Updates from Februari, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:30 am on 14 February 2012 Permalink | Balas  

    Indahnya Nol

    Pagi itu Kang Bejo pergi ke sawah dengan wajah sumringah sambil senyam-senyum sendiri. Padahal, baru kemaren sore padinya porak-poranda oleh tiupan Gatotkaca alias angin puting beliung. Hujan lebat mengguyuri seluruh permukaan desa. Maklum, lagi musim penghujan. Aneh, kalau mengharapkan kemarau. Melawan takdir, apa?

    Ketika berpapasan di depan kuburan, satu-satunya jalan menuju sawahnya, aku tak bisa menahan diri untuk bertanya.

    “Sugeng enjing Kang. Dungaren kok pagi ini senyam-senyum terus.”

    “Pagi, Cak Mangil. Kalau ndak senyum, musti gimana Cak.”

    “Bukannya sawah sampeyan lagi rusak dan panen terancam gagal?”

    “Lha yo wis terjadi, mau gimana lagi Cak. Awake dewe kan cuma petani. Kalau Kanjeng Gusti punya maksud lain, mau apa kita.”

    Wah, batinku, hebat tenan Kang Bejo ini. Berhektar-hektar sawahnya rusak, tapi tetap tenang.

    Memang, di desa kami, Kang Bejo ini terkenal sebagai petani yang paling rajin dan ndak banyak keinginan. Yang bikin hebat lagi, dia ndak stress ketika panennya gagal. Soalnya, aku denger di desa sebelah, Kaji Somad bunuh diri karena stress. Ikan gurame di 10 tambaknya pada mati, terkena arus bawah yang naik ke atas ketika hujan lebat kemaren. Katanya sih karena modalnya masih pinjeman dari bank. Mungkin stress ndak tahu gimana ngembaliinnya. Padahal perhitungannya sudah matang. Menjelang lebaran, kebutuhan terhadap ikan tinggi. Jika penen tahun ini sukses, dia akan untung besar. Hutang langsung lunas, bisa berangkat haji, dan masih ada sisa untuk modal. Namun hujan lebat itu telah menghancurkan segala impian dan rencannya.

    “Apa ndak sedih sampeyan Kang?”

    “Kalau mau dibawa sedih ya jadi sedih, kalau dibawa enak ya enak. Tinggal milih siapa yang membawa.”

    Wah, makin ndak ngerti saya apa maksud Kang Bejo.

    “Tinggal milih gimana, Kang? Ndak mudeng saya.”

    “Gimana bisa mudeng, lha sampeyan kalau jalan selalu buru-buru. Seperti ngejar setoran.”

    “Kan musti kerja keras Kang. Waktu musti dimanfaatin dengan sungguh-sungguh. Hari ini harus lebih baik dari hari kemaren. Bener tho, Kang?”

    “Iya, bener. Kalau pingin ngerti, monggo, coba perhatikan dan rasakan embun pagi yang menyentuh wajahmu setiap berangkat ke sawah. Jangan sawahnya mulu yang dipikirin sepanjang jalan.”

    Hebat, Kang Bejo mulai mengeluarkan ilmunya, nih..

    “Terus, apa hubungannya?”

    “Kebanyakan tanya sampeyan itu Cak, he.he.. Wis, pokoknya begitu. Rasain aja sendiri. Maaf ya, aku musti belok ke kanan, ke sawahku. Pingin ndengerin suara gemericik air. Assalamu’alaikum Cak Mangil.”

    “Walaikum salam Kang Bejo,” jawabku sambil bingung di akhir percakapan pagi itu. Bukannya dia sedih tanamannya rusak, tapi malah pingin ndengerin air. Apa asyiknya?

    Sesampainya aku di sawahku, kulihat tanaman padi yang kemaren masih rapi dan subur, kini sudah patah-patah, rusak ndak karuan. “Duh Gusti, kenapa sawahku juga kena? Mau makan apa anak istriku?” Aku lupa kalau baru saja ketemu Kang Bejo yang tenang itu. Yang ada di pikiranku hanyalah kegagalan dan kerugian di depan mata. Tubuhku lemes, ndak ada harapan. Aku memang petani baru di desa itu, dan baru kali ini mendapatkan kegagalan panen.

    Esok paginya, aku berangkat lagi ke sawah. Tiba-tiba aku ingat pesan Kang Bejo, “Coba rasakan embun pagi yang menyentuh wajahmu…”

    Sambil memanggul cangkul, sebelum menyusuri jalan, aku merasakan titik-titik kecil embun di wajahku. Aku pejamkan mata dan bernafas dalam-dalam. Kurasakan udara pagi yang sejuk menyentuh setiap permukaan lobang hidung, mengisi paru-paru, dan kurasakan dada mengembang. Kutahan sebentar, dan aaahh… Serasa lepas semua beban pikiran. Yang kurasakan hanya kesejukan di dada. Berulang-ulang kulakukan, sambil berjalan ke sawah.

    Aha.. ini rupanya yang dimaksud Kang Bejo.. Selama ini aku terlalu berpusat pada kesadaran atas, kesadaran pikiran, kepada rencana-rencana. Aku menelusuri jalan yang sama setiap hari, tapi aku tidak pernah memperhatikan jalan-jalan itu. Aku memandang pohon-pohon, tetapi aku tidak malihatnya. Aku lupa dan tidak mempedulikan sama sekali kepada kesadaran bawah, kesadaran hati, kepada embun dan udara pagi yang sejuk mengisi dadaku. Aku lupa, tanpa embun, tidak ada pagi yang sejuk. Tanpa udara sejuk dan bersih, tidak ada kesegaran dalam diri di pagi hari. Aku tidak mendengar suara-suara burung di sepanjang jalan itu.

    Kini, aku pun menikmati segala yang ada di depanku, merasakannya hingga ke dalam hati. Aku berbincang dengan embun-embun itu, menanyakan kabarnya semalam. Aku resapi suara burung di pohon-pohon pinggir jalan, kurasakan kerikil-kerikil kecil memijit-mijit kaki ku yang telanjang.

    Kurasakan sebuah pelepasan.. pelepasan yang sangat mendalam. Pelepasan pikiran. Dan kurasakan hatiku pun semakin sejuk terisi. Dalam pelepasan, kurasakan pengisian. Dalam pelepasan kurasakan keindahan. Kurasakan surga setiap hari, baik dikala sukses maupun gagal.

    Dan aku pun tersenyum, seperti Kang Bejo…

    “Sugeng enjing Cak Mangil. Tumben senyam-senyum…” sapa Kang Bejo pagi itu.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 12 February 2012 Permalink | Balas  

    Aku Tak Selalu Mendapatkan Apa Yang Kusukai, Oleh Karena Itu Aku Selalu Menyukai Apapun Yang Aku Dapatkan.

    Judul artikel diatas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia. Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.

    Pertama : Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam arti yang sesungguhnya.

    Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ”kaya”. Orang yang ”kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan dan orang-orang di sekitar Anda.  Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.

    Seorang pengarang pernah mengatakan,  ”Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur. Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

    Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah. Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya. Saya menjadi gemar gonta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi  rekan-rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar. Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya.  Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.

    Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, ”Lulu, Lulu.” Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, ”Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.” Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia  terkejut melihat penghuni lain itu terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, ”Lulu, Lulu”. ”Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?  ” tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, ”Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.” Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.

    Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian,  ia menjawab, ”Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup ditanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”

    Bersyukurlah !

    Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan. Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan?

    Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu . Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar .

    Bersyukurlah untuk masa-masa sulit . Di masa itulah kamu tumbuh …

    Bersyukurlah untuk keterbatasanmu . Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang .

    Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru . Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu .

    Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat . Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga .

    Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih . Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan .

    Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal baik. Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut. Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif. Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • taufiq 10:13 am on 13 Februari 2012 Permalink

      Alhamdulillah, marilah kita bersyukur kepada Allah

    • susi 7:55 pm on 31 Maret 2012 Permalink

      Assalamu’alaikum…. artikelnya sangat bermanfaat buat saya. Sekalian saya izin copas ya, Pak. Terima kasih.

    • Huda 1:35 pm on 22 Oktober 2012 Permalink

      Aku bersyukur dengan apa yangtelha Allah kurnian kepadaku selama ini.dan aku berharap,agar geliah ini adalah gelisah terakhir yg terjadi di hati.Allah,amupni dosa2ku selama ini kerna aku tidak pernah mensyukuri nikmatMu ya Allah.

  • erva kurniawan 1:31 am on 11 February 2012 Permalink | Balas  

    Berkorban itu Indah

    Telah 2 musim hujan berlalu sehingga di mana-mana tampak pepohonan menghijau. Keliatan seekor ulat di antara dedaunan yang menghijau  bergoyang-goyang di terpa angin.

    ”Apa kabar daun hijau” katanya…..

    Tersentak daun hijau menoleh kearah suara yang datang.

    ”Ohh…kamu ulat, badanmu keliatan kurus dan kecil…mengapa ?” tanya daun hijau.

    ”Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku, bolehkan engkau membantuku sahabat ? ” kata ulat kecil.

    ”Tentu….tentu, dekatlah kemari,’daun hijau berpikir ‘ Jika aku memberikan sedikit saja daunku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau. Hanya saja aku akan keliatan berlobang-lobang…tapi tak apalah.”

    Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju ke daun hijau. Setelah makan dengan kenyang ulat berterima kasih kepada daun hijau yang telah merelakan sebagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas di dalam diri daun hijau. Sekali pun tubuhnya kini berlobang di sana sini namun ia bahagia dapat melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang lapar.

    Tidak lama berselang ketika musim panas datang daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ketanah di sapu orang dan dibakar.

    Renungan

    Apa yang berarti di kehidupan kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama ?  Nahh……akhirnya semua yang ada akan mati bagi sesamanya yang tidak menutup mata ketika sesamanya dalam kesukaran. Yang tidak membelakangi dan seolah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak meminta tolong. Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak melupakan kepentingan diri sendiri.

    Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi orang lain memang tidak mudah, tetapi indah. Ketika berkorban diri kita sendiri mnjadi seperti daun hijau yang berlobang namun sebenarnya itu tidak mempengaruhi kehidupan kita, kita akan tetap hijau…Tuhan akan tetap memberkati dan memelihara kita.

    Bagi daun hijau berkorban merupakan sesuatu perkara yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya dapat tersenyum karena pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya karena menyadari bahwa ia tidak akan selamanya tinggal menjadi daun hijau, suatu hari ia akan kering dan jatuh.

    Demikianlah kehidupan kita, hidup ini hanya sementara…kemudian kita akan mati. Itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan baik, kasih, pengorbanan, pengertian, kesetiaan, kesabaran, dan kerendahan hati.

    Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membawa sukacita tersendiri bagi anda. Kita dapat berkorban dalam banyak perkara, mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu bagi mereka, memberikan apa yang kita punyai dan masih banyak lagi pengorbanan yang dapat kita lakukan.

    Yang mana yang sering kita lakukan? Menjadi ulat kecil yang  menerima kebaikan orang atau menjadi daun hijau yang senang memberi. :-)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 31 January 2012 Permalink | Balas  

    Zalimnya Pemerintahan Ini.

    Sepulang dari pengajian rutin beberapa hari lalu, saya berdiri di tepi trotoar daerah Klender. Angkot yang ditunggu belum jua lewat, sedang matahari kian memancar terik. Entah mengapa, kedua mata saya tertarik utuk memperhatikan seorang bapak tua yang tengah termangu di tepi jalan dengan sebuah gerobak kecil yang kosong. Bapak itu duduk di trotoar. Matanya memandang kosong ke arah jalan.

    Saya mendekatinya. Kami pun terlibat obrolan ringan. Pak Jumari, demikian namanya, adalah seorang penjual minyak tanah keliling yang biasa menjajakan barang dagangannya di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur. “Tapi kok gerobaknya kosong Pak, mana kaleng-kaleng minyaknya?” tanya saya.

    Pak Jumari tersenyum kecut. Sambil menghembuskan nafas panjang-panjang seakan hendak melepas semua beban yang ada di dadanya, lelaki berusia limapuluh dua tahun ini menggeleng. “Gak ada minyaknya.”

    Bapak empat anak ini bercerita jika dia tengah bingung. Mei depan, katanya, pemerintah akan mencabut subsidi harga minyak tanah. “Saya bingung. saya pasti gak bisa lagi jualan minyak. Saya gak tahu lagi harus jualan apa. modal gak ada.keterampilan gak punya..” Pak Jumari bercerita. Kedua matanya menatap kosong memandang jalanan. Tiba-tiba kedua matanya basah. Dua bulir air segera turun melewati pipinya yang cekung.

    “Maaf dik, saya menangis, saya benar-benar bingung. mau makan apa kami kelak.., ” ujarnya lagi. Kedua bahunya terguncang menahan tangis. Saya tidak mampu untuk menolongnya dan hanya bisa menghibur dengan kata-kata. Tangan saya mengusap punggungnya. Saya tahu ini tidak mampu mengurangi beban hidupnya.

    Pak Jumari bercerita jika anaknya yang paling besar kabur entah ke mana. “Dia kabur dari rumah ketika saya sudah tidak kuat lagi bayar sekolahnya di SMP. Dia mungkin malu. Sampai sekarang saya tidak pernah lagi melihat dia. Adiknya juga putus sekolah dan sekarang ngamen di jalan. Sedangkan dua adiknya lagi ikut ibunya ngamen di kereta. Entah sampai kapan kami begini .”

    Mendengar penuturannya, kedua mata saya ikut basah.

    Pak Jumari mengusap kedua matanya dengan handuk kecil lusuh yang melingkar di leher. “Dik, katanya adik wartawan.. tolong bilang kepada pemerintah kita, kepada bapak-bapak yang duduk di atas sana, keadaan saya dan banyak orang seperti saya ini sungguh-sungguh berat sekarang ini. Saya dan orang-orang seperti saya ini cuma mau hidup sederhana, punya rumah kecil, bisa nyekolahin anak, bisa makan tiap hari, itu saja. ” Kedua mata Pak Jumari menatap saya dengan sungguh-sungguh.

    “Dik, mungkin orang-orang seperti kami ini lebih baik mati… mungkin kehidupan di sana lebih baik daripada di sini yah…” Pak Jumari menerawang.

    Saya tercekat. Tak mampu berkata apa-apa. Saya tidak sampai hati menceritakan keadaan sesungguhnya yang dilakukan oleh para pejabat kita, oleh mereka-mereka yang duduk di atas singgasananya. Saya yakin Pak Jumari juga sudah tahu dan saya hanya mengangguk.

    Mereka, orang-orang seperti Pak Jumari itu telah bekerja siang malam membanting tulang memeras keringat, bahkan mungkin jika perlu memeras darah pun mereka mau. Namun kemiskinan tetap melilit kehidupannya. Mereka sangat rajin bekerja, tetapi mereka tetap melarat.

    Kontras sekali dengan para pejabat kita yang seenaknya numpang hidup mewah dari hasil merampok uang rakyat. Uang rakyat yang disebut ‘anggaran negara’ digunakan untuk membeli mobil dinas yang mewah, fasilitas alat komunikasi yang canggih, rumah dinas yang megah, gaji dan honor yang gede-gedean, uang rapat, uang transport, uang makan, akomodasi hotel berbintang nan gemerlap, dan segala macam fasilitas gila lainnya. Mumpung ada anggaran negara maka sikat sajalah!

    Inilah para perampok berdasi dan bersedan mewah, yang seharusnya bekerja untuk mensejahterakan rakyatnya namun malah berkhianat mensejahterakan diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Inilah para lintah darat yang menghisap dengan serakah keringat, darah, tulang hingga sum-sum rakyatnya sendiri. Mereka sama sekali tidak perduli betapa rakyatnya kian hari kian susah bernafas. Mereka tidak pernah perduli. Betapa zalimnya pemerintahan kita ini!

    Subsidi untuk rakyat kecil mereka hilangkan. Tapi subsidi agar para pejabat bisa hidup mewah terus saja berlangsung. Ketika rakyat antri minyak berhari-hari, para pejabat kita enak-enakan keliling dalam mobil mewah yang dibeli dari uang rakyat, menginap berhari-hari di kasur empuk hotel berbintang yang dibiayai dari uang rakyat, dan melancong ke luar negeri berkedok studi banding, juga dari uang rakyat.

    Sepanjang jalan, di dalam angkot, hati saya menangis. Bocah-bocah kecil berbaju lusuh bergantian turun naik angkot mengamen. Di perempatan lampu merah, beberapa bocah perempuan berkerudung menengadahkan tangan. Di tepi jalan, poster-poster pilkadal ditempel dengan norak. Perut saya mual dibuatnya.

    Setibanya di rumah, saya peluk dan cium anak saya satu-satunya. “Nak, ini nasi bungkus yang engkau minta.” Dia makan dengan lahap. Saya tatap dirinya dengan penuh kebahagiaan. Alhamdulillah , saya masih mampu menghidupi keluarga dengan uang halal hasil keringat sendiri, bukan numpang hidup dari fasilitas negara, mengutak-atik anggaran negara yang sesungguhnya uang rakyat, atau bagai lintah yang mengisap kekayaan negara.

    Saat malam tiba, wajah Pak Jumari kembali membayang. Saya tidak tahu apakah malam ini dia tidur dengan perut kenyang atau tidak. Saya berdoa agar Allah senantiasa menjaga dan menolong orang-orang seperti Pak Jumari, dan memberi hidayah kepada para pejabat kita yang korup. Mudah-mudahan mereka bisa kembali ke jalan yang benar. Mudah-mudahan mereka bisa kembali paham bahwa jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabk an di mahkamah akhir kelak. Mudah-mudahan mereka masih punya nurani dan mau melihat ke bawah.

    Mudah-mudahan mereka bisa lebih sering naik angkot untuk bisa mencium keringat anak-anak negeri ini yang harus bekerja hingga malam demi sesuap nasi, bukan berkeliling kota naik sedan mewah…

    Mudah-mudahan mereka lebih sering menemui para dhuafa, bukan menemui konglomerat dan pejabat… Mudah-mudahan mereka lebih sering berkeliling ke wilayah-wilayah kumuh, bukan ke mal…

    Amien Ya Allah.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Eka 1:14 pm on 7 Februari 2012 Permalink

      aminnnn yaa Rabb…

  • erva kurniawan 1:14 am on 26 January 2012 Permalink | Balas  

    Ibu Meninggal Setelah 38 Tahun Merawat Putrinya yang Koma

    Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali … Sepenggal syair lagu itu benar-benar mengena pada sosok ibu asal AS ini. Wanita berusia 80 tahun itu selama berpuluh-puluh tahun merawat putrinya yang mengalami koma.

    Sampai akhirnya ibu penuh kasih itu meninggal, mendahului putrinya yang hingga saat ini masih terbaring dalam koma berkepanjangan.

    Kaye O’Bara menutup mata untuk selamanya di rumahnya di Miami Gardens, Florida . Kamar yang selama ini ditempatinya bersama putrinya, Edwarda sejak 1970 silam. Kaye meninggal dalam tidurnya. Dia telah bertahun-tahun menderita penyakit jantung.

    Semasa hidupnya Kaye pernah berjanji tak akan pernah meninggalkan Edwarda yang ketika itu masih remaja. J anji itu dimulai sejak Edwarda jatuh koma akibat penyakit diabetesnya 38 tahun yang lampau.

    “Kami kira dia akan hidup melampaui kami semua. Wanita itu begitu kuat,” kata keponakan Kaye, Pamela Burdgick seperti dilansir harian News.com.au, Sabtu (8/3/2008).

    Selama kurun waktu 38 tahun, kisah pengabdian Kaye kepada putrinya, Edwarda menarik simpati banyak orang. Para pengunjung yang jumlahnya tak terhitung lagi mendatangi rumah Kaye. Bahkan ada pula sebagian orang yang datang dari J epang untuk ikut merayakan ulang tahun Edwarda.

    Kisah Kaye telah dituangkan dalam buku laris karya Dr. Wayne Dyer yang berjudul A Promise Is A Promise: An Almost U nbelievable Story of a Mother’s U nconditional Love and What It Can Teach U s.

    Edwarda, penderita diabetes, mengalami flu sebelum Natal 1969. Beberapa hari kemudian kondisinya memburuk dan orangtuanya, Kaye dan suaminya, J oe, membawanya ke rumah sakit.

    Beberapa saat sebelum Edwarda kehilangan kesadarannya, remaja putri itu sempat bertanya kepada ibunya: ” J anji ibu tidak akan meninggalkan saya, janji ya?” Kaye pun berjanji tidak akan pernah meninggalkan anak perempuannya itu.

    Itulah kata-kata terakhir yang disampaikan Kaye sebelum anaknya koma berkepanjangan. Dan Kaye menepati janjinya.

    Kaye dengan teratur membalik tubuh putrinya tiap dua jam supaya tidak mengalami nyeri akibat berbaring terlalu lama. Kaye memberinya makan berupa campuran makanan bayi dan susu bubuk melalui tube, menyuntikkan insulin, memutar alunan musik, membacakan buku untuk Edwarda dan tak lelah berdoa di samping tempat tidur Edwarda supaya suatu hari nanti putrinya itu akan sadar kembali.

    Bagi Kaye, mengurus putrinya itu bukanlah beban, melainkan berkat. Kaye sangat yakin, Edwarda akan terbangun. “Bagi saya, dia hampir sadar. Kadang-kadang saya merasa mendengar dia bicara: Ibu, saya baik-baik saja,” kata Kaye kepada media AS, Miami Herald beberapa waktu lalu.

    Namun kini Kaye telah pergi untuk selamanya. Dia meninggalkan Edwarda yang masih terbaring koma entah sampai kapan. Adik Edwarda, Colleen O’Bara mengatakan, keluarga akan terus merawat Edwarda di rumah mereka. Sama seperti Kaye, Colleen juga yakin kakaknya itu akan sadar suatu hari nanti.

    Suami Kaye, J oe mengalami serangan jantung pada tahun 1972 dan meninggal dunia empat tahun kemudian. Sejak itu, Kaye mengurus Edwarda dengan menggunakan tunjangan sosial dari pemerintah dan dana pensiun suaminya, ditambah lagi dengan sumbangan dari orang-orang.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 21 January 2012 Permalink | Balas  

    Doa Yang Selalu Dikabulkan

    Helvy Tiana Rosa

    Pagi itu, dari Jakarta, saya diundang mengisi seminar di IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Saya duduk di bangku kedua dari depan sambil menunggu kedatangan pembicara lain, Mimin Aminah, yang belum saya kenal.

    Jam sembilan tepat, panitia menghampiri saya dan memperkenalkan ia yang baru saja tiba. Saya segera berdiri menyambut senyumnya yang lebih dulu merekah. Ia seorang yang bertubuh besar, ramah, dalam balutan gamis biru dan jilbab putih yang cukup panjang. Kami berjabat tangan erat, dan saat itu tegas dalam pandangan saya dua kruk (tongkat penyangga yang dikenakan-nya) serta sepasang kaki lemah dan kecil yang ditutupi kaos kaki putih. Sesaat batin saya hening, lalu melafazkan kalimat takbir dan tasbih.

    Saat acara seminar dimulai, saya mendapat giliran pertama. Saya bahagia karena para peserta tampak antusias. Begitu juga ketika giliran Mimin tiba. Semua memperhatikan dengan seksama apa yang disampaikannya. Kata-kata yang dikemukakannya indah dengan retorika yang menarik. Wawasannya luas, pengamatannya akurat.

    Saya tengah memandang wajah dengan pipi merah jambu itu saat Mimin berkata dengan nada datar. “Saya diuji Allah dengan cacat kaki ini seumur hidup saya.”

    Ia tersenyum. “Saya lahir dalam keadaan seperti ini. Mungkin banyak orang akan pesimis mengha dapi keadaan yang demikian, tetapi sejak kecil saya telah memohon sesuatu pada Allah. Saya berdoa agar saat orang lain melihat saya, tak ada yang diingat dan disebutnya kecuali Allah,” Ia terdiam sesaat dan kembali tersenyum. “Ya, agar mereka ingat Allah saat menatap saya. Itu saja.”

    Dulu tak ada orang yang menyangka bahwa ia akan bisa kuliah. “Saya kuliah di Fakultas Psikologi,” katanya seraya menambahkan bahwa teman-teman pria dan wanita di Universitas Islam Bandung-tempat kuliahnya itu-senantiasa bergantian membantunya menaiki tangga bila kuliah diadakan di lantai dua atau tiga. Bahkan mereka hafal jam datang serta jam mata kuliah yang diikutinya. “Di antara mereka ada yang membawakan sebelah tongkat saya, ada yang memapah, ada juga yang menunggu di atas,” kenangnya.

    Dan civitas academica yang lain? Menurut Mimin ia sering mendengar orang menyebut-nyebut nama Allah saat menatapnya. “Mereka berkata: Ya Allah, bisa juga ya dia kuliah,” senyumnya mengembang lagi. “Saya bahagia karena mereka menyebut nama Allah. Bahkan ketika saya berhasil menamatkan kuliah, keluarga, kerabat atau teman kembali memuji Allah. Alhamdulillah, Allah memang Maha Besar. Begitu kata mereka.”

    Muslimah bersahaja kelahiran tahun 1966 ini juga berkata bahwa ia tak pernah ber-mimpi akan ada lelaki yang mau mempersuntingnya. “Kita tahu, terkadang orang normal pun susah mendapatkan jodoh, apalagi seorang yang cacat seperti saya. Ya tawakal saja.”

    Makanya semua geger, ketika tahun 1993 ada seorang lelaki yang saleh, mapan dan normal melamarnya. “Dan lagi-lagi saat walimah, saya dengar banyak orang menyebut-nyebut nama Allah dengan takjub. Allah itu maha kuasa, ya. Maha adil! Masya Allah, Alhamdulillah, dan sebagainya,” ujarnya penuh syukur. Saya memandang Mimin dalam. Menyelami batinny a dengan mata mengembun.

    “Lalu saat saya hamil, hampir semua yang bertemu saya, bahkan orang yang tak mengenal saya, menatap takjub seraya lagi-lagi mengagungkan asma Allah. Ketika saya hamil besar, banyak orang menyarankan agar saya tidak ke bidan, melainkan ke dokter untuk operasi. Bagaimana pun saat seorang ibu melahirkan otot-otot panggul dan kaki sangat berperan. Namun saya pasrah. Saya merasa tak ada masalah dan yakin bila Allah berkehendak semua akan menjadi mudah. Dan Alhamdulillah, saya melahirkan lancar dibantu bidan,” pipi Mimin memerah kembali. “Semua orang melihat saya dan mereka mengingat Allah. Allahu Akbar, Allah memang Maha Adil, kata mereka berulang-ulang.”

    Hening. Ia terdiam agak lama.

    Mata saya basah, menyelami batin Mimin. Tiba-tiba saya merasa syukur saya teramat dangkal dibandingkan nikmatNya selama ini. Rasa malu menyergap seluruh keberadaan saya. Saya belum apa-apa. Yang selama ini telah saya lakukan bukanlah apa-apa.

    Astaghfirullah. Tiba-tiba saya ingin segera turun dari tempat saya duduk sebagai pembicara sekarang, dan pertamakalinya selama hidup saya, saya menahan airmata di atas podium. Bisakah orang ingat pada Allah saat memandang saya, seperti saat mereka memandang Mimin?

    Saat seminar usai dan Mimin dibantu turun dari panggung, pandangan saya masih kabur. Juga saat seorang (dari dua) anaknya menghambur ke pelukannya. Wajah teduh Mimin tersenyum bahagia, sementara telapak tangan kanannya berusaha membelai kepala si anak. Tiba-tiba saya seperti melihat anak saya, yang selalu bisa saya gendong kapan saya suka. Ya, Allah betapa banyak kenikmatan yang Kau berikan padaku.

    Ketika Mimin pamit seraya merangkul saya dengan erat dan berkata betapa dia men-cintai saya karena Allah, seperti ada suara menggema di seluruh rongga jiwa saya. “Subhanallah, Maha besar Engkau ya Robbi, yang telah memberi pelajaran pada saya dari pertemuan dengan hambaMu ini. Kekalkanlah persaudaraan kami di Sabilillah. Selamanya. Amin.”

    Mimin benar. Memandangnya, saya pun ingat padaNya. Dan cinta saya pada Sang Pencipta, yang menjadikan saya sebagaimana adanya, semakin mengkristal.

    ***

    (“Pelangi Nurani”: Penerbit Asy Syaamil, 2002)

     
    • farkhan 10:04 pm on 1 Februari 2012 Permalink

      subhanallah

    • akhmad sururi 12:25 pm on 18 Februari 2012 Permalink

      lahaula wala kuata illabillah ….. terima kasih kisahnya sayapun terharu betul salam ke bu mimin..

  • erva kurniawan 1:20 am on 18 January 2012 Permalink | Balas  

    Belajar dari Mbah Tuki: Menggantung Nasib pada Buah Afkir

    Usianya sudah uzur, 68 tahun, namun Mbah Tuki masih harus bergelut dengan kehidupan yang berat. Tiga cucunya menjadi tanggungannya. Sementara ia hanya mengandalkan usaha memulung buah di pasar, untuk dijual kembali

    Adzan shubuh baru saja berlalu, udara dingin pun masih melingkup. Namun Mbah Tuki sudah bersiap dengan kerja rutinnya. Selepas shalat shubuh, keranjang butut bergegas dijinjing menemaninya ke pasar buah sekitar 3 kilometer dari rumahnya. Sementara ketiga cucunya masih tidur pulas di kamar rumah kontrakkan yang sempit.

    Berjalan kaki ia menyusuri jalanan yang masih sunyi. Setiba di pasar buah kawasan Jalan Gunung Galunggung, Kargo, Denpasar, Mbah Tuki langsung beredar mencari pisang-pisang afkir, berharap masih ada bagian yang bagus. Kadang kalau ada modal, lewat pengepul ia memborong sekeranjang, harganya Rp 5 ribu.

    Begitu matahari sudah menyembul dari cakrawala dan lalu lalang manusia berangkat kerja. Mbah Tuki pulang ke rumah. Lantas pisang-pisang afkir yang dibelinya di pasar, ia ambil bagian yang masih bagus. Digoreng lantas dijual dengan cara berkeliling. Hasilnya lumayan untuk uang saku cucunya berangkat sekolah.

    Istirahat? Belum. Mbah Tuki masih kembali lagi ke pasar yang sama, kali ini ditemani cucu terkecilnya. Kali ini ia mencari jeruk, mangga, nanas atau yang buah afkir lainnya. Sama, buah-buahan afkir itu dijualnya kembali setelah dibersihkan. Yang tidak laku, ia berikan kepada anak-anak kecil di sekitar tempat tinggalnya. Selepas adzan dhuhur ia baru pulang ke rumah. Begitu setiap hari yang dikerjakan Mbah Tuki untuk menghidupi ketiga cucunya yang ditinggal kedua orang tuanya entah ke mana.

    “Menawi mboten ngeten sinten sing nyukani sangune lare-lare, kale tumbas beras kagem nedho,” (Kalau tidak begini siapa yang memberi bekal untuk anak-anak, atau beli beras untuk makan),” ujar Mbah Tuki lirih.

    Wanita renta itu kini terpaksa bekerja sendirian menghidupi tiga orang cucunya, Sri Wahyuningsih yang duduk di bangku kelas 4 SD, Alex Siswanto, dan Agus Setiawan (6 tahun). Beban hidupnya cukup berat, selain kebutuhan sehari-hari, Mbah Tuki masih harus mencari uang untuk biaya sekolah cucunya.

    Mbah Tuki tinggal bersama tiga orang cucunya di sebuah rumah kontrakkan yang disewanya Rp 250 ribu per bulan. Hampir semua warga di lingkungan Mbah Tuki adalah pendatang. Hari Raya kemarin Mbah Tuki dan cucu-cucunya tak bisa pulang ke Jember lantaran tak ada biaya. Sudah hampir lima tahun Mbah Tuki melakoni pekerjaannya, walau melelahkan, namun Mbah Tuki tidak pernah mengeluh. Semuanya dikerjakan dengan sabar, senyum selalu tersungging di sela kelelahan.

    Kepada Madani, wanita asal Jember itu mengaku tidak menyangka jika jalan hidupnya akan seperti ini. Awalnya ia datang ke Bali diajak anaknya lelakinya yang bekerja di Denpasar, 12 tahun silam. “Sekarang anak saya pergi ke Jakarta, namun sudah setahun ini tidak ada kabarnya. Istrinya pergi meninggalkan rumah saat Agus, cucu saya, baru berumur 2 tahun,” kata Mbah Tuki.

    Satu cermin lagi buat kita. Sesulit apapun pekerjaan, ternyata masih ada pekerjaan. Memang terkesan jorok, terkesan tidak berkelas, terkesan memalukan. Tapi apakah yang terkesan jorok, yang terkesan tidak berkelas dan yang terkesan memalukan lebih mulia dari pencuri, lebih mulia dari perampok, lebih baik dari para koruptor? Tentu kita sepakat, pencuri, perampok dan koruptor tidak lebih mulia dari Mbah Tuki.

    Usia Mbah Tuki sudah 68 tahun. Tapi semangat, keuletan dan tahan bantingnya tidak kalah dengan anak muda. Bagaimana dengan anak muda sekarang? Jangan mau kalah dengan mbah Tuki. Tetap semangat, ulet dan sungguh-sungguh!

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 16 January 2012 Permalink | Balas  

    Pak Rudi dan Sikat Gigi bekas     

    Pada pagi itu pak Rudi pergi ke sebuah perusahaan dimana dia dipanggil untuk test wawancara untuk menjadi karyawan di Perusahaan tersebut. Saat dalam antrian panggilan untuk test, pak Rudi menyempatkan diri ke toilet untuk sekedar membersihkan muka dan mencuci tangan, karena beliau menggunakan kendaraan umum sehingga banyak debu jalanan yang ingin beliau hilangkan.

    Saat di wastafel, beliau melihat wastafel tersebut kotor dan sedikit disana sini ada kerak kerak porselen, dan disamping wastafel itu ada sikat gigi bekas yang terlihat tak terpakai. Tanpa berfikir panjang, pak Rudi membersihkan wastafel tersebut dengan sikat gigi bekas yang beliau temukan. Dan ternyata tanpa beliau sadari ada orang lain disamping beliau yang melihat perbuatan Pak Rudi tersebut, yang tak lain orang tersebut adalah orang HRD, dan orang itu yang akan mewawancara Pak Rudi.

    Ketika Pak Rudi ada di Ruang test, beliau langsung ditanya oleh sang HRD

    ” Pak, tadi saya lihat pak Rudi membersihkan wastafel dengan sikat gigi bekas, boleh saya tahu, apa tujuan bapak melakukannya, padahal bapak datang kesini bukan untuk wawancara karyawan office boy, atau cleaning service, dan yang pasti…. bapak belum tentu kami terima sebagai karyawan di perusahaan ini…”

    ” Saya melakukannya karena saya ikhlas melakukannya, dan hal itu terlepas dari masalah apakah saya akan diterima atau tidak diperusahaan ini, dan terlepas dilihat orang atau tidak saya melakukannya. Karena saya yakin Allah melihat apa yang saya kerjakan….”

    Apakah anda tahu, siapa yang diterima diperusahaan itu? ya… tentu saja pak Rudi lah orang nya…

    Angle priciple, prinsip malaikat, dimana malaikat adalah mahluk yang terbuat dari cahaya, dimana cahaya itu tidak pernah memilih. Mungkin anda sekarang bisa melihat lampu yang ada dikantor anda, atau dimana saja, atau mungkin matahari yang ada diluar sana. Perhatikan sedikit lampu atau matahari yang ada, dimana menyinari setiap benda, orang dan semua yang ada, tak peduli apakah orang tersebut baik, jahat, kaya atau miskin, tetap dibuatnya terang agar bisa terlihat…

    ***

    Dari Sahabat

     
    • annisa 8:30 am on 17 Januari 2012 Permalink

      Super sekali.., nice story.., moga kita semua bisa mempunyai angle principle dgn keikhlasan yang melekat ( tanpa pamrih), Allah tidak tidur dan sll dekat dgn hamba-Nya yg baik.., insya Allah..^_^

    • makhdy 12:55 pm on 2 Februari 2012 Permalink

      Subhanallah..terima kasih yah…sangat berkesan…izin copas yah….makasih B4…

  • erva kurniawan 1:14 am on 15 January 2012 Permalink | Balas  

    Diancam Dibunuh Setelah Bersyahadat

    Perjuangannya “memeluk” Islam dilakukan dengan penuh resiko, ia bahkan diancam bunuh. Dulu ia ingin ‘mengkristen-kan’ orang. Kini malah mengislamkan orang

    Semenjak memeluk Islam, ibunya sudah tak mengakui lagi ia sebagai anak. Ayahnya bahkan hendak menembaknya pula. Sang kakak menganggap ia sudah gila. Lalu suami menceraikannya. Oleh pengadilan dia divonis tak punya hak mengasuh kedua anaknya, kecuali meninggalkan Islam. Belum selesai sampai disitu, setelah mengenakan jilbab ia malah dikeluarkan dari tempat kerjanya. Begitulah ujian demi ujian datang menerpa Aminah Assilmi setelah memeluk Islam. Namun perempuan Amerika ini tetap tegar. Alhasil, dengan kuasa Allah, beberapa tahun kemudian neneknya yang telah berusia 100 tahun masuk Islam. Lalu bapaknya, diikuti ibu, kakak, anak lelakinya yang telah berusia 21 pun kemudian memeluk Islam. Bahkan, enam belas tahun setelah bercerai, mantan suaminya juga masuk Islam. Kini ia banyak diundang memberikan ceramah di berbagai tempat di Amerika. Satu kalimatnya yang terkenal: “Bagi saya, profesi terbaik adalah menjadi seorang ibu.” Berikut kisah lengkapnya seperti dituangkan dalam http://www.islamfortoday.com.

    Aminah Assilmi dulunya seorang juru baptis, penganut feminis yang radikal dan juga seorang jurnalis radio. Tapi kini, selepas memeluk Islam, dia bagaikan seorang duta besar bagi agama Islam. Sebagai Direktur International Union of Muslim Women atau Persatuan Wanita Muslim Internasional dia benar-benar menyuarakan kebenaran Islam. Aminah kerap mengadakan perjalanan, berceramah di kampus-kampus, menyeru pentingnya kepedulian terhadap masyarakat banyak serta berbagi pemahaman atas keyakinan yang dianutnya kini.

    Aminah sendiri, jauh sebelum mengenal Islam, awalnya berada di garda terdepan kelompok pembenci Islam. Dalam buku yang dikarangnya “Choosing Islam“, Aminah menceritakan perjumpaannya dengan Islam.

    Berawal dari kesalahan komputer

    Aminah dikenal sebagai gadis yang cerdas hingga memperoleh beasiswa selama kuliah. Disamping itu ia juga mengembangkan bisnis sendiri, berkompetisi secara professional hingga akhirnya memperoleh penghargaan (awards). Semua itu berlangsung semasa masih kuliah di perguruan tinggi. Ada kejadian menarik tatkala ia memasukkan data registrasi mata kuliah ke komputer di kampusnya. Berawal dari sinilah ia mengenal Islam hingga di kemudian hari kehidupannya berubah secara total.

    “Kejadian itu pada tahun 1975 ketika pertama kali pendaftaran mata kuliah menggunakan sistem komputer. Waktu itu saya melakukan registrasi sebuah mata kuliah. Setelah mendaftar saya pun berangkat ke Oklahoma untuk urusan bisnis,” kisahnya mengenang. Urusan bisnisnya sedikit lama, membuatnya tertunda kembali ke kampus. Dan baru muncul di kampus dua minggu setelah kuliah dimulai. Bagi dia ketinggalan pelajaran dan tugas-tugas mata kuliah tidak masalah. Namun yang membuatnya sangat terkejut adalah ketika diketahui komputer salah dalam melakukan registrasi. Di komputer namanya tertera sebagai peserta kelas Theatre, sebuah kelas dimana para mahasiswa musti unjuk kebolehan di depan peserta lainnya.

    “Saya ini gadis pendiam. Bagi saya berdiri di depan kelas adalah hal yang sangat menakutkan. Tentu saja membatalkan mata kuliah tidak mungkin lagi. Sudah sangat terlambat. Tidak hadir sama sekali selama kuliah, juga bukan pilihan yang tepat. Sebabnya saya menerima beasiswa. Bila nilai saya jatuh, beasiswa bisa dicabut,” tambahnya.

    Suami Aminah menyarankan agar ia menemui dosennya guna mencari solusi alternatif lain. Oleh sang dosen ia dianjurkan untuk masuk ke kelas lain. Namun alangkah terkejutnya Aminah tatkala masuk ke kelas alternatif itu.

    “Saya tak menduga di kelas itu banyak sekali wanita Arab berjilbab. Waktu itu saya menyebut mereka dengan “para penunggang unta”. Kontan gairah saya hilang,” kenangnya.

    Aminah tidak jadi ikut kelas tersebut dan pulang ke rumah.”Saya tidak mau berada di tengah-tengah orang-orang Arab. Saya tidak mau duduk bareng dengan orang-orang kafir kotor itu!,” tulis Aminah dalam bukunya. Suaminya, seperti biasa, tetap tenang menghadapinya.

    Dengan kalem sang suami menyebut bahwa Tuhan punya maksud tertentu atas segala apa yang terjadi. Ia lalu meminta Aminah untuk berpikir masak-masak sebelum memutuskan berhenti kuliah. Konon lagi pemberi beasiswa telah mengeluarkan dana untuk studinya itu. Selama dua hari Aminah mendekam di kamarnya guna mengambil keputusan. Akhirnya dia memutuskan kembali ke kampus. Kala itu, menurut Aminah, dia seperti merasakan seolah-olah Tuhan memberinya tugas untuk mengkristenkan mahasiswi Arab itu. Ia rasakan seperti ada sebuah misi yang musti dituntaskan segera.

    Misi Kristenisasi

    Kala kembali ke kampus, Aminah pun mulai menjalankan misi Kristenisasi kepada mahasiswi Arab itu.

    “Saya terangkan tentang neraka. Bagaimana mereka akan dibakar dan disiksa jika tak ikut ajaran Kristen. Lalu saya terangkan Yesus cinta mereka dan Yesus mati disalib untuk menebus dosa-dosa pengikutnya. Jadi kita musti ikuti dia.” terang Aminah yang mengaku heran dengan kesopanan mahasiswi Arab tersebut. Mereka tidak membantah sedikitpun dengan apa yang diterangkannya.

    “Anak-anak Arab itu kok belum tertarik juga dengan Kristen. Saya putuskan untuk mencoba cara lain. Yakni saya coba pelajari kitab mereka untuk membuktikan bahwa Islam agama salah dan Muhammad bukan Nabi,” tukasnya lagi.

    Atas permintaan Aminah, seorang mahasiswi Arab memberinya sebuah mushaf Al-Quran dan beberapa buku tentang Islam. Aminah mulai mempelajari Al-Quran berikut dengan bantuan 15 buah buku tentang Islam secara intensif. Al-Quran dibaca berulang-ulang, dikajinya berdasarkan referensi-referensi yang ada, lalu dibacanya lagi. Begitu seterusnya. Selama observasi dia selalu mencatat hal-hal yang tak disetujuinya guna membuktikan pendapatnya Islam agama salah. Kajian berjalan selama hampir satu setengah tahun.

    Cari kelemahan Islam

    Begitulah, setelah berjalan hampir dua tahun, alih-alih berupaya mengganti paham mahasiswi Islam tersebut dengan ajaran Kristen, malah Aminah yang akhirnya belajar Al-Quran. Awalnya dia mempelajari Quran untuk mencari kesalahan-kesalahan Islam, untuk membuktikan Nabi Muhammad bukan Nabi. Akan tetapi semakin dibaca, semakin tertarik ia dengan Islam.

    Tanpa disadari, perilakunya mulai sedikit berubah. Rupanya perubahan itu menarik perhatian suaminya. “Sungguh, tanpa saya sadari ada perubahan kecil dalam keseharian saya. Tapi itu sudah cukup mengganggu pikiran suami. Biasanya saban Jumat dan Sabtu kami sering pergi ke bar atau menghadiri pesta. Tapi saya tidak begitu suka lagi. Bahkan berhenti makan babi dan minum-minuman keras,” kisahnya.

    Lama- kelamaan suaminya mulai menaruh curiga dengan perubahan itu. Suaminya menduga Aminah ada hubungan gelap dengan lelaki lain. Puncaknya, mereka pisah ranjang, dan bahkan kemudian pisah apartemen. Namun Aminah masih terus mengkaji Al-Quran.

    Secara khusus dia mengaku sangat tertarik dengan apa yang dikatakan Al-Quran tentang laki-laki dan perempuan. Wanita Islam, sebelum dia mempelajari Al-Quran, dia pikir berada dalam penindasan suaminya. “Waktu itu dalam sangkaan saya suamilah yang memaksa istri, misal untuk memakai jilbab,” ujar Aminah.

    Melalui kajian intensif, dia dapati bahwa wanita Islam punya kesamaan hak dalam pekerjaan, pendidikan tanpa memperhatikan gender mereka. Yang menarik baginya, pada saat seorang wanita Islam menikah, maka dia tidak harus mengganti nama belakang (nama keluarga-red) menjadi nama keluarga suami, tapi tetap menjaga nama ayahnya. Dan banyak lagi perkara-perkara lainnya. Dari situ Aminah mengambil kesimpulan bahwa Islam atau dengan kata lain Nabi Muhammad telah mengangkat harkat dan martabat kaum wanita.

    Didatangi lelaki berjubah

    Akhirnya, satu malam seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ternyata seorang lelaki berjubah dan mengaku bernama Abdul Aziz Al-Shekh. Ia ditemani tiga orang temannya dengan pakaian yang sama. Aminah sangat terkejut dengan kedatangan pria tak diundang itu. Apalagi tatkala pria berjubah tersebut mengatakan bahwa hanya masalah waktu saja bagi Aminah untuk menjadi seorang muslim.

    “Dia berujar saya sudah siap jadi seorang Islam. Saya kontan menangkal pernyataannya itu dengan menyebut saya orang Kristen. Selama ini saya hanya coba mengkaji, bukan mau masuk Islam. Begitu kata saya malam itu,” tukas Aminah mengenang. Begitupun Aminah mempersilahkan mereka masuk karena ia ingin mengajukan beberapa pertanyaan tentang Islam yang masih menyelubungi pikirannya.

    Aminah menumpahkan semua pertanyaannya, hasil observasi selama hampir dua tahun. Abdul Azis mendengarkan dengan seksama. Tiap pertanyaan dijawabnya dengan sangat tenang dan teratur. Aminah mengaku sangat puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan. “Akhirnya, keesokan harinya, dengan disaksikan Abdul-Aziz dan tiga temannya sayapun bersyahadah. Saat itu 21 Mei 1977,” kenangnya.

    Dikucilkan Keluarga

    Segera setelah Islamnya Aminah, perlahan ujian demi ujian pun datang. Dia dikucilkan oleh keluarga dan teman-temannya. Ibunya tak mengakui lagi ia sebagai anak. Yang lebih parah, sang ayah bahkan hendak menembaknya pula. Kakak Aminah menganggap ia sudah gila dan perlu dirawat di rumah sakit jiwa. Belum berhenti disitu, suami pun menceraikannya. Yang membuat hati Aminah sangat pedih adalah kala pengadilan memutuskan dia tak punya hak mengasuh kedua anakNYA, kecuali meninggalkan Islam. “Saya meninggalkan pengadilan dengan hati yang hancur. Anda bisa bayangkan bagaimana hati seorang ibu dipisahkan dari anak-anaknya,” ujar Aminah sedih.

    Belum selesai sampai disitu, setelah mengenakan jilbab ia malah dikeluarkan dari tempat kerjanya. Namun karena kecintaannya pada Islam, penderitaan-penderitaan itu tidak membuat imannya runtuh. Aminah menyitir sebuah ayat suci Al-Quran (Ayat Kursi-red) yang bikin hatinya tenang:

    Tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi dan Allah tidak merasa berat memelihara kedua-duanya, dan Allah Maha Tinggi Lagi Maha Besar. (Q.S. 2;255).

    Anggota keluarga masuk Islam

    Meskipun keluarga mengucilkannya, Aminah tetap menjaga hubungan dengan mereka. Misalnya, ia sering berkirim surat dan selalu menulis beberapa terjemahan ayat Quran dan hadis yang berhubungan dengan masalah sosial kemanusiaan. Namun Aminah tak menyebut petuah-petuah itu dari Al-Quran. Rupanya strategi itu lumayan manjur. Lama-kelamaan ada respon positif dari anggota keluarga. Aminah pun terus berkirim surat plus kutipan-kutipan berisi ayat Quran dan hadis Nabi.

    Begitulah, dengan sabar dan doa, satu demi satu anggota keluarganya masuk Islam. Pertama, sang nenek yang sudah uzur. “Nenek berusia 100 tahun ketika menerima Islam. Persis setelah itu dia meninggal dunia. Masya Allah nenek meninggal dengan membawa buku amalan yang penuh kebajikan ke akhirat,” kisah Aminah.

    Tak lama, ayah yang dulu hendak membunuhnya juga memeluk Islam. Dua tahun kemudian, sang ibu diikuti oleh kakak Aminah juga bersyahadah. Dan yang membuat Aminah sangat gembira, anaknya yang telah beranjak dewasa (umur 21 tahun) juga mengikuti jejaknya. Yang paling mengharukan, enam belas tahun selepas Islamnya Aminah, mantan suaminya juga mengucap dua kalimah syahadah. Mantan pasangan hidupnya itu bahkan meminta maaf atas segala kekhilafannya.

    Aminah sendiri kala itu telah menikah dengan pria lain. Dia sempat didiagnosa oleh dokter mengidap penyakit kanker dan divonis tidak bisa memiliki anak lagi. Namun Allah punya kuasa. Ia tetap bisa mengandung dan diamanahi seorang anak laki-laki yang diberi nama “Barakah”.

    “Saya sangat gembira menjadi seorang Muslim. Islam adalah hidupku. Islam adalah irama hatiku. Islam adalah darah yang mengalir di sekujur tubuhku. Islam adalah kekuatanku. Islam telah membuat hidupku sangat menyenangkan. Tanpa Islam aku tak berarti apa-apanya. Andai Allah memalingkan wajah-Nya dariku, sungguh aku tak bisa bertahan hidup,” senandung Aminah Assilmi yang telah dua kali berhaji ke Mekkah.

    Tak malu tunjukkan identitas Islam

    Aminah dalam beraktifitas tak malu-malu menunjukkan keislamannya. Misal, dia mengenakan busana muslimah secara sempurna. Jilbab menutupi sekujur kepala dan rambutnya, serta busana panjang menutupi seluruh anggota tubuhnya. Sesuatu yang tidak lazim sebenarnya bagi warga di Amerika, dimana wanita umumnya gemar mempertontonkan aurat mereka.

    Satu ketika Aminah memberikan kuliah di hadapan mahasiswa yang memenuhi ruang kuliah di Universitas Tennesse tentang status wanita dalam Islam berjudul “Wanita Muslim berbicara dari balik hijabnya.”

    “Wanita muslim tidak dibatasi dalam berkarir oleh agamanya. Begitupun, bagi saya, profesi terbaik adalah menjadi seorang ibu. Karena para ibulah yang membentuk generasi masa depan,” ujar Aminah diplomatis. Wanita Islam, lanjutnya, saat ini banyak mendapat diskriminasi di lapangan hanya karena mereka berjilbab. Ia menekankan, terutama di negerinya Amerika, muslimah sangat sulit mengaktualisasikan dirinya. Pernah satu saat ketika Aminah hendak mencairkan cek di sebuah bank. Satuan pengaman bank serta merta menghardiknya seraya mengarahkan moncong senapan ke wajahnya. “Itu hanya karena saya berjilbab,” katanya.

    Aminah mengingatkan para pengeritik Islam yang kerap menyebut bahwa wanita-wanita di negeri-negeri Islam tertindas di bawah kekuasaan lelaki. Ia menjelaskan bahwa yang menindas mereka bukanlah Islam, tapi budaya setempat. Dalam Islam wanita begitu dihormati dan tinggi derajatnya. “Jangan anggap (ajaran Islam) seperti itu. Sangat bodoh,” ujarnya. Ia sangat tidak setuju Islam dijadikan kambing hitam.

    Itulah Aminah Assilmi. Dulunya memojokkan Islam dan bahkan bermaksud meng-Kristen-kan kawan sekelasnya. Berbagai ujian dan penderitaan yang datang selepas ia memeluk Islam tak membuatnya bergeming. Allah berikan ganjaran atas kesabarannya itu dengan mengirimkan hidayah kepada seluruh anggota keluarganya. Kini ia bersama organisasinya memperjuangkan agar umat Islam di Amerika mendapatkan libur di kala merayakan lebaran. Salah satu sukses yang telah mereka rengkuh adalah beredarnya perangko Idul Fitri, hasil kerjasama dengan kantor pos Amerika. Wallahu `alam bisshawab.

    ***

    Oleh:  Zulkarnain Jalil, hidayatullah.com

     
    • erensdh 9:05 pm on 16 Januari 2012 Permalink

      Semoga mereka bisa merubah wajah islam dari dalam, yang sejauh ini sangat ditakuti karena kekejaman-kekejaman para mujahidinnya (fundamentalis/radikalis islam).

    • alfamark 1:02 pm on 2 Februari 2012 Permalink

      Hoax

  • erva kurniawan 1:32 am on 12 January 2012 Permalink | Balas  

    Sepenggal Cinta dari Perempatan Jalan

    Cuaca bisa berubah setiap saat. Iklim makin tak menentu sepanjang awal tahun ini. Siang kadang terasa terik, lantas sore harinya bisa berubah gelap dan turun hujan. Namun, situasi cuaca yang kadang tak bersahabat itu tak menciutkan semangat insan Allah di suatu sudut perempatan jalan itu. Di situ, kita bisa belajar tentang arti hidup. Sebab, di sanalah cinta ini dimulai.

    Di perempatan jalan, tak jarang kita melihat gelandangan dan anak-anak jalanan berada di sudut traffict light. Ada yang memasang wajah iba meminta belas kasihan para pengendara yang kebetulan lewat. Ada pula yang gigih menjajakan koran dan majalah meski kadang kulit mereka terbakar panasnya matahari. Bagi pemerintah daerah setempat, keberadaan mereka dinilai mengganggu pemandangan dan kenyamanan. Karena itu, tak sedikit di antara pengemis jalanan tersebut kena garuk petugas ketertiban kota. Lantas, kita tak tahu bagaimana kelanjutan nasib mereka setelah itu.

    Suatu siang, saya melintas di kawasan Jl Dr Soetomo, Surabaya. Cuaca yang panas makin membuat saya tak sabar menunggu tanda lampu hijau menyala. Sejenak perhatian saya tertuju pada bocah cilik sekitar lima tahun yang sibuk menjajakan koran di antara para pengendara. Saat menuju ke arah saya, anak tersebut menawarkan harian Surya. “Surya seribu, Pak,” kata bocah itu. “Tumbas (belilah) Pak, buat makan,” pintanya setengah merengek agar korannya saya beli.

    Ya Allah, kalau sudah begitu, luluh hati ini tak tega untuk tidak membeli meski sebenarnya saya sudah membawa harian Jawa Pos. Bagaimana tidak, bocah ingusan yang seharusnya masih duduk di bangku TK itu sibuk berkelahi dengan waktu untuk tetap survive di kota metropolis seperti Surabaya ini. Dia terlalu kecil untuk mencicipi getirnya hidup di tengah jalan raya. Terlampau keras untuk merasakan sukarnya mencari uang dengan kerja keras bagi bocah seumuran dia.

    Sebelum lampu hijau menyala, selembar uang seribu rupiah sudah tertukar dengan koran Surya. Sebenarnya, terlalu siang untuk bisa mendapatkan harian pagi Surya. Namun, bila menatap rona berseri dari raut muka anak kecil tersebut, hati saya gerimis. Berapa untung bocah itu dari penjualan koran seharga seribu? Jelas, jumlah pendapatannya dari tiap koran yang terjual tidak sebanding dengan kucuran keringat dan kerja kerasnya. Dia rela jual koran, tidak sekolah, serta terkena panas dan hujan hanya untuk bisa bertahan hidup. Loper koran cilik itu bukan pengemis meski dia berjualan dengan setengah merengek. Dia begitu hanya agar bisa makan pada hari itu. Allahu akbar! Namun, hukum alam terus berputar. Saya yakin, Allah adalah hakim paling adil. Tak perlu menuntut keadilan karena Allah sekaligus jaksa paling mulia.

    Lampu hijau sudah menyala di saat saya ingin berlama-lama tertegun dengan semangat hidup anak itu. Semangat yang melecut saya agar tidak mudah mengeluh di saat menerima kesempitan. Ini bukan pelajaran yang sulit untuk dicerna dengan akal dan jiwa. Tapi, mencernanya pun membutuhkan sentuhan perasaan. Nurani harus lebih banyak bicara agar saya bisa menikmati semakin dalam pelajaran hidup dari bocah cilik tersebut.

    Kendaraan saya mulai melaju meninggalkan perempatan jalan itu. Namun, lajunya agak lambat karena hati ini terasa berat untuk segera berpisah dengan anak kecil tersebut. Ingin rasanya menyampaikan terima kasih tanpa sepatah kata pun kepadanya. Mengapa? Sebab, bocah itu mungkin tak menginginkan kata-kata sebagai ungkapan terima kasih. Layaknya bocah tersebut, yang diinginkan oleh kaum bawah dan miskin memang bukan kata-kata, apalagi janji. Mereka butuh uang untuk beli makanan. Soal perhatian, mereka tak akan pernah memikirkan siapa memedulikan siapa. Sebab, mereka merasa cuma kaum pinggiran yang terbiasa tak diperdulikan penguasa. Yang penting hari ini bisa makan, soal besok itu perkara nanti, itulah harapan mereka.

    Dan bocah penjual koran tersebut, dia jauh lebih mulia ketimbang orang yang malas berusaha. Lapangan kerja memang semakin sempit dan sulit dicari. Tapi, menjadi pengangguran karena gengsi dan malas adalah alasan yang sulit diterima. Sebab, dunia ini bukan ajang kontes menengadahkan tangan tanpa ada kemauan dan usaha. Rezeki tak datang cuma-cuma dari langit turun ke bumi. Sebab, sekarang adalah zamannya rezeki dijemput bukan ditunggu. Bocah itu telah membuktikannya lewat kerja keras ketimbang jadi peminta-minta.

    Betapa uang seribu sangat berarti bagi kaum yang hidup di jalanan seperti bocah tersebut. Memang, Allah menciptakan orang kaya dan orang miskin agar kehidupan dunia ini seimbang. Agar manusia bisa saling berbagi. Sebab, rezeki tak bisa datang tiba-tiba tanpa ada usaha meski datangnya dari Tuhan yang mahakaya. Kita terkadang tak sulit mengeluarkan lembaran puluhan ribu bahkan ratusan ribu. Apalah artinya jikalau dengan uang seribu kita berbagi kasih dengan sesama yang kekurangan seperti bocah itu. Dengan seribu rupiah, kita tidak hanya berinvestasi. Namun, kita juga bisa mengolah hati dengan becermin pada semangat hidup kaum duafa.

    “Dan bumi telah Dia bentangkan untuk makhluk-Nya. Di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang dan bijian-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka, nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS: Ar-Rahman: 10-13).

    ***

    Dari Sahabat

     
    • mahesa djenar 10:11 pm on 12 Januari 2012 Permalink

      BERBAHAGIALAH KITA ,AMIN

    • novia 3:09 pm on 13 Januari 2012 Permalink

      saya cukup terhentak membaca postingan kali ini, saya sering tidak mensyukuri pekerjaan yg telah saya miliki, bekerja di ruang AC pun saya masih sering mengeluh, ya Allah ampuni hambamu ini..

  • erva kurniawan 1:30 am on 3 January 2012 Permalink | Balas  

    Natirah Yang Berjuang

    Natirah, 33 tahun adalah janda cerai sejak tiga tahun lalu. Ia ditinggal suaminya dengan diwarisi rumah tipe 21 yang baru lunas tiga tahun mendatang. Selain itu ia juga berkewajiban menghidupi anak-anak yang tiga orang, dan tetap mempertahankan mereka untuk sekolah. Yang pertama di SMK, yang terakhir masih SD. Untuk itu ia mencoba berjualan rempeyek. Namun mengandalkan usaha kecil ini tidak menyelesaikan masalah. Untungnya kecil, tak cukup untuk makan satu hari. Dalam keterbatasannya Natirah tetap punya cita-cita dapat mengantarkan anaknya hingga jenjang kuliah. Apakah mungkin, terkadang ia tertawa geli. Lulus sekolah saja rasanya sudah beruntung. Namun Natirah bukan sosok yang mudah menyerah. Ia sanggup berjuang!

    Kemudian terbersitlah didalam pikirannya bagaimana jika ia mengojek? Tapi ia tak punya motor. Apalagi wanita jadi tukang ojek sungguh hal yang tidak biasa, duh malunya! Apa kata tetangga? Namun pikiran dan perasaan malu itu hanya sekejap melintas. Nasib anak-anak dan menjaga kelangsungan hidup keluarga menghapus pikiran tersebut.

    Natirah dipinjami motor oleh kakaknya, maka Natirah memutuskan menjadi tukang ojek bagi anak-anak sekolah. Mulanya ia malu untuk menawarkan jasa, tapi kebutuhan di depan mata tak bisa dipenuhi dengan rasa malu dan gengsi. Natirah yang lulusan SMP ini perlahan menekuni profesi yang tak biasa ini. Kini ia punya sembilan pelanggan ojek. Ia mengawali waktu kerjanya sejak pukul 06.00 Satu kali angkut ia membonceng dua anak. Usai mengantar pelanggan ia pulang mengambil dagangan rempeyek, yang ia jajakan dari rumah ke rumah; warung ke warung. Jam 10.00 ia berhenti dan Natirah kembali menjemput pelanggannya, hingga waktu dzuhur. Ia setia menunggu sambil melaksanakan solat di mushala sekolah. Setelahnya ia pulang; istirahat sejenak dan kemudian mengasuh anak-anak yang ditinggal orang tuanya bekerja. Natirah membawa anak-anak itu untuk dijaga di rumahnya yang sempit. Sambil menjaga anak-anak itu, ia memasak untuk makan anaknya sepulang sekolah. Biasanya ia juga membuat adonan rempeyek untuk digoreng malam harinya. Anita anak pertamanya selalu membantu hingga larut malam untuk menggoreng dan membungkus rempeyek. Sementara anaknya yang lain belajar. Natirah sangat bersyukur jerih payahnya terbalas oleh prestasi sekolah anak-anaknya yang membanggakan.

    Menjelang Subuh, Natirah bangun untuk tahajud. Ia mengadu dan berdoa pada Allah SWT. Paginya ia merasa punya enerji baru demi membawa anak-anaknya menuju hidup yang lebih baik.

    Di Bumi Sawangan Indah, Pengasinan, Sawangan, Depok, pengemudi ojek Natirah Ratnasari dengan jilbab dan kacamata hitamnya cukup dikenal. Natirah sungguh seorang perempuan dan ibu teladan yang baik, ramah dan supel. Ia tangguh, dinamis dan ulet. Perjuangan Natirah sejogyanya menjadi inspirasi bagi kaum yang lemah dan terpuruk.

    ***

    Sebagian besar kisah ini dikutip dari REPUBLIKA.

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 30 December 2011 Permalink | Balas  

    Maaf Mas, Saya Nggak Punya Uang Kembalian

    Cuaca hari ini sangat sangat panas. Mbah sarno terus mengayuh sepeda tuanya menyisir jalan perumahan condong catur demi menyambung hidup. Mbah sarno sudah puluhan tahun berprofesi sebagai tukang sol sepatu keliling. Jika orang lain mungkin berfikir “mau nonton apa saya malam ini?”, mbah sarno cuma bisa berfikir “saya bisa makan atau nggak malam ini?”

    Di tengah cuaca panas seperti ini pun terasa sangat sulit baginya untuk mendapatkan pelanggan. Bagi mbah sarno, setiap hari adalah hari kerja. Dimana ada peluang untuk menghasilkan rupiah, disitu dia akan terus berusaha. Hebatnya, beliau adalah orang yang sangat jujur. Meskipun miskin, tak pernah sekalipun ia mengambil hak orang lain.

    Jam 11, saat tiba di depan sebuah rumah mewah di ujung gang, diapun akhirnya mendapat pelanggan pertamanya hari ini. Seorang pemuda usia 20 tahunan, terlihat sangat terburu-buru.

    Ketika mbah sarno menampal sepatunya yang bolong, ia terus menerus melihat jam. Karena pekerjaan ini sudah digelutinya bertahun-tahun, dalam waktu singkat pun ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya.

    “Wah cepat sekali. Berapa pak?”

    “5000 rupiah mas”

    Sang pemuda pun mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya. Mbah sarno jelas kaget dan tentu ia tidak punya uang kembalian sama sekali apalagi sang pemuda ini adalah pelanggan pertamanya hari ini.

    “Wah mas gak ada uang pas ya?”

    “Nggak ada pak, uang saya tinggal selembar ini, belum dipecah pak”

    “Maaf mas, saya nggak punya uang kembalian”

    “Waduh repot juga kalo gitu. Ya sudah saya cari dulu sebentar pak ke warung depan”

    “Udah mas nggak usah repot-repot. Mas bawa dulu saja. Saya perhatikan mas lagi buru-buru. Lain waktu saja mas kalau kita ketemu lagi.”

    “Oh syukurlah kalo gitu. Ya sudah makasih ya pak.”

    Jam demi jam berlalu dan tampaknya ini hari yang tidak menguntungkan bagi mbah sarno. Dia cuma mendapatkan 1 pelanggan dan itupun belum membayar. Ia terus menanamkan dalam hatinya, “ikhlas. Insya allah akan dapat gantinya.”

    Ketika waktu menunjukkan pukul 3 lebih ia pun menyempatkan diri shalat ashar di masjid depan lapangan bola sekolah. Selesai shalat ia berdoa.

    “Ya allah, izinkan aku mencicipi secuil rezekimu hari ini. Hari ini aku akan terus berusaha, selebihnya adalah kehendakmu.”

    Selesai berdoa panjang, ia pun bangkit untuk melanjutkan pekerjaannya.

    Ketika ia akan menuju sepedanya, ia kaget karena pemuda yang tadi siang menjadi pelanggannya telah menunggu di samping sepedanya.

    “Wah kebetulan kita ketemu disini, pak. Ini bayaran yang tadi siang pak.”

    Kali ini pemuda tadi tetap mengeluarkan uang seratus ribuan. Tidak hanya selembar, tapi 5 lembar.

    “Loh loh mas? Ini mas belum mecahin uang ya? Maaf mas saya masih belum punya kembalian. Ini juga kok 5 lembar mas. Ini nggak salah ngambil mas?”

    “Sudah pak, terima saja. Kembaliannya, sudah saya terima tadi, pak. Hari ini saya tes wawancara. Telat 5 menit saja saya sudah gagal pak. Untung bapak membiarkan saya pergi dulu. Insya allah minggu depan saya berangkat ke prancis pak. Saya mohon doanya pak”

    “Tapi ini terlalu banyak mas”

    “Saya bayar sol sepatu cuma rp 5000 pak. Sisanya untuk membayar kesuksesan saya hari ini dan keikhlasan bapak hari ini.”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • arifr 9:22 pm on 30 Desember 2011 Permalink

      “tak pernah sekalipun ia mengambil hak orang lain” .luar biasa mbah Sarno

    • arramuse 9:27 pm on 30 Desember 2011 Permalink

      MasyaAllah..

      :'( ceritanya nyentuh banget..

      pengorbanan + ikhlas + sabar = Rizki yang berlipat ganda ^_^

      :)

    • Lagu Indonesia Terbaru 10:11 am on 31 Desember 2011 Permalink

      mbah Sarno emang ruaaarrr biasa… btw ini kisah nyata ato buat moral story aja, sangat menohok di hati…;-) Thanks gan buat: artikelnya… :-)

    • pungki 9:26 pm on 2 Januari 2012 Permalink

      Subhanallah… belajar ikhlas… :)

    • shinta 9:28 pm on 12 Januari 2012 Permalink

      subhanaallah…benar skali,pelajaran ikhlas dari mbah sarno…

  • erva kurniawan 1:18 am on 29 December 2011 Permalink | Balas  

    Kekuatan Doa

    Seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah supermarket. Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon agar diperbolehkan mengutang. Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja. Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan makan. Pemilik supermarket, mengusir dia keluar. Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang keluarganya.

    “Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya uang.”

    Si Pemilik Toko tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut. “Anda tidak mempunyai kartu kredit, anda tidak mempunyai garansi,” alasannya.

    Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari awal mendengarkan percakapan tadi. Dia mendekati keduanya dan berkata: “Saya akan bayar semua yang diperlukan Ibu ini.”

    Karena malu, si pemilik toko akhirnya mengatakan, “Tidak perlu, Pak. Saya sendiri akan memberikannya dengan gratis. Baiklah, apakah ibu membawa daftar belanja?

    “Ya, Pak. Ini,” katanya sambil menunjukkan sesobek kertas kumal.

    “Letakkanlah daftar belanja anda di dalam timbangan, dan saya akan memberikan gratis belanjaan anda sesuai dengan berat timbangan tersebut.”

    Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Si Ibu menundukkan kepala sebentar, menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut, lalu dengan kepala tetap tertunduk, meletakkannya ke dalam timbangan. Mata Si pemilik toko terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat ke bawah.

    Ia menatap pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil berucap kecil, “Aku tidak percaya pada yang aku lihat.”

    Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum. Lalu, si ibu kumal tadi mengambil barang-barang yang diperlukan, dan disaksikan oleh pelanggan baik hati tadi, si Pemilik toko menaruh belanjaan tersebut pada sisi timbangan yang lain. Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehingga si ibu terus mengambil barang-barang keperluannya dan si pemilik toko terus menumpuknya pada timbangan, hingga tidak muat lagi.

    Si Pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa. Karena tidak tahan, si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas daftar belanja si Ibu kumal tadi. Dan ia-pun terbelalak. Di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek: “Ya Tuhan, Hanya Engkau yang tahu apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan segalanya ke dalam tanganMu.”

    Si Pemilik Toko terdiam. Si Ibu berterimakasih kepadanya, dan meninggalkan toko dengan belanjaan gratisnya. Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang kepadanya. Si Pemilik Toko kemudian mencek dan menemukan bahwa timbangan yang dipakai tersebut ternyata rusak.

    Ternyata memang hanya TUHAN yang tahu bobot sebuah doa. KEKUATAN SEBUAH DOA Saudaraku, Segera setelah membaca cerita ini, ucapkanlah sebuah doa. Hanya itu saja. Sejenak hentikan pekerjaan kita sekarang juga dan ucapkan sebuah doa. Lalu, kita kirimkan cerita ini kepada setiap orang atau sahabat yang kita kenal. Biarlah Tali silaukhuwah ini tidak terputus, karena: “DOA ADALAH HADIAH TERBESAR DAN TERINDAH YANG KITA TERIMA, Tanpa biaya, tetapi penuh daya guna.”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • annisa 8:06 am on 2 Januari 2012 Permalink

      Subhanallah.. nice note.., semoga kita semua Umat islam di dunia mendapat hidayah, rahmat dan ampunan-Nya.. aammiinn..
      Allahuma a’ inna ala dzikrika wa syukrika wa husni ibaadatik.., ya Allah sesungguhnya aku memohon untuk dapat selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan memperbagus ibadahku.., aammiinn..YRA

    • silanaysila 7:32 am on 6 Januari 2012 Permalink

      Subahanallah

    • mahesa djenar 1:55 am on 13 Januari 2012 Permalink

      AMIIIIIIIIIIIIIIIEEEEEEEEEEEEEENNNNNNNNNNNNNNNNN……………………………….

    • iik 1:22 pm on 25 Januari 2012 Permalink

      kun paya kun hanya allah yang tahu yang terdalam dalam hati hambanya

  • erva kurniawan 1:49 am on 14 December 2011 Permalink | Balas  

    Manusia Super

    Siang ini February 6, 2008, tanpa sengaja ,saya bertemu dua manusia super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya diatas jembatan penyeberangan setia budi, dua sosok kecil berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan “Terima kasih Oom!”. Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka.

    Kaki – kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan.

    Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta.

    “Terima kasih ya mbak semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka, tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

    “Maaf, nggak ada kembaliannya..ada uang pas nggak mbak?” mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

    “Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?” suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah.

    “Nggak punya, tukas saya !” lalu tak lama si wanita berkata “Ambil saja kembaliannya, dik !” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.

    Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang “Sudah buat kamu saja, nggak apa.. apa ambil saja !”, namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. “Maaf mbak, Cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan!” Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya.

    Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu di genggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar” Om, bisa tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek!”.

    “eeh nggak usah..nggak usah..biar aja..nih!” saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

    Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya,” Nanti dulu Om, biar ditukar dulu..sebentar”.

    “Nggak apa apa, itu buat kalian ” Lanjut saya.

    “Jangan..jangan Om, itu uang om sama mbak yang tadi juga” anak itu bersikeras.

    ” Sudah..saya Ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas!” saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.

    “Ini deh om, kalau kelamaan, maaf..” ia memberi saya delapan pack tissue

    “Buat apa ?” saya terbengong

    “Habis teman saya lama sih Om, maaf, tukar pakai tissue aja dulu” walau dikembalikan ia tetap menolak.

    Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.

    “Terima kasih Om, !”..mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan ” Duit mbak tadi gimana..? ” suara kecil yang lain menyahut “Lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin…” percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.

    Tuhan..Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang Tissue. Dua anak kecil yang bahkan belum baligh, memiliki kemuliaan diumur mereka yang begitu belia.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • ronny meilano 1:28 pm on 15 Desember 2011 Permalink

      subahanallah………..

    • muyati 8:16 pm on 15 Desember 2011 Permalink

      sebhanallah…..sangat menyentuh

  • erva kurniawan 1:10 am on 12 December 2011 Permalink | Balas  

    Sebuah Email Tentang Rumah Tuhan

    Oleh : Sabrul Jamil

    Sebuah e-mail tiba di PC saya. Isinya tentang pengalaman seorang pekerja asing. Ceritanya, pekerja asing itu tiba untuk pertama kalinya di salah satu perkantoran megah di kawasan Jakarta. Usai memarkirkan mobilnya di basement, ia melihat sekelompok orang, laki dan perempuan, tengah melakukan suatu kegiatan yang aneh di matanya, di salah satu ruangan di basement tersebut. Ruang tersebut kecil dan pengap, dengan tembok rendah mengelilinginya.

    Sesampainya di atas, orang asing ini bertanya tentang apa yang dilihatnya barusan. Orang Indonesia yang kebetulan muslim menjelaskan bahwa orang-orang di basement tersebut sedang sholat, menyembah Allah, Tuhan umat Islam. Sholat adalah kewajiban yang dilaksanakan sehari lima kali. Dengan takjub orang asing itu menjawab, betapa rendahnya apresiasi umat Islam terhadap Tuhan mereka.

    Jika terhadap ia yang cuma manusia bisa disediakan tempat kerja yang lapang dan nyaman, mengapa untuk Tuhan mereka hanya tersisa sebuah ruangan pengap di basement?

    Pembaca, tidakkah keheranan orang asing itu menjadi keheranan kita juga?

    Suatu sore, di salah satu gedung tinggi di kawasan matraman. Setelah menyelesaikan suatu urusan, saya bertanya ke salah satu karyawan di gedung megah tersebut letak musholla. Sudah lewat pukul empat sore. Karyawan tadi, penuh semangat, menunjukkan letak musholla. Dengan berterima kasih, saya bergegas mengikuti arah yang ditunjukkan. Saya melewati areal parkir yang pengap, suatu kantor yang saya perkirakan markas satpam (banyak satpam yang duduk-duduk di depan kantor tersebut, dengan uniform berantakan), dan sampailah saya ke gedung mungil, dengan tulisan kusam tertempel di salah satu temboknya: MUSHOLLA.

    Musholla ini terletak persis di belakang gedung tinggi yang baru saja saya tinggalkan. Ukurannya tak lebih besar dari ruang tamu rumah saya. Temboknya setengah terbuka, dan dimanfaatkan untuk meletakkan sajadah-sajadah, dan… Helm!

    Di ruang yang sempit itu ada seseorang yang tertidur pulas. Tempat wudhu terletak tak jauh dari situ. Ada dua kran. Akhirnya, di naungi suasana pengap dan beraroma kurang sedap, saya menunaikan kewajiban saya kepada Rabb Penguasa Jagat. Ada rasa malu yang tak terkatakan, hanya sebegini apresiasi saya kepada Mu, ya Allah.

    Saya pulang, meliuk-liuk melewati kemacetan pinggiran kota, dengan setumpuk pikiran di kepala. Sudah berapa kali saya dapatkan, sebuah gedung perkantoran megah, dengan tempat sholat yang mirip dengan gudang?

    Karena tuntutan pekerjaan, saya sering keluar masuk kampus dan perkantoran. Dan situasi seperti ini sudah seperti typical: gedung megah, tinggi, dengan lobby dan ruang kerja yang nyaman, namun tak menyisakan satu ruangan pun untuk sholat, suatu ibadah yang nabi katakan sebagai tiang agama. Sebagai gantinya, pihak perkantoran menyediakan tempat sholat di basement, di sela-sela parkir kendaraan. Atau sebaliknya, tempat sholat sering diletakkan di bagian tertinggi gedung, seperti di kantor saya. Ini masih lumayan, karena tempatnya terbuka, sehingga angin dan debu jalan leluasa menerobos. Setidaknya, sholat tidak dilakukan dalam keadaan pengap.

    Tentu ada juga gedung-gedung perkantoran yang menyiapkan tempat sholat yang memadai, meski tidak harus mewah. Gedungnya terawat. Sajadah dan mukena secara teratur dibersihkan. Majalah dindingnya secara berkala diupdate.

    Pembaca yang baik, sholat adalah sejenis ibadah yang menuntut konsentrasi tinggi. Konsentrasi ini adalah awal kekhusyuan. Dengan khusyu’-lah kualitas sholat diperoleh.

    Nah, konsentrasi tentunya memerlukan daya dukung lingkungan. Lingkungan yang bising, pengap, beraroma kurang sedap, secara sunnatullah, akan mengurangi konsentrasi. Rasulullah pernah menolak sajadah yang bergambar, karena khawatir akan mengganggu konsentrasi beliau. Beliau juga memerintahkan imam untuk menyegerakan sholat apabila terdengar suara anak menangis, karena khawatir si ibu akan merasa resah dalam sholatnya. Selain itu, beliau juga secara optimal membersihkan diri. Salah satu sunnah beliau sebelum sholat adalah bersiwak (menggosok gigi), dan memakai harum-haruman.

    Dari situ kita simpulkan, salah satu syarat khusyu’ diperoleh dari situasi dan kondisi ketika sholat. Dilakukan. Terlalu arogan kalau kita menganggap situasi dan kondisi tidak mempengaruhi kekhusyuan sholat kita.

    Bagaimana sholat yang dilakukan di tempat-tempat seperti yang saya gambarkan di awal tulisan ini? Saya khawatir pelaksanaan sholat tersebut hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban.

    Sesungguhnya, yang bertanggung jawab memakmurkan masjid adalah seluruh orang beriman yang berada di wilayah masjid tersebut. Bagaimana cara mewujudkan tanggung jawab tersebut?

    Mungkin, yang pertama kali harus dibangun adalah kesadaran. Kesadaran diperoleh setelah adanya informasi, bahwa Masjid bukanlah sekedar bangunan pelengkap.

    Siapa yang harus memulai?

    Setidaknya, Anda, setelah membaca tulisan ini, mulai menyusun gagasan praktis, apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki situasi di tempat Anda (kecuali kalau Masjid di tempat Anda sudah representatif untuk beribadah). Jadikan ini sebagai peluang amal. Siapa tahu dapat menjadi jalan lain bagi kita untuk bertemu dengan senyumNya.

    ***

    Sumber: (eramuslim) Sabruljamil.Multiply.Com

     
    • annisa 1:19 pm on 22 Desember 2011 Permalink

      Saya juga punya pengalaman yg mengenaskan ttg mushola suatu gedung / mall mewah.. rasanya sediih bgt.., melihat musholla diberikan tempat sisa, di pojok yg dket dgn parkiran., yg bikin kita malas untuk melakukan sholat, namun spt-nya hal itu terjadi karena sang pemilik gedung / mall tsb bukan muslim sehingga mereka tdk punya perasaan menentukan tempat u/ BERIBADAH di tempat spt itu, sebaiknya bagi kita yg muslim ( pengurus/ pemilik) mall/ gedung perlu unjuk gigi untuk memperjuangkan agar MUSHOLLA mendapat tempat yg lebih baik dan agak luas.. ayoo.. kita bisaa..

    • fajar 9:52 pm on 23 Desember 2011 Permalink

      akhir zaman…!!! astagfirullahhaladzim…

  • erva kurniawan 1:53 am on 10 December 2011 Permalink | Balas  

    Jangan Mengeluh, Pertolongan Allah Pasti Datang

    Dalam menjalani hidup yang digariskan Allah Subhanahu wata’ala mungkin ada getir yang kita rasakan. Seperti hidup yang kadang terasa manis, maka kegetiran menjadi sebuah keniscayaan. Hal yang terbaik adalah senantiasa ridha atas ketetapanNya, dan berbuat yang terbaik untuk mendapatkan keridhaanNya. Bukan mengeluh, sebab hanya mereka yang tak beriman yang senantiasa putus harapan.Seperti kaum muslimin yang menjalani perang Khandaq dalam ayat 214 surat Al Baqarah di muka. Dalam kondisi paling kritis pun, seorang muslim tidak boleh memiliki prasangka buruk terhadap Allah, apalagi mengeluh terhadap kondisi yang berlaku. Ketahuilah pertolongan Allah sungguh amat dekat!

    Sore itu Rabu, tanggal 27 Juni 2007 ada sebuah sms masuk ke hp Ustadz Burhan. Sms itu berasal dari Abdul Majid rekannya dan berbunyi: NANTI MALAM SAYA MAU KE RUMAH BA’DA MAGRIB, BOLEH GA?

    Sang ustadz menjawab: BOLEH, TAPI JANGAN BA’DA MAGRIB. ABIS ISYA AJA YA…. DITUNGGU!

    Abdul Majid membalas lagi: JGN DITUNGGU, KARENA MAU “NGEREPOTIN”. ANGGAP AJA DATENG MENDADAK!

    Ustadz Burhan tidak membalas sms terakhir dan benar saja begitu shalat Isya telah didirikan, Abdul Majid pun datang ke rumah Ustadz. Abdul Majid datang ke rumah Ustadz Burhan dengan tampang kusut. Sepertinya dia lagi banyak masalah. Biasa orang sekarang, Hidup sarat dengan masalah! Saking pusing dengan masalahnya ia langsung berkata kepada ustadz dan masuk rumahnya tanpa salam: “Bang Haji, tolongin saya dong pinjemin duit barang tiga juta setengah… Saya lagi pusing nih!”

    “Emangnya ada apa Majid?” sang ustadz bertanya balik. Setahu ustadz Burhan, Abdul Majid adalah anak yang baik. Dia baru berumur 27 tahun dan belum menikah. Meski demikian, Abdul Majid mau memikirkan nasib anak-anak yatim di kampungnya, dan ia pun mendirikan sekolah gratis untuk mereka. Abdul Majid di kampungnya dikenal sebagai tuan guru.

    “Begini… saya pernah janji sama anak-anak di sekolah bahwa kalau mereka lulus ujian akhir tahun ini saya mau ajak mereka jalan-jalan ke Jakarta. Semalam saya sudah lihat raport mereka semua. Alhamdulillah mereka lulus! Tapi tiba-tiba saya terbayang janji saya tempo hari. Malam tadi saya kalkulasi, keperluan jalan-jalan adalah tiga setengah juta. Hari Jum’at raport dibagiin dan Sabtu saya mau ajak mereka semua jalan-jalan. … Tolong dong bang haji, pinjemin saya duit tiga setengah juta!” Ustadz Burhan hanya tersenyum mendengar penuturan Abdul Majid. Tulus sekali anak ini, gumamnya. Demi kepentingan anak-anak yatim sampai sedemikian hebatnya ia memikirkan.

    Sambil tersenyum dan menghibur Ustadz Burhan bilang kepada Abdul Majid: “Begini…. urusan tiga setengah juta gampang nyarinya. Asal elo dan gua malam ini dan besok mau ngerjain tiga hal:

    1) Tahajud malam ini.

    2) Berdoa sungguh-sungguh sama Allah agar Dia mau kasih duit sejumlah itu, dan

    3) Punya duit berapa sekarang di kantong?”

    Kalimat terakhir Ustadz Burhan mengagetkan Abdul Majid.

    Dengan keheranan ia bertanya, “Ada sih 250 ribu..!”

    “Boleh gak disedekahin 100 ribu?!” ustadz Burhan bertanya.

    Sambil keheranan Abdul Majid bertanya, “Disedekahin ke Antum?”

    “Nggak…. sedekahin aja kemana ente mau! Insya Allah kalo tiga hal ini elo kerjain, Allah bakal ngedatengin uang yang kita perluin. Asal kita yakin Allah bakal nolong!”

    Pembicaraan antara dua hamba Allah pun terus berlangsung. Hingga waktu menunjukkan lebih dari jam 9 malam. Ustadz Burhan pun menyuruh Abdul Majid pulang. Namun Abdul Majid belum mau berdiri dari kursi. Maka ustadz pun masuk kamar. Sejurus kemudian dia membawa 5 lembar uang limapuluh ribuan. Uang itu diberikan kepada Abdul Majid dan ia pun menghitungnya. Abdul Majid mengira bahwa keperluannya sebesar tiga juta setengah akan ditutupi oleh ustadz. Matanya berbinar saat melihat ustadz membawa lembaran kertas berwarna biru itu. Kelima lembar uang itu dihitungnya dihadapan ustadz.

    Usai menghitung Abdul Majid berkata, “Kok Cuma dua ratus lima puluh ribu doang?” Ia bertanya keheranan, mungkin jumlah yang ia dapati jauh dari harapan.

    “Iya… itu cuma segitu doang. Mudah-mudahan itu jadi pancingan. Yang penting jangan lupa tiga hal tadi. Insya Allah pasti akan ada pertolongan! ” Ustadz Burhan coba menegaskan. Tapi Abdul Majid masih belum merasa yakin. Meski sudah diantar hingga ke halaman oleh Ustadz Burhan, ia masih bertanya, “Emangnya bener kalo saya kerjain 3 hal tadi, saya bisa dapat duit Jum’at pagi?”

    Terlihat raut kebimbangan pada wajah Abdul Majid. “Jangankan Jum’at pagi, besok pagi pun kalo Allah mau pasti uang itu bisa kite dapetin. Yang penting yakin dan kerjain aja 3 hal itu!”

    Ustadz Burhan sekali lagi meyakinkan. Akhirnya Abdul Majid pun pulang bersama sepeda motornya.

    Kamis siang pukul 13 tanggal 28 Juni 2007, Abdul Majid mengirim SMS ke nomer ustadz Burhan. Sms itu berbunyi: ASSALAMU’ALAIKUM. SUDAH SIANG GINI SAYA BELOM DAPET 3,5 JT. PADAHAL SUDAH SHODAQOH. ADA CARA LAIN GA?

    Dari sms itu, Ustadz Burhan tahu bahwa Abdul Majid sedang panik. Maka beliau pun membalas: KALO UDAH SEDEKAH, SEKARANG DOA AJA YANG SUNGGUH-SUNGGUH DAN BERTAWAKKAL. PASTI ALLAH TOLONG!

    Lama tidak ada balasan sms dari Abdul Majid. Ustadz mengira bahwa Abdul Majid sudah mendapat pertolongan atas masalahnya. Namun pukul 19:56 ada sebuah sms lagi dari Abdul Majid masuk ke hpnya: ASTAGFIRULLAHAL’ ADZIM. KIRA2 SAYA DOSA APA YA? DO’A SAYA GAK DI QOBUL. Menerima sms itu Ustadz Burhan turut merasa panik. Besok pagi padahal sudah hari Jum’at. Hal yang membuat panik sang ustadz adalah bahwa dirinya telah menggiring Abdul Majid untuk masuk ke jalan Allah Subhanahu wata’ala demi menyelesaikan permasalahannya. Ustadz Burhan khawatir, andai saja pertolongan Allah itu tidak datang, pasti keyakinan Abdul Majid kepada Allah subhanahu wata’ala akan berkurang. Lama Ustadz Burhan berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala agar dia berkenan memudahkan urusan Abdul Majid.

    Usai hatinya tenang, sang ustadz membalas sms dengan menuliskan: ALLAH GAK BUTA & TULI. DIA NGELIAT DAN NGEDENGER APA YANG KITA PERLUIN. TERUS SAJA BERDOA DAN TAWAKKAL! SAYA JUGA BERDOA SEMOGA URUSAN INI AKAN DPT PERTOLONGAN. Abdul Majid tidak membalas sms. Ustadz Burhan mengira jangan-jangan dia sudah tidak percaya lagi dengan kekuatan doa. Maka Ustadz Burhan pun terus mendoakan Abdul Majid dan urusannya. Hingga saatnya kira-kira pukul 9 pagi di hari Jum’at. Ustadz Burhan mendengar suara dering masuk di hpnya. Namun karena beliau sedang berada dalam kendaraan umum, maka hp itu tidak diangkatnya.

    Tepat beberapa langkah setelah beliau turun dari metro mini yang ditumpanginya, sekali lagi hpnya berdering. Beliau tidak sempat melihat nomer penelpon pada display hp. Belum lagi beliau berucap salam, terdengarlah suara yang begitu riang di seberang: “Bang haji…. Alhamdulillah, Alhamdulillah! Ini Majid, saya sudah dapat duit tiga setengah juta itu. Bukan pinjem lagi, kebetulan ada orang ngasih… Alhamdulillah! ” Mendengar suara gembira itu, ustadz Burhan turut bersyukur.

    Beliau pun bertanya, penasaran “Bagaimana ceritanya bisa dapet duit itu?”

    “Entar saya datang ke rumah bang haji deh…. Biar bisa cerita selengkapnya. Sekarang saya mau pulang ke kampung dulu, ngejar pembagian raport. Mudah-mudahan besok pagi bisa bawa anak-anak main ke Jakarta!” Telepon itu pun ditutup dengan diakhiri suara nada riang Abdul Majid.

    Kini tinggal, ustadz Burhan bertanya-tanya darimana Allah mendatangkan pertolongan itu? Belakangan beliau tahu dari seseorang bahwa bupati dimana Abdul Majid berada memberikan bantuan kepada sekolahnya persis sebesar uang yang dibutuhkan oleh Abdul Majid. Sungguh pertolongan Allah akan datang, maka janganlah mengeluh!

    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Razin disebutkan,

    “Tuhanmu merasa heran dengan keputus-asaan hambaNya padahal pertolonganNya sudah amat dekat. Maka Allah memandangi hamba-hambaNya yang berputus asa. Dia terus tertawa memandangi hamba-hambaNya padahal Dia amat tahu bahwa pertolongannya begitu dekat.” Tafsir Ibnu Katsir.

    ***

    Oleh: Bobby Herwibowo

     
    • Bambang Sucipto.Drs (@t212kyb) 6:06 am on 10 Desember 2011 Permalink

      Assalam`mualaikum,wr,wb
      Di dalam Quran surat Ibrahim ayat 44 ada bacaan yang bunyinya min-qablu
      Yang saya ingin tanyakan :
      Kenapa kalimat qablu dibaca marfu atau dhomah padahal sebelumnya ada huruf khafadh berupa min ? Sukron satir

  • erva kurniawan 1:53 am on 6 December 2011 Permalink | Balas  

    Kejujuran

    Kejujuran, betapa langkanya kata ini! Mencari orang yang jujur saat ini hampir sama mustahilnya denganmencari jarum di dalam tumpukan jerami. Jujur bukanlah semata-mata tidak berkata dusta. Ketika Nabi bersabda : Qulil Haq Walau Kaana Murro “katakanlah kebenaran itu walupun pahit”, sebenarnya Nabi memerintahkan kita untuk berlaku jujur dengan lidah kita. Ketika Nabi bersabda, “andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya,” sesungguhnya Nabi mengajarkan kita untuk bertindak jujur dalam penegakkan hukum meskipun terhadap keluarga sendiri. Ketika Al-Qur’an merekam kalimat suci, “sampaikanlah amanat kepada yang berhak,” sesungguhnya Allah menyuruh kita bersikap jujur ketika memegang amanah, baik selaku dosen, pejabat, ataupun pengusaha. Sewaktu Allah menghancurkan harta si Karun karena Karun bersikukuh bahwa harta itu diraihnya karena kerja kerasnya semata, bukan karena anugerah Allah, sebenarnya Allah sedang memberi peringatan kepada kita bahwa itulah azab Allah terhadap mereka yang tidak berlaku jujur akan rahmat Allah.

    Tengoklah diri kita sekarang….Masihkah tersedia kejujuran di dalam segala tindak tanduk kita? Ketika anda terima uang sogokan sebenarnya anda telah berlaku tidak jujur. Ketika anda enggan menolong rekan anda, meskipun anda sadar anda mampu menolongnya, saat itu anda telah menodai kejujuran.

    Ketika di sebuah pengajian anda ditanya jama’ah sebuah pertanyaan yang sulit, dan anda tahu bahwa anda tak mampu menjawabnya, tapi anda jawab juga dengan “putar sana-sini”, maka anda telah melanggar sebuah kejujuran (orang kini menyebutnya “kejujuran ilmiah”).

    Adakah orang jujur saat ini?

    Bahkan Yudhistira yang dalam kisah Mahabharata terkenal jujur pun sempat berbohong dihadapan Resi Durna saat perang Bharata Yudha. Dewa dalam kisah tersebut menghukum Yudhistira dengan membenamkan roda keretanya ke dalam tanah beberapa senti. Anda boleh tak percaya cerita Mahabharata ini, tapi jangan bilang bahwa anda meragukan Allah mampu menghukum kita akibat ketidakjujuran kita dengan lebih dahsyat lagi. Kalau Dewa mampu menghukum Yudhistiraseperti itu, jangan-jangan Allah akan membenamkan seluruh yang kita banggakan ke dalam tanah hanya dalam kejapan mata saja.

    Guru saya pernah bercerita ketika ada orang yg baru masuk Islam bertanya kepada Rasul bahwa ia belum mampu untuk mengikuti gerakan sholat dan kewajiban lainnya, konon, Rasul hanya memintanya untuk berlaku jujur. Ketika ada seorang warga negara Inggris yang masuk Islam, dan belum bisa sholat serta puasa, saya minta dia untuk berlaku jujur saja dahulu. Orang asing itu terperanjat. Boleh jadi dia kaget bahwa betapa Islam memandang tinggi nilai kejujuran. Kini, saya yang terperanjat dan terkaget-kaget menyaksikan perilaku kita semua yang sudah bisa sholat dan puasa namun tidak mampu berlaku jujur.

    Duh Gusti….betapa jauh prilaku kami dari contoh yang diberikan Nabi-Mu…..

    ***

    Oleh:  Miftachul Arifin

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 1 December 2011 Permalink | Balas  

    Jangan Biarkan Dirimu Hancur

    Suatu ketika, ada seorang sahabat memulai kotbahnya dengan mengeluarkan selembar uang seratus ribu yang baru. Kemudian dia bertanya “Siapa di antara kamu yang mau uang ini, jika diberikan ikhlas padamu?” Langsung saja yang mengangkat tangan banyak sekali. Katanya lagi ” Ya, ini akan saya berikan, tapi sebelumnya biar saya melakukan hal ini”. Sahabat tersebut meremas uang kertas seratus ribu itu, menjadi gulungan kecil yang kumal.

    Kemudian dia buka lagi ke bentuk semula : lembaran seratus ribu, tapi sudah kumal sekali. Lalu dia bertanya ” Siapa yang masih mau uang ini?” Tetap saja banyak yang angkat tangan, sebanyak yang tadi.

    “Oke, akan saya kasih, tapi biarkan saya melakukan hal ini”. Dia menjatuhkan lembaran uang itu ke lantai, terus diinjak-injak pakai sepatunya yang habis berjalan di tanah becek sampai nggak karuan bentuknya. Dia tanya lagi” siapa yang masih mau?” Tangan-tangan masih saja terangkat. Masih sebanyak tadi.

    “Nah, sahabatku, sebenarnya aku dan kau sudah mengambil satu nilai yang sangat berharga dari peristiwa tadi. Kita semua masih mau uang ini walau bentuknya sudah nggak karuan lagi. Sudah jelek, kotor, kumal… tapi nilainya nggak berkurang: tetap seratus ribu rupiah.

    Sama seperti kita. Walau kau tengah jatuh, tertimpa tangga pula… tengah sakit, tengah hancur pula, atau kau gagal, nggak berdaya, terhimpit, dan merasa terhina, kecewa dan terkhianati, atau dalam keadaan apapun, kau tetap nggak kehilangan nilaimu… karena kau begitu berharga. Jangan biarkan kekecewaan, perasaan, ketakutan, sakit hati, menghancurkan kamu, harapanmu, atau cita-citamu.”

    “Kamu akan selalu tetap berharga, bagi dirimu, bagi diriku, bagi sahabatmu, bagi sahabat yang lain dan kau tetap sama dimata Tuhanmu. Dia, Tuhanmu, akan berlari mendekatimu, jika kau berjalan menuju-Nya. Aku pun sahabatmu akan melakukan hal yang sama, karena fithrah setiap diri kita akan mulia jika mencoba mendekati sifat2 Tuhan kita. Disanalah nilai dirimu berada.”

    ***

    Sumber : http://www.dudung.net

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 22 November 2011 Permalink | Balas  

    Buah Iman

    Kebun di belakang rumah nenek ditanami berbagai jenis tanaman. Diantara tanaman-tanaman itu ada dua jenis tanaman yang bentuk daunnya sama. Kedua tanaman itu akan mudah dibedakan hanya bila sudah berbuah, karena bentuk buahnya berbeda.

    Seperti halnya tanaman, kita juga dapat mengenal orang yang bertaqwa melalui buah iman mereka. Rasulullah SAW telah memberi tauladan ‘buah-buah iman’ berupa: ‘kejujuran, kesabaran, kemurahan hati, penguasaan diri, memaafkan, berbuat baik, lemah-lembut, dan kasih sayang’.

    Apakah orang yang kita jumpai mengenal kita sebagai ‘muslim’ dari buah yang kita hasilkan dalam hidup ini?

    ***

    Oleh Beth

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 21 November 2011 Permalink | Balas  

    Syair Penjual Kacang

    Al-Habib , seorang yang dikasihi oleh banyak orang dan senantiasa didambakan kemuliaan hatinya, malam itu mengimami sholat isya suatu jamaah yang terdiri dari para pejabat negara dan pemuka masyarakat. Berbeda dengan adatnya, sesudah tahiyyat akhir diakhiri dengan salam, Al-Habib langsung membalikan tubuhnya, menghadapkan wajahnya kepada para jamaah dan menyorotkan matanya tajam-tajam.

    “Salah seorang dari kalian keluarlah sejenak dari ruang ini, ” katanya, “Di halaman depan sedang berdiri seorang penjual kacang godok. Keluarkan sebagian dari uang kalian, belilah barang beberapa bungkus.”

    Beberapa orang langsung berdiri dan berlari keluar, dan kembali ke ruangan beberapa saat kemudian. “Makanlah kalian semua,” lanjut Al-Habib, “Makanlah biji-biji kacang itu, yang diciptakan oleh Alloh dengan kemuliaan , yang dijual oleh kemuliaan dan dibeli oleh kemuliaan.”

    Para jamaah tak begitu memahami kata-kata Al-habib,sehingga sambil menguliti dan memakan kacang, wajah mereka tampak kosong.

    “Setiap penerimaan dan pengeluaran uang,” kata Al-Habib, “hendaklah dipertimbangkan berdasarkan nilai kemuliaan. Bagaimana mencari uang, bagaimana sifat proses datangnya uang ke saku kalian, untuk apa dan kepada siapa uang itu dibelanjakan atau diberikan, akan menjadi ibadah yang tinggi derajatnya apabila diberangkatkan dari perhitungan untuk memperoleh kemuliaan.”

    “Tetapi ya Habib,” seorang bertanya, “apa hubungan antara kita beli kacang malam ini dengan kemuliaan?”

    Al-habib menjawab, “Penjual kacang itu bekerja sampai larut malam atau bahkan sampai menjelang pagi.Ia menyusuri jalanan, menembus gang-gang kota dan kampung-kampung. Di malam hari pada umumnya orang tidur, tetapi penjual kacang itu amat yakin bahwa Alloh membagi rejeki bahkan kepada seekor nyamuk pun. Itu taqwa namanya. Berbeda dari sebagian kalian yang sering tak yakin akan kemurahan Alloh, sehingga cemas dan untuk menghilangkan kecemasan hidupnya ia lantas melakukan korupsi, menjilat atasan serta bersedia melakukan dosa apa pun saja asal mendatangkan uang.”

    Suasana menjadi hening. Para jamaah menundukkan kepala dalam-dalam. Dan Al-Habib meneruskan, “Istri dan anak penjual kacang itu menunggu di rumah, menunggu dua atau tiga ribu rupiah hasil kerja semalaman. Mereka ikhlas dalam keadaan itu. Penjual kacang itu tidak mencuri atau memperoleh uang secara jalan pintas lainnya. Kalau ia punya situasi mental mencuri, tidaklah ia akan tahan berjam-jam berjualan.”

    “Punyakah kalian ketahanan mental setinggi itu?” Al-Habib bertanya, “Lebih muliakah kalian dibanding penjual kacang itu, atau ia lebih mulia dari kalian? Lebih rendahkah derajat penjual kacang itu dibanding kalian, atau di mata Alloh ia lebih tinggi maqom-nya dari kalian? Kalau demikian, kenapa dihati kalian selalu ada perasaan dan anggapan bahwa seorang penjual kacang adalah orang rendah dan orang kecil?”

    Dan ketika akhirnya Al-Habib mengatakan, “Mahamulia Alloh yang menciptakan kacang, sangat mulia si penjual kacang itu dalam pekerjaannya, sera mulia pulalah kalian yang membeli kacang berdasar makrifat terhadap kemuliaan….”. Salah seorang berteriak, melompat dan memeluk tubuh Al -Habib erat-erat.

    ***

    Dari : Emha Ainun Nadjib

    Seribu masjid Satu jumlahnya

    Tahajjud cinta seorang hamba

    Penerbit Mizan 1995

     
    • Kopi Luwak 10:02 pm on 23 November 2011 Permalink

      Sebuah cerita ketaladanan yang pantas untuk menjadikan sebagai contoh di kehidupan nyata ini..!

    • oca 11:43 am on 15 Desember 2011 Permalink

      Subhanallah,…..smpe nangis baca na,…sangat menyentuh,.. Terimakasih y

    • susi 8:42 am on 11 April 2012 Permalink

      assalamu’alaikum… izin copas .. :)

  • erva kurniawan 1:13 am on 19 November 2011 Permalink | Balas  

    Pembunuh dan Penyembelih

    Seusai mengaji Al-Qur’an bersama, disebuah surau, terdengar suara Pak Guru berbicara tentang keburukan kepada murid-muridnya. “Kenapa dalam kenduri tadi malam tak kita sebut Fulan membunuh ayam, melainkan Fulan menyembelih ayam? Kenapa Fulan tidak disebut pembunuh, melainkan penyembelih?”

    “Karena kebaikan dan keburukan itu bentuk pekerjaanya bisa sama, tetapi berbeda perhubungan nilai dan haknya.Kalian menggenggam sebilah pedang, kemarin kalian menebaskannya ke dahan pohon, hari ini ke leher seseorang. Yang kalian lakukan semata-mata menebaskan pedang, tetapi pada tebasan yang kedua, kalian menghadirkan sesuatu tidak pada tempatnya dan tidak pada haknya.”

    “Selembar kertas yang bersih kalian hamparkan di atas lantai rumah yang bersih: kertas itu menjadi kotoran pada lantai. Demikian pula jika kalian tidur di tengah jalan raya, sembahyang subuh di siang bolong, atau menyanyikan lagu keras-keras di rumah sakit.Keburukan adalah kebaikan yang tidak diletakkan pada ruang dan waktunya yang tepat.”

    “Makan gulai itu baik dan bergizi, tapi ia menjadi kejahatan jika kalian lakukan tanpa berbagi dengan seseorang yang kelaparan yang pada saat itu berada dalam jangkauanmu.”

    “Mengucapkan kata-kata, mengungkapkan pengetahuan atau menuturkan ilmu; betapa mulia.Tetapi pada keadaan tertentu yang kalian ucapkan adalah dusta. Jadi mengucapkan (pada menuturkan ilmu) dan mengucapkan (pada berkata dusta) itu berbeda (walaupun sama-sama berkata-kata/mengucapkan sesuatu) seperti perbedaan antara surga dan neraka.”

    “Mengambil air di sumur, mengambil bebuahan di ladang atau mengambil uang disaku; baik itu adanya. Tetapi sumur siapa, ladang siapa dan saku siapa: itulah yang menentukan apakah kalian mengambil ataukah mencuri.”

    ***

    Emha Ainun Nadjib

    Seribu masjid Satu jumlahnya

    Tahajjud cinta seorang hamba

    Penerbit Mizan 1995

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 17 November 2011 Permalink | Balas  

    Siapa Yang Tahu Maksud Allah

    Rasulullah pada suatu waktu pernah berkisah. Pada zaman sebelum kalian, pernah ada seorang raja yang amat dzalim. Hampir setiap orang pernah merasakan ke zalimannya itu.

    Pada suatu ketika, raja zalim ini tertimpa penyakit yang sangat berat. Maka seluruh tabib yang ada pada kerajaan itu dikumpulkan. Dibawah ancaman pedang, mereka disuruh untuk menyembuhkannya. Namun sayangnya tidak ada satu tabib pun yang mampu menyembuhkannya. Hingga akhirnya ada seorang Rahib yang mengatakan bahwa penyakit sang raja itu hanya dapat disembuhkan dengan memakan sejenis ikan tertentu, yang sayangnya saat ini bukanlah musimnya ikan itu muncul ke permukaan.

    Betapa gembiranya raja mendengar kabar ini. Meskipun raja menyadari bahwa saat ini bukanlah musim ikan itu muncul ke permukaan namun disuruhnya juga semua orang untuk mencari ikan itu. Aneh bin ajaib…. walaupun belum musimnya, temyata ikan itu sangatlah mudah ditemukan. Sehingga akhirnya sembuhlah raja itu dari penyakitnya.

    Di lain waktu dan tempat, ada seorang raja yang amat terkenal kebijakannya. Ia sangat dicintai oleh rakyatnya. Pada suatu ketika, raja yang bijaksana itu jatuh sakit. Dan ternyata kesimpulan para tabib sama, yaitu obatnya adalah sejenis ikan tertentu yang saat ini sangat banyak terdapat di permukaan laut. Karena itu mereka sangat optimis rajanya akan segera pulih kembali. Tapi apa yang terjadi ? Ikan yang seharusnya banyak dijumpai di permukaan laut itu, tidak ada satu pun yang nampak..! Walaupun pihak kerajaan telah mengirimkan para ahli selamnya, tetap saja ikan itu tidak berhasil diketemukan. Sehingga akhirnya raja yang bijaksana itu pun mangkat…

    Dikisahkan para malaikat pun kebingungan dengan kejadian itu. Akhirnya mereka menghadap Tuhan dan bertanya, “Ya Tuhan kami, apa sebabnya Engkau menggiring ikan-ikan itu ke permukaan sehingga raja yang zalim itu selamat; sementara pada waktu raja yang bijaksana itu sakit, Engkau menyembunyikan ikan-ikan itu ke dasar laut sehingga akhirnya raja yang baik itu meninggal?” Tuhan pun berfirman, “Wahai para malaikat-Ku, sesungguhnya raja yang zalim itu pernah berbuat suatu kebaikan. Karena itu Aku balas kebaikannya itu, sehingga pada waktu dia datang menghadap-Ku, tidak ada lagi kebaikan sedikitpun yang dibawanya. Dan Aku akan tempatkan ia pada neraka yang paling bawah ! Sementara raja yang baik itu pernah berbuat salah kepada-Ku, karena itu Aku hukum dia dengan menyembunyikan ikan-ikan itu, sehingga nanti dia akan datang menghadap-Ku dengan seluruh kebaikannya tanpa ada sedikit pun dosa padanya, karena hukuman atas dosanya telah Kutunaikan seluruhnya di dunia!”

    Kita dapat mengambil beberapa pelajaran dari kisah bersayap ini. Pelajaran pertama adalah: Ada kesalahan yang hukumannya langsung ditunaikan Allah di dunia ini juga; sehingga dengan demikian di akhirat nanti dosa itu tidak diperhitungkan-Nya lagi. Keyakinan hal ini dapat menguatkan iman kita bila sedang tertimpa musibah.

    Pelajaran kedua adalah: Bila kita tidak pernah tertimpa musibah, jangan terlena. Jangan-jangan Allah ‘menghabiskan’ tabungan kebaikan kita. Keyakinan akan hal ini dapat menjaga kita untuk tidak terbuai dengan lezatnya kenikmatan duniawi sehingga melupakan urusan ukhrowi.

    Pelajaran ketiga adalah: Musibah yang menimpa seseorang belum tentu karena orang itu telah berbuat kekeliruan. Keyakinan ini akan dapat mencegah kita untuk tidak berprasangka buruk menyalahkannya, justru yang timbul adalah keinginan untuk membantu meringankan penderitaannya.

    Pelajaran keempat adalah: Siapa yang tahu maksud Allah?

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 15 November 2011 Permalink | Balas  

    Di Balik Kekuatan Iman

    Assalamu’alaikum,

    Saya ingin berbagi pengalaman pribadi saya dulu semasa kuliah S1 di salah satu universitas di Amerika. Waktu itu saya tinggal dengan 3 orang yang beda agama: Catholic, Atheist (tidak percaya Tuhan itu ada), Agnostic (kepercayaan kepada Tuhan YME). Saya sebagai Muslim selalu ditanya macam-macam oleh ketiga roomate saya ini. “Mengapa harus shalat 5 kali sehari?”, “Mengapa harus wudhu?”, “Mengapa harus basuh 3-3 kali”, “Mengapa shalat harus gerakannya begitu?”, “Mengapa nggak boleh makan babi?”, etc,etc. Pertama kali saya bingung bagaimana menjelaskan secara simple dan masuk logika mereka yang sejak kecil berlatar belakang non-Muslim itu. Saya cuma bisa jawab “This is based on the laws of Allah” Mereka cuma bisa jawab: “Well, you accept those laws without questioning them?!” Saya cuma bilang “For you, your faith, for me, my faith.”

    Suatu hari, ketika salah satu dari mereka (agnostic) sedang memasak air, saya ada ide bertanya padanya: “Mengapa air harus mendidih 212F? (100C) mengapa tidak lebih atau kurang? Mengapa atom punya 7 lapisan? Mengapa planet di tata surya cuma ada 9? Mengapa mata anda 2, tidak 3, atau 1? etc.etc. Pokoknya saya tanya semua yang berhubungan dengan numbers in the nature. Saya tanya lagi “Why do you accept all those laws without questioning them?” Teman saya cuma bisa tersenyum dan menjawab, “You got me this time!”

    Pernah mereka bertiga bertanya kepada saya: “If we die as a non- Muslims who do not believe in Islam, will we go to hell in hereafter?” Saya ambil Al Qur’an English translation, saya tunjukkan ayat2 yang menjelaskan bahwa mereka yang mereject atau memilih agama selain Islam, tidak akan diterima amal mereka oleh Allah SWT, dan di akherat mereka akan merugi. Saya katakan pada mereka: “YES, IF YOU REJECT ISLAM, YOU REJECT YOUR CREATOR, YOU WILL GO TO HELL.” Saya tidak mau berbasa-basi dengan mereka dengan berkata “Oh, nggak, asal kamu berbuat baik, you’ll be fine…” atau “Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, kita semua sama ciptaanNya, Dia tidak akan memasukkan kalian ke neraka…” Tapi saya katakan apa adanya. Hasilnya?

    Mereka yang tadinya tidak pernah membaca buku2 Islam, setelah kejadian itu, meminjam buku2 Islam saya untuk dibaca. Bahkan hampir setiap kali sebelum tidur, kita berempat selalu berdiskusi tentang Islam. Alhamdulillah, sampai saya lulus, pemikiran mereka yang keliru tentang Islam telah hilang, dua roomate saya yang Catholic dan Agnostic bahkan beberapa kali datang ke masjid. Mereka berdua bahkan mencoba berpuasa di bulan Ramadhan bersama saya. Mereka berdua bertanya kemungkinan mereka masuk Islam. Si Atheist sendiri berubah status dari tidak percaya adanya Tuhan, menjadi Agnostic yang percaya tapi masih mencari kebenaran mengenai agama-agama di dunia.

    Saya tidak pernah menyangka akan begini hasilnya ketika saya TEGAS menjawab pertanyaan mereka. Kalau saya tidak tegas, mungkin mereka tidak akan takut akan possibility masuk neraka, mungkin mereka akan tenang-tenang saja tidak berusaha mencari tahu sungguh-sungguh apa itu Islam, dan kemungkinan lainnya yang bisa menghalangi mereka dari cahaya kebenaran Islam.

    Pernah saya diundang ke pesta oleh seorang teman non-Muslim di rumahnya yang megah (seperti Castle). Bapak jendral di ARMY, ibunya konglomerat di Amerika. Di belakang rumahnya saja ada tempat parkir helicopter. Ketika saya ditawari minum wine (alcoholic beverage), saya bilang “I am sorry, I am a Muslim, I don’t drink alcohol.” Mereka langsung salut, dan bertanya-tanya tentang Islam. Bahkan bapaknya teman saya langsung membawa saya ke ruang belajarnya. Saya kaget sekali ketika saya lihat di dinding terhampar sajadah bergambar Ka’bah. Di meja studinya ada Al Qur’an. Dia bilang dia beli itu semua ketika perang Desert Storm. Dia salut dengan ajaran Islam. Bahkan dia katakan lagi banyak anak buahnya di ARMY (hundreds of them) yang masuk Islam pada perang Desert Storm. Dia sendiri sedang mempelajari Islam. Waktu itu saya benar-benar tertegun ketika diajak ngobrol oleh si jendral ini.

    Dia bilang bahwa Muslims di Amerika harus bisa melobby White House terhadap policy di Mid East dan Islamic world in general. Dia bilang lagi bahwa kebijakan di Amerika banyak dipengaruhi oleh lobbynya Jews (Yahudi). Saya kaget mendengar uraian ini dari seorang Amerika kulit putih yang non-Muslim dan dari Angkatan Bersenjata pula. Padahal obrolan ini semua berasal dari omongan saya bahwa saya tidak minum alcohol karena saya Muslim. Mungkin kalau saya malu-malu berucap saya Muslim tentunya dia tidak akan ‘curhat’ kepada saya tentang hal2 di atas…

    Pernah pula, sewaktu hendak berlibur ke Indonesia, saya dan teman saya shalat di corner salah satu gedung di Chicago Intern’l Airport. Selesai shalat, ada dua orang pilot berdiri menatap kami tidak jauh dari tempat kami shalat. Seorang darinya mendekati dan menyalami kami, menjabat tangan kami, sambil bertanya dari mana kami berasal. Dia merasa senang melihat orang Islam yang taat menjalankan agamanya. Bahkan diberinya kami kartu namanya dan berpesan jangan segan-segan mengontak dia kapan saja.

    Masya Allah, tadinya sebelum saya ke Amerika, saya tidak menyangka masih ada orangorang di Amerika yang seperti itu. Sebagian dari mereka berhati hanif (lurus) dan masih mencari-cari kebenaran. Tugas kitalah sebagai Muslim menyampaikan da’wah kepada mereka. Kalau kita berpaham AGAMA ITU SAMA, buat apa lagi berda’wah? Toh, masuk Islam atau tidak, mereka tetap saja selamat (kalau asumsinya semua agama itu sama). Begitu pula dalam da’wah, kadang-kadang memang harus TEGAS dan memberikan peringatan, di samping dengan tutur kata yang baik dan bijaksana. (pembawa kabar gembira dan peringatan).

    Mudah-mudahan Allah menunjuki hati-hati mereka yang masih sungguh-sungguh seeking for the truth di mana saja mereka berada…

    Semoga bermanfaat,

    Wassalam

    ***

    Oleh Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 14 November 2011 Permalink | Balas  

    Sudah Layakkah Permintaan Kita

    Bila suatu waktu pembantu kita, mungkin karena senangnya mendapat sesuatu dari kita, mengatakan, ” Apapun permintaan Bapak hari ini akan saya penuhi “. Karena kita tahu keadaan dia, maka mungkin kita hanya mengatakan, ” Tolong kamu cuci bersih saja mobil saya “. Kita tidak mungkin meminta rumah mewah darinya, karena kita tahu tidak mungkin ia sanggup memberikan itu kepada kita.

    Sebaliknya bila pada suatu ketika misalnya Bapak Presiden menawarkan kepada kita, ” Bila ada sesuatu yang kamu inginkan dari saya, silakan kamu sebutkan”. Maka tentu kita tidak meminta bapak Presiden untuk mencucikan mobil kita, mungkin kita akan meminta agar kita dijadikan Menteri atau dijadikan Direktur di salah satu BUMN.

    Ilustrasi di atas ingin menyampaikan bahwa kita termasuk orang yang bijak bila permintaan kita selalu disesuaikan dengan kemampuan orang yang kita mintai pertolongan. Dengan demikian kita akan ditertawakan orang bila misalnya meminta dibelikan mobil mewah pada seorang tukang becak ; atau hanya meminta dibelikan sebungkus rokok pada seorang konglomerat ternama.

    Lalu bagaimana permintaan kita kepada Allah ? Apakah doa kita masih meminta sesuatu yang sifatnya ” recehan ” ? Meminta supaya kaya ? Meminta supaya mendapat jabatan yang tinggi ?

    Mengapa kita tidak meminta sesuatu yang teramat istimewa ? yaitu sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh siapa pun ?

    Bukankah hidayah, ampunan, lindungan dari siksa neraka, keteguhan iman, kekhusukan dalam ibadah atau pun petunjuk kepada jalan yang lurus hanya dapat diberikan oleh Allah saja?

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 13 November 2011 Permalink | Balas  

    Belajar Dari Burung dan Cacing

    Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena himpitan kebutuhan materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing.

    Kita lihat burung tiap pagi keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak terbayang sebelumnya kemana dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan. Karena itu kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan buat keluarganya, tapi kadang makanan itu cuma cukup buat keluarganya, sementara ia harus “puasa”. Bahkan seringkali ia pulang tanpa membawa apa-apa buat keluarganya sehingga ia dan keluarganya harus “berpuasa”.

    Meskipun burung lebih sering mengalami kekurangan makanan karena tidak punya “kantor” yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia, namun yang jelas kita tidak pernah melihat ada burung yang berusaha untuk bunuh diri. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke batu cadas. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menenggelamkan diri ke sungai. Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya. Kita lihat burung tetap optimis akan rizki yang dijanjikan Allah. Kita lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya.

    Tampaknya burung menyadari benar bahwa demikianlah hidup, suatu waktu berada diatas dan di lain waktu terhempas ke bawah. Suatu waktu kelebihan dan di lain waktu kekurangan. Suatu waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.

    Sekarang marilah kita lihat hewan yang lebih lemah dari burung, yaitu cacing. Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-olah tidak mempunyai sarana yang layak untuk survive atau bertahan hidup. Ia tidak mempunyai kaki, tangan, tanduk atau bahkan mungkin ia juga tidak mempunyai mata dan telinga.

    Tetapi ia adalah makhluk hidup juga dan, sama dengan makhluk hidup lainnya, ia mempunyai perut yang apabila tidak diisi maka ia akan mati. Tapi kita lihat , dengan segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi untuk mencari rizki . Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membentur-benturkan kepalanya ke batu.

    Sekarang kita lihat manusia. Kalau kita bandingkan dengan burung atau cacing, maka sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih canggih. Tetapi kenapa manusia yang dibekali banyak kelebihan ini seringkali kalah dari burung atau cacing “ Mengapa manusia banyak yang putus asa lalu bunuh diri menghadapi kesulitan yang dihadapi “ padahal rasa-rasanya belum pernah kita lihat cacing yang berusaha bunuh diri karena putus asa.

    Rupa-rupanya kita perlu banyak belajar dari burung dan cacing.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 11 November 2011 Permalink | Balas  

    Kupu-Kupu

    Ketika menuruni tangga menuju lapangan parkir, aku menemukan seekor kupu-kupu indah terperangkap dekat kaca jendela.

    Kupu-kupu itu terus terbang menabrak kaca jendela mencari jalan keluar. Aku mengulurkan tanganku mencoba menolongnya, tetapi ia hanya hinggap sejenak lalu terbang lagi dan kembali menabrak kaca jendela. Kemudian aku mencoba menghalaunya agar keluar dari pintu, tapi ia terus saja menabrak kaca jendela.

    Akhirnya aku menangkapnya dan membawanya dengan aman ke alam bebas. Ketika aku membuka tangan untuk melepaskannya, terpikir olehku kadang alangkah miripnya tindakan kita dengan kupu-kupu itu. Dalam ketakutan dan ketidaksabaran kita, sering kita melawan bimbingan ALLOH dan melakukan usaha yang sia-sia. Padahal jika kita mau sejenak berdiam diri, ikhlas dan pasrah pada ALLOH, kita akan merasakan pertolonganNYA yang membawa kita mengatasi rintangan-rintangan menuju kebahagian yang telah disediakanNYA untuk kita……

    Wassalam,

    ***

    Oleh: Beth

     

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 10 November 2011 Permalink | Balas  

    Ibarat

    Ada beberapa perumpamaan sederhana mengenai kehidupan kita. Perumpamaan tersebut berada disekeliling kita dan mudah terjangkau oleh pikiran kita.

    Beberapa perumpamaan tersebut adalah sebagai berikut:

    • Kita pasti mengenal tukang parkir. Tidak pernah ada satu tukang parkirpun yang menyombongkan diri terhadap mobil-mobil yang datang untuk sementara parkir dan kemudian pergi meninggalkannya. Tidak pernah ada dalam ucapan tukang parkir,”Nih.  Coba lihat mobil baby benz saya!” atau tidak ada tukang parkir yang berkata”, Ini mobil BMW saya, catnya mengkilat, bagus kan! “. Ketika ada orang yang membawa kembali mobil yang diparkir tidak terbetik sedikitpun kekesalan dalam hati si tukang parkir.

    Tukang parkir tidak pernah melakukan itu semua karena dia menyadari bahwa mobil-mobil bagus yang datang kepadanya adalah bukan miliknya tapi merupakan sakadar amanah kepadanya yang harus dia jaga. Begitu juga halnya dengan kita, sewaktu kita memperoleh harta dan segala kesenangan materi maka adalah pada tempatnya bila kita meyakini bahwa harta/kekayaan yang datang kepada kita adalah anugerah dari Alloh dan adalah sepenuhnya hak Alloh untuk mengambilnya kembali. Sehingga bila ternyata harta/kekayaan yang pernah ada pada diri kita itu lepas, maka tidak menjadikan kita stress atau sakit karenanya. Semua dari Allaoh dan akan kembali kepada Alloh.

    *Pernahkah kita berdiri bersandar kepada tembok atau meja/kursi? Hal yang kita takutkan ketika kita bersandar di tembok atau meja/kursi adalah tiba-tiba tembok itu rubuh atau meja/kursi tersebut bergeser atau diambil orang secara tiba-tiba sehingga tidak ada tempat bersandar badan kita sehingga kita akan jatuh. Sama halnya dengan harta bila dalam menjalani kehidupan, harta adalah tempat bersandar kita maka pasti kita akan takut kehilangan harta tersebut. Maka ada pepatah yang kita kenal: Jangan jadikan harta itu berada dihatimu tapi jadikan harta di tanganmu. Sehingga janganlah kita menyandarkan diri kepada harta yang kita miliki sehingga mudah kemungkinan kita menjadi bakhil.

    *Kita pasti kenal – sosok fiksi – Tarzan.  konon ada cerita seorang insinyur perhutanan tersesat ditengah hutan. Perbekalan yang dibawa oleh insinyur tersebut tinggallah untuk sehari itu. Dimakannya sedikit-demi sedikit bekal yang dibawa , diirit-iritnya agar dia tidak kelaparan bila ternyata belum juga ia dapat menemukan jalan keluar dari hutan. Dalam perjalanannya dia bertemu dengan Tarzan yang sedang berjalan dengan membawa sekeranjang buah-buahan. melihat Tarzan yang membawa banyak makan maka insinyur tersebut meminta buah-buahan yang dibawa Tarzan.  Tidak disangka semua buah-buahan yang sekerangjang yang dibawa Tarzan itu diserahkan kepada si insinyur yang tersesat. Si insinyur bertanya; “Koq semuanya dikasih kepada saya?” Tarzan hanya tersenyum dan berkata, “Saya berikan semua itu karena saya tahu dimana di hutan ini saya dengan mudah akan mendapatkan kembali buah-buahan itu langsung dari pohon-pohonnya!”

    Tarzan tadi adalah orang yang mencerminkan manusia yang telah tahu dimana tempat semua makhluq menaruhkan harapan dan permohonan perolehan rejeki yakni kepada Alloh yang Maha kaya sehingga tidak ada kekhawatiran akan kekurangan harta akibat bersedekah-berzakat atau berinfaq dengan keyakinan bahwa harta tersebut adalah titipan dari Alloh yang dapat dipergunakan dan ada di dalamnya bagian yang harus dikeluarakan sebagai pembersih dan sarana berbuat kebaikan. tak ada keraguan dan kesusahan untuk berbuat itu semua karena telah tahu dimana dia bisa mengharap dalam mencarinya lagi- yaitu kepada Alloh SWT Yang Maha Kaya, Maha Pemurah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 9 November 2011 Permalink | Balas  

    Lion And Gazelle

    Kisah dari Padang Savana Afrika

    Suatu pagi seekor singa terbangun.

    “Haum…, hah, sudah siang nih…. Aku harus cepat-cepat bangkit. Aku harus menangkap gazelle, kalau tidak dapat, aku bisa kelaparan, kurus, sakit lalu… mati! Kalau aku mati bagaimana mungkin aku meneruskan keturunanku?”

    Maka, Blecet…. Sang singa melompat, berlari menuju sasaran.

    Tidak jauh dari tempat itu, seekor gazelle juga terbangun.

    “Oaehhh…,hah, matahari sudah terbit! Aku harus cepat cepat lari. Kalau aku terlambat sedetik saja, aku bisa diterkam singa! Kalau diterkam singa, kulitku akan dikelupas, berutku akan dirobek, habis sudah riwayatku, mana aku belum nikah lagi…!

    Blenyeng… Sang gazelle pun ambil langkah seribu ke tempat aman.

    Bagaimana dengan kita? Yang jelas, kita kebanyakan tidak tahu apakah kita ini singa atau gazelle. Kalau kita singa maka kita harus segera bertindak, berusaha agar mendapat kasih sayang ALLAH. Namun jika kita bertipe gazelle, tidak ada pilihan lain untuk segera bergerak, menjauhi dengan sekuat tenaga segala yang membuat ALLAH murka. Tentunya kita (harus) dapat berperan di kedua pihak karena kita tidak tahu pasti apakah satu menit lagi ALLAH masih sayang pada kita atau sebaliknya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 7 October 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Bung Hatta dan Kisah Sepatu Bally

    PADA tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

    Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.

    Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.

    “Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri,” kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini, dengan dana bantuan presiden, dana Badan Urusan Logistik, dan lain-lain.

    Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya bangsa Indonesia dapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • nasrulbintang 6:32 am on 7 Oktober 2011 Permalink

      heheeh bung hatta memang hebat…

    • dikcy 2:26 pm on 17 Oktober 2011 Permalink

      suri teladan untuk kita semua …

    • Beta 5:07 pm on 8 Februari 2012 Permalink

      terima kasih bung hatta, berangkat dari cerita sederhanamu, aku sebagai anak bangsa akan mengambil ibroh dari ceritamu.akan aku terapkan dalam kehidupanku.semoga Allah mengampuni dosa-dosamu………..

    • Magda 11:14 am on 10 Februari 2012 Permalink

      Terimakasih, artikelnya bagus sekali. Izin share di Fb ya :) Saya penggemar beliau sejak kecil. Ayah saya memiliki beberapa biografi beliau. Salah satunya adalah Bung Hatta Pribadinya dalam Kenangan yang saya baca entah berapa kali sewaktu saya masih duduk di Sekolah Dasar.

    • ophan 10:56 pm on 13 Maret 2012 Permalink

      artikelnya sangat menarik,

    • Lia 3:43 pm on 15 Agustus 2012 Permalink

      Kalau saya lihat pemimpin kita tahun 2012. Semuanya berlomba lomba mengisi tabungannya sendiri. Foke main politik uang demi mendapat jabatan gub DKI. Anggota dewan terhormat MPR/DPR tidur dirapat tapi giat korupsi dan giat menerima uang suap. Polisi cuma jadi tukang palak dan tukang pukul koruptor. Rakyat Indonesia dulu dijajah dan dirampok bangsa asing sekarang dirampok bangsa sendiri. Menyedihkan.

  • erva kurniawan 1:30 am on 28 September 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ku Malu Menjadi Wanita

    Oleh Meralda Nindyasti

    ” Wanita itu ibarat buku yang dijual di toko buku. ” Kata Ukhti Liana, mentor rohaniku ketika SMA.

    Ia melanjutkan ceritanya “Begini asosiasinya.. di suatu toko buku, banyak pengunjung yang datang untuk melihat-lihat buku. Tiap pengunjung memiliki kesukaan yang berbeda-beda. Karena itulah para pengunjung tersebar merata di seluruh sudut ruangan toko buku. Ia akan tertarik untuk membeli buku apabila ia rasa buku itu bagus, sekalipun ia hanya membaca sinopsis ataupun referensi buku tersebut. Bagi pengunjung yang berjiwa pembeli sejati, maka buku tersebut akan ia beli. Tentu ia memilih buku yang bersampul, karena masih baru dan terjaga. Transaksi di kasirpun segera terjadi. ”

    “iya, terus kak..?” kataku dan teman-teman, dibuat penasaran olehnya.

    “Nah, bagi pengunjung yang tidak berjiwa pembeli sejati, maka buku yang ia rasa menarik, bukannya ia beli, justru ia mencari buku dengan judul sama tapi yang tidak bersampul. Kenapa? Kerena untuk ia dibaca saat itu juga. Akibatnya, buku itu ada yang terlipat, kusam, ternoda oleh coretan, sobek, baik sedikit ataupun banyak. Bisa jadi buku yang tidak tersampul itu dibaca tidak oleh seorang saja. Tapi mungkin berkali-kali, dengan pengunjung yang berbeda tetapi berjiwa sama, yaitu bukan pembeli sejati alias pengunjung iseng yang tidak bertanggung jawab. Lama kelamaan, kasianlah buku itu, makin kusam hingga banyak yang enggan untuk membelinya” Cerita ukhti Liana.

    “Wanita itu ibarat buku. Jika ia tersampul dengan jilbab, maka itu adalah ikhtiar untuk menjaga akhlaknya. Lebih-lebih kalau jilbab itu tak hanya untuk tampilannya saja, tapi juga menjilbabkan hati.. Subhanallah..!

    Pengunjung yang membeli adalah ibarat suami, laki-laki yang telah Allah siapkan untuk mendampinginya menggenapkan ½ dienNya. Dengan gagah berani dan tanggung jawab yang tinggi, ia bersedia membeli buku itu dengan transaksi di kasir yang diibaratkan pernikahan. Bedanya, Pengunjung yang iseng, yang tidak berniat membeli, ibarat laki-laki yang kalau zaman sekarang bisa dikatakan suka pacaran. Menguak-nguak kepribadian dan kehidupan sang wanita hingga terkadang membuatnya tersakiti, merintih dengan tangisan, hingga yang paling fatal adalah ternodai dengan free-sex. Padahal tidak semua toko buku berani menjual buku-bukunya dengan fasilitas buku tersampul. Maka, tentulah toko buku itu adalah toko buku pilihan. Ia ibarat lingkungan, yang jika lingkungan itu baik maka baik pula apa-apa yang ada didalamnya. ” kata ukhti Liana.

    “wah, kalau begitu jadi wanita harus hati-hati ya..!. ” celetuk salah satu temanku.

    “Hmm, .apakah apapun di dunia ini bakal dapet yang seimbang ya, kak? Kayak itu deh, buku yang tersampul dibeli oleh pembeli yang bertanggung jawab. Itukan perumpamaan Wanita yang baik dan terjaga akhlaknya juga dapat laki-laki yang baik, bahkan insyallah mapan, sholeh, pokoknya yang baik-baik juga. Gitu ya, kak?” kata temanku.

    ” Benar, Seperti janji Allah SWT, “Wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanit yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (An-Nur:26). Dan, hanya Allah yang tak menyalahi janji. ” penjelasan ukhti Liana.

    ***

    Empat tahun berselang.. diskusi itu masih mengena dihatiku. Hingga pada suatu malam, pada suatu muhasabah menyambut usia yang bertambah, “Pff, Ya Allah… Tahu begini, Aku malu jadi wanita. ” bisikku.

    Menjadi wanita adalah amanah. Bukan amanah yang sementara. Tapi amanah sepanjang usia ini ada. Pun menjadi wanita baik itu tak mudah. Butuh iman dan ilmu kehidupan yang seiring dengan pengalaman.

    Benar. Menjadi wanita adalah pilihan. Bukan aku yang memilihnya, tapi Kau yang memilihkannya untukku. Aku tahu, Allah penggenggam segala ilmu. Sebelum Ia ciptakan aku, Ia pasti punya pertimbangan khusus, hingga akhirnya saat kulahir kedunia, Ia menjadikanku wanita. Aku sadar, tidak main-main Allah mengamanahkan ini padaku. Karena kutahu, wanita adalah makhluk yang luar biasa. Yang dari rahimnya bisa terlahir manusia semulia Rasulullah atau manusia sehina Fir’aun.

    Kalau banyak orang lain merasa bangga menjadi wanita, karena wanita layak dipuja, karena wanita cantik memesona, karena wanita bisa dibeli dengan harta, karena wanita cukup menggoda, dan lain sebagainya, maka justru sebaliknya, dengan lantang aku berkata.. “aku malu menjadi wanita!”

    Ya, Aku malu menjadi wanita, kalau faktanya wanita itu gampang diiming-iminggi harta dengan mengorbankan harga dirinya. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita itu sebagai sumber maksiat, memikat, hingga mengajak pada jalan sesat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata dari pandangan dan suara wanita yang tak terjaga sanggup memunculkan syahwat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata tindak tanduk wanita sanggup membuahkan angan-angan bagi pria. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita tak sanggup jadi ibu yang bijak bagi anaknya dan separuh hati mendampingi perjuangan suaminya.

    Sungguh, aku malu menjadi wanita yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Ya, Aku malu jika sekarang aku belum menjadi sosok wanita yang seperti Allah harapkan. Aku malu, karena itu pertanda aku belum amanah terhadap titipan Allah ini. Entahlah, dalam waktu 19 tahun ini aku sudah menjadi wanita macam apa. Aku malu.. Bahkan malu ini berbuah ketakutan, kalau-kalau pada hari akhir nanti tak ada daya bagiku untuk mempertanggungjawabkan ini semua.

    Padahal, setahuku dari Bunda Khadijah, Aisyah dan Fatimah, wanita itu makhluk yang luar biasa, penerus kehidupan. Dari kelembutan hatinya, ia sanggup menguak gelapnya dunia, menyinari dengan cinta. Dari kesholehannya akhlaknya, ia sanggup menjaga dunia dari generasi-generasi hina dengan mengajarkannya ilmu dan agama. Dari kesabaran pekertinya, ia sanggup mewarnai kehidupan dunia, hingga perjuangan itu terus ada.

    Allah, maafkan aku akan kedangkalan ilmuku dan rendahnya tekadku. Aku berlindung pada-Mu dari diriku sendiri. Bantu aku Rabb, untuk tak lagi menghadirkan kelemahan-kelemahan diri saat aku ada di dunia-Mu. Hingga kelak aku akan temui-Mu dalam kebaikan akhlak yang kuusahakan. Ya, wanita sholehah..”

    ***

    dari http://www.eramuslim.com

     
    • bib 12:20 pm on 11 Oktober 2011 Permalink

      ijin copy buat tugas cms ya mas…

    • putri 9:15 am on 14 Oktober 2011 Permalink

      izin kopi ya mas..syukron

  • erva kurniawan 1:53 am on 25 September 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Paku

    Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku dip agar belakang rumah setiap kali dia marah.

    Hari pertama anak itu memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah. Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.

    Akhhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku setiap hari dimana dia tidak marah.

    Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercerabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. “Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi, lihatlah lubang lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. “Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini.di hati orang.”

    “Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu kamu mencabut paku itu. Tetapi tidak peduli berapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada.dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik..”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 22 September 2011 Permalink | Balas  

    Ternyata Allah memang Universal

    “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” QS Thahaa: 14.

    Apa yang akan saya ceritakan bukanlah tentang pluralisme. Karena bagi saya sudah jelas firman Allah dalam QS Al Kafirun yang ditegaskan dalam ayat terakhir (ayat 6), lakum dinukum waliyadin. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku. Saya hanya ingin berbagi pengalaman dan pemahaman saya bahwa Allah sangat inklusif dan universal.

    Kurang lebih dua minggu yang lalu, saya ngobrol dengan salah seorang teman. Sebut saja namanya Budi. Sambil download e mail melalui pop 3 di free hot spot milik dia, kami berbincang dan bertukar cerita tentang pengalaman spiritual kami masing-masing. Saya muslim, dia nasrani. Tapi perbedaan itu tidak menghalangi keakraban kami.

    Sebenarnya kami kenal juga belum lama, mungkin baru sekitar dua atau tiga bulanan. Tapi keakraban yang muncul seolah-olah kami seperti sahabat lama. Tidak ada sama sekali batasan yang membuat kami saling sungkan. Perbincangan kami mengalir dengan lepas.

    Budi adalah seorang nasrani yang percaya dengan takdir, bahwa segala sesuatu di alam semesta ini tidak berjalan dengan sendirinya. Namun atas kehendak suatu zat yang pasti mempunyai sifat maha segala sesuatu. Berdasarkan pengakuannya, Budi percaya dengan keberadaan Allah. Menurut Budi, sepertinya dia adalah muslim meskipun secara resmi di KTP dia seorang nasrani.

    Pada dasarnya tahapan-tahapan dan proses perjalanan spiritual kami mirip satu sama lain. Dimulai dari pertanyaan dan pencarian tentang zat tunggal pencipta semesta, kemudian kami sama-sama mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada banyak orang. Tetapi tidak ada satupun jawaban yang mampu memuaskan dahaga kami. Saat mentok dan tidak tahu lagi harus bertanya kemana, kami sama-sama diberitahu oleh seseorang untuk bertanya saja kepada Yang Maha Pencipta. Ternyata, jawaban atas semua pertanyaan kami datang dengan sendirinya pada saat kami dalam kondisi hening dan khusyu menghadap kepada Tuhan.

    Dalam satu kesempatan, Budi menyebut Tuhan dengan nama Allah. Cara mengucapkannyapun menggunakan cara muslim, bukan nasrani. Saat Budi – seorang nasrani yang percaya penuh atas takdir dan keberadaan Allah- menyebut nama Allah dengan cara muslim itulah hati saya tiba-tiba tergetar. Hal ini membuat saya kaget. Saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa hati saya bergetar, padahal yang menyebut Allah bukan seorang muslim. Ah, mungkin kebetulan saja. Begitu pikir saya dalam hati.

    Namun ternyata setiap kali Budi menyebut nama Allah dengan cara muslim, setiap kali juga hati saya tergetar. Saya jadi ingat salah satu hadits qudsi yang pernah disamapaikan dalam sebuah forum pengajian umum yang menyebutkan bahwa sebenarnya yang menetapkan nama zat pencipta semesta alam sebagai Allah adalah Allah sendiri. Secara pasti saya tidak ingat, tapi kira-kira redaksionalnya berbunyi sebagai berikut: “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, Aku ingin dikenal oleh makhluk-Ku, dan dengan nama Allah-lah mereka memanggil- Ku.” (Mohon maaf apabila saya lupa dan salah kutip.)

    Dalam sebuah forum pertemuan antar penggemar acara sulur kembang di salah satu stasiun radio swasta di Banyuwangi, diceritakan bahwa ada seorang warga negara asing yang ingin bertemu dengan Tuhan. Maka dia diminta untuk memanggil-Nya dengan nama Allah. Ternyata panggilan itu disambut oleh Allah.

    Saat itu pemahaman atas nama Allah masih berada pada tataran otak saja, masih sebatas menjadi sebuah teori. Baru pada tahapan wajibul yakin. Belum tertanam dalam hati dan menjadi ‘ainul yakin ataupun haqqul yakin. Ternyata kemudian Allah memahamkan hati saya dan memberikan bukti langsung bahwa Allah milik semua makhluk-Nya di alam semesta ini. Semua manusia berhak untuk memanggil dan berkomunikasi dengan-Nya. Tanpa perkecualian. Asalkan kita percaya dan yakin sepenuh hati atas eksistensi Allah sebagai satu-satunya zat pencipta alam semesta.

    Subhanallah, ternyata Allah memang benar-benar inklusif. Tidak ada sekat-sekat bagi manusia untuk bertemu dengan-Nya. Allah sangat terbuka kepada manusia. Siapapun yang memanggil-Nya, Allah akan datang dan menyambut panggilan itu. Alhamdulillah, Allah masih meneguhkan hati saya melalui firman-Nya dalam QS Al Kafirun. Allahu akbar, hanya Allah-lah yang mampu memahamkan dan menggerakkan hati manusia. Tanpa kehendak-Nya manusia hanyalah sekedar seonggok daging belaka.

    ***

    Oleh : Aziz Fajar Ariwibowo

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 3 September 2011 Permalink | Balas  

    Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana

    “De’… de’…. Selamat Ulang Tahun…” bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku.

    “Hmm…” aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.

    Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku.

    Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipanku. Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to Me… Happy Birthday to Me…. Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resort di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku.

    “De…. Ade kenapa?” tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir.

    Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku.

    “Selamat ulang tahun ya De’…” bisiknya lirih. “Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan ngasih kado ini… tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut.

    Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari mana dia belajar membungkus kado seperti ini? Batinku sedikit terhibur. Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.

    “Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. Nnnng… Nggak bagus ya de?” ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai.

    Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya aku.

    “Jelek ya de’? Maaf ya de’… aku nggak bisa ngasih apa-apa…. Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya de’…” desahnya.

    Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi… mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan.

    “A’ lihat aku…,” pintaku padanya.

    Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu.

    “Tahu nggak… kamu ngasih aku banyaaaak banget,” bisikku di antara isakan. “Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya. Kamu ngasih aku dede’,” senyumku sambil mengelus perutku. “Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama….” bisikku dalam cekat.

    Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. “Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang,” isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku.

    Rabbana… mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…

    ***

    Oleh: Ust Anismata

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 31 August 2011 Permalink | Balas  

    Catatan seorang penulis buku ini bisa menjadi pelajaran yang berharga

    “Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini, lalu aku putuskan untuk mengubah negaraku saja. Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah keluargaku. Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri.

    Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini.”

    Tidak ada yang bisa kita ubah sebelum kita mengubah diri sendiri. Tak bisa kita mengubah diri sendiri sebelum mengenal diri sendiri. Takkan kenal pada diri sendiri sebelum mampu menerima diri ini apa adanya.

    ***

    Sumber: Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 29 August 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Satu Siang di Lampu Merah 

    Satu siang di Bekasi, lampu merah menyala. Seorang nenek-nenek renta dengan hanya sebelah tangan menawarkan sapu lidi, sebelah tangannya lagi tidak nampak, hanya terlihat pangkal lengan yang kosong. Hatiku nyeri, kuturunkan kaca mobil,

    “Berapa Nek ?”“Sepuluh ribu neng… ”

    Kuulurkan sepuluh ribuan, kukira aku akan mendapat satu sapu lidi. Tapi nenek-nenek itu mengangsurkan semua, tiga sapu lidi yang dipegang dengan sebelah tangannya yang tersisa.

    “Saya cuma beli satu Nek” kataku ragu

    “Enggak pa pa neng, tiga-tiganya ini sepuluh ribu” jawab nenek itu

    Lalu nenek itu mengucapkan terima kasih yang diteruskan dengan rentetan doa untuk keselamatan dan keberkahan bagiku. Sepuluh ribu untuk tiga sapu lidi, dan untuk doa yang tak ternilai harganya….

    Tapi tiba-tiba,

    “Ngapain sih beli begituan ?” hmmmmm, teman seperjalananku protes

    “Nggak liat kenapa ?” jawabku rada sengak juga

    “Sepuluh orang aja seperti kamu, seratus ribu sehari, tiga juta sebulan”

    Aku memilih diam

    “Gaji pramusiwi saja nggak sampai segitu”

    “Nenek itu nggak mungkin jadi pramusiwi neng… ” balasku

    “Tiga juta sebulan dari sapu lidi begituan” masih saja bersungut-sungut

    “Oke, kamu gantian jadi nenek itu, tiga juta sebulan. Mau ?!!”

    Huhhhh, menguap semua protes….

    EPILOG:

    Apa susahnya berbagi sedikit keberuntungan kita, untuk ketidak beruntungan orang lain ? Ngomong-ngomong, aku sendirian di mobil, jadi kenalkan, itu tadi sisi diriku yang lain…

    ***

    Sumber: Kaskus.us

     
    • sonny 11:08 pm on 28 Januari 2012 Permalink

      hmmmm tidak ada salahnya berbagi sedikit rejeki dengan orang lain yang membutuhkan,tindakan yang tepat gan…salam :)

  • erva kurniawan 1:49 am on 28 August 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Gaji Papa Berapa?

    Seperti biasa Doni, Kepala Cabang di salah satu Bank swasta di Jakarta , tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Kiran, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya Ia sudah menunggu cukup lama. “Kok, belum tidur ?” sapa Doni sambil mencium anaknya. Biasanya Kiran memang sudah lelap ketika Ia pulang dan baru terjaga ketika Ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

    Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Kiran menjawab, “Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?”.

    “Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?”.

    “Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Kiran singkat.

    “Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 Hari kerja. Sabtu dan minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?”. Kiran berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Doni beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Kiran berlari mengikutinya. “Kalo satu hari Papa dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp 40.000,- dong” katanya.

    “Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur” perintah Doni tetapi Kiran tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Kiran kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- enggak ?”.

    “Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini ? Papa capek. dan mau mandi dulu. Tidurlah”.

    “Tapi Papa…”

    Kesabaran Doni pun habis. “Papa bilang tidur !” hardiknya mengejutkan Kiran. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Doni nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Kiran di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Kiran didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.

    Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Doni berkata, “Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Kiran. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih” tanya Doni. “Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini”.

    “lya, iya, tapi buat apa ?” tanya Doni lembut.

    “Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya Ada Rp15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp 40.000,-maka setengah jam aku harus ganti Rp 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp 5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa” kata Kiran polos.

    Donipun terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Nony syarifiani m 8:40 pm on 6 September 2011 Permalink

      Kasih syg org tua mmg sgt d’prlukan,.

  • erva kurniawan 1:51 am on 26 August 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Peri dan Petani

    Tulisan ini diinspirasi oleh cerita seorang sahabat. Ceritanya sebenarnya sudah banyak diketahui orang, tapi ada sedikit modifikasi yang membuatnya menjadi menarik untuk diceritakan kembali. Meski konteksnya saat sahabat saya bercerita itu cuma guyon, tapi sebenarnya ada pelajaran yang bisa dipetik. Saya berusaha menuliskannya. Enjoy!

    Alkisah ada seorang petani tua yang miskin. Dia hidup berdua saja dengan istrinya. Tiap hari dia pergi ke sawah sambil membawa cangkul besi satu-satunya miliknya, menyeberangi sebuah sungai yang cukup dalam.

    Pada suatu hari, saat menyeberangi sungai dalam perjalanan ke sawah, si petani tanpa sengaja menjatuhkan cangkulnya. Cangkul itu langsung tenggelam ke dasar sungai. Si petani tertegun sedih, meratapi kecerobohan yang membuatnya kehilangan benda miliknya yang paling berharga. Saat merenungi nasibnya itu, tiba-tiba datanglah seorang peri menghampirinya.

    “Hai petani, kenapa kau bersedih?”

    “Aku kehilangan cangkulku. Padahal hanya dengan itulah aku bisa menghidupi diri dan istriku.”

    “Baiklah…tunggu sebentar”, kata si peri. Lalu ia menghilang, dan tak lama kemudian muncullah kembali sambil membawa sebuah cangkul terbuat dari emas murni.

    “Inikah cangkulmu?”, tanya si peri.

    “Bukan. Cangkulku tidak sebagus itu. Hanya cangkul biasa saja”, jawab si petani.

    Lalu si peri menghilang kembali, dan sebentar kemudian muncul sambil membawa cangkul perak.

    “Inikah cangkulmu?”, tanya si peri kembali.

    “Bukan. Cangkulku cuma terbuat dari besi.”

    Untuk ketiga kalinya, si peri pergi, dan saat kembali kali itu dia membawa sebuah cangkul besi.

    “Inikah cangkulmu?

    Si petani mendadak terlihat gembira. “Benar…benar…inilah cangkulku…”, sahutnya sambil tersenyum.

    Si peripun ikut tersenyum, lalu berkata,”Wahai pak tani, aku salut akan kejujuranmu. Engkau tidak silau dengan hal-hal keduniawian. Sebagai anugrah, kuberikan juga cangkul emas dan cangkul perak kepadamu.” Lalu diserahkannyalah cangkul emas dan cangkul perak tadi kepada si petani.

    Si petani tentu saja bergirang hati mendapatkan rejeki tersebut. Pemberian emas dan perak itu kemudian dijualnya untuk memperbaiki tingkat kehidupannya. Meskipun mendapat rejeki besar, tapi si petani tidak berubah. Ia tetap bekerja keras dan mencoba bersikap jujur dalam setiap kesempatan.

    Suatu hari, seperti biasanya ia pergi ke sawah. Bedanya, kali ini ia ditemani istrinya. Saat menyeberangi sungai, tiba-tiba istrinya terjatuh dan hilang ditelan arus sungai. Si petani terkejut dan tidak mampu menolong istrinya, akhirnya iapun cuma bisa menangis sedih. Tiba-tiba si peri muncul kembali, dan terjadilah dialog yang mirip seperti di atas. Singkat kata, si peri pergi, dan saat kembali, ia membawa Paris Hilton (bagi yg belum tahu Paris Hilton, ia adalah selebritis jetset yang suka hidup mewah, pewaris Hilton raja jaringan hotel).

    “Inikah istrimu?”, tanya si peri sambil menyodorkan Paris Hilton.

    “Benar…benar…dialah istriku”, jawab si petani setelah melihat dan mengamati Paris Hilton dengan cermat.

    Si peri langsung berubah wajahnya. Ia kemudian berkata,”Wahai pak tani, ternyata engkau tidak jujur. Engkau mengaku memiliki sesuatu yang sebenarnya bukan milikmu. Aku kecewa…”

    Sebelum si peri melanjutkan ucapannya, si petani memotongnya,”Dengan mengakui Paris Hilton sebagai istriku, justru aku bersikap jujur, wahai peri…”

    Si peri keheranan dengan jawaban si petani. Dia bertanya,”Coba jelaskan, apa maksudmu?”

    Si petani kemudian berkata panjang lebar,”Coba pikirkan…Kalau aku tidak mengakui Paris Hilton sebagai istriku, maka engkau akan membawakanku Angelina Jolie, Demi Moore, atau selebritis lainnya, baru kemudian engkau mengembalikan istriku. Lalu engkau akan terkesan akan kejujuranku, dan akan memberiku Paris Hilton dan Angelina Jolie untuk hidup bersamaku, selain istriku sendiri.”

    Lanjut si petani,”Coba bayangkan…mana sanggup aku membiayai selebritis-selebritis itu. Dari mana aku dapat uang? Aku hanya seorang petani miskin. Karena itu aku mencoba jujur pada keadaanku. Aku tidak sanggup menghidupi mereka, lalu kuputuskan untuk menjawab seperti tadi. Aku tahu engkau kecewa, dan aku tahu jika engkau kecewa pasti aku tidak akan mendapatkan siapa-siapa, termasuk istriku sendiri. Tapi paling tidak aku tidak mengkhianati kehidupanku sendiri…”

    Dan si peripun menjadi speechless dengan jawaban si petani itu…

    **

    EPILOG:

    Saya yakin ada yang tertawa membaca cerita di atas, tapi ada juga yang tertegun. Menurut sahabat saya, moral of the storynya adalah bahwa sulit sekali bagi kita untuk tidak berprasangka kepada orang lain. Sulit karena fenomenanya terlihat jelas di hadapan kita. Bahkan saat kita sudah berusaha keras untuk tidak menaruh prasangka buruk, kadang-kadang bayangan tuduhan itu tetap muncul juga…

    Cerita di atas bisa menjadi pelajaran bagi kita yang kadang mudah menjatuhkan cap jelek kepada orang lain. Sesungguhnya cap jelek yang kita timpakan itu tidak selalu benar. Sesungguhnya terkadang yang ada hanyalah beda pandangan saja. Si peri menuduh petani tidak jujur karena dia mengakui Paris Hilton sebagai istrinya, sementara si petani berpendapat bahwa kejujuran tidak hanya sebatas pada pengakuan lisan saja. Sebelum berprasangka, kita juga perlu sadar bahwa kadang-kadang pandangan orang yang kita cap jelek itu malah lebih baik daripada pandangan kita.

    Bagi kita yang kadang menjadi korban prasangka buruk, tidak usahlah menjadi panas hati. Pahamilah bahwa prasangka tadi kadang muncul karena perbedaan pandangan atau ketidaktahuan. Jika penyebabnya memang seperti itu, komunikasi yang baik akan bisa menyelesaikan persoalan. Kalau kita bisa bersikap seperti ini, percayalah…hidup akan menjadi lebih ringan…

    Semoga bisa bermanfaat, baik untuk hiburan maupun renungan.. :-)

    PS: Untuk pak Isnaeni, terima kasih atas ceritanya yang inspiring…Semoga tidak keberatan kalau saya tuliskan sebagai note… :-)

    ***

    Oleh: Lukito Edi Nugroho

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 24 August 2011 Permalink | Balas
    Tags: Aku dan Si Genduk   

    Aku dan Si Genduk

    Pada suatu malam cerah bertabur bintang, aku duduk sendirian di beranda menikmati dinginnya hawa yang ditingkahi oleh suara serangga-serangga malam. Aku suka dengan suasana ini karena bisa membuatku tenang dan berkontemplasi, merenung, dan mencari jawaban dari berbagai pertanyaan tentang kehidupan. Aku bersyukur masih bisa melakukannya, karena belakangan ini aku didera berbagai problem yang begitu berat: beberapa bulan lalu di-PHK dari perusahaan dan sampai detik ini belum bisa mencari pekerjaan kembali, dan ditambah lagi penyakit maag akutku sering kambuh karena stress yang berkepanjangan. Kehidupan ekonomi keluargapun mulai goncang, karena pada dasarnya aku bukan berasal dari kaum berada dan posisiku di perusahaanpun bukanlah posisi yang bisa menghasilkan kelimpahan materi.

    Aku merasa bebanku begitu berat karena tabunganku sudah kosong. Tidak ada sumber penghasilan yang bisa diandalkan. Moral dan semangatku semakin turun. Dan hari-hari ini adalah hari-hari yang berat karena aku harus mengambil keputusan tentang sekolah si sulung kami. Si Genduk, demikian dia biasa disapa, memang bersekolah di sebuah PTN terkenal di kota besar. Himpitan ekonomi memaksaku untuk mempertanyakan keberlanjutan kuliah si Genduk yang memang memerlukan biaya besar. Dan malam ini adalah saatnya, karena kebetulan dia sedang pulang ke rumah dalam rangka liburan semester.

    Kali ini kesunyian malam tidak mampu menyembunyikan kegelisahanku. Samar-samar kudengar Bohemian Rhapsody-nya Queen dari kamar si Tole, anak kedua, saat kupanggil si Genduk.

    “ Genduk, ke sinilah sebentar. Bapak mau bicara…”

    “Ada apa pak?”, sahutnya sambil menghampiriku. Wajahnya terlihat gembira.

    Hatiku semakin tercabik-cabik melihat keceriaannya. Bohemian Rhapsody serasa pisau yang menyayat hatiku. Tidak tega rasanya menyampaikan problemku kepadanya. Tidak tega karena sebenarnya anak-anakku tidak boleh terpengaruh oleh problem tersebut. Tapi saat ini akupun tidak berdaya lagi dalam membentengi mereka dari problem finansial yang melanda keluargaku ini.

    “Nduk, bapak pengin cerita panjang, tapi kamu jangan kaget ya”, kataku sambil menatap tajam wajahnya.

    “Ada apa sih pak, kok  kayaknya serius banget. Bapak jangan lebay gitu ah..”, katanya sambil tertawa lepas.

    Ah, Nduk…andaikan saja engkau tahu perasaan bapak saat ini. Dengan menguatkan hati, mulailah kuceritakan tentang kemunduran perusahaan tempatku bekerja. Kuceritakan pula bagaimana pula akhirnya aku dan banyak karyawan lain di-PHK. Lalu kulanjutkan kisahku tentang usaha demi usaha untuk mendapatkan pekerjaan, yang semuanya gagal total. Dan akhirnya kusampaikan problem finansial yang melanda keluargaku.

    Wajah cerianya mulai menghilang, digantikan oleh wajah tegang dan sedikit cemas.

    “Lalu…apa maksud bapak mengajakku bicara malam ini?”, sergahnya.

    “Bapak tidak bisa lagi membiayai kuliahmu, Nduk…”

    Dan tiba-tiba kulihat butiran air di matanya. Dia menunduk, diam membisu. Matakupun basah. Kami berdua terdiam sesaat. Lagu Bohemian Rhapsody terdengar seperti pisau tajam yang menyayat hatiku.

    “Bapak inginnya aku harus gimana?”, kata-kata lirihnya memecah keheningan.

    “Bapak justru ingin dengar bagaimana pendapatmu”, begitu jawabku.

    Dan terjadilah sebuah percakapan yang sangat emosional. Ya Tuhan, berikanlah aku kekuatan agar aku tetap bisa tenang, berpikir jernih, dan menguatkan anakku ini.

    “Bapak tahu kan, kenapa aku memaksa untuk meneruskan kuliah? Aku ingin jadi orang yg berilmu pak. Aku ingin bisa bersekolah di luar negeri, belajar banyak hal, agar bisa bermanfaat bagi orang lain. Bukankah ini yang selalu bapak katakan kepadaku? Menjadi orang yang berguna bagi sekitarnya. Menjadi rahmatan lil alamin…Dan aku sudah memutuskan, pak. Jalanku adalah dengan belajar setinggi mungkin, agar nanti ilmuku ini bisa kubagikan kepada orang-orang di sekelilingku..”

    “Tapi sekarang mimpi itu pecah berantakan…Apa yang bisa kuharapkan jika aku tidak bisa melanjutkan kuliahku?? Apa yang bisa kulakukan kelak??”, lanjutnya sambil menangis sesenggukan.

    “Nduk, bapak tidak bilang kalau kamu harus berhenti sekolah. Bapak cuma bilang kalau mulai saat ini bapak tidak bisa mengirimi kamu uang untuk kuliah..”

    “Sama saja pak. Itu kan artinya menyuruh Genduk berhenti kuliah. Bagaimana aku harus membayar SPP dan biaya hidup??”, dia memotong dengan cepat. Ada nada emosi dan kemarahan dalam kata-katanya.

    Dia melanjutkan lagi,”Pak…kenapa selalu aku yang mengalami problem? Kenapa bukan si Tole? Bapak ingat kan, saat aku kecil, bapak dan ibu selalu memaksaku untuk mengurusi si Tole, untuk belajar melakukan tugas-tugas rumah, dan seabreg tugas lainnya. Sekarang saat bapak punya problem, aku lagi yang dikorbankan…It’s not fair, pak…”

    “Tuhan juga tidak sayang padaku…Tiap hari aku berdoa, bermohon agar cita-citaku bisa terkabul. Apa kurangnya dengan cita-citaku itu? Bukankah tujuannya juga untuk kemanfaatan orang banyak? Mengapa Tuhan tidak mendengar doaku?”

    Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Alhamdulillah,  the sense of being a father pun muncul dalam diriku, memberiku energi untuk menghiburnya dan memberinya semangat.

    “Jangan menyalahkan Tuhan, Nduk. Kamu yakin bahwa Tuhan itu Mahapenyayang kan? Bahwa Tuhan itu penolong yang sebaik-baiknya?”

    “Iyaa pak, tapiii….”

    “Yang namanya yakin itu ya yakin. 100%. Titik. Tidak ada tapi-tapian…”, sergahku.

    “Tapi kenapa Tuhan memutus cita-citaku yang baik itu? Kenapa Tuhan harus memberiku problem seperti ini?”

    “Nduk…Tahukah engkau, justru Tuhan itu sayang padamu. Kenapa kamu diberi-Nya problem? Karena Dia ingin agar kamu menjadi kuat. Kamu tahu berlian kan? Bahan dasar berlian itu apa?”, tanyaku.

    “Karbon pak. Kenapa memangnya?”

    “Karbon itu zat yang tidak berharga bukan? Tapi karbon yang mengalami tekanan dan suhu luar biasa akhirnya berubah menjadi berlian. Itulah yang dikehendaki Tuhan terhadapmu, Nduk… Tuhan ingin agar engkau menjadi manusia yang indah dan kuat, dan dengan kekuatan dan keindahan anugrah-Nya itulah kelak kamu akan membawa dunia menjadi lebih baik lagi…”

    Dia masih ragu-ragu. “Tapi aku takut pak…aku takut gagal menghadapi problem-problemku…”

    “Nduk, kamu yakin kepada Tuhan kan? Dan mestinya kamu juga pernah mendengar kata-kata-Nya bahwa Dia tidak akan mencoba umatnya melebihi kemampuan umat itu…”, aku mencoba meyakinkannya.

    Dia diam, kelihatan masih bimbang, tapi tangisnya sudah berhenti. “Aku membayangkan hidupku ke depan akan sulit sekali pak. Aku tidak ingin berhenti sekolah hanya karena bapak tidak mampu membiayaiku. Tapi aku belum tahu harus berbuat apa, pak…”

    “Memang jalanmu akan sulit, Nduk, sama dengan bapak dan kita semua. Tapi ayolah…it’s not the end of the world…Coba lihat di sekelilingmu..Berapa banyak anak-anak seusiamu yang juga punya cita-cita tinggi tapi benar-benar tidak mampu mewujudkannya? Berapa banyak di antara mereka yang putus di tengah jalan? Sementara kita, alhamdulillah masih diberi banyak rizki dan kenikmatan. Kamu pintar, IPmu bagus. Kamu bisa mencari beasiswa atau cari kerja part time. Masih banyak hal yang bisa kamu lakukan…Yang penting, marilah kita tetap bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan, termasuk problem ini…”

    Dan lanjutku, “Cobalah lihat dari masa lalumu sampai hari ini, dari masa kecilmu sampai kamu kuliah sekarang ini…Bagian mana dalam hidupmu yang tidak berada dalam lindungan dan limpahan rahmat-Nya?”

    Tiba-tiba dia mengangkat mukanya dan menatapku sambil berkata,”Bersyukurlah kepada Tuhanmu, niscaya Tuhanmu akan menambah nikmat-Nya…”. Dan dia mengatakan kalimat itu sambil tersenyum…

    Dan tiba-tiba lagu It’s My Life-nya Bon Jovi dari kamarnya si Tole seolah menyuntikkan semangat kami berdua. Tiada kata yang terucap dariku atau si Genduk, tapi saling pengertian itu sudah terbangun…Alhamdulillah.

    ***

    Oleh: Lukito Edi Nugroho, 17 Mei 2011

    — cerita ini didedikasikan untuk siapapun yang sedang mengalami problem, kecemasan, ketakutan, dan merasa tidak ada harapan lagi. Yakinlah bahwa harapan itu masih ada. Problem itu adalah latihan untuk membuat kita kuat. Semoga bermanfaat —

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 21 August 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Semua Ada Awalnya

    Oleh Yon’s Revolta

    Cobalah jangan menjadi orang sukses, Melainkan berusahalah untuk menjadi orang yang berharga (Einstein)

    ***

    Di depan sebuah masjid…

    Lelaki berjenggot itu nampak serius bekerja. Mengipas-ngipas bara arang dengan beberapa biji jagung muda diatasnya. Dibolak-balik agar merata sambil ditaburi bumbu sesuai pesanan pembeli. Bisa pedas, gurih atau asin. Silakan tinggal memilih saja. Aroma bumbu taburnya bisa kita hirup lezatnya dari dekat.

    Saya kurang tahu tempat tinggal penjual jagung bakar itu di mana. Belum sempat menyapa dan bercerita banyak dengannya. Kapan-kapan kalau diberi kesempatan akan saya ceritakan. Yang saya tahu, sekira sudah sebulan dia berjualan di situ.

    Apa yang menarik dari pemandangan itu.

    Mungkin biasa saja. Tapi mari kita selami lebih dalam lagi tentang fenomena itu. Barangkali, ada keping-keping hikmah yang tersisa. Keping-keping yang bisa kita petik sebagai renungan tentang kehidupan yang kita jalani selama ini.

    Di setiap tempat, apa yang kita lihat, semuanya ternyata bisa menjadi bahan renungan kita. Asalkan kita bisa memandangnya dengan cara yang berbeda. Menelisik lebih dalam atas apa yang kita kita lihat itu. Memang melihatnya tak sekedar dengan dua mata kita, tetapi perlu dengan mata jiwa, mata hati. Dengan begitu, kitapun akan bisa meresapi sampai ke hati pula.

    Hari ini, kita belajar tentang proses.

    Ijinkan saya bertanya. Adakah yang bisa menjamin bahwa orang itu memang punya cita-cita sebagai seorang penjual jagung bakar? Saya sendiri tak yakin. Saya cenderung memandang apa yang dilakukannya sebagai bagian dari proses. Mungkin dia punya cita-cita lebih dalam berbisnis. Hanya saja, sebagai langkah awal, atau bisa juga keterpaksaan karena hanya peluang itu yang ada, maka pekerjaan itu dilakukannya. Bisa jadi begitu.

    Nah, anggap saja apa yang dilakukannya kini kita alami. Kita, mungkin saat ini bekerja belum sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tentu, langkah terindah yang bisa dilakukan adalah mencintai pekerjaan kita. Anggap ini sebagai langkah awal kita untuk meniti karier yang lebih baik dikemudian hari. Sebuah bagian dari proses pencapaian cita-cita dan impian kita.

    Sudah teramat banyak cerita orang-orang yang meniti karier dari awal. Seperti orang yang awalnya penjual koran eceran kemudian menjadi “raja media’. Ya, semua itu ada awalnya. Kata pepatah cinta, ribuan mil dimulai dari satu langkah. Pertanyaannya sekarang, apakah langkah kaki kita telah terayunkan. Ataukah kita masih saja terbayang-bayang akan nikmatnya impian. Hari ini, kita coba untuk beranjak berjalan. Selangkah demi selangkah.

    Bagi yang sudah beranjak jauh, perlu sejenak menengok dan berevaluasi. Saya agak sepakat dengan kata Einstein yang saya kutip di atas. Tepatnya, jangan melulu untuk berambisi menjadi orang sukses. Tapi berusaha untuk menjadi manusia yang berharga, manusia yang mempunyai kemanfaatan tak hanya bagi dirinya sendiri, tapi bagi orang lain.

    Bagi seorang muslim, tentu paham di mana keberadaan manusia dimuka bumi ini memang ditentukan sejauhmana dia bermanfaat bagi orang lain. Kalau hanya mengejar sukses pribadi, tentu kurang afdhol.

    Khusus bagi yang sedang melangkahkan sejengkal demi sejengkal kaki meraih capaian puncak, ada baiknya kita ingat pesan Rasulullah Muhammad SAW “Berharaplah dengan kebaikan, pasti kalian akan mendapatkannya”.

    Ya, ini awalan bagi kita untuk menggapai puncak yang baik, halal, diridhoi Allah SWT, dan tentunya setelahnya tak hanya kita yang menikmatinya. Tetapi juga bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Semoga, kita bisa melakukannya.

    ***

    (yr)

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 20 August 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Aku Menangis untuk Adikku

    Penulis : Ratu Karitasurya

    Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orangtuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

    Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatan membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

    “Siapa yang mencuri uang itu?” beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara.

    Ayah tidak mendengar siapapun mengaku, jadi beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”

    Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya! ”

    Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marah, sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai beliau kehabisan nafas.

    Sesudahnya, beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

    Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

    Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

    Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.

    Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Aku mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik. Hasil yang begitu baik.”

    Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

    Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, saya telah cukup membaca banyak buku.”

    Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti ayah mesti mengemis di jalanan, ayah akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang.

    Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak. Aku berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau tidak, ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

    Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku, “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimmu uang.”

    Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

    Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga di universitas.

    Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!” Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?

    Aku berjalan keluar dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kalau kamu adalah adikku?”

    Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu? ”

    Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apapun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. ”

    Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”

    Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

    Kali pertama aku pulang ke rumah setelah menghadiri undangan pernikahan seorang teman, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!”

    Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.”

    Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” aku menanyakannya.

    “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Di tengah kalimat itu ia berhenti.

    Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

    Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Seringkali suamiku dan aku mengundang orangtuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, dia mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

    Saat Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

    Suatu hari, ketika adikku sedang di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ia mendapat sengatan listrik, lalu masuk rumah sakit.

    Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

    Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

    Mata suamiku dipenuhi air mata. Kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”

    Lalu ia berkata, “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

    Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?”

    Tanpa berpikir, ia menjawab, “Kakak saya.”

    Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, sekolah kami ada di dusun yang berbeda. Setiap hari kakak dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Sedangkan ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

    Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.”

    Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

    ***

    Diterjemahkan dari “I Cried for My Brother Six Times”

     
    • ahmadanoval 2:51 pm on 22 Agustus 2011 Permalink

      kasian ntuh orang tua ngga nyadar bahwa agama mengajarkan kita untuk menjaga niat ucapan dan perbuatan agar ketiga2 tetap di dalam kondisi berbuat baik…..sayang niat nya baik, ucapannya tdk baik, dan perbuatannya tdk baik….ingat pak…masing2 dari kita akan diminta pertangungjawaban atas setiap perbuatannya masing-masing maksudnya sendiri2 pak……smoga orang tua macam itu sudah tdk ada lagi didunia……amiiiiiin.dan untuk sang kakak angkatlah derajat adik mu…jangan menunggu dia meminta…kasih dia melebihi apa yang dipikirkannya……amiiiin

    • wempy 11:40 pm on 11 Desember 2011 Permalink

      ahmadanoval; bisanya cuma ngehakimin aja dgo

  • erva kurniawan 1:50 am on 17 August 2011 Permalink | Balas  

    Berkah Sedekah “Buntut Singkong”

    Di ujung gang sebuah pasar, mangkallah seorang penjual singkong goreng (gorengan) yang setiap hari berjualan dengan penuh suka cita demi menghidupi anak dan istri tercinta.

    Pada suatu hari, datang seorang anak kecil entah dari mana asalnya. si anak berdiri di sisi gerobak kesayangan pak Singkong (sebut saja begitu) sambil memandangi gorengan panas yang baru di angkat dari penggorengan mendidih. Anak itu mengamati Pak Singkong sambil menggigiti jari telunjuknya. Selintas Pak Singkong memperhatikan dan bertanya, “Kamu mau..?” tanpa bersuara, si Anak Singkong (sebut saja begitu) mengangguk, tersungging sedikit senyum gembira penuh harap.

    Terlintas begitu saja, Pak Singkong langsung bereaksi. Ia mengambil ujung paling kecil dari potongan singkong yang tidak terjual dan langsung menceburkannya ke minyak mendidih. Lumayan, dari pada terbuang sia-sia, karena tidak ada yang mau membeli gorengan buntut singkong. Dengan penuh kegembiraan, si Anak singkong melahap buntut singkong goreng gratis dari Pak Singkong.

    Demikianlah, hal itu terulang setiap hari. Sampai pada hari keempat, Pak Singkong tidak lagi kedatangan tamu kehormatannya itu. Sampai akhirnya beberapa tahun kemudian ……..

    Dari sebuah mobil yang cukup mewah, turunlah seorang laki-laki muda gagah, perlente kata orang betawi (sebut saja Si Tampan). Dia menghampiri pak Singkong dengan senyum gagah menawan.

    “Gorengan, om?” begitu teguran khas Pak Singkong ke setiap pelanggan yang datang. “Ya, Pak. Tapi saya mau beli buntut singkong,” sambil tetap mempertahankan senyum gagah.

    Sambil tersenyum dan tidak kalah gagah (ukuran Pak Singkong ), Pak Singkong menjawab sekenanya, “Maaf Om…saya tidak jual buntut singkong.”

    Si Tampan tidak kehabisan akal, “Ah…massaaak…” katanya sambil pindah ke posisi kanan gerobak Pak Singkong sambil menggigit jari telunjuknya.

    “Masya Allah…Subhanallah,” sambil melotot terperangah terharu, “Jadi ini kamu,” demikian kata Pak Singkong dengan sedikit terbata.

    “Ya..ini saya, 20 tahun cukup untuk membuat bapak lupa sama saya?” jawab Si tampan.

    Setelah 4 Hari meminta dan makan buntut singkong, si Anak Singkong merasa cukup tenaga untuk melanjutkan hidupnya. Ia bekerja keras untuk pendidikan dan kariernya hingga akhirnya ia berhasil meraih sukses yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

    Singkatnya, sebagai ucapan terimakasih atas segala kebaikan Pak Singkong yang telah memberinya selama 4 hari dengan buntut singkongnya, Si Tampan memberangkatkan haji Pak Singkong, memberinya modal dan mengangkat derajat kehidupannya.

    **

    Demikianlah Allah akan membalas segala kebaikan seseorang yang dilakukannya dengan tulus. Allah memberi rezeki dari tempat yang tak disangka-sangka kepada setiap orang yang dikehendaki-NYA. Demikian balasan Allah atas perbuatan baik dan sedekah seseorang.

    ***

    (sumber cerita dari wisata hati).

     
    • azkaazzahra 2:06 am on 17 Agustus 2011 Permalink

      sedekah memang bisa membeli segalanya.
      salam berbagi kebaikan

    • hendri putra islamia 10:03 pm on 22 Agustus 2011 Permalink

      1.sedekh mmg ahli srga
      sbda nabi”klw ingn brsdkh sdkh kn brng yg plng kmu ska,cntai”

  • erva kurniawan 1:00 am on 14 August 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Puasa Zubaida dan Kutukan Tetangga 

    Setiap Ramadhan, Zubaida Jomaa, 44, berjuang mengajak keluarganya untuk berbuka puasa bersama setidaknya sekali dalam seminggu. Itu dilakukan untuk memberi nuansa Islam di tengah keluarganya. Nuansa Islam, di tengah kehidupan negeri tanggo Brasil, adalah sesuatu yang mahal.

    Dengan mayoritas penduduknya beragama Katolik, pemeluk agama Islam di sana tidak menonjol. “Saya ingin melihat keluarga saya duduk bersama selama bulan suci,” ujar Zubaida, seperti ditulis Islamonline.net.

    Meskipun hidup dalam masyarakat barat, wanita muslim itu ingin mengajarkan anak-anaknya arti puasa selama bulan Ramadhan. Dia menjelaskan, anak-anaknya sudah belajar berpuasa sejak umur sembilan tahun. Saat itu, banyak tetangga Zubaida yang mengutuk karena membiarkan anak kecil berpuasa. “Tapi saya tahu apa yang saya lakukan sesuai agama Allah dan itu baik untuk menanamkan nilai Islam kepada anak saya,” tegas dia.

    Selama Ramadhan, seperti Muslim di belahan bumi lain, Muslim di Brazil mendedikasikan waktu mereka untuk menjadi lebih dekat kepada Allah. Mereka lebih banyak berdoa, menahan diri dari hawa nafsu, dan melakukan perbuatan baik. Momentum Ramadhan juga dipergunakan untuk mempelajari Alquran yang mulia. “Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan berkah dalam kehidupan Muslim manapun di seluruh dunia,” kata Zubaida.

    Menurut sensus 2001, ada 27.239 Muslim di Brasil. Namun, Federasi Islam Brasil menempatkan angka pada sekitar satu setengah juta. Mayoritas Muslim adalah imigran keturunan Suriah, Palestina, dan Lebanon yang menetap di Brasil pada abad kesembilan belas selama Perang Dunia I dan pada 1970-an. Sebagian besar muslim tinggal di negara bagian Parana, Goias, Riod de Janeiro dan Sao Paulo. Ada juga jumlah masyarakat Muslim yang signifikan di Mato Grosso do Sul dan Rio Grande do Sul.

    Muslim di Brasil masih kesulitan dalam mengajarkan Islam kepada anak-anaknya. Salah satu contohnya, orangtua umumnya sulit mengajar anak-anak mereka untuk berpuasa selama bulan suci. Hal itu karena masih banyak masyarakat Brazil yang tidak mengerti ajaran agama Islam. “Banyak orang yang mengkritik dan menuduh yang tidak baik kepada keluarga saya, karena mereka tidak mengerti,” ujar Zubaidah.

    Akan tetapi, dia selalu mengajarkan bahwa Ramadhan adalah saat refleksi. Muslim merasa murni dari kotoran dan berpuasa menjadikan Muslim bersikap lebih baik. “Saya senang melihat anak-anak saya berpikir tentang makna Ramadhan yang sama,” tutup Zubaida.

    ***

    By Republika

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 12 August 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Puasa Mengharukan Si Penyapu Jalan 

    By Republika

    Hidup adalah perjuangan. Kata itu tampaknya cocok disematkan untuk Rusdijah (45). Betapa tidak, ibu beranak lima ini berjuang keras tiap hari demi bertahan hidup di tengah kerasnya kota Jakarta. Suaminya pengidap darah tinggi yang telah wafat lima tahun silam akibat terpeleset dari kamar mandi, membuatnya kian ikhlas menjalani hidup sebagai orang tua tunggal.

    Rusdijah ialah satu dari sekian banyak perempuan yang berprofesi sebagai petugas kebersihan di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. “Saya sudah lima tahun kerja ini,” ujar Rusdijah saat ditemui di Lapangan Banteng. Rusdijah mengaku, di bulan Ramadhan ini cukup sulit menjalani dua aktivitas sekaligus, berpuasa dan membersihkan lapangan. Namun hebatnya, ibu ini tetap menomorsatukan ibadah puasanya. “Capek, haus. Tapi bagaimana, puasa kan juga kewajiban,” tuturnya.

    Selain pengorbanannya yang total pada pekerjaannya itu, rupanya kisah hidup Rusdijah pun cukup memprihatinkan. “Waktu itu rumah saya kebakaran di Kwitang,” ucap Ibu yang akrab disapa Ijah ini mengawali ceritanya. Usai insiden kebakaran yang menghanguskan rumah lengkap dengan seluruh perabotannya, Ijah pindah ke Citayam. “Nggak ada satu pun barang yang tersisa,” ujarnya. Kebakaran itu, menurut dia, terjadi karena hubungan pendek arus listrik. Kebakaran itu cukup memilukan hatinya hingga kini.

    Ternyata cobaan tak berhenti sampai disitu. Selang beberapa bulan ia dan keluarga pindah ke Citayam, suaminya pengidap darah tinggi terpeleset di kamar mandi. Tak lama, sang pencari nafkah itu pun dipanggil Sang Khaliq tuk selama-lamanya. “Masih sedih kalau ingat itu,” katanya.

    Dua cobaan sudah yang telah menimpa ibu pemilik empat anak lelaki dan satu anak perempuan ini. Tetapi, Ijah tidak menyerah sedikit pun. Ia bertekad untuk melanjutkan hidupnya kembali. Sedahsyat apa pun badai menghantam. “Meski susah, hidupkan harus dilanjutkan,” ujarnya.

    Ia pun memutuskan untuk menjadi petugas kebersihan. Anak-anaknya yang lain pun giat mencari kerja. Sayangnya, dua anaknya jarang pulang. Anak perempuan satu-satunya, Riska (12) pun tak tega melihat ibunya bekerja sendiri. “Riska minta izin mau jadi tukang koran,” ungkapnya. Di lubuk hati Ijah, ia tak tega membiarkan anaknya yang waktu itu masih kelas IV SD untuk berjualan. “Ternyata Riska nggak nyerah. Dia bener-bener jadi tukang koran sama abangnya keempat,” paparnya.

    Di tengah morat-marit hidup Ijah dan keluarganya, ia pun harus menelan pil pahit lagi. Anaknya yang ketiga wafat karena sakit. “Lagi-lagi saya kehilangan,” tuturnya memilukan. Ijah pun kembali bangkit. Anak perempuannya itu rupanya yang memberinya kekuatan untuk bertahan. “Riska yang buat saya kuat hadapi hidup. Dia nggak pernah nangis dikatain teman-temannya tukang koran,” paparnya.

    Ijah pun mengakui, ternyata putri bungsunya tersebut cerdas meski memiliki kenangan memilukan. “Dulu dia nggak mau masuk sekolah. Saya nggak tahu kenapa. Astaghfirullah, saya kesal, saya tampar dia,” sesalnya. Ternyata, selang beberapa lama Riska mengakui ia tidak mau masuk sekolah lantaran takut dan trauma. “Ternyata, itu anak digertak sama kepala sekolahnya. Dikatain goblok dan bego. Ya Allah, nggak tau apa itu anak yatim,” ujar Ijah.

    Akhirnya, Ijah pun menyelidiki kenapa anaknya digertak dan dikatai dengan ucapan tak senonoh itu. “Waktu itu, anak saya ditanyain pas lagi jualan kenapa nggak sekolah. Anak saya keceplosan ‘Biar sekolah gratis tapi kan bukunya bayar’ gitu kata Riska. Eh, nggak lama itu sekolah didatangi orang DKI. Riska dianggap sumber tercemarnya nama sekolah. Dari situ saya dipaksa buat ngeluarin Riska dari sekolah,” paparnya. Namun demikian, Riska tak sedih atau pun muram usai digertak kepala sekolah tersebut. Ia hanya mogok sekolah karena trauma.

    Ijah kini hidup bahagia dengan putrinya yang kerap mengerjakan PR di kereta dan sering tertidur hingga Bojong karena saking lelahnya. “Riska tiap hari bangun pukul 04.00 pagi. Dia berangkat kan naik kereta. Dagang dulu, baru sekolah di SMPN 273 Tanah Abang. Pulang sekolah, dia dagang lagi. Uangnya nggak pernah dijajanin. Buat saya semua. Alhamdulilah, guru-gurunya bilang Riska pintar,” tutupnya penuh haru.

    ***

    Naskah: Ina Febriani/irf

    Foto: Republika/Musiron

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 11 August 2011 Permalink | Balas  

    Tarawih dengan Langit Terang di Alaska 

    By Republika

    Terletak paling utara benua Amerika dan lebih dekat dengan benua Artik membuat Alaska identik dengan musim dingin berkepanjangan. Namun, dibalik dinginnya Alaska tersimpan satu hal yang begitu menghangatkan yakni keberadaan komunitas muslim di kawasan itu. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi cukup menggambarkan betapa Islam mulai diterima dan diakui.

    Berbeda dengan saudara-saudaranya dibelahan dunia lain, komunitas muslim di Alaska memiliki perbedaan yang unik saat melaksanakan kewajibannya sebagai muslim. Khusus bulan ramadhan misalnya, muslim di Alaska melakukan sholat tarawih pada saat matahari masih bersinar terang, karena jarak antara matahari terbit dan terbenam sangat panjang pada musim panas.

    Dua Muslimah Indonesia, Amalia dan Nila, yang menetap di Anchorage, Alaska, menuturkan tantangan berpuasa di kawasan kutub itu, yakni kejanggalan alam sewaktu bertarawih dan bagaimana mendidik anak untuk menjalankan puasa di tengah lingkungan masyarakat yang mayoritas non-Muslim.

    Amalia baru saja pindah dari Las Vegas ke Anchorage, Alaska, dan puasa tahun ini merupakan yang kedua bagi dia dan keluarga. Awalnya, Amalia merasa janggal bertarawih di ‘siang bolong’.

    “Langit masih terang-terang kita udah bersolat Isya, karena faktanya memang begitu. Tetapi, kalau menunggu matahari benar-benar tenggelam nggak kuat juga walaupun sejuk karena terlalu lama, lebih dari 14 jam,“ ungkapnya seperti dikutip dari voanews.com, Senin, (23/8).

    Nila menuturkan pengalaman lain. Dia mengasuh bayinya yang baru lahir dan pada saat yang sama mendidik anaknya yang berusia lima tahun untuk berpuasa. “Memang sih susah di sini. Tetapi saya enjoy tiap tahun bersama anak saya yang pertama. Selalu saya bilang, kalau kamu puasa kamu dapat hadiah. Saya juga memiliki anak bayi, dia juga ikut bangun, tetapi saya tidak merasa terlalu repot. Saya tidak merasa capek atau malas untuk bangun,”kata Nila.

    Amalia dan Nila mengatakan, warga Muslim Indonesia di Alaska sudah diberitahu oleh sebuah lembaga Islam di Amerika agar mereka mengikuti jadwal puasa yang ditetapkan Mekah.

    ***

    voanews.com, Agung Sasongko, Ajeng Ritzki Pitakasari

     
    • yadi 5:00 pm on 16 Agustus 2011 Permalink

      saya akan berkunjung ke Alaska tahun 2012!

  • erva kurniawan 1:04 am on 5 August 2011 Permalink | Balas  

    Berpuasa di Kota Tianjin, Cina 

    Nurseffi Dwi Wahyuni – detikRamadan

    Jakarta – Bulan Ramadan 1431 H kali ini terasa berbeda bagi saya karena harus melaksanakan ibadah puasa pertama di kota Tianjin, Cina. Ini merupakan pengalaman pertama saya berpuasa di negeri orang.

    Menjalankan puasa di negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim, tentu saja memiliki keunikan tersendiri. Jangan harap akan ada toleransi terhadap orang-orang yang menjalankan ibadah puasa seperti di Indonesia. Aktivitas selama bulan Ramadan di sini, sama saja seperti bulan-bulan biasanya.

    Di sini, saya juga tidak mendengar suara adzan untuk menunjukkan waktu imsak, salat dan berbuka puasa. Karena itu, saya harus rajin melihat dan memperhatikan posisi matahari untuk menentukan waktu-waktu tersebut.

    Apalagi saat ini di China sedang musim panas sehingga suhu cuaca di sini sangat panas dan bisa mencapai 30 derajat celcius. Pada musim panas, waktu siang juga lebih panjang dari waktu malam,  sehingga secara otomatis puasa yang saya jalani juga lebih lama beberapa jam dibanding saat saya berpuasa di Indonesia.

    Jika biasanya di Jakarta  pukul 18.00 WIB  matahari sudah mulai tenggelam,maka kali ini di Cina masih terang benderang. Karena itu, pada puasa pertama kemarin, saya baru berbuka pukul 8 malam waktu Cina.

    Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah soal makanan. Kita harus berhati-hati saat memilih makanan karena belum tentu makanan yang dijual adalah makanan yang halal bagi umat muslim.

    Setidaknya kita harus bisa sedikit berbahasa Mandarin untuk bertanya apakah makanan yang kita beli itu halal atau tidak. Karena setelah saya pergi ke beberapa toko di kota ini, sebagian besar dari pegawai mereka tidak mengerti bahasa Inggris.

    Kalau mau aman, carilah rumah makan khusus muslim yang tersebar di Tianjin, atau bisa juga belanja di supermarket lalu memasaknya sendiri. Tapi meski bagaimanapun, memang lebih enak puasa di negeri sendiri.

    Tianjin, 12 Agustus 2010

    ***

    Nurseffi Wahyuni

    ramadan.detik.com/read/2010/08/13/071321/1419408/630/berpuasa-di-kota-tianjin-cina

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 17 July 2011 Permalink | Balas  

    4 Orang Istri

    Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 orang istri.

    Dia mencintai istri yang keempat, dan menganugerahinya harta dan kesenangan yang banyak. Sebab, dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik buat istri keempatnya ini.

    Pedagang itu juga mencintai istrinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya ini, dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita ini kepada semua temannya. Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang lain.

    Begitu juga dengan istri yang kedua. Ia pun sangat menyukainya. Ia adalah istri yang sabar dan pengertian. Kapanpun pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan istrinya ini. Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa yang sulit.

    Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dia lah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sangsuami. Akan tetapi, sang pedagang, tak begitu mencintainya. Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun, pedagang ini tak begitu mempedulikannya.

    Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan segera meninggal. Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati. “Saat ini, aku punya 4 orang istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri.”

    Lalu, ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada istri keempatnya. “Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku? Ia terdiam. “Tentu saja tidak, “jawab istri keempat, dan pergi begitu saja tanpa berkata-kata lagi.

    Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan, ada pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya.

    Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga. “Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku? Istrinya menjawab, Hidup begitu indah disini. Aku akan menikah lagi jika kau mati. Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. Badannya mulai merasa demam.

    Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. “Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku? Sang istri menjawab pelan. “Maafkan aku,” ujarnya “Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu. Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang kini merasa putus asa.

    Tiba-tiba terdengar sebuah suara. “Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu. Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku.”

    Renungan :

    Teman, sesungguhnya kita punya 4 orang istri dalam hidup ini. Istri yang keempat, adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya.

    Istri yang ketiga, adalah status sosial dan kekayaan. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya.

    Sedangkan istri yang kedua, adalah kerabat dan teman-teman. Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.

    Dan, teman, sesungguhnya, istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita. Mungkin, kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita di akhirat kelak.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • venny 1:10 pm on 9 Agustus 2011 Permalink

      Subhanallah…bagus bngt artikelna,..terharu bngt baca na,..

      Terimakasih y,..

    • nur.lita 12:52 am on 19 Maret 2012 Permalink

      bagus sangat, meotivasi hidup kita

  • erva kurniawan 1:52 am on 4 July 2011 Permalink | Balas  

    Abid dan Alim

    Suatu ketika Syetan mendatangi seorang Abid dan Alim. Si Abid seorang ahli ibadah tapi tidak memiliki ilmu yang cukup, sedangkan Si Alim selain rajin beribadah juga memiliki ilmu yang baik.

    Syetan bertanya kepada Abid, “Untuk apa kau baeribadah?”

    “Karena dengan ibadah aku akan mendapatkan surga-NYa dan tidak akan dimasukkan ke neraka-NYa.” Jawab Si Abid.

    “Bukankah Allah menciptakan surga seluas langit dan bumi?” Tanya syetan.

    ”Ya”, jawab Abid.

    “Lalu dimanakah Allah tempatkan neraka, jika surga itu seluas langit dan bumi?” Si Abid bingung, terpaku dan tak berkutik dengan jawaban tersebut.

    “Kalau begitu, Allah Cuma menciptakan surga saja, maka beribadah maupun tidak ia akan ke surga karena tidak ada tempat lain, kecuali surga. Untuk apa beribadah kalau nanti semuanya akan masuk surga?”Abid semakin bingun dan melemahlah imannya. Syetanpun tertawa karena jebakanya membawa hasil.

    Selanjutnya syetan mendatangi si Alim dan berkata sama seperti yang dikatakan kepada si Abid. Dengan tenang Si Alim menjawab “Bukankah setiap yang Allah ciptakan itu berpasang pasangan?”.

    “Lalu dimanakah Allah menempatkan neraka, sedang surga itu seluas langit dan bumi?” Tanya syetan baerusaha mempengaruhi Si Alim.“

    “Walahu ala kulli syai’in qadir. Dia mampu melakukan apa yang dia mau. Kalau dia menciptakan surga seluas langit dan bumi, dia pun akan menciptakan neraka seluas langit dan bumi pula. Dimana penempatannya, itu kekuasaan Allah,” jelas Si Alim. Syetanpun tak berdaya dengan jawaban tersebut.

    ***

    Rekan rekan sekalian, terlepas dari shohih atau tidaknya cerita tersebut, ada beberapa pelajaran menarik yang bisa kita ambil.

    Pertama, betapa pentingnya sebuah ilmu. Betapa pentingnya sebuah pemahaman yang benar. Betapa pentingnya memahami islam secara utuh, integral tidak sebagian ( parsial ). Iman, ilmu, Amal demikian hendaknya. Banyak sekali Hadist Rosulullah ataupun sahabat yang mengatakan demikian.

    Rosulullah bersabda “Satu orang fakih itu lebih berat bagi syetan daripada seribu ahli ibadah.” ( HR Tirmidzi : 5/46, No : 2681 ).

    Umar Bin Khatab Ra berkata “Kematian seribu ahli ibadah yang selalu shalat diwaktu malam dan berpuasa diwaktu siang lebih ringan daripada kematian orang cerdas yang mengetahui hal hal yang dihalalkan dan diharamklan oleh Allah” ( Jami’ul Bayanil “ilmi wa Fadlili, oleh Ibnu Abdil Bar : 1/26.

    Rosullah bersabda “Semoga Allah memberi kecerahan pada wajah seseorang yang mendengar pembicaraaan dariku, lantas ia menghafalkannya hingga dapat menyampaikan kepada orang lain. Sebab terkadang seseorang membawa suatu kepahaman ( ilmu ) kepada orang yang lebih paham daripadanya” ( HR Abu Dawud : 3/321, No 3660 dan At Tirmidzi 5/33 No. 2656.)

    Masih banyak hadist lain yang membahas tentang kelebihan sebuah ilmu dan pemahaman yang benar. Tidak mengherankan jika dalam sejarah kita lihat, Ibnu Abbas yang usianya masih sangat muda, dimasukkan sebagai salah satu anggota Majelis Syuro Amirul Mukminin Umar bin Khathab ra, karena kelebihan yang diberikan oleh ALLAH dengan pemahamannya.

    Kedua, tidak semua hal dalam agama ini bisa dijangkau oleh akal kita. Akal yang lemah ini. Menggantungkan semua hal dengan akal tersesatlah kita.Jika pertanyaan seperti yang ditanyakan Syetan diatas, dijawab dengan akal dengan ukuran dunia, tentunya akal kita akan kebingungan sendiri, karena memang tidak terjangkau. Oleh karena itu Selain mentauhidkan ALLAH dengan tulus tanpa keraguan, juga harus mengenal ALLAH secara yakin bukan hanya pengenalan intelektual saja. Jika sebuah Hadist itu shohih, Yakini, saja. Jika ditanya mengapa sholat Subuh yang baru bangun pagi 2 Raka’at, sholat Dhuhur yang sudah lelah bekerja kok malah 4 Roka’at, cukup dijawab saja “Itu yang Allah perintahkan”, titik.

    Pertanyaan pertanyaan seperti yang ditanyakan syetan diatas, sering kali terdengar dan dilontarkan oleh orang orang yang hanya mengagungkan akalnya. Salah satu dari hal ini bisa kita lihat beberapa waktu berselang, beberapa mahasiswa IAIN SGD Bandung, memasang spanduk “Wilayah Bebas Tuhan” dalam kegiatan kemahasiswaan, atau seseorang dengan tenangnya memakai kaos jaringan kafir liberal (JAKAR), atau bahkan seorang dosen yang menakwilkan Al Qur’an secara serampangan sehingga membolehkan menginjak lafal Qur’an.

    Banyak contoh dari para sahabat untuk menyikapi hal hal demikian. Bahkan saking hati hatinya Para Sabat, tabi’in atau tabi’it Tabi’in,banyak diantara meraka yang tidak mau menyibukkan diri dengan pembicaraaan yang amal tidak dibangun diatasnya. Umar Bin Khathab pernah menegur Shabigh karena sering menyibukkan diri dan bertanya kepada orang tentang beberap hal dari Al Qur’an yang tidak terkait dengan hukum taklifi (aplikatif) bahkan umar memberikan pelajaran kepadanya karena kebiasaan tersebut.

    Apa jadinya jika kita menyibukan diri bahkan berbantahan tentang bagaimana sholat di Bulan sementara, kebulan saja tidak pernah?

    Banyak orang menyia nyiakan waktu dalam memperdebatkan yang bersifat teori namun tidak membuahkan amal nyata kecuali menghabisklan suara, menumbuhkan kebencian dsb. Jika ada seseorang menanyakan tentang zat ALLAh cukup saja dijawab, sesuai petunjuk nabi “Berpikirlah tentang ciptaan Allah dan jangan berpikir tentang zat Allah, karena kalian tidak akan mampu mengetahui hakekatnya.”

    Semoga bermanfaat, mohon maaf jika ada kesalahan.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 2 July 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Penundaan

    Terdengar kabar bahwa si Setan mau pensiun. Kata kabar, dia punya tiga anak. Terjadilah persaingan berat mengenai siapa yang berhak menggantikan kedudukan sang Ayah. Sehingga, Setan harus mengumpulkan tiga anaknya untuk menjalani fit and proper test.

    “Kalau kamu yang aku pilih, apa agendamu dalam menjalankan tugas menggoda manusia-manusia lemah di muka bumi?” tanya si Setan pada anaknya yang tertua.

    “Begini, Pap, aku akan beritahukan mereka bahwa tidak ada kehidupan akhirat dan tidak ada kehidupan setelah kematian. Bahwa satu-satunya kebenaran adalah kehidupan ini sendiri, maka ayolah makan, minum, nge-sek-nge-sek, nanti waktunya mati ya mati aja.”

    “No, no, no, kalau itu agendamu nggak akan berhasil,” sergah si Setan sambil geleng-geleng kepalanya.

    “Sumpeh loh?” tanya anak Setan yang tertua itu lagi. (Namanya aja setan, jadi tidak kenal sopan santun sama orang tuanya).

    “Di bumi sana sudah terlalu banyak calo dan agen-agen Tuhan yang sudah mencuci otak manusia sejak berabad-abad. Mereka bilang ada sorga, ada neraka, ada reward and ada punishment. Mereka terlalu banyak dan nggak akan dengerin pogram kamu. Kamu pasti kalah and gagal. Sorry Nak, aku nggak bisa kasih kekuasaanku ama kamu.”

    Giliran anaknya kedua yang ditanya, “Kalau kamu yang gantiin kedudukanku, apa agenda kerjamu?” Sambil mengabaikan putra pertamanya yang sudah tereleminasi.

    “Hhhmm, Aku tidak hanya akan cukup memberitahu bahwa tidak ada surga, tidak ada neraka, dan tidak ada kehidupan akhirat, tapi lebih dari itu, aku akan berusaha meyakinkan-nya, tidak perlu takut.Hayo, kalau mau leha-leha, mau sakau, mau judi, ayo, tidak usah takut, silahkan!” Penuh semangat, dengan gaya mirip para nggota parlemen yang sedang mencari dukungan rakyat bergaya seolah-olah sedang di hadapan audience.

    “Kamu akan ‘berusaha meyakinkan’, berarti kamu belum yakin agendamu itu bisa jalan. Kamu gak pede, ah. Tidak, aku tidak akan kasih kekuasaanku kepada yang nggak pede. Kalau kamu ngomong begitu, sama saja dengan memberi peluang dan kebebasan, justru ini akan bikin mereka bosan dan muak, malah ujungnya mereka akan sadar.”

    Sambil mengabaikan lagi yang sudah tereleminasi, si Setan mengarahkan dirinya ke putra ketiganya yang pedenya oke, sangat meyakinkan, “Kamu putraku yang terakhir, kalau agendamu juga nggak jelas, terpaksa aku nggak jadi pensiun, biarin aku akan jalankan tugas ini sampai mati.”

    “Nggak perlu sampai Papi mati, aku siap dan sanggup kok. Begini Pap, aku akan bilang pada manusia, sorga itu ada, neraka juga ada, reward ada punishment juga pasti, tapi apa gunya mikirin surga dan neraka, reward juga punishment, NANTI ajalah. Nikmati aja dulu hidup ini, nanti kalau sudah berumur, atau kalau hidup kamu sudah benar-benar mapan and bisa ngejamin cucu-cucu dan cicit-cit, baru deh mulai pikirin itu”

    “Hahaha, smart! Penundaan ! Kita buanget tuh! Kamu akan mengharumkan namaku, kamu pasti sukses. Sekarang juga ambillah kekuasanku dan mulailah bekerja.

    ***

    Sumber Tulisan Oleh : Abi Maulana (GET REAL Maka Hidup Ini Menakjubkan! Penerbit Gagas Media, Cetakan pertama, 2007)

     
  • erva kurniawan 2:15 am on 24 June 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Mengapa Kita Membaca Al-Qur’an, Meskipun Kita Tak Mengerti Satupun Kata Bahasa Arab

    Seorang muslim tua Amerika tinggal di sebuah perkebunan/area di sebelah timur Pegunungan Kentucky bersama cucu laki-lakinya. Setiap pagi Sang kakek bangun pagi dan duduk dekat perapian membaca Al-qur’an. Sang cucu ingin menjadi seperti kakeknya dan memcoba menirunya seperti yang disaksikannya setiap hari.

    Suatu hari ia bertanya pada kakeknya, “Kakek, aku coba membaca Al-Qur’an sepertimu tapi aku tak bisa memahaminya, dan walaupun ada sedikit yang aku pahami segera aku lupa begitu aku selesai membaca dan menutupnya. Jadi apa gunanya membaca Al-quran jika tak memahami artinya?”

    Sang kakek dengan tenang sambil meletakkan batu-batu di perapian, menjawab pertanyaan sang cucu, “Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku kembali dengan sekeranjang air.”

    Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tetapi semua air yang dibawa habis sebelum dia sampai di rumah.

    Kakeknya tertawa dan berkata, “Kamu harus berusaha lebih cepat lain kali”. Kakek itu meminta cucunya untuk kembali ke sungai bersama keranjangnya untuk mencoba lagi. Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum sampai di rumah. Dengan terengah-engah dia mengatakan kepada kakeknya, tidak mungkin membawa sekeranjang air dan dia pergi untuk mencari sebuah ember untuk menggati keranjangnya.

    Kakeknya mengatakan, “Aku tidak ingin seember air, aku ingin sekeranjang air. Kamu harus mencoba lagi lebih keras. ” Dan dia pergi ke luar untuk menyaksikan cucunya mencoba lagi. Pada saat itu, anak itu tahu bahwa hal ini tidak mungkin, tapi dia ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa meskipun dia berlari secepat mungkin, air tetap akan habis sebelum sampai di rumah. Anak itu kembali mengambil / mencelupkan keranjangnya ke sungai dan kemudian berusaha berlari secepat mungkin, tapi ketika sampai di depan kakeknya, keranjang itu kosong lagi. Dengan terengah-engah, ia berkata, “Kakek, ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja”.

    Sang kakek menjawab, “Nak, mengapa kamu berpikir ini tak ada gunanya? Coba lihat dan perhatikan baik-baik keranjang itu.”

    Anak itu memperhatikan keranjangnya dan baru ia menyadari bahwa keranjangnya nampak sangat berbeda. Keranjang itu telah berubah dari sebuah keranjang batu yang kotor, dan sekarang menjadi sebuah keranjang yang bersih, luar dan dalam.

    “Cucuku, apa yang terhadi ketika kamu membaca Qur’an? Boleh jadi kamu tidak mengerti ataupun tak memahami sama sekali, tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu menyadari kamu akan berubah, luar dan dalam. Itulah pekerjaan Allah dalam mengubah kehidupan kamu.”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • asax 12:45 pm on 28 Juni 2011 Permalink

      terima kasih.

    • venny 1:20 pm on 9 Agustus 2011 Permalink

      Subhanallah,..bikin nangis ni ceritana,..

      Semoga Allah melimpahkan rahmat Nya kepada saudara atas tulisan2 ini,.aamiin2

    • susi 8:52 am on 25 Juli 2012 Permalink

      assalamu’alaikum… izin copas ya. terima kasih

  • erva kurniawan 1:40 am on 10 June 2011 Permalink | Balas  

    Hidayah pada Secarik Kertas

    Oleh Muhammad Faaiz Hidayatullah

    Iqra… Iqra… Iqra… Begitu bunyi suara yang membisiki telinga saya dalam mimpi. Bisikan misterius itu mengingatkan saya pada kisah Nabi saat mendapat wahyu pertama di Gua Hira. Saya tidak menganggap mimpi itu sekadar kembang tidur yang melenakan. Itulah awal saat saya menangkap cahaya Islam. Dan secarik kertas bertuliskan ‘Islam Agama Hakiki’, kian menguatkan tekad saya untuk memilih Islam sebagai panduan hidup.

    Nama asli saya Christian Gustav, sedangkan nama hijrah saya adalah Muhammad Faaiz Hidayatullah. Saya lahir dan dibesarkan oleh orangtua dalam lingkungan keluarga Katolik yang taat dari SD hingga SMP, saya mengecap pendidikan di sekolah Katolik. Hanya di SMEA saja, saya sekolah umum yang sebagian besar siswa dan gurunya beragama Islam. Di situ, saya mulai mengenal Islam dari teman-teman maupun dari sebagian guru. Selain beiajar, kebetulan saya mengikuti kegiatan ekstra kurikuler, termasuk aktif di teater.

    Sejak itu, saya mulai mencintai dunia puisi. Entah bagaimana, hati saya tertarik pada Islam. Saya sendiri tidak tahu, apakah ini yang disebut hidayah atau bukan. Yang pasti, ada sesuatu yang mendorong saya untuk mencoba menggali dan mengenai Islam lebih dekat lagi.

    Waktu saya kelas II SMEA Tridaya, Jakarta Timur, pada suatu malam saya bermimpi pulang dari gereja, lalu masuk kamar. Di kamar, saya melihat sebuah. Al-Qur’an terletak di atas meja. Mulanya saya bertanya-tanya, ini kitab apa. Rasa ingin tahu mendorong saya membuka-buka isi kitab tersebut. Setelah saya lihat bacaannya, temyata berbeda dengan kitab suci yang biasa saya baca.

    Anehnya lagi, dalam mimpi itu saya mendengar suara entah dari mana datangnya, seperti hendak menuntun saya untuk membacanya. “Sudah, baca saja.” Meski saya katakan, “Saya tidak bisa baca.” Suara misterius itu terus mendesak saya untuk membacanya. Setelah dituntun, akhirnya saya pun membacanya. Pokoknya, saya seperti qari atau orang yang sedang mengaji, yang melantunkan ayat-ayat suci dengan lagunya. Padahal, jujur, jangankan membaca, apalagi melantunkannya dengan lagu, mengenal huruf Arab saja, saya tidak mampu.

    Begitu saya terbangun, saya tersadar bahwa itu hanya mimpi. Tapi mimpi yang bukan sembarang mimpi. Mimpi itu telah membuat sekujur tubuh saya berkeringat dingin, membuat hati saya cemas, tak nyaman, jadi pikiran, dan selalu bertanya-tanya dalam batin. Hingga akhirnya saya berdo’a dengan cara agama yang saya anut. Dalam hati saya berkata, kalau memang ini panggilan suci, saya siap mengikutinya.

    Keesokan harinya, saya curhat habis pada guru agama di sekolah. Lucunya, guru yang pertama kali saya curhat adalah guru agama Islam, yaitu Pak Masduki, baru kemudian guru agama Katotik. Pak Masduki sendiri sebetulnya tahu, bahwa saya menganut agama Katolik. Kedua guru itu begitu tulus mendengar segala kisah mimpi saya yang mencemaskan dan mendebarkan tersebut. Tapi masing-masing guru agama itu memberikan penjelasan yang berbeda. Saya pun jadi makin bingung.

    Suatu ketika, saat saya hendak keluar kelas untuk mengikuti pelajaran agama Katolik di kelas lain, saya merogoh laci meja tempat saya menaruh tas dengan maksud memeriksa apakah ada barang saya yang tertinggal. Tanpa sengaja, saya menemukan secarik kertas (seperti sobekan), bertuliskan Arab. Terjemahannya “hanya Islamlah agama yang diridhai Allah.”

    Saat itu, pikiran saya makin cemas campur kalut. Degup jantung saya terasa makin kencang. Saya bertanya-tanya dalam hati, gerangan apa di balik ini semua. Inikah skenario Tuhan untuk menuntun saya kepada sebuah jalan kebenaran? Sobekan kertas ‘misterius’ itu membuat saya panasaran untuk mencari tahu tentang Islam.

    Siang itu, saya kembali menemui Pak Masduki, seraya menceritakan apa yang baru saya alami. Pak Masduki bilang, “Chris, mungkin itu sudah panggilan. Bisa jadi itu hidayah. Tapi, itu terserah kamu. Untuk masuk Islam itu tidak ada paksaan. Apakah kamu tetap bertahan atau melepaskan akidah Katolik kamu, semua tergantung kamu. Jadi kamu sendiri yang memutuskannya.”

    Pada tanggal 20 November 1999, saat saya duduk di kelas III, tanpa ragu-ragu lagi saya resmi memeluk Islam. Pak Masduki sendiri yang membimbing saya mengucapkan kalimat syahadat, di masjid dekat sekolah. Teman-teman sekolah dan sebagian guru hadir menyaksikan saya menadi seorang Muslim.

    Saat itu saya tak kuasa menahan haru. Terlebih saat Pak Masduki memeluk saya, disusul oleh teman-teman yang lain. Jujur, tak pernah saya merasakan suasana seindah dan sebahagia ini. Dalam pelukan Pak Masduki dan teman-teman sekolah, air mata saya meleleh membasahi pipi. Usai syahadat, perasaan saya betul-betul plong. Ada sebuah kekuatan baru mengisi relung-relung kehidupan saya.

    Sebelum saya resmi memeluk Islam, mama lebih dulu sudah menjadi Muslimah, empat tahun sebelumnya (1996). Selama itu, mama tetap memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk memeluk agama yang mereka yakini. Mama tidak ingin memaksakan anak-anaknya mengikuti langkahnya. Oleh karena itu hubungan antara mama dan anak-anaknya yang beragama Katolik tetap baik.

    Sebelum mama masuk Islam, mama sudah bercerai. Saya bersama dua saudara ikut mama, sedangkan tiga saudara yang lain ikut papa. Sekalipun berpisah, papa tetap mengunjungi anak-anaknya yang diasuh oleh mama.

    Saya tak menyangkal adanya peran sang mama yang membuat saya tertarik pada Islam. Ketertarikan saya pada Islam juga saya rasakan bila memperhatikan mama sedang shalat. Wajah mama terlihat bersih dan bersinar, seperti ada pancaran cahaya yang merasuk di sekujur tubuhnya.

    Secara diam-diam, saya suka membuka-buka bacaan mama, tentang Islam. Ada beberapa buku Islam milik mama yang tersimpan di rak buku. Buku yang pertama kali dibaca saya adalah Iqra. Selain itu, saya juga membaca buku Ahmad Deedat berjudul Mengungkap tentang Bibel (Versi Islam dan Kristen). Mama sendiri tidak tahu bahwa saya sebenarnya sedang mempelajari Islam, walau dengan sembunyi-sembunyi.

    Dari kebiasaan dan hobi membaca sejak kecil, saya terdorong melahap buku apa saja, termasuk mempelajari berbagai agama. Akhirnya, ia kian intensif mempelajari Islam lewat bacaan dan bertanya pada orang yang mengerti tentang Islam.

    Yang membuat tekad saya semakin mantap untuk memeluk Islam adalah ketika saya membaca dan mengkaji Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas. Saya merasa kandungan ayat-ayat ini lebih rasional.

    Betapa berat ujian yang dihadapi saya dan mama dalam memilih jalan hidup ini. Semula kami hidup dengan ekonomi yang berkecukupan. Boleh dibilang berada, terlebih papa adalah seorang interior designer rumah tangga. Tapi sejak papa mengalami musibah kecelakaan (tahun 1992), keadaan ekonomi keluarga dirasakan sangat sulit.

    Sejak mama bercerai dengan papa, boleh dibilang membuat saya dan adik-adik saya hidup prihatin. Dulu ekonomi papa kuat. Bahkan keluarga papa banyak yang kaya. Saat masih jaya-jayanya, semua kebutuhan bisa terbeli, bahkan saya sempat kuliah beberapa semester.

    Sekarang, saya, mama dan dua adik saya ngontrak di daerah Bekasi. Sedangkan sehari-hari mama membuat kue dan menjualnya ke warung-warung terdekat. Demi tuntutan hidup, saya sendiri ikut membantu mama membuatkan kue.

    Lingkungan tempat tinggal kami dikenal Islamnya kuat. Saat mama menjajakan kue keliling kampung, tak seorang pun yang menyentuh apalagi membeli kue buatan mama. Mereka enggan membeli karena mengira kue buatan mama bercampur barang haram. Maklum, kami keturunan Cina. Saya bisa memahami, mereka belum tahu bahwa kami sudah Muslim.

    Untunglah ada seorang yang baik hati membantu kami. KH. Muhammad Saimin, yang dihormati masyarakat. Ia membeli seluruh kue jajaan mama, lalu bersama istrinya membagi-bagikannya kepada orang kampung, sambil memberi informasi bahwa kami sudah menjadi Muslim. “Kue ini halal,” kata Pak Saimin. Setelah itu, warga mulai mau membeli kue-kue mama.

    Saya tak bisa meneruskan kuliah lagi. Mau tak mau saya hanya mengandalkan ijazah SMEA (jurusan Akuntansi) untuk melamar kerja. Saya ingin sekali membantu mama dan adik-adik saya. Tapi, setiap kali saya melamar selalu ditolak karena fisik saya kurang sempurna. Saya merasakan diskriminasi dalam kehidupan saya.

    Pernah saya menemui seseorang di bagian personalia suatu perusahaan. Saat dia melihat kondisi fisik saya, dia langsung berkata, “Maaf, fisik kamu begini, jadi nggak bisa diterima.”

    Kata-kata itu saya rasakan seperti petir di siang bolong. Saya tak bisa melupakan itu. Sampai kini, saya masih merasakan minder karena fisik yang tidak sempurna. Tapi saya yakin Allah akan memberi jalan keluar yang terbaik untuk saya. Insya Allah. [Amanah-60/XVIII]

    ***

    Sumber: KotaSantri.com

     
  • erva kurniawan 9:01 am on 9 June 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah: Tangan Sang Anak

    Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

    Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

    Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

    Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si Bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!”

    Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar.. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya.

    Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan “Saya tidak tahu..tuan.”

    “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.

    Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik … kan !” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.

    Si Ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya. Si Anak yang tak mengerti apa apa menangis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, Si Ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

    Sedangkan Si Ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa. Si Ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

    Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan Si Anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu Si Pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si Ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab Bapak Si Anak.

    Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si Ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, Si Ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara Si Ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah.

    “Dita demam, Bu”, jawab pembantunya ringkas.

    “Kasih minum panadol aja ,” jawab Si Ibu.

    Sebelum Si Ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas.

    “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya Si Anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu.

    “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut.

    “Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si Bapak dan Ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

    Si Ibu meraung merangkul Si Anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, Si Ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, Si Anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, Si Anak bersuara dalam linangan air mata.

    “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah.. sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan Si Ibu gagal menahan rasa sedihnya.

    “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

    “Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?… Bagaimana Dita mau bermain nanti?…. Dita janji tidak akan mencoret2 mobil lagi, ” katanya berulang-ulang.

    Serasa hancur hati Si Ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya Si Anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…

    Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yang tak bertepi…, Namun…., Si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 8 June 2011 Permalink | Balas  

    Saudara yang Terabaikan

    Oleh Shinta Octaviani

    Sebenarnya saya sudah sering bertemu dengan wanita dan anak gadis kecilnya itu. Baik saat menunggu di halte ataupun di dalam bis yang biasa saya naiki menuju Tsukuba Center. Seingat saya, wanita itu selalu memakai sari (pakaian khas wanita di negara-negara Asia Selatan) yang dilengkapi selendang lebar dengan warna yang senada motif pakaiannya. Kemungkinan mereka berasal dari salah satu negara yang ada di Asia Selatan.

    Pagi itu, kembali saya bertemu mereka di halte bis. Di situ hanya ada saya, wanita dan gadis kecil itu. Saya sapa mereka dengan anggukan kepala tanpa kata ataupun salam. Sebelumnya saya juga selalu berlaku demikian. Ada keraguan, muslimkah mereka? Mengingat negara-negara di Asia Selatan juga banyak yang beragama non-muslim.

    Gadis kecil dan ibunya bercakap-cakap dengan bahasa yang sama sekali tidak saya pahami. Mereka tidak menggunakan bahasa Jepang ataupun Inggris. Mereka bercakap-cakap sambil sesekali melirik ke arah saya. Sepertinya mereka membicarakan saya. Hanya saja saya tidak bisa mengerti apa isi pembicaraan mereka.

    Tiba-tiba wanita itu bergerak mendekati saya. Langkahnya terlihat ragu-ragu namun gadis kecil itu terus mendorong ibunya agar semakin mendekat.

    “Maaf, anak saya ingin tahu anda berasal dari mana?” Dia bertanya dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.

    “Dari Indonesia. ” Jawab saya sambil tersenyum kepada mereka.

    “Dan anda dari mana?”

    “Pakistan. ” Jawabnya singkat.

    Wanita itu menterjemahkan jawaban saya kepada anaknya. Mereka kembali terlibat percakapan dalam bahasa yang tidak saya pahami tadi. Mungkin mereka menggunakan bahasa dari negara asalnya. “Anak saya bilang bahwa sebelumnya dia pernah melihat anda sewaktu di masjid. ”

    Plak!. Ucapannya yang tenang itu terasa seperti tamparan ke wajah saya. Ke mana saja saya selama ini? Apa saja yang saya kerjakan? Sampai-sampai saya tidak mengenal mereka. Padahal muslim yang tinggal di Tsukuba masih sedikit (dibanding kota lainnya di Jepang). Seharusnya lebih mudah untuk mengingat wajah-wajah saudara seiman walaupun kadang tidak selalu ingat akan namanya. Wajarlah kalau gadis kecil itu mengenal saya.

    Mereka juga muslim yang berarti saudara seiman dengan saya. Tak sepantasnya saya mengabaikan mereka. Bahkan ucapan salam pun belum sempat terucap dari bibir saya. Astaghfirullah …..

    Ternyata kepekaan terhadap orang-orang yang berada di sekitar saya, masih kurang. Allah SWT telah mengingatkan saya lewat gadis kecil dan wanita itu. Melalui mereka, saya juga diingatkan kembali bahwa setiap muslim itu bersaudara. Saudara yang berhak mendapatkan salam ketika saya menjumpainya. Sama haknya seperti saudara-saudara seiman lainnya tanpa terhalang oleh suku dan asalnya.

    Wallahu’alam bisshowab.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 7 June 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ketika Masjid dan Rumah Bordil Roboh

    Ada dua lelaki bersaudara. Keduanya adalah saudara kandung. Lahir di dalam keluarga yang taat beragama. Namun perilaku dua orang itu berbeda dan akhir hidup mereka juga berbeda.

    Yang tua, sejak kecil dikenal baik, alim dan ahli ibadah. Ia tidak suka menyakiti orang lain. Tidak suka hura-hura. Tak pernah menyentuh gelas minuman keras apalagi meminumnya. Waktu mudanya banyak dihabiskan di masjid. Ia juga tidak suka bergaul dengan wanita yang bukan mahramnya. Pernah ia dirayu seorang gadis cantik yang masih sepupunya, namun ia teguh dalam keimanannya. Karena amal perbuatannya yang baik dan akhlaknya ia dicintai oleh keluarga dan masyarakat.

    Sedangkan adiknya, sangat berbeda dengan kakaknya. Sejak kecil ia dikenal nakal. Sejak remaja sudah biasa masuk tempat maksiat. Rumah bordil adalah tempat biasa ia mangkal. Hampir tiap hari ia mabuk dan melakukan pelbagai macam maksiat di rumah bordil miliknya itu. Kadang-kadang ia juga ikut gerombolan perampok, untuk merampas harta orang lain. Saat merampok ia bahkan terkadang juga melakukan pemerkosaan. Hampir segala jenis maksiat dan perbuatan yang menjijikan telah ia lakukan untuk memuaskan hawa nafsunya. Perbuatan jahatnya itu membuat dirinya dibenci oleh keluarga dan masyarakat.

    Suatu ketika, sang kakak yang alim dan ahli ibadah merenung. Tiba-tiba dengan halus sekali nafsunya berkata padanya,

    “Sejak kecil kau selalu berbuat kebaikan dan beribadah. Kau telah mendapat tempat di hati masyarakat dan dikenal sebagai orang baik. Namun kau tidak pernah merasakan nikmatnya hidup sedikitpun. Kenapa tidak sesekali kau datang ke tempat adikmu menghibur diri di rumah bordilnya. Sesekali saja. Setelah itu kau bisa tobat. Kau bisa membaca istighfar ribuan kali dalam sholat tahujjud. Bukankah Allah itu Maha Pengampun ?”

    Bujukan hawa nafsunya itu ternyata masuk dalam pikirannya. Setan pun dengan sangat halus masuk melalui pori-pori dan aliran darah. Ia berkata pada diri sendiri, “Benar juga. Kenapa aku tidak sesekali menghibur diri ? Hidup cuma sekali. Nanti malam aku mau menari dan bersenang-senang bersama wanita cantik di rumah bordil adikku. Setelah itu aku pulang dan bertobat kepada Allah Swt. Dia Maha Pengasih lagi Maha Pengampun.”

    Sementara di rumah bordil. Adiknya juga merenung. Ia merasa jenuh dengan hidup yang dijalaninya. Nuraninya berkata,

    “Sudah bertahun-tahun aku hidup bergelimang dosa. Bermacam maksiat telah aku lakukan. Apakah aku akan hidup begini terus? Keluarga membenciku karena perbuatanku. Juga masyarakat, mereka memusuhiku karena kejahatanku. Kenapa aku tidak mencoba hidup baik-baik seperti kakak. Ah, bagaimanakah besok kalau aku telah mati. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan perbuatanku. Kalau begini terus kelak aku akan masuk neraka. Hidup susah di akhirat sana. Sementara kakakku akan hidup nikmat di surga. Tidak! Aku tidak boleh hidup dalam lembah maksiat terus. Aku harus mencoba hidup di jalan yang lurus. Nanti malam habis maghrib aku akan ke masjid tempat kakak beribadah. Aku mau tobat dan ikut shalat. Aku mau kembali ke pangkuan Allah Swt. Aku mau beribadah sepanjang sisa hidupku. Semoga saja Allah mau mengampuni dosa-dosaku yang telah lalu.”

    Dan benarlah. Ketika malam datang kedua saudara itu melakukan niatnya masing-masing. Usai shalat maghrib, sang kakak kembali ke rumah, ganti pakaian dan bergegas menuju rumah bordil. Adapun sang adik, telah pergi meninggalkan rumah bordil begitu mendengar suara azan maghrib. Jalan yang diambil dua bersaudara itu tidak sama, sehingga keduanya tidak berjumpa di tengah jalan.

    Sampai di rumah bordil sang kakak mencari adiknya. Namun tidak ada. Orang-orang yang ada di rumah bordil tidak ada yang tahu kemana adiknya itu pergi. Meskipun adiknya tidak ada ia tetap melaksanakan niatnya. Nafsu telah menguasai akal pikirannya. Ia pun menuruti segala yang diinginkan nafsunya di rumah bordil itu bersama para penari dan pelacur.

    Di tempat lain, sang adik sampai masjid tempat kakaknya biasa ibadah. Ia sudah bertekad bulat untuk tobat meninggalkan semua perbuatan buruknya. Ia mengambil air wudhu dan masuk ke dalam masjid. Ia mencari-cari kakaknya, ternyata tidak ada. Padahal biasanya kakaknya selalu beritikaf di masjid usai maghrib sampai isya. Ia bertanya pada penjaga masjid, namun ia tidak tahu kemana perginya. Meskipun tidak ada kakaknya niatnya telah bulat. Ia melakukan shalat dan beristighfar sebanyak-banyaknya dengan mata bercucuran air mata.

    Tiba-tiba bumi tergoncang dengan hebatnya.

    “Awas ada gempa ! Ada gempa !” teriak orang-orang di jalan.

    Orang-orang panik keluar dari rumah untuk menyelamatkan diri. Takut kalau-kalau rumah mereka runtuh. Sang adik yang sedang larut dalam kenikmatan tobatnya tidak beranjak dari dalam masjid. Ia tidak merasakan ada gempa. Demikian juga sang kakak yang saat itu sedang terlena di rumah bordil. Ia sama sekali tidak merasakan gempa. Goncangan gempa malam itu cukup keras. Beberapa bangunan roboh. Termasuk masjid dan rumah bordil.

    Keesokan harinya. Sang kakak ditemukan tewas diantara reruntuhan rumah bordil di samping mayat seorang penari wanita dalam keadaan yang memalukan. Sedangkan adiknya juga ditemukan tewas di antara reruntuhan masjid. Kedua tangannya mendekap sebuah mushaf di dada.

    Masyarakat yang tahu ihwal kedua kakak beradik itu meneteskan air mata. Mereka tidak habis pikir, orang yang selama ini dikenal ahli ibadah kok bisa tewas dengan cara yang sedemikian tragisnya. Sedangkan adiknya yang selama ini dikenal ahli maksiat kok bisa husnul khatimah. Dengan peristiwa itu orang-orang diberi pelajaran yang sangat berharga. Bahwa kematian bisa datang kapan saja. Hanya Allah yang tahu. Maka jangan sekali-kali iseng menuruti hawa nafsu. Siapa tahu saat sedang menuruti hawa nafsu itulah maut menjemput. Na’udzubillahi min dzalik. Bahwa niat baik harus selalu dijaga, agar Allah Swt menganugerahkan akhir hidup yang indah. Akhir hidup yang diridhai-Nya.

    “Ya Allah, karuniakanlah kepada kami keteguhan dan keistiqomahan berada dalam jalan-Mu. Karuniakanlah kepada kami husnul khatimah. Amin, ya Rabbal ‘Alamin.”

    ***

    Sumber Tulisan Oleh : Habiburrahman El Shirazy

    (Di Atas Sajadah Cinta, Penerbit Republika, Cetakan X, September 2006)

    Suatu nasihat tidak bisa memberi pengaruh sama sekali kepada hati yang sudah keras laksana sebuah batu di dalam air yang tidak bisa lunak (Imam Ghozali)

     
    • annisa 7:54 am on 16 Juni 2011 Permalink

      Subhanallah… cerita yang penuh hikmah, mudah2an kita semua yg membaca ini, diberi kekuatan oleh-Nya untuk mengendalikan hawa nafsu dan kembali pada-Nya dlm keadaan khusnul khotimah.., aammiiiin….3x

      jalan-jalan donk ke blog ku di ;

      http://myinspirations-emmy.blogspot.com

  • erva kurniawan 1:10 am on 28 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Perjalanan Seekor Burung Pipit

    Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor Burung Pipit mulai merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara yang konon kabarnya, udara disana selalu dingin dan sejuk.

    Benar, pelan-pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi. Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju. Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Si Burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat.

    Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor Kerbau yang kebetulan lewat datang menghampirinya. Namun si burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.

    Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat diatas burung tersebut. Si Burung Pipit semakin marah dan memaki-maki si Kerbau. Lagi-lagi si Kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si Burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa dia akan mati karena tak bisa bernapas.

    Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya kotoran kerbau, dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si Burung Pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puas-puasnya.

    Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian menimang nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, si Burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati.

    Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si Burung, dan tamatlah riwayat si Burung Pipit ditelan oleh si Kucing.

    ***

    Dari kisah ini, banyak pesan moral yang dapat dipakai sebagai pelajaran, diantaranya :

    1. Halaman tetangga yang nampak lebih hijau, belum tentu cocok buat kita.
    2. Baik dan buruknya penampilan, jangan dipakai sebagai satu-satunya ukuran.
    3. Apa yang pada mulanya terasa pahit dan tidak enak, kadang-kadang bisa berbalik membawa hikmah yang menyenangkan, dan demikian pula sebaliknya.
    4. Ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan lupa dan jangan terburu nafsu, agar tidak kebablasan.
    5. Waspadalah terhadap orang yang memberikan janji yang berlebihan

    ***

    Sumber : Dari Sahabat (myQuran.org)

     
    • bayu 3:38 pm on 8 Februari 2012 Permalink

      izin copas y!

  • erva kurniawan 1:39 am on 20 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah Sepotong Kain Putih

    Hari ini ada ribuan gulung kain, diperjual-belikan di pasar-pasar di kota ini. Hari ini ada sedemikian banyak kain putih, yang sedang dibeli, diukur dan dipotong. Hari ini ada sedemikian banyak kain putih yang siap digunakan sebagai kain kafan. Hari ini ada sedemikian banyak kain kafan yang seolah bertanya untuk siapa ia akan dibeli.

    Esok hari, siapa gerangan pembeli berikutnya. Bisa jadi kain putih itu akan dibeli orang yang tidak kita kenal, Bisa jadi kain putih itu kita sendiri yang membelinya untuk tetangga atau keluarga terdekat kita. Bisa jadi seseorang sedang membelikannya untuk jenazah kita yang sedang menunggu dikubur,

    Engkau boleh saja tertawa, tapi bisa jadi kain kafanmu ada di truk pengirim barang yang sedang diparkir di pinggir toko kain itu. Engkau boleh saja berencana, tapi bisa jadi kain kafanmu sedang dipesan si pemilik toko. Engkau boleh saja tidur nyenyak, tapi bisa jadi seorang penenun sedang memintal kain kafanmu. Engkau boleh saja menikmati keindahan alam pertanian, tapi boleh jadi seorang petani sedang memanen kapas bahan kain kafanmu.

    Kita tidak tahu kapan hidup kita berakhir. Kita juga tidak tahu kain kafan mana yang akan menemani kita di kuburan. Tapi yang jelas kain itu ada di suatu tempat,

    Kain putih itu sendiri tidak pernah tahu kepada siapa ia akan digunakan. Seandainya ia bisa berbicara, tentu ia akan meminta agar digunakan pada orang soleh yang selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan berikutnya.

    ***

    Sumber : Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 9 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah: Pemuda Dililit Utang

    Malang benar nasib pemuda ini, dililit utang sehingga tidak mampu lagi membayarnya, akhirnya dia berpikir bahwa bunuh diri adalah jalan terbaik baginya. Ditengah malam yang gelap gulita, dia mengambil tali untuk gantung diri dipohon nangka dibelakang rumahnya. Diam-diam dia memanjat pohon nangka tersebut, mengalungkan tali dilehernya, kemudian mengikatkannya di tangkai, lalu menjatuhkan dirinya kebawah. Ternyata ajalnya belum ditetapkan disini, karena tangkai tempat mengikatkan tali tidak kuat menahan beban tubuhnya sehingga tangkai pohon itu patah dan akhirnya jatuh kebawah, dan lucunya lagi dia jatuh tepat diatas tumpukan kotoran kerbau.

    Tidak puas dengan cara pertama, dia mencari cara lain. Pemuda tersebut berjalan menyusuri jalan, kemudian berhenti di tikungan tajam dimana banyak dilalui kendaraan, namun karena larut malam akibatnya kendaraan yang lewat agak jarang sehingga pemuda ini agak lama juga menunggu kendaraan yang lewat.

    Setelah menunggu agak lama akhirnya datang juga sebuah bus yang mengangkut banyak penumpang, pemuda ini lalu mengambil ancang-ancang. Selang beberapa meter jaranknya dari bus, pemuda tersebut langsung melemparkan tubuhnya ke tengah jalan, namun karena Sopir Bus itu terlalu mwas sehingga ketika melihat sesuatu ditengah jalan dia langsung membanting setir ke kiri, dan akhir-nya Pemuda tersebut terbebas dari maut, namun malangnya karena sopir bus tersebut terlalu tajam membanting setir ke kiri, akhirnya bus tersebut tidak mampu dikendalikan dan akhirnya jatuh ke jurang sehingga seluruh penumpang bus tewas saat itu juga (Inna lillah wa innaa ilaihi rooji`uun).

    Tidak puas dengan dua kali kegagalan bunuh dirinya, dia tetap bertekad bulat untuk bunuh diri, dia terus menyusuri jalan ditengah keremangan malam sambil mencari cara agar bisa bunuh diri. Beberapa jam berjalan akhirnya diapun menemukan jurang didepannya, akhirnya diapun pun memutuskan untuk menjatuhkan dirinya dan kali ini pasti berhasil pikirnya.

    Pemuda tersebut mengambil ancang-ancang, mundur beberapa langkah kebelakang dan kemudian berlari kedepan melompat ke dalam jurang, dan akhirnya meluncurlah ia kebawah, dengan harapan agar tubuhnya terhempas diatas bebatuan sehingga ia dapat mengahiri hidupnya.

    Subhaanallah, apa yang terjadi ?.., dibawah jurang sana ternyata sebuah kebun yang subur dan rimbun, tubuh pemuda itu jatuh tepat diatas pepohonan itu yang ternyata pemiliknya adalah seorang Janda yang cantik dan kaya raya. Akhirnya Janda tersebut mengambil pemuda itu di pagi hari di kebunnya dan ditemukan dalam keadaan siuman, dan pada tubuh pemuda itu hanya terdapat luka lecet kecil dan juga sedikit memar. Dan baiknya lagi Janda cantik tersebut bersedia menjadi Istri si-Pemuda dan juga bersedia melunasi hutang-hutang pemuda tersebut. Akhirnya pemuda tersebut terbebas dari hutang-hutangnya, memiliki istri cantik serta hidup serba kecukupan. Pemuda tersebut menjadi kaya raya, serta hidup mewah, akhirnya pemuda itu lupa untuk bunuh diri.

    Beberapa tahun kemudian, terjadilah peristiwa yang sangat menakutkan, disuatu malam, hujan turun lebat sekali. Pemuda tersebut bermimpi didatangi seseorang dan mengatakan kepadanya bahwa Nyawanya akan dicabut nanti tepat jam 05:00 subuh. Dia langsung bangun dengan kagetnya, dan merasakan takut yang amat sangat, tubuhnya gemetaran, dia langsung lari mengambil kunci mobil dan melarikan diri dari rumah agar terhindar dari maut. Dia menancap gas mobil dengan kencang-nya ditengah hujan yang lebat, sesekali ia melihat jam di tangan yang sudah mendekati jam 05:00 seperti yang telah ditetapkan dalam mimpinya. Jam semakin mendekati pukul 05:00, dia semakin gugup, sambil menyetir mobil dengan kencang, semakin takut, terus diperhatikan jam di tangannya yang tinggal beberapa detik lagi menunjukkan pukul 05:000. Karena semakin takutnya, dan kelamaan melihat jam di tangannya tanpa memperhatikan jalan yang dilaluinya, akhirnya mobil yang digunakannya jatuh ke jurang persis ditempat bus terguling sewaktu ia hendak bunuh diri dulu, dan tepat jam 05:00 subuh, ia meninggal dunia. Na`uuzu billah.

    –=[# Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu MEMBUNUH DIRIMU ; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. [QS.an-nisa:29] #]=–

    –=[# Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat”. [QS.al-hijr : 56] #]=–

    –=[# Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih. [QS.al-`ankabuut : 23] #]=–

    ***

    Salam rindu buat saudaraku se-iman,

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 5 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Calon Buat Ajeng 

    CERPEN: Calon Buat Ajeng

    Penulis : Asma Nadia

    **

    Calon Suami????!!!!!

    Pfui, kuhembuskan nafasku kuat-kuat. Bosan aku. Lagi-lagi calon suami yang dibicarakan. Bayangin, sudah dua bulan ini tidak ada topik yang lebih trend di rumah, selain soal suami.

    Mulai dari Papi yang selalu nyindir, sudah pengen menimang cucu. Mami yang berulang-ulang menasihatiku agar jangan terlalu pilih-pilih tebu. Lalu Bambang, adikku, yang kuharap bisa menetralisir suasana, tak urung ikut menggoda. Bahkan si kembar Rani-Rano, yang masih es em pe pun, ikut-ikutan menceramahiku.

    ”Mbak Ajeng kan udah jadi insinyur, udah waktunya dong, mikirin berkeluarga. Lagian, Rani sama Rano kan udah pengen dipanggil ’Tante dan Oom’. Tika aja yang baru kelas enam, keponakannya udah empat!”

    ”Iya, Mbak. Jaman sekarang, perempuan itu harus agresif. Mbak Ajeng sih, kerjanya belajar ama ngaji melulu!” Rano menimpali kata-kata kembarnya.

    Aku hanya bisa melotot, nemu di mana lagi pendapat kayak gitu.

    ”Udah sana kalian belajar!” hardikku agak keras.

    ”Tuh, kaaaan?!?” seru mereka berdua kompak. Huhh, dasar kembar!

    ***

    ”Ajeng…!”

    Kudengar panggilan Mami dari depan. Pelan aku bangkit dari meja belajar. Setelah merapikan jilbab, aku keluar.

    ”Ada apa, Mi?” tanyaku lunak. Sekilas sempat kulihat sosok seorang lelaki, duduk di sudut ruangan.

    Kedua bola mata Mami tampak bersinar-sinar. Oo…Oo…! Pasti ada yang nggak beres, gumamku dalam hati. Iiih..su’udzon! Tapi…. Benar saja.

    “Ajeng, kenalin. Ini tangan kanan Papi di kantor. Hebat, ya! Masih muda sudah jadi Wakil Presiden Direktur. Ayo, kenalin dulu. Ini Nak Bui….”

    ”Boy, Tante!”

    ”Eh, iya. Boi!” Aku hanya bisa menahan geli. Mami…Mami…!

    Rasa geliku mendadak hilang, ketika selama dua jam berikutnya aku harus mendengarkan obrolan Mami dengan Si Boi tadi. Bukan main, lagaknya! Batinku menggerutu sendiri, mendengar cerita-ceritanya yang melulu berbau luar negeri.

    ”Jadi, Tante, selama belajar di Harvard, saya sudah coba-coba berbisnis sendiri. Hasilnya lumayan. Saya bisa jalan-jalan keliling Amerika, bahkan Eropa setiap kali holiday!”

    Hihhh, gemas aku! Terlebih melihat pancaran kagum di wajah Mami. Benar-benar nggak peka nih anak. Kok bisa sih nggak merasa dicuekin? Tetap aja ngomong. Tak perduli aku yang cuma diam dan sesekali manggut. Kupanjatkan syukur yang tak terkira ketika akhirnya Si Boi pulang.

    Alhamdulillah!

    ***

    Kulihat Bambang tertawa. Kesal, kulemparkan bantal ke arahnya. Orang cerita panjang lebar minta advise, kok cuma diketawain?!?

    ”Bang, serius, dong! Pokoknya kalau nanti Mami nanyain kamu soal Boy, awass kalau kamu setuju!” ancamku serius.

    Bambang masih cengar-cengir.

    ”Mbak Ajeng gimana, sih? Biasanya Mbak yang nyuruh aku sabar menghadapi segala sesuatu. Lho, kok sekarang malah panasan gini? Tenang aja, Mbak, sabar! Innallaha ma’ashshabirin!” balasnya sambil mengutip salah satu ayat di Al-Quran.

    Iya, ya. Kenapa aku jadi nggak sabaran gini. Baru juga ngadepin si Boy. Astaghfirullah!

    ”Mbak bingung, Bang! Habis serumah pada mojokin semua. Kamu ngerti, kan, milih suami itu nggak mudah. Nyari yang shalih sekarang susah. Mbak nggak pengen gambling. Salah-salah pilih, resikonya besar. Nggak main-main, dunia akhirat!” Sekejap, kulihat keseriusan di matanya. Cuma sekejap, sebelum ia kembali menggodaku.

    ”Apa perlu Bambang yang nyariin???!” Lemparan bantalku kembali melayang.

    ***

    Kriiiiing…!!!

    Ups, kumatikan bunyi weker yang membangunkanku. Jam tiga lebih seperempat. Aku bangun dari tempat tidur, bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu. Kuperhatikan lampu kamar Bambang masih menyala. Sayup-sayup suara kaset murattal terdengar. Tercapai juga niatnya untuk begadang malam ini, pikirku. Heran, kebiasaan menghadapi ujian dengan pola SKS (Sistem Kebut Semalam) masih membudaya rupanya.

    Cepat kuhapuskan pikiran tentang Bambang dan ujiannya. Mataku nanar menyaksikan pantulan wajahku di cermin. Kuhapus tetesan air wudhu yang tersisa dengan handuk kecil.

    Oooohh, begini rupanya gadis di penghujung usia dua puluh sembilan? Kuperhatikan bentuk wajahku yang makin tirus. Baru kusadari, betapa pucatnya wajah itu. Entah kemana perginya rona merah yang biasa hadir di sana. Mungkin hilang termakan usia. Ya Rabbi, pantas saja Papi dan Mami begitu khawatir. Sudah sulung mereka tak cantik, menjelang tua, lagi!

    ”Ir. Ajeng Prihartini.” Kueja namaku sendiri.

    ”Jangan cemas ya ukhti, ini bukan nasib buruk!” Bisikku menghibur. Bagaimana pun aku harus tetap tawakkal pada Allah. Jodoh, rizki, dan maut, Dia yang menentukan. Berjodoh di dunia bukanlah satu kepastian yang akan kita raih dalam hidup. Tidak, ada hal lain yang lebih penting, lebih pasti. Ada kematian, maut yang pasti kita hadapi. Sesuatu yang selama ini sering kuucapkan kepada saudaraku muslimah yang lain, ketika mereka ramai meresahkan calon suami yang tak kunjung datang.

    ”Sebetulnya kita ini lucu, ya? Lebih sering mempermasalahkan pernikahan, hal yang belum tentu terjadi. Maksud Ajeng, bergulirnya waktu dan usia, nggak seharusnya membuat kita lupa untuk berpikir positif terhadap Allah. Boleh jadi calon kita ini nggak buat di dunia, tapi disediakan di surga. Mungkin Allah ingin memberikan yang lebih baik, who knows?” ujarku optimis, dua tahun yang lalu.

    Astaghfirullah! Ishbiri ya ukhti, isbiri…. Tanganku masih menengadah, berdoa, saat kudengar azan Subuh berkumandang. Hari baru kembali hadir. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, untuk satu hari lagi kesempatan beramal dan taubat, yang masih Kau berikan.

    ***

    Selesai berurusan dengan Mami untuk masalah Boy, gantian aku harus menghadapi Tante Ida yang siap mempromosikan calonnya. Duhh! Lagi-lagi aku cuma bisa manggut-manggut.

    ”Tante sih terserah Ajeng. Pokoknya lihat aja dulu. Syukur-syukur Ajeng suka. Dia anak lurah. Bapaknya termasuk juragan kerbau yang paling kaya di Jawa. Tapi nggak kampungan, kok. Anak kuliahan juga seperti kamu!” promosi Tante Ida bersemangat.

    Dua hari kemudian, Tanteku itu kembali datang dengan ’balon’nya.

    ”Junaedi. Panggil aja Juned!” Aku hanya mengangguk. Tak membalas uluran tangan yang diajukannya. Selama pembicaraan berikutnya, berkali-kali aku harus menahan diri, untuk tidak lari ke dalam. Aku tidak ingin menyinggung perasaan Tante Ida. Apalagi beliau bermaksud baik. Hanya saja, asap rokok Juned benar-benar membuatku mual. Malah nggak berhenti-henti. Habis sebatang, sambung sebatang. Persis lokomotif uap jaman dulu! Dengan berani pula ia mengomentari penampilanku.

    ”Eng…jangan tersinggung ya, Jeng. Aku suka bingung sendiri ngeliat perempuan yang memakai kerudung. Kenapa sih tidak pintar-pintar memilih warna dan mode?! Aku kalau punya isteri, pasti tak suruh beli baju yang warna-warnanya cerah, menyala. Sekaligus yang bervariasi. Seperti yang dipakai artis-artis kita yang beragama Islam itu lho, sekarang. Ndak apa-apa toh sedikit kelihatan leher atau betis?! Maksudku biar tidak terlihat seperti karung berjalan gitu lho, Jeng! Hahaha….”

    Kontan raut mukaku berubah. Tanpa menunggu rokok keenamnya habis, aku mohon diri ke dalam. Tak lama kudengar suara Juned pamitan. Alhamdulillah. Ketika Tante Ida menanyakan pendapatku, hati-hati aku menjawab.

    ”Maaf ya, Tan…, rasanya Ajeng nggak sreg. Terutama asap rokoknya itu, lho. Soalnya Ajeng punya alergi sama asap rokok. Mana kelihatannya Juned perokok berat, lagi. Maaf ya, Tan…, udah ngerepotin.” Bayang kekecewaan tampak menghiasi raut muka Tante Ida.

    ”Bener, nih…nggak nyesel? Tante cuma berusaha bantu. Ajeng juga mesti memikirkan perasaan Mami sama Papi. Susah lho, nyari yang seperti Juned. Udah ganteng, dokterandes lagi! Terlebih kamu juga sudah cukup berumur.” Bujukan Tante Ida tak mampu menggoyahkanku.

    Dengan masih kecewa, beliau beranjak keluar. Sempat kudengar Tante Ida berbicara dengan Papi dan Mami. Sempat pula kudengar komentar-komentar mereka yang bernada kecewa, sedih.

    Ya Allah, kuatkan hamba-Mu! Hari berangsur malam. Aku masih di kamar, mematung. Beragam perasaan bermain di hatiku. Sementara itu, hujan turun rintik-rintik.

    ***

    Siang begitu terik. Langkahku lesu menghampiri rumah. Capek rasanya jalan setengah harian, dari satu perpustakaan ke perpustakaan IPB lainnya. Namun buku yang kucari belum juga ketemu. Padahal buku itu sangat kuperlukan untuk menghadapi ujian pasca sarjanaku sebentar lagi. Sia-sia harapanku untuk bisa beristirahat pulang ke Depok. Kereta yang kutumpangi benar-benar penuh. Sudah untung bisa berdiri tegak, dan tidak doyong ke sana ke mari, terdesak penumpang yang lain.

    ”Assalamu’alaikum!” perasaanku kembali tidak enak, melihat Mami yang tidak sendirian. Seorang lelaki berjeans, dengan sajadah di pundak, dan kopiah di kepala, tampak menemani beliau. Jangan…jangan….

    ”Wa’alaikumussalam. Nah, ini Ajengnya sudah pulang. Ajeng, sini sayang. Kenalkan, Saleh. Putera Pak Camat yang baru lulus dari pondok pesantren di Kalimantan. Kalian pasti bisa bekerja sama mengelola kegiatan masjid di sini. Lho, Ajeng…, kok malah diam? Maaf Nak Saleh, Ajeng memang pemalu orangnya.”

    Duhh, Mami! Kali ini Mami membiarkanku berdua dengan tamunya itu. Risih, kuminta Rani mendampingiku. Dia setuju setelah aku janji akan menemaninya mendengar ceramah di Wali Songo, pekan depan. Selama Saleh berbicara, aku menunduk terus. Bisa kurasakan pandangannya yang jelalatan ke arahku. Dengan gaya bahasa yang tinggi, Saleh bercerita tentang berbagai kitab berbahasa Arab yang telah dia kuasai. Bukan main. Lalu ia mulai membahas satu persatu perbedaan pendapat di kalangan umat Islam. Soal doa qunut, perbedaan doa iftitah, masalah posisi telunjuk ketika tahiyat, dan lain-lain yang senada. Terus terang, aku tidak begitu setuju dengan caranya. Betul bahwa semuanya harus kita ketahui. Tapi bagiku, dengan makin meributkannya, hanya akan memperuncing perbedaan yang ada. Cukuplah bahwa masing-masing berpegang pada sunnah Rasulullah. Tentunya akan lebih baik, jika kita justru berusaha mencari titik temu atau persamaan, dan bukan malah memperlebar jurang perbedaan.

    ”Kalau menurut Saleh, kasus Bosnia itu bagaimana?” tanyaku mengalihkan perhatian.

    ”Oooh, itu. Ane sangat tidak setuju. Menurut pendapat dan analisa ane, tidak seharusnya masalah Bosnia itu digembar-gemborkan. Itu akan membuat sikap tersebut kian membudaya. Sudah saatnya pola sikap ngebos, dan penghargaan masyarakat terhadap orang-orang yang punya kedudukan, diarahkan sewajarnya. Agar tidak berlebihan.” ulasnya panjang lebar. Gantian aku yang bingung.

    ”Saya…saya tidak paham apa yang Saleh maksudkan.” ujarku sedikit gagap.

    ”Kenapa? Apa karena bahasa yang ane gunakan terlalu tinggi atau bagaimana, hingga Ajeng sulit memahami?” Aku tambah melongo.

    ”Bukan itu, ini…, Bosnia yang mana, yang Saleh maksudkan?” tanyaku makin bingung.

    ”Lha, yang nanya kok malah bingung?! Yang ane bicarakan tadi ya tentang Bosnia, Boss-Mania, kan maksud Ajeng?!!” Ufh, kutahan tawa yang nyaris meledak.

    Bingung aku, ternyata masih saja ada orang yang meributkan hal-hal yang relatif lebih kecil, dan melupakan masalah lain yang lebih besar. Dari sudut mataku, kulihat Rani pringas-pringis menahan geli, sambil mempermainkan kerudung pink-nya. Lucu sekali.

    ”Bukan, yang Ajeng maksudkan adalah penindasan yang terjadi pada saudara-saudara muslim kita di Negara Bosnia.” aku berusaha menjelaskan dengan sabar. Tampak Saleh manggut-manggut.

    ”Ooooh, yang itu. Ya…jelas penindasan itu tidak bisa dibenarkan. Tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan keadilan,” ujar Saleh optimis, lalu….

    ”Ngomong-ngomong, Bosnia itu di mana, sih?” Tawa Rani meledak. Duhhh, Mami!!!

    ***

    Malamnya, waktu aku protes ke Mami, soal calon-calon itu, tanpa diduga, malah Mami yang marah.

    ”Lho, kamu itu gimana toh? Kata Bambang kamu maunya sama Saleh. Pas Mami temuin, kamu bilang bukan yang seperti itu yang kamu inginkan. Jadi sebenarnya, Saleh yang mana calon kamu itu?” suara Mami meninggi.

    Aku terhenyak. Bambang yang duduk di kursi makan tersenyum simpul. Awas, kamu de’! Bisikku gemas.

    ”Bukan yang namanya Saleh, Mi. Ajeng ingin orang yang saleh, yang taat beribadah. Orang yang punya pemahaman paling tidak mendekati menyeluruhlah, tentang Islam. Yang Islamnya nggak cuma teori, tapi ada bukti. Yang nggak jelalatan memandang Ajeng terus-terusan dari ujung jilbab sampai kaos kaki, seperti hendak menawar barang dagangan. Ajeng tahu, usia Ajeng sudah jauh dari cukup. Ajeng juga pengen segera menikah. Perempuan mana sih, yang tidak ingin berkeluarga, dan punya anak?” lanjutku hampir menangis.

    ”Tapi…, tolong. Jangan menyudutkan Ajeng. Tolong Mami bantu Ajeng agar bisa tetap sabar, tetap tawakkal sama Allah. Kita memang harus berusaha, tapi jangan memaksakan diri. Biar Ajeng mesti nunggu sampai tua, Ajeng siap. Daripada bersuamikan orang yang akhlaknya tidak Islami. Tolong Ajeng, Mi…tolong!” Kusaksikan mata Mami berkaca-kaca.

    Diraihnya aku ke dalam pelukannya. Berdua kami berisakan. Papi turut menghampiri, menepuk-nepuk pundakku. Rani dan Reno terdiam di kursinya.

    ”Maafin Mami, sayang….” suara Mami lirih, memelukku makin erat.

    ***

    Kesibukanku menulis diary terhenti.

    ”Mbak Ajeng…telepon tuh!” pekik Rano keras.

    ”Dari siapa? Kalau dari Anto Boy, Didin, Juned, atau Saleh, Mbak nggak mau terima!” balasku agak keras.

    Hening, tidak ada panggilan lanjutan dari Rano. Aku lega. Alhamdulillah, sejak kejadian malam itu, perlahan topik trend kami bergeser. Mami tidak lagi menyodorkan calon-calonnya, sebelum menanyakan kesediaanku. Beberapa Oom dan Tante yang datang, harus pulang dengan kecewa karena promosi dibatalkan. Aku masih ingin menenangkan diri dulu. Kuraih pena. Dengan hati seringan kapas, aku mulai menulis:

    Kepada Calon Suamiku….

    Usiaku hari ini bertambah setahun lagi. Tiga puluh tahun sudah.

    Alhamdulillah.

    Kuharap, tahun-tahun yang berlalu, meski memudarkan keremajaanku, namun tidak akan pernah memudarkan ghirah Islamiah yang ada. Mudah-mudahan aku bisa tetap istiqamah di jalan-Nya. Ujian pasca sarjanaku sudah selesai. Sebentar lagi, satu embel-embel gelar kembali menghiasi namaku. Belum lama ini aku juga mengambil kursus jahit dan memasak. Dengan besar hati pula, Mami mesti mengakui, bahwa kemahirannya di dapur, kini sudah tersaingi.

    Alhamdulillah, sekarang aku lebih bisa berkonsentrasi untuk menulis, dan memberikan berbagai ceramah di beberapa kampus dan masjid. Baru sedikit itulah, yang bisa kulakukan sebagai perwujudan syukurku atas nikmat-Nya yang tak terhitung.

    Calon suamiku….

    Aku maklum, bila sampai detik ini kau belum juga hadir. Permasalahan yang menimpa kaum muslimin begitu banyak. Kesemuanya membentuk satu daftar panjang dalam agenda kita. Aku yakin ketidakhadiranmu semata-mata karena kesibukan dakwah yang ada. Satu kerja mulia, yang hanya sedikit orang terpanggil untuk ikut merasa bertanggung jawab. Insya Allah, hal itu akan membuat penantian ini seakan tidak pernah ada.

    Calon suamiku….

    Namun jika engkau memang disediakan untukku di dunia ini, bila kau sudah siap untuk menambah satu amanah lagi dalam kehidupan ini, yang akan menjadi nilai plus di hadapan Allah (semoga), maka datanglah. Tak usah kau cemaskan soal kuliah yang belum selesai, atau pekerjaan yang masih sambilan. Insya Allah, iman akan menjawab segalanya. Percayakan semuanya pada Allah. Jika Dia senantiasa memberikan rizki, padahal kita tidak dalam keadaan jihad di jalan-Nya, lalu bagaimana mungkin Allah akan menelantarkan kita, sedangkan kita senantiasa berjihad di sabil-Nya?! Banyaklah berdoa, Calon Suamiku, di manapun engkau berada. Insya Allah, doaku selalu menyertai usahamu.

    Wassalam, Adinda

    NB: Ngomong-ngomong, nama kamu siapa, sih?

    ”Syahril… Nama saya Syahril.”

    Deg!

    Aku tersentak. Pena yang kugenggam jatuh. Rasa-rasanya kudengar satu suara. Sedikit berjingkat, aku melangkah ke depan. Sebelum aku sempat menyibak tirai yang membatasi ruang makan dengan ruang tamu, kudengar suara Papi memanggilku.

    ”Ajeng…!” Hampir aku terjatuh, saking tergesanya menghampiri beliau. Sekilas mataku menyapu bayangan seorang lelaki berkaca mata, yang berdiri tak jauh dari Papi, dengan wajah tertunduk, rapat ke dada. Di belakangnya, Bambang berdiri dengan senyum khasnya.

    ”Nah, Nak Syahril, kenalkan, ini yang namanya Ajeng. Puteri sulung Oom. Lho, kok malah nunduk?” suara ngebas Papi kembali terdengar. Aku menoleh sesaat, yang dipanggil Syahril tetap menunduk.

    ”Ayo, salaman. Ini lho, Jeng…puteranya Mas Wismoyo, sahabat Papi sejak jaman revolusi dulu, sekaligus Ass Dos-nya Bambang di FISIP. Baru lulus ya Nak?” Syahril mengangguk. Tapi, tetap tak ada uluran tangan.

    ”Assalamu’alaikum, Ajeng. Saya Syahril.” Masya Allah! Aku masih melongo, terpana.

    “Insya Allah, hari ini saya akan berta’aruf dengan Ajeng. Kalau Ajeng setuju, khitbahnya bisa dilaksanakan besok. Sesudah itu…mudah-mudahan kita bisa jihad bareng….”

    Agak samar kudengar kalimatnya yang terakhir. Kulihat Papi tersenyum lebar, melirikku.

    ”Apa, Jeng …..khitbah? Ngelamar, ya…??”

    Aku mengangguk pendek, tersipu. Tawa Papi makin lebar. Aku masih terpana. Masya Allah, calon suamiku…eng…engng…ups, apakah…apakah…ini, kamu??? *

    ***

    Pemenang Harapan I LMCPI Annida.

    Sumber : Majalah Annida, No. 12 1415 H/1994 M

     
    • annisa 2:55 pm on 11 Mei 2011 Permalink

      walaupun hanya cerita.. tetapi kenyataannya banyak muslimah yang kesulitan mencari pendamping yang mempunyai tujuan yang sama..para ikwan,
      karena sedikitnya jumlah remaja putra yang rajin mencari ilmu agama.. so.solusinya..? tingkatkan kegiatan Rohis di sekolah dan Universitas dan buat kegiatan yang menarik..

    • sylvia 8:06 am on 12 Mei 2011 Permalink

      Subhanallah..mantap ceritanya :D

    • asfi 6:57 am on 28 Mei 2011 Permalink

      ceritanya nyentuh banget…..

    • asha gusti 7:17 am on 4 November 2011 Permalink

      ceritanya menyentuh sekali…..

  • erva kurniawan 1:13 am on 3 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Di Atas Sajadah Cinta 

    CERPEN: Di Atas Sajadah Cinta

    Penulis: Habiburrahman El Shirazy

    KOTA KUFAH terang oleh sinar purnama. Semilir angin yang bertiup dari utara membawa hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Namun geliat hidup kota Kufah masih terasa.

    Di serambi masjid Kufah, seorang pemuda berdiri tegap menghadap kiblat. Kedua matanya memandang teguh ke tempat sujud. Bibirnya bergetar melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hati dan seluruh gelegak jiwanya menyatu dengan Tuhan, Pencipta alam semesta. Orang-orang memanggilnya “Zahid” atau “Si Ahli Zuhud”, karena kezuhudannya meskipun ia masih muda. Dia dikenal masyarakat sebagai pemuda yang paling tampan dan paling mencintai masjid di kota Kufah pada masanya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di dalam masjid, untuk ibadah dan menuntut ilmu pada ulama terkemuka kota Kufah. Saat itu masjid adalah pusat peradaban, pusat pendidikan, pusat informasi dan pusat perhatian.

    Pemuda itu terus larut dalam samudera ayat Ilahi. Setiap kali sampai pada ayat-ayat azab, tubuh pemuda itu bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. Neraka bagaikan menyala-nyala dihadapannya. Namun jika ia sampai pada ayat-ayat nikmat dan surga, embun sejuk dari langit terasa bagai mengguyur sekujur tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan. Ia bagai mencium aroma wangi para bidadari yang suci.

    Tatkala sampai pada surat Asy Syams, ia menangis,

    “fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha. qad aflaha man zakkaaha. wa qad khaaba man dassaaha …” (maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan, sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya …)

    Hatinya bertanya-tanya. Apakah dia termasuk golongan yang mensucikan jiwanya. Ataukah golongan yang mengotori jiwanya? Dia termasuk golongan yang beruntung, ataukah yang merugi?

    Ayat itu ia ulang berkali-kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang. Akhirnya ia pingsan.

    ***

    Sementara itu, di pinggir kota tampak sebuah rumah mewah bagai istana. Lampu-lampu yang menyala dari kejauhan tampak berkerlap-kerlip bagai bintang gemintang. Rumah itu milik seorang saudagar kaya yang memiliki kebun kurma yang luas dan hewan ternak yang tak terhitung jumlahnya.

    Dalam salah satu kamarnya, tampak seorang gadis jelita sedang menari-nari riang gembira. Wajahnya yang putih susu tampak kemerahan terkena sinar yang terpancar bagai tiga lentera yang menerangi ruangan itu. Kecantikannya sungguh memesona. Gadis itu terus menari sambil mendendangkan syair-syair cinta,

    “in kuntu ‘asyiqatul lail fa ka’si musyriqun bi dhau’ wal hubb al wariq …” (jika aku pencinta malam maka gelasku memancarkan cahaya dan cinta yang mekar …)

    ***

    Gadis itu terus menari-nari dengan riangnya. Hatinya berbunga-bunga. Di ruangan tengah, kedua orangtuanya menyungging senyum mendengar syair yang didendangkan putrinya. Sang ibu berkata, “Abu Afirah, putri kita sudah menginjak dewasa. Kau dengarkanlah baik-baik syair-syair yang ia dendangkan.”

    “Ya, itu syair-syair cinta. Memang sudah saatnya dia menikah. Kebetulan tadi siang di pasar aku berjumpa dengan Abu Yasir. Dia melamar Afirah untuk putranya, Yasir.”

    “Bagaimana, kau terima atau…?”

    “Ya jelas langsung aku terima. Dia ‘kan masih kerabat sendiri dan kita banyak berhutang budi padanya. Dialah yang dulu menolong kita waktu kesusahan. Di samping itu Yasir itu gagah dan tampan.”

    “Tapi bukankah lebih baik kalau minta pendapat Afirah dulu?”

    “Tak perlu! Kita tidak ada pilihan kecuali menerima pinangan ayah Yasir. Pemuda yang paling cocok untuk Afirah adalah Yasir.”

    “Tapi, engkau tentu tahu bahwa Yasir itu pemuda yang tidak baik.”

    “Ah, itu gampang. Nanti jika sudah beristri Afirah, dia pasti juga akan tobat! Yang penting dia kaya raya.”

    ***

    Pada saat yang sama, di sebuah tenda mewah, tak jauh dari pasar Kufah. Seorang pemuda tampan dikelilingi oleh teman-temannya. Tak jauh darinya seorang penari melenggak lenggokan tubuhnya diiringi suara gendang dan seruling.

    “Ayo bangun, Yasir. Penari itu mengerlingkan matanya padamu!” bisik temannya.

    “Be…benarkah?”

    “Benar. Ayo cepatlah. Dia penari tercantik kota ini. Jangan kau sia-siakan kesempatan ini, Yasir!”

    “Baiklah. Bersenang-senang dengannya memang impianku.”

    Yasir lalu bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiri sang penari. Sang penari mengulurkan tangan kanannya dan Yasir menyambutnya. Keduanya lalu menari-nari diiringi irama seruling dan gendang. Keduanya benar-benar hanyut dalam kelenaan. Dengan gerakan mesra penari itu membisikkan sesuatu ketelinga Yasir,

    “Apakah Anda punya waktu malam ini bersamaku?” Yasir tersenyum dan menganggukan kepalanya. Keduanya terus menari dan menari. Suara gendang memecah hati. Irama seruling melengking-lengking. Aroma arak menyengat nurani. Hati dan pikiran jadi mati.

    ***

    Keesokan harinya.

    Usai shalat dhuha, Zahid meninggalkan masjid menuju ke pinggir kota. Ia hendak menjenguk saudaranya yang sakit. Ia berjalan dengan hati terus berzikir membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ia sempatkan ke pasar sebentar untuk membeli anggur dan apel buat saudaranya yang sakit.

    Zahid berjalan melewati kebun kurma yang luas. Saudaranya pernah bercerita bahwa kebun itu milik saudagar kaya, Abu Afirah. Ia terus melangkah menapaki jalan yang membelah kebun kurma itu. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat titik hitam. Ia terus berjalan dan titik hitam itu semakin membesar dan mendekat. Matanya lalu menangkap di kejauhan sana perlahan bayangan itu menjadi seorang sedang menunggang kuda. Lalu sayup-sayup telinganya menangkap suara,

    “Toloong! Toloong!!”

    Suara itu datang dari arah penunggang kuda yang ada jauh di depannya. Ia menghentikan langkahnya. Penunggang kuda itu semakin jelas.

    “Toloong! Toloong!!”

    Suara itu semakin jelas terdengar. Suara seorang perempuan. Dan matanya dengan jelas bisa menangkap penunggang kuda itu adalah seorang perempuan. Kuda itu berlari kencang.

    “Toloong! Toloong hentikan kudaku ini! Ia tidak bisa dikendalikan!”

    Mendengar itu Zahid tegang. Apa yang harus ia perbuat. Sementara kuda itu semakin dekat dan tinggal beberapa belas meter di depannya. Cepat-cepat ia menenangkan diri dan membaca shalawat. Ia berdiri tegap di tengah jalan. Tatkala kuda itu sudah sangat dekat ia mengangkat tangan kanannya dan berkata keras,

    “Hai kuda makhluk Allah, berhentilah dengan izin Allah!”

    Bagai pasukan mendengar perintah panglimanya, kuda itu meringkik dan berhenti seketika. Perempuan yang ada dipunggungnya terpelanting jatuh. Perempuan itu mengaduh. Zahid mendekati perempuan itu dan menyapanya,

    “Assalamu’alaiki. Kau tidak apa-apa?”

    Perempuan itu mengaduh. Mukanya tertutup cadar hitam. Dua matanya yang bening menatap Zahid. Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan,

    “Alhamdulillah, tidak apa-apa. Hanya saja tangan kananku sakit sekali. Mungkin terkilir saat jatuh.”

    “Syukurlah kalau begitu.”

    Dua mata bening di balik cadar itu terus memandangi wajah tampan Zahid. Menyadari hal itu Zahid menundukkan pandangannya ke tanah. Perempuan itu perlahan bangkit. Tanpa sepengetahuan Zahid, ia membuka cadarnya. Dan tampaklah wajah cantik nan memesona,

    “Tuan, saya ucapkan terima kasih. Kalau boleh tahu siapa nama Tuan, dari mana dan mau ke mana Tuan?”

    Zahid mengangkat mukanya. Tak ayal matanya menatap wajah putih bersih memesona. Hatinya bergetar hebat. Syaraf dan ototnya terasa dingin semua. Inilah untuk pertama kalinya ia menatap wajah gadis jelita dari jarak yang sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya beradu pandang. Sang gadis terpesona oleh ketampanan Zahid, sementara gemuruh hati Zahid tak kalah hebatnya. Gadis itu tersenyum dengan pipi merah merona, Zahid tersadar, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya. “Innalillah. Astagfirullah,” gemuruh hatinya.

    “Namaku Zahid, aku dari masjid mau mengunjungi saudaraku yang sakit.”

    “Jadi, kaukah Zahid yang sering dibicarakan orang itu? Yang hidupnya cuma di dalam masjid?”

    “Tak tahulah. Itu mungkin Zahid yang lain.” kata Zahid sambil membalikkan badan. Ia lalu melangkah.

    “Tunggu dulu Tuan Zahid! Kenapa tergesa-gesa? Kau mau kemana? Perbincangan kita belum selesai!”

    “Aku mau melanjutkan perjalananku!”

    Tiba-tiba gadis itu berlari dan berdiri di hadapan Zahid. Terang saja Zahid gelagapan. Hatinya bergetar hebat menatap aura kecantikan gadis yang ada di depannya. Seumur hidup ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini.

    “Tuan aku hanya mau bilang, namaku Afirah. Kebun ini milik ayahku. Dan rumahku ada di sebelah selatan kebun ini. Jika kau mau silakan datang ke rumahku. Ayah pasti akan senang dengan kehadiranmu. Dan sebagai ucapan terima kasih aku mau menghadiahkan ini.”

    Gadis itu lalu mengulurkan tangannya memberi sapu tangan hijau muda. “Tidak usah.”

    “Terimalah, tidak apa-apa! Kalau tidak Tuan terima, aku tidak akan memberi jalan!”

    Terpaksa Zahid menerima sapu tangan itu. Gadis itu lalu minggir sambil menutup kembali mukanya dengan cadar. Zahid melangkahkan kedua kakinya melanjutkan perjalanan.

    ***

    Saat malam datang membentangkan jubah hitamnya, kota Kufah kembali diterangi sinar rembulan. Angin sejuk dari utara semilir mengalir.

    Afirah terpekur di kamarnya. Matanya berkaca-kaca. Hatinya basah. Pikirannya bingung. Apa yang menimpa dirinya. Sejak kejadian tadi pagi di kebun kurma hatinya terasa gundah. Wajah bersih Zahid bagai tak hilang dari pelupuk matanya. Pandangan matanya yang teduh menunduk membuat hatinya sedemikian terpikat. Pembicaraan orang-orang tentang kesalehan seorang pemuda di tengah kota bernama Zahid semakin membuat hatinya tertawan. Tadi pagi ia menatap wajahnya dan mendengarkan tutur suaranya. Ia juga menyaksikan wibawanya. Tiba-tiba air matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam hati ia berkata,

    “Inikah cinta? Beginikah rasanya? Terasa hangat mengaliri syaraf. Juga terasa sejuk di dalam hati. Ya Rabbi, tak aku pungkiri aku jatuh hati pada hamba-Mu yang bernama Zahid. Dan inilah untuk pertama kalinya aku terpesona pada seorang pemuda. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Ya Rabbi, izinkanlah aku mencintainya.”

    Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Ia teringat sapu tangan yang ia berikan pada Zahid. Tiba-tiba ia tersenyum,

    “Ah sapu tanganku ada padanya. Ia pasti juga mencintaiku. Suatu hari ia akan datang kemari.”

    Hatinya berbunga-bunga. Wajah yang tampan bercahaya dan bermata teduh itu hadir di pelupuk matanya.

    ***

    Sementara itu di dalam masjid Kufah tampak Zahid yang sedang menangis di sebelah kanan mimbar. Ia menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam shalat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sejak ia bertemu dengan Afirah di kebun kurma tadi pagi ia tidak bisa mengendalikan gelora hatinya. Aura kecantikan Afirah bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam relung-relung hatinya. Aura itu selalu melintas dalam shalat, baca Al-Quran dan dalam apa saja yang ia kerjakan. Ia telah mencoba berulang kali menepis jauh-jauh aura pesona Afirah dengan melakukan shalat sekhusyu’-khusyu’-nya namun usaha itu sia-sia.

    “Ilahi, kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini. Engkau Mahatahu atas apa yang menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan cinta-Mu. Namun Engkau juga tahu, hatiku ini tak mampu mengusir pesona kecantikan seorang makhluk yang Engkau ciptakan. Saat ini hamba sangat lemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan suaranya Ilahi, berilah padaku cawan kesejukan untuk meletakkan embun-embun cinta yang menetes-netes dalam dinding hatiku ini. Ilahi, tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling Engkau ridhai. Aku serahkan hidup matiku untuk-Mu.” Isak Zahid mengharu biru pada Tuhan Sang Pencipta hati, cinta, dan segala keindahan semesta.

    Zahid terus meratap dan mengiba. Hatinya yang dipenuhi gelora cinta terus ia paksa untuk menepis noda-noda nafsu. Anehnya, semakin ia meratap embun-embun cinta itu semakin deras mengalir. Rasa cintanya pada Tuhan. Rasa takut akan azab-Nya. Rasa cinta dan rindu-Nya pada Afirah. Dan rasa tidak ingin kehilangannya. Semua bercampur dan mengalir sedemikian hebat dalam relung hatinya. Dalam puncak munajatnya ia pingsan.

    Menjelang subuh, ia terbangun. Ia tersentak kaget. Ia belom shalat tahajjud. Beberapa orang tampak tengah asyik beribadah bercengkerama dengan Tuhannya. Ia menangis, ia menyesal. Biasanya ia sudah membaca dua juz dalam shalatnya.

    “Ilahi, jangan kau gantikan bidadariku di surga dengan bidadari dunia. Ilahi, hamba lemah maka berilah kekuatan!”

    Ia lalu bangkit, wudhu, dan shalat tahajjud. Di dalam sujudnya ia berdoa,

    “Ilahi, hamba mohon ridha-Mu dan surga. Amin. Ilahi lindungi hamba dari murkamu dan neraka. Amin. Ilahi, jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba pada Afirah pada-Mu, hamba terlalu lemah untuk menanggung-Nya. Amin. Ilahi, hamba memohon ampunan-Mu, rahmat-Mu, cinta-Mu, dan ridha-Mu. Amin.”

    ***

    Pagi hari, usai shalat dhuha Zahid berjalan ke arah pinggir kota. Tujuannya jelas yaitu melamar Afirah. Hatinya mantap untuk melamarnya. Di sana ia disambut dengan baik oleh kedua orangtua Afirah. Mereka sangat senang dengan kunjungan Zahid yang sudah terkenal ketakwaannya di seantero penjuru kota. Afiah keluar sekejab untuk membawa minuman lalu kembali ke dalam. Dari balik tirai ia mendengarkan dengan seksama pembicaraan Zahid dengan ayahnya. Zahid mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu melamar Afirah.

    Sang ayah diam sesaat. Ia mengambil nafas panjang. Sementara Afirah menanti dengan seksama jawaban ayahnya. Keheningan mencekam sesaat lamanya. Zahid menundukkan kepala ia pasrah dengan jawaban yang akan diterimanya. Lalu terdengarlah jawaban ayah Afirah,

    “Anakku Zahid, kau datang terlambat. Maafkan aku, Afirah sudah dilamar Abu Yasir untuk putranya Yasir beberapa hari yang lalu, dan aku telah menerimanya.”

    Zahid hanya mampu menganggukan kepala. Ia sudah mengerti dengan baik apa yang didengarnya. Ia tidak bisa menyembunyikan irisan kepedihan hatinya. Ia mohon diri dengan mata berkaca-kaca. Sementara Afirah, lebih tragis keadaannya. Jantungnya nyaris pecah mendengarnya. Kedua kakinya seperti lumpuh seketika. Ia pun pingsan saat itu juga.

    ***

    Zahid kembali ke masjid dengan kesedihan tak terkira. Keimanan dan ketakwaan Zahid ternyata tidak mampu mengusir rasa cintanya pada Afirah. Apa yang ia dengar dari ayah Afirah membuat nestapa jiwanya. Ia pun jatuh sakit. Suhu badannya sangat panas. Berkali-kali ia pingsan. Ketika keadaannya kritis seorang jamaah membawa dan merawatnya di rumahnya. Ia sering mengigau. Dari bibirnya terucap kalimat tasbih, tahlil, istigfhar dan … Afirah.

    Kabar tentang derita yang dialami Zahid ini tersebar ke seantero kota Kufah. Angin pun meniupkan kabar ini ke telinga Afirah. Rasa cinta Afirah yang tak kalah besarnya membuatnya menulis sebuah surat pendek,

    =======================================

    Kepada Zahid,

    Assalamu’alaikum

    Aku telah mendengar betapa dalam rasa cintamu padaku. Rasa cinta itulah yang membuatmu sakit dan menderita saat ini. Aku tahu kau selalu menyebut diriku dalam mimpi dan sadarmu. Tak bisa kuingkari, aku pun mengalami hal yang sama. Kaulah cintaku yang pertama. Dan kuingin kaulah pendamping hidupku selama-lamanya. Zahid, Kalau kau mau. Aku tawarkan dua hal padamu untuk mengobati rasa haus kita berdua. Pertama, aku akan datang ke tempatmu dan kita bisa memadu cinta. Atau kau datanglah ke kamarku, akan aku tunjukkan jalan dan waktunya.

    Wassalam Afirah

    =======================================

    Surat itu ia titipkan pada seorang pembantu setianya yang bisa dipercaya. Ia berpesan agar surat itu langsung sampai ke tangan Zahid. Tidak boleh ada orang ketiga yang membacanya. Dan meminta jawaban Zahid saat itu juga.

    Hari itu juga surat Afirah sampai ke tangan Zahid. Dengan hati berbunga-bunga Zahid menerima surat itu dan membacanya. Setelah tahu isinya seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia menarik nafas panjang dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Dengan berlinang air mata ia menulis untuk Afirah :

    =======================================

    Kepada Afirah,

    Salamullahi’alaiki,

    Benar aku sangat mencintaimu. Namun sakit dan deritaku ini tidaklah semata-mata karena rasa cintaku padamu. Sakitku ini karena aku menginginkan sebuah cinta suci yang mendatangkan pahala dan diridhai Allah ‘Azza Wa Jalla’. Inilah yang kudamba. Dan aku ingin mendamba yang sama. Bukan sebuah cinta yang menyeret kepada kenistaan dosa dan murka-Nya. Afirah, Kedua tawaranmu itu tak ada yang kuterima. Aku ingin mengobati kehausan jiwa ini dengan secangkir air cinta dari surga. Bukan air timah dari neraka. Afirah, “Inni akhaafu in ‘ashaitu Rabbi adzaaba yaumin ‘adhim!” ( Sesungguhnya aku takut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada Rabb-ku. Az Zumar : 13 ) Afirah, Jika kita terus bertakwa. Allah akan memberikan jalan keluar. Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini kecuali menangis pada-Nya. Tidak mudah meraih cinta berbuah pahala. Namun aku sangat yakin dengan firmannya : “Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (yaitu surga).” Karena aku ingin mendapatkan seorang bidadari yang suci dan baik maka aku akan berusaha kesucian dan kebaikan. Selanjutnya Allahlah yang menentukan. Afirah, Bersama surat ini aku sertakan sorbanku, semoga bisa jadi pelipur lara dan rindumu. Hanya kepada Allah kita serahkan hidup dan mati kita.

    Wassalam, Zahid

    =======================================

    Begitu membaca jawaban Zahid itu Afirah menangis. Ia menangis bukan karena kecewa tapi menangis karena menemukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu hidayah. Pertemuan dan percintaannya dengan seorang pemuda saleh bernama Zahid itu telah mengubah jalan hidupnya.

    Sejak itu ia menanggalkan semua gaya hidupnya yang glamor. Ia berpaling dari dunia dan menghadapkan wajahnya sepenuhnya untuk akhirat. Sorban putih pemberian Zahid ia jadikan sajadah, tempat dimana ia bersujud, dan menangis di tengah malam memohon ampunan dan rahmat Allah SWT. Siang ia puasa malam ia habiskan dengan bermunajat pada Tuhannya. Di atas sajadah putih ia menemukan cinta yang lebih agung dan lebih indah, yaitu cinta kepada Allah SWT. Hal yang sama juga dilakukan Zahid di masjid Kufah. Keduanya benar-benar larut dalam samudera cinta kepada Allah SWT.

    Allah Maha Rahman dan Rahim. Beberapa bulan kemudian Zahid menerima sepucuk surat dari Afirah :

    =======================================

    Kepada Zahid,

    Assalamu’alaikum,

    Segala puji bagi Allah, Dialah Tuhan yang memberi jalan keluar hamba-Nya yang bertakwa. Hari ini ayahku memutuskan tali pertunanganku dengan Yasir. Beliau telah terbuka hatinya. Cepatlah kau datang melamarku. Dan kita laksanakan pernikahan mengikuti sunnah Rasululullah SAW. Secepatnya.

    Wassalam, Afirah

    =======================================

    Seketika itu Zahid sujud syukur di mihrab masjid Kufah. Bunga-bunga cinta bermekaran dalam hatinya. Tiada henti bibirnya mengucapkan hamdalah.

    ***

    Diambil dari buku dengan judul yang sama karya Habiburrahman El Shirazy.

    Penerbit: 1. Penerbit Republika 2. Pesantren Basmala Indonesia 3. MD Entertainment Cetakan VII, Juni 2006

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 24 April 2011 Permalink | Balas  

    Ketika Hujan Turun

    Ketika hujan turun, kaca mobil kita akan terbasahi dengan butiran-butiran air hujan yang jumlahnya mungkin jutaan. Dengan jutaan butiran air hujan itu kaca mobil kita menjadi buram, pandangan mata kita ke jalan jadi kabur. Namun demikian, kita pun secara refleks memegang tuas atau tombol penggerak wiper. Semakin deras hujan maka akan kita stel wiper dengan kecepatan yang lebih tinggi. Dengan wiper, maka guyuran butiran air hujan pun dapat tersapu dan tersingkirkan dari kaca mobil, sehingga kita pun dapat melihat jalan di depan kita. Jalan yang tadinya terlihat buram, sedikit dapat terlihat, sehingga kita pun dapat menjalankan mobil dengan baik.

    Begitu juga dengan istigfar. Istigfar dapat membersihkan dosa-dosa kita dan sekaligus juga kita bisa menatap masa depan dengan lebih terang dan tenang, sehingga mempengaruhi cara berpikir kita. Semakin banyak beristigfar maka semakin bersihlah diri kita, sehingga kita pun semakin luas pandangan ke depan. Rasulullah SAW saja, manusia suci yang sudah dijamin masuk surga beristigfar lebih dari 70 kali dalam sehari (HR. Bukhari).

    Bisa bayangkan kalau wiper itu tidak kita nyalakan. Tentunya mata kita tidak bisa melihat jalan ke depan dengan jelas karena terhalang oleh butiran air hujan. Begitu pula dengan istigfar. Bagaimana kalau seandainya istigfar tidak pernah kita kerjakan, maka tentunya makin tertutuplah mata hati kita. Semakin kita lupa istigfar, maka semakin bertumpuklah dosa-dosa kita. Dan yang lebih dari itu adalah pandangan kita semakin tertutup oleh nafsu kita sendiri. Sehingga kadang-kadang kita pun susah berpikir dengan jernih. Dengan tidak kita nyalakan wiper, sementara mobil tetap kita jalankan maka besar kemungkinan kita akan menabrak semua yang ada di depan dan di kanan kiri jalan. Pohon-pohon akan tertabrak, begitu juga warung-warung di pinggir jalan, ataupun pengguna jalan yang lain pun bisa tertabrak. Singkatnya, orang lain di pinggir jalan yang tidak bersalah bisa kena getahnya dengan ulah kita itu. Bisa banyak korban berjatuhan karena kesalahan kita.

    Maka sungguh beruntung orang-orang yang senantiasa gemar beristigfar, karena dengan istigfar Allah SWT akan memberi ampunan terhadap dosa dan kesalahan kita.

    Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.4.110)

    Begitulah istigfar dan wiper, keduanya sama-sama membersihkan. Semoga Allah SWT selalu menjadikan kita sebagai hamba yang gemar beristigfar. Amien. (as/sr)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 15 April 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Pelajaran Berinfak

    Oleh: Bayu Gawtama

    Semenjak kedua putri saya mengenal uang dan sedikit memahami nilai serta kegunaannya, sejak saat itulah saya mulai mengajarkan dua hal; menabung dan berinfak. Meski hanya beberapa jenis satuan mata uang saja yang dimengertinya, terutama untuk satuan di bawah lima ribu rupiah, menabung dan berifak semestinya memang menjadi kebiasaan untuk mereka.

    Dari dua kebiasaan yang sedang ditanamkan itu, hanya satu yang bisa dimengerti oleh kedua putri saya, yakni soal menabung. Ya, mereka mengerti betul bahwa menabung akan membuat ia memiliki uang yang cukup untuk membeli sesuatu. Misalnya, ketika mereka hendak membeli mainan tertentu dengan harga yang sedikit lebih mahal. Maka serta merta mereka akan menanyakan berapa jumlah tabungan yang ada, atau setidaknya langsung membuka penutup kaleng ‘celengan’ miliki mereka masing-masing kemudian menghitungnya.

    Bagaimana dengan satu kebiasaan lagi? Tentang berinfak. Selama ini saya akui sedikit bingung untuk memberikan penjelasan yang bisa diterima logika sepasang anak di bawah usia enam tahun tentang manfaat berinfak. Baik, saya sudah mengajarkan dan mencontohkan langsung bagaimana berinfak, kepada siapa dan untuk apa berinfak. Tetapi pertanyaan-pertanyaan polos mereka membuat saya berkeyakinan bahwa mereka belum benar-benar mengerti tentang infak. Misalnya, pernah suatu kali saya mengajarkan langsung agar mereka memberikan sejumlah uang untuk anak yatim. Kemudian mereka berujar, “Memang Ayahnya nggak kerja? Kok kita yang ngasih uang?”

    Atau ketika seseorang yang kami persilahkan untuk makan di rumah kami, tiba-tiba saja putri kedua saya berseloroh polos, “Memang ibunya di rumah nggak masak ya?” Tentu saja kami harus meminta maaf teramat sangat kepadanya, khawatir perasaannya terluka oleh kalimat si kecil itu.

    Anak-anak tidak cukup memahami kalimat, “Allah senang kalau kita bisa membantu orang lain” atau terlebih kalimat, “Berinfak itu, untungnya buat kita. Kita akan mendapatkan keuntungan berlipat ganda dengan berinfak”. Meski kalimat-kalimat tersebut sudah saya ubah menjadi kalimat yang lebih pas dan lebih bisa dipahami untuk usia mereka, tetap saja kesimpulan mereka tidak berubah. Bahwa menabung lebih baik daripada berinfak. Dalam batas pikiran mereka, menabung sama dengan menyimpan dan mengumpulkan uang. Uangnya terlihat, tidak berkurang dan terus bertambah sehingga suatu saat bisa digunakan untuk membeli sesuatu yang diinginkan.

    Tetapi berinfak, mereka lebih melihatnya sebagai ‘membuang’ uang, atau memberikan uang secara cuma-cuma kepada fakir miskin, pengemis, anak yatim atau kaum dhuafa (lemah) lainnya yang sangat membutuhkan. Anak-anak pun tidak mampu menangkap manfaat langsung dari berinfak. Misalnya ketika pada satu kesempatan mereka meminta sejumlah uang untuk jajan, kemudian saya bilang uangnya sudah habis, lantas mereka berkata, “Tadi uangnya dikasih tukang minta-minta sih…” Nah, dalam perspektif mereka, berinfak itu merugikan.

    Setelah sekian lama, akhirnya saya mulai bisa menemukan sedikit cara memberikan pemahaman tentang berinfak kepada kedua putri saya. Suatu hari saya membelikan mereka mainan saat pulang dari kantor. Mereka sangat bahagia mendapatkan mainan itu, namun cukup kritis untuk bertanya, “Katanya Abi nggak punya uang? Kok bisa beliin mainan?”

    Di sinilah kesempatan pelajaran berinfak itu datang. Lalu saya mengajaknya berdialog, “masih ingat nggak waktu teteh sama dede ngasih uang ke tukang minta-minta kemarin?” mereka pun mengangguk. “Nah, karena teteh dan dede sudah baik sama tukang minta-minta itu, Allah sayang sama kita. Uang yang Abi pakai untuk membeli mainan ini, hadiah dari Allah karena memberi uang untuk tukang minta-minta”.

    Begitu seterusnya, setiap kali saya membelikan apapun untuk anak-anak. Selalu menjelaskan, bahwa ini hadiah dari Allah karena sudah berinfak. Hingga suatu hari, saya merasa mereka sudah mulai memahami ketika mendengar anak saya berkata, “pasti hadiah dari Allah” saat saya membawakan lagi sesuatu untuknya. Kemudian mereka pun mengingat-ingat, beberapa hari lalu baru saja memberi uang kepada petugas pengumpul infak masjid di jalan raya.

    ***

    Berinfak sesungguhnya pun menabung. Menabung, hanya sejumlah yang ditabunglah yang didapat. Tetapi berinfak, yang didapat kembali jauh lebih banyak dari yang kita berikan. Berinfak, tidak (hanya) berbunga, bahkan berbuah. Buahnya sangat manis untuk dinikmati, dan takkan pernah habis karena akan terus bertambah dan bertambah. (Gaw)

    Sumber: Eramuslim.com

     
    • herry bambang 3:12 pm on 27 Mei 2011 Permalink

      Ass,Kira kira butuh berapa lama untuk anak mengerti dan dari usia berapa anak itu diajarkan?trima kasih!

  • erva kurniawan 1:03 am on 13 April 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Setitik Debu

    Oleh Astarina Laya

    Seminggu yang lalu, benar-benar berbeda. Runtutan kejadian hari demi hari saat itu, membuat mata hati saya terbuka lebar. Dengannya saya bisa memaknai anugerah yang Tuhan berikan pada kehidupan saya. Kamis kemarin, saya kehilangan makhluk mungil penghuni rahim saya. Makhluk mungil itu tidak bisa berkembang dengan sempurna, dan akhirnya seleksi alam itu terjadi. Dia harus dikeluarkan dari tubuh saya.

    Bertahun-tahun saya nantikan kehadirannya. Berbagai macam usaha dilakukan, beruntai doa dipanjatkan, untuk menghadirkan makhluk mungil itu. Kondisi saya memang berbeda dengan perempuan-perempuan yang bisa dengan mudah mendapatkan makhluk mungil itu dalam rahimnya. Yang bahkan, tidak sedikit pula yang berusaha menghalangi kehadiran sang makhluk mungil tersebut tanpa alasan yang jelas.

    Ah, makhluk mungilku… Dia hadir tiba-tiba, dan gugur dengan tiba-tiba. Tentu saja, saya tidak mau tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut. Kehilangan yang saya alami tidak ada bandingannya dengan lautan nikmat yang tak terhitung, yang masih saya miliki dengan kondisi yang sempurna.

    Saya teringat dengan teman-teman sekamar di rumah sakit. Di antara mereka ada yang menderita kanker dan harus tinggal di rumah sakit untuk menjalani terapi pengobatan. Yang lainnya menderita satu penyakit, yang membuat badannya harus ditempeli selang, dan selang itu berpusat di satu alat yang akan memonitor kondisi tubuhnya terus menerus sepanjang waktu. Satu orang lagi menderita gangguan di pencernaan, sehingga tidak sembarang makanan bisa masuk ke dalam tubuhnya.

    Mereka semua, suka tidak suka, harus tinggal di rumah sakit dalam waktu yang mereka sendiri pun tidak tahu. Beberapa di antara mereka berusaha tegar dan optimis, namun tidak sedikit pula yang yang menderita tekanan batin, karena tidak bisa menjalani kehidupan normal seperti semula.

    Dan saya? Ah, saya masih mempunyai mata yang bisa saya pakai untuk melihat wajah orang-orang terkasih. Saya masih punya telinga yang bisa digunakan untuk mendengar suara-suara di sekitar saya. Saya masih punya mulut yang mampu merasai beraneka macam makanan dan minuman. Saya masih mempunyai tubuh dengan organ-organ yang lengkap dan berfungsi dengan begitu sempurna.

    Saya masih mempunyai keluarga yang utuh dan saudara-saudara di sekeliling saya yang selalu mendampingi dan mensupport saya lahir dan batin.

    Dan saya masih mempunyai Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih yang menaburkan berbagai kenikmatan kepada saya tanpa henti. Ya, saya masih diberi kesempatan menikmati dan menjalani kehidupan dengan sempurna.

    Kehilangan yang saya rasakan, sungguh tidak berarti. Ia hanya seperti setitik debu yang hilang terbang dibawa angin, di antara lautan padang pasir yang tak terhitung jumlahnya.

    Terima kasih Tuhan, dengan kejadian kehilangan ini, sungguh benar-benar membuka mata saya akan karunia-Mu yang tak terhingga. Semoga saya mampu menjadi manusia yang senantiasa bersyukur, tanpa harus menunggu peristiwa kehilangan…..

    ***

    Sumber: Eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 12 April 2011 Permalink | Balas  

    Kita dan Logika Hitam Putih

    Oleh : Reza Ervani

    Tiara Lestari dan Andi Sjarief Sepasang suami istri yang ditampilkan di talk show Kick Andy 19 April 2007 di Metro TV.

    Tiara Lestari tadinya adalah seorang model majalah Playboy. Bukan edisi Indonesia, tapi edisi luar negeri. Diakui sebagai model Indonesia yang paling berani dalam berpose.

    Suaminya, Andi Sjarief, adalah anak seorang Doktor pakar ASI Indonesia; dunia yang cukup jauh dari dunia artis dan gosip selebritis.

    Banyak potongan-potongan diskusi yang menjadi sangat berkesan bagi penulis. Ketika dengan nada yang bisa tertangkap ketulusannya, Tiara bercerita bahwa bayi yang kini dikandungnya ada dalam posisi bersujud, sehingga USG belum bisa menebak jenis kelamin sang bayi.

    Potongan lain, adalah ketika Andi Sjarief, sang suami, memaparkan mengapa ia bisa menerima Tiara menjadi istrinya. Titik utamanya adalah kesediaan Tiara meninggalkan segala yang sebelumnya menjadi pilihan hidup seorang model : kecemerlangan karir, kematangan finansial, hingga popularitas. Opsi yang sungguh tidak mudah.

    Kesan religi semakin mengental ketika ibunda sang Suami, mertua Tiara, diundang pula untuk berdialog. Kalimat mengesankan yang sempat terekam oleh penulis, adalah ketika sang bunda, sebagai seorang pakar ASI, ingin melihat kejadian pertama seorang bayi diadzankan oleh ayahnya – dalam selang waktu 30 menit setelah dilahirkan – diatas dada ibunya, setelah bayi tersebut secara natural melakukan proses inisiasi ASI. Dengan mengucap subhanallah, sang bunda dengan bangga mengatakan bahwa bayi itu insya Allah adalah cucunya yang pertama, anak yang kini sedang dikandung oleh Tiara.

    **

    Kepiawaian Andi F. Noya dalam membaca dan membuat alur seperti ini begitu mengesankan. Seakan hendak mengatakan bahwa seorang model playboy sekalipun, bisa mengalami titik balik dalam hidupnya, menyesal sepenuhnya, dan meninggalkan total masa lalunya.

    Penulis ingin sedikit menggelitik para juru da’wah. Pernahkah kita membaca dan mulai membuat alur seperti itu ? Atau semata logika hitam putih yang selalu kita gunakan dalam memandang objek da’wah ? Jika tidak lurus, maka bengkok ? Jika tidak benar, maka salah ? Jika tak diketemukan nashnya, maka bid’ah ?

    Menciptakan ruang untuk tiap orang berkontemplasi tentang perjalanan hidupnya, itulah tugas da’i. Bukan membangun tembok tebal dan tinggi, tanpa jendela, sehingga orang yang dicap sebagai pendosa tak bisa memandang keluar. Semakin parah lagi, karena ternyata para juru da’wah ini pun tinggal di ruang dengan dinding tak kalah tinggi, sehingga tak terdengar lagi getaran-getaran kerinduan di berbagai penjuru.

    Sebaik-baik usia tiap orang adalah pada penghujungnya. Dan ketahuilah, bagi kita, ujung-ujung usia akan selamanya menjadi misteri, karena seringkali disanalah Allah memberikan kesudahan yang indah dari perjalanan taubat hambaNya.

    Ila Robbika Muntahaha. Innama Anta Mundziru Man Yaghsyaha

    Allahu ’Alam

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 8 April 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Taubatnya Cat Steven

    Aku dilahirkan di London, jantung dunia barat. Aku dilahirkan di era televisi dan penjelajahan angkasa. Era dimana teknologi telah sampai puncaknya, di Britania. Aku berkembang dimasyarakat ini dan belajar di sekolah katolik yang telah memberikan pengajaran kepadaku konsep kristiani tentang Allah, Al Masih, Kepastian baik dan buruk. Mereka banyak bercerita kepadaku tentang Allah, sedikit tentang Al Masih dan lebih sedikit lagi tentang ruh kudus. Kehidupan disekelilingku adalah materialis yang tertumpah dari seluruh sarana informasi. Mereka mengajarkan kepadaku bahwa harta adalah kekayaan yang sebenarnya yang hakiki, sementara kemiskinan adalah kesia siaan yang hakiki, Amerika adalah lambang kekayaan, sementara dunia ketiga adalah symbol kemiskinan, kelaparan, kebodohan dan keterbelakangan.

    Untuk itulah aku harus memilih jalan kekayaan dan menempuh jalurnya, supaya aku dapat hidup bahagia, beruntung dengan kenikmatan dunia. Diatas inilah kubina falsafah kehidupan yang tak ada hubungannya dengan agama. Aku mengambil jalan falsafah ini guna mendapatkan kebahagiaan jiwa.

    Dan akupun mulai mencari sarana yang mengantarkanku mencapai sukses. Dan jalan yang paling mudah ialah dengan cara membeli gitar, mengarang beberapa lagu serta menyanyikanya, kemudian aku bergerak ditengah khalayak ramai. Inilah yang kenyataannya telah kulaklukan dengan nama Cat Stevenz. Dalam waktu yang relative singkat, ketika aku berumur 18 tahun, sudah ada 8 kaset rekamanku. Aku mulai tampil di beberapa pertunjukan yang tidak sedikit sehingga terkumpullah kekayaan yang melimpah dan ketenaran yang memuncak.

    Ketika aku sudah sampai puncak, aku melihat kebawah karena takutr terjatuh. Kegoncangan menghantui diriku, dan akupun mulai meminum segelas arak penuh setiap hari untuk menambah keberanian dalam menyanyi.Aku merasakan bahwa orang orang di sekitarku memakai topeng, tak seorangpun yang membukanya, topeng yang menutupi kenyataan. Aku merasa ini adalah kesesatan. Aku mulai membenci kehidupanku serta menjauhi manusia. Sakitpun tak ayal menimpaku. Aku dipindah ke rumah sakit karena TBC. Namun begitu masa dirumah sakit lebih baik bagiku sebab telah membawaku berfikir.

    Aku memiliki keimanan kepada Allah, namun gereja tidak mengenalkan kepadaku siapakah itu ? Aku tak sanggup menangkap hakekat tuhan yang dibicarakannya. Pemikiran itu sungguh pelik, maka aku berpikir mencari jalan menempuh hidup baru. Kebetulan aku memiliki buku tentang akidah dan ketimuran. Aku sedang mencari kedamaian dan hakekat. Aku dihantui perasaan untuk bertolak ke suatu tujuan tertentu, tapi aku tak tahu hakekat dan konsepnya. Aku tak sanggup duduk dalam keadaan hati yang kosong, sehingga aku mulai berpikir dan mencari kebahagiaan yang tak kudapati dalam kekayaan,. Popularitas dalam puncak kesuksesan ataupun dalam gereja.

    Maka kuketuk Budhisme dan falsafah Cina. Aku mempelajarinya dan ber anggapan bahwa kebahagiaan adalah bila sanggup meramalkan apa yang akan terjadi esok sehingga anda dapat menghindari kejahatannya. Aku jadi percaya bintang serta ramalan yang akan terjadi, namun kudapati semua itu kosong belaka.

    Kuketuk Komunis, kusangka bahwa kebaikan adalah dengan membagi seluruh kekayaan kepada setiap manusia. Namun aku merasa konsep ini tidak sesuai fitrah, karena yang adil adalah anda berhak mendapatkan hasil jerih payah anda dan tidak boleh diberikan kepada orang lain. Kemudian aku beralih menelan Pil untuk memenggal seluruh mata rantai pemikiran dan kebingungan yang menyakitkan. Akhirnya akupn berkesimpulan bahwa tak ada satupun akidah yang sanggup memberikan jawaban dan menjelaskan kepadaku tentang hakekat yang sedang aku cari. Pada saat itu aku belum mengenl islam sedikitpun. Akhirnya aku tetap pada keyakinan dan pemahaman pertama yang aku terima dari gereja. Semua akidah lain hanyalah bualan kosong belaka dan gereja sedikit lebih baik daripadanya.Aku kembali ke pangkuan gereja untuk kedua kalinya dan menekuni musik kembali. Aku merasa dialah agamaku, tak ada agama lain bagiku.

    Pada tahun 1975 terjadi satu mukjizat setelah kakak kandungku menghadiahkan sebuah AL Qur’an kepadaku. Qur’an itu tetap aku simpan sampai aku mengunjungi Al Quds di Palestina. Dari kunjungan itulah aku mulai memperhatikan kitab yang telah dihadiahkan kakakku tersebut, yang tak kuketahui apa didalamnya dan apa yang dibicarakannya.Kemudian aku mencari terjemahan Qur’an dan itulah pertama kali aku berpikir tentang islam. Islam dimata orang barat dianggap sebagai agama rasial, sedang umat islam dianggap sebagai orang orang asing baik dari Arab ataupun dari Turki. Kedua orang tuaku berasal dari Yunani dan orang Yunani membenci muslim Turki karena motivasi warisan. Tapi aku berpendapat untuk melihat terjemahannya dan tak ada salahnya untuk mengetahui isinya.

    Dari pertama kali kurasakan, Al Qur’an dimulai dengan Bismillah, dengan nama Allah bukan lainya. Ungkapan Bismillahir rohmanir rahim telah measuk mempengaruhi jiwaku. Kemudian dilanjutkan dengan Al Fatihah, pembukaan AL Kitab, Alhamdulillaahirobbil “alamin, segala puji hanya bagi Allah pencipta alam semesta, penguasa dan pengatur seluruh Makhluk.

    Waktu itu, pemikiranku tentang Tuhan, dangkal sekali. Mereka mengatakan kepadaku Tuhan itu Esa dan terbagi menjadi tiga. Bagaimana ? Aku tak tahu.

    Adapun AL Qur;an telah mulai dengan penyembahan kepada Allah yang Esa, Tuhan seluruh alam, Allah satu satunya pencipta, tiada sekutu baginya. Ini merupakan konsep baru bagiku. Dulu yg aku pahami sebelum mengenal Qur’an, bahwa didalamnya ada konsep persesuaian dan kekuatan yang mampu mendatangkan mukjizat ( disamping tuhan ), adapun sekarang, maka dalam konsep islam, Allahlah satu satunya yang berkuasa atas segala sesuatu.

    Al Quranlah yang telah mengajakku kepada islam, maka aku penuhi ajakannya. Adapun gereja yang telah menghancurkanku serta mendatangkan kesengsaraan dan kepayahan, dialah yang menyuruhku menemui Al Qur’an, ketika ia tak sanggup menjawab pertanyaan jiwa dan ruh.

    Aku benar benar melihat sesuatu yang unik dalam Qur’an. Al Qur’an tidak seperti kitab yang terdiri dari penggalan penggalan dan keterangan keterangan sifat yang banyak terdapat dalam kitab yang saya pelajari sebelumnya. Di sampul Al Qur’an tidak ada nama pengarangnya. Karena itulah aku semakin yakin dengan konsep wahyu yang telah Allah wahyukan kepada nabi Muhammad Saw. Telah menjadi jelas bagiku, perbedaannya dengan injil yang ditulis tangan pengarang yang beraneka ragam dari kisah kisah yang bermacam pula. Kucoba mencari kesalahan kesalahan dalam Qur’an namun tak kudapatkan. Semua selaras dengan paham keesaan yang murni, akupun mulai tahu apa itu islam. Kudapati didalamnya semua Nabi nabi yang dimuliaklan Allah dan tidak dibedakan antara satu dengan yang lainya. Sejak itu aku baru tahu bagaimana misi kerasulan itu bermata rantai sejak adanya permulaan makhluk hidup dan manusia sepanjang sejarahnya ada dua macam, Mukmin dan Kafir. Al Qur’an telah menjawab seluruh pertanyaanku. Ketika selam 1 tahun, saya mempelajari AL Qur’an. Pada saat itu aku merasa bahwa akulah satu satunya orang islam di dunia ini.

    Kemudian aku berpikir, bagaimana caranya menjadi muslim yang sebenarnya. Akhirnya di Masjid di London, aku mengumumkan keislamanku dengan bersyahad, dan meyakini secara toal seluruh ajaran ini. Aku yakin, islam yang aku anut adalah sebuah risalah yang berat, bukan pekerjaan mudah yang selesai hanya dengan membaca dua kalimat syahadad.

    Aku seperti dilahirkan kembali. Sebelumnya aku belum pernah ketemu dengan seorangpun dari mereka. Sekiranya aku bertemu dengan seorang muslim yang berusaha mengajakku ke islam, tentu akan kutolak ajakanya karena melihat kondisi umat islam yang memprihatinkan, dan gambaran buruk yang diberikan oleh sarana informasi barat yang selama ini menjadi rujukan banyak orang.

    Aku telah datang kepada islam dari sumber terbaiknya. Kemudian aku pelajari Siroh Rosulullah, bagaimana beliau berperilaku juga sunnahnya. Aku dapatkan perbendaharaan yang melimpah ruah dalam kehidupan rosul dan sunnahnya. Aku telah lupa dengan musik, dan bertanya apakah aku teruskan? Mereka menasehatiku untuk berhenti, sebab musik itu melalaikan untuk menbgingat Allah dan ini adalah bahaya besar. Akhirnya bergantilah namaku menjadi Yusuf Islam.

    Inilah jalanku. Semua hasil kekayaan yang aku peroleh, semuanya kini telah kuberikan untuk dakwah islam.

    Saudaraku, itulah nukilan kisah Penyanyi terkenal Cat Steven yang telah berganti nama dengan Yusuf Islam. Kita ketahui, kehidupan selanjutnya ialah, betapa penampilannya yang islami menjadikan Amerika geram dan menolaknya ketika mau datang kesana, namun disisi lain jutaan umat ini bangga dengan kehadiran seorang yang telah ber azzam untuk memanfaatkan segenap waktunya untuk berjuang dalam dakwah yang mulia ini.

    Marilah kita bercermin dari kisah ini. Tidak salah juga jika kita bertanya pada diri sendiri, Sudah bersemangatkah kita untuk bergabung dalam barisan dakwah seperti yang telah Allah dan rosulnya perintahkan ? Atau Jangan jangan jangan kita termasuk orang yang loyo? Jika demikian. Mari kita bangkit!!! Karena sesungguhnya dakwah ini tidak akan berhenti ! Semoga bermanfaat.

    Daromi Aks

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 5 April 2011 Permalink | Balas  

    Balasan Setelah Mati di Tanah Suci Makkah

    Saat di Tanah Suci, Pak Ismail Saleh melihat sendiri peristiwa dimana : Mayat dalam usungan yang hendak disholatkan di Masjid Al-Haram terombang-ambing di tengah lautan manusia, tanpa bisa mendekati masjid.

    Mayat itu adalah mayat penduduk di Mekah, yang walaupun rumahnya di Mekah, tetapi hatinya tidak tersentuh sama sekali untuk menunaikan Ibadah Haji.

    Betapa mayat itu tersingkir dan tersingkir terus.”Ya Allah….., luar biasa kekuasaan-Mu, membalas perbuatannya setelah ia mati”, puji Pak Ismail kepada Rabb Penguasa Semesta Alam. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Amin.

    ***

    Sumber : HajiUmroh.Com

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 31 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Persembunyian Terbaik: Terang dan Terbuka

    Oleh: Bayu Gawtama

    Suatu hari, ada seorang murid yang bertanya kepada gurunya. “Guru, tunjukkan saya satu tempat sebagai tempat sembunyi paling aman…”

    Dengan tenang, sang guru menjawab, “bersembunyilah di tempat yang terang dan terbuka, ”

    Mendengar jawaban itu, si murid terheran dan bertanya kembali, “Guru, saya ini sudah lelah terus menerus sembunyi namun tetap saja diketahui orang. Setiap kali saya merasa sudah menemukan tempat terbaik untuk bersembunyi, selalu saja mudah bagi orang lain menemukan saya. Kenapa justru guru menganjurkan saya bersembunyi di tempat terang dan terbuka? Ya sudah pasti akan lebih mudah orang melihat saya…”

    Untuk jawaban kedua, Sang guru hanya mengeluarkan kalimat yang hampir sama, “Cobalah, bersembunyilah di tempat yang saya sarankan…”

    Merasa tidak puas. Akhirnya si murid pergi meninggalkan gurunya. Namun sepanjang perjalanan ia terus merenungi kalimat gurunya, yang menganjurkannya bersembunyi di tempat terang dan terbuka. Tentu ada maksud tertentu dari sang guru dari anjuran tersebut.

    Suatu hari, ia kembali merasa dikejar perasaan bersalah atas perbuatannya tempo dulu. Ia merasa setiap mata terus menerus mencari jejaknya dan akan mengadilinya. Maka ia pun kembali berlari dan mencari tempat sembunyi. Di saat itulah, ia teringat pesan gurunya, “bersembunyilah di tempat yang terang dan terbuka”

    Maka, melengganglah ia dengan tenang di depan khalayak ramai, di pasar, di taman bermain, dan tempat-tempat keramaian lain yang menjadi pusat aktivitas orang banyak. Aneh memang, pada mulanya ia merasa malu pada setiap pasang mata yang menatapnya tajam, pada setiap mulut yang pedas mencibirnya, atau bahkan makian yang membuat hatinya tercabik-cabik. Tetapi beberapa saat setelah itu, hatinya sangat tenang, wajahnya kembali berseri dan ia tak perlu menundukkan kepala setiap melintasi tempat keramaian.

    Selama ini, ia selalu merasa cemas dan ketakutan karena merasa semua orang di muka bumi mencarinya. Selama ini, setiap kali menemukan tempat persembunyian yang dianggap paling aman, justru ia merasa tidak aman. Rasa cemas dan takut terus menerus menghantui dirinya selama di tempat persembunyian, dan karena itulah setiap orang teramat mudah menemukan tempat persembunyiannya.

    Setelah mengikuti anjuran sang guru untuk bersembunyi di tempat terang dan terbuka, justru ia merasa aman dan nyaman, meski harus didahului dengan perasaan malu dan sakit. Tetapi ia tidak lagi merasa dihantui terus menerus, tidak lagi cemas, dan hatinya sangat tenang.

    Maka, ia pun merasa harus mengunjungi gurunya. “Saya baru mengerti maksud guru tentang tempat terbaik untuk bersembunyi itu. Ternyata yang guru maksud tempat terang dan terbuka itu tidak lain tidak bukan adalah; jujur”

    **

    Setiap manusia pasti dan pernah melakukan kesalahan. Bersembunyi, atau menyembunyikan kesalahan terus menerus hanya akan membuat hati cemas, gelisah dan takut. Selalu khawatir jika suatu waktu dan pada akhirnya orang lain mengetahui perbuatan salah kita itu. Kejujuran kadang harus dibayar dengan perih dan malu, tetapi sesungguhnya itu akan membawa ketenangan batin selamanya. Jujur dan terbuka, di situlah mata air ketenangan jiwa (Gaw)

    ***

    Sumber: Eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 26 March 2011 Permalink | Balas  

    Cengir (CErita NGIbul Ringan): Horee 

    Judul : Cengir (CErita NGIbul Ringan): Horee

    Oleh : AL-Pacitan

    ***

    Di suatu siang yg amat terik, di daerah agak kumuh, daerah tempat banyak sekali pedagang kaki lima…

    Hari itu, para pedagang kaki lima satupun tidak ada yg berjualan, semuanya pada berkumpul di tempat biasa mereka berjualan….

    Diantara mereka banyak sekali yg membawa spanduk yg masih tergulung, sehingga tidak bisa di baca….

    Tidak berapa lama, suara kendaraan mesin berat (traktor ) menderu -nderu dari kejauhan semakin mendekat ke tempat mereka…

    Di depan beberapa mesin berat yg sedang berjalan mendekat, ada tiga kendaraan yg mendahulinya, satu mobil kijang bak terbuka penuh dng aparat TIBUM dan yg dua lagi mengiringi di belakangnya adalah truk yg bermuatan penuh dng aparat keamanan dari Kepolisian & ABRI….

    Aparat keamanan baik dari Kepolisian & dari ABRI, semuanya membawa pentungan dan Tameng, sedangkan petugas TIBUM hanya membawa pentungan….

    Suara amat berisik terjadi, setelah kendaraan berat ( traktor ) mulai menghantam, mengobrak-abrik menghancur leburkan warung-warung & lapak-lapak yg sehari-hari untuk berjualan para pedagang kaki-lima hingga rata dng tanah…

    Semua awal penghancuran itu di iringi dng turun-nya semua aparat dari kendaraan masing-masing dng wajah serem, tegang, Beringas dan dng tameng terpasang di depan badan mereka masing-masing sambil berlarian menyebar mengamankan situasi…

    Tapi ada yg ANEH, hari itu TIDAK ADA penghadangan, TIDAK ADA aksi PROTES & TIDAK ADA AKSI DEMO dari para pedagang kaki lima yg disertai dng tangis pilu & tangis HISTERIS seperti yg biasa terjadi …

    Tapi yg terjadi hari itu adalah malah justru sebaliknya, semua pedagang kaki-lima yg tempat dagang mereka di obrak-abrik & di hancur luluhkan oleh aparat semuanya bebaris rapi sangat teratur berjejer memanjang di pinggir jalan dng wajah semuanya terlihat SUMRINGAH, BAHAGIA dan mesam-mesem….

    Suasana itu menjadikan semua aparat keamanan yg berwajah beringas itu menjadi LING-LUNG, kebingungan, saling pandang satu sama lain seolah tidak tahu harus berbuat apa, karena Instruksi yg mereka dapat & yg mereka harus jalankan dari atasan adalah, begitu turun ke arena penghancuran mereka harus bertindak TEGAS, bahkan boleh KASAR & SADIS terhadap para pedagang kaki-lima…..

    Mesin-mesin berat terus menderu melabrak, merusak, menghancurkan & meluluh lantak-kan semua tenda-tenda, lapak-lapak, warung-warung para pedagang kaki-lima tanpa ampun…

    Berbarengan dng hancur luluhnya tempat dagang mereka, para pedagang kaki-lima tersebut malah banyak yg mulai bersorak-sorak, bertepuk-tangan sambil jingkrak-jingkrak ke-girangan dng di iringi musik dangdut dari tape yg mereka bawa sambil meneriak-kan yel-yel….HIDUP TIBUM… HIDUP Pak Polisi… Hidup pak ABRI… Hidup pak TENTARA…..

    Bahkan spanduk yg dari tadi di gulung telah di buka lebar, sehingga terlihat dng jelas tulisan besar yg berbunyi…..HIDUP Para PEJABAT TINGGI…..HIDUP PEMERINTAH…..TERIMA KASIH KAMI UCAPKAN atas penghancuran lapak-lapak kami…..

    Suasana ini jelas membuat semua aparat baik dari TIBUM maupun Polisi & dari ABRI terbengong-bengong semakin Ling-Lung dan menjadi blingsatan…

    Bahkan semua wartawan dari berbagai media & semua stasiun televisi yg meliput kejadian ini juga banyak yg menjadi kecewa, karena kejadian yg biasa terjadi yg seperti mereka harapkan yaitu bentrok para aparat versus pedagang kaki-lima yg biasa di sertai dng jatuhnya korban hari itu TIDAK terjadi…

    Berhembus berita ada yg mengatakan bahwa hari itu bahkan ada beberapa wartawan & beberapa aparat keamanan yg justru menjadi strees berat…..

    Wartawan menjadi strees berat karena hari itu mereka TIDAK MENDAPAT LIPUTAN yg biasa terjadi serta mereka harapkan yg bisa di jadikan sebagai HEAD LINE…

    Dari sisi aparat keamanan hari itu NIAT mereka untuk berbuat TEGAS bahkan KASAR & BERINGAS pada pedagang kaki-lima sesuai dng instruksi atasan TIDAK mendapatkan ALASAN & TIDAK MENDAPATKAN PEMBENARAN sehingga semuanya menjadi SULIT di lakukan…

    Hal inilah yg menjadikan beberapa aparat justru malah menjadi strees berat, karena mereka mungkin TAKUT di PECAT oleh atasan mereka karena di nilai TIDAK berani berbuat TEGAS, BERINGAS & KASAR pada pedagang kaki-lima sesuai instruksi atasan…

    Ada beberapa rumor yg beredar, mengapa para pedagang kaki-lima TIDAK mengadakan AKSI PROTES, TIDAK DEMO, TIDAK MENGADAKAN PERLAWANAN disertai dng tangis histeris yg berujung bentrok dng para aparat & jatuh korban seperti biasa saat tempat mereka mencari nafkah, saat tempat mereka berjualan di hancur-leburkan, di obrak-abrik oleh aparat, yaitu…

    Kabarnya beberapa hari sebelum tempat mereka berjualan di hancurkan, ada orang kaya yg baik hati memberikan uang pesangon sebesar sepuluh juta pada setiap para pedagang kaki-lima…

    Rumor versi lain menyebutkan bahwa semua para pedagang kali-lima tersebut memang sudah jauh-jauh hari merencanakan Pindah & Pulang kampung, bahkan kabarnya ada beberapa yg sudah mendaftarkan diri sebagai transmigran…..

    Sedangkan mereka oleh dinas setempat di- HARUS-kan & di-WAJIB-kan merubuhkan, menghancurkan semua bangunan & Lapak-lapak mereka, semua warung-warung mereka terlebih dahulu sebelum mereka semua meninggalkan tempat mereka berdagang & mencari nafkah ….

    Dan jelas itu membutuhkan DANA yg CUKUP BESAR bagi ukuran pedagang kaki-lima seperti mereka…

    Jadi dng kedatangan para aparat dng membawa alat-alat berat mengobrak-ambrik, meluluh lantak-kan tempat dagang mereka justru menjadi BERKAH bagi mereka serta menjadikan semua para pedagang kaki-lima itu Justru malah ber-Syukur, tidak perlu capek-capek, tidak perlu mengeluarkan tenaga & tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membersihkan semua itu…

    Para aparat yg mendengar kabar ini selain ada beberapa yg malah menjadi stress berat juga banyak yg menggerutu di buat-nya….

    Dari kejauhan terlihat bangunan yg paling tinggi semi permanen dari tembok perlahan mulai rubuh di dorong oleh traktor aparat, disertai dng tepuk tangan & suara gemuruh kompak dari semua pedagang kaki-lima bagaikan koor….HOREEEEE……..

    Selesai.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 19 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Sebuah Perjalanan Ba’da Dzuhur

    Siang itu kami meluncur dari kantor pusat kantor kami di Jl. MT Haryono ke RSCM. Saya dan teman saya yang sekarang dipercaya sebagai Manajer Baitul Maal di kantor kami rencananya akan ke Tanjung Priuk, disana kami akan on the spot ke satu titik pemukiman kumuh di Ibukota, tapi setelah obrolan ba’da dzuhur akhirnya saya dan teman saya menyempatkan diri ke RSCM sebelum ke Tanjung Priuk.

    Di tengah perjalanan, kami pun memperbincangkan rencana yang akan berkunjung ke seorang pasien yang sedang kritis di IGD RSCM. Meski teman saya sama sekali belum kenal dengan si pasien, tetapi sudah menjadi tanggung jawab moral untuk menjenguknya dengan membawa sejumlah dana ala kadarnya agar dapat meringankan biaya pengobatannya. Teman saya tahu kondisi si pasien dari dua orang aktivis bernama Pak Andi dan Pa Ahmad yang belum lama ia kenal. Keduanya mengajukan bantuan dana ke Baitul Maal yang akan dimanfaatkan untuk biaya pengobatannya.

    Akhirnya dengan semua atribut kemacetan Ibukota jam 14.00 kami pun sampai. Kami parkir di belakang kamar jenazah RSCM, karena di depan IGD RSCM parkir selalu penuh dan bisa-bisa kami pun tidak boleh parkir disitu. Rupanya Pak Andi yang kami cari-cari belum ada disana. Kami kesulitan karena Pak Andi tidak memiliki alat komunikasi HP. Kami pun harus menunggu dan bolak balik ke depan parkir dan ke dalam, ternyata Pak Andi belum juga ada. Selang tiga puluh menit Pak Andi pun telepon ke HP teman saya dan satu menit kemudian kami pun bertemu.

    Perbincangan pun langsung terfokus kepada kondisi si pasien. Pak Andi ternyata tidak tahu di kamar mana si pasien sekarang berada, karena dari tanggal 15 Maret dia selalu bergantian menjaga pasien bersama dengan Pak Ahmad. Dan pasien dipindahkan ruangannya pada saat Pak Ahmad yang menjaganya. Akhirnya kami pun harus menunggu Pak Ahmad. Sambil menunggu Pak Ahmad kami bertiga ke ruang P3RN (ruang informasi) disana kami tanyakan kepada petugas dimana keberadaan si pasien sekarang ini. Dengan keramahan yang ala kadarnya petugas menyampaikan bahwa dia tidak tahu keberadaan si pasien yang kami maksud.

    Sebagai seorang yang besar di lingkungan Ibukota yang penuh dengan intrik-intrik penipuan, saya pun mulai timbul rasa curiga. Jangan jangan dua orang ini cuma mengada-ngada, dia hanya ingin memanfaatkan dana dari Baitul Maal kami. Akhirnya kami pun kembali lagi ke ruang IGD, dicari-cari tetap tidak ada. Kami tanya ke suster yang bertugas disana pun tidak ada (ehm… tapi kali ini bicaranya cukup ramah).

    Saya pun mengajak teman saya keluar ruangan IGD. Saya bilang, ” Jangan-jangan di cuma mau menipu kita saja, buktinya sekarang pasiennya tidak ada, sementara dia sendiri tidak tahu dimana keberadaan pasien yang akan kita bantu “. Teman saya pun cuma tersenyum, dan dia tetap bersabar. Dia bilang, ” Mungkin yang tahu cuma Pak Ahmad, kita tunggu saja Pak Ahmad “. Akhirnya saya pun berargumen, “Wah, hati-hati lho, ini Jakarta Bung. Lagian saya jam 4 sore sudah janjian dengan seseorang di Bogor dan mana sempat kita ke Tanjung Priuk.

    Dengan dalih yang beraneka ragam, akhirnya teman saya mau juga mengikuti kemauan saya. Kami pun berpamitan dengan Pak Andi, dan langsung meluncur ke arah parkir. Di selasar kamar jenazah ternyata Pak Ahmad telepon via wartel, dia tahu keberadaan si pasien dan memohon untuk ditunggu. Akhirnya dengan pertimbangan yang macam-macam kami berdua pun berpisah. Teman saya kembali ke sana, sementara saya menuju ke parkir dan langsung ke Bogor. Dalam perjalanan ke Bogor otak saya masih diselimuti kecurigaan yang luar bisa tentang dua orang aktivis itu. Dan saya sangat yakin kalau kali ini adalah salah satu modus penipuan berkedok permintaan bantuan dana.

    Satu hari berlalu, pagi-pagi dapat sms dari teman saya ” Pak, pasien yang kemarin benar, sekarang sudah meninggal, kena HIV dan Narkoba “.

    Langsung saya tersentak, “Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun, Astaghfirullah…..jantung saya serasa copot, ternyata dugaan saya salah !”. Ternyata Pak Ahmad dan Pak Andi adalah benar-benar dua orang yang mulia, yang rela mengorbankan waktunya untuk seorang yang bernama Dorris. Untuk seorang preman yang terinfeksi HIV. Untuk seorang preman pecandu narkoba. Untuk seorang preman yang sakit dan dinistakan di emperan toko di Ibukota.

    Selamat jalan Dorris, semoga Allah SWT mengampuni semua dosa-dosamu.

    Untuk temanku, kau memang orang yang sangat sabar, teruslah berjuang di jalan Allah SWT.

    Mohon maaf Pak Ahmad dan Pak Andi, saya sudah terinfeksi dengan virus-virus kecurigaan dan kemunafikan Ibukota yang lebih berbahaya daripada virus HIV yang diderita Dorris. Prasangka buruk kepada saudara-saudaranya sendiri.

    ” Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. ” (QS.49.12).

    Astagfirullah aladziim…………..

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 16 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Sebab Aku Cinta Sebab Aku Angin

    by : Helvy Tiana Rosa

    Malam mengelam. Mendekap Batu Merah dengan segala kegalauan. Gerimis turun menyapa sunyi. Mengencerkan ceceran darah, di sepanjang jalan. Mengusir asap kepedihan yang mengepul, dari bangunan yang telah menjadi arang.

    Kupandangi nona di hadapanku sekali lagi. Wajah hitam manisnya menyembul dari balik jendela kayu yang terbuka. Ia tampak lusuh. Jilbabnya kumal berdebu, compang -camping dan terkena percikan darah di sana-sini. Meski lelah, wajah keras itu tak juga berubah. Beku. Kaku. Sebilah tombak ada dalam genggamannya. Senjata itu dijulurkannya ke luar jendela, lalu berkali-kali dihunjamkannya ke tanah.

    “Cinta, menangislah,”kataku dengan suara risau mendesau.

    Perempuan itu menatap puing-puing bangunan masjid, di seberang kami. Lama sekali.”Beta seng bisa manangis,”suaranya bergetar, rahangnya mengeras.

    Tetapi aku sangat ingin, bisikku. Tubuhku berguncang, bergetar. Berputar. Semakin lama semakin kencang. Meliuk-liuk..

    Cinta! Cinta! Sungguh, aku melihat semua!

    “Karudung ini bagus sekali, Bu. Pantas untuk beta pakai menghadap Allah di hari raya,”dari jendela kayu yang terbuka, kulihat nona tersenyum, menampakkan lesung pipitnya yang dalam.

    Mamanya tertawa, menggantungkan sesisir pisang meja di sisi lemari kayu. “Ya, Nak. Itu rezeki dariNya. Bapakmu juga membelikan Ali dan Abid songkok baru.”

    “Selesai salat, Jangan lekas pulang. Apalagi Bapak yang mengisi khutbah Ied,”suara Bapak bangga.

    “Iya! Iya!”

    “Wah, bagia ini enak sekali!”kata Ali dan Abid berbarengan. Kedua bocah itu mengerling nakal, lalu mencomot sepotong dua potong bagia, yang akan dimasukkan ke dalam toples.

    Semua tertawa. Bahagia.

    Keesokan harinya, 19 Januari 1999. Pagi-pagi sekali, kulihat Nona dan keluarganya, juga kaum muslimin yang lain berduyun duyun ke tanah lapang. Gema takbir terdengar di mana-mana. Dengan khusyu mereka melakukan salat Ied.lalu..

    Entah dari mana, ratusan mahluk menyeramkan menyerang mereka yang tengah melaksanakan salat! Ada yang membawa tombak, kalewang, panah, parang, pisau juga pistol! Jeritan memilukan terdengar di mana-mana! Oto dan rumah di sekitar juga kena sasaran.

    “Serang!”

    “Bunuh!”

    “Bakar!”

    Hiruk pikuk. Semua berlari menyelamatkan diri. Banyak jamaah yang terinjak-injak. Ratapan, tangisan, jeritan semakin memerihkan pagi! Para lelaki berpeci, mencoba melawan tanpa senjata. Api berkobar. Orang-orang terkapar. Menggelepar. Seperti ikan-ikan yang terlempar dari air kehidupan. Darah muncrat, mengalir, lalu membentuk beberapa kubangan. Pekat.

    “Nak, tolooong!”

    “Mamaaaa!”

    DUG!

    Perempuan itu tersungkur di pangkuan anaknya, dengan kepala remuk terkena lemparan batu.

    “Aliii!”

    “Abiid!”

    “Aaaaaaaaaa!”

    Tangan-tangan kotor mengayun-ayunkan bocah itu dan melemparnya ke dalam bangunan yang terbakar.

    Nona terbelalak! Ternganga! Lenso putih di tangannya jatuh ke tanah.

    “Bapaaaaak!”

    CRESH!

    Kepala lelaki separuh baya itu putus dari badannya! Menggelinding di tanah lapang yang basah meresap darah.

    Nona terpaku. Tak bergerak. Hanya tubuhnya yang terdorong ke sana ke mari, didesak mereka yang panik menyelamatkan diri.

    Nona masih kaku. Merasa tubuhnya tertanam dalam tanah, saat palu raksasa menghantamnya berkali-kali. Jiwanya bagai mengelupas. Tetapi tak ada setetes pun air mata. Aku hanya mendengar gema isakan dalam relung-relung batinnya. Kulihat dadanya naik turun. Detak jantungnya terdengar berkejaran. Ia berteriak sekuat tenaga! Menyebut nama Allah berkali-kali. Aku melihat semua! Juga ketika tangan-tangan jahanam itu menyeretnya. Mendorong. Memeluk,melecehkannya bergantian. Mereka menarik-narik jilbabnya sambil tertawa tanpa henti. Lalu merobeknya kasar dengan belati! Nona mencoba meloloskan diri. Ia menggigit, mencakar, menendang, meludahi monster-monster itu! Hup, ia bahkan berhasil merampas sebuah tombak! Ya, meski tangannya berdarah terkena ujung tombak yang tajam. Lalu dengan sisa-sisa tenaga ia berlari. Jatuh bangun. Tersengal-sengal. Kadang tersandung tubuh-tubuh manusia yang terbongkar, di tengah jalan..

    Siapa mahluk-mahluk buas dengan mata dan ikat kepala merah itu? Lalu yang memakai ikat kepala ungu? Mereka seakan baru saja menenggak berbotol-botol sopi dan sagure. Mereka membawa panah api! Di mana polisi? Di mana tentara? Aku mendesau risau.

    Hening. Bulan sepotong di langit. Bintang tiada.

    “Cinta., Nona…,” sapaku pelan.

    Wajah itu kaku. Dingin.

    “Nona harus pi,” kutiup wajah manisnya. “Ose harus mengungsi. Orang-orang pergi ke pelabuhan. Mereka memakai arumbai atau kole-kole untuk keluar dari sini.”

    “Seng!”tegas Cinta tiba-tiba. “Beta tak akan pernah pergi!” Wajahnya terangkat beberapa senti.

    Aku tersentak. Oh, Cintaku. Ia sangat berani. Tetapi.apakah ia tak menyadari?

    Lawannya bukan manusia, tetapi monster! Mereka tak punya nurani. Monster-monster ini serupa dengan mereka yang membantai kaum muslimin Bosnia, Palestina, Kashmir, Kosovo, Myanmar, Azerbaijan, Chechnya, Aljazair dan yang lainnya!

    Lalu siapa yang akan membelamu, Cinta? Apakah orang-orang yang selalu berteriak-teriak mengatasnamakan HAM di muka bumi ini akan tergetar pada deritamu? Akankah mereka mendengar jeritan menyayat dari tanah yang tercabik-cabik ini? Ah, mereka akan terus tidur, Cinta. Mereka punya banyak urusan. Juga uang dari negeri antah berantah. Terkadang mereka berteman erat dengan monster-monster itu.

    “Kini milikku hanya Allah dan tanah ini. Beta harus bajuang demi kebenaran!”

    Aku meliuk perih. Terhempas-hempas.

    Cinta., Cinta.

    Aku ingat. Beberapa waktu lalu, ia pergi ke Masjid Raya Al Fatah, masjid besar di kota ini. Menyaksikan sendiri tumpukan lara. Puluhan ribu pengungsi yang rumahnya terbakar berjejalan di sana. Kebanyakan mereka perempuan, anak-anak dan lansia. Mereka kelaparan, kehausan dan terkena berbagai penyakit. Erangan dan tangisan di sana bagai air mendidih dalam jerangan.

    Cinta tak mampu lagi tersedu. Ia membentangkan kedua tangannya memeluk para balita. Menghibur mereka. Ia bercerita tentang Rasulullah saw dan para sahabatnya pada anak-anak itu, hingga walau sesaat mereka lupa akan lapar. Ia membantu memasak bubur, menumbuk sagu. Menegarkan para wanita, mengobati yang terluka. Juga mengasah bambu runcing.

    “Biar katong membela diri!” serunya garang, ketika seorang tentara melarang mereka bertindak. Padahal saat itu mereka diserang membabi buta. “Beta tak mengerti. Mengapa kalian membiarkan monster-monster itu? Mengapa katong tak boleh mempertahankan nyawa sendiri? Di mana keadilan?”teriak Cinta.

    Orang-orang di sekitar masjid memandangnya dengan mata basah dan sukma tercabik.

    “Siapa nona pemberani itu?” Mereka berbisik-bisik.

    “Puteri Haji Latusina. Satu-satunya yang tersisa dari keluarga itu!” sahut yang lain.

    Bulan sepotong di langit. Bintang tiada.

    Kupandang lagi nona. Lalu sayup, kudengar lagi irama langkahnya, saat memasuki gerbang sebuah rumah sakit, beberapa hari yang lalu.

    Saat itu ia mengantar seorang perempuan jamaah masjid yang akan melahirkan. Baru saja perempuan itu terbaring di atas ranjang putih, entah dari mana datangnya, para monster itu telah menyerbu rumah sakit! Panik! Semua porak poranda. Bangunan putih tersebut dalam sesaat penuh cipratan darah. Tangisan, teriakan histeris memecah udara! Ibu-ibu hamil itu memekik, kala dianiaya secara paling biadab, sebelum dibunuh. Begitu juga penghuni rumah sakit yang diketahui muslim. “Buka jilbabmu sebelum mereka melihatnya!” kata seorang perawat. “Jangan bilang ose muslimah!”

    Cinta menatapnya dengan pandangan menyala. “Tidak. Beta muslimah, sejak beta dilahirkan hingga kembali padaNya!” seru Cinta dengan suara dan tubuh bergetar.

    Pada detik terakhir sebelum bangunan itu dihancurkan, tertatih-tatih, Cinta membawa beberapa muslimah, menjauhi rumah sakit. Bersembunyi di rumah kosong, tak jauh dari sana. Peluh dan darah mengucur deras dari dahinya.

    Nona, nona.

    Setiap kali kupandang mata jelinya yang kini bengkak dan sayu, kutemukan lima ratus mayat lebih terbujur kaku di sana. Kujumpai kepedihan Pelauw, Sirisori, Tulehu, Kate-kate dan Kampung Kolang. Kusaksikan nyeri menebari Kuda Mati, Wailela, Kampung Labuhan Raja, Air Laew, Karang Tagepe.. Lebih dari satu setengah bulan, sejak hari raya berdarah itu. Tak ada apa pun, kecuali rejam kekejian yang menggila. Bahkan 2 Maret lalu, para jamaah yang sedang salat subuh di Masjid Al Huda, kembali dibantai, tanpa sempat membela diri.

    Kini bulan hampir habis di langit. Bintang tiada. Dari jauh terdengar bunyi tiang listrik dipukul berkali-kali.

    Tiba-tiba Cinta bangkit dari duduknya.

    “Mereka menyerang lagi!”teriak Cinta. “Monster-monster itu telah kembali!” Kegeraman seakan membungkus keberanian gadis itu berlapis-lapis. “Allahu ma’i! Allahu ma’ii!”katanya berkali-kali.

    Cinta mengangkat tombaknya. Menutup jendela yang engselnya hampir terlepas itu. Ia bergegas ke kamar mandi. Perlahan sekali kudengar guyuran air. Aku tahu, gadis itu pasti sedang membersihkan dirinya. Di daerah ini, sejak masa Pattimura, bila akan berjihad, mereka selalu mandi dan mengenakan pakaian putih.

    Suara tiang listrik yang dipukul, terdengar lagi. Semakin keras. Cinta bergegas ke luar rumah. Aku yakin, ia akan pergi ke masjid itu. Bergabung dengan yang lain. Sekali lagi ditatapnya rumah kenangan yang sebagian telah hancur diterjang bom rakitan. “Selamat tinggal,” lirihnya.

    Sementara itu suara gemuruh para monster terdengar semakin dekat. Mereka berteriak-teriak kasar. Berjalan sambil mengacung-acungkan senjata! Mencorat-coret tembok rumah yang masih berdiri tegak dengan segala hujatan, atau menghancurkannya!

    Cinta berlari. Membawa tombak di tangannya. Juga salawaku yang telah ditempanya beberapa hari lalu.

    Tiba-tiba, belum jauh ia berlari, di hadapannya tampak puluhan monster menyeringai. Mereka membawa berbagai senjata di tangan. Mengerikan. Kian lama mereka semakin banyak. Mereka datang dari berbagai arah. Tampaknya sebagian besar bukan berasal dari daerah itu! Mata mereka merah! Jalan mereka terhuyung-huyung! Mereka mengenakan ikat kepala yang sama seperti dahulu. Merah dan ungu!

    “Hua.ha.ha.,”mereka tertawa-tawa. Lalu dari mulut mereka ke luar berbagai makian. Terkadang monster-monster itu tanpa malu memanggil-manggil Tete Manis.

    Cinta terkepung.

    “Allaaaaahu Akbar!” teriak Cinta. “Allaaaaahu Akbarrr!” ulangnya berkali-kali. Aku dapat merasakan dadanya menggelegak. Nyaris pecah.

    Para pengecut itu menyerang Cinta! Mengamuk! Mereka bakalai! Nona manise sempat terjatuh dan diinjak-injak!

    Biadab! Marahku menjalar.

    Tiba-tiba aku mendengar sebuah panggilan. Suara itu! Tubuhku bergetar hebat. Menggigil ngilu. Itu adalah Panggilan Agung yang menggetarkan segenap alam.

    Cinta! Kulihat ia berdiri, mengayun-ayunkan tombaknya ke sana kemari. Nona terdesak.

    Sekuat tenaga aku meliuk-liuk di udara. Meniup sekuat-kuatnya. Aku berputar-putar. Terus berputar-putar. Memanas. Mengganas! Sekonyong-konyong monster-monster itu berpentalan. Aku tak sudi membiarkan mereka begitu saja. Aku bertiup lagi. Memekik-mekik. Kali ini kuangkat tubuh Cinta. Nona melayang-layang di udara.

    “Lihat! Dia terbang! Dia terbang!”

    Orang-orang berikat kepala ungu memanah Cinta dengan panah api. Kutiup anak panah itu, hingga kembali kepada si pemanah. Mereka masih memanah tanpa henti. Aku meliuk-liuk. Menggemuruh. Panah-panah itu mengejar mereka. Mereka berteriak-teriak histeris. Ketakutan. Semua lintang pukang! Aku menurunkan Cinta dengan lembut. Nona masih memejamkan mata.

    Sepi. Tak ada suara apa pun. Hanya desiranku.

    “Beta cinta Allah dan RasulNya. Juga tanah ini,” bisik Nona.

    Aku mengangguk. Aku tahu. Karena itu aku selalu memanggilmu Cinta, kataku sendiri.

    “Allahu Akbar. Engkau telah mengirimkan tentaramu,” katanya lagi. “Benar Ustad Abdul Aziz, kala bercerita Kau mengirimkan ribuan malaikat, saat masjid raya diserang.”

    Aku kembali melihat lesung pipit itu di tempatnya. Ah, setelah sekian lama.

    “Dan kini Kau kirim tentaramu yang lain,” sambung gadis itu. “Angin..”

    Aku bertiup pelan. Lembut. Semilir.

    Nona menengadah ke langit. Jilbabnya berkibar. Matanya basah. Darah masih mengucur deras dari kedua lengan dan kakinya.

    Dari balik kota yang sekarat, mentari merambat naik pelan-pelan. Menyapa kusu-kusu yang membisu di tepi jalan.

    Ya, monster-monster itu mungkin akan kembali. Tetapi tak ada yang sudi pergi dari tanah ini. Tak akan, sampai kapan pun. Sebab Cinta, sebab angin dan semua, akan bangkit menghadapi. Demi Allah!

    ***

    Daftar Istilah :

    beta: aku seng: tidak nona: gadis kalewang: parang panjang pisang meja: pisang Ambon ose: kamu katong: kami arumbai: perahu/kapal besar kole-kole: perahu kecil bajuang: berjuang bagia: kue sagu kering oto: mobil tete manis: tuhan (non muslim) pi: pergi lenso: saputangan manangis: menangis sopi, sagure: minuman keras salawaku: tameng bakalai: berkelahi kusu-kusu: alang-alang

    6 Februari 2001

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 15 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Sajadah Tua Milik Ibu

    Cerpen oleh: Maria Magdalena Bhoemomo

    Sajadah milik Ibu sudah tua, Bahkan lebih tua dibanding umurku yang kini sudah berkepala tiga. Ketuaan sajadah itu bisa dilihat dari warnanya yang sudah kusam dan susunan serat kainnya yang sudah rapuh sehingga bolong-bolong. Jika dikebat-kebatkan, sehabis digunakan untuk shalat, banyak serpihan serat kainnya berguguran.

    Meskipun demikian, Ibu tetap selaiu melakukan shalat dengan menggunakan sajadah tua itu, Padahal, di dalam lemari pakaiannya. ada lima lembar sajadah lain yang bagus-bagus, Sebagai anak semata wayang, yang sudah cukup makmur karena berpenghasiian cukup tinggi sebagai anggota legislatif, aku sangat malu melihat Ibu mengikuti shalat berjamaah di masjid dengan memakai sajadah tuanya itu. Sudah berkali-kali aku memprotesnya, agar membuang atau membakar sajadah luanya itu. Tapi Ibu tak pernah menggubris protesku.

    “Aku sangat malu kalau sajadah lua yang sudah layak dibuang ke tong sampah itu tetap Ibu gunakan untuk shalat di masjid,” ujarku dengan kesal, ketika melihat Ibu pulang dari masjid selepas maghrib.

    “Kenapa kamu yang malu? Padahal, Ibu tidak malu. Dan Ibu akan selalu memakai sajadah tua ini setiap melakukan shalat di mana pun.”

    “Ibu kolot!”

    “Ya, maklumlah. Orangtua memang harus kolot.”

    “Ibu tidak mau bersyukur.”

    “Apa katamu? Justru Ibu bersyukur, karena bisa tetap melaksanakan shalat dengan sajadah tua ini.”

    Aku ingin berdebat lagi. Tapi rasanya percuma saja berdebat dengan Ibu yang sudah terlanjur menyukai sajadah tuanya itu. Lalu aku teringat riwayat sajadah tua itu.

    Konon, sajadah tua itu merupakan mas kawin yang diberikan oleh Ayah (sekarang almarhum) ketika menikahi Ibu. Dan konon, Ayah memang sedang miskin, tak punya uang, dan satu-satunya barang berharga yang bisa digunakan untuk mas kawin adalah sajadah tua itu.

    Dan konon pula, sajadah tua itu bukan dibeli oleh Ayah, melainkan merupakan hadiah istimewa dari Ustadz Basyir. Ayah mendapat hadiah istimewa berupa sajadah tua itu dari Ustad Basyir, karena Ayah berhasil menghapal 30 juz Al-Qur’an dalam usia 20 tahun. Begitulah, semasa mudanya. Ayah memang menjadi santri di pondok milik Ustadz Basyir untuk belajar menghapal Al-Qur’an.

    ***

    MALAM itu sudah larut. Ibu sudah tidur. Istriku juga sudah tidur bersama anak-anak, Tapi aku masih saja duduk termenung di ruang kerjaku. Pikiranku rasanya tegang, karena tetap merisaukan sajadah tua milik Ibu yang tetap selalu dipakainya untuk shalat di masjid. Seandainya sajadah tua itu hanya dipakai untuk shalat di rumah, mungkin tidak akan merisaukanku.

    Tiba-tiba aku mendapat gagasan jahat: Mencuri, lalu membuang atau membakar sajadah tua itu, agar Ibu bersedia memakai sajadahnya yang lain yang bagus-bagus, Ya, aku memang harus mencurinya. Dan tanpa berpikir panjang lagi, segera aku memasuki kamar Ibu dan mencuri sajadah tuanya itu. Sebagaimana maling, langkahku bersijingkat, sangat pelan, ketika masuk dan kemudian keluar dari kamar Ibu dengan membawa sajadah tua itu. Tapi, sebelum aku keluar dari kamar Ibu, jendelanya kubuka lebar-lebar, agar mengesankan ada maling betulan yang telah memasuki kamarnya dan kemudian mencuri sajadah tuanya itu.

    Begitulah, sajadah tua milik Ibu kemudian kusembunyikan di dalam almari buku di ruang kerjaku. Aku tidak tega jika langsung membuang atau membakarnya. Aku masih dihinggapi perasaan iba dan khawatir. Ya, aku pasti kasihan jika melihat Ibu bersedih gara-gara kehilangan sajadah tuanya itu. Dan aku tidak ingin Ibu kemudian jatuh sakit karena terus menerus bersedih.

    Malam semakin larut, Dan aku kemudian tidur bersama istri dan anak-anak. Dan menjelang waktu subuh, seperti biasanya Ibu bangun tidur dan langsung mandi serta berwudhu sebelum kemudian berangkat ke masjid untuk mengikuti shalat subuh berjamaah.

    “Maling sial! Maling terkutuk! Kenapa sajadah tua yang tidak mungkin bisa dijual harus kamu curi, maling terkutuk?!” teriak Ibu berulang-ulang sambil menangis. Aku dan istriku tersentak bangun.

    “Cepat keluar, Mas. Mungkin ada maling yang telah memasuki kamar Ibu,” perintah istriku dengan wajah panik.

    Dengan sikap tenang, aku beranjak ke kamar ibu. Dan aku sangat terkejut ketika melihat Ibu tergeletak lemas di lantai kamar. Segera kuangkat Ibu untuk kubaringkan di atas ranjangnya. Mata Ibu berbuka lebar-lebar, dan bibirnya bergerak-gerak membisikkan kata-kata kutukan: “Maling terkutuk. Maling terkutuk. Maling terkutuk.”

    Dadaku berdebar-debar mendengar kutukan Ibu yang diulang-ulang itu. Aku merasa sangat bersalah dan menyesal, karena telah menjadi maling yang mencuri sajadah tua milik Ibu itu. Aku sangat takut, jika kutukan Ibu dikabulkan oleh Tuhan. Tapi, semuanya sudah terlanjur. Aku tidak akan mengaku telah mencuri sajadah tua itu kepada siapa pun, khususnya kepada Ibu dan istriku. Sebab, aku yakin, jika aku mengaku telah mencuri sajadah tua itu, maka Ibu akan menuntutku agar mengembalikannya dan kemudian Ibu kembali akan memakainya untuk shalat sebagaimana biasanya. Tidak. Aku tidak mau menanggung malu terus menerus gara-gara Ibu selalu memakai sajadah tuanya itu untuk shalat di masjid.

    Istriku menyusulku ke kamar Ibu. Dan setelah melihat Ibu nampak habis terserang stroke, istriku kemudian menatap jendela yang terbuka lebar-lebar itu.

    “Pasti malingnya masuk lewat jendela itu, Mas,” tebak istriku.

    “Ya, mungkin saja.”

    “Tapi aneh rasanya, ada maling kok sudi mencuri sajadah tua yang pasti tidak akan bisa dijual,” lanjut istriku dengan kening berkerut.

    “Mungkin malingnya punya tujuan khusus, Misalnya, ingin mendapatkan jimat. Konon, sajadah tua memang bisa digunakan untuk jimat,” ujarku. Ibu masih saja membisikkan kalimat kutukan terhadap maling yang telah mencuri sajadah tuanya. Dan aku mendengarnya dengan hati yang semakin berdebar-debar. Aku takut jika kutukan Ibu menimpa diriku. Lalu, dengan lembut aku dan istriku menghibur Ibu.

    “Sudahlah, Bu. Lupakan saja sajadah tua yang telah dicuri oleh maling itu. Bukankah Ibu masih punya lima sajadah yang bagus-bagus?” hibur istriku. “Doakan saja semoga malingnya bertobat, dan kemudian rajin melakukan shalat dengan menggunakan sajadah tua yang dicurinya itu, Bu. Sebaiknya Ibu mengikhlaskannya dan memaafkan malingnya, agar Ibu mendapat banyak bahala,” hiburku.

    Ibu kemudian tidak membisikkan lagi kalimat kutukan. Tapi untuk selanjutnya, Ibu tidak bisa bangkit lagi, tetap saja terbaring, karena menderita lumpuh.

    Dengan demikian, setiap melakukan shalat, Ibu tidak membutuhkan sajadah lagi, karena shalatnya dilakukan sambil berbaring. Istriku ikut-ikutan mengutuk maling yang telah mencuri sajadah tua milik Ibu, yang membuat Ibu jatuh sakit dan menderita kelumpuhan permanen itu.

    “Gara-gara maling sial dan terkutuk itu, aku jadi repot sekali merawat Ibu,” gerutu istriku menjelang tidur.

    Mendengar istriku mengutuk maling yang sebenarnya adalah diriku, aku semakin ketakutan. Sebab, konon, kutukan seorang Ibu, juga istri, bisa menjadi kenyataan.

    ***

    SEBAGAI anggota legislatif dari partai reformis, aku dikenal bersih dan anti korupsi. Bahkan, gara-gara aku menjadi tokoh reformasi yang sering lantang menentang korupsi, kemudian aku direkrut masuk partai kemudian berhasil duduk sebagai anggota legislatif.

    Tapi, setelah aku menjadi maling yang mencuri sajadah tua milik Ibu, beberapa rekanku yang gemar melakukan korupsi suka membujukku agar ikut-ikutan melakukan korupsi.

    “Pada masa kini, menjadi orang jujur bisa justru ajur. Dan menjadi orang bersih bisa justru tersisih!” ujar rekanku.

    “Pada mulanya, melakukan korupsi memang sangat merisaukan hati. Tapi, jika kita melihat kenyataan yang ada, betapa korupsi adalah sesuatu yang wajar, maka perasaan risau itu dengan sendirinya akan sirna,” tutur rekanku yang lain.

    Begitulah. Mula-mula, aku mencoba ikut-ikutan melakukan korupsi dana proyek rehabilitasi jalan-jalan dan jembatan yang sengaja digelembungkan. Dan hasil korupsi itu kemudian kugunakan untuk membeli mobil mewah.

    “Uang dari mana yang kamu gunakan untuk membeli mobil mewah ini, Mas?” tanya istriku ketika aku pulang membawa mobil mewah tipe terbaru yang harganya hampir satu milyar rupiah itu.

    “Ini hadiah istimewa dari Pak Gubernur, karena aku dan rekan-rekan telah berhasil mengesahkan undang-undang baru yang sangat menguntungkan pihak eksekutif,” jawabku berbohong.

    “Oh, begitu. Aku kira kamu sudah mulai suka melakukan korupsi, Mas.”

    “Eh, jangan suka berprasangka buruk. Jelek-jelek begini, aku tetap punya moral dan sejak dulu dikenal sebagai tokoh reformis yang anti korupsi.”

    Dan sejak punya mobil mewah, tiba-tiba aku gemar menghabiskan waktu di tempat-tempat hiburan. Mungkin karena selalu risau, maka aku membutuhkan hiburan. Mula-mula, aku mencoba mencicipi minuman keras, agar punya pengalaman mabuk. Konon, dengan mabuk seseorang bisa mengusir rasa risau di hatinya. Lalu, karena di tempat hiburan ada banyak cewek cantik yang siap menghiburku, maka aku pun kemudian mencoba mengajak tidur seorang cewek cantik yang mengaku masih kuliah itu, Dan sehabis bercinta dengan cewek cantik itu, tiba-tiba kelaminku sangat gatal dan panas. Lalu segera aku berobat ke dokter.

    “Anda terkecoh,” kata dokter. “Cewek itu pasti pelacur profesional yang menderita penyakit kelamin kronis. Sebaiknya Anda melakukan tes darah. Siapa tahu, Anda bukan hanya tertular kencing nanah, tapi juga AIDS.”

    Dengan sedih dan panik, aku kemudian menjalani tes darah. Dan hasilnya ternyata positif: Aku telah tertular virus mematikan itu.

    ***

    SEBAGAI pengidap AIDS, aku merasa betapa hari kematianku sangat dekat. Aku sangat marah, menyesal, dan putus asa. Perilakuku semakin buruk. Semakin sering aku terlibat kasus korupsi, dan hasilnya kugunakan untuk berfoya-foya di tempat-tempat hiburan. Istriku nampak bersikap toleran, karena telah mendapatkan semua gajiku perbulan yang cukup besar. Sedangkan untuk merawat Ibu sehari-hari, istriku sudah punya dua orang pembantu di rumah. Dan sebagai istri anggota legislatif, istriku pun semakin gemar berbelanja mewah dan mencoba memasak berbagai menu sesuai dengan resep-resep terbaru yang dimuat di majalah-majalah.

    Suatu malam, istriku memprotesku, karena sudah lama aku tidak mengajaknya bercinta.

    “Kamu sudah bosan denganku, ya? Atau, jangan-jangan kamu suka main serong atau bahkan punya simpanan?”

    “Memangnya aku ini orang yang bias santai? Maklumlah, aku ini anggota legislatif, yang selalu sibuk dan capek setiap hari,” tukasku.

    Ya, setiap kali aku pergi ke tempat-tempat hiburan atau bercinta dengan pelacur di hotel, selalu aku pamit hendak mengikuti rapat tertutup. Dan istriku selalu mempercayai kata-kalaku. Dan jika aku tidak pernah lagi mengajaknya bercinta, semata-mata karena aku sayang kepada keluarga. Aku tidak ingin istriku tertular penyakit AIDS. Namun, malam itu, istriku benar-benar bergairah dan memaksaku bercinta. Maka aku pantang menolak, apalagi istriku berseloroh bahwa dia telah menyangsikan keperkasaanku, karena aku terus menerus sibuk dan capek.

    Dan setelah bercinta denganku, istriku menderita flu berat. Dan setelah berobat ke dokter, istriku tidak kunjung sembuh. Lalu dokter memintanya untuk menjalani tes darah. Dan hasilnya, istriku positif dinyatakan mengidap AIDS.

    “Rupanya kamu telah berbohong kepadaku, Mas. Kamu telah berkhianat. Kamu tega menularkan penyakit AIDS kepadaku. Kamu kejam, Mas.”

    Istriku menangis dan meratap-ratap. Aku sangat iba dan ikut-ikutan menangis. Kukatakan bahwa nasibku yang sial mungkin karena dikutuk oleh Ibu, gara-gara aku mencuri sajadah tua itu.

    “Di mana sajadah tua itu sekarang, Mas?” tanya istriku. “Kalau masih ada. cepat serahkan kembali kepada Ibu. Dan kamu harus minta maaf kepadanya.”

    Dengan terpaksa, aku segera mengambil sajadah tua yang kusimpan di lemari buku di ruang kerjaku. Lalu segera kuberikan sajadah tua itu kepada Ibu.

    Sungguh ajaib. Ibu langsung bangkit dan tidak lumpuh lagi, begitu melihat sajadah tuanya. Segera ibu menciumi sajadah tuanya itu, sebelum kemudian bergegas mengambil wudhu dan melakukan sujud syukur dengan menggunakan sajadah tuanya itu. Dan untuk selanjutnya, Ibu kembali melakukan shalat lima waktu di masjid dengan sajadah tuanya itu.

    Sementara itu, nasibku dan nasib istriku semakin buruk. Bahkan, istriku harus dirawat di rumah sakit dengan diperlakukan khusus sebagai pasien AIDS. Istriku ditempatkan di kamar khusus, mirip karantina, karena kondisinya semakin memburuk. Tidak ada pembesuk yang dibolehkan menemuinya, kecuali aku dan anak-anak.

    Tubuhku juga semakin lemah dan kurus. Tapi aku berusaha untuk tetap tegar dan tetap menjalankan tugas-tugasku sebagai anggota legislatif. Dengan mobil mewah, aku pergi dan pulang kerja. Dan jika pikiranku sangat risau dan sedih, segera aku pergi ke hotel dan bercinta dengan pelacur cantik.

    Suatu malam, ketika aku sedang bercinta dengan pelacur cantik di hotel, tiba-tiba HP-ku berdering. Rupanya ada telepon dari rumah sakit tempat istriku dirawat.

    “Istri Anda telah diambil oleh Tuhan. Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya.”

    Dengan terburu-buru, aku segera melarikan mobilku kencang-kencang menuju rumah sakit. Padahal, aku sangat letih dan setengah mabuk akibat minuman keras yang habis kureguk. Dan ketika melesat melewati tikungan yang cukup ramai, mobilku lerlalu kencang berlari, sehingga beberapa becak yang memadati jalan kutabrak dengan keras, sebelum kemudian mobilku membentur keras-keras pagar jalan.

    Teriakan-teriakan umpatan dan kutukan para tukang becak sangat menakutkanku. Mobilku telah ringsek. Aku tetap duduk di belakang setir yang menjepit dadaku. Aku masih sadar, dan bisa melihat beberapa tukang becak mengumpat-umpat dan mengutukku sambil menyulut bensin yang tumpah di bawah mobilku. Aku pun masih bisa melihat api mulai berkobar membakar mobilku, sebelum kemudian membakar tubuhku.

    Aku sangat yakin, meski aku telah mati, betapa esok pasti koran-koran memuat di halaman pertama gambar mobilku yang terbakar bersama diriku yang telah hangus. Dan di bawannya, ada tulisan singkat: Seorang anggota dewan legislatif mengalami kecelakaan tragis.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 12 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Menikah Lagi

    Cerpen Oleh Zaenal Radar T.

    Aku berniat menikahi janda itu. Tapi, apakah istriku bersedia menerimanya? Dulu aku sudah berjanji pada istriku, bahwa kami akan setia sehidup semati. Kalau ia mendengar aku akan menikah lagi, apakah Ia sudi menjalaninya, menjadi istri yang dimadu?

    Perempuan janda yang akan kunikahi itu tidak terlalu cantik. Usianya sekitar empat puluh lima tahun. Ia memiliki empat orang anak yang masih sekolah. Kehidupan keluarganya selalu kekurangan karena penghasilan yang tidak memadai. Sehari-harinya perempuan itu menjadi pelayan di sebuah rumah makan, Kupikir, kalau ia kunikahi, aku akan menjadi ayah dari anak-anak mereka, Menjadi penunjang ekonomi keluarganya.

    Aku sudah lima kali berkunjung ke rumahnya, Keempat anaknya menerima kedatanganku dengan baik. Yang tertua kelas tiga SMA. Yang dua SMP dan satu lagi masih SMP. Tentu biaya yang ditanggung itu cukup berat bagi seorang perempuan tak bersuami yang tidak memiliki karir bagus dalam pekerjaannya.

    Ketika berada di rumahnya, kusampaikan maksud kedatanganku, bahwa aku akan menikahinya, menjadi ayah anak-anaknya.

    “Mas harus pikir masak-masak. Saya sendiri sangat bersedia menjadi istri mas. Dan anak-anak kelihatannya senang menerima kehadiran mas. MungKin mereka ingin memiliki ayah, seperti teman-temannya. Tapi, bagaimana dengan keluarga mas sendiri?”

    Pertanyaan itu tak bisa kujawab. Aku sendiri belum tahu apa reaksi keluargaku bila mendengar aku akan menikah lagi. Apakah hal itu sebaiknya kurahasiakan?

    Aku tidak mau berbohong pada istri dan anak-anakku. Aku tidak mau memberi contoh yang tidak baik pada mereka. Seadainya ditutup-tutupi, pasti suatu saat akan tercium juga. Baiknya aku berterus terang saja, menjelaskan pada mereka bahwa aku akan menikah lagi!

    Suatu sore seluruh keluargaku kukumpulkan di ruang tengah. Istri dan anak-anakku tampak bertanya-tanya, mengapa aku mengumpulkan mereka. Seperti ada sesuatu yang sangat penting. Atau mungkin juga mereka berfikir akan mendapatkan kejutan.

    “Ada apa sih, yah? Ayah mau membawa kami keliling Bandung lagi? Atau, mungkin kita akan berangkat umroh ke tanah suci sekeluarga untuk yang kedua kali?”

    “Bukan, bukan itu, Nada. Kamu dengar dulu cerita ayah. Dan kalian semua, jangan dulu marah pada ayah, Ayah akan menceritakan…”

    Tiba-tiba aku berubah pikiran. Setelah kutimbang-timbang, rasanya tak baik menceritakan hal ini pada seluruh keluargaku. Mengapa tidak lebih baik kuceritakan pada istriku saja? Kalau istriku setuju, anak-anak mungkin lebih bisa diatur.

    “Lho?! Kok, ayah jadi ragu begitu?” sosor Arman, anakku yang paling kecil. Hal itu membuat istriku tersenyum. Perempuan yang masih sangat kelihatan cantik itu tampak bangga melihat putra bontotnya kritis begitu.

    “Ayo dong, yah! Ceritanya diterusin!”

    “lya, ayah ini gimana sih? Katanya mau cerita??”

    Kupandangi keempat anakku. Mereka terlihat penasaran pada cerita yang akan kusampaikan. Istriku masih tersenyum-senyum.

    “Baik, akan ayah lanjutkan. Begini anak-anak. Besok kalian akan ayah titipkan di rumah nenek. Karena ayah dan ibu punya urusan yang sangat penting!”

    “Maksud ayah apa?!” lagi-lagi Arman menyela. Dan ketiga anakku yang lain semakin bingung. Juga istriku, jadi ikut-ikutan bingung. Senyumnya tak lagi terlihat.

    “Nanti saja akan ayah ceritakan setelah kalian pulang dari rumah nenek.”

    “Yaa, ayah…!”

    Semua anak-anakku protes. Ibu mereka membujuk agar mereka mau mengerti.

    Malam itu, saat anak-anak kutitipkan di rumah nenek mereka, aku akan berterus terang pada istriku. Mengapa hal ini kulakukan tidak di depan anak-anak, yakni agar menjaga kemungkinan yang tidak mengenakkan terjadi. Kalau tiba-tiba istriku mengamuk di depan anak-anak, khawatir akan menyebabkan kekacauan pada diri mereka nantinya. Dan seandainya istriku menahan amarahnya demi menjaga nama baiknya di depan anak-anak, ini juga tidak baik.

    Aku ingin tahu tanggapan istriku sejujurnya, setelah mendengar apa yang akan kusampaikan nanti. Apakah ia bersedia bila aku menikah lagi?

    Aku mesti mencari kalimat yang paling enak, paling masuk akal, paling beralasan, paling bisa diterima, sehingga istriku tidak terlalu terkejut. Ya, terkejut. Aku yakin istriku akan terkejut mendengar pengakuanku nanti. Dan aku tak mau ia akan terkejut dengan main-main, atau terkejut sekali! Aku ingin ia terkejut biasa-biasa saja. Aha, terkejut biasa-biasa saja…? Apa ada?

    “Begini bu, tadi siang sebenarnya ayah ingin bercerita di depan anak-anak. Tapi ayah khawatir anak-anak tidak siap menerimanya. Dan ayah pikir, mereka belum mengerti pada hal-hal yang akan ayah ceritakan.” Istriku menatapku, dengan tak lupa menyunggingkan senyumnya. Aku melihat ia menghela napas perlahan, begitu rileksnya.

    “Selama ini ayah telah bekerja keras demi ibu, demi anak-anak, juga demi persiapan kebutuhan kita kelak. Ayah ingin hidup kita bahagia, sampai akhir hayat…”

    Istriku mengangguk. Senyumnya masih tersisa.

    “Namun ayah merasa masih ada sesuatu yang kurang. Kita memang sudah cukup banyak beramal. Kita tak pernah lupa menyisihkan bagian harta kita untuk yayasan anak-anak yatim dan panti jompo. Setiap tahun kita pun tak pernah berhenti mengundang orang-orang tidak mampu untuk diberikan sedekah. Dan yang dimaksud kurang bagi ayah adalah…”

    Kali ini istriku tak lagi tersenyum. Air mukanya seperti orang berharap-harap cemas. Menunggu sebuah keputusan yang tak bisa diterkanya.

    “Ibu rasa…. ayah terus terang saja. Selama ini ibu merasa sudah menjadi ibu yang baik bagi ayah, bagi anak-anak, bagi keluarga besar kita, juga bagi lingkungan. Kalau masih ada yang kurang dari ibu, barangkali karena keterbatasan ibu sebagai manusia biasa, yang tak luput dari kekurangan.”

    “Maaf bu, ayah jadi tak enak mengutarakan ini… Sebab, ayah dan ibu pernah bersumpah sehidup semati…”

    Tiba-tiba kulihat airmata istriku berair. Nampaknya perempuan cantik yang sangat kusayangi ini sudah mengetahui maksud pembicaraanku. Ia mulai terisak.

    “Kalau ibu merasa bersalah… hiks… maafkan ibu… Tapi… jangan terlantarkan anak-anak kita…. Hiks… yang selama ini telah kita rawat dengan baik. Ibu cuma minta… kejujuran ayah… apa yang menyebabkan hal ini tejadi…”

    Isak itu semakin menjadi-jadi. Aku sungguh beruntung telah mengungsikan anak-anak ke rumah nenek. Sebab kalau tidak, aku tak akan mampu menjelaskan pada anak-anak mengapa ibu mereka menangis.

    “Bu,.. dengar dulu…”

    “Kalau ayah sudah tak sayang padaku, ceraikan saja yah… ceraikan saja…” Istriku menangis.

    “Ssst…Bu…”

    ”Ayah…tak usah…memberikan alasan macam-macam…! Tak perlu… bicara panjang lebar…! Hanya akan membuat sakit hati ibu! Hiks…Kalau ayah… hendak menceraikan ibu… ibu akan menerimanya dengan lapang dada…! Biarkan anak-anak ibu rawat..,! Dan ayah bisa pergi dengan perempuan lain yang menjadi pilihan ayah…!”

    “Bu… dengar dulu…”

    Tangis istriku makin menjadi-jadi. Aku bingung bagaimana menjelaskannya, Ia sudah termakan oleh perasannya sendiri.

    “Bu, siapa yang mau menceraikan ibu?!”

    Istriku diam, tapi isaknya masih sesekali terdengar. Aku merengkuh tubuhnya, tapi ia mengelak. Huh, baru kali ini ia begitu.

    “Bu, dengar ya…”

    Aku ceritakan tentang seorang janda yang memiliki empat anak yang masih sangat membutuhkan seorang ayah. Kuceritakan dengan jujur bagaimana perempuan yang hendak kunikahi itu.

    “Bagaimana Bu? Apakah ibu mau menerimanya??!”

    Istriku menarik nafas dengan berat. Menghelanya sambil menggelengkan kepala.

    “Bu…?!”

    Istriku tetap diam, lalu berlari ke kamarnya. Aku mengejarnya. Namun tak berhasil menangkapnya karena ia telah mengunci pintu kamar dari dalam, Semalaman ini istriku mengunci diri di dalam kamar, dan aku tak bisa tidur di ruang tengah.

    Pagi-pagi sekali, ketika suara azan subuh terdengar, aku beranjak ke kamar mandi. Aku mengambil wudhu lalu melangkah ke ruang sembahyang. Di sana, aku sudah melihat istriku tengah bersujud, sambil tubuhnya terguncang-guncang karena isak tangis.

    Selama seminggu aku dan istriku berdiam-diam. Kami bicara seperlunya saja. Di depan anak-anak, kami berpura-pura mesra. Namun selepas anak-anak keluar rumah, istriku ke kamarnya mengunci diri.

    Namun suatu sore, saat aku pulang kantor, pintu kamarnya lupa terkunci, Padahal anak-anak belum pulang karena tes tambahan, atau yang terbesar mungkin sedang mampir di rumah salah satu temannya. Seminggu ini aku memang kehilangan konsentrasi mengurus anak-anak.

    Di dalam kamar, aku tidak menemukan istriku. Lalu kuhubungi nomor telepon genggamnya. Ternyata tidak diaktifkan. Setelah itu kuhubungi anak-anakku satu persatu. Aku menyuruh mereka segera pulang.

    Sebelum anak-anak pulang, istriku sudah kembali ke rumah. Ketika kutanya, ia tak menyahut. Rupanya, genderang perang sudah berbunyi. Namun aku tidak mau berperang dengan istriku sendiri. Selama ini kami tak pernah serius bertengkar. Kalau pun pernah, tak lebih dari dua jam kami akan akur kembali. Tapi kini, sudah seminggu kami berdiam-diam.

    Aku tak mau menyalahkannya. Kesalahan harus kutumpahkan pada diriku sendiri. Aku tak mau mengorbankan keluarga hanya karena kepuasanku semata. Sejujurnya kuakui, keinginanku menikah dengan perempuan janda dengan empat orang anak itu bukan semata-mata rasa kasihan pada mereka. Namun juga karena benih cinta yang secara tak sengaja bersemi di antara aku dan janda penunggu rumah makan itu.

    Selain ingin menikahinya, aku juga berharap mendapat kasih sayangnya, sekaligus bisa membantu keluarga perempuan itu. Dan nampaknya semua itu tak mungkin aku lakukan. Sebab aku harus menyelamatkan keluargaku.

    Menarik kembali sayap istriku yang mungkin hendak terbang meninggalkanku!

    Biar bagaimanapun, aku tak mau kehilangan istriku. Aku dan dia telah berjanji sahidup semati. Kami tak mungkin bisa dipisahkan, kecuali oleh ajal!

    Sore menjelang malam, kami semua berkumpul. Istriku seperti biasa, terlihat sangat ceria di depan anak-anak. Padahal aku tahu, barangkali hatinya telah remuk. Ia memang perempuan yang sangat pandai menjaga perasan di depan anak-anak. Aku sangat beruntung menjadikannya sebagai istri.

    Menjelang malam, anak-anak berangkat tidur. Istriku sepetri biasanya, masuk terlebih dahulu ke kamar. Tetapi kali ini ia tak menguncinya. Ketika kubuka, ia masih belum tidur. Ia kudapati tengah membaca sebuah majalah, terlihat begitu santai.

    Di kamarku sendiri, aku bagai orang asing, Inilah mungkin hukuman bagi orang yang bersalah, yang merasa terpenjara oleh perasaannya sendiri.

    “Bu…”

    Istriku melipat majalah, memberikan konsentrasi penuh terhadapku. Sungguh perubahan yang sangat menggembirakan. Sebelum ini aku tak pernah mendapat kesempatan bicara padanya. Tapi kali ini, sepertinya ia siap mendengar kata-kataku.

    “Bu, maafkan kata-kata ayah tempo hari. Ayah sungguh menyesal mengatakannya pada ibu. Ayah memang lelaki tak tahu di untung. Ayah lelaki yang tak mensyukuri karunia Tuhan…”

    Aku berhenti. Tapi istriku tak menunjukkan perubahan sikap. Ia masih saja diam, seolah tak mau memotong kata-kataku.

    “Bu… maafkan ayah…”

    Baru kali ini, sepanjang sejarah pernikahan kami, aku meneteskan airmata kesedihan di depan istriku.

    “Bu… maafkan bila ayah telah khilaf… Ayah tak mau kehilangan ibu. Demi Tuhan, ayah tak mau bercerai. Dan ayah berjanji tak akan menikah lagi…”

    Istriku beranjak dari tempatnya, lalu merapatkan tubuhnya ke dekatku. Tak sadar, kepalaku sudah berada di pangkuannya. Dan kurasakan, ia membelai-belai rambutku. Menunjukkan kasih sayangnya, yang selama ini tak pernah hilang sejak kami menikah dulu.

    “Ayah… ibu juga minta maaf…”

    Sambil berkata begitu, istriku masih tetap membelai-belai rambutku. Aku menjadi seperti anak kecil yang manja pada orang tuanya.

    “Ibu minta maaf telah menyusahkan ayah. Selama ini ibu mengurung diri bukan bermaksud membenci ayah. Ibu hanya perlu menenangkan diri agar perasaan sakit yang ibu rasakan tak terlihat oleh orang lain, apalagi oleh anak-anak kita… Tadi siang ibu sudah mendatangi perempuan yang menjanda itu, dan bertemu dengan anak-anak mereka. Nampaknya mereka memang memerlukan seorang lelaki untuk menjadi pelindung mereka…”

    “Kalau sekiranya ayah bersungguh-sungguh mau membantu mereka, dan terbersit rasa sayang ayah terhadap perempuan itu, ibu ikhlas melepas ayah… untuk menjadi kepala keluarga bagi mereka… Hanya saja, biarkanlah hal ini menjadi rahasia kita berdua. Anak-anak jangan sampai tahu.”

    Dengan teramat tegar kata-kata itu diucapkannya. Namun ketika kutatap wajahnya, kulihat bola matanya basah.

    “Bu…”

    “Sudahlah, yah… jangan lagi bicarakan masalah ini. Semuanya sudah jelas. Mari kita tidur…”

    Istriku menggeser tubuhnya, lalu beringsut mematikan lampu kamar. Ia meluruskan tubuhnya di ranjang, aku di sebelahnya. Tak lama kemudian kudengar dengkuran. halusnya. Dan malam itu, aku tak berkutik di sampingnya. Aku tak beranjak ke mana-mana, meski kedua biji mata ini sulit sekali kupejamkan

    ***

    Dari Sahabat

     
    • nisa 3:43 pm on 17 Maret 2011 Permalink

      sad story…, ga.. bisa dijelaskan dgn kata..kata.. :(
      antara hancurnya hati seorang wanita dan ketabahannya..

    • rossi 10:57 am on 26 Maret 2011 Permalink

      panjang n ber belit belit…

  • erva kurniawan 1:35 am on 8 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Sedekah Dikembalikan Kontan Berlipat

    Pada pagi yang biasanya mendung itu, Istriku berucap perlahan seolah takut membuatku marah. “Pak, antar ke pasar yuk, sudah habis persediaan di rumah, Ibu masih ada sedikit uang, biar Allah saja yang mencukupkan”

    Akhir-akhir ini memang aku sangat sensitif karena sedang tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan, sudah enam bulan dan entah sampai kapan. Sepanjang-jalan ke pasar kami tidak banyak berbicara. Istriku cukup memahami situasi kegalauanku sehingga tidak banyak bertanya. Bagaimana tidak galau 10 hari lagi adalah waktunya hutang- hutang pinjaman usaha ke Bank harus kami cicil kembali untuk pembayaran bulan ini dan luar biasa rekening bank sampai bisa bernilai nol karena dipotong pembayaran atomatis. Sementara pembayaran hasil usaha belum dibayar, sudah terlambat tujuh bulan dan entah kapan serta bagaimana terealisasinya. “Ya Allah lindungilah aku dan keluargaku dari tekanan hutang piutang” do’aku dalam hati.

    Seperti biasa di pasar kelompok basah tidak ada barang palsu, semua asli ciptaan Allah. Sayur, daging, ikan pasti sulit cari yang palsu, aduuh rasanya harus bersyukur masih mudah merasakan keaslian ciptaanNya. Tiada terasa sampailah ke pedagang beras dan Istriku berujar: “Pak, uang kita tidak cukup membeli beras, masih terlalu mahal, mudah-mudahan beras di rumah cukup untuk beberapa hari ke depan, kita pulang saja, cukup untuk hari ini”

    Tertegun dan sedih dalam hati “Ya Allah sampailah saatnya aku tidak sanggup membeli beras, percuma menggerutu hasil operasi pasar, mudahkanlah kami ya Allah”

    Seminggu setelah itu, usai sholat Subuh, aku teringat adik pengojeg yang memiliki 2 tanggungan sementara menanggung pula adik iparnya beserta 1 anak yatim masih harus membagi dua hasil ojegnya setiap hari dengan tetangganya. Terlintas pula tetangga tukang bangunan yang sedang tidak memiliki pekerjaan sementara Istrinya menjadi pembantu rumah tangga harian dengan 4 tanggungan anak. Mereka pasti lebih sulit dari aku.

    Menjelang waktu Dhuha, Istriku menelepon bank, mudah-mudahan sudah ada pembayaran, ternyata belum…dug seperti dipukul palu untuk kesekian kalinya. Istriku menangis karena merasa terdesak, kami hanya dapat melakukan Dhuha dan Istikharah saat itu. Setelah selesai tiba-tiba aku teringat bahwa masih ada jalan untuk membeli beras dibanding pengojeg dan tukang bangunan itu, dengan meminjam kembali ke Bank. Diawali sholat mutlak, kupanjatkan pada Allah bahwa aku tidak mau menganiaya diri sendiri dengan menambah hutang, aku punya sedikit keleluasaan berhutang, bila kubelikan 3 karung beras dan 2 karung ku sedekahkan pada pengojeg dan tukang bangunan untuk memudahkan mereka, ku harap hanya Allah saja yang memudahkan seluruh urusanku apapun bentuknya.

    Hari itu kami berhutang kembali, tidak lebih, hanya untuk 3 karung beras dengan niat 2 karung sedekah ikhlas karena Allah SWT. Sepulang dari pasar kami langsung ke rumah tetangga tukang bangunan, kami serahkan 1 karung saat Istrinya masih bekerja. Hanya ada 1 rasa saat itu, lega berbuat sesuatu yang diperlukan orang lain, mudah- mudahan mendatangkan kebaikan bagi semua. Keesokan malamnya dalam hujan setelah menempuh 1,5jam perjalanan, datang adik beserta istrinya yang ternyata sedang hamil 7 bulan untuk mengambil beras. Selama ini mereka menerima raskin 5Kg/Bln/Jiwa, kembali hanya ada 1 rasa saat itu, lega berbuat sesuatu yang diperlukan orang lain, mudah-mudahan mendatangkan kebaikan bagi semua.

    Hari ini adalah saatnya pembayaran cicilan pinjaman bank, Ya Allah Alhamdulillah dalam rekening sudah ada pembayaran hasil pekerjaan dan kami tidak perlu mencicil tapi karena ijin Allah dapat dilunasi semua. Kalau dibandingkan secara matematis maka beras sedekah itu dibayar kontan oleh Allah sebesar 300 kali lipat.

    Allah Maha Pengatur. Terlambat satu hari, denda dan bunga bank cukup menyakitkan. Lebih cepat satu hari, rasa bergantungnya pada Allah akan terasa lain dan tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Ternyata rejeki tidak hanya uang, tetapi momen, kesehatan, keselamatan, kejernihan hati dan fikiran, kenikmatan beribadah dan beramal dan masih banyak lagi… semua adalah rejeki.

    Bonus yang didapat karena Allah adalah membebaskan satu keluarga dari pinjaman rentenir dan memberikan satu keluarga lain sarana usaha. Maha Suci Allah, kami memiliki jalan lagi dari Allah untuk mengumpulkan harta bekal `pulang’ kami nanti. Ya betul-betul harta untuk bekal kami sendiri bukan untuk diwariskan. Sedangkan harta yang katanya milik kita, sebenarnya bukan harta kita tapi harta warisan ahli waris kita…Astagfirullah jangan sampai kita sibuk mengurus harta ahli waris kita sementara kita lupa `bekal pulang harta’ kita sendiri.

    “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan” (QS 2: 245)

    Oleh: Tabuat Ahusan

    ***

    Dari Sahabat

     

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 5 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    ‘Pembalasan’ di Stasiun Kereta Api

    Oleh Denny Hermawan

    **

    Senin, 12 Maret 2007, Dukuh-Atas Hari itu, sama seperti hari-hari biasanya. Kepulangan ku menuju rumah di bilangan bintaro, tangerang, terpaksa tertunda. Hal ini disebabkan oleh terlambatnya kereta api ekspres jurusan serpong, hingga aku pun bergumam, “Ah.dasar Indonesia. Mana ada sih transportasi yang on-time.”

    18. 45 WIB Tiga puluh delapan menit berlalu sudah dari yang seharusnya kereta api itu telah sampai di tempatku berdiri saat ini. Pemandangan stasiun kali itu terllihat lebih lengang, tidak ‘sesumpek’ biasanya. Ada kemungkinan sebagian besar penumpang telah terangkut di pemberangkatan sebelumnya, pukul 18. 05. “Yah..gak apa-lah. Telat-telat juga, yang penting aku berpeluang mendapat duduk di kereta ekspres pemberangkatan terakhir itu… “, dan aku pun menunggu kembali.

    18. 48 WIB “Duhh… Lapar”, tiba-tiba saja desakan organ-organ lambungku yang sudah setengah hari ini belum mendapat suplai makanan, memaksa mataku untuk memandang ke sekeliling stasiun, mencari tempat-tempat yang menyediakan penganan ringan, “Hmm.uangku terbatas nih. Beli apa ya?” Kebingunganku di dalam memilih makanan saat itu sebenarnya didasari oleh konsep hidupku. Akhir-akhir ini aku sedang berusaha untuk disiplin di dalam berbagai hal, termasuk masalah pengeluaran uang. Budget-ku pada hari itu tinggal-lah ongkos untuk pulang ‘plus’ seribu-dua ribu yang dapat aku gunakan untuk jajan cemilan (walau aku juga membawa uang lebih untuk keperluanyanglain, tapi aku berusaha untuk tidak menggunakannya). Karenanya, aku mencoba mencari makanan dengan harga yang sesuai.

    “Eh ada keripik pedas tuh!”, sebuah cemilan cekung berwarna merah yang terpampang di sudut kiri atas etalase sebuah warung kecil, telah mencuri hatiku untuk mendekatinya. Aku yakin bahwa harganya pastilah tidak terlampau mahal, karena dari ukuran bungkusannya pun juga kecil. Dan benar saja, dengan berbekal uang Rp 1500; sekantong kecil keripik pedas ‘plus’ segelas air mineral telah berpindah ke tanganku. Maka tak lama kemudian, sekeping-dua keping keripik pedas dan beberapa seruputan air mineral perlahan mulai masuk ke dalam mulutku, berayun dan berhimpitan didalamnya disebabkan oleh gencarnya gigi dan lidah-ku mencengkramnya. “Ahh.alhamdulillah.nikmatnya ”

    18. 50 WIB “Kepada para penumpang kereta api ekspres jurusan serpong, di informasikan bahwa kereta api masih terhambat di stasiun manggarai. Kereta sedang dalam perbaikan AC. Kami mohon maaf atas keterlambatan ini dan kepada para penumpang diharap untuk bersabar.” Sebuah pengumuman keras melalui speaker stasiun mengusik keasyikan prosesi ‘ngemil’ yang sedang kujalani. Ya, sekali lagi aku harus sabar menunggu. Karena untuk berpindah ke jenis kendaraan lain aku harus menggunakan jalur bis Blok M – Bintaro yang justru akan memakan waktu lebih lama lagi, sekitar 2x waktu perjalanan menggunakan kereta api.

    Maka aku pun kembali melanjutkan aktivitas ngemilku, sambil sesekali menengok kekiri dan kekanan, sekedar melihat suasana sekeliling. “Tetap sepi”, bisikku pada diri sendiri. “Hmm asyik juga untuk merenung nih, sambil….”, belum selesai ku keluarkan bisikan-bisikan kecilku, aku tertegun pada sebuah sosok yang berada tidak jauh dari posisiku. Seorang remaja tanggung dengan usia sekitar 10-12 tahun, terduduk dan tertunduk sambil memainkan kaki tanpa alasnya di atas aspal statisiun.

    Aku bukannya tidak tahu sama sekali akan kehadirannya. Sebelum terduduk di kursi panjang tempatku bersantai saat itupun, aku sudah tahu bahwa ada orang di sampingku. Namun yang aku kritisi ialah aku tidak memperhatikan dengan jelas siapa orang itu, dan lagi aku hanya asyik makan dan minum sendiri sementara disebelahku ada orang lain, yang bila kutebak, keadaanya tidak lebih baik dariku (saat itu). Ia adalah seorang penyapu kereta, ini terlihat dari tangan kirinya yang memegang sapu bertangkai rendah.

    Dengan sehelai baju tipis dan celana pendek selutut yang melekat di tubuhnya, ia terlihat kuyu dan agak lemas. Barangkali pada sore itu ia belum makan dan ini sangat mungkin sekali. Baginya, barangkali penghasilan yang didapat masih lebih baik ditabung untuk keperluan di rumahnya ketimbang membeli makanan, yang sepertinya ia masih dapat menahan rasa laparnya

    Dan akupun bermaksud mengambil kembali penganan, persis seperti apa yang kubeli sebelumnya di warung yang tidak jauh posisi dudukku saat itu, untuk diberikan kepada pemuda tanggung itu. Namun sebelum aku bertindak, sebuah keraguan datang menghampiri, “Wah.kalau aku membelikan untuknya, aku harus keluar uang lagi dong. Seribu lima ratus memang bukan uang yang terlalu besar sih. Tapi, aku kan sudah janji untuk disiplin dengan budget harian ku. Hmm.bagaimana ya?”

    Aku sempat bingung untuk melangkah, apakah memilih disiplin terhadap budgetku, atau memberi kepada tukang sapu kereta itu. Namun pada akhirnya aku tak kuasa menahan gerak tangan kananku, yang sejurus kemudian telah memegang sekantong keripik pedas dan air mineral, persis seperti apa yang kubeli beberapa saat yang lalu. “Hmm, gak apa deh deh. Toh gak setiap saat aku mendapatkan kesempatan memberi ‘sesuatu’ pada orang-orang sepertinya, walau konsekuensinya sih, aku harus mengurangi budgetku hari esok dikarenakan telah digunakan hari ini. Bismillah… ”

    Ucapan basmalah mengiringi perpindahan ‘snack’ yang kubeli untuk keduakalinya itu, menuju tadahan tangannya. Persis seperti yang kukira, ia tidak menolak dan langsung menerima pemberianku. Setelah mengucapkan terima kasih, ia memulai untuk mencoba menikmati rezeki Allah sore itu. Tangan kanan dan mulutnya sibuk berkoordinasi antara mengambil dan menyantap penganan keripik dan air mineral itu, sambil sesekali tangannya menyeka keringat yang mulai mengucur membasuhi kening dan mukanya. “Ahh, Subhanallah. Jadikan makan itu barakah baginya ya Allah… “, rasa haru dan suka menyeruak di hatiku, seiring datangnya kesejukan di jiwa tatkala melihat pemandangan yang jarang aku dapatkan itu, “Ya Allah…ia begitu menikmatinya”

    18. 52 WIB “Diberitahukan kepada para calon penumpang kereta api serpong ekspres, anda dipersilahkan menukar karcis kereta ekspres anda dengan karcis kereta ekonomi. Silahkan naik ke loket 1.” Sekali lagi, pengumuman dari moncong pengeras suara stasiun kereta api menghardik aktivitas menungguku, namun kali ini dengan sedikit kernyitan didahi, “Apa… Apa maksud pengumuman tadi? Apakah pemberangkatan di batalkan, atau ada pergantian jenis kereta? Tapi kalau harus naik kereta ekonomi, aku..aku..” Rasa penasaran yang masih berkecamuk sengaja kubiarkan sembari mencari info diloket 1 yang dimaksud. Mengenai kereta ekonomi, setahuku memang ada 1 pemberangkatan kereta ekonomi jurusan serpong, namun itupun masih harus menunggu sekitar 1 jam lagi (pemberangkatan pukul 19. 45, dan itupun belum terhitung waktu telatnya). Selain itu, perjalanan menggunakan kereta ekonomi dimalam hari memang menjadi pertimbangan khusus bagiku, lebih pada hal ‘keamanan’. Maka dari itu, aku lebih memilih menggunakan kereta ekspres walau tarifnya lebih mahal

    “Maaf pak, ini bagaimana jadinya? Kami harus berganti kereta ekonomi?” Pertanyaan inti langsung kuungkapkan kepada petugas loket 1 begitu aku tiba di sana “Oh nggak, bukan begitu. Kami mohon maaf sebelumnya karena kereta ekspres jurusan serpong, ACnya belum bisa diperbaiki. Namun begitu, kereta tersebut masih bisa dijalankan, walau tanpa fasilitas AC. Jadi bapak dan penumpang lainnya kami kenakan tarif kereta ekonomi untuk pemberangkatan kali ini” “Hah, benarkah ini?!”, keterkejutan di hatiku menggumpal begitu saja tatkala mendengar kabar yang baru saja masuk ke telingaku. Aku memiliki alasan untuk bersikap demikian. Pertama, ini adalah pertamakalinya aku bisa menaiki kereta ekspres dengan tarif ekonomi, walau tanpa AC. Dan bagiku itu tidak terlalu bermasalah, mengingat perjalanan menuju rumahku hanya memakan waktu sekitar 40-60 menit. Dan yang kedua, ini yang menjadi ketakjubanku, aku UNTUNG! kalau dihitung dari angka, perubahan tarif kereta ekspres menuju ekonomi menghasilkan selisih Rp 6.500; dan apabila dikurangi pengeluaranku untuk pemuda tukang sapu tadi (Rp 1.500;) maka aku masih mendapatkan Rp 5.000; Itu baru dari segi angka. Dari sisi waktu, aku masih lebih beruntung karena tidak harus berganti tujuan menuju blok M, yang pastinya memakan waktu lebih lama lagi.

    “Subhanallah… Allahu Akbar… “, aku kembali tertegun membayangkan semua ini, sembari berusaha mempercayai apa yang baru saja terjadi. “Ya Allah pembalasanMu Engkau realisasikan saat itu juga. Padahal, sejujurnya aku tak pernah berpikir sampai sejauh itu. Aku tak pernah mengira bahwa uang yang ku keluarkan tadi, yang kugunakan untuk makan kecil pemuda itu, yang aku tidak berharap apa-apa darinya, Engkau balas berlipat-lipat, dan terjadi saat itu juga… Tanpa pernah aku menduganya. Terima kasih ya Allah… Alhamdulillah hirabbil ‘alamiin.”

    Malam itu menjadi malam yang berkesan dan bermakna bagiku. Semoga, kesan dan makna itu juga dapat melekat & mengilhami kepada para pembaca, untuk tetap percaya kepada janji-janji yang telah Ia berikan dan istiqomah di jalanNya. Amiin…

    “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkah hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan” (QS 2: 245)

    ***

    Eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 2 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Jujur

    **

    Siang ini tadi yayangku tiba-tiba nelpon.

    “Makan siang yuk”, ajaknya. “Oke”, jawabku.

    So she picked me up at the lobby of Jakarta Stock Exchange building. Selepas SCBD, kami masih belum ada ide mau makan dimana. Ide ke soto pak Sadi segera terpatahkan begitu melihat bahwa yang parkir sudah sampai sebrang-sebrang.

    Akhirnya kami memutuskan makan gado-gado di Kertanegara. Bisa makan di mobil soalnya. Sampai di sana masih sepi. Baru ada beberapa mobil. Kami masih bisa milih parkir yang enak. Mungkin karena masih pada jumatan. Begitu parkir, seperti biasa, joki gado-gado sudah menanyakan mau makan apa, minum apa. Kami pesan dua porsi gado-gado + tehbotol.

    Sambil menunggu pesanan, kami pun ngobrol. So, ketika tiba2 ada seorang pemuda lusuh nongol di jendela mobil kami, kami agak kaget.

    “Semir om?”, tanyanya.

    Aku lirik sepatuku. Ugh, kapan ya terakhir aku nyemir sepatuku sendiri? Aku sendiri lupa. Saking lamanya. Maklum, aku kan karyawan sok sibuk… Tanpa sadar tanganku membuka sepatu dan memberikannya pada dia. Dia menerimanya lalu membawanya ke emperan sebuah rumah. Tempat yang terlihat dari tempat kami parkir. Tempat yang cukup teduh. Mungkin supaya nyemirnya nyaman.

    Pesanan kami pun datang. Kami makan sambil ngobrol. Sambil memperhatikan pemuda tadi nyemir sepatuku. Pembicaraan pun bergeser ke pemuda itu.

    Umur sekitar 20-an. Terlalu tua untuk jadi penyemir sepatu. Biasanya pemuda umur segitu kalo tidak jadi tukang parkir or jadi kernet, ya jadi pak ogah.

    Pandangan matanya kosong. Absent minded. Seperti orang sedih. Seperti ada yang dipikirkan. Tangannya seperti menyemir secara otomatis. Kadang2 matanya melayang ke arah mobil-mobil yang hendak parkir, (sudah mulai ramai). Lalu pandangannya kembali kosong.

    Perbincangan kami mulai ngelantur kemana-mana. Tentang kira2 umur dia berapa, pagi tadi dia mandi apa enggak, kenapa dia jadi penyemir dll. Kami masih makan saat dia selesai menyemir. Dia menyerahkan sepatunya padaku. Belum lagi dia kubayar, dia bergerak menjauh, menuju mobil-mobil yang parkir sesudah kami.

    Mata kami lekat padanya. Kami melihatnya mendekati sebuah mobil. Menawarkan jasa. Ditolak. Nyengir. Kelihatannya dia memendam kesedihan. Pergi ke mobil satunya. Ditolak lagi. Melangkah lagi dengan gontai ke mobil lainnya. Menawarkan lagi. Ditolak lagi. Dan setiap kali dia ditolak, sepertinya kami juga merasakan penolakan itu. Sepertinya sekarang kami jadi ikut menyelami apa yang dia rasakan.

    Tiba-tiba kami tersadar. Konyol ah. Who said life would be fair anyway. Kenapa jadi kita yang mengharapkan bahwa semua orang harus menyemir ? hihihi… Perbincangan pun bergeser ke topik lain.

    Di kejauhan aku masih bisa melihat pemuda tadi, masih menenteng kotak semirnya di satu tangan, mendapatkan penolakan dari satu mobil ke mobil lainnya. Bahkan, selain penolakan, di beberapa mobil, dia juga mendapat pandangan curiga. Akhirnya dia kembali ke bawah pohon. Duduk di atas kotak semirnya. Tertunduk lesu…

    Kami pun selesai makan. Ah, iya. Penyemir tadi belum aku bayar. Kulambai dia. Kutarik 2 buah lembaran ribuan dari kantong kemejaku. Uang sisa parkir. Lalu kuberikan kepadanya. Soalnya setahuku jasa nyemir biasanya 2 ribu rp.

    Dia berkata kalem “Kebanyakan om. Seribu aja”.

    BOOM. Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatiku. It-just-does-not-compute-with-my-logic! Bayangkan, orang seperti dia masih berani menolak uang yang bukan hak-nya.

    Aku masih terbengong-bengong waktu nerima uang seribu rp yang dia kembalikan. Se-ri-bu Ru-pi-ah. Bisa buat apa sih sekarang? But, dia merasa cukup dibayar segitu.

    Pikiranku tiba-tiba melayang. Tiba-tiba aku merasa ngeri. Betapa aku masih sedemikian kerdil. Betapa aku masih suka merasa kurang dengan gajiku. Padahal keadaanku sudah -jauh- lebih baik dari dia.

    Allah sudah sedemikian baik bagiku, tapi perilaku-ku belum seberapa dibandingkan dengan pemuda itu, yang dalam kekurangannya, masih mau memberi, ke aku, yang sudah berkelebihan.

    Siang ini aku merasa mendapat pelajaran berharga. Siang ini aku seperti diingatkan. Bahwa kejujuran itu langka.

    Sudahkah kita berani jujur? Kepada diri sendiri, kepada orang lain, dan kepada Allah?

    ***

    Dari Sahabat

     
    • nurvhie 3:23 pm on 2 Maret 2011 Permalink

      true story yang begitu menggugah nurani.
      thx atas sharingnya

  • erva kurniawan 1:21 am on 22 February 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    20 Menit Penuh Senyum

    Oleh: Hafizh Kharisma

    “Selamat siang Bu… selamat siang Pak…” suara satpam itu ramah menyapa setiap orang yang masuk ke dalam sebuah bank pemerintah. Selain membukakan pintu bagi yang akan masuk dan keluar ruangan, dia juga seringkali mengantar mereka dengan pertanyaan “ada yang bisa saya bantu?” dan kemudian dengan sigap tangannya mengarahkan pada kertas yang berjejer rapi. “Lembar ini kalau buat transfer..”

    Siang ini saya hanya duduk diam saja di kursi tunggu bank itu karena memang tujuan datang kemari hanya untuk mengantar seorang teman yang hendak melakukan transaksi penyimpanan. Mata ini tertarik memperhatikan gerak dan sikap satpam yang tidak berhenti menarik dan menutup pintu, menyapa dan mengantarkan.. terus saja begitu tanpa berhenti melepas senyum. Pikiran saya mulai berjalan, pastilah dia capek sekali. Paling tidak sudah 15 menit saya duduk di sini (teman saya perlu waktu untuk menulis formulir dan memasuki antrian yang cukup panjang), sementara satpam itu terus berdiri entah sudah berapa lama, dari pagi mungkin dan itu juga tanpa duduk.

    Apa yang terlintas di benak saya dulu saat mendengar kata ‘satpam’ adalah gambaran orang kekar, garang, sigap, kaku, dan begitulah.. namanya juga satpam, ya sudah seharusnya di takuti, di segani. Tapi ini berbeda, satpam kini membawa citra perusahaan juga karena dia berada di garis depan, orang pertama yang ditemui oleh tamu..

    Dan satpam yang saya perhatikan ini tidak sekedar berbadan kekar dan sigap namun ia juga ramah, sopan dan senyumnya itu yang tidak pernah lupa ia lepaskan pada setiap tamunya pun ketika ia ditegur oleh seorang customer service karena mengizinkan seorang tamu duduk didepannya disaat customer service itu sedang menerima telepon (kursi tamu didepannya memang kosong).

    MasyaAllah, saya perhatikan satpam itu mengangguk sambil agak membungkukkan badannya, dan masih dengan senyumnya kudengar ia meminta maaf. Agak gemas saya lihat itu semua, terutama karena polah sang customer service yang bicara kurang ramah pada satpam, menegurnya langsung di depan sang tamu terlebih karena ia menegur dengan wajah yang jauh dari senyum.

    Bila saya uraikan dalam artian kalimat sepengetahuan saya, satpam = satuan pengamanan dan customer service (CS) = pelayanan pelanggan artinya tugas satpam itu adalah menjaga keamanan. Dan tugas CS itu ya melayani pelanggan, dalam hal bank sudah jelas pelanggan utamanya itu ya nasabah. Saya jadi agak bingung sesaat, apa mungkin satpam di bank pemerintah itu dikirim untuk mengikuti pendidikan yang biasa diikuti oleh CS sehingga ia bisa menjadi frontliner yang lebih baik dari CS itu sendiri? Atau mungkin gaji yang diterima satpam itu jauh lebih besar dari CS karena tugasnya kan jadi merangkap, tidak sekedar menjaga keamanan tapi juga melayani nasabah secara langsung? Dan pastinya ada tunjangan berdiri?

    Duh, saya jadi geli juga dengan pikiran-pikiran yang berseliweran di benak kepala saya. Jam di dinding bank menunjukkan pukul 11 lewat 50 menit, artinya sudah 20 menit saya duduk di sini menanti teman saya yang kini sedang dilayani oleh teller. Dan selama itu saya hanya memperhatikan polah satpam itu, mengagumi kesabarannya, dan mensyukuri senyum tulus yang bisa dia tebarkan pada orang-orang disekelilingnya terlepas bahwa senyum itu mungkin sudah bagian dari tugasnya namun bisa kurasakan bahwa kadang kelelahan dan kebosanan bisa saja membuat seseorang jadi sulit tersenyum atau kalau pun tersenyum agak tidak enak dipandang mata namun tidak dengan senyum satpam ini.

    “Ayo balik ke kantor” kudengar suara temanku dari arah belakang telingaku. Aku berdiri dan melangkah bersamanya menuju pintu keluar. Satpam itu dengan sigap membuka pintu mempersilakan kami berjalan keluar. “Terima kasih, selamat siang, hati-hati dijalan…”

    Kami mengangguk dan mengucapkan terima kasih juga padanya. Di atas motor aku masih sempat berpikir, jika seorang satpam saja bisa begitu ramah, sopan dan penuh senyum mengapa kita tidak? Dan bukankah senyum itu sedekah? Kita bisa sedekah dengan sangat mudah, tanpa biaya, bisa kapan saja dan di mana saja..

    Allah SWT telah begitu baiknya memberi kita peluang dan kemudahan dalam mendapatkan pahala jadi kenapa kita sebagai mahlukNya terkadang malah mempersulitnya? Entahlah…

    Semoga kita masih bisa melukis senyum tulus di wajah kita

    ***

    eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 19 February 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Maafkan Aku, Ayah dan Ibu

    Oleh Rudi Setiawan

    **

    Ayah, Ibu, maafkan Aku, ini sudah kodrat Ku. Aku lahir kedunia belum cukup pada waktunya Delapan bulan 2 hari, tepat pada tanggal 3 Oktober 2006, jam 11, 45 dengan bantuan operasi di RS Permata Ibu.

    Bahagia sekali rasaya, ketika pisau bedah menyentuh kulit plasenta yang membungkusku. Bahagia sekali rasaya aku akan berkumpul dengan keluargaku. Tapi takdir berbicara lain Allah punya rencana lain nafasku, !!! Kondisi nafasku tidak seperti yang lain. Aku harus hidup, aku harus hidup, aku ingin berkumpul dengan keluargaku.

    Tidak lama kemudian aku mendengar suara azan di telingaku. Aku berfikir inikah Orang tuaku, inikah ayahku yang bahagia melihatku dan mengumandanka azan di telingaku. Tapi apa daya RS di mana tempatku dirawat tidak mempunyai alat yang akan menolongku.Aku dipindah kan RS Sentra Medika untuk mendapat bantuan agar nafasku bisa sempurna.

    Satu hari, dua hari keadaanku sedikit membaik, aku bisa menagis, aku bisa merasakan sentuhan tangan ayahku ketika dia tahu aku sudah bisa menangis. Aku juga mendengar dia berkata, anakku, kamu harus kuat, kamu harus hidup. Ini ayah. Dan terlihat jelas air mata kebahagiaan mengucur dari matanya.

    Tapi, dengan alasan terlalu jauh aku dipindahkan lagi ke RS Fatmawati pada tanggal 5 Oktober 2006 oleh ayahku. Aku dipindahkan dengan ambulan. Di dalam hatiku. Aku bertanya. Ayah mau dibawa ke mana aku, Ayah apa aku ingin bertemu Ibu. Setelah sampai aku sadar bahwa aku masih belum sempurna, bahwa aku masih harus berjuang untuk menyempurnakan diriku. Satu hari aku di sini, terasa badanku lemas sekali. Aku susah sekali bernafas. Ayah, aku harus hidup.

    Hari kedua aku di sini, diruang kecil yang penuh dengan selang kondisi tubuhku semakin menurun. Orang yang ada disekelilingku, dengan kemampuanya sebagai seorang perawat dan Dokter berusaha untuk menolongku. Banyak sudah benda-benda yang masuk ke tubuhku.

    Di saat tidak ada kepastian yang terjadi pada diriku aku mendengar langkah lemas menghampiriku jauh bukan di dekatku. Dia melihatku, dia memandangku, dari kejauhan. Tapi aku dapat mendengar, dia menangis, dan dia berkata, nak ini ibu, ingin sekali ibu memeluk dan menciumu. Ingin sekali ibu memberimu susu. Tapi ibu tidak bisa, ibu hanya berharap kamu harus kuat, ibu hanya berharap kamu harus hidup.

    Ibu, …ibu… aku berteriak, tapi dia tidak mendengar, semua orang tidak bisa mendengar teriakanku… aku pandangi dia, dia terus saja menangis. Oh Ibu, . Andai aku bisa menghampirimu aku ingin memelukmu, aku ingin dekapanmu. Aku mau kau tersenyum untuku.

    Hari ketiga keadaanku semakin parah. Dokter memutuskan untuk memasukan selang ventilator dan kemudian darah mengalir dari dalam selang kecil masuk ke tubuhku. Tubuhku semakin bengkak dan aku semakin tidak bisa bergerak. Hingga hari keempat keadaanku semakin parah dari mulutku keluar carian berwarna merah…

    Hari kelima. Dokter yang menanganiku sudah mulai putus asa. Kemudian jam 11.30 ibu menelphon ayah. Karena dokter ingin bicara. Entah apa yang dibicarakan aku melihat ayah begitu gelisah, begitu gunda bahkan sedih sekali. Sore hari menjelang maghrib ayahku pergi untuk mengambil darah untukku lagi. Jam 11.30 malam dia sampai dan menyerahknnya ke Perawat. Ayah, Ibu, aku sudah tidak kuat, aku sudah tidak bisa lagi bernafas.

    Sesosok telah menghampiriku. Dia mengajaku, dia ingin mengajakku jauh dari sini. Jauh dari penderitaan dan kesedihan. Lembut tangannya menariku dari box kecil yang memenjarakanku. Dia membisikan kata-kata kepadaku, “Wahai Irsyad, kKamu telah dipanggil Allah. Allah memanggilmu untuk pulang. Mari pegang tanganku dan ikutlah bersamaku menghadap sang kuasa, sang pencipta. Zat yang menciptakanmu.”

    “Ayah dan Ibumu hanyalah tempat di mana kamu akan dititipkan kalau memang kamu diizinkan untuk hidup. Tapi Allah lebih cinta kamu sehingga Dia memanggilmu untuk pulang.”

    Jam 2.30 pagi aku menghembuskan nafas terakhirku. Aku pulang ke tempat di mana aku diciptakan. Ayah, Ibu, maafkan Irsyad. Aku tidak bisa bersama kalian. Aku cinta kalian. Tapi Allah lebih sayang padaku. Dia tidak mau aku menderita, dia tidak mau kalian menderita karenaku.

    Ayah, Ibu, walaupun aku tidak bersamamu tapi cinta dan sayangku selalu mengiringi kepergianku. Aku memang hanya hidup satu minggu, tapi aku yakin bahwa kalian berdua sangat mencintaiku. Ayah Ibu doaku selalu untukmu. Selamat tinggal Ayah, ibu dan kedua Kakakku. Aku mohon maaf, karena aku tidak bisa bersama kalian semua. Semoga Allah memberikan ketabahan yang kuat untuk kalian semua. Kalian harus meneruskan hidup sampai Allah akan memanggil kalian sehingga nanti kita bisa bersatu disatu tempat yang akan telah diberikanNya.

    Selamat tinggal keluargaku tercinta walaupun aku tidak bisa bersamamu. Doa dan cintaku selalu bersamamu…

    Terima kasih ibu, atas perjuanganmu mengandungku selama 8 bulan 2 hari. Cintaku selalu menyertaimu selamanya. Ayah, cinta dan ketulusanmu padaku tidak bisa aku balas dengan jiwaku. Aku cinta padamu ayah. Dan aku akan selalu mendoakanmu.

    Kakak-kakakku, kelak nanti kita pasti akan bertemu dan berkumpul. Jaga Ibu dan Ayah. Jadilah anak yang baik dansoleh, yang bisa melindungi keluarga dan kedua orang tua kita. Semoga Allah menyatukan kita di satu saat nanti, di tempat yang paling mulia di sisi-Nya.

    Wassalam

    Dari Ayah untuk anaku yang selalu dikenang Irsyad Ramadhan Lahir:3 oktober 06 Wafat:10 Oktober 06

    ***

    Source : http://www.eramuslim.com/atc/oim/45dbca4f.htm

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 17 February 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Semoga Allah Mempertemukan Kita di Syurga

    “Barangsiapa yang mengharapkan mati syahid dengan sepenuh hati, maka Allah akan memberikan mati syahid kepadanya, meski ia mati di tempat tidur.”

    Dunia, hanya satu terminal dari seluruh fase kehidupan. Hanya Allah yang tahu, rentang usia seorang manusia. Saya, khadijah, sebut saja demikian, menikah dengan Muhammad, 3 Oktober 1993. Muhammad, adalah kakak kelas saya di IPB. Pernikahan saya, melalui tahap yang biasa dilakukan oleh ikhwan dan akhwat. Saya tak pernah mengenal Muhammad sebelumnya. Dan, seperti layaknya pasangan baru, fase ta’aruf, konflik, dan kematangan pun saya alami.

    Meski baru saling kenal, saya rasakan suami saya sangat sayang pada saya. Seolah, tidak seimbang dengan apa yang saya berikan. Dia banyak membantu. Apalagi ketika saya menyelesaikan tugas akhir kuliah. Bisa dikatakan, ia sekretaris pribadi saya.

    Selama menikah, suami sering mengingatkan saya tentang kematian, tentang syurga, tentang syahid, dan sebagainya. Setiap kami bicara tentang sesuatu, ujung-ujungnya bicara tentang kematian dan indahnya syurga itu bagaimana. Kalau kita bicara soal nikmatnya materi, suami mengaitkannya dengan kenikmatan syurga yang lebih indah. Bahkan, berulang-ulang dia mengatakan, nanti kita ketemu lagi di syurga. Kalau saya ingat kata-kata itu, itu bukan kata-kata kosong. Bahkan itu mempunyai makna yang dalam bagi saya.

    Hari itu, 16 Januari 1996, kami ke rumah orang tua di Jakarta. Seolah suami saya mengembalikan saya kepada orang tua saya. Malam itu juga suami saya mengatakan harus kembali ke Bogor, karena harus mengisi diklat besok paginya. Menurutnya, kalau berangkat pagi dari Jakarta khawatir terlambat.

    Mendekati jam 12 malam, saya bangun dari tidur, perut saya sakit, keringat dingin mengucur, rasanya ingin muntah. Saya bilang pada ibu saya, untuk diobati. Saya kira maag saya kambuh. Saya sempat berpikir suami saya di sana sudah istirahat, sudah tenang, sudah sampai, karena berangkat sejak maghrib. Saya juga sempat berharap kalau ada suami saya, mungkin saya dipijitin atau bagaimana, Tapi rupanya pada saat itulah terjadi peristiwa tragis menimpa suami saya.

    Jam tiga malam, saya terbangun. Kemudian saya shalat. Entah kenapa, meskipun badan kurang sehat, saya ingin ngaji. Lama sekali saya menghabiskan lembar demi lembar mushaf kecil saya. Waktu subuh rasanya lama sekali. Badan saya sangat lelah dan akhirnya tertidur hingga subuh.

    Pagi harinya, saya mendapat berita, dari seorang akhwat di Jakarta, bahwa suami saya dalam kondisi kritis, Karena angkutan yang ditumpanginya hancur ditabrak truk Tronton di jalan raya Parung. Sebenarnya, waktu itu suami saya sudah meninggal. Mungkin sengaja beritanya dibuat begitu biar saya tidak kaget. Namun tak lama kemudian, ada seorang ikhwah Jakarta yang memberitahukan bahwa beliau sudah meninggal. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”.

    Entah kenapa, mendengar berita itu hati saya tetap tegar. Saya sendiri tak menyangka bisa setegar itu. Saya berusaha membangun keyakinan bahwa suami saya mati syahid. Saya bisa menasehati keluarga dan langsung ke Bogor. Di sana, suami saya sudah dikafani. Sambil menangis, saya menasehati ibu, bahwa dia bukan milik kita. Kita semua bukan milik kita sendiri, tapi milik ALLAH.

    Alhamdulillah Allah memberi kekuatan, Kepada orang-orang yang berta’ziah waktu itu, saya mengatakan, “Do’a kan dia supaya syahid ….. do’akan dia supaya syahid.” Sekali lagi, ketabahan saya saat itu semata datang dari Allah. Kalau tidak, mungkin saya sudah pingsan.

    Menjelang kematiannya yang amat mendadak, saya tidak merasakan firasat atau tanda-tanda khusus. Hanya, seminggu sebelum suami meninggal, anak saya sering menangis, meski dia tidak apa-apa. Mungkin, karena merasa akan ditinggal oleh bapaknya. Entahlah.

    Seperti tuntunan Islam, segala hutang orang yang meninggal harus ditunaikan. Meski tidak ada catatannya, tapi tanpa disadari, saya ingat sekali hutang-hutang suami. Saya memang sering bercanda sama suami, “Mas kalau ada hutang, catat. Nanti kalau mas meninggal duluan saya tahu saya harus bayar berapa.” Canda itu memang sering muncul ketika kami bicara masalah kematian. Sampai saya pernah bilang pada suami saya, “Kalau mas meninggal duluan, saya yang mandiin. Kalau mas meninggal duluan, saya kembali lagi ke ummi, jadi anaknya lagi.” Semua itu akhirnya menjadi kenyataan.

    Beberapa hari setelah musibah itu, saya harus kembali ke rumah kontrakan di Bogor untuk mengurus surat-surat. Saat saya buka pintunya, tercium bau harum sekali. Hampir seluruh ruangan rumah itu wangi, Saya sempat periksa barangkali sumber wangi itu ada pada buah-buahan, atau yang lainnya. Tapi, tidak ada. Ruangan yang tercium paling wangi, tempat tidur suami dan tempat yang biasa ia gunakan bekerja.

    Beberapa waktu kemudian, dalam tidur, saya mimpi bersalaman dengan dia. Saya cium tangannya, Saat itu dia mendo’akan saya: “Zawadakillahu taqwa waghafara dzanbaki, wa yassara laki haitsu ma kunti”. (Semoga Allah menambah ketaqwaan padamu, mengampuni dosamu, dan mempermudah segala urusanmu di mana saja). Sambil menangis, saya balas do’a itu dengan do’a serupa.

    Semasa suami masih hidup, do’a itu memang biasa kami ucapkan ketika kami berpisah. Saya biasa mencium tangan suami bila ia ingin keluar rumah. Ketika kami saling mengingat, kami juga saling mendo’akan.

    Banyak do’a-do’a yang diajarkan suami saya. Ketika saya sakit, suami saya menulis do’a di white board. Sampai sekarang saya selalu baca do’a itu. Anak saya juga hafal. Saya banyak belajar darinya. Dia guru saya yang paling baik. Dia juga bisa menjelaskan bagaimana indahnya syurga. Bagaimana indahnya syahid.

    Ketika suami meninggal, saya sedang hamil satu bulan, anak yang kedua. Namanya sudah dipersiapkan oleh suami saya, Ahmad Qassam Amrul Haq, kalau lahir laki-laki. Katanya Qassam itu diambil dari nama Izzuddin Al Qassam. Izzuddinnya sudah sering dipakai, dia ingin mengunakan nama Qassam-nya. Lalu, Amrul Haq itu memang nama yang paling dia sukai. Kalau dia menulis di beberapa media, nama samarannya Abu Amrul Haq.

    Banyak kesan baik dan kenangan indah yang saya alami bersama suami. Menjelang kematiannya, saya pernah berta’ziyah ke rumah salah seorang teman yang meninggal. Sepulang suami saya dari kerja, saya pernah tanya pada suami, “Mas, kepikiran ngga’ tentang mati ?” Kami tidak saling menatap. Suami saya hanya bilang, “Memang ya, tidak ada yang tahu kapan kematian itu akan datang, persiapkan saja diri kita.”

    Waktu saya wisuda, 13 Januari 1996, saya sempat bertanya pada suami, “Mas nanti saya kerja di mana ?” Suami diam saja sejenak. Akhirnya suami saya mengatakan, supaya wanita itu memelihara jati diri. Saya bertanya, “Maksudnya apa ?” “Beribadah, bekerja membantu suaminya, dan bermasyarakat. ” Saya berpikir bahwa saya harus mengurus rumah tangga dengan baik. Tidak usah memikirkan pekerjaan.

    Alhamdulillah, setelah suami saya meninggal, Masya Allah, saya menerima rejeki banyak sekali, lebih dari tiga belas juta. Saya tidak mengira, sampai bingung, diapakan uang sebanyak ini.

    Sekarang, setiap bulan saya hidup dari pensiun pegawai negeri suami. Meskipun sedikit, tapi saya merasa cukup. Dan rejeki dari Allah tetap saja mengalir. Allah memang memberikan rejeki kepada siapa saja yang dan tidak tergantung kepada siapa saja. Katakanlah, meski suami saya tidak ada, tapi rejeki Allah itu tidak akan pernah habis.

    Insya Allah saya optimis dengan anak-anak saya. Saya ingat sabda Nabi, “Aku dan pengasuh anak yatim seperti ini,” sambil mengangkat dua jari tangannya. Saya bukan pengasuh anak yatim, tapi ibunya anak yatim. Meski masih kecil-kecil, saya sudah merasakan kedewasaan mereka lebih cepat mengerti tentang kematian, tentang neraka, tentang syurga, bahkan tentang syahid.

    Rejeki yang saya terima, tak mustahil lantaran keberkahan mereka.

    ***

    Dzikroyat, Tarbawi, Edisi 1 Th. 1 31 Mei 1999M / 15 Shafar 1420 H

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 15 February 2011 Permalink | Balas  

    Keikhlasan Hati Orang Kecil

    Hari Senin pagi 5 Februari 2007, perjalanan dari Lebak Bulus ke kawasan Blok M relatif lebih lancar daripada biasanya. Mungkin karena sebagian orang masih mendapat kesulitan untuk keluar rumah menuju kantor, akibat banjir besar yang melanda Jakarta sejak hari Kamis yang lalu.

    Biasanya, saya berangkat dari rumah ke kantor melalui jalan Tebah, di belakang Pasar Mayestik lalu masuk ke jl Bumi dan Jalan Kerinci lalu keluar di Jalan Pakubuwono VI. Namun pagi ini, saya sengaja melintasi jalan Pati Unus untuk berbelok ke arah Jl. Paukubuwono VI karena ingin membeli pisang terlebih dahulu.

    Di depan rumah makan Warung Daun ada penjaja pisang barangan. Di situlah saya biasa membeli pisang setiap minggu. Perempuan penjajanya sudah tahu bahwa saya akan membeli 3 sisir pisang. Satu sisir matang dan 2 sisir lainnya mengkal atau terkadang masih kehijauan. begitu juga rencananya pagi ini. Saat saya menghentikan mobil, dengan sigap dia memilih-milih pisang dan menyodorkannya kepada saya. Saya mengeluarkan uang selembar 50 ribu. Itulah lembaran yang ada di dalam dompet di samping beberapa lebar ribuan di dalam kotak uang untuk pembayar ongkos parker, yang tak cukup untuk membayar 3 sisir pisang. Agak ragu perempuan itu menatap saya ;

    “Ibu … apa bisa diberikan uang pas saja?” tanyanya. Saya melihat isi dompet dan tas… ternyata sama sekali tidak ada. Maklum awal bulan begini, isi dompet sedang sekarat. Kosong setelah digunakan kewajiban rutin, dari belanja bulanan, membayar gaji pembantu sampai dengan uang sekolah anak. ”Aduh maaf … nggak ada uang pas…!” ”Saya tukar di warung dulu ya bu…” pintanya, meminta kesediaan saya menunggu. Saya melirik di sekitar jalan raya tersebut. Tidak ada warung sama sekali. Tentu saya harus menunggunya agak lama, sampai dia kembali dengan uang tukarannya. Dan saya merasa enggan menunggunya. Apalagi jalan Pakubuwono VI di pagi hari cukup ramai. ”Kalau nggak ada kembalinya, saya ambil dua sisir saja ya … saya punya uang kecil untuk itu…”, usul saya menutupi keengganan menunggunya mencari tukaran uang. Cepat saya hitung uang receh di mobil yang terdiri dari uang kertas dan koin. Semuanya berjumlah enam belas ribu. Masih kurang dua ribu. ”Nah… lihat deh, uang saya nggak cukup. Saya ambil dua sisir saja ya…” ”Jangan bu …. , ambil saja semuanya. Ibu kan besok lewat lagi, jadi besok saja bayar kekurangannya!” begitu katanya, seraya mengembalikan lembar uang 50 ribu kepada saya. ”Aduh … saya belum tentu lewat sini lagi lho besok. Jadi biar saya ambil 2 sisir saja. Saya bisa mampir kapan-kapan kesini.” ”Nggak apa-apa bu … kapan ibu lewat saja, bayarnya……”, sahutnya. Saya mengambil lembaran uang tersebut dan segera berlalu darinya. Di belakang sudah banyak mobil menunggu.

    Tiba di kantor, sambil menunggu komputer menyala baru saya sadari, betapa lugu dan naifnya penjaja pisang itu. Dia rela mengambil resiko ”kehilangan” keuntungan sebesar dua ribu rupiah. Bayangkan seandainya saya tidak lagi lewat tempatnya berjualan. Dua ribu memang kecil nilainya dibandingkan dengan pengembalian uang sebesar 32 ribu yang harus diberikannya kepada saya. Tetapi saya yakin, uang dua ribu itu begitu besar artinya bagi seorang penjaja pisang di pinggir jalan. Toh dia rela dan ikhlas ”kehilangan” sementara uang tersebut dan begitu mempercayai saya, perempuan yang kebetulan secara rutin membeli dagangannya. Sementara saya, tidak ikhlas menunggunya menukarkan uang atau bersikap seperti yang dilakukannya Apalah susahnya mengatakan …. ”Ambil saja dulu uang itu. Besok saya lewat lagi dan kembalikan saja uang saya, besok” Ternyata saya sama sekali tidak memiliki keikhlasan dan kepercayaan kepadanya seperti apa yang diperlihatkannya kepada saya. Malu rasanya menyadari hal itu. Padahal dulu, sebelum pindah ke Lebak Bulus, saya selalu mempercayai penjaja sayur yang biasa datang ke rumah atau pembantu rumah. Setiap hari, saya selalu meletakkan uang di kotak yang tersimpan di atas lemari es, untuk belanja sehari-hari, yaitu sayuran dan bumbu dapur serta ongkos transport Muslimin ke sekolah. Tanpa sekalipun meminta rincian pengeluaran. Saya mempercayai mereka sepenuhnya. Kalau pembantu mengadu bahwa Muslimin mengambil uang lebih dari jatahnya, saya dengan enteng berkata : ”Biar saja… uang itu tidak akan membuat Muslimin menjadi kaya raya mendadak atau saya menjadi jatuh miskin. Yang pasti, orang yang mengambilnya tidak akan mendapat berkah Allah SWT”

    Sekarang, saat tinggal di Lebak Bulus, saya menitipkan uang belanja sayuran kepada ibu saya. Entah bagaimana beliau mengurusnya. Saya tidak lagi menaruh uang di atas kulkas untuk belanja. Mungkinkah karena hal kecil itu saya menjadi kehilangan sensitifitas untuk mempercayai orang kecil? Astaghfirullah … betapa picik dan sombongnya saya…. Ampun Tuhan….. Sungguh saya menyesal hari ini… saya sudah terjerat pada fenomena low trust society …. tidak memberikan kepercayaan kepada lingkungan sekitar. Selalu memandang curiga kepada orang lain.

    Besok saya harus lewat dan membayar kekurangan uang itu. Dua ribu yang relatif tidak bernilai buat saya, tapi betul-betul sudah membuat martabat saya ”terjerembab” ke dasar jurang… Sungguh saya malu… selama ini saya selalu berpegang teguh untuk selalu menjaga martabat diri. Selalu berusaha untuk tidak berlaku dzalim atau mencurangi orang lain. Ternyata apa yang saya lakukan masih sebatas artificial yang dengan sangat mudah dipatahkan oleh perempuan sederhana itu….

    Kalaupun esok[1] saya ikhlas memberikan uang lebih besar daripada uang yang harus saya kembalikan, tetapi saya merasa yakin bahwa keikhlasan itu tidak lagi bernilai dimata Allah SWT. Saya sudah kehilangan momentum yang baik untuk meraih ”nilai positif” di mata Allah SWT. Pada hari ini, saya sudah menampik kesempatan untuk meraih pahala dan berkah Allah. Sungguh, kesempatan itu selalu datang dalam bentuk dan pada waktu yang sama sekali tak terduga.

    Ampuni saya ya Allah…. Jadikan hal tersebut yang pertama dan terakhir. Sungguh, berikan saya kesempatan untuk selalu menjadi golongan orang-orang yang senantiasa rendah hati dan ikhlas serta dijauhkan dari kesombongan. Amien….!

    ***

    Dari Sahabat

    Lebak bulus 5 februari 2007 jam 22.30

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 13 February 2011 Permalink | Balas  

    Hiduplah Saat Ini

    Oleh : AndrieWongso

    Pada suatu pagi buta, seorang pemuda mendatangi rumah gurunya yang dikenal bijak di desa itu. Dia mengetuk pintu rumah dengan keras, sambil suaranya terdengar memanggil-manggil gurunya. Si guru sambil mengusap matanya dan menahan kuap membuka pintu sambil berkata, “Ada apa anakku? Pagi-pagi begini mengganggu nyenyak tidurku. Ada sesuatu yang penting?” Pemuda menjawab, “Ampun guru, maafkan saya terpaksa mengganggu tidur guru. Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan.” Si guru kemudian mempersilahkannya masuk ke dalam rumah dan pemuda itu pun segera menceritakan kegundahannya, yakni semalam dia bermimpi dijemput malaikat dan diajak pergi meninggalkan dunia ini. Dia ingin menolak tetapi sesuatu seperti memaksanya harus pergi. Saat tarik menarik itulah dia terbangun sambil berkeringat dan tidak dapat tidur lagi. Timbul perasaan takut dan tidak berdaya membayangkan bila malaikat benar-benar datang kepadanya.

    Si pemuda kemudian bertanya kepada gurunya, “Guru, kapan kematian akan datang kepada manusia?” Gurunya menjawab, “Saya tidak tahu anakku. Kematian adalah rahasia Tuhan”.

    “Aaaakh, guru pasti tahu. Guru kan selalu menjadi tempat bertanya bagi semua orang di daerah sini,” desak si murid. “Baiklah. Sebenarnya rata-rata manusia meninggal pada usia 70 sampai 75 tahun. Tetapi sebagian ada yang tidak mencapai atau lebih dari perkiraan tersebut.” Merasa tidak puas dia kembali bertanya, “Jadi, umur berapakah manusia pantas untuk mati?” Sambil pandangannya menerawang keluar jendela, sang guru menjawab,

    “Sesungguhnya, begitu manusia dilahirkan, proses penuaan langsung terjadi. Sejak saat itu, manusia semakin tua dan kapan pun bisa mengalami kematian”. Si murid bertanya terus, “Lalu, bagaimana sebaiknya saya menjalani hidup ini?”

    ”Hidup sesungguhnya adalah saat ini, bukan besok atau kemarin. Hargai hidup yang singkat ini, jangan sia siakan waktu. Bekerjalah secara jujur dan bertanggung jawab, usahakan berbuat baik pada setiap kesempatan. Jangan takut mati, nikmati kehidupanmu! Mengerti?” Dengan wajah gembira si murid berkata, “Terima kasih guru, saya mengerti. Saya akan belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh, berani menghadapi hidup ini, sekaligus menikmatinya. Saya pamit guru.”

    Hiduplah saat ini, tidak usah menyesali hari kemarin, karena hari kemarin sudah berlalu, tidak usah cemas akan hari esok, karena hari esok belum datang,

    Hanya hari ini yang menjanjikan kesuksesan , kebahagian bagi setiap orang yang mau dan mampu mengaktualisasikan dirinya dengan penuh totalitas! Sekali lagi,

    Hiduplah saat ini!!

    ***

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 11 February 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Jeruk Busuk Rasa Manis

    Oleh Bayu Gawtama

    Suatu hari, ketika saya sedang menjenguk salah satu saudara yang tengah dirawat di rumah sakit, terdengar suara makian keras dari pasien sebelah, “Bawa jeruk kok busuk, mau ngeracunin saya? Biar saya cepat mati?”

    Suara marah itu berasal dari lelaki tua yang kedatangan salah satu keluarganya dengan membawa jeruk. Boleh jadi benar, bahwa beberapa jeruk dalam jinjingan itu busuk atau masam. Meski tidak semua jeruk yang dibawanya itu busuk dan sangat kebetulan yang terambil pertama oleh si pasien yang busuk. Dan tanpa bertanya lagi, marahlah ia kepada si pembawa jeruk.

    Sebenarnya, boleh dibilang wajar jika seorang pasien marah lantaran kondisinya labil dan kesehatannya terganggu. Ketika ia marah karena jeruk yang dibawa salah satu keluarganya itu busuk, mungkin itu hanya pemicu dari segunung emosi yang terpendam selama berhari-hari di rumah sakit. Penat, bosan, jenuh, mual, pusing, panas, dan berbagai perasaan yang menderanya selama berhari-hari, belum lagi ditambah dengan bisingnya rumah sakit, perawat yang kadang tak ramah, keluarga yang mulai uring-uringan karena kepala keluarganya sekian hari tak bekerja, semuanya membuat dadanya bergemuruh. Lalu datanglah salah satu saudaranya dengan setangkai ketulusan berjinjing jeruk. Namun karena jeruk yang dibawanya itu tak bagus, marahlah ia.

    Wajar. Sekali lagi wajar. Tetapi tidak dengan peristiwa lain yang hampir mirip terjadi di acara keluarga besar belum lama ini. Seorang keluarga yang tengah diberi ujian Allah menjalani kehidupannya dalam ekonomi menengah ke bawah, berupaya untuk tetap berpartisipasi dalam acara keluarga besar tersebut. Tiba-tiba, “Kalau nggak mampu beli jeruk yang bagus, mending nggak usah beli. Jeruk asam gini siapa yang mau makan?” suara itu terdengar di tengah-tengah keluarga dan membuat malu keluarga yang baru datang itu.

    Pupuslah senyum keluarga itu, rusaklah acara kangen-kangenan keluarga oleh kalimat tersebut. Si empunya suara mungkin hanya melihat dari jeruk masam itu, tapi ia tak mampu melihat apa yang sudah dilakukan satu keluarga itu untuk bisa membawa sekantong jeruk yang boleh jadi harganya tak seberapa.

    Harga sekantong jeruk mungkin tak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Tapi tahukah seberapa besar pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk membelinya? Rumahnya sangat jauh dari rumah tempat acara keluarga, dan sedikitnya tiga kali tukar angkutan umum. Sepuluh ribu itu seharusnya bisa untuk makan satu hari satu keluarga. Boleh jadi mereka akan menggadaikan satu hari mereka tanpa lauk pauk di rumah. Atau jangan-jangan pagi hari sebelum berangkat, tak satu pun dari anggota keluarga itu sempat menyantap sarapan karena uangnya dipakai untuk membeli jeruk. Yang lebih parah, mungkin juga mereka rela berjalan kaki dari jarak yang sangat jauh dan memilih tak menumpang satu dari tiga angkutan umum yang seharusnya. “Ongkos bisnya kita belikan jeruk saja ya, buat bawaan. Nggak enak kalau nggak bawa apa-apa,” kata si Ayah kepada keluarganya.

    Kalimat sang Ayah itu, hanya bisa dijawab dengan tegukan ludah kering si kecil yang sudah tak sanggup menahan lelah dan panas berjalan beberapa ratus meter. Tak tega, Ayah yang bijak itu pun menggendong gadis kecil yang hampir pingsan itu. Ia tetap memaksakan hati untuk tega demi bisa membeli harga dari di depan keluarga besarnya walau hanya dengan sekantong jeruk. Menahan tangisnya saat mendengar lenguhan nafas seluruh anggota keluarganya sambil berkali-kali membungkuk, jongkok, atau bahkan singgah sesaat untuk mengumpulkan tenaga. Itu dilakukannya demi mendapatkan sambutan hangat keluarga besar karena menjinjing sesuatu.

    Setibanya di tempat acara, sebuah rumah besar milik salah satu keluarga jauh yang sukses, menebar senyum di depan seluruh keluarga yang sudah hadir sambil bangga bisa membawa sejinjing jeruk, lupa sudah lelah satu setengah jam berjalan kaki, tak ingat lagi terik yang memanggang tenggorokan, bertukar dengan sejumput rindu berjumpa keluarga. Namun, terasa sakit telinga, layaknya dibakar dua matahari siang. Lebih panas dari sengatan yang belum lama memanggang kulit, ketika kalimat itu terdengar, “Jeruk asam begini kok dibawa…”

    Duh. Jika semua tahu pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk bisa menjinjing sekantong jeruk tadi, pastilah semua jeruk asam itu akan terasa manis. Jauh lebih manis dari buah apa pun yang dibawa keluarga lain yang tak punya masalah keuangan. Yang bisa datang dengan kendaraan pribadi atau naik taksi dengan ongkos yang cukup untuk membeli seperti jeruk manis dan segar.

    Mampukah kita melihat sedalam itu? Sungguh, manisnya akan terasa lebih lama, meski jeruknya sudah dimakan berhari-hari yang lalu.

    Bayu Gawtama

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 8 February 2011 Permalink | Balas  

    Ketika Malaikat Maut Menjemput

    Oleh Febty Febriani

    “Dari Abdullah bin Umar: Aku pernah mendatangi Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam sebagai orang kesepuluh dari sepuluh orang yang mendatangi beliau pada saat itu. Kemudian seseorang dari kaum Anshar berdiri dan bertanya, “Wahai Nabi Allah, siapakah orang yang paling cerdik dan terkuat pendiriannya?” Beliau menjawab, “Orang yang terbanyak mengingat kematian dan yang terbanyak persiapan untuk menghadapi kematian. Mereka itulah orang yang paling cerdik di mana mereka berangkat dengan kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat” (HR Thabrani)

    Bulan November 2006. Sudah lebih satu minggu berlalu. Saat itu, Bandung mulai diguyur hujan. Langit mendung dan gelap adalah hampir menjadi teman dalam keseharian beraktivitas. Suasana dingin juga menyergap relung badan. Saat itu, belum sederas seperti saat-saat ini. Hanya berupa rintik-rintik. Namun, cukup mampu membuat basahnya tanah. Cukup mampu juga memberi minum pada tanaman-tanaman. Rasa syukur yang terperikan, bagi yang membutuhkan.

    Sama seperti saat itu. Seakan mendung juga menyelimuti suasana kantor saya. Hampir tiga minggu berturut-turut, keluarga besar kantor dihadapkan pada suasana duka. Kematian. Peristiwa pertama terjadi pada minggu kedua di bulan November basah itu. Buah hati tercinta seorang rekan kantor menghadap Sang Penciptanya. Masih kecil dia. Bahkan masih balita. Sedang lucu-lucunya. Namun, waktu yang berbicara. Masanya sudah tiba.

    Sang buah hati meninggalkan orang-orang yang dicintainya. Menuju tempat peraduan abadi. Penyakit bawaan dari lahirlah yang menjadi penyebab. Masih ada goresan luka di wajah kedua orang tuanya saat kami berkunjung ke sana. Masih tersisa sembab di kedua pelupuk mata. Terbata-bata sang bunda bercerita tentang si buah hati. Ketika proses kehamilan. Ketika proses kelahiran. Ketika proses pengobatan yang menguras tenaga dan pikiran. Ketika munculnya harapan untuk bisa sembuh. Ketika keduanya –rekan kerja dan isterinya- menunggu si buah hati di rumah sakit. Dan ketika proses kematian menjelang. Runtut saya mendengarnya. Kesedihan menyelimuti ruang tamu rumahnya. Tempat kami bertamu.

    Kematian memang meninggalkan duka. Apalagi, oleh kepergian orang yang dicintai. Apalagi, bagi rekan kerja saya, yang pergi adalah sang buah hati. Bukankah, bagi kedua orang tua, sang buah hati adalah setetes embun di padang pasir? Bukankah, bagi kedua orang tua, sang buah hati adalah pengobat rindu bagi kelelahan jiwa? Bukankah, bagi kedua orang tua, sang buah hati adalah harapan? Bukankah, bagi kedua orang tua, sang buah hati adalah penyemangat? Karena itu, adalah wajar ketika saya melihat duka di wajah rekan kerja saya dan isterinya. Sejarah mencatat, hal yang sama juga dirasakan oleh junjungan kita, Nabi Muhammad, ketika ditinggal putra-putra tercintanya yang belum beranjak dewasa. Tengoklah penggalan syair yang dikumandangkan oleh Abu Bakar Ath-Tharthusi tentang perasaan kedua orang tua ketika berpisah dengan anaknya.

    Keduanya menelan beban derita atas kematian anaknya dan tersingkap kerinduan-kerinduan yang mereka sembunyikan terhadap anaknya niscaya ia akan meratapi sang ibu yang sesak nafas terkena…

    Sama. Minggu terakhir di bulan yang sama, kembali saya mendengar peristiwa yang sama. Kematian. Saat itu, saya usai menunaikan shalat Ashar di masjid kantor. Seorang rekan kerja bercerita tentang peristiwa itu. Sore itu, ternyata, isteri tercinta seorang rekan kerja yang lain sudah berpulang ke Rahmatullah. Tak diduga secepat itu. Pagi tadi, masih ada rekan kerja saya yang masih bertemu dengan rekan kerja saya itu. Artinya, pagi tadi, ketika menuju ke kantor, rekan kerja saya meninggalkan sang isteri yang mungkin dalam keadaan baik. Memang, beberapa bulan terakhir ini, kondisi isteri tercinta rekan kerja saya itu tidak dapat dikatakan dalam keadaan sehat wal’afiat. Penyakit ginjal telah bersemayam di dalam tubuhnya.

    Ada isak tangis ketika sore itu kami melayat. Hampir seluruh rekan-rekan di kantor melayat sore itu. Suasana duka terlihat di sekeliling rumahnya. Ramai. Dipenuhi oleh tetangga dekat rumah. Cuaca sore itu seakan mendukung. Langit mendung. Tidak hujan memang. Sang anak, masih dengan mengenakan pakaian seragam sekolah, terlihat menangis. Tidak hanya berupa tangis sesenggukan. Lebih dari itu. Sang bapak memegang erat tubuh si anak. Mencoba menyabarkannya. Namun, bagi sang anak, kehilangan sang bunda untuk selama-lamanya adalah suatu beban yang berat. Kami menunggu beberapa saat. Agak cukup lama. Saat itu, sang mayit sedang dimandikan.

    Setelah sang mayit dimandikan, lalu dibawa ke rumah duka dan disemayamkan.Beberapa pelayat terlihat menyalami rekan kerja saya. Menyampaikan belasungkawa. Begitu juga dengan kami. Ada sembab di wajahnya. Ada tangis di wajahnya. Ada sedih di wajahnya. Begitulah yang saya lihat. Sang isteri tercinta telah mendahuluinya. Menuju Penciptanya. Suatu hal yang wajar. Bukankah Rasulullah juga bersedih ketika sang isteri tercinta, Siti Khadijah, mendahuluinya menjemput kematian? Bagi Rasulullah, wanita agung itu adalah sang penguat. Bagi Rasulullah, wanita mulia itu adalah teman berbagi dalam suasana apapun, suka dan duka kehidupan dakwah.

    ***

    Kematian. Kata itu menyiratkan sesuatu hal. Proses akhir keberadaan kita di dunia. Tahapan menuju ke alam selanjutnya, alam kubur. Proses menuju pertanggungjawaban akan eksistensi kita selama berada di kehidupan yang fana ini. Memang, meninggalkan duka bagi orang-orang terkasih. Namun, itulah kehidupan. Ada awal. Ada akhir. Ada kelahiran. Ada kematian.

    Kita tidak pernah tahu kapan waktunya bagi kita. Kapan waktunya bagi saya. Kapan waktunya bagi Anda. Hanya Dia yang mengetahui, Sang Pemilik Jiwa kita. Dia hanya berpesan lewat firman-Nya. Termaktub dalam kitab suci Al-Quran. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, begitulah bunyi firman-Nya dalam Al-Quran Surat Al-Imran ayat 185. “… ketika ajal mereka tiba, mereka tiada daya menangguhkannya ataupun menyegerakannya sesaatpun”, Al-Quran Surat Al-A’raf ayat 34 juga memperkuat tentang hal ini. Yah, setiap jiwa yang hidup tentu akan merasakan proses itu. Ketika malaikat maut menjemput. Siapapun dia. Saya. Anda. Saudara-saudara kita. Saudari-saudari kita. Hewan. Tumbuhan. Siapapun itu yang berjiwa.

    Sore ini, ketika menuliskan cerita ini, saya merenung. Sudah cukupkah bekal saya? Sudah siapkah saya, ketika berhadapan dengan sakaratul maut yang teramat sakit bahkan akan membuat kedua betis bertaut? Sudah siapkah saya, ketika sudah tiba saatnya bagi saya untuk meninggal kehidupan dunia yang fana ini? Sudah siapkah saya, ketika malaikat maut menjemput saya?

    Bandung, Desember 2006

    ***

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 7 February 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Sepatah Kata Sepetak Surga

    Oleh Sus Woyo

    Ketika kecil, saya senang sekali mendengarkan orang-orang berpidato atau ceramah di tempat-tempat pengajian. Sampai suatu saat terbersit keinginan ingin seperti mereka yang pandai bicara.

    Atau bahkan dulu saya sering terkagum-kagum jika pada saat menjelang pemilu para juru kampanye yang mewakili partainya masing-masing begitu semangat membakar hati massa. Atau saya juga sangat sering terpukau dengan para politikus yang sedang berbicara atau berdiskusi di layar televisi. Yang ada dalam benak saya adalah bahwa mereka termasuk orang-orang hebat.

    Akhirnya saya terbuai untuk belajar bagaimana caranya berbicara di depan orang banyak. Baik lewat buku-buku ataupun mengikuti cara guru-guru saya ketika ngaji sore hari di surau kampung saya. Sebab ada pelajaran pidato.

    Seiring dengan perjalanana waktu dan seringnya ikut berkumpul dengan teman-teman di lingkungan kampung, maka saya makin terbiasa untuk ngomong di depan orang banyak, walaupun -tentu saja- tak sepandai seperti para tokoh yang saya sebut di atas.

    Akhirnya saya menjadi terbiasa sering ngomong berbagai macam hal di lingkungan tempat tinggal saya. Pada saat sudah tak ada masalah lagi dalam hal bicara di depan forum, tiba-tiba saya dihantui perasaan sangat khawatir. Tak hanya khawatir, bahkan sering dihantui ketakutan.

    Sampai beberapa lama saya malah sangat malas jika diberi mandat untuk sekedar berbicara di depan umum. Apalagi berkaitan dengan memberi pelajaran kepada orang lain. Sebagai contoh, memberi materi kuliah subuh di masjid. Walaupun pada akhirnya tetap saya kebagian untuk bicara juga. Karena tidak ada yang lain.

    Bagi saya hal ini merupakan tugas yang sangat berat. Kalau sekedar ngomong, berpidato, orasi, itu sesuatu hal yang mudah. Tapi tanggung jawab di balik kata-kata itu adalah sesuatu yang tidak gampang.

    Hasan Basri, sorang ulama shalafussaleh yang terkenal hati-hati dan zuhud, beberapa kali menunda, bahkan menolak membahas suatu hal dalam sebuah kajian keilmuan, bukan karena alasan apa-apa, tapi lebih karena ia sendiri belum pernah melaksanakan hal-hal yang akan diterangkan kepada umat.

    Lantas bagaimana dengan saya? Sudahkan saya melaksanakan shalat malam pada saat saya membacakan hadits tentang qiamullail? Sudahkah saya bersedekah, sementara saya sering membacakan nash tentang itu kepada orang lain?

    Saya tentu saja bukanlah Hasan Basri si ulama wara’ itu, tapi melihat ke-hati-hati-an beliau dalam membuat “sepatah kata menjadi sepetak surga”, memang perlu ditiru. Dan rupanya bukanlah sesuatu hal yang mudah. Walaupun itu juga tak selamanya menjadi sebuah kesulitan.

    Karena kita semua memang sudah paham, bahwa bagi orang mu’min, antara kata dan perbuatan haruslah sama. Tidak boleh seperti orang-orang munafik, yang antara kata dan perbuatan selalu tidak sama. Wallahua’lam.

    ***

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 6 February 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Nikmat Yang Terlewatkan

    Oleh Bunda Shafiya

    Saat itu kami; aku, bapak dan Shafiya sedang berada dalam perjalanan pulang ke rumah. Kami baru saja pulang dari menikmati semangkuk Soto Lamongan Cak Har *slruup* yang terkenal itu. Tepat di traffic light menuju ke arah Margorejo, mobil berhenti karena traffic light menunjukkan warna merah. Aku melayangkan pandangan ke seberang jalan. Nampak olehku sosok ibu pengemis dan anaknya yang sedang mesra bersenda gurau. Si anak rupanya haus dan alhamdulillah saat itu sang ibu ada rezeki untuk membelikan sekantung plastik es teh bagi si anak.

    Dengan penuh rasa kasih sayang kantung plastik es teh itu dibuka dari ikatannya dan diminumkan ke si anak dengan menggunakan sedotan. Tampak si anak sangat menikmatinya, kehausan barangkali. Setelah si anak puas, ibu itu pun mencicipi es teh itu sedikit dan ternyata walaupun es teh itu hanya bersisa sangat sedikit, mungkin hanya satu tegukan lagi sisanya, sang ibu itu tetap menyimpan sisa itu dengan hati-hati dengan mengikat kembali kantung plastik es teh itu.. Subhanallah! Betapa orang seperti mereka sangat menghargai dan mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada mereka serta menjaganya dengan sangat hati-hati.

    Dadaku terasa sesak, bersamaan dengan itu air mata mulai menetes.. Teringat akan percakapanku dengan Shafiya di depot soto itu, “Nak, udah deh, ice tea-nya nggak usah dihabiskan. Ayo.. cepetan, Bapak sudah menunggu di mobil.” Betapa bodohnya aku yang malah mengajarkan anakku untuk berbuat suatu hal yang mubazir yang mencerminkan rasa tidak bersyukur padaNya. Astagfirullah.

    Bagi orang lain, peristiwa ini mungkin bukan sesuatu yang menarik untuk diceritakan. Tapi saya memaknainya lain. Alhamdulillah.Allah memberi saya petunjuk untuk selalu mensyukuri nikmatNya dalam ketaatan kepadaNya. Syukur Alhamdulillah. Ibu pengemis itu telah mengajarkan kepada saya cara untuk menghargai nikmatNya.

    Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukadzdzibaan? Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang engkau dustakan? Pertanyaan retoris ini membuat saya tertunduk malu tiap kali mendengarnya. Betapa tidak! saya sering kali iri dengan nikmat yang ada pada orang lain. Saya memang tidak pernah sampai dalam tahap merasa dengki dan menginginkan agar nikmat orang lain itu hilang. Naudzubillah min Dzalik.. Tapi rasa iri saya membawa saya menjadi orang yang kufur nikmat. Padahal Allah selalu baik kepada saya. Dalam studi dan karir insya Allah saya selalu lancar. Ketika saya berdoa agar mendapat pendamping hidup yang sholeh, Allah dengan cepat mengabulkan permintaan saya. Ketika saya berdoa agar dikarunai anak yang menyejukkan pandangan orang tuanya, Allah dengan berbaik hati mengabulkan permohonan saya itu.. Namun.dari banyak nikmat yang ada, sedikit sekali saya mampu menyentuhkan dahi bersujud pada Allah untuk menyampaikan rasa terima kasih saya.

    Nikmat.. begitu banyak yang saya lewatkan tanpa mensyukurinya. Ya Allah.. janganlah golongkan saya menjadi orang-orang yang merugi karena kufur terhadap nikmatMu… (Tuhan) yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Quran. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan keduanya tunduk kepadaNya. Dan Allah meninggikan langit dan Dia melektakkan neraca keadilan. Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan jangan kamu mengurangi neraca itu. Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluknya, di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bungaan yang harum baunya. Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? (Surat Ar Rahman: 1-13)

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 29 January 2011 Permalink | Balas  

    Budaya Malu Sebagai Obat Bangsa

    Di sebuah jalan sunyi yang menghubungkan ibu kota sebuah propinsi dengan kabupaten penunjangnya kerap dilakukan operasi lalu-lintas. Beredar prasangka bahwa operasi ini tidak dinaungi aspek legal yang mencukupi. Hingga suatu hari muncul sebuah kehebohan. Di tembok rendah pembatas jalan serta di sebuah baliho iklan real estate yang berukuran cukup besar, terlihat grafiti bertuliskan, “Bawa pulang uang haram tidak malu, tanya kenapa?” Tulisan ini rupanya “bertuah”. Sejak itu tidak ada lagi operasi lalu-lintas yang digelar di sana.

    Fenomena ini sungguh menarik untuk diperdebatkan. Apakah budaya malu masih mendapat tempat dalam proses penyembuhan bangsa yang tengah sakit? Sebagai gambaran, saat ini bangsa Indonesia tengah terjebak dalam pusaran arus involutif. Di mana ciri-ciri kemunduran akhlak telah menggejala dan merasuki hampir semua proses kehidupan. Perilaku dan budaya instan tidak hanya terjadi di lembaga-lembaga formal saja melainkan sudah menjalar ke dalam institusi rumahtangga dan keluarga.

    Sebagai makhluk sosial, Allah SWT telah mengaruniakan kemampuan kepada manusia untuk membangun komunikasi serta interaksi. Dalam kedua proses tersebut terjalin suatu mekanisme pendistribusian tanggung jawab. Ada hal-hal yang secara aklamasi disepakati menjadi bagian tanggung jawab bersama (social obligation). Dalam konteks agama biasa disebut fardhu kifayah. Social obligation ini adalah keniscayaan yang dikaruniakan Allah dalam rangka fastabiqul khairaat, atau berlomba untuk menyebarkan kebajikan bersama. Dan, rasa malu merupakan salah satu parameter untuk mengukur seberapa besar kontribusi seseorang dalam menjalankan kewajiban sosialnya.

    Peran seseorang dalam masyarakat dapat ditentukan melalui tingkat asertifitas, atentifitas dan empatifitasnya. Budaya malu yang bersifat inter dan transpersonal ini akan menempatkan seseorang untuk berkontemplasi dan melakukan introspeksi diri, apakah dirinya sudah cukup berkontribusi? Apakah dirinya sudah cukup kooperatif dan tidak menjadi ganjalan dalam perputaran roda kehidupan umat? Apakah dirinya sudah berada dalam posisi yang tidak mempermalukan dirinya sendiri melalui pengaburan dan pembonsaian potensi?

    Efektifitas budaya malu dan penanaman benih rasa malu sebagai bagian dari iman kiranya tepat dijadikan sebagai salah penangkal budaya korupsi, baik yang bersifat sistemik-struktural-kultural, maupun yang bersifat legal-formal.

    Adakah korupsi yang legal dan formal? Ada, yaitu korupsi yang secara syariat benar tetapi diinisiasi oleh niat yang keliru (tidak lurus). Misalnya, sekelompok eksekutif berkolaborasi dengan sekelompok legislator untuk menghasilkan regulasi yang bersifat menguntungkan secara sementara. Keuntungan yang diperoleh sudah ditaksir dan diperhitungkan akan mendatangkan keuntungan bagi daerah dan kelompoknya di waktu mereka masih berkuasa serta beberapa waktu sesudahnya. Hanya itu saja. Niat ini jelas sedari awal sudah mengelimininasi kemungkinan terciptanya multiplier effect yang akan bergulir secara perlahan tapi pasti. Bahkan dapat menjamin kesejahteraan banyak orang secara berkesinambungan (continuity and sustainable).

    Upaya konstruktif untuk menghilangkan kesempatan munculnya multiplier effect yang menguntungkan ini tentu akan dihisab sebagai proses yang tergolong ke dalam penyakit hati (serakah, rakus, atau tamak). Banyak kebijakan yang bisa menjadi contoh kasus. Pengenaan biaya yang tinggi dan proses birokrasi perizinan yang rumit misalnya. Lalu pengenaan pungutan dan pajak daerah yang hanya berorientasi pada peningkatan pendapatan daerah tanpa disertai adanya regulasi tata ruang, peruntukan wilayah dan penyediaan infrastruktur penunjang lainnya.

    Bila terakumulasi, kondisi ini akan melahirkan iklim bisnis tidak kondusif. Banyak perusahaan akan buka-tutup, dan tidak langgeng dalam menjalankan poses bisnisnya karena overhead cost yang tinggi. Dampak lanjutannya adalah tidak terserapnya tenaga kerja lokal dan juga tidak bergulirnya efek dan dampak mutual benefit dari sebuah lingkungan usaha (business environment). Pendapatan asli daerah memang akan berkontraksi sesaat, di mana pendapatan dari sektor pungutan, bea, dan pajak akan meningkat, tapi setelah itu akan terjadi deselerasi atau perlambatan dalam proses investasi.

    Bila kita masih memiliki budaya malu, maka kebijakan dan pengkondisian instan seperti ini akan segera kita hindari. Mengapa? Sebab kita malu karena tidak mensyukuri nikmat Allah berupa akal budi. Kita pun akan malu bila dikenal sebagai generasi perompak oleh anak cucu. Generasi yang menguras harta negara yang seharusnya dimiliki bersama serta dioptimalkan pemanfaatannya secara berkesinambungan. Dalam kondisi kita memiliki rasa asertif, atentif dan empatif, maaliyah ijtima’iyah (harta karun sosial) ini akan menjadi kunci pembuka gerbang makhroja, gerbang yang mengawali sebuah jalan keluar dari berbagai macam kebuntuan dalam hidup. Wallaahu a’lam.

    ( tauhid nur azhar)

    Sumber: Republika

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 23 January 2011 Permalink | Balas  

    Si Bibi 

    Sudah hampir 1 bulan ini, di rumahku ada Si Bibi, yang membantu istriku dalam membereskan rumah dan mengerjakan ini-itu termasuk pekerjaan rumah seperti mencuci dan memasak.

    Si Bibi berasal dari golongan kurang mampu, tinggal di dan mengontrak 1 kamar ukuran 3x3m. Si Bibi tinggal bersama ketiga anaknya, sedangkan suami Si Bibi sudah meninggal sekitar 10thn lalu. Anak yang paling kecil SD dan anak yang kedua SMP, anak pertama di STM. Alhamdulillah setelah Si Bibi ngurus ke RT-RW dan lembaga yang terkait akhirnya anak kedua dan ketiga mendapatkan bebas biaya sekolah. Kadangkala (atau seringkali?) anak-anak Si Bibi memilih untuk berjalan kaki menuju sekolah agar bisa mengirit pengeluaran atau memang karena tidak punya uang, padahal jarak rumah sampai ke sekolahan cukup jauh.

    Si Bibi datang ke rumahku dari jam 7 pagi dengan berjalan kaki dari rumahnya, sekitar setengah jam. Si Bibi pulang setelah kerjaan nya dirumahku selesai, biasanya sampai jam 2an. Dan biasanya istriku membekali Si Bibi dengan makanan seadanya, senang sekali hati kami ketika Si Bibi tersenyum senang ketika menerima bekal yang istriku berikan.

    Pernah kami datang ke rumah kontrakannya untuk melihat langsung kondisi Si Bibi dengan anak-anaknya. Yah ternyata kondisi Si Bibi memang seperti yang Si Bibi ceritakan, bahkan kami ditawarkan untuk makan bekal yang kami berikan pada hari itu.. yah mungkin memang karena tidak ada makanan yang lain yang bisa Si Bibi tawarkan.

    Beberapa hari setelah itu, istriku bertanya ke Si Bibi, biasanya Si Bibi+anak-anaknya makan sama apa, ternyata hanya dengan garam. Kalo dibawain bekal dari istriku, ya saat itulah mereka makan dengan lauk.

    Si Bibi cerita bahwa Si Bibi pernah didatangi oleh seorang pastur yang menawarkan uang 2juta dan komputer untuk anaknya dengan syarat Si Bibi dan anak-anaknya mau pindah ke agama si pastur… ternyata Si Bibi menolak tawaran si pastur itu, ckckckc.. itu adalah sesuatu yang mengagumkan untuk orang dengan kondisi seperti Si Bibi yang bisa menolak tawaran yang cukup menggiurkan seperti itu.

    Sejak awal Januari ini, ibunya Si Bibi masuk rumah sakit, rumah sakit immanuel, ibunya Si Bibi mesti dirawat di rumah sakit dikarenakan ada masalah dengan ginjalnya, dan kemarin Si Bibi bilang kepada kami untuk meminjam sejumlah uang untuk digunakan untuk pembayaran rumah sakit dan Si Bibi bilang akan bekerja di rumah kami tanpa dibayar, Si Bibi memperlihatkan photocopy-an struk dari rumah sakit dimana biaya rumah sakit memerlukan dana 7,5juta, dengan berbekal photocopy-an struk dari rumah sakit itu juga, Si Bibi mendatangi jamaah shalat jum’at mengharapkan bantuan dari mereka, informasi terakhir, Si Bibi cerita kalo dokter rumah sakit menawarkan kepada Si Bibi untuk tidak membayar biaya rumah sakit alias gratis tidak perlu membayar biaya 7,5juta tersebut dengan syarat Si Bibi mau di baptis dan ternyata diluar perkiraan, Si Bibi dengan tegas menolak tawaran pihak rumah sakit tersebut, Si Bibi bilang “ngga..ngga.. ngga mau saya.. saya akan berusaha melunasi biaya rumah sakit!!…”

    Aku dan istriku hanya bisa memberikan sejumlah uang walaupun tadinya uang itu aku alokasikan untuk membantu adikku yang akan menikah, belum lagi tabungan ku yang tak seberapa tidak cukup untuk persiapan kepindahanku ke Jakarta.

    Dengan bekal sejumlah uang dari kami dan tambahan uang yang Si Bibi peroleh dari meminta sumbangan dan kumpul2 dari sumber lainnya yang kami yakin tidak sampai 7,5juta, Si Bibi akan mencoba agar pihak rumah sakit mau menerima uang seadanya untuk membayar semua biaya rumah sakit tersebut.

    Sampai saat ini Si Bibi masih terus berusaha untuk mendapatkan tambahan bantuan, segala cara Si Bibi lakukan kecuali sampai pindah agama.

    teman-teman..

    Kami hanya mengharapkan minimal do’a dari teman-teman untuk Si Bibi, semoga Si Bibi dapat terus istiqamah dalam iman nya kepada Allah swt. Dan semoga Si Bibi diberikan kemudahan dalam menghadapi berbagai kesulitan yang Si Bibi dan anak-anaknya hadapi.

    Ada satu pernyataan Si Bibi yang mungkin akan selslu terngiang dibenak kami, Si Bibi bilang, “yah ngga apa-apa saya susah hidup di dunia, asal ngga susah di akhirat”.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • saeful hasan 6:42 am on 23 Januari 2011 Permalink

      luar biasa trmaksih artikelnya kata kata anda sangat berguna sekali buatku amin semoga si bibi bisa istiqomah

    • hilmi 9:46 am on 24 Januari 2011 Permalink

      terima kasih mas atas artikelnya. Saya menjadi tergugah atas hidup ini. Ijin share biar yang lain bisa memetik hikmahnya

  • erva kurniawan 1:52 am on 11 January 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Di Balik Permainan Ini 

    Seorang ibu guru sedang bersemangat mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada pensil. Ibu guru itu berkata, “Saya ada satu permainan… Caranya begini, ditangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada pensil. Jika saya angkat kapur ini, maka berkatalah “Kapur!”, jika saya angkat pensil ini, maka berkatalah “Pensil!”

    Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Guru berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin cepat. Beberapa saat kemudian guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka sebutlah “Pensil!”, jika saya angkat pensil, maka katakanlah “Kapur!”. Dan diulangkan seperti tadi, tentu saja murid-murid tadi keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti.

    Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya. “Murid-murid, begitulah kita umat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh musuh kita memaksakan kepada kita dengan perbagai cara, untuk menukarkan sesuatu, dari yang haq menjadi bathil, dan sebaliknya. Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kita menerima hal tersebut, tapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kamu akan terbiasa dengan hal itu. Dan anda mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kamu tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan waktu.

    “Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang susah, Zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, tanpa rasa malu, sex sebelum nikah menjadi suatu kebiasaan dan trend, hiburan yang asyik dan panjang sehingga melupakan yang wajib adalah biasa, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup dan lain lain.” “Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, anda sedikit demi sedikit menerimanya tanpa rasa ia satu kesalahan dan kemaksiatan. Paham?” tanya Guru kepada murid-muridnya. “Paham guru…”

    “Baik permainan kedua…” begitu Guru melanjutkan.

    “Ini ada Qur’an,saya akan meletakkannya di tengah karpet. Sekarang anda berdiri diluar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada ditengah tanpa menginjak karpet?”

    Murid-muridnya berpikir.

    Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain.

    Akhirnya Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an. Ia memenuhi syarat, tidak menginjak karpet. “Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya…Musuh-musuh Islam tidak akan menginjak-nginjak anda dengan terang-terang…Kerana tentu anda akan menolaknya mentah mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung anda perlahan-lahan dari pinggir, sehingga anda tidak sadar.

    “Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibuatlah pondasi yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau dimulai dgn pondasinya dulu, tentu saja hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kursi dipindahkan dulu, Lemari dikeluarkan dulu satu persatu, baru rumah dirobohkankan…”

    “Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan menghantam terang-terangan, tapi ia akan perlahan-lahan mempengaruhi anda. Mulai dari perangai anda, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun anda muslim, tapi anda telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara yang mereka… Dan itulah yang mereka inginkan.” “Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh kita… ”

    “Kenapa mereka tidak berani terang-terang menginjak-nginjak, bu?” tanya murid-murid.

    “Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tapi sekarang tidak lagi.” “Begitulah Islam… Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tapi kalau diserang serentak terang-terangan, mereka akan bangkit serentak, baru mereka akan sadar”.

    “Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdoa dahulu sebelum pulang…” Matahari bersinar terik takala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya…

    Renungilah Sahabat Semua.

    ***

    Dari Sahabat