Jenaka dalam Kecerdasan


Jenaka dalam Kecerdasan

By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

Semua kita pasti sudah pernah mendengar nama Abu Nawas. Jika orang menyebut nama Abu Nawas maka langsung terbayang sosok pelawak kesohor atau tentang fikiran akal bulus yang sangat lembut,- tetapi konotasinya  negatip. Sesungguhnya tokoh Abu Nawas atau Abu Nuwas adalah seorang ahli hukum dan kritikus social yang sangat cerdas yang hidup pada zaman Daulah Abbasiyyah di Bagdad, dan sempat bertemu dengan dua khalifah (raja) pada periode hidupnya, yaitu Harun Al Rasyid dan al Ma`mun.

Ia juga seorang penyair sufi , tetapi kekhasan Abu Nawas adalah kemampuannya mengekpressikan kecerdasannya secara jenaka,bahkan termasuk kepada Tuhan.. Kumpulan puisinya tercantum dalam buku Diwan- Abu Nuwas yang di Fakultas sastra Arab bukunya dijejerkan bersama dengan kumpulan puisi Imam Syafi`i ,Diwan al Imam al Syafi`i dan puisi Ali bin Abi Thalib,Diwan al Imam ~Ali, Diwan Syi`r Imam al Bulagha. Kecerdasan dan kejenakaan Abu Nuwas dapat dirasakan dari kisah-kisah sebagai berikut.

Pertama

Suatu hari Raja iseng-iseng uji nyali staf di kerajaannya. Di halaman depan kerajaan ada pohon jambu yang sedang berbuah. Raja mengikat seekor orang utan yang besar dan galak di pohon itu, lalu Raja mengumumkan; barang siapa bisa mengambil sebutir saja jambu dari pohon itu akan diberi hadiah seribu dinar. Orang banyak berusaha untuk mengambilnya, tetapi tidak ada seorangpun yang bisa, karena setiapkali mendekat pohon,orang utan yang galak itu segera menyongsongnya. Abu Nawas yang kala itu sedang bertamu ditawari ikut. Abu Nawas pun bersedia dan dengan santai ia mengambil beberapa batu kecil. Dengan cermat Abu Nawas melempari orang utan itu dengan batu-batu kecil. Sudah barang tentu orang utan yang galak itupun marah, tetapi ia tidak bisa menjangkau Abu Nawas karena kakinya terikat rantai ke pohon.  Puncak kemarahan orang utan itu terjadi, ia petik jambu didekatnya dan dibalas melemparnya ke Abu Nawas. Nah Abu Nawas tinggal menangkap jambu itu, dan Abu Nawas memenangkan hadiah Raja sebesar seribu dinar.

Kedua

Pada suatu hari, salah seorang keponakan Raja yang bernama Jafar berceritera kepada Raja,bahwa ia bermimpi menikahi seorang gadis yang bernama Zainab, seorang gadis yang terkenal di Bagdad karena kecerdasan dan kecantikannya. Raja dengan tanpa berfikir mendalam langsung mengomentari ceritera mimpi ponakannya. Wah itu mimpi yang baik, mimpimu itu isyarat petunjuk Tuhan. Begini saja, kalau kamu memang mau menikah dengan Zainab, serahkan pada pamanmu ini, biar aku yang urus. Sudah barang tentu Jafar, sang keponakan sangat gembira. Esoknya, Zainab dan kedua orang tuanya dipanggil menghadap raja, dan kepada mereka disampaikan bahwa ada isyarat Tuhan yang harus dilaksanakan , yaitu menjodohkan Jafar, keponakannya dengan Zainab. Biarlah kerajaan yang menyelenggarakan hajatannya.

Kedua orang tua Zainab sudah barang tentu bersukacita, tetapi Zainab sendiri tidak bisa menerimanya. Hatinya menolak keras dijodohkan, apalagi hanya berdasar mimpi, tetapi mulutnya terkunci rapat. Kerajaan dengan bersukacita mengumumkan rencana pernikahan itu, dan tak lupa Raja pun menceriterakan kepada publik mimpi ponakanya yang ia fahami sebagai isyarat dari Tuhan yang harus dilaksanakan.

Di rumah, Zainab  bingung tak tahu harus berbuat apa. Kedua orang tuanya dan bahkan segenap keluarganya dalam suasana bahagia menyongsong hari perkawinan dirinya, tapi dia sendiri hatinya hancur karena tidak menyukai Jafar, ponakan raja yang ia ketahui perilakunya tidak terpuji. Inginnya ia kabur dari rumah, tetapi itu pasti mencelakakan keluarga karena mempermalukan kerajaan.

Sekedar mencari ketenangan Zainab mengadu kepada Abu Nawas. Abu Nawas bertanya. Kamu ingin pernikahanmu dengan Jafar berlangsung atau inginya gagal?  Pokoknya Saya tidak ingin menikah dengan Jafar, paman , jawab Zainab. Abu Nawas melanjutkan. Jika engkau ingin perkawinan itu gagal,engkau harus segera menghadap raja dan mengucapkan terima kasih karena Paduka telah menjalankan isyarat Tuhan melalui mimpi Jafar. Tapi, tapi bagaimana ? Zainab protes. Pokoknya, kata Abu Nawas, jika engkau ingin perkawinan itu gagal,laksanakan kata-kata saya.

Dengan tidak begitu faham jalan fikiran Abu Nawas, Zainab menghadap Raja dan mengucapkan terimakasih. Sudah barang tentu Raja sangat senang mendengar kata-kata Zainab.

Suatu pagi, ketika halaman kerajaan sudah didirikan tenda untuk acara pernikahan , Abu Nawas berada di atap istana raja, mencabuti genting-2 dan melemparkannya ke halaman. Sudah barang tentu gegerlah  istana. Abu Nawas di tangkap dan langsung di sidang di depan raja untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya–. Abu Nawas diancam dengan hukuman berat.

Ketika Abu Nawas ditanya  oleh raja tentang motivasi dari apa yang dilakukan, dengan sangat sopan Abu Nawas menjawab. Paduka tuanku junjungan kami, ampunilah hamba orang kecil ini,hamba adalah orang kecil yang selalu mengidolakan baginda. Apapun yang menjadi kehendak paduka,kami selalu mengikutinya. Paduka junjungan kami,tiga malam berturut hamba bermimpi menaiki atap istana tempat paduka bersemayam. Hamba gelisah, dan akhirnya hamba yakin bahwa mimpi hamba adalah isyarat dari Tuhan untuk menyelamatkan paduka, dari ancaman yang kita belum tahu. Jangan-jangan di atap ada ancaman terhadap baginda. Oleh karena itu sebelum bencana itu menimpa baginda,hamba segera naik atap untuk melaksanakan isyarat Tuhan yang kami dapati dalam mimpi kami.Mohon ampun baginda.

Sang Raja tercenung mendengar jawaban Abu Nawas. Raja sadar bahwa Abu Nawas itu orang cerdas. Raja pun sadar bahwa mengambil keputusan berdasar mimpi Jafar, keponakannya adalah sangat tidak bijaksana, bahkan berbahaya. Terbayang dalam fikiran Raja, apa lagi yang akan dilakukan Abu Nawas besok-besoknya dengan alasan mimpi. Sungguh berbahaya. Akhirnya Raja membatalkan rencana menikahkan Zainab dengan keponakannya.

Ketiga

Suatu hari Raja yang repressip itu melakukan kunjungan incognito meninjau proyek pembangunan taman di pinggir sungai Tigris. Ketika berada di pinggir sungai dan jauh dari rumah tiba-tiba sang raja ingin buang hajat. Rupanya raja sedang kena diare karena salah makan. Dengan sigap pengawal melakukan langkah darurat, yaitumembuyat WC tenda di pinggir sungai. Rajapun apa boleh buat masuk ke WC darurat itu.

Melihat pemandangan itu, Abu nawas tiba-tiba lari ke arah hulu sungai dan langsung buang hajat di situ. Sudah barang tentu raja marah, karena tahi Abu Nawas pelan-pelan mendekati raja mengikuti arus air. Usai buang hajat, raja langsung memerintahkan pengawal untuk menangkap Abu Nawas. Abu Nawas di sidang dengan tuduhan menghina raja karena buang air besar di depan raja. Tetapi dengan amat sopan Abu Nawas menjawab. Aduh mohon ampun paduka junjungan kami. Sama sekali tidak ada setitikpun niat hamba menghina paduka. Hamba ini  orang yang sangat mengidolakan paduka. Dalam keadaan apapun paduka adalah pemimpin kami. Hamba selalu patuh berada di belakang paduka. Sedikitpun kami tidakberani mendahului paduka. Tetapi kamu buang hajat di depanku, bentak Raja.

Adapun tentang buang hajat, mohon maaf paduka. Semula kami berada di belakang paduka, tiba-tiba hamba terkena diare.. Seandainya hamba langsung buang hajat di tempat, maka pasti tahi hamba akan mendahului tahi paduka yang mulia.Ini tidak boleh karena ini adalah satu penghinaan. Oleh karena itu paduka, dengan sangat berat kami—buru-buru lari ke depan untuk buang air di sana,agar tahi hamba tidak mendahului tahi paduka.

Mendengar keterangan Abu Nawas, raja manggut-manggut dan bisa menerima alasan Abu Nawas. Abu Nawas bukan saja tidak dihukum,malah raja memberinya hadiah seribu dinar.

Keempat,

Abu Nawas jenaka bukan hanya kepada sesama manusia,kepada Tuhan pun ia suka bercanda. Salah satu candanya terekam dalam teks doa yang hingga kini banyak dihafal orang. Kata Abu Nawas,Ilahy,lastu lil firdausi ahla. Wala aqwa `alannar aljahimi. Fahabl itaubatan waghfir dzunubi.fa innaka ghofirun dzambil`adzimi. Artinya.Ya Tuhanku, rasanya hamba tak pantas masuk surgamu. Tetapi untuk masuk neraka, waduh sorry,hamba tak kuaaaat. Oleh karena itu ya Tuhan,mudahkanlah hamba untuk bertaubat dan ampunilah dosa kami. Bukankah Engkau Maha Pengampun bahkan terhadap dosa-dosa besar?.