Dzikrullah (Bagian 2)


dzikir 2Dzikrullah (Bagian 2)

Sawaluddin Ukkas

Hinggaan Bagi Banyak Berdzikir

Allah yang Maha Agung sebutanNya itu, menitahkan kita agar dzikir kepadaNya sebanyak-banyaknya. Orang-orang yang berakal yang dapat menarik manfaat dari merenungkan tanda-tanda kebesaranNya, dilukiskan sebagai berikut: Artinya: “Yakni orang-orang dzikir kepada Allah baik di waktu sedang berdiri, ketika duduk dan di waktu berbaring”. (Ali Imram 191)

Dan FirmanNya pula: Artinya: “Dan terhadap orang-orang yang banyak dzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun perempuan, Allah menyediakan keampunan dan pahala yang besar“. (Al-Ahzab 35)

Berkata Ali bin Abi Thalhah, menceritakan ucapan Ibnu Abbas ra. mengenai ayat-ayat tersebut diatas: “Allah Ta’ala tidak mewajibkan sesuatu atas hambaNya, kecuali dengan memberikan hinggaan tertentu, sedang bagi yang ‘uzur diberiNya kelonggaran , kecuali berdzikir. Mengenai ini , Allah tidak memberikan batas dimana seseorang harus berhenti. Dan Allah tidak memberikan suatu ke’uzuran buat meninggalkannya, kecuali bila ia terpaksa. FirmanNya: “Dzikirlah kepada Allah, di kala berdiri, di waktu duduk dan diwaktu berbaring!” baik siang maupun malam, di daratan maupun di lautan, di waktu mukim atau sedang bepergian, ketika kaya atau miskin, sehat atau sakit, secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.

Adab Berdzikir

Tujuan berdzikir ialah mensucikan jiwa dan membersihkan hati serta membangunkan nurani. Hal inilah yang diisyaratkan oleh Firman Allah: Artinya: “Dan dirikanlah shalat, karena shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar dan dzikir kepada Allah itu lebih utama lagi.!” (Al-Ankabut 45).

Artinya buat mencegah perbuatan keji dan mungkar, dzikir kepada Allah itu lebih ampuh lagi dari shalat. Sebabnya ialah karena orang yang dzikir itu, demi hatinya terbuka terhadap Tuhannya dan lidahnya lancar menyebutNya, maka Allah akan mengirimkan cahayaNya, hingga keimanannya akan bertambah, keyakinan akan berlipat ganda. Dengan demikian hatinya akan aman dan tenteram dan puas menerima kebenaran, sebagai firmanNya: Artinya: “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka aman tenteram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah dzikir kepada Allah, maka hatipun akan merasa aman dan tenteram!” (Ar-Ro’d 28)

Dan jika hati telah puas dan lega menerima kebenaran, maka ia akan menghadapkan perhatian kepada contoh teladan yang lebih tinggi dan akan berusaha buat mencapainya, tanpa dapat dihalangi oleh godaan-godaan nafsu, atau oleh rongrongan syahwat. Oleh karena itu kedudukan dzikir ini bukan soal remeh, sebaliknya amat penting dalam kehidupan manusia. Dan tidak masuk akal, jika hasil-hasil ini akan dapat terwujud dalam hanya dengan menyebutnya dibibir belaka. Karena gerakan lidah itu sedikit sekali faedahnya bila tidak cocok dengan sejalan dengan hati. Allah telah memberikan bimbingan mengenai tata tertib yang harus diturui seseorang bila ia sedang berdzikir, firmanNya: Artinya, “Dan dzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan tanpa mengeraskan suaramu, baik diwaktu pagi maupun petang hari, dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai!”. (Al-A’raf 205)

Ayat tersebut memberi pertanda bahwa dzikir itu disunatkan secara sir, artinya dengan tidak mengeraskan suara. Rasulullah saw mendengar segolong manasia yang berdo,a dengan suara keras dalam salah satu perjalanan, maka sabdanya: Artinya: “Hai manusia! Pelan-pelanlah dalam bersuara, karena kamu tidaklah menyeru orang yang tuli atau di tempat yang jauh. Yang kamu seru itu Maha Mendengar lagi Maha Dekat, bahkan lebih dekat lagi kepadamu dari leher kendaraannmu!”

Sebagaimana ia memberi petunjuk agar dalam berdzikir itu seseorang hendaklah bersikap dalam keadaan harap-harap cemas. Diantara tata tertibnya lagi ialah agar orang yang berdzikir itu bersih pakaian dan suci badan serta harum baunya, karena dengan demikian akan menambah kegairahan, disamping sedapat mungkin menghadap kiblat. Karena sebaik-baik majlis ialah yang menghadap ke arah Kiblat

***

Sumber: Fikih Sunnah, Sayyid sabiq.

Wassalam

Syawal

Iklan