Permasalahan Puasa Ramadan (2)


ramadanPermasalahan Puasa Ramadan (2)

2. Wajib Menahan Diri (Imsak)

Apabila masuknya bulan Ramadhan masih terdengar di media-media elektronik seperti radio dan televisyen yang menyiarkan berita tentang orang Islam yang didenda oleh mahkamah kadhi karena tidak berpuasa dan makan atau minum di khalayak ramai. Fenomena ini menggambarkan bahwa masih ada sebilangan kecil daripada masyarakat kita yang tidak menghiraukan kewajipan berpuasa tersebut, sedangkan ketika itu dia mukallaf dan tiada sesuatu yang menghalangnya daripada berpuasa. Ada pula di antara mereka yang senghaja berbuat demikian malahan berbangga-bangga dengan tidak berpuasa, seolah-olah kewajipan itu tidak ada bagi mereka. Perbuatan ini wajib kita perbetulkan dari terus berleluasa.

Menurut ketentuan hukum syara’, orang-orang yang meninggalkan puasa dengan senghaja itu sangat berat balasannya. Perbuatan tersebut termasuk dalam kategori dosa besar malahan menjadi kerugian yang tidak boleh ditukar ganti sebagaimana digambarkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya:

Maksudnya: “Barangsiapa berbuka satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada rukhshah (keringanan) dan tidak juga karena sakit, dia tidak akan dapat melunaskan (mengganti) puasa yang ditinggalkannya itu, sekalipun dia berpuasa seumur hidup”

(Hadis riwayat Tirmidzi, Abu Daud, An-Nasa’ie, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah)

Maksudnya: “Sesungguhnya di dalam syurga terdapat pintu yang disebut Rayyan, yang mana pada hari qiamat orang-orang yang berpuasa masuk daripadanya. Dikatakan: “Di manakah orang-orang yang berpuasa?” Maka mereka berdiri, tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk daripadanya. Apabila mereka telah masuk maka pintu itu ditutup, sehingga tidak ada seorang pun yang masuk daripadanya.”

(Hadis Muttafaq ‘Alaihi)

Hadis di atas menerangkan bahwa orang-orang yang berpuasa itu akan diberi keistimewaan khas dimana mereka berhak untuk masuk syurga melalui pintu al-Rayyan. Amat rugilah orang-orang yang tidak mengerjakan ibadah puasa itu karena tiada hak untuk masuk syurga melalui pintu tersebut.

Apa yang lebih dikhuatiri ialah orang-orang yang tidak berpuasa itu beranggapan bahwa puasa itu tidak perlu dikerjakan karena ia hanya suatu budaya yang menyeksa manusia. Menurut ijma’ ulama, barangsiapa yang mengingkari fardhu puasa Ramadhan atau merasa ragu-ragu akan fardhunya maka dia adalah terkeluar daripada agama Islam yaitu murtad wal’iyadzubillah.

Daripada hadis-hadis dan ijma’ ulama yang disebutkan di atas jelas kepada kita bahwa terdapat ancaman dan peringatan kepada mereka yang mengabaikan puasa bulan Ramadhan. Oleh itu janganlah kita mengambil ringan akan perkara ini dengan mengabaikan suruhan Allah Subhanahu wa Ta’ala karena azab Allah Subhanahu wa Ta’ala amat pedih.

Membincangkan tentang orang yang berbuka puasa tanpa keuzuran ini selain daripada menerima ancaman dan balasan seperti yang disebutkan di atas, mereka ini juga dipertanggungjawabkan untuk memenuhi kehendak hukum-hukum syara’ yang diwajibkan ke atas mereka. Antaranya ialah menahan diri (imsak) daripada perkara-perkara yang dilarang ketika berpuasa.

Menurut para fuqaha’, orang-orang yang berbuka puasa dengan senghaja tanpa keuzuran yang dibenarkan oleh hukum syara’ itu wajib imsak yaitu menahan diri daripada makan dan minum dan perkara-perkara yang membatalkan puasa.

Imsak juga diwajibkan ke atas orang yang berbuka puasa Ramadhan bukan disebabkan keuzuran seperti orang yang lupa berniat atau makan di waktu yang disangkakannya masih belum terbit fajar sedangkan ketika itu fajar sudah terbit. Diwajibkan ke atas mereka imsak karena menghormati waktu puasa.

Manakala bagi orang yang berbuka puasa disebabkan keuzurannya seperti orang yang sakit apabila dia sembuh dan orang yang musafir apabila dia sampai ke tempat kediamannya pada waktu siang Ramadhan, hukum imsak atau menahan diri itu adalah sunat.

Sunat imsak bagi orang yang gila bila dia sedar, orang kafir apabila masuk Islam, kanak-kanak apabila dia baligh dan perempuan yang haidh atau nifas apabila dia bersih di siang hari Ramadhan.

Menurut pengarang Hasyiyah I’anah at-Thalibin terdapat dua kaedah mengenai perkara imsak ini. Kaedah yang pertama ialah bahwa setiap seseorang yang diharuskan baginya berbuka puasa dan dia mengetahui akan hakikat hari itu maka tidak diwajibkan baginya imsak bahkan disunatkan saja. Kaedah yang kedua yaitu bagi orang yang tidak diharuskan berbuka puasa dan dia mengetahui akan hakikat hari itu maka diwajibkan baginya imsak.

Demikianlah ketentuan hukum yang perlu kita fahami tentang kewajipan mengerjakan ibadah puasa dan hukum yang berkaitan dengannya. Semoga dengan mengetahui hukum-hukum tersebut akan menambahkan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Iklan