Tagged: Kumpulan Cerita Nasehat Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 9:50 am on 13 January 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , , Kumpulan Cerita Nasehat, ,   

    Kisah si Penebang Pohon 

    penebang-pohonAlkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.

    Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

    Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”.

    Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat mempertanggungjawab kan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

    Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”

    “Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”. Kata si penebang.

    “Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa kisah-penebang-pohonmenebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.

    Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

    Istirahat bukan berarti berhenti ,

    Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi

    Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru !

    Salam sukses luar biasa!

    Iklan
     
  • erva kurniawan 7:09 pm on 20 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , , , Kumpulan Cerita Nasehat, ,   

    ‘Malaikat’ di Bandara Casablanca 

    bandara casablanca Minggu, 26 Agustus 2007

    Berulangkali, saya mencarinya di Bandara Casablanca, tetapi tidak pernah kutemukan pria bernama Moh Yassin. ’Malaikat’-kah Dia?

    Saat itu, genap empat bulan setelah bersungkem pada ayah-bunda di Tanah Air. Saya kembali ke Maroko, negeri tempatku kini menempuh studi di universitas al-Qurawiyin (oleh para wisatawan Eropa biasa disebut al-Karawiyine) Maroko.

    Ketika Qatar Airwaiys, pesawat yang kunaiki dari Jakarta-Casablanca, transit di Doha (Qatar) selama 18 Jam. Kebetulan mendapat fasilitas hotel al-Muntazah plaza, tidak jauh dari jantung kota Doha . Tentu saja saya tidak mungkin mengurung diri dalam kamar hotel sejak pukul 7.00 pagi itu, dalam benakku memutuskan untuk jalan-jalan.

    Setelah sholat Ashar, saya pun berjalan kaki secukupnya di jantung ibu kota Negara yang waktu itu sedang menjadi tuan rumah Asian Games ke-15. Jujur saja saya lebih dari empat kali transit di bandara Doha , tetapi baru kali itu bisa jalan-jalan di jantung kotanya.

    Tertarik ingin membeli beberapa barang kecil, utamanya makanan kecil, dalam benakku sekedar ingin ‘mencicipi’. Saya mendekati kotak Automatic Teller Machine (ATM) tertulis “Bank Islami” yang terletak di depan salah satu pusat perbelanjaan, dengan maksud mengambil sejumlah uang yang kubutuhkan.

    Awalnya, saya tenang-tenang saja, sebab di ATM itu jelas terdapat logo; Mastercrad, Visa, dan logo lainnya tanda fungsi ATM Internasional, sehingga berdasar logo-logo itu, saya pun yakin bahwa kartu ATM milikku bisa difungsikan di situ.

    Sungguh kaget, di luar dugaan, entah kenapa padahal sebelumnya orang silih-berganti tampak dengan normal bisa mengambil uang di situ. Tetapi ketika saya memasukkan kartu ATM, kok tiba-tiba eror? Kagetnya lagi, kartu ATM ’tertelan’ alias tidak bisa keluar. Sedangkan waktu setempat sudah menunjukkan pukul 19.00, tutup kantor. Apalagi hari Jum’at adalah hari libur setempat yang tidak memungkinkan saya untuk langsung menghubungi pihak bank.

     

    Awal Kesedihan

    Saya mulai gundah. Dalam hati, saya berdoa; “Semoga tidak terjadi apa-apa dengan sejumlah uang yang berada di rekeningku”. Karena ketika itu, saya juga tidak bisa dan tidak mungkin menghubungi ke Indonesia (bank tempat saya buka rekening) untuk menutup kartu ATM yang tertahan di kotak ini.

     

    Dengan perasaan tidak menentu, saya meninggalkan kotak ATM, seraya berpikir bagaimana nanti biaya transportasiku dari bandara Casablanca, ke kota tempat kuliahku yang jaraknya sangat jauh.

    Tiba-tiba saya ingat, ketika di bandara Soekarno Hatta, Jakarta , ibuku sempat memasukkan sejumlah uang cash ke dalam saku jaket hitamku, entah berapa jumlahnya. Kurogo sakuku, sayangnya, ternyata bukanlah Dollar atau Euro atau mata uang asing yang bisa ditukar di negara mana saja, tapi hanya lembaran-lembaran Rupiah.

    Meski demikian dengan sikap spekulasi saya pun ‘nekat’ mendekati money changer yang kebetulan buka (meskipun di luar jam kerja itu), namun pelayan yang tampangnya orang pekerja asal Pakistan atau India itu, dengan mengggunakan bahasa Arab langsung menolaknya ketika saya mengeluarkan sejumlah Rupiah dari saku jaketku.

     

    Wajah Asia

    Waktu setempat Adzan Maghrib sudah lama berkumandang dan dengan niat shalat maghrib dijama Ta’chir, dengan berjalan kaki sayapun memutuskan untuk kembali ke Hotel, tempatku transit.

    Baru saja sekitar 30 menit berbaring di kamar no: 22 lantai 6 hotel itu. Tiba-tiba telepon disampingku berbunyi kuangkat: Suara dari sebrang berbahasa Inggris, “Para pengunjung hotel dipersilahkan turun untuk makan malam di restoran yang terletak di lantai dasar.”

    Restoran itu juga dibuka untuk umum, tidak hanya bagi tamu hotel. Keadaan restoran pun cukup ramai dengan wajah-wajah pribumi beserta keluarganya, bersurban, gamis dan para wanita ber-abaya meski banyak juga yang membuka niqob (cadar)nya. Jauh berbeda ketika kondisi makan siang, tak terlalu ramai.

    Muaranya bertanya-tanya dalam hati, kenapa ketika saya duduk seorang diri di samping meja makan dan mengambil menu secukupnya dengan mengenakan kaos oblong dan jaket hitam, para pengunjung restoran (tampang pribumi) selalu saja melihat saya dengan tatapan sinis. Saya pun tetap bersikap tenang.

    Selepas makan, saya berbincang-bincang kecil dengan seorang gadis berwajah Filipina yang bekerja sebagai resepsionis di hotel itu, dengan pendekatan ke-Asia-an (dengan bahasa Inggris) saya bertanya, “Kenapa kok para pengunjung restoran hotel ini selama saya berada di ruang makan tampak sinis memandang, padahal sebelumnya saya pernah singgah di negara-negara bagian Teluk lain, seperti Saudi dan lainnya, tetapi tidak seperti ini?”

    Si gadis Filipina itu menjawab,”Bisa jadi mereka keanehan, ada wajah Asia nimbrung di meja makan restoran yang dikunjungi mayoritas oleh pribumi berkantong tebal, sedangkan mayoritas wajah Asia di sini hanya jadi pelayan. Dan memang biasanya mereka memandang rendah kepada orang Asia, karena di sini (Asia) dianggap bangsa kelas pembantu”. Tandasnya. Setelah berpamitan, sayapun bergegas pergi meninggalkannya.

    Pukul 22.00 waktu setempat. Saat itu 2 Desember 2006. Pihak hotel pun memberitahukan, bahwa para pengunjung akan melangsungkan perjalanan ke Casblanca, agar bersiap-siap menuju bandara Doha .

     

    Letak Kesalahanku

    Pukul 8.30. GMT, saya tiba di bandara Mohammad V, Casablanca, Maroko. Lebih dari satu jam lamanya saya berpikir. “Bagaimana untuk bisa sampai ke kota tempat kuliahku, sedangkan tidak ada sepeserpun uang yang bisa kupakai untuk naik kereta api, transportasi tunggal dari bandara?”

    Dalam ketermenungan, saya berpikir apakah yang menyebabkan ‘kesusahan’ saya ini. Orang bijak bilang, “setiap hal ada sebabnya”. Tapi apa sebabnya?

    Meditel (kartu Hand phone Maroko) pun saya aktifkan kembali, yang

    kusimpan selama berada di Indonesia. Bermaksud menghubungi kawan-kawanku di Maroko, tapi, nyatanya, tidak ada sepeserpun pulsa di dalamnya. Lengkaplah sudah.

    Di tengah kegalauan, tiba-tiba ponselku berdering. Ibundaku dari Indonesia bertanya, “Kamu sudah sampai tujuan dengan selamat?”

    Setelah menjawab seperlunya, tidak sengaja saya sepontan bilang, ”Bahwa saya sedang dalam masalah.” Dengan nada sedikit kesal, ibunda berkata, “Apa kamu ingat, ketika ibumu menyelipkan sejumlah uang tunai rupiah di saku jaketmu di bandara Jakarta . Ibu sudah bilang, tukar dulu rupiah ini di money changer, untuk bekal diperjalananmu, tapi waktu itu kamu tampaknnya tidak mengindahkan pesan ibu, kamu bilang cukup dengan kartu ATM yang kau pegang itu. Itulah akibatnya kalau kurang mengindahkan omongan ibumu”.

    ”Jeweran” ibu mengingatkan atas kesalahanku. Saat itu juga, saya langsung memohon maaf pada ibunda. Dengan ringan Beliau pun memaafkanku.

    “Pelayanan teknologi (ATM) bisa eror kapan saja. Tapi restu ibumu akan setia kapan dan di mana saja kamu berada, selagi kamu mengindahkan nasehatnya”.

    Sebelum telpon di putus, ibu sempat mendoakan, ”Semoga kamu mendapat jalan keluar.”

    Terbersit dianganku. Jika anak manusia selalu berusaha untuk mengindahkan (apalagi mentaati) sekecil apapun pesan-pesan orang tua, utamanya ibunya. Maka ia selalu meraih keberuntungan dan kemudahan segala urusannya dunia dan akhirat. Di antara contohnya ”Malin kundang”, di tengah kesuksesannya dihunjami adzab Tuhan, akibat kedurhakaan kepada ibunya. Na’udzu billah mindzalik.

     

    Pergolakan Prinsip

    Jam di dinding bandara Casablanca menujukan pukul 9.30. GMT.

    Dengan berifikir cepat, saya sempat melirik beberapa barang ditanganku yang memungkinkan untuk bisa dijual dengan harga murah demi untuk mendapatkan ongkos meneruskan perjalanan. Diantaranya, ada hand phone Nokia N 72 (waktu itu harganya masih cukup lumayan), ada handy Cam Sony jenis mini, laptop, dan berbagai barang berharga lainnya.

    Tetapi masih tetap terngiang di telinga pesan kedua orang tuaku, utamanya ibuku. Semenjak saya duduk di bangku pesantren tingkat SLTP, ibu pernah menasehati, “Anak-anakku, dalam kondisi bagaimanapun, jangan sekali-kali kamu menjual barang-barang yang kau pergunakan itu, karena sikap demikian berakibat tidak baik pada pribadimu”.

    Saya kembali termenung. Unsur Qowaid al-Fiqh pun sempat hinggap di benakku:”al-Hukmu yadurru ma’a illatihi a’daman wa wujudan”. Atau hal haram bisa menjadi halal sesuai tuntutan situasi dan kondisi. Seolah-olah pikiran semacam itu mendorongku untuk menjual sebagian barang-barangku, melanggar pesan ibuku. Demi mendapatkan ongkos.

    Akan tetapi, perspektif tasawwuf, sungguh tidak baik jika melanggar pesan orang tua kedua kalinya, utamanya ibunda. Meskipun sekarang ini saya dalam kondisi sangat membutuhkan uang, demikian gumamku.

    Di sisi lain saya menyadari, ketika di bandara Jakarta saya kurang mengindahkan pesan ibunda, tersebut di atas tadi. Dan ‘kesusahan’ ini akibatnya.

    Berniat (belajar) selalu mentaati nasihat orang tuaku. Kuputuskan untuk tidak menjual barang apapun, apalagi laptop yang di dalamnya terdapat data-data penting.

    Lagi-lagi, saya pun berspekulasi (seperti di Qatar tadi), sejumlah rupiah yang ada di saku kukeluarkan dan mendekati money changer, dan sudah kuperkirakan sebelumnya, di sanapun menjawab, “Di sini tidak menerima Rupiah”. Demikian penjelasan mereka menggunakan bahasa Perancis, bahasa resmi di instansi-instansi Maroko itu.

    Di depan money changer itu, saya berdiri dengan memegang dua tasku, diam berdo’a dalam hati tak terasa air mataku membasahi pipi, termenung, berpikir mencari jalan keluar, di tengah-tengah kejamnya kota Casablanca itu. Ya, Maroko memang bagian Negara Arab berpenduduk mayoritas Muslim, tetapi berbagai aspek hidup dan kehidupannya sudah terkena imbas Eropa, individualistis dan egoistisnya lebih kejam daripada Jakarta .

     

    ‘Malaikat’

    Di saat ketermenungan, tiba-tiba saya dikagetkan datangnya seorang laki-laki berpakaian dinas polisi bandara setempat. (Maaf), tangan kanannya buntung tanpa jari-jari. Sambil menepuk punggungku dia mengucapkan “Assalamu’alaikum” .

    Belum selesai menjawab ucapan,”Wa’alaikum salam”. Dia berkata lagi (dengan bahasa Arab), “Wahai anak muda, kamu berasal dari negara bagian Asia, ya? Dan ada masalah apakah tampaknya kamu gusar?”

    Saya menjelaskan secukupnya saja. Tiba-tiba dia mengeluarkan sejumlah Dirham (mata uang Maroko) dengan jumlah yang lebih dari cukup untuk ongkos yang saya butuhkan, ia membeberkan dan menyodorkannya ke saya.

    Awalnya sayapun menolak, tapi ia memaksaku untuk menerimanya.

    Baru saja saya menyentuh uang itu, ia buru-buru merogoh sakunya lagi, dan mengeluarkan sejumlah uang dalam bentuk Riyal Saudi dan Dollar Amerika (saya lupa jumlah persisnya), seraya berkata, “Ini uang tambahan. Kalau tadi kamu menukar uang (Rupiah, pen) ditolak, maka tukarlah uang-uang ini, kamu tidak akan ditolak lagi”. Tandasnya, seolah-olah dia tahu kalau sebelumnya saya menukar Rupiah dan ditolak, seraya Ia pun buru-buru ngeloyor pergi.

    Saya buru-buru mencegat langkahnya. Dia bertanya: “Ada apalagi?”

    “Bolehkah tau namamu?”, tanyaku.

    “Tidak perlu?”

    “Bolehkan saya tahu nomer telponmu?”

    “Tidak ada manfaatnya,” tambahnya.

    “Cukup besar uang yang kamu berikan padaku, maka ambillah salah-satu identitasku ini, entah passport, atau KTP (Maroko) atau kartu mahasisswa, besok atau lusa saya datang padamu untuk mengambilnya dan mengembalikan uang yang kau pinjamkan ini. Karenanya, saya minta nomer telpon antum,” begitu pintaku.

    Dengan tegas, ia menjawab, ”Saya tidak meminjamkan uang padamu, uang-uang itu adalah hakmu. Jika kapan-kapan kamu singgah di bandara Casablanca ini, cari saja namaku, Mohammad Yasin.” Dan, pria baik hati itupun buru-buru pergi meninggalkanku yang saat itu masih kaget dan bercampur heran.

    Dua minggu kemudian, dari Tetouan, kota tempat kuliah, saya menjemput kakaku yang baru datang dari Saudi Arabia di bandara Casablanca.

    Mengenal peristiwa sebelumnya, saya sudah saya menyiapkan sejumlah uang dalam amplop, untuk saya kembalikan kepada orang yang mengaku bernama Mohammad Yasin tadi. Tetapi sesampainya di Bandara Casablanca, saya tak menemukan pria itu.

    Sudah beberapa aparat dan kantor polisi bandara aku tanyai, tak ada orang bernama Mohammad Yasin.

    Dua puluh hari kemudian, saya kembali lagi ke bandara Casablanca menjemput sahabatku mahasiswa universitas az-Zaituna Tunis yang berkunjung ke Maroko.

    Saya pun kembali mencari orang yang bernama “Mohammad Yasin” di setiap pos dan kantor pegawai bandara, termasuk mengecek di pusat data pegawai bandara, namun ternyata saya tetap belum menemukannya, dan mayoritas pegawai di sana menjawab: “Di bandara ini tidak ada pegawai yang bernama Mohammad Yasin”

    Jujur awalnya saya ragu menulis kisah ini. Tetapi karena pencarian itu sudah saya lakukan berulang- kali hampir satu tahun lamanya, kucari dan kucari dia setiap kali saya ada keperluan di bandara Casablanca. Namun belum kutemukan juga orang itu. Sampai saya buat tulisan ini. Jadi, siapakah Dia? Wallohu a’lam.

    [Nasrulloh Afandi. Sekarang sedang melanjutkan kuliah di Maroko.]

     
    • Hilal 9:44 am on 31 Agustus 2009 Permalink

      Masya Allah, mungkin Allah SWT mengirimkan Malaikat-Nya berkat kiriman do’a sang ibu.

  • erva kurniawan 7:05 pm on 20 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: , , , , Kumpulan Cerita Nasehat, , , suami pilihan   

    Suami Pilihan 

    stasiun tanah abangBelum terlalu lama saya mengenalnya, baru sekitar 3 bulan lalu semenjak saya memutuskan untuk berlangganan ojeg dengannya. Tarif ojegnya lebih murah dibanding dengan yang ditawarkan tukang ojeg lainnya. Jika yang lain meminta Rp 7000, dia hanya meminta Rp 5000 untuk pengganti jasa mengantarkanku dari stasiun Tanah Abang menuju kantorku di Slipi.

    Pak Asmadi namanya, usianya sudah kepala empat, ia mengaku sudah delapan belas tahun menjalani profesinya sebagai tukang ojeg. Pertemuan yang hampir tiap hari dengannya, membuat saya tahu tentang sedikit kisah hidupnya, kadangkala saya dibuat kagum ketika darinya saya peroleh kata-kata bijak, nasehat, layaknya seorang bapak yang sedang menasehati anaknya.

    Siapa menyangka kalau tukang ojeg yang hanya lulusan SLTA itu mempunyai seorang isteri yang berpangkat eselon 3 di salah satu kantor pemerintahan di Jakarta. Isterinya adalah lulusan pasca sarjana dari salah satu universita negeri di Jakarta. Ketiga anak yang dimilikinya semua juga berpendidikan sarjana, hanya Pak Asmadi sendiri yang hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat SLTA. Dari hasil menarik ojeg itulah Pak Asmadi membiayai anak-anaknya kuliah. Kadangkala Pak Asmadi juga mencari tambahan penghasilan lain misalnya dengan berdagang kambing ketika mendekati hari raya Idul Adha.

     Awalnya, saya berpikir hal ini sebagai sebuah kemustahilan, di benak ini selalu saja timbul pertanyaan “Bagaimana mungkin Pak Asmadi seorang tukang Ojeg itu bisa memiliki seorang Isteri yang berpendidikan dan berjabatan tinggi di kantor pemerintahan? “. Ada rasa tak percaya sampai di kemudian hari Pak Asmadi memperlihatkan pada saya foto Isterinya sedang dilantik oleh salah satu menteri. “Ini mbak, foto isteri saya waktu dilantik oleh Pak Mentri, dan yang satunya itu foto saya sewaktu mendampinginya. ..” Tunjuk Pak Asmadi. Terlihat foto seorang wanita yang sedang bersalaman dengan seorang menteri, dan sebuah foto lagi menampilkan foto bersama seluruh jajaran pejabat dengan para pasangannya, kulihat Pak Asmadi memang ada di situ dengan baju batik coklatnya. Dari wajahnya memancar senyum bahagia begitu pula dengan isterinya.

     ****

    Saya sering melihat rubrik kontak jodoh di salah satu media cetak di Ibukota. Bukan, Bukan karena saya berniat ingin mencari jodoh lagi, tapi hanya sekadar iseng yang benar-benar iseng. Siapa tahu ada teman yang mengiklankan diri di situ, kan bisa jadi bahan ledekanku untuknya. Salah satu contoh isi iklan perjodohan yang sering kulihat itu adalah seperti ini misalnya: Seorang wanita, 25 tahun, Sarjana, tinggi badan 160 cm, bb 43 kg, berkulit putih mulus, wajah manis, Islam, pintar mengaji, keibuan dan pandai memasak mendambakan: Seorang laki-laki, perjaka tulen, minimal 26 tahun, lulusan pasca sarjana, berpenghasilan tetap (swasta/PNS) , tinggi badan minimal 170 cm dengan berat badan seimbang, Islam taat, Pandai mengaji dan bersifat kebapakan.

    Coba kita lihat iklan tersebut, dan perhatikanlah. Niscaya kita akan menemukan sebuah fakta bahwa seorang wanita pada umumnya menginginkan pasangan (calon suami) yang memiliki spesifikasi yang lebih baik dari spesifikasi yang dimilikinya. Baik itu dari segi fisik, tingkat pendidikan atau hal-hal kasat mata lainnya. Menurut saya hal ini sangat wajar. Karena bagaimanapun juga seorang lelaki akan menjadi pemimpin dalam sebuah rumah tangga, jadi semakin bagus kualitasnya akan semakin baik bagi keluarganya kelak. Begitu kondisi idealnya.

     ****

    Kembali kepada kisah Pak Asmadi dan isterinya, saya menjadi tersadarkan bahwa ternyata tidak semua wanita melihat kualitas calon suami hanya dari kasat mata yang tampak saja. Rasa penasaran saya muncul menggelitiki hati, membuat saya secara diam-diam ingin menyelidiki apa alasan Isteri Pak Asmadi begitu bangga dan mencintai suaminya yang “hanya” seorang tukang ojeg dan hanya berpendidikan setingkat SLTA. Sementara isterinya adalah wanita karir yang sukses yang memiliki pendidikan dan jabatan yang tinggi.Tidak ada rasa malu padanya akan “kesenjangan” itu.

    Suatu hari dalam perjalanan menuju kantor, Pak Asmadi mengajukan sebuahpertanyaan pada saya “Mbak, tahu ngga resep saya supaya tidak pernah mengalami kecelakaan di jalan atau supaya tidak pernah kena razia polisi jalan?” Saya pura-pura berpikir lantas menjawab “hmm… tidak tahu pak, apa resepnya?” “Berdzikir mbak…” jawabnya. “Berdzikir itu mengingat kepada Allah, bisa dilakukan di mana saja, kalau kita sehabis melaksanakan sholat baik itu sholat fardhu atau sholat sunnah, usahakan jangan langsung berdiri, dzikirlah terlebih dahulu. Dzikir juga tidak hanya dilakukan setelah sholat, tapi bisa di mana saja, termasuk di jalan raya ketika mengendarai sepeda motor seperti saya ini”

    “Bapak rajin ber-dzikir? ” saya bertanya untung memancing.

    “Alhamdulilah mbak, setiap selesai sholat saya selalu berdzikir, bahkan dalam perjalanan saya dari rumah sampai ke stasiun saya juga selalu berdzikir, kalau tidak salah ada dalam Al-quran perintah untuk mengingat Allah dalam keadaan duduk maupun beridir, itu artinya dalam keadaan apapun kita harusnya selalu mengingat Allah kan mbak?”

    “Iya, betul pak, Berdzikir dengan mengingat Allah membuat hati kita merasa tenang dan tentram, itulah mungkin yang membuat Bapak jadi tidak pernah mengalami kecelakaan saat mengendaria sepeda motor, karena saat itu Bapak berdzikir sehingga pikiran dan hati Bapak menjadi tenang, berkendaraan pun jadi tenang ” jawabku menyimpulkan.

    Ternyata dari Pak Asmadi, terdapat banyak hikmah. Saya bisa memunguti hikmah-hikmah itu untuk diri saya. Sekaligus menyadari bahwa Pak Asmadi ternyata orang yang taat beragama lagi berakhlak mulia, wajarlah jika sang isteri begitu mencintainya.

     ***

     Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasullullah pernah bersabda “Jika datang kepada kalian orang laki-laki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia, karena jika tidak maka akan menjadi fitnah di bumi dan juga kerusakan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun pada diri orang tersebut terdapat kekurangan?” Beliau menjawab, “Jika ada orang laki-laki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian, maka nikahkanlah dia” Artinya, jika kalian tidak menikahkan orang laki-laki yang taat beragama lagi berakhlak mulia meskipun tidak kaya atau tidak terhormat atau tidak kufu’, sedang kalian lebih menyukai orang laki-laki yang kaya, terhormat, lagi terpandang meskipun tidak taat beragama dan tidak berakhlak mulia, niscaya hal tersebt akan mengakibatkan kerusakan yang parah. Mungkin akan banyak wanita yang hidup tanpa suami dan banyak pula laki-laki yang hidup tanpa isteri. Akhirnya banyak perzinaan dan tersebar pula perbuatan keji.

    Rasulullah SAW menyebutkan akhlak bersaaan dengan agama, karen akhlak berperan sangat penting sekali dalam kehidupan rumah tangga. Rasulullah tidak cukup hanya dengan menyebutkan agama saja, Sebab, terkadang ada orang yang taat beragama tetapi akhlaknya tidak cukup baik untuk kehidupan rumah tangga, bahkan berakhlak tercela dan berwawasan sempit serta fanatik sehingga dia akan meletakkan agama di sampingnya dan menggauli isterinya dengan akhlak yang tidak baik. Akhirnya muncul kesan bahwa tingkah laku bururk itu disebabkan oleh agama. Padahal yang demikian itu merupakan keyakinan yang salah, karena Agama memerintahkan untuk mempergauli isteri secara baik.

    ***

    Kini terjawablah sudah rasa kepenasaran saya. Isteri Pak Asmadi ternyata benar-benar telah menjalankan sabda Rasullullah SAW tersebut. Menentukan suami pilihannya adalah seorang yang taat beragama dan berakhlak mulia meskipun tidak kaya, tidak terhormat atau tidak se kufu’ dengannya. Satu pelajaran berharga yang bisa saya ambil darinya.

     
  • erva kurniawan 8:05 pm on 18 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , kisah kucing, , Kumpulan Cerita Nasehat, ,   

    Kucing Kecil yang Penuh Makna 

     cute-cat2

    Hudzaifah.org – Sepasang suami istri, ikhwan dan akhwat, berjalan kaki bersama sambil tertawa dan bercanda ria. Dari kejauhan, mereka melihat ada dua ekor kucing tengah berjalan beriringan. Ibu kucing dan anaknya yang masih kecil. Si kucing kecil berjalan di belakang, mengikuti ibunya. Sangat lucu.

     “Wah, lihat Mas…, ada kucing kecil lagi sama ibunya…” ujar sang istri dengan gembira sambil menunjuk dua ekor kucing yang terlihat dari kejauhan.

    Saat sudah dekat dengan kucing-kucing itu, mereka menyapa,

     “Hai… Puss… Puss…”

     Si kucing kecil terlihat berlari riang, dan bercanda dengan ibunya. Ia meloncat kian kemari dan hendak menyebrang jalan raya. Sebuah sepeda motor melintas melewati jalan itu.

     “Aduh… awas Puss!… Nanti ketabrak lho..”, ujar sang istri pada si kucing kecil.

     “Alhamdulillah tidak kena…” Seru mereka berdua.

     “Hati-hati Puss…, jangan nyebrang-nyebrang lagi ya.” Mereka menyapa dengan melambai-lambaikan tangan pada si kucing kecil.

     Kucing kecil itu menatap dua manusia di hadapannya.

     “Alhamdulillah ya kucingnya tidak ketabrak…” ujar istri pada suaminya sambil tertawa senang. Mereka melanjutkan perjalanan. Si kucing kecil kembali ke pinggir jalan dan berjalan di belakang ibunya sambil sesekali mengajak bercanda sang ibu.

     Si kucing kecil berlari lagi ke tengah jalan… Ah.. kucing itu tidak akan tertabrak, bukankah dia kucing yang gesit, pikir sang akhwat. Dari kejauhan, sebuah motor melaju dengan kencang. Sambil tetap berjalan, ekor mata akhwat dan ikhwan tersebut tetap memperhatikan gerak si kucing kecil. Tapi, perkiraan mereka salah. “Awas…” seru mereka dalam hati.

     “KREKK!!” Kejadian begitu cepat. Sepeda motor itu tepat menabrak dan menggilas si kucing kecil yang tengah berlari kucingmenyebrang ke tengah jalan.

     “Kucingnya ketabrak!!.. ” Kedua insan itu terperanjat.

     Badan si kucing kecil gemetar dan kepalanya yang semula tegak, terkulai perlahan ke aspal jalan raya.

     “Puss… !”

     Kucing kecil yang beberapa detik lalu sangat riang, tiba-tiba kini terkulai tak bergerak. Ah…, Puss….

     Dan ibu kucing kecil itu sendirian.kucing

     Tak ada lagi anaknya yang menemani perjalanan.

     Senyum dan tawa ikhwan akhwat itu hilang seketika. Terdiam. Menjadi teringat diri. Dunia menjadi kecil. Ingin segera bertaubat. Sujud. Bisa saja, saat sedang tertawa bercanda, ternyata sedetik lagi diri ini dicabut nyawa oleh Malaikat Izrail. Persis seperti kucing itu.

     Begitu mudahnya Ia mencabut nyawa makhluk-Nya dan begitu indah serta halus cara Ia memberikan teguran, peringatan, kepada hamba-hamba- Nya. Melalui seekor kucing.

     Sambil terus menyusuri jalan, terngiang sabda Rasulullah SAW di benak mereka, bahwa Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya, “Bahwa malaikat maut memperhatikan wajah manusia di muka bumi ini 70 kali dalam sehari. Ketika Izrail datang melihat wajah seseorang, didapati orang itu ada yang masih tertawa. Maka berkata Izrail, “Alangkah herannya aku melihat orang ini sedangkan aku diutus oleh Allah Ta’ala untuk mencabut nyawanya tetapi dia masih bergelak tawa.”

     Dan juga dalam hadits lainnya, Rasulullah SAW bersabda, “Jika kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan sedikit tertawa dan pasti akan banyak menangis, pasti kamu tidak akan bersenang-senang dengan istri kamu di atas kasur dan pasti kamu akan keluar dari rumahmu menuju tanah lapang sambil menjerit-jerit karena takut kepada Allah.”

     Lama.., aku bersimpuh di hadapan-Mu.. Begitu khusyu

    Tak tahan jua air mataku mengalir tanda penyesalanku

    Kini aku sadari begitu banyak dosa mematri

    Akankah hamba layak dipuji

    Sedangkan diri kecil tak berarti

    Besar rahmat-Mu penuh dengan ampunan…

    Namun kumalu karena hati telah lalai

    Kekal azab-Mu penguasa seluruh alam

    Tersujud aku memohon keridhoan

    Allah… Ya Allah…

    Kau Pengasih, Kau penyayang

    Allah…. Ya Allah

    Kau Pelindung, Kau pengampun

    Pada-Mu ya Allah kami serahkan

    Segala ujian, karunia-Mu

    Kuatkanlah iman dan kesabaran

    Berikan ampunan dalam hidupku Ya Allah….

     

     
    • che 4:12 am on 7 Juni 2009 Permalink

      hmmm.., mnyentuh bgt mz..
      ijin Copas ya..

    • Ichigo 2:40 pm on 11 Juni 2009 Permalink

      Kucing lucu..

    • meyra 11:18 pm on 19 Juni 2009 Permalink

      aduuuh aku kasian ma kucingnya….hiks hiks

    • Ree_Rhy aliytari 3:47 pm on 2 Desember 2009 Permalink

      duh kasiannya anak kucing itu… andai aku, mungkin dari awal aku bawah pulang kucing itu… aku suka sekali ma kucing n pengen banget punya kucing tapi:( mama ngagk ngijinin hikz…hikz…hikz
      ….jadinya cuma bisa koleksi foto2 kucing deh….

    • rasitanatasa 6:17 pm on 30 Desember 2009 Permalink

      kucing yyy

    • juan 11:00 am on 23 Februari 2010 Permalink

      lucu banget

    • isty 4:30 pm on 27 Juli 2010 Permalink

      yampunn,,sangat mnyentuhh,,

  • erva kurniawan 6:51 pm on 17 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , , Kumpulan Cerita Nasehat, , , ,   

    Hikmah Tahajud 

    sujud1 Sewaktu si fulan esok harinya akan melaksanakan test interview untuk sebuah pekerjaan pada jam 9.30 pagi esok hari, nenek si fulan pun sehari sebelumnya menyarankan untuk shalat tahajjud pada malam harinya. Dikarenakan bangun malam pada malam hari, maka sifulan ini mengantuk, eh… ketiduran, malah sampai Orion dan ketika dilihat sudah jam 11.00 maka tidak sampailah dia di Wisma Nugra Santana, tempat dimana dia seharusnya interview, dan menggerutulah dia sambil menyalahkan neneknya.

     Kemudian menyebranglah dia untuk berganti bis untuk pulang sambil terus dalam hatinya menyalahkan neneknya, karena ternyata tahajjudnya tadi malam itu malah menyulitkannya hari ini, bukan memudahkan dia untuk lulus … tapi benarkah??

     Sesaat kemudian ada seseorang laki-laki yang berdasi dilonggarkan seperti kelelahan, dan berjas safari masuk. karena tidak punya tempat duduk dan dia berdiri didekat sifulan, maka sifulan ini mempersilahkan laki laki itu untuk duduk, kemudian terjadilah percakapan

     “Dari mana pak, kok kayaknya kecapean?””ini, sopir saya nggak bisa mengantar saya kekantor, karena harus mengantar istrinya, lalu mobilnya malah rusak sekalian , dan ketika saya perbaiki, ada beberapa kunci yang belum dimasukkan ke bagasi oleh sopir saya, jadinya malah nggak bisa apa apa, mending saya kekantor pakai bis saja…”

     “Lalu ade sendiri mau kemana?”

    “Iya nih pak… saya juga sebenarnya mau interview, di Nugra Santana, tapi karena tahajjud tadi malam, malah ketiduran sampe sini”

     ” saya juga mau ke Nugra Santana, memangnya interview dimana dek?” sambil berfikir bahwa sifulan ini baik juga ahlaknya karena mau tahajjud

    “di PT.XXXX” jawab si fulan

     cuma dalam hitungan detik , bapak itu mencoba melihat formulir dari si fulan. dan kemudian dilihatnya sesuatu yang menarik baginya, lalu dikatannya kepada si fulan

     ” dek, anda tahu? formulir pemanggilan ini yang ditanda tangani ini adalah formulir dari PT saya, dan sayalah yang bertanda tangan dibawah ini untuk memanggil adek”…

     tanpa fikir panjang lagi, laki laki itu memutuskan sifulan pun langsung bisa masuk menjadi karyawan PT itu, tanpa susah susah wawancara. Subhanallah. …

     kemudian cerita yusuf sedikit dilanjutkan. .

     pas sifulan ngikutin bapak itu untuk masuk kekantornya tuh, kan banyak orang yang lagi duduk nunggu untuk wawancara, mungkin dalam hati ada senyum kemenangan sambil berujar pada hatinya ” pada kagak tahajjud sih lu pada…” hehehee….. ..

     Ibroh / hikmah : Ternyata ketika kita tahajjud, ada banyak persoalan yang dipecahkan. Allah punya solusi yang gak kita tahu dan gak pernah kita sangka, kita hanya memandang jeleknya saja, tak pernah tahu bahwa yang sedang kita laksanakan itu adalah jalan menuju solusi yang disediakan Allah.

     so… mari mencoba untuk selalu tahajjud… yukk semangatt !!!

     

    Kajian yusuf mansur, Masjif agung Al Azhar, 24 Agustus 2007 bersama sang bidadari…

     
    • man 11:36 pm on 16 Mei 2011 Permalink

      keren nih cerita.
      kalau emang beneran, emang suatu keajaiban yang gak masuk akal

  • erva kurniawan 9:04 pm on 15 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , , , Kumpulan Cerita Nasehat,   

    Rp. 1.500,- = Rp. 600.000,- (matematika Allah) 

    sujud-011“Tidak ada satu maksud apa pun ketika menuliskan cerita ini, semoga Allah menjaga hati ini dari sifat riya meski sebiji zarah pun.” [ Bayu Gawtama]

    Jum’at lalu, saya berangkat ke kantor dengan dada sedikit berdegub. Melirik ukuran bensin di dashboard motor, masih setengah. “Yah cukuplah untuk pergi pulang ke kantor”.

    Namun, bukan itu yang membuat dada ini tak henti berdegub. Uang di kantong saya hanya tersisa seribu rupiah saja. Degubnya tambah kencang karena saya hanya menyisakan uang tidak lebih dari empat ribu rupiah saja di rumah. Saya bertanya dalam hati, “makan apa keluarga saya siang nanti?” Meski kemudian buru-buru saya hapus pertanyaan itu, mengingat nama besar Allah yang Maha Melindungi semua makhluk-Nya yang tawakal.

    Saya berangkat, terlebih dulu mengantar si sulung ke sekolahnya. Saya bilang kepadanya bahwa hari ini tidak usah jajan terlebih dulu. Alhamdulillah ia mengerti. Soal pulangnya, ia biasa dijemput tukang ojeg yang -sukurnya- sudah dibayar di muka untuk antar jemput ke sekolah.

    Sepanjang jalan menuju kantor saya terus berpikir, dari mana saya bisa mendapatkan uang untuk menjamin malam nanti ada yang bisa dimakan oleh isteri dan dua putri saya. Urusan besok tinggal bagaimana besok saja, yang penting sore ini bisa mendapatkan sesuatu untuk bisa dimakan.

    Tiba di kantor, tiba-tiba saya mendapatkan sebungkus mie goreng dari seorang rekan kantor yang sedang milad (berulang tahun). Perut saya yang sejak pagi belum terisi pun mendesak-desak untuk segera diisi. Namun saya ingat bahwa saya tidak memiliki uang selain yang seribu rupiah itu untuk makan siang. Jadi, saya tangguhkan dulu mie goreng itu untuk makan siang saja.

    Sepanjang hari kerja, terhitung dua kali saya menelepon isteri di rumah menanyakan kabar anak-anak. “sudah makan belum?” si cantik di seberang telepon hanya menjawab, “Insya Allah,” namun suaranya terasa getir. Saat itu, anak-anak sedang tidur siang.

    Pukul lima sore lebih dua puluh menit saya bergegas ke rumah. Sebelumnya saya sudah berniat untuk menginfakkan seribu rupiah di kantong saya jika melewati petugas amal masjid yang biasa ditemui di jalan raya. Sayangnya, sepanjang jalan saya tidak menemukan petugas-petugas itu, mungkin karena sudah terlalu sore. Akhirnya, sekitar separuh perjalanan ke rumah, adzan maghrib berkumandang. Motor pun terparkir di halaman masjid, dan seketika mata ini tertuju kepada kotak amal di pojok masjid. “bismillaah. ..” saya masukkan dua koin lima ratus rupiah ke kotak tersebut.

    Usai sholat, setelah berdoa saya meneruskan perjalanan. Tapi sebelumnya, tangan saya menyentuh sesuatu di kantong celana. Rupanya satu koin lima ratus rupiah. Kemudian saya ceploskan lagi ke kotak amal yang sama.

    Sesampainya di rumah, isteri sedang memasak mie instan. Semangkuk mie instan sudah tersaji, “kita makan sama-sama yuk…” ajak si manis. Kemudian saya bilang, “abang sudah kenyang, biar anak-anak saja yang makan”. Anak-anak pun lahap menyantap mie instan plus nasi yang dihidangkan ibu mereka. Rasanya ingin menangis saat itu.

     ***

     Keesokan paginya, isteri menggoreng singkong untuk sarapan. Alhamdulillah masih ada yang bisa dimakan. Sebenarnya hari itu masih punya harapan. Seorang teman isteri beberapa hari lalu meminjam sejumlah uang dan berjanji mengembalikannya Sabtu pagi. Namun yang ditunggu tidak muncul. Bahkan ketika terpaksa saya harus mengantar isteri menemui temannya itu, pun tidak membuahkan hasil.

    Tiba-tiba telepon saya berdering, “Pak, saya baru saja mentransfer uang satu juta rupiah ke rekening bapak. Yang empat ratus ribu untuk pesanan 20 buku bapak yang terbaru. Sisanya rezeki untuk anak-anak bapak ya…” seorang sahabat dekat memesan buku karya saya yang terbaru.

    Subhanallah, Allahu Akbar! Saya langsung bersujud seketika itu. Saya hanya berinfak seribu lima ratus rupiah dan Allah membalasnya dengan jumlah yang tidak sedikit. Ini matematika Allah, siapa yang tak percaya janji Allah? Yang terpenting, siang itu juga saya buru-buru mengeluarkan sejumlah uang dari yang saya peroleh hari itu untuk diinfakkan.

     ***

    Saya bersyukur tidak memiliki banyak uang maupun tabungan untuk saya genggam. Sebab semakin banyak yang saya miliki tentu semakin berat pertanggungjawaban saya kepada Allah.

     
    • febrian 3:25 pm on 1 Juni 2009 Permalink

      Terharu sekali saya membacanya mas…

    • miftah 12:17 pm on 12 Januari 2012 Permalink

      pak… izin ta masukkan ke blog ya :D

  • erva kurniawan 8:50 pm on 15 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , , , Kumpulan Cerita Nasehat, ,   

    Mimpi yang Membawa Hikmah 

    kiamat94

    Khalifah Umar bin Abdul Azis pernah gemetar ketakutan. Bukan karena menghadapi musuh di medan pertempuran. Tetapi ketika beliau mendengar cerita tentang alam akhirat.

    Semua perbuatan manusia di dunia akan dimintai pertanggungjawabann ya di akhirat. Di akhirat kelak setiap manusia akan diperintahkan berjalan melewati jembatan shiratal mustaqim. Manusia akan terlempar ke neraka jika tidak bisa melewati jembatan itu. Sebaliknya, manusia tersebut akan menikmati keindahan surga jika bisa melewati jembatan itu.

    Setiap manusia akan menemui kesulitan dan kemudahan yang beragam saat berjalan di atas jembatan shiratal mustaqim. Jika selama hidup di dunia, manusia itu banyak beramal saleh, ia akan mudah melewatinya. Jika tidak, iaakan sulit berjalan di atas shiratal mustaqim. Bahkan, besarkemungkinan iaakan terlempar dan jatuh ke jurang neraka di bawahnya.

    Hal itu membuat banyak orang khawatir. Tentu saja. Sebab, kita tidak pernah tahu secara pasti apakah selama di dunia kita tergolong orang yang banyak beramal saleh atau justru banyak berbuat dosa. Nah, perasaan itu juga dirasakan khalifah Umar bin Abdul Azis. Apalagi waktu khalifah Umar bin Abdul Azis mendengar cerita seorang hamba sahaya tentang mimpinya di suatu hari.

    Umar bin Abdul Azis tertarik waktu hamba sahaya itu bercerita. “Ya, Amirul Mukminin. Semalam saya bermimpi kita sudah tiba di hari kiamat. Semua manusia dibangkitkan Allah, lalu dihisab. Saya juga melihat jembatan shiratal mustaqim.”

    Umar bin Abdul Azis mendengarkan dengan seksama. “Lalu apayang engkau lihat?” tanyanya.

    “Hamba melihat satu per satu manusia diperintahkan berjalan melewati jembatan shiratal mustaqim. Penguasa Bani Umaiyah, Abdul Malik bin Marwan, hamba lihat ada di antara orang yang pertama kali dihisab. la berjalan melewati jembatan shiratal mustaqim. Tapi, baru dua langkah, dia sudah jatuh ke dalam jurang neraka. Saat ia jatuh, ubuhnya tak terlihat lagi. Hamba hanya mendengar suaranya. la terdengar menangis dan memohon ampun kepada Allah,” jawab hamba sahaya itu.

     Umar bin Abdul Azis tertegun mendengar cerita itu. Hatinya gelisah.

    “Lalu bagaimana?” ia bertanya dengan gundah.

    “Setelah itu giliran putranya, Walid bin Abdul Malik bin Marwan. Ia juga terpeleset dan masuk ke dalam jurang neraka. Lalu tiba giliran para khalifah yang lain. Saya melihat, satu per satu mereka pun jatuh. Sehingga tidak ada yang sanggup melewati jembatan shiratal mustaqim itu,” kata sang hamba sahaya.

    Umar bin Abdul Azis tercekat karena merasakan takut dan khawatir dalam dadanya. Sebab, ia juga seorang khalifah. la sadar, menjaga amanah kepemimpinan dan kekuasaan itu sangat berat. Dan ia punyakin, setiap pemimpin harus bisa mempertanggungjawab kan kepemimpinannya. Tidak ada seorang pun yang akan lolos dari hitungan Allah.

    Jantung Umar seketika berdegub kencang. Nafasnya memburu. Ia cemas, jangan-jangan nasibnya akan sama dengan para pemimpin lain yangdikisahkan hamba sahaya itu. Karena cemas dan takut, Umar bin Abdul Azis meneteskan air mata. Ia menangis.

    “Ya, Allah. Apakah aku akan I bernasib sama dengan mereka yang dilihat hamba sahaya ini di dalam mimpinya? Apakah aku telah berlaku tidak adil selama memimpin? Pantaskah aku merasakan surga-Mu, ya Allah?” bisik Umar bin Abdul Azis di dalam hati. Air matanya kian deras mengalir.

    “Lalu tibalah giliran Anda, Amirul Mukminin,” kata hamba sahaya itu.

    Ucapan hamba sahaya itu menambah deras air mata Umar bin Abdul Azis. Umar kian cemas. Kecemasan Umar membuat tubuhnya gemetaran. Ia menggigil ketakutan. Wajahnya pucat. Matanya menatap nanar kesatu sudut ruangan.

    Saat itu, Umar bin Abdul Azis mengingat dengan jelas peringatan Allah SWT, “Ingatlah pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. Dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah sentuhan api neraka”

    Hamba sahaya itu justru kaget melihat reaksi khalifah Umar bin Abdul Azis yang luar biasa. Dalam hati, ia merasa serba salah. Sebab, ia sama sekali tidak punya maksud untuk menakut-nakuti khalifah. Ia sekadar menceritakan mimpi yang dialaminya.

    Melihat kepanikan khalifah, hamba sahaya itu lalu berusaha menenangkan Umar bin Abdul Azis. Namun, Umar bin Abdul Azis belum bisa tenang. Maka, hamba sahaya itu pun meneruskan ceritanya dengan berkata, “Wahai, Amirul Mukminin. Demi Allah, aku melihat engkau berhasil melewati jembatan itu. Engkau sampai di surga dengan selamat!”

    Mendengar itu, Umar bin Abdul Azis bukan tersenyum apalagi tertawa. Ia diam. Cukup lama Umar tertegun. Cerita itu benar-benar membuatnya berpikir dan merenung.

    Ada hikmah yang lalu dipetik Umar dari cerita itu. Dan sejak itu, ia menanamkan tekad untuk lebih berhati-hati dalam amanah kekuasaan. Itu adalah amanah Allah yang sangat berat.

    *** 

     
    • rossy 7:15 pm on 4 September 2009 Permalink

      cerita ini pernah saya dengar, memang membuat jantung berdebar, Subhanallah, waAllahu’alam

    • G. Pramono 6:21 am on 6 September 2009 Permalink

      Ini bukan cerita tapi suatu kenyataan yang akan terjadi, Kita sudah masuk dalam dunia maya, apakah dahulu berfikir itu hanya cerita? Mimpi adalah bunga tidur hayati dan cermati semua adalah kekuasaan yang maha kuasa. Subhanalloh.

    • Agus Djali Gespata Sltn 5:33 am on 7 September 2009 Permalink

      Ini adalah suatu renungan yang sangat mendalam,karna kiamat itu kan pasti datang dan benar-benar terjadi.Dan ini untuk memperingatkan kita semua,agar bertobat dan memohon ampun kepada yang maha kuwasa,sebelum hari kiamat datang. Terimakasih.

    • anissa 9:56 am on 11 September 2009 Permalink

      Subhanallah cerita yang sgt menegangkan seolah2 merasakan juga kegelisahan Khalifah Umar bin Abd. Aziz, beliau aja begitu ketakutan akan nasib dirinya kelak.. bagaimana dgn kita ?? manusia biasa yg bergelimang dosa..kita harus banyak2 beristighfar
      Astaghfirullah al addziim.. yaa.. Allah ampunilah kami dan kedua orang tua kami ..:((

    • nui 2:03 pm on 4 Oktober 2009 Permalink

      ajib sekali

    • anjar 2:05 pm on 4 Oktober 2009 Permalink

      subhanalloh mang ngri sekali,tp ni adllah pljaran pnting bgi kta.

    • sombo 3:03 pm on 5 Oktober 2009 Permalink

      apa benar yang diutarakan diatas saya jadi ngeri

    • chaidar_alif 1:01 am on 10 Oktober 2009 Permalink

      cerita tentang umar bin abdul aziz bagus
      tetapi siapah kah hamba sahaya ituh ?
      dan saya ingin bertaya dari manah anda dapat berita
      bahwa kiamat akan terjadi pada tahun 20012
      sedangkan nabi muhamad ituh tidak pernah mengabarkan hari kiamat
      ituh kapan cooz seandaynya nabi muhammad menceritakan hari
      kiamat umat islam tidak akan berlomba-lomba dalam mengejar ke
      baikan karena dia sudah tau kapan hari kiamat ituh datang
      makanya rasulluwlah tidak memberi tahu hari kiamat ituh kapan
      kepada para sahabatnya
      dan nabi pernah di tanya kepada sahabatnya,kpan hari kiamat ituh
      terjadi. nabi menjawab haya allah yang tahu
      dan kenapah anda menafsirkan seperti ituh “apakah anda sudah
      siap untuk menghadapi hari kiamat”.

    • erva kurniawan 10:10 pm on 10 Oktober 2009 Permalink

      Sebelumnya terima kasih atas kunjungannya
      20012? Anda salah mungkin? mungkin maksudnya 2012
      Di blog saya ada 2 artikel yang menyebutkan tahun 2012 yaitu
      https://ervakurniawan.wordpress.com/2009/06/17/ketika-ilmu-pengetahuan-menemukan-tanda-tanda-kiamat/
      dan
      https://ervakurniawan.wordpress.com/2009/05/26/global-warming-global-vegetarian/

      Tahun 2012 yang pertama adalah kesimpulan dari para ahli akan terjadi bencana besar secara global, dan disampaikan secara eksplisit bahwa itu adalah kiamat.
      Sedangkan tahun 2012 pada tulisan kedua adalah prediksi NASA, menurut perhitungan mereka bahwa es di Antartika hampir semua akan mencair.
      Kalau ditanya darimana saya mendapatkan tulisan tersebut, saya lupa, mungkin dari email teman, tujuan saya menyampaikan agar kita lebih hati-hati, saya sendiri sepaham dengan Anda, tapi apa salahnya kita baca argumen mereka, dan dikembalikan ke diri kita masing-masing untuk menilai.

    • angha 12:55 pm on 27 Oktober 2009 Permalink

      inssaallaah dag tjdi

    • SAVIRA 11:10 pm on 28 Oktober 2009 Permalink

      HRI KIAMAT TUH KAN TERJADI TAPI KITA GK TAU KAN KAPAN HARI KIAMAT ITU TERJADI!?!MAKA NA KITA SEBAGAI UMAT ISLAM HAMBA ALLAH SWT BANYAK KAN LAH IBADAH DAN ISTIGFAR PADA ALLAH..PENCIPTA ALAM SEMESTA INI…
      MERINDING BGT DENGER CERITA ITU SAMA TAKUT JGA NIH,,,YA ALLAH HAMBA MOHON MAAF KAN DOSA QU DAN KELUARGA QU JGN BIAR KAN AQU DAN KELUARGA QU JATUH KE DALAM NERAKA MASUKKAN LAH KAMI KE SUGA MU YA ALLAH AMIN.

    • vera 10:01 am on 2 November 2009 Permalink

      allahhu akbar,ngeri kalo menmbayangkan kiamat tapi apamau dikata kiamat akan terjadi kita sebagai manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa.

    • muslimah 9:24 pm on 8 November 2009 Permalink

      subhanallah …seorang khalifah saja merasa takut.. selama ini aku hanya berpikir kalau kiamat masih lama dengan kesibukan yang ku ributkan, namun sebenarnya kiamat semakin dekat, sebatas jari telunjuk dan jari tengah jika di dekatkan .

    • jhon 3:41 pm on 9 November 2009 Permalink

      Hisab pasti dilakukan dan semua manusia pasti mengalaminya, lalu kira-kira kapolri ama jaksa agung dan jajarannya lolos gak yah…?
      ato bahkan para pemimpin negeri ini bisa menjalankan hobinya berkolusi lagi gak yah di akherat?
      pasti gak bisa, sebab sibuk dg amalnya..

    • bobo rollexx 5:58 pm on 10 November 2009 Permalink

      loe aja semua yg kiamat.isu-isu mu membuat kamu kiamat,,,,,,
      kamu harus tahu bahwa hari kiamat itu tak seorang pun bisa mengetahuinya,bahkan malaikat di surga juga tidak mengetahuinya,,
      maka kita di anjurkan untuk berbuat baik,,.,.,.,.,

    • ghita 5:03 pm on 12 November 2009 Permalink

      allah huakbar
      allah memang maha adil sekeci apapun kebaikan yang kita perbuat pasti akan dia balas dngan berlipat” ganda.dan begitu pula sebaliknya……
      allah huakbar…..
      allah huakbar

    • ngurah indu 1:30 pm on 14 November 2009 Permalink

      keren ya kalau dunia kiamat

    • powt 12:01 pm on 15 November 2009 Permalink

      mkiamat sudah deket

    • H.Abdul Majied Said 8:24 am on 5 Desember 2009 Permalink

      Kisah-kisah yang bermanfaat untuk menambah keimanan dan Ketaqwaan kita

    • tofik hidayat 10:23 pm on 5 Desember 2009 Permalink

      kiamat tuh, memng ad. tapi kita semua tidak tw kpan akn terjadinya kiamat. hanya allah lh yg menntukn kiamat dtng, kita sbgai umt islam yg berimn tdk usah percya bhwa kiamt terjadi pd thn 2012, itu semua hnya takabur atw isu2 sja. jd bnyak2 lh kita brdzikir, memohon ampunan allah s.w.t. sekian dn trimakasi: “wassallam”

    • aan 8:42 pm on 12 Desember 2009 Permalink

      kiamat memang ada kita tidak tahu kapan datangnya kiamat. hanya Allah SWT yang tahu . jadi banyak banyaklah kita mohon ampunan .
      dunia hanya milik Allah SWT . sekian dan terima kasih “wassalam”

    • Devi Octora Gumilar 7:53 pm on 15 Januari 2010 Permalink

      Hidup di dunia hanya sementara,,,,,,,,,,,,,

    • asep sandi 1:24 pm on 11 April 2010 Permalink

      benar apa yang dijelaskan aL-qur’an dan hadist, kaLau nasrani n yahudi itu adaLah pembawa fitnah… fitnah adaLah termasuk dalam segitiga bermuda n bakaL jadi tanda” muncuLnya dajjaL yang menjadi pertanda kiamat…

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: