Meneladani Dakwah Sunan Ampel


sunan_ampelMeneladani Dakwah Sunan Ampel

Al-Ulama  waratsatul anbiya’, sebuah pengakuan sekaligus penegasan resmi Rasulullah saw. tentang penerus perjuangan Islam untuk memimpin umat dan membimbing mereka kepada jalan agama Allah, mengarahkan mereka menuju kebaikan.

Raden Rahmatullah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel adalah satu dari sekian banyak waratsatul anbiya’  yang dipercaya oleh Allah swt. untuk meneruskan estafet perjuangan Rasulullah. Beliau adalah sosok ulama teladan sekaligus waliyyun min auliyaillah’ (bukan wali dalam pengertian penguasa pemerintahan), sosok sempurna dari manusia yang tingkatan derajatnya “mendekati” para Nabi.

Disamping sebagai Muballigh ulung, cendekiawan sejati, dan penuh perhitungan dalam setiap langkah menapaki terjalnya jalan dakwah dan menghadapi tantangan masyarakat yang telah mempunyai keyakinan yang membumi akan faham budhisme, hinduisme dan kepercayaan “isme-isme” yang lain, jauh sebelum sunan Ampel datang menebarkan ajaran rahmatan lil alamin.

Sebuah langkah tepat beliau lakukan sebagai strategi awal dalam metodologi dakwahnya, yaitu pembauran dengan masyarakat akar rumput yang merupakan titik sentral dari sasaran dakwahnya. Saat itulah kecendekiaan dan intlektualitasnya benar-benar teruji. Tidak mudah tentunya. Di tempat yang sangat asing, jumud dan kolot, seorang pendatang dari negeri Campa berusaha untuk beradaptasi dengan kultur-sosial yang tidak pernah dikenal sebelumnya.

Dengan diplomasinya yang gemilang, Kanjeng Sunan berhasil mensejajarkan kaum Muslimin kala itu dengan kalangan “elite” dalam kasta-kasta mesyarakat dan pemerintahan Majapahit. Pemerintahan Majapahit pun sangat menghormati dan menghargai hak-hak dan kewajiaban orang Islam, bahkan tidak sedikit dari punggawa kerajaan yang akhirnya memeluk agama Islam sebagai way of life-nya.

Kalau metodologi dakwah sunan Ampel dengan masyarakat akar rumput dilakukan dengan cara pembauran dan pendekatan, beda halnya dengan methode yang ditempuh ketika menghadapi orang-orang cerdik-cendikia. Pendekatan intelektual dengan memberikan pemahaman logis adalah alternatif yang beliau tempuh. Hal ini sebagaimana tercermin dalam dialognya dengan seoran biksu budha.

Suatu ketika, seorang biksu datang menemui Sunan Ampel. Kemudian terjadilah percakapan seputar akidah berikut:

Biksu: Setiap hari Tuan melakukan sembahyang menghadap ke arah kiblat. Apakah Tuhan tuan ada di sana?”

Sunan Ampel: Setiap hari Anda memasukkan maka­nan ke dalam perut agar Anda bisa bertahan hidup. Apakah hidup Anda ada di dalam perut?”

Biksu itu diam tidak men­jawab. Tapi dia bertanya lagi, “Apa maksud tuan berkata begitu?”

“Saya sembahyang meng­hadap kiblat, tidak berarti Tuhan berada di sana. Saya tidak tahu Tuhan berada di mana. Sebab, kalau manu­sia dapat mengetahui keberadaan tuhannya, lantas apa bedanya manusia dengan Tuhan? Kalau demikian buat apa saya sembahyang?!”

Cerita berakhir. Dan si biksu kemudian masuk Islam karena ia gamang akan otentisitas ajaran agamanya. Satu ending yang sangat me­muaskan. Tidak hanya bagi si pelaku cerita, tapi juga untuk kita: sebuah pelajaran tentang metedologi dakwah di hadapan orang yang tidak bertuhankan Tuhan.

Sunan Ampel. Kita kenal aktor dalam cerita di atas ini: etos dakwah di tanah Jawa di samping icon Sunan Kalijaga, di sisi yang lain. Beliau adalah satu dari sekian banyak wali Allah yang menghabiskan hidupnya hanya untuk berdakwah di jalan-Nya. Metodologi dakwah­nya memang tidak sama dengan metodologi dakwah ala Sunan Kalijaga atau Sunan Muria, yang menggunakan pendekatan seni-budaya Jawa sebagai media dakwahnya. Sunan Ampel lebih menggunakan pendekatan intelektual—dengan memberikan pemahaman tentang Islam melalui wacana intelektual dan diskusi yang cerdas dan kritis serta dapat dinalar oleh akal. Cerita di atas adalah bukti sejarahnya.

Dialog Sunan Ampel-biksu telah mengingatkan kita kepada jawaban Nabi Ibrahim as. yang pernah ia lontarkan kepada raja Namrudz ketika beliau dituduh menghancurkan tuhan-tuhan mereka, “Tuhan yang paling besar inilah yang melakukannya”.

Bedanya, Namrudz tidak pernah mau menerima kebenaran itu meski dia mengetahuinya. Kemudian kita bertanya, mungkinkah orang sekelas biksu dapat ditaklukkan hanya dengan melalui pendekatan budaya? Bisa jadi, tapi rasanya sulit.

Urgensitas budaya sebagai media dakwah alternatif memang tak bisa dibantah. Sejarah juga membuktikan bahwa pendekatan kultur-budaya yang dimainkan oleh Sunan Kalijaga berhasil dengan sangat gemilang. Tapi, sejatinya, pendekatan kultur-budaya hanya relevan untuk komunitas masyarakat menengah ke bawah. Sedang untuk obyek intelektual kelas atas mungkin sangat pas bila menggunakan jalur seperti yang ditempuh Sunan Ampel.

Dus, Dengan dua metodologi yang beliau tempuh,  beliau telah berhasil menciptakan harmoni antara ulama dan umara, antara akar rumput dan kalangan pemerintahan, walaupun masih berada dalam sekat tertentu, karena beliau-sebagai sosok da’i yang mempertaruhkan hidupnya untuk berdakwah dan mengayomi umat-tetap indipenden dan konsisten dengan posisinya sebagai ulama. Beliau tidak pernah dan memang tidak sudi menggunakan alat kekuasaan sebagai kendaraan dakwahnya.

Maka tidak berlebihan jika beliau mendapat prototype sebagi wali sejati, wali dalam pengertian “kekasih Allah” di dunia, bukan wali dengan arti penguasa setempat sebagaimana mispersepsi sebagian pemerhati sejarah. Karena kalau kita merunut sejarah, maka akan menghasilkan sebuah hipotesa sebagaimana di atas. Terbukti, beliau, sekali lagi, tidak mau menggunakan kendaraan kekuasaan sebagai piranti memuluskan dakwahnya.

Ala kulli hal, metode dakwah Sunan Ampel melengkapi strategi dakwah walisongo secara umum, untuk menjadi satu kesatuan yang nyaris sempurna guna memuluskan misi mulia yang mereka emban: menyebarkan risalah Islam di Tanah Jawa.

wallohu a’lam bis-shawab,-

Iklan