Bakti Sepeda Jengki


sepeda jengkiBakti Sepeda Jengki

Hari masih pagi. Aku sudah rapi, mengenakan setelan rok dan blus favoritku, berkerudung ceria bunga-bunga plus sepatu andalanku. Aku bermaksud mengunjungi pakde di kampung sebelah. Namun… niat silaturahmiku terganjal. Aku tidak kebagian alat transportasi. Dua motor dan satu sepeda mini telah beranjak dari garasinya. Yang tersisa hanya sebuah sepeda jengki jelek. Waduh, bagaimana ini? Ya sudahlah, yang penting niat silaturahmi terpenuhi. Maka kutuntun sepeda itu ke halaman, ku lap debu di badannya dan kunaiki sepeda itu.

Di perjalanan aku terkikik geli, membayangkan tatapan orang-orang… seorang gadis berpakaian funky, menaiki sepeda butut hahaha… Sambil mencoba menghibur diri dan menikmati pemandangan pagi, aku terus menggenjot pedal sepeda, menyusuri jalanan yang membelah sawah. Tiba-tiba seekor kambing berlari melintas. Aku terkejut dan cepat-cepat meraih kedua rem di stang. Tapi ooo, sepeda tetap meluncur dan aku pun membanting stir hingga…Gubrak! aku dan sepeda terperosok ke selokan kering di sisi jalan. Aku bangkit sambil meringis. Sejenak kemudian, aku memeriksa sepeda. Ternyata, sepeda itu sudah tidak ada kawat remnya. Hanya tinggal gagangnya saja.

Sesampainya kembali di rumah, aku bertanya kepada orangtuaku, mengapa sepeda jengki tua itu tidak dijual saja? Toh tidak ada yang menggunakannya di rumah saat aku sedang di Jakarta. Dua motor dan satu sepeda mini sudah cukup untuk anggota keluarga kami yang hanya tiga orang. Tapi ibu bilang jangan. Sepeda itu memiliki sejarah yang panjang dan memiliki makna tersendiri. “Sejarah yang manakah itu, Bu?,” tanyaku. “Tidakkah kau ingat, anakku. Sepeda itu yang mengantarkanmu ke sekolah waktu SMP dulu? Juga sebagian dari waktu SMA-mu?”

Pelan-pelan, komentar ibu mengembalikan ingatanku tentang sepeda itu. Ya, sepeda jengki yang kini nampak tua, catnya mengelupas di sana-sini. Asesorisnya pun sudah tidak ada. Tanpa rem, tanpa lampu, tanpa gembok, tanpa bel. Hanya kerangkanya saja yang tinggal. Sepeda ini dulu bagus. Kata orang, asli RRC. Ah, benarkah ini sepedaku yang dulu mengantarku ke sekolah? Sepeda hadiah kelulusanku sebagai juara umum di SD, dan mengantarkanku jadi satu-satunya anak dari desaku yang bersekolah di SMP favorit di kota.

Segenap kenangan itu mengalir lagi. Dulu, jam setengah enam pagi, aku sudah mengayuh pedal sepeda itu, menembus kabut, menyusuri jalan-jalan desa menuju SMPku di kota. Terbayang kembali, saat-saat aku mengayuhnya, menempuh hujan dan badai di musim hujan, hanya bertutupkan mantel yang dibuat ibuku dari plastik lebar. Sepeda ini dulu yang menemaniku pulang sekolah, berlomba bersama teman-temanku. Sepeda ini juga yang mengantarku mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, membelah petang saat sendirian pulang dalam gelap. Sepeda ini begitu akrab setiap inci bagiannya bagiku hingga aku bahkan dapat menyetirnya tanpa memegangi setang. Sepeda ini pula yang masih tetap menemaniku, saat kemudian aku memilih kos ketika SMA. Dia mengantarku ke pengajian, mengantarku bimbingan belajar dan mengantarku menjalani aktifitas ekstra kurikuler maupun kegiatan ekstra sekolah yang mulai kurambah. Dengannya aku menjelajah setiap sudut kota Solo jika aku sedang bosan, termasuk mengunjungi perpustakaan daerah yang jaraknya cukup jauh.

****

Kuperhatikan lagi… Sepeda itu sudah sangat tua, lebih dari 15 tahun usianya. Namun ternyata baktinya belum usai. Saat ini, selain kadang digunakan ibu untuk pergi ke sawah, sepeda itu sering dipinjam kaum kerabat yang kebetulan membutuhkan. Belasan tahun, mungkin sepanjang masa pakainya, si sepeda telah memberikan manfaat bagi banyak orang. Si sepeda telah berbakti sepanjang hidupnya, tanpa keluh kesah dan tanpa pernah mendapat pujian. Namun ia tetap menebar manfaat. Bagaimana dengan saya? Kita? Sepanjang usia yang telah saya lalui, adakah saya telah memberi manfaat bagi agama, keluarga dan masyarakat tanpa henti??

***

(Diambil dari tulisan Azimah Rahayu, http://www.eramuslim.com)

Iklan