Dakwah ala Teletubbies


Dakwah-Islam1Dakwah ala Teletubbies

“Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik”.

Fragmen ayat di atas adalah sebuah hepotesa dari keniscayaan seorang hamba untuk melaksanakan dakwah, menyebarkan misi Islam secara paripurna.

Manusia, disamping makhluk yang diciptakan untuk mengabdi sepenuhnya kepada Tuhan, juga punya tugas untuk melestarikan dakwah Islamiyah di atas maya.

Dua dimensi yang sama-sama suci: sebagai seorang hamba yang menyerahkan segalanya untuk menghambakan diri-di satu sisi-dan sebagai khalifah yang mendermakan hidupnya untuk izzul islam wal muslimin-di sisi yang lain. ‘Sesungguhnya aku akan menjadikan khalifah di bumi, kata Allah. Dan jadilah Adam (yang manusia) sebagai khalifah pertama.

Dakwah adalah tulang punggung tegaknya Islam. Sebagai prosesor penentu jalannya gerakan Islam. Tanpa dakwah, Islam hanyalah utopia. Tanpa dakwah  barangkali kita tidak pernah mengenal Islam. Revolusi yang digaungkan oleh Nabi Muhammad saw. lebih 14 abad yang silam menjadi prioritas perjalanan agama paripurna ke depan.

Dakwah adalah kewajiban individu. Setiap orang wajib melaksanakannya. Dan dakwah bisa dilakukan dengan berbagai cara.

Setidaknya ada tiga model dakwah yang bisa dilakukan oleh da’i, yaitu :

  1. Dakwah bil hal.

Dakwah yang dilakukan dengan memberikan teladan yang baik. Dakwah ini adalah model dakwah yang paling efektif dan menjadi karakteristik dakwah Nabi Muhammad. ‘Sungguh dalam dirimu Muhammad terhadap teladan yang baik”. Kata Allah dalam al-Qur’an. Kenapa dakwah bil hal sangat efektif? Karena manusia lebih gampang meniru apa yang dia lihat, daripada mempraktekkan apa yang didengar dan yang dibaca.

  1. Dakwah bil-Qalam.

Dakwah dengan melalui tulisan. Model seperti ini juga cukup efektif walaupun masih sedikit sekali kalangan para da’i yang menggunakan model dakwah seperti ini. Ada dua probabilitas yang menyebabkan sedikitnya dakwah dengan karya tulis. Pertama minimnya kemampunan menulis orang-orang Islam (baca: da’i). Kedua sedikitnya fasilitas media keislaman untuk mengekspresikan dakwah dengan model ini. Kalaupun ada, itu pun masih bisa dihitung dengan jari, selebihnya media di bawah hegemoni orang-orang ‘luar’.

  1. Dakwah bil lisan.

Dakwah model ini menjadi ciri khas dakwah masa kini. Di pelosok desa, di tengah hangar-bingar perkotaan, pengajian, majlis taklim  marak dilakukan. Bahkan untuk mengoptimalkan retorika dakwah verbal ini, tak jarang dijumpai latihan berpidato, mulai dari teknik, metode, gaya, intonasi dan lain sebagainya. Hal ini jelas sangat menggembirakan. Setidaknya prospek dakwah verbal akan tatap cerah dan tidak akan punah.

Namun masalah kemudian timbul. Seberapa efektifkah dakwah verbal seperti ceramah, pidato atau orasi  dapat mengubah prilaku masyarakat menjadi lebih baik? Pasalnya, kendati pengajian marak digelar di mana-mana, muballigh didatangkan dari mana-mana, dan masyarakat hadir dengan penuh semangat diiringi tampik sorak dan aplaus panjang. Setelah itu kehidupan berjalan sebagaimana biasa. Tidak ada makna yang bisa diambil dari pengajian itu. Layaknya tidak ada apa-apa. Dan prilaku masyarakat ternyata tidak semakin baik.

Alih-alih memperbaiki prilaku, yang baik malah berbalik haluan. Dakwah verbal sudah tidak punya tenaga. Ia telah kehilangan kekuatannya, sehingga yang tampak pengajian hanyalah sederet acara seremonial yang tidak membawa kesan berarti. Naïf!.

Lantas siapa yang salah dalam hal ini, pelaku dakwah atau masyarakatnya? Kita tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Yang jelas, metodologi dakwah yang digunakan oleh para da’i sudah semestinya dipertanyakan kembali.

Ada sintesa menarik yang dapat dipintal dari benang kusut konteks dakwah saat ini: dakwah sudah kehilangan orientasi. Dakwah sudah tidak murni sebagai tuntunan -sich, tapi telah melebur batas menjadi tontonan ‘plus’. Aspek yang ditonjolkan oleh (sebagian) da’i masa kini bukan lagi ajaran dan pesan moralnya, tapi bagaimana ia mencari simpati dengan metode dan gaya penampilan yang kadang-kadang–entah disadari atau tidak-telah menghilangkan substansi dakwah itu sendiri.

Metode yang kebablasan. Panggung pengajian bukan lagi menjadi pemandangan yang menyejukkan dan meneduhkan, tapi sudah disulap menjadi medan banyolan dan lawakan bahkan menjadi arena provokasi. Dan yang terjadi kemudian, da’i bukan lagi berwujud sosok ‘malaikat’ yang memikat dan menyejukkan hati, tapi ia sudah berubah wajah menjadi pelawak atau tukang mbanyol bahkan provokator yang menembaki saudara-saudaranya dengan ‘mesiu’ ayat-ayat al-Qur’an. Politisasi agama, kata Amien Rais.

Saat ini tidak sulit untuk mencari tukang pidato. Siapa pun yang disodori mic, insya Allah akan keluar pepatah-petitihnya. Bahkan ada semacam trend yang menimbulkan kesan: asal pandai mbanyol atau mencaci maki saudara-saudaranya, bisa jadi tukang pidato. Selanjutnya masyarakat—yang tidak tahu apa-apa—dengan lugu menjulukinya kiai, ustadz dan atau muballiqh (KH. Mustafa Bisri, Melihat Diri Sendiri, 122).

Agaknya, apa yang paling dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad saw. terhadap umatnya, saat ini benar-benar telah terjadi. Dulu, Rasulullah antara lain meramalkan bahwa akan datang atas umatnya masa-masa yang jumlah tukang pidatonya mbludak, orang alimnya sedikit dan kekacauan merajalela (al-Jami’ush Shaghier II/32).

Dus, metode memang penting. Semua orang mengakui itu. Islam meletakkan metode pada posisi yang sangat tinggi. Bahkan  kunci sukses dakwah Rasulullah terletak pada kemampuannya menggunakan metode dengan tepat.

Orang bijak pernah berkata ‘Metode lebih penting dari isi”. Tapi ketika metode itu diletakkan pada porsi yang tidak proporsional, maka ia hanya akan menjadi bumerang. Metode dakwah yang kebablasan hanya akan mencerabut makna dakwah itu sendiri dari akarnya.

Dakwah adalah misi suci yang harus dilakukan dengan cara-cara yang suci pula. Misi suci dakwah adalah sebagi media transformasi untuk merubah prilaku masyarakat agar menjadi pribadi-pribadi yang ber-akhlakul karimah dengan memberikan bekal agama dan moral, bukan mencekoki mereka dengan mbanyolan dan caci maki.

Dakwah-sekali lagi-bukan untuk memetik simpati, mencari popolaritas atau na’udzubillah -meminjam istilahnya KH. Musthafa Bisyri-untuk mengeruk amplop. Tapi bagaimana seorang da’i dapat memanusiakan manusia sehingga lebih manusiawi. Itu saja!

Wallohu a’lam bis-shawab,-

***

Arland

Iklan