Updates from Februari, 2015 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 2:40 am on 28 February 2015 Permalink | Balas  

    Kepada Siapa Puasa itu Diwajibkan? 

    berbuka-puasaKepada Siapa Puasa itu Diwajibkan?

    arsip fiqh

    Para ulama telah sepakat (ijma’) bahwa puasa itu wajib atas orang Islam yang berakal, baligh, sehat dan menetap (tidak sedang bepergian). Sedangkan seorang wanita hendaklah ia suci dari haidh dan nifas.

    Oleh sebab itu, tidak wajib puasa atas orang kafir, orang gila, anak-anak, orang sakit, musafir, perempuan yang sedang haidh dan nifas. Begitu pula orang tua, perempuan hamil atau yang sedang menyusui.

    Di antara mereka, ada yang tidak wajib berpuasa atasnya sama sekali, seperti orang kafir atau orang gila, ada pula yang diminta agar orang tuannya menyuruhnya berpuasa (mereka adalah anak-anak), ada yang diperbolehkan berbuka dan wajib mengqadha (orang sakit dan musafir), ada yang wajib berbuka dan wajib mengqadha (perempuan yang haidh dan nifas) dan ada yang diberi keringanan berbuka, tetapi diwajibkan membayar fidyah (orang yang sudah tua-renta, baik laki-laki maupun perempuan).

    Orang Kafir dan Orang Gila

    Puasa itu merupakan ibadah islamiyah, sehingga tidak wajib bagi orang-orang yang tidak beragama Islam. Orang gila tidak termasuk mukallaf, karena dia kehilangan akal yang menjadi tempat bergantungnya taklif. Rasulullah saw besabda, “Pena (beban taklif) itu diangkat dari tiga golongan, yaitu dari orang yang gila sampai akalnya sehat, dari orang tidur sampai ia bangun, dan dari anak kecil sampai ia baligh.” (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).

    Puasa Anak-Anak

    Mengenai anak-anak -walaupun mereka tidak wajib berpuasa- sepatutnya walinya menyuruhnya agar mereka mengerjakannya, supaya mereka dapat membiasakannya dari kecil, yakni selama anak itu dapat dan mampu. Diterima dari Rubaiyi’ binti Muawwidz bahwa Rasulullah saw -pada pagi hari ‘Asyura- mengirim utusan ke desa-desa kaum Anshar untuk menyampaikan:

    “Siapa yang telah berpuasa dari pagi hari hendaklah ia meneruskan puasanya, dan siapa yang dari pagi telah berbuka, hendaknya ia mempuasakan hari yang tersisa! Maka, setelah itu pun kami berpuasa, kami bawa mereka ke masjid, kami buatkan mereka semacam alat permainan dari bulu domba. Lalu, jika ada di antara mereka yang menangis karena minta makan, kami berikan kepadanya alat permainan itu. Demikianlah berlangsung sampai dekat waktu berbuka.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Orang yang Boleh Berbuka dan Wajib Membayar Fidyah

    Orang yang telah dimakan usia (tua-renta), baik laki-laki maupun perempuan, orang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya dan orang-orang yang mempunyai pekerjaan berat yang tidak mendapatkan pekerjaan lain diberi keringanan berbuka, yakni jika berpuasa itu akan memberatkan mereka sepanjang musim dalam tahun itu. Dan sebagai tebusannya mereka wajib memberi makan seorang miskin untuk setiap hari berpuasa. Sedangkan banyaknya makanan itu terdapat perselisihan di antara ulama -karena dalam Sunnah sendiri tidak disebutkan- tetapi ada yang mengatakan 1 mud untuk 1 hari tidak puasa dan 1 mud = 6 ons makanan pokok.

    Ibnu Abbas berkata, “Diberi keringanan kepada orang yang sudah lanjut usia untuk berbuka, untuk setiap harinya hendaklah ia memberikan makan seorang miskin dan ia tidak perlu mengqadha.”

    Bukhari meriwayatkan dari ‘Atha’ bahwa ia mendengar Ibnu Abbas ra membaca ayat, “Wa ‘alal Ladziina Yuthiquunahu Fidyatun Tha’amu Miskiinin”. (Bagi orang-orang yang sulit melakukan puasa, hendaklah membayar fidyah yaitu memberi makan seorang miskin.” (Al-Baqarah: 184)

    Ibnu Abbas berkata, “Ayat itu tidaklah dinasakh/dihapus. Maksudnya adalah bagi orang tua lanjut usia, baik laki-laki maupun wanita yang telah tidak sanggup berpuasa, hendaklah memberi makan seorang miskin untuk setiap hari mereka tidak berpuasa.”

    Begitu pula orang sakit yang tidak ada harapan sembuh lagi dan tidak kuat berpuasa, hukumnya sama dengan orang tua-renta, tidak ada bedanya. Demikian pula halnya kaum buruh yang bergulat dengan pekerjaan-pekerjaan yang berat.

    Orang yang Boleh Berbuka dan Wajib Mengqadha

    Orang sakit yang masih ada harapan kesembuhannya dan musafir dibolehkan bagi keduanya untuk berbuka dan wajib mengqadha. Allah SWT berfirman, “Siapa yang sakit di antara kalian atau dalam perjalanan, hendaklah ia mengqadha pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 184).

    Orang yang sehat yang takut akan jatuh sakit disebabkan berpuasa boleh berbuka seperti orang yang sakit. Demikian juga orang yang amat kelaparan atau kehausan hingga mungkin celaka (mati), hendaklah berbuka dan mengqadha, walaupun ia seorang yang sehat dan bukan musafir. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu bunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadapmu.” (An-Nisaa’: 29).

    “Tidaklah Allah menyebabkan timbulnya kesulitan bagimu dalam agama.” (Al-Hajj: 78).

    Dan seandainya orang sakit itu berpuasa dan rela menanggung penderitan, puasanya sah. Hanya saja, tindakannya itu makruh hukumnya, karena ia tak ingin menerima keringanan yang disukai Allah SWT dan siapa tahu mungkin ia dapat bahaya karenanya.

    Rukun Puasa

    Rukun puasa ada dua, dan keduanya merupakan unsur terpenting dari hakikat puasa itu. Kedua rukun tersebut adalah pertama, niat. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT, “Dan tiadalah mereka diperintah kecuali untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT dan mengikhlaskan agama kepada-Nya semata.” (Al-Bayyinah: 5).

    Dan, sabda Nabi saw, “Setiap perbuatan itu hanyalah dengan niat, dan setiap manusia akan memperoleh apa yang diniatkannya.”

    Niat tersebut hendaknya dilakukan sebelum terbitnya fajar (masuknya waktu subuh) pada tiap malam bulan Ramadhan, berdasarkan hadis Hafshah, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa tidak membulatkan niatnya untuk melakukan puasa sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.” (HR Ahmad dan Ashhabus Sunan serta dinyatakan sahih oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

    Niat itu sah pada salah satu saat di malam hari, dan tidak disyaratkan mengucapkannya, karena ia merupakan pekerjaan hati dan tidak ada sangkut-pautnya dengan lisan. Hakikat niat adalah menyengaja suatu perbuatan demi menaati perintah Allah SWT dalam mengharapkan keridhaan-Nya. Oleh karena itu, siapa saja yang makan sahur dengan maksud akan berpuasa dan dengan menahan diri ini bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, berarti ia telah berniat. Begitupun orang yang bertekad akan menghindari segala hal yang dapat membatalkan puasa di siang hari dengan ikhlas karena Allah SWT, juga berarti telah niat, walaupun ia tidak makan sahur.

    Kemudian, menurut kebanyakan fuqaha’, niat puasa tathawwu’ (puasa sunnah) itu cukup bila waktu siang, yakni jika seseorang belum lagi makan-minum. Aisyah berkata, “Pada suatu hari Rasulullah saw datang ke rumah, lalu Rasulullah bertanya, ‘Apakah ada makanan padamu’, Aisyah menjawab, ‘Tidak ada’, kemudian Rasul bersabda, ‘Kalau begitu, saya akan berpuasa’.” (HR Muslim dan Abu Daud).

    Sementara, golongan Hanafiah mensyaratkan bahwa niat itu hendaklah terjadi sebelum zawal atau tergelincirnya matahari. Pendapat seperti ini juga merupakan pendapat yang populer di antara kedua pendapat Imam Syafi’i. Akan tetapi, Ibnu Mas’ud dan Ahmad, menurut lahir ucapan mereka, niat itu tercapai, baik sebelum atau sesudah zawal, keduanya tidak ada bedanya.

    Kedua, menahan diri dari segala yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT, “Maka sekarang, boleh kamu mencampuri mereka, dan hendaklah kamu mengusahakan apa yang diwajibkan Allah atasmu, dan makan-minumlah hingga nyata garis putih dari garis hitam berupa fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam.” (Al-Baqarah: 187).

    Yang dimaksud dengan garis putih dan garis hitam adalah terangnya siang dan gelapnya malam. Hal tersebut berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa ‘Adi bin Hatim bercerita tatkala turun ayat yang artinya, “… hingga nyata benang putih dari benang hitam berupa fajar…”, saya ambil seutas tali hitam dengan seutas tali putih, lalu saya amat-amati di waktu malam, dan ternyata tidak dapat saya bedakan. Kemudian, pagi-pagi saya mendatangi Rasulullah saw dan saya menceritakan apa yang terjadi pada saya kepadanya, lalu Rasul bersabda, “Maksudnya adalah gelapnya malam dan terangnya siang.”

    ***

    Sumber: Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Arland

    Iklan
     
  • erva kurniawan 1:19 am on 27 February 2015 Permalink | Balas  

    Puasa Sunnah (Tathawwu’) 

    puasa 2Puasa Sunnah (Tathawwu’)

    arsip fiqh

    Ketika Islam melarang berpuasa pada hari-hari tertentu–sebagaimana telah dipaparkan pada edisi yang lalu–maka Islam pun menganjurkan kepada umatnya agar melakukan puasa pada hari-hari tertentu yang Rasulullah saw sendiri biasa melakukan puasa pada hari-hari tersebut.

    1. Enam Hari pada Bulan Syawal

    Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh jamaah ahli hadis kecuali Bukhari, Nasa’i dari Abu Ayyub al-Anshari bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan lalu mengiringinya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka seakan-akan dia telah berpuasa selama satu tahun (sepanjang masa).”

    Puasa tersebut menurut Imam Ahmad dapat dilakukan berturut-turut atau tidak berturut-turut dan tidak ada kelebihan antara yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan menurut golongan Hanafi dan golongan Syafi’i, lebih utama melakukannya secara berturut-turut, yaitu setelah hari raya.

    1. Puasa tanggal 9 Dzul Hijjah (Arafah) bagi selain orang yang melaksanakan Haji

    Kesunnahan berpuasa pada tanggal tersebut didasarkan pada hadis-hadis:

    • Dari Abu Qatadah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, yaitu satu tahun yang telah berlalu dan satun tahun yang akan datang.” (HR Jamaah kecuali Bukhari dan Tirmidzi).
    • Dari Hafshah ra, dia berkata, “Ada empat hal yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah saw, yaitu puasa Asyura, puasa sepertiga bulan (yakni bulan Dzul Hijjah), puasa tiga hari dari tiap bulan, dan salat dua rakaat sebelum Subuh.” (HR Ahmad dan Nasa’i).
    • Dari Uqbah bin Amir ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Hari Arafah, hari Kurban dan hari-hari Tasyriq adalah hari raya umat Islam dan hari-hari tersebut adalah hari-hari makan dan minum.” HR Khamsah (lima imam hadis) kecuali Ibnu Majah dan dinyatakan sahih oleh Tirmidzi.
    • Dari Ummu Fadhal, dia berkata, “Mereka merasa bimbang mengenai puasa Nabi saw di Arafah, lalu Nabi saw saya kirimi susu. Kemudian Nabi saw meminumnya, sedang ketika itu beliau berkhotbah di depan umat manusia di Arafah.” (HR Bukhari dan Muslim).
    1. Puasa Bulan Muharrom dan Sangat Dianjurkan pada Tanggal 9 dan 10 (Tasu’a dan ‘Asyura)

    Hal ini berdasarkan pada hadis-hadis:

    • Dari Abu Hurairah ra dia berkata, “Rasulullah saw ditanya, ‘Salat apa yang lebih utama setelah salat fardhu?’ Nabi menjawab, ‘Salat di tengah malam’. Mereka bertanya lagi, ‘Puasa apa yang lebih utama setelah puasa Ramadhan?’ Nabi menjawab, ‘Puasa pada bulan Allah yang kamu namakan Muharrom’.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).
    • Dari Muawiyah bin Abu Sufyan ra, dia berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Hari ini adalah hari ‘Asyura dan kamu tidak diwajibkan berpuasa padanya. Sekarang, saya berpuasa, maka siapa yang mau, silahkan puasa dan siapa yang tidak mau, maka silahkan berbuka.” (HR Bukhari dan Muslim).
    • Dari Aisyah ra, dia berkata, “Hari ‘Asyura’ adalah hari yang dipuasakan oleh orang-orang Quraisy di masa jahiliyah, Rasulullah juga biasa mempuasakannya. Dan tatkala datang di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang-orang untuk turut berpuasa. Maka, tatkala diwajibkan puasa Ramadhan beliau bersabda, ‘Siapa yang ingin berpuasa, hendaklah ia berpuasa dan siapa yang ingin meninggalkannya, hendaklah ia berbuka’.” (Muttafaq alaihi).
    • Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Nabi saw datang ke Madinah lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’, maka Nabi bertanya, ‘Ada apa ini?’ Mereka menjawab, hari ‘Asyura’ itu hari baik, hari Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa saw dan Bani Israel dari musuh mereka sehingga Musa as berpuasa pada hari itu. Kemudian, Nabi saw bersabda, ‘Saya lebih berhak terhadap Musa daripada kamu’, lalu Nabi saw berpuasa pada hari itu dan menganjurkan orang agar berpuasa pada hari itu. ” (Muttafaq alaihi).
    • Dari Abu Musa al-Asy’ari ra, dia berkata, “Hari ‘Asyura’ itu diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menjadikan sebagai hari raya. Maka, Rasulullah saw bersabda,”Berpuasalah pada hari itu.” (Muttafaq alaihi).
    • Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Tatkala Rasulullah saw berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan memerintahkan orang-orang agar berpuasa pada hari itu, mereka berkata, “Ya Rasulullah, ia adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani,” maka Nabi saw bersabda, “Jika datang tahun depan, insya Allah kami berpuasa pada hari kesembilan (dari bulan Muharrom).” Ibnu Abbas ra berkata, “Maka belum lagi datang tahun depan, Rasulullah saw sudah wafat.” (HR Muslim dan Abu Daud).

    Para ulama menyebutkan bahwa puasa Asyura’ itu ada tiga tingkat: tingkat pertama, berpuasa selama tiga hari yaitu hari kesembilan, kesepuluh dan kesebelas. Tingkat kedua, berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh. Tingkat ketiga, berpuasa hanya pada hari kesepuluh saja.

    1. Berpuasa pada Sebagian Besar Bulan Sya’ban

    Hal ini berdasarkan hadis:

    • Dari Aisyah ra berkata, “Saya tidak melihat Rasulullah saw melakukan puasa dalam waktu sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan dan tidak satu bulan pun yang Nabi saw banyak melakukan puasa di dalamnya daripada bulan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim).
    • Dari Usamah bin Zaid ra berkata, Aku berkata, “Ya Rasulullah saw , tidak satu bulan yang Anda banyak melakukan puasa daripada bulan Sya’ban !” Nabi menjawab: “Bulan itu sering dilupakan orang, karena letaknya antara Rajab dan Ramadhan, sedang pada bulan itulah amal-amal manusia diangkat (dilaporkan) kepada Tuhan Rabbul ‘Alamin. Maka, saya ingin amal saya dibawa naik selagi saya dalam berpuasa.” (HR Nasa’i dan dinyatakan sahih oleh Ibnu Khuzaimah).
    1. Berpuasa pada Hari Senin dan Kamis

    Hal ini berdasarkan pada hadis Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw lebih sering berpuasa pada hari Senin dan Kamis, lalu orang-orang bertanya kepadanya mengenai sebab puasa tersebut, lalu Nabi saw menjawab, “Sesungguhnya amalan-amalan itu dipersembahkan pada setiap Senin dan Kamis, maka Allah berkenan mengampuni setiap muslim, kecuali dua orang yang bermusuhan, maka Allah berfirman, “Tangguhkanlah kedua orang (yang bermusuhan ) itu!” (HR Ahmad dengan sanad yang sahih).

    Dalam sahih Muslim diriwayatkan bahwa Nabi saw ditanya orang mengenai berpuasa pada hari Senin, maka beliau bersabda, “Itu hari kelahiranku dan pada hari itu pula wahyu diturunkan kepadaku.” (HR Muslim).

    1. Berpuasa Tiga Hari Setiap Bulan

    Dari Abu Dzarr al-Ghiffari ra berkata, “Kami diperintah Rasulullah saw untuk melakukan puasa tiga hari dari setiap bulan, yaitu hari-hari terang bulan, yakni tanggal 13, 14 dan 15, sembari Rasul saw bersabda, ‘Puasa tersebut seperti puasa setahun (sepanjang masa)’.” (HR Nasa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

    1. Berpuasa Selang-seling (Seperti Puasa Daud)

    Dari Abdullah bin Amr berkata, Rasulullah saw telah bersabda, “Puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Daud dan salat yang paling disukai Allah adalah salat Daud. Ia tidur seperdua (separoh) malam, bangun sepertiganya, lalu tidur seperenamnya, dan ia berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari.”

    ***

    Referensi:

    Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

    Tamamul Minnah, Muhammad Nashirudddin al-Albani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Arland

     
  • erva kurniawan 2:14 am on 26 February 2015 Permalink | Balas  

    Hari-Hari yang Dilarang Puasa 

    puasa 2Hari-Hari yang Dilarang Puasa

    arsip fiqh

    Hari-hari yang dilarang puasa meliputi sebagai berikut.

    1. Dua Hari Raya

    Para ulama telah sepakat (ijma’) atas haramnya berpuasa pada kedua hari raya, baik puasa fardu maupun puasa sunnah, berdasakan hadis Umar ra, “Sesungguhnya Rasulullah saw melarang puasa pada kedua hari ini. Adapun hari raya Idul fitri, ia merupakan hari berbuka dari puasamu, sedang hari raya Idul adha maka makanlah hasil kurbanmu.” (HR Ahmad dan imam empat)

    1. Hari-Hari Tasyriq

    Haram berpuasa pada hari-hari tasyriq, yaitu tiga hari berturut-turut setelah hari raya Idul adha (tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijah), berdasakan riwayat Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah mengutus Abdullah bin Hudzaifah berkeliling kota Mina untuk menyampaikan, Janganlah kamu berpuasa pada hari ini karena ia merupakan hari makan minum dan berzikir kepada Allah.” (HR Ahmad dengan sanad yang jayyid).

    1. Berpuasa pada Hari Jumat secara Khusus

    Hari Jumat merupakan hari raya mingguan bagi umat Islam. Oleh sebab itu, agama melarang berpuasa pada hari itu. Akan tetapi, jumhur (sebagian besar ulama) berpendapat bahwa larangan itu berarti makruh,bukan menunjukkan haram, kecuali jika seseorang berpuasa sehari sebelum atau sesudahnya atau sesuai dengan kebiasaannya atau secara kebetulan bertepatan pada hari Arafah (9 Dzulhijah) atau hari Asyura (10 Muharam), maka tidaklah makruh berpuasa pada hari Jumat itu.

    Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah saw masuk ke rumah Juwairiyah binti Harits pada hari Jumat sedang ia sedang berpuasa. Lalu Nabi bertanya kepadanya, “Apakah engkau berpuasa kemarin?” Dia menjawab, “Tidak”, dan besok apakah engkau bermaksud ingin berpuasa? “Tidak,” jawabnya. Kemudian Nabi bertanya lagi, dia menjawab tidak pula. “Kalau begitu, berbukalah sekarang!” (HR Ahmad dan Nasa’i dengan sanad yang jayyid).

    Diriwayatkan pula dai Amir al-Asy’ari, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya hariJumat itu merupakan hari rayamu, karena itu janganlah kamu berpuasa pada hari itu, kecuali jika kamu berpuasa sebelum atau sesudahnya!” (HR al-Bazar dengan sanad yang hasan).

    Ali ra berpesan: “Siapa yang hendak melakukan perbuatan sunnah di antaramu, hendaklah ia berpuasa pada hari Kamis dan jangan berpuasa pada hari Jumat, karena ia merupakan hari makan dan minum serta zikir.” HR Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang hasan.

    Menurut riwayat Bukhari dan Muslim yang diterima dari Jabir ra bahwa Nabi saw bersabda, “Janganlah kamu berpuasa pada hari Jumat, kecuali jika disertai oleh satu hari sebelumnya atau satu hari sesudahnya.” Dan menurut lafal Muslim: “Janganlah kamu mengkhususkan malam Jumat di antara malam-malam itu buat bangun beribadah, dan jangan kamu khususkan hari Jumat itu di antara hari-hari lain untuk berpuasa, kecuali bila bertepatan dengan puasa yang dilakukan oleh salah seorang di antaramu!”

    1. Berpuasa pada Hari Sabtu secara Khusus

    Larangan berpuasa pada hari ini didasarkan pada dalil yang telah dipadukan (al-Jam’u Bainal Adillah) dari dalil-dalil yang membolehkan puasa pada hari Sabtu dan dalil-dalil yang melarang puasa pada hari itu.

    Di antara dalil itu adalah hadis Busr seperti di bawah ini:

    Dari Busr as-Sulami dari saudara perempuannya, ash-Shamma’ bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kamu berpuasa pada hari Sabtu, kecuali karena diwajibkan kepada kamu. Dan seandainya seseorang di antaramu tidak menemukan kecuali kulit anggur atau bungkal kayu, hendaklah dimamahnya makanan itu!” (HR Ahmad, Ashhaabus Sunan, dan Hakim seraya mengatakan, hadis tesebut shahih menurut syarat Muslim).

    Turmudzi mengatakan, hadis tersebut Hasan, seraya berkata: “Dimakruhkan di sini maksudnya ialah jika seseorang mengkhususkan hari Sabtu untuk berpuasa, karena orang-orang Yahudi membesarkan hari Sabtu.”

    Dari Ummu Salamah dia berkata, “Nabi saw lebih banyak melakukan puasa pada hari-hari Sabtu dan Minggu daripada hari-hari yang lainnya dan beliau bersabda: ‘Kedua hari itu merupakan hari besar orang-orang musyrik, maka saya ingin berbeda dengan mereka’.” (HR Ahmad, Baihaqi, Hakim dan Ibnu Khuzaimah seraya keduanya yang terakhir ini menyatakan sah.

    Berdasarkan bermacam-macam hadis ini, Syekh Albani berpendapat: “Dari sini, maka tampaklah dengan jelas bahwa kedua macam ini membolehkan (puasa hari Sabtu). Maka, jika dilakukan kompromi antara hadis-hadis yang membolehkan dengan hadis ini (hadis yang melarang puasa hari Sabtu), bisa ditarik kesimpulan bahwa hadis ini (yang melarang) lebih didahulukan daripada hadis-hadis yang membolehkan. Demikian juga, sabda Nabi saw kepada Juwairiyah: “Apakah kamu akan berpuasa besok?” dan yang semakna dengan sabda ini adalah dalil yang membolehkan juga, maka tetap lebih mendahulukan hadis yang melarang daripada Sabda Nabi saw kepada Juwairiyah ini.”

    1. Berpuasa pada Hari yang Diragukan

    Dari Ammar bin Yasir ra berkata, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukannya, berarti ia telah durhaka kepada Abul Qasim (Muhammad saw).” (HR Ash-Habus Sunan).

    Menurut Turmudzi, hadis ini hasan lagi shahih dan menjadi amalan bagi kebanyakan ulama. Hadis itu juga merupakan pendapat Sufyan Tsauri, Malik bin Anas, Abdullah ibnu Mubarok, Syafi’i, Ahmad, serta Ishak.

    Kebanyakan mereka berpendapat, jika hari yang dipuasakannya itu termasuk bulan Ramadhan, hendaklah ia mengqadha satu hari sebagai gantinya. Dan jika ia berpuasa pada hari itu karena kebetulan bertepatan dengan kebiasaannya, maka hukumnya boleh tanpa dimakruhkan.

    Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Janganlah kamu mendahului puasa Ramadhan itu dengan sehari dua hari, kecuali jika bertepatan dengan hari yang biasa dipuasakan, maka bolehlah kamu berpuasa pada hari itu.” (HR al-Jamaah).

    1. Berpuasa Sepanjang Masa

    Hal ini berdasarkan hadis:

    “Tidaklah berpuasa, orang yang berpuasa sepanjang masa.” (HR Ahmad, Bukhari, dan Muslim).

    Solusi dari larangan ini adalah hendaknya seseorang berpuasa dengan puasa Daud as, yaitu sehari puasa dan sehari berbuka.

    ***

    Referensi:

    1. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq
    2. Tamamul Minnah, Muhammad Nashiruddin al-Albani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Arland

     
  • erva kurniawan 2:37 am on 25 February 2015 Permalink | Balas  

    Kejujuran Dalam Bekerja 

    kejujuranKejujuran Dalam Bekerja

    Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

    Alhamdulillaahirabbil’aalamiin, Allahuma shalli ‘ala Muhammad wa’ala aalihi washahbihii ajmai’iin. Saudaraku yang baik, semoga Allah memberi kenikmatan harga diri melebihi rasa nikmat kepada harta, pangkat dan jabatan. Karena ada orang yang mobilnya berharga, rumahnya berharga, namun dirinya, pribadinya tidak mempunyai harga diri. Oleh karena itu, jika kita bekerja tidak cukup hanya agar mendapatkan harta. Harta, jauh sebelum kita lahir pun sudah ditetapkan. Yang harus kita pikirkan adalah, bagaimana kesibukan bekerja menjadi amal shalih bagi kita.

    Ketika kita memandang hidup di dunia, kita memang harus bekerja sekuat tenaga. Kita harus sadar andai hari esok kita meninggalkan dunia ini. Rasulullah saw juga telah menyebutkan bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat mati dan mempersiapkan diri menghadapinya. Sehingga, setiap waktu jaga niat kita, dan lakukan yang terbaik. Insya Allah, dunia akhirat akan kita raih.

    Dalam bekerja, walaupun banyak aturan yang diberlakukan, jika tidak dengan hati, tetap saja akan timbul banyak masalah. Rasulullah saw, lebih dari empat belas abad yang lalu telah mengajarkan konsep “Al Amin” . setelah iman, prioritas pertama kita adalah membangun kredibilitas diri. Efeknya adalah akan timbul komitmen. Hal inilah yang dilakukan Rasulullah saw dalam berda’wah. Kredibilitas diri beliau sangat mengagumkan, sehingga banyak yang tertarik, komitmen kepada Islam.

    Menurut Rasulullah saw, minimal ada tiga sebab sehingga seseorang dapat disebut kredibel, yaitu: pertama, jujur, terpercaya sampai mati. Orang yang jujur itu adalah orang yang merdeka, tidak takut dengan siapapun, ia bebas mengatakan, berbuat hal yang benar. Sedang, orang yang yang banyak berbuat dustanya, dalam hidupnya ia seperti terpenjara. Dan, dalam bekerja, memiliki modal bukanlah hal utama, yang terpenting adalah modal kejujuran. Jika kita jujur, insya Allah pasti akan banyak yang percaya untuk meminjamkan modalnya kepada kita.

    Kedua, orang yang kredibel juga adalah orang yang cakap. Orang-orang akan puas dengan apa yang dikerjakannya. Begitupun Rasulullah saw, semua orang yang bertemu beliau puas, janjinya ditepati, jujur, amanah. Seharusnya kita senantiasa dapat menambah keilmuan tentang pekerjan yang kita geluti, agar kualitas amal yang kita berikan kian meningkat.

    Ketiga, kredibilitas juga diperoleh jika kita pandai berinovasi, kreatif. Zaman terus berubah, orang-orang bergerak maju ke depan. Andai kita tidak berubah, lambat bergerak, kita akan tertinggal, terpinggirkan oleh orang yang kreatif, dan inovatif. Apalagi, setiap orang pasti senang dengan hal- hal yang baru. Untuk itulah, kita sekuat tenaga mengembangkan diri, terus menambah ilmu, agar dapat berbuat kreatif, inovatif bagi ummat.

    Sumber : manajemenqolbu.com

    Kiriman: Astrina Yuliawati

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 24 February 2015 Permalink | Balas  

    Fiqh Puasa 

    puasa-4Fiqh Puasa

    Arsip Fiqh

    Puasa adalah menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa, sejak terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari.

    Rukun Puasa

    Orang yang berpuasa harus melakukan dua hal:

    • Niat, yaitu berkehendak dalam hati untuk melakukan ibadah puasa. Niat adalah perbuatan hati dan bukan aktivitas lisan. Karenanya sekedar melafalkan niat tanpa kehendak dalam hati bukanlah dinamakan niat. Adapaun waktu niat puasa adalah sebelum terbit fajar jika puasa tersebut adalah fardlu{wajib).

    Rasulullah bersabda: “Barang siapa tidak tidak meniatkan puasa sejak malam hari maka tidaklah sah puasanya.” (HR. Tirmidzi). Sedangkan untuk puasa sunnah, niatnya boleh dilakukan pada pagi hari, dengan syarat ia belum makan atau minum apapun. Ini berdasarkan hadis riwayat Aisyah RA, bahwasanya beliau berkata: “Suatu hari Rasulullah mendatangiku dan bertanya: Apakah engkau mempunyai makanan?. Aku menjawab: tidak. Kemudian beliau berkata: Kalau begitu aku berpuasa saja.” (HR. Muslim)

    • Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga matahari tenggelam.

    Hal-Hal Yang Membatalkan Puasa

    1. Makan dan minum dengan sengaja. Adapun yang tidak disengaja maka tidak membatalkan puasa. Rasulullah bersabda: “Barang siapa lupa, kemudian ia makan dan minum padahal ia sedang berpuasa maka hendaknya ia menyempurnakan puasanya. Itu berarti Allahlah yang menjamunya dengan makanan dan minuman.” (HR. Bukhari Muslim)
    2. Memuntahkan isi perut dengan sengaja. Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang muntah-muntah tanpa sengaja padahal ia sedang berpuasa maka tidaklah ia wajib mengqodho puasanya (karena tidak batal), tapi barang siapa sengaja muntah maka ia haris mengqodho puasanya.”
    3. Berhubungan badan dengan sengaja, baik dengan mengeluarkan air mani ataupun tidak.
    4. Onani dan masturbasi. Adapun keluarnya air mani dengan tanpa disengaja -mimpi misalnya- maka itu tidak membatalkan puasa.
    5. Memasukkan sesuatu dalam rongga badan (perut, rahim, dll), baik itu melalui mulut, hidung, alat kelamin ataupun dubur. Baik yang dimasukkan itu adalah makanan atau bukan.
    6. Haid dan nifas. Sebab puasa orang yang sedang haid dan nifas adalah tidak sah. Maka dengan datangnya haid dan nifas tersebut pada saat puasa maka dengan sendirinya batallah puasanya.
    7. Sebab gila akan menghilangkan akal seseorang, padahal tidak sah puasa orang yang tidak berakal.
    8. Sebab di antara syarat sah puasa seseorang adalah Islam. Maka dengan keluarnya ia dari Islam maka batallah puasanya.

    Barang siapa yang melanggar salah satu dari delapan hal ini maka puasanya batal dan ia harus mengganti pusa yang batal tersebut pada hari yang lain sebanyak puasa yang batal tersebut. Namun ada perlakuan khusus terhadap orang yang batal puasanya karena berhubungan badan. Sebab ia terbebani dua hal, yaitu mengqodho puasanya dan kaffarah. Bentuk kaffarah ini adalah memerdekakan budak jika ia mampu. Bila tidak maka berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika puasa dua bulan berturut-turut inipun tidak mampu, maka ia harus memberi makan kepada 60 orang miskin.

    Yang Boleh Dilakukan Saat Berpuasa

    Ada beberapa hal yang sebenarnya boleh dilakukan oleh orang yang sedang berpuasa, namun ada sementara orang yang menganggapnya tidak boleh. Diantaranya adalah:

    1. Berkumur pada saat berwudhu, asalkan tidak berlebih-lebihan.
    2. Bersiwak atau menggosok gigi. Tentunya jika tidak berlebih-lebihan juga.
    3. Bepergian, walaupun ia tahu bahwa itu akan mengharuskannya untuk berbuka.
    4. Suntik, jika memang sakit sakit yang ia derita mengharuskannya untuk itu. Namun jika itu sekedar dimaksudkan agar ia lebih kuat maka tidak boleh.
    5. Menelan ludahnya sendiri walaupun banyak.

    Sunnah-Sunnah Dalam Berpuasa

    1. Makan sahur. Rasulullah bersabda: “Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya sahur itu mengandung keberkahan.” (HR. Bukhari Muslim)
    2. Mengakhirkan makan sahur pada akhir malam. Rasulullah bersabda: “Orang-orang akan tetap dalam kondisi yang baik selama mereka mau mensegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur.” (HR. Ahmad)
    3. Mensegerakan berbuka jika waktunya telah tiba walaupun hanya dengan seteguk air putih. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah. Beliau juga bersabda: “Orang-orang akan tetap dalam kondisi yang baik selama mereka mau mensegerakan berbuka.” (HR. Bukhari Muslim)
    4. Berdoa ketika berbuka dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah, yang artinya: “Yaa Allah, karena Engkaulah kami berpuasa, dan dengan rizqi-Mu lah kami berbuka. Maka terimalah (puasa) kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (HR. Abu Dawud)
    5. Berbuka dengan kurma atau air. Karena merupakan kebiasaan Rasulullah, beliau sebelum sholat maghrib berbuka terlebih dahulu dengan kurma segar. Jika tak ada, maka dengan kurma kering. Bila itupun tak ada maka dengan beberapa teguk air. (HR. Aththabrani)

    Keutamaan Puasa

    Puasa mempunyai banyak keutamaan. Diantaranya digambarkan dalam beberapa hadis Rasulullah berikut ini:

    1. “Puasa adalah perisai dari api neraka, sebagaimana perisai yang melindungi dirimu pada peperangan.” (HR. Ahmad
    2. “Barang siapa berpuasa karena Allah, maka dengan tiap satu hari puasanya Allah akan menjauhkannya dari api neraka sebanyak tujuh puluh kharif.” (HR. Bukhari Muslim)
    3. “Waktu berbuka bagi orang yang berpuasa adalah saat-saat dimana doanya tidak akan ditolak (oleh Allah).” (HR. Ibnu Majah dan Hakim)
    4. “Sesungguhnya disurga itu ada pintu yang bernama Arrayyan. Melalui pintu inilah orang-orang yang berpuasa masu k (dalam surga) pada hari kiamat. Selain mereka tak ada yang masuk melalui pintu itu. Saat itu ada yang menyeru: “Mana orang-orang yang rajin berpuasa?”, maka mereka berdiri dan hanya mereka yang memasuki (surga) melalui pintu itu. Setelah mereka masuk, ditutuplah pintu tersebut dan tak ada lagi yang masuk melaluinya selain mereka.” (HR. Bukhari Muslim)

    (Ahmad ulil Amin)

    Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 23 February 2015 Permalink | Balas  

    Syafa’at dan Macam-Macamnya 

    syarat wajib syafaatSyafa’at dan Macam-Macamnya

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Kata as-syafa’ah diambil dari kata as-syaf’u yang artinya adalah lawan dari kata al-witru (ganjil), yaitu menjadikan yang ganjil menjadi genap (as-syaf’u), seperti anda menjadikan satu menjadi dua dan tiga menjadi empat. Demikian menurut arti “lughawinya”.

    Adapun menurut istilah, syafa’at adalah penengah (perantara) bagi yang lain dengan mendatangkan suatu kemanfaatan atau menolak suatu kemudharatan. Maksudnya, syafi’ (pemberi syafa’at) itu berada di anata masyfu’ lahu (yang diberi syafa’at) dan masyfu’ ilaih (syafa’at yang diberikan) sebagai wasithah (perantara) untuk mendatangkan keuntungan (manfaat) bagi masyfu’ lahu atau menolak mudharat darinya.

    Syafa’at Itu Ada Dua Macam.

    Pertama: Syafa’at Tsabitah Shahihah (yang tetap dan benar), yaitu yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala dalam kitab-Nya atau yang ditetapkan oleh RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syafa’at ini hanya bagi ‘Ahlut Tauhid wal Ikhlas’, karena Abu Hurairah pernah bertanya kepada Nabi : “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagian dengan mendapatkan syafa’at baginda ?” Beliau menjawab: “Orang yang mengatakan Laa ilaaha illallah secara ikhlas (murni) dari kalbunya”.

    Syafa’at ini bisa diperoleh dengan adanya tiga syarat.

    1. Pertama: Keridhaan Allah terhadap yang memberi syafa’at (syafi’)
    2. Kedua: Keridhaan Allah terhadap yang diberi syafa’at (masyfu’ lahu)
    3. Ketiga: Izin Allah Ta’ala bagi syafi’ untuk memberi syafa’at.

    Syarat-syarat ini secara mujmal terdapat dalam firman Allah Ta’ala.

    “Artinya: Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai(Nya)” [An-Najm : 26]

    Kemudian diperinci oleh firmanNya.

    “Artinya: Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya” [Al-Baqarah : 255]

    “Artinya: Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya dan Dia telah meridhai perkataanNya” [Thaha : 109]

    “Artinya: Mereka tidak bisa memberi syafa’at kecuali kepada orang yang diridhai oleh Allah” [Al-Anbiya : 28]

    Ketiga syarat ini harus ada untuk bisa memperoleh suatu syafa’at.

    Selanjutnya para ulama -Rahimahullah- membagi syafa’at ini menjadi dua.

    1. Pertama: Syafa’at ‘Ammah (syafa’at yang bersifat umum). Arti umum disini bahwa Allah Ta’ala mengizinkan siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hambaNya yang shalih untuk memberikan syafa’at kepada orang yang juga diizinkan oleh Allah untuk memperoleh syafa’at. Syafa’at semacam ini bisa didapatkan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selain beliau dari para Nabi yang lain, shidiqqin, syuhada’ dan shalihin. Yaitu bisa berupa syafa’at kepada penghuni naar dari kalangan orang beriman yang bermaksiat agar mereka bisa keluar dari neraka.
    2. Kedua: Syafa’ah Khasshah (syafa’at yang bersifat khusus). Syafa’at ini khusus dimiliki oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan merupakan syafa’at yang paling agung. Syafa’at yang paling agung ini adalah syafa’at pada hari kiamat ketika manusia tertimpa kesedihan dan kesukaran yang tidak mampu mereka pikul, kemudian mereka meminta orang yang bisa memohonkan syafa’at kepada Allah Azza wa Jalla untuk menyelamatkan mereka dari keadaan yang demikian itu.

    Mereka datang kepada Adam, kemudian kepada Nuh, kemudian Ibrahim, Musa dan Isa –‘alaihimus salam–, namun mereka semua tidak bisa memberi syafa’at, sehingga akhirnya meminta kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliaupun bangkit untuk memohonkan syafa’at di sisi Allah Azza wa Jalla untuk menyelamatkan hamba-hambaNya dari keadaan seperti ini. Allah mengabulkan do’a beliau dan menerima syafa’atnya. Ini merupakan termasuk Al-maqam Al-Mahmud (tempat yang terpuji) yang telah dijanjikan oleh Allah dan firmanNya.

    “Artinya : Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu ; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” [Al-Isra’ : 79]

    Diantara syafa’at khusus dari Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah syafa’at beliau terhadap ahlul jannah untuk masuk jannah. Karena ahlul jannah itu ketika melewati shirath, mereka diberhentikan di atas jembatan antara jannah dan naar, lalu hati mereka satu sama lain disucikan sehingga menjadi suci, kemudian barulah diizinkan masuk jannah dan dibukakan untuk mereka pintunya dengan syafa’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Kedua: Syafa’ah Bathilah (syafa’at yang batil). Yaitu syafa’at yang tidak akan bisa memberi manfaat. Itulah syafa’at yang jadi anggapan orang-orang musyrik berupa syafa’at dari ilah-ilah mereka yang dianggap bisa menyelamatkan mereka di sisi Allah Azza wa Jalla. Syafa’at ini sama sekali tidak akan memberikan manfaat kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya: Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at” [Al-Muddatsir : 48]

    Itu karena Allah tidak ridha terhadap kemusyrikan orang-orang musyrik tersebut dan tidak mungkin mengizinkan kepada siapapun untuk mensyafa’ati mereka, karena tiada syafa’at kecuali bagi orang-orang yang diridhai oleh Allah Azza wa Jalla. Allah tidak ridha akan kekufuran bagi hamba-hambaNya dan tidak menyukai kerusakan. Ketergantungan orang-orang musyrik terhadap ilah-ilah mereka yang mereka ibadahi serta mengatakan : “(Mereka adalah para pemberi syafa’at bagi kami di sisi Allah), adalah ketergantungan yang batil yang tidak bermanfaat”. Bahkan hal ini tidak akan menambah mereka di sisi Allah melainkan kejauhan. Orang-orang musyrik mengharap syafa’at dari berhala-berhala mereka dengan cara yang batil, yaitu dengan mengibadahi berhala-berhala ini, yang merupakan kebodohan mereka yang berupa usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan sesuatu yang justru malah semakin menjauhkan mereka dari Allah.

    ***

    Disalin dari buku Fatawa ‘Anil Iman wa Arkanihi edisi Indonesia Soal Jawab Masalah Iman Dan Tauhid, At-Tibyan hal 47-52 [Sumber http://www.almanhaj.or.id%5D

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 22 February 2015 Permalink | Balas  

    Akal 

    akalAkal

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Allah menciptakan manusia beserta akal. Dengan akal-lah akhirnya manusia dapat berpikir sehingga berkembang dan terus berkembang untuk mencapai suatu peradaban yang tinggi. Gedung-gedung menjulang tinggi, mobil yang beraneka rupa, pesawat dengan kecepatan yang melebihi kecepatan suara, sampai dengan komputer yang ada didepan kita saat ini, itu semua ada karena manusia bisa berpikir menggunakan akalnya, karena Allah memang sudah menggariskan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.

    Namun sebagai mahluk Allah maka akal manusia tentunya akan mempunyai batas, dimana pada batas titik tertentu akhirnya manusia tak dapat berpikir lagi.

    Sebatas Mana Manusia Bisa Berpikir?

    Baik kita lihat ilustrasi dan dialog berikut ini; Ada seorang anak kecil yang bernama Feisya ia diperintahkannya Ibunya untuk memasak secangkir air diatas kompor dengan menggunakan panci terbuka untuk keperluan membuat air kopi , sayangnya setelah ia memasak air ia tinggal main sampai kelupaan karena saking asyiknya bercanda, maka setelah beberapa lama dan pada jam tertentu air habis, untunglah pada saat itu ibu anak ini melihat, ia segera memanggil anaknya dan ingin sekali menghukumnya, namun karena si ibu ini bijak akhirnya ia urungkan niatnya, sebagai gantinyan dia ingin menguji kecerdasan IQ dan SQ anaknya, maka dan terjadilah dialog berikut ini (si anak ngeyel tapi sedikit cerdas) ; IBU : Nak kamu sudah berbuat salah, tapi Ibu tidak akan menghukum kamu kalo kamu bisa jawab pertanyaan ibu?

    FEISYA : Baik bu, terimakasih

    IBU : Kenapa airnya habis?

    FEISYA : Karena menguap

    IBU : Kenapa menguap?

    FEISYA : Kerena suhunya tinggi

    IBU : Kenapa suhunya tinggi?

    FEISYA : Karena dipanaskan?

    IBU : Kenapa sih kalo dipanaskan airnya menguap?

    FEISYA : yach karena suhunya tinggi?

    IBU : Ehmm baiklah.. Kenapa kalo suhunya tinggi kok bisa menguap?

    FEISYA : Aduh ibu ini. (sedikit nyengir ) yach karena terjadi pemanasan

    IBU : Lho kok kamu gini? Jangan mbulet deh.

    FEISYA : Lha, memangnya kenapa?

    IBU : Kamu itu jawabnya kok muter-muter sih.

    FEISYA : Lha memang begitu khan

    Yach begitulah dialog tersebut., argumen si anak ini memang benar adanya, tapi sayang argumen hanyalah argumen yang dinalarkan oleh ‘anak tersebut’ (baca: manusia) yang tidak membawa ke maha-dasyatan sang pencipta-Nya. Padahal si Ibu bermaksud agar anaknya mengerti bahwa disitu ada hikmah yang bisa diambil atas kekuasaan Allah.

    Akhirnya sadarlah si Ibu tersebut bahwa dialog dengan anaknya tidaklah berguna karena anaknya masih kecil belum mengerti sama sekali tapi si Ibu cukup bangga dengan IQ anaknya.

    PENJELASAN

    Air yang dipanaskan pada suhu tertentu memang akan menguap, tetapi mengapa harus menguap bukannya membeku atau mengembun atau berubah menjadi batu. Disinilah batas manusia sudah tidak bisa berpikir lagi, disinilah letak kekuasaan sang Pencipata, bahwa disitu sudah terjadi KETENTUAN ALLAH Pada akhirnya manusia hanya bisa mengambil hikmah dari kejadian “Penguapan Air karena pemanasan” yang berubah menjadi ilmu pengetahuan. Karena dengan ketentuan Allah inilah akhirnya terjadi penelitan yang akhirnya membawa manusia untuk merubahnya menjadi teknologi tinggi, membuat ketel uap yang untuk bisa menggerakkan kereta api, atau menggerakkan turbin untuk sumber tenaga listrik dan terus berkembang sampai bisa mencipatakan mobil dan lain sebagainya. Masih banyak contoh kasus lain yang takkan mungkin bisa dihitung Ilmu-ilmu Allah ini……

    “MAHA SUCI ALLAH DENGAN SEGALAM MAHA KEBESARANNYA”

    Selanjutnya marilah kita lihat lagi ketentuan Allah yang lain. Kalau di atas yang kita kaji adalah sebagai contoh dalam dunia ilmu pengetahuan yang mungkin tidak begitu jelas digamblangkan oleh Allah dalam Al’Quran (mohon maaf kalau ada salah, karena keterbatasan ilmu dan mohon koreksi bila keliru), karena manusia bisa belajar sendiri dengan berinteraksi dengan alamnya.

    Nah sekarang marilah kita kaji ketentuan Allah untuk mengatur hamba-Nya (manusia) sebagai mahluk sosial , kita ambil contoh saja dalam pengaturan pembayaran Zakat atau Harta Warisan.

    Dalam Al’Quran telah ditentukan bagaimana pembayaran zakat tersebut harus dilakukan, kepada siapa, berapa besarnya dan seterusnya.

    Juga pembagian harta warisan anak laki-laki sekian, anak perempuan sekian, istri sekian dan seterusnya.

    Kalau manusia kritis mungkin ada yang bertanya kok Tuhan mengatur sedemikan rupa? Kenapa sih kok ada Zakat? Khan uang ini saya cari sendiri? Kok harus ada yang dizakatin? Kok nggak pake bayar ‘pajak’ aja? Khan manusia bisa ngatur saja dengan ‘pajak’? Kenapa sih kok pembagian harta warisan laki-laki lebih banyak dari pada perempuan? Khan laki perempuan sama saja? Bukannya manusia dikasih akal? Bukannya manusia mahluk paling sempurna? Dan seterusnya dan seterusnya.

    Yach sekali lagi manusia adalah hanya mahluk Allah, semuanya itu tidak bisa dijawab hanya dengan akal saja yang terbatas, melainkan akan bisa dijawab dengan akal dan keimanannya terhadap sang Khalik, karena ketentuan-ketentuan Allah memang demikanlah adanya.

    Kita dituntun oleh Nabi Muhammad bagaimna memahami ajaran-ajaran atau ayat-ayat Allah baik lewat hadist maupun dengan dicontohkan secara langsung oleh nabi kita.

    Pada akhirnya memang manusia bisa berpikir untuk mengambil hikmah dari ketentuan-ketentuan Allah tersebut.

    Bahwa dengan zakat manusia sadar bahwa harta adalah hanya milik Allah, bahwa dengan zakat akan timbul hubungan sosial antara si miskin dan si kaya, bahwa dengan zakat akan terjadi pemerataan, bahwa kenapa laki-laki lebih besar karena ia harus menanggung anak istrinya dan seterusnya dan seterusnya.

    Sebagai mahluk sosial Allah tahu bahwa tanpa aturan yang Dia buat kehidupan manusia dibumi sebagai khalifah akan ‘tidak sempurna’ sebagaimana yang diharapkan oleh manusia itu sendiri. Maka MAHA SUCI ALLAH telah menurunkan Al Qur’an melalui utusan-Nya Nabi besar Muhammad SAW sebagai ‘nabi’ yang terakhir untuk memeberikan petunjuk sekaligus menjadi panutan untuk memperbaiki akhlak manusia.

    “MAHA SUCI ALLAH DENGAN SEGALAM MAHA KEBESARANNYA”

    Demikanlah Islam sebagai Agama yang telah diridhoi Allah, Islam adalah solusi buat manusia penghuni bumi, karena Islam adalah Rahmatan Lil Allamin.

    Mohon ma’af bila ada yang salah. Tolong rekan-rekan dapat mengoreksi kalo ada yang salah. Akhirnya kepada Allah aku mohon Ampun.

    ***

    Asnurul Isroqmi (AI) Ayah Azmi & Isma

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 21 February 2015 Permalink | Balas  

    Dampak Riba Terhadap Pribadi dan Masyarakat 

    ribaDampak Riba Terhadap Pribadi dan Masyarakat

    Disusun Oleh: Zaenal Abidin, Lc

    Hakikat Riba

    Riba, menurut bahasa artinya bertambah dan tumbuh; sebagaimana firman Allah: Dan kamu lihat bumi itu kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (Al Hajj:5).

    Sedangkan menurut istilah, artinya suatu transaksi yang memberi syarat tambahan atau suatu kegiatan akad yang mengambil untung atas modal dasar tanpa melalui proses transaksi yang sah menurut syariat. Atau mengambil untung tanpa memberi imbalan kepada pihak lain, ketika melakukan transaksi ribawi. Begitu juga setiap bentuk transaksi yang diharamkan oleh agama, bisa disebut sebagai riba.

    Oleh sebab itu, orang yang mengembangkan hartanya dengan cara riba disebut murabbi, karena dia melipatgandakan hartanya yang ada pada orang lain melalui utang-piutang, simpan-pinjam atau tukar- menukar. Baik keuntungan tersebut diperoleh dari selisih tukar-menukar, atau karena masa tenggang yang diberikan kepada peminjam.

    Macam-Macam Riba

    Riba, terbagi menjadi dua macam. Yaitu riba fadhl dan riba nasi’ah.

    Pertama, riba fadhl. Ialah jual-beli satu jenis barang dari barang-barang ribawi dengan barang sejenisnya, dengan nilai (harga) lebih. Misalnya, jual-beli satu kwintal gandum dengan satu seperempat kwintal gandum sejenisnya, atau jual-beli satu sha’ kurma dengan satu setengah sha’ kurma, atau jual- beli satu ons perak dengan satu ons perak ditambah satu dirham.

    Kedua, riba nasi’ah. Terbagi menjadi dua:

    • Riba jahiliyah. Jenis riba ini diharamkan oleh Allah dalam firmanNya, artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan berlipat ganda. (QS Ali Imran:130).

    Hakekat riba nasi’ah ini, misalnya si A mempunyai piutang pada si B dan akan dibayar pada waktu yang telah disepakati. Setelah jatuh waktu yang telah ditentukan, si A bilang kepada si B, ‘Kamu melunasi hutangmu atau aku beri tenggang waktu dengan uang tambahan.’ Jika si B tidak melunasi hutang pada waktunya, si A meminta uang tambahan dan memberi tenggang waktu lagi. Begitulah seterusnya, hingga akhirnya dalam beberapa waktu hutang si B menumpuk berlipat dari hutang awalnya

    • Riba nasi’ah, yaitu jual beli barang-barang ribawi. Misalnya, emas perak atau gandum atau sya’ir (sejenis) gandum, atau kurma dengan barang-barang ribawi lainnya secara tertunda. Contoh: seseorang menjual satu kwintal kurma dengan satu kwintal gandum hingga waktu-waktu tertentu, atau ia menjual sepuluh dinar emas dengan seratus dua puluh dirham perak hingga waktu-waktu tertentu.

    Barang-Barang Pokok Riba

    Barang-barang pokok riba ada enam. Yaitu: emas, perak, gandum, sya’ir (sejenis gandum), kurma dan garam. Rasulullah bersabda, artinya: Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir (sejenis gandum), kurma dengan kurma, dan garam dengan garam. Ukurannya sama dari tangan ke tangan (kontan). Jika jenis-jenisnya tidak sama, maka juallah sesuka kalian asalkan secara kontan. (HR Muslim).

    Para ulama dari kalangan sahabat, tabi’in dan para imam, mengqiyaskan apa saja yang mempunyai makna dan ilat dengan keenam jenis di atas, dari apa saja yang bisa ditakar, ditimbang, dimakan dan disimpan. Misalnya: seluruh biji-bijian, minyak, madu dan daging.

    Sa’id bin Al Musayyib Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Tidak ada riba, kecuali pada apa yang bisa ditakar dan ditimbang dari apa saja yang bisa dimakan dan diminum.?”

    Riba Dalam Timbangan Syariat

    Riba hukumnya haram, sebagaimana telah dijelaskan dalam Kitabullah maupun Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam .

    Allah berfirman, artinya:”Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan, lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabb mereka lalu berhenti, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu; dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi, maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS Al Baqarah:275).

    Allah berfirman, artinya: Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, beramal shalih, mendirikan shalat dan membayar zakat, mereka mendapat pahala dari sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati. (QS Al Baqarah:276-277).

    Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan, bahwa Dia menghapuskan dan melenyapkan riba dari pelakunya, baik secara total maupun menghilangkan keberkahan hartanya, sehingga tidak bermanfaat. Bahkan Dia memandangnya tidak ada. Pada hari kiamat nanti, Allah akan menyiksanya. Sebagaimana firman Allah, artinya: Dan sesuatu riba yang kamu berikan, agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. (QS Ar Rum:39).

    Dari Ali dan Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah bersabda, artinya: Allah melaknat pemakan riba, yang mewakili transaksi riba, dua saksinya dan orang yang menuliskannya. (HR Bukhari).

    Satu dirham riba yang dimakan seseorang dengan sepengetahuannya itu, lebih berat dosanya daripada tiga puluh enam berbuat zina. (Diriwayatkan Ahmad dengan sanad shahih).

    Riba mempunyai tujuh puluh pintu. Pintu yang paling ringan ialah seorang laki-laki menikahi ibunya. (HR Hakim dan ia men-shahihkannya).

    Rasulullah bersabda, Jauhilah tujuh perkara yang membawa kepada kehancuran. Para sahabat bertanya,’Apakah ke tujuh perkara itu, wahai Rasulullah’? Beliau menjawab,’Yaitu syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang dibenarkan agama, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dalam peperangan dan melontarkan tuduhan zina terhadap wanita-wanita mukminah yang terjaga dari perbuatan dosa dan tidak tahu-menahu tentangnya. (HR Bukhari dan Muslim).

    Hikmah Diharamkan Riba

    Diantara hikmah diharamkannya riba, selain hikmah-hikmah umum secara menyeluruh berkaitan dengan perintah-perintah syar’i, yaitu: menguji keimanan seorang muslim, hikmah-hikmah umum lainnya ialah:

    Pertama, melindungi harta seorang muslim agar tidak dimakan dengan bathil.

    Kedua, mendorog kaum muslimin untuk menginvestasikan hartanya pada usaha-usaha yang bersih dari penipuan, menjauhi hal-hal yang bisa menimbulkan kesulitan dan kemarahan diantara kaum muslimin, misalnya: dengan cocok tanam, industri bisnis yang benar dan lain sebagainya.

    Ketiga, menutup pintu permusuhan diantara kaum muslimin.

    Keempat, menjauhkan kaum muslimin dari kebinasaan. Karena pemakan riba sebagai orang yang zhalim. Dan akibat dari kezhaliman ialah kesusahan, Allah berfirman, artinya: Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezhaliman kalian akan menimpa diri kalian sendiri. (QS Yunus:23).

    Rasulullah bersabda, artinya: Takutlah kalian kepada kezhaliman, karena kezhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Dan takutlah kalian terhadap sifat kikir, karena kikir membawa orang-orang sebelum kalian saling menumpahkan darah dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan kepada mereka. (HR Muslim).

    Kelima, membuka pintu-pintu kebaikan bagi kaum muslimin sebagai bekal untuk akhiratnya. Misalnya dengan memberi pinjaman kepada saudaranya seiman tanpa minta uang tambahan atas hutangnya, memberi kemudahan dan menyayanginya untuk mendapat pahala di akhirat.

    Dampak Negatif Riba Bagi Pribadi dan Masyarakat

    Riba merupakan usaha kotor dan haram. Merupakan hasil usaha yang tecela dan tidak ada berkahnya, bahkan hanya mendatangkan malapetaka dan bahaya bagi siapa saja yang ikut serta dan membantu mensukseskan segala transaksi riba; baik pemberi modal, peminjam, penulis dan saksi. Memberi bantuan harta dan tenaga dalam rangka melancarkan transaksi, menyewakan gedung, peralatan kantor dan transportasi untuk proses kelancaran transaksi, atau memberi motivasi dan rekomendasi bagi para pelaku riba. Atau melakukan pembelaan terhadap mereka dalam kasus hukum, melindungi dan mengamankan mereka. Atau seluruh tindakan yang bersifat mendukung, melancarkan dan mensukseskan transaksi riba yang terkutuk serta sarat dengan tindakan aniaya. Maka, secara langsung atau tidak, mereka telah menyatakan perang dengan Allah dan RasulNya.

    Seluruh bentuk transaksi riba akan membawa akibat buruk, dosa besar, malapetaka dan menjerumuskan para pelakunya kepada jurang kenistaan, serta mendatangkan bahaya bagi pribadi dan masyarakat, baik di dunia dan akhirat.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,’Keharaman riba lebih berat dibanding perjudian. Karena pengembang riba mendapat imbalan secara jelas dari orang yang kesusahan. Adapun penjudi bisa mendapatkan keuntungan (dan) bisa tidak. Dan riba merupakan kezhaliman yang nyata, karena eksploitasi dan penindasan orang kaya atas orang miskin.’

    Adapun bahaya dan dampak negatif riba terhadap pribadi dan masyarakat, baik dari sisi agama, dunia dan akhirat sebagai berikut:

    Pertama. Sebagai bentuk maksiat kepada Allah dan RasulNya.

    Tidak diragukan, bahwa orang yang melakukan atau membantu transaksi riba secara terang-terangan, ia telah menentang ajaran yang dibawa Rasulullah. Padahal Allah berfirman, artinya: Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul, takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. ( An Nur 63).

    Rasulullah juga bersabda, Setiap umatku akan masuk surga, kecuali yang tidak mau. (Rasulullah) ditanya,’ Siapakah yang tidak mau, wahai Rasulullah’? (Rasulullah menjawab),’Barangsiapa yang mentaatiku akan masuk surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka ia tidak mau masuk surga. (HR Bukhari).

    Allah berfirman, artinya: Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan RasulNya dan melanggar ketentuan-ketentuanNya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (QS An Nisa:14).

    Kedua. Sedekah dari harta riba ditolak

    Karena riba merupakan hasil usaha kotor dan haram, maka Allah tidak menerimanya sebagai barang sedekah. Allah berfirman, artinya: Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk, lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. (QS Al Baqarah:267).

    Dalam hadits yang shahih Nabi bersabda, Allah itu bersih dan tidak menerima, kecuali yang bersih.

    Ketiga. Allah tidak mengabulkan doa pemakan riba.

    Harta yang haram -termasuk riba- bisa menjadi penghalang doa sehingga tertolak. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda, Wahai manusia, sesungguhnya Allah Maha Bersih; tidak menerima, kecuali yang bersih. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman, seperti Allah memerintahkan kepada para nabi. Maka Allah berfirman: Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Mukminun:51) dan Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu. (QS Al Baqarah:172).

    Kemudian beliau menuturkan tentang orang yang bepergian jauh, pakaiannya compang-camping dan rambutnya acak-acakan, sementara ia menengadahkan tangan ke atas langit, ‘Ya rabbi, ya Rabbi,’ sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dagingnya tumbuh dari yang haram; bagaimana doanya dikabulkan? (HR Muslim).

    Keempat. Hilangnya keberkahan umur dan penghasilan.

    Dalilnya firman Allah, artinya: Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. (QS Al Baqarah:276).

    Ayat di atas menjadi pukulan berat bagi orang yang terkait dengan transaksi riba dalam berbagai sisi. Allah memusnahkan harta kekayaan yang berasal dari riba dengan berbagai cara, baik disebabkan kebakaran, banjir, pencurian, atau peraturan yang zhalim hingga menguras harta kekayaan mereka dengan paksa dan hina. Bahkan boleh jadi, Allah memusnahkan seluruh kekayaan ribawi.

    Berapa banyak orang kaya berubah menjadi jatuh miskin dan melarat, karena akibat dari harta riba, sebagaimana sabda Nabi: Tidaklah orang memperbanyak kekayaan dari riba, melainkan akibat akhirnya akan mengalami bangkrut dan melarat. (HR Ibnu Majah).

    Kelima. Riba membuat hati menjadi keras dan jauh dari kebaikan

    Kaum rentenir susah sekali berbuat kebaikan kepada sesama manusia dengan harta kekayaannya. Mereka memiliki hati yang keras. Dan tidak mungkin mengeluarkan harta kekayaan, kecuali dengan faidah yang bersyarat. Sementara itu mereka melupakan kebaikan yang akan diterimanya di akhirat. Allah berfirman, artinya: Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (QS Al Baqarah:86).

    Keenam. Terhalang dari harta yang bersih dan halal.

    Allah berfirman, artinya: Maka disebabkan kezhaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih. (QS An Nisa’:160-161).

    Dua ayat di atas menjelaskan, bahwa orang-orang Yahudi dihalangi dari harta yang halal dan bersih, akibat mereka memakan harta riba dan memakan harta orang dengan cara yang batil. Maka orang-orang yang memakan riba dan harta orang secara batil mendapatkan malapetaka, seperti yang telah menimpa kaum Yahudi Bani Israil. Berapa banyak pada zaman sekarang, orang yang kaya-raya, namun selalu hidup dirundung kepedihan, kenistaan, kegelisahan dan kebakhilan; ditambah lagi terkena berbagai penyakit berbahaya dan sulit disembuhkan. Bahkan harta kekayaan mereka lebih banyak tersedot untuk aktifitas haram dan negatif.

    Ketujuh. Riba, suatu transaksi yang sarat dengan Kezhaliman.

    Lembaga riba atau orang-orang yang melakukan transaksi riba, telah berbuat kezhaliman berulang- kali. Sejak awal hingga akhir transaksi, mereka meminta tambahan atau bunga. Dan ketika peminjam tidak mampu mengembalikan, mereka menambah kelipatan bunga sebagai jaminan tenggang waktu yang diberikan kepadanya. Maka bunga pinjaman akan menjadi berlipat ganda dalam waktu sekejap, sehingga bisa menjadikan seluruh harta kekayaan peminjam habis tersita untuk menutup kelipatan dari bunga pinjaman. Kemudian para peminjam ditinggalkan, bagaikan tulang yang tidak berdaging dan laksana badan tidak bernyawa lagi. Maka bila kondisinya seperti itu, Allah telah mengancam dalam firmanNya, artinya: Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Alah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. (QS Ibrahim:42).

    Dan Nabi bersabda, Jagalah dirimu dari kezhaliman, karena perbuatan zhalim adalah kegelapan pada hari kiamat. (HR Muslim).

    Kedelapan. Riba membuat bisnis menjadi lesu, kurang bergairah dan tidak produktif.

    Dalam pandangan petualang bisnis atau dalam berniaga, mereka sangat spekulatif. Bisa untung dan bisa juga rugi, bahkan bangkrut. Sementara mental petualang riba hanya berfikir untung tanpa mengenal rugi, walaupun orang lain dirugikan. Oleh karena itu, mereka mengambil jalan pintas untuk mengeruk keuntungan secara cepat melalui transaksi simpan-pinjam, utang-piutang atau transaksi yang menghasilkan untung pasti, yaitu riba atau tukar-menukar barang yang sama dengan harga lebih, atau menyimpan uang di lembaga keuangan atau bank-bank konvensional. Adapun untuk usaha bisnis dan perniagaan jarang tertarik, karena sangat beresiko kerugian.

    Kesembilan. Sistim riba menjadi penyebab utama bangkrutnya negara atau masyarakat.

    Realita berbicara, bahwa banyak negara mengalami krisis ekonomi dan keamanannya tidak stabil akibat dari penerapan sistim riba ini. Karena tamak terhadap keuntungan yang berlipat ganda membuat para petualang riba memindahkan simpanan mereka ke negara-negara lain yang memiliki ekonomi kuat dan berpengaruh di dunia ekonomi dan politik. Sehingga negara-negara tersebut mampu mengendalikan ekonomi dunia dengan mudah. Adapun keuangan negara-negara lainnya tersendat, karena terkuras habis ditransfer ke negara-negara kuat dari sisi ekonomi dan politik. Maka terjadilah resesi dan krisis ekonomi berkepanjangan.

    Kesepuluh. Penjajahan ekonomi secara sistimatis.

    Pengembangan keuangan dan ekonomi melalui sistim riba merupakan penjajahan ekonomi secara sistimatis dan terselubung. Banyak negara-negara maju pasca perang dunia memberi pinjaman kepada negara-negara berkembang, baik kepada negara Islam atau negara sekuler. Sehingga dalam waktu sekejap, kekayaan negara-negara tersebut terkuras habis oleh negara-negara pemilik dana besar, baik melalui pinjaman lunak atau yang lainnya. Ketika negara-negara debitur yang lemah hendak mencoba mempertahankan harga diri dan eksistensinya, maka negara-negara pemilik modal alias petualang riba, langsung dengan mudah ikut campur-tangan urusan dalam negeri, dengan alasan pemulihan krisis ekonomi, pemantauan dana pinjaman, pengawasan moneter dan penyehatan perbankan. Dengan mudah mereka mengatur berbagai bentuk kebijakan ekonomi dan politik negara tersebut. Maka, tanpa terasa negara-negera miskin tersebut hidup terjajah dan tidak berdaya di bawah tekanan negara-negara pemilik modal. Bahkan negara-negara pemilik modal dengan seenak perutnya melakukan berbagai bentuk intervensi ekonomi dan politik dalam negeri.

    Banyak negera-negara berkembang dililit hutang dan tidak bisa mengembalikan pinjaman luar negeri, sebagai bukti nyata terhadap bahaya dan dampak negatif sistim ekonomi ribawi.

    Kesebelas. Sistim ekonomi riba membelenggu rakyat.

    Dari berbagai sisi, sistim ekonomi riba menjerat nasib rakyat. Karena pada akhirnya kekayaan dan keuangan akan menumpuk dan dikuasai oleh beberapa gelintir orang saja, sehingga perekonomian rakyat terguncang dan tidak berdaya. Sebagian besar orang hanya bekerja siang-malam dan memeras keringat, membanting tulang hanya sekedar bisa menutup dan mengembalikan pinjaman riba. Sementara itu, sekelompok kecil hanya ongkang-ongkang kaki mampu meraup kekayaan yang melimpah ruah dan mereka menari-nari, bersenang-senang di atas kepedihan dan penderitaan orang lain. Mereka tega dan semena-mena tanpa rasa kasihan, serta tidak mengenal aturan dan perikemanusian memeras kekayaan orang lain.

    Keduabelas. Riba termasuk perkara yang menghancurkan.

    Riba termasuk dosa besar yang menjerumuskan pelakunya di dunia dalam kenistaan dan di akhirat di neraka. Nabi bersabda, Jauhilah tujuh perkara yang membawa kepada kehancuran. Para sahabat bertanya,’Apakah ketujuh perkara itu, wahai Rasulullah’? Beliau menjawab,’Yaitu syirik kepada Allah, sihir, membunuh yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang dibenarkan agama, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dalam peperangan dan melontarkan tuduhan zina terhadap wanita-wanita mukminah yang terjaga dari perbuatan dosa dan tidak tahu-menahu tentangnya.’ (HR Bukhari dan Muslim).

    Dalam hadits di atas Allah mengelompokkan dosa pemakan riba dengan dosa syirik. Maka, hal itu menunjukkan bahaya riba dan akibat buruk yang akan diperoleh seseorang yang melakukan transaksi riba.

    Ketigabelas. Petualang riba mengobarkan perang dengan Allah dan RasulNya.

    Siapapun yang mengobarkan peperangan dengan Allah dan RasulNya, ia tidak akan mampu mengalahka. Maka, kekuatan apa yang bisa menghadapi gempuran Allah dan RasulNya? Allah berfirman mengancam orang-orang pemakan riba, artinya: Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu. (QS Al Baqarah:279).

    Demikian itu akibat dari petualangan dan transaksi mereka terhadap harta riba. Akibat kekalahan mereka dalam peperangan tersebut, maka harta kekayaan mereka habis terbakar atau tenggelam, jiwa dan raga mereka hancur dan jatuh sakit, hidup mereka dirundung stres berat akibat kerugian yang mereka derita. Bahkan kehidupan serba ada, menjadi berbalik menjadi penuh kekurangan dan penderitaan.

    Keempatbelas. Memakan riba mendatangkan kutukan Allah dan RasulNya.

    Allah dan RasulNya mengutuk orang-orang yang berserikat dalam transaksi riba, baik dalam bentuk memakan, membantu dan menjadi saksi transaksi riba. Disebutkan dalam hadits riwayat Jabir bin Abdullah berkata, bahwa Rasulullah mengutuk orang yang memakan riba, memberi riba, penulisnya, dan dua orang yang menjadi saksi dan mereka semuanya sama. (HR Muslim).

    Yang dimaksud dengan memakan riba, ialah semua bentuk pemenuhan kebutuhan hidup yang melalui jalur riba. Teks hadits menggunakan ungkapan makan, karena pada umumnya mereka melakukan transaksi riba untuk memenuhi kebutuhan makan.

    Adapun penulis dan dua orang saksi terkena kutukan, karena mereka membantu kelancaran transaksi riba, baik bantuan tersebut diberikan secara suka rela atau dengan upah. Jika sanksi keras itu diberikan kepada orang yang hanya melakukan sekali transaksi, bagaimana dengan orang yang bertahun-tahun memberi pinjaman atau memakan riba, atau menjadi penulis dan saksi dalam urusan riba, membantu dan berserikat dalam urusan riba’!

    Kelimabelas. Memakan riba menjadi sebab utama su’ul khatimah.

    Kebanyakan pemakan riba meninggal dalam keadaan su’ul khatimah. Sebab -mungkin saja- hingga menjelang ajal tiba, ia tetap mengembangkan hartanya dengan cara riba, sehingga ia meninggal dalam keadaan bermaksiat kepada Allah dan RasulNya dan berbuat zhalim kepada hamba Allah. Maka tidak ada tempat yang paling layak, kecuali negara Jahannam. Begitu juga, dia meninggalkan harta kekayaan haram untuk ahli warisnya, sehingga mereka juga menanggung dosa dan keburukan harta haram tersebut. Orang yang memakan riba dalam bahaya besar, karena bisa jadi dosa riba membuat imannya lemah pada saat menjelang kematian.

    Dari Abu Bakar Al Warraq dari Abu Hanifah berkata,’Kebanyakan iman seseorang lepas ketika menjelang ajal tiba.’ Kemudian Abu Bakar berkata,’Setelah saya amati, tidak ada dosa yang bisa membuat keimanan lemah dibanding perbuatan zhalim kepada sesama manusia.’

    Sudah bukan rahasia lagi, bahwa melakukan transaksi riba merupakan tindakan yang paling zhalim terhadap sesama manusia, dosa yang dianggap paling melampaui batas, karena disejajarkan dengan pembunuhan. Sabda Nabi: Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian haram atas kalian. (HR Muslim).

    Pemakan riba, setelah meninggal dunia berada di dalam sungai darah. Sebagaimana disabdakan Nabi,’Saya tadi malam melihat dalam mimpi, dua orang membawaku ke bumi yang suci, lalu kami pergi hingga datang di sungai darah, lalu ada orang yang berdiri di tengah sungai tersebut. Dan di pinggir sungai ada seseorang, yang di tangannya membawa batu. Lalu menghadap kepada orang yang ada di tengah sungai. Ketika orang yang ada di tengah sungai keluar, maka orang tersebut melempar batu hingga ia kembali ke tempat semula. Dan setiap ia ingin keluar, maka orang tersebut meleparnya hingga kembali ke tempat semula.’ Dan di akhir hadits, Nabi ditanya,’Siapa orang yang di tengah sungai darah itu?’ Beliau bersabda,’Orang yang saya lihat di tengah sungai darah ialah pemakan riba.’ (HR Bukhari dan Fathul Bari 12/439).

    Keenambelas. Pemakan riba bangkit pada hari kiamat seperti orang gila atau kesurupan.

    Demikian itu sebagai balasan hina dan sanksi keji yang akan dirasakan oleh setiap pemakan riba pada hari kiamat ketika dibangkitkan dari alam kubur, sebagaimana firman Allah, artinya: Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba. (QS Al Baqarah:275).

    Said bin Jubair berkata,’Pada hari kiamat, pemakan riba dibangkitkan seperti orang gila karena kesurupan.’

    Dhahak berkata,’Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan memakan riba, maka dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan seperti orang kesurupan karena gangguan syetan.’

    Ketahuilah wahai saudaraku seiman. Bahwa Allah mengakhiri ayat-ayat yang melarang riba dan perintah untuk meninggalkan riba dengan firmanNya, artinya: Dan peliharalah dirimu dari (adzab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS Al Baqarah:281).

    Ibnu Katsir berkata,’Antara turunnya ayat ini dengan kematian Rasulullah berselang tiga puluh satu hari.’

    Ayat di atas merupakan wasiat Rabbani yang terakhir dalam Al Qur’an, dan sekaligus ayat yang terakhir turun sebagai mauizhah bagi semua hamba. Berisi wasiat tentang ketakwaan kepada Allah dan peringatan tentang cepatnya keduniaan dan harta kekayaan hilang lenyap, serta semua pasti akan menghadap Allah, kembali ke alam akhirat. Masing-masing mendapatkan balasan setimpal dengan apa yang telah diperbuat.

    Rujukan:

    • Kamus Al Mu’jamul Wasith.
    • Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
    • Mukhtashar Fikih Islami, Muhammad bin Ibrahim At Tuwaijiri.
    • Al Wajiz Fi Fiqhus Sunnah wal Kitab, Abdul Azhim Al Khalafi.
    • Al Mulakhasul Fiqhi, Syaikh Salih bin Fauzan Al Fauzan.
    • Minhajul Muslim, Abu Bakar Al Jazairi.
    • Fathul Bari, Ibnu Hajar.
    • Syarah Shahih Muslim, An Nawawi.
    • Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd.
     
    • Sonya Cahayu 5:57 pm on 21 Mei 2017 Permalink

      Izin Share ya min :)
      The First in INDONESIA
      Terpercaya www(titik)id303(titik)com

  • erva kurniawan 2:43 am on 20 February 2015 Permalink | Balas  

    DOA – DOA dengan ASMAUL HUSNA 

    asmaul-husnaDOA – DOA dengan ASMAUL HUSNA

    arsip fiqh

    1. Yaa Allaahu anta robbunaa laa ilaaha illaa anta
    • Ya Allah, Engkau Tuhan kami, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau
    1. Yaa Rahmaanu narjuu rohmatak
    • Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, kami mengharap kasih sayang-Mu.
    1. Yaa Rahiimu irhamnaa
    • Ya Tuhan yang Maha Penyayang, kasih dan sayangilah kami.
    1. Yaa Maaliku A’thinaa min mulkika
    • Ya Tuhan yang Maha Raja (mempunyai kekuasaan), berikanlah kepada kami dari kekuasaan-Mu.
    1. Yaa Qudduusu Qaddis Fithratanaa
    • Ya Tuhan yang Maha Suci, sucikanlah fitrah kejadian kami
    1. Yaa salaamu sallima min aafaatid dunyaa wa’adzaabil aakhirah
    • Ya Tuhan Pemberi selamat, selamatkanlah kami dari fitnah bencana dunia dan siksa di akherat.
    1. Yaa mukminu aaminaa wa-aamin ahlanaa wabaladanaa
    • Ya Tuhan yang memberi keamanan, berikanlah kami keamanan, keluarga kami dan negeri kami.
    1. Ya Muhaiminu haimin auraatinaa wa-ajsaadanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Melindungi, lindungilah cacat dan jasad kami.
    1. Yaa Aziizu Azziznaa bil’ilmi walkaroomah
    • Ya Tuhan Yang Maha Mulia, muliakanlah kami dengan ilmu pengetahuan dan kemuliaan.
    1. Yaa Jabbaaru hab lanaa min jabaruutika
    • Ya Tuhan Yang Maha Perkasa, berikanlah kepada kami dari keperkasaan-Mu.
    1. Yaa Mutakabbiru bifadhlika ij’alnaa kubaraa
    • Ya Tuhan Yang Maha Megah, dengan anugerah-Mu jadikanlah kami orang yang megah.
    1. Yaa Khooliqu hassin kholqonaa wahassin khuluqonaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Menciptakan/Menjadikan, baguskanlah kejadian kami dan baguskanlah akhlak kami.
    1. Yaa Baari’u abri’naa minasy syirki walmaradhi walfitnati
    • Ya Tuhan yang Maha Membebaskan, bebaskan kami dari syirik, penyakit, dan fitnah.
    1. Yaa Mushawwiruu shawirnaa ilaa ahsanil kholqi walhaali
    • Ya Tuhan yang Maha Membentuk, bentuklah kami menjadi sebaik-baiknya makhluk dan sebaik-baik keadaan.
    1. Ya Ghoffaaru ighfir lanaa dzunuubanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Pengampun , ampunilah dosa-dosa kami.
    1. Yaa Qohhaaru iqhar aduwwanaa ilal istislami
    • Ya Tuhan Yang Maha Memaksa, paksalah musuh kami untuk tunduk/menyerah
    1. Ya Wahhaabu Hab lanaa dzurriyatan thayyibah
    • Ya Tuhan Yang Maha Memberi, berikanlah kepada kami anak keturunan yang baik
    1. Ya Rozzaaqu urzuqnaa halaalan thoyyiban waasi’aa
    • Ya Tuhan Yang Maha Memberi rezeki, berikanlah rezki yang halal, bergizi dan banyak
    1. Yaa Fattaahu iftah lanaa abwaabal khoiri
    • Ya Tuhan yang Maha Membuka, bukakanlah buat kami semua pintu kebaikan.
    1. Yaa aliimu a’limnaa maa laa na’lam
    • Ya Tuhan Yang Maha Mengetahui, beritahukanlah kepada kami apa yang kami tidak mengetahuinya.
    1. Yaa Qoobidhu idzaa jaa’a ajalunaa faqbidh ruuhanaa fii husnil khotimah
    • Ya Tuhan Yang Maha Mencabut, jika telah sampai ajal kami, cabutlah ruh kami dalam keadaan khusnul khotimah.
    1. Yaa baasithu ubsuth yadaaka alainaa bil athiyyah
    • Ya Tuhan Yang Maha Meluaskan, luaskan kekuasaan-Mu kepada kami dengan penuh pemberian.
    1. Ya khoofidhu ihkfidh man zholamanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Menjatuhkan, jatuhkanlah orang yang menzalimi kami.
    1. Ya roofi’u irfa darojaatinaa.
    • Ya Tuhan Yang Maha Mengangkat, angkatlah derajat kami.
    1. Ya Mu’izzu aatinaa izzataka.
    • Ya Tuhan Yang Maha Memberi kemuliaan, limpahkanlah kemulaiaan-Mu kepada kami.
    1. Yaa mudzillu dzallilman adzallanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Menghinakan, hinakanlah orang yang menghina kami.
    1. Yaa samii’u isma syakwatanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Mendengar. dengarkanlah pengaduan kami.
    1. Yaa bashiiru abshir hasanaatinaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Melihat, lihatlah semua amal kebaikan kami.
    1. Yaa hakamu uhkum manhasada alainaa wa ghosysyanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Menetapkan hukum, hukumlah orang-orang yang dengki dan curang kepada kami.
    1. Yaa adlu i’dil man rahimanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Menetapkan keadilan, berikan keadilan kepada orang yang sayang kepada kami.
    1. Yaa khobiiru ihyinaa hayaatal khubaroo
    • Ya Tuhan Yang Maha Waspada, jadikanlah hidup kami seperti kehidupan orang-orang yang selalu waspada (ahli peneliti).
    1. Yaa haliimu bilhilmi zayyinnaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Penyantun, hiasilah hidup kami dengan sikap penyantun.
    1. Yaa lathiifu ulthuf binaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Halus, bersikaplah halus kepada kami.
    1. Yaa azhiimu ahyinaa hayaatal uzhomaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Agung, hidupkanlah kami sebagaimana kehidupan orang-orang yang agung.
    1. Yaa ghofuuru ighfir lanaa waisrofanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Pengampun, ampunilah dosa kami dan keteledoran kami.
    1. Ya syakuruu a’innaa ‘alaa syukrika
    • Ya Tuhan Yang Maha Menerima syukur, berikanlah kami kemampuan untuk selalu bersyukur kepada-Mu.
    1. Ya aliyyu uluwwaka nastaghiitsu
    • Ya Tuhan Yang Maha Tinggi, kami mengharap ketinggian dari-Mu
    1. Yaa kabiiru ij’alnaa kubarooa
    • Ya Tuhan Yang Maha Besar, jadikanlah kami orang yang besar.
    1. Yaa hafiizhuu ihfazhnaa min fitnatid dunya wasuuihaa
    • Ya Allah Yang Maha memelihara, peliharalah kami dari fitnah dunia dan kejahatannya
    1. Yaa muqiitu a’thinaa quwwataka laa haula walaa quwaata illabika
    • Ya Allah Tuhan Yang Maha Memberi kekuatan, berikanlah kami kekuatan, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Engkau.
    1. Yaa Hasiibu haasibnaa hisaaban yasiiroo
    • Ya Tuhan Yang Maha Menghisab, hisablah kami nanti dengan hisaban yang ringan.
    1. Yaa jaliilu ahyinaa hayaatal ajillaal.
    • Ya Tuhan Yang Maha Luhur, hidupkanlah kami seperti orang-orang yang mempunyai keluhuran
    1. Ya kariimu akrimnaa bittaqwaa

    *Ya Tuhan Yang Maha Mulia, muliakanlah kami dengan ketaqwaan

    1. Ya roqiibu ahyinna tahta riqoobatik
    • Ya Tuhan Yang Maha Mengamati geark-gerik, hidupkanlah kami selalu dalam pengamatan-Mu
    1. Ya mujiibu ajib da’watanaa waqdhi hawaaijanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Mengabulkan, kabulkanlah do’a dan ajakan kami, luluskanlah semua keperluan kami
    1. Yaa waasi’u urzuqnaa rizqon waasi’aa wawassi shuduuronaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Meluaskan, berikanlah kami rizki yang luas dan luaskanlah dada kami.
    1. Yaa hakiimu ahyinaa hayaatal hukamaai
    • Ya Tuhan Yang Maha Bijaksana, hidupkanlah kami sebagaimana kehidupan orang-orang yang bijaksana.
    1. Yaa waduudu wuddaka ista’tsarnaa wa alhimma mawaddatan warohmah
    • Ya Tuhan Yang Maha Mencintai, hanya cintamu kami mementingkan, dan ilhamkanlah kepada kami rasa cinta dan kasih sayang.
    1. Ya majiidu a’thinaa majdaka
    • Ya Tuhan Yang Maha Mulia, berikanlah kepada kami kemuliaan-Mu
    1. Yaa baa’itsu ib’atsnaa ma’asysyuhadaai washshoolihiin
    • Ya Tuhan Yang maha Membangkitkan, bangkitkanlah kami bersama orang-orang yang syahid dan orang yang shaleh.
    1. Yaa Syaahiidu isyhad bi annaa muslimuun
    • Ya Tuhan Yang Maha Menyaksikan, saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada-Mu (Muslimin)
    1. Yaa Haqqu dullanaa haqqon wa’thi kulla dzii haqqin haqqoo
    • Ya Allah Tuhan Yang Maha Haq, tunjukilah kami kepada yang haq dan berikanlah hak pada setiap orang yang mempunyai haq
    1. Yaa wakiilu alaika tawakkalnaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Memelihara penyerahan, kepada-Mu kami serahkan urusan kami
    1. Yaa Qowiyyu biquwwatika fanshurnaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Kuat, dengan kekuatan-Mu tolonglah kami.
    1. Yaa matiinu umtun imaananaa watsabbit aqdaamanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Kokoh, kokohkanlah iman kami dan mantapkan pendirian kami.
    1. Yaa Waliyyu ahyinaa hayaatal auliyaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Melindungi, hidupkanlah kami seperti hamba-hamba-Mu yang mendapat perlindungan (para wali)
    1. Yaa haniidu urzuqnaa isyatan hamiidah
    • Ya Tuhan Yang Maha Terpuji, limpahkan kepada kami kehidupan yang terpuji.
    1. Yaa muhshii ahshinaamin zumrotil muwahhidiin
    • Ya Tuhan Yang Maha Menghitung, hitunglah kami termasuk orang-orang yang meng-Esakan Engkau
    1. Yaa mubdi’u bismika ibtada’naa
    • Ya Tuhan Yang Maha Memulai, dengan nama-Mu kami memulai.
    1. Yaa mu’iidu a’id maa ghooba annaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Mengembalikan, kembalikanlah semua yang hilang dari kami
    1. Yaa muhyii laka nuhyii fahayyina bissalaam
    • Ya Tuhan Yang Maha Menghidupkan, karena Engkau kami hidup, hidupkanlah kami dengan penuh keselamatan
    1. Yaa mumiitu amitna alaa diinil Islaam
    • Ya Tuhan Yang Maha Mematikan, matikanlah kami tetap dalam keadaan Islam
    1. Yaa Hayyu ahyi wanammi sa’yanaa wasyarikatana waziro’atana..
    • Ya Tuhan Yang Maha Hidup , hidupkanlah dan kembangkanlah usaha kami, perusahaan kami dan tanaman kami
    1. Ya Qoyyuumu aqimnaa bil istiqoomah
    • Ya Tuhan Yang Maha Tegak, tegakkanlah kami dengan konsisten
    1. Yaa waajidu aujid maadhoo’a annaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Mewujudkan / Menemukan, ketemukanlah semua yang hilang dari kami.
    1. Yaa maajidu aatinaa majdaka
    • Ya Tuhan Yang Maha Mulia, berikanlah kepada kami kemuliaan-Mu
    1. Yaa waahidu wahhid tafarruqonaa wajma’syamlanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Esa/Menyatukan, persatukanlah perpecahan kami dan kumpulkanlah keberantakan kami.
    1. Yaa shomadu ilaika shomadnaa
    • Ya Tuhan yang tergantung kepada-Nya segala sesuatu, hanya kepada-Mu kami bergantung.
    1. Yaa qodiiru biqudrotika anjib min zhahrina zhurriyyatan thoyyibah
    • Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan kekuasaan-Mu lahirkanlah dari tulnag pungung kami anak keturunan yang baik.
    1. Yaa muqtadiru iqtadirlana zaujan wakhoiron kullahu
    • Ya Tuhan Yang Maha Menentukan, tentukanlah untuk kami istri dan semua kebaikannya.
    1. Ya mukoddimu qoddim hawaaijanaa fiddun-ya wal aakhiroh
    • Ya Tuhan Yang Maha Mendahulukan, dahulukan keperluan kami di dunia dan di akherat.
    1. Yaa muakhkhiru akhkhirhayaatana bishusnil khootimah.
    • Ya Tuhan Yang Maha Mengakhirkan, akhirkanlah hidup kami dengan

    husnul khotimah.

    1. Yaa awwalu adkhilnal jannta ma’al awwalin
    • Ya Tuhan Yang Maha Pertama, masukkanlah kami ke dalam syurga bersama orang-orang yang pertama masuk syurga
    1. Yaa aakhiru ij’al aakhiro ‘umrinaa khoirohu.
    • Ya Tuhan Yang Maha Akhir, jadikanlah kebaikan pada akhir umur kami.
    1. Ya zhoohiru azhhiril haqqo ‘alainaa warzuqnattibaa’ah
    • Ya Tuhan Yang Maha Nyata, tampakkanlah kepada kebenaran , berikan kami kesanggupan untuk mengikutinya.
    1. Yaa baathinu abthin ‘uyuubanaa wastur ‘aurootinaa.
    • Ya Tuhan Yang Maha Menyembunyikan, sembunyikanlah cacat kami dan tutuplah rahasia kami.
    1. Yaa waali anta waali amrinaa faasri’ nushrotaka lanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Menguasai, Engkau adalah Penguasa urusan kami, maka segerakanlah pertolongan-Mu kepada kami.
    1. Yaa muta’aali a’li kalimataka wakhdzul man khodzalanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Terpelihara dari semua kekurangan (Maha Luhur), luhurkan/peliharalah kalimat-Mu dan hinakan orang yang merendahkan kami.
    1. Yaa barru ashib barroka alainaa waahyinaa ma’al barorotil kiroom.
    • Ya Tuhan Yang Maha Dermawan, limpahkan kedermawanan-Mu kepada kami dan hidupkanlah kami bersama orang-orang yang dermawan lagi mulia.
    1. Yaa tawwaabu taqobbal taubatanaa wataqobbal ma’dzi-rotanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Menerima taubat, terimalah taubat kami dan uzur kami.
    1. Yaa afuwwu fa’fu annaa khothooyaanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Memaafkan , maafkanlah semua kesalahan kami
    1. Ya rouufu anzil alainaa ro’fataka
    • Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, turunkanlah kepada kami kasih/kelembutan-Mu
    1. Yaa Maalikal mulki aati mulkaka man tasyaa-u minnaa
    • Ya Tuhan Yang Memiliki Kerajaan/Kekuasaan, berikan

    kerajaan/kekuasaan-Mu kepada siapa yang Engkau kehendaki dari kami.

