Tagged: sakaratul maut Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:08 am on 24 October 2010 Permalink | Balas
    Tags: sakaratul maut   

    Rasa Sakit Ketika Sakaratul Maut Menjemput 

    “Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata: “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar.” (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri) (QS. Al-Anfal {8} : 50).

    “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu !”

    Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Alloh (perkataan) yang tidak benar dan kerena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”. (Qs. Al-An’am 93).

    Cara Malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan, bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada Alloh, maka Malaikat Izrail mencabut nyawa secara kasar.

    Sebaliknya, bila terhadap orang yang soleh, cara mencabutnya dengan lemah lembut dan dengan hati-hati.

    Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa dengan raga tetap teramat menyakitkan.

    “Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali sakitnya dipukul pedang”. (H.R. Ibnu Abu Dunya).

    Di dalam kisah Nabi Idris a.s, beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan sholat sampai puluhan raka’at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris a.s yang sedemikian banyak, setiap malam naik ke langit. Hal itulah yang sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail.

    Maka bermohonlah ia kepada Alloh Swt agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris a.s. di dunia. Alloh Swt, mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan,dan bertamu kerumah Nabi Idris.

    “Assalamu’alaikum, yaa Nabi Alloh”. Salam Malaikat Izrail,

    “Wa’alaikum salam wa rahmatulloh”. Jawab Nabi Idris a.s.

    Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail.

    Seperti tamu yang lain, Nabi Idris a.s. melayani Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris a.s. mengajaknya makan bersama, namun di tolak oleh Malaikat Izrail.

    Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris a.s mengkhususkan waktunya “menghadap”. Alloh sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja.

    Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris a.s mengajak jalan-jalan “tamunya” itu ke sebuah perkebunan di mana pohon-pohonnya sedang berbuah, ranum dan menggiurkan. “Izinkanlah saya memetik buah-buahan ini untuk kita”. Pinta Malaikat Izrail (menguji Nabi Idris a.s).

    “Subhanalloh, (Maha Suci Alloh)” kata Nabi Idris a.s.

    “Kenapa ?” Malaikat Izrail pura-pura terkejut.

    “Buah-buahan ini bukan milik kita”. Ungkap Nabi Idris a.s.

    Kemudian Beliau berkata: “Semalam anda menolak makanan yang halal, kini anda menginginkan makanan yang haram”.

    Malaikat Izrail tidak menjawab. Nabi Idris a.s perhatikan wajah tamunya yang tidak merasa bersalah. Diam-diam beliau penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu. Siapakah gerangan ? pikir Nabi Idris a.s.

    “Siapakah engkau sebenarnya ?” tanya Nabi Idris a.s.

    “Aku Malaikat Izrail”. Jawab Malaikat Izrail.

    Nabi Idris a.s terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.

    “Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku ?” selidik Nabi Idris a.s serius.

    “Tidak” Senyum Malaikat Izrail penuh hormat.

    “Atas izin Alloh, aku sekedar berziarah kepadamu”. Jawab Malaikat Izrail.

    Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam.

    “Aku punya keinginan kepadamu”. Tutur Nabi Idris a.s

    “Apa itu ? katakanlah !”. Jawab Malaikat Izrail.

    “Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Alloh SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku”. Pinta Nabi Idris a.s.

    “Tanpa seizin Alloh, aku tak dapat melakukannya”, tolak Malaikat Izrail.

    Pada saat itu pula Alloh SWT memerintahkan Malaikat Izrail agarmengabulkan permintaan Nabi Idris a.s.

    Dengan izin Alloh Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris a.s. sesudah itu beliau wafat.

    Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Alloh SWT agar menghidupkan Nabi Idris a.s. kembali. Alloh mengabulkan permohonannya.

    Setelah dikabulkan Allah Nabi Idris a.s. hidup kembali. “Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku ?” Tanya Malaikat Izrail. “Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti”. Jawab Nabi Idris a.s.

    “Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu”, kata Malaikat Izrail.

    Masya Alloh, lemah-lembutnya Malaikat Maut (Izrail) itu terhadap Nabi Idris a.s.

    Bagaimanakah jika sakaratul maut itu, datang kepada kita ? Siapkah kita untuk menghadapinya ?

    “Sebarkanlah walau hanya satu ayat”

    ***

    Dari Sahabat

    Iklan
     
    • arif 5:57 am on 24 Oktober 2010 Permalink

      memang maut pasti datang maka siapkanlah diri kita….
      mohon kunjung balik….

    • makhluklemah 12:29 pm on 24 Oktober 2010 Permalink

      Rasul saja merasakan kesakitan yang sangat ketika menghadapi sakaratul. apalagi kita yang banyak dosa ini..
      Ya Allah jadikan akhir hayat kami khusnul khatimah

    • Sri Mulyati 12:55 pm on 24 Oktober 2010 Permalink

      maut datang dimanapun kita berada maka persiapkn diri kita ….
      izin copi ya……..

    • Mujaben 1:40 pm on 24 Oktober 2010 Permalink

      Ok bener artikelnya

    • intan 7:10 pm on 24 Oktober 2010 Permalink

      ketika malaikat izrail mencabut nyawa kita & saat itu jga kta mrasa kskitan luar biasa tpi tidak ad yg bsa mndengar keluhan kita.. hanya amal & ibadah kita yg kita pertanggung jwb kan nanti

    • wahyu0508 8:26 pm on 24 Oktober 2010 Permalink

      hanya amal perbuatan serta ibadah kita lah yang kelak bisa menolong ketika kita merasakan sakitnya ajal menjemput,,, nice article,,,, ,,,,

    • pepenefendi 10:32 pm on 24 Oktober 2010 Permalink

      smoga siap menghadapi sakaratul maut…..

    • iwan 12:45 am on 25 Oktober 2010 Permalink

      sungguh terharu membaca artikel ini.semoga dibaca banyak orang dan selalu menginagtkan kita semua akan sakaratul maut.

    • emen 10:39 pm on 27 Oktober 2010 Permalink

      “EVALUASI DIRI”

    • Hadijah 11:32 am on 23 Januari 2011 Permalink

      Insaf sy membacanya..
      minta di share ye..

    • ricky 3:00 pm on 26 Januari 2011 Permalink

      Subhanallah… izin copy ya mba

    • Febri H ikhwan 1:38 pm on 8 Februari 2011 Permalink

      Assalamu’alaykum Warohmatulloh Wabarokaatuh.
      Afwan, ana ingin mengingatkan akhi/ukhty pembuat blog ini .
      dan mungkin jg kepada yg lainnya,yg belum mengetahuinya.
      (karna kita sesama muslimin dan muslimah yg baik yg di ingin dicintai oleh ALLAH Subhana Wa Ta’ala hrs saling mengingatkan tentang kebaikkan dan jg kebenaran .)
      tolong di baca tentang hal di bawah ini :

      http://rahmiaz-zahra.blogspot.com/2010/01/adab-dalam-menuliskan-pujian-kepada.html
      http://myquran.com/forum/entry.php/123-Adab-Salam-dan-Shalawat-semoga-bermanfaat
      http://www.mail-archive.com/assunnah@yahoogroups.com/msg26917.html

      mohon maaf bila ada kata ana yg kurang bekenan di hati saudara dan saudari,karna kita ini anak cucu nabi Adam AlaihiSalam dan ana hanya berniat mengingatkan,smoga ini semua menjadi syafa’at bagi kita bersama…Aamin Ya Robbal A’lamin

    • ALtak Enjoy ajaa Lg 12:18 am on 7 Juli 2011 Permalink

      Ya Sayidi Ya Rasululloh…. 3x
      d setiap zaman pasti ada pengganti2 kekasih Allah, pasti d zaman ini, ada kekasih Allah..
      Carilah sebelum trlambat..,

    • Alim Kristiyanto 8:24 am on 11 September 2011 Permalink

      “Jika engkau tahu yang sebenarnya, waktumu akan habis hanya untuk bertaubat!”

    • dede rusman 12:01 am on 11 April 2012 Permalink

      brikan lah hidayah mu y allah. jadi kn lah aku ini orang yg saleh dan tobat ku taubatan nasuha amin.

  • erva kurniawan 11:35 am on 9 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , sakaratul maut   

    Allaahumma Hawwin ‘Alainaa Fii Sakaraatil Maut 

    jenazah (1)“Tiap – tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan”. QS.Al-Ankabut (29):57.

    “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”. QS. Az-Zumar (39):30.

    “Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang dhalim”. QS. Al-Jum’ah (62):7.

    “Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. QS. Al-Jum’ah (62): 8.

    **

    Bila kita berbicara tentang kematian sering kali kita dicela oleh orang orang yang merasa tidak nyaman mendengarkan cerita tentang kematian itu, mereka pada umumnya menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia saja, dan pada umumnya seseorang tidak ingin memikirkan peristiwa tentang kematian dirinya, padahal tidak ada satu makhlukpun yang dapat menjamin bahwa seseorang akan tetap hidup dalam satu, dua jam kedepan, dan atau hari hari berikutnya.

    Betapa hebatnya bila kita setiap hari, manakala kita menyaksikan kematian orang lain yang ada disekitar kita, kita juga memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya, dan betapa hebat dan baiknya bila kita sadar dan menyadari bahwa kematian itu juga sedang mengintai dan menunggu kita, dan betapa habat yang amat luarbiasa bila kita menyadari bahwa dari detik ke detik, dari menit kemenit dari waktu kewaktu dan dari hari kehari yang kita lalui selama ini justru semakin mendekatkan diri kita dari kematian, sebagaimana juga yang berlaku bagi orang orang yang ada disekeliling kita baik yang kita saksikan kita dengar dari mulut kemulut ihwal berita duka tersebut, atau dari berbagai mass media, keistimewaan yang telah menggiringnya untuk menyiapkan berbagai bekal, seperti amal shaleh, patuh dan taat pada perintah Allah yang telah ditetapkan bagi dirinya sebagai seorang hamba yang lemah, juga dengan ikhlas tabah dan sabar manakala mendapat musibah dengan berpasarah diri kepada Nya, juga sekuat tenaga berusaha untuk menjauhi segala larangan larangan dari sang Maha Pencipta dan sang Maha memelihara dirinya, dan sekuat tenaga mempertahankan serta tidak menyekutukan Allah SWT dengan apapun, sebagai bekal yang dapat dibawa manakala maut telah menjemputnya.

    Akan tetapi justru sebaliknya pada umumnya masyarakat kita sangat sulit dan sangat takut bila mendengar tentang kematian bahkan cenderung mereka mengalihkan perhatian serta berusaha untuk menghindar dari kematian, sebagaimana yang telah Allah SWT informasikan pada kita dalam QS. Al-Jum’ah (62) ayat 7 yang artinya tercantum diatas, dengan berbagai cara mereka mengalihkan dan berusaha untuk menghindari kematian, seseorang biasanya menghindari kematian dengan menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang dengan kematian, mereka berpikir tentang di mana mereka akan mengadakan pertemuan, dimana mereka akan melanjutkan pendidikan atau kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, pakaian apa yang akan mereka gunakan untuk menghadiri undangan acara yang telah disiapkan, apa yang akan dimasak untuk makan nanti, serta masih banyak contoh lain, yang mereka anggap dapat mengalihkan dan menghidari dari kematian, hal-hal ini merupakan persoalan – persoalan penting yang sering kita pikirkan selama ini, karena kehidupan yang kita jalani selama ini kita artikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari – hari.

    Kita sadari atau tidak, kita persiapkan atau tidak, kematian merupakan hal yang pasti, dan kita semua pasti tidak akan dapat menghindari, serta melarikan diri dari kematian, sesuai firman Allah dalam QS. Al-Jum’ah (62) ayat 8 yang artinya tercantum tersebut diatas, tanpa terkecuali, kita semua pasti mati, kita semua baik yang saat ini masih hidup, maupun yang akan hidup, pasti akan menghadapi kematian yang selama ini kita hindari kehadirannya, pada hari yang telah Allah tentukan, namun justru masyarakat kita pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan dan kebetulan saja, maka manakala kita menghadapi kematian, hampir dipastikan kita tidak siap serta tidak memiliki kesiapan apapun.

    Wahai saudaraku betapa indahnya, bila kematian yang telah menanti saatnya tiba untuk kita semua telah hadir menjemput kita sesuai ketetapan yang telah Allah tetapkan pada semua hambanya, sebagai hamba Allah yang beriman, Dan Allah SWT mengabulkan do’a yang telah kita panjatkan setiap saat, dengan ungkapn “ALLAHUMMA HAWWIN ALAINAA FII SAKARAATIL MAUUT” serta diakhir kata tidak terucap kata kata lain selain ucapan yang sangat indah yakni dengan ucapan “LAAILLAHAILLALLOHU MUHAMMADARASULULLOH”, dari saat kita menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, kita semua sudah tidak ada apa-apanya lagi selain hanya “seonggok daging dan tulang”, tubuh kita yang diam dan terbujur kaku akan segera dimandikan untuk yang terakhir kalinya, dan tubuh kita yang sudah menjadi mayat dibungkus kain kafan, jenazah kita yang sudah dishalati akan segera dibawa ke kuburan dalam keranda, dan sesudah jenazah kita dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi seluruh badan kita, inilah kesudahan cerita hidup kita, dan mulai saat itu kita hanyalah seorang yang namanya terukir pada batu nisan diatas kuburan.

    Wahai saudaraku mumpung saat ini kita masih dapat membaca, masih dapat mengedipkan mata, masih dapat menggerakkan semua anggota badan, kita masih dapat berbicara, kita masih dapat tertawa, kita juga masih dapat beraktifitas sebagaimana biasa,  semua ini merupakan fungsi tubuh karena kita masih hidup, hari ini kita yang melihat dan menonton tayangan TV tentang kematian saudara saudara kita, bisa jadi suatu saat nanti saudara saudara kita dibelahan bumi lain yang menonton jenazah jenazah kita yang ditayangkan oleh berbagai mass media, dan mari kita renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh kita setelah kita mati nanti, apakah kita dapat mengucapkan dua kalimah syahadat diakhir hayat kita, apakah ketika kita menemui ajal dalam keadaan taqwa atau justru sebaliknya, marilah kita segera bertaubat, agar setiap saat bila ajal menjemput kita, kita telah siap dengan sebenar benarnya berdasarkan dan sesuai tuntunan Nabi kita Nabi Muhammad SAW, serta kita semua mendapat ampunan serta keringanan juga mati dalam keadaan husnul khotimah dan bukan suul khotimah

    Allaahumma innaa nas aluka Salaamatan Fiddiin Wa ‘Aafiyatan Fil Jasadi Wa Ziyaadatan Fil ‘Ilmi Wa Barakatan Fir Rizqi Wa Taubatan Qablal Maut Wa Rahmatan Indal Maut Wa Maghfiratam Ba’dal Maut Allaahumma Hawwin ‘Alainaa Fii Sakaraatil Maut Wan Najaata Minnannar Wal ‘Afwa Indal Hisab Rabbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idzhadaitanaa Wa Hab Lanaa Milladunka Rahmatan Innaka Antal Wahhaab.

    Semoga bermanfaat, dan terimakasih

    ***

    Oleh: Mujiarto Karuk

     
    • Suzanna 4:58 pm on 17 Desember 2010 Permalink

      Carilah duniamu seolah-olah engkau akan hidup selama-lamanya dan carilah akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok pagi” (Hadis Riwayat Ibnu Asahin)

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: