Jangan Memanfaatkan Mereka


Jangan Memanfaatkan Mereka

by: Meidy

Kasus-kasus “memanfaatkan” anak yatim kadang terjadi, bila niatan pengurusnya telah bergeser. Sekilas ini wajar, mengingat mengurus anak-anak yg begitu banyak juga membutuhkan tenaga dan pikiran ekstra. Fenomena seperti ini sudah lazim terjadi di masyarakat kita. Kalau hal ini sudah terjadi tentu si pengurus tidak lagi bisa menjadi tempat bergantung bagi mereka.

Apabila hal ini yang terjadi, maka berarti ada kegagalan dalam diri sipengurus, sekaligus lampu kuning dari Allah, bahwa ambang bencana bagi si pengurus yang bersangkutan sudah dekat. Ini musibah yang semestinya segera dikembalikan kepada niat semula. Adakah musibah kemanusiaan yang melebihi orang-orang yang melepaskan tanggung jawabnya terhadap anak-anak yatim??? Anak-anak yatim sudah nestapa, apakah harus ditambah lagi dengan derita pula? Bukankah Allah telah berfirman dalam surat adh-Dhuha : ” Dan terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang? ”

“Sungguh orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu telah memakan api neraka sepenuh perutnya” (QS. an-Nisa:10)

Kesewenang-wenangan terhadap alam dan lingkungan adalah dengan merusak kelangsungan ekosistemnya, sedangkan kesewenang -wenangan terhadap anak yatim berarti menelantarkan mereka dengan memperlakukan secara tidak adil.

Sungguh keliru kalau ada pergeseran anggapan bahwa mengurus anak yatim adalah suatu kerugian karena tidak bisa melakukan aktivitas produktif lainnya.

Coba tengok Halimah as-Sa’diyah, beliau adalah contoh “Ibu Panti” yang pertama. Berkat ketulusannya memelihara Si Yatim Muhammad, Halimah yang semula hidup serba pas-pasan, justru kemudian serba berkecukupan. Rezeki si yatim memang Allah sendiri yang menitipkannya kepada siapa yang memeliharanya dengan ketulusan hati. Adakah perlu bukti lain selain yang telah dicontohkan oleh manusia Agung Rasulullah ini untuk kita….???