Rahasia Lautan


masjid_2_utuh_tsunami_acehRahasia Lautan

Jauh sebelum sejumlah pakar menemukan teori gelombang tsunami dan gempa di dasar laut, al-Qur’an sudah menjelaskan teori gelombang yang bergulung-gulung, dan api yang keluar dari dasar lautan itu.

Selain keyakinan kita bahwa musibah adalah peringatan dari Allah SWT, makna apa yang bisa menjelaskan pada kita akan hadirnya badai dasyat bernama ‘tsunami’ yang menerjang hampir seluruh pantai di pesisir Asia tanggal 26 Desember 2004?

Sebuah air bah dasyat, menjulang tinggi, setinggi gunung kelapa. Laksana makluk raksasa, dia bisa menghajar dan menghancurkan gedung-gedung. Dia juga bisa menggulung manusia dan mencampurnya dengan urapan sampah rumah dan bangkai-bangkai mobil. Lalu melemparkan kapal berbobot 200 ton jauh ke kota. Seolah memiliki tangan kekar, dia juga mampu menjebol beton besi, menyeretnya dengan jarak berkilo-kilo dan menariknya kembali ke dasar laut lepas dan kemudian hilang tanpa bekas. Dia bukan layaknya monster raksasa dalam film fiksi animasi kesukaan anak-anak buatan Jepang. Bahkan, dia hanyalah air biasa.

Siapa menyangka, air, –yang tadinya– indah dan tenang, di mana semilir angin dan suara deburan ombaknya menjadi tempat banyak orang melepas penat. Kejernihan air yang di dalamnya ada banyak rizki yang menjadi satu-satunya tempat masyarakat bergantung hidup. Tiba-tiba, kini, benda cair itu dianggap makluk menakutkan yang bisa berlari cepat memburu dan menyeret kaki-kaki manusia.

Kecuali, sedikit dari orang-orang yang hanya mau berfikir, tak banyak orang begitu paham. Sekalipun dia ilmuwan dan pakar yang telah menekuni ilmu selama puluhan tahun. Bahkan untuk membaca tanda-tandanya saja, mereka masih kalah dengan hewan.

Kandungan Lautan

Kenyataannya, laut yang -kini dianggap mengerikan-itu bukanlah semata tempat ghaib. Dia adalah tempat nyata dan paling menakjubkan yang telah diberikan Allah hanya untuk manusia. Laut berserta airnya, adalah tempat mengais rizki yang tak pernah habis-habisnya. Kandungannya menjanjikan kemakmuran dan kesejahteraan manusia. Dan permukannya bisa memudahkan kita melakukan perjalanan jauh melintas benua. Hanya karena kebodohan kitalah, air dan lautan itu tak ubahnya seonggok barang yang tak berarti.

Sudah menjadi rahasia umum, semenjak ilmu pengetahuan mencapai kejayaannya, tak banyak orang yang memalingkan wajahnya ke lautan. Bahkan sejak industri dikenal luas, banyak sainstis -dengan dukungan penguasa-terus-terusan menghabisan miliaran dollar untuk meneliti luar angkasa dan bintang-bintang.

Karenanya, penelitian luar angkasa terlihat lebih glamour dibanding meneliti lautan beserta kandungannya. Sebutan Rocket Scientist mungkin kelihatan lebih trendy dibanding Marine Geophysict atau Marine Biologist.

Tapi banyak orang lupa. Justru di lautanlah masa lalu dan masa depan kebergantuan umat manusia berada. Negara-negara besar dan kuat hanyalah negara-negara yang memiliki angkatan laut yang besar dan kuat. Negeri-negeri kaya masa depan adalah negeri-negeri yang memiliki laut atau kepulauan dengan kandungan yang kaya. Sedangkan negeri-negeri yang hanya dikeliling daratan (lanlock) akan lebih susah berkembang.

Beberapa negara, seperti; Jepang, Inggris, Irlandia, Singapura, Hong Kong, Taiwan, Selandia Baru, Bahrain adalah negara pulau. Juga negara-negara pesisir yang kuat ekonominya karena ditopang industri maritim, seperti; Norwegia. Korea Selatan, Belanda dan Jerman.

Faktanya, memiliki tak pernah bisa menguasai. Karena ketidakmampuan mengelola laut, negara-negara yang seharusnya kaya-raya karena memiliki sumber daya alam, mereka justru miskin dan hidupnya susah. Mereka memiliki tapi tak mampu menguasai. Di Sierra Leone, Afrika Barat, dikenal lautnya kaya intan. Namun, kekayaan itu justu dikeruk bangsa Eropa dan Amerika Serikat (AS). Di Papua dan Riau, dikenal memiliki kandungan emas dan minyaknya. Namun, pengelolanya bukan orang-orang pribumi. Mereka tak lain adalah bangsa Amerika, bukan kita.

Ayat-ayat Allah

Al-Qur’an telah 1400 tahun lalu memberikan rahasia kekayaan yang ada dilautan. Prof. Zaghoul dari Universitas of Petroleom, Dahran, Saudi Arabia, pernah mengamati kandungan al-Qur’an yang mengungkap misteri lautan. Menurutnya, ada sekitar 460 ayat yang mengungkap kandungan bumi dengan sangat rinci. Menyangkut bentuk, gerakan, dan asal-usulnya. Gunung-gunung, asal muasal atmosfer dan hidrosfer, kegelapan dilautan. Juga termasuk berbagai fenomena ilmu bumi (earthscience) dengan sangat rinci. Menyangkut geologi, geofisika, geokimia, geografi dan geodesi.

Jauh sebelum lahirnya pakar-pakar tsunami dan gelombang laut, al-Qur’an secara detil dan menjelaskan akan keganasan gelombang laut. Akibat ketakjuban kandungan al-Qur’an ini, bahkan pernah mengantarkan seorang pelaut ulung asal Amerika memeluk Islam.

Garry Miller, pernah bercerita, di Toronto, Kanada, ada seorang pelaut ulung yang menghabiskan waktunya di atas kapal dan seluruh hidupnya di atas lautan. Suatu ketika, seorang Muslim meminjamkannya al-Qur’an. Pria ini kemudian terkaget-kaget setelah membaca isi al-Qur’an Surat An-Nur: 40, yang mengunggap teori gelombang laut.

“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang bertindih-tindih, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa oleh Allah tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitnya.” (QS. An-Nur: 40)

Sebuah perumpamaan yang luar biasa, “..diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak, dan di atasnya awan; gelap gulita yang bertindih-tindih” , tentu bukanlah sebuah gelombang biasa. Dia sebuah badai laut besar yang bertumpuk-tumpuk dan mengulung-gulung. Dialah gelombang maha dasyat itu.

Menurut Garry Miller, karena kekaguman isi kandungan Al-Qur’an itu, sang pelaut lantas bertanya kepada si pemilik al-Qur’an. “Apakah Muhammad itu seorang pelaut?. Bukan, bahkan sesungguhnya Muhammad tinggal di tengah gurun pasir.” Jawaban itu kontan membuat sang pelaut mengimani al-Qur’an dan segera memeluk Islam. Bagaimana mungkin, ada sebuah kitab mampu menjelaskan teori ombak besar bertindih-tindih sedang penyampai risalah itu (Nabi Muhammad) justru tinggal di sebuah padang pasir cadas Mekah dan Madinah, yang jauh lebih dari 100 KM dari pesisir Laut Merah jika bukan sebuah kitab suci?

Al-Qur’an tak hanya mengulas rahasia gelombang dasyat semata. Apa yang akan Anda pikirkan dengan isi kandungan QS. Al-Thur ayat 6 yang isinya berbunyi, “Dan lautan yang di dalam tanahnya ada api.” Bagi orang-orang yang tak mau merenung dan berfikir, akan sulit memahami isi al-Qur’an apalagi kemudian menyatakan segera berserah diri bahwa Allah adalah Tuhan yang maha benar.

Istilah gelombang yang bergulung-gulung, dan api yang keluar dari dasar lautan itu sudah ada 1400 tahun lalu, sebelum pakar-pakar tsunami mampu menjelaskan ada ombak berbahaya dan menakutkan atau gempa di dasar lautan.

Ketika baru beberapa taun ini para ilmuwan mampu membuktikan bahwa bola bumi tidak statis alias bergerak, melalui pengukuran geomagnetik, mereke gembira luar-biasa karena bisa menjelaskan bahwa kulit bola bumi bisa berpindah-pindah dan bergerak. Tapi rupanya mereka kecele, sebab jauh sebelumnya, ribuan tahun lalu, al-Qur’an telah mengungkapnya secara gamblang.

Dalam Surat an-Naml ayat 88 dan al-Thur ayat 10, al-Qur’an mengatakan dengan sangat jelas, “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sanga ia tetap ditempatnya, padahal dia berjalan sebagaimana jalan awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kukuh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Naml:88).

Masih banyak penjelasan dari rahasia laut yang ditunjukkan Allah SWT dalam al-Qur’an -yang juga ditulis dalam buku ini – yang tentu tak bisa diungkap semuanya di sini. Jika kemudian banyak orang mengatakan semua agama sama, bisakah kita meletakkan kesamaannya dan membandingkan kitab suci mereka dengan al-Qur’an ? yang juga sama bisa menjelaskan gelombang yang bergulung-gulung, api yang keluar dari dasar lautan dan gunung yang bisa berjalan? Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu sembunyikan?

Buku ini tebal -yang terdiri dari 5 bab- yang ditulis dengan menggunakan sentuan spiritual dan intelektual ini banyak mengungkap rahasia dan misteri lautan sebagaimana diungkap oleh al-Qur’an yang belum diungkap banyak orang.

Buku yang ditulis saudara Agus Djamil, seorang geosaintis Islam Indonesia, banyak mengupas ayat-ayat qauliyyah dan ayat qauniyyah (al-Qur’an) mengenai lautan lengkap dengan teori-teori bumi beserta penjelasan tafsirnya. Kandungan rahasia lautan yang ada dalam al-Qur’an ini seharusnya semakin menambah iman orang akan kebenaran al-Qur’an. Kecuali orang-orang yang mendustakan agama.

***

Resensi dari Buku: Judul: Al-Qur’an dan Lautan. Pengantar: Dr. Abdurahman R.A. Haqqi. Penulis: Agus S. Djamil. Penerbit: Arasy (Kelompok Mizan). Tahun: Cetakan I, Desember 2004. Tebal: 552 halaman.

Artikel dari: Mengungkap Rahasia Allah dalam Lautan.

Hidayatullah.com.

Iklan