    1. Yaa Muntaqimu laa tantaqim ‘alaina bidzunuubinaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Menyiksa, janganlah kami disiksa lantaran dosa-dosa kami.
    1. Yaa dzal jalaali wal ikroom akrimnaa bil ijlaali wattaqwaa
    • Ya Tuhan Yang Mempunyai Keagungan dan Kemuliaan, muliakanlah kami dengan keagungan dan ketaqwaan.
    1. Yaa Muqsithu tsabbit lanaa qisthon wazil ‘anna zhulman
    • Ya Tuhan Yang Maha Mengadili, tetapkanlah kepada kami keadilan dan hilangkan dari kami kezaliman.
    1. Yaa Jaami’u ijma’naa ma’ash shoolihiin.
    • Ya Tuhan Yang Maha Mengumpulkan, kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang sholeh.
    1. Yaa Ghoniyyu aghninaa bihalaalika ‘an haroomik
    • Ya Tuhan Yang Maha Kaya, berikanlah kepada kami kekayaan yang halal dan jauh dari keharaman.
    1. Yaa Munghnii bini’matika aghninaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Memberi Kekayaan, dengan nikmat-Mu berikanlah kami kekayaan.
    1. Yaa Maani’u imna’ daairotas suu-i taduuru ‘alainaa.
    • Ya Tuhan Yang Maha Menolak, tolaklah putaran kejahatan yang mengancam kami.
    1. Yaa Dhoorru la tushib dhorroka wadhorro man yadhurru ‘alainaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Memberi Bahaya, jangan timpakan kepada kami bahaya-Mu dan bahaya orang yang akan membahayakan kami.
    1. Yaa Naafi’u infa’ lanaa maa ‘allamtanaa wamaa rozaqtanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Membri Manfaat, berikan kemanfaatan atas apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami dan kemanfaatan rizki yang Engkau berikan kepada kami.
    1. Yaa Nuuru nawwir quluubanaa bihidaayatika
    • Ya Tuhan Yang Maha Bercahaya, sinarilah kami dengan petunjukmu.
    1. Yaa Haadii ihdinash shirothol mustaqim.
    • Ya Tuhan Yang Maha Memberi Petunjuk, tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.
    1. Yaa Badii’u ibda’ lanaa hayatan badii’ah
    • Ya Tuhan Yang Maha Pencipta Keindahan, ciptakanlah kepada kami kehidupan yang indah.
    1. Yaa Baaqii abqi ni’matakal latii an’amta ‘alainaa.
    • Ya Tuhan Yang Maha Kekal, kekalkanlah nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami.
    1. Yaa Waaritsu ij’alnaa min waratsati jannatin na’iim.
    • Ya Tuhan Yang Maha Pewaris, jadikanlah kami orang yang akan mewarisi syurga kenikmatan.
    1. Yaa Rasyiidu alhimna rusydaka waahyinaa raasyidiin.
    • Ya Tuhan Yang Maha Cendekiawan, limpahkanlah kecendekiawaan-Mu dan hidupkanlah kami sebagai orang-orang cendekia.
    1. Yaa Shabuuru ij’alnaa shaabiriina
    • Ya Tuhan Yang Maha Penyabar, jadikanlah kami orang-orang yang selalu bersabar.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
    • Uleetha88 3:06 pm on 22 Februari 2015 Permalink

      persis seperti yang ada di buku “Do’a para wali Allah by K.H Mawardi Labay El -Sulthani” diterbitkan Anggota IKAPI Al-Mawardi Prima. LIke this ^_^

  • erva kurniawan 1:46 am on 19 February 2015 Permalink | Balas  

    Zikir Antara Mengingat dan Menyebut Nama Allah 

    dzikir 2Zikir Antara Mengingat dan Menyebut Nama Allah

    arsip fiqh

    Menurut kamus (Arab), zikir berasal dari lafal zakara – yadzkuru – dzikr, bisa berarti: mensucikan dan memuji (Allah); ingat, mengingat, peringatan; menutur; menyebut; dan melafalkan. Di dalam Al-Quran –yang juga disebut Adz-Dzikr– kita dapat menjumpai lafal itu, di dalam berbagai bentuknya (masdar, fi’il madhi, amar, mudhari’, dan sebagainya) lebih dari 200 kali dengan berbagai maknanya termasuk makna istilahi seperti dalam pembicaraan kita sekarang ini.

    Jadi menilik asal maknanya, zikir itu memang bisa berarti “mengingat Allah”. Karena itu, menurut ulama, zikir bisa dilakukan dengan hati (“mengingat”), bisa pula dengan lisan (“menyebut-nyebut”).

    Di surah 3. Ali-Imran 191 antara lain Allah berfirman: “Mereka yang mengingat Allah diwaktu beridiri, duduk dan berbaring…”

    Di surah 4. An-Nisaa: 103, antara lain Allah berfirman: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat, ingatlah di waktu berdiri, duduk, maupun berbaring….”

    Di dalam hadis shahih riwayat at-Turmudzi dari shahabat Abdullah bin Busr r.a. katanya:

    “Ya rasulullah ajaran-ajaran Islam telah banyak padaku, maka beritahukanlah aku sesuatu yang dapat aku jadikan pegangan. Rasulullah Saw. pun menjawab: ‘Biarkanlah lisanmu terus basah dengan menyebut Allah.'”

    Hadis lain juga riwayat at-Turmudzi dari shahabat Jabir r.a. dia berkata:

    “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: ‘Zikr yang paling utama adalah Laa ilaaha illallaah”

    Namun demikian zikir yang afdhol adalah zikir yang dilakukan sekaligus dengan lisan dan hati. Misalnya lisan menyebut “Laa ilaaha illallaah” dan hati mengesakan-Nya. Lisan menyebut “Subhaanallaah”, hati mensucikan-Nya. Dan seterusnya. Banyak berzikir kepada Allah, yang sering dipuji dan diperintahkan oleh Allah dalam kitab suci-Nya (seperti

    -di surah 8. Al-Anfaal: 45: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”

    -di surah 33. Al-Ahzab 35: “…orang laki-laki maupun perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar.”

    -di surah 62. Al-Jumu’ah 10: “Apabila telah kamu tunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.”)

    dengan demikian, adalah banyak “menyebut-nyebut” dan sekaligus “mengingat” Allah.

    Karena itu, Imam ‘Athaa, seorang faqih dan ahli hadis, mengatakan, orang yang melaksanakan salat lima waktu secara benar sudah termasuk ke dalam firman Allah yang memuji:

    “Wadzdzaakiriinallaaha katsiira wadzdzaakiraati..”

    “Orang laki-laki maupun perempuan yang banyak berdzikir”.

    Bahkan beliau juga menyatakan bahwa majelis-majelis yang membicarakan halal-haram, seperti bagaimana seharusnya melakukan jual-beli, salat, puasa, nikah-cerai, haji, dan sebagainya adalah majelis-majelis zikir. Saiid bin Jabir r.a. dan ulama lainnya malah menyatakan bahwa keutamaan zikir tidak terbatas pada membaca tasbih (mensucikan Allah), tahlil (mengesakan Allah), tahmid (memuji Allah), takbir(mengagungkan Allah), dan sebagainya. Tapi siapa pun yang yang melakukan amal perbuatan karena Allah dengan ketaatan kepada-Nya, dia adalah orang yang berzikir. (Lebih lanjut bacalah “Hilyat al-Abraar wa Syi’aar al-Akhyaar” halaman 4-8).

    Zikir Menggunakan Tasbih

    Tasbih yang dalam bahasa Arab disebut subhah atau misbahah, dalam bentuknya yang sekarang (untaian manik-manik), memang merupakan produk “baru”. Sesuai namanya, tasbih digunakan untuk menghitung bacaan tasbih (Subhaanallah), tahlil (Laa ilaaha illallaah), dan sebagainya.

    Pada zaman Rasulullah Saw. untuk menghitung bacaan dalam berdzikir digunakan jari-jari tangan , kerikil-kerikil, biji-biji kurma, atau tali-tali yang disimpul-simpul. Seperti diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah, Abu Daud, at-Turmudzi, an-Nasai, shahabat Ibn Umar berkata:

    “Pernah kulihat Nabi Saw. menghitung bacaan tasbih dengan tangan kanannya”

    Rasulullah Saw. juga pernah menganjurkan para wanita untuk bertasbih dan bertahlil serta menghitungnya dengan jari-jari, sebagaimana hadis dikeluarkan oleh Ibn Syaibah, Abu Daud, at-Turmudzi, dan al-Hakim sebagai berikut:

    “Wajib atas kalian untuk membaca tasbih, tahlil, dan tahdis. Dan ikatlah (hitunglah bacaan-bacaan itu) dengan jari-jemari, karena sesungguhnya jari-jari itu akan ditanya untuk diperiksa. Janganlah kalian lalai, (jikalau kalian lalai) pasti dilupakan dari rahmat (Allah).”

    Shahabat Abu Hurairah r.a. bila bertasbih menggunakan tali yang disimpul-simpul konon sampai seribu simpul. Shahabat Sa’d bin Abi Waqqaash r.a. diriwayatkan kalau bertasbih menggunakan kerikil-kerikil atau biji-biji kurma. Demikian pula Shahabat Abu Dzarr dan beberapa shahabat lainnya.

    Sedangkan tasbih dalam bentuknya yang sekarang hanyalah merupakan perkembangan alat-alat bantu tersebut.

    Memang ada sementara ulama yang berpendapat bahwa menggunakan jari-jemari lebih utama daripada menggunakan tasbih. Pendapat ini didasarkan atas hadis Ibn Umar yang sudah disebutkan di atas.

    Namun dari segi maknanya (untuk sarana menghitung), saya pikir kedua cara itu tidak berbeda. Dari sisi lain, selain untuk menghitung tasbih dan tahlil, sebenarnya tasbih mempunyai manfaat utamanya bagi kita yang sibuk di zaman sibuk ini. Dengan membawa tasbih, seperti kebiasaan orang-orang Timur Tengah (di sana tasbih merupakan asesori macam cincin dan kacamata saja), sebenarnya kita bisa selalu atau sewaktu-waktu diingatkan untuk berdzikir mengingat Allah.

    Artinya, setiap kali kita diingatkan bahwa yang ada di tangan kita adalah alat untuk berdzikir, maka besar kemungkinan kita pun lalu berdzikir.

    Wallaahu A’lam. Dan selamat berzikir.

    ***

    sumber : “Fiqih Keseharian”  KH. A. Mustofa Bisri

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 18 February 2015 Permalink | Balas  

    Zikir dan Doa 

    dzikirZikir dan Doa

    Arsip fiqh

    Tidak ada ibadah yang lebih utama bagi lidah setelah membaca Alquran selain zikrullah (mengingat Allah dengan zikir) dan menyampaikan segala kebutuhan melalui doa yang tulus kepada-Nya.

    Berikut ini adalah dalil-dalil tentang keutamaan berzikir.

    Allah SWT berfirman yang artinya, “Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian.” (Al-Baqarah: 152).

    “Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring.” (Ali Imran: 191).

    Nabi saw. bersabda yang artinya, “Sesungguhnya Allah Azza wa-Jalla berfirman, “Aku beserta hamba-hamba-Ku selagi dia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak-gerak menyebut-Ku.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

    Dalam hadis lain beliau bersabda, “Tidaklah segolongan orang mengingat Allah, malainkan para malaikat menghormati mereka, rahmat menyelubungi mereka, ketenangan turun kepada mereka, dan Allah mengingat mereka bersama orang-orang yang ada di sisi-Nya.” (HR Muslim dan At-Tirmizi).

    Hadis-hadis lain yang serupa dengan ini banyak sekali, yang biasanya disebutkan dalam masalah amal-amal yang utama.

    Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi saw., beliau bersabda, “Tidaklah segolongan orang duduk-duduk di suatu majelis, lalu mereka buyar tanpa mengingat Allah Azza wa-Jalla, melainkan mereka itu buyar seperti bangkai-bangkai himar, dan majelis itu akan menjadi penyesalan bagi mereka pada hari kiamat.” (HR Abu Daud, Ibnus-Sunni, dan Al-Hakim).

    Dalam hadis lain disebutkan, “Tidaklah segolongan orang duduk-duduk di suatu majelis, sedang mereka tidak mengingat Allah Azza wa-Jalla dan tidak berselawat kepada Nabi saw., melainkan majelis itu akan menjadi penyesalan bagi mereka pada hari kiamat.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).

    Tentang keutamaan doa, Abu Hurairah r.a. telah meriwayatkan dari Nabi saw., bahwa beliau bersabda, “Tidak ada sesuatu yang mulia atas Allah Azza wa-Jalla selain dari doa.” (HR At-Tirmizi, Ibnu majah, Ibnu Hibban, Ahmad, dan Al-Baghawi).

    Dalam hadis lain disebutkan, “Ibadah yang paling utama adalah doa.” (HR Bukhari, sanadnya ada kelemahan).

    “Siapa yang tidak mau meminta kepada Allah, Allah murka kepadanya.” (HR Bukhari, Tirmizi, Ibnu Majah, Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Baghawi).

    “Mintalah kepada Allah kemurahan-Nya, karena Allah itu suka jika dimintai.” (HR Tirmizi).

    Ada beberapa adab yang harus diperhatikan saat berdoa, yaitu mencari waktu yang mulia, seperti hari Arafah untuk putaran satu tahun, pada bulan Ramadan untuk putaran satu bulan, pada hari Jumat untuk putaran satu minggu, pada waktu-waktu sahur untuk putaran setiap hari. Waktu mulia lainnya adalah antara azan dan iqamat, seusai salat fardu, saat turun hujan lebat, saat berperang fisabilillah, saat khatam Alquran, saat sujud, saat berbuka puasa, saat hati sedang khusu dan takut. Yang pasti, kemuliaan waktu-waktu ini kembali kepada kemuliaan keadaannya. Waktu sahur merupakan saat hati sedang bersih dan kosong, waktu sujud karena dalam hina.

    Adab berdoa lainnya adalah harus menghadap ke arah kiblat, mengangkat kedua tangan (pada selain salat wajib lima waktu ed.), dan hendaknya mengucapkan doa secara pelan-pelan.

    Adab yang lain, hendaknya dimulai dengan zikir kepada Allah, kemudian mengucapkan selawat kepada Nabi saw., dan tidak memaksakan kalimat-kalimat yang bersajak dalam doa. Adab bedoa lainnya yang termasuk adab batin dan merupakan dasar pengabulan adalah tobat.

    ***

    Sumber: Diadaptasi dari Minhajul Qashidin: Jalan Orang-Orang yang Mendapat Petunjuk terjemahan dari Mukhtasyar Minhajul Qashidin, Al-Imam asy-Syekh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisy

    Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 7:30 am on 17 February 2015 Permalink | Balas  

    Shalat Gaib 

    shalat gaibShalat Gaib

    Arsip fiqh

    Dalil-dalil tentang Shalat gaib di antaranya adalah sebagai berikut.

    1. Dari Jabir dan Umar: “Bahwa Nabi saw. telah menyalatkan Ashhamah Najasyi, lalu takbir empat kali.” (SR Bukhari, muslim dan Ibnu Majah).
    2. Dari Jaabir: Sabda Rasulullah saw., “Telah mati pada hari ini seorang yang saleh dari bangsa Habasyi, lantaran itu marilah kamu Shalatkan atasnya,” maka kami pun beratur di belakangnya, lalu Rasulullah saw. menyalatkan.” (HR Bukhari dan Muslim).
    3. Dari Imraan bin Hushain, telah bersabda rasulullah saw., “Bahwasanya saudara kamu Najasyi telah mati, lantaran itu bediri dan Shalatkan atasnya, maka kami pun berdiri lelu membuat shaf sebagaimana dibuat bagi Shalat mayit dan kita Shalatkan atasnya sebagaimana diShalatkan atas mayit.” (SR Nasai dan Tirmizi).
    4. Dari Ibnu Abbas, “Rasulullah saw. pernah pergi ke satu kuburan yang baru, lalu ia Shalatkan atasnya, dan sahabatnya bershaf di belakangnya, dan ia takbir empat kali.” (HSR Bukhari dan Muslim).
    5. Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi saw. pernah menyalatkan atas satu mayit sesudah tiga hari.” (R Daraquthni).
    6. Dari Ibnu Abbas, “Bahwasanya Nabi saw. pernah menyalatkan atas satu kubur sesudah sebulan.” (R Daraquthni).
    7. Dari Abi Hurairah r.a., bahwasanya seorang perempuan hitam (atau seorang muda) yang biasa menyapu masjid tidak kelihatan kepada Rasulullah saw., lalu Rasulullah menanyakan dia, maka sahabat-sahabatnya menjawab, “Ia sudah mati.” Sabda Rasulullah, “Mengapakah kamu tidak beri tahu kepadak? Lalu, Rasulullah berkata, Tunjukan kepadaku kuburannya, lalu mereka tunjukkan, lantas Rasulullah menyalatkan atasnya.” (SR Bukhari, Muslim, dan yang lainnya). Dan, masih banyak lagi.

    Imam Syafii, Imam Ahmad bin Hambal, dan kebanyakan ulama yang dahulu membolehkan orang atau sekelompok orang Shalat gaib. Kata Imam Ibnu Hazm, “Tidak diriwayatkan walaupun dari seorang sahabat, tentang melarang hal itu.”

    Kata Hafizh Ibnu Hajar, “Sebagian dari ahli ilmu berkata, ‘Boleh diShalatkan gaib pada hari matinya atau sesudah dua tiga hari. Tetapi, tidak boleh kalau sudah lama’.”

    Dalil bagi Imam Syafii dan yang sependapat dengannya ialah karena hadis yang ada itu membolehkan Shalat gaib dengan tidak mensyaratkan apa-apa. Imam Al-Khaththabi berkata, “Tidak boleh diShalatkan gaib, melainkan atas orang yang mati di negeri yang tidak ada siapa-siapa menyalatkan dia di situ.” Dalilnya, dari Hudzaifah bin Asid, bahwasanya Nabi saw. telah bersabda, “Sesungguhnya saudara kamu telah mati di luar negeri kamu. Lantaran itu, berdirilah kamu dan Shalatkanlah dia.”

    (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Thabrani).

    Sementara mazhab Imam Hanafi dan Maliki berlainan pendapat dan berkata,

    “Tidak sekali-kali disyariatkan, yakni tidak sekali-kali disuruh oleh agama supaya kita menyalatkan mayit yang gaib.”

    Kesimpulan

    1. Boleh suatu jamaah Shalat gaib walaupun mungkin sudah ada yang menyalatkannya.
    2. Tidak bidah berdasarkan hadis yang tidak menyaratkan apa-apa.

    ***

    Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 16 February 2015 Permalink | Balas  

    Seseorang Dapat Menghadapi Kematian di Mana Pun dan Kapan Pun 

    itikaf 2Seseorang Dapat Menghadapi Kematian di Mana Pun dan Kapan Pun

    Memikirkan kematian dan mendefinisikan kebenaran ini adalah hal penting yang perlu dipertimbangkan jika seseorang ingin selalu berlaku ikhlas dan penuh kesadaran. Seseorang yang ikhlas beriman pada keberadaan Allah dan hari akhir, ia mengetahui dengan jelas bahwa Allah tidak hanya mengendalikan kehidupannya, tetapi juga kematiannya.

    Tak ada satu pun yang dapat menunda ataupun mempercepat kematiannya. Kematian akan datang saat Allah mengizinkan dan dalam kondisi yang Ia ridhai. Sebagaimana ditunjukkan oleh ayat, “Tiap-tiap umat mempuyai batas waktunya; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sedikit pun dan tidak dapat (pula) memajukannya”. (al-A’raaf [7]: 34).

    Seseorang yang menyadari kebenaran ini, bersikap atas dasar pikiran yang jernih, karena ia tahu bahwa ia dapat berhadapan dengan kematian kapan saja. Sebagaimana telah disebutkan, kematian tentu saja akan datang dengan izin Allah. Kematian tidak bergantung pada umur dan usia seseorang ataupun apakah ia melakukan perbuatan yang berbahaya atau tidak. Dengan izin Allah, kecelakaan yang tiba-tiba, penyakit yang tidak terantisipasi, atau bahkan penyebab yang sangat kecil sekalipun dapat membawa seseorang pada akhir kehidupannya.

    Siapa pun yang mampu memahami arti kematian dalam berbagai seginya, ia menyadari bahwa dirinya dapat bertemu dengan kematian di mana pun dan kapan pun. Kehidupannya dapat berakhir dengan tiba-tiba. Karena memahami hal tersebut, ia selalu berbuat ikhlas dan berusaha sebaik mungkin menggunakan kebijaksanaan, hati nurani, dan kemampuannya.

    Ia bertindak dengan penuh kesadaran bahwa bahkan dalam waktu selanjutnya, ia dapat menemukan dirinya harus menghitung amalannya di hadapan Allah. Jadi, kapan pun, ia bisa saja menempati surga ataupun neraka. Ia menghabiskan hidupnya di dunia ini dengan iman dan keikhlasan, seperti ia pernah melihat surga atau neraka saja. Ia juga memastikan bahwa semua itu adalah nyata dan dekat. Ia melewati setiap waktu dengan rasa takut yang mendalam kepada Allah, seperti pernah bertemu malaikat maut yang datang untuk mengambil nyawanya.

    Ia merasa buku yang berisi amalannya terbuka dan ia merasa seperti saat menanti keputusan apakah ia akan dikirim ke surga atau ke neraka. Ia menuntun sikapnya dengan selalu mengingat akan dekat dan pedihnya siksaan api neraka. Ia selalu memelihara rasa takut akan jatuh ke dalam derita itu selamanya.

    Di sisi lain, ia juga berharap terbebas dari neraka dan hidup abadi si surga sebagai hamba yang ditemani oleh Allah. Ia bertindak dengan mengetahui pasti bahwa alasan-alasan yang sia-sia seperti, “saya tidak tahu”, “saya tidak mengerti”, “saya tidak sadar”, “saya lupa”, “saya bingung seperti orang-orang yang tidak sadar”, “saya tidak bertanggung jawab”, “saya mengikuti setan”, atau “saya kira Allah pasti memaafkan saya”, “saya melakukan tugas-tugas agama saya dan saya kira itu cukup”, semua itu sia-sia jika diucapkan di hadapan Allah di hari pembalasan.

    Sungguh, kesadaran muncul dalam hati nurani yang kuat, pemahaman yang kokoh, kebijaksanaan yang unggul, dan keikhlasan yang konsisten. Karena seseorang mengetahui bahwa datangnya kematian hanyalah masalah waktu, ia tidak pernah berhenti melakukan perbuatan baik apa pun. Ia tidak pernah menangguhkannya, bermalas-malasan, dan selalu antusias dalam kondisi apa pun. Ia menyadari bahwa kehidupannya tidak cukup panjang untuk melakukan perbuatan yang ia coba realisasikan dalam waktu dekat, beberapa jam atau hari ke depan. Ia menyadari bahwa ia bisa saja menyesal di hari akhir karena perbuatan-perbuatan yang belum terselesaikan dan tertunda itu.

    Ia tahu bahwa ia harus berbuat sesuai dengan pemahaman seperti para nabi. Ia berusaha untuk tidak menyesal di hari akhir dan mengatakan, “Saya telah melakukan amal saleh, menolong banyak orang, bersikap dengan akhlaq yang mulia, dan memimpin orang-orang saleh dan orang-orang muslim. Saya harus mengabdikan diri saya lebih kokoh kepada Allah, berusaha lebih gigih untuk mengabarkan manusia akan akhlaq Islam, mengajak manusia untuk melakukan kebaikan dan mencegah mereka dari kesalahan dan dosa, tidak menunda kesiapan untuk hari akhir daripada terbawa oleh kehidupan duniawi, saat saya memiliki kesempatan untuk menjadi salah satu dari mereka yang telah sukses.”

    Karena ia bisa saja menghadapi kematian begitu cepat, semakin baik perbuatan yang dilakukannya dengan ikhlas, semakin menguntungkan apa yang ia dapat. Ia menyadari bahwa bersikap ragu-ragu, malas untuk melakukan sesuatu, atau memilih alternatif yang kurang baik akan menyebabkan dirinya sangat menyesal di hari akhir. Kesadaran dan keikhlasannya yang mendalam bersinar dalam kondisi apa pun. Ia mengadopsi sikap yang tulus dalam pendekatannya kepada Allah dan dalam rasa hormat, kasih sayang dan ketulusannya kepada orang-orang muslim, akhlaq yang baik, pengorbanan diri, kerja keras, pengabdian dan do’anya yang ia berikan dengan kekayaan, kata-kata, antusiasme, dan tenaganya.

    Seseorang hanya dapat berharap untuk mendapatkan pemahaman keikhlasan yang mulia jika ia hidup dengan terus memikirkan kematian. Dalam risalahnya, Badiuzzaman Said Nursi menekankan perlunya memikirkan kematian.

    “Hai sahabatku dalam pelayanan Al-Qu`an! Salah satu cara yang paling efektif untuk mendapatkan dan memelihara keikhlasan adalah memikirkan kematian. Benar, karena ambisi duniawi yang merusak keikhlasan dan membawa seseorang pada kemunafikan dan dunia, maka perenungan akan kematian yang menyebabkan kemuakan pada kemunafikan dan hal itu akan mengantarkan kita pada keikhlasan. Yaitu, untuk memikirkan kematian dan menyadari bahwa dunia ini adalah sementara, dan dengan demikian, kita terselamatkan dari tipuan-tipuan jiwa. Benar, melalui petunjuk ayat Al-Qur`an dan orang-orang yang benar, ‘Setiap jiwa akan mati,‘ (Ali Imran [3]: 185) mereka membuat perenungan akan kematian menjadi penting bagi perjalanan spiritual dan menghilangkan ilusi keabadian dan sumber ambisi duniawi. Mereka membayangkan dirinya sebagai orang mati dan ditempatkan di dalam kubur. Melalui pemikiran yang panjang, jiwa yang diperintah oleh kejahatan disedihkan dan dipengaruhi oleh khayalan yang demikian dan sampai pada tingkat memberikan semua ambisi dan harapan jiwanya. Ada sejumlah keuntungan dalam perenungan ini. Hadits, “Sering-seringlah mengingat kematian yang menghilangkan kesenangan dan membuatnya begitu pahit,” mengajarkan perenungan ini.

    Bagaimanapun juga, karena jalan kita bukanlah jalan sufi, melainkan jalan realitas, kita tidak mendorong untuk melakukan perenungan dalam khayalan dan hipotesis seperti yang dilakukan kaum sufi. Jalan yang demikian, bagaimanapun, tidak sesuai dengan realitas (kenyataan). Jalan kita bukanlah untuk membawa masa depan ke masa kini dengan memikirkan akhir hidup kita, melainkan memikirkan masa depan dari masa kini dalam penghormatan akan realitas dan menatap masa depan. Benar, dengan tidak membutuhkan khayalan atau gambaran, seseorang dapat melihat jenazahnya, buah pohon kehidupannya yang singkat. Dengan cara seperti ini, seseorang dapat melihat pada kematiannya, dan jika ia lihat lebih jauh, ia akan melihat kematian abad ini, dan jika ia lihat lebih jauh lagi dengan mengamati kematian dunia ini, ia akan membuka jalan menuju keikhlasan yang sempurna. (Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-21)

    Dengan kalimat di atas, Badiuzzaman menyarankan kepada kita untuk mengevaluasi kematian dengan kejernihan dan kematangan pikiran, layaknya kita telah dimasukkan ke dalam kubur, melihat kematian dan penguburan diri sendiri, serta mengamati kematian dunia dari akhirat. Ia juga menekankan kenyataan bahwa memikirkan kematian dapat menjadi cara yang penting untuk memurnikan seseorang dari segala macam kelemahan moral dan bertingkah laku tepat dalam kehidupan dunia ini.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 15 February 2015 Permalink | Balas  

    Memikirkan Kematian dan Hari Pembalasan 

    itikaf2Memikirkan Kematian dan Hari Pembalasan

    Sebagian orang salah menilai arti kematian. Mereka mengira kematian adalah terminal akhir, merupakan akhir dari karunia kehidupan dunia ini, dan membuat mereka mengucapkan kata perpisahan kepada kehidupan. Ia mengira dirinya tidak akan pernah kembali dan sirna ditelan bumi. Pemikiran-pemikiran seperti ini berawal dari kegagalannya memahami keberadaan Allah dengan sebenar-benarnya, seperti alasan penciptaan diri mereka sendiri dan penciptaan kehidupan dunia ini. Mereka tidak menyadari bahwa kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah ujian untuk menentukan tujuan kehidupan sebenarnya setelah mereka mati. Mereka menganggap dunia ini sebagai kenyataan dan hari akhir sebagai khayalan. Karena alasan ini, mereka mengira kematianlah yang mengakhiri kehidupan dunia dan memulai kehidupan dunia yang lain sebagai terminal akhir.

    Karena anggapan tersebut, “kematian” atau bahkan “memikirkan kematian” adalah hal yang menakutkan dan mengganggu. Mereka percaya bahwa mereka tidak akan menemukan kesenangan apa pun dalam kehidupan duniawi ini dan semua keceriaan akan hilang jika mereka memikirkan kematian. Maka dari itu, mereka ingin mendapatkan kesenangan yang paling besar atas karunia kehidupan di bumi ini dan mereka ingin lebih menikmati kehidupan ini dengan mengabaikan kematian.

    Akan tetapi, apakah seseorang berpikir tentang kematian ataupun tidak, pada akhirnya hasilnya tidak berubah. Sebagaima disebutkan di dalam ayat yang dikutip di bawah ini, setiap manusia pasti akan bertemu dengan kematian,

    “Katakanlah, ‘Sesungguhnya, kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.'” (al-Jumu’ah [62]: 8)

    Karena itulah, cara yang bijaksana adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi hal yang tak dapat dielakkan ini, bukan mengabaikannya dalam keingkaran dan kelalaian. Jika seseorang mengarahkan hidupnya untuk mendapatkan keridhaan Allah, kematian tidak akan merugikan dan mengancam dirinya.

    Sebaliknya, kematian akan menjadi jalan baginya untuk memulai kehidupan abadi yang lebih mulia. Jika orang ini berpaling kepada Allah dengan hati yang ikhlas, kematian tidak akan menyakitkan, tanpa menghiraukan artinya. Di dalam Al-Qur`an, Allah menujukkan malaikat yang, “… mencabut (nyawa) dengan keras, dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut.” (an-Naazi’aat [79]: 1-2) Karena itulah, jika seseorang beriman dan ikhlas, kematian tidak akan menjadi akhir yang menyakitkan baginya.

    Di sisi lain, berpikir tentang kematian adalah cara penting yang memungkinkan seseorang menemukan kesenangan dan kebahagiaan yang besar dari berkah kehidupan ini. Menurut yang disalah artikan oleh orang banyak, kematian itu menghapus kesenangan dunia ini, padahal seseorang dapat menikmati berkah kehidupan dengan baik hanya jika ia memahami bahwa semua itu semata hanyalah sementara.

    Dalam salah satu haditsnya, Nabi saw. telah menandai pentingnya berpikir tentang kematian,

    “Banyaklah mengingat kematian karena ia membersihkan seseorang dari dunia dan membebaskannya dari dosa.” (Ahmad Diya’al-Din al-Kamushkhanawi, Ramuz al-Ahadith, Vol. 1, 80/16.)

    Selain itu, kematian bukanlah akhir kehidupan, bukan akhir karunia ataupun kesenangan, seperti yang cenderung diyakini orang awam. Sebaliknya, kematian adalah awal dari kehidupan sebenarnya; merupakan transisi menuju dunia yang sebenarnya, di mana manusia akan hidup abadi sesuai dengan pilihan-pilihan yang mereka buat selama mereka hidup di dunia.

    Jika seseorang menghargai kebesaran Allah dan hidup dengan pengetahuan akan hal ini, ia akan menghabiskan kehidupan abadinya di surga. Bagaimanapun juga, jika ia telah membenamkan dirinya dalam kehidupan dunia ini dan melupakan kematian dan hari pembalasan, tempat tinggal abadinya adalah neraka. Mereka tidak ingin memikirkan kematian sementara di bumi ini, tetapi ia pasti bertemu dengan takdirnya.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 14 February 2015 Permalink | Balas  

    Memahami Bahwa Kehidupan Dunia Ini Adalah Sementara 

    taubatMemahami Bahwa Kehidupan Dunia Ini Adalah Sementara

    Di seluruh dunia, setiap manusia tanpa terkecuali, membicarakan atau paling tidak memikirkan satu tema pada satu titik dalam kehidupan mereka: berumur panjang dan menghindari kematian sebisa mungkin. Hingga saat ini, para ilmuwan telah melakukan usaha-usaha yang serius selama berabad-abad dan telah berusaha menemukan formula-formula untuk membuat manusia hidup lebih lama. Bagaimanapun juga, hingga saat ini, tak ada kemajuan apa pun yang dicapai. Karena itu, dengan ayat, “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (al-Anbiyaa` [21]: 34-35) Allah mengatakan kepada kita bahwa setiap manusia diciptakan tidak abadi (akan mati). Sebuah kenyataan yang setiap kita pasti akan hadapi pada waktu yang telah ditentukan.

    Tanpa mengabaikan kenyataan bahwa manusia enggan memikirkan atau menerima realitas kematian, kenyataan bahwa manusia akan mati adalah sebuah kebenaran mutlak. Dalam hal apa pun, kehidupan dunia ini sangatlah singkat dan sementara sifatnya. Setiap orang diturunkan ke dunia ini untuk diuji dalam rentang waktu berkisar antara tujuh belas sampai tujuh puluh tahun. Karena itulah, akan menjadi sebuah kesalahan yang besar bagi seseorang untuk mendasarkan rencana hidupnya hanya untuk dunia, untuk menerima persinggahan yang sebentar ini sebagai kehidupan sejatinya, dan untuk melupakan akhirat di mana ia akan hidup selamanya.

    Kenyataan ini terlihat begitu jelas dan mudah hingga semua kita bisa memahaminya dengan cepat. Akan tetapi, sebagaimana ditunjukkan dalam ayat, “Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (al-Mulk [67]: 2) Allah memperindah dunia ini untuk menciptakan kondisi di mana di dalamnya manusia akan diuji. Manusia seharusnya tidak tertipu oleh kenyataan bahwa sebagian orang berlomba-lomba satu sama lain untuk memaksimalkan kesenangan hidup di dunia ini. Hal ini karena–seperti yang ditunjukkan oleh Al-Qur`an–mereka yang hidup dalam kelalaian, tidak dapat menganggap sebuah kelompok kecuali bila mereka memiliki sifat-sifat yang dikehendakinya. Mereka yang berusaha untuk mengumpulkan dan menimbun harta kekayaan, mengorbankan kepercayaan mereka untuk mendapatkan kekuasaan.

    Mereka yang memainkan peran sebagai orang yang ingin mendapatkan penghargaan atau penerimaan dari orang lain, sebenarnya mencari cita-cita yang khayali. Menganggap bahwa kehidupan dunia ini adalah nyata dan mengejar keuntungan serta balasan duniawi tanpa harapan, adalah ketidaklogisan, kelucuan, dan kehinaan, seperti menyalahkan adegan dari sebuah sandiwara nyata.

    Bagaimanapun juga, haruslah diingat bahwa yang tertipu itu bukan hanya mereka yang mengabdikan dirinya pada kehidupan dunia ini, melainkan juga mereka yang berusaha mendapatkan dunia dan akhirat. Kehidupan dunia ini diciptakan sebagai berkah bagi manusia. Sementara mereka di dunia, manusia harus memakainya sebaik mungkin atas segala pesonanya dan menikmati anugerahnya yang berlimpah. Akan tetapi, kita tidak boleh mengidealkan dan tidak juga mengejar anugerah ini dengan keinginan atau ambisi yang berlebihan. Ia harus menjadikannya alat untuk hidup sesuai dengan agama dalam sikap sebaik mungkin, untuk menghargai Allah, dan bersyukur setelah menyadari bahwa semua itu dilimpahkan Allah kepadanya. Berbuat sesuai dengan alasan-alasan seperti, “Saya dapat membawa hidup saya dalam keridhaan Allah dan menggunakan keuntungan-keuntungan duniawi ini sebaik-baiknya,” akan menjadi pola pikir yang merusak keikhlasan seseorang.

    Di dalam ayat berikut, mengacu pada para nabi-Nya, Allah mengingatkan umat manusia bahwa tingkah laku mereka yang hanya mengingat hari akhir saja adalah yang terbaik dalam kebaikan bersama Allah.

    “Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya, Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlaq yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (Shaad [38]: 45-47)

    Meskipun demikian, Allah melimpahkan anugerah duniawi yang luar biasa atas mereka yang dengan ikhlas berpaling kepada-Nya dan menginginkan hari akhirat. Jadi, seseorang yang mengambil jarak dengan keikhlasan dengan mengatakan, “Biarkan aku memiliki dunia ini dan akhirat,” pada akhirnya akan kehilangan kedua-duanya. Orang yang selalu hanya mencari akhirat akan mendapatkan keberkahan dunia dan akhirat.

    Demikian pula, Badiuzzaman Said Nursi berkata, “Rahasianya adalah keikhlasan. Kesenangan dunia yang sementara ini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang tidak berhasil mendapatkan kemurnian spiritual. Jadi, perbuatan yang dilakukan oleh mereka untuk hari akhirat dipengaruhi oleh kesenangan-kesenangan tersebut, dan keikhlasan mereka ternodai. Karena hal-hal yang bersifat duniawiah, kesenangan tidak dapat dicari bersama dengan perbuatan untuk mendapatkan balasan duniawi lainnya. Jika demikian, keikhlasan akan terancam.” (1)

    Ia menggaris-bawahi bahwa tujuan untuk mendapatkan dua keuntungan dunia dan akhirat muncul dari jiwa yang kurang terdidik. Pemikiran demikian mengurangi keikhlasan dan mencegah seseorang dari melakukan amal saleh untuk hari akhirat.

    Dalam karyanya yang lain, Said Nursi mencatat bahwa hanya mereka “yang menganggap bahwa dunia adalah rumah persinggahan” yang dapat berharap untuk mendapatkan kehidupan terbaik dan paling berbahagia. Karena itu, pola pikir demikian membawa seseorang pada keridhaan Allah dan untuk berbuat ikhlas.

    “Saya melihat bahwa orang yang paling beruntung di dunia ini adalah dia yang melihat dunia ini sebagai rumah persinggahan militer, menyerahkan dirinya, dan bersikap sebaik mungkin. Dengan berpikir demikian, ia dapat meningkat cepat pada tingkatan keridhaan Allah, tingkatan tertinggi. Karena, orang tidak akan memberikan harga intan untuk sesuatu yang senilai dengan kaca yang bisa pecah. Ia akan menjalani hidupnya dengan lurus dan penuh kebahagiaan. Benar, materi yang ada di dunia ini adalah seperti serpihan kaca yang hancur, sedangkan materi yang abadi di akhirat memiliki nilai intan yang sempurna. Keingintahuan yang besar, rasa cinta yang hebat, keserakahan yang parah, keinginan yang keras, dan emosi-emosi lainnya yang kuat dalam naluri manusia diberikan untuk mendapatkan hal-hal yang ada di akhirat. Menjadikan emosi-emosi yang kuat terhadap hal-hal duniawi yang bersifat sementara ini sebagai tujuan, berarti memberikan harga intan yang abadi untuk serpihan kaca yang hancur.” (2)

    Dalam istilah ini, Badiuzzaman membandingkan kehidupan dunia ini sebagai sebuah botol yang mudah pecah, sedangkan hari akhirat sebagai intan. Siapa pun yang berbuat tidak ikhlas, dengan larut dalam kehidupan dunia ini, akan kehilangan balasan yang amat menyenangkan, seperti orang yang mengorbankan intan untuk sebuah botol kaca yang tak bernilai.

    Di sisi lain, orang yang memahami bahwa dunia ini adalah rumah persinggahan, ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama dan akan mendesak dirinya untuk berusaha sekuatnya di dunia ini untuk akhirat.

    ***

    (1)-Badiuzzaman Said Nursi, Emirdag Lahikasi (Surat-Surat Emirdag), Vol. 1, hlm 86.

    (2)-Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan Surat, Surat Ke-9

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 13 February 2015 Permalink | Balas  

    Salat Witir di dalam dan di luar Ramadhan 

    sujud-shalat-di-masjidSalat Witir di dalam dan di luar Ramadhan

    arsip fiqh

    Kata witir atau witrun semula berarti ganjil. Allah disebut witrun karena Ia Esa, Tunggal. “Berwitir” bisa berarti “mengganjili”, artinya menambah yang genap (dua, misalnya) menjadi ganjil. Di malam bulan Ramadhan, setelah kita melakukan salat tarawih 20 atau delapan rakaat (genap), kita lalu “mewitirinya”, dengan salat “ganjil” tiga rakaat.

    Salat witir diisyaratkan tidak hanya di malam-malam bulan Ramadhan saja. Ia adalah salat yang sangat penting setelah salat Fardu. Bahkan menurut Imam Abu Hanifah, salat Witir itu wajib berdasarkan sabda Nabi Saw.:

    “Sungguh Allah ‘Azza wa Jalla menambah atas kamu satu salat, maka kerjakanlah itu pada waktu Isya dan Subuh: salat Witir..” (HR. Ahmad dan Tahbrani)

    Namanya “tambahan”, tentulah merupakan sesuatu yang sejenis dengan yang ditambahi. Jika yang ditambahi wajib, maka tambahan itu pun wajib. Lagi pula Nabi bersabda: “Kejakanlah” berarti perintah.

    Di samping itu, Imam Abu Hanifah juga berdalil dengan hadis:

    “Salat Witir itu haq, maka barangsiapa yang tidak berwitir maka ia tidak termasuk golonganku” (HR. Abu Dawud dari Abdullah bin Buraidah r.a)

    Sedangkan menurut Imam Syafi’i dan yang lain, salat Witir itu tidak wajib, tapi sunnah muakkadah, sunnah yang dikukuhkan. Yang dianjurkan dan ditekankan Nabi Saw. Sayyidina Ali r.a. berkata: ‘Salat Wtir itu tidak wajib sebagaimana salat-salat fardu kalian, tapi Rasulullah Saw. berwitir (melakukan salat Witir) dan bersabda:

    “Wahai ahli (keluarga) Al-Qur’an, berwitirlah kalian; sesungguhnya Allah itu Witir (Esa, Tunggal) dan menyukai yang witir (ganjil).” (HR. Abu Dawud)

    Salat Witri itu, menurut Hanafi, tiga rakaat dengan satu salam dan pada rakaat ketiga selalu ada qunutnya. Sedang menurut Syafi’i, salat Witir itu sempurnanya, minimal tiga rakaat dengan dua salat (2+1) dan hanya berqunut pada akhir Ramadhan saja.

    ***

    Sumber : Fiqh Keseharian Oleh KH. A. Mustofa Bisri

    Kiriman Sahabat Arland

     
    • cheepan04 12:44 pm on 13 Februari 2015 Permalink

      Asslm’alaikum.. kalo shalat witir dilakukan 1 rakaat, boleh kah? syukron

  • erva kurniawan 1:26 am on 12 February 2015 Permalink | Balas  

    Kriteria Makanan Haram 

    makanan1Kriteria Makanan Haram

    arsip fiqh

    1. Makanan apa saja yang diharamkan di Quran?
    2. Apakah pada dasarnya semua makan di dunia ini halal?
    3. Kriteria apa saja yang bisa menyebabkan makanan jadi haram?

    Pertanyaan ini berkaitan dengan makanan, minuman, obat-obatan dan zat yang dikonsumsi oleh manusia saat ini ternyata banyak diantaranya lebih banyak efek buruk daripada manfaatnya.

    Makanan yang haram itu terbagi menjadi dua macam.

    Pertama adalah yang haram secara pisiknya atau zatnya. Kedua adalah yang haram karena nilai atau cara mendapatkannya.

    Yang diharamkan secara pisik, ada dua macam, yaitu yang diharamkan secara eksplisit dimana nama makanan itu disebutkan keharamannya secara tegas. Dan yang satunya makanan itu tidak disebutkan bendanya hanya disebutkan kriterianya saja. Sehingga wajar bila ada ketidak-samaan dalam penafsiran atau interpretasinya.

    Sedangkan yang diharamkan secara nilai adalah makanan yang secara pisik hukum asalnya halal, tetapi berhubung didapat dengan cara yang haram, maka hukum memakannya pun ikut haram.

    Untuk itu berikut ini kami jelaskan katerangan masing-masingnya.

    1. Makanan Yang Haram Karena Zatnya

    Pada dasarnya semua makanan yang dikenal manusia adalah halal untuk dimakan. Ini adalah hukum asal, yaitu semuanya halal. Kecuali bila disebutkan oleh Allah SWT sebagai makanan yang diharamkan, baik disebutkan secara eksplisit atau yang disebutkan kriterianya saja.

    Makanan yang diharamkan secara eksplisit

    Yang dimaksud adalah yang disebutkan keharamannya dengan nash yang qathy, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Makanan itu bisa berupa bahan nabati, hewani atau lainnya. Diantaranya adalah :

    • Khamar

    Umumnya di masa itu, khamar terbuat dari perasan anggur, kurma, gandum dan makanan lainnya yang telah berubah bentuknya menjadi memabukkan. Allah SWT telah mengharamkan khamar di dalam Al-Quran Al-Karim secara eksplisit dan jelas sekali. Diantaranya adalah berikut ini :

    Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidah : 90).

    • Bangkai, darah, babi, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas atau yang disembelih untuk berhala. Dalilnya adalah ayat Al-Qur’an berikut ini :

    Diharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan yang disembelih untuk berhala. Dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah kefasikan” (QS.Al-Maidah : 3)

    • Bagian anggota tubuh hewan yang dipotong dari tubuh saat masih hidup.

    Kecuali bila bagian tubuh itu adalah tanduk, bulu, susu atau kukunya. Jadi misalnya ada hewan masih hidup lalu pahanya dipotong untuk dimakan, maka potongan paha itu haram. Dalilnya adalah hadits berikut :

    Sesuatu yang dipotong dari hewan yang masih hidup maka potongan itu adalah bangkai. (HR. Abu Daud dan Tirmizy dan dihasankannya).

    • Himar dan bighal termasuk yang diharamkan untuk dimakan dagingnya.

    Keduanya diharamkan oleh nash sharih dimana Rasulullah SAW melarang untuk memakannya ketika pada saat perang Khaibar sebagaimana hadits riwayat Al-Hakim dari Jabir bin Abdillah. Kedudukan hadits itu adalah shahih menurut syarat muslim.

    Dalilnya adalah hadits Rasulullah SAW berikut ini :

    Dari Jabir bin Abdullah ra berkata bahwa Rasulullah SAW telah melarang kita pada hari Khaibar untuk memakan bighal dan himar, tetapi tidak melarang kuda. (HR. Al-Hakim)

    • Hewan Buas

    Yaitu hewan yang memiliki taring dan digunakan untuk berburu mangsanya. Seperti anjing, kucing, singa, macan, srigala, beruang, musang dan sejenisnya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW :

    Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Memakan hewan yang punya taring (buas) adalah haram”.

    Sedangkan hewan liar yang tidak punya taring seperti kijang, banteng liar, keledai liar atau unta liar semuanya adalah halal dimakan secara ijma umat islam. Karena semua itu dianggap hewan yang baik.

    • Hewan yang bertaring dimana dia menggunakan taringnya itu untuk berburu atau mengoyak mangsanya :

    Dari Abu Tsa’labah Al-Khunasyi Ra sesungguhnya Rasululloh SAW telah bersabda: “Setiap bintang buas yang memiliki taring, maka memakannya adalah haram”(HR. HR. Muslim 1932, Ahmad 4/194, Tirmidzi 1477, Nasa’i 7/201, Ibnu Majah 3232)

    • Burung yang memiliki cakar

    Seperti elang, rajawali, basyiq (sparrow-Ing), burung garuda dan sejenisnya. Semua itu hukumnya haram bagi semua mazhab dan makruh yang bernilai haram bagi Al-Hanafiyah. Dalilnya adalah hadits Rasulullah SAW :

    Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW melarang untuk memakan hewan yang memiliki taring diantara hewan buas dan yang memiliki cakar dari jenis burung (HR. Muslim).

    Yang dimaksud memiliki cakar adalah bukan semata-mata punya kuku, namun di kalangan bangsa arab maksudnya adalah jenis burung yang buas yang menggunakan cakar untuk berburu. Sedangkan ayam, merpati dan burung-beurng penyanyi lainnya yang tidak berburu dengan cakarnya tidak termasuk yang diharamkan. Meski secara zahir mereka punya cakar tapi sebenarnya bukan cakar tapi ceker.

    Kecuali Al-Malikiyah dari riwayat yang masyhur bahwa semua jenis burung itu mubah. Namun pendapat ini tidak mewakili seluruh kalangan Al-Malikiyah.

    • Pemakan bangkai

    Para fuqaha dari kalangan Al-Hanafiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa burung pemakan bangkai termasuk dalam kategori yang diharamkan. Misalnya burung Nasar meski secara tidak termasuk burung yang bercakar

    • Anjing

    Anjing diharamkan untuk dimakan selain karena najis mughallazah juga karena dia adalah binatang khabits (kotor). Dalilnya adalah hadits Rasulullah SAW :

    Anjing itu binatang kotor dan harganya pun kotor. (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmizy dan dishahihkan).

    • Hewan yang makan kotoran manusia

    Meski hewan itu asal hukumnya halal seperti sapi, unta atau kambing, namun bila dalam perilakunya memakan tahi atau kotoran, maka dihukumi haram. Dalilnya adalah hdits Rasulullah SAW berikut :

    Rasulullah SAW melarang untuk memakan daging himar dan al-jallalah (hewan yang makan kotoran) yaitu haram menungganginya dan memakan dagingnya. HR. Abu Daud, Ahmad dan Nasai)

    Kecuali bila hewan itu berhenti dari memakan kotoran manusia / binatang dalam waktu tertentu dan memakan makana umumnnya. Maka bila telah ada tenggang waktu tertentu, dagingnya halal kembali.

    Makanan yang diharamkan secara implisit

    Maksudnya bahwa para ulama berusaha memberikan interpretasi berdasarkan kriterai pengharaman yang ada, meski secara satu-per-satu tidak disebutkan keharamannya di dalam Al-Quran Al-Karim atau sunnah, sehingga lebih merupakan pengharaman berdasarkan Ijtihad para ulama.

    Perlu untuk dipahami bahwa yang dimaksud dengan ijtihad di sini bukan berarti hasil pemikiran ulama yang tidak berdasar dalil sama sekali.

    Yang dimaksud dengan ijtihad di sini adalah pendapat para ulama berkaitan dengan persoalan makanan yang dalilnya masih dipertentangkan ataupun kedudukan makanan yang dipersoalkan masih samar. Sehingga dalam penetapannya menggunakan qaidah-qaidah umum atau analogi qiyas.

    Dalam menetapkan keharaman suatu jenis makanan atau minuman yang tidak dijelaskan secara tegas oleh nash baik Al-Qur’an maupun As-Sunnah ini, diperlukan kerjasama dari berbagai pihak yang kompenten dengan hal yang dipermasalahkan. Dengan demikian hal tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab para ahli syariah semata, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh umat yang memiliki pengetahuan tentangnya.

    Dengan adanya interpretasi seperti ini, memang bisa mengakibatkan berbedanya hukum yang ditetapkan oleh masing-masing mazhab dan juga masing-masing ulama. Misalnya, sebagian ulama semacam kalangan fuqaha Asy-Syafi’iyah mengharamkan hewan yang bermadharat yang menimpa badan atau akal. Contohnya antara lain adalah :

    • Hewan yang beracun seperti lipan, kalajengking, ular berbisa, lebah dan sejenisnya. Termasuk apa yang dihasilkan dari hewan itu bila beracun dan sejenisnya.

    Dalilnya adalah firman Allah SWT :

    Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri.(HR. An-Nisa : 29)

    Sementara kalangan Al-Malikiyah menghalalkannya. Hal tersebut karena para ulama Al-Malikiyah lebih mengacu kepada nash. Dan selama tidak ada nash yang secara eksplisit menyebutkannya haram, maka tidak boleh diharamkan. Mereka menjelaskan bahwa keharaman hewan yang beracun ini terbatas kepada mereka yang memang bisa keracunan atau memberi mudharat. Karena ada jenis hewan yang memang punya racun namun justru racunnya itu bermanfaat buat pengobatan manusia. Dan tentu saja dalam hal ini tidak diharamkan.

    • Hewan yang diperintahkan untuk membunuhnya

    Ada beberap jenis hewan tertentu yang diperintahkan untuk membunuhnya. Misalnya kodok, tikus, gagak dan sejenisnya yang hukumnya haram dimakan menurut jumhur ulama selain Al-Malikiyah. Dasarnya adalah larangan Rasulullah SAW untuk membunuhnya. Seandainya halal hukumnya, tidak mungkin ada larangan untuk membunuhnya.

    Namun kalangan Al-Malikiyah seperti biasa membolehkan makan kodok dan sejenisnya dengan dasar selama tidak ada nash yang melarangnya, maka makanan itu pada dasarnya halal.

    • Makanan / minuman yang memabukkan

    Beragam jenis minuman keras adalah haram, meski namanya tidak disebutkan satu persatu dalam Al-Quran Al-Karim atau sunnah, karena kriterianya adalah segala yang memabukkan itu bila sedikit pun tetap haram. Termasuk di dalam kriteria ini adalah ganja, opium, madat, narkoba, zat-zat aditiv dan drugs.

    1. Makanan Yang Haram Karena nilainya atau cara mendapatkannya

    Maksudnya bahwa bila makanan tersebut diperoleh dengan cara yang haram, maka termasuk yang dikategorikan sebagai makanan haram walaupun wujudnya adalah halal. Oleh karena itu, makanan yang diperoleh melalu transaksi riba, korupsi, kolusi dan lain-lainnya dikategorikan sebagai makanan haram.

    Dasarnya adalah ayat Al-Quran Al-Karim berikut ini :

    “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan kamu membawa harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan dosa, padahal kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah : 188).

    “Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan [memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih” (HR. An-Nisa : 161)

    Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyatakan bahwa makna ayat ini (Al-baqoroh : 188) adalah : “Janganlah sebagian dari kalian memakan harta yang lainnya dengan cara yang tidak benar. Masuk dalam kategori ini :

    • Harta hasil perjudian,
    • Hasil penipuan
    • Hasil perampasan
    • Hasil Korupsi
    • Hasil Manipulasi
    • Hasil Money Loundring dan segala tindakan yang tidak disukai oleh pemilik harta.
    • Atau harta yang diharamkan oleh syara’ meskipun pemiliknya merasa senang dengannya seperti : hasil perzinahan, perdukunan, jual beli khomer dan lain-lain”.

    Wallahu A`lam Bish-shawab,

    ***

    Sumber : syariahonline.com

     

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 11 February 2015 Permalink | Balas  

    Daging Apa Saja Yang Haram 

    daging-putih2Daging Apa Saja Yang Haram

    arsip fiqh

    Daging Hewan Amfibi (yang hidup di dua alam).

    Umumnya ulama memang mengharamkan kita untuk memakan hewan yang hidup di dua alam, meski pendapat itu tidak sepenuhnya disepakati.

    Para ulama dari kalangan Al-Hanabilah berpedapat bahwa semua hewan laut yang bisa hidup di darat tidak halal dimakan kecuali dengan jalan menyembelihnya. Seperti burung air, kura-kura dan anjing laut. Kecuali bila hewan itu tidak punya darah seperti kepiting.

    Kepiting menurut Imam Ahmad bin Hanbal boleh dimakan karena sebagai binatang laut yang bisa hidup di darat, kepiting tidak punya darah, sehingga tidak butuh disembelih. Sedangkan bila hewan dua alam itu punya darah, maka untuk memakannya wajib dengan cara menyembelihnya.

    Silahkan periksa kitab Al-Mughni jilid 8 halaman 606 dan kitab Kasysyaf Al-Qanna` jilid 6 halaman 202.

    Daging Harimau, ular, buaya, beruang, orang utan/monyet, komodo, kalajengking.

    Sedangkan harimau, buaya, ular, beruang, komodo adalah termasuk jenis hewan buas pemakan daging. Sehingga secara tegas bisa dimasukkan ke dalam kelompok hewan yang haram dimakan dagingnya.

    Yaitu hewan yang memiliki taring dan digunakan untuk berburu mangsanya. Seperti anjing, kucing, singa, macan, srigala, beruang, musang dan sejenisnya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW :

    Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Memakan hewan yang punya taring (buas) adalah haram”.

    Begitu juga kalajengking yang berbisa dan beracun, bukan termasuk jenis yang halal dimakan. Contohnya lainnya adalah lipan, ular berbisa, lebah dan sejenisnya. Termasuk apa yang dihasilkan dari hewan itu bila beracun.

    Dalilnya adalah firman Allah SWT : Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri.

    Namun Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah menjelaskan bahwa keharaman hewan yang beracun ini terbatas kepada mereka yang memang bisa keracunan atau memberi mudharat. Karena ada jenis hewan yang memang punya racun namun justru racunnya itu bermanfaat buat pengobatan manusia. Dan tentu saja dalam hal ini tidak diharamkan.

    Sedangkan hewan liar yang tidak punya taring seperti kijang, banteng liar, keledai liar atau unta liar semuanya adalah halal dimakan secara ijma umat islam. Karena semua itu dianggap hewan yang baik.

    Belalang, jerapah, gajah, kuda dan kelelawar.

    Sedangkan jerapah, gajah dan kuda adalah termasuk hewan jinak yang pada dasarnya tidak ada larangan untuk memakannya. Meski ada juga yang melarangnya berdasarkan bahwa hewan seperti kuda itu lebih bermanfaat bila ditunggangi dan bukan disembelih.

    Sedangkan belalang termasuk binantang halal dimakan sebagaimana telah disebutkan di dalam hadits Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW bersabda,”Telah dihalalkan untuk kita dua bangkai dan dua darah. Dua bangkai itu adalah ikan dan belalang. Dua darah adalah hati dan limpa. (HR. )

    Wallahu a`lam bishshowab.

    ***

    sumber : syariahonline.com

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 10 February 2015 Permalink | Balas  

    Mengqadha Shalat 

    sholat 1Mengqadha Shalat

    arsip fiqh

    Shalat fardhu atau Shalat lima waktu wajib dilaksanakan tepat pada waktunya, berdasarkan firman Allah SWT, “Sesungguhnya Shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisaa’: 103).

    Oleh karena itu, barangsiapa mengakhirkannya dari waktu yang telah ditentukan tanpa ada halangan (uzur), maka ia berdosa. Tetapi, jika dia mengakhirkannya karena suatu halangan, tidaklah berdosa. Halangan-halangan itu ada yang dapat menggugurkan kewajiban Shalat sama sekali dan ada pula yang tidak menggugurkannya sebagaimana akan dijelaskan lebih lanjut dalam pembahasan berikut.

    Hal-Hal yang Menggugurkan Shalat

    Ada sejumlah halangan atau uzur yang dapat menggugurkan Shalat dari seseorang, yaitu :

    1. Haid dan Nifas

    Wanita yang sedang haid atau nifas tidak diwajibkan menunaikan Shalat. Juga tidak wajib mengqadha Shalat-Shalat yang ditinggalkan di saat haid dan nifas tersebut, sekalipun dia harus mengqadha puasa. Hal ini berdasarkan sabda Rasul saw kepada Fatimah binti Abi Hubaisy, “Jika tenyata darah yang keluar itu haid, maka hentikanlah Shalat.”

    1. Gila

    Kewajiban Shalat itu gugur dari orang gila yang terus-menerus. Namun, orang gila yang kumat-kumatan, ketika sadar wajib mengerjakan Shalat. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Beban taklif itu diangkat (oleh Allah) dari tiga golongan: orang tidur sampai bangun, anak kecil sampai ia baligh, dan orang gila sampai dia sadar kembali.” (HR Ahmad, Ashabus Sunan, dan Hakim).

    1. Pingsan.

    Kewajiban Shalat akan gugur dari orang yang pingsan jika pingsannya berlangsung dalam dua waktu Shalat yang bisa dijamak, seperti seseorang pingsan sebelum masuk waktu Dzuhur sampai dengan matahari terbenam.

    1. Murtad

    Seseorang yang murtad (keluar dari Islam) kemudian masuk Islam kembali, maka hukumnya sama dengan orang kafir asli, yakni dia tidak wajib mengqadha Shalat. Tetapi, menurut ulama Syafi’i ia wajib mengqadha semua Shalat yang ia tinggalkan ketika murtad sebagai hukuman kepadanya.

    Hal-Hal yang Membolehkan Mengakhirkan Shalat

    Adapun halangan yang membolehkan seseorang mengakhirkan Shalat dari waktunya, dan tidak berdosa karenanya ialah tidur, lupa, dan lalai. Diterima dari Abu Qatadah, para sahabat menceritakan kepada Rasulullah saw perihal tidur mereka yang menyebabkan tertunda Shalatnya, maka Rasul bersabda, “Sesungguhnya tidaklah termasuk keteledoran karena tidur, tetapi keteledoran itu di waktu terjaga. Karena itu, jika seseorang di antaramu lupa Shalat atau tertidur hingga meninggalkan Shalat, hendaklah ia melakukannya bila telah ingat atau sadar kembali.” (HR Nasa’i dan Timidzi seraya menyatakannya sebagai hadis yang sahih).

    Dari Anas ra, Nabi saw bersabda, “Barangsiapa lupa mengerjakan Shalat, hendaklah mengerjakannya bila telah ingat, dan selain itu tidak ada kewajiban kaffarat yang lain.” (HR al-Khamsah/lima imam hadis).

    Dalam sebuah riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, “Bila seseorang di antaramu tertidur hingga meninggalkan Shalat atau lupa mengerjakannya, hendaknya ia mengerjakannya jika telah ingat, karena Allah berfirman, ‘dan dirikanlah Shalat untuk mengingat Aku’.” (Thaha: 14).

    Dari Abu Qatadah ra, “Pada suatu malam kami bepergian bersama Rasulullah saw, salah seorang di antara kami berkata, ‘Tidakkah lebih baik kita beristirahat ya Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Saya khawatir kalian akan tertidur sehingga meninggalkan Shalat’. Bilal berkata, ‘Saya akan membangunkan kalian,’ Kemudian tidurlah semuanya. Sementara itu, Bilal menyandarkan punggungnya pada kendaraannya dan nampaknya ia tidak kuat menahan kantuk hingga akhirnya ia tertidur. Kemudian Nabi saw bangun di saat matahari telah naik tinggi, maka beliau bersabda, ‘Hai Bilal mana janjimu?’ Sungguh, saya tak pernah mengalami seperti ini’, jawab Bilal. Nabi bersabda lagi, ‘Allah mencabut roh-roh kalian kapan saja Dia mau, Dia akan mengembalikannya kepadamu kapan saja Dia mau. Hai Bilal, berdirilah dan serukanlah azan Shalat untuk orang banyak’. Kemudian, beliau berwudhu. Ketika matahari telah tinggi dan bersinar terang beliau Shalat dengan berjama’ah bersama mereka.” (HR al-Khamsah, dan redaksi ini adalah redaksi Bukhari dan Nasa’i). Menurut riwayat Ahmad orang-orang berkata, “Ya Rasulullah, tidakkah sebaiknya Shalat ini kita kerjakan besok pada waktunya?” Rasul menjawab, “Bukankah Allah telah melarangmu melakukan riba lalu akan menerimanya darimu?”

    Mengqadha Shalat wajib dilakukan dengan segera, baik Shalat itu tertinggal karena sesuatu uzur yang tidak menggugurkan kewajibannya ataupun tanpa uzur sama sekali, dan qadha ini tidak boleh ditunda-tunda kecuali ada halangan mendesak seperti bekerja untuk mencari rezeki dan menuntut ilmu yang wajib ‘ain baginya, begitu juga makan dan tidur. Dengan hanya mengqadha Shalat bukan berarti seseorang telah bebas dari dosa (karena menunda Shalat tanpa uzur), tetapi ia masih harus bertaubat, sebagaimana taubat tidak bisa menggugurkan kewajiban Shalat, namun harus disertai mengqadha pula. Hal ini karena salah satu syarat bertaubat adalah menghilangkan perbuatan dosa, sedang orang yang bertaubat tanpa mengqadha belum berarti ia telah menghilangkan perbuatan dosa tersebut.

    Termasuk salah satu hal yang tidak mengharuskan qadha dengan segera adalah sibuk melakukan Shalat sunnah. Tetapi, bagi orang yang berkewajiban qadha, sebaiknya ia tidak mengerjakan Shalat sunnah dulu selain Shalat sunnah Subuh, Maghrib, dan Witir, dan sebagai ganti dari Shalat sunnah rawatib yang lain, hendaklah ia mengerjakan qadha Shalat.

    Mengqadha Shalat boleh dilakukan setiap saat, kecuali pada tiga waktu yang dilarang Shalat, yaitu ketika matahari terbit, matahari berada tepat di tengah langit (waktu istiwa’), dan ketika matahari terbenam. Juga dalam satu waktu boleh mengqadha beberapa Shalat yang tertinggal, sebab pengertian qadha adalah melakukan Shalat yang telah lewat waktunya.

    Cara Mengerjakan Shalat Qadha

    Barangsiapa tertinggal mengerjakan Shalat, maka wajib mengqadhanya sesuai dengan cara dan sifat-sifat Shalat yang tertinggal itu. Jika seorang musafir yang menempuh jarak qashar tertinggal Shalat yang empat rakaat, ia mengqadhanya dua rakaat, sekalipun dikerjakan di rumah. Tetapi, menurut ulama Syafi’i dan Hanbali, dalam keadaan terakhir ini, ia mengqadhanya empat rakaat, sebab hukum asal Shalat adalah itmam (menyempurnakan Shalat empat rakaat). Karena itu, ketika di rumah, Shalat dengan itmamlah yang harus dikerjakan. Sebaliknya, jika seorang mukmin tidak dalam perjalanan (di rumah) tertinggal Shalat yang empat rakaat, maka ia harus mengqadhanya empat rakaat pula sekalipun dikerjakan dalam perjalanan. Demikian juga, jika ia tertinggal Shalat sirriyyah (yang bacaannya pelan) seperti Dzuhur, maka di waktu mengqadhanya harus secara sirri pula, sekalipun dikerjakan di malam hari. Sebaliknya, jika ia tertinggal Shalat Jahrriyyah (yang bacaannya keras) seperti Shalat Subuh, maka mengqadhanya pun harus keras pula, sekalipun dikerjakan di siang hari. Akan tetapi, menurut ulama Syafi’i yang menjadi patokan adalah waktu di mana qadha itu dilaksanakan. Jadi, seandainya qadha itu dilaksanakan pada malam hari, maka bacaannya harus dikeraskan, sekalipun yang diqadha itu Shalat sirriyyah. Dan sebaliknya, jika di siang hari maka bacaan Shalat harus dipelankan walaupun yang diqadhanya itu Shalat jahriyyah.

    Dalam mengqadha Shalat yang tertinggal (Shalat faa’itah) hendaknya diperhatikan tertib urutannya satu dengan yang lain. Qadha Shalat Subuh dikerjakan sebelum qadha Dzuhur, dan qadha Dzuhur sebelum Shalat Ashar. Di samping itu, hendaklah diperhatikan pula urutan Shalat faa’itah dengan Shalat pada waktunya (Shalat haadhirah). Maka, apabila Shalat faa’itah itu kurang dari lima waktu atau hanya lima waktu, Shalat haadhirah tidak boleh dikerjakan dulu sebelum Shalat faa’itah dikerjakan dengan tertib, selama tidak dikhawatirkan habisnya waktu Shalat haadhirah.

    Dari Ibnu Mas’ud berkata, “Ketika Perang Khandaq kaum musyrikin terlalu menyibukkan Rasulullah sampai-sampai empat Shalat tertinggal, dan waktu pun telah larut malam sejalan dengan kehendak Allah. Kemudian, beliau menyuruh Bilal untuk menyerukan azan. Bilal pun menyerukannya lalu membacakan iqamah, maka beliau Shalat Dzuhur, lalu berdiri lagi dan mengerjakan Ashar, berdiri lagi mengerjakan Shalat Maghrib, kemudian berdiri lagi untuk mengerjakan Shalat Isya’.” (HR Tirmidzi dan Nasa’i. Peristiwa ini terjadi sebelum ada perintah Shalat Khauf).

    Ulama Hanafi berpendapat, jika seseorang setelah mengerjakan Shalat haadhirah teringat akan Shalat faa’itah yang belum dikerjakannya, batallah Shalat haadhirahnya. Orang itu harus mengerjakan Shalat faa’itah dulu dan setelah itu mengulangi Shalat haadhirah. Namun, menurut ulama yang lain, ia tidak harus mengulangi Shalat haadhirah. Sedang menurut ulama Maliki, sunnah mengulangi lagi Shalat haadhirah setelah mengerjakan faa’itah.

    Jika Shalat faa’itah itu enam waktu atau lebih, maka dalam mengerjakannya tidah harus tertib, boleh dikerjakan sebelum Shalat haadhirah ataupun sesudahnya.

    Barangsiapa tertinggal sejumlah Shalat, tetapi ia lupa atau tidak tahu persis berapa jumlahnya, maka ia harus mengerjakan qadha sampai merasa yakin bahwa kewajibannya telah terpenuhi.

    ***

    Sumber: As-Shalaatu ‘Alal Madzahibil ‘Arba’ah, Abdul Qadir ar-Rahbawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 2:02 am on 9 February 2015 Permalink | Balas  

    Shalat dalam Perjalanan 

    sholat-dhuhaShalat dalam Perjalanan

    arsip fiqih

    Shalat dalam perjalan itu memiliki ketentuan-ketentuan tersendiri, kami sebutkan sebagai berikut.

    1. Mengqashar Shalat yang Empat Raka’at

    Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidak ada salahnya bila kamu mengqashar Shalat, kalau kamu khawatir akan diganggu oleh orang-orang kafir.” (QS Annisa’ 101)

    Alasan karena khawatir gangguan buat dibolehkannya mengqashar itu, di sini tidak dipakai, berdasarkan keterangan dari Ya’la bin Umaiyah, katanya:

    Saya bertanya kepada Umar bin Khattab, “Bagaimana pendapat Anda tentang mengqashar Shalat, berhubung firman Allah, ‘Kalau kamu khawatir akan diganggu oleh orang-orang kafir’.” Jawab Umar, “Hal yang kamu kemukakan itu juga menjadi pertanyaa bagi saya, hingga saya sampaikan kepada Rasulullah saw, maka beliau bersabda, ‘Itu merupakan sedekah yang dikurniakan Allah kepadamu semua, maka terimalah sedekah itu’!” (HR Jama’ah).

    Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Jureir dari Abu Munib al-Jarsy, bahwa pada suatu ketika Ibnu ‘Umar ditanya perihal firman Allah yang tersebut di atas, berhubung sekarang keadaan sudah aman dan tak perlu khawatir kepada siapa pun. Apakah masih boleh mengqashar Shalat? Ujar Ibnu Umar: “Cukuplah bagimu Rasulullah saw menjadi teladan yang sebaik-baiknya.”

    Dan dari Aisyah katanya: “Mula-mula Shalat itu diwajibkan dua dua raka’at di Mekah. Setelah Rasulullah saw pindah ke Madinah, yang dua raka’at itu ditambah dua lagi, kecuali Maghrib karena ia merupakan witirnya siang, begitu pula Shalat Fajar atau Shubuh karena bacaaannya panjang. Maka jikalau beliau bepergian, beliau pun Shalat sebagaimana yang dulu-dulu, yakni yang difardukan di Mekah. (Riwayat Ahmad, Baihaqi, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah, serta perawi-perawinya dapat dipercaya).

    Ibnul Qoyyim berkata: “Jikalau bepergian, Rasulullah saw selalu mengqashar Shalat yang empat raka’at dan mengerjakannya hanya dua-dua raka’at, sampai beliau kembali ke Madinah. Tidak ditemukan keterangan yang kuat bahwa beliau tetap melakukan empat raka’at. Hal itu tidak menjadi perselisihan bagi imam-imam, walau mereka berlainan pendapat tentang hukum mengqashar. ‘Umar, ‘Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abdullah bin Umar dan Jabir menetapkan bahwa hukumnya wajib, dan hal ini juga dianut oleh mazhab Hanafi. Maliki menetapkannya sebagai sunnah muakkad. Dan lebih ta’kid lagi dari Shalat berjamaah, sehingga apabila seorang musafir tidak mendapatkan kawan sesama musafir untuk berjama’ah, hendaklah ia Shalat secara perorangan dengan mengqashar, dan makruh baginya mencukupkan empat raka’at dan bermakmum kepada orang mukim. Menurut golongan Hambali, mengqashar itu hukumnya jaiz atau boleh saja, hanya lebih baik daripada menyempurnakan. Demikian juga pendapat golongan Syafi’i, kalau memang sudah mencapai jarak boleh mengqashar.

    1. Jarak Bolehnya Mengqashar

    Menurut ayat tersebut di atas dapat diambil keterangan bahwa pada setiap bepergian, pendeknya apa yang dikatakan menurut bahasa bepergian, biar jauh ataupun dekat, boleh dilakukan mengqashar itu. Selain itu boleh pula dilakukan jama’ serta berbuka, yakni tidak melakukan puasa wajib. Tidak sebuah hadits pun yang menyebutkan batas jauh atau dekatnya bepergian itu. Ibnul Mundzi dan ulama yang lain menyebutkan lebih dari dua puluh pendapat tentang masalah ini. Di sini akan kita cantumkan yang lebih kuat, yaitu:

    Ahmad, Muslim, Abu Daud, dan Baihaqi meriwayatkan dari Yahya bin Yazid, katanya:

    “Saya bertanya kepada Anas bin Malik perihal mengqashar Shalat. Ujarnya: ‘Rasulullah saw bersembahyang dua raka’at kalau sudah keluar sejauh tiga mil atau tiga farsakh’.”

    Hafidz Ibnu Hajar mengatakan dalam kitab al-Fath, bahwa inilah hadits yang paling sah dan paling tegas menjelaskan jarak bepergian yang dibolehkan mengqashar itu.”

    Keragu-raguan soal mil atau farsakh dapat diberi penjelasan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudry, katanya:

    “Apabila Rasulullah saw bepergian sejauh satu farsakh, maka beliau mengqashar Shalat.” (Diriwayatkan oleh Said bin Manshur dan disebutkan oleh Hafidz dalam at-Talkhis dan ia mendiamkan hadits ini sebagai tanda pengakuannya).

    Sebagaimana diketahui satu farsakh itu sama dengan tiga mil. Maka hadits Abu Said ini cukup menghilangkan keragu-raguan yang terdapat dalam hadits Anas dan menyatakan bahwa Rasulullah saw telah melakukan qashar jika beliau bepergian dalam jarak sedikit-dikitnya sejauh tiga mil. Satu farsakh adalah 5541 meter sedang satu mil 1748 meter.

    Adapula yang mengatakan bahwa sedikitnya jarak mengqashar itu adalah satu mil, hadits yang menjadi alasannya diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan isnad yang sah dari Ibnu Umar. Pendapat inilah yang dianut oleh Ibnu Hazm. Dan sebagai alasan tidak boleh mengqashar bila kurang dari 1 mil, dikemukakannya bahwa Nabi saw pergi ke Baqi’ untuk menguburkan orang-orang yang meninggal dan keluar ke suatu padang untuk membuang hajat, tapi Shalatnya tidak diqasharnya. Adapun syarat yang dikemukakan oleh ahli fiqh bahwa boleh mengqashar itu hanyalah pada perjalanan jauh, dengan jarak sekurangnya dua atau tiga marhalah –ada dua pendapat–, maka untuk menolaknya cukuplah uraian yang dikemukakan oleh Imam Abu Kasim al-Kharqy dalam buku al-Mughni, katanya: “Saya tak dapat menemukan alasan dalam pendapat imam-imam itu, sebab keterangan-keterangan dari para sahabat juga saling bertentangan hingga karenanya tak dapat dipakai sebagai hujjah atau dalil. Dan sebagai diketahui, pendapat Ibnu Umar dan Ibnu Abbas menyalahi pendapat mereka, dan umpama menyetujuinya tetapi ucapan para sahabat itu taklah dapat diambil alasan di depan ucapan Nabi dan perbuatan beliau. Dengan demikian, tak dapatlah diterima ukuran jauh yang mereka sebutkan itu disebabkan dua hal. Pertama, karena menyalahi sunah Nabi saw yang tersebut dulu, dan kedua karena lahirnya firman Allah Ta’ala membolehkan qashar bagi orang yang dalam perjalanan sebagai berikut: “Apabila kalian bepergian di muka bumi, maka tak ada salahnya bila kamu mengqashar sholat.”

    Syarat karena takut sudah dapat dihilangkan karena hadits Ya’la bin Umaiyah. Maka tinggallah lahir ayat itu yang mencakup segala macam bepergian, pendeknya asal sudah disebut bepergian.

    Mengenai sabda Nabi saw yang membolehkan seorang musafir itu mengusap khuf atau sepatunya selama tiga hari, maka hadits itu hanya menyatakan lama bolehnya menyapu, hingga tak mungkin diterapkan dalam masalah ini, sebab soalnya berlainan. Lagi pula bepergian jarak dekat dapat saja ditempuh dalam tiga hari. Sedang ini oleh Nabi saw masih dinamakan bepergian juga, sebagaimana sabda beliau: “Tidaklah halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari kemudian bepergian selama sehari perjalanan kecuali dengan muhrimnya.”

    Kedua, menetapkan batas ukuran itu tidaklah dapat hanya dengan pendapat manusia semata tanpa dasar atau persamaan yang dapat dikiaskan. Maka alasan yang kuat berada di pihak orang yang membolehkan qashar bagi setiap musafir, kecuali bila ijma’ menentangnya.

    1. Tempat Dibolehkanya Mengqashar

    Jumhur ulama berpendapat bahwa mengqashar Shalat itu dapat dimulai setelah meninggalkan kota dan keluar dari daerah lingkungan. Ini merupakan syarat dan seorang musafir diharuskan lagi mencukupkan Shalatnya, baru kalau ia sudah memasuki rumah pertama di daerahnya itu. Berkata Ibnul Mundzir: “Saya tidak menemukan sebuah keteranganpun bahwa Nabi saw mengqashar dalam bepergian kecuali setelah keluar dari Madinah.”

    Anas berkata: “Saya sholat dhuhur bersama Rasulullah saw di Madinah empat raka’at dan Dzul Hulaifah dua raka’at.” (Riwayat Jama’ah).

    Sebagian ulama salaf berpendapat bahwa seorang yang telah berniat hendak bepergian sudah boleh mengqashar Shalatnya, walaupun ia masih berada di rumahnya.

    1. Kapan Seorang Musafir Mencukupkan Shalatnya

    Seorang musafir itu boleh terus mengqashar Shalatnya, selama ia masih dalam bepergian. Jika ia bermukim di suatu tempat karena suatu keperluan yang hendak diselesaikannya, maka ia tetap boleh mengqashar, sebab masih terhitung dalam bepegian, walaupun bermukimnya di sana sampai bertahun-tahun lamanya. Adapun kalau ia bermaksud hendak bermukim di sana dalam waktu tertentu, maka menurut pendapat yang terkuat yang dipilih Ibnul Qoyyim, bermukimnya itu belum lagi menghilangkan hukum bepergian, baik lama atau sebentar, selama ia tidak berniat hendak menjadi penduduk tetap di sana itu. Dalam hal ini para ulama mempunyai berbagai-bagai pendapat dan diringkas oleh Ibnul Qoyyim sambil memperkuat pendapatnya sendiri sebagai berikut:

    “Rasulullah saw bemukim di Tabuk selama dua puluh hari dan terus-menerus mengqashar Shalat dan tidak pernah mengatakan kepada ummatnya supaya tiada seorang pun mengqashar Shalat bila lebih lama bermukim dari waktu itu, hanya kebetulan saja lama bermukim Nabi saw itu dua puluh hari. Bermukim dalam waktu sedang bepergian tak dapat dianggap sudah keluar dari hukum bepergian, baik lama atau sebentar, asal saja ia tidak bermaksud hendak menetap di sana sebagai penduduk. Di kalangan ulama-ulama salaf dan khalaf, banyak terdapat pertikaian mengenai masalah ini. Dalam shahih Bukhari dari Ibnu ‘Abbas katanya: “Nabi saw bermukim dalam salah satu perjalanannya selama sembilan belas hari dan selalu Shalat dua raka’at. Maka kami pun kalau bermukim dalam perjalanan selama sembilan belas hari, kami akan tetap mengqashar dan kalau lebih dari itu, akan kami cukupkan.”

    Menurut lahirnya ucapan Ahmad, yang dimaksud oleh Ibnu Abbas itu adalah bermukimnya Nabi saw di Mekah di waktu kota itu dibebaskan. Tetapi, sebenarnya bermukimnya di Mekah itu lamanya delapan belas hari, sebab beliau akan melanjutkan perjalanan ke Hunain dan di sana tidak bermaksud akan bermukim. Inilah bermukimnya Nabi saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas itu. Ada pula yang mengatakan bahwa maksud Ibnu Abbas ialah ketika bermukimnya Nabi saw di Tabuk, sebagai yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah katanya:

    “Nabi saw bermukim di Tabuk selama dua puluh hari dan selalu mengqashar Shalatnya.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya).

    Mishwar bin Mahramah berkata: “Kami bermukim dengan Sa’ad di salah satu desa di wilayah Syam selama empat puluh hari. Selama itu Sa’ad tetap mengqashar, tetapi kami mencukupkan.” Nafi berkata: “Abdullah bin Umar bermukim di Azerbaijan enam bulan dan tetap Shalat dua raka’at ketika tertahan oleh salju waktu memasukinya.” Hafash bin Ubaidullah mengatakan bahwa Anas bin Malik bermukim di Syam dua tahun dan terus Shalat sebagai seorang musafir. Dan menurut Anas, para sahabat Nabi saw bermukim di Ramhurmuz selama tujuh bulan dan tetap mengqashar Shalat, sedang menurut Hasan, ia bermukim dengan Abdurrahman bin Samurah di Kabul selama dua tahun, dan Abdurrahman terus mengqashar tetapi tidak menjama’. Kemudian Ibrahim mengatakan pula bahwa para sahabat pernah bermukim di Rai selama satu tahun atau lebih dan di Sajistan selama dua tahun. Nah, inilah dia petunjuk yang diberikan oleh Rasulullah saw dan dicontohkan oleh para sahabatnya dan memang itulah yang benar. Adapun pendapat orang-orang itu, di antaranya ialah yang dikemukakan oleh Imam Ahmad bahwa jika seorang berniat hendak bermukim selama empat hari, maka harus mencukupkan Shalatnya, dan kalau kurang masih boleh mengqashar. Mengenai hadits Nabi saw dan perbuatan para sahabat itu mereka menafsirkannya bahwa baik Nabi saw maupun para sahabat, tidak bermaksud akan bermukim, tetapi mereka selalu mengatakan: “Hari ini atau esok kita akan pergi.”

    Tetapi dalam hal ini ada satu hal yang harus menjadi perhatian, yaitu bahwa Rasulullah saw membebaskan kota Mekah –sebuah kota yang sudah sama dimaklumi keadaannya– dan bermukim di sana adalah dengan tujuan hendak mengokohkan asas-asas keislaman serta menghancurkan sendi-sendi kemusyrikan dan mempersiapkan segala sesuatu bagi orang Arab sekelilingnya. Pekerjaan seberat itu tentulah memerlukan waktu berhari-hari dan tidak cukup hanya sehari dua saja. Demikian pula waktu di Tabuk untuk menantikan kedatangan musuh, karena antara Tabuk dan tempat kediaman musuh jaraknya bermil-mil. Nabi saw tentu maklum, bahwa untuk maksud tersebut tidak cukup waktu empat hari saja. Demikian pula ketika Umar bermukim di Azerbaijan selama enam bulan dan tetap mengqashar sebab terhalang oleh salju. Teranglah sudah bahwa salju itu tidak akan cair hingga jalan akan terbuka didalam waktu empat hari. Juga Anas yang bermukim di Syam selama dua tahun serta sahabat-sahabat yang bermukim di Ramhurmuz tujuh bulan dengan tetap mengqashar, tentulah mereka mengerti bahwa mengepung musuh dan berperang itu tidak cukup dalam waktu empat hari pula.

    Sahabat-sahabat Imam Ahmad mengatakan dalam pada itu, bahwa kalau bermukim untuk berjihad atau dipenjarakan oleh pihak penguasa atau sebab sakit, maka boleh mengqashar, baik bermukim itu menurut taksiran akan berjalan lama atau sebentar. Ini memang suatu pendapat yang benar. Tetapi anehnya, mereka mengemukakan pula suatu syarat yang sama sekali tidak berasal dari kitabullah, dari sunah Nabi atau ijma’ dan tidak pula dari amal perbuatan salah seorang sahabat. Kata mereka syaratnya itu ialah bahwa dalam takaran itu hendaknya ada kemungkinan bahwa urusan itu akan dapat selesai dalam waktu yang tidak menghapus hukuman bepergian, yakni dalam waktu yang kurang dari empat hari.

    Sekarang baiklah kita ajukan suatu pertanyaan pada mereka. Dari manakah tuan-tuan peroleh syarat tersebut, padahal Nabi saw sendiri, ketika beliau bemukim lebih dari empat puluh hari, dan tetap mengqashar Shalat, baik di Mekah maupun di Tabuk, tak pernah mengatakan suatu apa pun dan tak pula menerangkan bahwa beliau tidak bermaksud akan bermukim lebih dari empat hari, padahal beliau mengetahui bahwa perbuatan beliau akan menjadi contoh dan teladan bagi umat, dan bahwa mereka akan mengqashar pula di waktu mukim? Ternyata tidak sepatah katapun keluar dari mulut beliau yang melarang qashar bila bermukim lebih dari empat hari itu, padahal penjelasan mengenai ini amat diperlukan sekali. Begitu pula halnya perbuatan para sahabat di belakang yang mengikut Nabi saw tidak pula mereka mengatakan suatu apa kepada orang-orang yang mengqashar bersama mereka.

    Mengenai pendapat Malik dan Syafi’i, kedua imam ini mengatakan bahwa jika seorang berniat hendak mukim lebih dari empat hari, harus mencukupkan Shalat, dan kalau kurang boleh mengqashar. Abu Hanifah ra berpendapat, jika berniat mukim lima belas hari, harus mencukupkan dan kalau kurang boleh mengqashar. Ini juga merupakan pendapat al-Laits bin Sa’ad dan menurut riwayat, juga dianut oleh tiga orang sahabat, yaitu Umar, Abdullah bin Umar dan Ibnu Abbas. Sa’id Ibnul Musayyib mengatakan jika seorang bermukim selama empat hari, hendaklah ia mencukupkan Shalatnya empat raka’at. Tetapi ada juga riwayat yang mengatakan bahwa pendapat Ibnul Musayyib ini sama seperti Mazhab Abu Hanifah. Menurut Ali bin Abi Thalib ra jika bermukim sepuluh hari, harus mencukupkan. Ini ada juga yang meriwayatkan sebagai pendapat Ibnu Abbas. Dalam pada itu Hasan mengatakan bahwa boleh terus mengqashar selama seseorang belum kembali ke tempatnya semula, sementara Aisyah berkata bahwa dibolehkan selama belum lagi meletakkan perbekalan dan wadahnya. Tetapi para imam yang empat ra bersepakat bahwa kalau bermukimnya seseorang itu karena ada sesuatu keperluan yang harus diselesaikan dan selama menunggu itu ia mengatakan: “Saya akan pulang hari ini atau esok,” maka selama itu ia boleh tetap mengqashar. Hanya dalam salah satu pendapat Imam Syafi’i, bahwa kalau keadaannya seperti demikian, maka dibolehkannya mengqashar itu terbatas tujuh belas atau delapan belas hari, dan jika lebih dari itu, maka harus mencukupkan. Dalam hal ini Ibnul Mundzir mengatakan dalam satu penyelidikannya, bahwa para ahli telah ijma’ bahwa seorang musafir itu dibolehkan tetap mengqashar selama ia tidak bermaksud akan terus menetap di sana, walaupun bermukimnya itu berlangsung selama waktu bertahun-tahun.

    1. Shalat Sunah dalam Perjalanan

    Jumhur ulama berpendapat bahwa mengerjakan Shalat sunah, bagi orang yang boleh mengqashar karena bepergian itu tidaklah makruh sekali-kali baik berupa sunnah rawatib maupun lainnya.

    Dalam riwayat Bukhori dan Muslim diceritakan: “Bahwa Rasulullah saw mandi di rumah Ummu Hani sewaktu Mekah dibebaskan, lalu Shalat delapan raka’at.”

    Dan dari Abdillah bin Umar diriwayatkan: “Bahwa Nabi saw Shalat di atas punggung kendaraannya menghadap ke arah yang ditujunya dengan memberi isyarat dengan kepalanya.”

    Berkata Hasan: “Para sahabat Nabi saw juga Shalat sunah dalam bepergian, baik sebelum atau sesudah Shalat fardhu.” Tetapi Ibnu Umar dll berpendapat bahwa Shalat sunah sewaktu bepergian, baik sebelum atau sesudah Shalat fardhu itu tidak disyareatkan, kecuali Shalat ditengah malam. Bahkan sewaktu pada suatu hari dilihat Ibnu Umar ada orang yang sholat sunah setelah Shalat fardhu dalam perjalanan, maka katanya: “Seandainya saya hendak Shalat sunah, tentulah saya akan mencukupkan Shalat fardhuku –tidak mengqashar– Hai sahabat, saya sering mengiringkan Rasulullah saw dan saya lihat tak pernah beliau melakukan lebih dari dua raka’at sampai wafatnya. Saya juga mengiringkan Abu Bakar, maka Shalatnya juga tidak berlebih dari dua raka’at. Demikian halnya Umar dan Utsman. Lalu dibacakanlah ayat yang artinya: “Sesungguhnya dalam perilaku Rasulullah saw itu , contoh sebaik-baiknya bagi kamu.” (Riwayat Bukhori).

    Kedua maksud hadits di atas, yakni apa yang diriwayatkan oleh Hasan dan yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, dikompromikan oleh Ibnu Qudama, bahwa hadits Hasan menunjukan tak ada salahnya bila dilakukan, sedang hadits Ibnu Umar tak ada salahnya pula bila ditinggalkan.

    ***

    Sumber: Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 8 February 2015 Permalink | Balas  

    Shalat Jamak 

    shalatShalat Jamak

    arsip fiqih

    Jamak adalah menggabungkan dua Shalat dalam satu waktu, yaitu menggabungkan Shalat Dzuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’, baik secara taqdim maupun ta’khir. Adapun untuk Shalat Subuh tetap harus dikerjakan pada waktunya.

    Hal demikian ini jika didapatkan salah satu keadaan berikut:

    1. Menjamak di Arafah secara taqdim, begitu juga di Muzdalifah.

    Hal ini berdasarkan hadis dari Abdullah bin Mas’ud seraya berkata, “Demi Dzat yang tiada Tuhan selain Dia, Rasulullah saw tidak pernah mengerjakan satu Shalat pun kecuali tepat pada waktunya selain dua Shalat yang beliau jamak (gabung), yakni Dzuhur dengan Ashar di Arafah dan Maghrib dengan Isya’ di Muzdalifah.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Berdasarkan hadis ini, ulama Hanafi berpendapat, menjamak Shalat itu hanya boleh dilakukan dalam dua hal ini, yakni di Arafah dan di Muzdalifah. Dan ini pun harus dilakukan dengan berjamaah dengan imam (pemimpin) kaum muslimin atau wakilnya. Di luar ini tidak diperkenankan menjamak, baik dalam perjalanan maupun ketika berada di rumah.

    1. Menjamak dalam perjalanan.

    Menjamak dua Shalat dalam perjalanan, baik taqdim maupun ta’khir pada salah satu dari kedua waktu Shalat itu boleh dilakukan, dengan syarat-syarat sebagai berikut:

    • Perjalanan tersebut merupakan perjalanan yang diperbolehkan mengqashar. Akan tetapi, menurut ulama Maliki, boleh menjamak Shalat dalam setiap perjalanan sekalipun tidak mencapai jarak qashar.
    • Berturut-turut dalam mengerjakan kedua Shalat yang dijamak, sehingga antara keduanya itu tidak berselang lama. Yakni, lebih kurang selama dua rakaat cepat, tetapi di antara kedua Shalat itu diperbolehkan bersuci, azan dan iqamah. Ketentuan atau syarat ini hanya berlaku bagi jamak taqdim, tidak bagi jamak ta’khir.
    • Kedua Shalat dilakukan secara tertib, yakni dimulai dengan Shalat pertama (Zuhur atau Maghrib).
    • Niat menjama’ dalam Shalat pertama. Misalnya, “Saya Shalat Zuhur secara qashar dan digabungkan dengan Ashar.”
    • Perjalanan masih berlangsung. Seandainya terhenti atau kendaraan yang dinaikinya telah sampai dan melewati tempat di mana qashar dibolehkan, maka Shalat kedua tidak boleh dijamaktaqdimkan dengan Shalat pertama, bila Shalat kedua itu belum dikerjakan. Tetapi, menurut ulama Syafi’i, jika telah bertakbir untuk Shalat kedua lalu perjalanannya terhenti, maka jamak (taqdim) boleh dilakukan dan Shalat yang telah diniatkan dijamak itu tetap diteruskan. Dan jika Shalat pertama telah diakhirkan ke waktu Shalat kedua, tetapi sebelum mengerjakan kedua Shalat perjalanan sudah sampai, maka Shalat pertama menjadi qadha dan dia tidak berdosa karena pengakhiran ini.

    Dari Muadz bin Jabal, “Pada waktu perang Tabuk Nabi saw menjamak Shalat Dzuhur dengan Ashar sebelum berangkat jika matahari sudah tergelincir, tetapi bila berangkat sebelum matahari tergelincir, beliau akhirkan Shalat Dzuhur itu sampai berhenti untuk melakukan Shalat Ashar. Demikian juga dalam Shalat Maghrib. Jika matahari telah terbenam sebelum berangkat, dijamaklah (taqdim) Magrib dengan Isya’. Tetapi, jika berangkat sebelum matahari terbenam, maka Maghrib diakhirkannya sampai dengan waktu Isya’, lalu ia dijamak dengan Shalat Isya’.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi seraya menyatakannya sebagai hadis hasan).

    Dari Muadz ra berkata, “Kami berangkat bersama Nabi saw dalam perang Tabuk, maka beliau mengerjakan Shalat Dzuhur dan Ashar secara jamak, dan Magrib dengan Isya’ secara jamak pula.” (HR Muslim).

    1. Menjamak di saat hujan turun, atau disebabkan adanya salju atau embun. Ulama Maliki dan Hanbali menambahkan, juga karena banyaknya lumpur di malam yang sangat gelap. Ulama Hanbali menambahkan pula, di saat udara sangat dingin dan banyak salju.

    Dalam keadaan seperti itu menjamak Shalat dibolehkan dengan ketentuan sebagai berikut:

    • Hanya boleh menjamak taqdim Shalat Maghrib dengan Isya’ saja. Tetapi, menurut ulama Hanbali, boleh juga secara ta’khir, yakni Shalat Maghrib diakhirkan sampai tiba waktu Isya’. Dan ulama Syafi’i membolehkan pula menjamak Zuhur dengan Ashar secara taqdim.
    • Hujan terus turun ketika menunaikan Shalat.
    • Shalat jamak dikerjakan dengan berjamaah di masjid, kecuali menurut ulama Hanbali yang membolehkan menjamak sekalipun dikerjakan sendirian di rumah.
    • Imam harus niat menjadi imam dan Shalat dengan berjamaah, karena berjamaah merupakan salah satu syaratnya.
    • Kedua Shalat dikerjakan berturut-turut, sehingga antara keduanya tidak terpisah dengan waktu lama, tetapi boleh membacakan iqamah untuk Shalat kedua.
    • Kedua Shalat dikerjakan secara tertib, dimulai dengan Shalat Maghrib terlebih dahulu dan baru kemudian Shalat Isya’.

    Hal itu berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Salamah bin Abdurrahman berkata, “Termasuk sunnah Rasul saw ialah menjamak Shalat Maghrib dengan Isya’ apabila hari hujan lebat.” (HR Asram dalam sunannya).

    Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa Nabi saw menjamak Shalat Maghrib dengan Isya’ di suatu malam yang turun hujan lebat. (HR Bukhari).

    Dari Ibnu Abbas berkata, “Nabi saw mengerjakan Shalat di Madinah sebanyak tujuh dan delapan rakaat, Zuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’.” Abu Ayyub berkata: “Barangkali pada malam yang hujan?” Ibnu Abbas menjawab: “Ya, barangkali.” (HR Sittah [enam imam hadis]).

    1. Menjamak karena sakit atau udzur.

    Dibolehkan menjamak sebab sakit atau uzur menurut ulama Hanbali dan Maliki, demikian juga menurut al-Mutawalli dari golongan Syafi’i. Tetapi, menurut ulama Maliki, jamak di sini hanya dalam bentuknya saja (jamak formalitas), dalam arti Shalat pertama diakhirkan hingga akhir waktu dan Shalat kedua dimajukan hingga awal waktu. Sehingga seakan-akan kedua Shalat itu dijama’.

    Ulama Hanbali memperluas kebolehan menjamak ini, hingga menurut mereka, boleh juga bagi orang yang berhalangan (uzur) seperti wanita yang mengeluarkan darah istihadhah, orang beser kencing dan sebagainya, bagi orang yang khawatir terjadi bahaya bagi jiwa, harta atau kehormatannya, juga bagi orang yang takut mendapat kesulitan dalam mata pencahariannya sekiranya ia meninggalkan jamak dan bagi wanita yang sedang menyusui bila sukar baginya untuk mencuci kain setiap hendak Shalat. Semua halangan semacam itu, menurut ulama Hanbali memperbolehkan menjamak Shalat. Demikian itu berdasarkan keterangan dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasulullah saw pernah menjamak Shalat Zuhur dengan Ashar, Maghrib dengan Isya’ tanpa ada alasan ketakutan atau turun hujan. Ditanyakan kepada Ibnu Abbas: ‘Apa maksud Nabi saw berbuat demikian itu?’ Ibnu Abbas menjawab, maksudnya, agar tidak memberatkan umatnya.” (HR Muslim).

    Shalat dalam Kendaraan

    Mengerjakan Shalat dalam kapal dan sebagainya menurut cara yang mungkin dilakukan adalah sah dan gugurlah kewajiban menghadap kiblat. Karena, yang menjadi kiblatnya adalah arah ke mana kapal atau kendaraan itu melaju. Namun, di saat takbiratul ihram tetap di tuntut menghadap kiblat. Dan jika tidak dapat mengerjakan ruku’ dan sujud seperti biasa, hendaklah Shalat dengan isyarat.

    Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah saw ditanya tentang Shalat di atas kapal, maka jawabnya: ‘Shalatlah di sana sambil berdiri, kecuali jika kamu takut tenggelam’!” (HR Daaraquthni dan Hakim menurut syarat Bukhari dan Muslim)

    ***

    Referensi:

    Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

    Shalat Empat Madzhab, Abdul Qadir ar-Rahbawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 7 February 2015 Permalink | Balas  

    Shalat Sunnah Rawatib 

    khusyuk_500Shalat Sunnah Rawatib

    Arsip Fiqh

    Sesungguhnya di balik disyariatkannya Shalat sunnah terdapat hikmah-hikmah yang agung dan rahasia yang sangat banyak, di antaranya untuk menambah kebajikan dan meninggikan derajat seseorang. Shalat sunah juga berfungsi sebagai penutup segala kekurangan dalam pelaksanaan Shalat fardu. Shalat sunah juga mempunyai keutamaan yang agung, kedudukan yang tinggi yang tidak terdapat pada ibadah-ibadah lainnya, serta hikmah-hikmah yang lain.

    Dari Rabi’ah bin Ka’b al-Aslami, pelayan Rasulullah saw, berkata, “Aku pernah menginap bersama Rasulullah saw, kemudian aku membawakan air wudu untuk beliau serta kebutuhannya yang lain. Beliau bersabda, ‘Mintalah kepadaku’, maka aku katakan kepada beliau, ‘Aku minta agar bisa bersamamu di Surga’, beliau bersabda, ‘Ataukah permintaan yang lain?’ Aku katakan, ‘Itu saja’. Beliau bersabda, ‘Kalau begitu, bantulah aku atas dirimu dengan banyak bersujud (Shalat)’.” (HR Muslim).

    Dari Abu Hurairah ra , ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama kali di hisab (diperhitungkan) pada hari Kiamat nanti adalah Shalatnya, apabila Shalatnya baik, maka sungguh dia telah beruntung dan selamat, dan jika Shalatnya rusak, maka dia akan kecewa dan merugi. Apabila Shalat fardunya kurang sempurna, maka Allah berfirman, ‘Apakah hamba-Ku ini mempunyai Shalat sunnah? Maka tutuplah kekurangan Shalat fardu itu dengan Shalat sunnahnya.’ Kemudian, begitu pula dengan amalan-amalan lainnya yang kurang’.” (HR Abu Daud, Tirmizi, dan lainnya, hadis sahih).

    Pembagian Shalat-Shalat Sunnah

    Shalat sunnah terbagi menjadi dua, yaitu Shalat sunnah mutlak dan Shalat sunnah muqayyad. Shalat sunnah mutlak itu dilakukan hanya dengan niat Shalat sunnah saja tanpa dikaitkan dengan yang lain. Adapun Shalat sunnah muqayyad, di antaranya ada yang disyariatkan sebagai penyerta Shalat fardu, yaitu yang biasa disebut dengan Shalat sunnah rawatib: mencakup Shalat sunnah Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Ada juga Shalat Dhuha, Shalat ‘Idain, Shalat Kusuf dan Khusuf, Shalat Hajah, Shalat Istikharah, dan Shalat-Shalat sunnah yang lain.

    Adapun Shalat sunnah rawatib (Shalat-Shalat sunnah yang mengiringi Shalat fardhu, baik sebelum maupun sesudahnya), maka Shalat tersebut ada 18 rakaat.

    Pertama, qobliyah Dzuhur empat rakaat, dengan dua kali salam. Adapun ba’diyah Dzuhur empat rakaat, juga dengan dua kali salam.

    Kedua, qobliyah Ashar empat rakaat, dengan dua kali salam. Adapun ba’diyahnya tidak ada. Karena, Shalat sunat setelah Shalat Asar tidak diperbolehkan, kecuali Shalat yang mempunyai sebab tertentu, seperti Shalat sunnah Tahiyatul Masjid, Shalat Jenazah, Shalat sunnah Wudhu, dan lain-lain. Shalat-Shalat tersebut boleh dilakukan setelah Ashar karena mempunyai sebab-sebab khusus.

    Ketiga, qobliyah Maghrib dua rakaat, dengan satu kali salam. Demikian pula Shalat ba’diyahnya, yaitu dua rakaat dengan satu kali salam.

    Keempat, qobliyah Isya empat rakaat, dengan dua kali salam. Untuk ba’diyahnya cukup dua rakaat dengan satu kali salam.

    Kelima, qobliyah Subuh dua rakaat, dengan satu kali salam. Seperti halnya Shalat Asar, maka dalam Shalat Subuh ini tidak ada Shalat ba’diyahnya. Bahkan, setelah Shalat Subuh–sebagaimana setelah Shalat Asar–diharamkan pula melakukan Shalat sunnah apa pun, kecuali Shalat sunnah yang mempunyi sebab tertentu (dzaatus sabab).

    Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib

    Dari Ummu Habibah ra, ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Tidaklah seorang hamba muslim melaksanakan Shalat sunnah (bukan fardhu) karena Allah, sebanyak dua belas rakaat setiap harinya, kecuali Allah akan membangunkan sebuah rumah untuknya di Surga’.” (HR Muslim).

    Penjelasan tentang Sunnah Rawatib

    Dari Ummu Habibah ra, ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa Shalat dalam sehari semalam dua belas rakaat, akan dibangun untuknya rumah di Surga, yaitu empat rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah Isya dan dua rakaat sebelum Shalat Subuh’.” (HR Tirmidzi, ia mengatakan, hadis ini hasan sahih).

    Dari Ibnu Umar ra dia berkata, “Aku Shalat bersama Rasulullah saw dua rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Jum’at, dua rakaat sesudah Maghrib, dan dua rakaat sesudah Isya’.” (Muttafaq ‘alaih).

    Dari Abdullah bin Mughaffal ra , ia berkata, “Bersabda Rasulullah saw, ‘Di antara dua azan itu ada Shalat, di antara dua azan itu ada Shalat, di antara dua azan itu ada Shalat’. Kemudian, pada ucapannya yang ketiga beliau menambahkan: ‘bagi yang mau’.” (Muttafaq ‘alaih).

    Dari Ummu Habibah ra, ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa yang menjaga empat rakaat sebelum Dzuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah mengharamkannya dari api Neraka’.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi, ia mengatakan hadis ini hasan sahih).

    Dari Ibnu Umar ra, bahwa Nabi saw bersabda, “Semoga Allah memberi rahmat bagi orang yang Shalat empat rakaat sebelum Ashar.” (HR Abu Daud dan Tirmizi, ia mengatakan, hadis ini hasan).

    Shalat Witir

    Shalat-Shalat sunnah yang kita sebutkan di atas merupakan Shalat sunnah rawatib yang sangat ditekankan. Selain itu, ada juga Shalat sunnah mu’akkadah yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja, salah satunya adalah Shalat witir, yaitu Shalat sunnah yang waktunya dari setelah Isya hingga menjelang Subuh.

    ***

    Sumber: Diadaptasi dari Tuntutan Shalat Menurut Alquran dan Sunnah, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin

     

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 6 February 2015 Permalink | Balas  

    Kelicikan Setan 

    godaan setanKelicikan Setan

    Rencana setan untuk mengancam keikhlasan orang-orang beriman yang akan terus ada hingga hari pembalasan, dimulai sejak masa Adam a.s.. Ia mendekati Adam a.s. dengan strategi yang licik dan menipu serta mencoba membuatnya melihat kebaikan sebagai kejelekan dan kejelekan terlihat baik.

    Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur`an, setan berhasil membujuk Adam a.s. dan pasangannya untuk tidak mengindahkan larangan Allah. Jadi, setan membuat mereka dikeluarkan dari surga. Peristiwa ini dijelaskan di dalam ayat-ayat Al-Qur`an sebagai berikut.

    “Dan Kami berfirman, ‘Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.'” (al-Baqarah [2]: 35)

    “Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, ‘Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?'” (Thaahaa [20]: 120)

    “Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata, ‘Tuhanmu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).’ Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, ‘Sesungguhnya, saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.’ Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka, ‘Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu, ‘Sesungguhnya, setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?’” (al-A’raaf [7]: 20-22)

    Setan tidak secara terang-terangan mengatakan kepada Adam dan Hawa untuk menentang perintah Allah. Bila dilakukan terang-terangan, tak ada satu pun mukmin yang mengikutinya. Jadi, ia merencanakan alasan lain yang lebih persuasif. Setan mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan menjadi malaikat dan hidup abadi jika mereka memakan buah pohon terlarang itu. Agar kebohongannya lebih meyakinkan, ia bahkan berani bersumpah atas nama Allah. Al-Qur`an memperingatkan para mukmin sejati agar melawan kelicikan yang dilakukan oleh setan ini.

    “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari syurga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperhatikan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya, ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya, Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (al-A’raaf [7]: 27)

    Mereka yang dibimbing oleh Al-Qur`an benar-benar dipersiapkan untuk melawan masalah-masalah yang tidak berdasar, keinginan yang semu, dan muslihat setan yang menipu. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat, “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thagut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah,” (an-Nisaa` [4]: 76)

    Strategi yang dilancarkan setan sebenarnya lemah dan hanya terdiri atas tipuan yang palsu, para mukmin sejati mamahami bahwa bisikan tersebut berasal dari setan. Mereka segera memohon perlindungan kepada Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat

    “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya, orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa waswas dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (al-A’raaf [7]: 200-201)

    Segera setelah mendapatkan perlindungan dari Allah, mereka dapat mengartikan peristiwa tersebut dengan cahaya Al-Qur`an. Mereka mendapatkan pemahaman yang menolong mereka untuk membedakan kebenaran dari kebatilan. Karena itulah, tuduhan setan yang sesat tergagalkan karena iman yang kuat dalam diri mukmin yang sejati.

    Demikian pulalah, seperti yang digarisbawahi Al-Qur`an dalam ayat berikut, setan memainkan peranan kosong pada diri mukmin sejati yang meletakkan keyakinan dan iman mereka kepada Allah dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya Pelindung mereka.

    “Sesungguhnya, hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga.” (al-Israa` [17]: 65)

    Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur`an, setan dapat memengaruhi mereka yang dikuasai olehnya dan mereka yang menjadikan hal lain sebagai tuhan selain Allah.

    “Sesungguhnya, setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.” (an-Nahl [16]: 99-100)

    Dinyatakan bahwa setan tidak dapat memengaruhi hamba-hamba yang tulus dan suci,

    “Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.‘” (al-Hijr [15]: 39-40)

    Karena alasan inilah, mukmin yang ikhlas dan benar tidak perlu takut menghadapi kelicikan dan tipu daya jebakan yang dibuat oleh setan, karena mereka tahu pasti bahwa setan tidak memiliki kekuatan atas mereka. Mereka hanya takut kepada Allah. Mereka yang takut kepada setan adalah mereka yang berteman dengannya dan terperosok ke dalam perangkapnya. Hal ini diungkapkan di dalam Al-Qur`an,

    “Sesungguhnya, mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Ali Imran [3]: 175)

    Di dalam Al-Qur`an, Allah menyatakan bahwa setan akan meningkatkan usahanya untuk menanamkan keinginan-keinginan palsu dan penyimpangan di hati setiap manusia, termasuk hati para nabi. Ini adalah semacam cobaan yang diciptakan Allah untuk membedakan antara mereka yang memiliki penyakit di hatinya dan mereka yang beriman dengan tulus ikhlas.

    Mereka yang mendapatkan kesucian dan memiliki pengetahuan tidak dapat dipengaruhi oleh keinginan-keinginan palsu setan. Mereka benar-benar memahami bahwa setan tidak memiliki kekuatan sendiri. Ia sebenarnya diciptakan dan dikendalikan sepenuhnya oleh Allah. Setan tidaklah berkuasa untuk menyesatkan orang-orang beriman, menghalangi keikhlasan mereka, atau membawa mereka ke jalan yang sesat tanpa seizin Allah.

    Ketika setan berusaha untuk menempatkan keinginan-keinginan palsu di dalam hati mereka, seorang muslim percaya bahwa Al-Qu`an tidak diragukan lagi merupakan sebuah keberkahan yang nyata dari Allah sebagai penguat. Kebenaran ini ditunjukkan oleh ayat,

    “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana, agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam permusuhan yang sangat, dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Qur`an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (al-Hajj [22]: 52-54)

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 5 February 2015 Permalink | Balas  

    Sunah-Sunah Shalat Jenazah 

    sholat-jenazah-21Sunah-Sunah Shalat Jenazah

    arsip fiqh

    Sunah-sunah Shalat jenazah adalah sebagai berikut.

    1. Membaca doa pujian setelah takbir pertama menurut ulama Hanafi.
    2. Membaca isti’adzah sebelum membaca Al-Fatihah menurut ulama Syafi’i.
    3. Mengangkat tangan pada takbir pertama, dan setiap kali takbir menurut ulama Syafi’i.
    4. Membaca shalawat atas Nabi saw menurut ulama Hanafi dan Maliki, sedang menurut ulama yang lain hukumnya adalah fardhu (rukun).
    5. Berdo’a untuk mayit menurut ulama hanafi, dan menurut ulama yang lain hukumnya fardhu. Namun yang sunnah adalah dengan do’a yang ma’tsur (bersumber dari Nabi saw).

    Di antara doa-doa tersebut di atas adalah seperti yang termaktub dalam hadis-hadis berikut ini:

    1. Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasululah saw mendoakan jenazah dengan mengucapkan, “Allahumma anta rabbuhaa wa anta khalaqtahaa wa anta razaqtahaa wa anta hadaitahaa lil Islaam wa anta qabadhta ruuhahaa wa anta a’lamu bisirrihaa wa’alaaniyyatihaa, ji’naa syufaa’a lahu, faghfirlahu dzanbahu.” (Ya Allah, Engkaulah Tuhan jenazah ini, Engkau telah menciptakannya, memberinya rizki, menunjukkannya kepada Islam dan telah mencabut nyawanya. Dan Engkau pulalah yang mengetahui keadaannya yang tersembunyi dan yang nyata. Kami datang untuk memohonkan syafa’at [pertolongan] baginya. Maka ampunilah dosa-dosanya). (HR Ahmad dan Abu Daud).
    2. Dari Wa’ilah bin Asqa’ berkata, Nabi saw menyalatkan jenazah salah seorang kaum muslimin bersama kami, maka saya mendengar beliau mengucapkan, “Allahumma inna fulaanabna fulaan fi dzimmatika wahabli jawaarika faqihi min fitnatil qobri wa’adzaabin naari wa anta ahlul wafaa’i wal haqqi, Allahumma faghfirlahu warhamhu fainnaka antal ghafuurur rahiimu.” (Ya Allah, sesungguhnya Fulan bin Fulan berada dalam jaminan dan tali pelindungan-Mu. Maka lindungilah ia dari fitnah (bencana) kubur dan siksa neraka. Engkaulah yang Maha memenuhi janji dan memiliki kebenaran. Ya Allah, ampuni dan kasihanilah ia, karena Engkau Maha Pengampun lagi Maha Pengasih). (HR Ahmad dan Abu Daud).
    3. Dari Auf bin Malik berkata, saya mendengar Rasulullah saw ketika menyalatkan jenazah mengucapkan, “Allahummaghfirlahu warhamhu wa’fu’anhu wa’aafihi wa akrim nuzulahu wawassi’ madkhalahu waghsilhu bi maain watsaljin wabarodin wanaqqihi minalkhathaaya kamaa yunaqqotstsaubul abyadhu minad danasi waabdilhu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wazaujan khairan min zaujihi waqihi fitnatal qabri wa’adzaaban naari.” (Ya Allah, ampuni dan kasinahilah ia, maafkan dan sejahterahkanlah ia, hormatilah kedatangannya, lapangkanlah tempat kediamannya, dan bersihkanlah ia dengan air, es dan embun, serta bersihkanlah ia dari dosa-dosanya sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Juga gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada rumahnya dahulu, gantilah keluarganya dengan yang lebih baik daripada keluarganya dulu, dan ganti pula istrinya dengan yang lebih baik daripada istrinya yang dulu. Dan peliharalah ia dari petaka kubur dan siksa neraka). (HR Muslim)
    4. Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah menyalatkan jenazah, lalu mengucapkan, “Allohummaghfir lihayyinaa wamayyitinaa washaghirinaa wakabirinaa wadzakarinaa wauntsaanaa wasyaahidinaa waghaibinaa. Allahumma man ahyaitahu minnaa faahyihi alal islaam waman tawaffaitahu minnaa fatawaffahu ‘alal iimaan. Allahumma laa tahrimnaa ajrahu walaa tudhillanaa ba’dahu.” (Ya Allah, ampunilah kami yang hidup dan yang mati, yang kecil dan yang besar, laki-laki dan perempuan, yang hadir dan yang tidak hadir. Ya Allah, barangsiapa yang Engkau hidupkan di antara kami hendaklah Engaku hidupkan secara Islam, dan barangsiapa yang Engkau matikan di antara kami, maka matikanlah dalam iman. Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami mendapatkan pahalanya dan jangan pula sesatkan kami sepeninggalnya). (HR Ahmad dan Ashhabus Sunan).
    5. Dari Abu Hurairah ra bahwa ia ditanya, “Bagaimana cara kamu menyalatkan jenazah? dia menjawab: saya mengantarkannya dari rumah keluarganya, dan bila sudah diletakkan (untuk diShalatkan), maka saya mengucapkan takbir, memuji kepada Allah, dan membaca shalawat kepada Nabi saw, kemudian membaca: “Allahumma innahu ‘abduka wabnu ‘abdika wabnu amatika kaana yusyhidu anlaa ilaaha illa anta wa anna muhammadan ‘abduka wa rasuuluka wa anta a’lamu bihi. Allahumma inkaana muhsinaan fazid fi ihsaanihi wa inkaana musii’an fatajawaz ‘an sayyiaatihi. Allahumma laa tahrimnaa ajrahu walaa taftinnaa ba’dahu.” (Ya Allah, sesungguhnya ia adalah hamba-Mu dan putra hamba-Mu yang laki-laki dan perempuan. Ia mengakui bahwa tiada tuhan selain Engkau dan Muhammad adalah hamba dan pesuruh-Mu, dan Engkau lebih mengetahuinya. Ya Allah, jika dia telah berbuat kebajikan, maka tambahlah kebajikannya, sebaliknya, jika ia berbuat buruk, maka maafkanlah kesalahan-kesalahannya. Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami mendapat pahalanya dan jangan pula Engkau timpakan fitnah kepada kami sepeninggalnya). (HR Malik).

    Orang yang Shalat jenazah boleh mengucapkan doa sesukanya dari doa-doa tersebut, dan jika digabung semuanya, maka hal itu lebih baik. Jika jenazahnya itu perempuan, maka kata ganti laki-laki (dhamir mudzakkar hu/hi) hendaklah diganti dengan kata ganti perempuan/dhamir muannats, yakni haa, tetapi tidak boleh mengatakan zaujan khairon min zaujihaa (… dan gantilah suaminya dengan suami yang lebih baik daripada suaminya dahulu).

    Apabila mayatnya itu anak kecil, maka ucapkanlah:

    “Allahummaj’alhu farathan liabawaihi wasalafan wadzukhran wa’idzatan wa’tibaaran wasyafii’an watsaqqil bihi mawaazinahuma waafrighis shabra ‘ala quluubihiima walaa taftinhumaa ba’dahu walaa tahrimhumaa ajrohu wa’alhiqhu bishaalihi salafil mu’minin.” (Ya Allah, jadikanlah ia bagi kedua orang tuanya sebagai titipan, pendahululan, simpanan, nasihat, pelajaran dan pemberi syafaat, beratkanlah dengannya timbangan amal mereka, curahkanlah kesabaran di hati mereka, janganlah Engkau timbulkan fitnah pada mereka sepeninggalnya, dan janganlah halangi mereka mendapat pahalanya, serta pertemukanlah ia dengan kaum beriman terdahulu yang saleh).

    • Imam hendaklah berdiri di tempat yang lurus dengan kepala mayat atau bahunya jika mayat itu laki-laki atau bagian tengah mayat perempuan.

    Dari Anas ra, ia menyalatkan jenazah orang lelaki, maka ia berdiri dekat kepalanya. Setelah jenazah itu diangkat, dibawalah ke hadapannya jenazah seorang perempuan, lalu ia menyalatkannya pula tetapi ia berdiri di (dekat bagian) tengahnya. Kemudian, ditanyakan kepadanya, ‘Apakah memang demikian posisi berdiri Rasulullah saw terhadap jenazah orang laki-laki dan perempuan itu, seperti yang anda lakukan?’ Anas menjawab: ‘Benar demikian’.” (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi seraya menyatakannya sebagai hadis hasan).

    • Shaf (barisan) Shalat jenazah hendaknya dijadikan tiga shaf.

    Dari Malik bin Hubairah, Rasulullah saw bersabda, “Tiada seorang mukmin yang meninggal dunia lalu diShalatkan oleh sejumlah kaum muslimin yang mencapai tiga shaf, melainkan diampunilah dosanya.” Karena itu, jika yang hendak menyalatkan jenazah itu sedikit, maka Malik bin Hubairoh berusaha menjadikan mereka dalam tiga shaf. (HR Ahmad dan Ashhabus Sunan. Hadis ini dianggap hasan oleh Timidzi, dan shahih oleh Hakim).

    Dianjurkan memperbanyak jumlah orang yang menyalatkan jenazah, berdasarkan hadis Aisyah ra bahwa Nabi saw bersabda, “Tidaklah seorang mayat yang diShalatkan oleh sekelompok kaum muslimin berjumlah seratus orang dan semuanya memohonkan syafaat untuknya, melainkan pemohonan mereka itu dikabulkan.” (HR Ahmad, Muslim, dan Timidzi)

    Dari Ibnu Abbas berkata, dia telah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Tiada seseorang yang meninggal dunia lalu jenazahnya diShalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, melainkan Allah memberi syafaat baginya.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).

    • Membaca doa setelah takbir keempat seperti berikut:

    “Allahumma laa tahrimnaa ajrahu walaa taftinnaa ba’dahu waghfirillahumma lanaa walahu” (Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami dari pahalanya, janganlah Engkau fitnah kami sepeninggalnya, serta ampunilah, ya Allah, kami dan dia).

    Makmum Masbuq dalam Shalat Jenazah

    Barangsiapa tertinggal sesuatu dalam Shalat jenazah hendaklah mengerjakannya (menyelesaikannya) sesudah imam mengucapkan salam menurut cara seperti biasa, sekalipun jenazah telah diangkat tanpa menunggu masbuq. Namun, menurut ulama Hanafi, jika jenazah telah diangkat tanpa menunggu makmum masbuq itu, hendaklah ia hanya membaca takbir-takbir saja tanpa harus membaca sesuatu apa pun lagi dan kemudian mengucapkan salam sebelum jenazah diangkat. Sebab, yang menjadi rukun menurut mereka hanyalah membaca takbir dan selainnya adalah sunnah. Dan makruh hukumnya melaksanakan Shalat jenazah di dalam masjid, sekalipun jenazah berada di luar masjid, sebagaimana dimakruhkan pula memasukkannya ke dalam masjid bukan untuk diShalatkan. Namun, ulama Syafi’i berpendapat sunnah menyalatkan jenazah di dalam masjid. Sedang menurut ulama Hanbali, hukumnya mubah (boleh) jika tidak dikhawatirkan akan mengotori masjid, dan bila akan mengotorinya maka hukumnya haram.

    Yang Paling Berhak Menjadi Imam Shalat Jenazah

    Ulama Hanafi dan Hanbali berpendapat, yang harus didahulukan menjadi imam Shalat jenazah adalah sultan (kepala negara) jika hadir, wakilnya menurut ulama Hanafi atau waliyyul amri (penguasa, gubernur) di kota.

    Namun, menurut ulama Syafi’i dan Hanbali, yang harus didahulukan adalah ayah, kakek, dan seterusnya sampai ke atas, lalu anak dan seterusnya dalam garis lurus ke bawah, dan kemudian saudara, sesuai dengan urutan mereka dalam menjadi wali. Ulama Maliki juga sependapat dengan mereka dalam mendahulukan kelompok kerabat ini di saat tidak terdapat sultan atau wakilnya.

    Jika si mayat telah berwasiat agar ia diShalatkan oleh seseorang, maka orang itulah yang paling berhak didahulukan. Dan di antara orang yang harus didahulukan adalah imam masjid, sebab ketika masih hidup ia telah menyukainya sebagai imam.

    ***

    Sumber: As-Shalaatu ‘alal Madzaahibil Arba’ah, Abdul Qadir ar-Rahbawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 4 February 2015 Permalink | Balas  

    Shalat Jenazah 

    sholat-jenazah-1Shalat Jenazah

    arsip fiqh

    Shalat jenazah hukumnya fardhu kifayah bagi semua orang muslim yang hidup. Jika telah dikerjakan, oleh satu orang sekalipun, maka gugurlah kewajibannya dari yang lain.

    Shalat ini mempunyai beberapa syarat, rukun, dan sunnah serta keutamaan sebagaimana akan kami sebutkan.

    Dari Abu Hurairah ra Nabi saw bersabda, “Barangsiapa mengantarkan jenazah dan menyalatkannya, maka ia mendapat pahala satu qirat dan barangsiapa mengantarkannya sampai selesai penguburannya, maka ia mendapat pahala dua qirat. Satu qirat terkecil itu sama dengan Gunung Uhud.” (HR Jamaah).

    Dari Khabbab ra, ia mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa pergi mengantar jenazah dari rumah duka dan menyalatkannya lalu mengantarnya sampai dikuburkan, maka ia mendapat pahala dua qirath, dan setiap qirathnya sama dengan Gunung Uhud. Dan barangsiapa menyalatkannya lalu pulang, maka ia hanya memperoleh sebesar Gunung Uhud.” (HR Muslim).

    Syarat-Syarat Shalat Jenazah

    1. Jenazah harus orang muslim.

    Karenanya, orang kafir haram diShalatkan berdasarkan firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (At-Taubah: 84).

    1. Jenazah harus berada di tempat.

    Ulama Syafi’i dan Hanbali tidak mensyaratkannya, karena itu boleh menyalatkan jenazah yang tidak berada di tempat di mana Shalat diselenggarakan. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah: “Pada hari raja Najasyi wafat, Nabi saw mengumumkan kematiannya kepada orang-orang dan mengajak mereka pergi ke mushalla, kemudian ia membariskannya lalu mengerjakan Shalat (jenazah) dengan takbir empat kali.” (HR Jamaah).

    1. Jenazah telah disucikan. Karena itu, ia tidak boleh diShalatkan sebelum dimandikan atau ditayamumkan jika sulit memandikannya.
    2. Jenazah berada di depan orang yang menyalatkannya. Maka, Shalat tidak sah apabila jenazah diletakkan di belakang mereka. Namun, menurut ulama Maliki, yang wajib ialah kehadiran jenazah, sedang meletakkan di depan itu hukumnya sunnah.
    3. Jenazah harus diletakkan di atas tanah. Maka, tidak sah menyalatkan jenazah yang sedang diangkut di atas hewan atau kendaraan atau sedang dipikul orang. Tetapi, menurut ulama Syafi’i, boleh menyalatkannya sekalipun ia dibawa atau dipikul orang.
    4. Jenazah bukanlah syahid yang gugur dalam pertempuran melawan orang kafir. Karenanya, orang mati syahid haram diShalatkan karena haram dimandikannya.

    Dari Jabir ra, “Nabi saw memerintahkan agar para syuhada yang gugur dalam perang Uhud dikuburkan berikut darahnya, tidak dimandikan dan tidak pula diShalatkan.” (HR Bukhari).

    Dari Anas ra, “Para syuhada itu tidak dimandikan, mereka dikubur dengan darah mereka tanpa diShalatkan lagi.” (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).

    Menurut ulama Hanafi, orang yang mati syahid itu tidak boleh dimandikan tetapi wajib diShalatkan, berdasarkan hadis dari ‘Uqbah bin Amir: “Pada suatu hari Nabi saw keluar rumah lalu menyalatkan para syuhada Uhud seperti halnya menyalatkan mayat biasa setelah delapan tahun. Beliau seakan-akan sedang berpamitan kepada orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR Bukhari).

    Dari Abu Malik al-Ghiffari berkata, “Sebanyak sembilan orang yang gugur dalam perang Uhud, dan Hamzah sebagai orang kesepuluh dibawa ke hadapan Rasulullah saw lalu diShalatkan oleh beliau, kemudian dibawa pergi. Setelah itu didatangkan lagi sembilan orang sedang Hamzah masih berada di tempat semula, dan beliau pun menyalatkannya semua.” (HR Baihaqi dan menurutnya hadis ini merupakan hadis paling shahih dalam masalah ini, tetapi ia hadis mursal).

    1. Bagian tubuh mayat yang ada, yang diShalatkan itu, haruslah merupakan bagian terbesar.

    Bayi yang lahir prematur (keguguran) jika dilahirkan dalam keadaan menangis (hidup) wajib diShalatkan. Hal ini berdasarkan keterangan dari Jabir, Nabi bersabda:

    “Jika bayi yang baru lahir itu menangis, ia harus diShalatkan dan mendapatkan pusaka.” (HR Ashhabus Sunnan kecuali Abu Daud).

    Tetapi, jika di saat lahir tidak menangis, karena sudah mati dalam kandungan ibunya, maka ia tidak boleh diShalatkan. Namun, menurut ulama Hanbali, jika sewaktu dalam perut ibunya telah ditiupkan ruh dan setelah itu mati, maka ketika lahir ia harus diShalatklan. Hal ini berdasarkan hadis yang diterima dari Mughirah bin Syu’bah, Nabi bersabda:

    “Bayi keguguran itu harus diShalatkan, dan kedua orang tuanya supaya didoakan mendapat ampunan dan rahmat.” (HR Ahmad dan Abu Daud).

    Adapun syarat-syarat yang berkaitan dengan orang yang menyalatkan jenazah adalah sama dengan syarat-syarat Shalat biasa, yakni niat, bersuci, menghadap kiblat, menutup aurat, dan lain sebagainya.

    Rukun-Rukun Shalat Jenazah

    Shalat Jenazah mempunyai beberapa rukun, yang dengannya terwujudlah hakikat Shalat itu. Bila salah satu rukun tersebut tidak terpenuhi, maka Shalat itu tidak sah menurut hukum syara’. Rukun-rukun tersebut adalah:

    1. Niat. Namun, menurut ulama Hanafi dan Hanbali, niat adalah syarat, bukan rukun.
    2. Membaca takbir empat kali. Setiap takbir itu sama nilainya dengan satu rakaat. hal itu berdasarkan hadis Jabir ra, “Nabi saw menyalatkan Najasyi, maka beliau bertakbir empat kali.”
    3. Berdiri bagi yang mampu. Apabila Shalat ini dilakukan dengan duduk tanpa udzur, maka Shalatnya tidak sah.
    4. Membaca Al-Fatihah sesudah takbir pertama, berdasarkan sabda Rasul, “Tiada Shalat itu sah bagi yang tidak membaca surah Al-fatihah.” (HR Jama’ah). Dan, berdasarkan pula keterangan dari Thalhah bin Abdullah bahwa ia pernah mengerjakan Shalat Jenazah bersama Ibnu Abbas dengan membaca surah Al-Fatihah, lalu Ibnu Abbas berkata, bahwa hal itu adalah sunnah rasul saw. (HR Bukhari dan Timidzi).

    Ulama Hanafi berpendapat, makruh hukumnya membaca Al-Fatihah ini. Ulama Hanafi pun sependapat dengan mereka dinisbahkan bagi makmum kecuali jika dimaksudkan sebagai doa, tetapi jika dimaksudkan sebagai bacaan maka hukumnya tetap makruh.

    1. Membaca shalawat kepada Nabi saw setelah takbir kedua. Sekurang-kurangnya adalah Allahumma shalli ‘ala Muhammad. Namun, yang lebih sempurna ialah membaca shalawat ibrahimiyah.
    2. Berdoa untuk mayit sesudah takbir ketiga, berdasakan hadis Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda:

    “Jika kamu menyalatkan mayit, maka berdoalah dengan ikhlas untuknya.” (HR Abu Daud, Baihaqi, dan Ibnu Hibban seraya menyatakannya sebagai hadis sahih).

    Berdoa boleh dilakukan dengan doa apa saja, sekalipun hanya sedikit, dan paling sedikit adalah, “Allahummaghfir lahu warhamhu” (Ya Allah, ampunilah ia dan rahmatilah). Tetapi, yang paling utama ialah doa yang bersumber dari Rasul. Sedangkan berdoa menurut ulama Maliki adalah wajib sesudah tiap takbir.

    1. Mengucapkan salam sesudah takbir keempat. Tetapi, menurut ulama Hanafi, salam adalah wajib, bukan rukun, sebagaimana pada Shalat-Shalat yang lain.

    ***

    Sumber: As-Shalatu ‘alal Mazahibil Arba’ah, Abdul Qodir ar-Rahbawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 3 February 2015 Permalink | Balas  

    Shalat Gerhana (Matahari dan Bulan) 

    gerhanaShalat Gerhana (Matahari dan Bulan)

    arsip fiqih

    Shalat Gerhana termasuk salah satu Shalat sunnah muakkad (yang sangat dianjurkan) sebagaimana halnya Shalat malam (qiyamullail), Shalat ‘idain dan Shalat sunnah yang lain. Hanya saja, Shalat ini kurang mendapat perhatian secara luas dari kalangan kaum muslimin, berbeda dengan Shalat ‘idain. Hal ini barangkali lebih disebabkan karena mereka pada umumnya belum mengetahui sejauh mana Shalat ini dianjurkan oleh syariat. Oleh karena itu, pada edisi ini kami mencoba menurunkan kajian ini untuk memberikan gambaran kepada umat Islam agar mereka bisa memanfaatkan kesempatan itu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebab, munculnya gerhana tersebut memang semata-mata merupakan bukti dari kekuasaan Allah SWT.

    Dalil-Dalil Dianjurkannya Shalat Gerhana

    1. Dari al-Mughirah bin Syu’bah ra berkata, “Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah saw di saat Ibrahim (putra Nabi saw) meninggal, lalu orang-orang saling berkata, ‘Gerhana matahari terjadi karena meninggalnya Ibrahim’. Kemudian Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, tidak terjadi gerhana pada keduanya sebab kematian seseorang atau kehidupannya. Karena itu, berdo’alah kepada Allah SWT dan lakukanlah Shalat sampai matahari itu terang kembali’.” (Muttafaq Alaihi).

    Redaksi hadis tersebut menggunakan kata ‘inkasafat’, apakah kata itu khusus untuk matahari atau juga untuk bulan? Dalam hal ini ulama berbeda pendapat, namun berdasarkan dalil yang tsabit (ada) bahwa apabila terjadi gerhana matahari maupun bulan, tetap disunnahkan untuk melakukan Shalat gerhana.

    Kemudian, Imam Nawawi berkata, “Ulama telah bersepakat bahwa Shalat gerhana itu hukumnya sunnah. Sedangkan menurut jumhurul ulama, disunnahkan melakukannya dengan berjamaah, sementara menurut al-Iraqiyyun (ulama-ulama Irak) disunnahkan melakukannya dengan sendiri-sendiri (munfarid).

    1. Dari Abu Bakarah ra, “Maka Shalatlah dan berdoalah sampai (matahari/bulan) itu terang kembali kepadamu.” (HR al-Bukhari).

    Tehnik Pelaksanaan Shalat Gerhana

    Shalat gerhana berbeda dengan Shalat yang lain, baik sunnah maupun fardhu. Jika Shalat ‘Idain itu dengan dua rakaat dan 12 takbir (7 takbir untuk rakaat pertama dan 5 takbir untuk rakaat kedua), maka Shalat gerhana itu dengan dua rakaat, namun dengan berdiri 4 kali, membaca Al-Fatihah dan surah 4 kali serta ruku’ 4 kali. Untuk lebih jelasnya perhatikan hadis-hadis di bawah ini:

    1. Dari Aisyah ra, “Nabi saw mengeraskan bacaannya pada Shalat gerhana matahari, lalu beliau Shalat empat rakaat dalam dua rakaat dan empat kali sujud”. Muttafaq Alaihi dan ini menurut lafal Muslim, sedangkan menurut riwayat Muslim, “… lalu Nabi saw mengutus seorang Bilal (orang yang memberitahukan Shalat) yang mengumandangkan ‘as-sholaatu jaami’ah’ (Shalat itu dikerjakan dengan jama’ah).”

    Berdasarkan hadis ini, pada Shalat gerhana matahari itu disunnahkan mengeraskan bacaan. Meski demikian, dalam hal ini ada empat pendapat:

    Pertama, mengeraskan bacaan secara mutlak, baik pada Shalat gerhana matahari maupun pada Shalat gerhana bulan. Dalilnya adalah hadis ini dan hadis yang lain. Pendapat ini adalah pendapatnya madzhab Ahmad bin Hanbal, Ishaq, Abu Yusuf dan Muhammad asy-Syaibani (keduanya temannya Abu Hanifah), Ibnu Khuzaimah, Ibnu al-Mundzir dan yang lain.

    Kedua, melirihkan bacaan secara mutlak, berdasarkan hadis Ibnu Abbas ra, “Bahwa Nabi saw berdiri sangat lama sepanjang surah Al-Baqarah. Imam al-Bukhari mengomentari dari Ibnu Abbas bahwa dia berdiri di samping Nabi saw dalam Shalat gerhana matahari lalu dia tidak mendengarkan satu huruf pun dari Nabi saw.

    Ketiga, seseorang bebas memilih antara keras dan pelan karena adanya kedua perintah tersebut dari Nabi saw.

    Keempat, melirihkan bacaan pada gerhana matahari dan mengeraskan bacaan pada gerhana bulan. Ini pendapat Imam empat, berdasarkan hadis Ibnu Abbas dan karena diqiyaskan dengan Shalat lima waktu.

    1. Dari Ibnu Abbas ra berkata, “Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah saw, kemudian Rasulullah saw melakukan Shalat lalu berdiri sangat lama sepanjang surah Al-Baqarah, kemudian ruku’ dengan sangat lama, lalu bangun kemudian berdiri sangat lama, akan tetapi agak pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’ dengan sangat lama, akan tetapi agak pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian sujud. Kemudian, berdiri sangat lama, akan tetapi agak pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’ sangat lama, tetapi agak pendek dari ruku’ yang pertama. Kemudian bangun lalu berdiri dengan sangat lama, tapi agak pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’ dengan sangat lama, tapi agak pendek dari ruku’ yang pertama. Kemudian mengangkat kepalanya lalu sujud, kemudian salam dan matahari telah terang kembali kemudian Nabi saw berkhotbah kepada manusia.” Muttafaq Alaihi, dan lafal hadisnya dari al-Bukhari.

    Menurut riwayat Muslim, “Nabi saw Shalat delapan rakaat dalam empat sujud ketika terjadi gerhana matahari.”

    Angin Bertiup Sangat Kencang

    Bila angin itu bertiup kencang, maka di sunnahkan membaca doa sebagaimana yang dilakukan Nabi saw seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra di bawah ini:

    Dari Ibnu Abbas ra berkata, “Tidaklah angin itu bertiup sama sekali kecuali Nabi saw duduk di atas kedua lututnya dan berdoa: ‘Ya Allah jadikanlah angin itu sebagai rahmat dan jangan Engkau jadikan sebagai azab (siksa)’. ” (HR asy-Syafi’i dan at-Thabarani).

    Apabila Terjadi Gempa

    Dari Ibnu Abbas ra, dia Shalat dua rakaat dan masing-masing rakaat tiga kali ruku’ seraya berkata, “Seperti inilah Shalat karena terjadinya (bencana) tanda-tanda kekuasaan Allah (alam ).” (HR al-Baihaqi), dan asy-Syafi’i menyebutkan dari Ali ra seperti hadis itu, bukan potongan hadis yang terakhirnya.

    Asy-Syafi’i dan yang lain berpendapat, dalam Shalat tersebut tidak disunnahkan berjamaah dan apabila seseorang melakukannya dengan sendirian, maka itu baik. Beliau beralasan, karena tidak diriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau perintah agar melakukannya dengan jamaah kecuali dalam Shalat gerhana matahari dan bulan.

    ***

    Sumber: Subulus Salaam, Muhammad bin Ismail as-Shan’ani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 2 February 2015 Permalink | Balas  

    Shalat ‘Idain (Shalat Dua Hari Raya) 

    shalat-tarawih-puasa-pertama_fullShalat ‘Idain (Shalat Dua Hari Raya)

    arsip fiqih

    Termasuk Shalat-Shalat sunnah berikutnya adalah Shalat ‘Idain (Idul Fitri dan Idul Adha). Shalat ini disyari’atkan pada tahun pertama dari hijrah Rasulullah saw. Hukumnya adalah sunnah muakkadah (sunnah yang ditekankan). Shalat tersebut disunnahkan berjama’ah bagi laki-laki dan perempuan. Selain itu, disunnahkan pula dikerjakan di lapangan, kecuali ada udzur (halangan) seperti hujan, maka di sunnahkan dikerjakan di masjid. Adapun waktunya, untuk Shalat Idul Fitri yaitu dimulai apabila matahari telah naik dua penggalah sampai tergelincirnya matahari, dan untuk Shalat Idul Adha yaitu dimulai apabila matahari telah naik sepenggalah sampai tergelincirnya matahari.

    Teknik Pelaksanaannya

    1. Dilaksanakan dengan dua rakaat, dua belas takbir, yakni takbir pada rakaat pertama tujuh takbir dan takbir pada rakaat kedua lima takbir serta tidak didahului dengan Shalat sunnah qabliyah dan tidak diakhiri pula dengan sunnah ba’diyah. Hal ini sesuai dengan hadis dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Nabi saw bertakbir pada Shalat ‘id dengan dua belas takbir, tujuh takbir untuk rakaat pertama dan lima takbir untuk rakaat kedua seraya tidak melakukan Shalat sebelumnya dan sesudahnya. (HR Ahmad dan Ibnu Majah)
    2. Tidak diawali dengan adzan dan iqamah, sesuai dengan hadis yang artinya, “Tidaklah diserukan adzan pada Shalat idul fitri dan idul adha.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Dari Atha’ ra berkata, “Aku diberitahu oleh Jabir bahwa pada Shalat idul fitri itu tidak diserukan adzan, baik sebelum atau sesudah imam keluar, tidak pula iqamah, panggilan atau apa pun juga. Tegasnya, pada hari itu tidak ada panggilan apa-apa atau iqamah.” (HR Muslim).

    1. Dilaksanakan sebelum khotbah, berdasarkan hadis Ibnu Umar ra yang berkata yang artinya, “Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar melakukan Shalat dua hari raya sebelum khotbah.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

    Berdasarkan Ijma’, khotbah Shalat dua hari raya itu tidak wajib. Hal yang mendasari hukum tersebut adalah hadis Abdullah bin as-Saaib berkata, “Aku Shalat Id bersama Rasulullah saw, tatkala beliau selesai melaksanakan Shalatnya, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya kami berkhotbah, barangsiapa ingin duduk untuk berkhotbah, maka duduklah dan barangsiapa ingin pergi (tidak berkhotbah), maka pergilah’.” (HR an-Nasaa’i, Ibnu Majah, dan Abu Daud)

    Hal-Hal yang Disunnahkan Berkaitan dengan Shalat Id

    1. Dalam melaksanakan Shalat Id, bagi imam -setelah membaca Al-Fatihah- disunnahkan membaca Surah Qaaf pada rakaat pertama dan surah Iqtarabat pada rakaat kedua sesuai dengan hadis yang riwayatkan oleh Imam Muslim. Jika ia tidak mampu membaca kedua surah tersebut, maka disunnahkan baginya -setelah membaca Al-Fatihah- membaca surah al-‘A’la (Sabbihis) pada rakaat pertama dan surah Al-Ghasyiah pada rakaat kedua.
    2. Setiap orang -baik imam maupun makmum- yang ingin melaksanakan Shalat Id, maka disunnahkan baginya untuk menempuh jalan yang berbeda ketika pergi dan pulangnya. Hal ini sesuai dengan hadis dari Jabir ra yang berkata, “Rasulullah saw apabila berada pada hari raya, maka beliau menempuh jalan yang berbeda (untuk melaksanakan Shalat Id).” (HR al-Bukhari)

    Kemudian, hikmah apa yang terkandung dalam kesunnahan ini? Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat:

    Pertama, agar bisa memberikan salam kepada dua penduduk yang berada di sekitar dua jalan tersebut.

    Kedua, agar penduduk yang berada di sekitar dua jalan itu mendapat keberkahan orang yang melakukan Shalat id.

    Ketiga, agar orang yang mempunyai keperluan dengan penduduk yang berada di sekitar dua jalan itu bisa memenuhinya.

    Keempat, untuk menampakkan syiar Islam di jalan-jalan, penjuru-penjuru dan gang-gang.

    Kelima, untuk membangkitkan kemarahan orang-orang munafik ketika mereka melihat Izzah (kemulyaan) Islam, syiarnya dan orang-orang Islam yang merayakan hari kemenangan itu.

    Keenam, untuk memperbanyak kesaksian tempat. Karena, setiap orang yang pergi ke masjid atau ke tempat Shalat, maka salah satu langkahnya akan mengangkat derajatnya dan langkahnya yang lain akan merontokkan kesalahannya sampai dia pulang ke rumahnya.

    Ketujuh, inilah pendapat yang paling benar bahwa hikmah tersebut tidaklah bisa diukur dengan kasad mata dan panca indera. Dan, perlu diketahui bahwa sahabat Ibnu Umar ra karena begitu perhatiannya terhadap sunnah, beliau bertakbir dari rumahnya sampai ke tempat Shalat.

    1. Setiap orang yang pergi untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri, maka sebelumnya dia disunnahkan agar makan terlebih dahulu. Akan tetapi, apabila dia pergi untuk melaksanakan Shalat Idul Adha, maka dia disunnahkan menunda makannya sampai selesai melaksanakan Shalat Idul Adha berdasarkan hadis dari Anas ra yang berkata, “Pada waktu Idul Fitri Rasulullah saw tidak berangkat ke tempat Shalat sebelum memakan beberapa korma dengan jumlah yang ganjil.” (HR al-Bukhari dan Ahmad).

    Dari Buraidah ra berkata, “Nabi saw tidak berangkat untuk Shalat Idul Fitri sebelum makan terlebih dahulu dan tidak makan untuk Shalat Idul Adha sampai beliau pulang.” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

    1. Disunnahkan berjalan kaki menuju ke tempat Shalat Id/masjid. Hal ini berdasarkan hadis Ali ra yang artinya, “Termasuk sunnah adalah Anda keluar menuju tempat Shalat Id/masjid dengan berjalan kaki.” (HR at-Tirmidzi seraya menganggapnya sebagai hadis hasan).
    2. Disunnahkan mandi, memakai wangi-wangian dan mengenakan pakaian yang terbaik. Dalilnya adalah hadis dari Ibnu Abbas ra yang berkata, “Pada hari Id Rasulullah saw memakai burdah merah.”
    3. Disunnahkan mengajak para gadis dan wanita-wanita yang haidh agar menghadiri Shalat Id. Akan tetapi, untuk para wanita yang sedang haidh hendaknya menjauhi tempat Shalat. Hal ini berdasarkan hadis dari Ummu ‘Athiyah ra yang berkata, “Kami diperintahkan untuk mengeluarkan semua gadis dan wanita yang haidh pada kedua hari raya, agar mereka dapat menyaksikan kebaikan hari itu, juga do’a kaum muslimin. Hanya saja, supaya wanita-wanita yang haidh itu menjauhi tempat Shalat.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

    ***

    Referensi:

    1. Subulus Salaam, Muhammad bin Ismail as-Shan’ni
    2. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq
    3. Tamamul Minnah fit Ta’liq Ala Fiqhis Sunnah, Muhammad Nashiruddin al-bani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 1 February 2015 Permalink | Balas  

    Shalat Sunnah Dhuha 

    siluet sholatShalat Sunnah Dhuha

    arsip fiqih

    Salah satu di antara sekian banyak Shalat sunnah -setelah Shalat sunnah tahajjud/qiyamul lail- adalah Shalat dhuha. Ia merupakan Shalat sunnah yang sering dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah sendiri melakukannya sampai delapan raka’at. Mengenai keutamaannya, waktunya, hukumnya dan jumlah rakaatnya, akan diuraikan sebagai berrikut.

    Keutamaannya

    Dari Abu Dzarr ra, dia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah masing-masing di antara kalian setiap pagi bersedekah untuk setiap ruas tulang badannya. Maka, setiap bacaan tasbih (subhanallah) adalah sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (laa Ilaha illallahu) adalah sedekah, setiap takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang keburukan adalah sedekah dan sebagai ganti dari semua itu, cukuplah mengerjakan dua rakaat Shalat dhuha.” (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud).

    Dari Abu Buraidah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dalam tubuh manusia itu terdapat tiga ratus enam puluh ruas tulang. Ia diharuskan bersedekah untuk tiap ruas itu.” Para sahabat bertanya, “Siapa yang kuat melaksanakan itu wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Menutup dahak di masjid dengan tanah atau menyingkirkan sesuatu gangguan dari tengah jalan itu berarti sedekah, atau sekiranya mampu, cukuplah diganti dengan mengerjakan dua rakaat Shalat dhuha.”

    Imam as-Syaukani berkata, “Dua hadis di atas menunjukkan betapa besar keutamaan Shalat Dhuha, betapa tinggi kedudukannya serta betapa kuatnya syariat dalam menganjurkannya. Dua rakat Shalat dhuha dapat menggantikan tiga ratus enam puluh kali sedekah. Oleh sebab itu, hendaknya dilangsungkan terus menerus. Selain itu, hadis tersebut memberikan petunjuk agar kita memperbanyak tasbih, tahmid, tahlil, menyuruh kebaikan, melarang keburukan, menutup dahak di masjid, menyingkirkan setiap gangguan di jalan dan lain-lain kebaikan. Dengan demikian, terpenuhilah sedekah-sedekah yang diharuskan kepada setiap orang pada tiap harinya.”

    Dari Abu Hurairah ra berkata, “Kekasihku Nabi saw berwasiat kepadaku dengan tiga hal, yaitu berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, mengerjakan dua rakaat Shalat Dhuha dan melakukan witir sebelum tidur.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

    Dari Anas ra berkata, “Saya melihat Rasulullah saw di waktu bepergian, melakukan Shalat Dhuha sebanyak delapan rakaat. Setelah selesai beliau bersabda, ‘Saya tadi Shalat dengan penuh harapan dan diliputi kecemasan. Saya mohon kepada Tuhan tiga hal, lalu diberi dua dan ditolak satu. Saya mohon supaya umatku jangan diuji dengan paceklik dan ini dikabulkan, saya mohon pula agar umatku tidak dapat dikalahkan musuh-musuhnya dan ini pun dikabulkan, lalu saya mohon agar umatku jangan sampai berpecah-belah menjadi beberapa golongan dan ini ditolak-Nya’.” (HR Ahmad, an-Nasa’i, al-Hakim, dan Ibnu Khuzaimah dan menurut keduanya (yang terakhir) hadis tersebut sahih).

    Waktunya

    Permulaan waktu Shalat Dhuha adalah di waktu matahari sudah naik kira-kira sepenggalah, dan berakhir ketika matahari sudah zawal (bergeser ke arah barat). Akan tetapi, disunnahkan mengundurkan Shalat Dhuha sampai matahari agak tinggi dan panas agak terik. Hal ini berdasarkan hadis nabi saw di bawah ini:

    Dari zaid bin Arqam berkata, Nabi saw keluar menuju tempat ahli Quba’, ketika itu mereka sedang melakukan Shalat Dhuha, lalu beliau bersabda, “Shalat Awwabin (orang-orang yang kembali kepada Allah SWT) itu sewaktu anak-anak onta telah bangkit karena kepanasan waktu Dhuha.” (HR Ahmad, Muslim dan at-Tirmidzi).

    Hukumnya

    Shalat Dhuha itu adalah ibadah yang disunnahkan. Karena itu, barangsiapa menginginkan pahalanya sebaiknya ia melakukannya. Dan, barangsiapa tidak menginginkan pahalanya, tidak ada halangan bagi dia untuk meninggalkannya. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id, dia berkata:

    “Rasulullah saw melakukan Shalat Dhuha, sampai-sampai kita mengira bahwa beliau tidak pernah meninggalkannya. Akan tetapi, kalau beliau sudah meninggalkannya, sampai-sampai kita mengira bahwa beliau tidak pernah melakukannya.” (HR at-Tirmidzi dan dia menganggapnya sebagai hadis hasan).

    Bahkan, Imam Ibnu al-Qayyim sempat menghimpun pendapat-pendapat ulama mengenai disyariatkannya Shalat Dhuha, dan pendapat-pendapat tersebut ada enam: pertama, sunnah (mustahabbah) yang dianjurkan. Kedua, tidak disyari’atkan kecuali karena ada sebab. Ketiga, tidak dianjurkan sama sekali. Keempat, dianjurkan melakukannya sewaktu-waktu dan meninggalkannya sewaktu-waktu serta tidak melanggengkannya. Kelima, dianjurkan melakukannya di rumah-rumah. Keenam, Shalat tersebut bid’ah. Namun, pendapat yang rajih (kuat) dari kesekian pendapat tersebut adalah bahwa Shalat Dhuha itu sunnah yang mustahabbah (dianjurkan) sebagaimana pendapat yang telah ditetapkan oleh Ibnu Daqiq al-‘Id.

    Jumlah Rakaatnya

    Sedikit-dikitnya adalah dua rakaat, sebagaimana tersebut dalam hadis Abu Dzarr, dan sebanyak-banyaknya yang dikerjakan oleh Rasulullah saw adalah delapan raka’at, sedang menurut yang disabdakannya adalah dua belas rakaat. Akan tetapi, sebagian ulama berpendapat bahwa tidak ada batasan bilangan rakaat Shalat Dhuha. Ini adalah pendapat Abu Ja’far at-Thabari, Hulaimi dan Ruyani dari golongan mazhab Syafi’i. Dalam syarah at-Tirmidzi, al-‘Iraqi berkata, “Saya tidak pernah melihat seorang pun, baik dari golongan sahabat maupun tabi’in yang membatasinya hanya sampai dua belas rakaat.” Demikian pula yang dikatakan as-Suyuthi, Sa’id bin Manshur sewaktu ditanya ‘Apakah sahabat Rasulullah saw juga mengerjakan Shalat itu?’, ia menjawab, ‘ya, di antara mereka ada yang mengerjakannya sebanyak dua belas rakaat, ada yang empat rakaat dan ada pula yang terus menerus mengerjakannya sampai tengah hari’.”

    Diriwayatkan dari Ibrahim an-Nakha’i bahwa ada seorang yang bertanya kepada Aswad bin Yazid, “Berapa rakaatkah saya harus mengerjakan Shalat Dhuha?” ia menjawab, “Sesuka hatimu.”

    Dari Ummu Hani’ berkata, “bahwa Nabi saw mengerjakan Shalat Dhuha sebanyak delapan rakaat dan tiap dua rakaat bersalam.” (HR Abu Daud dengan sanad yang sahih).

    Dari Aisyah berkata, “Nabi saw mengerjakan Shalat Dhuha empat rakaat dan menambah beberapa sesuai dengan yang dikehendaki Allah SWT.”

    Dari Aisyah ra berkata, “Rasulullah saw masuk ke rumahku, lalu melakukan Shalat Dhuha delapan rakaat.” (HR Ibnu Hibban dalam sahihnya).

    ***

    Referensi:

    Subulus Salaam, Muhammad bin Isma’il as-Shan’ani

    Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: