Flu Burung, Karunia Allah yang Perlu Disyukuri


siluet burungFlu Burung, Karunia Allah yang Perlu Disyukuri

Karena Menyelamatkan Ummat Manusia Dari Mengkonsumsi Makanan Beracun Produk Rekayasa Teknologi

Baca : Mengerikan, Sebanyak 85% Daging Ayam Broiler Mengandung Antibiotik

Daging ayam potong dan telur ayam dari ayam petelur yang berasal dari ayam broiler atau ayam negeri, diproduksi dari hasil teknologi rekayasa manusia. Berbagai rekayasa genetik untuk memperoleh keturunan ayam yang ‘terbaik’, pakan ternak yang penuh kimia, obat, hormon-hormon pertumbuhan, serta suntikan anti-botika, telah lama diketahui menyisakan ‘residu’ di dalam daging dan telur ayam-ayam itu.

Lalu masuk ke perut manusia, sehingga manusia telah mengkonsumsi makanan beracun tanpa disadarinya. Dalam hitungan generasi, pengaruh sisa-sisa racun itu akan berpengaruh kepada genetika manusia dan keturunannya kelak. Akan dilahirkan generasi-generasi cacat yang tak pernah disadari para konsumen daging ayam bule itu. Semua orang merasa ketakutan dan hanya berhitung kerugian sekian milyar dollar serta berapa banyak pengangguran dari restoran ‘fried chiken’ yang tutup. Semua melihat negatifnya saja.

Cobalah lihat hikmahnya.

Peristiwa Flu Burung itu justru untuk menyelamatkan ummat manusia dari ‘kematian’ yang lebih mengerikan dalam jangka panjang akibat ‘keracunan’ makan daging ayam broiler ini. Jumlah kerusakan genetika dan kerusakan fungsi hormonal manusia akibat mengkonsumsi ‘ayam bule’ ini akan lebih besar jumlah daripada manusia yang mati akibat kontak dengan Flu Burung itu sendiri. Kalau diperhatikan, yang paling banyak mati adalah jenis ayam peternakan (ayam petelur, ayam pedaging, dan sejenisnya). Sedangkan ayam kampung tampaknya sehat-sehat saja selama ini.

Rekayasa untuk jenis unggas ini sudah melampaui batas, dan mengancam manusia itu sendiri sebagai konsumen akhir dari proses produksi peternakan ayam-ayam negeri itu. Rekayasa genetika untuk ayam-ayam potong dan petelur itu, lalu jenis makanannya yang penuh dengan berbagai zat kimia, hormon, dan sejenisnya. Belum lagi suntikan anti-biotika untuk menjaga si ayam tetap sehat, dan berbagai macam jenis obat-obatan yang dimasukkan ke tubuh ayam jenis ini.

Semua obat dan racun, hormon, anti-biotika itu tidak punah dalam tubuh si ayam. Tapi dia tetap tinggal sebagai ‘residu kimia’ yang mematikan dalam dagingnya. Antara lain berkumpul di otaknya, jeroan, dan paha. Makanya di Amerika Serikat bagian ayam yang disebut terakhir, tak laku di jual dan hanya diberikan untuk makanan anjing dan babi, atau di export ke negeri-negeri miskin seperti Indonesia, Banghladesh dan Afrika.

Nah, saya melihat, sifat Allah yang begitu sayang dan kasihnya, hendak menyelamatkan generasi yang akan datang dari kerusakan genetik akibat makanan beracun yang berasal dari daging sapi, dan daging ayam yang proses penggemukannya penuh rekayasa tidak wajar.

Jadi kalau sekarang semua jenis ayam potong dan petelur itu dimusnahkan oleh penyakit, atau oleh peternak dan Pemerintah, seharusnya diterima baik saja. Dan disyukuri.

Marilah kita kembali ke sedia kala, makan ayam kampung saja. Saya rasa, ayam kampung yang digoreng ala Mbok Berek atau mbok Sunarti, atau ayam bakar wong Solo, tetap lebih lezat daripada ‘fried chiken’ ala Amerika yang sebenarnya di negerinya pun disebut “junk food’ dan orang Suroboyo menyebutnya “jamput”..makanan sampah.

Iklan