Tagged: sholat berjamaah Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 12:02 pm on 8 September 2009 Permalink | Balas
    Tags: , sholat berjamaah   

    Orang yang Memperoleh Pahala Shalat Berjamaah 

    SHOLAT BERJAMAAHSahabatku, ada sebuah hadits yang mungkin perlu engkau ketahui. Yaitu tentang keutamaan shalat berjamaah. Hadits itu berbunyi, “Seseorang yang berwudhu dengan sempurna, kemudian pergi ke masjid dan di dapatinya orang-orang telah selesai shalat (berjamaah), maka dia akan menerima pahala sebanyak orang yang mengerjakan shalat berjamaah, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka.” (HR. Abu Daud, Nasa’i, dan Hakim).

    Subhanalllah, ini adalah anugerah besar yang diberikan kepada kita. Ini seperti hidangan yang sangat mahal harganya namun diberikan secara cuma-cuma. Lantas, mengapa sedikit sekali orang yang mau mengambil hidangan itu?

    Sahabatku, kita kadang tidak jadi pergi shalat ke masjid dengan alasan tidak ada orang yang shalat berjamaah. Lantas kita shalat sendirian di rumah. Padahal, menurut hadits ini, jika kita sudah berniat shalat berjamaah di masjid, namun tidak ada lagi yang shalat berjamaah, maka kita tetap mendapatkan pahala shalat berjamaah.

    Tentu saja kita mendapatkan pahala itu dengan satu syarat: Jika kita sudah tahu ada shalat berjamaah di masjid, lalu kita tunda-tunda dengan harapan tidak shalat berjamaah dan dapat shalat sendirian, dengan asumsi bahwa kita akan memperoleh pahala shalat berjamaah, maka hal itu tidak benar. Kita tidak akan mendapatkan pahala shalat berjamaah. Niat seperti ini sudah melenceng dari yang sudah seharusnya, sehingga pahala tersebut tidak kita dapatkan.

    Orang yang terbiasa shalat berjamaah, biasanya akan sangat bersedih apabila ia tidak shalat berjamaah. Ia ingin, bagaimanapun caranya, dapat melaksanakan shalat berjamaah dengan istiqomah. Namun, kadang kala ia lupa dan terhambat karena udzur syar’i. Sehingga sesekali ia terhalang untuk shalat berjamaah. Niatnya yang kuat untuk selalu shalat berjamaah tetap tertambat di dalam hatinya. Ia tidak pernah sedikitpun ingin menghapus niat itu di dalam hatinya. Kemudian Allah memberikan hiburan kepadanya dengan hadits Nabi tersebut.

    Orang yang merindukan rumah Allah akan selalu datang menunaikan shalat fardhu di masjid meskipun sudah tidak ada lagi orang yang shalat berjamaah. Karena mengerjakan shalat fardhu di masjid lebih utama daripada mengerjakannya di dalam rumah.

    ***Sunday

    Iklan
     
    • iboy 6:34 pm on 9 September 2009 Permalink

      assalamu’alaikum..
      Mba erva, sy rutin mmbaca kisah2 islami d blog Mba, sangat brmanfaat untuk sy. terimakasih bnyak y mba.. Sy ada usul sdikit, bgaimana klo mba pasang translator d blog mba, supaya bisa dbaca org2 diluar indonesia jg. Brmanfaat insyaallah.

  • erva kurniawan 2:53 pm on 26 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: rukun sholat, , sholat berjamaah, syarat sholat, syarat syah sholat   

    Syarat dan Rukun Sholat 

    SYARAT-SYARAT SHALAT

    Shalat tidak akan sah kecuali jika memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun dan hal-hal yang wajib ada padanya serta menghindari hal-hal yang akan membatalkannya. Adapun syarat-syaratnya ada sembilan:

    1. Islam,
    2. Berakal,
    3. Tamyiz (dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk),
    4. Menghilangkan hadats,
    5. Menghilangkan najis,
    6. Menutup aurat,
    7. Masuknya waktu,
    8. Menghadap kiblat,
    9. Niat.

    Secara bahasa, syuruuth (syarat-syarat) adalah bentuk jamak dari kata syarth yang berarti alamat. Sedangkan menurut istilah adalah apa-apa yang ketiadaannya menyebabkan ketidakadaan (tidak sah), tetapi adanya tidak mengharuskan (sesuatu itu) ada (sah). Contohnya, jika tidak ada thaharah (kesucian) maka shalat tidak ada (yakni tidak sah), tetapi adanya thaharah tidak berarti adanya shalat (belum memastikan sahnya shalat, karena masih harus memenuhi syarat-syarat yang lainnya, rukun-rukunnya, hal-hal yang wajibnya dan menghindari hal-hal yang membatalkannya, pent.). Adapun yang dimaksud dengan syarat-syarat shalat di sini ialah syarat-syarat sahnya shalat tersebut.

     

    Penjelasan Sembilan Syarat Sahnya Shalat

    1. Islamsholat-berjamaah1

    Lawannya adalah kafir. Orang kafir amalannya tertolak walaupun dia banyak mengamalkan apa saja, dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik untuk memakmurkan masjid-masjid Allah padahal mereka menyaksikan atas diri mereka kekafiran. Mereka itu, amal-amalnya telah runtuh dan di dalam nerakalah mereka akan kekal.” (At-Taubah:17) Dan firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Al-Furqan:23)

    Shalat tidak akan diterima selain dari seorang muslim, dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Aali ‘Imraan:85)

    2. Berakal

    Lawannya adalah gila. Orang gila terangkat darinya pena (tidak dihisab amalannya) hingga dia sadar, dalilnya sabda Rasulullah (yang artinya), “Diangkat pena dari tiga orang: 1. Orang tidur hingga dia bangun, 2. Orang gila hingga dia sadar, 3. Anak-anak sampai ia baligh.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa-i, dan Ibnu Majah).

    3. Tamyiz

    Yaitu anak-anak yang sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, dimulai dari umur sekitar tujuh tahun. Jika sudah berumur tujuh tahun maka mereka diperintahkan untuk melaksanakan shalat, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun (jika mereka enggan untuk shalat) dan pisahkanlah mereka di tempat-tempat tidur mereka masing-masing.” (HR. Al-Hakim, Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud)

    4. Menghilangkan Hadats (Thaharah)

    Hadats ada dua: hadats akbar (hadats besar) seperti janabat dan haidh, dihilangkan dengan mandi (yakni mandi janabah), dan hadats ashghar (hadats kecil) dihilangkan dengan wudhu`, sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Allah tidak akan menerima shalat tanpa bersuci.” (HR. Muslim dan selainnya) Dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Allah tidak akan menerima shalat orang yang berhadats hingga dia berwudlu.” (Muttafaqun ‘alaih)

    5. Menghilangkan Najis

    Menghilangkan najis dari tiga hal: badan, pakaian dan tanah (lantai tempat shalat), dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Dan pakaianmu, maka sucikanlah.” (Al-Muddatstsir:4). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Bersucilah dari kencing, sebab kebanyakan adzab kubur disebabkan olehnya.”

    6. Menutup Aurat

    Menutupnya dengan apa yang tidak menampakkan kulit (dan bentuk tubuh), berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Allah tidak akan menerima shalat wanita yang telah haidh (yakni yang telah baligh) kecuali dengan khimar (pakaian yang menutup seluruh tubuh, seperti mukenah).” (HR. Abu Dawud)

    Para ulama sepakat atas batalnya orang yang shalat dalam keadaan terbuka auratnya padahal dia mampu mendapatkan penutup aurat. Batas aurat laki-laki dan budak wanita ialah dari pusar hingga ke lutut, sedangkan wanita merdeka maka seluruh tubuhnya aurat selain wajahnya selama tidak ada ajnaby (orang yang bukan mahramnya) yang melihatnya, namun jika ada ajnaby maka sudah tentu wajib atasnya menutup wajah juga.(terdapat iktilaf pada para Ulama’).Di antara yang menunjukkan tentang mentutup aurat ialah hadits Salamah bin Al-Akwa` radhiyallahu ‘anhu, “Kancinglah ia (baju) walau dengan duri.”Dan firman Allah ‘azza wa jalla, “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Al-A’raaf:31) Yakni tatkala shalat.

    7. Masuk Waktu

    Dalil dari As-Sunnah ialah hadits Jibril ‘alaihis salam bahwa dia mengimami Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal waktu dan di akhir waktu (esok harinya), lalu dia berkata (yang artinya): “Wahai Muhammad, shalat itu antara dua waktu ini.” Dan firman Allah ‘azza wa jalla, “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa`:103) Artinya diwajibkan dalam waktu-waktu yang telah tertentu. Dalil tentang waktu-waktu itu adalah firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Dirikanlah shalat dari sesudah tergelincirnya matahari sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).”  (Al-Israa`:78)

    8. Menghadap Kiblat

    Dalilnya firman Allah (yang artinya), “Sungguh Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke Kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil-Haram, dan di mana saja kalian berada maka palingkanlah wajah kalian ke arahnya.” (Al-Baqarah:144)

    9. Niat

    Tempat niat ialah di dalam hati, sedangkan melafazhkannya adalah bid’ah (karena tidak ada dalilnya). Dalil wajibnya niat adalah hadits yang masyhur (yang artinya), “Sesungguhnya amal-amal itu didasari oleh niat dan sesungguhnya setiap orang akan diberi (balasan) sesuai niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih dari ‘Umar Ibnul Khaththab)

     

    RUKUN-RUKUN SHALAT

    Rukun-rukun shalat ada empat belas:

    1. Berdiri bagi yang mampu,
    2. Takbiiratul-Ihraam,
    3. Membaca Al-Fatihah,
    4. Ruku’,
    5. I’tidal setelah ruku’,
    6. Sujud dengan anggota tubuh yang tujuh,
    7. Bangkit darinya,
    8. Duduk di antara dua sujud,
    9. Thuma’ninah (Tenang) dalam semua amalan,
    10. Tertib rukun-rukunnya,
    11. Tasyahhud Akhir,
    12. Duduk untuk Tahiyyat Akhir,
    13. Shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    14. Salam dua kali.

    Penjelasan Empat Belas Rukun Shalat

    1. Berdiri tegak pada shalat fardhu bagi yang mampusholat-berjamaah-2

    Dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Jagalah shalat-shalat dan shalat wustha (shalat ‘Ashar), serta berdirilah untuk Allah ‘azza wa jalla dengan khusyu’.”  (Al-Baqarah:238) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Shalatlah dengan berdiri…” (HR. Al-Bukhary)

    2. Takbiiratul-ihraam,

    yaitu ucapan: ‘Allahu Akbar’, tidak boleh dengan ucapan lain. Dalilnya hadits (yang artinya), “Pembukaan (dimulainya) shalat dengan takbir dan penutupnya dengan salam.”  (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim) Juga hadits tentang orang yang salah shalatnya (yang artinya), “Jika kamu telah berdiri untuk shalat maka bertakbirlah.” (Idem)

    3. Membaca Al-Fatihah

    Membaca Al-Fatihah adalah rukun pada tiap raka’at, sebagaimana dalam hadits (yang artinya), “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (Muttafaqun ‘alaih)

    4. Ruku’

    5. I’tidal (Berdiri tegak) setelah ruku’

    6. Sujud dengan tujuh anggota tubuh

    7. Bangkit darinya

    8. Duduk di antara dua sujud

    Dalil dari rukun-rukun ini adalah firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman ruku’lah dan sujudlah.” (Al-Hajj:77) Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Saya telah diperintahkan untuk sujud dengan tujuh sendi.” (Muttafaqun ‘alaih)

    9. Thuma’ninah dalam semua amalan

    10. Tertib antara tiap rukun

    Dalil rukun-rukun ini adalah hadits musii’ (orang yang salah shalatnya) (yang artinya), “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk mesjid, lalu seseorang masuk dan melakukan shalat lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: ‘Kembali! Ulangi shalatmu! Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, … Orang itu melakukan lagi seperti shalatnya yang tadi, lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: ‘Kembali! Ulangi shalatmu! Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, … sampai ia melakukannya tiga kali, lalu ia berkata: ‘Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran sebagai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya tidak sanggup melakukan yang lebih baik dari ini maka ajarilah saya!’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: ‘Jika kamu berdiri hendak melakukan shalat, takbirlah, baca apa yang mudah (yang kamu hafal) dari Al-Qur`an, kemudian ruku’lah hingga kamu tenang dalam ruku’, lalu bangkit hingga kamu tegak berdiri, sujudlah hingga kamu tenang dalam sujud, bangkitlah hingga kamu tenang dalam duduk, lalu lakukanlah hal itu pada semua shalatmu.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim)

    11. Tasyahhud Akhir

    Tasyahhud akhir termasuk rukun shalat sesuai hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata (yang artinya), “Tadinya, sebelum diwajibkan tasyahhud atas kami, kami mengucapkan: ‘Assalaamu ‘alallaahi min ‘ibaadih, assalaamu ‘alaa Jibriil wa Miikaa`iil (Keselamatan atas Allah ‘azza wa jalla dari para hamba-Nya dan keselamatan atas Jibril ‘alaihis salam dan Mikail ‘alaihis salam)’, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian mengatakan, ‘Assalaamu ‘alallaahi min ‘ibaadih (Keselamatan atas Allah ‘azza wa jalla dari para hamba-Nya)’, sebab sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla Dialah As-Salam (Dzat Yang Memberi Keselamatan) akan tetapi katakanlah, ‘Segala penghormatan bagi Allah, shalawat, dan kebaikan’, …” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan hadits keseluruhannya. Lafazh tasyahhud bisa dilihat dalam kitab-kitab yang membahas tentang shalat seperti kitab Shifatu Shalaatin Nabiy, karya Asy-Syaikh Al-Albaniy dan kitab yang lainnya.

    12. Duduk Tasyahhud Akhir

    Sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Jika seseorang dari kalian duduk dalam shalat maka hendaklah ia mengucapkan At-Tahiyyat.” (Muttafaqun ‘alaih)

    13. Shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

    Sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Jika seseorang dari kalian shalat… (hingga ucapannya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam) lalu hendaklah ia bershalawat atas Nabi.”  Pada lafazh yang lain,  “Hendaklah ia bershalawat atas Nabi lalu berdoa.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

    14. Dua Kali Salam

    Sesuai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “… dan penutupnya (shalat) ialah salam.

     

    Inilah penjelasan tentang syarat-syarat dan rukun-rukun shalat yang harus diperhatikan dan dipenuhi dalam setiap melakukan shalat karena kalau meninggalkan salah satu rukun shalat baik dengan sengaja atau pun lupa maka shalatnya batal, harus diulang dari awal.

     Wallaahu A’lam.

     
    • Abdul wahid 10:44 am on 3 November 2009 Permalink

      Sy prnh membaca perukunan bertuliskan arab bahasa melayu. Di sna di katakan niat termasuk kedalam rukun qolbi tetapi sunat di ikrarkan.

    • marwanazis 7:18 pm on 12 Januari 2010 Permalink

      blognya menarik dan bermanfaat…..

    • Vidzas Erdien 2:44 am on 12 Maret 2010 Permalink

      Salam kenal Mas!
      Ditunggun kunjungan baliknya :-)
      Saya mohon izin nyedot gambar nih

    • Bani Adam 9:01 pm on 17 Agustus 2011 Permalink

      jadi niat itu rukun atau syarat sih??

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: