Risalah : Penyesalan, Istighfar, dan Tobat


Taubat 1Risalah : Penyesalan, Istighfar, dan Tobat

Ulasan: Habib Abdullah Al-Haddad

Penyesalan 

Penyesalan adalah lenyapnya segala keinginan untuk melakukan perbuatan yang dapat menyebabkan Allah murka, misalnya: melakukan kemaksiatan atau melalaikan kewajiban. Perubahan keadaan hati ini diiringi dengan perasaan sedih dan duka.

Penyesalan kadang kala timbul karena terlalu banyak melakukan perbuatan yang mubah, atau karena kurang banyak melaksanakan perbuatan-perbuatan sunah (nawâfil) yang dapat mendekatkan manusia kepada Allah. Penyesalan sejati (sidq) akan mendorong seseorang untuk berubah dari sikap yang penuh dengan ketidaksempurnaan (taqshîr/incapacity) menjadi sikap yang penuh dengan ketekunan (tasymîr). Jika proses penyesalan berlangsung dengan benar, maka hampir seluruh persyaratan tobat terpenuhi. Karena itulah Rasulullah saw bersabda, “Penyesalan adalah tobat.” (HR Ibnu Majah dari Ibnu Mas‘ud)

Orang yang menyesali perbuatannya yang tercela, tetapi selalu mengulangnya kembali, maka penyesalannya sia-sia belaka.

Istighfar 

Istighfar adalah permohonan ampun kepada Allah.  Dan ampunan Allah adalah tirai (sitr) penutup segala dosa. Jika Allah dengan kemurahan-Nya mengampuni kesalahan manusia, maka Ia tidak akan mencemarkan maupun menyiksanya, baik di dunia maupun di akhirat1.

Jenis ampunan yang paling mulia adalah tirai yang oleh Allah dijadikan pendinding antara makhluk dengan dosa-dosanya, sehingga seakan-akan ia tidak berdosa sama sekali. Dalam bahasa kenabian tirai itu disebut ‘ishmah2, sedangkan bagi wali disebut hifdh (penjagaan).

Allah menujukan firman-Nya kepada pemimpin yang ma’shûm, Rasulullah saw:

Mohon ampunlah bagi dosamu dan dosa orang-orang mukmin.  (QS Muhammad, 47:19)

Agar Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. (QS Al Fath, 48:2)

Kita semua telah maklum, bahwa Rasulullah saw tidak pernah berbuat dosa. Dalam ayat tadi Allah mengingatkan Rasullullah saw atas nikmat ishmah (perlindungan) dari hal-hal yang dapat menjauhkan beliau dari Allah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Rasulullah untuk berdoa memohonkan ampunan bagi kaum mukminin dan mukminat.  Sebab doa berarti syukur, dan syukur merupakan cara untuk mendapatkan tambahan nikmat.

“Jika kalian bersyukur pasti Aku akan menambah (kenikmatan) kepada kalian.” (QS Ibrâhim, 14:7)

Wallôhu a’lam.

Tobat 

Langkah awal yang harus ditempuh oleh seorang murîd dalam perjalanannya menuju Allah adalah tobat dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT atas segala dosa-dosanya. Jika ditangannya masih ada hak orang yang dahulu pernah dizaliminya, hendaknya segera ia kembalikan. Namun, jika hal itu tidak mungkin dilakukan, maka hendaknya ia meminta agar orang itu menghalalkannya. Sebab, seseorang yang masih memegang hak-hak orang lain, tidak mungkin dapat mendekatkan diri kepada Al-Haq (Allah)

Syarat sahnya tobat adalah sidqun nadam (penyesalan sungguh-sungguh) atas segala dosa dengan diiringi tekad kuat untuk tidak mengulang kembali perbuatan buruk itu seumur hidup. Barang siapa bertobat dari suatu dosa, namun ia selalu mengulang kembali perbuatannya, atau bertekad untuk melakukannya kembali, maka tobatnya tidak sah.

Seorang murîd hendaknya selalu mengakui bahwa ia tidak dapat menunaikan hak-hak Tuhannya dengan sempurna. Setiap kali ia merasa sedih atas segala kekurangannya, dan hatinya luluh karena menyadari kenyataan itu, maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah saat itu bersamanya.

Allah SWT telah berfirman (dalam sebuah hadis qudsi): “Aku bersama orang-orang yang hatinya luluh karena Ku.”

Tobat (Nafâisul Uluwiyyah, hal. 30)

Barang siapa bertobat dari suatu dosa, tetapi kemudian mengulang kembali perbuatannya, maka tobatnya yang terdahulu tidak gugur. Namun ia harus bertobat lagi. Ini adalah salah satu kemurahan Allah bagi kita semua. Segala puji bagi Allah. Kita tidak akan mampu memuji-Nya sebanyak pujian-Nya kepada diri-Nya sendiri.

Dalam suatu hadis disebutkan:

Sesungguhnya Allah SWT membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima tobat orang yang berbuat buruk di siang hari. Dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima tobat orang yang berbuat buruk di malam hari. Sesungguhnya di sebelah barat ada pintu yang lebarnya sejauh 40 hari perjalanan matahari. Pintu itu selalu terbuka untuk tobat hingga matahari terbit dari arah barat (kiamat). Dan sesungguhnya Allah SWT selalu menerima tobat seorang hamba sebelum ghorghoroh.

Ghorghoroh adalah keadaan sekarat, yakni ketika ruh telah sampai ke tenggorokan.

Dari uraian di atas dapat kamu ketahui hukum dan kedudukan tobat dalam agama.

Orang yang hendak bertobat dari perbuatan zalim yang pernah ia lakukan, maka ia harus mengembalikan barang yang ia ambil jika ia menzalimi harta seseorang, dan ia harus menjalani hukum qishash dan minta dihalalkan jika ia menzalimi diri atau kehormatannya. Tetapi, jika ia sama sekali tidak dapat memenuhi persyaratan ini, maka hendaknya ia berbuat semampunya, kemudian dengan mengharap kemurahan Allah, hendaknya ia berdoa agar kelak di akhirat orang-orang yang pernah ia zalimi meridhoinya.

Jika ia meninggalkan kewajiban-kewajibannya, misalnya: salat, puasa dan zakat, maka ia wajib mengqodhonya. Qodho itu boleh dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuannya. Jangan sampai ia mempersulit dirinya, tetapi ia juga tidak boleh meremehkannya, karena syariat agama ini terdiri dari aturan-aturan yang kokoh.

Rasulullah saw bersabda:

“Aku diutus membawa agama yang penuh toleransi.”  (HR Ahmad)

“Permudahlah jangan mempersulit; berilah kabar gembira jangan buat mereka lari.”  (HR Bukhari)

Seorang salaf yang saleh telah cukup lama memohon kepada Allah SWT untuk memberinya tobat nasuha, namun ia tidak melihat tanda-tanda pengabulan doanya. Ia merasa heran, tetapi kemudian bermimpi.  Dalam mimpinya, seseorang berkata kepadanya, “Apakah kamu pikir yang kamu pinta itu sebuah persoalan yang mudah. Sadarkah kamu bahwa kamu telah meminta untuk dicintai Allah SWT?  Tidak pernahkah kamu mendengar firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS Al-Baqarah, 2:222)

Semoga Allah memberi kita tobat nasuha dalam keadaan sehat wal afiat dan mengakhiri usia kita dalam husnul khôtimah.

Catatan kaki

1.Dalam hadis qudsi Allah SWT berfirman: “Aku Maha Mulia lagi Maha besar, tidak pantas bagi-Ku bila Aku menutupi dosa seorang Muslim di dunia ini lalu Aku membeberkannya (di hari kiamat).  Aku selalu mengampuni hamba-Ku selagi ia meminta ampun kepada-Ku.” (HR Hakim dari Hasan)

2.Penjagaan dan pemeliharaan Allah SWT dari perbuatan dosa dan kesalahan.

Iklan