Tagged: cerita islam Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 10:47 am on 1 October 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Kisah Sesendok Madu 

    madu (1)Alkisah, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran warga kotanya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit di tengah kota.

    Seluruh warga kota memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya. Tetapi, dalam pikiran seorang warga kota terlintas cara untuk mengelak perintah tersebut.

    “Aku akan membawa sesendok penuh, tapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungiku dari pandangan mata orang lain. Sesendok air tidak akan mempengaruhi isi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga kota.”

    Tibalah waktu yang ditetapkan. Apa kemudian yang terjadi? Bejana itu ternyata seluruhnya berisi penuh dengan air! Rupanya seluruh warga kota berpikiran sama dengan si Fulan. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.

    Kisah simbolik ini sering terjadi dalam berbagai kehidupan masyarakat. Idealnya memang bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian melibatkan pengikut-pengikutnya.

    Katakanlah (hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah disertai dengan pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yang mengikutiku (QS Yuusuf; 12:108)

    Berperang atau berjuang di jalan Allah tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri, dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin (pengikut-pengikutmu) (QS An Nisaa’; 4:84)

    Perhatikanlah kata-kata : “tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri”. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : “Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu” Setiap orang menurut Beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Berarti setiap orang harus harus tampil terlebih dulu. Sikap mental yang seperti ini akan menyebabkan bejana sang raja akan penuh dengan madu, bukan air, apalagi racun.

    ***

    ( Sumber: Lentera Hati, M Quraish Shihab )

     
    • Ermila 6:40 am on 2 Oktober 2009 Permalink

      Kisah ini dh sering saya baca,..

    • anissa 3:41 pm on 2 Oktober 2009 Permalink

      kalau sy baru ni baca..:D
      jazakumullah..

    • projo27 3:34 pm on 9 April 2012 Permalink

      Seperti di negeri kita ya? sangat inspiratif, terima kasih kepada Pak Quraish Shihab

  • erva kurniawan 1:04 pm on 19 September 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Rahasia Dzikir 

    siluet masjid 7Ada sebuah kejadian yang sangat unik, dan terus akan saya ingat untuk selamanya. Sebuah pelajaran istimewa dan sangat berharga, yang kejadian semacam itu, hanya bisa saya jumpai dalam literatur diskusi-diskusi lama. Tetapi saat itu saya betul-betul menjumpai dan sekaligus merasakan dalam kehidupan nyata.

    Pada hari itu, ada seseorang yang menemui saya. Saya agak heran karena saya tidak begitu kenal dengan laki-laki yang masih muda tersebut. Ia memakai pakaian yang menunjukkan sebagai seorang muslim. Setelah berbincang-bincang sebentar, saya mulai bisa menyimpulkan bahwa ternyata ia adalah seorang kiai muda, yang cukup disegani didaerahnya. Di samping itu, ia juga seorang da’i yang sering memberikan petuah di masyarakat sekitarnya.

    Setelah beberapa saat kami terlibat dalam pembicaraan perkenalan, tiba-tiba ia mengajukan pertanyaan, apakah saya masih punya seorang ayah? Saya jawab, oh iya, saya punya ayah. Dimana beliau sekarang? “tanya lelaki itu. Beliau ada di rumah, tetapi beliau saat ini agak sakit.”Jawab saya.

    Lelaki muda itu melanjutkan, saya ingin sekali bertemu dengan ayah anda, apakah bisa saya bertemu dengan beliau? Kalau memang itu keinginan bapak, nanti kita bersama-sama menemui ayah saya…” jawab saya.

    Akhirnya, sekitar pukul empat sore saya bersama dengan orang itu menuju rumah, untuk menemui ayah yang memang sedang sakit. Sesampai di rumah, langsung saja ia saya antar ke kamar ayah, dimana saat itu ayah sedang berbaring atau bahkan lagi tidur..

    Kami menunggu di sebelah pembaringannya, tidak berani mengganggu. Saya lihat orang itu sesekali nampak berdo’a sambil berjongkok di dekat kaki ayah saya yang sedang tertidur. Saya tidak tahu apa yang dido’akan oleh orang tersebut. Apakah ia mendo’akan agar ayah saya lekas sembuh atau do’a yang lain.

    Selang beberapa saat, tiba-tiba ayah saya membuka mata, beliau memandang ke arah saya, dan juga ke wajah orang tersebut yang masih berjongkok di dekat kaki ayah saya.

    Tiba-tiba ayah saya berkata perlahan kepada saya :”..nak, tolong ambilkan segelas air putih… “saya bergegas ke belakang sambil bertanya kepada ayah. Apakah ayah lagi haus. Atau ingin minum obat… ?” Oh, tidak. Ini kan ada tamu, ia ke sini mau mencari ilmu…,” jawab ayah saya. Saya heran dengan perkataan ayah.

    Setelah saya ambilkan segelas air putih, oleh beliau air di gelas itu diberi do’a, dan diberikan lagi ke saya, sambil beliau berkata ・..berikan air putih ini kepadanya, kasihan, ia lagi haus….Tolong, sampaikan kepadanya, bahwa dzikir itu letaknya di hati. Bukan di mulut, bahkan mata berkedip itu dzikir, apabila hatinya ingat kepada Allah Swt. Setelah berkata begitu, ayah saya langsung tidur lagi, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu…・

    Di kamar itu begitu sunyi, sehingga sangat jelasnya suara ayah saya. Saya tidak tahu bagaimana perasaan orang itu mendengarkan dialog kami. Yang jelas ia tidak beranjak dari tempatnya. Ia tetap berjongkok sambil menundukkan kepala.

    Setelah saya menerima segelas air putih itu, saya berikan air itu kepada orang tersebut, dan ia meminumnya sambil terus berjongkok. Saya lihat di sudut kelopak matanya ada setitik air mata, yang dicobanya untuk tidak jatuh.

    Setelah beberapa saat kami dalam kebisuan, ayah juga tidur dengan nyenyaknya. Sementara kami juga tidak berani mengganggunya. Cukup lama kami menunggu. Tetapi ayah tetap tidak bangun. Nampaknya beliau tertidur dengan begitu nyenyaknya. Setelah agak lama, orang itupun mohon diri untuk pulang, sambil berkata kepada saya pelajaran yang saya cari sejak dulu, baru ini saya mendapat ilmu yang sangat berarti bagi hidup saya. Tadi adalah pelajaran rahasia yang tidak setiap orang bisa menangkapnya. Saya akui bahwa saya sering melakukan dzikir tetapi rupanya yang saya lakukan itu salah. Saya berdzikir hanya sebatas mulut saja…”

    Terima kasih, tolong sampaikan kepada beliau, saya tidak berani pamit, takut mengganggu beliau yang saat ini sedang asyik berdzikir dalam tidurnya…”

    Orang itu bangkit dan bergeser perlahan dari tempatnya, ia sangat takut mengganggu ayah yang lagi tidur. Dan ia pun mengucap salam, sambil berjalan pulang…

    Sungguh, saya masih terkesima dengan kejadian istimewa itu. Semoga apa yang disampaikan ayah saya, meskipun hanya satu kalimat, akan menjadikan ilmu yang bermanfaat fid dunyaa wal aakhirat… Amiin ya rabbal

     
  • erva kurniawan 12:56 pm on 16 September 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Membunuh Nyamuk Di Tengah Malam 

    siluet masjid 3Jam dinding tepat menunjukkan pukul 02.30. Tanpa terasa saya terbangun dari tidur. Saya dikagetkan oleh dengungan suara seekor nyamuk yang mau hinggap di tubuh.

    Secara reflek tangan saya bergerak. Dan ‘plak’. Seketika matilah nyamuk tersebut oleh kedua tangan saya yang menepuknya.

    Setelah terbangun dari gangguan nyamuk tadi, saya menuju kamar mandi, mengambil air wudhu dan kembali ke kamar tidur. Berikutnya saya mengambil sajadah, dan saya ‘terperangkap’ dalam khusyu’nya tahajud malam.

    Selesai melakukan shalat, dzikir yang cukup panjang mewarnai malam itu. Ditengah basahnya lidah menyebut asma Allah, tiba-tiba saya teringat akan nyamuk yang saya bunuh tadi. Dan tak tertahankan lagi, mata basah oleh penyesalan yang mendalam.

    Rasa salah yang begitu besar, telah menyelinap di hati yang paling dalam. Saat itu diri ini merasa berdosa, sebab telah membunuh seekor nyamuk yang telah berjasa besar. Nyamuk itulah justru yang telah membangunkan saya dari tidur lelap agar bisa tahajud malam. Agar bisa mendekati Sang Khaliq.. Agar bisa mencintai Sang pengasih. Tetapi ‘pahlawan’ itu terbunuh dalam ‘tugas mulia’nya ketika membangunkan manusia dari kekhilafannya. Maka bertambah berderailah air mata penyesalan, disela-sela dzikir asmaul husna.

    Keesokan harinya, ketika saya berusaha mengulang untuk merekonstruksi kejadian malam itu, tidak sebutir air matapun yang menetes.. Mengapa? sebab suasana sudah berubah. Saya termenung memikirkan kejadian semalam itu.

    Pertanyaan yang selalu muncul adalah mengapa pada malam itu, saya bisa menangisi seekor nyamuk? Padahal ia membawa penyakit, padahal gigitannya mendatangkan rasa sakit. Apa yang menyebabkan saya menjadi menyesal setelah membunuh nyamuk itu?

    Pertanyaan demi pertanyaan, muncul di benak saya. Manakah yang benar? Apakah yang terbunuh malam itu, ia adalah seekor binatang jahat yang akan mendatangkan kerugian karena gigitan atau penyakit yang dibawanya, ataukah justru ia adalah seekor binatang kecil sebagai sosok pahlawan yang rela mati demi kepentingan seorang manusia agar bisa bertemu dengan Tuhannya.

    Yang jelas, suasana malam hari yang hening akan menyebabkan seseorang bisa berfikir dengan begitu jernihnya tanpa dipengaruhi oleh dunia yang penuh dengan tipu daya.

    Sungguh sangat masuk akal kalau Rasulullah saw, menganjurkan kita agar sering bangun di sepertiga malam terakhir, agar kita mendapatkan suatu anugerah yang luar biasa. Bahkan dalam bulan ramadhan ada suatu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan….

    Tetapi memang sungguh berbeda, calon penghuni neraka, dan calon penghuni surga. Ada sebagian orang yang menggunakan waktu malamnya untuk mendekatkan diri pada Ilahi. Dia bangun tengah malam, diambilnya air wudhu’ untuk mensucikan dirinya, setelah itu ia asyik tenggelam dalam shalat tahajudnya. Kenikmatan yang didapatnya tak dapat diutarakan dengan kata-kata….

    Sementara, di tempat lain banyak juga orang-orang yang menggunakan waktu malamnya yang sangat berharga itu, untuk melakukan perbuatan maksiat yang dilarang oleh Penciptanya. Padahal semua fasilitas untuk berbuat maksiat itu adalah didapat karena kasih sayang Tuhannya.

    Apakah kesehatannya, apakah rezekinya, atau kesempatannya, atau umurnya. Semua yang dipakai untuk pergi menuju tempat ‘terlarang’ itu berasal dari Tuhan sang Penciptanya. Pertanyaan yang mungkin muncul di benak kita adalah, Manakah yang lebih pintar?

    Apakah orang-orang yang menggunakan waktu malamnya untuk menuju keridhaan Allah, dengan melakukan dzikrullah,

    Ataukah orang-orang yang menggunakan waktu malamnya untuk menuju tempat atau melakukan perbuatan yang dilarang Allah.

    Dan kita pun tinggal memilih, berada pada golongan manakah diri kita? Kata Allah Swt, dalam Surat Al-Hasyr : 20 “(sungguh), Tiada sama penghuni neraka dengan penghuni syurga. Penghuni syurga itu adalah orang-orang yang beruntung…”

    ***

    Sumber: NN

     
    • ermila 7:10 am on 18 September 2009 Permalink

      Nguing…3x, plok-plok,..mati deh sinyamuk

  • erva kurniawan 12:29 pm on 14 September 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Nasehat Sang Ibunda 

    siluet bundaJam menunjukkan pukul 23.00. Tapi mata belum juga bisa terpejamkan. Setelah menyaksikan adegan istimewa yang disuguhkan Allah Swt di dinding kamar saya, bagaimana upaya seekor cicak menyambut rizkinya. Tiba-tiba tanpa sengaja pikiran saya melayang jauh ke masa lampau. Waktu itu bertepatan dengan hari ke sebelas bulan ramadhan.

    Sosok ibu kami, pada masanya, beliau tidak pernah merasakan bagaimana menjadi seorang murid. Beliau tidak pernah sekolah. Walaupun hanya setingkat sekolah dasar. Tetapi cara-cara beliau mendidik dan memberi pelajaran kepada kami, sungguh sangat mengesankan dan membuat kami selalu kagum pada beliau. Diantara sekian banyak pelajaran kehidupan yang kami terima, ada satu hal yang terus saya ingat, apabila pikiran terbayang pada beliau.

    Pada sore hari yang cerah, saya mau mengambil buah jambu yang ada di halaman rumah kami. Buah jambu itu tampak sudah matang dan begitu menggairahkan. Perlu diketahui bahwa pohon jambu yang kami tanam di depan rumah kami adalah buah ‘jambu jepang’, istilah orang kampung. Pohon itu sangat langka pada saat itu.

    Di kampung tempat kami tinggal hanya ada satu pohon itu saja. Sehingga semua orang yang melihatnya kepingin sekali merasakan bagaimana rasa buah `jambu jepang’ tersebut. Pohon itu kalau berbuah juga tidak terlalu banyak. Kadang-kadang satu pohon hanya ada satu atau dua buah saja yang masak. Perlu diketahui pula bahwa buahnya sangat kecil hanya sebesar buah kelengkeng saja. Tetapi baunya harum dan rasanya manis.

    Pada hari itu, buah jambu yang masak ada dua buah. Ketika sore itu saya mau mengambil buah yang sudah ranum, ibu melarangnya. Sehingga saya agak kecewa karenanya.

    Kata saya : ‘..mengapa bu, saya tidak boleh mengambil buah tersebut? Kan itu milik kita. Kalau tidak cepat diambil nanti kan membusuk?”

    Jawab ibu : “Nak, kita kan sudah pernah makan buah tersebut.. Walaupun dengan menunggu dalam waktu yang cukup lama. Dan memang kadang-kadang kita hanya bisa makan satu atau duah buah saja yang sedang masak. Tetapi tetangga depan rumah kita itu, belum pernah mencicipinya. Kemarin ibu lihat anaknya pingin sekali mengambil jambu itu. Karena itu janganlah diambil. Berikan buah jambu itu kepada mereka. Agar hatinya senang…

    Kembali mata saya berkaca-kaca, mengingat peristiwa sederhana itu. Sebuah peristiwa yang mungkin setiap orang akan pernah menjumpainya dalam keluarganya masing-masing. Atau dalam lingkungan lainnya, dengan model yang berbeda.

    “Dahulukanlah orang lain… ! Begitulah kira-kira inti pelajaran istimewa yang saya terima dari beliau Mengenang peristiwa itu, saya jadi teringat sebuah riwayat yang menceritakan tentang seorang sahabat yang oleh rasulullah disuruh menjamu tamunya. Ceritanya, di rumah sahabat tersebut tidak terdapat sesuatu makanan, kecuali makanan milik anaknya. Karena sang pemilik rumah ingin lebih mengutamakan tamunya dari pada keluarganya, ia memberikan makanan milik anaknya tersebut kepada tamunya dengan cara yang sangat luar biasa.

    Yaitu ketika waktu makan bersama tamunya, sang pemilik rumah pura-pura makan juga, padahal piringnya kosong. Mengapa pura-pura? Supaya sang tamu tidak mengetahui kalau pemilik rumah sebenarnya tidak ikut makan. Untuk maksud itu, maka lampu di dalam rumahnya dipadamkan. Pura-pura kehabisan minyak. Setelah suasana menjadi gelap, maka mereka ‘makan’ bersama-sama. Sang tamu makan sungguhan, sang pemilik rumah makan pura-pura, padahal perutnya sangatlah laparnya.

    Peristiwa itu begitu luar biasanya, sehingga turunlah ayat Al-Qur’an surat Al-Hasyr (59) : 9, sebagai penghargaan terhadap peristiwa tersebut.

    “Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

    Kalaulah sampai Allah Swt, menurunkan sebuah ayat lantaran peristiwa tersebut, sungguh betapa hebatnya kejadian itu sehingga perlu diabadikan dalam kitab suci akhir zaman ini. Agar bisa dicontoh dan diteladani oleh umat manusia.

    Demikian pula banyak pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh Rasulullah saw, agar kita selalu berbuat baik kepada orang lain, serta memiliki sifat murah hati terhadap orang lain.

    Anas bin Malik ra, berkata, bahwa rasulullah saw itu, tidak pernah diminta kecuali selalu memberi. Pernah datang seorang lelaki kepada Rasulullah untuk meminta, maka beliau memberikan kambing-kambing yang banyak yang berada diantara dua gunung, kambing sadaqah. Maka lelaki itu pulang dan ia berkata kepada kaumnya…

    Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian semua! Sesungguhnya Muhammad itu amat pemurah. Ia memberi dengan pemberian yang sangat banyak, tidak pernah takut melarat…

    ***

    Sumber: NN

     
    • anissa 8:30 am on 28 September 2009 Permalink

      Subhanallah..
      contoh yg sgt bagus di era modern spt skrg ini kita harus ttp berusaha untuk berkorban demi kebahagiaan orang lain.. Allah pasti akan membalasnya dgn yang lebih baik.. amiin..

  • erva kurniawan 8:15 pm on 10 September 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Kisah Petani Kecil Yang Mulia 

    Pak TaniBeberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Semarang sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.

    ” Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si Pemuda.

    “Oh… Saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin anak saya yang kedua” jawab ibu itu.

    ” Wouw….. hebat sekali putra ibu, pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak. Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.

    ” Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang kedua ya Bu?? Bagaimana dengan adik-adiknya? ?”

    Oh ya tentu, si Ibu bercerita : “Anak saya yang ketiga seorang Dokter di Malang, yang keempat Kerja di Perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi Arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi Kepala Cabang Bank di Purwokerto,yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang.”

    Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh.

    “Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ??”

    Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, “Anak saya yang pertama menjadi Petani di Godean Jogja nak”.

    Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar ”

    Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu….. kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani “??

    Dengan tersenyum ibu itu menjawab,

    ” Ooo …tidak tidak begitu nak….

    Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”

    ***

    Point of view:

    Everybody in the world is a important person. Open your eyes…. your heart…. your mind…. your point of view…. because we can’t make summary before read “the book” completely.

    The wise person says… The more important thing is not WHO YOU ARE

    But… WHAT YOU HAVE BEEN DOING

    (Sumber: email teman)

     
    • yuna 10:36 am on 11 September 2009 Permalink

      true story ngga nie??

    • utusan allah 1:50 pm on 9 Maret 2010 Permalink

      tu baru yang dinamakan manusia yang berguna bagi kehidupan orang lain,maka kebahagiaan sodara2 nya akan menjadi nikmat baginya.

  • erva kurniawan 9:37 am on 7 September 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Doa dari Keranjang Tempe 

    Penjual-tempeDi Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, tempat tinggal seorang ibu penjual tempe . Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lakukan sebagai menyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang.

    “Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. ” demikian dia selalu memaknai hidupnya.

    Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe , dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi…….deg !! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian. Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.

    Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, ditengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. “Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe . Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku…”

    Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya. Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe . Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh.

    Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan… dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang “memproses” doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia.  Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. “Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku…”

    Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan… belum jadi. Kacang itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang tersebut.

    “Keajaiban Tuhan akan datang….pasti, ” yakinnya. Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, “kehendak” Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa… berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya. Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu.

    “Pasti sekarang telah jadi tempe !” batinnya.  Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan… dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi. Kecewa, airmata menitik di keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi?

    Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.  Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar… merasa sendirian. Allah telah meninggalkan aku, batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan… esok dia pun tak akan dapat makan.

    Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan “teman-temannya” sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak.  Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras.  Dia merasa cobaan itu terasa berat. Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya.

    “Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya.  Ibu punya??” Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. “Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe ….”

    Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. “Jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe ….”

    “Bagaimana Bu ? Apa ibu menjual tempe setengah jadi ?” tanya perempuan itu lagi. Kepanikan melandanya lagi. “Duh Gusti… bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?” ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca ?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi ! “Alhamdulillah! ” pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli. Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. “Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?”

    “Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Sulhanuddin, yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu ?”

    Sahabatku, ini kisah yang biasa bukan ? Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa…..dan “memaksakan” agar …..Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. Padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sempurna..

    Wallahu’alam Bishshawaab…..

    ***

    Sumber: Eramuslim

     
    • Ermila 2:02 pm on 7 September 2009 Permalink

      Subhanallah,.Allahhu Akbar,.sbnrnya kt tau Allah lebih tau dr apa yg kt tau, tp disaat trtntu kt lupa hal itu,.. Mdh2an kt bs mnjd org yg lebih ikhlas dlm mnjlni hdp ini

    • anissa 9:03 am on 28 September 2009 Permalink

      subhanallah..
      cerita yang mengharukan dan lucu, menunjukan kdekatan seorang hamba dgn Tuhannya dan yakin bahwa pertolongan Allah pasti datang.. hanya mungkin si ibu kurang sabar.. bahwa Allah memberikan jawaban dari arah yang tidak disangka2..,
      sama spt kita kadang kurang sabar dlm do’a2 kita yang belum dijawab Allah.. astaghfirullah al adzhiim

    • projo27 3:30 pm on 9 April 2012 Permalink

      Pak Erva, Kisahnya sangan inspiratif sekali, saya mendapat kisah ini dari email saudara Aan Sopyan dari rumahzakat.org
      Saya baru tahu setelah mencari di internet, bahwa cerita ini berasal dari Anda, saya izin copas ke blog saya http://projokusumo.blogspot.com

  • erva kurniawan 8:03 pm on 4 September 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Kisah Teladan: Abdullah bin Ummi Maktum Radiallahuanhu 

    Taj CompoundAssalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

    Auzubillahiminasy syaithonirrojiim

    Masih ingat dengan seorang sahabat Nabi yang tak dapat melihat? Yang karenanya Allah lalu menegur Nabi dan menurunkan surat “A’basa”?

    1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
    2. karena telah datang seorang buta kepadanya.
    3. tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),
    4. atau Dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
    5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,
    6. Maka kamu melayaninya.
    7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau Dia tidak membersihkan diri (beriman).
    8. dan Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
    9. sedang ia takut kepada (Allah),
    10. Maka kamu mengabaikannya.
    11. sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,

    QS. Abasa (80) ayat 1 – 11

    **

    Ia adalah Abdullah bin Ummi Maktum Radiallahuanhu. Seorang sosok sahabat yang senantiasa tawadlhu dalam menunaikan kewajibannya sebagai hamba Allah.

    Suatu ketika sahabat Nabi ini menghampiri baginda Rasulullah Saw, ia hendak meminta izin, untuk tidak mengikuti jama’ah shubuh, karena tak ada yang menuntunnya menuju masjid. Setelah mendengar alasannya, baginda Rasulpun bertanya: “Apakah engkau mendengar adzan?”, Abdullah lantas menjawab: “Tentu baginda”, “Kalau begitu tidak ada keringanan untukmu”, tandas Rasul.

    Layaknya hamba Allah yang senantiasa istiqomah dalam menjalankan perintahNya. Abdullahpun sam’an  a tho’atan atas apa yang diperintahkan Rasulullah Saw. Dengan mantap ia berazam untuk mendirikan jama’ah shubuh di masjid,sekalipun dirinya harus meraba-raba dengan tongkat untuk menuju sumber azan.

    Keesokan harinya, tatkala fajar menjelang dan azan mulai berkumandang, Abdullah bin Ummi Maktumpun bergegas memenuhi panggilan Illahi. Tak lama ketika ia mengayunkan kakinya beberapa langkah, tiba-tiba ia tersandung sebuah batu, badannya lalu tersungkur jatuh, dan sebagian ongkahan batu itu tepat mengenai wajahnya, dengan seketika darahpun mengalir dari mukanya yang mulia.

    Dengan cepat Abdullah kembali bangkit, sembari mengusap darah yang membasahi wajahnya, iapun dengan mantap akan kembali melanjutkan perjalanan menuju masjid.

    Selang beberapa saat, datang seorang sosok lelaki tak dikenal menghampirinya, kemudian lelaki itu bertanya: “A’mmu (paman) hendak pergi kemana?”. “Saya ingin memenuhi panggilan Ilahi” jawab Abdullah tenang. Lalu laki-laki asing itu menawarkan jasanya,

    “Saya akan antarkan a’mmu ke masjid, lalu nanti kembali pulang ke rumah”. Lelaki itupun segera menuntun Abdullah menuju rumah Allah, dan kemudian mengantarkannya kembali pulang.

    Hal ini ternyata tidak hanya sekali dilakukan lelaki asing itu, tiap hari ia selalu menuntun Abdullah ke masjid dan kemudian mengantarkannya kembali ke rumah. Tentu saja Abdullah bin Ummi Maktum sangat gembira, karena ada orang yang dengan baik hati mengantarnya salat berjama’ah, bahkan tanpa mengharapkan imbalan apapun.

    Hingga tibalah suatu saat, ia ingin tahu siapa nama lelaki yang selalu mengantarnya. Ia lalu menanyakan nama lelaki budiman itu. Namun spontan lelaki asing itu menjawab: “Apa yang paman inginkan dari namaku?”, “Saya ingin berdo’a kepada Allah, atas kebajikan yang selama ini engkau lakukan”, jawab Abdullah. “Tidak usah” tegas lelaki itu. “Paman tidak perlu berdoa untuk meringankan penderitaanku, dan jangan sekali-kali paman menanyai namaku” tegasnya. Abdullah terhentak dan terkejut atas jawaban lelaki itu, Iapun kemudian bersumpah atas nama Allah, meminta lelaki itu untuk tidak menemuinya lagi, sampai ia tahu betul siapa dan mengapa ia terus memandunya menuju masjid dan tidak mengharapkan balasan apapun.

    Mendengar sumpah Abdullah, laki-laki itu kemudian berpikir panjang, ia kemudian berkata: “Baiklah akan aku katakan siapa diriku sebenarnya. “Aku adalah Iblis” jawabnya. Abdullah tersentak tak percaya, “Bagaimana mungkin engkau menuntunku ke masjid, sedangkan dirimu menghalangi manusia untuk mengerjakan salat?” Iblis itu kemudian menjawab: “Engkau masih ingat ketika dulu hendak melaksanak salat shubuh berjama’ah, dirimu tersandung batu, lalu bongkahannya melukai wajahmu?”.

    “Iya, aku ingat” jawab Abdullah. “Pada saat itu aku mendengar ucapan Malaikat, bahwasannya Allah telah mengampuni setengah dari dosamu, aku takut kalau engkau tersandung untuk kedua kali, lalu Allah menghapuskan setengah dosamu yang lain” jelas Iblis. “Oleh karena itu aku selalu menuntunmu ke Masjid dan mengantarkanmu pulang, khawatir jika engkau kembali ceroboh lagi ketika berangkat ke Masjid”

    Astaghfirullah, ternyata Iblis tak pernah rela sedikitpun melihat hamba Allah menjadi ahli ibadah. Terbukti semua cara ia tempuh, hingga ia tak segan untuk menggunakan topeng kebaikan, khawatir kalau mangsanya akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.

    **

    Dari sepenggal kisah sahabat diatas, tentu kita dapat mengambil pelajaran dan memahami satu dari karakter Iblis, lalu bagaimana dengan kita? masihkah berdiam diri, menunggu menjadi korban makhluk laknat itu, atau kita mencoba melawan dengan memperbaiki diri dan terus mendekatkan diri pada Ilahi?

    ***

     
    • mnrizki 12:19 am on 9 Februari 2010 Permalink

      Pada admin minta ijin copas artikelnya, terima kasih.
      Kunjungi : http://majlisdzikrullahpekojan.org

    • ma'arif 8:55 pm on 19 Maret 2010 Permalink

      Pelajaran yang lebih berharga mnurut sy bukanya memahami karakter iblis itu tapi, ” sudah tak ada lagi buat kita untuk tidak sholat berjama’ah di masjid.”
      dg semua keutamaanya dan perjuangan para sahabat dalam menjaga keistiqomah’an sholat berjama’ahnya..

      oh ya ijin copas juga…
      smoga lebih bermanfaaat buat yang lain dr artikel antum

    • Mukti 8:08 am on 25 Agustus 2010 Permalink

      Subhanallah…

    • tri 7:06 pm on 1 Februari 2011 Permalink

      izin copas. Syukron

  • erva kurniawan 1:12 pm on 3 September 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Buah Kejujuran 

    WaterLilyPada suatu hari ada seorang penebang kayu yang sedang menebangi cabang sebuah pohon yang melintang di atas sungai. Tiba-tiba kapaknya terjatuh ke sungai itu. Ketika ia mulai menangis, Raja menampakkan diri dan bertanya, “Mengapa kamu menangis?” Si penebang kayu menjawab bahwa kapaknya telah terjatuh ke dalam sungai.

    Segera Raja masuk ke dalam air dan muncul dengan sebuah kapak emas.

    “Inikah kapakmu?” Raja bertanya.

    “Bukan,” si penebang kayu menjawab.

    Raja masuk kembali ke air dan muncul dengan kapak perak. “Inikah kapakmu?” Raja bertanya lagi.

    “Bukan,” si penebang kayu menjawab.

    Sekali lagi Raja masuk ke air dan muncul dengan kapak besi. “Inikah kapakmu?” Raja bertanya.

    “Ya!” jawab si penebang kayu.

    Raja sangat senang dengan kejujurannya dan memberikan ketiga kapak itu kepadanya. Si penebang kayu pulang ke rumahnya dengan hati bahagia.

    Beberapa waktu kemudian, si penebang kayu berjalan-jalan di sepanjang sungai dengan istrinya. Tiba-tiba sang istri terjatuh ke dalam sungai. Ketika ia mulai menangis, Raja menampakkan diri dan bertanya, “Mengapa kamu menangis?”

    Si penebang kayu menjawab bahwa istrinya telah terjatuh ke dalam sungai. Segera Raja masuk ke dalam air dan muncul dengan Cleopatra. “Inikah istrimu?” Raja bertanya.

    “Ya!” si penebang kayu menjawab, cepat.

    Mendengar itu, Raja menjadi sangat marah. “Kamu berbuat curang! Aku akan mengutukmu!” tegur Raja.

    Si penebang kayu segera menjawab, “Maafkan saya, ya Raja. Ini hanya kesalahpahaman belaka. Kalau saya berkata ‘Bukan’ pada Clopatra, Engkau pasti akan muncul kembali dengan Ratu Interniti. Kalau saya juga berkata ‘Bukan’ kepadanya, pada akhirnya Engkau pasti akan muncul dengan istri saya, dan saya akan berkata ‘Ya’. Kemudian Engkau pasti akan memberikan ketiganya kepada saya.

    “Raja, saya adalah orang miskin. Saya tidak akan mampu menghidupi mereka bertiga. Itu sebabnya saya menjawab ‘Ya’.”

    Hmm… Kejujuran, kapan pun memang selalu membawa kisah manis.

    ***

    Sumber: anonim

     
    • abdurrahman 11:40 am on 14 September 2009 Permalink

      sEBENARNYA ISTRI LEBIH DARI SATU TIDAK HARUS MENUGGU KAYA,NAMUN YANG LEBIH URGEN ADALAH BAGAIMANA AMAL AGAMA SEMPURNA PADA DIRI DAN KELUARGA KITA.SEMOGA ALLAH MEMBERI KEKUATAN PADA KITA.

    • ahmad nursobah 12:53 pm on 27 Februari 2010 Permalink

      memang benar kata si tukang kayu, bahwa ada waktunya kita jujur dan ada waktunya pula kita tdk jujur, selama itu tidak menyimpang ajaran agama,dan sandainya dia jujur dengan raja sama saja dia mempermainkan agama karena beristri lebih dari satu dantidak mampu menafkahi, dalam al quran diterangkan:”nikahilah olehmu 1 wanita atau lebih jika kamu mampu menafkahinya”.semoga kita termasuk orang2 yang di rahmati oleh allah selalu,amin!

  • erva kurniawan 9:06 am on 2 September 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Maaf, Saya Mau Ke Masjid…. 

    silluet-masjid 14Seorang pengusaha shalih bernama Kajiman -bukan nama asli- sedang menginap di sebuah hotel berbintang lima di Semarang. Usai melakukan qiyamul-lail ia bergegas ke luar hotel untuk mencari masjid terdekat untuk shalat Shubuh berjamaah. Waktu saat itu menunjukkan bahwa waktu adzan Shubuh kira-kira setengah jam ke depan.Sehingga Ia ingin jalan-jalan sebentar sebelum sholat shubuh.

    Begitu keluar dari lobby hotel, Kajiman pun meminta kepada tukang becak yang bernama Ibnu untuk mengantar keliling Semarang. Kira-kira belasan menit sudah Ibnu mengayuhkan pedal becak, sayup-sayup terdengar suara tarhim yang mengisyaratkan waktu shubuh akan tiba.

    Sejurus itu Ibnu berkata santun kepada penumpangnya, “Mohon maaf ya pak, boleh tidak bapak saya pindahkan ke becak lain??” Kajiman membalas, “Memangnya bapak mau kemana?” “Mohon maaf pak, saya mau pergi ke masjid!” jawab Ibnu.

    Terus terang Kajiman kagum atas jawaban Ibnu sang tukang becak, namun ia ingin mencari alasan mengapa Ibnu sedemikian hebat kemauannya hingga ingin pergi ke masjid. “Kenapa harus pergi ke masjid pak Ibnu?” Tanya Kajiman. Ibnu dengan polos menjawab, “Saya sudah lama bertekad untuk mengumandangkan adzan di masjid agar orang-orang bangun dan melaksanakan shalat Shubuh. Sayang khan Pak kalau kita tidak shalat Shubuh” jelas Ibnu singkat.

    Jawaban ini semakin membuat Kajiman bertambah kagum. Namun Kajiman belum puas sehingga ia melontarkan pertanyaan yang menggoyah keimanan Ibnu. “Pak, bagaimana kalau pak Ibnu tidak usah ke masjid tapi pak Ibnu temani saya keliling kota dan saya akan membayar Rp 500 ribu sebagai imbalannya!” Dengan santun Ibnu menolak tawaran itu, dengan mengatakan bahwa shalat sunnah Fajar itu lebih mahal daripada dunia beserta isinya!”

    Ia terkejut dan begitu takjub atas ketaatan Ibnu. Bahkan ketika Kajiman memberikan tawaran dua kali lipat, tetap saja Ibnu menolak. Kekaguman pun membawa Kajiman menyadari bahwa ada pelajaran besar yang sedang ia dapati dari seorang guru kehidupan bernama Ibnu .

    Beberapa saat kemudian, Ibnu dan Kajiman pun tiba di salah satu masjid. Usai sholat dan puas berdoa. Kajiman lalu berdiri dan menghampiri tubuh Ibnu. Ia gamit tangan Ibnu untuk berjabat lalu memeluk tubuhnya dengan erat. Sementara Ibnu belum mengerti apa maksud perbuatan yang dilakukan Kajiman.

    Dalam pelukan itu Kajiman membisikkan kalimat ke telinga Ibnu, “Mohon pak Ibnu tidak menolak tawaran saya kali ini. Dalam doa munajat kepada Allah tadi saya sudah bernazar untuk memberangkatkan pak Ibnu berhaji tahun ini ke Baitullah… ., Mohon bapak jangan menolak tawaran saya ini.

    Subhanallah. … bagai kilat yang menyambar. Betapa hati Ibnu teramat kaget mendengar penuturan Kajiman. Kini Ibnu pun mengeratkan pelukan ke tubuh Kajiman dan ia berkata, “Subhanallah walhamdulillah. … terima kasih ya Allah…. terima kasih pak Kajiman….. !” Matanya berkaca-kaca

    Ini keimanan tukang becak. Bagaimana dengan Kita?

    ***

    Sumber : Kisah Ust Bobby H.

     
    • ichek 10:58 am on 2 September 2009 Permalink

      Berat…

    • zaki 4:34 pm on 5 September 2009 Permalink

      subhanallah

    • abdurrahman 11:26 am on 14 September 2009 Permalink

      Seandainya orang orang Indonesia seperti p Ibnu betapa indahnya kehidupan ini.

    • Nanang 10:25 am on 6 November 2009 Permalink

      mari kita bangun Gerakan Shalat Shubuh Berjamaah

  • erva kurniawan 12:58 pm on 1 September 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Andai Pemimpin Kami Said 

    siluet masjid 9Suatu ketika delegasi pemerintah daerah Himsh datang menghadap Khalifah Umar. Himsh adalah sebuah wilayah di Syam yang masuk dalam pengawasan kekhalifahan (pemerintahan) Khalifah Umar bin Khaththab. Gubernur Himsh bernama Said bin Amir al-Jumhi. Khalifah Umar yang terkenal karena kepeduliannya kepada fakir-miskin meminta delegasi untuk menyerahkan daftar fakir-miskin di Himsh. “Berikan daftarnya agar aku bisa memenuhi kebutuhan mereka,” pinta Khalifah Umar.

    Mereka kemudian menyerahkan satu buah buku yang berisi nama-nama penduduk Himsh yang tergolong fakir-miskin. Menariknya, diantara daftar itu terselip nama gubenrur mereka sendiri; Said bin Amir al-Jumhi.

    Demi melihat nama Said, seperti tak yakin Umar bertanya “Ini Said bin Amir siapa?” Mereka menjawab “Gubernur kami”. Umar bertanya heran, “Gubernur kalian miskin?!” Mereka menjawab. “Ya, Demi Allah, dapurnya sering tidak berasap dalam waktu yang lama.”

    Mendengar itu Umar menangis tersedu sampai air matanya membasahi janggutnya. Sambil terisak Umar mengambil seribu dinar (bila dikonvesikan dengan rupiah, kira-kira saat ini senilai Rp 600 juta), lalu dimasukkannya ke dalam satu kantong. Umar berkata “Berikan salamku kepada pemimpin kalian dan katakan, ‘Khalifah Umar mengirimkan uang ini kepadamu agar kau bisa mempergunakannya untuk memenuhi kebutuhanmu’”. Air mata Umar masih saja mengalir.

    Delegasi pun kembali ke Himsh. Mereka lalu menghadap kepada Said dan memberikan titipan dari Khalifah Umar lengkap dengan pesannya. Said melihat isinya, dan ia tersentak. Dijauhkannya kantong itu dari hadapannya, seraya berkata “Innalillah wa inna ilaihi rajiun!”. Lalu Said bertanya pada istrinya, “Wahai istriku apakah engkau mau membantuku?” Istrinya menjawab, “tentu wahai suamiku”. Berdua, mereka pun membagikan dinar pemberian Khalifah Umar itu kepada rakyatnya sendiri.

    Selang beberapa waktu kemudian, Umar dating untuk melihat kondisi masyarakat di daerah Syam. Tak lupa Umar singgah di Himsh untuk menengok sang gubernur. Melihat kondisi Said, Umar pun memberi bantuan seribu dinar lagi untuk Said. Pemberian Khalifah Umar diadukan kembali oleh Said kepada istri tercintanya.

    Seperti sebelumnya Said mengajak istrinya untuk memberikan uang itu kepada orang lain, “dinar ini akan kita berikan kepada orang yang datang kepada kita, jadikan dinar ini sebagai pinjaman yang baik bagi Allah.” Dinar itu diberikannya kepada siapapun yang datang kepadanya dalam kantong-kantong dinar. Said juga memerintahkan keluarganya untuk membagikan semua dinar itu kepada para janda, yatim, dan fakir miskin di daerah Himsh.

    **

    Dari kisah di atas terbukti, sebagai gubernur, Said lebih mengutamakan kesejahteraan rakyatnya dibandingkan dirinya sendiri. Gubernur Said rela, bantuan dari Khalifah Umar untuk dirinya, ia berikan semua kepada rakyatnya. Said pun ikhlas lebih menderita dari rakyatnya. Dia tak ingin bergelimang harta dan kemewahan dan rela berada di barisan terdepan dalam menanggung derita. Subhanalloh. .

    ***

    Oleh : Jamil Azzaini

     
    • mr.pandu 8:44 am on 10 April 2010 Permalink

      thanks …………………………………………………………………………………………………………………………………………..

  • erva kurniawan 9:15 am on 31 August 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Khalifah Umar Dan Gadis Jujur 

    Siluet masjid 10Bissmillahirrohmaan irrohiim

    Khalifah Umar bin Khattab sering melakukan ronda malam sendirian. Sepanjang malam ia memeriksa keadaan rakyatnya langsung dari dekat. Ketika melewati sebuah gubuk, Khalifah Umar merasa curiga melihat lampu yang masih menyala.

    Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik.

    Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik Kalifah umar mengintipnya. Tampaklah seorang ibu dan anak perempuannya sedang sibuk mewadahi susu.

    “Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini,” kata anak perempuan itu.

    “Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit.”

    “Benar anakku,” kata ibunya.

    “Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan gemuk. Kita bisa memerah susu sangat banyak,” harap anaknya.

    “Hmmm….., sejak ayahmu meninggal penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan,” kata ibunya.

    Anak perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi susu.

    “Nak,” bisik ibunya seraya mendekat. “Kita campur saja susu itu dengan air. Supaya penghasilan kita cepat bertambah.”

    Anak perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah ibu yang keriput. Ah, wajah itu begitu lelah dan letih menghadapi tekanan hidup yang amat berat. Ada rasa sayang yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan ibunya.

    “Tidak, bu!” katanya cepat.

    “Khalifah melarang keras semua penjual susu mencampur susu dengan air.” Ia teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang kepada pembeli.

    “Ah! Kenapa kau dengarkan Khalifah itu? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu,” gerutu ibunya kesal.

    “Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada pembeli?”

    “Tapi, tidak akan ada yang tahu kita mencampur susu dengan air! Tengah malam begini tak ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tidak akan tahu perbuatan kita,” kata ibunya tetap memaksa.

    “Ayolah, Nak, mumpung tengah malam. Tak ada yang melihat kita!”

    “Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita serapi apa pun kita menyembunyikannya, “tegas anak itu. Ibunya hanya menarik nafas panjang.

    Sungguh kecewa hatinya mendengar anaknya tak mau menuruti suruhannya. Namun, jauh di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran anaknya.

    “Aku tidak mau melakukan ketidak jujuran pada waktu ramai maupun sunyi. Aku yakin Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,”kata anak itu.

    Tanpa berkata apa-apa, ibunya pergi ke kamar. Sedangkan anak perempuannya menyelesaikan pekerjaannya hingga beres.

    Di luar bilik, Khalifah Umar tersenyum kagum akan kejujuran anak perempuan itu.

    ” Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah!” gumam khalifah Umar. Khalifah Umar beranjak meniggalkan gubuk itu.Kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya.

    Keesokan paginya, khalifah Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar. Diceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu.

    ” Anakku, menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya, ” kata khalifah Umar. ” Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang Maha Melihat.”

    Ashim bin Umar menyetujuinya.

    Beberapa hari kemudian Ashim melamar gadis itu. Betapa terkejut ibu dan anak perempuan itu dengan kedatangan putra khalifah. Mereka mengkhawatirkan akan di tangkap karena suatu kesalahan.

    ” Tuan, saya dan anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan jangan tangkap kami….,” sahut ibu tua ketakutan.

    Putra khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting anak gadisnya.

    “Bagaimana mungkin?

    Tuan adalah seorang putra khalifah , tidak selayaknya menikahi gadis miskin seperti anakku?” tanya seorang ibu dengan perasaan ragu.

    ” Khalifah adalah orang yang tidak ,membedakan manusia. Sebab, hanya ketawakalanlah yang meninggikan derajad seseorang disisi Allah,” kata Ashim sambil tersenyum.

    ” Ya. Aku lihat anakmu sangat jujur,” kata Khalifah Umar.

    Anak gadis itu saling berpandangan dengan ibunya.

    Bagaimana khalifah tahu? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka.

    ” Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian…,” jelas khalifah Umar.

    Ibu itu bahagia sekali. Khalifah Umar ternyata sangat bijaksana. Menilai seseorang bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya.

    Sesudah Ashim menikah dengan gadis itu, kehidupan mereka sangat bahagia. Keduanya membahagiakan orangtuanya dengan penuh kasih sayang. Bebrapa tahun kemudian mereka dikaruniai anak dan cucu yang kelak akan menjadi orang besar dan memimpin bangsa Arab.

    ***

    Sumber Kisah kisah Teladan

     
  • erva kurniawan 8:49 am on 30 August 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Cahaya Yang Tak Pernah Padam 

    mosque_siluet_by_ad1gital13Bissmillahirrohmaan irrohiim

    Pada saat Nabi Muhammad SAW berdakwah, beliau selalu mendapat perlakuan tidak baik dari Abu Lahab dan kawan-kawan. Ejekan, hinaan, dan penganiayaan diterima Nabi SAW dan pengikutnya. Namun, sedikit pun tidak melemahkan iman mereka. Tidak pula menyurutkan tekad dan semangat Nabi SAW dalam menjalankan dakwahnya.

    Abu lahab bersama kawan-kawannya, Abu Jahal, dan Abu sufyan semakin geram melihat pengikut Nabi SAW bertambah banyak. Memang, mereka selalu hadir jika Nabi SAW sedang berdakwah, tetapi dikepala mereka tersimpan beribu rencana jahat untuk mengacaukannya.

    “Wahai Muhammad !” teriak Abu Lahab ketika Nabi SAW sedang berdakwah. “Kamu mengaku sebagai Nabi, tetapi kami tak pernah melihat buktinya ! Bagaimana kami percaya…? “ejek Abu Lahab.

    “Sekarang, perlihatkan mukjizatmu !” seru Abu Jaha l pula.

    “Ya ! Sebagaimana mukjizat nabi Isa. Coba hidupkan orang yang sudah mati !” kata Abu Sufyan.

    “Bisakah kamu mengubah bukit safa dan marwah menjadi bukit emas? !” kata yang lainnya mengolok-olok Nabi.

    Muhammad SAW tidak menanggapi ulah orang-orang jahil itu. Begitu pula pengikutnya, tidak terpengaruh sedikitpun. Allah yang Maha Kuasa menurunkan Wahyu-Nya kepada Nabi SAW, untuk menyanggah perkataan orang-orang kafir itu.

    Lalu Nabi SAW, menyampaikan wahyu yang diterimanya kepada kaum yang sesat itu.

    “Hai, kaum Quraisy ! Sesungguhnya Allah telah berfirman, Katakanlah bahwa aku tidak kuasa memberi kemanfaatan dan kemudaratan bagi diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah.

    Jika aku tahu barang yang ghaib, tentu aku perbanyak berbuat amal kebajikan, dan tentu aku tidak akan mendapat kesusahan. Tidaklah aku, melainkan Basyir dan Nazir, menyampaikan janji bahagia dan berita pernyataan sengsara.”

    “Sudahlah, Muhammad! Jika kamu mau menghentikan pekerjaanmu, kami akan mengangkatmu menjadi raja. Atau kami memberimu harta, kekayaan, dan kemewahan… ‘” kata Abu Jahal.

    Abu jahal dan kawan-kawannya tetap mendustakan Nabi. Mereka hanya ingin mempengaruhi pengikutnya agar kembali menyembah berhala.

    “Kenapa kalian menuntutku untuk memperlihatkan mukjizat ? Sedangkan wahyu yang kusampaikan ini lebih dari segala macam mukjizat. Cahaya yang tak pernah padam,” Kata Nabi SAW.

    Pengikut Nabi SAW semakin teguh imannya mendengar wahyu yang disampaikan beliau. Keadaan itu membuat kaum kafir kian marah dan menentang usaha-usaha Muhammad. Mereka amat membencinya. Mereka beranggapan ia sudah menghina tuhan-tuhan mereka. Maka suatu hari, orang-orang kafir itu datang kepada Abu Thalib, paman Nabi SAW sendiri. Mereka mengadukan semua perbuatan Nabi Muhammad SAW.

    Abu Thalib, seorang pelindung dan pembela Nabi SAW, meskipun waktu itu tidak masuk Islam. Dengan penuh bijaksana ia menengahinya, akan tetapi kali ini orang kafir tidak merasa puas dengan Abu Thalib.

    “Hai Abu Thalib, selama ini kamu selalu membela Muhammad dan melindunginya dari kami. Coba suruh Muhammad menghentikan perbuatannya itu! Kalau tidak’ maka kami akan bertindak sendiri!” Abu Sufyan mengancam dengan keras.

    “Kami akan bunuh Muhammad! Jika ia masih terus menghina berhala kami,” sahutnya lagi tidak main-main.

    Abu Thalib tertegun, ia amat bingung harus berbuat apa. Muhammad adalah keponakannya yang sangat ia cintai dan sayangi. Sedangkan ia sendiri masih menyembah berhala seperti kaum kafir. Ia tak ada niat untuk meninggalkan agamanya. Tetapi, kalau sampai menyerahkan Nabi SAW  ke tangan orang-orang itu, Abu Thalib tidak bisa.

    Ah !…..hati orang tua itu terasa gundah, karena rasa sayang yang begitu besar pada Nabi Muhammad SAW, Abu Thalib segera memanggil Nabi SAW. Diceritakannya semua ancaman orang kafir itu dengan hati yang cemas.

    “Anakku, dengarkanlah, ” kata Abu Thalib. Nabi Muhammad SAW menatap pamannya dengan perasaan berdebar-debar. Nabi menunggu apa yang akan dikatakan Abu Thalib.

    “Aku harap kamu bisa menjaga dirimu dan diriku. Jangan membebani aku dengan sesuatu yang tak sanggup aku pikul,” kata Abu Thalib.

    Sungguh , Nabi SAW sedih mendengarnya. Satu-satunya orang yang selalu membelanya, kini seakan tidak mau lagi membela. Tetapi, Nabi SAW tidak mau kaumnya terus menerus berada dalam kegelapan dan kesesatan. Beliau sudah diberi petunjuk dengan cahaya kebenaran.

    Dengan semangat yang menyala, Nabi memandang pamannya. “Wahai, Pamanku!” kata Nabi SAW. “Meskipun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan ditangan kiriku, agar aku meninggalkan seruanku. Sungguh, sampai mati pun tidak akan kutinggalkan !”

    Tanpa menoleh lagi, Rasulullah meninggalkan Abu Thalib. Alangkah bergetar seluruh tubuh Abu Thalib mendengar ucapan itu. Ia tertegun beberapa saat. Lalu segera memanggil Nabi lagi.

    “Anakku ! Pergilah dengan tenang. Katakanlah apa yang ingin kamu katakan pada kaummu. Sungguh, aku tidak akan menyerahkan dirimu pada orang-orang kafir,” kata Abu Thalib penuh haru.

    Abu Thalib pun memerintahkan keluarganya, bani Muthalib dan Bani Hasyim untuk melindungi Nabi SAW dari penganiayaan kaum Quraisy.

    Nabi Muhammad SAW meneruskan perjuangannya, walaupun orang-orang kafir menghalanginya dengan tindakan-tindakan yang kejam.

    Begitu besar makna dan pengaruh ucapan Nabi di depan pamannya, seakan menggema di dalam dada kaum muslimin. Mereka rela berkorban jiwa sekalipun, asalkan tetap menyiarkan agama Allah.

    Kesungguhan Nabi SAW menjalankan dakwah telah membuat musuhnya kalang kabut. Tetapi, menjadi batu magnet yang menarik setiap pengikutnya untuk tetap setia pada ajaran-Nya.

    ***

    Kisah kisah teladan

     
  • erva kurniawan 7:54 am on 29 August 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Kejujuran Sang Imam 

    Siluet masjid 12Bissmillahirrohmaan irrohiim

    Selepas sholat subuh, Imam Hanafi bersiap membuka tokonya, di pusat kota kufah. Diperiksanya dengan cermat pakaian dan kain yang akan dijual. Sewaktu menemukan pakaian yang cacat, ia segera menyisihkannya dan meletakkannya di tempat yang terbuka. Supaya kalau ada yang akan membeli, ia dapat memperlihatkannya.

    Ketika hari mulai siang, banyak pengunjung yang datang ke tokonya untuk membeli barang dagangannya. Tapi, ada juga yang hanya memilih-milih saja.

    “Mari silakan, dilihat dulu barangnya. Mungkin ada yang disukai,”tawar Imam Hanafi tersenyum ramah.

    Seorang pengunjung tertarik pada pakaian yang tergantung di pojok kiri.

    “Bolehkah aku melihat pakaian itu?” tanya perempuan itu. Imam Hanafi segera mengambilkannya.

    “Berapa harganya?”tanyanya sambil memandangi pakaian itu. Pakaian ini memang bagus. Tapi, ada sedikit cacat di bagian lengannya.”Imam Hanafi memperlihatkan cacat yang hampir tak tampak pada pakaian itu.

    “Sayang sekali.”perempuan itu tampak kecewa.

    “Kenapa Tuan menjual pakaian yang ada cacatnya?”

    “Kain ini sangat bagus dan sedang digemari. Walaupun demikian karena ada cacat sedikit harus saya perlihatkan. Untuk itu saya menjualnya separuh harga saja.”

    “Aku tak jadi membelinya. Akan kucari yang lain,”katanya.

    “Tidak apa-apa, terima kasih,”sahut Imam Hanafi tetap tersenyum dalam hati, perempuan itu memuji kejujuran pedagang itu. Tidak banyak pedagang sejujur dia. Mereka sering menyembunyikan kecacatan barang dagangannya.

    Sementara itu ada seorang perempuan tua, sejak tadi memperhatikan sebuah baju di rak. Berulang-ulang dipegangnya baju itu. Lalu diletakkan kembali. Imam Hanafi lalu menghampirinya.

    “Silakan, baju itu bahannya halus sekali. Harganya pun tak begitu mahal.”

    “Memang, saya pun sangat menyukainya. ” Orang itu meletakkan baju di rak. Wajahnya kelihatan sedih. “Tapi saya tidak mampu membelinya. Saya ini orang miskin,”katanya lagi.

    Imam Hanafi merasa iba. Orang itu begitu menyukai baju ini, saya akan menghadiahkannya untuk ibu,”kata Imam Hanafi.

    “Benarkah? Apa tuan tidak akan rugi?”

    “Alhamdulillah, Allah sudah memberi saya rezeki yang lebih.”Lalu, Imam Hanafi membungkus baju itu dan memberikannya pada orang tersebut.

    “Terima kasih, Anda sungguh dermawan. Semoga Allah memberkahi.” Tak henti-hentinya orang miskin itu berterima kasih.

    Menjelang tengah hari, Imam Hanafi bersiap akan mengajar. Selain berdagang, ia mempunyai majelis pengajian yang selalu ramai dipenuhi orang-orang yang menuntut ilmu. Ia lalu menitipkan tokonya pada seorang sahabatnya sesama pedagang.

    Sebelum pergi, Imam Hanafi berpesan pada sahabatnya agar mengingatkan pada pembeli kain yang ada cacatnya itu.

    “Perlihatkan pada pembeli bahwa pakaian ini ada cacat di bagian lengannya. Berikan separo harga saja,” kata Imam Hanafi. Sahabatnya mengangguk. Imam Hanafi pun berangkat ke majelis pengajian.

    Sesudah hari gelap ia baru kembali ke tokonya.

    “Hanafi, hari ini cukup banyak yang mengunjungi tokomu. O, iya! Pakaian yang itu juga sudah dibeli orang,”kata sahabatnya menunjuk tempat pakaian yang ada cacatnya.

    “Apa kau perlihatkan kalau pada bagian lengannya ada sedikit cacat?” tanya Hanafi.

    “Masya Allah aku lupa memberitahunya. Pakaian itu sudah dibelinya dengan harga penuh.”sahabatnya sangat menyesal.

    Hanafi menanyakan ciri-ciri orang yang membeli pakaian itu. Dan ia pun bergegas mencarinya untuk mengembalikan sebagian uangnya.

    “Ya Allah! Aku sudah menzhaliminya, “ucap Imam Hanafi.

    Sampai larut malam, Imam Hanafi mencari orang itu kesana-kemari. Tapi tak berhasil ditemui. Imam Hanafi amat sedih.

    Di pinggir jalan tampak seorang pengemis tua dan miskin duduk seorang diri. Tanpa berpikir panjang lagi, ia sedekahkan uang penjualan pakaian yang sedikit cacat itu semuanya.

    “Kuniatkan sedekah ini dan pahalanya untuk orang yang membeli pakaian bercacat itu,”ucap Imam Hanafi. Ia merasa tidak berhak terhadap uang hasil penjualan pakaian itu.

    Imam Hanafi berjanji tidak akan menitipkan lagi tokonya pada orang lain.

    Keesokan harinya Imam Hanafi kedatangan utusan seorang pejabat pemerintah. Pejabat itu memberikan hadiah uang sebanyak 10.000 dirham sebagai tanda terima kasih. Rupanya sang ayah merasa bangga anaknya bisa berguru pada Imam Hanafi di majelis pengajiannya. Imam Hanafi menyimpan uang sebanyak itu disudut rumahnya. Ia tidak pernah menggunakan uang itu untuk keperluannya atau menyedekahkannya sedikitpun pada fakir miskin.

    Seorang tetangganya merasa aneh melihat hadiah uang itu masih utuh.

    “Kenapa Anda tidak memakainya atau menyedekahkannya? ” tanyanya.

    “Tidak, Aku khawatir uang itu adalah uang haram,” kata Imam Hanafi.

    Barulah tetangganya mengerti kenapa Imam Hanafi berbuat begitu. Uang itu pun tetap tersimpan disudut rumahnya. Setelah beliau wafat, hadiah uang tersebut dikembalikan lagi kepada yang memberinya.

    ***

    Sumber kisah kisah teladan

    y u RP hanya di bulan Ramadhan.

    Alasannya, makin banyak rakaatnya, makin banyak pahalanya. Tetapi ingat yang namanya sholat taraweh itu sholat santai, jadi harus dikerjakan dengan khusuk dan tidak tergesa-gesa hanya untuk mengejar target 23 rakaat cepet selesai.

    SHOLAT WITIR SEBELUM TIDUR
    Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Sahabatku (yaitu Rasulullah s.a.w.) berwasiat kepadaku tiga perkara: (a). Puasa tiga hari setiap bulan. (b).Shalat Dhuha 2 rakaat. (c). Shalat Witir sebelum tidur.” HSM.688, 689  (Selain bulan Ramadhan).

    Dari ‘Ali Bin Abi Tholib. Ia berkata: “Bukanlah witir itu  kemestian sebagaimana sholat yang diwajibkan, tetapi ia satu sunnat yang disunnatkan oleh Rasulullah.s. a.w. HBM.394 Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dihasankan dia oleh Nasa-y dan Hakim dan ia shahkan dia.

    SHOLAT WITIR:  5 RAKAAT,  3 RAKAAT ATAU 1 RAKAAT (HANYA 1 SALAM):
    Dari Jabir r.a., katanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Siapa yang takut tidak terbangun di akhir malam, maka shalat witirlah di awalnya (sebelum tidur). Tetapi siapa yang penuh harapannya akan terbangun tengah malam, sebaiknyalah dia witir di akhir malam, karena shalat di akhir malam itu disaksikan para malaikat, dan itulah yang lebih baik”. HSM No. 728

    Dari Abi ‘aiyub Al Anshari, bahwasanya Rasulullah s.a.w. telah bersabda: “Witir itu satu haq (satu tuntunan yang ringan) atas tiap-tiap muslim, barangsiapa suka 5 rakaat, suka 3 rakaat, suka 1 rakaat boleh ia buat. Diriwayatkan dia oleh “Empat” kecuali Tirmidzi dan disahkan oleh Ibnu Hiban. Hadis Shahih Bulughul Maram.No. 393

    Dari Thalq bin ‘Ali. Ia berkata: Saya dengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak ada dua witir pada satu malam”. Diriwayatkan dia oleh Ahmad dan “Tiga” dan dishahkan dia oleh Ibnu Hibban. Hadis shahih Bulughul Maram.No.407

    Sholat witir lima rakaat hanya satu kali duduk.
    Dan daripadanya (‘Aisyah). Ia berkata: Adalah Rasulullah s.a.w. sholat, pada waktu malam tiga belas raka’at, dan ia witir dari padanya dengan lima raka’at; tidak ia duduk melainkan pada akhirnya. HBM.402; (4rk salam, 4rk salam dan witir 5rk satu tasyahut dan satu salam)

    Sholat witir. Sekali berattahiyat dan lalu salam. Hadis Bulughul Maram.No. 408
    Sholat witir, selain diatas  baca HBM.395, 396, 398,405, 406, 410, 412, 413, 414
    Apabila sudah terbit fajar maka habislah waktu sholat malam dan sholat witir.BM.414

    Belum ketemu dalilnya sholat witir tiga raka’at dikerjakan dua raka’at satu tasyahud dan satu salam, ditambah satu raka’at satu tasyahud dan satu salam

    Dasar-dasar hukumnya No.V adalah:
    Dari Jabir r.a. katanya dia mendengar Nabi s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya tengah malam terdapat suatu sa’at, apabila seorang muslim memohon kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat pada saat itu, niscaya Allah memperkenankannya. Begitu halnya setiap malam.” HSM.No.730

    Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia, yaitu kira-kira sepertiga malam yang akhir. Dia (Allah) berfirman, “Siapa yang memohon kepada-Ku, Aku perkenankan; dan siapa yang meminta kepada-Ku, Aku beri; dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, Aku ampuni dia”. HSM. No.731

    Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah turun ke langit dunia setiap malam, yaitu ketika telah lewat sepertiga malam pertama. Lalu Allah berfirman: “Akulah Tuhan! Akulah Tuhan! Siapa yang memohon kepada-Ku, Kuperkenankan permohonannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, Kuberi dia. Dan siapa yang mohon ampun kepada-Ku, Kuampuni dia. Begitulah seterusnya hingga terbit fajar”. HSM.732

    SHOLAT-SHOLAT  MALAM ROSULULLAH SAW.

    Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Qs.Al Isroo’ (17): 79

    Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya) , (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.Qs. Al Muzzammil (73): 1 s/d 8

    [73.20] Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Qs.73:20

    Kesimpulannya
    Bagi mereka yang mengamalkan sholat tarawih, sholat Tahajud, sholat Tathawwu dengan cara sholat 4rk satu tasyahut satu salam; 4rk satu tasyahud dan satu salam. Sholat witir 3rk satu tasyahut dan satu salam. Silahkan!
    Karena dalil-dalilnya tersebut diatas sudah jelas dan nyata.

    Bagi mereka yang mengamalkan sholat Tarawih 20 raka’at dengan cara tiap-tiap dua raka’at satu tasyahud dan satu salam. Ditambah 3 raka’at sholat witir yang dikerjakan dua raka’at satu tasyahud dan satu salam ditambah satu raka’at satu tasyahut dan satu salam.
    Dalilnya Ijma’ dari kesepakatan para ulama Mahdzab Imam Syafi’i.

    Demikianlah yang dapat saya sampaikan, semoga anda dapat memilih yang baik sesuai hati nurani anda, sesuai keyaqinan anda, sesuai contoh Rasulullah s.a.w. atau sesuai Ijma dari kesepakatan para ulama Mahdzab Imam Syafi’i. Allahu a’lam mana yang paling baik dimata Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
    [17.36] Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

    [7.179] Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.  Mereka itulah orang-orang yang lalai.

    Penyesalan setelah mati tiada gunanya.
    [33.66] Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”.[33.67] Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).[33.68] Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”.

    [35.37] Dan mereka berteriak di dalam neraka itu:”Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang lalim seorang penolongpun.

    Alhamdulillahirabbi l’alamin. Billahitaufik wal hidayah. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh. Sukarman.

     
  • erva kurniawan 7:23 am on 27 August 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Wanita Yang Memesan Tempat di Neraka 

    siluet masjid 13Semoga Jadi Renungan bagi kita semua.

    Oleh: Mahfudin Arsyad

    ***

    Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi Muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan etika. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa terjaga. Jilbab memang memiliki multifungsi.

    Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari Kairo ke Alexandria; di sebuah mikrobus, ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat, karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang ‘perhatian’ kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.

    Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa pakaian yang dikenakannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya sendiri. Disamping itu, pakaian tersebut juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Orang tua itu bicara agak hati-hati, pelan-pelan, sebagaimana seorang bapak terhadap anaknya.

    Apa respon perempuan muda tersebut? Rupanya dia tersinggung, lalu ia ekspresikan kemarahannya karena merasa hak privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang!

    “Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!”

    Sebuah respon yang sangat frontal. Orang tua berjanggut itu hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah. Penumpang lain yang mendengar kemarahan si wanita ikut kaget, lalu terdiam.

    Detik-detik berikutnya, suasana begitu senyap. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpi, tak terkecuali perempuan muda itu.

    Lalu sampailah perjalanan di penghujung tujuan, di terminal terakhir mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun, tapimereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tidur, karena posisi tidurnya berada dekat pintu keluar.

    “Bangunkan saja!” kata seorang penumpang.

    “Iya, bangunkan saja!” teriak yang lainnya.

    Gadis itu tetap bungkam, tiada bergeming.

    Salah seorang mencoba penumpang lain yang tadi duduk di dekatnya mendekati si wanita, dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah. Namun, astaghfirullah! Apakah yang terjadi? Perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi. Ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan neraka!

    Kontan seisi mikrobus berucap istighfar, kalimat tauhid serta menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk di sampingnya. Ada pula yang histeris meneriakkan Allahu Akbar dengan linangan air mata.

    Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan. Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya. Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat.  Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk. Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah. Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya. Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat dengan-NYA semakin dekat.

    Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar, mumpung kesempatan itu masih ada!

    Apakah booking tempatnya terpenuhi di alam sana?

    Wallahu a’lam

    ***

     
    • Nank 5:17 pm on 30 Agustus 2009 Permalink

      oke banget buat renungan orang-orang takabur> thank banget Guys?

    • Alde 6:58 am on 31 Agustus 2009 Permalink

      Astaqfirullah,bgt bnyk pljrn yg dpt qt ambl dr crt dats,bg mslmh hrs mnjg pkaian,&qt hrs mnjg pktan qt dbln sc rmdhn syukrn…

    • anissa 2:32 pm on 1 September 2009 Permalink

      Astagghfirullah al adzhiim.., sebuah akhir yang buruk..
      semoga kita masih diberikan petunjuk dan kesempatan dari Rabbul Izzati untuk lebih bertaqwa..
      sebuah pelajaran yang sgt berharga..dan yang pasti harus lebih berhati-hati kalau bicara..

    • Ermila 1:48 pm on 7 September 2009 Permalink

      Astaghfirullah,..mdh2an kita semua dpt meninggal dlm keadaan khusnul khotimah

    • abdurrahman 11:18 am on 14 September 2009 Permalink

      selalulah berdakwah dan mengingatkan namun melakukan pendekatan dengan taaruf,tafahum dst akan lebih baik dan menjadikan audien menerima dan akan mjd kebaikan utk semua.dan kita doakan dia semoga Allah mengampuninya.amiin

    • hilda evrianty 3:34 pm on 30 September 2009 Permalink

      sungguh crita yg memberi pelajaran bagi yg membacany…

    • Cyber X-Crew 9:00 pm on 30 November 2011 Permalink

      Artikel bagus om…
      Kasian banget tuh cwe..
      Meninggal dalam tidak khusnul khotima..
      Semoga saya tidak seperti itu..
      ^_^

  • erva kurniawan 7:16 am on 26 August 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Berguru Dari Bu Sumirah (Tukang Pijat) 

    pijatDikutip dari http://www.kompas.com : Jumat, 19 September 2008

    ***

    SURABAYA – Menjadi tukang pijat belumlah cukup. Sumirah nyambi jadi tukang sol sepatu, penjahit, dan pekerja pabrik. Sebagian hasil keringatnya itu ia gunakan untuk membangun madrasah, masjid, mushala, dan mengurus anak yatim. Ternyata, beramal tidak harus menunggu kaya.

    Penolakan halus langsung diucapkan Sumirah, pimpinan Panti Asuhan Yatim Piatu Amanah, Rungkut, Surabaya, saat akan diwawancarai Surya untuk tulisan ini. “Saya ini apalah mbak, kok pakai diwawancarai. Masih banyak yang lebih bagus, lebih pintar, dan lebih hebat,” elaknya saat ditemui di Panti Asuhan Amanah sekaligus rumahnya di Jalan Pandugo Gg II Nomor 30 B, Rungkut, Senin (15/9).

    Secara materi, Sumirah memang belum bisa dibandingkan dengan pengusaha sukses. Namun, kekayaan hati Sumirah mungkin hanya dimiliki segelintir orang pada abad ini.

    Perempuan kelahiran 3 April 1965 ini tak cukup mengelola panti asuhan. Ia mendirikan madrasah, masjid, dan mushala di kampungnya, Pacitan. Mungkin juga sulit dipercaya, Sumirah menghidupi anak-anak yatim dengan menjadi tukang pijat panggilan.

    Rasa empati Sumirah sudah terpupuk sejak kecil. Ia terbiasa bergaul dengan anak-anak yatim asuhan almarhum Atmorejo, ayahnya. “Saat itu ada 100 anak yatim dan anak-anak lain yang berlatih ilmu kanuragan (kebatinan) di rumah. Mereka semua tinggal di rumah,” kata ibu lima anak ini.

    Secara materi Sumirah kecil tercukupi, tetapi didikan ayahnya tidak membuatnya manja. Bahkan, sejak  kelas II SD ia sudah menjadi tukang pijat alternatif, warisan keahlian turun temurun. Duitnya “ditabung” di mushala di Desa Kembang, Kecamatan Pacitan.

    “Saat itu saya masih ingat nasihat ayah, ‘Kalau kamu punya rezeki, 50 persen untuk kamu dan 50 persen lagi untuk mushala. Pasti rezeki itu akan barokah’,” ujarnya.

    Pesan almarhum ayahnya terus diingat Sumirah. Setiap rupiah yang dihasilkan selalu disisihkan untuk mushala. Begitu pula ketika orderan memijat merambah hingga Madiun, bahkan Semarang.

    Saat SMP Sumirah dan kakaknya hijrah ke Jakarta. Di kota megapolitan ini Sumirah tidak tertarik mencicipi pekerjaan lain. Kebetulan, kemampuan memijatnya tersohor hingga ke Jawa Barat. Pada 1986 Sumirah dan suami mencari peruntungan di Surabaya. Di kota ini selain tetap memijat, ia bekerja di pabrik PT Horison Sintex (sekarang Lotus). Ia hanya masuk pabrik hari Selasa, Rabu, dan Kamis.

    Namun, dua profesi itu belum cukup. Merasa waktunya masih senggang, Sumirah mencari pekerjaan sampingan. Ia menjadi tukang sol sepatu, menjahit baju, dan tukang keriting rambut. “Karena pekerjaan banyak, rata-rata saya hanya tidur dua jam sehari. Mijat saja sehari hingga 20 kali,” katanya sambil tersenyum.

    Kerja keras itu impas dengan hasilnya. Sehari, tidak kurang ia mengantongi Rp 2 juta. Namun, limpahan uang itu tidak membuatnya mabuk. Uang itu dialirkan untuk membangun madrasah, mushala-mushala, dan masjid di desanya. Sumirah enggan menyebut nama mushala itu. “Nanti saya ndak diridaikalau pamer,” katanya.

    Suatu ketika, Sumirah pulang kampung. Jalan di desanya tidak bisa dilewati karena rusak berat. Prihatin, ia dan suaminya memperkeras seluruh jalan itu dengan paving blok. Walhasil, rencana naik haji seketika batal karena simpanan Rp 60 juta habis untuk ongkos paving.

    “Saya tidak pernah menyimpan uang di bank. Bukan apa-apa, tapi karena tanda tangan saya tidak pernah sama. Itu tentu tidak boleh kan?” katanya.

    Hidup Sumirah teruji saat dia melihat banyak anak telantar di sekitar kampungnya. Dia nekat menampung 54 anak yatim itu di rumahnya yang berukuran 2,5 meter x 13 meter. “Sebagian dari mereka saya koskan di depan rumah. Saya sewa tiga kamar,” katanya.

    Masalah datang ketika anak asuhnya ndableg dengan menghabiskan air dan sabun milik ibu kos. Sekitar pukul 21.00 anak-anak itu diusir. “Mereka saya tampung di rumah saya. Jadi, mereka tidur sambil duduk,” kata Sumirah.

    Esoknya, Sumirah mencari kontrakan untuk mereka. Tawaran kontrakan Rp 4 juta ditolak karena Sumirah tak punya duit. Di tengah kesulitan ia berdoa. Mendadak ada semacam dorongan untuk menghubungi Pak Triyono, dermawan dari Barata Jaya, Surabaya. Sumirah kaget, Pak Triyono memberinya zakat maal (zakat kekayaan) sejumlah Rp 4 juta. “Agar tidak mengganggu penduduk kampung, pagi-pagi sekali kami pindahan,” katanya.

    Panti Asuhan Amanah kini menampung 60 anak yatim, dibangun Sumirah pada 1996. Mereka kanak-kanak hingga remaja. Belum lama ini Sumirah mengasuh balita yang ditinggal mati bapaknya. Amelia, balita itu, sekarang berumur sembilan bulan. “Oh ya, Saya sudah menikahkan 13 anak di sini, 16 Oktober nanti saya mantu lagi,” ujarnya dengan mata berbinar.

    Untuk mencukupi hidup anak asuhnya, Sumirah tidak mengandalkan bantuan donatur yang sebagian adalah pelanggan pijatnya. Selepas subuh, anak yatim itu berdagang kelapa kupas, sayuran, dan bumbu. Sumirah dan suami juga membuka toko kelontong.

    Mengakhiri kisahnya, Sumirah sempat bilang, “Pergunakanlah mata hati. Banyak orang pintar yang belum tentu mengerti.” (MUSAHADAH)

    ***

     
    • AriES 12:45 am on 27 Agustus 2009 Permalink

      SubhaNALlah…

    • sri handayani 11:49 am on 31 Agustus 2009 Permalink

      semoga sikap rendah hati dan jiwa besar yg dimiliki oleh sang ibu dapat menurun kepada kita semua n menjadi suri tauladan yg baik bagi anak2nya,, semoga dijadikan cerminan bagi orang2 yg belum tergugah hatinya untuk selalu berbagi dengan yang kurang mampu

    • sulis 1:08 pm on 1 September 2009 Permalink

      assalamualaykum….Blog yang keren…banyak pelajaran didapat. thanks

    • anissa 2:38 pm on 1 September 2009 Permalink

      sebuah contoh yg bagus untuk zaman skrg yg serba individual..
      Bu Sumirah insya Allah.. Syurga pasti merindukanmu..

    • Faizah 1:04 pm on 2 September 2009 Permalink

      Subhanallah, sungguh mulia Bu Sumirah.. Semoga kita bisa meneladani perilaku beliau, dan kita sadar serta peduli akan keadaan saudara kita di luar sana…

  • erva kurniawan 7:01 am on 24 August 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Abu Hanifah Yang Taat 

    siluet masjidAkibat menolak diangkat menjadi hakim, Abu Hanifah ditangkap. Ulama ahli hukum Islam itu pun di penjara. Sang penguasa rupanya marah besar hingga menjatuhkan hukuman yang berat.

    Dalam penjara, ulama besar itu setiap hari mendapat siksaan dan pukulan. Abu Hanifah sedih sekali. Yang membuatnya sedih bukan karena siksaan yang diterimanya, melainkan karena cemas memikirkan ibunya. Beliau sedih kerena kehilangan waktu untuk berbuat baik kepada ibunya.

    Setelah masa hukumannya berakhir, Abu Hanifah dibebaskan. Ia bersyukur dapat bersama ibunya kembali.

    “Ibu, bagaimana keadaanmu selama aku tidak ada?” tanya Abu Hanifah.

    “Alhamdulillah. …..ibu baik-baik saja,” jawab ibu Abu Hanifah sambil tersenyum.

    Abu Hanifah kembali menekuni ilmu agama Islam. Banyak orang yang belajar kepadanya. Akan tetapi, bagi ibu Abu Hanifah ia tetap hanya seorang anak. Ibunya menganggap Abu Hanifah bukan seorang ulama besar. Abu Hanifah sering mendapat teguran. Anak yang taat itu pun tak pernah membantahnya.

    Suatu hari, ibunya bertanya tentang wajib dan sahnya shalat. Abu Hanifah lalu memberi jawaban. Ibunya tidak percaya meskipun Abu Hanifah berkata benar.

    “Aku tak mau mendengar kata-katamu, ” ucap ibu Hanifah. “Aku hanya percaya pada fatwa Zar’ah Al-Qas,” katanya lagi.

    Zar’ah Al-Qas adalah ulama yang pernah belajar ilmu hukum Islam kepada Abu Hanifah.” Sekarang juga antarkan aku ke rumahnya,”pinta ibunya.

    Mendengar ucapan ibunya, Abu Hanifah tidak kesal sedikit pun. Abu Hanifah mengantar ibunya ke rumah Zar’ah Al-Qas.

    “Saudaraku Zar’ah Al-Qas, ibuku meminta fatwa tentang wajib dan sahnya shalat,” kata Abu Hanifah begitu tiba di rumah Zar’ah Al-Qas.

    Zar’ah Al-Qas terheran-heran kenapa ibu Abu Hanifah harus jauh-jauh datang ke rumahnya hanya untuk pertanyaan itu? Bukankah Abu Hanifah sendiri seorang ulama? Sudah pasti putranya itu dapat menjawab dengan mudah.

    “Tuan, Anda kan seorang ulama besar? kenapa Anda harus datang padaku?” tanya Zar’ah Al-Qas.

    “Ibuku hanya mau mendengar fatwa dari anda,” sahut Abu Hanifah.

    Zar’ah tersenyum,” baiklah, kalau begitu jawabanku sama dengan fatwa putra anda,” kata Zar’ah Al-Qas akhirnya.

    “Ucapkanlah fatwamu,” kata Abu Hanifah tegas.

    Lalu Zar’ah Al-Qas pun memberikan fatwa. Bunyinya sama persis dengan apa yang telah diucapkan oleh Abu Hanifah. Ibu Abu Hanifah bernafas lega.

    “Aku percaya kalau kau yang mengatakannya, ” kata ibu Abu Hanifah puas. Padahal, sebetulnya fatwa dari Zar’ah Al-Qas itu hasil ijtihad (mencari dengan sungguh-sungguh) putranya sendiri, Abu Hanifah.

    Dua hari kemudian, ibu Abu Hanifah menyuruh putranya pergi ke majelis Umar bin Zar. Lagi-lagi untuk menanyakan masalah agama. Dengan taat, Abu Hanifah mengikuti perintah ibunya. Padahal, ia sendiri dapat menjawab pertanyaan ibunya dengan mudah.

    Umar bin Zar merasa aneh. Hanya untuk mengajukan pertanyaan ibunya, Abu Hanifah datang ke majelisnya.

    “Tuan, Andalah ahlinya. Kenapa harus bertanya kepada saya?” kata Umar bin Zar.

    Abu Hanifah tetap meminta fatwa Umar bin Zar sesuai permintaan ibunya.

    “Yang pasti, hukum membantah orang tua adalah dosa besar,” kata Abu Hanifah.

    Umar bin Zar termangu. Ia begitu kagum akan ketaatan Abu Hanifah kepada ibunya.

    “Baiklah, kalau begitu apa jawaban atas pertanyaan ibu Anda?”

    Abu Hanifah memberikan keterangan yang diperlukan.

    “Sekarang, sampaikanlah jawaban itu pada ibu anda. Jangan katakan kalau itu fatwa anda,”ucap Umar bin Zar sambil tersenyum.

    Abu Hanifah pulang membawa fatwa Umar bin Zar yang sebetulnya jawabannya sendiri. Ibunya mempercayai apa yang diucapkan Umar bin Zar.

    Hal seperti itu terjadi berulang-ulang. Ibunya sering menyuruh Abu Hanifah mendatangi majelis-majelis untuk menanyakan masalah agama. Abu Hanifah selalu menaati perintah ibunya. Ibunya tidak pernah mau mendengar fatwa dari Abu Hanifah meskipun beliau seorang ulama yang sangat pintar.

    ***

    Sumber Kisah kisah teladan

     
  • erva kurniawan 6:37 am on 20 August 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Bom Naudzubillah dan Si Cantik Salahiyah 

    bom 17072009Jakarta – Bom meledak. Sembilan tewas, puluhan luka-luka. Korbannya memang tidak sebanyak bom Bali. Bom JW Marriot & Ritz-Carlton Jakarta itu juga tidak menimbulkan histeria massal. Itu karena kita mulai ‘terbiasa’ dengan ‘jebles jedur’ macam ini. Hanya yang tidak habis pikir, alasan bom itu diledakkan.

    Di Palestina pernah tercatat bomber yang mensejarah. Dia perempuan yang sangat luar biasa. Selain alasan jihad, secara manusiawi ada rasionalisasi terhadap tindakan harakiri itu. Perbuatan itu, sesadis dan sebarbar apapun masih menyisakan respek. Tapi bom kali ini?

    Nama perempuan istimewa itu adalah Salahiyah. Dia muslimah. Cantik dan taat beribadah. Dia tinggal di kamp pengungsi di Jalur Gaza . Hidup miskin dan tertekan tidak membuatnya menyerah. Dia lawan karena yakin kehidupan indah ada di kehidupan berikutnya.

    Anak-anaknya masih kecil. Mereka tidak kolokan. Itu karena sadar di kamp bukan hanya mereka yang susah. Semua tetangga dan kaumnya juga sama. Israel yang represif dan ‘berencana’ melakukan genosida membuat bangsa Palestina harus terus-menerus terlilit bencana.

    Salahiyah sangat tegar. Ketegarannya sudah sampai pada tahap nihilis. Tidak beda hidup dan mati. Tidak berjarak duka atau bahagia. Hatinya disemaikan taburan syukur. Dan was-was dianggapnya sebagai ujian menuju kesabaran hakiki, sabar seperti yang dikehendaki Allah.

    Salahiyah telah berubah menjadi batu cadas. Angin gurun sedahsyat apa saja tidak mampu menggoyahnya. Itu akibat harmonisasi keluarga yang terkoyak. Suami dan anak-anaknya yang kecil berantakan saat bom menyulap tubuh suaminya jadi serpihan yang tidak bisa dikenali. Di usianya yang masih muda Salahiyah menjadi janda dengan tiga balita dan tanpa sanak-saudara.

    Di musim kerontang, Salahiyah berjalan menuju wilayah Mesir. Menimba air bagi anak-anak yang dahaga. Di tengah hujan bom, perempuan ini melintasi kawasan tandus. Dan demi belahan jiwa dia melupakan nyawanya.

    Kalau hari lagi sepi gempuran, sehabis salat subuh Salahiyah mengais rejeki ke pasar. Jualan kurma, dan hasilnya ditukar dengan makanan buat sang anak tercinta. Siklus itu rutin. Tanpa kelu dia banting tulang dan membagi kasih sayang.

    Waktu merangkak. Anak lelakinya sudah mulai bisa bermain. Mainan di ‘medan perang’ adalah melempari tentara Israel, memasang bom rakitan, dan menyusup untuk meledakkan. Dari pagi hingga matahari surut anak-anak itu menantang maut. Dan jika Isyak belum pulang, itu pertanda anak-anak itu sudah menghadap Tuhan. Dia mati ditembak tentara.

    israel-palestineBatin Salahiyah terpompa itu. Saban hari dan saban waktu. Sebagai ibu dia tidak tega melihat anak-anaknya bergumul dengan bahaya. Tapi adakah hanya anaknya yang menantang maut? Bagaimana dengan dirinya? Bagaimana pula dengan kaumnya yang terus dihujani bom dan tembakan tanpa kenal musim itu?

    Ketika umur anaknya belasan tahun, tahapan lain harus dilalui. Mereka siap menjadi martir. Memantapkan keimanan untuk menjadi ‘mesin perang’. Maka saat purnama menerangi gurun dan sang anak yang beranjak remaja itu bersimpuh, Salahiyah paham. Itu saatnya dia harus melepas buah hatinya untuk menyumbangkan satu-satunya nyawa yang dia punya.

    Sejak itu kabar Karim, anak lelakinya hanya sayup-sayup sampai. Salahiyah Cuma berdoa agar umur anaknya agak panjang. Namun itu hanya harapan. Saat kamp dibombardir mortir, buah hati yang tersisa tergolek tak bernyawa. Mereka mati di antara puing-puing reruntuhan. Peristiwa tragis itu disusul berita kematian Karim yang meledakkan tubuhnya di pos penjagaan Israel .

    Salahiyah tidak menangis. Dia hanya menggigit bibirnya. Air bening meleleh dari kelopak matanya. Dia kini sendiri. Suami, saudara, dan anak-anaknya begitu cepat meninggalkan dunia ini. Terpaan itu membuatnya bergabung dengan gerakan intifadah.

    Salahiyah berubah menjadi macan betina. Bom demi bom diledakkan. Dia ditakuti lawan dan disegani kawan. Salahiyah melakukan jihad fi sabilillah, insyaallah, atau melampiaskan dendam tidak ada yang menyoal. Setidaknya, hablum minannas dan hablum minallah terpenuhi. Tapi bom Mega Kuningan? Naudzubillah hi mindzalik !

    ***

    Djoko Suud Sukahar (pemerhati  budaya ) – detikNews

     
    • muslih 9:41 am on 2 September 2009 Permalink

      sungguh macan – macan akan terus bangkit sampai akhir zaman selama hegomoni barat terhadap ummat terjadi dan akan terus terjadi…bersiaplah!

  • erva kurniawan 6:32 am on 19 August 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Hadiah Cinta 

    2Mother_son“Bisa saya melihat bayi saya?” pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga!

    Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi.Anak lelaki itu terisak-isak berkata, “Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.”

    Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, “Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?” Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.

    Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. “Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,” kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka.

    Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, “Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia.” kata sang ayah.

    Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, “Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya. ”

    Ayahnya menjawab, “Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.” Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, “Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.”

    Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah… bahwa sang ibu tidak memiliki telinga.

    “Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,” bisik sang ayah. “Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?”

    Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.

    **

    NB:

    Sahabat, kadang kita sebagai anak tidak menyadari betapa cintanya Orang Tua Kita (Ibu) kepada kita, mereka menumpahkan segala cintanya kpd anaknya. Coba bayangkan apa yg telah kita lakukan thd mereka, mereka kita kencingi ketika kita kecil, kita jadikan mereka pembantu (mencuci, membersihkan rumah, memasak setrika dll) sampai menjelang dewasapun kita masih merongrongnya dengan inilah itulah, Disaat kita mendapat kebahagiaan kita lupakan dia akan tetapi disaat musibah menimpa baru kita datangi mereka …. tapi ibu tetaplah ibu yg kasih sayangnya tidak terperi, hanya doa yang mampu kami panjatkan sbg bakti dari kami …… anakmu.

    Ya, Allah Ampunilah Dosa2 ku dan Dosa Kedua Orang Tua-ku, Kasihani & Sayangi mereka sebagaimana mereka mengasuh dan menyayangi kami semenjak kecil….

    Amien

    ***

    Daarut Tauhid

     
  • erva kurniawan 9:20 pm on 18 August 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Sedekah Meringankan Takdir 

    water_lily02 yellow_oleh Ummi Agus

    ***

    “Good morning, Pak Gland, what’d happened with your neck?” sapaku pada Bosku yang pagi itu datang dengan kondisi berbalut penyangga leher; yang disambut Bosku dengan cerita panjang lebar penyebab balutan dilehernya, bagaimana saat liburan akhir minggu disuatu daerah pariwisata, ternyata motor yang ditumpangi bersama rekannya, terpelanting ditikungan dan terseret di jalanan berpasir dan akibat peristiwa itu, salah urat pada leher membuatnya sulit untuk digerakkan dan harus dirawat dua hari dirumah sakit tempatnya berlibur.

    Saat ia bercerita, aku teringat anak kami yang sedang melanjutkan kuliahnya didaerah yang sama, yang juga mengendarai motor sebagai alat transportasinya; yah, hanya do’a kami sebagai orang tua yang selalu kami panjatkan kepada Alloh SWT agar anak kami selalu selamat dalam lindunganNya dan dijauhi dari segala musibah.

    Jam-jam sibuk hari itupun berlalu, sambil beranjak pulang aku lantunkan dalam hati do’a-do’a kepada Alloh, mohon perlindunganNya; do’a itu berlanjut saat bus yang kutumpangi dari arah belakang bergerak lambat, beriringan dengan kendaraan lainnya, karena jam yang sama, semua orang berpacu menuju ketempat tinggal masing-masing.

    Walau bus penuh penumpang, Alhamdulillah, Alloh berikan aku rizki tempat duduk untuk melepas lelah; saat itu posisi dudukku berada di deretan belakang, maka dengan leluasa aku dapat melihat apa yang terjadi di depanku; Diantara penumpang yang kuperhatikan, ada dua anak yang terlihat seperti kakak-beradik berdiri tidak jauh dari tempatku duduk; si adik dengan posisi jongkok sepertinya sedang menahan rasa sakit diperutnya, sedangkan sang kakak berdiri disebelahnya seolah tidak begitu peduli dengan kondisi si adik.

    Sekian menit bus berjalan, aku perhatikan kondisi si adik semakin meringis,pucat, menahan sakit; membuat hati ini tergugah, maka dengan tidak mempedulikan reaksi penumpang lain, aku bertanya “Adik sakit perut ya?”.. ternyata menjawab si kakak “iya tuh Bu, mules, masuk angin barangkali”..

    Tanpa berfikir panjang, dengan cepat aku cari uang dua puluh ribuan yang sudah aku bayangkan dan niatkan untuk aku berikan pada mereka sejak tadi, lantas aku ulurkan pada si kakak “kalau nanti sampai, bisa tolong belikan obat masuk angin dan makanan untuk adikmu”, sang kakak dengan sigap mengiyakan.

    Setibanya bus diterminal, dengan tergesa-gesa semua penumpang berhamburan keluar, begitu juga dengan kedua kakak-beradik tersebut; kuperhatikan dari jauh bagaimana si adik langsung menuju ke wc umum, sedang si kakak ke arah pedagang; sedangkan aku, melanjutkan langkahku mencari kendaraan umum yang akan membawaku menuju rumah; saat itu jam menunjukkan pukul 16.30, dan entah mengapa, saat berada dalam kendaraan tersebut, tiba-tiba airmata ini bercucuran tanpa bisa dicegah, saat itu, terbayang  anak-anak kami –yang sepertinya- usianya tidak jauh berbeda dengan kakak beradik yang aku temui tadi; bedanya anak bungsuku dirumah, sedang sang kakak jauh di daerah.

    Akhirnya, alhamdulillah, sampailah aku dirumah, dengan mengucap salam, aku masuki rumah, kupeluk si bungsu, kemudian kulanjutkan dengan aktifitasku sebagai ibu rumah tangga. Selang beberapa menit sebelum adzan maghrib, telpon rumahku berdering, aku fikir, mungkin dari suamiku yang akan minta izin akan pulang setelah sholat maghrib di kantornya; ternyata dari seberang sana terdengar suara tersendat-sendat  “Bunda,…a..a.. aku.. ba..ru..ja.. tuh..dari motor…ta..pi..ga’..papa..koq’..” wah!…itu suara si sulung,anak kami, merintih seperti menahan sakit; dengan paniknya aku menjawab..”Mas, bagaimana kondisinya, dimana jatuhnya.., apa yang sakit, nak”…dg perlahan anakku menjawab  “Bunda.. ga’ usah panik, aku sudah ditolong temanku dibawa ke dokter, alhamdulillah ..Cuma mata kakiku yang lecet, motorku terpeleset ditikungan jalan yang banyak pasirnya”…

    Subhanalloh…

    Silih berganti terbayang dibenakku, bagaimana peristiwa yang menimpa bosku dengan kondisi yang sama dan terbayang juga kondisi kakak beradik di bus sore ini.. Airmata ini berurai tak terbendung…cepat-cepat aku tanyakan “jam berapa kejadiannya, anakku?”…”kira2 jam 17.30-an tadi, Bun” ujar anakku..

    MasyaAlloh, dengan selisih perbedaan waktu setempat, ternyata takdir anakku jatuh dari motor berlaku di jam yang sama dengan linangan airmata ibunya dikendaraan umum tadi.

    Subhanalloh. .

    Dengan penuh kasih sayang seorang ibu, aku besarkan hatinya untuk selalu tegar dan menyuruhnya istirahat, minum obat, sambil mengingatkannya untuk selalu dekat dan berkomunikasi kepada Alloh dengan menjalankan segala perintahNya, do’a orang tua akan selalu mengiringi..”

    Malam itu, setelah semua kejadian dan hubungannya dengan sedekah yang diberikan dengan ketulusan hati membuahkan lebih ringannya akibat dari musibah yang Alloh takdirkan pada anak kami, aku ceritakan kepada suami dan si bungsu; dengan bersama-sama kami panjatkan do’a syukur kepada Alloh karena hanya dengan rahmat Alloh SWT anak kami Alhamdulillah sehat, selamat.

    Semoga Alloh jaga istiqomahnya ibadah kami untuk selalu berzakat dan sedekah karena Alloh semata, amiin ya Robbal ‘alamiin.

    ***

    Eramuslim.com

    Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]

     
  • erva kurniawan 9:09 pm on 17 August 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Motor Curian dalam Al-Qur’an? 

    pencuri motorby Bang DEPOY

    ***

    Terdengar keras pintu masuk dibanting kuat-kuat. Mendengar itu Bu Dedeh bertanya-tanya dalam hati: “Siapa gerangan itu?”

    Ternyata Tabrani, anaknya yang baru pulang dari kantor.

    “Kenapa Sep? Kok kamu kelihatan gusar begitu? Apalagi , apa gak malu didengar tetangga, pintu itu kamu banting keras-keras? ”

    “Maaf Bu. Aku kena musibah. Motorku dicuri orang di kantor. Semua orang di kantor dan petugas satpam juga tidak tahu menahu. Aku sudah lapor polisi terdekat, walau tahu itu percuma. Aku benar-benar kalut saat ini. Apalagi kreditannya belum selesai. Aduhhh! harus cari di mana yah!!??? Sepertinya aku benar-benar ingin menghabisi orang yang curi motorku itu, jika beruntung ketemu nanti. Awasss!!!” cerita Tabrani tak ada ujungnya.

    Ibunya melihat kegusaran anaknya berlebihan. Ingin rasanya memeluk dan mengelus dadanya. Namun ia pikir, saat ini ia tidak bisa menghadapi anaknya dengan tenang. Untuk apa menghadapi sebuah batu.

    “Coba kamu cari motormu di Al Qur’an!” seru ibunya sambil berlalu kembali ke kamarnya, sambil berharap ada air yang bisa menghancurkan batu itu.

    “Ibu ngomong apa seh? Tidak bisa lihat aku lagi kesal apa? Kok bisa-bisanya ngelantur seperti itu.” bisik hati Tabrani panas membara.

    ***

    Beberapa hari kemudian, Tabrani keluar kamar dengan tampak cerahnya. Lalu ia menghampiri ibunya, sambil menyematkam ciuman sayang didahi perempuan tua itu.

    Leila adiknya yang berada di situ hanya terheran-heran. “Ketemu jodoh kali?” bisik otaknya.

    “Terima kasih ya Bu! Sudah menjadi ibu yang terbaik, terbaik dari segala perempuan!”

    “Gombal! Kamu kenapa seh?” tanya Bu Dedeh yang masih memerah pipinya.

    “Aku sudah menemukan motorku!”

    “Oh yah? Alhamdulillah! Ketemu di mana?”

    “Ya di Al Qur’an lah Bu. Khan ibu yang bilang.”

    Bu Dedeh tersenyum cerah.

    “Motor? Di Al Qur’an? Emang bisa? Di mana?” tanya Leila.

    “Di ayat-ayat kesabaran, di ayat-ayat keikhlasan, di ayat-ayat bahwa harta itu hanya pinjaman. bukan milik kita, tapi milik Allah!” jawab Tabrani sambil tersenyum kepada adiknya.

    “Ooo gitu toh! Baguslah! Aku udah lama khawatir dengan keadaan Aa.”

    “Iya La! Jangankan motor, kamu dengar tidak berita di teve kemarin. Ada orang yang membunuh penjual pulsa, lantaran pulsa yang ia beli tidak kunjung masuk. Padahal pulsa itu hanya seharga Rp. 10.000,-. Tapi bisa mengubah orang jadi ganas dan lupa diri. Makanya kita harus belajar bersabar dan ikhlas! Apalagi hidup di negara ini yang terasa semakin sempit saja.” kata Bu Dedeh kepada anak-anaknya yang tercinta.

    Tabrani dan Leila mengangguk paham.

    ***

    Daarut tauhid

     
    • Nank 5:11 pm on 30 Agustus 2009 Permalink

      bagus juga toh ceritanya! lanjutkan terus kreatisi nya, aku tunggu hasil karyanya. Ok?

    • tris 1:35 am on 20 Juni 2010 Permalink

      Subhanallah……..

  • erva kurniawan 8:51 pm on 16 August 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Matematika Gaji dan Logika Sedekah 

    sedekah 3oleh: Abdul Muttaqin

    **

    Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu pria ini. Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik dengan falsafah hidupnya, yang menurut saya, sudah agak jarang di zaman ini, di Jakarta ini. Dari sinilah perbincangan kami mengalir lancar.

    Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang diprogram sebuah LSM bekerja sama dengan salah satu departemen di dalam negeri. Tapi, saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai bukan dari pelatihan itu. Melainkan dari pria ini.

    Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali perbincangan yang kami bangun.

    Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok.

    Kami sama-sama “guru” yang “katanya” pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi.

    Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA.

    Sering pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bisa mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah yang diterimanya.

    “Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis.”

    “Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?”

    “Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang.”

    “Kenyataannya memang begitu kan Mas?”, kata saya mengiayakan. “Mana mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa berbagi.” Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.

    “Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar dari medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?”

    “Tidak ada. Habis.” jawab saya spontan.

    “Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga.”

    Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang seribu rupiah? Dari mana sisanya?

    “Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah diberikan pada pengemis “, saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.

    “Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran doa’ keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC.”

    Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya. Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang hidup di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat. Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi dan berbagi.

    Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru perasaanya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya berlipat-lipat.

    “Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai matematis dengan dimensi sedekah itu?”.

    “Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi sebaliknya menjadikan ia kaya.

    “Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki.

    “Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas.

    “Dan yang terakhir, padukanlah nilai qona’ah, ridha dan syukur.

    Saya semakin tertegun. Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya habiskan. Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini pandangan saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada. Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah lama diabaikan. Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara melalui pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan.

    ***

    Sepulang berjamaah saya membuka kembali Al-Qur’an. Telah beberapa waktu saya acuhkan. Ada getaran seolah menarik saya untuk meraih dan membukanya. Spontan saya buka sekenanya. Saya terperanjat, sedetik saya ingat Mas Ajy. Allah mengingatkan saya kembali:

    “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Terjemah QS. Al-Baqarah [2] 261)

    ***

    Eramuslim.com

     
    • yossy wahyu indrawan 5:43 pm on 18 Agustus 2009 Permalink

      Mas Ervan, terima kasih atas artikel tausyiahnya. Saya sering mengikuti artikel2 yang mas muat di blog sekaligus mengcopynya untuk saya simpan di komp kerja saya. mhn maaf apabila tidak mnt ijin seblmnya.

      terus tebar dakwah mas. smg Allah SWT senantiasa memberkahi stiap langkah mas, istri dan kita semua. Amien..

      pembaca,
      yossy wahyu indrawan

    • mila 9:22 pm on 24 Agustus 2009 Permalink

      makasih semoga amal ibadah kita diterima di sisiNya…

  • erva kurniawan 12:28 pm on 15 August 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Dua Jam, Dua Kali Lipat 

    siluet masjid 5Allah selalu menolong hambaNya, selagi sang hamba suka menolong saudaranya” (Muhammad Saw)

    **

    “Ma, tolong transfer uang satu setengah juta ke rekening adikku Arif ya…!” ucap Didik kepada Feny istrinya melalui ponsel. “Buat apa, Pa?!” tanya Feny. “Pokoknya kamu kirim saja ke rekening dia lewat sms banking. Hitung-hitung berbagi rezeki. Sepertinya sudah lama kita gak bantu Arif sekeluarga” jelas Didik.

    Didik yang sedang berada di atas mobilnya pagi itu tergerak untuk bersilaturahmi kepada Arif adiknya di kampung yang sudah lama tidak ia hubungi. Ingin sekali ia menelpon adiknya sekedar menanyakan kabar, namun ada sejumput rezeki yang ingin ia bagi kepada Arif yang menjadi seorang PNS di Semarang.

    Tak lama menunggu, hand phone Didik berbunyi menandakan ada sms masuk dari istrinya mengabarkan bahwa dana Rp 1,5 juta telah ditransfer ke rekening Arif.

    Didik membalas sms istrinya, lalu ia pun memutar telpon Arif untuk bersilaturahmi.

    **

    “Apa kabarmu, Dik?” tanya Didik kepada Arif. Perbincangan di menit-menit awal begitu akrab antara dua orang saudara kandung yang lama tidak bertemu sebab terpisah jarak. “Oh ya…, baru saja Feny istriku kirim dana satu setengah juta rupiah buat keponakan-keponakan ku di Semarang. Silakan dicek apa sudah sampai?!” jelas Didik. “Subhanallah, Alhamdulillah! Terima kasih, Mas. Saya gak ngerti harus ngucap apa ya…?” sambut Arif. “Memangnya kenapa, Rif?” tanya Didik. “Subhanallah. .. sudah beberapa hari ini saya bingung mau ngutang kemana untuk bayar sekolah Danu. Dia diterima di SMP Negeri, tapi uang pendaftarannya Rp 1.5 juta. Kemana-mana saya cari utangan, gak dapat-dapat. Tapi Alhamdulillah rupanya Allah gerakkan hati mas Didik padahal saya belum cerita tentang hal ini.”

    Dalam hati, Didik merasa kagum atas skenario Allah ini lalu ia menambahkan, “Sudahlah, itu rupanya sudah Allah atur. Mudah-mudahan dana itu berguna untuk pendidikan Danu!”

    Pembicaraan kedua saudara itu berakhir dengan kalimat syukur dan terima kasih yang berulang-ulang dari Arif. Padahal, Didik pun turut bersyukur kepada Allah Swt Sang Maha Pengatur yang sudah menggerakkan hatinya dan Feny untuk mudah membantu keperluan Arif sekeluarga yang sedang dirundung masalah.

    “Segala puji bagiMu, ya Allah!” gumam Didik

    **

    Hari itu Didik hendak memenuhi sebuah undangan rapat di kantor rekanan tentang proyek pipanisasi gas yang akan dibangun. Sebagai seorang pengusaha pemilik perusahaan Oil & Gas yang berkiprah belasan tahun, saran dan analisa Didik amat dibutuhkan.

    Dalam rapat tersebut Didik mendapatkan porsi untuk menjelaskan hal-hal teknis yang pernah ia jumpai di lapangan dalam hal sedemikian. Semua statementnya dicatat oleh seluruh yang hadir di ruangan itu. Hampir 1 jam ia bicara, dan setelah ia memaparkan penjelasannya dan ditambah dengan sedikit diskusi Didik pun berpamitan untuk meninggalkan ruangan rapat karena ada acara yang harus ia hadiri.

    **

    Didik bergegas meninggalkan ruang rapat di kantor rekanannya itu. Terdengar oleh telinga Didik ada hak sepatu wanita di belakangnya yang berlari cepat seperti mengejar sesuatu. Benar saja, rupanya wanita itu kini sudah berada di sisi Didik. “Maaf pak Didik saya Amel. Boleh saya minta tanda tangan pak Didik?!” “Tanda tangan untuk apa, Mel? ” Didik bertanya. “Ini ada uang kehadiran rapat yang boss titipkan kepada saya untuk pak Didik” jelas Amel.

    Didik pun menandatangani sebuah kwitansi berwarna hijau yang tertera nominalnya Rp 3 juta. Setelah kwitansi itu ditandatangani, maka Amel pun menyerahkan selembar amplop yang berisi cek senilai Rp. 3 juta.

    **

    Kini Didik sudah berada di atas mobilnya. Hatinya berbunga-bunga dan segera ia menelpon istrinya. “Ma…, ingat gak 2 jam lalu aku memintamu transfer satu setengah juta ke rekening Arif. Subhanallah, dalam tempo dua jam itu, Allah langsung membalas 2 kali lipat dari sedekah kita!!!”

    Feny pun berkali-kali berucap hamdalah tanda syukur. Pagi itu Didik & Feny menyaksikan sebuah janji Allah yang nyata bahwa perniagaan di jalan Allah sedikit pun tidak mendatangkan kerugian, akan tetapi malah bertambah, bertambah dan bertambah!

    Saya yakin Anda juga pernah merasakannya.

    ***

    Penulis: Bobby Herwibowo

    Sumber: Daarut Tauhid

     
    • reeza 9:59 pm on 6 Mei 2010 Permalink

      Subhanallah.. Bahkan aku medapatkan 10x lipat dlm hari itu jg. Allah Maha Besar

  • erva kurniawan 11:52 am on 12 August 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Nikmat yang Terlupakan 

    tetesan air“Fabi ayyi ‘ala ‘irabbikuma tukazzibaan” kata Allah beberapa kali dalam surat Ar Rahman. Ada banyak nikmat Allah yang tidak bisa kita hitung tapi bisa kita rasakan, dan adakalanya nikmat itu baru bisa terhitung ketika kita berhenti merasakannya. Pak Sarmili sering berangan-angan memilki uang banyak, penghasilannya yang didapat saat ini dinilai masih kurang. Sebenarnya walaupun hidup dalam kesederhanaan Pak Sarmili bukan termasuk dalam orang yang kekurangan, bahkan dengan pekerjaan nya sebagai petugas kebersihan di Sekolah Dasar Negeri, Pak Sarmili bisa menyekolahkan ketiga anaknya.

    ” Seandainya saya mendapat uang seratus juta, mungkin cerita hidup saya agak sedikit berbeda ” kata Pak Sarmili yang memandang kosong kedepan penuh dengan khayalan. Diantara jama’ah masjid Pak Sarmili termasuk orang rajin beribadah dan pandai bersosialisasi diantara masyarakat.

    Ketika hendak mengantarkan anaknya yang bungsu kesekolah, Pak Sarmili di tabrak mobil sedan milik anak seorang pengusaha yang baru belajar mengendarai mobil. Anak bungsunya hanya cidera kecil tetapi Pak Sarmili terkena luka cukup parah di kepala , bahkan matanya mengalami luka cukup serius. Memang segala biayai pengobatan di tanggung oleh pengusaha, ayah anak yang menabrak tersebut, tetapi ada luka yang tidak bisa sembuh yaitu kedua mata Pak Sarmili.

    Sebagai tanda bersalah dan keprihatinan pengusaha tersebut memberikan uang sebanyak seratus juta rupiah kepada Pak Sarmili diluar biaya pengobatan, dan biaya rawat inap dirumah sakit. Pak Sarmili hanya bisa menangis, Allah telah mengabulkan angan-angannya tetapi sebagai gantinya Allah mengambil sesuatu yang ketika dia ada dia jarang di syukuri sebagai nikmat.

    “Hal jazaa’ul ikhsani illal ikhsan , Fabi ayyi ‘ala ‘irabbikuma tukazzibaan” Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula, maka nikmat Tuhan manalagi yang hendak kamu dustakan” (QS 55:60-61)

    ***

    Sumber: David, Daarut Tauhid

     
  • erva kurniawan 10:22 am on 9 August 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Kalaulah Bukan Karena Allah Menutup Aib-aib Kita 

    hujanPada zaman Nabi Musa `alaihis salam, bani Israel ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka. Mereka berkata, “Ya Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami.” Maka berangkatlah Musa `alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan kumuh penuh debu, haus dan lapar.

    Nabi Musa berdoa, “Ilaahi! Asqinaa ghaitsak…. Wansyur `alaina rahmatak… warhamnaa bil athfaal ar rudhdha’… wal bahaaim ar rutta’… wal masyaayikh ar rukka’…..”

    Setelah itu langit tetap saja terang benderang, matahari pun bersinar makin kemilau. (maksudnya segumpal awan pun tak jua muncul).

    Kemudian Nabi Musa berdoa lagi, “Ilaahi … asqinaa….”

    Allah pun berfirman kepada Musa, “Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian.”

    Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun, keluarlah ke hadapan kami, karena engkaulah hujan tak kunjung turun.”

    Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiri, maka tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia, saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud.

    Ia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiaku. Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun.”

    Maka hatinya pun gundah gulana, air matanya pun menetes, menyesali perbuatan maksiatnya, sambil berkata lirih, “Ya Allah, Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun, selama itu pula Engkau menutupi `aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada Mu, maka terimalah taubatku.”

    Tak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebal pun bermunculan, semakin lama semakin tebal menghitam, dan akhirnya turunlah hujan.

    Musa pun keheranan, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia.” Allah berfirman, “Aku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun.”

    Musa berkata, “Ya Allah, Tunjukkan padaku hamba yang taat itu.”

    Allah berfirman, “Ya Musa, Aku tidak membuka `aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka `aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku?!”

    ***

    (Kisah ini dikutip dari buku berjudul “Fii Bathni al-Huut” oleh Syaikh DR. Muhammad Al `Ariifi, hal. 42)

     
    • imung 12:47 pm on 10 Agustus 2009 Permalink

      Permisi , ikut menyebar-luaskan …. tks

    • fazrie 2:18 pm on 11 Agustus 2009 Permalink

      Allahu Akbar..

    • Si Jawir 4:59 pm on 28 Agustus 2009 Permalink

      subhanallah… izin share ya ?!

    • ageng 1:05 am on 31 Agustus 2009 Permalink

      mas mau ikut menyebar luaskan,,mohon ijinnya
      jazakallah

    • rera 2:26 am on 25 Oktober 2009 Permalink

      terimakasih banyak..

    • taufik hidayat 4:48 pm on 12 November 2009 Permalink

      dia maha satu…………..
      que sangat yakin itu …

      dan qu yakin dia kan ngasih yang terbaik

      buat tha…

    • aespe 10:05 am on 9 Juli 2010 Permalink

      ikut copy paste ya tuan buat di fb :)

      makasi

    • Sri Mulyati 7:42 pm on 6 Oktober 2010 Permalink

      subhanallah…..izin copi ya…buat di fbku lgi

    • widodo saputra 9:13 am on 15 Februari 2011 Permalink

      izin copas akh

    • Annisa Fajar Fadhilah 12:07 pm on 14 Juni 2013 Permalink

      Ijin copas…semoga bermanfaat

  • erva kurniawan 10:03 am on 8 August 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Ah..Dia Memang Selalu Lebih Baik 

    keledaiCerita refleksi diri ini telah memiliki berberapa versi mulai dari versi sang kodok sampai dengan sang keledai yang berakhir pada maksud dan tujuan yang sama. Di ceritakan bahwa sang keledai sering sekali mengeluh melihat nasibnya yang selalu di bedakan dengan tetangganya seekor kuda jantan hitam. Ketika berbelanja maka pastilah barang belanjaan di letakkan di punggungnya sementara sang majikan mengendarai kuda jantan tersebut. Begitupula dalam masalah makanan, suplemen khusus selalu di berikan kepada kuda jantan disampaing makan utama tentunya sementara si keledai hanya mendapat makanan alakadarnya yang menurut ukurannya sekedar penahan lapar.

    Si keledai sering sekali bermimpi menjadi kuda, menyandang pelana dan berpacu dengan gagah perkasa, tetapi ketika terbangun dia kembali meratapi nasib yang tidak berkesudahan. Suatu ketika terdengar kabar bahwa negeri di landa perang dan seluruh warga di wajibkan untuk turut serta membela negara tidak terkecuali sang majikan. Setiap laki-laki sehat berkumpul untuk di berangkatkan ke medan perang dengan berbagai macam perbekalan di perjalanan. Si keledai tetap diikut sertakan dengan jatah tugas seperti biasa yaitu pembawa perbekalan dan si kuda jantan hitam menemani sang majikan mempertaruhkan nyawa demi bangsa.

    Sesampainya dimedan laga si keledai di ikat di bawah pohon sedangkan seluruh rombongan berpacu menyambut kilatan pedang sang musuh, berbaur dalam deru anak panah dan teriakan kematian. Debu berterbangan menyelubungi para prajurit yang hampir menyamarkan antara kawan dan lawan. Setelah beberapa lama bertempur, tentara musuh berhasil di pukul mundur dan para prajurit berjaga di garis batas menunggu berbagai kemungkinan. Dari kejauhan sikeledai hanya bisa menyaksikan. Tetapi keledai tersebut tidak menemukan tuannya diantara para prajurit yang kembali ke pos peristirahatan. Kuda lain bercerita bahwa majikannya telah tewas di medan pertempuran beserta kudanya yang terkena anak panah.

    Raut wajah syukur mulai diperlihatkan si keledai bahwa dia tercipta sebagai mahluk yang kurang membanggakan jika dibawa ketengah pertempuran sementara keperkasaan sang kuda ternyata berakhir pada kematian pikirnya. Apa yang di pikirkan si keledai atau apa yang di pikirkan sang kodok (bagi yang telah membaca versi sang kodok) atau mungkin apa yang kita pikirkan sering terpaku pada apa yang ada didalam diri kita sendiri sementara sisi yang lain selalu terlihat lebih indah.

    Sifat qona’ah memang mulai jarang dilekatkan karena di anggap melunturkan semangat untuk ikhtiar. Padahal sifat qona’ah justru membentuk ke ikhlasan dan kesabaran atas pemberian Allah kepada kita tanpa harus menghilangkan sifat istiqomah untuk berikhtiar karena hasil dari ikhtiarpun merupakan rahmat Allah yang kita tidak tahu kapan dan berapa banyak kita akan memperolehnya. Itulah hidup penuh dengan segala resiko yang mesti kita jalani suka atau tidak suka.

    Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan Oprah Winfrey pembawa acara talk show terkenal dari Amerika bahwa resiko yang paling merugikan dalam hidup kita adalah bahwa kita terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berusaha sekuat tenaga menghidari resiko tersebut.

    ***

    Sumber: David, Daarut Tauhud

     
  • erva kurniawan 9:20 pm on 4 August 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Bertemu Tuhan 

    masjid siluet“Have you met your God , and what He said to you” kata seorang atasan yang berasal dari Jepang dengan nada bercanda kepada seorang teman setelah selesai melaksanakan sholat ashar di kantor. ” He just smiles to me” jawab teman sambil lalu. ” Yesterday, I prayed for God and suddenly my problems have been solved ” katanya meneruskan. Teman tersebut hanya diam mendengarkan dalam hatinya dia berkata ” mana mungkin Allah lebih memperhatikan doa orang yang non muslim dari pada doaku “.

    ” Aku bersama prasangka hambaku” begitulah secara maknawi kira-kira bunyi sebuah hadist qudsi. Hambaku yang mana ? tentu, semua hamba ciptaan Allah tanpa terkecuali. Setiap agama mempunyai kriteria terkabunya sebuah doa, tetapi secara umum doa harus diyakini dan dirasakan akan terkabul karena Tuhan maha mendengar lagi maha mengetahui, kepadaNyalah kembali segala doa.

    **

    Pak Jafri pemilik rumah makan masakan padang yang juga pemilik warung kelontong di seberang rumah makan tersebut beberapa kali menguji keyakinan para pengemis yang datang ke warungnya. Hari itu Pak Jafri berada di warung sedangkan rumah makan dijaga oleh anak dan istrinya. Kebetulan saya sedang lewat dan mampir sebentar. ” Vid kita sering berdo’a kepada Allah, tapi kita sering tidak yakin atau justru tidak merasakan apa-apa bahwa doa kita akan terkabul, seperti berbicara di ruang hampa, lalu setelah itu hilang. Nah ini ada pengemis datang, kemungkinan dia akan meminta kepada kita, lalu kita beri apa yag dia minta …hanya saja dia mau percaya gak” kata Pak Jafri. Waktu itu terlihat seorang pengemis sedang meminta pada beberapa rumah disamping warungnya.

    ” Pak… bagi uang pak…sudah lama gak makan…” kata pengemis tersebut dengan memelas. Pengemis itu masih sangat muda, entah mengapa dia mengubur potensi tenaganya untuk bisa bekerja secara terhormat dan malah diganti dengan mengemis. ” Kamu ini mau makan atau mau uang….pilih salah satu” kata Pak Jafri sambil tersenyum ” terserah bapak …saya sih yang mana saja toh kalo dikasih uang …akan saya gunakan buat beli makan” kata pengemis tersebut. ” ya sudah ini, bawa ini ke rumah makan padang di seberang jalan dan kamu minta saja apa saja yang kamu mau ” kata pak Jafri sambil memberikan sehelai daun yang diambil di pekarangan rumahnya. ” ahhh bapak bercanda ???” kata pengemis tersebut dengan nada kesal. ” tidak ..saya tidak bercanda ..pergilah” kata Pak Jafri dengan enteng. Pengemis itupun pergi dengan muka kesal, entah apa yang ada di fikirannya, yang jelas dari jauh saya melihat dia membuang daun itu dan menginjaknya.

    ” Saya sudah berbicara dengan istri dan anak saya yang ada di warung makan, bahwa kalau ada orang yang datang dengan membawa daun mangga yang saya ambil dari pohon didepan warung, maka tolong kasih makan dengan apa saja yang dia minta…mereka tahu kalau saya sering menguji keyakinan seseorang, bagaimana mungkin ada yang minta tolong kepada seseorang tetapi dia tidak yakin dengan tempat dia minta tolong….ya mending gak usah minta tolong sekalian..ya gak…..ya semua ini iseng saja sih ….dan gak ngejamin juga. ….entah mengapa dengan cara ini saya seperti membuka salah satu rahasia langit bahwa berdoa itu mudah tetapi meyakini isi dari doa kita sendiri yang tidak mudah ” kata Pak Jafri menjelaskan apa yang telah dilakukannya. Di masjid Pak Jafri memang terkenal dengan orang yang suka bercanda dan selalu optimis terhadap segala sesuatu.

    **

    Banyak orang yang menjadikan doanya sebagai sebuah rutinitas, bukan sebagai kebutuhan, maka wajar saja orang Jepang tersebut mengatakan ” Have you met your God” karena wajah-wajah orang yang baru bertemu dengan tuhannya pastilah berbeda dengan yang belum atau tidak bertemu sama sekali. Lihat dan pandanglah wajah orang yang akan bertemu orang yang dicintainya dengan yang telah bertemu dengan orang yang dicintainya, pastilah berbeda, wajahnya pasti berseri karena bahagia. Mungkin saja wajah temanku masih terlihat kusut setelah sholat sehingga dia bertanya seperti itu, seperti ingin mengatakan bahwa ” sebenarnya anda tidak pernah bertemu siapa-siapa selain diri dan fikiran anda sendiri”

    ***

    Sumber: David, Daarut Tauhid

     
    • fazrie 1:47 pm on 11 Agustus 2009 Permalink

      subhanawallah….maaf ikut coment frend…tks

  • erva kurniawan 8:57 pm on 31 July 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Hidayah dari Hadiah Alquran 

    JeffreyLang-largeProf Jeffrey Lang: Hidayah dari Hadiah Alquran

    By Republika Newsroom

    ***

    “Adam diturunkan ke bumi bukan karena dosa yang diperbuatnya, melainkan karena Allah SWT menginginkan seorang khalifah di bumi untuk mengatur dan menyejahterakan alam.’’ (Jeffrey Lang).

    Prof Dr Jeffrey Lang, nama lengkapnya. Sehari-hari dia bekerja sebagai dosen dan peneliti bidang matematika di Universitas Kansas, salah satu universitas terkemuka di Amerika Serikat. Gelar master dan doktor matematika diraihnya dari Purdue University pada tahun 1981. Ia dilahirkan dalam sebuah ke luarga penganut paham Katolik Roma di Bridgeport, Connecticut, pada 30 Januari 1954.

    Pendidikan dasar hingga menengah ia jalani di sekolah berlatar Katolik Roma selama hampir 18 tahun. Selama itu pula, menurut Lang -sebagaimana ditulis dalam catatan hariannya tentang perjalanannya mencari Islam- menyisakan banyak pertanyaan tak berjawab dalam dirinya tentang Tuhan dan filosofi ajaran Kristen yang dianutnya selama ini.

    ‘’Seperti kebanyakan anak-anak lain di kisaran tahun 1960-an hingga awal 1970-an, saya melewati masa kecil yang penuh keceriaan. Bedanya, pada masa itu, saya sudah mulai banyak bertanya tentang nilai-nilai kehidupan, baik itu secara politik, sosial, maupun keagamaan. Saya bahkan sering bertengkar dengan banyak kalangan, termasuk para pemuka gereja Katolik,’’ paparnya.

    Menginjak usia 18 tahun, Lang remaja memutuskan menjadi seorang atheis. ‘’Jika Tuhan itu ada dan Dia punya belas kasih dan sayang, lalu mengapa ada begitu banyak penderitaan di atas bumi ini? Mengapa Dia tidak masukkan saja kita semua ke dalam surga? Mengapa juga dia menciptakan orang-orang di atas bumi ini dengan berbagai penderitaan?’’ kisah Lang tentang kegelisahan hatinya kala itu. Selama bertahun-tahun, pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus menggelayuti pikirannya.

    Dihadiahi Alquran akhirnya Lang baru mendapat jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut ketika ia bekerja sebagai salah seorang asisten dosen di Jurusan Matematika, Universitas San Francisco. Di sanalah, ia menemukan petunjuk bahwa Tuhan itu ada dan nyata dalam kehidupan ini. Petunjuk itu ia dapatkan dari beberapa mahasiswanya yang beragama Islam.

    Saat pertama kali memberi kuliah di Universitas San Francisco, Lang bertemu dengan seorang mahasiswa Muslim yang mengambil mata kuliah matematika. Ia pun langsung akrab dengan mahasiswa itu. Mahmoud Qandeel, nama mahasiswa tersebut. Dia berasal dari Arab Saudi.

    Mahmoud, kata Lang, telah memberi banyak masukan kepadanya mengenai Islam. Menariknya, semua diskusi mereka menyangkut dengan sains dan teknologi. Salah satu yang pernah didiskusikan Lang dan Qandeel adalah riset kedokteran. Lang dibuat terpana oleh jawaban Qandeel, yang di negaranya adalah seorang mayor polisi.

    Qandeel menjawab semua pertanyaan dengan sempurna sekali dan dengan menggunakan bahasa Inggris yang bagus.

    Ketika pihak kampus mengadakan acara perpisahan di luar kampus yang dihadiri oleh semua dosen dan mahasiswa, Qandeel menghadiahi asisten dosen itu sebuah Alquran dan beberapa buku mengenai Islam.

    Atas inisiatifnya sendiri, Lang pun mempelajari isi Alquran itu. Bahkan, buku-buku Islam tersebut  dibacanya hingga tuntas. Dia mengaku kagum dengan Alquran. Dua juz pertama dari Alquran yang dipelajarinya telah mem buat dia takjub dan bagai terhipnotis.

    ‘’Tiap malam muncul beraneka ma cam pertanyaan dalam diri saya. Tapi, entah mengapa, jawabannya segera saya temukan esok harinya. Seakan ada yang membaca pikiran saya dan menuliskannya di setiap baris Alquran. Saya seakan menemukan diri saya di tiap halaman Alquran,’’ ungkap Lang.

    Telaah Alquran Sebagai seorang pakar dalam bidang matematika dan dikenal sebagai seorang peneliti, penjelasan yang didapatkannya tidak langsung ia percayai begitu saja. Ia meneliti dan menelaah secara lebih mendalam ayat-ayat Alquran. Beberapa ayat yang membuatnya kagum dan telah membandingkannya dengan ajarannya yang lama adalah ayat 30-39 surah Albaqarah tentang penciptaan Adam.

    Dalam bukunya Losing My Religion: A Call for Help, Jeffrey Lang secara lengkap menjelaskan pergulatannya dalam memahami ayat 30-39 surah Albaqarah tersebut.

    ‘’Saya membaca ayat tersebut beberapa kali, namun tak kunjung sanggup menangkap apa maksud Alquran,’’ ujarnya. ‘’Bagi saya, Alquran sepertinya sedang menyampaikan sesuatu yang sangat mendasar atau mungkin keliru. Lalu, saya membacanya lagi secara perlahan dan saksama, baris demi baris, untuk memastikan pesan yang di sampaikan,’’ lanjutnya.

    Ketika membaca ayat ke-30 surah Albaqarah, ‘’Dan, ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Malaikat berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi, mereka adalah orang-orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah. Padahal, kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan menyucikan Engkau?’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.’’ Menurut Lang, ayat ini sangat mengganggunya. ‘’Saya merasa sangat kesepian. Seakan-akan penulis kitab suci ini telah menarik diri saya ke dalam ruang hampa dan sunyi untuk berbicara langsung dengan saya,’’ ujarnya.

    ‘’Saya berpikir, keterangan ayat tersebut ada sesuatu yang keliru. Saya protes. Lalu, saya baca lagi. Saya amati dengan saksama. Sebab, menurut ajaran yang pernah saya dapatkan, diturunkannya Adam ke bumi bukan menjadi khalifah, tetapi sebagai hukuman lantaran dosa Adam. Namun, dalam Alquran, tidak ada satu kata pun yang menjelaskan sebab-sebab diturunkan Adam karena perbuatan dosa,’’ jelasnya.

    Menurut Lang, pertanyaan yang di utarakannya sama dengan pertanyaan malaikat yang menyatakan bahwa manusia itu berbuat kerusakan.

    ‘’Tapi, saya merasa ada sesuatu yang lain dari keterangan ayat selanjutnya.

    Allah hanya menjawab, ‘Sesungguhnya, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’ Jawaban ini terkesan sederhana dan enteng, namun mengandung makna yang dalam,’’ ungkapnya.

    Lang menjelaskan, dalam Alkitab, jawaban Tuhan atas pertanyaan malaikat disampaikan tentang hukuman yang diberikan karena berbuat dosa. ‘’Penjelasan ini berbeda dengan Alquran. Alquran menjawab pertanyaan para malaikat dengan memperlihatkan kemampuan manusia, pilihan moral, dan bimbingan Ilahi.

    Allah mengajarkan manusia (Adam) nama-nama benda.’’ ‘’Ayat tersebut menunjukkan kemuliaan dan kemampuan manusia yang tidak diberikan kepada malaikat,’’ ujarnya.

    Bahkan, pada ayat ke-39 dite rangkan, ‘’Adapun orang-orang yang tidak beriman dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka adalah penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya.’’ ‘’Saya merasa ayat ini makin kuat menyerang saya. Namun, saya semakin percaya akan kebenaran Alquran dan meyakini agama Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW,’’ jelasnya.

    **

    Islam rasional

    Sekitar tahun 1980-an, belum banyak pelajar Muslim yangmenuntut ilmu di UniversitasSan Francisco. Sehingga, kalau bertemu dengan mahasiswa Muslim di area kampus, menurut Lang, itu merupakan hal yang sangat langka.

    Ada cerita menarik tatkala Lang sedang menelusuri kampus. Secara tak terduga, ia menemukan sebuah ruangan kecil di lantai bawah sebuah gereja. Ruang tersebut rupanya dipakai oleh beberapa mahasiswa Islam untuk menunaikan shalat lima waktu.

    Kepalanya dipenuhi tanda tanya dan rasa ingin tahu. Dia pun memutuskan masuk ke tempat shalat tersebut.

    Waktu itu, bertepatan dengan waktu shalat Zuhur. Oleh para mahasiswanya, dia pun diajak untuk ikut shalat. Dia berdiri persis di belakang salah seorang mahasiswa dan mengikuti setiap gerakannya.

    Dengan para mahasiswa Muslim ini, Lang berdiksusi tentang masalah agama, termasuk semua pertanyaan yang selama ini tersimpan dalam kepalanya. ‘’Sungguh luar biasa, saya benar-benar terkejut sekali dengan cara mereka menjelaskan. Masuk akal dan mudah dicerna. Ternyata, jawabannya ada dalam ajaran Islam,’’ tuturnya.

    Sejak saat itu, Lang pun memutuskan masuk Islam dan mengucapkan dua kalimah syahadat. Dia menjadi seorang mualaf pada awal 1980. Ia mengaku bahwa dengan menjadi seorang Muslim, banyak sekali kepuasan batin yang didapatkannya.

    Itulah kisah perjalanan spiritual sang profesor yang juga meraih karier bagus di bidang matematika. Dia mengaku sangat terinspirasi dengan matematika yang menurutnya logis dan berisi faktafakta berupa data riil untuk menda patkan jawaban konkret.

    ‘’Dengan cara seperti itulah, saya bekerja. Adakalanya, saya frustrasi ketika ingin mencari sesuatu, tapi tidak mendapat jawaban yang konkret. Namun, dengan Islam, semuanya rasional, masuk akal, dan mudah dicerna,’’ tukasnya.

    Prof Lang saat ini ditunjuk oleh fakultasnya sebagai pembina organisasi Asosiasi Mahasiswa Islam guna menjembatani para pelajar Muslim dengan pihak universitas. Tak hanya itu, dia bah kan ditunjuk untuk memberikan mata kuliah agama Islam oleh pihak rektorat.

    Ia menikah dengan seorang perempuan Arab Saudi bernama Raika pada tahun 1994. Mereka dikaruniai tiga anak, yakni Jameelah, Sarah, dan Fattin. Selain menulis ratusan artikel ilmiah bidang matematika, dia juga telah menulis beberapa buku Islam yang menjadi rujukan komunitas Muslim Amerika. Even Angels ask: A Journey to Islam in America adalah salah satu buku best seller-nya. Dalam buku itu, dia menulis kisah perjalanan spiritualnya hingga memeluk Islam.

    Beberapa tahun belakangan ini, Lang aktif pada banyak kegiatan Islami dan dia merupakan pembicara inspirasional yang paling terkenal di sebuah organi sasi pendidikan bernama Mecca Centric. Di sana, dia melayani konsultasi segala sesuatu tentang Islam ataupun kegiatan kepemudaan.

    ***

    Sumber: Republika.co.id

     
    • Tiyo Bangun Negoro 2:25 pm on 1 Agustus 2009 Permalink

      Mas, artikelnya bagus.. saya minta ya?
      untuk di sampaikan ke teman saya..
      sumbernya saya cantumin kok, boleh enggak?

  • erva kurniawan 8:12 pm on 30 July 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Kisah Pak Tua dan Al Quran 

    al-quranKisah di bawah ini dikutip dari “Cara Mudah Menghafal Al-Quran”, oleh Ali Saleh Muhammad bin Ali Jaber (Guru Tahfizh al-Quran Masjid Nabawi)

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Antara rumahku dan mimbarku adalah taman (raudhah) dari taman-taman syurga. Dan mimbarku di atas kolam.”  (Shahih Bukhari)

    ***

    Ketika saya mengajar dalam rangka memperbaiki bacaan Al-Quran di sebuah majelis taklim di Madinah, datanglah seorang bapak yang kira-kira berusia 50 tahun, dia adalah orang yang buta huruf dan bertanya kepada saya bagaimana bisa membaca Al Quran. Saya menyarankan agar ia minta tolong kepada orang lain untuk membacakan dan kemudian dengarkanlah karena orang yang membaca Al-Quran dan yang mendengarkan mendapatkan pahala yang sama.

    Akhirnya setiap selesai sholat berjamaah di masjid Nabawi orang tua tersebut minta tolong kepada orang yang berada di sebelahnya untuk membacakan Al-Quran. Kebiasaan ini dilakukannya secara terus menerus selama 3 tahun di masjid Nabawi setiap selesai sholat fardhu.

    Ketika bulan Ramadhan dia pergi ke roudhah yaitu suatu tempat yang berada di antara makam Rasulullah dan mimbar di mesjid Nabawi Madinah. Seperti biasanya setelah berbuka puasa dan sholat magrib di tempat tersebut dia minta tolong kepada seorang pemuda untuk membacakan Al-Quran dan dia mendengarkannya. Ketika bacaan pemuda itu sampai pada ayat sajadah keduanya melakukan sujud tilawah. Lalu terjadilah kejadian yang sangat mengharukan, yaitu pada saat pemuda tadi bangun dari sujudnya dia melihat orang tua tadi meninggal dalam keadaan sujud.

    ***

    Tidakkah kita iri akan suatu kematian, di bulan Ramadhan? Di sebidang taman surga? Dalam keadaan menghamba?

    Jika seorang buta huruf Al-Quran mendapat begitu tinggi kemuliaan, maka bagaimanakah dengan kita yang dapat membacanya? Sungguh, bukan kemuliaan yang enggan hinggap di jiwa, tapi jiwalah yang enggan menggapainya. Cukuplah kata, tinggallah air mata.

    ***

    Daarut Tauhid

     
  • erva kurniawan 8:06 pm on 29 July 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Kontrak Cinta 

    loveBanyak orang yang menganggap nafkah hanyalah materi. Ada juga yang beranggapan nafkah itu terbagi dua, yaitu nafkah lahir (materi) dan nafkah batin (Seks-biasanya). Padahal nafkah itu jauh mencakup banyak hal.

    Sebuah cerita sederhana tentang sepasang suami istri dan seorang anaknya yang masih kecil, dimana sang suami bekerja di sebuah perusahaan dan mempunyai penghasilan yang tidak mencukupi. Tapi kerukunan dan kebahagiaan melingkupi keluarga itu. Setiap hari di waktu kerja, ketika jam menunjukkan waktu pulang, tanpa banyak cakap sang suami segera bergegas pulang. “Selama tidak ada pekerjaan yang urgent buat besok pagi atau tidak bisa dikerjakan di rumah” begitu piker sang suami. Karena hal ini terjadi setiap hari, maka teman-teman kantornya sampai hafal kebiasaan sang suami ini.

    Sering kali mereka mencandai hal ini. Tapi hal itu hanya ditanggapi dengan senyum. Sampai suatu kali akhirnya sang suami menjelaskan kenapa ia melakukan kebiasaan itu kepada temannya. “Saya hanya menjalankan nasihat ustad saya. Kata beliau kita mempunyai kewajiban untuk memenuhi hak-hak yang telah kita ikat dengan perjanjian. Contohnya perusahaan tempat kita bekerja, mempunyai hak atas kita selama 8 jam dari jam masuk sampai jam pulang. Maka kita harus memenuhi hak-hak itu. Lalu istri dan keluarga mempunyai hak atas kita juga, karena kita telah mengikat perjanjian dalam sebuah “kontrak cinta.”

    Waktu yang diberikan kepada keluarga harus waktu tebaik seperti waktu yang kita berikan kepada perusahaan, bukan waktu sisa. Maka ketika waktu pulang datang, habislah hak perusahaan atas saya dan dimulailah hak keluarga atas saya.”

    “Ah, jika materi tidak cukup saya berikan kepada keluarga, maka waktu tidak boleh kurang saya berikan kepada mereka”, begitu batin sang suami.

    Sebuah pelajaran besar dari orang-orang kecil dan sederhana. Pernah suatu saat sang suami ditawarin pekerjaan sampingan yang dilakukan pada malam hari dan hari sabtu yang akan menyebabkan waktu untuk keluarganya berkurang. Maka ia putuskan mengajak istrinya untuk berunding. “Bunda, aku ditawarkan pekerjaan yang dapat menambah penghasilanku untuk keluarga namun di lakukan di malam hari dan di hari Sabtu, tapi tentu kamu tahu konsekuensinya maka aku tawarkan kepadamu, apakah kamu ingin aku memberimu materi atau memberimu waktu?”. Dengan tatapan lembut sang istri berkata “Cukuplah waktu dan perhatianmu yang aku butuhkan dari dirimu”. Maka dengan senyuman mantap, sang suami menolak tawaran pekerjaan itu.

    Sesungguhnya keadaan keluarga ini sangat kekurangan namun rasa Qana’ah atas yang mereka miliki, menumbuhkan rasa syukur terhadap Allah Subhana wa Ta’ala dan Allah Subhana wa Ta’ala membalasnya dengan memberi mereka kebahagiaan lahir dan bathin. Apalagi yang dicari di dunia ini selain kebahagiaan lahir dan bathin?

    Di balik kesabaran sang istri, tumbuh pula rasa syukur karena sang suami masih punya waktu ketika ia membutuhkannya dan sang suami membantunya tanpa ia meminta. Dan di balik rasa syukur sang suami karena memiliki istri yang sangat pengertian maka ia memiliki rasa sabar dalam memenuhi kebutuhan keluarga dan selalu berdoa kepada Allah Yang Maha Kaya lagi Maha Pengasih.

    Sang suami teringat janji sebelum mereka menikah “Aku tidak bisa berjanji untuk bisa mencukupi kebutuhanmu dan aku tidak bias berjanji memberi yang kamu inginkan, namun aku berjanji aku tidak akan pernah berhenti berusaha untuk itu.”

    Maka itulah yang membuat sang istri bertahan diterpa badai yang berusaha merobohkan mereka. “Toh nafkah tak hanya materi..” begitu batin sang istri.

    Kita mengetahui, berapa banyak manusia yang begitu gencarnya mencari nafkah materi untuk keluarganya, mereka memiliki rumah yang mewah, mobil yang juga mewah serta banyak hal mewah lainnya, namun, tidak juga mereka merasakan bahagia lahir dan bathin. Salah seorang sahabat pernah mengirimkan sms kepada saya :

    “Dalam hidup banyak pilihan, ada yang mengeluh dan merasa jenuh, ingin jatuh dan berkata ‘LELAH’, Ada juga yang lelah tubuh dan pikiranpun penat, tapi tetap semangat, Ada yang ingin INI, ingin ITU dengan berkata ’seandainya…’ dan Ada juga yang QONAAH dengan berkata ‘Cukup Allah saja bagiku..’ Lalu…apa pilihan Anda?”

    ***

    Disalin dari majalah Shaff edisi April 2009, judul Asli : Nafkah Bukan Hanya Materi, diedit dan ditambahkan seperlunya oleh : Salman Al Muhandis

     
  • erva kurniawan 5:55 am on 23 July 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Rasulullah SAW. Dan Pengemis Yahudi Buta 

    siluet masjidDi sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta, hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”.

    Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuap makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW  melakukannya hingga menjelang Nabi Muhammad SAW  wafat.

    Setelah kewafatan Rasulullah SAW tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

    Suatu hari Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah R. AH. Beliau bertanya kepada anaknya, “Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah R. AH menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah itu?”, Tanya Abubakar RA. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah R. AH.

    Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “Siapakah kamu ?”. Abubakar RA menjawab, “Aku orang yang biasa”.

    “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku” , jawab si pengemis buta itu. Apabila ia dating kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah.

    Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

    Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW

    Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar RA ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar RA.

    ***

     
    • sri handayani 12:44 pm on 31 Agustus 2009 Permalink

      subhanallah, maha benar ALLAH dengan segala firmannya

    • Ermila 6:09 am on 3 Oktober 2009 Permalink

      Ya Allah,,kerinduan pada kekasihMu terasa semakin dalam

    • Azhonk 4:47 pm on 28 Februari 2010 Permalink

      Subhanallah…Kumpulkan lah kami dengan KekasihMu ya Allah…Amin

  • erva kurniawan 4:07 am on 20 July 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Cangkir Yang Tidak Pernah Penuh 

    siluet masjid 5Ibarat air laut bangsa ini terus beriak, gelombang air atau arus pasang surut selalu membuat air tidak pernah tenang. Kapal-kapal yang semestinya dinaungi, suatu saat dihempaskan. Teriakan minta tolong dari awak kapal dikalahkan dengan deru ombak, yang menggulung dan meluluh lantakkan semua armada. Bangsa ini bangsa besar, harus pula dinaungi oleh orang-orang berjiwa besar, jika tidak amarah langit akan menenggelamkan bangsa ini.

    Sore itu Pak Kusnadi yang telah lama pindah singgah di pos RW sewaktu akan diadakan rapat pembentukan panitia sunatan massal. Selain dari karang taruna dan dari RT sunatan massal tersebut juga melibatkan dari remaja masjid. Pada pos RW tersebut terdapat televisi berukuran duapuluh sembilan inchi yang menyiarkan berita sore. “Sudah hampir empat tahun sejak pindah ternyata kemajuan Pak Kusnadi lumayan pesat nih” kata ketua RT sembilan Pak Hartono tempat dahulu Pak Kusnadi bermukim. ” Ya ada saat-saa dibawah ada saat diatas, hidup ini selalu berputar, benarkan pak ” jawab Pak Kusnadi. Berita sore itu menayangkan penangkapan pejabat yang terkena kasus pidana korupsi. ” Tapi roda berputar saya masih dibawah roda koruptor itu pak ” kata Pak Kusnadi meneruskan jawabannya ” artinya seterpuruk apapun dia simpanannya jauh lebih banyak dari saya yang saat-saat ini diatas menurut ukuran kita”. Yang lain hanya mangut-mangut ” ya jangan disamakanlah roda traktor dengan roda pedati ” kata Pak RW bercanda.

    Istilah roda selalu berputar sering gunakan orang untuk menggambarkan ritme kehidupan yang selalu berubah, walaupun variasi roda bisa berbeda baik ukuran maupun lokasi, seperti perbedaan berputarnya roda atas dan roda bawah, artinya posisi terbawah dari roda atas adalah posisi teratas dari roda bawah. Allah memang menciptakan tatanan kehidupan demikian rapi seperti tautan gir dalam mesin yang saling berputar satu sama lain untuk bisa menghidupkan mesin.

    Seorang teman dalam rapat tersebut tidak setuju dengan pengistilahan roda ini karena menurut dia jika kita mau berusa sekuat tenaga maka kita bisa mencapai sama seperti yang telah dicapai oleh orang lain, termasuk sama seperti para konglomerat yang ada di negara ini. Pak RW yang paling senior, paling tidak dalam jabatan mulai ikut memberikan pendapat. ” Setiap manusia itu telah di berikan jatah rezeki oleh Allah , ibarat cangkir, ukuran cangkir setiap orang berbeda satu sama lain. Usaha manusia adalah untuk mengisi cangkir itu dan bukan menggantinya, karena tidak ada yang tahu ukuran cangkir masing-masing selain Allah Subhanahu wata’ala. Ada cangkir yang tidak pernah penuh karena dia tidak mau berusaha, tetapi ada juga cangkir yang luber, artinya dia membagi-bagikan hartanya kebawah walaupun bisa jadi bagi orang tertentu ukuran cangkirnya tidak begitu besar. Ada juga yang ukuran cangkirnya begitu besar sampai-sampai dia menghabiskan hidupnya hanya untuk mengisi cangkir tersebut tanpa pernah sempat membagi-bagikan kepada yg lain.

    ***

    David-Daarut Tauhiid

     
  • erva kurniawan 8:47 pm on 19 July 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Rasulullah Merindukan Umat Akhir Zaman 

    siluet masjid 3Suasana di majelis pertemuan itu hening sejenak. Semua yang hadir diam membatu. Mereka seperti sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi Sayyidina Abu Bakar. Itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihi melafazkan pengakuan sedemikian.

    Seulas senyuman yang sedia terukir di bibirnya pun terungkai. Wajahnya yang tenang berubah warna.

    “Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?” Sayyidina Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mula menyerabut pikiran.

    “Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku (ikhwan),” suara Rasulullah bernada rendah.

    “Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain pula.

    Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian Baginda bersuara,

    “Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku sebagai Rasul Allah dan mereka sangat mencintaiku. Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orang tua mereka.”

    **

    Pada ketika yang lain pula, Rasulullah menceritakan tentang keimanan ‘ikhwan’ Baginda:

    “Siapakah yang paling ajaib imannya?” tanya Rasulullah.

    Malaikat,” jawab sahabat.

    “Bagaimana para malaikat tidak beriman kepada Allah sedangkan mereka sentiasa dekat dengan Allah,” jelas Rasulullah.

    Para sahabat terdiam seketika. Kemudian mereka berkata lagi, “Para nabi.”

    “Bagaimana para nabi tidak beriman, sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka.”

    “Mungkin kami,” celah seorang sahabat.

    “Bagaimana kamu tidak beriman sedangkan aku berada di tengah-tengah kalian,” pintas Rasulullah menyangkal hujjah sahabatnya itu.

    “Kalau begitu, hanya Allah dan Rasul-Nya saja yang lebih mengetahui,” jawab seorang sahabat lagi, mengakui kelemahan mereka.

    “Kalau kamu ingin tahu siapa mereka, mereka ialah umatku yang hidup selepasku. Mereka membaca Al Qur’an dan beriman dengan semua isinya. Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman denganku. Dan tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman denganku tetapi tidak pernah berjumpa denganku,” jelas Rasulullah.

    “Aku sungguh rindu hendak bertemu dengan mereka,” ucap Rasulullah lagi setelah seketika membisu. Ada berbaur kesayuan pada ucapannya itu.

    Begitulah nilaian Tuhan. Bukan jarak dan masa yang menjadi ukuran. Bukan bertemu wajah itu syarat untuk membuahkan cinta yang suci. Pengorbanan dan kesungguhan untuk mendambakan diri menjadi kekasih kepada kekasih-Nya itu, diukur pada hati dan terbuktikan dengan kesungguhan beramal dengan sunnahnya.

    Dan insya Allah umat akhir zaman itu adalah kita. Pada kita yang bersungguh-sungguh mau menjadi kekasih kepada kekasih Allah itu, wajarlah bagi kita untuk mengikis cinta-cinta yang lain. Cinta yang dapat merenggangkan hubungan hati kita dengan Baginda Rasulullah saw.

    Allahumma shalli ala Muhammad wa ala alihi wa shahbihi ajma’in

    ***

     
    • Agus 6:48 pm on 1 Agustus 2009 Permalink

      Sungguh-sungguh sangat bermanfaat untuk saya pribadi,andai anda berkenan bisa d share ke facebook agar lebih banyak lagi yg bisa membacanya…..

    • muslimah 10:04 am on 29 Desember 2009 Permalink

      Ya Allah…limpahkanlah rahmat dan salam ke atas baginda Nabi Muhammad SAW dan ke atas para sahabat beserta semua umat islam.. Semoga kita salah satu orang yang benar-benar mencintai Rasulullah Shallahu’alaihiwasallam.

    • wakid 2:37 pm on 22 September 2010 Permalink

      subhanallah,,,,
      moga kita selalu berada dalam limpahan rahmatnya,,,amin,,

    • misbach khusurur huda 10:57 pm on 18 April 2011 Permalink

      subhanallah
      sunggu merugi orang orang yg telah kafir sesudah beriman (orang yg mengaku islam / islam KTP)

    • abib n 1:43 pm on 13 November 2011 Permalink

      assalamu’alaikum wr wb,,
      mohon izin untuk mengcopy artikel ini..
      trimakasih..

      wassalamu’alaikum wr wb

  • erva kurniawan 4:56 pm on 13 July 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Fitnah Adalah Kebaikan 

    kaligrafi1“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong (fitnah) itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong (fitnah) itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa diantara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong (fitnah) itu, baginya azab yang besar.” (QS An Nuur [24]:11)

    Sebab yang mengiringi turunnya ayat diatas adalah suatu ketika di tahun ke 5 H sehabis terjadi peperangan dengan Bani Mushthaliq, rombongan Rasulullah saw sudah bersiap-siap meninggalkan pos tempat mereka bermalam. Ketika itu istri Rasulullah saw yang ikut bertugas adalah Aisyah rha. Karena disebabkan oleh kehilangan kalungnya, Aisyah berusaha untuk mencarinya kesana dan kemari sehingga ia tertinggal oleh rombongan. Lama baru ia tersadar kalau rombongan Rasulullah saw telah meninggalkannya. Ia berusaha untuk tidak panik dan tidak menyusul rombongan Nabi karena takut akan terjadi sesuatu dalam perjalanan. Ia menunggu dan berharap Rasulullah saw menyadari bahwa Aisyah tidak ada dalam rombongan dan kembali menjemputnya. Ketika itulah Aisyah tertidur. Pada masa itu kewajiban hijab (jilbab) belum diturunkan sehingga Aisyah rha tidak mengenakannya.

    Tidak berapa lama, seorang yang ditugasi oleh Rasulullah untuk mengamati pasukan musuh agar tidak mengikuti pasukan muslim, sampai di tempat Aisyah berada. Ia adalah seorang sahabat Nabi yang shalih. Syuhada perang Badar yang bernama Shafwan bin Mu’aththal ra. Syafwan adalah seorang pemuda yang jujur dan bersih. Ketika Syafwan pertama kali melihat tempat itu, didapatinya seorang wanita sedang tertidur. Ia kaget dan berkata, “Inna lillahi wa inna illaihi rojiun, istri Rasul!” Hal ini menyebabkan Aisyah terbangun. Syafwan mempersilahkan Aisyah rha. untuk menaiki untanya dan ia berjalan sambil menuntun unta tersebut.

    Menjelang siang, keduanya menemukan rombongan pasukan Rasulullah saw dan kembali bergabung dengan mereka. Ketika itu dalam rombongan pasukan muslim terdapat seorang tokoh munafik bernama Abdullah bin Ubayy. Melalui tokoh inilah, ketika sampai di Madinah, berita bohong (fitnah) tersebar kepada penduduk Madinah. Telah terjadi pemutarbalikkan fakta bahwa Aisyah sengaja bersembunyi agar tertinggal oleh Rasullah saw dan menunggu Syafwan ra untuk berhubungan mesra antara keduanya. Dari sini isu menyebar bagai api dalam sekam dan akhirnya di dengar oleh Rasulullah saw.

    Dengan tersebarnya isu tersebut, Rasulullah gundah dan bimbang. Rasulullah berusaha mencari informasi dari banyak pihak antara lain dari istri-istri Nabi sendiri mengenai prilaku Aisyah. Juga dari beberapa sahabat-sahabatnya yang mengenal Syafwan. Disatu sisi Rasulullah tidak pernah mempercayai fitnah tersebut tetapi tidak memiliki cukup bukti untuk membela istrinya dan sahabatnya. Rasulullah terus berdoa kepada Allah SWT agar Allah menunjukkan kebenaran dari sisi-Nya. Dalam kegundahan ini, Rasulullah sampai-sampai mengantarkan Aisyah kembali ke rumah Abu Bakar ra untuk berpisah sementara menenangkan Aisyah dan dirinya. Kejadian ini juga sangat memukul Abu Bakr sebagai besan Rasulullah saw dan ayah dari Aisyah. Tapi Abu bakr sangat menghargai keputusan Rasulullah saw. Inilah periode yang begitu mengguncangkan bagi penduduk Madinah.

    Dalam peristiwa ini ada beberapa orang dari sahabat Rasulullah yang mengambil peran yang besar dalam penyebaran fitnah ini. Mereka, selain Abdullah bin Ubayy, adalah Misthah Ibn Atsatsah (kerabat Abu Bakr), Hasan bin Tsabit (penyair Rasulullah) dan Hamnah (saudara perempuan Zainab, istri Rasulullah saw). Sebagai pembelaannya terhadap Aisyah, Abu Bakr ra sampai-sampai bersumpah untuk tidak lagi menyantuni Misthah yang miskin beserta anak-anak dan istrinya. Saat itu, keluarga Misthah adalah salah satu keluarga miskin yang selalu disantuni oleh Abu Bakr setiap harinya.

    Lebih dari sebulan peristiwa ini berlalu, Allah SWT menurunkan ayat ke 11 dari QS An Nuur diatas. Hal ini membuat perasaan Rasulullah saw lega. Aisyah kembali dijemput oleh Rasulullah untuk kembali dan Rasulullah saw meminta maaf kepadanya.

    Dalam tafsir ayat di atas, kita dapat mengambil kesimpulan seandainya Al Quran ini adalah ciptaan Muhammad saw, tentulah Beliau dapat dengan segera menghapus berita bohong (fitnah) tersebut dengan mengatasnamakan wahyu, dan bila itu terjadi, tidaklah seorang muslim pun meragukannya. Alangkah indah perangai Rasulullah saw, Ia terpaksa harus hidup menderita, menanggung beban kegelisahan yang begitu lama hanya untuk menunggu turunnya wahyu yang membenarkan. Allahumma Shalli ‘ala Muhammad…

    Allah SWT juga ingin menyampaikan kepada kita bahwa siapapun yang menjadi korban dari suatu berita bohong (fitnah), hal itu merupakan kebaikan bagi dirinya dan keluarganya. Karena ayat diatas tidak menyebutkan nama Rasulullah saw atau Aisyah rha secara khusus, maka ayat ini berlaku umum untuk siapapun dan bisa terjadi kepada siapapun dan pada masa kapanpun. Seseorang yang difitnah akan memperoleh ganjaran yang luar biasa berupa pahala dan kebaikan di sisi Allah SWT. Dengan fitnah juga, kedudukan seseorang menjadi terhormat di dalam suatu masyarakat karena banyaknya empati yang akan muncul. Orang yang menjadi korban fitnah akan mendapat simpati dan kehormatan di tengah masyarakat sedangkan orang yang menfitnah akan memperoleh cercaan dan tidak akan pernah dipercaya oleh siapapun lagi selama hidupnya.

    Sumpah Abu Bakr ra dijawab Allah SWT dengan turunnya QS An Nuur [24]: 22 yaitu, “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan diantara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Sedangkan Abdullah bin Ubayy diganjar Allah dengan ganjaran yang luar biasa menyakitkan bahwa ia meninggal dalam keadaan dicap sebagai seorang tokoh munafik terbesar. Ketika ia meninggal dan Rasulullah ingin mensholatkannya, Allah menurunkan suatu ayat di QS At Taubah [9]: 84 yaitu, “Dan janganlah kamu sekali-kali mensholatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.”

    Begitulah Allah membalas kejahatan orang penyebar fitnah. Bukankah doa Rasulullah saw tidak pernah ditolak oleh Allah? Para sahabat Rasulullah saw sangat mendambakan disetiap kematian mereka, Rasulullah lah yang akan memimpin sholat jenazah karena mereka yakin doa Rasulullah saw akan membebaskan mereka dari segala azab kubur dan siksaan api neraka. Bayangkan jika Allah SWT sampai melarang Rasulullah saw mensholatkan seorang Abdullah bin Ubayy. Dan tidak hanya itu, sekedar berdoa dikuburnya pun Allah SWT melarang Rasul Nya. ‘Auzubillahi min dzalik.

    Adapun Misthah Ibn Atsatsah (kerabat Abu Bakr), Hasan bin Tsabit (penyair Rasulullah) dan Hamnah (saudara perempuan Zainab, istri Rasulullah saw) semuanya memohon maaf kepada Aisyah rha dan Rasulullah saw serta Abu Bakr ra sebagai orang yang bersalah. Dalam suatu riwayat Hasan bin Tsabit dimasa tua-nya menderita kebutaan.

    Mudah-mudahan kisah ini menjadi iktibar (pelajaran berharga) bagi kita…

    Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang muslim tertimpa letih, penyakit, fitnah pada dirinya, kegundahan, sedih, rasa sakit, kegagalan sampai duri yang mengenai dirinya, melainkan dengan itu Allah akan menghapus dosa-dosanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

    ***

     
  • erva kurniawan 4:48 pm on 12 July 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Anak Perempuan Kecil itu dan Ojek Payungnya 

    ojek payungMudah-mudahan cerita ini bisa jadi bahan renungan..

    ***

    Kejadiannya hari Jum’at di bulan February 2009 yang lalu, selesai makan siang di Mall Ambasador. Hujan deras, sementara aku harus segera kembali ke kantor, bagaimana pun caranya. Walaupun lokasi kantor dan Mall Ambasador sangat dekat (cuma nyebrang saja), tapi hujan yang deras gak mungkin di terjang begitu saja. Alhasil Ojek payung pun menjadi alternatif utama.

    Ketika itu berdiri tepat didepanku seorang anak perempuan kecil yang masih mengenakan seragam putih merah. Lusuh, basah kuyup, menggigil, sambil memegang payung dan menawarkan jasa mengantar ku ke tempat tujuan. Sempat sedikit terenyuh melihat wajah lugu anak perempuan itu, dan lalu menerima jasanya untuk mengantarku kesebrang. Sepanjang perjalanan itu sedikit pertanyaan terlontar dariku. Kira-kira obrolan singkat kami seperti ini :

    Tera (T) : “Kok masih pakai seragam sekolah?? bolos ya?”

    Ojek Payung (OP) : “Udah pulang bu.. terus langsung ngojek payung..”

    T : “Emang kamu kelas berapa sekolahnya?? kok enggak ganti baju dulu sih..?? Kan bajunya bisa kotor lho..”

    OP : “Saya kelas 3 Bu. Enggak sempet bu, soalnya ibu saya udah nyuruh supaya cepetan ngojekin payung disini..”

    T : “Lhoo.. emang uang hasil ojek payung ini untuk apa?? untuk jajan kamu atau untuk ibu kamu dek?”

    OP : “Buat ibu saya Bu, trus kalo ada sisa baru deh buat beli buku tulis dan pensil.”

    *aku sempet terdiam mendenger jawaban polos anak perempuan itu*

    T : “emangnya bapak kamu kemana?? kamu punya kakak nggak??”

    *dua pertanyaan itu sepertinya sedikit membuat bingung anak itu. Maka aku ulangi dengan lebih pelan*

    T : “Bapak kamu kerja dimana dek?”

    OP : “Bapak saya enggak ada Bu..”

    T : “Kemana..? ” *duuhh ini sungguh pertanyaan bodoh yang spontan terlontar*

    OP : “Enggak tau kemana. Dari kecil saya enggak pernah ketemu bapak saya Bu..”

    *aku bener-bener ngerasa bersalah atas pertanyaan itu. Sungguh, seketika pengen banget peluk anak perempuan kecil itu dan bilang : tinggal sama kakak aja yuk, biar gak perlu hujan-hujanan cari uang seperti ini… :((*

    T : “Kamu punya kakak??”

    OP : “Enggak punya Bu. Adanya adek, 2 orang”

    *haduuhhh, aku semakin terenyuh sama keadaan anak ini. Udah, aku menghentikan pertanyaan yang akan makin membuat aku sedih itu*

    Akhirnya, sampai juga kami didepan teras gedung kantor aku. Sambil mengambil dompet, aku menatap iba anak perempuan yang sedang sibuk melipat payungnya.

    T : “Kamu udah makan siang dek?”

    *anak itu hanya diam. Tapi aku mengerti maksut dari diamnya itu*

    T : *sambil memberikan beberapa lembar rupiah* “Ini untuk ongkos ojek paying barusan ya, terus ini saya tambahin untuk untuk makan siang kamu, yang ini beneran buat beli makan siang ya, gak boleh untuk yang lain. Uang hasil ojek payung hari ini, kamu kasih ke ibu kamu semuanya ya. Nah ini saya kasih lagi ke kamu untuk beli buku tulis dan pinsil yah..”

    *anak itu cuma bengong sambil melihat wajah aku dengan mata berkaca. Iya berkaca-kaca beneran, terus dia salim (cium tangan) ke aku.*

    T : “eh lho… gak apa-apa dek. Sekolah yang rajin yaa.. Nanti kalo pas hujan ketemu lagi sama saya yaa.. ntar kita beli buku tulis yaa…”

    *ucapanku sempet sedikkit bergetar karna menahan haru*

    OP : “Terimakasih ya Bu…”

    T : “Iya. Gih, tuh sana balik lagi.. masih banyak yang mau ojek payung.. yah..”

    Anak itu pun berlalu. Dan aku menahan haru yang dalam banget. Anak perempuan kecil kelas 3 SD yang tidak kenal siapa Bapaknya. Harus ikut menanggung beban membantu ibunya mencari nafkah dan sekedar untuk membeli buku tulis untuk sekolah.

    Tanpa mengetahui persis latar belakang keluarganya, aku yakin pasti kehidupan keluarga anak perempuan itu jauh dari kata baik.

    Jelas saja jika aku merasa sangat terharu dan iba. Bahkan lebih merajam bahwa HIDUP INI TIDAK ADIL UNTUK ANAK SEKECIL ITU yang seharusnya sedang merasakan indahnya masa kecil dengan bermain, bermain dan belajar. Bukan mencari nafkah!!

    Sampai beberapa hari setelah moment mengharukan itu, aku masih sering terbayang wajah menggigil yang menawarkan jasa ojek payung di teras Mall Ambasador itu. Berharap bisa bertemu lagi dengan anak itu dan sedikit meringankan bebannya untuk membeli buku tulis dan pinsil.

    Apa yang dunia tawarkan kepada anak itu, adalah kenyataan yang bener-bener kejam. Dan anak perempuan kecil itu bukanlah satu-satunya! !!

    ***

    sumber: http://jengtera.blogspot.com/

    (daarut tauhid)

     
    • Annisa 3:38 pm on 14 Juli 2009 Permalink

      mungkin jika aq ketemu anak perempuan itu sama juga.. jadi sedih..
      koz aq orangnya juga cepat kasihan ma orang yang susah..
      semoga masih banyak orang disana yang terketuk hatinya untuk membantu anak tsb.. spt ibu diatas dan sll dilimpain rizky yang banyak untuk dapat membantu lebih banyak orang lagi..

    • Tera 8:21 am on 16 November 2009 Permalink

      Alhamdulillah ada yg share cerita saya juga.
      Btw, jika boleh, ini link ke blog saya dimana cerita saya ini pertama kali dimuat jengtera.blogspot.com

      Mudah2an cerita lainnya bisa untuk share .. :)

    • erva kurniawan 8:53 pm on 16 November 2009 Permalink

      Terima kasih infonya bu Tera, cerita pengalaman dari bu Tera sangat bermanfaat bagi kami semua.
      Mohon maaf tidak mencantumkan sumber pertama artikel ini dipostingkan, karena ketidak tahuan saya
      Jazakumullah khairan katsiro

  • erva kurniawan 4:09 pm on 10 July 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Sebuah Renungan: Belajar dari Penjual Kerupuk 

    terjun payungOleh Chappy Hakim, Jakarta, 12 Mei 2009

    Pada tahun 1969, saya mengikuti latihan para dasar, terjun payung statik di pangkalan Udara Margahayu Bandung. Menjalani latihan yang cukup berat bersama dengan lebih kurang 120 orang dan ditampung dalam dua barak panjang tempat latihan terjun tempur.

    Setiap makan pagi, siang dan malam hari yang dilaksanakan di barak, kami memperoleh makanan ransum latihan yang diberikan dengan ompreng dan atau rantang standar prajurit. Diujung barak tersedia drum berisi sayur, dan disamping nya ada sebuah karung plastik berisi kerupuk milik seorang ibu setengah baya warga sekitar asrama prajurit yang dijual kepada siapa saja yang merasa perlu untuk menambah lauk makanan jatah yang terasa kurang lengkap bila tidak ada kerupuk. Sang ibu paruh baya ini, tidak pernah menunggu barang dagangannya.

    Setiap pagi, siang dan malam menjelang waktu makan dia meletakkan karung plastik berisi krupuk dan disamping nya diletakkan pula kardus bekas rinso untuk uang, bagi orang yang membeli kerupuknya. Nanti setelah selesai waktu makan dia datang dan mengemasi karung plastik dengan sisa kerupuk dan kardus berisi uang pembayar kerupuk.

    Iseng, saya tanyakan, apakah ada yang nggak bayar Bu? Jawabannya cukup mengagetkan, dia percaya kepada semua siswa latihan terjun, karena dia sudah bertahun-tahun berdagang kerupuk di barak tersebut dengan cara demikian. Hanya meletakkan saja, tidak ditunggu dan nanti setelah semuanya selesai makan dia baru datang lagi untuk mengambil sisa kerupuk dan uang hasil jualannya.

    Selama itu, dia tidak pernah mengalami defisit. Artinya tidak ada satu pun pembeli kerupuk yang tidak bayar. Setiap orang memang dengan kesadaran mengambil kerupuk, lalu membayar sesuai harganya. Bila dia harus bayar dengan uang yang ada kembaliannya, dia bayar dan mengambil sendiri uang kembaliannya di kotak rinso kosong tersebut.

    Demikian seterusnya. Beberapa pelatih terjun, bercerita bahwa dalam pengalamannya, semua siswa terjun payung yang berlatih disitu dan menginap dibarak latihan tidak ada yang berani mengambil kerupuk dan tidak bayar. Mereka takut, bila melakukan itu, khawatir payung nya tidak mengembang dan akan terjun bebas serta mati berkalang tanah.

    Sampai sekarang, saya selalu berpikir, mengapa orang sebenarnya bisa jujur dan dapat dipercaya, hanya karena pintu kematian berada didepan wajahnya. Yang saya pikirkan, bagaimana caranya membuat manusia setiap saat berada dalam kondisi atau suasana latihan terjun, mungkinkah?

    ***

    (daarut tauhid)

     
  • erva kurniawan 2:24 pm on 9 July 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Kisah Hidup Uang Rp 1.000 dan Rp 100.000 

    uang100ribuKonon, uang seribu dan seratus ribu memiliki asal-usul yang sama tapi mengalami nasib yang berbeda.eduanya sama-sama dicetak di PERURI dengan bahan dan alat-alat yang oke. Pertama kali keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu sama-sama bagus, berkilau, bersih, harum dan menarik. Namun tiga bulan setelah keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu bertemu kembali di dompet seseorang dalam kondisi yang berbeda.

    Uang seratus ribu berkata pada uang seribu : “Ya, ampyyyuunnnn. ……… darimana saja kamu, kawan? Baru tiga bulan kita berpisah, koq kamu udah lusuh banget? Kumal, kotor, lecet dan….. bau! Padahal waktu kita sama-sama keluar dari PERURI, kita sama-sama keren kan …… Ada apa denganmu?”

    Uang seribu menatap uang seratus ribu yang masih keren dengan perasaan nelangsa. Sambil mengenang perjalanannya, uang seribu berkata : “Ya, beginilah nasibku , kawan. Sejak kita keluar dari PERURI, hanya tiga hari saya berada di dompet yang bersih dan bagus.

    Hari berikutnya saya sudah pindah ke dompet tukang sayur yang kumal. Dari dompet tukang sayur, saya beralih ke kantong plastik tukang ayam.. Plastiknya basah, penuh dengan darah dan taik ayam. Besoknya lagi, aku dilempar ke plastik seorangpengamen, dari pengamen sebentar aku nyaman di laci tukang warteg.

    Dari laci tukangwarteg saya berpindah ke kantong tukang nasi uduk. Begitulah perjalananku dari hari ke hari. Itu makanya saya bau, kumal, lusuh, karena sering dilipat-lipat, digulung-gulung, diremas-remas. …….”

    Uang seratus ribu mendengarkan dengan prihatin.: “Wah, sedih sekali perjalananmu, kawan! Berbeda sekali dengan pengalamanku. Kalau aku ya, sejak kita keluar dari PERURI itu, aku disimpan di dompet kulit yang bagus dan harum. Setelah itu aku pindah ke dompet seorang wanita cantik. Hmmm… dompetnya harum sekali. Setelah dari sana, aku lalu berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di hotel berbintang 5, masuk ke restoran mewah, ke showroom mobil mewah, di tempat arisan Ibu-ibu pejabat, dan di tas selebritis. Pokoknya aku selalu berada di tempat yang bagus.

    Jarang deh aku di tempat yang kamu ceritakan itu. Dan…… aku jarang lho ketemu sama teman-temanmu. ”

    Uang seribu terdiam sejenak. Dia “menarik” nafas lega, katanya : “Ya. Nasib kita memang berbeda. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman.seribu_rupiah

    Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang dan bangga daripada kamu!” “Apa itu?” uang seratus ribu penasaran.

    “Aku sering bertemu teman-temanku di kotak sedekah, kotak amal di masjid, dan tempat2 ibadah lainnya. Hampir setiap minggu aku mampir di tempat-tempat itu. Jarang banget tuh aku melihat kamu disana…..”

    ***

     
    • bali handicraft wholesaler 7:06 am on 19 Juni 2010 Permalink

      cerita ini benar… dan sangat menggugah… kenapa ya kita lebih rela beli makanan cepat saji yang jauh lebih mahal, padahal kita bisa makan di warteg dan selisih harga dari makanan cep[at saji dan makanan warteg bisa kita sumbangkan ??? mari kita renungi bersama… (termasuk saya dan anda)…
      ini cuma 1 contoh kecil saja… mari kita saling membantu sesama…

    • hany asmahanie 10:31 am on 9 Maret 2011 Permalink

      hhmm ceritanya singkat ,namun isinya padat,penuh makna…..i like this…ijin share ya.. :)

  • erva kurniawan 8:32 pm on 27 June 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Cerita Tentang Katak Kecil 

    masjid_siluet_3Pada suatu hari ada segerombol katak-katak kecil, yang menggelar lomba lari

    Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi.

    Penonton berkumpul bersama  mengelilingi menara untuk menyaksikan  perlombaan dan memberi semangat kepada para peserta…

    Perlombaan dimulai…

    Secara jujur: Tak satupun penonton benar2 percaya bahwa katak2 kecil akan bisa mencapai puncak menara.

    Terdengar suara: “Oh, jalannya terlalu sulitttt!! Mereka  TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak.”

    atau:  “Tidak ada kesempatan untuk berhasil…Menarany a terlalu tinggi…!!

    Katak2 kecil mulai berjatuhan. Satu persatu… Kecuali mereka  yang tetap semangat menaiki menara perlahan- lahan semakin tinggi…dan semakin tinggi…

    Penonton terus bersorak

    “Terlalu sulit!!! Tak seorangpun akan berhasil!”

    Lebih banyak lagi katak kecil lelah dan menyerah

    …Tapi ada  SATU yang melanjutkan hingga semakin tinggi dan tinggi…

    Dia tak akan menyerah!

    Akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara. Kecuali  satu katak kecil yang telah berusaha keras  menjadi  satu-satunya yang berhasil mencapai puncak! SEMUA katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya?

    Seorang peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan?

    Ternyata…Katak yang menjadi pemenang itu TULI!!!!

    Kata bijak dari cerita ini adalah:

    Jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai kecenderungan negatif ataupun pesimis…karena mereka mengambil sebagian besar mimpimu dan menjauhkannya darimu.Selalu pikirkan kata2 bertuah yang ada. Karena segala sesuatu yang kau dengar dan kau baca bisa mempengaruhi perilakumu!

    Karena itu: Tetaplah selalu…..POSITIVE!

    Dan yang terpenting: Berlakulah TULI jika orang berkata kepadamu bahwa KAMU tidak bisa menggapai cita-citamu!

    Selalu berpikirlah: I can do this!

     ***

     
  • erva kurniawan 6:37 pm on 23 June 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Apa yang kita sombongkan 

    siluet masjidSeorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja, ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan?”

    Sang Guru menjawab, “Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya.”

    Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih- benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

    Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

    Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

    Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

    Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.

    Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.

    Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.

    Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.

    Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang kini kita lihat adalah “tampak dalam”. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.

    Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri.

    Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.

    Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam.

    Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri.

    Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?

    ***

     
    • anissa 8:23 am on 5 Oktober 2009 Permalink

      ga.. ada yang perlu disombongkan..
      karena yang terpenting dlm hidup ini beibadah pada Allah, zikir,dan penuhi diri dgn rasa empati, tolong-menolong, plus keikhlasan dan kesabaran..
      ya.. Allah berikanlah itu semua kepada kami agar Engkau ridho pada kami dan juga mudahkanlah kami dlm mengikuti sunah2 rasul-Mu yang mulia.. amiin..

  • erva kurniawan 1:18 pm on 18 June 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Hijab 

    hijab

    Seorang anak memperhatikan tingkah ibunya yang menurutnya aneh. Ia heran kenapa kalau akan keluar rumah, ibunya selalu menutup rapat seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Bahkan di dalam rumah pun, jika tamu datang, ibunya segera melakukan hal yang sama: berhijab.

    “Ibu aneh!” ucapnya sambil mencari-cari reaksi dari sang ibu. Ibu anak itu pun menoleh ke arah buah hatinya. Ia memeriksa dirinya untuk menemukan sesuatu yang agak lain. Tapi, tidak ia temukan.

    “Aneh? Apanya yang aneh, sayang?” sambut sang ibu ketika yakin kalau tak ada satu pun dari dirinya yang lain dari yang lain.

    “Kenapa ibu menutup rambut, tubuh, lengan, dan kaki kalau mau keluar? Padahal, ibu tidak cacat. Rambut ibu bagus, lengan dan kaki ibu pun tidak ada yang perlu disembunyikan!” ungkap sang anak begitu gamblang. Mungkin, inilah kesempatannya untuk bisa mengeluarkan kebingungannya selama ini.

    Sang ibu pun senyum. Ia mendekati anaknya perlahan. Sambil mengulum senyum itu, sang ibu mencari-cari jawaban yang pas buat si anak.

    “Anakku, ibu tidak sedang menutupi kecantikan, apalagi keburukan. Justru, ibu mengenakan kecantikan baru untuk memperindah kecantikan fisik ibu yang tidak seberapa. Inilah busana kecantikan dari Yang Maha Sayang!” ucap sang ibu sambil menatap buah hati di depannya yang masih tampak bingung.

    ***

    Inti dari dinamika hidup anak-anak manusia adalah memproduksi sesuatu yang indah. Bagus. Paling baik. Keindahan akan semakin indah ketika karya anak manusia telah melalui berbagai halangan, ujian, cobaan; menggosok batu cincin keindahan amal menuju peringkat keindahan yang lebih tinggi.

    Namun, itu saja belum cukup. Karena keindahan yang bisa dihasilkan manusia tidak seperti kemolekan alam melalui birunya laut, keserasian cakrawala, dan liukan indah sebuah pegunungan.

    Keindahan amal manusia tidak berhenti pada sesuatu yang tampak. Justru, keindahan akan kian bernilai ketika ia tidak lagi mudah terlihat, tidak gampang terjamah. Itulah busana kecantikan amal dari Yang Maha Sayang, dan hanya untuk Yang Paling Penyayang. (eramuslim.com)

    ***

     
  • erva kurniawan 12:45 pm on 16 June 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Kisah Mutiara dan Kerang Rebus 

    kerang mutiaraSaat kecil, cangkang kerang membuka dan menutup. saat itu pula butiran pasir akan masuk kedalam cangkang. kerang kecil menangis. Merasa betapa sakit pasir-pasir melukai dan menyesak kecangkangnya. Maka kerang kecil menanggis dan menjerit, “Duh, ibu sakit nian pasir-pasir ini. Perih sekali ibu…..”. Rintihan ini tak pernah berhenti beriring derai air mata yang terus mengalir.

    “Sabarlah anakku, kuatlah”, wasiat sang ibu. Tak semua anak kerang bisa melakukan dan terpilih, pasti ada yang tersisih. Waktupun menjawab. Menjadi saksi detik demi detik sakit sianak kerang. Waktu menyaksikan kesakitan itu pun tak lagi dirasai. Cangkang kerang terus membuka dan menutup. Dengan belas kasih, air mata kerang kecil membungkus pasir-pasir itu agar tak lari. Disimpannya ia dalam cangkang, Dileburnya rasa sakit dalam paduan kesabaran dan keikhlasan.

    Di pengujung waktu. Manusia akan mengambil kerang-kerang itu. Seleksi terjadi. Kerang berisi pasir dipisah. Kerang biasa terpilah. Kerang berpasir dipoles mewujud menjadi mutiara. Sementara kerang biasa direbus sebagai menu makanan. Mutiara dipajang ditempat berkelas. Ditaruh ditempat terhormat. Sementara kerang rebus dipajang dipinggir jalan.

    ***

     
  • erva kurniawan 10:10 am on 10 June 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Gua 

    Siluet GoaDua orang pemuda tampak berdiskusi di sebuah mulut gua. Sesekali, mereka memandang ke arah dalam gua yang begitu gelap. Gelap sekali! Hingga, tak satu pun benda yang tampak dari luar. Hanya irama suara serangga yang saling bersahutan.

     “Guru menyuruh kita masuk ke sana. Menurutmu, gimana? Siap?” ucap seorang pemuda yang membawa tas besar. Tampaknya, ia begitu siap dengan berbagai perbekalan.

     “Menurut petunjuk guru, gua ini bukan sekadar gelap. Tapi, panjang dan banyak stalagnit, kelelawar, dan serangga,” sahut pemuda yang hanya membawa tas kecil. Orang ini seperti punya kesiapan lain di luar perbekalan alat. “Baiklah, mari kita masuk!” ajaknya sesaat kemudian.

    Tidak menyangka dengan ajakan spontan itu, pemuda bertas besar pun gagap menyiapkan senter. Ia masuk gua beberapa langkah di belakang pemuda bertas kecil. “Aneh!” ucapnya kemudian. Ia heran dengan rekannya yang masuk tanpa penerangan apa pun.

    Dari mulai beriringan, perjalanan keduanya mulai berjarak. Pemuda bertas besar berjalan sangat lambat. Ia begitu asyik menyaksikan keindahan isi gua melalui senternya: kumpulan stalagnit yang terlihat berkilau karena tetesan air jernih, panorama gua yang membentuk aneka ragam bentukan unik, dan berbagai warna-warni serangga yang berterbangan karena gangguan cahaya. “Aih, indahnya!” gumamnya tak tertahan.

    Keasyikan itu menghilangkannya dari sebuah kesadaran. Bahwa ia harus melewati gua itu dengan selamat dan tepat waktu. Bahkan ia tidak lagi tahu sudah di mana rekan seperjalanannya. Ia terus berpindah dari satu panorama ke panorama lain, dari satu keindahan ke keindahan lain.

    Di ujung gua, sang guru menanyakan rahasia pemuda bertas kecil yang bisa jauh lebih dulu tiba. “Guru…,” ucap sang pemuda begitu tenang. “…dalam gelap, aku tidak lagi mau mengandalkan mata zhahir. Mata batinkulah yang kuandalkan. Dari situ, aku bisa merasakan bimbingan hembusan angin ujung gua, kelembaban cabang jalan gua yang tak berujung, batu besar, dan desis ular yang tak mau diganggu,” jelas sang pemuda begitu meyakinkan.

    ***

    Ada banyak “gua” dalam hidup ini. Gua ketika seseorang kehilangan pekerjaan. Gua di saat gadis atau lajang terus-menerus tertinggal peluang berjodoh. Gua di saat orang alim menjadi sulit dipercaya. Gua ketika bencana begitu buta. Dan, berbagai “gua” lain yang kadang dalam gelapnya menyimpan seribu satu keindahan yang membuai.

    Sebagian kita, suka atau tidak, harus menempuh rute jalannya yang gelap, lembab, dan penuh jebakan. Sayangnya, tidak semua kita mampu menyiapkan bekal secara pas. Kita kadang terjebak dengan kelengkapan alat. Dan, melupakan bekalan lain yang jauh lebih jitu dan berdaya guna: kejernihan mata hati.

    Mata hatilah yang mampu menembus pandangan di saat “gelap”. Mata hatilah yang bisa membedakan antara angin tuntunan dengan yang tipuan. Kejernihannya pula yang bisa memantulkan ‘cahaya’ yang sejati. (eramuslim.com)

    ***

     
  • erva kurniawan 9:56 am on 9 June 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Udara 

    restianti-siluetDi sebuah kelas, seorang guru bertanya kepada murid-murid di hadapannya. “Menurutmu, benda apa di dunia ini yang paling baik pada manusia?”

    Murid-murid tampak berpikir keras. Ada yang tatapannya menyapu seisi kelas, seolah mencari sesuatu. Ada yang bisik-bisik dengan teman sebangku. Dan ada yang tetap diam. “Air, Pak Guru!” jawab seorang anak tiba-tiba.

    “Kamu benar!” ucap Pak Guru menyambut jawaban seorang muridnya. “Air memang menyediakan kehidupan. Tapi, tidakkah kamu perhatikan, air cuma mengairi manusia-manusia di sekitar aliran sungainya. Manusialah yang harus menjemput air. Bukan sebaliknya!” tanggap Pak Guru begitu lugas. Beberapa saat, suasana kelas hening.

    “Cahaya, Pak Guru!” ucap seorang murid yang lain. “Kenapa cahaya?” tanya Pak Guru memancing. “Karena cahayalah kita bisa melihat. Bayangkan jika tanpa cahaya. Dunia akan gelap!” jelas si murid begitu mantap.

    “Kamu juga benar!” jawab Pak Guru. “Tapi, tidakkah kamu perhatikan kalau saat istirahat manusia tak butuh cahaya. Ada saatnya cahaya bisa menemani. Ada saatnya tidak,” ungkap Pak Guru kian membuat suasana kelas lebih serius.

    “Gimana? Ada yang ingin berpendapat? ” tanya Pak Guru memecah keheningan kelas yang mulai agak lama. Tapi, yang ditunggu tak juga muncul. Murid-murid tampak bingung. Tiba-tiba, ada seorang murid mengacungkan jari. “Udara, Pak Guru!” ucapnya begitu yakin.

    “Ya, saya lebih setuju pendapat itu!” ucap Pak Guru memberikan respon positif. “Kenapa, Pak?” tanya murid-murid hampir bersamaan.

    “Menurut saya,” ucap Pak Guru sambil menatap murid-murid begitu serius. “Udara memberi kebaikan dengan mendatangi manusia. Bukan sebaliknya. Tanpa memamerkan diri, ia akan bersusah payah menyelinap di lubang sekecil jarum sekali pun, demi memenuhi kebutuhan manusia. Udara pula yang selalu menemani manusia, di mana dan kapan pun,” jelas Pak Guru begitu meyakinkan. Dan murid-murid pun mengangguk setuju.

    ***

    Dalam pentas kehidupan, selalu ada pegiat kebaikan. Mereka memberi tanpa pamrih. Mereka pun berlomba untuk bisa menjadi yang paling bermanfaat. Berusaha memberi dengan yang terbaik.

    Namun, tidak semua yang baik adalah yang terbaik. Bercermin pada tiga makhluk Allah seperti air, cahaya, dan udara mungkin akan menambah nilai kebaikan. Bahwa, produk kebaikan harus mengejar, bukan dikejar. Dan yang menarik, ia selalu bersama dengan yang membutuhkan, walaupun orang tak menganggap keberadaannya.

    Kalau saja pegiat kebaikan memahami peringkat udara, ia pasti tak akan berpuas diri cuma sebagai air atau cahaya.

    ***

    (eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 7:35 pm on 4 June 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Pelajaran Berharga Selama Beberapa Menit di Kereta 

    KRLSuatu siang dalam perjalanan menuju kampus, terlintas keinginanku untuk naik kereta api. Padahal hari-hari biasanya, aku selalu menaiki angkot D-128 rute Warung silah-Depok yang setia mengantarku sampai kampus dan aku cukup turun di depan Toko Buku daerah Margonda. Cukup sekali naik angkot dan hanya membayar Rp2.500,00.

    Tapi entah kenapa tiba-tiba saja saat itu muncul keinginan di luar kebiasaan. Aku ingin berangkat ke kampus naik kereta api. Pikirku, yah sekali-kali tak apalah, lagipula aku kuliah jam satu siang dan sekarang masih jam sebelas. Setengah dua belas aku sampai di stasiun kereta Lenteng Agung. Bagi orang lain, mungkin hal ini sangat membuang-buang waktu.

    Sampai stasiun, menunggu kereta. Padahal kalau aku mau lebih cepat sampai kampus, cukup naik angkot satu kali lagi ke arah Depok. Tetapi aku tetap menunggu kereta jurusan Bogor tiba. Memang, aku hanya turun tiga stasiun berikutnya, yaitu stasiun Pondok Cina.

    Sambil menunggu kereta tiba, kubuka tas dan kuambil salah satu buku yang dihadiahkan oleh salah seorang sahabat

     pada milad (ulang tahun-red)-ku Oktober lalu. Hampir pukul dua belas kereta api jurusan Bogor baru tiba. Kulangkahkan kaki kananku masuk ke dalam kereta. Setelah melihat sekeliling, tak ada tempat duduk kosong. Berdiri pun tak apa. Lagipula alat transportasi rakyat murah meriah begini, untung-untungan bisa dapat tempat duduk.

    Tak jauh dari tempatku berdiri, seorang anak laki-laki kecil penjual kue —yang kutaksir usianya baru enam tahunan—menjajakan dagangannya. Satu hal yang membuatnya berbeda dengan pedagang lainnya di kereta yang aku tumpangi, adalah caranya menawarkan kue dagangannya. Saat ia menghampiriku, dia menawarkan dagangannya kepadaku sama seperti yang ditawarkannya kepada penumpang kereta lainnya.

    “Assalamualaikum… kakak, apakah kakak mau membeli kue? Hanya lima ratus rupiah saja, Kak,” tawarnya.”Wa alaikum salam. Nggak Dik, makasih, ” jawabku. “Baiklah. Permisi kak…, ” Tanpa berlama-lama, anak itu segera meninggalkanku dan kembali menawarkan dagangannya kepada penumpang kereta yang lain dengan pertanyaan yang sama.

    Dalam hati aku bergumam, hari gini masih ada jajanan harga lima ratus? Modalnya berapa? Aku terus memperhatikan anak laki-laki kecil itu. Sejurus kemudian, anak itu kembali menghampiri salah seorang penumpang kereta yang telah ditawari kue jualannya barusan.

    “Mungkin untuk bekal di tempat kerja, Kak?” tanyanya kembali dengan penuh harap yang ditawarinya barusan bersedia membeli kue dagangannya itu. Kembali si penumpang tersebut menolak tawaran anak penjual kue dengan sama ramahnya. Anak itu pun meninggalkan gerbong kereta tempat aku berdiri dan ia menuju ke gerbong sebelah. Untuk

     menjajakan kue jualannya tentunya.

    Segenap rasa sesal memasuki hatiku saat melihat bocah penjual kue itu berjalan menuju gerbong sebelah. Jadi kasihan aku terhadapnya. Kenapa pula tidak kubeli kue jualannya? Cuma lima ratusan dan penumpang satu gerbong tidak ada yang mau membeli kue jualannya. Padahal masih ada dua lembar ribuan di saku kemejaku, tapi urung kukeluarkan untuk membeli kue itu. Ah… penyesalan memang selalu datang belakangan.

    Baru saja anak laki-laki penjual kue itu hendak masuk ke gerbong sebelah, seorang pria setengah baya memanggilnya. Pikirku, mungkin pria tersebut berniat membeli kue anak tadi. Segera anak penjual kue itu berbalik setelah dipanggil oleh pria yang duduk tidak jauh dari tempatku berdiri.

    “Ini untuk adik, ” katanya sambil memasukkan (sedikit memaksa) selembar uang sepuluh ribuan ke dalam saku anak penjual kue tadi. Tanpa sempat bicara, bahkan mengucapkan terima kasih pun belum, si anak sudah diminta untuk segera melanjutkan aktivitas menjual kue-kuenya. Anak tersebut hanya tersenyum diam dan melanjutkan berjalan ke gerbong sebelah.

    Yang mengherankan, justru sebelum ia masuk ke gerbong sebelah, anak penjual kue tersebut memberikan uang yang diterimanya barusan kepada sepasang pengemis buta (yang menurut dugaanku mereka suami-isteri) yang berada di gerbong yang kami tumpangi. Aku masih saja terus memperhatikan bocah kecil itu. Bahkan kuperhatikan, pria setengah baya yang barusan memberikan uang tersebut juga memperhatikannya.

    Dan benarlah dugaanku, pria tersebut memanggil bocah penjual kue tadi dan menanyakan kenapa uangnya diberikan kepada pengemis buta. Anak itu hanya menjawab,

    “Emak saya bilang saya tidak boleh mengemis. Saya hanya boleh menerima uang kalau ada yang membeli kue dagangannya, ” jelasnya dengan bahasa Indonesia yang begitu baik dan benar. Deg… Tergetar hati ini mendengar jawaban bocah penjual kue itu.

    “Tapi saya ngasih uang emang buat kamu, sedekah, ” lanjut pria setengah baya kemudian.

    “Uang sedekah juga sama saja dengan saya mengemis. Emak bilang saya harus jualan kalau mau mendapat uang, bukan mengemis, ” jawab bocah penjual kue itu membuat desiran dalam hatiku semakin menjadi.

    “Emang kalo saya beli kue kamu semuanya berapa?” tanya pria setengah baya itu setelah beberapa saat terdiam. “Dua puluh ribu rupiah, Pak, ” jawab si bocah singkat.

    Tak lama kemudian, pria setengah baya itu mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan dari dompetnya yang ia serahkan kepada bocah penjual kue yang masih tidak kuketahui siapa namanya.

    “Ini, saya beli semuanya ya…” pinta pria setengah baya itu dan langsung si bocah dengan sigap membungkus semua kue dagangannya lalu diberikannya kepada pria setengah baya yang masih mengulurkan selembar uang dua puluh ribuan.

    “Terima kasih, Pak, semoga rezekinya berkah, ” ujar si bocah penjual kue itu sambil menerima uang dua puluh ribuan darinya dengan penuh senyum. Ah, doa yang menyejukkan, batinku.

    krl 1

    Tak terasa kereta sudah sampai di Stasiun Pondok Cina. Banyak juga penumpang kereta yang turun. Termasuk bocah penjual kue tadi. Tampak kesenangan meliputi wajahnya dengan nampan kue yang telah kosong. Mungkin ia akan kembali pulang. Pastilah ibunya merasakan kesenangan yang tak jauh berbeda dengan dirinya, pikirku.

    Sepanjang perjalanan menuju kampus tercinta, hati dan pikiranku masih saja tertuju pada bocah laki-laki penjual kue di kereta tadi. Di tengah kesulitan hidup, seorang anak kecil dengan sebegitu konsistennya tetap teguh menjaga harga dirinya dari meminta-minta kepada orang lain. Dia yakin bahwa dengan berusaha, segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya. Bukan dengan berpangku tangan, mengemis, memohon belas kasihan orang lain, karena kita memang hanya boleh memohon belas kasih padaNya.

    Seorang bocah yang usianya mungkin hanya terpaut satu tahun lebih tua dari keponakanku di rumah, sudah harus turut merasakan pahitnya kesulitan hidup. Terlintas dalam pikiranku seandainya yang menjadi bocah tadi adalah keponakanku. Ah, tak tega aku. Bahkan untuk membayangkannya saja. Keteguhan hatinya yang tidak menjadikan tubuh kecilnya sebagai alat mengundang rasa kasihan orang lain patut kuacungi jempol. Ia tahu bahwa semua rezeki sudah diatur secara adil oleh Allah SWT. Tak ada satu pun makhluk kecuali sudah ditetapkan rezekinya. Tugas kita adalah menjemput dan mencari berkah dari karunia Allah SWT tersebut.

    Bila ingat diri ini yang mudah mengeluh dan merasa lemah, tentu aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bocah penjual kue tadi. Seharusnya aku bersyukur, rasa lelah yang kurasakan karena harus mencari penghasilan tambahan untuk biaya kuliah dengan mengajar dan berjualan kue—juga— pastilah tidak selelah bocah kecil tadi. Bersyukur, karena aku masih bisa kuliah, di saat banyak orang lainnya yang putus sekolah.

    Terima kasih ya Allah. Rasa syukur tak terhingga terus kulafalkan atas hikmah yang kudapat hari itu. Waktu yang lebih lama kubutuhkan untuk menunggu kereta ternyata tak sebanding dengan pelajaran berharga yang disampaikan olehNya melalui kehadiran bocah kecil penjual kue di kereta tadi. Mungkin keadaannya akan berbeda bila aku tidak naik kereta ke kampus hari itu.

    Ya Allah, jadikan aku hamba yang pandai bersyukur dan bersabar….

    ***

     
  • erva kurniawan 7:12 pm on 3 June 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , , , mualaf   

    Mimpi itu Membawa Hidayah 

    TauhidM. Syamsi Ali

    ***

    Sekitar sebulan lalu, pada kelas Islamic Forum for non Muslims, hadir seorang pria berkulit hitam dengan rambut panjang yang diikat. Terlihat cukup menyeramkan, tapi sejak awal hadir di kelas itu dia nampak sopan dan sesekali tersenyum. Rambut panjang yang terikat, lengannya yang bertatto serta jari jemarinya yang dipenuhi cincin berwarna perak, cukup menarik perhatian.

    Hari itu pembahasan berkisar Kalender Islam, Tahun Baru dan Hijrah. Pria itu nampak sekali pendiam, bahkan ketika yang lain ramai bertanya, dia hanya nampak memperhatikan dengan seksama dan sesekali mengangguk pertanda setuju.

    Di Islamic Forum biasanya memang saya tidak mulai dengan bertanya kepada semua yang baru hadir. Khawatir jika ada di antara mereka yang memang hadir untuk sekedar dengar-dengan dan tidak ingin diekspos. Tapi jika mereka pada akhirnya mereka tinggal dan memperlihatkan keseriusan, di situlah biasanya saya melakukan dialog secara serius.

    “Hi my friend, is this your time to this class?”, tanyaku padanya.

    Dengan tersenyum pria itu nampak terkejut, mungkin tidak menyangka saya akan langsung bertanya kepadanya. Apalagi, dalam benak sebagian non Muslim, seorang Imam itu adalah sosok yang sacral dan terhormat, mungkin mirip-mirip pendeta atau bahkan mungkin lebih.

    “Hi sir!.. Yes, this is my first day to a mosque”, jawabnya santai sambil merubah posisi duduknya.

    “And what is your name my Brother!”, tanya saya mencoba menyelami.

    “Danes!”, jawabnya singkat.

    “Sorry to ask, but how did you know about this forum?”, tanyaku lagi.

    “I got it from an internet search, sir!”, jawabnya.

    Saya terkejut sebab rasanya belum pernah saya membuat pengumuman di internet atau advertisement lewat online. Ternyata, dia mencoba menelusuri mesjid-mesjid di Saya <ST1> dan pada akhirnya ketemu dengan Islamic Cultural Center of New York, dan di salah satu bagian dari ICC-NY itu ada program ini.

    “Danes, what really made you interested to learn Islam?”, pancingku.

    Nampak pria itu sedikit serius, tapi kemudian melihat teman-teman lain sambil tersenyum. “I think…I hope this is not a non sense to you all”, katanya sambil melihat peserta Islamic Forum yang lain.

    Saya kemudian menyelah, “nothing is non sense in this class. Nothing is considered stupid question in this class”, jelasku.

    Sambil menarik napas dia menjelaskan bahwa sejak beberapa bulan terakhir ini dia selalu gelisah. Gelisah karena beberapa malam sebelumnya, dan bukan hanya sekali atau dua, tapi menurutnya beberapa kali bermimpi ketemu dengan adiknya. Adik yang bernama Derick itu yang menurutnya meninggal dua tahun lalu.

    “And so what really made you decide to learn Islam?”, tanyaku.

    “My brother was a Moslem, and practicing Moslem”, jelasnya.

    Dia kemudian bercerita banyak mengenai adiknya, yang menurutnya sebelum masuk Islam santat brutal. Selalu berkelahi dan lebih tragis lagi, sering keluar masuk penjara karena berbagai kejahatan yang dilakukannya. Akhirnya, di penjaralah dia menemukan seorang Muslim dan akhirnya mendapat hidayah.

    Sementara Danes sendiri adalah seorang Kristen. “I still remember, on Sunday I went to the Church, but my Brother was so dedicated and he always had his cap (kopiah putih) on every time”, jelasnya. Walaupun dia mengakui bahwa dia ke gereja tidak lain karena itulah yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarganya setiap hari Minggu. “I felt it’s more a family thing than religious”, akunya.

    Saya kemudian meminta maaf kepada peserta Islamic Forum yang lain karena saya akan kembali berbicara mengenai dasar-dasar Islam.

    “Sorry guys! I have to talk about things we had talked many times before”, kataku.

    Saya jelaskan ke Danes bahwa Islam adalah agama yang diturunkan oleh Tuhan kepada hamba-hambaNya melalui para rasul, termasuk yang terakhir Isa A.S. Bahwa pada intinya, semua nabi dan rasul membawa ajaran yang sama. Barangkali yang berbeda adalah syariah atau hukum-hukum praktis, yang sudah pasti berbeda dari masa ke masa, sesuai dengan keadaan masing-masing.

    Sedikit panjang lebar saya menjelaskan mengenai dasar-dasar Islam dengan bertolak dari prinsip “Tauhid” (Unity). Saya katakana kepada Danes, semua usur bangunan Islam itu dibangun di atas dasar Tauhid (Oneness), yang pada intinya memiliki empat sisi:

    • Kesatuan (oneness) Tuhan (Tauhid Allah).
    • Kesatuan Ajaran (Islam)
    • Kesatuan Manusia (insaniyah/basyariy Kes
    • Kesatuan Hidup (Pengabdian kepada Allah)

    Tanpa terasa konsep Tauhid dengan empat sisi ini saya jelaskan hampir sejam dan tanpa selingan kata dari semua peserta, termasuk Danes. Pada akhirnya saya bertanya kepada Danes, apakah ada hal-hal lain yang ingin ditanyakan?

    Danes dengan sedikit tersenyum hanya menggelengkan kepala. Dan bersamaan pula sang mu’azzin mengumandangkan azan untuk shalat Asr. Semua peserta secara teratur meninggalkan ruangan, tapi Danes masih terlihat duduk dan memberikan isyarat dengan jarinya jika dia ingin berbicara secara pribadi.

    Setelah semua peserta bubar untuk shalat Asr, termasuk non Muslims, biasanya ikutan shalat, Danes duduk bersama saya sambil menunggu Iqamah dalam masa 10 menit.

    “Sir, I really had thought this for the last hew days, but did not know what to do”, dia memulai.

    “What did you mean?”, tanyaku.

    “I am thinking to convert to Moslem”, jawabnya tegas.

    “Really? Are sure that this is the religion, the truth that you are looking for?”, pancingku.

    “Yes sir!”, jawabnya lebih tegas lagi.

    Segera saya memanggil security untuk menunjukkan Danes kamar mandi. Saya meminta agar dia diajari berwudhu, kemudian ajaklah dia ke ruang shalat.

    Beberapa menit kemudian saya menuju ruang shalat. Tapi sebelum dilakukan iqamah, saya memberikan shalat kepada jama’ah dan mengumumkan bahwaalhamdulilah, Allah telah memberikan hidayah kepada salah seorang hambaNya, dan kita ingin jika hamba ini masuk islam sebelum shalat Asr dimulai agar dia bisa melakukan shalat pertamanya bersama kita.

    Saya kemudian meminta Danes maju ke depan, dan dengan mata yang berkaca-kaca dia nampak khusyuk mengikuti: “Ash-hadu an laa ilaaha illa Allah- wa ash-hadu anna Muhammadan Rasul Allah”.

    Ratusan jama’ah yang hadir mengagumkan kebesaran Allah dengan pekikan “Allahu Akbar!”.

    Semoga Danes tumbuh dalam keimanan, tegar dalam keislaman dan menjadi pejuang di jalanNya! Amin!

    ***

    <ST1>, 23 Januari 2009

     
    • yati oktaviani 6:17 pm on 7 Oktober 2009 Permalink

      subhanallah…dg mimpi ALLAH memberikan hidayahNya kepada hambaNya.Ya ALLAH tetapkanlah hati2 kami untuk selalu ada di jalanMun….Aaaamiiin….3x.dan selalu berikan kami hidayah.

    • wiwiw 4:51 pm on 15 Januari 2010 Permalink

      amin

  • erva kurniawan 6:59 pm on 2 June 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Malam 

    malam

    Di pinggiran sebuah hutan, satu keluarga kelinci mulai beranjak tidur. Malam membatasi gerak anak-anak mereka hanya di sekitar lubang yang menjadi rumah mereka. Walau tak berpintu, anak-anak kelinci seperti melihat dinding tebal antara rumah dan dunia luar.

    Seekor anak kelinci bertingkah lain dari yang lain. Sesekali, ia menjulurkan kepalanya keluar lubang. Ia menoleh ke kiri dan kanan mencari sesuatu yang dianggapnya baru. Tapi, tindakan itu dicegah keras induknya. “Jangan coba-coba lakukan itu lagi, Nak!” teriak sang induk marah.

     “Kenapa, Bu?” tanya anak kelinci heran. “Kenapa tak satu kelinci pun yang berani keluar lubang di saat malam?”

    Induk kelinci menatap anaknya tajam. “Anakku,” ucapnya kemudian. “Malam sangat berbahaya untuk hewan seperti kita. Ketika malam datang, lubang menjadi tempat yang paling aman buat kita,” jelas sang induk kemudian.

     “Bukankah tanah di sekitar sini hanya dihuni para kelinci, Bu?” sergah si anak menawarkan sudut pandang lain.

    Induknya tersenyum. “Anakku, justru karena malamlah, kita tidak bisa membedakan mana teman dan mana pemangsa. Sabarlah untuk bergerak sekadarnya, hingga siang benar-benar datang!” ucap sang induk kelinci begitu meyakinkan.

    **

    Malam dan siang memang bukan sekadar pergerakan sisi bumi yang menjauh dan menghadap ke arah matahari. Ada makna lain dari yang namanya malam. Sesuatu yang menggambarkan suasana gelap, tertutup, curiga, dan ketakutan.

    Dalam diri manusia pun punya dua suasana itu: malam dan siang. Malam menunjukkan suasana hati yang picik dan dangkal, dan siang menggambarkan kelapangan dada. Pada hati yang terselimuti malam, orang menjadi mudah curiga, senang dengan yang serba tertutup, sulit memaafkan, bahkan berkecenderungan menjadi pemangsa.

    Orang bijak mengatakan, siang adalah di mana kita mampu membedakan antara pohon nangka dengan pohon cempedak. Selama kita tidak bisa menangkap kearifan diri kita pada wajah orang yang kita temui, jam berapa pun itu, hal itu menandakan kalau hari masih malam.

    ***

    (eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 9:10 am on 25 May 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Keluarga Lumpuh 

    keluarga_lumpuh

    Seorang diri, sang ibu merawat dan menghidupi empat anak dan suaminya yang lumpuh selama puluhan tahun.

    Bayangkan kalau semua anak Anda menderita lumpuh. Tentu, Anda akan sangat bingung dengan masa depan mereka. Di Purwakarta, ada seorang ibu yang bukan hanya empat anaknya yang lumpuh. Melainkan juga, suami yang menjadi tulang punggung keluarga. Allahu Akbar.

    Hal itulah yang kini dialami seorang ibu usia 70 tahun. Namanya Atikah. Di rumahnya yang sederhana, ia dan keluarga lebih banyak berbaring daripada beraktivitas layaknya keluarga besar.

    Mak Atikah bersyukur bisa menikah dengan seorang suami yang alhamdulillah baik dan rajin. Walau hanya sebagai pencari rumput, Mak Atikah begitu menghargai pekerjaan yang dilakoni suaminya. Bahkan, tidak jarang, ia membantu sang suami ikut mencari rumput.

    Beberapa bulan setelah menikah, tepatnya di tahun 1957, Allah mengaruniai Mak Atikah dengan seorang putera. Ia dan suami begitu bahagia. Ia kasih nama sang putera tercinta dengan nama Entang.

    Awalnya, Entang tumbuh normal. Biasa-biasa saja layaknya anak-anak lain. Baru terasa beda ketika anak sulung itu berusia 10 tahun.

    Waktu itu, Entang sakit panas. Bagi Mak Atikah dan suami, anak sakit panas sudah menjadi hal biasa. Apalagi tinggal di daerah pedesaan yang jauh dari pelayanan medis. Entang pun dibiarkan sakit panas tanpa obat.

    Panas yang diderita sang anak ternyata kian hebat. Tiba-tiba, Entang merasakan kalau kakinya tidak bisa digerakkan. Setelah dicoba beberapa kali, kaki Entang memang benar-benar lumpuh.

    Musibah ini ternyata tidak berhenti hanya di si sulung. Tiga adik Entang pun punya gejala sakit yang sama dengan sang kakak. Dan semuanya sakit di usia SD atau kira-kira antara 7 sampai 10 tahun. Satu per satu, anak-anak Mak Atikah menderita lumpuh.

    Usut punya usut, ternyata anak-anak yang tinggal di Desa Cileunca, Kecamatan Bojong, Purwakarta itu sebagian besar terserang penyakit polio. Tapi, semuanya sudah serba terlambat. Lagi pula, apa yang bisa dilakukan Mak Atikah dengan suami yang hanya seorang pencari rumput.

    Sejak itu, Mak Atikah mengurus empat anaknya sekaligus seorang diri. Dengan sarana hidup yang begitu sederhana, bahkan sangat kekurangan, keluarga ini mengarungi hidup puluhan tahun dengan kesibukan anak-anak yang lumpuh.

    Ujian Allah buat Mak Atikah ternyata tidak berhenti sampai di situ. Di tahun 90-an, giliran suami Bu Atikah yang mengalami musibah. Saat mencari rumput, Pak Didin terjatuh. Orang-orang sekitar pun menggotong Pak Didin pulang. Dan sejak itu, Pak Didin tidak bisa lagi menggerakkan kaki dan tangannya. Ia cuma bisa berbaring.

    Lalu, bagaimana dengan pemasukan keluarga kalau sang suami tidak lagi bisa berkerja. Bu Atikah pun tidak mau diam. Kalau selama ini ia hanya bisa mengurus anak-anak di rumah, sejak itu, ibu yang waktu itu berusia hampir enam puluh tahun pun menggantikan sang suami dengan pekerjaan yang sama. Di usianya yang begitu lanjut, Bu Atikah mengais rezeki dengan mencari rumput.

    Sehari-hari, ia berangkat pagi menuju tanah-tanah kosong yang dipenuhi rumput. Ia kumpulkan rumput-rumput itu dengan sebilah arit, kemudian dibawa ke pemesan. Tidak sampai sepuluh ribu rupiah ia kumpulkan per hari dari mencari rumput. Dan itu, ia gunakan untuk mengepulkan asap dapur rumahnya. Hanya sekadar menyambung hidup.

    Di bulan Mei tahun ini, sang suami yang hanya bisa berbaring dipanggil Allah untuk selamanya. Kini, tinggal Mak Atikah yang mengurus keempat anaknya yang tidak juga sembuh dari lumpuh.

    Allah menguji hambaNya dengan sesuatu yang mungkin sulit untuk dicerna pikiran orang lain. Subhanallah. (saad/mnh)

    ***

    Eramuslim.com

     
    • Abdul Cholik 9:04 pm on 7 Juni 2009 Permalink

      -Memprihatinkan,semoga mereka segera diberi kesembuhan dan tetap tabah dalam menghadapi ujian ini.
      -Adakah hati yang terketuk untuk membantu mereka.
      -Blog yang mantap mas,maju terus dengan artikel2 yang bermanfaat.
      -salam

  • erva kurniawan 8:59 am on 24 May 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Kodok 

    katak-2

    Di sebuah tempat di tepian hutan, seorang santri tengah menyiapkan tempat untuk salat malam. Ia sapu debu dan dedaunan kering yang tercecer di sekitar ruangan salat. Sesaat kemudian, sajadah pun terhampar mengarah kiblat. Hujan yang mulai reda menambah keheningan malam.

    “Bismillah,” suara sang santri mengawali salat. Tapi, “Kung…kung. ..kung!” Suara nyaring bersahut-sahutan seperti mengoyak kekhusyukan si santri. Ia pun menoleh ke arah jendela. “Ah, suara kodok itu lagi!” ucapnya membatin.

    Sudah beberapa kali ia ingin memulai salat malam, selalu saja suara kodok meng-kungkung bersahut-sahutan. Tentu saja, itu sangat mengganggu. Masak, salat malam yang mestinya begitu khusyuk, yang tertangkap selalu wajah kodok. Mata yang bulat, leher dan kepala menyatu dan meruncing di mulut, serta gelembung di bagian leher yang menghasilkan nada begitu tinggi: kung!

    “Astaghfirullah! Gimana bisa khusyuk,” ucap sang santri sambil membuka jendela kamarnya. Ia menjulurkan kepalanya keluar jendela sambil menatap tajam ke arah genangan air persis di samping jendela. Tapi, beberapa kodok tetap saja berteriak-teriak. Mereka seperti tak peduli dengan sindiran ‘halus’ si santri.

    Hingga akhirnya, “Diaaaam!!!” Si santri berteriak keras. Lebih keras dari teriakan kodok. Benar saja. Teriakan santri membuat kodok tak lagi bersuara. Mereka diam. Mungkin, kodok-kodok tersadar kalau mereka sedang tidak disukai. Bahkan mungkin, terancam. “Nah, begitu lebih baik,” ucap si santri sambil menutup jendela.

    Ia pun kembali mengkhusyukkan hatinya tertuju hanya pada salat. Kuhadapkan wajahku hanya kepada Allah, Pencipta langit dan bumi. Tapi, “Kung…kung. ..kung!” Kodok-kodok itu kembali berteriak bersahut-sahutan. Spontan, sang santri kembali menghentikan salatnya.

    Kali ini, ia tidak segera beranjak ke arah jendela. Ia cuma menatap jendela yang tertutup rapat. Sang santri seperti menekuri sesuatu. Lama…, ia tidak melakukan apa pun kecuali terpekur dalam diamnya.

    “Astaghfirullah, ” suara sang santri kemudian. “Kenapa kuanggap teriakan kodok-kodok itu sebagai gangguan. Boleh jadi, mereka sedang bernyanyi mengiringi malam yang sejuk ini. Atau bahkan, kodok-kodok itu pun sedang bertasbih seperti tasbihku dalam salat malam.

    Astaghfirullah, ” ucap sang santri sambil menarik nafas dalam. Dan, ia pun memulai salatnya dengan begitu khusyuk. Khusyuuuk… sekali. Begitu pun dengan kodok-kodok: “Kung…kung. ..kung!”

    ***

    Kadang, karena ego diri, sudut pandang jatuh tidak pas pada posisinya. Biarkan yang lain bersuara beda. Karena boleh jadi, itulah tasbih mereka. (mnuh)

     
  • erva kurniawan 7:52 am on 19 May 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Ternyata Orang Cacatlah Obatnya 

    masjid-2

    Masjid Nabawi

    Obat dokter tidak bisa menyembuhkannya, mengapa justru orang cacat itu yang bisa menyembuhkan penyakitnya. ..?

    Pak Hasan, adalah jama’ah dari embarkasi Surabaya. Ia dan istrinya berangkat ke Mekkah kebetulan pada tahap gelombang ke dua. Artinya mereka datang dari Indonesia langsung ke Mekah terlebih dahulu, baru kemudian ke Madinah.

    Kondisi pak Hasan ketika berangkat memang agak sakit. Batuk pilek setiap hari. Sampai dipakai berbicara saja tenggorokannya sudah terasa sakit. Batuk pilek yang semacam itu memang membuat badan begitu capek lunglai. Semua persendian terasa sakit. Sehingga menjadikan tubuh menjadi malas untuk diajak beraktivitas.

    Beberapa kali pak Hasan diobati oleh dokter kloternya. Tetapi tetap saja sakitnya tidak bisa sembuh. Rasanya semua macam obat yang berhubungan dengan penyakitnya sudah ia minum. Tetapi tetap saja badan lunglai, kepala pusing bahkan batuknya tidak pernah berhenti. Badan dengan kondisi semacam itu, mengakibatkan pak Hasan sehari-harinya berdiam diri saja di hotel. Beberapa kali istrinya mengajaknya ke masjidil Haram, tetapi rupanya tubuh pak Hasan tidak bisa diajak kompromi, ia malas untuk pergi ke masjid.

    “Aku belum bisa bu, dan belum kuat untuk pergi ke masjid. Ibu dulu aja-lah. Nanti setelah badanku sembuh aku akan ke masjid dan akan melakukan ibadah dengan sebaik-baiknya. ..” demikian kata pak Hasan kepada istrinya.

    Karena sudah beberapa kali, jawaban pak Hasan selalu seperti itu, maka pada hari itu istri pak hasan memohon dengan agak setengah memaksa kepada pak Hasan agar siang itu mereka bisa bersama ke masjid untuk melakukan ibadah. Baik itu thawaf, maupun shalat-shalat wajibnya.

    Maka dengan agak terpaksa, berangkat juga mereka ke masjid. Pak Hasan di sepanjang perjalanan menuju masjid tiada henti-hentinya batuk. Bahkan kakinya begitu capek dipakai untuk berjalan. Tetapi toh, akhirnya sampai juga mereka di masjidil Haram. Meskipun jarak dari maktab mereka menuju masjid cukup jauh.

    Sesampai di masjid, mereka mencari tempat yang cukup nyaman. Pak Hasan dan istrinya melakukan thawaf sunah sebagai penghormatan masuk masjidil Haram, sebelum mereka melakukan ibadah lainnya.

    Ketika pak Hasan dan istrinya melakukan thawaf inilah bagian dari cerita ini dimulai…

    Dengan terbata-bata, dan masih digandeng oleh istrinya pak Hasan mulai melakukan thawaf. Diayunkannya kaki kanannya untuk memulai thawaf.

    “Bismillaahi allaahu akbar…!”

    Demikian kalimat pertama yang dilontarkan pak Hasan sebagai pertanda ia memulai thawafnya. Maka dengan hati-hati sekali, karena khawatir badannya bertambah lunglai, pak Hasan melangkahkan kakinya berjalan memutari Ka’bah. Pada saat pak Hasan beberapa langkah memulai thawafnya itu, tiba-tiba di sebelah kanannya, yg hampir berhimpitan dengan pak Masan, ada seorang bertubuh kecil yang jg bergerak melakukan thawaf, beriringan dengan pak Hasan. Entah apa yang menyebabkan pak Hasan tertarik dengan orang ‘kecil’ itu, sambil berjalan lambat pak Hasan memperhatikan orang itu lebih seksama .

    “Mengapa orang itu tubuhnya pendek, bahkan cenderung seperti anak kecil ?” pikirnya.

    Setelah beberapa lama pak Hasan memperhatikan orang tersebut, di tengah riuhnya para jamaah yang juga sedang melakukan thawaf itu, tiba-tiba pak Hasan menjerit lirih ! ” ………… ….akh ! ” katanya.

    Begitu terkejutnya pak Hasan, sampai-sampai pak Hasan agak terhenti langkahnya. Anehnya, orang itu pun ikut berhenti sejenak, kemudian menoleh kepada pak Hasan sambil tersenyum. Ketika pak Hasan berjalan lagi, dia pun berjalan lagi, dan terus mengikuti di samping pak Hasan. Ketika pak Hasan mempercepat langkah kakinya, orang itu pun ikut mepercepat gerakannya, sehingga tetap mereka berjalan beriringan.

    Muka pak Hasan kelihatan pucat pasi. Bibirnya agak gemetar menahan tangis. Ia betul-betul terpukul oleh perilaku orang tersebut. Seperti dengan sengaja, orang itu terus mengikuti gerakan pak Hasan dari samping kanan. Bahkan yang membuat pak Hasan mukanya pucat adalah orang tersebut selalu tersenyum, setelah menoleh ke arah pak Hasan.

    Siapakah orang tersebut ?

    Ternyata dia adalah seorang yang berjalan dan bergerak thawaf mengelilingi ka’bah dengan hanya menggunakan kedua tangannya saja. Dia orang yang tidak memiliki kaki….!

    Kedua kakinya buntung sebatas paha. Sehingga ia berjalan hanya dengan menggunakan kedua tangannya.

    Bulu kuduk pak Hasan merinding, jantungnya seolah berhenti berdegub. Keringat dingin membasahi seluruh pori-pori tubuhnya… Pak Hasan merintih dalam hatinya :

    “…ya Allaah ampuni aku ya Allaah…, ampuni aku…”

    Air mata pak Hasan tidak bisa dibendung lagi. Sambil tetap berjalan pak Hasan terus mohon ampun kepada Allah.

    Tanpa terasa, pak Hasan sudah memutari ka’bah untuk yang ke 2 kalinya. Dan pak Hasan pun masih terus menangis. Ingin rasanya ia berlari memutari ka’bah itu. Ingin rasanya ia menjerit keras-keras untuk melampiaskan emosinya…. pak Hasan tidak tahu bahwa pada putaran yang ke dua itu ia sudah tidak bersama lagi dengan orang tanpa kaki tersebut. Tidak tahu ke manakah perginya orang cacat itu.

    Seorang yang selalu tersenyum meskipun tanpa kedua kaki.

    Apa gerangan yang dipikirkan pak Hasan saat itu ?

    Pak Hasan begitu malu pada dirinya sendiri! Apalagi kepada Allah Swt.

    Pak Hasan merasa bahwa memang sakit. Sakit flu, batuk, badan capek. Dan sudah beberapa hari berdiam diri saja di hotel tidak ke masjid untuk thawaf. Dengan alasan badan capek, tenggorokan sakit, bahkan obat dokter tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Sekarang, ditengah-tengah hiruk pikuknya para jama’ah yang sedang melakukan thawaf, ternyata ada seorang yang tidak punya kaki, yang kondisi tubuhnya sangat menyedihkan, tapi dengan mulut tersenyum ia melakukan thawaf…

    Akh ! ….betapa terpukulnya harga diri pak Hasan.

    Ia punya kedua kaki, badannya tegap, pikirannya cerdas, datang jauh dari Indonesia, tetapi terserang penyakit ringan sejenis flu saja sudah tidak mau beribadah ?

    Sementara orang itu…..

    Sungguh pak Hasan tidak kuasa bicara lagi. Ingin rasanya ia menjerit mohon ampunan Allah Swt…. Atas kesalahan fatal, yang ia lakukan. Dan sejak saat itu, pak Hasan tiba-tiba dapat bergerak gesit. Ia berjalan penuh dengan semangat mengelilingi ka’bah pada putaran-putaran berikutnya. Dan secara tidak ia sadari badan pak Hasan menjadi kuat. Ia tidak batuk-batuk lagi, bahkan tenggorokannya terasa begitu ringan, ketika dipakai untuk berdo’a kepada Allah…!

    Istri pak Hasan yang berjalan di samping pak Hasan, tidak mengetahui secara detail, apa yang terjadi dalam diri pak Hasan. Yang ia tahu tiba-tiba pak Hasan tidak batuk lagi, jalannya tidak lamban, bahkan cenderung gesit. Ah, rupanya pak Hasan sudah sembuh

    Ia disembuhkan oleh Allah lewat ‘peragaan’ orang cacat, yang selalu tersenyum meskipun ia tidak punya kaki. Obat dokter tidak bisa menyembuhkan pak Hasan, justru thawaf seorang cacat-lah, yang menjadi obat mujarabnya.. Mengapa bisa demikian ?

    Sebab begitu pak hasan menyadari akan kesalahannya, ia langsung mohon ampun sejadi-jadinya atas kekeliruan yang telah ia lakukan. Penyesalan yang tiada terhingga itulah rupanya obat yang sesungguhnya.

    ***

    QS. Hud (11) : 3

    ”Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat. ”

    QS. Hud (11) : 90

    ”Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.”

    Sembuhnya pak Hasan, karena rasa penyesalan yang mendalam. Sembuhnya pak Hasan karena ia bertaubat pada saat itu juga. Sembuhnya pak Hasan, karena Allah Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu itu telah meridhainya. Sembuhnya pak Hasan karena Allah memberikan sebuah obat berupa sebuah adegan atau suguhan menarik, yang sangat mempengaruhi jiwa pak Hasan.

    QS. Asy-Syuaraa’ (26) : 80-82

    ”dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”.

    ***

     
  • erva kurniawan 7:39 am on 18 May 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Air dan Awan 

    tetesan-air

    Di sebuah tempat nan jauh dari kota, tampak seorang pemuda bergegas menuju surau kecil. Wajahnya menampakkan kegelisahan dan kegamangan. Ia seperti mencari sesuatu di surau itu.

    “Assalamu’alaikum, Guru!” ucapnya ke seorang tua yang terlihat sibuk menyapu ruangan surau. Spontan, pak tua itu menghentikan sibuknya. Ia menoleh ke si pemuda dan senyumnya pun mengembang. “Wa’alaikumussalam. Anakku. Mari masuk!” ucapnya sambil meletakkan sapu di sudut ruangan. Setelah itu, ia dan sang tamu pun duduk bersila.

    “Ada apa, anakku?” ucapnya dengan senyum yang tak juga menguncup. “Guru. Aku diterima kerja di kota!” ungkap sang pemuda kemudian. “Syukurlah,” timpal sang kakek bahagia. “Guru, kalau tidak keberatan, berikan aku petuah agar bisa berhasil!” ucap sang pemuda sambil menunduk. Ia pun menanti ucapan sang kakek di hadapannya.

    “Anakku. Jadilah seperti air. Dan jangan ikuti jejak awan,” untaian kalimat singkat meluncur tenang dari mulut si kakek. Sang pemuda belum bereaksi. Ia seperti berpikir keras memaknai kata-kata gurunya. Tapi, tak berhasil. “Maksud, Guru?” ucapnya kemudian.

    “Anakku. Air mengajarkan kita untuk senantiasa merendah. Walau berasal dari tempat yang tinggi, ia selalu ingin ke bawah. Semakin besar, semakin banyak jumlahnya; air kian bersemangat untuk bergerak ke bawah. Ia selalu mencari celah untuk bisa mengaliri dunia di bawahnya,” jelas sang kakek tenang. “Lalu dengan awan, Guru?” tanya si pemuda penasaran.

    “Jangan sekali-kali seperti awan, anakku. Perhatikanlah! Awan berasal dari tempat yang rendah, tapi ingin cepat berada di tempat tinggi. Semakin ringan, semakin ia tidak berbobot; awan semakin ingin cepat meninggi,” terang sang kakek begitu bijak. “Tapi anakku,” tambahnya kemudian. “Ketinggian awan cuma jadi bahan permainan angin.” Dan si pemuda pun tampak mengangguk pelan.

    ***

    Seribu satu harap kerap dialamatkan buat para pegiat kebaikan. Mereka yang berharap adalah kaum lemah yang butuh perlindungan, kaum miskin yang menginginkan bantuan, dan masyarakat awam yang rindu bimbingan.

    Rangkaian harap itu berujung pada satu titik: agar mutu baik para pegiat kebaikan tidak cuma berhenti pada diri si pelaku. Tapi, bisa mengalir ke kaum bawah: membasahi cekungan harap yang kian mengering, dan menghidupkan benih-benih hijau yang mulai menguning.

    Sayangnya, tidak semua mutu pegiat kebaikan selalu seperti air yang mengalir dan terus mengalir menyegarkan kehidupan di bawahnya. Karena ada sebagian mereka yang justru sebaliknya, seperti awan yang kian menjauh meninggalkan bumi. Seolah ada yang ingin mereka ungkapkan: selamat tinggal dunia bawah; maaf, kami sedang asyik bercengkrama bersama angin. (mnuh)

    ***

     
  • erva kurniawan 7:05 am on 16 May 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Allah Mengujiku dengan Empat Nyawa 

    yaya-edit

    Khairiyah

    Namanya Khairiyah. Ibu dari tiga anak ini Allah uji dengan cobaan yang luar biasa. Setelah suaminya meninggal, satu per satu, anak-anak tercinta yang masih balita pun pergi untuk selamanya.

    Hidup ini memang ujian. Seperti apa pun warna hidup yang Allah berikan kepada seorang hamba, tak luput dari yang namanya ujian. Bersabarkah sang hamba, atau menjadi kufur dan durhaka.

    Dari sudut pandang teori, semua orang yang beriman mengakui itu. Sangat memahami bahwa susah dan senang itu sebagai ujian. Tapi, bagaimana jika ujian itu berwujud dalam kehidupan nyata. Mampukah?

    Hal itulah yang pernah dialami Bu Khairiyah. Semua diawali pada tahun 1992.

    Waktu itu, Allah mempertemukan jodoh Khairiyah dengan seorang pemuda yang belum ia kenal. Perjodohan itu berlangsung melalui sang kakak yang prihatin dengan adiknya yang belum juga menikah. Padahal usianya sudah nyaris tiga puluh tahun.

    Bagi Khairiyah, pernikahan merupakan pintu ibadah yang di dalamnya begitu banyak amal ibadah yang bisa ia raih. Karena itulah, ia tidak mau mengawali pintu itu dengan sesuatu yang tidak diridhai Allah.

    Ia sengaja memilih pinangan melalui sang kakak karena dengan cara belum mengenal calon itu bisa lebih menjaga keikhlasan untuk memasuki jenjang pernikahan. Dan berlangsunglah pernikahan yang tidak dihadiri ibu dan ayah Khairiyah. Karena, keduanya memang sudah lama dipanggil Allah ketika Khairiyah masih sangat belia.

    Hari-hari berumah tangga pun dilalui Khairiyah dengan penuh bahagia. Walau sang suami hanya seorang sopir di sebuah perusahaan pariwisata, ia merasa cukup dengan yang ada.

    Keberkahan di rumah tangga Khairiyah pun mulai tampak. Tanpa ada jeda lagi, Khairiyah langsung hamil. Ia dan sang suami pun begitu bahagia. “Nggak lama lagi, kita punya momongan, Bang!” ujarnya kepada sang suami.

    Mulailah hari-hari ngidam yang merepotkan pasangan baru ini. Tapi buat Khairiyah, semuanya berlalu begitu menyenangkan.

    Dan, yang ditunggu pun datang. Bayi pertama Bu Khairiyah lahir. Ada kebahagiaan, tapi ada juga kekhawatiran.

    Mungkin, inilah kekhawatiran pertama untuk pasangan ini. Dari sinilah, ujian berat itu mulai bergulir.

    Dokter menyatakan bahwa bayi pertama Bu Khairiyah prematur. Sang bayi lahir di usia kandungan enam bulan. Ia bernama Dina.

    Walau dokter mengizinkan Dina pulang bersama ibunya, tapi harus terus berobat jalan. Dan tentu saja, urusan biaya menjadi tak terelakkan untuk seorang suami Bu Khairiyah yang hanya sopir.

    Setidaknya, dua kali sepekan Bu Khairiyah dan suami mondar-mandir ke dokter untuk periksa Dina. Kadang karena kesibukan suami, Bu Khairiyah mengantar Dina sendirian.

    Beberapa bulan kemudian, Allah memberikan kabar gembira kepada Bu Khairiyah. Ia hamil untuk anak yang kedua.

    Bagi Bu Khairiyah, harapan akan hiburan dari anak kedua mulai berbunga. Biarlah anak pertama yang menjadi ujian, anak kedua akan menjadi pelipur lara. Begitulah kira-kira angan-angan Bu Khairiyah dan suami.

    Dengan izin Allah, anak kedua Bu Khairiyah lahir dengan selamat. Bayi itu pun mempunyai nama Nisa. Lahir di saat sang kakak baru berusia satu tahun. Dan lahir, saat sang kakak masih tetap tergolek layaknya pasien berpenyakit dalam. Tidak bisa bicara dan merespon. Bahkan, merangkak dan duduk pun belum mampu. Suatu ketidaklaziman untuk usia bayi satu tahun.

    Beberapa minggu berlalu setelah letih dan repotnya Bu Khairiyah menghadapi kelahiran. Allah memberikan tambahan ujian kedua buat Bu Khairiyah dan suami. Anak keduanya, Nisa, mengalami penyakit aneh yang belum terdeteksi ilmu kedokteran. Sering panas dan kejang, kemudian normal seperti tidak terjadi apa-apa. Begitu seterusnya.

    Hingga di usia enam bulan pun, Nisa belum menunjukkan perkembangan normal layaknya seorang bayi. Ia mirip kakaknya yang tetap saja tergolek di pembaringan. Jadilah Bu Khairiyah dan suami kembali mondar-mandir ke dokter dengan dua anak sekaligus.

    Di usia enam bulan Nisa, Allah memberikan kabar gembira untuk yang ketiga kalinya buat Bu Khairiyah dan suami. Ternyata, Bu Khairiyah hamil.

    Belum lagi anak keduanya genap satu tahun, anak ketiga Bu Khairiyah lahir. Saat itu, harapan kedatangan sang pelipur lara kembali muncul. Dan anak ketiganya itu bayi laki-laki. Namanya, Fahri.

    Mulailah hari-hari sangat merepotkan dilakoni Bu Khairiyah. Bayangkan, dua anaknya belum terlihat tanda-tanda kesembuhan, bayi ketiga pun ikut menyita perhatian sang ibu.

    Tapi, kerepotan itu masih terus tertutupi oleh harapan Bu Khairiyah dengan hadirnya penghibur Fahri yang mulai berusia satu bulan.

    Sayangnya, Allah berkehendak lain. Apa yang diangankan Bu Khairiyah sama sekali tidak cocok dengan apa yang Allah inginkan. Fahri, menghidap penyakit yang mirip kakak-kakaknya. Ia seperti menderita kelumpuhan.

    Jadilah, tiga bayi yang tidak berdaya menutup seluruh celah waktu dan biaya Bu Khairiyah dan suami. Hampir semua barang berharga ia jual untuk berobat. Mulai dokter, tukang urut, herbal, dan lain-lain. Tetap saja, perubahan belum nampak di anak-anak Bu Khairiyah.

    Justru, perubahan muncul pada suami tercinta. Karena sering kerja lembur dan kurang istirahat, suami Bu Khairiyah tiba-tiba sakit berat. Perutnya buncit, dan hampir seluruh kulitnya berwarna kuning.

    Hanya sekitar sepuluh jam dalam perawatan rumah sakit, sang suami meninggal dunia. September tahun 2001 itu, menjadi titik baru perjalanan Bu Khairiyah dengan cobaan baru yang lebih kompleks dari sebelumnya. Dan, tinggallah sang ibu menghadapi rumitnya kehidupan bersama tiga balita yang sakit, tetap tergolek, dan belum memperlihatkan tanda-tanda kesembuhan.

    Tiga bulan setelah kematian suami, Allah menguji Bu Khairiyah dengan sesuatu yang pernah ia alami sebelumnya. Fahri, si bungsu, ikut pergi untuk selamanya.

    Kadang Bu Khairiyah tercenung dengan apa yang ia lalui. Ada sesuatu yang hampir tak pernah luput dari hidupnya, air mata.

    Selama sembilan tahun mengarungi rumah tangga, air mata seperti tak pernah berhenti menitik di kedua kelopak mata ibu yang lulusan ‘aliyah ini. Semakin banyak sanak kerabat berkunjung dengan maksud menyudahi tetesan air mata itu, kian banyak air matanya mengalir. Zikir dan istighfar terus terucap bersamaan tetesan air mata itu.

    Bu Khairiyah berusaha untuk berdiri sendiri tanpa menanti belas kasihan tetangga dan sanak kerabat. Di sela-sela kesibukan mengurus dua anaknya yang masih tetap tergolek, ia berdagang makanan. Ada nasi uduk, pisang goreng, bakwan, dan lain-lain.

    Pada bulan Juni 2002, Allah kembali memberikan cobaan yang mungkin menjadi klimaks dari cobaan-cobaan sebelumnya.

    Pada tanggal 5 Juni 2002, Allah memanggil Nisa untuk meninggalkan dunia buat selamanya. Bu Khairiyah menangis. Keluarga besar pun berduka. Mereka mengurus dan mengantar Nisa pergi untuk selamanya.

    Entah kenapa, hampir tak satu pun sanak keluarga Bu Khairiyah yang ingin kembali ke rumah masing-masing. Mereka seperti ingin menemani Khairiyah untuk hal lain yang belum mereka ketahui.

    Benar saja, dua hari setelah kematian Nisa, Nida pun menyusul. Padahal, tenda dan bangku untuk sanak kerabat yang datang di kematian Nisa belum lagi dirapikan.

    Inilah puncak dari ujian Allah yang dialami Bu Khairiyah sejak pernikahannya.

    Satu per satu, orang-orang yang sebelumnya tak ada dalam hidupnya, pergi untuk selamanya. Orang-orang yang begitu ia cintai. Dan akhirnya menjadi orang-orang yang harus ia lupai.

    Kalau hanya sekadar air mata yang ia perlihatkan, nilai cintanya kepada orang-orang yang pernah bersamanya seperti tak punya nilai apa-apa.

    Hanya ada satu sikap yang ingin ia perlihatkan agar semuanya bisa bernilai tinggi. Yaitu, sabar. “Insya Allah, semua itu menjadi tabungan saya buat tiket ke surga,” ucap Bu Khairiyah kepada Eramuslim. (mnh)

     
    • dita 7:52 pm on 28 Mei 2009 Permalink

      Subhanallah

      Bu Khairiyah adalah salah satu contoh nyata dari ketegaran seorang wanita muslim yang mungkin hanya 1 dari sekian juta umat dimuka bumi ini dan beliau adalah sosok yang harus qt contoh & teladani

      Insyaallah beliau adalah salah satu calon penghuni surga

  • erva kurniawan 6:54 am on 15 May 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Prasangka 

    pelayan-raja

    Di sebuah negeri zaman dulu kala, seorang pelayan raja tampak gelisah. Ia bingung kenapa raja tidak pernah adil terhadap dirinya. Hampir tiap hari, secara bergantian, pelayan-pelayan lain dapat hadiah. Mulai dari cincin, kalung, uang emas, hingga perabot antik. Sementara dirinya tidak.

    Hanya dalam beberapa bulan, hampir semua pelayan berubah kaya. Ada yang mulai membiasakan diri berpakaian sutera. Ada yang memakai cincin di dua jari manis, kiri dan kanan. Dan, hampir tak seorang pun yang datang ke istana dengan berjalan kaki seperti dulu. Semuanya datang dengan kendaraan. Mulai dari berkuda, hingga dilengkapi dengan kereta dan kusirnya.

    Ada perubahan lain. Para pelayan yang sebelumnya betah berlama-lama di istana, mulai pulang cepat. Begitu pun dengan kedatangan yang tidak sepagi dulu. Tampaknya, mereka mulai sibuk dengan urusan masing-masing.

    Cuma satu pelayan yang masih miskin. Anehnya, tak ada penjelasan sedikit pun dari raja. Kenapa beliau begitu tega, justru kepada pelayannya yang paling setia. Kalau yang lain mulai enggan mencuci baju dalam raja, si pelayan miskin ini selalu bisa.

    Hingga suatu hari, kegelisahannya tak lagi terbendung. “Rajaku yang terhormat!” ucapnya sambil bersimpuh. Sang raja pun mulai memperhatikan. “Saya mau undur diri dari pekerjaan ini,” sambungnya tanpa ragu. Tapi, ia tak berani menatap wajah sang raja. Ia mengira, sang raja akan mencacinya, memarahinya, bahkan menghukumnya. Lama ia tunggu.

    “Kenapa kamu ingin undur diri, pelayanku?” ucap sang raja kemudian. Si pelayan miskin itu diam. Tapi, ia harus bertarung melawan takutnya. Kapan lagi ia bisa mengeluarkan isi hati yang sudah tak lagi terbendung. “Maafkan saya, raja. Menurut saya, raja sudah tidak adil!” jelas si pelayan, lepas. Dan ia pun pasrah menanti titah baginda raja. Ia yakin, raja akan membunuhnya.

    Lama ia menunggu. Tapi, tak sepatah kata pun keluar dari mulut raja. Pelan, si pelayan miskin ini memberanikan diri untuk mendongak. Dan ia pun terkejut. Ternyata, sang raja menangis. Air matanya menitik.

    Beberapa hari setelah itu, raja dikabarkan wafat. Seorang kurir istana menyampaikan sepucuk surat ke sang pelayan miskin. Dengan penasaran, ia mulai membaca, “Aku sayang kamu, pelayanku. Aku hanya ingin selalu dekat denganmu. Aku tak ingin ada penghalang antara kita. Tapi, kalau kau terjemahkan cintaku dalam bentuk benda, kuserahkan separuh istanaku untukmu. Ambillah. Itulah wujud sebagian kecil sayangku atas kesetiaan dan ketaatanmu.”

    ***

    Betapa hidup itu memberikan warna-warni yang beraneka ragam. Ada susah, ada senang. Ada tawa, ada tangis. Ada suasana mudah. Dan, tak jarang sulit.

    Sayangnya, tak semua hamba-hamba Yang Maha Diraja bisa meluruskan sangka. Ada kegundahan di situ. Kenapa kesetiaan yang selama ini tercurah, siang dan malam; tak pernah membuahkan bahagia. Kenapa yang setia dan taat pada Raja, tak dapat apa pun. Sementara yang main-main bisa begitu kaya.

    Karena itu, kenapa tidak kita coba untuk sesekali menatap ‘wajah’Nya. Pandangi cinta-Nya dalam keharmonisan alam raya yang tak pernah jenuh melayani hidup manusia, menghantarkan si pelayan setia kepada hidup yang kelak lebih bahagia.

    Pandanglah, insya Allah, kita akan mendapati jawaban kalau Sang Raja begitu sayang pada kita.

    ***

     
  • erva kurniawan 6:38 am on 13 May 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Menunggu 

     

    Pak Tua Memancing Ikan

    Di suatu tempat di tepian sungai, seorang pemuda memandangi seorang pemancing tua. Sambil duduk beralas daun pisang, Pak Tua begitu menikmati kegiatan memancing. Ia pegang gagang pancingan dengan begitu mantap. Sesekali, tangannya membenahi posisi topi agar wajahnya tak tersorot terik sinar matahari. Sambil bersiul, ia sapu hijaunya pemandangan sekitar sungai.

    Sang pemuda terus memandangi si pemancing tua. “Aneh?” ucapnya membatin. Tanpa sadar, satu jam sudah perhatiannya tersita buat Pak Tua. Tujuannya ke pasar nyaris terlupakan. “Bagaimana mungkin orang setua dia bisa tahan berjam-jam hanya karena satu dua ikan?” gumamnya kemudian.

    “Belum dapat, Pak?” ucap si pemuda sambil melangkah menghampiri Pak Tua. Yang disapa menoleh, dan langsung senyum. “Belum,” jawabnya pendek. Pandangannya beralih ke si pemuda sesaat, kemudian kembali lagi ke arah genangan sungai. Air berwarna kecoklatan itu seperti kumpulan bunga-bunga yang begitu indah di mata Pak Tua. Ia tetap tak beranjak.

    “Sudah berapa lama Bapak menunggu?” tanya si pemuda sambil ikut memandang ke aliran sungai. Pelampung yang menjadi tanda Pak Tua terlihat tak memberikan tanda-tanda apa pun. Tetap tenang.

    “Baru tiga jam,” jawab Pak Tua ringan. Sesekali, siulannya menendangkan nada-nada tertentu. “Ada apa, Anak Muda?” tiba-tiba Pak Tua balik tanya. Si Pemuda berusaha tenang. “Bagaimana Bapak bisa sesabar itu menunggu ikan?” tanyanya agak hati-hati.

    “Anak Muda,” suara Pak Tua agak parau. “Dalam memancing, jangan melulu menatap pelampung. Karena kau akan cepat jenuh. Pandangi alam sekitar sini. Dengarkan dendang burung yang membentuk irama begitu merdu. Rasakan belaian angin sepoi-sepoi yang bertiup dari sela-sela pepohonan. Nikmatilah, kau akan nyaman menunggu!” ucap Pak Tua tenang. Dan ia pun kembali bersiul.

    ***

    Tak ada kegiatan yang paling membosankan selain menunggu. Padahal, hidup adalah kegiatan menunggu. Orang tua menunggu tumbuh kembang anak-anaknya. Rakyat menunggu kebijakan pemerintahnya. Para gadis menunggu jodohnya. Pegawai menunggu akhir bulannya. Semua menunggu.

    Namun, jangan terlalu serius menatap ‘pelampung’ yang ditunggu. Karena energi kesabaran akan cepat terkuras habis. Kenapa tidak mencoba untuk menikmati suara merdu pergantian detak jarum penantian, angin sepoi-sepoi pergantian siang dan malam, dan permainan seribu satu pengharapan.

    Nikmatilah! Insya Allah, menunggu menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Seperti memandang taman indah di tepian sungai. (mnuh)

    ***

     
  • erva kurniawan 6:17 pm on 9 May 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Al-Bashri dan Gadis Kecil 

    bersyukur-2

    Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak. Rambutnya tampak kusut dan terurai, tak peraturan.

    Al-Bashri tertarik penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut dalam iring-iringan. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu.

    Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya. “Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini.” Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil, “Ayahmu juga sebelumnya tak mengalami peristiwa seperti ini.”

    Keesokan harinya, usai salat subuh, ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah makan ayahnya. “Gadis kecil yang bijak,” gumam Al-Bashri. “Aku akan ikuti gadis kecil itu.”

    Gadis kecil itu tiba di makam ayahnya. Al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-geriknya secara diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah makam. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar sekali oleh Al-Bashri.

    “Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur? Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya untukmu? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah? Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah? Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu minum tadi malam? Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu semalam, Ayah?”

    “Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalam, ayah? Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan tadi malam Ayah? Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa yang menjawab panggilanmu tadi malam Ayah? Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, siapakah yang menyuapimu semalam, Ayah? Kemarin malam aku memasakkan aneka macam makanan untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu? “

    Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tak tahan menahan tangisnya. Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu. “Hai, gadis kecil! jangan berkata seperti itu. Tetapi, ucapkanlah, “Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah, Ayah? Kami kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah tercabik-cabik, Ayah? Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, Ayah?”

    “Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanyakan imannya. Ada yang menjawab dan ada juga yang tidak menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa mempertanggungjawab kan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?”

    “Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?”

    “Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sebagai tulang-belulang berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?”

    “Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?”

    “Jika kupanggil, engkau selalu menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah?”

    “Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti.”

    Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata, “Betapa indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari lelap lalai.”

    Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.

    (Maraji’: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah (Al-Islam))

     
  • erva kurniawan 5:35 pm on 7 May 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Pejabat Yang Sangat Sederhana 

    water lily yellow

    Oleh : Uti Konsen.U.M. (AP Post)

    “Setiap orang adalah pemimpin dan bertanggungjawab terhadap kepemimpinannya. Seorang raja/penguasa adalah pemimpin dan bertanggungjawab terhadap rakyatnya…. “ (HR.Bukhari – Muslim)

    Kehidupan para sahabat Nabi SAW banyak dipenuhi berbagai macam pribadi yang menawan yang menjadi suri teladan bagi generasi yang datang kemudian. Dan pangkal dari pribadi menawan itu adalah semata-mata karena dorongan keikhlasan dalam memeluk Islam dan menjalankan syariat-syariat- Nya. Bagi mereka, apapun resikonya mereka terima dan dihadapi dengan jiwa yang tabah, istiqamah. Yang penting Allah meridhai perjalanan dan perjuangan hidupnya. Semboyan yang berkembang ketika itu adalah “Hidup mulia atau mati syahid “.

    Salah satu diantaranya ialah Salman Al Farisi. Ia adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat sederhana dan salah seorang sahabat yang gagah berani lagi cerdas otaknya. Ia mampu menciptakan teori penggalian parit sekitar Madinah, tatkala pasukan musuh mau menggempurnya. Ia juga dikenal sebagai salah seorang sahabat Nabi SAW yang memiliki akhlakul karimah, sehingga Rasulullah SAW memasukkannya ke dalam golongan Ahlul-Bait.

    Sepeninggalan Rasulullah SAW, Khalifah Abu Bakar dan khalifah berikutnya menugasi Salman sebagai gubernur wilayah Mada’in. Salman sebetulnya menolak menduduki jabatan yang begitu tinggi itu.. Ia berkomentar, “Jabatan itu manis waktu memegangnya, tapi pahit waktu melepaskannya“. Tapi lantaran “dipaksa“, maka ia terima juga demi pengabdian kepada Allah. Karena itu ia pun sangat baik kepada rakyatnya dan hidup di tengah-tengah mereka.

    Sebagai seorang amir, Salman menerima tunjangan sampai 6.000 dinar setahun (jumlah yang sangat sederhana untuk ukuran waktu itu). Meski demikian, hampir seluruh tunjangannya itu ia serahkan kepada fakir miskin. Ia cuma mengambil satu dirham yang digunakan sebagai modal untuk membeli daun dan pelepah korma yang lantas dianyam dan dijual sendiri ke pasar, laku tiga dirham. Uang tiga dirham itu dibagi tiga, satu dirham untuk modal, satu dirham untuk nafkah keluarga, dan satu dirham lagi untuk fakir miskin.

    Begitulah selalu dilakukan oleh Salman Al Farisi, sebagai amir negeri Mada’in. Salman Al Farisi juga dikenal sebagai seorang pejabat yang senang membantu orang yang kesulitan.

    Satu hari misalnya, ketika ia melihat seorang Syria kerepotan membawa barang dagangannya maka secara spontan, Salman membawakan barang dagangan itu. Ditengah jalan, diantara anggota masyarakat ada yang mengenalnya dan mengucapkan salam “Assalamu’alaikum ya Amir “. Mendengar nama Amir disebut, orang Syria itu kaget bukan kepalang. Ia tidak mengira, jika “kuli“ yang membawa barangnya adalah Gubernur Negeri Mada’in. Dengan penuh rasa hormat, orang itu meminta barangnya untuk dibawanya sendiri. Tapi Salman tidak membolehkannya. Ia terus membawanya sampai ke tempat tujuan.

    Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash datang ke rumah Salman, ia melihat Salman sedang sedih. “Demi Allah,“ kilah Salman kepada tamunya, “Saya bukan karena takut mati atau mengharap kemewahan hidup di dunia, tapi ingat pesan Rasulullah “Hendaklah bagian masing-masingmu dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang pengelana“. Padahal barang yang saya miliki cukup banyak, “ kata Salman mengakhiri tangisnya.

     “Bangunan rumah Salman, hanya sekedar dapat digunakan bernaung di waktu panas dan berteduh di kala hujan. Jika penghuninya berdiri, kepalanya terantuk sampai langit-langit, dan jika berbaring kakinya sampai ke dinding. Sedang di dalamnya tak ada perabotan kecuali sebuah piring untuk makan dan baskom nuntuk persediaan air. Meski demikian, ia tetap risau, menganggap barang-barang yang dimilikinya masih berlebihan,“ tulis Badruzzaman Busyairi dalam buku ‘Bunga Rampai Ajaran Islam no 14 “. Masya Allah.

    Di rumahnya, Salman tanpa ragu mengerjakan sendiri pekerjaan yang semestinya digarap pelayannya. Sedang rumahnya sangat sederhana, tidak mengesankan sebagai rumah seorang Gubernur. Sebaliknya lebih menyerupai rumah rakyat kecil yang miskin. Salman akhirnya wafat dalam keadaan bersih, tidak meninggalkan harta yang berarti, kecuali pesan-pesannya yang terus dikenang lantaran didukung oleh sikap dan sifat hidupnya yang sederhana dan ikhlas, yang sudah sangat jarang ditemukan dalam kehidupan akhir-akhir ini.

    Contoh lain. Di masa Khalifah Umar bin Khattab RA, Abu Hurairah diangkat menjadi Amir (setingkat Gubernur) untuk wilayah Bahrain. Umar yang sangat teliti melihat Abu Hurairah jadi murah rezekinya, curiga dan memerintahkan hartanya diserahkan kepada Baitulmal. Abu Hurairah RA setelah menjelaskan bahwa harta yang dimiliknya itu berasal dari yang halal dan sah, akhirnya menyerahkannya ke Baitulmal seraya berdoa demi keampunan dan keselamatan Umar, sekaligus memohon pengunduran diri dari jabatannya.

    Selang beberapa lama, Khalifah Umar memintanya untuk duduk lagi dalam pemerintahan dengan jabatan baru yang lebih tinggi. Tapi dengan arifnya, Abu Hurairah menolak. Katanya “Aku ingin kehormatanku tidak tercela, hartaku tidak dirampas, penggungku tidak dipukul. Dan aku takut menghukum tanpa ilmu dan bicara tanpa kasih sayang.“

    Wallahualam.

    ***

     
  • erva kurniawan 6:56 am on 4 May 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Rumah 

    kura-kuraSeekor kura-kura tampak tenang ketika merayap di antara kerumunan penghuni hutan lain. Pelan tapi pasti, ia menggerakkan keempat tapak kakinya yang melangkah sangat lamban: “Plak…plak. ..plak… !”

    Tingkah kura-kura itu pun mengundang reaksi hewan lain. Ada yang mencibir, tertawa, dan mengejek. “Hei, kura-kura! Kamu jalan apa tidur!” ucap kelinci yang terlebih dulu berkomentar miring. Spontan, yang lain pun tertawa riuh.

    “Hei, kura-kura!” suara tupai ikut berkomentar. “Kalau jalan jangan bawa-bawa rumah. Berat tahu!” Sontak, hampir tak satu pun hewan yang tak terbahak. “Ha..ha..ha. .ha! Dasar kura-kura lamban!” komentar hewan-hewan lain kian marak.

    Namun, yang diejek tetap saja tenang. Kaki-kakinya terus melangkah mantap. Sesekali, kura-kura menoleh ke kiri dan kanan menyambangi wajah rekan-rekannya sesama penghuni hutan. Ia pun tersenyum. “Apa kabar rekan-rekan? ” ucap si kura-kura ramah.

    “Teman, tidakkah sebaiknya kau simpan rumahmu selagi kamu jalan. Kamu jadi begitu lambat,” ucap kancil lebih sopan. Ucapan kancil itulah yang akhirnya menghentikan langkah kura-kura. Ia seperti ingin mengucapkan sesuatu.

    Tak mungkin aku melepas rumahku,” suara kura-kura begitu tenang. “Inilah jatidiriku. Melepas rumah, berarti melepas jatidiri. Inilah aku. Aku akan tetap bangga sebagai kura-kura, di mana pun dan kapan pun!” jelas si kura-kura begitu percaya diri.

    ***

    Menangkap makna hidup sebagai sebuah pertarungan, memberikan sebuah kesimpulan bahwa merasa tanpa musuh pun kita sebenarnya sedang bertarung. Karena musuh dalam hidup bisa berbentuk apa pun: godaan nafsu, bisikan setan, dan berbagai stigma negatif. Inilah pertarungan yang merongrong keaslian jatidiri: sebagai muslim, aktivis, dan dai.

    Pertarungan tanpa kekerasan ini bisa berakibat fatal dibanding terbunuh sekali pun. Karena orang-orang yang kalah dalam pertarungan jatidiri bisa lebih dulu mati sebelum benar-benar mati. Ia menjadi mayat-mayat yang berjalan.

    Bagian terhebat dari pertarungan jatidiri ini adalah orang tidak merasa kalah ketika sebenarnya ia sudah mati: mati keberanian, mati kepekaan, mati spiritual, mati kebijaksanaan, dan mati identitas.

    Karena itu, tidak heran jika kura-kura begitu gigih mempertahankan rumah yang membebaninya sepanjang hidup. Walaupun karena itu, ia tampak lamban. Walaupun ia diserang ejekan. Kura-kura punya satu prinsip yang terus ia perjuangkan: inilah aku! Isyhaduu biannaa muslimiin.

    ***

    (mnuh-eramuslim)

     
  • erva kurniawan 4:08 am on 1 May 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , , ,   

    Melati Tak Ingin Jadi Mawar 

    melati

    Cerpen dari Ratnadewi Idrus

    ***

    “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Qashash 28:83)

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhannya, mereka itu penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Hud 11:23)

    ***

    Ayuning berdecak kagum akan kemampuan sahabatnya menggugah rasa setiap wanita yang menghadiri pengajian “Melati”. Hampir saja ia tak percaya bahwa yang ada di hadapannya itu adalah “Nisa” sahabatnya. Setidaknya bukan dia saja yang berpendapat demikian, sayup-sayup suara sekeliling melontarkan hal senada. Padahal baru beberapa minggu yang lalu mereka memikirkan bagaimana cara membina akhlak bunga negeri ini, perlahan keinginan itu terwujud. Setelah pengajian usai, para akhwatpun pulang, tinggal mereka berdua yang sibuk membenahi “Taman Belajar”, tempat khusus yang disediakan orangtua Nisa untuk mengaji. Perlahan Ayu mendekati Nisa.

    “Kamu hebat, Nisa!, semua begitu terkesan akan nasihatmu, untaian kata-katamu bagai tetesan embun yang menyusup ke kedalaman jiwa, mereka semua kagum padamu, terlebih ketika mendengar syair lagu cinta pada Allah yang..”.

    “Nisa mohon, tolong hentikan pujian itu, Ayu..!”.

    Perkataan Nisa tak dihiraukan Ayu, ia masih saja menyanjung-nyanjung sahabatnya. Sementara Nisa komat kamit mengucap istighfar.

    “Tolong hentikan pujian itu, Ayu..!”. Kali ini nada suara Nisa agak keras, Ayuning heran melihat rona wajah sahabatnya itu menunjukkan ketidaksenangan, dan tatapan mata yang redup itu berubah menjadi tajam.

    “Ayu mau tahu, nggak? pujian Ayu itu sama artinya Ayu memenggal leher(*) Nisa?!”.

    Taakkk! Ayuning kaget mendengar perkataan itu.

    “Astaghfirullaahul ‘aziim.. kenapa Nisa bilang begitu???!!! “.

    “Pujian Ayu akan membuat Nisa sombong, Ayu.. dan balasan Allah terhadap makhluk-Nya yang sombong adalah neraka Jahannam!, apakah Ayu ingin Nisa masuk neraka Jahannam?..” .

    Ayu tersentak!, tiba-tiba ada energi luar biasa yang menyelimuti dirinya, ia mendengar Qalam Allah mengenai kesombongan dibacakan kepadanya, indah dan menggetarkan jiwa, (yang artinya):

    “Kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka tidak menyombongkan diri.” (QS. An Nahl 16:49)

    Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al Israa’ 17:37)

    Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (dengan sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman 31:18)

    “Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, dan kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. Az Zumar 39:72)

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, dan mereka tidak menyombongkan diri.” (QS. As Sajadah 32:15)

    Tubuh Ayuning lemas seketika, wajahnya pucat, ia menyungkur sujud kepada Allah, “Laa ilaaha illaa anta Subhanaka inni kuntu minazh zhaalimiin”. Berulangkali kalimat itu diucapkannya. Nisa tak tahan melihat sahabatnya seperti itu, secepat kilat ia menghampiri, “Sudah Ayu, bangunlah..! “.

    “Maafkan Ayu ya Nisa, Ayu khilaf..”.

    “Sudah Nisa maafin, sayang.. maafkan Nisa juga ya.. karena keras pada Ayu. Bukankah tujuan kita semula mengadakan pengajian ini lillaahi ta’ala?.. agar Allah sayang pada kita, agar Allah cinta (ridha) pada kita?.. betapa nelangsanya jiwa ini melihat fenomena kemaksiatan yang terjadi, melihat ketidakmengertian bunga negeri, kita harus merangkul mereka, Ayu.. semua itu tidaklah mudah, semua itu membutuhkan perjuangan!, usaha ini baru kita mulai perlahan, apakah karena pujian kita menjadi lupa akan niat kita semula? ibarat segelas air, jikalau tercampur noda sedikit, maka keruhlah semuanya. Begitu pula Allah dalam melihat Qalbu dan amalan perbuatan kita.

    Sehebat-hebatnya insan, ia tetap hamba Tuhan, tak akan pernah bisa menembus bumi dan sekali-kali tak akan sampai setinggi gunung. Hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, Ayu.. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan suka membangga-banggakan dirinya!.

    Ayu, bagaimanakah mungkin kita bisa sombong, sedangkan hidup kita sendiri hanyalah pinjaman dari Tuhan?. Bagaimanakah mungkin kita bisa merasa lebih dari orang lain sedangkan kejadian kita dari unsur yang sama-sama hina?. Jangan pernah lupa dari apa asal kita, jangan pernah lupa bahwa kelak kita akan mati, kembali masuk tanah dan menjadi tanah, tinggal tulang-tulang berserakan dan menakutkan!.

    Bukankah Allah murka terhadap Syaithan kerena merasa dirinya lebih tinggi dibandingkan dengan manusia?, Bukankah Fir’aun, Qarun dan Haman mati binasa karena kesombongannya?

    Segala apa yang ada di langit dan semua makhluk melata di bumi dan juga para malaikat, mereka semua bersujud kepada Allah, dan mereka semua tidak pernah menyombongkan diri. Apalah lagi kita ini, malu sama Allah Ayu.., betapa Ia begitu dekat, betapa Dia Maha Menatap!”. Nisa menghentikan kalimatnya. Ayuning yang sedari tadi diam, kemudian ikut bicara,

    “Ayu jadi teringat sabda Rasulullah Saw Nisa, bahwa angkuh dan sombong itu adalah pakaian Allah, siapa yang menyaingi pakaian-Nya. Allah Ta’ala akan menyiksanya. (HR. Muslim)

    Beliau juga mengatakan: “Tidak ada yang lebih suka dipuji selain dari Allah Swt, karena itu Dia memuji diri-Nya sendiri. Dan tidak ada yang lebih pencemburu dari Allah, karena itulah Dia mengharamkan segala yang keji”. (HR. Muslim)

    Dan pernah suatu ketika, Rasulullah berkata pada para sahabat yang menghormati kedatangannya, “Janganlah kalian menyanjung-nyanjung diriku sebagaimana orang-orang Nasrani menyanjung-nyanjung Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, “Hamba dan utusan Allah”. (HR. Imam Ahmad)

    Keduanya saling berpandangan dan tersenyum. Ayu melanjutkan kata-katanya,

    “Yach, kita ini hanyalah seorang hamba, alangkah indahnya jika hanya menghamba pada Allah saja, Laa ilaa haillallaah (Tiada Tuhan selain Allah), segala yang ada di bumi maupun di langit ini akan rusak binasa kecuali Allah! tak pantas kita memuji makhluk-Nya dengan melupakan Siapa Yang Menciptakannya” .  Bahagia sekali kedua sahabat itu kini, mereka saling mengingatkan satu sama lain. Sejenak Nisa memecahkan suasana, “Bunda Ayu, jangan lupa ditunggu anak-anaknya, lho..”.

    Ayu tersenyum malu pada Nisa, “Ah Nisa..”. Mereka berdua bersiap-siap untuk ke Panti Asuhan “Rindu Bunda”.

    ***

    Seperti biasa, anak-anak yatim piatu itu berlari menyambut kedatangan Ayu dan Nisa, Qitri kecil berlari ke arah Ayuning.

    “Bunda Ayu..”. ia menghambur kepelukan Ayu, sementara yang lain berebutan mencium tangan Ayu dan Nisa seraya tersenyum senang karena mendapat hadiah kecil. Qitri berusaha keras mendapat perhatian lebih dari Ayuning, maklum gadis mungil itu paling muda di antara anak-anak panti lainnya.

    “Bunda.., Qitri kangen ceritanya.., kalau Bunda cerita, baguuus sekali, Qitri seneng deh..”. Anak-anak lain tak kalah berkata, “Ia Bunda Ayu.., kami kangen ceritanya.. kalau Bunda Ayu cerita, kami senaaaaaaang deh”.

    Ayu tersenyum melihat tingkah anak-anak manis itu, namun dalam hati ia ber-istighfar, kemudian berkata, “aduuh, aduuh.. pada muji Bunda yaa, kalau kalian memuji seperti itu, sama artinya kalian sedang melihat Bunda ada di puncak gunung yang tinggiii sekali, lalu ada angin yang kencaaang menerpa Bunda, akhirnya Bunda kenapa, anak-anak?!” seketika Ali naik ke atas pohon, seolah-olah naik ke puncak gunung yang tinggi memperagakan apa yang Ayu bilang,

    “Seperti ini ya.. Bunda..”. katanya pada Ayu, semua heboh melihatnya. “Aduuh.. Ali turun dong sayang.. nanti jatuh”. Qitri dan anak-anak panti lainnya juga ikut berteriak, “Turun dong, Ali.. nanti jatoh lho..!!!”. Ali berusaha turun, ketika kaki kanannya sudah menyentuh tanah, tiba-tiba tubuhnya oleng ke kiri, Gedebukk!. Anak-anak bergegas mengerubunginya, “Kamu nggak kenapa-napa, Ali.. “. Tanya Nisa, sedangkan Ayu bergegas ke dalam rumah untuk mencari obat. Ibu panti tidak enak melihat tingkah anak-anak asuhannya, “Dimaklumi saja ya, nak Ayu.. kalau ketemu Bundanya pasti begitu”. Ayu tersipu malu pada Ibu panti. Setelah mengobati Ali, Ayu berkata pada mereka,

    “Nach.. anak-anak, jadi jangan pernah memuji Bunda, ya.. nanti Bunda jatuh kayak Ali, sakit kan, Li..”. Ali meringis seraya menganggukkan kepalanya. Sementara si mungil Qitri berkata pada Ayu, “Tapi bunda.. cerita Bunda bener-bener bagus.., sumpah dech..”. Yang lain berkomentar sama.

    “Baiklah kalau begitu, Bunda pingin tanya sekarang, yang menciptakan Bunda siapa, anak-anak?.. “. mereka menjawab, “Allah Swt”. Jadi yang pantas dipuji adalah Allah, karena Allah yang menciptakan Bunda, jadi kalau kalian kagum pada seseorang yang mempunyai suatu kelebihan, kalian harus memuji Allah, dengan mengatakan: Subhanallaah (Maha Suci Allah), Walhamdulillaah (Segala Puji Hanya untuk Allah), Walaa illaa ha ilallah (Tidak ada Tuhan selain Allah), Wallaahu akbar (Allah Maha Besar)”.

    Anak-anak menirukan satu-satu kalimat tasbih, tahmid, tahlil, takbir yang Ayu ajarkan, setelah itu barulah ia bercerita. Melihat tingkah sahabatnya, Nisa sangat terkesan. Tak terasa cerita Ayupun usai, tiba-tiba mereka berdua saling berpandangan. Dengan sinar mata kebahagiaan Ayu berkata,

    “Alhamdulillah, Nisa.. Ayu telah mengajar mereka untuk memuji Allah. Semoga mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang mencintai Allah dengan mengikuti akhlak Rasul-Nya, hamba Allah yang senantiasa merendahkan diri di hadapan Rabb-Nya dan setiap makhluk ciptaan-Nya.

    Nisa tersenyum mendengar penuturan sahabat yang sangat disayanginya, “Iya Ayu, Ibarat bunga. Melati Tak Ingin Menjadi Mawar”. Cukup Allah saja yang menilai setiap hamba-hamba- Nya. Mereka memandang anak-anak panti yang sedang asyik bermain di halaman, dalam hati keduanya berdoa, “Aku berlindung kepadamu Ya Allah, dari sifat-sifat yang tidak Engkau sukai dan dari setiap manusia yang menyombongkan diri, yang tidak beriman kepada hari berhisab”.

    ***

    (*) Seorang laki-laki memuji orang lain dekat Nabi Saw, lalu Nabi saw berkata: “Celaka kamu!, berarti kamu memenggal leher saudaramu-kata- kata itu Beliau ucapkan berulangkai- Apabila seseorang kamu memuji saudaranya, seharusnya dia berkata: “Cukuplah bagi si Fulan Allah saja yang menilainya. Tidak ada yang lebih pantas menilainya selain Allah Ta’ala sekalipun temannya tahu dia begini dan begitu. (HR. Muslim)

     
    • Joddie 11:15 am on 1 Mei 2009 Permalink

      wow.. cerita yang manis & inspiratif banget.. btw salam kenal yaa..

    • hany asmahanie 9:22 am on 4 Maret 2011 Permalink

      cerita yang sangat menyentuh…..ijin share ya

  • erva kurniawan 3:38 am on 30 April 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , ,   

    Kabel dan Cahaya Lampu 

    anak-sedang-sholat“SAYANG, ayo kita shalat. Tuh dengar adzan telah berbunyi,” ujar seorang ibu kepada anaknya yang tengah asyik nonton televisi. “Sebentar lagi dong, ini lagi seru-serunya, ” jawab sang anak. Ibu itu kemudian mendekat, “Sayang, tidak baik menunda-nunda shalat. Ini kan haknya Allah. Ayo matikan tivinya!” “Iya deh,” jawab sang anak sambil beranjak dari tempat duduk. Ia terlihat sangat kecewa karena harus meninggalkan televisi.

    Selama di kamar mandi, si anak terus menggerutu. “Ah..Ibu, tiap hari menggangu saja. Lagi enak-enaknya nonton disuruh shalat. Lagi seneng- senengnya main disuruh shalat. Lagi nyeyak tidur disuruh shalat. Harus baca Quran lah. Harus ikut pengajian lah. Harus ini  harus itu ! Bikin pusiiiing.

    ***

    SELEPAS shalat berjamaah, anak itu bertanya dengan nada protes. “Bu, kenapa sih kita harus shalat, harus puasa, harus baca Al-Quran, dan harus belajar? Bukankah itu mengganggu kesenangan kita? Lagi pula, menurut saya, semua itu tidak ada gunanya, tidak mendatangkan hasil.” Si Ibu sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia pun terdiam beberapa saat. Ada sedikit kemarahan yang muncul dalam hatinya. Tapi ia segera sadar bahwa yang bertanya adalah anak kecil, yang belum tahu apa-apa selain main dan bersenang-senang.

    Sang Ibu beranjak mengambil sebuah lampu yang menempel di dinding kamar anaknya. Sesaat kemudian ia berkata, “Anakku sayang, kamu lihat lampu ini. Ia begitu indah. Bentuknya lonjong dengan dindingnya terbuat dari kaca yang bening. Tiap malam engkau bisa belajar, mengerjakan PR, dan nonton televisi, salah satu sebabnya karena diterangi lampu ini.”

    “Sayang, tahukah kamu mengapa lampu ini bisa menyala?” lanjut si Ibu. “Ya, karena ada energi listrik yang berubah jadi cahaya,” jawab sang anak. “Benar sekali jawabanmu. Lalu apa yang menyambungkan lampu ini dengan sumber listrik tadi?” tanya si ibu lebih lanjut. Sang anak pun menjawab dengan pasti, “Yang menyambungkan lampu dan sumber listrik adalah kabel.” “Pintar sekali kamu,” timpal si Ibu memuji.

    “Nah, sekarang kamu pasti tahu, bila tidak ada kabel pasti lampu ini tidak akan nyala dan kamar ini pasti gelap. Bila demikian, ia tidak akan ada manfaatnya lagi, dan kamu tidak bisa belajar dan nonton tivi.”

    Sang Anak belum paham mengapa ibunya menceritakan lampu itu kepadanya. “Apa maksud Ibu?” tanyanya kemudian.

    Ibu itu kembali berkata, “Anakku sayang, Allah itu sumber cahaya dalam hidup. Kita adalah lampunya. Ibadah yang kita lakukan menjadi kabel atau tali penghubungnya. Ibadah dapat menghubungkan antara Allah dengan manusia, tepatnya antara Allah dengan kita. Bila tidak mau beribadah, hidup kita akan gelap. Kita akan tersesat dan takkan berguna sedikit pun, seperti tak bergunanya lampu yang tak bercahaya.” Ibu itu melanjutkan, “Jadi, shalat, bersedekah, membaca Al-Quran, ataupun belajar adalah kabel yang akan menghubungkan kita dengan Allah.”

    Mendengar semua itu, sang anak tampak tertegun. Dalam hatinya timbul penyesalan akan sikapnya yang selalu menganggap remeh ibadah. Ia pun berkata, “Kalau begitu aku tidak akan meninggalkan shalat lagi dan akan membaca Al-Quran tanpa harus disuruh. Bu, maafkan saya ya!”

    ***

    (Sumber – unknown)

     
    • W42n.5 11:51 pm on 1 Desember 2009 Permalink

      Itulah org indo.nyakunya islam tp kok?ga da yg meninggalkan pensan disini??mana islamnya?????

  • erva kurniawan 8:31 pm on 24 April 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , ,   

    Pertolongan Tanpa Banyak Tanya 

    gandeng-tanganOleh Bahtiar HS Jumat

    ***

    Saya masih ingat. Saat itu awal semester ganjil, pertengahan 1991.

     “Jangan,” kata Pak Zainal Alim singkat. Tegas. “Koen kate cuti gak kuliah hanya gara-gara gak bisa bayar SPP?” Ruangan itu seperti senyap. Hanya suara putaran kipas angin tua di langit-langit yang terdengar jelas. “Jangan, Dik.”

    Saya terus menekuri lantai sembari memilin kedua tangan yang basah. Ruangan itu mendadak serasa sempit dan membuat saya gerah. “Tetapi kelihatannya saya tidak punya pilihan lain, Pak,” jawabku memastikan. “Saya mungkin akan nyari kerja dulu, agar nanti bisa melanjutkan kuliah.”

    Dosen wali itu menggeleng. Rambut kepalanya yang sudah memutih dipenuhi uban membuatnya tampak lebih tua dari usianya. Asap kemudian mengepul dari rokok yang disulutnya. Ia kemudian tersenyum. “Eman-eman kuliahmu, Dik. Coba usahakan dulu cari pinjaman atau apa. Apa Ayahmu sudah tak bisa membiayai?”

    Kini beliau menyedot rokok itu dalam-dalam.

    Saya kini ganti tersenyum. Sebenarnya malu mau cerita. “Saya sejak semester dua mencari uang sendiri di Surabaya ini, Pak, untuk kuliah dan biaya hidup sehari-hari. Saya minta Ayah saya untuk tidak lagi mengirim wesel,” kata saya pada akhirnya. “Kedelapan adik saya lebih membutuhkannya. Biarlah saya cari sendiri.”

     “O, begitu ya?” kata Pak Zainal manggut-manggut. Dari mulutnya mengepul asap rokok yang disedotnya bergumpal-gumpal. “Tapi, eman-eman lho, Dik, nek koen cuti kuliah. Apalagi baru mau semester tiga. Pira IP-mu?”

    Lembar transkrip itu pun saya angsurkan ke beliau.

     “Lha ini nilaimu cukup bagus. Wis, eman-eman nek cuti. Cobalah cari alternatif biaya SPP itu. Aku yakin koen isok oleh.”

    ***

    Lunglai saya meninggalkan ruang dosen wali itu. Kemana harus mencari dana untuk membayar SPP? Padahal, besok hari terakhir SPP itu harus sudah lunas.

    Setelah shalat ashar di Masjid Manarul Ilmi ITS, saya duduk-duduk di selasar bagian selatan dari masjid kampus itu. Tempatnya memang teduh dengan angin yang mengalir dari sawah-sawah sekitarnya membuatnya menjadi tempat duduk-duduk yang nyaman bagi siapa saja.

    Saya menerawang jauh ke selatan, ke arah Asrama Mahasiswa ITS; tempat dimana saya sebulan yang lalu diminta pergi karena menunggak pembayaran biaya asrama hingga lebih dari tiga bulan. Saudara tak punya. Mau pinjam teman, saya malu mengatakannya.

    Tiba-tiba seseorang mencolek pundak saya. Saya pun menoleh.

     “Kelihatannya kamu sedang punya masalah?” tanya pencolek pundak saya. Ia seorang laki-laki, mungkin umurnya beberapa tahun di atas saya. Senyumnya tersungging. Khas. Saya melihat persahabatan pada senyumnya itu.

    Saya hanya tersenyum. Menggeleng.

     “Aku pernah mengalami berbagai masalah. Bahkan diantaranya sangat berat,” katanya menceritakan dirinya sendiri. Lalu ia melanjutkan, seperti menganalisa, “Aku tahu dari mimik dan bahasa tubuhmu kalau kamu sedang punya masalah.”

    Saya lalu menunduk, tak tahu antara malu menceritakan dan kebingungan mencari jalan keluar.

     “Boleh aku tahu masalahmu apa? Siapa tahu aku bisa bantu.”

    Saya sekali lagi menoleh pada laki-laki tak kukenal itu. Dari kata-katanya kelihatannya ia bertanya dengan tulus. “Saya belum membayar SPP,” kataku pelan. Kalimat itu seperti tercekat di tenggorokan dan begitu berat diucapkan. “Besok terakhir. Saya sudah minta cuti ke Pak Zainal Alim, tetapi beliau tidak mengijinkan.”

     “Pak Zainal Alim? Kamu jurusan Elektro ya? Atau Komputer?”

     “Komputer, Mas. Angkatan 90.”

     “Oh, aku juga Komputer! Tapi angkatan tuwek, 87. Aku cuti beberapa kali. Baru sekarang ini mau melanjutkan lagi. Mungkin kuliahnya nanti bareng ambek angkatanmu.”

    Ia kemudian menyebut nama dan mengulurkan tangan. Kujabat tangan itu dengan hangat. “Nama saya Bahtiar,” kata saya memperkenalkan diri pada Mas P itu.

     “Berapa SPP-mu, Bah? Mungkin aku bisa bantu.”

     “Seratus delapan puluh ribu rupiah, Mas.”

    Ia pun merogoh saku celananya. “Saya tidak punya banyak. Tetapi, ini bisa kamu pakai dulu untuk membayar SPP-mu besok.” Uang sejumlah itu segera diangsurkannya pada saya.

    Mata saya berbinar. Tak kusangka sama sekali sore ini saya mendapatkan uang itu tanpa saya cari. Dari seseorang yang sebelumnya tak pernah saya kenal sama sekali.

     “Aku jadi merepotkan Mas,” kata saya sambil menerima uang itu. “Kapan harus saya kembalikan?”

    Laki-laki yang ternyata kakak angkatan saya itu tersenyum. “Ah, jangan kamu pikir. Terserah, kapan kamu punya, Bah.”

    Jawaban itu begitu menyejukkan saya. Bagaimana tidak? Pada kondisi kritis begini ada seseorang yang membantu saya dengan begitu mudahnya. Tanpa jaminan. Tanpa banyak tanya.

    Alhamdulillah, saya bisa melanjutkan kuliah semester tiga itu setelah keesokan harinya melunasi SPP.

    ***

    Kabar yang saya terima ini mestinya membuat saya gembira. Ya, saya memang bergembira dan bersyukur. Nina, adik saya, diterima di sekolah akademi kebidanan di Klaten Jawa Tengah. Tetapi untuk biaya masuk berikut tetek-bengeknya diperlukan uang 3,5 juta!

    Ayah sedang tak punya. Saya apalagi, meski kini sudah bekerja di sebuah perusahaan IT sebagai programer. Tetapi gaji programer di tahun 1995-an hanya seperlima dari uang yang diperlukan itu.

    Namun sayang jika kesempatan itu dilepas begitu saja. Apalagi Nina memang bercita-cita menjadi bidan selepas sekolah keperawatan. Saya harus mencari cara. Bagaimanapun dia masuk ke akademi itu adalah karena dorongan saya juga.

    Terpaksa saya memberanikan diri meminjam uang ke kantor. Potong gaji. Tetapi entah mengapa, jawaban yang saya terima dari bagian keuangan tak begitu enak di telinga. “Tak ada,” katanya singkat. Maksudnya, kantor lagi tidak ada dana cukup untuk dipinjam.

    Saya nelangsa. Kemana saya harus cari? Beberapa teman di kantor juga sedang tak bisa dipinjami uang sebanyak itu. Saya akhirnya ingat seseorang. Mas P. Ia kini punya perusahaan IT sendiri yang baru dirintis.

    Malam itu saya dolan ke kantornya. Senyumnya masih sama beberapa tahun yang lalu. Khas. Kami saling bertanya dan bercerita. Sampai tibalah saat yang sulit itu.

     “Ada apa, Bah? Ada yang bisa aku bantu?”

    Saya beringsut di tempat duduk yang tak panas. “Begini, Mas. Saya mau ngrepoti Mas lagi,” begitu kata saya membuka pembicaraan. “Adik saya baru diterima di sekolah bidan. Di Klaten. Ia perlu dana 3,5 juta. Saya bisa pinjam nggak ya?”

    Untunglah pinjaman SPP yang dulu sudah lama saya kembalikan setelah saya bekerja. Kalau tidak, saya tidak tahu bagaimana ngomongnya.

     “Apa nggak bisa pinjam di kantormu, Bah?”

    Saya menggeleng. “Sedang tak ada uang, Mas, katanya. Maksud saya sih potong gaji di kantor gitu. Lebih gampang.”

    Mas P nampak berpikir. Lalu ia menjawab, “Aku ada sih, Bah. Tapi duitnya nggak utuh. Gimana?”

     “Nggak apa-apa, Mas,” jawab saya lega. Asal jumlahnya genap, duit receh juga tak masalah.

    Ia lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan sejumlah uang. Lalu dompetnya, dan dikeluarkannya sejumlah uang. Ia lalu menghitungnya dan mengangsurkannya pada saya. “Sik, masih kurang,” katanya.

    Saya menghitungnya. Ya, memang kurang beberapa ratus ribu.

    Ia lalu membuka laci di meja kerjanya. Dari sana ia keluarkan uang kertas berbagai pecahan. Seratus ribu, lima puluh ribu, sepuluh ribu, lima ribu, bahkan seribuan rupiah. Akhirnya genaplah 3,5 juta yang saya perlukan.

     “Sorry, uangnya pecahan begitu,” katanya sambil tersenyum.

     “Nggak apa-apa, Mas. Jumlahnya toh 3,5 juta,” jawab saya lantas tersenyum. “Kapan saya harus kembalikan?

    Laki-laki di depan saya itu menjawab, sebagaimana jawaban beberapa tahun lalu. “Jangan dipikir, Bah. Terserah, kapan kamu punya.”

    Dalam perjalanan pulang, saya mengingat peristiwa itu. Betapa laki-laki itu telah menolongku dua kali, tanpa banyak tanya. Seketika. Dan begitu mudahnya. Bahkan yang membuatku haru, ia mungkin telah menguras uang yang ia miliki untuk membantu saya. Terbukti uang yang dipinjamkannya itu ia ambil dari saku, dompet, bahkan lacinya. Bahkan ada yang pecahan seribuan.

    Sepanjang perjalanan pulang itu, air mata saya tak henti menetes. Ternyata masih ada orang sebaik ini di semesta raya. Saya tak akan pernah melupakan jasa orang ini, yang dikirimkan-Nya untuk menolong saya saat terjepit. Saya tak akan melupakannya, hingga kapanpun.

    ***

    Keterangan.

    nek koen kate cuti = kalau kamu mau cuti (suroboyo)

    eman-eman = sayang (jawa)

    pira = berapa (jawa)

    koen isok oleh = kamu bisa dapat (suroboyo)

    tuwek = tua (jawa)

    bareng ambek = bersama dengan (jawa)

     
  • erva kurniawan 7:35 pm on 22 April 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , ,   

    Katak 

    katakAda kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor anak katak ketika langit tiba-tiba gelap. “Bu, apa kita akan binasa. Kenapa langit tiba-tiba gelap?” ucap anak katak sambil merangkul erat lengan induknya. Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut.

    “Anakku,” ucap sang induk kemudian. “Itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru, itu tanda baik.” jelas induk katak sambil terus membelai. Dan anak katak itu pun mulai tenang.

    Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai berterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si katak kecil. “Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-tunggu? ” tanya si anak katak sambil bersembunyi di balik tubuh induknya.

    “Anakku. Itu cuma angin,” ucap sang induk tak terpengaruh keadaan. “Itu juga pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang!” tambahnya begitu menenangkan. Dan anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan.

    “Blarrr!!!” suara petir menyambar-nyambar. Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana begitu menakutkan. Kali ini, si anak katak tak lagi bisa bilang apa-apa. Ia bukan saja merangkul dan sembunyi di balik tubuh induknya. Tapi juga gemetar. “Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!” ucapnya sambil terus memejamkan mata.

    “Sabar, anakku!” ucapnya sambil terus membelai. “Itu cuma petir. Itu tanda ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang,” ungkap sang induk katak begitu tenang.

    Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh induknya. Ia mencoba mendongak, memandangi langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan dahan, dan sambaran petir yang begitu menyilaukan. Tiba-tiba, ia berteriak kencang, “Ibu, hujan datang. Hujan datang! Horeeee!”

    ***

    Anugerah hidup kadang tampil melalui rute yang tidak diinginkan. Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh dayang-dayang nan rupawan. Tidak disegarkan dengan wewangian harum.

    Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya dipermainkan keadaan. Persis seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan.

    Benar apa yang diucapkan induk katak: jangan takut melangkah, jangan sembunyi dari kenyataan, sabar dan hadapi. Karena hujan yang ditunggu, insya Allah, akan datang. Bersama kesukaran ada kemudahan. Sekali lagi, bersama kesukaran ada kemudahan. (mnuh)

    ***

     
  • erva kurniawan 6:39 am on 17 April 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , ,   

    Puyuh 

    puyuhDi sebuah tepian hutan, seekor burung puyuh muda sedang termenung. Tiap hari, ia menghabiskan siangnya untuk cuma tergolek di atas bayangan dahan. Ia kerap membandingkan dirinya dengan siapa pun yang tertangkap lewat penglihatannya.

    Suatu kali, serombongan anak itik berlalu bersama induknya. Mereka begitu asyik menikmati pagi yang cerah. Satu per satu, rombongan keluarga itik itu menceburkan diri ke telaga. Mulai dari sang induk, hingga semua anak itik tampak berenang penuh riang.

    “Andai aku seperti itik…,” ucap si puyuh miris. Itulah komentar pertama dari tangkapan penglihatannya. Sontak, ketidakpuasan pun menyeruak. “Enak sekali jadi itik. Bisa berenang. Bisa mencari makan sambil bersantai!” keluh kesah puyuh pun tak lagi terbendung. Ia sesali keadaan dirinya. Jangankan berenang, tersentuh air pun tubuhnya bisa menggigil.

    Tak jauh dari telaga yang rimbun, seekor burung kutilang tiba-tiba hinggap di sebuah dahan. Ia seperti memakan sesuatu. Setelah itu, sang kutilang pun terbang tinggi ke udara.

    Puyuh muda lagi-lagi berandai. “Andai aku bisa seperti kutilang!” keluhnya pelan. “Enaknya bisa melihat bumi dari atas sana. Bisa menemukan makanan sambil menikmati indahnya udara lepas,” ucap si puyuh sambil tetap tak beranjak dari duduknya. Ia pun melirik sayap kecilnya. Sayap itu ia gerakkan sebentar, dan si puyuh duduk lagi. “Ah, tak mungkin aku bisa terbang!”

    Masih dalam posisi agak berbaring, si puyuh mendongak. Ia seperti menatap langit. “Tuhan, kenapa kau ciptakan aku tak berdaya seperti ini! Tak mampu berenang. Tak bisa terbang!” ucap sang puyuh mengungkapkan isi hatinya.

    Entah datang dari mana, tiba-tiba pemandangan sekitar telaga penuh dengan asap hitam. Udara menjadi begitu panas. Pengap. “Api! Api! Hutan terbakar!” teriak hewan-hewan bersahutan. Tanpa aba-aba, semua penghuni telaga menyelamatkan diri. Ada yang berenang. Ada yang terbang. Dan ada yang berlari kencang. Kencang sekali.

    Menariknya, dari sekian hewan yang mampu berlari kencang justru si puyuhlah yang di barisan depan. Langkah cepatnya seperti tak menyentuh bumi. Ia berlari seperti terbang. Saat itulah, ia tersadar. “Ah, ternyata aku punya kelebihan!” ucap si puyuh menemukan kebanggaan.

    **

    Hidup dalam kerasnya belantara dunia kadang membuat seseorang tak ubahnya seperti burung puyuh. Merasa diri tak berdaya. Tak punya sayap untuk terbang meraih cita-cita. Tak punya sirip untuk berenang melawan badai kehidupan. Tak punya taring untuk melindungi diri dari para pesaing.

    Kalau saja ia mau menggali. Karena pada kaki kecil potensi diri, boleh jadi, di situlah ada kekuatan besar. Sekali lagi, gali dan kembangkan. Perlihatkanlah kegesitan kaki potensi yang teranggap kecil itu. Dan jangan pernah menunggu hingga ‘kebakaran’ datang. Karena bisa jadi, api bisa lebih dulu sampai. (mnuh)

    ***

    Eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 6:21 am on 15 April 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , ,   

    Gusti Allah Tidak “nDeso” 

    Emha Ainun Najib

    Emha Ainun Nadjib

    Oleh: Emha Ainun Nadjib

    ***

    Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. “Cak Nun,” kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?”

    Cak Nun menjawab lantang, “Ya nolong orang kecelakaan.”

    “Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” kejar si penanya.

    “Ah, mosok Allah ndeso gitu,” jawab Cak Nun. “Kalau saya memilih shalat jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, ” katanya lagi. “Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi. Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.

    Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

    Seraya bertanya balik, Emha berujar, “Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini.

    • Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.
    • Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.
    • Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?”

    Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca Al-Quran. Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya : kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama.

    Idealnya, orang beragama itu seharusnya memang mesti shalat, ikut misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

    Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi ke kebaktian, ikut misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

    Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan social pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya.

    Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa social tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

    ***

    Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]

     
    • Syam 10:20 am on 5 September 2011 Permalink

      Perkataan Cak nun bhw org yg ke tiga yg tdk sholat, tdk baca Quran tp kasih sayang dia adalah org yg lbh baik dr ke 2 sebelumnya dan dia yg paham ttg sholat n baca Quran ya jelas pendapat yg menyesatkan dong, islam tdk hanya modal akhlak ja, tp hrs totalitas menjlnkan rukun islam, “sam’i na wa ‘athoina” bukan “sami’na wa ashoina”. Tuk meraih surga tu butuh ujian yg ga gampang dr Allah, smp nabi Muhammad yg mulia dan para sahabat aj yg sdh dijamin msk surga msh dpt ujian yg amat sgt berat. Piye to cak..!

  • erva kurniawan 11:41 am on 6 March 2009 Permalink | Balas
    Tags: cerita islam, , ,   

    Dia Mencium Bau Surga 

    waterlilyDi dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Hurairah rhodiyallaahu ‘anhu, Rasululllah shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, ” Ada tujuh golongan orang yang mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan selain dari naunganNya… diantaranya, seorang pemuda yang tumbuh dalam melakukan ketaatan kepada Allah.”

    Dan di dalam sebuah hadits shohih yang berasal dari Anas bin an-Nadhr rhodiyallaahu ‘anhu, ketika perang Uhud ia berkata,”Wah …. angin surga, sungguh aku telah mencium wangi surga yang berasal dari balik gunung Uhud.”

    ***

    Seorang Dokter bercerita kepadaku, ” Pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaaan kritis sedang dirawat. Ketika aku sampai, ternyata pasien tersebut adalah seorang pemuda yang sudah meninggal – semoga Allah merahmatinya -. Lantas bagaimana detail kisah wafatnya. Setiap hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir hidupnya?

    Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya -semoga Allah membalas segala kebaikan mereka- melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh. Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit dan mengerang sakit? Atau menyuruh agar segera sampai ke rumah sakit? Ataukah ia marah dan jengkel ? Atau apa?

    Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka, ‘Jangan khawatir! Saya akan meninggal … tenanglah … sesungguhnya aku mencium wangi surga.!’ Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat tersebut di hadapan para dokter yang sedang merawat. Meskipun mereka berusaha berulang-ulang untuk menyelamatkannya, ia berkata kepada mereka, ‘Wahai saudara-saudara, aku akan mati, maka janganlah kalian menyusahkan diri sendiri… karena sekarang aku mencium wangi surga.’

    Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar mendekat lalu mencium keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, ‘Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’ Ruhnya melayang kepada Sang Pencipta subhanahu wa ta’ala.

    Allahu Akbar … apa yang harus aku katakan dan apa yang harus aku komentari… Semua kalimat tidak mampu terucap … dan pena telah kering di tangan… Aku tidak kuasa kecuali hanya mengulang dan mengingat Firman Allah subhanahu wa ta’ala, ” Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat.” (Ibrahim : 27)

    Tidak ada yang perlu dikomentari lagi.

    Ia melanjutkan kisahnya,

    “Mereka membawa jenazah pemuda tersebut untuk dimandikan. Maka ia dimandikan oleh saudara Dhiya’ di tempat pemandian mayat yang ada di rumah sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan yang terakhir. Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesudah shalat Magrib pada hari yang sama.

    Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullaah Shallallaahu ‘alahi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat” . Ini merupakan tanda-tanda khusnul khatimah.

    Ia katakan tangan jenazahnya lunak demikian juga pada persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas memandikan mayat. Pada tubuh orang yang sudah meninggal itu (biasanya-red) dingin, kering dan kaku.

    Telapak tangan kanannya seperti seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan persaksiannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam.

    Subhanalllah … Sungguh indah kematian seperti itu. Kita memohon semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugrahkan kita khusnul khatimah.

    Saudara-saudara tercinta … kisah belum selesai…

    Saudara Dhiya’ bertanya kepada salah seorang pamannya, apa yang ia lakukan semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabnya?

    Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di jalan raya?

    Atau duduk di depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang terlarang? Atau ia tidur pulas hingga terluput mengerjakan shalat? Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan rokok? Menurut anda apa yang telah ia kerjakan? Mengapa ia dapatkan husnul khatimah (insyaAllah -red) yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun mengidam-ngidamkannya; meninggal dengan mencium wangi surga.

    Ayahnya berkata, “Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam sesanggupnya. Ia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapat melaksanakan shalat Shubuh berjama’ah. Ia gemar menghafal al-Qur’an dan termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU.”

    Aku katakan, “Maha benar Allah” yang berfirman (yang artinya-red)

    “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’ Kamilah pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fhushilat:30- 32)

    ***

    Diambil dari : Serial Kisah Teladan Karya Muhammad bin Shalih Al-Qahthani, sebagaimana yang dinukil dari Qishash wa ‘Ibar karya Doktor Khalid al-Jabir.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: