Mencari Kelimpahan Karunia Allah


kerja kerasMencari Kelimpahan Karunia Allah

“Dan kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” (QS. Al-Israa : 12).

Tidak diragukan lagi, ayat diatas secara tegas menerangkan bahwa salah satu hikmah silih bergantinya siang dan malam bagi orang-orang beriman, adalah untuk memberikan kesempatan mencari fadlan min Rabbikum, karunia Allah. Bahkan di dalam ayat lain, yakni surat al-Fath ayat 29, Allah SWT menerangkan sifat-sifat Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya, dimana yabtaghuna fadlan minallah, mencari karunia Allah, adalah salah satu karakteristiknya. Jelaslah, bahwa mencari karunia (fadlan) ini, bukanlah hal yang remeh dan dilakukan sesuka dan sesempatnya, tadi harus dijadikan salah satu kegiatan utama orang-orang beriman, dan menjadi salah satu karakteristik kepribadiannya.

Hanya saja, sebagian orang menyalahartikan karunia Allah dengan membatasi dan menyempitkannya, sebagai mencari rezeki atau karunia dalam bentuk harta benda. Sehingga mencari karunia Allah, dibatasi dengan bekerja mencari uang dan penghidupan. Bekerja mencari nafkah itu sendiri, bukanlah sesuatu yang buruk, bahkan sesuatu yang akan memiliki nilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar, cara yang halal, serta tujuan yang benar pula. Tetapi karunia Allah, fadlan minallah, bukanlah rezeki. Rezeki, bukanlah sesuatu yang mesti dicari oleh orang-orang beriman, dan bahkan oleh seluruh makhluk hidup di muka bumi ini. Sebab, setiap makhluk telah ditetapkan rezekinya oleh Allah SWT. Semua makhluk telah memilikinya, sesuai dengan kebutuhan dan porsinya masing-masing. Tidak ada satu pun yang dilewatkanNya. Dalam salah satu ayat, Allah SWT berfirman: “Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberikan rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu di persembunyiannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (lauh mahfuzh).” (QS. Hud : 6).

Rezeki yang melimpah, bukanlah tanda orang yang memperoleh karunia Allah. Harta kekayaan yang melimpah, kekuasaan yang terhimpun, ataupun jabatan yang kian memuncak, tidaklah identik dengan karunia Allah yang harus dicari orang-orang beriman. Bila sekedar untuk menumpuk kekayaan, meraih harta, atau mencapai puncak kekuasaan, orang-orang kafir pun mampu mencapainya. Bahkan para koruptor, penipu dan penjahat sekalipun, tidak sedikit hidup bergelimang harta kekayaan dan memiliki kekuasaan yang puncak. Bukan itu karunia Allah yang diharuskan orang beriman mencarinya!

Secara bahasa, fadlan artinya luberan, limpasan atau kelebihan. Bila ada gelas yang berukuran 1 liter air, kemudian diisi 1,5 liter air. Maka setengah liter air akan menjadi limpahan, luber keluar gelasnya. Itulah fadlan! Dan limpahan itulah yang sesungguhnya dicari oleh orang-orang beriman dalam hidupnya.

Rezeki setiap makhluk telah ada takarannya, telah tetap jatahnya, hanya tinggal setiap makhluk berusaha menjemputnya, maka ia pasti akan mendapatkannya. Namun, yang dicari orang beriman, bukanlah “jatah” rezeki yang diberikan Allah, tetapi fadlan, limpahan dari rezeki yang diperolehnya. Ia tidak mencari harta, tetapi fadlan dari harta itu. Orang beriman tidak mencari kekuasaan, tetapi fadlan dari kekuasaan itu. Begitulah seterusnya, sehingga pencarian orang beriman jauh lebih tinggi daripada orang-orang yang mengabaikan agama Allah.

Apakah limpahan dari harta yang kita peroleh? Limpahan itu ada pada barokah harta yang diperolehnya. Barokah harta diperoleh dengan niat yang lurus, ikhtiar yang halal, dan digunakan untuk sesuatu yang bernilai amal shalih. Harta itu digunakan untuk menafkahi anak dan isterinya, ditunaikan zakatnya, diinfaqkan di jalan Allah untuk menegakkan syi’ar Islam di muka bumi ini. Itulah kelimpahan harta yang dicari orang beriman.

Demikian pula halnya dalam kekuasaan dan amanah yang diembannya. Tinggi rendahnya kedudukan, besar kecilnya kedudukan bukanlah masalah. Hal yang dicari dari kekuasaan oleh orang beriman, adalah fadlan, kelimpahanNya. Kelimpahan dalam kekuasaan adalah manakala ia menggunakannya untuk amar ma’ruf nahyi munkar, menjadikannya sebagai sarana untuk menunaikan tugas sebagai khalifah fil ardhi, pengelola yang memakmurkan bumi dan mensejahterakan Ummat. Itulah yang dicari orang-orang beriman.

Karena itu, tujuan orang beriman bekerja keras dengan cerdas, bukanlah dalam upaya mengunmpulkan uang dan harta kekayaan lainnya. Itu tidak perlu dicari, sebab secara sunnatullah, bila ia bekerja keras ia akan memperoleh rezkinya sesuai dengan besar kecilnya rezeki yang ia ambil.

Demikianlah pula bila orang-orang beriman bila berjihad fi sabilillah, bukanlah untuk menggeser dan menduduki kekuasaan orang-orang yang dilawannya, sebab itupun telah menjadi sunnatullah, strategi perjuangan yang jitu dan taktik jihad yang tepat akan mengantarkan kaum muslimin pada kemenangan. Yang menjadi tujuan dari semua itu, adalah fadlan minallah, kelimpahan karunia Allah pada setiap yang diperolehnya. Itulah yang membedakan apa yang dicari oleh orang-orang beriman, dengan makhluk Allah lainnya.

(KH. Hilman Rosyad Syihab, Lc.)

Iklan