Updates from Desember, 2010 Toggle Comment Threads | Pintasan Kibor

  • erva kurniawan 1:56 am on 1 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ibadahnya Sang Ratu Cinta 

    Alifmagz – detikRamadan

    Jakarta – Cinta adalah bahasa yang indah. Setiap saat, selalu saja ingin bersama orang yang kita cintai; memujinya dan mengaguminya. Cinta juga bisa menjadi alasan bagi seorang hamba untuk beribadah kepada Tuhannya.

    Seperti cinta Rabiah al-Adawiyah kepada Allah, Tuhannya. Meski Allah telah menyediakan banyak pahala kepada hamba-Nya, ibadah Rabiah tidak untuk itu. Tidak juga karena mengharap surga atau takut neraka. Suatu saat ia berdoa, “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalam neraka; dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku dari dalam surga; tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi kepadaku.”

    Rabiah, Sang Ratu Cinta, seorang sufi perempuan dari Bashrah, terlahir dalam keluarga yang sangat miskin, meski saat itu Bashrah sedang bergelimang kemakmuran. Saat sang ibu berjuang melahirkannya, tak seorangpun menolong, sementara ayahnya sedang berusaha mencari bantuan kepada tetangga-tetangganya. Malam sudah larut, para tetangga sudah terlelap. Ayahnya pulang tanpa hasil. Sebenarnya, ayahnya hanya ingin meminjam pelita untuk menerangi istrinya. Kelahiran Rabiah tak mengubah nasib keluarganya. Sekuat tenaga ayahnya berusaha dan memasrahkan semua kepada yang Mencipta Kehidupan.

    Saat kesulitan melanda Bashrah, karena dilanda bencana kelaparan, keluarga Rabiah tetap saja menjadi sasaran kekisruhan. Seorang penjahat menculik Rabiah, kemudian dijual di pasar budak dengan harga yang murah. Seorang saudagar membeli dan memberinya pekerjaan yang berat.

    Tetapi justru karena penderitaan-penderitaan itu membuatnya mendekat pada Allah. Dalam kesibukannya bekerja, ia tetap menjalankan puasa. Di malam hari, ia menghabiskan waktu dengan banyak ber-mujahadah kepada-Nya. Hingga sampai suatu tingkat, ibadahnya membawa kedekatan dengan Allah. Kedekatan kemudian berubah menjadi kerinduan yang mengantarkan kepada cinta kepada-Nya. “Aku adalah milik-Nya. Aku hidup di bawah naungan-Nya. Aku lepaskan segala sesuatu yang telah kuperoleh kepada-Nya. Aku telah mengenal-Nya, sebab aku menghayati.”

    Di suatu malam yang senyap, dalam kerinduan yang sangat, ia bersujud dan berdoa, “Ya Allah, apapun yang akan Engkau karuniakan kepadaku di dunia ini, berikanlah kepada musuh-musuh-Mu. Dan apapun yang akan Engkau karuniakan kepadaku di akhirat nanti, berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu. Karena Engkau sendiri cukuplah bagiku.”

    ***

    ramadan.detik.com/read/2010/08/13/144506/1419950/985/ibadahnya-sang-ratu-cinta

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 29 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ujian Cinta di Geger Kalong 

    Oleh Bahtiar HS

    “Pak Herman, gimana nih, Pak?”

    Pak Suherman Rosyidi, dosen Fakultas Ekonomi Unair yang tetangga saya itu menoleh kepada asal suara. Dua orang sekretaris Dekan menegurnya di pintu masuk ruang itu. Keduanya perempuan. Seorang, sebut saja Bu A sudah memiliki 3 orang anak. Dan Bu B sudah menikah tetapi belum dikaruniai anak.

    “Gimana apanya, Bu?” tanya Pak Herman pada mereka.

    “Gimana kok Aa’ Gym menikah lagi, Pak?” keluh Bu A. “Kenapa mesti poligami?”

    Pak Herman tersenyum. Kalau ada masalah-masalah seperti ini, anggota Dewan Ekonomi Syariah itu memang biasa menjadi “jujugan”. Tempat bertanya atau mengadu. Beliau kemudian menghampiri kedua ibu muda itu.

    “Begini, Bu,” kata Pak Herman. “Coba jawab pertanyaan saya dengan jujur dan ikhlas, dari hati nurani ibu yang paling dalam.”

    “Apa itu, Pak?” sergah Bu B.

    “Tolong pilih satu di antara dua,” kata Pak Herman berteka-teki. “Kalau ibu disuruh memilih, antara: merelakan suami ibu menikah lagi atau merelakan suami ibu melacur, ibu pilih yang mana?”

    Kedua wanita itu terperanjat seperti mendapatkan pertanyaan yang tak pernah didengar sekalipun selama hidupnya.

    ”Kok pertanyaannya seperti itu, Pak?” protes Ibu A.

    “Saya tak memilih dua-duanya, Pak!” tegas Ibu B.

    “Ok. Ok,” potong Pak Herman. “Jikalau pertanyaan itu terlalu berat untuk dijawab, pertanyaannya saya ganti.”

    “Diganti gimana, Pak?”

    “Saya ganti begini,” lanjut Pak Herman. “Jikalau ada seorang isteri diberikan pilihan — bukan Anda berdua, lho? — yaitu merelakan suaminya menikah lagi atau merelakan suaminya melacur, kira-kira isteri itu milih yang mana?”

    Kedua ibu itu saling berpandangan. Keraguan segera merayap dalam senyap. Pak Herman sendiri dengan sabar menunggu. Dan dalam sepuluh-lima belas detik kemudian, seseorang menjawab.

    “Ya, pilih suami menikah lagi, Pak?” kata Bu A sambil melirik, mengharap dukungan Bu B di sebelahnya. “Bukan begitu, Bu?”

    Bu B mengangguk-angguk. “Ya, gimana lagi kalau pilihannya hanya itu.”

    “Alhamdulillah,” jawab Pak Herman. “Ibu-ibu ternyata masih bersih.”

    “Masih bersih gimana, Pak?” tanya keduanya hampir berbarengan.

    “Ibu-ibu masih bersih,” jelas dosen itu. “Masih bisa membedakan antara yang benar dan yang bathil. Antara yang halal dan yang haram.”

    ***

    “Saya heran sama orang Indonesia, Pak Herman!” seru Bu Icy dengan logat Amerikanya yang tak bisa dihilangkan.

    “Heran gimana, Bu?” tanya Pak Herman pada temannya yang sesama dosen itu. Sudah berbilang tahun wanita itu mengajar di kampus ini sejak ia menikah dengan orang Indonesia asli.

    “Mengapa mereka menolak poligami yang nyata-nyata ada dan dibolehkan di dalam Islam?” tanyanya sungguh.

    Pak Herman sejenak tersentak. Bagaimanapun yang ada di hadapannya itu adalah wanita Barat. Bukan muslimat lagi. Ia penganut Kristen. “Menurut Ibu, apa yang menyebabkan mereka seperti itu?”

    “Masalahnya sudah jelas, Pak Herman. Kalian, orang Indonesia, sudah terkontaminasi dengan apa yang datang dari Barat.”

    “Apa itu?”

    “Kapitalisme!”

    “Kapitalisme?”

    “Ya. Sebuah pandangan yang menganggap segala yang dipunya sebagai ‘milik’. Suami saya adalah milik saya. Bukan dan tak akan menjadi milik wanita lain. Tak logis dalam benak mereka untuk berbagi suami dengan orang lain. Itulah ruh kapitalisme, Pak.”

    Pak Herman manggut-manggut. Tak dinyana, perempuan “barat” itu punya pendapat sedemikian. Ia memang telah banyak belajar tentang Islam, meski sayang belum memeluknya hingga sekarang.

    “Sedangkan dalam pandangan Islam, semua yang ada ini ‘kan milik Tuhan?” lanjut wanita itu. “Sehingga, berbagi dalam Islam adalah sesuatu yang common-sense.” Pak Herman kemudian bertanya, “Lantas menurut Ibu, apa masalahnya dengan penolakan poligami?”

    “Masalahnya, Pak, ketika pintu poligami ditutup,” kata wanita asing itu, “maka pintu pelacuran akan terbuka lebar-lebar.”

    ***

    Itulah pengantar perbincangan seputar poligami oleh Ust. Suherman Rosyidi – kami memanggil beliau Pak Herman — di Masjid Rungkut Jaya Ahad pagi ini. Agaknya fenomena heboh Aa’ Gym yang menikah lagi itu turut menghangatkan beranda masjid ini setelah diguyur hujan semalam.

    “Kalau saya baca press release Aa’ Gym awal Desember lalu,” kata saya turut menanggapi, “sebenarnya ada 4 calon yang diajukan Aa’ Gym sebagai isteri kedua. Satu, gadis. Kedua, janda tanpa anak. Ketiga, janda dengan cukup banyak anak. Dan keempat, nenek-nenek gampang masuk angin.”

    Hadirin tersenyum. Saya berusaha menahan diri.

    “Aa’ Gym sebenarnya sudah memilih yang ketiga, janda dengan cukup banyak anak,” kata saya melanjutkan. “Hanya saja, ia mantan model. Sebagaimana banyak laki-laki yang poligami, biasanya isteri keduanya adalah seorang gadis, lebih muda dan cantik ketimbang isteri pertama. Coba jika seandainya Aa’ Gym memilih calon yang keempat, pasti tidak akan terjadi kehebohan seperti ini, Pak!”

    Gerr. Dan Ust. Herman pun tersenyum. “Tetapi, apa salahnya Aa’ Gym memilih janda dengan sekian anak?” tanyanya kepada hadirin seakan ingin mendapat jawaban. “Apa salahnya jika janda itu mantan model? Apa salahnya juga jika seandainya dia memilih seorang gadis sebagai isteri kedua?”

    “Bukankah Rasul setelah Khadijah meninggal mengambil Saudah, seorang janda yang sudah sangat tua umurnya, menjadi isteri keduanya, Pak?” sergah saya.

    “Apakah serta-merta kita harus mencontohnya demikian pula?” jawab Pak Herman.

    “Juga apakah kita harus menunggu isteri pertama kita meninggal sebelum menikah lagi, sebagaimana Rasul baru menikah lagi setelah Khadijah meninggal?”

    Saya termangu. Jamaah yang lain pun tepekur di tempat duduknya masing-masing.

    “Tentu tidak,” lanjut Pak Herman. “Abu Bakar, Umar, Usman dan para sahabat yang lain tidak menunggu isteri pertama mereka meninggal dulu untuk melakukan poligami.”

    ***

    “Fenomena Aa’ Gym ini persis seperti peristiwa penyembelihan Ismail as oleh Nabi Ibrahim as,” simpul Pak Edy sambil menyelonjorkan kaki di beranda masjid. Ceramah shubuh oleh Pak Herman baru saja usai.

    “Fenomena apa itu, Pak?” tanya saya.

    “Ujian cinta!” katanya penuh misteri.

    “Ujian cinta bagaimana?”

    “Ya. Nabi Ibrahim diuji oleh Allah, mana yang lebih dicinta: Ismail, anak yang kelahirannya didambanya berpuluh tahun ataukah Allah SWT?”

    Saya dan beberapa jamaah yang masih bertahan di beranda manggut-manggut.

    “Demikian juga dengan poligami Aa’ Gym,” katanya melanjutkan. “Jika jamaah Aa’ Gym begitu saja meninggalkan pengajian MQ ketika tahu Aa’ menikah lagi, itu berarti mereka selama ini datang mendengarkan taushiyah hanya karena Aa’ Gym. Cinta mereka sebatas hanya kepada Aa’ Gym. Tak lebih. Cinta mereka bukan kecintaan yang tulus kepada Allah.”

    “Betul juga, sampean. Lantas apa hubungannya dengan Nabi Ibrahim dan Ismail?” “Peristiwa poligami Aa’ Gym ini seperti penyembelihan Ibrahim atas Ismail, yakni pemisahan antara yang benar-benar cinta kepada Allah dan yang sekadar cinta kepada manusia. Entah cinta kepada seorang anak. Ataukah cinta kepada seorang pendakwah.”

    Saya setuju dengan tetangga saya itu. Saya juga sependapat dengan Ibu Sirikit Syah sebagaimana tulisannya di Jawa Pos 13 Desember 2006 yang lalu. Barangkali dengan peristiwa ini Allah ingin menunjukkan kepada kita bahwa Aa’ Gym bukanlah ‘dewa’. Justru karenanya Ia telah menyelamatkan kita dari “cinta yang salah”. Dan di sisi lain, kita akan tersadarkan bahwa dai kondang itu ternyata manusia biasa seperti kita.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Totok 10:38 am on 13 Desember 2010 Permalink

      saya sangat tertarik dengan artikel mengenai islam
      seperti artikel yang anda tulis ini.
      saya Mohon ijin tanya, kenapa anda sering menggunakan gambar teratai dalam artikel anda?

    • erva kurniawan 3:51 pm on 13 Desember 2010 Permalink

      Sebenarnya banyak artikel pada blog saya in yang bukan saya penulisnya, seperti tulisan ini, penulis aslinya adalah Bahtiar HS.
      Mengenai gambar yang digunakan itu adalah Bunga Teratai atau Water Lili, tidak ada alasan spesifik mengapa sering memakai gambar itu, hanya karena tidak ada ide gambar yang tepat menggambarkan cerita itu, alasan lain saya suka gambar itu karena menyejukkan dan natural.
      Wassalam

  • erva kurniawan 1:08 am on 27 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kepuasan Ada Di Rasa Syukur 

    Siang itu tadi temanku tiba-tiba nelpon. Makan siang yuk, ajaknya. Oke, jawabku. So she picked me up at the lobby of Jakarta Stock Exchange Building.

    Selepas SCBD, kami masih belum ada ide mau makan dimana. Ide ke soto Pak Sadi segera terpatahkan begitu melihat bahwa yang parkir sudah sampai sebrang-sebrang.

    Akhirnya kami memutuskan makan gado-gado di Kertanegara. Bisa makan di mobil soalnya sampai di sana masih sepi. Baru ada beberapa mobil. Kami masih bisa milih parkir yang enak. Mungkin karena masih pada jumatan. Begitu parkir, seperti biasa, joki gado-gado sudah menanyakan mau makan apa, minum apa.

    Kami pesan dua porsi gado-gado + teh botol. Sambil menunggu pesanan, kami pun ngobrol. So, ketika tiba2 ada seorang pemuda lusuh nongol di jendela mobil kami, kami agak kaget.

    “Semir om?” tanyanya. Aku lirik sepatuku. Ugh, kapan ya terakhir aku nyemir sepatuku sendiri? Aku sendiri lupa. Saking lamanya. Maklum, aku kan karyawan sok sibuk…Tanpa sadar tangan ku membuka sepatu dan memberikannya pada dia. Dia menerimanya lalu membawanya ke emperan sebuah rumah. Tempat yang terlihat dari tempat kami parkir. Tempat yang cukup teduh. Mungkin supaya nyemirnya nyaman.

    Pesanan kami pun datang. Kami makan sambil ngobrol. Sambil memperhatikan pemuda tadi nyemir sepatu ku. Pembicaraan pun bergeser ke pemuda itu. Umur sekitar 20-an. Terlalu tua untuk jadi penyemir sepatu. Biasanya pemuda umur segitu kalo tidak jadi tukang parkir or jadi kernet, ya jadi pak ogah. Pandangan matanya kosong. Absent minded. Seperti orang sedih. Seperti ada yang dipikirkan. Tangannya seperti menyemir secara otomatis. Kadang2 matanya melayang ke arah mobil-mobil yang hendak parkir (sudah mulai ramai).

    Lalu pandangannya kembali kosong. Perbincangan kami mulai ngelantur kemana-mana. Tentang kira2 umur dia berapa, pagi tadi dia mandi apa enggak, kenapa dia jadi penyemir dll. Kami masih makan saat dia selesai menyemir. Dia menyerahkan sepatunya pada ku. Belum lagi dia kubayar, dia bergerak menjauh, menuju mobil-mobil yang parkir sesudah kami.

    Mata kami lekat padanya. Kami melihatnya mendekati sebuah mobil. Menawarkan jasa. Ditolak. Nyengir. Kelihatannya dia memendam kesedihan. Pergi ke mobil satunya. Ditolak lagi. Melangkah lagi dengan gontai ke mobil lainnya. Menawarkan lagi. Ditolak lagi. Dan setiap kali dia ditolak, sepertinya kami juga merasakan penolakan itu.

    Sepertinya sekarang kami jadi ikut menyelami apa yang dia rasakan. Tiba-tiba kami tersadar. Konyol ah. Who said life would be fair anyway. Kenapa jadi kita yang mengharapkan bahwa semua orang harus menyemir? Hihihi…

    Perbincangan pun bergeser ke topik lain. Di kejauhan aku masih bisa melihat pemuda tadi, masih menenteng kotak semirnya di satu tangan, mendapatkan penolakan dari satu mobil ke mobil lainnya. Bahkan, selain penolakan,di beberapa mobil, dia juga mendapat pandangan curiga.

    Akhirnya dia kembali ke bawah pohon. Duduk di atas kotak semirnya. Tertunduk lesu…Kami pun selesai makan. Ah, iya. Penyemir tadi belum aku bayar. Kulambai dia. Kutarik 2 buah lembaran ribuan dari kantong kemejaku. Uang sisa parkir. Lalu kuberikan kepadanya. Soalnya setahu ku jasa nyemir biasanya 2 ribu rupiah Dia berkata kalem “Kebanyakan om. Seribu aja”.

    BOOM. Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatiku. It-just-does-not-compute-with-my-logic! Bayangkan, orang seperti dia masih berani menolak uang yang bukan hak-nya.

    Aku masih terbengong-bengong waktu nerima uang seribu rupiah yang dia kembalikan. Se-ri-bu Ru-pi-ah. Bisa buat apa sih sekarang? But, dia merasa cukup dibayar segitu. Pikiranku tiba-tiba melayang. Tiba-tiba aku merasa ngeri. Betapa aku masih sedemikian kerdil. Betapa aku masih suka merasa kurang dengan gaji ku. Padahal keadaanku sudah sangat jauh lebih baik dari dia.

    Tuhan sudah sedemikian baik bagiku, tapi perilaku-ku belum seberapa dibandingkan dengan pemuda itu, yang dalam kekurangannya, masih mau memberi, ke aku, yang sudah berkelebihan.

    Siang ini aku merasa mendapat pelajaran berharga.

    Siang ini aku seperti diingatkan.

    Bahwa kejujuran itu langka.

    Bahwa kepuasan itu adanya di rasa syukur

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 21 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    HP dan Kambing 

    Bukan bermaksud sara, tapi semoga bisa diambil hikmahnya.

    Janganlah bersifat mubazir, karena masih banyak disekitar kita yang tidak memiliki kesempatan atau kelebihan seperti yang kita miliki. Selalu ingat bahwa segala sesuatunya ada lah milik Sang Pencipta.

    Kututup hidung ketika melewati kerumunan kambing. Baunya yang menyengat ternyata tidak mengganggu penjualnya. Dalam hati sempat juga ngedumel sich “Nih orang mau jualan kambing gak melihat-lihat tempat apa? Masak jual hewan yg bau itu di dekat kios-kios elektronik. Kenapa nggak sekalian aja jualan di dalam mall?” gerutuku dalam hati. Orang yang lalu lalang, ada yang cuek, ada yang menutup hidung, ada juga yang justeru menghampiri hewan bau itu.

    Kupercepat langkah kakiku melewati tempat tersebut, mataku menatap lurus ke depan, tepat ke sebuah kios penjual HP. Memang kios itulah yang menjadi tujuanku ke tempat ini. Kuraba saku celana, masih tersimpan HP type lama yang sudah 5 tahun aku gunakan. Sebenarnya HP tersebut tidak bermasalah, masih layak untuk di gunakan, baik bertelepon maupun ber-SMS. Tetapi untuk saat ini, HP tersebut sangatlah “tidak layak” digunakan di tempat umum. Sering saat aku berangkat atau pulang kantor menggunakan KRL menyaksikan penumpang yang menggunakan HP terkini, canggih, suara polyphonic, ada radio, MP3 bahkan kamera foto & video. Suaranya merdu sekali saat ada telepon masuk, bisa lagu klasik ataupun lagu pop yang sedang top dari penyanyi papan atas. Sering aku ikut melantunkan dalam hati lagu yang kebetulan aku tahu dan seakan ingin agar pemiliknya tidak segera mengangkat telepon tersebut agar aku bisa lebih lama mendengarkan lagu yang sedang di gandrungi banyak orang itu.

    Memang luar biasa perkembangan teknologi saat ini, satu alat bisa mewakili berbagai macam fungsi alat-alat lainnya. Tidak perlu membawa walkman untuk mendengarkan lagu, tidak perlu bawa kamera untuk berfoto. Cukup bawa satu buah HP, semua itu sudah bisa terwakili. Bahkan saat ini ada semacam fasilitas untuk berbicara sekaligus melihat lawan bicara di seberang, kalau tidak salah 3G (mohon maaf kalau istilahnya salah, maklum belum pernah pakai)

    Kadang cukup kaget juga sich saat tahu siapa saja pemilik alat-alat canggih tersebut. Dari pegawai kantoran macam aku, pengusaha, pegawai negeri, pegawai toko & mall bahkan pedagang bakso sekalipun. Sekali waktu sempat kulihat, pegawai toko VCD di Glodok saling bertukar lagu lewat fasilitas bluetooth. HP yang ada di saku celanaku, jangankan kamera, fasilitas bluetooth pun tak ada, lelucon yang sering di lontarkan kawan-kawan adalah “Mau dikirimin lagu bagus nggak? Pakai Bluetooth aja, kan HP kamu emang rada “b u t u t” pasti bisa dech……..” Dan seperti biasa aku cuma bisa nyengir sambil ikut tertawa.

    Sekarang semua itu akan berubah, dengan susah payah aku kumpulkan sebagian gajiku untuk menggantikan rasa “malu” dengan “kebanggaan” bertelepon di tempat umum. Tidak sia-sia pengorbananku selama setahun ini, dengan terkumpulnya dana 3 juta untuk mengganti HP lama dengan HP baru, yang saya pikir dengan dana tersebut cukuplah membeli HP canggih.

    Belum sampai di depan kios HP yang kutuju, sempat terdengar pertanyaan dari orang yang menghampiri pedagang kambing tadi.

    “Bang, kambing yang itu harganya berapa bang ?”

    Si pedagang menjawab ” Satu juta pak”

    “Kok mahal amat sih bang?”

    “Itu yang terbesar pak, sehat lagi. Sangat pantas untuk Qurban !” “Wah kalau segitu sih, mana sanggup saya beli? Berapa sih hasil dari ngasong bang!”

    (“ooo ternyata orang itu adalah pedagang asongan” ujarku dalam hati)

    “Kalau yang coklat itu berapa bang? Itu yang rada kecilan”

    “Itu 750 ribu pak, harga pas, nggak ngambil untung besar lho pak.”

    “Saya cuma ada 650 ribu bang, boleh ya………?”

    “Wah pak , kalau segitu sih belum dapat, ongkos angkut ke sininya saja sudah mahal, bagaimana kalau yang putih itu saja” kata si pedagang sambil menunjuk kambing yang lebih kecil

    “Yah sudahlah, dari pada besok belum tentu terbeli” katanya pasrah “ini juga dari hasil nabung 3 tahun yang lalu, bang”.

    Seketika aku terkesiap, tiba-tiba rasa malu muncul dan mengalir deras dalam hati-ku rasa malu ini bahkan melebihi rasa malu saat kawan-kawan mencemooh HP butut-ku. Kuhentikan langkah kaki ini, tiba-tiba sekali aku jadi tertarik mendekati hewan yang bau itu. Bayangan HP baru perlahan-lahan hilang, berganti dengan bayangan gema Takbir saat kambing, domba dan sapi di sembelih dengan menyebut asma Allah.

    “Terima kasih ya Allah, Kau telah memberikan rasa malu pada hati manusia”.

    ***

    Oleh Bagus Hariyadi

     
    • putri 9:39 am on 1 November 2011 Permalink

      ijin kopi kang, syukron

  • erva kurniawan 1:16 am on 20 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ya Allah, Kapan Aku Mengangkat Koperku Sendiri…? 

    Saat itu adalah bulan Muharram tahun 1424 H. Seorang pria bernama Mamat yang bekerja di Bandara Soekarno-Hatta sedang sibuk mengangkat koper-koper penumpang. Koper bukan sembarang koper. Semua koper yang baru saja dibongkar dari pesawat Saudia Airlines itu memiliki kesamaan; berbentuk besar, berwarna biru tua dan bertuliskan nama pemilik, nomer kloter dan asal kota. Koper-koper tersebut adalah milik jemaah haji yang baru saja selesai menunaikan ibadah haji di Tanah Suci pada tahun itu.

    Setiap kali mengangkat satu koper, Mamat selalu membaca basmalah dan shalawat kepada Rasulullah Saw. Sudah berpuluh koper yang ia angkat, hingga rasa itu muncul di dadanya. Pada kali selanjutnya, tatkala tangannya menggamit pegangan koper, ia sempat membaca doa kecil kepada Allah Sang Penguasa Alam di dalam hatinya,

    “Ya Allah, kapan saya mengangkat koperku sendiri seperti ini…?!” Sebenarnya yang ia maksud adalah ia begitu berharap dapat berangkat haji ke Baitullah. Rupanya Allah mendengar jeritan hati Mamat. Hanya selang 4 bulan saja, Subhanallah, namanya keluar sebagai salah seorang dari 17 orang pegawai yang mendapatkan jatah naik haji tahun itu atas biaya kantor. Mamat pun amat bersyukur kepada Allah Ta’ala karenanya.Namun kebahagiaan ini tidak serta-merta membuat Mamat puas hati. Ia tahu bahwa berita ini boleh jadi akan membuat Iis, istrinya bersedih. Sebab hanya dia saja yang dapat berangkat naik haji, padahal mereka berdua selalu berdoa kepada Allah Swt agar dapat berangkat naik haji bersama-sama.Maka tatkala menyampaikan berita ini pun, Mamat amat hati-hati dalam mengemasnya.

    “Semoga tidak ada bahasa yang terpeleset dan melukai hati”, itulah harapan Mamat.

    “Is…. Akang minta maaf ya sama kamu…” Mamat mencoba membuka percakapan dengan meminta maaf terlebih dahulu.

    “Emangnya ada apa, Kang?” sang istri bertanya. “Akang ingin beritahukan sesuatu ke kamu, tapi kamu jangan marah ya… apalagi sedih…?” sambut Mamat.

    Kalimat itu membuat Iis menjadi gelisah. Ia coba tenangkan hati untuk mendengar berita gak enak ini. Mamat pun kemudian menyambung kalimatnya dengan nada hati-hati, “Is… Akang hari ini mendapat kejutan. Akang terpilih menjadi salah satu karyawan yang akan diberangkatkan haji oleh kantor…” “Alhamdulillah….!!!”

    Iis berteriak kegirangan. Ia langsung melompat ke arah Mamat suaminya dan memeluknya dengan erat.

    Dengan bersemangat Iis berkata, “Kirain berita sedih…! Berita bagus kayak begini kok dibawa sedih kayak begitu Kang? Iis ikut senang ngedengernya!”

    “Ya… emang sebenarnya ini adalah berita gembira, cuma yang bikin Akang takut membuat kamu sedih adalah ….. karena Akang gak punya duit untuk ngeberangkatin kamu, Is!

    Akang khan cuma pegawai kecil seperti kamu tahu… Kalau saja, duit itu ada, tentu Akang akan ajak kamu juga untuk berhaji ke rumah Allah!”

    Iis lalu mengerti kegundahan yang berkecamuk dalam hati suaminya. Sambil tersenyum, Iis berujar, “Udah kang gak usah dipikirin, Iis rela melepas Akang naik haji. Tapi jangan lupa doain Iis ya biar cepat nyusul!” Akhirnya, apa yang dikhawatirkan Mamat tentang perasaan istrinya pun tidak berlaku. Sekali lagi Mamat bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla karenanya.

    Hari itu adalah jadwal Mamat untuk berangkat haji. Seperti kebiasaan orang kampungnya, maka kepergian Mamat diantar dengan adzan dan iqamat. Pembacaan shalawat dustur yang dikumandangkan oleh seorang ustadz pun membuat semua orang haru meneteskan air mata. Saat itulah, Mamat berpamitan dengan menyalami serta merangkul orang-orang yang ia kenal seraya meminta restu. Semua anggota keluarga, kerabat, tetangga, sanak famili menghadiri acara itu. Semuanya sudah bersalaman dan berangkulan dengan Mamat. Hingga saat Mamat hendak naik ke atas kendaraan, saat itulah tiba giliran Iis mencium punggung telapak tangan suaminya dan suasana haru pun tercipta.

    Air mata suami-istri itu pun jatuh membasahi bumi. Saat mereka berdua berpelukan, Iis berucap, “Kang Mamat…., jangan lupa untuk doain Iis ya di Baitullah… panggil-panggil nama Iis di sana. Insya Allah, Iis dan anak-anak ikhlas ngelepas Akang. Semoga kita semua, dengan doa kang Mamat, bisa nyusul berangkat haji bareng-bareng…!” Tak kuasa Mamat menahan tangis.

    Pelukan itu makin ia pererat. Ia hanya mampu mengucapkan kata ‘Amien’. Dalam hati, Mamat berucap agar Allah Swt juga berkenan mengajak istri dan anak-anaknya untuk berhaji seperti dia. Di dalam kendaraan Mamat masih sempat berdoa kepada Allah Swt untuk keluarga yang ia tinggalkan: ALLAHUMMA ANTAS SHAHIBU FIS SAFAR, WAL KHALIFATU FIL AHLI. HR. Muslim  “Ya Allah, Engkau adalah pendampingku dalam perjalanan. Engkau juga yang menggantikan aku untuk menjaga keluarga yang ditinggalkan… Amien” HR. Muslim.

    Usai membaca doa, ia pusatkan konsentrasinya untuk khusyuk beribadah kepada Allah Swt. 42 hari Mamat menuntaskan semua ritual ibadah haji di kota suci Mekkah Al Mukarramah dan Madinah Al Munawwarah. Semuanya dijalani dengan begitu khusyuk dan nikmat. Sesampainya di tanah air pun, ia langsung mendapatkan sebuah titel baru dari masyarakat. Kini ia dikenal dengan panggilan Haji Mamat di kampungnya.

    Lepas 6 bulan setelah kepulangannya dari tanah suci. Iis istrinya yang dulu sempat berucap ikhlas melepas kepergian suaminya ke tanah suci, pagi itu ia kelepasan berujar bahwa dirinya sebenarnya begitu ingin juga berangkat ke tanah suci untuk berhaji. Kalimat itu dituturkan dengan nada sedih yang mengguncang hati Mamat.

    Kegundahan itu memang pernah diduga sebelumnya oleh Mamat. Namun baru kali ini kegundahan itu membuncah, dan tercetus lewat penuturan akan kerinduan untuk datang ke rumah Allah Swt dalam ritual haji. Muslim atau muslimah mana yang tidak mau untuk berhaji?

    Maka demi menghibur hati Iis, Mamat pun berujar kepadanya, “Is… kamu memang berhak untuk berangkat haji seperti orang lain, tapi Akang belum cukup punya uang. Sekarang kita hanya mampu untuk berdoa kepada Allah Swt…. Dia Maha Kuasa…. Jangankan minta haji…. minta yang lebih dari itu Dia pun amat kuasa. Nanti malam kita bangun ya untuk shalat tahajud…! kata ustadz, doa pada sepertiga malam terakhir amat dikabul. Nanti kita doa sama-sama untuk minta naik haji. Insya Allah akan dikabulkan… percaya deh!”

    Demikian ajakan Mamat kepada istrinya untuk melakukan shalat tahajud dan berdoa bersama nanti malam. Dan ajakan itu, disambut dengan anggukan kepala oleh Iis tanda setuju. Rupanya Mamat pulang dari kerja tidak seperti biasa. Hari itu ia tiba di rumah lewat dari pukul 20.00 WIB. Rupanya ada pekerjaan ekstra yang ia lakukan. Biasanya Mamat sudah tiba di rumah pukul 5 sore. Mungkin, ada pesawat lain yang tiba di luar jadwal, sehingga beberapa kuli panggul seperti Mamat disiagakan untuk bongkar muatan.Mamat pulang dengan badan yang letih. Usai menjalani shalat Isya, ia langsung rebahan di atas kasur dan langsung tertidur. Rasa letih membuatnya lupa untuk makan malam terlebih dahulu, atau menyapa keluarganya yang masih menunggu kedatangannya. Iis dapat memaklumi hal itu. Tidak beberapa lama kemudian, Iis pun menyusul tidur di atas ranjang bersama suaminya.

    Seperti apa yang telah mereka janjikan, Iis terjaga dan bangkit dari tidur pada pukul 3 pagi. Kemudian ia tepuk-tepuk kaki suaminya. Karena terlalu letih, Mamat tak sanggup untuk bangkit dan hanya berujar, “Ah…ah…!” tanda bahwa ia tak sanggup membuka mata. Iis langsung bangkit menuju kamar mandi. Usai berwudhu, ia kembali lagi ke kamar untuk bertahajud. Sajadah telah dibentangkan dan mukena pun telah ia kenakan. Sebelum melakukan shalat, untuk kedua kalinya Iis menepuk kaki Mamat agar ia bangun dan melakukan shalat tahajud bersama-sama. Sekali lagi, Mamat hanya mengeluarkan kata, “Ahh…ahh…!” Ia terlalu lelah untuk bangkit dan menyusul istrinya untuk bertahajud. Iis pun memaklumi. Raut wajah Mamat yang letih sudah mengabarkan bahwa ia terlalu lelah bekerja hari itu. Iis pun melafalkan takbiratul ihram tanda ia memulai shalat tahajud. Begitu khusyuk shalat yang Iis dirikan, dan di atas pembaringan Mamat pun menyaksikan sosok istrinya yang bermukena sedang menjalankan shalat. Namun ia dalam kondisi antara tidur dan terjaga. Kata orang, ini adalah tidur ayam. Tidur tak mau, bangun tak kuasa. Setiap gerakan shalat yang Iis lakukan selalu ia iringi dengan tetesan air mata. Sungguh…, seolah Allah Swt hadir menyambut kedatangan Iis dalam keheningan malam itu. Hingga kedekatan dengan Sang Maha Pencipta pun dapat dirasakan oleh Iis yang menjalankan shalat tahajud. Tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Sudah satu jam lebih Iis melakukan shalat dan dzikir kepada Allah Swt. Waktu telah menunjukkan pukul 4 lebih. Dan ia berkeinginan untuk bermunajat kepada Allah Swt dalam lantunan dan rangkaian doa yang ia bacakan.

    “Allahumma, ya Allah… Izinkan hamba-Mu ini untuk dapat berhaji ke rumah-Mu. Mudahkan jalan hamba…. Lapangkanlah rezeki kami. Engkau Yang Maha Kuasa atas segalanya…. Berikan perkenanmu agar aku sanggup datang ke rumah-Mu untuk beribadah dan memakmurkannya… Dengarkan doaku dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu…!” Dalam kesyahduan doa yang dibaca oleh Iis kepada Tuhannya, rupanya Mamat pun sempat mengamini di dalam hati tanpa sepatah kata pun terucap. Sungguh, malam itu telah terbangun sebuah jalinan suci antara seorang hamba dengan Allah Swt dalam rangkaian doa yang penuh hikmat dan cita.Adzan Shubuh mulai terdengar di beberapa masjid dan mushalla. Untuk terakhir kali, Iis membangunkan Mamat suaminya sambil berujar, “Pak Haji… ayo bangun! Malu sama tetangga. Masa sudah haji enggak shalat Shubuh berjamaah? Ayo bangun, Kang….!” Mamat pun bangkit.

    Berat sekali rasanya ia mengangkat badan. Setelah berwudhu, ia pun mengenakan pakaian yang bersih lalu berangkat menuju mushalla untuk melaksanakan shalat Shubuh. Mamat mengucapkan salam saat masuk kembali ke rumah. Iis dan anak-anak pun sudah bangun semua. Inilah rumah yang berkah. Semua sudah terjaga dan bangkit untuk menyongsong hari yang indah. Mamat kemudian meminta Iis membuatkan secangkir kopi untuknya. Kemudian dengan tasbih di tangan, ia baru saja hendak menempelkan pantatnya ke kursi sofa di ruangan depan. Namun tiba-tiba hasratnya untuk duduk, dihentikan oleh dering telfon yang berbunyi keras di pagi hari.

    Mamat pun mengangkat gagang telfon. “Assalamu’alaikum….. ini dari mana dan mau bicara dengan siapa?” Mamat membuka pembicaraan. “Mat… ini teh Sulis, Iis ada nggak?” demikian suara di seberang menjawab. Mamat pun tahu bahwa orang yang menelfon ini rupanya adalah kakak iparnya sendiri. Tanpa berpikir panjang, Mamat pun memanggil Iis yang saat itu sedang hendak membuatkan kopi untuknya. Mamat kembali duduk di atas kursi sofa.

    Sementara Iis duduk di lantai untuk menerima telfon. Baru saja Iis mengucapkan salam kepada teh Sulis, namun setelah itu tidak ada satu patah kata pun yang meluncur dari mulut Iis. Yang ada adalah deraian air mata dan kata, ‘iya Teh!’ berulang-ulang diucapkan. Pembicaraan telfon di pagi hari itu sudah lebih dari 10 menit berlangsung. Melihat istrinya terus menangis, Mamat menduga bahwa ada berita buruk yang terjadi terhadap keluarga hingga pagi-pagi begini sudah menelfon dan membuat istrinya menangis. Mamat mengira bahwa ada salah seorang familinya berpulang kepangkuan Ilahi. Gagang telfon itu kemudian diletakkan Iis.

    Ia masih sesenggukan menahan tangis. Iis mencoba mengangkat wajah dan menghadap ke arah suaminya. Saat itu Mamat mencoba menyelak dengan pertanyaan, “Siapa yang meninggal, Is..?” Masih sesenggukan Iis menjawab, “Gak ada yang meninggal, Kang!”

    “Lalu kenapa kamu menangis kayak begitu, emangnya berita sedih apa yang diceritain teh Sulis?” Mamat masih mengejar dengan pertanyaan yang lebih menukik. Saat itulah Iis menceritakan hal sebenarnya,

    “Kang…., barusan teh Sulis bilang bahwa ia berniat berangkat haji tahun ini. Kebetulan kang Andi suaminya lagi banyak kerjaan. Kang Andi gak bisa nemenin…. Teh Sulis tadi nanya saya, kamu khan belum berhaji, mau gak saya ajak? Teh Sulis mau bayarin biaya haji saya…. tapi saya disuruh minta izin dulu ke Akang. Iis gak nyangka, Kang…. begitu cepat Allah menjawab doa yang baru saja Iis sampaikan dalam tahajud. Sekarang, pilihan mah ada di Akang. Jika Akang izinkan, saya siap. Kalau Akang enggak izinin saya juga ikhlas…!”

    Iis berhenti sejenak mengatur nafasnya yang masih sesenggukan. Air mata itu masih menetes tanda haru dan syukur atas doa yang Allah Swt kabulkan. Sementara Mamat masih terdiam, terperangah dan takjub atas kemurahan Tuhan. Mamat langsung merangkul istrinya ke dalam dekapan. Mamat berujar, “Kamu boleh berangkat haji untuk beribadah dan nemenin teh Sulis. Akang ikhlas mengizinkan kamu dan merawat anak-anak di rumah. Silahkan kamu berhaji untuk melengkapi agama kamu, Is!”

    Keduanya masih berpelukan erat tanda haru dan syukur atas nikmat Allah Swt yang tiada ternilai. Dalam keharuan tersebut ternyata masih tersisa sebuah penyesalan dalam dada Mamat yang kemudian terbersit di hatinya, “Coba, saya ikut bangun tahajud dan berdoa kepada Allah untuk minta haji. Mungkin bisa berangkat bareng-bareng juga kali ya….?!”

    Itulah kisah sepasang suami-istri hamba Allah Swt yang dimudahkan untuk berhaji ke Baitullah. Semoga Anda dan saya dapat menerima anugerah serupa. Amien!

    “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. 2:185) .

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 17 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Umrah 

    1. Latar Belakang

    Prinsip utama saya sejak beranjak dewasa sampai sebelum perjalanan umroh ini adalah: “Tak ada keajaiban”. Segala sesuatu harus masuk logika, masuk akal, dan jauh dari hal-hal yang tak masuk akal. Segala sesuatu mesti ada penjelasan ilmiahnya.

    Oleh karena itu pandangan saya selalu mengacu kepada konsep hukum-hukum fisika, sosial, dan hukum psikologi. Tak ada kejadian yang pernah bisa melanggar hukum alam. Setiap pohon pisang akan berbuah pisang, setiap mahluk hidup mempunyai siklus biologi sesuai spesisnya, setiap apapun didunia ini tidak ada yang bisa lepas dari hukum absolut alam semesta. Takkan pernah ada cimpedak berbuah nangka kecuali dalam sajak. Takkan pernah ada orang kebal peluru. Takkan pernah ada keajaiban, keanehan, atau anomali hukum alam.

    Sebelumnya saya hanya tertawa mendengar cerita-cerita keajaiban ataupun kejadian luar biasa yang kerap terjadi pada orang yang melakukan ibadah haji atau umroh di tanah suci. Mungkin itu hanya kebetulan, atau mungkin itu hanya bohong belaka. Sehingga kajian saya mengenai telaah agama islam, selalu mengacu kepada analisa, sentesa, konseptual, dan hipotesa. Pendeknya, tak ada alat yang saya miliki untuk telaah tersebut selain metode ilmiah, sampai saya dipaksa harus menyadari instrumen lain yang sesungguhnya ada dan tak pernah saya gunakan.

    2. Perjalanan I: Jkt-Jeddah

    Saya berangkat dengan apa adanya menuju Jeddah. Instruksi saya kepada secretaries yang membooking perjalanan untuk mengambil paket yang paling murah, paling singkat, dan paling efisien. Boleh dikata niat saya bukan untuk ibadah, tapi untuk sebuah hipotesa.

    Diperjalanan, saya bertemu dengan seorang Haji yang telah beberapa kali berhaji dan berumroh, H. Tabrani (63), mantan walikota Jakarta Timur, kelahiran Aceh.

    Kamipun terlibat diskusi dipesawat. Saya katakan bahwa saya datang ke Mekkah bukan untuk cari umur panjang, rejeki, kemakmuran, kekayaan, dsb. Saya katakana saya hanya ingin mencari petunjuk, hidayah bahwa Al-Qur’an adalah memang benar datangnya dari Allah dan bukan konsepnya Muhammad. Saya ingin tahu hipotesa saya benar atau salah.

    H.Tabrani berkata, ” Insya Allah you akan dapat semua itu. Namun semua akan tergantung dari cara you memandangnya, apakah fenomena itu adalah sebuah petunjuk, atau hanya sebuah kebetulan “.

    2.1. Kejadian 1

    Beberapa saat setelah beliau bicara, tiba-tiba mesin pesawat mati satu. Penumpang pun diharap kembali ketempat duduk masing-masing dan memasang sabuk pengaman. Penerbangan baru berlangsung 45 menit. 5 menit kemudian kedua mesin Boeing 747 disayap kiri mati. Pilot pun memberitahukan bahwa pesawat harus kembali ke Airport Soekarno Hatta.

    Kemudian pesawat mengalami turbulens yang menyeramkan disertai jeritan penumpang, sementara saya melihat kejendela pembuangan bahan bakar mulai dilakukan. Ini merupakan pemandangan yang sama sekali tidak menyenangkan.

    Saat itu saya mulai takut dan berfikir tentang kematian. Berkali-kali saya terbang, baru kali ini mengalami kejadian yang demikian. Apakah tempat yang saya tuju memang luar biasa? Ataukah ini hanya kebetulan saja? Dengan sisa mesin dan kekuatan yang ada, pesawat terbang miring dan mendongak, sementara yang saya lihat dibawah hanya lautan lepas. Namun akhirnya pesawat dapat mendarat di Soekarno Hatta dengan selamat, diiringi beberapa mobil pemadam yang siap siaga.

    Kami semua di inapkan di Horison Hotel-Ancol. Di Hotel diskusi saya dengan Bp H. Tabrani berlanjut.

    Saya tanya ; Aca:” Pak Haji, kok susah bener ya mau ke Mekkah aja?”

    “Baru kali ini saya saya naik pesawat kayak begini”

    H. Tabrani: ” You kurang niat kali… ini khan bukan perjalanan biasa”.

    Aca: Apanya yang luar biasa. Secara teknis tetap sama”

    H. Tabrani: ” Wah…you boleh pilih, melihat ini sebagai sebuah Kebetulan, atau sebuah kebesaran Allah!”

    Aca: ” Tapi Pak, kenapa kalau Allah mau kasih pelajaran Semua satu pesawat terkena getahnya, padahal khan Ada penumpang lain seperti Bapak yang sudah berniat bulat umroh tetapi juga batal “.

    H. Tabrani: ” Andry…you khan tahu tidak semua penduduk Indonesia bobrok mentalnya, tetapi, jika Allah mau kasih pelajaran khusus hampir seluruh rakyat Indonesia terkena dampaknya”. ” Bisa jadi karena you dengan niat hipotesa atheis itu-kita semua satu pesawat terkena akibatnya”. “Coba dech.. you pikirin! ”

    Akhirnya saya mulai tafakur, mencoba untuk merendahkan hati, sholat isya’-dan membaca niat untuk umroh. Saya mulai membuka-buka buku-buku petunjuk menjalankan umroh. Walau saya jarang (hampir tidak pernah) berdo’a, saya baca-baca do’a nya.

    2.2. Kejadian 2

    Esoknya kami berangkat dengan pesawat lain. Dan ketika itu saya melonjak kegirangan, karena saya di up-grade ke first class. Waduh, enak juga, 10 jam terbang tanpa harus berdesakan dengan fasilitas lainnya yang tidak sama dengan economi.

    Tiba-tiba H. Tabrani datang, ” Wah you koq disini?

    ” Aca: ” Alhamdulillah saya di up-grade Pak ”

    H. Tabrani: ” Waduh…enak benerrrr, you udah niat umroh? ”

    Aca: ” Udah Pak, semalam saya tafakur, berdo’a dan membaca niat ”

    H. Tabrani: “Bagus kalau begitu. You sekarang melihat kan Allah bisa memberikan imbalan kenikmatan secara Langsung ”

    Aca: “Loh tapi Pak Haji, ini khan petugas maskapai yang Ngatur!?”

    H. Tabrani: ” Bukan! ini Allah yang ngatur, melalui tangan petugas”

    Aca: ” Wah ini mungkin hanya kebetulan saja Pak!” ” Nggak masuk akal kalo Cuma karena niat, saya langsung diberi kenikmatan oleh Allah “.

    H. Tabrani: ” OK… khan saya sudah bilang dari kemarin, semua terserah you saja, apakah you mau melihat dengan kacamata kebetulan, atau kacamata iman!”

    H. Tabrani pun mulai sewot dengan saya. Entah karena nggak di up-grade atau karena sikap saya yang dianggapnya wangkeng.

    2.3. Kejadian 3

    Dipesawat, saya dikenalkan oleh pramugari kepada 2 orang penumpang yang menekuni manajemen pikiran. Dian, pramugari yang sebelumnya terlibat diskusi agama dengan saya dan H. Tabrani, menyarankan agar masalah saya diungkapkan kepada mereka. Kamipun berkenalan, seorang bernama Nur Cahyo, seorang lagi bernama Kartiko (mungkin muridnya).

    Saya jelaskan permasalahan utama saya. Akhirnya ia menjelaskan, ” Saudara Andry, selama ini saya tahu anda telah banyak berupaya, namun upaya itu belum optimum. Apa sebab-karena saudara hanya menggunakan sebahagian yakni bagian kiri saja dari otak saudara “.

    “Karena otak, mempunyai 2 belahan, belahan kiri yang fungsinya untuk menganalisa, kalkulasi, logika, konsentrasi, hipotesa, dsb, dan belahan kanan yang berfungsi mencerna keindahan, emosi, seni (spt musik), euphoria, keimanan, dan sebagainya. Kedua belahan otak tersebut harus saudara gunakan. Wajar kalau saudara hanya mengandalkan analisa dan mendewakan sirkuit logika”.

    “Ada daerah kekuasaan Tuhan yang tidak dapat dianalisa dan didiskusikan. Daerah tersebut hanya dapat dicerna oleh perasaan yang kita sebut iman”. “Loh…itu khan basic prinsip Quantum Learning, saya tahu benar itu”, kilah saya. “Betul…bagus kalau anda tahu, tapi pernahkah anda terapkan dalam pencarian ini?”.

    Saya mulai bingung dengan pertanyaan Kartiko. Saya tahu benar ilmu itu, karena saya sering jadi pembicara tentang metode belajar dan bekerja menggunakan keseimbangan otak kiri-kanan. Kepala saya seperti dipentung oleh senjata saya sendiri.

    Kartiko melanjutkan, “Jika yang saudara cari adalah petunjuk, ia dapat berupa ilham, mimpi, atau fenomena dan kejadian-kejadian yang tak masuk akal. Saudara tak akan bisa menelaah semua itu nanti di perjalanan dengan otak kiri (analisa) saja. Hasilnya akan saudara pisah-pisah dan terlihat tidak berkaitan satu sama lain. Namun apabila saudara gunakan juga otak kanan (intuisi/rasa/iman), hasilnya akan sangat menakjubkan”.

    H. Tabrani pun ikut terlibat diskusi, dan ia banyak membenarkan perkataan Kartiko. Sebelum Kartiko kembali ke kursi duduknya, saya bertanya kepadanya, “Anda kuliah dimana?”.

    Kartikopun menjawab “Politeknik Mekanik Swiss”.

    “Astaga, angkatan berapa?”. “Angkatan 88”, jawabnya.

    Akhirnya, kami pun bertambah mesra. Saya mulai menarik hipotesa dengan kedua belahan otak saya;

    1. Apakah instrumen ini berguna (telaah menggunakan kedua belahan otak) untuk pencarian saya?
    2. Kenapa saya tak pernah menggunakannya, padahal saya tahu dan gandrung dengan ilmu itu?
    3. Apakah ia hanya seorang kenalan di pesawat, ataukah sebuah petunjuk agar saya menggunakan instrumen itu dalam perjalanan sekarang dan nanti?
    4. Apakah pertemuan kami ini hanya sebuah kebetulan?
    5. Apakah Kartiko juga seorang yang kebetulan berlatar belakang pendidikan sama dengan saya sehingga jalan berfikir kami sepertinya klop!?

    Saya kembali membahas ini dengan H. Tabrani. Beliau seperti biasa sambil sewot, “Terserah you mau lihat dari kacamata kebetulan a/ kacamata kebesaran Allah!”.

    Sayapun mulai tak percaya dengan diri saya. Saya mulai goyah dengan pandangan saya selama ini.

    2.4. Kejadian 4

    Akhirnya kami pun tiba di Jeddah, yang kemudian perjalanan disambung ke Madinah. Malam hari kita berangkat sholat Isya’ ke Masjid Nabawi. Disini Rasululloh di makamkan, jelas H. Tabrani.

    “Kok kuburan di Masjid Pak Haji, nggak bener itu!”

    “Wah you ini mau sholat apa nggak!”. “You khan bisa sholat karena orang yang dimakamkan disini!”.

    Tanpa banyak bantah saya ikuti ajakannya sholat diluar (halaman) Masjid (karena larut, pintu masuk sudah ditutup). Saya sholat tepat disamping pintu makam Rasululloh, sedang H. Tabrani sholat 5 meter didepan saya.

    Tiba-tiba, baru saja saya takbiratul ihrom, pintu disamping saya berdebum. Sayup-sayup berdebum. Seperti suara orang kerja. Tapi lebih mirip suara orang marah-marah membanting meja atau kursi.

    Tiba-tiba perasaan takut saya datang. Akhirnya saya batalkan sholat saya, pindah menjauhi makam Rasululloh. Makam orang yang saya pikir pembuat Al-Qur’an. Dan saya mulai dihantui pemikiran tersebut. Sholat saya sudah nggak bisa khusuk lagi.

    “Andry…kamu kenapa pindah sholatnya?”, tanya H. Tabrani.

    “Nggak tahu tuh Pak, ada suara berisik dipintu, sepertinya pintu itu mau dibuka orang “, jawab saya.

    “Suara berisik apa “.

    “Loh Pak Haji nggak denger barusan ”

    “Enggak ah…, Iqbal…kamu dengar suara?” “Enggak Pak…”

    Perasaan saya mulai nggak karuan. Rasa takut dicampur rasa bersalah. Saya coba analisa pakai belahan kiri, bahwa mungkin posisi saya yang tegak lurus dengan pintu menyebabkan saya bisa dengar, namun mereka karena tidak tegak lurus, mereka tak bisa mendengar. Tapi harusnya juga dengar. Mustahil tidak, karena suara itu keras koq.

    Akhirnya saya ceritakan ke H. Tabrani tentang perasaan kacau saya. Saya ceritakan bahwa saya pernah menulis e-mail yang berpendapat apakah semua ini bisa-bisa nya Muhammad. Kala itu saya tetap menyangsikan kronologi turunnya wahyu. Hingga saya mensejajarkan posisi Muhammad dengan Napoleon, Karl Marx, Einstein, Aristoteles, Plato, dan pemikir besar dunia lainnya.

    “Wah…kalau you udah sadar itu salah, you mesti minta maaf besok didalam Masjid, tepat disamping makamnya kalau bisa “, kilah H. Tabrani.

    Esok hari, pagi-pagi sekali kami bangun, berangkat menuju Masjid Nabawi. Masjid besar dengan halaman yang juga besar. Dengan terhuyung sambil ngantuk (karena nggak biasa bangun dan sholat shubuh) saya berjalan menyusuri halaman Masjid seperti menyusuri 2 kali panjang lapangan bola. Seluruh lantainya ditutupi Pualam putih.

    Setelah melewati pintu utama, saya berjalan memasuki ruang dalam Masjid area perluasan King Fadh. Saking besarnya, pandangan lepas kita tak dapat melihat ujung Masjid lainnya. Lantai, dinding dan Tiang ditutupi marmer yang di polish licin. Setiap tiang terdapat lubang AC yang dapat mengatur suhu ruangan otomatis.

    Kami terus berjalan menuju Raudah (batas bangunan asli Masjid yang dibangun Muhammad) melewati area perluasan King Azis. Antara perluasan King Fadh dan King Azis terdapat Kubah yang dapat terbuka dan tertutup otomatis. Sempat terfikir oleh saya, betapa besar biaya yang diperlukan untuk ini semua.

    Namun saya coba tahan pemikiran negatif itu dan menggantikannya dengan fikiran betapa besar pengaruh Muhammad sampai sekarang hingga dapat terwujud Masjid sebesar dan seagung ini.

    Kamipun hampir mencapai Raudhah, namun tak bisa masuk karena penuhnya. Setelah sholat Shubuh, saya dianjurkan H. Tabrani untuk berdo’a di area Raudhah.

    “Kenapa …?”, tanya saya.

    “Berdoa disana Insya Allah lebih amat makbul (dijawab oleh Allah terhadap permintaan doa kita).

    Sempat terbesit pertanyaan saya, apakah doa orang yang berdoa di Masjid Dago Atas tidak makbul? Namun saya mulai menahan diri terhadap pemikiran dan pertanyaan model itu.

    Setelah berdoa, kamipun berdesakan keluar melalui Pintu Jibril, pintu yang melewati tepat muka makam Rasululloh. Saya ambil barisan paling kiri, barisan yang paling dekat dengan sisi makam. Kami berjalan berdesakan, perlahan, penuh sesak namun sangat tertib. Dari kejauhan saya melihat pagar makam yang didalamnya gelap tak ada cahaya. Dalam antrian perlahan saya mendekati makam. Di dalam pagar terlihat tiga makam yang ditutupi kain. Saya tak tahu yang mana Makam Rasululloh, yang mana makam Abu Bakar, dan yang mana makam Khadijah, isteri Nabi.

    2.5. Kejadian 5

    Disepanjang makam berdiri 4 orang tua dengan badan tinggi bersorban yang selalu menepis tangan orang yang mencoba memegang pagar dengan meratap.

    “Musyrik!!!”, hardiknya.

    Mereka senantiasa menjaga perilaku setiap orang yang mencoba ziarah dengan kelakuan aneh. Disini saya mulai mengerti arti Islam sebagai agama Tauhid. Agama yang ber-illah hanya dan hanya kepada Allah. Tiada kepada yang lain, tiada pula kepada para Nabinya. Nabi hanya sebagai pembawa RisalahNYA, MandatarisNYA, dan bukan tempat untuk meminta atau berdo ‘a. Nabi juga bukanlah anakNYA, karena beranak pinak adalah perilaku ciptaaNYA dan bukan salah satu sifatNYA/perilakuNYA. Musyrik atau Syirik, mensyarikatkan Allah dengan sesuatu lainnya adalah satu-satunya perbuatan dosa yang tidak pernah diampuni Allah.

    Bukan maksud saya menyindir, tapi sering kali orang melakukan “HUMANISASI”. Imajinasi bentuk alien (mahluk luar angkasa) tak pernah jauh lari dari bentuk manusia, berbadan, berkepala, bertangan dan berkaki. Film-film kartun Hollywood, selalu menampilkan bentuk perilaku binatang yang bertingkah polah bagai manusia, dan berbentuk fisik yang sudah dirobah menjadi mirip manusia.

    Dongeng-dongeng binatang buku cerita untuk anak kecil juga demikian. Robot sekarang dan masa datang, mengambil analogi kerja tubuh dan bentuk badan manusia.

    Sampai-sampai Tuhan atau Dewa-dewa yang digambarkannya pun mirip bentuk manusia. Adapula yang menganalogikan perilaku Tuhannya seperti manusia dengan perilaku beranak pinak. Disini saya merasa mendapat petunjuk, bahwa Muhammad NabiNYA, bukan anakNYA, bukan tempat meminta.

    Ketika saya tiba persis dimuka makam, seseorang dengan suara yang berat dibelakang saya berkata perlahan. Tidak keras namun tidak berbisik. Kedua tangannya memegang pundak saya dari belakang. Ia berkata dalam bahasa Arab, ” Ya Rasululloh…ini aku, aku datang kepadamu, bukan untuk meminta sesuatu yang lain.

    Aku hanya ingin meminta maaf kepadamu ya Habiballoh. Aku hanya mengagumimu namun aku tak pernah memujimu. Aku fikir aku telah menempatkanmu pada posisi yang tinggi, namun ternyata engkau lebih mulia dari itu. Aku tidak mencela engkau namun aku sadar aku telah melecehkan engkau. Aku minta maaf ya Rasululloh”.

    Pembaca, saya dapat mengerti hampir seluruh ucapannya dalam bahasa Arab itu, namun saya belum pernah belajar Nahu sorob atau bahasa Arab! Saya jadi bingung sendiri. Saya lihat dipundak saya salah satu tangannya yang memegang pundak saya dari belakang, besar sekali dan hitam legam. Waktu saya menolah kebelakang, orang tersebut seperti dari Afrika, tinggi luar biasa, hitam legam.

    Ia mengucapkannya sambil merintih menahan tangis. Rasa haru, menyesal luar biasa, dan sedikit ketakutan pun menyelimuti saya. Saya tak ucapkan kata apapun. Semua yang akan saya ucapkan telah diucapkan orang dibelakang saya dalam bahasa Arab yang saya tiba-tiba mengertinya.

    Keluar pintu Jibril, saya menunduk menahan tangis dan haru, agar tak terlihat H. Tabrani dan Iqbal puteranya. H. Tabrani tahu itu. Merekapun mempercepat langkah agar tetap didepan saya. Saya coba cari orang tinggi besar hitam tadi. Mungkin karena ramai kerumunan, saya tak dapat menemukannya.

    Sesampai di Hotel, kamipun mendiskusikannya. Terutama tentang dapat mengertinya saya terhadap ucapan dalam bahasa Arab.

    Saya bilang: “Mungkin begini Pak, karena saya dihantui rasa bersalah,dan memang saya akan berkata minta maaf, maka persepsi saya terhadap apa yang diucapkan orang tadi adalah persepsi fikiran saya”.

    H. Tabrani: “Itu mungkin. Mungkin saja. Tapi mungkin juga petunjuk, bahwa beliau (Rasululloh) tahu benar isi hati anda, dan beliau dengan akhlaknya yang mulia sudah memaafkan you tentunya”.

    Aca: ” Ah masak sich Pak. Sedemikian mudah dan cepatnya saya mendapat petunjuk ”

    H. Tabrani: ” Temen you dan saya khan sudah berkali-kali mengatakan, semua itu terserah you saja. Apakah you mau anggap itu semua kebetulan atau sebuah petunjuk. Berkali-kali saya mengatakan-terserah you saja!”

    Saya mulai tak banyak membantah. Saya benar-benar mulai berfikir, bahwa tak ada yang namanya kebetulan. Semua sudah ada aturannya, semua sudah ada sebab akibatnya. Ada sebuah “hukum sebab-akibat” yang berlaku absolut dialam semesta ini. Hukum Sebab-Akibat itu diatas hukum-hukum lainnya. Juga diatas hukum fisika, sosial, maupun psikologi yang saya anut selama ini.

    Saya mulai meyakini ini sebagai Hukum Sunatulloh, dan bukan hokum psikologi. Bukan efek kebetulan karena rasa bersalah. Bukan efek kebetulan kondisional akibat suasana yang khusuk, sakral atau magic/angker. Melainkan hukum Sunatulloh kepada orang yang mencari ridhoNYA, orang yang mencari jalan yang diridhoNYA. Namun saya tak berani berfikir bahwa saya sudah berada pada jalan yang benar, dalam “The right track”. Namun yang jelas, saya mulai lebih berhati-hati dan tidak gegabah.

    3. Perjalanan di Madinnah

    Setelah melewati waktu Zuhur, kami melakukan City Tour, ketempat-tempat bersejarah antara lain, Masjid Kuba-Masjid pertama di Madinnah yang dibuat Rasululloh. Masjid Kiblat-Masjid dimana ditengah sholat Rasululloh mendapatkan wahyu untuk sholat menghadap Ka’bah/Mekkah, yang sebelumnya menghadap Masjidil Aqso’, sehingga sholat tersebut beliau lakukan 2 roka’at menghadap Masjidil Aqso’ dan 2 roka’at sisanya menghadap Ka’bah. Karena kasus ini orang Kafir Quraisy berkomentar Muhammad pemimpin yang plin-plan.

    Dibimbing oleh Tour Guide, kami berkunjung ke Jabal Uhud, tempat di mana terjadi Perang Uhud. Terlintas dibenak saya cuplikan film “The Massage” di mana Hamzah, Panglima perang kaum Mukmin yang dibunuh dengan tombak oleh salah seorang budak suruhan Hindun, isteri Abu Sofyan, pemimpin kaum kafir Quraisy yang sangat memusuhi Nabi. Pada peperangan tersebut kaum Muslimin kalah yang disebabkan tindakan indisipliner pasukan panah.

    Kami juga mengunjungi makam Fatimah, dimana dekat makam dahulunya terdapat parit besar yang dikenal sebagai Perang Khandak. Perang dimana pada saat itu kaum kafir dari berbagai bangsa dan negara memboikot dan meng-embargo kaum muslim selama kurang lebih 2 tahun, dimana sekeliling Madinnah pada saat itu dibuat Parit besar yang memisahkan/melindunginya. Disini saya melihat bahwa perjuangan Rasulloh adalah bertahan dan bukan menyerang. Konsep yang diajukan Rasululloh adalh sebuah konsep dimana penguasa kafir tidak menyukainya. Konsep tersebut hanya mendapat tanggapan dari kaum Anshor yang bertempat tinggal di Madinnah hingga Nabi harus hijrah/pindah kesana.

    Saya akhirnya bertanya kepada Tour Guide, bagaimana dengan tindakan Nabi yang saya anggap ekspansi nekat yakni tindakan Nabi mengirim surat dari Madinnah kepada Mekkah, Mesir, Roma, Persia, Abesinia, dan Negos (Ethiopia).

    Madinnah tidak sebesar dan sekuat Mekkah, namun tindakan Nabi mengirim surat kepada Negara-negara tersebut adalah nekat (kalau tidak mau dibilanggila). Analoginya mungkin seperti Vietnam, negara kecil yang baru berdiri, tanpa angkatan bersenjata yang jelas, mengirim pesan kepada Indonesia, Australia, Amerika, Rusia, dan European Community untuk takluk dan tunduk dibawah kekuasaanya.

    “Oh tidak, ini tidak seperti demikian “, jawab Tour Guide. “Urusan Rasululloh bukan urusan kekuasaan. Konsep Rasululloh bukan konsep negara, sehingga surat yang dibuat bukan surat kekuasaan . Surat itu berisikan ajakan beragama Islam. Konsep Rasululloh adalah konsep agama, bukan konsep pemerintahan”.

    “Lho, kalau bukan urusan kekuasaan, bagaimana dengan Daulat Bani Umayah, kepemimpinan Islam setelah Ali, yang ekspansi kekuasaanya dengan cepat dan pesat sampai ke Cordova, Spanyol, daratan China, dan berbagai belahan dunia lain, sehingga Islam tidak hanya bicara didalam Masjid, namun juga dipemerintahan, dimasyarakat, hingga berlaku hukum yang hanya kita dengar sekarang secara sayup-sayup ‘hukum Islam’? Bagaimana kita memberlakukan sebuah peraturan tanpa adanya kedaulatan? Bagaimana kita bicara rajam bagi yang berzinah, sementara lokalisasi pelacuran mendapat izin dari pemerintahan Pemda setempat? Bagaimana memberlakukan hukum Islam tanpa pemerintahan Islam? “, demikian saya bertanya.

    Tour Guide tersebut tak dapat melanjutkan penjelasannya. Sayapun menjelaskan, “Mas Syaiful…saya mohon maaf loh, saya dalam pencarian, saya bukan sok tahu, tapi saya memang benar-benar tidak tahu, dan saya benar-benar ingin tahu, kayak apa sich konsep Rasululloh yang disampaikan pada saat itu?”.

    Tour Guide: “Baiklah, anda silahkan tanya kepada orang yang lebih tahu, saya terus terang belum tahu benar untuk hal ini “.

    Aca: “Terimakasih Mas…saya akan simpan pertanyaan ini”.

    Beberapa orang mungkin beranggapan ini tidak penting, namun saya berfikir bahwa ini sangat penting. Dalam pencarian / perjalanan ini saya tak menemukan jawaban, namun saya yakin insya Alloh, suatu saat, dalam pencarian saya yang berikutnya, saya dapat menemukan jawabannya…Amien.

    3.1. Kejadian 6

    Setelah sholat Ashar, akhirnya kamipun bersiap-siap untuk ber-umroh. Pak H. Tabrani mengajarkan saya untuk memakai pakaian Ihrom. Ia menjelaskan untuk memakai pakaian Ihrom, 2 lembar kain yang dililit dipinggang, satunya lagi di bahu.

    “Latihan pakai kain kafan “, demikian penjelasannya. Meskipun ia bukan Tourist Guide, namun ia begitu telaten mengajarkannya pada saya. Meskipun kadang-kadang menghardik saya, seperti waktu saya tanya kenapa koq nggak boleh pakai celana dalam. Ia hanya menjawab “Jangan didebat!!! ini daerah otak kanan! “. Untung saya sudah rada kalem sekarang karena beberapa kali mengalami peristiwa2 yang lalu, kalau tidak, mungkin sewotnya H. Tabrani berkelanjutan.

    Setelah mengambil niat di Miqod, diperjalanan kami mulai membaca Talbiah: Labbaik Allohumma labbaik Labbaik Lasyarika laka labbaik Innal hamda, Wal nikmata, Laka wal mulk La syarikalak

    Ya Allah, aku datang memenuhi panggilanmu Tiada syarikat bagimu. Sesungguhnya segala puji, segala nikmat, dan segala kuasa Hanyalah dari engkau. Tiada syarikat bagimu. Pembacaan Talbiah baik di pesawat maupun diperjalanan/bus, sangat diliputi rasa haru yang luar biasa.

    Kamipun tiba di Mekkah, kota Haram. Hotel kami cukup dekat dengan Masjidil Haram. Sementara barang-barang diurus oleh petugas travel, kami berwudhu di Hotel, kami langsung memasuki Masjidil Haram, sebuah Masjid yang paling terkenal yang mungkin paling tua didunia. Saat itu saya belum merasakan pesonanya.

    Namun setelah melepas sandal dan memasuki Masjid, saya terdiam melihat benda hitam pekat persegi empat yang berada ditengah-tengah Masjid. Ka’bah ternyata berukuran lebih besar dari perkiraan saya. Saya menahan tangis didepan rombongan tapi tak kuasa. Dengkul saya lemas luar biasa. Sulit sekali menggambarkan pesonanya. Saya kurang tahu persis pada saat itu tapi saya percaya Iqbal, anak Pak H. Tabrani yang pertama kali Umroh juga terdiam tak bersuara tak bergerak. Ia juga mengalami hal yang sama.

    Saya lemas dan duduk. Saya berusaha perlahan-lahan bergerak mendekat, namun semakin dekat, semakin tak kuasa menahan tangis. Akhirnya saya mulai meraung seperti anak kecil. Saya menangis sambil duduk tidak mengerti kenapa. Dan saya tahu persis saat itu saya tidak sedih.

    Benda itu berada ditengah-tengah Masjid, besar, besar sekali. Hitam pekat sekali. Benar-benar saya tak mengira bahwa Ka’bah berukuran sebesar itu. Saya tidak pernah berfikiran bahwa di dalamnya ada Allah sedang bersemayam. Sepintas hanya sebuah batu yang disusun dan dilapis kain hitam. Namun saya melihat sedemikian banyaknya manusia mengitarinya melakukan yang disebut tawaf. Bukankah ini bukti dari hasil kerja Muhammad.

    Analisa saya bermain, apakah sekian banyaknya manusia datang kesini hanya ditipu satu orang yang bernama Muhammad. Namun intuisi saya juga bermain, bahwa kegiatan ini pasti bukan baru dimulai kemarin. Kegiatan ini dilakukan pasti sejak ajaran Muhammad. Pendapat ini adalah pendapat awal saya yang kemudian di konfirmasikan beberapa hari kemudian oleh H. Tabrani bahwa kegiatan ini sudah ada bahkan sejak milata Ibrahim, bapak besar berbagai bangsa yang melahirkan agama Yahudi, Nasrani (bukan Kristen), yang kemudian juga Islam.

    Saya mulai tawaf putaran pertama. Sambil air mata bercucuran (tanpa malu-malu lagi sebab kanan kiri sayapun demikian) saya dibimbing H. Tabrani membaca do’a-do’a putaran pertama. Posisi kami sangat dekat dengan Ka’bah dan senantiasa saya semakin merapat kedalam. Kami merasa seperti memasuki sebuah gravitasi luar biasa yang menarik ketengah. Seolah kami bergerak perlahan bersama tanpa menginjak bumi (seperti melayang), semakin rapat dan semakin pekat ketengah. Kita tak kuasa menentukan arah (kecuali sedikit), kita hanya dapat berserah diri mengikuti arus putaran itu. Sambil memegang buku do’a kecil, saya coba baca juga artinya. Disitu terdapat do’a permintaan umur panjang dan keturunan yang banyak serta soleh. Saya tanya ke H. Tabrani, ” Loh Pak…kok ada permintaan seperti ini ya…?. H. Tabrani menjawab, “Ya memang ada, khan saya sudah katakan boleh minta apa saja”.

    Pada tawaf putaran kedua, saya kembali membaca do’a khusus untuk putaran kedua-sambil juga melihat artinya. Agak sulit memang karena banyak jama’ah Iran berbadan besar berdo’a lantang sekali. Kadang saya tak mendengar suara H. Tabrani sehingga sulit mengikuti apa yang didiktenya. Kembali saya lihat artinya, ” Loh…Pak, koq disini ada permintaan terhadap rezeki yang banyak”. H. Tabrani pun kembali menjawab, ” Ya memang boleh. Anda saja yang Cuma minta petunjuk dan nggak mau minta yang lain. Minta harta boleh…habis -kalau tidak-anda mau minta ke siapa lagi kalau bukan sama Dia “.

    Pada tawaf putaran ketiga, saya kembali membaca do’a sambil membaca artinya. Terdapat dengan jelas disitu “Tijarotan Lantabur ” yang artinya “perdagangan yang jauh dari rugi”. Saya kembali bertanya dengan lebih antusias karena masalahnya erat dengan kehidupan saya yang memang bergerak di bidang ini. “Loh-loh…ini lebih aneh lagi Pak…kok boleh minta dagang agar jauh dari rugi, ini khan urusan dunia. Bagaimana kita bisa rugi-ya karena manajemen yang buruk, sedangkan bagaimana kita bisa untung? Ya dengan manajemen yang baik? “. Akhirnya H. Tabrani mulai sewot lagi, ” You khan bilang waktu dipesawat, bahwa you hanya minta petunjuk, betul ndak…?” “Betul Pak “, jawab saya. ” OK kalau begitu nggak usah do’a saja …” , tegas H. Tabrani.

    Analisa dan intuisi saya jalan lagi, dan tiba-tiba saya teringat surat Al-Fatihah, ayat 4, “Iyya ka na’ budu wa iyya ka’ nastaiyn”. Kepadamulah kami menyembah dan hanya kepadamulah kami minta pertolongan. Saya fikir ini harus berlaku pada semua hal-segala hal  segala sesuatu-termasuk hal-hal duniawi seperti bisnis. Sehingga musyrik hukumnya jika kita meminta pertolongan dalam bidang bisnis kepada Kadin, Pemda, Katabelece Pejabat untuk menggoalkan proyek kita. Haram hukumnya meminta pertolongan kepada Bagian Purchasing untuk melakukan bisnis dengan kita.

    Permintaan tolong hanyalah kepada Allah semata. Adapun, Kadin, Pemda, Pejabat, dan bag Purchasing, hanyalah perantara. Hal ini jangan dianggap sepele, karena ini yang akan menentukan strategi manajemen perusahaan kita, apakah kita akan melakukan KKN atau melakukannya dengan pendekatan lain.

    Akhirnya dengan pemahaman yang seperti ini, saya kembali berdo’a dengan segala kerendahan hati. Meminta kepada yang mempunyai, memohon kepada pemilik yang sesungguhnya, meminta kepada Penguasa yang sesungguhnya, penguasa segala sesuatu, penguasa absolut. Statemen awal saya di pesawat, sekarang terbantai semua. Saya ternyata tak hanya meminta pertunjuk, tetapi saya-dengan kesadaran baru ini-juga meminta duniawi.

    Demikian saya melihat Rahman rohim Allah. Jika kita meminta dunia saja, Allah mungkin saja berikan, dan mungkin juga tidak. Namun jika kita meminta keridhoan akhirat-insya Allah kita juga akan mendapat dunia. Persis lagu Bimbo yang dinyanyikan Sam. Persis juga sama dengan do’a-do’a di akhir tawaf yakni fiddunia hasanah-wa fil akhiroti khasanah. Saya pun kembali berdo’a dengan lebih khusuk, dengan kesadaran baru-tanpa banyak pertanyaan lagi.

    3.2. Kejadian 7

    Usai tawaf, kami menuju sumur zam-zam yang terletak didalam areal masjidil Haram bagian bawah. Disini saya kembali tercengang. Sebuah mata air yang hampir tak mungkin ada di daerah ini. Mekkah dapat anda lihat sebagai pegunungan batu. Masjidil Haram berada di tengah-tengah seperti lembah, sekelilingnya dapat anda temukan hanyalah bukit batu yang sangat sulit dihancurkan. Ini pula yang menyebabkan pembangunan konstruksi di kota Mekkah sangat lamban. Jangankan tumbuhan subur, kurma pun malas tumbuh disini. Ironisnya, terdapat air sumur zam-zam yang debitnya luar biasa besar yang dipompa dengan pipa-pipa sampai ke Madinah, Jeddah, Yaman, dan daerah lainnya selain untuk keperluan orang ber Hajji. Berjuta-juta orang datang setiap harinya, namun sumur ini tak pernah ada keringnya. Analisa dan rasa saya mulai jalan. Andaikan memang ada sungai bawah tanah yang mengalir dibawah Mekkah, akankah bertahan sedemikian lamanya? Perhitungannya bukan 1400 tahun yang lalu, melainkan perhitungan dari Ibrahim. Entah berapa ribu tahun. Karena sungai bawah tanah dapat berubah alirannya hanya dalam kurun waktu puluhan tahun saja. Namun sumur zam-zam ini tak pernah kering dan senantiasa menyediakan air yang dibutuhkan Jamaah yang datang ke sini. Seolah olah ia ada memang untuk kebutuhan ibadah ini. Saat itu tak ada lagi dibenak saya teori kebetulan yang dahulu.

    Pada saat Sya’i, rukun Umroh berikutnya, saya melihat manusia banyak yang berjalan, sebahagian berlari, antara dua bukit batu, Syofa’ dan Marwah. Dipisahkan oleh pembatas tengah, kami mulai melintasi area Sya’i. Sesekali saya melihat wajah cantik wanita Turki dengan hidung mancung kulit putih bulu mata boros (Saat tawaf maupun Sya’i dilarang menutup cadar muka-namun ada sebahagian mazhab na, namun saya mengira pasti luar biasa untuk ukuran orang Melayu. Agak lama baru saya sadar bahwa saya mulai kurang khusyuk karena melakukan “olah raga leher”.

    Akhirnya saya bertanya kepada H. Tabrani, ” Pak…koq pakai lari-lari segala sich? “. “Begini “- jawabnya perlahan, “Dulu sewaktu Siti Khajar, isteri Nabi Ibrohim, ia berjalan sambil berlari-lari kecil mencari air antara bukit Syofa’ dan bukit Marwah, sementara anaknya Ismail ditinggal sejarak tertentu dari Ka’bah. Air yang dilihatnya ternyata hanyalah fatamorgana. Sedangkan air yang sesungguhnya justru keluar didekat kaki Ismail.

    Dari sini saya pun semakin yakin dan menarik kesimpulan, bahwa Ka’bah bukan dibangun oleh Muhammad, melainkan Nabi Ibrohim, pendahulu untuk Musa, Isya, dan Muhammad, yang melahirkan 3 agama besar, Yahudi, Nasrani, dan Islam.

    Seusai Sya’i kami pun menggunting rambut, pertanda selesainya ibadah Umroh kita. Semoga Makbul.

    Sesampai di Hotel, kelelahan kami luar biasa. Kaki saya kering pecah-pecah. Saya belum pernah merasakan pegal-pegal seperti sekarang ini. Saya fikir, bagaimana dengan kaum wanita atau Ibu-ibu. Pasti lebih capek. Tapi kelihatannya sama aja tuch.

    Salah seorang jamaah haji wanita bercerita tentang anak temannya yang sekarang tinggal di Hotel Hilton Mekkah yang tak dapat menyelesaikan tawafnya karena mencret (penyakit yang lebih cepat dari pada jet). Kotoran alias tokai nya sedemikian banyaknya sehingga ia pun kewalahan. Wueeek…sangat menjijikkan kata jamaah yang lain menambahkan. Kepala rombongannya pun membawanya pulang kembali ke Hotel. Kami tak tahu bagaiman ia mengatasi problem mencretnya yang merembes sampai pakaian Ihrom, namun akhirnya semua tahu, bahwa ia mengenakan celana dalam pada pakaian ihromnya. Sesuatu yang dilarang dalam Umroh. Saya jadi teringat sewaktu H. Tabrani membentak saya dalam masalah tersebut. Pantas – dalam hati saya.

    3.3. Kejadian 8

    Tak ada yang khusus bagi saya dalam kejadian ini. Kejadian ini terjadi pada saat saya hendak mencium batu Ka’bah. Disitu terjadi antrean yang luar biasa. Didepan saya terdapat seorang wanita muda dan cantik berpakaian Turki yang hendak mencium batu Ka’bah (sisi kiri Ka’bah, bukan Hajarul Aswad). Mungkin karena pemikiran jijiknya terhadap batu yang sudah dicium oleh jutaan manusia pada hari itu, maka ia mengeluarkan tisu, mengelap, dan menggosok bagian yang hendak diciumnya. Melihat kejadian itu, Bapak mertua saya pernah menceritakan perihal yang seperti ini berkaitan dengan gelas stainless air zam-zam untuk diminum yang menempel pada setiap keran zam-zam.

    Seorang Dokter, kawan Bapak mertua saya pergi Haji, merasa jijik dan mengatakannya kepada Bapak mertua saya perihal gelas stainless yang sudah diminum berjuta-juta mulut orang. Ini tidak steril katanya. Dokter itu meminum juga air zam-zam dengan perasaan jijik/geli. Keesokannya, apa yang terjadi. Mulutnya bengkak sariawan sampai ke leher. Bapak mertua saya mengingatkan akan ucapannya kemarin perihal gelas tersebut. Bapak mertua mengingatkan sang Dokter untuk meminumnya sekali lagi dengan gelas tersebut tetapi dengan perasaan yang berbeda, yakni perasaan iklas. Keesokannyapun sang Dokter sembuh dari sariawan seperti sedia kala. Wanita tersebut tetap asyik membersihkan batu Ka’bah dengan tisunya, sementara antrean sudah mulai panjang dan berdesakan. Ingin sekali saya melarangnya, namun karena nggak bisa bahasa Turki, lagian nggak lucu khan kenalan didepan Ka’bah.

    Ketika ia hendak mencium batu Ka’ bah -mungkin setelah ia merasa bersih- desakan dari kerumunan orang dibelakang tak tertahankan hingga mendorong wanita itu pada saat ia menciumnya sehingga benturan hidung mancung dan batu tak dapat terelakkan. Ia pun selesai mencium batu Ka’bah dengan hidung mimisan (berdarah).

    Kuwalat atau apa ini namanya ya? Hati yang kurang bersih?

    Saya jadi teringat cerita Ka’bah di surat Al-Fiil dimana tentara Abrahah yang mengendarai Gajah pada masa itu dibuat tak berdaya oleh burung-burung Ababil.

    Saya semakin mengerti mekanisme ghoib. Mekanisme yang tidak kasat mata. Bahkan mekanisme ini pun abstrak tak simetris. Terjadi di kasus ini namun kadang tidak di kasus itu. Semuanya parsial-kondisional, namun saya fikir standarnya sama jika kita ukur dari perasaan hati yang dalam. Mekanisme tersebut tak kan pernah dapat diukur karena sifatnya yang relatif tak pernah sama pada setiap individu. Meskipun ia bukan ada di alam fisika, namun saya yakin ia ada dan bekerja secara setimbang. Saya cenderung menyebutnya Metafisika daripada Supranatural yang lebih berbau klenik / sihir, trick sulap yang diyakini sebagai salah atu keajaiban oleh orang musyrik.

    Mekanisme ghoib pada alam Metafisika inipun bekerja pada kawan saya Iqbal dimana setiap harinya, sepulang kami dari sholat, ia kehilangan sandal. Bahkan sehari dapat lebih dari sekali ia kehilangan sandal. Ia mencoba berdo’a dan bertaubat dosa apa kiranya yang telah ia buat. Namun tetap saja ia kehilangan sandal setiap harinya, hingga ia harus membawa 5 real setiap sholat guna menjaga apabila sandalnya hilang. Tahukah anda, kejadian kecil disini-dapat menimbulkan akibat besar disana. Saya ambil contoh misalnya, hilangnya sandal Iqbal, mengakibatkan ia harus membeli sandal di toko dimuka Masjid. Penjual di toko tersebut seharusnya melayani seorang calon pembeli wanita misalnya, namun karena Iqbal membeli, maka ia tidak jadi melayani wanita itu. Wanita itu pergi lebih cepat. Dalam perjalanannya pulang, ia mengalami kecelakaan mobil (mis. ditabrak mobil). Seandainya Iqbal tidak kehilangan sandal, wanita tersebut mungkin akan 10 menit lebih lama untuk jalan pulang, yang tentu saja tak mengakibatkan ia mengalami kecelakaan.

    Bukan disitu saja, sang suami wanita tadi (yang katakan seorang jenderal), yang seharusnya berangkat melakukan perjalanan luar negeri guna menandatangani sebuah kesepakatan perang, membatalkan rencananya, sehingga kesepakatan serangan atau perang tadi ditangguhkan. Hilangnya sandal seorang Iqbal, dapat mengakibatkan tercegahnya sebuah rencana perang atau penyerbuan.

    Ini contoh ekstreem yang memang hanya teori main-main, tetapi saya yakin bahwa semua ini ada mekanismenya dan jangan coba-coba untuk mengurainya, karena ia terlalu abstrak dan hanya tunduk patuh pada sang Maha Penguasa. Penguasa alam fisika dan non fisika.

    3.4. Kejadian 9

    Malam besok adalah malam terakhir saya di Mekkah, oleh karenanya saya minta kepada Tour guide untuk mengantar saya ke Goa Hira’ pagi-pagi sekali. Tak ada anggota rombongan yang mau ikut. Tidak juga H. Tabrani maupun Iqbal anaknya. ” OK, nggak apa-apa, saya tetap mau berangkat sendiri”, tegas saya kepada Tour guide. Jadi biaya travel maupun biaya Tour guide saya tanggung sendirian. Kamipun merencanakannya. Paginya seusai sholat Shubuh, saya berkemas bersiap berangkat, dengan tas ransel dan sepatu sport. Dengan menggunakan taksi, kami tiba dikaki bukit Gua Hira’. Perjalanan sampai kepuncak memakan waktu kurang lebih satu jam. Terbayang oleh saya ketika Nabi pulang pergi setiap harinya sampai ke puncak. Gua Hira’ ternyata sangat kecil. Lebih mirip dua batu yang saling bersandar daripada sebuah Gua. Ditemani Tour guide, saya sujud ditempat Nabi Muhammad duduk menyendiri 1422 tahun yang lalu.

    Dalam sujud saya bicara dalam hati, “Ya Malaikat Jibril, kenapa koq Nabi Muhammad diberi wahyu, kenapa saya tidak?”. “Kenapa Nabi Muhammad dapat berjumpa denganmu, kenapa saya tidak?” Tanpa sholat dan do’a, tanpa meratap ke gua apalagi membuang sesaji (hanya sujud dan berkata dalam hati seperti diatas saja), kami pulang menuruni bukit. Saya pun membahas pertanyaan saya di dalam hati tadi kepada Tour guide. Saya juga sering menyendiri di Villa, menyendiri di kaki bukit Gn. Gede, tetapi kenapa tak pernah datang yang namanya Jibril. Saya jadi ingat cerita-cerita para sufi yang mempelajari hakekat sehingga pergi kegunung-gunung menyendiri, lepas dari hubungan sosial, serta tak mempedulikan situasi dan kondisi diri.

    Apakah tindakan Nabi Muhammad pada kala itu seperti para sufi tersebut? Pertanyaan inipun saya simpan kembali tanpa tahu jawabannya. Esok hari terakhir, hari dimana saya mesti melakukan tawaf wada’, tawaf terakhir/ tawaf perpisahan dengan Ka’bah. Saya tidur cepat setelah sholat Isya”.

    Subuh dini hari saya bangun, ketika saya hendak menggosok gigi, saya tiba-tiba tersadar, “Subhanalloh, tadi malam saya bermimpi bertemu Jibril”. Buru-buru saya ketok kamar H. Tabrani. Saya bangunkan ia, dan saya ceritakan mimpi saya.

    “Bagaimana ceritera mimpinya?”, H. Tabrani bertanya.

    “Begini Pak, sesuatu berbentuk manusia dengan peci hitam datang kepada saya. Saya bertanya siapa anda? Ia menjawab saya Jibril, kemudian ia mengajak saya untuk ikut. Saya berjalan mengikutinya, dan tiba-tiba kami tiba di sebuah Masjid.

    Didalam mimpi saya Jibril berkata, “ini Masjidil Aqsa”. “Disini terdapat salah satu keajaiban yang anda cari”. H. Tabrani pernah melawat ke Masjidil Aqsa’. H. Tabrani berfikir sejenak, kemudian ia menjawab, mungkin yang dimaksud adalah “The Dome of the Rock. Sebuah batu yang berada tepat ditengah Masjid”. “Aneh memang batu itu. Ia menggantung, dan berada tepat ditengah-tengah Masjid, kami semua juga nggak ngerti kenapa begitu”. Terus bagaimana tanya H. Tabrani. Terus Jibril bilang begini Pak, “Tolong Masjid ini dipelihara”. H. Tabrani menepak kepala “Waduh…repot ini”. “Kenapa Pak?”, tanya saya.

    “Masjid itu dikuasai Yahudi. You Nggak bisa keluar masuk seenaknya”.

    “You sholat dibatasi disana, Cuma 5 menit “.

    “Wah saya nggak bisa jelasin artinya “.

    “Tapi yang jelas, saya yakin you adalah orang yang disayang Allah”.

    “Subhanalloh”. Saya sudah berumur 63 thn, tapi saya belum pernah mimpi bertemu Jibril, tapi you…you…luar biasa”.

    Saya juga tidak mengerti sampai sekarang arti mimpi saya, dimana saya tidur di Mekkah, bermimpi dibawa seseorang yang berkata sebagai Malaikat Jibril, yang kemudian membawa saya ke Masjidil Aqsa’ di Palestin. Saya jadi merinding.

    Saya takut sendiri dengan kejadian-kejadian yang saya alami. Saya takut untuk berbuat macam-macam. Saya mengalami semua ini dalam perjalanan ke Mekkah. Kesadaran saya seperti sekarang ini amat saya syukuri, namun yang paling saya takuti, adalah deviasinya, perubahannya apabila saya tidak menjaganya. Apa yang akan terjadi nanti ditanah air.

    Saya harus menghadapi dunia nyata yang penuh dengan godaan. Tidak seperti waktu di Mekkah, dimana fikiran, jiwa dan raga kita bisa khusuk serta kita jaga kebersihannya. Dari perjalanan ini, tidak semua kejadian saya ceritakan, hanya yang saya anggap penting saja, namun sebenarnya, kejadian kecil lainnya yang merujuk kepada hidayah yang tidak saya ceritakan karena terlalu panjang banyak saya alami, namun saya mempunyai beberapa kesimpulan:

    1. Allah itu benar adanya yang menciptakan segala sesuatu.
    2. Wahyu Allah turun pada setiap kurun waktu tertentu.
    3. Wahyu Allah juga turun kepada Muhammad yang diutus sebagai Rasulnya.
    4. Allah tidak punya banat/sarikat/kompetitor.
    5. Allah menurunkan Wahyunya kepada Muhammad yang kemudian dibakukan dalam bentuk kitab yang bernama Al-Qur’an.
    6. Al-Qur’an adalah statemen dari Allah yang didalamnya berisikan petunjuk bagi manusia yang ingin berserah diri kepadanya.
    7. Al-Qur’an bukan buatan Muhammad atau ideologi Muhammad.
    8. Haji dan Umroh penting adanya dan bukan bisa-bisanya Muhammad. Biaya yang demikian mahal, sebanding bahkan melebihi hasil yang kita dapat dari perjalanannya.
    9. Daging Babi, darah, Alkohol, Judi, Zinah, dan perbuatan maksiat lainnya adalah haram hukumnya. Tak perlu dianalisa secara metode ilmiah, karena justifikasinya akan selalu ditemukan manusia guna menghalalkannya, namun demikian, coba fikirkan dengan instrument rasa/intuisi dari hati yang dalam, bermanfaatkah jika dilakukan.
    10. Kita manusia adalah manusia yang paling istimewa, karena kita mempunyai 2 pilihan, berserah diri kepada kemauan Pencipta, atau berserah diri kepada kemauan kita sendiri.
    11. Ada mekanisme Ghoib yang tidak kelihatan, yang memberikan balasan positif apabila kita berbuat positif, berbalas negatif apabila kita berbuat negatif.
    12. Mekanisme Ghoib, berlaku pada orang-orang yang dicintai Allah, namun bagi yang sudah kelewatan, ia akan dibiarkan, karena Allah menegur dengan sapaan hirarki. Peringatan pertama mungkin dengan mencolek, jika ia tak mau, Allah peringati ia dengan menepak, jika ia tak juga sadar Allah peringati ia dengan menempeleng keras, namun jika ditempeleng keras ia tetap dableg dengan perbuatan negatifnya, Allah akan membiarkannya, karena hanya hari akhir setelah matinya yang akan membalasnya kekal abadi di Neraka Jahanam.
    13. Mekkah dan Madinah bukan tanah suci (seperti yang saya duga sebelumnya pada tulisan Muhammad punya bisa ), melainkan tanah Haram, daerah dimana diharamkan bagi siapa saja berbuat kerusakan, dan itupun hanya pada batas-batas tertentu yang sudah diberi patok/tanda.

    ***

    Sumber  Sahabat

     
    • putri 2:54 pm on 21 Desember 2010 Permalink

      izin copy yaa…

  • erva kurniawan 1:38 am on 12 November 2010 Permalink | Balas  

    Hidup : antara Adzan dan Sholat 

    Manusia hidup tak lebih seperti kita mau sholat, ketika datang waktu mau sholat, adzan dikumandangkan, sama seperti kita lahir, lalu kemudian sholat dilaksanakan, sama seperti saat kita mati disholatkan.

    Jadi sebenarnya umur manusia diduni tak lama dalam hitungan Allah, cuma selama jeda antara adzan dan sholat. Lalu apa yang kita harapkan dan kita cari dalam waktu yang sempit seperti itu??

    Jawabnya tak lain, berwudhlu (bersiap-siap untuk sholat), lalu istighfar sebanyak2nya kalo sempat sholat sunat..

    Dalam hidup pun seperti itu, menjelang disholatkan, mari kita berwudhlu dunia, membersihkan kotoran hati, kotoran jiwa dan lainnya, lalu mari kita bertawaddu’ nah sholat sunat dalam hidup adalah carilah kebahagiaan yang bisa kita peroleh dalam hidup.

    Perjalanan menuju akhir (kematian) seperti hal nya menunggu waktu sholat (wajib), semuanya udah pasti, ada lima waktu, sholat subuh, dzuhur, ashar, maghrib dan isya. Begitu pula hal nya kematian manusia, semuanya udah pasti dan udah dipastikan Allah, hanya kita gak tau masuk kloter yang mana, apakah masuk yang subuh (bayi), dzuhur (remaja), ashar (dewasa), maghrib (setengah baya) atau yang paling alot isya (udah bangkotan banget).

    Dari pada menerka-nerka kita masuk ke golongan/kloter yang mana, akan lebih baik kalo kita siapkan diri dengan berwudlu, lalu dzikir sambil menunggu Imam memimpin sholat.

    Jadi dari pada hidup was-was menunggu akhir, atau ada pula yang berlagak tidak tau bahwa jalan pasti berujung, marilah benahi wudhlu kehidupan, perbanyak dzikir kehidupan sambil menanti datangnya hari, dimana kita tak lagi berdiri di shaff sholat, tidak lagi menjadi makmum ataupun tak lagi menjadi imam dalam sholat, melainkan menjadi sebab orang bersholat (kita disholatkan).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 4 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Bunda, Luar Biasa 

    Seorang anak terlahir normal, tanpa cacat sedikit pun. Proses kelahirannya berlangsung normal, tanpa operasi caesar. Tetapi proses panjang selama Sembilan bulan sebelum melahirkan itulah yang tidak normal. Bahkan, jika bukan karena kuasa Allah, takkan pernah terjadi sebuah kelahiran yang menakjubkan ini. Selain faktor Allah, tentu saja ada sang bunda yang teramat luar biasa…

    Pekan pertama setelah mengetahui bahwa dirinya positif hamil, Sinta mengaku kaget bercampur haru. Perasaan yang luar biasa menghinggapi seisi hidupnya, sepanjang hari-harinya setelah itu. Betapa tidak, sekian tahun lamanya ia menunggu kehamilan, ia teramat merindui kehadiran buah hati penyejuk jiwa di rumah tangganya. Dan kenyataannya, Allah menanamkan sebentuk amanah dalam rahimnya. Sinta pun tersenyum gembira.

    Namun kebahagiaan Sinta hanya berlangsung sesaat, tak lebih dari dua pekan ia menikmati hari-hari indahnya, ia jatuh sakit. Dokter yang merawatnya tak bisa mendiagnosa sakit yang diderita Sinta. Makin lama, sakitnya bertambah parah, sementara janin yang berada dalam kandungannya pun ikut berpengaruh. Satu bulan kemudian, Sinta tak kunjung sembuh, bahkan kondisinya bertambah parah. Dokter mengatakan, pasiennya belum kuat untuk hamil sehingga ada kemungkinan jalan untuk kesembuhan dengan cara menggugurkan kandungannya.

    Sinta yang mendengar rencana dokter, langsung berkata “tidak”. Ia rela melakukan apa pun untuk kelahiran bayinya, meski pun harus mati. “bukankah seorang ibu yang meninggal saat melahirkan sama dengan mati syahid?” ujarnya menguatkan tekad.

    Suaminya dan dokter pun sepakat menyerah dengan keputusan Sinta. Walau mereka sudah membujuknya dengan kalimat, “kalau kamu sehat, kamu bisa hamil lagi nanti dan melahirkan anak sebanyak kamu mau”. Namun Santi tak bergeming. Janin itu pun tetap bersemayam di rahimnya.

    Waktu terus berjalan, memasuki bulan ketiga, Sinta mengalami penurunan stamina. Keluarga sudah menangis melihat kondisinya, tak sanggup melihat penderitaan Sinta. Tak lama kemudian, dokter menyatakan Sinta dalam keadaan kritis. Tidak ada jalan lain, janin yang sudah berusia hampir empat bulan pun harus segera dikeluarkan demi menyelamatkan sang bunda.

    Dalam keadaan kritis, rupanya Sinta tahu rencana dokter dan keluarganya. Ia pun bersikeras mempertahankan bayinya. “Ia berhak hidup, biar saya saja yang mati untuknya”. Santi pun memohon kepada suaminya untuk mengabulkan keinginannya ini. “Mungkin saja ini permintaan terakhir saya Mas, biarkan saya meninggal dengan tenang setelah melahirkan nanti. Yang penting saya bisa melihatnya terlahir ke dunia,” luluhlah sang suami.

    Pengguguran kandungan pun batal.

    Bulan berikutnya, kesehatan Sinta tak berangsur pulih. Di bulan ke enam kehamilannya, ia drop, dan dinyatakan koma. Satu rumah dan dua mobil sudah habis terjual untuk biaya rumah sakit Sinta selama sekian bulan. Saat itu, suami dan keluarganya sudah nyaris menyerah. Dokter dan pihak rumah sakit sudah menyodorkan surat untuk ditandatangani suami Sinta, berupa surat izin untuk menggugurkan kandungan. Seluruh keluarga sudah setuju, bahkan mereka sudah ikhlas jika Allah berkehendak terbaik untuk Sinta dan bayinya.

    Seorang bunda memang selalu luar biasa. Tidak ada yang mampu menandingi cintanya, dan kekuatan cinta itu yang membuatnya bertahan selama enam bulan masa kehamilannya. Maha Suci Allah yang berkenan menunjukkan kekuatan cinta sang bunda melalui Sinta, menjelang sang suami menandatangani surat izin pengguguran, Santi mengigau dalam komanya. “Jangan, jangan gugurkan bayi saya. Ia akan hidup, begitu juga saya” Kemudian ia tertidur lagi dalam komanya.

    Air mata meleleh dari pelupuk mata sang suami. Ia sangat menyayangi isteri dan calon anaknya. Surat pun urung ditandatanganinya, karena jauh dari rasa iba melihat penderitaan isterinya, ia pun sangat memimpikan bisa segera menggendong buah hatinya. Boleh jadi, kekuatan cinta dari suami dan isteri ini kepada calon anaknya yang membuat Allah tersenyum.

    Allah Maha Kuasa. Ia berkehendak tetap membuat hidup bayi dalam kandungan Sinta meski sang bunda dalam keadaan koma. Bahkan, setelah hampir tiga bulan, Sinta tersadar dari komanya. Hanya beberapa hari menjelang waktu melahirkan yang dijadwalkan. Ada kekuatan luar biasa yang bermain dalam episode cinta seorang Sinta. Kekuatan Allah dan kekuatan cinta sang bunda.

    Bayi itu pun terlahir dengan selamat dan normal, tanpa cacat, tanpa operasi caesar. “Mungkin ini bayi termahal yang pernah dilahirkan. Terima kasih Allah, saya tak pernah membayangkan bisa melewati semua ini,” ujar Sinta menutup kisahnya.

    ***

    Sumber: Bunda, Luar Biasa! oleh Bayu Gawtama

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 2 November 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ini Uang Halal 

    Kira-kira pertengahan Ramadhan, pagi hari menjelang sampai ke gerbang kampus. Sebuah papan pengumuman terpampang dipinggir sawah di pendakian setelah terminal Kampung Koto. “Tanah di jual 1024 m2”, lengkap dengan nomor telepon 0751 xx xxx. Bukannya saya ingin membeli tanah tersebut, dengan gaji dosen biasa jelas mana sanggup. Tanah tersebut pasti harga nya sangat mahal, terletak di dekat sebuah kampus terkenal, seperti kata Menteri Pendidikan beerapa waktu lalu, ketika pemberian gelar Doktor Honouris Causa pada Presiden Republik Indonesia SBY dulu. “Tapi tidak apalah coba ditanyakan saja, sambil mengingat nomor telepon yang tercantum pada papan tersebut”, guman saya sendiri sambil berlalu.

    Sesampai di kampus, sepeda motor bekas cicilan saya parkir di belakang kampus. Sejenak memandang ke arah barat, pemandangan laut dari atas sungguh cantik sekali, capek di jalan terasa terhapus. Saya berdiri dan menarik telepon saku dari kantong celana, tidak terasa satu lembar uang dua puluh ribuan terjatuh secara tidak sengaja. Namun entah kenapa uang tersebut saya biarkan saja. “Biarlah sebentar, setelah menelpon yang punya tanah tersebut, uang tersebut akan saya ambil lagi”, hati saya berkata.

    Setelah menghubungi yang punya tanah tadi, ternyata memang mahal sekali, jauh dari beberapa ratus ribu dari saya kira. “Nantilah pada suatu saat kalau uang saya sudah cukup tanah seperti itu dapat dibeli juga”, kata hati saya. Saya berlalu, sedikitpun tidak teringat satu lembar uang dua puluh ribuan sempat tergeletak seperti barang tidak bernyawa.

    Sesampai di ruang kerja, setumpuk buku bahan kuliah sudah disiapkan. Jam 8.30 pagi tersebut saya harus masuk kelas. Memang benar, sekumpulan mahasiswa telah berkumpul di dapan kelas. Kelas pun segera di mulai.

    Tidak terasa dua jam telah berlalu, kuliah pun selesai.Seperti biasa kepuasan seorang Dosen adalah setelah kuliah selesai, mahasiswa penuh dan menyimak sampai pembicaraaan usai. Badan saya terasa kehabisan asai, tenggorokan kering terasai, namun puasa belum selesai.

    Sebelum kembali ke ruang kerja, saya mampir ke kantor Pak Kajur untuk melihat apa-apa. Akan tetapi sebelum sampai di sana, menjelang akhir anak tangga lantai dua, tiba-tiba batin “tercenung”, “uang”, terpana. Uang dua puluh ribuan saya, yang jatuh dari saku celana, saya tadi belum sempat saya ambil an tadi saya berlalu begitu saj. Tampa pikir panjang, saya langsung balik kanan, dan setengah berlari ke belakang gedung. Saya tidak peduli setengah mahasiswa yang berkumpul di pelataran gedung agak heran, menyapa.

    Sesampai di belakang kantor jurusan teknik mesin, ternyata uang dua puluh ribuan tersebut telah sirna. Tidak berbekas, sudah lebih dua jam, pasti telah banyak orang lalu lalang, baik mahasiswa, maupun Dosen sebahagian lewat di sana. Dengan hati sedikit menyesal, atas kelalaian ini keadaan ini harus juga diterima. “Yang bukan hak kita, ya memang milik kita”, kata sayai.

    Dua puluh ribu bukan uang kecil untuk ukuran saya, satu lembar tersebut cukup menghidupi satu hari keluarga saya. Namun yang nama nya bukan rejeki, apa yang ditanganpun mudah sekali sirna.

    Hampir satu bulan berlalu, Senin hari pertama masuk kantor, setelah satu minggu setelah Hari Raya telah molor, saya sampai kembali ke kampus ditempat yang sama di mana saya menyia-nyiakan uang dua puluh ribu saya. Hari masih pagi, suasana masih lengang dan sepi, setelah melintas di ruang labor, saya sampai di koridor. Sesaat sebelum sampai di tangga saya berpapasan dengan salah seorang mahasiswa. “Pak”, katanya. Segera saya menyalaminya, dan berkata. “Minal Aidin wal Fazin”. “Sama-sama Pak”, katanya. Saya berlalu beberapa langkah, tiba-tiba kembali mahasiswa tersebut menyapa,”Pak”, katanya. “Bapak pernah kehilangan uang.”. Sebelum selesai dia berkata saya menyahut, “duapuluh ribu”. “Ya pak,uang tersebut tergeletak di samping kendaraan Bapak” katanya kembali.

    Segera dia masuk ke dalam ruangan laboratorium dan mengambil sesuatu di kantong yang tergantung dinding, dan menyerahkan satu lembar kertas kepada saya. Ternyata memang benar satu lembar uang dua puluh ribuan. Dengan tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepadanya saya berkata, “ini uang halal” sambil mengangkat uang tersebut. Dia tertawa dan sayapun berlalu. Saya senang, atau sangat senang sekali, bukan karena uang saya kembali, akan tetapi saya sangat sengat senang bahwa mahasiswa saya, mahasiswa Jurusan Teknik Mesin ternyata sangat putih, bersih pada tahun ini.

    Saya pandang uang tersebut dan saya tempel dinding untuk, hanya sekedar untuk mengingat mahasiswa saya.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • fikrie 7:52 pm on 14 November 2010 Permalink

      subhanallah, sy terharu membacanya =]

  • erva kurniawan 1:11 am on 28 October 2010 Permalink | Balas  

    Cinta Laut dan Langit 

    Dahulu kala, langit dan laut saling jatuh cinta. Mereka sama-sama saling menyukai 1 sama lain. Saking sukanya lautterhadap langit, warna laut = langit, saking sukanya langit terhadap laut, warna langit = laut.

    Setiap senja datang, si laut dengan lembut sekali membisikkan “aku cinta padamu” ke telinga langit. Setiap langit mendengar bisikan penuh cinta laut pun, langit tidak menjawab apa2 hanya tersipu2 malu wajahnya semburat kemerahan.

    Suatu hari, datang awan… begitu melihat kecantikan si langit, awan seketika itu juga jatuh hati terhadap langit. Tentu saja langit hanya mencintai laut, setiap hari hanya melihat laut saja. Awan sedih tapi tak putus asa, mencari cara dan akhirnya menemukan akal bulus.

    Awan mengembangkan dirinya sebesar mungkin dan menyusup ke tengah2 langit dan laut, menghalangi pandangan langit dan laut terhadap 1 sama lain.

    Laut merasa marah karena tidak bisa melihat langit, sehingga dengan gelombangnya, laut berusaha menyibak awan yang mengganggu pandangannya. Tapi tentu saja tidak berhasil.

    Lalu datanglah angin, yang sejak dulu mengetahui hubungan laut dan langit merasa harus membantu mereka menyingkirkan awan yang mengganggu.

    Dengan tiupan keras dan kuat, angin meniup awan … Awan terbagi-bagi menjadi banyak bagian, sehingga tidak bisa lagi melihat langit dengan jelas, tidak bisa lagi berusaha mengungkapkan perasaan terhadap langit.

    Sehingga ketika merasa tersiksa dengan perasaan cinta terhadap langit, awan menangis sedih. Hingga sekarang, kasih antara langit dan laut tidak terpisahkan.

    Kamu juga bisa melihat di mana mereka menjalin kasih. Setiap ke laut, di mana ada 1 garis antara laut dan langit, di situlah mereka sedang bersatu.

    PS: sebarkan ke orang lain… maka cinta anda yang selama ini hambar akan menjadi cinta abadi …

    ***

    Dari Sahabat

     
    • ahmadriyadhmz 12:49 pm on 4 Januari 2011 Permalink

      Saya setuju, tanpa ada laut, langit gak mungkin neh kt bisa berteduh dibwh atapnya, gak mungkin bisa hdp tnpa ada air yg menjadi sumber kehidupan…kunjungi blog saya di http://www.ahmadriyadhmz.wordpress.com salam kenal…

    • yoga 1:08 pm on 27 Januari 2011 Permalink

      kenapa bisa begitu

    • adinda 12:56 pm on 7 Agustus 2011 Permalink

      keren bgt,, like it,,
      setuju bgt..

    • alfi zainudin 11:22 pm on 24 Agustus 2011 Permalink

      bagus banget. keren…

    • Wulan 8:56 pm on 2 Oktober 2011 Permalink

      wah…..unik… ijin share…. ^)^

    • BABA FATHIR 1:03 pm on 6 Februari 2012 Permalink

      cinta kasih yang abadi antar dua alam

    • BABA FATHIR 1:05 pm on 6 Februari 2012 Permalink

      cinta kasih antar dua alam

  • erva kurniawan 1:20 am on 23 October 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Encouragement 

    LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

    Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia ,” jawab saya. Dia pun tersenyum.

    Budaya Menghukum

    Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement (mengobarkan semangat, red)!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

    “Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita. Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

    Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

    Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.

    Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

    Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna),tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

    Melahirkan Kehebatan

    Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

    Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

    Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

    ***

    RHENALD KASALI

    Ketua Program MM UI

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 15 October 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ibu, I Miss You So Much 

    Oleh: Jamil Azzaini – Kubik Leadership

    Jakarta, Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apapun  yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan  berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau  keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada  2003.

    Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta. Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.

    Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter berkata, “Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu”. Sayapun menjawab “Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya” Dokter itu menjawab “Karena obat yang ini mahal Pak Jamil.” “Memang harganya berapa dok?” Tanya saya. Dokter itu dengan mantap menjawab “Dua belas juta rupiah sekali suntik.” “Haahh 12 juta rupiah dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok? Dokter itu menjawab, “Sehari tiga kali suntik pak Jamil”.

    Setelah menarik napas panjang saya berkata, “Berarti satu hari tiga puluh enam juta, dok?” Saat itu butiran air bening mengalir di pipi. Dengan suara bergetar saya berkata, “Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan.” “Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya, pak.” jawab dokter.

    Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang ICU Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, “Ya Allah Ya Tuhanku… aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku… gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini.”

    Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.

    Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata berkata “Pokoknya yang ngambil uangku kualat… yang ngambil uangku kualat…” Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang mengambil uang itu.

    Usai berdoa saya merenung, “Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki itu.” Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?”

    “Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada yang ngambil,” jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.

    Sambil terbata saya berkata, “Ibu, maafkan saya… yang ngambil uang itu saya, bu… saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf… saat nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu.” Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya dengar ibu saya berkata: “Ya Tuhan pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh.” Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon doa darinya.

    Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata “Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu.” Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata. “Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter.”

    Saya meninggalkan ruangan dokter itu…. dengan berbisik pada diri sendiri Ibu, I miss you so much.”

    ***

    Keterangan Penulis:

    Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.

     
    • intan 7:20 pm on 24 Oktober 2010 Permalink

      Ibu swatu hari nnti aq akn mmbri ssuatu untk diri mu. karena bgi q pngorbana nyawa mu tuk mlhirkan q tdak bsa di bls oleh apapun slain kbhgian yg engkau dambakan dri diri q

    • lian 7:49 pm on 27 Oktober 2010 Permalink

      bener2 kisah yang buat kita introkspeksi diri untuk jangan penah menyakiti hati sang ibu.
      mom,,i love you..

    • ana 1:00 pm on 13 Desember 2010 Permalink

      ma.. maafkan ank mu ini jika pnya slh.. aku syg mama,.

  • erva kurniawan 1:37 am on 14 October 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah 3 Pendekar 

    Kisah 3 Pendekar

    ***

    Saya lahir tahun 1978 dan dua tahun kemudian ibu saya meninggal karena suatu penyakit. Apalah yang dimiliki seorang anak umur 2 tahun ketika ditinggal ibunya kecuali tangis ketidaktahuan. Ketidaktahuan karena belum bisa berpikir tetapi telah diberi Tuhan perasaan sepi dan kehilangan.

    Di sebelah utara rumah saya, tinggal seorang pemuda idiot. Dia kira-kira berumur 12 tahun ketika ibu saya meninggal. Selain itu, di sebelahnya tinggal pula seorang pemuda lain berumur 20- an tahun yang belum pernah bersekolah, tidak bisa membaca dan bekerja sebagai kusir andong (kereta/bendi). Sementara di sebelah barat rumah saya, tinggal pemuda yang juga berumur 20-an tahun, terbelakang, bodoh dan harus keluar dari kelas I SD karena tak bisa mengikuti pelajaran sedikitpun.

    Sebagai anak berumur 2 tahun, tentu saja saya belum begitu mengenal mereka. Tetapi seiring waktu, saya mulai tahu bahwa merekalah sahabat terbaik dalam hidup saya. Akal saya yang semakin terasah ketika berumur 5 tahun dan ingatan yang semakin kuat mematri kenangan saya dengan 3 orang hebat dalam hidup saya tersebut. Merekalah yang saya sebut sebagai 3 pendekar dalam hidup saya.

    Tiga orang yang sama-sama terbelakang, tidak bisa membaca dan sering dianggap “agak kurang”  (bahasa halus untuk sedikit gila) oleh tetangga-tetangga, tenyata merupakan penyelamat hidup saya.

    Pemuda pertama, anak belasan tahun yang saya tahu dipanggil Adek, idiot dan selalu mengeluarkan air liur dari mulutnya. Karena tak pernah memiliki teman bermain, saya lah yang selalu dipandangnya dari jendela rumah. Ketika semua orang mengusir dan anak-anak lain takut untuk mendekat, dia mencoba mengenal saya. Dialah yang kemudian merawat saya, karena ketiadaan ibu dan ayah yang terlalu jarang di rumah. Anak idiot itulah yang mengajari saya bermain, membuatkan wayang suket, mencari kodok di sawah, berendam di kali atau menonton karnaval 17 Agustus yang tiap tahun diadakan di kota kecamatan.

    Pemuda dua puluhan tahun yang menjadi kusir andong tadi bernama Gandul. Keterbelakangannya justru menjadi sumber kebaikan hati. Setiap hari, begitu pulang dari bekerja, dia selalu menyisihkan uang Rp 50-100 di bawah jok andongnya. Uang itu khusus disediakan untuk saya, anak SD yang tak pernah lagi menerima uang saku dari ayahnya. Selama bertahun-tahun, Gandul melakukan itu karena tahu bahwa saya tak pernah bisa jajan jika dia lupa menyisihkan. Dia juga yang mengajak saya jalan-jalan, menjadi kernet andong atau bersuka dengan kudanya.

    Pemuda ketiga bernama Darsio, karena tak juga bisa melakukan apa yang dilakukan kawan-kawannya, dia dikeluarkan dari sekolah. Mulai itulah dia mendekati saya, mengajak saya bermain di kebunnya yang luas. Mencarikan buah apapun yang saya inginkan. Jika saya lagi kepingin pisang, dia akan mencarinya. Begitu pula ketika saya minta kelapa muda di satu siang yang panas, dia akan mengajak saya ke kebun dan memetikkan beberapa. Darsio mengajari saya berenang, kadang berpetualang seharian ke tempat-tempat yang jauh, berjalan kaki dan melatih keberanian saya. Karena sebelumnya saya memang terlalu penakut dan mudah menangis. Agar tubuh saya kuat, dia juga memberi segelas susu kedelai dari pabrik tahu milik orang tuanya hampir setiap hari.

    Ketiga orang itu, 3 pendekar yang mengisi hidup masa kecil saya. Menemani dengan tulus sehingga kini saya bisa berpikir bahwa Tuhan memang mengambil ibu saya, tetapi Dia mengirimkan 3 orang hebat dalam hidup saya. Ketiganya terbelakang, tidak sekolah, tak bisa membaca, bahkan dua diantaranya sampai kini tak punya istri. Tetapi merekalah yang mengajari saya banyak hal, menemani tahun-tahun sepi, membantu saya siap untuk mandiri.

    Kini (Tahun 2002, red) saya 24 tahun dan akan segera menyelesaikan kuliah. Karena pengalaman hidup itulah saya bisa bertahan hingga sekarang, merantau, mandiri, dan memiliki pandangan positif terhadap makluk ciptaan Tuhan seperti apapun adanya. Untunglah saya dibesarkan oleh 3 orang idiot dan bukannya 3 orang profesor, 3 orang kaya, atau 3 bisnisman. Sehingga saya bisa memaknai hubungan antar manusia, bukan karena kapasitas intelektual, uang atau kesuksesan. Bagi saya, ketulusan untuk memberi dan sikap menjadi manusia seutuhnya itu lebih penting.

    Berkah dari 3 pendekar hebat, dan karena itulah saya selalu beranggapan, seperti apapun kondisinya, hidup kita diciptakan Tuhan sangat indah. Kalau mata kita memandangnya dengan indah pula.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • arinugroho84 1:53 am on 14 Oktober 2010 Permalink

      aq terharu bro…. ya indah….memang indah…

    • che 9:43 pm on 22 Oktober 2010 Permalink

      ✖♂hye??????

    • Fachrurozie 6:35 am on 24 Oktober 2010 Permalink

      good story

  • erva kurniawan 1:41 am on 11 October 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    25 Tahun Yang Lalu 

    25 tahun yang lalu,

    Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai. Tanpa sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa dan salam sejahtera dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku. Cita-cita kami sederhana, ingin hidup bahagia.

    22 tahun yang lalu,

    Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi baik hingga dia tampak sempurna. Kulitnya masih merah, mungkin karena ia baru berumur seminggu.

    Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania tak mau menerima kami. Ya sudahlah. Aku tak berhak untuk memaksa dan aku tidak membenci mereka. Aku hanya yakin, suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah.

    19 tahun yang lalu,

    Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang berlari-lari, melompat-lompat atau meloncat dari meja ke kursi lalu dari kursi ke lantai kemudian berteriak “Horeee, Iya bias terbang”.

    Begitulah dia memanggil namanya sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu merekah seperti mawar di pot halaman rumah.

    Dan Kania tak jarang berteriak, “Iya sayaaang,” jika sudah terdengar suara “Prang”. Itu artinya, ada yang pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca. Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat dari tempat tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya terpental. Dan dia cuma bilang “Kenapa semua kaca di rumah ini selalu pecah, Ma?”

    18 tahun yang lalu,

    Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal dari pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi jadi pemain bola seperti yang sering diucapkannya. “Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain bola!” tapi aku tidak suka dia menangis terus minta bola, makanya kubelikan ia sebuah bola.

    Paling tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu sore. Dan seperti yang sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola itu. “Horee, Iya jadi pemain bola.”

    17 Tahun yang lalu

    Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan. Mainnya di rumah aja. Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak akan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa tidak tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya.

    Yang aku tahu, hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnya dari sekolah. Kulihat anakku sedang asyik menendang bola sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin ketengah jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku mengalahkan kehati-hatianku dan “Iyaaaa”.

    Sebuah truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya berhenti di atas dua kakiku. Waktu aku sadar, dua kakiku sudah diamputasi. Ya Tuhan, bagaimana ini. Bayang-bayang kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku bekerja sementara pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke rumah konsumen. Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata “Coba kalau kamu tak belikan ia bola!”

    15 tahun yang lalu,

    Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang tabungan menguap jadi asap dapur. Kania mulai banyak mengeluh dan Iya mulai banyak dibentak. Aku hanya bisa membelainya. Dan bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat marah.

    Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku tak bisa berkata apa-apa waktu Kania hendak mencari pekerjaan ke luar negeri.

    Dia ingin penghasilan yang lebih besar untuk mencukupi kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan dia akan tetap pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia memang pergi ke Malaysia.

    13 tahun yang lalu,

    Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu tak terdengar kabar lagi. Aku harus mempersiapkan uang untuk Kamila masuk SMP.

    Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya. Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa melanjutkan sekolah. Aku bekerja serabutan, mengerjakan pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku.

    Aku miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku harus kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup tegar.

    10 tahun yang lalu,

    Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku. Dan Kamila hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi bulan-bulanan hinaan teman sebayanya. Anakku cantik, seperti ibunya.

    “Biar cantik kalo kere ya kelaut aje.” Mungkin itu kata-kata yang sering kudengar. Tapi anakku memang sabar dia tidak marah walau tak urung menangis juga.

    “Sabar ya, Nak!” hiburku.

    “Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar tidak diganggu!” pintanya padaku.

    Dan aku menangis. Anakku maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam hatiku.  Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu sudah semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia tidak pernah menunjukkan kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP.

    7 tahun yang lalu,

    Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku, kembali menemui pikiranku. Sudah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya. Aku tak mungkin bohong pada diriku sendiri, jika aku masih menyimpan rindu untuknya.

    Dan itu pula yang membuat aku takut. Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi TKI ke Malaysia. Sulit baginya mencari pekerjaan di sini yang cuma lulusan SMP.

    Haruskah aku melepasnya karena alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua, tenagaku mulai habis dan dia ingin agar aku beristirahat.

    Dia berjanji akan rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal. Setelah itu dia akan pulang, menemaniku kembali dan membuka usaha kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini pun aku tak kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku baik-baik saja.

    4 tahun lalu,

    Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang. Hampir tiga tahun dia di sana. Dia bekerja sebagai seorang pelayan di rumah seorang nyonya. Tapi Kamila tidak suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya tak pernah siratkan sinar baik.

    Dia juga dikenal suka perempuan. Dan nyonya itu adalah istri mudanya yang keempat. Dia bilang dia sudah ingin pulang. Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu.

    Lebaran tahun ini dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca dari suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu menunggu hingga masa itu tiba. Kamila bilang, aku jangan pernah lupa salat dan kalau kondisiku sedang baik usahakan untuk salat tahajjud.

    Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti setiap bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat hingga beduk manghrib berbunyi. Kini anakku lebih pandai menasihati daripada aku. Dan aku bangga.

    3 tahun 6 bulan yang lalu,

    Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian pemerintahan Malaysia, kabarnya anakku ditahan. Dan dia diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh suami majikannya.

    Sesak dadaku mendapat kabar ini. Aku menangis, aku tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin membunuh. Lagipula kenapa dia harus membunuh.

    Aku meminta bantuan hukum dari Indonesia untuk menyelamatkan anakku dari maut. Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku selesai. Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku hanya bisa memohon agar anakku tidak dihukum mati andai dia memang bersalah.

    2 tahun 6 bulan yang lalu,

    Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah. Dan dia harus menjalani hukuman gantung sebagai balasannya. Aku tidak bisa apa-apa selain menangis sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi apakah nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola apakah keadaanku pasti lebih baik? Aku kini benar-benar sendiri. Wahai Allah kuatkan aku.

    Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia. Anakku ingin aku ada di sisinya disaat terakhirnya. Lihatlah, dia kurus sekali. Dua matanya sembab dan bengkak. Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya kakiku tak ada. Aku masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku.

    “Bapak, Iya Takut!” aku memeluknya lebih erat lagi. Andai bisa ditukar, aku ingin menggantikannya.

    “Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?”

    “Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya tidak mau. Iya dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan dia jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati. Iya tidak salah kan, Pak!”

    Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib anakku. Masa mudanya hilang begitu saja. Tapi aku bisa apa, istri keempat lelaki tua itu menuntut agar anakku dihukum mati.

    Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat. Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku, tapi menemuiku pun ia tidak mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama enam bulan untuk memohon hukuman pada wanita itu.

    2 tahun yang lalu,

    Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan hadir melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika dia sudah datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak ingin melihatnya.

    Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana. Petugas itu membuka papan yang diinjak anakku. Dan ‘blass” Kamilaku kini tergantung. Aku tak bisa lagi menangis. Setelah yakin sudah mati, jenazah anakku diturunkan mereka, aku mendengar langkah kaki menuju jenazah anakku. Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis.

    Aku mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air mata aku melihat garis wajah yang kukenal.

    “Kania?”

    “Mas Har, kau … !”

    “Kau … kau bunuh anakmu sendiri, Kania!”

    “Iya? Dia… dia… Iya?” serunya getir menunjuk jenazah anakku.

    “Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola jika sudah besar.”

    “Tidak … tidaaak … ”

    Kania berlari ke arah jenazah anakku.Diguncang tubuh kaku itu sambil menjerit histeris. Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia diturunkan dari tiang gantungan. Bunyinya “Terima kasih Mama.” Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah tahu wanita itu ibunya.

    Setahun lalu,

    Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih istriku. Yang aku tahu, aku belum pernah menceraikannya. Terakhir kudengar kabarnya dia mati bunuh diri. Dia ingin dikuburkan di samping kuburan anakku, Kamila.

    Kata pembantu yang mengantarkan jenazahnya padaku, dia sering berteriak, “Iya sayaaang, apalagi yang pecah, Nak.” Kamu tahu Kania, kali ini yang pecah adalah hatiku. Mungkin orang tua kita memang benar, tak seharusnya kita menikah. Agar tak ada kesengsaraan untuk Kamila anak kita. Benarkah begitu Iya sayang?

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 8 October 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Bersinarlah Matahariku 

    Cerpen: Bersinarlah Matahariku By: Riza Faisal

    **

    “Sini, Pak! Sini..,” kuminta suamiku duduk mendekat agar kami tidak ketetesan air hujan. Petang ini, kami sedang berada di terminal kampung Rambutan. Sebuah terminal yang sudah tidak asing lagi di pendengaran kita. Terminal yang bias dibilang begitu …… kumuh!! Tapi dibalik semua itu harus diakui bahwa ratusan keluarga menggantungkan hidupnya di sana.

    Kunikmati sesendok demi sesendok lontong kari dihadapanku. Kulihat suamiku pun demikian, sangat menikmati tahu campur kesukaannya.

    Tiba-tiba mataku tertumbuk pada pemandangan unik didepanku. Si Ibu penjual tahu campur sedang tidur mengeloni anaknya, bocah laki-laki berumur lebih kurang 3 tahunan. Seringkali tetesan air hujan jatuh tepat di dahinya. Si ibu yang begitu cepat tertidur pulas, tak tahu kalau air hujan nakal itu telah mengganggu buah hatinya.

    Aku langsung teringat pada Karim, putra kami. Dalam keadaan seperti itu si Ibu masih tetap dapat mendampingi putranya, sementara aku?

    “Sekarang dia sedang apa ya, Pak?” tanyaku mengejutkan suamiku. “Siapa? Karim?” tebak suamiku yakin.

    “Kenapa, Ibu ingat dia? Sabar, ya Bu. Dia pasti juga ingat Ibu,” hiburnya, membuatku tak bisa menahan air mata.

    “Pak, Ibu kangen dia,” ujarku lirih.

    Untuk pertama kalinya kutinggal anakku sendiri di Bandung, hanya ditemani pengasuhnya. Kami harus datang ke kota metropolitan ini, demi karirku. Dan suamiku rela cuti, hanya untuk mengantarku.

    “Tidak baik Ibu pergi sendiri, walaupun untuk urusan kerja. Biarlah besok Bapak antar. Bapak masih punya jatah cuti, kok!” kata-kata suamiku tadi malam masih terngiang-ngiang di telingaku.  Allah…terangilah selalu hati hamba-Mu ini agar bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Agar keegosian hati tidak menjebak hamba.

    Kembali kulihat ibu dan anak yang sekarang masih tertidur pulas. Hujan sudah mulai reda. Kami berniat segera pulang. Jam telah menunjukkan pukul tujuh malam.

    “Sudah, Pak,”kataku pada Bapak yang menunggu kaki lima ini, mungkin suami si Ibu.

    “Maaakk! Udah tuh!” teriakannya mengagetkan si Ibu.

    Cepat-cepat Si Ibu bangun dan mengatakan harga dua piring dan dua gelas yang telah kami habiskan. Si kecil pun ikut terbangun. Sambil duduk dia balik memainkan air hujan yang menggenang di dekatnya. Dasar anak-anak. Sepertinya mereka tidak peduli dan bahkan tidak pernah menuntut kehidupan yang lebih baik dari yang sedang mereka jalani. Apapun yang terjadi pada mereka… bagaimana pun kondisi mereka… mereka akan selalu menikmatinya. Setelah kubayar jumlah yang disebutkan, kami pun beranjak pergi.

    Setengah berlari, kami menuju tempat bus antar propinsi dan berebut dengan penumpang lainnya. Bus Patas AC ini tak menghilangkan penat yang kami rasakan. Belum lagi rasa bersalah yang memenuhi dadaku. Sengaja atau tidak aku telah memaksa suamiku meninggalkan tumpukan tugas kantornya. Juga telah menelantarkan anakku…membiarkannya semalam bersama orang lain. Tanpa suara lantunan ayat suci dan dendangan sholawatku yang biasa mengantar tidurnya.

    “Maafkan Ibu, Pak,” ucapku sambil bersandar di pundak suamiku disambut dengan elusan tangannya di punggung tanganku. Selanjutnya, kubaca Al Fatihah dan kukirim khusus buat buah hatiku…sekedar mengurangi rasa bersalah ini.

    Kami tiba di rumah pukul satu tepat. Karim sudah pulas…sendirian. Wajah tanpa dosanya membuat air mataku kembali deras mengalir. Maafkan Ibu, Sayang. Kucium dahi bocahku. Besok, Insya Allah tepat sebelas bulan usianya. Dan sampai hari ini aku masih tetap sibuk, bukan mengurusnya tapi mengurus pekerjaanku, mengejar karirku. Allahu robbi.

    “Selamat, Mbak Fati. Saya dengar presentasi Mbak kemarin sukses!” sambut Ine, teman seruanganku membuatku terkejut.

    “Maaf, Ne. Saya terlambat. Si Adek (panggilanku untuk Karim) tidurnya pulas. Baru bangun jam tujuh tadi, jadi Saya menunggunya. Maklum, kemarin kan tidak ketemu seharian. Saya kangen, eui!” kataku sambil tersenyum.

    “Pak Bos sepertinya paham kok, Mbak. Barusan, rekanan kita yang di Jakarta telpon pada beliau dan mengatakan bahwa presentasi Mbak membuat mereka tertarik. Hasilnya, order dalam jumlah besar dan dalam waktu dekat!!” kata Ine berapi-api. “Pesan Direktur, begitu sampai Mbak diharap segera menghadap. Sepertinya Beliau ingin menyampaikan selamat secara langsung pada Mbak,” lanjutnya.

    **

    Sekarang, sudah tiga bulan sejak peristiwa itu. Aku masih berkutat dengan pekerjaanku yang dinilai cukup sukses oleh tim manajemen. Kemarin, Direktur memanggilku. Aku dipromosikan untuk sebuah jabatan baru. Imbalan yang ditawarkan cukup memikat. Bahkan kalau boleh jujur, jauh lebih tinggi dari gaji suamiku. Sebuah tawaran yang sempat membuatku bimbang. Dan aku minta waktu dua hari untuk memikirkannya.

    “Terima saja, Fati. Dengan gaji sebesar itu, impian kalian akan segera terwujud. Rumah.. bahkan mobil mewah!! Putramu akan menjadi anak orang kaya. Segala yang dimintanya dapat kalian penuhi dengan segera. Kalian bias pergi berlibur, bahkan ke luar negeri!! Dan yang pasti, kamu juga dapat membantu suamimu meringankan bebannya. Ayo, Fati. Kesempatan tidak datang dua kali. Ambil kesempatan ini atau kalian tetap akan seperti sekarang?” “Jangan Nurul. Uang belum tentu menjamin kebahagiaan. Bisa jadi kamu akan semakin sering menelantarkan keluargamu. Membiarkan mereka tanpa kehadiranmu. Dan putramu hanya akan terpenuhi kebutuhan materinya saja. Sementara, kasih sayang seorang Ibu yang dia butuhkan sulit kamu penuhi. Kamu mungkin hanya bisa membelikan tanpa pernah mengetahui kapan dia memakainya. Yang paling menyedihkan adalah jika kemudian dia menjadi lebih dekat dengan pengasuhnya daripada dengan ibunya.” Batinku mulai berperang. Ya Allah, Bantu hamba memutuskan yang terbaik. Berilah hamba petunjuk dan hidayah-Mu, Robbi.

    Tak terasa hari ini adalah deadline dimana aku harus memberikan jawaban pada Direkturku. Pagi ini seperti biasa kami berangkat berdua. Karim melambaikan tangannya saat kami tinggal tadi. Oh, matahariku. Bersinarlah terus Sayang…Ibu ingin selalu melihat sinarmu dalam setiap helaan nafas Ibu.

    “Karim, sini Nak. Ibu bacakan ceritanya. Karim mau cerita yang mana?”

    “Ni….,”katanya sambil menunjuk salah satu cerita dari buku serial Anak Muslim: kisah sebuah tong sampah. Mulailah aku bercerita lengkap dengan mimik wajah yang sangat disukainya. Bahkan kadang dia menirukan caraku bercerita saat menceritakan kembali kisah tersebut ke teman bermainnya. Allah..Subhannallah. Senyumku mengembang, senyum yang tak pernah kurasakan ketika aku masih sibuk dengan pekerjaanku enam bulan yang lalu.

    Memang, aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Sebuah keputusan yang disesalkan banyak pihak terutama di tempat aku bekerja. Namun sekaligus sangat menggembirakan keluargaku.

    “Alhamdulillah, Bapak bangga pada Ibu. Saat di puncak karir, Ibu rela melepaskannya demi keluarga. Bapak memang tidak salah memilih pendamping hidup dan Ibu dari anak-anak kita. Alhamdulillah,” kata-kata suamiku masih cukup melekat dibenakku saat aku ungkapkan keputusanku, pada malam sebelum aku menghadap direkturku.

    “Iya Pak. Ibu iri pada Ibu pedagang kaki lima di terminal kampung rambutan waktu itu, yang bisa terus bersama putranya. Sementara Ibu hanya bisa memberikan materi untuk Karim. Padahal kita berdua sangat paham bahwa waktu bersama orang tua adalah saat yang penting bagi perkembangan anak kita,” sahutku waktu itu.

    Alhamdulillah, sekarang aku di rumah. Menunggu suamiku pulang dari kerjanya sambil menjaga butik kecil yang kurintis enam bulan lalu. Sementara Karim terlelap setelah mendengar ceritaku. Subhannallah..Alhamdulillah, Ya Allah. Kau tunjukkan pada hamba jalan ini, gumamku sambil berjalan menuju tempat tidur bocah kecilku. (Awal Maret-03)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 7 October 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Setiap Langkah Adalah Anugerah 

    Seorang profesor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer pada tanggal 1 Desember. Di sana ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, bernama Ralph.

    Ralph yang dikirim untuk menjemput sang profesor di bandara. Setelah saling memper kenalkan diri, mereka menuju ke tempat pengambilan kopor. Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal yang dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka. Kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Setiap kali, ia kembali ke sisi profesor itu dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

    “Dari mana Anda belajar melakukan hal-hal seperti itu ?” tanya sang profesor.

    “Melakukan apa ?” kata Ralph.

    “Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu?”

    “Oh,” kata Ralph, “selama perang, saya kira.”

    Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya. “Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah,” katanya. “Saya tak pernah tahu apakah langkah berikutnya merupakan pijakan yang terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki. Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini.”

    Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang berkualitas

    ***

    Oleh: Barbara Brown Taylor

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 6 October 2010 Permalink | Balas  

    Ilustrasi Manajemen Waktu 

    Suatu hari, seorang ahli ‘Manajemen Waktu’ berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yang tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para siswanya.

    Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia mengeluarkan toples berukuran galon yang bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja.

    Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu kedalam toples.

    Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yang muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya: ” Apakah toples ini sudah penuh?”

    Semua siswanya serentak menjawab, “Sudah!” Kemudian dia berkata, “Benarkah?” Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang- guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu.

    Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi: “Apakah toples ini sudah penuh?”

    Kali ini para siswanya hanya tertegun,”Mungkin belum!”, salah satu dari siswanya menjawab. “Bagus!” jawabnya.

    Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.

    Sekali lagi dia bertanya, “Apakah toples ini sudah penuh?”

    “Belum!” serentak para siswanya menjawab. Sekali lagi dia berkata, “Bagus!”

    Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.

    Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kepada para siswanya dan bertanya: “Apakah maksud dari ilustrasi ini?”

    Seorang siswanya yang antusias langsung menjawab, “Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!”

    “Bukan!”, jawab si ahli, “Bukan itu maksudnya.

    Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa : JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.

    “Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yang kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yang kamu anggap paling berharga dalam hidupmu.

    Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yang pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya. Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu”.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 30 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Saya Bersamamu Sayang 

    Seorang anak lahir setelah 11 tahun pernikahan. Mereka adalah pasangan yang saling mencintai dan anak itu adalah buah hati mereka.

    Saat anak tersebut berumur dua tahun, suatu pagi si ayah melihat sebotol obat yg terbuka. Dia terlambat untuk ke kantor maka dia meminta istrinya untuk menutupnya dan menyimpannya di lemari. Istrinya, karena kesibukannya di dapur sama sekali melupakan hal tersebut.

    Anak itu melihat botol itu dan dengan riang memainkannya. Karena tertarik dengan warna obat tersebut lalu si anak memakannya semua.

    Obat tersebut adalah obat yang keras yg bahkan untuk orang dewasa pun hanya dalam dosis kecil saja.

    Sang istri segera membawa si anak ke rumah sakit. Tapi si anak tidak tertolong. Sang istri ngeri membayangkan bagaimana dia harus menghadapi suaminya.

    Ketika si suami datang ke rumah sakit dan melihat anaknya yang telah meninggal, dia melihat kepada istrinya dan mengucapkan 3 kata.

    **

    Pertanyaan :

    1. Apa 3 kata itu ?

    2. Apa makna cerita ini ?

    Jawaban :

    (1) Sang Suami hanya mengatakan “Saya bersamamu sayang

    Reaksi sang suami yang sangat tidak disangka-sangka adalah sikap yang proaktif. Si anak sudah meninggal, tidak bisa dihidupkan kembali. Tidak ada gunanya mencari-cari kesalahan pada sang istri. Lagipula seandainya dia menyempatkan untuk menutup dan menyimpan botol tersebut maka hal ini tdk akan terjadi. Tidak ada yg perlu disalahkan. Si istri juga kehilangan anak semata wayangnya. Apa yang si istri perlu saat ini adalah penghiburan dari sang suami dan itulah yang diberikan suaminya sekarang.

    Jika semua orang dapat melihat hidup dengan cara pandang seperti ini maka akan terdapat jauh lebih sedikit permasalahan di dunia ini.

    “Perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu langkah kecil”

    Buang rasa iri hati, cemburu, dendam, egois dan ketakutanmu. Kamu akan menemukan bahwa sesungguhnya banyak hal tidak sesulit yang kau bayangkan.

    (2) Moral Cerita

    Cerita ini layak untuk dibaca. Kadang kita membuang waktu hanya untuk mencari kesalahan orang lain atau siapa yang salah dalam sebuah hubungan atau dalam pekerjaan atau dengan orang yang kita kenal. Hal ini akan membuat kita kehilangan kehangatan dalam hubungan antar manusia.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 27 September 2010 Permalink | Balas  

    UBinus: Diawali Dengan Modal Ide 

    WIDIA SOERJANINGSIH SEMUA BERAWAL DARI NOL

    Mungkin banyak yang tahu, Universitas Bina Nusantara (UBiNus) adalah salah satu perguruan tinggi ternama di Jakarta, bahkan di Indonesia. Universitas pertama yang meraih Sertifikasi ISO-9001 ini memiliki lebih dari 20 ribu mahasiswa, 700 dosen, tiga kampus yang megah, meraih penghargaan “The Best Indonesian Net Company” dan belakangan punya citra sebagai cybercampus. Tapi barangkali sedikit yang tahu bagaimana seorang Widia Soerjaningsih dan ayahnya (alm) Wibowo, mengawali dan membangun universitas ini dari sebuah kursus komputer di teras rumah. UBiNus benar-benar diawali dengan modal ide dan keberanian belaka. “Jangan khawatir, pokoknya kalau ada kemauan pasti ada jalan. Kita bisa mulai dari kecil, ke sananya maju terus,” demikianlah cara Wibowo menempa semangat putrinya.

    Tapi, bagaimana bisa sebuah kursus komputer berkembang sedemikian pesat hingga menjelma menjadi universitas besar? Barangkali salah satu faktornya adalah karena pada masa 70-an, bidang garap teknologi komputer masih jarang dilirik dan dikuasai orang. Justru yang menarik, awalnya lembaga pendidikan ini dibangun dengan prinsip ‘asal kelasnya penuh’ dan ‘pelanggan puas’. “Prinsipnya begitu mereka mau mendaftar, saya harus melayani mereka dengan baik. Tidak ada target apa-apa, yang penting setiap kelas harus penuh,” tutur Widia yang lahir 19 Oktober 1950 di Malang itu.

    Dengan prinsip demikian, diakui Widia, semula UBiNus tumbuhan biasa- biasa saja. Begitu tujuan-tujuan berhasil didefinisikan, tim yang dipimpinnya merapatkan barisan dan target-target dikejar, laju perkembangannya pun makin pesat. Tak kalah penting adalah adanya visi ke depan yang begitu kuat, profesionalisme dalam mengelola manajemen perguruan tinggi, serta jiwa entrepreneurship yang diwarisi Widia dari sang ayah. Maka, tak berlebihan jika di dunia pendidikan tinggi di Indonesia, rektor UBiNus ini adalah salah satu sosok yang layak dijadikan teladan.

    Widia yang menikah dengan Eko Atmo Budi Santoso ini, berhasil mengawinkan antara idealisme dunia pendidikan dengan sistem pengelolaan bisnis profesional. Tak heran jika pada 2002 lalu ia dinobatkan sebagai The Famous Business Woman dan The Best CEO versi Majalah SWA dan MarkPlus. Nah, spirit apa yang membawa ibu dari Stephen (25), Francis (22), dan Patrice (18) ini ke tangga kesuksesan hingga sekarang? Simak wawancara eksklusif Widia Soerjaningsih dengan Edy Zaqeus dari InMagz.Com di gedung rektorat UBiNus Jl KH Syahdan 9, Kemanggisan, Jakarta berikut ini:

    Bagaimana sejarah awal berdirinya Universitas BiNus ini?

    Saya lulus S-1 bidang elektro, tapi bidang yang paling menarik adalah komputer. Lalu kerja praktek di IBM tiga bulan, sesudah itu pernah kerja di Pertamina tahun 1973. Saya kemudian terinpsirasi oleh idenya Pertamina. Pada waktu saya kerja, plan Pertamina memang untuk membuat Achademy of Computer Technology. Zamannya Pak Ibnu Sutowo itu tahun 1973. Kita direkrut untuk menyiapkan teaching staff. Karena pengalaman saya belajar di IBM, saya disuruh mengajar teman-teman yang dikumpulkan untuk menjadi guru di fakultas teknik. Ngajar segala macam bersama kawan-kawan dari (Universitas) Trisakti. Sempat setahun di sana. Pas saya berhenti itu Pertamina mulai agak jatuh. Saya berhenti dari Pertamina bukan karena itu, tapi karena ditarik Trisakti kembali. Karena adik harus masuk perguruan tinggi, dari keluarga ndak ada biaya, jadi saya punya tugas. Saya kerja di Trisakti, adik masuk. Terus sambil lalu, karena punya pengetahuan komputer, coba usaha di Trisakti kursus komputer bersama teman-teman. Adanya di Trisakti, awalnya itu….wah banyak muridnya. Tapi biasalah, kalau kita masih muda, apalagi seumur membuat usaha bersama, akhirnya nggak bisa langgeng.

    Usia Anda berapa waktu itu?

    Ya, di umur-umur S-1 berapa yah…sekitar 24. Kemudian dari situ sempat kita jalankan satu biro diklat. Dapat muridnya banyak. Dulunya mahasiswa menganggap komputer susah, kan? Tempatnya di Trisakti waktu sore, dan memang karena membawa korps pesertanya banyak. Yang mengamati langkah ini ayah, Pak Wibowo almarhum. Begitu saya selesai kuliah, dari semua pengalaman tadi, kayaknya ada potensi untuk dijual… Kebetulan ayah memang orang wirausaha. Sudah, disuruh buka kursus sendiri. Padahal anak-anak lulusan S-1 mana mau ya disuruh begitu? Maunya cari kerja ya? Karena berpikir lulus S-1 bisa apa sih? Padahal kalau kita kerja sama orang, kita masih diajari, kan? Anak-anak yang baru lulus biasanya pandangannya seperti itu. Saya ya sama waktu itu. Makanya, disuruh kerja sendiri…”Wah saya harus belajar pada siapa nih?” Ilmunya mentok, begitu kalau dipikir.

    Tapi waktu itu berani juga?

    Ya, karena saya termasuk yang nurut. Ya sudahlah, ndak usah kerja sama orang. Kalau kerja sama orang bisa stug, naiknya pun pelan. Tapi kalau kerja sendiri, yang pasti kalau mau naik bisa tergantung usaha kita. Sudah, saya didukung menjalankannya. Akhirnya bagi tugas, saya bagian akademik, ayah bagian pemasaran dan perizinan. Dan kita mulainya di muka rumah, di teras. Rumah di Grogol, Jl Makaliwe I No.10. Yang sampai sekarang akhirnya kita beli sebagai apa….momentum, biar pun kita belum bangun sampai saat ini. Kita terima malah rumah itu ndak ada tutup, kecil ruangannya cuma dikasih bangku-bangku. Paling banyak menampung 15 orang. Strategi pemasaran kita lakukan door to door, murah meriah ya… ke tetangga-tetangga banyak mahasiswa, kan? Yang kos itu anak Trisakti, anak Untar. Kebetulan memang di kampus Trisakti, komputer itu menjadi momok mahasiswa. Ekstranya, ini logicalnya gimana sih? Menata logical berpikir, kan itu? Kalau nggak bisa nangkap, kan bingung mau mulai dari mana? Tapi ternyata pesertanya ndak hanya mahasiswa. Banyak juga orang-orang dari perusahaan. Cuma saya tahunya belakangan, “Saya dulu belajar di situ”. Tahun 1974 kita mulai.

    Di awal pendirian kursus itu, apa hambatannya?

    Hambatannya itu dari segi saya yang memulai, otomatis antara percaya dan tidak percaya, bisa saya jalankan nggak? Itu pertama. Tapi karena didorong terus oleh ayah, akhirnya ya sudah…. Kebetulan prinsip saya, kalau saya melangkah saya harus melangkah lebih baik. Itu prinsip yang saya lakukan. Jadi ndak pernah mundur kalau sudah berani melangkah. Itu semangatnya yang menang. Hambatannya, saya tidak berpikir banyak hambatan karena saya juga tidak mempunyai suatu ambisi yang terlalu terang-terangan. Jadi kalau kelasnya penuh, berhasil! Iya, kan? Yang penting biaya hidup keluarga tertutup ha..ha..ha.. Dan memang kehidupan keluarga kita digantungkan ke tangan kita. Prinsipnya begitu mereka mau mendaftar, saya harus melayani mereka dengan baik. Tidak ada target apa-apa, yang penting setiap kelas harus penuh. Itu saja target minimal ya? Kita sudah pakai nama Modern Computer Course, terkenal dengan MCC waktu itu. Dari namanya sudah bagus lho…modern ha…ha…ha… Itu visi ayah.

    Mengapa waktu itu memilih usaha bidang pendidikan, bukan usaha yang lain?

    Sebenarnya di luar usaha pendidikan, karena ayah seorang wirausaha, itu segala macam usaha pernah dilakukan. Waktu kita kecil, ayah usaha di bidang distribusi, mengambil barang dari pabrik lalu dijual ke toko-toko. Lalu pernah jatuh karena ayah ditipu cek kosong waktu itu. Ibu juga sudah mulai dengan wirausaha makanan. Jadi segala usaha sudah dilakukan. Terus ayah melihat potensi saya ada, “Ya, udah…kamu jadi guru saja!” Jadi saya sendiri tidak berpikir ke usaha yang lain. Karena saya pikir, saya bisanya ya itu.

    Dari sebuah kursus, lalu bagaimana cara mengembangkannya hingga menjadi besar?

    Jadi kita mulai dari rumah, paling punya tiga shift, pagi, siang, malam. Begitu mulai penuh, saya mulai berpikir kenapa tidak dibesarkan (kelasnya). Tapi kalau itu kan kita perlu uang? Uangnya dari mana? Ayah bilang, “Jangan khawatir, pokoknya kalau ada kemauan pasti ada jalan. Kita bisa mulai dari kecil, ke sananya maju terus”. Beliau berpikir untuk kerjasama dengan panti asuhan di Kramat Raya. Kita main ke sana terus kita bilang, “Kita punya ide ini, bagaimana kalau kita share, bagi hasil?” Akhirnya kita mulai, pokoknya semua pekerjaan kita yang lakukan, nanti dari hasil kalau kita punya hasil yang lebih, hasilnya kita bagi dua. Kita berpikir kalau kita lakukan itu, ada suatu nilai sosial yang kita tanam. Jadi di samping usaha, ada yang kita bantu, panti asuhannya. Filosofinya itu, dan mudah- mudahan mendapat rahmat Tuhan. Kebetulan ayah juga orang yang sosial.

    Perkembangan berikutnya?

    Kalau di Kramat Raya kelasnya paralel, kalau yang diteras rumah saya sendiri yang ngajar. Lalu untuk dibesarkan sebagai sekolah, kelasnya harus bisa paralel. Berapa pun murid harus bisa ditampung. Jadi filosofinya itu bagamana supaya kita bisa memenuhi ruangan. Jadi awalnya kita punya empat ruangan.

    Tapi benar…. mungkin karena misi sosialnya ada, perkembangannya cepat. Kebetulan sekali tarifnya juga murah. Orang mulai ingin tahu komputer itu apa sih? Jadi banyak sekali yang hadir dan gurunya bukan saya sendiri akhirnya. Karena saya pernah bekerja di Pertamina, saya tarik teman-teman. Murid-murid di Pertamina sudah calon guru, kan? Lalu dari situ maju-maju, walau ada hambatan. Hambatannya waktu itu pada saat kita belajar, kita menarik guru dari tempat yang sama. Jadi sempat goyang oleh tuntutan kelompok yang kuat, menuntut suatu kondisi yang lebih baik. Waktu itu kita waduh… berat juga kalau bentuk seperti ini diikuti, lain kali diulang lagi, ya? Tapi ya sudahlah kita mundur, mereka yang main-main seperti itu ndak usahlah, kita cari staf lain.

    Dari situ kita belajar untuk mencari tenaga tidak dari satu tempat. Akhirnya kita hubungi Departemen Keuangan dan departemen pemerintah lainnya, banyak yang sudah belajar komputer, kan? Lalu berjalan, makin banyak muridnya, lalu mereka pada bertanya, “Mengapa bentuknya kursus-kursus? Kami belajar dapat pengetahuan, tapi kami tidak mendapat status sosial yang lebih baik?” Kebetulan yang ngambil itu benar-benar anak yang lulus SMA yang dia tidak ngambil perguruan tinggi. Beda dengan yang saya mulai di Grogol, anak-anak mahasiswa yang sudah punya status sosial. Jadi kalau di Kramat Raya itu umum banget. Jadi anak-anak SMA yang tidak bisa bayar kuliah masuk ke sana. Itu yang mentriger kita buka akademi saja. Dan kebetulan ayah termasuk tipe orang yang apa pun kalau dia ditantang, ditangkap. Itu gaya wirausahanya, “Mana…? Kita buka saja akademi komputer!”

    Kapan dimulai?

    Sekitar 80-an, ya kita mulai akademi tahun 1981. Saya bilang…waduh…masih mikir-mikir. Lebih banyak perhitungan. Sulit dong minta akademi? Karena dari pengalaman di Trisakti, saya pernah bekerja di sana, banyak sekali mahasiswa demo. Mulai 1974-1980 itu banyak sekali demo, Malari dan semacamnya itu ya. Karena itu saya bilang, waduh! Saya paling takut kalau didemo mahasiswa ha..ha..ha…

    Sampai sekarang masih takut?

    Kalau sekarang tidak. Karena kita belajar banyak dalam pertumbuhan. Waktu itu sempat terpikir, “Waduh… bagaimana kalau anak-anak yang tidak tahu filosofi apa-apa tiba-tiba menuntut sesuatu?” Kalau soal perizinan kita sudah pengalaman sekian tahun. Tapi ayah kan selalu pantang menyerah. “Jangan khawatir, pokoknya apa yang kamu tidak bisa sebutkan, saya yang akan lakukan”. Akhirnya benar, dicarikan seorang tokoh pembina, saya anggap sebagai guru saya juga, yang waktu saya masih SMA dia tokoh organisasi mahasiswa. Dia posisinya sebagai direktur kemahasiswaan. Ini strategi ayah. Pokoknya kelemahan saya dilengkapi ayah. Ya, sudah saya tidak mikir lagi, tabrak saja.

    Begitulah 1981 kita mulai akademi. Hambatannya kalau mahasiswa berkelompok seperti itu. Hambatan lain tetap keuangan. Tapi karena orang-orang buka usaha itu jiwanya pokoknya jangan takut apa pun. Kalau masih bisa didefinisikan, pasti bisa diselesaikan. Begitu bisa didefinisikan, akhirnya ada titik terang. Nah, masalah gedung ayah bilang, “Dalam dua hari saya akan jawab!” Benar. Begitu saya bilang itu, langsung dia main ke tempat Akademi Teknik Komputer yang pertama kita dirikan. Main ketemu pemiliknya, nggak kenal, tabrak aja! Kita nggak punya uang datang ke situ. Ada gedung kosong di belakang yang nggak dipakai, kita bilang “Boleh nggak kita pakai gudangnya?” Ya, kita nggak muluklah nggak pakai gedung yang bagus, seadanya saja. Nah, kita sudah punya tempatnya. Akhirnya kita nggak bisa mundur. Saya desain kurikulum, termasuk konsep-konsep administrasi. Dari segi kurikulum, berpikirnya sederhana.

    Bahannya dari mana, karena waktu itu belum banyak acuan?

    Belum ada. Mungkin akademi komputer sudah ada Budi Luhur yang duluan tahun 1978, kita mulai 1981. Jadi kita hanya ada sedikit gambaran. Karena itu para siswa kursus kita melihat ke situ, “Kami lebih kok dari mereka, kenapa kita nggak muncul?” Semangat siswanya seperti itu. “Ya, sudah kalau kalian percaya kita coba”. Jadi kurikulum kita rancang dengan pendekatan pengetahuan yang mana saya harus bisa memuaskan semua. Paling mudah, kan? Kalau sampai ada guru yang tidak hadir, saya datang, saya selalu menjadi pengganti. Saya pikir kalau ini perguruan tinggi, ada dosen tidak datang, karena kita ingin melayani mahasiswa, kan saya harus turun? Semua mata kuliah saya tawarkan. Amankan? Saya sendiri tidak turun mengajar, hanya kalau ndak ada gurunya saya yang ngajar sekali-sekali. Benar, 1981 kita mulai, lalu kita rekrut teman-teman dari Trisakti untuk jadi dosen. Tapi saya tidak ambil angkatan saya, tapi angkatan adik saya.

    Apa alasannya?

    Tidak tahu, ada suatu feeling yang mengatakan, mungkin saya lebih mudah mendorong anak-anak yang lebih muda dari saya, daripada teman sebaya. Jadi saya rekrut adik-adik angkatan saya. Tapi masalah di tahun-tahun pertama di kampus ini, tiga orang tenaga pengajar tadi berkirim surat kepada saya, mengundurkan diri. Tiga-tiganya hilang, padahal mereka pengajar inti dan hebat-hebat. Tapi sudah karakter saya, kalau ada masalah harus bisa diselesaikan. Ya, tapi saya tidak berusaha menarik. Saya kalau sudah dibuat seperti itu, ya sudah. Akhirnya saya turun ke seluruh mahasiswa, saya sampaikan jangan khawatir kita jalan terus, saya ngajar sendiri.

    Mengajar berapa kelas?

    Waktu itu kita hanya mengendalikan dua ruangan, jadi minimal saya harus punya satu partner. Tapi dari guru yang lain, guru part time, kita masih punya. Akhirnya kita menggunakan part time untuk mencari pengganti. Itu pengalaman yang nggak boleh diulang.

    Kapan mengalami percepatan pertumbuhan dan apa faktor-faktornya? ….

    Jadi kalau dari awal, langkah yang kita lakukan adalah berbuat sebaik mungkin melayani para siswa. Itu strategi yang saya lakukan. Karena itu tumbuhnya pelan. Sampai suatu saat tahun 1995, kita punya mahasiswa tujuh ribu, gedungnya kita baru punya satu yang lengkap. Itu pun dibangun mulai 1984, tiap dua tahun kita menambah ruangan sampai 1995. Kita mulai program S-2 tahun 1993 sebagai suatu program untuk mengangkat image, otomatis kita harus merekrut orang yang lebih baik. Kemudian belajar memenej teman-teman yang pengetahuannya di atas saya. Nggak gampang juga, susah juga! Biasanya teman-teman di atas kita, kalau ditarik dia langsung positioning diri, kan? Dari sisi lebih pengetahuannya oke, karena kita undang memang karena itu.

    Tapi kadang ada satu rasa sombong yang mengakibatkan mereka lupa, dengan meremehkan organisasi kita yang lebih besar. Ini sempat terjadi. Padahal ini adalah dosen yang kita didik melalui beasiswa dinas. Itu kegagalan pertama kita menentukan resource. Kita kirim ke luar negeri untuk S-3 tapi gagal. Itu hampir membalikkan organisasi kita, sehingga terpaksa kita lepas. Pada saat itu saya bertemu teman yang mempunyai filosofi berbeda dengan approach yang saya pakai. Kawan ini bilang, “Kalau kita ingin maju kita harus tentukan ujungnya dulu, sasaran”. Kalau saya kan didorong dari bawah. Jadi kalau kawan ini, ditentukan sasarannya dulu, terus kita uber. Sehingga sejak 1995 itu mulai lebih cepat. Sekitar enam tahun berikutnya, dari 7 ribu mahasiswa menjadi 22 ribu. Ini karena strategi teman tadi yang kita pakai.

    Siapa saja yang mendorong kemajuan tersebut?

    Tim inti kita sekarang. Jadi filosofi yang saya belajar dari kawan-kawan ini adalah kalau mau melakukan sesuatu, lakukan sesuatu yang besar sekaligus karena capeknya sama. Jangan yang biasa-biasa.

    Apa inti strategi Anda sehingga bisa membangun universitas yang pesat perkembangannya?

    Kita memang punya tim inti. Di dalam tim tadi kita selalu mendorong bahwa sebenarnya kita punya visi. Visi kita adalah menjadi panutan. Terus pada waktu diskusi, yang disebut panutan itu apa? Harus bisa jadi contoh kan bagi yang lain? Mengukurnya bagaimana? Nah, kita harus membuat langkah yang berbeda dari kawan-kawan lain. Langkah pertama yang kita lakukan adalah ISO. Jadi memakai bakuan mutu ISO 9001 tahun 1997. Pesannya, kita harus beda dengan kawan-kawan lain. Kalau berbeda harus inovasi, kan? Padahal awalnya kita ISO baru belajar. Tapi berani dululah.

    Setelah berjalan, ISO itu benar-benar suatu konsep yang bagus. Karena digunakan oleh banyak usaha dan perusahaan. Konsep berpikirnya bagus dan indah sekali. Antara lain disampaikan, ‘tentukan sasaran yang ingin Anda capai’, ‘semua sasaran harus bisa diukur’, ‘apa yang Anda tulis harus bisa dilaksanakan’. Kita belajar banyak dari konsep itu, bahwa kita tidak boleh berjanji sesuatu yang kita tidak bisa berikan. Karena itu bisa menjatuhkan kita. Kita harus menanamkan kepercayaan kepada pelanggan. Kalau kita janji A, harus diberikan A, dan semuanya harus bisa diukur. Dari situ kita menerapkan konsep-konsep yang berbeda dari kawan-kawan lain, misalnya pertemuan dalam suatu kelas. Kita define per kelas dalam satu semester, dan kalau ada dosen yang tidak masuk, kita harus bisa uber sampai ada kelas. Kalau perlu hari minggu kuliah. Sekalian ini menanam konsep kepada mahasiswa, kalau dia dirugikan, dia boleh berteriak kepada kita. Karena ini alat kontrol, mereka harus berteriak. Memang babak belur.

    Babak belurnya?

    Babak belurnya, teriakan tahun pertama itu tidak di sektor akademik saja. Wah…gila juga ini! Kita sudah berusaha merapikan bagian akademik, teriakannya di bagian-bagian lain. Keseluruhan akhirnya. Berarti tantangan bagi kita untuk bisa memuaskan para pelanggan kita di semua sektor. Itu kan input? Dulu kita tidak berpikir sejauh itu. Jadi itu yang menarik, sehingga kita belajar. Itu yang mendorong kita. Akhirnya kita membuat suatu plan yang bisa kita definisikan. Begitu tim berani mendefinisikan, tugas saya nguber tim. Tidak terasa itu tercapai, yang mengakibatkan pelanggan percaya kembali kepada tim. Biar pun berat karena kita harus berubah. Kalau tahun ini kita lebih ingin mengubah konsep berpikir.

    Perubahan seperti apa kira-kira?

    Kalau kemarin ISO itu tentang tujuan dan sebagainya. Sekarang kita bisa seperti ini dan diakui masyarakat. Sehingga pengalaman yang kita rasakan ini, kita ingin turunkan secepatnya kepada para mahasiswa supaya mereka juga berhasil juga nantinya. Jadi memang di dalam perjalanan, katakan kalau ada demo mahasiswa saat ini, kalau di tempat lain pimpinan menghindar, ya. Rata-rata tidak mau menemui, kan? Kalau kita berpikir karena mereka ini mahasiswa timur, pasti mereka ingin menyampaikan sesuatu feedback. Kalau mereka ingin menyampaikan feedback kepada kita, kenapa kita ndak mau menemui? Justru kita harus cari secepat mungkin. Dan harus dididik mahasiswanya. “Kalau Anda mau demo boleh, tapi misi demonya apa? Menyampaikan kritik kepada kita, kenapa tidak bertemu kita?”

    Jadi filosofinya yang kita tanamkan. “Kalau Anda mau menyampaikan itu, ngapain pasang-pasang spanduk atau rame-rame di lapangan? Nggak sampai juga kalau saya tidak dengar, atau kalau saya pura-pura ndak dengar. Misinya kan mau menyampaikan, datang saja ketuk pintu. Anda mau ngomong atau Anda mau marah di sini juga boleh”. Jadi filosofinya yang kita ubah. Dan cukup baik hasilnya. Mereka itu senang kalau didengar, ya? Begitu kita dengar, meskipun kita katakan “Sorry saya tidak bisa melaksanakan yang kamu minta….” Ndak marah juga. Mengapa kita takut?

    Salah satu keberhasilan lembaga ini adalah kerjasamanya dengan lembaga lain. Bagaimana Anda menjalankan strategi ini?

    Memang mengelola pendidikan itu bukan suatu proses yang begitu satu proses selesai, terus kita selesai, tidak ada after sales. Kalau di industri kan mereka pakai, begitu jual, ada after sales. Konsep perguruan tinggi kan nggak? Lepas dari perguruan tinggi itu urusan masing-masing. Dia tak berhasil ya dukamu, dia berhasil ya untungmu, begitu konsep umum, ya? Cuma kita berpikir, kalau mereka tidak berhasil, ya kita sedikit berdosa, kan? Artinya kita salah dong dalam mengarahkan mereka? Iya, kan? Jadi kita berpikir, minimal kita kasih senjata sedikit lagi dong! Yang harus kita lengkapi, yang dia kemampuan minimalnya secara cepat bisa sama dengan pasar. Karena itu kita mulai bekerjasama dengan Cisco, Microsoft, IBM, itu antara lain. Tujuannya adalah mentransfer pengetahuan-pengetahuan up to date yang mereka pakai di dunia usaha ini untuk bisa dikuasai oleh mahasiswa. Biar pun itu tidak masuk di kurikulum. Kurikulum kan kita bingung karena diatur pemerintah. Itu dipasang kan beban berat?

    Soal kurikulum dalam konsep Anda, apa saja yang perlu ditambahkan?

    Dari segi kurikulum kalau zaman dulu kan banyak diatur pemerintah. Tapi sekarang sudah banyak kelonggaran. Sehingga kita melihat, wah…. ini lebih mudah lagi untuk mencapai tujuan dan sasaran kita. Yang sebenarnya kita lakukan dalam kurikulum ini, akhirnya kembali ke prinsip lagi. Filosofi dasar yang harus kita tanam kepada mahasiswa adalah suatu pengantar untuk belajar. Apa pun ilmunya, jadi bagaimana cara kita mendidik mahasiswa tentang cara belajar untuk belajar. Ini yang tidak ada di dunia pendidikan. Sekarang ini yang saya lihat, karena banyak dosennya yang part time akhirnya ‘pokoknya aku ngajar…ngerti sukamu nggak ngerti sukamu’.

    Dampaknya nggak ada inovation. Kondisi mahasiswa sekarang kalau tidak disuruh tidak jalan, nggak ngerti inovation. Belajar pun biasa dikebut dua hari, kalau nilainya tinggi ada kebanggaan. Makanya kita adakan perubahan total. Jadi konsepnya, materi tidak harus habis, yang penting cara belajarnya bisa tertanam. Sehingga mereka bisa belajar lebih banyak daripada apa yang kita berikan. Otomatis ya, semangatnya harus ditanamkan, cari bacaan sebanyak mungkin, cari informasi sebanyak mungkin. Kebetulan saya kemarin mencoba dalam kelas entrepreneur, capek! Capeknya, pada awal di kelas saya tanya, “Ini kalian masuk kelas entrepreneur karena Anda mau jadi entrepreneur atau karena dipaksa oleh sistem kita?”.

    Dan jawaban mereka?

    Jawabnya, “Kami diwajibkan.” Wah, saya kecewa. Padahal saya mengorbankan waktu malam untuk mengajar mereka. Saya bilang, “Kalau Anda hanya untuk pengetahuan dan tidak untuk diterapkan, saya rugi!”. Lalu saya balik, “Di akhir kelas saya ingin Anda mengubah konsep bahwa akhirnya Anda ingin jadi entrepreneur, karena Anda tahu semua cara entrepreneur itu bagaimana”. Lalu kita kasih PR (pekerjaan rumah), otomatis dong, proses belajar kok. Apa yang harus Anda belajar, topiknya ini, belajar buku ini, cari dari internet ini, di kelas kita tidak ngajar. Saya anggap di kelas itu mereka sudah belajar, kita bicara suatu topik, tinggal mereka menentukan apa yang mau didiskusikan. Lalu saya undang para wirausahawan dan dunia industri, dan mereka boleh menggali sebanyak mungkin dari background pengetahuan minimal yang mereka pakai.

    Jadi pada awal bagaimana, perlu uang apa nggak, wirausaha, kan? Dan akhirnya mereka melihat bahwa teman-teman yang kita datangkan semuanya memulai usaha tanpa uang. Semua start dari zero. Maka begitu akhir kelas mereka membuat business plan, disuruh presentasi, sudah hebat-hebat. Nilai kita umumkan, lalu saya inginkan feedback; “Apakah Anda ingin jadi entrepreneur?” Semua bilang oke, malah ada yang sudah berpikir “Saya mau di industri ini, ini, ini.”. Ada juga yang bilang, “Ini adalah proses belajar yang paling menyenangkan yang pernah saya alami.” Sudah bagus, kan? Padahal kita nggak ngajar, hanya skenario kita buat sedemikian rupa dan mereka sendiri yang belajar. Tapi dampaknya mereka merasa itu yang paling tinggi nilainya. Jadi memang prosesnya yang harus diubah di perguruan tinggi itu.

    Dunia pendidikan adalah dunia idealisme. Sementara pendidikan sendiri jika tidak dikelola secara profesional juga tidak jalan. Bagaimana Anda menyeimbangkan keduanya?

    Sebenarnya terpisah. Sisi idealisme kita bukannya membentuk lulusan istilahnya, tapi memvalue-added. Menanamkan suatu value added kepada mahasiswa yang masuk sehingga menjadi lulusan, itu adalah pengetahuan dan nilai-nilai. Itu yang kita tanamkan. Itu idealismenya. Jadi usaha yang kita lakukan dalam memenej pengetahuan yang kita tanam tadi, dan itu yang disebut bisnisnya ya, mengelolanya. Kalau kita compare, mengelola perguruan tinggi dengan mengelola bisnis itu sama. Tidak ada bedanya. Kan di situ ada faktor finance, ada faktor operasional? Bedanya, kalau di pabrik kan dia milih barang mentah dikelola menjadi barang jadi. Kalau di rumah sakit ya menyembuhkan penyakitnya. Kalau di kita kan hampir mirip dengan di rumah sakit. Umumnya kita menambah value, itu yang kita garap. Di bisnis sama, tidak beda ya? Makanya teman-teman banyak yang mengatakan, kalau mengelola perguruan tinggi dengan gaya bisnis itu seolah-olah berdosa. Banyak yang mengungkapkan demikian. Tapi kalau filosofinya bagaimana kita berusaha dengan profesional untuk supaya targetnya tercapai, sama (dengan bisnis: red). Kawan-kawan di dunia industri tetap bilang ini bisnis ya.

    Cuma bisnis yang muatannya lain?

    Ya, tetap ada suatu nilai idealismenya. Ya, memang harusnya bisalah.

    Ke depan, cita-cita apalagi yang ingin Anda wujudkan setelah dari semua yang Anda bangun selama ini?

    Kalau di perguruan tinggi kita kan mencoba memberikan contoh, dan kebetulan ini kegiatan terbesar yang kita lakukan. Ternyata kalau kita menerima mahasiswa masuk, banyak konsep berpikir yang salah yang ditanamkan di pendidikan sebelumnya. Di keluarga kita tidak bisa mempengaruhi karena itu hak masing-masing keluarga. Minimal yang di sekolah-sekolah di tingkat bawahnya. Yang paling mendasar dampak yang kita rasakan di perguruan tinggi adalah kemampuan bertanya. Waduh. mahasiswa yang berani bertanya. takut kan mereka bertanya? Karena ini budaya. Padahal budaya bertanya itu, kalau mereka bertanya mereka bisa explore segala macam. Minimal dia akan bertanya terus pada diri sendiri. Itu akhirnya kita berpikir, kita harus memberi contoh juga pada tingkat di bawahnya.

    Jadi kita akan mendirikan sekolah. Tapi model kita tidak akan berbentuk seperti yang sudah ada. Biar pun model ini kalau kita lihat layer kita masih pasang di layer atas. Karena kita belum berani pasang di layer bawah ditinjau dari segi ekonominya. Tapi suatu saat kita akan turun jugalah. Jadi kita masih pakai yah.menanamkan ini pada yang atas karena kita juga lagi belajar ya? Proses belajar kan harus berhasil? Jadi kita menanamnya di atas, mungkin pengalaman ini nanti akan coba kita turunkan sebagai model. Mudah-mudahan model ini tidak kalah di perguruan tinggi, secara cepat kalau ikut program lain. Kalau ini dilewati Indonesia akan bangun lebih cepat, kan?

    Hal apa yang paling memotivasi Anda untuk berkarya di bidang ini?

    Pada awal berdiri kita punya moto, bahwa kita ingin berperan membangun bangsa melalui pengetahuan. Namanya kebetulan juga Bina Nusantara. Itu pun nama yang diberikan kawan-kawan seperjuangan ayah di masa penjajahan. Dan itu menjadi spirit seluruh civitas akademik kita. Itulah kenapa dinamakan Bina Nusantara, karena kita punya cita-cita melalui pendidikan ini kita harus bisa berperan membangun bangsa Indonesia. Itu folosofi yang ditanamkan oleh penasihat kawan seperjuangan ayah. Pada awal mulai mereka juga bilang, “Jangan mengecewakan kami ya? Jika Anda mengundang kami, ikuti apa pun tujuan, visi. Jangan sampai Anda hanya pinjam nama tetapi tidak bertanggung jawab!” Itu yang selalu kita ingat. Memang masa itu waktu kita tumbuh, semua perguruan tinggi pakai nama leader ya jenderal dan sebagainya. Kalau sekarang sudah hilang ya. Cuma saya bilang waktu itu, “Saya tidak akan pernah mencatut nama. Karena tidak ada gunanyalah nama-nama yang dipasang!” Iya, toh? Sampai hari ini kita tidak pernah pasang.

    Kalau spirit dari dalam Anda sendiri?

    Kalau visi dasar saya sebagai individu adalah bagaimana saya melayani banyak orang, sehingga mereka bisa berguna bagi negara dan bangsa ini. Yang menjadi panutan paling kuat bagi saya adalah Ibu Theresa. Sentuhan kemanusiaannya.

    Bagaimana Anda memaknai perjalanan hidup dan kesuksesan ini?

    Saya merasakan bahwa apa pun yang kita capai saat ini adalah bukan dari individu. Kadang-kadang saya berpikir bahwa Binus ini bukan milik saya, tapi Binus ini milik Tuhan yang dipercayakan kepada saya. Sehingga saya harus jaga baik-baik, sehingga ya tidak mengecewakan Pemiliknya.. Filosofi sebenarnya itu. Lebih mudah, kan? Dari pada kalau milik kita, kita bisa nggak tidur! Iya, kan? Kalau dibalik seperti itu, ini hanya milik Yang di Atas, kita hanya diberi kepercayaan, kan kita tinggal membagikan itu kepada kawan-kawan yang lain dan mereka rata-rata ikut setuju. Lebih enak lagi, kan? Sehingga gerakannya saya bilang, “Saya bukan tipe seorang pemimpin yang akan memonitor day to day apa yang kalian lakukan, tapi yang ingin saya tanamkan adalah bahwa pengawasnya bukan saya, pengawasnya adalah Pemiliknya”. Lebih enak lagi, kan? []

    ***

    Keep the ideas coming guyz… and why don’t u try some of them

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 26 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Penjual Kue Semprong Itu 

    Dari seorang sahabat:

    Semalam saya keluar dari Ranch Market jam 8.30. Hujan deras. Petugas Ranch Market setengah berlari mendorong trolly berisi barang-barang belanjaan saya. Saya juga berlari-lari kecil menjajari langkahnya menuju mobil. Saya membukakan bagasi dan petugas memindahkan barang-barang belanjaan saya. Seorang penjaja kue semprong mendekati kami. Memang setahu saya banyak penjaja kue semprong disana menjajakan barang dagangannya dengan sedikit memaksa.

    Karena terlalu biasa saya tidak mengacuhkannya, apalagi di hujan deras seperti ini.

    Setelah memberikan tip saya masuk mobil, namun masih saya dengar ucapan penjaja kue semprong tersebut, ‘ Bu, beli kue semprongnya untuk ongkos pulang ke Tangerang”.

    Didalam mobil saya berpikir saya kasih uang saja karena penganan yang saya beli di supermarket sudah cukup banyak, bagaimana jika tidak ada yang menghabisnya. Nanti jatuhnya mubazir. Saya memang lebih suka dengan para penjaja kue seperti ini ketimbang pengemis. Pelajaran berharga yang pernah saya dapat dari mantan bos saya sembilan tahun lalu. Masih teringat ucapannya ketika itu kami berdiskusi di kantor.

    “Coba kalau ada penjaja makanan atau barang dan pengemis dilampu merah mana yang kamu berikan uang?, tanyanya. Belum sampai kami menjawab, ia berkata lagi “pasti yang kamu berikan uang si pengemis itu dan penjaja makanan atau barang itu kamu acuhkan”. Secara serempak kami mengiyakan. “coba pikirkan lagi, si pengemis itu pemalas tidak bermoral, kenapa kita kasih uang, sementara si penjaja makanan ataupun barang punya harga diri, dan pastinya secara pribadi lebih baik dari si pengemis, lalu kenapa kita tidak membeli barang dagangan si penjaja makanan atau barang tersebut? Teman saya nyeletuk,” karena kita ngga butuh”. Mantan bos saya bergumam, “Ya betul karena kita tidak butuh”.

    Obrolan itu begitu singkat, tapi begitu mengena di hati saya. Pak Teddy Sutiman membuka mata hati saya untuk lebih bijaksana dalam melihat suatu persoalan, bukan hanya berpikir praktis saja. Dan sejak itu saya lebih memberi perhatian kepada para penjaja makanan atau barang di jalanan dibandingkan para pengemis.

    Penjaja jual kue semprong itu masih dengan setia menanti disisi mobil saya. Saya menghela nafas.

    Bukan karena tidak rela berbagi rejeki tapi karena menyesali banyak sekali penganan yang sudah saya beli tadi. Akhirnya saya membuka kaca, ” Pak, saya tidak mau beli kue semprongnya, tapi kalau bapak saya beri uang mau tidak?”. Tidak dinyana penjaja kue semprong itu menggelengkan kepalanya dan pergi dengan cepatnya dari sisi mobil saya. Saya tersentak dan menutup kaca jendela, hujan mengguyur deras dan membanjiri sisi kaca dalam mobil saya karena berbicara dengan si penjaja kue semprong.

    Beberapa detik saya kehilangan daya ingat saya, karena tidak menyangka ucapan yang keluar dari penjaja kue semprong tadi. Sembilan tahun saya telah lebih memberi perhatian kepada para penjaja makanan ataupun barang dibanding pengemis. Sesekali jika saya tidak butuh barang mereka, selalu saya ucapkan kalimat tadi, dan hampir semuanya tidak pernah menolak pemberian saya. Baru kali ini ada yang menolaknya. Baru kali ini …

    Hujan mengguyur makin deras dan saya masih terpaku di mobil, terbayang ucapannya ” untuk ongkos pulang ke Tangerang..” sementara total nilai belanjaan saya tadi mungkin bisa untuk ongkos pulang Bapak penjaja kue semprong selama tiga bulan.

    Tersentak saya mencari-cari bayangan penjaja kue semprong ditengah kabut dari derasnya hujan, terlihat pikulannya ada di pinggir teras sebuah toko tutup.

    Hujan masih deras mengguyur kaca mobil. Mudah-mudahan hujan cepat reda supaya bapak penjaja kue semprong tadi bisa pulang tanpa kehujanan.

    Penjajanya duduk dibawah dengan muka pasrah. Saya mundurkan mobil menuju kearahnya. Kembali saya buka kaca jendela sebelah kiri ditengah guyuran hujan dan menjerit,’ Pak, memang harganya berapa ?”. Ia menyebutkan sejumlah harga yang sangat murah. Akhirnya saya katakan,” ya sudah deh beli satu”. Dia membawa kue semprong pesanan saya didalam plastik. Sampai di mobil,” saya serahkan uang, dan dia bengong karena saya tidak menyerahkan uang pas. Saya tau dia pasti bingung memikirkan kembaliannya, tapi dengan cepat saya katakan, “kembaliannya ambil buat Bapak saja”. Dia bengong. “ambil saja Pak, ini rejeki Bapak, memang hak Bapak”. Dia meneguk ludah, sebelum sempat dia mengucapkan apa-apa saya langsung menutup kaca mobil dan pergi.

    Tiba-tiba air mata ini mengalir deras melebihi derasnya hujan diluar sana.

    Kalau Bapak itu tidak menerimanya, saya tidak tahu seberapa sakitnya hati saya, karena didalam rejeki saya ada hak mereka termasuk hak Bapak penjaja kue semprong itu. Tiap bulan memang selalu saya sisihkan buat mereka, tapi mengetahui bahwa saya telah memberikan betul-betul kepada orang yang berhak menerimanya, betul betul kepada orang yang berhati mulia, dan betul-betul kepada orang yang membutuhkannya, betul-betul membuat saya merasa hidup saya begitu bermakna dan saya sangat bersyukur atas rahmat-Nya.

    Ditengah leher saya yang sakit sekali karena tercekat, saya berdoa kepada Allah agar Bapak penjaja kue semprong tersebut dan keluarganya diberikan rahmat, kemurahan rezeki dan kemudahan hidup oleh Allah. Dan saya bersyukur atas segala rahmat dan kemudahan hidup yang diberikan Allah kepada saya dan keluarga saya.

    ***

     
    • rizal 6:40 pm on 26 September 2010 Permalink

      saya juga pernah mengalami pengalaman yang hampir mirip seperti itu. saya mahasiswa, yang saat itu pulang dari kampus sekitar jam 6 magrib sore. sewaktu mengambil uang ATM, di cabang BNI jalan Kaliurang , Yogya, sekilas saya melihat nenek2 yang sudah tua, mungkin umurnya 60tahunan, menggendong daganganya yaitu pisang. nah sewaktu, mw pulang nenek itu meminta saya untuk membeli pisanngnya, padahal takutnya mubazir kalau saya bawa pulang, dan nenek itu berharap sekali, karena sejak tadi, pisangnya belum laku. yah tak ada niat untuk beli akhirnya saya pun membeli pisang, yang seharga 20rb..mahal amat ya, batinku. tanpa basi2 lagi, sy langsung pulng ke kost. sepanjang perjalanan aq, berpikir, ni pisang ndak bisa kuhabiskan nih kalau aq sendirian.. akhirnya , saya kasihkan cuma-cuma ke pengemis perempatan ringroad jalan kaliurang, semoga mendapatkan berkah.

    • kue ulang tahun bandung 1:49 pm on 28 September 2010 Permalink

      kuenya enak

    • arytama 12:14 pm on 28 November 2010 Permalink

      aku jg pengalaman yg sm dgn penjual kue semprong, beliau kakek2. Waktu itu pulang kerja, dan beliau menawarkan kuenya dengan suara lirih memelas. Sbnrny aku gak butuh tp aku beli jg krn kasihan, itung2 lumayan membantu meringankan beban kakek tersebut. Pas dibawa pulang kuenya, utk oleh2 di rumah, ternyata ortu ku senang aku bw kue itu kue trsbt dan ternyata punya memori tersendiri tentang kue itu.

  • erva kurniawan 1:06 am on 13 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Indahnya Berprasangka Baik 


    Dua orang laki-laki bersaudara bekerja pada sebuah pabrik kecap dan sama-sama tekun belajar Islam. Sama-sama mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin. Mereka acap kali harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah guru pengakiannya. Jaraknya sekitar 10km dari rumah peninggalan orangtua mereka.

    Suatu ketika sang kakak berdo’a memohon rejeki untuk membeli sebuah mobil supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi mengaji. Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia miliki dikarenakan mendapatkan bonus dari perusahaannya bekerja.

    Lalu sang kakak berdo’a memohon seorang istri yang sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik akhlaknya.

    Kemudian berturut-turut sang Kakak berdo’a memohon kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain. Dengan itikad supaya bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan Allah selalu mengabulkan semua do’anya itu.

    Sementara itu, sang Adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang dulu dia tempati bersama dengan Kakaknya. Namun karena kakaknya sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering kali harus berjalan kaki untuk mengaji kerumah guru mereka.

    Suatu saat sang Kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya. Dia teringat bahwa adiknya selalu membaca selembar kertas saat dia berdo’a, menandakan adiknya tidak pernah hafal bacaan untuk berdo’a. Lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati adiknya supaya selalu berdo’a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan hatinya, karena dia merasa adiknya masih berhati kotor sehingga do’a-do’anya tiada dikabulkan oleh Allah azza wa jalla.

    Sang adik terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihat itu.

    Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai meninggalnya adiknya itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya sehubungan do’anya tak pernah terkabul.

    Sang kakak membereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai dengan amanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do’a, diantaranya Al-fatehah, Shalawat, do’a untuk guru mereka, do’a selamat dan ada kalimah di akhir do’anya:

    “Ya, Allah. tiada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Mu, Ampunilah aku dan kakak ku, kabulkanlah segala do’a kakak ku, bersihkanlah hati ku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku didunia dan akhirat,”

    Sang Kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya, tak dinyana ternyata adiknya tak pernah sekalipun berdo’a untuk memenuhi nafsu duniawinya

    ***

    Dari Sahabat

    Indahnya Berprasangka Baik . . . . . . . . .

    Dua orang laki-laki bersaudara bekerja pada sebuah pabrik kecap dan sama-sama tekun belajar Islam. Sama-sama mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin. Mereka acap kali harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah guru pengakiannya. Jaraknya sekitar 10km dari rumah peninggalan orangtua mereka.
    Suatu ketika sang kakak berdo’a memohon rejeki untuk membeli sebuah mobil supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi mengaji. Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia miliki dikarenakan mendapatkan bonus dari perusahaannya bekerja.
    Lalu sang kakak berdo’a memohon seorang istri yang sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik akhlaknya.
    Kemudian berturut-turut sang Kakak berdo’a memohon kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain. Dengan itikad supaya bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan Allah selalu mengabulkan semua do’anya itu.
    Sementara itu, sang Adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang dulu dia tempati bersama dengan Kakaknya. Namun karena kakaknya sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering kali harus berjalan kaki untuk mengaji kerumah guru mereka.
    Suatu saat sang Kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya. Dia teringat bahwa adiknya selalu membaca selembar kertas saat dia berdo’a, menandakan adiknya tidak pernah hafal bacaan untuk berdo’a. Lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati adiknya supaya selalu berdo’a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan hatinya, karena dia merasa adiknya masih berhati kotor sehingga do’a-do’anya tiada dikabulkan oleh Allah azza wa jalla.
    Sang adik terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihat itu.
    Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai meninggalnya adiknya itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya sehubungan do’anya tak pernah terkabul.
    Sang kakak membereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai dengan amanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do’a, diantaranya Al-fatehah, Shalawat, do’a untuk guru mereka, do’a selamat dan ada kalimah di akhir do’anya:
    “Ya, Allah. tiada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Mu, Ampunilah aku dan kakak ku, kabulkanlah segala do’a kakak ku, bersihkanlah hati ku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku didunia dan akhirat,”
    Sang Kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya, tak dinyana ternyata adiknya tak pernah sekalipun berdo’a untuk memenuhi nafsu duniawinya
    ***
    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 9 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Cara Rasul Merayakan Idul Fitri 

    Fajar 1 Syawal menyingsing, menandai berakhirnya bulan penuh kemuliaan. Senyum kemenangan terukir diwajah-wajah perindu Ramadhan, sambil berharap kembali meniti Ramadhan di tahun depan. Satu persatu kaki-kaki melangkah menuju tanah lapang, menyeru nama Allah lewat takbir, hingga langit pun bersaksi, di hari itu segenap mata tak kuasa membendung airmata keharuan saat berlebaran. Sementara itu, langkah sepasang kaki terhenti oleh sesegukan gadis kecil di tepi jalan. “Gerangan apakah yang membuat engkau menangis anakku?” lembut menyapa suara itu menahan beberapa detik segukan sang gadis.

    Tak menoleh gadis kecil itu ke arah suara yang menyapanya, matanya masih menerawang tak menentu seperti mencari sesosok yang amat ia rindui kehadirannya di hari bahagia itu. Ternyata, ia menangis lantaran tak memiliki baju yang bagus untuk merayakan hari kemenangan. “Ayahku mati syahid dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah,” tutur gadis kecil itu menjawab tanya lelaki di hadapannya tentang Ayahnya.

    Seketika, lelaki itu mendekap gadis kecil itu. “Maukah engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu, Muhammad Ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan serta Husain menjadi saudaramu?” Sadarlah gadis itu bahwa lelaki yang sejak tadi berdiri di hadapannya tak lain Muhammad Rasulullah SAW, Nabi anak yatim yang senantiasa memuliakan anak yatim. Siapakah yang tak ingin berayahkan lelaki paling mulia, dan beribu seorang Ummul Mukminin?

    Begitulah lelaki agung itu membuat seorang gadis kecil yang bersedih dihari raya kembali tersenyum. Barangkali, itu senyum terindah yang pernah tercipta dari seorang anak yatim, yang diukir oleh Nabi anak yatim. Rasulullah membawa serta gadis itu ke rumahnya untuk diberikan pakaian bagus, terbasuhlah sudah airmata. Lelaki agung itu, shalawat dan salam baginya.

    Lebaran, bagi kita sangat identik dengan pakaian bagus. Tak harus baru, setidaknya layak dipakai saat bersilaturahim dihari kemenangan itu. Namun tak dapat dipungkiri, bagi sebagian besar masyarakat kita, memakai pakaian baru sudah menjadi budaya. Mungkin budaya ini merujuk pada kisah di atas, bahwa Rasul pun memakai pakaian yang bagus dihari raya. Tidak sedikit uang yang dikeluarkan untuk menyambut lebaran, bahkan bagi sebagian orang, tak cukup satu stel pakaian baru disiapkan, mengingat tradisi silaturahim berlebaran di Indonesia yang lebih dari satu hari.

    Tak ada yang salah dengan budaya baju baru itu, ambil sisi positifnya saja, bahwa keceriaan hari kemenangan bolehlah diwarnai dengan penampilan yang lebih baik. Sekaligus mencerminkan betapa bahagianya kita menggapai sukses penuh arti selama satu bulan menjalani Ramadhan. Baju baru bukan cuma fenomena, bahkan sudah menjadi budaya. Tetapi ada cara berlebaran Rasulullah yang tak ikut kita budayakan, yakni menceriakan anak yatim dengan memberikan pakaian yang lebih pantas dihari istimewa.

    Anak-anak kita bangga menghitung celana dan baju yang baru saja kita belikan. Tak ketinggalan sepatu dan sandal yang juga baru. Dapatlah kita bayangkan betapa cerianya mereka saat berlebaran nanti mengenakan pakaian bagus itu. Tapi siapakah yang akan membelikan pakaian baru untuk anak-anak yatim? Tak ada Ayah atau Ibu yang akan mengajak mereka menyambangi pertokoan dan memilih pakaian yang mereka suka. Dapatkah kita bayangkan perasaan mereka berada di tengah-tengah riuh rendah keceriaan anak-anak lain berbaju baru,sementara baju yang mereka kenakan sudah usang.

    Rasulullah tak hanya berbaju bagus saat berlebaran, tetapi juga mengajak seorang anak yatim ikut berbaju bagus, sehingga nampak tak berbeda dengan Hasan dan Husain. Lelaki agung itu, tahu bagaimana menjadikan hari raya juga istimewa bagi anak-anak yatim. Mampukah kita meniru cara Rasul berlebaran?

    Kalau kita mampu membeli beberapa stel pakaian untuk anak-anak kita, adakah sedikit yang tersisihkan dari rezeki yang kita dapat untuk membeli satu saja pakaian bagus untuk pantas dipakai oleh anak-anak yatim tetangga kita. Kebahagiaan 1 Syawal semestinya tak hanya milik anak-anak kita, hari istimewa itu juga milik mereka.

    Maka, ikutilah! Gerakan LCR (Lebaran Cara Rasul). Gerakan ini, saya yakin sudah banyak yang melakukannya diberbagai tempat. Namun jika lebih banyak lagi orang-orang beruntung seperti kita yang mau membudayakan LCR ini, akan lebih banyak senyum anak yatim yang tercipta dihari bahagia.

    Note: Jika berkenan meneruskan tulisan ini ke berbagai milist dan komunitas, setidaknya Anda berkesempatan mengukir senyum anak-anak yatim. Apalagi jika ada yang bekerja di media, atau punya akses ke berbagai media cetak maupun elektronik, sehingga Gerakan LCR ini menjadi sebuah gerakan nasional. Akan indahlah dunia dengan berbagi.

    Maha Suci Allah.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 30 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Izinkan Aku Menangis 

    sajadaheramuslim – Jam menunjukkan pukul 21.20 malam… Kecurian. Aku tertidur sekitar 3,5 jam setelah berbuka puasa petang tadi. Seingatku aku sedang kejar-kejaran dengan waktu di etape sulit ini. Al Qur’anku belum selesai. Tapi entah mengapa, mushaf itu tetap diam disamping bantal; dekat kepalaku? Aku menyerah lagi. Kelelahan fisik dan kepenatan pikiran. Aku hendak berapologi pada diriku sendiri.

    Kegundahan apakah ini? Kekhawatiran apakah ini? Kecemasan apa lagi?

    Mengapa pelupuk mataku panas. Namun, aku malu untuk menumpahkan air mata. Ya, air mata bening itu hanya boleh kutunjukkan pada-Nya. Bukan untuk memperturutkan rasa dan emosi serta mengalahkan rasio yang wajar. Meski… jebol juga tanggul itu.

    Aku membuka hadits ini lagi, ”Orang yang cerdas adalah orang yang merendahkan dirinya dan berbuat untuk masa setelah mati. Orang yang lemah adalah yang memperturutkan hawa nafsunya dan berharap (banyak) pada Allah”. (HR.Turmuzi, dari riwayat Syaddad bin Aus ra.)

    Jika kebodohan (tidak cerdas) tidaklah berakibat kepada kemurkaan Allah? Dan ternyata pengharapan pada-Nya saja tak cukup. Sering menyerah pada diri sendiri di tengah komitmen hendak berbuat. Harapan tanpa kekuatan itu disabdakan Rasulullah Saw. sebagai kelemahan. Mengapa aku lemah?

    Jika saja ini bukan di etape final. Aku boleh berharap banyak untuk menjadi sang pemenang. Jika saja aku boleh berandai, jarum jam diputar. Namun, agamaku melarang pengandaian. Benar. Konsentrasi di babak ini seringkali buyar.

    Aku membuka genggaman tangan kiriku. Ya, tinggal itulah hitungan hari-hari pembekalan tahun ini. Aku tak pernah tahu, mampukah aku sampai di penghujungnya. Mampukah aku menjadi yang terbaik diantara sekian juta para pemburu satu cinta, sejuta pengampunan dan seribu keberkahan? Aku malu menanyakannya pada diriku sendiri.

    Masih tersisa kedengkian. Masih ada pertanyaan sikap dan prasangka buruk. Masih juga bersemanyam ketersinggungan dan gerutu ketidakpuasan. Masih ada pandangan mata khianat. Masih ada ketajaman lidah yang melukai hati. Masih juga mengoleksi berita-berita tak bernilai. Masih saja melafazkan kata-kata tak bermakna. Lantas, apa makna tengadahan tangan di tengah malam yang diiringi isak pengharapan. Sekali lagi, pengharapan yang lemah yang kalah oleh nafsu.

    Aku terduduk lemas. Alhamdulillah Allah memberi kekuatan untuk mengungkapkannya. Aku pandangi lama-lama refleksi kegundahan itu.

    Aku hanya boleh bertanya, kemudian kujawab sendiri. Selain itu hanya kesunyian. Meski dunia sekelilingku ramai dengan hiruk pikuk malam. Kedai sebelah rumah masih ramai. Coffee shop masih dipenuhi orang yang asyik menonton el Ahli–mungkin–, klub kebanggaan mereka sedang berlaga. Aku dibangunkan teriakan itu. Mengapa tidak suara Syeikh Masyari Rasyid yang melantunkan surat al Qiyamah, misalnya. Atau suara siapa saja yang menembus gendang telinga ini. Namun, melantunkan suara pengharapan yang kuat yang bisa menembus langit-Nya.

    Atau suara-suara dari rumah-Nya yang dipenuhi isakan harapan hamba-hamba-Nya yang berlomba memburu seribu keberkahan dan sejuta pengampunan. Atau senyuman malaikat yang menyaksikan bocah-bocah kecil yang menahan kantuk berdiri sambil memegangi mushaf kecil dipojok-pojok masjid.

    Sebagaimana aku boleh berharap di penghujung hari pembekalan ini, aku menjadi sang jawara. Namun, aku malu untuk berharap demikian. Sebagaimana aku juga boleh berharap menutup hariku di dunia dengan syahadah di jalan-Nya. Toh, semua menjadi misteri yang tak terjawab.

    Ya, Khalid bin Walid pun yang sangat pemberani akhirnya menutup harinya di atas pembaringan. Lantas, tidakkah malu aku membandingkan pengaharapanku dengan kelemahan diriku menghadapi diri sendiri.

    Sebagaimana aku mengandaikan bidadari surga. Apakah ia takkan cemburu dan marah dengan pandangan khianatku pada hal-hal yang tak seharusnya kulihat.

    Sebagaimana aku berharap istana megah setelah matiku. Sudah berapakah aku menabung untuk itu. Sementara hidupku dipenuhi ambisi dan obsesi yang penuh dengan tabungan materi dan memegahkan istana duniaku. Dan aku telah mencintai dunia itu.

    Sebagaimana aku berharap menikmati seteguk susu dari aliran sungai di surga-Nya. Aku lalai mengumpulkan “dana” untuk membelinya. Juga madu dan jus mangga.

    Sebagaimana aku tetap berharap ingin terus mencicipi delima merah dan jeruk sankis serta buah khukh di masa setelah kefanaan ini. Tapi aku terlalu terpana oleh keindahannya yang sementara. Entah berapa tahun, bulan, hari atau bahkan hitungan detik aku masih bisa melihatnya di toko buah-buahan di sebelah rumahku.

    Aku memaknai keterlaluan yang fatal ini dengan sikap yang tidak seimbang. Khayalanku dipenuhi pengaharapan. Namun, hatiku disesaki kelemahan. Akibatnya seluruh organ tubuhku lemah. Mata, telinga, mulut, kaki, tangan… semua menolak untuk diajak menggapai cinta-Nya.

    Etape final ini banyak tikungan tajam. Dan aku terjatuh. Putaran roda keinginan tersebut trrgelincir oleh kerikil kecil bernama kelalaian. Alhamdulillah, aku masih bisa bangkit meneruskan perjalanan. Meski aku tahu, kini aku jauh tertinggal. Aku belum bisa menjadi yang terbaik. Tapi aku masih bisa berharap untuk menjadi baik. Karena aku masih bersama orang-orang baik bahkan mereka ada di depanku; orang-orang terbaik itu.

    Aku masih harus melewati tikungan tajam lainnya. Tergesa-gesa, kecerobohan, cinta dunia, rasionalisasi kesalahan, buruk sangka. Namun, aku masih punya bekal. Cinta, hati nurani dan bahan bakar ketelitian serta nasihat orang-orang shalih. Dan tikungan tajam yang paling membahayakan di akhir etape ini adalah: menduakan cinta-Nya. Ada cinta lain yang menyesak hendak menggeser kemuliaan itu.

    Ada beberapa materi terakhir di ujian final ini: menanggalkan kesombongan dan ingin dipuji serta disanjung berlebihan. Menanggalkan kecintaan dunia yang berlebihan dengan qanaah dan tawadhu’.

    Tiba-tiba aku ingin menangis. Namun, aku tak mampu. Ya Allah aku ingin mengeluarkan air mata ini untuk-Mu. Aku khawatir kesulitan ini tersendat karena kemurkaan-Mu.

    Air bening itu tersendat. Jangan-jangan karena kesalahanku. Karena tumpukan-tumpukan egoisme. Karena tumpukan-tumpukan kotoran buruk sangka. Karena tumpukan-tumpukan gerutu. Karena tumpukan-tumpukan doa-doa yang kosong. Terkunci oleh hawa nafsu.

    Jika demikian, jangan Kau murkai hamba ini ya Allah. Hamba masih terus berharap pembebasan dari murka-Mu di hari-hari pembebasan ini.

    “… dan sepertiga terakhirnya adalah pembebasan dari api neraka,” demikian Rasulullah Saw. menjelaskan karakteristik bulan pembekalan ini. Ya Allah, jadikanlah nama hamba ada dalam daftar pembebasan itu. Juga nama kedua orang tua hamba, keluarga hamba, para guru hamba, saudara-saudara hamba serta siapa saja yang mempunyai hak atas hamba. Amin.

    ***

    Oleh: Saiful Bahri

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 27 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kata-Kata Kasar. 

    Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. “Oh, maafkan saya” adalah reaksi saya. Ia berkata, “Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda.” Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

    Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda. Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. “Minggir,” kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.

    Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku, “Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, ketika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu.”

    “Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu.”

    Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, “Bangun, nak, bangun,” kataku.

    “Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?” Ia tersenyum, ” Aku menemukannya jatuh dari pohon. ”

    “Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru.”

    Aku berkata, “Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi.”

    Si kecilku berkata, “Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.” Aku pun membalas, “Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru.”

    Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.

    Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan? Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas? Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA?

    Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.

    FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER, (I), (L)OVE, (Y)OU

    Teruskan cerita ini kepada orang-orang yang kau pedulikan. Saya telah melakukannya.

    ***

    Dari milis, diterjemahkan dari : HARSH WORDS

    Everything is free

    Semoga menjadikan renungan yang bermanfaat.

     
    • sempulur 2:00 am on 27 Agustus 2010 Permalink

      Sekedar ingin mengucapkan salam kenal dari komunitas keluarga miskin. Semoga berkenan mengunjungi blog kami untuk menyumbang kesempatan meraih masa depan yang lebih baik dan harmonis. Terima kasih

    • azzen noury 9:45 am on 8 September 2010 Permalink

      Siiip…cerita yang patut utk direnungkan

  • erva kurniawan 2:53 am on 24 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Saya Beri Dia Waktu 3 Bulan 

    Pagi hari Kamis lalu, 13 Juli 2006, seorang wanita mudah berusia 24 tahun datang ke Islamic Cultural Center of New York. Dengan pakaian Muslimah yang rapi, nampak seperti santri bule duduk menunggu kedatangan saya di Islamic Center New York. Dengan sedikit malu dan menundukkan muka, dia memulai percakapan dengan bertanya, “Apa hukumnya seorang Muslimah bersuamikan non Muslim? Dan apakah seorang wanita yang bersuamikan non Muslim bisa diterima menjadi Muslimah?

    Tentu saja saya terkejut dengan pertanyaan itu. Mulanya saya mengira bahwa sang wanita yang duduk di hadapan saya ini adalah seorang Muslimah, barangkali dari negara Balkan, Bosnia atau Kosovo. Tapi setelah saya tanya, ternyata dia hanyalah seseorang yang baru menemukan Islam lewat internet (beberapa website Islam), dan kini secara bulat berniat untuk memeluk agama, yang menurutnya, the right way for her.

    Wanita muda itu bernama Jessica Mendosa. Kelahiran Albany, ibukota negara bagian New York dan kini tinggal di kota New York (New York City) sebagai mahasiswi di salah satu universitas di kota ini. Diapun baru menikah dengan suaminya sekitar 4 bulan yang lalu.

    Setelah berta’aruf lebih dekat barulah saya bertanya kepadanya: “Kenapa anda menanyakan tentang boleh tidaknya seorang Muslimah bersuamikan non Muslim? Dan kenapa pula Anda tanyakan apa diterima seorang wanita masuk ke dalam agama Islam jika bersuamikan non Muslim?”

    Dengan sedikit grogi atau malu, Jessica menjawab: “I am very much interested in Islam. I have learned it many months“.

    Saya kemudian memotong: “Where did you learn Islam?” Dia menjawab: “throughn the internet (Islamic websites)“.

    Saya kemudian menanyakan apa hubungan antara keingin tahuan dia tantang Islam dan seorang wanita bersuamikan non Muslim. Maka dengan berat tapi cukup berani dia katakan: “I’ve learned Islam and I am sure this is the right way for me. I am willing to embrace Islam now. But I’ve a problem. I am a wife of a non Muslim”.

    Ketika saya tanyakan apakah suaminya tahu keinginannya tersebut? Dia menjawab: “yes, and he is very much hostile to my intention“.

    Saya tidak langsung menjawab pertanyaannya karena saya yakin dia masih mencintai suami yang baru menikahinya sekitar 4 bulan silam. Saya justru menjelaskan kepadanya pokok-pokok keimanan dan Islam, khususnya makna berislam itu sendiri. Bahwa menerima Islam berarti bersedia menerima segala konsekwensi dari setiap hal yang terkait dengan ajarannya.

    “Islam is not only a bunch of ritual teachings, it’s a code of life,” jelasku.

    Dalam hal ini seseorang yang mengimani ajaran Islam dan dengan kesadarannya memeluk Islam berarti bersedia mengikuti ajaran-ajaran atau aturan-aturan yang mengikat. Dan penerimaan inilah yang merupakan inti dari keislaman itu sendiri.

    Nampaknya Jessica mendengarkan penjelasan itu dengan seksama. Hampir tak pernah bergerak mendengarkan penjelasan-penjelasan mengenai berbagai hal, dari masalah-masalah akidah, ibadah, hingga kepada masalah-masalah mu’amalah, termasuk urgensi membangun rumah tangga yang Islami dalam rangka menjaga generasi Muslim masa depan.

    Ketika saya sampai kepada permasalahan pasangan suami isteri itulah, Jessica memberanikan diri menyelah: “But I am still in love with my husband whom I married to just 4 months ago”

    Saya juga terkejut dan kasihan dengan Jessica. Hatinya telah mantap untuk menjadi Muslimah. Bahkan menurutnya: “Nothing should prevent me to convert to Islam“. Tanpa terasa airmatanya nampak menetes. Saya ikut merasakan dilema yang dihadapinya.

    Saya kemudian menjelaskan perihal hukum nikah dalam Islam dan berbagai hal yang terkait, termasuk persyaratan bagi wanita Muslim untuk menikah hanya dengan pria Muslim. Penjelasan saya tentunya tidak bertumpu kepada nash atau berbagai opini ulama, tapi diserta dengan berbagai argumentasi “aqliyah” (rasional) sehingga dapat meyakinkan Jessica dalam hal ini.

    Pada akhirnya, mau tidak mau, harus terjadi kompromi. Saya katakan, ketika anda sudah yakin bahwa inilah jalan hidup yang benar untuk anda ikuti, maka jangan sampai hal ini tersia-siakan. Namun di satu sisi saya perlu tegaskan bahwa sebagai Muslimah jika tetap bersuamikan non Muslim maka itu adalah sebuah pelanggaran terhadap hukum Islam.

    Untuk itu, setelah mempertimbangkan berbagai pertimbangan yang terkait, baik berdasarkan “masalih al mursalah” (manfaat-manfaat yang terkait) maupun realita-realita kehidupan di Amerika, serta yang paling penting adalah pengalaman-pengalaman mengislamkan selama ini, saya sampaikan kepada Jessica: “You may embrace Islam. But you have to find any possible way to convince your husband that you are not allowed to maintain this marriage if he insists to oppose Islam”.

    Dengan penjelasan terakhir ini Jessica nampak cerah, dan dengan tegas mengatakan: “I’ll give him a chance in 3 months. If he doesn’t want to follow my way, I will ask for a divorce“, katanya tanpa ragu.

    Saya katakan: “Hopefully people will not perceive that Islam separates between husbands and wives. But this is the rule and I have to tell you about it”.

    Oleh karena Islamic Center memang masih sepi, dengan hanya disaksikan dua orang Brothers, dengan diiriingi airmata, Jessica Mendosa mendeklarasikan: “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah”. Allahu Akbar wa lillah alhamd!

    Sabtu kemarin, Jessica telah resmi bergabung dengan kelas khusus yang dirancang untuk para muallaf “The Islamic Forum for new Muslims” di Islamic Cultural Center. Saya terkejut, Jessica hadir di kelas itu seperti seorang Muslim yang telah lama mempelajari agama ini. Bersemangat menjawab setiap ada hal yang dipertanyakan oleh muallaf lainnya. Sayang saya belum sempat menanyakan perihal suaminya!,

    ***

    Oleh: M. Syamsi Ali, New York, 17 Juli 2006

    Jessica, Allah bless and further guide you!

     
    • Sri Mulyati 4:27 pm on 19 September 2010 Permalink

      izin copi ya…

  • erva kurniawan 1:32 am on 22 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Pelajaran Dari Seorang Anak, Cerita dari India 

    Istriku berkata kepada aku yang sedang baca Koran, “Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan.”

    Aku taruh Koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya, namanya Sindu. Tampak ketakutan, air matanya banjir didepannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam / yogurt (nasi khas India / curd rice).

    Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku msh kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”.

    Aku mengambil mangkok dan berkata, “Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak-teriak sama ayah.”

    Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku.

    Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata, “Boleh ayah akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta ..”. Agak ragu-ragu sejenak, “…akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya.”

    “Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?”. Aku menjawab, “Oh pasti sayang.” Sindu tanya sekali lagi, “Betul nih ayah? Yah pasti”. Sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju. Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, “Iya, janji”, kata istriku.

    Aku sedikit khawatir dan berkata, “Sindu jangan minta komputer atau barang-barang lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.” Sindu menjawab, “Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang-barang mahal kok. Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu”

    Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap. Dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin / dibotakin pada hari Minggu.

    Istriku spontan berkata permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin. Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

    Aku coba membujuk, “Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak. Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, tidak ada ‘yah, tak ada keinginan lain kata Sindu.

    Aku coba memohon kepada Sindu, “Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.” Sindu dengan menangis berkata, “Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan saya, kenapa ayah sekarang mau menjilat ludah sendiri?”

    Sindu melanjutkan “Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi, seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta / kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.”

    Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, “Janji kita harus ditepati.” Secara serentak istri dan ibuku berkata, “Apakah kamu sudah gila?”. “Tidak”, jawabku, “Kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu permintaanmu akan kami penuhi.”

    Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus. Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya. Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari mobil sambil berteriak, Sindu tolong tunggu saya. Yang mengejuntukanku ternyata, kepala anak laki-laki itu botak. Aku berpikir mungkin “botak” model jaman sekarang.

    Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata, “Anak anda, Sindu, benar-benar hebat. Anak laki-laki yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish, adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia.”

    Wanita itu berhenti sejenak, menangis tersedu-sedu, “Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi kesekolah takut diejek / dihina oleh teman2 sekelasnya.”

    “Nah Minggu lalu Sindu datang kerumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi, hanya saya betul-betul tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.” Lanjut Ibu tersebut.

    Aku berdiri terpaku dan aku menangis. Malaikat kecilku tolong ajarkanku tentang kasih.

    ***

    Dari milis siar islam

     
  • erva kurniawan 6:28 pm on 14 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Riya’ 

    lily waterPada satu waktu sahur, seorang Abid membaca al-Qur’an al-Karim, surah “Thaha”, di biliknya yang berhampiran dengan jalan raya. Selesai membaca, dia berasa amat mengantuk, lalu tertidur.

    Dalam tidurnya itu dia bermimpi melihat seorang lelaki turun dari langit membawa naskah al-Qur’an al-Karim. Lelaki itu datang menemuinya dan segera membuka kitab suci itu di depannya. Didedahkannya surah “Thaha” dan dibiliknya halaman demi halaman untuk tatapan si Abid.

    Si Abid melihat setiap kalimah surah itu dicatatkan sepuluh kebajikan sebagai pahala bacaannya kecuali satu kalimah sahaja yang catatannya dipadamkan. Lalu katanya, “Demi Allah, sesungguhnya telah kubaca seluruh surah ini tanpa meninggalkan satu kalimah pun. Tetapi kenapakah catatan pahala untuk kalimah ini dipadamkan?”

    Lelaki itu berkata, “Benarlah seperti katamu itu. Engkau memang ttidak meninggalkan kalimah itu dalam bacaanmu tadi. Malah, untuk kalimah itu telah kami catatkan pahalanya, tetapi tiba-tiba kami terdengar suara yang menyeru dari arah ‘Arasy: ‘Padamkan catatan itu dan gugurkan pahala untuk kalimah itu’. Maka sebab itulah kami segera memadamkannya”.

    Si Abid menangis dalam mimpinya itu dan berkata, “Kenapakah tindakan itu dilakukan?”

    ” Sebabnya engkau sendiri. Ketika membaca surah itu tadi, seorang hamba Allah melewati jalan di depan rumahmu. Engkau sedar hal itu, lalu engkau meninggikan suara bacaanmu supaya didengar oleh hamba Allah itu. Kalimah yang tiada catatan pahala itulah yang telah engkau baca dengan suara tinggi itu”.

    Si Abid terjaga dari tidurnya. “Astaghfirullaahal-‘Azhim! Sungguh licin virus riya’ menyusup masuk ke dalam kalbuku. Dan, sungguh besar kecelakaannya. Dalam sekejap mata saja ibadahku dimusnahkannya. Benarlah kata alim ulama, serangan penyakit riyak atau ujub, boleh membinasakan amal ibadat seseorang hamba Allah selama tujuh puluh tahun”.

    ***

    Sumber unknown

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 1 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Tiket ke Neraka Mahal 

    Oleh M. RIDLO ‘EISY

    SUARANYA sedikit serak dan matanya berkaca-kaca. Ia menuturkan betapa gembira istri dan anak-anaknya waktu mereka diajak makan malam di sebuah restoran di Bandung Utara. “Rasanya sudah lama sekali saya tidak berbincang-bincang dengan istri dan anak-anak saya,” tuturnya.

    “Sekali-sekali makan di luar bersama keluarga sangat menyenangkan. Istri dan anak-anak saya kelihatan sangat berbahagia. Anak-anak saya banyak bercerita tentang berbagai kegiatannya dan juga banyak bertanya tentang berbagai macam hal. “Yang terpenting, kata teman saya itu, biaya untuk membahagiakan keluarga ternyata murah, tidak mahal”.

    **

    LALU ia membandingkan dengan berbagai kegiatannya sebelumnya. Ia bukan pemabuk, hanya sekali-sekali ia mabuk, kalau kelewat batas meminum minuman beralkohol. Pada restoran sedikit di atas kelas menengah, satu gelas single Whiskey dan Tequila adalah Rp 30.000. Kalau ingin gaya sedikit, sebotol Champagne harganya lebih dari Rp 1 juta. “Dengan uang sebanyak itu, saya dapat membahagiakan istri dan anak-anak saya untuk makan-makan di restoran lebih dari lima kali,” katanya.

    Ia juga bukan penyanyi, tetapi ia pintar menyanyi dan suaranya lumayan bagus. Pernah ia berseloroh, “Kalau saya lelah jadi pengusaha, saya akan menjadi penyanyi”. Biasanya, ia minum-minuman keras di karaoke. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa ruang karaoke kelas VIP adalah Rp 1 juta dan untuk lebih meriah ia menyewa pemandu lagu (PL) dengan harga Rp 200.000 per jam.

    “Mas tahu sendirilah,” katanya. “Seringkali saya kebablasan. Dari ruang karaoke pindah ke kamar hotel”. Jumlah uang yang dihamburkannya dalam semalam, menyamai gaji guru besar dalam sebulan.

    “Itu belum seberapa mas,” katanya. Suaranya terdengar bangga namun terselip ada nada pahit. “Pada diskotek yang elite dan mewah, teman saya menyewa hostes dua juta tiap jamnya. Dan Mas dapat memperkirakan berapa besar uang yang harus dibayar teman saya kalau ia membawa hostes itu ke kamar hotel.”

    **

    “Itu adalah bagian dari masa lalu saya Mas,” tambahnya. “Kini saya kembali ke pangkuan keluarga. Kembali kepada istri dan anak-anak saya.”

    “Mungkin inilah yang dinamakan hidayah,” katanya dengan mata menerawang jauh. “Saya hampir bangkrut karena judi. Mula-mula hanya iseng, recehan, seribu dua ribu rupiah, agar main gaplenya lebih serius. Namun, sekali lagi saya kebablasan, sebagian perusahaan saya sudah hilang dalam perjudian itu. Saya diselamatkan oleh rasa letih yang luar biasa, saya istirahat dan berhenti berjudi sehingga tidak semua perusahaan saya lenyap”.

    “Saya hanya sedikit berkomentar, untunglah ia tidak seperti Pendawa Lima yang menjadikan negara sebagai taruhan dalam perjudian dan Pendawa Lima kalah.

    “Ya, untunglah saya tidak seperti Pendawa Lima. Masih ada harta yang tersisa untuk hidup bahagia,” katanya sambil menarik napas lega.

    “Hidup ini aneh,” tambahnya. “Semua yang saya lakukan dahulu itu, seperti mabuk-mabukan, melacur, dan berjudi, adalah tiket menuju neraka yang menyengsarakan. Kenapa lumayan banyak orang mau membeli tiket ke neraka yang harganya sangat mahal?”

    ***

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 30 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah Nyata Seorang Pemuda Arab Yang Menimba Ilmu Di Amerika 

    Ada seorang pemuda arab yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya. Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika, ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam.

    Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja. Semula ia berkeberatan. Namun karena ia terus mendesak akhirnya pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk.

    Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika melihat kepada para hadirin dan berkata, “Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini.”

    Pemuda arab itu tidak bergeming dari tempatnya. Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap tidak bergeming dari tempatnya.

    Hingga akhirnya pendeta itu berkata, “Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya.” Barulah pemuda ini beranjak keluar.

    Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pendeta, “Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang muslim.” Pendeta itu menjawab, “Dari tanda yang terdapat di wajahmu.”

    Kemudian ia beranjak hendak keluar. Namun sang pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini, yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memojokkan pemuda tersebut dan sekaligus mengokohkan markasnya. Pemuda muslim itupun menerima tantangan debat tersebut.

    Sang pendeta berkata, “Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat.”

    Si pemuda tersenyum dan berkata, “Silahkan!

    Sang pendeta pun mulai bertanya, “Sebutkan satu yang tiada duanya, dua yang tiada tiganya, tiga yang tiada empatnya, empat yang tiada limanya, lima yang tiada enamnya, enam yang tiada tujuhnya, tujuh yang tiada delapannya, delapan yang tiada sembilannya, sembilan yang tiada sepuluhnya, sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh, sebelas yang tiada dua belasnya, dua belas yang tiada tiga belasnya, tiga belas yang tiada empat belasnya. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh! Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya? Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu! Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api? Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diadzab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar! Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?”

    Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu tersenyum dengan senyuman mengandung keyakinan kepada Allah. Setelah membaca basmalah ia berkata,

    • Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.
    • Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah SWT berfirman, “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami).” (Al-Isra’: 12).
    • Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.
    • Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’an.
    • Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.
    • Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ketika Allah SWT menciptakan makhluk.
    • Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis. Allah SWT berfirman, “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.” (Al-Mulk: 3).
    • Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah SWT berfirman, “Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.” (Al-Haqah: 17).
    • Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu’jizat yang diberikan kepada Nabi Musa tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang. (*
    • Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah kebaikan. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat.” (Al-An’am: 160).
    • Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudara Yusuf as.
    • Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu’jizat Nabi Musa as yang terdapat dalam firman Allah, “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, ‘Pukullah batu itu dengan tongkatmu.’ Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air.” (Al-Baqarah: 60).
    • Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.
    • Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Shubuh. Allah SWT berfirman, “Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (At-Takwir: 18).
    • Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus AS.
    • Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Yusuf AS, yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala.” Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, ” tak ada cercaaan terhadap kalian.” Dan ayah mereka Ya’qub berkata, “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
    • Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara keledai. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai.” (Luqman: 19).
    • Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam, malaikat, unta Nabi Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.
    • Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman, “Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim.” (Al-Anbiya’: 69).
    • Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).
    • Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah tipu daya wanita, sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar.” (Yusuf: 28).
    • Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah hari dan buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam hari dan dua di siang hari.

    Pendeta dan para hadirin merasa takjub mendengar jawaban pemuda muslim tersebut. Kemudian ia pamit dan beranjak hendak pergi. Namun ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pendeta. Pemuda ini berkata, “Apakah kunci surga itu?” mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah. Ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil. Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.

    Mereka berkata, “Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab, sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya!” Pendeta tersebut berkata, “Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, namun aku takut kalian marah.” Mereka menjawab, “Kami akan jamin keselamatan anda.” Sang pendeta pun berkata, “Jawabannya ialah: Asyhadu an La Ilaha Illallah wa anna Muhammadar Rasulullah.”

    Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk agama Islam. Sungguh Allah telah menganugrahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.(**

    (* Penulis tidak menyebutkan yang kesembilan (pent.)

    (** Kisah nyata ini diambil dari Mausu’ah al-Qishash al-Waqi’ah melalui internet, http://www.gesah.net

    ***

    Dari Sahabat, semoga bermanfaat

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 27 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kalimat Terindah 

    Kalimat Terindah

    Oleh Sus Woyo

    ***

    Setelah berbulan-bulan tak ada kabar yang jelas. Setelah sekian waktu jadwal kepulangan saya ke tanah air belum bisa dipastikan, maka suatu malam saya dipanggil sang majikan untuk berbicara empat mata. Saat pertemuan itu ada kalimat terindah yang pernah saya dengar dari mulutnya. Kalimat itu adalah, “Akhir bulan ini kamu pulang ke Indonesia.”

    Saya terdiam. Tapi saya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang bergejolak di dada ini. Pulang! Sebuah kata yang sangat indah di telinga saya. Setelah dua tahun lebih saya meninggalkan orang-orang yang saya cintai: isteri, anak, keluarga yang lain, teman dan siapa saja orang-orang yang dekat dengan saya sebelum berangkat merantau ke negeri seberang.

    Terlintas dalam pikiran saya, tentang masa lalu. Tentang sepenggal dari episode kehidupan saya pada masa duduk di sekolah menengah. Waktu di mana saya harus meninggalkan kampung halaman yang amat sangat saya cintai.

    Selepas tamat sekolah dasar, orang tua saya mengirim saya untuk meneruskan pendidikan di kota. Karena kampung saya jauh dari kota, maka saya harus kost. Itu saya jalani dari SMP sampai tamat SMA. Dan saya selalu teringat saat yang paling indah, saat yang paling menyenangkan, yaitu saat datang hari Sabtu. Sebab di akhir pekan itu saya pulang kampung. Saking gembiranya kalau datang hari Sabtu, saya sering menyebutnya “Pulang ke pinggir sorga.” Sebab akan bertemu dengan orang tua. Dan biasanya ibu saya sudah menyediakan makanan-makanan kesukaan saya. Yang tentunya sangat jarang saya temui di rumah kost.

    Nah, saat mendengar kalimat dari majikan saya itu, hati saya sama persis seperti ketika mau pulang kampung di masa-masa menempuh pendidikan di kota saya, beberapa tahun yang lalu.

    Sejak itu, hari-hari saya diliputi kegembiraan. Walaupun pekerjan yang saya tangani sebenarnya sangat banyak. Ocehan-ocehan dari majikan yang bersifat memarahipun tak begitu saya pedulikan. Artinya, apa yang ia omongkan hanya saya masukan telinga kanan dan saya keluarkan lewat telinga kiri. Bahkan terkadang, hati dan pikiran saya seolah sudah di kampung sendiri, padahal jasad saya masih bermandi keringat di negeri orang.

    Suatu hari seorang teman menangkap perangai saya. Dan teman saya itu berkomentar. “Duh, gembiranya mau pulang kampung, ya….” Saya senyum-senyum saja mendengar itu. Memang itulah adanya.

    Namun, di siang bolong yang terik mataharinya mencapai titik kulminasi, saat saya merebahkan badan untuk melepas lelah, tiba-tiba saya berpikir keras. Sambil melihat langit-langit kamar, saya bergumam sendiri. “Apakah kegembiraan ini bisa bertahan lama, atau setidaknya sampai ke Indonesia nanti?’

    Saya tak bisa menjawab pertanyaan saya sendiri itu. Bahkan tiba-tiba pikiran saya melayang terlalu jauh ke depan. “Mampukah saya segembira ini jika nanti Allah juga memberikan kalimat itu kepada saya?”

    Ya, setelah merantau, pasti saya akan pulang. Sama juga setelah saya diberi kesempatan hidup di dunia, pasti juga akan dipanggil pulang. Dan kepulangan yang terahir ini jelas tidak mungkin bisa ditawar-tawar lagi. Cepat atau lambat, Allah akan menyapa juga dengan kalimat yang tak beda jauh dengan kalimat majikan saya, walau dengan nuansa yang berbeda, tentunya.

    Kalau pertemuan saya dengan semua keluarga nanti di tanah air mampu memberikan kegembiraan yang luar biasa pada saya, mampukah saya juga berperasaan yang sama tatkala saya nanti akan berjumpa dengan Sang Pencipta?

    Saya tertunduk lama. Lama sekali. Bahkan tak terasa air mata ini memberontak ingin keluar. Seolah memerintahkan saya untuk cepat-cepat berintrospeksi diri, tentang apa yang telah saya perbuat di “rantau” ini.

    Bekal saya belum seberapa. Entah dalam tingkatan yang mana derajat keimanan saya. Komitmen saya terhadap aturanNya belum bisa saya jadikan barometer untuk menjadikan saya tersenyum di hadapanNya. Apalagi merasa gembira.

    Namun, walaupun demikian, mudah-mudahan kepulangan saya ke tanah air tercinta akan menjadi pelajaran besar untuk menyongsong kepulangan saya yang sebenarnya, yaitu pulang ke pangkuanNya. Sehingga ketika kalimat terindah dari Allah, yang dibawa malaikat penyabut nyawa,datang menyapa saya, mudah-mudahan saya bisa menyambutnya dengan senyum kegembiraan. Seperti senyumnya para kekasih Allah ketika dipanggil pulang menuju kampung abadi, kampung akhirat.

    ***

    Kalimat Terindah
    Oleh Sus Woyo
    Setelah berbulan-bulan tak ada kabar yang jelas. Setelah sekian waktu jadwal kepulangan saya ke tanah air belum bisa dipastikan, maka suatu malam saya dipanggil sang majikan untuk berbicara empat mata. Saat pertemuan itu ada kalimat terindah yang pernah saya dengar dari mulutnya. Kalimat itu adalah, “Akhir bulan ini kamu pulang ke Indonesia.”
    Saya terdiam. Tapi saya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang bergejolak di dada ini. Pulang! Sebuah kata yang sangat indah di telinga saya. Setelah dua tahun lebih saya meninggalkan orang-orang yang saya cintai: isteri, anak, keluarga yang lain, teman dan siapa saja orang-orang yang dekat dengan saya sebelum berangkat merantau ke negeri seberang.
    Terlintas dalam pikiran saya, tentang masa lalu. Tentang sepenggal dari episode kehidupan saya pada masa duduk di sekolah menengah. Waktu di mana saya harus meninggalkan kampung halaman yang amat sangat saya cintai.
    Selepas tamat sekolah dasar, orang tua saya mengirim saya untuk meneruskan pendidikan di kota. Karena kampung saya jauh dari kota, maka saya harus kost. Itu saya jalani dari SMP sampai tamat SMA. Dan saya selalu teringat saat yang paling indah, saat yang paling menyenangkan, yaitu saat datang hari Sabtu. Sebab di akhir pekan itu saya pulang kampung. Saking gembiranya kalau datang hari Sabtu, saya sering menyebutnya “Pulang ke pinggir sorga.” Sebab akan bertemu dengan orang tua. Dan biasanya ibu saya sudah menyediakan makanan-makanan kesukaan saya. Yang tentunya sangat jarang saya temui di rumah kost.
    Nah, saat mendengar kalimat dari majikan saya itu, hati saya sama persis seperti ketika mau pulang kampung di masa-masa menempuh pendidikan di kota saya, beberapa tahun yang lalu.
    Sejak itu, hari-hari saya diliputi kegembiraan. Walaupun pekerjan yang saya tangani sebenarnya sangat banyak. Ocehan-ocehan dari majikan yang bersifat memarahipun tak begitu saya pedulikan. Artinya, apa yang ia omongkan hanya saya masukan telinga kanan dan saya keluarkan lewat telinga kiri. Bahkan terkadang, hati dan pikiran saya seolah sudah di kampung sendiri, padahal jasad saya masih bermandi keringat di negeri orang.
    Suatu hari seorang teman menangkap perangai saya. Dan teman saya itu berkomentar. “Duh, gembiranya mau pulang kampung, ya….” Saya senyum-senyum saja mendengar itu. Memang itulah adanya.
    Namun, di siang bolong yang terik mataharinya mencapai titik kulminasi, saat saya merebahkan badan untuk melepas lelah, tiba-tiba saya berpikir keras. Sambil melihat langit-langit kamar, saya bergumam sendiri. “Apakah kegembiraan ini bisa bertahan lama, atau setidaknya sampai ke Indonesia nanti?’
    Saya tak bisa menjawab pertanyaan saya sendiri itu. Bahkan tiba-tiba pikiran saya melayang terlalu jauh ke depan. “Mampukah saya segembira ini jika nanti Allah juga memberikan kalimat itu kepada saya?”
    Ya, setelah merantau, pasti saya akan pulang. Sama juga setelah saya diberi kesempatan hidup di dunia, pasti juga akan dipanggil pulang. Dan kepulangan yang terahir ini jelas tidak mungkin bisa ditawar-tawar lagi. Cepat atau lambat, Allah akan menyapa juga dengan kalimat yang tak beda jauh dengan kalimat majikan saya, walau dengan nuansa yang berbeda, tentunya.
    Kalau pertemuan saya dengan semua keluarga nanti di tanah air mampu memberikan kegembiraan yang luar biasa pada saya, mampukah saya juga berperasaan yang sama tatkala saya nanti akan berjumpa dengan Sang Pencipta?
    Saya tertunduk lama. Lama sekali. Bahkan tak terasa air mata ini memberontak ingin keluar. Seolah memerintahkan saya untuk cepat-cepat berintrospeksi diri, tentang apa yang telah saya perbuat di “rantau” ini.
    Bekal saya belum seberapa. Entah dalam tingkatan yang mana derajat keimanan saya. Komitmen saya terhadap aturanNya belum bisa saya jadikan barometer untuk menjadikan saya tersenyum di hadapanNya. Apalagi merasa gembira.
    Namun, walaupun demikian, mudah-mudahan kepulangan saya ke tanah air tercinta akan menjadi pelajaran besar untuk menyongsong kepulangan saya yang sebenarnya, yaitu pulang ke pangkuanNya. Sehingga ketika kalimat terindah dari Allah, yang dibawa malaikat penyabut nyawa,datang menyapa saya, mudah-mudahan saya bisa menyambutnya dengan senyum kegembiraan. Seperti senyumnya para kekasih Allah ketika dipanggil pulang menuju kampung abadi, kampung akhirat.
    ***

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 26 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Sandal Jepit Isteriku 

    Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan.

    “Ummi… Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.

    “Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul? Ucap isteriku kalem.

    “Iya. Tapi Abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!” Jawabku masih dengan nada tinggi.

    Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya merebak.

    ***

    Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Namun apa yang terjadi? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw! berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.

    “Ummi… Ummi, bagaimana Abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ummi… isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah?”

    Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. “Ah… wanita gampang sekali untuk menangis,” batinku. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihah? Isteri shalihah itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai.

    “Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.

    Hamil muda?!?!

    ***

    Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku.

    “Aduh, Mi… Abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku.

    “Ya sudah, kalau Abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku.

    “Lho, kok bilang gitu…?” selaku.

    “Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi.

    “Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan.

    Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal.”Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah.

    Dug! Hati ini menjadi luruh.

    “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.

    “Maafkan aku Maryam,” pinta hatiku.

    “Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia mujahidahku!” pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri.

    Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”

    Sedang aku? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!

    “Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia.

    “Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini.

    “Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?” sesal hatiku.

    ***

    Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. “Alhamdulillah, jazakallahu…,”ucapnya dengan suara tulus.

    Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan ‘iffah sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku?

    ***

    Dari Sahabat

     
    • hany asmahanie 2:43 pm on 3 Maret 2011 Permalink

      :'( sedih dan terharu….bisa diambil pelajaran dari cerita ini…..ijin share ya…makasih

  • erva kurniawan 1:13 am on 20 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Yang Terindah 

    Seorang ayah membeli beberapa gulung kertas kado. Putrinya yang masih kecil, masih balita, meminta satu gulung.

    “Untuk apa?” tanya sang ayah.

    “Untuk kado, mau kasih hadiah.” jawab si kecil.

    “Jangan dibuang-buang ya!” pesan si ayah, sambil memberikan satu gulungan kecil.

    Pagi-pagi si cilik sudah bangun dan membangunkan ayahnya, “Pa, Pa… Ada hadiah untuk Papa.”

    Sang ayah yang masih malas-malasan, matanya pun belum melek, menjawab, “Sudahlah nanti saja.”

    Tetapi si kecil pantang menyerah, “Pa, Pa, bangun Pa sudah siang.”

    “Ah, kamu gimana sih? Pagi-pagi sudah bangunin papa.” Ia mengenali kertas kado yang pernah ia berikan kepada anaknya.

    “Hadiah apa nih?” tanya si ayah.

    “Hadiah untuk Papa. Buka dong Pa, buka sekarang.” jawab si kecil.

    Dan sang ayah pun membuka bingkisan itu. Ternyata di dalamnya hanya sebuah kotak KOSONG. Tidak berisi apa pun juga.

    “Ah, kamu bisa saja. Bingkisannya kok kosong. Buang-buang kertas kado Papa. Kan mahal?”

    Si kecil menjawab, “Nggak Pa, nggak kosong. Tadi, Putri masukin begitu buaanyaak ciuman untuk Papa.”

    Sang ayah terharu, ia mengangkat anaknya. Dipeluknya, diciumnya. “Putri, Papa belum pernah menerima hadiah seindah ini. Papa akan selalu menyimpan boks ini. Papa akan bawa ke kantor dan sekali-sekali kalau perlu ciuman Putri, Papa akan mengambil satu. Nanti kalau kosong, diisi lagi ya!”

    ***

    Boks kosong yang sesaat sebelumnya dianggap tidak berisi, tidak memiliki nilai apapun, tiba-tiba terisi, tiba-tiba memiliki nilai yang begitu tinggi. Lalu, kendati kotak itu memiliki nilai yang sangat tinggi di mata sang ayah, di mata orang lain tetap juga tidak memiliki nilai apapun. Orang lain akan tetap menganggapnya kotak kosong. Kosong bagi seseorang bisa dianggap penuh oleh orang lain. Sebaliknya, penuh bagi seseorang bisa dianggap kosong oleh orang lain. Kosong dan penuh, dua-duanya merupakan produk dari “pikiran” kita. Sebagaimana kita memandangi hidup, demikianlah kehidupan kita. Hidup menjadi berarti, bermakna, karena kita memberikan arti kepadanya, memberikan makna kepadanya. Bagi mereka yang tidak memberikan makna, tidak memberikan arti, maka hidup ini ibarat lembaran kertas yang kosong.

    ***

     
    • hany asmahanie 2:21 pm on 3 Maret 2011 Permalink

      saya senang sekali membaca kutipan anda ini,mengharukan,sedih,dan semuanya dapat dijadikan contoh dalam kehidupan sehari hari…saya mohon ijin untuk share yah…makasih

  • erva kurniawan 1:00 am on 19 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Tubuhku Adalah Milikku 

    Oleh: Wardiman Sujatmoko

    Ada sebagian wanita yang berpendirian, karena tubuhnya adalah miliknya maka ia bebas memperlakukan tubuhnya itu, bebas menampilkan tubuhnya melalui dandanan yang sesuai dengan keinginannya di depan publik.

    Kisah nyata berikut ini terjadi di sebuah apotek di bilangan Jakarta Barat. Seorang wanita muda masuk ke dalam apotek dan langsung menuju petugas penerima resep. Ia berpenampilan seksi, dengan rok pendek dan kaus ketat membalut sebagian tubuhnya sehingga masih nampak bagian perut (pusar).

    Setelah menyerahkan resep dokter, ia mengambil tempat duduk persis di sebelah laki-laki muda yang sejak awal mengikuti kedatangan wanita muda ini dengan tatapan matanya.

    Dengan suara perlahan namun dapat didengar orang di sekitarnya, lelaki muda itu membuka percakapan, “mbak tarifnya berapa?”

    Si perempuan muda nampak terkejut. Ia menatap dengan marah kepada lelaki tadi. Kemudian dengan nada ketus menjawab, “saya bukan pelacur, bukan wanita murahan…”!!

    Si lelaki muda tak kurang marahnya. “Siapa yang bilang mbak pelacur atau wanita murahan. Saya cuma menanyakan tarif, karena cara mbak berdandan seperti sedang menjajakan sesuatu.”

    Terjadi ‘perang mulut’ yang membuat pengunjung apotek ikut menyaksikan. Dengan nada tinggi si wanita muda berkata ketus, “tubuh saya milik saya, saya bebas mau ngapain aja dengan tubuh ini, dasar pikiranmu saja yang kotor…”

    Si lelaki muda tak mau kalah. “Saya bebas menggunakan mata saya. Saya juga bebas menggunakan mulut saya termasuk untuk menanyakan berapa tarif kamu. Saya juga bebas menggunakan pikiran saya…”

    Si wanita muda tak kehabisan argumen. “Saya bisa melaporkan kamu ke polisi dengan tuduhan telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan.”

    “Silakan,” kata si lelaki. “Saya juga bisa menuntut kamu dengan tuduhan melakukan perbuatan tidak menyenangkan, antara lain karena kamu telah mengganggu ketenangan ‘adik’ saya. Kamu ke apotek mau menebus obat atau mau membangunkan ‘adik’ saya?”

    Mungkin karena malu, si wanita muda itu sekonyong-konyong meninggalkan apotek, padahal urusannya sama sekali belum selesai. Sedangkan si lelaki, setelah selesai dengan urusannya ia pergi ngeloyor dengan wajah bersungut-sungut.

    ***

    Sumber: Harian BERITA KOTA, edisi Rabu, 10 Mei 2006, Kapling Rakyat, hal. 10.

     
    • sawung01 6:40 pm on 31 Juli 2010 Permalink

      Hahahaha… Ada2 aja…, trs bagaimana tnggpn anda sndri tntng wanita ini?

  • erva kurniawan 1:52 am on 2 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Untung Secukupnya Saja 

    Barangkali ada diantara kita yang menjadi seorang pedagang. Biasanya, rumus dagang yang kita gunakan adalah mendapatkan untung sebanyak-banyaknya dari barang yang kita jual. Dengan begitu, arus keuangan yang bisa didapatkan akan besar. Dan, ketika hal itu bisa dilakukan, kemudian kita bangga karena kita telah sukses dalam berdagang.

    Tapi, rumus itu tidak dipakai olah Bu Murah, seorang pedagang warung nasi.

    Di rumahnya yang kecil, dia membangun sebuah warung makan untuk para mahasiswa. Menunya tak jauh berbeda dengan warung-warung lainnya. Nasi rames, minuman (teh, jeruk) dan berbagai gorengan (tahu, tempe). Tapi, ada yang beda dari warung itu, yaitu harganya. Makanan disana harganya cukup murah, maka dikenalah sang ibu penjual nasi rames itu dengan sebutan Bu Murah

    Bandingkan saja. Di warung lainnya, untuk sebungkus nasi dan telur dihargai Rp 2.500 bahkan ada yang menjualnya dengan harga Rp.2.700. Sedangkan, di warung Bu Murah ini, untuk menu yang sama cukup mengeluarkan uang Rp.1.500 saja. Kadang saya berpikir, apa tidak rugi berdagang seperti itu. Tapi, kemudian saya tahu, cara berdagang Bu Murah menggunakan rumus untung secukupnya saja.

    Dengan cara berdagang demikian, warung Bu murah tetap eksis sampai sekarang. Bahkan selalu rame dikunjungi pelanggannya. Warung Bu Murah menjadi alternatif mahasiswa dalam mencukupi kebutuhan perut sehari-hari. Sepanjang pengamatan saya, pelanggannya tak hanya mahasiswa di sekitar warungnya. Mereka yang jauhpun berdatangan kesitu.

    Lantas, apa yang bisa kita petik dari sepenggal cara hidup Bu Murah ini.

    Hidupnya sederhana, tidak serakah. Dia tidak terlalu berambisi untuk mendapatkan keuntungan yang terlalu besar. Baginya, sudah merasa senang bisa memberikan pelayanan kepada mahasiswa yang membeli makanannya dengan harga terjangkau. Dengan begitu, mahasiswa diuntungkan, sementara Bu murah juga tidak merasa dirugikan.

    Begitulah cara Bu Murah memaknai hidupnya.

    Ah…andai saja negeri ini dipenuhi dengan orang-orang yang mempunyai padangan seperti Bu Murah, tentu saja keserakahan di negeri ini bisa terkurangi. Lihat saja bagaimana kondisi sekarang. Banyak kita temukan lewat pemberitaan diberbagai media massa, koruptor meraja lela. Sebenarnya, hidup mereka sudah berkecukupan bahkan boleh dibilang mewah. Tapi, karena nafsu serakahlah yang membuatnya masih merasa kurang. Maka, korupsi, mengambil uang negara dilakukan untuk sebuah ambisi berlebihan.

    Untuk itulah, hari ini kita belajar tentang kesederhanaan dalam hidup. Ketika hati kita dipenuhi oleh ambisi yang berlebihan, yang kadang menjadikan kita menghalalkan segala cara, ingatlah Bu Murah, hadirkan dia dalam kehidupan kita sehingga kita tidak terlalu berlebihan dalam hidup ini. Harta memang perlu, tapi toh dia tidak akan turut serta ketika ajal telah menjempul kita. Amal kebaikanlah yang nantinya menyertai kita.

    ***

    Diceritakan oleh: Sudaryono Achmad, Purwokerto, 13 April 2006 Pukul 05.30.

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 1 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Sebab Tiada Amarah 

    Dan bara tak kan terus berkobar, Jika tersentuh tirta kesejukan, Maka, terhempaslah kecamuk angkara, Tak kan mampu merasuk, dalam bening hati

    Siang tadi, sehabis sholat jum’at, ketika saya berjalan menuju ke warnet, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara benturan keras “brak”. Seorang pengendara motor jatuh tersungkur. Motor, lumayan hancur, sementara pengendaranya, seorang mahasiswa, hanya bisa mengerang kesakitan. Celananya robek terkena gesekan aspal dan darah bercucuran di kakinya.

    Namanya juga kecelakaan, kejadiannya tidak terduga dan terencana. Mahasiswa tadi menjelaskan kronologisnya, dia menyeruduk badan belakang truk karena truk tadi berhenti secara mendadak. Sementara, sang sopir truk menjelaskan bahwa mendadaknya berhenti karena ada motor juga didepannya, kalau tidak di rem, justru akan menabraknya dan dalam prediksinya, pasti akan parah. Maksud sopir truk memang baik, menghindari motor didepannya agar tak tertabrak, tapi tak disangka, justru ada sepeda motor lain dibelakangnya yang menyeruduknya. Agak lama keduanya bernegosiasi untuk mendapatkan solusi terbaik

    Sementara saya yang menyaksikan kecelakaan itu memutar otak, bagaimana penyelesaiannya agar masing-masing tidak merasa dirugikan ?

    Cukup dilematis, pikir saya. Saya tidak tega menyalahkan sang sopir, sementara saya juga kasihan kepada mahasiswa tadi, apalagi ketika dia bilang “Pak, ini gimana, soalnya bukan motor saya, ini motor pinjaman milik teman saya”. Di tengah kebuntuan, tiba-tiba ada salah satu orang yang juga menyaksikan kejadian itu menyeletuk dari belakang “Diselesaikan secara kekeluargaan saja”. Benar juga, akhirnya saya mengiyakan saja saran itu, diselesaikan secara kekeluargaan. Sopir truk kemudian memberikan uang Rp 100 ribu kepada mahasiswa tadi untuk memperbaiki motornya yang rusak, sementara mahasiswa tadi juga meminta maaf kepada sang sopir truk. Kasus kecelakaan selesai dan saya melanjutkan perjalanan ke warnet.

    Di sepanjang jalan, saya merenung, hikmah apa dibalik kecelakaan ini.

    Lantas, merenung juga, apa kunci kasus kecelakaan itu bisa diselesaikan secara damai dan kekeluargaan. Kemudian saya menemukan jawabnya. Kuncinya adalah tiada amarah. Ya, karena tidak ada amarah yang meluap-luap dari sang sopir atau mahasiswa tadi. Keduanya cukup legowo menerima kecelakaan yang tak terduga dan tak terencana itu. Sehingga, pada akhirnya, kasus kecelakaan bisa terselesaikan dengan baik tanpa melibatkan polisi yang biasanya justru akan rumit.

    ***

    Kejadian itu berbeda dengan yang saya saksikan beberapa waktu yang lalu. Kasusnya sama, kecelakaan. Waktu itu, motor dengan motor. Seorang pemuda yang memboncengkan dua orang bertabrakan dengan seorang pedagang telur asin yang membawa barang dagangan di belakang motornya. Kejadianya di depan masjid kampus Nurul ‘Ulum Purwokerto.

    Setelah bertabrakan, amarah yang muncul. Semua merasa menang sendiri, tidak ada yang mau mengaku salah. Bahkan, ketika ada seorang satpam kampus yang mencoba melerainya, malah kena bogem mentah dari salah satu mereka yang bertabrakan itu. Akhirnya, terjadi saling pukul dan terjadi perkelahian hebat antar mereka. Saya agak ngeri juga menyaksikan kejadian itu. Akhirnya, saya tinggalkan saja sebab sudah banyak orang yang mengerumuninya. Entah apa yang terjadi selanjutnya.

    Dari kejadian ini, saya memetik sebuah hikmah dimana kemarahan selalu berujung kepada kondisi yang tidak baik. Berujung dendam dan pemusuhan. Bayangkan seandainya sang sopir dan mahasiswa yang tadi saya ceritakan diawal meluapkan amarahnya. Bisa jadi, kondisinya akan sama dengan peristiwa kecelakaan yang saya ceritakan di kasus kedua.

    Kini, setelah saya menyadari hal ini, semoga saja saya dan kita semua bisa mengelola kemarahan agar tidak meluap keluar secara berlebihan, karena ujungnya selalu tidak baik.

    Untuk itulah, kita bisa belajar atas kejadian itu agar dalam keadaan apapun, ketika ada yang tidak sesuai dengan hati kita, cobalah untuk bisa menahan amarah. Dengan begitu, kita bisa menghindarkan diri dari kerusakan, dendam, permusuhan, perselisihan dll yang muncul sesudahnya. Harapannya, setiap permasalahan yang kita hadapi bisa diselesaikan dengan kepala jernih sehingga akan baik hasil akhirnya.

    Lebih dari itu, ketika kita berusaha untuk menahan amarah, kita juga bisa berharap atas janji Allah seperti dalam sebuah hadist yang bunyinya, “Barang siapa menahan amarahnya padahal ia sanggup melampiaskannya. Maka kelak Allah akan memanggilnya pada hari kiamat dihadapan makhluk sehingga ia diberi hak memilih bidadari yang disukainya” (HR Timidzi).

    Bidadari….Ya Bidadari. Ingin sekali saya bisa mendapatkannya, bagaimana dengan Anda…?

    ***

    Diceritakan oleh: Sudaryono Achmad, Kota Satria, 8 April 2006 pukul 19.53

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 28 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Rezeki Besar Orang Bodoh 

    Waktu itu, hari Senin, pukul 07.30 WIB, saya dari Tanjungkarang berniat pergi ke Terminal Rajabasa, Bandar Lampung, untuk berjualan asongan. Ketika sedang menunggu angkot, tiba-tiba saya melihat sebuah dompet warna hitam tergeletak di tengah jalan. Beberapa sepeda motor dan mobil yang lewat telah melindas dompet itu. Karena, penasaran saya pun menghampiri dompet itu, tentu saja dengan bersusah payah karena lalu lintas pagi itu cukup padat dan beberapa pengendara sepeda motor banyak yang kebut-kebutan.

    Setelah berhasil mendapatkan dompet itu saya buru-buru membukanya. Dan, ternyata di dalamnya berisi uang lima puluh ribu rupiah, KTP, SIM, STNK, ATM BCA, kartu mahasiswa dan sebuah jimat berbentuk keris mini (semar mesem?). Ketika temuan itu saya ceritakan pasa salah seorang teman, ia pun tertawa girang. Ia meminta bagian lima ribu rupiah. Katanya, menurut cerita dari orang tua, jika ia menemukan uang di jalan maka harus berbagi rezeki dengan teman, sebagai ‘buang sial’ agar nantinya uang kita tidak hilang.

    Mendengar itu saya hanya tersenyum. Sebaliknya saya ingin mencari alamat pemilik dompet itu sebagaimana tercantum di KTP, karena dompet itu bukan milik saya dan saya tidak berhak untuk mengambil uangnya.

    ”Bodoh betul kamu! Tuhan telah memberimu rezeki besar tanpa harus memeras keringat. Jika dompet itu kamu kembalikan paling-paling kamu dikasih uang sepuluh ribu rupiah. Itu pun kalau orangnya tidak pelit-pelit amat. Mendingan uangnya kamu ambil dan dompetnya buang. Dasar bodoh!” makinya sambil menunjuk-nunjuk.

    ”Niat saya hanya ingin mengembalikan dompet itu dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan, karena itu bukan milik saya,” kata saya sambil berlalu dari hadapannya.

    Keesokan harinya saya mencari alamat pemilik dompet itu dan dengan mudah dapat saya temukan. Saya mengetuk pintu sambil mengucap Assalamualaikum. Dengan ramah tuan rumah menjawab uluk salam dan mempersilakan saya masuk.

    ”Pak, Bu, maksud kedatangan saya kemari ingin mengembalikan dompet ini yang kemarin saya temukan di jalan,” kata saya membuka pembicaraan. Suami istri itu saling berpandangan sambil mengambil dompet yang saya letakkan di meja lalu memeriksa isinya.

    ”Memang benar ini dompet anak saya yang kemarin terjatuh waktu berangkat kuliah. Dia sudah mencarinya kemana-mana, bahkan sudah lapor polisi. Terima kasih, Nak, terima kasih!”

    Mereka bergantian menyalami saya dan tangan saya pun diciumnya. Saya menjadi kikuk dan salah tingkah.

    Kami mengobrol ke sana kemari ditemani secangkir teh manis dan kue kering, mulai dari soal politik sampai polah tingkah tukang copet di Terminal Rajabasa. Ketika saya berpamitan pulang, tiba-tiba tuan rumah menyelipkan amplop ke kantong baju saya sambil berbisik, ”Terimalah ini ala kadarnya dengan ikhlas, sabagai ungkapan rasa terima kasih kami.”

    Sampai di rumah amplop itu saya buka. Alangkah terkejutnya saya mendapati isinya: uang dua ratus ribu rupiah! Hari itu juga saya menemui teman yang kemarin memaki-maki saya sebagai orang bodoh di terminal. Tanpa basa-basi saya masukkan ke kantong celananya selembar uang limapuluh ribu kemudian berlalu dari hadapannya. Ia berusaha menahan langkah saya.

    ”Ini uang buat saya?” tanyanya heran. ”Ya, buat kamu. Itu rezeki besar orang bodoh!” jawabku enteng. Ia tertawa ngakak sambil jingkrak-jingkrak dan menempelkan uang itu di jidat. Tobat… tobat!

    ***

    Oleh Rismanto

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 25 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Klakep 

    Widi Yarmanto

    KEMATIAN datang tanpa dinyana. Tanpa mengetuk pintu, tiada sinyal maupun aba-aba. Itu yang sering membuat gelo yang ditinggalkan; anak, istri, atau suami yang jadi sigaraning nyowo, belahan jiwa. Apalagi jika kematian itu menyisakan nadar yang belum terlaksana. Nyesal-nya sampai bulanan.

    Minggu siang lalu, maut juga muncul tanpa diduga. Suasana resepsi pernikahan di rumah H. Tamri di Desa Jambu, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, berubah jadi jerit tangis air mata. Sebuah tronton bermuatan 500 sak semen nggelondor mundur, lalu menghajar rumah itu.

    Truk tersebut baru berhenti setelah menghantam gardu listrik dan menimbulkan ledakan dahsyat. Seorang saksi mata, Jarkoni, sempat berteriak: ”Masya Allah! Allahu Akbar! Minggir-minggir!” Toh, musibah itu tidak terelakkan. 17 orang tamu undangan tewas dan 13 orang luka-luka.

    Sebenarnya, tronton yang mogok kurang lebih satu jam di tanjakan Kethekan –sekitar 50 meter dari lokasi musibah– itu sedang dibetulkan oleh sopirnya, Wawan. Rodanya diganjal balok kayu. Jarkoni sudah mengingatkan agar ditambahi pengganjal. Wawan tak menggubris. Musibah pun tak terhindarkan, walau mati adalah takdir.

    Itu pula, mungkin, yang membuat orangtua sering mengingatkan agar punya ”bekal” kalau sewaktu-waktu dijemput maut. Tak mengherankan jika tiba-tiba teman saya, seorang seniman, di-SMS keluarganya. Isinya: ”Cepat pulang. Penting. Bapak mau bicara.”

    Ada apa? Ternyata dia diwejang. Umur sudah hampir 40 tahun, tapi salat belum sempurna. Rupanya, itu yang membuat orangtua gelisah. Terlebih setelah orangtuanya mengikuti pengajian. Waktu itu, kepada kiai yang juga pemilik pondok pesantren, dia bertanya: ”Kiai sudah bisa salat atau belum?”

    Sang kiai menjawab polos: ”Belum!” Lho, jadi kiai kok belum bias salat? Diakui secara jujur bahwa salatnya sering sekadar njengkang-njengking tapi batinnya melayang entah ke mana. Pengakuan jujur itu yang membuat ayah si seniman mengacungkan jempol. Salut. Berarti kiai ini menyadari yang benar dan yang salah.

    Sejak itu, rahasia kehidupan yang dicari sejak muda hingga menjelang 70 tahun seakan terjawab. Itu yang membuat dia buru-buru meng-SMS anaknya yang seniman. Dia diwejang agar tidak hidup dalam kegelapan. Agar mengerti kebenaran. Harus sunyi dari pamrih. Tidak iri hati, sebab iri ibarat api yang membakar kebaikan.

    Pendeknya, manusia itu harus bisa mengekspresikan sifat-sifat Ilahi dalam dirinya. Theodore Roszack, seorang tokoh mistik, pernah mengatakan pada diri manusia itu ada ruang spiritual yang kalau ruang itu tidak diisi dengan hal-hal baik, secara otomatis akan diisi hal-hal buruk.

    Hati akan menjadi semakin bening jika ucapan dan hati sejalan. Perbanyaklah zikir, yang dengan rendah hati merasakan keagungan Allah. Mintalah selalu ditunjukkan jalan yang lurus (al-shirath al- mustaqim) yang tak hanya horizontal juga vertikal. ”Dalam pemahaman saya, frekuensi saya harus sesuai dengan frekuensi Allah,” kata si seniman.

    Artinya, dia selalu menyadari dalam pengawasan Allah. Itu sebabnya, pergi ke mana saja, jika waktu salat sudah masuk –dan belum salat– seniman ini gelisah. Sepertinya dia sedang menuju kehidupan sejati yang ”tak tersentuh” oleh kematian, saking dekatnya dengan Ilahi.

    Dia ingin dekat pada Allah secara total. Dia ingin mati dengan membawa ”bekal”. Dia tak ingin tertipu oleh angan-angan panjang, oleh kepongahan duniawi. Apalagi, siksa kubur itu bukan omong kosong. Perubahan drastis itu, tak urung membuat rekan-rekannya heran.

    Memang, dalam sebuah pengajian, Kiai Syarif Hidayatullah dari pondok Nurul Huda, Sragen, Jawa Tengah, pernah mengajak jamaahnya menyimak siksa kubur. ”Saya mau bercerita tentang siksa kubur. Tapi, saya minta semua diam dan tenang,” katanya. Cep klakep. Sekitar 1.000 jemaah kontan tak bercuap.

    Di saat hening itulah, tiba-tiba terdengar suara tangis seorang wanita. ”Sampeyan dengar? Itulah tangisan siksa kubur,” kata Kiai Syarif. Tangisan perempuan di malam Jumat Legi itu membuat orang terlarut dalam pikiran masing-masing. Siapa yang menangis dan mengapa dia menangis?

    ”Mari kita cari suara tangisan itu. Kita doakan bersama-sama agar siksa kuburnya diringankan Allah,” ujar Kiai. Lima orang santri pondok diminta menjadi ”penunjuk jalan” menelusuri arah tangisan tersebut. Para jamaah mengikuti dari belakang.

    Suara itu makin lamat-lamat, walau sumbernya jelas: dari sebuah kuburan baru di pinggir desa. Tanah kubur itu belum ditumbuhi rumput. Lalu ramai-ramai mereka jongkok, berdoa, dan terlarut dalam emosi masing-masing. Surat Al-Fatihah, Alam Nasyrah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, serta salawat Nabi dilantunkan.

    Gemuruh doa itu terdengar hingga meluruhkan tangisan dari dalam kubur. Di atas kubur, justru para ibu yang menangis. Mungkin trenyuh, mungkin menyesali perbuatan yang lalu. Makanya, Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Ziarahilah kubur, karena itu akan mengingatkanmu akhirat. Mandikanlah orang yang mati, karena mengurus jasad yang tidak bernyawa merupakan pelajaran yang sangat berharga.”

    Sepulang dari pengajian masing-masing orang punya kesan sendiri. ”Saya betul-betul merinding,” ujar Joko, seorang santri. Sejak itu hamba Allah ini selalu berusaha tidak batal dari wudhu. Jika melihat atau mendengar ada orang kena musibah, misalnya, dengan enteng ia mengirim Al-Fatihah: ”Semoga penderitaannya diringankan Allah.”

    Cerita tentang siksa kubur memang sering membawa makna yang dalam. Perenungan tentang mati yang terus menerus juga bisa mengobati dari kelumpuhan spiritual. Jangan heran jika rekan saya yang seniman belakangan ini ingin selalu ”dekat” dengan Ilahi. Dan, itu nikmat!

    ***
    [Esai, Gatra, Edisi 36 Beredar Jumat 16 Juli 2004]

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 23 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Busuknya Sebuah Kebencian 

    Seorang Ibu Guru taman kanak-kanak ( TK ) mengadakan “permainan”. Ibu Guru menyuruh tiap-tiap muridnya membawa kantong plastik transparan 1 buah dan kentang. Masing-masing kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa … tergantung jumlah orang-orang yang dibenci.

    Pada hari yang disepakati masing-masing murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5. Seperti perintah guru mereka tiap-tiap kentang diberi nama sesuai nama orang yang dibenci. Murid-murid harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, selama 1 minggu.

    Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap.

    Setelah 1 minggu murid-murid TK tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.

    Ibu Guru, “Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu ?”

    Keluarlah keluhan dari murid-murid TK tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut ke manapun mereka pergi.

    Guru pun menjelaskan apa arti dari “permainan” yang mereka lakukan.

    Ibu Guru, “Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemana pun kita pergi. Itu hanya 1 minggu. Bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup ? Alangkah tidak nyamannya …”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • yossy 8:50 am on 25 Juni 2010 Permalink

      kisah yang demikian inpiratif. jazakumullah….

  • erva kurniawan 1:41 am on 21 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Berhentilah Sejenak 

    Suatu ketika, tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah BMW seri 7 merah metalic. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu,dengan kecepatan penuh. Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu. Tiba-tiba, dia melihat sesuatu yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak itu yang tampak melintas. Aah…, ternyata, ada sebuah batu yang menimpa mobil BMW-nya.

    Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang. Cittt….ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram dan bersumpah serapah, di mundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu dilemparkan. “Kurang ajar!!”. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Di tariknya seorang anak yang paling dekat, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.

    “Apa yang telah kau lakukan!!! Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!! Lihat goresan itu”, teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu.

    “Kamu tahu nggak, mobil baru semacam itu akan butuh banyak ongkos di bengkel kalau sampai tergores.” Ujarnya lagi dengan geram, tampak ingin memukul anak itu.

    Sang anak tampak ketakutan, dan berusaha meminta maaf. “Maaf Pak, maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa.”

    Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun. “Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti….”

    Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi. “Itu disana ada kakakku. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Aku tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan..”Kini, ia mulai terisak. Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu. “Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi dia terlalu berat untukku.”

    Pengusaha muda itu terdiam. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera, di angkatnya anak yang cacat itu menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut anak itudan dioleskannya Betadine. Memar dan tergores, sama seperti sisi pintu BMW kesayangannya. Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih.

    “Terima kasih, dan semoga Allah akan membalas perbuatan Tuan.” Begitu katanya…

    Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.

    Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju BMW miliknya.Disusurinya jalan itu dengan lambat, sambil merenungkan kejadian yang baru saja dilewatinya. Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele. Namun, ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat:

    “Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”

    ***

    Sahabat, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar dan dipacu untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan. Namun, apakah kita memacu hidup kita dengan cepat… mengejar karir dan harta, pergi jam 6 pulang jam 11 malam, sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat sekitar? Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas di sekitar kita.

    Sebagai orang yang terpelajar dan dikaruniai kelebihan, mungkin kita ingin serba cepat belajar, bergelar, dan menjadi maju. Celaan pun kita lontarkan untuk mereka yang malas danbodoh. Sebagai orang yang sukses berkarir, mungkin kita akan terus haus dengan jabatan danmengejar kekayaan. Cibiran pun kita sandangkan pada mereka yang tidak sekayadanseperlente kita. Sebagai orang yang dikaruniai hidayah, mungkin kita juga rajin sholat danberamal .. tanpa mengajak mereka yang kita anggap awam, tidak taat beragama,dan ahli maksiat. Namun, apakah kita ingin pintar, ingin maju, ingin kaya, ingin masuk surga .. sendirian saja??

    Sahabat, kadang memang, ada yang akan “melemparkan batu” buat kita agar kita mau dan bisa berhenti sejenak. Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita.

    ***

    (Diambil dari tulisan Irfan Toni H, http://www.eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 20 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah Masuk Islamnya Seorang Dokter Amerika Karena Satu Ayat Al-Qur’an 

    Written by: Ummu Khodijah

    **

    Beberapa tahun yang lalu, seorang teman bercerita kepadaku tentang kisah masuknya seorang dokter Amerika ke dalam Islam. Dari apa yang kuingat dari kisah yang indah ini adalah : Kisah ini terjadi pada salah satu rumah sakit di Amerika Serikat.

    Di rumah sakit tersebut, seorang dokter muslim bekerja dengan keilmuan yang sangat baik, sehingga memberi pengaruh besar untuk mengenal beberapa dokter Amerika. Dan dia, dengan kemampuan tersebut mengundang decak kagum mereka. Diantara para dokter Amerika ini, dia mempunyai satu teman akrab yaitu orang yang memiliki kisah ini. Mereka berdua selalu bertemu dan keduanya bekerja pada bagian persalinan.

    Pada suatu malam, di rumah sakit tersebut terjadi dua peristiwa persalinan secara bersamaan. Setelah kedua wanita itu melahirkan, dua bayi tersebut tercampur dan tidak ada yang mengetahui masing-masing pemilik kedua bayi yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan itu. Kerancuan ini terjadi disebabkan kecerobohan perawat yang seharusnya dia menulis nama ibu pada gelang yang diletakkan di tangan kedua bayi tersebut. Dan ketika kedua dokter tersebut tahu bahwa mereka berada dalam kebingungan; Siapakah ibu bayi laki-laki dan siapakah ibu bayi perempuan, maka dokter Amerika berkata kepada dokter Muslim, ”Engkau mengatakan bahwasanya Al-Qur’an telah menjelaskan segala sesuatu dan engkau mengatakan bahwasanya Al-Qur’an itu mencakup semua permasalahan-permasalahan apapun. Maka tunjukkanlah kepadaku cara mengetahui siapa ibu dari masing-masing bayi ini..!!”

    Dokter Muslim itupun menjawab, ”Ya, Al-Qur’an telah menerangkan segala sesuatu dan akan aku buktikan kepadamu tentang hal itu. Biarkan kami mendiagnosa ASI kedua ibu dan kami akan menemukan jalan keluar.” Setelah nampak hasil diagnosa, dengan sangat percaya diri dokter muslim itu memberitahu temannya si dokter Amerika, siapakah ibu sebenarnya dari masing-masing bayi tersebut…!!!!

    Dokter Amerika itupun terheran-heran dan bertanya, ”Bagaimana kamu tahu?”

    Dokter Muslim menjawab ”Sesungguhnya hasil yang nampak menunjukkan bahwasanya kadar banyaknya ASI pada payudara ibu si bayi laki-laki dua kali lipat kandungannya dibanding ibu si bayi perempuan. Perbandingan kadar garam dan vitamin pada ASI si ibu bayi laki-laki itu juga dua kali lipat dibanding ibu si bayi perempuan.” Kemudian dokter muslim tersebut membacakan ayat Al-Qur’an yang dia jadikan dasar argumen dari jalan keluar itu,

    ”Bagi laki-laki seperti bagian dua perempuan.” (QS. An-Nisa:11)

    Dan setelah mendengarkan dokter Amerika itu arti ayat tersebut, dia jadi bengong, dan dia menyatakan keislamannya secara spontan tanpa ragu-ragu. Subhanallah, Maha Suci Allah Robb semesta alam.

    ***

    Diambil dari : Kolom Kisah Teladan, Majalah Qiblati |Vol.01/No.4/ Desember 2005 | Dzulqa’idah 1426 H

     
    • kolomkiri 1:37 am on 20 Juni 2010 Permalink

      hadiyah bisa datang kapan saja tak terkecualai kepada dokter Amerika tersebut…salam kenal…http://kolomkiri.wordpress.com

    • Internet Murah 11:51 pm on 20 Juni 2010 Permalink

      berkunjung antar blog kawan

      thanks untuk sharing ilmunya sangat bermanfaat
      Cara Menghindari penipuan Di Internet
      Ready Stock

    • fitriana 5:05 pm on 13 Januari 2011 Permalink

      assalamu ‘alaikum… saya mau minta izin copy artikel ini ke blog saya ya…. biar bisa sharing ilmu dengan teman-teman yang lain…
      syukron.

    • erva kurniawan 1:47 pm on 14 Januari 2011 Permalink

      Silahkan :)

  • erva kurniawan 1:14 am on 19 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Mukena Untuk Syana 

    Detik ini aku berada di sebuah kamar yang sumpek dengan tempat tidur yang tidak empuk lagi, seperti tidur di papan saja. Walaupun begitu aku tetap saja memilih menyendiri di kamar ini dan mengunci pintu rapat-rapat. Aku kesal sekali hari ini. Kesal dengan mereka. Ayah, ibu, kakek, dan nenekku. Dasar orang tua dan anak sama saja sifatnya. Like father like son.

    Aku sudah membayangkan betapa meriahnya pesta teman-temanku di Bali. Aku dan teman-teman sudah menyiapkan pesta gila-gilaan selama berbulan-bulan. Capek, benar-benar capek. Aku yang paling mati-matian menyiapkan pesta ini. Aku sudah booking kamar hotel, sampai pernah ke Bali sendiri melakukan survey tempat biar tidak mengecewakan teman-teman.

    Itu semua sudah kandas. Pesta yang kurencanakan dan kusiapkan selama berbulan-bulan kandas. Tidak ada kamar hotel yang empuk, tidak ada dugem yang sudah kuimpi-impikan, tidak ada hingar bingar musik, tidak ada teriakan dan ocehan teman-teman gaulku. Semuanya sudah kandas!. Rangkaian kata-kata yang berisi permintaan ijin ortu untuk main ke rumah teman saat liburan sudah tidak bermanfaat lagi. Ayah ibuku mengetahui rencanaku. Aku tahu pasti ada yang membocorkan rencanaku. Hasilnya, liburan tahun ini, aku dibuang di sini. Di tempat kakek nenek. Sebuah desa yang sangat sepi dan membosankan. Rumah kakek nenekku benar-benar menjadi tempat pengasinganku. Tanpa HP, tanpa telepon rumah, tanpa teman-teman dekatku, tanpa kemewahan yang sering kudapat di kota, tanpa semua yang kuinginkan. Aku benar-benar bisa gila dengan semua ini.

    “Syan, buka pintu, nak. Sudah waktunya makan siang. Kamu belum makan dari pagi, nak”, suara nenekku mampu membangunkanku dari lamunanku.

    “Nggak! Syana nggak mau makan. Nggak lapar.” Jawabku dengan ketus. Nenekku sebenarnya sangat baik. Lebih baik dari ibuku. Setidaknya, nenek selalu menyempatkan diri buat ngurus orang-orang di sekitarnya. Tidak seperti ibu yang selalu sibuk dengan arisan, ngerumpi ke tetangga, jalan-jalan dan ngabisin uang ke mall, bla bla bla, de el el. So what gitu loh kalau aku juga ngehabisin waktu buat main sama temen-temenku. Gak ada bedanya,kan ?

    Kakekku juga lebih baik dari ayahku. Walaupun hanya lulusan Sekolah Rakyat, dia adalah orang yag sangat keren bila diajak bicara. Tidak seperti ayahku, seorang sarjana denagn predikat cum laude. Orang yang sangat dingin. Tidak pernah mendengar alasan putrinya. Diktator. Jahat, selalu benar… menurutku.

    Kakek, nenek, ayah, ibu sekarang sama. Semuanya sama. Tidak ada yang baik. Fyiuh!! Kenapa aku harus seperti ini ? Cuman karena tidak bisa main bareng temen, aku menyamakan kakek nenek dengan ortuku? Lapar. Aku kelaparan. Aku belum makan sejak kemarin. Sejak aku berangkat dari rumah menuju tempat pembuangan ini. Ihh aku ingin makan, tapi aku lagi marah. Kesel sebel. Bila sudah sebel, aku tahan nggak makan.

    “Syan…Ini kakek, kalo nggak mau makan, sholat dulu gih. Udah jam satu,” kini gantian suara serak kakekku yang muncul dari balik pintu. Hah… sholat? Sejak kapan aku sholat ? Kakek dan nenek pasti bercanda. Mereka sudah tahu kalau aku bukan tipe orang yang melakukan ibadah itu. Lucu, benar-benar lucu.

    “Syan nggak sholat! “ teriakku.

    “Ya udah, kalau gitu. Nenek mau sholat dulu. Syan kalau mau makan ambil sendiri yah,”

    “Nek, Syan nggak pernah sholat,” jawabku mempertegas jawabanku tadi.

    “Syan….!” suara nenekku lirih. Nenek nangis. Aku nggak habis pikir. Kakek nenek adalah orang-orang yang sangat taat beragama, tapi tidak satupun anak-anak mereka yang alim. Termasuk ayahku, putra pertama mereka.

    Masih kudengar suara tangisan nenekku dari balik pintu. Aku paling nggak tahan mendengar tangisan. Kudengar juga suara kakek yang berusaha menenangkan nenek. Aku bingung, sebel sama diriku sendiri. Kuangkat tubuhku dan berjalan menuju pintu. Kubuka pintu perlahan.

    “Syan…,” ucap nenek dan langsung memelukku sesaat setelah kubuka pintu.

    “Nek, Syan nggak bawa mukena,” ucapku.

    “Pake punya nenek, Syan.”

    Aku sholat diimami nenek. Air mata nenek membasahi sajadahnya, aku terbawa suasana. Ini adalah sholat pertamaku sejak SMP. Kini aku sudah kelas dua SMA. Sholat terakhir yang kulakukan saat SMP adalah sholat karena ujian praktek agama. Ahhh seburuk itukah aku?

    “Nek, maapin Syan yaa.” Ucapku seusai sholat, disambut senyuman lembut nenekku.

    **

    Sudah seminggu aku tinggal di rumah kakek nenek. Pagi ini sudah saatnya pulang. Jam kuno di ruang tamu berdentang enam kali. Sedih sekali meninggalkan tempat ini. Tempat yang kubenci saat hari pertama aku menginjakkan kaki di sini, kini menjadi tempat yang sangat berat kutinggalkan.

    Delman yang akan mengantarkanku menuju terminal sudah datang. Kakek ikut mengantarkanku sampai terminal. Nenek tidak bisa ikut mengantarkan karena pagi ini rumah nenek mendapat giliran tempat untuk pengajian desa. Sedih sekali harus berpisah dengan nenek. Sebelum pulang, kucium tangan nenek dan kupeluk tubuh nenek yang lebih kecil dariku.

    “Syan, kalau udah pake jilbab, nggak perlu pake topi !” nenek membuka topiku lalu menjitak kepalaku.

    “Syan, topinya buat kakek aja ya!” seloroh kakekku, disambut tawa nenek.

    “Assalamualaikum, nek…!”

    Delman membawaku pergi meninggalkan nenek. Tubuh nenek mengecil dan menghilang. Nek, i will miss u.

    “Ehh katanya kamu bukan bocah cengeng ! udah.. udah. Kalau liburan ke sini, ya. Sebentar lagi kalau udah musim panen, kakek ma nenek juga mau datang ke rumahmu.” Ucap kakek sambil memakaikan topi ke kepalaku.

    “Bener, janji lho. Oleh-olehnya yang banyak.” Jawabku.

    “Eh.. kata nenek, ‘kalau udah pake jilbab, nggak perlu pake topi’, hehe,” ucapku sambil meniru gaya bicara nenek yang lirih. Kulepas topiku.

    “Kubilangin nenekmu lhoo.”

    “Bilangin aja weeeeee…”

    **

    Capek. Udah gonta-ganti bus sampai tiga kali. Untung nggak tersesat. Maklum, aku pergi ke desa diantar temen ayah pake mobil. Akhirnya sampai juga aku di kota Solo tercinta. Kulihat jam tanganku. Wahh sudah jam dua lebih. Aku belum sholat Dhuhur. Kucari mushola. Penuh dan sesak. Ya udah jalan satu-satunya yaitu cepat-cepat mencari taksi and go home soon. Alhmdulillah. sampai di rumah juga, setelah kurang dari 15 menit perjalanan. Agak ragu aku memasuki rumah. Kuketuk pintu rumah.

    “Assalamualaikum.” Kebiasaan salam yang kudapat selama seminggu di rumah nenek tak sengaja keluar dari mulutku.

    Ibu membukakan pintu tanpa menjawab salam. Ibu bengong meihatku. Segera kucium tangan ibu.

    Di ruang tengah, ayah hanya terdiam tanpa suara. Seperti biasanya. Dingin.

    “Ibu, maapin Syan ya.”

    Kulihat jam menunjukkan pukul 14.30. Aku belum sholat Dhuhur. Segera kuberlari ke lantai atas menuju kamar mandi lalu ke kamar. Kucari mukenaku. Ahh akhirnya ketemu juga. Mukena satu-satunya sejak SMP. Coba kukenakan. Hmm..kekecilan. Atasannya hanya menutup setengah lenganku. Bawahannya tidak mampu menutupi kakiku. Ya Allah, untuk menghadapMu pun aku tak punya pakaian yang layak. Beberapa menit lagi suara adzan Ashar akan berkumandang. Aku masih berdiri terpaku, bingung. Di lantai bawah. Kudengar mulai ada teriakan-teriakan.

    “Aku sudah bilang. Bukan jalan baik ngirim anakmu ke rumah orang tuaku. Dia sudah teracuni. Mending dulu kau biarkan saja dia minggat ke Bali! “ ucapan ayahku terdengar jelas. Membuatku tambah bingung.

    “Ayah, setidaknya dia nggak bersama anak-anak nakal. Iyya,kan.!” Jawab ibuku tak kalah kerasnya.

    Ayah, ibu…….aku sayang kalian. Aku tak ingin gara-gara aku kalian bertengkar. Kudengar ketukan pintu dan suara ayah ibuku dari balik pintu.

    “Syan.. buka pintu. Ayah dan ibu mau bicara.” Suara ibuku terdengar dari balik pintu.

    Ragu tapi kubuka pintu kamarku. Mukena yang kekecilan masih melekat di tubuhku. Ayah dan ibu hanya terdiam membisu melihatku.

    “Syan mau sholat tapi mukenanya kekecilan.” Ucapku.

    Tak ada reaksi dari ayah dan ibuku. Sementara sayup-sayup terdengar suara adzan menunjukkan waktu sholat Ashar telah tiba.

    “Syan berangkat dari rumah nenek tadi pagi. Belum sholat Dhuhur. Sekarang sudah Ashar. Syan nggak tahu cara menjamak sholat.” Ucapku lirih. Aku tak sengaja mengeluarkan air mata di depan ayah ibuku, sesuatu yang tidak pernah kulakukan dan menjadi pantangan bagiku.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Tjukup_nicka 7:17 pm on 11 November 2012 Permalink

      Subhanallah…..
      Merinding sya bacanya,beruntunglah syan!!

  • erva kurniawan 1:03 am on 9 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , ,   

    Pengidap Kanker Sembuh Atas Izin Allah 

    Wanita Pengidap Kanker Divonis Mati Oleh Dokter, Tapi Sembuh Atas Izin Allah

    Ini adalah kisah yang patut dijadikan pelajaran zaman. Kisah seorang wanita bernama, Laila al-Hulw yang sebelumnya tidak penah mengingat Allah dan lupa kepada-Nya. Suatu ketika, ia diberi cobaan dengan penyakit yang menakutkan dan menjijikkan sekaligus mematikan. Barulah setelah itu, ia tersadar dan menyadari bahwa hanya Allah lah tempat berlindung dan memohon. Dia lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Yang Maha menyembuhkan. Kemudian ia habiskan waktunya untuk mendekatkan diri kepada-Nya di rumah-Nya, Baitullah al-Haram dan di sanalah terjadi kejadian aneh yang akhirnya merubah kehidupannya secara total.

    Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak penuturannya:

    Sudah 9 tahun aku mengidap penyakit yang sangat mengerikan sekali, yaitu penyakit kanker. Semua orang pasti tahu bahwa nama ini sangat menakutkan. Di negeriku, Maroko, orang tidak menyebutnya penyakit as-Sarathan (kanker) tetapi disebut ‘momok’ (al-Ghawl) alias ‘penyakit kotor (al-Maradl al-Khabits).

    Penyakit ini mengenai bagian payudaraku. Sebelumnya, tingkat keimananku kepada Allah sangatlah lemah; aku lalai dari mengingat Allah. Aku mengira bahwa kecantikan seseorang akan abadi selama hidupnya dan masa muda dan kesehatannya juga demikian. Aku sama sekali tidak mengira akan menderita penyakit yang amat berbahaya, kanker. Namun setelah aku benar-benar menderita penyakit ini, jiwaku menjadi sangat guncang. Aku berpikir bagaimana bisa menghindar darinya tetapi hendak kemana? Sementara penyakitku ini akan selalu bersamaku di mana pun aku berada. Aku juga pernah berpikir untuk bunuh diri namun aku masih mencintai suami dan anak-anakku. Aku sama sekali tidak pernah berpikir bahwa Allah akan menyiksaku bilamana aku jadi bunuh diri -sebagaimana yang aku jelaskan tadi- sebab aku orang yang lalai dari mengingat Allah.

    Rupanya, melalui penyakit ini Allah ingin memberikan hidayah kepadaku dan melalui perantaraanku pula, Dia memberikan hidayah kepada banyak orang. Setelah itu, mulai semua urusan berkembang.

    Ketika menderita penyakit tersebut, aku bersama suamiku pergi ke Belgia untuk berobat dan di sana aku mendatangi beberapa orang dokter terkenal namun mereka semua hampir sepakat mengatakan kepada suamiku bahwa payudaraku harus dihilangkan.

    Tidak sebatas itu, aku juga harus menggunakan obat-obat dengan dosis tinggi di mana efek sampingnya dapat merontokkan rambut, melenyapkan bulu mata, kedua alis mata, menumbuhkan seperti jenggot di atas wajah bahkan merontokkan juga kuku dan gigi. Karena itu, aku menolaknya sama sekali seraya berkata, “Aku lebih baik mati dengan tetap memiliki payudara dan rambut serta semua apa yang diciptakan Allah untukku dari pada harus cacat. Lalu aku meminta kepada para dokter agar membuat resep pengobatan ringan untukku dan mereka pun mengabulkannya.

    Kemudian aku kembali ke negeriku, Maroko dan aku gunakanlah obat yang diberikan para dokter tersebut. Ternyata obat itu tidak memiliki efek samping apa pun dan ini membuatku senang. Aku berkata pada diriku, “Barangkali saja para dokter itu salah dalam mendiagnosa dan aku sebenarnya tidak menderita penyakit kanker itu.”

    Akan tetapi, setelah kira-kira enam bulan kemudian, aku mulai merasakan susutnya berat badanku, warna kulitku banyak berubah dan merasakan berbagai keluhan sakit. Yah, sakit yang selalu bersamaku. Lalu dokter pribadi kami di Maroko menyarankanku agar pergi ke Belgia, maka aku pun berangkat ke sana bersama suami.

    Di sanalah, seakan bencana itu benar-benar tiba. Para dokter malah berkata kepada suamiku, “Penyakitnya sudah menyerang seluruh tubuhnya, termasuk kedua paru-paru.” Mereka menyatakan tidak memiliki resep apa pun yang dapat menyembuhkan kondisi yang aku alami tersebut. Kemudian mereka berkata kepada suamiku, “Sebaiknya, anda bawa kembali isterimu ini ke negerimu hingga ia menemui ajalnya di sana.”

    Suamiku kaget alang kepalang mendengar pernyataan itu dan tidak mudah percaya begitu saja dengan ucapan mereka. Karena itu, kami bukannya pulang ke Maroko seperti yang disarankan tetapi malah ke Perancis. Kami mengira bahwa pasti ada pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakitku itu. Namun, kami tidak mendapatkan apa-apa sehingga akhirnya kami sangat ingin sekali untuk meminta tolong kepada seseorang di sana agar aku dimasukkan ke rumah sakit untuk menghilangkan payudaraku dan menggunakan obat-obat berdosis tinggi itu.

    Akan tetapi, suamiku rupanya ingat sesuatu yang selama ini kami lupakan bahkan sepanjang hidup kami. Allah telah memberikan ilham kepada suamiku agar kami berziarah ke Baitullah al-Haram di Mekkah. Kami harus berdiri di hadapan-Nya guna memohon disembuhkan dari penyakit yang aku derita ini. Kami pun melakuan hal itu.

    Kami berangkat dari Paris seraya bertahlil dan bertakbir. Aku sangat gembira sekali karena untuk pertama kalinya memasuki Baitullah al-Haram dan melihat Ka’bah yang dimuliakan. Di sebuah toko di kota Paris, aku membeli sebuah mushaf dan setelah itu, kami berangkat menuju Mekkah al-Mukarramah.

    Akhirnya, kami sampai juga di Baitullah al-Haram. Tatkala sudah masuk dan melihat Ka’bah, aku banyak menangis karena menyesali atas perbuatanku yang telah lalu. Aku sudah tidak pernah melakukan berbagai kewajiban yang diperintahkan Allah; shalat, puasa, kekhusyu’an dan pasrah diri kepada-Nya.

    Aku berkata, “Wahai Rabb, pengobatan terhadap penyakitku sudah membuat tak berdaya para dokter. Sedangkan penyakit itu berasal dari-Mu dan Engkau pulalah Yang Memiliki obatnya. Semua pintu telah tertutup di hadapanku, yang tinggal hanyalah pintu-Mu saja. Karena itu, janganlah Engkau kunci pintu-Mu dati hadapanku.”

    Aku pun melakukan thawaf di Ka’bah dan banyak memohon kepada-Nya agar Dia tidak menyia-nyiakan harapanku dan tidak menghinakanku serta dapat membuat tercengang para dokter yang telah memvonisku.

    Seperti yang telah aku katakan tadi, dulu aku orang yang lalai dari mengingat Allah dan jahil terhadap agama-Nya. Karena itu, aku mendatangi beberapa ulama dan syaikh yang berada di sana seraya meminta mereka menunjukiku buku dan doa yang mudah dan ringkas untuk aku jadikan pegangan. Lalu mereka menasehatiku agar banyak-banyak membaca al-Qur’an dan meminum air zam-zam sepuas-puasnya. Mereka juga menasehatiku agar memperbanyak berdzikir kepada Allah dan membaca shalawat kepada Rasulullah SAW.

    Berada di Baitullah, aku merasakan ketenangan jiwa yang luar biasa. Karena itu, aku minta izin kepada suamiku untuk tetap tinggal di al-Haram dan tidak pulang ke hotel. Dia pun mengizinkanku.

    Di al-Haram kebetulan ada beberapa saudariku seiman dari Mesir dan Turki yang menjadi tetanggaku duduk-duduk. Mereka sering melihatku sedang menangis lalu bertanya perihal sebab aku menangis. Aku menjawab, “Karena aku sudah sampai di Baitullah padahal aku tidak mengira akan demikian mencintainya seperti sekarang ini. Kedua, karena aku mengidap kanker.”

    Lalu mereka menemaniku dan tidak ingin berpisah. Aku beritahukan kepada mereka bahwa aku berniat I’tikaf di rumah Allah ini. Maka, mereka pun memberitahu kepada suami-suami masing-masing untuk meminta izin tinggal bersamaku. Kami tidak pernah memejamka mata, tidak makan kecuali hanya sedikit. Kami hanya banyak minum air zam-zam sebab di dalam hadits, Nabi SAW, bersabda, “Air zam-zam itu sesuai dengan (tujuan/niat) meminumnya.” (Hadits Shahih, HR.Ibn Majah dan lainnya) Meminumnya karena niat agar disembuhkan, maka Allah akan menyembuhkan anda, meminumnya karena niat agar hilang dahaga, maka Allah akan menghilangkan dahaga anda dan meminumnya karena niat agar berlindung kepada Allah, maka Dia akan melindungi anda.

    Benar, Allah telah menghilangkan rasa lapar kami dan kami terus melakukan thawaf. Kami melakukan shalat dua raka’at, lalu mengulangi thawaf lagi. Kami meminum air zam-zam dan memperbanyak bacaan al-Qur’an. Demikianlah, siang dan malam, kami hanya sedikit tidur. Ketika aku sampai di Baitullah, tubuhku kurus sekali, pada sebagian tubuhku bagian atas banyak sekali tumbuh bintik-bintik dan benjolan-benjolan yang menandakan bahwa kanker telah menyerang seluruh anggota badanku bagian atas. Mereka menasehatiku agar membasuh separuh tubuhku bagian atas dengan air zam-zam akan tetapi aku takut bila menyentuh benjolan-benjolan dan bintik-bintik itu, aku akan teringat sakit lantas membuatku terlena dari berdzikir dan beribadah kepada Allah. Aku pun membasuhnya tetapi tanpa menyentuh tubuhku.

    Pada hari ke-lima, teman-temanku itu memaksaku agar menyapu seluruh tubuhku dengan sedikit air zam-zam. Pada mulanya, aku menolak tetapi tiba-tiba aku merasa mendapatkan kekuatan yang mendorongku untuk mengambil sedikit air zam-zam lalu menyapunya ke tubuhku. Saat pertama kali, aku merasa cemas, kemudian aku merasakan ada kekuatan lagi, tetapi masih ragu-ragu namun ketika untuk kali ketiganya tanpa terasa aku memegang tanganku lalu menyapu air zam-zam ke tubuh dan payudaraku yang mengeluarkan darah, nanah dan bintik-bintik. Di sinilah, terjadi sesuatu yang tidak pernah aku sangka-sangka. Rupanya, semua bintik-bintik itu lenyap seketika dan aku tidak menemukan sesuatu pun di tubuhkku, tidak rasa sakit, darah atau pun nanah.!!

    Pada awal mulanya, aku betul-betul kaget. Karenanya, aku masukkan kembali kedua tanganku ke dalam bajuku untuk mencari penyakit yang dulu bersarang di tubuhku, namun aku tidak mendapatkan sedikit pun benjolan-benjolan itu. Bulu kudukku merinding saking kagetnya, akan tetapi barulah aku teringat bahwa Allah Ta’ala Maha Kuasa atas segala sesuatu. Lalu aku meminta salah seorang temanku untuk menyentuh tubuhku dan mencari bintik-bintik dan benjolan-benjolan, barangkali saja ada. Tiba-tiba mereka berterik tanpa sadar, “Allahu Akbar, Allahu Akbar.!”

    Tak berapa lama setelah itu, aku tidak kuasa lagi untuk segera pulang dan memberitahukan perihal tersebut kepada suamiku. Aku memasuki hotel tempat kami menginap, dan begitu sudah berdiri di hadapan matanya, aku robek bajuku seraya berkata, “Lihatlah rahmat Allah.!” Kemudian aku memberitahukan kepadanya apa yang telah terjadi tetapi ia tidak percaya. Ia menangis dan berteriak dengan suara kencang, “Tahukah kamu bahwa para dokter tempo hari telah bersumpah atas kematianmu setelah tiga minggu saja.?” Lalu aku berkata, “Sesungguhnya ajal itu di tangan Allah Ta’ala dan tidak ada yang mengetahui hal yang ghaib selain Allah.”

    Setelah itu, kami tinggal di Baitullah selama seminggu penuh. Selama masa-masa itu, aku tidak putus untuk memuji dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya yang demikian tidak terhingga. Kemudian kam mengunjungi masjid nabawi untuk melakukan shalat dan berziarah kepada Rasulullah SAW, lalu setelah itu kembali ke Perancis.

    Di sana, para dokter tampak benar-benar kaget dan bingung alang kepalang melihat kejadian aneh yang menimpaku. Mereka antusias bertanya, “Apakah benar anda ini si ibu tempo hari yang pernah datang kemari.?” Lalu dengan penuh rasa bangga, aku tegaskan kepada mereka, “Ya, benar dan si fulan itu adalah suamiku. Aku telah kembali kepada Rabbku dan aku tidak akan pernah takut lagi kepada siapa pun selain Allah. Semua takdir berada di tangan-Nya dan segala urusan adalah milik-Nya.” Mereka bertanya, “Sesungguhnya, kondisimu ini merupakan sesuatu yang sangat aneh sekali sebab benjolan-benjolan itu sudah hilang sama sekali. Izinkan kami untuk mengadakan pemeriksaan sekali lagi.”

    Mereka kembali memeriksaku namun tidak mendapatkan sesuatu pun. Sebelumnya, gara-gara benjolan-benjolan itu, aku sama sekali sulit untuk bernafas akan tetapi ketika sampai di Baitullah al-Haram dan aku meminta kesembuhan hanya kepada-Nya, maka sesak nafas itu pun hilang.

    Setelah peristiwa aneh itu, aku bergiat mencari tahu mengenai riwayat hidup Nabi Muhammad SAW, riwayat hidup para shahabatnya dan aku banyak menangis. Aku menangisi masa laluku karena sudah sekian lama melewatkan waktu dengan sia-sia dan tidak dapat mengecap rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku menyesali hari-hari yang telah aku sia-siakan dan membuatku jauh dari-Nya itu. Aku memohon kepada Allah agar menerima amalanku dan menerima taubatku, suamiku dan seluruh kaum Muslimin.

    ***

    (SUMBER: asy-Syifaa` Ba’da al-Maradl karya Ibrahim bin ‘Abdullah al-Hazimy, h.47-54, sebagai yang dinukilnya dari buku al-‘Aa`iduun Ilallaah, h.65, disusun Muhammad al-Musnid)

     
    • dhian 9:46 am on 5 Agustus 2010 Permalink

      Subhannallah, Kuasa Allah.. semoga Allah dapat menyembuhkan pula penyakitku dan mengabulkanku untuk mengunjungi Baitullah Al Mukarrahmah

  • erva kurniawan 1:31 am on 5 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , ,   

    Hilang dan Melayang 

    Penyakit ini tidak seperti biasanya, sejak kambuh tiga hari yang lalu sampai hari ini rasanya malah bertambah parah. Malam itu pun sama.

    Badan ini terasa menggigil, panas rasanya, bernafas menjadi sangat sulit. Lalu rasa sakit itu semakin menjalar, seluruh tubuh serasa ditusuk jarum panas. Lalu sekonyong konyong seseorang memelukku dari belakang dan menarik ku ke atas, semakin aku meronta, kekuatan itu semakin kuat mencengkeram. Seiring nafas ku yang tinggal satu persatu, apabila kutarik nafas, serasa badan ku memanjang, dan saat kukeluarkan nafasku, serasa badan ku mengkerut dan sakit nya bukan kepalang.

    Demikian, cenkeraman itu begitu dahsyatnya. Rasanya seperti badan ini mengkerut dari arah kaki, panas dan serasa ditusuk tusuk, mulai ujung kaki kemudian merambat ke telapak dan terus ke tumit, dengkul, kemudian merambat keperut, kedada, semakin keatas semakin panas rasanya dan sakitnya tak terkira. Lalu tiba tiba…

    Sekali renggut, hilang lah rasa sakit itu digantikan rasa “hilang” dan “mengambang”. Tiba tiba saja aku sudah terbangun di suatu tempat lapang yang sangat sangat luas, sepanjang mata memandang kulihat ribuan bahkan jutaan manusia berbaris rapi menuju sebuah gerbang. Satu persatu mereka “diperiksa”, dua makhluk yang berbeda berdiri di kedua samping gerbang menyambut manusia manusia ini.

    Disebelah kanan kulihat penjaga yang dengan penuh kesopanan membawa mereka entah kemana, sementara di sebelah kiri penjaga yang menyeramkan dan berbahasa kasar, menarik dan menyeret manusia lainnya yang berteriak teriak. Lalu tibalah giliranku, di gerbang ini terdapat sebuah timbangan dan seseorang mengeluarkan segala sesuatu dari kaki ku, dari tangan ku kiri dan kanan, dari tubuhku, dari mulutku, dari mataku dan semuanya mengeluarkan isinya. Kemudian disimpanlah semuanya kedalam timbangan yang aku lihat berat kekiri, penjaga disebelah kiri itu mulai menyeringai dan siap untuk merenggut dan menyeretku. Pandangannya sangat mengerikan, kulihat api dibola matanya, kurasakan panas udara saat dia mendekat.

    Tapi tiba tiba dari belakang datanglah seseorang, “orang ini belum waktunya, belum waktunya.” Sambil berkata demikian, dibawanya aku melesat dan “hilang” “melayang”.

    Saat mataku terbuka, kulihat suamiku, anak anakku berkumpul. Berderai lah air mataku. Terimakasih Ya Alloh, Engkau berikan aku kesempatan kedua.

    (Diilhami dari cerita seorang bibi yang pernah meninggal kemudian hidup lagi)

    **

    Akankah tangan kita, kaki kita, tubuh kita dan semuanya pada diri kita bisa menyumbangkan amal atau malah menumpahkan dosa kedalam timbangan di akhirat nanti…?.

    Apakah kita siap untuk mati…???, mati yang tak akan hidup lagi, tanpa kesempatan kedua, mati yang akan mengantar kita ke alam selanjutnya, alam yang tak ada kata kata atau perbuatan untuk merubah semua amal dan dosa. Siapkah kita?

    ***

    Sahabat Ari

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 31 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , ,   

    Siapakah Ibunya 

    Mungkin kita sudah sering membaca atau mendengar cerita semacam ini. Saya kagum dengan anak tersebut, siapakah ibunya, siapakah ayahnya.Dan saya juga kagum dengan pemuda yang memperhatikan nasib anak penjual kue tersebut, siapakah istrinya, siapakah ibu dari pemuda tersebut, siapakah ayahnya..dst..

    Andaikan saja banyak manusia-manusia berhati semacam kisah dibawah ini, mungkin tak sebanyak ini manusia “sengsara/melarat” di “Indonesia khususnya”.

    Tetapi teramat disayangkan sangat sedikit, bahkan tidak sedikit orang tua, ayah atau ibu yang melalaikan anak-anaknya, hanya karena alasan ini dan itu. Sibuk di kantor,karier, jabatan, sibuk dengan perempuan/lelaki lainnya yang bukan dari ibu kandung anak-anaknya sendiri.

    ***

    = Siapakah Ibunya/Orang Tuanya? =

    Selesai berlibur dari kampung, saya harus kembali ke kota. Mengingat jalan tol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama.

    Terasa mengantuk, saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan.

    “Abang mau beli kue?” Katanya sambil tersenyum.

    Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajaannya.

    “Tidak dik….abang sudah pesan makanan,” jawab saya ringkas, dia berlalu.

    Begitu pesanan tiba, saya terus menikmatinya. Lebih kurang 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri pelanggan lain, sepasang suami istri sepertinya. Mereka juga menolak, dia berlalu begitu saja.

    “Abang sudang makan, tak mau beli kue saya?” katanya tenang ketika menghampiri meja saya.

    “Abang baru selesai makan di, masih kenyang nih,” kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pergi, tapi cuma disekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh.

    Setiap yang lalu ditanya, “Tak mau beli kue saya bang..pak.kakak atau ibu.”

    Molek budi bahasanya.

    Pemilik restoran itu pun tak melarang dia keluar masuk ke restorannya menemui pelanggan. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha.

    Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

    Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil.

    Anak itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang sama. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi berdiri di tepi mobil.

    Dia menghadiahkan sebuah senyuman.

    Saya turunkan cermin. Membalas senyumannya.

    “Abang sudah kenyang, tapi mungkin abang perlukan kue saya untuk adik-adik abang, ibu atau ayah abang,” katanya sopan sekali sambil tersenyum. Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya. Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja.

    Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya.

    “Ambil ini dik! Abang sedekah ….tak usah abang beli kue itu.” Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima deretan kedai. Saya gembira dapat membantunya.

    Setelah mesin mobil saya hidupkan . Saya memundurkan mobil saya. Alangkah terperanjatnya saya ketika melihat anak itu mengulurkan uang Rp 20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua matanya.

    Saya terkejut … saya hentikan mobil, memanggil anak itu.

    “Kenapa bang mau beli kue kah?” tanyanya.

    “Kenapa adik berikan duit abang tadi pada pengemis itu? Duit itu abang berikan adik!” kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

    “Bang saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah.

    Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, mak pasti marah. Kata mak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat bang!” katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal, saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

    “Abang mau beli semua kah?” dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata.

    “Rp 25.000,- saja bang…..”

    Selepas dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan terus pergi.

    Saya perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.

    Dalam perjalanan, baru saya terfikir untuk bertanya statusnya. Anak yatim kah? Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidiknya? Terus terang saya katakan , saya beli kuenya bukan lagi atas rasa kasihan, tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat menjadikan kerjanya suatu penghormatan. Sesungguhnya saya kagum dengan sikap anak itu.

    Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya.

    ***

    Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik, dan tidak menerima sesuatu kecuali yang baik.” Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang beriman, seperti Dia perintahkan kepada para rasul-Nya dengan firman-Nya, yang artinya, “Wahai para Rasul, makanlah kalian dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan”.

    Dan firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari makanan yang baik-baik, dan bersyukurlah kamu kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah.”

    Kemudian Rasulullah menyebutkan seorang laki-laki yang menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut lagi berdebu. Orang tersebut menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a: “Ya Tuhanku .. Ya Tuhanku ..” Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, dan baju yang dipakainya dari hasil yang haram. Maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan?” (HR. Muslim, shahih).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 21 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Si Gembala Domba 

    Minggu itu seperti biasa saya ajak anak anak jalan jalan pagi, selepas subuh (alhamdulillah dari bayi anak anak saya sudah terbiasa bangun pagi) kami berangkat. Biasanya kami pergi ketempat lari pagi, tapi pagi itu saya putuskan untuk pergi kesebuah lokasi perumahan baru yang masih banyak tanah kosongnya.

    Ternyata banyak juga para pelari pagi yang datang juga kesana dan memang tempatnya masih alami, masih banyak pepohonan dan ilalang yang tumbuh liar. Anak anak saya biarkan menjelajahi alam, si sulung saya lihat sibuk mengejar kupu kupu, dan si bungsu mulai asik menemukan tumbuhan “aneh” putri malu yang jika disentuh tumbuhan ini akan mengkerut dan dedaunannya akan menutup diri. Subhanalloh, setelah lama tidak melihat putri malu ini, saya jadi asik juga menyentuh nyentuh dan memperhatikan kehebatan tumbuhan ini, lama saya perhatikan sepertinya tumbuhan ini memiliki indra perasa yang bisa merasakan sentuhan atau getaran yang kita buat di sekitar tangkainya, subhanalloh, walhamdulillah, wallohuakbar.

    Tak jauh dari situ, saya lihat segerombolan kambing berjalan ke arah kami dan dibelakangnya mengikuti seorang tua renta membawa tongkat kayu dan sebuah payung yang ternyata seorang gembala. Saya perhatikan mata gembala ini tak henti hentinya memperhatikan kambing kambing yang sibuk memakan rumput dan ilalang di sekitarnya. Sesekali orang tua ini bangun dari duduknya dan menghampiri kambing yang agak terpisah dari kelompoknya dan menggiringnya kembali. Begitu sabarnya orang tua ini dalam melakukan tugasnya menggembala kambing sehingga pada saat hujan turunpun (apalagi hujan pagi pagi dinginyaa…) tapi orang tua ini tetap saja tal bergeming, dia membuka payungnya dan tetap memperhatikan kambing kambing dengan penuh kesabaran.

    Sambil menuntun anak anak, pikiran saya melayang kepada Rosululloh Saw muda yang yatim piatu, sendirian ditengah binatang gembalaanya seperti orang tua itu. Pemuda yang kelak menjadi Rosul penutup ini setiap hari menggambalakan kambing, siang hanya beratapkan langit dan awan juga teriknya sinar mentari, disaat malam tiba beliau Saw beralaskan bumi dan bertapkan langit dengan kemerlap bintang bintang dan rembulan. Inilah yang membawa kesadaran pemuda ini akan sesuatu yang Maha Besar dan Maha Hebat yang berdasarkan pengamatannya yang polos (baca:umiy) tanpa prasangka ataupun distorsi pemikiran, ada kekuatan yang melebihi dahsyatnya matahari yang membakar dan indahnya rembulan yang menerangi malam. Ada kekuatan yang melebihi apapu yang diperhatikannya selama ini. Apakah itu?, pertanyaan seorang lugu dan polos inilah yang menuntun pemuda ini kapada Sang Penguasa Segala Kekuatan di langit dan bumi.

    Dengan menggembala kambing ini juga lah pemuda ini Saw, mengambil pelajaran dalam kesabaran, ketegasan, kasih sayang, leadership, dll untuk mempersiapkan hati dan pikirannya dalam menyambut tugas berat yang akan diembannya menjadi kekasih Alloh, Nabi dan Rosul penutup. Beliau Saw, menyampaikan bahwa: “Nabi-nabi yang diutus Allah itu gembala kambing.” Dan katanya lagi: “Musa diutus, dia gembala kambing, Daud diutus, dia gembala kambing, aku diutus, juga gembala kambing keluargaku di Ajyad.” Maka berbanggalah wahai engkau penggembala kambing, engkau melakukan perkejaan mulia yang juga dilakukan oleh para Nabi Rosul Alloh.

    Saat ini, cobalah kita merenungi si gembala kambing, bisakah kita bersabar dalam menasehati, bisakah menasehati dengan kasih sayang, bisakah kita melihat sekeliling dan berkaca apakah sudah kita menjadi makhluk yang sesuai dengan keinginan Sang Kolik?….

    ***

    Disampaikan Oleh Sahabatku Ari Dino

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 17 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Orang Kaya Dan Orang Miskin Bertemu Di Surga 

    Alkisah, di suatu negeri pernah hidup seorang kaya raya, yang rajin beribadah dan beramal. Meski kaya raya, ia tak sombong atau membanggakan kekayaannya. Kekayaannya digunakan untuk membangun rumah ibadat, menyantuni anak yatim, membantu saudara, kerabat dan tetangga-tetangganya yang miskin dan kekurangan, serta berbagai amal sosial lainnya. Di musim paceklik, ia membagikan bahan pangan dari kebunnya yang berhektar-hektar kepada banyak orang yang kesusahan. Salah satu yang sering dibantu adalah seorang tetangganya yang miskin.

    Dikisahkan, sesudah meninggal, berkat banyaknya amal, si orang kaya ini pun masuk surga. Secara tak terduga, di surga yang sama, ia bertemu dengan mantan tetangganya yang miskin dulu. Ia pun menyapa.

    “Apa kabar, sobat! Sungguh tak terduga, bisa bertemu kamu di sini,” ujar si kaya.

    “Mengapa tidak? Bukankah Tuhan memberikan surga pada siapa saja yang dikehendaki-Nya, tanpa memandang kaya dan miskin?” jawab si miskin.

    “Jangan salah paham, sobat. Tentu saja aku paham, Tuhan Maha Pengasih kepada semua umat-Nya tanpa memandang kaya-miskin. Cuma aku ingin tahu, amalan apakah yang telah kau lakukan sehingga mendapat karunia surga ini?”

    “Oh, sederhana saja. Aku mendapat pahala atas amalan membangun rumah ibadat, menyantuni anak yatim, membantu saudara, kerabat dan tetangga yang miskin dan kekurangan, serta berbagai amal sosial lainnya….”

    “Bagaimana itu mungkin?” ujar si kaya, heran. “Bukankah waktu di dunia dulu kamu sangat miskin. Bahkan seingatku, untuk nafkah hidup sehari-hari saja kamu harus berutang kanan-kiri?”

    “Ucapanmu memang benar,” jawab si miskin. “Cuma waktu di dunia dulu, aku sering berdoa: Oh, Tuhan! Seandainya aku diberi kekayaan materi seperti tetanggaku yang kaya itu, aku berniat membangun rumah ibadat, menyantuni anak yatim, membantu saudara, kerabat dan tetangga yang miskin dan banyak amal lainnya. Tapi apapun yang kau berikan untukku, aku akan ikhlas dan sabar menerimanya.”

    “Rupanya, meski selama hidup di dunia aku tak pernah berhasil mewujudkannya, ternyata semua niat baikku yang tulus itu dicatat oleh Tuhan. Dan aku diberi pahala, seolah-olah aku telah melakukannya. Berkat semua niat baik itulah, aku diberi ganjaran surga ini dan bisa bertemu kamu di sini,” lanjut si miskin.

    Maka perbanyaklah niat baik dalam hati Anda. Bahkan jika Anda tidak punya kekuatan atau kekuasaan untuk mewujudkan niat baik itu dalam kehidupan sekarang, tidak ada niat baik yang tersia-sia di mata Tuhan.

    ***

    Sumber: Anonim

     
    • annisa 7:19 am on 18 Mei 2010 Permalink

      Subhanallah.. besar sekali ganjaran Allah untuk niat yang baik dan besar.. memang sebaiknya kita iri dlm hal kebaikan..,
      semoga kita bisa mengambil keuntungan dari keberhasilan orang2 di sekitar kita atw yg kita tahu, spt cara diatas.. aamiiin

    • Jeff Ross 8:10 pm on 19 Mei 2010 Permalink

      Subhanallah.. besar sekali ganjaran Allah untuk niat yang baik dan besar.. memang sebaiknya kita iri dlm hal kebaikan..,semoga kita bisa mengambil keuntungan dari keberhasilan orang2 di sekitar kita atw yg kita tahu, spt cara diatas.. aamiiin
      +1

    • ayu 2:58 pm on 30 Mei 2010 Permalink

      Subhanallah…Allah memang maha adil……….

    • Videos cristianos 12:11 pm on 28 Januari 2011 Permalink

      You do know what you’re doing, so keep at it.
      Thank you!

      David.

  • erva kurniawan 1:50 am on 15 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Alloh Batuk Yaa Bi? 

    Hujan

    Kemarin saat hujan turun begitu derasnya, bahkan disertai es batu kecil kecil juga angin dan petir, sambil melihat keluar jendela, saya ngobrol sama anak anak saya, 5 tahun dan 3,5 tahun;

    “Ini siapa yang buat ayooo?” saya menunjuk sebuah mainan perahu yang saya buat dari kertas, “Abi yang bikin” jawab anak saya, “Ini siapa yang buat?” sambil nunjukin kue yang di buat ibunya. “Umi” jawab anak saya lagi “Kalau abi sama umi sama aa sama ade, siapa yang bikin ayooo?” “Allooohhh!!!” jawab anak saya yang diikuti adiknya yang baru berumur tiga tahun.. “Terus kalau hujan, yang nurunin siapa ayoooo?”. “Allooh kan Bi?” jawab anak saya ragu ragu, apalagi jika hujannya berupa hujan lebat disertai angin kencang dan petir seperti ini. “Iyaa Alloh juga, hujan ini nanti masuk ke tanah terus airnya di minum sama tanaman, nanti tanamannya akan tumbuh dan berbuah, nanti buahnya kita makan deh…? “aku suka apel sama jeruk” jawab si sulung, “aku sukanya buah mangga yang manis yang manis yang manis bangeeet” jawab anak kedua saya.

    Dhuarrrr! terdengan bunyi petir yang sangat keras yang membuat anak saya meloncat kepangkuan saya. “Itu Alloh lagi batuk yaaa Bi?. sambil masih memeluk erat, anak saya bertanya. Sambil tersenyun saya pandangi keduanya, Saya melihat bahwa otak kecil anak saya mulai menangkap Kebesaran Alloh, walau masih terbatas, dia sudah mulai mencerna bahwa Alloh itu Besar, batuk nya aja seperti itu.

    Kemudian saya terdiam dan sedikit ragu untuk menjawab, tapi akhirnya saya lanjutkan, “Alloh itu Maha Besar dan Maha Tinggi, tinggi, tinggi banget”. “Sampai kelangit yaa BI?” tanya sibungsu. “Iya lebih tinggi lagi dari langit, Alloh itu ngga seperti abi atau umi atau aa atau ade, jadi… Alloh ngga batuk. Tadi itu namanya petir, Kalau hujan lebat memang suka ada petir. Jadi… siapa coba yang bikin peitr?”. “Alloohhhhh?” jawab anakku serentak.

    Tiba tiba tep!, mati lampu dan akhirnya menghentikan obrolan yang saya rasa sangat berat ini, kebetullan ada tukang gorangan lewat didepan rumah kami pun akhirnya asik menikmati gorengan yang masih hangat.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 8 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Seorang Bayi Hanya Hidup 6 Jam, Tetapi Menyelamatkan 2 Nyawa 

    Sepasang suami istri hidup bahagia. Sejak 10 tahun yang lalu, sang istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk menentang ABORSI, karena menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi. Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada famili, teman dan sahabat, dan lingkungan sekitarnya. Semua orang ikut bersukacita dengan mereka.

    Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi. Dokter menemukan bayi kembar dalam perutnya, seorang bayi lelaki dan perempuan. Tetapi bayi perempuan mengalami kelainan, dan ia mungkin tidak bisa hidup sampai masa kelahiran tiba. Dan kondisinya juga dapat mempengaruhi kondisi bayi lelaki. Jadi dokter menyarankan untuk dilakukan aborsi, demi untuk sang ibu dan bayi lelakinya. Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami maupun sang istri mengalami depressi. Pasangan ini bersikeras untuk tidak menggugurkan bayi perempuannya (membunuh bayi tersebut), tetapi juga kuatir terhadap kesehatan bayi lelakinya. “Saya bisa merasakan keberadaannya, dia sedang tidur nyenyak”, kata sang ibu di sela tangisannya. Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada pasangan tersebut, dengan mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan.

    Ketika sang istri semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencanaNya dibalik semua ini. Hal ini membuatnya lebih tabah. Pasangan ini berusaha keras untuk menerima fakta ini. Mereka mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu dengan banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah bayi mereka. Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak sendirian. Banyak pasangan lainnya yang juga mengalami situasi yang sama, dimana bayi mereka tidak dapat hidup lama. Mereka juga menemukan bahwa beberapa bayi akan mampu bertahan hidup, bila mereka mampu memperoleh donor organ dari bayi lainnya. Sebuah peluang yang sangat langka. Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke orang lain?

    Jauh sebelum bayi mereka lahir, pasangan ini menamakan bayinya, Jeffrey dan Anne. Mereka terus bersujud kepada Tuhan. Pada mulanya, mereka memohon keajaiban supaya bayinya sembuh. Kemudian mereka tahu, bahwa mereka seharusnya memohon agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi, karena mereka yakin Tuhan punya rencanaNya sendiri. Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne cukup sehat untuk dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2 jam. Sang istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anne, mereka akan mendonorkan organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup dan sekarat, yang sedang menunggu donor organ bayi.

    Sekali lagi, pasangan ini berlinangan air mata. Mereka menangis dalam posisi sebagai orang tua, dimana mereka bahkan tidak mampu menyelamatkan Anne. Pasangan ini bertekad untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan terjadi. Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua bayinya dengan selamat. Pada momen yang sangat berharga tersebut, sang suami menggendong Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap ayahnya, dan tersenyum dengan manis. Senyuman Anne yang imut tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya. Tidak ada kata-kata di dunia ini yang mampu menggambarkan perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat bangga bahwa mereka sudah melakukanpilihan yang tepat (dengan tidak mengaborsi Anne), mereka sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil tersenyum pada mereka, mereka sangat sedih karena kebahagiaan ini akan berakhir dalam beberapa jam saja. Sungguh tidak ada kata-kata yang dapat mewakili perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang berasal dari jiwa mereka yang terluka?? Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki kesempatan untuk melihat Anne.

    Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap bertahan hidup setelah lewat 2 jam. Memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi keluarga tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan. Tetapi Anne tidak mampu bertahan setelah enam jam???.. Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran organ. Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tersebut bahwa donor tersebut berhasil. Dua bayi berhasil diselamatkan dari kematian.

    Pasangan tersebut sekarang sadar akan kehendak Tuhan. Walaupun Anne hanya hidup selama 6 jam, tetapi dia berhasil menyelamatkan dua nyawa. Bagi pasangan tersebut, Anne adalah pahlawan mereka, dan sang Anne yang mungil akan hidup dalam hati mereka selamanya?..

    ***

    Ada 3 point penting yang dapat kita renungkan dari kisah ini:

    1. Sesungguhnya, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu hari ataupun bahkan seratus tahun. Hal yang benar-benar penting adalah apa yang kita telah kita lakukan selama hidup kita, yang bermanfaat bagi orang lain.
    2. Sesungguhnya, tidaklah penting berapa lama perusahaan kita telah berdiri, satu tahun ataupun bahkan dua ratus tahun. Hal yang benar-benar penting adalah apa yang dilakukan perusahaan kita selama ini, memberikan manfaat bagi orang lain.
    3. Ibu Anne mengatakan “Hal terpenting bagi orang tua bukanlah mengenai bagaimana karier anaknya di masa mendatang, dimana mereka tinggal, maupun berapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan. Tetapi hal terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah untuk memastikan bahwa anak-anak kita melakukan hal-hal terpuji selama hidupnya, sehingga ketika kematian menjemput mereka, mereka akan menuju surga”.
     
    • tonosaur 10:16 am on 9 Mei 2010 Permalink

      subhanalloh..

    • annisa 9:41 am on 10 Mei 2010 Permalink

      subhanallah.. kisah nyata yg sarat makna..
      semoga di sisa umur kita masih bisa bermanfaat bagi orang lain.. amiinn.. 100 x

    • bery 8:56 pm on 20 Mei 2010 Permalink

      subhanallah semoga hidup kita menjadi bermanfaat bg semua,
      amin…amin

    • Sri Mulyati 7:24 pm on 19 September 2010 Permalink

      subhanallah…

  • erva kurniawan 1:06 am on 7 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah Perjuangan Hidup Soichiro Honda 

    Amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada kendaraan bermerek Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merek kendaran ini memang selalu menyesaki padatnya lalu lintas. Karena itu barangkali memang layak disebut sebagai raja jalanan.

    Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri kerajaan bisnis Honda — Soichiro Honda — selalu diliputi kegagalan saat menjalani kehidupannya sejak kecil hingga berbuah lahirnya imperium bisnis mendunia itu. Dia bahkan tidak pernah bisa menyandang gelar insinyur. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru.

    Saat merintis bisnisnya, Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun, ia terus bermimpi dan bermimpi. Dan, impian itu akhirnya terjelma dengan bekal ketekunan dan kerja keras. ”Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya di sekitar mesin, motor dan sepeda,” tutur Soichiro, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengidap lever.

    Kecintaannya kepada mesin, jelas diwarisi dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah. Di kawasan inilah dia lahir. Kala sering bermain di bengkel, ayahnya selalu memberi catut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906 ini dapat berdiam diri berjam-jam. Tak seperti kawan sebayanya kala itu yang lebih banyak menghabiskan waktu bermain penuh suka cita. Dia memang menunjukan keunikan sejak awal. Seperti misalnya kegiatan nekad yang dipilihnya pada usia 8 tahun, dengan bersepeda sejauh 10 mil. Itu dilakukan hanya karena ingin menyaksikan pesawat terbang. Bersepeda memang menjadi salah satu hobinya kala kanak-kanak. Dan buahnya, ketika 12 tahun, Soichiro Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Sampai saat itu, di benaknya belum muncul impian menjadi usahawan otomotif. Karena dia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya selalu rendah diri.

    Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke kota, untuk bekerja di Hart Shokai Company. Bossnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja di situ, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, Saka Kibara mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.

    Di Hamamatsu prestasi kerjanya kian membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya tak jarang hingga larut malam, dan terkadang sampai subuh. Yang menarik, walau terus kerja lembur otak jeniusnya tetap kreatif.

    Kejeniusannya membuahkan fenomena. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik untuk kepentingan meredam goncangan. Menyadari ini, Soichiro punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luar biasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia.

    Pada usia 30 tahun, Honda menandatangani patennya yang pertama. Setelah menciptakan ruji. Lalu Honda pun ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Mulai saat itu dia berpikir, spesialis apa yang dipilih ? Otaknya tertuju kepada pembuatan ring piston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada 1938. Lalu, ditawarkannya karya itu ke sejumlah pabrikan otomotif. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring Piston buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu dan menyesalkan dirinya keluar dari bengkel milik Saka Kibara. Akibat kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal ring pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin.

    Siang hari, setelah pulang kuliah, dia langsung ke bengkel mempraktekkan pengetahuan yang baru diperoleh. Tetapi, setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah. ”Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya,” ujar Honda, yang diusia mudanya gandrung balap mobil. Kepada rektornya, ia jelaskan kuliahnya bukan mencari ijazah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan. Tapi dikeluarkan dari perguruan tinggi bukan akhir segalanya. Berkat kerja kerasnya, desain ring pinston-nya diterima pihak Toyota yang langsung memberikan kontrak. Ini membawa Honda berniat mendirikan pabrik. Impiannya untuk mendirikan pabrik mesinpun serasa kian dekat di pelupuk mata.

    Tetapi malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana kepada masyarakat. Bukan Honda kalau menghadapi kegagalan lalu menyerah pasrah. Dia lalu nekad mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Namun lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar, bahkan hingga dua kali kejadian itu menimpanya.

    Honda tidak pernah patah semangat. Dia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, untuk digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Penderitaan sepertinya belum akan selesai. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik ring pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.

    Akhirnya, tahun 1947, setelah perang, Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya akibat krisis moneter itu. Padahal dia ingin menjual mobil itu untuk membeli makanan bagi keluarganya.

    Dalam keadaan terdesak, ia lalu kembali bermain-main dengan sepeda pancalnya. Karena memang nafasnya selalu berbau rekayasa mesin, dia pun memasang motor kecil pada sepeda itu. Siapa sangka, sepeda motor– cikal bakal lahirnya mobil Honda — itu diminati oleh para tetangga. Jadilah dia memproduksi sepeda bermotor itu. Para tetangga dan kerabatnya berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Lalu Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobilnya, menjadi raja jalanan dunia, termasuk Indonesia.

    Semasa hidup Honda selalu menyatakan, jangan dulu melihat keberhasilanya dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. ”ORANG MELIHAT KESUKSESAN SAYA HANYA SATU PERSEN. TAPI, MEREKA TIDAK MELIHAT 99 PERSEN KEGAGALAN SAYA,” tuturnya. Ia memberikan petuah, ”KETIKA ANDA MENGALAMI KEGAGALAN, MAKA SEGERALAH MULAI KEMBALI BERMIMPI. DAN MIMPIKANLAH MIMPI BARU.” Jelas kisah Honda ini merupakan contoh, bahwa sukses itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, dan hanya berasal dari keluarga miskin

    ***

    “Adalah lebih baik berani mencoba mencari tantangan walaupun dirudung kegagalan, daripada duduk bengong seperti orang tidak bersemangat, yang tidak bergembira dan menderita karena hidup dalam dunia samar yang tidak mengenal menang atau kalah “.

    Theodore Roosevelt

     
    • annisa 8:59 am on 11 Mei 2010 Permalink

      subhanallah.. kisah yang inspiratif dan membuat kita
      selalu punya mimpi.. walaupun mimpi disiang hari..
      yakinlah bahwa kita BISA…

  • erva kurniawan 1:43 am on 3 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Nakalnya Anak-Anak 

    Suatu hari seisi rumah dikejutkan oleh suara teriakan nyaring dari mulut seorang anak yang paling kecil di rumah itu.

    Anak: “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….”teriaknya yang tanpa dosa sudah membuat onar seisi rumah.

    Mama: “Ade, kenapa kamu teriak-teriak?!” tegur Mama yang sudah berlari ke luar dari kamar ingin melihat ada apa dengan buah hatinya.

    Anak: “Ade teriak pake mulut Ade sendiri, Ade enggak pinjam mulut Mama?!” bantahnya sambil memonyongkan mulut kecilnya.

    Mama: “ooohh, gitu, ya sudah, kamu teriak lagi yang keras, tapi awas?!Mama nda mau suara kerasmu itu masuk ketelinga Mama?! gangguin telinga Mama aja?!” mulai Mama berargumen dengan anaknya yang selalu cari perhatian.

    Anak: “ Mama punya tangan?!tutup aja telinga Mama sama tangan Mama sendiri, kalau enggak mau denger teriakan Ade?!” mulai anak mencari gara-gara.

    Mama: “Enak aja, kamu buat kerjaan Mama lagi ya, kamu nda lihat, tangan Mama lagi dipake nulis sama Mama, atau kamu yang tutupin telinga Mama sama tangan kamu, karena kamu yang pingin teriak kan, tapi awas, kalau sampai teriakan kamu masih masuk ke telinga Mama?!” jawab Mama mulai masuk ke logika anaknya dan langsung buat anak terdiam.

    **

    Hampir tiap hari sang Mama selalu mendengar cerita-cerita dari sekolah anaknya.

    Anak: “Ma, kayanya pak Ramli guruku itu banci dech ma,” cerita anaknya yang tertua.

    Mama: “Emang, kamu tahu dari mana kalau pak Ramli itu banci, ?” Tanya Mama sambil merhatiin wajah anaknya dengan menyelidik.

    Anak: “Hmm, itu mah, kalau lagi ngomong, tangannya pasti begini-begitu dech, ?” ceritanya lagi sambil menirukan gaya banci yang biasa dilihat di TV.

    Mama: “Ooohh, emang kalau banci, tangannya begini-begini ya, ?” jawab Mama sambil mengikuti gaya anak sebelumnya.

    Anak: “Hehehe, enggak juga sich, ma, ?tapi aneh aja lihat gayanya kaya Tessy,” jawab anak sambil tersenyum merhatiin Mamanya yang sudah melotot.

    Mama: “Lagi pula, kalau pak ramli banci, apa dia rugiin kamu?” Tanya Mama yang mulai berargumen sama anaknya yang besar.

    Anak: “Nda sich ma,” jawab anak yang mulai tertunduk sambil menahan senyum.

    Mama: “Masih mending pak ramli, walau disangka banci, dia masih bisa jadi guru?lha kamu apa?” Tanya Mama lagi dan membuat anak terdiam.

    **

    Tiba-tiba Mama dikejutkan oleh anaknya yang lari masuk kamar memanggil Mamanya

    Anak: “Mama, beliin Ade mainan di tukang mainan itu dong, ?!” rengek anaknya yang kecil

    Mama: “Hari ini Mama nda punya uang lebih untuk beliin mainan baru, nanti aja kalau Mama sudah punya uang lebih ya.” Jawab Mama sambil perhatikan anaknya yang suka protes.

    Anak: “Pokoknya Ade enggak mau tahu, Ade mau mainan itu sekarang!!” rengek anak lagi yang mulai dengan senjata tangisannya.

    Mama: “Ya, udah beli aja sana, ?” jawab Mama santai.

    Anak: “Mana uangnya, cepet ma, nanti abangnya keburu pergi?!” pinta anak yang sudah mulai menarik baju Mamanya.

    Mama: “Lho, emang yang mau beli mainan itu sekarang siapa, ?” Tanya Mama santai

    Anak: “Ya, Ade lah, ”

    Mama: “Ya, udah pake uang Ade dong, kan yang mau mainan Ade dan bukan Mama, ?”

    Anak: “Ade kan enggak punya uang, pake uang Mama dong, ?!” jawab anak polos.

    Mama: “Hehe, sama dong, Mama juga nda punya uang sekarang, kalau mau pake uang Mama, tunggu sampe Mama punya uang lagi ya, ?” jawab Mama sambil senyum.

    Anak: “Mama jelek.!!” Protes anak yang memancing Mama untuk menggodanya.

    Mama: “Jelekkan Ade dong, kan Ade keluar dari perut Mama campur sama kotoran” goda Mama yang melihat anaknya kesal

    Anak: “Jelek Mama dari Nenek, Mama juga keluar dari perut nenek campur sama kotoran?!” Teriak anak yang mulai kesal dan hanya membuat Mamanya tersenyum sendiri

    Mama: “Yeee, Mama kan nda katain Nenek jelek” jawab Mama sambil tertawa melihat anaknya yang mulai bingung

    **

    Seperti biasa pulang sekolah, pasti ada aja cerita yang disampaikan oleh anaknya yang tertua.

    Anak: “Ma, aku kesal banget sama Sherly tadi, ?” cerita anak yang terlihat sekali wajah kesalnya.

    Mama: “Hmm, memang si Sherly buat apa sama kamu?” Tanya Mama datar.

    Anak: “Tadi si Sherly lempar uang untuk pengemis ke comberan, mentang-mentang dia pengemis, emang boleh apa lempar uang begitu, mending enggak usah dikasih aja kalau dilempar begitu.” Kesal anak yang terlihat hampir menangis.

    Mama: “Lalu, kamu bilang apa sama Sherly, ?” Tanya Mama yang mulai merhatiin wajah anaknya yang mulai ingin menangis

    Anak: “Aku bilang, Sherly kenapa kamu lempar uang itu ke comberan, terus jawab Sherly, biarin aja, toch, dia cuma pengemis, ?” cerita anak yang akhirnya menangis.

    Mama: “Terus, ” Tanya Mama yang serius merhatiin anaknya cerita

    Anak: “Akhirnya uang jajanku aku kasih ke Sherly untuk gantiin uang yang dikasih ke pengemis itu, kasihan pengemis itu ma, dia turun ke comberan ambil uang itu, aku bilang ke Sherly, ini uangnya aku gantiin, baru kasih segitu aja pake dilempar?!” cerita anak sambil terisak karena tangis.

    Mama: “Hmm, harusnya kamu larang pengemis itu untuk ambil uang yang dicomberan, dan uang kamu itu yang kamu kasihkan ke pengemis dan biarkan si Sherly yang ambil uang itu ke comberan, ?” usul Mama sambil menghapus air mata anaknya.

    Anak: “Aku lupa Ma.” isak anak yang menyesali dirinya dan wajahnya sudah dipenuhi oleh air matanya.

    ***

    Oleh: Hana

     
    • Thomas 1:48 am on 3 Mei 2010 Permalink

      Mencermati polah tingkah anak2 memang menarik, apalagi pada saat anak mulai sekolah di TK atau pada saat mulai masuk SD. Anak2 biasanya mulai “memberontak”…mulai pintar “membantah”, itulah anak2. Yang penting orang tuanya tetap sabar dan mau masuk ke dalam pola pikir si anak, maka fase ini akan bisa dlewati dengan baik

      salam

      http://thomasandrianto.wordpress.com/2010/05/03/katakan-cinta-dengan-lagu/

    • tary 8:57 am on 3 Mei 2010 Permalink

      Jadi pengen cepet2 jadi Ibu……

    • annisa 9:54 am on 10 Mei 2010 Permalink

      ya.. emang kita sbg ortu harus sabar ngadepin anak2 skrang, krna berbedanya keadaan, tontonan dan budaya pd waktu kita kecil dulu..
      cuma klau kita ortunya bisa sabar.. apakah orang skeliling kita juga bisa sabar..?? ini yang penting..

  • erva kurniawan 1:35 am on 2 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Cerita Sang Anak, Amanah Salah 

    Seorang anak yang memperhatikan ibundanya sholat, dan menangis dalam sholatnya, hanya terdiam memandangi ibundanya, hingga selesai.

    “Kamu sudah sholat atau belum sayang, ?” tanya sang mama.

    “Aku baru mau sholat, tadi mau bareng sama mama, tapi aku sakit perut, ” hehe jawabnya sambil tersenyum

    “Iya sudah, sekarang kamu sholat ya, :)” tegur mama

    Dan ternyata, sang mama tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, sambil membersihkan wajahnya dihadapan cermin dan sesekali air matanya turun kembali, sambil memperhatikan sang anak yang sedang sholat. Hingga anak selesai sholat, dan memperhatikan wajah ibundanya yang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, sambil melipat mukenah yang habis dipakainya sang anak mulai memancing mamanya dengan candanya.

    “Ma, tahu enggak?! Kalau amanah itu ada juga yang jadi buat orang salah dan membahayakan orang lain” ceritanya sambil tersenyum2

    “Masak sich, amanah yang seperti apa tuch, ?” tanya mama sambil terus mengusap air matanya yang masih turun

    “Aku punya cerita ma, tentang amanah itu ?”

    “Coba ceritain dong sama mama, ” tanggap mama yang mecoba tertawa2 pada buah hatinya

    “Waktu itu ada orang yang ingin bunuh diri di rel kereta api, lalu masinis itu melihat orang yang sedang duduk di rel itu.!! Kemudian masinis langsung menelphon petugas jaga, dan memberitahukan bahwa ada orang yang mau bunuh diri.”cerita anak dengan mimik lucunya

    “Lalu, ” tanggap mama

    “Hallo, pak petugas, !ada orang yang mau bunuh diri nich, kata masinis”

    “Lho, emang yang mau bunuh diri ada berapa orang?tanya petugas jaga”

    “Yang mau bunuh diri ada satu orang, kata masinis panik”

    “Lalu, berapa penumpang yang sedang kamu bawa, tanya petugas”

    “Penumpang yang ada dikereta saya ada 1000 orang pak.!! Kata masinis panik”

    “Oh, ya sudah, tabrak aja yang 1 dan selamatkan yang 1000!! Kata petugas” cerita sang anak dengan serius sambil memperagakan gaya seorang masinis dan petugas penjaga kereta

    “Lalu, amanah yang salahnya dimana dong, ?” tanya mama mulai bingung

    “Lha, itu ma, ternyata orang itu enggak jadi bunuh diri, lalu bangun dari rel dan berniat untuk pergi menjauh dari kereta yang mau lewat, ya, karena si masinis sudah terima amanat untuk menabrak yang satu dan menyelamatkan yang 1000, akhrinya, kereta ini dibelokkan oleh masinis ke luar rel dan mengejar orang yang enggak jadi bunuh diri itu.?! Ya, akhirnya, kereta yang keluar rel itu terbalik dan penumpang yang 1000 itu jadi celaka, eeh, malah yang enggak jadi bunuh diri itu selamat dech,” hahaha akhirnya ibu dan anak sudah tertawa2 memegang perutnya

    “Itulah, ma, kalau amanat diterima, dan yang menerima amanat itu bodoh!!” hahaha sang mama hanya tertawa2 sambil menggeleng2kan kepalanya, dan terlihat senyum bahagia dari wajah sang anak, yang sudah berhasil membuat mamanya tertawa2.

    Robbi habbli minassholihin, ya, Allah, jadikanlah buah hatiku anak2 yang sholeh,  yang dapat menjadi penerang dalam rumah, penyejuk mata dan hatiku, pemanis hidup dan kehidupan, pemancing tawa dan menghapus kesedihan

    ***

    Oleh: Hana

     
    • Ahmad Isa 6:40 pm on 13 Mei 2010 Permalink

      subhanalloh . . .
      begitu cerdasnya anak itu . . .

    • faiz 12:14 pm on 13 Agustus 2011 Permalink

      makasih pak izi pak ngopy..

  • erva kurniawan 1:39 am on 23 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah Kepala Ikan 

    Alkisah pada suatu hari, diadakan sebuah pesta emas peringatan 50 tahun pernikahan sepasang kakek-nenek. Pesta ini pun dihadiri oleh keluarga besar kakek dan nenek tersebut beserta kerabat dekat dan kenalan.

    Pasangan kakek-nenek ini dikenal sangat rukun, tidak pernah terdengar oleh siapapun bahkan pihak keluarga mengenai berita mereka perang mulut. Singkat kata mereka telah mengarungi bahtera pernikahan yang cukup lama bagi kebanyakan orang. Mereka telah dikaruniai anak-anak yang sudah dewasa dan mandiri baik secara ekonomi maupun pribadi. Pasangan tersebut merupakan gambaran sebuah keluarga yang sangat ideal.

    Disela-sela acara makan malam yang telah tersedia, pasangan yang merayakan peringatan ulang tahun pernikahan mereka ini pun terlihat masih sangat romantis. Di meja makan, telah tersedia hidangan ikan yang sangat menggiurkan yang merupakan kegemaran pasangan tersebut. Sang kakek pun, pertama kali melayani sang nenek dengan mengambil kepala ikan dan memberikannya kepada sang nenek, kemudian mengambil sisa ikan tersebut untuknya sendiri.

    Sang nenek melihat hal ini, perasaannya terharu bercampur kecewa dan heran.Akhirnya sang nenek berkata kepada sang kakek, “Suamiku, kita telah melewati 50 tahun bahtera pernikahan kita. Ketika engkau memutuskan untuk melamarku, aku memutuskan untuk hidup bersamamu dan menerima dengan segala kekurangan yang ada untuk hidup sengsara denganmu walaupun aku tahu waktu itu kondisi keuangan engkau pas-pasan. Aku menerima hal tersebut karena aku sangat mencintaimu. Sejak awal pernikahan kita, ketika kita mendapatkan keberuntungan untuk dapat menyantap hidangan ikan, engkau selalu hanya memberiku kepala ikan yang sebetulnya sangat tidak aku suka, namun aku tetap menerimanya dengan mengabaikan ketidaksukaanku tersebut karena aku ingin membahagiakanmu. Aku tidak pernah lagi menikmati daging ikan yang sangat aku suka selama masa pernikahan kita. Sekarangpun, setelah kita berkecukupan, engkau tetap memberiku hidangan kepala ikan ini. Aku sangat kecewa, suamiku. Aku tidak tahan lagi untuk mengungkapkan hal ini.”

    Sang kakek pun terkejut dan bersedihlah hatinya mendengarkan penuturan Sang nenek. Akhirnya, sang kakek pun menjawab, “Istriku, ketika engkau memutuskan untuk menikah denganku, aku sangat bahagia dan aku pun bertekad untuk selalu membahagiakanmu dengan memberikan yang terbaik untukmu. Sejujurnya, hidangan kepala ikan ini adalah hidangan yang sangat aku suka. Namun, aku selalu menyisihkan hidangan kepala ikan ini untukmu, karena aku ingin memberikan yang terbaik bagimu. Semenjak menikah denganmu, tidak pernah lagi aku menikmati hidangan kepala ikan yang sangat aku suka itu. Aku hanya bisa menikmati daging ikan yang tidak aku suka karena banyak tulangnya itu. Aku minta maaf, istriku.”

    Mendengar hal tersebut, sang nenek pun menangis. Merekapun akhirnya berpelukan. Percakapan pasangan ini didengar oleh sebagian undangan yang hadir sehingga akhirnya merekapun ikut terharu.

    **

    Moral Of The Story:

    Kadang kala kita terkejut mendengar atau mengalami sendiri suatu hubungan yang sudah berjalan cukup lama dan tidak mengalami masalah yang berarti, kandas di tengah-tengah karena hal yang sepele, seperti masalah pada cerita di atas.

    Kualitas suatu hubungan tidak terletak pada lamanya hubungan tersebut, melainkan terletak sejauh mana kita mengenali pasangan kita masing-masing. Hal itu dapat dilakukan dengan komunikasi yang dilandasi dengan keterbukaan. Oleh karena itu, mulailah kita membina hubungan kita berlandaskan pada kejujuran, keterbukaan dan saling menghargai satu sama lain.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • putrasubuh 2:03 am on 23 April 2010 Permalink

      wow,..cerita ini,kirain aku cerita dongeng tentang ikan menjdi manusia.hehehe.sungguh bgus cerita ini,isinya mengharukan.

      btw ikan apa tuch pic nya…?hah.jdi laper.

      bagus mas ceritanya.

    • Benz 12:13 am on 24 April 2010 Permalink

      Good Story,..

    • Abi Salsa 6:18 am on 24 April 2010 Permalink

      Pelajaran yg menarik, keikhlasan hati terkadang perlu di utarakan, agar tidak terjadi salah komunikasi

    • rizal 6:15 pm on 5 Mei 2010 Permalink

      harusnya nenek terbuka dengan apa yang dia tidak suka… begitu pula dengan kakek. dengan begitu keduany bisa saling memahami. ya pada intinya kita harus terbuka terhadap keadaan tetapi jangan sampai menyinggung perasaan orang lain.

  • erva kurniawan 1:30 am on 22 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Curhat Anak 

    Hampir disetiap malam, seorang ibu dan anak selalu bercerita tentang semua kejadian yang dialami selama 1 harian di luar rumahnya

    “Ma, tadi aku di sekolah, tampar mukanya si fulan.” cerita anak sambil memandang wajah mamanya yang dibuat senormal mungkin.

    “Eemm, emang si fulan, salah apa..sampe kamu tampar mukanya?” tanya mama sedatar mungkin.

    “Habis, aku kesal sama fulan Ma..”jawab sang anak yang terlihat mulai berkaca-kaca matanya

    “Apa yang sudah si fulan lakukan..sampe kamu kesal padanya..?”

    “Habis, dia katain mama, katanya mama masih kecil..” jawab anak polos.

    “Hahaha, lho baru dikatain gitu aja, koq segitu kesalnya, sampe orang ditampar segala? Memang kenyataannya mama kecil, lagipula bagus dunk itu berarti mama masih muda, jadi si fulan bilang mama kecil.” goda mama.

    “Tapi, aku enggak suka, dia katain mama.?” katanya yang mulai kesal.

    “Lho, memang gara2nya apa sich sampe si fulan, pake bawa2 katain mama segala?” tanya mama.

    “Tadi kita semua lagi bercanda ma, terus si fulan, pukul aku terus aku balas memukulnya, eeh dia langsung katain mama ku masih kecil, ya udah aku tampar aja lagi mukanya, aku bilang sama si fulan, kalau kamu marah sama aku, pukul dan katain aku aja, tapi jangan kamu bawa-bawa mamaku, memangnya mamaku salah apa sama kamu?” cerita sang anak yang mulai menangis.

    “Terus..” tanya mama pada anaknya

    “Terus kata si fulan, ya udah katain aja aku lagi, ya udah aku balas aja katain, dasar anak tukang sate?!”

    “Hush..!!kenapa kamu jadi ikutan si fulan, katain ayahnya?! Memang ayahnya salah apa sama kamu?” tegur mama sedikit keras.

    “Habis, fulan yang suruh aku balas ma?” bela sang anak.

    “Kamu enggak suka, mama dikatain sama si fulan? Lalu kenapa kamu juga ikutan katain ayahnya si fulan? Kamu kasihan sama mama, karena kamu enggak mau mama dibilang seperti itu sama si fulan. Kasihan juga dunk, ayahnya si fulan yang enggak tahu apa-apa dibawa oleh keributan kamu berdua. Itu berarti kamu tidak ada bedanya sama si fulan. Harusnya tamparan itu sudah cukup, kamu berikan padanya, dan enggak usah lagi kamu bawa orang tuanya.”

    Dan terlihat air mata yang masih menggenang di sudut matanya yang masih menyimpan rasa kesal, karena tidak ingin mamanya dibilang spt itu. Dan untuk mengalihkan pikirannya

    “Hayo, sekarang tidur sudah malam.” Alihkan mama dan disambut masih ada rasa kesal terlihat diwajah anak tertuanya.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • muhammad aanx farhan 1:39 am on 22 April 2010 Permalink

      kayaknya seneng tuh maen sama anak..??
      jadi pengen uy..??

    • tary 9:16 am on 22 April 2010 Permalink

      Didikan dan pelajaran yang baik untuk anak2….

  • erva kurniawan 1:39 am on 21 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Alloh Maha Mengetahui Yang Terbaik Untuk Hambanya 

    “Akhirnya ada juga Le Bis yang lewat. Kita pulang Le. Ya Allah, kok ya tega ya nda mau berhenti. Sabar ya Le, insya Allah akan ada lagi Bis yang lewat. “

    Bayi lelaki berumur sebelas bulan itu hanya tersenyum senyum mendengar perkataan ibunya. Kembali Ibu itu melambaikan tangannya kepada Bis yang lewat tapi tetap saja Bis itu tidak mau berhenti. Bayi itu tertawa, “Le…le…kok kamu bisa bisanya tertawa.”

    Bayi lucu itu tidak mau tahu teriknya mentari saat itu.

    “Alhamdulillah…ada juga yang berbaik hati mau berhenti.”

    “Cepet Bu cepet!“ ujar kondektur.

    “Ya Allah, Bis nya penuh Le, tapi ga apa apa, yang penting kita bisa pulang Le.“

    “Jogja , jogja!“ teriak sang kondektur mencari penumpang.

    “Lha wong sudah penuh sesak begini kok masih cari penumpang. “

    “Mas! Pie toh mas, sesak begini kok“ salah seorang penumpang geram.

    Tiba tiba bayi lelaki itu menangis. “Aduh Le, jangan nangis toh Le”

    Tapi bayi itu makin keras tangisnya. Suasana panas saat itu makin membuat para penumpang tidak nyaman, apalagi dengan kondisi penuh sesaknya manusia didalam bis tersebut.

    “Bu, anak e bisa disuruh diam nda sih?“ ujar salah seorang penumpang di sebelahnya.

    “Maaf pak, maaf. “

    “Huh, udah banyar mahal mahal, tapi kaya begini“ salah seorang lagi marah marah.

    “Saya ini mau tidur, disuruh diam bisa nda sih“ ujar seorang ibu ibu gemuk dibelakangnya.

    “Hey, anak siapa itu, macet begini bikin pusing saja“ teriak pak sopir.

    “Suruh turun saja pak sopir” teriak penumpang belakang.

    “Iya, turuni saja. Wong sudah sesak begini kok“ tambah yang lain.

    “Kalau anak itu nda mau diam, lebih baik kalian turun saja“ ujar pak kondektur.

    “Bapak bapak, Ibu ibu, siapa yang nda setuju kalau ibu ini disuruh turun?“ tanya salah seorang penumpang sambil berdiri.

    Semua terdiam.

    “Suruh turun saja“ salah seorang kakek berkata.

    “Ibu turun saja disini. Cari bis yang lain saja“ kata kondektur.

    “Maaf bapak bapak ibu ibu, kalau anak saya ini mengganggu, tapi anak ini kan masih kecil, belum mengerti apa apa. Tolonglah kami. Tolong“

    “Wah, nda bisa Bu, anak ibu ini main kenceng saja nangisnya. Disini banyak penumpang yang mau istirahat“ tambah pak Kondektur.

    Dengan tidak hormat, Ibu dan anak itu dipaksa turun dari bis.

    “Ya Allah, kok ya ada manusia manusia seperti itu. Kok ya nda kasihan sama anak bayi ini. Le, le, kamu tuh bikin susah ibumu saja le.“

    Dengan tertatih, ibu itu mencoba menyetop mobil yang lewat saat itu sambil berjalan berkilo-kilo meter. Dan sampai akhirnya.

    “Lho, ibu mau kemana, sudah hampir gelap begini kok. Kasihan anaknya.“ Tanya sang pengemudi.

    “Maaf, dek. Boleh ibu menumpang sampai kota”

    “Oh tentu tentu. Masuk Bu.“ jawab sang pengemudi.

    “Ternyata masih ada anak muda baik hati seperti adik ini ya.” Si bayi itu tertawa tawa ketika mereka menumpang dimobil itu.

    “Ibu ini sebenarnya mau kemana toh?“ Tanya sang pengemudi.

    “Saya mau ke Jogja, mau pulang.“

    “Wah, kebetulan kalau begitu, saya juga mau kerumah mbah yang ada di Jogja. Kalau begitu saya antar ibu sampai rumah, kasihan bayi ne.“ ujar sang pengemudi.

    “Tapi saya masih bingung, kenapa kok ya bisa ibu ini sendirian ditengah sawah tadi?“

    “Oh, saya itu juga bingung dek, kok ya ada orang yang tega menurunkan saya, gara gara anak saya ini terus terusan nangis.“ jawab si Ibu

    “Masa sih bu.  Wah, kalau itu kebangetan toh bu.“ timpal sang pengemudi.

    **

    Beberapa jam kemudian.

    “Wah, ada apa ya kok nda biasa biasanya macet begini. Mas mas, aqua nya satu mas. Mas, ada apa toh mas, kok bisa macet begini ? panjang ya mas macet nya?“ tanya anak muda itu.

    “Wah iya mas, katanya ada kecelakaan bis didepan sana.“ jawab penjual minuman.

    “Oh…terimas kasih ya..mas. Ini bu, kalau ibu haus.“

    “Oh, ini toh bisnya, ya Allah bisnya hangus terbakar, oh pantes. Tabrakan dengan truk besar.“ heran anak muda itu.

    Prit prit prit, seorang polisi sedang mengatur jalannya arus lalu lintas yang macet itu.

    “Pak ada yang selamat pak?“

    “Kasihan dek, semua penumpang dan sopirnya tewas.“ jawab Polisi.

    “Ya Allah, alhamdulillah. Le, kamu untung kamu nangis le.“ kata si Ibu

    “Lha kok, ibu malah alhamdulillah wong ada musibah seperti ini kok.“ timpal sang pengemudi

    “Dek, ini lho dek bis yang ibu naiki itu.“

    “Ha, yang bener toh bu? Ya Allah. Kalau begitu anak ibu ini sudah menyelamatkan ibu lho. Itu adalah kasih sayang Allah bu, lewat anak ibu ini.”

    “Ya..Allah, apa jadinya kalau saya dan anak saya masih menumpang bis itu ya…dek, alhamdulillah Alhamdulillah.”

    ~ Diambil dari kisah nyata ~

    Sesungguhnya Allah itu maha mengetahui apa apa yang terbaik untuk hambanya. karena itu pandai pandailah mencari Hikmah dibalik sebuah musibah dan ingat lah selalu untuk bersabar. Karena Allah selalu bersama orang orang yang sabar.

    ***

    Sumber: tulisan sahabat

     
    • tary 4:46 pm on 22 April 2010 Permalink

      Kita harus tetap yakin dibalik semua kejadian pasti da hikmahnya dan Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya.Allah sangat menyayangi kita semua.

    • annisa 7:51 am on 23 April 2010 Permalink

      nice story..Ya.. memang orang sabar di sayang Allah..

  • erva kurniawan 1:16 am on 19 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Harga Sebuah Baju 

    Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University. Mereka meminta janji.

    Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

    “Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut.

    “Beliau hari ini sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat.

    “Kami akan menunggu,” jawab sang Wanita.

    Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak.

    Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.

    “Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,” katanya pada sang Pimpinan Harvard. Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka.

    Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.

    Sang wanita berkata padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkah?” tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

    Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. “Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan.”

    “Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.”

    Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung?! Kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.”

    Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang.

    Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan,”Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?”

    Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan. Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.

    Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.

    Catatan:

    Kita, seperti pimpinan Harvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai. Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju, acap menipu.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • KutuBacaBuku 1:33 am on 19 April 2010 Permalink

      hmm … ini kisah nyata sejarah terbentuknya Stanford yah ?? atau hanya anekdot ??

      Klo ini kisah nyata, sepertinya banyak juga contoh2 lain seperti Bob Sadino ketika masuk mall, dan tokoh2 lain. Miris memang … tp kan mereka sendiri yg rugi

    • zal daus 3:03 am on 22 April 2010 Permalink

      bukan Alllah menyukai keindahan…..pakai lah yang pantas bagi kita yang tidak menyiratkan kesombongan.

    • annisa 8:04 am on 23 April 2010 Permalink

      ya.. memang kesederhanaan itu bagus untuk kita,
      harga pakaian yg mahal dgn murah sama2 bermanfaat untuk menutup aurat..:D

    • sentrabaju 10:33 pm on 3 Mei 2010 Permalink

      Kebanyakan orang hanya melihat orang lain dari fisiknya saja. padahal keunikan seseorang bukan dari sisi fisiknya, tetapi dari hati dan perbuatannya. Orang dikenang bukan dari baju yang dipakainya tetapi dari perbuatan yang dilakukannya.

  • erva kurniawan 1:01 am on 18 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Jangan Ada Dusta 

    oleh: Dewi Mar’atusshalihah”

    “Sofi, carikan aku calon istri…”

    Waaaaa…….. Gimana ini…, nyari kemana? Supermarket, Tanah Abang, Glodok, atau Toko Kelontong? Emang Gampang kayak nyari kacang rebus, gitu? Enak aja… Nyomblangin… Mau ngasih berapa sih prangkonya? he he, matre… Tapi bagaimanapun, aku kan baik hati…cieeee…….

    ***

    Ku obrak-abrik memori otakku. Ku buka album kenanganku, mulai dari yang di TK hingga kini di kampusku. Ku bolak-balik buku telponku, kularik dari A sampai Z. Yang mana yang cocok dengan Fahrur, rekan Rohisku. Ups…, Fatima Khairunnisa. Teman SMAku di Yogya dulu.

    Gadis manis berlesung pipit, dengan kacamata yang menambah cantik wajah ovalnya. Yang memperkenalkanku untuk berjilbab, membawaku masuk Rohis, mengajariku menjadi muslimah sejati. Temanku yang seindah namanya. Puteri kesayangan Nabi, yang memang khairunnisa, sebaik-baik perempuan. Inilah sebaik-baik pilihan, untuk Fahrur.

    ***

    Liburan mid-semester, aku pulang ke Yogya sebentar, yang juga untuk melanjutkan misiku, mencarikan istri.

    ***

    Parangtritis, pantai di sebelah selatan Yogyakarta. Karang yang menjulang, ombak yang saling berkejaran di bawah birunya langit, yang katanya menjadi persemayaman Nyi Roro Kidul, Ratu cantik Pantai Selatan, wallahu a’lam.

    Namun, di tempat inilah kami bernostalgia, mengenang masa-masa di SMA, bersama sobatku, calon mangsaku.

    Setelah lelah berjalan, berlari, melompat dan melepaskan jerit ketika gulungan ombak menghampiri kaki. Kami duduk bersisian berkiblatkan laut, diam membisu membiarkan matahari tenggelam di lautan lepas, dalam gulungan buih putih di permukaan biru, berkejaran dan terantuk pada sebongkah cadas, tak bosan-bosannya menyapa dan membelai cadas sambil mengulang-ulang nyayiannya dalam irama yang datar.

    Hanya jeritan camar yang menjadi pengiring irama abadi di pinggir pantai itu. Kubayangkan, kehidupan manusia itu seperti benturan buih dan cadas.

    Cadas telah mengukuhkan kekuatannya ketika dia terus menerus dibenturkan oleh besar kecilnya riak buih yang menghantam. Tanpa jeda.

    Manusia yang baik adalah manusia yang kuat seperti cadas. Jangan yakini kekuatan manusia sebelum dibenturkan oleh realitas. Cadas telah tawakal dan pasrah diri untuk menerima gempuran-gempuran buih kenyataan yang didorong oleh badai takdir. Gempuran itu tak boleh melemahkan, meluluhkan ataupun menghancurkan.

    Jadilah seperti cadas, gempuran menjadikannya lebih kuat dari sebelumnya.

    “Kenapa nggak dengan kamu aja Sofi?”, tanyanya ketika dengan perlahan ku tawarkan niatku untuk mencarikan istri rekan dakwahku.

    Ku hanya tersenyum, dengan datar. Dan kembali kuyakinkan Nisa, bahwa ia adalah makhluk-Nya, yang dikirimkan oleh-Nya, untuk menemani dan menguatkan langkah dakwah sobatku.

    Rembang mulai turun, setengah bola api dari semesta telah tenggelam di lautan barat. Lapis awan oranye diam bermandi cahaya matahari yang makin lama makin lemah sinarnya.

    Sementara ratusan burung berkumpul mengitari awan itu, seakan salam penghormatan terakhir pada hari yang sebentar lagi akan ditinggalkan.

    Waktunya pulang, dengan membawa seribu perasaan lega di hati, atas persetujuan sobatku.

    ***

    Kulangkahkan kakiku memasuki pelataran rumah yang sudah tak asing lagi. tempat kami berdua bercanda, bercengkerama sepulang sekolah dulu.

    Pohon jambu itu masih ada.

    Lima tahun yang lalu, aku nangkring diatas sana, memilih jambu yang telah ranum memerah. Lalu tiba-tiba kuteriak dan terjatuh, karna seluruh tubuhku telah dipenuhi semut Rangrang. Di teras itu, kami makan rujak bersama, hingga merah semua wajah kami, penuh keringat, kepedasan.

    Di teras itu, kini bersanding pemilik rumah itu, pemilik nama indah itu, Fatimah Khairunnisa, bersama shobatku.

    ***

    “Ono opo tho ‘Ndhuk, kok pulang dengan wajah mbesengut begitu…?”

    Ku peluk Ibuku yang semakin menua, dengan rambut ditumbuhi uban satu-dua. Ingin ku luapkan perasaanku, namun ku tak tega menambahi beban yang telah menggelayuti wajah keriputnya.

    “Yo wis, cepat mandi, lalu lihat aja di dapur, Ibu sudah masak sayur kesukaanmu…”

    Ibu, ibu, Ini yang membuatku kangen untuk pulang terus.

    Nasi liwet, Pindang goreng, Bening Jowo, dan tak bisa ketinggalan sambel terasi.

    Wah, kalau sudah begini, Brad Pitt lewat pun aku tak peduli.

    ***

    Malam ini, begitu nikmatnya ku berasyik masyuk menyapa-Mu

    Di sajadah panjang ini, ku limpahkan semua derai tangisku

    Tuhan, aku bukan Khadijah, Sang ummahatul mukminin, dengan sejuta talenta, yang telah mengajukan diri mendampingi hidup Sang Rasul mulia.

    Aku bukan Srikandi, sang Wanodya ayu tama ngambar arumming kusuma, yang mempunyai mata nDamar kanginan, hidung mBawang tunggal, bulu mata nanggal sepisan, dan pipi yang nDuren sejuing. Sehingga berani ngunggah-unggahi Arjuna.

    Aku hanya gadis yang belajar dari seorang ibu yang berhati rembulan bersemangat mentari, dan seorang ayah yang segarang singa selembut sutra.

    Ku tak layak Tuhan.

    Ku tatap dinding kamarku, terpampang besar sekali gambaran rencana masa depanku, yang tersusun rapi dalam “Peta Hidup”, seperti yang diajarkan Bunda Marwah.

    Kususuri kotak demi kotak umurku. Mataku terpaku pada kotak ke 26, di tahun 2007. Ada dua point tertulis disana, S3, dan menikah. Kutulis sedikit footnote kecil disana “F”, hanya itu.

    Tuhan, maafkan hamba telah lancang. Bukan kuberniat mendahului qadha-Mu. Ini hanya harapanku, rencanaku, inginku. Namun, keputusan-Mu, itu yang pasti.

    Ku ambil Tip Ex. Tak boleh kutulis inisial apapun di kotak peta hidupku.

    Tuhan, jangan biarkan ku menangisi perkara yang telah Kau jamin dan Kau tetapkan. Namun permudahkan aku menangisi dosa dan kerinduanku pada-Mu. Nisa, hadiah terindahku untuknya.

    ***

    Petang menjelang, tasyakuran pernikahanpun usai.

    Setelah tamu-tamu pulang, meninggalkan lelah sekaligus gembira kedua mempelai dan keluarga, Fahrur segera menuju kamarnya, menyendiri, tergugu di atas sajadah. Lirih ia bergumam; Sofi, semoga ini hadiah terindahmu. Semoga ku bisa menepis perasaan ini.

    Ku takut memetikmu, ku tak layak disisimu. Cukup bagiku hadiahmu ini. Ku kan jaga, istriku, pilihanmu, amanahmu.

    Ku teringat akan puisi yang ku dapatkan dari temanmu, tentang surat cinta, yang menyentakkan kesadaranku, mematahkan nyaliku untuk menyuntingmu.

    (ehhh…puisi siapa ya ini….)

    **

    Wanita suci

    Bagiku kau bukanlah bunga

    Tak mampu aku samakan kau dengan bunga-bunga

    Terindah dan terharum sekalipun

    Bagiku manusia adalah mahluk terindah

    Tersempurna dan tertinggi

    Bagiku dirimu salah satu manusia terindah

    Tersempurna dan tertinggi

    Karenanya kau tak membutuhkan persamaan

    Wanita Suci

    Dengan menatapmu, telah membuatku terus mengingatmu

    Dan memenuhi kepalaku dengan inginkanmu

    Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku

    Membuatku inginkan dirimu sepenuh hati, seluruh jiwa sesemangat mentari

    Dirimu terlalu suci untuk hadir dalam khayalku

    Yang penuh dengan lumpur…

    Wanita suci

    Menghabiskan waktu berdua denganmu bagai mimpi tak berujung

    Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu

    Meski ujung penutupmupun tak pernah berani kusentuh

    Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku…

    Karena aku biasa memakaikan topeng keindahan pada wajah burukku

    Meniru pakaian para rahib, kiai dan ulama

    Meski hatiku lebih kotor dari kubangan lumpur

    Wanita suci

    Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci

    Yang dengan sepenuh diri membawamu pada Ilahi

    Untuknya dirimu ada

    Tunggu sang lelaki suci menjemputmu

    Atau kejar sang lelaki suci itu

    Dialah hakmu, seperti dicontohkan ibunda Khadijah

    Jangan ragu…, jangan malu…

    Wanita suci

    Bariskan harapanmu pada istikharah penuh ikhlas

    Relakan Tuhan pilihkan lelaki suci bagimu

    Mungkin sekarang atau nanti…

    Bahkan mungkin tak ada, sampai kau mati

    Karena kau terlalu suci,

    untuk semua lelaki,

    dalam permainan ini

    Karena lelaki suci itu menantimu di istana kekal

    Yang kau bangun dengan kekhusu’an ibadah

    Wanita suci

    Pilihan Tuhan tak selalu seindah inginmu

    Tapi itulah pilihan-Nya

    Tak ada yang lebih baik dari pilihan-Nya

    Sang Kekasih Tertinggi

    Tempat kita memberi semua cinta

    Dan menerima cinta yang tak terhingga

    Dalam tiap detik hidup kita

    (untuk yg ada disana, Dia-lah Maha Pembuat Skenario Terbaik, biarlah Dia yang menentukan)

    ***

    telah diterbitkan di majalah KUBAH, Agustus 2005

     
  • erva kurniawan 3:27 am on 5 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Doa Kang Suto 

    Pernah saya tinggal di Perumnas Klender. Rumah itu dekat mesjid yang sibuk. Siang malam orang pada ngaji. Saya tak selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain.

    Lingkungan sesak itu saya amati. Tak cuma di mesjid. Di rumah-rumah pun setiap habis magrib saya temui kelompok orang belajar membaca Al Quran. Anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.

    Di jalan Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme. Mereka cabang sebuah tarekat yang inti ajarannya berserah pada Tuhan. Mereka banyak zikir. Solidaritas mereka kuat. Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana.

    Dua puluh tahun lebih di Jakarta, tak saya temukan corak hidup macam itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini?

    Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca sajak di Senayan. Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba jadi superstar pengajian (ceramahnya melibatkan panitia, stadion, puluhan ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi saya dibuat bertanya: jawaban sosiologis apa yang harus diberikan buat menjelaskan gairah Islam, termasuk di kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?

    Di Klender yang banyak mesjid itu saya mencoba menghayati keadaan. Sering ustad menasihati, “Hiasi dengan bacaan Quran, biar rumahmu teduh.”

    Para “Unyil” ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya, orang seperti kemarok terhadap agama.

    Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan, setapak demi setapak.

    Ustad Betawi itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena, biarpun sudah tua, ia masih bersemangat belajar. Katanya, “Menuntut ilmu wajib hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat amal kita cuma tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita tak sia-sia.”

    Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai. Alip, ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa menirukan pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, ‘ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain.

    “Ain, Pak Suto,” kata Ustad Bentong bin H. Sabit.

    “Ngain,” kata Kang Suto.

    “Ya kaga bisa nyang begini mah,” pikir ustad.

    Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang runyem itu. Tapi Kang Suto tak putus asa. Dia cari guru ngaji lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto diajarinya baca Al-Fatihah.

    “Al-kham-du …,” tuntun guru barunya.

    “Al-kam-ndu …,” Kang Suto menirukan. Gurunya bilang, “Salah.”

    “Alkhamdulillah …,” panjang sekalian, pikir gurunya itu.

    “Lha kam ndu lilah …,” Guru itu menarik napas. Dia merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Quran.

    Kang Suto takut. “Mau belajar malah cari dosa,” gerutunya.

    Ia tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah, minta pandangan keagamaan saya.

    “Begini Kang,” akhirnya saya menjawab. “Kalau ada ustad yang bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima tidaknya, urusan Tuhan. Lagi pula bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka semua, dan surga isinya cuma Arab melulu.” Kang Suto mengangguk-angguk.

    Saya ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang tak fasih berdoa. Beliau langsung ditegur Tuhan. “Biarkan, Musa. Yang penting ketulusan hati, bukan kefasihan lidahnya.”

    “Sira guru nyong,” (kau guruku) katanya, gembira.

    Sering kami lalu bicara agama dengan sudut pandang Jawa. Kami menggunakan sikap semeleh, berserah, pada Dia yang Mahawelas dan Asih. Dan saya pun tak berkeberatan ia zikir, “Arokmanirokim,” (Yang Pemurah, Pengasih).

    Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi. Ia membisikkan kegelisahannya pada Tuhan.

    “Ya Tuhan, adakah gunanya doa hamba yang tak fasih ini. Salahkah hamba, duh Gusti, yang hati-Nya luas tanpa batas.”

    Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya, mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi.

    ***

    Mohammad Sobary, Editor, No.21/Thn.IV/2 Februari 1991

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • annisa 3:54 pm on 15 April 2010 Permalink

      subhanallah.. cerita yg bagus..,
      semoga kita tidak berputus asa dari Rahmat Allah..,
      karena sbg manusia biasa tentu kita banyak kekurangan
      dlm mencari ilmu-Nya, dan semoga Allah memaafkan kita smua amiin…

  • erva kurniawan 3:11 am on 4 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Tawakal Dan Ikhtiar 

    Secara singkat AA Gym menyatakan bahwa manusia harus Tawakal, harus percaya bahwa Allah SAW itu sangat sayang kepada Umat Manusia, oleh karena itu telah menyediakan segala yang ada di bumi ini untuk keperluan manusia.

    Tapi menurut AA Gym manusia tidak cukup hanya Tawakal. Karena Allah juga tidak suka kepada manusia yang tidak berupaya, tidak ber-Ikhtiar.

    Dicontohkan oleh AA Gym bahwa manusia itu hendaknya memperhatikan apa yang dilakukan oleh seekor cecak ketika dia harus menghidupi dirinya mencari makan.

    Cecak itu adalah binatang yang melata, merayap, padahal makanannya adalah nyamuk (binatang yang bisa terbang).

    Teryata cecak itu tetap tawakal, dia percaya Allah tidak akan menyia nyiakan dia tanpa makanan di dunia ini, tapi cecak juga mengerti bahwa untuk tetap dapat hidup, tidak cukup hanya tawakal. Bila hanya berbekal Tawakal, maka dia tak akan bisa menangkap cecak yang selalu terbang.

    Jadi apa yang harus dibuat nya selain tawakal? Nah cecak harus berusaha (Ikhtiar), dia akan berupaya mengejar nyamuk yang dapat terbang.

    Bagaimana caranya? Cecak lalu bertindak seolah olah dia itu benda mati, kadang kadang secara diam diam dia juga harus merayap. Semua perbuatannya itu dilakukan dengan hati hati, supaya nyamuk tidak sadar, bahwa didekat nya ada seekor cecak yang siap menyergapnya.

    Setelah ada nyamuk yang betul betul dekat, maka HAP, lalu ditangkap. (ingat lagu anak2 berjudul cecak cecak didinding?).

    Lalu AA Gym juga mencontohkan bagaimana seorang sosok manusia yang telah mengikuti langkah langkah seperti cecak.

    Seorang manusia yang percaya (tawakal) tapi dia juga berikhtiar

    Adalah seorang penjual mangga, dia percaya bahwa semua perbuatan yang didasari dengan tawakal pasti disenangi oleh Allah, tapi dia tidak semata mata mengandalkan ke-tawakalannya tersebut, dia juga berikhtiar.

    Pagi pagi setelah sholat subuh, dia lap satu persatu mangga mangga yang hendak di jual nya (supaya sedap dipandang mata), setelah itu ditatanya mangga mangga itu dalam tumpukan yang tersusun dengan baik di keranjang yang hendak dipikulnya.

    Sang istri melihat kerajinan suaminya mempersiapkan dagangan nya itu, ketika suami berangkat, sang istri mendoakan semoga rezeki dilimpahkan Allah kepada suami nya yang tawakal dan rajin itu.

    Dipasar, pedagang mangga itu tidak hanya sendirian, disebelah kanan dan kiri banyak juga penjual mangga seperti halnya dia yang sedang berupaya mencari sesuap nasi.

    Bila ada seorang ibu atau bapak yang mampir di tempat dagang nya, maka pedagang kita ini melayani dengan sopan, tidak marah bila ditawar oleh calon pembeli, dan tidak juga kesal bila ternyata pembeli itu tidak jadi membeli, atau malah akhirnya membeli di lapak sebelahnya.

    Dalam hati nya si pedagang berkata, saya telah berikhtiar sebaik-baiknya, saya pun tawakal, bahwa Allah senantiasa memperhatikan rezeki saya, maka ketika sore tiba, pulang lah dia kerumah, disambut oleh sang istri, yang menanyakan bagaimana peruntungan hari ini.

    Pedagang kita menjawab, alhamdulillah bu, tidak ada yang beli, tapi saya sudah puas bu, tidak ada satu kali pun pikiran saya buruk, tak satu patah kata yang kasar keluar dari mulut saya, sebaliknya saya telah melayani para calon pembeli dengan ramah, hati mereka rata-rata terhibur oleh keramahan saya, saya telah berhasil membuang jauh jauh rasa dengki saya kepada pedagang disebelah, ketika pembeli yang semula menawar manggaku, ternyata membeli dari lapak nya. Saya telah berbuat banyak kebaikan bu, tapi tidak satupun Mangga kita terjual.

    Maka istrinya pun membalas, alhamdulillah Pak, itu lah rezeki kita.

    Maka mereka berdua mengucapkan doa syukur, kepada Allah SAW.

    Namun, tak berapa lama kemudian datang lah anak mereka, dengan berteriak teriak gembira, “Bapak, Ibu, alhamdulillah saya telah terpilih sebagai mahasiswa yang mendapat beasiswa”.

    Nah, rezeki bukan hanya berbentuk uang, rezeki bisa berbentuk apa saja, dan ternyata rezeki itu tidak harus datang melalui diri kita, tapi dapat saja melalui anak kita, melalui istri kita, bahkan melalui orang tua kita.

    rezeki bisa berupa kesehatan

    rezeki bisa berupa kerukunan keluarga

    rezeki bisa berbentuk bea siswa yang diterima oleh anak

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • djembut 1:48 pm on 23 September 2012 Permalink

      sip om

  • erva kurniawan 3:01 pm on 23 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Yang Tidak Bisa Diucapkan Ayah 

    Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan,atau yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.

    Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya. Lalu bagaimana dengan Papa?

    Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu? Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

    Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil. Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu.  Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya”

    Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka.

    Tapi sadarkah kamu? Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

    Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba. Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang” Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

    Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.

    Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

    Ketika kamu sudah beranjak remaja.  Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”. Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga. Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu.

    Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalahMama.  Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

    Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia. :’) Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu. Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?

    Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir.  Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut.  Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .

    Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang? “Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa”

    Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti.  Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa

    Ketika kamu menjadi gadis dewasa. Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain.  Papa harus melepasmu di bandara. Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu? Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat. Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”. Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT, kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

    Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa. Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain. Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan.

    Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak. Tidak bisa!” Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu”. Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

    Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”

    Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin padaPapa untuk mengambilmu darinya. Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin.. Karena Papa tahu.  Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

    Dan akhirnya. .

    Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia. Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis? Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa. Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: “Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik. Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik. Bahagiakanlah ia bersama suaminya. ”

    Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk.  Dengan rambut yang telah dan semakin memutih. Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya. Papa telah menyelesaikan tugasnya.

    Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita.  Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat.  Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis. Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..

    Saya mendapatkan notes ini dari seorang teman, dan mungkin ada baiknya jika aku kembali membagikannya kepada teman-teman ku yang lain.

    Tulisan ini aku dedikasikan kepada teman-teman wanita ku yang cantik, yang kini sudah berubah menjadi wanita dewasa serta ANGGUN, dan juga untuk teman-teman pria ku yang sudah ataupun akan menjadi ayah yang HEBAT !

    Yup, banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan Ayah / Bapak / Romo / Papa / Papi kita.  tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyi dibalik hatinya.

    ***

    Dari email teman

     
    • teguh prayoga 11:28 am on 28 Maret 2010 Permalink

      Bapak ku pergi meninggalkan kami sekeluarga. . .:(

    • Hendra 4:00 pm on 30 Maret 2010 Permalink

      Allah hu akbar

    • rizky TheFallen 12:56 am on 5 April 2010 Permalink

      subhanallah, jadi pengen nangis. walaupun gw cowok :’)

    • yudhy 8:38 pm on 6 April 2010 Permalink

      itulah yang terjadi padaku saat ini, bahkan dari saya kecil sampai saya dewasa blum pernah sekalipun beliau memukul saya dan kakak dan adik ku,beliau mengajarkan kami dengan lemah lembut tanpa kekerasan
      I love forever my parent

    • reeza 11:33 pm on 4 Mei 2010 Permalink

      Menyentuhh..mengingatkan akan papaku yg mati2an membanting tulang. ♡ u pah ☺ …

  • erva kurniawan 7:46 am on 21 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Santri dan Kyai 

    Si Santri dan Si Kyai

    Ada seorang Santri suatu hari datang kepada kyai. Santri ini berpendidikan umum progresif. Sedangkan Si Kyai adalah seorang otodidak agama yang aktif. Si Santri memahami Islam secara tekstual. Sedangkan Si Kyai sebaliknya, mencerna agama ini secara kontekstual. Si Santri muda ini meletup-letup semangatnya. Sedangkan Si Kyai setengah baya ini yang tinggal di desa menonjol sikap tawadhu’-nya terutama terhadap ilmu.

    Sekali waktu Santri tersebut mengusulkan sebuah seminar ilmiah kepada sang kyai di pondoknya. Seraya mengapit sehelai stofmap berisi proposal ketik apik komputer, mahasiswa yang pernah mengaji pada kyai ini menyodorkan topik bahasan bertema Telaah Kritis Atas Hadits Bukhari.

    “Saya yakin peminatnya pasti banyak, kyai. Sebab, ini khan memang lagi trend-nya!,” ujar si Santri berapi-api.

    “Anak muda,” sahut Si Kyai, “Tema itu terlalu sombong untuk diangkat. Apakah kita sudah mengaca diri, siapa sih kita ini, kok mentang-mentang mau mengkritik Bukhari.”

    Kemudian Si Kyai melanjutkan penuturannya, bahwa betapa Imam Bukhari (wafat tahun 256 H) memang sudah pernah dikritik oleh para ulama hadits sekaliber berat, seperti Darqutny (wafat tahun 385 H), Al-Ghassany (wafat tahun 365 H), dan pakar ilmu-ilmu hadits lainnya. Tiga abad kemudian Ibnu Shalah (wafat tahun 643 H) dan Imam Nawawi (wafat tahun 676 H) juga melakukan hal yang sama, yaitu mengkaji dan menguji kodefikasi karya Bukhari dan akhirnya mereka sepakat memutuskan bahwa Shahih Bukhari merupakan kitab paling otentik sesudah Al-Qur’an. Para ahli mengakui bahwa abad III dan VI adalah merupakan masa matang dan suburnya karya ilmiah, terutama di bidang studi hadits.

    Si Santri kemudian menyela, “Tapi kyai, berdasarkan fakta, ada beberapa hadits di dalam Bukhari yang tidak sejalan dengan logika dan tak relevan dengan sejarah. Bahkan ada yang bertentangan dengan sains modern.”

    Si Kyai pun lalu menjawab, “Hadits-hadits riwayat bukhari itu sejalan dengan logika. Jika kamu tak paham, barangkali logikamu sendiri yang belum cukup peka untuk menangkapnya. Pikiran seperti itu mirip telaah para orientalis yang hanya berdasarkan prakonsepsi. Justru menurut saya, metodologi hadits yang dikembangkan Bukhari dalam seleksi mata rantai perawi yang begitu njlimet (kompleks) merupakan khazanah kita yang paling besar. Sesuatu yang (apalagi saat itu) jarang dikerjakan oleh ahli sejarah manapun dalam menelusuri sumber-sumber berita. Sebuah karya monumental yang tak tertandingi!.”

    Dengan agak menyesal, Si Santri muda itu berkata lagi, “Lantas topik apa pula yang cocok untuk seminar, biar kelihatan wah begitu?.”

    Si Kyai menyahut :

    “Bikinlah seminar di dalam dirimu sendiri, dengan tema yang pas mungkin Sudah Sejauh Mana Kita Merealisasikan Sunnah Nabi Dalam Kehidupan Sehari-hari. Barangkali refleksi seperti ini akan lebih bermanfaat ketimbang kamu harus mengerjakan yang muluk-muluk, tak ketahuan juntrung faedahnya. Malahan dampaknya dapat diduga lebih dahulu, yaitu akan membuat orang awam jadi kian bingung.”

    Sadar disindir, Si Santri hanya tersenyum kecut. Mengakhiri nasehatnya, Si Kyai berkata, “Anak muda!, jadilah penyuluh tuntunan, jangan jadi tontonan.” Si Santri tersebut akhirnya kembali bermukim di desa dan menekuni kitab kuning.

    ***

    [Disarikan dari Sorotan Cahaya Ilahi, M.Baharun, cetakan I, 1995, penerbit Pustaka Progressif, Surabaya]

     
  • erva kurniawan 6:26 am on 18 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Dan Bulan Pun Telah Terbelah 

    Allah berfirman, “Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah” (Q.S. Al-Qamar: 1)

    Apakah kalian akan membenarkan kisah yang dari ayat Al-Qur’an ini menyebabkan masuk Islamnya pimpinan Hizb Islami Inggris ?? Di bawah ini adalah kisahnya:

    Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah ?

    Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut: Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim.

    Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur’an. Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya, “Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi [Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah] mengandung mukjizat secara ilmiah?

    Maka saya menjawabnya, “Tidak, sebab kehebatan ilmiah diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjangkaunya. Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya. Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Dan memang Allah ta’alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu.

    Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah membelah bulan. Kisah itu adalah sebelum hijrah dari Mekah Mukarramah ke Madinah. Orang-orang musyrik berkata, “Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu (mengejek dan mengolok-olok)?”

    Rasulullah bertanya, “Apa yang kalian inginkan?”. Mereka menjawab, “Coba belah bulan.”

    Maka Rasulullah pun berdiri dan terdiam, lalu berdoa kepada Allah agar menolongnya. Maka Allah memberitahu Muhammad agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Maka Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan, dan terbelahlah bulat itu dengan sebenar-benarnya. Maka serta-merta orang-orang musyrik pun berujar, “Muhammad, engkau benar-benar telah menyihir kami!” Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja “menyihir” orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada ditempat itu. Maka mereka pun pada menunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan. Maka orang-orang Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, maka orang-orang musyrik pun bertanya, “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?”Mereka menjawab, “Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh masing-masingnya kemudian bersatu kembali.”

    Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir (ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya, “Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, “Ini adalah sihir yang terus-menerus”, dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap ….sampai akhir surat Al-Qamar.

    Ini adalah kisah nyata, demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar. Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdiri seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, “Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan??”

    Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab: Dipersilahkan dengan senang hati.”

    Daud Musa Pitkhok berkata, “Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna-makna Al-Qur’an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Qur’an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya, “Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah…”

    Maka aku pun bergumam: Apakah kalimat ini masuk akal? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu? Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari.

    Akan tetapi Allah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasam hamba-Nya dalam pencarian kebenaran. Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi diantara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS. Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besardalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa, padahal saat yang sama dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, sakit dan perselisihan.

    Presenter pun berkata, ” Andai dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih banyak berguna”. Ketiga pakar itu pun membela diri dengan proyek antariksanya dan berkata, “Proyek antariksa ini akan membawa dampak yang sangat positif pada banyak segmen kehidupan manusia, baik segi kedokteran, industri, dan pertanian. Jadi pendanaan tersebut bukanlah hal yang sia-sia, akan tetapi hal itu dalam rangka pengembangan kehidupan manusia.

    Dan diantara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakiknya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar.

    Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget dan berkata, “Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?” Mereka pun menjawab, “Tidak, ..!!! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun. Maka presenter itu pun bertanya, “Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya. Mereka menjawab, “Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali.!!!

    Presenter pun bertanya, “Bagaimana kalian bisa yakin akan hal itu?” Mereka menjawab, “Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, “Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali”.

    Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, “Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, “Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin !!!! Maka, agama Islam ini tidak mungkin salah … Maka aku pun berguman, “Maka, aku pun membuka kembali Mushhaf Al-Qur’an dan aku baca surat Al-Qamar, dan … saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 6:07 am on 17 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Anugerah Terindah 

    Jika kita bertanya kepada Siti Masyithoh, “Anugerah terindah apa yang pernah kau miliki?”. Maka Siti Masyithoh pasti akan menjawab “Sisir! Karena dengan sisir lah aku bisa membela ketauhidanku terhadap Fir’aun sehingga Fir’aun menyiapkan sebuah tempat pembakaran unutk merebusku hingga lebur semua tulang-tulangku. Dan semua karena Allah semata”

    Jika kita bertanya kepada Bilal bin Rabbah, “Anugerah terindah apa yang pernah kau miliki?”, Maka Bilal pasti akan menjawab “Suara! Karena dengan suaraku ini aku bisa mengumandangkan dan menggemakan adzan keseluruh pelosok negeri mengajak orang-orang untuk sholat. Dan semua karena Allah semata.”

    Jika kita bertanya kepada Faris ‘Audah (seorang bocah Palestina) “Anugerah terindah apa yang pernah kau miliki?” Maka dia pasti akan menjawab “Batu! Karena dengan bersenjatakan batu inilah aku berjihad menghadapi yahudi laknatullah hingga akhirnya sebuah peluru menerjang dan menjatuhkan ku. Dan semua karena Allah semata.”

    Bagaimana jika pertanyaan itu kemudian ditanyakan kepada kita?

    “Anugerah terindah apa yang pernah kumiliki?”

    Bisakah kita menjawabnya? Atau kita hanya terdiam dan tersenyum tidak tahu mesti menjawab apa.

    Sungguh orang-orang yang telah mendahului kita telah memberikan contoh yang begitu jelas. Semua nikmat dan anugerah yang kita punya akan menjadi “Anugerah Terindah” kita apabila kita menggunakannya di jalan Allah.

    Allah memberi kita suara yang indah nan merdu, tapi pernahkah suara kita itu mengumandangkan adzan? atau pernahkan untuk tilawah Al-Qur’an? atau hanya sebuah pekik takbir “Allahu akbar!!” ? atau jangan-jangan suara kita justru menjadi sumber bencana kita? justru menjadi pengantar kita ke neraka? Na’udzubillah min Dzalik.

    Allah memberi kita anugerah-anugerah yang berbeda-beda. Lalu ada sebuah pertanyaan : “Apa anugerah terindah yang pernah kumiliki?”

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • julia nanda 4:45 pm on 22 Maret 2010 Permalink

      y,,,memang benar,saya tdk tau ingin menjawab apa?karena saya blm berbuat apapun dijalan Allah,,saya merasa tidak berguna,,,

  • erva kurniawan 5:15 am on 14 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Usai Menyaksikan Jenazah Raja Fahd, Seorang Pendeta Italia Masuk Islam 

    Hidayah Allah datangnya tidak bisa diraba-raba. Apabila Allah menghendaki maka ia akan mendatangi hamba yang berbahagia itu. Demikianlah kisah seorang pendeta asal Italia.

    Seorang pendeta terkenal di Italia mengumumkan masuk Islam setelah menyaksikan jenazah raja Arab Saudi, Fahd bin Abdul Aziz, untuk kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal itu terjadi setelah ia melihat betapa sederhananya prosesi pemakaman jenazah yang jauh dari pengeluaran biaya yang mahal dan berlebihan.

    Sang mantan pendeta telah mengikuti secara seksama prosesi pemakaman sang Raja yang bersamaan waktunya dengan jenazah yang lain. Ia melihat tidak ada perbedaan sama sekali antara kedua jenazah tersebut. Keduanya sama-sama dishalatkan dalam waktu yang bersamaan.

    Pemandangan ini meninggalkan kesan mendalam tersendiri pada dirinya sehingga gambaran persamaan di dalam Islam dan betapa sederhananya prosesi pemakaman yang disaksikan oleh seluruh dunia di pekuburan ‘el-oud’ itu membuatnya masuk Islam dan merubah kehidupannya. Tidak ada perbedaan sama sekali antara kuburan seorang raja dan penguasa besar dengan kuburan rakyat jelata. Karena itulah, ia langsung mengumumkan masuk Islam.

    Salah seorang pengamat masalah dakwah Islam mengatakan, kisah masuk Islamnya sang pendeta tersebut setelah sekian lama perjalanan yang ditempuh mengingatkan pada upaya besar yang telah dikerahkan di dalam mengenalkan Islam kepada sebagian orang-orang Barat. Ada seorang Da’i yang terus berusaha sepanjang 15 tahun untuk berdiskusi dengan pendeta ini dan mengajaknya masuk Islam. Tetapi usaha itu tidak membuahkan hasil hingga ia sendiri menyaksikan prosesi pemakaman Raja Fahd yang merupakan pemimpin yang dikagumi dan brilian. Baru setelah itu, sang pendeta masuk Islam.

    Sang Muslim baru yang mengumumkan keislamannya itu pada hari prosesi pemakaman jenazah pernah berkata kepada Dr al-Malik, “Buku-buku yang kalian tulis, surat-surat kalian serta diskusi dan debat yang kalian gelar tidak bisa mengguncangkanku seperti pemandangan yang aku lihat pada pemakaman jenazah raja Fahd yang demikian sederhana dan penuh toleransi ini.”

    Ia menambahkan, “Pemandangan para hari Selasa itu akan membekas pada jiwa banyak orang yang mengikuti prosesi itu dari awal seperti saya ini.”

    Ia meminta agar kaum Muslimin antusias untuk menyebarkan lebih banyak lagi gambaran toleransi Islam dan keadilannya agar dapat membekas pada jiwa orang lain. Ia menegaskan, dirinya telah berjanji akan mengerahkan segenap daya dan upaya dari sisa usianya yang 62 tahun in untuk menyebarkan gambaran Islam yang begitu ideal. Semoga Allah menjadikan keislamannya berkah bagi alam semesta.(istod/AH)

    ***

    http://www.alsofwah.or.id

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • Salahuddin 11:41 am on 19 Maret 2010 Permalink

      Cerita beginian sdh usang, jangan selalu menyebarluaskan berita “mualaf”, nggak perlu promosi, sbg umat muslim saya tdk merasa bangga sih. Terutama krn banyak juga muslim yg pindah ke agama lain, juga “muslim (mengaku muslim)” namun menyebarkan kebencian spt Hizbuth Tahir, FPI, Lasjkar Jihad dan teroris yg berkedok muslim untuk membenarkan tindakan radikalnya.

    • Abdullah 4:26 pm on 23 April 2010 Permalink

      hai salahuddin…jangan berburuk sangka…

    • angkasa 2:46 pm on 25 Mei 2010 Permalink

      tidak perlu orang besar masuk islam untuk bisa menunjukkan kebesaran islam!

    • deyana astuti kaluy 11:56 am on 18 November 2012 Permalink

      buat bapak salahudin……….sebaiknya jangan berburuk sangka……….saya yakin anda tidak pernah berbuat baik kepada manusia lain,klo pun dia mau masuk salah satu agama manapun ya urusan dia kenapa anda yg kebakaran jenggot…………

  • erva kurniawan 4:48 am on 13 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah Seorang Pemeriksa Pajak Melawan Korupsi 

    Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak gelisah dan tidak kalang kabut akibat prinsip hidup korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat Jenderal datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman di kantor gelisah dan belingsatan, kami tenang saja. Jadi sebenarnya hidup tanpa korupsi itu menyenangkan sekali.Hidup tidak korupsi itu sebenarnya lebih menyenangkan. Meski orang melihat kita sepertinya sengsara, tapi sebetulnya lebih menyenangkan. Keadaan itu paling tidak yang saya rasakan langsung.

    Saya Arif Sarjono, lahir di Jawa Timur tahun 1970, sampai dengan SMA di Mojokerto, kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan selesai pada 1992. Pada 17 Oktober 1992 saya menikah dan kemudian saya ditugaskan di Medan. Saya ketika itu mungkin termasuk generasi pertama yang mencoba menghilangkan dan melawan arus korupsi yang sudah sangat lazim. Waktu itu pertentangan memang sangat keras. Saya punya prinsip satu saja, karena takut pada Allah, jangan sampai ada rezeki haram menjadi daging dalam diri dan keturunan. Itu saja yang selalu ada dalam hati saya. Kalau ingat prinsip itu, saya selalu menegaskan lagi untuk mengambil jarak yang jelas dan tidak menikmati sedikit pun harta yang haram. Syukurlah, prinsip itu bisa didukung keluarga, karena isteri juga aktif dalam pengajian keislaman. Sejak awal ketika menikah, saya sampaikan kepada isteri bahwa saya pegawai negeri di Departemen Keuangan, meski imej banyak orang, pegawai Departemen Keuangan kaya, tapi sebenarnya tidak begitu. Gaji saya hanya sekian, kalau mau diajak hidup sederhana dan tanpa korupsi, ayo. Kalau tidak mau, ya sudah tidak jadi.

    Dari awal saya sudah berusaha menanamkan komitmen kami seperti itu. Saya juga sering ingatkan kepada isteri, bahwa kalau kita konsisten dengan jalan yang kita pilih ini, pada saat kita membutuhkan maka Allah akan selesaikan kebutuhan itu. Jadi yang penting usaha dan konsistensi kita. Saya juga suka mengulang beberapa kejadian yang kami alami selama menjalankan prinsip hidup seperti ini kepada istri. Bahwa yang penting bagi kita adalah cukup dan berkahnya, bahwa kita bisa menjalani hidup layak. Bukan berlebih seperti memiliki rumah dan mobil mewah.

    Menjalani prinsip seperti ini jelas banyak ujiannya. Di mata keluarga besar misalnya, orangtua saya juga sebenarnya mengikuti logika umum bahwa orang pajak pasti kaya. Sehingga mereka biasa meminta kami membantu adik-adik dan keluarga. Tapi kami berusaha menjelaskan bahwa kondisi kami berbeda dengan imej dan anggapan orang. Proses memberi pemahaman seperti ini pada keluarga sulit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sampai akhirnya pernah mereka berkunjung ke rumah saya di Medan, saat itulah mereka baru mengetahui dan melihat bagaimana kondisi keluarga saya, barulah perlahan-lahan mereka bias memahami.

    Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau pemeriksa pajak. Kalau dibandingkan teman-teman seangkatan sebenarnya karir saya bisa dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun. Seharusnya paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi, Eselon IV. Tapi sekarang baru Eselon V. Apalagi dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak menerima uang korupsi sama saja dengan karir terhambat. Karena saya dianggap tidak cocok dengan atasan, maka kondite saya di mata mereka buruk. Terutama poin ketaatannya, dianggap tidak baik dan jatuh.

    Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua pengalaman itu. Antara lain, orang-orang yang berbuat jahat akan selalu berusaha mencari kawan apa pun caranya. Cara keras, pelan, lewat bujukan atau apa pun akan mereka lakukan agar mereka mendapat dukungan. Mereka pada dasarnya tidak ingin ada orang yang bersih. Mereka tidak ingin ada orang yang tidak seperti mereka.

    Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika mereka menggunakan cara paling halus, pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan, setelah sekian tahun barulah ketahuan, kita sudah dikhianati. Cara seperti in seperti sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati. Mereka dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama, bahwa seperti inilah gaya hidup pegawai Departemen Keuangan. Bila tidak berhasil, mereka akan pakai cara lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola apa saja dipakai, sampai mereka bisa merangkul orang itu menjadi teman.

    Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika memperkenalkan diri, dia sangat simpatik di mata saya. Dia juga satu-satunya atasan yang mau bermain ke rumah bawahan. Saya dengan atasan itu kemudian menjadi seperti sahabat, bahkan seperti keluarga sendiri. Di akhir pekan, kami biasa memancing sama-sama atau jalan-jalan bersama keluarga. Dan ketika pulang, dia biasa juga menitipkan uang dalam amplop pada anak-anak saya. Saya sendiri menganggap pemberian itu hanya hadiah saja, berapalah hadiah yang diberikan kepada anak-anak. Tidak terlalu saya perhatikan. Apalagi dalam proses pertemanan itu kami sedikit saja berbicara tentang pekerjaan. Dan dia juga sering datang menjemput ke rumah, mengajak mancing atau ke toko buku sambil membawa anak-anak.

    Hingga satu saat saya mendapat surat perintah pemeriksaan sebuah perusahaan besar. Dari hasil pemeriksaan itu saya menemukan penyimpangan sangat besar dan luar biasa jumlahnya. Pada waktu itu, atasan melakukan pendekatan pada saya dengan cara paling halus. Dia mengatakan, kalau semua penyimpangan ini kita ungkapkan, maka perusahaan itu bangkrut dan banyak pegawai yang di-PHK. Karena itu, dia menganggap efek pembuktian penyimpangan itu justru menyebabkan masyarakat rugi. Sementara dari sisi pandang saya, betapa tidak adilnya kalau tidak mengungkap temuan itu. Karena sebelumnya ada yang melakukan penyimpangan dan kami ungkapkan. Berarti ada pembedaan. Jadwal penagihannya pun sama seperti perusahaan lain.

    Karena dirasa sulit mempengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai logika lain lagi. Apakah tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan dirundingkan dengan klien, agar bisa membayar pajak dan negara untung, karena ada uang yang masuk negara. Logika seperti ini juga tidak bias saya terima. Waktu itu, saya satu-satunya anggota tim yang menolak dan meminta agar temuan itu tetap diungkap apa adanya. Meski saya juga sadar, kalau saya tidak menandatangani hasil laporan itu pun, laporan itu akan tetap sah. Tapi saya merasa teman-teman itu sangat tidak ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Mereka ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Paling tidak menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya dipanggil oleh atasan dan disidang di depan kepala kantor. Dan ini yang amat berkesan sampai sekarang, bahwa upaya mereka untuk menjadikan orang lain tidak bersih memang direncanakan.

    Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang sudah lama bersahabatdan seperti keluarga sendiri dengan saya itu mengatakan, “Sudahlah, Dik Arif tidak usah munafik?” Saya katakan, “Tidak munafik bagaimana Pak? Selama ini saya insya Allah konsisten untuk tidak melakukan korupsi.”

    Kemudian ia sampaikan terus terang bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun ia berikan pada anak saya adalah uang dari klien. Ketika mendengar itu, saya sangat terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata berkhianat. Karena terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat seperti itu, kecuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip untuk menolak uang suap. Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi karena kami tahu persis bahwa mereka perlahan-lahan menggiring ke arah yang mereka mau.

    Ketika merasa terpukul dan tidak bisa membalas dengan kata-kata apa pun, saya pulang. Saya menangis dan menceritakan masalah itu pada isteri saya di rumah. Ketika mendengar cerita saya itu, isteri langsung sujud syukur. Ia lalu mengatakan, “Alhamdulillah. Selama ini uang itu tidak pernah saya pakai,” katanya. Ternyata di luar pengatahuan saya, alhamdulillah, amplop-amplo itu tidak digunakan sedikit pun oleh isteri saya untuk keperluan apa pun. Jadi amplop-amplop itu disimpan di sebuah tempat, meski ia sama sekali tidak tahu apa status uang itu. Amplop-amplop itu semuanya masih utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka. Jumlahnya berapa saya juga tidak tahu. Yang jelas, bukan lagi puluhan juta. Karena sudah masuk hitungan dua tahun dan diberikan hampir setiap pekan.

    Saya menjadi bersemangat kembali. Saya ambil semua amplop itu dan saya bawa ke kantor. Saya minta bertemu dengan kepala kantor dan kepala seksi. Dalam forum itu, saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan saya hingga bertaburan di lantai. Saya katakan, “Makan uang itu, satu rupiah pun saya tidak pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak pernah percaya satu pun perkataan kalian.” Mereka tidak bisa bicara apa pun karena fakta obyektif, saya tidak pernah memakai uang yang mereka tuduhkan. Tapi esok harinya, saya langsung dimutasi antar seksi. Awalnya saya diauditor, lantas saya diletakkan di arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan pemeriksa pajak. Itu berjalan sampai sekarang. Ketika melawan arus yang kuat, tentu saja da saat tarik-menarik dalam hati dan konflik batin. Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak tergoda untuk menggunakan uang yang tidak jelas. Ada pengalaman lain yang masih saya ingat sampai sekarang. Ketika saya mengalami kondisi yang begitu mendesak. Misalnya, ketika anak kedua lahir. Saat itu persis ketika saya membayar kontrak rumah dan tabungan saya habis. Sampai detik-detik terakhir harus membayar uang rumah sakit untuk membawa isteri dan bayi kami ke rumah, saya tidak punya uang serupiah pun.

    Saya mau bicara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insya Allah pekan depan akan saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga. Akhirnya saya keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu pulang dari sholat dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah sakit itu. Sebelumnya kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita dari teman bahwa isteri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke rumah sakit. Wallahu a’lam apakah dia sudah diceritakan kondisi saya atau bagaimana, tetapi ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak rumah sakit, saya malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan isteri yang sudah lunas. Alhamdulillah.

    Ada lagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya operasi mata karena ada lipoma yang harus diangkat. Awalnya, saya pakai jasa askes. Tapi karena pelayanan pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya kasihan karena anak saya baru berumur empat tahun, saya tidak pakai Askes lagi. Saya ke Rumah Sakit yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus. Itu saya lakukan sambil tetap berfikir, nanti uangnya pinjam dari mana?

    Ketika anak harus pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling susah sekali menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata Allah cukupkan kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang membereskan pakaian di rumah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya dengan seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar, dan saya ceritakan anak saya sedang dioperasi. Dia katakan, “Kenapa tidak bilang-bilang?” Saya sampaikan karena tidak sempat saja. Setelah teman itu pulang, ketika ingin menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata kwitansinya juga sudah dilunasi oleh teman itu. Alhamdulillah.

    Saya berusaha tidak terjatuh ke dalam korupsi, meski masih ada tekanan keluarga besar, di luar keluarga inti saya. Karena ada teman yang tadinya baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga. Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang pelit, mereka terpaksa pinjam sana sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi juga. Karena banyak yang seperti itu, dan saya tidak mau terjebak begitu, saya berusaha dari awal tidak demikian. Saya berusaha cari usaha lain, dengan mengajar dan sebagainya. Isteri saya juga bekerja sebagai guru.

    Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan biasanya lebih banyak dengan bercanda. Sedangkan pendekatan serius, sebenarnya mereka sudah puas dengan pendekatan itu, tapi tidak berubah. Dengan pendekatan bercanda, misalnya ketika datang tim pemeriksa dari BPK, BPKP, atau Irjen. Mereka gelisah sana-sini kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa. Jadi mereka dapat suap lalu menyuap lagi. Seperti rantai makanan. Siapa memakan siapa. Uang yang mereka kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi. Mereka selalu takut ini takut itu. Paling sering saya hanya mengatakan dengan bercanda, “Uang setan ya dimakan hantu.”

    Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai berubah, kemudian berdialog dan akhirnya berhenti sama sekali. Harta mereka jual dan diberikan kepada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak. Sedikit sekali orang yang bisa merubah gaya hidup yang semula mewah lalu tiba-tiba miskin. Itu sulit sekali. Ada juga diantara teman-teman yang beranggapan, dirinya tidak pernah memeras dan tidak memakan uang korupsi secara langsung. Tapi hanya menerima uang dari atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan atasan itu hanya memberi. Mereka mengatakan tidak perlu bertanya uang itu dari mana. Padahal sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami tidak akan pernah bisa memberikan uang sebesar itu.

    Atasan yang memberikan itu berlapis-lapis. Kalau atasan langsung biasanya memberi uang hari Jum?at atau akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang Jum’atan. Atasan yang berikutnya lagi pada momen berikutnya memberi juga. Kalau atasan yang lebih tinggi lagi biasanya memberi menjelang lebaran dan sebagainya. Kalau dihitung-hitung sebenarnya lebih besar uang dari atasan dibanding gaji bulanan. Orang-orang yang menerima uang seperti ini yang sulit berubah. Mereka termasuk rajin sholat, puasa sunnah dan membaca Al-Qur’an. Tetapi mereka sulit berubah. Ternyata hidup dengan korupsi memang membuat sengsara. Di antara teman-teman yang korupsi, ada juga yang akhirnya dipecat, ada yang melarikan diri karena dikejar-kejar polisi, ada yang isterinya selingkuh dan lain-lain. Meski secara ekonomi mereka sangat mapan, bukan hanya sekadar mapan.

    Yang sangat dramatis, saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di STAN. Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika keluarganya mulai sering minta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan keluarga dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya uang. Akhirnya ia mencoba hutang sana-sini. Dia pun terjebak dan merasa sudah terlanjur jatuh, akhirnya dia betul-betul sama dengan teman-teman di kantor. Bahkan sampai sholat ditinggalkan. Terakhir, dia ditangkap polisi ketika sedang mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh. Teman itu sekarang dipecat dan dipenjara.

    Saya berharap akan makin banyak orang yang melakukan jihad untuk hidup yang bersih. Kita harus bisa menjadi pelopor dan teladan di mana saja. Kiatnya hanya satu, terus menerus menumbuhkan rasa takut menggunakan dan memakan uang haram. Jangan sampai daging kita ini tumbuh dari hasil rejeki yang haram. Saya berharap, mudah-mudahan Allah tetap memberikan pada kami keistiqomahan (matanya berkaca-kaca).

    ***

    Sumber: (Majalah Tarbawi Edisi 111 Th. 7/Jumadal Ula 1426 H/23 Juni 2005)

     
    • muqoffa 4:17 pm on 25 Maret 2010 Permalink

      sangat indah dan menyentuh………….

    • spjati 11:41 am on 29 Maret 2010 Permalink

      assalamu’alaikum, salam kenal pak, mohon ijin utk saya share ke teman2 lain. terimakasih.

    • Ikhlasul 11:56 am on 29 Maret 2010 Permalink

      mampu menahan nafsu dunia adalah kemenangan sejati yg sesungguhnya, beruntunglah orang2 yg memiliki “microchip” merasa bersyukur, nyaman dan nikmat tanpa harus memiliki harta berlebih…

    • nyit2 12:34 pm on 29 Maret 2010 Permalink

      pak,perjuangan melawan ketidakadilan memang sulit…tapi walaupun kelihatannya sulit dan melelahkan,tuhan selalu punya cara untuk melindungi umatnya….sama2 kt katakan tidak pada korupsi….

    • ferry 4:20 pm on 29 Maret 2010 Permalink

      Saya terkesan dengan cerita pengalaman hidup di atas, saya percaya dari sekian banyak karyawan yang korupsi masih ada yang bersih seperti di atas, semoga tetap jihad melawan korupsi. Cobaan yang paling berat adalah melawan korupsi di lingkungan koruptor. Semoga.

    • slurpz 12:59 am on 30 Maret 2010 Permalink

      sangat indah hidup anda, saya domisili mojokerto jg pak, hehehe tp saya pengangguran hehehe, oh ya maaf lupa salam kenal pak, semoga Allah senantiasa melindungi anda sekeluarga, klo dibanding dgn hidup q jauh banget, saya sangat terkesan dgn perjalanan karir anda, bersih, jujur, gak banyak tingkah, anda orang yg paling dicari bagi masyarakat bawah spt saya ni,

    • A rozi 5:43 pm on 2 April 2010 Permalink

      Sangat menyentuh hati, teman saya ada juga yang bekerja di Ditjen Pajak, semoga dia seperti pak Arif… Tidak Korupsi, tidak makan yang bukan haknya… Anda hidup sengsara di dunia, saya doakan anda akan hidup kaya raya di akhirat kelak.. Amin ya Allah… Semoga Allah melindungi anda dan keluarga di dunia dan akhirat kelak.

    • ummu 2:00 am on 10 April 2010 Permalink

      Assalaamu’alaikum wr wb,
      Kisah yang menyentuh, saya juga punya saudara yang kerja di BPK, berusaha selalu berlaku jujur dan tidak korupsi. Memang akibatnya kenaikan pangkat terhambat, yang lain bisa jadi kepala, ini tak pernah bisa, padahal orangnya pandai.
      Tak apalah, yakin Allah akan menggantikan kedudukan dunia yang tak seberapa dan tak kekal di dunia ini dengan kedudukan yang mulia dan kekal di akhirat nanti. Allah tak akan menyelisihi janjinya. Ingatlah 1 hari di akhirat itu sama dengan 1000 tahun di dunia.

    • Dog For Sale 10:33 am on 16 April 2010 Permalink

      Nyimak duluuu

    • hery 12:15 pm on 6 Mei 2010 Permalink

      orang seperti itu hanya bisa di hitung dg jari allhuakbar….jika kita mengejar akherat insyallah dunia akan ikut tapi jika kita mengejar dunia belum tentu ikut…..subhanallah

    • riyyanfikri 9:37 pm on 10 Juli 2010 Permalink

      Subhanalloh……..ijin share ya….

    • agung w 6:29 am on 16 November 2010 Permalink

      Subhannallah…S’moga njenengan & keluarga besar slalu d beri rahmatNya…Amiin….

  • erva kurniawan 9:30 pm on 3 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Istri Sholeha 

    Seminggu sekali sepulang kerja biasanya aku ikut pengajian rutin sampai menjelang maghrib. waktu itu kita masih membahas bab nikah, dan seperti biasanya sebelum pengajian itu dimulai, guru kita membaca doa, setelah itu pengajian dimulai dengan membaca hadist riwayat Tarmidji, yg kemudian beliau membacanya

    “Ada 3 golongan yg pantas ditolong oleh Allah yaitu :

    1. Pejuang pada jalan Allah terutama jihad melawan kafir
    2. Budak yg membebaskan dirinya sendiri
    3. Pernikahan yg bertujuan untuk menjaga kehormatan dirinya

    “Dunia ini laksana perhiasan dan sebaik2 perhiasan adalah istri yg sholeha yaitu istri yg selalu menjaga dirinya dan harta suaminya. Bagi seorang mukmin sesudah bertaqwa pada Allah, tidak ada lagi yg terbaik selain dari pada istri yg sholeha, yaitu apabila disuruh suaminya dia taat, dan bila suami melihatnya akan menyenangkan hatinya.”

    Setelah membaca hadist itu, seperti biasanya guru kita itu langsung bicara dan membahas apa yg sudah dibacanya.

    “Lihat, nikmatnya punya istri yg sholeha” kata guruku sambil tersenyum dan kita semua masih duduk mendengarkan.

    “Harusnya yg berada di pengajian ini adalah para laki2, jadi sia2 enggak ya..kita membahas ini..?” kata beliau.

    “Enggaklah pak, itu masih ada pak zein yg ikut pengajian ini”kataku iseng nyeletuk.

    “Hehe, iya ya, hanya pak zein sendiri ya?” sadar guruku sambil tersenyum ke arah satu2nya pria yg ada di majelis itu. yg akhirnya beliau bicara lagi.

    “Istrimu itu adalah ladang bagimu, maka datangilah dari arah manapun engkau mau.” lanjut beliau sambil tersenyum2 ke arah pak zein sambil menganggukkan kepalanya.

    “Pak, kalau kita jima sama istri, itu sedekah ya pak..?” tanya pak zein pada beliau.

    “Oh iya..bila kita berhubungan pada istri maka itu adalah ibadah dan menjadi sedekah” terang guruku.

    “Hehehe, bapak jangan bilang gitu dong pak? Kesenengan pak zein tuh. Nanti sedekahnya gituan doang dong” celetukku seperti biasanya dan membuat majelis sedikit ramai karena tawa.

    “Coba bayangkan, bila kita mempunyai istri yg sholeha. Bersedia bangun malam untuk sholat tahajud sama-sama, apalagi bila istri yg membangunkan suami untuk bangun malam, nikmat ya, punya istri seperti itu?” senyum guruku dan masih berlanjut.

    “Dan istri yang sholeha pada saat ngebangunin suaminya dan ternyata suaminya marah, pada saat dibangunkan, sang istri itu biasanya sabar dan patuh pada suaminya walau dimarahin?”

    “Pak, ngebangunin suami, disiram air aja ya pak, kalau enggak mau bangun” Celetuk seorang teman wanitaku yg disambut tawa yg lainnya.

    “Boleh dengan memercikan air ke wajah suami/istri atau mengusap mukanya dengan air” jawab guruku sambil tersenyum.

    “Kalau marah gimana pak?” celetuh yg lainnya lagi.

    “Iya enggak apa-apa kan, sholat sendiri saja, dan kita masih dapat pahala ngebangunin sholat” kata guruku sambil tersenyum.

    “Pak, kalau habis ambil wudhu, bangunin suaminya di cium aja, batal enggak pak?” celetukku disertai tawa.

    “Hehehe, iya, di cium aja, gak batal wudhunya? toh Rasulullah pernah mencium Aisyah setelah berwudhu, dan itu lebih baik, karena enggak mungkin suami marah pada saat dibangunkan dengan ciuman, kecuali suaminya “sakit” jawab guruku sambil tertawa.

    “Yeee…kalau dicium mah..bisa-bisa enggak jadi sholat pak..? tar..malah sedekah gituan lagi dong..?”Celetuk salah seorang temanku lagi yg disambut tertawa oleh semua murid dan sang guru hanya tersenyum2 sambil mengangguk-anggukan kepalanya menyaksikan para murid yg selalu iseng bercanda dalam belajar.

    ***

    Oleh: Hana

    Sumber: Email dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:38 pm on 28 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Cinta Laki-laki Biasa 

    Karya Asma Nadia dari kumpulan cerpen Cinta

    MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

    “Kenapa?” tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

    Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

    Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

    Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

    “Kamu pasti bercanda!”

    Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

    Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

    “Nania serius!” tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

    “Tidak ada yang lucu,” suara Papa tegas, “Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!”

    Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

    “Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?” Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, “maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?”

    Nania terkesima.

    “Kenapa?”

    Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

    Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

    Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

    Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.

    “Nania Cuma mau Rafli,” sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

    Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

    “Tapi kenapa?”

    Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa.

    Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

    “Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!”

    Cukup!

    Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

    Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

    Mereka akhirnya menikah.

    ***

    Setahun pernikahan.

    Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

    Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

    “Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.”

    Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

    Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

    “Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!”

    “Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!”

    “Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!”

    Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

    Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

    Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!

    Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

    Rafli juga pintar!

    Tidak sepintarmu, Nania.

    Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.

    Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

    Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

    “Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.”

    Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

    Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.

    “Tak apa,” kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri.

    “Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.”

    Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.

    “Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?”

    Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

    Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

    Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.

    Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

    Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

    Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

    Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.

    Cantik ya? dan kaya!

    Tak imbang!

    Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

    Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

    ***

    Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

    “Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!”

    Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

    Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

    Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

    “Baru pembukaan satu.”

    “Belum ada perubahan, Bu.”

    “Sudah bertambah sedikit,” kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

    “Sekarang pembukaan satu lebih sedikit.”

    Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

    Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

    “Masih pembukaan dua, Pak!”

    Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

    “Bang?”

    Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

    “Dokter?”

    “Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.”

    Mungkin?

    Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?

    Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

    Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

    Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bias menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

    Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

    “Pendarahan hebat.”

    Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.

    Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!

    Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

    Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

    Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

    Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

    ***

    Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

    Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

    Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

    Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.

    Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

    “Nania, bangun, Cinta?”

    Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

    Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

    “Nania, bangun, Cinta?”

    Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

    Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

    Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

    Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

    Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

    Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

    Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

    Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

    Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

    Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

    Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

    Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

    “Baik banget suaminya!”

    “Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!”

    “Nania beruntung!”

    “Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.”

    “Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!”

    Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

    Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

    Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

    Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

    Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

    Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

    ***

    Diketik ulang oleh Juli Prasetio Utomo, 28 Juni 2005, dengan pembenahan beberapa ejaan dan tanda baca.

     
    • mobil88 7:48 pm on 28 Februari 2010 Permalink

      wah…wah…wah menurut http://mobil88.wordpress.com tulisan Anda dalam blog ini cukup menarik….sukses ya !!
      :)

    • Tiyo negoro 12:29 am on 1 Maret 2010 Permalink

      Sangat menginspirasi,
      Ingin ah seperti Rafli. .

    • m rudi kurniawan 1:47 am on 5 Juli 2010 Permalink

      saya yakin cerita ini memang benar terjadi di dunia yang luas ini. kisah yang di idam2kan semua orang. terima kasih atas tulisan nya. sangat menginspirasi.

      kalau boleh memberikan saran. agar blog nya dengan tema putih dan tulisan nya sedikit besar. agar lebih nyaman membaca dalam waktu yang lama. karena blog nya isi nya bagus semua.

  • erva kurniawan 7:21 pm on 27 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ketika Senandung Camar itu Tiada 

    Pagi hari tiup bayu semilir menghilir dedaunan butir-butir cahya mentari menyapa halus kayu-kayu pepohonan dan lembar demi lembar kelopak daun sisa musim semi yang mulai berguguran membias indah menyimpan berjuta senyuman

    Nun jauh di sana seorang anak kecil telanjang kakinya berlarian melintas garis-garis pantai menyiratkan Rahasia Alam Tuhan sambil membawa jala lebar penangkap ikan hanya satu yang ada dalam pikirannya: “Aku harus bisa mengumpulkan ikan sebanyak mungkin untuk membantu emak berjualan di pasar kota dan menyisihkannya untuk kusimpan sedikit di tabungan walaupun tak seberapa “…

    Terlintas di pikirannya segaris senyum yang tulus dan bahagia yang selalu menghias wajah kerut-merut seorang wanita 50an yang telah banyak dimakan panasnya api perjuangan hidup yang telah mengenal banyak duri dan onak tajam namun senantiasa penuh cinta dan keikhlasan

    Hari pun tertatih-tatih merambat siang mentari mulai menggeser di antara awan-awan camar-camar riang bernyanyi menghias lelangit terang

    ” Hei, agaknya hari sudah siang aku harus segera berkemas pulang mengganti baju lusuh ini dengan baju yang sedikit lebih rupawan untuk kupakai ke sekolahan”

    Dan anak kecil lusuh berwajah tampan itupun segera melangkah pulang mengayunkan langkah-langkah penat yang tak begitu ia rasakan demi dilihatnya bayangan emaknya yang tengah menantinya di depan dan terukir senyum bahagia di wajah tuanya karena melihat kehadirannya dengan ikan jaringannya yang berlimpah.

    ” Emak pasti senang… ah, aku ingin segera berjumpa emak emak yang sangat aku sayang ” sesekali dibetulkannya jaring penuh ikan yang menggelayut berat di bahu kirinya sambil tangan kanannya menyeka peluh yang mengalir di sekujur wajah dan lehernya

    Akhirnya, tibalah ia di jalan arah menuju rumahnya seolah terbayang sudah masakan yang sudah disiapkan emaknya penopang lapar yang sejak tadi menggoda perutnya.

    Namun… langkah penatnya tiba-tiba terhenti terheran melihat banyaknya orang di depan rumahnya “Tak seperti biasanya, ada apakah gerangan? Di manakah emak ?…” tanyanya dalam hati dan langkahnya pun diteruskannya

    Setibanya di dekat rumah sang bocah 10 tahun itupun berteriak lantang “Emaak… emaak… aku pulang!.. Jaringku penuh, Mak, ikanku banyak Emak, emaak, … aku sudah pulang, Maak…!!”

    Di dekat pintu masuk rumah kayu yang sudah hampir rubuh itu tangan bocah itu dipegang oleh seorang pria “Paman, Paman ada di sini? Emak di mana, Paman? Aku ingin menunjukkan hasil panen ikanku hari ini. Aku ingin melihat senyum indah emak, Paman… ”

    Akhirnya pria berwajah sedih itupun melepaskan pegangan tangannya dan sang bocah pun melanjutkan langkah penat kakinya di antara kerumunan orang-orang yang memenuhi sekelilingnya.

    Tiba-tiba… kedua mata bundarnya terbelalak lebar mulut mungilnya terbuka tanpa suara nafasnya seolah terhenti seketika kedua alis tebalnya terpaut menggaris dahi dan… sebuah lengkingan mengharukan pun memecah deburan ombak kehidupan Rahasia Tuhan

    ” Emaak…! Emaak…! Emak…, jangan tinggalkan Bayu, Mak… jangan tinggalkan Bayu…. Mak, kalau emak pergi, Bayu akan sendiri… Emaaak…!! ”

    Isak tangis pilu menyayat buluh perindu seorang hamba telah kembali ke Empunya sang camar perindu telah kembali ke Kampungnya sang pelipur lara bayu telah bertemu Kekasih Hatinya emak sang bunda tercinta telah pergi tinggalkan dunia menyisakan sebait senyum kasih dan keikhlasan akan seorang bunda…

    (untukmu, bocah di tepi pantai itu)

    ***

    Sumber: Email sahabat

     
  • erva kurniawan 8:16 pm on 18 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Pada Kemana Mereka? 

    alhikmah.com – Malam itu di sebuah masjid ada pengajian dalam rangka memperingati Isra Mi’raj nabi Muhammad SAW.Cukup ramai jamaah yang datang pada pengajian itu, seratusan orang lebih. Salah satu sebabnya adalah penceramahnya seorang ulama kondang yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat sekitar.

    Disamping cara penyampaiannya bagus, masuk akal, juga kadang diselingi ‘guyonan’ ringan yang membuat mata jadi tidak cepat mengantuk. Materi ceramah Isra Mi’raj yang intinya adalah diterimanya perintah sholat dari Allah SWT kepada Muhammad SAW diangkat amat menarik oleh sang ulama. Begitu pula ketika membahas masalah sholat wajib, sholat sunnah, khususnya tahajjud, apalagi ketika membahas tentang keutamaan sholat bila dilakukan secara berjamaah di masjid.

    Begitu piawai sang ulama, sangat simpatik dalam berdakwah, sehingga jamaah banyak yang terpukau dan menyimak (mendengar secara serius) tentang kehebatan peristiwa Isra Mi’raj tersebut, banyak jamaah yang manggut-manggut karena banyak yang menjadi sadar akan kealpaan atau kelalaiannya selama ini, dan terkadang jamaah bisa dibuat ‘geeerrrrr’ pada ketawa ngakak karena ‘guyonan’ sang ulama.

    Jamaah seperti tersihir oleh daya tarik sang ulama, tak ingin meninggalkan masjid meski hari sudah cukup larut. Hampir semua jamaah ingin menuntaskan dalam mengikuti ceramah tersebut sampai selesai.

    Sayang rasanya kalau ditinggalkan, ceramahnya bagus, banyak ilmu kita peroleh, ceramahnya tidak membuat ngantuk. Apalagi suasana ukhuwah seperti ini….wah, sulit bisa kita dapatkan dihari-hari yang lain’, begitu komentar salah seorang jamaah.

    Tak terasa telah lewat jam 24.00…… Namun sang ulama masih cukup fit dan bersemangat, jamaah pun masih tetap terpukau. Beberapa orang tua terpaksa tetap mendengar ceramah sembari menggendong anaknya yang tertidur, daripada harus pulang untuk menidurkan anak terlebih dulu.’Tangguh ah, toh besok kan hari libur, sekali-sekali pulang malam tak apa kan ?, kata seorang ibu.

    Rata-rata seperti itulah pendapat yang ada dalam benak para jamaah. Baik para bapak, para ibu maupun para remaja juga anak-anak.

    Mendekati pukul 01.00 ……. Akhirnya tuntaslah materi Isra’ Mi’raj yang disampaikan oleh ulama yang amat mempesona tersebut. Setelah ditutup dengan kalimat permohonan maaf bila dalam ceramah ada terselip kalimat atau kata yang salah, kemudian pembacaan sholawat dan do’a, maka sang ulama pun mohon pamit. Para jamaah pun satu per satu mulai meninggalkan tempat untuk pulang ke rumah masing-masing.

    Umumnya para jamaah pulang sambil berbincang-bincang tentang keterkaguman pada sang ulama, juga materi yang disampaikan benar-benar telah membuka wawasan mereka.

    Pukul 02.00 lewat…. Para panitia masih sibuk membereskan kursi-kursi, meja, tenda, sampah-sampah, lampu penerangan, sound system, dan lain sebagainya.

    Pukul 03.00 ….. Selesailah pekerjaan beres-beres yang dilakukan oleh panitia. Sebagian besar panitia terus pulang untuk istirahat, hanya satu-dua yang memilih istirahat di masjid sembari menjaga sound system dan peralatan lain yang memerlukan penjagaan.

    Ini adalah waktu yang terbaik untuk melakukan doa . Abu Hurairah mengatakan, bahwa Nabi Muhammad bersabda,” pada sepertiga malam, Tuhan turun ke langit dunia dan mengumumkan, bahwa barang siapa yang berdoa mendekatkan diri kepadaKu, maka Aku akan penuhi keinginannya, barang siapa yang memohon akan Aku kabulkan permohonannya, barang siapa yang mencari pengampunan, akan Aku ampuni dosanya. (Bukhari, Muslim).

    Para jamaah yang tadi begitu terpukau, manggut-manggut, merasa mendapat ilmu, merasa ingat dari kelalaian selama ini, ternyata sudah pada tertidur lelap. Tak mampu membuka mata yang tadi malam telah digunakan untuk ‘begadang’. Berat nian rasanya membuka mata, menarik selimut, apalagi untuk turun dan mengambil air wudlu untuk bertahajjud.

    Pukul 04.00 lebih……… Terdengarlah kumandang adzan dari masjid tersebut untuk memangggil para jamaah nya agar melaksanakan sholat shubuh. “Asholatu Khoirum Minan Nauum……….. Asholatu Khoirum Minan Nauum”. Namun ditunggu sampai selesai sholat sunnat fajar, selesai iqomah, ternyata jamaah yang terkumpul, yang merasa terpanggil untuk datang ke masjid tidak lebih dari 5 (lima) orang.

    Kemana jamaah yang tadi malam jumlahnya ratusan?

    Kemana jamaah yang tadi malam bilang betapa pentingnya ukhuwah?

    Kemana jamaah yang tadi malam telah sadar akan pentingnya sholat wajib?

    Kemana jamaah yang tadi malam terbuka hatinya untuk mulai melaksanakan sholat berjamaah di masjid?

    Kemana yang tadi malam tertawa ngakak?

    Sudah lupakah pada ayat yang semalam juga disitir oleh sang ulama ini? Dirikanlah shalat mulai dari matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula) shalat shubuh. Sesungguhnya shalat shubuh itu disaksikan ( oleh malaikat ). (QS. 17:78)

    Pada kemana mereka?

    Astaghfirullah al adziiim………..

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 10:12 am on 6 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , , ,   

    Dua Puluh Satu Kali 

    1910399-2-water-lilyeramuslim – “Dua puluh satu kali, Mbak?” mataku membulat. Takjub. Aku merentangkan kesepuluh jari tangan sambil melihat ke bawah ke arah telapak kaki yang terbungkus sepatu. 21! Bahkan seluruh jemari tangan dan kakiku pun tak cukup buat menghitungnya. “Itu selama berapa tahun, Mbak?” Aku bertanya lebih lanjut.

    “Hhmm, kurang lebih tujuh tahun terakhir!” sambutnya lagi, ringan saja. Tak tampak pada raut wajahnya yang sudah mulai dihiasi kerut halus kesan malu, tertekan taupun stress. Wajah itu damai. Wajah itu tenang. Tak menyembunyikan luka apalagi derita.

    “Mbak… ehmm, maaf, tidak patah arang… sekian kali gagal?” Takut takut aku kembali bertanya dengan nada irih. Khawatir menyinggung perasaannya. Dia hanya kembali tersenyum. Tapi kali ini lebih lebar. Sumringah. Dia mengibaskan tangan, sebagai jawaban bahwa dia tak trauma dengan masalah itu.

    “Kalau sedih, kecewa, terluka… pasti pernah lah ada saat-saat seperti itu. Trauma…. sebenarnya pernah juga. Nyaris putus asa juga pernah. Namun alhamdulillah tidak berlarut-larut.”

    Mata itu berbinar-binar, seakan turut bicara.

    “Justru, kini saya merasa lebih dewasa, lebih matang dengan semua kegagalan itu. Banyak sekali pelajaran yang bsia diambil dari tiap kegagalan itu. Saya menjadi lebih bisa mengerti berbagai karakter manusia. Saya dapat lebih menghayati realitas dan kuasa Allah atas hidup kita. Dan pasti jadi lebih banyak pengalaman… setidaknya pengalaman proses menuju nikah hingga 21 kali..hahaha,” dia tertawa lepas. Renyah. Manis sekali.

    Perempuan itu, kini sudah 30 tahun lewat usianya. Sebuah usia yang tak lagi remaja memang. Sebuah  sia yang sangat wajar dan pantas jika ia resah karena jodoh tak kunjung tiba. Namun ia tak nampak panik atau gelisah. Bisa jadi ia memang pandai menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Namun saya lebih percaya ketenangannya tumbuh karena kematangan dan keimanan.

    Gadis ini dapat dikatakan sederhana. Dengan penampilan sederhana pula. Aktifitasnya pun bersahaja walaupun dulunya dia termasuk aktifis tingkat tinggi. Sehari-hari ia bekerja sebagai staf pengajar di sebuah lembaga pendidikan. Aktifitasnya yang lain adalah mengajar TPA, mengikuti pengajian rutin maupun berbagai pengajian umum yang banyak diselenggarakan oleh berbagai lembaga di berbagai lokasi di Jakarta.

    Selebihnya ia lebih banyak di rumah. Membaca buku dan membantu mengurus pekerjaan rumah tangga karena Ibunya tidak memiliki pembantu. “Proses pertama saya jalani ketika saya baru menyelesaikan kuliah saya. 22 tahun usia saya ketika itu. Waktu itu tentu saja saya tidak sebersahaja sekarang.” Dia mulai bercerita. Saya menunggu.

    “Saya masih ingat sekali. Waktu itu saya mengajukan berbagai kriteria. Saya ingin calon suami yang sarjana, pekerjaan mapan, aktifis dakwah atau minimal memiliki pemahaman agama yang bagus, dari keluarga baik-baik, dan sama-sama orang jawa seperti saya. Sebuah kriteria yang saya rasakan konyol sekarang, namun dulu saya pikir itu wajar. Muslimah mana yang tidak memiliki idealisme seperti itu?”

    Ia melanjutkan ceritanya…

    “Ada beberapa orang yang ditawarkan oleh guru ngaji maupun oleh orang tua. Ada juga yang datang sendiri. Tetapi semua saya tolak. Saya pikir waktu itu saya masih muda. Saya bisa mengisi masa muda saya dengan berbagai aktifitas positif sambil terus menunggu seseorang yang mendekati kriteria yang saya inginkan. Maka saya pun mulai memperbanyak aktifitas. Mengambil banyak kursus, mengikuti bebagai pelatihan dan aktif di beberapa komunitas sosial kemasyarakatan.”

    “Usia saya menjelang 25 tahun ketika saya menemukan seseorang dengan kriteria seperti yang saya inginkan. Awalnya proses kami lancar-lancar saja. Orang tuanya bahkan sudah datang mengkhitbah ke rumah. Bahkan kita sudah akan menentukan tanggal pernikahan. Tapi oleh alasan yang sepele, tiba-tiba orang tuanya membatalkan khitbah. Sungguh saya shock waktu itu. Saya tak habis mengerti, apa yang salah dengan saya, dengan dia dan dengan proses kami?”

    “Cukup lama saya tenggelam dalam kesedihan. Beberapa waktu kemudian sebenarnya banyak lagi yang mengajukan tawaran. Tapi saya selalu membandingkan dengan mantan calon suami saya. Saya menggunakan parameter dia untuk menilai setiap orang yang datang pada saya. Meskipun saya tidak pernah menolak lagi orang-orang yang datang kemudian itu, tapi entah mengapa proses selalu berakhir dengan kegagalan. Saya tak lagi menghitung, itu sudah yang keberapa kali. Akhirnya saya kembali menenggelamkan diri dalam aktifitas sosial dan organisasi. Saya aktif di partai. Dan saya sempat tak lagi memedulikan masalah menikah.”

    “Usia saya sudah lewat dua puluh tujuh. Justru orang-orang lain yang mulai ribut. Orang tua terutama. Kemudian kaum kerabat. Juga teman-teman saya. Merekalah yang kemudian menawarkan dan mencomblangi. Saat itu saya mulai belajar dari pengalaman. Saya tak lagi terlalu idealis. Saya menyerahkan saja kepada para perantara saya itu. Saat mereka meminta biodata, maka saya berikan biodata saya. Saya netral saja. Kalau diterima ya syukur, tidak diterima ya sudah. Dan ternyata nyaris semua tidak diterima. Alasannya macam-macam. Kebanyakan bahkan saya tak sampai ketemu mereka, sudah ditolak duluan. Saya sudah tak menghitung lagi berapa banyak biodata yang saya buat. Rata-rata tidak kembali.”

    “Usia saya sudah lewat dua puluh delapan tahun saat saya menyadari bahwa saya harus mulai proaktif. Saya tak lagi menyerahkan begitu saja pada nasib atau teman-teman. Saya harus mulai mencari sendiri juga. Tentu saja tetap dengan cara-cara yang ahsan.”

    “Pada usia ke-29 saya menemukan seseorang lagi. Dia sholeh. Sederhana. Jauh dari kriteria ideal saya, tapi saya merasa tenteram dengan menerimanya. Proses kami pun sederhana. Semuanya lancar. Tapi…Allah berkehendak lain. Calon saya meninggal dalam sebuah kecelakaan.”

    Sampai disini si Mbak menghentikan ceritanya sejenak. Mengambil napas panjang dan menyusut sudut mata. Aku turut terenyuh mendengarnya. Saat itu baru kulihat kabut selintas menghiasi wajahnya.

    “…Semua sudah berlalu sekarang. Sudah nyaris dua tahun lalu. Saya mencoba bangkit lagi. Setahun terakhir, lima proses saya jalani. Menambah 16 proses sebelumnya yang tak semuanya saya ingat lagi. Lima proses itu saya jalani dengan lebih pasrah. Lebih lapang dada. Saya menghargai mereka masing-masing. Saya tidak membanding-bandingkan. Saya tak lagi menggebu, tak lagi sangat idealis…. tapi juga tak membuat saya membabi buta, menerima siapa saja seperti membeli kucing dalam karung.”

    “Satu orang gagal sebelum biodata saya sampai kepadanya. Dia sudah lebih dulu menerima orang lain. Orang kedua, pemuda yang biasa-biasa saja, tak mau menerima syarat saya untuk belajar ngaji pada teman saya sesama laki-laki. Dia memaksa belajar pada saya dan mendesak agar saya jadi pacarnya dulu. Orang ketiga, menolak karena orang tuanya tidak mau menerima orang yang tidak sesuku dan dia ingin menuruti kehendak orang tuanya. Orang keempat, teman saya sendiri, mengatakan kalau dia belum siap meski tidak menolak. Orang kelima berubah pikiran di tengah proses. Tadinya dia tidak mempermasalahkan usia saya yang lebih tua, tetapi kemudian dia mengatakan kepada perantara saya ingin mencari yang usianya lebih muda.”

    “Pengalaman-pengalaman yang saya jalani selama ini telah memberi banyak sekali pelajaran dalam hidup saya. Satu, bahwa hidup tak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Dua, bahwa pengalaman adalah benar-benar guru yang sangat berharga. Tiga, bahwa setiap orang benar-benar memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dan mereka semua layak untuk mendapat penghargaan sebagai seorang manusia. Empat, jika saya tak dapat memperoleh apa yang saya cintai, maka lebih baik saya mencintai apa yang saya telah saya peroleh dan memiliki. Lima, dan banyak lagi. Intinya, jika memang bukan jodoh, bahkan hal-hal kecil pun dapat menjadi penghalang dan penyebab gagalnya perjodohan.”

    “Kini saya merasa lebih pasrah dan arif menyikapi hidup. Tak ada yang salah, tak ada yang ribet. Hanya waktu yang belum tiba pada masanya. Hanya puzzle yang belum menemukan pasangannya. Semua masih biasa saja.”

    Si Mbak mengakhiri ceritanya. Tersenyum tulus kepadaku. Aku menyambutnya. Dan kami tenggelam dalam dekap haru. Pelukan persaudaraan.

    ***

    Oleh: Azimah Rahayu.

     
    • annisa 10:21 am on 8 Februari 2010 Permalink

      pengalaman hidup yang bisa dijadikan contoh bagi akhwat2 dlm mencari jodoh/pasangan hidup, agar tidak terlalu idealis.
      semoga Allah segera memberikan jodoh yg terbaik atw kebahagiaan lain dari orang2 di sekitarnya u/ mbak diatas, amiin..

    • ummy 11:42 am on 19 Februari 2010 Permalink

      Asw waw subhanallah, critanya sangat bagus untuk dijadikan rujukan, jujur saya juga sedang menanti jodoh, ada seseorang yang saya simpatik karena agamanya bagus, namun semua sya serahkan sama Allah Sang Pemilik Hati dan Pemilik nafas kita serta Pemilik Alam semesta ini.

  • erva kurniawan 9:24 am on 5 February 2010 Permalink | Balas  

    Rawat Semalam, Habis Gaji Sebulan 

    diare1SUARA PEMBARUAN DAILY

    SANGAT gampang menghabiskan gaji sebulan. Repotnya, kalau tidak ada lagi penutup biaya hidup selanjutnya. Apalagi, kalau gaji sebulan itu untuk biaya perawatan di rumah sakit.

    Bila sehari saja biayanya sebulan gaji, bagaimana kalau waktu perawatannya lebih dari sehari? Pertanyaan itu memenuhi benak banyak orang saat ini. Contohnya pasangan asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhtar (35) dan Kadijah (25). Pasalnya, anak laki-laki mereka, Muhamad Kindavid (3), harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi, karena demam berdarah dengue (DBD).

    Muhtar, yang sejak setahun lalu mengontrak di Pondok Alfurqan, Rt 01/05, Jalan Hasibuan, Kota Bekasi, menceritakan, Kindavid, yang biasa dipanggil Evin itu, jatuh sakit Rabu (25/2) pagi. Evin pun dibawa ke klinik terdekat. Dicurigai menderita DBD, Evin pun disarankan dirawat di RSUD. “Semalaman dia di UGD (Unit Gawat Darurat). Belum terbayangkan biayanya habis berapa,” kata Muhtar, Kamis (26/2) lalu.

    Kadijah, di sebelahnya, segera menyahut, hitungan biaya sementara yang sempat ditanyakannya adalah sekitar Rp 300.000, total untuk bermacam biaya selama di ruang UGD. Kamis pagi, Evin dipindahkan ke ruang perawatan kelas lll Mawar.

    “Perinciannya tidak tahu, tapi katanya sudah harga ruang UGD, obat, dan dokter,” ujar Kadijah.

    Jumlah itu saja sudah membuat Muhtar dan Kadijah kelimpungan. Selama ini pun, mereka hanya bergantung pada penghasilan Muhtar yang tak seberapa, dari mengajar di SMU Bani Saleh, Bekasi. “Gaji tambah lain-lain, total sebulan saya dapat Rp 400.000. Setelah potong kontrakan Rp 150.000, sisanya tinggal Rp 250.000 buat keluarga,” kata Muhtar. Makanya, ia mengaku amat terharu, kala rekan sejawat yang bernasib sama seperti dia, mengumpulkan sumbangan. Jumlahnya hanya sekitar Rp 400.000.

    “Bukan jumlahnya, tapi teman-teman saya itu penghasilannya juga kecil, sama seperti saya. Mereka juga punya kebutuhan. Gaji kami kecil, karena memang sekolah baru, sedang merintis,” ia menambahkan.

    Kebingungan pasangan itu kian menjadi-jadi, ketika mendengar pengakuan dari pasien lain yang telah sepekan dirawat di ruang Mawar karena DBD.

    Pasien itu mengaku telah mengeluarkan biaya perawatan Rp 3 juta. “Dari mana saya dapat uang segitu?” Muhtar mendesah.

    Seorang pasien DBD, menurut keterangan seorang perawat di ruang Mawar, biasanya memerlukan waktu perawatan lima-tujuh hari. Untuk kamar kelas lll, biaya per harinya adalah Rp 25.000, termasuk satu kali kunjungan dokter. Untuk obat, pasien punya pilihan untuk menebusnya sendiri di apotek. Selama perawatan, kata Muhtar, Evin harus terus diinfus suatu cairan yang gunanya menggantikan cairan elektrolit yang keluar melalui keringat dan buang air. “Harganya Rp 35.000 sebotol. Kalau sehari butuh tiga botol, seminggu butuh banyak biaya,” katanya.

    Menunggui Evin di rumah sakit, Muhtar dan Kadijah merasa jadi pandai menghitung, karena selalu diperhadapkan pada masalah itu. Untuk perawatan tujuh hari, untuk kamar dan infus, Muhtar harus menyiapkan dana minimal Rp 910.000, plus selama UGD Rp 300.000. “Buat orang seperti kami, uang segitu bukan sedikit,” ujarnya.

    Kartu Gakin

    Muhtar dan Kadijah tak henti berharap ada suatu kebijakan seperti diterapkan Pemprov DKI Jakarta. Namun, sayangnya, meskipun Kota Bekasi DBD sudah dikategorikan sebagai kasus luar biasa (KLB), Pemkot Bekasi tetap tak merasa harus membuat kebijakan yang dapat meringankan penderitaan warganya. Tidak ada pengobatan gratis di Kota Bekasi, demikian menurut Kadinkes Pemkot Bekasi dr Bambang DS, Selasa pekan lalu.

    “Tapi Wali Kota sudah buat edaran, agar rumah sakit buka pelayanan DBD 24 jam, dan tidak tarik uang muka,” Bambang menambahkan. Di RSUD, untuk kelas lll, Muhtar mengaku ditarik uang muka hanya Rp 38.000. Itu RSUD yang notabene milik pemerintah.

    Ia menambahkan, edaran Wali Kota memang hanya bersifat imbauan tanpa keharusan, hingga tak akan ada sanksi bila tak diikuti oleh pihak rumah sakit. “Ya, kalau mereka mampu, bayar uang muka, kan tidak masalah,” ujarnya.

    “Tapi kan ada kartu Gakin (keluarga miskin). Kartu itu dimanfaatkan saja. Wali Kota juga sudah mengimbau agar pasien dengan kartu Gakin tidak ditolak,” kata Bambang.

    Sayangnya, Muhtar tidak memiliki kartu Gakin. “Saya tidak bisa mendapat Gakin, karena dianggap pendatang,” katanya. Selain baru setahun di Bekasi, ia dinilai masih pendatang musiman karena tinggal di kamar kontrakan. “Sebenarnya, sih, karena tidak punya uang saja.

    Mengurus Gakin paling Rp 50.000,” ujar salah seorang keluarga pasien, yang juga dirawat di ruang Mawar. Lepas dari permasalahan itu, Bambang menghimbau rumah sakit diimbau untuk tidak menolak pasien, kecuali bila memang kapasitas atau daya tampungnya sudah melebihi.

    Pekan lalu, staf bagian pendaftaran cukup kesulitan memberikan data pasti jumlah korban DBD yang dirawat. Sekitar 60 pasien DBD, namun sejauh pengamatan, ruang Mawar memang tampak padat.

    Ruang Mawar, berbentuk bangsal ukuran 8X15 meter, ruang Mawar dibagi menjadi dua dengan sekat tripleks, memanjang. Masing-masing diisi delapan ranjang. Begitu dinyatakan sebagai KLB, ruang itu ditambah kasur.

    RSUD memang tidak mungkin memaksakan daya tampung bila nantinya pasien terus bertambah. Apa daya, pasien baru dirujuk ke rumah sakit swasta, yang tentunya menetapkan biaya lebih besar dari RSUD. Tragisnya, bila pasien seperti Evin harus berobat di RS swasta.

    “Ini hanya semakin memperlihatkan bobroknya sistem kesehatan di Indonesia. Para pejabat dan elite hanya bisa bicara menarik simpati. Mulai dari menyatakan sebagai kasus nasional, sampai janji-janji membebaskan biaya perawatan. Buktinya, kenyataannya, hanya kosong saja,” kata Iskandar Sitorus, dari LBH Kesehatan, Kamis malam lalu.

    ***

    Sumber : Pembaruan/Berthus Mandey

     
  • erva kurniawan 8:34 pm on 21 January 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , ibadah, , ,   

    Mau Alasan Apa Lagi? 

    alquran1Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Tatkala seorang yang kaya raya ditanya, “Mengapa engkau tidak beribadah ?” Sang hartawan beralasan bahwa ia tidak punya waktu untuk beribadah karena seluruh waktunya dihabiskan untuk mengurusi kekayaannya. Mungkin ia lupa bahwa dirinya sebenarnya tidaklah lebih kaya dari Nabi Sulaiman AS yang justru semakin bertakwa dengan bertambahnya kekayaannya. Alasan apa lagi…….???

    Pertanyaan serupa ditujukan kepada seorang karyawan, “Mengapa engkau tidak beribadah?” Sang karyawan berargumen bahwa ia tidak punya waktu untuk beribadah karena sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin ia lupa bahwa dirinya tidaklah lebih sibuk dibandingkan dengan Nabi Muhammad SAW yang selain sebagai kepala negara dan panglima perang, beliau sebagai pendidik umat. Alasan apa lagi……..???

    Seorang yang tidak berpendidikan ditanya, “Mengapa engkau tidak beribadah?” Ia beralasan bahwa ia tidak mampu untuk beribadah karena ilmunya yang rendah.Tidakkah ia lupa bahwa Nabi Muhammad SAW juga tidak bisa membaca dan menulis? Alasan apa lagi ……..???

    Begitupun ketika seorang hamba sahaya ditanya, “Mengapa engkau tidak beribadah?” Sang hamba sahaya beralasan bahwa ia tidak punya waktu untuk beribadah karena sibuk melayani majikannya. Tidakkah ia lupa bahwa dirinya tidaklah lebih sibuk dan sengsara dibandingkan dengan Nabi Yusuf AS? Alasan apa lagi…….???

    Seorang yang sedang sakit ditanya dengan pertanyaan yang sama, “Mengapa engkau tidak beribadah?” Sang pasien beralasan bahwa ia tidak punya waktu dan tenaga untuk beribadah karena derita sakitnya. Cobalah ia ingat lagi, derita sakitnya itu belumlah seberapa dibandingkan dengan penderitaan yang dirasakan oleh Nabi Ayub AS. Alasan apa lagi….???

    Padahal Allah telah jelas berfirman dalam Al-Qur’an dalam surat Adz- Dzariyat ayat 56 : “Tidak semata-mata Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

    Sekarang mau alasan apa lagi?

    ***

    (Dicuplik dari : Sentuhan kalbu melalui kultum Ir. Permadi Alibasyah)