya. Sejak itu, ia giat memperdalam ilmunya, sehingga tahun berikutnya ia kembali berhaji dengan ma’rifat serta keyakinan penuh.

    Wallaahu a’lam.

    ***

    (sumber: http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=105&kat_id1=232)

    (tri )

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 14 October 2013 Permalink | Balas  

    Ilmu Pedang Nabi Ibrahim 

    hewan-kurbanIlmu Pedang Nabi Ibrahim

    Sebuah babak drama kehidupan yang indah mempesona, yang akan menguras air mata bagi saja yang menghayati ceritanya. Betapa tidak, Nabi Ibrahim sebagai seorang yang lembut hatinya, yang mendambakan seorang putra idaman dalam kurun waktu yang lama, ketika harapan itu dipenuhi oleh Sang Pencipta, justru diperintahkan untuk mengorbankannya.

    Ya, ketika sang anak beranjak dewasa dalam usia yang masih belia, Allah Swt justru menyuruh Ibrahim untuk menyembelih putra kesayangan dengan tangannya sendiri…

    QS. Ash-Shaafaat (37) : 102

    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

    Buah hati yang diidamkan sepanjang hari sejak ia mempersunting istri pertamanya. Kini oleh Allah disuruhnya menyembelih dengan tangannya sendiri…Allaahu akbar!

    Kalaulah ini sekedar sebuah dongeng yang bukan nyata, tentu tidak akan berbekas pada hati manusia. Tetapi ini sebuah sejarah. Sebuah fakta. Sebuah ujian yang teramat berat bagi dua orang anak manusia yang telah membuktikan pada dunia, bahwa cinta mereka kepada tuhannya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri.

    Dengan kemantapan iman yang tiada tara, dilaksanakan juga perintah Allah Swt itu dengan terlebih dahulu ia rundingkan dengan sang buah hatinya. Maka dengan “izin’ sang putra, Nabiyullah Ibrahim melakukan perintah Tuhan Yang Maha Kuasa di tempat yang jauh dari jangkauan manusia.

    Sejarah berkata, ketika pedang Ibrahim berkelebat hampir menyentuh leher halus nan mulus sang putra, maka pada saat yang tepat dan kritis itu turunlah para malaikat yang dengan kecepatan laksana cahaya mengganti sang putra tercinta Ismail dengan seekor gibas…. Maka selamatlah Ismail dari maut di tangan ayahandanya sendiri…

    “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallahu Allahu akbar, Allahu akbar walillahil haimd”

    Subhaanallah,

    Cerita indah ini memberi pesan kepada kita semua, barang siapa yang bertaqwa, istiqomah dan mengutamakan kecintaan kepada Allah dalam Menjalankan perintahNya, maka pada saat yang tepat dan kritis, InsyaAllah, Allah Swt akan menolongnya dari berbagai macam kesulitan…

    Inilah ilmu ‘pedang Ibrahim’ yang akan dikenang sepanjang masa oleh jutaan umat manusia…

    Inilah ilmu ‘pedang Ibrahim’ yang akan menguras air mata bagi siapa saja yang menghayati kisah cintanya.

    Dan inilah ilmu ‘pedang Ibrahim’ yang harus kita jadikan sebagai suri tauladan cinta dalam kehidupan kita sepanjang masa.

    Sebenarnya, janji Allah kepada orang-orang yang bertaqwa sudah tertera dengan begitu jelas di dalam kitabNya. Yaitu kitab suci Al-Qur’an Al Kariim. Bahkan Allah Swt telah memberikan janjiNya kepada orang yang taqwa dengan begitu banyak dan begitu terinci

    1. Orang taqwa menempati tempat yang mulia pada hari kiamat

    QS. Al-Baqarah (2) : 212

    Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.

    2. Orang taqwa mendapat balasan Surga

    QS. Ali Imran (3) : 15

    Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.

    3. Orang taqwa mendapat keberuntungan

    QS. Al-Maidah (5) : 100

    Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.”

    4. Orang taqwa tidak merasa khawatir

    QS. Al-A’raaf (7) : 35

    Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

    5. Orang taqwa mendapatkan barokah dari langit dan bumi

    QS. Al-A’raaf (7) : 96

    Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

    6. Orang taqwa selalu ingat kepada Allah

    QS. Al-A’raaf (7) : 201

    Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.

    7. Mendapat kehormatan di sisi Allah

    Al-Hujurat (49) : 13

    manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

    8. Diberi kemudahan dalam urusannya

    QS. Ath-Thollaq (65) : 4

    Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.

    9. Diberi jalan keluar dari berbagai kesulitan, dan diberi rejeki dari arah yang tiada disangka-sangka

    QS. Ath-Thollaq (65) : 2-3

    Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

    10. Mendapatkan rahmat dan cahaya

    QS. Al-Hadiid (57) : 28

    Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 3:52 am on 13 October 2013 Permalink | Balas  

    Satu Tubuh 

    itikaf2Satu Tubuh

    Suatu hari, di medan perang Yarmuk, dengan membawa sedikit air Khudzaifah bin Adi ra menemui saudaranya (anak pamannya) yang tergeletak penuh luka. Ketika menjumpainya, ia berkata kepadanya, ”Aku tuangkan air ini kepadamu!” Saudaranya pun memberi isyarat mengiyakan.

    Ketika hendak menuangkan ke dalam mulutnya, terdengar suara, ”Ah, ah, ah.” Saudaranya itu memberi isyarat kepada Khudzaifah agar ia memberikan air itu kepada orang yang berteriak, merintih kesakitan itu.

    Khudzaifah pun menghampiri orang itu. Dan ternyata ia adalah Hisyam bin Ash ra. ”Aku akan tuangkan air ini kepadamu,” ucap Khuzaifah dengan rasa iba. Hisyam pun memberi isyarat mempersilahkannya. Ketika hendak dituangkan ke dalam mulutnya terdengar kembali suara, ”Ah, ah, ah,” dari sampingnya. Hisyam memberi isyarat kepadanya agar memberikan air itu kepada orang yang berteriak sekarat itu.

    Sesampainya di sana, Khudzaifah mendapati orang yang ditunjuk Hisyam telah menemui ajalnya, mati syahid. Lalu ia kembali berjalan pada Hisyam, namun Hisyam juga telah bertemu Allah SWT, wafat. Ia sedih. Setelah itu ia bergegas menemui kembali saudaranya. Namun sama, pamannya juga telah menemui syahidnya. Kisah ini dituturkan Imam Syanqithi dalam kitab Adhwaa al-Bayaan.

    Fragmen ini menjelaskan bahwa setiap Muslim merasakan saudara Muslim lain adalah bagian dari dirinya. Mereka pun tidak memandang siapa yang diberi pertolongan olehnya. Tidak pula menolong karena tendensi demi kepentingan. Juga sampai tidak memandang bahwa saat itu dirinya pun sangat membutuhkan pertolongan. Bahkan meskipun kebutuhan itu berkait erat dengan hidupnya.

    Ini adalah potret ukhuwah Islamiyah yang sebenarnya. Satu bentuk persaudaraan yang mengalahkan segalanya, sampai kepentingan untuk dirinya sendiri sekalipun, atau yang disebut dengan itsaar (mendahulukan orang lain meskipun dirinya membutuhkannya). Persaudaraan ini mengalahkan persaudaraan nasab, kedaerahan, suku, partai, kebangsaan, lintas identitas-identitas primordial dan lintas kepentingan.

    Tepat kata Nabi SAW, ”Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, saling mengasihi dan saling simpati mereka bagaikan satu tubuh; jika salah satu anggota tubuh merasakan sakit maka seluruh tubuh yang lain merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR Muslim).

    Nabi SAW mengibaratkan persaudaraan sesama Muslim dengan logika satu tubuh. Logika satu tubuh adalah logika saling terkait, saling merasakan, saling membantu dalam satu kesatuan. Dalam artian, ketika kita melihat saudara seiman kita kelaparan, dilanda sakit kita juga harus ikut merasakan dan membantunya. Begitu pula ketika kita senang, kita tak boleh lupa membagikan kesenangan kita pada saudara kita. Adakah itu ada di sekitar kita saat ini?

    ***

    Oleh : Atik Fikri Ilyas

     
  • erva kurniawan 4:47 am on 12 October 2013 Permalink | Balas  

    Berlian dan bau Busuk 

    siluet ontaBerlian dan bau Busuk

    Ketika Jack Welch menjadi nara sumber seminar di Jakarta, seorang peserta bertanya, bagaimana ia bisa mengelola gurita usaha yang demikian besar dan berhasil. Entah ia rendah hati, entah benar-benar seperti itu keadaannya, salah satu CEO terkemuka dunia ini berujar, tidak ada yang bisa melakukan pekerjaan sebesar itu seorang sendiri. Bahkan, diapun tidak sanggup melakukannya. Ia melakukan semua pekerjaan besar ini, bersama-sama orang-orang terbaik yang dimiliki General Electric. Oleh karena alas an terakhirlah, maka setiap kali Welch berjalan-jalan keliling dunia, ia selalu mencari orang-orang terbaik. Bila benar demikian, rupanya salah satu kunci keberhasilan dalam mengelola gurita usaha yang demikian meraksasa, adalah mencari dan memilih orang yang tepat. Sebagaimana pernah saya tulis, begitu orang-orang berada di tempatnya yang tepat, mesin organisasi akan hidup dan lari cepat dengan sendirinya.

    Persoalannya sekarang, bagaimana kita bisa menemukan orang-orang tepat ini dlm keseharian ? Sebagai orang yang telah lama malang melintang membantu klien di sektor SDM, serta bergaul luas dengan banyak sekali rekan psikolog yang berjam terbang tinggi dalam memilih orang, saya sampai pada kesimpulan : memilih orang bukanlah perkara yang mudah. Lebih-lebih memilih orang potensial, sekaligus tepat di posisinya serta berkinerja tinggi. Seringkali terjadi, mencari orang seperti menanam pohon. Ketika bertemu bibit yang tepat, lahannya kurang mendukung. Kadang terjadi, karena tidak ada pilihan, terpaksa memilih bibit yang kurang memadai. Akan tetapi, karena lahannya subur, maka berkembanglah sang bibit secara meyakinkan. Idealnya memang, bibitnya baik dan lahannya subur.

    Sayang kehidupan nyata jarang dalam kondisi ideal. Satu ketika, saya pernah menemukan seorang manajer dengan potensi yang tinggi, sekaligus memiliki kemampuan interaksi yang mengagumkan. Namun, bertemu dengan lingkungan pemilik dengan gaya ‘memiliki’ karyawan. Di mana pekerjaan pribadi dicampur dengan pekerjaan kantor, tidak mengenal hari libur, ketika harus berkumpul dg keluarga mendadak dipanggil. Maka larilah calon potensial tadi entah kemana.

    Belajar dari sini, mampu menggaji orang tidak otomatis bisa membuat orang dan organisasi berkinerja tinggi. Ada faktor kedua setelah mampu menggaji, yakni kemampuan untuk menggunakan sang calon. Tanpa kemampuan terakhir, keadaan hanya akan menyerupai bibit unggul yang ditanam di atas batu kering. Di sinilah letak kelalaian banyak orang berduit. Punya uang tetapi tidak bisa menggunakan orang secara tepat dan pas. Ujung-ujungnya, kadang konsultan yang disalahkan, kerap alat test yang dianggap keliru, psikolog dikatakan kurang kompeten.Lebih-lebih kalau ‘lahan kering’ tadi bertemu dengan kebiasaan tidak sabar untuk sedikit-sedikit memecat orang. Padahal, mencari orang berbakat sekaligus cocok dengan kita lebih mirip dengan mencari berlian, dibandingkan dengan mencari sumber bau busuk. Mencari berlian memerlukan waktu, ketekunan, kesabaran dan tidak jarang malah membutuhkan pengorbanan. Namun mencari sumber bau busuk, ia relatif lebih mudah.

    Ini tidak hanya berlaku bagi perusahaan dan pengusaha. Ia juga berlaku pada pribadi-pribadi yang merasa memiliki berlian di dalam dirinya. Untuk menunjukkan bahwa diri Anda berlian memerlukan waktu yang amat panjang, pengorbanan dan kesabaran. Lain halnya kalau mau menunjukkan kebusukan-kebusukan. Dalam waktu yang amat pendek, semua orang tahu akan kebusukan-kebusukan tadi. Saya pernah memiliki seorang mantan atasan yang amat tekun. Sejak tamat SMU telah mulai bekerja, sambil bekerja ia kuliah. Tidak jarang ia melaksanakan pekerjaan setingkat kuli. Untuk sampai pada posisi tertinggi di dalam perusahaan, ia sudah mendaki tangga karir yang terjal, berat, menggoda dan menyakitkan. Setelah dua puluh tahun, baru pemilik tahu kalau dialah berliannya. Lain halnya dengan bau busuk. Lihat saja mantan menteri yang dibawa ke pengadilan gara-gara korupsi. Hanya butuh waktu bulanan untuk menghancurkan seluruh bangunan karir dan reputasinya yang selama ini amat menjulang. Belajar dari sini, bagi perusahaan maupun bagi pribadi, teramat penting untuk menyadari hakikat mendalam dari berlian dan bau busuk. Kita semua memang tidak menyukai bau busuk dan menyukai berlian. Namun, sebagaimana cerita di atas, untuk menemukannya atau untuk ditemukan orang lain, memerlukan tenggang waktu dan pengorbanan yang amat berbeda.

    Bercermin dari sini, setiap kali ada gangguan atau godaan karir, saya belajar untuk menempatkannya dalam kerangka berlian dan bau busuk ini. Demikian juga kalau menghadapi klien tidak sabar dan mau cepat-cepat tahu berliannya. Sebagaimana kita berproses secara panjang dan kompleks menjadi manusia dewasa. Berlian dalam bentuk karyawan, maupun diri kita juga sama. Ada kalanya kita memiliki kinerja yang turun drastis. Ada saatnya orang demikian bergairah dalam memacu prestasi. Kalau hanya karena ketidaksabaran, egosime dan sejenisnya kita memfokuskan pada bau busuk – dan lupa potensi berliannya – tidak ada perusahaan yang akan menemukan berlian. Demikian juga dengan Anda yang menyimpan berlian dalam diri masing-masing. Benar ungkapan orang bijak, di manapun berlian tetap berlian. Akan tetapi, agar berlian Anda ditemukan orang, diperlukan banyak usaha dan pengorbanan.

    ***

    Oleh : Gede Prama

     
  • erva kurniawan 3:43 am on 11 October 2013 Permalink | Balas  

    Cermin yang Terlupakan 

    cermin1Cermin yang Terlupakan

    Pada suatu ketika, sepasang suami istri, katakanlah nama mereka Smith, mengadakan ‘garage sale’ untuk menjual barang-barang bekas yang tidak  mereka butuhkan lagi. Suami istri ini sudah setengah baya, dan  anak-anak mereka telah meninggalkan rumah untuk hidup mandiri.  Sekarang waktunya untuk membenahi rumah, dan menjual barang-barang yang tidak dibutuhkan lagi.

    Saat mengumpulkan barang-barang yang akan dijual, mereka menemukan benda-benda yang sudah sedemikian lama tersimpan di gudang. Salah satu di antaranya adalah sebuah cermin yang mereka dapatkan sebagai hadiah pernikahan mereka, dua puluh tahun yang lampau.  Sejak pertama kali diperoleh, cermin itu sama sekali tidak pernah digunakan. Bingkainya yang berwarna biru aqua membuat cermin itu tampak buruk, dan tidak cocok untuk diletakkan di ruangan mana pun di rumah mereka. Namun karena tidak ingin menyakiti orang yang menghadiahkannya, cermin itu tidak mereka kembalikan. Demikianlah, cermin itu teronggok di loteng. Setelah dua puluh tahun berlalu, mereka berpikir orang yang memberikannya tentu sudah lupa dengan cermin itu. Maka mereka mengeluarkannya dari gudang, dan meletakkannya bersama dengan barang lain untuk dijual keesokan hari.

    Garage sale mereka ternyata mendapat banyak peminat. Halaman rumah mereka penuh oleh orang-orang yang datang untuk melihat barang bekas yang mereka jual. Satu per satu barang bekas itu mulai terjual. Perabot rumah tangga, buku-buku, pakaian, alat berkebun, mainan anak-anak, bahkan radio tua yang sudah tidak berfungsi pun masih ada yang membeli. Seorang lelaki menghampiri Mrs. Smith. “Berapa harga cermin itu?” katanya sambil menunjuk cermin tak terpakai tadi. Mrs. Smith tercengang. “Wah, saya sendiri tidak berharap akan menjual cermin itu. Apakah Anda  sungguh ingin membelinya?” katanya. “Ya, tentu saja. Kondisinya masih sangat  bagus.” jawab pria itu. Mrs. Smith tidak tahu berapa harga yang pantas untuk cermin jelek itu. Meskipun sangat mulus, namun baginya cermin itu tetaplah jelek dan tidak berharga. Setelah berpikir sejenak, Mrs. Smith berkata, “Hmm … anda bisa membeli cermin itu untuk satu dolar.” Dengan wajah berseri-seri, pria tadi mengeluarkan dompetnya, menarik selembar uang satu dolar dan memberikannya kepada Mrs. Smith.

    “Terima kasih,” kata Mrs. Smith, “sekarang cermin itu jadi milik Anda. Apakah perlu dibungkus?” “Oh, jika boleh, saya ingin memeriksanya sebelum saya bawa pulang.” jawab si pembeli.

    Mrs. Smith memberikan ijinnya, dan pria itu bergegas mengambil cerminnya dan meletakkannya di atas meja di depan Mrs. Smith. Dia mulai mengupas pinggiran bingkai cermin itu. Dengan satu tarikan dia melepaskan lapisan pelindungnya dan muncullah warna keemasan dari baliknya. Bingkai cermin itu ternyata bercat emas yang sangat indah, dan warna biru aqua yang selama ini menutupinya hanyalah warna dari lapisan pelindung bingkai itu!

    “Ya, tepat seperti yang saya duga! Terima kasih!” sorak pria itu dengan gembira. Mrs. Smith tidak bisa berkata-kata menyaksikan cermin indah itu dibawa pergi oleh pemilik barunya, untuk mendapatkan tempat yang lebih  pantas daripada loteng rumah yang sempit dan berdebu.

    Kisah ini menggambarkan bagaimana kita melihat hidup kita. Terkadang kita merasa hidup kita membosankan, tidak seindah yang kita inginkan. Kita  melihat hidup kita berupa rangkaian rutinitas yang harus kita jalani. Bangun pagi, pergi bekerja, pulang sore, tidur, bangun pagi, pegi bekerja, pulang sore, tidur. Itu saja yang kita jalani setiap hari.

