Permasalahan Puasa Ramadan (3)


ramadhan 2Permasalahan Puasa Ramadan (3)

III. Perempuan Hamil dan Perempuan Yang Menyusukan Anak

Fungsi ibadah yang disyariatkan kepada manusia itu ialah untuk mengukur dan membuktikan ketaatan seorang hamba kepada tuhannya. Selain itu ia juga berperanan sebagai jalan yang menghampirkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak kira ibadah itu wajib atau pun sunat. Perkara ini dijelaskan dalam firman-Nya:

Tafsirnya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal salih, mereka itulah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhannya ialah syurga ‘adn (tempat tinggal yang tetap), yang mengalir di bawahnya beberapa sungai; kekallah mereka di dalamnya selama-lamanya; Allah redha akan mereka dan mereka pun redha (serta bersyukur) akan nikmat pemberian-Nya. Balasan yang demikian itu untuk orang-orang yang takut (melanggar perintah) Tuhannya.

(Surah al-Baiyinah: 7-8)

Adalah janggal sekali pendapat yang mendakwa bahwa ibadah-ibadah seperti sembahyang, puasa, haji, zakat dan sebagainya itu sebagai suatu bebanan yang menyeksa manusia. Tuduhan ini dengan tegas ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

Tafsirnya: “Dan Ia tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara ugama”

(Surah al-Haj: 78)

Kita telah pun diajar tentang tahap (darajah) hukum-hukum ibadah yang disyariatkan itu dan perlu diambil penuh perhatian ialah ibadah-ibadah yang wajib. Ibadah seumpama ini jika kita tinggalkan dengan tiada keuzuran akan berdosa.

Walaupun demikian, Islam sebagai agama yang mulia dan agama yang diperakukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah pun menggariskan tentang kewajipan manusia dalam melaksanakan ibadah-ibadah wajib itu. Sekalipun sesuatu ibadah itu wajib dilaksanakan namun tahap kewajipan melaksanakannya adalah mengikut kadar yang termampu oleh manusia. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

Tafsirnya: “Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya”

(Surah al-Baqarah: 286)

Ayat di atas juga dengan jelasnya menerangkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu bersifat Rahim yaitu amat pengasihani. Begitulah cantiknya syariat Islam itu. Walaupun demikian hakikatnya, tetapi tidak bererti kita bersikap cuai atau mengambil ringan tentang hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh syariat Islam itu. Kecuaian atau sikap mengambil ringan soal hukum-hukum Islam boleh membawa kepada berleluasnya kepada perkara mungkar dan maksiat yang akhirnya meleburkan iman dan taqwa manusia.

Berbalik kepada kelonggaran atau keringanan yang diberikan oleh syariat Islam itu, maka bagaimanakah hukum dan kewajipan berpuasa terhadap perempuan hamil atau menyusukan anak?

Seperti yang kita jelaskan sebelum ini puasa itu wajib ke atas orang-orang Islam yang mukallaf. Ini bererti perempuan yang hamil atau perempuan yang menyusukan anak itu termasuk di bawah hukum di atas. Hamil itu boleh terjadi atas jalan pernikahan dan tanpa pernikahan. Menyusukan anak pula, boleh terjadi karena menyusukan anak sendiri atau anak orang lain. Perempuan yang menyusukan anak ini disebut dalam bahasa Arab sebagai Murdhi’.

Menurut hukum syara’ perempuan yang hamil sekalipun hasil dari perzinaan dan perempuan yang menyusukan anak damit (murdhi’) walaupun anak damit itu kepunyaan orang lain disebabkan menderma atau diupah, adalah diharuskan bagi mereka untuk berbuka puasa semata-mata karena dua perkara tersebut.

Sekalipun demikian, persoalan lain yang timbul, apakah hukum yang berbangkit dari berbuka puasa itu? Adakah diwajibkan ke atas mereka qadha atau lain hukum mengenainya?

Dalam hal ini para fuqaha telah merumuskan hukum-hukum mengenainya. Rumusan hukum dan perbincangan mereka lebih tertumpu kepada perkara-perkara yang menyebabkan mereka berbuka puasa.

Tetapi jika mereka berbuka puasa karena takut akan kemudaratan kepada anak yang dalam kandungan atau anak yang disusukan itu sahaja, maka wajib ke atas mereka membayar fidyah dan juga qadha pada tiap-tiap hari puasa yang ditinggalkannya itu.

Jika mereka berbuka puasa karena takut akan timbul kemudaratan atas diri mereka atau kedua-duanya yaitu takut ke atas diri mereka dan anak yang dalam kandungan atau anak yang disusukan, maka wajib ke atas mereka mengqadha puasa yang ditinggalkan itu tanpa wajib mengeluarkan fidyah.

Jika perempuan yang hamil atau perempuan yang menyusukan anak (murdhi’) itu sedang dalam musafir ataupun sakit, lalu mereka berbuka puasa dengan berniat rukhshah (kelonggaran) atas sebab musafir atau sakit, bukan karena takut akan kemudaratan kepada anaknya, maka diwajibkan ke atas mereka mengqadha puasa itu tanpa membayar fidyah di hari-hari puasa yang ditinggalkan ketika musafir itu.

Dalam keadaan musafir atau sakit, jika hamil atau yang menyusukan anak (murdhi’) berbuka karena takut akan kemudaratan anaknya dan bukan berbukanya itu atas rukhshah musafir atau sakit, menurut pendapat yang ashah dia juga tidak diwajibkan membayar fidyah. Sebagaimana tidak diwajibkan membayar kaffarah kepada orang musafir yang sampai ke kediamannya ketika siang hari puasa, lalu dia melakukan persetubuhan di siang hari itu bersama isterinya yang tidak berpuasa disebabkan baru bersih dari haidh atau nifas di siang hari itu juga. (Al-Majmuk: 6/272&375)

Berkait dengan hukum ini, ingin juga dijelaskan apakah dia fidyah karena meninggalkan puasa itu? Kepada siapakah ia diserahkan dan bagaimanakah melaksanakannya?

Fidyah ialah denda atau tebusan yang dikenakan kepada orang Islam yang melakukan beberapa kesalahan tertentu dalam ibadah. Ia juga merujuk kepada menebus ibadah (karena uzur dan disyariatkan), dengan memberi sedekah kepada fakir miskin berupa makanan yang mengenyangkan.(Ensiklopedia Islam 3:264)

Adapun makna fidyah dalam hal puasa ialah bayaran denda karena tidak berpuasa Ramadhan dengan sebab-sebab tertentu atau karena melambat-lambatkan mengqadha puasa Ramadhan sehingga masuk Ramadhan berikutnya.

Jenis fidyah itu ialah sama seperti jenis zakat fitrah yaitu makanan asasi dan yang mengenyangkan bagi sesebuah negeri seperti beras. Kadar yang patut dikeluarkan ialah satu mudd (secupak) yaitu kira-kira lima belas tahil beras bersamaan 566.85 gram.

Pihak yang berhak menerima fidyah itu ialah orang-orang fakir dan miskin sahaja. Fidyah itu boleh diberi dengan lebih dari satu cupak kepada seorang miskin berlainan dengan kaffarah, karena ia hendaklah satu cupak sahaja kepada setiap seorang miskin hingga enam puluh orang yaitu tidak boleh dua cupak untuk satu orang miskin bagi membayar kaffarah.

Membayar fidyah itu diharuskan selepas terbit fajar di hari puasa Ramadhan yang ditinggalkan karena keuzuran seperti orang yang sakit yang tiada harapan untuk sembuh, orang yang terlalu tua yang tiada berdaya untuk puasa dan perempuan yang hamil dan murdhi’. Walau bagaimana pun diharuskan juga mengeluarkan fidyah itu sebelum terbit fajar bagi hari yang dikeluarkan fidyah itu dan diharuskan juga mengeluarkan fidyah terlebih dahulu sebelum berbuka, akan tetapi hanyalah satu fidyah sahaja di hari berbukanya itu dan tidak harus mendahuluinya bagi hari kedua dia berbuka puasa. Begitu juga tidak diharuskan membayar fidyah sebelum masuk bulan Ramadhan.(Raudah At-Thalibin: 2/385)

Iklan