Sedekah : Mana Yang Lebih Utama Kualitas Atau Kuantitas? (2/2)


sedekah-masjidSedekah : Mana Yang Lebih Utama Kualitas Atau Kuantitas? (2/2)

Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

`Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

Kualiti atau Kuantiti?

Antara perkara yang perlu diberi perhatian dalam amalan bersedekah adalah kualiti atau mutu barang yang disedekahkan. Jadi, apakah ciri-ciri yang memenuhi kualiti yang dikehendaki di sini?

Terdapat tiga perkara yang mesti dipenuhi untuk menjadikan pemberian sedekah itu berkualiti:

Pertama, mestilah barang yang disedekahkan itu dari kategori yang bagus, yang baik.

Sebagaimana yang disebutkan terdahulu, bahwa bersedekah merupakan ibadat untuk merapatkan hubungan kita dengan Allah yang Maha Luas pemberianNya, untuk mensyukuri segala nikmat yang dianugerahkan kepada kita, adalah tidak layak jika apa yang dipersembahkan kepadaNya terdiri dari benda-benda yang kita sendiri tidak sudi menerimanya.

Oleh itu, kalau hendak memberi sedekah biarlah dari jenis yang kita sendiri senang hati jika kita yang menerimanya, bukannya dari jenis yang kita sendiri tidak senang hati jika kita yang menerimanya, malahan hanya menerimanya karena terpaksa, karena menjaga hati pemberinya.

Allah subhanahu wa ta’ala melarang memberikan sedekah dengan benda yang tidak baik, sebagaimana firmanNya yang tafsirnya :

“Wahai orang-orang yang beriman! Belanjakanlah (pada jalan Allah) sebagian dari hasil usaha kamu yang baik-baik, dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu sengaja memilih yang buruk daripadanya (lalu kamu dermakan atau kamu jadikan pemberian zakat), padahal kamu sendiri tidak sekali-kali akan mengambil yang buruk itu (kalau diberikan kepada kamu), kecuali dengan memejamkan mata padanya. Dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Kaya, lagi sentiasa Terpuji.” (Surah Al-Baqarah, ayat 267)

Kedua, dan yang penting sekali ialah sedekah itu daripada sesuatu yang halal yang tidak bercampur dengan perkara syubhah.

Di riwayatkan daripada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

“Tidak seseorang itu memberikan sedekah dari harta yang baik – dan Allah tidak akan menerima kecuali yang baik – melainkan Allah yang Maha Pengasih akan Menerima sedekah itu dengan tangan kananNya, sekalipun sedekah itu hanya berupa sebiji kurma. Lalu di tangan Allah yang Maha Pengasih sedekah itu bertambah-tambah sehingga menjadi lebih besar daripada gunung, sebagaimana di antara kamu memelihara (membesarkan) anak kudanya atau anak untanya.”

(Hadits riwayat Bukhari, Musli, At-Tirmidzi, An-Nasa’ie dan Ibnu Majah)

Al-Imam An-Nawawi salah seorang ulama terkemuka dalam mazhab Syafi’e telah menjelaskan bahwa apa yang dimaksudkan dengan “Attoyyib” (yang baik) di dalam hadits di atas ialah sesuatu yang halal.

Di dalam hadits yang lain, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bermaksud :

“Wahai manusia! Sesungguhnya Allah itu baik (suci, bersih dari segala kekurangan), dan Dia tidak menerima kecuali yang baik. Dan Allah Memerintahkan kepada orang-orang yang beriman dengan apa yang Dia Perintahkan kepada para Rasul.

Allah berfirman (tafsirnya): “Wahai Rasul-rasul! Makanlah dari benda-benda yang baik-baik lagi halal dan kerjakanlah amal-amal saleh; sesungguhnya Aku Amat Mengetahui akan apa yang kamu kerjakan.”(Surah Al-Mukminuun, ayat 51)

Allah berfirman lagi (tafsirnya): “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari benda-benda yang baik (yang halal) yang telah kami berikan kepada kamu.”(Surah Al-Baqarah, ayat 172)

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan tentang seorang yang mengadakan perjalanan jauh, yang kusut rambutnya lagi berdebu, dia menadahkan kedua tangannya ke langit, seraya berdoa: “Ya Tuhanku! ya Tuhanku!”,sedangkan makanannya dari yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan yang haram, lalu bagaimana doanya itu diperkenankan?”

(Hadits riwayat Muslim dan At-Tirmidzi)

Dalam mengulas hadits di atas, Al-Imam An-Nawawi menegaskan bahwa itu memberi galakan atau dorongan supaya apa yang dinafkahkan atau dibelanjakan itu hendaklah dari benda yang halal, dan melarang dari menafkahkan benda-benda yang tidak halal. Dan apa jua yang diminum, dimakan, dipakai dan seumpamanya hendaklah dari benda yang halal semata-mata yang tidak ada keraguan atau syubhah padanya.

Dari ulasan di atas, dapatlah diambil pengajaran bahwa membelanjakan harta di jalan Allah itu salah satunya ialah dengan jalan bersedekah. Oleh itu, adalah sewajarnya benda yang disedekahkan itu daripada yang halal semata-mata, tanpa bercampur dengan elemen-elemen yang meragukan atau syubhah. Ini merupakan tuntutan Allah dan RasulNya sebagaimana jelas di dalam hadits-hadits yang disebutkan tadi; sesungguhnya Allah itu tidak akan menerima kecuali sesuatu yang baik, sesuatu yang halal.

Ketiga, itu terdiri dari barang yang disayangi oleh pemberi sedekah.

Sunat hukumnya bagi seseorang mengeluarkan sedekah atau derma daripada benda-benda yang disukainya. Ini jelas sebagaimana firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

“Kamu tidak sekali-kali akan dapat mencapai (hakikat) kebajikan dan kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu dermakan sebagian dari apa yang kamu sayangi.” (Surah Aali ‘Imraan, ayat 92)

Sebenarnya di sinilah juga merupakan ujian yang berat bagi orang yang mengaku dirinya beriman. Seorang yang tidak sanggup mengeluarkan, membelanjakan atau mendermakan sesuatu yang amat disayangi atau disukainya belumlah mencapai taraf keimanan yang tinggi, belumlah dikatakan mempunyai jiwa yang baik.

Ketiga-tiga komponen yang kita sebutkan di atas adalah perlu ada pada jenis mata benda yang disedekahkan untuk dikategorikan sebagai sedekah berkualiti. Adapun kuantiti atau sedikit dan banyak sesuatu pemberian itu bukanlah menjadi ukuran.

Oleh itu, tidak semestinya pemberian itu dengan jumlah bilangan yang banyak, malahan sunat bagi seseorang bersedekah atau menderma walaupun dengan bilangan yang sedikit. Tidak perlu malu untuk bersedekah atau menderma dengan jumlah wang yang kecil atau dengan sesuap makanan umpamanya, karena yang demikian itu amat bernilai di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana firmanNya yang maksudnya :

“Maka barang siapa berbuat kebajikan seberat zarrah, niscaya akan dilihatnya (dalam surat amalnya).” (Surah Az-Zalzalah, ayat 7)

Di dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

“Takutlah kamu akan api neraka walaupun dengan separuh buah kurma.”

(Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas memberi dorongan untuk bersedekah walaupun dengan mata benda yang sedikit bilangannya, sekalipun bersedekah dengan separuh buah kurma, karena yang demikian itu sungguhpun itu sedikit tetapi mampu untuk menyelamatkan tuannya daripada api neraka.

Perkara Yang Merusakkan Sedekah

Antara elemen terpenting dalam amalan bersedekah adalah keikhlasan. Bersedekah biarlah terbit daripada hati nurani yang bersih, ikhlas untuk membantu orang lain. Oleh karena itu, perlunya ada etika pada diri orang yang bersedekah atau menderma, antaranya jangan mengungkit-ungkit dan menyakiti orang yang menerima sedekah atau derma.

Apabila seseorang mengungkit-ungkit kembali pemberian sedekah yang telah dihulurkannya, nyatalah bahwa dia tidak memberi dengan keikhlasan, tidak memberi dengan hati yang bulat karena Allah.

Sebagai contoh, seorang yang telah menghulurkan derma untuk mendirikan masjid, lalu dia diminta sekali lagi untuk memberi bantuannya. Tiba-tiba diungkit-ungkit pemberiannya yang dahulu: “Mengapa datang lagi, bukankah tempo hari saya sudah menderma”. Padahal kalau dia mau, kalau dia ikhlas beberapa kali memberi derma pun tidak menjadi masalah.

Begitu juga halnya dengan menyakiti orang yang diberi, kelakuan seperti ini tidak sekali-kali menunjukkan keikhlasan si pemberi. Biarpun dia menghulurkan sedekah tetapi diiringi dengan kata-kata yang boleh memalukan dan menyinggung perasaan orang yang diberi, pemberiannya itu tidak mendatangkan apa-apa ganjaran, malahan boleh mendatangkan dosa.

Para ulama bersepakat mengatakan bahwa perbuatan mengungkit-ungkit kembali sedekah, derma atau sumbangan yang telah diberikan dan menyakiti orang yang menerima pemberian tersebut adalah haram hukumnya, dan merusakkan pahala amal sedekahnya itu. Hal ini telah diperuntukkan dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

“Wahai orang-orang yang beriman! Jangan rusakkan (pahala amal) sedekah kamu dengan perkataan membangkit-bangkit dan (kelakuan yang) menyakiti, seperti (rusaknya pahala amal sedekah) orang yang membelanjakan hartanya karena menunjuk-nunjuk kepada manusia (riya’), dan ia pula tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhirat.” (Surah Al-Baqarah, ayat 264)

Perkara mengungkit-ungkit pemberian sedekah atau derma dan menyakiti hati orang yang diberi sedekah atau derma, termasuk dalam golongan orang yang rendah akhlak. Orang seperti ini tidak sedar dan insaf bahwa kekayaan dan rezeki yang dikurniakan Allah kepadanya, tidaklah ada artinya kalau dia terputus hubungan dengan masyarakat, karena antara tujuan bersedekah, menderma, menghulur sumbangan merupakan jalan penghubung dan pengerat sesama manusia.

Sifat riya’ atau sifat menunjuk-nunjuk juga boleh menjadi punca rusaknya sesuatu pemberian sedekah. Sedekah tidak ada apa-apa nilai jika itu dihulurkan hanya untuk mendapat pujian orang, hanya untuk memberitahu orang bahwa dia seorang yang pemurah, padahal jika tidak dilihat orang dia tidak akan mengeluarkan sedekah. Oleh itu, ikhlas merupakan kunci kejayaan untuk mendapat ganjaran daripada amalan bersedekah.

Sebagai suatu kesimpulan, segala apa yang dikeluarkan atau diberikan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, sama ada itu dinamakan sebagai sedekah, derma, sumbangan atau seumpamanya, adalah penting untuk diperhati aspek kualiti benda atau barang yang diberikan itu. Pendek kata, kualiti adalah menjadi ukuran bukannya kuantiti. Allah Maha Mengetahui segala apa yang kita dermakan atau sedekahkan, sebagaimana firmanNya yang tafsirnya :

“Dan suatu apa jua yang kamu dermakan maka sesungguhnya Allah Mengetahuinya.” (Surah Ali ‘Imran, ayat 92)

Wallohu a’lam bish-showab,-

Iklan