Updates from April, 2014 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 2:34 am pada 22 April 2014 Permalink | Balas  

    bilal-bin-rabah-al-habasyiAku Memanggil Kalian

    Sahabat, apa kabar semuanya? Mudah-mudahan engkau diberikan limpahan kasih sayang Nya yang tak berhingga. Aamiin. Saya ingin meminjam waktumu sebentar. Ada seseorang yang ingin bertutur kepada kita. Ada seseorang yang ingin mengisahkan selaksa kehidupan yang mungkin sering kita dengar. Beginilah lantunannya. Simak baik-baik ya , Mudah-mudahan bermanfaat.

    Bismillah, Assalamualaikum.

    Perkenalkan! Namaku Bilal. Ayahku bernama Rabah, seorang budak dari Abesinia, oleh karena itu nama panjangku Bilal Bin Rabah. Aku tidak tahu mengapakah Ayah dan Ibuku sampai di sini, Makkah. Sebuah tempat yang hanya memiliki benderang matahari, hamparan sahara dan sedikit pepohonan. Aku seorang budak yang menjadi milik tuannya. Umayyah, biasa tuan saya itu dipanggil. Seorang bangsawan Quraisy, yang hanya peduli pada harta dan kefanaan. Setiap jeda, aku harus bersiap kapan saja dilontarkan perintah. Jika tidak, ada cambuk yang menanti akan mendera bagian tubuh manapun yang disukainya.

    Setiap waktu adalah sama, semua hari juga serupa tak ada bedanya, yakni melayani majikan dengan sempurna. Hingga suatu hari aku mendengar seseorang menyebutkan nama Muhammad. Tadinya aku tak peduli, namun kabar yang ku dengar membuatku selalu memasang telinga baik-baik. Muhammad, mengajarkan agama baru yaitu menyembah Tuhan yang maha tunggal. Tidak ada Tuhan yang lain. Aku tertarik dan akhirnya, aku bersyahadat diam-diam.

    Namun, pada suatu hari majikanku mengetahuinya. Aku sudah tahu kelanjutannya. Mereka memancangku di atas pasir sahara yang membara. Matahari begitu terik, seakan belum cukup, sebuah batu besar menindih dada ini. Mereka mengira aku akan segera menyerah. Haus seketika berkunjung, ingin sekali minum. Aku memintanya pada salah seorang dari mereka, dan mereka membalasnya dengan lecutan cemeti berkali-kali. Setiap mereka memintaku mengingkari Muhammad, aku hanya berucap “Ahad… ahad”. Batu diatas dada mengurangi kemampuanku berbicara sempurna. Hingga suatu saat, seseorang menolongku, Abu Bakar menebusku dengan uang sebesar yang Umayyah minta. Aku pingsan, tak lagi tahu apa yang terjadi.

    Segera setelah sadar, aku dipapah Abu Bakar menuju sebuah tempat tinggal Nabi Muhammad. Kakiku sakit tak terperi, badanku hampir tak bisa tegak. Ingin sekali rubuh, namun Abu Bakar terus membimbingku dengan sayang. Tentu saja aku tak ingin mengecewakannya. Aku harus terus melangkah menjumpai seseorang yang kemudian ku cinta sampai nafas terakhir terhembus dari raga. Aku tiba di depan rumahnya. Ada dua sosok disana. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib sepupunya yang masih sangat muda dan yang di sampingnya adalah dia, Muhammad.

    Muhammad, aku memandangnya lekat, tak ingin mata ini berpaling. Ku terpesona, jatuh cinta, dan merasakan nafas yang tertahan dipangkal tenggorokan. Wajahnya melebihi rembulan yang menggantung di angkasa pada malam-malam yang sering ku pandangi saat istirahat menjelang. Matanya jelita menatapku hangat. Badannya tidak terlalu tinggi tidak juga terlau pendek. Dia adalah seorang yang jika menoleh maka seluruh badannya juga. Dia tersenyum, dan aku semakin mematung, rasakan sebuah aliran sejuk sambangi semua pori-pori yang baru saja dijilati cemeti.

    Dia bangkit, dan menyongsongku dengan kegembiraan yang nampak sempurna. Bahkan hampir tidak ku percaya, ada genangan air mata di pelupuk pandangannya. Ali, saat itu bertanya “Apakah orang ini menjahati engkau, hingga engkau menangis?.

    “Tidak, orang ini bukan penjahat, dia adalah seorang yang telah membuat langit bersuka cita”, demikian Muhammad menjawab. Dengan kedua tangannya, aku direngkuhnya, di peluk dan di dekapnya, lama. Aku tidak tahu harus berbuat apa, yang pasti saat itu aku merasa terbang melayang ringan menjauhi bumi. Belum pernah aku diperlakukan demikian istimewa.

    Selanjutnya aku dijamu begitu ramah oleh semua penghuni rumah. Ku duduk di sebelah Muhammad, dan karena demikian dekat, ku mampu menghirup wewangi yang harumnya melebihi aroma kesturi dari tegap raganya. Dan ketika tangan Nabi menyentuh tangan ini begitu mesra, aku merasakan semua derita yang mendera sebelum ini seketika terkubur di kedalaman sahara. Sejak saat itu, aku menjadi sahabat Muhammad.

    Kau tidak akan pernah tahu, betapa aku sangat beruntung menjadi salah seorang sahabatnya. Itu ku syukuri setiap detik yang menari tak henti. Aku Bilal, yang kini telah merdeka, tak perlu lagi harus berdiri sedangkan tuannya duduk, karena aku sudah berada di sebuah keakraban yang mempesona. Aku, Bilal budak hitam yang terbebas, mereguk setiap waktu dengan limpahan kasih sayang Al-Musthafa. Tak akan ada yang ku inginkan selain hal ini.

    Oh iya, aku ingin mengisahkan sebuah pengalaman yang paling membuatku berharga dan mulia. Inginkah kalian mendengarnya?

    Di Yathrib, mesjid, tempat kami, umat Rasulullah beribadah telah berdiri. Bangunan ini dibangun dengan bahan-bahan sederhana. Sepanjang hari, kami semua bekerja keras membangunnya dengan cinta, hingga kami tidak pernah merasakan lelah. Nabi memuji hasil kerja kami, senyumannya selalu mengembang menjumpai kami. Ia begitu bahagia, hingga selalu menepuk setiap pundak kami sebagai tanda bahwa ia begitu berterima kasih. Tentu saja kami melambung.

    Kami semua berkumpul, meski mesjid telah selesai dibangun, namun terasa masih ada yang kurang. Ali mengatakan bahwa mesjid membutuhkan penyeru agar semua muslim dapat mengetahui waktu shalat telah menjelang. Dalam beberapa saat kami terdiam dan berpandangan. Kemudian beberapa sahabat membicarakan cara terbaik untuk memanggil orang-orang.

    Kita dapat menarik bendera , seseorang memberikan pilihan. Bendera tidak menghasilkan suara, tidak bisa memanggil mereka.

    Bagaimana jika sebuah genta? Bukankah itu kebiasaan orang Nasrani

    Jika terompet tanduk? Itu yang digunakan orang Yahudi, bukan?

    Semua yang hadir di sana kembali terdiam, tak ada yang merasa puas dengan pilihan-pilihan yang dibicarakan. Ku lihat Nabi termenung, tak pernah ku saksikan beliau begitu muram. Biasanya wajah itu seperti matahari di setiap waktu, bersinar terang. Sampai suatu ketika, adalah Abdullah Bin Zaid dari kaum Anshar, mendekati Nabi dengan malu-malu. Aku bergeser memberikan tempat kepadanya, karena ku tahu ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Nabi secara langsung.

    Wahai, utusan Allah suaranya perlahan terdengar. Mesjid hening, semua mata beralih pada satu titik. Kami memberikan kepadanya kesempatan untuk berbicara.

    Aku bermimpi, dalam mimpi itu ku dengar suara manusia memanggil kami untuk berdoa… lanjutnya pasti. Dan saat itu, mendung di wajah Rasulullah perlahan memudar berganti wajah manis berseri-seri. Mimpimu berasal dari Allah, kita seru manusia untuk mendirikan shalat dengan suara manusia juga.. Begitu nabi bertutur.

    Kami semua sepakat, tapi kemudian kami bertanya-tanya, suara manusia seperti apa, lelakikah?, anak-anak?, suara lembut?, keras? atau melengking? Aku juga sibuk memikirkannya. Sampai kurasakan sesuatu di atas bahuku, ada tangan Al-Musthafa di sana. Suara mu Bilal ucap Nabi pasti. Nafasku seperti terhenti.

    Kau tidak akan pernah tahu, saat itu aku langsung ingin beranjak menghindarinya, apalagi semua wajah-wajah teduh di dalam mesjid memandangku sepenuh cinta. Subhanallah, saudaraku, betapa bangganya kau mempunyai sesuatu untuk kau persembahkan kepada Islam ku dengar suara Zaid dari belakang. Aku semakin tertunduk dan merasakan sesuatu bergemuruh di dalam dada. Suaramu paling bagus duhai hamba Allah, gunakanlah perintah Nabi kembali terdengar. Pujian itu terdengar tulus. Dan dengan memberanikan diri, ku angkat wajah ini menatap Nabi. Allah, ada senyuman rembulannya untukku. Aku mengangguk.

    Akhirnya, kami semua keluar dari mesjid. Nabi berjalan paling depan, dan bagai anak kecil aku mengikutinya. “Naiklah ke sana, dan panggillah mereka di ketinggian itu,” Nabi mengarahkan telunjuknya ke sebuah atap rumah kepunyaan wanita dari Banu n Najjar, dekat mesjid. Dengan semangat, ku naiki atap itu, namun sayang kepalaku kosong, aku tidak tahu panggilan seperti apa yang harus ku kumandangkan. Aku terdiam lama.

    Di bawah, ku lihat wajah-wajah menengadah. Wajah-wajah yang memberiku semangat, menelusupkan banyak harapan. Mereka memandangku, mengharapkan sesuatu keluar dari bibir ini. Berada di ketinggian sering memusingkan kepala, dan ku lihat wajah-wajah itu tak mengharapkan ku jatuh. Lalu ku cari sosok Nabi, ada Abu Bakar dan Umar di sampingnya. Ya Rasul Allah, apa yang harus ku ucapkan? Aku memohon petunjuknya. Dan kudengar suaranya yang bening membumbung sampai di telinga Pujilah Allah, ikrarkan Utusan-Nya, Serulah manusia untuk shalat. Aku berpaling dan memikirkannya. Aku memohon kepada Allah untuk membimbing ucapanku.

    Kemudian, ku pandangi langit megah tak berpenyangga. Lalu di kedalaman suaraku, aku berseru :

    Allah Maha Besar. Allah Maha Besar

    Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah

    Aku bersaksi bahwa Muhammad Utusan Allah

    Marilah Shalat

    Marilah Mencapai Kemenangan

    Allah Maha Besar. Allah Maha Besar

    Tiada Tuhan Selain Allah.

    Ku sudahi lantunan. Aku memandang Nabi, dan kau akan melihat saat itu Purnama Madinah itu tengah memandangku bahagia. Ku turuni menara, dan aku disongsong begitu banyak manusia yang berebut memelukku. Dan ketika Nabi berada di hadapan ku, ia berkata ” Kau Bilal, telah melengkapi Mesjidku.

    Aku, Bilal, anak seorang budak, berkulit hitam, telah dipercaya menjadi muadzin pertama, oleh Dia, Muhammad, yang telah mengenyahkan begitu banyak penderitaan dari kehidupan yang ku tapaki. Engkau tidak akan pernah tahu, mengajak manusia untuk shalat adalah pekerjaan yang dihargai Nabi begitu tinggi. Aku bersyukur kepada Allah, telah mengaruniaku suara yang indah. Selanjutnya jika tiba waktu shalat, maka suaraku akan memenuhi udara-udara Madinah dan Makkah.

    Hingga suatu saat,

    Manusia yang paling ku cinta itu dijemput Allah dengan kematian terindahnya. Purnama Madinah tidak akan lagi hadir mengimami kami. Sang penerang telah kembali. Tahukah kau, betapa berat ini ku tanggung sendirian. Aku seperti terperosok ke sebuah sumur yang dalam. Aku menangis pedih, namun aku tahu sampai darah yang keluar dari mata ini, Nabi tak akan pernah kembali. Di pangkuan Aisyah, Nabi memanggil “ummatii.. ummatiii” sebelum nafas terakhirnya perlahan hilang. Aku ingat subuh itu, terkakhir nabi memohon maaf kepada para sahabatnya, mengingatkan kami untuk senantiasa mencintai kalam Ilahi. Kekasih Allah itu juga mengharapkan kami untuk senantiasa mendirikan shalat. Jika ku kenang lagi, aku semakin ingin menangis. Aku merindukannya, sungguh, betapa menyakitkan ketika senggang yang kupunya pun aku tak dapat lagi mendatanginya.

    Sejak kematian nabi, aku sudah tak mampu lagi berseru, kedukaan yang amat membuat ku lemah. Pada kalimat pertama lantunan adzan, aku masih mampu menahan diri, tetapi ketika sampai pada kalimat Muhammad, aku tak sanggup melafalkannya dengan sempurna. Adzanku hanya berisi isak tangis belaka. Aku tak sanggup melafalkan seluruh namanya, “Muhammad”. Jangan kau salahkan aku. Aku sudah berusaha, namun, adzanku bukan lagi seruan. Aku hanya menangis di ketinggian, mengenang manusia pilihan yang menyayangiku pertama kali. Dan akhirnya para sahabat memahami kesedihan ini. Mereka tak lagi memintaku untuk berseru.

    Sekarang, ingin sekali ku memanggil kalian, memanggil kalian dengan cinta. Jika kalian ingin mendengarkan panggilanku, dengarkan aku, akan ada manusia-manusia pilihan lainnya yang mengumandangkan adzan. Saat itu, anggaplah aku yang memanggil kalian. Karena, sesungguhnya aku sungguh merindui kalian yang bersegera mendirikan shalat.

    Alhamdulillah kisahku telah sampai, ku sampaikan salam untuk kalian.

    Wassalamu’alaikum

    ***

    Sahabat, jika adzan bergema, kita tahu yang seharusnya kita lakukan. Ada Bilal yang memanggil. Tidakkah, kita tersanjung dipanggil Bilal. Bersegeralah menjumpai Allah, hadirkan hatimu dalam shalatmu, dan Allah akan menatapmu bahagia. Saya jadi teringat sebuah kata mutiara yang dituliskan sahabat saya pada buku kenangan ketika SD “Husnul, shalatlah sebelum kamu di shalatkan”. Sebuah kalimat yang sarat makna jika direnungkan dalam-dalam.

    ***

    Oleh: Husnul Rizka Mubarikah – eramuslim

     
  • erva kurniawan 2:15 am pada 19 April 2014 Permalink | Balas  

    sakitTanda Tanda Ajal Mendekat

    Ada seorang hamba yang begitu taat kepada Allah, sebut saja namanya Fulan. Dia tak pernah lalai dalam beribadah kepada Allah SWT. Suatu hari Izrail, malaikat pencabut nyawa, datang bertamu kepadanya. Terjadilah tanya jawab antara Fulan dengan tamunya itu.”Wahai Izrail! Apakah perihal kedatanganmu ke mari adalah atas perintah Allah untuk mencabut nyawaku, ataukah hanya kunjungan biasa?” “Ya, Fulan ! Kedatanganku kali ini tidak dalam rangka mencabut nyawamu. Kedatanganku ini hanya kunjungan biasa. Mendengar penjelasan Izrail, maka seketika bersinarlah wajah Fulan karena gembiranya. Mereka lalu bercakap-cakap sampai tiba saatnya Izrail akan pamit.

    “Wahai sahabatku, Izrail! Sebagai tanda persahabatan kita, aku ada harapan kepadamu kiranya engkau tidak berkeberatan untuk mengabulkannya.” “Gerangan apakah permohonanmu itu, hai Fulan sahabatku?” “Begini, ya Izrail. Jika nanti kau datang lagi kepadaku dengan maksud untuk mencabut nyawaku, maka mohon kiranya engkau mau mengirimkan utusan kepadaku terlebih dahulu. Jika demikian, maka aku ada waktu untuk bersiap-siap menyambut kedatanganmu.” “Oh, begitu? Hai, Fulan, kalau hanya itu permohonanmu, aku kabulkan. Aku berjanji akan mengirimkan utusan itu kepadamu.”

    Waktu pun berjalan. Tahun berganti tahun. Tak terasa bahwa pertemuan antara Fulan dengan Izrail telah sekian lama berlalu. Kehidupan berlangsung terus sampai suatu ketika Fulan kaget sekali. Tak disangka-sangka sebelumnya Izrail muncul di rumahnya. Fulan merasa bahwa kedatangan Izrail ini begitu mendadak, padahal ada komitmen janji Izrail kepadanya.

    “Wahai, Izrail sahabatku! Mengapa engkau tak mengirimkan utusanmu kepadaku? Mengapa engkau ingkar janji?” Dengan tersenyum, Izrail menjawab, “Wahai Fulan, sahabatku! Sesungguhnya aku sudah mengirimkan utusanku itu kepadamu, hanya kamu sendiri yang mungkin tidak menyadarinya. Coba perhatikan punggungmu, dulu ia tegak tetapi sekarang bungkuk. Perhatikan caramu berjalan, dulu kamu begitu tegap perkasa, sekarang gemetaran dengan ditopang tongkat. Perhatikan penglihatanmu, dulu ia bersinar sehingga orang luluh kena sorotnya tetapi sekarang kabur dan lemah. Ya, Fulan, bukankah pikiran-pikiranmu sekarang mudah putus asa padahal dulu begitu enerjik dan penuh berbagai harapan? Tempo hari kamu hanya menginginkan satu utusan saja dariku, tetapi aku telah mengirimkan begitu banyak utusanku kepadamu!”

    Sahabat, itu adalah tanda ajal yang pasti mendekat. Banyak juga manusia yang mendapat ajal tanpa mengalami tanda-tanda tersebut. Namun ada juga telah mendapatkan tanda-tanda tapi tidak menghiraukannya. Semoga kita diberikan waktu dan kesiapan untuk membekali diri sebelum ajal menimpa kita.

    ***

    (Diambil dari Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Poliyama Widya Pustaka)

     
  • erva kurniawan 2:16 am pada 12 April 2014 Permalink | Balas  

    air mataSelembar Bulu Mata

    Diceritakan di Hari Pembalasan kelak, ada seorang hamba Allah sedang di adili. Ia dituduh bersalah, menyia-nyiakan umurnya di dunia untuk berbuat maksiat. Tetapi ia berkeras membantah. “Tidak. Demi langit dan bumi sungguh tidak benar. Saya tidak melakukan semua itu.”

    “Tetapi saksi-saksi mengatakan engkau betul-betul telah menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam dosa,” jawab malaikat.

    Orang itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu ke segenap penjuru. Tetapi anehnya, ia tidak menjumpai seorang saksi pun yang sedang berdiri. Di situ hanya ada dia sendirian. Makanya ia pun menyanggah, “Manakah saksi-saksi yang kau maksudkan? Di sini tidak ada siapa kecuali aku dan suaramu.” “Inilah saksi-saksi itu,” ujar malaikat.

    Tiba-tiba mata angkat bicara, “Saya yang memandangi.” Disusul oleh telinga, “Saya yang mendengarkan.”

    Hidung pun tidak ketinggalan, “Saya yang mencium.”

    Bibir mengaku, “Saya yang merayu.”

    Lidah menambah, “Saya yang mengisap.”

    Tangan meneruskan, “Saya yang meraba dan meremas.”

    Kaki menyusul, “Saya yang dipakai lari ketika ketahuan.”

    “Nah kalau kubiarkan, seluruh anggota tubuhmu akan memberikan kesaksian tentang perbuatan aibmu itu”, ucap malaikat.

    Orang tersebut tidak dapat membuka sanggahannya lagi. Ia putus asa dan amat berduka, sebab sebentar lagi bakal dihumbankan ke dalam jahanam. Padahal, rasa-rasanya ia telah terbebas dari tuduhan dosa itu.

    Tatkala ia sedang dilanda kesedihan itu, sekonyong-konyong terdengar suara yang amat lembut dari selembar bulu matanya: “Saya pun ingin juga mengangkat sumpah sebagai saksi.”

    “Silakan”, kata malaikat.

    “Terus terang saja, menjelang ajalnya, pada suatu tengah malam yang lengang, aku pernah dibasahinya dengan air mata ketika ia sedang menangis menyesali perbuatan buruknya. Bukankah nabinya pernah berjanji, bahwa apabila ada seorang hamba kemudian bertobat, walaupun selembar bulu matanya saja yang terbasahi air matanya, namun sudah diharamkan dirinya dari ancaman api neraka? Maka saya, selembar bulu matanya, berani tampil sebagai saksi bahwa ia telah melakukan tobat sampai membasahi saya dengan air mata penyesalan.”

    Dengan kesaksian selembar bulu mata itu, orang tersebut di bebaskan dari neraka dan diantarkan ke surga. Sampai terdengar suara bergaung kepada para penghuni surga:  “Lihatlah, Hamba Tuhan ini masuk surga karena pertolongan selembar bulu mata.”

    Firman Allah swt,  “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada di dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, yang ingat-mengingati supaya mentaati kebenaran, dan yang ingat-mengingati dengan kesabaran.”  Surah Al-Ashr

    Dari Abdullah bin ‘Amr R.A, Rasulullah S.A.W bersabda:  ” Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat…”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:04 am pada 10 April 2014 Permalink | Balas  

    taubat 3Meninggalkan Yang Haram

    Dalam sebuah hadis, diriwayatkan tentang seorang penjahat yang ingin bertaubat. Ia masuk ke masjid. Ketika itu Rasulullah S.A.W sedang mengimamkan solat. Setelah menunaikan solat mereka berbincang-bincang dan penjahat yang ingin bertaubat itu mendengar Rasulullah S.A.W berkata, “Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu yang haram maka akan memperolehinya ketika sudah halal.”

    Setelah Rasulullah S.A.W dan para sahabat bersurai, pemuda itu turut meninggalkan masjid. Hatinya masih ragu untuk mengutarakan taubatnya. Namun ucapan Nabi tadi amat terkesan di hatinya.

    Malam pun menjelang. Suasana yang sering menggoda dirinya untuk melakukan keburukan. Tiba-tiba dia berhasrat untuk merompak salah sebuah rumah yang dihuni oleh seorang janda. Ternyata di rumah janda itu terdapat banyak makanan yang enak dan pasti mengundang selera.

    Ketika dia sedang memulakan suapannya tiba-tiba dia teringat kata-kata Rasulullah S.A.W siang tadi. Akhirnya dia tak jadi makan. Tatkala beranjak ke bilik ke bilik lain, dia menumpai perhiasan dan wang yang banyak. Dan ketika dia hendak mengambilnya, sekali lagi dia teringat kata-kata Rasulullah S.A.W. Lalu dia membatalkan niat jahatnya. Setelah itu dia masuk pula ke sebuah bilik yang besar. Didapatinya janda mu’minah itu sedang terbaring tidur dengan lenanya. Apabila ternampak wajah janda yang cantik dan rupawan itu, dia tergoda dan bermaksud untuk melampiaskan nafsunya. Namun tiba-tiba dia teringat kembali kata- kata Rasulullah S.A.W tadi.. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu yang haram ia akan memperolehi barang tersebut ketika ia sudah halal.

    Akhirnya, sekali lagi beliau membatalkan niat jahatnya. Lalu dia pergi meninggalkan rumah itu dengan hati yang lega kerana mampu mengalahkan nafsunya.

    Fajar mula menyinsing. Penjahat tadi pergi menunaikan solat subuh di masjid. Kali ini dia bertekad, dia akan bertaubat di hadapan Rasulullah S.A.W. Setelah solat, beliau duduk menyendiri di satu sudut masjid, merenung kembali peristiwa yang baru dialaminya malam tadi. Dan menghitung betapa besar dosanya andai perbuatan itu dilakukan.

    Ketika matahari terbit datanglah seorang wanita ke masjid dan menceritakan kepada Rasulullah S.A.W kejadian semalam di rumahnya. Walaupun tiada barang yang hilang namun beliau khuatir kalau-kalau pencuri itu datang menyelidik semalam dan akan datang lagi malam nanti. Wanita itu juga memohon kepada Rasulullah S.A.W agar sudilah mencarikan seorang yang sanggup menjaga rumahnya. “Kenapa kau hidup sendirian?” tanya Rasulullah S.A.W padanya. Wanita itu menjawab bahwa suaminya telah meninggal dunia.

    Rasulullah S.A.W mengarahkan pandangannya kepada seorang yang sedang duduk menyendiri di satu sudut masjid. Rasulullah S.A.W bertanya pada lelaki tersebut (penjahat tadi), adakah beliau sudah beristeri? Setelah Rasulullah S.A.W mengetahui bahwa lelaki itu telah kematian isterinya, maka baginda menawarkannya seorang calon isteri. Lelaki itu terdiam begitu juga janda yang mengadu tadi. Mereka sama-sama malu. Tetapi Rasulullah S.A.W yang arif kemudian mengikat kedua insan itu menjadi suami steri yang sah. Dan.. pecahlah tangis lelaki itu, lalu diceritakannya kepada Rasulullah S.A.W peristiwa yang sebenarnya, dan bahwa pencuri itu tidak lain adalah dirinya sendiri.

    Wanita itu keluar dari masjid dari masjid diiringi lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Mereka berjalan beriringan menuju rumah yang malam tadi hampir dicerobohinya. Disana makanan-makanan yang enak masih utuh seperti yang dilihatnya malam tadi. Bedanya sekarang, makanan itu sudah tidak haram lagi. Maka tanpa ragu-ragu makanan itu disantapnya. Uang, emas dan perhiasan yang hendak dicuri, kini sudah menjadi miliknya yang halal. Bahkan dia boleh menggunakannya untuk berniaga, tanpa haram sedikitpun.

    Sementara wanita cantik yang hampir dinodainya semalam, kini benar- benar sudah menjadi isterinya. berkat kemampuannya menahan nafsu syaitannya.

    Lelaki itu berbisik sendiri dalam hati, “Benarlah sabda Rasulullah S.A.W, barangsiapa meninggalkan yang haram maka ia akan memperolehinya ketika ia sudah menjadi halal.”

    Demikian indah Islam mengajar arti cinta. Cinta yang tidak diliputi keraguan, cinta yang menimbulkan rasa tenteram, cinta yang menumbuhkan kedamaian, cinta yang menyuburkan keimanan dan ketaqwaan. Cinta yang apabila kita meneguknya akan diperolehi kenikmatan yang lebih dalam lagi.

    Marilah kita menjenguk dan menyemak hati kita. Masihkah ada cinta di sana? Sudahkah kita mengemas cinta kita dengan kemasan Cinta Rabbani dan memberi label halal di atasnya? Dan sudahkah kita menyingkirkan cinta syahwat yang akan menjerumuskan kita dalam petaka yang berpanjangan? Tidak timur, tidak jua barat.

    ***

    Dari Sahabat: Awang Shamsul Awang Hambali

     
  • erva kurniawan 2:51 am pada 9 April 2014 Permalink | Balas  

    rasullullah-saw-muhammad-bin-abdullah3Dan Berbahagialah ‘Ukasyah

    Setelah peristiwa Haji Wada’ kesehatan Rasulullah Saw memang menurun. Islam telah sempurna, tak akan ada lagi wahyu yang turun. Semula, kaum muslimin bergembira dengan hal ini. Hingga Abu Bakar mendesirkan angin kematian Rasulullah. Sahabat terdekat ini menyatakan bahwa kepergian kekasih Allah akan segera tiba.

    Mesjid penuh sesak. Semua berkumpul setelah Bilal memanggil kaum muslimin dengan suara adzan. Setelah mengimami shalat, nabi berdiri dengan anggun di atas mimbar. Selanjutnya Nabi bertanya. “Duhai sahabat, kalian tahu umurku tak akan lagi panjang, Siapakah diantara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini, bangkitlah sekarang untuk mengambil kisas, jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang”. Semua yang hadir terdiam, semua mata menatap lekat Nabi yang terlihat lemah. Melihat semua membisu, nabi mengulangi lagi ucapannya lebih keras. Hingga ucapan yang ketiga kali, seorang laki-laki berdiri menuju Nabi. Dialah ‘Ukasyah.

    “Ya Rasul Allah, Dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung samping ku” ucap ‘Ukasyah. Mendengar ini Nabi pun menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah Fatimah. Dengan langkah berat dan keengganan yang amat sangat, Bilal mengambil cambuk dan menyerahkannya kepada Rasulullah. Masjid seketika mendengung seperti sarang lebah.

    Sekonyong-konyong melompatlah dua sosok dari barisan terdepan, melesat maju. Dialah Abu Bakar dan Umar Ibn Khattab. Gemetar mereka berkata: “Hai ‘Ukasyah, pukullah kami berdua, sesuka yang kau dera. Pilihlah bagian manapun yang paling kau ingin, kisaslah kami, jangan sekali-kali engkau pukul Rasul”. Namun Nabi memberi perintah secara tegas, “Duduklah kalian sahabatku, Allah telah mengetahui kedudukan kalian”. Ke dua sahabat itu lemah sangsai, langkahnya surut menuju tempat semula. Mereka pandangi sosok ‘Ukasyah dengan pandangan memohon. ‘Ukasyah tidak bergeming.

    Masjid kembali ditelan senyap. Banyak jantung yang berdegup kian cepat, menahan nafas. ‘Ukasyah tetap tegap menghadap Nabi. Kini tak ada lagi yang berdiri ingin menghalangi ‘Ukasyah mengambil kisas. “Wahai ‘Ukasyah, jika kau tetap berhasrat mengambil kisas, inilah Ragaku,” Nabi selangkah maju mendekatinya. Berkata ‘Ukasyah: “Ya Rasul Allah, saat Engkau mencambukku, tak ada sehelai kainpun yang menghalangi lecutan cambuk itu”. Tanpa berbicara, Nabi langsung melepaskan gamisnya yang telah memudar. Dan tersingkaplah tubuh Rasulullah. Seketika pekik takbir menggema, semua yang hadir menangis pedih.

    Melihat tegap badan manusia yang di maksum itu, ‘Ukasyah langsung menanggalkan cambuk dan berhambur ke tubuh Nabi. Sepenuh cinta direngkuhnya Nabi… ‘Ukasyah berteriak haru, gemetar bibirnya berucap sendu, “?Ya Rasul Allah, siapakah yang sampai hati mengkisas manusia indah sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka”. Dengan tersenyum, Nabi berkata: “Ketahuilah duhai manusia, sesiapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini”. Pekikan takbir menggema kembali. “Duhai, ‘Ukasyah berbahagialah engkau telah dijamin Nabi sedemikian pasti, bergembiralah engkau, karena kelak engkau menjadi salah satu yang menemani Rasul di surga”.

    ***

    Sahabat, indah nian pabila kita dapat berjumpa dengan kekasih Allah di surga. ‘Ukasyah mencari setiap celah kesempatan agar dapat merengkuh anugerah ini. Lalu, seperti apakah usaha kita? Astagfirullahaladziimmm, tak berani saya membandingkan jejak kehidupan saya dengan kemilau ‘Ukasyah.

    Ya Allah….

    diri ini tidak layak ke surgamu

    Namun, tidak jua

    aku sanggup ke neraka Mu

    Semoga ku kan selamat

    Dunia akhirat

    Seperti Rasul dan Sahabat

    ***

    (Diambil dari artikel http://www.eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 3:02 am pada 23 March 2014 Permalink | Balas  

    ibu-anak-siluetPenduduk Surga

    Di dalam kitab Al-Multaqith diceritakan, bahwa sebagian bangsa Alawiyah ada yang bermukim di daerah Balkha. Ada sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang suami isteri dengan beberapa anak wanita mereka. Keadaan keluarga tersebut serba kekurangan.

    Ketika suaminya meninggal dunia, isteri beserta anak-anak wanitanya meninggalkan kampung halamannya pergi ke Samarkand untuk menghindari ejekan orang di sekitarnya. Kejadian tersebut terjadi pada musim dingin. Saat mereka telah memasuki kota, si ibu mengajak anak-anaknya singgah di masjid, sementara dirinya pergi untuk mencari sesuap nasi.

    Di tengah perjalanan si ibu berjumpa dengan dua kelompok orang, yang satu dipimpin oleh seorang Muslim yang merupakan tokoh di kampung itu sendiri, sedang kelompok satunya lagi dipimpin oleh seorang Majusi, pemimpin kampung itu. Si ibu tersebut lalu menghampiri tokoh tersebut dan menjelaskan mengenai dirinya serta berkata, “Aku mohon agar tuan berkenan memberiku makanan untuk keperluan malam ini!” “Tunjukkan bukti-bukti bahwa dirimu benar-benar bangsa Alawiyah,” kata tokoh orang Muslim di kampung itu. “Di kampung ini tidak ada orang yang mengenaliku,” kata ibu tersebut.

    Sang tokoh itu pun akhirnya tidak menghiraukannya. Seterusnya dia hendak memohon kepada si Majusi, pemimpin kampung tersebut. Setelah menjelaskan tentang dirinya dengan tokoh kampung, lelaki Majusi lalu memerintahkan kepada salah seorang anggota keluarganya untuk datang ke masjid bersama si ibu itu, akhirnya dibawalah seluruh keluarga janda tersebut untuk tinggal di rumah Majusi yang memberinya pula berbagai perhiasan serba indah.

    Sementara tokoh masyarakat yang beragama Islam itu bermimpi seakan-akan hari Kiamat telah tiba dan panji kebenaran berada di atas kepala Rasulullah SAW. Dia pun sempat menyaksikan sebuah istana tersusun dari zamrud berwarna hijau. Kepada Rasulullah SAW. dia lalu bertanya, “Wahai Rasulullah! Milik siapa istana ini?”

    “Milik seorang Muslim yang mengesakan Allah,” jawab baginda.

    “Wahai Rasulullah, aku pun seorang Muslim,” jawabnya.

    “Coba tunjukkan kepadaku bahwa dirimu benar-benar seorang Muslim yang mengesakan Allah,” sabda Rasulullah SAW. kepadanya.

    Tokoh di kampung itu pun bingung atas pertanyaan baginda, dan kepadanya Rasulullah SAW. kemudian bersabda lagi, “Di saat wanita Alawiyah datang kepadamu, bukankah kamu berkata kepadanya, “Tunjukkan mengenai dirimu kepadaku!” Karenanya, demikian juga yang harus kamu lakukan, yaitu tunjukkan dahulu mengenai bukti diri sebagai seorang Muslim kepadaku!”

    Sesaat kemudian lelaki muslim itu terjaga dari tidurnya dan air matanya pun jatuh berderai, lalu dia memukuli mukanya sendiri. Dia berkeliling kota untuk mencari wanita Alawiyah yang pernah memohon pertolongan kepadanya, hingga dia mengetahui di mana kini wanita tersebut berada.

    Lelaki Muslim itu segera berangkat ke rumah orang Majusi yang telah menampung wanita Alawiyah beserta anak-anaknya.

    “Di mana wanita Alawiyah itu?’ tanya lelaki Muslim kepada orang Majusi.

    “Ada padaku,” jawab si Majusi.

    “Aku sekarang menghendakinya,” ujar lelaki Muslim itu.

    “Tidak semudah itu,” jawab lelaki Majusi. “Ambillah Uang seribu dinar dariku dan kemudian serahkan mereka padaku,” desak lelaki Muslim. “Aku tidak akan melepaskannya. Mereka telah tinggal di rumahku dan dari mereka aku telah mendapatkan berkatnya,” jawab lelaki Majusi itu.

    “Tidak boleh, engkau harus menyerahkannya,” ujar lelaki Muslim itu seolah-olah mengugut.

    Maka, lelaki Majusi pun menegaskan kepada tokoh Muslim itu, “Akulah yang berhak menentukan apa yang kamu minta. Dan istana yang pernah kamu lihat dalam mimpi itu adalah diciptakan untukku! Adakah kamu mau menunjukkan keislamanmu kepadaku? Demi Allah, aku dan seluruh keluargaku tidak akan tidur sebelum kami memeluk agama Islam di hadapan wanita Alawiyah itu, dan aku pun telah bermimpi sepertimana yang kamu mimpikan, serta Rasulullah SAW sendiri telah pula bersabda kepadaku, “Adakah wanita Alawiyah beserta anaknya itu padamu?” “Ya, benar,” jawabku. “Istana itu adalah milikmu dan seluruh keluargamu. Kamu dan semua keluargamu termasuk penduduk syurga, karena Allah sejak zaman azali dahulu telah menciptakanmu sebagai orang Mukmin,” sabda baginda kembali.

    ***

    Dari Sahabat

     

     
  • erva kurniawan 3:20 am pada 19 March 2014 Permalink | Balas  

    tetes-airTangisan Isam Bin Yusuf

    Dikisahkan bahwa ada seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat wara’ dan sangat khusyuk sembahyangnya. Namun demikian dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih baik ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasanya kurang khusyuk.

    Pada suatu hari Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Asam dan bertanya: “Wahai Aba Abdurrahman (Nama gelaran Hatim), bagaimanakah caranya tuan sembahyang?”

    Berkata Hatim: “Apabila masuk waktu sembahyang, aku berwuduk zahir dan batin.”

    Bertanya Isam: “Bagaimana wuduk batin itu?”

    Berkata Hatim: “Wuduk zahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wuduk dengan air. Sementara wuduk batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara:

    • Bertaubat.
    • Menyesali akan dosa yang telah dilakukan.
    • Tidak tergila-gila dengan dunia.
    • Tidak mencari atau mengharapkan pujian dari manusia
    • Meninggalkan sifat bermegah-megahan.
    • Meninggalkan sifat khianat dan menipu.
    • Meninggalkan sifat dengki.”

    Seterusnya Hatim berkata: “Kemudian aku pergi ke Masjid, kukemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku. Dan kubayangkan pula bahwa aku seolah-olah berdiri di atas titian Shiratul Mustaqim’ dan aku menganggap bahwa sembahyangku kali ini adalah sembahyang terakhir bagiku (karena aku rasa akan mati selepas sembahyang ini), kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.

    Setiap bacaan dan doa dalam sembahyang ku faham maknanya, kemudian aku rukuk dan sujud dengan tawaduk (merasa hina), aku bertasyahud (tahiyat) dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersembahyang selama 30 tahun.

    Ketika Isam mendengar menangislah ia sekuat-kuatnya karena membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim. Bagaimana dengan kita?

    ***

    (Diambil dari 1001 Kisah Teladan)

     
  • erva kurniawan 1:48 am pada 15 March 2014 Permalink | Balas  

    pemimpin1Nasihat Bagi Penguasa

    Mengatakan kebenaran kepada penguasa yang menyeleweng memang perlu keberanian yang tinggi, sebab resikonya besar. Bisa-bisa akan kehilangan kebebasan, mendekam dalam penjara, bahkan lebih jauh lagi dari itu, nyawa bisa melayang. Karena itu, tidaklah mengherankan ketika pada suatu saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh seorang sahabat perihal perjuangan apa yang paling utama, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Mengatakan kebenaran kepada penguasa yang menyeleweng.”

    Demikian sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang dikisahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i, Abu Daud, dan Tirmidzi, berdasarkan penuturan Abu Sa’id al-Khudry Radhiyallahu ‘anhu, dan Abu Abdillah Thariq bin Syihab al-Bajily al-Ahnasyi. Oleh sebab itu, sedikit sekali orang yang berani melakukannya, yakni mengatakan kebenaran kepada penguasa yang menyeleweng.

    Di antara yang sedikit itu (orang yang pemberani) terdapatlah nama Thawus al-Yamani. Ia adalah seorang tabi’in, yakni generasi yang hidup setelah para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bertemu dengan mereka dan belajar dari mereka. Dikisahkan, suatu ketika Hisyam bin Abdul Malik, seorang khalifah dari Bani Umayyah, melakukan perjalanan ke Mekah guna melaksanakan ibadah haji. Di saat itu beliau meminta agar dipertemukan dengan salah seorang sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hidup. Namun sayang, ternyata ketika itu tak seorang pun sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masih hidup. Semua sudah wafat. Sebagai gantinya, beliau pun meminta agar dipertemukan dengan seorang tabi’in.

    Datanglah Thawus al-Yamani menghadap sebagai wakil dari para tabi’in. Ketika menghadap, Thawus al-Yamani menanggalkan alas kakinya persis ketika akan menginjak permadani yang dibentangkan di hadapan khalifah. Kemudian ia langsung saja nyelonong masuk ke dalam tanpa mengucapkan salam perhormatan pada khalifah yang tengah duduk menanti kedatangannya. Thawus al-Yamani hanya mengucapkan salam biasa saja, “Assalamu’alaikum,” langsung duduk di samping khalifah seraya bertanya, “Bagaimanakah keadaanmu, wahai Hisyam?”

    Melihat perilaku Thawus seperti itu, khalifah merasa tersinggung. Beliau murka bukan main. Hampir saja beliau memerintahkan kepada para pengawalnya untuk membunuh Thawus. Melihat gelagat yang demikian, buru-buru Thawus berkata, “Ingat, Anda berada dalam wilayah haramullah dan haramurasulihi (tanah suci Allah dan tanah suci Rasul-Nya). Karena itu, demi tempat yang mulia ini, Anda tidak diperkenankan melakukan perbuatan buruk seperti itu!”

    “Lalu apa maksudmu melakukakan semua ini?” tanya khalifah. “Apa yang aku lakukan?” Thawus balik bertanya.

    Dengan geram khalifah pun berkata, “Kamu tanggalkan alas kaki persis di depan permadaniku. Kamu masuk tanpa mengucapkan salam penghormatan kepadaku sebagai khalifah, dan juga tidak mencium tanganku. Lalu, kamu juga memanggilku hanya dengan nama kecilku, tanpa gelar dan kun-yahku. Dan, sudah begitu, kamu berani pula duduk di sampingku tanpa seizinku. Apakah semua itu bukan penghinaan terhadapku?”

    “Wahai Hisyam!” jawab Thawus, “Kutanggalkan alas kakiku karena aku juga menanggalkannya lima kali sehari ketika aku menghadap Tuhanku, Allah ‘Azza wa Jalla. Dia tidak marah, apalagi murka kepadaku lantaran itu.”

    “Aku tidak mencium tanganmu lantaran kudengar Amirul Mukminin Ali Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata bahwa seorang tidak boleh mencium tangan orang lain, kecuali tangan istrinya karena syahwat atau tangan anak-anaknya karena kasih sayang.”

    “Aku tidak mengucapkan salam penghormatan dan tidak menyebutmu dengan kata-kata amiirul mukminin lantaran tidak semua rela dengan kepemimpinanmu; karenanya aku enggan untuk berbohong.”

    “Aku tidak memanggilmu dengan sebutan gelar kebesaran dan kun-yah lantaran Allah memanggil para kekasih-Nya di dalam Alquran hanya dengan sebutan nama semata, seperti ya Daud, ya Yahya, ya ‘Isa; dan memanggil musuh-musuh-Nya dengan sebutan kun-yah seperti Abu Lahab….”

    “Aku duduk persis di sampingmu lantaran kudengar Amiirul Mukminin Ali Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata bila kamu ingin melihat calon penghuni neraka, maka lihatlah orang yang duduk sementara orang di sekitarnya tegak berdiri.”

    Mendengar jawaban Thawus yang panjang lebar itu, dan juga kebenaran yang terkandung di dalamnya, khalifah pun tafakkur karenanya. Lalu ia berkata, “Benar sekali apa yang Anda katakan itu. Nah, sekarang berilah aku nasehat sehubungan dengan kedudukan ini!”

    “Kudengar Amiirul Mukminin Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata dalam sebuah nasehatnya,” jawab Thawus, “Sesungguhnya dalam api neraka itu ada ular-ular berbisa dan kalajengking raksasa yang menyengat setiap pemimpin yang tidak adil terhadap rakyatnya.”

    Mendengar jawaban dan nasehat Thawus seperti itu, khalifah hanya terdiam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia menyadari bahwa menjadi seorang pemimpin harus bersikap arif dan bijaksana serta tidak boleh meninggalkan nilai-nilai keadilan bagi seluruh rakyatnya. Setelah berbincang-bincang beberapa lamanya perihal masalah-masalah yang penting yang ditanyakan oleh khalifah, Thawus al-Yamani pun meminta diri. Khalifah pun memperkenankannya dengan segala hormat dan lega dengan nasehat-nasehatnya.

    ***

    Sumber : Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:33 am pada 13 March 2014 Permalink | Balas  

    sholat 2Jenazah Berubah Menjadi Babi Hutan

    Seorang anak mendatangi Rasulullah sambil menangis. Peristiwa itu sangat mengharukan Rasulullah S.A.W yang sedang duduk bersama-sama sahabat yang lain.

    “Mengapa engkau menangis wahai anakku?” tanya Rasulullah.

    “Ayahku telah meninggal tetapi tiada seorang pun yang datang melawat. Aku tidak mempunyai kain kafan, siapa yang akan memakamkan ayahku dan siapa pula yang akan memandikannya?” tanya anak itu.

    Segeralah Rasulullah memerintahkan Abu Bakar dan Umar untuk menjenguk jenazah itu. Betapa terperanjatnya Abu Bakar dan Umar, mayat itu berubah menjadi seekor babi hutan. Kedua sahabat itu lalu segera kembali melapor kepada Rasulullah S.A.W.

    Maka datanglah sendiri Rasulullah S.A.W ke rumah anak itu. Didoakan kepada Allah sehingga babi hutan itu kembali berubah menjadi jenazah manusia. Kemudian Nabi menyembahyangkannya dan meminta sahabat untuk memakamkannya. Betapa herannya para sahabat, ketika jenazah itu akan dimakamkan berubah kembali menjadi babi hutan.

    Melihat kejadian itu, Rasulullah menanyakan anak itu apa yang dikerjakan oleh ayahnya selama hidupnya.

    “Ayahku tidak pernah mengerjakan solat selama hidupnya,” jawab anak itu.

    Kemudian Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya, “Para sahabat, lihatlah sendiri. Begitulah akibatnya bila orang meninggalkan solat selama hidupnya. Ia akan menjadi babi hutan di hari kiamat.”

    ***

    Sumber : 1001 kisah teladan

     
  • erva kurniawan 5:12 am pada 7 March 2014 Permalink | Balas  

    insyaAllahInsya Allah

    Beberapa penduduk Mekkah datang ke Nabi Muhammad saw. bertanya tentang ruh, kisah ashabul kahfi dan kisah Dzulqarnain. Nabi menjawab, “Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan.” Keesokan harinya wahyu tidak datang menemui Nabi, sehingga Nabi gagal menjawab hal-hal yang ditanyakan. Tentu saja “kegagalan” ini menjadi cemoohan kaum kafir.

    Saat itulah turun ayat menegur Nabi, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhan-Mu jika kamu lupa dan katakanlah “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (QS 18: 24)

    Kata “Insya Allah” berarti “jika Allah menghendaki”. Ini menunjukkan bahwa kita tidak tahu sedetik ke depan apa yang terjadi dengan kita. Kedua, hal ini juga menunjukkan bahwa manusia punya rencana, Allah punya kuasa. Dengan demikian, kata “insya Allah” menunjukkan kerendahan hati seorang hamba sekaligus kesadaran akan kekuasaan ilahi.

    Dari kisah di atas kita tahu bahkan Nabi pun mendapat teguran ketika alpa mengucapkan insya Allah.

    Sayang, sebagian diantara kita sering melupakan peranan dan kekuasaan Allah ketika hendak berencana atau mengerjakan sesuatu. Sebagian diantara kita malah secara keliru mengamalkan kata “insya Allah” sebagai cara untuk tidak mengerjakan sesuatu. Ketika kita diundang, kita menjawab dengan kata “Insya Allah” bukan dengan keyakinan bahwa Allah yang punya kuasa tetapi sebagai cara berbasa-basi untuk tidak memenuhi undangan tersebut. Kita rupanya berkelit dan berlindung dengan kata “Insya Allah”. Begitu pula halnya ketika kita berjanji, sering kali kata “insya Allah” keluar begitu saja sebagai alat basa-basi pergaulan.

    Yang benar adalah, ketika kita diundang atau berjanji pada orang lain, kita ucapkan “insya Allah”, lalu kita berusaha memenuhi undangan ataupun janji itu. Bila tiba-tiba datang halangan seperti sakit, hujan, dan lainnya, kita tidak mampu memenuhi undangan ataupun janji itu, maka disinilah letak kekuasaan Allah. Disinilah baru berlaku makna “insya Allah”.

    ***

    Haris Satriawan

     
  • erva kurniawan 3:57 am pada 5 March 2014 Permalink | Balas  

    nabi-muhammad-saw1Mengenang Akhlak Nabi Muhammad SAW

    Setelah Nabi wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya – tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, ceritakan padaku akhlak Muhammad. Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.

    Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, ceritakan padaku keindahan dunia ini!. Badui ini menjawab, bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini… Ali menjawab, engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)

    Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi yang sering disapa Khumairah oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur’an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur’an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi itu bagaikan Al-Qur’an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur’an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu’minun[23]: 1-11.

    Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.

    Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi, Aisyah hanya menjawab, ah semua perilakunya indah. ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu. Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.

    Nabi Muhammad jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, mengapa engkau tidur di sini.Nabi Muhammmad menjawab, aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu. Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi mengingatkan, berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya. Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.

    Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi.

    Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.

    Nabi Muhammad juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul selalu memujinya. Abu Bakar-lah yang menemani Rasul ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sakit. Tentang Umar, Rasul pernah berkata, syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain.Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta’wil) mimpimu itu? Rasul menjawab ilmu pengetahuan.

    Tentang Utsman, Rasul sangat menghargai Ustman karena itu Utsman menikahi dua putri nabi, hingga Utsman dijuluki dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya. Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik.

    Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah…ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.

    Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad. Buktinya, dalam Al-Qur’an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad, Allah menyapanya dengan “Wahai Nabi”. Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.

    Para sahabatpun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap rasul. Mereka ingin Rasul menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: “Angkat Al-Qa’qa bin Ma’bad sebagai pemimpin.” Kata Umar, “Tidak, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis.” Abu Bakar berkata ke Umar, “Kamu hanya ingin membantah aku saja,” Umar menjawab, “Aku tidak bermaksud membantahmu.” Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal-amal kamu dan kamu tidak menyadarinya (al-hujurat 1-2)

    Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, “Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia.” Umar juga berbicara kepada Nabi dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi.

    Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi’ah. Ia berkata pada Nabi, “Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami”

    Nabi mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi bertanya, “Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?” “Sudah.” kata Utbah. Nabi membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.

    Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi dengan sabar mendegarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!

    Ketika Nabi tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi bahwa Nabi akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi? “Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu.” Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi telah menyerap di sanubari kita atau tidak.

    Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi berkata pada para sahabat, “Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada di antara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!” Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, “Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini.” Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap “membereskan” orang itu. Nabi melarangnya. Nabi pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah Nabi. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi keheranan ketika Nabi meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul berikan pada mereka.

    Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi. Nabi berkata, “lakukanlah!” Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi dan memeluk Nabi seraya menangis, “Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah.” Seketika itu juga terdengar ucapan, “Allahu Akbar” berkali-kali. sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sebelum Allah memanggil Nabi.

    Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia. Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na’udzu billah…..

    Nabi Muhammad ketika saat haji Wada’, di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, “Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?” Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi melanjutkan, “Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah ku sampaikan pada kalian wahyu dari Allah…..?” Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, “benar ya Rasul!”

    Rasul pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, “Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah!”. Nabi meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah. “Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah”

    ***

    Haris Satriawan

     
  • erva kurniawan 4:54 am pada 20 February 2014 Permalink | Balas  

    tetes-airDan Umar pun Menangis

    Pernahkah anda membaca dalam riwayat akan Umar bin Khatab menangis? Umar bin Khatab terkenal gagah perkasa sehingga disegani lawan maupun kawan. Bahkan konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau Syeitan pun amat segan dengan Umar sehingga kalau Umar lewat di suatu jalan, maka Syeitan pun menghindar lewat jalan yang lain. Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat Islam. Karena itu kalau Umar sampai menangis tentulah itu menjadi peristiwa yang menakjubkan.

    Mengapa “singa padang pasir” ini sampai menangis?

    Umar pernah meminta izin menemui Rasulullah. Ia mendapatkan beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku.

    Rasul yang mulia bertanya, “mengapa engkau menangis ya Umar?” Umar menjawab, “bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera”.

    Nabi berkata, “mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya.”

    Indah nian perumpamaan Nabi akan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara; hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya.

     
  • erva kurniawan 6:35 am pada 15 February 2014 Permalink | Balas  

    pemimpin1Jejak Indah Sang Pemimpin

    Malam telah pekat, selimut-selimut semakin dirapatkan para pemiliknya untuk menambah lelap. Dia mengendap-endap keluar dari petak rumah sederhana, menyusuri setiap lorong perkampungan Madinah. Ditajamkannya pendengaran, adakah rakyatnya menyelami derita yang luput dari perhatian. Diawaskannya mata, terdapatkah rakyat alami duka akibat kepemimpinannya.

    Sendirian, dia memamah malam, langkahnya berjinjit khawatir mengganggu istirahat rakyat yang begitu dicintai. Dari setiap detik yang mengalir, selalu kecemasan membayang di wajahnya, jangan-jangan di rumah ini ada janda dengan anak-anak yang kelaparan, atau khawatir di rumah selanjutnya orang tua terkapar kesakitan tanpa sanak saudara, adakah di rumah itu yang sakit hati karena pajak terlalu tinggi. Sendirian dia menikmati paruh malam, menyulam harapan keadaan rakyat sentosa senantiasa, merajut do’a agar rakyat dibawah naungan perlindungannya dilingkupi pilinan kedamaian. Dialah Amirul Mukmini Ummar bin Khattab.

    Suatu periode dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun. Pepohonan mengering, tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam seperti abu.

    Putus asa mendera dimana-mana. Saat itu, Umar sang pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya seksama. Setiap hari diinstruksikan menyembelih onta-onta potong dan disebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong ribuan rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran ditanganku ini”.

    Sejarah menorehkan kisah Umar yang mengharamkan daging, samin dan susu untuk perutnya, khawatir makanan untuk rakyatnya berkurang. Ia, si pemberani itu hanya menyantap minyak zaitun dengan sedikit roti. Akibatnya, perutnya terasa panas dan kepada pembantunya ia berkata “Kurangilah panas minyak itu dengan api”. Minyak pun dimasak, namun perutnya kian bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah demikian, ditabuh perutnya dengan jemari seraya berkata, “Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak, hingga rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar”.

    Pada saat kematian menjelang lewat tikaman pisau Abu Lu’Lu’a, ringan ia bertutur, “Alhamdulillah, bahwa aku tidak dibunuh oleh seorang muslim”. Mata yang jarang terlelap karena mengutamakan rakyatnya itu menutup untuk selama-lamanya. Umar pun syahid, dalam usia 60 tahun. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raajiiun.

    Pemilu, tinggal menunggu hitungan bulan, sungguh kami merindukan sosok pemimpin yang meneladani Umar dalam mengayomi rakyatnya.

    ***

    Diambil dari artikel eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 9:05 am pada 13 February 2014 Permalink | Balas  

    kurmaSebutir Kurma

    Selesai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua didekat mesjidil Haram.

    Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa. 4 Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali. Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

    “Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,” kata malaikat yang satu.

    “Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yang lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,” jawab malaikat yang satu lagi.

    Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya.

    “Astaghfirullahal adzhim” Ibrahim beristighfar.

    Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya. Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda.

    “4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang?” tanya Ibrahim.

    “Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu.

    “Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan?”. Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yang dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat.

    “Nah, begitulah” kata ibrahim setelah bercerita, “Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?”.

    “Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya. “Dimana alamat saudara-saudaramu? Biar saya temui mereka satu persatu.”

    Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.

    4 bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap.

    “Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain.”

    “O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.”
    ***
    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:16 am pada 4 February 2014 Permalink | Balas  

    siluet sungaiAl-Bashri dan Gadis Kecil

    Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak. Rambutnya tampak kusut dan terurai, tak beraturan.

    Al-Bashri tertarik penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut dalam iring-iringan. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu. Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya. “Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini.” Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil, “Ayahmu juga sebelumnya tak mengalami peristiwa seperti ini.”

    Keesokan harinya, usai salat subuh, ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah makan ayahnya. “Gadis kecil yang bijak,” gumam Al-Bashri. “Aku akan ikuti gadis kecil itu.”

    Gadis kecil itu tiba di makan ayahnya. Al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-geriknya secara diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah makam. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar sekali oleh Al-Bashri.

    “Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur? Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya untukmu? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah? Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah? Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu minum tadi malam? Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu semalam, Ayah?”

    “Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalam, ayah? Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan tadi malam Ayah? Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa yang menjawab panggilanmu tadi malam Ayah? Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, siapakah yang menyuapimu semalam, Ayah? kemarin malam aku memasakkan aneka macam makanan untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu?”

    Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tak tahan menahan tangisnya. Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu.

    “Hai, gadis kecil! jangan berkata seperti itu. Tetapi, ucapkanlah, “Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah, Ayah? Kami kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah tercabik-cabik, Ayah? Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, Ayah?”

    “Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanyakan imannya. Ada yang menjawab dan ada juga yang tidak menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa mempertanggungjawabkan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?”

    “Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?”

    “Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sebagai tulang-belulang berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?”

    “Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar menyesal dengan  tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?”

    “Jika kupanggil, engkau selalu menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah?”

    “Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti.”

    Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata, “Betapa indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari lelap lalai.”

    Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.

    ***

    Maraji’: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah (Al-Islam)

     
  • erva kurniawan 6:57 am pada 1 February 2014 Permalink | Balas  

    sholat-subuhSuara Emas Dari Ethiopia

    Suatu malam, jauh sepeninggal Rasulullah, Bilal bin Rabbah, salah seorang sahabat utama, bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya itu, Bilal bertemu dengan Rasulullah.”Bilal, sudah lama kita berpisah, aku rindu sekali kepadamu,” demikian Rasulullah berkata dalam mimpi Bilal.”Ya, Rasulullah, aku pun sudah teramat rindu ingin bertemu,” kata Bilal masih dalam mimpi-Nya. Setelah itu, mimpi tersebut berakhir begitu saja. Dan Bilal bangun dari tidurnya dengan hati yang gulana. Ia dirundung rindu.

    Keesokan harinya, ia menceritakan mimpi tersebut pada salah seorang sahabat lainnya. Seperti udara, kisah mimpi Bilal segera memenuhi ruangan kosong di hampir seluruh penjuru kota Madinah. Hari itu, Madinah benar-benar terbungkus rasa haru. Kenangan semasa Rasulullah masih bersama mereka kembali hadir, seakan baru kemarin saja Rasulullah tiada. Satu persatu dari mereka sibuk sendiri dengan kenangannya bersama manusia mulia itu.

