Istri Baru Bersalin, Jangan Langsung Tancap Gas


ibu-dan-bayi-dalam-sheknowsIstri Baru Bersalin, Jangan Langsung Tancap Gas

Sudah tiga minggu Dudi, 29, tidur di ruang tamu sambil menonton televisi. Dia mengaku tidak mau tidur di kamar bersama istrinya, Nina, 24, yang baru melahirkan anak pertamanya.

”Saya takut kepingin, kan bahaya bagi rahim istri saya yang baru melahirkan. Jadi, saya tidur sambil nonton biar enggak terasa tahu-tahu ngantuk, terus tidur sampai pagi,” tutur Dudi kepada Effendi, teman sekantornya.

Tapi, Dudi yang baru dua tahun bekerja di salah satu perusahaan penerbitan di Jakarta ini, mengaku tidak tahu pasti sampai kapan ia tidak boleh berhubungan dengan istrinya.

Hubungan seks pascamelahirkan bukan hal gampang. Ada hal yang perlu diperhatikan. Seksolog Ferryal Loetan dari Rumah Sakit (RS) Persahabatan mengatakan hal tersebut. Menurut dia, suami tidak dapat berhubungan dengan istrinya yang baru melahirkan tanpa aturan.

Melahirkan bukan sekadar proses mengeluarkan. Tapi, ada organ tubuh wanita yang perlu istirahat. Waktu istirahat yang dibutuhkan adalah selama 30 hingga 45 hari.

Jadi, selama itu suami diminta tidak berhubungan badan dulu. Pasalnya, masa itu masa pemulihan organ tubuh istri terutama rahim agar kembali normal. ”Mulut rahim setelah melahirkan terbuka dan akan menutup kembali setelah memasuki 30-45 hari,” jelas Ferryal. Namun, dengan adanya obat- obatan, penutupan rahim ke normal bisa dipercepat. Tetapi, itu hanya lebih cepat sekitar seminggu.

Dalam agama Islam masa setelah melahirkan disebut nifas. Menurut seksolog ini, selama masa nifas suami dilarang berhubungan. Karena itu, masa nifas disebut sebagai fase kotor, fase suami tidak ‘menyentuh’ istrinya. Larangan tersebut bukan tanpa alasan.

Bagaimana jika suami memaksa atau tidak tahan untuk berhubungan dengan istrinya? Ferryal mengatakan bisa saja tetapi memiliki risiko. Belum kembali pulihnya rahim dan penutupan belum normal, sangat berisiko terjadinya infeksi pada mulut rahim.

Setelah memasuki 30-45 hari, suami disarankan untuk tetap berhati-hati saat berhubungan. Kalau diibaratkan kendaraan, jangan sampai nyopirnya langsung tancap gas. Mengendarainya harus perlahan-lahan dulu. Begitu juga saat suami berhubungan dengan istri yang baru melahirkan. Baru setelah beberapa hari, hubungan suami-istri bisa dilakukan sebagaimana biasanya.

Suami atau istri kadang tidak sabar, berharap kondisi rahim bisa kembali pulih. Yang sering dipertanyakan, apakah ada makanan yang bisa merangsang pemulihan lebih cepat. Dia mengatakan, biasanya dokter memberi vitamin/suplemen yang bisa mempercepat proses penyembuhan.

Bagaimana dengan jamu-jamu pascabersalin yang diperjualbelikan? Dia mengatakan, kandungan jamu sebenarnya tidak berbeda dengan vitamin dan suplemen untuk memperbaiki kondisi tubuh. Sayangnya, kemurnian jamu bersalin diragukan karena banyak jamu yang dicampur dengan zat kimia.

Ferryal mengingatkan, setelah melahirkan kondisi kebersihan rahim harus benar-benar dijaga. Dalam menjaga kebersihan tentu saja tidak boleh sembarangan menggunakan sabun. Biasanya dokter atau bidan akan memberi cairan khusus untuk rahim yang lebih aman.

Sayangnya, ketika membersihkan rahim banyak mitos yang salah. Tak sedikit ibu-ibu yang menggunakan daun sirih untuk membersihkan rahimnya. Sirih kerap diidentikkan sebagai pembersih rahim. Ferryal mengingatkan, justru sirih yang digunakan mencuci vagina akan membuat kondisi vagina kering. Kondisi kering bukanlah kondisi sehat. Kondisi vagina yang sehat adalah yang basah.

Jika vagina kering akan membuat keadaan tidak nyaman. Istri maupun suami akan merasa sakit, bahkan bisa terjadi iritasi. ”Tetapi, yang terjadi di masyarakat justru salah kaprah. Sering kali vagina kering menjadi dambaan suami,” jelasnya.

Tetapi, harus dibedakan antara basah yang sifatnya alami dan basah yang disebut dengan ‘becek’. Ferryal mengatakan, cairan yang membasahi vagina yang alami dan sehat warnanya bening dan tidak berbau. Sebaliknya, cairan yang disebut ‘becek’ itu sebenarnya penyakit keputihan. Di mana cairan dalam vagina tampak keruh dan berbau.

Seksolog ini juga mengingatkan bahwa cara mengembalikan rahim atau vagina ke kondisi semula tidak boleh sembarangan. Jika kulit bagian dalam vagina mengalami kerusakan atau iritasi, penyembuhan tidak mudah. Bahkan Ferryal berpendapat kerusakan kulit dalam vagina tidak akan kembali ke kondisi semula.

Apabila kondisi kulit dalam vagina mengalami iritasi, tak ada jalan lain saat berhubungan harus memakai jeli atau pelumas. Memang, telah ada obat yang bisa menyembuhkan kulit dalam vagina ke kondisi semula. Tetapi, jika sembuh tidak seperti bentuk awal. (Drd/V-2)

Iklan