Kisah Thulaib Bin Umair Radhiyallahu Anhu


Kisah Thulaib Bin Umair Radhiyallahu Anhu

Thulaib bin Umair masih saudara sepupu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, ia memeluk Islam ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam masih berdakwah secara sembunyi-sembunyi di Darul Arqam, sehingga bisa dikatakan ia sebagai kelompok as Sabiqunal Awwalin. Setelah keislamannya, ia menemui ibunya, Arwa binti Abdul Muthalib, dan mengatakan kalau dirinya telah menjadi pengikut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan berserah diri kepada Allah. Menanggapi pengakuannya tersebut, sang ibu berkata, “Sesungguhnya yang lebih berhak kamu bantu adalah anak pamanmu itu (Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam), demi Allah jika kami mampu melakukan seperti yang dilakukan oleh kaum lelaki, sudah pasti aku akan mengikuti dan melindunginya.”

Saat itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memang banyak mengalami halangan, cacian dan penyiksaan dalam mendakwahkan Islam. Mendengar jawaban ibunya tersebut, Thulaib berkata, “Apakah yang menghalangi ibu mengikutinya, padahal saudara laki-laki ibu, Hamzah, telah memeluk Islam?”

“Aku akan menunggu apa yang dilakukan oleh saudara-saudara perempuanku, kemudian aku akan menjadi seperti mereka,” Kata Arwa.

Tetapi Thulaib tidak puas dengan jawaban ibunya ini, ia terus mendesak dan berkata, “Sesungguhnya aku meminta dengan nama Allah, agar ibu menemuinya (yakni Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam), mengucapkan salam dan membenarkannya, dan mengucapkan kesaksian kepadanya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.”

Melihat tekad dan kesungguhan Thulaib dalam mengajaknya kepada Islam, akhirnya Arwa luluh juga. Pada dasarnya ia memang ingin membela Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang masih keponakannya sendiri, ketika begitu banyak orang yang memusuhi dan menyakitinya. Ia akhirnya berkata, “Jika memang begitu, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah pesuruh-Nya.”

Thulaib merasa gembira dengan keputusan ibunya, apalagi ia selalu didorong untuk membantu Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan juga menyiapkan kebutuhan Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dalam perjuangannya.

Di riwayatkan bahwa Thulaib Bin Umair adalah Muslim pertama yang melukai seorang Musyrik yang bersikap lancang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Suatu ketika Auf Bin Sabrah as-Sahmi tengah melontarkan caci-maki kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam lalu Thulaib Bin Umair mengangkat tulang rahang unta dan memukulkannya kepadanya sehingga luka. Ada yang mengadukan hal itu kepada ibu beliau. Ibunya menjawab, “Thulaib telah membantu sepupunya, ia telah bersikap simpatik dengan perantaraan darahnya dan hartanya.”

Sebagian berpendapat bahwa orang yang dipukul itu bernama Abu Ihab bin Aziz ad-Darimi. Sedangkan sebagian lagi berpendapat orang itu adalah Abu Lahab atau Abu Jahal. Menurut riwayat lain, ketika perbuatan itu diadukan kepada Ibunya , Ibunya  mengatakan, “Hari terbaik dalam kehidupan Thulaib adalah pada saat membela sepupunya. Dia Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang telah datang dengan kebenaran dari Allah Ta’ala.”

Thulaib termasuk Muslim yang berhijrah ke Habasyah. Namun ketika sebuah kabar burung dari Makkah sampai ke Habasyah yang menyatakan bahwa Quraisy telah masuk Islam, beberapa Muhajirin Muslim kembali ke Makkah tanpa mengkonfirmasi kebenaran kabar itu. Salah satu dari mereka adalah Thulaib.

Sekembalinya ke Makkah, mereka meminta perlindungan kepada para tokoh Makkah.

Setelah Thulaib hijrah dari Makkah ke Madinah, dia tinggal di rumah Abdullah Bin Salamah al-Ajlani. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengikat persaudaraan antara Thulaib dengan Mundzir Bin Amru.

Thulaib ikut serta pada perang Badar.

Thulaib juga ikut serta pada perang Ajnadain yang terjadi pada bulan Jumadil Ula 13 Hijri. Pada perang tersebut beliau syahid pada usia 35 tahun. Ajnadain adalah nama tempat di Syria, di sana terjadi peperangan antara pasukan Muslim dengan Romawi, namun sebagian berpendapat bahwa beliau wafat pada perang Yarmuk.