    Menjelang senja, penduduk Madinah seolah bersepakat meminta Bilal mengumandangkan adzan Maghrib,  padahal Bilal sudah cukup lama tidak menjadi muadzin sejak Rasulullah tiada. Seolah, penduduk Madinah ingin menggenapkan kenangannya hari itu dengan mendengar adzan yang dikumandangkan Bilal. Akhirnya, setelah diminta dengan sedikit memaksa, Bilal pun menerima dan bersedia menjadi muadzin kali itu. Senjapun datang mengantar malam, dan Bilal mengumandangkan adzan. Tatkala, suara Bilal terdengar, seketika, Madinah seolah tercekat oleh berjuta memori. Tak terasa hampir semua penduduk Madinah meneteskan air mata. “Marhaban ya Rasulullah,” bisik salah seorang dari mereka.

    Sebenarnya, ada sebuah kisah yang membuat Bilal menolak untuk mengumandangkan adzan setelah Rasulullah wafat. Waktu itu, beberapa saat setelah malaikat maut menjemput kekasih Allah, Muhammad, Bilal mengumandangkan adzan. Jenazah Rasulullah, belum dimakam-kan. Satu persatu kalimat adzan dikumandangkan sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadarrasulullah.” Tangis penduduk Madinah yang mengantar jenazah Rasulullah pecah. Seperti suara guntur yang hendak membelah langit Madinah.

    Kemudian setelah, Rasulullah telah dimakamkan, Abu Bakar meminta Bilal untuk adzan. “Adzanlah wahai Bilal,” perintah Abu

    Bakar. Dan Bilal menjawab perintah itu, “Jika engkau dulu membe-baskan demi kepentinganmu, maka aku akan mengumandangkan adzan. Tapi jika demi Allah kau dulu membebaskan aku, maka biarkan aku menentukan pilihanku”. “Hanya demi Allah aku membebaskanmu Bilal,” kata Abu Bakar. “Maka biarkan aku memilih pilihanku,” pinta Bilal. “Sungguh, aku tak ingin adzan untuk seorang pun sepeninggal Rasulullah,” lanjut Bilal.

    “Kalau demikian, terserah apa maumu,” jawab Abu Bakar.

    Bilal bin Rabah, terakhir melaksanakan tugasnya sebagai muadzin saat Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah. Saat

    itu, Bilal sudah bermukim di Syiria dan Umar mengunjunginya. Saat itu, waktu shalat telah tiba dan Umar meminta Bilal untuk

    mengumandangkan adzan sebagai tanda panggilan shalat. Bilal pun naik ke atas menara dan bergemalah suaranya.

    Semua sahabat Rasulullah, yang ada di sana menangis tak terkecuali. Dan di antara mereka, tangis yang paling kencang

    dan keras adalah tangis Umar bin Khattab. Dan itu, menjadi adzan terakhir yang dikumandangan Bilal, hatinya tak kuasa

    menahan kenangan manis bersama manusia tercinta, nabi akhir zaman.

    ***

    Diambil dari milis

     
    • Suryadi Achmad 6:50 am pada 9 Februari 2014 Permalink

      Ass wr wb, Saya ada terima email dari sepupu saya yang intinya sama yaitu tentang adzan terakhir dari Bilal. Walaupun ada sedikit berbeda, tetapi intinya sama.

      Wass, Suryadi

  • erva kurniawan 8:36 am pada 27 December 2013 Permalink | Balas  

    pertolongan-AllahKembali Kepada Allah SWT

    Bismillahirrahmanirrahim

    Sesungguhnya umat yang jauh dari manhaj Alquran dan sunah adalah umat yang akan menuai kehancuran dan azab. Kita sebagai bangsa muslim, meskipun mendapat perlakuan zalim dari musuh-musuh Islam, masih saja banyak di antara kita yang berkecimpung dalam kesesatan dan enggan kembali kepada Allah Tabaraka wa Taala. Mereka ini adalah orang-orang yang ikut berpartisipasi dalam menzalimi pihak lain. Akibatnya, kerusakan tersebar di tengah kaum muslimin, pencurian merajalela, minum-minuman keras merebak, tempat-tempat bahaya menjadi sasaran, para wanita keluar dengan telanjang tanpa rasa malu dan perlindungan, dan zina pun marak. Padahal, Rasululah saw. telah bersabda yang artinya, “Apabila riba dan zina telah nampak dalam sebuah desa, mereka telah halal untuk mendapatkan azab Allah.”

    Apabila kita berkeinginan untuk merealisasikan prinsip ideal dalam sebuah masyarakat, tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Wahai Rab kami, terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dan terimalah taubat kami karena sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

    Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Apakah di sana ada kesempurnaan, sementara jiwa kita dipenuhi dengan rasa iri, kebencian, dan permusuhan? Apakah di sana ada kesempurnaan, sementara kita masih mabuk dalam luapan minuman keras? Apakah di sana ada kesempurnaan, sementara kita memakan daging sebagian kita dengan sebagian yang lain?

    Bila kita ingin mengobati itu semua, merilah kita kembali kepada Allah Tabaraka wa Taala. Marilah kita lantunkan kalimat lailaaha Illallah muhammadar rasulullah. Marilah kita perbaiki hubungan kita dengan Allah. Marilah kita mendidik diri kita dan anak-anak kita dengan pendidikan Islam. Marilah kita tolong-menolong atas dasar kebaikan dan takwa dan jangan tolong menolong atas dasar dosa dan permusuhan.

    Marilah kita mengambil pelajaran dan nasehat dari para sahabat besar yang telah dididik Rasulullah saw. Di antaranya adalah seorang sahabat wanita mulia, Sahlah binti Mulhan, yang ketika menikah maharnya adalah kalimat tauhid “laa ilaaha illallah”. Sebuah kalimat yang mampu menggoncang gunung-gunung.

    Nabi Musa a.s. berkata, “Ya Rab, ajarilah aku sesuatu yang dengannya aku berdoa kepada-Mu dan menyebut-MU.” Allah Tabaraka wa Taala berfirman, “Katakanlah, laa ilaaha illallah.” Musa berkata, “Wahai Rab, semua hamba-Mu mengatakannya.” Maka, Allah yang telah meninggikan langit tanpa tiang berfirman, “Hai Musa, demi izah dan kebesaran-Ku, seandainya langit yang tujuh dan siapa yang ada di dalamnya dan bumi-bumi dan siapa yang ada di dalamnya diletakkan dalam sebuah telapak dan saya meletakkan laa ilaaha illallah dalam telapak yang lain, maka akan condonglah telapak yang terdapat kalimat lailaaha lllallah.”

    Sahabat mulia, Sahlah binti Mulhan, menikah dengan Abu Thalhah dan Allah menganugerakan kepada mereka seorang anak. Mereka memberi nama anak ini dengan Umair. Suatu hari anak tersebut sakit keras. Sebelum Abu Thalhah berangkat bekerja, ia mencium anak itu. Tidak berapa lama kemudian Allah Yang Maha Kuasa pun memanggilnya. Marilah kita melihat apa yang dilakukan Sayyidah Sahlah r.a. ketika kematian telah menjemput anaknya! Apakah ia merobek-robek pakaiannya, apakah ia menampar pipinya? Apakah ia menyeru dengan seruan jahiliyah? Tidak, namun yang ia katakan adalah innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun (sesungguhnya kita semuanya milik Allah, dan kita semua akan kembali kepadanya), tidak ada tempat lari dari pertemuan kepada Allah.

    “Kuburan adalah pintu dan semua manusia akan memasukinya. Wahai umurku, setelah pintu niscaya terdapat rumah. Rumah itu adalah rumah kenikmatan jika aku berbuat dengan yang apa diridhai Allah, namun bila aku menyelisihinya, neraka adalah tempat tinggalnya. Keduanya adalah tempat kembali. Tidak ada manusia yang tinggal selain di kedua tempat tersebut, maka lihatlah dirimu, rumah manakah yang engkau pilih? Seorang hamba bila beramal dan memberikan pemberian, maka tidak ada baginya kecuali surga Firdaus, sementara Rab itu Maha Pengampun.”

    Sahlah kemudian memandikan jasad anaknya, mengafani, dan menyolatkannya, setelah itu mengkuburkannya. Lalu, pada malam harinya suaminya pulang dari bekerja. Ia lalu mempersiapkan dirinya dan makanan untuk suaminya. Suaminya pun menikmati makanan yang dihidangkannya, lalu ia bertanya, “Bagaimanakah keadaan Umair, wahai istriku?” Perkataan yang sungguh menakjubkan, namun jawaban yang diberikan Sahlah jauh lebih menakjubkan. “Bagaimana keadaaannya?” Maka bagaimanakah jawaban yang diberikan sahabat yang telah mengikat tangan Rasulullah saw. ini? Ia berkata, “Wahai Abu Thalhah, sesungguhnya Umair tengah menikmati malam harinya, ia tidak merasakan lelah, ia tengah tidur dengan tenang.”

    Manakala Rasulullah saw. berada dalam sakaratul maut ia membasuh wajahnya dengan air yang dingin. Beliau berkata, “Subhanallah (maha suci Allah) sesungguhnya kematian saat-saat sekarat. Ya Allah, mudahkanlah sakaratul maut untuk kami.” Saat itu sayyidah Fathimah tengah menangis, “Alangkah sedihnya wahai ayahanda.” Rasulullah saw. kemudian bersabda, “Wahai Fathimah, tidak ada kesedihan atas ayahmu setelah hari ini.”

    Bilal bin Rabah tatkala berada dalam sakaratul maut, istrinya berkata, “Alangkah sedihnya.” Bilal kemudian membuka matanya dan berkata, “Katakanlah, ‘Alangkah gembiranya saya akan berjumpa dengan para kekasihku, muhammad dan para sahabatnya’.”

    Tatkala Ibrahim a.s. tengah tidur di atas kasur kematiannya, datanglah malaikat pencabut nyawa. Ibrahim lalu berkata kepadanya, “Engkau datang ataukah akan menyabut nyawa wahai malaikat maut?” Malaikat maut menjawab, “Saya datang untuk mencabut nyawamu wahai kekasih Ar-Rahman.” Maka, berkatalah Ibrahim, “Wahai malaikat maut, apa pendapatmu tentang seorang kekasih yang mematikan kekasihnya?” Maka, Allah Tabaraka wa Taala mewahyukan jawaban kepada malaikat maut. Berkatalah malaikat maut, “Wahai kekasih Ar-Rahman, As-Salam (Allah) membacakan salam kepadamu dan berkata kepadamu, ‘Apakah pendapatmu tentang seorang kekasih yang enggan bertemu dengan kekasihnya?’ Allah berfirman yang artinya, ‘Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya, Itulah yang kamu selalu daripadanya’.” (Qaf: 19).

    Marilah kita kembali kepada kisah Abu Thalhah, “Bagaimana keadaan Umair?” Sahlah lalu berkata kepadanya, “Ia tidur malam dengan tenang dan tidak merasakan lelah.” Seandainya Sahlah adalah salah satu wanita yang hidup pada masa sekarang, maka dunia telah berbalik, atas menjadi bawah.

    Akidah adalah dasar utama untuk mendidik jiwa. Akidah inilah yang mendidik jiwa merasakan pengawasan Allah SWT. Setelah itu mereka berdua tidur. Ketika Abu Thalhah hendak berangkat salat fajar ke masjid, ia bertanya kepada istrinya, “Di manakah Umair? Saya hendak menciumnya.” Maka apakah jawaban yang diberikan Sahlah, apakah ia akan berdusta? Sungguh mereka tidak mengenal perkataan dusta dan bohong. Rasululalh telah mendidik mereka. Ia menjawab, “Wahai Abu Thalhah, sesungguhnya saya dalam kesedihan.” Abu Thalhah bertanya, “Mengapa?” Ia menjawab, “Tetangga telah meminjamkan sesuatu kepdaku, tetapi ia kemudian mengambilnya kembali.” Abu Talhah berkata, “Apakah engkau akan sedih bila mereka mengambil titipanya?” Maka berkatalah Sahlah, “Apakah engkau akan sedih wahai Abu Thalhah bila Allah mengambil titipan-Nya dari kita?”

    Maka saat itu tidak terdengar dari lisan Abu Thalhah, melainkan kalimat innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiun. Ia kemudian pergi ke masjid untuk menunaikan salat fajar berjamaah bersama Rasulullah saw. Setalah salat usai, ia menceritakan ucapan istrinya kepada Rasulullah. Maka, nampaklah senyum keridaan dari kedua bibir beliau, atas apa yang telah diperbuat Sahlah r.a., lalu beliau mendoakan Abu Thalhah. Doa yang membuka pintu langit yang tinggi. “Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua wahai Aba Thalhah”

    Seorang perawi hadis berkata, “Setelah itu saya menyaksikan Abu Thalhah memiliki 10 anak laki-laki yang semuanya hafal Alquran dan tidak ada di antara mereka yang memiliki kendaraan, bangunan, atau harta yang berlimpah. Sesungguhnya mereka menjaga kitab Allah Tabaraka wa Taala. Ini adalah kemuliaan dan ini adalah izah. Ini adalah doa Rasulullah saw. untuk Aba Thalhah.”

    Seandainya para wanita di dunia ini seperti Sahlah, niscaya kaum wanita akan melebihi kaum pria dan pintu surga selalu terbuka serta akan merindukannya. Wallahu a’lam bish-shawab.

    ***

    Dari Sahabat: Seno

     
  • erva kurniawan 2:56 am pada 10 December 2013 Permalink | Balas  

    Ritual Masa Jahiliyah 

    danau-siluetPada masa jahiliyah, apabila sungai nil tidak mengalir, maka setiap tahun dilemparlah tumbal berupa seorang perawan ke dalam sungai tersebut.

    Ketika Islam datang, sungai nil yang seharusnya sudah waktunya mengalir, trnyata tidak kunjung mengalir. Penduduk mesir pun kemudian mendatangi Sahabat Amr bin Ash dan melaporkan, bahwa sungai nil kering sehingga harus diberi tumbal, dengan cara melempar seorang perawan yang dilengkapi dengan perhisan dan pakaian terbaiknya.

    Amr bin Ash berkata kepada mereka : “Sesungguhnya hal itu tidak boleh dilakukan, karena Islam telah menghapus tradisi tersebut”. Maka penduduk mesirpun bertahan selama 3 bulan dengan tidak mengalirnya sungai nil, dan mereka benar-benar menderita. Amr bin Ash pun segera menulis surat kepada Amirul mu’minin Umar bin Khoththob RA, untuk menceritakan peristiwa itu.

    Dalam surat jwban untuk Amr, Umar berkata : “Engkau benar bahwa islam telah menghapus tradisi tersebut. Aku juga mengirim secarik kertas, lemparkan kertas itu ke sungai nil !”.

    Amr membuka kertas tersebut sebelum melemparnya ke sungai nil. Ternyata kertas tersebut berisi tulisan tangan amirul mu’minin Umar bin Khoththob untuk sungai nil.

    Di kertas itu Umar mengatakan : “Dari hamba Alloh, Umar bin Khoththob. Kepada sungai nil di mesir, amma ba’du , Wahai Nil, jika sebelum ini engkau mengalir karena keinginanmu sendiri, maka janganlah mengalir. Namun jika engkau mengalir karena atas kehendak Alloh, maka kami memohon kepada Alloh yang maha Esa dan maha Perkasa untuk membuatmu mengalir”. Amr pun melempar kertas itu ke sungai nil, sebagai ganti dari melempar seorg perawan.

    Keesokan harinya penduduk mesir telah mendapati sungai telah mengalirkan airnya kembali. Dan mulai saat itu, tidak ada lagi ritual melempar perawan untuk sungai nil di kota mesir.

    Subhanallah..

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 5:19 am pada 5 December 2013 Permalink | Balas  

    muhammad-2Hari Terakhir Rasulullah

    Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya.

    Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.”

    Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,”keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya didunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu ru mah Rasulullah masih tertutup. Sedang didalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

    Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya.

    Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

    Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”

    “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

    “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

    Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

    “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

    “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi.

    “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

    “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

    Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrai’l melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

    “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”

    Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-oran g lemah di antaramu.”

    Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

    “Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi.

    Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • lazione budy 6:05 am pada 5 Desember 2013 Permalink

      “Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku”

      saat ajal pun Rosulloh masih mengingat umatnya. Subhanallah..

    • abu jibraltar al_maqdisi shaopie satriani 2:38 pm pada 7 Desember 2013 Permalink

      Itulah…..Rasul yg selalu memikirkan umatnya walau ruh sdh diAMBIL……barangsiapa mencintai sunnahku berarti umatku……dsblknya…….apalagi sampai menghina beliau………ALLAHU AKBAR

  • erva kurniawan 3:33 am pada 11 November 2013 Permalink | Balas  

    pengantin muslimPengantin Sederhana

    Oleh: Syaefudin Simon

    Ketika Nabi Muhammad menikahkan Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, beliau mengundang Abu Bakar, Umar, dan Usamah untuk membawakan “persiapan” Fatimah. Mereka bertanya-tanya, apa gerangan yang dipersiapkan Rasulullah untuk putri kinasih dan keponakan tersayangnya itu? Ternyata bekalnya cuma penggilingan gandum, kulit binatang yang disamak,kendi, dan sebuah piring.

    Mengetahui hal itu, Abu Bakar menangis. “Ya Rasulullah. Inikah persiapan untuk Fatimah?” tanya Abu Bakar terguguk. Nabi Muhammad pun menenangkannya, “Wahai Abu Bakar. Ini sudah cukup bagi orang yang berada di dunia.”

    Fatimah, sang pengantin itu, kemudian keluar rumah dengan memakai pakaian yang cukup bagus, tapi ada 12 tambalannya. Tak ada perhiasan,apalagi pernik-pernik mahal.

    Setelah menikah, Fatimah senantiasa menggiling gandum dengan tangannya, membaca Alquran dengan lidahnya, menafsirkan kitab suci dengan hatinya, dan menangis dengan matanya.  Itulah sebagian kemuliaaan dari Fatimah. Ada ribuan atau jutaan Fatimah yang telah menunjukkan kemuliaan akhlaknya. Dari mereka kelak lahir ulama-ulama ulung yang menjadi guru dan rujukan seluruh imam, termasuk Imam Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali.

    Bagaimana gadis sekarang? Mereka, memang tak lagi menggiling gandum, tapi menekan tuts-tuts komputer. Tapi bagaimana lidah, hati, dan matanya? Bulan lalu, ada seorang gadis di Bekasi, yang nyaris mati karena bunuh diri. Rupanya ia minta dinikahkan dengan pujaan hatinya dengan pesta meriah. Karena ayahnya tak mau, dia pun nekat bunuh diri dengan minum Baygon. Untung jiwanya terselamatkan. Seandainya saja tak terselamatkan, naudzubillah min dzalik! Allah mengharamkan surga untuk orang yang mati bunuh diri.  Si gadis tadi rupanya menjadikan kemewahan pernikahannya sebagai sebuah prinsip hidup yang tak bisa dilanggar. Sayang, gadis malang itu mungkin belum menghayati cara Rasulullah menikahkan putrinya. Pesta pernikahan putri Rasulullah itu menggambarkan kepada kita, betapa kesederhanaan telah menjadi “darah daging” kehidupan Nabi yang mulia. Bahkan ketika “pesta pernikahan” putrinya, yang selayaknya diadakan dengan meriah, Muhammad tetap menunjukkan kesederhanaan.

    Bagi Rasulullah, membuat pesta besar untuk pernikahan putrinya bukanlah hal sulit. Tapi, sebagai manusia agung yang suci, “kemegahan” pesta pernikahan putrinya, bukan ditunjukkan oleh hal-hal yang bersifat duniawi. Rasul justru menunjukkan “kemegahan” kesederhanaan dan “kemegahan” sifat qanaah, yang merupakan kekayaan hakiki. Rasululllah bersabda, “Kekayaan yang sejati adalah kekayaan iman, yang tecermin dalam sifat qanaah”.

    Iman, kesederhanaan, dan qanaah adalah suatu yang tak bisa dipisahkan. Seorang beriman, tecermin dari kesederhanaan hidupnya dan kesederhanaan itu tecermin dari sifatnya yang qanaah. Qanaah adalah sebuah sikap yang menerima ketentuan Allah dengan sabar; dan menarik diri dari kecintaan pada dunia. Rasulullah bersabda, “Qanaah adalah harta yang tak akan hilang dan tabungan yang tak akan lenyap.”

    Wallahu ‘alam bish-shawab.

     
  • erva kurniawan 1:14 am pada 15 October 2013 Permalink | Balas  

    Perjalanan Ma’rifatullah

    Tersebutlah Asy Syibli, seorang murid Imam Ali Zainal ‘Abidin. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, ia segera menemui Ali untuk menyampaikan pengalaman hajinya. Terjadilah percakapan di antara mereka.

    “Wahai Syibli, bukankah engkau telah selesai menunaikan ibadah haji?,” tanya Ali. Ia menjawab, “Benar, wahai Guru.”

    “Apakah engaku berhenti di Miqat, lalu menanggalkan semua pakaian yang terjahit, dan kemudian mandi?” Asy Syibli menjawab, “Benar.”

    “Ketika berhenti di Miqat, apakah engkau bertekad untuk menanggalkan semua pakaian maksiat dan menggantinya dengan pakaian taat? Ketika menanggalkan semua pakaian terlarang itu, adakah engkau pun menanggalkan sifat riya, nifaq serta segala syubhat? Ketika mandi sebelum memulai ihram, adakah engkau berniat membersihkan dari segala pelanggaran dan dosa?”

    Asy Syibli menjawab, “Tidak.”

    “Kalau begitu, engkau tidak berhenti di Miqat, tidak menanggalkan pakaian yang terjahit, dan tidak pula membersihkan diri!”

    Ali bertanya kembali, “Ketika mandi dan berihram serta mengucapkan niat, adakah engkau bertekad untuk membersihkan diri dengan cahaya tobat? Ketika niat berihram, adakah engkau mengharamkan atas dirimu semua yang diharamkan Allah? Ketika mulai mengikatkan diri dalam ibadah haji, apakah engkau rela melepaskan semua ikatan selain Allah?”

    “Tidak,” jawabnya.

    “Kalau begitu, engkau tidak membersihkan diri, tidak ber-ihram, tidak pula mengikatkan diri dalam haji!”

    Bukankah engkau telah memasuki Miqat, lalu shalat dua rakaat, dan setelah itu engkau mulai ber-talbiyah? “Ya, benar.”

    Apakah ketika memasuki Miqat engkau meniatkannya sebagai ziarah menuju keridhaan Allah? Ketika shalat dua rakaat, adakah engkau berniat mendekatkan diri kepada Allah? “Tidak wahai Guru.”

    “Kalau begitu engkau tidak memasuki Miqat, tidak ber-talbiyah dan tidak shalat ihram dua rakaat!,” tegas Ali Zainal ‘Abidin.

    Apakah engkau memasuki Masjidil Haram, memandang Kabah serta shalat di sana? “Benar.”

    Ketika memasuki Masjidil Haram, apakah engkau berniat mengharamkan dirimu segala macam ghibah? Ketika sampai di Mekah, apakah engkau bertekad untuk menjadikan Allah satu-satunya tujuan? “Tidak,” jawabnya.

    Sesungguhnya, engkau belum memasuki Masjidil Haram, tidak memandang Kabah, serta tidak shalat pula di sana!

    Ali bertanya kembali, “Apakah engkau telah ber-thawaf dan berniat untuk berjalan serta berlari menuju keridhaan Allah? “Tidak.”

    “Kalau begitu, engkau tidak ber-thawaf dan tidak pula menyentuh rukun-rukunnya!”

    Tanpa bosan Ali kembali bertanya, “Apakah engkau berjabat tangan dengan Hajar Aswad dan shalat di Maqam Ibrahim?” Dijawabnya, “Benar.”

    Mendengar jawaban itu, Ali Zainal ‘Abidin menangis, seraya berucap, “Oooh, barangsiapa berjabat tangan dengan Hajar Aswad, seakan ia berjabat tangan dengan Allah. Maka ingatlah, janganlah sekali-kali engkau menghancurkan kemuliaan yang telah diraih, serta membatalkan kehormatanmu dengan aneka dosa!”

    Cucu Rasulullah SAW ini terus mencecar muridnya. “Saat berdiri di Maqam Ibrahim, apakah engkau bertekad untuk tetap berada di jalan taat serta menjauhkan diri dari maksiat? Ketika shalat dua rakat di sana, apakah engkau bertekad untuk mengikuti jejak Ibrahim serta menentang semua bisikan setan?” “Tidak.”

    “Kalau begitu engkau tidak berjabat tangan dengan Hajar Aswad, tidak berdiri di Maqam Ibrahim, tidak pula shalat dua rakaat!”

    Lanjutnya, “Apakah ketika melakukan Sa’i, antara Shafa dan Marwah, engkau menempatkan diri di antara harapan akan rahmat Allah dan rasa takut menghadapi murka-Nya?” “Tidak,” jawab Asy Syibli.

    “Kalau begitu, engkau tidak melakukan perjalanan antara dua bukit itu! Ketika pergi ke Mina, apakah engkau bertekad agar orang-orang merasa aman dari gangguan lidah, hati, serta tanganmu?” “Tidak.”

    Ali menggelengkan kepala, “Kalau begitu, engkau belum ke Mina! Apakah engkau telah Wukuf di Arafah, mendaki Jabal Rahmah, mengunjungi Wadi Namirah, serta memanjatkan doa-doa di bukit Shakharaat?” “Benar seperti itu.”

    “Ketika Wukuf di Arafah, apakah engkau menghayati kebesaran Allah, serta berniat mendalami ilmu yang dapat mengantarkanmu kepada-Nya? Apakah ketika itu engkau merasakan kedekatan yang demikian dekat denganmu? Ketika mendaki Jabal Rahmah, apakah engkau mendambakan Rahmat Allah bagi setiap Mukmin? Ketika berada di Wadi Namirah, apakah engkau berketetapan hati untuk tidak meng-amar-kan yang ma’ruf, sebelum engkau meng-amar-kannya pada dirimu sendiri? Serta tidak melarang seseorang melakukan sesuatu sebelum engkau melarang diri sendiri? Ketika beraad di antara bukit-bukit sana, apakah engkau sadar bahwa tempat itu akan menjadi saksi segala perbutanmu?” “Tidak.”

    “Kalau begitu, engkau tidak wukuf di Arafah, tidak mendaki Jabal Rahmah, tidak mengenal Wadi Namirah, tidak pula berdoa di sana!” “Apakah engkau telah melewati kedua bukit Al ‘Alamain, melakukan shalat dua rakaat sebelumnya, lalu meneruskan perjalanan ke Muzdalifah untuk memungut batu-batu di sana, lalu melewati Masy’aral Haram?” “Ya benar.”

    “Ketika shalat dua rakaat, apakah engkau meniatkannya sebagai shalat syukur, pada malam menjelang sepuluh Dzulhijjah, dengan mengharap tersingkirnya segala kesulitan serta datangnya segala kemudahan? Ketika lewat di antara bukit itu dengan sikap lurus tanpa menoleh kanan kiri, apakah saat itu engkau bertekad untuk tidak bergeser dari Islam; tidak dengan hatimu, lidahmu, dan semua gerak gerikmu? Ketika berangkat ke Muzdalifah, apakah engkau berniat membuang jauh segala maksiat serta bertekad untuk beramal yang diridhai-Nya? Ketika melewati Masy’aral Haram, apakah engkau mengisyaratkan untuk bersyiar seperti orang-orang takwa kepada Allah?” “Tidak.”

    “Wahai Syibli, sesungguhnya engkau tidak melakukan itu semua!” Ali Zainal ‘Abidin melanjutkan, “Ketika engkau sampai di Mina, apakah engkau yakin telah sampai di tujuan dan Tuhanmu telah memenuhi semua hajatmu? Ketika melempar Jumrah, apakah engkau meniatkan untuk melempar dan memerangi iblis, musuh besarmu? Ketika mencukur rambut (tahallul), apakah engkau bertekad untuk mencukur segala kenistaan? Ketika shalat di Masjid Khaif, apakah engkau bertekad untuk tidak takut, kecuali kepada Allah dan tidak mengharap rahmat kecuali dari-Nya semata? Ketika memotong hewan kurban, apakah engkau bertekad untuk memotong urat ketamakan; serta mengikuti teladan Ibrahim yang rela mengorbankan apa pun demi Allah? Ketika kembali ke Mekah dan melakukan Thawaf Ifadhah, apakah engkau meniatkannya untuk ber-ifadhah dari pusat rahmat Allah, kembali dan berserah kepada-Nya?”

    Dengan gemetar, Asy Syibli menjawab, “Tidak wahai Guru.”

    “Sungguh, engkau tidak mencapai Mina, tidak melempar Jumrah, tidak ber-tahallul, tidak menyembelih kurban, tidak manasik, tidak shalat di Masjid Khaif, tidak Thawaf Ifadhah, tidak pula mendekat kepada Allah! Kembalilah, kembalilah! Sesungguhnya engkau belum menunaikan hajimu!”

    Asy Syibli menangis tersedu, menyesali ibadah haji yang telah dilakukannya. Sejak itu, ia giat memperdalam ilmunya, sehingga tahun berikutnya ia kembali berhaji dengan ma’rifat serta keyakinan penuh.

    Wallaahu a’lam.

    ***

    (sumber: http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=105&kat_id1=232)

    (tri )

     
  • erva kurniawan 3:52 am pada 13 October 2013 Permalink | Balas  

    itikaf2Satu Tubuh

    Suatu hari, di medan perang Yarmuk, dengan membawa sedikit air Khudzaifah bin Adi ra menemui saudaranya (anak pamannya) yang tergeletak penuh luka. Ketika menjumpainya, ia berkata kepadanya, ”Aku tuangkan air ini kepadamu!” Saudaranya pun memberi isyarat mengiyakan.

    Ketika hendak menuangkan ke dalam mulutnya, terdengar suara, ”Ah, ah, ah.” Saudaranya itu memberi isyarat kepada Khudzaifah agar ia memberikan air itu kepada orang yang berteriak, merintih kesakitan itu.

    Khudzaifah pun menghampiri orang itu. Dan ternyata ia adalah Hisyam bin Ash ra. ”Aku akan tuangkan air ini kepadamu,” ucap Khuzaifah dengan rasa iba. Hisyam pun memberi isyarat mempersilahkannya. Ketika hendak dituangkan ke dalam mulutnya terdengar kembali suara, ”Ah, ah, ah,” dari sampingnya. Hisyam memberi isyarat kepadanya agar memberikan air itu kepada orang yang berteriak sekarat itu.

    Sesampainya di sana, Khudzaifah mendapati orang yang ditunjuk Hisyam telah menemui ajalnya, mati syahid. Lalu ia kembali berjalan pada Hisyam, namun Hisyam juga telah bertemu Allah SWT, wafat. Ia sedih. Setelah itu ia bergegas menemui kembali saudaranya. Namun sama, pamannya juga telah menemui syahidnya. Kisah ini dituturkan Imam Syanqithi dalam kitab Adhwaa al-Bayaan.

    Fragmen ini menjelaskan bahwa setiap Muslim merasakan saudara Muslim lain adalah bagian dari dirinya. Mereka pun tidak memandang siapa yang diberi pertolongan olehnya. Tidak pula menolong karena tendensi demi kepentingan. Juga sampai tidak memandang bahwa saat itu dirinya pun sangat membutuhkan pertolongan. Bahkan meskipun kebutuhan itu berkait erat dengan hidupnya.

    Ini adalah potret ukhuwah Islamiyah yang sebenarnya. Satu bentuk persaudaraan yang mengalahkan segalanya, sampai kepentingan untuk dirinya sendiri sekalipun, atau yang disebut dengan itsaar (mendahulukan orang lain meskipun dirinya membutuhkannya). Persaudaraan ini mengalahkan persaudaraan nasab, kedaerahan, suku, partai, kebangsaan, lintas identitas-identitas primordial dan lintas kepentingan.

    Tepat kata Nabi SAW, ”Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, saling mengasihi dan saling simpati mereka bagaikan satu tubuh; jika salah satu anggota tubuh merasakan sakit maka seluruh tubuh yang lain merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR Muslim).

    Nabi SAW mengibaratkan persaudaraan sesama Muslim dengan logika satu tubuh. Logika satu tubuh adalah logika saling terkait, saling merasakan, saling membantu dalam satu kesatuan. Dalam artian, ketika kita melihat saudara seiman kita kelaparan, dilanda sakit kita juga harus ikut merasakan dan membantunya. Begitu pula ketika kita senang, kita tak boleh lupa membagikan kesenangan kita pada saudara kita. Adakah itu ada di sekitar kita saat ini?

    ***

    Oleh : Atik Fikri Ilyas

     
  • erva kurniawan 4:37 am pada 10 October 2013 Permalink | Balas  

    muhammad-2Kesederhanaan Rumah Tangga Nabi

    Assalamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokatuhu,

    Sebagaimana dengan suami lainnya, terkadang Rasulullah juga mendapat desakan dari istrinya agar memberikan harta benda yang cukup. Cuma jika kebanyakan kita menurut begitu saja, sampai-sampai tega melakukan korupsi agar permintaan istrinya terpenuhi, Rasulullah tidak begitu.

    Rasulullah tetap hidup sederhana, dan tidak mau korupsi seperti kebanyakan orang, meski 2 superpower dunia saat itu, Romawi dan Persia, sudah hampir berada di kakinya. Beliau tetap tidur di atas tikar sehingga berbekas di punggung beliau, dan di kamarnya cuma ada segantang gandum. Hal ini tentu sangat beda dengan para pemimpin negara-negara Islam sekarang yang hampir semua hidup mewah dengan tinggal di istana, naik mobil mewah, bahkan punya pesawat pribadi, sementara rakyatnya hidup dalam kemiskinan. Rasulullah bahkan terpaksa menjauhi istri-istrinya selama sebulan, agar mereka sadar, dan tidak meminta harta benda yang beliau tidak punya. Beliau memberikan pilihan pada istri-istrinya, jika ingin harta benda dunia, silahkan bercerai, tapi jika ingin keridhaan Allah dan Rasulnya, maka Allah akan memberikan pahala yang besar.

    Hadits yang mengisahkan krisis Rumah Tangga Rasulullah SAW:

    “Diriwayatkan dari Aisyah r.a katanya: Ketika Rasulullah s.a.w disuruh untuk memberikan pilihan kepada isteri-isterinya, Rasulullah mulai dengan aku.

    Rasulullah bersabda: Aku akan menyampaikan sesuatu kepadamu dan aku harap kamu tidak terburu-buru mengambil suatu keputusan sebelum kamu pertimbangkan dengan kedua orang tuamu. Kata Aisyah r.a aku sudah tahu bahwa kedua orang tuaku sama sekali tidak menghendaki berpisah dengan Rasulullah apalagi menyuruhku. Kemudian Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia berfirman: Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: Jika kamu sekalian inginkan kehidupan dunia dan segala perhiasannya, maka marilah akan kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik dan jika kamu sekalian inginkan keredaan Allah dan RasulNya serta kesenangan di negeri Akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antara kamu pahala yang besar (Al Ahzab:28-29).

    Aku berkata: Jadi tentang soal inikah aku disuruh untuk meminta pertimbangan daripada dua orang tuaku? Sesungguhnya aku menghendaki Allah dan RasulNya serta kesenangan di negeri Akhirat. Ternyata isteri-isteri Rasulullah s.a.w yang lain juga mengikuti apa yang aku lakukan itu” [Bukhari-Muslim]

    “Diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab r.a katanya: Ketika Nabi s.a.w menjauhi isteri-isteri Rasulullah, aku masuk ke dalam masjid. Aku melihat orang ramai menghentak-hentakkan kaki ke tanah sambil berkata: Rasulullah s.a.w telah menceraikan isteri-isterinya. Itu terjadi sebelum isteri-isteri Nabi diperintah supaya memakai hijab. Umar berkata: Aku yakin ada kejadian penting pada hari itu. Aku terus menemui Aisyah r.a dan bertanya: Wahai puteri Abu Bakar! Apakah perbuatan yang telah kamu lakukan sehingga menyakiti Rasulullah s.a.w? Aisyah r.a menjawab: Apa urusanmu denganku, wahai putera al-Khattab? Kamu nasihati saja puterimu sendiri.

    Aku segera menemui Hafsah r.a dan aku berkata kepadanya: Wahai Hafsah! Apakah perbuatan yang telah kamu lakukan sehingga menyakiti Rasulullah s.a.w? Demi Allah, aku tahu bahawa sesungguhnya Rasulullah s.a.w tidak menyukaimu. Seandainya tidak ada aku, pasti Rasulullah s.a.w telah menceraikan kamu. Mendengar ucapan itu lalu Hafshah menangis tersedu-sedu. Aku bertanyakan kepadanya: Di mana Rasulullah s.a.w berada? Dia menjawab: Di tempat pengasingannya. Aku terus menuju ke sana. Di situ aku bertemu dengan Rabah pelayan Rasulullah s.a.w yang sedang duduk di samping pintu sambil melunjurkan kedua kakinya pada sekeping papan. Untuk menemui Rasulullah s.a.w mesti melalui tangga. Dari jauh aku memanggil Rabah: Wahai Rabah! Izinkan aku untuk menemui Rasulullah s.a.w. Rabah memandang ke arah kamar Rasulullah s.a.w lalu memandang aku tanpa berkata apa-apa. Aku mendekatinya dan berkata: Wahai Rabah! Izinkan aku untuk menemui Rasulullah s.a.w. Sekali lagi Rabah hanya diam sambil matanya memandang ke arah kamar Rasulullah s.a.w kemudian beralih memandangku tanpa berkata apa-apa.

    Kemudian dengan suara yang agak kuat aku berkata kepadanya: Wahai Rabah! Izinkan aku untuk menemui Rasulullah. Katakan kepada Rasulullah, bahawa kedatanganku adalah untuk membicarakan tentang Hafshah. Demi Allah! Jika Rasulullah memerintahkan aku supaya memukul tengkuknya akan aku laksanakan perintah Rasulullah itu. Akhirnya Rabah memberikan isyarat kepadaku supaya menaiki tangga. Aku segera masuk menemui Rasulullah s.a.w aku melihat Rasulullah sedang berbaring di atas tikar. Lalu aku duduk di samping Rasulullah. Aku lihat Rasulullah menurunkan kain yang satu-satunya digunanya oleh Rasulullah. Ketika itu aku melihat bekas tikar pada pinggang Rasulullah. Kemudian aku layangkan pandanganku ke sekitar kamar. Tidak banyak barang yang ada di situ kecuali hanya segantang biji gandum terletak di sudut kamar, sebidang kulit yaitu belulang binatang yang belum sempurna disamak dan beberapa barang lain yang tidak berharga sehinggalah aku menitiskan air mata.

    Melihat keadaan itu Rasulullah bertanya: Kenapa kamu menangis, wahai putera al-Khattab? Dengan suara tersedu-sedu aku menjawab: Wahai Nabi Allah! Bagaimana aku tidak menangis melihat keadaan kamu yang sangat menyedihkan ini dan tikar yang memberi kesan padamu? Jauh sekali dengan apa yang dinikmati oleh Kaisar dan Raja-raja di sana, sedangkan kamu wahai Rasulullah s.a.w hanya memiliki ini. Rasulullah s.a.w bersabda: Wahai putera al-Khattab! Mahukah kamu sekiranya akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka? Aku menjawab: Sudah tentu aku mau.

    Setelah melihat wajah Rasulullah s.a.w sudah mulai kelihatan berseri-seri tidak seperti waktu pertama kali aku masuk, aku memberanikan diri untuk bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah yang memberatkan kamu tentang wanita-wanita yaitu isteri-isteri? Jika kamu ceraikan isteri-isteri kamu sekalipun maka Allah serta seluruh MalaikatNya, Jibril, Mikail, aku, Abu Bakar dan seluruh orang mukmin akan tetap bersama kamu. Aku berharap mudah-mudahan perkataanku itu dibenarkan oleh Allah. Kemudian turunlah ayat takhyir yang menyuruh untuk memilih: Yang bermaksud: Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu. Jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan begitu pula Jibril dan orang-orang mukmin yang baik serta selain dari itu Malaikat malaikat adalah penolongnya pula. Pada saat itu Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah memang bersepakat untuk mempengaruhi isteri Nabi s.a.w yang lain.

    Aku berkata kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah! Adakah kamu akan menceraikan mereka? Rasulullah menjawab: Tidak! Kemudian aku jelaskan kepada Rasulullah, bahawa sewaktu aku sedang berada di masjid, aku melihat orang ramai masih lagi menghentakkan kaki ke tanah sambil berkata: Rasulullah s.a.w telah menceraikan isteri-isterinya. Kemudian aku berkata kepada Rasulullah: Adakah perlu aku memberitahu mereka bahwa sebenarnya kamu tidak menceraikan isteri-isteri kamu? Rasulullah bersabda: Baiklah, jika kamu mau. Lalu aku berbicara dengan Rasulullah tentang berbagai perkara, akhirnya aku lihat Rasulullah benar-benar reda dari kemarahannya. Bahkan Rasulullah sudah mampu tersenyum dan tertawa. Kemudian kami sama-sama turun dari kamar melalui tangga. Aku berhati-hati semasa menuruni tangga itu, tidak seperti Rasulullah yang kelihatan seperti berjalan di atas tanah dan tangannya tidak berpengang pada apa-apapun. Sebaik saja sampai di bawah. Aku berkata kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah! Sesungghnya kamu berada di dalam kamar itu selama dua puluh sembilan hari. Rasulullah bersabda: Sesungguhnya satu bulan itu memang ada dua puluh sembilan hari. Aku terus menuju ke masjid dan berdiri di pintunya dan dengan suara yang kuat aku berteriak: Rasulullah s.a.w tidak menceraikan isteri-isteri Rasulullah. Kemudian turunlah ayat: Yang bermaksud: Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, lalu mereka menyiarkannya dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul serta pemimpin dikalangan mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka yaitu Rasul dan Ulul Amri. Aku adalah termasuk orang-orang yang ingin mengetahui. Maka Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menurunkan ayat takhyir (At Tahrim:4) [Bukhari-Muslim]

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:53 am pada 2 October 2013 Permalink | Balas  

    ibu dan anak lelakinya berdoaKisah Seorang Ulama Buntung

    Oleh Sabrur R Soenardi

    Beberapa abad silam, di sudut distrik terpencil Zamakhsyar, seorang bocah mungil asyik bermain-main dengan seekor burung. Ketika ibunya memanggil, si bocah tetap saja asyik bermain hingga akhirnya terjadilah sebuah tragedi : Bocah ini mematahkan kedua kaki burung. Binatang malang ini mencicit kesakitan, tetapi si bocah malah terbahak-bahak melihatnya.

    Merasa panggilannya tak digubris, sang ibu menghampiri dengan marah. Dia bertambah murka ketika tahu anaknya berbuat dosa pada sang burung yang hampir putus kakinya. “Oh, anakku, bagaimana kau bisa seenaknya mematahkan kaki burung kecil itu? Itu berdosa anakku. Ia sangat kesakitan. Coba pikirkan jika itu terjadi padamu. Kamu akan menderita anakku, Kamu sungguh keterlaluan.” Si bocah menggigil ketakutan. Baru kali ini ia melihat ibunya demikian marah, mengeluarkan kata-kata kasar dan mengerikan.

    Beberapa belas tahun kemudian, si bocah itu sudah menjadi remaja yang matang. Ia tengah melakukan perjalanan pulang selepas menyelesaikan belajarnya di sebuah madrasah di Iran. Malang, tiba-tiba seekor kalajengking menyengat kudanya. Sang kuda meringkik, terhuyung, kemudian terjerembat dan sang penunggang jatuh terjungkal.

    Singkat cerita, sesampai remaja ini di rumah, ternyata kedua kakinya terkilir hebat dan menurut tabib setempat, tidak bisa dipulihkan. Satu-satunya jalan keluar adalah mengamputasinya. Ia pun mesti menerima takdir Allah itu dengan ikhlas dan pasrah, menjadi manusia berkaki buntung.

    Sang Ibu benar-benar terpukul atas nasib yang menimpa anaknya itu. Namun suatu malam sehabis shalat tahajjud, sang ibu tersadar bahwa “kata-kata buruk” yang dia ucapkan belasan tahun lalu kepada si bocah kecil yang mematahkan kaki burung itu rupanya kini jadi kenyataan. Dalam larut atas rasa berdosa yang tak terkendali, ia pun berdoa pada Allah agar di kemudian hari, meski cacat tubuh, sang anak bisa menjadi manusia yang berguna bagi Islam dan kaum Muslim.

    Doa baik sang ibu dikabulkan Allah. Anak itulah yang di kemudian hari kita kenal sebagai Abu Qasim Azzamakhsyari, seorang ulama paling brillian di zamannya, sekaligus cendikiawan garda depan Muktazilah dengan karya tafsirnya yang terkenal Alkasysyaf.

    Dialah satu-satunya ulama yang buntung kedua kakinya, dan itu diyakini buah dari “kata-kata buruk” sang ibu. Ia menjadi tokoh ternama, dan itu juga diyakini sebagai buah dari “kata-kata mulia” sang ibu. Benar sabda Nabi SAW bahwa salah satu doa yang pasti dikabulkan Allah adalah yang terucap dari mulut orang tua (demi nasib anaknya). Maka, berhati-hatilah berucap untuk anak-anak kita.

    Wallahu a’lam

     
  • erva kurniawan 4:35 am pada 21 September 2013 Permalink | Balas  

    al-quran 2Rindu Itu Pun Tertembus

    Seorang pemuda berumur 15 tahun, dia telah ditinggalkan oleh ayahnya – seorang bangsawan yang kaya raya, sehingga memperoleh harta warisan yang sangat banyak

    Pada suatu hari dia mengikuti majlis pengajian yang diadakan oleh Syaikh Abdul Wahid. Dalam majlis itu ada seorang jamaah pengajian yang membaca surah At-Taubah ayat 111, “… sungguh Allah telah membeli diri orang mu’minin, jiwa dan harta mereka dengan jannah.”

    Lalu pemuda tadi bertanya, “Yaa, Abdul Wahid! Sungguhkah Allah telah membeli dari qaum mu’minin jiwa dan harta mereka dengan jannah?”

    “Ya! Benar wahai anakku tercinta”.

    Lalu ia berkata,”Yaa Abdul Wahid, saksikanlah bahwa aku telah menjual diri dan hartaku untuk mendapatkan jannah!”

    “Wahai anakku! Sesungguhnya tajamnya pedang itu berat dihadapi, dan kau masih anak-anak. Aku khawatir kalau-kalau engkau tidak tabah, tidak sabar sehingga tidak kuat melanjutkan perjuangan ini.” Kata Abdul Wahid.

    Pemuda itu menjawab, “Aku menjual diri kepada Allah untuk mendapatkan jannah lalu lemah? Saksikanlah sekali lagi bahwa aku telah menjual diriku kepada Allah!”

    Maka pemuda itu segera men-shadaqah-kan semua hartanya kecuali kuda dan pedangnya, dan sekedar harta untuk bekalnya. Dan ketika telah tiba pada masa keberangkatan pasukan, maka dialah yang pertama-tama tiba dan mengucapkan, “Assalaamu’alaika yaa Abdul Wahid.”

    “Wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh, semoga Allah memberikan keuntungan dalam jualanmu”.

    Dalam perjalanan, pemuda itu selalu shaum di waktu siang dan bangun di waktu malam, menjaga pasukan, serta melayani keperluan-keperluan pasukan. Bahkan dia merangkap memelihara ternak-ternak pasukan, sehingga sampailah pasukan muslimin tersebut di perbatasan Negeri Ruum.

    Menjelang pertempuran, pasukan tersebut beristirahat di suatu tempat. Karena lelah pemuda tersebut jatuh tertidur. Namun tiba-tiba dia terjaga dan berseru lirih, “Ah! Alangkah rindunya aku pada ‘Ainul Mardhiyah.” Orang-orang yang mendengarnya terheran-heran dan mengira pemuda itu mengingau.

    Maka Abdul Wahid mendekat, “Wahai anakku! Siapakah ‘Ainul Mardhiyah itu?”

    Pemuda itu kemudian bertutur :

    Aku tadi tertidur sebentar, tiba-tiba aku bermimpi ada orang yang datang kepadaku dan berkata, “Mari aku bawa kamu kepada ‘Ainul Mardhiyah”.

    Lalu aku dibawa ke suatu kebun di tepi sungai yang airnya jernih segar, dan di sana banyak gadis-gadis cantik yang lengkap dengan perhiasannya – yang tidak dapat aku katakan.

    Ketika melihat kepadaku, mereka gembira dan berkata, “Itulah suami ‘Ainul Mardhiyah!” Kemudian aku ucapkan, “Assalaamu’alaikum, apakah di sini tempatnya ‘Ainul Mardhiyah?” Mereka menjawab, “KAmi hanyalah hamba dan pelayannya, teruslah berjalan ke depan”.

    Aku meneruskan perjalanan. Tiba-tiba bertemu dengan sungai susu yang tidak berubah rasanya di tengah-tengah taman tersebut, yang juga dikelilingi oleh gadis-gadis yang sangaat cantik lengkap dengan perhiasannya. Ketika mereka melihat kepadaku langsung berseru, “Demi Allah! Itu suami ‘Ainul Mardhiyah sudah tiba”. Lalu aku memberi salam, “Assalaamu’alaikum! Apakah diantara anda ada yang bernama ‘Ainul Mardhiyah?”. Mereka menjawab, “Kami hanyalah hamba dan pelayannya. Silahkan berjalan terus…”

    Aku pun meneruskan perjalanan. Tiba-tiba di suatu lembah aku bertemu dengan sungai anggur yang digunakan sebagai tempat bersuka ria oleh gadis-gadis yang sangat cantik molek. Begitu cantiknya, sehingga aku lupa pada kecantikan gadis-gadis sebelumnya. Lalu aku memberi salam, “Assalaamu’alaikum! Apakah diantara anda ada yang bernama ‘Ainul Mardhiyah?”. Mereka menjawab, “Tidak! Kami hanyalah hamba dan pelayannya. Teruslah tuan berjalan ke depan…”

    Lalu aku pun meneruskan perjalanan. Tiba-tiba aku bertemu dengan sungai madu dan kebunnya penuh dengan gadis-gadis cantik, yang kecantikannya bagaikan cahaya. Maka aku ucapkan salaam, “Assalaamu’alaikum! Apakah di sini ada ‘Ainul Mardhiyah?” Mereka menjawab, “Yaa Waliyallah, kami hamba dan pelayannya. Majulah terus…”

    Dan ketika aku berjalan lagi tiba-tiba melihat sebuah bangunan dari permata yang berlubang. Di depan bangunan itu ada seorang gadis yang menjaga pintu yang sangaaatt cantik lengkap dengan perhiasannya. Aku mengira inilah ‘Ainul Mardhiyah. Ketika gadis itu melihatku, ia begitu gembira dan berseru, “Wahai ‘Ainul Mardhiyah! Inilah suamimu telah datang!” Dugannku ternyata keliru, akupun dipersilahkan masuk oleh gadis tersebut.

    Aku langsung masuk ke bangunan itu. Dalam sebuah ruangan, aku melihat seorang gadis yang sedang duduk di atas tilam yang bertaburkan permata, yaqut, dan berlian. Dan ketika melihatnya, aku benar-benar terpesona karena begitu cantiknya.

    “Marhaban wahai kekasihku…! Hampir tiba pertemuan kita…”, sambutnya dengan senyum yang sangaaaatt manisss. Ingiiinnn sekali aku mendekapnya…

    “Shabar dulu! Engkau belum resmi menjadi suamiku, karena engkau masih di dunia. Insya Allah, malam ini engkau akan berbuka di sini…”

    … kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku tersadar bahwa itu hanya mimpi. Wahai Abdul Hamid, rasanya aku sudah tidak sabar lagi…

    Tiba-tiba terlihat pasukan musuh. Maka genderang perang pun ditabuh bertalu-talu. Pemuda tersebut lantas berlari menyambut musuh bersama-sama dengan pasukan muslimin yang lain.

    Ketika berhadapan dengan pasukan musuh, langsung diayunkan pedangnya sambil terus merangsak maju menyerbu. Terhitung sembilan pasukan musuh roboh seketika. Pada hitungan kesepuluh, sebilah pedang telah mendahuluinya. Pemuda tersebut roboh berlumur darah. Dia meninggal dunia dengan tersenyummm. Kerinduan itupun akhirnya tertembus…

     

    {dikisahkan kembali dari : Tanbihul Ghaafilin hal. 1004-1009}

    **

    “Dan janganlah mengira bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup terus di sisi Rabb-nya dengan mendapatkan rizqi.” [Ali 'Imraan : 169]

    “… permisalan ahlul jannah yang dijanjikan buat orang-orang yang bertaqwa, di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr yang lezat bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan serta maghfirah dari Rabb-nya…” [Muhammad : 15]

     
  • erva kurniawan 5:35 am pada 5 September 2013 Permalink | Balas  

    bendera perangKeteladanan Shalahuddin Al-Ayyubi dalam Perang Salib

    Bermula dari perebutan wilayah Palestina, peperangan pasukan Kristen-Islam berlangsung sekitar 174 tahun. Bagaimana akhlaq Islam dari peristiwa ini?

    Pemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang lelaki kami memenggal kepala-kepala musuh; lainnya menembaki mereka dengan panah-panah, sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara; lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkannya ke dalam api menyala. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Kami berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah kecil jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Biara Sulaiman, tempat dimana ibadah keagamaan kini dinyanyikan kembali. Di sana, para pria berdarah-darah disuruh berlutut dan dibelenggu lehernya.”

    Kisah di atas bukan skenario film yang fiktif, tapi sungguh-sungguh pernah terjadi. Itu adalah pengakuan seseorang bernama Raymond, salah satu serdadu Perang Salib I. Pengakuan ini didokumentasikan oleh August C Krey, penulis buku The First Crusade: The Accounts of Eye-Witnesses and Praticipants (Princeton and London: 1991).

    Bagi kaum Muslimin, Perang Salib I (1096-1099) memang menyesakkan. Menurut catatan Krey, hanya dalam tempo dua hari, 40.000 kaum Muslimin dan Yahudi di sekitar Palestina, baik pria maupun wanita, dibantai secara massal dengan cara tak berperikemanusiaan. Cara pembantaiannya tergambar dalam pengakuan Raymond di atas.

    Sepak Terjang Tentara Salib

    Sejak tentara Islam yang dipimpin Khalifah Umar bin Khattab (638 M) yang berhasil membebaskan Palestina dari dari kekaisaran Byzantium (Romawi Timur) sampai abad ke-11 M, Palestina berada di bawah pemerintahan Islam dan merupakan kawasan yang tertib dan damai. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Islam hidup bersama. Namun kedamaian itu seolah lenyap ditelan bumi begitu Tentara Salib datang melakukan invasi.

    Ceritanya bermula ketika orang-orang kekhalifahan Turki Utsmani merebut Anatolia (Asia Kecil, sekarang termasuk wilayah Turki) dari kekuasaan Raja Byzantium, Alexius I. Raja ini kemudian minta tolong kepada Paus Urbanus II, guna merebut kembali wilayah itu dari cengkeraman kaum yang mereka sebut “orang kafir”.

    Paus Urbanus II segera memutuskan untuk mengadakan ekspedisi besar-besaran yang ambisius (27 November 1095). Tekad itu makin membara setelah Paus menerima laporan bahwa Khalifah Abdul Hakim—yang menguasai Palestina saat itu—menaikkan pajak ziarah ke Palestina bagi orang-orang Kristen Eropa. “Ini perampokan! Oleh karena itu, tanah suci Palestina harus direbut kembali,” kata Paus.

    Perang melawan kaum Muslimin diumumkan secara resmi pada tahun 1096 oleh Takhta Suci Roma. Paus juga mengirim surat ke semua raja di seluruh Eropa untuk ikut serta. Mereka dijanjikan kejayaan, kesejahteraan, emas, dan tanah di Palestina, serta surga bagi para ksatria yang mau berperang.

    Paus juga meminta anggota Konsili Clermont di Prancis Selatan—terdiri atas para uskup, kepala biara, bangsawan, ksatria, dan rakyat sipil—untuk memberikan bantuan. Paus menyerukan agar bangsa Eropa yang bertikai segera bersatu padu untuk mengambil alih tanah suci Palestina. Hadirin menjawab dengan antusias, “Deus Vult!” (Tuhan menghendakinya!)

    Dari pertemuan terbuka itu ditetapkan juga bahwa mereka akan pergi perang dengan memakai salib di pundak dan baju. Dari sinilah bermula sebutan Perang Salib (Crusade). Paus sendiri menyatakan ekspedisi ini sebagai “Perang Demi Salib” untuk merebut tanah suci.

    Mobilisasi massa Paus menghasilkan sekitar 100.000 serdadu siap tempur. Anak-anak muda, bangsawan, petani, kaya dan miskin memenuhi panggilan Paus. Peter The Hermit dan Walter memimpin kaum miskin dan petani. Namun mereka dihancurkan oleh Pasukan Turki suku Seljuk di medan pertempuran Anatolia ketika perjalanan menuju Baitul Maqdis (Yerusalem).

    Tentara Salib yang utama berasal dari Prancis, Jerman, dan Normandia (Prancis Selatan). Mereka dikomandani oleh Godfrey dan Raymond (dari Prancis), Bohemond dan Tancred (keduanya orang Normandia), dan Robert Baldwin dari Flanders (Belgia). Pasukan ini berhasil menaklukkan kaum Muslimin di medan perang Antakiyah (Antiokia, Suriah) pada tanggal 3 Juni 1098.

    Sepanjang perjalanan menuju Palestina, Tentara Salib membantai orang-orang Islam. Tentara Jerman juga membunuhi orang-orang Yahudi. Rombongan besar ini akhirnya sampai di Baitul Maqdis pada tahun 1099. Mereka langsung melancarkan pengepungan, dan tak lupa melakukan pembantaian. Sekitar lima minggu kemudian, tepatnya 15 Juli 1099, mereka berhasil merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslimin. Kota ini akhirnya dijadikan ibukota Kerajaan Katolik yang terbentang dari Palestina hingga Antakiyah. .

    Teladan Shalahuddin Al-Ayyubi

    Pada tahun 1145-1147 berlangsung Perang Salib II. Namun pada peperangan ini tidak terjadi pertempuran berarti karena ekspedisi perang tentara Eropa yang dipimpin oleh Raja Louis VII dari Perancis gagal mencapai Palestina. Mereka tertahan di Iskandariyah lalu kembali ke negara asalnya.

    Perang besar-besaran baru terjadi sekitar empat dasawarsa berikutnya pada Perang Salib III (1187-1191). Pada masa itu, Kekhalifahan Islam terpecah menjadi dua, yaitu Dinasti Fathimiyah di Kairo (bermazhab Syi’ah) dan Dinasti Seljuk yang berpusat di Turki (bermazhab Sunni). Kondisi ini membuat Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima perang Dinasti Fathimiyah, merasa prihatin. Menurutnya, Islam harus bersatu untuk melawan Eropa-Kristen yang juga bahu-membahu.

    Melalui serangkaian lobi, akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil menyatukan kedua kubu dengan damai. Pekerjaan pertama selesai. Shalahuddin kini dihadapkan pada perilaku kaum Muslimin yang tampak loyo dan tak punya semangat jihad. Mereka dihinggapi penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Spirit perjuangan yang pernah dimiliki tokoh-tokoh terdahulu tak lagi membekas di hati.

    Shalahuddin lantas menggagas sebuah festival yang diberi nama peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tujuannya untuk menumbuhkan dan membangkitkan spirit perjuangan. Di festival ini dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai jihad.

    Festival ini berlangsung dua bulan berturut-turut. Hasilnya luar biasa. Banyak pemuda Muslim yang mendaftar untuk berjihad membebaskan Palestina. Mereka pun siap mengikuti pendidikan kemiliteran.

    Shalahuddin berhasil menghimpun pasukan yang terdiri atas para pemuda dari berbagai negeri Islam. Pasukan ini kemudian berhasil mengalahkan Pasukan Salib di Hittin (dekat Acre, kini dikuasai Israel) pada 4 Juli 1187. Pasukan Kristen bahkan akhirnya terdesak dan terkurung di Baitul Maqdis.

    Dua pemimpin tentara Perang Salib, Reynald dari Chatillon (Prancis) dan Raja Guy, dibawa ke hadapan Shalahuddin. Reynald akhirnya dijatuhi hukuman mati karena terbukti memimpin pembantaian yang sangat keji kepada orang-orang Islam. Namun Raja Guy dibebaskan karena tidak melakukan kekejaman yang serupa.

    Tiga bulan setelah pertempuran Hittin, pada hari yang tepat sama ketika Nabi Muhammad diperjalankan dari Mekah ke Yerusalem dalam Isra’ Mi’raj (bertepatan 2 Oktober 1187), pasukan Shalahuddin memasuki Baitul Maqdis. Kawasan ini akhirnya bisa direbut kembali oleh pasukan Islam setelah 88 tahun berada dalam cengkeraman musuh.

    Sejarawan Inggris, Karen Armstrong, menggambarkan, pada tanggal 2 Oktober 1187 itu, Shalahuddin dan tentaranya memasuki Baitul Maqdis sebagai penakluk yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang mulia. Tidak ada dendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang dianjurkan Al-Qur`an dalam surat An-Nahl ayat 127: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”

    Permusuhan dihentikan dan Shalahuddin menghentikan pembunuhan. Ini sesuai dengan firman dalam Al-Qur`an: “Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya untuk Allah. Jika mereka berhenti (memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan lagi, kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 193)

    Tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh dan tidak ada perampasan. Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Shalahuddin bahkan menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah. Ia membebaskan banyak tawanan, meskipun menyebabkan keputusasaan bendaharawan negaranya yang telah lama menderita. Saudara lelakinya, Al-Malik Al-Adil bin Ayyub, juga sedih melihat penderitaan para tawanan sehingga dia meminta Salahuddin untuk membawa seribu orang di antara mereka dan membebaskannya saat itu juga.

    Beberapa pemimpin Muslim sempat tersinggung karena orang-orang Kristen kaya melarikan diri dengan membawa harta benda, yang sebenarnya bisa digunakan untuk menebus semua tawanan. [Uskup] Heraclius membayar tebusan dirinya sebesar sepuluh dinar seperti halnya tawanan lain, dan bahkan diberi pengawal pribadi untuk mempertahankan keselamatan harta bendanya selama perjalanan ke Tyre (Libanon).

    Shalahuddin meminta agar semua orang Nasrani Latin (Katolik) meninggalkan Baitul Maqdis. Sementara kalangan Nasrani Ortodoks–bukan bagian dari Tentara Salib—tetap dibiarkan tinggal dan beribadah di kawasan itu.

    Kemenangan tentara Islam yang dipimpin Shalahuddin membuat marah dunia Kristen. Mereka kemudian mengirimkan pasukan gabungan Eropa yang dipimpin Raja Perancis Phillip Augustus, Kaisar Jerman Frederick Barbarossa dan Raja Inggris Richard “Si Hati Singa” (the Lion Heart).

    Pada masa ini pertempuran berlangsung sengit. Pada tahun 1194, Richard yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dalam sejarah Inggris, memerintahkan untuk menghukum mati 3000 orang Islam, yang kebanyakan di antaranya wanita-wanita dan anak-anak. Tragedi ini berlangsung di Kastil Acre.

    Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin secara sembunyi-sembunyi berusaha mendatanginya. Ia mengendap-endap ke tenda Richard. Begitu tiba, bukannya membunuh, malah dengan ilmu kedokteran yang hebat Shalahudin mengobati Richard hingga akhirnya sembuh.

    Richard terkesan dengan kebesaran hati Shalahuddin. Ia pun menawarkan damai dan berjanji akan menarik mundur pasukan Kristen pulang ke Eropa. Mereka pun menandatangani perjanjian damai (1197). Dalam perjanjian itu, Shalahuddin membebaskan orang Kristen untuk mengunjungi Palestina, asal mereka datang dengan damai dan tidak membawa senjata. Selama delapan abad berikutnya, Palestina berada di bawah kendali kaum Muslimin.

    ***

    Perang Salib IV berlangsung tahun 1202-1204. Bukan antara Islam dan Kristen, melainkan antara Takhta Suci Katolik Roma dengan Takhta Kristen Ortodoks Romawi Timur di Konstantinopel (sekarang Istambul, Turki).

    Pada Perang Salib V berlangsung tahun 1218-1221. Orang-orang Kristen yang sudah bersatu berusaha menaklukkan Mesir yang merupakan pintu masuk ke Palestina. Tapi upaya ini gagal total.

    Kaisar Jerman, Frederick II (1194-1250), mengobarkan Perang Salib VI (1228), tapi tanpa pertempuran yang berarti. Ia lebih memilih berdialog dengan Sultan Mesir, Malik Al-Kamil, yang juga keponakan Shalahuddin. Dicapailah Kesepakatan Jaffa. Isinya, Baitul Maqdis tetap dikuasai oleh Muslim, tapi Betlehem (kota kelahiran Nabi Isa `alaihis-salaam) dan Nazareth (kota tempat Nabi Isa dibesarkan) dikuasai orang Eropa-Kristen.

    Dua Perang Salib VII (1248-1254) dan Perang Salib VIII (1270) dikobarkan oleh Raja Perancis, Louis IX (1215-1270). Tahun 1248 Louis menyerbu Mesir tapi gagal dan ia menjadi tawanan. Perancis harus menyerahkan emas yang sangat banyak untuk menebusnya.

    Tahun 1270 Louis mencoba membalas kekalahan itu dengan menyerang Tunisia. Namun pasukannya berhasil dikalahkan Sultan Dinasti Mamaluk, Bibars. Louis meninggal di medan perang.

    Sampai di sini periode Perang Salib berakhir. Namun, beberapa sejarawan Katholik menganggap bahwa penaklukan Konstantinopel (ibukota Byzantium, Romawi Timur) oleh Sultan Muhammad II Al-Fatih dari Turki (1453) juga sebagai Perang Salib. Penaklukan Andalusia, kawasan Spanyol Selatan yang diperintah dinasti Bani Ummayyah, oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella (1492), juga dianggap Perang Salib.

    ***

    Agung Pribadi, Pambudi.

    hidayatullah.com

     
  • erva kurniawan 3:03 am pada 17 August 2013 Permalink | Balas  

    penaImam Bukhari

    Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah bahkan dalam kitab-kitab Fiqih dan Hadits, Hadits hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.

    Nama lengkapnya cukup panjang: Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari. Karena lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Ia dikenal sebagai Bukhari. Lahir 13 Syawal 194 H (21 juli 810 M). Taklama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya

    Bukhari dididik dalam keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab As-Siqat, Ibnu Hibban menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara’ dalam arti berhati hati terhadap hal hal yang bersifat syubhat (ragu-ragu) hukumnya terlebih lebih terhadap hal yang haram. Ayahnya adalah seorang ulama bermadzhab Maliki dan merupakan mudir dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.

    Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang masyhur di Bukhara . pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia mengunjungi kota suci terutama Mekkah dan Madinah, dimana dikedua kota suci itu dia mengikuti kuliah para guru besar hadits. Pada Usia 18 tahun dia menerbitkan kitab pertama Kazaya Sahabah wa Tabi’in, hafal kitab-kitab hadits karya Mubarak dan Waki bin Jarrah bin Malik. Bersama gurunya Syekh Ishaq, menghimpun hadits hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan 80.000 perawi disaring menjadi 7275 hadits.

    Bukhari diakui memiliki daya hapal tinggi, yang diakui kakaknya Rasyid bin Ismail. Sosoknya yang kurus tidak tinggi tidak pendek kulitnya agak kecoklatan, ramah dermawan dan banyak menyumbangkan hartanya untuk pendidikan.

    Penelitian Hadits Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.

    Namun tidak semua hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat/pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami’al-Shahil yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.

    Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya seperti Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim.

    Karya Imam Bukhari antara lain Al-Jami’ ash Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari, Al-Adab al Mufrad, At Tharikh as Shaghir, At Tarikh Al Awsat, At Tarikh al Kabir, At Tafsir Al Kabir, Al Musnad al Kabir, Kitab al `Ilal, Raf’ul Yadain fis Salah, Birrul Walidain, Kitab Ad Du’afa, Asami As Sahabah dan Al Hibah.

    Diantara guru guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain Ali ibn Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma’in, Muhammad ibn Yusuf Al Faryabi, Maki ibn Ibrahim Al Bakhi, Muhammad ibn Yusuf al Baykandi dan ibn Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip dalam kitab Shahih-nya

    Dalam meneliti dan menyeleksi hadits dan diskusi dengan para perawi. Imam Bukhari sangat sopan. Kritik-kritik yang ia lontarkan kepada para perawi juga cukup halus namun tajam. Kepada Perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, “perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam di dari hal itu” sementara kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia menyatakan “Haditsnya diingkari”. Bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. Dia berkata “Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan hadits hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan”.

    Banyak para ulama atau perawi yang ditemui sehingga Bukhari banyak mencatat jati diri dan sikap mereka secara teliti dan akurat. Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebuah hadits, mencek keakuratan sebuah hadits ia berkali-kali mendatangi ulama atau perawi meskipun berada di kota-kota atau negeri yang jauh seperti Baghdad, Kufah, Mesir, Syam, Hijaz seperti yang dikatakan beliau “Saya telah mengunjungi Syam, Mesir dan Jazirah masing-masing dua kali, ke Basrah empat kali menetap di Hijaz selama enam tahun dan tidak dapat dihitung berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits.”

    Disela-sela kesibukannya sebagai sebagai ulama, pakar hadits, ia juga dikenal sebagai ulama dan ahli fiqih, bahkan tidak lupa dengan kegiatan kegiatan olahraga dan rekreatif seperti belajar memanah sampai mahir, bahkan menurut suatu riwayat, Imam Bukhari tidak pernah luput memanah kecuali dua kali.

    Di Naisabur, Bukhara, Samarkand dan Wafatnya Beliau Kebesaran akan keilmuan beliau diakui dan dikagumi sampai ke seantero negeri negeri Islam. Di Naisabur, tempat asal imam Muslim seorang Ahli hadits yang juga murid Imam Bukhari dan yang menerbitkan kitab Shahih Muslim, kedatangan beliau pada tahun 250 H disambut meriah, juga oleh guru Imam Bukhari Sendiri Muhammad bin Yahya Az-Zihli.

    Dalam kitab Shahih Muslim, Imam Muslim menulis. “Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, saya tidak melihat kepala daerah, para ulama dan warga kota memberikan sambutan luar biasa seperti yang mereka berikan kepada Imam Bukhari”. Namun kemudian terjadi fitnah yang menyebabkan Imam Bukhari meninggalkan kota itu dan pergi ke kampung halamannya di Bukhara. Seperti halnya di Naisabur, di Bukhara beliau disambut secara meriah. Namun ternyata fitnah kembali melanda, kali ini datang dari Gubernur Bukhara sendiri, Khalid bin Ahmad Az-Zihli yang akhirnya Gubernur ini menerima hukuman dari Sultan Uzbekistan Ibn Tahir.

    Tak lama kemudian, atas permintaan warga Samarkand sebuah negeri tetangga Uzbekistan , Imam Bukhari akhirnya menetap di Samarkand ,. Tiba di Khartand, sebuah desa kecil sebelum Samarkand , ia singgah untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Dan Akhirnya meninggal pada tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas Shalat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri.

    ***

    Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia .

     
  • erva kurniawan 4:12 am pada 8 June 2013 Permalink | Balas  

    quranKhazanah Kisah Islam Futuwwah

    Ibn Abbas, sahabat dan sepupu Rasullulah saw. yang dikenal sebagai orang yang paling bijaksana pada masanya, menceritakan tentang peperangan melawan orang-orang kafir, yang jumlah tentaranya sepuluh kali lipat dari tentara Islam.

    Perang itu berkecamuk sepanjang hari, kedua belah pihak menderita korban yang sebanding jumlahnya. Ketika pertempuran itu berhenti menjelang fajar, aku mengambil sekantung air dan membawanya ke medan pertempuran, yang penuh dengan mayat-mayat dan orang-orang yang terluka. Aku mendengar banyak tentara Islam merintih dan meminta seteguk air. Aku mendekati seorang tentara yang tengah sekarat yang bibirnya tampak sangat kering. Ketika aku hendak memberinya minum, aku mendengar tentara lain yang tak jauh dari situ meminta air. Tentara yang terluka itu menyuruhku untuk memberikan air kepada tentara yang lain terlebih dahulu. Ketika aku mendekati orang yang kedua, kami mendengar tentara musuh yang tergeletak tak jauh dari situ merintih minta air. Tentara Islam itu meminta aku untuk memberikan air kepada tentara musuh itu terlebih dahulu. Setelah aku memberikan air kepada tentara musuh yang terluka itu, aku kembali kepada tentara musuh yang terluka itu, aku kembali kepada tentara Islam tersebut, tetapi dia telah telanjur minum anggur kesyahidan (menemui ajalnya). Aku kembali kepada tentara yang pertama, tetapi diapun telah menghadap Tuhannya.

    Begitulah khazanah kemurahan hati dan belas kasihan yang tercakup dalam futuwwah.

    Kebajikan-kebajikan yang begitu menyolok dalam Islam seperti yang digambarkan dalam kisah tersebut didasarkan pada perilaku Nabi Besar Muhammad saw,. anggota keluarganya, keempat khalifah yang mewarisi, dan sikap beliau yang sempurna. Inilah landasan pokok filosofi futuwwah. Futuwwah adalah pernyataan pikiran. futuwwah berarti menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi. Futuwwah juga berati menghapus rasa keangkuhan, sabar dan tabah terhadap cobaan, dan meringankan kesulitan orang lain. Futuwwah berarti pertentangan yang pantang menyerah terhadap kezaliman, dan lebih dari itu, futuwwah adalah cinta dan kasih sayang. Cinta kasih adalah esensi futuwwah; cinta kepada Allah, cinta kepada mahkluk_Nya, dan cinta kepada kasih sayang itu sendiri.

    ***

    Sumber: Futuwwah konsep pendidikan kesastraan di kalangan sufi.

    Oleh. IBN AL-HUSAIN AS-SULAMI. Al-Bayan Bandung 1992.

     
  • erva kurniawan 1:17 am pada 23 May 2013 Permalink | Balas  

    Bapak Yang Penyayang 

    ayahBapak yang Penyayang

    Al-Aqra` bin Habits suatu hari menemui Amirul Mukminin Umar bin Khattab, ia menemukan Umar sedang bermain dengan Anak-anaknya.

    Anak-anak Umar menempel di punggungnya dan Umar merayap.

    Al-Aqra` berkata, “Amir al-mu`minin, apakah seperti itu yang engkau lakukan bersama anak-anakmu?”.

    Umar pun bangun dan balik bertanya kepada Al-Aqra`, ”Memang, apa yang engkau lakukan dirumahmu?”.

    Al-Aqra` menjawab, ”Jika saya pulang ke rumah, anak yang sedang berdiri cepat-cepat duduk, anak yang sedang berbicara mendadak terdiam, dan anak yang sedang tidur-tidur mendadak bangun. Saya mempunyai anak sebanyak 10 orang. Namun tidak ada satupun yang pernah saya cium”.

    Umar berkata, ”Kalau begitu engkau tidak pantas menjadi pemimpin kaum muslimin.” Maka Al-Aqra` diperintahkan oleh Umar untuk segera dipecat dari jabatannya sebagai Kepala Daerah saat itu.

    ***

    Isyan Basya (kumpulan kisah dari buku-buku Al-Ghazali)

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:30 am pada 20 May 2013 Permalink | Balas  

    silluet-masjid 14Kisah Ali Bin Abi Thalib dan Anak Yatim

    Seorang perempuan tua dengan fisik yang lemah sedang mengangkat tempat air besar. Dengan terseok-seok dan napas yang terengah-engah perempuan tua itu melangkah menuju rumahnya. Tiba-tiba ada seorang pria tak dikenal mendekatinya dan menawarkan untuk membawakan tempat air yang berat itu. Perempuan tua itu menggerakkan bibirnya dan berterima kasih kepada Allah Swt. Ia kemudian berkata pada pria yang tak dikenal itu, “Allah mengirim engkau untuk menolongku. Insya Allah, engkau akan mendapatkan pahala dari perbuatanmu ini dari Allah.”

    Rumah perempuan tua itu tidak terlalu jauh. Ketika sampai, perempuan tua itu membukakan pintu. Anak-anaknya yang masih kecil begitu gembira setelah tahu ibu mereka telah kembali. Tapi rasa ingin tahu membuat mereka bertanya-tanya siapa orang asing ini.

    Pria tak dikenal itu kemudian meletakkan tempat air di tanah dan bertanya kepada perempuan itu, “Jelas bahwa tidak ada pria di rumah ini, sehingga engkau sendiri yang mengangkat air. Apa yang terjadi sehingga engkau tinggal sendiri?”

    Perempuan itu menarik napas panjang dan berkata, “Suamiku dulunya adalah seorang pejuang. Ia berperang bersama Ali bin Abi Thalib dalam sebuah perang dan di sana ia meninggal. Ia meninggalkan saya dengan beberapa orang anak.”

    Mendengar ucapan perempuan tua, pria tak dikenal itu tidak dapat berkata apa-apa. Tapi dari wajahnya terlihat ia begitu sedih. Ia hanya bisa menundukkan kepala, kemudian meminta diri dan pergi dari situ. Tapi tidak berapa lama ia kembali ke sana sambil membawa sejumlah makanan.

    Perempuan tua itu mengambil makanan dari pria tak dikenal itu dan berkata, “Semoga Allah meridhaimu!”

    Pria asing itu berkata, “Saya ingin membantu pekerjaanmu. Perkenankan saya membuat adonan roti, membakarnya atau menjaga anak-anak ini.”

    Perempuan itu berkata, “Baiklah! Jelas saya lebih baik dalam membuat adonan roti dan membakarnya. Engkau mengawasi anak-anak, sampai aku selesai membakar roti.”

    Pria asing itu menerima dan pergi menemui anak-anak itu. Tapi sebelum itu ia menghampiri bungkusan yang dibawanya dan mengambil daging lalu membakarnya. Setelah matang, dengan sabar ia menyuapi anak-anak itu. Ia berkata, “Anak-anakku! Relakanlah Ali bin Abi Thalib, bila ada kekurangan yang dilakukan terkait kalian… Anak-anakku! Relakan Ali bin Abi Thalib…”

    Adonan roti telah siap. Perempuan tua itu berkata, “Wahai hamba Allah! Nyalakan api untuk membakar roti ini…”

    Pria itu beranjak dari tempatnya dan pergi untuk menyalakan api. Tungku telah menyala. Air mata telah menggenang di pelupuk mata pria asing itu. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke api sambil berkata, “Rasakan panasnya api! Inilah balasan orang yang tidak mengurusi anak-anak yatim dengan baik dan tidak tahu kondisi para wanita yang menjanda…”

    Pada waktu itu, ada tetangga perempuan yang rumahnya bersebelahan dengan perempuan tua itu datang ke rumahnya. Ketika ia melihat pria tak dikenal itu, dengan segera ia menghadapi perempuan tua itu dan berkata, “Celakalah engkau! Tahukah siapa pria yang engkau perbantukan ini?”

    Perempuan tua itu terkejut dan berkata, “Tidak. Saya tidak mengenalnya. Ketika hendak kembali ke rumah saya bertemu dengan dia dan langsung menawarkan diri untuk membantu saya.”

    Tetangganya berkata, “Pria itu adalah Ali bin Abi Thalib, Amir al-Mukminin!”

    Begitu mengetahui pria asing yang membantunya adalah Ali bin Abi Thalib, perempuan tua itu langsung menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan ia mendekati pria itu dan berkata, “Wahai pria penolong! Maafkan saya yang tidak mengenalmu dan memintamu untuk membantuku.”

    Imam Ali as berkata, “Tidak! Saya yang harus meminta maaf kepadamu. Karena saya tidak melaksanakan kewajibanku dengan baik kepadamu dan anak-anak yatim ini.”

    Setelah itu, Imam Ali as secara berkala mendatangi rumah perempuan tua itu dan menanyakan keadaan mereka, sambil membantu makanan dan uang sesuai kemampuan beliau kepada mereka. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

    ***

    Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Ali as

     
    • dar 1:41 pm pada 7 Agustus 2013 Permalink

      keren gan

  • erva kurniawan 1:00 am pada 12 May 2013 Permalink | Balas  

    itikaf_womenSayyidah Nusaibah Wanita Mulia

    Oleh: Luthfi Bashori

    Nama Sayyidah Nusaibah, tampaknya jarang sekali disebut oleh umat Islam Indonesia, padahal beliau adalah seorang wanita yang menjadi shahabat Nabi Muhammad SAW, bahkan menjadi pahlawan perang Uhud yang pengorbanannya perlu dicatat dengan tinta emas.

    Sayyidah Nusaibah, adalah wanita tegar dan pemberani. Di saat terjadi perang Uhud, beliau adalah wanita muslimah yang menjadi pemasok makanan dan minuman bagi tentara kaum muslimin. Tentu tidak semua wanita memiliki jiwa pemberani seperti Sayyidah Nusaibah, karena itu beliau adalah termasuk pahlawan Islam yang sangat berjasa khususnya di saat terjadi perang Uhud.

    Sebagaimana diketahui, bahwa pada saat perang Uhud, terjadi sedikit kesalahan strategi dari kaum muslimin, maka barisan kaum muslimin pun menjadi porak poranda bahkan banyak korban perang yang menjadi syuhada (mati syahid).

    Di saat pasukan musuh melihat kelemahan barisan kaum muslimin, maka pasukan panah kaum kafir Quraisy mengambil tempat strategis untuk melayangkan anak-anak panah mereka, bahkan beberapa anak panah itu ditujukan kepada Baginda Rasulullah SAW.

    Nabi SAW pun sibuk menangkis satu persatu anak panah yang menyerangnya. Melihat kejadian semacam itu, Sayyidah Nusaibah lari menghampiri Nabi SAW, lantas menjadikan badannya sebagai tameng atau bemper demi melindungi Nabi SAW dari serangan anak panah, hingga akhirnya Sayyidah Nusaibah terkena 12 anak panah yang menancap di badannya. Pembelaan dan pengorbanan itu dilakukan oleh Sayyidah Nusaibah demi kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW.

    Dari kisah ini dapat diambil kesimpulan, bahwa umat Islam yang hidup di jaman sekarang, jangan ada yang merasa lebih hebat sedikitpun dari kemuliaan para shahabat Nabi SAW. Jangankan dari kemuliaan semua para shahabat, bahkan seberapapun tingginya kedudukan yang dimiliki oleh umat Islam dewasa ini, pasti tidak dapat menandingi secuilpun dari kemuliaan Sayyidah Nusaibah.

    Karena itu, betapa nista dan sesatnya kaum Syiah Imamiyah dan kaum Liberalisme yang seringkali mengkritik, mendiskreditkan bahkan sampai ada yang mengkafirkan para shahabat Nabi Muhammad SAW.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:29 am pada 10 May 2013 Permalink | Balas  

    niat baikRajin Ibadah Tapi Masuk Neraka

    Ini satu hadits yang baik. Meski kita rajin beribadah sehingga orang-orang mengira kita ahli surga, tapi jika akhlak kita buruk dan suka menyakiti sesama niscaya kita akan masuk neraka.

    Alkisah.. Suatu hari, seperti biasa Rasululloh saw dan para sahabat berkumpul di masjid. Di depan masjid itu ada sebuah rumah, di rumah itu tinggal seorang wanita yang dikenal sebagai ahli ibadah di lingkungan tempat tinggalnya, sebut saja `si fulanah`. Saat si fulanah keluar rumah hendak melaksanakan sholat berjama`ah di masjid, para sahabat memuji-mujinya dan ada yang berkata, `tentulah si fulanah itu ahli surga, karena dia senantiasa puasa di siang hari dan sholat di malam hari.` Kemudian Rasululloh saw beranjak dari tempat duduknya dan menjawab,

    `TIDAK! Hiya fin naar.. Hiya fin naar.. Dia ahli neraka.. Dia ahli neraka..`

    Para sahabat bertanya-tanya, `kenapa?`.

    Karena mulutnya sering menyakiti orang lain. Dia suka mengganggu tetangganya dengan ucapannya. Seluruh amal ibadahnya hancur, karena dia punya akhlak yang buruk. Dia menjadi ahli neraka karena ibadahnya tidak mampu menjadi motivasi baginya untuk berakhlak yang baik.

    `Man kana yu`minu billahi wal yaumil akhir fal yakul khoiron aw liyashmut,` barangsiapa beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.` (HR. Bukhori no. 6018)

    Hadits lain yg serupa: “Dari Abdullah bin Amr bin al-’Ash ra dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Muslim ialah orang yang semua orang Islam lainnya selamat dari kejahatan lidah -ucapan- dan kejahatan tangannya -perbuatannya-. ” (Muttafaq ‘alaih)

    Semoga Jumat ini membawa keberkahan

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:40 am pada 9 May 2013 Permalink | Balas  

    siluet ontaLaporan Rakyat Homs Kepada Umar Bin Khattab Tentang Said Bin Amir

    AKHIRNYA Khalifah Umar bin Khattab menyempatkan diri berkunjung ke Syria. Seperti biasanya ia menginspeksi semua wilayah kekhalifahan. Dalam kunjungan itu, beliau menyempatkan diri singgah ke Homs. Kota Homs ketika itu dinamai pula “Kuwaifah” yang berarti kufah kecil. Khalifah sering mendengar laporan-laporan miring dari rakyat Homs tentang Gubernur kota kecil itu, Said bin Amir.

    Tatkala Umar sampai di sana, rakyat mengelu-ngelukannya. Mereka mengucapkan selamat datang. Khalifah bertanya kepada rakyat, “Bagaimana penilaian Saudara-Saudara terhadap kebijakan gubernur kalian?”

    “Ya Khalifah, “ jawab rakyat. “Ada empat macam kelemahan yang hendak kami laporkan kepada Anda.”

    “Baik, aku akan pertemukan kalian dengan gubernur kalian,” jawab Khalifah Umar sambil berdoa. Ia berharap, tidak ada yang salah dengan Said bin Amir.

    Ketika semua pihak telah berkumpul, Khalifahpun kemudian bertanya kepada rakyat, “Bagaimana penilaian kalian tentang kebijakan gubernur kalian?”

    Pertanyaan Khalifah kemudian dijawab oleh seorang juru bicara. “Pertama,” ujarnya. “Gubernur Said bin Amir selalu tiba di tempat tugas setelah matahari tinggi.”

    Khalifah Umar bin Khattab melirik gubernurnya, “Bagaimana tanggapanmu mengenai laporan mereka, hai Said?”

    Gubernur Said bin Amir diam sejenak. Kemudian dia berkata, “Sesungguhnya aku keberatan menanggapinya. Tapi, apa boleh buat. Keluargaku tidak mempunyai pembantu. Karena itu, tiap pagi aku harus membuat adonan roti lebih dahulu untuk mereka. Sesudah adonan itu siap dimasak, barulah aku membuat roti. Kemudian aku berwudhu, barulah berangkat ke tempat kerja untuk melayani masyarakat.”

    “Nah, apalagi laporan kalian?” tanya Khalifah kepada hadirin, setelah menarik napas sejenak.

    “Kedua, Gubernur tidak bersedia melayani kami pada malam hari.”

    Said bin Amir langsung menjawab. “Hal itu sesungguhnya lebih berat bagi aku untuk menanggapinya—teruama di hadapan umum seperti ini. Aku telah membagi waktu, siang hari untuk melayani masyarakat, dan malam hari untuk bertaqarrub kepada Allah.”

    “Apa lagi?” tanya Khalifah kepada hadirin.

    “Ketiga, Gubernur tidak masuk kantor sehari penuh dalam sebulan.”

    “Bagaimana tanggapanmu, hai Said?”

    “Sebagaimana telah aku terangkan tadi, aku tidak mempunyai pembantu. Di samping itu, aku hanya memiliki sepasang pakaian saja. Aku mencucinya sebulan sekali. Bila aku mencucinya, aku terpaksa menunggu kering dahulu. Setelah itu barulah aku bisa keluar melayani masyarakat.”

    “Nah, apalagi laporan selanjutnya?” tanya Khalifah.

    “Terakhir, Gubernur sering menutup diri untuk bicara. Pada saat-saat seperti itu beliau biasanya meninggalkan majelis,”ujar juru bicara rakyat.

    Said bin Amir langsung menjawab, “Masalah itu, ketika aku masih musyrik, aku pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin Ady dihukum mati oleh kaum kafir Quraisy. Aku menyaksikan mereka menyayat-nyayat tubuh Khubaib hingga berkeping-keping. Pada waktu itu, aku mengejek Khubaib, ‘Sukakah engkau bila Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?’ Ejekan itu dijawab oleh Khubaib, ‘Aku tidak sudi bersenang-senang sementara Nabi Muhammad tertusuk duri. ’ Demi Allah, jika aku teringat peristiwa itu, di mana ketika itu aku tidak sedikitpun membela Khubaib. Aku selalu merasa bahwa dosaku tidak akan diampuni Allah swt…”

    “Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku,” ujar Khalifah Umar.

    Sekembalinya ke Madinah, Khalifah Umar mengirimi Gubernur Said seribu dinar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

    Melihat jumlah uang sebanyak itu, istrinya berkata pada Said, “Segala puji bagi Allah. Aku ingin mempergunakan uang ini untuk membeli bahan pangan dan perlengkapan lain. Aku ingin pula menggaji seorang pembantu rumah tangga kita.”

    “Adakah usul yang lebih baik daripada itu?” tanya Said bin Amir pada istrinya.

    “Apa pulakah usul yang lebih baik daripada itu?” istrinya kembali balik bertanya.

    “Kita bagi-bagikan saja uang ini kepada rakyat yang membutuhkannya. Itulah yang lebih baik bagi kita,” jawab Said.

    “Mengapa?” tanya istrinya lagi.

    “Dengan begitu, berarti kita menyimpan uang ini di sisi Allah. Itulah cara yang lebih baik,” jawab Said dengan mata berbinar-binar.

    Istrinya setuju. Sebelum mereka meninggalkan majelis, uang itu di masukkan Said ke dalam beberapa pundi. Lalu diperintahkannya kepada salah seorang keluarganya. “Berikan pundi ini kepada janda si fulan. Berikan juga pundi ini kepada anak yatim si fulan. Ini kepada si fulan yang miskin. Ini untuk si fulan yang …”

    Semoga Allah meridhai Said bin Amir. Ia menyadari bahwa cara terbaik untuk mensyukuri nikmat Allah, salah satunya, dengan membagi rezekinya. Menginfakkannya. Menyedekahkannya. Karena, pada kebahagiaan yang kita miliki, ada juga yang bisa disedekahkan untuk orang lain. Sebagai syukur terhadap Allah yang telah memberikan segalanya.

    ***

    By Admin Islampos

    islampos.com

     
  • erva kurniawan 1:20 am pada 7 May 2013 Permalink | Balas  

    tahajjudCerita kecil tahajjud : Umar bin Abdul aziz

    Istri Umar bin Abdul aziz, Fathimah binti Abdul Malik, berkata kepada Al Maghirah bin Hakim, ” Hai Mughirah, saya tahu bahwa kadang-kadang diantara manusia ada orang yang lebih rajin shalat dan puasanya daripada Umar. Akan tetapi, saya tidak pernah melihat orang yang dekat kepada Tuhannya seperti kedekatan Umar. Setelah shalat isya pada akhir waktunya, dia merebahkan dirinya di atas tempat sujudnya. Dia berdoa dan menangis hingga tertidur. Kemudian, dia bangun lalu berdoa dan menangis hingga tertidur. Demikian seterusnya hingga subuh” (Al Zuhd karya Ibn Hanbal h.299, Hilyah Al Auliya jil.5 h.360)

    **

    Rindukah kita pada Allah yang menjanjikan surga? Seperti rindunya Umar bin Abdul Aziz? Atau pamrih saja atas amal yang kita kerjakan “separuh hati” dan berharap bisa memasukkan kita ke dalam surga? Tak bisakah kita sedikit mencintai Zat yang tiap hari tanpa henti memberi rizki kepada kita dan tanpa henti pula juga catatan penghianatan dan dosa kita beri kepada-Nya tiap hari?

    Atau seperti apa kita rindu pada shalat malam kita? Masihkah kita jadi PECANDU TIDUR yang begitu nikmatnya dengan tidur dispring bed yang empuk ditemani istri yang cantik dan selimut yang tebal serta AC yang berhembus dan “membiarkan Allah menunggu” picingan mata kita “berharap” mau berkhalwat dengan-Nya? Padahal Rasulullah SAW pun tidur hanya beralaskan daun kurma yang ketika bangun terbekaslah garis-garis dedaunan di punggungnya yang menyebabkan pecahnya tangisan umar ketika melihat kekasihnya seperti itu?

    Hamba macam apa kami ini ya Robb ..

    Irhamna Ya Robb. Irhamna.

    HAL JAZA UL IHSANI ILLAL IHSAN

    ***

    Oleh Sahabat Rediyan Setiawan

     
  • erva kurniawan 1:38 am pada 4 May 2013 Permalink | Balas  

    itikaf_womenSayyidah Nusaibah Wanita Mulia

    Oleh: Luthfi Bashori

    Nama Sayyidah Nusaibah, tampaknya jarang sekali disebut oleh umat Islam Indonesia, padahal beliau adalah seorang wanita yang menjadi shahabat Nabi Muhammad SAW, bahkan menjadi pahlawan perang Uhud yang pengorbanannya perlu dicatat dengan tinta emas.

    Sayyidah Nusaibah, adalah wanita tegar dan pemberani. Di saat terjadi perang Uhud, beliau adalah wanita muslimah yang menjadi pemasok makanan dan minuman bagi tentara kaum muslimin. Tentu tidak semua wanita memiliki jiwa pemberani seperti Sayyidah Nusaibah, karena itu beliau adalah termasuk pahlawan Islam yang sangat berjasa khususnya di saat terjadi perang Uhud.

    Sebagaimana diketahui, bahwa pada saat perang Uhud, terjadi sedikit kesalahan strategi dari kaum muslimin, maka barisan kaum muslimin pun menjadi porak poranda bahkan banyak korban perang yang menjadi syuhada (mati syahid).

    Di saat pasukan musuh melihat kelemahan barisan kaum muslimin, maka pasukan panah kaum kafir Quraisy mengambil tempat strategis untuk melayangkan anak-anak panah mereka, bahkan beberapa anak panah itu ditujukan kepada Baginda Rasulullah SAW.

    Nabi SAW pun sibuk menangkis satu persatu anak panah yang menyerangnya. Melihat kejadian semacam itu, Sayyidah Nusaibah lari menghampiri Nabi SAW, lantas menjadikan badannya sebagai tameng atau bemper demi melindungi Nabi SAW dari serangan anak panah, hingga akhirnya Sayyidah Nusaibah terkena 12 anak panah yang menancap di badannya. Pembelaan dan pengorbanan itu dilakukan oleh Sayyidah Nusaibah demi kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW.

    Dari kisah ini dapat diambil kesimpulan, bahwa umat Islam yang hidup di jaman sekarang, jangan ada yang merasa lebih hebat sedikitpun dari kemuliaan para shahabat Nabi SAW. Jangankan dari kemuliaan semua para shahabat, bahkan seberapapun tingginya kedudukan yang dimiliki oleh umat Islam dewasa ini, pasti tidak dapat menandingi secuilpun dari kemuliaan Sayyidah Nusaibah.

    Karena itu, betapa nista dan sesatnya kaum Syiah Imamiyah dan kaum Liberalisme yang seringkali mengkritik, mendiskreditkan bahkan sampai ada yang mengkafirkan para shahabat Nabi Muhammad SAW.

    ***

    Dari: Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:06 am pada 27 April 2013 Permalink | Balas  

    nabi-muhammad-saw1Keberanian Dan Kesabaran Rasulullah

    Dalam diri Rasulullah saw. terdapat keberanian yang luar biasa sebagai sarana utama untuk memperjuangkan agama dan menjujung tinggi kalimat Allah.

    Rasulullah menjadikan segala nikmat yang diperolehnya untuk di salurkan dan di tempatkan pada tempat yang sebenarnya. Berkata Aiasyah r.a. “Belum pernah Rasulullah memukul seseorang dengan tangannya kecuali dalam peperangan dan belum pernah beliau memukul seorang pembantu atau seorang perempuan.” (HR Muslim)

    Contoh yang paling nyata dari keberanian Rasulullah yaitu ketika beliau seorang diri menyeru kaumnya yang terdiri dari tokoh-tokoh kufar Quraisy serta mengajak mereka untuk masuk ke dalam ajaran Islam

    Dan beliau tidak pernah mengatakan aku seorang diri, sedangkan seluruh manusia memusuhiku. Beliau percaya bahwa Allah akan menolongnya karena sejak semula beliau percaya dan tawakal dalam melaksanakan tugas dakwahnya.

    Dalam peperangan, beliau adalah orang yang paling berani, ketika orang-orang lari ketakutan, beliau tetap berdiri tegak seorang diri melawan musuh-musuhnya. Beliau beribadah dalam kesunyian di Gua Hira selama bertahun-tahun tanpa mendapat rintangan dan permusuhan dari kaum Quraisy. Kecuali ketika beliau telah mengajak kaumnya bertauhid kepada Allah, barulah kufar Quraisy itu menentangnya.

    Allah berfirman, “Katakanlah, siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi dan siapakah yang menciptakan pendengaran dan penglihatan dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ maka mereka akan menjawab, `Allah.’ Maka katakanlah, Mengapa kamu tidak bertakwa?’” (QS Yunus : 31)

    Orang-orang Quraisy itu menjadikan berhala-berhala sebagai perantara antara mereka dan Allah sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam al- Quran,

    “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), `Kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’” (QS Az- Zumar : 3)

    Seandainya mereka tidak begitu, niscaya mereka sudah mengakui Allah sebagai Tuhan mereka, Allah berfirman, “Katakanlah, siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Katakanlah, `Allah.’” (QS Saba : 24)

    Cobalah kita renungkan, betapa syirik sudah merajalela di tengah- tengah kaum muslim; meminta pada roh leluhur, bernazar, takut kualat, dan berharap kepada mereka. Dengan begitu, tali-tali penghubung kepada Allah telah putus di sebabkan syirik dan meminta-minta kepada orang yang telah mati.

    Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang menyekutukan Allah maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya adalah neraka.” (QS Al-Maa’idah : 72)

    Dari rumah Rasulullah, kita layangkan pandangan ke arah utara pada sebuah gunung yang bernama Uhud, sebagai saksi bisu atas keberanian dan kesabaran serta keteguhan beliau. Beliau mengalami luka yang cukup parah dalam peperangan yang terjadi di kaki gunung tersebut. Wajahnya berdarah, gigi geraham beliau pecah, serta kepalanya bocor.

    Sahal bin Sa’ad menceritakan tentang luka-luka beliau dan berkata, “Ketahuilah demi Allah, aku mengetahui siapa yang membersihkan luka Rasulullah dan siapa yang menyirami dengan air dan dengan apa beliau diobati. Yang membersihkan adalah Fatimah sedang yang menyiram air adalah Ali bin Abi Thalib. Ketika Fatimah melihat darah semakain banyak keluar, dia merobek sepotong tikar, membakarnya dan membalutnya dan kemudian darah berhenti mengalir. Namun, gigi geraham dan bagian atas kepala beliau serta muka beliau tampak terluka cukup parah.” (HR Bukhari)

    Al-Abas bin Abdul Muthalib menceritakan keteguhan Rasulullah dalam Perang Hunain, “Ketika pasukan muslim mundur, Rasulullah tetap menghadapkan kudanya ke arah musuh dan aku memegang tali kekangnya supaya tidak berlari cepat, waktu itu kudengar Rasulullah berkata, `Aku Nabi bukan pembohong aku cucu Abdul Muthalib.” (HR Muslim)

    Seorang pahlawan muda yang tangguh dan pemberani serta penunggang kuda yang andal yang lebih teruji ketangguhannya di segala medan tempur, Ali bin Abi Thalib menceritakan keberanian Rasulullah sebagai berikut, “Ketika perang sedang berkecamuk dan dua pasukan telah saling membunuh, kami para sahabat berlindung di balik Rasulullah dan tidak ada seorangpun yang lebih dekat kepada musuh kecuali beliau.” (HR Al-Baghawi dan Muslim)

    Karena kesabaran Rasulullah dalam berdakwah, Allah menjadikan agama Islam ini tersebar luas sampai ke negara-negara Asia Tengah bahkan sampai ke Timur Jauh. Pasukan berkuda kaum muslim sudah terbiasa mengelilingi Jazirah Arab dan Negara Syam, sehingga tidak ada satu tempat pun yang tidak dijamahnya.

    Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah dan tidak takut kepada siapa pun selain Dia. Aku ditakuti karena Allah dan tidak ada seorang pun yang ditakuti karena Allah selain aku. Dan aku telah disakiti di jalan Allah dan tidak seorang pun yang disakiti selain aku. Aku telah mengalami selama 30 hari siang dan malam, sedangkan aku ataupun Bilal tidak punya apa-apa untuk dimakan kecuali sesuatu yang tersembunyi di balik ketiak Bilal. ” (HR Ahmad dan TirmidzI)

    Walaupun beliau berkuasa dan menaklukan berbagai Negara, harta rampasan perang melimpah dan zakat menggunung, beliau tidak mewariskan apa-apa kecuali agama atau ajaran Islam. Itulah yang disebut warisan Nabi. Maka, siapapun yang belajar agama, dia telah memperoleh warisan Nabi

    Diriwayatkan oleh Aisyah, “Rasulullah tidak meninggalkan warisan dinar atau dirham, kambing atau unta, dan tidak mewariskan sesuatu.” (HR Muslim)

    ***

    Sumber: jkmhal.com

    Sehari Di Rumah Rasulullah – Abdul Malik Ibnu Muhammad Al-Qasim

     
  • erva kurniawan 1:28 am pada 23 April 2013 Permalink | Balas  

    tahajjudKisah Rambut Abu Mahdzuroh

    Nama beliau adalah Aus bin Rabiah bin Mi’yar bin Uraij bin Sa’ad bin Jumah. Ada yang mengatakan nama beliau adalah Salman bin Samurah, atau Salamah bin Samurah. Ada juga yang mengatakan nama beliau adalah Mi’yar bin MuhayrizBerkata Abu Umar : Zubair dan pamannya serta Ibnu Ishaq Al Musayyabi bersepakat bahwa nama asli Abu Mahdzuroh adalah Aus. Mereka adalah orang yang paling mengerti dalam hal ansabu quraisy. Pendapat yang mengatakan beliau bernama Salamah adalah keliru

    Adz-Dzhabi, semoga Allah merahmatinya berkata : Abu Mahdzuroh adalah mu’adzdzin masjidil haram, dan termasuk sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Dia termasuk orang yang suaranya merdu

    Suatu ketika Nabi menyuruh beberapa orang mengumandangkan adzan secara bergantian

    Abu Mahdzuroh berkata,”Aku mendapat giliran terakhir. Ketika usai mengumandangkan adzan, Rasulullah memanggilku, ‘kemarilah !’ kata beliau. Rasulullah mendudukkanku di depanya, melepas serbanku, kemudian mengusap ubun-ubunku, kemudian beliau berdo’a :

    “Ya Allah, berkahilah dia dan tunjukkan dia ke jalan Islam”

    Beliau memberkahiku hingga tiga kali kemudian bersabda :

    “Pergilah, kumandangkan adzan di Baitullah!”

    Aku bertanya,”Bagaimana caranya Ya Rasulallah?”

    Beliau mengajariku adzan sebagaimana para sahabat. Di waktu shubuh ada kalimat “Asholaatu khoirumminan nauum”

    Dan beliau mengajarkan iqomah dua kali tiap-tiap kalimat

    Setelah Nabi mengusap ubun-ubunnya, Abu Mahdzuroh berkata,”Demi Allah, tak akan kupotong rambut ini sampai aku mati.”

    Benar! Abu Mahdzuroh membiarkan rambut ubun-ubunnya memanjang hingga separo tinggi badannya hingga beliau kembali ke rahmatullah karena usapan tangan mulia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

    Beliau -semoga Allah meridhoinya- mengumandangkan adzan hingga wafat tahun 54 H. putranya maju menggantikan beliau, kemudian cucunya, turun temurun hingga masa Imam Asy Syafi’i

    Tentang panjangnya rambut sahabat Abu Mahdzuroh ini, disebutkan dalam Al Mustadrak ala ash shohihain, juz 4 hal 658 :

    Sesungguhnya Abu Mahdzuroh, mempunyai kisah tentang rambut bagian depannya yang panjang. Apabila beliau duduk dan menguraikannya, maka rambutnya menjuntai ke tanah

    Teman-temannya berkata,”Mengapa tidak kau potong saja rambutmu?”

    “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah mengusapnya dengan tangan beliau. Aku tak akan memotongnya hingga mati”

    Demikianlah, beliau tak memotong rambut yang pernah disentuh tangan mulia Rasulullah hingga akhir hayatnya

    Wallahu a’lam bish showab

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:43 am pada 9 April 2013 Permalink | Balas  

    sunyiIbu Pembunuh dan Korban Pembunuhan

    Dalam al-Musnad, Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jiwa tidak dibunuh dengan cara zhalim, melainkan anak pertama Adam berhak menanggung darahnya, karena dialah yang pertama kali menyontohkan pembunuhan.”

    Kebijaksanaan Allah SWT menghendaki Qabil berdiri lemah di depan saudaranya yang sedang berlumuran darah –padahal sebelum itu, ia dengan beringas mengancam saudaranya kemudian membunuhnya–. Qabil bertanya-tanya, apa yang harus ia katakana kepada kedua orang tuanya Adam dan Hawa?

    Sekali lagi, Qabil memandang mayat saudaranya yang telah ia bunuh hendak dibawa kemana? Bahkan dimana ia harus menyembunyikannya? Saudaranya, Habil, adalah anak keturunan Adam yang pertama kali meninggal dunia di bumi ini jadi pemakaman mayat tidk pernah terjadi sebelum itu!

    Asy-Syaukani ra., berkata, “Qabil tidak tahu bagaimana ia harus mengubur saudaranya, karena saudaranya adalah mayat pertama dari anak keturunan Adam.”

    Qabil berdiri tidak tahu apa yang harus ia kerjakan. Ketika ia berada dalam kebingungan dan diam, tiba-tiba suara burung gagak memecah suasana. Burung gagak tersebut berada didekat Qabil. Tahukah Anda, apa yang akan diperbuat burung gagak tersebut?

    Riwayat-riwayat yang bertebaran di buku-buku tafsir, sejarah dan hadits mengatakan, “Bahwa burung gagak tersebut membunuh burung gagak yang lainnya, atau burung gagak tersebut menemukan bangkai burung gagak, atau datang dengan membawa bangkai burung gagak, kemudian burung gagak tersebut membuat galian di tanah dan menguruknya.”

    Qabil merasa kerdil di dalam dirinya sendiri. Sekarang terkuaklah kelemahan diri dan ketidakberdayaannya. Ia tak ubahnya seperti burung gagak yang lemah di sekawanan burung gagak yang buta huruf!.

    Peristiwa tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an Al-Karim Allah SWT berfirman, “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil:”Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal”. (QS. Al-Maidah (5): 31)

    Dari ayat yang mulia diatas terlihat bahwa penyesalan Qabil bukanlah penyesalan taubatan nasuha, karena jika penyesalannya adalah penyesalan taubatan nasuha, Allah pasti menerima taubatnya. Namun penyesalan karena tindakannya tidak berguna diteruskan dengan kelelahan, kesengsaraan, dan kekalutan.

    Dengan kejadian diatas, syetan mendapat salah seorang dari anak Adam dalam perjalanan awalnya di atas pemukaan bumi. Berita pembunuhan tersebut pun menyebar kepada Adam dan Hawwa’

    Para sejarawan menyebutkan bahwa Adam sedih atas kematian anak-anak, Habil, hingga bertahun-tahun.

    Terlihat bahwa Hawwa’ juga amat sedih dengan kematian Habil. Ia ibu korban sekaligus ibu seorang pembunuh!

    Ibnu Asakir ra., meriwayatkan di Tarikh nya bahwa ketika Habil dibunuh Qabil, Adam berkata kepada Hawwa’, Hai Hawwa’, anakmu mati.”

    Hawwa’ bertanya, Apa kematian itu?

    Adam menjawab, “Kematian ialah tidak makan-minum, tidak berdiri dan berjalan, serta tidak bicara selama-lamanya.

    Hawwa’ menjerit histeris.

    Adam berkata kepada Hawwa’, “Hendaklah engkau dan anak-anak putrimu sedih. Aku dan anak-anakku berlepas tangan atas kasus ini.”

    Kesedihan Adan dan Hawwa’ atas kematian Habil berlangsung lama sekali.

    Ath-Thabari ra., meriwayatkan di Tarikh-nya bahwa Hawwa’ mengandung Syaits lima tahun setelah kematian Habil. Arti Syaits ialah pemberian Allah, maksudnya bahwa Syaits adalah pengganti dari Habil.

    Hari-hari terus berjalan. Adam dan Hawwa’ semakin tua. Anak-anak keturunannya semakin banyak di bumi. Adam as., adalah Nabi yang mengajak anak-anak dan keturunannya kepada Allah dan menjelaskan keagungan Allah kepada mereka. Bisa jadi, beliau bercerita kepada mereka tentang tipu daya Iblis terhadap dirinnya dan istrinya, Hawwa’, dan menuruh mereka bersikap hati-hati terhadap Iblis dan fitnahnya![*]

    ***

    jkmhal.com – Istri-Istri Para Nabi

    Ahmad Khalil Jamaah dan Syaikh Muhammad bin Yusuf Ad-Dimasyqi

     
  • erva kurniawan 1:40 am pada 20 March 2013 Permalink | Balas  

    Cerita kecil tahajjud : Abu Yazid Al-Bisthami 

    tahajjudCerita Kecil Tahajjud : Abu Yazid Al-Bisthami

    Ketika sedang shalat tahajjud, dia melihat anaknya yang masih kecil bangun disampingnya. Dia merasa kasihan kepada anak itu karena malam begitu dingin. Oleh Karena itu Dia berkata, “Anakku, tidurlah! Malam masih panjang.” Namun, anak itu berkata,” Tetapi mengapa ayah bangun?”

    Abu yazid menjawab,” Anakku, Dia telah memintaku agar bangun untuk-Nya.” Anak itu berkata,” aku telah menghafal firman Allah Swt., Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang -orang yang bersamamu.(QS AL MUZZAMIL [73]: 20) Siapakah mereka yang berdiri bersama Nabi Saw.?”

    Abu yazid menjawab,”Mereka adalah para sahabatnya” Anak itu berkata, “Jangan larang aku untuk menemanimu dalam ketaaatan kepada Allah.”

    Abu yazid kebingungan dan berkata,” Anakku, kamu masih kanak-kanak, belum baligh”

    Anak itu berkata,”Ayah, aku melihat ibu menyalakan api dari potongan-potongan ranting yang kecil lalu menjalar ke kayu yang besar. Aku takut Allah menyiksa kami (anak-anak) lebih dahulu daripada orang-orang dewasa jika kami lalai untuk taat kepada-Nya.”

    Ketika itu, Abu yazid merinding karena takut kepada Allah. Dia berkata “Subhanallah. Anakku, bangunlah!! Kamu lebih pantas berdiri dihadapan Allah dari pada ayahmu!!”

    BAGAIMANA ANDA MENDIDIK ANAK ANDA DIRUMAH?? Dengan pekik kesakitan-nya kah? Dengan tangan besikah? Dengan gaya “anak kesayangan?”-kah, atau dengan KEDAHSYATAN seperti yang dilakukan Abu Yazid Al Bisthami?

    Jika anda tidak memikirkannya mulai sekarang, kapan lagi? Saat anda kesakitan dihimpit kubur dan tak ada doa penyejuk dari anak anda? Atau saat ditanya oleh Sang Pemilik Barat dan Timur tentang amanat yang dititipkan ke anda?? Tolong sedikit saja direnungkan akhi/ukhti..

    HAL JAZA UL IHSANI ILLAL IHSAN

    Oleh: Rediyan Setiawan

     
    • inna 12:02 pm pada 30 April 2013 Permalink

      dr kisah d atas kt dpat mngetahui gunakanlah didikan dgn tangan besi atas nama ALLAH SWT sebagai bekal berjumpa dgn nya

  • erva kurniawan 1:35 am pada 17 March 2013 Permalink | Balas  

    Cerita kecil tahajjud : Umar bin Abdul Aziz 

    tahajjudCerita Kecil Tahajjud : Umar bin Abdul Aziz

    Suatu ketika, istri Umar, Fathimah, menangis hingga matanya bengkak. Dua saudaranya, Maslamah binAbdul Malik dan Hisyam bin Abdul Malik menemuinya dan bertanya, “Apa yang telah terjadi padamu? Apakah kamu bersedih karena suamimu? Dia memang pantas untuk membuatmu bersedih. Atau, apakah kamu kehilangan bagian dari keduniaan? Bukankah kami beserta harta dan keluarga kita ada di hadapanmu?” Dia menjawab “Bukan. Tidak satu pun dari semua itu yang membuatku bersedih. Akan tetapi, pada malam tadi, aku melihat suatu pemandangan aneh pada dirinya. Aku tahu, pasti ada perkara besar dan menakutkan yang membuatnya berprilaku seperti itu. Sungguh, jika aku mengetahui nya, hatiku akan tenang.”

    Kedua saudaranya bertanya, : Apa yang kamu lihat pada dirinya?” Fathimah menjawab, : Pada malam itu aku melihat dia sedang shalat. Ketika membaca ayat’ Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan gunung – gunung seperti bulu yang dihamburkan-hamburkan (QS Al Qari’ah [101] :4-5) dia menjerit,’Oh! Betapa buruk keadaanku pada subuh ini!’ Kemudian, dia duduk dan merebahkan diri. Dia mulai bersikap dingin kepadaku. Aku mengira bahwa nyawanya akan melayang. Kemudian, dia menjadi tenang sehingga aku mengira bahwa dia telah wafat. Lalu, dia siuman dan berkata, ‘Oh! betapa buruk keadaanku pada subuh ini!’ Kemudian dia duduk, lalu mulai mondar-mandir di dalam rumah. Dia berkata, ‘Celakalah aku! Bagaimana keadaanku pada hari manusia seperti anai-anai yang betebaran dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.’ Demikian keadaannya hingga terbit fajar. Kemudian, dia jatuh seperti mayat hingga terdengar suara azan untuk shalat subuh. Demi Allah, setiap kali mengingat kejadian pada malam itu, aku tidak sanggup menahan tetesan air mata (Sirah wa Manaqib ‘Umar bin Abdul Aziz karya Ibn Al-Jauzi, h.323.324)

    Ya Robb. Berikankah dihati kami NYAWA disetiap ayat-Mu, biarlah dada ini berat, biarlah nafas ini tersengal dan beratnya ketukan jantung serta biarlah dahaga ujung mata ini terpenuhi dengan derasnya air mata kerinduan memenuhi panggilan Mu di ujung malam ini. Ahh. aku rindu malam-Mu ya Robb

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:22 am pada 15 March 2013 Permalink | Balas  

    tahajjudCerita Kecil Tahajjud : ‘Ibad bin Basyar r.a

    Jabir bin Abdullah berkata “Kami pergi bersama Rasulullah Saw. Dibelakang kami ada seorang laki-laki yang menguntit kami. Dia bersumpah tidak akan berhenti sebelum dapat menumpahkan darah para sabagat Muhammad. Dia pun mengikuti jejak kami. Disuatu tempat, Rasulullah minta singgah untuk rehat. Beliau lalu memberikan mandate keamanan kepada ‘Ammar bni Yasir, sementara ‘Ibad bin Basyar melakukan shalat.

    Penguntit tadi datang. Dia mengarahkan panahnya kepada Ibad bin Basyar sehingga mengenainya. Ibad mencabut tiga anak panah yang menancap di tubuhnya. Namun, dia terus ruku’ dan sujud. Kemudian, Rasulullah bangun. Ketika mengetahui hal tersebut, para sahabat yang menyertai perjalanan Rasulullah bernazar untuk membunuh orang itu. Seseorang sahabat Muhajirin yang melihat keadaan Ibad langsung berkata ” Subhanallah.. mengapa engkau tidak membangunkan ku ketika pertama kali terkena panah?” Ibad menjawab, “aku sedang shalat dengan membaca Surah Al-Kahfi. Aku tidak ingin menghentikannya” (HR Abu dawud, Ibn Hibban, dan Al-Hakim)

    Hai pelamar dan perindu bidadari, Bangunlah, niscaya kau menyuntingnya, Lawanlah nafsu dengan ketabahan melepaskannya, Bangun malam merupakan mahar untuknya, Wahai peminang bidadari jika kau mau, Inilah waktunya menyerahkan mahar !!

    HAL JAZA UL IHSANI ILLAL IHSAN

    ***

    Oleh: Rediyan Setiawan

     
  • erva kurniawan 1:46 am pada 10 March 2013 Permalink | Balas  

    mahkotaMemimpin dengan Rendah Hati

    Pemimpin, kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah pelayan umatnya. Bukan sebaliknya, bagai “raja” yang selalu minta dilayani

    Setelah diumumkan pengangkatannya menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz menyendiri di rumahnya. Tak ada orang yang menemui, beliau pun tak mau keluar menemui seorang.

    Dalam kesendirian itu, beliau menghabiskan waktu dengan bertafakkur, berdzikir, dan berdoa. Pengangkatannya sebagai khalifah tidak disambutnya dengan pesta, tetapi justru dengan cucuran air mata.

    Tiga hari kemudian beliau keluar. Para pengawal menyambutnya, hendak memberi hormat. Umar malah mencegahnya. “Kalian jangan memulai salam kepadaku, bahkan salam itu kewajiban saya kepada kalian.”

    Itulah perintah pertama Khalifah kepada pengawal-pengawalnya.

    Umar menuju ke sebuah ruangan. Para pembesar dan tokoh telah menunggunya. Hadirin terdiam dan serentak bangkit berdiri memberi hormat. Apa kata beliau?

    “Wahai sekalian manusia, jika kalian berdiri, saya pun berdiri. Jika kalian duduk, saya pun duduk. Manusia itu sebenarnya hanya berhak berdiri di hadapan Rabbul-‘Alamin.”

    Itulah yang dikatakan pertama kali kepada rakyatnya.

    Buka Hati

    Sikap pemimpin dalam Islam, sejatinya memang harus demikian. Sebagaimana kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pemimpin adalah pelayan umatnya.

    Sabda Nabi itu sungguh istimewa, sebab seorang pemimpin biasanya seperti seorang raja. Dan sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz mewarisi budaya yang demikian itu; hidup dalam gelimang kemewahan dan kekuasaan.

    Ternyata Umar tidak serta merta meneruskan budaya yang sebenarnya menguntungkannya secara pribadi itu. Beliau tak mau dihormati berlebihan dan hidup dalam kemewahan. Ia memilih sikap rendah hati dan sederhana.

    Sebagai pemimpin besar, bersikap rendah hati, sederhana, dan melayani tentu tidak mudah. Apalagi bila kesempatan bermewah-mewah itu memang terbuka di depan mata, siapa tak tergiur?

    Di negeri kita ini, kedudukan dan jabatan malah jadi rebutan. Bahkan banyak yang mati-matian berkorban apa saja, dengan segala cara, untuk mendapatkannya. Setelah berhasil meraihnya, pertama kali yang dilakukan adalah pesta kemenangan. Kemudian segeralah digunakan aji mumpung. Sim salabim, jadilah OKB (Orang Kaya Baru). Gaya hidup dan pergaulannya berbeda dengan sebelumnya. Seolah menikmati kemewahan itulah memang impiannya.

    Mari kita membuka hati ini. Dengan berbagai upaya dan gaya hidup mewah itu, apa sih sesungguhnya dicari? Dengan mobil mewah, rumah megah, pakaian serba mahal, apa sebenarnya yang dirindukan lubuk hati? Mungkin terdetak dorongan…hidup terhormat dan dimuliakan.

    Tentu mencapai hidup seperti itu suatu yang normal saja. Malah aneh kalau ada orang bercita-cita hidup hina dan direndahkan. Tetapi benarkah kemuliaan dan kehormatan dapat dicapai dengan hidup berbungkus kemewahan? Coba sebutkan nama-nama orang yang menggetarkan hati karena kemuliaan dan kehormatannya. Cermati satu per satu. Benarkah hati Anda terkesan karena kemewahan mereka?

    Mari kita bercermin kepada Umar. Kita tenangkan hati dan jernihkan pikiran sejenak. Andai beliau memilih cara hidup mewah dan bermain kekuasaan sebagaimana raja-raja yang lain, akankah memiliki nama harum seperti saat ini?

    Mungkin saja kemewahan singgasana bisa menjadi topeng kemuliaan di muka rakyat. Tetapi berapa lama “kemuliaan” seperti itu bisa bertahan?

    Lihatlah para pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan untuk kesombongan dan kemewahan. Bagaimana akhir kehidupan mereka? Masa tua tidak hidup damai, malah gundah gulana karena dijerat hukum. Terbukti bahwa kemuliaan yang dibungkus materi hanyalah semu dan tipuan belaka.

    Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai orang-orang sombong. “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.” (Luqman: 18-19)

    Misi Mulia

    Ya, memang tidak mudah untuk selalu rendah hati dan memilih hidup melayani. Apalagi kalau terjebak pada dorongan biologis dan egoisme semata. Maunya justru dilayani.

    Ketika sedang memegang kekuasaan, yang dipikirkan adalah apa yang dapat diambil dengan posisi ini, bukan kebaikan apa yang dapat diberikan pada orang lain. Melayani dirasakan sebagai suatu kehinaan, seolah yang harus melakukan adalah orang-orang rendahan. Padahal melayani inilah misi mulia yang sebenarnya diamanahkan Allah kepada hamba-Nya yang terpilih; Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti jejaknya.

    “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiyaa’: 107).

    Dengan berbagi rahmat, tersebarlah belas kasih dan kedamaian dalam kehidupan.

    Dalam bekerja, seorang pemimpin akan senantiasa berpikir bagaimana karyawannya sejahtera. Karyawan pun berpikir bagaimana bisa memberikan layanan terbaik melalui pekerjaannya.

    Sebagai pemimpin keluarga, seorang ayah yang mengasihi keluarganya akan mengantar pada suasana sakinah. Anak-anaknya pun termotivasi untuk meneladani dan berbakti kepada kedua orangtuanya.

    Setiap orang yang melayani dengan ikhlas berarti telah berpartisipasi menebar rahmat ke seluruh alam. Itulah tugas terhormat seorang pemimpin. Dan setiap kita pada hakikatnya adalah pemimpin, begitu sabda Rasulullah.

    Bila setiap orang berpikir minta dilayani, yang terjadi justru krisis. Pemimpin minta dilayani stafnya. Majikan memeras para karyawan. Petugas mempersulit rakyat. Orientasinya bukan rahmatan lil ‘alamin, tetapi keuntungan pribadi.

    Kekayaan alam yang mestinya untuk kesejahteraan rakyat, malah dikuras untuk bermewah-mewah diri dan kroninya. Hutan digunduli sehingga banjir dan longsor di sana-sini. Rakyatlah yang jadi korban.

    Melihat perilaku pemimpin yang seperti itu, rakyat pun ikut-ikutan mencari keuntungan sendiri. Sudah kaya dan berkecukupan, namun belum bersyukur dan malah berebut bantuan yang mestinya untuk fakir miskin. Sungguh cara hidup yang tidak akan berujung kepada kemuliaan, tetapi justru kehinaan. Dan inilah yang banyak disaksikan di sekeliling kita sekarang.

    “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Israa’: 16)

    Agar mampu rahmatan lil ‘alamin, kita perlu mentransformasi diri. Pusat diri yang sebelumnya egoisme dan hawa nafsu, harus diganti dengan kebeningan nurani.

    Sumber Inspirasi

    Bayangkan kalau ada orang yang rendah hati, menghormati sesama, dan suka melayani. Tidakkah hati Anda menyukai dan terkesan dengan keikhlasannya?

    Orang yang demikian itu akan membahagiakan hati sesama. Kalau dia seorang bapak, keluarganya akan menghormatinya dengan tulus. Kalau seorang ibu, anak-anaknya tentu akan senantiasa merindukan. Kalau seorang pemimpin, tentu akan menginspirasi hati sekalian rakyatnya.

    Umar bin Abdul Aziz telah membuktikan keberkahan rendah hati. Meski hanya menjabat dua tahun, terjadi perubahan besar. Akhlak rakyatnya yang sebelumnya buruk seketika berubah menjadi baik.

    Umat akan terinspirasi pemimpin yang rendah hati dan teramat jujur itu. Yang menjadi pembicaraan heboh saat itu di berbagai sudut kota, warung, sampai pinggiran ladang di desa adalah masalah iman dan amal shalih. Mungkin seheboh dunia ini ketika dihipnotis oleh perhelatan Piala Dunia yang belum lama berakhir.

    Masyarakat giat bekerja dan sejahtera. Kemakmuran mencapai puncaknya. Rakyat berdaya ekonominya dan mereka berlomba menunaikan zakat. Fakir miskin terentaskan sehingga sangat sulit mencari orang yang menerima zakat. Memberi dan memberi, itu yang menjadi paradigma mereka. Bukan meminta dan meminta.

    “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” ( Al-A’raaf: 96)

    Alam dan binatang pun digambarkan turut berbahagia. Para gembala yang biasanya takut kambingnya terancam dimakan oleh serigala, saat itu kedua binatang ini seolah berteman saja. Pintu keberkahan dibuka Allah bila manusia telah menunaikan tugas sebagai khalifah.

    Atas prestasi gemilang itu, tidak mengherankan jika beliau digolongkan sebagai Khulafa’ Ar-Rasyidin kelima setelah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan Ali.

    ***

    Oleh : Hanif Hannan/Hidayatullah

     
  • erva kurniawan 1:12 am pada 7 March 2013 Permalink | Balas  

    tahajjudCerita Kecil Tahajjud : ALI BIN ABI THALIB R.A

    Dalam Dhirar Al-Shida’i, disebutkan ungkapan yang menggambarkan keadaan ‘Ali r.a, “Dia merasa asing terhadap dunia dan segala dan keheningannya. Saya bersaksi bahwa saya telah melihatnya di beberapa tempat berdirinya. Ketika malam telah melabuhkan tirainya dan bintang-bintang telah redup cahayanya, dia berdiri di mihrabnya sambil memegang janggutnya. Dia menggerakkan tubuhnya (dalam shalat) seperti orang yang kuat dan menangis seperti orang yang bersedih. Dia berkata “Hai dunia, tipulah orang lain selainku. Engaku telah menampakkan diri padaku dan merindukanku. Sayang, aku telah menceraikanmu dengan talak tiga tanpa ada peluang untuk rujuk lagi. Umurmu pendek, penghisabanmu sulit, dan bahayamu sangat besar. Oh, betapa sedikitnya bekalku, betapa panjang perjalananku, dan betapa sunyi jalanku.”

    Ali r.a berkata ” berbahagialah jiwa yang menunaikan kewajibannya kepada Tuhannya, yang menahan kesedihannya, dan matanya tidak terpejam pada malam hari. Apabila kantuk menyerangnya, dia terlentang di atas lantai dan berbantalkan telapak tangannya. Matanya terus terjaga karena takut pada tempat kembali di akhirat nanti. Lambungnya jauh dari tempat tidurnya. Bibirnya selalu basah dengan zikir kepada Allah. Karena istigfar yang terus menerus,dosa-dosanya berguguran bagaikan daun di musim kering. Itulah jiwa yang pantas masuk kedalam golongan Allah.”

    Bagaimana dengan anda?? Sudah berani tahajud??

    HAL JAZA UL IHSANI ILLAL IHSAN

    Wassalam

    ***

    Oleh: Rediyan Setiawan

     
    • mizsemberpink 4:17 pm pada 8 Maret 2013 Permalink

      #JLEEBB… Subhanallah atas postingan yg menggugah hati ini… mohon ijin co-paste ya..

    • Ilham 7:23 am pada 10 Maret 2013 Permalink

      Syukron

  • erva kurniawan 1:02 am pada 26 February 2013 Permalink | Balas  

    sujudIhwal Ketakutan Para Nabi

    `Aisyah ra., meriwayatkan bahwa ketika cuaca berubah dan angin berhembus dengan kencang, berubahlah wajah Rasulullah SAW. Beliau berdiri dan bolak-balik keluar-masuk kamar. Hal itu disebabkan ketakutannya kepada Allah SWT. Beliau membaca ayat-ayat dalam surat Al-Haqqah. Lalu beliau jatuh pingsan.

    Allah SWT berfirman, “dan Musa pun jatuh pingsan.” (QS. Al-A’raf (7): 143)

    Rasulullah SAW melihat rupa Jibril di padang pasir, maka ia jatuh pingsan. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak sekali-kali Jibril datang kepadaku melainkan ia menggigil ketakutan kepada Al-Jabbar (Allah SWT).”

    Dikatakan, bahwa ketika Iblis muncul, Jibril as dan Mikail as., menangis. Maka Allah mewahyukan kepada keduanya, “Mengapa kalian menangis seperti ini?” Mereka menjawab, “Wahai Tuhan kami, kami tidak merasa tenteram terhadap siksaan-Mu.” Maka Allah SWT berfirman, “Demikianlah, jadilah kalian tidak merasa aman terhadap siksaan-Ku.”

    Abu Darda berkata, “Detak jantung kahalilullah (Ibrahim as.) ketika berdiri untuk shalat dapat didengar dari jarak satu mil karena takut kepada Tuhannya.”

    Mujahid ra., berkata, “Dawud menangis sambil bersujud selama empat puluh hari. Ia tidak mengangkat kepalanya sehingga dari air matanya tumbuh rerumputan hingga menutupi kepalanya. Maka ia diseru, `Wahai Dawud, apakah engkau lapar sehingga engkau perlu diberi makan, atau engkau haus sehingga perlu diberi minum, atau engkau telanjang sehingga perlu diberi pakaian. Lalu ia menarik napas panjang dan menghembuskannya maka terbakarlah batang tanaman itu karena panas perutnya. Maka Allah menurunkan padanya tobat dan ampunan. Dawud berkata, “Wahai Tuhanku, jadikanlah kesalahanku pada telapak tanganku.” Lalu jadilah kesal;ahannya tertulis pada telapak tangan. Maka setiap kali ia membentangkan telapak tangannya untuk makan, minum, dan sebagainya, ia melihatnya, lalu menangislah ia.

    Di katakan bahwa ia diberi sebuah gelas yang sepertiganya terisi air. Ketika ia mengambilnya, ia melihat kesalahannya. Ia tidak menempelkan pada bibirnya sehingga gelas itu dipenuhi air matanya.

    Diriwayatkan dari Dawud as., bahwa ia tidak pernah mengangkat kepalanya ke langit hingga ia mati karena malu kepada Allah SWT. Di dalam munajatnya ia berkata, “Wahai Tuhanku, jika aku mengingat kesalahanku, maka bumi yang luas menjadi sempit bagiku. Tetapi jika aku ingat kasih sayang-Mu, maka ruhku kembali kepadaku. Maha Suci Engkau, wahai Tuhanku, aku mendatangi dokter-dokter dari hamba-hamba-Mu agar mereka mengobati kesahanku. Tetapi mereka semua menunjukkanku kepada-Mu. Maka kesengsaraanlah bagi orang-orang yang berputus asa dari rahmat-Nya.”

    Al-Fudhail ra. berkata, “Telah sampai kabar kepadaku, bahwa pada suatu hari Dawud as., mengingat dosanya. Maka ia melompat tanpa sadarkan diri sambil meletakkan tangannya di kepala sampai di gunung. Berkumpullah binatang-binatang buas. Maka Dawud berkata, “Kembalilah, aku tidak menginginkanmu. Aku hanya menginginkan setiap orang yang menangisi kesalahannya, maka janganlah ada mendatangiku kecuali orang yang menangis”. Dawud as., pernah ditegur karena banyak menangis, maka ia berkata, “Biarkanlah aku menangis sebelum keluar pada hari tangisan, sebelum tulang dibakar dan isi perut membara, dan sebelum para malaikat yang bengis dan keras di perintah. Para malaikat itu tidak durhaka kepada Allah dan melaksanakan apa yang diperintahkan.

    `Umar bin Abdul Al-Azis berkata, “Ketika Dawud melakukan kesalahan, berkuranglah suaranya. Ia berkata, `Wahai Tuhanku, paraukanlah suaraku dalam jernihnya suara para siddiqin.’”

    Diriwayatkan bahwa ketika Dawud as., terus-menerus menangis dan tidak mendatangkan manfaat baginya, maka menjadi sempitlah bentangan telapak tangannya dan bertambahlah kesedihanya. Ia berkata, “Wahai Tuhanku, apakah Engkau tidak mengasihi tangisanku?” Maka Allah SWT mewahyukan kepadanya, “Wahai Dawud, engkau lupa terhadap dosamu dan engkau ingat tangisanmu.” Dawud berkata lagi, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku dapat melupakan disaku dan ketika aku membaca Zabur, air mengalir menghentikan alirannya, hembusan angin menjadi diam, burung menaungiku di atas kepalaku dan binatang-binatang liasr mengerumuni mihrabku. Wahai Tuhanku, ketakutan apa yang ada diantara diriku dan zat-Mu?”

    Maka Allah mewahyukan kepadanya, “Wahai Dawud, itu adalah kasih sayang ketaatan dan ini adalah ketakutan kemaksiatan. Wahai Dawud, Adam adalah makhluk diantara makhluk-makhluk-Ku. Aku menciptakannya dengan tangan-Ku. Aku tiupkan padanya dari ruh-Ku. Aku suruh para malaikat-Ku bersujud kepadanya. Aku pakaikan padanya pakaian kemuliaan-Ku. Aku kenakan padanya mahkota kewibawaan-Ku. Ia mengadukan kesendiriannya kepada-Ku, maka Aku menikahkannya dengan Hawa, hamba-Ku perempuan. Aku menempatkannya di surga-Ku. Maka ketika ia bermaksiat kepada-Ku, Aku mengusirnya dari kedekatan dengan-Ku dalam keadaan telanjang dan hina. Wahai Dawud, dengarkan Aku. Demi kebenaran Aku katakana: Engkau taat kepada Kami, maka Kami taat kepadamu. Engkau meminta pada Kami, maka Kami pun memberi padamu. Engkau bermaksiat kepada Kami, maka Kami pun menangguhkanmu. Jika engkau kembali kepada-Ku dengan apa yang ada padamu, maka Kami pun menerimamu.”

    Yahya bin Bakir berkata, “Sampai kabar kepadaku bahwa Dawud as., ketika hendak keluar, ia tinggal dulu selama tujuh hari, tanpa makan, tanpa minum dan tidak menyentuh perempuan. Sehari sebelum itu, mimbarnya dikeluarkan ketanah lapang. Maka ia memerintahkan Sulaiman untuk menyeru dengan suara yang meliputi negeri itu dan sekitarnya dengan semak belukar, bukit-bukit, dan lembah-lembahnya. Maka binatang-binatang buas datang dari semak-semak belukar, singa-singa datang dari gunung, burung-burung datang dari sarangnya, gadis-gadis datang dari pingitannya dan manusia berkumpul pada hari itu.

    Dawud as., datang, lalu naik ke atas mimbar. Maka Bani Israil dan semua kelompok mengelilinginya dari segenap sisinya, sementara Sulaiman berdiri terpisah. Dawud mulai memuji Tuhannya. Maka orang disekelilingnya berteriak disertai tangisan dan jeritan. Kemudian Dawud mulai menyebut Surga. Maka matilah singa-singa dan beberapa jenis binatang liar dan binatang buas. Dawud menyebutkan ketakutan pada hari kiamat dan meratapi dirinya. Maka matilah setiap jenis kelompok.

    Ketika Sulaiman melihat banyaknya yang mati, ia berkata, “Wahai ayah, engkau telah mencerai-beraikan para pendengar, dan matilah beberapa kelompok Bani Israil, binatang-binatang liar dan singa-singa.” Maka Dawud mulai berdoa, Ketika Dawud berdoa, tiba-tiba sebagian ahli ibadah Bani Israil berteriak, “Wahai Dawud, engkau tergesa-gesa meminta balasan kepada Tuhanmu.” Maka Dawud jatuh pingsan. Ketika Sulaiman melihat apa yang terjadi pada diri Dawud, ia membawa tandu dan membawa Dawud diatasnya. Kemudian dia memerintahkan kepada penyeru untuk menyeru, “Ketahuilah, barangsiapa yang ada bersama Dawud, kerabat atau kawan dekatnya (yang meninggal), hendaklah ia datang dengan membawa tandu dan membawanya pulang.”

    Sesungguhnya orang-orang yang bersamanya telah terbunuh akibat mendengarkan sebutan surga dan neraka. Ada seorang perempuan datang sambil membawa tandu dan membawa kerabatnya. Ia berkata, “”Wahai yang terbunuh oleh sebutan Surga. Wahai yang dimatikan oleh ketakutan kepada Allah SWT.” Kemudian Dawud as., siuman. Ia meletakkan tangannya pada kepalanya, masuk ke dalam rumah peribadatannya dan mengunci pintunya. Ia berkata, “Wahai Tuhan Dawud, apakah Engkau murka kepada Dawud?” Terus-menerus ia bermunajat hingga datang Sulaiman as., dan duduk di depan pintu. Ia minta izin kepada Dawud, kemudian masuk dengan membawa sebiji gandum. Sulaiman berkata, “Wahai ayah, kuatkanlah dengan ini apa yang engkau inginkan. Maka ia memakan biji gandum itu dengan kehendak Allah SWT.” Kemudian ia keluar menemui Bani Israil, dan mengadili diantara mereka.

    Yazid Ar-Riqasi berkata, “Pada suatu hari Dawud keluar menemui orang- orang untuk mengajari dan mempertakuti mereka. Ia keluar bersama dengan empat puluh ribu orang di antaranya mati. Maka ia tidak kembali kecuali dengan sepeuluh ribu orang. Ia memiliki dua orang budak perempuan. Sehingga ketika ia merasakan ketakutan, lalu jatuh dan bergetar tubuhnya. Maka kedua budak perempuan itu menduduki dada dan kedua kakinya karena takut anggota-anggota tubuhnya akan bercerai berai.”

    Abu Bakar ra., berkata kepada seekor burung, “Seandainya aku menjadi sepertimu, wahai burung dan tidak diciptakan sebagai manusia.”

    Abu Dzar berkata, “Aku lebih suka seandainya menjadi pohon yang ditebang.”

    `Utsman ra., berkata, “Aku lebih suka jika mati, aku tidak dibangkitkan.”

    Aisyah ra., berkata, “Aku lebih suka seandainya aku menjadi pelupa yang dilupakan.”

    Pada wajah `Umar terdapat dua garis hitam bekas lelehan air mata. `Umar ra., berkata, “Barangsiapa yang takut kepada Allah, maka tidak akan melampaiaskan marahnya. Barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka ia tidak melakukan apa yang diinginkannya. Dan kalau bukan karena adanya hari kiamat, niscaya berbeda apa yang kamu lihat sekarang.”

    Pada suatu hari Ali ra., setelah membaca salam dari shalat shubuh dalam keadaan bersedih dan membalikkan tangannya. Ia berkata, “Aku telah melihat sahabat-sahabat Muhammad. Tetapi kini aku tidak melihat sedikitpun yang menyerupai mereka. Mereka memasuki pagi dalam keadaan pucat dan kusut dengan debu diantara kedua mata mereka seperti lutut kambing. Mereka memasuki waktu malam karena Allah dalam keadaan bersujud dan berdiri membaca Kitab Allah. Mereka menaikturunkan dahi dan kaki mereka. Ketika memasuki pagi dan mengingat Allah, mereka bergoyang seperti bergoyangnya pohon diterpa angin. Air mata mereka bercucuran hingga membasahi pakaian. Demi Allah, seakan-akan aku berada di tengah-tengah kaum yang memasuki malam dalam keadaan lalai.” Kemudian dikatakan bahwa setelah itu ia tidak terlihat tertawa hingga Ibnu Muljam memukulnya.

    Ketika `Umar mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, ia jatuh pingsan karena takut kepada Allah. Hal itu terulang selama beberapa hari. Pada suatu hari dia mengambil sebatang jerami dari tanah, lalu ia berkata, “Aduhai celakalah aku, mengapa aku tidak jadi jerami ini. Aduhai celakalah aku, seandainya aku tidak menjadi sesuatu yang disebutkan. Aduhai celakalah aku, mengapa ibu melahirkanku. Aduhai celakalah aku, mengapa aku tidak menjadi pelupa yang dilupakan.”

    Ketika Ali bin Husain berwudhu, wajahnya berubah menjadi pucat. Maka keluarganya bertanya kepadanya, “Mengapa engkau selalu begitu kalau berwudhu?” Ia menjawab, “Tidakkah kamu mengetahui kepada siapakah aku akan menghadap.”

    Diriwayatkan bahwa Al-Fudhail ra., terlihat pada hari Arafah. Orang- orang berdoa. Sementara ia menangis seperti tangisan orang yang mendapatkan musibah kematian. Sehingga ketika matahari hampir terbenam, ia menggenggam janggutnya kemudian mengangkat kepalanya ke langit. Lalu ia berkata, “Aduhai aku telah berbuat durhaka kepada-Mu, maka ampunilah aku.” Kemudian ia pun kembali bersama orang-orang.

    ***

    die Mutiara Ihya `Ulumuddin Al-Ghazali

    Sumber: jkmhal.com

     
  • erva kurniawan 1:16 am pada 10 February 2013 Permalink | Balas  

    Keteladanan Nabi Ibrahim

    Kata uswah atau keteladanan dalam Al-Qur’an hanya ditujukan pada dua tokoh nabi yang sangat mulia, Nabi Ibrahim a.s. (Mumtahanah: 4,6) dan Nabi Muhammad saw. (Al-Ahzab: 21). Demikian juga gelar khalilullah (kekasih Allah) hanya disandang oleh kedua nabi tersebut. Begitu juga shalawat yang diajarkan Rasulullah saw. pada umatnya hanya bagi dua nabi dan keluarganya. Pilihan Allah ini sangat terkait dengan risalah yang telah dilakukan oleh keduanya dengan sangat sempurna.

    Sejarah dan keteladan Nabi Muhammad saw. telah banyak disampaikan. Dan pada kesempatan ini marilah kita sedikit menyingkap sejarah dan keteladanan Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya. “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, `Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, `(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman, `Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.’” (Al-Baqarah: 124)

    Berkata Ibnu Abbas r.a., “Belum ada para nabi yang mendapatkan ujian dalam agama kemudian menegakkannya dengan sempurna melebihi Ibrahim as.” Ibnu Abbas banyak menyebutkan riwayat tentang ujian yang dilaksanakan Ibrahim a.s, di antaranya manasik atau ibadah haji; kebersihan, lima pada bagian kepala dan lima pada tubuh. Lima di bagian kepala yaitu mencukur rambut, berkumur, membersihkan hidung, siwak, dan membersihkan rambut. Lima pada bagian tubuh yaitu menggunting kuku, mencukur rambut bagian kemaluan, khitan, mencabut rambut ketiak, dan istinja.

    Dalam riwayat lain Ibnu Abbas mengatakan, “Kalimat atau tugas yang dilaksanakan dengan sempurna yaitu meninggalkan kaumnya ketika mereka menyembah berhala, membantah keyakinan raja Namrud, bersabar ketika dilemparkan ke dalam api yang sangat panas, hijrah meninggalkan tanah airnya, menjamu tamunya dengan baik, dan bersabar ketika diperintah menyembelih putranya.

    Firman Allah yang berbunyi `faatammahunna’ mengandung makna bahwa tugas yang diperintahkan kepada Ibrahim dilaksanakan dengan segera, sempurna, dan dilakukan semuanya. Menurut Abu Ja’far Ibnu Jarir, “Yang di maksud `kalimat’ boleh jadi mengandung semua tugas, atau sebagiannya. Tetapi tidak boleh menetapkan sebagian (tugas) tertentu kecuali ada dalil nash atau ijma’ yang membolehkannya.

    Ibrahim dan Kaumnya

    Ibrahim as. bin Nahur  dalam Al-Qur’an bapaknya dinamakan Aazar, tetapi yang lebih kuat bahwa Aazar adalah nama berhala yang dinisbatkan pada bapak Ibrahim, karena pekerjaannya yang senantiasa membuat berhala adalah seorang yang mendapat karunia teramat besar dari Allah. Semenjak kecil beliau terbebas dari kemusyrikan bapak dan kaumnya. Ibrahim menjadi seorang yang hanif dan imam bagi manusia (An-Nahl: 120-121). Dan Ibrahim sangat bersemangat untuk mendakwahi bapaknya dan kaumnya agar hanya menyembah Allah saja. Ini adalah sunnah dakwah bahwa yang pertama kali harus didakwahi adalah orang tua dan keluarga, kemudian kaum dan penguasa.

    Menurut pendapat yang kuat, Ibrahim lahir di kota Babil (Babilonia), Irak. Penduduk kota Babil menyembah berhala. Dan bapaknya termasuk orang yang ahli dalam membuat berhala. Ibrahim membantah penyembahan mereka, bahkan berencana untuk menghancurkan berhala-berhala itu. Peristiwa ini diabadikan dalam beberapa surat, di antaranya di QS. 21: 51-70, 26: 69-82, dan 37: 83-98.

    Penduduk kota Babil memiliki tradisi merayakan Id setiap tahun dengan pergi keluar kota. Ibrahim diajak bapaknya untuk ikut, tetapi Ibrahim menolak dengan halus. Ia berkata, “Sesungguhnya Aku sakit.” (Ash-Shaaffat: 88-89). Dan ketika kaumnya pergi untuk merayakan Id, Ibrahim segera menuju penyembahan mereka dan menghancurkan dengan kampak yang ada di tangannya. Semua dihancurkan dan hanya disisakan satu berhala yang besar, dan kampak itu dikalungkan pada berhala itu. (Al-Anbiya’: 58)

    Demikianlah, Ibrahim menghinakan penyembahan kaumnya. Sebenarnya mereka sadar akan kesalahan itu. Tetapi, yang berjalan pada mereka adalah logika kekuatan melawan kekuatan logika Ibrahim. Akhirnya mereka memutuskan untuk membakar Ibrahim (Ash-Shaaffat : 97; Al-Anbiya’: 68-70).

    Ibrahim dan Raja An-Namrud

    “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah Telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: `Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,’ orang itu berkata: `Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata: `Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.’ Lalu, terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”

    Menurut ulama tafsir dan nasab, raja itu adalah Raja An-Namrud bin Kan’an, penguasa Babil. menurut As-Sudy, “Debat ini terjadi antara Ibrahim dan Raja Namrud setelah Ibrahim selamat dari upaya pembunuhan dibakar api.” Zaid bin Aslam berpendapat, “Ibrahim diutus pada raja yang diktator tersebut, memerintahkan agar beriman kepada Allah. Berkali-kali diseru agar beriman, tetapi terus menolak. Kemudian menantang Ibrahim a.s. agar mengumpulkan pengikutnya dan Namrud pun mengumpulkan rakyatnya lantas terjadilah debat yang disebutkan Al-Qur’an tersebut.” Sekali lagi kekuatan logika Ibrahim a.s. mengalahkan logika kekuasaan Namrud.

    Kisah kematian Raja Namrud dan tentaranya disebutkan dalam Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah Ibnu Katsir. Namrud mengumpulkan tentara dan pasukannnya saat terbit matahari. Kemudian Allah mengutus nyamuk yang menyebabkan para tentara dan pasukannya tidak dapat lagi melihat matahari. Nyamuk-nyamuk besar itu memakan daging dan darah mereka dan meninggalkan tulangnya. Salah satu nyamuk masuk ke hidung Raja Namrud dan diam di sana selama 400 tahun sebagai bentuk adzab Allah atas raja itu. Selama waktu itu pula Namrud senantiasa memukuli kepalanya hingga ia mati.

    Ibrahim dan Keluarganya Hijrah ke Baitul Maqdis

    Setelah selamat dari upaya pembunuhan kaumnya dan setelah terbebas dari kezhaliman Raja Namrud, Ibrahim a.s. bersama istrinya, Sarah, bapak, dan saudara sepupunya, Luth a.s. hijrah menuju Syam. Tepatnya ke Baitul Maqdis, Palestina (Ash-Shaaffat: 99).

    Di tengah jalan, di daerah Haran, Damasqus, bapaknya meninggal. Ibrahim bersama keluarganya menetap sementara di Haran. Penduduk kota ini menyembah bintang dan berhala. Di kota ini Ibrahim a.s. menyinggung dan menentang penyembahan mereka yang menyembah bintang, bulan, dan benda langit lainnya. Kisah ini diabadikan dalam Alquran surat 6:75-83.

    Ibrahim a.s. dan keluarganya melanjutkan perjalanan ke Baitul Maqdis setelah sebelumnya mampir di Mesir. Dari Mesir Ibrahim a.s. mendapat banyak hadiah harta, binatang ternak, budak, dan pembantu bernama Hajar yang keturunan Qibti, Mesir. Di Baitul Maqdis Ibrahim a.s. mendapat penerimaan yang baik.

    Selama dua puluh tahun tinggal di Baitul Maqdis, Ibrahim a.s. tidak mendapatkan keturunan sehingga istrinya, Sarah, merasa kasihan dan memberikan budaknya pada Ibrahim. Berkata Sarah pada Ibrahim, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan aku untuk mendapatkan anak. Masuklah pada budakku ini, semoga Allah memberi rezki anak pada kita.”

    Setelah itu, lahirlah Ismail a.s. Tetapi Sarah merasa cemburu berat. Akhirnya, Ibrahim a.s. membawa Hajar dan putranya ke suatu tempat yang disebut Gunung Faran (Mekah sekarang), suatu tempat yang sangat tandus, padang pasir yang tidak ada tanda-tanda kehidupan.

    Dan tidak lama setelah kelahiran Ismail a.s., Allah juga memberi kabar gembira bahwa dari perut Sarah akan lahir seorang anak. Lahirlah Ishaq a.s. Ibrahim a.s. sujud, bersyukur atas karunia yang sangat besar ini. Puncak kenikmatan yang diberikan Allah kepada Ibrahim adalah kedua putra itu kelak menjadi nabi dan secara turun-temurun melahirkan nabi. Dari Ishak a.s. lahir Ya’kub dan Yusuf a.s. serta keluarga nabi dari Bani Israil. Sedangkan dari keturunan Ismail a.s. lahirlah Nabi Muhammad saw.

    Pengorbanan Ibrahim Dan Keluarganya Episode berikutnya dilalui Ibrahim a.s. dan keluarganya dengan pengorbanan demi pengorbanan. Tidak ada pengorbanan yang lebih besar dari seorang kepala rumah tangga melebihi pengorbanan meninggalkan putra dan istri yang paling dicintainya. Tetapi itu semua dilakukan Ibrahim dengan penuh ikhlas menyambut seruan Allah, yaitu seruan dakwah. Peristiwa ini diabadikan Allah dalam Al-Qur’an di surat 14:37-40.

    Disebutkan dalam riwayat, ketika Ibrahim a.s. akan meninggalkan putranya, Ismail, istrinya, Hajar, saat itu dalam kondisi menyusui. Ketika Ibrahim meninggalkan keduanya dan memalingkan wajah, Hajar bangkit dan memegang baju Ibrahim. “Wahai Ibrahim, mau pergi ke mana? Engkau meninggalkan kami di sini dan tidak ada yang mencukupi kebutuhan kami?” Ibrahim tidak menjawab. Hajar terus-menerus memanggil. Ibrahim tidak menjawab. Hajar bertanya, “Apakah Allah yang menyuruhmu seperti ini?” Ibrahim menjawab, “Ya.’ Hajar berkata, “Kalau begitu pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kita.”

    Tapi, itu bukan puncak pengorbanan Ibrahim dan keluarganya. Puncak pengorbanan itu datang dalam bentuk perintah yang lebih tidak masuk akal lagi dari sebelumnya. Ibrahim diperintah untuk menyembelih Ismail (Ash-Shaaffat: 102-109).

    Berkah Pengorbanan Kisah dan keteladanan Ibrahim a.s. memberikan pelajaran yang sangat dalam kepada kita bahwa pengorbanan akan melahirkan keberkahan. Ibrahim menjadi orang yang paling dicintai Allah, khalilullah, imam, abul anbiya (bapak para nabi), hanif, sebutan yang baik, kekayaan harta yang melimpah ruah, dan banyak lagi. Hanya dengan pengorbananlah kita meraih keberkahan.

    Dari pengorbanan Ibrahim dan keluarganya, Kota Makkah dan sekitarnya menjadi pusat ibadah umat manusia sedunia. Sumur Zamzam yang penuh berkah mengalir di tengah padang pasir dan tidak pernah kering. Dan puncak keberkahan dari itu semua adalah dari keturunannya lahir seorang manusia pilihan: Muhammad saw., nabi yang menjadi rahmatan lil’alamiin.

    Pengorbanan akan memberikan keberkahan bagi hidup kita, keluarga, dan keturunan kita. Pengorbanan akan melahirkan peradaban besar. Kisah para pahlawan yang berkorban telah membuktikan aksioma ini: Ibrahim dan keluarganya –Ismail, Ishaq, Siti Sarah dan Hajar; Muhammad saw. dan keluarganya –siti Khadijah, `Aisyah, Fatimah, dan lain-lain.

    Begitu juga para sahabat yang mulia: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan lain-lain. Para pemimpin setelah sahabat, tabi’in, dan tabiit tabi’in: Umar bin Abdul Aziz, Hasan Al-Bashri, Muhammad bin Mubarak, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam As-Syafi’i, dan Imam Ahmad. Tak ketinggalan para pahlawan dari generasi modern juga telah mencontohkan kepada kita. Mereka di antaranya Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahab, dan Hasan Al-Banna. Dan kita yakin akan terus bermunculan pahlawan-pahlawan baru yang siap berkorban demi kemuliaan Islam dan umatnya. Sesungguhnya, bumi yang disirami oleh pengorbanan para nabi, darah syuhada, dan tinta ulama adalah bumi yang berkah.

    ***

    Oleh: Tim dakwatuna.com

     
  • erva kurniawan 1:46 am pada 17 January 2013 Permalink | Balas  

    Keutamaan Sedekah

    Oleh : Suprianto

    Diceritakan, ketika Nabi Ayub as., sedang mandi tiba-tiba Allah SWT mendatangkan seekor belalang emas dan hinggap di lengannya. Baginda menepis-nepis lengan bajunya agar belalang jatuh. Lantas Allah SWT berfirman, ”Bukankah Aku lakukan begitu supaya kamu menjadi lebih kaya?” Nabi Ayub AS menjawab, ”Ya benar, wahai Sang Pencipta! Demi keagungan-Mu apalah makna kekayaan tanpa keberkahan-Mu.”

    Kisah di atas menegaskan betapa pentingnya keberkahan dalam rezeki yang dikurniakan oleh Allah SWT. Kekayaan tidak akan membawa arti tanpa ada keberkahan. Dengan adanya keberkahan, harta dan rezeki yang sedikit akan bisa terasakan mencukupi. Sebaliknya, tanpa keberkahan rezeki yang meskipun banyak akan terasakan sempit dan menyusahkan.

    Agar rezeki yang Allah SWT berikan kepada kita menjadi berkah, Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya untuk memperbanyak sedekah. Kata Rasulullah SAW, ”Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah.” Dalam hadis lain, Rasulullah SAW menjelaskan, ”Setiap awal pagi, semasa terbit matahari, ada dua malaikat menyeru kepada manusia di bumi. Yang satu menyeru, ‘Ya Tuhanku, karuniakanlah ganti kepada orang yang membelanjakan hartanya kerena Allah’. Yang satu lagi menyeru, ‘Musnahkanlah orang yang menahan hartanya’.”

    Sedekah walaupun kecil tetapi amat berharga di sisi Allah SWT. Orang yang bakhil dan kikir dengan tidak menyedekahkan sebagian hartanya akan merugi di dunia dan akhirat karena tidak ada keberkahan. Jadi, sejatinya orang yang bersedekah adalah untuk kepentingan dirinya. Sebab, menginfakkan (belanjakan) harta akan memperoleh berkah, dan sebaliknya menahannya adalah celaka.

    Sedekah memiliki beberapa keutamaan bagi orang yang mengamalkannya.

    Pertama, mengundang datangnya rezeki. Allah SWT berfirman dalam salah satu ayat Al-Quran bahwa Dia akan membalas setiap kebaikan hamba-hamba-Nya dengan 10 kebaikan. Bahkan, di ayat yang lain dinyatakan 700 kebaikan. Khalifah Ali bin Abi Thalib menyatakan, ”Pancinglah rezeki dengan sedekah.”

    Kedua, sedekah dapat menolak bala. Rasulullah SAW bersabda, ”Bersegeralah bersedekah, sebab yang namanya bala tidak pernah bisa mendahului sedekah.”

    Ketiga, sedekah dapat menyembuhkan penyakit. Rasulullah SAW menganjurkan, ”Obatilah penyakitmu dengan sedekah.”

    Keempat, sedekah dapat menunda kematian dan memperpanjang umur. Kata Rasulullah SAW, ”Perbanyaklah sedekah. Sebab, sedekah bisa memanjangkan umur.”

    Mengapa semua itu bisa terjadi? Sebab, Allah SWT mencintai orang-orang yang bersedekah. Kalau Allah SWT sudah mencintai seorang hambanya, maka tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan, tidak ada permintaan dan doa yang Allah tidak kabulkan, serta tidak ada dosa yang Allah tidak ampuni, dan hamba tersebut akan meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah (baik).

    Kekuatan dan kekuasaan Allah jauh lebih besar dari persoalan yang dihadapi manusia. Lalu, kalau manfaat sedekah begitu dahsyatnya, masihkah kita belum juga tergerak untuk mencintai sedekah? Wallahu a’lam bis-shawab

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:41 am pada 16 January 2013 Permalink | Balas  

    Menyambut Tamu Agung

    Oleh : KN Kusuma

    Rasulullah belum tiba, tapi ingar-bingar di Madinah sudah begitu terasa. Pagi-pagi, kaum Anshar sudah bersiap-siap di luar kota untuk menyambut kedatangan Nabi. Mereka menunggu, tak peduli dengan terik musim kemarau yang sangat panas.

    Ternyata Rasulullah tiba saat kaum Anshar pulang ke rumah masing-masing. Orang pertama yang melihat Rasululah adalah seorang laki-laki Yahudi. Ia berteriak lantang mengabarkan. Kaum Anshar serta-merta keluar rumah untuk menyambut kedatangan kekasih Allah.

    Rasululah datang bersama Abu Bakar. Usia mereka sama. Perawakan tak jauh beda. Sebagian besar kaum Anshar belum pernah melihat Rasulullah. Mereka hanya sering mendengar kemuliaan Rasul dari Mush’ab bin ‘Umair.

    Rasulullah sengaja mengutus Mush’ab sebelum beliau hijrah, mengajarkan Alquran, Islam, dan memberikan pemahaman agama pada penduduk Madinah. Maka dari itulah kaum Anshar bingung, yang mana kekasih Allah yang harum namanya itu?

    Abu Bakar paham kondisi itu. Ia menutupkan selendangnya untuk memayungi Rasulullah SAW, sehingga kaum Anshar mengenali. Serta-merta 500 kaum Anshar mengerubung, ”Masuklah kaliah berdua (ke dalam kota) dengan aman dan ditaati,” kata salah seorang di antara mereka. Rasulullah dan Abu Bakar masuk ke kota dan semakin meriahlah suasana Madinah.

    Seluruh warga Madinah keluar rumah. Laki-laki dan perempuan naik ke atap rumah mereka. Anak-anak dan pelayan bertebaran di jalan. Mereka menyambut dan memanggil, ”Ya Muhammad! Ya Rasulullah!” takbir gembira bersahut-sahutan. Bahkan, ada pula yang melantunkan syair indah Thala’al Badru yang dikenal sampai sekarang.

    Apa yang membuat kaum Anshar begitu gembira menyambut kedatangan Nabi, padahal mereka belum pernah melihat Nabi, belum tahu rupa dan wajah sejuknya? Nabi datang tanpa harta, keindahan dunia, dan seribu janji kerja sama memakmurkan Madinah. Nabi datang dengan tangan hampa.

    Kaum Anshar bersuka cita, lebih karena iman dan takwanya kepada Allah. Indahnya Islam, lembut akhlak dan perangai Nabi adalah daya magnetis tersendiri. Tak ada yang menyuruh kaum Anshar menyambut kedatangan Rasulullah. Mereka spontan atas dorongan cinta. Mereka merelakan harta, tahta, untuk kaum Muhajirin.

    Begitulah sambutan terhadap tamu agung. Tak perlu seruan atau persiapan istimewa untuk menyambutnya. Indahnya akhlak, santun tutur perilaku, kebersihan hati, lebih dari cukup untuk membuat sang tamu agung disambut dengan penuh suka cita.

    ***

    Sumber:  republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:29 am pada 15 January 2013 Permalink | Balas  

    Ketika Doa Terhalang Makanan Haram

    Tersebutlah seorang lelaki yang telah melakukan perjalanan jauh. Rambutnya kusut masai penuh debu. Ia berjalan tertatih-tatih dengan membawa sebuntal pakaian dan bekal di pundaknya.

    Setelah sekian lama berjalan, ia berhenti. Matanya memandang ke langit. Ia teringat Tuhannya. Seketika itu pula tangannya menengadah. “Ya Rabb aku minta pertolonganmu. Ya Rabb aku minta rahmat dan kasihmu. Ya Rabb aku minta keselamatan dari-Mu”, pintanya berulang-ulang. Ia tampak khusyu berdoa.

    Diterimakah doanya? Seorang lelaki mulia berujar, “Sesungguhnya Allah menolak doa lelaki malang itu. Bagaimana doanya akan terkabul, sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan perutnya dikenyangkan dengan makanan haram!”・

    Lelaki yang berkomentar tersebut adalah Rasulullah SAW. Sedangkan kisah ini berasal dari Abu Hurairah yang diriwayatakan Imam Muslim dalam Shahih-nya.

    Ya, makanan haram multi efek sifatnya. Ada banyak kerugian yang akan diderita seseorang yang menyengajakan diri mengonsumsinya. Salah satu siksaan yang Allah SWT timpakan adalah tidak diterimanya doa-doa mereka. Padahal, tanpa doa seorang Muslim tidak ada apa-apanya. Bukankan doa adalah senjata orang-orang beriman?

    Al-Hafidz Ibnu Mardawih meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwa Sa’ad bin Abi Waqash berkata kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Allah”. Apa jawaban Rasulullah SAW, “Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tanganNya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka neraka lebih layak baginya.” (HR At-Thabrani).

    Memahami mekanisme PNI

    Untuk memahami lebih dalam tentang bagaimana makanan haram bisa menghalangi terkabulnya doa-doa, kita bisa menelaah mekanisme psiko neuroendokrinologi imunologi (PNI) atau sistem yang melibatkan pikiran, hormon dan sistem pertahanan tubuh.

    Makanan haram adalah sesuatu yang dilarang Allah. Dalilnya sudah sangat jelas. Bila aturan ini dilanggar dan makanan haram tetap dikonsumsi, maka akan lahir rasa tertekan dan ketakutan dari orang yang mengonsumsinya. Dalam jangka panjang, ketakutan akan menghasilkan kecemasan kronis. Dalam kondisi ini tubuh akan memproduksi hormon kortisol, skotofobin, dan adrenalin dalam jumlah yang berlebihan. Apa akibatnya? Seluruh sel tubuh akan terganggu bioritme-nya. Dengan kata lain, akan terganggu proses bertasbihnya. Kita tahu bahwa setiap sel yang terdiri dari atom dan partikel sub atomik senantiasa bertasbih dan ber-thawaf mengikuti ketentuan-Nya. Kondisi ketergangguan ini akan berdampak pada perubahan proses metabolisme dan proses biokimiawi lainnya. Akibatnya banyak potensi dasar biologis terhambat.

    Ketika berdoa, seseorang yang kondisi wujud fisik dan psikologis sedang tidak optimal ini, akan didominasi rasa takut yang berlebihan. Apa akibatnya? Doa yang dipanjatkannya menjadi sarat akan kepentingan sesaat dan egois. Ia pun dihantui dengan ketidakyakinan dan rasa takut berlebihan bahwa doanya tidak akan terkabul. Jadi sudah terjadi proses prasangka atau su’udhzon kepada Allah SWT. Padahal, dalam hadis qudsi disebutkan. “Sesungguhnya Aku akan mengikuti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku selalu menyertainya apabila ia berdoa kepada-Ku.” (HR Bukhari Muslim)

    Dalam hadis lain disabdakan pula, “Dan jika kamu memohon kepada Allah Azza wa Jalla, wahai manusia, mohonlah langsung ke hadirat-Nya dengan keyakinan yang penuh bahwa doamu akan dikabulkan. Sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa hamba-Nya yang keluar dari hati yang lala.” (HR Ahmad). Jadi dapat disimpulkan, ketakutan dan keresahannya itulah yang menyebabkan doanya tidak tersampaikan dengan sempurna.

    Hal ini sekaligus menjelaskan mengapa mekanisme tobat dapat memperbaiki kualitas hidup dan keimanan seseorang. Proses tobat adalah sebuah proses katarsis atau ventilasi yang merupakan “jendela” atau “pintu” bagi terlepasnya beban psikologis yang ditanggung akibat perbuatan dosa. Tetapi tentu saja proses tobat keberhasilannya juga sangat tergantung pada seberapa dalam keyakinan kita tentang konsep Allah yang Maha Pengampun. Bila kita sudah berprasangka bahwa Allah tidak akan memaafkan, maka jangan berharap kalau tobat kita akan melancarkan segalanya. Justeru malah menjadi beban psikologis baru.

    Bagaimana dengan orang yang hanya sekedar ragu tentang kehalalan makanannya? Bila ragu seharusnya dihindari (syubhat). Mengapa? Karena keraguan itu akan menumbuhkan kecemasan. Dan kecemasan pada gilirannya akan menghasilkan kondisi chaos. Karena itu, Rasulullah SAW mewasiatkan agar kita menjauhi hal-hal yang meragukan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas, antara keduanya terdapat hal-hal samar yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa menjaga diri dari hal-hal yang samar itu, maka ia telah menjaga agama dan harga dirinya; dan barangsiapa jatuh ke dalam hal yang samar, maka ia telah jatuh kepada hal yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang, nyaris ia masuk ke dalamnya. Ketahuilah, setiap raja mempunyai daerah larangan. Ketahuilah, sesungguhnya daerah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya.” (HR Bukhari Muslim).

    Untuk itu, sebelum kita dihisab di akhirat kelak tentang bagaimana kita mensyukuri nikmat Allah dalam hal kemampuan berkomunikasi (al-bayan), maka sebaiknya kita bertanya dan menyelidiki secara intensif kehalalan suatu produk makanan. Bukankah yang akan diperhitungkan kelak di hari akhir tidak hanya sekedar dosa yang disengaja saja, melainkan juga kelalaian kita dalam mencegah terjadinya kemungkaran akan dipertanyakan dan ditimbang?

    ***

    sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:21 am pada 30 December 2012 Permalink | Balas  

    Belajarlah dari Khadijah

    Oleh: Fatimah Usman

    ”ALLAH tidak menganugerahkan kepadaku seorang istri sebagai pengganti yang lebih baik daripada Khadijah ra. Dia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkari kenabianku; dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakan diriku; dia membantuku dengan harta kekayaannya ketika orang lain tidak mau memberiku, dan dari rahimnya Allah menganugerahkan anak-anak bagiku, bukan dari perempuan lain.”

    Demikian terjemahan dari Sabda Rasulullah Muhammad SAW yang seringkali didengar oleh para sahabat beliau, termasuk oleh istri beliau sesudahnya, Aisyah, sehingga dia sangat cemburu kepada Khadijah sekalipun sudah almarhum.

    Khadijah adalah seorang istri yang penuh dengan sifat keibuan, mampu menjadi pelipur lara di saat sang suami (waktu itu belum menjadi nabi) mengalami kehausan kasih sayang karena sejak kecil sudah yatim-piatu. Beliau istri yang penyabar dan penuh perhatian, sekalipun suami (Muhammad) suka pergi untuk ber-tahannuts (menyendiri dan merenung) di gua-gua di luar Kota Makkah. Beliau sebagai penyejuk dan penenang jiwa, termasuk saat suaminya pulang ke rumah di pagi buta dalam keadaan ketakutan. Tubuhnya gemetar, dengan wajah yang pucat pasi dan terbata-bata menceriterakan kejadian dahsyat yang baru saja dialami.

    Di Gua Hira malam itu, Muhammad didatangi seseorang yang belum pernah dikenalnya, yang ternyata malaikat Jibril. Melalui Jibril, beliau menerima lima ayat dari surat Al-’Alaq, yang terjemahnya: ”Bacalah (hai Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari sesuatu yang menggantung. Bacalah, dan Tuhanmu yang Paling Mulia yang telah mengajari dengan pena. Mengajari manusia, apa saja yang tidak diketahuinya.”

    Ketakutan dan kegelisahan suami seketika lenyap di saat Khadijah merangkul dan mendekap ke dada beliau dengan sikap lembut dan dengan kata-kata yang menghibur, sehingga tenanglah hati Muhammad sampai tertidur di sampingnya.

    Di saat itulah, Khadijah diam-diam mengunjungi saudaranya yang bernama Waraqah bin Naufal, dan menceriterakan kejadian yang telah dialami suami, dan beliau memperoleh kepastian bahwa Muhammad telah dipilih oleh Allah menjadi Nabi!

    Rasa syukur bercampur kagum dan cinta, ingin sekali beliau menyampaikan perasaan itu secepatnya kepada suami. Maka di saat sang suami menyatakan bahwa dirinya diperintahkan untuk mengajak manusia menyembah hanya kepada Allah, dan ”siapakah kiranya orang yang mau kuajak?”, Khadijah segera menjawab dengan mantap penuh keyakinan: ”Aku yang menyambut ajakanmu wahai Muhammad! Ajaklah aku sebelum mengajak orang lain, aku mengaku Islam, membenarkan kerasulanmu dan mengimani Tuhanmu.”

    Tidak hanya sebagai mukmin-mukminah pertama, Khadijah juga merelakan seberapa pun harta bendanya dipergunakan untuk membiayai dakwah yang penuh hambatan. Beliau yang terkenal sebagai pengusaha ekspor-impor yang disegani kala itu, kaya raya, dan bangsawan, sama sekali tak keberatan ketika harus meninggalkan kemegahannya untuk hidup mengungsi ke Syi’ib Abu Thalib yang sangat sederhana, demi menyelamatkan agama barunya dari amukan kaum Quraisy.

    Siksaan dan penindasan dari kafir (Quraisy) yang menabuh genderang perang, bertahun-tahun beliau alami bersama keluarga, namun ketabahan dan kesetiaan beliau kepada suami dan perjuangannya tetap mengagumkan setiap orang. Belum lagi lelabuh beliau dalam melahirkan dan mendidik enam putra-putri Rasulullah Muhammad SAW yang sangat dicintai, yakni: Qasim, Abdullah (keduanya meninggal di saat kecil), Zaynab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, dan Fathimah.

    Seperempat abad Khadijah membuktikan dirinya sebagai istri shalihah. Oleh karenanya secara jujur Rasulullah mengakui, keberadaannya tak pernah tergantikan! Jiwanya tetap hidup meski jasadnya telah wafat, bayangannya tetap menyertai sepanjang kehidupan Rasulullah. Hal itu terlihat, setiap beliau bercerita atau mendengar nama Khadijah disebut, wajah beliau langsung berbinar-binar bahagia. Cinta kasih beliau kepada Khadijah menjadikan beliau tak pernah menduakannya.

    Keteladanan seorang ummul mukminin yang akan tetap abadi sepanjang sejarah hidup umat Islam di dunia. Seorang istri yang siap hidup bersama suami dalam suka dan dukanya, dalam sehat dan sakitnya, dalam penindasan dan pengagungannya. Istri yang siap menjadi bemper bagi perjuangan suci sang suami, tanpa rasa takut akan risiko besar yang harus dihadapinya. Istri yang senantiasa memiliki semangat untuk menyinkronkan setiap langkah positif suaminya (bukan hanya sebatas mendukung), sehingga upaya seiring-sejalan dalam mengarungi hidup lebih mudah dilakukan, sekalipun pada dasarnya memiliki perbedaan-perbedaan yang sangat jelas.

    ***

    Penulis adalah dosen IAIN Walisongo Semarang.

     
  • erva kurniawan 1:26 am pada 23 December 2012 Permalink | Balas  

    Ketika Abu Nawas Berdoa Minta Jodoh

    Rina Yuliana – detikRamadan

    Jakarta – Ada saja cara Abu Nawas berdoa agar dirinya mendapatkan jodoh dan menikah. Karena kecerdasan dan semangat dalam dirinya, akhirnya Abu Nawas mendapatkan istri yang cantik dan shalihah.

    Sehebat apapun kecerdasan Abu Nawas, ia tetaplah manusia biasa. Kala masih bujangan, seperti pemuda lainnya, ia juga ingin segera mendapatkan jodoh lalu menikah dan memiliki sebuah keluarga.

    Pada suatu ketika ia sangat tergila-gila pada seorang wanita. Wanita itu sungguh cantik, pintar serta termasuk wanita yang ahli ibadah. Abu Nawas berkeinginan untuk memperistri wanita salihah itu. Karena cintanya begitu membara, ia pun berdoa dengan khusyuk kepada Allah SWT.

    “Ya Allah, jika memang gadis itu baik untuk saya, dekatkanlah kepadaku. Tetapi jika memang menurutmu ia tidak baik buatku, tolong Ya Allah, sekali lagi tolong pertimbangkan lagi ya Allah,” ucap doanya dengan menyebut nama gadis itu dan terkesan memaksa kehendak Allah.

    Abu Nawas melakukan doa itu setiap selesai shalat lima waktu. Selama berbulan-bulan ia menunggu tanda-tanda dikabulkan doanya. Berjalan lebih 3 bulan, Abu Nawas merasa doanya tak dikabulkan Allah. Ia pun introspeksi diri.

    “Mungkin Allah tak mengabulkan doaku karena aku kurang pasrah atas pilihan jodohku,” katanya dalam hati.

    Kemudian Abu Nawas pun bermunajat lagi. Tapi kali ini ganti strategi, doa itu tidak diembel-embeli spesifik pakai nama si gadis, apalagi berani “maksa” kepada Allah seperti doa sebelumnya.

    “Ya Allah berikanlah istri yang terbaik untukku,” begitu bunyi doanya.

    Berbulan-bulan ia terus memohon kepada Allah, namun Allah tak juga mendekatkan Abu Nawas dengan gadis pujaannya. Bahkan Allah juga tidak mempertemukan Abu Nawas dengan wanita yang mau diperistri. Lama-lama ia mulai khawatir juga. Takut menjadi bujangan tua yang lapuk dimakan usia. Ia pun memutar otak lagi bagaimana caranya berdoa dan bisa cepat terkabul.

    Abu Nawas memang cerdas. Tak kehabisan akal, ia pun merasa perlu sedikit “diplomatis” dengan Allah. Ia pun mengubah doanya.

    “Ya Allah, kini aku tidak minta lagi untuk diriku. Aku hanya minta wanita sebagai menantu Ibuku yang sudah tua dan sangat aku cintai Ya Allah. Sekali lagi bukan untukku Ya Tuhan. Maka, berikanlah ia menantu,” begitu doa Abu Nawas.

    Barangkali karena keikhlasan dan “keluguan” Abu Nawas tersebut, Allah pun menjawab doanya.

    Akhirnya Allah menakdirkan wanita cantik dan salihah itu menjadi istri Abu Nawas. Abu Nawas bersyukur sekali bisa mempersunting gadis pujaannya. Keluarganya pun berjalan mawaddah warahmah. ( rmd / rmd )

    ***

    Sumber: ramadan.detik.com

     
    • ZULFITRIANSYAH PUTRA 10:30 am pada 23 Desember 2012 Permalink

      Reblogged this on Zulfitriansyah Putra.

    • mulyono 7:37 pm pada 26 Maret 2013 Permalink

      abu nawas terkenal slengean tapi hatinya baik

    • madans 9:17 am pada 2 Mei 2013 Permalink

      lucu mau dicoba aaah

c
Compose new post
j
Postingan berikutnya/Komentar berikutnya
k
Postingan sebelumnya/Komentar sebelumnya
r
Balas
e
Edit
o
Tampilkan/Sembunyikan komentar
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 640 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: