Tagged: jodoh Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 6:42 pm on 16 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: jodoh,   

    Mencari Jodoh Ideal Lewat DNA 

    cincinNurul Ulfah – detikHealth

    Jakarta, Kini ada terobosan baru mencari pasangan yang cocok dan ideal lewat DNA. Jika DNA antar pasangan pas, maka kehidupan biologisnya pun akan semakin cocok.

    Itu artinya pasangan tersebut akan lebih baik dalam seks, lebih jarang selingkuh dan punya anak yang lebih sehat. Seperti apa DNA yang cocok itu?

    Melalui situs online ScientificMatch.com, setiap orang bisa mendapatkan pasangan dengan genetik DNA yang cocok dengan dirinya. Ide tersebut muncul karena setiap orang ternyata punya kecenderungan tertarik pada orang yang memiliki gen sistem imun (gen HLA) yang berbeda dengan yang mereka miliki. Jadi, pasangan disebut cocok ketika DNA-nya cenderung berbeda, bukan yang hampir sama.

    Para pakar biologis mengatakan bahwa gen HLA sebagai gen sistem imun berfungsi sebagai gen yang mengenali sel-sel asing seperti virus dan serangan lainnya terhadap sel dalam tubuh. Tak hanya itu, gen tersebut juga berfungsi mengenali bau tubuh seseorang. Beberapa studi sebelumnya sudah membuktikan bahwa bau tubuh alami seseorang juga bisa menciptakan daya tarik.

    Dalam sebuah studi, peneliti dari Swiss mengatakan bahwa setiap pasangan yang sudah menikah dan memiliki rumah tangga yang harmonis, ternyata setelah diteliti genetiknya, memiliki kecenderungan gen HLA yang berbeda.

    “Sistem imun mereka ternyata cukup berbeda,” ujar Patrick Markey, profesor psikologi dari Villanova seperti dikutip dari AOL, Sabtu (14/11/2009).

    Meski demikian, tidak bisa dipungkiri juga bahwa faktor lain seperti fisik, kebiasaan dan pemikiran seseorang menjadi faktor yang berpengaruh dalam mencari pasangan hidup.

    “Meski tak sekuat faktor fisik dan psikologis, tapi faktor gen juga ternyata punya pengaruh yang kuat dalam kecocokan pasangan,” ujar Helen Fisher, seorang antropolog dan penulis buku ‘Why Him? Why Her?’.

    Dengan situs online buatannya, Eric Holzle yang juga seorang peneliti yakin bisa menjodohkan pasangan dengan DNA yang ideal. Penggunaan situs ini pun cukup mudah, karena sang programmer Chris Moyer sudah merancangnya sedemikian rupa untuk memudahkan para pengguna.

    “Seseorang yang masuk ke dalam situs akan mendapatkan pesan selamat datang yang berisi ‘skin cells-swab kit’ atau seperangkat media penyeka dan pendeteksi sel-sel kulit. Pengguna lalu diminta untuk melakukan update profil dan foto, lalu akan langsung dihubungkan ke laboratorium untuk dites DNA-nya. Hasilnya pun akan muncul 2 minggu kemudian. Tujuan kami adalah untuk menghasilkan pasangan yang cocok dalam waktu yang sesingkat mungkin,” ujar Moyer.

    Dr. Rocio Moran, direktur dari General Genetics Clinic di Cleveland Clinic mengatakn bahwa ide ini gila, tapi patut dicoba.

    “Saat ini ilmu pengetahuan bisa melakukan segalanya, termasuk mencari pasangan ideal dengan mengetahui genetiknya. Kecocokan biologis bisa jadi menghasilkan pasangan yang lebih sehat dan awet,” ujarnya.

    ***

    Sumber: detikHealth

    Iklan
     
  • erva kurniawan 8:19 pm on 12 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: jodoh, ,   

    Mahar Khas Banjar 

    mahar pernikahanKafemuslimah.com, Iring-iringan wanita memadati jalan kecil menuju rumah tetangga. Di tangan mereka masing-masing membawa bungkusan yang dihias dengan apiknya. Ada deh kira-kira sepuluhan orang. Iring-iringan itu kemudian disambut oleh ibu-ibu pengajian. Rumah tipe 36 itu spontan penuh. Acara mengantar jujuran pun dimulai. Jujuran?

    Jujuran itu tradisi suku Banjar menjelang pernikahan yang dilakukan oleh calon suami dalam memenuhi keinginan calon isteri dan keluarganya. Jujuran berupa uang yang telah disepakati jumlahnya oleh kedua belah pihak di saat lamaran. Disamping itu juga ada yang namanya tikar kelambu. Tikar kelambu ini bukan berarti tikar sama kelambu, tapi hanya sebuah kiasan yang isinya perlengkapan kamar pengantin, seperti lemari pakaian, meja rias, ranjang, kain, sepatu wanita, peralatan make up, bahkan ada yang sampai ke pakaian dalam segala. Tapi semuanya tentu berdasarkan kesanggupan calon suami dan keluarganya, jumlahnya pun sekedarnya saja. Namun apabila permintaan calon isteri dan keluarganya tidak terpenuhi dan tidak ada kesepakatan antara kedua belah pihak, mendingan sang pria mundur saja.

    Jujuran yang dibawa oleh iring-iringan tadi, sebelum diserahkan ke pihak perempuan, melalui beberapa tahapan. Pertama, acara sambutan dan perkenalan dari masing-masing pihak. Dari pihak calon pria melalui juru bicaranya mengungkapkan maksud dan kedatangan mereka datang dan pihak perempuan melalui juru bicaranya menyambut kedatangan tersebut. Kedua, yang pertama kali diserahkan adalah jujuran yang berbentuk uang. Uang tersebut diletakkan disebuah tempat yang sudah disiapkan, didalam tempat uang tersebut terdapat beras kuning, daun pandan, permen, dan uang receh (koin), serta kayu sejenis centong untuk mengaduk. Beberapa orang tetua (orang yang dituakan) dari pihak perempuan, bergantian mengaduk tempat uang tersebut.

    Mengaduk disini bukan berarti mengaduk sungguhan, tetapi hanya simbol saja. Ketiga, apabila ada kesepakatan untuk dihitung, uang tersebut kemudian dihitung didepan umum. Namun hal ini sudah jarang sekali terjadi, kecuali dilakukan oleh orang-orang yang kuat memegang adat. Keempat, menyerahkan cincin, kalau memang ada. Kelima, menyerahkan barang-barang bawaan lainnya. Kemudian ditutup dengan doa.

    **

    Tradisi. Masyarakat kita kebanyakan masih kuat dengan tradisi-tradisi seperti di atas. Tak hanya dari suku Banjar, dari suku lain pun ada tradisi seperti ini. Seperti Betawi dengan hantarannya. Pada intinya proses itu sama, bahkan untuk tradisi suku Jawa mungkin lebih ruwet lagi.

    Andai semua keluarga pihak perempuan memberlakukan tradisi demikian, apakah tidak menghalangi proses menuju pernikahan tersebut? Dari beberapa cerita yang pernah didengar, ternyata banyak para pelamar memilih mengundurkan diri karena tradisi tersebut.

    Padahal dalam hadits disebutkan bahwa:

    “Sesungguhnya wanita yang paling besar berkahnya ialah yang paling bagus wajahnya dan paling sedikit maskawinnya.” (Abu Umar, At-Tauqani dalam kitab mu’asyarah al-ahliin).

    “Sesungguh diantara berkah wanita adalah kemudahan meminangnya, kemudahan maskawinnya dan kemudahan rahimnya.” (Ahmad)

    “Sebaik-baik wanita adalah yang bagus wajahnya dan murah maskawinnya.” (Ibnu Hibban)

    Pernikahan adalah sunnah Rasulullah yang harus segera dilaksanakan apabila tidak ada keraguan di hati keduanya, seperti yang diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi bahwa, “Dan apabila datang kepadamu orang yang kamu rela akan agama dan amanahnya, maka nikahkanlah ia, jika tidak kamu lakukan, maka akan terjadi bencana di bumi dan kerusakan yang besar.”

    Kalau kita lihat di zaman Rasulullah, maharnya Fatimah binti Muhammad SAW adalah baju besinya Ali karromallah wajhah, karena Ali tidak memiliki yang lainnya, lalu ia menjualnya kemudian diberikan kepada Faatimah sebagai mahar. Ada juga wanita shahabiyah yang maharnya hanya berupa cincin besi. Bahkan mahar berupa ayat-ayat Al Qur’an pun ada, yang kemudian diajarkan oleh suaminya.

    Kalau kita bandingkan di zaman kita saat ini, banyak kita saksikan mahar-mahar dan barang-barang yang berharga, bahkan berlebih-lebihan perayaannya, pemborosan. Padahal Islam telah menentang pemborosan dan menjadikan pemboros sebagai saudara syaitan. Sebagaimana firman Allah SWT menyatakan:

    “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (Al-Isra:27).

    “…. dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (Al-Isra:26)

    “…. dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (jangan terlalu kikir dan jangan pula terlalu pemurah) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Al-Isra:29)

    Wahai muslimin dan muslimah, andai kita tahu firman Allah dan sunnah Rasul-Nya, apa yang akan kita lakukan sekarang? Ikut adat dengan alasan keinginan keluarga kah? Atau tetap teguh menjalankan syariat-Nya? Banyak cara menuju ke China, andai keluarga kita orang yang fanatik dengan adat, cukup bijaksana kalau mencoba menyampaikan (mensosialisasikan) keinginan-keinginan kita mulai dari sekarang kepada keluarga. Allah menilai proses, bukan hasil. Berusahalah. Sebelum saatnya tiba, dijemput sang mujahid!

    ***

    Sumber: Kafemuslimah.com

     
    • nisa 10:04 am on 15 Februari 2010 Permalink

      bahasan yang bagus.. untuk memurnikan kembali niat mnikah bagi kaum muda skrg.. afwan, wlpun dulu ana ada hantaran/jujuran jg tp g’ sbrp byaknya.. cuma syarat aja.. coz ngikut keluarga suami, kami dl aja inginnya mnikah sdrhana saja yg penting sah.. tp ttp di adakan walimatul ursy krn keinginan keluarga dan banyaknya teman.

  • erva kurniawan 7:56 pm on 11 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: jodoh,   

    Jika Anak Ingin Menikah 

    nikah erva kurniawan vs titik rahayuningsih 2Oleh: N Inayati Ashriyah (Republika Online)

    Ketika seorang akhwat berkata pada orang tuanya, “Mama, Papa…, Saya akan menikah dengan…”, terkejutkah mereka? Atau, mereka mengucap “Alhamdulillah” seraya kemudian menghujani anaknya dengan pertanyaan-pertanyaan; Siapakah calon suami pilihannya? Baikkah dia? Latar belakang pendidikan dan keluarganya seperti apa? Apakah dia seiman? Dan sederet pertanyaan lainnya yang akan membuat anak gadis mereka kewalahan untuk menjawabnya.

    Di tempat lain, seorang ikhwan mengajukan hal yang sama pada orang tuanya. Dan respon mereka pun tidak jauh berbeda dengan orang tua si akhwat.

    Wajarkah jika orang tua bersikap demikian? Apakah mereka bisa dicap ‘sok ngatur’? Ataukah memang demikianlah tugas orang tua, memastikan anak-anaknya mendapat pasangan yang sesuai dengan tuntunan agama.

    Rasulullah SAW bersabda, “Bila datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka kawinkanlah dia. Karena bila kalian tiada melakukannya, maka akan terjadi fitnah di atas bumi dan kerusakan yang luas.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

    Orang tua mana pun tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa anaknya, termasuk dalam masalah perjodohan. Orang tua pun tidak ingin anaknya menderita kemiskinan atau kesengsaraan setelah anaknya menikah nanti. Maka, tidak sedikit orang tua yang mengajukan syarat bagi calon menantunya, “harus memiliki pekerjaan”, atau “sarjana” bahkan tidak jarang orang tua menginginkan menantunya berstatus “pegawai negeri”. Itu sah-sah saja.

    Yang menjadi masalah, ketika kenyataannya tidak demikian, calon menantu mereka bukan sarjana, bukan pegawai negeri, dan belum memiliki penghasilan yang tetap, maka konflik pun terjadi. Orang tua tetap pada pendiriannya dan si anak pun tetap pada pilihannya.

    Sejauh ini, masalah seperti itu masih kerap kita temukan. Ketika seorang laki-laki atau perempuan dewasa yang telah siap untuk berumah tangga karena dorongan biologis, psikologis, dan yang paling utama adalah niat menikah karena Allah, maka orang tua harus menyadarinya sejak awal agar akhlak mereka tetap terjaga. Jangan sampai karena belum tamat kuliah, orang tua memilih membiarkan anaknya berpacaran dahulu dibanding segera menikahkan mereka.

    “Dan nikahkanlah bujang-bujang kamu dan budak laki-laki dan perempuan yang telah patut menikah. Jika mereka itu miskin, maka nanti Allah berikan kecukupan kepada mereka dengan karunia-Nya. Allah Mahaluas karunia-Nya lagi Mahatahu.” (QS an-Nuur [24]:32).

    Jangan takut anak kita menjadi miskin harta karena Allah akan memberikan kecukupan kepada mereka. Takutlah kalau anak-anak kita miskin agama, miskin akhlak, dan miskin ilmu! Khawatirkan kalau anak kita tidak shalih!

    Jadi, tugas utama orang tua terhadap anaknya adalah membantunya untuk mendapat pasangan yang shalih jika ia tidak mampu mencari sendiri pasangannya. Jika ternyata si anak telah mendapatkannya, maka nikahkanlah mereka!

    Tidak sedikit remaja yang mempunyai kesadaran untuk menjaga agar akhlaknya tetap bersih dan terjaga dari segala macam kemaksiatan akibat berpacaran, hal ini perlu kita syukuri. Namun tidak sedikit pula orang tua yang malah menilai anaknya tidak wajar karena lain dari remaja pada umumnya yang lebih memilih untuk berpacaran dengan bebas. Sedangkan anaknya dinilai ‘gila’ agama. Akhirnya, terjadilah ‘perang’ berkepanjangan antara orang tua dan anak. Selain masalah pekerjaan, sarjana, masalah ‘gila’ agama ini juga menjadi sebuah dilema.

    Ada banyak cara untuk menyelesaikan permasalahan seperti ini agar tidak muncul di kemudian hari. Orang tua harus membiasakan anaknya mandiri dan berusaha dengan lapang melepaskan mereka jika telah baligh untuk membiayai dirinya sendiri. Dengan begitu, jika saatnya tiba untuk menikah, maka si anak sudah terbiasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan orang tua pun tidak menjadi khawatir.

    Biasanya, adanya perselisihan disebabkan oleh perbedaan pemahaman terhadap sesuatu. Seorang anak belum tentu benar dengan segala keyakinannya, demikian pula dengan orang tua. Mereka belum tentu benar dengan segala pengalamannya. Yang dibutuhkan di sini adalah ilmu.

    Orang tua dan anak harus belajar menyelesaikan masalah mereka dengan menggunakan dasar ilmu. Tidak ada kata terlambat, ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat bisa didapat kapan pun, di mana pun, dan dari siapa pun.

    Menjadi seorang bijak dalam menyikapi segala permasalahan hidup memang tidak mudah, termasuk bijak menyikapi keinginan anak untuk segera berumah tangga.

    ***

    Sumber: Republika Online

     
  • erva kurniawan 10:12 am on 6 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , jodoh, , , ,   

    Dua Puluh Satu Kali 

    1910399-2-water-lilyeramuslim – “Dua puluh satu kali, Mbak?” mataku membulat. Takjub. Aku merentangkan kesepuluh jari tangan sambil melihat ke bawah ke arah telapak kaki yang terbungkus sepatu. 21! Bahkan seluruh jemari tangan dan kakiku pun tak cukup buat menghitungnya. “Itu selama berapa tahun, Mbak?” Aku bertanya lebih lanjut.

    “Hhmm, kurang lebih tujuh tahun terakhir!” sambutnya lagi, ringan saja. Tak tampak pada raut wajahnya yang sudah mulai dihiasi kerut halus kesan malu, tertekan taupun stress. Wajah itu damai. Wajah itu tenang. Tak menyembunyikan luka apalagi derita.

    “Mbak… ehmm, maaf, tidak patah arang… sekian kali gagal?” Takut takut aku kembali bertanya dengan nada irih. Khawatir menyinggung perasaannya. Dia hanya kembali tersenyum. Tapi kali ini lebih lebar. Sumringah. Dia mengibaskan tangan, sebagai jawaban bahwa dia tak trauma dengan masalah itu.

    “Kalau sedih, kecewa, terluka… pasti pernah lah ada saat-saat seperti itu. Trauma…. sebenarnya pernah juga. Nyaris putus asa juga pernah. Namun alhamdulillah tidak berlarut-larut.”

    Mata itu berbinar-binar, seakan turut bicara.

    “Justru, kini saya merasa lebih dewasa, lebih matang dengan semua kegagalan itu. Banyak sekali pelajaran yang bsia diambil dari tiap kegagalan itu. Saya menjadi lebih bisa mengerti berbagai karakter manusia. Saya dapat lebih menghayati realitas dan kuasa Allah atas hidup kita. Dan pasti jadi lebih banyak pengalaman… setidaknya pengalaman proses menuju nikah hingga 21 kali..hahaha,” dia tertawa lepas. Renyah. Manis sekali.

    Perempuan itu, kini sudah 30 tahun lewat usianya. Sebuah usia yang tak lagi remaja memang. Sebuah  sia yang sangat wajar dan pantas jika ia resah karena jodoh tak kunjung tiba. Namun ia tak nampak panik atau gelisah. Bisa jadi ia memang pandai menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Namun saya lebih percaya ketenangannya tumbuh karena kematangan dan keimanan.

    Gadis ini dapat dikatakan sederhana. Dengan penampilan sederhana pula. Aktifitasnya pun bersahaja walaupun dulunya dia termasuk aktifis tingkat tinggi. Sehari-hari ia bekerja sebagai staf pengajar di sebuah lembaga pendidikan. Aktifitasnya yang lain adalah mengajar TPA, mengikuti pengajian rutin maupun berbagai pengajian umum yang banyak diselenggarakan oleh berbagai lembaga di berbagai lokasi di Jakarta.

    Selebihnya ia lebih banyak di rumah. Membaca buku dan membantu mengurus pekerjaan rumah tangga karena Ibunya tidak memiliki pembantu. “Proses pertama saya jalani ketika saya baru menyelesaikan kuliah saya. 22 tahun usia saya ketika itu. Waktu itu tentu saja saya tidak sebersahaja sekarang.” Dia mulai bercerita. Saya menunggu.

    “Saya masih ingat sekali. Waktu itu saya mengajukan berbagai kriteria. Saya ingin calon suami yang sarjana, pekerjaan mapan, aktifis dakwah atau minimal memiliki pemahaman agama yang bagus, dari keluarga baik-baik, dan sama-sama orang jawa seperti saya. Sebuah kriteria yang saya rasakan konyol sekarang, namun dulu saya pikir itu wajar. Muslimah mana yang tidak memiliki idealisme seperti itu?”

    Ia melanjutkan ceritanya…

    “Ada beberapa orang yang ditawarkan oleh guru ngaji maupun oleh orang tua. Ada juga yang datang sendiri. Tetapi semua saya tolak. Saya pikir waktu itu saya masih muda. Saya bisa mengisi masa muda saya dengan berbagai aktifitas positif sambil terus menunggu seseorang yang mendekati kriteria yang saya inginkan. Maka saya pun mulai memperbanyak aktifitas. Mengambil banyak kursus, mengikuti bebagai pelatihan dan aktif di beberapa komunitas sosial kemasyarakatan.”

    “Usia saya menjelang 25 tahun ketika saya menemukan seseorang dengan kriteria seperti yang saya inginkan. Awalnya proses kami lancar-lancar saja. Orang tuanya bahkan sudah datang mengkhitbah ke rumah. Bahkan kita sudah akan menentukan tanggal pernikahan. Tapi oleh alasan yang sepele, tiba-tiba orang tuanya membatalkan khitbah. Sungguh saya shock waktu itu. Saya tak habis mengerti, apa yang salah dengan saya, dengan dia dan dengan proses kami?”

    “Cukup lama saya tenggelam dalam kesedihan. Beberapa waktu kemudian sebenarnya banyak lagi yang mengajukan tawaran. Tapi saya selalu membandingkan dengan mantan calon suami saya. Saya menggunakan parameter dia untuk menilai setiap orang yang datang pada saya. Meskipun saya tidak pernah menolak lagi orang-orang yang datang kemudian itu, tapi entah mengapa proses selalu berakhir dengan kegagalan. Saya tak lagi menghitung, itu sudah yang keberapa kali. Akhirnya saya kembali menenggelamkan diri dalam aktifitas sosial dan organisasi. Saya aktif di partai. Dan saya sempat tak lagi memedulikan masalah menikah.”

    “Usia saya sudah lewat dua puluh tujuh. Justru orang-orang lain yang mulai ribut. Orang tua terutama. Kemudian kaum kerabat. Juga teman-teman saya. Merekalah yang kemudian menawarkan dan mencomblangi. Saat itu saya mulai belajar dari pengalaman. Saya tak lagi terlalu idealis. Saya menyerahkan saja kepada para perantara saya itu. Saat mereka meminta biodata, maka saya berikan biodata saya. Saya netral saja. Kalau diterima ya syukur, tidak diterima ya sudah. Dan ternyata nyaris semua tidak diterima. Alasannya macam-macam. Kebanyakan bahkan saya tak sampai ketemu mereka, sudah ditolak duluan. Saya sudah tak menghitung lagi berapa banyak biodata yang saya buat. Rata-rata tidak kembali.”

    “Usia saya sudah lewat dua puluh delapan tahun saat saya menyadari bahwa saya harus mulai proaktif. Saya tak lagi menyerahkan begitu saja pada nasib atau teman-teman. Saya harus mulai mencari sendiri juga. Tentu saja tetap dengan cara-cara yang ahsan.”

    “Pada usia ke-29 saya menemukan seseorang lagi. Dia sholeh. Sederhana. Jauh dari kriteria ideal saya, tapi saya merasa tenteram dengan menerimanya. Proses kami pun sederhana. Semuanya lancar. Tapi…Allah berkehendak lain. Calon saya meninggal dalam sebuah kecelakaan.”

    Sampai disini si Mbak menghentikan ceritanya sejenak. Mengambil napas panjang dan menyusut sudut mata. Aku turut terenyuh mendengarnya. Saat itu baru kulihat kabut selintas menghiasi wajahnya.

    “…Semua sudah berlalu sekarang. Sudah nyaris dua tahun lalu. Saya mencoba bangkit lagi. Setahun terakhir, lima proses saya jalani. Menambah 16 proses sebelumnya yang tak semuanya saya ingat lagi. Lima proses itu saya jalani dengan lebih pasrah. Lebih lapang dada. Saya menghargai mereka masing-masing. Saya tidak membanding-bandingkan. Saya tak lagi menggebu, tak lagi sangat idealis…. tapi juga tak membuat saya membabi buta, menerima siapa saja seperti membeli kucing dalam karung.”

    “Satu orang gagal sebelum biodata saya sampai kepadanya. Dia sudah lebih dulu menerima orang lain. Orang kedua, pemuda yang biasa-biasa saja, tak mau menerima syarat saya untuk belajar ngaji pada teman saya sesama laki-laki. Dia memaksa belajar pada saya dan mendesak agar saya jadi pacarnya dulu. Orang ketiga, menolak karena orang tuanya tidak mau menerima orang yang tidak sesuku dan dia ingin menuruti kehendak orang tuanya. Orang keempat, teman saya sendiri, mengatakan kalau dia belum siap meski tidak menolak. Orang kelima berubah pikiran di tengah proses. Tadinya dia tidak mempermasalahkan usia saya yang lebih tua, tetapi kemudian dia mengatakan kepada perantara saya ingin mencari yang usianya lebih muda.”

    “Pengalaman-pengalaman yang saya jalani selama ini telah memberi banyak sekali pelajaran dalam hidup saya. Satu, bahwa hidup tak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Dua, bahwa pengalaman adalah benar-benar guru yang sangat berharga. Tiga, bahwa setiap orang benar-benar memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dan mereka semua layak untuk mendapat penghargaan sebagai seorang manusia. Empat, jika saya tak dapat memperoleh apa yang saya cintai, maka lebih baik saya mencintai apa yang saya telah saya peroleh dan memiliki. Lima, dan banyak lagi. Intinya, jika memang bukan jodoh, bahkan hal-hal kecil pun dapat menjadi penghalang dan penyebab gagalnya perjodohan.”

    “Kini saya merasa lebih pasrah dan arif menyikapi hidup. Tak ada yang salah, tak ada yang ribet. Hanya waktu yang belum tiba pada masanya. Hanya puzzle yang belum menemukan pasangannya. Semua masih biasa saja.”

    Si Mbak mengakhiri ceritanya. Tersenyum tulus kepadaku. Aku menyambutnya. Dan kami tenggelam dalam dekap haru. Pelukan persaudaraan.

    ***

    Oleh: Azimah Rahayu.

     
    • annisa 10:21 am on 8 Februari 2010 Permalink

      pengalaman hidup yang bisa dijadikan contoh bagi akhwat2 dlm mencari jodoh/pasangan hidup, agar tidak terlalu idealis.
      semoga Allah segera memberikan jodoh yg terbaik atw kebahagiaan lain dari orang2 di sekitarnya u/ mbak diatas, amiin..

    • ummy 11:42 am on 19 Februari 2010 Permalink

      Asw waw subhanallah, critanya sangat bagus untuk dijadikan rujukan, jujur saya juga sedang menanti jodoh, ada seseorang yang saya simpatik karena agamanya bagus, namun semua sya serahkan sama Allah Sang Pemilik Hati dan Pemilik nafas kita serta Pemilik Alam semesta ini.

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: