Ucapan Takziah (2/2)


takziahUcapan Takziah (2/2)

Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

Lafaz Ta’ziah

Sebagaimana penjelasan di atas, sunat ke atas orang Islam mengucapkan ta’ziah kepada orang yang ditimpa musibah.

Adapun ucapan ta’ziah itu jika ditujukan kepada ahli keluarga yang Islam dan bagi si mati yang Islam, lafaznya adalah seperti berikut yang artinya :

“Semoga Allah membesarkan pahalamu dan membaikkan kesabaranmu dan mengampunkan bagi si matimu.”

Persoalan yang timbul, bolehkah mengucapkan ta’ziah kepada orang orang bukan Islam dan bagaimanakah lafaznya?

Ucapan Ta’ziah Bagi Orang Bukan Islam

Harus (boleh) bagi orang Islam memberi ucapan ta’ziah kepada orang kafir zimmi bahkan sunat hukumnya jika mengharapkan Islamnya.

Apabila si mati orang bukan Islam dan ucapan ta’ziah itu ditujukan kepada keluarganya yang Islam, lafaznya ialah seperti berikut :

Artinya:”Semoga Allah membesarkan pahalamu dan kesabaranmu dan semoga Allah memberimu penggantinya.”

Akan tetapi haram didoakan bagi mayat orang bukan Islam itu dengan memohon keampunan baginya, walaupun ucapan ta’ziah itu ditujukan kepada keluarga si mati yang Islam. Contoh lafaz mendoakan keampunan yang diharamkan bagi mayat orang bukan Islam itu seperti berikut :

Artinya :”Semoga Allah mengampuni si matimu.”

Berbeda halnya jika si mati itu orang Islam. Maka harus didoakan si mati itu dengan memohonkan keampunan, walaupun ucapan ta’ziah itu kepada keluarga yang bukan Islam bagi si mati yang Islam.

Akan tetapi tidak boleh diucapkan ta’ziah kepada keluarga yang bukan Islam bagi si mati yang Islam itu dengan mendoakannya supaya Allah membesarkan pahala keluarga yang bukan Islam itu. Karena tiada pahala bagi orang-orang bukan Islam. Tetapi harus diucapkan ta’ziah kepada keluarga bukan Islam itu jika si mati orang Islam dengan lafaz seperti berikut :

Artinya : “Semoga Allah mengampuni si matimu dan membaikkan kesabaranmu.” (Mughni Al-Muhtaj: 1/481-482)

Manakala ucapan ta’ziah bagi ahli keluarga bukan Islam dan si mati yang bukan Islam, adalah lebih baik ditinggalkan karena itu mendoakan orang bukan Islam dengan berkekalan dan sentiasa dalam kekufurannya. Sebagai contoh lafaz ta’ziah yang ditujukan kepada keluarga bukan Islam dan si mati yang bukan Islam, yang mana lebih baik ditinggalkan itu ialah :

Artinya : “Semoga Allah memberimu penggantinya.”

Sebagaimana penjelasan di atas adalah haram bagi umat Islam mengucapkan ta’ziah kepada ahli keluarga yang bukan Islam dengan mendoakan semoga Allah membesarkan pahala mereka. Begitu juga mengucapkan bagi si mati yang bukan Islam dengan mendoakan keampunan. Karena mendoakan orang-orang bukan Islam itu ada batasnya, untuk lebih jelasnya dihuraikan hukum mendoakan orang bukan Islam.

Hukum Mendoakan Orang Bukan Islam

Terdapat garis pandu dan batas bagi keharusan mendoakan orang bukan Islam. Tidak semua doa atau permohonan itu diharuskan bagi mereka. Adalah haram mendoakan orang bukan Islam sama ada dia terdiri daripada keluarga sendiri ataupun sebaliknya, dengan doa yang berbentuk permohonan keampunan dan seumpamanya yang tidak layak disebut bagi orang bukan Islam. Karena itu dilarang sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tafsirnya :

“Tidaklah dibenarkan bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, meminta ampun bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang itu kaum kerabat sendiri, sesudah nyata bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah ahli neraka.” (Surah At-Taubah: 113)

Daripada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Musa yang berkata yang maksudnya :

“Orang-orang Yahudi berpura-pura bersin di majlis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan tujuan supaya Baginda bersabda dan mendoakan mereka dengan mendapat rahmat Allah – sebagaimana doa bagi orang-orang Islam apabila mereka bersin – Maka Baginda bersabda (kepada orang-orang Yahudi ketika mereka bersin) semoga Allah memberi hidayat kepada kamu dan membetulkan hal ehwal kamu.” (Hadis riwayat Tirmidzi)

Daripada hadis di atas, jelas menunjukkan bahwa tidak harus mendoakan orang bukan Islam agar mereka mendapat keampunan dan rahmat daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala itu khusus bagi orang-orang yang beriman. Akan tetapi harus bagi kita mendoakan orang-orang bukan Islam itu supaya mendapat hidayat, taufiq serta beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebagaimana hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

“Thufail bin ‘Amr datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kabilah Daus telah menderhaka dan enggan (menerima Islam), mohonlah (berdoalah) kepada Allah agar ditimpakan keburukan ke atas mereka.” Orang-orang menyangka bahwa Baginda akan berdoa memohon sesuatu keburukan ke atas mereka (kabilah Daus). Maka Baginda bersabda: “Ya Allah! Berikanlah hidayat kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka sebagai orang-orang Islam.” (Hadis riwayat Bukhari)

Sementara hadis yang diriwayatkan oleh Anas Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah minta tolong menimba air, lalu ada orang Yahudi yang menimbakan air untuk Baginda. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakannya: “Semoga Allah menjadikanmu tampan selalu.” Maka orang Yahudi itu sehingga meninggal dunia tidak pernah kelihatan uban dikepalanya.” (Hadis riwayat Ibnu as-Sunni)

Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah diminta oleh sahabat Baginda iaitu Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, untuk mendoakan ibunya yang masih kafir supaya memeluk agama Islam. Lalu Baginda pun mendoakannya dan dimakbulkan permohonannya itu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Doa-doa seperti di atas ini adalah diharuskan. Tetapi mendoakan orang bukan Islam dengan memohon keampunan dan keselamatan daripada azab dunia dan azab akhirat, maka itu adalah haram.

Pada zaman yang semakin giat membangun ini, bermacam pendapat dan pemikiran yang timbul dan berbagai usaha yang dilakukan terutama sekali dalam strategi-strategi untuk melemah atau menjatuhkan umat Islam, sekaligus terhadap agama Islam itu sendiri.

Apa yang jelas, melalui strategi-strategi yang nyata mahupun terselindung, budaya-budaya di luar kehendak syara’ beransur-ansur menyerap ke negara Islam sama ada melalui media massa atau berbagai bentuk saluran, secara tidak langsung atau terus menerus yang dapat dilihat oleh kaca mata orang Islam sendiri.

Budaya-budaya yang dimaksudkan itu ialah seperti merayakan halloween dan valentine’s day, mencurahkan rasa sedih dengan menghidupkan lilin beramai-ramai, bertafakkur atau senyap dalam beberapa minit sebagai mengingati orang yang telah mati atau berkumpul untuk upacara blessing (memohon rahmat, restu dan berkat) untuk orang bukan Islam yang telah mati dalam upacara remembrance day dan sebagainya. Begitu juga, istilah beramal turut disalahgunakan seperti konsert amal, fun-fair amal dan sebagainya untuk mengaburi mata orang Islam yang kononnya pekerjaan itu adalah usaha yang berkebajikan. Akan tetapi sama ada disedari atau tidak pekerjaan dan acara-acara itu bercampur-aduk dengan berbagai perkara yang membawa kepada kemaksiatan dan dosa.

Oleh yang demikian, hendaklah kita berhati-hati dalam melakukan sesuatu perkara. Berfikir panjang dalam membuat sesuatu keputusan sama ada itu menyalahi hukum Islam atau tidak. Tanpa disedari, seperti memperingati kematian orang-orang bukan Islam dan sekaligus mendoakan mereka itu dalam keampunan dan rahmat daripada Tuhan. Perkara inilah yang mesti kita ambil kira karena itu sudah jelas dilarang oleh Islam.

Wallohu a’lam bis-shawab,-

Kiriman Sahabat Arland

Iklan