    Sama halnya dengan Mr. dan Mrs. Smith yang hanya melihat plastik pelapis dari bingkai cermin mereka, sehingga mereka merasa cermin itu jelek dan tidak cocok digantung di dinding. Padahal dibalik lapisan itu, ada warna emas yang indah. Padahal di balik rutinitas hidup kita, ada banyak hal yang dapat memperkaya hidup kita. Setiap saat yang kita lewati, hanya bisa kita alami satu kali seumur hidup kita. Setiap detik yang kita jalani, hanya berlaku satu kali dalam hidup kita. Setiap detik adalah pemberian baru dari Tuhan untuk kita. Akankah kita menyia-nyiakannya dengan terpaku pada rutinitas? Akankah kita membiarkan waktu berlalu dengan merasa hidup kita tidak seperti yang kita inginkan?

    Setelah dua puluh tahun, dan setelah terlambat, barulah Mrs. Smith menyadari nilai sesungguhnya dari cermin tersebut. Inginkah kita  menyadari keindahan hidup kita setelah segalanya terlambat? Tentu tidak.  Sebab itu, marilah kita mulai mengikis pandangan kita bahwa hidup hanyalah rutinitas belaka. Mari kita mulai mengelupas rutinitas tersebut dan menemukan nilai sesungguhnya dari hidup kita.  Marilah kita mulai menjelajah hidup kita, menemukan hal-hal baru, belajar lebih banyak, mengenal orang lebih baik. Mari kita melakukan sesuatu yang baru. Mari kita membuat perbedaan! Mari kita jelang tahun yang baru ini dengan suatu semangat baru untuk menjalani hidup lebih baik setiap hari.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:37 am on 10 October 2013 Permalink | Balas  

    Kesederhanaan Rumah Tangga Nabi 

    muhammad-2Kesederhanaan Rumah Tangga Nabi

    Assalamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokatuhu,

    Sebagaimana dengan suami lainnya, terkadang Rasulullah juga mendapat desakan dari istrinya agar memberikan harta benda yang cukup. Cuma jika kebanyakan kita menurut begitu saja, sampai-sampai tega melakukan korupsi agar permintaan istrinya terpenuhi, Rasulullah tidak begitu.

    Rasulullah tetap hidup sederhana, dan tidak mau korupsi seperti kebanyakan orang, meski 2 superpower dunia saat itu, Romawi dan Persia, sudah hampir berada di kakinya. Beliau tetap tidur di atas tikar sehingga berbekas di punggung beliau, dan di kamarnya cuma ada segantang gandum. Hal ini tentu sangat beda dengan para pemimpin negara-negara Islam sekarang yang hampir semua hidup mewah dengan tinggal di istana, naik mobil mewah, bahkan punya pesawat pribadi, sementara rakyatnya hidup dalam kemiskinan. Rasulullah bahkan terpaksa menjauhi istri-istrinya selama sebulan, agar mereka sadar, dan tidak meminta harta benda yang beliau tidak punya. Beliau memberikan pilihan pada istri-istrinya, jika ingin harta benda dunia, silahkan bercerai, tapi jika ingin keridhaan Allah dan Rasulnya, maka Allah akan memberikan pahala yang besar.

    Hadits yang mengisahkan krisis Rumah Tangga Rasulullah SAW:

    “Diriwayatkan dari Aisyah r.a katanya: Ketika Rasulullah s.a.w disuruh untuk memberikan pilihan kepada isteri-isterinya, Rasulullah mulai dengan aku.

    Rasulullah bersabda: Aku akan menyampaikan sesuatu kepadamu dan aku harap kamu tidak terburu-buru mengambil suatu keputusan sebelum kamu pertimbangkan dengan kedua orang tuamu. Kata Aisyah r.a aku sudah tahu bahwa kedua orang tuaku sama sekali tidak menghendaki berpisah dengan Rasulullah apalagi menyuruhku. Kemudian Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia berfirman: Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: Jika kamu sekalian inginkan kehidupan dunia dan segala perhiasannya, maka marilah akan kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik dan jika kamu sekalian inginkan keredaan Allah dan RasulNya serta kesenangan di negeri Akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antara kamu pahala yang besar (Al Ahzab:28-29).

    Aku berkata: Jadi tentang soal inikah aku disuruh untuk meminta pertimbangan daripada dua orang tuaku? Sesungguhnya aku menghendaki Allah dan RasulNya serta kesenangan di negeri Akhirat. Ternyata isteri-isteri Rasulullah s.a.w yang lain juga mengikuti apa yang aku lakukan itu” [Bukhari-Muslim]

    “Diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab r.a katanya: Ketika Nabi s.a.w menjauhi isteri-isteri Rasulullah, aku masuk ke dalam masjid. Aku melihat orang ramai menghentak-hentakkan kaki ke tanah sambil berkata: Rasulullah s.a.w telah menceraikan isteri-isterinya. Itu terjadi sebelum isteri-isteri Nabi diperintah supaya memakai hijab. Umar berkata: Aku yakin ada kejadian penting pada hari itu. Aku terus menemui Aisyah r.a dan bertanya: Wahai puteri Abu Bakar! Apakah perbuatan yang telah kamu lakukan sehingga menyakiti Rasulullah s.a.w? Aisyah r.a menjawab: Apa urusanmu denganku, wahai putera al-Khattab? Kamu nasihati saja puterimu sendiri.

    Aku segera menemui Hafsah r.a dan aku berkata kepadanya: Wahai Hafsah! Apakah perbuatan yang telah kamu lakukan sehingga menyakiti Rasulullah s.a.w? Demi Allah, aku tahu bahawa sesungguhnya Rasulullah s.a.w tidak menyukaimu. Seandainya tidak ada aku, pasti Rasulullah s.a.w telah menceraikan kamu. Mendengar ucapan itu lalu Hafshah menangis tersedu-sedu. Aku bertanyakan kepadanya: Di mana Rasulullah s.a.w berada? Dia menjawab: Di tempat pengasingannya. Aku terus menuju ke sana. Di situ aku bertemu dengan Rabah pelayan Rasulullah s.a.w yang sedang duduk di samping pintu sambil melunjurkan kedua kakinya pada sekeping papan. Untuk menemui Rasulullah s.a.w mesti melalui tangga. Dari jauh aku memanggil Rabah: Wahai Rabah! Izinkan aku untuk menemui Rasulullah s.a.w. Rabah memandang ke arah kamar Rasulullah s.a.w lalu memandang aku tanpa berkata apa-apa. Aku mendekatinya dan berkata: Wahai Rabah! Izinkan aku untuk menemui Rasulullah s.a.w. Sekali lagi Rabah hanya diam sambil matanya memandang ke arah kamar Rasulullah s.a.w kemudian beralih memandangku tanpa berkata apa-apa.

    Kemudian dengan suara yang agak kuat aku berkata kepadanya: Wahai Rabah! Izinkan aku untuk menemui Rasulullah. Katakan kepada Rasulullah, bahawa kedatanganku adalah untuk membicarakan tentang Hafshah. Demi Allah! Jika Rasulullah memerintahkan aku supaya memukul tengkuknya akan aku laksanakan perintah Rasulullah itu. Akhirnya Rabah memberikan isyarat kepadaku supaya menaiki tangga. Aku segera masuk menemui Rasulullah s.a.w aku melihat Rasulullah sedang berbaring di atas tikar. Lalu aku duduk di samping Rasulullah. Aku lihat Rasulullah menurunkan kain yang satu-satunya digunanya oleh Rasulullah. Ketika itu aku melihat bekas tikar pada pinggang Rasulullah. Kemudian aku layangkan pandanganku ke sekitar kamar. Tidak banyak barang yang ada di situ kecuali hanya segantang biji gandum terletak di sudut kamar, sebidang kulit yaitu belulang binatang yang belum sempurna disamak dan beberapa barang lain yang tidak berharga sehinggalah aku menitiskan air mata.

    Melihat keadaan itu Rasulullah bertanya: Kenapa kamu menangis, wahai putera al-Khattab? Dengan suara tersedu-sedu aku menjawab: Wahai Nabi Allah! Bagaimana aku tidak menangis melihat keadaan kamu yang sangat menyedihkan ini dan tikar yang memberi kesan padamu? Jauh sekali dengan apa yang dinikmati oleh Kaisar dan Raja-raja di sana, sedangkan kamu wahai Rasulullah s.a.w hanya memiliki ini. Rasulullah s.a.w bersabda: Wahai putera al-Khattab! Mahukah kamu sekiranya akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka? Aku menjawab: Sudah tentu aku mau.

    Setelah melihat wajah Rasulullah s.a.w sudah mulai kelihatan berseri-seri tidak seperti waktu pertama kali aku masuk, aku memberanikan diri untuk bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah yang memberatkan kamu tentang wanita-wanita yaitu isteri-isteri? Jika kamu ceraikan isteri-isteri kamu sekalipun maka Allah serta seluruh MalaikatNya, Jibril, Mikail, aku, Abu Bakar dan seluruh orang mukmin akan tetap bersama kamu. Aku berharap mudah-mudahan perkataanku itu dibenarkan oleh Allah. Kemudian turunlah ayat takhyir yang menyuruh untuk memilih: Yang bermaksud: Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu. Jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan begitu pula Jibril dan orang-orang mukmin yang baik serta selain dari itu Malaikat malaikat adalah penolongnya pula. Pada saat itu Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah memang bersepakat untuk mempengaruhi isteri Nabi s.a.w yang lain.

    Aku berkata kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah! Adakah kamu akan menceraikan mereka? Rasulullah menjawab: Tidak! Kemudian aku jelaskan kepada Rasulullah, bahawa sewaktu aku sedang berada di masjid, aku melihat orang ramai masih lagi menghentakkan kaki ke tanah sambil berkata: Rasulullah s.a.w telah menceraikan isteri-isterinya. Kemudian aku berkata kepada Rasulullah: Adakah perlu aku memberitahu mereka bahwa sebenarnya kamu tidak menceraikan isteri-isteri kamu? Rasulullah bersabda: Baiklah, jika kamu mau. Lalu aku berbicara dengan Rasulullah tentang berbagai perkara, akhirnya aku lihat Rasulullah benar-benar reda dari kemarahannya. Bahkan Rasulullah sudah mampu tersenyum dan tertawa. Kemudian kami sama-sama turun dari kamar melalui tangga. Aku berhati-hati semasa menuruni tangga itu, tidak seperti Rasulullah yang kelihatan seperti berjalan di atas tanah dan tangannya tidak berpengang pada apa-apapun. Sebaik saja sampai di bawah. Aku berkata kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah! Sesungghnya kamu berada di dalam kamar itu selama dua puluh sembilan hari. Rasulullah bersabda: Sesungguhnya satu bulan itu memang ada dua puluh sembilan hari. Aku terus menuju ke masjid dan berdiri di pintunya dan dengan suara yang kuat aku berteriak: Rasulullah s.a.w tidak menceraikan isteri-isteri Rasulullah. Kemudian turunlah ayat: Yang bermaksud: Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, lalu mereka menyiarkannya dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul serta pemimpin dikalangan mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka yaitu Rasul dan Ulul Amri. Aku adalah termasuk orang-orang yang ingin mengetahui. Maka Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menurunkan ayat takhyir (At Tahrim:4) [Bukhari-Muslim]

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:27 am on 9 October 2013 Permalink | Balas  

    Lima Detik Pertama Penentu Sukses 

    anak-tertawaLima Detik Pertama Penentu Sukses

    Sukses, mungkin tidak satupun manusia di dunia ini yang tak ingin meraihnya, karena bahkan seorang yang berencana bunuh diripun tak ingin mengalami kegagalan. Maksudnya, orang akan menanggung malu teramat besar jika upaya bunuh dirinya ternyata tidak berhasil, meskipun seharusnya ia bersyukur. Mungkin terlalu ekstrim jika yang diambil contoh adalah soal bunuh diri, namun hal itu sekedar ingin memberikan gambaran bahwa untuk hal paling hina pun orang berusaha maksimal untuk merealisasikannya.

    Apapun, untuk meraih sukses, kuncinya adalah rencana yang matang dan usaha yang maksimal untuk menjalankan semua yang telah terencana itu. Dalam prinsip manajemen, langkah ini biasa dikenal dengan, Rencanakan Apa Yang Hendak Dikerjakan, dan Kerjakan Apa yang Sudah Direncanakan. Artinya, jika keluar dari prinsip tersebut, bisa jadi satu keniscayaan bahwa kegagalan segera menghampiri Anda.

    Namun, tahukah Anda apa yang paling menentukan dari semua proses awal menuju kesuksesan ketika hendak memulai satu upaya merealisasikan semua rencana? Rahasia sukses seseorang dalam meraih semua impiannya, entah itu berkenaan dengan karir, hubungan interpersonal atau apapun yang menjadi obsesinya ternyata ada pada lima detik pertama setiap langkah awalnya. Lima detik begitu menentukan? Tepat! Karena yang harus Anda lakukan pada lima detik pertama itu adalah kunci sukses nomor satu yang tidak boleh dilewatkan, satu hal yang sangat mudah dan praktis untuk dilakukan: Tersenyum. David J Lieberman dalam sebuah buku laris yang berjudul, Get Anyone To Do Anything menyebutkan, taktik nomor satu untuk menciptakan kesan pertama yang luar biasa tetapi mudah dilakukan adalah: Tersenyum.

    Mengapa senyum? Jangan pernah pernah menganggap sepele tersenyum, karena Rasulullah pun memberikan nilai sedekah untuk setiap senyum yang kita berikan kepada saudara kita. Selain itu, senyum mampu menciptakan empat hal yang luar biasa: Menimbulkan rasa percaya diri, kebahagiaan, dan semangat. Dan yang lebih penting, tersenyum menandakan penerimaan yang tulus.

    Orang yang tersenyum dianggap sebagai orang yang penuh percaya diri karena ketika kita sedang grogi atau tidak yakin dengan diri kita atau sekitar kita, kita cenderung untuk tidak tersenyum. Tentu saja tersenyum menimbulkan kebahagiaan sehingga akan mempertemukan kita kepada orang-orang yang bahagia karena kita melihat mereka dengan cara yang positif. Semangat sangat penting untuk menciptakan kesan yang baik karena semangat itu dapat menular kepada orang lain. Dengan tersenyum menunjukkan bahwa Anda menyenangi tempat dimana Anda berada dan senang bertemu dengan orang yang Anda temui sehingga pada gilirannya dia akan semakin tertarik untuk bertemu Anda. Pada akhirnya, tersenyum menunjukkan penerimaan yang tulus dan menyebabkan orang lain tahu bahwa Anda mau menerima dia dengan tulus.

    Anda tentu masih ingat pesan sebuah iklan produk parfum pria yang pernah ditayangkan di TV yang berbunyi, “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda …”. Ya, kesan pertama, itulah yang harus Anda ciptakan untuk bisa memulai segalanya lebih lancar sehingga kesuksesan seolah sudah digenggaman Anda. Dan tersenyum, jelas cara yang paling ampuh untuk menciptakan kesan pertama yang mengagumkan. Berkenaan dengan kesan pertama ini, ada sesuatu yang disebut pengaruh pertama, yakni sebuah proses dimana kesan pertama kita terhadap orang lain menyebabkan kita menilai perilaku berikutnya atas dasar kesan pertama kita. Ini artinya, kesan pertama kita terhadap seseorang sangat penting karena segala sesuatu yang kita lihat dan kita dengar selanjutnya disaring melalui pendapat kita yang pertama. Akibatnya, Anda menciptakan citra orang tersebut sebagaimana ketika mula-mula Anda bertemu dengannya dan Anda melihat perilakunya pada masa-masa selanjutnya melalui citra ini. Jadi, apabila kesan pertama seseorang terhadap Anda baik, maka dia akan cenderung lebih baik dalam menilai anda pada masa-masa selanjutnya.

    Dimanapun, kapanpun, bersama siapapun, sedang apapun ketika Anda tengah berinteraksi dengan orang lain, jadikan senyum sebagai modal utama Anda. Senyum bisa menjadi senjata yang paling ampuh dalam berbagai kondisi, seperti hubungan interpersonal dan interelasi, saat interview, wawancara dan lain sebagainya. Sebagai ingatan, jangan pernah sia-siakan momentum awal (detik-detik pertama) untuk tidak menjadikannya sebaik mungkin, karena percakapan dan hubungan Anda selanjutnya akan disaring melalui momentum awal ini, dengan demikian akan menciptakan kesan yang sangat baik. Itulah sebabnya mengapa tersenyum itu sangat penting. Lakukanlah dengan segera dan senyum akan menjelaskan banyak hal tentang diri Anda: Semuanya Positif.

    Wallaahu `a’lam bishshowaab

    ***

    Oleh: Bayu Gautama – eramuslim

     
  • erva kurniawan 4:09 am on 8 October 2013 Permalink | Balas  

    Bermesraan Ala Rasulullah 

    gandeng-tanganBermesraan Ala Rasulullah

    Bermesraan, itulah yang membuat hubungan suami-istri terasa indah dan nikmat. Caranya? Coba perhatikan uraian berikut ini.

    Dalam berkomunikasi, ada dua jenis lambang yang bisa dipergunakan, yaitu lambang verbal dan lambang non verbal. Menurut penelitian Profesor Birdwhistell, maka nilai efektifitas lambang verbal dibanding non verbal adalah 35:65. Jadi, justru lambang non verbal yang lebih efektif dalam menyampaikan pesan.

    Bermesraan, adalah upaya suami istri untuk menunjukkan saling kasih sayang dalam bentuk verbal. Sentuhan tangan dan gerak tubuh lainnya, adalah termasuk lambang non verbal ketika suami berkomunikasi dengan istrinya. Komunikasi verbal semata belumlah efektif jika belum disertai oleh komunikasi non verbal, dalam bentruk kemesraan tersebut.

    Rasulullah saw pun merasakan pentingnya bermesraan dengan istri, sehingga beliau pun mempraktekkannya untuk menghias hari-hari dalam keluarganya, yang tecermin seperti dalam hadis-hadis berikut:

    1. Tidur dalam satu selimut bersama istri

    Dari Atha’ bin Yasar: “Sesungguhnya Rasulullah saw dan ‘Aisyah ra biasa mandi bersama dalam satu bejana. Ketika beliau sedang berada dalam satu selimut dengan ‘Aisyah, tiba-tiba ‘Aisyah bangkit. Beliau kemudian bertanya, ‘Mengapa engkau bangkit?’ Jawabnya, ‘Karena saya haidh, wahai Rasulullah.’ Sabdanya, ‘Kalau begitu, pergilah, lalu berkainlah dan dekatlah kembali kepadaku.’ Aku pun masuk, lalu berselimut bersama beliau.” (HR Sa’id bin Manshur)

    2. Memberi wangi-wangian pada auratnya

    ‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya Nabi saw apabila meminyaki badannya, beliau memulai dari auratnya dan mengolesinya dengan nurah (sejenis bubuk pewangi), dan istrinya meminyaki bagian lain seluruh tubuhnya. (HR Ibnu Majah)

    3. Mandi bersama istri

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Aku biasa mandi bersama dengan Nabi saw dengan satu bejana. Kami biasa bersama-sama memasukkan tangan kami (ke dalam bejana).” (HR ‘Abdurrazaq dan Ibnu Abu Syaibah)

    4. Disisir istri

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Saya biasa menyisir rambut Rasulullah saw, saat itu saya sedang haidh”.(HR Ahmad)

    5. Meminta istri meminyaki badannya

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Saya meminyaki badan Rasulullah saw pada hari raya ‘Idul Adh-ha setelah beliau melakukan jumrah ‘aqabah.” (HR Ibnu Asakir)

    6. Minum bergantian pada tempat yang sama

    Dari ‘Aisyah ra, dia berkata, “Saya biasa minum dari muk yang sama ketika haidh, lalu Nabi mengambil muk tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau minum, kemudian saya mengambil muk, lalu saya menghirup isinya, kemudian beliau mengambilnya dari saya, lalu beliau meletakkan mulutnya pada tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau pun menghirupnya.” (HR ‘Abdurrazaq dan Sa’id bin Manshur)

    7. Membelai istri

    “Adalah Rasulullah saw tidaklah setiap hari melainkan beliau mesti mengelilingi kami semua (istrinya) seorang demi seorang. Beliau menghampiri dan membelai kami dengan tidak mencampuri hingga beliau singgah ke tempat istri yang beliau giliri waktunya, lalu beliau bermalam di tempatnya.” (HR Ahmad)

    8. Mencium istri

    Dari ‘Aisyah ra, bahwa Nabi saw biasa mencium istrinya setelah wudhu’, kemudian beliau shalat dan tidak mengulangi wudhu’nya.”(HR ‘Abdurrazaq)

    Dari Hafshah, putri ‘Umar ra, “Sesungguhnya Rasulullah saw biasa mencium istrinya sekalipun sedang puasa.” (HR Ahmad)

    9. Tiduran di Pangkuan Istri

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Nabi saw biasa meletakkan kepalanya di pangkuanku walaupun aku sedang haidh, kemudian beliau membaca al- Qur’an.” (HR ‘Abdurrazaq)

    10. Memanggil dengan kata-kata mesra

    Rasulullah saw biasa memanggil Aisyah dengan beberapa nama panggilan yang disukainya, seperti ‘Aisy, dan Humaira (pipi merah delima).

    11. Mendinginkan kemarahan istri dengan mesra

    Nabi saw biasa memijit hidung ‘Aisyah jika ia marah dan beliau berkata, Wahai ‘Uwaisy, bacalah do’a: ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan.” (HR. Ibnu Sunni)

    12. Membersihkan tetesan darah haidh istri

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Aku pernah tidur bersama Rasulullah saw di atas satu tikar ketika aku sedang haidh. Bila darahku menetes ke tikar itu, beliau mencucinya di bagian yang terkena tetesan darah dan beliau tidak berpindah dari tempat itu, kemudian beliau shalat di tempat itu pula, lalu beliau berbaring kembali di sisiku. Bila darahku menetes lagi ke tikar itu, beliau mencuci di bagian yang terkena darah itu saja dan tidak berpindah dari tempat itu, kemudia beliau pun shalat di atas tikar itu.” (HR Nasa’i)

    13. Bermesraan walau istri haidh

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Saya biasa mandi bersama Rasulullah saw dengan satu bejana, padahal kami sama-sama dalam keadaan junub. Aku biasa menyisir rambut Rasulullah ketika beliau menjalani i’tikaf di masjid dan saya sedang haidh. Beliau biasa menyuruh saya menggunakan kain ketika saya sedang haidh, lalu beliau bermesraan dengan saya.” (HR ‘Abdurrazaq dan Ibnu Abi Syaibah)

    14. Memberikan hadiah

    Dari Ummu Kaltsum binti Abu Salamah, ia berkata, “Ketika Nabi saw menikah dengan Ummu Salamah, beliau bersabda kepadanya, Sesungguhnya aku pernah hendak memberi hadiah kepada Raja Najasyi sebuah pakaian berenda dan beberapa botol minyak kasturi, namun aku mengetahui ternyata Raja Najasyi telah meninggal dunia dan aku mengira hadiah itu akan dikembalikan. Jika hadiah itu memang dikembalikan kepadaku, aku akan memberikannya kepadamu.”

    Ia (Ummu Kultsum) berkata, “Ternyata keadaan Raja Najasyi seperti yang disabdakan Rasulullah saw, dan hadiah tersebut dikembalikan kepada beliau, lalu beliau memberikan kepada masing-masing istrinya satu botol minyak kasturi, sedang sisa minyak kasturi dan pakaian tersebut beliau berikan kepada Ummu Salamah.” (HR Ahmad)

    15. Segera menemui istri jika tergoda.

    Dari Jabir, sesungguhnya Nabi saw pernah melihat wanita, lalu beliau masuk ke tempat Zainab, lalu beliau tumpahkan keinginan beliau kepadanya, lalu keluar dan bersabda, “Wanita, kalau menghadap, ia menghadap dalam rupa setan. Bila seseorang di antara kamu melihat seorang wanita yang menarik, hendaklah ia datangi istrinya, karena pada diri istrinya ada hal yang sama dengan yang ada pada wanita itu.” (HR Tirmidzi)

    Begitu indahnya kemesraan Rasulullah saw kepada para istrinya, memberikan gambaran betapa Islam sangat mementingkan komunikasi non verbal ini, karena bahasa tubuh ini akan lebih efektif menyatakan cinta dan kasih sayang antara suami istri. Nah, silakan mencoba. ·

    ***

    From : Cathy, Didik L Kuntadi

    Diambil dari milis Faktual

     
  • erva kurniawan 4:47 am on 7 October 2013 Permalink | Balas  

    Hidup Di Bawah Naungan Tauhid 

    Reciting-QuranHidup Di Bawah Naungan Tauhid

    Sering orang bertanya, “Apakah Allah itu ada?” “Dimana Allah?” Keberadaan Allah hanya bisa kita akui bila kita memiliki landasan tauhid yang benar. Allah memang tidak menampakkan wujudnya, tapi Allah dengan segala sifatnya dapat kita rasakan keberadaan-Nya. Kejelasan tauhid akan tergambar dari kalimat syahadat yang kita ucapkan. Dari kalimat ini akan terjalin hubungan yang harmonis, penuh kecintaan kepada Allah. Kecintaan kepada Allah akan melahirkan pengorbanan kepada-Nya untuk berjuang di jalan-Nya, melaksanakan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya.

    Zat Allah lebih besar dari apa yang kita perkirakan. Manusia tidak akan sanggup memikirkan zat Allah. Allah berfirman, “katakanlah Dia- lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada- Nya segala sesuatu.” (QS.112:1-2)

    “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS.6:103)

    Tauhid yang murni hanya akan tercapai bila kita mengenal hakekat penciptaan kita, begitu juga dengan zat yang menciptakan kita. Betapa indah hidup di bawah naungan kasih sayang dan belain Allah. Namun banyak diantara kita sulit untuk memurnikan tauhidnya, karena selain tidak kenal dengan Allah, mereka masih menyekutukan Allah dengan tandingan-tandingan yang lain.

    Tak kenal maka tak sayang, begitu orang mengatakan. Tidak kita akan pernah tahu siapa Einstein jika kita belajar ilmu Fisika, kita tidak akan mengenal Jendral Sudirman jika kita tak belajar sejarah, kita juga tidak akan mungkin kenal Ronaldo kalau kita tidak mengenal sepak bola. Begitu juga dengan Allah. Bagaimana mungkin kita akan merasakan keindahan bertauhid kepadanya jika “kreasi” Allah tidak pernah kita baca dan pikirkan.

    Kita bisa lihat kreasi Allah denga kasat mata. Tidak perlu ke gunung, lembah atau pantai. Pandangi saja diri kita. Renungkan mata yang elok ini, subhanallah kenapa mata yang berdiameter kecil ini bisa mengantarkan kita melihat indahnya dunia, alangkah meruginya manusia jika mata ini buta. Hidung yang sempurna bertengger di wajah mampu menghirup udara segar, tanpa indra kecil itu tentulah kita tidak bisa bernafas. Subahanallah, mampukah kita membuat penggantinya, bila salah satu indera kita itu tidak berfungsi?

    Secara tekstual, kreasi Allah itu adalah Al-Quran. Ialah pedoman hidup yang banyak ditinggalkan kaum muslimin sekarang ini, akibatnya banyak kaum muslimn yang kehilangan arah. Padahal Sayyid Qurb dalam tafsir fi-zilalnya yang puitis dan romantis itu mengatakan, “Hidup di bawah naungan Al-Quran merupakan suatu kenikmatan. Kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang pernah mereguknya. Kenikmatan yang mengangkat, memberkati dan mensucikan umur kehidupan…”

    Jadi, kembalilah kepada Al-Quran. Jadikan ia sebagai pegangan utama kita, bacaan pertama yang kita baca sebelum koran terhidang. Petunjuk hidup, jalan keselamatan. Lantunan ayat suci Al-quran saja telah membuat hati tentram, apa lagi hikmah yang terkandung di dalamnya.

    Wallahu ‘a’lam bishshowaab

    ***

    eramuslim – Yesi Elsandra

     
  • erva kurniawan 4:34 am on 6 October 2013 Permalink | Balas  

    Tinggal Pilih! Seperti Apa Kita di Hari Kiamat 

    sujudTinggal Pilih! Seperti Apa Kita di Hari Kiamat

    Pada hari kiamat keadaan manusia berbeda-beda satu sama lainnya. Ada yang tertunduk penuh penyesalan atas segala kebodohan yang selama ini mereka perbuat, ada juga yang bergembira dan berseri- seri, sebab hari kiamat merupakan awal perjumpaan mereka dengan Rabbnya.

    Keadaan Orang-orang kafir dan yang mengingkari Allah.

    Orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, mereka yang bergelimang maksiat dan tidak memperdulikan hukum-hukum Allah, pada hari kiamat akan merasakan penyesalan yang amat sangat. Tidak ada lagi yang dapat dilakukan kecuali menunduk, menyesali dosa-dosa yang ada. “(Yaitu) hari mereka keluar dari kubur dengan segera bagaikan berlari menuju patung (atau tujuan), dengan pandangan menunduk. Mereka ditimpa kehinaan. Itulah hari yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS.Al-Ma’arij:43-44)

    Pada saat itu orang-orang kafir dan mereka yang tidak berjalan pada tali Allah merasakan kemalangan, mereka keluar dalam keadaan hina, keringat bercucuran deras, mata mereka melotot, jiwa mereka kosong. Orang kafir pada saat itu merasakan ketakutan yang amat sangat. Seluruh aib terbuka, dan mereka malu sendiri dengan segala yang telah diperbuatnya. Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang kafir, orang kaya yang hidup mewah tetapi tidak peduli dengan saudaranya yang miskin, pelanggar janji, koruptor, perampas tanah, bermuka dua, pemerintah yang dzhalim, pembohong, pezina, tidak melakukan ibadah yang wajib dan mereka yang gemar bermaksiat.

    Keadaan Orang-orang Sholeh

    Berbeda dengan orang kafir dan mereka yang mengabaikan hukum-hukum Allah, orang-orang sholeh pada hari itu tidak mengalami ketakutan. Ketika bangkit dari kubur mereka disambut oleh para malaikat yang menenangkan perasaan dan menentramkan hati mereka. Mereka mendapatkan naungan dari Allah.

    “Hai hamba-hambaKu, hari ini kalian tidak takut dan tidak bersedih, (yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan berserah diri.” (QS. Az-Zukhruf:68-69)

    Siapakah mereka ini? Merekalah pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Allah, yang mengendalikan jiwanya dengan kendali taqwa dan menahan hawa nafsunya, sehingga ia hidup dengan suci dan bersih. Diantara mereka ada juga orang yang memakmurkan mesjid, orang yang saling mencintai dan membenci karena Allah, orang yang bersedekah dengan ikhlas dan orang-orang yang dalam hatinya dipenuhi rasa takut kepada Allah, dikala berzikir sendirian air mata adalah teman yang menemani kesendiriannya.

    Sahabat semua, dimanakah posisi kita pada saat itu? Kita bebas memilih dan menentukan apakah ingin menjadi orang yang tertunduk dan terhina, atau menjadi orang yang disambut oleh malaikat yang akan memberikan ketenangan dan ketentraman?

    ***

    Maroji’: Kiamat besar

    Oleh Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar – eramuslim

     
  • erva kurniawan 4:29 am on 5 October 2013 Permalink | Balas  

    Tanda Tanda Kiamat Yang Menakjubkan 

    kiamat94Tanda Tanda Kiamat Yang Menakjubkan

    Assalamu’alaikum wr. wb

    Berikut tanda tanda kecil kiamat yang menakjubkan (bukan tanda besar), tanda kiamat yang menurut saya unik (tanda tanda yang lain sudah sering kita dengar semisal legalisasi Zina, perempuan seperti laki laki dll).

    1. Menggembungnya bulan, telah bersabda Rasulullah saw : “Di antara sudah mendekatnya kiamat ialah menggembungnya bulan sabit (awal bulan)” dishahihkan AlBaani di Ash Shahihah nomor 2292 dalam riwayat yang lain dikatakan “Di antara sudah dekatnya hari kiamat ialah bahwa orang akan melihat bulan sabit seperti sebelumnya, maka orang akan mengatakan satu bentuk darinya untuk dua malam dan masjid akan dijadikan tempat untuk jalan- jalan serta meluasnya mati mendadak” (Ash Shahiihah AlBani 2292). Menakjubkan, satu bulan sabit dihitung dua kali, sekarang umat islam hampir selalu bertengkar menentukan bulan sabit untuk ramadhan, syawal dan idhul adha, antar ru’yat tidak sama cara melihatnya , antar hisab berbeda cara menghitungnya, shodaqo rasuuhul kariim

    2. Tersebarnya banyak pasar, Rasulullah saw bersabda : “Kiamat hampir saja akan berdiri apabila sudah banyak perbuatan bohong, masa (waktu) akan terasa cepat dan pasar-pasar akan berdekatan (karena saking banyaknya)” (sahih Ibnu Hibban). Lihatlah sekarang, pasar ada dimana mana, mall semakin banyak, supermarket di mana mana.

    3. Wanita ikut bekerja seperti laki laki, Rasulullah saw bersabda : “Pada pintu gerbang kiamat orang-orang hanya akan mengucapkan salam kepada orang yang khusus (dikenal) saja dan berkembangnya perniagaan sehingga wanita ikut seperti suaminya (bekerja/berdagang) ” (Hadist Shahih lighairihi Ahmad). Sekarang karena emansipasi, kaum wanita banyak sekali yang ikut bekerja menafkahi keluarga, shodaqo rasuuhul kariim

    4. Banyaknya polisi, Rasululah saw bersabda : “Bersegeralah kamu melakukan amal shalih sebelum datang 6 perkara : pemerintahan orang orang jahil, banyaknya polisi, memperjualbelikan hukuman atau jabatan, memandang remeh terhadap darah, pemutusan silaturrahim, adanya manusia yang menjadikan al qur’an sebagai seruling dimana mereka menunjuk seorang imam untuk sholat jamaah agar ia dapat menyaksikan keindahannya dalam membaca Al Qur’an meskipun ia paling sedikit ke-Faqihannya. ” (Musnad Ahmad, At Thabrani, Ash Shaihhah AlBani 979)

    5. Manusia akan bermegah megah dalam membangun masjid rasulullah bersabda “Tidak akan berdiri kiamat hingga manusia berbangga-bangga dengan masjid” (hadist sahih musnad Ahmad3:134,145, An Nasa’i 2:32, Abu Dawud 449,Ibnu Majah 779), padahal Rasulullah di lain tempat berkata “Saya tidak diutus untuk menjulangkan masjid masjid” (sahih sunan abu dawud:448). Subhanallah, masjid-masjid sekarang banyak dan berdiri dengan megah dan indah.

    6. Menjadi pengikut tradisi Yahudi dan Nasrani telah berkata rasulullah : “Sungguh kamu akan mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal , sehasta demi sehasta (tanpa berbeda sedikitpun) sehingga walaupun mereka masuk ke lubang biawak, maka kamu akan masuk juga” Sahabat bertanya : Wahai Rasulullah, apakah kaum yang akan kami ikuti tersebut adalah kaum Yahudi dan Nasrani ?, maka Nabi menjawab : Siapa Lagi (kalau bukan mereka)?” Shodaqo rasuuhul kariim, ummat sudah menjadi pengikut barat, peringatan tahun baru, valentine day, peringatan ulang tahun, pengagum demokrasi, HAM, hukum positif dan sebagainya.

    7. Irak diboikot dan makanan ditahan darinya. Rasulullah bersabda : “Hampir saja tidak boleh dibawa makanan ke negeri Irak secupak (qafizh) makanan atau sebuah dirham, kami (sahabat) bertanya Orang orang ajam (non arab) kah yang melakukan ini? kemudian Beliau berkata : “Hampir saja tidak dibawa makanan atau sebuah dinar kepada penduduk syam (palestina, syiria , libanon , yordan dan sekitarnya) kemudian Sahabat bertanya “Siapa yang melakukan itu ya Rasulullah? “orang orang RUM (Romawi : Amerika-Eropa).”

    Sebenarnya ini adalah tanda yang paling menakjubkan, karena sampai sekarang irak telah diboikot oleh Amerika semenjak perang teluk dan syam telah menderita kekuarangan makanan, palestina di jajah israel yahudi dan setelah terkepungnya irak dan syam ini dan setelah terjadinya peperangan dahsyat di PALESTINA maka akan muncullah tanda tanda besar kiamat berupa munculnya Imam Mahdi, Keluarnya Dajjal dan turunnya Isa Al Masih.

    8. Turki akan memerangi Irak. Rasulullah bersabda : “Sekelompok manusia dari ummatku akan turun di suatu dataran rendah yang mereka namakan dengan Bashrah pada tepi suatu sungai yang bernama Dajlah. Dan apabila telah datang akhir zaman datangkah Bani Qanthura (mereka adalah orang orang turki) yang bermuka lebar dan bermata kecil sehingga mereka turun pada tepi sungai itu, maka terpecahlah penduduknya menjadi 3 kelompok, yang satu sibuk mengikuti ekor ekor sapi mereka (sibuk mengurusi harta benda) dan mereka akan hancur, dan satu kelompok dari mereka akan memperhatikan diri mereka sendiri dan mereka itu telah kafir, dan satu kelompok dari mereka akan menjadikan anak cucu mereka di belakang mereka kemudian mereka berperang, itulah para syuhada” (hadits hasan diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud (4138)

    Pada bulan mei 1997 dahulu orang orang turki telah mulai memancing mancing permusuhan dengan Irak dan mereka membangkitkan masalah-masalah yang dibuat-buat sekitar masalah air di sungai Eufrat dan orang orang turki itu membuat kesepakatan dengan orang orang israel dan amerika dan melakukan latihan militer bersama dengan tujuan penyerangan irak, iran dan syiria, dan waktu itu juga Turki menyerang bagian Irak Utara dengan alasan untuk menghajar suku kurdi.

    9. Bumi Arab akan kembali menjadi kebun kebun dan sungai sungai telah bersabda rasulullah : “Tidak akan berdiri hari kiamat hingga harta akan banyak melimpah dan sehingga bumi arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai ” (Ahmad dan Muslim)

    Dan Negeri Arab saat ini telah menjadi kebun, banyak sungai dan di daerah tha’if bahkan telah turun butiran es, musim haji suhu dingin kira kira 5 derajat celcius, tidak lagi panas

    10. Peperangan dengan Yahudi : Tidak terjadi kiamat hingga orang orang berperang dengan Yahudi, dan orang orang Yahudi bersembunyi dibawah batu dan pohon, lalu batu dan pohon itu berkata kepada orang orang islam ” di sini ada Yahudi, maka bunuhlah ia” (Fathul Bari’, Al Manaqib, Al Hafiz Ibnu Hajar)

    ***

    Wassalam

    Dari Sahabat.

     
    • lazione budy 5:25 am on 5 Oktober 2013 Permalink

      Membangga-banggakan masjid itu ironi ya.
      Masjidnya keren, jamaahnya dikit.

  • erva kurniawan 3:05 am on 4 October 2013 Permalink | Balas  

    Warisan Paling Berharga 

    quranWarisan Paling Berharga

    eramuslim – Pada suatu hari Abu Hurairah radiallaahuanhu berdiri di pasar kota Madinah. Kemudian dia berkata kepada para pedagang, “Wahai para pedagang, mengapa kalian masih belum menutup dagangan kalian?” Mereka bertanya kebingungan, ” Ada apa kiranya ya Aba Hurairah?”

    Abu Hurairah menjawab, “Apakah kalian tidak tahu kalau warisan Muhammad SAW tengah dibagi-bagikan sehingga kalian masih berdiri disini? Apakah kalian tidak ingin mengambil bagian kalian?” Dengan keinginan yang meluap mereka bertanya serius, “Dimana ya Aba Hurairah?!” “Di Masjid Rasulullah,” jawab Abu Hurairah ra.

    Setelah diberitahu demikian, para pedagang itu segera bergegas ke Masjid Rasulullah, sedangkan Abu Hurairah tetap tinggal disitu, tidak ikut pergi.

    Tak Berapa lama kemudian para pedagang itu kembali ke pasar. Abu Hurairah bertanya kepda mereka, “Mengapa kalian kembali?” Mereka segera menjawab dengan nada kesal, “Ya Aba Hurairah, kami telah datang ke Masjid, tetapi setiba disana kami tidak melihat ada sesuatu yang dibagikan Rasulullah…”

    Abu Hurairah bertanya lagi memancing, “Apakah kalian tidak melihat seorangpun di Masjid?”. “Bukan demikian ya Aba Hurairah, kami melihat banyak orang tetapi bukan yang seperti yang kau maksud, kami melihat banyak orang sedang sholat, sementara sekelompok lainnya ada yang mengaji Al Qur’an dan ada pula yang sedang mempelajari soal-soal yang haram dan halal…” jawab para pedagang dengan agak sewot.

    Mendengar uraian para pedagang tersebut, Abu Hurairah menjelaskan, “Wahai para pedagang, ketahuilah, itulah warisan Muhammad SAW yang paling berharga untuk kalian semua…”. (Hadist Riwayat Tabrani)

    Saudaraku, Ketahuilah bahwa tidak ada yang lebih berharga dari apapun yang kita miliki di dunia ini melainkan sesuatu hal yang senantiasa kita lakukan demi mengharap ridha Allah. Karena dengan itu semua, Dia akan membalasnya dengan sesuatu yang tak pernah terukur nilainya, takkan pernah ternilai besarnya, yakni kecintaan-Nya akan orang-orang yang mencintai.

    Maka, tatkala datang seruan-Nya, buktikanlah bahwa kita termasuk orang-orang yang mencintai Allah diatas segala kecintaan terhadap apapun.

    Wallaahu a’lam bishshowaab

    ***

    Oleh: Dwi Ryan

     
  • erva kurniawan 4:45 am on 3 October 2013 Permalink | Balas  

    Adab Berjalan ke Masjid 

    itikafAdab Berjalan ke Masjid

    Bacaan Sewaktu Masuk dan Keluarnya

    oleh Abdul Hakim bin Amir Abdat

    Hadits Pertama

    “Dari Abu Qatadah, ia berkata : Tatkala kami sedang shalat bersama Nabi SAW, tiba-tiba beliau mendengar suara berisik orang-orang (yang datang). Maka ketika Nabi telah selesai shalat, ia bertanya : “Ada apa urusan kamu tadi (berisik) ?”. Mereka menjawab: “Kami terburu- buru untuk turut (jama’ah)”, Nabi SAW berkata : “Janganlah kamu berbuat begitu!. Apabila kamu mendatangi shalat, hendaklah kamu berlaku tenang ! Apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan, sempurnakanlah!” (Hadits riwayat : Ahmad, Muslim dan Bukhari).

    Hadits Kedua

    “Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW beliau bersabda : “Apabila kamu mendengar iqamat, maka pergilah kamu ke tempat shalat itu, dan kamu haruslah berlaku tenang dan bersikap sopan/ terhormat, dan janganlah kamu tergesa-gesa, apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan sempurnakanlah”. (Hadits riwayat : Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa’i & Ahmad).

    Kedua hadits ini mengandung beberapa hukum : Kita diperintah berlaku tenang dan bersikap sopan/ terhormat apabila mendatangi tempat shalat/masjid Kita dilarang tergesa-gesa/ terburu-buru apabila mendatangi tempat shalat, seperti berlari-lari, meskipun iqamat telah dikumandangkan. Kita dilarang berisik apabila sampai di tempat shalat, sedang shalat (jama’ah) telah didirikan. Ini dapat mengganggu orang-orang yang sedang shalat jama’ah. Imam masjid perlu menegur (memberikan pelajaran/ nasehat) kepada para jama’ah (ma’mum) yang kelakuannya tidak sopan di masjid, seperti berisik, mengganggu orang shalat, melewati orang yang sedang shalat, shaf tidak beres, berdzikir dengan suara keras, yang dapat mengganggu orang yang sedang shalat atau belajar atau lain-lain. Apa yang kita dapatkan dari shalatnya Imam, maka hendaklah langsung kita shalat sebagaimana keadaan shalat Imam waktu itu. Setelah Imam selesai memberi salam ke kanan dan ke kiri, barulah kita sempurnakan apa-apa yang ketinggalan.

    Diantara hikmahnya kita diperintahkan tenang dan sopan serta tidak boleh tergesa-gesa, Nabi SAW pernah bersabda. Artinya : “Karena sesungguhnya salah seorang diantara kamu, apabila menuju shalat, maka berarti dia sudah dianggap dalam shalat”. (Hadits riwayat : Muslim). Periksa : Shahih Muslim 2 : 99,100. Shahih Bukhari 1 : 156. Subulus Slam (syarah Bulughul Maram) 2 : 33, 34. Nailul Authar (terjemahan) 2 : 781. koleksi hadits hukum, Ustadz Hasbi 4 : 27. Fiqih Sunnah.

    Hadits Ketiga

    “…..Kemudian muadzin adzan (Shubuh), lalu Nabi keluar ke (tempat) shalat (masjid), dan beliau mengucapkan : “ALLAHUMMAJ ‘AL FI QALBY NUURAN dan seterusnya (yang artinya) : “Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, dan didalam ucapakanku cahaya, dan jadikanlah pada pendengaranku cahaya, dan jadikanlah pada penglihatanku cahaya, dan jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku cahaya, dan jadikanlah dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya, ya Allah berikanlah kepadaku cahaya”. (Hadits riwayat : Muslim & Abu Dawud).

    Keterangan : Hadits ini diriwayatkan dari jalan Ibnu Abbas ra yang menerangkan tentang shalat Nabi SAW di waktu malam (shalat ul-lail). Hadits ini menyatakan : Disukai kita mengucapkan do’a di atas di waktu pergi ke Masjid. Periksa : Tuhfatudz Dzakirin hal : 93, Imam Syaukani. Al-Adzkar hal : 25, Imam Nawawi. Fathul Bari’ 11 : 16, Ibnu hajar. Aunul Ma’bud (syarah Abu Dawud) 4 : 232. Syarah shahih Muslim 5 : 51, Imam Nawawi.

    Hadits Keempat

    “Dari Abi Humaid atau dari Abi Usaid, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW : “Apabila salah seorang kamu masuk masjid, maka ucapkanlah : “ALLAHUMMAF TAHLI ABWAABA RAHMATIKA (Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu)”. Dan apabila keluar (dari masjid), maka ucapkanlah : “ALLAHUMMA IN-NI AS ALUKA MIN FADLIKA (Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada-Mu dari karunia-Mu)”. (Hadits riwayat : Muslim, Ahmad & Nasa’i). Hadits ini menyatakan : Disunatkan kita mengucapkan do’a di atas apabila masuk ke masjid dan keluar dari padanya.

    Periksa : Shahih Muslim 2 : 155. Sunan Nasa’i 2 : 41. Fathur Rabbani 3 : 51,52 Nomor hadits 314. Al-Adzkar hal : 25.

    Hadits Kelima

    “Dari Abdullah bin Amr bin Ash dari Nabi SAW, bahwasanya Nabi SAW, apabila masuk masjid, beliau mengucapkan : “AUDZU BILLAHIL ‘AZHIMI WABIWAJHIHIL KARIIMI WA SULTHANIHIL QADIIMI MINASY SYAITHANIR RAJIIM” (Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung dan dengan wajah-Nya yang Mulia serta kekuasaan-Nya yang tidak mendahuluinya, dari (gangguan) syaithan yang terkutuk)”. Nabi SAW berkata : Apabila ia mengucapkan demikian (do’a di atas), syaithanpun berkata: Dipeliharalah ia dari padaku sisa harinya”. (Hadits riwayat Abu Dawud). Hadits ini menyatakan: Disunatkan kita membaca do’a mohon perlindungan kepada Allah dari gangguan syaithan apabila memasuki masjid.

    Periksa : Sunan Abu Dawud Nomor hadits : 466, Aunul Ma’bud Nomor hadits : 462. Minhalul ‘Adzbul Mauruud (syarah Abu Dawud) 4 : 75, Imam As-Subki. Adzkar hal : 26. Tafsir Ibnu Katsir 3 : 294.

     
  • erva kurniawan 4:53 am on 2 October 2013 Permalink | Balas  

    Kisah Seorang Ulama Buntung 

    ibu dan anak lelakinya berdoaKisah Seorang Ulama Buntung

    Oleh Sabrur R Soenardi

    Beberapa abad silam, di sudut distrik terpencil Zamakhsyar, seorang bocah mungil asyik bermain-main dengan seekor burung. Ketika ibunya memanggil, si bocah tetap saja asyik bermain hingga akhirnya terjadilah sebuah tragedi : Bocah ini mematahkan kedua kaki burung. Binatang malang ini mencicit kesakitan, tetapi si bocah malah terbahak-bahak melihatnya.

    Merasa panggilannya tak digubris, sang ibu menghampiri dengan marah. Dia bertambah murka ketika tahu anaknya berbuat dosa pada sang burung yang hampir putus kakinya. “Oh, anakku, bagaimana kau bisa seenaknya mematahkan kaki burung kecil itu? Itu berdosa anakku. Ia sangat kesakitan. Coba pikirkan jika itu terjadi padamu. Kamu akan menderita anakku, Kamu sungguh keterlaluan.” Si bocah menggigil ketakutan. Baru kali ini ia melihat ibunya demikian marah, mengeluarkan kata-kata kasar dan mengerikan.

    Beberapa belas tahun kemudian, si bocah itu sudah menjadi remaja yang matang. Ia tengah melakukan perjalanan pulang selepas menyelesaikan belajarnya di sebuah madrasah di Iran. Malang, tiba-tiba seekor kalajengking menyengat kudanya. Sang kuda meringkik, terhuyung, kemudian terjerembat dan sang penunggang jatuh terjungkal.

    Singkat cerita, sesampai remaja ini di rumah, ternyata kedua kakinya terkilir hebat dan menurut tabib setempat, tidak bisa dipulihkan. Satu-satunya jalan keluar adalah mengamputasinya. Ia pun mesti menerima takdir Allah itu dengan ikhlas dan pasrah, menjadi manusia berkaki buntung.

    Sang Ibu benar-benar terpukul atas nasib yang menimpa anaknya itu. Namun suatu malam sehabis shalat tahajjud, sang ibu tersadar bahwa “kata-kata buruk” yang dia ucapkan belasan tahun lalu kepada si bocah kecil yang mematahkan kaki burung itu rupanya kini jadi kenyataan. Dalam larut atas rasa berdosa yang tak terkendali, ia pun berdoa pada Allah agar di kemudian hari, meski cacat tubuh, sang anak bisa menjadi manusia yang berguna bagi Islam dan kaum Muslim.

    Doa baik sang ibu dikabulkan Allah. Anak itulah yang di kemudian hari kita kenal sebagai Abu Qasim Azzamakhsyari, seorang ulama paling brillian di zamannya, sekaligus cendikiawan garda depan Muktazilah dengan karya tafsirnya yang terkenal Alkasysyaf.

    Dialah satu-satunya ulama yang buntung kedua kakinya, dan itu diyakini buah dari “kata-kata buruk” sang ibu. Ia menjadi tokoh ternama, dan itu juga diyakini sebagai buah dari “kata-kata mulia” sang ibu. Benar sabda Nabi SAW bahwa salah satu doa yang pasti dikabulkan Allah adalah yang terucap dari mulut orang tua (demi nasib anaknya). Maka, berhati-hatilah berucap untuk anak-anak kita.

    Wallahu a’lam

     
  • erva kurniawan 3:38 am on 1 October 2013 Permalink | Balas  

    Hantu 

    siluet menjemputHantu

    Tentu bukan karena didatangi peri, kuntilanak, genderuwo atau makhluk-makhluk sejenisnya jika Paijo dan kawan-kawan malam itu sibuk ngobrol soal hantu. Dan tentu juga bukan karena lagu ndangdut ‘Mbah Dukun’ yang sedang ngetop yang kemudian lantas menyeret anak-anak itu ke dunia klenik.

    Hantu semata-mata soal percaya atau tidak. Hantu, bagi yang percaya, adalah lelembut yang tidak tersentuh panca indera secara normal, dan akan muncul pada saat, kondisi atau tempat tertentu. Sedang bagi yang tidak percaya, hantu sekedar halusinasi, atau sekedar akibat adanya gelombang elektromagnetik berlebihan (seperti pernah ditayangkan oleh Discovery Channel) dari orang yang merasa melihat atau mendengar sesuatu yang aneh-aneh. Dan yang aneh-aneh itu sering digambarkan sebagai sesuatu yang menyeramkan. Hantu adalah sesuatu yang “entah”. Entah benar-benar ada atau tidak. Keberadaan hantu, meski dipercayai dan diklaim pernah dilihat atau didengar oleh sementara orang, tetap tidak bisa dibuktikan.

    Namun lepas dari kontroversi hantu ada atau tidak, yang pasti hantu telah sukses dijadikan sementara orang tua untuk menakut-nakuti anaknya, terutama yang tidak mau segera tidur meski hari sudah malam. Hantu juga sukses ‘diperalat’ sebagai senjata pamungkas orangtua yang tidak ingin anaknya main ke tempat-tempat tertentu. Tentu tidak ada niatan buruk dari orangtua yang melakukan hal seperti itu. Tapi, kadang yang kurang disadari orangtua adalah dampak jangka panjang bagi si anak. Sesuatu yang ditanamkan sejak dini dan secara terus-menerus pada akhirnya akan diam dan mengendap di benak si anak, dan selanjutnya akan dianggap sebagai kebenaran. Apalagi secara naluriah, setiap orang ada kecenderungan untuk tertarik dan mereka-reka pada sesuatu yang ‘ghaib’.

    Begitulah, setelah ngobrol ngalor-ngidul soal hantu yang menghuni dunia klenik itu, Paijo dan kawan-kawan akhirnya sampai juga di topik hantu dalam tataran psikologis.

    “Apa maksudmu dengan hantu dalam tataran psikologis Jo ?” tanya Blothong.

    “Maksudku, ya bayangan menakutkan yang menghinggapi pikiran orang.”

    “Bayangan menakutkan .. dalam hal apa ?” gantian Budi bertanya.

    “Nyaris dalam segala hal. Segala sesuatu yang menakutkan, yang sebenarnya belum tentu ada. Dan rasa takut itu lebih disebabkan dorongan dari dalam diri kita sendiri.”

    “Misalnya ?”

    “Misalnya .. kamu takut menghadap pak Lurah. Kamu takut nanti kalau di depan pak Lurah, begini-begitu. Padahal yang begini-begitu itu belum tentu. Dalam hal itu pak Lurah, dengan segala kemungkinan yang belum pasti, bahkan bisa jadi sekedar angan-angan kosong itu telah menjelma menjadi ‘hantu’ dalam benakmu.”

    “Apa ini menyangkut soal kepercayaan diri Jo ?” kali ini Rakhmat yang bertanya.

    “Ya ! Cuman, kepercayaan diri itu kan hasil. Berarti ada proses panjang yang melatar belakangi hasil itu.”

    “Proses panjang .. ?” Blothong mengerutkan dahinya.

    “Ya proses panjang yang membentuk kepercayaan diri itu,” jawab Paijo. “Termasuk informasi maupun nilai-nilai yang ditanamkan secara keliru dan terus-menerus tadi.”

    “Oleh siapa, orang tua ?”

    “Salah satunya,” jawab Paijo. “Bisa jadi juga oleh teman, guru, atasan, dan lain sebagainya. Dan repotnya, orang yang sudah kehilangan kepercayaan diri, suka menularkan ketidakpercayan dirinya itu ke orang lain. Orang yang sudah dibayang-bayangi hantu biasanya suka mentransfernya ke orang lain, terutama orang-orang yang berada dalam ‘kekuasaannya’. Jika perlu disertai dengan informasi yang seolah-olah meyakinkan tentang hantu itu, padahal ia sebenarnya berasal dari rasa ketakutannya sendiri. Bayangkan jika seandainya hal itu dilakukan secara intens dan terus menerus, apa hasilnya ?”

    “Lha apa ? malah nanya. Dasar cah gemblung !” komentar Blothong sambil nyengenges.

    “Hasilnya, ya hantu itu akan dianggap sebagai sesuatu yang nyata. Hasilnya adalah orang-orang yang terjajah secara psikologis, karena berhasil ditakut-takuti dengan hantu-hantuan itu.”

    “Jo, kamu tadi bilang hantu di tataran psikologis itu ada di segala hal ?” tanya Rakmat.

    “Betul.”

    “Apa agama termasuk juga di situ ?”

    “Ha..ha..ha.. Kamu tentu juga tahu Mat, kalau agama itu salah satu lahan subur buat menciptakan ‘hantu-hantu’. Orang atau pemikiran yang tidak disetujui bisa disulap jadi hantu. Bahkan Tuhan pun kadang digambarkan seperti hantu. Kok ya kebetulan, hantu sama tuhan itu kalau diucapkan berulang-ulang nggak ada bedanya. Han-tu-han-tu-han-tu-han-tu-han-tu-han-tu .. he..he..he…”

    ***

    Dari Sahabat

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: