Tagged: nabi muhammad Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 6:35 pm on 26 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: muhammad, nabi muhammad, rasulullah   

    Siapakah Gerangan Manusia Yang Paling Sayang Kepadamu 

    muhammad 2Sahabatku rahimakumullah, siapakah gerangan manusia yang paling penyayang kepadamu? Paling peduli akan dirimu dan masa depanmu? Yach, dialah Rasulullah Saw.

    Gambaran kasih sayangnya kepada kita dapat dilihat dalam Firman Allah Swt QS. At Taubah 9 ayat 128, yang artinya:

    “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min”. (Al Qur’an At Taubah 9 ; 128)

    Pada suatu malam, Beliau berdo’a semalam suntuk kepada Allah dengan ungkapan segenap jiwa dan perasaannya yang penuh kasih, berdo’a agar kita selamat.

    “Ya Allah, Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba_Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al Qur’an Al Maidah 5 ; 118)

    Dengan mengangkat kedua belah tangannya, Beliau berucap, “Allahumma, ummati, ummati ! Wahai Allah, umatku, ! umatku, !” Kemudian berlinang air matanya,

    Dari Abu Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash r.a, katanya, Nabi Saw membaca Firman Allah (do’a Nabi Isa a.s./Al Qur’an Al Maidah 5 ; 118) tersebut di atas. Lalu Rasulullah Saw mengangkat kedua tangannya seraya  berkata, “Allahumma, ummati, ummati !” (Wahai Allah! Umatku! Umatku!). dan sesudah itu Rasulullah Saw menangis. Maka berfirman Allah Azza wa Jalla kepada Jibril a.s., “Hai, Jibril ! Pergilah kepada Muhammad ! (dan sesungguhnya Tuhanmu Maha Tahu) Tanyalah kepadanya kenapa dia menangis. Maka pergilah Jibril kepada Muhammad Saw, menanyakan kenapa. Rasulullah Saw lalu menceritakan kepada Jibril kenapa beliau menangis dan mengatakan (Padahal Allah Maha Tahu). Maka firman Allah, “Hai, Jibril! Pergilah kepada Muhammad, katakana kepadanya: “Aku akan memperkenankanmu membela umatmu dan tidak akan mengecewakanmu”.

    Ridha Allah atas pembelaan Rasul kepada kita dan seluruh umatnya inilah yang dinamakan syafaat Beliau kepada kita. Namun dengan syarat kita tidak boleh mempersekutukan Allah Swt.

    Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah Saw, bersabda : “Setiap Nabi mempunyai do’a mustajab (do’a yang pasti diperkenankan), karena itu para nabi segera memanfaatkan do’anya untuk menolong umatnya. Tetapi aku akan memanfaatkan nanti untuk membela umatku di hari kiamat. Insya Allah do’aku itu akan mencapai setiap umatku yang meninggal dengan tidak mempersekutukan Allah Swt”.

    Dan seandainya saja kita tahu betapa ikhlas dan tulusnya Rasulullah Saw kepada kita dan seluruh umatnya,  Beliau ingin kita semua selamat dan beroleh jalan yang lurus,  Tidak ingin kita tersesat jalan (kafir) tertutup hatinya dari menerima kebenaran, hal ini dapat kita lihat:

    Dari ‘Abdullah (bin Mas’ud) r.a., katanya Rasulullah Saw, bersabda kepadanya, sabdanya: “Bacakanlah Qur’an kepadaku !” Jawabku, Bagaimana pula aku harus membacakannya kepada anda, sedangkan Qur’an itu sendiri diturunkan kepada anda. Sabda beliau : “Aku ingin mendengarkannya dari orang lain.” Karena itu kubacakan kepada beliau Surah An Nisa. Ketika bacaanku sampai kepada ayat:

    Fakaifa idza ji’na min kulli ummatin bisyahidin wa ji’na bika haula syahida’. “Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)”. (Al Qur’an An-Nisa’ 4 ; 41)

    Ketika itu aku mengarahkan pandanganku kepada beliau, maka kelihatan olehku air matanya mengalir.

    Karena itu, pantaslah saja Allah sangat menyayanginya, mengasihinya, dan bersyalawat untuknya, Bagaimana dengan kita?,

    ***

    Rindu kami padamu ya Rasul, Rindu tiada terperih, berabad jarak darimu ya Rasul, serasa dikau di sini, Cinta ikhlasmu pada manusia bagaikan cahya suarga. Dapatkah kami membalas cintamu, secara bersahaja.

    Iklan
     
  • erva kurniawan 10:18 pm on 6 April 2009 Permalink | Balas
    Tags: nabi ayub, nabi daud, nabi harun, nabi ibrahim, nabi isa, nabi ismail, nabi muhammad, nabi nuh, nabi sulaiman, nabi yusuf   

    Berkaca pada Para Nabi, Malu! 

    berdoa1

    Penulis : Bayu Gawtama KotaSantri.com

    Memang saya tak setampan Nabi Yusuf alaihi salam, yang pesonanya membuat Zulaikha tergila-gila kepadanya dan belasan wanita cantik lainnya rela mengiris tangannya tanpa sadar lantaran tersihir keelokan wajah putra Ya’kub itu. Ketampanan Yusuf bukan semata fisik, melainkan cahaya di hatinya yang memancarkan kemuliaan. Bandingkan dengan diri ini, tak seujung kelingking pun ketampanan saya bisa menyaingi Nabi mulia itu..

    Saya pun tak sesabar Nabi Ibrahim alaihi salam, berdakwah hingga usianya lebih seabad namun hanya sedikit pengikutnya. Yang bersabar hingga hari tuanya untuk bisa menimang putra tercinta Ismail. Coba lihat diri ini, sering tergesa-gesa tak sabaran

    Sosok ini pun tak setaat Ismail putra Ibrahim, yang ikhlas menjalankan perintah Allah meskipun harus disembelih oleh ayahnya sendiri. Bahkan Ismail tak bergeming saat setan menggodanya. Hmm, mudah sekali rasanya setan-setan menggoda diri ini. Mungkin karena saya belum benar-benar taat kepada-Nya.

    Diri ini jelas-jelas tak setabah Nabi Ayub alaihi salam dalam menjalani cobaan dari Allah. Ayub yang bertahun-tahun diuji Allah dengan penyakit, tak sedikit pun mengeluh. Justru sebaliknya, ia merasa ujian itu adalah cara Allah mendekatinya. Sedangkan saya, baru kena flu saja sudah uring-uringan, bagaimana diberi penyakit yang lebih parah? Bisa-bisa jadi alas an untuk malas beribadah.

    Saya juga tak sehebat Nabi Daud alaihi salam, yang meski bertubuh kecil sangat pemberani melawan Raja Jalut. Begitupun Nabi Musa alaihi salam yang tak gentar berhadapan dengan penguasa paling lalim sepanjang masa, Firaun. Ia berani mengungkapkan kebenaran dengan nyawa taruhannya. Duh, jika saya berada pada posisi seperti itu, sanggupkah? Bahkan menegur sahabat yang berbuat salah pun terasa berat lidah ini mencobanya. Ironisnya, saya sering bersembunyi, pura-pura buta setiap kali kemungkaran berlaku di depan mata ini.

    Hati ini tak setegar Nabi Nuh alaihi salam yang tetap tersenyum mendapati ejekan dari kaumnya, termasuk isteri dan anaknya sendiri. Bahkan ketika air bah dating, Nuh tetap mengajak kaum yang sebelumnya tak henti mengejeknya sebagai orang gila. Andaikan saya yang diejek, emosi lah yang didahulukan. Kalau perlu saya menantang siapapun penghina itu untuk berkelahi, saling menumpahkan darah. Saya mudah marah, gampang tersulut emosinya, mudah terprovokasi, ah jauhlah dari sifat Nabi Nuh.

    Akal pikiran ini tak secerdas Nabi Harun alaihi salam, yang karena kecerdasannya ia diperintah Allah menemani Musa menghadapi Firaun sekaligus menghadapi para pengikutnya. Kejernihan pikirannya, menjadikan ia teramat mudah mendapat hikmah dari Allah. Saya benar-benar iri kepada Nabi Harun yang tak pernah berhenti belajar. Berbeda dengan saya yang terkadang sudah merasa cukup pintar, sering berpikir bahwa diri ini sarat ilmu pengetahuan.

    Saya benar-benar tak sebijak Nabi Sulaiman alaihi salam, dalam segala hal. Ia yang mampu mendengar suara semut yangberdoa-2 ketakutan akan derap pasukan Sulaiman, bahkan sangat kasih terhadap makhluk yang sangat kecil itu. Karena kebijaksanaannya itulah, ia dicintai oleh segenap makhluk di bumi, dari bangsa manusia hingga jin, dari hewan di darat, udara sampai di dalam lautan. Sulit rasanya saya sekadar mencoba berlaku bijaksana dan adil. Saya masih egois, melihat untung rugi dalam berbuat, mengedepankan siapa yang dekat dengan saya dan siapa yang saya suka, bukan siapa yang benar dan berbuat kebaikan.

    Nabi Isa alaihi salam mengajarkan tentang kelembutan hati. Tentang berbagi, membantu sesama, menolong orang tanpa pamrih, meringankan beban kaum dhuafa, menyediakan tangannya untuk orang-orang yang kesusahan, dan mengobati yang sakit. Hatinya selalu menangis melihat orang-orang yang menderita, dirinya selalu berada di sekeliling kaum dhuafa. Sedangkan saya, berkali-kali menyaksikan fenomena kemiskinan, kesusahan, penderitaan di berbagai tempat, tetap saja hati ini sekeras batu,.Tak gampang menangis jika bukan diri ini sendiri yang mengalami kesusahan.

    Bagaimana dengan Rasulullah Muhammad Sallallaahu alaihi wassallaam? Sungguh, beliaulah teladan seluruh manusia. Tentang cinta, kasih sayang kepada sesama, urusan rumah tangga, kelembutan sikap, kemuliaan akhlak, tutur kata, persahabatan, persaudaraan, kepemimpinan, berwirausaha, seluruhnya sempurna. Tak cukup jutaan lembar kertas untuk menuliskan keindahan pribadinya, diperlukan samudera tinta guna melukiskan kemuliaan akhlaknya.

    Tetapi saya? Tak berani menyebut satu saja keunggulan pribadi diri ini. Sebab, satu terbilang, maka seratus keburukan segera terucap. Andaikan saya setampan Yusuf, mungkin saya akan sombong dan tak bersyukur. Misalkan saya sepemberani Daud, belum tentu digunakan untuk membela kebenaran. Adapun saya pernah membantu seseorang, pamrih, ujub, riya pun mengiringi perbuatan itu.

    Jangankan untuk meniru sifat para Nabi dan Rasul, mendekatinya pun tak mungkin. Jangankan menyamai pribadi mereka, mengikuti jejak para sahabatnya pun tak sanggup. Berkaca pada manusia-manusia pilihan-Mu ya Rabb, saya malu, teramat malu.

    Jika demikian adanya, di pintu mana saya boleh mengetuk surga-Mu?

    ***

     
  • erva kurniawan 9:04 am on 28 March 2009 Permalink | Balas
    Tags: kalky autar, muhammad nabi umat hindu, nabi muhammad   

    Muhammad Adalah Nabi Umat Hindu 

    muhammad1Dikutip dari buletin Aktualita Dunia Islam

    ***

    New Delhi, India. Seorang professor bahasa dari ALAHABAD UNIVERSITY INDIA dalam salah satu buku terakhirnya berjudul “KALKY AUTAR” (Petunjuk Yang Maha Agung) yang baru diterbitkan memuat sebuah pernyataan yang sangat mengagetkan kalangan intelektual Hindu.

    Sang professor secara terbuka dan dengan alasan-alasan ilmiah, mengajak para penganut Hindu untuk segera memeluk agama Islam dan sekaligus mengimani risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw, karena menurutnya, sebenarnya Muhammad Rasulullah saw adalah sosok yang dinanti-nantikan sebagai sosok pembaharu spiritual.

    Prof. WAID BARKASH (penulis buku) yang masih berstatus pendeta besar kaum Brahmana mengatakan bahwa ia telah menyerahkan hasil kajiannya kepada delapan pendeta besar kaum Hindu dan mereka semuanya menyetujui kesimpulan dan ajakan yang telah dinyatakan di dalam buku. Semua kriteria yang disebutkan dalam buku suci kaum Hindu (Wedha) tentang ciri-ciri “KALKY AUTAR” sama persis dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh Rasulullah SAW.

    Dalam ajaran Hindu disebutkan mengenai ciri KALKY AUTAR diantaranya, bahwa dia akan dilahirkan di jazirah, bapaknya bernama SYANUYIHKAT dan ibunya bernama SUMANEB. Dalam bahasa sansekerta kata SYANUYIHKAT adalah paduan dua kata yaitu SYANU artinya ALLAH sedangkan YAHKAT artinya anak laki atau hamba yang dalam bahasa Arab disebut ABDUN.

    Dengan demikian kata SYANUYIHKAT artinya “ABDULLAH“. Demikian juga kata SUMANEB yang dalam bahasa sansekerta artinya AMANA atau AMAAN yang terjemahan bahasa Arabnya “AMINAH“. Sementara semua orang tahu bahwa nama bapak Rasulullah Saw adalah ABDULLAH dan nama ibunya AMINAH.

    Dalam kitab Wedha juga disebutkan bahwa Tuhan akan mengirim utusan-Nya kedalam sebuah goa untuk mengajarkan KALKY AUTAR (Petunjuk Yang Maha Agung). Cerita yang disebut dalam kitab Wedha ini mengingatkan akan kejadian di Gua Hira saat Rasulullah didatangi malaikat Jibril untuk mengajarkan kepadanya wahyu tentang Islam.

    Bukti lain yang dikemukakan oleh Prof Barkash bahwa kitab Wedha juga menceritakan bahwa Tuhan akan memberikan Kalky Autar seekor kuda yang larinya sangat cepat yang membawa kalky Autar mengelilingi tujuh lapis langit. Ini merupakan isyarat langsung kejadian Isra’ Mi’raj dimana Rasulullah mengendarai Buroq.

    ***

     
    • asep 2:03 pm on 28 Maret 2009 Permalink

      Subhanallah,segala puji bagi Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw utusannya.Andaikan orang/agama lain sudah menyadari bahwa Muhammad Saw utusan umat untuk memperbaiki ahlak kita.Mudah-mudahan Lia Eden mendapat Hidayah,Amin.

    • df 12:38 pm on 20 Oktober 2009 Permalink

      aku pngen tau lebih banyak lagi tentang ni….jadi makin penasaran.

    • dharmasastra3 9:18 am on 25 April 2011 Permalink

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: