Korupsi itu Sebuah Pilihan?


korupsiKorupsi itu Sebuah Pilihan?

Oleh: Dr Hasanudin, Dosen di Universitas Tanjungpura; visiting researcher di Kumamoto University, Jepang

BANYAK upaya untuk menjelaskan sebab-sebab maraknya korupsi di Indonesia. Salah satu yang sering kita dengar bahwa korupsi itu terjadi akibat rendahnya gaji pegawai negeri. Gaji yang rendah itu tak cukup untuk menopang kehidupan seorang pegawai negeri secara layak, sehingga mereka melakukan korupsi untuk menutupi kekurangannya. Karena itu, membenahi kesejahteraan pegawai negeri adalah sebuah langkah utama dan pertama yang harus diambil pemerintah untuk memerangi korupsi.

Tak ada yang salah dalam cara berpikir seperti itu, setidaknya secara makro. Hanya saja, cara berpikir seperti itu punya efek sampingan yang cukup berbahaya, yaitu sikap apologis dari pelaku korupsi, terutama bila disosialisasikan dengan cara yang keliru. Kita ketahui bahwa korupsi demikian parah menggerogoti birokrasi kita di semua jenjang dan telah berlangsung sangat lama. Akibatnya korupsi sudah sangat akrab bagi sebagain besar pelaku birokrasi. Lalu, sejauh ini tak pernah ada gerakan yang benar-benar serius untuk memerangi korupsi, sehingga kampanye antikorupsi nyaris tak pernah dilaksanakan. Akibat kurangnya sosialisasi, banyak pihak yang tak lagi bisa membedakan dengan jelas tindakan apa saja yang masuk dalam kategori korupsi.

Dalam situasi yang demikian itu, analisis rendahnya gaji sebagai sebab korupsi adalah sebuah apologi yang tepat. Bila hal ini disosialisasikan secara luas, banyak orang akan mendapatkan bahan bakar untuk kendaraan apologinya. Artinya, akan banyak orang berpikir bahwa korupsi adalah sebuah pintu darurat selama pemerintah belum mampu menjamin kesejahteraan mereka. Padahal rendahnya gaji sebagai sebab korupsi adalah sesuatu yang masih bisa diperdebatkan. Perlu diperhatikan bahwa para pelaku korupsi itu tidak sekadar mencari tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, tapi jauh melebihi hal itu.

Meratanya korupsi di semua bidang dan tingkatan adalah sumber apologi lain. Banyak orang mengeluh bahwa dia terpaksa ikut terlibat korupsi karena semua orang terlibat. Keterlibatan semua orang itu membuat dia harus pula mengikutinya kalau tidak ingin dikucilkan atau bahkan dimusuhi. Namun, sebenarnya banyak juga yang lebih ringan pertimbangannya, kalau semua orang terlibat, mengapa pula saya perlu mengambil posisi ‘bodoh’ dengan tidak ikut terlibat. Dua jenis pemikiran apologis ini membuat korupsi itu jadi sebuah lingkaran setan.

Sikap apologis mungkin sebuah karakter dasar manusia. Manusia cenderung mencari pembenaran atas tindakannya dengan berbagai cara. Apologi itu bisa bersifat verbal, yaitu dengan mengungkapkannya ke orang-orang di sekitarnya. Atau nonverbal, yaitu dengan mengumandangkannya di dalam hati. Tujuannya untuk meyakinkan diri sendiri dan mendapat pengakuan bahwa tindakan yang dia lakukan tidak salah. Kalaupun disadari bahwa tindakan itu salah, apologi itu diharapkan mengurangi kadar kesalahan itu.

Mustofa Bisri dalam sebuah tulisannya sekitar sepuluh tahun lalu di sebuah media telah menjabarkan karakter apologis ini dengan bahasa yang unik. Argumen yang sahih untuk membenarkan sesuatu (tindakan), menurut Mustofa, biasa disebut dalil. Sedangkan alasan yang tidak kuat dan dicari-cari disebut dalih. Dua kata ini hanya berbeda pada huruf terakhirnya dan memiliki makna yang mirip, tapi sangat berbeda secara substantif. Pemikiran apologis tidak pernah bersandarkan pada dalil, melainkan pada dalih.

***

Dalam bahasa Stephen Convey yang dijabarkan dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective People para pemikir apologis ini disebut sebagai orang yang berada dalam ‘lingkaran kepedulian’. Dalam lingkaran ini orang percaya bahwa dia tidak bebas, dan sangat ditentukan oleh faktor-faktor di luar dirinya. Dan mereka akan berusaha mengumpulkan bukti-bukti untuk mendukung kepercayaannya itu. Mereka merasa jadi korban dan tidak bisa mengontrol dirinya, serta menyalahkan pihak lain atas masalah yang dia hadapi.

Masih menurut Convey, setiap kali kita berpikir bahwa masalahnya ada ‘di luar sana’, cara berpikir itulah masalah terbesarnya. Dengan begitu kita telah membiarkan diri kita dikontrol oleh elemen-elemen di luar kita. Dan, kita tidak akan pernah berubah selama situasi di luar sana tidak berubah, padahal kita sendiri juga tidak punya kuasa untuk mengubah sesuatu yang di luar tadi.

Pendekatan proaktif yang disarankan Convey adalah dengan melakukan perubahan dari dalam ke luar. Kita harus menjadi berbeda, dan dengan menjadi berbeda kita bahkan bisa membebaskan diri dari faktor ‘di luar sana’ yang mengontrol diri kita. Bahkan pada tingkat yang lebih tinggi kita bisa memengaruhi serta mengubahnya. Jadi, yang pertama harus berubah adalah diri kita sendiri, lalu perubahan dalam diri kita itu kita perluas lingkupnya ke orang-orang di sekitar kita, dan seterusnya. Di sini kita kemudian telah melakukan perpindahan paradigma ke ‘lingkaran pengaruh’.

Dengan konsep proaktif ini kita bisa membebaskan diri. Kalau kita selama ini telah terjerat dalam perilaku korupsi, maka kita bisa mulai berhenti dengan keyakinan bahwa sebab utama perilaku korup kita adalah diri kita sendiri, bukan gaji kita yang rendah. Kita harus mulai meyakinkan diri kita bahwa ada banyak cara selain korupsi untuk mengatasi ketidakmampuan gaji kita dalam mencukupi kebutuhan kita. Kita bisa mencontoh orang-orang bersih di sekitar kita, yang sebenarnya tidak terlalu sulit untuk ditemui.

Upaya memberantas korupsi dengan pendekatan hukum sejauh ini tidak menunjukkan hasil yang memadai karena tidak pernah dilakukan secara serius. Demikian pula pendekatan top-down. Kedua pendekatan ini memerlukan seorang pemimpin yang tidak saja bersih, tapi juga sangat kuat. Sayangnya, dalam waktu dekat ini sosok pemimpin yang demikian itu sukar diharapkan untuk muncul. Karena itu, pendekatan budaya dengan pola bottom-up menjadi sangat penting. Dan, pemikiran proaktif tadi adalah sebuah kunci dalam gerakan budaya ini.

Pemikiran ini mungkin akan dinilai normatif, naif, atau utopis. Tetapi, kiranya hal ini jauh lebih baik daripada terus-menerus memasok bahan bakar pemikiran apologis seperti diungkap di muka.

***

Dari Sahabat

Iklan