Tagged: cerita Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 6:48 pm on 18 March 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita, , , , , kisah mimpi, , , , mimpi neraka   

    Karena Mimpi Melihat Neraka 

    mimpiPada zaman Rasulullah SAW jika para sahabat yang mulia bermimpi, biasanya mereka akan mengadukan dan menceritakannya kepada Baginda Rasul. Suatu malam, seorang sahabat nabi yang masih remaja bernama Abdullah bin Umar ra., pergi ke Masjid Nabawi. Dia membaca Al-Quran sampai kelelahan. Setelah cukup lama membaca Al-Quran, dia hendak tidur.

    Seperti biasa, sebelum tidur dia menyucikan diri dengan cara berwudhu, baru kemudian merebahkan badan dan berdoa, “Bismika Allahumma ayha wa bismika amutu; ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati.”

    Demikianlah, Baginda Rasul menuntunnya cara tidur yang baik. Sehingga, dalam tidur pun, malaikat masih mencatatnya sebagai orang yang tidak lalai. Dengan menyucikan diri, ruh orang yang tidur akan mendapatkan hikmah dan siraman doa para malaikat.

    Sambil pelan-pelan memejamkan mata, Abdullah bin Umar terus bertasbih menyebut nama Allah hingga akhirnya terlelap. Di dalam tidurnya yang nyenyak, dia bermimpi.

    Dalam mimpinya, dia berjumpa dengan dua malaikat. Tanpa berkata apa apa, dua malaikat itu memegang kedua tangannya dan membawanya ke neraka. Dalam mimpinya, neraka itu bagai sumur yang menyalakan api berkobar kobar. Luar biasa panasnya. Di dalam neraka itu, dia melihat orang-orang yang telah dikenalnya. Mereka terpanggang dan menanggung siksa yang tiada tara pedihnya.

    Menyaksikan neraka yang mengerikan dan menakutkan itu, Abdullah bin Umar seketika berdoa, “A’udzubillahi minannaar. Aku berlindung kepada Allah dari api neraka.”

    Setelah itu, Abdullah bertemu dengan malaikat lain. Malaikat itu berkata, “Kau belum terjaga dari api neraka!”

    Pagi harinya, Abdullah bin Umar menangis mengingat mimpi yang dialaminya. Lalu, dia pergi ke rumah Hafshah binti Umar, istri Rasulullah SAW. Dia menceritakan perihal mimpinya itu dengan hati yang cemas.

    Setelah itu, Hafsah menemui Baginda Nabi dan menceritakan mimpi saudara kandungnya itu pada beliau. Seketika itu, beliau bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah bin Umar kalau dia mau melakukan shalat malam!”

    Mendengar sabda Nabi itu, Hafshah bergembira. Dia langsung menemui adiknya, Abdullah bin Umar dan berkata,

     “Nabi mengatakan bahwa kau adalah sebaik-baik lelaki jika kau mau shalat malam. Dalam mimpimu itu, malaikat yang terakhir kau temui mengatakan bahwa kau belum terjaga dari api neraka. Itu karena kau tidak melakukan shalat tahajud. Jika kau ingin terselamatkan dari api neraka, dirikanlah salat tahajud setiap malam. Jangan kau sia-siakan waktu sepertiga malam; waktu di mana Allah SWT memanggil-manggil hamba-Nya; waktu ketika Allah mendengar doa hamba-Nya.”

    Sejak itu, Abdullah bin Umar tidak pernah meninggalkan shalat tahajud sampai akhir hayatnya. Bahkan, kerap kali dia menghabiskan waktu malamnya untuk shalat dan menangis di hadapan Allah SWT. Setiap kali mengingat mimpinya itu, dia menangis. Dia berdoa kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka.

    Apalagi jika dia juga ingat sabda baginda Nabi SAW, “Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat adalah seseorang yang diletakkan pada kedua tepak kakinya bara api yang membuat otaknya mendidih. Dia merasa tidak ada orang lain yang lebih berat siksanya daripada dia. Padahal, sesungguhnya siksa yang ia terima adalah yang paling ringan di dalam neraka.“

    Dia berusaha sekuat tenaga untuk beribadah kepada Allah, mencari ridha Allah, agar termasuk hamba hamba-Nya yang terhindar dari siksa neraka dan memperoleh kemenangan surga.

    Akhirnya, dia bisa merasakan betapa nikmatnya shalat tahajud. Betapa agung keutamaan shalat tahajud. Tidak ada yang lebih indah dari saat-saat ia sujud dan menangis kepada Allah pada malam hari.

    ***

    “Ketika Cinta Berbuah Surga” Habiburrahman El Shirazy

    Iklan
     
  • erva kurniawan 7:52 am on 15 March 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita, , , , , , ,   

    Raja Sehari 

    berdoaPernah hidup seorang Raja tua yang sangat bijaksana, memerintah sebuah negeri yang aman tenteram dan makmur sentosa. Suatu malam, Raja tua dan pembantunya berkeliling kota dan menemukan sebuah gubug yang kumuh.

    Raja tua mengendap mendekati gubug itu dan mencuri dengar. Rupanya gubug itu dihuni oleh seorang janda miskin beranak satu. Sang anak menangis kelaparan,sementara sang Ibu sibuk menghibur si anak. “Sabarlah nak. Ibu akan menghadap Raja besok. Ibu dengar dia Raja yang murah hati. Dia pasti akan memberikan makanan bagi kita”.

    Raja tua terenyuh hatinya dan memanggil sang pembantu, “Jika mereka sudah tidur, ambil anaknya dan letakkan di tempat tidurku. Besok, aku ingin dia menjadi Raja selama satu hari. Sehingga saat Ibunya datang menghadap, dia bisa memberikan sebanyak apapun harta kekayaan istanaku kepada ibunya.”

    Si anak bangun tidur di kamar Raja yang mewah. Para pelayan istana memberikan penghormatan kepada si anak, selayaknya seorang Raja. Mereka melayani dia dari keperluan mandi hingga sarapan. Dari pagi hingga siang, si anak bermain-main dengan para Pangeran dan Putri istana. Semuanya menghormati dia selayaknya seorang Raja. Si anak mulai berpikir bahwa dia akan seterusnya tinggal di istana sebagai seorang Raja. Dia mulai menikmati segala kemewahan disekelilingnya.

    Tiba saatnya Raja duduk di ruang sidang, memutuskan masalah rakyat. Disamping singgasana Raja, duduk Penasihat Agung Kerajaan, yang tiada lain adalah Raja tua yang asli. Satu demi satu Raja memutuskan urusan rakyat dengan bijaksana, atas saran bijak Penasihat Agung. Hingga tiba giliran sang Ibu yang miskin untuk menghadap. Malu, sang Ibu hanya tertunduk, tidak berani memandang Raja. Tapi Raja dapat mengenali Ibunya. Usai mendengarkan penuturan ibunya, Raja memerintahkan untuk memberikan dua karung gandum dan sepuluh keping uang emas kepada ibunya. Penasihat Agung dan pembesar lainnya terkejut.

    “Yang Mulia,” tegur Penasihat Agung. “Kekayaan istana ini sungguh tidak terbatas. Kita bisa memberikan lebih banyak lagi.”

    “Yang Mulia,” Menteri Pangan bangkit dari kursinya. “Menurut perhitungan hamba, jika Tuanku menyerahkan 1000 lumbung padi sekalipun, negara masih memiliki kelimpahan yang tidak terbatas. Saran hamba, berikanlah lebih dari itu.”

    “Tuanku,” Bendahara Negeri ikut menimpali. “Menurut hitungan hamba, jika Tuanku mengeluarkan seluruh persediaan emas negara untuk Ibu ini, negara masih tetap kaya karena bulan depan kita akan memperoleh pendapatan emas dua kali lipat dari hari ini. Saran hamba, berikanlah lebih dari itu.”

    Demikianlah, Penasihat Agung dan satu demi satu pembesar kerajaan mencoba membujuk Raja untuk memberikan lebih kepada Ibunya. Tetapi Raja tidak perduli. Dia bahkan marah dengan usulan-usulan yang dianggap mempertanyakan otoritasnya itu. Sang Ibu yang miskin akhirnya pulang dengan dua karung gandum dan sepuluh keping uang emas.

    Ketika matahari tenggelam, si anak tertidur kelelahan. Raja tua berkata kepada pembantunya, “Aku telah menggenapi janjiku untuknya. Kembalikan lagi dia ke rumah Ibunya.” Sang anak terbangun kembali di gubugnya. Dia pikir dia baru bermimpi. Namun dia terkejut mendengar cerita Ibunya. Si anak segera menyadari kesalahannya, dan berlari ke istana menemui Raja tua.

    “Yang Mulia, ampuni hamba. Hamba kini menyadari maksud Baginda. Hamba mohon, kembalikan hamba menjadi Raja, agar hamba bisa memberikan lebih kepada Ibu hamba.”

    “Tidak bisa,” kata Raja.

    “Satu menit saja, Yang Mulia. Sekedar memerintahkan untuk memberikan lebih kepada ibunda hamba.”

    “Anakku,” kata Raja. “Waktumu telah berlalu. Apa yang telah engkau berikan untuk ibumu, itulah yang akan engkau nikmati.”

    * * *

    ” Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: “Ya Rabb kami, beri tangguhlah kami (kembalikan kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul” .(Kepada mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?” (Al- Quran S. 14:44)

    Semoga kita semua tidak tertipu seperti anak itu, yang mengira dia akan menjadi Khalifah / Raja selamanya di atas dunia.

     
  • erva kurniawan 8:35 am on 26 January 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita, , , , kucing berhaji, kucing naik haji   

    Kucing Berhaji 

    kucing-berhaji-2Alkisah, ada seekor kucing dewasa yang sudah berkecukupan. Ia hendak menunaikan ibadah haji karena merasa ada sebuah kewajiban dan tentu untuk menyambut seruan Tuhan. Berangkatlah ia dengan semangat ketertundukan.

    Setelah menunaikan segala macam rukunnya, pulanglahlah ke tempat tinggal semula. Setelahnya, lebih banyak berdzikir, tak lupa “mengenakan” aksesoris layaknya para pelaku haji. Dan di luaran, tampilan mendadak shaleh. Berhajinya seekor kucing itu terdengar sampai berbagai penjuru. Termasuk sampai terdengar pada sarang segerombolan tikus. Pemimpin tikus, sebagai yang dituakan, berinisiatif untuk berekonsiliasi dengan sang kucing.

    “Wahai rakyat tikus semuanya, dengarlah, sang kucing telah berhaji, sudah saatnya kita berdamai dengannya.”

    Salah satu rakyat tikus menjawab, “Tuanku, jangan, kucing tetap kucing, dia tetap akan memburu kita.”

    “Apa salahnya kita mencoba menjalin komunikasi, siapa tahu ada peta jalan damai antara warga tikus dan kucing.”

    Walaupun rakyat tikus amat gelisah dengan pendapat pemimpin tikus, tapi tetap memutuskan untuk berangkat menemui sang kucing.Berangkatlah ia dengan hati-berdebar- debar. Sesampainya di sarang kucing, pemimpin tikus mencoba tersenyum dan menyampaikan niat baiknya untuk berdamai. Awalnya, sang kucing diam saja. Semakin lama didiamkan, pemimpin tikus mulai gelisah.

    Lalu, sang kucing memandangi sang tikus dengan tatapan beringas, lantas melompat, mencoba menerkam dan memangsa tikus. Untung sang tikus sudah siap sedia dan berhasil meloloskan diri dari terkaman sang kucing. Berlari dan terus berlari meninggalkannya. Sampai di sarang tikus, rakyat yang sejak awal khwatir bertanya,

    “Bagaimana, tuanku, apakah perdamaian berhasil?

    “Celaka, benar katamu, sang kucing tetap kucing, dia tetap akan memangsa kita.”

     

    Renungan :

    Kisah ini adalah sindiran bagi kita semuanya. Haji bagi umat Islam memang sebuah kewajiban untuk yang mampu. Kita pasti mempunyai niat untuk menunaikannya, alangkah bahagianya kita bisa pergi ke tanah suci.

    Tapi, ada dimensi lain yang patut kita ingat. Haji bukanlah sebuah trend atau bahkan sebuah gaya hidup agar dipandang “wah”. Juga bukan melulu berdimensi ketuhanan semata. Ada dimensi lain yang perlu kita amalkan, yaitu dimensi sosial dengan menterjemahkan simbol-simbol haji yang telah dilaksanakan.

    Salah satunya seperti dituturkan Ustadz Quraish Shihab, “pakaian biasa” ditanggalkan dan “pakaian ihram” dikenakan.

    Artinya, menanggalkan segala macam perbedaan dan menghapus keangkuhan.Dengan berhaji, kita belajar menghargai sesama manusia, tidak melakukan lagi penghisapan atau penindasan terhadap manusia lain. Kita semua hakikatnya sama, miskin kaya, pejabat tinggi atau rakyat biasa.

    Dan, kita juga perlu meninggalkan karakter-karakter jahat yang barangkali sudah melekat erat dalam diri sekian lamanya. Kalau setelah berhaji tetap punya karakter dan perilaku sama, maka sia-sialah semuanya.

     
    • Treante 8:24 pm on 14 Maret 2009 Permalink

      mungkin pada waktu akan haji, warga kucing gak ngadain doa, jadinya hajinya kurang barokah ;-)

    • Webmasters Pride 2:36 am on 11 Juli 2014 Permalink

      Interesting article to read, thank.

  • erva kurniawan 10:39 pm on 25 January 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita, , , , , kurban, kurban kambing, kurban terbaik, penjual kambing   

    Qurban Terbaik 

    kurban-terbaik-1Oleh Jojo Wahyudi

    *** 

    Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan hewan Qurban. Saat pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga hidungku, dengan spontan aku menutupnya dengan saputangan. Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual yang hanya bersarung hingga ibu-ibu  berkerudung Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut menemani orang tuanya melihat hewan yang akan di-Qurban-kan pada Idul Adha nanti, sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak dini tentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim & Nabi Ismail.

    Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang bertransaksi memilih hewan yang akan di sembelih saat Qurban nanti. Mataku tertuju pada seekor kambing coklat bertanduk panjang, ukuran badannya besar  melebihi kambing-kambing di sekitarnya.

    ” Berapa harga kambing yang itu pak ?” ujarku menunjuk kambing coklat tersebut.

    ” Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super dua juta rupiah tidak kurang” kata si pedagang berpromosi matanya berkeliling sambil tetap melayani calon pembeli lainnya.

    ” Tidak bisa turun pak?” kataku mencoba bernegosiasi.

    ” Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba mahal” si pedagang bertahan.

    ” Satu juta lima ratus ribu ya?” aku melakukan penawaran pertama

    ” Maaf pak, masih jauh.” ujarnya cuek.

    Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan penawaran terendah berharap si pedagang berubah pendirian dengan menurunkan harganya.

    ” Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh ribu?”  kataku

    ” Masih belum nutup pak ” ujarnya tetap cuek

    ” Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa kambing ikut naik?” ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.

    ” Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia gak bisa datang ke sini sendiri. Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan mobil bahan bakarnya bukan rumput” kata si pedagang meledek.

    Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini. Tidak menawarkan harga selain yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku alihkan ke kambing lainnya yang lebih kecil dari si coklat. Lumayan bila ada perbedaan harga lima ratus ribu. Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku berencana ke toko ban mobil. Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus tusirannya. Kelebihan tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya kini selangit.

    ” Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?” kataku kemudian

    ” Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah” katanya

    Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang kakek menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi. Meskipun pakaian “korpri” yang  ia kenakan lusuh, tetapi wajahnya masih terlihat segar.

    ” Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?” katanya kagum

    ” Dua juta tidak kurang tidak lebih kek.” kata si pedagang setengah malas menjawab setelah melihat penampilan si kakek.

    ” Weleh larang men regane (mahal benar harganya) ?” kata si kakek  dalam

    bahasa Purwokertoan

    ” bisa di tawar-kan ya mas ?” lanjutnya mencoba negosiasi juga.

    ” Cari kambing yang lain aja kek. ” si pedagang terlihat semakin malas meladeni.

    ” Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah Qurban taun iki (Aku mau yang terbaik dan gagah untuk Qurban tahun ini)

    Duit-e (uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas.” katanya tetap bersemangat seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya. Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu di bukanya, enam belas lembar uang seratus ribuan dan sembilan lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan dari dalamnya.

    ” Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya) dianter ke rumah ya mas?” lanjutnya mantap tetapi tetap bersahaja.

    Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang memperhatikannya sejak tadi. Dengan wajah masih ragu tidak percaya si pedagang menerima uang yang disodorkan si kakek, kemudian di hitungnya perlahan lembar demi lembar uang itu.

    ” Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah” si pedagang mengeluarkan selembar lima puluh ribuan

    ” Ora ono ongkos kirime tho…?” (Enggak ada ongkos kirimnya ya?) si kakek seakan tahu uang yang diberikannya berlebih

    ” Dua juta sudah termasuk ongkos kirim” si pedagang yg cukup jujur memberikan lima puluh ribu ke kakek

    ” mau di antar ke mana mbah?” (tiba-tiba panggilan kakek berubah menjadi mbah)

    ” Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di tabung neh (bisa ditabung lagi)” kata si kakek sambil menerimanya

    ” tulung anterke ning deso cedak kono yo (tolong antar ke desa dekat itu ya), sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang) Masjid  Baiturrohman, takon ae umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe  Pemda Pasir Mukti, InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah anak-anak sudah tahu).”

    Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah sepeda tua yang di sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh dari X-Trail milikku. Perlahan di angkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di kayuhnya tetap dengan semangat.

    Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu, semuanya  berbalik ke arah berlawanan dalam pandanganku. Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya berkendara sepeda engkol, sanggup membeli hewan Qurban yang terbaik untuk dirinya. Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang diterima setiap bulan oleh si kakek. Yang aku tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak ada rumah yang berdiri dengan mewah, rata-rata penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya petani dan para pensiunan pegawai rendahan.

    Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing. Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi. Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor gede) dan memilikinya

    Yang sanggup mengkoleksi “raket” hanya untuk olah-raga seminggu sekali. Yang sanggup juga membeli hewan Qurban dua ekor sapi sekaligus. Tapi apa yang aku pikirkan? Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di bawah kemampuanku yang harganya tidak lebih dari service rutin mobil X-Trail,  kendaraanku di dunia fana. Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak, aku berpikir seribu kali saat membelinya.

    Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati manusia, balikkan hati hambaMu yang tak pernah berSyukur ini ke arah orang yang pandai menSyukuri nikmatMu.

    ***

     
    • ilmu 9:47 am on 1 November 2011 Permalink

      bagus ntuk pmblajarn kita,,
      jangan sampai harta di pegang hati…mmbuat kita memilah-milah
      cukup oleh tangan saja…yang skedar mmpir untuk lewat.

  • erva kurniawan 9:50 am on 13 January 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita, , , , , , , ,   

    Kisah si Penebang Pohon 

    penebang-pohonAlkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.

    Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

    Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”.

    Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat mempertanggungjawab kan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

    Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”

    “Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”. Kata si penebang.

    “Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa kisah-penebang-pohonmenebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.

    Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

    Istirahat bukan berarti berhenti ,

    Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi

    Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru !

    Salam sukses luar biasa!

     
  • erva kurniawan 6:33 am on 12 January 2009 Permalink | Balas
    Tags: aslina, cerita, , , , , ,   

    Kisah Azlina, Saat Dua Jam Mati Suri di MMC Melaka 

    bunga-lilyDiperlihatkan Berbagai Kejadian di Akhirat

    Sempat dinyatakan meninggal dunia, Aslina alias Iin (23) ternyata mengalami mati suri selama dua jam dan koma dua hari dua malam. Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Bengkalis itu mengaku selama mati suri, ia diperlihatkan berbagai kejadian alam barzah dan akhirat, serta beberapa kejadian yang menyangkut amal dan perbuatan manusia selama di dunia.

    Di hadapan sekitar 50-an orang, terdiri dari pegawai honor tenaga kesehatan Bengkalis, warga masyarakat serta sejumlah wartawan, Aslina, Rabu (3/9) kemarin, di aula studio TV Sri Junjungan Televisi (SJTV) Bengkalis, mengisahkan kejadian ghaib yang dialaminya itu.

    Menurut penuturan Iin yang didampingi pamannya, Rustam Effendi, sejak tiga tahun lalu ia menderita penyakit kelenjar gondok alias hiper teroid. Karena penyakitnya itu, Pada 25 Agustus silam, gadis ini ditemani Rustam Effendi berobat ke rumah sakit Mahkota Medical Center (MMC) Malaka. Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, dokter mengatakan operasi baru bisa dilakukan setelah tiga bulan, karena waktu itu tekanan darah tinggi.

    Namun pada Sabtu (26/8) tengah malam, kondisi anak sulung tiga bersaudara ini kritis, koma. Sang paman sempat memandunya membaca dua kalimat syahadat dan kalimat toyibah (Lailahailallah) sebanyak dua kali.

    Waktu ajal menjemput, tutur sang paman, Aslina sempat melafazkan kalimat toyibah dan syahadat. Secara perlahan-lahan gadis yang bekerja sebagai honorer di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Bengkalis ini tak bernafas. Tepat pukul 02.00 waktu Malaysia, indikator monitor denyut jantung terlihat kosong atau berupa garis lurus.

    Tak pelak situasi ini membuat Rustam sedih, kemudian beberapa dokter MMC Malaka terlihat sibuk memeriksa dan mengecek kondisi Aslina. Waktu itu dia sempat menghubungi keluarnya di Bengkalis untuk memberitahu kondisi terakhir Aslina. Untungnya setelah dua jam ditangani dokter, monitor terlihat kembali bergerak yang menandakan denyut jantung gadis yatim ini berdenyut lagi. Untuk perawatan lebih lanjut, Aslina dimasukan ke ruang ICU dan baru dua hari dua malam kemudian ia dinyatakan melewati masa kritisnya.

    Bertemu Sang Ayah

    Menurut pengakuan Aslina, dia melihat ketika nyawanya dicabut oleh malaikat. Waktu itu, nyawanya dicabut dari kaki kanan oleh malaikat. “Rasanya sangat sakit, kulit seperti disayat, dibakar dengan minyak,”tuturnya.

    Setelah roh berpisah dengan jasad, dia menyaksikan orang-orang yang masih hidup dan jasadnya terbaring di tempat tidur. Kemudian dibawa dua malaikat menuju ke suatu tempat. Aslina mempunyai keinginan untuk bertemu dengan ayahnya yang sudah lama meninggal, bernama Hasan Basri. “Wahai ayahku bisakah aku bertemu denganmu. Aku sangat rindu, oh ayah,” ucapnya.

    Memang di tempat itu Aslina bertemu dengan sosok pria muda berusia 17 tahun dengan wajah bersinar dan berseri-seri. Melihat sosok pria muda tersebut, Aslina tetap ngotot ingin bertemu dengan sang ayah. Kemudian, kedua malaikat memperkenalkan bahwa pria muda tersebut adalah ayahnya. Tentunya dia tidak menyangka karena waktu meninggal dunia, ayahnya berusia 55 tahun.

    Kemudian sang ayah bertanya kepada Aslina, maksud kedatangannya. Dia menjawab kedatangannya semata-mata memenuhi panggilan Allah SWT. Sang ayah menyuruh Aslina tetap pulang untuk menjaga adik-adiknya di dunia. Namun Aslina menjawab bahwa dirinya ke sini, memenuhi panggilan Allah. Waktu itu juga, dia menyebut rukun Islam satu persatu.

    Setelah berdialog dengan ayahnya, dua malaikat tadi membawa Aslina ke suatu tempat yang dipenuhi wanita memakai baju rapi dan berjilbab. Di situ, dia disalami dan dicium pipi kanan-kiri oleh wanita-wanita Muslimah tersebut. Tidak hanya itu, Aslina juga bertemu dengan 1.000 malaikat dengan wajah berseri dan seluruhnya sama.

    Di tempat itu, Aslina duduk di kursi yang sangat empuk. Bila di dunia empuk kursi tersebut seakan dilapisi delapan busa. Ketika duduk, tiba-tiba sosok wanita berseri mirip dengan dirinya menghampiri. Dia bertanya kepada sosok wanita tersebut. “Saya adalah roh dan amal ibadah mu selama di dunia,” kata wanita tersebut.

    Kemudian Aslina ditemani amalnya (sosok wanita, red) dan dua malaikat menyaksikan beberapa kejadian di akhirat. Di antaranya, ada seorang pria berpakaian compang-camping, badannya bernanah dan bau busuk.

    Tangan dan kaki dirantai sementara di atasnya memikul besi seberat 500 ton. Melihat kejadian itu, Aslina bertanya kepada amalnya. Rupanya pria tersebut semasa hidupnya suka membunuh dan menyantet (teluh) orang.

    Kejadian selanjutnya yang ia lihat, seorang yang disebat dengan rotan panjang sehingga kulit dan dagingnya mengelupas dari badan. Ternyata orang tersebut selama hidup tak pernah sholat bahkan menjelang ajal menjemput pun tak pernah menyebut sahadat.

    Aslina juga melihat, dua pria saling membunuh dengan kapak. Menurut keterangan amalnya, rupanya orang tersebut suka menodong dan memeras orang lain.

    Kemudian gambaran, seorang ustat yang dihantam dengan lahar panas yang mendidih. Kembali Aslina bertanya. Ustad tersebut selama hidup suka berzina dengan istri orang lain.

    Kejadian berikutnya, seorang ditusuk dengan pisau sebanyak 80 kali. Ini menunjukan orang tersebut suka membunuh dan tidak pernah dipertanggungjawabk an selama di dunia.

    Kejadian terakhir, seorang ibu tua dihempaskan berkali-kali ke lantai. Di lantai tersebut terdapat pisau tegak dan dia tersungkur lalu mengenai tubuhnya, hingga mati. Gambaran tersebut menunjukan, selama hidupnya wanita tersebut merupakan anak durhaka, yang tidak mengakui ibunya yang pikun. Bahkan dia malu kepada orang lain.

    Kisah tentang mati suri dan berbagai pengalaman ghaib yang dialami Aslina alias Iin (23), membuat heboh masyarakat Bengkalis, khususnya warga desa Pematang Duku, kecamatan Bengkalis, yang antara percaya dan tidak dengan cerita dalam mati suri itu. Berikut lanjutan kisah ‘perjalanan ghaib’ yang dituturkan Aslina Rabu silam di aula studio SJTV Bengkalis.

    Menurut Aslina, setelah dirinya diperlihatkan dengan kejadian dan gambaran manusia, ia kemudian dibawa melewati malam yang sangat gelap gulita. Saking gelapnya, dia tidak bisa melihat amalnya dan dua malaikat yang mendampingi. Ketika kakinya berjalan tiga langkah, terdengar suara orang berzikir. Kemudian sang amal menyuruhnya untuk cepat menangkap suara tersebut. Tapi Aslina tidak bisa menangkap. Tiba-tiba waktu itu, lehernya dikalungi seutas rantai. Setelah dipegang ternyata rantai tersebut berupa tasbih sebanyak 99 butir.

    Terdengar suara yang memerintahkan Aslina untuk berzikir selama dalam perjalanan. Dia berjalan lagi sepanjang tujuh langkah, namun waktunya sama dengan 10 jam waktu di dunia. Ketika sampai pada langkah ke tujuh, dia melihat wadah menyerupai tapak sirih berisi cahaya yang terpancar melalui lobang-lobangnya. Berkat cahaya tapak sirih tersebut, dia bisa melihat dan membaca tulisan Arab, berbunyi ‘Husnul Khotimah’.

    Di belakang tulisan itu terlihat gambar Ka’bah. Ketika melihat tulisan dan gambar Ka’bah seketika, dia dan amalnya tersenyum seraya mengucapkan Alhamdulillah.

    Aslina mendekati cahaya itu dan mengambilnya, kemudian disapukan ke mukanya. Ketika malam yang gelap gulita itu menjadi terang benderang.

    Nabi Muhammad

    Setelah berjalan sekian jauh, dia mendengarkan suara azan yang suaranya tidak seperti di Indonesia, namun bernada Mekkah. Kepada amalnya, dia meminta waktu untuk menunaikan sholat. Setelah mengerjakan sholat, roh Aslina hijrah ke tempat lain dengan perjalanan 40 hari. Tempat yang dituju kali ini adalah Masjid Nabawi di Madinah. Di masjid itu dia menyaksikan makam Nabi Muhammad dan sahabatnya. Di makam Nabi ada pintu bercahaya, terlihat sosok Nabi Muhammad sedang memberi makan fakir miskin.

    Tidak hanya itu di Masjid Nabawi, dia kembali diperlihatkan kejadian menakjubkan. Tiba-tiba cahaya ‘Husnul Hotimah’ yang ada di tangannya lepas, kemudian mengeluarkan api yang menerangi seluruh ruangan sehingga makam Nabi terlihat jelas. Waktu itu dari balik makam Nabi, dia melihat sosok manusia, berwajah ganteng menyerupai malaikat, kulit langsat, mata sayu, pandangan luas terbentang dan tajam. “Raut muka seperti orang Asia (oval, red) namun tidak kelihatan kepalanya. Tapi saya yakin sosok manusia tersebut adalah Nabi Muhammad,” katanya.

    Melihat peristiwa itu, lantas Aslina bertanya kepada malaikat dan amalnya. “Kenapa cahaya tersebut menerangi Nabi Muhammad, sehingga saya bisa melihat.

    Dan kenapa wajah Nabi bercahaya?” Dijawab bahwa Anda adalah orang yang mendapat syafaat dan hidayah dari Allah. Mengenai wajah nabi yang bercahaya, karena selama mengembangkan agama Islam selalu mendapat tantangan.

    Perjalanan tidak di situ saja, Aslina dan pengawalnya berbalik arah untuk pulang. Rupanya ketika dalam perjalanan pulang dia kembali menyaksikan, jutaan umat manusia sedang disiksa dan menderita di sebuah lapangan. Orang-orang tersebut meronta dan berdoa minta agar kiamat dipercepat. Karena sudah tak tahan lagi dengan siksaan. Mereka mengaku menyesal dan minta dihidupkan kembali agar bisa bertaubat. “Jarak Aslina dengan mereka hanya lima meter, namun tak bisa memberikan pertolongan, ” ujarnya.

    Selama melihat kejadian itu, Aslina membaca Al Quran 30 juz, Hafis (hafal) dan khatam tiga kali. Kemudian membaca surat Yasin sebanyak 1000 kali dan shalawat kepada seluruh nabi (Adam sampai Muhammad). Aslina berlari sepanjang Arab Saudi atau sepanjang Sabang sampai Marauke seraya menangis melihat kejadian tersebut.

    Aslina juga ingin diperlihatkan apa yang terjadi pada dirinya dikemudian hari. Namun sebelumnya dia diminta oleh malaikat untuk berzikir. Lamanya zikir yang dilakukan Aslina selama dua abad dan dua pertukaran zaman. Hal ini ditandai dengan 1 Syawal yang jatuh pada tanggal 31 Desember. Selesai berzikir, Aslina mendengar suara yang seperti ditujukan kepadanya.

    “Sadarlah wahai umat-Ku, kau sudah Ku matikan.

    Sampaikan kepada umat-Ku, apa yang Ku perlihatkan.

    Sampaikan kepada umat-Ku, umat-Ku, Umat-ku.”

    Kejadian Aneh

    Usai pengambilan gambar dan wawancara, terdapat kejadian aneh di gedung SJTV Bengkalis. Saat itu, Aslina sudah keluar dari ruangan menuju gedung Radio Pemda yang berjarak 25 meter. Ketika krew SJTV hendak mematikan monitor, ternyata tak bisa dimatikan. Namun anehnya muncul sosok bayangan putih bertubuh tegap dengan rambut terurai hingga ke pusar dan kepalanya bertanduk. Tentunya hal ini membuat para krew dan orang-orang yang menyaksikan heran, lantas momen ini diabadikan pengunjung dan krew SJTV.

    Setelah Aslina keluar dari ruangan Radio Pemda, ditanyakan apakah sosok tersebut. Dia menjawab bahwa sosok tersebut merupakan jin. Menutup pengalaman ghaib anak penakik getah itu, sang Paman Rustam Effendi kepada wartawan menyebutkan, selama ini Aslina merupakan sosok yang pendiam dan kurang percaya diri (PD). Namun setelah kejadian ini banyak hal-hal yang berubah, mulai dari penampilan hingga tingkah laku. Bahkan dari warna kulitnya saat ini lebih bersih dan berseri. Mengenai amalannya, “Selama ini dia memang rajin mengerjakan shalat tahajud dan membaca Al Quran setiap hari,” kata sang paman menutup kisah tersebut.

    ***

     
    • ria fitri 12:14 pm on 22 Maret 2010 Permalink

      subhanallah…
      smga menjadi pelajaran bagi umat muslim lainnya..amin!!

    • Andri 5:41 am on 18 Agustus 2010 Permalink

      Amin ya Allah..

    • rangga 7:27 pm on 19 Oktober 2010 Permalink

      ya Allah apa aq pntas…..

    • yogi wimi syaputra 12:42 pm on 19 Februari 2012 Permalink

      subhanallah..!!
      maha suci engkau ya allah..
      sesungghny kmi ini hnyalh mnusia biasa yg tk lput dri dosa.. mka dari itu ampunilah kmi ya allah.!!
      amiiinnn !!!

    • agnes mery warouw 6:31 am on 17 Maret 2012 Permalink

      subhanalah ..
      amin ya allah ..

  • erva kurniawan 4:16 am on 9 January 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita, , ,   

    Semangkuk Mie 

    semangkok-miePada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.

    Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang.

    Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata: “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?” “Ya, tetapi, aku tidak membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu.

    “Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silakan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.

    Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. “Ada apa nona?” tanya si pemilik kedai. “Tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.

     

    “Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi ! Tetapi… ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi. Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai.

    Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang lalu berkata: “Nona, mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya.”

    Ana terhenyak mendengar hal tsb. “Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih. Tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

    Ana segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg harus diucapkan kepada ibunya.

    Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya berwajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana, kau sudah pulang. Cepat masuklah, Ibu telah menyiapkan makan malam. Makanlah dahulu sebelum kau tidur. Makanan akan dingin jika kau tidak memakannya sekarang”

    Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya. Ia pun menangis di pelukan ibunya.

    Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita, khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

     
  • erva kurniawan 9:12 am on 4 January 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita, , , , , kisah laila majnun, , , , laila majnun   

    Kisah Cinta Laila dan Majnun 

    Kisah cinta Laila MajnunAlkisah, Kepala suku Bani Umar di Arab memiIiki segala macam yang diinginkan orang, kecuali satu hal, bahwaia tak punya seorang anakpun. Tabib-tabib di desa itu menganjurkan berbagai macam ramuan dan obat, tetapi tidak berhasil. Ketika semua usaha tampak tak berhasil, istrinya menyarankan agar mereka berdua bersujud di hadapan Tuhan dan dengan tulus memohon kepada Allah swt memberikan anugerah kepada mereka berdua. “Mengapa tidak?” jawab sang kepala suku. “Kita telah mencoba berbagai macam cara. Mari, kita coba sekali lagi, tak ada ruginya.”

    Mereka pun bersujud kepada Tuhan, sambil berurai air mata dari relung hati mereka yang terluka. “Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan pohon kami tak berbuah. Izinkan kami merasakan manisnya menimang anak dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami tanggung jawab untuk membesarkan seorang manusia yang baik. Berikan kesempatan kepada kami untuk membuat-Mu bangga akan anak kami.”

    Tak lama kemudian, doa mereka dikabulkan, dan Tuhan menganugerahi mereka seorang anak laki-laki yang diberi nama Qais. Sang ayah sangat berbahagia, sebab Qais dicintai oleh semua orang. Ia tampan, bermata besar, dan berambut hitam, yang menjadi pusat perhatian dan kekaguman. Sejak awal, Qais telah memperlihatkan kecerdasan dan kemampuan fisik istimewa. Ia punya bakat luar biasa dalam mempelajari seni berperang dan memainkan musik, menggubah syair dan melukis.

    Ketika sudah cukup umur untuk masuk sekolah, ayahnya memutuskan membangun sebuah sekolah yang indah dengan guru-guru terbaik di Arab yang mengajar di sana, dan hanya beberapa anak saja yang belajar di situ. Anak-anak lelaki dan perempuan dan keluarga terpandang di seluruh jazirah Arab belajar di sekolah baru ini.

    Di antara mereka ada seorang anak perempuan dari kepala suku tetangga. Seorang gadis bermata indah, yang memiliki kecantikan luar biasa. Rambut dan matanya sehitam malam; karena alasan inilah mereka menyebutnya Laila-“Sang Malam”. Meski ia baru berusia dua belas tahun, sudah banyak pria melamarnya untuk dinikahi, sebab-sebagaimana lazimnya kebiasaan di zaman itu, gadis-gadis sering dilamar pada usia yang masih sangat muda, yakni sembilan tahun.

    Laila dan Qais adalah teman sekelas. Sejak hari pertama masuk sekolah, mereka sudah saling tertarik satu sama lain. Seiring dengan berlalunya waktu, percikan ketertarikan ini makin lama menjadi api cinta yang membara. Bagi mereka berdua, sekolah bukan lagi tempat belajar. Kini, sekolah menjadi tempat mereka saling bertemu. Ketika guru sedang mengajar, mereka saling berpandangan. Ketika tiba waktunya menulis pelajaran, mereka justru saling menulis namanya di atas kertas. Bagi mereka berdua, tak ada teman atau kesenangan lainnya. Dunia kini hanyalah milik Qais dan Laila.

    Mereka buta dan tuli pada yang lainnya. Sedikit demi sedikit, orang-orang mulai mengetahui cinta mereka, dan gunjingan-gunjingan pun mulai terdengar. Di zaman itu, tidaklah pantas seorang gadis dikenal sebagai sasaran cinta seseorang dan sudah pasti mereka tidak akan menanggapinya. Ketika orang-tua Laila mendengar bisik-bisik tentang anak gadis mereka, mereka pun melarangnya pergi ke sekolah. Mereka tak sanggup lagi menahan beban malu pada masyarakat sekitar.

    Ketika Laila tidak ada di ruang kelas, Qais menjadi sangat gelisah sehingga ia meninggalkan sekolah dan menyelusuri jalan-jalan untuk mencari kekasihnya dengan memanggil-manggil namanya. Ia menggubah syair untuknya dan membacakannya di jalan-jalan. Ia hanya berbicara tentang Laila dan tidak juga menjawab pertanyaan orang-orang kecuali bila mereka bertanya tentang Laila. Orang-orang pun tertawa dan berkata, “Lihatlah Qais, ia sekarang telah menjadi seorang majnun, gila!”

    Akhirnya, Qais dikenal dengan nama ini, yakni “Majnun”. Melihat orang-orang dan mendengarkan mereka berbicara membuat Majnun tidak tahan. Ia hanya ingin melihat dan berjumpa dengan Laila kekasihnya. Ia tahu bahwa Laila telah dipingit oleh orang tuanya di rumah, yang dengan bijaksana menyadari bahwa jika Laila dibiarkan bebas bepergian, ia pasti akan menjumpai Majnun.

    Majnun menemukan sebuah tempat di puncak bukit dekat desa Laila dan membangun sebuah gubuk untuk dirinya yang menghadap rumah Laila. Sepanjang hari Majnun duduk-duduk di depan gubuknya, disamping sungai kecil berkelok yang mengalir ke bawah menuju desa itu. Ia berbicara kepada air, menghanyutkan dedaunan bunga liar, dan Majnun merasa yakin bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya kepada Laila. Ia menyapa burung-burung dan meminta mereka untuk terbang kepada Laila serta memberitahunya bahwa ia dekat.

    Ia menghirup angin dari barat yang melewati desa Laila. Jika kebetulan ada seekor anjing tersesat yang berasal dari desa Laila, ia pun memberinya makan dan merawatnya, mencintainya seolah-olah anjing suci, menghormatinya dan menjaganya sampai tiba saatnya anjing itu pergi jika memang mau demikian. Segala sesuatu yang berasal dari tempat kekasihnya dikasihi dan disayangi sama seperti kekasihnya sendiri.

    Bulan demi bulan berlalu dan Majnun tidak menemukan jejak Laila. Kerinduannya kepada Laila demikian besar sehingga ia merasa tidak bisa hidup sehari pun tanpa melihatnya kembali. Terkadang sahabat-sahabatnya di sekolah dulu datang mengunjunginya, tetapi ia berbicara kepada mereka hanya tentang Laila, tentang betapa ia sangat kehilangan dirinya.

    Suatu hari, tiga anak laki-laki, sahabatnya yang datang mengunjunginya demikian terharu oleh penderitaan dan kepedihan Majnun sehingga mereka bertekad membantunya untuk berjumpa kembali dengan Laila. Rencana mereka sangat cerdik. Esoknya, mereka dan Majnun mendekati rumah Laila dengan menyamar sebagai wanita. Dengan mudah mereka melewati wanita-wanita pembantu dirumah Laila dan berhasil masuk ke pintu kamarnya.

    Majnun masuk ke kamar, sementara yang lain berada di luar berjaga-jaga. Sejak ia berhenti masuk sekolah, Laila tidak melakukan apapun kecuali memikirkan Qais. Yang cukup mengherankan, setiap kali ia mendengar burung-burung berkicau dari jendela atau angin berhembus semilir, ia memejamkan.matanya sembari membayangkan bahwa ia mendengar suara Qais didalamnya. Ia akan mengambil dedaunan dan bunga yang dibawa oleh angin atau sungai dan tahu bahwa semuanya itu berasal dari Qais. Hanya saja, ia tak pernah berbicara kepada siapa pun, bahkan juga kepada sahabat-sahabat terbaiknya, tentang cintanya.

    Pada hari ketika Majnun masuk ke kamar Laila, ia merasakan kehadiran dan kedatangannya. Ia mengenakan pakaian sutra yang sangat bagus dan indah. Rambutnya dibiarkan lepas tergerai dan disisir dengan rapi di sekitar bahunya. Matanya diberi celak hitam, sebagaimana kebiasaan wanita Arab, dengan bedak hitam yang disebut surmeh. Bibirnya diberi lipstick merah, dan pipinya yang kemerah-merahan tampak menyala serta menampakkan kegembiraannya. Ia duduk di depan pintu dan menunggu.

    Ketika Majnun masuk, Laila tetap duduk. Sekalipun sudah diberitahu bahwa Majnun akan datang, ia tidak percaya bahwa pertemuan itu benar-benar terjadi. Majnun berdiri di pintu selama beberapa menit, memandangi, sepuas-puasnya wajah Laila. Akhirnya, mereka bersama lagi! Tak terdengar sepatah kata pun, kecuali detak jantung kedua orang yang dimabuk cinta ini. Mereka saling berpandangan dan lupa waktu.

    Salah seorang wanita pembantu di rumah itu melihat sahabat-sahabat Majnun di luar kamar tuan putrinya. Ia mulai curiga dan memberi isyarat kepada salah seorang pengawal. Namun, ketika ibu Laila datang menyelidiki, Majnun dan kawan-kawannya sudah jauh pergi. Sesudah orang-tuanya bertanya kepada Laila, maka tidak sulit bagi mereka mengetahui apa yang telah terjadi. Kebisuan dan kebahagiaan yang terpancar dimatanya menceritakan segala sesuatunya.

    Sesudah terjadi peristiwa itu, ayah Laila menempatkan para pengawal di setiap pintu di rumahnya. Tidak ada jalan lain bagi Majnun untuk menghampiri rumah Laila, bahkan dari kejauhan sekalipun. Akan tetapi jika ayahnya berpikiran bahwa, dengan bertindak hati-hati ini ia bisa mengubah perasaan Laila dan Majnun, satu sama lain, sungguh ia salah besar.

    Ketika ayah Majnun tahu tentang peristiwa di rumah Laila, ia memutuskan untuk mengakhiri drama itu dengan melamar Laila untuk anaknya. Ia menyiapkan sebuah kafilah penuh dengan hadiah dan mengirimkannya ke desa Laila. Sang tamu pun disambut dengan sangat baik, dan kedua kepala suku itu berbincang-bincang tentang kebahagiaan anak-anak mereka. Ayah Majnun lebih dulu berkata, “Engkau tahu benar, kawan, bahwa ada dua hal yang sangat penting bagi kebahagiaan, yaitu “Cinta dan Kekayaan”.

    Anak lelakiku mencintai anak perempuanmu, dan aku bisa memastikan bahwa aku sanggup memberi mereka cukup banyak uang untuk mengarungi kehidupan yang bahagia dan menyenangkan. Mendengar hal itu, ayah Laila pun menjawab, “Bukannya aku menolak Qais. Aku percaya kepadamu, sebab engkau pastilah seorang mulia dan terhormat,” jawab ayah Laila. “Akan tetapi, engkau tidak bisa menyalahkanku kalau aku berhati-hati dengan anakmu. Semua orang tahu perilaku abnormalnya. Ia berpakaian seperti seorang pengemis. Ia pasti sudah lama tidak mandi dan iapun hidup bersama hewan-hewan dan menjauhi orang banyak. “Tolong katakan kawan, jika engkau punya anak perempuan dan engkau berada dalam posisiku, akankah engkau memberikan anak perempuanmu kepada anakku?”

    Ayah Qais tak dapat membantah. Apa yang bisa dikatakannya? Padahal, dulu anaknya adalah teladan utama bagi kawan-kawan sebayanya? Dahulu Qais adalah anak yang paling cerdas dan berbakat di seantero Arab? Tentu saja, tidak ada yang dapat dikatakannya. Bahkan, sang ayahnya sendiri susah untuk mempercayainya. Sudah lama orang tidak mendengar ucapan bermakna dari Majnun. “Aku tidak akan diam berpangku tangan dan melihat anakku menghancurkan dirinya sendiri,” pikirnya. “Aku harus melakukan sesuatu.”

    Ketika ayah Majnun kembali pulang, ia menjemput anaknya, Ia mengadakan pesta makan malam untuk menghormati anaknya. Dalam jamuan pesta makan malam itu, gadis-gadis tercantik di seluruh negeri pun diundang. Mereka pasti bisa mengalihkan perhatian Majnun dari Laila, pikir ayahnya. Di pesta itu, Majnun diam dan tidak mempedulikan tamu-tamu lainnya. Ia duduk di sebuah sudut ruangan sambil melihat gadis-gadis itu hanya untuk mencari pada diri mereka berbagai kesamaan dengan yang dimiliki Laila.

    Seorang gadis mengenakan pakaian yang sama dengan milik Laila; yang lainnya punya rambut panjang seperti Laila, dan yang lainnya lagi punya senyum mirip Laila. Namun, tak ada seorang gadis pun yang benar-benar mirip dengannya, Malahan, tak ada seorang pun yang memiliki separuh kecantikan Laila. Pesta itu hanya menambah kepedihan perasaan Majnun saja kepada kekasihnya. Ia pun berang dan marah serta menyalahkan setiap orang di pesta itu lantaran berusaha mengelabuinya.

    Dengan berurai air mata, Majnun menuduh orang-tuanya dan sahabat-sahabatnya sebagai berlaku kasar dan kejam kepadanya. Ia menangis sedemikian hebat hingga akhirnya jatuh ke lantai dalam keadaan pingsan. Sesudah terjadi petaka ini, ayahnya memutuskan agar Qais dikirim untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah dengan harapan bahwa Allah akan merahmatinya dan membebaskannya dari cinta yang menghancurkan ini.

    Di Makkah, untuk menyenangkan ayahnya, Majnun bersujud di depan altar Kabah, tetapi apa yang ia mohonkan? “Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja Para Pecinta, Engkau yang menganugerahkan cinta, aku hanya mohon kepada-Mu satu hal saja,”Tinggikanlah cintaku sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa, cintaku dan kekasihku tetap hidup.” Ayahnya kemudian tahu bahwa tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk anaknya.

    Usai menunaikan ibadah haji, Majnun yang tidak mau lagi bergaul dengan orang banyak di desanya, pergi ke pegunungan tanpa memberitahu di mana ia berada. Ia tidak kembali ke gubuknya. Alih-alih tinggal dirumah, ia memilih tinggal direruntuhan sebuah bangunan tua yang terasing dari masyarakat dan tinggal didalamnya. Sesudah itu, tak ada seorang pun yang mendengar kabar tentang Majnun. Orang-tuanya mengirim segenap sahabat dan keluarganya untuk mencarinya. Namun, tak seorang pun berhasil menemukannya. Banyak orang  berkesimpulan bahwa Majnun dibunuh oleh binatang-binatang gurun sahara. Ia bagai hilang ditelan bumi.

    Suatu hari, seorang musafir melewati reruntuhan bangunan itu dan melihat ada sesosok aneh yang duduk di salah sebuah tembok yang hancur. Seorang liar dengan rambut panjang hingga ke bahu, jenggotnya panjang dan acak-acakan, bajunya compang-camping dan kumal. Ketika sang musafir mengucapkan salam dan tidak beroleh jawaban, ia mendekatinya. Ia melihat ada seekor serigala tidur di kakinya. “Hus” katanya, ‘Jangan bangunkan sahabatku.” Kemudian, ia mengedarkan pandangan ke arah kejauhan.

    Sang musafir pun duduk di situ dengan tenang. Ia menunggu dan ingin tahu apa yang akan terjadi. Akhimya, orang liar itu berbicara. Segera saja ia pun tahu bahwa ini adalah Majnun yang terkenal itu, yang berbagai macam perilaku anehnya dibicarakan orang di seluruh jazirah Arab. Tampaknya, Majnun tidak kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan dengan binatang-binatang buas dan liar. Dalam kenyataannya, ia sudah menyesuaikan diri dengan sangat baik sehingga lumrah-lumrah saja melihat dirinya sebagai bagian dari kehidupan liar dan buas itu.

    Berbagai macam binatang tertarik kepadanya, karena secara naluri mengetahui bahwa Majnun tidak akan mencelakakan mereka. Bahkan, binatang-binatang buas seperti serigala sekalipun percaya pada kebaikan dan kasih sayang Majnun. Sang musafir itu mendengarkan Majnun melantunkan berbagai kidung pujiannya pada Laila. Mereka berbagi sepotong roti yang diberikan olehnya. Kemudian, sang musafir itu pergi dan melanjutkan petjalanannya.

    Ketika tiba di desa Majnun, ia menuturkan kisahnya pada orang-orang. Akhimya, sang kepala suku, ayah Majnun, mendengar berita itu. Ia mengundang sang musafir ke rumahnya dan meminta keteransran rinci darinya. Merasa sangat gembira dan bahagia bahwa Majnun masih hidup, ayahnya pergi ke gurun sahara untuk menjemputnya.

    Ketika melihat reruntuhan bangunan yang dilukiskan oleh sang musafir itu, ayah Majnun dicekam oleh emosi dan kesedihan yang luar biasa. Betapa tidak! Anaknya terjerembab dalam keadaan mengenaskan seperti ini. “Ya Tuhanku, aku mohon agar Engkau menyelamatkan anakku dan mengembalikannya ke keluarga kami,” jerit sang ayah menyayat hati. Majnun mendengar doa ayahnya dan segera keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan bersimpuh dibawah kaki ayahnya, ia pun menangis, “Wahai ayah, ampunilah aku atas segala kepedihan yang kutimbulkan pada dirimu. Tolong lupakan bahwa engkau pernah mempunyai seorang anak, sebab ini akan meringankan beban kesedihan ayah. Ini sudah nasibku mencinta, dan hidup hanya untuk mencinta.” Ayah dan anak pun saling berpelukan dan menangis. Inilah pertemuan terakhir mereka.

    Keluarga Laila menyalahkan ayah Laila lantaran salah dan gagal menangani situasi putrinya. Mereka yakin bahwa peristiwa itu telah mempermalukan seluruh keluarga. Karenanya, orangtua Laila memingitnya dalam kamamya. Beberapa sahabat Laila diizinkan untuk mengunjunginya, tetapi ia tidak ingin ditemani. Ia berpaling kedalam hatinya, memelihara api cinta yang membakar dalam kalbunya. Untuk mengungkapkan segenap perasaannya yang terdalam, ia menulis dan menggubah syair kepada kekasihnya pada potongan-potongan kertas kecil. Kemudian, ketika ia diperbolehkan menyendiri di taman, ia pun menerbangkan potongan-potongan kertas kecil ini dalam hembusan angin. Orang-orang yang menemukan syair-syair dalam potongan-potongan kertas kecil itu membawanya kepada Majnun. Dengan cara demikian, dua kekasih itu masih bisa menjalin hubungan.

    Karena Majnun sangat terkenal di seluruh negeri, banyak orang datang mengunjunginya. Namun, mereka hanya berkunjung sebentar saja, karena mereka tahu bahwa Majnun tidak kuat lama dikunjungi banyak orang. Mereka mendengarkannya melantunkan syair-syair indah dan memainkan serulingnya dengan sangat memukau. 

    Sebagian orang merasa iba kepadanya; sebagian lagi hanya sekadar ingin tahu tentang kisahnya. Akan tetapi, setiap orang mampu merasakan kedalaman cinta dan kasih sayangnya kepada semua makhluk. Salah seorang dari pengunjung itu adalah seorang ksatria gagah berani bernama ‘Amar, yang berjumpa dengan Majnun dalam perjalanannya menuju Mekah. Meskipun ia sudah mendengar kisah cinta yang sangat terkenal itu di kotanya, ia ingin sekali mendengarnya dari mulut Majnun sendiri.

    Drama kisah tragis itu membuatnya sedemikian pilu dan sedih sehingga ia bersumpah dan bertekad melakukan apa saja yang mungkin untuk mempersatukan dua kekasih itu, meskipun ini berarti menghancurkan orang-orang yang menghalanginya! Kaetika Amr kembali ke kota kelahirannya, Ia pun menghimpun pasukannya. Pasukan ini berangkat menuju desa Laila dan menggempur suku di sana tanpa ampun. Banyak orang yang terbunuh atau terluka.

    Ketika pasukan ‘Amr hampir memenangkan pertempuran, ayah Laila mengirimkan pesan kepada ‘Amr, “Jika engkau atau salah seorang dari prajuritmu menginginkan putriku, aku akan menyerahkannya tanpa melawan. Bahkan, jika engkau ingin membunuhnya, aku tidak keberatan. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kuterima, jangan minta aku untuk memberikan putriku pada orang gila itu”. Majnun mendengar pertempuran itu hingga ia bergegas kesana. Di medan pertempuran, Majnun pergi ke sana kemari dengan bebas di antara para prajurit dan menghampiri orang-orang yang terluka dari suku Laila. Ia merawat mereka dengan penuh perhatian dan melakukan apa saja untuk meringankan luka mereka.

    Amr pun merasa heran kepada Majnun, ketika ia meminta penjelasan ihwal mengapa ia membantu pasukan musuh, Majnun menjawab, “Orang-orang ini berasal dari desa kekasihku. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi musuh mereka?” Karena sedemikian bersimpati kepada Majnun, ‘Amr sama sekali tidak bisa memahami hal ini. Apa yang dikatakan ayah Laila tentang orang gila ini akhirnya membuatnya sadar. Ia pun memerintahkan pasukannya untuk mundur dan segera meninggalkan desa itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Majnun.

    Laila semakin merana dalam penjara kamarnya sendiri. Satu-satunya yang bisa ia nikmati adalah berjalan-jalan di taman bunganya. Suatu hari, dalam perjalanannya menuju taman, Ibn Salam, seorang bangsawan kaya dan berkuasa, melihat Laila dan serta-merta jatuh cinta kepadanya. Tanpa menunda-nunda lagi, ia segera mencari ayah Laila. Merasa lelah dan sedih hati karena pertempuran yang baru saja menimbulkan banyak orang terluka di pihaknya, ayah Laila pun menyetujui perkawinan itu.

    Tentu saja, Laila menolak keras. Ia mengatakan kepada ayahnya, “Aku lebih senang mati ketimbang kawin dengan orang itu.” Akan tetapi, tangisan dan permohonannya tidak digubris. Lantas ia mendatangi ibunya, tetapi sama saja keadaannya. Perkawinan pun berlangsung dalam waktu singkat. Orangtua Laila merasa lega bahwa seluruh cobaan berat akhirnya berakhir juga.

    Akan tetapi, Laila menegaskan kepada suaminya bahwa ia tidak pernah bisa mencintainya. “Aku tidak akan pernah menjadi seorang istri,” katanya. “Karena itu, jangan membuang-buang waktumu. Carilah seorang istri yang lain. Aku yakin, masih ada banyak wanita yang bisa membuatmu bahagia.” Sekalipun mendengar kata-kata dingin ini, Ibn Salam percaya bahwa, sesudah hidup bersamanya beberapa waktu larnanya, pada akhirnya Laila pasti akan menerimanya. Ia tidak mau memaksa Laila, melainkan menunggunya untuk datang kepadanya.

    Ketika kabar tentang perkawinan Laila terdengar oleh Majnun, ia menangis dan meratap selama berhari-hari. Ia melantunkan lagu-Iagu yang demikian menyayat hati dan mengharu biru kalbu sehingga semua orang yang mendengarnya pun ikut menangis. Derita dan kepedihannya begitu berat sehingga binatang-binatang yang berkumpul di sekelilinginya pun turut bersedih dan menangis. Namun, kesedihannya ini tak berlangsung lama, sebab tiba-tiba Majnun merasakan kedamaian dan ketenangan batin yang aneh. Seolah-olah tak terjadi apa-apa, ia pun terus tinggal di reruntuhan itu. Perasaannya kepada Laila tidak berubah dan malah menjadi semakin lebih dalam lagi.

    Dengan penuh ketulusan, Majnun menyampaikan ucapan selamat kepada Laila atas perkawinannya: “Semoga kalian berdua selalu berbahagia di dunia ini. Aku hanya meminta satu hal sebagai tanda cintamu, janganlah engkau lupakan namaku, sekalipun engkau telah memilih orang lain sebagai pendampingmu. Janganlah pernah lupa bahwa ada seseorang yang, meskipun tubuhnya hancur berkeping-keping, hanya akan memanggil-manggil namamu, Laila”.

    Sebagai jawabannya, Laila mengirimkan sebuah anting-anting sebagai tanda pengabdian tradisional. Dalam surat yang disertakannya, ia mengatakan, “Dalam hidupku, aku tidak bisa melupakanmu barang sesaat pun. Kupendam cintaku demikian lama, tanpa mampu menceritakannya kepada siapapun. Engkau memaklumkan cintamu ke seluruh dunia, sementara aku membakarnya di dalam hatiku, dan engkau membakar segala sesuatu yang ada di sekelilingmu” . “Kini, aku harus menghabiskan hidupku dengan seseorang, padahal segenap jiwaku menjadi milik orang lain. Katakan kepadaku, kasih, mana di antara kita yang lebih dimabuk cinta, engkau ataukah aku?.

    Tahun demi tahun berlalu, dan orang-tua Majnun pun meninggal dunia. Ia tetap tinggal di reruntuhan bangunan itu dan merasa lebih kesepian ketimbang sebelumnya. Di siang hari, ia mengarungi gurun sahara bersama sahabat-sahabat binatangnya. Di malam hari, ia memainkan serulingnya dan melantunkan syair-syairnya kepada berbagai binatang buas yang kini menjadi satu-satunya pendengarnya. Ia menulis syair-syair untuk Laila dengan ranting di atas tanah. Selang beberapa lama, karena terbiasa dengan cara hidup aneh ini, ia mencapai kedamaian dan ketenangan sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu pun yang sanggup mengusik dan mengganggunya.

    Sebaliknya, Laila tetap setia pada cintanya. Ibn Salam tidak pernah berhasil mendekatinya. Kendatipun ia hidup bersama Laila, ia tetap jauh darinya. Berlian dan hadiah-hadiah mahal tak mampu membuat Laila berbakti kepadanya. Ibn Salam sudah tidak sanggup lagi merebut kepercayaan dari istrinya. Hidupnya serasa pahit dan sia-sia. Ia tidak menemukan ketenangan dan kedamaian di rumahnya. Laila dan Ibn Salam adalah dua orang asing dan mereka tak pernah merasakan hubungan suami istri. Malahan, ia tidak bisa berbagi kabar tentang dunia luar dengan Laila.

    Tak sepatah kata pun pernah terdengar dari bibir Laila, kecuali bila ia ditanya. Pertanyaan ini pun dijawabnya dengan sekadarnya saja dan sangat singkat. Ketika akhirnya Ibn Salam jatuh sakit, ia tidak kuasa bertahan, sebab hidupnya tidak menjanjikan harapan lagi. Akibatnya, pada suatu pagi di musim panas, ia pun meninggal dunia. Kematian suaminya tampaknya makin mengaduk-ngaduk perasaan Laila. Orang-orang mengira bahwa ia berkabung atas kematian Ibn Salam, padahal sesungguhnya ia menangisi kekasihnya, Majnun yang hilang dan sudah lama dirindukannya.

    Selama bertahun-tahun, ia menampakkan wajah tenang, acuh tak acuh, dan hanya sekali saja ia menangis. Kini, ia menangis keras dan lama atas perpisahannya dengan kekasih satu-satunya. Ketika masa berkabung usai, Laila kembali ke rumah ayahnya. Meskipun masih berusia muda, Laila tampak tua, dewasa, dan bijaksana, yang jarang dijumpai pada diri wanita seusianya. Sementara api cintanya makin membara, kesehatan Laila justru memudar karena ia tidak lagi memperhatikan dirinya sendiri. Ia tidak mau makan dan juga tidak tidur dengan baik selama bermalam-malam.

    Bagaimana ia bisa memperhatikan kesehatan dirinya kalau yang dipikirkannya hanyalah Majnun semata? Laila sendiri tahu betul bahwa ia tidak akan sanggup bertahan lama. Akhirnya, penyakit batuk parah yang mengganggunya selama beberapa bulan pun menggerogoti kesehatannya. Ketika Laila meregang nyawa dan sekarat, ia masih memikirkan Majnun. Ah, kalau saja ia bisa berjumpa dengannya sekali lagi untuk terakhir kalinya! Ia hanya membuka matanya untuk memandangi pintu kalau-kalau kekasihnya datang. Namun, ia sadar bahwa waktunya sudah habis dan ia akan pergi tanpa berhasil mengucapkan salam perpisahan kepada Majnun. Pada suatu malam di musim dingin, dengan matanya tetap menatap pintu, ia pun meninggal dunia dengan tenang sambil bergumam, Majnun…Majnun. .Majnun.

    Kabar tentang kematian Laila menyebar ke segala penjuru negeri dan, tak lama kemudian, berita kematian Lailapun terdengar oleh Majnun. Mendengar kabar itu, ia pun jatuh pingsan di tengah-tengah gurun sahara dan tetap tak sadarkan diri selama beberapa hari. Ketika kembali sadar dan siuman, ia segera pergi menuju desa Laila. Nyaris tidak sanggup berjalan lagi, ia menyeret tubuhnya di atas tanah. Majnun bergerak terus tanpa henti hingga tiba di kuburan Laila di luar kota. Ia berkabung dikuburannya selama beberapa hari.

    Ketika tidak ditemukan cara lain untuk meringankan beban penderitaannya, per1ahan-lahan ia meletakkan kepalanya di kuburan Laila kekasihnya dan meninggal dunia dengan tenang. Jasad Majnun tetap berada di atas kuburan Laila selama setahun. Belum sampai setahun peringatan kematiannya ketika segenap sahabat dan kerabat menziarahi kuburannya, mereka menemukan sesosok jasad terbujur di atas kuburan Laila. Beberapa teman sekolahnya mengenali dan mengetahui bahwa itu adalah jasad Majnun yang masih segar seolah baru mati kemarin. Ia pun dikubur di samping Laila. Tubuh dua kekasih itu, yang kini bersatu dalam keabadian, kini bersatu kembali.

    Konon, tak lama sesudah itu, ada seorang Sufi bermimpi melihat Majnun hadir di hadapan Tuhan. Allah swt membelai Majnun dengan penuh kasih sayang dan mendudukkannya disisi-Nya.Lalu, Tuhan pun berkata kepada Majnun, “Tidakkah engkau malu memanggil-manggil- Ku dengan nama Laila, sesudah engkau meminum anggur Cinta-Ku?”

    Sang Sufi pun bangun dalam keadaan gelisah. Jika Majnun diperlakukan dengan sangat baik dan penuh kasih oleh Allah Subhana wa ta’alaa, ia pun bertanya-tanya, lantas apa yang terjadi pada Laila yang malang? Begitu pikiran ini terlintas dalam benaknya, Allah swt pun mengilhamkan jawaban kepadanya, “Kedudukan Laila jauh lebih tinggi, sebab ia menyembunyikan segenap rahasia Cinta dalam dirinya sendiri.”

    Wa min Allah at Tawfiq

     

    Diambil dari Negeri Sufi ( Tales from The Land of Sufis )

    Tentang Penulis Laila Majnun, Syaikh Sufi Mawlana Hakim Nizhami qs :

    Syaikh Hakim Nizhami qs merupakan penulis sufi terkemuka diabad pertengahan karena dua roman cinta yang menyayat hati, yaitu Laila & Majnun serta Khusrau & Syirin. Kisah sedih Laila & Majnun , dimana Majnun yang berarti “Tergila-gila akan Cinta”, karena cintanya yang tak sampai pada Laila, akhirnya membuatnya gila. Kisah cinta ini dibaca selamaberabad- abad, ratusan tahun jauh sebelum Romeo & Julietnya Wiliam Shakespeare sehingga Kisah Laila & Majnun terkenal sebagai kisah cintanya Persia.

    Syaikh Nizhami qs adalah seorang Syaikh Sufi, dan yang dimaksud “kekasih” dalam berbagai kisahnya sesungguhnya adalah perwujudan Allah swt. Syaikh Nizhami hidup dari tahun 1155 M – 1223 M, beliau lahir dikota Ganje di Azerbaijan. Ia telah menempuh jalan sufi semenjak masa mudanya, dan ia diajar oleh Nabi Khidir as, Sang Pembimbing Misterius dan ia dilindungi 99 Nama Allah Yang Maha Indah ( Asmaul Husna).

    Syaikh Nizhami qs sangat menguasai berbagai macam ilmu, seperti matematika, filsafat, Hukum Islam, dan kedokteran. Banyak karyanya merupakan pelajaran tersembunyi bagi pemeluk tariqah sufi dan penempuh jalan spiritual. Karya Syaikh Nizhami qs terkenal karena bahasanya yang halus. Karya Laila dan Majnun sebenarnya berbentuk sajak berirama sebanyak 4500 syair sajak, yang dikenal dengan sebutan Matsnawi.  Sebagaimana lazimnya terjadi pada para Syaikh Sufi, yang tertinggal dari Syaikh Nizhami qs adalah ajaran-ajaran sufi yang sangat tinggi, yang mengingatkan para penempuh jalan spiritual ihwal kefanaan hidup didunia ini.

     
    • muhsin 2:56 pm on 1 Maret 2009 Permalink

      tiada kebahagiaan selain hidup bersama kekasih

    • peace dolphin 9:02 am on 9 Maret 2010 Permalink

      hanya kekasih ku yang mampu buat aku bertahan sampai saat ini…
      aku masih bisa tegar karena semanga darinya…
      yang selalu bilang “sabar ya dek….kita pasti bisa…baek baek saja yaa…aku ga bisa buat apa-apa lagi selain berdo’a…”

    • kafi 1:09 pm on 8 April 2010 Permalink

      aku suka cerita laila majnun..

    • Anton 7:04 pm on 24 Mei 2010 Permalink

      “Cinta kepada Allah lah yg kekal abadi”

    • Enda-chan 6:44 pm on 2 Juli 2010 Permalink

      betapa tulus.a cinta mereka…
      tp qu tidak brhrp kisah cintaqu semenderita itu..

    • prajurit setan 3:38 am on 13 Juli 2011 Permalink

      dahsyat gan

  • erva kurniawan 8:49 am on 3 January 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita, , , , , , ,   

    Kalau Halal, Pasti Kembali 

    dompet“Kalau halal, nanti kembali….”

    Kata-kata itu selalu terngiang di hati ini. Kata-kata dari Ibu saya saat saya kehilangan sesuatu milik saya yang sangat berarti. Saat ini, di hari Minggu sore, saya telah melakukan “something stupid” tanpa saya sadari. Saya kehilangan dompet saya beserta isinya: uang yang tidak sedikit (karena habis dapat bonus dari kantor), 2 kartu ATM, 1 kartu KTM, KTP, STNK, kartu Jamsostek, dan kartu-kartu keanggotaan lainnya. Bagaimana bisa hilang? Tanpa niatan buruk, Kakak saya ingin meminjam motor saya beserta STNK saya di dalam dompet. Kalau SNTK saya dipinjam, saya seringkali lupa memintanya kembali, padahal kakak-kakak saya, satu tinggal di Jakarta Barat dan satu lagi sedang ditugaskan dan tinggal di Makasar. Entah mengapa, kakak saya itu membawa STNK saya sekaligus dompet beserta isinya lengkap.

    Alhasil, jam 16.30, dia pulang dengan membawa kabar kalau dompet saya hilang terjatuh di jalan. Saya yang mendengarnya langsung berucap istighfar, dan… “Innalillahi. .. ”, “Allahuakbar”. … Semua “identitas” saya ada di situ. Saya melaporkan ke kantor Polisi dan memblokir kartu ATM saya. Otak saya sulit berpikir, air mata ini terus mengalir saja.

    Saya berpikir kemudian, “apa saya kurang bersedekah?” sehingga semua ini teguran Allah untuk saya? Di rumah, saya menghitung-hitung “hak” orang lain itu yang telah saya keluarkan bulan ini. Ternyata, sama sekali tidak ada masalah. Berarti, harapan saya hanya satu: “Kalau halal, pasti kembali….”

    Sebelumnya, saya pernah mengalami hal-hal serupa: milik saya yang berharga hilang. Saat SD, saya belum mempunyai tabungan untuk membeli apa-apa, penghapus “Stedler” saya yang “mahal”, hilang di sekolah. Saya pulang sambil menangis. Ibu saya menenangkan saya, sambil berkata “kalau halal, pasti kembali… ” Dua hari kemudian, penghapus itu kembali saya temukan (walaupun sepertinya habis dipakai orang).

    Sewaktu kuliah, saya bekerja “part time” dan dari hasil kerja saya, saya membeli HP baru seharga Rp1.500.000, 00. Entah, saat di angkot di depan Mal Depok, ada tiga orang pencuri HP akan mengambil HP saya, saya istighfar, sambil berdoa “Ya, Allah, saya membelinya dengan uang halal. ” Kemudian, pencuri itu ketahuan dan HP saya kembali.

    Saat teman saya memberi saya saputangan kucing dari Jepang sebagai hadiah, terjatuh di kampus dan saya mencarinya tiga hari tidak ketemu, saya ikhlas sambil berucap: kalau barang itu halal, pasti kembali. Keesokan harinya, Office Boy kampus, menghampiri saya untuk memberitahu kalau dia telah menemukannya. Sulit dimengerti di kampus yang luas itu. Alhamdulillah.

    Hal-hal serupa juga terjadi untuk yang lainnya, bahkan untuk “orang” lho (maksudnya??). Allah memang hebat, sesuai janjinya. Allahuakbar, terima kasihku tak terhingga, Ya Rabb.

    Sudah empat jam sejak kehilangan dompet itu, hati ini terus menangis sambil “menunggu” kabar. Saya membaca Al-Waqi’ah dan Yaasin supaya otak dan hati ini tenang. Semakin lama tidak ada kabar, hati ini pasrah, ikhlas. Hilang tidak apa-apa. Jika harus kehilangan semuanya, saya akan bekerja lagi dan mulai dari awal. Kepunyaan saya, toh, Allah yang memilikinya jua. Jika diambil untuk suatu “hikmah”, saya ikhlas karena memang tidak ada niatan buruk. Saya mulai memikirkan untuk mengurus semua surat-surat keesokan harinya. Bibir ini jadi tersenyum terus memikirkan apa yang sudah terjadi.

    Jam 9 malam, Ibu sedikit berteriak memanggil saya yang sudah lelah dan hendak “menidurkan” pikiran saya. Rupanya, ada dua orang laki-laki yang menemukan dompet saya. Mereka mengembalikannya lengkap dengan isi-isinya. Alhamdulillah, Ya, Rabb. Satu janji lagi telah terpenuhi. Saya memberi uang saku kepada kedua orang laki-laki itu, tidak banyak hanya Rp50.000, 00. Semoga Allah yang membalas mereka lebih dari saya.

    Satu lagi yang saya pelajari dari kata-kata ibu saya: “kalau halal, pasti kembali….”Maafkan hamba-Mu, Ya, Rabb, karena telah melakukan banyak kesalahan tanpa disadari. Amin.

     
    • Sri Mulyati 8:07 pm on 4 Oktober 2010 Permalink

      izin copi ya….

  • erva kurniawan 8:29 am on 1 January 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita, , , , , , ,   

    Kisah Nenek Pemungut Daun 

    img0015Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

    Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.

    Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah isapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”

    Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

    “Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.”

    Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Alloh swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Alloh. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasululloh saw?

     
    • saiful 5:52 pm on 24 Februari 2010 Permalink

      sungguh mengesankan sekali .. itu dalam dunia ini jarang sekali kita jumpai hal yang demikian mulainya… … palagi dilakukan oleh seorang nenek yang tua renta sebagai generasi muda … tidak bisa kan kita melakkan hal yang mulia melebihi nenek itu,….??

  • erva kurniawan 6:44 am on 28 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: cerita, , , , , , ,   

    Sedekah Yang Salah Alamat 

    sedekahSuatu ketika, Rasulullah Saw., seperti yang kerap beliau lakukan, berbincang-bincang dengan para sahabat di serambi Masjid Nabawi, Madinah. Selepas berbagi sapa dengan mereka, beliau berkata kepada mereka,

    “Suatu saat ada seorang pria berkata kepada dirinya sendiri, ‘Malam ini aku akan bersedekah!’ Dan benar, malam itu juga dia memberikan sedekah kepada seorang perempuan yang tak dikenalnya. Ternyata, perempuan itu seorang pezina. Sehingga, kejadian itu menjadi perbincangan khalayak ramai.

    “Akhirnya, kabar tersebut sampai juga kepada pria itu. Mendengar kabar yang demikian, pria itu bergumam, ‘Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu.Ternyata, sedekahku jatuh ke tangan seorang pezina. Karena itu, aku akan bersedekah lagi!’

    “Maka, pria itu kemudian mencari seseorang yang menurutnya layak menerima sedekah. Ternyata, penerima sedekah itu, tanpa diketahuinya, adalah orang kaya. Sehingga, kejadian itu lagi-lagi menjadi perbincangan khalayak ramai, lalu sampai juga kepada pria yang bersedekah itu.

    “Mendengar kabar yang demikian, pria itu pun bergumam,’Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu. Ternyata, sedekahku itu jatuh ke tangan orang kaya. Karena itu, aku akan bersedekah lagi!’

    Maka, dia kemudian, dengan cermat, mencari seseorang yang menurutnya layak menerima sedekah. Ternyata, penerima sedekah yang ketiga, tanpa diketahuinya, adalah seorang pencuri. Tak lama berselang, kejadian itu menjadi perbincangan khalayak ramai, dan kabar itu sampai kepada pria yang bersedekah itu.

    Mendengar kabar demikian, pria itu pun mengeluh, ‘Ya Allah! Segala puji ha­nya bagi-Mu! Ya Allah, sedekahku ternyata jatuh ke tangan orang-orang yang tak kuduga: pezina, orang kaya, dan pencuri!’

    Pria itu kemudian didatangi (malaikat utusan Allah) yang berkata, “Sedekahmu telah diterima Allah. Bisa jadi pezina itu akan berhenti berzina karena menerima sedekah itu. Bisa jadi pula orang kaya itu mendapat pelajaran karena sedekah itu, lalu dia menyedekahkan sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah kepadanya. Dan, bisa jadi pencuri itu berhenti mencuri selepas menerima sedekah itu.”

     

    (Diceritakan kembali dari sebuah hadis yang dituturkan oleh Muslim dan Abu Hurairah dalam Teladan indah Rasullulah dalam ibadah, Ahmad Rofi ‘Usmani)

     
    • AloNg CaPR 1:46 pm on 2 Oktober 2009 Permalink

      Yang penting kita perbanyakkan sedekah! :)

    • iwan 8:10 am on 27 Oktober 2009 Permalink

      jk niat kita baik di jalan Allah tdk ada kata salah alamat.

  • erva kurniawan 6:30 am on 27 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: cerita, , , , , , ,   

    Andaikata Aku Bisa Memberi Lebih Banyak Lagi 

    masjidSeperti yang telah biasa dilakukan ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia, maka Rasulullah SAW mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.

    Kemudian Rasulullah SAW bertanya, “Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?”. Istrinya almarhum menjawab, “Saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal”. “Apa yang dikatakannya?” . “Saya tidak tahu, ya Rasulullah SAW, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah rintihan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.” “Bagaimana bunyinya?” desak Rasulullah SAW. Istri yang setia itu menjawab, “Suami saya mengatakan “Andaikata lebih jauh lagi…andaikata yang masih baru…..andaikata semuanya….” hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?” Rasulullah SAW tersenyum “sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru”.

    Kisahnya begini. Pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata “Andaikan lebih jauh lagi”. Maksudnya, andaikata jalan ke masjid itu lebih jauh lagi, pasti pahalanya lebih besar pula.

    Ucapan lainnya ya Rasulullah SAW?” tanya sang istri mulai tertarik. Nabi menjawab, “Adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, “Andaikata yang masih baru kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi”. Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

    Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rasulullah SAW?” tanya sang istri makin ingin tahu. Dengan sabar Nabi menjelaskan, “Ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan menghembuskan nafasnya, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ‘kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda.

    Begitulah keadilan Tuhan. Pada hakekatnya, apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan orang lain. Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk. Akibatnya juga menimpa kita sendiri. “Kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula.” (QS.Al Isra’: 7)

     
    • heri 5:25 pm on 18 Desember 2009 Permalink

      nice thing come from the deep inside, alloh is the mighty

  • erva kurniawan 6:13 am on 27 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: cerita, , , , , , , , kumpulan kisah teldan   

    Sedekah Yang Menghajikan 

    hajiPak Asep membenahi barang dagangannya, guratan-guratan tua di kening, wajahnya tetap kelihatan bening. Sejak setahun lalu kopiah putih selalu menghiasi kepalanya, menutupi rambutnya yang seluruhnya telah berwarna putih. “Alhamdulillah Jang, kadang sepi kadang ramai,” katanya menceritakan usahanya dengan bibir terus tersenyum. Dalam usia yang ke 67 ini Pak Asep ditemani istrinya mengurus warung kelontong berukuran 3 kali 4 meter.

    Pak Asep dan istrinya belum dikaruniai anak. Diusia yang senja mereka terlihat menikmati hidup. Toko kelontong yang ada di depan rumahnya yang ada di sebuah gang kecil di Bandung itu jadi satu-satunya penopang kebutuhan hidup mereka sehari-hari. “Ini kenang-kenangan dari Mekkah, Jang,” menunjuk kopiah putihnya. Pak Asep dan Istrinya memang pergi ke tanah suci tahun lalu. “Dari dulu Bapak pingin pergi haji”, lanjutnya.

    Hal ini membuatnya berkomitmen untuk menabung sedikit demi sedikit dari hasil penjualan barang-barang di warungya. “Saya mah pokoknya niat pingin sekali pergi ke tanah suci,” lanjutnya. Bertahun-tahun sudah tabungannya, sesekali dihitungnya sekedar untuk makin menguatkan keinginannya. “Kurang beberapa juta lagi, Nyi, cukup da, beberapa tahun lagi, gak lama,” katanya pada istrinya. Senyum Pak Asep dan Istrinya merekah.

    Terbayang ia bersama istrinya akan berthawaf keliling mengucapkan talbiah, “Labbaik Allaahumma Labbaik”. Saat-saat yang diimpikannya bertahun-tahun, untuk menyempurnakan rukun Islam, rindu di hari tuanya mendekat kepada Sang Khalik .

    Dalam hari-hari semangatnya berhaji itu, tiba-tiba sampai di telinganya sebuah kabar tentang tetangganya masuk rumah sakit dan harus dioperasi. Para tetangga sebenarnya sudah iuran membantu meringankan biaya rumah sakitnya. Tapi biaya operasi memang mahal. Pak Asep tersentak……….

    Terbayang olehnya uang tabungannya untuk biaya haji dapat membantu operasi te tangganya yang tak berpunya. “Haji ibadah, sedekah juga ibadah, gak apa sedekah kan uang kita untuk berobat, Ki,” istrinya mendukung uang tabungannya bertahun-tahun itu diberikan untuk biaya tetangganya yang dioperasi di rumah sakit.

    “Kang, terima ini ya, rezeki mah dari Allah, mungkin emang lewat saya, biarlah ini jadi jalan makin yang mendekatkan aku pada Allooh, moga-moga cepet sembuh, kang,” katanya sambil menyerahkan amplop tebal uang tabungannya yang berbilang tahun itu. Dipeluknya Pak Asep dengan erat.

    Sedikit yang tahu ketulusan Pak Asep dan Istrinya ini.

    Ketika dokter yang merawat temannya ini heran dari mana ia bisa membiayai operasi yang mahal ini, maka sampailah cerita tentang uang tabungan Pak Asep ini. “Boleh saya dikenalkan sama Pak Asep, pak?” sambut sang dokter terharu. Maka ditemuinya Pak Asep dan istrinya. Dan ditemuinya keteduhan seorang dermawan. Raut wajah yang kaya, meski dalam kesederhanaan hidup. “Pak Asep, saya ada rezeki, bolehkan saya ikut mendaftarkan Bapak dan istri pergi haji bersama saya dan keluarga?” Sang dokter menawarkan. Pak Asep dan istriya sejenak berpandangan. Tak kuat lagi menahan haru, dipeluknya dokter dermawan tadi. “Alloh Maha Kaya,” ucapnya lirih di telinga dokter.

    (sahabat, menangislah kalau terharu…..).

    Maka kakinya kemudian hadir di Baitullah, berhaji, dengan karunia dan rezeki dari Allah. Pak Asep dan istri seakan mereguk hidangan Allah yang sempurna, buah dari kedermawanannya.

    Kisah Pak Asep mungkin saja banyak terjadi kehidupan kita. Pak Asep-Pak Asep lain pun telah menggores hikmah kehidupannya sendiri. Atau bahkan telah pula sering kita alami sendiri. Dan selalu saja sedekah akan menyuburkan hati kita, memberkahi kehidupan kita. Maka mengapa kita menunda sedekah kita ?

     
    • dian ariesta 8:27 pm on 18 Januari 2009 Permalink

      assalaamu’alaikum wr. wb.
      salam kenal, bung

      wassalaamu’alaikum wr. wb.

    • deny permana 7:33 pm on 27 Januari 2009 Permalink

      inilah bukti bahwa allah maha kaya dan membalas amalan hambanya yang ikhlas dalam beramal walaupun dirinya juga membutuhkan….

  • erva kurniawan 5:56 am on 26 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: cerita, , , , , , kisah Sayidatina Fatimah, , , , Sayidatina Fatimah   

    Sayidatina Fatimah r.ha 

    bunga-putihDia besar dalam suasana kesusahan. Ibundanya pergi ketika usianya terlalu muda dan masih memerlukan kasih sayang seorang ibu. Sejak itu, dialah yang mengambil alih tugas mengurus rumahtangga seperti memasak, mencuci dan menguruskan keperluan ayahandanya.

    Di balik kesibukan itu, dia juga adalah seorang yang paling kuat beribadah. Keletihan yang ditanggung akibat seharian bekerja menggantikan tugas ibunya yang telah pergi itu, tidak pula menghalang Sayidatina Fatimah daripada bermunajah dan beribadah kepada Allah S.W.T. Malam- malam yang dilalui, diisi dengan tahajud, zikir dan siangnya pula dengan sholat, puasa, membaca Al Quran dan lain-lain. Setiap hari, suara halusnya mengalunkan irama Al Quran.

    Di waktu umurnya mencapai 18 tahun, dia dikawinkan dengan pemuda yang sangat miskin hidupnya. Bahkan karena kemiskinan itu, untuk membayar mas kawin pun suaminya tidak mampu lalu dibantu oleh Rasulullah S.A.W.

    Setelah berkawin kehidupannya berjalan dalam suasana yang amat sederhana, gigih dan penuh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Digelari Singa Allah, suaminya Sayidina Ali merupakan orang kepercayaan Rasulullah SAW yang diamanahkan untuk berada di barisan depan dalam tentera Islam. Maka dari itu, seringlah Sayidatina Fatimah ditinggalkan oleh suaminya yang pergi berperang untuk berbulan-bulan lamanya. Namun dia tetap ridho dengan suaminya. Isteri mana yang tidak mengharapkan belaian mesra daripada seorang suami. Namun bagi Sayidatina Fatimah r.ha, saat-saat berjauhan dengan suami adalah satu kesempatan berdampingan dengan Allah S.W.T untuk mencari kasih-Nya, melalui ibadah-ibadah yang dibangunkan.

    Sepanjang pemergian Sayidina Ali itu, hanya anak-anak yang masih kecil menjadi temannya. Nafkah untuk dirinya dan anak-anaknya Hassan, Hussin, Muhsin, Zainab dan Umi Kalsum diusahakan sendiri. Untuk mendapatkan air, berjalanlah dia sejauh hampir dua batu dan mengambilnya dari sumur yang 40 hasta dalamnya, di tengah teriknya matahari padang pasir.

    Kadangkala dia lapar sepanjang hari. Sering dia berpuasa dan tubuhnya sangat kurus hingga menampakkan tulang di dadanya.

    Pernah suatu hari, ketika dia sedang tekun bekerja di sisi batu pengisar gandum, Rasulullah datang berkunjung ke rumahnya. Sayidatina Fatimah yang amat keletihan ketika itu lalu meceritakan kesusahan hidupnya itu kepada Rasulullah S.A.W. Betapa dirinya sangat letih bekerja, mengangkat air, memasak serta merawat anak-anak. Dia berharap agar Rasulullah dapat menyampaikan kepada Sayidina Ali,kalau mungkin boleh disediakan untuknya seorang pembantu rumah. Rasulullah saw merasa terharu terhadap penanggungan anaknya itu.

    Namun baginda amat tahu, sesungguhnya Allah memang menghendaki kesusahan bagi hamba-Nya sewaktu di dunia untuk membeli kesenangan di akhirat. Mereka yang rela bersusah payah dengan ujian di dunia demi mengharapkan keridhoan-Nya, mereka inilah yang mendapat tempat di sisi-Nya. Lalu dibujuknya Fatimah r.ha sambil memberikan harapan dengan janji-janji Allah. Baginda mengajarkan zikir, tahmid dan takbir yang apabila diamalkan, segala penanggungan dan bebanan hidup akan terasa ringan.

    Ketaatannya kepada Sayidina Ali menyebabkan Allah S.W.T mengangkat darjatnya. Sayidatina Fatimah tidak pernah mengeluh dengan kekurangan dan kemiskinan keluarga mereka. Tidak juga dia meminta-minta hingga menyusah-nyusahkan suaminya.

    Dalam pada itu, kemiskinan tidak menghilang Sayidatina Fatimah untuk selalu bersedekah. Dia tidak sanggup untuk kenyang sendiri apabila ada orang lain yang kelaparan. Dia tidak rela hidup senang dikala orang lain menderita. Bahkan dia tidak pernah membiarkan pengemis melangkah dari pintu rumahnya tanpa memberikan sesuatu meskipun dirinya sendiri sering kelaparan. Memang cocok sekali pasangan Sayidina Ali ini karena Sayidina Ali sendiri lantaran kemurahan hatinya sehingga digelar sebagai ‘Bapa bagi janda dan anak yatim di Madinah.

    Namun, pernah suatu hari, Sayidatina Fatimah telah menyebabkan Sayidina Ali tersentuh hati dengan kata-katanya. Menyadari kesalahannya, Sayidatina Fatimah segera meminta maaf berulang-ulang kali.

    Ketika dilihatnya raut muka suaminya tidak juga berubah, lalu dengan berlari-lari bersama anaknya mengelilingi Sayidina Ali. Tujuh puluh kali dia ‘tawaf’ sambil merayu-rayu memohon dimaafkan. Melihatkan aksi Sayidatina Fatimah itu, tersenyumlah Sayidina Ali lantas memaafkan isterinya itu.

    “Wahai Fatimah, kalaulah dikala itu engkau mati sedang Ali tidak memaafkanmu, niscaya aku tidak akan menyembahyangkan jenazahmu,” Rasulullah SAW memberi nasehat kepada puterinya itu ketika masalah itu sampai ke telinga baginda.

    Begitu tinggi kedudukan seorang suami yang ditetapkan Allah S.W.T sebagai pemimpin bagi seorang isteri. Betapa seorang isteri itu perlu berhati-hati dan sopan di saat berhadapan dengan suami. Apa yang dilakukan Sayidatina Fatimah itu bukanlah disengaja. bukan juga dia membentak – bentak, marah-marah, meninggikan suara, bermasam muka, atau lain-lain yang menyusahkan Sayidina Ali k.w. meskipun demikian Rasulullah SAW berkata begitu terhadap Fatimah.

    Ketika perang Uhud, Sayidatina Fatimah ikut merawat luka Rasulullah. Dia juga turut bersama Rasulullah semasa peristiwa penawanan Kota Makkah dan ketika ayahandanya mengerjakan ‘Haji Wada’ pada akhir tahun 11 Hijrah. Dalam perjalanan haji terakhir ini Rasulullah SAW telah jatuh sakit. Sayidatina Fatimah tetap di sisi ayahandanya. Ketika itu Rasulullah membisikkan sesuatu ke telinga Fatimah r.ha membuatnya menangis, kemudian Nabi SAW membisikkan sesuatu lagi yang membuatnya tersenyum.

    Dia menangis karena ayahandanya telah membisikkan kepadanya berita kematian baginda. Namun, sewaktu ayahandanya menyatakan bahwa dialah orang pertama yang akan berkumpul dengan baginda di alam baqa’, gembiralah hatinya. Sayidatina Fatimah meninggal dunia enam bulan setelah kewafatan Nabi SAW, dalam usia 28 tahun dan dimakamkan di Perkuburan Baqi’, Madinah.

    Demikianlah wanita utama, agung dan namanya harum tercatat dalam al-Quran, disusahkan hidupnya oleh Allah S.W.T. Sengaja dibuat begitu oleh Allah kerana Dia tahu bahawa dengan kesusahan itu, hamba-Nya akan lebih hampir kepada-Nya. Begitulah juga dengan kehidupan wanita-wanita agung yang lain. Mereka tidak sempat berlaku sombong serta membangga diri atau bersenang-senang. Sebaliknya, dengan kesusahan-kesusahan itulah mereka dididik oleh Allah untuk senantiasa merasa sabar, ridho, takut dengan dosa, tawadhuk (merendahkan diri), tawakkal dan lain-lain.

    Ujian-ujian itulah yang sangat mendidik mereka agar bertaqwa kepada Allah S.W.T. Justru, wanita yang sukses di dunia dan di akhirat adalah wanita yang hatinya dekat dengan Allah, merasa terhibur dalam melakukan ketaatan terhadap-Nya, dan amat bersungguh-sungguh menjauhi larangan-Nya, biarpun diri mereka menderita.

    ***

     
    • deny permana 7:53 pm on 27 Januari 2009 Permalink

      INILAH POTRET WANITA SOLEHAH SEJATI YANG SUDAH JARANG KITA TEMUI DIJAMAN YANG PENUH FITNAH INI…..

    • Annisa 12:55 pm on 23 Juni 2009 Permalink

      ya.. Allah berilah kami kekuatan untuk dapat mengikuti langkah putri tersayang Rasul..dalam mengarungi kehidupan ini..
      jadikanlah hambamu ini wanita lembut dan mampu mengurai masalah yang datang dengan baik..
      jadikanlah hamba seorang anak, istri, ibu dan wanita yang baik..
      amiin… 100 x

  • erva kurniawan 7:09 pm on 20 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: cerita, , , , , , , , ,   

    ‘Malaikat’ di Bandara Casablanca 

    bandara casablanca Minggu, 26 Agustus 2007

    Berulangkali, saya mencarinya di Bandara Casablanca, tetapi tidak pernah kutemukan pria bernama Moh Yassin. ’Malaikat’-kah Dia?

    Saat itu, genap empat bulan setelah bersungkem pada ayah-bunda di Tanah Air. Saya kembali ke Maroko, negeri tempatku kini menempuh studi di universitas al-Qurawiyin (oleh para wisatawan Eropa biasa disebut al-Karawiyine) Maroko.

    Ketika Qatar Airwaiys, pesawat yang kunaiki dari Jakarta-Casablanca, transit di Doha (Qatar) selama 18 Jam. Kebetulan mendapat fasilitas hotel al-Muntazah plaza, tidak jauh dari jantung kota Doha . Tentu saja saya tidak mungkin mengurung diri dalam kamar hotel sejak pukul 7.00 pagi itu, dalam benakku memutuskan untuk jalan-jalan.

    Setelah sholat Ashar, saya pun berjalan kaki secukupnya di jantung ibu kota Negara yang waktu itu sedang menjadi tuan rumah Asian Games ke-15. Jujur saja saya lebih dari empat kali transit di bandara Doha , tetapi baru kali itu bisa jalan-jalan di jantung kotanya.

    Tertarik ingin membeli beberapa barang kecil, utamanya makanan kecil, dalam benakku sekedar ingin ‘mencicipi’. Saya mendekati kotak Automatic Teller Machine (ATM) tertulis “Bank Islami” yang terletak di depan salah satu pusat perbelanjaan, dengan maksud mengambil sejumlah uang yang kubutuhkan.

    Awalnya, saya tenang-tenang saja, sebab di ATM itu jelas terdapat logo; Mastercrad, Visa, dan logo lainnya tanda fungsi ATM Internasional, sehingga berdasar logo-logo itu, saya pun yakin bahwa kartu ATM milikku bisa difungsikan di situ.

    Sungguh kaget, di luar dugaan, entah kenapa padahal sebelumnya orang silih-berganti tampak dengan normal bisa mengambil uang di situ. Tetapi ketika saya memasukkan kartu ATM, kok tiba-tiba eror? Kagetnya lagi, kartu ATM ’tertelan’ alias tidak bisa keluar. Sedangkan waktu setempat sudah menunjukkan pukul 19.00, tutup kantor. Apalagi hari Jum’at adalah hari libur setempat yang tidak memungkinkan saya untuk langsung menghubungi pihak bank.

     

    Awal Kesedihan

    Saya mulai gundah. Dalam hati, saya berdoa; “Semoga tidak terjadi apa-apa dengan sejumlah uang yang berada di rekeningku”. Karena ketika itu, saya juga tidak bisa dan tidak mungkin menghubungi ke Indonesia (bank tempat saya buka rekening) untuk menutup kartu ATM yang tertahan di kotak ini.

     

    Dengan perasaan tidak menentu, saya meninggalkan kotak ATM, seraya berpikir bagaimana nanti biaya transportasiku dari bandara Casablanca, ke kota tempat kuliahku yang jaraknya sangat jauh.

    Tiba-tiba saya ingat, ketika di bandara Soekarno Hatta, Jakarta , ibuku sempat memasukkan sejumlah uang cash ke dalam saku jaket hitamku, entah berapa jumlahnya. Kurogo sakuku, sayangnya, ternyata bukanlah Dollar atau Euro atau mata uang asing yang bisa ditukar di negara mana saja, tapi hanya lembaran-lembaran Rupiah.

    Meski demikian dengan sikap spekulasi saya pun ‘nekat’ mendekati money changer yang kebetulan buka (meskipun di luar jam kerja itu), namun pelayan yang tampangnya orang pekerja asal Pakistan atau India itu, dengan mengggunakan bahasa Arab langsung menolaknya ketika saya mengeluarkan sejumlah Rupiah dari saku jaketku.

     

    Wajah Asia

    Waktu setempat Adzan Maghrib sudah lama berkumandang dan dengan niat shalat maghrib dijama Ta’chir, dengan berjalan kaki sayapun memutuskan untuk kembali ke Hotel, tempatku transit.

    Baru saja sekitar 30 menit berbaring di kamar no: 22 lantai 6 hotel itu. Tiba-tiba telepon disampingku berbunyi kuangkat: Suara dari sebrang berbahasa Inggris, “Para pengunjung hotel dipersilahkan turun untuk makan malam di restoran yang terletak di lantai dasar.”

    Restoran itu juga dibuka untuk umum, tidak hanya bagi tamu hotel. Keadaan restoran pun cukup ramai dengan wajah-wajah pribumi beserta keluarganya, bersurban, gamis dan para wanita ber-abaya meski banyak juga yang membuka niqob (cadar)nya. Jauh berbeda ketika kondisi makan siang, tak terlalu ramai.

    Muaranya bertanya-tanya dalam hati, kenapa ketika saya duduk seorang diri di samping meja makan dan mengambil menu secukupnya dengan mengenakan kaos oblong dan jaket hitam, para pengunjung restoran (tampang pribumi) selalu saja melihat saya dengan tatapan sinis. Saya pun tetap bersikap tenang.

    Selepas makan, saya berbincang-bincang kecil dengan seorang gadis berwajah Filipina yang bekerja sebagai resepsionis di hotel itu, dengan pendekatan ke-Asia-an (dengan bahasa Inggris) saya bertanya, “Kenapa kok para pengunjung restoran hotel ini selama saya berada di ruang makan tampak sinis memandang, padahal sebelumnya saya pernah singgah di negara-negara bagian Teluk lain, seperti Saudi dan lainnya, tetapi tidak seperti ini?”

    Si gadis Filipina itu menjawab,”Bisa jadi mereka keanehan, ada wajah Asia nimbrung di meja makan restoran yang dikunjungi mayoritas oleh pribumi berkantong tebal, sedangkan mayoritas wajah Asia di sini hanya jadi pelayan. Dan memang biasanya mereka memandang rendah kepada orang Asia, karena di sini (Asia) dianggap bangsa kelas pembantu”. Tandasnya. Setelah berpamitan, sayapun bergegas pergi meninggalkannya.

    Pukul 22.00 waktu setempat. Saat itu 2 Desember 2006. Pihak hotel pun memberitahukan, bahwa para pengunjung akan melangsungkan perjalanan ke Casblanca, agar bersiap-siap menuju bandara Doha .

     

    Letak Kesalahanku

    Pukul 8.30. GMT, saya tiba di bandara Mohammad V, Casablanca, Maroko. Lebih dari satu jam lamanya saya berpikir. “Bagaimana untuk bisa sampai ke kota tempat kuliahku, sedangkan tidak ada sepeserpun uang yang bisa kupakai untuk naik kereta api, transportasi tunggal dari bandara?”

    Dalam ketermenungan, saya berpikir apakah yang menyebabkan ‘kesusahan’ saya ini. Orang bijak bilang, “setiap hal ada sebabnya”. Tapi apa sebabnya?

    Meditel (kartu Hand phone Maroko) pun saya aktifkan kembali, yang

    kusimpan selama berada di Indonesia. Bermaksud menghubungi kawan-kawanku di Maroko, tapi, nyatanya, tidak ada sepeserpun pulsa di dalamnya. Lengkaplah sudah.

    Di tengah kegalauan, tiba-tiba ponselku berdering. Ibundaku dari Indonesia bertanya, “Kamu sudah sampai tujuan dengan selamat?”

    Setelah menjawab seperlunya, tidak sengaja saya sepontan bilang, ”Bahwa saya sedang dalam masalah.” Dengan nada sedikit kesal, ibunda berkata, “Apa kamu ingat, ketika ibumu menyelipkan sejumlah uang tunai rupiah di saku jaketmu di bandara Jakarta . Ibu sudah bilang, tukar dulu rupiah ini di money changer, untuk bekal diperjalananmu, tapi waktu itu kamu tampaknnya tidak mengindahkan pesan ibu, kamu bilang cukup dengan kartu ATM yang kau pegang itu. Itulah akibatnya kalau kurang mengindahkan omongan ibumu”.

    ”Jeweran” ibu mengingatkan atas kesalahanku. Saat itu juga, saya langsung memohon maaf pada ibunda. Dengan ringan Beliau pun memaafkanku.

    “Pelayanan teknologi (ATM) bisa eror kapan saja. Tapi restu ibumu akan setia kapan dan di mana saja kamu berada, selagi kamu mengindahkan nasehatnya”.

    Sebelum telpon di putus, ibu sempat mendoakan, ”Semoga kamu mendapat jalan keluar.”

    Terbersit dianganku. Jika anak manusia selalu berusaha untuk mengindahkan (apalagi mentaati) sekecil apapun pesan-pesan orang tua, utamanya ibunya. Maka ia selalu meraih keberuntungan dan kemudahan segala urusannya dunia dan akhirat. Di antara contohnya ”Malin kundang”, di tengah kesuksesannya dihunjami adzab Tuhan, akibat kedurhakaan kepada ibunya. Na’udzu billah mindzalik.

     

    Pergolakan Prinsip

    Jam di dinding bandara Casablanca menujukan pukul 9.30. GMT.

    Dengan berifikir cepat, saya sempat melirik beberapa barang ditanganku yang memungkinkan untuk bisa dijual dengan harga murah demi untuk mendapatkan ongkos meneruskan perjalanan. Diantaranya, ada hand phone Nokia N 72 (waktu itu harganya masih cukup lumayan), ada handy Cam Sony jenis mini, laptop, dan berbagai barang berharga lainnya.

    Tetapi masih tetap terngiang di telinga pesan kedua orang tuaku, utamanya ibuku. Semenjak saya duduk di bangku pesantren tingkat SLTP, ibu pernah menasehati, “Anak-anakku, dalam kondisi bagaimanapun, jangan sekali-kali kamu menjual barang-barang yang kau pergunakan itu, karena sikap demikian berakibat tidak baik pada pribadimu”.

    Saya kembali termenung. Unsur Qowaid al-Fiqh pun sempat hinggap di benakku:”al-Hukmu yadurru ma’a illatihi a’daman wa wujudan”. Atau hal haram bisa menjadi halal sesuai tuntutan situasi dan kondisi. Seolah-olah pikiran semacam itu mendorongku untuk menjual sebagian barang-barangku, melanggar pesan ibuku. Demi mendapatkan ongkos.

    Akan tetapi, perspektif tasawwuf, sungguh tidak baik jika melanggar pesan orang tua kedua kalinya, utamanya ibunda. Meskipun sekarang ini saya dalam kondisi sangat membutuhkan uang, demikian gumamku.

    Di sisi lain saya menyadari, ketika di bandara Jakarta saya kurang mengindahkan pesan ibunda, tersebut di atas tadi. Dan ‘kesusahan’ ini akibatnya.

    Berniat (belajar) selalu mentaati nasihat orang tuaku. Kuputuskan untuk tidak menjual barang apapun, apalagi laptop yang di dalamnya terdapat data-data penting.

    Lagi-lagi, saya pun berspekulasi (seperti di Qatar tadi), sejumlah rupiah yang ada di saku kukeluarkan dan mendekati money changer, dan sudah kuperkirakan sebelumnya, di sanapun menjawab, “Di sini tidak menerima Rupiah”. Demikian penjelasan mereka menggunakan bahasa Perancis, bahasa resmi di instansi-instansi Maroko itu.

    Di depan money changer itu, saya berdiri dengan memegang dua tasku, diam berdo’a dalam hati tak terasa air mataku membasahi pipi, termenung, berpikir mencari jalan keluar, di tengah-tengah kejamnya kota Casablanca itu. Ya, Maroko memang bagian Negara Arab berpenduduk mayoritas Muslim, tetapi berbagai aspek hidup dan kehidupannya sudah terkena imbas Eropa, individualistis dan egoistisnya lebih kejam daripada Jakarta .

     

    ‘Malaikat’

    Di saat ketermenungan, tiba-tiba saya dikagetkan datangnya seorang laki-laki berpakaian dinas polisi bandara setempat. (Maaf), tangan kanannya buntung tanpa jari-jari. Sambil menepuk punggungku dia mengucapkan “Assalamu’alaikum” .

    Belum selesai menjawab ucapan,”Wa’alaikum salam”. Dia berkata lagi (dengan bahasa Arab), “Wahai anak muda, kamu berasal dari negara bagian Asia, ya? Dan ada masalah apakah tampaknya kamu gusar?”

    Saya menjelaskan secukupnya saja. Tiba-tiba dia mengeluarkan sejumlah Dirham (mata uang Maroko) dengan jumlah yang lebih dari cukup untuk ongkos yang saya butuhkan, ia membeberkan dan menyodorkannya ke saya.

    Awalnya sayapun menolak, tapi ia memaksaku untuk menerimanya.

    Baru saja saya menyentuh uang itu, ia buru-buru merogoh sakunya lagi, dan mengeluarkan sejumlah uang dalam bentuk Riyal Saudi dan Dollar Amerika (saya lupa jumlah persisnya), seraya berkata, “Ini uang tambahan. Kalau tadi kamu menukar uang (Rupiah, pen) ditolak, maka tukarlah uang-uang ini, kamu tidak akan ditolak lagi”. Tandasnya, seolah-olah dia tahu kalau sebelumnya saya menukar Rupiah dan ditolak, seraya Ia pun buru-buru ngeloyor pergi.

    Saya buru-buru mencegat langkahnya. Dia bertanya: “Ada apalagi?”

    “Bolehkah tau namamu?”, tanyaku.

    “Tidak perlu?”

    “Bolehkan saya tahu nomer telponmu?”

    “Tidak ada manfaatnya,” tambahnya.

    “Cukup besar uang yang kamu berikan padaku, maka ambillah salah-satu identitasku ini, entah passport, atau KTP (Maroko) atau kartu mahasisswa, besok atau lusa saya datang padamu untuk mengambilnya dan mengembalikan uang yang kau pinjamkan ini. Karenanya, saya minta nomer telpon antum,” begitu pintaku.

    Dengan tegas, ia menjawab, ”Saya tidak meminjamkan uang padamu, uang-uang itu adalah hakmu. Jika kapan-kapan kamu singgah di bandara Casablanca ini, cari saja namaku, Mohammad Yasin.” Dan, pria baik hati itupun buru-buru pergi meninggalkanku yang saat itu masih kaget dan bercampur heran.

    Dua minggu kemudian, dari Tetouan, kota tempat kuliah, saya menjemput kakaku yang baru datang dari Saudi Arabia di bandara Casablanca.

    Mengenal peristiwa sebelumnya, saya sudah saya menyiapkan sejumlah uang dalam amplop, untuk saya kembalikan kepada orang yang mengaku bernama Mohammad Yasin tadi. Tetapi sesampainya di Bandara Casablanca, saya tak menemukan pria itu.

    Sudah beberapa aparat dan kantor polisi bandara aku tanyai, tak ada orang bernama Mohammad Yasin.

    Dua puluh hari kemudian, saya kembali lagi ke bandara Casablanca menjemput sahabatku mahasiswa universitas az-Zaituna Tunis yang berkunjung ke Maroko.

    Saya pun kembali mencari orang yang bernama “Mohammad Yasin” di setiap pos dan kantor pegawai bandara, termasuk mengecek di pusat data pegawai bandara, namun ternyata saya tetap belum menemukannya, dan mayoritas pegawai di sana menjawab: “Di bandara ini tidak ada pegawai yang bernama Mohammad Yasin”

    Jujur awalnya saya ragu menulis kisah ini. Tetapi karena pencarian itu sudah saya lakukan berulang- kali hampir satu tahun lamanya, kucari dan kucari dia setiap kali saya ada keperluan di bandara Casablanca. Namun belum kutemukan juga orang itu. Sampai saya buat tulisan ini. Jadi, siapakah Dia? Wallohu a’lam.

    [Nasrulloh Afandi. Sekarang sedang melanjutkan kuliah di Maroko.]

     
    • Hilal 9:44 am on 31 Agustus 2009 Permalink

      Masya Allah, mungkin Allah SWT mengirimkan Malaikat-Nya berkat kiriman do’a sang ibu.

  • erva kurniawan 7:05 pm on 20 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: cerita, , , , , , , suami pilihan   

    Suami Pilihan 

    stasiun tanah abangBelum terlalu lama saya mengenalnya, baru sekitar 3 bulan lalu semenjak saya memutuskan untuk berlangganan ojeg dengannya. Tarif ojegnya lebih murah dibanding dengan yang ditawarkan tukang ojeg lainnya. Jika yang lain meminta Rp 7000, dia hanya meminta Rp 5000 untuk pengganti jasa mengantarkanku dari stasiun Tanah Abang menuju kantorku di Slipi.

    Pak Asmadi namanya, usianya sudah kepala empat, ia mengaku sudah delapan belas tahun menjalani profesinya sebagai tukang ojeg. Pertemuan yang hampir tiap hari dengannya, membuat saya tahu tentang sedikit kisah hidupnya, kadangkala saya dibuat kagum ketika darinya saya peroleh kata-kata bijak, nasehat, layaknya seorang bapak yang sedang menasehati anaknya.

    Siapa menyangka kalau tukang ojeg yang hanya lulusan SLTA itu mempunyai seorang isteri yang berpangkat eselon 3 di salah satu kantor pemerintahan di Jakarta. Isterinya adalah lulusan pasca sarjana dari salah satu universita negeri di Jakarta. Ketiga anak yang dimilikinya semua juga berpendidikan sarjana, hanya Pak Asmadi sendiri yang hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat SLTA. Dari hasil menarik ojeg itulah Pak Asmadi membiayai anak-anaknya kuliah. Kadangkala Pak Asmadi juga mencari tambahan penghasilan lain misalnya dengan berdagang kambing ketika mendekati hari raya Idul Adha.

     Awalnya, saya berpikir hal ini sebagai sebuah kemustahilan, di benak ini selalu saja timbul pertanyaan “Bagaimana mungkin Pak Asmadi seorang tukang Ojeg itu bisa memiliki seorang Isteri yang berpendidikan dan berjabatan tinggi di kantor pemerintahan? “. Ada rasa tak percaya sampai di kemudian hari Pak Asmadi memperlihatkan pada saya foto Isterinya sedang dilantik oleh salah satu menteri. “Ini mbak, foto isteri saya waktu dilantik oleh Pak Mentri, dan yang satunya itu foto saya sewaktu mendampinginya. ..” Tunjuk Pak Asmadi. Terlihat foto seorang wanita yang sedang bersalaman dengan seorang menteri, dan sebuah foto lagi menampilkan foto bersama seluruh jajaran pejabat dengan para pasangannya, kulihat Pak Asmadi memang ada di situ dengan baju batik coklatnya. Dari wajahnya memancar senyum bahagia begitu pula dengan isterinya.

     ****

    Saya sering melihat rubrik kontak jodoh di salah satu media cetak di Ibukota. Bukan, Bukan karena saya berniat ingin mencari jodoh lagi, tapi hanya sekadar iseng yang benar-benar iseng. Siapa tahu ada teman yang mengiklankan diri di situ, kan bisa jadi bahan ledekanku untuknya. Salah satu contoh isi iklan perjodohan yang sering kulihat itu adalah seperti ini misalnya: Seorang wanita, 25 tahun, Sarjana, tinggi badan 160 cm, bb 43 kg, berkulit putih mulus, wajah manis, Islam, pintar mengaji, keibuan dan pandai memasak mendambakan: Seorang laki-laki, perjaka tulen, minimal 26 tahun, lulusan pasca sarjana, berpenghasilan tetap (swasta/PNS) , tinggi badan minimal 170 cm dengan berat badan seimbang, Islam taat, Pandai mengaji dan bersifat kebapakan.

    Coba kita lihat iklan tersebut, dan perhatikanlah. Niscaya kita akan menemukan sebuah fakta bahwa seorang wanita pada umumnya menginginkan pasangan (calon suami) yang memiliki spesifikasi yang lebih baik dari spesifikasi yang dimilikinya. Baik itu dari segi fisik, tingkat pendidikan atau hal-hal kasat mata lainnya. Menurut saya hal ini sangat wajar. Karena bagaimanapun juga seorang lelaki akan menjadi pemimpin dalam sebuah rumah tangga, jadi semakin bagus kualitasnya akan semakin baik bagi keluarganya kelak. Begitu kondisi idealnya.

     ****

    Kembali kepada kisah Pak Asmadi dan isterinya, saya menjadi tersadarkan bahwa ternyata tidak semua wanita melihat kualitas calon suami hanya dari kasat mata yang tampak saja. Rasa penasaran saya muncul menggelitiki hati, membuat saya secara diam-diam ingin menyelidiki apa alasan Isteri Pak Asmadi begitu bangga dan mencintai suaminya yang “hanya” seorang tukang ojeg dan hanya berpendidikan setingkat SLTA. Sementara isterinya adalah wanita karir yang sukses yang memiliki pendidikan dan jabatan yang tinggi.Tidak ada rasa malu padanya akan “kesenjangan” itu.

    Suatu hari dalam perjalanan menuju kantor, Pak Asmadi mengajukan sebuahpertanyaan pada saya “Mbak, tahu ngga resep saya supaya tidak pernah mengalami kecelakaan di jalan atau supaya tidak pernah kena razia polisi jalan?” Saya pura-pura berpikir lantas menjawab “hmm… tidak tahu pak, apa resepnya?” “Berdzikir mbak…” jawabnya. “Berdzikir itu mengingat kepada Allah, bisa dilakukan di mana saja, kalau kita sehabis melaksanakan sholat baik itu sholat fardhu atau sholat sunnah, usahakan jangan langsung berdiri, dzikirlah terlebih dahulu. Dzikir juga tidak hanya dilakukan setelah sholat, tapi bisa di mana saja, termasuk di jalan raya ketika mengendarai sepeda motor seperti saya ini”

    “Bapak rajin ber-dzikir? ” saya bertanya untung memancing.

    “Alhamdulilah mbak, setiap selesai sholat saya selalu berdzikir, bahkan dalam perjalanan saya dari rumah sampai ke stasiun saya juga selalu berdzikir, kalau tidak salah ada dalam Al-quran perintah untuk mengingat Allah dalam keadaan duduk maupun beridir, itu artinya dalam keadaan apapun kita harusnya selalu mengingat Allah kan mbak?”

    “Iya, betul pak, Berdzikir dengan mengingat Allah membuat hati kita merasa tenang dan tentram, itulah mungkin yang membuat Bapak jadi tidak pernah mengalami kecelakaan saat mengendaria sepeda motor, karena saat itu Bapak berdzikir sehingga pikiran dan hati Bapak menjadi tenang, berkendaraan pun jadi tenang ” jawabku menyimpulkan.

    Ternyata dari Pak Asmadi, terdapat banyak hikmah. Saya bisa memunguti hikmah-hikmah itu untuk diri saya. Sekaligus menyadari bahwa Pak Asmadi ternyata orang yang taat beragama lagi berakhlak mulia, wajarlah jika sang isteri begitu mencintainya.

     ***

     Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasullullah pernah bersabda “Jika datang kepada kalian orang laki-laki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia, karena jika tidak maka akan menjadi fitnah di bumi dan juga kerusakan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun pada diri orang tersebut terdapat kekurangan?” Beliau menjawab, “Jika ada orang laki-laki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian, maka nikahkanlah dia” Artinya, jika kalian tidak menikahkan orang laki-laki yang taat beragama lagi berakhlak mulia meskipun tidak kaya atau tidak terhormat atau tidak kufu’, sedang kalian lebih menyukai orang laki-laki yang kaya, terhormat, lagi terpandang meskipun tidak taat beragama dan tidak berakhlak mulia, niscaya hal tersebt akan mengakibatkan kerusakan yang parah. Mungkin akan banyak wanita yang hidup tanpa suami dan banyak pula laki-laki yang hidup tanpa isteri. Akhirnya banyak perzinaan dan tersebar pula perbuatan keji.

    Rasulullah SAW menyebutkan akhlak bersaaan dengan agama, karen akhlak berperan sangat penting sekali dalam kehidupan rumah tangga. Rasulullah tidak cukup hanya dengan menyebutkan agama saja, Sebab, terkadang ada orang yang taat beragama tetapi akhlaknya tidak cukup baik untuk kehidupan rumah tangga, bahkan berakhlak tercela dan berwawasan sempit serta fanatik sehingga dia akan meletakkan agama di sampingnya dan menggauli isterinya dengan akhlak yang tidak baik. Akhirnya muncul kesan bahwa tingkah laku bururk itu disebabkan oleh agama. Padahal yang demikian itu merupakan keyakinan yang salah, karena Agama memerintahkan untuk mempergauli isteri secara baik.

    ***

    Kini terjawablah sudah rasa kepenasaran saya. Isteri Pak Asmadi ternyata benar-benar telah menjalankan sabda Rasullullah SAW tersebut. Menentukan suami pilihannya adalah seorang yang taat beragama dan berakhlak mulia meskipun tidak kaya, tidak terhormat atau tidak se kufu’ dengannya. Satu pelajaran berharga yang bisa saya ambil darinya.

     
  • erva kurniawan 8:05 pm on 18 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: cerita, , , , , kisah kucing, , , ,   

    Kucing Kecil yang Penuh Makna 

     cute-cat2

    Hudzaifah.org – Sepasang suami istri, ikhwan dan akhwat, berjalan kaki bersama sambil tertawa dan bercanda ria. Dari kejauhan, mereka melihat ada dua ekor kucing tengah berjalan beriringan. Ibu kucing dan anaknya yang masih kecil. Si kucing kecil berjalan di belakang, mengikuti ibunya. Sangat lucu.

     “Wah, lihat Mas…, ada kucing kecil lagi sama ibunya…” ujar sang istri dengan gembira sambil menunjuk dua ekor kucing yang terlihat dari kejauhan.

    Saat sudah dekat dengan kucing-kucing itu, mereka menyapa,

     “Hai… Puss… Puss…”

     Si kucing kecil terlihat berlari riang, dan bercanda dengan ibunya. Ia meloncat kian kemari dan hendak menyebrang jalan raya. Sebuah sepeda motor melintas melewati jalan itu.

     “Aduh… awas Puss!… Nanti ketabrak lho..”, ujar sang istri pada si kucing kecil.

     “Alhamdulillah tidak kena…” Seru mereka berdua.

     “Hati-hati Puss…, jangan nyebrang-nyebrang lagi ya.” Mereka menyapa dengan melambai-lambaikan tangan pada si kucing kecil.

     Kucing kecil itu menatap dua manusia di hadapannya.

     “Alhamdulillah ya kucingnya tidak ketabrak…” ujar istri pada suaminya sambil tertawa senang. Mereka melanjutkan perjalanan. Si kucing kecil kembali ke pinggir jalan dan berjalan di belakang ibunya sambil sesekali mengajak bercanda sang ibu.

     Si kucing kecil berlari lagi ke tengah jalan… Ah.. kucing itu tidak akan tertabrak, bukankah dia kucing yang gesit, pikir sang akhwat. Dari kejauhan, sebuah motor melaju dengan kencang. Sambil tetap berjalan, ekor mata akhwat dan ikhwan tersebut tetap memperhatikan gerak si kucing kecil. Tapi, perkiraan mereka salah. “Awas…” seru mereka dalam hati.

     “KREKK!!” Kejadian begitu cepat. Sepeda motor itu tepat menabrak dan menggilas si kucing kecil yang tengah berlari kucingmenyebrang ke tengah jalan.

     “Kucingnya ketabrak!!.. ” Kedua insan itu terperanjat.

     Badan si kucing kecil gemetar dan kepalanya yang semula tegak, terkulai perlahan ke aspal jalan raya.

     “Puss… !”

     Kucing kecil yang beberapa detik lalu sangat riang, tiba-tiba kini terkulai tak bergerak. Ah…, Puss….

     Dan ibu kucing kecil itu sendirian.kucing

     Tak ada lagi anaknya yang menemani perjalanan.

     Senyum dan tawa ikhwan akhwat itu hilang seketika. Terdiam. Menjadi teringat diri. Dunia menjadi kecil. Ingin segera bertaubat. Sujud. Bisa saja, saat sedang tertawa bercanda, ternyata sedetik lagi diri ini dicabut nyawa oleh Malaikat Izrail. Persis seperti kucing itu.

     Begitu mudahnya Ia mencabut nyawa makhluk-Nya dan begitu indah serta halus cara Ia memberikan teguran, peringatan, kepada hamba-hamba- Nya. Melalui seekor kucing.

     Sambil terus menyusuri jalan, terngiang sabda Rasulullah SAW di benak mereka, bahwa Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya, “Bahwa malaikat maut memperhatikan wajah manusia di muka bumi ini 70 kali dalam sehari. Ketika Izrail datang melihat wajah seseorang, didapati orang itu ada yang masih tertawa. Maka berkata Izrail, “Alangkah herannya aku melihat orang ini sedangkan aku diutus oleh Allah Ta’ala untuk mencabut nyawanya tetapi dia masih bergelak tawa.”

     Dan juga dalam hadits lainnya, Rasulullah SAW bersabda, “Jika kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan sedikit tertawa dan pasti akan banyak menangis, pasti kamu tidak akan bersenang-senang dengan istri kamu di atas kasur dan pasti kamu akan keluar dari rumahmu menuju tanah lapang sambil menjerit-jerit karena takut kepada Allah.”

     Lama.., aku bersimpuh di hadapan-Mu.. Begitu khusyu

    Tak tahan jua air mataku mengalir tanda penyesalanku

    Kini aku sadari begitu banyak dosa mematri

    Akankah hamba layak dipuji

    Sedangkan diri kecil tak berarti

    Besar rahmat-Mu penuh dengan ampunan…

    Namun kumalu karena hati telah lalai

    Kekal azab-Mu penguasa seluruh alam

    Tersujud aku memohon keridhoan

    Allah… Ya Allah…

    Kau Pengasih, Kau penyayang

    Allah…. Ya Allah

    Kau Pelindung, Kau pengampun

    Pada-Mu ya Allah kami serahkan

    Segala ujian, karunia-Mu

    Kuatkanlah iman dan kesabaran

    Berikan ampunan dalam hidupku Ya Allah….

     

     
    • che 4:12 am on 7 Juni 2009 Permalink

      hmmm.., mnyentuh bgt mz..
      ijin Copas ya..

    • Ichigo 2:40 pm on 11 Juni 2009 Permalink

      Kucing lucu..

    • meyra 11:18 pm on 19 Juni 2009 Permalink

      aduuuh aku kasian ma kucingnya….hiks hiks

    • Ree_Rhy aliytari 3:47 pm on 2 Desember 2009 Permalink

      duh kasiannya anak kucing itu… andai aku, mungkin dari awal aku bawah pulang kucing itu… aku suka sekali ma kucing n pengen banget punya kucing tapi:( mama ngagk ngijinin hikz…hikz…hikz
      ….jadinya cuma bisa koleksi foto2 kucing deh….

    • rasitanatasa 6:17 pm on 30 Desember 2009 Permalink

      kucing yyy

    • juan 11:00 am on 23 Februari 2010 Permalink

      lucu banget

    • isty 4:30 pm on 27 Juli 2010 Permalink

      yampunn,,sangat mnyentuhh,,

  • erva kurniawan 6:51 pm on 17 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: cerita, , , , , , , , , ,   

    Hikmah Tahajud 

    sujud1 Sewaktu si fulan esok harinya akan melaksanakan test interview untuk sebuah pekerjaan pada jam 9.30 pagi esok hari, nenek si fulan pun sehari sebelumnya menyarankan untuk shalat tahajjud pada malam harinya. Dikarenakan bangun malam pada malam hari, maka sifulan ini mengantuk, eh… ketiduran, malah sampai Orion dan ketika dilihat sudah jam 11.00 maka tidak sampailah dia di Wisma Nugra Santana, tempat dimana dia seharusnya interview, dan menggerutulah dia sambil menyalahkan neneknya.

     Kemudian menyebranglah dia untuk berganti bis untuk pulang sambil terus dalam hatinya menyalahkan neneknya, karena ternyata tahajjudnya tadi malam itu malah menyulitkannya hari ini, bukan memudahkan dia untuk lulus … tapi benarkah??

     Sesaat kemudian ada seseorang laki-laki yang berdasi dilonggarkan seperti kelelahan, dan berjas safari masuk. karena tidak punya tempat duduk dan dia berdiri didekat sifulan, maka sifulan ini mempersilahkan laki laki itu untuk duduk, kemudian terjadilah percakapan

     “Dari mana pak, kok kayaknya kecapean?””ini, sopir saya nggak bisa mengantar saya kekantor, karena harus mengantar istrinya, lalu mobilnya malah rusak sekalian , dan ketika saya perbaiki, ada beberapa kunci yang belum dimasukkan ke bagasi oleh sopir saya, jadinya malah nggak bisa apa apa, mending saya kekantor pakai bis saja…”

     “Lalu ade sendiri mau kemana?”

    “Iya nih pak… saya juga sebenarnya mau interview, di Nugra Santana, tapi karena tahajjud tadi malam, malah ketiduran sampe sini”

     ” saya juga mau ke Nugra Santana, memangnya interview dimana dek?” sambil berfikir bahwa sifulan ini baik juga ahlaknya karena mau tahajjud

    “di PT.XXXX” jawab si fulan

     cuma dalam hitungan detik , bapak itu mencoba melihat formulir dari si fulan. dan kemudian dilihatnya sesuatu yang menarik baginya, lalu dikatannya kepada si fulan

     ” dek, anda tahu? formulir pemanggilan ini yang ditanda tangani ini adalah formulir dari PT saya, dan sayalah yang bertanda tangan dibawah ini untuk memanggil adek”…

     tanpa fikir panjang lagi, laki laki itu memutuskan sifulan pun langsung bisa masuk menjadi karyawan PT itu, tanpa susah susah wawancara. Subhanallah. …

     kemudian cerita yusuf sedikit dilanjutkan. .

     pas sifulan ngikutin bapak itu untuk masuk kekantornya tuh, kan banyak orang yang lagi duduk nunggu untuk wawancara, mungkin dalam hati ada senyum kemenangan sambil berujar pada hatinya ” pada kagak tahajjud sih lu pada…” hehehee….. ..

     Ibroh / hikmah : Ternyata ketika kita tahajjud, ada banyak persoalan yang dipecahkan. Allah punya solusi yang gak kita tahu dan gak pernah kita sangka, kita hanya memandang jeleknya saja, tak pernah tahu bahwa yang sedang kita laksanakan itu adalah jalan menuju solusi yang disediakan Allah.

     so… mari mencoba untuk selalu tahajjud… yukk semangatt !!!

     

    Kajian yusuf mansur, Masjif agung Al Azhar, 24 Agustus 2007 bersama sang bidadari…

     
    • man 11:36 pm on 16 Mei 2011 Permalink

      keren nih cerita.
      kalau emang beneran, emang suatu keajaiban yang gak masuk akal

  • erva kurniawan 9:04 pm on 15 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: cerita, , , , , , , ,   

    Rp. 1.500,- = Rp. 600.000,- (matematika Allah) 

    sujud-011“Tidak ada satu maksud apa pun ketika menuliskan cerita ini, semoga Allah menjaga hati ini dari sifat riya meski sebiji zarah pun.” [ Bayu Gawtama]

    Jum’at lalu, saya berangkat ke kantor dengan dada sedikit berdegub. Melirik ukuran bensin di dashboard motor, masih setengah. “Yah cukuplah untuk pergi pulang ke kantor”.

    Namun, bukan itu yang membuat dada ini tak henti berdegub. Uang di kantong saya hanya tersisa seribu rupiah saja. Degubnya tambah kencang karena saya hanya menyisakan uang tidak lebih dari empat ribu rupiah saja di rumah. Saya bertanya dalam hati, “makan apa keluarga saya siang nanti?” Meski kemudian buru-buru saya hapus pertanyaan itu, mengingat nama besar Allah yang Maha Melindungi semua makhluk-Nya yang tawakal.

    Saya berangkat, terlebih dulu mengantar si sulung ke sekolahnya. Saya bilang kepadanya bahwa hari ini tidak usah jajan terlebih dulu. Alhamdulillah ia mengerti. Soal pulangnya, ia biasa dijemput tukang ojeg yang -sukurnya- sudah dibayar di muka untuk antar jemput ke sekolah.

    Sepanjang jalan menuju kantor saya terus berpikir, dari mana saya bisa mendapatkan uang untuk menjamin malam nanti ada yang bisa dimakan oleh isteri dan dua putri saya. Urusan besok tinggal bagaimana besok saja, yang penting sore ini bisa mendapatkan sesuatu untuk bisa dimakan.

    Tiba di kantor, tiba-tiba saya mendapatkan sebungkus mie goreng dari seorang rekan kantor yang sedang milad (berulang tahun). Perut saya yang sejak pagi belum terisi pun mendesak-desak untuk segera diisi. Namun saya ingat bahwa saya tidak memiliki uang selain yang seribu rupiah itu untuk makan siang. Jadi, saya tangguhkan dulu mie goreng itu untuk makan siang saja.

    Sepanjang hari kerja, terhitung dua kali saya menelepon isteri di rumah menanyakan kabar anak-anak. “sudah makan belum?” si cantik di seberang telepon hanya menjawab, “Insya Allah,” namun suaranya terasa getir. Saat itu, anak-anak sedang tidur siang.

    Pukul lima sore lebih dua puluh menit saya bergegas ke rumah. Sebelumnya saya sudah berniat untuk menginfakkan seribu rupiah di kantong saya jika melewati petugas amal masjid yang biasa ditemui di jalan raya. Sayangnya, sepanjang jalan saya tidak menemukan petugas-petugas itu, mungkin karena sudah terlalu sore. Akhirnya, sekitar separuh perjalanan ke rumah, adzan maghrib berkumandang. Motor pun terparkir di halaman masjid, dan seketika mata ini tertuju kepada kotak amal di pojok masjid. “bismillaah. ..” saya masukkan dua koin lima ratus rupiah ke kotak tersebut.

    Usai sholat, setelah berdoa saya meneruskan perjalanan. Tapi sebelumnya, tangan saya menyentuh sesuatu di kantong celana. Rupanya satu koin lima ratus rupiah. Kemudian saya ceploskan lagi ke kotak amal yang sama.

    Sesampainya di rumah, isteri sedang memasak mie instan. Semangkuk mie instan sudah tersaji, “kita makan sama-sama yuk…” ajak si manis. Kemudian saya bilang, “abang sudah kenyang, biar anak-anak saja yang makan”. Anak-anak pun lahap menyantap mie instan plus nasi yang dihidangkan ibu mereka. Rasanya ingin menangis saat itu.

     ***

     Keesokan paginya, isteri menggoreng singkong untuk sarapan. Alhamdulillah masih ada yang bisa dimakan. Sebenarnya hari itu masih punya harapan. Seorang teman isteri beberapa hari lalu meminjam sejumlah uang dan berjanji mengembalikannya Sabtu pagi. Namun yang ditunggu tidak muncul. Bahkan ketika terpaksa saya harus mengantar isteri menemui temannya itu, pun tidak membuahkan hasil.

    Tiba-tiba telepon saya berdering, “Pak, saya baru saja mentransfer uang satu juta rupiah ke rekening bapak. Yang empat ratus ribu untuk pesanan 20 buku bapak yang terbaru. Sisanya rezeki untuk anak-anak bapak ya…” seorang sahabat dekat memesan buku karya saya yang terbaru.

    Subhanallah, Allahu Akbar! Saya langsung bersujud seketika itu. Saya hanya berinfak seribu lima ratus rupiah dan Allah membalasnya dengan jumlah yang tidak sedikit. Ini matematika Allah, siapa yang tak percaya janji Allah? Yang terpenting, siang itu juga saya buru-buru mengeluarkan sejumlah uang dari yang saya peroleh hari itu untuk diinfakkan.

     ***

    Saya bersyukur tidak memiliki banyak uang maupun tabungan untuk saya genggam. Sebab semakin banyak yang saya miliki tentu semakin berat pertanggungjawaban saya kepada Allah.

     
    • febrian 3:25 pm on 1 Juni 2009 Permalink

      Terharu sekali saya membacanya mas…

    • miftah 12:17 pm on 12 Januari 2012 Permalink

      pak… izin ta masukkan ke blog ya :D

  • erva kurniawan 8:50 pm on 15 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: cerita, , , , , , , , ,   

    Mimpi yang Membawa Hikmah 

    kiamat94

    Khalifah Umar bin Abdul Azis pernah gemetar ketakutan. Bukan karena menghadapi musuh di medan pertempuran. Tetapi ketika beliau mendengar cerita tentang alam akhirat.

    Semua perbuatan manusia di dunia akan dimintai pertanggungjawabann ya di akhirat. Di akhirat kelak setiap manusia akan diperintahkan berjalan melewati jembatan shiratal mustaqim. Manusia akan terlempar ke neraka jika tidak bisa melewati jembatan itu. Sebaliknya, manusia tersebut akan menikmati keindahan surga jika bisa melewati jembatan itu.

    Setiap manusia akan menemui kesulitan dan kemudahan yang beragam saat berjalan di atas jembatan shiratal mustaqim. Jika selama hidup di dunia, manusia itu banyak beramal saleh, ia akan mudah melewatinya. Jika tidak, iaakan sulit berjalan di atas shiratal mustaqim. Bahkan, besarkemungkinan iaakan terlempar dan jatuh ke jurang neraka di bawahnya.

    Hal itu membuat banyak orang khawatir. Tentu saja. Sebab, kita tidak pernah tahu secara pasti apakah selama di dunia kita tergolong orang yang banyak beramal saleh atau justru banyak berbuat dosa. Nah, perasaan itu juga dirasakan khalifah Umar bin Abdul Azis. Apalagi waktu khalifah Umar bin Abdul Azis mendengar cerita seorang hamba sahaya tentang mimpinya di suatu hari.

    Umar bin Abdul Azis tertarik waktu hamba sahaya itu bercerita. “Ya, Amirul Mukminin. Semalam saya bermimpi kita sudah tiba di hari kiamat. Semua manusia dibangkitkan Allah, lalu dihisab. Saya juga melihat jembatan shiratal mustaqim.”

    Umar bin Abdul Azis mendengarkan dengan seksama. “Lalu apayang engkau lihat?” tanyanya.

    “Hamba melihat satu per satu manusia diperintahkan berjalan melewati jembatan shiratal mustaqim. Penguasa Bani Umaiyah, Abdul Malik bin Marwan, hamba lihat ada di antara orang yang pertama kali dihisab. la berjalan melewati jembatan shiratal mustaqim. Tapi, baru dua langkah, dia sudah jatuh ke dalam jurang neraka. Saat ia jatuh, ubuhnya tak terlihat lagi. Hamba hanya mendengar suaranya. la terdengar menangis dan memohon ampun kepada Allah,” jawab hamba sahaya itu.

     Umar bin Abdul Azis tertegun mendengar cerita itu. Hatinya gelisah.

    “Lalu bagaimana?” ia bertanya dengan gundah.

    “Setelah itu giliran putranya, Walid bin Abdul Malik bin Marwan. Ia juga terpeleset dan masuk ke dalam jurang neraka. Lalu tiba giliran para khalifah yang lain. Saya melihat, satu per satu mereka pun jatuh. Sehingga tidak ada yang sanggup melewati jembatan shiratal mustaqim itu,” kata sang hamba sahaya.

    Umar bin Abdul Azis tercekat karena merasakan takut dan khawatir dalam dadanya. Sebab, ia juga seorang khalifah. la sadar, menjaga amanah kepemimpinan dan kekuasaan itu sangat berat. Dan ia punyakin, setiap pemimpin harus bisa mempertanggungjawab kan kepemimpinannya. Tidak ada seorang pun yang akan lolos dari hitungan Allah.

    Jantung Umar seketika berdegub kencang. Nafasnya memburu. Ia cemas, jangan-jangan nasibnya akan sama dengan para pemimpin lain yangdikisahkan hamba sahaya itu. Karena cemas dan takut, Umar bin Abdul Azis meneteskan air mata. Ia menangis.

    “Ya, Allah. Apakah aku akan I bernasib sama dengan mereka yang dilihat hamba sahaya ini di dalam mimpinya? Apakah aku telah berlaku tidak adil selama memimpin? Pantaskah aku merasakan surga-Mu, ya Allah?” bisik Umar bin Abdul Azis di dalam hati. Air matanya kian deras mengalir.

    “Lalu tibalah giliran Anda, Amirul Mukminin,” kata hamba sahaya itu.

    Ucapan hamba sahaya itu menambah deras air mata Umar bin Abdul Azis. Umar kian cemas. Kecemasan Umar membuat tubuhnya gemetaran. Ia menggigil ketakutan. Wajahnya pucat. Matanya menatap nanar kesatu sudut ruangan.

    Saat itu, Umar bin Abdul Azis mengingat dengan jelas peringatan Allah SWT, “Ingatlah pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. Dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah sentuhan api neraka”

    Hamba sahaya itu justru kaget melihat reaksi khalifah Umar bin Abdul Azis yang luar biasa. Dalam hati, ia merasa serba salah. Sebab, ia sama sekali tidak punya maksud untuk menakut-nakuti khalifah. Ia sekadar menceritakan mimpi yang dialaminya.

    Melihat kepanikan khalifah, hamba sahaya itu lalu berusaha menenangkan Umar bin Abdul Azis. Namun, Umar bin Abdul Azis belum bisa tenang. Maka, hamba sahaya itu pun meneruskan ceritanya dengan berkata, “Wahai, Amirul Mukminin. Demi Allah, aku melihat engkau berhasil melewati jembatan itu. Engkau sampai di surga dengan selamat!”

    Mendengar itu, Umar bin Abdul Azis bukan tersenyum apalagi tertawa. Ia diam. Cukup lama Umar tertegun. Cerita itu benar-benar membuatnya berpikir dan merenung.

    Ada hikmah yang lalu dipetik Umar dari cerita itu. Dan sejak itu, ia menanamkan tekad untuk lebih berhati-hati dalam amanah kekuasaan. Itu adalah amanah Allah yang sangat berat.

    *** 

     
    • rossy 7:15 pm on 4 September 2009 Permalink

      cerita ini pernah saya dengar, memang membuat jantung berdebar, Subhanallah, waAllahu’alam

    • G. Pramono 6:21 am on 6 September 2009 Permalink

      Ini bukan cerita tapi suatu kenyataan yang akan terjadi, Kita sudah masuk dalam dunia maya, apakah dahulu berfikir itu hanya cerita? Mimpi adalah bunga tidur hayati dan cermati semua adalah kekuasaan yang maha kuasa. Subhanalloh.

    • Agus Djali Gespata Sltn 5:33 am on 7 September 2009 Permalink

      Ini adalah suatu renungan yang sangat mendalam,karna kiamat itu kan pasti datang dan benar-benar terjadi.Dan ini untuk memperingatkan kita semua,agar bertobat dan memohon ampun kepada yang maha kuwasa,sebelum hari kiamat datang. Terimakasih.

    • anissa 9:56 am on 11 September 2009 Permalink

      Subhanallah cerita yang sgt menegangkan seolah2 merasakan juga kegelisahan Khalifah Umar bin Abd. Aziz, beliau aja begitu ketakutan akan nasib dirinya kelak.. bagaimana dgn kita ?? manusia biasa yg bergelimang dosa..kita harus banyak2 beristighfar
      Astaghfirullah al addziim.. yaa.. Allah ampunilah kami dan kedua orang tua kami ..:((

    • nui 2:03 pm on 4 Oktober 2009 Permalink

      ajib sekali

    • anjar 2:05 pm on 4 Oktober 2009 Permalink

      subhanalloh mang ngri sekali,tp ni adllah pljaran pnting bgi kta.

    • sombo 3:03 pm on 5 Oktober 2009 Permalink

      apa benar yang diutarakan diatas saya jadi ngeri

    • chaidar_alif 1:01 am on 10 Oktober 2009 Permalink

      cerita tentang umar bin abdul aziz bagus
      tetapi siapah kah hamba sahaya ituh ?
      dan saya ingin bertaya dari manah anda dapat berita
      bahwa kiamat akan terjadi pada tahun 20012
      sedangkan nabi muhamad ituh tidak pernah mengabarkan hari kiamat
      ituh kapan cooz seandaynya nabi muhammad menceritakan hari
      kiamat umat islam tidak akan berlomba-lomba dalam mengejar ke
      baikan karena dia sudah tau kapan hari kiamat ituh datang
      makanya rasulluwlah tidak memberi tahu hari kiamat ituh kapan
      kepada para sahabatnya
      dan nabi pernah di tanya kepada sahabatnya,kpan hari kiamat ituh
      terjadi. nabi menjawab haya allah yang tahu
      dan kenapah anda menafsirkan seperti ituh “apakah anda sudah
      siap untuk menghadapi hari kiamat”.

    • erva kurniawan 10:10 pm on 10 Oktober 2009 Permalink

      Sebelumnya terima kasih atas kunjungannya
      20012? Anda salah mungkin? mungkin maksudnya 2012
      Di blog saya ada 2 artikel yang menyebutkan tahun 2012 yaitu
      https://ervakurniawan.wordpress.com/2009/06/17/ketika-ilmu-pengetahuan-menemukan-tanda-tanda-kiamat/
      dan
      https://ervakurniawan.wordpress.com/2009/05/26/global-warming-global-vegetarian/

      Tahun 2012 yang pertama adalah kesimpulan dari para ahli akan terjadi bencana besar secara global, dan disampaikan secara eksplisit bahwa itu adalah kiamat.
      Sedangkan tahun 2012 pada tulisan kedua adalah prediksi NASA, menurut perhitungan mereka bahwa es di Antartika hampir semua akan mencair.
      Kalau ditanya darimana saya mendapatkan tulisan tersebut, saya lupa, mungkin dari email teman, tujuan saya menyampaikan agar kita lebih hati-hati, saya sendiri sepaham dengan Anda, tapi apa salahnya kita baca argumen mereka, dan dikembalikan ke diri kita masing-masing untuk menilai.

    • angha 12:55 pm on 27 Oktober 2009 Permalink

      inssaallaah dag tjdi

    • SAVIRA 11:10 pm on 28 Oktober 2009 Permalink

      HRI KIAMAT TUH KAN TERJADI TAPI KITA GK TAU KAN KAPAN HARI KIAMAT ITU TERJADI!?!MAKA NA KITA SEBAGAI UMAT ISLAM HAMBA ALLAH SWT BANYAK KAN LAH IBADAH DAN ISTIGFAR PADA ALLAH..PENCIPTA ALAM SEMESTA INI…
      MERINDING BGT DENGER CERITA ITU SAMA TAKUT JGA NIH,,,YA ALLAH HAMBA MOHON MAAF KAN DOSA QU DAN KELUARGA QU JGN BIAR KAN AQU DAN KELUARGA QU JATUH KE DALAM NERAKA MASUKKAN LAH KAMI KE SUGA MU YA ALLAH AMIN.

    • vera 10:01 am on 2 November 2009 Permalink

      allahhu akbar,ngeri kalo menmbayangkan kiamat tapi apamau dikata kiamat akan terjadi kita sebagai manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa.

    • muslimah 9:24 pm on 8 November 2009 Permalink

      subhanallah …seorang khalifah saja merasa takut.. selama ini aku hanya berpikir kalau kiamat masih lama dengan kesibukan yang ku ributkan, namun sebenarnya kiamat semakin dekat, sebatas jari telunjuk dan jari tengah jika di dekatkan .

    • jhon 3:41 pm on 9 November 2009 Permalink

      Hisab pasti dilakukan dan semua manusia pasti mengalaminya, lalu kira-kira kapolri ama jaksa agung dan jajarannya lolos gak yah…?
      ato bahkan para pemimpin negeri ini bisa menjalankan hobinya berkolusi lagi gak yah di akherat?
      pasti gak bisa, sebab sibuk dg amalnya..

    • bobo rollexx 5:58 pm on 10 November 2009 Permalink

      loe aja semua yg kiamat.isu-isu mu membuat kamu kiamat,,,,,,
      kamu harus tahu bahwa hari kiamat itu tak seorang pun bisa mengetahuinya,bahkan malaikat di surga juga tidak mengetahuinya,,
      maka kita di anjurkan untuk berbuat baik,,.,.,.,.,

    • ghita 5:03 pm on 12 November 2009 Permalink

      allah huakbar
      allah memang maha adil sekeci apapun kebaikan yang kita perbuat pasti akan dia balas dngan berlipat” ganda.dan begitu pula sebaliknya……
      allah huakbar…..
      allah huakbar

    • ngurah indu 1:30 pm on 14 November 2009 Permalink

      keren ya kalau dunia kiamat

    • powt 12:01 pm on 15 November 2009 Permalink

      mkiamat sudah deket

    • H.Abdul Majied Said 8:24 am on 5 Desember 2009 Permalink

      Kisah-kisah yang bermanfaat untuk menambah keimanan dan Ketaqwaan kita

    • tofik hidayat 10:23 pm on 5 Desember 2009 Permalink

      kiamat tuh, memng ad. tapi kita semua tidak tw kpan akn terjadinya kiamat. hanya allah lh yg menntukn kiamat dtng, kita sbgai umt islam yg berimn tdk usah percya bhwa kiamt terjadi pd thn 2012, itu semua hnya takabur atw isu2 sja. jd bnyak2 lh kita brdzikir, memohon ampunan allah s.w.t. sekian dn trimakasi: “wassallam”

    • aan 8:42 pm on 12 Desember 2009 Permalink

      kiamat memang ada kita tidak tahu kapan datangnya kiamat. hanya Allah SWT yang tahu . jadi banyak banyaklah kita mohon ampunan .
      dunia hanya milik Allah SWT . sekian dan terima kasih “wassalam”

    • Devi Octora Gumilar 7:53 pm on 15 Januari 2010 Permalink

      Hidup di dunia hanya sementara,,,,,,,,,,,,,

    • asep sandi 1:24 pm on 11 April 2010 Permalink

      benar apa yang dijelaskan aL-qur’an dan hadist, kaLau nasrani n yahudi itu adaLah pembawa fitnah… fitnah adaLah termasuk dalam segitiga bermuda n bakaL jadi tanda” muncuLnya dajjaL yang menjadi pertanda kiamat…

  • erva kurniawan 5:25 pm on 7 December 2008 Permalink | Balas
    Tags: cerita, , ,   

    Bertemu Pengemis Aneh 

    pengemisKalau ada seorang pengemis minta uang, itu adalah biasa.

    Kalau ada seorang peminta-minta, la mengharapkan makanan dari kita, itupun biasa…

    Tetapi kalau ada seorang pengemis, la bertanya kepada kita tentang jam..?

    Suatu saat, saya pergi jalan-jalan ke pusat pertokoan untuk sekedar lihat-lihat keramaian. Tidak terasa hari sudah mulai petang. Dan terdengarlah adzan maghrib dari masjid Agung yang tidak jauh dari tempat saya berada.

    Seperti orang-orang lain yang berada di pertokoan itu, saya langsung bergegas menuju masjid yang jaraknya memang tidak terlalu jauh. Saya langsung menuju ke tempat wudlu untuk bersuci, di tengah keramaian orang-orang yang juga berwudlu.

    Karena masjid itu berada di pusat keramaian kota, maka tak ayal lagi yang melakukan shalat maghrib setiap harinya sangatlah banyak. Termasuk hari itu.

    Selain jamaah tetap dari masjid Agung, jamaah yang shalat maghrib juga berasal dari pengunjung pertokoan / masyarakat umum. Apalagi, hari itu adalah hari Sabtu alias malam minggu. Jama’ah shalat pun lebih banyak dibanding hari lainnya.

    Setelah berwudlu, saya bergegas menuju shaf yang masih kosong, untuk mengikuti jama’ah shalat maghrib. Shalat berjamaah sudah dimulai.

    Saya berdzikir secukupnya. Dan kemudian melakukan shalat sunah. Saya pun bergegas keluar dari masjid kembali ke tempat pertokoan untuk belanja atau sekedar melihat-lihat barang. Siapa tahu ada yang cocok untuk dibeli.

    Pada saat saya berjalan menuju ke kompleks pertokoan itu, dimana jarak tempat saya berada kurang lebih sekitar lima puluh meter dari pintu masjid, tiba-tiba saya di kejutkan oleh seorang peminta-minta. Ia laki-laki yang sudah tua, menengadahkan tangan kanannya untuk minta uang.

    Dengan perasaan biasa tanpa berfikir apa-apa, saya ambilkan uang dari saku baju. Ketika saya hendak berlalu untuk meneruskan perjalanan ke kompleks pertokoan, tiba-tiba orang tua itu menanyakan sesuatu yang menurut pendengaran Saya sangat aneh!

    Katanya: “…jam pinten toh, sak meniko…? (pukul berapakah sekarang ?) Betapa anehnya, seorang peminta-minta bertanya tentang jam. Tanpa ambil peduli dengan keanehan tersebut, saya menyingsingkan lengan baju panjang saya, untuk melihat jam.

    Ah, betapa terkejutnya saya. Ternyata jam yang saya kenakan di tangan kiri sudah tidak ada lagi. Sampai saya singsingkan lengan baju saya pada batas siku saya, aduh,.. jam tangan saya telah hilang!!

    ” Dimana… ? kemana… ? diambil siapa… ? kapan hilangnya… ? Serentetan pertanyaan pada diri sendiri membuat hati saya bertambah bingung, mau menangis rasanya. Jam yang barusan saya. Tiba-tiba saya seperti diingatkan sesuatu. Mungkinkah ketinggalan di masjid? Tapi dimana? Oooh, iya, saya ingat! Tadi ketika saya mengambil air wudlu, jam tangan saya, saya letakkan di atas kran pancuran air wudlu. Dan lupa tidak memakainya kembali.

    Maka dengan tergopoh-gopoh, berjalan dengan setengah berlari saya menuju ketempat kamar mandi masjid, tempat dimana saya tadi melakukan wudhu’.

    Setelah sampai di tempat tersebut, saya menjadi tercengang sendiri. MasyaAllah,. ..jam tangan saya, ternyata masih berada di tempatnya, tidak berubah sedikitpun. Saya menjadi termangu….

    Betapa lamanya saya tinggalkan jam tersebut. Sejak melakukan wudlu, kemudian shalat berjama’ah, melakukan dzikir, shalat sunah, dan keluar dari masjid mencari alas kaki yang memakan waktu cukup lama karena begitu banyaknya jama’ah yang sedang shalat, lantas berjalan ke arah pertokoan yang akhirnya bertemu dengan bapak tua peminta-minta yang bertanya tentang waktu kepada saya…(subhaanalla h…)

    Mata saya berkaca-kaca, dan tanpa saya kehendaki, saya menitikkan air mata. Betapa anehnya kejadian ini. Saya langsung menuju ke tempat orang tua tadi, untuk mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga kepadanya. Ternyata, dia sudah tidak ada lagi di tempatnya. Mungkinkah ia sudah pergi…?

    Masya Allaah…, saya tidak jadi kehilangan jam kesayangan saya..!? Apakah ini hanya berkat uang seratus rupiah yang saya berikan kepada pak tua peminta-peminta? Ah, sungguh, saya tidak berani menyimpulkannya! Saya pun bergegas pulang. Dan masih tak habis pikir dengan kejadian itu.

    Kini, setelah saya tulis ulang kejadian sekian tahun yang lalu itu, saya menjadi teringat akan sabda rasulullah saw, bahwa memberi sadaqah itu bisa menolak bala, dan akan mendatangkan kekayaan hati..

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: