Tagged: jenazah Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 4:17 pm on 25 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: , jenazah   

    Permasalahan Adzab Kubur 

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Pertanyaan :

    Apakah adzab kubur itu menimpa jasad ataukah menimpa ruh?

    Jawab :

    Pada dasarnya adzab kubur itu akan menimpa ruh, karena hukuman setelah mati adalah bagi ruh. Sedangkan badannya adalah sekedar bangkai yang rapuh. Oleh karena itu badan tidak memerlukan lagi bahan makanan untuk keberlangsungannya; tidak butuh makan dan minum, bahkan justru dimakan oleh tanah.

    Akan tetapi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah berkata bahwa ruh kadang masih bersambung dengan jasad sehingga diadzab atau diberi nikmat bersama-sama. Adapula pendapat lain di kalangan Ahlus Sunnah bahwa adzab atau nikmat di alam kubur itu akan menimpa jasad, bukan ruh.

    Pendapat ini beralasan dengan bukti empiris. Pernah dibongkar sebagian kuburan dan terlihat ternyata bekas siksa yang menimpa jasad. Dan pernah juga dibongkar kuburan yang lain ternyata terlihat bekas nikmat yang diterima oleh jasad itu.

    Ada sebagian orang yang bercerita kepadaku bahwa di daerah Unaizah ini ada penggalian untuk membuat benteng batas wilayah negeri. Sebagian dari daerah yang digali itu ada yang bertepatan dengan kuburan. Akhirnya terbukalah suatu liang lahat dan di dalamnya masih terdapat mayat yang kafannya telah dimakan tanah, sedangkan jasadnya masih utuh dan kering belum dimakan apa-apa. Bahkan mereka mengatakan melihat jenggotnya, dan dari mayat itu terhambur bau harum seperti minyak misk.

    Para pekerja galian itu kemudian menghentikan pekerjaannya sejenak dan kemudian pergi kepada seorang Syaikh untuk mengutarakan persoalan yang terjadi. Syaikh tersebut berkata, “Biarkan dalam posisi sebagaimana adanya. Hindarilah ia dan galilah dari sebelah kanan atau sebelah kiri!”.

    Beralasan dari kejadian-kejadian seperti ini, ulama menyatakan bahwa ruh terkadang bersambung dengan jasad, sehingga siksa itu menimpa ruh dan jasad. Barangkali ini pula yang diisyaratkan oleh sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya kubur itu akan menghimpit orang kafir sehingga remuk tulang-tulang rusuknya”. Ini menunjukkan bahwa siksa itu menimpa jasad, karena tulang rusuk itu terdapat pada jasad. Wallahu A’lam.

    **

    Pertanyaan :

    Apakah adzab kubur menimpa orang mukmin yang bermaksiat ataukah hanya menimpa orang kafir ?

    Jawab :

    Adzab kubur yang terus menerus akan menimpa orang munafik dan orang kafir. Sedangkan orang mukmin yang bermaksiat bisa juga disiksa di kubur. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim disebutkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa pernah suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melewati dua kuburan seraya bersabda : “Kedua penghuni kuburan itu diadzab dan keduanya bukannya diadzab lantaran dosa besar. Salah satunya diadzab karena tidak bertabir dari kencing, sedangkan yang satunya suka kesana-kemari mengumbar fitnah (mengumpat)”. Kedua penghuni kubur itu jelas orang muslim.

    **

    Pertanyaan :

    Apakah adzab kubur itu terus menerus ataukah tidak ?

    Jawab :

    Jika seseorang itu kafir –na’udzu billah– maka tidak ada jalan baginya untuk meraih kenikmatan selama-lamanya, sehingga siksa kubur yang ia terima itu sifatnya terus menerus.

    Namun orang mukmin yang bermaksiat, maka di kuburnya ia akan diadzab sesuai dengan dosa-dosa yang dahulu pernah ia perbuat. Boleh jadi adzab yang menimpa lantaran dosanya itu hanya sedikit sehingga tidak memerlukan waktu penyiksaan sepanjang ia berada di alam barzah antara kematiannya sehingga bangkitnya kiamat. Dengan demikian, jelas bahwa adzab yang menimpanya itu terputus, dan bukan selamanya.

    **

    Pertanyaan :

    Apakah adzab kubur itu bisa diringankan atas orang mukmin yang bermaksiat?

    Jawab :

    Memang benar bahwa adzab kubur itu bisa diringankan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melalui dua kuburan lantas berkata, “Kedua penghuni kubur itu di adzab, dan dia diadzab bukan karena dosa besar, tapi hakekatnya juga besar. Salah satunya tidak membersihkan diri atau tidak bertabir dari kencing, sedangkan yang satunya lagi biasa kian kemari menghambur fitnah”. Kemudian beliau mengambil dua pelepah kurma yang masih basah kemudian membelahnya menjadi dua, lalu menancapkannya pada masing-masing kuburan itu seraya bersabda, “Semoga bisa meringankan adzab yang menimpa kedua orang itu selama pelepah itu belum kering”.

    Ini merupakan satu dalil bahwa adzab kubur itu bisa diringankan, yang menjadi pertanyaan, apa kaifiatnya antara dua pelepah kurma itu dengan diringankannya adzab atas kedua penghuni kubur itu?

    Ada yang memberikan alasan bahwa karena kedua pelepah kurma itu selalu bertasbih selama belum kering, dan tasbih itu bisa meringankan siksaan yang menimpa mayit. Berpijak dari sini ada yang mengambil alasan akan sunnahnya berziarah kubur dan bertasbih di situ untuk meringankan adzab yang menimpa si mayit.

    Sedangkan ulama lain menyatakan bahwa alasan seperti ini lemah, karena kedua pelepah kurma itu senantiasa bertasbih, apakah dalam kondisi basah maupun sudah kering. Allah Ta’ala berfirman, “Artinya : Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka”. (Al-Isra’ : 44)

    Pernah juga terdengar tasbihnya kerikil oleh Rasulullah, sedangkan kerikil itu kering. Lalu, apa yang menjadi alasan sekarang? Alasannya, bahwa; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharap kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar berkenan meringankan adzab yang menimpa kedua orang di atas selama kedua pelepah kurma itu masih basah.

    Artinya, waktu permohonan beliau itu tidak lama, hanya sebatas basahnya pelepah kurma. Ini dimaksudkan sebagai ancaman terhadap siapa saja yang melakukan perbuatan seperti kedua mayit yang diadzab itu.

    Karena sebenarnya dosa yang diperbuat itu termasuk besar. Salah satunya tidak menjaga diri dari kencing. Jika demikian, ia melakukan shalat tanpa adanya kesucian dari najis. Sedangkan yang satunya lagi kian kemari mengumbar fitnah, merusak hubungan baik sesama hamba Allah –na’udzu billah–, serta menghembuskan permusuhan dan kebencian di antara mereka. Dengan demikian perbuatan yang dilakukan itu berdampak besar.

    Inilah alasan yang lebih mendekati. Jadi, itu merupakan syafaat sementara dari beliau dan sebagai peringatan atau ancaman kepada umatnya, dan bukan merupakan kebakhilan beliau untuk memberikan syafaat yang kekal.

    ***

    Wallahu Alam

    Sumber: Email dari Sahabat

    Iklan
     
  • erva kurniawan 11:35 am on 9 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: jenazah,   

    Allaahumma Hawwin ‘Alainaa Fii Sakaraatil Maut 

    jenazah (1)“Tiap – tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan”. QS.Al-Ankabut (29):57.

    “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”. QS. Az-Zumar (39):30.

    “Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang dhalim”. QS. Al-Jum’ah (62):7.

    “Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. QS. Al-Jum’ah (62): 8.

    **

    Bila kita berbicara tentang kematian sering kali kita dicela oleh orang orang yang merasa tidak nyaman mendengarkan cerita tentang kematian itu, mereka pada umumnya menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia saja, dan pada umumnya seseorang tidak ingin memikirkan peristiwa tentang kematian dirinya, padahal tidak ada satu makhlukpun yang dapat menjamin bahwa seseorang akan tetap hidup dalam satu, dua jam kedepan, dan atau hari hari berikutnya.

    Betapa hebatnya bila kita setiap hari, manakala kita menyaksikan kematian orang lain yang ada disekitar kita, kita juga memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya, dan betapa hebat dan baiknya bila kita sadar dan menyadari bahwa kematian itu juga sedang mengintai dan menunggu kita, dan betapa habat yang amat luarbiasa bila kita menyadari bahwa dari detik ke detik, dari menit kemenit dari waktu kewaktu dan dari hari kehari yang kita lalui selama ini justru semakin mendekatkan diri kita dari kematian, sebagaimana juga yang berlaku bagi orang orang yang ada disekeliling kita baik yang kita saksikan kita dengar dari mulut kemulut ihwal berita duka tersebut, atau dari berbagai mass media, keistimewaan yang telah menggiringnya untuk menyiapkan berbagai bekal, seperti amal shaleh, patuh dan taat pada perintah Allah yang telah ditetapkan bagi dirinya sebagai seorang hamba yang lemah, juga dengan ikhlas tabah dan sabar manakala mendapat musibah dengan berpasarah diri kepada Nya, juga sekuat tenaga berusaha untuk menjauhi segala larangan larangan dari sang Maha Pencipta dan sang Maha memelihara dirinya, dan sekuat tenaga mempertahankan serta tidak menyekutukan Allah SWT dengan apapun, sebagai bekal yang dapat dibawa manakala maut telah menjemputnya.

    Akan tetapi justru sebaliknya pada umumnya masyarakat kita sangat sulit dan sangat takut bila mendengar tentang kematian bahkan cenderung mereka mengalihkan perhatian serta berusaha untuk menghindar dari kematian, sebagaimana yang telah Allah SWT informasikan pada kita dalam QS. Al-Jum’ah (62) ayat 7 yang artinya tercantum diatas, dengan berbagai cara mereka mengalihkan dan berusaha untuk menghindari kematian, seseorang biasanya menghindari kematian dengan menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang dengan kematian, mereka berpikir tentang di mana mereka akan mengadakan pertemuan, dimana mereka akan melanjutkan pendidikan atau kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, pakaian apa yang akan mereka gunakan untuk menghadiri undangan acara yang telah disiapkan, apa yang akan dimasak untuk makan nanti, serta masih banyak contoh lain, yang mereka anggap dapat mengalihkan dan menghidari dari kematian, hal-hal ini merupakan persoalan – persoalan penting yang sering kita pikirkan selama ini, karena kehidupan yang kita jalani selama ini kita artikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari – hari.

    Kita sadari atau tidak, kita persiapkan atau tidak, kematian merupakan hal yang pasti, dan kita semua pasti tidak akan dapat menghindari, serta melarikan diri dari kematian, sesuai firman Allah dalam QS. Al-Jum’ah (62) ayat 8 yang artinya tercantum tersebut diatas, tanpa terkecuali, kita semua pasti mati, kita semua baik yang saat ini masih hidup, maupun yang akan hidup, pasti akan menghadapi kematian yang selama ini kita hindari kehadirannya, pada hari yang telah Allah tentukan, namun justru masyarakat kita pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan dan kebetulan saja, maka manakala kita menghadapi kematian, hampir dipastikan kita tidak siap serta tidak memiliki kesiapan apapun.

    Wahai saudaraku betapa indahnya, bila kematian yang telah menanti saatnya tiba untuk kita semua telah hadir menjemput kita sesuai ketetapan yang telah Allah tetapkan pada semua hambanya, sebagai hamba Allah yang beriman, Dan Allah SWT mengabulkan do’a yang telah kita panjatkan setiap saat, dengan ungkapn “ALLAHUMMA HAWWIN ALAINAA FII SAKARAATIL MAUUT” serta diakhir kata tidak terucap kata kata lain selain ucapan yang sangat indah yakni dengan ucapan “LAAILLAHAILLALLOHU MUHAMMADARASULULLOH”, dari saat kita menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, kita semua sudah tidak ada apa-apanya lagi selain hanya “seonggok daging dan tulang”, tubuh kita yang diam dan terbujur kaku akan segera dimandikan untuk yang terakhir kalinya, dan tubuh kita yang sudah menjadi mayat dibungkus kain kafan, jenazah kita yang sudah dishalati akan segera dibawa ke kuburan dalam keranda, dan sesudah jenazah kita dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi seluruh badan kita, inilah kesudahan cerita hidup kita, dan mulai saat itu kita hanyalah seorang yang namanya terukir pada batu nisan diatas kuburan.

    Wahai saudaraku mumpung saat ini kita masih dapat membaca, masih dapat mengedipkan mata, masih dapat menggerakkan semua anggota badan, kita masih dapat berbicara, kita masih dapat tertawa, kita juga masih dapat beraktifitas sebagaimana biasa,  semua ini merupakan fungsi tubuh karena kita masih hidup, hari ini kita yang melihat dan menonton tayangan TV tentang kematian saudara saudara kita, bisa jadi suatu saat nanti saudara saudara kita dibelahan bumi lain yang menonton jenazah jenazah kita yang ditayangkan oleh berbagai mass media, dan mari kita renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh kita setelah kita mati nanti, apakah kita dapat mengucapkan dua kalimah syahadat diakhir hayat kita, apakah ketika kita menemui ajal dalam keadaan taqwa atau justru sebaliknya, marilah kita segera bertaubat, agar setiap saat bila ajal menjemput kita, kita telah siap dengan sebenar benarnya berdasarkan dan sesuai tuntunan Nabi kita Nabi Muhammad SAW, serta kita semua mendapat ampunan serta keringanan juga mati dalam keadaan husnul khotimah dan bukan suul khotimah

    Allaahumma innaa nas aluka Salaamatan Fiddiin Wa ‘Aafiyatan Fil Jasadi Wa Ziyaadatan Fil ‘Ilmi Wa Barakatan Fir Rizqi Wa Taubatan Qablal Maut Wa Rahmatan Indal Maut Wa Maghfiratam Ba’dal Maut Allaahumma Hawwin ‘Alainaa Fii Sakaraatil Maut Wan Najaata Minnannar Wal ‘Afwa Indal Hisab Rabbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idzhadaitanaa Wa Hab Lanaa Milladunka Rahmatan Innaka Antal Wahhaab.

    Semoga bermanfaat, dan terimakasih

    ***

    Oleh: Mujiarto Karuk

     
    • Suzanna 4:58 pm on 17 Desember 2010 Permalink

      Carilah duniamu seolah-olah engkau akan hidup selama-lamanya dan carilah akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok pagi” (Hadis Riwayat Ibnu Asahin)

  • erva kurniawan 1:14 pm on 26 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: bacaan sholat gaib, bacaan sholat jenazah, jenazah, rukun sholat gaib, rukun sholat jenazah, sholat gaib, sholat jenazah, syarat sholat gaib, syarat sholat jenazah   

    Rukun Sholat Jenazah dan Sholat Gaib 

    sholat-jenazah-1SHALAT JENAZAH (FARDU KIFAYAH).

    Syarat-syaratnya :

    1. a. Jenazah sudah dimandikan dan dikafani
    2. b. Letak jenazah sebelah kiblat didepan yang menshalati.
    3. c. Suci dari hadas dan najis baik badan, pakaian dan tempat.

    Rukun dan cara mengerjakannya.

    Shalat jenazah tanpa ruku dan sujud juga tanpa iqamah.

    a. Niat

    Lafal niat untuk jenazah laki-laki sebagai berikut :

    “Ushalli ‘alaa haadzal mayyiti arba’a takbiraatin fardlal kifaayati (ma’mumam/imamam) lillahi ta’alaa.”

    Artinya : “aku niat shalat atas mayat ini empat takbir fardu kifayah (makmum/imam) karena Allah”

    Lafal niat untuk jenazah perempuan sebagai berikut :

    “Ushalli ‘alaa haadzihil mayyiti arba’a takbiraatin fardlal kifaayati (ma’mumam/imamam) lillahi ta’alaa.”

    Artinya : “aku niat shalat atas mayat ini empat takbir fardu kifayah (makmum/imam) karena Allah”

     

    b. Setelah niat, dilanjutkan takbiratul ihram : Allahu Akbar , setelah itu membaca surat Fatihah, kemudian disambung dengan takbiratul ihram kedua : Allahu Akbar.

     

    c. Setelah takbir kedua membaca shalawat atas nabi Muhammad saw. Minimal:

    “Allahumma Shalli ‘alaa Muhammadin” artinya : “Yaa Allah berilah salawat atas nabi Muhammad”

     

    d. Kemudian takbir ketiga disambung dengan do’a minimal sebagai berikut :

    “Allahhummaghfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu anhu”

    Artinya : “Yaa Allah ampunilah dia, berilah rahmat, kesejahteraan dan ma’afkanlah dia”

    Apabila jenazah yang dishalati itu perempuan, maka bacaan Lahuu diganti dengan Lahaa. Jika mayatnya banyak maka bacaan Lahuu diganti dengan Lahum.

     

    e. Setelah itu takbir ke empat, disambung dengan do’a minimal :

    “Allahumma la tahrimnaa ajrahu walaa taftinna ba’dahu waghfirlanaa walahu.”

    Artinya : “Yaa Allah, janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepadanya atau janganlah Engkau meluputkan kami akan pahalanya, dan janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggalnya, serta ampunilah kami dan dia.”

     

    f. Salam

     

    SHALAT GHAIB (FARDU KIFAYAH).

    Yaitu shalat jenazah tetapi tidak dihadapan jenazah (jenazahnya berada ditempat lain atau sudah dimakamkan). Niatnya :

    “Ushalli ‘alaa mayyiti (Fulanin) al ghaaibi arba’a takbiraatin fardlal kifaayati lillahi ta’alaa”

    Artinya : “aku niat shalat gaib atas mayat (fulanin) empat takbir fardu kifayah (makmum/imam) karena Allah”

    Fulanin  diganti dengan nama mayat yang dishalati.

    Syarat, rukun dan tatacara shalat ghaib sama dengan shalat jenazah

     

    ***

    Dari berbagai sumber

     
    • Rangga 6:30 am on 6 Januari 2009 Permalink

      kalo misalnya kita sholat ghaib untuk saudara2 kita di palestina (lebih dari satu dan untuk jenazah laki-laki dan wanita)pake fulan atau fulanin??

    • ervakurniawan 8:38 am on 6 Januari 2009 Permalink

      kalau menurut saya niat bisa dalam bahasa apa saja yang penting dalam hati kita niat sholat gaib untuk saudara2 kita di palestina, kalau dalam tulisan diatas masalah fulan atau fulanin itu diganti nama mayat, posisi kita kan tidak tahu nama2 tsb. cuma nanti setelah takbir ke 3 (tiga)bacaan adalah “Allahhummaghfir lahum warhamhum wa’aafihi wa’fu anhum”

    • sujarwanto 8:11 pm on 12 Juli 2009 Permalink

      Ass.Wtr.Wb. Apakah sholat gaib itu boleh dilakukan dengan sendirian atau didalam kendaraan ? trimaksih atas penjelasannya… Wass.wr.wb.

    • man farid jember 12:41 pm on 27 September 2009 Permalink

      saya sering mendengar petunjuk para kiai bervariasi tentang posisi imamnya, kanan/kiri kepala atau bahkan ada yg bilang kalau laki2 spy dibalik, kepala jenazahnya membujur keselatan/kebalikan dengan jenazah perempuan,mana yg benarn ya? trims, minal aidin walfaidin

    • YEKTI 4:31 pm on 14 November 2009 Permalink

      e. Setelah itu takbir ke empat, disambung dengan do’a minimal :

      “Allahumma la tahrimnaa ajrahu walaa taftinna da’dahu waghfirlanaa walahu.”

      Artinya : “Yaa Allah, janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepadanya atau janganlah Engkau meluputkan kami akan pahalanya, dan janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggalnya, serta ampunilah kami dan dia.”

      YAKIN NGGAK ADA YG SALAH TULIS NIATNYA?

    • yazid 9:31 pm on 30 Desember 2009 Permalink

      assalualaik ya akhi..

      mohon bantuannya ya akhi,
      untuk doa setelah takbir ke empat mungkin ada sedikit kekeliruan dalam penulisannya, mohon dicek kembali( mungkin bisa di benarkan)

      “Allahumma la tahrimnaa ajrahu walaa taftinna BA’DAHU waghfirlanaa walahu.”

      dan kalau bisa mungkin juga ditambahkan tulisan arabnya biar lebih afdhol.

      Akhirul kalam
      Ya allah sholawat serta salam kami haturkan kepasa junjungan kami nabi besar muhammad SAW serta sahabat2-nya.Ya allah maafkan atas segala dosa2 yang telah aku perbuat, tunjukkan jalan yang lurusmu kepada kami, dan berikan lah petunjuk pada pemimpin2 kami, jauhkan kami dari segala fitnah dan jadikanlah kami orang2 yang selalu selalu merindukanmu ya allah.

    • nur alia kirana 7:06 pm on 14 Februari 2010 Permalink

      gambar nya jangan serem serem ya….

    • pencheng 6:19 am on 19 Maret 2010 Permalink

      okey tq

    • heru 12:29 pm on 5 April 2010 Permalink

      wah… mantap neh blog..!

      kalo ada waktu mampir ya ke blog ane…

      http://www.pecintasayyidinamuhammad.blogspot.com

    • azami 11:37 am on 21 Desember 2010 Permalink

      assalamualaikum…
      akhi, kalau takbir pertama stlah bca fatikhah langsng disambung shalawat dan doa. trus takbir ke 2 smp slesai ga bca ap2 boleh gag??

    • Luqman Ar-Raahman Al-Shaleh 1:25 pm on 12 Januari 2011 Permalink

      Assalamu’alaikum…
      Terimakasih atas tulisannya,,,
      Tulisan yang anda buat sangat bermanfaat dan sangat berbobot…

      Kunjungi blog saya http://abdurrahmanshaleh.wordpress.com/
      kasih komentar dan saran untuk blog saya..
      Terimakasih,,,

    • shanthow 8:22 am on 5 Februari 2011 Permalink

      assalamu alaikum….
      Artikelnya mantap bgt…salam kenal….(pelaut2 kesepian).

    • bayu 8:41 pm on 1 Maret 2011 Permalink

      artikelnya sangat bagus mantap banged

    • lilip 9:19 pm on 25 April 2011 Permalink

      alhamdulillah… akhir nya saya tahu rukun shalat jenazah….. terimakasih

    • itha 7:06 pm on 30 Mei 2011 Permalink

      Akhirnya aku mngrti jga mngenai shlat jenazah!!
      maksih dgn materinya yach,,

    • rapid 10:29 am on 26 Oktober 2011 Permalink

      perbanyak artikel tentang agama…

    • maulanagempa 10:39 am on 8 Januari 2012 Permalink

      terima kasih atas artikelnya. saya merasa bermanfaat

    • pemburu berkah 12:52 pm on 4 Februari 2012 Permalink

      makasih atas artikel nya kana bisa membuat lulur ujian

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: