Mak Eroh, Wanita Besi dari Tasikmalaya


mak-erohMak Eroh, Wanita Besi dari Tasikmalaya

BANYAK tokoh wanita hebat yang lahir di Indonesia ini, mulai dari zaman penjajahan, hingga perjuangan kemerdekaan, seperti RA Kartini, Tjut Nyak Dien, atau pahlawan wanita Sunda, Dewi Sartika.

Dari sekian wanita super yang akan selalu dikenang masyarakat tersebut, terselip satu nama wanita dari Kabupaten Tasikmalaya, yakni Mak Eroh. Wanita yang meninggal pada 18 Oktober 2004 di usianya yang ke-68 tahun tersebut dikenal namanya pada 1988.

Setahun kemudian, United Nations Environment Program dari PBB memberikan penghargaan lingkungan, Global 500. Sebagai penghormatan, Pemkab Tasikmalaya pun membangun monumen Mak Eroh bersama pahlawan lingkungan lainnya, Abdul Rodjak.

Apa yang dilakukan Mak Eroh memang cukup mencengangkan dunia. Warga Desa Pasirkadu Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya berhasil membuat saluran air sepanjang 4.500 meter yang mengitari 8 bukit dengan kemiringan 60-90 derajat. Proyek raksasa itu dapat diselesaikan dengan bantuan para muda desa, dalam waktu 2,5 tahun.

Tekad kuat Mak Eroh untuk membuat saluran air ini awalnya didasari oleh sulitnya warga desa dalam mendapatkan air, baik untuk keperluan rumah tangga maupun pertanian.

Kekeringan membuat Desa Pasirkadu jauh dari kesejahteraan. Awalnya, Mak Eroh memiliki gagasan untuk membuat saluran air sepanjang 50 meter yang dapat menghubungkan Desa Pasirkadu dengan Sungai Cilutung. Kerja kerasnya dimulai pada Juni 1985, namun gagasannya hanya menjadi bahan tertawaan warga sekitar. Namun dia tidak mundur. Dengan bermodalkan 20 pahat, 20 martil, 20 linggis, 20 belincong, plus cangkul yang dibeli dari hasil menjual perhiasan, Mak Eroh memulai misinya.

Dengan peralatan sederhana itu, istri dari Emuh ini menggantungkan badannya hanya dengan bermodalkan seutas tali rotan, lalu dengan gesitnya memapras bukit cadas. Setelah bekerja keras selama 45 hari tanpa henti, Mak Eroh pun berhasil membuat saluran sepanjang 50 meter. Dia pun melaporkan hasil kerjanya kepada ketua RT setempat.

Saat itu, warga nyaris tidak percaya dengan hasil kerja wanita yang tak lulus SD tersebut. Setelah Mak Eroh memberikan cara membabat bukit cadas, 19 pemuda tergerak hatinya untuk membantu, namun 8 di antaranya berhenti setelah 8 hari.

Dengan kerja keras dan kegigihan, misi tersebut membuahkan hasil saluran dengan lebar 1 meter dan berkedalaman 0.25 meter yang menghubungkan Sungai Cilutung dengan Desa Pasirkadu.

Dari hasil kerja kerasnya itu, sawah seluas 60 hektare dapat dialiri air Sungai Cilutung. Bukan hanya di Desa Pasirkadu, dua desa tetangga di Kecamatan Cisayong dan Indihiang pun mendapatkan berkah dengan limpahan air. Dengan kerja kerasnya, ibu dari Tohariah, Rohanah, dan Mesaroh tersebut telah menghidupi puluhan keluarga dan juga menolong puluhan anak-anak dari kebodohan.

Pembuatan saluran air untuk keperluan pertanian, sebenarnya tugas pemerintah. Namun Mak Eroh tidak pernah berpikir untuk menuntut pemerintah menyediakan irigasi, namun berusaha sendiri menciptakan saluran air yang mengelilingi Gunung Galunggung tersebut.

Mak Eroh sendiri tak pernah menyangka akan menerima Kalpataru, yang kini disimpan di Pendopo Kabupaten Tasikmalaya. Dia pun tak pernah mengharapkan imbalan dari apa yang dilakukannya.

Bahkan saat ajal menjemput, Mak Eroh bersama suaminya tetap hidup seadanya tanpa mendapat imbalan dari jerih payahnya. Dia justru masih memikirkan masyarakat di usia senjanya saat itu. Dia berharap pemerintah mau mengusahakan pipa paralon untuk saluran air ke desanya. Dia juga berharap ada pembangunan masjid di kampungnya. Sebab, masjid terdekat berjarak dua kilometer dari rumahnya.

Setelah meninggal, tak banyak lagi yang mengenal Mak Eroh. Sisa-sisa nama besarnya hanya terdengar saat pemerintah menggelar acara peringatan Hari Lingkungan Hidup. Sisanya, dia kembali terlupakan..

Yang jelas, Mak Eroh telah memberikan inspirasi kepada kita bahwa alam bisa dipergunakan, namun kita jangan lupa melestarikannya. Perjalanan hidup Mak Eroh pun mengajarkan kepada kita bahwa kerja keras dan kegigihan dapat membuahkan hasil yang luar biasa. “Jika ada keyakinan yang dapat menggerakkan gunung, itu adalah keyakinan dalam diri Anda”. (*)

Diposkan oleh Deni mulyana sasmita

Iklan