Updates from Oktober, 2010 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:37 am on 14 October 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah 3 Pendekar

    ***

    Saya lahir tahun 1978 dan dua tahun kemudian ibu saya meninggal karena suatu penyakit. Apalah yang dimiliki seorang anak umur 2 tahun ketika ditinggal ibunya kecuali tangis ketidaktahuan. Ketidaktahuan karena belum bisa berpikir tetapi telah diberi Tuhan perasaan sepi dan kehilangan.

    Di sebelah utara rumah saya, tinggal seorang pemuda idiot. Dia kira-kira berumur 12 tahun ketika ibu saya meninggal. Selain itu, di sebelahnya tinggal pula seorang pemuda lain berumur 20- an tahun yang belum pernah bersekolah, tidak bisa membaca dan bekerja sebagai kusir andong (kereta/bendi). Sementara di sebelah barat rumah saya, tinggal pemuda yang juga berumur 20-an tahun, terbelakang, bodoh dan harus keluar dari kelas I SD karena tak bisa mengikuti pelajaran sedikitpun.

    Sebagai anak berumur 2 tahun, tentu saja saya belum begitu mengenal mereka. Tetapi seiring waktu, saya mulai tahu bahwa merekalah sahabat terbaik dalam hidup saya. Akal saya yang semakin terasah ketika berumur 5 tahun dan ingatan yang semakin kuat mematri kenangan saya dengan 3 orang hebat dalam hidup saya tersebut. Merekalah yang saya sebut sebagai 3 pendekar dalam hidup saya.

    Tiga orang yang sama-sama terbelakang, tidak bisa membaca dan sering dianggap “agak kurang”  (bahasa halus untuk sedikit gila) oleh tetangga-tetangga, tenyata merupakan penyelamat hidup saya.

    Pemuda pertama, anak belasan tahun yang saya tahu dipanggil Adek, idiot dan selalu mengeluarkan air liur dari mulutnya. Karena tak pernah memiliki teman bermain, saya lah yang selalu dipandangnya dari jendela rumah. Ketika semua orang mengusir dan anak-anak lain takut untuk mendekat, dia mencoba mengenal saya. Dialah yang kemudian merawat saya, karena ketiadaan ibu dan ayah yang terlalu jarang di rumah. Anak idiot itulah yang mengajari saya bermain, membuatkan wayang suket, mencari kodok di sawah, berendam di kali atau menonton karnaval 17 Agustus yang tiap tahun diadakan di kota kecamatan.

    Pemuda dua puluhan tahun yang menjadi kusir andong tadi bernama Gandul. Keterbelakangannya justru menjadi sumber kebaikan hati. Setiap hari, begitu pulang dari bekerja, dia selalu menyisihkan uang Rp 50-100 di bawah jok andongnya. Uang itu khusus disediakan untuk saya, anak SD yang tak pernah lagi menerima uang saku dari ayahnya. Selama bertahun-tahun, Gandul melakukan itu karena tahu bahwa saya tak pernah bisa jajan jika dia lupa menyisihkan. Dia juga yang mengajak saya jalan-jalan, menjadi kernet andong atau bersuka dengan kudanya.

    Pemuda ketiga bernama Darsio, karena tak juga bisa melakukan apa yang dilakukan kawan-kawannya, dia dikeluarkan dari sekolah. Mulai itulah dia mendekati saya, mengajak saya bermain di kebunnya yang luas. Mencarikan buah apapun yang saya inginkan. Jika saya lagi kepingin pisang, dia akan mencarinya. Begitu pula ketika saya minta kelapa muda di satu siang yang panas, dia akan mengajak saya ke kebun dan memetikkan beberapa. Darsio mengajari saya berenang, kadang berpetualang seharian ke tempat-tempat yang jauh, berjalan kaki dan melatih keberanian saya. Karena sebelumnya saya memang terlalu penakut dan mudah menangis. Agar tubuh saya kuat, dia juga memberi segelas susu kedelai dari pabrik tahu milik orang tuanya hampir setiap hari.

    Ketiga orang itu, 3 pendekar yang mengisi hidup masa kecil saya. Menemani dengan tulus sehingga kini saya bisa berpikir bahwa Tuhan memang mengambil ibu saya, tetapi Dia mengirimkan 3 orang hebat dalam hidup saya. Ketiganya terbelakang, tidak sekolah, tak bisa membaca, bahkan dua diantaranya sampai kini tak punya istri. Tetapi merekalah yang mengajari saya banyak hal, menemani tahun-tahun sepi, membantu saya siap untuk mandiri.

    Kini (Tahun 2002, red) saya 24 tahun dan akan segera menyelesaikan kuliah. Karena pengalaman hidup itulah saya bisa bertahan hingga sekarang, merantau, mandiri, dan memiliki pandangan positif terhadap makluk ciptaan Tuhan seperti apapun adanya. Untunglah saya dibesarkan oleh 3 orang idiot dan bukannya 3 orang profesor, 3 orang kaya, atau 3 bisnisman. Sehingga saya bisa memaknai hubungan antar manusia, bukan karena kapasitas intelektual, uang atau kesuksesan. Bagi saya, ketulusan untuk memberi dan sikap menjadi manusia seutuhnya itu lebih penting.

    Berkah dari 3 pendekar hebat, dan karena itulah saya selalu beranggapan, seperti apapun kondisinya, hidup kita diciptakan Tuhan sangat indah. Kalau mata kita memandangnya dengan indah pula.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • arinugroho84 1:53 am on 14 Oktober 2010 Permalink

      aq terharu bro…. ya indah….memang indah…

    • che 9:43 pm on 22 Oktober 2010 Permalink

      ✖♂hye??????

    • Fachrurozie 6:35 am on 24 Oktober 2010 Permalink

      good story

  • erva kurniawan 1:41 am on 11 October 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    25 Tahun Yang Lalu 

    25 tahun yang lalu,

    Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai. Tanpa sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa dan salam sejahtera dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku. Cita-cita kami sederhana, ingin hidup bahagia.

    22 tahun yang lalu,

    Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi baik hingga dia tampak sempurna. Kulitnya masih merah, mungkin karena ia baru berumur seminggu.

    Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania tak mau menerima kami. Ya sudahlah. Aku tak berhak untuk memaksa dan aku tidak membenci mereka. Aku hanya yakin, suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah.

    19 tahun yang lalu,

    Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang berlari-lari, melompat-lompat atau meloncat dari meja ke kursi lalu dari kursi ke lantai kemudian berteriak “Horeee, Iya bias terbang”.

    Begitulah dia memanggil namanya sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu merekah seperti mawar di pot halaman rumah.

    Dan Kania tak jarang berteriak, “Iya sayaaang,” jika sudah terdengar suara “Prang”. Itu artinya, ada yang pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca. Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat dari tempat tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya terpental. Dan dia cuma bilang “Kenapa semua kaca di rumah ini selalu pecah, Ma?”

    18 tahun yang lalu,

    Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal dari pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi jadi pemain bola seperti yang sering diucapkannya. “Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain bola!” tapi aku tidak suka dia menangis terus minta bola, makanya kubelikan ia sebuah bola.

    Paling tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu sore. Dan seperti yang sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola itu. “Horee, Iya jadi pemain bola.”

    17 Tahun yang lalu

    Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan. Mainnya di rumah aja. Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak akan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa tidak tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya.

    Yang aku tahu, hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnya dari sekolah. Kulihat anakku sedang asyik menendang bola sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin ketengah jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku mengalahkan kehati-hatianku dan “Iyaaaa”.

    Sebuah truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya berhenti di atas dua kakiku. Waktu aku sadar, dua kakiku sudah diamputasi. Ya Tuhan, bagaimana ini. Bayang-bayang kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku bekerja sementara pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke rumah konsumen. Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata “Coba kalau kamu tak belikan ia bola!”

    15 tahun yang lalu,

    Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang tabungan menguap jadi asap dapur. Kania mulai banyak mengeluh dan Iya mulai banyak dibentak. Aku hanya bisa membelainya. Dan bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat marah.

    Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku tak bisa berkata apa-apa waktu Kania hendak mencari pekerjaan ke luar negeri.

    Dia ingin penghasilan yang lebih besar untuk mencukupi kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan dia akan tetap pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia memang pergi ke Malaysia.

    13 tahun yang lalu,

    Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu tak terdengar kabar lagi. Aku harus mempersiapkan uang untuk Kamila masuk SMP.

    Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya. Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa melanjutkan sekolah. Aku bekerja serabutan, mengerjakan pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku.

    Aku miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku harus kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup tegar.

    10 tahun yang lalu,

    Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku. Dan Kamila hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi bulan-bulanan hinaan teman sebayanya. Anakku cantik, seperti ibunya.

    “Biar cantik kalo kere ya kelaut aje.” Mungkin itu kata-kata yang sering kudengar. Tapi anakku memang sabar dia tidak marah walau tak urung menangis juga.

    “Sabar ya, Nak!” hiburku.

    “Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar tidak diganggu!” pintanya padaku.

    Dan aku menangis. Anakku maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam hatiku.  Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu sudah semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia tidak pernah menunjukkan kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP.

    7 tahun yang lalu,

    Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku, kembali menemui pikiranku. Sudah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya. Aku tak mungkin bohong pada diriku sendiri, jika aku masih menyimpan rindu untuknya.

    Dan itu pula yang membuat aku takut. Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi TKI ke Malaysia. Sulit baginya mencari pekerjaan di sini yang cuma lulusan SMP.

    Haruskah aku melepasnya karena alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua, tenagaku mulai habis dan dia ingin agar aku beristirahat.

    Dia berjanji akan rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal. Setelah itu dia akan pulang, menemaniku kembali dan membuka usaha kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini pun aku tak kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku baik-baik saja.

    4 tahun lalu,

    Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang. Hampir tiga tahun dia di sana. Dia bekerja sebagai seorang pelayan di rumah seorang nyonya. Tapi Kamila tidak suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya tak pernah siratkan sinar baik.

    Dia juga dikenal suka perempuan. Dan nyonya itu adalah istri mudanya yang keempat. Dia bilang dia sudah ingin pulang. Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu.

    Lebaran tahun ini dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca dari suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu menunggu hingga masa itu tiba. Kamila bilang, aku jangan pernah lupa salat dan kalau kondisiku sedang baik usahakan untuk salat tahajjud.

    Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti setiap bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat hingga beduk manghrib berbunyi. Kini anakku lebih pandai menasihati daripada aku. Dan aku bangga.

    3 tahun 6 bulan yang lalu,

    Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian pemerintahan Malaysia, kabarnya anakku ditahan. Dan dia diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh suami majikannya.

    Sesak dadaku mendapat kabar ini. Aku menangis, aku tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin membunuh. Lagipula kenapa dia harus membunuh.

    Aku meminta bantuan hukum dari Indonesia untuk menyelamatkan anakku dari maut. Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku selesai. Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku hanya bisa memohon agar anakku tidak dihukum mati andai dia memang bersalah.

    2 tahun 6 bulan yang lalu,

    Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah. Dan dia harus menjalani hukuman gantung sebagai balasannya. Aku tidak bisa apa-apa selain menangis sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi apakah nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola apakah keadaanku pasti lebih baik? Aku kini benar-benar sendiri. Wahai Allah kuatkan aku.

    Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia. Anakku ingin aku ada di sisinya disaat terakhirnya. Lihatlah, dia kurus sekali. Dua matanya sembab dan bengkak. Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya kakiku tak ada. Aku masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku.

    “Bapak, Iya Takut!” aku memeluknya lebih erat lagi. Andai bisa ditukar, aku ingin menggantikannya.

    “Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?”

    “Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya tidak mau. Iya dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan dia jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati. Iya tidak salah kan, Pak!”

    Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib anakku. Masa mudanya hilang begitu saja. Tapi aku bisa apa, istri keempat lelaki tua itu menuntut agar anakku dihukum mati.

    Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat. Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku, tapi menemuiku pun ia tidak mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama enam bulan untuk memohon hukuman pada wanita itu.

    2 tahun yang lalu,

    Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan hadir melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika dia sudah datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak ingin melihatnya.

    Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana. Petugas itu membuka papan yang diinjak anakku. Dan ‘blass” Kamilaku kini tergantung. Aku tak bisa lagi menangis. Setelah yakin sudah mati, jenazah anakku diturunkan mereka, aku mendengar langkah kaki menuju jenazah anakku. Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis.

    Aku mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air mata aku melihat garis wajah yang kukenal.

    “Kania?”

    “Mas Har, kau … !”

    “Kau … kau bunuh anakmu sendiri, Kania!”

    “Iya? Dia… dia… Iya?” serunya getir menunjuk jenazah anakku.

    “Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola jika sudah besar.”

    “Tidak … tidaaak … ”

    Kania berlari ke arah jenazah anakku.Diguncang tubuh kaku itu sambil menjerit histeris. Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia diturunkan dari tiang gantungan. Bunyinya “Terima kasih Mama.” Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah tahu wanita itu ibunya.

    Setahun lalu,

    Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih istriku. Yang aku tahu, aku belum pernah menceraikannya. Terakhir kudengar kabarnya dia mati bunuh diri. Dia ingin dikuburkan di samping kuburan anakku, Kamila.

    Kata pembantu yang mengantarkan jenazahnya padaku, dia sering berteriak, “Iya sayaaang, apalagi yang pecah, Nak.” Kamu tahu Kania, kali ini yang pecah adalah hatiku. Mungkin orang tua kita memang benar, tak seharusnya kita menikah. Agar tak ada kesengsaraan untuk Kamila anak kita. Benarkah begitu Iya sayang?

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 8 October 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Bersinarlah Matahariku 

    Cerpen: Bersinarlah Matahariku By: Riza Faisal

    **

    “Sini, Pak! Sini..,” kuminta suamiku duduk mendekat agar kami tidak ketetesan air hujan. Petang ini, kami sedang berada di terminal kampung Rambutan. Sebuah terminal yang sudah tidak asing lagi di pendengaran kita. Terminal yang bias dibilang begitu …… kumuh!! Tapi dibalik semua itu harus diakui bahwa ratusan keluarga menggantungkan hidupnya di sana.

    Kunikmati sesendok demi sesendok lontong kari dihadapanku. Kulihat suamiku pun demikian, sangat menikmati tahu campur kesukaannya.

    Tiba-tiba mataku tertumbuk pada pemandangan unik didepanku. Si Ibu penjual tahu campur sedang tidur mengeloni anaknya, bocah laki-laki berumur lebih kurang 3 tahunan. Seringkali tetesan air hujan jatuh tepat di dahinya. Si ibu yang begitu cepat tertidur pulas, tak tahu kalau air hujan nakal itu telah mengganggu buah hatinya.

    Aku langsung teringat pada Karim, putra kami. Dalam keadaan seperti itu si Ibu masih tetap dapat mendampingi putranya, sementara aku?

    “Sekarang dia sedang apa ya, Pak?” tanyaku mengejutkan suamiku. “Siapa? Karim?” tebak suamiku yakin.

    “Kenapa, Ibu ingat dia? Sabar, ya Bu. Dia pasti juga ingat Ibu,” hiburnya, membuatku tak bisa menahan air mata.

    “Pak, Ibu kangen dia,” ujarku lirih.

    Untuk pertama kalinya kutinggal anakku sendiri di Bandung, hanya ditemani pengasuhnya. Kami harus datang ke kota metropolitan ini, demi karirku. Dan suamiku rela cuti, hanya untuk mengantarku.

    “Tidak baik Ibu pergi sendiri, walaupun untuk urusan kerja. Biarlah besok Bapak antar. Bapak masih punya jatah cuti, kok!” kata-kata suamiku tadi malam masih terngiang-ngiang di telingaku.  Allah…terangilah selalu hati hamba-Mu ini agar bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Agar keegosian hati tidak menjebak hamba.

    Kembali kulihat ibu dan anak yang sekarang masih tertidur pulas. Hujan sudah mulai reda. Kami berniat segera pulang. Jam telah menunjukkan pukul tujuh malam.

    “Sudah, Pak,”kataku pada Bapak yang menunggu kaki lima ini, mungkin suami si Ibu.

    “Maaakk! Udah tuh!” teriakannya mengagetkan si Ibu.

    Cepat-cepat Si Ibu bangun dan mengatakan harga dua piring dan dua gelas yang telah kami habiskan. Si kecil pun ikut terbangun. Sambil duduk dia balik memainkan air hujan yang menggenang di dekatnya. Dasar anak-anak. Sepertinya mereka tidak peduli dan bahkan tidak pernah menuntut kehidupan yang lebih baik dari yang sedang mereka jalani. Apapun yang terjadi pada mereka… bagaimana pun kondisi mereka… mereka akan selalu menikmatinya. Setelah kubayar jumlah yang disebutkan, kami pun beranjak pergi.

    Setengah berlari, kami menuju tempat bus antar propinsi dan berebut dengan penumpang lainnya. Bus Patas AC ini tak menghilangkan penat yang kami rasakan. Belum lagi rasa bersalah yang memenuhi dadaku. Sengaja atau tidak aku telah memaksa suamiku meninggalkan tumpukan tugas kantornya. Juga telah menelantarkan anakku…membiarkannya semalam bersama orang lain. Tanpa suara lantunan ayat suci dan dendangan sholawatku yang biasa mengantar tidurnya.

    “Maafkan Ibu, Pak,” ucapku sambil bersandar di pundak suamiku disambut dengan elusan tangannya di punggung tanganku. Selanjutnya, kubaca Al Fatihah dan kukirim khusus buat buah hatiku…sekedar mengurangi rasa bersalah ini.

    Kami tiba di rumah pukul satu tepat. Karim sudah pulas…sendirian. Wajah tanpa dosanya membuat air mataku kembali deras mengalir. Maafkan Ibu, Sayang. Kucium dahi bocahku. Besok, Insya Allah tepat sebelas bulan usianya. Dan sampai hari ini aku masih tetap sibuk, bukan mengurusnya tapi mengurus pekerjaanku, mengejar karirku. Allahu robbi.

    “Selamat, Mbak Fati. Saya dengar presentasi Mbak kemarin sukses!” sambut Ine, teman seruanganku membuatku terkejut.

    “Maaf, Ne. Saya terlambat. Si Adek (panggilanku untuk Karim) tidurnya pulas. Baru bangun jam tujuh tadi, jadi Saya menunggunya. Maklum, kemarin kan tidak ketemu seharian. Saya kangen, eui!” kataku sambil tersenyum.

    “Pak Bos sepertinya paham kok, Mbak. Barusan, rekanan kita yang di Jakarta telpon pada beliau dan mengatakan bahwa presentasi Mbak membuat mereka tertarik. Hasilnya, order dalam jumlah besar dan dalam waktu dekat!!” kata Ine berapi-api. “Pesan Direktur, begitu sampai Mbak diharap segera menghadap. Sepertinya Beliau ingin menyampaikan selamat secara langsung pada Mbak,” lanjutnya.

    **

    Sekarang, sudah tiga bulan sejak peristiwa itu. Aku masih berkutat dengan pekerjaanku yang dinilai cukup sukses oleh tim manajemen. Kemarin, Direktur memanggilku. Aku dipromosikan untuk sebuah jabatan baru. Imbalan yang ditawarkan cukup memikat. Bahkan kalau boleh jujur, jauh lebih tinggi dari gaji suamiku. Sebuah tawaran yang sempat membuatku bimbang. Dan aku minta waktu dua hari untuk memikirkannya.

    “Terima saja, Fati. Dengan gaji sebesar itu, impian kalian akan segera terwujud. Rumah.. bahkan mobil mewah!! Putramu akan menjadi anak orang kaya. Segala yang dimintanya dapat kalian penuhi dengan segera. Kalian bias pergi berlibur, bahkan ke luar negeri!! Dan yang pasti, kamu juga dapat membantu suamimu meringankan bebannya. Ayo, Fati. Kesempatan tidak datang dua kali. Ambil kesempatan ini atau kalian tetap akan seperti sekarang?” “Jangan Nurul. Uang belum tentu menjamin kebahagiaan. Bisa jadi kamu akan semakin sering menelantarkan keluargamu. Membiarkan mereka tanpa kehadiranmu. Dan putramu hanya akan terpenuhi kebutuhan materinya saja. Sementara, kasih sayang seorang Ibu yang dia butuhkan sulit kamu penuhi. Kamu mungkin hanya bisa membelikan tanpa pernah mengetahui kapan dia memakainya. Yang paling menyedihkan adalah jika kemudian dia menjadi lebih dekat dengan pengasuhnya daripada dengan ibunya.” Batinku mulai berperang. Ya Allah, Bantu hamba memutuskan yang terbaik. Berilah hamba petunjuk dan hidayah-Mu, Robbi.

    Tak terasa hari ini adalah deadline dimana aku harus memberikan jawaban pada Direkturku. Pagi ini seperti biasa kami berangkat berdua. Karim melambaikan tangannya saat kami tinggal tadi. Oh, matahariku. Bersinarlah terus Sayang…Ibu ingin selalu melihat sinarmu dalam setiap helaan nafas Ibu.

    “Karim, sini Nak. Ibu bacakan ceritanya. Karim mau cerita yang mana?”

    “Ni….,”katanya sambil menunjuk salah satu cerita dari buku serial Anak Muslim: kisah sebuah tong sampah. Mulailah aku bercerita lengkap dengan mimik wajah yang sangat disukainya. Bahkan kadang dia menirukan caraku bercerita saat menceritakan kembali kisah tersebut ke teman bermainnya. Allah..Subhannallah. Senyumku mengembang, senyum yang tak pernah kurasakan ketika aku masih sibuk dengan pekerjaanku enam bulan yang lalu.

    Memang, aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Sebuah keputusan yang disesalkan banyak pihak terutama di tempat aku bekerja. Namun sekaligus sangat menggembirakan keluargaku.

    “Alhamdulillah, Bapak bangga pada Ibu. Saat di puncak karir, Ibu rela melepaskannya demi keluarga. Bapak memang tidak salah memilih pendamping hidup dan Ibu dari anak-anak kita. Alhamdulillah,” kata-kata suamiku masih cukup melekat dibenakku saat aku ungkapkan keputusanku, pada malam sebelum aku menghadap direkturku.

    “Iya Pak. Ibu iri pada Ibu pedagang kaki lima di terminal kampung rambutan waktu itu, yang bisa terus bersama putranya. Sementara Ibu hanya bisa memberikan materi untuk Karim. Padahal kita berdua sangat paham bahwa waktu bersama orang tua adalah saat yang penting bagi perkembangan anak kita,” sahutku waktu itu.

    Alhamdulillah, sekarang aku di rumah. Menunggu suamiku pulang dari kerjanya sambil menjaga butik kecil yang kurintis enam bulan lalu. Sementara Karim terlelap setelah mendengar ceritaku. Subhannallah..Alhamdulillah, Ya Allah. Kau tunjukkan pada hamba jalan ini, gumamku sambil berjalan menuju tempat tidur bocah kecilku. (Awal Maret-03)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 7 October 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Setiap Langkah Adalah Anugerah 

    Seorang profesor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer pada tanggal 1 Desember. Di sana ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, bernama Ralph.

    Ralph yang dikirim untuk menjemput sang profesor di bandara. Setelah saling memper kenalkan diri, mereka menuju ke tempat pengambilan kopor. Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal yang dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka. Kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Setiap kali, ia kembali ke sisi profesor itu dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

    “Dari mana Anda belajar melakukan hal-hal seperti itu ?” tanya sang profesor.

    “Melakukan apa ?” kata Ralph.

    “Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu?”

    “Oh,” kata Ralph, “selama perang, saya kira.”

    Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya. “Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah,” katanya. “Saya tak pernah tahu apakah langkah berikutnya merupakan pijakan yang terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki. Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini.”

    Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang berkualitas

    ***

    Oleh: Barbara Brown Taylor

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 6 October 2010 Permalink | Balas  

    Ilustrasi Manajemen Waktu 

    Suatu hari, seorang ahli ‘Manajemen Waktu’ berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yang tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para siswanya.

    Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia mengeluarkan toples berukuran galon yang bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja.

    Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu kedalam toples.

    Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yang muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya: ” Apakah toples ini sudah penuh?”

    Semua siswanya serentak menjawab, “Sudah!” Kemudian dia berkata, “Benarkah?” Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang- guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu.

    Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi: “Apakah toples ini sudah penuh?”

    Kali ini para siswanya hanya tertegun,”Mungkin belum!”, salah satu dari siswanya menjawab. “Bagus!” jawabnya.

    Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.

    Sekali lagi dia bertanya, “Apakah toples ini sudah penuh?”

    “Belum!” serentak para siswanya menjawab. Sekali lagi dia berkata, “Bagus!”

    Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.

    Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kepada para siswanya dan bertanya: “Apakah maksud dari ilustrasi ini?”

    Seorang siswanya yang antusias langsung menjawab, “Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!”

    “Bukan!”, jawab si ahli, “Bukan itu maksudnya.

    Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa : JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.

    “Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yang kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yang kamu anggap paling berharga dalam hidupmu.

    Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yang pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya. Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu”.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 30 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Saya Bersamamu Sayang 

    Seorang anak lahir setelah 11 tahun pernikahan. Mereka adalah pasangan yang saling mencintai dan anak itu adalah buah hati mereka.

    Saat anak tersebut berumur dua tahun, suatu pagi si ayah melihat sebotol obat yg terbuka. Dia terlambat untuk ke kantor maka dia meminta istrinya untuk menutupnya dan menyimpannya di lemari. Istrinya, karena kesibukannya di dapur sama sekali melupakan hal tersebut.

    Anak itu melihat botol itu dan dengan riang memainkannya. Karena tertarik dengan warna obat tersebut lalu si anak memakannya semua.

    Obat tersebut adalah obat yang keras yg bahkan untuk orang dewasa pun hanya dalam dosis kecil saja.

    Sang istri segera membawa si anak ke rumah sakit. Tapi si anak tidak tertolong. Sang istri ngeri membayangkan bagaimana dia harus menghadapi suaminya.

    Ketika si suami datang ke rumah sakit dan melihat anaknya yang telah meninggal, dia melihat kepada istrinya dan mengucapkan 3 kata.

    **

    Pertanyaan :

    1. Apa 3 kata itu ?

    2. Apa makna cerita ini ?

    Jawaban :

    (1) Sang Suami hanya mengatakan “Saya bersamamu sayang

    Reaksi sang suami yang sangat tidak disangka-sangka adalah sikap yang proaktif. Si anak sudah meninggal, tidak bisa dihidupkan kembali. Tidak ada gunanya mencari-cari kesalahan pada sang istri. Lagipula seandainya dia menyempatkan untuk menutup dan menyimpan botol tersebut maka hal ini tdk akan terjadi. Tidak ada yg perlu disalahkan. Si istri juga kehilangan anak semata wayangnya. Apa yang si istri perlu saat ini adalah penghiburan dari sang suami dan itulah yang diberikan suaminya sekarang.

    Jika semua orang dapat melihat hidup dengan cara pandang seperti ini maka akan terdapat jauh lebih sedikit permasalahan di dunia ini.

    “Perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu langkah kecil”

    Buang rasa iri hati, cemburu, dendam, egois dan ketakutanmu. Kamu akan menemukan bahwa sesungguhnya banyak hal tidak sesulit yang kau bayangkan.

    (2) Moral Cerita

    Cerita ini layak untuk dibaca. Kadang kita membuang waktu hanya untuk mencari kesalahan orang lain atau siapa yang salah dalam sebuah hubungan atau dalam pekerjaan atau dengan orang yang kita kenal. Hal ini akan membuat kita kehilangan kehangatan dalam hubungan antar manusia.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 27 September 2010 Permalink | Balas  

    UBinus: Diawali Dengan Modal Ide 

    WIDIA SOERJANINGSIH SEMUA BERAWAL DARI NOL

    Mungkin banyak yang tahu, Universitas Bina Nusantara (UBiNus) adalah salah satu perguruan tinggi ternama di Jakarta, bahkan di Indonesia. Universitas pertama yang meraih Sertifikasi ISO-9001 ini memiliki lebih dari 20 ribu mahasiswa, 700 dosen, tiga kampus yang megah, meraih penghargaan “The Best Indonesian Net Company” dan belakangan punya citra sebagai cybercampus. Tapi barangkali sedikit yang tahu bagaimana seorang Widia Soerjaningsih dan ayahnya (alm) Wibowo, mengawali dan membangun universitas ini dari sebuah kursus komputer di teras rumah. UBiNus benar-benar diawali dengan modal ide dan keberanian belaka. “Jangan khawatir, pokoknya kalau ada kemauan pasti ada jalan. Kita bisa mulai dari kecil, ke sananya maju terus,” demikianlah cara Wibowo menempa semangat putrinya.

    Tapi, bagaimana bisa sebuah kursus komputer berkembang sedemikian pesat hingga menjelma menjadi universitas besar? Barangkali salah satu faktornya adalah karena pada masa 70-an, bidang garap teknologi komputer masih jarang dilirik dan dikuasai orang. Justru yang menarik, awalnya lembaga pendidikan ini dibangun dengan prinsip ‘asal kelasnya penuh’ dan ‘pelanggan puas’. “Prinsipnya begitu mereka mau mendaftar, saya harus melayani mereka dengan baik. Tidak ada target apa-apa, yang penting setiap kelas harus penuh,” tutur Widia yang lahir 19 Oktober 1950 di Malang itu.

    Dengan prinsip demikian, diakui Widia, semula UBiNus tumbuhan biasa- biasa saja. Begitu tujuan-tujuan berhasil didefinisikan, tim yang dipimpinnya merapatkan barisan dan target-target dikejar, laju perkembangannya pun makin pesat. Tak kalah penting adalah adanya visi ke depan yang begitu kuat, profesionalisme dalam mengelola manajemen perguruan tinggi, serta jiwa entrepreneurship yang diwarisi Widia dari sang ayah. Maka, tak berlebihan jika di dunia pendidikan tinggi di Indonesia, rektor UBiNus ini adalah salah satu sosok yang layak dijadikan teladan.

    Widia yang menikah dengan Eko Atmo Budi Santoso ini, berhasil mengawinkan antara idealisme dunia pendidikan dengan sistem pengelolaan bisnis profesional. Tak heran jika pada 2002 lalu ia dinobatkan sebagai The Famous Business Woman dan The Best CEO versi Majalah SWA dan MarkPlus. Nah, spirit apa yang membawa ibu dari Stephen (25), Francis (22), dan Patrice (18) ini ke tangga kesuksesan hingga sekarang? Simak wawancara eksklusif Widia Soerjaningsih dengan Edy Zaqeus dari InMagz.Com di gedung rektorat UBiNus Jl KH Syahdan 9, Kemanggisan, Jakarta berikut ini:

    Bagaimana sejarah awal berdirinya Universitas BiNus ini?

    Saya lulus S-1 bidang elektro, tapi bidang yang paling menarik adalah komputer. Lalu kerja praktek di IBM tiga bulan, sesudah itu pernah kerja di Pertamina tahun 1973. Saya kemudian terinpsirasi oleh idenya Pertamina. Pada waktu saya kerja, plan Pertamina memang untuk membuat Achademy of Computer Technology. Zamannya Pak Ibnu Sutowo itu tahun 1973. Kita direkrut untuk menyiapkan teaching staff. Karena pengalaman saya belajar di IBM, saya disuruh mengajar teman-teman yang dikumpulkan untuk menjadi guru di fakultas teknik. Ngajar segala macam bersama kawan-kawan dari (Universitas) Trisakti. Sempat setahun di sana. Pas saya berhenti itu Pertamina mulai agak jatuh. Saya berhenti dari Pertamina bukan karena itu, tapi karena ditarik Trisakti kembali. Karena adik harus masuk perguruan tinggi, dari keluarga ndak ada biaya, jadi saya punya tugas. Saya kerja di Trisakti, adik masuk. Terus sambil lalu, karena punya pengetahuan komputer, coba usaha di Trisakti kursus komputer bersama teman-teman. Adanya di Trisakti, awalnya itu….wah banyak muridnya. Tapi biasalah, kalau kita masih muda, apalagi seumur membuat usaha bersama, akhirnya nggak bisa langgeng.

    Usia Anda berapa waktu itu?

    Ya, di umur-umur S-1 berapa yah…sekitar 24. Kemudian dari situ sempat kita jalankan satu biro diklat. Dapat muridnya banyak. Dulunya mahasiswa menganggap komputer susah, kan? Tempatnya di Trisakti waktu sore, dan memang karena membawa korps pesertanya banyak. Yang mengamati langkah ini ayah, Pak Wibowo almarhum. Begitu saya selesai kuliah, dari semua pengalaman tadi, kayaknya ada potensi untuk dijual… Kebetulan ayah memang orang wirausaha. Sudah, disuruh buka kursus sendiri. Padahal anak-anak lulusan S-1 mana mau ya disuruh begitu? Maunya cari kerja ya? Karena berpikir lulus S-1 bisa apa sih? Padahal kalau kita kerja sama orang, kita masih diajari, kan? Anak-anak yang baru lulus biasanya pandangannya seperti itu. Saya ya sama waktu itu. Makanya, disuruh kerja sendiri…”Wah saya harus belajar pada siapa nih?” Ilmunya mentok, begitu kalau dipikir.

    Tapi waktu itu berani juga?

    Ya, karena saya termasuk yang nurut. Ya sudahlah, ndak usah kerja sama orang. Kalau kerja sama orang bisa stug, naiknya pun pelan. Tapi kalau kerja sendiri, yang pasti kalau mau naik bisa tergantung usaha kita. Sudah, saya didukung menjalankannya. Akhirnya bagi tugas, saya bagian akademik, ayah bagian pemasaran dan perizinan. Dan kita mulainya di muka rumah, di teras. Rumah di Grogol, Jl Makaliwe I No.10. Yang sampai sekarang akhirnya kita beli sebagai apa….momentum, biar pun kita belum bangun sampai saat ini. Kita terima malah rumah itu ndak ada tutup, kecil ruangannya cuma dikasih bangku-bangku. Paling banyak menampung 15 orang. Strategi pemasaran kita lakukan door to door, murah meriah ya… ke tetangga-tetangga banyak mahasiswa, kan? Yang kos itu anak Trisakti, anak Untar. Kebetulan memang di kampus Trisakti, komputer itu menjadi momok mahasiswa. Ekstranya, ini logicalnya gimana sih? Menata logical berpikir, kan itu? Kalau nggak bisa nangkap, kan bingung mau mulai dari mana? Tapi ternyata pesertanya ndak hanya mahasiswa. Banyak juga orang-orang dari perusahaan. Cuma saya tahunya belakangan, “Saya dulu belajar di situ”. Tahun 1974 kita mulai.

    Di awal pendirian kursus itu, apa hambatannya?

    Hambatannya itu dari segi saya yang memulai, otomatis antara percaya dan tidak percaya, bisa saya jalankan nggak? Itu pertama. Tapi karena didorong terus oleh ayah, akhirnya ya sudah…. Kebetulan prinsip saya, kalau saya melangkah saya harus melangkah lebih baik. Itu prinsip yang saya lakukan. Jadi ndak pernah mundur kalau sudah berani melangkah. Itu semangatnya yang menang. Hambatannya, saya tidak berpikir banyak hambatan karena saya juga tidak mempunyai suatu ambisi yang terlalu terang-terangan. Jadi kalau kelasnya penuh, berhasil! Iya, kan? Yang penting biaya hidup keluarga tertutup ha..ha..ha.. Dan memang kehidupan keluarga kita digantungkan ke tangan kita. Prinsipnya begitu mereka mau mendaftar, saya harus melayani mereka dengan baik. Tidak ada target apa-apa, yang penting setiap kelas harus penuh. Itu saja target minimal ya? Kita sudah pakai nama Modern Computer Course, terkenal dengan MCC waktu itu. Dari namanya sudah bagus lho…modern ha…ha…ha… Itu visi ayah.

    Mengapa waktu itu memilih usaha bidang pendidikan, bukan usaha yang lain?

    Sebenarnya di luar usaha pendidikan, karena ayah seorang wirausaha, itu segala macam usaha pernah dilakukan. Waktu kita kecil, ayah usaha di bidang distribusi, mengambil barang dari pabrik lalu dijual ke toko-toko. Lalu pernah jatuh karena ayah ditipu cek kosong waktu itu. Ibu juga sudah mulai dengan wirausaha makanan. Jadi segala usaha sudah dilakukan. Terus ayah melihat potensi saya ada, “Ya, udah…kamu jadi guru saja!” Jadi saya sendiri tidak berpikir ke usaha yang lain. Karena saya pikir, saya bisanya ya itu.

    Dari sebuah kursus, lalu bagaimana cara mengembangkannya hingga menjadi besar?

    Jadi kita mulai dari rumah, paling punya tiga shift, pagi, siang, malam. Begitu mulai penuh, saya mulai berpikir kenapa tidak dibesarkan (kelasnya). Tapi kalau itu kan kita perlu uang? Uangnya dari mana? Ayah bilang, “Jangan khawatir, pokoknya kalau ada kemauan pasti ada jalan. Kita bisa mulai dari kecil, ke sananya maju terus”. Beliau berpikir untuk kerjasama dengan panti asuhan di Kramat Raya. Kita main ke sana terus kita bilang, “Kita punya ide ini, bagaimana kalau kita share, bagi hasil?” Akhirnya kita mulai, pokoknya semua pekerjaan kita yang lakukan, nanti dari hasil kalau kita punya hasil yang lebih, hasilnya kita bagi dua. Kita berpikir kalau kita lakukan itu, ada suatu nilai sosial yang kita tanam. Jadi di samping usaha, ada yang kita bantu, panti asuhannya. Filosofinya itu, dan mudah- mudahan mendapat rahmat Tuhan. Kebetulan ayah juga orang yang sosial.

    Perkembangan berikutnya?

    Kalau di Kramat Raya kelasnya paralel, kalau yang diteras rumah saya sendiri yang ngajar. Lalu untuk dibesarkan sebagai sekolah, kelasnya harus bisa paralel. Berapa pun murid harus bisa ditampung. Jadi filosofinya itu bagamana supaya kita bisa memenuhi ruangan. Jadi awalnya kita punya empat ruangan.

    Tapi benar…. mungkin karena misi sosialnya ada, perkembangannya cepat. Kebetulan sekali tarifnya juga murah. Orang mulai ingin tahu komputer itu apa sih? Jadi banyak sekali yang hadir dan gurunya bukan saya sendiri akhirnya. Karena saya pernah bekerja di Pertamina, saya tarik teman-teman. Murid-murid di Pertamina sudah calon guru, kan? Lalu dari situ maju-maju, walau ada hambatan. Hambatannya waktu itu pada saat kita belajar, kita menarik guru dari tempat yang sama. Jadi sempat goyang oleh tuntutan kelompok yang kuat, menuntut suatu kondisi yang lebih baik. Waktu itu kita waduh… berat juga kalau bentuk seperti ini diikuti, lain kali diulang lagi, ya? Tapi ya sudahlah kita mundur, mereka yang main-main seperti itu ndak usahlah, kita cari staf lain.

    Dari situ kita belajar untuk mencari tenaga tidak dari satu tempat. Akhirnya kita hubungi Departemen Keuangan dan departemen pemerintah lainnya, banyak yang sudah belajar komputer, kan? Lalu berjalan, makin banyak muridnya, lalu mereka pada bertanya, “Mengapa bentuknya kursus-kursus? Kami belajar dapat pengetahuan, tapi kami tidak mendapat status sosial yang lebih baik?” Kebetulan yang ngambil itu benar-benar anak yang lulus SMA yang dia tidak ngambil perguruan tinggi. Beda dengan yang saya mulai di Grogol, anak-anak mahasiswa yang sudah punya status sosial. Jadi kalau di Kramat Raya itu umum banget. Jadi anak-anak SMA yang tidak bisa bayar kuliah masuk ke sana. Itu yang mentriger kita buka akademi saja. Dan kebetulan ayah termasuk tipe orang yang apa pun kalau dia ditantang, ditangkap. Itu gaya wirausahanya, “Mana…? Kita buka saja akademi komputer!”

    Kapan dimulai?

    Sekitar 80-an, ya kita mulai akademi tahun 1981. Saya bilang…waduh…masih mikir-mikir. Lebih banyak perhitungan. Sulit dong minta akademi? Karena dari pengalaman di Trisakti, saya pernah bekerja di sana, banyak sekali mahasiswa demo. Mulai 1974-1980 itu banyak sekali demo, Malari dan semacamnya itu ya. Karena itu saya bilang, waduh! Saya paling takut kalau didemo mahasiswa ha..ha..ha…

    Sampai sekarang masih takut?

    Kalau sekarang tidak. Karena kita belajar banyak dalam pertumbuhan. Waktu itu sempat terpikir, “Waduh… bagaimana kalau anak-anak yang tidak tahu filosofi apa-apa tiba-tiba menuntut sesuatu?” Kalau soal perizinan kita sudah pengalaman sekian tahun. Tapi ayah kan selalu pantang menyerah. “Jangan khawatir, pokoknya apa yang kamu tidak bisa sebutkan, saya yang akan lakukan”. Akhirnya benar, dicarikan seorang tokoh pembina, saya anggap sebagai guru saya juga, yang waktu saya masih SMA dia tokoh organisasi mahasiswa. Dia posisinya sebagai direktur kemahasiswaan. Ini strategi ayah. Pokoknya kelemahan saya dilengkapi ayah. Ya, sudah saya tidak mikir lagi, tabrak saja.

    Begitulah 1981 kita mulai akademi. Hambatannya kalau mahasiswa berkelompok seperti itu. Hambatan lain tetap keuangan. Tapi karena orang-orang buka usaha itu jiwanya pokoknya jangan takut apa pun. Kalau masih bisa didefinisikan, pasti bisa diselesaikan. Begitu bisa didefinisikan, akhirnya ada titik terang. Nah, masalah gedung ayah bilang, “Dalam dua hari saya akan jawab!” Benar. Begitu saya bilang itu, langsung dia main ke tempat Akademi Teknik Komputer yang pertama kita dirikan. Main ketemu pemiliknya, nggak kenal, tabrak aja! Kita nggak punya uang datang ke situ. Ada gedung kosong di belakang yang nggak dipakai, kita bilang “Boleh nggak kita pakai gudangnya?” Ya, kita nggak muluklah nggak pakai gedung yang bagus, seadanya saja. Nah, kita sudah punya tempatnya. Akhirnya kita nggak bisa mundur. Saya desain kurikulum, termasuk konsep-konsep administrasi. Dari segi kurikulum, berpikirnya sederhana.

    Bahannya dari mana, karena waktu itu belum banyak acuan?

    Belum ada. Mungkin akademi komputer sudah ada Budi Luhur yang duluan tahun 1978, kita mulai 1981. Jadi kita hanya ada sedikit gambaran. Karena itu para siswa kursus kita melihat ke situ, “Kami lebih kok dari mereka, kenapa kita nggak muncul?” Semangat siswanya seperti itu. “Ya, sudah kalau kalian percaya kita coba”. Jadi kurikulum kita rancang dengan pendekatan pengetahuan yang mana saya harus bisa memuaskan semua. Paling mudah, kan? Kalau sampai ada guru yang tidak hadir, saya datang, saya selalu menjadi pengganti. Saya pikir kalau ini perguruan tinggi, ada dosen tidak datang, karena kita ingin melayani mahasiswa, kan saya harus turun? Semua mata kuliah saya tawarkan. Amankan? Saya sendiri tidak turun mengajar, hanya kalau ndak ada gurunya saya yang ngajar sekali-sekali. Benar, 1981 kita mulai, lalu kita rekrut teman-teman dari Trisakti untuk jadi dosen. Tapi saya tidak ambil angkatan saya, tapi angkatan adik saya.

    Apa alasannya?

    Tidak tahu, ada suatu feeling yang mengatakan, mungkin saya lebih mudah mendorong anak-anak yang lebih muda dari saya, daripada teman sebaya. Jadi saya rekrut adik-adik angkatan saya. Tapi masalah di tahun-tahun pertama di kampus ini, tiga orang tenaga pengajar tadi berkirim surat kepada saya, mengundurkan diri. Tiga-tiganya hilang, padahal mereka pengajar inti dan hebat-hebat. Tapi sudah karakter saya, kalau ada masalah harus bisa diselesaikan. Ya, tapi saya tidak berusaha menarik. Saya kalau sudah dibuat seperti itu, ya sudah. Akhirnya saya turun ke seluruh mahasiswa, saya sampaikan jangan khawatir kita jalan terus, saya ngajar sendiri.

    Mengajar berapa kelas?

    Waktu itu kita hanya mengendalikan dua ruangan, jadi minimal saya harus punya satu partner. Tapi dari guru yang lain, guru part time, kita masih punya. Akhirnya kita menggunakan part time untuk mencari pengganti. Itu pengalaman yang nggak boleh diulang.

    Kapan mengalami percepatan pertumbuhan dan apa faktor-faktornya? ….

    Jadi kalau dari awal, langkah yang kita lakukan adalah berbuat sebaik mungkin melayani para siswa. Itu strategi yang saya lakukan. Karena itu tumbuhnya pelan. Sampai suatu saat tahun 1995, kita punya mahasiswa tujuh ribu, gedungnya kita baru punya satu yang lengkap. Itu pun dibangun mulai 1984, tiap dua tahun kita menambah ruangan sampai 1995. Kita mulai program S-2 tahun 1993 sebagai suatu program untuk mengangkat image, otomatis kita harus merekrut orang yang lebih baik. Kemudian belajar memenej teman-teman yang pengetahuannya di atas saya. Nggak gampang juga, susah juga! Biasanya teman-teman di atas kita, kalau ditarik dia langsung positioning diri, kan? Dari sisi lebih pengetahuannya oke, karena kita undang memang karena itu.

    Tapi kadang ada satu rasa sombong yang mengakibatkan mereka lupa, dengan meremehkan organisasi kita yang lebih besar. Ini sempat terjadi. Padahal ini adalah dosen yang kita didik melalui beasiswa dinas. Itu kegagalan pertama kita menentukan resource. Kita kirim ke luar negeri untuk S-3 tapi gagal. Itu hampir membalikkan organisasi kita, sehingga terpaksa kita lepas. Pada saat itu saya bertemu teman yang mempunyai filosofi berbeda dengan approach yang saya pakai. Kawan ini bilang, “Kalau kita ingin maju kita harus tentukan ujungnya dulu, sasaran”. Kalau saya kan didorong dari bawah. Jadi kalau kawan ini, ditentukan sasarannya dulu, terus kita uber. Sehingga sejak 1995 itu mulai lebih cepat. Sekitar enam tahun berikutnya, dari 7 ribu mahasiswa menjadi 22 ribu. Ini karena strategi teman tadi yang kita pakai.

    Siapa saja yang mendorong kemajuan tersebut?

    Tim inti kita sekarang. Jadi filosofi yang saya belajar dari kawan-kawan ini adalah kalau mau melakukan sesuatu, lakukan sesuatu yang besar sekaligus karena capeknya sama. Jangan yang biasa-biasa.

    Apa inti strategi Anda sehingga bisa membangun universitas yang pesat perkembangannya?

    Kita memang punya tim inti. Di dalam tim tadi kita selalu mendorong bahwa sebenarnya kita punya visi. Visi kita adalah menjadi panutan. Terus pada waktu diskusi, yang disebut panutan itu apa? Harus bisa jadi contoh kan bagi yang lain? Mengukurnya bagaimana? Nah, kita harus membuat langkah yang berbeda dari kawan-kawan lain. Langkah pertama yang kita lakukan adalah ISO. Jadi memakai bakuan mutu ISO 9001 tahun 1997. Pesannya, kita harus beda dengan kawan-kawan lain. Kalau berbeda harus inovasi, kan? Padahal awalnya kita ISO baru belajar. Tapi berani dululah.

    Setelah berjalan, ISO itu benar-benar suatu konsep yang bagus. Karena digunakan oleh banyak usaha dan perusahaan. Konsep berpikirnya bagus dan indah sekali. Antara lain disampaikan, ‘tentukan sasaran yang ingin Anda capai’, ‘semua sasaran harus bisa diukur’, ‘apa yang Anda tulis harus bisa dilaksanakan’. Kita belajar banyak dari konsep itu, bahwa kita tidak boleh berjanji sesuatu yang kita tidak bisa berikan. Karena itu bisa menjatuhkan kita. Kita harus menanamkan kepercayaan kepada pelanggan. Kalau kita janji A, harus diberikan A, dan semuanya harus bisa diukur. Dari situ kita menerapkan konsep-konsep yang berbeda dari kawan-kawan lain, misalnya pertemuan dalam suatu kelas. Kita define per kelas dalam satu semester, dan kalau ada dosen yang tidak masuk, kita harus bisa uber sampai ada kelas. Kalau perlu hari minggu kuliah. Sekalian ini menanam konsep kepada mahasiswa, kalau dia dirugikan, dia boleh berteriak kepada kita. Karena ini alat kontrol, mereka harus berteriak. Memang babak belur.

    Babak belurnya?

    Babak belurnya, teriakan tahun pertama itu tidak di sektor akademik saja. Wah…gila juga ini! Kita sudah berusaha merapikan bagian akademik, teriakannya di bagian-bagian lain. Keseluruhan akhirnya. Berarti tantangan bagi kita untuk bisa memuaskan para pelanggan kita di semua sektor. Itu kan input? Dulu kita tidak berpikir sejauh itu. Jadi itu yang menarik, sehingga kita belajar. Itu yang mendorong kita. Akhirnya kita membuat suatu plan yang bisa kita definisikan. Begitu tim berani mendefinisikan, tugas saya nguber tim. Tidak terasa itu tercapai, yang mengakibatkan pelanggan percaya kembali kepada tim. Biar pun berat karena kita harus berubah. Kalau tahun ini kita lebih ingin mengubah konsep berpikir.

    Perubahan seperti apa kira-kira?

    Kalau kemarin ISO itu tentang tujuan dan sebagainya. Sekarang kita bisa seperti ini dan diakui masyarakat. Sehingga pengalaman yang kita rasakan ini, kita ingin turunkan secepatnya kepada para mahasiswa supaya mereka juga berhasil juga nantinya. Jadi memang di dalam perjalanan, katakan kalau ada demo mahasiswa saat ini, kalau di tempat lain pimpinan menghindar, ya. Rata-rata tidak mau menemui, kan? Kalau kita berpikir karena mereka ini mahasiswa timur, pasti mereka ingin menyampaikan sesuatu feedback. Kalau mereka ingin menyampaikan feedback kepada kita, kenapa kita ndak mau menemui? Justru kita harus cari secepat mungkin. Dan harus dididik mahasiswanya. “Kalau Anda mau demo boleh, tapi misi demonya apa? Menyampaikan kritik kepada kita, kenapa tidak bertemu kita?”

    Jadi filosofinya yang kita tanamkan. “Kalau Anda mau menyampaikan itu, ngapain pasang-pasang spanduk atau rame-rame di lapangan? Nggak sampai juga kalau saya tidak dengar, atau kalau saya pura-pura ndak dengar. Misinya kan mau menyampaikan, datang saja ketuk pintu. Anda mau ngomong atau Anda mau marah di sini juga boleh”. Jadi filosofinya yang kita ubah. Dan cukup baik hasilnya. Mereka itu senang kalau didengar, ya? Begitu kita dengar, meskipun kita katakan “Sorry saya tidak bisa melaksanakan yang kamu minta….” Ndak marah juga. Mengapa kita takut?

    Salah satu keberhasilan lembaga ini adalah kerjasamanya dengan lembaga lain. Bagaimana Anda menjalankan strategi ini?

    Memang mengelola pendidikan itu bukan suatu proses yang begitu satu proses selesai, terus kita selesai, tidak ada after sales. Kalau di industri kan mereka pakai, begitu jual, ada after sales. Konsep perguruan tinggi kan nggak? Lepas dari perguruan tinggi itu urusan masing-masing. Dia tak berhasil ya dukamu, dia berhasil ya untungmu, begitu konsep umum, ya? Cuma kita berpikir, kalau mereka tidak berhasil, ya kita sedikit berdosa, kan? Artinya kita salah dong dalam mengarahkan mereka? Iya, kan? Jadi kita berpikir, minimal kita kasih senjata sedikit lagi dong! Yang harus kita lengkapi, yang dia kemampuan minimalnya secara cepat bisa sama dengan pasar. Karena itu kita mulai bekerjasama dengan Cisco, Microsoft, IBM, itu antara lain. Tujuannya adalah mentransfer pengetahuan-pengetahuan up to date yang mereka pakai di dunia usaha ini untuk bisa dikuasai oleh mahasiswa. Biar pun itu tidak masuk di kurikulum. Kurikulum kan kita bingung karena diatur pemerintah. Itu dipasang kan beban berat?

    Soal kurikulum dalam konsep Anda, apa saja yang perlu ditambahkan?

    Dari segi kurikulum kalau zaman dulu kan banyak diatur pemerintah. Tapi sekarang sudah banyak kelonggaran. Sehingga kita melihat, wah…. ini lebih mudah lagi untuk mencapai tujuan dan sasaran kita. Yang sebenarnya kita lakukan dalam kurikulum ini, akhirnya kembali ke prinsip lagi. Filosofi dasar yang harus kita tanam kepada mahasiswa adalah suatu pengantar untuk belajar. Apa pun ilmunya, jadi bagaimana cara kita mendidik mahasiswa tentang cara belajar untuk belajar. Ini yang tidak ada di dunia pendidikan. Sekarang ini yang saya lihat, karena banyak dosennya yang part time akhirnya ‘pokoknya aku ngajar…ngerti sukamu nggak ngerti sukamu’.

    Dampaknya nggak ada inovation. Kondisi mahasiswa sekarang kalau tidak disuruh tidak jalan, nggak ngerti inovation. Belajar pun biasa dikebut dua hari, kalau nilainya tinggi ada kebanggaan. Makanya kita adakan perubahan total. Jadi konsepnya, materi tidak harus habis, yang penting cara belajarnya bisa tertanam. Sehingga mereka bisa belajar lebih banyak daripada apa yang kita berikan. Otomatis ya, semangatnya harus ditanamkan, cari bacaan sebanyak mungkin, cari informasi sebanyak mungkin. Kebetulan saya kemarin mencoba dalam kelas entrepreneur, capek! Capeknya, pada awal di kelas saya tanya, “Ini kalian masuk kelas entrepreneur karena Anda mau jadi entrepreneur atau karena dipaksa oleh sistem kita?”.

    Dan jawaban mereka?

    Jawabnya, “Kami diwajibkan.” Wah, saya kecewa. Padahal saya mengorbankan waktu malam untuk mengajar mereka. Saya bilang, “Kalau Anda hanya untuk pengetahuan dan tidak untuk diterapkan, saya rugi!”. Lalu saya balik, “Di akhir kelas saya ingin Anda mengubah konsep bahwa akhirnya Anda ingin jadi entrepreneur, karena Anda tahu semua cara entrepreneur itu bagaimana”. Lalu kita kasih PR (pekerjaan rumah), otomatis dong, proses belajar kok. Apa yang harus Anda belajar, topiknya ini, belajar buku ini, cari dari internet ini, di kelas kita tidak ngajar. Saya anggap di kelas itu mereka sudah belajar, kita bicara suatu topik, tinggal mereka menentukan apa yang mau didiskusikan. Lalu saya undang para wirausahawan dan dunia industri, dan mereka boleh menggali sebanyak mungkin dari background pengetahuan minimal yang mereka pakai.

    Jadi pada awal bagaimana, perlu uang apa nggak, wirausaha, kan? Dan akhirnya mereka melihat bahwa teman-teman yang kita datangkan semuanya memulai usaha tanpa uang. Semua start dari zero. Maka begitu akhir kelas mereka membuat business plan, disuruh presentasi, sudah hebat-hebat. Nilai kita umumkan, lalu saya inginkan feedback; “Apakah Anda ingin jadi entrepreneur?” Semua bilang oke, malah ada yang sudah berpikir “Saya mau di industri ini, ini, ini.”. Ada juga yang bilang, “Ini adalah proses belajar yang paling menyenangkan yang pernah saya alami.” Sudah bagus, kan? Padahal kita nggak ngajar, hanya skenario kita buat sedemikian rupa dan mereka sendiri yang belajar. Tapi dampaknya mereka merasa itu yang paling tinggi nilainya. Jadi memang prosesnya yang harus diubah di perguruan tinggi itu.

    Dunia pendidikan adalah dunia idealisme. Sementara pendidikan sendiri jika tidak dikelola secara profesional juga tidak jalan. Bagaimana Anda menyeimbangkan keduanya?

    Sebenarnya terpisah. Sisi idealisme kita bukannya membentuk lulusan istilahnya, tapi memvalue-added. Menanamkan suatu value added kepada mahasiswa yang masuk sehingga menjadi lulusan, itu adalah pengetahuan dan nilai-nilai. Itu yang kita tanamkan. Itu idealismenya. Jadi usaha yang kita lakukan dalam memenej pengetahuan yang kita tanam tadi, dan itu yang disebut bisnisnya ya, mengelolanya. Kalau kita compare, mengelola perguruan tinggi dengan mengelola bisnis itu sama. Tidak ada bedanya. Kan di situ ada faktor finance, ada faktor operasional? Bedanya, kalau di pabrik kan dia milih barang mentah dikelola menjadi barang jadi. Kalau di rumah sakit ya menyembuhkan penyakitnya. Kalau di kita kan hampir mirip dengan di rumah sakit. Umumnya kita menambah value, itu yang kita garap. Di bisnis sama, tidak beda ya? Makanya teman-teman banyak yang mengatakan, kalau mengelola perguruan tinggi dengan gaya bisnis itu seolah-olah berdosa. Banyak yang mengungkapkan demikian. Tapi kalau filosofinya bagaimana kita berusaha dengan profesional untuk supaya targetnya tercapai, sama (dengan bisnis: red). Kawan-kawan di dunia industri tetap bilang ini bisnis ya.

    Cuma bisnis yang muatannya lain?

    Ya, tetap ada suatu nilai idealismenya. Ya, memang harusnya bisalah.

    Ke depan, cita-cita apalagi yang ingin Anda wujudkan setelah dari semua yang Anda bangun selama ini?

    Kalau di perguruan tinggi kita kan mencoba memberikan contoh, dan kebetulan ini kegiatan terbesar yang kita lakukan. Ternyata kalau kita menerima mahasiswa masuk, banyak konsep berpikir yang salah yang ditanamkan di pendidikan sebelumnya. Di keluarga kita tidak bisa mempengaruhi karena itu hak masing-masing keluarga. Minimal yang di sekolah-sekolah di tingkat bawahnya. Yang paling mendasar dampak yang kita rasakan di perguruan tinggi adalah kemampuan bertanya. Waduh. mahasiswa yang berani bertanya. takut kan mereka bertanya? Karena ini budaya. Padahal budaya bertanya itu, kalau mereka bertanya mereka bisa explore segala macam. Minimal dia akan bertanya terus pada diri sendiri. Itu akhirnya kita berpikir, kita harus memberi contoh juga pada tingkat di bawahnya.

    Jadi kita akan mendirikan sekolah. Tapi model kita tidak akan berbentuk seperti yang sudah ada. Biar pun model ini kalau kita lihat layer kita masih pasang di layer atas. Karena kita belum berani pasang di layer bawah ditinjau dari segi ekonominya. Tapi suatu saat kita akan turun jugalah. Jadi kita masih pakai yah.menanamkan ini pada yang atas karena kita juga lagi belajar ya? Proses belajar kan harus berhasil? Jadi kita menanamnya di atas, mungkin pengalaman ini nanti akan coba kita turunkan sebagai model. Mudah-mudahan model ini tidak kalah di perguruan tinggi, secara cepat kalau ikut program lain. Kalau ini dilewati Indonesia akan bangun lebih cepat, kan?

    Hal apa yang paling memotivasi Anda untuk berkarya di bidang ini?

    Pada awal berdiri kita punya moto, bahwa kita ingin berperan membangun bangsa melalui pengetahuan. Namanya kebetulan juga Bina Nusantara. Itu pun nama yang diberikan kawan-kawan seperjuangan ayah di masa penjajahan. Dan itu menjadi spirit seluruh civitas akademik kita. Itulah kenapa dinamakan Bina Nusantara, karena kita punya cita-cita melalui pendidikan ini kita harus bisa berperan membangun bangsa Indonesia. Itu folosofi yang ditanamkan oleh penasihat kawan seperjuangan ayah. Pada awal mulai mereka juga bilang, “Jangan mengecewakan kami ya? Jika Anda mengundang kami, ikuti apa pun tujuan, visi. Jangan sampai Anda hanya pinjam nama tetapi tidak bertanggung jawab!” Itu yang selalu kita ingat. Memang masa itu waktu kita tumbuh, semua perguruan tinggi pakai nama leader ya jenderal dan sebagainya. Kalau sekarang sudah hilang ya. Cuma saya bilang waktu itu, “Saya tidak akan pernah mencatut nama. Karena tidak ada gunanyalah nama-nama yang dipasang!” Iya, toh? Sampai hari ini kita tidak pernah pasang.

    Kalau spirit dari dalam Anda sendiri?

    Kalau visi dasar saya sebagai individu adalah bagaimana saya melayani banyak orang, sehingga mereka bisa berguna bagi negara dan bangsa ini. Yang menjadi panutan paling kuat bagi saya adalah Ibu Theresa. Sentuhan kemanusiaannya.

    Bagaimana Anda memaknai perjalanan hidup dan kesuksesan ini?

    Saya merasakan bahwa apa pun yang kita capai saat ini adalah bukan dari individu. Kadang-kadang saya berpikir bahwa Binus ini bukan milik saya, tapi Binus ini milik Tuhan yang dipercayakan kepada saya. Sehingga saya harus jaga baik-baik, sehingga ya tidak mengecewakan Pemiliknya.. Filosofi sebenarnya itu. Lebih mudah, kan? Dari pada kalau milik kita, kita bisa nggak tidur! Iya, kan? Kalau dibalik seperti itu, ini hanya milik Yang di Atas, kita hanya diberi kepercayaan, kan kita tinggal membagikan itu kepada kawan-kawan yang lain dan mereka rata-rata ikut setuju. Lebih enak lagi, kan? Sehingga gerakannya saya bilang, “Saya bukan tipe seorang pemimpin yang akan memonitor day to day apa yang kalian lakukan, tapi yang ingin saya tanamkan adalah bahwa pengawasnya bukan saya, pengawasnya adalah Pemiliknya”. Lebih enak lagi, kan? []

    ***

    Keep the ideas coming guyz… and why don’t u try some of them

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 26 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Penjual Kue Semprong Itu 

    Dari seorang sahabat:

    Semalam saya keluar dari Ranch Market jam 8.30. Hujan deras. Petugas Ranch Market setengah berlari mendorong trolly berisi barang-barang belanjaan saya. Saya juga berlari-lari kecil menjajari langkahnya menuju mobil. Saya membukakan bagasi dan petugas memindahkan barang-barang belanjaan saya. Seorang penjaja kue semprong mendekati kami. Memang setahu saya banyak penjaja kue semprong disana menjajakan barang dagangannya dengan sedikit memaksa.

    Karena terlalu biasa saya tidak mengacuhkannya, apalagi di hujan deras seperti ini.

    Setelah memberikan tip saya masuk mobil, namun masih saya dengar ucapan penjaja kue semprong tersebut, ‘ Bu, beli kue semprongnya untuk ongkos pulang ke Tangerang”.

    Didalam mobil saya berpikir saya kasih uang saja karena penganan yang saya beli di supermarket sudah cukup banyak, bagaimana jika tidak ada yang menghabisnya. Nanti jatuhnya mubazir. Saya memang lebih suka dengan para penjaja kue seperti ini ketimbang pengemis. Pelajaran berharga yang pernah saya dapat dari mantan bos saya sembilan tahun lalu. Masih teringat ucapannya ketika itu kami berdiskusi di kantor.

    “Coba kalau ada penjaja makanan atau barang dan pengemis dilampu merah mana yang kamu berikan uang?, tanyanya. Belum sampai kami menjawab, ia berkata lagi “pasti yang kamu berikan uang si pengemis itu dan penjaja makanan atau barang itu kamu acuhkan”. Secara serempak kami mengiyakan. “coba pikirkan lagi, si pengemis itu pemalas tidak bermoral, kenapa kita kasih uang, sementara si penjaja makanan ataupun barang punya harga diri, dan pastinya secara pribadi lebih baik dari si pengemis, lalu kenapa kita tidak membeli barang dagangan si penjaja makanan atau barang tersebut? Teman saya nyeletuk,” karena kita ngga butuh”. Mantan bos saya bergumam, “Ya betul karena kita tidak butuh”.

    Obrolan itu begitu singkat, tapi begitu mengena di hati saya. Pak Teddy Sutiman membuka mata hati saya untuk lebih bijaksana dalam melihat suatu persoalan, bukan hanya berpikir praktis saja. Dan sejak itu saya lebih memberi perhatian kepada para penjaja makanan atau barang di jalanan dibandingkan para pengemis.

    Penjaja jual kue semprong itu masih dengan setia menanti disisi mobil saya. Saya menghela nafas.

    Bukan karena tidak rela berbagi rejeki tapi karena menyesali banyak sekali penganan yang sudah saya beli tadi. Akhirnya saya membuka kaca, ” Pak, saya tidak mau beli kue semprongnya, tapi kalau bapak saya beri uang mau tidak?”. Tidak dinyana penjaja kue semprong itu menggelengkan kepalanya dan pergi dengan cepatnya dari sisi mobil saya. Saya tersentak dan menutup kaca jendela, hujan mengguyur deras dan membanjiri sisi kaca dalam mobil saya karena berbicara dengan si penjaja kue semprong.

    Beberapa detik saya kehilangan daya ingat saya, karena tidak menyangka ucapan yang keluar dari penjaja kue semprong tadi. Sembilan tahun saya telah lebih memberi perhatian kepada para penjaja makanan ataupun barang dibanding pengemis. Sesekali jika saya tidak butuh barang mereka, selalu saya ucapkan kalimat tadi, dan hampir semuanya tidak pernah menolak pemberian saya. Baru kali ini ada yang menolaknya. Baru kali ini …

    Hujan mengguyur makin deras dan saya masih terpaku di mobil, terbayang ucapannya ” untuk ongkos pulang ke Tangerang..” sementara total nilai belanjaan saya tadi mungkin bisa untuk ongkos pulang Bapak penjaja kue semprong selama tiga bulan.

    Tersentak saya mencari-cari bayangan penjaja kue semprong ditengah kabut dari derasnya hujan, terlihat pikulannya ada di pinggir teras sebuah toko tutup.

    Hujan masih deras mengguyur kaca mobil. Mudah-mudahan hujan cepat reda supaya bapak penjaja kue semprong tadi bisa pulang tanpa kehujanan.

    Penjajanya duduk dibawah dengan muka pasrah. Saya mundurkan mobil menuju kearahnya. Kembali saya buka kaca jendela sebelah kiri ditengah guyuran hujan dan menjerit,’ Pak, memang harganya berapa ?”. Ia menyebutkan sejumlah harga yang sangat murah. Akhirnya saya katakan,” ya sudah deh beli satu”. Dia membawa kue semprong pesanan saya didalam plastik. Sampai di mobil,” saya serahkan uang, dan dia bengong karena saya tidak menyerahkan uang pas. Saya tau dia pasti bingung memikirkan kembaliannya, tapi dengan cepat saya katakan, “kembaliannya ambil buat Bapak saja”. Dia bengong. “ambil saja Pak, ini rejeki Bapak, memang hak Bapak”. Dia meneguk ludah, sebelum sempat dia mengucapkan apa-apa saya langsung menutup kaca mobil dan pergi.

    Tiba-tiba air mata ini mengalir deras melebihi derasnya hujan diluar sana.

    Kalau Bapak itu tidak menerimanya, saya tidak tahu seberapa sakitnya hati saya, karena didalam rejeki saya ada hak mereka termasuk hak Bapak penjaja kue semprong itu. Tiap bulan memang selalu saya sisihkan buat mereka, tapi mengetahui bahwa saya telah memberikan betul-betul kepada orang yang berhak menerimanya, betul betul kepada orang yang berhati mulia, dan betul-betul kepada orang yang membutuhkannya, betul-betul membuat saya merasa hidup saya begitu bermakna dan saya sangat bersyukur atas rahmat-Nya.

    Ditengah leher saya yang sakit sekali karena tercekat, saya berdoa kepada Allah agar Bapak penjaja kue semprong tersebut dan keluarganya diberikan rahmat, kemurahan rezeki dan kemudahan hidup oleh Allah. Dan saya bersyukur atas segala rahmat dan kemudahan hidup yang diberikan Allah kepada saya dan keluarga saya.

    ***

     
    • rizal 6:40 pm on 26 September 2010 Permalink

      saya juga pernah mengalami pengalaman yang hampir mirip seperti itu. saya mahasiswa, yang saat itu pulang dari kampus sekitar jam 6 magrib sore. sewaktu mengambil uang ATM, di cabang BNI jalan Kaliurang , Yogya, sekilas saya melihat nenek2 yang sudah tua, mungkin umurnya 60tahunan, menggendong daganganya yaitu pisang. nah sewaktu, mw pulang nenek itu meminta saya untuk membeli pisanngnya, padahal takutnya mubazir kalau saya bawa pulang, dan nenek itu berharap sekali, karena sejak tadi, pisangnya belum laku. yah tak ada niat untuk beli akhirnya saya pun membeli pisang, yang seharga 20rb..mahal amat ya, batinku. tanpa basi2 lagi, sy langsung pulng ke kost. sepanjang perjalanan aq, berpikir, ni pisang ndak bisa kuhabiskan nih kalau aq sendirian.. akhirnya , saya kasihkan cuma-cuma ke pengemis perempatan ringroad jalan kaliurang, semoga mendapatkan berkah.

    • kue ulang tahun bandung 1:49 pm on 28 September 2010 Permalink

      kuenya enak

    • arytama 12:14 pm on 28 November 2010 Permalink

      aku jg pengalaman yg sm dgn penjual kue semprong, beliau kakek2. Waktu itu pulang kerja, dan beliau menawarkan kuenya dengan suara lirih memelas. Sbnrny aku gak butuh tp aku beli jg krn kasihan, itung2 lumayan membantu meringankan beban kakek tersebut. Pas dibawa pulang kuenya, utk oleh2 di rumah, ternyata ortu ku senang aku bw kue itu kue trsbt dan ternyata punya memori tersendiri tentang kue itu.

  • erva kurniawan 1:06 am on 13 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Indahnya Berprasangka Baik 


    Dua orang laki-laki bersaudara bekerja pada sebuah pabrik kecap dan sama-sama tekun belajar Islam. Sama-sama mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin. Mereka acap kali harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah guru pengakiannya. Jaraknya sekitar 10km dari rumah peninggalan orangtua mereka.

    Suatu ketika sang kakak berdo’a memohon rejeki untuk membeli sebuah mobil supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi mengaji. Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia miliki dikarenakan mendapatkan bonus dari perusahaannya bekerja.

    Lalu sang kakak berdo’a memohon seorang istri yang sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik akhlaknya.

    Kemudian berturut-turut sang Kakak berdo’a memohon kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain. Dengan itikad supaya bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan Allah selalu mengabulkan semua do’anya itu.

    Sementara itu, sang Adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang dulu dia tempati bersama dengan Kakaknya. Namun karena kakaknya sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering kali harus berjalan kaki untuk mengaji kerumah guru mereka.

    Suatu saat sang Kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya. Dia teringat bahwa adiknya selalu membaca selembar kertas saat dia berdo’a, menandakan adiknya tidak pernah hafal bacaan untuk berdo’a. Lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati adiknya supaya selalu berdo’a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan hatinya, karena dia merasa adiknya masih berhati kotor sehingga do’a-do’anya tiada dikabulkan oleh Allah azza wa jalla.

    Sang adik terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihat itu.

    Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai meninggalnya adiknya itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya sehubungan do’anya tak pernah terkabul.

    Sang kakak membereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai dengan amanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do’a, diantaranya Al-fatehah, Shalawat, do’a untuk guru mereka, do’a selamat dan ada kalimah di akhir do’anya:

    “Ya, Allah. tiada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Mu, Ampunilah aku dan kakak ku, kabulkanlah segala do’a kakak ku, bersihkanlah hati ku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku didunia dan akhirat,”

    Sang Kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya, tak dinyana ternyata adiknya tak pernah sekalipun berdo’a untuk memenuhi nafsu duniawinya

    ***

    Dari Sahabat

    Indahnya Berprasangka Baik . . . . . . . . .

    Dua orang laki-laki bersaudara bekerja pada sebuah pabrik kecap dan sama-sama tekun belajar Islam. Sama-sama mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin. Mereka acap kali harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah guru pengakiannya. Jaraknya sekitar 10km dari rumah peninggalan orangtua mereka.
    Suatu ketika sang kakak berdo’a memohon rejeki untuk membeli sebuah mobil supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi mengaji. Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia miliki dikarenakan mendapatkan bonus dari perusahaannya bekerja.
    Lalu sang kakak berdo’a memohon seorang istri yang sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik akhlaknya.
    Kemudian berturut-turut sang Kakak berdo’a memohon kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain. Dengan itikad supaya bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan Allah selalu mengabulkan semua do’anya itu.
    Sementara itu, sang Adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang dulu dia tempati bersama dengan Kakaknya. Namun karena kakaknya sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering kali harus berjalan kaki untuk mengaji kerumah guru mereka.
    Suatu saat sang Kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya. Dia teringat bahwa adiknya selalu membaca selembar kertas saat dia berdo’a, menandakan adiknya tidak pernah hafal bacaan untuk berdo’a. Lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati adiknya supaya selalu berdo’a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan hatinya, karena dia merasa adiknya masih berhati kotor sehingga do’a-do’anya tiada dikabulkan oleh Allah azza wa jalla.
    Sang adik terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihat itu.
    Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai meninggalnya adiknya itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya sehubungan do’anya tak pernah terkabul.
    Sang kakak membereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai dengan amanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do’a, diantaranya Al-fatehah, Shalawat, do’a untuk guru mereka, do’a selamat dan ada kalimah di akhir do’anya:
    “Ya, Allah. tiada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Mu, Ampunilah aku dan kakak ku, kabulkanlah segala do’a kakak ku, bersihkanlah hati ku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku didunia dan akhirat,”
    Sang Kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya, tak dinyana ternyata adiknya tak pernah sekalipun berdo’a untuk memenuhi nafsu duniawinya
    ***
    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 9 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Cara Rasul Merayakan Idul Fitri 

    Fajar 1 Syawal menyingsing, menandai berakhirnya bulan penuh kemuliaan. Senyum kemenangan terukir diwajah-wajah perindu Ramadhan, sambil berharap kembali meniti Ramadhan di tahun depan. Satu persatu kaki-kaki melangkah menuju tanah lapang, menyeru nama Allah lewat takbir, hingga langit pun bersaksi, di hari itu segenap mata tak kuasa membendung airmata keharuan saat berlebaran. Sementara itu, langkah sepasang kaki terhenti oleh sesegukan gadis kecil di tepi jalan. “Gerangan apakah yang membuat engkau menangis anakku?” lembut menyapa suara itu menahan beberapa detik segukan sang gadis.

    Tak menoleh gadis kecil itu ke arah suara yang menyapanya, matanya masih menerawang tak menentu seperti mencari sesosok yang amat ia rindui kehadirannya di hari bahagia itu. Ternyata, ia menangis lantaran tak memiliki baju yang bagus untuk merayakan hari kemenangan. “Ayahku mati syahid dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah,” tutur gadis kecil itu menjawab tanya lelaki di hadapannya tentang Ayahnya.

    Seketika, lelaki itu mendekap gadis kecil itu. “Maukah engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu, Muhammad Ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan serta Husain menjadi saudaramu?” Sadarlah gadis itu bahwa lelaki yang sejak tadi berdiri di hadapannya tak lain Muhammad Rasulullah SAW, Nabi anak yatim yang senantiasa memuliakan anak yatim. Siapakah yang tak ingin berayahkan lelaki paling mulia, dan beribu seorang Ummul Mukminin?

    Begitulah lelaki agung itu membuat seorang gadis kecil yang bersedih dihari raya kembali tersenyum. Barangkali, itu senyum terindah yang pernah tercipta dari seorang anak yatim, yang diukir oleh Nabi anak yatim. Rasulullah membawa serta gadis itu ke rumahnya untuk diberikan pakaian bagus, terbasuhlah sudah airmata. Lelaki agung itu, shalawat dan salam baginya.

    Lebaran, bagi kita sangat identik dengan pakaian bagus. Tak harus baru, setidaknya layak dipakai saat bersilaturahim dihari kemenangan itu. Namun tak dapat dipungkiri, bagi sebagian besar masyarakat kita, memakai pakaian baru sudah menjadi budaya. Mungkin budaya ini merujuk pada kisah di atas, bahwa Rasul pun memakai pakaian yang bagus dihari raya. Tidak sedikit uang yang dikeluarkan untuk menyambut lebaran, bahkan bagi sebagian orang, tak cukup satu stel pakaian baru disiapkan, mengingat tradisi silaturahim berlebaran di Indonesia yang lebih dari satu hari.

    Tak ada yang salah dengan budaya baju baru itu, ambil sisi positifnya saja, bahwa keceriaan hari kemenangan bolehlah diwarnai dengan penampilan yang lebih baik. Sekaligus mencerminkan betapa bahagianya kita menggapai sukses penuh arti selama satu bulan menjalani Ramadhan. Baju baru bukan cuma fenomena, bahkan sudah menjadi budaya. Tetapi ada cara berlebaran Rasulullah yang tak ikut kita budayakan, yakni menceriakan anak yatim dengan memberikan pakaian yang lebih pantas dihari istimewa.

    Anak-anak kita bangga menghitung celana dan baju yang baru saja kita belikan. Tak ketinggalan sepatu dan sandal yang juga baru. Dapatlah kita bayangkan betapa cerianya mereka saat berlebaran nanti mengenakan pakaian bagus itu. Tapi siapakah yang akan membelikan pakaian baru untuk anak-anak yatim? Tak ada Ayah atau Ibu yang akan mengajak mereka menyambangi pertokoan dan memilih pakaian yang mereka suka. Dapatkah kita bayangkan perasaan mereka berada di tengah-tengah riuh rendah keceriaan anak-anak lain berbaju baru,sementara baju yang mereka kenakan sudah usang.

    Rasulullah tak hanya berbaju bagus saat berlebaran, tetapi juga mengajak seorang anak yatim ikut berbaju bagus, sehingga nampak tak berbeda dengan Hasan dan Husain. Lelaki agung itu, tahu bagaimana menjadikan hari raya juga istimewa bagi anak-anak yatim. Mampukah kita meniru cara Rasul berlebaran?

    Kalau kita mampu membeli beberapa stel pakaian untuk anak-anak kita, adakah sedikit yang tersisihkan dari rezeki yang kita dapat untuk membeli satu saja pakaian bagus untuk pantas dipakai oleh anak-anak yatim tetangga kita. Kebahagiaan 1 Syawal semestinya tak hanya milik anak-anak kita, hari istimewa itu juga milik mereka.

    Maka, ikutilah! Gerakan LCR (Lebaran Cara Rasul). Gerakan ini, saya yakin sudah banyak yang melakukannya diberbagai tempat. Namun jika lebih banyak lagi orang-orang beruntung seperti kita yang mau membudayakan LCR ini, akan lebih banyak senyum anak yatim yang tercipta dihari bahagia.

    Note: Jika berkenan meneruskan tulisan ini ke berbagai milist dan komunitas, setidaknya Anda berkesempatan mengukir senyum anak-anak yatim. Apalagi jika ada yang bekerja di media, atau punya akses ke berbagai media cetak maupun elektronik, sehingga Gerakan LCR ini menjadi sebuah gerakan nasional. Akan indahlah dunia dengan berbagi.

    Maha Suci Allah.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 30 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Izinkan Aku Menangis 

    sajadaheramuslim – Jam menunjukkan pukul 21.20 malam… Kecurian. Aku tertidur sekitar 3,5 jam setelah berbuka puasa petang tadi. Seingatku aku sedang kejar-kejaran dengan waktu di etape sulit ini. Al Qur’anku belum selesai. Tapi entah mengapa, mushaf itu tetap diam disamping bantal; dekat kepalaku? Aku menyerah lagi. Kelelahan fisik dan kepenatan pikiran. Aku hendak berapologi pada diriku sendiri.

    Kegundahan apakah ini? Kekhawatiran apakah ini? Kecemasan apa lagi?

    Mengapa pelupuk mataku panas. Namun, aku malu untuk menumpahkan air mata. Ya, air mata bening itu hanya boleh kutunjukkan pada-Nya. Bukan untuk memperturutkan rasa dan emosi serta mengalahkan rasio yang wajar. Meski… jebol juga tanggul itu.

    Aku membuka hadits ini lagi, ”Orang yang cerdas adalah orang yang merendahkan dirinya dan berbuat untuk masa setelah mati. Orang yang lemah adalah yang memperturutkan hawa nafsunya dan berharap (banyak) pada Allah”. (HR.Turmuzi, dari riwayat Syaddad bin Aus ra.)

    Jika kebodohan (tidak cerdas) tidaklah berakibat kepada kemurkaan Allah? Dan ternyata pengharapan pada-Nya saja tak cukup. Sering menyerah pada diri sendiri di tengah komitmen hendak berbuat. Harapan tanpa kekuatan itu disabdakan Rasulullah Saw. sebagai kelemahan. Mengapa aku lemah?

    Jika saja ini bukan di etape final. Aku boleh berharap banyak untuk menjadi sang pemenang. Jika saja aku boleh berandai, jarum jam diputar. Namun, agamaku melarang pengandaian. Benar. Konsentrasi di babak ini seringkali buyar.

    Aku membuka genggaman tangan kiriku. Ya, tinggal itulah hitungan hari-hari pembekalan tahun ini. Aku tak pernah tahu, mampukah aku sampai di penghujungnya. Mampukah aku menjadi yang terbaik diantara sekian juta para pemburu satu cinta, sejuta pengampunan dan seribu keberkahan? Aku malu menanyakannya pada diriku sendiri.

    Masih tersisa kedengkian. Masih ada pertanyaan sikap dan prasangka buruk. Masih juga bersemanyam ketersinggungan dan gerutu ketidakpuasan. Masih ada pandangan mata khianat. Masih ada ketajaman lidah yang melukai hati. Masih juga mengoleksi berita-berita tak bernilai. Masih saja melafazkan kata-kata tak bermakna. Lantas, apa makna tengadahan tangan di tengah malam yang diiringi isak pengharapan. Sekali lagi, pengharapan yang lemah yang kalah oleh nafsu.

    Aku terduduk lemas. Alhamdulillah Allah memberi kekuatan untuk mengungkapkannya. Aku pandangi lama-lama refleksi kegundahan itu.

    Aku hanya boleh bertanya, kemudian kujawab sendiri. Selain itu hanya kesunyian. Meski dunia sekelilingku ramai dengan hiruk pikuk malam. Kedai sebelah rumah masih ramai. Coffee shop masih dipenuhi orang yang asyik menonton el Ahli–mungkin–, klub kebanggaan mereka sedang berlaga. Aku dibangunkan teriakan itu. Mengapa tidak suara Syeikh Masyari Rasyid yang melantunkan surat al Qiyamah, misalnya. Atau suara siapa saja yang menembus gendang telinga ini. Namun, melantunkan suara pengharapan yang kuat yang bisa menembus langit-Nya.

    Atau suara-suara dari rumah-Nya yang dipenuhi isakan harapan hamba-hamba-Nya yang berlomba memburu seribu keberkahan dan sejuta pengampunan. Atau senyuman malaikat yang menyaksikan bocah-bocah kecil yang menahan kantuk berdiri sambil memegangi mushaf kecil dipojok-pojok masjid.

    Sebagaimana aku boleh berharap di penghujung hari pembekalan ini, aku menjadi sang jawara. Namun, aku malu untuk berharap demikian. Sebagaimana aku juga boleh berharap menutup hariku di dunia dengan syahadah di jalan-Nya. Toh, semua menjadi misteri yang tak terjawab.

    Ya, Khalid bin Walid pun yang sangat pemberani akhirnya menutup harinya di atas pembaringan. Lantas, tidakkah malu aku membandingkan pengaharapanku dengan kelemahan diriku menghadapi diri sendiri.

    Sebagaimana aku mengandaikan bidadari surga. Apakah ia takkan cemburu dan marah dengan pandangan khianatku pada hal-hal yang tak seharusnya kulihat.

    Sebagaimana aku berharap istana megah setelah matiku. Sudah berapakah aku menabung untuk itu. Sementara hidupku dipenuhi ambisi dan obsesi yang penuh dengan tabungan materi dan memegahkan istana duniaku. Dan aku telah mencintai dunia itu.

    Sebagaimana aku berharap menikmati seteguk susu dari aliran sungai di surga-Nya. Aku lalai mengumpulkan “dana” untuk membelinya. Juga madu dan jus mangga.

    Sebagaimana aku tetap berharap ingin terus mencicipi delima merah dan jeruk sankis serta buah khukh di masa setelah kefanaan ini. Tapi aku terlalu terpana oleh keindahannya yang sementara. Entah berapa tahun, bulan, hari atau bahkan hitungan detik aku masih bisa melihatnya di toko buah-buahan di sebelah rumahku.

    Aku memaknai keterlaluan yang fatal ini dengan sikap yang tidak seimbang. Khayalanku dipenuhi pengaharapan. Namun, hatiku disesaki kelemahan. Akibatnya seluruh organ tubuhku lemah. Mata, telinga, mulut, kaki, tangan… semua menolak untuk diajak menggapai cinta-Nya.

    Etape final ini banyak tikungan tajam. Dan aku terjatuh. Putaran roda keinginan tersebut trrgelincir oleh kerikil kecil bernama kelalaian. Alhamdulillah, aku masih bisa bangkit meneruskan perjalanan. Meski aku tahu, kini aku jauh tertinggal. Aku belum bisa menjadi yang terbaik. Tapi aku masih bisa berharap untuk menjadi baik. Karena aku masih bersama orang-orang baik bahkan mereka ada di depanku; orang-orang terbaik itu.

    Aku masih harus melewati tikungan tajam lainnya. Tergesa-gesa, kecerobohan, cinta dunia, rasionalisasi kesalahan, buruk sangka. Namun, aku masih punya bekal. Cinta, hati nurani dan bahan bakar ketelitian serta nasihat orang-orang shalih. Dan tikungan tajam yang paling membahayakan di akhir etape ini adalah: menduakan cinta-Nya. Ada cinta lain yang menyesak hendak menggeser kemuliaan itu.

    Ada beberapa materi terakhir di ujian final ini: menanggalkan kesombongan dan ingin dipuji serta disanjung berlebihan. Menanggalkan kecintaan dunia yang berlebihan dengan qanaah dan tawadhu’.

    Tiba-tiba aku ingin menangis. Namun, aku tak mampu. Ya Allah aku ingin mengeluarkan air mata ini untuk-Mu. Aku khawatir kesulitan ini tersendat karena kemurkaan-Mu.

    Air bening itu tersendat. Jangan-jangan karena kesalahanku. Karena tumpukan-tumpukan egoisme. Karena tumpukan-tumpukan kotoran buruk sangka. Karena tumpukan-tumpukan gerutu. Karena tumpukan-tumpukan doa-doa yang kosong. Terkunci oleh hawa nafsu.

    Jika demikian, jangan Kau murkai hamba ini ya Allah. Hamba masih terus berharap pembebasan dari murka-Mu di hari-hari pembebasan ini.

    “… dan sepertiga terakhirnya adalah pembebasan dari api neraka,” demikian Rasulullah Saw. menjelaskan karakteristik bulan pembekalan ini. Ya Allah, jadikanlah nama hamba ada dalam daftar pembebasan itu. Juga nama kedua orang tua hamba, keluarga hamba, para guru hamba, saudara-saudara hamba serta siapa saja yang mempunyai hak atas hamba. Amin.

    ***

    Oleh: Saiful Bahri

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 27 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kata-Kata Kasar. 

    Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. “Oh, maafkan saya” adalah reaksi saya. Ia berkata, “Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda.” Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

    Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda. Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. “Minggir,” kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.

    Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku, “Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, ketika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu.”

    “Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu.”

    Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, “Bangun, nak, bangun,” kataku.

    “Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?” Ia tersenyum, ” Aku menemukannya jatuh dari pohon. ”

    “Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru.”

    Aku berkata, “Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi.”

    Si kecilku berkata, “Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.” Aku pun membalas, “Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru.”

    Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.

    Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan? Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas? Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA?

    Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.

    FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER, (I), (L)OVE, (Y)OU

    Teruskan cerita ini kepada orang-orang yang kau pedulikan. Saya telah melakukannya.

    ***

    Dari milis, diterjemahkan dari : HARSH WORDS

    Everything is free

    Semoga menjadikan renungan yang bermanfaat.

     
    • sempulur 2:00 am on 27 Agustus 2010 Permalink

      Sekedar ingin mengucapkan salam kenal dari komunitas keluarga miskin. Semoga berkenan mengunjungi blog kami untuk menyumbang kesempatan meraih masa depan yang lebih baik dan harmonis. Terima kasih

    • azzen noury 9:45 am on 8 September 2010 Permalink

      Siiip…cerita yang patut utk direnungkan

  • erva kurniawan 2:53 am on 24 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Saya Beri Dia Waktu 3 Bulan 

    Pagi hari Kamis lalu, 13 Juli 2006, seorang wanita mudah berusia 24 tahun datang ke Islamic Cultural Center of New York. Dengan pakaian Muslimah yang rapi, nampak seperti santri bule duduk menunggu kedatangan saya di Islamic Center New York. Dengan sedikit malu dan menundukkan muka, dia memulai percakapan dengan bertanya, “Apa hukumnya seorang Muslimah bersuamikan non Muslim? Dan apakah seorang wanita yang bersuamikan non Muslim bisa diterima menjadi Muslimah?

    Tentu saja saya terkejut dengan pertanyaan itu. Mulanya saya mengira bahwa sang wanita yang duduk di hadapan saya ini adalah seorang Muslimah, barangkali dari negara Balkan, Bosnia atau Kosovo. Tapi setelah saya tanya, ternyata dia hanyalah seseorang yang baru menemukan Islam lewat internet (beberapa website Islam), dan kini secara bulat berniat untuk memeluk agama, yang menurutnya, the right way for her.

    Wanita muda itu bernama Jessica Mendosa. Kelahiran Albany, ibukota negara bagian New York dan kini tinggal di kota New York (New York City) sebagai mahasiswi di salah satu universitas di kota ini. Diapun baru menikah dengan suaminya sekitar 4 bulan yang lalu.

    Setelah berta’aruf lebih dekat barulah saya bertanya kepadanya: “Kenapa anda menanyakan tentang boleh tidaknya seorang Muslimah bersuamikan non Muslim? Dan kenapa pula Anda tanyakan apa diterima seorang wanita masuk ke dalam agama Islam jika bersuamikan non Muslim?”

    Dengan sedikit grogi atau malu, Jessica menjawab: “I am very much interested in Islam. I have learned it many months“.

    Saya kemudian memotong: “Where did you learn Islam?” Dia menjawab: “throughn the internet (Islamic websites)“.

    Saya kemudian menanyakan apa hubungan antara keingin tahuan dia tantang Islam dan seorang wanita bersuamikan non Muslim. Maka dengan berat tapi cukup berani dia katakan: “I’ve learned Islam and I am sure this is the right way for me. I am willing to embrace Islam now. But I’ve a problem. I am a wife of a non Muslim”.

    Ketika saya tanyakan apakah suaminya tahu keinginannya tersebut? Dia menjawab: “yes, and he is very much hostile to my intention“.

    Saya tidak langsung menjawab pertanyaannya karena saya yakin dia masih mencintai suami yang baru menikahinya sekitar 4 bulan silam. Saya justru menjelaskan kepadanya pokok-pokok keimanan dan Islam, khususnya makna berislam itu sendiri. Bahwa menerima Islam berarti bersedia menerima segala konsekwensi dari setiap hal yang terkait dengan ajarannya.

    “Islam is not only a bunch of ritual teachings, it’s a code of life,” jelasku.

    Dalam hal ini seseorang yang mengimani ajaran Islam dan dengan kesadarannya memeluk Islam berarti bersedia mengikuti ajaran-ajaran atau aturan-aturan yang mengikat. Dan penerimaan inilah yang merupakan inti dari keislaman itu sendiri.

    Nampaknya Jessica mendengarkan penjelasan itu dengan seksama. Hampir tak pernah bergerak mendengarkan penjelasan-penjelasan mengenai berbagai hal, dari masalah-masalah akidah, ibadah, hingga kepada masalah-masalah mu’amalah, termasuk urgensi membangun rumah tangga yang Islami dalam rangka menjaga generasi Muslim masa depan.

    Ketika saya sampai kepada permasalahan pasangan suami isteri itulah, Jessica memberanikan diri menyelah: “But I am still in love with my husband whom I married to just 4 months ago”

    Saya juga terkejut dan kasihan dengan Jessica. Hatinya telah mantap untuk menjadi Muslimah. Bahkan menurutnya: “Nothing should prevent me to convert to Islam“. Tanpa terasa airmatanya nampak menetes. Saya ikut merasakan dilema yang dihadapinya.

    Saya kemudian menjelaskan perihal hukum nikah dalam Islam dan berbagai hal yang terkait, termasuk persyaratan bagi wanita Muslim untuk menikah hanya dengan pria Muslim. Penjelasan saya tentunya tidak bertumpu kepada nash atau berbagai opini ulama, tapi diserta dengan berbagai argumentasi “aqliyah” (rasional) sehingga dapat meyakinkan Jessica dalam hal ini.

    Pada akhirnya, mau tidak mau, harus terjadi kompromi. Saya katakan, ketika anda sudah yakin bahwa inilah jalan hidup yang benar untuk anda ikuti, maka jangan sampai hal ini tersia-siakan. Namun di satu sisi saya perlu tegaskan bahwa sebagai Muslimah jika tetap bersuamikan non Muslim maka itu adalah sebuah pelanggaran terhadap hukum Islam.

    Untuk itu, setelah mempertimbangkan berbagai pertimbangan yang terkait, baik berdasarkan “masalih al mursalah” (manfaat-manfaat yang terkait) maupun realita-realita kehidupan di Amerika, serta yang paling penting adalah pengalaman-pengalaman mengislamkan selama ini, saya sampaikan kepada Jessica: “You may embrace Islam. But you have to find any possible way to convince your husband that you are not allowed to maintain this marriage if he insists to oppose Islam”.

    Dengan penjelasan terakhir ini Jessica nampak cerah, dan dengan tegas mengatakan: “I’ll give him a chance in 3 months. If he doesn’t want to follow my way, I will ask for a divorce“, katanya tanpa ragu.

    Saya katakan: “Hopefully people will not perceive that Islam separates between husbands and wives. But this is the rule and I have to tell you about it”.

    Oleh karena Islamic Center memang masih sepi, dengan hanya disaksikan dua orang Brothers, dengan diiriingi airmata, Jessica Mendosa mendeklarasikan: “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah”. Allahu Akbar wa lillah alhamd!

    Sabtu kemarin, Jessica telah resmi bergabung dengan kelas khusus yang dirancang untuk para muallaf “The Islamic Forum for new Muslims” di Islamic Cultural Center. Saya terkejut, Jessica hadir di kelas itu seperti seorang Muslim yang telah lama mempelajari agama ini. Bersemangat menjawab setiap ada hal yang dipertanyakan oleh muallaf lainnya. Sayang saya belum sempat menanyakan perihal suaminya!,

    ***

    Oleh: M. Syamsi Ali, New York, 17 Juli 2006

    Jessica, Allah bless and further guide you!

     
    • Sri Mulyati 4:27 pm on 19 September 2010 Permalink

      izin copi ya…

  • erva kurniawan 1:32 am on 22 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Pelajaran Dari Seorang Anak, Cerita dari India 

    Istriku berkata kepada aku yang sedang baca Koran, “Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan.”

    Aku taruh Koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya, namanya Sindu. Tampak ketakutan, air matanya banjir didepannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam / yogurt (nasi khas India / curd rice).

    Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku msh kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”.

    Aku mengambil mangkok dan berkata, “Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak-teriak sama ayah.”

    Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku.

    Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata, “Boleh ayah akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta ..”. Agak ragu-ragu sejenak, “…akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya.”

    “Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?”. Aku menjawab, “Oh pasti sayang.” Sindu tanya sekali lagi, “Betul nih ayah? Yah pasti”. Sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju. Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, “Iya, janji”, kata istriku.

    Aku sedikit khawatir dan berkata, “Sindu jangan minta komputer atau barang-barang lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.” Sindu menjawab, “Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang-barang mahal kok. Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu”

    Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap. Dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin / dibotakin pada hari Minggu.

    Istriku spontan berkata permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin. Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

    Aku coba membujuk, “Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak. Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, tidak ada ‘yah, tak ada keinginan lain kata Sindu.

    Aku coba memohon kepada Sindu, “Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.” Sindu dengan menangis berkata, “Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan saya, kenapa ayah sekarang mau menjilat ludah sendiri?”

    Sindu melanjutkan “Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi, seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta / kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.”

    Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, “Janji kita harus ditepati.” Secara serentak istri dan ibuku berkata, “Apakah kamu sudah gila?”. “Tidak”, jawabku, “Kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu permintaanmu akan kami penuhi.”

    Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus. Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya. Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari mobil sambil berteriak, Sindu tolong tunggu saya. Yang mengejuntukanku ternyata, kepala anak laki-laki itu botak. Aku berpikir mungkin “botak” model jaman sekarang.

    Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata, “Anak anda, Sindu, benar-benar hebat. Anak laki-laki yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish, adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia.”

    Wanita itu berhenti sejenak, menangis tersedu-sedu, “Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi kesekolah takut diejek / dihina oleh teman2 sekelasnya.”

    “Nah Minggu lalu Sindu datang kerumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi, hanya saya betul-betul tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.” Lanjut Ibu tersebut.

    Aku berdiri terpaku dan aku menangis. Malaikat kecilku tolong ajarkanku tentang kasih.

    ***

    Dari milis siar islam

     
  • erva kurniawan 6:28 pm on 14 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Riya’ 

    lily waterPada satu waktu sahur, seorang Abid membaca al-Qur’an al-Karim, surah “Thaha”, di biliknya yang berhampiran dengan jalan raya. Selesai membaca, dia berasa amat mengantuk, lalu tertidur.

    Dalam tidurnya itu dia bermimpi melihat seorang lelaki turun dari langit membawa naskah al-Qur’an al-Karim. Lelaki itu datang menemuinya dan segera membuka kitab suci itu di depannya. Didedahkannya surah “Thaha” dan dibiliknya halaman demi halaman untuk tatapan si Abid.

    Si Abid melihat setiap kalimah surah itu dicatatkan sepuluh kebajikan sebagai pahala bacaannya kecuali satu kalimah sahaja yang catatannya dipadamkan. Lalu katanya, “Demi Allah, sesungguhnya telah kubaca seluruh surah ini tanpa meninggalkan satu kalimah pun. Tetapi kenapakah catatan pahala untuk kalimah ini dipadamkan?”

    Lelaki itu berkata, “Benarlah seperti katamu itu. Engkau memang ttidak meninggalkan kalimah itu dalam bacaanmu tadi. Malah, untuk kalimah itu telah kami catatkan pahalanya, tetapi tiba-tiba kami terdengar suara yang menyeru dari arah ‘Arasy: ‘Padamkan catatan itu dan gugurkan pahala untuk kalimah itu’. Maka sebab itulah kami segera memadamkannya”.

    Si Abid menangis dalam mimpinya itu dan berkata, “Kenapakah tindakan itu dilakukan?”

    ” Sebabnya engkau sendiri. Ketika membaca surah itu tadi, seorang hamba Allah melewati jalan di depan rumahmu. Engkau sedar hal itu, lalu engkau meninggikan suara bacaanmu supaya didengar oleh hamba Allah itu. Kalimah yang tiada catatan pahala itulah yang telah engkau baca dengan suara tinggi itu”.

    Si Abid terjaga dari tidurnya. “Astaghfirullaahal-‘Azhim! Sungguh licin virus riya’ menyusup masuk ke dalam kalbuku. Dan, sungguh besar kecelakaannya. Dalam sekejap mata saja ibadahku dimusnahkannya. Benarlah kata alim ulama, serangan penyakit riyak atau ujub, boleh membinasakan amal ibadat seseorang hamba Allah selama tujuh puluh tahun”.

    ***

    Sumber unknown

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 1 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Tiket ke Neraka Mahal 

    Oleh M. RIDLO ‘EISY

    SUARANYA sedikit serak dan matanya berkaca-kaca. Ia menuturkan betapa gembira istri dan anak-anaknya waktu mereka diajak makan malam di sebuah restoran di Bandung Utara. “Rasanya sudah lama sekali saya tidak berbincang-bincang dengan istri dan anak-anak saya,” tuturnya.

    “Sekali-sekali makan di luar bersama keluarga sangat menyenangkan. Istri dan anak-anak saya kelihatan sangat berbahagia. Anak-anak saya banyak bercerita tentang berbagai kegiatannya dan juga banyak bertanya tentang berbagai macam hal. “Yang terpenting, kata teman saya itu, biaya untuk membahagiakan keluarga ternyata murah, tidak mahal”.

    **

    LALU ia membandingkan dengan berbagai kegiatannya sebelumnya. Ia bukan pemabuk, hanya sekali-sekali ia mabuk, kalau kelewat batas meminum minuman beralkohol. Pada restoran sedikit di atas kelas menengah, satu gelas single Whiskey dan Tequila adalah Rp 30.000. Kalau ingin gaya sedikit, sebotol Champagne harganya lebih dari Rp 1 juta. “Dengan uang sebanyak itu, saya dapat membahagiakan istri dan anak-anak saya untuk makan-makan di restoran lebih dari lima kali,” katanya.

    Ia juga bukan penyanyi, tetapi ia pintar menyanyi dan suaranya lumayan bagus. Pernah ia berseloroh, “Kalau saya lelah jadi pengusaha, saya akan menjadi penyanyi”. Biasanya, ia minum-minuman keras di karaoke. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa ruang karaoke kelas VIP adalah Rp 1 juta dan untuk lebih meriah ia menyewa pemandu lagu (PL) dengan harga Rp 200.000 per jam.

    “Mas tahu sendirilah,” katanya. “Seringkali saya kebablasan. Dari ruang karaoke pindah ke kamar hotel”. Jumlah uang yang dihamburkannya dalam semalam, menyamai gaji guru besar dalam sebulan.

    “Itu belum seberapa mas,” katanya. Suaranya terdengar bangga namun terselip ada nada pahit. “Pada diskotek yang elite dan mewah, teman saya menyewa hostes dua juta tiap jamnya. Dan Mas dapat memperkirakan berapa besar uang yang harus dibayar teman saya kalau ia membawa hostes itu ke kamar hotel.”

    **

    “Itu adalah bagian dari masa lalu saya Mas,” tambahnya. “Kini saya kembali ke pangkuan keluarga. Kembali kepada istri dan anak-anak saya.”

    “Mungkin inilah yang dinamakan hidayah,” katanya dengan mata menerawang jauh. “Saya hampir bangkrut karena judi. Mula-mula hanya iseng, recehan, seribu dua ribu rupiah, agar main gaplenya lebih serius. Namun, sekali lagi saya kebablasan, sebagian perusahaan saya sudah hilang dalam perjudian itu. Saya diselamatkan oleh rasa letih yang luar biasa, saya istirahat dan berhenti berjudi sehingga tidak semua perusahaan saya lenyap”.

    “Saya hanya sedikit berkomentar, untunglah ia tidak seperti Pendawa Lima yang menjadikan negara sebagai taruhan dalam perjudian dan Pendawa Lima kalah.

    “Ya, untunglah saya tidak seperti Pendawa Lima. Masih ada harta yang tersisa untuk hidup bahagia,” katanya sambil menarik napas lega.

    “Hidup ini aneh,” tambahnya. “Semua yang saya lakukan dahulu itu, seperti mabuk-mabukan, melacur, dan berjudi, adalah tiket menuju neraka yang menyengsarakan. Kenapa lumayan banyak orang mau membeli tiket ke neraka yang harganya sangat mahal?”

    ***

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 30 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah Nyata Seorang Pemuda Arab Yang Menimba Ilmu Di Amerika 

    Ada seorang pemuda arab yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya. Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika, ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam.

    Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja. Semula ia berkeberatan. Namun karena ia terus mendesak akhirnya pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk.

    Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika melihat kepada para hadirin dan berkata, “Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini.”

    Pemuda arab itu tidak bergeming dari tempatnya. Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap tidak bergeming dari tempatnya.

    Hingga akhirnya pendeta itu berkata, “Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya.” Barulah pemuda ini beranjak keluar.

    Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pendeta, “Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang muslim.” Pendeta itu menjawab, “Dari tanda yang terdapat di wajahmu.”

    Kemudian ia beranjak hendak keluar. Namun sang pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini, yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memojokkan pemuda tersebut dan sekaligus mengokohkan markasnya. Pemuda muslim itupun menerima tantangan debat tersebut.

    Sang pendeta berkata, “Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat.”

    Si pemuda tersenyum dan berkata, “Silahkan!

    Sang pendeta pun mulai bertanya, “Sebutkan satu yang tiada duanya, dua yang tiada tiganya, tiga yang tiada empatnya, empat yang tiada limanya, lima yang tiada enamnya, enam yang tiada tujuhnya, tujuh yang tiada delapannya, delapan yang tiada sembilannya, sembilan yang tiada sepuluhnya, sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh, sebelas yang tiada dua belasnya, dua belas yang tiada tiga belasnya, tiga belas yang tiada empat belasnya. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh! Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya? Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu! Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api? Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diadzab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar! Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?”

    Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu tersenyum dengan senyuman mengandung keyakinan kepada Allah. Setelah membaca basmalah ia berkata,

    • Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.
    • Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah SWT berfirman, “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami).” (Al-Isra': 12).
    • Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.
    • Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’an.
    • Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.
    • Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ketika Allah SWT menciptakan makhluk.
    • Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis. Allah SWT berfirman, “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.” (Al-Mulk: 3).
    • Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah SWT berfirman, “Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.” (Al-Haqah: 17).
    • Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu’jizat yang diberikan kepada Nabi Musa tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang. (*
    • Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah kebaikan. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat.” (Al-An’am: 160).
    • Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudara Yusuf as.
    • Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu’jizat Nabi Musa as yang terdapat dalam firman Allah, “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, ‘Pukullah batu itu dengan tongkatmu.’ Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air.” (Al-Baqarah: 60).
    • Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.
    • Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Shubuh. Allah SWT berfirman, “Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (At-Takwir: 18).
    • Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus AS.
    • Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Yusuf AS, yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala.” Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, ” tak ada cercaaan terhadap kalian.” Dan ayah mereka Ya’qub berkata, “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
    • Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara keledai. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai.” (Luqman: 19).
    • Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam, malaikat, unta Nabi Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.
    • Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman, “Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim.” (Al-Anbiya': 69).
    • Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).
    • Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah tipu daya wanita, sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar.” (Yusuf: 28).
    • Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah hari dan buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam hari dan dua di siang hari.

    Pendeta dan para hadirin merasa takjub mendengar jawaban pemuda muslim tersebut. Kemudian ia pamit dan beranjak hendak pergi. Namun ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pendeta. Pemuda ini berkata, “Apakah kunci surga itu?” mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah. Ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil. Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.

    Mereka berkata, “Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab, sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya!” Pendeta tersebut berkata, “Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, namun aku takut kalian marah.” Mereka menjawab, “Kami akan jamin keselamatan anda.” Sang pendeta pun berkata, “Jawabannya ialah: Asyhadu an La Ilaha Illallah wa anna Muhammadar Rasulullah.”

    Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk agama Islam. Sungguh Allah telah menganugrahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.(**

    (* Penulis tidak menyebutkan yang kesembilan (pent.)

    (** Kisah nyata ini diambil dari Mausu’ah al-Qishash al-Waqi’ah melalui internet, http://www.gesah.net

    ***

    Dari Sahabat, semoga bermanfaat

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 27 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kalimat Terindah

    Oleh Sus Woyo

    ***

    Setelah berbulan-bulan tak ada kabar yang jelas. Setelah sekian waktu jadwal kepulangan saya ke tanah air belum bisa dipastikan, maka suatu malam saya dipanggil sang majikan untuk berbicara empat mata. Saat pertemuan itu ada kalimat terindah yang pernah saya dengar dari mulutnya. Kalimat itu adalah, “Akhir bulan ini kamu pulang ke Indonesia.”

    Saya terdiam. Tapi saya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang bergejolak di dada ini. Pulang! Sebuah kata yang sangat indah di telinga saya. Setelah dua tahun lebih saya meninggalkan orang-orang yang saya cintai: isteri, anak, keluarga yang lain, teman dan siapa saja orang-orang yang dekat dengan saya sebelum berangkat merantau ke negeri seberang.

    Terlintas dalam pikiran saya, tentang masa lalu. Tentang sepenggal dari episode kehidupan saya pada masa duduk di sekolah menengah. Waktu di mana saya harus meninggalkan kampung halaman yang amat sangat saya cintai.

    Selepas tamat sekolah dasar, orang tua saya mengirim saya untuk meneruskan pendidikan di kota. Karena kampung saya jauh dari kota, maka saya harus kost. Itu saya jalani dari SMP sampai tamat SMA. Dan saya selalu teringat saat yang paling indah, saat yang paling menyenangkan, yaitu saat datang hari Sabtu. Sebab di akhir pekan itu saya pulang kampung. Saking gembiranya kalau datang hari Sabtu, saya sering menyebutnya “Pulang ke pinggir sorga.” Sebab akan bertemu dengan orang tua. Dan biasanya ibu saya sudah menyediakan makanan-makanan kesukaan saya. Yang tentunya sangat jarang saya temui di rumah kost.

    Nah, saat mendengar kalimat dari majikan saya itu, hati saya sama persis seperti ketika mau pulang kampung di masa-masa menempuh pendidikan di kota saya, beberapa tahun yang lalu.

    Sejak itu, hari-hari saya diliputi kegembiraan. Walaupun pekerjan yang saya tangani sebenarnya sangat banyak. Ocehan-ocehan dari majikan yang bersifat memarahipun tak begitu saya pedulikan. Artinya, apa yang ia omongkan hanya saya masukan telinga kanan dan saya keluarkan lewat telinga kiri. Bahkan terkadang, hati dan pikiran saya seolah sudah di kampung sendiri, padahal jasad saya masih bermandi keringat di negeri orang.

    Suatu hari seorang teman menangkap perangai saya. Dan teman saya itu berkomentar. “Duh, gembiranya mau pulang kampung, ya….” Saya senyum-senyum saja mendengar itu. Memang itulah adanya.

    Namun, di siang bolong yang terik mataharinya mencapai titik kulminasi, saat saya merebahkan badan untuk melepas lelah, tiba-tiba saya berpikir keras. Sambil melihat langit-langit kamar, saya bergumam sendiri. “Apakah kegembiraan ini bisa bertahan lama, atau setidaknya sampai ke Indonesia nanti?’

    Saya tak bisa menjawab pertanyaan saya sendiri itu. Bahkan tiba-tiba pikiran saya melayang terlalu jauh ke depan. “Mampukah saya segembira ini jika nanti Allah juga memberikan kalimat itu kepada saya?”

    Ya, setelah merantau, pasti saya akan pulang. Sama juga setelah saya diberi kesempatan hidup di dunia, pasti juga akan dipanggil pulang. Dan kepulangan yang terahir ini jelas tidak mungkin bisa ditawar-tawar lagi. Cepat atau lambat, Allah akan menyapa juga dengan kalimat yang tak beda jauh dengan kalimat majikan saya, walau dengan nuansa yang berbeda, tentunya.

    Kalau pertemuan saya dengan semua keluarga nanti di tanah air mampu memberikan kegembiraan yang luar biasa pada saya, mampukah saya juga berperasaan yang sama tatkala saya nanti akan berjumpa dengan Sang Pencipta?

    Saya tertunduk lama. Lama sekali. Bahkan tak terasa air mata ini memberontak ingin keluar. Seolah memerintahkan saya untuk cepat-cepat berintrospeksi diri, tentang apa yang telah saya perbuat di “rantau” ini.

    Bekal saya belum seberapa. Entah dalam tingkatan yang mana derajat keimanan saya. Komitmen saya terhadap aturanNya belum bisa saya jadikan barometer untuk menjadikan saya tersenyum di hadapanNya. Apalagi merasa gembira.

    Namun, walaupun demikian, mudah-mudahan kepulangan saya ke tanah air tercinta akan menjadi pelajaran besar untuk menyongsong kepulangan saya yang sebenarnya, yaitu pulang ke pangkuanNya. Sehingga ketika kalimat terindah dari Allah, yang dibawa malaikat penyabut nyawa,datang menyapa saya, mudah-mudahan saya bisa menyambutnya dengan senyum kegembiraan. Seperti senyumnya para kekasih Allah ketika dipanggil pulang menuju kampung abadi, kampung akhirat.

    ***

    Kalimat Terindah
    Oleh Sus Woyo
    Setelah berbulan-bulan tak ada kabar yang jelas. Setelah sekian waktu jadwal kepulangan saya ke tanah air belum bisa dipastikan, maka suatu malam saya dipanggil sang majikan untuk berbicara empat mata. Saat pertemuan itu ada kalimat terindah yang pernah saya dengar dari mulutnya. Kalimat itu adalah, “Akhir bulan ini kamu pulang ke Indonesia.”
    Saya terdiam. Tapi saya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang bergejolak di dada ini. Pulang! Sebuah kata yang sangat indah di telinga saya. Setelah dua tahun lebih saya meninggalkan orang-orang yang saya cintai: isteri, anak, keluarga yang lain, teman dan siapa saja orang-orang yang dekat dengan saya sebelum berangkat merantau ke negeri seberang.
    Terlintas dalam pikiran saya, tentang masa lalu. Tentang sepenggal dari episode kehidupan saya pada masa duduk di sekolah menengah. Waktu di mana saya harus meninggalkan kampung halaman yang amat sangat saya cintai.
    Selepas tamat sekolah dasar, orang tua saya mengirim saya untuk meneruskan pendidikan di kota. Karena kampung saya jauh dari kota, maka saya harus kost. Itu saya jalani dari SMP sampai tamat SMA. Dan saya selalu teringat saat yang paling indah, saat yang paling menyenangkan, yaitu saat datang hari Sabtu. Sebab di akhir pekan itu saya pulang kampung. Saking gembiranya kalau datang hari Sabtu, saya sering menyebutnya “Pulang ke pinggir sorga.” Sebab akan bertemu dengan orang tua. Dan biasanya ibu saya sudah menyediakan makanan-makanan kesukaan saya. Yang tentunya sangat jarang saya temui di rumah kost.
    Nah, saat mendengar kalimat dari majikan saya itu, hati saya sama persis seperti ketika mau pulang kampung di masa-masa menempuh pendidikan di kota saya, beberapa tahun yang lalu.
    Sejak itu, hari-hari saya diliputi kegembiraan. Walaupun pekerjan yang saya tangani sebenarnya sangat banyak. Ocehan-ocehan dari majikan yang bersifat memarahipun tak begitu saya pedulikan. Artinya, apa yang ia omongkan hanya saya masukan telinga kanan dan saya keluarkan lewat telinga kiri. Bahkan terkadang, hati dan pikiran saya seolah sudah di kampung sendiri, padahal jasad saya masih bermandi keringat di negeri orang.
    Suatu hari seorang teman menangkap perangai saya. Dan teman saya itu berkomentar. “Duh, gembiranya mau pulang kampung, ya….” Saya senyum-senyum saja mendengar itu. Memang itulah adanya.
    Namun, di siang bolong yang terik mataharinya mencapai titik kulminasi, saat saya merebahkan badan untuk melepas lelah, tiba-tiba saya berpikir keras. Sambil melihat langit-langit kamar, saya bergumam sendiri. “Apakah kegembiraan ini bisa bertahan lama, atau setidaknya sampai ke Indonesia nanti?’
    Saya tak bisa menjawab pertanyaan saya sendiri itu. Bahkan tiba-tiba pikiran saya melayang terlalu jauh ke depan. “Mampukah saya segembira ini jika nanti Allah juga memberikan kalimat itu kepada saya?”
    Ya, setelah merantau, pasti saya akan pulang. Sama juga setelah saya diberi kesempatan hidup di dunia, pasti juga akan dipanggil pulang. Dan kepulangan yang terahir ini jelas tidak mungkin bisa ditawar-tawar lagi. Cepat atau lambat, Allah akan menyapa juga dengan kalimat yang tak beda jauh dengan kalimat majikan saya, walau dengan nuansa yang berbeda, tentunya.
    Kalau pertemuan saya dengan semua keluarga nanti di tanah air mampu memberikan kegembiraan yang luar biasa pada saya, mampukah saya juga berperasaan yang sama tatkala saya nanti akan berjumpa dengan Sang Pencipta?
    Saya tertunduk lama. Lama sekali. Bahkan tak terasa air mata ini memberontak ingin keluar. Seolah memerintahkan saya untuk cepat-cepat berintrospeksi diri, tentang apa yang telah saya perbuat di “rantau” ini.
    Bekal saya belum seberapa. Entah dalam tingkatan yang mana derajat keimanan saya. Komitmen saya terhadap aturanNya belum bisa saya jadikan barometer untuk menjadikan saya tersenyum di hadapanNya. Apalagi merasa gembira.
    Namun, walaupun demikian, mudah-mudahan kepulangan saya ke tanah air tercinta akan menjadi pelajaran besar untuk menyongsong kepulangan saya yang sebenarnya, yaitu pulang ke pangkuanNya. Sehingga ketika kalimat terindah dari Allah, yang dibawa malaikat penyabut nyawa,datang menyapa saya, mudah-mudahan saya bisa menyambutnya dengan senyum kegembiraan. Seperti senyumnya para kekasih Allah ketika dipanggil pulang menuju kampung abadi, kampung akhirat.
    ***

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 26 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Sandal Jepit Isteriku 

    Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan.

    “Ummi… Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.

    “Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul? Ucap isteriku kalem.

    “Iya. Tapi Abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!” Jawabku masih dengan nada tinggi.

    Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya merebak.

    ***

    Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Namun apa yang terjadi? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw! berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.

    “Ummi… Ummi, bagaimana Abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ummi… isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah?”

    Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. “Ah… wanita gampang sekali untuk menangis,” batinku. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihah? Isteri shalihah itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai.

    “Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.

    Hamil muda?!?!

    ***

    Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku.

    “Aduh, Mi… Abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku.

    “Ya sudah, kalau Abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku.

    “Lho, kok bilang gitu…?” selaku.

    “Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi.

    “Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan.

    Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal.”Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah.

    Dug! Hati ini menjadi luruh.

    “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.

    “Maafkan aku Maryam,” pinta hatiku.

    “Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia mujahidahku!” pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri.

    Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”

    Sedang aku? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!

    “Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia.

    “Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini.

    “Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?” sesal hatiku.

    ***

    Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. “Alhamdulillah, jazakallahu…,”ucapnya dengan suara tulus.

    Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan ‘iffah sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku?

    ***

    Dari Sahabat

     
    • hany asmahanie 2:43 pm on 3 Maret 2011 Permalink

      :'( sedih dan terharu….bisa diambil pelajaran dari cerita ini…..ijin share ya…makasih

  • erva kurniawan 1:13 am on 20 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Yang Terindah 

    Seorang ayah membeli beberapa gulung kertas kado. Putrinya yang masih kecil, masih balita, meminta satu gulung.

    “Untuk apa?” tanya sang ayah.

    “Untuk kado, mau kasih hadiah.” jawab si kecil.

    “Jangan dibuang-buang ya!” pesan si ayah, sambil memberikan satu gulungan kecil.

    Pagi-pagi si cilik sudah bangun dan membangunkan ayahnya, “Pa, Pa… Ada hadiah untuk Papa.”

    Sang ayah yang masih malas-malasan, matanya pun belum melek, menjawab, “Sudahlah nanti saja.”

    Tetapi si kecil pantang menyerah, “Pa, Pa, bangun Pa sudah siang.”

    “Ah, kamu gimana sih? Pagi-pagi sudah bangunin papa.” Ia mengenali kertas kado yang pernah ia berikan kepada anaknya.

    “Hadiah apa nih?” tanya si ayah.

    “Hadiah untuk Papa. Buka dong Pa, buka sekarang.” jawab si kecil.

    Dan sang ayah pun membuka bingkisan itu. Ternyata di dalamnya hanya sebuah kotak KOSONG. Tidak berisi apa pun juga.

    “Ah, kamu bisa saja. Bingkisannya kok kosong. Buang-buang kertas kado Papa. Kan mahal?”

    Si kecil menjawab, “Nggak Pa, nggak kosong. Tadi, Putri masukin begitu buaanyaak ciuman untuk Papa.”

    Sang ayah terharu, ia mengangkat anaknya. Dipeluknya, diciumnya. “Putri, Papa belum pernah menerima hadiah seindah ini. Papa akan selalu menyimpan boks ini. Papa akan bawa ke kantor dan sekali-sekali kalau perlu ciuman Putri, Papa akan mengambil satu. Nanti kalau kosong, diisi lagi ya!”

    ***

    Boks kosong yang sesaat sebelumnya dianggap tidak berisi, tidak memiliki nilai apapun, tiba-tiba terisi, tiba-tiba memiliki nilai yang begitu tinggi. Lalu, kendati kotak itu memiliki nilai yang sangat tinggi di mata sang ayah, di mata orang lain tetap juga tidak memiliki nilai apapun. Orang lain akan tetap menganggapnya kotak kosong. Kosong bagi seseorang bisa dianggap penuh oleh orang lain. Sebaliknya, penuh bagi seseorang bisa dianggap kosong oleh orang lain. Kosong dan penuh, dua-duanya merupakan produk dari “pikiran” kita. Sebagaimana kita memandangi hidup, demikianlah kehidupan kita. Hidup menjadi berarti, bermakna, karena kita memberikan arti kepadanya, memberikan makna kepadanya. Bagi mereka yang tidak memberikan makna, tidak memberikan arti, maka hidup ini ibarat lembaran kertas yang kosong.

    ***

     
    • hany asmahanie 2:21 pm on 3 Maret 2011 Permalink

      saya senang sekali membaca kutipan anda ini,mengharukan,sedih,dan semuanya dapat dijadikan contoh dalam kehidupan sehari hari…saya mohon ijin untuk share yah…makasih

  • erva kurniawan 1:00 am on 19 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Tubuhku Adalah Milikku 

    Oleh: Wardiman Sujatmoko

    Ada sebagian wanita yang berpendirian, karena tubuhnya adalah miliknya maka ia bebas memperlakukan tubuhnya itu, bebas menampilkan tubuhnya melalui dandanan yang sesuai dengan keinginannya di depan publik.

    Kisah nyata berikut ini terjadi di sebuah apotek di bilangan Jakarta Barat. Seorang wanita muda masuk ke dalam apotek dan langsung menuju petugas penerima resep. Ia berpenampilan seksi, dengan rok pendek dan kaus ketat membalut sebagian tubuhnya sehingga masih nampak bagian perut (pusar).

    Setelah menyerahkan resep dokter, ia mengambil tempat duduk persis di sebelah laki-laki muda yang sejak awal mengikuti kedatangan wanita muda ini dengan tatapan matanya.

    Dengan suara perlahan namun dapat didengar orang di sekitarnya, lelaki muda itu membuka percakapan, “mbak tarifnya berapa?”

    Si perempuan muda nampak terkejut. Ia menatap dengan marah kepada lelaki tadi. Kemudian dengan nada ketus menjawab, “saya bukan pelacur, bukan wanita murahan…”!!

    Si lelaki muda tak kurang marahnya. “Siapa yang bilang mbak pelacur atau wanita murahan. Saya cuma menanyakan tarif, karena cara mbak berdandan seperti sedang menjajakan sesuatu.”

    Terjadi ‘perang mulut’ yang membuat pengunjung apotek ikut menyaksikan. Dengan nada tinggi si wanita muda berkata ketus, “tubuh saya milik saya, saya bebas mau ngapain aja dengan tubuh ini, dasar pikiranmu saja yang kotor…”

    Si lelaki muda tak mau kalah. “Saya bebas menggunakan mata saya. Saya juga bebas menggunakan mulut saya termasuk untuk menanyakan berapa tarif kamu. Saya juga bebas menggunakan pikiran saya…”

    Si wanita muda tak kehabisan argumen. “Saya bisa melaporkan kamu ke polisi dengan tuduhan telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan.”

    “Silakan,” kata si lelaki. “Saya juga bisa menuntut kamu dengan tuduhan melakukan perbuatan tidak menyenangkan, antara lain karena kamu telah mengganggu ketenangan ‘adik’ saya. Kamu ke apotek mau menebus obat atau mau membangunkan ‘adik’ saya?”

    Mungkin karena malu, si wanita muda itu sekonyong-konyong meninggalkan apotek, padahal urusannya sama sekali belum selesai. Sedangkan si lelaki, setelah selesai dengan urusannya ia pergi ngeloyor dengan wajah bersungut-sungut.

    ***

    Sumber: Harian BERITA KOTA, edisi Rabu, 10 Mei 2006, Kapling Rakyat, hal. 10.

     
    • sawung01 6:40 pm on 31 Juli 2010 Permalink

      Hahahaha… Ada2 aja…, trs bagaimana tnggpn anda sndri tntng wanita ini?

  • erva kurniawan 1:52 am on 2 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Untung Secukupnya Saja 

    Barangkali ada diantara kita yang menjadi seorang pedagang. Biasanya, rumus dagang yang kita gunakan adalah mendapatkan untung sebanyak-banyaknya dari barang yang kita jual. Dengan begitu, arus keuangan yang bisa didapatkan akan besar. Dan, ketika hal itu bisa dilakukan, kemudian kita bangga karena kita telah sukses dalam berdagang.

    Tapi, rumus itu tidak dipakai olah Bu Murah, seorang pedagang warung nasi.

    Di rumahnya yang kecil, dia membangun sebuah warung makan untuk para mahasiswa. Menunya tak jauh berbeda dengan warung-warung lainnya. Nasi rames, minuman (teh, jeruk) dan berbagai gorengan (tahu, tempe). Tapi, ada yang beda dari warung itu, yaitu harganya. Makanan disana harganya cukup murah, maka dikenalah sang ibu penjual nasi rames itu dengan sebutan Bu Murah

    Bandingkan saja. Di warung lainnya, untuk sebungkus nasi dan telur dihargai Rp 2.500 bahkan ada yang menjualnya dengan harga Rp.2.700. Sedangkan, di warung Bu Murah ini, untuk menu yang sama cukup mengeluarkan uang Rp.1.500 saja. Kadang saya berpikir, apa tidak rugi berdagang seperti itu. Tapi, kemudian saya tahu, cara berdagang Bu Murah menggunakan rumus untung secukupnya saja.

    Dengan cara berdagang demikian, warung Bu murah tetap eksis sampai sekarang. Bahkan selalu rame dikunjungi pelanggannya. Warung Bu Murah menjadi alternatif mahasiswa dalam mencukupi kebutuhan perut sehari-hari. Sepanjang pengamatan saya, pelanggannya tak hanya mahasiswa di sekitar warungnya. Mereka yang jauhpun berdatangan kesitu.

    Lantas, apa yang bisa kita petik dari sepenggal cara hidup Bu Murah ini.

    Hidupnya sederhana, tidak serakah. Dia tidak terlalu berambisi untuk mendapatkan keuntungan yang terlalu besar. Baginya, sudah merasa senang bisa memberikan pelayanan kepada mahasiswa yang membeli makanannya dengan harga terjangkau. Dengan begitu, mahasiswa diuntungkan, sementara Bu murah juga tidak merasa dirugikan.

    Begitulah cara Bu Murah memaknai hidupnya.

    Ah…andai saja negeri ini dipenuhi dengan orang-orang yang mempunyai padangan seperti Bu Murah, tentu saja keserakahan di negeri ini bisa terkurangi. Lihat saja bagaimana kondisi sekarang. Banyak kita temukan lewat pemberitaan diberbagai media massa, koruptor meraja lela. Sebenarnya, hidup mereka sudah berkecukupan bahkan boleh dibilang mewah. Tapi, karena nafsu serakahlah yang membuatnya masih merasa kurang. Maka, korupsi, mengambil uang negara dilakukan untuk sebuah ambisi berlebihan.

    Untuk itulah, hari ini kita belajar tentang kesederhanaan dalam hidup. Ketika hati kita dipenuhi oleh ambisi yang berlebihan, yang kadang menjadikan kita menghalalkan segala cara, ingatlah Bu Murah, hadirkan dia dalam kehidupan kita sehingga kita tidak terlalu berlebihan dalam hidup ini. Harta memang perlu, tapi toh dia tidak akan turut serta ketika ajal telah menjempul kita. Amal kebaikanlah yang nantinya menyertai kita.

    ***

    Diceritakan oleh: Sudaryono Achmad, Purwokerto, 13 April 2006 Pukul 05.30.

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 1 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Sebab Tiada Amarah 

    Dan bara tak kan terus berkobar, Jika tersentuh tirta kesejukan, Maka, terhempaslah kecamuk angkara, Tak kan mampu merasuk, dalam bening hati

    Siang tadi, sehabis sholat jum’at, ketika saya berjalan menuju ke warnet, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara benturan keras “brak”. Seorang pengendara motor jatuh tersungkur. Motor, lumayan hancur, sementara pengendaranya, seorang mahasiswa, hanya bisa mengerang kesakitan. Celananya robek terkena gesekan aspal dan darah bercucuran di kakinya.

    Namanya juga kecelakaan, kejadiannya tidak terduga dan terencana. Mahasiswa tadi menjelaskan kronologisnya, dia menyeruduk badan belakang truk karena truk tadi berhenti secara mendadak. Sementara, sang sopir truk menjelaskan bahwa mendadaknya berhenti karena ada motor juga didepannya, kalau tidak di rem, justru akan menabraknya dan dalam prediksinya, pasti akan parah. Maksud sopir truk memang baik, menghindari motor didepannya agar tak tertabrak, tapi tak disangka, justru ada sepeda motor lain dibelakangnya yang menyeruduknya. Agak lama keduanya bernegosiasi untuk mendapatkan solusi terbaik

    Sementara saya yang menyaksikan kecelakaan itu memutar otak, bagaimana penyelesaiannya agar masing-masing tidak merasa dirugikan ?

    Cukup dilematis, pikir saya. Saya tidak tega menyalahkan sang sopir, sementara saya juga kasihan kepada mahasiswa tadi, apalagi ketika dia bilang “Pak, ini gimana, soalnya bukan motor saya, ini motor pinjaman milik teman saya”. Di tengah kebuntuan, tiba-tiba ada salah satu orang yang juga menyaksikan kejadian itu menyeletuk dari belakang “Diselesaikan secara kekeluargaan saja”. Benar juga, akhirnya saya mengiyakan saja saran itu, diselesaikan secara kekeluargaan. Sopir truk kemudian memberikan uang Rp 100 ribu kepada mahasiswa tadi untuk memperbaiki motornya yang rusak, sementara mahasiswa tadi juga meminta maaf kepada sang sopir truk. Kasus kecelakaan selesai dan saya melanjutkan perjalanan ke warnet.

    Di sepanjang jalan, saya merenung, hikmah apa dibalik kecelakaan ini.

    Lantas, merenung juga, apa kunci kasus kecelakaan itu bisa diselesaikan secara damai dan kekeluargaan. Kemudian saya menemukan jawabnya. Kuncinya adalah tiada amarah. Ya, karena tidak ada amarah yang meluap-luap dari sang sopir atau mahasiswa tadi. Keduanya cukup legowo menerima kecelakaan yang tak terduga dan tak terencana itu. Sehingga, pada akhirnya, kasus kecelakaan bisa terselesaikan dengan baik tanpa melibatkan polisi yang biasanya justru akan rumit.

    ***

    Kejadian itu berbeda dengan yang saya saksikan beberapa waktu yang lalu. Kasusnya sama, kecelakaan. Waktu itu, motor dengan motor. Seorang pemuda yang memboncengkan dua orang bertabrakan dengan seorang pedagang telur asin yang membawa barang dagangan di belakang motornya. Kejadianya di depan masjid kampus Nurul ‘Ulum Purwokerto.

    Setelah bertabrakan, amarah yang muncul. Semua merasa menang sendiri, tidak ada yang mau mengaku salah. Bahkan, ketika ada seorang satpam kampus yang mencoba melerainya, malah kena bogem mentah dari salah satu mereka yang bertabrakan itu. Akhirnya, terjadi saling pukul dan terjadi perkelahian hebat antar mereka. Saya agak ngeri juga menyaksikan kejadian itu. Akhirnya, saya tinggalkan saja sebab sudah banyak orang yang mengerumuninya. Entah apa yang terjadi selanjutnya.

    Dari kejadian ini, saya memetik sebuah hikmah dimana kemarahan selalu berujung kepada kondisi yang tidak baik. Berujung dendam dan pemusuhan. Bayangkan seandainya sang sopir dan mahasiswa yang tadi saya ceritakan diawal meluapkan amarahnya. Bisa jadi, kondisinya akan sama dengan peristiwa kecelakaan yang saya ceritakan di kasus kedua.

    Kini, setelah saya menyadari hal ini, semoga saja saya dan kita semua bisa mengelola kemarahan agar tidak meluap keluar secara berlebihan, karena ujungnya selalu tidak baik.

    Untuk itulah, kita bisa belajar atas kejadian itu agar dalam keadaan apapun, ketika ada yang tidak sesuai dengan hati kita, cobalah untuk bisa menahan amarah. Dengan begitu, kita bisa menghindarkan diri dari kerusakan, dendam, permusuhan, perselisihan dll yang muncul sesudahnya. Harapannya, setiap permasalahan yang kita hadapi bisa diselesaikan dengan kepala jernih sehingga akan baik hasil akhirnya.

    Lebih dari itu, ketika kita berusaha untuk menahan amarah, kita juga bisa berharap atas janji Allah seperti dalam sebuah hadist yang bunyinya, “Barang siapa menahan amarahnya padahal ia sanggup melampiaskannya. Maka kelak Allah akan memanggilnya pada hari kiamat dihadapan makhluk sehingga ia diberi hak memilih bidadari yang disukainya” (HR Timidzi).

    Bidadari….Ya Bidadari. Ingin sekali saya bisa mendapatkannya, bagaimana dengan Anda…?

    ***

    Diceritakan oleh: Sudaryono Achmad, Kota Satria, 8 April 2006 pukul 19.53

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 28 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Rezeki Besar Orang Bodoh 

    Waktu itu, hari Senin, pukul 07.30 WIB, saya dari Tanjungkarang berniat pergi ke Terminal Rajabasa, Bandar Lampung, untuk berjualan asongan. Ketika sedang menunggu angkot, tiba-tiba saya melihat sebuah dompet warna hitam tergeletak di tengah jalan. Beberapa sepeda motor dan mobil yang lewat telah melindas dompet itu. Karena, penasaran saya pun menghampiri dompet itu, tentu saja dengan bersusah payah karena lalu lintas pagi itu cukup padat dan beberapa pengendara sepeda motor banyak yang kebut-kebutan.

    Setelah berhasil mendapatkan dompet itu saya buru-buru membukanya. Dan, ternyata di dalamnya berisi uang lima puluh ribu rupiah, KTP, SIM, STNK, ATM BCA, kartu mahasiswa dan sebuah jimat berbentuk keris mini (semar mesem?). Ketika temuan itu saya ceritakan pasa salah seorang teman, ia pun tertawa girang. Ia meminta bagian lima ribu rupiah. Katanya, menurut cerita dari orang tua, jika ia menemukan uang di jalan maka harus berbagi rezeki dengan teman, sebagai ‘buang sial’ agar nantinya uang kita tidak hilang.

    Mendengar itu saya hanya tersenyum. Sebaliknya saya ingin mencari alamat pemilik dompet itu sebagaimana tercantum di KTP, karena dompet itu bukan milik saya dan saya tidak berhak untuk mengambil uangnya.

    ”Bodoh betul kamu! Tuhan telah memberimu rezeki besar tanpa harus memeras keringat. Jika dompet itu kamu kembalikan paling-paling kamu dikasih uang sepuluh ribu rupiah. Itu pun kalau orangnya tidak pelit-pelit amat. Mendingan uangnya kamu ambil dan dompetnya buang. Dasar bodoh!” makinya sambil menunjuk-nunjuk.

    ”Niat saya hanya ingin mengembalikan dompet itu dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan, karena itu bukan milik saya,” kata saya sambil berlalu dari hadapannya.

    Keesokan harinya saya mencari alamat pemilik dompet itu dan dengan mudah dapat saya temukan. Saya mengetuk pintu sambil mengucap Assalamualaikum. Dengan ramah tuan rumah menjawab uluk salam dan mempersilakan saya masuk.

    ”Pak, Bu, maksud kedatangan saya kemari ingin mengembalikan dompet ini yang kemarin saya temukan di jalan,” kata saya membuka pembicaraan. Suami istri itu saling berpandangan sambil mengambil dompet yang saya letakkan di meja lalu memeriksa isinya.

    ”Memang benar ini dompet anak saya yang kemarin terjatuh waktu berangkat kuliah. Dia sudah mencarinya kemana-mana, bahkan sudah lapor polisi. Terima kasih, Nak, terima kasih!”

    Mereka bergantian menyalami saya dan tangan saya pun diciumnya. Saya menjadi kikuk dan salah tingkah.

    Kami mengobrol ke sana kemari ditemani secangkir teh manis dan kue kering, mulai dari soal politik sampai polah tingkah tukang copet di Terminal Rajabasa. Ketika saya berpamitan pulang, tiba-tiba tuan rumah menyelipkan amplop ke kantong baju saya sambil berbisik, ”Terimalah ini ala kadarnya dengan ikhlas, sabagai ungkapan rasa terima kasih kami.”

    Sampai di rumah amplop itu saya buka. Alangkah terkejutnya saya mendapati isinya: uang dua ratus ribu rupiah! Hari itu juga saya menemui teman yang kemarin memaki-maki saya sebagai orang bodoh di terminal. Tanpa basa-basi saya masukkan ke kantong celananya selembar uang limapuluh ribu kemudian berlalu dari hadapannya. Ia berusaha menahan langkah saya.

    ”Ini uang buat saya?” tanyanya heran. ”Ya, buat kamu. Itu rezeki besar orang bodoh!” jawabku enteng. Ia tertawa ngakak sambil jingkrak-jingkrak dan menempelkan uang itu di jidat. Tobat… tobat!

    ***

    Oleh Rismanto

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 25 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Klakep 

    Widi Yarmanto

    KEMATIAN datang tanpa dinyana. Tanpa mengetuk pintu, tiada sinyal maupun aba-aba. Itu yang sering membuat gelo yang ditinggalkan; anak, istri, atau suami yang jadi sigaraning nyowo, belahan jiwa. Apalagi jika kematian itu menyisakan nadar yang belum terlaksana. Nyesal-nya sampai bulanan.

    Minggu siang lalu, maut juga muncul tanpa diduga. Suasana resepsi pernikahan di rumah H. Tamri di Desa Jambu, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, berubah jadi jerit tangis air mata. Sebuah tronton bermuatan 500 sak semen nggelondor mundur, lalu menghajar rumah itu.

    Truk tersebut baru berhenti setelah menghantam gardu listrik dan menimbulkan ledakan dahsyat. Seorang saksi mata, Jarkoni, sempat berteriak: ”Masya Allah! Allahu Akbar! Minggir-minggir!” Toh, musibah itu tidak terelakkan. 17 orang tamu undangan tewas dan 13 orang luka-luka.

    Sebenarnya, tronton yang mogok kurang lebih satu jam di tanjakan Kethekan –sekitar 50 meter dari lokasi musibah– itu sedang dibetulkan oleh sopirnya, Wawan. Rodanya diganjal balok kayu. Jarkoni sudah mengingatkan agar ditambahi pengganjal. Wawan tak menggubris. Musibah pun tak terhindarkan, walau mati adalah takdir.

    Itu pula, mungkin, yang membuat orangtua sering mengingatkan agar punya ”bekal” kalau sewaktu-waktu dijemput maut. Tak mengherankan jika tiba-tiba teman saya, seorang seniman, di-SMS keluarganya. Isinya: ”Cepat pulang. Penting. Bapak mau bicara.”

    Ada apa? Ternyata dia diwejang. Umur sudah hampir 40 tahun, tapi salat belum sempurna. Rupanya, itu yang membuat orangtua gelisah. Terlebih setelah orangtuanya mengikuti pengajian. Waktu itu, kepada kiai yang juga pemilik pondok pesantren, dia bertanya: ”Kiai sudah bisa salat atau belum?”

    Sang kiai menjawab polos: ”Belum!” Lho, jadi kiai kok belum bias salat? Diakui secara jujur bahwa salatnya sering sekadar njengkang-njengking tapi batinnya melayang entah ke mana. Pengakuan jujur itu yang membuat ayah si seniman mengacungkan jempol. Salut. Berarti kiai ini menyadari yang benar dan yang salah.

    Sejak itu, rahasia kehidupan yang dicari sejak muda hingga menjelang 70 tahun seakan terjawab. Itu yang membuat dia buru-buru meng-SMS anaknya yang seniman. Dia diwejang agar tidak hidup dalam kegelapan. Agar mengerti kebenaran. Harus sunyi dari pamrih. Tidak iri hati, sebab iri ibarat api yang membakar kebaikan.

    Pendeknya, manusia itu harus bisa mengekspresikan sifat-sifat Ilahi dalam dirinya. Theodore Roszack, seorang tokoh mistik, pernah mengatakan pada diri manusia itu ada ruang spiritual yang kalau ruang itu tidak diisi dengan hal-hal baik, secara otomatis akan diisi hal-hal buruk.

    Hati akan menjadi semakin bening jika ucapan dan hati sejalan. Perbanyaklah zikir, yang dengan rendah hati merasakan keagungan Allah. Mintalah selalu ditunjukkan jalan yang lurus (al-shirath al- mustaqim) yang tak hanya horizontal juga vertikal. ”Dalam pemahaman saya, frekuensi saya harus sesuai dengan frekuensi Allah,” kata si seniman.

    Artinya, dia selalu menyadari dalam pengawasan Allah. Itu sebabnya, pergi ke mana saja, jika waktu salat sudah masuk –dan belum salat– seniman ini gelisah. Sepertinya dia sedang menuju kehidupan sejati yang ”tak tersentuh” oleh kematian, saking dekatnya dengan Ilahi.

    Dia ingin dekat pada Allah secara total. Dia ingin mati dengan membawa ”bekal”. Dia tak ingin tertipu oleh angan-angan panjang, oleh kepongahan duniawi. Apalagi, siksa kubur itu bukan omong kosong. Perubahan drastis itu, tak urung membuat rekan-rekannya heran.

    Memang, dalam sebuah pengajian, Kiai Syarif Hidayatullah dari pondok Nurul Huda, Sragen, Jawa Tengah, pernah mengajak jamaahnya menyimak siksa kubur. ”Saya mau bercerita tentang siksa kubur. Tapi, saya minta semua diam dan tenang,” katanya. Cep klakep. Sekitar 1.000 jemaah kontan tak bercuap.

    Di saat hening itulah, tiba-tiba terdengar suara tangis seorang wanita. ”Sampeyan dengar? Itulah tangisan siksa kubur,” kata Kiai Syarif. Tangisan perempuan di malam Jumat Legi itu membuat orang terlarut dalam pikiran masing-masing. Siapa yang menangis dan mengapa dia menangis?

    ”Mari kita cari suara tangisan itu. Kita doakan bersama-sama agar siksa kuburnya diringankan Allah,” ujar Kiai. Lima orang santri pondok diminta menjadi ”penunjuk jalan” menelusuri arah tangisan tersebut. Para jamaah mengikuti dari belakang.

    Suara itu makin lamat-lamat, walau sumbernya jelas: dari sebuah kuburan baru di pinggir desa. Tanah kubur itu belum ditumbuhi rumput. Lalu ramai-ramai mereka jongkok, berdoa, dan terlarut dalam emosi masing-masing. Surat Al-Fatihah, Alam Nasyrah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, serta salawat Nabi dilantunkan.

    Gemuruh doa itu terdengar hingga meluruhkan tangisan dari dalam kubur. Di atas kubur, justru para ibu yang menangis. Mungkin trenyuh, mungkin menyesali perbuatan yang lalu. Makanya, Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Ziarahilah kubur, karena itu akan mengingatkanmu akhirat. Mandikanlah orang yang mati, karena mengurus jasad yang tidak bernyawa merupakan pelajaran yang sangat berharga.”

    Sepulang dari pengajian masing-masing orang punya kesan sendiri. ”Saya betul-betul merinding,” ujar Joko, seorang santri. Sejak itu hamba Allah ini selalu berusaha tidak batal dari wudhu. Jika melihat atau mendengar ada orang kena musibah, misalnya, dengan enteng ia mengirim Al-Fatihah: ”Semoga penderitaannya diringankan Allah.”

    Cerita tentang siksa kubur memang sering membawa makna yang dalam. Perenungan tentang mati yang terus menerus juga bisa mengobati dari kelumpuhan spiritual. Jangan heran jika rekan saya yang seniman belakangan ini ingin selalu ”dekat” dengan Ilahi. Dan, itu nikmat!

    ***
    [Esai, Gatra, Edisi 36 Beredar Jumat 16 Juli 2004]

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 23 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Busuknya Sebuah Kebencian 

    Seorang Ibu Guru taman kanak-kanak ( TK ) mengadakan “permainan”. Ibu Guru menyuruh tiap-tiap muridnya membawa kantong plastik transparan 1 buah dan kentang. Masing-masing kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa … tergantung jumlah orang-orang yang dibenci.

    Pada hari yang disepakati masing-masing murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5. Seperti perintah guru mereka tiap-tiap kentang diberi nama sesuai nama orang yang dibenci. Murid-murid harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, selama 1 minggu.

    Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap.

    Setelah 1 minggu murid-murid TK tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.

    Ibu Guru, “Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu ?”

    Keluarlah keluhan dari murid-murid TK tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut ke manapun mereka pergi.

    Guru pun menjelaskan apa arti dari “permainan” yang mereka lakukan.

    Ibu Guru, “Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemana pun kita pergi. Itu hanya 1 minggu. Bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup ? Alangkah tidak nyamannya …”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • yossy 8:50 am on 25 Juni 2010 Permalink

      kisah yang demikian inpiratif. jazakumullah….

  • erva kurniawan 1:41 am on 21 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Berhentilah Sejenak 

    Suatu ketika, tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah BMW seri 7 merah metalic. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu,dengan kecepatan penuh. Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu. Tiba-tiba, dia melihat sesuatu yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak itu yang tampak melintas. Aah…, ternyata, ada sebuah batu yang menimpa mobil BMW-nya.

    Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang. Cittt….ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram dan bersumpah serapah, di mundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu dilemparkan. “Kurang ajar!!”. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Di tariknya seorang anak yang paling dekat, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.

    “Apa yang telah kau lakukan!!! Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!! Lihat goresan itu”, teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu.

    “Kamu tahu nggak, mobil baru semacam itu akan butuh banyak ongkos di bengkel kalau sampai tergores.” Ujarnya lagi dengan geram, tampak ingin memukul anak itu.

    Sang anak tampak ketakutan, dan berusaha meminta maaf. “Maaf Pak, maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa.”

    Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun. “Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti….”

    Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi. “Itu disana ada kakakku. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Aku tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan..”Kini, ia mulai terisak. Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu. “Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi dia terlalu berat untukku.”

    Pengusaha muda itu terdiam. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera, di angkatnya anak yang cacat itu menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut anak itudan dioleskannya Betadine. Memar dan tergores, sama seperti sisi pintu BMW kesayangannya. Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih.

    “Terima kasih, dan semoga Allah akan membalas perbuatan Tuan.” Begitu katanya…

    Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.

    Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju BMW miliknya.Disusurinya jalan itu dengan lambat, sambil merenungkan kejadian yang baru saja dilewatinya. Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele. Namun, ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat:

    “Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”

    ***

    Sahabat, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar dan dipacu untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan. Namun, apakah kita memacu hidup kita dengan cepat… mengejar karir dan harta, pergi jam 6 pulang jam 11 malam, sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat sekitar? Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas di sekitar kita.

    Sebagai orang yang terpelajar dan dikaruniai kelebihan, mungkin kita ingin serba cepat belajar, bergelar, dan menjadi maju. Celaan pun kita lontarkan untuk mereka yang malas danbodoh. Sebagai orang yang sukses berkarir, mungkin kita akan terus haus dengan jabatan danmengejar kekayaan. Cibiran pun kita sandangkan pada mereka yang tidak sekayadanseperlente kita. Sebagai orang yang dikaruniai hidayah, mungkin kita juga rajin sholat danberamal .. tanpa mengajak mereka yang kita anggap awam, tidak taat beragama,dan ahli maksiat. Namun, apakah kita ingin pintar, ingin maju, ingin kaya, ingin masuk surga .. sendirian saja??

    Sahabat, kadang memang, ada yang akan “melemparkan batu” buat kita agar kita mau dan bisa berhenti sejenak. Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita.

    ***

    (Diambil dari tulisan Irfan Toni H, http://www.eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 20 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah Masuk Islamnya Seorang Dokter Amerika Karena Satu Ayat Al-Qur’an 

    Written by: Ummu Khodijah

    **

    Beberapa tahun yang lalu, seorang teman bercerita kepadaku tentang kisah masuknya seorang dokter Amerika ke dalam Islam. Dari apa yang kuingat dari kisah yang indah ini adalah : Kisah ini terjadi pada salah satu rumah sakit di Amerika Serikat.

    Di rumah sakit tersebut, seorang dokter muslim bekerja dengan keilmuan yang sangat baik, sehingga memberi pengaruh besar untuk mengenal beberapa dokter Amerika. Dan dia, dengan kemampuan tersebut mengundang decak kagum mereka. Diantara para dokter Amerika ini, dia mempunyai satu teman akrab yaitu orang yang memiliki kisah ini. Mereka berdua selalu bertemu dan keduanya bekerja pada bagian persalinan.

    Pada suatu malam, di rumah sakit tersebut terjadi dua peristiwa persalinan secara bersamaan. Setelah kedua wanita itu melahirkan, dua bayi tersebut tercampur dan tidak ada yang mengetahui masing-masing pemilik kedua bayi yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan itu. Kerancuan ini terjadi disebabkan kecerobohan perawat yang seharusnya dia menulis nama ibu pada gelang yang diletakkan di tangan kedua bayi tersebut. Dan ketika kedua dokter tersebut tahu bahwa mereka berada dalam kebingungan; Siapakah ibu bayi laki-laki dan siapakah ibu bayi perempuan, maka dokter Amerika berkata kepada dokter Muslim, ”Engkau mengatakan bahwasanya Al-Qur’an telah menjelaskan segala sesuatu dan engkau mengatakan bahwasanya Al-Qur’an itu mencakup semua permasalahan-permasalahan apapun. Maka tunjukkanlah kepadaku cara mengetahui siapa ibu dari masing-masing bayi ini..!!”

    Dokter Muslim itupun menjawab, ”Ya, Al-Qur’an telah menerangkan segala sesuatu dan akan aku buktikan kepadamu tentang hal itu. Biarkan kami mendiagnosa ASI kedua ibu dan kami akan menemukan jalan keluar.” Setelah nampak hasil diagnosa, dengan sangat percaya diri dokter muslim itu memberitahu temannya si dokter Amerika, siapakah ibu sebenarnya dari masing-masing bayi tersebut…!!!!

    Dokter Amerika itupun terheran-heran dan bertanya, ”Bagaimana kamu tahu?”

    Dokter Muslim menjawab ”Sesungguhnya hasil yang nampak menunjukkan bahwasanya kadar banyaknya ASI pada payudara ibu si bayi laki-laki dua kali lipat kandungannya dibanding ibu si bayi perempuan. Perbandingan kadar garam dan vitamin pada ASI si ibu bayi laki-laki itu juga dua kali lipat dibanding ibu si bayi perempuan.” Kemudian dokter muslim tersebut membacakan ayat Al-Qur’an yang dia jadikan dasar argumen dari jalan keluar itu,

    ”Bagi laki-laki seperti bagian dua perempuan.” (QS. An-Nisa:11)

    Dan setelah mendengarkan dokter Amerika itu arti ayat tersebut, dia jadi bengong, dan dia menyatakan keislamannya secara spontan tanpa ragu-ragu. Subhanallah, Maha Suci Allah Robb semesta alam.

    ***

    Diambil dari : Kolom Kisah Teladan, Majalah Qiblati |Vol.01/No.4/ Desember 2005 | Dzulqa’idah 1426 H

     
    • kolomkiri 1:37 am on 20 Juni 2010 Permalink

      hadiyah bisa datang kapan saja tak terkecualai kepada dokter Amerika tersebut…salam kenal…http://kolomkiri.wordpress.com

    • Internet Murah 11:51 pm on 20 Juni 2010 Permalink

      berkunjung antar blog kawan

      thanks untuk sharing ilmunya sangat bermanfaat
      Cara Menghindari penipuan Di Internet
      Ready Stock

    • fitriana 5:05 pm on 13 Januari 2011 Permalink

      assalamu ‘alaikum… saya mau minta izin copy artikel ini ke blog saya ya…. biar bisa sharing ilmu dengan teman-teman yang lain…
      syukron.

    • erva kurniawan 1:47 pm on 14 Januari 2011 Permalink

      Silahkan :)

  • erva kurniawan 1:14 am on 19 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Mukena Untuk Syana 

    Detik ini aku berada di sebuah kamar yang sumpek dengan tempat tidur yang tidak empuk lagi, seperti tidur di papan saja. Walaupun begitu aku tetap saja memilih menyendiri di kamar ini dan mengunci pintu rapat-rapat. Aku kesal sekali hari ini. Kesal dengan mereka. Ayah, ibu, kakek, dan nenekku. Dasar orang tua dan anak sama saja sifatnya. Like father like son.

    Aku sudah membayangkan betapa meriahnya pesta teman-temanku di Bali. Aku dan teman-teman sudah menyiapkan pesta gila-gilaan selama berbulan-bulan. Capek, benar-benar capek. Aku yang paling mati-matian menyiapkan pesta ini. Aku sudah booking kamar hotel, sampai pernah ke Bali sendiri melakukan survey tempat biar tidak mengecewakan teman-teman.

    Itu semua sudah kandas. Pesta yang kurencanakan dan kusiapkan selama berbulan-bulan kandas. Tidak ada kamar hotel yang empuk, tidak ada dugem yang sudah kuimpi-impikan, tidak ada hingar bingar musik, tidak ada teriakan dan ocehan teman-teman gaulku. Semuanya sudah kandas!. Rangkaian kata-kata yang berisi permintaan ijin ortu untuk main ke rumah teman saat liburan sudah tidak bermanfaat lagi. Ayah ibuku mengetahui rencanaku. Aku tahu pasti ada yang membocorkan rencanaku. Hasilnya, liburan tahun ini, aku dibuang di sini. Di tempat kakek nenek. Sebuah desa yang sangat sepi dan membosankan. Rumah kakek nenekku benar-benar menjadi tempat pengasinganku. Tanpa HP, tanpa telepon rumah, tanpa teman-teman dekatku, tanpa kemewahan yang sering kudapat di kota, tanpa semua yang kuinginkan. Aku benar-benar bisa gila dengan semua ini.

    “Syan, buka pintu, nak. Sudah waktunya makan siang. Kamu belum makan dari pagi, nak”, suara nenekku mampu membangunkanku dari lamunanku.

    “Nggak! Syana nggak mau makan. Nggak lapar.” Jawabku dengan ketus. Nenekku sebenarnya sangat baik. Lebih baik dari ibuku. Setidaknya, nenek selalu menyempatkan diri buat ngurus orang-orang di sekitarnya. Tidak seperti ibu yang selalu sibuk dengan arisan, ngerumpi ke tetangga, jalan-jalan dan ngabisin uang ke mall, bla bla bla, de el el. So what gitu loh kalau aku juga ngehabisin waktu buat main sama temen-temenku. Gak ada bedanya,kan ?

    Kakekku juga lebih baik dari ayahku. Walaupun hanya lulusan Sekolah Rakyat, dia adalah orang yag sangat keren bila diajak bicara. Tidak seperti ayahku, seorang sarjana denagn predikat cum laude. Orang yang sangat dingin. Tidak pernah mendengar alasan putrinya. Diktator. Jahat, selalu benar… menurutku.

    Kakek, nenek, ayah, ibu sekarang sama. Semuanya sama. Tidak ada yang baik. Fyiuh!! Kenapa aku harus seperti ini ? Cuman karena tidak bisa main bareng temen, aku menyamakan kakek nenek dengan ortuku? Lapar. Aku kelaparan. Aku belum makan sejak kemarin. Sejak aku berangkat dari rumah menuju tempat pembuangan ini. Ihh aku ingin makan, tapi aku lagi marah. Kesel sebel. Bila sudah sebel, aku tahan nggak makan.

    “Syan…Ini kakek, kalo nggak mau makan, sholat dulu gih. Udah jam satu,” kini gantian suara serak kakekku yang muncul dari balik pintu. Hah… sholat? Sejak kapan aku sholat ? Kakek dan nenek pasti bercanda. Mereka sudah tahu kalau aku bukan tipe orang yang melakukan ibadah itu. Lucu, benar-benar lucu.

    “Syan nggak sholat! “ teriakku.

    “Ya udah, kalau gitu. Nenek mau sholat dulu. Syan kalau mau makan ambil sendiri yah,”

    “Nek, Syan nggak pernah sholat,” jawabku mempertegas jawabanku tadi.

    “Syan….!” suara nenekku lirih. Nenek nangis. Aku nggak habis pikir. Kakek nenek adalah orang-orang yang sangat taat beragama, tapi tidak satupun anak-anak mereka yang alim. Termasuk ayahku, putra pertama mereka.

    Masih kudengar suara tangisan nenekku dari balik pintu. Aku paling nggak tahan mendengar tangisan. Kudengar juga suara kakek yang berusaha menenangkan nenek. Aku bingung, sebel sama diriku sendiri. Kuangkat tubuhku dan berjalan menuju pintu. Kubuka pintu perlahan.

    “Syan…,” ucap nenek dan langsung memelukku sesaat setelah kubuka pintu.

    “Nek, Syan nggak bawa mukena,” ucapku.

    “Pake punya nenek, Syan.”

    Aku sholat diimami nenek. Air mata nenek membasahi sajadahnya, aku terbawa suasana. Ini adalah sholat pertamaku sejak SMP. Kini aku sudah kelas dua SMA. Sholat terakhir yang kulakukan saat SMP adalah sholat karena ujian praktek agama. Ahhh seburuk itukah aku?

    “Nek, maapin Syan yaa.” Ucapku seusai sholat, disambut senyuman lembut nenekku.

    **

    Sudah seminggu aku tinggal di rumah kakek nenek. Pagi ini sudah saatnya pulang. Jam kuno di ruang tamu berdentang enam kali. Sedih sekali meninggalkan tempat ini. Tempat yang kubenci saat hari pertama aku menginjakkan kaki di sini, kini menjadi tempat yang sangat berat kutinggalkan.

    Delman yang akan mengantarkanku menuju terminal sudah datang. Kakek ikut mengantarkanku sampai terminal. Nenek tidak bisa ikut mengantarkan karena pagi ini rumah nenek mendapat giliran tempat untuk pengajian desa. Sedih sekali harus berpisah dengan nenek. Sebelum pulang, kucium tangan nenek dan kupeluk tubuh nenek yang lebih kecil dariku.

    “Syan, kalau udah pake jilbab, nggak perlu pake topi !” nenek membuka topiku lalu menjitak kepalaku.

    “Syan, topinya buat kakek aja ya!” seloroh kakekku, disambut tawa nenek.

    “Assalamualaikum, nek…!”

    Delman membawaku pergi meninggalkan nenek. Tubuh nenek mengecil dan menghilang. Nek, i will miss u.

    “Ehh katanya kamu bukan bocah cengeng ! udah.. udah. Kalau liburan ke sini, ya. Sebentar lagi kalau udah musim panen, kakek ma nenek juga mau datang ke rumahmu.” Ucap kakek sambil memakaikan topi ke kepalaku.

    “Bener, janji lho. Oleh-olehnya yang banyak.” Jawabku.

    “Eh.. kata nenek, ‘kalau udah pake jilbab, nggak perlu pake topi’, hehe,” ucapku sambil meniru gaya bicara nenek yang lirih. Kulepas topiku.

    “Kubilangin nenekmu lhoo.”

    “Bilangin aja weeeeee…”

    **

    Capek. Udah gonta-ganti bus sampai tiga kali. Untung nggak tersesat. Maklum, aku pergi ke desa diantar temen ayah pake mobil. Akhirnya sampai juga aku di kota Solo tercinta. Kulihat jam tanganku. Wahh sudah jam dua lebih. Aku belum sholat Dhuhur. Kucari mushola. Penuh dan sesak. Ya udah jalan satu-satunya yaitu cepat-cepat mencari taksi and go home soon. Alhmdulillah. sampai di rumah juga, setelah kurang dari 15 menit perjalanan. Agak ragu aku memasuki rumah. Kuketuk pintu rumah.

    “Assalamualaikum.” Kebiasaan salam yang kudapat selama seminggu di rumah nenek tak sengaja keluar dari mulutku.

    Ibu membukakan pintu tanpa menjawab salam. Ibu bengong meihatku. Segera kucium tangan ibu.

    Di ruang tengah, ayah hanya terdiam tanpa suara. Seperti biasanya. Dingin.

    “Ibu, maapin Syan ya.”

    Kulihat jam menunjukkan pukul 14.30. Aku belum sholat Dhuhur. Segera kuberlari ke lantai atas menuju kamar mandi lalu ke kamar. Kucari mukenaku. Ahh akhirnya ketemu juga. Mukena satu-satunya sejak SMP. Coba kukenakan. Hmm..kekecilan. Atasannya hanya menutup setengah lenganku. Bawahannya tidak mampu menutupi kakiku. Ya Allah, untuk menghadapMu pun aku tak punya pakaian yang layak. Beberapa menit lagi suara adzan Ashar akan berkumandang. Aku masih berdiri terpaku, bingung. Di lantai bawah. Kudengar mulai ada teriakan-teriakan.

    “Aku sudah bilang. Bukan jalan baik ngirim anakmu ke rumah orang tuaku. Dia sudah teracuni. Mending dulu kau biarkan saja dia minggat ke Bali! “ ucapan ayahku terdengar jelas. Membuatku tambah bingung.

    “Ayah, setidaknya dia nggak bersama anak-anak nakal. Iyya,kan.!” Jawab ibuku tak kalah kerasnya.

    Ayah, ibu…….aku sayang kalian. Aku tak ingin gara-gara aku kalian bertengkar. Kudengar ketukan pintu dan suara ayah ibuku dari balik pintu.

    “Syan.. buka pintu. Ayah dan ibu mau bicara.” Suara ibuku terdengar dari balik pintu.

    Ragu tapi kubuka pintu kamarku. Mukena yang kekecilan masih melekat di tubuhku. Ayah dan ibu hanya terdiam membisu melihatku.

    “Syan mau sholat tapi mukenanya kekecilan.” Ucapku.

    Tak ada reaksi dari ayah dan ibuku. Sementara sayup-sayup terdengar suara adzan menunjukkan waktu sholat Ashar telah tiba.

    “Syan berangkat dari rumah nenek tadi pagi. Belum sholat Dhuhur. Sekarang sudah Ashar. Syan nggak tahu cara menjamak sholat.” Ucapku lirih. Aku tak sengaja mengeluarkan air mata di depan ayah ibuku, sesuatu yang tidak pernah kulakukan dan menjadi pantangan bagiku.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Tjukup_nicka 7:17 pm on 11 November 2012 Permalink

      Subhanallah…..
      Merinding sya bacanya,beruntunglah syan!!

  • erva kurniawan 1:03 am on 9 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , ,   

    Pengidap Kanker Sembuh Atas Izin Allah 

    Wanita Pengidap Kanker Divonis Mati Oleh Dokter, Tapi Sembuh Atas Izin Allah

    Ini adalah kisah yang patut dijadikan pelajaran zaman. Kisah seorang wanita bernama, Laila al-Hulw yang sebelumnya tidak penah mengingat Allah dan lupa kepada-Nya. Suatu ketika, ia diberi cobaan dengan penyakit yang menakutkan dan menjijikkan sekaligus mematikan. Barulah setelah itu, ia tersadar dan menyadari bahwa hanya Allah lah tempat berlindung dan memohon. Dia lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Yang Maha menyembuhkan. Kemudian ia habiskan waktunya untuk mendekatkan diri kepada-Nya di rumah-Nya, Baitullah al-Haram dan di sanalah terjadi kejadian aneh yang akhirnya merubah kehidupannya secara total.

    Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak penuturannya:

    Sudah 9 tahun aku mengidap penyakit yang sangat mengerikan sekali, yaitu penyakit kanker. Semua orang pasti tahu bahwa nama ini sangat menakutkan. Di negeriku, Maroko, orang tidak menyebutnya penyakit as-Sarathan (kanker) tetapi disebut ‘momok’ (al-Ghawl) alias ‘penyakit kotor (al-Maradl al-Khabits).

    Penyakit ini mengenai bagian payudaraku. Sebelumnya, tingkat keimananku kepada Allah sangatlah lemah; aku lalai dari mengingat Allah. Aku mengira bahwa kecantikan seseorang akan abadi selama hidupnya dan masa muda dan kesehatannya juga demikian. Aku sama sekali tidak mengira akan menderita penyakit yang amat berbahaya, kanker. Namun setelah aku benar-benar menderita penyakit ini, jiwaku menjadi sangat guncang. Aku berpikir bagaimana bisa menghindar darinya tetapi hendak kemana? Sementara penyakitku ini akan selalu bersamaku di mana pun aku berada. Aku juga pernah berpikir untuk bunuh diri namun aku masih mencintai suami dan anak-anakku. Aku sama sekali tidak pernah berpikir bahwa Allah akan menyiksaku bilamana aku jadi bunuh diri -sebagaimana yang aku jelaskan tadi- sebab aku orang yang lalai dari mengingat Allah.

    Rupanya, melalui penyakit ini Allah ingin memberikan hidayah kepadaku dan melalui perantaraanku pula, Dia memberikan hidayah kepada banyak orang. Setelah itu, mulai semua urusan berkembang.

    Ketika menderita penyakit tersebut, aku bersama suamiku pergi ke Belgia untuk berobat dan di sana aku mendatangi beberapa orang dokter terkenal namun mereka semua hampir sepakat mengatakan kepada suamiku bahwa payudaraku harus dihilangkan.

    Tidak sebatas itu, aku juga harus menggunakan obat-obat dengan dosis tinggi di mana efek sampingnya dapat merontokkan rambut, melenyapkan bulu mata, kedua alis mata, menumbuhkan seperti jenggot di atas wajah bahkan merontokkan juga kuku dan gigi. Karena itu, aku menolaknya sama sekali seraya berkata, “Aku lebih baik mati dengan tetap memiliki payudara dan rambut serta semua apa yang diciptakan Allah untukku dari pada harus cacat. Lalu aku meminta kepada para dokter agar membuat resep pengobatan ringan untukku dan mereka pun mengabulkannya.

    Kemudian aku kembali ke negeriku, Maroko dan aku gunakanlah obat yang diberikan para dokter tersebut. Ternyata obat itu tidak memiliki efek samping apa pun dan ini membuatku senang. Aku berkata pada diriku, “Barangkali saja para dokter itu salah dalam mendiagnosa dan aku sebenarnya tidak menderita penyakit kanker itu.”

    Akan tetapi, setelah kira-kira enam bulan kemudian, aku mulai merasakan susutnya berat badanku, warna kulitku banyak berubah dan merasakan berbagai keluhan sakit. Yah, sakit yang selalu bersamaku. Lalu dokter pribadi kami di Maroko menyarankanku agar pergi ke Belgia, maka aku pun berangkat ke sana bersama suami.

    Di sanalah, seakan bencana itu benar-benar tiba. Para dokter malah berkata kepada suamiku, “Penyakitnya sudah menyerang seluruh tubuhnya, termasuk kedua paru-paru.” Mereka menyatakan tidak memiliki resep apa pun yang dapat menyembuhkan kondisi yang aku alami tersebut. Kemudian mereka berkata kepada suamiku, “Sebaiknya, anda bawa kembali isterimu ini ke negerimu hingga ia menemui ajalnya di sana.”

    Suamiku kaget alang kepalang mendengar pernyataan itu dan tidak mudah percaya begitu saja dengan ucapan mereka. Karena itu, kami bukannya pulang ke Maroko seperti yang disarankan tetapi malah ke Perancis. Kami mengira bahwa pasti ada pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakitku itu. Namun, kami tidak mendapatkan apa-apa sehingga akhirnya kami sangat ingin sekali untuk meminta tolong kepada seseorang di sana agar aku dimasukkan ke rumah sakit untuk menghilangkan payudaraku dan menggunakan obat-obat berdosis tinggi itu.

    Akan tetapi, suamiku rupanya ingat sesuatu yang selama ini kami lupakan bahkan sepanjang hidup kami. Allah telah memberikan ilham kepada suamiku agar kami berziarah ke Baitullah al-Haram di Mekkah. Kami harus berdiri di hadapan-Nya guna memohon disembuhkan dari penyakit yang aku derita ini. Kami pun melakuan hal itu.

    Kami berangkat dari Paris seraya bertahlil dan bertakbir. Aku sangat gembira sekali karena untuk pertama kalinya memasuki Baitullah al-Haram dan melihat Ka’bah yang dimuliakan. Di sebuah toko di kota Paris, aku membeli sebuah mushaf dan setelah itu, kami berangkat menuju Mekkah al-Mukarramah.

    Akhirnya, kami sampai juga di Baitullah al-Haram. Tatkala sudah masuk dan melihat Ka’bah, aku banyak menangis karena menyesali atas perbuatanku yang telah lalu. Aku sudah tidak pernah melakukan berbagai kewajiban yang diperintahkan Allah; shalat, puasa, kekhusyu’an dan pasrah diri kepada-Nya.

    Aku berkata, “Wahai Rabb, pengobatan terhadap penyakitku sudah membuat tak berdaya para dokter. Sedangkan penyakit itu berasal dari-Mu dan Engkau pulalah Yang Memiliki obatnya. Semua pintu telah tertutup di hadapanku, yang tinggal hanyalah pintu-Mu saja. Karena itu, janganlah Engkau kunci pintu-Mu dati hadapanku.”

    Aku pun melakukan thawaf di Ka’bah dan banyak memohon kepada-Nya agar Dia tidak menyia-nyiakan harapanku dan tidak menghinakanku serta dapat membuat tercengang para dokter yang telah memvonisku.

    Seperti yang telah aku katakan tadi, dulu aku orang yang lalai dari mengingat Allah dan jahil terhadap agama-Nya. Karena itu, aku mendatangi beberapa ulama dan syaikh yang berada di sana seraya meminta mereka menunjukiku buku dan doa yang mudah dan ringkas untuk aku jadikan pegangan. Lalu mereka menasehatiku agar banyak-banyak membaca al-Qur’an dan meminum air zam-zam sepuas-puasnya. Mereka juga menasehatiku agar memperbanyak berdzikir kepada Allah dan membaca shalawat kepada Rasulullah SAW.

    Berada di Baitullah, aku merasakan ketenangan jiwa yang luar biasa. Karena itu, aku minta izin kepada suamiku untuk tetap tinggal di al-Haram dan tidak pulang ke hotel. Dia pun mengizinkanku.

    Di al-Haram kebetulan ada beberapa saudariku seiman dari Mesir dan Turki yang menjadi tetanggaku duduk-duduk. Mereka sering melihatku sedang menangis lalu bertanya perihal sebab aku menangis. Aku menjawab, “Karena aku sudah sampai di Baitullah padahal aku tidak mengira akan demikian mencintainya seperti sekarang ini. Kedua, karena aku mengidap kanker.”

    Lalu mereka menemaniku dan tidak ingin berpisah. Aku beritahukan kepada mereka bahwa aku berniat I’tikaf di rumah Allah ini. Maka, mereka pun memberitahu kepada suami-suami masing-masing untuk meminta izin tinggal bersamaku. Kami tidak pernah memejamka mata, tidak makan kecuali hanya sedikit. Kami hanya banyak minum air zam-zam sebab di dalam hadits, Nabi SAW, bersabda, “Air zam-zam itu sesuai dengan (tujuan/niat) meminumnya.” (Hadits Shahih, HR.Ibn Majah dan lainnya) Meminumnya karena niat agar disembuhkan, maka Allah akan menyembuhkan anda, meminumnya karena niat agar hilang dahaga, maka Allah akan menghilangkan dahaga anda dan meminumnya karena niat agar berlindung kepada Allah, maka Dia akan melindungi anda.

    Benar, Allah telah menghilangkan rasa lapar kami dan kami terus melakukan thawaf. Kami melakukan shalat dua raka’at, lalu mengulangi thawaf lagi. Kami meminum air zam-zam dan memperbanyak bacaan al-Qur’an. Demikianlah, siang dan malam, kami hanya sedikit tidur. Ketika aku sampai di Baitullah, tubuhku kurus sekali, pada sebagian tubuhku bagian atas banyak sekali tumbuh bintik-bintik dan benjolan-benjolan yang menandakan bahwa kanker telah menyerang seluruh anggota badanku bagian atas. Mereka menasehatiku agar membasuh separuh tubuhku bagian atas dengan air zam-zam akan tetapi aku takut bila menyentuh benjolan-benjolan dan bintik-bintik itu, aku akan teringat sakit lantas membuatku terlena dari berdzikir dan beribadah kepada Allah. Aku pun membasuhnya tetapi tanpa menyentuh tubuhku.

    Pada hari ke-lima, teman-temanku itu memaksaku agar menyapu seluruh tubuhku dengan sedikit air zam-zam. Pada mulanya, aku menolak tetapi tiba-tiba aku merasa mendapatkan kekuatan yang mendorongku untuk mengambil sedikit air zam-zam lalu menyapunya ke tubuhku. Saat pertama kali, aku merasa cemas, kemudian aku merasakan ada kekuatan lagi, tetapi masih ragu-ragu namun ketika untuk kali ketiganya tanpa terasa aku memegang tanganku lalu menyapu air zam-zam ke tubuh dan payudaraku yang mengeluarkan darah, nanah dan bintik-bintik. Di sinilah, terjadi sesuatu yang tidak pernah aku sangka-sangka. Rupanya, semua bintik-bintik itu lenyap seketika dan aku tidak menemukan sesuatu pun di tubuhkku, tidak rasa sakit, darah atau pun nanah.!!

    Pada awal mulanya, aku betul-betul kaget. Karenanya, aku masukkan kembali kedua tanganku ke dalam bajuku untuk mencari penyakit yang dulu bersarang di tubuhku, namun aku tidak mendapatkan sedikit pun benjolan-benjolan itu. Bulu kudukku merinding saking kagetnya, akan tetapi barulah aku teringat bahwa Allah Ta’ala Maha Kuasa atas segala sesuatu. Lalu aku meminta salah seorang temanku untuk menyentuh tubuhku dan mencari bintik-bintik dan benjolan-benjolan, barangkali saja ada. Tiba-tiba mereka berterik tanpa sadar, “Allahu Akbar, Allahu Akbar.!”

    Tak berapa lama setelah itu, aku tidak kuasa lagi untuk segera pulang dan memberitahukan perihal tersebut kepada suamiku. Aku memasuki hotel tempat kami menginap, dan begitu sudah berdiri di hadapan matanya, aku robek bajuku seraya berkata, “Lihatlah rahmat Allah.!” Kemudian aku memberitahukan kepadanya apa yang telah terjadi tetapi ia tidak percaya. Ia menangis dan berteriak dengan suara kencang, “Tahukah kamu bahwa para dokter tempo hari telah bersumpah atas kematianmu setelah tiga minggu saja.?” Lalu aku berkata, “Sesungguhnya ajal itu di tangan Allah Ta’ala dan tidak ada yang mengetahui hal yang ghaib selain Allah.”

    Setelah itu, kami tinggal di Baitullah selama seminggu penuh. Selama masa-masa itu, aku tidak putus untuk memuji dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya yang demikian tidak terhingga. Kemudian kam mengunjungi masjid nabawi untuk melakukan shalat dan berziarah kepada Rasulullah SAW, lalu setelah itu kembali ke Perancis.

    Di sana, para dokter tampak benar-benar kaget dan bingung alang kepalang melihat kejadian aneh yang menimpaku. Mereka antusias bertanya, “Apakah benar anda ini si ibu tempo hari yang pernah datang kemari.?” Lalu dengan penuh rasa bangga, aku tegaskan kepada mereka, “Ya, benar dan si fulan itu adalah suamiku. Aku telah kembali kepada Rabbku dan aku tidak akan pernah takut lagi kepada siapa pun selain Allah. Semua takdir berada di tangan-Nya dan segala urusan adalah milik-Nya.” Mereka bertanya, “Sesungguhnya, kondisimu ini merupakan sesuatu yang sangat aneh sekali sebab benjolan-benjolan itu sudah hilang sama sekali. Izinkan kami untuk mengadakan pemeriksaan sekali lagi.”

    Mereka kembali memeriksaku namun tidak mendapatkan sesuatu pun. Sebelumnya, gara-gara benjolan-benjolan itu, aku sama sekali sulit untuk bernafas akan tetapi ketika sampai di Baitullah al-Haram dan aku meminta kesembuhan hanya kepada-Nya, maka sesak nafas itu pun hilang.

    Setelah peristiwa aneh itu, aku bergiat mencari tahu mengenai riwayat hidup Nabi Muhammad SAW, riwayat hidup para shahabatnya dan aku banyak menangis. Aku menangisi masa laluku karena sudah sekian lama melewatkan waktu dengan sia-sia dan tidak dapat mengecap rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku menyesali hari-hari yang telah aku sia-siakan dan membuatku jauh dari-Nya itu. Aku memohon kepada Allah agar menerima amalanku dan menerima taubatku, suamiku dan seluruh kaum Muslimin.

    ***

    (SUMBER: asy-Syifaa` Ba’da al-Maradl karya Ibrahim bin ‘Abdullah al-Hazimy, h.47-54, sebagai yang dinukilnya dari buku al-‘Aa`iduun Ilallaah, h.65, disusun Muhammad al-Musnid)

     
    • dhian 9:46 am on 5 Agustus 2010 Permalink

      Subhannallah, Kuasa Allah.. semoga Allah dapat menyembuhkan pula penyakitku dan mengabulkanku untuk mengunjungi Baitullah Al Mukarrahmah

  • erva kurniawan 1:31 am on 5 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , ,   

    Hilang dan Melayang 

    Penyakit ini tidak seperti biasanya, sejak kambuh tiga hari yang lalu sampai hari ini rasanya malah bertambah parah. Malam itu pun sama.

    Badan ini terasa menggigil, panas rasanya, bernafas menjadi sangat sulit. Lalu rasa sakit itu semakin menjalar, seluruh tubuh serasa ditusuk jarum panas. Lalu sekonyong konyong seseorang memelukku dari belakang dan menarik ku ke atas, semakin aku meronta, kekuatan itu semakin kuat mencengkeram. Seiring nafas ku yang tinggal satu persatu, apabila kutarik nafas, serasa badan ku memanjang, dan saat kukeluarkan nafasku, serasa badan ku mengkerut dan sakit nya bukan kepalang.

    Demikian, cenkeraman itu begitu dahsyatnya. Rasanya seperti badan ini mengkerut dari arah kaki, panas dan serasa ditusuk tusuk, mulai ujung kaki kemudian merambat ke telapak dan terus ke tumit, dengkul, kemudian merambat keperut, kedada, semakin keatas semakin panas rasanya dan sakitnya tak terkira. Lalu tiba tiba…

    Sekali renggut, hilang lah rasa sakit itu digantikan rasa “hilang” dan “mengambang”. Tiba tiba saja aku sudah terbangun di suatu tempat lapang yang sangat sangat luas, sepanjang mata memandang kulihat ribuan bahkan jutaan manusia berbaris rapi menuju sebuah gerbang. Satu persatu mereka “diperiksa”, dua makhluk yang berbeda berdiri di kedua samping gerbang menyambut manusia manusia ini.

    Disebelah kanan kulihat penjaga yang dengan penuh kesopanan membawa mereka entah kemana, sementara di sebelah kiri penjaga yang menyeramkan dan berbahasa kasar, menarik dan menyeret manusia lainnya yang berteriak teriak. Lalu tibalah giliranku, di gerbang ini terdapat sebuah timbangan dan seseorang mengeluarkan segala sesuatu dari kaki ku, dari tangan ku kiri dan kanan, dari tubuhku, dari mulutku, dari mataku dan semuanya mengeluarkan isinya. Kemudian disimpanlah semuanya kedalam timbangan yang aku lihat berat kekiri, penjaga disebelah kiri itu mulai menyeringai dan siap untuk merenggut dan menyeretku. Pandangannya sangat mengerikan, kulihat api dibola matanya, kurasakan panas udara saat dia mendekat.

    Tapi tiba tiba dari belakang datanglah seseorang, “orang ini belum waktunya, belum waktunya.” Sambil berkata demikian, dibawanya aku melesat dan “hilang” “melayang”.

    Saat mataku terbuka, kulihat suamiku, anak anakku berkumpul. Berderai lah air mataku. Terimakasih Ya Alloh, Engkau berikan aku kesempatan kedua.

    (Diilhami dari cerita seorang bibi yang pernah meninggal kemudian hidup lagi)

    **

    Akankah tangan kita, kaki kita, tubuh kita dan semuanya pada diri kita bisa menyumbangkan amal atau malah menumpahkan dosa kedalam timbangan di akhirat nanti…?.

    Apakah kita siap untuk mati…???, mati yang tak akan hidup lagi, tanpa kesempatan kedua, mati yang akan mengantar kita ke alam selanjutnya, alam yang tak ada kata kata atau perbuatan untuk merubah semua amal dan dosa. Siapkah kita?

    ***

    Sahabat Ari

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 31 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , ,   

    Siapakah Ibunya 

    Mungkin kita sudah sering membaca atau mendengar cerita semacam ini. Saya kagum dengan anak tersebut, siapakah ibunya, siapakah ayahnya.Dan saya juga kagum dengan pemuda yang memperhatikan nasib anak penjual kue tersebut, siapakah istrinya, siapakah ibu dari pemuda tersebut, siapakah ayahnya..dst..

    Andaikan saja banyak manusia-manusia berhati semacam kisah dibawah ini, mungkin tak sebanyak ini manusia “sengsara/melarat” di “Indonesia khususnya”.

    Tetapi teramat disayangkan sangat sedikit, bahkan tidak sedikit orang tua, ayah atau ibu yang melalaikan anak-anaknya, hanya karena alasan ini dan itu. Sibuk di kantor,karier, jabatan, sibuk dengan perempuan/lelaki lainnya yang bukan dari ibu kandung anak-anaknya sendiri.

    ***

    = Siapakah Ibunya/Orang Tuanya? =

    Selesai berlibur dari kampung, saya harus kembali ke kota. Mengingat jalan tol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama.

    Terasa mengantuk, saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan.

    “Abang mau beli kue?” Katanya sambil tersenyum.

    Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajaannya.

    “Tidak dik….abang sudah pesan makanan,” jawab saya ringkas, dia berlalu.

    Begitu pesanan tiba, saya terus menikmatinya. Lebih kurang 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri pelanggan lain, sepasang suami istri sepertinya. Mereka juga menolak, dia berlalu begitu saja.

    “Abang sudang makan, tak mau beli kue saya?” katanya tenang ketika menghampiri meja saya.

    “Abang baru selesai makan di, masih kenyang nih,” kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pergi, tapi cuma disekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh.

    Setiap yang lalu ditanya, “Tak mau beli kue saya bang..pak.kakak atau ibu.”

    Molek budi bahasanya.

    Pemilik restoran itu pun tak melarang dia keluar masuk ke restorannya menemui pelanggan. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha.

    Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

    Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil.

    Anak itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang sama. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi berdiri di tepi mobil.

    Dia menghadiahkan sebuah senyuman.

    Saya turunkan cermin. Membalas senyumannya.

    “Abang sudah kenyang, tapi mungkin abang perlukan kue saya untuk adik-adik abang, ibu atau ayah abang,” katanya sopan sekali sambil tersenyum. Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya. Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja.

    Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya.

    “Ambil ini dik! Abang sedekah ….tak usah abang beli kue itu.” Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima deretan kedai. Saya gembira dapat membantunya.

    Setelah mesin mobil saya hidupkan . Saya memundurkan mobil saya. Alangkah terperanjatnya saya ketika melihat anak itu mengulurkan uang Rp 20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua matanya.

    Saya terkejut … saya hentikan mobil, memanggil anak itu.

    “Kenapa bang mau beli kue kah?” tanyanya.

    “Kenapa adik berikan duit abang tadi pada pengemis itu? Duit itu abang berikan adik!” kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

    “Bang saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah.

    Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, mak pasti marah. Kata mak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat bang!” katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal, saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

    “Abang mau beli semua kah?” dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata.

    “Rp 25.000,- saja bang…..”

    Selepas dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan terus pergi.

    Saya perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.

    Dalam perjalanan, baru saya terfikir untuk bertanya statusnya. Anak yatim kah? Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidiknya? Terus terang saya katakan , saya beli kuenya bukan lagi atas rasa kasihan, tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat menjadikan kerjanya suatu penghormatan. Sesungguhnya saya kagum dengan sikap anak itu.

    Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya.

    ***

    Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik, dan tidak menerima sesuatu kecuali yang baik.” Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang beriman, seperti Dia perintahkan kepada para rasul-Nya dengan firman-Nya, yang artinya, “Wahai para Rasul, makanlah kalian dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan”.

    Dan firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari makanan yang baik-baik, dan bersyukurlah kamu kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah.”

    Kemudian Rasulullah menyebutkan seorang laki-laki yang menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut lagi berdebu. Orang tersebut menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a: “Ya Tuhanku .. Ya Tuhanku ..” Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, dan baju yang dipakainya dari hasil yang haram. Maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan?” (HR. Muslim, shahih).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 21 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Si Gembala Domba 

    Minggu itu seperti biasa saya ajak anak anak jalan jalan pagi, selepas subuh (alhamdulillah dari bayi anak anak saya sudah terbiasa bangun pagi) kami berangkat. Biasanya kami pergi ketempat lari pagi, tapi pagi itu saya putuskan untuk pergi kesebuah lokasi perumahan baru yang masih banyak tanah kosongnya.

    Ternyata banyak juga para pelari pagi yang datang juga kesana dan memang tempatnya masih alami, masih banyak pepohonan dan ilalang yang tumbuh liar. Anak anak saya biarkan menjelajahi alam, si sulung saya lihat sibuk mengejar kupu kupu, dan si bungsu mulai asik menemukan tumbuhan “aneh” putri malu yang jika disentuh tumbuhan ini akan mengkerut dan dedaunannya akan menutup diri. Subhanalloh, setelah lama tidak melihat putri malu ini, saya jadi asik juga menyentuh nyentuh dan memperhatikan kehebatan tumbuhan ini, lama saya perhatikan sepertinya tumbuhan ini memiliki indra perasa yang bisa merasakan sentuhan atau getaran yang kita buat di sekitar tangkainya, subhanalloh, walhamdulillah, wallohuakbar.

    Tak jauh dari situ, saya lihat segerombolan kambing berjalan ke arah kami dan dibelakangnya mengikuti seorang tua renta membawa tongkat kayu dan sebuah payung yang ternyata seorang gembala. Saya perhatikan mata gembala ini tak henti hentinya memperhatikan kambing kambing yang sibuk memakan rumput dan ilalang di sekitarnya. Sesekali orang tua ini bangun dari duduknya dan menghampiri kambing yang agak terpisah dari kelompoknya dan menggiringnya kembali. Begitu sabarnya orang tua ini dalam melakukan tugasnya menggembala kambing sehingga pada saat hujan turunpun (apalagi hujan pagi pagi dinginyaa…) tapi orang tua ini tetap saja tal bergeming, dia membuka payungnya dan tetap memperhatikan kambing kambing dengan penuh kesabaran.

    Sambil menuntun anak anak, pikiran saya melayang kepada Rosululloh Saw muda yang yatim piatu, sendirian ditengah binatang gembalaanya seperti orang tua itu. Pemuda yang kelak menjadi Rosul penutup ini setiap hari menggambalakan kambing, siang hanya beratapkan langit dan awan juga teriknya sinar mentari, disaat malam tiba beliau Saw beralaskan bumi dan bertapkan langit dengan kemerlap bintang bintang dan rembulan. Inilah yang membawa kesadaran pemuda ini akan sesuatu yang Maha Besar dan Maha Hebat yang berdasarkan pengamatannya yang polos (baca:umiy) tanpa prasangka ataupun distorsi pemikiran, ada kekuatan yang melebihi dahsyatnya matahari yang membakar dan indahnya rembulan yang menerangi malam. Ada kekuatan yang melebihi apapu yang diperhatikannya selama ini. Apakah itu?, pertanyaan seorang lugu dan polos inilah yang menuntun pemuda ini kapada Sang Penguasa Segala Kekuatan di langit dan bumi.

    Dengan menggembala kambing ini juga lah pemuda ini Saw, mengambil pelajaran dalam kesabaran, ketegasan, kasih sayang, leadership, dll untuk mempersiapkan hati dan pikirannya dalam menyambut tugas berat yang akan diembannya menjadi kekasih Alloh, Nabi dan Rosul penutup. Beliau Saw, menyampaikan bahwa: “Nabi-nabi yang diutus Allah itu gembala kambing.” Dan katanya lagi: “Musa diutus, dia gembala kambing, Daud diutus, dia gembala kambing, aku diutus, juga gembala kambing keluargaku di Ajyad.” Maka berbanggalah wahai engkau penggembala kambing, engkau melakukan perkejaan mulia yang juga dilakukan oleh para Nabi Rosul Alloh.

    Saat ini, cobalah kita merenungi si gembala kambing, bisakah kita bersabar dalam menasehati, bisakah menasehati dengan kasih sayang, bisakah kita melihat sekeliling dan berkaca apakah sudah kita menjadi makhluk yang sesuai dengan keinginan Sang Kolik?….

    ***

    Disampaikan Oleh Sahabatku Ari Dino

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 17 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Orang Kaya Dan Orang Miskin Bertemu Di Surga 

    Alkisah, di suatu negeri pernah hidup seorang kaya raya, yang rajin beribadah dan beramal. Meski kaya raya, ia tak sombong atau membanggakan kekayaannya. Kekayaannya digunakan untuk membangun rumah ibadat, menyantuni anak yatim, membantu saudara, kerabat dan tetangga-tetangganya yang miskin dan kekurangan, serta berbagai amal sosial lainnya. Di musim paceklik, ia membagikan bahan pangan dari kebunnya yang berhektar-hektar kepada banyak orang yang kesusahan. Salah satu yang sering dibantu adalah seorang tetangganya yang miskin.

    Dikisahkan, sesudah meninggal, berkat banyaknya amal, si orang kaya ini pun masuk surga. Secara tak terduga, di surga yang sama, ia bertemu dengan mantan tetangganya yang miskin dulu. Ia pun menyapa.

    “Apa kabar, sobat! Sungguh tak terduga, bisa bertemu kamu di sini,” ujar si kaya.

    “Mengapa tidak? Bukankah Tuhan memberikan surga pada siapa saja yang dikehendaki-Nya, tanpa memandang kaya dan miskin?” jawab si miskin.

    “Jangan salah paham, sobat. Tentu saja aku paham, Tuhan Maha Pengasih kepada semua umat-Nya tanpa memandang kaya-miskin. Cuma aku ingin tahu, amalan apakah yang telah kau lakukan sehingga mendapat karunia surga ini?”

    “Oh, sederhana saja. Aku mendapat pahala atas amalan membangun rumah ibadat, menyantuni anak yatim, membantu saudara, kerabat dan tetangga yang miskin dan kekurangan, serta berbagai amal sosial lainnya….”

    “Bagaimana itu mungkin?” ujar si kaya, heran. “Bukankah waktu di dunia dulu kamu sangat miskin. Bahkan seingatku, untuk nafkah hidup sehari-hari saja kamu harus berutang kanan-kiri?”

    “Ucapanmu memang benar,” jawab si miskin. “Cuma waktu di dunia dulu, aku sering berdoa: Oh, Tuhan! Seandainya aku diberi kekayaan materi seperti tetanggaku yang kaya itu, aku berniat membangun rumah ibadat, menyantuni anak yatim, membantu saudara, kerabat dan tetangga yang miskin dan banyak amal lainnya. Tapi apapun yang kau berikan untukku, aku akan ikhlas dan sabar menerimanya.”

    “Rupanya, meski selama hidup di dunia aku tak pernah berhasil mewujudkannya, ternyata semua niat baikku yang tulus itu dicatat oleh Tuhan. Dan aku diberi pahala, seolah-olah aku telah melakukannya. Berkat semua niat baik itulah, aku diberi ganjaran surga ini dan bisa bertemu kamu di sini,” lanjut si miskin.

    Maka perbanyaklah niat baik dalam hati Anda. Bahkan jika Anda tidak punya kekuatan atau kekuasaan untuk mewujudkan niat baik itu dalam kehidupan sekarang, tidak ada niat baik yang tersia-sia di mata Tuhan.

    ***

    Sumber: Anonim

     
    • annisa 7:19 am on 18 Mei 2010 Permalink

      Subhanallah.. besar sekali ganjaran Allah untuk niat yang baik dan besar.. memang sebaiknya kita iri dlm hal kebaikan..,
      semoga kita bisa mengambil keuntungan dari keberhasilan orang2 di sekitar kita atw yg kita tahu, spt cara diatas.. aamiiin

    • Jeff Ross 8:10 pm on 19 Mei 2010 Permalink

      Subhanallah.. besar sekali ganjaran Allah untuk niat yang baik dan besar.. memang sebaiknya kita iri dlm hal kebaikan..,semoga kita bisa mengambil keuntungan dari keberhasilan orang2 di sekitar kita atw yg kita tahu, spt cara diatas.. aamiiin
      +1

    • ayu 2:58 pm on 30 Mei 2010 Permalink

      Subhanallah…Allah memang maha adil……….

    • Videos cristianos 12:11 pm on 28 Januari 2011 Permalink

      You do know what you’re doing, so keep at it.
      Thank you!

      David.

  • erva kurniawan 1:50 am on 15 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Alloh Batuk Yaa Bi? 

    Hujan

    Kemarin saat hujan turun begitu derasnya, bahkan disertai es batu kecil kecil juga angin dan petir, sambil melihat keluar jendela, saya ngobrol sama anak anak saya, 5 tahun dan 3,5 tahun;

    “Ini siapa yang buat ayooo?” saya menunjuk sebuah mainan perahu yang saya buat dari kertas, “Abi yang bikin” jawab anak saya, “Ini siapa yang buat?” sambil nunjukin kue yang di buat ibunya. “Umi” jawab anak saya lagi “Kalau abi sama umi sama aa sama ade, siapa yang bikin ayooo?” “Allooohhh!!!” jawab anak saya yang diikuti adiknya yang baru berumur tiga tahun.. “Terus kalau hujan, yang nurunin siapa ayoooo?”. “Allooh kan Bi?” jawab anak saya ragu ragu, apalagi jika hujannya berupa hujan lebat disertai angin kencang dan petir seperti ini. “Iyaa Alloh juga, hujan ini nanti masuk ke tanah terus airnya di minum sama tanaman, nanti tanamannya akan tumbuh dan berbuah, nanti buahnya kita makan deh…? “aku suka apel sama jeruk” jawab si sulung, “aku sukanya buah mangga yang manis yang manis yang manis bangeeet” jawab anak kedua saya.

    Dhuarrrr! terdengan bunyi petir yang sangat keras yang membuat anak saya meloncat kepangkuan saya. “Itu Alloh lagi batuk yaaa Bi?. sambil masih memeluk erat, anak saya bertanya. Sambil tersenyun saya pandangi keduanya, Saya melihat bahwa otak kecil anak saya mulai menangkap Kebesaran Alloh, walau masih terbatas, dia sudah mulai mencerna bahwa Alloh itu Besar, batuk nya aja seperti itu.

    Kemudian saya terdiam dan sedikit ragu untuk menjawab, tapi akhirnya saya lanjutkan, “Alloh itu Maha Besar dan Maha Tinggi, tinggi, tinggi banget”. “Sampai kelangit yaa BI?” tanya sibungsu. “Iya lebih tinggi lagi dari langit, Alloh itu ngga seperti abi atau umi atau aa atau ade, jadi… Alloh ngga batuk. Tadi itu namanya petir, Kalau hujan lebat memang suka ada petir. Jadi… siapa coba yang bikin peitr?”. “Alloohhhhh?” jawab anakku serentak.

    Tiba tiba tep!, mati lampu dan akhirnya menghentikan obrolan yang saya rasa sangat berat ini, kebetullan ada tukang gorangan lewat didepan rumah kami pun akhirnya asik menikmati gorengan yang masih hangat.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 8 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Seorang Bayi Hanya Hidup 6 Jam, Tetapi Menyelamatkan 2 Nyawa 

    Sepasang suami istri hidup bahagia. Sejak 10 tahun yang lalu, sang istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk menentang ABORSI, karena menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi. Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada famili, teman dan sahabat, dan lingkungan sekitarnya. Semua orang ikut bersukacita dengan mereka.

    Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi. Dokter menemukan bayi kembar dalam perutnya, seorang bayi lelaki dan perempuan. Tetapi bayi perempuan mengalami kelainan, dan ia mungkin tidak bisa hidup sampai masa kelahiran tiba. Dan kondisinya juga dapat mempengaruhi kondisi bayi lelaki. Jadi dokter menyarankan untuk dilakukan aborsi, demi untuk sang ibu dan bayi lelakinya. Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami maupun sang istri mengalami depressi. Pasangan ini bersikeras untuk tidak menggugurkan bayi perempuannya (membunuh bayi tersebut), tetapi juga kuatir terhadap kesehatan bayi lelakinya. “Saya bisa merasakan keberadaannya, dia sedang tidur nyenyak”, kata sang ibu di sela tangisannya. Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada pasangan tersebut, dengan mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan.

    Ketika sang istri semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencanaNya dibalik semua ini. Hal ini membuatnya lebih tabah. Pasangan ini berusaha keras untuk menerima fakta ini. Mereka mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu dengan banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah bayi mereka. Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak sendirian. Banyak pasangan lainnya yang juga mengalami situasi yang sama, dimana bayi mereka tidak dapat hidup lama. Mereka juga menemukan bahwa beberapa bayi akan mampu bertahan hidup, bila mereka mampu memperoleh donor organ dari bayi lainnya. Sebuah peluang yang sangat langka. Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke orang lain?

    Jauh sebelum bayi mereka lahir, pasangan ini menamakan bayinya, Jeffrey dan Anne. Mereka terus bersujud kepada Tuhan. Pada mulanya, mereka memohon keajaiban supaya bayinya sembuh. Kemudian mereka tahu, bahwa mereka seharusnya memohon agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi, karena mereka yakin Tuhan punya rencanaNya sendiri. Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne cukup sehat untuk dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2 jam. Sang istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anne, mereka akan mendonorkan organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup dan sekarat, yang sedang menunggu donor organ bayi.

    Sekali lagi, pasangan ini berlinangan air mata. Mereka menangis dalam posisi sebagai orang tua, dimana mereka bahkan tidak mampu menyelamatkan Anne. Pasangan ini bertekad untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan terjadi. Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua bayinya dengan selamat. Pada momen yang sangat berharga tersebut, sang suami menggendong Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap ayahnya, dan tersenyum dengan manis. Senyuman Anne yang imut tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya. Tidak ada kata-kata di dunia ini yang mampu menggambarkan perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat bangga bahwa mereka sudah melakukanpilihan yang tepat (dengan tidak mengaborsi Anne), mereka sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil tersenyum pada mereka, mereka sangat sedih karena kebahagiaan ini akan berakhir dalam beberapa jam saja. Sungguh tidak ada kata-kata yang dapat mewakili perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang berasal dari jiwa mereka yang terluka?? Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki kesempatan untuk melihat Anne.

    Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap bertahan hidup setelah lewat 2 jam. Memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi keluarga tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan. Tetapi Anne tidak mampu bertahan setelah enam jam???.. Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran organ. Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tersebut bahwa donor tersebut berhasil. Dua bayi berhasil diselamatkan dari kematian.

    Pasangan tersebut sekarang sadar akan kehendak Tuhan. Walaupun Anne hanya hidup selama 6 jam, tetapi dia berhasil menyelamatkan dua nyawa. Bagi pasangan tersebut, Anne adalah pahlawan mereka, dan sang Anne yang mungil akan hidup dalam hati mereka selamanya?..

    ***

    Ada 3 point penting yang dapat kita renungkan dari kisah ini:

    1. Sesungguhnya, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu hari ataupun bahkan seratus tahun. Hal yang benar-benar penting adalah apa yang kita telah kita lakukan selama hidup kita, yang bermanfaat bagi orang lain.
    2. Sesungguhnya, tidaklah penting berapa lama perusahaan kita telah berdiri, satu tahun ataupun bahkan dua ratus tahun. Hal yang benar-benar penting adalah apa yang dilakukan perusahaan kita selama ini, memberikan manfaat bagi orang lain.
    3. Ibu Anne mengatakan “Hal terpenting bagi orang tua bukanlah mengenai bagaimana karier anaknya di masa mendatang, dimana mereka tinggal, maupun berapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan. Tetapi hal terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah untuk memastikan bahwa anak-anak kita melakukan hal-hal terpuji selama hidupnya, sehingga ketika kematian menjemput mereka, mereka akan menuju surga”.
     
    • tonosaur 10:16 am on 9 Mei 2010 Permalink

      subhanalloh..

    • annisa 9:41 am on 10 Mei 2010 Permalink

      subhanallah.. kisah nyata yg sarat makna..
      semoga di sisa umur kita masih bisa bermanfaat bagi orang lain.. amiinn.. 100 x

    • bery 8:56 pm on 20 Mei 2010 Permalink

      subhanallah semoga hidup kita menjadi bermanfaat bg semua,
      amin…amin

    • Sri Mulyati 7:24 pm on 19 September 2010 Permalink

      subhanallah…

  • erva kurniawan 1:06 am on 7 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah Perjuangan Hidup Soichiro Honda 

    Amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada kendaraan bermerek Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merek kendaran ini memang selalu menyesaki padatnya lalu lintas. Karena itu barangkali memang layak disebut sebagai raja jalanan.

    Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri kerajaan bisnis Honda — Soichiro Honda — selalu diliputi kegagalan saat menjalani kehidupannya sejak kecil hingga berbuah lahirnya imperium bisnis mendunia itu. Dia bahkan tidak pernah bisa menyandang gelar insinyur. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru.

    Saat merintis bisnisnya, Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun, ia terus bermimpi dan bermimpi. Dan, impian itu akhirnya terjelma dengan bekal ketekunan dan kerja keras. ”Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya di sekitar mesin, motor dan sepeda,” tutur Soichiro, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengidap lever.

    Kecintaannya kepada mesin, jelas diwarisi dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah. Di kawasan inilah dia lahir. Kala sering bermain di bengkel, ayahnya selalu memberi catut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906 ini dapat berdiam diri berjam-jam. Tak seperti kawan sebayanya kala itu yang lebih banyak menghabiskan waktu bermain penuh suka cita. Dia memang menunjukan keunikan sejak awal. Seperti misalnya kegiatan nekad yang dipilihnya pada usia 8 tahun, dengan bersepeda sejauh 10 mil. Itu dilakukan hanya karena ingin menyaksikan pesawat terbang. Bersepeda memang menjadi salah satu hobinya kala kanak-kanak. Dan buahnya, ketika 12 tahun, Soichiro Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Sampai saat itu, di benaknya belum muncul impian menjadi usahawan otomotif. Karena dia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya selalu rendah diri.

    Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke kota, untuk bekerja di Hart Shokai Company. Bossnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja di situ, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, Saka Kibara mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.

    Di Hamamatsu prestasi kerjanya kian membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya tak jarang hingga larut malam, dan terkadang sampai subuh. Yang menarik, walau terus kerja lembur otak jeniusnya tetap kreatif.

    Kejeniusannya membuahkan fenomena. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik untuk kepentingan meredam goncangan. Menyadari ini, Soichiro punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luar biasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia.

    Pada usia 30 tahun, Honda menandatangani patennya yang pertama. Setelah menciptakan ruji. Lalu Honda pun ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Mulai saat itu dia berpikir, spesialis apa yang dipilih ? Otaknya tertuju kepada pembuatan ring piston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada 1938. Lalu, ditawarkannya karya itu ke sejumlah pabrikan otomotif. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring Piston buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu dan menyesalkan dirinya keluar dari bengkel milik Saka Kibara. Akibat kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal ring pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin.

    Siang hari, setelah pulang kuliah, dia langsung ke bengkel mempraktekkan pengetahuan yang baru diperoleh. Tetapi, setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah. ”Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya,” ujar Honda, yang diusia mudanya gandrung balap mobil. Kepada rektornya, ia jelaskan kuliahnya bukan mencari ijazah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan. Tapi dikeluarkan dari perguruan tinggi bukan akhir segalanya. Berkat kerja kerasnya, desain ring pinston-nya diterima pihak Toyota yang langsung memberikan kontrak. Ini membawa Honda berniat mendirikan pabrik. Impiannya untuk mendirikan pabrik mesinpun serasa kian dekat di pelupuk mata.

    Tetapi malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana kepada masyarakat. Bukan Honda kalau menghadapi kegagalan lalu menyerah pasrah. Dia lalu nekad mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Namun lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar, bahkan hingga dua kali kejadian itu menimpanya.

    Honda tidak pernah patah semangat. Dia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, untuk digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Penderitaan sepertinya belum akan selesai. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik ring pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.

    Akhirnya, tahun 1947, setelah perang, Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya akibat krisis moneter itu. Padahal dia ingin menjual mobil itu untuk membeli makanan bagi keluarganya.

    Dalam keadaan terdesak, ia lalu kembali bermain-main dengan sepeda pancalnya. Karena memang nafasnya selalu berbau rekayasa mesin, dia pun memasang motor kecil pada sepeda itu. Siapa sangka, sepeda motor– cikal bakal lahirnya mobil Honda — itu diminati oleh para tetangga. Jadilah dia memproduksi sepeda bermotor itu. Para tetangga dan kerabatnya berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Lalu Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobilnya, menjadi raja jalanan dunia, termasuk Indonesia.

    Semasa hidup Honda selalu menyatakan, jangan dulu melihat keberhasilanya dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. ”ORANG MELIHAT KESUKSESAN SAYA HANYA SATU PERSEN. TAPI, MEREKA TIDAK MELIHAT 99 PERSEN KEGAGALAN SAYA,” tuturnya. Ia memberikan petuah, ”KETIKA ANDA MENGALAMI KEGAGALAN, MAKA SEGERALAH MULAI KEMBALI BERMIMPI. DAN MIMPIKANLAH MIMPI BARU.” Jelas kisah Honda ini merupakan contoh, bahwa sukses itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, dan hanya berasal dari keluarga miskin

    ***

    “Adalah lebih baik berani mencoba mencari tantangan walaupun dirudung kegagalan, daripada duduk bengong seperti orang tidak bersemangat, yang tidak bergembira dan menderita karena hidup dalam dunia samar yang tidak mengenal menang atau kalah “.

    Theodore Roosevelt

     
    • annisa 8:59 am on 11 Mei 2010 Permalink

      subhanallah.. kisah yang inspiratif dan membuat kita
      selalu punya mimpi.. walaupun mimpi disiang hari..
      yakinlah bahwa kita BISA…

  • erva kurniawan 1:43 am on 3 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Nakalnya Anak-Anak 

    Suatu hari seisi rumah dikejutkan oleh suara teriakan nyaring dari mulut seorang anak yang paling kecil di rumah itu.

    Anak: “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….”teriaknya yang tanpa dosa sudah membuat onar seisi rumah.

    Mama: “Ade, kenapa kamu teriak-teriak?!” tegur Mama yang sudah berlari ke luar dari kamar ingin melihat ada apa dengan buah hatinya.

    Anak: “Ade teriak pake mulut Ade sendiri, Ade enggak pinjam mulut Mama?!” bantahnya sambil memonyongkan mulut kecilnya.

    Mama: “ooohh, gitu, ya sudah, kamu teriak lagi yang keras, tapi awas?!Mama nda mau suara kerasmu itu masuk ketelinga Mama?! gangguin telinga Mama aja?!” mulai Mama berargumen dengan anaknya yang selalu cari perhatian.

    Anak: “ Mama punya tangan?!tutup aja telinga Mama sama tangan Mama sendiri, kalau enggak mau denger teriakan Ade?!” mulai anak mencari gara-gara.

    Mama: “Enak aja, kamu buat kerjaan Mama lagi ya, kamu nda lihat, tangan Mama lagi dipake nulis sama Mama, atau kamu yang tutupin telinga Mama sama tangan kamu, karena kamu yang pingin teriak kan, tapi awas, kalau sampai teriakan kamu masih masuk ke telinga Mama?!” jawab Mama mulai masuk ke logika anaknya dan langsung buat anak terdiam.

    **

    Hampir tiap hari sang Mama selalu mendengar cerita-cerita dari sekolah anaknya.

    Anak: “Ma, kayanya pak Ramli guruku itu banci dech ma,” cerita anaknya yang tertua.

    Mama: “Emang, kamu tahu dari mana kalau pak Ramli itu banci, ?” Tanya Mama sambil merhatiin wajah anaknya dengan menyelidik.

    Anak: “Hmm, itu mah, kalau lagi ngomong, tangannya pasti begini-begitu dech, ?” ceritanya lagi sambil menirukan gaya banci yang biasa dilihat di TV.

    Mama: “Ooohh, emang kalau banci, tangannya begini-begini ya, ?” jawab Mama sambil mengikuti gaya anak sebelumnya.

    Anak: “Hehehe, enggak juga sich, ma, ?tapi aneh aja lihat gayanya kaya Tessy,” jawab anak sambil tersenyum merhatiin Mamanya yang sudah melotot.

    Mama: “Lagi pula, kalau pak ramli banci, apa dia rugiin kamu?” Tanya Mama yang mulai berargumen sama anaknya yang besar.

    Anak: “Nda sich ma,” jawab anak yang mulai tertunduk sambil menahan senyum.

    Mama: “Masih mending pak ramli, walau disangka banci, dia masih bisa jadi guru?lha kamu apa?” Tanya Mama lagi dan membuat anak terdiam.

    **

    Tiba-tiba Mama dikejutkan oleh anaknya yang lari masuk kamar memanggil Mamanya

    Anak: “Mama, beliin Ade mainan di tukang mainan itu dong, ?!” rengek anaknya yang kecil

    Mama: “Hari ini Mama nda punya uang lebih untuk beliin mainan baru, nanti aja kalau Mama sudah punya uang lebih ya.” Jawab Mama sambil perhatikan anaknya yang suka protes.

    Anak: “Pokoknya Ade enggak mau tahu, Ade mau mainan itu sekarang!!” rengek anak lagi yang mulai dengan senjata tangisannya.

    Mama: “Ya, udah beli aja sana, ?” jawab Mama santai.

    Anak: “Mana uangnya, cepet ma, nanti abangnya keburu pergi?!” pinta anak yang sudah mulai menarik baju Mamanya.

    Mama: “Lho, emang yang mau beli mainan itu sekarang siapa, ?” Tanya Mama santai

    Anak: “Ya, Ade lah, ”

    Mama: “Ya, udah pake uang Ade dong, kan yang mau mainan Ade dan bukan Mama, ?”

    Anak: “Ade kan enggak punya uang, pake uang Mama dong, ?!” jawab anak polos.

    Mama: “Hehe, sama dong, Mama juga nda punya uang sekarang, kalau mau pake uang Mama, tunggu sampe Mama punya uang lagi ya, ?” jawab Mama sambil senyum.

    Anak: “Mama jelek.!!” Protes anak yang memancing Mama untuk menggodanya.

    Mama: “Jelekkan Ade dong, kan Ade keluar dari perut Mama campur sama kotoran” goda Mama yang melihat anaknya kesal

    Anak: “Jelek Mama dari Nenek, Mama juga keluar dari perut nenek campur sama kotoran?!” Teriak anak yang mulai kesal dan hanya membuat Mamanya tersenyum sendiri

    Mama: “Yeee, Mama kan nda katain Nenek jelek” jawab Mama sambil tertawa melihat anaknya yang mulai bingung

    **

    Seperti biasa pulang sekolah, pasti ada aja cerita yang disampaikan oleh anaknya yang tertua.

    Anak: “Ma, aku kesal banget sama Sherly tadi, ?” cerita anak yang terlihat sekali wajah kesalnya.

    Mama: “Hmm, memang si Sherly buat apa sama kamu?” Tanya Mama datar.

    Anak: “Tadi si Sherly lempar uang untuk pengemis ke comberan, mentang-mentang dia pengemis, emang boleh apa lempar uang begitu, mending enggak usah dikasih aja kalau dilempar begitu.” Kesal anak yang terlihat hampir menangis.

    Mama: “Lalu, kamu bilang apa sama Sherly, ?” Tanya Mama yang mulai merhatiin wajah anaknya yang mulai ingin menangis

    Anak: “Aku bilang, Sherly kenapa kamu lempar uang itu ke comberan, terus jawab Sherly, biarin aja, toch, dia cuma pengemis, ?” cerita anak yang akhirnya menangis.

    Mama: “Terus, ” Tanya Mama yang serius merhatiin anaknya cerita

    Anak: “Akhirnya uang jajanku aku kasih ke Sherly untuk gantiin uang yang dikasih ke pengemis itu, kasihan pengemis itu ma, dia turun ke comberan ambil uang itu, aku bilang ke Sherly, ini uangnya aku gantiin, baru kasih segitu aja pake dilempar?!” cerita anak sambil terisak karena tangis.

    Mama: “Hmm, harusnya kamu larang pengemis itu untuk ambil uang yang dicomberan, dan uang kamu itu yang kamu kasihkan ke pengemis dan biarkan si Sherly yang ambil uang itu ke comberan, ?” usul Mama sambil menghapus air mata anaknya.

    Anak: “Aku lupa Ma.” isak anak yang menyesali dirinya dan wajahnya sudah dipenuhi oleh air matanya.

    ***

    Oleh: Hana

     
    • Thomas 1:48 am on 3 Mei 2010 Permalink

      Mencermati polah tingkah anak2 memang menarik, apalagi pada saat anak mulai sekolah di TK atau pada saat mulai masuk SD. Anak2 biasanya mulai “memberontak”…mulai pintar “membantah”, itulah anak2. Yang penting orang tuanya tetap sabar dan mau masuk ke dalam pola pikir si anak, maka fase ini akan bisa dlewati dengan baik

      salam

      http://thomasandrianto.wordpress.com/2010/05/03/katakan-cinta-dengan-lagu/

    • tary 8:57 am on 3 Mei 2010 Permalink

      Jadi pengen cepet2 jadi Ibu……

    • annisa 9:54 am on 10 Mei 2010 Permalink

      ya.. emang kita sbg ortu harus sabar ngadepin anak2 skrang, krna berbedanya keadaan, tontonan dan budaya pd waktu kita kecil dulu..
      cuma klau kita ortunya bisa sabar.. apakah orang skeliling kita juga bisa sabar..?? ini yang penting..

  • erva kurniawan 1:35 am on 2 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Cerita Sang Anak, Amanah Salah 

    Seorang anak yang memperhatikan ibundanya sholat, dan menangis dalam sholatnya, hanya terdiam memandangi ibundanya, hingga selesai.

    “Kamu sudah sholat atau belum sayang, ?” tanya sang mama.

    “Aku baru mau sholat, tadi mau bareng sama mama, tapi aku sakit perut, ” hehe jawabnya sambil tersenyum

    “Iya sudah, sekarang kamu sholat ya, :)” tegur mama

    Dan ternyata, sang mama tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, sambil membersihkan wajahnya dihadapan cermin dan sesekali air matanya turun kembali, sambil memperhatikan sang anak yang sedang sholat. Hingga anak selesai sholat, dan memperhatikan wajah ibundanya yang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, sambil melipat mukenah yang habis dipakainya sang anak mulai memancing mamanya dengan candanya.

    “Ma, tahu enggak?! Kalau amanah itu ada juga yang jadi buat orang salah dan membahayakan orang lain” ceritanya sambil tersenyum2

    “Masak sich, amanah yang seperti apa tuch, ?” tanya mama sambil terus mengusap air matanya yang masih turun

    “Aku punya cerita ma, tentang amanah itu ?”

    “Coba ceritain dong sama mama, ” tanggap mama yang mecoba tertawa2 pada buah hatinya

    “Waktu itu ada orang yang ingin bunuh diri di rel kereta api, lalu masinis itu melihat orang yang sedang duduk di rel itu.!! Kemudian masinis langsung menelphon petugas jaga, dan memberitahukan bahwa ada orang yang mau bunuh diri.”cerita anak dengan mimik lucunya

    “Lalu, ” tanggap mama

    “Hallo, pak petugas, !ada orang yang mau bunuh diri nich, kata masinis”

    “Lho, emang yang mau bunuh diri ada berapa orang?tanya petugas jaga”

    “Yang mau bunuh diri ada satu orang, kata masinis panik”

    “Lalu, berapa penumpang yang sedang kamu bawa, tanya petugas”

    “Penumpang yang ada dikereta saya ada 1000 orang pak.!! Kata masinis panik”

    “Oh, ya sudah, tabrak aja yang 1 dan selamatkan yang 1000!! Kata petugas” cerita sang anak dengan serius sambil memperagakan gaya seorang masinis dan petugas penjaga kereta

    “Lalu, amanah yang salahnya dimana dong, ?” tanya mama mulai bingung

    “Lha, itu ma, ternyata orang itu enggak jadi bunuh diri, lalu bangun dari rel dan berniat untuk pergi menjauh dari kereta yang mau lewat, ya, karena si masinis sudah terima amanat untuk menabrak yang satu dan menyelamatkan yang 1000, akhrinya, kereta ini dibelokkan oleh masinis ke luar rel dan mengejar orang yang enggak jadi bunuh diri itu.?! Ya, akhirnya, kereta yang keluar rel itu terbalik dan penumpang yang 1000 itu jadi celaka, eeh, malah yang enggak jadi bunuh diri itu selamat dech,” hahaha akhirnya ibu dan anak sudah tertawa2 memegang perutnya

    “Itulah, ma, kalau amanat diterima, dan yang menerima amanat itu bodoh!!” hahaha sang mama hanya tertawa2 sambil menggeleng2kan kepalanya, dan terlihat senyum bahagia dari wajah sang anak, yang sudah berhasil membuat mamanya tertawa2.

    Robbi habbli minassholihin, ya, Allah, jadikanlah buah hatiku anak2 yang sholeh,  yang dapat menjadi penerang dalam rumah, penyejuk mata dan hatiku, pemanis hidup dan kehidupan, pemancing tawa dan menghapus kesedihan

    ***

    Oleh: Hana

     
    • Ahmad Isa 6:40 pm on 13 Mei 2010 Permalink

      subhanalloh . . .
      begitu cerdasnya anak itu . . .

    • faiz 12:14 pm on 13 Agustus 2011 Permalink

      makasih pak izi pak ngopy..

  • erva kurniawan 1:39 am on 23 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah Kepala Ikan 

    Alkisah pada suatu hari, diadakan sebuah pesta emas peringatan 50 tahun pernikahan sepasang kakek-nenek. Pesta ini pun dihadiri oleh keluarga besar kakek dan nenek tersebut beserta kerabat dekat dan kenalan.

    Pasangan kakek-nenek ini dikenal sangat rukun, tidak pernah terdengar oleh siapapun bahkan pihak keluarga mengenai berita mereka perang mulut. Singkat kata mereka telah mengarungi bahtera pernikahan yang cukup lama bagi kebanyakan orang. Mereka telah dikaruniai anak-anak yang sudah dewasa dan mandiri baik secara ekonomi maupun pribadi. Pasangan tersebut merupakan gambaran sebuah keluarga yang sangat ideal.

    Disela-sela acara makan malam yang telah tersedia, pasangan yang merayakan peringatan ulang tahun pernikahan mereka ini pun terlihat masih sangat romantis. Di meja makan, telah tersedia hidangan ikan yang sangat menggiurkan yang merupakan kegemaran pasangan tersebut. Sang kakek pun, pertama kali melayani sang nenek dengan mengambil kepala ikan dan memberikannya kepada sang nenek, kemudian mengambil sisa ikan tersebut untuknya sendiri.

    Sang nenek melihat hal ini, perasaannya terharu bercampur kecewa dan heran.Akhirnya sang nenek berkata kepada sang kakek, “Suamiku, kita telah melewati 50 tahun bahtera pernikahan kita. Ketika engkau memutuskan untuk melamarku, aku memutuskan untuk hidup bersamamu dan menerima dengan segala kekurangan yang ada untuk hidup sengsara denganmu walaupun aku tahu waktu itu kondisi keuangan engkau pas-pasan. Aku menerima hal tersebut karena aku sangat mencintaimu. Sejak awal pernikahan kita, ketika kita mendapatkan keberuntungan untuk dapat menyantap hidangan ikan, engkau selalu hanya memberiku kepala ikan yang sebetulnya sangat tidak aku suka, namun aku tetap menerimanya dengan mengabaikan ketidaksukaanku tersebut karena aku ingin membahagiakanmu. Aku tidak pernah lagi menikmati daging ikan yang sangat aku suka selama masa pernikahan kita. Sekarangpun, setelah kita berkecukupan, engkau tetap memberiku hidangan kepala ikan ini. Aku sangat kecewa, suamiku. Aku tidak tahan lagi untuk mengungkapkan hal ini.”

    Sang kakek pun terkejut dan bersedihlah hatinya mendengarkan penuturan Sang nenek. Akhirnya, sang kakek pun menjawab, “Istriku, ketika engkau memutuskan untuk menikah denganku, aku sangat bahagia dan aku pun bertekad untuk selalu membahagiakanmu dengan memberikan yang terbaik untukmu. Sejujurnya, hidangan kepala ikan ini adalah hidangan yang sangat aku suka. Namun, aku selalu menyisihkan hidangan kepala ikan ini untukmu, karena aku ingin memberikan yang terbaik bagimu. Semenjak menikah denganmu, tidak pernah lagi aku menikmati hidangan kepala ikan yang sangat aku suka itu. Aku hanya bisa menikmati daging ikan yang tidak aku suka karena banyak tulangnya itu. Aku minta maaf, istriku.”

    Mendengar hal tersebut, sang nenek pun menangis. Merekapun akhirnya berpelukan. Percakapan pasangan ini didengar oleh sebagian undangan yang hadir sehingga akhirnya merekapun ikut terharu.

    **

    Moral Of The Story:

    Kadang kala kita terkejut mendengar atau mengalami sendiri suatu hubungan yang sudah berjalan cukup lama dan tidak mengalami masalah yang berarti, kandas di tengah-tengah karena hal yang sepele, seperti masalah pada cerita di atas.

    Kualitas suatu hubungan tidak terletak pada lamanya hubungan tersebut, melainkan terletak sejauh mana kita mengenali pasangan kita masing-masing. Hal itu dapat dilakukan dengan komunikasi yang dilandasi dengan keterbukaan. Oleh karena itu, mulailah kita membina hubungan kita berlandaskan pada kejujuran, keterbukaan dan saling menghargai satu sama lain.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • putrasubuh 2:03 am on 23 April 2010 Permalink

      wow,..cerita ini,kirain aku cerita dongeng tentang ikan menjdi manusia.hehehe.sungguh bgus cerita ini,isinya mengharukan.

      btw ikan apa tuch pic nya…?hah.jdi laper.

      bagus mas ceritanya.

    • Benz 12:13 am on 24 April 2010 Permalink

      Good Story,..

    • Abi Salsa 6:18 am on 24 April 2010 Permalink

      Pelajaran yg menarik, keikhlasan hati terkadang perlu di utarakan, agar tidak terjadi salah komunikasi

    • rizal 6:15 pm on 5 Mei 2010 Permalink

      harusnya nenek terbuka dengan apa yang dia tidak suka… begitu pula dengan kakek. dengan begitu keduany bisa saling memahami. ya pada intinya kita harus terbuka terhadap keadaan tetapi jangan sampai menyinggung perasaan orang lain.

  • erva kurniawan 1:30 am on 22 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Curhat Anak 

    Hampir disetiap malam, seorang ibu dan anak selalu bercerita tentang semua kejadian yang dialami selama 1 harian di luar rumahnya

    “Ma, tadi aku di sekolah, tampar mukanya si fulan.” cerita anak sambil memandang wajah mamanya yang dibuat senormal mungkin.

    “Eemm, emang si fulan, salah apa..sampe kamu tampar mukanya?” tanya mama sedatar mungkin.

    “Habis, aku kesal sama fulan Ma..”jawab sang anak yang terlihat mulai berkaca-kaca matanya

    “Apa yang sudah si fulan lakukan..sampe kamu kesal padanya..?”

    “Habis, dia katain mama, katanya mama masih kecil..” jawab anak polos.

    “Hahaha, lho baru dikatain gitu aja, koq segitu kesalnya, sampe orang ditampar segala? Memang kenyataannya mama kecil, lagipula bagus dunk itu berarti mama masih muda, jadi si fulan bilang mama kecil.” goda mama.

    “Tapi, aku enggak suka, dia katain mama.?” katanya yang mulai kesal.

    “Lho, memang gara2nya apa sich sampe si fulan, pake bawa2 katain mama segala?” tanya mama.

    “Tadi kita semua lagi bercanda ma, terus si fulan, pukul aku terus aku balas memukulnya, eeh dia langsung katain mama ku masih kecil, ya udah aku tampar aja lagi mukanya, aku bilang sama si fulan, kalau kamu marah sama aku, pukul dan katain aku aja, tapi jangan kamu bawa-bawa mamaku, memangnya mamaku salah apa sama kamu?” cerita sang anak yang mulai menangis.

    “Terus..” tanya mama pada anaknya

    “Terus kata si fulan, ya udah katain aja aku lagi, ya udah aku balas aja katain, dasar anak tukang sate?!”

    “Hush..!!kenapa kamu jadi ikutan si fulan, katain ayahnya?! Memang ayahnya salah apa sama kamu?” tegur mama sedikit keras.

    “Habis, fulan yang suruh aku balas ma?” bela sang anak.

    “Kamu enggak suka, mama dikatain sama si fulan? Lalu kenapa kamu juga ikutan katain ayahnya si fulan? Kamu kasihan sama mama, karena kamu enggak mau mama dibilang seperti itu sama si fulan. Kasihan juga dunk, ayahnya si fulan yang enggak tahu apa-apa dibawa oleh keributan kamu berdua. Itu berarti kamu tidak ada bedanya sama si fulan. Harusnya tamparan itu sudah cukup, kamu berikan padanya, dan enggak usah lagi kamu bawa orang tuanya.”

    Dan terlihat air mata yang masih menggenang di sudut matanya yang masih menyimpan rasa kesal, karena tidak ingin mamanya dibilang spt itu. Dan untuk mengalihkan pikirannya

    “Hayo, sekarang tidur sudah malam.” Alihkan mama dan disambut masih ada rasa kesal terlihat diwajah anak tertuanya.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • muhammad aanx farhan 1:39 am on 22 April 2010 Permalink

      kayaknya seneng tuh maen sama anak..??
      jadi pengen uy..??

    • tary 9:16 am on 22 April 2010 Permalink

      Didikan dan pelajaran yang baik untuk anak2….

  • erva kurniawan 1:39 am on 21 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Alloh Maha Mengetahui Yang Terbaik Untuk Hambanya 

    “Akhirnya ada juga Le Bis yang lewat. Kita pulang Le. Ya Allah, kok ya tega ya nda mau berhenti. Sabar ya Le, insya Allah akan ada lagi Bis yang lewat. “

    Bayi lelaki berumur sebelas bulan itu hanya tersenyum senyum mendengar perkataan ibunya. Kembali Ibu itu melambaikan tangannya kepada Bis yang lewat tapi tetap saja Bis itu tidak mau berhenti. Bayi itu tertawa, “Le…le…kok kamu bisa bisanya tertawa.”

    Bayi lucu itu tidak mau tahu teriknya mentari saat itu.

    “Alhamdulillah…ada juga yang berbaik hati mau berhenti.”

    “Cepet Bu cepet!“ ujar kondektur.

    “Ya Allah, Bis nya penuh Le, tapi ga apa apa, yang penting kita bisa pulang Le.“

    “Jogja , jogja!“ teriak sang kondektur mencari penumpang.

    “Lha wong sudah penuh sesak begini kok masih cari penumpang. “

    “Mas! Pie toh mas, sesak begini kok“ salah seorang penumpang geram.

    Tiba tiba bayi lelaki itu menangis. “Aduh Le, jangan nangis toh Le”

    Tapi bayi itu makin keras tangisnya. Suasana panas saat itu makin membuat para penumpang tidak nyaman, apalagi dengan kondisi penuh sesaknya manusia didalam bis tersebut.

    “Bu, anak e bisa disuruh diam nda sih?“ ujar salah seorang penumpang di sebelahnya.

    “Maaf pak, maaf. “

    “Huh, udah banyar mahal mahal, tapi kaya begini“ salah seorang lagi marah marah.

    “Saya ini mau tidur, disuruh diam bisa nda sih“ ujar seorang ibu ibu gemuk dibelakangnya.

    “Hey, anak siapa itu, macet begini bikin pusing saja“ teriak pak sopir.

    “Suruh turun saja pak sopir” teriak penumpang belakang.

    “Iya, turuni saja. Wong sudah sesak begini kok“ tambah yang lain.

    “Kalau anak itu nda mau diam, lebih baik kalian turun saja“ ujar pak kondektur.

    “Bapak bapak, Ibu ibu, siapa yang nda setuju kalau ibu ini disuruh turun?“ tanya salah seorang penumpang sambil berdiri.

    Semua terdiam.

    “Suruh turun saja“ salah seorang kakek berkata.

    “Ibu turun saja disini. Cari bis yang lain saja“ kata kondektur.

    “Maaf bapak bapak ibu ibu, kalau anak saya ini mengganggu, tapi anak ini kan masih kecil, belum mengerti apa apa. Tolonglah kami. Tolong“

    “Wah, nda bisa Bu, anak ibu ini main kenceng saja nangisnya. Disini banyak penumpang yang mau istirahat“ tambah pak Kondektur.

    Dengan tidak hormat, Ibu dan anak itu dipaksa turun dari bis.

    “Ya Allah, kok ya ada manusia manusia seperti itu. Kok ya nda kasihan sama anak bayi ini. Le, le, kamu tuh bikin susah ibumu saja le.“

    Dengan tertatih, ibu itu mencoba menyetop mobil yang lewat saat itu sambil berjalan berkilo-kilo meter. Dan sampai akhirnya.

    “Lho, ibu mau kemana, sudah hampir gelap begini kok. Kasihan anaknya.“ Tanya sang pengemudi.

    “Maaf, dek. Boleh ibu menumpang sampai kota”

    “Oh tentu tentu. Masuk Bu.“ jawab sang pengemudi.

    “Ternyata masih ada anak muda baik hati seperti adik ini ya.” Si bayi itu tertawa tawa ketika mereka menumpang dimobil itu.

    “Ibu ini sebenarnya mau kemana toh?“ Tanya sang pengemudi.

    “Saya mau ke Jogja, mau pulang.“

    “Wah, kebetulan kalau begitu, saya juga mau kerumah mbah yang ada di Jogja. Kalau begitu saya antar ibu sampai rumah, kasihan bayi ne.“ ujar sang pengemudi.

    “Tapi saya masih bingung, kenapa kok ya bisa ibu ini sendirian ditengah sawah tadi?“

    “Oh, saya itu juga bingung dek, kok ya ada orang yang tega menurunkan saya, gara gara anak saya ini terus terusan nangis.“ jawab si Ibu

    “Masa sih bu.  Wah, kalau itu kebangetan toh bu.“ timpal sang pengemudi.

    **

    Beberapa jam kemudian.

    “Wah, ada apa ya kok nda biasa biasanya macet begini. Mas mas, aqua nya satu mas. Mas, ada apa toh mas, kok bisa macet begini ? panjang ya mas macet nya?“ tanya anak muda itu.

    “Wah iya mas, katanya ada kecelakaan bis didepan sana.“ jawab penjual minuman.

    “Oh…terimas kasih ya..mas. Ini bu, kalau ibu haus.“

    “Oh, ini toh bisnya, ya Allah bisnya hangus terbakar, oh pantes. Tabrakan dengan truk besar.“ heran anak muda itu.

    Prit prit prit, seorang polisi sedang mengatur jalannya arus lalu lintas yang macet itu.

    “Pak ada yang selamat pak?“

    “Kasihan dek, semua penumpang dan sopirnya tewas.“ jawab Polisi.

    “Ya Allah, alhamdulillah. Le, kamu untung kamu nangis le.“ kata si Ibu

    “Lha kok, ibu malah alhamdulillah wong ada musibah seperti ini kok.“ timpal sang pengemudi

    “Dek, ini lho dek bis yang ibu naiki itu.“

    “Ha, yang bener toh bu? Ya Allah. Kalau begitu anak ibu ini sudah menyelamatkan ibu lho. Itu adalah kasih sayang Allah bu, lewat anak ibu ini.”

    “Ya..Allah, apa jadinya kalau saya dan anak saya masih menumpang bis itu ya…dek, alhamdulillah Alhamdulillah.”

    ~ Diambil dari kisah nyata ~

    Sesungguhnya Allah itu maha mengetahui apa apa yang terbaik untuk hambanya. karena itu pandai pandailah mencari Hikmah dibalik sebuah musibah dan ingat lah selalu untuk bersabar. Karena Allah selalu bersama orang orang yang sabar.

    ***

    Sumber: tulisan sahabat

     
    • tary 4:46 pm on 22 April 2010 Permalink

      Kita harus tetap yakin dibalik semua kejadian pasti da hikmahnya dan Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya.Allah sangat menyayangi kita semua.

    • annisa 7:51 am on 23 April 2010 Permalink

      nice story..Ya.. memang orang sabar di sayang Allah..

  • erva kurniawan 1:16 am on 19 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Harga Sebuah Baju 

    Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University. Mereka meminta janji.

    Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

    “Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut.

    “Beliau hari ini sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat.

    “Kami akan menunggu,” jawab sang Wanita.

    Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak.

    Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.

    “Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,” katanya pada sang Pimpinan Harvard. Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka.

    Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.

    Sang wanita berkata padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkah?” tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

    Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. “Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan.”

    “Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.”

    Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung?! Kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.”

    Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang.

    Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan,”Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?”

    Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan. Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.

    Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.

    Catatan:

    Kita, seperti pimpinan Harvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai. Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju, acap menipu.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • KutuBacaBuku 1:33 am on 19 April 2010 Permalink

      hmm … ini kisah nyata sejarah terbentuknya Stanford yah ?? atau hanya anekdot ??

      Klo ini kisah nyata, sepertinya banyak juga contoh2 lain seperti Bob Sadino ketika masuk mall, dan tokoh2 lain. Miris memang … tp kan mereka sendiri yg rugi

    • zal daus 3:03 am on 22 April 2010 Permalink

      bukan Alllah menyukai keindahan…..pakai lah yang pantas bagi kita yang tidak menyiratkan kesombongan.

    • annisa 8:04 am on 23 April 2010 Permalink

      ya.. memang kesederhanaan itu bagus untuk kita,
      harga pakaian yg mahal dgn murah sama2 bermanfaat untuk menutup aurat..:D

    • sentrabaju 10:33 pm on 3 Mei 2010 Permalink

      Kebanyakan orang hanya melihat orang lain dari fisiknya saja. padahal keunikan seseorang bukan dari sisi fisiknya, tetapi dari hati dan perbuatannya. Orang dikenang bukan dari baju yang dipakainya tetapi dari perbuatan yang dilakukannya.

  • erva kurniawan 1:01 am on 18 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Jangan Ada Dusta 

    oleh: Dewi Mar’atusshalihah”

    “Sofi, carikan aku calon istri…”

    Waaaaa…….. Gimana ini…, nyari kemana? Supermarket, Tanah Abang, Glodok, atau Toko Kelontong? Emang Gampang kayak nyari kacang rebus, gitu? Enak aja… Nyomblangin… Mau ngasih berapa sih prangkonya? he he, matre… Tapi bagaimanapun, aku kan baik hati…cieeee…….

    ***

    Ku obrak-abrik memori otakku. Ku buka album kenanganku, mulai dari yang di TK hingga kini di kampusku. Ku bolak-balik buku telponku, kularik dari A sampai Z. Yang mana yang cocok dengan Fahrur, rekan Rohisku. Ups…, Fatima Khairunnisa. Teman SMAku di Yogya dulu.

    Gadis manis berlesung pipit, dengan kacamata yang menambah cantik wajah ovalnya. Yang memperkenalkanku untuk berjilbab, membawaku masuk Rohis, mengajariku menjadi muslimah sejati. Temanku yang seindah namanya. Puteri kesayangan Nabi, yang memang khairunnisa, sebaik-baik perempuan. Inilah sebaik-baik pilihan, untuk Fahrur.

    ***

    Liburan mid-semester, aku pulang ke Yogya sebentar, yang juga untuk melanjutkan misiku, mencarikan istri.

    ***

    Parangtritis, pantai di sebelah selatan Yogyakarta. Karang yang menjulang, ombak yang saling berkejaran di bawah birunya langit, yang katanya menjadi persemayaman Nyi Roro Kidul, Ratu cantik Pantai Selatan, wallahu a’lam.

    Namun, di tempat inilah kami bernostalgia, mengenang masa-masa di SMA, bersama sobatku, calon mangsaku.

    Setelah lelah berjalan, berlari, melompat dan melepaskan jerit ketika gulungan ombak menghampiri kaki. Kami duduk bersisian berkiblatkan laut, diam membisu membiarkan matahari tenggelam di lautan lepas, dalam gulungan buih putih di permukaan biru, berkejaran dan terantuk pada sebongkah cadas, tak bosan-bosannya menyapa dan membelai cadas sambil mengulang-ulang nyayiannya dalam irama yang datar.

    Hanya jeritan camar yang menjadi pengiring irama abadi di pinggir pantai itu. Kubayangkan, kehidupan manusia itu seperti benturan buih dan cadas.

    Cadas telah mengukuhkan kekuatannya ketika dia terus menerus dibenturkan oleh besar kecilnya riak buih yang menghantam. Tanpa jeda.

    Manusia yang baik adalah manusia yang kuat seperti cadas. Jangan yakini kekuatan manusia sebelum dibenturkan oleh realitas. Cadas telah tawakal dan pasrah diri untuk menerima gempuran-gempuran buih kenyataan yang didorong oleh badai takdir. Gempuran itu tak boleh melemahkan, meluluhkan ataupun menghancurkan.

    Jadilah seperti cadas, gempuran menjadikannya lebih kuat dari sebelumnya.

    “Kenapa nggak dengan kamu aja Sofi?”, tanyanya ketika dengan perlahan ku tawarkan niatku untuk mencarikan istri rekan dakwahku.

    Ku hanya tersenyum, dengan datar. Dan kembali kuyakinkan Nisa, bahwa ia adalah makhluk-Nya, yang dikirimkan oleh-Nya, untuk menemani dan menguatkan langkah dakwah sobatku.

    Rembang mulai turun, setengah bola api dari semesta telah tenggelam di lautan barat. Lapis awan oranye diam bermandi cahaya matahari yang makin lama makin lemah sinarnya.

    Sementara ratusan burung berkumpul mengitari awan itu, seakan salam penghormatan terakhir pada hari yang sebentar lagi akan ditinggalkan.

    Waktunya pulang, dengan membawa seribu perasaan lega di hati, atas persetujuan sobatku.

    ***

    Kulangkahkan kakiku memasuki pelataran rumah yang sudah tak asing lagi. tempat kami berdua bercanda, bercengkerama sepulang sekolah dulu.

    Pohon jambu itu masih ada.

    Lima tahun yang lalu, aku nangkring diatas sana, memilih jambu yang telah ranum memerah. Lalu tiba-tiba kuteriak dan terjatuh, karna seluruh tubuhku telah dipenuhi semut Rangrang. Di teras itu, kami makan rujak bersama, hingga merah semua wajah kami, penuh keringat, kepedasan.

    Di teras itu, kini bersanding pemilik rumah itu, pemilik nama indah itu, Fatimah Khairunnisa, bersama shobatku.

    ***

    “Ono opo tho ‘Ndhuk, kok pulang dengan wajah mbesengut begitu…?”

    Ku peluk Ibuku yang semakin menua, dengan rambut ditumbuhi uban satu-dua. Ingin ku luapkan perasaanku, namun ku tak tega menambahi beban yang telah menggelayuti wajah keriputnya.

    “Yo wis, cepat mandi, lalu lihat aja di dapur, Ibu sudah masak sayur kesukaanmu…”

    Ibu, ibu, Ini yang membuatku kangen untuk pulang terus.

    Nasi liwet, Pindang goreng, Bening Jowo, dan tak bisa ketinggalan sambel terasi.

    Wah, kalau sudah begini, Brad Pitt lewat pun aku tak peduli.

    ***

    Malam ini, begitu nikmatnya ku berasyik masyuk menyapa-Mu

    Di sajadah panjang ini, ku limpahkan semua derai tangisku

    Tuhan, aku bukan Khadijah, Sang ummahatul mukminin, dengan sejuta talenta, yang telah mengajukan diri mendampingi hidup Sang Rasul mulia.

    Aku bukan Srikandi, sang Wanodya ayu tama ngambar arumming kusuma, yang mempunyai mata nDamar kanginan, hidung mBawang tunggal, bulu mata nanggal sepisan, dan pipi yang nDuren sejuing. Sehingga berani ngunggah-unggahi Arjuna.

    Aku hanya gadis yang belajar dari seorang ibu yang berhati rembulan bersemangat mentari, dan seorang ayah yang segarang singa selembut sutra.

    Ku tak layak Tuhan.

    Ku tatap dinding kamarku, terpampang besar sekali gambaran rencana masa depanku, yang tersusun rapi dalam “Peta Hidup”, seperti yang diajarkan Bunda Marwah.

    Kususuri kotak demi kotak umurku. Mataku terpaku pada kotak ke 26, di tahun 2007. Ada dua point tertulis disana, S3, dan menikah. Kutulis sedikit footnote kecil disana “F”, hanya itu.

    Tuhan, maafkan hamba telah lancang. Bukan kuberniat mendahului qadha-Mu. Ini hanya harapanku, rencanaku, inginku. Namun, keputusan-Mu, itu yang pasti.

    Ku ambil Tip Ex. Tak boleh kutulis inisial apapun di kotak peta hidupku.

    Tuhan, jangan biarkan ku menangisi perkara yang telah Kau jamin dan Kau tetapkan. Namun permudahkan aku menangisi dosa dan kerinduanku pada-Mu. Nisa, hadiah terindahku untuknya.

    ***

    Petang menjelang, tasyakuran pernikahanpun usai.

    Setelah tamu-tamu pulang, meninggalkan lelah sekaligus gembira kedua mempelai dan keluarga, Fahrur segera menuju kamarnya, menyendiri, tergugu di atas sajadah. Lirih ia bergumam; Sofi, semoga ini hadiah terindahmu. Semoga ku bisa menepis perasaan ini.

    Ku takut memetikmu, ku tak layak disisimu. Cukup bagiku hadiahmu ini. Ku kan jaga, istriku, pilihanmu, amanahmu.

    Ku teringat akan puisi yang ku dapatkan dari temanmu, tentang surat cinta, yang menyentakkan kesadaranku, mematahkan nyaliku untuk menyuntingmu.

    (ehhh…puisi siapa ya ini….)

    **

    Wanita suci

    Bagiku kau bukanlah bunga

    Tak mampu aku samakan kau dengan bunga-bunga

    Terindah dan terharum sekalipun

    Bagiku manusia adalah mahluk terindah

    Tersempurna dan tertinggi

    Bagiku dirimu salah satu manusia terindah

    Tersempurna dan tertinggi

    Karenanya kau tak membutuhkan persamaan

    Wanita Suci

    Dengan menatapmu, telah membuatku terus mengingatmu

    Dan memenuhi kepalaku dengan inginkanmu

    Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku

    Membuatku inginkan dirimu sepenuh hati, seluruh jiwa sesemangat mentari

    Dirimu terlalu suci untuk hadir dalam khayalku

    Yang penuh dengan lumpur…

    Wanita suci

    Menghabiskan waktu berdua denganmu bagai mimpi tak berujung

    Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu

    Meski ujung penutupmupun tak pernah berani kusentuh

    Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku…

    Karena aku biasa memakaikan topeng keindahan pada wajah burukku

    Meniru pakaian para rahib, kiai dan ulama

    Meski hatiku lebih kotor dari kubangan lumpur

    Wanita suci

    Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci

    Yang dengan sepenuh diri membawamu pada Ilahi

    Untuknya dirimu ada

    Tunggu sang lelaki suci menjemputmu

    Atau kejar sang lelaki suci itu

    Dialah hakmu, seperti dicontohkan ibunda Khadijah

    Jangan ragu…, jangan malu…

    Wanita suci

    Bariskan harapanmu pada istikharah penuh ikhlas

    Relakan Tuhan pilihkan lelaki suci bagimu

    Mungkin sekarang atau nanti…

    Bahkan mungkin tak ada, sampai kau mati

    Karena kau terlalu suci,

    untuk semua lelaki,

    dalam permainan ini

    Karena lelaki suci itu menantimu di istana kekal

    Yang kau bangun dengan kekhusu’an ibadah

    Wanita suci

    Pilihan Tuhan tak selalu seindah inginmu

    Tapi itulah pilihan-Nya

    Tak ada yang lebih baik dari pilihan-Nya

    Sang Kekasih Tertinggi

    Tempat kita memberi semua cinta

    Dan menerima cinta yang tak terhingga

    Dalam tiap detik hidup kita

    (untuk yg ada disana, Dia-lah Maha Pembuat Skenario Terbaik, biarlah Dia yang menentukan)

    ***

    telah diterbitkan di majalah KUBAH, Agustus 2005

     
  • erva kurniawan 3:27 am on 5 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Doa Kang Suto 

    Pernah saya tinggal di Perumnas Klender. Rumah itu dekat mesjid yang sibuk. Siang malam orang pada ngaji. Saya tak selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain.

    Lingkungan sesak itu saya amati. Tak cuma di mesjid. Di rumah-rumah pun setiap habis magrib saya temui kelompok orang belajar membaca Al Quran. Anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.

    Di jalan Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme. Mereka cabang sebuah tarekat yang inti ajarannya berserah pada Tuhan. Mereka banyak zikir. Solidaritas mereka kuat. Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana.

    Dua puluh tahun lebih di Jakarta, tak saya temukan corak hidup macam itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini?

    Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca sajak di Senayan. Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba jadi superstar pengajian (ceramahnya melibatkan panitia, stadion, puluhan ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi saya dibuat bertanya: jawaban sosiologis apa yang harus diberikan buat menjelaskan gairah Islam, termasuk di kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?

    Di Klender yang banyak mesjid itu saya mencoba menghayati keadaan. Sering ustad menasihati, “Hiasi dengan bacaan Quran, biar rumahmu teduh.”

    Para “Unyil” ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya, orang seperti kemarok terhadap agama.

    Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan, setapak demi setapak.

    Ustad Betawi itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena, biarpun sudah tua, ia masih bersemangat belajar. Katanya, “Menuntut ilmu wajib hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat amal kita cuma tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita tak sia-sia.”

    Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai. Alip, ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa menirukan pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, ‘ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain.

    “Ain, Pak Suto,” kata Ustad Bentong bin H. Sabit.

    “Ngain,” kata Kang Suto.

    “Ya kaga bisa nyang begini mah,” pikir ustad.

    Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang runyem itu. Tapi Kang Suto tak putus asa. Dia cari guru ngaji lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto diajarinya baca Al-Fatihah.

    “Al-kham-du …,” tuntun guru barunya.

    “Al-kam-ndu …,” Kang Suto menirukan. Gurunya bilang, “Salah.”

    “Alkhamdulillah …,” panjang sekalian, pikir gurunya itu.

    “Lha kam ndu lilah …,” Guru itu menarik napas. Dia merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Quran.

    Kang Suto takut. “Mau belajar malah cari dosa,” gerutunya.

    Ia tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah, minta pandangan keagamaan saya.

    “Begini Kang,” akhirnya saya menjawab. “Kalau ada ustad yang bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima tidaknya, urusan Tuhan. Lagi pula bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka semua, dan surga isinya cuma Arab melulu.” Kang Suto mengangguk-angguk.

    Saya ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang tak fasih berdoa. Beliau langsung ditegur Tuhan. “Biarkan, Musa. Yang penting ketulusan hati, bukan kefasihan lidahnya.”

    “Sira guru nyong,” (kau guruku) katanya, gembira.

    Sering kami lalu bicara agama dengan sudut pandang Jawa. Kami menggunakan sikap semeleh, berserah, pada Dia yang Mahawelas dan Asih. Dan saya pun tak berkeberatan ia zikir, “Arokmanirokim,” (Yang Pemurah, Pengasih).

    Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi. Ia membisikkan kegelisahannya pada Tuhan.

    “Ya Tuhan, adakah gunanya doa hamba yang tak fasih ini. Salahkah hamba, duh Gusti, yang hati-Nya luas tanpa batas.”

    Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya, mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi.

    ***

    Mohammad Sobary, Editor, No.21/Thn.IV/2 Februari 1991

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • annisa 3:54 pm on 15 April 2010 Permalink

      subhanallah.. cerita yg bagus..,
      semoga kita tidak berputus asa dari Rahmat Allah..,
      karena sbg manusia biasa tentu kita banyak kekurangan
      dlm mencari ilmu-Nya, dan semoga Allah memaafkan kita smua amiin…

  • erva kurniawan 3:11 am on 4 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Tawakal Dan Ikhtiar 

    Secara singkat AA Gym menyatakan bahwa manusia harus Tawakal, harus percaya bahwa Allah SAW itu sangat sayang kepada Umat Manusia, oleh karena itu telah menyediakan segala yang ada di bumi ini untuk keperluan manusia.

    Tapi menurut AA Gym manusia tidak cukup hanya Tawakal. Karena Allah juga tidak suka kepada manusia yang tidak berupaya, tidak ber-Ikhtiar.

    Dicontohkan oleh AA Gym bahwa manusia itu hendaknya memperhatikan apa yang dilakukan oleh seekor cecak ketika dia harus menghidupi dirinya mencari makan.

    Cecak itu adalah binatang yang melata, merayap, padahal makanannya adalah nyamuk (binatang yang bisa terbang).

    Teryata cecak itu tetap tawakal, dia percaya Allah tidak akan menyia nyiakan dia tanpa makanan di dunia ini, tapi cecak juga mengerti bahwa untuk tetap dapat hidup, tidak cukup hanya tawakal. Bila hanya berbekal Tawakal, maka dia tak akan bisa menangkap cecak yang selalu terbang.

    Jadi apa yang harus dibuat nya selain tawakal? Nah cecak harus berusaha (Ikhtiar), dia akan berupaya mengejar nyamuk yang dapat terbang.

    Bagaimana caranya? Cecak lalu bertindak seolah olah dia itu benda mati, kadang kadang secara diam diam dia juga harus merayap. Semua perbuatannya itu dilakukan dengan hati hati, supaya nyamuk tidak sadar, bahwa didekat nya ada seekor cecak yang siap menyergapnya.

    Setelah ada nyamuk yang betul betul dekat, maka HAP, lalu ditangkap. (ingat lagu anak2 berjudul cecak cecak didinding?).

    Lalu AA Gym juga mencontohkan bagaimana seorang sosok manusia yang telah mengikuti langkah langkah seperti cecak.

    Seorang manusia yang percaya (tawakal) tapi dia juga berikhtiar

    Adalah seorang penjual mangga, dia percaya bahwa semua perbuatan yang didasari dengan tawakal pasti disenangi oleh Allah, tapi dia tidak semata mata mengandalkan ke-tawakalannya tersebut, dia juga berikhtiar.

    Pagi pagi setelah sholat subuh, dia lap satu persatu mangga mangga yang hendak di jual nya (supaya sedap dipandang mata), setelah itu ditatanya mangga mangga itu dalam tumpukan yang tersusun dengan baik di keranjang yang hendak dipikulnya.

    Sang istri melihat kerajinan suaminya mempersiapkan dagangan nya itu, ketika suami berangkat, sang istri mendoakan semoga rezeki dilimpahkan Allah kepada suami nya yang tawakal dan rajin itu.

    Dipasar, pedagang mangga itu tidak hanya sendirian, disebelah kanan dan kiri banyak juga penjual mangga seperti halnya dia yang sedang berupaya mencari sesuap nasi.

    Bila ada seorang ibu atau bapak yang mampir di tempat dagang nya, maka pedagang kita ini melayani dengan sopan, tidak marah bila ditawar oleh calon pembeli, dan tidak juga kesal bila ternyata pembeli itu tidak jadi membeli, atau malah akhirnya membeli di lapak sebelahnya.

    Dalam hati nya si pedagang berkata, saya telah berikhtiar sebaik-baiknya, saya pun tawakal, bahwa Allah senantiasa memperhatikan rezeki saya, maka ketika sore tiba, pulang lah dia kerumah, disambut oleh sang istri, yang menanyakan bagaimana peruntungan hari ini.

    Pedagang kita menjawab, alhamdulillah bu, tidak ada yang beli, tapi saya sudah puas bu, tidak ada satu kali pun pikiran saya buruk, tak satu patah kata yang kasar keluar dari mulut saya, sebaliknya saya telah melayani para calon pembeli dengan ramah, hati mereka rata-rata terhibur oleh keramahan saya, saya telah berhasil membuang jauh jauh rasa dengki saya kepada pedagang disebelah, ketika pembeli yang semula menawar manggaku, ternyata membeli dari lapak nya. Saya telah berbuat banyak kebaikan bu, tapi tidak satupun Mangga kita terjual.

    Maka istrinya pun membalas, alhamdulillah Pak, itu lah rezeki kita.

    Maka mereka berdua mengucapkan doa syukur, kepada Allah SAW.

    Namun, tak berapa lama kemudian datang lah anak mereka, dengan berteriak teriak gembira, “Bapak, Ibu, alhamdulillah saya telah terpilih sebagai mahasiswa yang mendapat beasiswa”.

    Nah, rezeki bukan hanya berbentuk uang, rezeki bisa berbentuk apa saja, dan ternyata rezeki itu tidak harus datang melalui diri kita, tapi dapat saja melalui anak kita, melalui istri kita, bahkan melalui orang tua kita.

    rezeki bisa berupa kesehatan

    rezeki bisa berupa kerukunan keluarga

    rezeki bisa berbentuk bea siswa yang diterima oleh anak

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • djembut 1:48 pm on 23 September 2012 Permalink

      sip om

  • erva kurniawan 3:01 pm on 23 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Yang Tidak Bisa Diucapkan Ayah 

    Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan,atau yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.

    Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya. Lalu bagaimana dengan Papa?

    Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu? Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

    Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil. Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu.  Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya”

    Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka.

    Tapi sadarkah kamu? Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

    Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba. Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang” Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

    Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.

    Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

    Ketika kamu sudah beranjak remaja.  Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”. Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga. Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu.

    Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalahMama.  Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

    Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia. :’) Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu. Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?

    Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir.  Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut.  Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .

    Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang? “Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa”

    Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti.  Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa

    Ketika kamu menjadi gadis dewasa. Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain.  Papa harus melepasmu di bandara. Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu? Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat. Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”. Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT, kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

    Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa. Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain. Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan.

    Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak. Tidak bisa!” Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu”. Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

    Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”

    Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin padaPapa untuk mengambilmu darinya. Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin.. Karena Papa tahu.  Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

    Dan akhirnya. .

    Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia. Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis? Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa. Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: “Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik. Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik. Bahagiakanlah ia bersama suaminya. ”

    Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk.  Dengan rambut yang telah dan semakin memutih. Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya. Papa telah menyelesaikan tugasnya.

    Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita.  Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat.  Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis. Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..

    Saya mendapatkan notes ini dari seorang teman, dan mungkin ada baiknya jika aku kembali membagikannya kepada teman-teman ku yang lain.

    Tulisan ini aku dedikasikan kepada teman-teman wanita ku yang cantik, yang kini sudah berubah menjadi wanita dewasa serta ANGGUN, dan juga untuk teman-teman pria ku yang sudah ataupun akan menjadi ayah yang HEBAT !

    Yup, banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan Ayah / Bapak / Romo / Papa / Papi kita.  tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyi dibalik hatinya.

    ***

    Dari email teman

     
    • teguh prayoga 11:28 am on 28 Maret 2010 Permalink

      Bapak ku pergi meninggalkan kami sekeluarga. . .:(

    • Hendra 4:00 pm on 30 Maret 2010 Permalink

      Allah hu akbar

    • rizky TheFallen 12:56 am on 5 April 2010 Permalink

      subhanallah, jadi pengen nangis. walaupun gw cowok :’)

    • yudhy 8:38 pm on 6 April 2010 Permalink

      itulah yang terjadi padaku saat ini, bahkan dari saya kecil sampai saya dewasa blum pernah sekalipun beliau memukul saya dan kakak dan adik ku,beliau mengajarkan kami dengan lemah lembut tanpa kekerasan
      I love forever my parent

    • reeza 11:33 pm on 4 Mei 2010 Permalink

      Menyentuhh..mengingatkan akan papaku yg mati2an membanting tulang. ♡ u pah ☺ …

  • erva kurniawan 7:46 am on 21 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Santri dan Kyai 

    Si Santri dan Si Kyai

    Ada seorang Santri suatu hari datang kepada kyai. Santri ini berpendidikan umum progresif. Sedangkan Si Kyai adalah seorang otodidak agama yang aktif. Si Santri memahami Islam secara tekstual. Sedangkan Si Kyai sebaliknya, mencerna agama ini secara kontekstual. Si Santri muda ini meletup-letup semangatnya. Sedangkan Si Kyai setengah baya ini yang tinggal di desa menonjol sikap tawadhu’-nya terutama terhadap ilmu.

    Sekali waktu Santri tersebut mengusulkan sebuah seminar ilmiah kepada sang kyai di pondoknya. Seraya mengapit sehelai stofmap berisi proposal ketik apik komputer, mahasiswa yang pernah mengaji pada kyai ini menyodorkan topik bahasan bertema Telaah Kritis Atas Hadits Bukhari.

    “Saya yakin peminatnya pasti banyak, kyai. Sebab, ini khan memang lagi trend-nya!,” ujar si Santri berapi-api.

    “Anak muda,” sahut Si Kyai, “Tema itu terlalu sombong untuk diangkat. Apakah kita sudah mengaca diri, siapa sih kita ini, kok mentang-mentang mau mengkritik Bukhari.”

    Kemudian Si Kyai melanjutkan penuturannya, bahwa betapa Imam Bukhari (wafat tahun 256 H) memang sudah pernah dikritik oleh para ulama hadits sekaliber berat, seperti Darqutny (wafat tahun 385 H), Al-Ghassany (wafat tahun 365 H), dan pakar ilmu-ilmu hadits lainnya. Tiga abad kemudian Ibnu Shalah (wafat tahun 643 H) dan Imam Nawawi (wafat tahun 676 H) juga melakukan hal yang sama, yaitu mengkaji dan menguji kodefikasi karya Bukhari dan akhirnya mereka sepakat memutuskan bahwa Shahih Bukhari merupakan kitab paling otentik sesudah Al-Qur’an. Para ahli mengakui bahwa abad III dan VI adalah merupakan masa matang dan suburnya karya ilmiah, terutama di bidang studi hadits.

    Si Santri kemudian menyela, “Tapi kyai, berdasarkan fakta, ada beberapa hadits di dalam Bukhari yang tidak sejalan dengan logika dan tak relevan dengan sejarah. Bahkan ada yang bertentangan dengan sains modern.”

    Si Kyai pun lalu menjawab, “Hadits-hadits riwayat bukhari itu sejalan dengan logika. Jika kamu tak paham, barangkali logikamu sendiri yang belum cukup peka untuk menangkapnya. Pikiran seperti itu mirip telaah para orientalis yang hanya berdasarkan prakonsepsi. Justru menurut saya, metodologi hadits yang dikembangkan Bukhari dalam seleksi mata rantai perawi yang begitu njlimet (kompleks) merupakan khazanah kita yang paling besar. Sesuatu yang (apalagi saat itu) jarang dikerjakan oleh ahli sejarah manapun dalam menelusuri sumber-sumber berita. Sebuah karya monumental yang tak tertandingi!.”

    Dengan agak menyesal, Si Santri muda itu berkata lagi, “Lantas topik apa pula yang cocok untuk seminar, biar kelihatan wah begitu?.”

    Si Kyai menyahut :

    “Bikinlah seminar di dalam dirimu sendiri, dengan tema yang pas mungkin Sudah Sejauh Mana Kita Merealisasikan Sunnah Nabi Dalam Kehidupan Sehari-hari. Barangkali refleksi seperti ini akan lebih bermanfaat ketimbang kamu harus mengerjakan yang muluk-muluk, tak ketahuan juntrung faedahnya. Malahan dampaknya dapat diduga lebih dahulu, yaitu akan membuat orang awam jadi kian bingung.”

    Sadar disindir, Si Santri hanya tersenyum kecut. Mengakhiri nasehatnya, Si Kyai berkata, “Anak muda!, jadilah penyuluh tuntunan, jangan jadi tontonan.” Si Santri tersebut akhirnya kembali bermukim di desa dan menekuni kitab kuning.

    ***

    [Disarikan dari Sorotan Cahaya Ilahi, M.Baharun, cetakan I, 1995, penerbit Pustaka Progressif, Surabaya]

     
  • erva kurniawan 6:26 am on 18 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Dan Bulan Pun Telah Terbelah 

    Allah berfirman, “Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah” (Q.S. Al-Qamar: 1)

    Apakah kalian akan membenarkan kisah yang dari ayat Al-Qur’an ini menyebabkan masuk Islamnya pimpinan Hizb Islami Inggris ?? Di bawah ini adalah kisahnya:

    Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah ?

    Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut: Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim.

    Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur’an. Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya, “Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi [Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah] mengandung mukjizat secara ilmiah?

    Maka saya menjawabnya, “Tidak, sebab kehebatan ilmiah diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjangkaunya. Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya. Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Dan memang Allah ta’alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu.

    Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah membelah bulan. Kisah itu adalah sebelum hijrah dari Mekah Mukarramah ke Madinah. Orang-orang musyrik berkata, “Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu (mengejek dan mengolok-olok)?”

    Rasulullah bertanya, “Apa yang kalian inginkan?”. Mereka menjawab, “Coba belah bulan.”

    Maka Rasulullah pun berdiri dan terdiam, lalu berdoa kepada Allah agar menolongnya. Maka Allah memberitahu Muhammad agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Maka Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan, dan terbelahlah bulat itu dengan sebenar-benarnya. Maka serta-merta orang-orang musyrik pun berujar, “Muhammad, engkau benar-benar telah menyihir kami!” Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja “menyihir” orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada ditempat itu. Maka mereka pun pada menunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan. Maka orang-orang Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, maka orang-orang musyrik pun bertanya, “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?”Mereka menjawab, “Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh masing-masingnya kemudian bersatu kembali.”

    Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir (ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya, “Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, “Ini adalah sihir yang terus-menerus”, dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap ….sampai akhir surat Al-Qamar.

    Ini adalah kisah nyata, demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar. Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdiri seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, “Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan??”

    Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab: Dipersilahkan dengan senang hati.”

    Daud Musa Pitkhok berkata, “Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna-makna Al-Qur’an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Qur’an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya, “Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah…”

    Maka aku pun bergumam: Apakah kalimat ini masuk akal? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu? Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari.

    Akan tetapi Allah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasam hamba-Nya dalam pencarian kebenaran. Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi diantara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS. Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besardalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa, padahal saat yang sama dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, sakit dan perselisihan.

    Presenter pun berkata, ” Andai dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih banyak berguna”. Ketiga pakar itu pun membela diri dengan proyek antariksanya dan berkata, “Proyek antariksa ini akan membawa dampak yang sangat positif pada banyak segmen kehidupan manusia, baik segi kedokteran, industri, dan pertanian. Jadi pendanaan tersebut bukanlah hal yang sia-sia, akan tetapi hal itu dalam rangka pengembangan kehidupan manusia.

    Dan diantara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakiknya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar.

    Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget dan berkata, “Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?” Mereka pun menjawab, “Tidak, ..!!! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun. Maka presenter itu pun bertanya, “Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya. Mereka menjawab, “Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali.!!!

    Presenter pun bertanya, “Bagaimana kalian bisa yakin akan hal itu?” Mereka menjawab, “Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, “Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali”.

    Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, “Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, “Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin !!!! Maka, agama Islam ini tidak mungkin salah … Maka aku pun berguman, “Maka, aku pun membuka kembali Mushhaf Al-Qur’an dan aku baca surat Al-Qamar, dan … saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 6:07 am on 17 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Anugerah Terindah 

    Jika kita bertanya kepada Siti Masyithoh, “Anugerah terindah apa yang pernah kau miliki?”. Maka Siti Masyithoh pasti akan menjawab “Sisir! Karena dengan sisir lah aku bisa membela ketauhidanku terhadap Fir’aun sehingga Fir’aun menyiapkan sebuah tempat pembakaran unutk merebusku hingga lebur semua tulang-tulangku. Dan semua karena Allah semata”

    Jika kita bertanya kepada Bilal bin Rabbah, “Anugerah terindah apa yang pernah kau miliki?”, Maka Bilal pasti akan menjawab “Suara! Karena dengan suaraku ini aku bisa mengumandangkan dan menggemakan adzan keseluruh pelosok negeri mengajak orang-orang untuk sholat. Dan semua karena Allah semata.”

    Jika kita bertanya kepada Faris ‘Audah (seorang bocah Palestina) “Anugerah terindah apa yang pernah kau miliki?” Maka dia pasti akan menjawab “Batu! Karena dengan bersenjatakan batu inilah aku berjihad menghadapi yahudi laknatullah hingga akhirnya sebuah peluru menerjang dan menjatuhkan ku. Dan semua karena Allah semata.”

    Bagaimana jika pertanyaan itu kemudian ditanyakan kepada kita?

    “Anugerah terindah apa yang pernah kumiliki?”

    Bisakah kita menjawabnya? Atau kita hanya terdiam dan tersenyum tidak tahu mesti menjawab apa.

    Sungguh orang-orang yang telah mendahului kita telah memberikan contoh yang begitu jelas. Semua nikmat dan anugerah yang kita punya akan menjadi “Anugerah Terindah” kita apabila kita menggunakannya di jalan Allah.

    Allah memberi kita suara yang indah nan merdu, tapi pernahkah suara kita itu mengumandangkan adzan? atau pernahkan untuk tilawah Al-Qur’an? atau hanya sebuah pekik takbir “Allahu akbar!!” ? atau jangan-jangan suara kita justru menjadi sumber bencana kita? justru menjadi pengantar kita ke neraka? Na’udzubillah min Dzalik.

    Allah memberi kita anugerah-anugerah yang berbeda-beda. Lalu ada sebuah pertanyaan : “Apa anugerah terindah yang pernah kumiliki?”

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • julia nanda 4:45 pm on 22 Maret 2010 Permalink

      y,,,memang benar,saya tdk tau ingin menjawab apa?karena saya blm berbuat apapun dijalan Allah,,saya merasa tidak berguna,,,

  • erva kurniawan 5:15 am on 14 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Usai Menyaksikan Jenazah Raja Fahd, Seorang Pendeta Italia Masuk Islam 

    Hidayah Allah datangnya tidak bisa diraba-raba. Apabila Allah menghendaki maka ia akan mendatangi hamba yang berbahagia itu. Demikianlah kisah seorang pendeta asal Italia.

    Seorang pendeta terkenal di Italia mengumumkan masuk Islam setelah menyaksikan jenazah raja Arab Saudi, Fahd bin Abdul Aziz, untuk kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal itu terjadi setelah ia melihat betapa sederhananya prosesi pemakaman jenazah yang jauh dari pengeluaran biaya yang mahal dan berlebihan.

    Sang mantan pendeta telah mengikuti secara seksama prosesi pemakaman sang Raja yang bersamaan waktunya dengan jenazah yang lain. Ia melihat tidak ada perbedaan sama sekali antara kedua jenazah tersebut. Keduanya sama-sama dishalatkan dalam waktu yang bersamaan.

    Pemandangan ini meninggalkan kesan mendalam tersendiri pada dirinya sehingga gambaran persamaan di dalam Islam dan betapa sederhananya prosesi pemakaman yang disaksikan oleh seluruh dunia di pekuburan ‘el-oud’ itu membuatnya masuk Islam dan merubah kehidupannya. Tidak ada perbedaan sama sekali antara kuburan seorang raja dan penguasa besar dengan kuburan rakyat jelata. Karena itulah, ia langsung mengumumkan masuk Islam.

    Salah seorang pengamat masalah dakwah Islam mengatakan, kisah masuk Islamnya sang pendeta tersebut setelah sekian lama perjalanan yang ditempuh mengingatkan pada upaya besar yang telah dikerahkan di dalam mengenalkan Islam kepada sebagian orang-orang Barat. Ada seorang Da’i yang terus berusaha sepanjang 15 tahun untuk berdiskusi dengan pendeta ini dan mengajaknya masuk Islam. Tetapi usaha itu tidak membuahkan hasil hingga ia sendiri menyaksikan prosesi pemakaman Raja Fahd yang merupakan pemimpin yang dikagumi dan brilian. Baru setelah itu, sang pendeta masuk Islam.

    Sang Muslim baru yang mengumumkan keislamannya itu pada hari prosesi pemakaman jenazah pernah berkata kepada Dr al-Malik, “Buku-buku yang kalian tulis, surat-surat kalian serta diskusi dan debat yang kalian gelar tidak bisa mengguncangkanku seperti pemandangan yang aku lihat pada pemakaman jenazah raja Fahd yang demikian sederhana dan penuh toleransi ini.”

    Ia menambahkan, “Pemandangan para hari Selasa itu akan membekas pada jiwa banyak orang yang mengikuti prosesi itu dari awal seperti saya ini.”

    Ia meminta agar kaum Muslimin antusias untuk menyebarkan lebih banyak lagi gambaran toleransi Islam dan keadilannya agar dapat membekas pada jiwa orang lain. Ia menegaskan, dirinya telah berjanji akan mengerahkan segenap daya dan upaya dari sisa usianya yang 62 tahun in untuk menyebarkan gambaran Islam yang begitu ideal. Semoga Allah menjadikan keislamannya berkah bagi alam semesta.(istod/AH)

    ***

    http://www.alsofwah.or.id

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • Salahuddin 11:41 am on 19 Maret 2010 Permalink

      Cerita beginian sdh usang, jangan selalu menyebarluaskan berita “mualaf”, nggak perlu promosi, sbg umat muslim saya tdk merasa bangga sih. Terutama krn banyak juga muslim yg pindah ke agama lain, juga “muslim (mengaku muslim)” namun menyebarkan kebencian spt Hizbuth Tahir, FPI, Lasjkar Jihad dan teroris yg berkedok muslim untuk membenarkan tindakan radikalnya.

    • Abdullah 4:26 pm on 23 April 2010 Permalink

      hai salahuddin…jangan berburuk sangka…

    • angkasa 2:46 pm on 25 Mei 2010 Permalink

      tidak perlu orang besar masuk islam untuk bisa menunjukkan kebesaran islam!

    • deyana astuti kaluy 11:56 am on 18 November 2012 Permalink

      buat bapak salahudin……….sebaiknya jangan berburuk sangka……….saya yakin anda tidak pernah berbuat baik kepada manusia lain,klo pun dia mau masuk salah satu agama manapun ya urusan dia kenapa anda yg kebakaran jenggot…………

  • erva kurniawan 4:48 am on 13 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah Seorang Pemeriksa Pajak Melawan Korupsi 

    Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak gelisah dan tidak kalang kabut akibat prinsip hidup korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat Jenderal datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman di kantor gelisah dan belingsatan, kami tenang saja. Jadi sebenarnya hidup tanpa korupsi itu menyenangkan sekali.Hidup tidak korupsi itu sebenarnya lebih menyenangkan. Meski orang melihat kita sepertinya sengsara, tapi sebetulnya lebih menyenangkan. Keadaan itu paling tidak yang saya rasakan langsung.

    Saya Arif Sarjono, lahir di Jawa Timur tahun 1970, sampai dengan SMA di Mojokerto, kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan selesai pada 1992. Pada 17 Oktober 1992 saya menikah dan kemudian saya ditugaskan di Medan. Saya ketika itu mungkin termasuk generasi pertama yang mencoba menghilangkan dan melawan arus korupsi yang sudah sangat lazim. Waktu itu pertentangan memang sangat keras. Saya punya prinsip satu saja, karena takut pada Allah, jangan sampai ada rezeki haram menjadi daging dalam diri dan keturunan. Itu saja yang selalu ada dalam hati saya. Kalau ingat prinsip itu, saya selalu menegaskan lagi untuk mengambil jarak yang jelas dan tidak menikmati sedikit pun harta yang haram. Syukurlah, prinsip itu bisa didukung keluarga, karena isteri juga aktif dalam pengajian keislaman. Sejak awal ketika menikah, saya sampaikan kepada isteri bahwa saya pegawai negeri di Departemen Keuangan, meski imej banyak orang, pegawai Departemen Keuangan kaya, tapi sebenarnya tidak begitu. Gaji saya hanya sekian, kalau mau diajak hidup sederhana dan tanpa korupsi, ayo. Kalau tidak mau, ya sudah tidak jadi.

    Dari awal saya sudah berusaha menanamkan komitmen kami seperti itu. Saya juga sering ingatkan kepada isteri, bahwa kalau kita konsisten dengan jalan yang kita pilih ini, pada saat kita membutuhkan maka Allah akan selesaikan kebutuhan itu. Jadi yang penting usaha dan konsistensi kita. Saya juga suka mengulang beberapa kejadian yang kami alami selama menjalankan prinsip hidup seperti ini kepada istri. Bahwa yang penting bagi kita adalah cukup dan berkahnya, bahwa kita bisa menjalani hidup layak. Bukan berlebih seperti memiliki rumah dan mobil mewah.

    Menjalani prinsip seperti ini jelas banyak ujiannya. Di mata keluarga besar misalnya, orangtua saya juga sebenarnya mengikuti logika umum bahwa orang pajak pasti kaya. Sehingga mereka biasa meminta kami membantu adik-adik dan keluarga. Tapi kami berusaha menjelaskan bahwa kondisi kami berbeda dengan imej dan anggapan orang. Proses memberi pemahaman seperti ini pada keluarga sulit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sampai akhirnya pernah mereka berkunjung ke rumah saya di Medan, saat itulah mereka baru mengetahui dan melihat bagaimana kondisi keluarga saya, barulah perlahan-lahan mereka bias memahami.

    Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau pemeriksa pajak. Kalau dibandingkan teman-teman seangkatan sebenarnya karir saya bisa dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun. Seharusnya paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi, Eselon IV. Tapi sekarang baru Eselon V. Apalagi dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak menerima uang korupsi sama saja dengan karir terhambat. Karena saya dianggap tidak cocok dengan atasan, maka kondite saya di mata mereka buruk. Terutama poin ketaatannya, dianggap tidak baik dan jatuh.

    Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua pengalaman itu. Antara lain, orang-orang yang berbuat jahat akan selalu berusaha mencari kawan apa pun caranya. Cara keras, pelan, lewat bujukan atau apa pun akan mereka lakukan agar mereka mendapat dukungan. Mereka pada dasarnya tidak ingin ada orang yang bersih. Mereka tidak ingin ada orang yang tidak seperti mereka.

    Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika mereka menggunakan cara paling halus, pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan, setelah sekian tahun barulah ketahuan, kita sudah dikhianati. Cara seperti in seperti sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati. Mereka dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama, bahwa seperti inilah gaya hidup pegawai Departemen Keuangan. Bila tidak berhasil, mereka akan pakai cara lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola apa saja dipakai, sampai mereka bisa merangkul orang itu menjadi teman.

    Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika memperkenalkan diri, dia sangat simpatik di mata saya. Dia juga satu-satunya atasan yang mau bermain ke rumah bawahan. Saya dengan atasan itu kemudian menjadi seperti sahabat, bahkan seperti keluarga sendiri. Di akhir pekan, kami biasa memancing sama-sama atau jalan-jalan bersama keluarga. Dan ketika pulang, dia biasa juga menitipkan uang dalam amplop pada anak-anak saya. Saya sendiri menganggap pemberian itu hanya hadiah saja, berapalah hadiah yang diberikan kepada anak-anak. Tidak terlalu saya perhatikan. Apalagi dalam proses pertemanan itu kami sedikit saja berbicara tentang pekerjaan. Dan dia juga sering datang menjemput ke rumah, mengajak mancing atau ke toko buku sambil membawa anak-anak.

    Hingga satu saat saya mendapat surat perintah pemeriksaan sebuah perusahaan besar. Dari hasil pemeriksaan itu saya menemukan penyimpangan sangat besar dan luar biasa jumlahnya. Pada waktu itu, atasan melakukan pendekatan pada saya dengan cara paling halus. Dia mengatakan, kalau semua penyimpangan ini kita ungkapkan, maka perusahaan itu bangkrut dan banyak pegawai yang di-PHK. Karena itu, dia menganggap efek pembuktian penyimpangan itu justru menyebabkan masyarakat rugi. Sementara dari sisi pandang saya, betapa tidak adilnya kalau tidak mengungkap temuan itu. Karena sebelumnya ada yang melakukan penyimpangan dan kami ungkapkan. Berarti ada pembedaan. Jadwal penagihannya pun sama seperti perusahaan lain.

    Karena dirasa sulit mempengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai logika lain lagi. Apakah tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan dirundingkan dengan klien, agar bisa membayar pajak dan negara untung, karena ada uang yang masuk negara. Logika seperti ini juga tidak bias saya terima. Waktu itu, saya satu-satunya anggota tim yang menolak dan meminta agar temuan itu tetap diungkap apa adanya. Meski saya juga sadar, kalau saya tidak menandatangani hasil laporan itu pun, laporan itu akan tetap sah. Tapi saya merasa teman-teman itu sangat tidak ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Mereka ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Paling tidak menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya dipanggil oleh atasan dan disidang di depan kepala kantor. Dan ini yang amat berkesan sampai sekarang, bahwa upaya mereka untuk menjadikan orang lain tidak bersih memang direncanakan.

    Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang sudah lama bersahabatdan seperti keluarga sendiri dengan saya itu mengatakan, “Sudahlah, Dik Arif tidak usah munafik?” Saya katakan, “Tidak munafik bagaimana Pak? Selama ini saya insya Allah konsisten untuk tidak melakukan korupsi.”

    Kemudian ia sampaikan terus terang bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun ia berikan pada anak saya adalah uang dari klien. Ketika mendengar itu, saya sangat terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata berkhianat. Karena terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat seperti itu, kecuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip untuk menolak uang suap. Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi karena kami tahu persis bahwa mereka perlahan-lahan menggiring ke arah yang mereka mau.

    Ketika merasa terpukul dan tidak bisa membalas dengan kata-kata apa pun, saya pulang. Saya menangis dan menceritakan masalah itu pada isteri saya di rumah. Ketika mendengar cerita saya itu, isteri langsung sujud syukur. Ia lalu mengatakan, “Alhamdulillah. Selama ini uang itu tidak pernah saya pakai,” katanya. Ternyata di luar pengatahuan saya, alhamdulillah, amplop-amplo itu tidak digunakan sedikit pun oleh isteri saya untuk keperluan apa pun. Jadi amplop-amplop itu disimpan di sebuah tempat, meski ia sama sekali tidak tahu apa status uang itu. Amplop-amplop itu semuanya masih utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka. Jumlahnya berapa saya juga tidak tahu. Yang jelas, bukan lagi puluhan juta. Karena sudah masuk hitungan dua tahun dan diberikan hampir setiap pekan.

    Saya menjadi bersemangat kembali. Saya ambil semua amplop itu dan saya bawa ke kantor. Saya minta bertemu dengan kepala kantor dan kepala seksi. Dalam forum itu, saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan saya hingga bertaburan di lantai. Saya katakan, “Makan uang itu, satu rupiah pun saya tidak pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak pernah percaya satu pun perkataan kalian.” Mereka tidak bisa bicara apa pun karena fakta obyektif, saya tidak pernah memakai uang yang mereka tuduhkan. Tapi esok harinya, saya langsung dimutasi antar seksi. Awalnya saya diauditor, lantas saya diletakkan di arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan pemeriksa pajak. Itu berjalan sampai sekarang. Ketika melawan arus yang kuat, tentu saja da saat tarik-menarik dalam hati dan konflik batin. Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak tergoda untuk menggunakan uang yang tidak jelas. Ada pengalaman lain yang masih saya ingat sampai sekarang. Ketika saya mengalami kondisi yang begitu mendesak. Misalnya, ketika anak kedua lahir. Saat itu persis ketika saya membayar kontrak rumah dan tabungan saya habis. Sampai detik-detik terakhir harus membayar uang rumah sakit untuk membawa isteri dan bayi kami ke rumah, saya tidak punya uang serupiah pun.

    Saya mau bicara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insya Allah pekan depan akan saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga. Akhirnya saya keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu pulang dari sholat dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah sakit itu. Sebelumnya kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita dari teman bahwa isteri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke rumah sakit. Wallahu a’lam apakah dia sudah diceritakan kondisi saya atau bagaimana, tetapi ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak rumah sakit, saya malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan isteri yang sudah lunas. Alhamdulillah.

    Ada lagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya operasi mata karena ada lipoma yang harus diangkat. Awalnya, saya pakai jasa askes. Tapi karena pelayanan pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya kasihan karena anak saya baru berumur empat tahun, saya tidak pakai Askes lagi. Saya ke Rumah Sakit yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus. Itu saya lakukan sambil tetap berfikir, nanti uangnya pinjam dari mana?

    Ketika anak harus pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling susah sekali menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata Allah cukupkan kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang membereskan pakaian di rumah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya dengan seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar, dan saya ceritakan anak saya sedang dioperasi. Dia katakan, “Kenapa tidak bilang-bilang?” Saya sampaikan karena tidak sempat saja. Setelah teman itu pulang, ketika ingin menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata kwitansinya juga sudah dilunasi oleh teman itu. Alhamdulillah.

    Saya berusaha tidak terjatuh ke dalam korupsi, meski masih ada tekanan keluarga besar, di luar keluarga inti saya. Karena ada teman yang tadinya baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga. Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang pelit, mereka terpaksa pinjam sana sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi juga. Karena banyak yang seperti itu, dan saya tidak mau terjebak begitu, saya berusaha dari awal tidak demikian. Saya berusaha cari usaha lain, dengan mengajar dan sebagainya. Isteri saya juga bekerja sebagai guru.

    Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan biasanya lebih banyak dengan bercanda. Sedangkan pendekatan serius, sebenarnya mereka sudah puas dengan pendekatan itu, tapi tidak berubah. Dengan pendekatan bercanda, misalnya ketika datang tim pemeriksa dari BPK, BPKP, atau Irjen. Mereka gelisah sana-sini kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa. Jadi mereka dapat suap lalu menyuap lagi. Seperti rantai makanan. Siapa memakan siapa. Uang yang mereka kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi. Mereka selalu takut ini takut itu. Paling sering saya hanya mengatakan dengan bercanda, “Uang setan ya dimakan hantu.”

    Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai berubah, kemudian berdialog dan akhirnya berhenti sama sekali. Harta mereka jual dan diberikan kepada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak. Sedikit sekali orang yang bisa merubah gaya hidup yang semula mewah lalu tiba-tiba miskin. Itu sulit sekali. Ada juga diantara teman-teman yang beranggapan, dirinya tidak pernah memeras dan tidak memakan uang korupsi secara langsung. Tapi hanya menerima uang dari atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan atasan itu hanya memberi. Mereka mengatakan tidak perlu bertanya uang itu dari mana. Padahal sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami tidak akan pernah bisa memberikan uang sebesar itu.

    Atasan yang memberikan itu berlapis-lapis. Kalau atasan langsung biasanya memberi uang hari Jum?at atau akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang Jum’atan. Atasan yang berikutnya lagi pada momen berikutnya memberi juga. Kalau atasan yang lebih tinggi lagi biasanya memberi menjelang lebaran dan sebagainya. Kalau dihitung-hitung sebenarnya lebih besar uang dari atasan dibanding gaji bulanan. Orang-orang yang menerima uang seperti ini yang sulit berubah. Mereka termasuk rajin sholat, puasa sunnah dan membaca Al-Qur’an. Tetapi mereka sulit berubah. Ternyata hidup dengan korupsi memang membuat sengsara. Di antara teman-teman yang korupsi, ada juga yang akhirnya dipecat, ada yang melarikan diri karena dikejar-kejar polisi, ada yang isterinya selingkuh dan lain-lain. Meski secara ekonomi mereka sangat mapan, bukan hanya sekadar mapan.

    Yang sangat dramatis, saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di STAN. Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika keluarganya mulai sering minta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan keluarga dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya uang. Akhirnya ia mencoba hutang sana-sini. Dia pun terjebak dan merasa sudah terlanjur jatuh, akhirnya dia betul-betul sama dengan teman-teman di kantor. Bahkan sampai sholat ditinggalkan. Terakhir, dia ditangkap polisi ketika sedang mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh. Teman itu sekarang dipecat dan dipenjara.

    Saya berharap akan makin banyak orang yang melakukan jihad untuk hidup yang bersih. Kita harus bisa menjadi pelopor dan teladan di mana saja. Kiatnya hanya satu, terus menerus menumbuhkan rasa takut menggunakan dan memakan uang haram. Jangan sampai daging kita ini tumbuh dari hasil rejeki yang haram. Saya berharap, mudah-mudahan Allah tetap memberikan pada kami keistiqomahan (matanya berkaca-kaca).

    ***

    Sumber: (Majalah Tarbawi Edisi 111 Th. 7/Jumadal Ula 1426 H/23 Juni 2005)

     
    • muqoffa 4:17 pm on 25 Maret 2010 Permalink

      sangat indah dan menyentuh………….

    • spjati 11:41 am on 29 Maret 2010 Permalink

      assalamu’alaikum, salam kenal pak, mohon ijin utk saya share ke teman2 lain. terimakasih.

    • Ikhlasul 11:56 am on 29 Maret 2010 Permalink

      mampu menahan nafsu dunia adalah kemenangan sejati yg sesungguhnya, beruntunglah orang2 yg memiliki “microchip” merasa bersyukur, nyaman dan nikmat tanpa harus memiliki harta berlebih…

    • nyit2 12:34 pm on 29 Maret 2010 Permalink

      pak,perjuangan melawan ketidakadilan memang sulit…tapi walaupun kelihatannya sulit dan melelahkan,tuhan selalu punya cara untuk melindungi umatnya….sama2 kt katakan tidak pada korupsi….

    • ferry 4:20 pm on 29 Maret 2010 Permalink

      Saya terkesan dengan cerita pengalaman hidup di atas, saya percaya dari sekian banyak karyawan yang korupsi masih ada yang bersih seperti di atas, semoga tetap jihad melawan korupsi. Cobaan yang paling berat adalah melawan korupsi di lingkungan koruptor. Semoga.

    • slurpz 12:59 am on 30 Maret 2010 Permalink

      sangat indah hidup anda, saya domisili mojokerto jg pak, hehehe tp saya pengangguran hehehe, oh ya maaf lupa salam kenal pak, semoga Allah senantiasa melindungi anda sekeluarga, klo dibanding dgn hidup q jauh banget, saya sangat terkesan dgn perjalanan karir anda, bersih, jujur, gak banyak tingkah, anda orang yg paling dicari bagi masyarakat bawah spt saya ni,

    • A rozi 5:43 pm on 2 April 2010 Permalink

      Sangat menyentuh hati, teman saya ada juga yang bekerja di Ditjen Pajak, semoga dia seperti pak Arif… Tidak Korupsi, tidak makan yang bukan haknya… Anda hidup sengsara di dunia, saya doakan anda akan hidup kaya raya di akhirat kelak.. Amin ya Allah… Semoga Allah melindungi anda dan keluarga di dunia dan akhirat kelak.

    • ummu 2:00 am on 10 April 2010 Permalink

      Assalaamu’alaikum wr wb,
      Kisah yang menyentuh, saya juga punya saudara yang kerja di BPK, berusaha selalu berlaku jujur dan tidak korupsi. Memang akibatnya kenaikan pangkat terhambat, yang lain bisa jadi kepala, ini tak pernah bisa, padahal orangnya pandai.
      Tak apalah, yakin Allah akan menggantikan kedudukan dunia yang tak seberapa dan tak kekal di dunia ini dengan kedudukan yang mulia dan kekal di akhirat nanti. Allah tak akan menyelisihi janjinya. Ingatlah 1 hari di akhirat itu sama dengan 1000 tahun di dunia.

    • Dog For Sale 10:33 am on 16 April 2010 Permalink

      Nyimak duluuu

    • hery 12:15 pm on 6 Mei 2010 Permalink

      orang seperti itu hanya bisa di hitung dg jari allhuakbar….jika kita mengejar akherat insyallah dunia akan ikut tapi jika kita mengejar dunia belum tentu ikut…..subhanallah

    • riyyanfikri 9:37 pm on 10 Juli 2010 Permalink

      Subhanalloh……..ijin share ya….

    • agung w 6:29 am on 16 November 2010 Permalink

      Subhannallah…S’moga njenengan & keluarga besar slalu d beri rahmatNya…Amiin….

  • erva kurniawan 9:30 pm on 3 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Istri Sholeha 

    Seminggu sekali sepulang kerja biasanya aku ikut pengajian rutin sampai menjelang maghrib. waktu itu kita masih membahas bab nikah, dan seperti biasanya sebelum pengajian itu dimulai, guru kita membaca doa, setelah itu pengajian dimulai dengan membaca hadist riwayat Tarmidji, yg kemudian beliau membacanya

    “Ada 3 golongan yg pantas ditolong oleh Allah yaitu :

    1. Pejuang pada jalan Allah terutama jihad melawan kafir
    2. Budak yg membebaskan dirinya sendiri
    3. Pernikahan yg bertujuan untuk menjaga kehormatan dirinya

    “Dunia ini laksana perhiasan dan sebaik2 perhiasan adalah istri yg sholeha yaitu istri yg selalu menjaga dirinya dan harta suaminya. Bagi seorang mukmin sesudah bertaqwa pada Allah, tidak ada lagi yg terbaik selain dari pada istri yg sholeha, yaitu apabila disuruh suaminya dia taat, dan bila suami melihatnya akan menyenangkan hatinya.”

    Setelah membaca hadist itu, seperti biasanya guru kita itu langsung bicara dan membahas apa yg sudah dibacanya.

    “Lihat, nikmatnya punya istri yg sholeha” kata guruku sambil tersenyum dan kita semua masih duduk mendengarkan.

    “Harusnya yg berada di pengajian ini adalah para laki2, jadi sia2 enggak ya..kita membahas ini..?” kata beliau.

    “Enggaklah pak, itu masih ada pak zein yg ikut pengajian ini”kataku iseng nyeletuk.

    “Hehe, iya ya, hanya pak zein sendiri ya?” sadar guruku sambil tersenyum ke arah satu2nya pria yg ada di majelis itu. yg akhirnya beliau bicara lagi.

    “Istrimu itu adalah ladang bagimu, maka datangilah dari arah manapun engkau mau.” lanjut beliau sambil tersenyum2 ke arah pak zein sambil menganggukkan kepalanya.

    “Pak, kalau kita jima sama istri, itu sedekah ya pak..?” tanya pak zein pada beliau.

    “Oh iya..bila kita berhubungan pada istri maka itu adalah ibadah dan menjadi sedekah” terang guruku.

    “Hehehe, bapak jangan bilang gitu dong pak? Kesenengan pak zein tuh. Nanti sedekahnya gituan doang dong” celetukku seperti biasanya dan membuat majelis sedikit ramai karena tawa.

    “Coba bayangkan, bila kita mempunyai istri yg sholeha. Bersedia bangun malam untuk sholat tahajud sama-sama, apalagi bila istri yg membangunkan suami untuk bangun malam, nikmat ya, punya istri seperti itu?” senyum guruku dan masih berlanjut.

    “Dan istri yang sholeha pada saat ngebangunin suaminya dan ternyata suaminya marah, pada saat dibangunkan, sang istri itu biasanya sabar dan patuh pada suaminya walau dimarahin?”

    “Pak, ngebangunin suami, disiram air aja ya pak, kalau enggak mau bangun” Celetuk seorang teman wanitaku yg disambut tawa yg lainnya.

    “Boleh dengan memercikan air ke wajah suami/istri atau mengusap mukanya dengan air” jawab guruku sambil tersenyum.

    “Kalau marah gimana pak?” celetuh yg lainnya lagi.

    “Iya enggak apa-apa kan, sholat sendiri saja, dan kita masih dapat pahala ngebangunin sholat” kata guruku sambil tersenyum.

    “Pak, kalau habis ambil wudhu, bangunin suaminya di cium aja, batal enggak pak?” celetukku disertai tawa.

    “Hehehe, iya, di cium aja, gak batal wudhunya? toh Rasulullah pernah mencium Aisyah setelah berwudhu, dan itu lebih baik, karena enggak mungkin suami marah pada saat dibangunkan dengan ciuman, kecuali suaminya “sakit” jawab guruku sambil tertawa.

    “Yeee…kalau dicium mah..bisa-bisa enggak jadi sholat pak..? tar..malah sedekah gituan lagi dong..?”Celetuk salah seorang temanku lagi yg disambut tertawa oleh semua murid dan sang guru hanya tersenyum2 sambil mengangguk-anggukan kepalanya menyaksikan para murid yg selalu iseng bercanda dalam belajar.

    ***

    Oleh: Hana

    Sumber: Email dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:38 pm on 28 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Cinta Laki-laki Biasa 

    Karya Asma Nadia dari kumpulan cerpen Cinta

    MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

    “Kenapa?” tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

    Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

    Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

    Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

    “Kamu pasti bercanda!”

    Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

    Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

    “Nania serius!” tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

    “Tidak ada yang lucu,” suara Papa tegas, “Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!”

    Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

    “Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?” Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, “maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?”

    Nania terkesima.

    “Kenapa?”

    Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

    Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

    Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

    Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.

    “Nania Cuma mau Rafli,” sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

    Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

    “Tapi kenapa?”

    Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa.

    Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

    “Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!”

    Cukup!

    Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

    Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

    Mereka akhirnya menikah.

    ***

    Setahun pernikahan.

    Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

    Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

    “Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.”

    Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

    Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

    “Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!”

    “Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!”

    “Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!”

    Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

    Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

    Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!

    Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

    Rafli juga pintar!

    Tidak sepintarmu, Nania.

    Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.

    Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

    Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

    “Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.”

    Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

    Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.

    “Tak apa,” kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri.

    “Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.”

    Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.

    “Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?”

    Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

    Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

    Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.

    Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

    Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

    Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

    Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.

    Cantik ya? dan kaya!

    Tak imbang!

    Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

    Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

    ***

    Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

    “Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!”

    Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

    Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

    Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

    “Baru pembukaan satu.”

    “Belum ada perubahan, Bu.”

    “Sudah bertambah sedikit,” kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

    “Sekarang pembukaan satu lebih sedikit.”

    Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

    Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

    “Masih pembukaan dua, Pak!”

    Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

    “Bang?”

    Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

    “Dokter?”

    “Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.”

    Mungkin?

    Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?

    Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

    Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

    Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bias menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

    Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

    “Pendarahan hebat.”

    Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.

    Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!

    Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

    Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

    Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

    Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

    ***

    Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

    Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

    Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

    Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.

    Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

    “Nania, bangun, Cinta?”

    Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

    Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

    “Nania, bangun, Cinta?”

    Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

    Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

    Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

    Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

    Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

    Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

    Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

    Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

    Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

    Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

    Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

    Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

    “Baik banget suaminya!”

    “Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!”

    “Nania beruntung!”

    “Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.”

    “Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!”

    Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

    Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

    Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

    Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

    Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

    Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

    ***

    Diketik ulang oleh Juli Prasetio Utomo, 28 Juni 2005, dengan pembenahan beberapa ejaan dan tanda baca.

     
    • mobil88 7:48 pm on 28 Februari 2010 Permalink

      wah…wah…wah menurut http://mobil88.wordpress.com tulisan Anda dalam blog ini cukup menarik….sukses ya !!
      :)

    • Tiyo negoro 12:29 am on 1 Maret 2010 Permalink

      Sangat menginspirasi,
      Ingin ah seperti Rafli. .

    • m rudi kurniawan 1:47 am on 5 Juli 2010 Permalink

      saya yakin cerita ini memang benar terjadi di dunia yang luas ini. kisah yang di idam2kan semua orang. terima kasih atas tulisan nya. sangat menginspirasi.

      kalau boleh memberikan saran. agar blog nya dengan tema putih dan tulisan nya sedikit besar. agar lebih nyaman membaca dalam waktu yang lama. karena blog nya isi nya bagus semua.

  • erva kurniawan 7:21 pm on 27 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ketika Senandung Camar itu Tiada 

    Pagi hari tiup bayu semilir menghilir dedaunan butir-butir cahya mentari menyapa halus kayu-kayu pepohonan dan lembar demi lembar kelopak daun sisa musim semi yang mulai berguguran membias indah menyimpan berjuta senyuman

    Nun jauh di sana seorang anak kecil telanjang kakinya berlarian melintas garis-garis pantai menyiratkan Rahasia Alam Tuhan sambil membawa jala lebar penangkap ikan hanya satu yang ada dalam pikirannya: “Aku harus bisa mengumpulkan ikan sebanyak mungkin untuk membantu emak berjualan di pasar kota dan menyisihkannya untuk kusimpan sedikit di tabungan walaupun tak seberapa “…

    Terlintas di pikirannya segaris senyum yang tulus dan bahagia yang selalu menghias wajah kerut-merut seorang wanita 50an yang telah banyak dimakan panasnya api perjuangan hidup yang telah mengenal banyak duri dan onak tajam namun senantiasa penuh cinta dan keikhlasan

    Hari pun tertatih-tatih merambat siang mentari mulai menggeser di antara awan-awan camar-camar riang bernyanyi menghias lelangit terang

    ” Hei, agaknya hari sudah siang aku harus segera berkemas pulang mengganti baju lusuh ini dengan baju yang sedikit lebih rupawan untuk kupakai ke sekolahan”

    Dan anak kecil lusuh berwajah tampan itupun segera melangkah pulang mengayunkan langkah-langkah penat yang tak begitu ia rasakan demi dilihatnya bayangan emaknya yang tengah menantinya di depan dan terukir senyum bahagia di wajah tuanya karena melihat kehadirannya dengan ikan jaringannya yang berlimpah.

    ” Emak pasti senang… ah, aku ingin segera berjumpa emak emak yang sangat aku sayang ” sesekali dibetulkannya jaring penuh ikan yang menggelayut berat di bahu kirinya sambil tangan kanannya menyeka peluh yang mengalir di sekujur wajah dan lehernya

    Akhirnya, tibalah ia di jalan arah menuju rumahnya seolah terbayang sudah masakan yang sudah disiapkan emaknya penopang lapar yang sejak tadi menggoda perutnya.

    Namun… langkah penatnya tiba-tiba terhenti terheran melihat banyaknya orang di depan rumahnya “Tak seperti biasanya, ada apakah gerangan? Di manakah emak ?…” tanyanya dalam hati dan langkahnya pun diteruskannya

    Setibanya di dekat rumah sang bocah 10 tahun itupun berteriak lantang “Emaak… emaak… aku pulang!.. Jaringku penuh, Mak, ikanku banyak Emak, emaak, … aku sudah pulang, Maak…!!”

    Di dekat pintu masuk rumah kayu yang sudah hampir rubuh itu tangan bocah itu dipegang oleh seorang pria “Paman, Paman ada di sini? Emak di mana, Paman? Aku ingin menunjukkan hasil panen ikanku hari ini. Aku ingin melihat senyum indah emak, Paman… ”

    Akhirnya pria berwajah sedih itupun melepaskan pegangan tangannya dan sang bocah pun melanjutkan langkah penat kakinya di antara kerumunan orang-orang yang memenuhi sekelilingnya.

    Tiba-tiba… kedua mata bundarnya terbelalak lebar mulut mungilnya terbuka tanpa suara nafasnya seolah terhenti seketika kedua alis tebalnya terpaut menggaris dahi dan… sebuah lengkingan mengharukan pun memecah deburan ombak kehidupan Rahasia Tuhan

    ” Emaak…! Emaak…! Emak…, jangan tinggalkan Bayu, Mak… jangan tinggalkan Bayu…. Mak, kalau emak pergi, Bayu akan sendiri… Emaaak…!! ”

    Isak tangis pilu menyayat buluh perindu seorang hamba telah kembali ke Empunya sang camar perindu telah kembali ke Kampungnya sang pelipur lara bayu telah bertemu Kekasih Hatinya emak sang bunda tercinta telah pergi tinggalkan dunia menyisakan sebait senyum kasih dan keikhlasan akan seorang bunda…

    (untukmu, bocah di tepi pantai itu)

    ***

    Sumber: Email sahabat

     
  • erva kurniawan 8:16 pm on 18 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Pada Kemana Mereka? 

    alhikmah.com – Malam itu di sebuah masjid ada pengajian dalam rangka memperingati Isra Mi’raj nabi Muhammad SAW.Cukup ramai jamaah yang datang pada pengajian itu, seratusan orang lebih. Salah satu sebabnya adalah penceramahnya seorang ulama kondang yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat sekitar.

    Disamping cara penyampaiannya bagus, masuk akal, juga kadang diselingi ‘guyonan’ ringan yang membuat mata jadi tidak cepat mengantuk. Materi ceramah Isra Mi’raj yang intinya adalah diterimanya perintah sholat dari Allah SWT kepada Muhammad SAW diangkat amat menarik oleh sang ulama. Begitu pula ketika membahas masalah sholat wajib, sholat sunnah, khususnya tahajjud, apalagi ketika membahas tentang keutamaan sholat bila dilakukan secara berjamaah di masjid.

    Begitu piawai sang ulama, sangat simpatik dalam berdakwah, sehingga jamaah banyak yang terpukau dan menyimak (mendengar secara serius) tentang kehebatan peristiwa Isra Mi’raj tersebut, banyak jamaah yang manggut-manggut karena banyak yang menjadi sadar akan kealpaan atau kelalaiannya selama ini, dan terkadang jamaah bisa dibuat ‘geeerrrrr’ pada ketawa ngakak karena ‘guyonan’ sang ulama.

    Jamaah seperti tersihir oleh daya tarik sang ulama, tak ingin meninggalkan masjid meski hari sudah cukup larut. Hampir semua jamaah ingin menuntaskan dalam mengikuti ceramah tersebut sampai selesai.

    Sayang rasanya kalau ditinggalkan, ceramahnya bagus, banyak ilmu kita peroleh, ceramahnya tidak membuat ngantuk. Apalagi suasana ukhuwah seperti ini….wah, sulit bisa kita dapatkan dihari-hari yang lain’, begitu komentar salah seorang jamaah.

    Tak terasa telah lewat jam 24.00…… Namun sang ulama masih cukup fit dan bersemangat, jamaah pun masih tetap terpukau. Beberapa orang tua terpaksa tetap mendengar ceramah sembari menggendong anaknya yang tertidur, daripada harus pulang untuk menidurkan anak terlebih dulu.’Tangguh ah, toh besok kan hari libur, sekali-sekali pulang malam tak apa kan ?, kata seorang ibu.

    Rata-rata seperti itulah pendapat yang ada dalam benak para jamaah. Baik para bapak, para ibu maupun para remaja juga anak-anak.

    Mendekati pukul 01.00 ……. Akhirnya tuntaslah materi Isra’ Mi’raj yang disampaikan oleh ulama yang amat mempesona tersebut. Setelah ditutup dengan kalimat permohonan maaf bila dalam ceramah ada terselip kalimat atau kata yang salah, kemudian pembacaan sholawat dan do’a, maka sang ulama pun mohon pamit. Para jamaah pun satu per satu mulai meninggalkan tempat untuk pulang ke rumah masing-masing.

    Umumnya para jamaah pulang sambil berbincang-bincang tentang keterkaguman pada sang ulama, juga materi yang disampaikan benar-benar telah membuka wawasan mereka.

    Pukul 02.00 lewat…. Para panitia masih sibuk membereskan kursi-kursi, meja, tenda, sampah-sampah, lampu penerangan, sound system, dan lain sebagainya.

    Pukul 03.00 ….. Selesailah pekerjaan beres-beres yang dilakukan oleh panitia. Sebagian besar panitia terus pulang untuk istirahat, hanya satu-dua yang memilih istirahat di masjid sembari menjaga sound system dan peralatan lain yang memerlukan penjagaan.

    Ini adalah waktu yang terbaik untuk melakukan doa . Abu Hurairah mengatakan, bahwa Nabi Muhammad bersabda,” pada sepertiga malam, Tuhan turun ke langit dunia dan mengumumkan, bahwa barang siapa yang berdoa mendekatkan diri kepadaKu, maka Aku akan penuhi keinginannya, barang siapa yang memohon akan Aku kabulkan permohonannya, barang siapa yang mencari pengampunan, akan Aku ampuni dosanya. (Bukhari, Muslim).

    Para jamaah yang tadi begitu terpukau, manggut-manggut, merasa mendapat ilmu, merasa ingat dari kelalaian selama ini, ternyata sudah pada tertidur lelap. Tak mampu membuka mata yang tadi malam telah digunakan untuk ‘begadang’. Berat nian rasanya membuka mata, menarik selimut, apalagi untuk turun dan mengambil air wudlu untuk bertahajjud.

    Pukul 04.00 lebih……… Terdengarlah kumandang adzan dari masjid tersebut untuk memangggil para jamaah nya agar melaksanakan sholat shubuh. “Asholatu Khoirum Minan Nauum……….. Asholatu Khoirum Minan Nauum”. Namun ditunggu sampai selesai sholat sunnat fajar, selesai iqomah, ternyata jamaah yang terkumpul, yang merasa terpanggil untuk datang ke masjid tidak lebih dari 5 (lima) orang.

    Kemana jamaah yang tadi malam jumlahnya ratusan?

    Kemana jamaah yang tadi malam bilang betapa pentingnya ukhuwah?

    Kemana jamaah yang tadi malam telah sadar akan pentingnya sholat wajib?

    Kemana jamaah yang tadi malam terbuka hatinya untuk mulai melaksanakan sholat berjamaah di masjid?

    Kemana yang tadi malam tertawa ngakak?

    Sudah lupakah pada ayat yang semalam juga disitir oleh sang ulama ini? Dirikanlah shalat mulai dari matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula) shalat shubuh. Sesungguhnya shalat shubuh itu disaksikan ( oleh malaikat ). (QS. 17:78)

    Pada kemana mereka?

    Astaghfirullah al adziiim………..

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 10:12 am on 6 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , , ,   

    Dua Puluh Satu Kali 

    1910399-2-water-lilyeramuslim – “Dua puluh satu kali, Mbak?” mataku membulat. Takjub. Aku merentangkan kesepuluh jari tangan sambil melihat ke bawah ke arah telapak kaki yang terbungkus sepatu. 21! Bahkan seluruh jemari tangan dan kakiku pun tak cukup buat menghitungnya. “Itu selama berapa tahun, Mbak?” Aku bertanya lebih lanjut.

    “Hhmm, kurang lebih tujuh tahun terakhir!” sambutnya lagi, ringan saja. Tak tampak pada raut wajahnya yang sudah mulai dihiasi kerut halus kesan malu, tertekan taupun stress. Wajah itu damai. Wajah itu tenang. Tak menyembunyikan luka apalagi derita.

    “Mbak… ehmm, maaf, tidak patah arang… sekian kali gagal?” Takut takut aku kembali bertanya dengan nada irih. Khawatir menyinggung perasaannya. Dia hanya kembali tersenyum. Tapi kali ini lebih lebar. Sumringah. Dia mengibaskan tangan, sebagai jawaban bahwa dia tak trauma dengan masalah itu.

    “Kalau sedih, kecewa, terluka… pasti pernah lah ada saat-saat seperti itu. Trauma…. sebenarnya pernah juga. Nyaris putus asa juga pernah. Namun alhamdulillah tidak berlarut-larut.”

    Mata itu berbinar-binar, seakan turut bicara.

    “Justru, kini saya merasa lebih dewasa, lebih matang dengan semua kegagalan itu. Banyak sekali pelajaran yang bsia diambil dari tiap kegagalan itu. Saya menjadi lebih bisa mengerti berbagai karakter manusia. Saya dapat lebih menghayati realitas dan kuasa Allah atas hidup kita. Dan pasti jadi lebih banyak pengalaman… setidaknya pengalaman proses menuju nikah hingga 21 kali..hahaha,” dia tertawa lepas. Renyah. Manis sekali.

    Perempuan itu, kini sudah 30 tahun lewat usianya. Sebuah usia yang tak lagi remaja memang. Sebuah  sia yang sangat wajar dan pantas jika ia resah karena jodoh tak kunjung tiba. Namun ia tak nampak panik atau gelisah. Bisa jadi ia memang pandai menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Namun saya lebih percaya ketenangannya tumbuh karena kematangan dan keimanan.

    Gadis ini dapat dikatakan sederhana. Dengan penampilan sederhana pula. Aktifitasnya pun bersahaja walaupun dulunya dia termasuk aktifis tingkat tinggi. Sehari-hari ia bekerja sebagai staf pengajar di sebuah lembaga pendidikan. Aktifitasnya yang lain adalah mengajar TPA, mengikuti pengajian rutin maupun berbagai pengajian umum yang banyak diselenggarakan oleh berbagai lembaga di berbagai lokasi di Jakarta.

    Selebihnya ia lebih banyak di rumah. Membaca buku dan membantu mengurus pekerjaan rumah tangga karena Ibunya tidak memiliki pembantu. “Proses pertama saya jalani ketika saya baru menyelesaikan kuliah saya. 22 tahun usia saya ketika itu. Waktu itu tentu saja saya tidak sebersahaja sekarang.” Dia mulai bercerita. Saya menunggu.

    “Saya masih ingat sekali. Waktu itu saya mengajukan berbagai kriteria. Saya ingin calon suami yang sarjana, pekerjaan mapan, aktifis dakwah atau minimal memiliki pemahaman agama yang bagus, dari keluarga baik-baik, dan sama-sama orang jawa seperti saya. Sebuah kriteria yang saya rasakan konyol sekarang, namun dulu saya pikir itu wajar. Muslimah mana yang tidak memiliki idealisme seperti itu?”

    Ia melanjutkan ceritanya…

    “Ada beberapa orang yang ditawarkan oleh guru ngaji maupun oleh orang tua. Ada juga yang datang sendiri. Tetapi semua saya tolak. Saya pikir waktu itu saya masih muda. Saya bisa mengisi masa muda saya dengan berbagai aktifitas positif sambil terus menunggu seseorang yang mendekati kriteria yang saya inginkan. Maka saya pun mulai memperbanyak aktifitas. Mengambil banyak kursus, mengikuti bebagai pelatihan dan aktif di beberapa komunitas sosial kemasyarakatan.”

    “Usia saya menjelang 25 tahun ketika saya menemukan seseorang dengan kriteria seperti yang saya inginkan. Awalnya proses kami lancar-lancar saja. Orang tuanya bahkan sudah datang mengkhitbah ke rumah. Bahkan kita sudah akan menentukan tanggal pernikahan. Tapi oleh alasan yang sepele, tiba-tiba orang tuanya membatalkan khitbah. Sungguh saya shock waktu itu. Saya tak habis mengerti, apa yang salah dengan saya, dengan dia dan dengan proses kami?”

    “Cukup lama saya tenggelam dalam kesedihan. Beberapa waktu kemudian sebenarnya banyak lagi yang mengajukan tawaran. Tapi saya selalu membandingkan dengan mantan calon suami saya. Saya menggunakan parameter dia untuk menilai setiap orang yang datang pada saya. Meskipun saya tidak pernah menolak lagi orang-orang yang datang kemudian itu, tapi entah mengapa proses selalu berakhir dengan kegagalan. Saya tak lagi menghitung, itu sudah yang keberapa kali. Akhirnya saya kembali menenggelamkan diri dalam aktifitas sosial dan organisasi. Saya aktif di partai. Dan saya sempat tak lagi memedulikan masalah menikah.”

    “Usia saya sudah lewat dua puluh tujuh. Justru orang-orang lain yang mulai ribut. Orang tua terutama. Kemudian kaum kerabat. Juga teman-teman saya. Merekalah yang kemudian menawarkan dan mencomblangi. Saat itu saya mulai belajar dari pengalaman. Saya tak lagi terlalu idealis. Saya menyerahkan saja kepada para perantara saya itu. Saat mereka meminta biodata, maka saya berikan biodata saya. Saya netral saja. Kalau diterima ya syukur, tidak diterima ya sudah. Dan ternyata nyaris semua tidak diterima. Alasannya macam-macam. Kebanyakan bahkan saya tak sampai ketemu mereka, sudah ditolak duluan. Saya sudah tak menghitung lagi berapa banyak biodata yang saya buat. Rata-rata tidak kembali.”

    “Usia saya sudah lewat dua puluh delapan tahun saat saya menyadari bahwa saya harus mulai proaktif. Saya tak lagi menyerahkan begitu saja pada nasib atau teman-teman. Saya harus mulai mencari sendiri juga. Tentu saja tetap dengan cara-cara yang ahsan.”

    “Pada usia ke-29 saya menemukan seseorang lagi. Dia sholeh. Sederhana. Jauh dari kriteria ideal saya, tapi saya merasa tenteram dengan menerimanya. Proses kami pun sederhana. Semuanya lancar. Tapi…Allah berkehendak lain. Calon saya meninggal dalam sebuah kecelakaan.”

    Sampai disini si Mbak menghentikan ceritanya sejenak. Mengambil napas panjang dan menyusut sudut mata. Aku turut terenyuh mendengarnya. Saat itu baru kulihat kabut selintas menghiasi wajahnya.

    “…Semua sudah berlalu sekarang. Sudah nyaris dua tahun lalu. Saya mencoba bangkit lagi. Setahun terakhir, lima proses saya jalani. Menambah 16 proses sebelumnya yang tak semuanya saya ingat lagi. Lima proses itu saya jalani dengan lebih pasrah. Lebih lapang dada. Saya menghargai mereka masing-masing. Saya tidak membanding-bandingkan. Saya tak lagi menggebu, tak lagi sangat idealis…. tapi juga tak membuat saya membabi buta, menerima siapa saja seperti membeli kucing dalam karung.”

    “Satu orang gagal sebelum biodata saya sampai kepadanya. Dia sudah lebih dulu menerima orang lain. Orang kedua, pemuda yang biasa-biasa saja, tak mau menerima syarat saya untuk belajar ngaji pada teman saya sesama laki-laki. Dia memaksa belajar pada saya dan mendesak agar saya jadi pacarnya dulu. Orang ketiga, menolak karena orang tuanya tidak mau menerima orang yang tidak sesuku dan dia ingin menuruti kehendak orang tuanya. Orang keempat, teman saya sendiri, mengatakan kalau dia belum siap meski tidak menolak. Orang kelima berubah pikiran di tengah proses. Tadinya dia tidak mempermasalahkan usia saya yang lebih tua, tetapi kemudian dia mengatakan kepada perantara saya ingin mencari yang usianya lebih muda.”

    “Pengalaman-pengalaman yang saya jalani selama ini telah memberi banyak sekali pelajaran dalam hidup saya. Satu, bahwa hidup tak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Dua, bahwa pengalaman adalah benar-benar guru yang sangat berharga. Tiga, bahwa setiap orang benar-benar memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dan mereka semua layak untuk mendapat penghargaan sebagai seorang manusia. Empat, jika saya tak dapat memperoleh apa yang saya cintai, maka lebih baik saya mencintai apa yang saya telah saya peroleh dan memiliki. Lima, dan banyak lagi. Intinya, jika memang bukan jodoh, bahkan hal-hal kecil pun dapat menjadi penghalang dan penyebab gagalnya perjodohan.”

    “Kini saya merasa lebih pasrah dan arif menyikapi hidup. Tak ada yang salah, tak ada yang ribet. Hanya waktu yang belum tiba pada masanya. Hanya puzzle yang belum menemukan pasangannya. Semua masih biasa saja.”

    Si Mbak mengakhiri ceritanya. Tersenyum tulus kepadaku. Aku menyambutnya. Dan kami tenggelam dalam dekap haru. Pelukan persaudaraan.

    ***

    Oleh: Azimah Rahayu.

     
    • annisa 10:21 am on 8 Februari 2010 Permalink

      pengalaman hidup yang bisa dijadikan contoh bagi akhwat2 dlm mencari jodoh/pasangan hidup, agar tidak terlalu idealis.
      semoga Allah segera memberikan jodoh yg terbaik atw kebahagiaan lain dari orang2 di sekitarnya u/ mbak diatas, amiin..

    • ummy 11:42 am on 19 Februari 2010 Permalink

      Asw waw subhanallah, critanya sangat bagus untuk dijadikan rujukan, jujur saya juga sedang menanti jodoh, ada seseorang yang saya simpatik karena agamanya bagus, namun semua sya serahkan sama Allah Sang Pemilik Hati dan Pemilik nafas kita serta Pemilik Alam semesta ini.

  • erva kurniawan 9:24 am on 5 February 2010 Permalink | Balas  

    Rawat Semalam, Habis Gaji Sebulan 

    diare1SUARA PEMBARUAN DAILY

    SANGAT gampang menghabiskan gaji sebulan. Repotnya, kalau tidak ada lagi penutup biaya hidup selanjutnya. Apalagi, kalau gaji sebulan itu untuk biaya perawatan di rumah sakit.

    Bila sehari saja biayanya sebulan gaji, bagaimana kalau waktu perawatannya lebih dari sehari? Pertanyaan itu memenuhi benak banyak orang saat ini. Contohnya pasangan asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhtar (35) dan Kadijah (25). Pasalnya, anak laki-laki mereka, Muhamad Kindavid (3), harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi, karena demam berdarah dengue (DBD).

    Muhtar, yang sejak setahun lalu mengontrak di Pondok Alfurqan, Rt 01/05, Jalan Hasibuan, Kota Bekasi, menceritakan, Kindavid, yang biasa dipanggil Evin itu, jatuh sakit Rabu (25/2) pagi. Evin pun dibawa ke klinik terdekat. Dicurigai menderita DBD, Evin pun disarankan dirawat di RSUD. “Semalaman dia di UGD (Unit Gawat Darurat). Belum terbayangkan biayanya habis berapa,” kata Muhtar, Kamis (26/2) lalu.

    Kadijah, di sebelahnya, segera menyahut, hitungan biaya sementara yang sempat ditanyakannya adalah sekitar Rp 300.000, total untuk bermacam biaya selama di ruang UGD. Kamis pagi, Evin dipindahkan ke ruang perawatan kelas lll Mawar.

    “Perinciannya tidak tahu, tapi katanya sudah harga ruang UGD, obat, dan dokter,” ujar Kadijah.

    Jumlah itu saja sudah membuat Muhtar dan Kadijah kelimpungan. Selama ini pun, mereka hanya bergantung pada penghasilan Muhtar yang tak seberapa, dari mengajar di SMU Bani Saleh, Bekasi. “Gaji tambah lain-lain, total sebulan saya dapat Rp 400.000. Setelah potong kontrakan Rp 150.000, sisanya tinggal Rp 250.000 buat keluarga,” kata Muhtar. Makanya, ia mengaku amat terharu, kala rekan sejawat yang bernasib sama seperti dia, mengumpulkan sumbangan. Jumlahnya hanya sekitar Rp 400.000.

    “Bukan jumlahnya, tapi teman-teman saya itu penghasilannya juga kecil, sama seperti saya. Mereka juga punya kebutuhan. Gaji kami kecil, karena memang sekolah baru, sedang merintis,” ia menambahkan.

    Kebingungan pasangan itu kian menjadi-jadi, ketika mendengar pengakuan dari pasien lain yang telah sepekan dirawat di ruang Mawar karena DBD.

    Pasien itu mengaku telah mengeluarkan biaya perawatan Rp 3 juta. “Dari mana saya dapat uang segitu?” Muhtar mendesah.

    Seorang pasien DBD, menurut keterangan seorang perawat di ruang Mawar, biasanya memerlukan waktu perawatan lima-tujuh hari. Untuk kamar kelas lll, biaya per harinya adalah Rp 25.000, termasuk satu kali kunjungan dokter. Untuk obat, pasien punya pilihan untuk menebusnya sendiri di apotek. Selama perawatan, kata Muhtar, Evin harus terus diinfus suatu cairan yang gunanya menggantikan cairan elektrolit yang keluar melalui keringat dan buang air. “Harganya Rp 35.000 sebotol. Kalau sehari butuh tiga botol, seminggu butuh banyak biaya,” katanya.

    Menunggui Evin di rumah sakit, Muhtar dan Kadijah merasa jadi pandai menghitung, karena selalu diperhadapkan pada masalah itu. Untuk perawatan tujuh hari, untuk kamar dan infus, Muhtar harus menyiapkan dana minimal Rp 910.000, plus selama UGD Rp 300.000. “Buat orang seperti kami, uang segitu bukan sedikit,” ujarnya.

    Kartu Gakin

    Muhtar dan Kadijah tak henti berharap ada suatu kebijakan seperti diterapkan Pemprov DKI Jakarta. Namun, sayangnya, meskipun Kota Bekasi DBD sudah dikategorikan sebagai kasus luar biasa (KLB), Pemkot Bekasi tetap tak merasa harus membuat kebijakan yang dapat meringankan penderitaan warganya. Tidak ada pengobatan gratis di Kota Bekasi, demikian menurut Kadinkes Pemkot Bekasi dr Bambang DS, Selasa pekan lalu.

    “Tapi Wali Kota sudah buat edaran, agar rumah sakit buka pelayanan DBD 24 jam, dan tidak tarik uang muka,” Bambang menambahkan. Di RSUD, untuk kelas lll, Muhtar mengaku ditarik uang muka hanya Rp 38.000. Itu RSUD yang notabene milik pemerintah.

    Ia menambahkan, edaran Wali Kota memang hanya bersifat imbauan tanpa keharusan, hingga tak akan ada sanksi bila tak diikuti oleh pihak rumah sakit. “Ya, kalau mereka mampu, bayar uang muka, kan tidak masalah,” ujarnya.

    “Tapi kan ada kartu Gakin (keluarga miskin). Kartu itu dimanfaatkan saja. Wali Kota juga sudah mengimbau agar pasien dengan kartu Gakin tidak ditolak,” kata Bambang.

    Sayangnya, Muhtar tidak memiliki kartu Gakin. “Saya tidak bisa mendapat Gakin, karena dianggap pendatang,” katanya. Selain baru setahun di Bekasi, ia dinilai masih pendatang musiman karena tinggal di kamar kontrakan. “Sebenarnya, sih, karena tidak punya uang saja.

    Mengurus Gakin paling Rp 50.000,” ujar salah seorang keluarga pasien, yang juga dirawat di ruang Mawar. Lepas dari permasalahan itu, Bambang menghimbau rumah sakit diimbau untuk tidak menolak pasien, kecuali bila memang kapasitas atau daya tampungnya sudah melebihi.

    Pekan lalu, staf bagian pendaftaran cukup kesulitan memberikan data pasti jumlah korban DBD yang dirawat. Sekitar 60 pasien DBD, namun sejauh pengamatan, ruang Mawar memang tampak padat.

    Ruang Mawar, berbentuk bangsal ukuran 8X15 meter, ruang Mawar dibagi menjadi dua dengan sekat tripleks, memanjang. Masing-masing diisi delapan ranjang. Begitu dinyatakan sebagai KLB, ruang itu ditambah kasur.

    RSUD memang tidak mungkin memaksakan daya tampung bila nantinya pasien terus bertambah. Apa daya, pasien baru dirujuk ke rumah sakit swasta, yang tentunya menetapkan biaya lebih besar dari RSUD. Tragisnya, bila pasien seperti Evin harus berobat di RS swasta.

    “Ini hanya semakin memperlihatkan bobroknya sistem kesehatan di Indonesia. Para pejabat dan elite hanya bisa bicara menarik simpati. Mulai dari menyatakan sebagai kasus nasional, sampai janji-janji membebaskan biaya perawatan. Buktinya, kenyataannya, hanya kosong saja,” kata Iskandar Sitorus, dari LBH Kesehatan, Kamis malam lalu.

    ***

    Sumber : Pembaruan/Berthus Mandey

     
  • erva kurniawan 8:34 pm on 21 January 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , ibadah, , ,   

    Mau Alasan Apa Lagi? 

    alquran1Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Tatkala seorang yang kaya raya ditanya, “Mengapa engkau tidak beribadah ?” Sang hartawan beralasan bahwa ia tidak punya waktu untuk beribadah karena seluruh waktunya dihabiskan untuk mengurusi kekayaannya. Mungkin ia lupa bahwa dirinya sebenarnya tidaklah lebih kaya dari Nabi Sulaiman AS yang justru semakin bertakwa dengan bertambahnya kekayaannya. Alasan apa lagi…….???

    Pertanyaan serupa ditujukan kepada seorang karyawan, “Mengapa engkau tidak beribadah?” Sang karyawan berargumen bahwa ia tidak punya waktu untuk beribadah karena sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin ia lupa bahwa dirinya tidaklah lebih sibuk dibandingkan dengan Nabi Muhammad SAW yang selain sebagai kepala negara dan panglima perang, beliau sebagai pendidik umat. Alasan apa lagi……..???

    Seorang yang tidak berpendidikan ditanya, “Mengapa engkau tidak beribadah?” Ia beralasan bahwa ia tidak mampu untuk beribadah karena ilmunya yang rendah.Tidakkah ia lupa bahwa Nabi Muhammad SAW juga tidak bisa membaca dan menulis? Alasan apa lagi ……..???

    Begitupun ketika seorang hamba sahaya ditanya, “Mengapa engkau tidak beribadah?” Sang hamba sahaya beralasan bahwa ia tidak punya waktu untuk beribadah karena sibuk melayani majikannya. Tidakkah ia lupa bahwa dirinya tidaklah lebih sibuk dan sengsara dibandingkan dengan Nabi Yusuf AS? Alasan apa lagi…….???

    Seorang yang sedang sakit ditanya dengan pertanyaan yang sama, “Mengapa engkau tidak beribadah?” Sang pasien beralasan bahwa ia tidak punya waktu dan tenaga untuk beribadah karena derita sakitnya. Cobalah ia ingat lagi, derita sakitnya itu belumlah seberapa dibandingkan dengan penderitaan yang dirasakan oleh Nabi Ayub AS. Alasan apa lagi….???

    Padahal Allah telah jelas berfirman dalam Al-Qur’an dalam surat Adz- Dzariyat ayat 56 : “Tidak semata-mata Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

    Sekarang mau alasan apa lagi?

    ***

    (Dicuplik dari : Sentuhan kalbu melalui kultum Ir. Permadi Alibasyah)

     
  • erva kurniawan 6:41 pm on 16 January 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Bu, Sayalah Yang Harus Lebih Takut… 

    2Mother_sonManusia laksana buih diluas wajah samudera.

    Yang mengambang di atas tipis permukaan air.

    Ketika angin bertiup, ia hilang.

    Seolah ia tidak pernah ada.

    Begitulah hidup kita, di hembus oleh kematian.

    (Kahlil gibran)

    ***

    eramuslim – Ibu. Saya memandang pantulan ukiran wajah cantiknya di cermin yang tergantung. Ada yang lain dengan penampilannya. Tadinya saya tidak ‘ngeh’. Namun ketika membantunya memakaikan kerudung berwarna merah jambu itu saya baru menyadarinya. Seuntai tasbih, dengan warna coklat polos yang telah memudar, mengalungi lehernya. Saya melepaskan tasbih itu dengan senyuman menggoda, dan Ibu segera menyimpannya baik-baik di bawah bantal. Saya bersiap menemaninya pergi, membayar rekening telepon. Ketika pulang, setelah berganti pakaian, tasbih ukuran besar itu kembali bertengger di sana, di leher Ibu. Ingin saya bertanya, namun ia berlalu bersegera mengambil wudhu.

    Sore kembali turun.

    “Nak, Ibu sungguh takut, bekal Ibu tak cukup jika Ibu mati…” ucapnya. Suaranya terdengar jauh. Kepala saya tegak, tak menyangka dengan topic obrolannya. Hening sesaat, suara tetes air dari kran di kamar mandi kian jelas terdengar. Saya masih menatapnya, menarik nafas dan mengeluarkannya paksa. Ingin membelokkan obrolan namun melihat kesungguhannya, melihat letih menelaga di matanya, saya tak tega. Selanjutnya Ibu menambahkan, kenapa ia menakuti sebuah hal yang sudah pasti kedatangannya. Ia merasa sudah tua, porsi rata-rata usia manusia sudah terlampauinya. Tidurnya tak lagi mudah. Makannya tak lagi berselera. Ia merasa tak sempurna lagi melakukan ibadah, karena kesehatannya sudah jauh menurun. Seringkali shalatnya duduk karena untuk berdiri lama Ibu merasa tak mampu. Dan terakhir Ia mengeluhkan dadanya yang tiba-tiba kram.

    Ia bukan takut dengan kematian, namun ia mengkhawatirkan seperti apakah malaikat Izrail menjemputnya, berair muka jernih dan mempesona ataukah sesosok seram yang tak pernah dibayangkannya. Ibu takut bekalnya tak cukup untuk menjadikan kampung akhiratnya menyenangkan. Ibu gemetar kala mengingat sungguh pedih azab Allah bagi sang pendurhaka. Ibu takut dengan persiapannya menghadapi kematian yang menurutnya masih alakadarnya. Ia merasa maut sudah diambang karena kesehatannya yang tak lagi paripurna. Ia merasa akan segera pindah ke ‘sana’ sedang bekalnya masih pas-pasan. Ibu sungguh merasa kematiannya telah dekat, amat dekat.

    Dan pada Saya, dengan lirih ia berharap sebuah penenang kegundahannya “Nak, ibu takut…”.

    Entahlah, saat itu yang Saya inginkan adalah menghilang dan terbang menghindarinya. Hingga kemudian Saya hanya mematung dan merasakan perih mememarkan hati. Biasanya saat duduk berdekatan seperti itu, tangan saya akan nakal menjelajah setiap centi wajah syahdu itu dengan celoteh “Idih kulit Ibu sudah keriput”, dan Ibu akan segera memindahkan tangan saya ke punggung tangannya seraya berkata riang “Nah yang ini lebih keriput bukan”.

    Biasanya saat seperti itu Saya akan tidur di pangkuannya dan mengganggunya dengan pura-pura tertidur. Entahlah saat itu saya lebih memilih menatapnya dan menjadi pendengar yang baik. Entah fikiran Saya buntu hingga tak sedikitpun memberi ucapan bermakna sekedar peredam gemuruh dadanya. Entah pula jika saat yang biasanya menjadi waktu bermesra dengannya menjadi saat-saat yang ingin saya akhiri secepatnya. Sungguh.

    Selanjutnya saya faham, mengapa tasbih itu selalu Ia bawa. Setiap hening yang dijumpainya, tasbih yang dikalungkannya akan segera direngkuhi butirnya satu persatu. “Astagfirullah…Astagfirullah…”dzikirnya terdengar perih. Mata itu terpejam, hingga saya yang begitu dekat dan memperhatikannya kadang tak disadarinya.

    Malam sudah dari tadi beranjak, dan kegundahan Ibu menjadi kegundahan Saya sekarang. Hati ini nyaring bersuara . Bu, saya juga takut dengan bekalan Saya. Saya belum melakukan banyak hal yang kan memberatkan timbangan kebaikan di akhirat kelak. Bekal saya tak ada apa-apanya di banding dengan yang sudah ibu lakukan. Perjuangan Ibu diantara kesyahidan saat melahirkan 9 orang anak dan mendidiknya dengan baik mustahil dianggap hal yang remeh. Ibu mampu melimpahi kami bertubi cinta sama rata. Ibu juga yang membimbing kami semua menapaki hidup penuh kesabaran, yang memberi petunjuk supaya kami tak terantuk. Yang saya tahu waktu sepertiga malam terakhir adalah waktu yang paling ibu suka untuk menengadah jemari merenda pinta kepada yang Maha Perkasa agar kami semua meraih bahagia, dan itu adalah sebuah amalan yang tak terkira. Ibu yang telah berusaha menjadi Istri yang selalu mengharap keridhaan suami dan surga menjadi sedemikian lapang jika suami ridha. Itu janji Nya. Ibu jarang mengeluh meski kesehatan yang sejak dulu jarang sempurna, hingga sering ke rumah sakit dan mengakrabi obat-obatan. Dan bukankah kesabaran dalam setiap sakit yang diderita adalah penggugur dosa.

    Ingin sekali menjumpaimu bu, dan mengatakan semua ini segera.

    Bu…bu… seharusnya sayalah yang harus lebih khawatir.

    ***

    Sahabat, terkadang kematian hanya lekat dengan pikiran orang-orang yang telah senja. Seringkali ingatan tentang kematian teramat jarang singgah dalam kesibukan bahkan dalam waktu luang kita sekalipun. Kita lihat mesjid-mesjid yang shafnya hanya berisi para renta. Seringkali mati hanya milik mereka, dia, si anu, si fulan, bukan kita. Hingga kita tak sempat mengingat bekal untuk sebuah fase yang pasti kita alami. Banyak sekali dari kita yang berhitung untuk berbekal. Berbekal untuk masa depan anak dengan banyak asuransi, untuk liburan beberapa hari bersama keluarga, untuk menikah, untuk masa pensiun yang terhitung beberapa tahun. Dan dengan hati lapang, kita mengabaikan sebenar-benar bekalan. Bekal untuk perjalanan jauh dan tak berhingga. Bekal untuk ‘titik awal kehidupan’ yang sudah absolute kita tapaki. Menantu Rasulullah, Ali ra, menyebutkan bahwa bekal yang paling baik manusia agar selamat di akhirat adalah taqwa. Bekal inilah yang tidak mudah kita ingat.

    Mendengar kekhawatiran Ibu saya tentang bekalannya, lantas saya teringat senandung kecemasan, yang dibawakan Jalaluddin Rahmat berikut ini :

    Rabbana, siapa gerangan yang nasibnya lebih buruk dari kami.

    Jika dalam keadaan seperti ini, kami dipindahkan ke dalam kubur.

    Kami belum menyiapkan pembaringan kami.

    Kami belum menghamparkan amal shaleh untuk tikar kami.

    Bagaimana kami tidak menangis.

    Sedangkan kami tidak tahu akhir perjalanan kami.

    Nafsu selalu menipu kami dan hari-hari melengahkan kami.

    Padahal maut telah mengepak-ngepakkan sayapnya diatas kepala kami.

    Akhirnya, Sahabat, tak ada salahnya dalam sujud-sujud kita, dalam untaian

    doa-doa kita, dalam tengadah jemari kita, sebuah permintaan ditambahkan.

    Sebuah pinta untuk seseorang yang telah mencinta kita dengan nafasnya..”

    Rabbii… berikan untuk Ibunda, sebuah husnul khatimah”.

    ***

    Sumber Eramuslim.com

     
    • nieck 1:54 pm on 29 Januari 2010 Permalink

      bagus sekali…. membuat saya terharu begitu byk hal y perlu kita pelajari didunia ini, bahkn utk bekal kematianpun……^^

  • erva kurniawan 8:31 pm on 15 January 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Malaikat Maut Di Samping Kita 

    pemakamanKapan kita meninggal? Lima puluh tahun lagi? Sewindu lagi? Bulan depan? Minggu depan? Atau… Malam ini?

    Kita memang tidak pernah tahu jawabannya. Walau kematian adalah sesuatu yang sebenarnya biasa, tapi rasanya tetap menusuk bila itu berkaitan dengan orang-orang terdekat kita. Tadi siang saya baru saja membaca di Koran kampus, seorang adik kelas saya meninggal. Panggilannya Zsa Zsa. Ia tiga angkatan lebih muda dari saya. Jadi usianya kira-kira 18 tahun. Usia yang buat banyak orang, sedang manis-manisnya. Mungkin ia pun tidak pernah menyangka akan dipanggil secepat itu.

    Saya terhenyak. Sungguh. Beberapa tahun yang lalu, saya sempat menjadi mentornya dalam sebuah acara penerimaan mahasiswa baru. Saya hanya ingat samar-samar. Ia masih penuh semangat, lugu, polos. Baru lulus dari SMU. Ia juga senang menulis seperti saya. Bedanya, ia pintar menggambar. Kalau tidak salah ia ingin menjadi desainer interior atau apalah. Saya lupa persisnya. Dalam malam renungan ketika itu, ia menangis bersama teman-temannya. Menangis mengingat dosa, teman-teman, orang tua… Dan ia jauh lebih muda dari saya.

    Allah telah mengingatkan saya kembali. Kematian memang sering terjadi di sekitar kita. Tapi tidak banyak yang sudi membicarakannya dengan terang-terangan. Mungkin itulah salah satu sebab mengapa kita (atau setidaknya saya) tidak begitu sering mengingat mati. Padahal dalam al Quran sendiri tidak kurang dari 300 ayat yang membahas tentang kematian dan kehidupan sesudahnya.

    Banyak faktor yang membuat orang takut pada kematian. Enggan karena tidak tahu persis apa yang akan dihadapi setelah mati. Mungkin juga khawatir akan keluarga yang ditinggalkan. Atau sekadar belum rela saja meninggalkan hidup yang sedang enak-enaknya.

    Tapi kita pasti mati! Hidup di dunia pasti berakhir… Akan tiba saat di mana malaikat maut menjemput kita. Bisa perlahan, tak jarang pula super mendadak dan tidak terduga. Meminta nyawa yang kita kira tak akan pernah lepas. Lalu tanah ditaburkan segenggam-segenggam ke atas tubuh kita. Berat. Gelap. Tidak ada yang mendengar teriakan kita karena memang suara yang keluar tidak lagi dapat ditangkap telinga sebarang manusia.

    Baru pada saat itulah kita merasakan penyesalan yang sesungguhnya… Kalau sekarang, jarang rasanya kita merasa rugi ketika waktu kita tersita oleh kegiatan tidak berguna barang sejam dua jam. Tapi ketika nyawa mulai meregang, barulah kita merasa. Berharap seandainya semua sakit itu bisa ditunda barang sekian milidetik saja… Agar kita bisa bersujud amat sungguh-sungguh, untuk pertama kali (dan mungkin terakhir) dalam hidup kita. Memohon ampun pada Allah untuk terakhir kali… Mengatakan semua cinta yang tidak sempat kita katakan, pada orang tua, kakak atau bahkan pada adik yang sering kita goda… Seandainya, seandainya, seandainya…

    Saudariku… Beruntung bila ada orang yang menangisi kepergian kita. Merasa kita telah mengisi hidup mereka dengan cara yang istimewa. Lalu orang-orang itu akan merasa kehilangan. Syukur-syukur mendoakan dengan tulus.

    Tapi… Percayalah, pada suatu saat mereka akan berhenti bersedih. Berhenti berduka. Memori akan diri kita mulai tergerus dari ingatan mereka. Langit juga tetap biru. Matahari sama hangatnya tak peduli yang meninggal putri raja sekalipun. Dan tinggallah kita sendiri. Sempit, gelap, berat. Hanya ditemani amal-amal kita. Mungkin selama ini kita sudah merasa punya cadangan amal. Tapi benarkan itu? Jangan-jangan yang ada hanya busuk karena amalan yang digerogoti ketidakikhlasan, kemunafikan, kesombongan… Hanya Allah yang tahu…

    Bila kita menonton TV 4 jam sehari, misalnya. Berarti itu sama dengan sekitar 120 jam sebulan, atau 1440 jam setahun. Totalnya bisa mencapai 10 tahun bila kita diberi Allah usia 60 tahun. Pemborosan yang luar biasa. Mungkin sebagian kita tidak menonton TV selama itu. Tapi jangan lupa, dengan obrolan kita yang ngalor-ngidul, waktu yang habis untuk melamun, jalan-jalan tanpa arah… Jangan lupa juga bahwa tidur, makan, minum, dll itu pun menghabiskan waktu.

    Pun terlalu banyak waktu yang habis untuk mendendam. Meributkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu. Bergulat dengan emosi negatif dan lamunan kosong yang membuat kita tidak produktif, tersinggung, sakit hati. Padahal kalau diperhatikan, produktifitas seseorang bisa berkurang drastis ketika ia dikuasai emosi negatif.

    Lantas kapan kita ingat pada Allah? Kalau mau jujur, bahkan ketika sujud pun seringkali kita tidak sungguh-sungguh. Kalau tidak, mana mungkin begitu seringnya kita lupa pada rakaat sholat? Astaghfirullah… Ini benar-benar peringatan untuk diri saya, terutama.

    Adik kelas saya Zsa Zsa sudah pergi. Ia tidak bisa lagi bersegera menyambut adzan. Juga tidak bisa lagi menguntai doa di penghujung malam. Ia tidak bisa lagi bersua dengan orang tua yang sangat mengasihinya. Tapi kita masih di sini. Masih punya waktu, yang entah sampai kapan, untuk bertaubat. Benar-benar kembali pada Allah. Memang seringkali terasa berat untuk istiqomah. Tapi ayo kita coba… Kita harus gigih berjuang… Harus… Mudah-mudahan keteguhan kita untuk senantiasa berusaha kembali ke jalan-Nya juga dicatat sebagai amalan tersendiri.

    Saudariku, titip doa ya buat Zsa Zsa. Mudah-mudahan jalannya dilapangkan Allah di sana. Semoga persaudaraan kita semua tidak hanya di dunia ini, tapi juga sampai di alam akhirat nanti… Amin.

    ***

    Oleh: Ariyanti Pratiwi

     
    • yasmin 11:20 am on 17 Januari 2010 Permalink

      kematian itu pasti akan datang pada setiap hamba Allah S.W.T, mungkin ramai yang akan melupakan mereka yang telah pergi pada suatu saat mereka berada dalam keseronokkan, namun mereka tetap merayu dan menangis pada kepada kita untuk meminta doa dan bersedekah kepada mereka untuk mendapatkan keredaan daripada Maha Pencipta. Tadahlah tangan anda dan sentiasa berdoa kepada orang yang telah kembali kepada-Nya, sesungguhnya Allah S.W.T sangat menyayangi hambanya yang tidak lupa pada saudara mereka. Amin…

  • erva kurniawan 5:21 am on 26 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Penjemputan 

    water-lilies-2Pernahkah Anda melihat seseorang menjelang sakratul maut? Berapakali Anda melihat mereka yang terbelalak ketakutan, yang kesakitan atau yang hanya seperti hendak tidur?

    Aku punya seorang teman dekat di SMU I Binjai bernama Wati. Ia dara berjilbab yang sangat cantik, supel, berbudi, senang menolong orang lain dan selalu menjadi juara kelas. Maka seperti mendengat petir di siang hari, saat kudengar ia yang sudah sekian lama tak masuk sekolah ternyata mengidap kanker rahim. Bahkan sudah menyebar hingga stadium empat!!

    Sekolah kami berduka. Para aktivis rohis amat sedih. Wati adalah motor segala kegiatan dakwah. Ide-idenya segar. Ia selalu punya terobosan baru. Ia bisa mendekati dan disukai siapapun. Sungguh, kami tak memiliki Wati yang lain.

    Maka betapa pedih menatapnya hari itu. Ia tergolek lemah di ranjang. Badannya menjadi amat kurus. Wajahnya pasi. Setelah sakit berbulan-bulan, hari ini ia tak mampu lagi mengenali kami!

    “Wati sudah sebulan ini tak bisa bangun-,” kata ibunya sambil mengusap airmatanya.

    Namun kami berbelalak, saat baru saja ibunya selesai bicara, perlahan Wati berusaha untuk bangun. Kami semua tercengang saat ia berdiri dan berjalan melintasi kami seraya berkata dengan suara nyaris tak terdengar, “Aku mau berwudhu dan shalat Dhuha.”

    Serentak kami semua berebutan membimbingnya ke kamar mandi. Setelah itu ibunya memakaikannya mukena dan sarung. Sementara ayahnya kembali membaringkannya di tempat tidur karena ia terlalu lemah untuk shalat sambil berdiri.

    Hening. Tak seorang pun yang bersuara saat ia melakukan sholat Dhuha. Selesai sholat, saat ibunya akan membukakan mukena, ia melarang dengan halus. Lalu lama sekali dipandanginya wajah ibu, ayah dan adik-adiknya satu persatu bergantian. Dari mulutnya terus menerus terdengar asma Allah. kami yang menyaksikan tak kuat lagi menahan tangis.

    Tiba-tiba Wati tersenyum. Ia memandang kami, teman-temannya, dengan penuh sayang. Lalu kembali memandang wajah ayah, ibu dan adik-adiknya bergantian. Kini kulihat butiran bening menetes dari sudut matanya. Lalu susah payah ia mengangkat kedua tangannya dan mendekapkannya di dada. Dengan tersenyum ia menutup kedua matanya sambil mengucapkan dua kalimat syahadat dengan sangat lancar.

    Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’uun. Ia telah pergi untuk selamanya. Bagai melayang aku menyaksikan semua. Dadaku berdebar, lututku gemetar. Subhanallah, ia telah kembali dengan sangat sempurna dalam usia yang baru 18 tahun.

    Tiba-tiba, antara ilusi dan kenyataan, aku mencium wewangian. Tubuhku bergidik. Aku menangis terisak-isak.

    Allah, siapkah aku bila Engkau ingin bertemu??

    ***

    (Seperti dituturkan sahabat Wati kepada Elvy Tiana Rosa-disadur dari buku Lentera Kehidupuan:Cerita Luar Biasa dari Orang-orang Biasa)

     
  • erva kurniawan 10:31 pm on 24 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Doa 

    siluet_masjid 3 (1)Seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah supermarket. Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon agar diperbolehkan mengutang. Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja. Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan makan. Pemilik supermarket, mengusir dia keluar. Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang keluarganya.

    “Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya uang.”

    Si Pemilik Toko tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut. “Anda tidak mempunyai kartu kredit, anda tidak mempunyai garansi,” alasannya.

    Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari awal mendengarkan percakapan tadi. Dia mendekati keduanya dan berkata: “Saya akan bayar semua yang diperlukan Ibu ini.”

    Karena malu, si pemilik toko akhirnya mengatakan, “Tidak perlu, Pak.

    Saya sendiri akan memberikannya dengan gratis. Baiklah, apakah ibu membawa daftar belanja?”

    “Ya, Pak. Ini,” katanya sambil menunjukkan sesobek kertas kumal.

    “Letakkanlah daftar belanja anda di dalam timbangan, dan saya akan memberikan gratis belanjaan anda sesuai dengan berat timbangan tersebut.”

    Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Si Ibu menundukkan kepala sebentar, menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut, lalu dengan kepala tetap tertunduk,meletakkannya ke dalam timbangan.

    Mata Si pemilik took terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat ke bawah. Ia menatap pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil berucap kecil, “Aku tidak percaya pada yang aku lihat.”

    Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum.Lalu, si ibu kumal tadi mengambil barang-barang yang diperlukan, dan disaksikan oleh pelanggan baik hati tadi, si Pemilik toko menaruh belanjaan tersebut pada sisi timbangan yang lain.

    Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehinggasi ibu terus mengambil barang-barang keperluannya dan sipemilik toko terus menumpuknya pada timbangan, hingga tidak muat lagi.

    Si Pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa.Karena tidak tahan, Si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas daftar belanja si Ibu kumal tadi. Dan ia-pun terbelalak. Di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek:

    “Ya Allah Ya Tuhanku Rabbi, Hanya Engkau yang tahu apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan segalanya ke dalam tanganMu.”

    Si Pemilik Toko terdiam.

    Si Ibu berterimakasih kepadanya, dan meninggalkan toko dengan belanjaan gratisnya. Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang kepadanya.

    Si Pemilik Toko kemudian mencek dan menemukan bahwa timbangan yang dipakai tersebut ternyata rusak.

    Ternyata memang hanya ALLAH yang tahu bobot sebuah doa.

    ***

    Kekuatan sebuah doa

    Segera setelah anda membaca cerita ini, ucapkanlah sebuah doa. Hanya itu saja. Stop pekerjaan anda sekarang juga dan ucapkan sebuah doa. Lalu, kirimkan cerita ini kepada setiap orang atau sahabat yang Anda kenal. Biarlah Tali silatuhrahmi ini tidak terputus, karena “Doa adalah hadiah terbesar dan terindah yang kita terima. Tanpa biaya, tetapi penuh daya guna.”

     
  • erva kurniawan 9:51 pm on 22 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Pegawai Hotel Yang Sabar 

    hotelBeberapa bulan yang lalu di meja pemesanan kamar hotel Memphis, saya melihat suatu kejadian yang bagus sekali, bagaimana seseorang menghadapi orang yang penuh emosi.

    Saat itu pukul 17:00 lebih sedikit, dan hotel sibuk mendaftar tamu-tamu baru. Orang di depan saya memberikan namanya kepada pegawai di belakang meja dengan nada memerintah. Pegawai tersebut berkata, “Ya, Tuan, kami sediakan satu kamar ‘single’ untuk Anda.”

    “Single,” bentak orang itu, “Saya memesan double.”

    Pegawai tersebut berkata dengan sopan, “Coba saya periksa sebentar.” Ia menarik permintaan pesanan tamu dari arsip dan berkata, “Maaf, Tuan. Telegram Anda menyebutkan single. Saya akan senang sekali menempatkan Anda di kamar double, kalau memang ada. Tetapi semua kamar double sudah penuh.”

    Tamu yang berang itu berkata, “Saya tidak peduli apa bunyi kertas itu, saya mau kamar double.”

    Kemudian ia mulai bersikap “anda-tau-siapa-saya,” diikuti dengan “Saya akan usahakan agar Anda dipecat. Anda lihat nanti. Saya akan buat Anda dipecat.”

    Di bawah serangan gencar, pegawai muda tersebut menyela, “Tuan, kami menyesal sekali, tetapi kami bertindak berdasarkan instruksi Anda.”

    Akhirnya, sang tamu yang benar-benar marah itu berkata, “Saya tidak akan mau tinggal di kamar yang terbagus di hotel ini sekarang, manajemennya benar-benar buruk,” dan ia pun keluar.

    Saya menghampiri meja penerimaan sambil berpikir si pegawai pasti marah setelah baru saja dimarahi habis-habisan. Sebaliknya, ia menyambut semua dengan salam yang ramah sekali “Selamat malam, Tuan.”

    Ketika ia mengerjakan rutin yang biasa dalam mengatur kamar untuk saya, saya berkata kepadanya, “Saya mengagumi cara Anda mengendalikan diri tadi. Anda benar2 sabar.”

    “Ya, Tuan,” katanya, “Saya tidak dapat marah kepada orang seperti itu. Anda lihat, ia sebenarnya bukan marah kepada saya. Saya cuma korban pelampiasan kemarahannya. Orang yang malang tadi mungkin baru saja ribut dengan istrinya, atau bisnisnya mungkin sedang lesu, atau barangkali ia merasa rendah diri, dan ini adalah peluang emasnya untuk melampiaskan kekesalannya.”

    Pegawai tadi menambahkan, “Pada dasarnya ia mungkin orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu.” Sambil melangkah menuju lift, saya mengulang-ulang perkataannya, “Pada dasarnya ia mungkin orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu.”

    Ingat dua kalimat itu kalau ada orang yang menyatakan perang pada Anda. Jangan membalas. Cara untuk menang dalam situasi seperti ini adalah membiarkan orang tersebut melepaskan amarahnya, dan kemudian lupakan saja .

    ***

    (by David J.S.)

     
    • wahyu 3:09 pm on 7 Januari 2010 Permalink

      saya sangat salut. bravo! bravo!

    • rama 6:10 am on 11 Januari 2010 Permalink

      hhmmmm… menenangkan hati pembaca,,, greatttt,,,,

    • annisa 3:49 pm on 25 Januari 2010 Permalink

      pemikiran spt ini hanya dimiliki oleh orang yg suuaabar…
      semoga kita bisa ,

  • erva kurniawan 9:28 pm on 20 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kuasa Cinta 

    mawarAdalah kisah tentang Yusuf dan Zulaikha…

    Yusuf telah menjadi Wazir dari Fir’aun, teman dekatnya dan merupakan orang terkuat kedua di negara tersebut. Sementara Zulaikha telah dicampakkan oleh suaminya karena skandal cintanya dan kini menjalani hidup sengsara sebagai pengemis dan buruh kasar.

    Suatu hari, Yusuf bertemu dengan Zulaikha di jalan. Ia mengenakan jubah sutra, mengendarai kuda yang indah, dikelilingi para penasihat dan pengawal pribadinya. Sedangkan Zulaikha sendiri berpakaian lusuh, kecantikannya pudar seiring dengan cobaan hidup yang telah dideritanya bertahun-tahun. Yusuf berkata, “Wahai Zulaikha, sebelum ini, ketika engkau ingin menikahiku, aku terpaksa menolakmu. Ketika itu engkau adalah istri dari tuanku. Kini engkau telah bebas dan aku pun bukan lagi seorang budak. Jika engkau mau, aku akan menikahimu sekarang.”

    Zulaikha menatapnya dengan mata berbinar. Ia berkata,” Tidak Yusuf. Cintaku yang mendalam kepadamu dahulu itu tidaklah lain dari sebuah hijab antara aku dan Sang Kekasih. Aku telah merobek tirai itu dan menyampakkannya. Kini setelah kutemukan Kekasihku yang sejati, tidak lagi aku membutuhkan cintamu.”

    Bahwa orang yang sedang dimabuk Cinta (bukan cinta) mereka akan melihat bahwa semuanya adalah Kebenaran (Al-Haqq) dan bahwa segala sesuatu mengarah kepada Kebenaran,” itu adalah bagi mereka yang telah menjadi lokus sempurna Cinta Ilahi, di mana” hijab itu (telah) terangkat dan barulah sang Kekasih sejati, tujuan sejati akan nampak dalam suatu Keagungan Ilahiah.”

    ***

    Sumber:  email dari sahabat (Zaenal)

     
  • erva kurniawan 9:17 pm on 19 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Bapak Tua Itu 

    kakek penjualJalanan Jakarta seperti biasa, panas dan berdebu, walau pagi ini belum juga beranjak menjadi siang. Aku nyalakan tape dan AC di mobilku, sambil bernyanyi-nyanyi kecil untuk menghilangkan kejenuhan, karena jalan menuju kantor seperti pagi-pagi lainnya, penuh dan macet. Ternyata nyanyian itu tidak membuat hatiku menjadi tenang. Batinku merasa lelah, hatiku mengeluh. Jenuhnya aku dengan suasana rutinitasku sehari-hari, belum lagi urusan kantor yang tidak ada habis-habisnya. Sampai-sampai aku sendiri tidak menikmati lagi apa yang dulu menjadi kenikmatan tersendiri, bekerja di kantorku.

    Di tengah kemacetan, tiba-tiba kaca mobilku diketuk oleh seorang tua dengan matanya yang sayu. Dia tersenyum padaku dan menawarkan makanan kecil yang dijualnya. “Neng, lima ratus per bungkus Neng.” ujarnya. Tanpa pikir panjang apakah aku suka dengan makanan yang dijualnya aku menjawab “Ya sudah Pak, beli 10 ya.”. Matanya berbinar-binar senang. “Alhamdulillah Neng, penglaris”. Subhanallah betapa senangnya aku melihat bapak tua itu tersenyum bahagia sekaligus mensyukuri rizkinya. Betapa indahnya berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Rasanya pagi itu yang serba membosankan berubah menjadi pagi yang indah untukku.

    Astaghfirullaahal’azhim.. Rabb baik sekali memberikan kesempatan kepadaku untuk langsung berkaca pada diriku sendiri. Aku yang lebih beruntung dari Bapak tua itu, yang dapat duduk enak di kantor yang dingin, masih mengeluh atas kejenuhanku. Kalau saja mataku lebih terbuka, banyak orang-orang yang lebih tidak beruntung, tetapi mereka mencari nafkah dengan gembira, mensyukuri rizki yang diberikan Allah kepada mereka, sedikit apapun. Bapak tua itu, contohnya. Mungkin keuntungan dari penjualan makanan kecil yang diasongnya hanya mampu untuk menghidupinya hari itu, untuk esok, beliau harus bergulat dengan kerasnya Jakarta, begitu tiap harinya.

    Ya Allah, semoga Bapak tua dan orang-orang lain yang kurang beruntung diberi keikhlasan dalam menjalani hidup mereka, berikan mereka nikmat syukur dan nikmat rizki-Mu, berikan mereka ketabahan, tunjukkan mereka selalu jalan menuju istiqamah,

    Ya Allah, tolong kabulkan, hanya do’a yang dapat aku berikan untuk menolong mereka.

    ***

    Sumber: email sahabat

     
    • Rham Lee 2:38 pm on 25 Desember 2009 Permalink

      begitulah kehidupan dunia ini yang terkadang kita masih lupa atau khilaf pd diri kita sendiri.sebenarnya manusia itu posisinya sama dihadapan Allah swt.namun rezekilah yang membedakan dan terkadang lupa untuk mensyukurimya.

    • Niecka 2:17 pm on 3 Februari 2010 Permalink

      jujur ketika saya baca ini perasaan saya sedang kalut, tp sesudah itu rasa bersyukur kembali menyeruak sehingga saya menyadari bahwa hidup memang musti bersyukur atas apapun itu….^____^amin.

  • erva kurniawan 9:02 pm on 18 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Si Tukang Kayu 

    tukang kayuSeorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah.Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

    Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya.Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.

    Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu.Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.

    Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

    Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu,”katanya, “hadiah dari kami.” Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

    Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda. Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan.

    Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan,bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.

    “Hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri”.

    ***

    Sumber: email sahabat

     
    • faaa 2:30 pm on 31 Desember 2009 Permalink

      Great!
      like this! XD

    • tara 10:43 am on 13 Oktober 2010 Permalink

      keren…..

  • erva kurniawan 8:49 pm on 17 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Jagung 

    jagungSeorang wartawan mewawancarai seorang petani untuk mengetahui rahasia di balik buah jagungnya yang selama bertahun-tahun selalu berhasil memenangkan kontes perlombaan hasil pertanian. Petani itu mengaku ia sama sekali tidak mempunyai rahasia khusus karena ia selalu membagi-bagikan bibit jagung terbaiknya pada tetangga-tetangga di sekitar perkebunannya.

    “Mengapa anda membagi-bagikan bibit jagung terbaik itu pada tetangga-tetangga anda? Bukankah mereka mengikuti kontes ini juga setiap tahunnya?” tanya sang wartawan.

    “Tak tahukah anda?,” jawab petani itu. “Bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak dan menebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain. Bila tanaman jagung tetangga saya buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang saya juga buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagung saya. Bila saya ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, saya harus menolong tetangga saya mendapatkan jagung yang baik pula.”

    Begitu pula dengan hidup kita. Mereka yang ingin meraih keberhasilan harus menolong tetangganya menjadi berhasil pula. Mereka yang menginginkan hidup dengan baik harus menolong tetangganya hidup dengan baik pula. Nilai dari hidup kita diukur dari kehidupan-kehidupan yang disentuhnya.

    ***

    Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

     
    • annisa 3:32 pm on 29 Januari 2010 Permalink

      salut… kita harus meningkatkan kualitas hidup sekitar kita..,
      agar hidup kita menjadi ber KUALITAS juga..

  • erva kurniawan 3:35 pm on 14 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Terima Kasih Tuhan, Telah Mengingatkanku 

    chase plazaSore, pulang kantor, seperti biasa aku menunggu bis didepan Chase Plaza, untuk membawaku pulang, bertemu dengan kedua anak-anakku yang masih berusia 2 tahun dan 9 bulan. Mikhail dan Fara namanya. Cuaca menggerahkan tubuhku.

    Penat seharian kerja, dengan segala masalah yang ada selama bekerja. Sudah seminggu ini aku selalu lupa menanyakan keadaan kedua anakku.

    Entah menanyakan sudah makan siang atau belum, bagaimana keseharian mereka, atau hanya sekedar memainkan telfon untuk mendengarkan suara sang buah hatiku, si sulung Mikhail yang sudah banyak bicara. Bahkan aku juga lupa bahwa saat ini kedua buah hati tercinta sedang sakit flu. Aku terlalu sibuk sehingga sempat melupakan mereka.

    Tapi ah, aku pikir aku meninggalkan buah hati bersama orangtuaku dan pengasuhnya. Jadi, untuk apa aku pusingkan akan hal itu? Jahatkah aku?

    Aku rasa betul, aku jahat. Tapi aku lebih mementingkan pekerjaanku daripada keluargaku.

    Aku termenung. Tadi pagi sebelum berangkat aku lagi-lagi lupa membekalkan suami dengan dua potong roti omelete kesukaannya. Aku juga lupa membekalkan teh hangat manis dimobilnya. Aku sempat merajuk gara-gara suamiku menanyakan sarapan rutinnya untuk dimobil. Aku kan cape Mas, aku kan harus siapkan bekal anak-anak sebelum mereka dititipkan ketempat Oma-nya.

    Aku kan harus selesaikan cucian sebelum aku mandi tadi pagi. Dan sejuta alasanku untuk tidak lagi dibahas masalah sarapan rutin mobil. Dan ini sudah terjadi selama satu minggu pula. Ah, aku juga melupakan kebiasaanku yang disukai suami, ternyata. Bahkan, aku lupa minta maaf dengan kelakuanku seminggu ini.

    Bahkan, akupun lupa Shalat sudah seminggu ini !!! Alangkah ajaibnya diriku. Tapi kurasa Tuhan mengerti. Begitu pikirku selama dikantor. Dan akupun tenggelam dengan pekerjaanku dikantor.

    Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 5.25 sore, langit mendung, dengan udara lembab. Haus. Aku lupa minum sebelum pulang tadi. Mestinya aku sediakan segelas minum untuk bekalku diperjalanan. Aku membutuhkan 2 jam perjalanan dari kantor sampai rumahku di Bintaro. Lagi-lagi, alasan sibuk yang membuatku lupa membawa gelas hijauku yang dulu biasa “tidur” dalam tasku.

    Pada saat itulah mataku tertuju dengan 2 orang kakak beradik, anak pengamen jalanan. Tidak beralas kaki, kotor dan kumuh. Usia mereka sekitar 4 dan 2 tahun. Mataku tertuju dengan sang adik. Wajahnya kuyu.

    Kotor dan diam. Terlihat wajah manisnya walaupun kurasa anak kecil itu tidak pernah mandi. Tidak beralas kaki. Terlihat ada luka ditelapak kakinya yang mungil, semungil telapak kaki buah hatiku Mikhail. Sang adik tertawa saat seorang wanita muda memberikan pecahan Rp. 2000 kepada kakaknya. Alangkah senangnya si kakak.

    Diberikan selembar kepada sang adik, dan sang adikpun menerima dengan hati riang. Dipandangnya uang lembaran Rp. 1000 itu sambil bernyanyi kecil. Ah, dia menyanyikan lagu masa kecilku dulu. Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. Aku membayangkan buah hatiku Mikhail menyanyikan lagu itu. Pasti tangannya tidak lepas dari pipiku, karena pada bait lagu “dor” buah hatiku selalu memukul pipiku.

    Aku tersenyum pada si kecil. Suaranya. Ya, suaranya masih pula cadel. Tangan kanannya memegang lembaran seribuan, tangan kirinya memegang alat music kecrekan dari tutup botol. Alangkah polos wajahnya. Sang kakak duduk ditrotoar sambil menghalau lalat yang berseliweran dikepala adik.

    Kutahu, pasti dia tidak keramas. Uh, mandi saja mungkin jarang apalagi mencuci rambut?

    Tiba-tiba saja, waktu sudah menunjukkan pukul 5.35 sore. Belum gelap. Tapi aku tak tahu sudah berapa bis jurusanku yang terlewatkan karena kekhusyukanku memandang 2 bocah polos didepanku?. Aku rogoh dompetku.

    Duh, makin menipis. Aku harus beli susu sang buah hatiku yang kecil. Aku juga harus beli alat kosmetikku yang sudah hancur dimainkan anak sulungku.

    Pokoknya aku memang harus beli hari ini. Tapi pemandangan didepanku meluluhkan hatiku. Kuambil selembar duapuluh ribuan dan kuberikan kepada sang kakak. Terkejut, tentu saja. Sang adik tidak kalah terkejut.

    Sambil teriak, sang adik bertanya pada kakaknya: aku bisa makan hari ini ya kak ya.

    Hhh.. aku tersenyum pilu. Begitu bahagianya mereka menerima lembaran dariku. Aku tegur kakaknya “kamu berdua belum makan?” Pertanyaanku dijawab dengan sebuah anggukan kepala yang pelan.

    Saat itu juga aku menitikkan air mata. Aku kasihan sekali. Adiknya tidak memakai celana apapun. Bahkan aku bisa melihat bahwa adiknya seorang perempuan. Beberapa orang yang sedang menunggu bis, menjadikan percakapanku dengan bocah-bocah itu sebagai tontonan mereka. Beberapa ada yang memberikan selembar 5000an. Ah, Jakarta !

    “Kamu mau makan? Mau saya belikan makanan?” Lagi-lagi pertanyaanku dijawab dengan sebuah anggukan kecil. Sang adik tersenyum kepadaku. Ah, polosnya senyuman itu. Tanpa beban. Tanpa arti. Tapi yang kutahu, senyuman itu senyuman bahagia dari kepolosannya. Aku ajak mereka ke sebuah warung nasi Padang didekat Chase Plaza, kantorku. Aku tawarkan makanan sesuka mereka.

    Raut wajah mereka memucat. Aku mengerti, mereka sudah lapar dan dahaga. Kupandangi mereka makan. Duh, lahapnya. Aku sendiri tidak makan seharian tadi, karena lagi-lagi kesibukanku dikantor. Apakah aku sudah sedemikian kuatnya sehingga aku mampu melupakan makan siang, mampu melupakan kewajibanku sebagai istri dan ibu dari 2 orang buah hati terkasih?

    Aku ambil rokok mentholku, dan kuhisap perlahan. Duh, rokok tidak pernah lepas dariku, seakan dialah pasangan hidupku. Kuperhatikan sang adik.

    “Siapa nama kamu?” Jawaban malu-malu keluar dari bibirnya “Ririn, Ibu”. Ah, namanya Ririn. Sebuah nama indah.

    Tapi kenapa nasibnya tidak indah?. Aku melamun. Tiba-tiba saja aku jadi cengeng luar biasa. Airmataku menitik. Duh, sejahat inikah yang namanya Jakarta? Hingga mampu menciptakan dua orang bocah yang sedang makan dihadapanku menjadi pengamen jalanan dengan alat kecrekan seadanya ditengah-tengah gedung tinggi? Bahkan, celana dalampun mereka tidak punya.

    Mungkin punya, tapi cuma beberapa. Aku tidak menanyakan hal itu. Kurasa tidak perlu. Bodohnya aku !.

    “Kamu rumah dimana?” Aku tidak mendapatkan jawaban. Hanya gelengan kepala si kecil. Ah, mereka tidak punya rumah. Rumah mereka di bedeng kardus, dekat stasiun Senen. “Jalan kaki dan numpang bis dari Senen untuk ngamen” kata sang kakak. Aku melamun. Kuhisap rokokku dalam-dalam.

    Rumah kardus? Pengap? Tanpa orang tua? Nyamuk? Penyakit? Kotoran dimana-mana? Adakah yang peduli dengan masa depan Ririn kecil?

    Adakah yang peduli? Kenapa mereka ada di Jakarta? Kenapa bisa bertemu denganku disini?

    Tiba-tiba saja lamunanku buyar. “Ibu, terima kasih kami sudah makan enak”.

    Mataku berkaca-kaca. “Ya, sama-sama. Semoga kamu kenyang dan senang” jawabku berat. Ririn kecil tersenyum. Kurasa ia kekenyangan.

    Keringat didahinya berbicara. Lalu ia mulai memainkan kecrekan gembelnya.

    Bunyinya tidak beraturan. Tidak ada nada sama sekali. Hanya suara cadelnya yang membuatku tersenyum. Aku berkaca-kaca. Senangnya bisa memberikan arti buat mereka. “Ibu, jangan melamun. Aku mau nyanyi buat Ibu”. Ah, menyanyi? Buatku? Apa istimewanya aku?. Aku tertegun.

    Suara cadel itu. Suara polos itu. Mereka menyanyikan sebuah lagu untukku.

    Aku tidak mengerti lagunya. Tapi terdengar indah ditelingaku.

    Ah, aku diberi hadiah: lagu !.

    “Sekarang kamu berdua pulang. Masih ada yang merindukan kamu berdua.

    Ini bekal buat dijalanan”. Aku berikan selembar duapuluh ribuan, seliter air mineral, roti manis dan sandal buat kedua bocah itu. Kebesaran. Tapi tidak apa. Mereka senang sekali memakai sandal baru. Aku pandangi kedua bocah dengan senyum. Mereka berlarian mengejar bis. Entah kemana lagi mereka pergi. Mencari uang lagikah? Atau pulang kerumah kardus mereka di pinggiran stasiun Senen seperti ucapan mereka tadi? Aku terharu, air mataku menetes. Ah Jakarta… jahat sekali kamu.

    Sudah jam 7 lewat 10. Aku pasti terlambat sekali sampai rumah ibuku.

    Aku harus menjemput buah hatiku dan setelah itu pulang kerumahku. Aku duduk dalam bis. Terdiam. Aku lagi-lagi meneteskan airmata. Apakah aku ditegur Tuhan? Apakah aku disentil olehNya? Mata polos itu. Mata polos itu menegurku, Tuhan.

    Aku lupa bersyukur dengan apa yang telah diberikanNya untukku. Aku lupa dengan anak-anakku. Aku lupa dengan suami dan tanggung jawabku sebagai ibu dan istri. Mata Ririn kecil menusukku tajam. Aku ditegur olehnya. Oleh mata kecil polos tanpa duka itu.

    Fara kecil tertidur dipangkuanku. Mikhail, buah hatiku yang sulung dengan mesra memainkan rambut Papanya. “Papa, hari ini aku sudah bisa belajar mewarnai. Hari ini aku tadi makannya banyak. Aku tadi mau minum obat.

    Aku hari ini jadi anak Papa yang pintar”. Celotehannya yang cadel membuatku tersenyum berkaca-kaca. “Mikhail enggak mau cerita dengan Mama?” tanyaku.

    “Mikhail enggak mau cerita dengan Mama. Mama kan mama yang sibuk”.

    Bahkan si sulungpun kini sudah mulai menjauh dariku. Dia malah lebih sayang dengan Papanya. Suamiku. Duh, rasanya seperti tertusuk jarum. Sakit. Tapi aku diam. Ini memang semua salahku.

    Tertidur. Mikhail dan Fara tertidur sudah. Tanggapan akan ceritaku dari suami, hanya tersenyum. Bijaksana sekali. “Itulah teguran Allah untukmu.

    Maka bersujudlah. Mohon ampun padaNya”. Malam itu juga aku Shalat. Memohon ampun pada yang Kuasa atas kemalasanku sebagai Ibu. Mohon ampun telah melupakanNya.

    Kupandang kedua wajah polos buah hatiku tercinta. Pulas. Tampak genangan liur dibantal mereka. Fara tersenyum. Buah hati kecilku itu kalau tidur memang suka tersenyum kecil. Sayangnya Mama…

    Setetes air mata kembali mengalir dipipiku. Entah siapa kedua bocah yang kutemui sore tadi sepulang kantor, entah siapa Ririn kecil yang memandangku polos, entah siapa yang telah menyanyikan sebuah lagu untukku disebuah warung nasi. Yang aku tahu, mata lugu itu telah menegurku dengan sangat tajam. Terima kasih Allah, telah mengirimkan dua bocah kecil, miskin tiada arti, untuk merubah hidupku. Mungkinkah mereka Engkau kirim untukku?

    ***

    Jakarta, dari seorang Ibu.

     
    • syam 2:48 am on 21 Desember 2009 Permalink

      kita sering lupa bersyukur .. lebih sering mengeluh kurang ini dan itu…

    • Putra Nasda 4:08 pm on 2 Januari 2010 Permalink

      Wah, bagus banget, itu pengalaman spiritual very nice : semua manusia di beri dan di tegur dengan cara masing2. Jika radar hati kita tida hidup saat itu, kesempatan itu akan jadi biasa yang terlewatkan, So, kita lihat lingkungan kita dengan radar hati.

  • erva kurniawan 1:32 pm on 12 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Lutut dan Kewajiban Untuk Sujud 

    ayam mengerameramuslim – Sesungguhnya penciptaan makhluk -termasuk di dalamnya manusia -selalu sesuai dengan kapasitas tugas dan kewajibannya. Itulah yang saya tangkap dari mutiara ceramah Bapak F.X. Rusharyanto di Yogya beberapa tahun yang lalu.

    Terus terang saja, itu untuk pertama kalinya saya tersedak; antara terharu, tersenyum, dan termenung. Keterpakuan yang membuat kalimat-kalimat beliau terasa terus berngiang-ngiang di telinga saya.

    “Saya mendapatkan hidayah dan masuk Islam,” katanya, “lewat mimpi.”

    Waktu itu, saya tak begitu respek. Entahlah, saya selalu berpendapat dangkal pada orang-orang yang masuk Islam lewat mimpi; bertemu (katanya) Rasulullah, orang berjubah putih, dan pengalaman-pengalaman supranatural lainnya. Tentu saja -menurut saya– hal ini tidak realistis. Saya pikir, saat seseorang menentukan langkahnya, haruslah berproses dalam pemikiran yang ilmiah.

    Tetangga saya masuk Islam gara-gara (katanya) mimpi bertemu Sunan Kalijaga. Hanya sebegitu saja. Bertemu thok. Boro-boro kalau sempat berkenalan atau bertukar alamat, berjabat tangan, apalagi ngobrol. Cuma bertemu sebentar. Katanya, Sunan Kalijaga mengenakan jubah warna hijau kesukaan beliau dan sedang berjalan entah ke mana. Paginya, dia masuk Islam.

    Alangkah mudahnya berganti akidah. Kalau dipikir, apa korelasi antara bertemu Sunan Kalijaga dengan memeluk agama Islam? Toh, zaman dulu banyak orang yang bertemu Sunan Kalijaga -malah -secara wadag.

    Beruntung saat itu dia mimpi bertemu Sunan Kalijaga. Bagaimana kalau dia bertemu Hitler… atau Syeikh Siti Jenar? Wheladalah… bagaimana kalau dia bertemu dengan Dewa Wisnu yang -walaupun kulitnya hitam arang- namun gantengnya ngudubilah setan itu? Kalau besok dia ngelindur ketemu Dewi Kwan Im, jangan-jangan terus memeluk Konghucu, atau lebih parah, menjadi pengikut Sun Go Kong.

    Kalau seseorang memutuskan memeluk Islam setelah pergulatan pikiran, nimbang-nimbang, mencari kebenaran… dan seterusnya yang akhirnya membawanya pada pemahaman yang proporsional sekaligus mantap, maka -menurut saya -keislamannya tidak perlu disangsikan. Saya acung jempol untuk orang-orang semacam itu.

    Apa istimewanya mimpi? Dijadikan patokan beli nomor buntut saja masih suka ngaco, apalagi untuk urusan besar yang berkait langsung dengan akhirat. Lha kok…. Karenanya, saya selalu memandang remeh ‘dalam tanda kutip’ untuk orang-orang seperti ini. Tapi, saya juga tidak ngoyoworo. Contoh gampang saja, tetangga saya yang mimpi bertemu Sunan Kalijaga itu nyatanya sampai sekarang -walaupun Islam -tidak shalat. Kalau shalat tarawih sih iya, grubyag-grubyug pas malam bulan Ramadhan. Mungkin karena lingsem atau bagaimana, yang jelas, hidungnya sering nampang di masjid kalau bulan Ramadhan.

    Saya tidak mengatakan bahwa agama terbebas dari hal-hal irrasional semacam itu. Toh, takdir dan rezeki adalah sesuatu yang tak bisa diterjemahkan secara letterlijk. Ruh, malaikat, jin… adalah mata pelajaran nonwadag dalam kerangka kegaiban yang menjadi komponen kelengkapan iman. Tapi bukan dalam arti juga agama adalah sesuatu yang mutlak irrasional. Semuanya mesti ada dimensi-dimensinya. Cuma, kok ya masih susah juga saya memaklumi orang yang masuk Islam karena ketemu orang berjubah putih dan memakai sorban.

    Kembali pada materi ceramah Ustadz tadi. Singkat cerita, setiba beliau pada kalimat yang menyatakan proses masuk Islamnya, saya langsung melengos merasa tak begitu tertarik. Seperti saya katakan tadi, apa korelasi antara mimpi bertemu bertemu Sunan Kalijaga dengan masuk Islam?

    Ooo… tapi tidak. Dalam ceramah yang saya ikuti dengan ogah-ogahan itu, ternyata akhirnya saya harus tertohok pada pengembaraan pemikiran yang menembus sisi-sisi ruhiyah saya. Dengarlah, mimpi apa yang begitu dahsyat telah mengubah kemudi seorang F.X. Rusharyanto ini.

    “Saya mimpi bertemu ayam,” katanya.

    Ayam? Benar-benar ayam? Kok, bukan Sunan siapa gitu atau kalau berani lebih heboh, ketemu Rasulullah. Ayam sehebat apa yang bisa membuat beliau masuk Islam?

    “Benar-benar ayam,” lanjutnya. “Jangan dulu tertawa dengan mimpi saya yang aneh. Benar, ayam. Saya tidak bermimpi bertemu dengan Rasulullah, orang berjubah putih, atau gadis cantik yang pakai jilbab.”

    Lantas, apa istimewanya ayam ini? Masih mendingan kalau mimpinya ketemu gadis memakai kerudung seperti yang suka dipajang pada bandrol jilbab.

    “Ayam ini bisa ngomong.”

    Ooo… bisa ngomong. Kayak film kartun, dooong? Terus, apa kaitannya dengan Islam?

    “Ayam itu berkata pada saya, ‘bacalah ayat-ayat Tuhan yang ada pada lututmu.”

    Entahlah, mungkin karena agak-agak seperti dongeng fabel ini, maka saya menjadi tertarik.

    “Lutut?” lanjut sang Ustadz. “Tidak ada ayat apa pun dalam lutut saya,” begitu bantah saya pada si ayam. Lantas, ayam itu melanjutkan kalimatnya, “Tidakkah kauperhatikan perbedaan antara lutut ayam dan lutut manusia? Perhatikanlah wahai manusia dan bacalah. Tempurung lutut kalian diciptakan Tuhan dan diletakkan di depan, berbeda dengan lutut ayam yang diletakkan di belakang. Itu disebabkan kalian tidak diperintah Tuhan untuk mengeram. Ayam diperintahkan untuk mengeram sehingga tubuhnya disempurnakan untuk melaksanakan tugas itu”’

    Cukup lama saya memikirkan kalimat ayam itu sebelum kemudian saya bertanya, “Lantas, apa yang diperintahkan pada manusia yang memiliki lutut di depan?”

    Nah, ini yang membuat saya mulai tertarik. Kenapa? Lantas apa jawaban si ayam?

    “Ayam itu,” lanjut beliau, “mengatakan kepada manusia, “Tuhan memerintahkan untuk rukuk dan sujud. Itulah kenapa lutut kalian diletakkan di depan, bentuk kesempurnaan penciptaan di mana susunan yang demikian adalah untuk melaksanakan perintah rukuk dan sujud.”

    Subhanallah… betapa saya selama ini tak pernah membaca ayat yang begini indah. Lantas, berapa banyak lagi ayat yang belum dan tidak terbaca oleh pikiran saya yang lemah ini?

    Sungguh, ilmu dan ayat Allah tak akan selesai ditulis kendati laut diubah menjadi tinta dan digunakan untuk menulisnya, bahkan jika didatangkan satu laut lagi sebagai tinta, dan satu laut lagi sebagai tinta, dan….

    Allah, pandang-Mu sajalah pandang yang tak terhalang. Ilmu-Mu saja ilmu yang tak berujung. Setiap yang didapati pada manusia, hanyalah sepersekian debu-Mu. Ampunilah kesombongan dan kelemahan kami. Amin.

    ***

     
    • Rham Lee 2:48 pm on 25 Desember 2009 Permalink

      perbedaan antara manusia dengan ayam kalau JONGKOK, manusia lututnya kedepan,sedangkan kalau ayam,lututnya kebelakang.
      SUBHANALLAH.maha suci ALlah SWT.menciptakan makhluknya tentu ada suatu hikmah dan pelajaran yang sangat berarti bagi kita.belum lagi dengan Fenomena2 yang lain,yang mungkin pula menjadi pelajaran bagi kita.

    • annisa 3:03 pm on 26 Januari 2010 Permalink

      Subhanallah.. yang jelas manusia dibentuk Allah dgn bentuk yang paling sempurna.., ya.. Allah jagalah kami untuk selalu mengingat-Mu, amiin…3x

  • erva kurniawan 1:16 pm on 11 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Tukang Cukur 

    tukang cukurSeperti biasanya, seorang laki-laki, sebut saja Fulan, datang ke sebuah salon untuk memotong rambut dan jenggotnya. Ia pun memulai pembicaraan yang hangat dengan tukang cukur yang melayaninya. Berbagai macam topik pun akhirnya jadi pilihan, hingga akhirnya Tuhan jadi subyek pembicaraan.

    “Hai Tuan, saya ini tidak percaya kalau Tuhan itu ada seperti yang anda katakan tadi,” ujar si tukang cukur

    Mendengar ungkapan itu, Fulan terkejut dan bertanya, “Mengapa anda berkata demikian?”.

    “Mudah saja, anda tinggal menengok ke luar jendela itu dan sadarlah bahwa Tuhan itu memang tidak ada. Tolong jelaskan pada saya, jika Tuhan itu ada, mengapa banyak orang yang sakit? mengapa banyak anak yang terlantar?. Jika Tuhan itu ada, tentu tidak ada sakit dan penderitaan. Tuhan apa yang mengijinkan semua itu terjadi…” ungkapnya dengan nada yang tinggi.

    Fulan pun berpikir tentang apa yang baru saja dikatakan sang tukang cukur. Namun, ia sama sekali tidak memberi respon agar argumen tersebut tidak lebih meluas lagi.

    Ketika sang tukang cukur selesai melakukan pekerjaannya, Fulan pun Berjalan keluar dari salon. Baru beberapa langkah, ia berpapasan dengan seorang laki-laki berambut panjang dan jenggotnya pun lebat. Sepertinya ia sudah lama tidak pergi ke tukang cukur dan itu membuatnya terlihat tidak rapi.

    Fulan kembali masuk ke dalam salon dan kemudian berkata pada sang tukang cukur, “Tukang cukur itu tidak ada!”…

    Sang tukang cukur pun terkejut dengan perkataan Fulan tersebut. “Bagaimana mungkin mereka tidak ada? Buktinya adalah saya. Saya ada di sini dan saya adalah seorang tukang cukur,” sanggahnya.

    Fulan kembali berkata tegas, “Tidak, mereka tidak ada, kalau mereka ada, tidak mungkin ada orang yang berambut panjang dan berjenggot lebat seperti contohnya pria di luar itu.”

    “Ah, anda bisa saja…Tukang cukur itu selalu ada di mana-mana. Yang terjadi pada pria itu adalah bahwa dia tidak mau datang ke salon saya untuk dicukur,” jawabnya tenang sambil tersenyum.

    “Tepat!” tegas Fulan. “Itulah poinnya. Tuhan itu ada. Yang terjadi pada umat manusia itu adalah karena mereka tidak mau datang mencari dan menemui-Nya. Itulah sebabnya mengapa tampak begitu banyak penderitaan di seluruh dunia ini….”

    ***

    Sumber: Unknown

     
  • erva kurniawan 12:38 pm on 9 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Maafkan Saya Tuhan 

    tukang-bakso“Mas Ento”, biasa saya menyebutnya. Seorang lelaki yang tidak lagi muda, penjual bakso keliling di tempat saya. Keriput kulit begitu nyata terukir di wajah legam tanpa ekspresinya. Sebenarnya baksonya tidak seenak 2 penjual bakso rivalnya, itulah mengapa jarang sekali pembeli menghentikannya. Sering saya melihatnya termenung sendiri dibawah pohon jambu dekat lapangan tempat anak-anak bermain. Setiap rivalnya datang, dia bergegas seperti ketakutan membawa dagangannya yang tanpa roda itu pergi. Saya pernah bertanya tentang hal ini kepadanya, namun seperti biasanya dia diam dan beralih menanyakan berapa porsi bakso yang ingin saya beli.

    Akhirnya saya mendapatkan jawabannya sendiri. Saya sangat faham, pias wajah ketakutan yang membayang ketika rivalnya datang. Saat itu, di tempat sepi saya menyaksikan rivalnya melakukan sebuah hal yang sungguh tidak dapat saya fahami. Mangkuk-mangkuk bakso milik mas Ento menjadi terserak dijalanan, belum lagi botol-botol itu, bulatan-bulatan bakso terhambur dari tempatnya. Kuahnya tumpah mengenai kakinya yang tak lagi sempurna berjalan. Tanpa beban, sang rival melenggang pergi meninggalinya banyak kepedihan. Ingin sekali saya meneriakinya “kurang ajar”, tetapi melihat sosoknya yang besar membuat saya hanya mematung, meski hati saya ribut tidak karuan.

    Setiap teringat mas Ento, saya pasti berguman dengan ungkapan yang saya adopsi dari sebuah puisi “Maafkan saya Tuhan, di depan saya ada orang yang di zalimi tetapi saya tidak menolongnya”.

    ***

    Suatu saat menjelang siang, seorang bocah kecil pengamen, berdiri di dalam bis menghadap para penumpang. Suara paraunya menggema di bis yang akan membawa saya ke terminal Leuwi Panjang, Bandung. Beberapa lagu diperdengarkannya kepada kami. Saya memandangnya sayang, tangannya hanya satu yang sempurna, tangan sebelah kiri buntung sampai sikut. Mungkin karena itulah hampir semua penumpang memasukkan uang ke dalam bekas bungkus kemasan aqua gelas yang diedarkannya. Saya yang duduk dibelakang dapat menyaksikan binar mata kegembiraan sang bocah yang mengaso dekat pintu.

    Bis sudah masuk terminal, penumpang telah banyak turun. Si kondektur menyeret bocah tadi hampir tepat di hadapan saya. “Sini!!” bentak lelaki bertopi itu, tangannya meraih paksa tempat uang si bocah. Dengan tersenyum dia menghitung, dan tanpa beban dia mengembalikan wadah kosong ke tangan sang bocah. Dan lagi-lagi saya tidak berbuat apa-apa. Saya hanya diam, meski hati ini juga ribut tak karuan. Saya menatap wajah pasrah itu. “Ngga apa-apa, sudah biasa”. Itu yang diucapkan si bocah sebelum pergi.

    Jika sudah begitu, tak ada yang dapat menentramkan hati kecuali sebuah doa ampunan, “Maafkan saya Tuhan, di hadapan saya ada mahlukmu yang dizalimi, tetapi saya tidak mampu berbuat apa-apa”.

    ***

    Jari ditangan tak akan mampu membilang episode-episode kezaliman. Amerika yang begitu pongah mengobrak-abrik Afghanistan dan Irak. Bom-bom cluster yang tercurah, mengoyak banyak tubuh manusia. Mereka yang direnggut nyawa dengan cara demikian, adalah saudara kita. Bukankah mereka juga shalat, puasa dan berdoa kepada Allah, sama sepert kita. Belum lagi di Palestina atau yang kita lihat langsung di lingkungan sekitar…

    Nabi bersabda, ketika kemungkaran berada dihadapan, cegahlah dengan tangan, itulah seutama-utamanya iman. Jika belum mampu, sergahlah dengan lisan yang kita punya. Dan yang terakhir, bencilah dengan hatimu, berdoalah. Dan nabi melabelkan hal ini sebagai selemah-lemahnya iman.

     
    • koharu 1:28 pm on 9 Desember 2009 Permalink

      mengharukan sekali ceritanya :(

  • erva kurniawan 12:13 pm on 8 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Perjalanan Yang Jauh 

    water-lilies-2Nurah, saudara perempuanku nampak pucat dan kurus sekali. Tetapi seperti biasa, ia masih membaca Al-Qur’anul Karim. Tika ingin menemuinya, pergilah ke mushallanya. Di sana engkau akan mendapatinya sedang ruku’, sujud dan menengadahkan ke langit. Itulah yang dilakukannya setiap pagi, sore dan di tengah malam hari. Ia tidak pernah jenuh.

    Berbeda dengannya, aku selalu asyik membaca majalah-majalah seni, tenggelam dengan buku-buku cerita dan hampir tak pernah beranjak dari video. Bahkan, aku sudah identik dengan benda yang satu ini. Setiap video diputar pasti di situ ada aku. Karena ‘kesibukanku’ ini, banyak kewajiban yang tak bisa kuselesaikan bahkan, aku suka meninggalkan shalat. Setelah tiga jam berturut-turut menonton video di tengah malam, aku dikagetkan oleh suara adzan yang berkumandang dari masjid dekat rumahku. Sekonyong-konyong malas menggelayuti semua persendianku, maka aku pun segera menghampiri tempat tidur. Nurah memanggilku dari mushallanya.

    Dengan berat sekali, aku menyeret kaki menghampirinya. “Ada apa Nurah?,” tanyaku. “Jangan tidur sebelum shalat Shubuh!”, ia mengingatkan. “Ahh.. Shubuh kan masih satu jam lagi. Yang baru saja kan adzan pertamal” Begitulah, ia selalu penuh perhatian padaku. Sering memberiku nasihat, sampai akhirnya ia terbaring sakit. Ia tergeletak lemah di tempat tidur.

    “Hanah!,” panggilnya lagi suatu ketika. Aku tak mampu menolaknya. Suara itu begitu jujur dan polos. “Ada apa saudariku?”, tanyaku pelan. “Duduklah!” Aku menurut dan duduk di sisinya. Hening… Sejenak kemudian Nurah melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu.

    Tiap jiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempumnkan pahalamu.” (Al Imran: 185)

    Diam sebentar, lalu ia bertanya: “Apakah kamu tidak percaya adanya kematian?” “Tentu saja percaya!”

    “Apakah kamu tidak percaya bahwa amalmu kelak akan dihisab, baik yang besar maupun yang kecil?” “Percaya. Tetapi bukankah Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, sementara aku masih muda, umurku masih panjang!” “Ukhti, apakah kamu tidak takut mati yang datangnya tiba-tiba? Lihatlah Hindun, dia lebih muda darimu, tetapi meninggal karena sebuah kecelakaan. Lihat pula si fulanah…Kematian tidak mengenal umur. Umur bukan ukuran bagi kematian seseorang. Aku menjawabnya penuh ketakutan. Suasana tengah malam yang gelap mencekam, semakin menambah rasa takutku.

    “Aku takut dengan gelap, bagaimana engkau menakut-nakutiku lagi dengan kematian ? Di mana aku akan tidur nanti ?” Jiwa asliku yang amat penakut betul-betul tampak. Kucoba menenangkan diri aku benusaha tegar dengan mengalihkan pembicaraan pada tema yang menyenangkan, rekreasi.

    “Oh ya, kukira ukhti setuju pada liburan ini kita pergi rekreasi bersama?”, pancingku. “‘Tidak, karena barangkali tahun ini aku akan pergi jauh, ke tempat yang jauh… mungkin… umur ada di tangan Allah, Hanah”, ia lalu terisak. Suara itu bergetar, aku ikut hanyut dalam kesedihan.

    Sekejap, langsung terlintas dalam benakku tentang sakitnya yang ganas. Para dokter, secara rahasia telah mengabarkan hal itu kepada ayah. Menurut analisa medis, para doker sudah tak sanggup, dan itu berarti dekatnya kematian. Tetapi, siapa yang mengabarkan ini semua padanya?, atau ia memang merasa sudah datang waktunya?,

    “Mengapa ternenung? Apa yang engkau lamunkan?”, Nurah membuyarkan lamunanku. “Apa kau mengira, hal ini kukatakan karena aku sedang sakit? Tidak. Bahkan boleh jadi umurku lebih panjang dari umur orang-orang sehat. Dan kamu, sampai kapan akan terus hidup? Mungkin 20 tahun lagi, 40 tahun atau… Lalu apa setelah itu? Kita tidak berbeda. Kita semua pasti akan pergi, entah ke Surga atau ke Neraka. Apakah engkau belum mendengar ayat:

    “Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dimasukkan ke dalam Surga maka sungguh ia telah beruntung” ( Ali Imran: 185)

    “Sampai besok pagi,” ia menutup nasihatnya. Aku bergegas meninggalkannya menuju kamar. Nasihatnya masih tergiang-ngiang di gendang telingaku, “Semoga Allah memberimu petunjuk, jangan lupa shalat!”

    Pagi hari…Jam dinding menunjukkan angka delapan pagi. Terdengar pintu kamarku diketuk dari luar. “Pada jam ini biasanya aku belum mau bangun” pikirku. Tetapi di luar terdengar suara gaduh, orang banyak terisak. “Ya Rabbi, apa yang tejadi?” “Mungkin Nurah…?, “firasatku berbicara. Dan benar, Nurah pingsan, ayah segera melarikannya ke rumah sakit. Tidak ada rekreasi tahun ini. Kami semua harus menunggui Nurah yang sedang sakit. Lama sekali menunggu kabar dari rumah sakit dengan harap-harap cemas.

    Tepat pukul satu siang, telepon di rumah kami berdering. Ibu segera mengangkatnya. Suara ayah di seberang, ia menelpon dari rumah sakit. “Kalian bisa pergi ke rumah sakit sekarang!,” demikian pesan ayah singkat. Kata ibu, tampak sekali ayah begitu panik, nada suaranya berbeda dari biasanya. “Mana sopir…?” kami semua terburu-buru: Kami menyuruh sopir menjalankan mobil dengan cepat. Tapi ah, jalan yang biasanya terasa dekat bila aku menikmatinya dalam pejalanan liburan, kini terasa amat panjang, panjang dan lama sekali. Jalanan macet yang biasanya kunanti-nantikan sehingga aku bisa menengok ke kanan-kiri, cuci mata, kini terasa menyebalkan. Di sampingku, ibu berdo’a untuk keselamatan Nurah. “Dia anak shalihah. Ia tidak pernah menyia-nyia kan waktunya. Ia begitu rajin beribadah”, ibu bergumam sendirian.

    Kami turun di depan pintu rumah sakit. Kami segera masuk ruangan. Para pasien pada tergeletak lunglai. Di sana sini terdengar lirih suara rintihan. Ada yang baru saja masuk karena kecelakaan mobil, ada yang matanya buta, ada yang mengerang keras. Pemandangan yang membuat bulu kudukku merinding. Kami naik tangga eskalator menuju lantai atas. Nurah berada di ruang perawatan intensif. Di depan pintu terpampang papan peringatan: “Tidak boleh masuk lebih dari satu orang!” Kami terperangah. Tak lama kemudian, seorang perawat datang menemui kami. Perawat memberitahu kalau kini kondisi Nurah mulai membaik, setelah beberapa saat sebelumnya tak sadarkan diri.

    Di tengah kerumunan para dokter yang merawat, dari sebuah lubang kecil jendela yang ada di pintu, aku melihat kedua bola mata Nurah sedang memandangiku. Ibu yang berdiri di sampingnya tak kuat menahan air matanya. Waktu besuknya habis, ibu segera keluar dari ruang perawatan intensif. Kini tiba giliranku masuk. Dokter memperingatkan agar aku tidak banyak mengajaknya bicara. Aku diberi waktu dua menit.

    “Assalamu ‘alaikum!, bagaimana keadaanmu Nurah?, tadi malam, engkau baik-baik saja. Apa yang terjadi denganmu?”, aku menghujaninya dengan pertanyaan. “Alhamdulillah, aku sekarang baik-baik saja, jawabnya dengan berusaha tersenyum. “Tapi, mengapa tanganmu dingin sekali, kenapa?” aku menyelidik. Aku duduk di pinggir dipan. Lalu kucoba meraba betisnya, tapi ia segera menjauhkannya dari jangkauanku. “Ma’af, kalau aku mengganggumu!”, aku tertunduk. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingat firman Allah Ta’ala:

    “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kami dihalau”. (Al-Qiyamah: 29-30)

    Nurah melantunkan ayat suci Alquran. Aku menguatkan diri. Sekuat tenaga aku berusaha untuk tidak menangis dihadapan Nurah, aku membisu. ” Hanah, berdoalah untukku. Mungkin sebentar lagi aku akan menghadap. Mungkin aku segera mengawali hari pertama kehidupanku diakhirat…Perjalananku amat jauh tapi bekalku sedikit sekali”. Pertahananku runtuh. Air mataku tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya. Ayah mengkhawatirkan keadaanku. Sebab mereka tak pernah melihatku menangis seperti itu. Bersamaan dengan tenggelamnya matahari pada hari itu. Nurah meninggal dunia…. Suasana begitu cepat berubah. Seperti baru beberapa menit aku bebincang-bincang dengannya. Kini ia telah meninggalkan kami buat selama-selamanya. Dan, ia tak akan pernah bertemu lagi dengan kami. Tak akan pernah pulang lagi. Tidak akan bersama-sama lagi. Oh Nurah…

    Suasana dirumah kami digelayuti duka yang amat dalam. Sunyi mencekam. Lalu pecah oleh tangisan yang mengharu biru. Sanak kerabat dan tetangga berdatangan melawat. Aku tidak bisa membedakan lagi, siapa-siapa yang datang, tidak pula apa yang mereka percakapan.

    Aku tenggelam dengan diriku sendiri. Ya Allah, bagaimana dengan diriku? Apa yang bakal terjadi pada diriku? Aku tak kuasa lagi, meski sekedar menangis. Aku ingin memberinya penghormatan terakhir. Aku ingin menghantarkan salam terakhir. Aku ingin mencium keningnya.

    Kini, tak ada sesuatu yang kuingat selain satu hal. Aku ingat firman Allah yang dibacakannya kepadaku menjelang kematiannya. “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)”. Aku kini benar-benar paham bahwa, “Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau”

    “Aku tidak tahu, ternyata malam itu, adalah malam terakhir aku menjumpainya di mushallanya. Malam ini, aku sendirian di mushalla almarhumah, terbayang kembali saudara kembarku, Nurah yang demikian baik kepadaku. Dialah yang senantiasa menghibur kesedihanku, ikut memahami dan merasakan kegalauanku, saudari yang selalu mendo’akanku agar aku mendapat hidayah Allah, saudari yang senantiasa mengalirkan air mata pada tiap-tiap pertengahan malam, yang selalu menasihatiku tentang mati, hari perhitungan…. ya Allah! Malam ini adalah malam pertama bagi Nurah dikuburnya. Ya Allah, rahmatilah dia, terangilah kuburnya.

    Ya Allah, ini mushaf Nurah,… ini sajadahnya… dan ini.. ini gaun merah muda yang pernah dikatakannya padaku, bakal dijadikan kenangan manis pernikahannya. Aku menangisi hari-hariku yang berlalu dengan sia-sia. Aku menangis terus-menerus, tak bisa berhenti. Aku berdo’a kepada Allah semoga Dia merahmatiku dan menerima taubatku. Aku mendo’akan Nurah agar mendapat keteguhan dan kesenangan di kuburnya, sebagaimana ia begitu sering dan suka mendo’akanku. Tiba-tiba aku tersentak dengan pikiranku sendiri. “Apa yang terjadi jika yang meninggal adalah aku? Bagaimana kesudahanku?” Aku tak berani mencari jawabannya, ketakutanku memuncak. Aku menangis, menangis lebih keras lagi. Allahu Akbar, Allnhu Akbar…Adzan fajar berkumandang.

    Tetapi, duhai alangkah merdunya suara panggilan itu kali ini. Aku merasakan kedamaian dan ketentraman yang mendalam. Aku jawab ucapan muadzin, lalu segera kuhamparkan lipatan sajadah, selanjutnya aku shalat Shubuh. Aku shalat seperti keadaan orang yang hendak berpisah selama-lamanya. Shalat yang pernah kusaksikan terakhir kali dari saudari kembarku Nurah. Jika tiba waktu pagi, aku tak menunggu waktu sore dan jika tiba waktu sore, aku tidak menunggu waktu pagi.

    ***

     
  • erva kurniawan 5:34 am on 4 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Cinta Dan Perkawinan 

    cintaSatu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya?

    Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlahkamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta” .

    Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

    Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”

    Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”

    Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”

    Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”

    Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan saja.

    Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

    Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/ subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

    Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?”

    Plato pun menjawab, “Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”

    Gurunya pun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”

    ***

    Catatan kecil :

    Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.

    Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

     
    • Niecka 4:11 pm on 3 Februari 2010 Permalink

      WOOW BAGUS BANGET…^___^

    • fie 10:45 am on 2 Februari 2012 Permalink

      i like this

  • erva kurniawan 9:05 pm on 1 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Sepotong Maaf Untuk Mama 

    water lily Helvola“Ki… Tolongin mama sebentar dong.” Aku merungut sambil beringsut setengah malas. Beginilah nasib jadi anak satu-satunya di rumah. Sejak bang Edo kuliah di Jakarta, akulah yang jadi tempat mama minta tolong. Biasanya bang Edolah yang mengantar mama ke supermarket, ke pengajian, atau sekadar membawakan tas mama yang pulang dari kantor. Memang begitulah abangku yang satu itu. Sedang aku ? Wuih, biasanya aku dengan bandelnya menghindar. Tapi sekarang aku sudah tidak bisa lari lagi.

    Memang, sejak papa meninggal, mama makin sering minta ditemani ke mana-mana. Mungkin mama kesepian. Di hari kerja, mama disibukkan dengan urusan kantornya. Sedang di akhir pekan, mama selalu minta ditemani anak-anaknya.

    “Ki, mama minta tolong dong…” Aku menyumpalkan tangan ke telinga. Aduh, mama…. “Ki, tolong ambilin berkas kerja mama di bu Joko dong.” “Lho, kok bisa ada di bu Joko, Ma ?” “Iya, tadi habis pulang dari kantor, mama mampir dulu ke sana. Kayaknya berkas-berkas itu ketinggalan deh di sana.  Soalnya di mobil udah nggak ada. Bisa nggak kamu ambilin ?”

    Aku melongo, sering sekali mama minta tolong saat aku benar-benar sibuk. Rasanya ingin teriak. Kali ini aku benar-benar sibuk ! Besok ada dua tugas yang harus dikumpulkan. Belum lagi sorenya ada ujian akhir. Mana sempat mampir-mampir ke rumah orang ? Mana sudah malam begini… “Aduh, Mama…. Kiki bener-bener sibuk… Besok ada ujian dan tugas-tugas yang harus dikumpulin. Jadi…” “Ya, udah kalo kamu nggak mau.”, balas mama dengan ketus. Aku hanya bisa menghembuskan nafas dan kembali mengerjakan tugasku.

    “…Kamu tuh memang nggak pernah kasihan sama Mama…”, bisik mama lirih dengan sedikit terisak.

    Suara mama sedikit sumbang. Sepertinya mama sedang terkena flu. Aku menatap langit-langit dengan lesu. Dengan lemas akhirnya aku memanggil mama. “Iya deh Ma… Biar Kiki yang pergi…”

    Gelap. Gelap sekali. Apalagi banyak lampu jalanan yang sudah mati. Capek rasanya harus berusaha melihat. Rumah bu Joko sebenarnya tidak jauh dari rumah kami. Tapi karena sudah malam, palang-palang jalan di kompleks itu sudah diturunkan dan tidak ada penjaganya. Jadinya, aku harus mengambil jalan memutar yang letaknya cukup jauh. Kalau tidak salah, satu-satunya palang yang tidak ditutup ketika malam adalah… Ah, dari sini belok kiri. Astaghfirulllah… Ternyata ditutup juga… Aku membaringkan kepalaku di atas kemudi. Rasanya penat sekali.

    Entah, harus masuk ke kompleks ini lewat jalan yang mana. Setelah setengah jam berputar-putar, barulah aku menemukan jalan masuknya. Rasanya lega sekali ketika sampai di depan rumah bu Joko. Kutekan belnya sekali, tidak ada jawaban. Dua kali, tetap tidak ada jawaban. Tiga kali, empat kali, hasilnya tetap sama. Akhirnya dengan menelan setumpuk rasa malu, kutekan lagi bel rumah mereka sambil mengucapkan salam keras-keras. Dari belakang aku mendengar suara berdehem. Aduh, ada hansip. Aku menangguk basa-basi. Aduh, mama ! Bikin malu saja ! “Oh, kertas apa ya ?”, tanya bu Joko dengan mata setengah mengantuk.

    Aku jadi tidak enak sendiri menganggu malam-malam begini. Menit-menit selanjutnya, kami berdua mencari-cari berkas yang dikatakan mama. Tidak hanya di ruang tamu. Tapi juga di ruang tengah, ruang makan dan dapur. Lalu aku menelepon ke rumah. “Ma, berkasnya nggak ada tuh. Mama simpan di map warna apa ?” “He..he…he…Udah ketemu, Ki. Ternyata sama bi Isah diturunin dari  obil terus ditaruh di meja makan.” “Tau gitu kenapa nggak telpon Kiki ! Kiki kan bawa handphone !” “Wah, maaf Ki… Mama nggak tahu kamu bawa handphone. Mama kira…” “Ah, udahlah ! Mama nyusahin Kiki aja !” Aku lantas membanting gagang telepon dengan sedikit kejam.

    Aku berbalik dan menemukan bu Joko menatapku dengan tatapan ngeri. Aku memaksakan sebuah senyum, minta maaf lalu pamit secepatnya. Setengah ngebut aku memacu mobilku. Hujan rintik-rintik membuat ruang pandangku semakin sempit. Nyaris jam dua belas malam. Hah, dua jam terbuang percuma. Kalau dipakai untuk mengerjakan tugas, mungkin sekarang sudah selesai… Dasar mama …

    Brakkk!!! Tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras. Bunyinya seperti kaleng yang robek. Sesaat aku semuanya semakin gelap. Aku tidak bisa Lagi membedakan mana atas dan bawah. Sekujur tubuhku seperti dihimpit dari berbagai arah. Sejenak kesadaranku seperti lenyap.

    Penduduk-penduduk sekitar mulai berdatangan. Mereka membantuku keluar dari mobil yang sepertinya ringsek parah. Mataku dibasahi sesuatu. Ketika kusentuh, rasanya lengket. Ya Allah, darah… Tubuhku lebih gemetar karena takut daripada karena sakit. “Neng, nggak apa-apa neng ?”, tanya seseorang.

    Aku berusaha berdiri walau sempoyongan. Kucoba menggerakkan tangan, kaki, serta mencek apakah semuanya masih ada. Kupejamkan mata dan berusaha mencari sumber sakit. Sepertinya tubuhku baik-baik saja. Tidak ada yang patah. Aku menatap rongsokan mobilku dengan tidak percaya. Ternyata aku menabrak sebuah truk besar yang sedang diparkir di pinggir jalan. Sumpah, aku tidak melihatnya sama sekali tadi !

    “Neng, nggak apa-apa ?”, ucap seseorang mengulangi pertanyaannya. Aku berusaha menjawab. Tapi yang terasa malah sakit dan darah. Orang di hadapanku lalu mengucap istighfar. Barulah aku sadar apa yang menyebabkannya. Darah segar berlomba mengucur dari mulutku. Lidahku…Aku langsung tak sadarkan diri.

    Ketika tersadar, aku sudah berada di rumah sakit. Rasa nyeri mengikuti dan menghajarku tanpa ampun. Air mata menetes dari mataku… Ya Allah, sakit sekali….

    “Udah, Ki. Jangan banyak bergerak. Dokter bilang kamu butuh banyak istirahat.” Aku hanya bisa menatap mata mama yang sembab tanpa bisa menjawab sepatah katapun. Mama ikut menangis mendengar rintihanku. Kecelakaan itu tidak mencederaiku parah. Tidak ada tulang yang patah,tidak ada luka dalam. Hanya satu, lidahku nyaris putus karena tergigit olehku ketika tabrakan terjadi. Akibatnya lidahku harus dijahit. Sayangnya tidak ada bius yang bisa meredakan sakitnya. Setelah itupun dokter tidak yakin aku bisa berbicara selancar sebelumnya. Tangisku meluber lagi. Yang langsung teringat adalah setumpuk kata-kata dan perilaku kasar yang selama ini kulontarkan pada mama. Ini betul-betul hukuman dari Allah…

    Walau sepertinya hanya luka ringan, namun sakitnya teramat sangat. Setiap kali jarum disisipkan dan benangnya ditarik, sepertinya nyawaku dirobek. Dan dikoyak-koyak. Aku hanya bisa melolong tanpa bisa melawan. Kata dokter kalau lukanya di tempat lain, sakitnya mungkin bisa diredam dengan bius. Tapi tidak bisa jika lukanya di lidah. Hari-hari selanjutnya betul-betul siksaan. Lupakanlah tentang kuliah, tugas atau ujian. Untuk minum saja aku tersiksa. Aku menjerit-jerit tiap ada benda yang harus melewati mulutku.

    Aku hanya bisa menangis. Menangis karena sakit, dan penyesalan. Selama aku dirawat, mamalah yang dengan telaten menungguiku. Dengan sabar ia membantuku untuk apapun yang aku perlukan. Kami hanya bisa berkomunikasi lewat sehelai kertas. Berkali-kali aku tuliskan, “Mama, maafkan Kiki…” Mama juga sudah berkali-kali mengatakan telah memaafkan aku. Tapi tetap saja rasa bersalah itu tak kunjung hilang. Ini benar-benar peringatan keras dari Allah. Aku benar-benar malu. Walau aktif di kegiatan keagamaan, ternyata nilai-nilai itu belum benar-benar mengalir dalam darahku. Aku tersenguk-senguk setiap ingat bagaimana cara aku memperlakukan mama.

    Bagaimana mungkin aku merasa diberatkan dengan permintaannya padahal aku sudah menyusahkannya seumur hidup ? Allah, ampuni aku… Aku benar-benar telah menzhalimi diriku sendiri…. Jangan biarkan aku mati sebagai anak durhaka…. Kukira penderitaanku berakhir jika sudah diizinkan pulang ke rumah.

    Ternyata hukuman ini belum berakhir di situ. Bulan-bulan selanjutnya aku harus berlatih mengucapkan kata-kata yang selama ini mengalir mudah dari bibirku. Kembali lagi mama membimbingku belajar bicara seperti yang ia lakukan ketika aku kecil. Himpitan penyesalan itu baru hilang ketika kata-kata itu berhasil kuucapkan walau patah-patah. “Mama… Maafkan Kiki…”

    ***

    (Diambil dari tulisan Ariyanti Pratiwi, Matematika ’99 ITB, kiriman sdr. Andry Irawan,)