Keimanan Ja’far bin Abi Talib


Reciting-QuranKeimanan Ja’far bin Abi Talib

Oleh: Ayah Raihan

Bismillahirrahmanirrahiim

Assalamu’alaikum warahhmatullahi wabarakatuhu,

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah 9:100)

Dari Abu Said Al-Khudri ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jangan kalian mencaci maki/menghina para shahabatku, karena seandainya salah seorang diantara kalian berinfaq emas sebanyak gunung Uhud tak akan dapat menyamai derajat salah seorang diantara mereka, bahkan separuhnyapun tidak”. (HSR Bukhari, HSR Muslim, HSR Ahmad, HSR Abu Dawud dan HSR Tirmidzi).

Dan kemudian daripada itu, saya ingin menuliskan ulang suatu kisah tentang keimanan seorang Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tulisan ini merupakan rangkuman dari berbagai sumber seperti Sirah Nabawiyah karya Syaikh Safiyurrahman, Muhammad karya Muhammad Husein Haykal dan Rijal Haular Rasul karya Khalid Muhammad Khalid. Saya harapkan dengan membaca kisah ini kita dapat mengambil teladan dari keimanan seorang Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berikut kisahnya:

Pada permulaan Islam, umat muslim yang pada saat itu jumlahnya masih sangat sedikit selalu mengalami ganguan, siksaan dan kekejaman kaum kafir quraisi. Melihat keadaan ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan kepada sahabat-sahabatnya untuk hijrah dari kota makkah. Pada saat itu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan kepada sahabat-sahabatnya agar berhijrah ke Abisinia (Etiopia), sebuah negri kaum nasrani yang pada saat itu diperintah oleh Najasyi (Negus). “Tempat itu diperintah seorang raja dan tak ada orang yang dianiaya disitu. Itu bumi jujur; sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua.” Didalam rombongan itu terdapat pula Ja’far bin Abi Talib, seorang sahabat yang mulia yang keimanannya sanggup mengalahkan kekhawatiranya tentang keselamatan jiwa dan raganya dan juga keselamatan kaum muslimin yang turut berhijrah ke Abisinia.

Kisah keteguhan iman Ja’far bin Abi Talib ini dimulai ketika kaum quraisy tidak rela kaum muslimin bisa lepas dari cengkramannya. Mereka sangat khawatir jika kaum muslimin dibiarkan lolos ke negri lain akan mengakibatkan hal yang tidak baik bagi kedudukan mereka. Oleh karena itulah, mereka kemudian mengutus diplomat mereka yang sangat handal dan penuh dengan tipu muslihat yaitu ‘Amr bin’l-‘Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’a (pada saat itu masih musyrik).

Kepada Najasyi (Negus) dan pembesar-pembesar Nasrani di Abisinia, mereka memberikan hadiah-hadiah yang melimpah guna memuluskan keinginan mereka agar Najasyi berkenan mengembalikan kaum muslimin ke Mekkah.

Mereka berkata kepada Najasyi:

“Paduka Raja, mereka datang ke negeri paduka ini adalah budak-budak kami yang tidak punya malu. Mereka meninggalkan agama bangsanya dan tidak pula menganut agama paduka; mereka membawa agama yang mereka ciptakan sendiri, yang tidak kami kenal dan tidak juga paduka. Kami diutus kepada paduka oleh pemimpin-pemimpin masyarakat mereka, oleh orang-orang tua, paman mereka dan keluarga mereka sendiri, supaya paduka sudi mengembalikan orang-orang itu kepada mereka. Mereka lebih mengetahui betapa orang-orang itu mencemarkan dan memaki-maki.”

Kemudian Najasyi yang terkenal bijaksana ini memanggil kaum muslimin yang hijrah ke negrinya untuk dimintai keterangannya guna mendapatkan informasi yang seimbang.

Najasyi berkata kepada kaum muslimin yang hijrah ke negrinya:

“Agama apa ini yang sampai membuat tuan-tuan meninggalkan masyarakat tuan-tuan sendiri, tetapi tidak juga tuan-tuan menganut agamaku, atau agama lain?”

Sebelumnya kaum muslimin telah bermusyawarah untuk memilih Ja’far bin Abi Talib sebagai juru bicara mereka. Maka kemudian dalam pertemuan dengan Najasyi itu Ja’far b. Abi Talib sebagai juru bicara kaum muslimin berkata:

“Paduka Raja, ketika itu kami masyarakat yang bodoh, kami menyembah berhala, bangkaipun kami makan, segala kejahatan kami lakukan, memutuskan hubungan dengan kerabat, dengan tetanggapun kami tidak baik; yang kuat menindas yang lemah. Demikian keadaan kami, sampai Tuhan mengutus seorang rasul dari kalangan kami yang sudah kami kenal asal-usulnya, dia jujur, dapat dipercaya dan bersih pula. Ia mengajak kami menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa, dan meninggalkan batu-batu dan patung-patung yang selama itu kami dan nenek-moyang kami menyembahnya. Ia menganjurkan kami untuk tidak berdusta untuk berlaku jujur serta mengadakan hubungan keluarga dan tetangga yang baik, serta menyudahi pertumpahan darah dan perbuatan terlarang lainnya. Ia melarang kami melakukan segalah kejahatan dan menggunakan kata-kata dusta, memakan harta anak piatu atau mencemarkan wanita-wanita yang bersih. Ia minta kami menyembah Allah dan tidak mempersekutukanNya. Selanjutnya disuruhnya kami melakukan salat, zakat dan puasa. (Lalu disebutnya beberapa ketentuan Islam). Kami pun membenarkannya. Kami turut segala yang diperintahkan Allah. Lalu yang kami sembah hanya Allah Yang Tunggal, tidak mempersekutukan-Nya dengan apa dan siapa pun juga. Segala yang diharamkan kami jauhi dan yang dihalalkan kami lakukan. Karena itulah, masyarakat kami memusuhi kami, menyiksa kami dan menghasut supaya kami meninggalkan agama kami dan kembali menyembah berhala; supaya kami membenarkan segala keburukan yang pernah kami lakukan dulu. Oleh karena mereka memaksa kami, menganiaya dan menekan kami, mereka menghalang-halangi kami dari agama kami, maka kamipun keluar pergi ke negeri tuan ini. Tuan jugalah yang menjadi pilihan kami. Senang sekali kami berada di dekat tuan, dengan harapan di sini takkan ada penganiayaan.”

Lalu Najasyi bertanya:

“Adakah ajaran Tuhan yang dibawanya itu yang dapat tuan-tuan bacakan kepada kami?”

Kemudian Ja’far bin Abi Talib menjawab “YA” dan ia membacakan Alqur’an Surat Maryam dari ayat 1 sampai ayat 33.

Setelah mendengar ayat-ayat suci Alqur’an dibacakan kepadanya, maka Najasyi-pun menyadari bahwa kata-kata itu bersumber dari sumber yang sama dengan kata-kata yang diucapkan oleh Isa bin Maryam. Maka demi didengarnya kenyataan ini Najasyi-pun menolak permintaan dua utusan kaum quraisyi untuk mengembalikan kaum muslimin ke makkah.

Setelah mendengar penolakan Najasyi, kedua utusan kaum kafir quraisyi merasa sangat terpukul sekali. Mereka berdua kemudian berpikir keras untuk melakukan muslihat guna melunnakkan hati Najasyi. Sampai akhirnya ‘Amr bin’l-‘Ash menemukan ide yang sangat briliant yang bukan hanya bisa menyebabkan Najasyi mengusir kaum muslimin dari negrinya tetapi bisa jadi akan menyebabkan Najasyi mengambil tindakan yang sangat tegas dan keras terhadap kaum muslimin. Semula Abdullah bin Abi Rabi’a tidak setuju dengan ide rekanya tersebut, sebab ia sangat menyadari bahwa ide tersebut bisa mencelakakan kaum muslimin sementara diantara kaum muslimin tersebut terdapat juga sanak saudaranya. Tetapi akhirnya ia menjadi luluh dengan kemauan ‘Amr bin’l-‘Ash yang hendak melakukan muslihat kejam terhadap kaum muslimin. Maka keesokan harinya mereka menghadap kepada Najasyi dan melontarkan pernyataan bahwa kaum muslimin telah mengeluarkan tuduhan yang luar biasa terhadap Isa bin Maryam.

Maka demi didengarnya hal ini oleh Najasyi, seketika itu juga Najasyi memerintahkan untuk memanggil kaum muslimin ke hadapannya guna dimintai keterangan.

Setelah mendengar pertanyaan Najasyi tentang Isa bin Maryam, maka Ja’far bin Abi Talib menjadi sangat khawatir, beliau sangat menyadari bahwa jika beliau mengatakan yang sebenarnya tentang Isa bin Maryam seperti yang terdapat dalam Alqur’an maka bisa jadi hal ini akan dapat mencelakakan keselamatan seluruh kaum muslimin yang berhijrah ke Abisinia. Beliau sangat menyadari bahwa beliau dan juga seluruh kaum muslimin yang hijrah ke Abisinia hanyalah pengungsi yang dengan budi baik Najasyi dapat menetap secara sementara di negri Abisinia yang mayoritas beragama Nasrani. Beliau juga sangat memahami budi baik penduduk Abisinia yang telah membolehkannya mengungsi di negri Abisinia. Jika beliau berkata jujur, maka bisa jadi akan menimbulkan kemarahan yang sangat luar biasa dari Najasyi dan seluruh penduduk Abisinia yang beragama Nasrani. Tetapi sebaliknya jika beliau mengatakan sesuatu yang hanya dapat menyenangkan Najasyi maka Ia akan mendapatkan murka Allah. Kedudukan Ja’far bin Abi Talib menyebabkan dirinya menjadi sangat terpojok diantara dua pilihan yang sangat menyulitkannya. Tetapi Ja’far bin Abi Talib adalah termasuk salah seorang pendahulu yang terlebih dahulu masuk Islam, yang beriman ketika kebanyakan manusia masih kafir, maka keimanannya yang begitu tangguh ini tidak dapat diragukan lagi, maka dengan mantap dan tanpa keraguan Ia berkata kepada Najasyi:

“Tentang dia pendapat kami seperti yang dikatakan Nabi kami: ‘Dia adalah hamba Allah dan UtusanNya, RuhNya dan FirmanNya yang disampaikan kepada Perawan Mariam.”

Seketika itu juga seluruh pembesar-pembesar Nasrani disekeliling Najasyi menjadi hiruk pikuk setelah mendengar pernyataan dari Ja’far bin Abi Talib. Tapi Najasyi adalah seorang yang arif dan bijaksana yang tidak terpengaruh oleh hiruk pikuk pendeta-pendeta Nasrani disekelilingnya. Beliau melihat pernyataan Ja’far bin Abi Talib ini dari sisi yang sangat bijaksana bahwa memang begitulah apa yang dinyatakan Isa bin Maryam tentang dirinya. Kemudian Najasyi membuat sebuah garis seraya berkata:

“Antara agama tuan-tuan dan agama kami sebenarnya tidak lebih dari garis ini.”

Kemudian Najasyi kembali menolak permintaan kedua utusan quraisyi untuk mengusir kaum muslimin dari Abisinia dan beliau bahkan mengembalikan seluruh hadiah yang diperolehnya dari dua utusan tersebut.

Maka akhirnya kaum muslimin dapat tinggal di Abisinia dengan aman dan tentram. Mereka tetap tinggal di Abisinia selama beberapa tahun sampai penaklukan khaibar. Selama tinggal di Abisinia, kaum muslimin tinggal dengan damai dengan penduduk Abisinia yang Nasrani. Kaum muslimin menjalankan ibadah sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah. Mereka tetap teguh imannya dan tak hendak mencampuri urusan agama Nasrani. Mereka juga tidak mengucapkan selamat hari raya kepada penduduk Abisinia yang Nasrani walaupun mereka adalah pengungsi yang telah mendapatkan budi baik dari penduduk Abisinia yang beragama Nasrani. Hal ini adalah karena mereka, kaum muslimin, para pendahulu yang telah lebih dulu masuk Islam ini tak hendak merusak keimanannya dengan mencampur adukkan ajaran agama walaupun hanya sebatas pada ucapan selamat hari raya sekalipun. Tidak mungkin bagi mereka yang telah mempertaruhkan keselamatannya ketika mereka menjawab pertanyaan soal Isa bin Maryam akan menjadi “lembek” hanya karena alasan “sempit” seperti “balas budi”, “toleransi”, “kerukunan hidup beragama” dan atau yang lainnya.

Itulah penggalan kisah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, yang keimanannya sanggup mengalahkan kekhawatirannya tentang keselamatan jiwa dan raganya dan juga keselamatan seluruh kaum muslimin yang turut berhijrah ke Abisinia. Mudah-mudahan dengan membaca kisah Ja’far bin Abi Talib ini kita dapat mengambil suatu pelajaran yang sangat berharga yaitu bahwa keimanan yang sempurna itu tidak hanya dibibir saja tetapi juga harus diyakini dalam hati dan diikuti dengan perbuatan yang benar yaitu dengan mengatakan yang hak apapun keadaannya dan tidak goyah oleh alasan-alasan “sempit” seperti “balas budi”, “toleransi”, “kerukunan hidup beragama”, “pluralisme” dan lain sebagainya.

Wallahu’alam.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu,

Hamba Allah

Maraji’:

  1. Terjemahan Alqur’an Departement Agama RI.
  2. Sirah Nabawiyah karya Syaikh Safiyurrahman.
  3. Muhammad karya Muhammad Husein Haykal.
  4. Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah karya Khalid Muhammad Khalid.
Iklan