Updates from Juli, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:44 am on 3 July 2012 Permalink | Balas  

    dan Diapun tak Pernah Lagi Berani Menatap Wajah Suaminya 

    dan diapun tak pernah Lagi Berani Menatap Wajah Suaminya

    Pernikahan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.

    Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.

    Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran.

    Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.

    Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar selama Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”.

    Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”.Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.

    Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal.Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”.Sang istri pun bad rest di rumah sakit.

    Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”.“Haah, pergi?”. Kata sang istri.“Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri.

    Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.

    Dan subhanallah …Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan.

    Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.Hamper saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula.

    Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.(Diterjemahkan dari kisahk yang dituturkan oleh teman tokoh cerita ini, yang kemudian ia tulis dalam email dan disebarkan kepada kawan-kawannya)

    Sumber : kembanganggrek.com

     
    • Abdullah 5:34 am on 3 Juli 2012 Permalink

      Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

      sangat terharu mendengar ceritanya.
      cerita yg penuh dengan pesan moral dan teguran untuk kita semua..
      :)
      thx sobat, sudah mau berbagi kisah yg patut kita renungi.

    • maulana said 10:43 pm on 6 Juli 2012 Permalink

      subhanallah,,,, inikah laki laki yg sebenarnya, bersabar atas kehendak negatif sang istri pun dalam keadaan yang pahit pun dia terus berabar..
      sungguh nyata bagi ku sekarang bahwa bersabar terhadap sesuatu maka Allah akan berikan inayahnya…

    • tover pjtn 11:53 am on 7 Juli 2012 Permalink

      kehidupan nyata terkadang lebih aneh dari cerita fiksi….
      itulah sosok pemimpin yang di cari…

    • van rame 7:19 pm on 7 Juli 2012 Permalink

      ijin share……… :)

    • epmaster 10:08 am on 21 November 2012 Permalink

      subhanallah..mengharukan sekali..

  • erva kurniawan 1:35 am on 23 June 2012 Permalink | Balas  

    Indahnya Sinergi 

    Indahnya Sinergi

    Sering menyaksikan pertandingan sepak bola? tidak semua menjadi penjaga gawang, dan tak semua pula ingin menjebol gawang. Sebelas pemain dalam satu tim, punya peran masing-masing yang mesti dijalankan sebaik-baiknya. Tak semuanya harus maju ke depan, begitu pun sebaliknya, tak perlu sebelas pemain menjaga daerah pertahanan. Namun, mereka tetap bersinergi untuk satu tujuan, mencetak gol demi kemenangan.

    Sering menonton sebuah film? ada yang berperan sebagai aktor utama, ada juga yang cuma memainkan peran pembantu, peran kecil dan peran figuran. Ada yang berperan protagonis, dan ada yang rela berperan antagonis. Layaknya sebuah drama, ada yang disuka, dan dipuja karena selalu memerankan tokoh baik. Namun ada pula aktor yang rela dicaci dan dibenci di luar perannya, hanya karena kerelaannya berperan tokoh jahat. Namun itu semua hanya sebuah film, sebuah kisah layar kaca yang memiliki satu tujuan; menghibur penonton.

    Tak semua manusia di muka bumi ini berprofesi sebagai kepala negara, karenanya ada lebih banyak yang membantunya dalam menjalankan negara. Dan jauh lebih banyak orang yang berperan sebagai rakyat. Para rakyat ini pun menjalankan perannya masing-masing. Tak semuanya menjadi dokter, tak seluruhnya menjadi guru, dan tak mungkin semua orang melakoni satu profesi saja.

    Ada yang punya kendaraan bermotor, banyak pula yang hanya mampu berjalan kaki atau menggunakan jasa angkutan umum. Maka bergunalah para pengusaha jasa angkutan, maka bermanfaatlah mereka yang berprofesi sebagai supir dan kondektur angkutan umum atau tukang ojeg sekali pun. Berguna pula para penambal ban di pinggir jalan, para mekanik di bengkel, termasuk para petugas lalu lintas.

    Tak sedikit yang memiliki lebih dari satu tempat tinggal, namun jauh lebih banyak yang tak memiliki tempat untuk berteduh. Ada yang hidup berlebihan, ada yang berkecukupan, dan pasti pula banyak yang kekurangan. Karenanya, mereka yang berlebih pun tahu kebutuhan yang kekurangan, dibuatlah rumah-rumah sewaan agar yang lain tak lagi kehujanan dan kepanasan.

    Seseorang bisa disebut `kaya` karena ada orang yang disebut miskin. Seseorang bisa berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, karena ada yang membutuhkan tenaganya. Ada yang menjadi tukang sampah, karena banyak sampah bertebaran. Jika satu bulan sampah di rumah tak ada yang mengangkutnya, bayangkan betapa besar kebutuhan kita terhadap para tukang sampah itu.

    Sungguh, Allah telah menciptakan sinergi yang luar biasa indah. Masing-masing menjalankan perannya dengan baik agar tetap seimbang. Ketika banyak orang membutuhkan pertolongan, semestinya banyak pula yang menjadi penolong. Saat begitu banyak yang mendapat musibah, seharusnya tak kalah banyaknya tangan-tangan yang terhulur memberi bantuan.

    Kadang, tak semua pendaki gunung harus mencapai puncaknya. Ada satu atau sebagian yang menjadi camper, namun tetap mendukung rekannya yang menjadi climber. Memang tak semua orang harus datang langsung dan menemui para korban bencana di lokasi musibah. Karenanya, ada orang-orang yang mendedikasinya dirinya untuk masuk menembus lokasi bencana. Cukup sambungkan tangan peduli itu dengan tangan yang beraksi di lapangan, maka sempurnalah sinergi itu. Ketika simpati bersinergi dengan aksi, inilah yang disebut peduli. duh, indahnya.

    ***

    Oleh Sahabat Bayu Gawtama

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 21 June 2012 Permalink | Balas  

    Tiga Kata yang Terlupakan 

    Tiga Kata yang Terlupakan

    Hudzaifah.org – Ardi berlalu begitu saja setelah ia membayar ongkos ojeg yang ia tumpangi, jalannya tergesa-gesa. Yup, ia terburu-buru karena hampir terlambat masuk kelas, alasannya klasik, “MACET”. Dalam hatinya berkata beruntung ia terbantu oleh fasilitas ojeg yang mahir berselap-selip diantara kerumunan kendaraan-kendaraan mewah Jakarta. Ups, tapi ia lupa sesuatu, berkata TERIMA KASIH pada pak ojeg. Hal yang remeh memang, dan cenderung sering diremehkan oleh kebanyakan orang.

    Yuli, seorang akhwat yang selalu sibuk dengan agenda-agendanya yang padat, datang telat satu jam kerapat organisasi. Simple juga, hanya ucapkan “Assalamu’alaikum” lalu duduk dengan manis di kerumunan teman-temannya tanpa pernah berpikir untuk mengucapkan MAAF. Padahal ia termasuk orang yang ditunggu-tunggu dalam rapat itu. Maklum dia adalah ketua sie acara yang notabene harus selalu memberikan progress report yang berkala.

    Irman adalah seorang Presiden Mahasiswa di kampusnya. Ia termasuk orang yang lugas dalam memberikan instruksi. “Anto, bawakan proposal yang harus saya tandatangani keruangan saya”. “Rina, ketik surat ini dan secepatnya kirim!” “Mas somay, pesen somay sepiring, gak make lama ya..!!” Wah, sangking lugasnya ada sebuah kata berharga yang ia lupa. TOLONG.

    Fenomena-fenomena diatas sering kita temui di sekeliling kita. Mungkin bahkan tidak jauh-jauh, kita juga sering melakukannya. Betul?

    TERIMA KASIH, atau bahasa aktivis gaulnya syukron, seringkali terlupa. Dalam surat Al A’raaf ayat 58 Allah berfirman:

    “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang BERSYUKUR.”

    Dalam ayat ini Allah mengajarkan kita untuk berterimakasih atas semua yang kita terima. Dalam psikologi, orang yang menerima ucapan “TERIMA KASIH” akan senang dan merasa usahanya dihargai.

    Kata berikutnya yang jarang kita ucapkan adalah kata “MAAF”. Atau akrab disebut “AFWAN…”.

    “Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat.” (QS. Al Baqarah:178)

    Dalam ilmu psikologinya kata MAAF sangat efektif untuk meredam rasa kekesalan orang yang dirugikan. Kata MAAF pun sebaiknya dari hati yang tulus dan diiringi dengan senyum yang ikhlas.

    Kata terakhir yang sering terlupakan adalah kata “TOLONG”.

    “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maaidah:2)

    Dalam ilmu psikologinya kata TOLONG adalah sebuah kata yang membuat orang yang dimintai pertolongan merasa dibutuhkan dan merasa dipentingkan. Bagi sebagian besar orang perasaan tersebut sangat membahagiakan hatinya. Apalagi kalau diucapkan dengan lembut.

    Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (QS. Ali ‘Imran:159) [DAI]

    ***

    Dari Sahabat

     
    • ANAK JAIL 12:55 pm on 17 Januari 2013 Permalink

      SALUTTTT, MEMBACA TULISAN ANDA.
      DIJAMIN, APABILA 50 % SAJA KAUM MUSLIM DI NEGERI INI, BERSIKAP SEPERTI ANDA PASTI NEGERI INI MENJADI AMAN TENTERAM. Tetapi dalam hidup berangsa sampai hari ini yang ada adalah, kebencian, dendam kesumat, menang sendiri, dan benar sendiri. sampai kapan bisa kembali ke budaya asli indonesia, tepok seliro, dan gotong royong. semoga

  • erva kurniawan 1:34 am on 20 June 2012 Permalink | Balas  

    Pendeta Masuk Islam (Dr. Muhammad Yahya Waloni) 

    Pendeta Masuk Islam (Dr. Muhammad Yahya Waloni)   

    Adaha Nadjemuddin, Tolitoli : PAGI menjelang siang hari itu, nuansa Idul Fitri 1427 Hijriah masih terasa di Tolitoli. Hari itu baru memasuki hari ke-9 lebaran. Kendati terik panas matahari masih mengitari Tolitoli dan sekitarnya, tetapi denyut aktivitas warga tetap seperti biasa.

    Begitupun di sekitar Jalan Bangau, Kelurahan Tuweley, Kelurahan Baru, Kabupaten Tolitoli. Aktivitas sehari-hari warga berjalan seperti biasa.

    Kecuali di salah satu rumah kost di jalan itu, pintunya tampak masih tertutup rapat. Di rumah kost inilah, Yahya Yopie Waloni (36), bersama istrinya Lusiana (33) dan tiga orang anaknya tinggal sementara. “Pak Yahya bersama istrinya baru saja keluar. Sebaiknya bapak tunggu saja di sini, sebelum banyak orang. Karena kalau pak Yahya ada di sini banyak sekali tamunya. Nanti bapak sulit ketemu beliau,” jelas ibu Ani, tetangga depan rumah Yahya kepada Radar Sulteng.

    Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan A. Qomarun Shofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Hari itulah Yahya dengan tulus mengucapkan dua kalimat syahadat.

    Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopie Waloni diganti dengan Muhammad Yahya, dan istrinya Lusiana diganti dengan Mutmainnah. Begitupun ketiga anaknya. Putri tertuanya Silvana (8 tahun) diganti dengan nama Nur Hidayah, Sarah (7 tahun) menjadi Siti Sarah, dan putra bungsunya Zakaria (4 tahun) tetap menggunakan nama itu.

    Mohammad Yahya sebelum memeluk Islam, pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004. Saat itu juga ia sebagai pendeta dengan status sebagai pelayan umum dan terdaftar pada Badan Pengelola Am Sinode GKI di tanah Papua, Wilayah VI Sorong-Kaimana. Ia menetap di Sorong sejak tahun 1997. Tahun 2004 ia kemudian pindah ke Balikpapan. Di sana ia menjadi dosen di Universitas Balikpapan (Uniba) sampai tahun 2006. Yahya menginjakkan kaki di kota Cengkeh, Tolitoli, tanggal 16 Agustus 2006.

    Sambil menunggu kedatangan Yahya, ibu Ani mempersilakan Radar Sulteng masuk ke rumahnya. Sebagai tetangga, Ibu Ani tahu banyak aktivitas yang terjadi rumah kontrakan Yahya. “Pak Yahya pindah di sini kira-kira baru tiga minggu lalu. Sejak pindah, di sini rame terus. Orang-orang bergantian datang. Ada yang datang dengan keluarganya. Malah ada yang rombongan dengan truk dan Kijang pickup. Karena rame sekali terpaksa dibuat sabua (tenda, red) dan drop kursi dari kantor Lurah Tuweley,” cerita ibu Ani.

    Hari pertama Yahya pindah di Jalan Bangau itu, orang-orang berdatangan sambil membawa sumbangan. Ada menyumbang belanga, kompor, kasur, televisi, Alquran, gorden dan kursi. Mereka bersimpati karena Yahya sekeluarga saat pindah dari tempat tinggal pertamanya hanya pakaian di badan. Rumah yang mereka tempati sebelumnya di Tanah Abang, Kelurahan Panasakan adalah fasilitas yang diperoleh atas bantuan gereja. Sehingga barang yang bukan miliknya ia tanggalkan semuanya.

    Tidak lama menunggu di rumah Ibu Ani, datang dua orang ibu-ibu yang berpakaian dinas pegawai negeri sipil. Keduanya juga mampir di rumah Ibu Ani. Salah satu dari mereka adalah Hj Nurdiana, pegawai di Balitbang Diklat, Pemkab Tolitoli. Ibu berjilbab ini ternyata guru mengaji. Dia adalah guru mengaji yang khusus membimbing istri Yahya. “Saya baru tiga kali pertemuan dengan ibu Yahya. Supaya ibu Yahya mudah memahami huruf hijjaiyah, saya menggunakan metode albarqy. Alhamdulillah sekarang sedikit sudah bisa,” kata Nurdiana.

    Menurutnya, dia tidak kesulitan mengajari ibu Yahya. Malah, katanya, ibu Yahya cepat sekali memahami huruf-huruf hijaiyah yang diajarkan. Karena itu dia memperkirakan kemungkinan dalam waktu tidak lama ibu Yahya sudah bisa lancar mengaji.

    Hanya sekitar 20 menit menunggu di rumah ibu Ani, bunyi kendaraan sepeda motor butut milik Yahya terdengar memasuki halaman rumah kontrakannya. Radar Sulteng diterima dengan senang hati, lalu dipersilakan duduk di sofa. Sementara Yahya memilih duduk di lantai alas karpet. Badannya disandarkan ke kursi sofa. “Kita lebih senang duduk di bawah sini,” tuturnya dengan logat kental Manado.

    Cara duduk Yahya, tampak tidak tenang. Sesekali ia membuka kedua selangkangnya. Ternyata karena baru beberapa hari selesai disunat. “Setelah tiga hari saya masuk Islam, saya langsung minta disunat di rumah ini,” cerita Yahya, sesekali disertai canda.

    Penataan interior rumah kost Yahya tampak apik. Di dinding ruang tamu tampak terpampang kaligrafi ayat kursi yang dibingkai dengan warna keemasan. Di sisi lain, kaligrafi Allah-Muhammad juga terpampang. Di meja ruang tamu terdapat dua buah Alquran lengkap terjemahannya. Di tengah meja itu, juga masih ada tiga toples kue lebaran. “Rumah ini saya kontrak sementara. Saya sudah bayar Rp2,5 juta,” rinci Yahya.

    Di tengah asiknya bercerita, istri Yahya, Mutmainnah menyuguhkan beberapa cangkir teh panas. “Silakan diminum air panasnya,” kata ibu tiga anak ini yang saat itu mengenakan jilbab cokelat.

    Tidak lama kemudian, dia masuk di salah satu kamar dan mengajak guru mengajinya Hj Nurdiana bersama rekannya. Dari balik kamar itulah terdengar suara Mutmainnah yang sedang mengeja satu per satu huruf hijaiyah. Terdengar memang masih kaku, tetapi berulang-ulang satu per satu huruf-huruf Alquran itu dilafalkannya.

    Lain halnya dengan suaminya, Yahya. Pria kelahiran Manado ini mengaku sudah bisa melafalkan beberapa ayat setelah beberapa kali diajarkan mengaji oleh A. Qomarun Shofa. Selain A. Qomarun Shofa, selama ini ia juga mendapat bimbingan dari ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tolitoli, Yusuf Yamani. “Hanya lima menit saya diajarkan. Saya langsung paham. Surat Fatihah saya sudah hafal,” ujar Yahya.

    Selain belajar mengaji dan menerima tamu, aktivitas Yahya juga kerap menghadiri undangan di beberapa masjid. Tidak hanya dalam kota, tetapi sampai ke desa-desa di Kabupaten Tolitoli. “Saya ditemani beberapa orang. Ada juga dari Departemen Agama,” katanya.

    Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan A. Qomarun Shofa, sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. “Hari itu saya sudah mengucapkan dua kalimat syahadat yang dituntun Pak A. Qomarun Shofa,” cerita Yahya. Apa yang melatari sampai Yahya dan keluarganya memeluk Islam.

    Mengalami Mimpi yang Sama dengan Istrinya

    Pak Yahya, begitu sapaan akrabnya. Pria kelahiran Manado tahun 1970 ini lahir dari kalangan terdidik dan disiplin. Ayahnya seorang pensiunan tentara. Sekarang menjabat anggota DPRD di salah satu kabupaten baru di Sulawesi Utara. Sebagai putra bungsu dari tujuh bersaudara, Yahya saat bujang termasuk salah seorang generasi yang nakal. “Saya tidak perlu cerita masa lalu saya. Yang pasti saya juga dulu pernah nakal,” tukasnya.

    Lantaran kenakalannya itulah mungkin, sehingga beberapa bagian badannya terdapat bekas tato. Di lengannya terdapat bekas luka setrika untuk menghilangkan tatonya. “Ini dulu bekas tato. Tapi semua sudah saya setrika,” katanya sambil menunjuk bekas-bekas tatonya itu.

    Postur tubuhnya memang tampak mendukung. Tinggi dan tegap. Meski ia pernah nakal, tetapi pendidikan formalnya sampai ke tingkat doktor. Ia menyandang gelar doktor teologi jurusan filsafat. Saat ditemui, Yahya memperlihatkan ijazah asli yang dikeluarkan Institut Theologia Oikumene Imanuel Manado tertanggal 10 Januari 2004. Sehingga titel yang didapatnya pun akhirnya lengkap menjadi Dr. Yahya Yopie Waloni, S.TH, M.TH.

    Sebelum menyatakan dirinya masuk Islam, beberapa hari sebelumnya Yahya mengaku sempat bertemu dengan seorang penjual ikan, di rumah lamanya, kompleks Tanah Abang, Kelurahan Panasakan, Tolitoli. Pertemuannya dengan si penjual ikan berlangsung tiga kali berturut-turut. Dan anehnya lagi, jam pertemuannya dengan si penjual ikan itu, tidak pernah meleset dari pukul 09.45 Wita.

    “Kepada saya, si penjual ikan itu mengaku namanya Sappo (dalam bahasa Bugis artinya sepupu). Dia juga panggil saya Sappo. Tapi dia baik sekali dengan saya,” cerita Yahya.

    Setiap kali ketemu dengan si penjual ikan itu, Yahya mengaku berdialog panjang soal Islam. Tapi Yahya mengaku aneh, karena si penjual ikan yang mengaku tidak lulus Sekolah Dasar (SD) tetapi begitu mahir dalam menceritakan soal Islam.

    Pertemuan ketiga kalinya, lanjut Yahya, si penjual ikan itu sudah tampak lelah. “Karena saya lihat sudah lelah, saya bilang, buka puasa saja. Tapi si penjual ikan itu tetap ngotot tidak mau buka puasanya,” cerita Yahya.

    Sampai saat ini Yahya mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan penjual ikan itu. Si penjual ikan mengaku dari dusun Doyan, desa Sandana (salah satu desa di sebelah utara kota Tolitoli). Meski sudah beberapa orang yang mencarinya hingga ke Doyan, dengan ciri-ciri yang dijelaskan Yahya, tapi si penjual ikan itu tetap tidak ditemukan.

    Sejak pertemuannya dengan si penjual ikan itulah katanya, konflik internal keluarga Yahya dengan istrinya meruncing. Istrinya, Lusiana (sekarang Mutmainnah, red), tetap ngotot untuk tidak memeluk Islam. Ia tetap bertahan pada agama yang dianut sebelumnya. “Malah saya dianggap sudah gila,” katanya. Tidak lama setelah itu, kata Yahya, tepatnya 17 Ramadan 1427 Hijriah atau tanggal 10 Oktober sekitar pukul 23.00 Wita. Ia antara sadar dengan tidak mengaku mimpi bertemu dengan seseorang yang berpakaian serba putih, duduk di atas kursi. Sementara Yahya di lantai dengan posisi duduk bersila dan berhadap-hadapan dengan seseorang yang berpakaian serba putih itu. “Saya dialog dengan bapak itu. Namanya, katanya Lailatulkadar,” ujar Yahya mengisahkan.

    Setelah dari itu, Yahya kemudian berada di satu tempat yang dia sendiri tidak pernah melihat tempat itu sebelumnya. Di tempat itulah, Yahya menengadah ke atas dan melihat ada pintu buka-tutup. Tidak lama berselang, dua perempuan masuk ke dalam. Perempuan yang pertama masuk, tanpa hambatan apa-apa. Namun perempuan yang kedua, tersengat api panas.

    “Setelah saya sadar dari mimpi itu, seluruh badan saya, mulai dari ujung kaki sampai kepala berkeringat. Saya seperti orang yang kena malaria. Saya sudah minum obat, tapi tidak ada perubahan. Tetap saja begitu,” cerita Yahya.

    Sekitar dua jam dari peristiwa itu, di sebelah kamar, dia mendengar suara tangisan. Orang itu menangis terus seperti layaknya anak kecil. Yahya yang masih dalam kondisi panas-dingin, menghampiri suara tangisan itu. Ternyata, yang menangis itu adalah istrinya, Lusiana.

    “Saya kaget. Kenapa istri saya tiba-tiba menangis. Saya tanya kenapa menangis. Dia tidak menjawab, malah langsung memeluk saya,” tutur Yahya.

    Ternyata tangisan istri Yahya itu mengandung arti yang luar biasa. Ia menangis karena mimpi yang diceritakan suaminya kepadanya, sama dengan apa yang dimimpikan Mutmainnah. “Tadinya saya sudah hampir cerai dengan istri, karena dia tetap bertahan pada agama yang ia anut. Tapi karena mimpi itulah, malah akhirnya istri saya yang mengajak,” tandasnya.

    Akhirnya, Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan A. Qomarun Shofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Hari itulah Yahya dengan tulus mengucapkan dua kalimat syahadat.

    Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopie Waloni diganti dengan Muhammad Yahya, dan istrinya Lusiana diganti dengan Mutmainnah. Begitu pun ketiga anaknya. Putri tertuanya Silvana (8 tahun) diganti dengan nama Nur Hidayah, Sarah (7 tahun) menjadi Siti Sarah, dan putra bungsunya Zakaria (4 tahun) tetap menggunakan nama itu.

    Masuknya Yahya ke agama Islam, menimbulkan banyak interpretasi. Menurut Yahya, ada yang menyebut dirinya orang gila. Ada juga yang meragukannya, dan mungkin masih banyak interpretasi lain lagi tentang dirinya. “Tapi cukup saja sampai pada interpretasi, jangan lagi melebar ke yang lain,” pungkasnya.

    ***

    Sabtu, 4 November 2006

    Sumber :

     
    • erensdh 6:43 am on 21 Juni 2012 Permalink

      Sepertinya begitu menyenangkan bila ada yg berpindah keyakinan ke Islam… Maka stop intimidasi atau pembunuhan juga untuk yg beralih dari Islam ke keyakinan lain (yg disebut murtad)

    • jauhari 9:06 am on 10 Juli 2012 Permalink

      islam di anut oleh orang yg mendapat hidayah ALLAH ,dan dia menuju pada hidayah itu dg izin ALLAH. bukan dengan paksaan dari luar(islam lainnya) tugas seorang islam hanya berkewajiban memberi tau tentang iman dan islam serta cara mengamalkan syari’at yg ada pada kitabuLLAH dan sunnah RASULLULLAH MUHAMMAD SAW dg jujur dan benar, tapi tidak berhak memaksakan agar orang jadi memeluk nya., karena hidayah ALLAH itu diberikannya pada siapa yg dikehendakinya.

    • .umum 6:34 am on 4 September 2012 Permalink

      .kita yg sudah islam sejak lahir

    • kisah bagus 8:30 am on 5 September 2012 Permalink

      hidayah mmg bisa datang kepada siapa saja, Allahu Akbar!

    • putra haryadi 12:51 pm on 16 Oktober 2012 Permalink

      Sepertinya begitu menyenangkan bila ada yg berpindah keyakinan ke Islam… Maka stop intimidasi atau pembunuhan juga untuk yg beralih dari Islam ke keyakinan lain (yg disebut murtad)

      karena mereka sangat memusuhi agama Islam makanya dibunuh. lagian apa gw harus ikutin kemauan lw. menyelamatkan diri lw dari azab Allah aja lw nggak bisa apalagi menyalamatkan diri gw?

    • JURTUL 10:20 am on 17 Oktober 2012 Permalink

      Sdr . Erensh. Kejadian ini adalah penggenapan berita baik (Injil) itu. ni ayatnya.

      Yohanes 17:12
      Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa SELAIN DARI PADA DIA (yang menolak) YANG TELAH DITETAPKAN UNTUK BINASa., supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.

      Beliau sudah dipanggil dan melakukan panggilan itu, tetapi tidak dilih.
      Matius 22:14
      Sebab BA NYAK yang dipanggil, tetapi SEDIKIT yang dipilih.”

      Demikian Juga Bp. DR Yahya YW. STH, MTH. kalau ditinju dari Gelar sudah Full Gelar, Kalu ditInjau dari PANGGILAN, sudah Taat, ternyata beliau tidak DIPILIH.

      Karena Beliau mantan nakal ( Yang pasti saya juga dulu pernah nakal,” tukasnya.
      “Ini dulu bekas tato. Tapi semua sudah saya setrika,” katanya sambil menunjuk bekas-bekas tatonya itu.)
      Rupanya Kenakalannya ikut mengawal Dia trus, dan tidak bertobat / hidup baru.

      Tarbukti TANPA Hidup baru (meninggalkan yang lama menerima yang bau secara trus menerus) keselamatan itu akan LEPAS, pindah ke tempat lain.

      mungkin Beliau tidak menghayati dan mengimani ayat ini (kalau baca pasti sudah karena beliau jam pelayanannya sudah panjang dengan titel Full) ni ayatnya.

      Gal 6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya DIPEMAINKAN. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

      Ibrani 6 4-6 (inilah tuaian orang murtad itu)
      Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, 5 dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, 6 namun YANG MURTAD lagi, TIDAK MUNGKIN dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, SEBAB mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya DIMUKA UMUM. > Beliau TIDAK meng Imani dan meng Amini surat ini.

      LUAR BIASA SAMBUTAN SAMA BELIAU ITU . ( Orang-orang bergantian datang. Ada yang datang dengan keluarganya. Malah ada yang rombongan dengan truk dan Kijang pickup. Karena rame sekali terpaksa dibuat sabua (tenda, red) dan drop kursi dari kantor Lurah Tuweley,”

      KalAu Pengikut Ajaran Tuhan Yesus bertobat. SANGAT BERBEDA Pelaku dan tempatnya. ni ayat.

      Lukas 15:10
      Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada SUKA CITA pada MALAIKAT-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang BERTOBAT.” >> beda kan.

      Ini tanggapan saya, Khususnya buat srku seIman. SYALOM

    • JURTUL 11:01 am on 17 Oktober 2012 Permalink

      Koreksi ya.
      (meninggalkan yang lama menerima yang bau > seharusnya BARU)

    • JURTUL 1:04 pm on 17 Oktober 2012 Permalink

      Sdr Erensh,

      Saya Umpamakan. sekarang Bp. Dr. Yahya Yopie Waloni, S.TH, M.TH. lagi berkhotah di Pelayanannya.
      Beliau DULU. Dia mengambil Topiknya dari

      Mat 20: 20 -23
      20 Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.
      21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
      22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
      23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! ENYAHLAH DARI PADAKU , kamu sekalian pembuat kejahatan!”

      Kesimpulan Khotbahnya. siapa Yang berseru itu ????? itulah Dia Para GEMBALA JEMAAT , GURU PENGAJAR ALKITAB, PENDETA ,>>” PENYESAT atau PALSU ”

      Oleh karena itu mari kita ingat pesan Tuhan Yesus ini : Aku datang segera. PEGANGLAH apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu. (Wahyu 3:11)

      Ini tanggapan Firman Tuhan mengenai kasus diatas. jangan heran ya. SYALOM

    • ady pradana 8:04 pm on 28 Oktober 2012 Permalink

      SMOGA BAPAK SLALU DI RAHMATI ALLAH SWT.

    • JURTUL 8:05 am on 29 Oktober 2012 Permalink

      SDR ADY.
      Saya TOLAK rahmat dari Allah swt.
      Penolakan saya berdasarkan 109. Al Kaafiirun. >> Tuhanmu bukan TuhanKu

      Agama Boleh banyak dan bereda beda, Nabi boleh Besar sampai pengikutnya buuanyaakkkk bangat, tetapi kepastian masuk sorga nanti hanya JANJI dari yang punya sorga ” Yesus” namanya.

    • oldfartjoseph 8:19 am on 12 November 2012 Permalink

      jika saudara masuk islam , saudara tetap bisa mencintai yesus, bukan sebagai tuhan tapi sebagai nabi … sebagai juru selamat bersama 25 nabi yang lain

    • joel 2:30 am on 13 November 2012 Permalink

      “ALLAHUAKBAR..”
      JURTUL sok taw lu ah.. kalau mmg bener jumpain aja tu DR. Muhammad yahya nya.. suruh dia betobat kyk yg lu bilang.. Banyak Cito Dikaw neh..

    • bismillahirohmanirohim 4:29 pm on 13 November 2012 Permalink

      Hi JURTUL,How are you?
      mau tanya nih ^_^ kenapa kalian menyembah sesama manusia? dia itu sama seperti anda yaitu “manusia” kenapa disembah? karena dia suci? punya mukjizat? di dunia ini bukan hanya yesus yang suci dan punya mukjizat, mengapa yg kalian sembah cuma yesus aja?
      dia hanya manusia biasa? apa ada di alkitab kalian bahwa DIA yang manusia sama seperti kita itu yang telah menciptakan segala alam semesta ini? tuhan kalian memiliki seorang ibu, mengapa tidak kalian anggap dia tuhan juga, karena ibunya telah melahirkan yesus kalian? Mengapa tuhan kalian bisa mati sama seperti manusia pada umumnya?

      Dan sekarang yang paling saya pertanyakan mengapa umat kalian dulunya bermusuhan sekarang malah berteman dengan umat yahudi? sementara umat yahudi-lah yang telah membunuh/menyalib yesus kalian? bukankah di kitab kalian yahudi adalah musuh? tetapi sekarang kalian malah bersatu untuk menghancurkan islam contohnya amerika dan israel bersatu untuk menghancurkan kaum kami yaitu Islam.

      Yesus yang disalib itu adalah bukan tuhan kalian yang sebenarnya, karena tuhan kalian yang sebenarnya (nabi Isa) telah di selamatkan oleh tuhan kami yaitu “ALLAH” ketika akan di siksa oleh kaum yahudi untuk di salib.
      Yang disalib dan kalian sembah itu adalah “Judas” sahabat tuhan kalian “nabi Isa” yang telah berkhianat kepada nabi Isa dan tuhan kami “ALLAH” melaknat “JUDAS” dan mengutuknya menjadi berwajah mirip seperti nabi Isa sehingga bangsa yahudi menyalib “JUDAS” karena mereka mengira itu adalah nabi Isa/yesus kalian.

      Kita hidup didunia ini tidak bisa berpegang teguh pada 1 kitab saja, cobalah anda membaca kitab kami yang paling sempurna ini dan bandingkan makna isinya dengan alkitab kalian :)

      Mau beragama Islam, Kristen, Yahudi, Budha, Hindu itu adalah terserah pada orang yang ingin menganutnya :)

      Semoga orang yang non muslim setelah membaca ini mendapatkan hidayah dan pikirannya terbuka akan kebenaran. Amin ya robbal alamin :)

      Jangan ada musuh-musuhan lagi ya, semoga kita bisa tenang, damai, dan saling toleransi hidup didunia ini :)

      Wassalam.

    • Awam 11:19 am on 18 November 2012 Permalink

      Sewaktu Islam masih berkuasa di Spanyol,tidak ada rasa takut dan mereka (umat Kristen) bisa menjalankan ibadah mereka dengan damai dan aman. Tidak ada paksaan pada mereka untuk memeluk Islam. Tapi ketika Kristen(ma’af,saya menyebut Kristen,bukan Nasrani,karena Nasrani mengakui dan memuliakan Isa AS/Yesus sebagai Nabi,bukan Tuhan) berkuasa,umat Islam dipaksa masuk Kristen,bagi yang tidak mau,mereka harus keluar dari Spanyol,dan bagi yang tetap tinggal,mereka dibunuh.
      Nabi pernah marah pada salah satu gubernurnya,karena dia telah mengzhalimi seorang Yahudi yang mau hidup berdampingan dalam damai dengan kaum muslim.

    • Ema 8:26 pm on 22 November 2012 Permalink

      Sesungguhnya Allah itu Maha Tau,,, Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada Dr. Muhammad Yahya Waloni,,,,

    • JURTUL 7:50 pm on 25 November 2012 Permalink

      Hi JURTUL,How are you? Fine Tq

      Kami Bukan menyembah sesama Manusia tetapi Menyembah SATU (esa) Tuhan. Yesus Namanya.

      Siapa Yang memeberi nama Yesus, Yesus itu Tuhan, Yesus itu anak Allah.

      1. Namam Yesus.

      Lukas 1: 26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, 27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. 28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” 29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. 30 Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. 31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia YESUS.

      2. YESUS TUHAN
      Lukas 1: 9 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. 10 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:
      11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, TUHAN, di kota Daud.

      3. YESUS ANAK ALLAH.
      Lukas 2: 21 Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit 22 dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah ANAK-KU yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

      Berdasarkan surat Injil, yang ditulis Lukas, Murid Yesus, saksi Hidup. Orang Kristen Mengatakan, seperti di surat tersebut, BUKAN karangan.

    • theo 12:49 pm on 26 November 2012 Permalink

      syalom saudara..

      Debat yang seperti ini tidak ada titik temunya.
      percaya ga percaya debat ini akan menimbulkan perselisihan satu sama lain.

      seseorang percaya pada Tuhan Yesus hanyalah anugerah.

    • jurtul 1:47 pm on 26 November 2012 Permalink

      INI CERITA DONGENG ARAB MU
      Yang disalib dan kalian sembah itu adalah “Judas” sahabat tuhan kalian “nabi Isa” yang telah berkhianat kepada nabi Isa dan tuhan kami “ALLAH” melaknat “JUDAS” dan mengutuknya menjadi berwajah mirip seperti nabi Isa sehingga bangsa yahudi menyalib “JUDAS” karena mereka mengira itu adalah nabi Isa/yesus kalian.

      LANJUTANNYA.
      وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ (Qs Al-i ‘Imran 3:54) Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan ALLAH SEAIK-BAIKNYA PEMBAAS TIPU DAYA .
      <<< JUDAS MAIN TIPU2 AN SAMA ALLAH << Yang mencipta menipu yang dicipta ??<> AKHIR AJALMU<> LIHAT DISINI DISEBUT ISA SAMPAI AKHIR AJALNYA alias MATI << yang benar mana bung<<> bismillahirohmanirohim << tolong jelaskan hubungan surat2 diatas mengenai Isa itu, yang benar yang mana.

    • eben 11:33 pm on 27 November 2012 Permalink

      jurtul…..
      kalau kamu memang ingin kebenaran…. perbaiki dulu hatimu……
      dan niatkan di hatimu untuk mencari kebenaran… setelah kamu dapatkan kebenaran ikuti itu…. jangan kamu sangkal…
      sebab kamu tidak akan dapat memahami ayat al quran dengan hati yang menolak kebenaran…..

    • bengkelmobiljakartatimur 8:54 am on 6 Desember 2012 Permalink

      Bung eben
      Kebenaran itu adalah, Yesus itu hidup di Sorga sampai selama lamanya, karena Dia Tuhan
      dan hanya Dia yang berani memberikan KEPASTIAN manusia bisa masuk sorgaNya.

      Bukan sorga yang dijanjikan Nabi. M, melalui Qs nya, yang masih berisi kehidupan duniawi seperti SEX, dan makan minum.

    • JURTUL 9:19 am on 6 Desember 2012 Permalink

      Bung Eben,
      “” kalau kamu memang ingin kebenaran…. perbaiki dulu hatimu……
      dan niatkan di hatimu untuk mencari kebenaran… setelah kamu dapatkan kebenaran ikuti itu…. jangan kamu sangkal… “”

      Ya……….. inilah kebenaran itu.

      Yohanes 1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan KEBENARAN<<.

    • eben 8:18 pm on 7 Desember 2012 Permalink

      @ bengkelmobiljakartatimur : dimana Qs yang mengatakan kalau Nabi . M mengajarkan sex dan makan minum,

      kalau sex sebenarnya ini bunyinya :
      “Tetapi orang tahu anak-anaknya nanti tidak akan menjadi miliknya. Jadi setiap kali ia bersetubuh dengan janda abangnya itu, dibiarkan maninya ditumpahkan di luar, supaya abangnya tidak akan mendapat keturunan.” (Kejadian 38: 9)

      Aku punya adik wanita yang kecil buah dadanya.” (Kidung 8: 8)

      masa sih ada orang yang mempermasalahkan buah dada adiknya yang kecil… sampai2 ada di kitab suci lagi….

      Hai @jurtul :
      kalau ayat yang ini bagaimana???

      Yohanes pasal 10 ayat 30, menerangkan bahwa Allah dan Yesus (Isa) bersatu, yaitu, “Aku dan Bapa adalah satu.” Sedangkan, pada Matius pasal 27 ayat 46 menjelaskan bahwa Yesus dan Allah berpisah, yaitu, “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” ‘Artinya, “Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”

      Roma 3:7
      Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa

      sebenarnya siapa yang tuhan?? Tuan Yesus atau???

      dan roma 3:7 itu apa ya?? itu maksudnya apa ya?? tolong bantu dong.. sebab kalau aku yang menterjemahkan ya seperti ini…. ” masak sih untuk membangun kerajaan Allah dengan berdusta di bilang pendosa.. padahal kan walaupun berdusta tetap untuk membangun kerajaan Allah”
      wah berarti berdusta boleh dong.. :)

      bengkelmobiljakartatimur dan jurtul : maaf ya… silahkan dikoreksi bila saya salah…..

    • Baehaqi 11:53 pm on 7 Desember 2012 Permalink

      Hendklh kalian mjd mnusia mulia bkn mjd domba-domba yesus.
      Krn domba adlh binatang yg tdk mempunyai akal fikirn sprti manusia,mk lebih baik and brwjud binatang dr pd brwujud mnusia.

    • agus 12:56 am on 9 Desember 2012 Permalink

      kepada sdr. jurtul
      sebaiknya anda coba dengarkan ceramah bpk. M.yahya beliau lebih hapal bible luar kepala beliau adalah mantan pendeta, dan beliau mengakui semua kebohongan nasrani, saya bener-2 terpukau setelah mendengar beliau. silahkan anda searching di google tentang pidato beliau atau anda bisa membeli buku yg beliau terbitkan.

    • lgsial 12:33 pm on 16 Desember 2012 Permalink

      gak ada hukum bunuh murtad di Quran, tapi ada di injil , silahkan baca Deuteronomy 13:6-9 , Deuteronomy 13:12-17 , 2 Chronicles 15:13, Luke 19:27

    • Lily Fauziah A.Q Shofa 11:09 am on 17 Desember 2012 Permalink

      Untuk penulisnya mohon diperbaiki nama yg menuntun Bapak Yahya W masuk islam, nama beliau bukan komarudin sofa tetapi A.Qomarun Shofa. Terima kasih

    • iye' 2:42 pm on 26 Desember 2012 Permalink

      Telah menceritakan kepada kami Bisyr, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Yaziid, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid, dari Qataadah tentang firman-Nya : ‘Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar’ (QS. Al-Israa’ : 33), ia berkata : “Kami tidak mengetahui darah seorang muslim dihalalkan kecuali dengan satu di antara tiga sebab : seorang yang membunuh secara sengaja, maka wajib baginya ditegakkan qishaash; atau orang yang telah menikah yang berzina, maka baginya hukum rajam; dan kafir setelah Islamnya, maka baginya hukum bunuh” [Tafsiir Ath-Thabariy, 17/439; shahih].

      “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar” [QS. Al-Maaidah : 33].

    • ANAK JAIL 12:13 am on 17 Januari 2013 Permalink

      >> lgsial , baca itu tulisan si iye, kalian sama 2 muslim saling silang pendepat. gimana sih.

      >> Apa Ya definisi Penyembah Berhala, Karena kelihatannya Muslim memberhalakan Kaabah
      >> Apa Ya definisi Penjajah, Kelihatannya Muslim menjajah total kebebasan Jemaatnya.

      karena jemaatnya harus mengikuti bahasa, Tulisan, budaya dan penampilan rakyat asal agama itu. tidak seperti agama non muslim yang masih tetap mempertahankan budayanya walaupun ajaran agamanya import dari negeri lain.

    • ANAK JAIL 11:17 am on 17 Januari 2013 Permalink

      lgsial >>gak ada hukum bunuh murtad di Quran

      ni Ayatnya.
      QS 2:191. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah[117] itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka BUNUHLAH mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.

      QS 2: 54. Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan BUNUHLAH DIRIMU[49]. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka ALLAH AKAN MENERIMA TAUBATMU. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
      (ALLAH MUSLIM MENRIMA TAUBAT ORANG YANG BUNUH DIRI ????

      QS 9: 5. Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu[630], maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan[631]. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.

      Iqsial >> PERNAH BACA AYAT DIATAS BELUM, BEARTI KAMU BLUM KATAM.

    • TUKANG JEWER ANAK JAIL 7:00 am on 19 Januari 2013 Permalink

      ini sambungan ayat diatas……kalo nampilin ayat jangan sepotong2… jangan ntar ane lagi potong kepala ayam…ente bilang ane lagi potong kepala ma orang2 lain wkwkwkkw

      Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.

      At-Taubah:7
      Tweet

      Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidilharaam [632]? maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.

      At-Taubah:8
      Tweet

      Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menepati perjanjian).

      At-Taubah:9
      Tweet

      Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu .( INI YANG BARU ANDA LAKUKAN BRO….SEMUA TINGKAH LAKU “GEMBALA” SUDAH TERSIRAT DALAM ALQUR’AN )<<<<<<BRO ANAK JAIL WAJIB BACA DAN PAHAMI INI.

      At-Taubah:10
      Tweet

      Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mu`min dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

      =AYAt diatas menceritakan tentang perjanjian damai antara kaum muslimin dengan kaum musryikin saat penaklukan mekkah, yang dimana sebenarnya kaum muslimin sudah diatas angin tapi rasullullah SAW lebih memilih menaklukan makkah dengan jalan damai. tapi intinya adalah BERSIKAPA LEMBUT KEPADA YANG LEMBUT ,DAN BERSIKAP KERAS PADA YG HARUS DIKERASI. DAN KAREna pada saat itu masih dalam suasana perang bahwa diwajibkan bersikap hati2 dan keras kepada musuh dalam selimut………andaikata dipakai tampar pipi kiri beri pipi kanan ,pastilah arab dah dijajah romawi.

    • TUKANG JEWER ANAK JAIL 7:22 am on 19 Januari 2013 Permalink

      JURTUL DAN ANAK JAIL ,,,,mengunakan ayat alquran sepotong2. sia2 bro ayat alquran terjaga kemurnian nya,,,,,karana ada jutaan para hafizz yang mampu mengahapal alquran diluar kepala.itulah sebabnya alquran terjaga keaslian dan kemurniaanya. Rasulullah SAW memelihara Alquran dengan menghafalkan setiap ayat yang diwahyukan kepadanya.

      Bahkan, Allah SWT telah menjamin terpeliharanya hafalan Nabi SAW terhadap ayat-ayat Alquran. “Janganlah kamu menggerakan lidahmu untuk (membaca] Alquran karena hendak cepat-cepat menguasainya, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. (QS Al-Qiyamah 16-17]



      BAGAIMANA MUNGKIN KALIAN BISA MENGIMANI FIRMAN TUHAN YANG BISA BERUBAH2, BAGAIMANA MUNGKIN ALKITAB DIKATAKAN KITAB SUCI (MURNI/ASLI) JIKA ISINYA TELAH DIEDIT DAN DIREKAYASA

    • JURI AKHIR 7:30 pm on 19 Januari 2013 Permalink

      KEMBALI KE TOPIK.

      SESUNGGUHNYA Bp. Dr. YW, inilah yang disebut oleh alkitab ” antikristus “: asli, asli banget.
      jadi dengarkanlah peringatan alkitab ini.

      1 Yohanes 2:18
      Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah ” BANGKIT BANYAK ANTIKRISTUS “. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir.

      UNTUK ANAK2 TUHAN, TIDAK ADA GUNANYA KAMU MENGOMENTARI ATAU NIMBRUNG DISINI, khususnya buat jurtul dan anak jail ” jauh lebih baik menyiapkan diri untuk menyambut kedatangannya, jangan sampai kamu didapatNYA bercacat cela. INGAT !!.

      Wahyu 3:11
      Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.

    • ANAK JAIL. 6:39 pm on 25 Januari 2013 Permalink

      Kriteria sifat dan Karakter MULIA versi muhammad adalah.

      1. Berperang, Membunuh dan Merampas
      2. Poligami, . (punya istri banyak, ngembat anak mantu, dan anak kecil umur 9 thn)
      3. Menjajah lalu membodohi pengikutnya. (mengharuskan pengikutnya memakai tulisan, Bahasa, Budaya yaitu Arab, dan penampilan dirinya, seperti berjenggot. >> minta pengikutnya mendokannya sepanjang hidup ) >> kok pengikut mendoakan yang diikuti << Pembodohan orang Tolol<<

    • coba diingat2 1:05 am on 28 Januari 2013 Permalink

      coba diingat2 lagi, dicari di berbagai referensi(web/buku/koran)
      org yg sebelumnya muslim pindah ke agama lain, pasti waktu jadi muslim bukan muslim yg taat..(islam KTP atau muslim yg pura2 taat padahal sebenarnya enggak)
      sedangkan utk penganut agama diluar islam yg kemudian pindah jadi muslim..banyak diantaranya berasal dari kalangan yg taat (misal pendeta/pastur atau org biasa yg taat beribadah)
      mereka sdh mendalami ajaran agama sebelumnya lebih dalam..

    • ANAK JAIL. 8:24 pm on 31 Januari 2013 Permalink

      >> sedangkan utk penganut agama diluar islam yg kemudian pindah jadi muslim..banyak diantaranya berasal dari kalangan yg taat (misal pendeta/pastur atau org biasa yg taat beribadah) <> ” ANTIKRISTUS “

    • Oceania 10:29 pm on 9 Februari 2013 Permalink

      coba diingat2 lagi, dicari di berbagai referensi(web/buku/koran)
      org yg sebelumnya muslim pindah ke agama lain, pasti waktu jadi muslim bukan muslim yg taat..(islam KTP atau muslim yg pura2 taat padahal sebenarnya enggak)
      sedangkan utk penganut agama diluar islam yg kemudian pindah jadi muslim..banyak diantaranya berasal dari kalangan yg taat (misal pendeta/pastur atau org biasa yg taat beribadah)
      mereka sdh mendalami ajaran agama sebelumnya lebih dalam..

      ———————————————————————————————————————————

      hehe.. saya kebalikan dari yang ada bilang..

      setelah saya tau semua tentang isi alquran dan hadist.. saya malah mulai tinggalkan islam

      ISLAM IBARATKAN = IKUT SETAN LEWAT AJARAN MUHAMMAD

    • miskin tapi kaya 4:33 pm on 14 Februari 2013 Permalink

      Benar dan betul sekali….setelah saya telaah dan pelajari mendalam…ternyata saya lebih condong mengikuti ajaran Kristus…karena didalam ajaranNya mengajarkan Kasih yg sesungguhNya dr Tuhan Allah yg menyelamatkan saya dan semua umat yg percaya pdNya…Jd pengorbananNya dikayu salib tidaklah sia2…walaupun banyak yg menentang ajaran Kristus bahwa yg mati diatas kayu salib bukanlah Yesus…itu tidak benar!!Padahal banyak saksi2 pd zaman itu yg menyaksikan penyaliban Yesus…

    • biji sesawi 7:41 pm on 7 Maret 2013 Permalink

      => Oceania … Selamat anda sudah mendorong diri anda pada jalan kehidupan yang kekal
      => miskin tp kaya .. JBU … injil selalu mengajarkan cinta dan kasih

    • yesus islam 7:52 pm on 21 Maret 2013 Permalink

      yg ajaib banget dari Yesus apa sampe dia jadi Tuhan? Karena Yesus lahir tanpa

      ayah?? Masih lebih ajaib Adam yg lahir tanpa ayah dan ibu. Harusnya Adam jd

      Tuhan juga dong. Karena bisa nyembuhin penyakit, bangkitin orang mati, dll?

      Musa bisa belah laut, tongkat kayu bisa dia ubah jadi uler, Sulaiman bahkan

      bisa ngomong sama semut?? Artinya adalah Yesus sama mulia dengan semua nabi2

      mulia yg ajaib lainnya, tapi tidak sebagai Tuhan

    • All Pilowo 11:33 pm on 29 Maret 2013 Permalink

      Yg pertama: klo memang Yesus yg menurut kristen itu Tuhan, knapa di dlm Injil mulai dri perjanjian lama sampai perjanjian baru, yesus tdk tahu Kiamat datang? Kenapa ya? Padahal yg membuat Kiamat itu dia klo dia Tuhan?
      Yg ke dua: Sayangnya orang kristen itu tdk konsisten, krn menganggap yesus itu tuhan krn ada proses kelahirannya tdk berayah. Seharusnya setiap anak yg lahir tdk berayah sekarag ini tuhan juga itu.
      Yg ke tiga: Jika memang yesus itu tuhan sebagai sang maha kuasa dn pencabut nyawa. Suru yesus mencabut nyawa ku sekarang agr membuktikan kebenarannya jika dia tuhan.
      Yg ke empat:
      silahkan pelajari isi Injil perjanjian lama dn perjanjian baru yg sudh direvisi olh tangan2 manusia itu, yesus tdk mengklaim dirinya sebagai tuhan.
      Dn yg ke lima: unsur Trinitas tdk ada dlm Injil. Dn secara ilmiah yesus BUKAN TUHAN tetapi dia Nabi dn Rasul Allah, yg kemudian di Daulat olh Paulus biadap menjadi Tuhan dn itu terjadi sekitar thn 352 masehi.
      QULHUALLAU AHAD. Tuhan hanya Dia satu2Nya (ALLAH SWT).

    • All Pilowo 7:34 am on 30 Maret 2013 Permalink

      Assalamu’alaikum,,,
      Jika berbicara menyangkut ketuhanan yesuahamasia/yesus, menurut sya tdk Ilmiah dlm segi pandang apa saja. Kenapa? Krn sya juga mantan kristen.
      Sya bkn pendeta, tpi sya belajar alkitab mulai dri usia 9 thn. Dn akhirnya usia 20 thn Iman sya di kristen mulai terobrak-abrik olh theologia sinting!
      Maaf bukan menyinggung tapi itu Fakta yg sya temukan dlm kitab kristen.

      Dlm kitap perjanjian lama sampai perjanjian baru, coba kalian buka satu/satu. Yesus yg menurut umat kristen itu tuhan tpi menurut ummat islam dia Nabi dn Rasul Allah. Dari sinilah sudut pandang permasalahan kita.
      Saya tdk pernah menjumpai satu ayatpun dlm alkitab bhwa yesus mengklaem dirinya tuhan. Dn klo memang dirinya tuhan, kenapa dia tdk tw kapan hari Kiamat terjadi? Padahal katanya dia tuhan.
      Sebenarnya iman kristen olh Paulus yg mendaulat yesus itu tuhan terjadi sekitar 352 masehi, dn sebelum di daulat olh paulus, yesus blm menjadi tuhan. Tdk ilmiah.
      Yg berikut, apa makna dri YESUS? YESUS adlh YERUSSALEEM, itu kepanjangannya. Krn yesus di angkat menjadi tuhan itu di yerussalem/israel. Ini juga tdk ilmiah.
      Sebenarnya orang kristen itu tdk konsisten terhadap tuhan mereka, kenapa? Yesus terlahir krn tdk mempunyai ayah, klo memang dia tuhan kenapa dia lahir ke dunia harus minjam di rahim manusia? Itukah tuhan?
      Dn seharusnya setiap anak yg lahir tdk mempunyai ayah, itu jga tuhan. Knapa? Ya krn yesus tdk punya ayah. Ini juga tdk ilmiah. Coba orang kristen ambil alkitab sebanyak 10, dn Alqur’an sebanyak 10 trus bandingkan mana yg masih tetap asli dn mana yg sdh di ganti ayat2 tuhan? Pasti Alqur’an unggul dimana-mana. Krn ALQUR’AN adlh kitap literatur tertinggi yg msih mempertahankan kemurniannya. So, yesus itu adlh Isa as. Nabi dn Rasul Allah yg kita yakini selamanya.

      Wassalamu’alaikum…..

    • All Pilowo 7:56 am on 30 Maret 2013 Permalink

      Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu..
      Hai orang2 KRISTEN/NASRANI… Pendeta2 kalian telah membodohi kalian. Mereka telah menyimpan kebenaran ats kalian yg goblok2. Akhirnya kalian tetap dn tetap menerima kebodohan secara ilmiah dlm kitab2 kalian itu. Tuhan itu Esa, tdk ada ayah, tdk ada anak, dn tdk di peranakkan. Tdk terlahirkan, tdk mati, dn apalagi disalib. Semua isi alkitab kalian telah dipalsukan olh tokoh2 terdahulu. Jika memang bhs alkitab itu bhs tuhan, knpa ada kontraversi di dlm alkitab? Apakh tuhan sdh kehabisan cara untk mengajak manusia agar menyembahnya kok boro2 dia dtang ke dunia sebagai wujud manusia dn mw menerima dosa manusia yg kendati tdk cebok di tumplakan padanya, kemudian rela mati demi hambanya di kayu salib?
      Dimana akal sehat kalian? Kalian telah ditipu olh Paulus biadap.

      “Do’a ku”,,, Ya Allah yg Maha Pengampun dn Maha Pemberi Hidayah, berikanlah hidayahMu pada saudara2 ku yg kristen agr mereka kembali ke jalanMu. Sesungguhnya akal mereka telah tertutup olh kebodohan kitab2 mereka yg bukan KitabMu lagi. Tpi klo bole jgn semua KAU berikan HidayahMu. Sisakan sedikit buat Kau campakkan mereka ke dlm NerakaMu ya Rabbi.. Aamiin ya Rabbal’alamin….

      Wassalamu’alaikum..

    • sendal onta 9:39 pm on 2 April 2013 Permalink

      semoga allah swt memberi hidayah kepada mereka yang belum tersentuh islam…

    • rose 6:17 pm on 16 Mei 2013 Permalink

      ikut nimbrung yaa..
      assalamualaikum..

      sbnrnya yg jadi prbedaan trbesar antara kristen dan islam adalah mengenai siapa Yesus. Menurut ajaran Islam Yesus adalah seorang Nabi yang mengajarkan agama Allah. tetapi menurut ajaran kristen, Yesus adlah Tuhan.
      sampai kpnpun tetap tdk akn ada titik temu untuk membahas hal ini.
      tetapi ijinkanlah saya brtanya kepada Anda kaum Kristiani, kenapa Yesus itu Anda Tuhankan?
      1. apakah karena dia melakukan mujizat2?
      nabi musa pun melakukan banyak mujizat saat membawa umat Israel keluar dri Tanah Mesir menuju Kanaan. kenapa bukan dia sja yg dijadikan Tuhan?

      2. apakah karena dia mati dan terangkat ke sorga?
      nabi Elia terangkat ke sorga hidup2 tnpa mengalami kematian menggunakan kereta dari api. kenapa bukan dia yg dijadikan Tuhan?
      3. apakah karena Yesus tidak memiliki Ayah? melkisedek, raja salem tidak memiliki ayah dan ibu. jg tdk mmiliki silsilah. knp bukan dia yg dijadikan Tuhan?

      Mengapa klian meributkan nabi kami yg memiliki 13 istri, tetapi Salomo yg memiliki 700 istri dan 300 gundik tdk kalian prsoalkan?

      saya menghargai setiap pemeluk agama, tetapi keselamatan hanya milik Allah.
      tiada Tuhan selain Allah..
      Allahhu Akbar

    • PATAR 4:53 pm on 10 Juni 2013 Permalink

      ROSE, ALL PILOWO > pembohong kamu pernah membaca alkitab < saya akan menjawab pertanyaan anda sesuai yang ada tertulis di Alkitab yang saya percayai.

      1.NAMA YESUS.

      Luk 1:31
      Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. (suara Tuhan melalui malikatNya)

      2. YESUS TUHAN

      Luk. 2: 11
      Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, TUHAN, di kota Daud. (suara tuhan melalui malaikatNya

      Yoh 13:13.
      Kamu menyebut Aku Guru dan TUHAN, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan TUHAN. (suara Tuhan Yesus sendiri)

      3. YESUS ANAK ALLAH

      Luk 3:22 (suara Tuhan)
      dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah ANAK-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." (Suara Tuhan )

      Makanya Yesus sering menyebut Bapaku . dan diikuti oleh pengikutnya.
      Dan pengikut Yesus memanggilnya Anak Allah

      4. Nama Bapa

      Yoh. 17 : 11
      Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam NAMA- MU- , yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.

      (hubungkan Luk 1:31 dengan ayat ini)

      5. Kuasa nama Yesus
      Kisah 4:12
      Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."

      Makanya doa Kristen selalu didalam nama Yesus.

      saya harap bisa menjawab pertanyaan anda.

    • PATAR 5:06 pm on 10 Juni 2013 Permalink

      Bung All Pilowo

      Agama TIDAK pernah bisa menyelamatkan. Buktinya anda sendiri.
      Biar Pindah Agama APApun kamu di muka bumi INI kamu tidak akan pernah Selamat dari Penghakiman di akhirat.

      1. Kamu bilang TIDAK ayat Yesus mengclaim dirinya Tuhan, itu ada diatas kan. < dan saya sudah tau jawabanmu itu Palsu.

      2. Saya Tidak Perduli Agama, karena agama hanya menghasilkan Orang2, Pelanggar Aturan Agama. Mau Islam, Mau Kristen dll, dll.
      disi TERBUKTI hasil produknya. Menjadi Juri dan Hakim kepada AGAMA orang lain.

      3. Bagaikan Seorang Memakai BajU Pemain Bola kelas dunia, berjalan dengan gayanya, padahal nendang bola saja tidak bejus.

      4. Kamu Muslimer, dan Kristener, Pelajari kitab suci mu dengan baik. tidak satu ajaran pun dalam kitab suci itu. mengajarkan Jadilah Juri dan Hakim buat jemaat Agama lain

      5. AGAMAMU, KRISTENER MUSLIMER SUDAH GAGAL TOTAL MENJADIKAN KALIAN BERDUA MENJADI JEMAATNYA. LUCIFER SUDAH TERTAWA MELIHAT KRISTENER DAN MUSLIMER DI BLOK INI, tetapi Nabi dan Tuhan yang kalian sebut Sedih dan mungkin menangis disana, melihat kelakuanmu kristener dan muslimer yang sudah menjadi juri dan hakim kepada agama lain.

      TOBATLAH SOBAT.

    • Nento Luki 8:31 am on 2 Juli 2013 Permalink

      Kisah pendeta masuk Islam bukanlah cerita baru, sudah sejak awal zaman Nabi sebelum Hijrah Ke Madina. Pendek cerita Kaisar Romawi dan Pendetanya sudah yakin bahwa yang katanya mangaku Nabi itu memang benar-benar Nabi. Pendetanya bersyahadat, kaisarnya tidak mau karena sayang dengan tahtanya. Pendetanya mendapat petunjuk Kaisarnya tidak. Jadi bukan persoalan kebenaran Islam atau tidak, tapi sang pendeta masuk Islam karena ada petenjuk dari Allah swt. Para Ilmuwan non-Muslim mengakui kebenaran Islam, tapi yang mendapat petunjuk bersyahadat dan yang tidak, tetap pada agamanya bahkan memusuhi Islam.
      Tidak perlu ngotot dengan perdebatan, hanya akan berahir dengan kebencian sesama manusia, yang tidak lain adalah makhluk Allah swt juga. “Faminkum kafiru wa minkun mu’min”. Mu’min dan kafir sama sama punya hak numpang di bumi Allah swt.
      Tks was.

    • Kristen adlh agama ku & TUHAN adlh kepercayaan ku 1:43 pm on 14 Februari 2014 Permalink

      Knp manusia di dunia ini saling bertentangan soal agama?
      Seharus nya kita itu sadar trhadap diri kita sndri,jgn memandang agama org lain.baik kristen maupun islam,dll.
      Yg sebenar & sesunguh sungguh nya kita ini manusia yg di ciptakan oleh satu TUHAN . Mengapa kita slalu meremehkn TUHAN nya islam & kristen..
      Sadar lah dgn ucapan2 kasar mu tentang TUHAN.sgeralah minta ampun kpd nya atas ketidak percayaan mu.
      Kita ini manusia yg di ciptakan dari tanah & debu,jika kita mati nanti maka kita akan kembali lg menjadi debu.yg menciptakan kita adlh SATU yaitu TUHAN ALLAH YG MAHA KUASA.
      Tidak ada yg nama nya di dunia ini TUHAN nya islam & kristen itu beda. TUHAN itu hanya SATU.
      Yg membedakan kita adlh cara penyembahan kita & kpda siapa kita percaya. Jgn saling menghakimi tentang agama.

    • dit 4:33 pm on 13 Juni 2014 Permalink

      menurut pengalaman saya. Ada temna2 saya yang dulunya islam masuk ke kristen tahu2 masuk islam lagi, kemudian masuk kristen lagi, ujung2nya agamanya nggak jelas. Begitu juga ada yang dulunya kristen kemudian masuk islam, lalu masuk kristen lagi, tak lama kemudian masuk islam lagi.
      kesimpulan saya adalah: orang yang suka pindah2 agama adalah orang yang tidak punya kenyakinan kuat. waspada kepada orang2 seperti itu.
      Jangan sampai kita yang bener2 beragama terhasut dengan orang2 demikian.

    • madinah 7:17 am on 26 Agustus 2014 Permalink

      buat saudara Muslim mohon penjelasan ttg 1 “Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan” (Qs 19:71) 2, “Barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” Qs 2:81 (2 ayat dalam Alquran menjelaskan klu semua Muslim akan menghuni Neraka, berarti muslim tdk dpt meniduri Bidadari)

  • erva kurniawan 1:21 am on 8 June 2012 Permalink | Balas  

    Belajar dari Semut 

    Belajar dari Semut

    Mengikuti jejak K.H. Zainuddin MZ yang tenar sebagai da’i sejuta umat, Aa Gym da’i “sejuta hati”, atau ustad Arifin Ilham yang identik dengan majelis zikir, nama Yusuf Mansur belakangan beken sebagai da’i penganjur sedekah.

    Dalam setiap tausiyahnya, penulis 30-an buku ini selalu mendengungkan kekuatan sedekah. Tema sedekah – dihubungkan dengan pemberdayaan ekonomi umat – tampak mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Penceramah jebolan IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat (“Ane enggak punya ijazah, brenti waktu nyusun skripsi,” katanya buka kartu dalam logat Betawi kental) ini pun laris bak kacang goreng.

    “Bulan ini (Agustus 2006 – Red.), enggak ada hari tanpa tausiyah. Satu hari bisa lima sampai enam tempat,” aku seorang stafnya.

    Yusuf kian identik dengan sedekah, setelah bareng rumah produksi Sinemart menggagas sinetron Maha Kasih. Sinetron yang ditayangkan sebuah stasiun teve swasta itu diangkat berdasarkan kisah nyata dan sarat pesan hikmah sedekah.

    Yusuf juga pernah menjadi Duta Dompet Dhuafa dan Duta Bank Muamalat. Tahun 1999 – 2000, Yusuf bahkan aktif di Majelis Syifa, yang mempraktikkan terapi sedekah untuk penyembuhan penyakit fisik. Ceramah Yusuf terasa hidup, karena bapak dari dua orang anak ini selalu menyelipkan kisah nyata.

    Sekali waktu, ia berkisah tentang seorang buruh yang bersedekah Rp 5.000,- di sebuah acara tausiyah. Eh, begitu sampai di rumah, ada orang kaya numpang buang hajat di kamar mandinya. Setelah berhajat, musafir tadi menyerahkan Rp 50 ribu buat “jajan” anak si empunya rumah. “Pak ustad, sedekah saya dibalas 10 kali lipat hari itu juga,” tutur sang buruh berkaca-kaca.

    Yusuf juga fasih bertutur tentang kesaksian seorang office boy yang menyetor seluruh gaji pertamanya untuk ibunda tercinta. Esoknya, ia diganjar balasan setimpal, tak lebih tak kurang, Rp 600.000,-. Duit pengganti gaji itu didapatnya sebagai komisi jerih payah membantu menjualkan motor seorang teman. Setelah itu, selalu saja ada rezeki yang masuk ke kantung si office boy. Total jenderal di akhir bulan istimewa itu, ia “gajian” sampai Rp 5 juta – Rp 6 juta.

    Kesaksian orang-orang yang pernah terbantu oleh sedekah itu ikut membentuk keyakinan Yusuf, bahwa kekuatan sedekah tidak main-main. Apalagi ia juga punya kisah sendiri. Akhir 1990-an, selama beberapa bulan, Yusuf sempat merasakan pahitnya tinggal di rumah tahanan. Ia terbelit utang.

    “Pinjaman usaha yang mulanya sedikit, karena kebodohan saya, berbunga dan membengkak jadi lebih dari satu miliar. Orang Betawi bilang, bukan lagi gali lubang tutup lubang, tapi gali lubang tutup empang,” ujar pemilik blog beradres wisatahati.multiply.com ini menerawang.

    Saat dibekap kesulitan itulah, ia mengalami dua pengalaman luar biasa. “Di tahanan suatu kali saya merasa sangat lapar. Enggak ada makanan. Yang ada cuma sedikit sisa roti, saya simpan di bawah bantal. Tapi begitu roti mau saya makan, tampak semut berbaris di tembok sampai lantai. Saya merasakan itu sebagai pertanda alam, lalu teringat hadis, yang artinya kira-kira, Allah akan membantu hambanya, selama hamba itu mau membantu yang lain.”

    Tanpa pikir panjang, Yusuf menyerahkan sejumput roti itu pada gerombolan semut. Entah mengapa, ia begitu ingin bersedekah saat itu. “Lima menit kemudian, seorang sipir datang bertanya, ‘Suf, udah makan apa belum?’ Setengah percaya, saya menggelengkan kepala. Alhamdulillah, dalam hati saya tak putus-putusnya mengucap syukur,” imbuh Yusuf.

    ***

    Dari Sahabat

    t-wei� 9 o0� �� ter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px; -webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: rgb(255, 255, 255); “>selalu saja ada rezeki yang masuk ke kantung si office boy. Total jenderal di
    akhir bulan istimewa itu, ia “gajian” sampai Rp 5 juta – Rp 6 juta.
    Kesaksian orang-orang yang pernah terbantu oleh sedekah itu ikut membentuk
    keyakinan Yusuf, bahwa kekuatan sedekah tidak main-main. Apalagi ia juga punya
    setori sendiri. Akhir 1990-an, selama beberapa bulan, Yusuf sempat merasakan
    pahitnya tinggal di rumah tahanan. Ia terbelit utang. “Pinjaman usaha yang
    mulanya sedikit, karena kebodohan saya, berbunga dan membengkak jadi lebih dari
    satu miliar. Orang Betawi bilang, bukan lagi gali lubang tutup lubang, tapi gali
    lubang tutup empang,” ujar pemilik blog beradres wisatahati.multiply.com ini
    menerawang.
    Saat dibekap kesulitan itulah, ia mengalami dua pengalaman luar biasa. “Di
    tahanan suatu kali saya merasa sangat lapar. Enggak ada makanan. Yang ada cuma
    sedikit sisa roti, saya simpan di bawah bantal. Tapi begitu roti mau saya makan,
    tampak semut berbaris di tembok sampai lantai. Saya merasakan itu sebagai
    pertanda alam, lalu teringat hadis, yang artinya kira-kira, Allah akan membantu
    hambanya, selama hamba itu mau membantu yang lain.”
    Tanpa pikir panjang, Yusuf menyerahkan sejumput roti itu pada gerombolan semut.
    Entah mengapa, ia begitu ingin bersedekah saat itu. “Lima menit kemudian,
    seorang sipir datang bertanya, ‘Suf, udah makan apa belum?’ Setengah percaya,
    saya menggelengkan kepala. Alhamdulillah, dalam hati saya tak putus-putusnya
    mengucap syukur,” imbuh Yusuf.

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 3 June 2012 Permalink | Balas  

    Beratnya Memakai Kerudung 

    Beratnya Memakai Kerudung

    Firman Allah SWT: “Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung” (QS. An-Nur/24:31)

    Pada masa remaja dan saat menjadi seorang pria dewasa muda, yang “jauh” dari Allah, saya suka berbuat iseng, mengganggu, dan meledek teman-teman saya yang memakai kerudung. Pada saat itu masih sangat sedikit wanita yang menggunakan kerudung dalam kehidupan sehari-hari. Ketika itu, wanita yang menggunakan kerudung dipandang sebagai orang-orang yang ikut aliran tertentu.

    Pada saat kehidupan saya mulai “dekat” dengan Allah, saya baru menyadari betapa jahiliyah-nya saya ketika itu. Saya baru sadar, bahwa ternyata berkerudung bagi wanita merupakan kewajiban yang tercantum dalam Al Qur’an. Jadi berkerudung (menutup aurat) bagi wanita sama wajibnya seperti perintah sholat, puasa, dan ibadah lainnya.

    Ketika saya mendekatkan diri dengan Allah dan berjuang menjauhi semua maksiat yang pernah saya lakukan, saya benar-benar meniatkan diri untuk menjadi Muslim yang “kaffah”. Setelah saya naik haji tahun 1995, dan mendapatkan pengarahan dari “guru” saya, saya meniatkan untuk meninggalkan bank konvensional tempat saya bekerja hingga terwujud 4 tahun kemudian (tahun 1999) untuk resign dari bank konvensional tersebut. Demikian pula saya ingin penampilan isteri saya berubah dari memakai pakaian “konvensional” menjadi memakai pakaian yang “syariah”. Namun ternyata tidak mudah untuk mewujudkan hal tersebut. Isteri saya yang sudah terbiasa memakai pakaian “konvensional” dan lingkungan serta keluarganya yang juga terbiasa memakai pakaian “konvensional” sejak dia kecil hingga menjadi isteri saya, membutuhkan perjuangan yang berat dan panjang hingga benar-benar mantap memakai pakaian yang “syariah”.

    Isteri saya baru siap berpakaian “syariah” dengan kerudung di kepala setelah 6 tahun pulang dari “tanah suci”. Isteri saya pergi ke “Makkah” pada tahun 1997 bersama saya yang masih bekerja di bank “konvensional” saat itu. Pulang dari “Mekkah”, isteri saya masih belum “siap” untuk memakai pakaian lengkap dengan kerudungnya. Dia baru mampu menggunakan pakaian yang cukup “tertutup”. Berbagai alasan yang “menguatkan” isteri saya untuk tidak siap berkerudung. Hal utama yang “menguatkan” untuk tidak berkerudung adalah rasa “percaya diri” (PD) yang rendah untuk memakai kerudung. Dia merasa wajahnya tidak pas untuk bekerudung. Ada saja rasa “kurang” setiap kali memakai kerudung. Padahal di mata saya, isteri saya tambah cantik saat memakai kerudung. Namun dia tetap tidak “PD” berkerudung. Namun akhirnya setelah dengan niat yang “mantap” di hati isteri saya, dia berhasil pada kuartal ketiga 2003 memakai kerudung sebagai bagian dari pakaiannya sehari-hari hingga hari ini.

    Alasan tidak “PD” untuk berkerudung bukan hanya menimpa isteri saya saja, tetapi juga kakak perempuan saya satu-satunya, serta isteri-isteri saudara-saudara laki-laki saya. Namun, alhamdulillah, setelah mereka berniat dengan “mantap” dengan dorongan suami-suami mereka, akhirnya saat ini mereka telah menggunakan kerudung. Saya sangat bahagia melihat photo keluarga besar saya yang lengkap pada “Idul Fitri” tahun lalu (1428 H), semua wanita dewasa memakai kerudung dalam photo tersebut. Photo itu adalah photo keluarga terakhir yang lengkap bersama “Ibunda” kami (3 bulan setelah itu Ibunda berpulang ke rahmatullah). Photo tersebut sangat berbeda dengan photo keluarga kami pada tahun 2002 yang hampir semua wanitanya tidak menggunakan kerudung.

    Di sisi lain, banyak pula wanita yang sudah punya kesadaran penuh untuk berkerudung, namun banyak tantangan yang harus mereka hadapi untuk dapat menggunakan kerudung dalam kehidupan sehari-hari. Betapa banyak wanita yang ingin berkerudung tetapi mempunyai kendala karena tempat kerjanya yang tidak dapat “menerima” pegawai yang berkerudung. Mereka benar-benar merindukan lingkungan yang dapat menerima mereka berkerudung secara “utuh”.

    Pengalaman isteri dan saudara-saudara saya yang “berat” untuk menggunakan kerudung baik karena tidak “PD” maupun lingkungan yang “tidak mendukung”, membuat saya sedih setiap melihat adanya pegawai “lembaga syariah” yang hanya berkerudung pada hari dan jam kerja saja. Menurut pendapat saya pribadi, sungguh sangat sayang jika 5 hari dalam sepekan dan 10 jam dalam hari-hari tersebut menggunakan kerudung karena “tuntutan” pekerjaan. Dan membuka kerudung di depan umum pada 2 hari lain dalam satu pekan. Betapa sayangnya kesempatan yang dimiliki untuk dapat mematuhi perintah Allah terbuang sia-sia. Mengapa masih ada pegawai “lembaga syariah” tidak mampu menggunakan kerudung hanya 2 hari sepekan dan beberapa jam di hari-hari lain, padahal lingkungan sudah mendukung. Mengapa mereka lebih “takut” pada peraturan perusahaan yang “mewajibkan” mereka berkerudung saat bekerja, dibandingkan takut dengan “perintah” Allah untuk menutup “aurat” dengan berkerudung setiap saat…….?????

    Entahlah, mungkin saya yang terlalu hipokrit karena dahulu hidup saya jauh dari “Allah”. Sehingga ketika kehidupan saya mendekat kepada “Allah”, saya merasa sangat sayang jika ada orang-orang yang punya kesempatan dekat dengan Allah, tetapi tidak mengikuti perintah Allah secara “kaffah”.

    Wallahualam bishowab

    ***

    Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami)

     

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 31 May 2012 Permalink | Balas  

    Menjemput Surga 

    Menjemput Surga

    Wito namanya. Ia seorang yatim. Ayahnya meninggal saat ia masih di bangku Madrasah Ibtidaiyah. Sedih tentu. Tapi, ia dan keluarga bukan tipe manusia yang gampang patah. Ibunya pekerja keras, biasa membantu keluarga tetangga memasak untuk hajatan. Wito kecil itu juga seorang ulet. Ia bekerja keras membantu siapa pun sambil bersekolah. Lulus SMA swasta di kampungnya, ia hijrah ke Jakarta untuk ‘ikut orang’. Ia bukan saja andalan keluarga yang diikutinya untuk tugas-tugas domestik, namun juga andalan masjid untuk menjaga kebersihan. Masih sempat pula ia kuliah. Meskipun dengan tertatih-tatih, ia mampu merampungkan kuliahnya. Sebuah bekal untuk memperoleh pekerjaan di sebuah kantor di Solo.

    Di kantor itu, ia pekerja andalan. Ia sanggup mengerjakan tugas apa pun tanpa pilih-pilih. Kepala Bagian Umum menjadi tempat yang pas baginya, sampai kemudian perusahaan itu bangkrut. Ia harus kehilangan pekerjaan, saat sudah harus menanggung beban keluarga dengan satu anak. Limbung? Wito bukan seorang yang suka memikirkan nasib. Apalagi, meratapi dan mengasihani diri sendiri sebagaimana jutaan manusia lain. Ia memilih berbuat dan berbuat. Ia tahu persis bahwa perbuatanlah, dalam istilah agama adalah amal, yang akan dinilai di Hari Akhir nanti. Bukan pikiran, apalagi ratapan. Mushala kecil di sekitarnya ia rawat dengan baik. Anak-anak di sekitar itu diajarinya mengaji, tanpa bayaran sama sekali. Untuk penghidupannya sendiri, ia menyewa becak dari tetangganya. Tanpa ragu dan malu sama sekali serta tanpa mempersoalkan bahwa dirinya sarjana, ia menarik becak itu. Sebuah becak yang kemudian menjadi miliknya.

    Sang istri semestinya bisa membantunya. Tapi, kondisi fisik istrinya ternyata sangat lemah. Apalagi, saat istrinya hamil. Dengan riang hati, Wito menyampaikan pada istrinya untuk berhati-hati dan menjaga kesehatannya sendiri. Seluruh urusan pekerjaan rumah ia tangani sendiri pula. Seusai jamaah Subuh di mushala, ia akan masak untuk keluarga, mencuci pakaian, serta menyapu rumah dan halaman sekitar. Lalu, ia mandi dan menarik becak hingga sekitar pukul 10 pagi. Saat itulah ia akan membelokkan becaknya ke pasar untuk berbelanja kelapa.

    Dengan tangannya sendiri, ia membuat gerobak untuk berjualan es kelapa di dekat rumahnya. Sendiri ia berjualan es kelapa. Dengan harga murah, tempatnya menjadi pilihan para pengendara motor untuk istirahat sejenak, menghapus dahaga. Malam hari, setelah mengajar mengaji, ia sempatkan diri untuk mengikuti kursus pijat terapi. Ia terus perdalam sampai menjadi pemijat mahir. Jam berapa pun diminta untuk memijat, ia akan berangkat tanpa pernah mau menetapkan ongkosnya. Berapa pun yang ia dapatkan, akan ia syukuri.

    Menarik becak, jualan es kelapa, hingga menjadi pemijat menjadi ladang rezeki yang terus ditekuninya dengan riang. Hasilnya, di antara banyak teman seangkatannya, kehidupannya relatif berkah. Ia punya rumah dengan tanah hampir seluas 300 meter di tepi salah satu jalan penting di Kota Solo. Ia dapat menyekolahkan anaknya ke sekolah yang bagus, yang oleh kalangan kebanyakan sudah dipandang elite. Lebih dari itu, praktis shalat lima waktunya terjaga untuk selalu berjamaah. Hal yang sekarang semakin sulit dijaga oleh kita yang kadang merasa menjaga agama sekalipun.

    Di tengah jutaan para sarjana yang lebih banyak hilir mudik mencari pekerjaan; di tengah jutaan pegawai negeri ataupun swasta yang kegembiraan utamanya memperoleh komisi; di tengah banyak pebisnis besar yang sebenarnya cuma calo; di tengah banyak orang-orang terhormat yang seolah bekerja untuk rakyat, tapi kesibukan utamanya mencari jalan untuk ‘mencuri’ uang rakyat; Wito sungguh penjemput surga yang efektif. Ia seorang yang riang untuk selalu berbuat dan berbuat.

    Hanya sesekali ia tampak sedih, dengan alasan yang istimewa. Di antaranya, setelah pemerintah menaikkan harga BBM secara mendadak. Tanpa bertahap. Setelah kenaikan harga BBM itu, ia sebagaimana ratusan ribu pedagang kecil lainnya harus berhenti berdagang. Harga jual es-nya tak lagi cukup untuk membeli kelapa di pasar. Ketika ia mencoba menaikkan sedikit harga itu, orang-orang tak lagi mampu membeli. Maka, ia pun menutup usaha. “Kasihan, pelanggan saya tak kuat lagi membeli,” katanya. Ia, sekali lagi, lebih mengasihani orang lain ketimbang diri sendiri.

    Adakah di antara kita yang lebih dekat ke jalan surga ketimbang Wito? Adakah jalan untuk menjadikan seluruh bangsa ini menjadi pribadi-pribadi penjemput surga? Yakni, pribadi yang tak punya rasa sakit hati, kecewa, apalagi putus atas. Juga pribadi yang tidak malas, namun justru antusias untuk terus berbuat dan berbuat.

    “Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, paling sering beramar ma’ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan silaturahmi.” (Muhammad SAW).

    ***

    Oleh: Zaim Uchrowi

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 17 May 2012 Permalink | Balas  

    Kunjungan BJ Habibie ke Kantor Manajemen Garuda Indonesia 

    Kunjungan BJ Habibie ke Kantor Manajemen Garuda Indonesia

    Garuda City Complex, Bandara Soekarno-Hatta, 12 Januari 2012

    Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono, juragan Java Musikindo.

    Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

    Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.

    Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).

    Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

    Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

    Dalam video tsb, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

    N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan………………

    Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:

    “Dik, anda tahu…………..saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan……………..“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, …….itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur………Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.

    Sekarang Dik,…………anda semua lihat sendiri…………..N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’

    Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

    Dik tahu…………….di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia………….

    Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa…………….

    Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua…………………?

    Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun.

    Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

    Pak Habibie menghela nafas…………………..

    Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;

    Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

    Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama……………..

    N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu………bahkan hingga kini.

    Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir………….kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

    ***

    Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya………………..

    “Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

    “Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD? Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten? C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis? D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”

    Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:

    “Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik………….organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik………………”

    Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ………………………

    “Dik, ……….saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ………..ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya…………saya mau kasih informasi……….. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu……………………”

    Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam………………………..seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

    Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan……………………

    “Dik, kalian tau……………..2 minggu setelah ditinggalkan ibu…………suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu……… Ainun……… Ainun …………….. Ainun …………..saya mencari ibu di semua sudut rumah.

    Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini…………..’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.

    Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

    1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!

    2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus……………

    3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.

    Saya pilih opsi yang ketiga……………………….”

    Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) …………………. ia melanjutkan pembicaraannya;

    “Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun…………..dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia………….

    Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat…………. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”

    Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata…………………………

    Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;

    “Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui…………………

    Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang….. (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

    Dik, asal you tahu…………semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

    Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

    Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif……………….”

    (pada kesempatan ini pak Habibie meminta sesuatu dari Garuda Indonesia namun tidak saya tuliskan di sini mengingat hal ini masalah kedinasan).

    Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.

    ***

    Jakarta, 12 Januari 2012

    Salam,

    Capt. Novianto Herupratomo

    Sumber : kaskus.us, http://brosurkilat.com

     

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 10 May 2012 Permalink | Balas  

    Saya yang akan Menanggung Beban 

    Saya yang akan Menanggung Beban

    Di Cilandak Jakarta Selatan ada seorang tetangga asal Sumatera Barat yang memiliki usaha cukup berkah. Dia adalah tetangga saya. Orangnya santun, ramah dan bersahaja. Namanya Haji Bisri, sebutlah demikian. Setiap Shubuh, Maghrib & Isya saya selalu melihatnya berada di masjid. Tak pernah ia luput menghadiri shalat berjamaah di Masjid Al Barkah di lingkungan kami. Saya kagum atas kepribadiannya. Dia begitu mengutamakan Allah, padahal kami semua warga di kampung tahu kesibukannya sebagai seorang pengusaha yang memiliki beberapa toko di Jakarta. Haji Bisri memulai usahanya di sebuah pasar di daerah Jakarta Selatan pada tahun 2004. Saat ini belum genap 4 tahun dari usahanya, kini ia memiliki 9 toko yang tersebar di beberapa pasar dan pusat perbelanjaan. Rezeki semakin bertambah dan usaha terus lancar. Saya pun bertanya dalam hati, “Apa rahasia sukses Haji Bisri sehingga ia bisa mengembangkan usahanya begitu cepat?”

    Hari itu kami sedang beri’tikaf antara waktu Maghrib dan Isya. Sambil berbicara di beranda masjid, seorang tetangga bertanya kepada Haji Bisri mengenai kemajuan usahanya. Haji Bisri terdiam. Matanya menerawang. Mungkin ia mencoba mengenang apa yang telah membuat usaha dan hidupnya penuh keberkahan.

    Dalam beliau menghela nafas. “Saya mengikuti jalan Allah saja”, beliau memulai pembicaraan. “Jangan tanya saya, bagaimana saya bisa mengembangkan usaha, semuanya Allah yang atur!”

    Beliau lalu membentangkan apa yang beliau alami dalam berusaha. Banyak pelajaran yang kami ambil dari perbincangan bersamanya yang hanya dalam beberapa menit. Beberapa kalimat hikmah meluncur berkali-kali dari mulutnya dengan begitu deras namun menghujam. Beberapa di antaranya saya masih hapal, “Benar rezeki itu sudah diatur Allah, tapi rezeki bisa ditambahkan bila kita gemar bersedekah,.” “Perluaslah rezeki itu dengan memudahkan jalan orang.”

    Untuk kalimat yang terakhir ini saya masih mengingatnya, dan ini sejurus dengan hadits Nabi Saw yang sering saya ajarkan kepada santri-santri di pesantren tempat saya mengajar:

    “Siapa saja yang memudahkan urusan orang yang mengalami kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusannya baik di dunia maupun di akhirat.” HR. Bukhari & Muslim

    Haji Bisri mengulas kisahnya, bahwa tahun 2004 beliau baru merintis toko di sebuah pasar Jakarta Selatan. Barang yang ia dagangkan adalah tas, dompet dan sejenisnya. Toko baru buka dan hanya sedikit pelanggan yang suka datang. Namun meski sepahit apapun kondisi jualan beliau selalu bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan dan beliau selalu bertawakkal kepadaNya.

    “Alhamdulillah, Allah cukupi segala kebutuhan kami sekeluarga rupanya,!” jelas Haji Bisri. Namun pada tahun yang sama seorang sepupu jatuh sakit hingga harus cuci darah seminggu 3 kali. Padahal untuk sekali cuci darah saja tidak kurang dari 1 juta rupiah biayanya. Kami sekeluarga besar berkumpul di rumah seorang kerabat. Malam itu kami sengaja diundang untuk membicarakan beban yang ditanggung oleh sepupu saya tadi. Dia hanyalah seorang pegawai swasta rendahan. Gaji tak seberapa. Hari-hari harus menanggung biaya seorang istri dan 3 orang anak. Apalagi perusahaan tempat dia bekerja tidak memberi jaminan kesehatan. 3 kali seminggu harus cuci darah, maka dalam sebulan minimal harus 12 kali cuci. Setidaknya maka harus ada dana yang tersedia minimal Rp 12 juta untuk biaya cuci darah dalam sebulan.”

    Semua yang hadir malam itu hanya bisa terdiam.

    “Kebetulan kami semua adalah perantauan yang belum sukses” ujar Haji Bisri.

    “Saya yakin semua dari kami berkeinginan untuk membantu. Namun seperti yang saya lakukan, mungkin semua kerabat berhitung tentang pendapatan dan kebutuhan hidup mereka, namun tidak ada kelebihan harta yang dapat disumbangkan.”

    Beberapa lama kami semua terdiam.

    “Terlihat ada beberapa orang kerabat yang bermusyawarah dengan pasangannya tentang jumlah yang akan mereka sumbangkan. Namun tidak seorang pun yang berkata bahwa ia akan menyumbang.” Ungkap Haji Bisri

    “Entah ada dorongan apa, saya tiba-tiba berkata dalam pertemuan itu, Saya yang akan menanggung beban itu!”

    “Bukan mau jadi sok pahlawan, tapi kalimat itu terungkap begitu saja dari mulut saya” ujar Haji Bisri.

    Maka hari-hari pun dilalui dengan penuh kesulitan, baik bagi Haji Bisri maupun bagi keluarga adik sepupunya. Namun diluar dugaan, rupanya niat untuk membantu saudara itu betul-betul dipermudah Allah Swt. Setiap kali harus mengantar adik sepupu untuk cuci darah di rumah sakit, pasti ada saja order pembelian barang yang ia terima dalam jumlah besar.

    Beberapa langganan memesan dalam partai besar, hingga Allah Swt pun mempermudah jalan Haji Bisri untuk mencari pabrik barang-barang yang ia dagangkan sehingga ia dapat mengambil barang dengan harga semurah mungkin.

    “Sungguh Allah benar-benar memudahkan jalan usaha saya” ujar Haji Bisri dengan mata berkaca-kaca.

    “Hingga saat ini pun saya terus bersyukur kepada Allah Swt bahwa ia kini telah mengamanahi saya 9 toko yang dikelola oleh saya dan keluarga.”

    ***

    Adzan Isya berkumandang. Kami pun mengakhiri pembicaraan. Malam ini saya merasa mendapatkan pelajaran yang teramat berharga dari Haji Bisri mengenai cara hidup berbagi dan berlapang dada untuk membantu orang lain. Sungguh Allah tak akan pernah menyia-nyiakan amal yang dikerjakan hamba-Nya!

    Jazakumullah untuk guruku Ustadz Radiyallah atas cerita yang mencerahkan.

    ***

    Oleh Sahabat: Bobby Herwibowo

     
    • LPKI JATENG 1:54 am on 10 Mei 2012 Permalink

      :)

  • erva kurniawan 1:03 am on 24 April 2012 Permalink | Balas  

    Orang Yang Benar Tidak Wajib Membayar Zakat 

    Orang Yang Benar Tidak Wajib Membayar Zakat

    Awal abad 19, di alun-alun Bandung , Seorang Panghulu Besar Bandung menulis di pagar seng alun-alun grafiti “Orang Yang Benar Tidak Wajib Membayar Zakat”.

    Semua orang yang melewati tempat itu bertanya-tanya dan menganggap hal itu sudah berlebihan. Beberapa kyai datang ke tempat dinasnya dan mengajukan pertanyaan ” Apa dalilnya ? Apakah ada rujukan Nashnya ?”

    Sang Panghulu Besar tersenyum , bukan menjawab, malah balik bertanya ” Lho Kyai, ayo sekarang, Siapa di antara kita ini yang sudah tergolong orang yang benar ? ” Para Kyai tidak ada yang menjawab . ” Justru karena tidak ada seorang pun di antara kita yang mengaku sebagai Orang yang Benar, maka kita wajib zakat, iya toh “.

    Para kyai pulang dari tempat dinas sang panghulu besar sambil kesal karena ditipu permainan logika sang panghulu besar.

    ***

    Dari Sahabat benar

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 22 April 2012 Permalink | Balas  

    Putri Yang Sombong 

    Putri Yang Sombong

    Tersebutlah seorang putri raja dari cina yang sangat cerdas. Dia menjadi sombong dengan kecerdasannya itu. Ketika usia telah cukup untuk menikah sang raja bermaksud untuk mengadakan sayembara, sang putri tidak keberatan namun dia mengajukan syarat bagi mereka yang ingin menikahinya.. Setiap laki laki yang ingin mempersuntingnya harus mampu menjawab 3 pertanyaan yang dia ajukan. Bagi yang tidak mampu menjawab maka tiang gantungan telah menanti sebagai hukuman.

    Demikianlah, puluhan pemuda mengakhiri hidup mereka ditiang gantungan tersebut karena tak mampu menjawab pertanyaan sang putri. Raja menjadi sangat khawatir dengan kondisi putrinya yang semakin menikmati permainannya, juga khawatir dengan usianya yang semakin bertambah namun tidak ada tanda tanda bahwa dia akan mengakhiri permainan gilanya itu serta khawatir semua pemuda terbaiknya mati sia-sia ditiang gantungan.

    Suatu hari datanglah seorang pemuda pengembara dari tanah Bharata, dia mendengar cerita tentang sang putri dan berniat untuk mengakhiri permainannya. Dia mendaftar untuk bertanding dengan sang putri. Mendengar hal ini sang raja jadi gelisah karena pasti pemuda pengembara ini hidupnya akan berakhir pula ditiang gantungan. Dia menasehati sang pemuda agar mengurungkan niatnya untuk mengikuti pertandingan namun ditampik oleh sang pemuda yang telah bulat tekadnya untuk menghentikan kecongkakan sang putri.

    Tibalah hari yang telah ditentukan, sang pemuda dan para penonton telah hadir dipendopo istana bersiap untuk mengikuti acara yang sangat menegangkan itu, namun sang pemuda tidak kelihatan tegang bahkan sebaliknya, dia duduk tegak bersila dengan tenangnya sambil terus menebar senyum. Sang raja dan para juri yang terdiri dari para pendeta dan penasehat istana telah duduk di masing masing tempat yang tersedia dengan harap-harap cemas. Tak berapa lama berselang datanglah sang putri berjalan ketengah-tengah pendopo dengan keangkuhan tersirat yang disebabkan oleh kecerdasannya. Duduk dengan kaki terlipat diatas kursi dan senyum sinis menghiasi wajah yang seharusnya sangat cantik itu dia melirik kearah sang pemuda.

    Sayembara segera dimulai. Tampak sang putri berbisik ditelinga penterjemah yang segera berkata, Wahai pemuda yang berani datang menantang sang putri, apakah engkau tidak takut digantung? Apakah engkau tidak sayang akan nyawamu berakhir sia-sia ditiang gantungan? Apakah engkau tidak sayang akan ketampananmu serta masa depanmu? Pulanglah sebelum terlambat. Demikian kata penterjemah menyampaikan apa yang dibisikkan oleh sang putri, tampak sangat jelas dia memandang rendah sang pemuda. Walau kelihatan seperti menyayangkan keikut sertaan sang pemuda namun dari kata-katanya jelas tersirat bahwa sang putri sangat senang akan ada lagi korban yang jatuh dan dia tidak ingin sang pemuda mundur dari pendopo.

    Sang pemuda hanya tersenyum sambil mempersilakan sang putri untuk menyampaikan pertanyaannya karena dia sudah tidak sabar lagi untuk menjawab.

    Sang penterjemah membacakan pertanyaan pertama sang putri yang berbunyi, Siapakah bapak yang mampu memperlakukan semua secara adil?

    Pemuda itu dengan suara tenang menjawab, Dia adalah Matahari.

    Para juri terperangah karena untuk pertama kalinya ada orang yang mampu menjawab dengan tepat dengan santainya. Biasanya para pemuda terdahulu kalah pada pertanyaan pertama.

    Pertanyaan kedua, Siapakah ibu yang memakan anaknya setelah sang anak dilahirkannya?

    Kembali sang pemuda dengan tenangnya mengawab, Dia adalah laut.

    Kini giliran sang putri yang keluar keringat dingin karena dua pertanyaannya dijawab dengan mudahnya. Dia berpikir sejenak sebelum mengajukan pertanyaannya yang ketiga. Setelah berpikir keras dia tersenyum karena merasa mendapatkan satu pertanyaan yang mustahil dijawab oleh siapapun, bahkan oleh para pendeta terpelajar sekalipun.

    Pertanyaan ketiga adalah, Pohon apakah yang setiap daunnya memiliki dua warna, hitam dan putih?

    Melihat sang putri tersenyum bahagia karena merasa yakin pertanyaannya tidak bakalan bisa dijawab, sang pemuda sengaja berlagak seperti orang yang sedang berpikir keras mencari jawaban, membiarkan sang putri menikmati angannya yang akan berakhir sebentar lagi. Hal ini ternyata membuat para hadirin dan juga sang raja menjadi sangat cemas, padahal tadi telah muncul harapan bahwa sang pemuda akan memenangkan sayembara ini. Setiap jawaban disambut tengan tepuk tangan yang sangat meriah. Namun berbeda dengan sekarang, suasana jadi sangat hening mencekam, setiap hati melantunkan doa kemenangan buat sang pemuda sehingga tidak akan ada lagi korban berjatuhan. Namun sang pemuda tidak segera menjawab, bahkan dia kelihatan berpikir semakin keras. Sengaja dia lakukan untuk memberikan kesempatan kepada sang putri menikmati angan kemenangannya lebih lama..

    Sang putri yang merasa pasti menang menebar senyum bangga kearah hadirin namun ketika dia berpaling kearah sang pemuda senyum itu berubah menjadi sinis. Dia sangat senang atas hal ini dan berkata, Wahai anak muda, sampai kapan engkau akan membisu seperti itu, akuilah bahwa engkau tidak menemukan jawabannya, orang-orang hebat seperti para pendeta yang telah renta karena ilmupun tidak tahu jawabannya apalagi anak kemarin sore sepertimu, oleh karena itu menyerahlah dan bersiaplah untuk menuju tiang gantungan, algojo telah tidak sabar menanti untuk memasang tali dilehermu, kasihan mereka terlalu lama menunggu sesuatu untuk dikerjakan, pekerjaan mereka hanya datang sesekali.

    Dengan tatapan tenang kearah sang putri sembari tersenyum, sang pemuda berkata, Tuan Putri, jawaban hamba atas pertanyaan Tuan Putri yang ke tiga adalah “Tahun”.

    Gemuruh sorak sorai para hadirin karena akhirnya pertanyaan terakhir sang Putri terjawab juga walau mereka belum yakin jawaban itu benar, namun paling tidak mereka telah melihat guratan senyum disudut bibir para juri pertanda jawaban tersebut benar adanya.

    Sementara dilain pihak, wajah sang Putri tiba tiba menjadi merah padam, marah dan kecewa setelah mendengar jawaban gamblang dari sang pemuda. Dia tidak habis pikir bagaimana si pemuda bisa tahu jawaban itu, sementara dia kelihatan berpikir keras dari tadi tapi ternyata dia dengan tenangnya dapat menjawab, sang Putri jadi curiga mungkin jawabannya itu hanya tebakan. Kemudian dia bertanya, Kenapa jawabanmu Tahun, jelaskan!

    Bagai sebatang pohon yang terus bertumbuh, tahun juga terus berjalan tanpa dapat dihentikan, daunnya adalah siang yang putih dan malam yang hitam. Demikian jawaban sang pemuda pengembara. Sekali lagi hadirin bersorak riang gembira. Namun berbeda dengan sang Putri yang takabur itu, dia berteriak tidak terima kalah dan tidak mau menikah sembari ingin mengajukan pertanyaan lagi akan tetapi permohonannya ditolak sang Raja yang mengatakan bahwa jika Putri tidak mau mengaku kalah dan tidak mau menikah dengan sang pemuda maka dia harus mendapat hukuman yang sama seperti para pemuda yang kalah sebelumnya, hukuman gantung.

    Akhirnya sang Putri mengaku kalah walau dengan terpaksa dan kemudian dipersunting oleh si pemuda dan diboyong kenegaranya yaitu Bharatawarsa.

    Makna dari dunia itu sendiri adalah kehidupan karna tanpa hidup kita ga akan pernah tau dunia itu seperti apa,,,,tidak selamanya apa yang kita anggap benar itu ..tidak salah juga di mata kehidupan dalam bingkai dunia..

    ***

    Dari Sahabat di Kaskus.us

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 19 April 2012 Permalink | Balas  

    Karir Muslimah 

    Karir Muslimah

    Oleh Siti Aisyah Nurmi

    Ummati….ummati…..

    Rintihan seorang yang mulia yang hatinya amat lembut. Dalam nubuwwah Beliau SAW telah melihat kenyataan ini…..

    Seorang wanita duduk murung di sudut ruang tamunya. Lampu dimatikan. Di kamar, sang suami terbaring gelisah. Tidak ada yang tertidur kecuali si kecil yang nafasnya masih tersengal karena sakit. Ayah dan ibu sedang bertengkar gara-gara saling menyalahkan, siapa yang seharusnya pulang dari kantor saat Annisa dikabarkan sakit. Rita sang ibu, manajer sebuah perusahaan asing yang bergengsi. Jabatan cukup tinggi dan prestasi karir cemerlang. Agus, sang ayah hanya bisa menyumbang sepertiga dari kebutuhan finansial rumahtangga, maklum, sebagai eselon tiga di departemen yang ‘kering’, tak banyak yang bisa diharapkan. Agus belum bersedia melepas status PNS-nya dengan berbagai alasan. Namun ia juga sibuk di kantor, karena ia sering diandalkan oleh bossnya yang malas dan punya obyekan banyak. Buah hati mereka (Alhamdulillah) baru satu, Annisa, dua tahun.

    Problem keluarga masa kini: pertengkaran suami isteri karena konflik kepentingan antara karir dan rumahtangga.

    Wahai wanita, wahai ibu! Apa sih arti ‘karir’? Dari katanya sendiri bisa kita artikan secara bebas bahwa ia berarti sesuatu yang kita lakukan dengan motivasi tinggi sehingga menghasilkan suatu ‘karya’. Begitu ‘kan?

    Suatu hari penulis diminta mengisi data diri yang pada salah satu kolomnya terdapat: pekerjaan: pilihannya: a) Pegawai negeri b) swasta c) tidak bekerja. Penulis tanyakan kepada petugasnya: Di mana tempat untuk menuliskan karir saya sebagai ibu rumahtangga? Semua jawaban petugas itu tak dapat memuaskan saya.

    Seorang wanita yang mengurus rumahtangganya, siang malam ia bekerja. * Fullday*! Nyaris 24 jam! Apakah itu dikatakan TIDAK BEKERJA? Lebih menyakitkan lagi, ada yang menggolongkan pekerjaan ini sebagai “TIDAK PRODUKTIF”?!?

    Apa hasil kerja seorang ibu rumahtangga?

    Banyak sekali, namun sayangnya tidak pernah diekspos dan diangkat ke dalam diskusi besar-besaran. Tidak juga ada lembaga besar yang mau mengadakan penelitian seputar hal ini. Sebaliknya, ada ribuan seminar tentang wanita bekerja yang mempromosikan wanita untuk keluar rumah mengejar karir kantoran. Bahkan di negeri ini sedang ada diskusi tentang perlunya meningkatkan keterwakilan wanita di parlemen. *That means*: harus ada lebih banyak lagi wanita yang berkarir politik di negeri yang pernah punya presiden wanita ini.

    Apakah wanita tidak boleh bekerja di luar rumah? Wah nanti dulu, di sini bukan porsinya untuk membicarakan fatwa.

    Coba kita tinjau dari sudut lain: apa alasan wanita bekerja di luar rumah. Pertama ada alasan finansial, ini yang terbanyak. Kedua, alasan mencari aktualisasi diri, ketiga, alasan jenuh di rumah, dan terakhir: dibutuhkan di masyarakat. Untuk orang-orang tertentu, alasan terakhir sangat kuat. Misalnya karir sebagai guru TK, hampir tak bisa ditemukan guru TK yang pria, dan memang wajar, tidak cocok. Dokter wanita juga termasuk yang sangat dibutuhkan di masyarakat. Alasannya sederhana, wanita seringkali malu jika dokternya pria. Menjadi perawat juga diperlukan. Bahkan di zaman Nabi SAW, para isteri beliau diundi berangkat bersama Nabi SAW ke medan jihad untuk merawat yang sakit.

    Dari empat alasan di atas, dua yang pertama adalah yang terbanyak. Apakah seorang wanita benar-benar perlu membantu mencari nafkah? Sangat relatif. Jika suaminya masih bisa memenuhi sandang pangan dan papan dengan standar cukup yang normal, maka kebutuhan tersebut tidak ada lagi. Kita dapat memaklumi mbok-mbok jamu yang terpaksa keluar masuk kampung dengan jamu gendongnya, sebab dalam hitungan kasat mata kita dapat melihat bahwa kebutuhan rumahtangganya pasti tak mencukupi jika ia tak berjualan. Masing-masing kita bisa menilai sendiri apakah standar minimal tersebut sudah terpenuhi atau belum. Namun bagaimana dengan yang beralasan ‘aktualisasi diri’?

    Istilahnya saja diambil dari filsuf barat, Maslow. Jauh dari hidayah Islam. Namun lebih jauh lagi, ‘aktualisasi diri’ sekarang diartikan sangat jauh kepada karir dengan format materialisme. Seseorang tidak dikatakan sampai derajat mencapai aktualisasi diri jika belum mendapatkan format kerja yang menghasilkan karya materi. Apakah itu berupa penghasilan tinggi, atau prestasi ilmiah, atau prestasi di bidang apa saja yang bisa masuk ke dalam katagori pengakuan dari masyarakat. Jadi, jika ia hidup di masyarakat yang sudah tidak lagi menghargai karya seorang ibu rumahtangga, maka ia tak akan pernah mencapai aktualisasi diri. Meskipun semua anaknya sholeh dan cerdas, rumahtangganya tak pernah meresahkan orang lain dan sebagainya. Bahkan suaminya amat menghargai sang isteri karena kontribusinya sebagai pasangan hidup terbaik.

    Sebaliknya, seorang wanita yang sukses karir dan merasa sudah mendapatkan kepuasan dan aktualisasi diri, mungkin saja mempunyai kisah hidup memilukan, anak-anaknya yang tak bisa menghargai dirinya, ketika sudah jompo iapun terdampar di panti wredha. Konsep Maslow tentang aktualisasi diri itupun masih belum “sempurna”, sebab pengakuan yang dicarinya masih terbatas pengakuan manusia. Siapakah manusia? Makhluk fana yang sering berbohong. Islam menghendaki seseorang mencari pengakuan dari Pihak Yang Tak Pernah Mengingkari Janji, apalagi berbohong. Ridha Allah adalah sukses tertinggi yang bisa dicapai makhluk di hadapan Khalik. Imbalannya-pun bukan milyaran dollar, tidak. Itu terlalu kecil, sebab Syurga diwariskan kepada para hamba sholeh luasnya seluas langit dan bumi, masih ditambah kelak dipuji puji oleh para malaikat mulia yang berbakti.

    Suatu saat Nabi SAW ditanya oleh seseorang: siapakah orang pertama yang harus aku muliakan, ya Rasulullah? Jawab beliau: Ibumu (1x) ibumu (ke 2 x) dan ibumu (ke 3 x), kemudian baru ayahmu.

    Alangkah indahnya Islam, alangkah mulianya kedudukan wanita dalam Islam.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 14 April 2012 Permalink | Balas  

    Kisah Kapten Couesteau 

    Kisah Kapten Couesteau

    ALQURAN turun di Makah (Arab Saudi), di tengah-tengah masyarakat yang hidup dalam peradaban jahiliyah. Yakni, masyarakat yang menuhankan hawa nafsu, materi, kehormatan, dan pangkat-jabatan.

    Dalam masyarakat ini, akal sehat tidak berjalan lagi, hati nurani tidak bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan. Kekerasan merajalela. Kekayaan, kehormatan, dan kemasyhuran adalah cita-cita hidup dan nilai-nilai yang berkembang. Masyarakat kecil tertindas. Tidak ada tempat bagi kaum lemah. Yatim piatu, janda-janda tua, menjadi bulan-bulanan korban kezaliman. Banyak surat-surat (dalam Alquran-Red) yang turun di Makah menyuarakan pembebasan atau liberation, yakni tentang hak-hak yatim piatu, kaum lemah, yang secara umum ayatnya ditujukan pada manusia atau naas, sebuah ajakan universal yang tidak terbatas pada kaum beriman.

    Surat Al-Maaun, Al-Humazah, serta Abasa adalah surat-surat Makkiyah yang secara eksplisit memihak kaum lemah di Makah.

    Alquran memperkenalkan akal sehat sebagai inti keberagaman seseorang. Ayat tentang pentingnya budaya baca, iqra’, adalah wahyu Allah pertama yang diterima Rasul Muhammad. Ayat ini mengajarkan la diina liman la aqla lah (tidak beragama mereka yang tidak menggunakan akal sehatnya).

    Dengan kehadiran Alquran, bangsa Arab yang tadinya tidak diperhitungkan dalam peradaban dunia, kemudian menjadi bangsa yang terpandang, dan Hijaz menjadi pusat inspirasi serta starting point kemajuan dunia Islam pada abad-abad berikutnya (abad ke-7 – abad ke-12).

    Budaya Baca

    Alquran memberikan pedoman bagi umat Islam untuk menyikapi dunia dengan benar sesuai dengan sunnatullah. Ajaran tentang pentingnya budaya baca, iqra’ misalnya, jika dilaksanakan secara konsisten dan proporsional akan membawa kemajuan pada individu, masyarakat, dan peradaban bangsa secara keseluruhan. Jika dewasa ini budaya baca berpindah ke Amerika Serikat, yakni perpustakaan-perpustakaan kampus buka sampai tengah malam, maka tidak bisa disangkal lagi bahwa bangsa Amerikalah yang menjadi bangsa yang terdepan dan terkuat saat ini.

    Nabi Muhammad dengan ajaran Alqurannya menekankan bahwa orang yang beriman dan kuat (berkualitas) lebih mulia dalam pandangan Allah dibanding dengan mukmin yang lemah. Menjadi mukmin idealnya menjadi manusia yang berkualitas. Surat Mu’minun mengajarkan bahwa mukmin adalah individu yang menang, sukses dengan ciri-ciri melakukan salat secara khusuk, produktif, mengendalikan hawa nafsu, menjaga amanah dan salat-salatnya, serta menepati janji.

    Ciri lain orang yang beriman adalah tatkala nama Allah disebutkan, hati dia akan bergetar dan saat Alquran dibacakan, imannya akan bertambah (Al-Anfal: 2).

    Ajaran Alquran yang terakhir disebut juga telah dialami oleh Kapten Couesteau, penjelajah bawah laut termasyhur level internasional, dari Prancis. Yang mendorong dia masuk Islam adalah setelah dia sekian lama melakukan eksplorasi dan observasi dunia bawah laut, yakni tempat pertemuan air laut Atlantik dan Mediterania. Ternyata pertemuan air dua laut tersebut tidak membawa percampuran satu sama lain. Dua air ini telah bertemu satu sama lain di Gibraltar ribuan tahun.

    Semestinya jumlah besar dua air ini akan bercampur satu sama lain dan memiliki identitas yang sama atau paling tidak ada percampuran salinitas serta densitas. Tapi anehnya, hal itu tidak terjadi.

    Sewaktu Captain Cousteau bercerita keajaiban fenomena ini pada Prof Maurice Bucaille yang ahli Alquran itu, dia memperoleh jawaban bahwa fenomena tersebut tidak aneh karena sudah tertulis dalam Alquran secara jelas. Memperoleh jawaban ini, Captain Cousteau yakin bahwa Alquran Al-Karim adalah kalam Ilahi. Tepatnya, ayat yang dimaksud adalah surat Al-Rahman 19-20, dan 22 yang artinya: ”Dan ketika dua lautan bertemu, antara keduanya terdapat batas yang tidak saling melewati, maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau ingkari (subhanallah).”

    Bagi kita rakyat Indonesia yang saat ini mengalami krisis dalam banyak hal, Alquran mendorong kita untuk bekerja sama, tolong-menolong dalam meraih kebaikan.

    Nabi juga memberikan contoh upaya menggalakkan solidaritas sosial. Tidaklah termasuk orang yang beriman, mereka yang tidak menyayangi sesamanya. Juga imannya dipertanyakan, mereka yang tidak mencintai tetangganya atau lingkungannya. Ajaran yang terakhir ini tentu bisa kita kiyaskan bahwa kepedulian lingkungan, cinta Jawa Tengah, dan cinta Tanah Air adalah bagian dari iman. Kegiatan siskamling, jika didasari niat tulus cinta lingkungan, lillahi ta’aala, maka termasuk dalam kategori ibadah dengan landasan iman. Sebaliknya, jika seseorang tidak peduli terhadap lingkungannya, imannya diragukan.

    Sesungguhnya, kata kaum bijak, tanda-tanda iman bisa dilihat dari takwa, malu, syukur, serta sabar, pengendalian diri. Seperti urutan pertama yang terlihat, takwa adalah ciri utama kaum yang beriman. Takwa pada dasarnya adalah kedekatan diri secara ma’nawi pada Allah. Kedekatan diri secara ma’nawi tidak dibatasi ruang dan waktu, di mana saja, kapan saja Allah bersama orang yang bertakwa. Dengan kata lain, manusia takwa adalah manusia yang bisa diandalkan tatkala diberi kepercayaan oleh orang lain. Sifat inilah yang harus ditegakkan saat reformasi sekarang.

    ***

    Dr Abdurrahman Mas’ud, dosen IAIN Walisongo, dikutip dari: Harian Suara Merdeka Selasa, 28 Desember 1999

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 12 April 2012 Permalink | Balas  

    Pemuda yang Digoda 

    Pemuda yang Digoda

    Pada zaman entah kapan, inilah kisah seorang pemuda Bani Israil penjual keranjang. Seperti tukang kelontong dari Tasikmalaya, ia keluar-masuk kampung menjajakan dagangan. Tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang dayang, tidak jauh dari istana. Perempuan itu terkesiap. Tapi hanya sesaat: bergegas balik ke istana.

    “Aku lihat pemuda tampan, Tuan Putri,” katanya terengah-engah. “Rasanya belum pernah aku melihat orang setampan dia.”

    “Panggil dia kemari,” kata yang dilapori.

    Pemuda itu pun mengikuti sang dayang. Dan setelah melewati pintu pertama, kedua, dan ketiga, barulah dia berjumpa dengan sang putri.

    “Silakan, kalau ada yang mau beli keranjang ini. Murah, kok,” kata pedagang keliling itu, sedikit grogi. Maklum, Tuan Putri baru saja memerintahkan pintu-pintu yang barusan ia lewati dikunci, dan ia kehilangan omongan.

    “Aku mengundangmu bukan untuk membeli daganganmu,” kata Putri, seraya melempar senyum.

    “Lho, untuk apa?”

    “Aku tertarik akan ketampananmu. Maukah kamu…?”

    “Putri,” kata si pedagang, yang mulai menangkap gelagat. “Takutlah kepada Allah. Janganlah berbuat sesuatu yang dimurkai-Nya.”

    “Kalau tidak mau, aku akan berteriak bahwa kau akan memperkosaku.”

    Namun pemuda itu tidak peduli. Bahkan terus berupaya mengingatkan putri raja itu. Sebaliknya sang putri tidak menggubris: hasratnya sudah mencapai puncak. Merasa kata-katanya tidak dihiraukan, sang pemuda minta izin berwudu. Sang putri memanggil pelayan untuk menyediakan air. Selesai wudu, pemuda itu berdoa:

    “Ya, Allah. Aku diajak bermaksiat. Aku lebih suka jatuh dari loteng ini daripada berbuat dosa kepada-Mu.”

    Lalu ia membaca basmalah. Dan, oops, dari ketinggian, pemuda itu terjun bebas. Tapi mahakuasa Allah, yang lebih cepat mengirimkan malaikat-Nya untuk menyelamatkan sang pemuda.

    “Ya, Allah. Jika Engkau kehendaki, berilah aku rezeki yang cukup sehingga aku tidak berjualan keranjang lagi,” begitu doanya sekarang.

    Arkian, Allah mengirim belalang emas. Maka dengan suka cita pemuda itu memasukkannya ke dalam sakunya, sampai penuh.

    “Ya, Allah. Jika Engkau memberiku rezeki di dunia, maka berkahilah rezeki ini.”

    “Yang Allah berikan kepadamu,” begitu tiba-tiba terdengar suara, entah dari mana, “hanya seperempat dari pahala kesabaranmu bertahan dari gejolak nafsumu, sampai-sampai kau rela menjatuhkan diri dari loteng.”

    “Ya, Allah,” katanya lagi, “aku tidak menginginkan sesuatu yang akan mengurangi pahalaku di akhirat nanti.”

    Selesai dengan doa itu, tiba-tiba belalang emas di sakunya lenyap. Tapi pemuda itu tidak menyesal. Dia segera pulang, sementara dagangannya tertinggal di istana.

    Setan, yang detik per detik mengikuti peristiwa itu, ditanya malaikat: “Mengapa kamu tidak mampu menyesatkan tukang keranjang itu?”

    “Susah, Bung,” jawabnya. “Orang itu berani mengorbankan dirinya untuk keridhaan Tuhannya.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 8 April 2012 Permalink | Balas  

    Karir Wanita Karir 

    Karir Wanita Karir

    Tiap membicarakan wanita karir, biasanya melintas sosok yang sudah baku dibenak kita. Tubuh tinggi langsing berbalut stelan blazer. Dia memakai rok mini–kadang super mini—membuat hidup kaum lelaki semakin complicated saja. Dia juga bersepatu hak tinggi yang mempermudah datangnya penyakit varises. Warna-warni kosmetiknya begitu semarak dan semerbak. Pokoknya, ilmunya tentang bersolek dan mematut diri tak kalah canggih dari ahli tata rias dan perancang busana.

    Tak cukup mendandani fisik, ia juga mematut psikisnya. Cara hidup, cara gaul, cita dan impiannya mencangkok budaya jahiliyah moderniyah. Persis dan tuntas sampai ke akarnya. Tak ada batas muhrim dan non muhrim. Tak ada batas halal dan haram. Semua serba boleh.

    Kehidupan karir seperti ini tak lepas dari peran sentral–kafirin, fasiqin, munafiqin—pemilik modal yang kapitalistik. Di tangan mereka terkonsentrasi uang melimpah dengan daya menjajah. Sebagian besar wanita pekerja didikte cara berbusana bahkan sampai berapa cm panjang rok mereka oleh raja-raja uang dan kapten-kapten industri ini. Sayangnya, para wanita ini happy-happy saja meski dijajah, karena ada imbalan uang. Demi uang ini pula ada muslimah yang menanggalkan kerudungnya. “Aku sudah ke sana ke mari melamar kerja, tapi ditolak terus. Terpaksa deh buka kerudung biar gampang cari kerja. Habis, gimana dong, Mbak? (Lho, kok malah ngasih PR ke penulis).

    Kalau begitu, jadi wanita karir itu haram, ya? Sebenarnya berkarir itu halal jika berada dalam koridor syar’i. Ada tiga hal yang harus dipenuhi muslimah jika ingin berkarir. Niatnya berkarir halal; caranya berkarir halal; dan tujuannya berkarir halal. Wuih, susah! Memang susah, karena kita berada dalam sistem yang tidak islami. Kita berada di lingkungan orang-orang ngueyeell. “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50).

    Ngomong-ngomong, ada nggak sih wanita karir yang tidak dijajah meski menjadi manajer di perusahaan multi nasional? Tidak punya stelan blazer, malah berbusana muslimah gombrong. Tidak punya berbagai sepatu hak tinggi, malah cuma memakai sepasang sepatu bertahun-tahun. Tidak memiliki emas perhiasan se-gram pun, malah gajinya yang jutaan diinfaqkan. Tidak dipoles kosmetik, tapi natural, apa adanya. Tidak mencangklong tas kerja trendy, malah membawa dompet kecil saja.

    Alhamdulillah ada. Dan semoga semakin banyak muslimah yang bisa semerdeka dia. Wanita karir ini berprinsip Hasbunallahu wani’mal wakil. Dan tentu saja tidak cengeng. Allah tidak akan menolong hambaNya yang ongkang-ongkang. Tidak ada jihad tanpa kerja keras lahir batin.

    Sungguh, dia tidak dijajah bosnya yang orang Hong Kong. Dia merdeka dengan karirnya sebagai seorang muslimah. Sang Bos sangat menghargai cara hidupnya sebagai muslimah. Tidak bersalaman dengan lelaki non muhrim meskipun dia presiden direktur. Tidak mengucapkan selamat natal meskipun sehari-hari bertemu. Tidak menghadiri ulang tahun meskipun sudah disediakan meja khusus di restoran terkenal. Tidak datang ketika dijamu di klub karaoke terkenal di Jakarta Barat.

    Ini kisah nyatanya….

    Baru setahun lebih menikah dengan seorang ustadz, suaminya dipenjara rezim Orde Baru karena ceramah agama di Tanjung Priok (lebih kurang tahun 1986). Wanita ini masih kuliah di FHUI tingkat III ketika itu dan memiliki seorang bayi. Awal suami di penjara, santunan dari keluarga dan teman-teman masih lancar. Lama kelamaan berkurang dan rasa malu membuatnya rikuh meminta-minta. Berhari-hari ia hanya menggenggam uang seribu perak kadang malah cuma cepek. Ia sering mengutang sayur di warung tetangga milik penjaga penjara di Cipinang, Jakarta Timur.

    Meski biaya terseok-seok, kuliahnya bisa selesai juga. Saking tak punya uang, biaya wisuda dibayari oleh dosennya, Ibu Chandra Motik. Setelah itu dia mulai melamar kerja. Benar saudara-saudara. Lamarannya ditolak karena cara berbusananya yang tidak fashionable (1988). Dia pantang menyerah karena prinsipnya: Lebih baik mati kelaparan karena berkerudung daripada bekerja tanpa berbusana muslimah. No way buka kerudung!

    Alhamdulillah. Hasbunallahu wa ni’mal wakil. Dia diterima bekerja di Yayasan Al-Muslim dengan gaji Rp. 150.000 per bulan. Karena harus sering besuk ke penjara–tentu saja membutuhkan banyak biaya–si ibu berusaha menambah penghasilan. Dia mengajar ngaji karyawati Hotel Mandarin dengan honor Rp. 20.000 per pertemuan. Si ibu sering membawa bocahnya bekerja dan pergi mengajar agar si anak merasakan nikmatnya hidup sebagai muslim dan merasakan jihad. Learning by doing, istilahnya.

    Cukup setahun dia pindah kerja ke Yayasan Pembinaan Manajemen dan setelah itu ke perusahaan eksportir rotan ke Eropa. Gajinya Rp. 250.000 per bulan. Dia juga mencari tambahan penghasilan dengan menerima catering makan siang dari kantor sebelah. Petugas pengantar makanan adalah bocah balitanya plus sebagai khadimah. Dia juga berjualan majalah Aku Anak Saleh dengan jumlah ratusan eksemplar. Si bocah balita ikut menjadi pengantar majalah kepada para langganan. Si anak memang selalu terlibat dalam setiap kegiatan ibunya. Subhanallah. Penghasilannya bisa mencapai satu juta rupiah per bulan.

    Karena usaha catering mulai goyah lantaran kantor itu mau tutup, si ibu melamar kerja ke kedutaan Amerika. Ada jabatan lowong sebagai asisten Kepala Penerangan Kedutaan AS. Tes demi tes bisa lolos namun tanpa penjelasan rinci, dirinya ditolak begitu saja. Boleh jadi gara-gara jilbab. Nggak ngaruh. No way buka kerudung. Allah memuliakanku dengan dien-Nya. Dan cukuplah itu bagiku.

    Tak lama kemudian dia bekerja di perusahaan Taiwan sebagai sekretaris Direktur Pabrik. Gajinya setengah juta rupiah (1991). Dia tetap berjualan majalah dan mengirim artikel ke majalah SABILI sebagai upaya mencari tambahan penghasilan.

    Baru dua bulan, manajemen pabrik itu goncang. Dia kemudian melamar kerja di perusahaan garmen eksportir dengan 500 pekerja yang 99 % nya terdiri dari wanita. Pertama wawancara, Sang General Manager “a little bit shock”, karena si ibu menolak bersalaman sebagai tanda perkenalan baku di dunia karir. Alhamdulillah, Allah yang merupakan sentral dari segala sesuatu, menggerakkan hati sang GM. Anda diterima bekerja di pabrik baru kami di Cakung sebagai Kepala Personalia.

    Tapi, bagaimana tanggapan para pekerjanya? Alhamdulillah, justru beberapa orang pekerjanya yang beragama lain kembali ke agama fitrah, Islam. Ia sekuat tenaga menerapkan suasana islami di lingkungan pabrik. Tak heran jika kemudian ada beberapa pekerja non muslim dengan suka rela memeluk Islam. Bahkan pekerja non muslim setiap memasuki ruang kerjanya mengucapkan “Assalamu’alaikum. Ibu….”

    Jangan dikata pekerja yang mengenakan busana muslimah. Mereka dapat bekerja dengan tenang, meski di pabrik tetangga masih ada yang alergi dengan busana muslimah yang dipakainya. Namun tetap saja semakin banyak pekerja yang menutup auratnya.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Hanan Lutfi 11:22 am on 8 April 2012 Permalink

      subhanaallaah…
      bermanfaat & mantab…^_^
      ijin share ya…..

    • susi 8:23 am on 10 April 2012 Permalink

      subhanallah… kisah nyata nya membuat saya terharu

    • "A" 9:43 am on 10 April 2012 Permalink

      subhanallaah..

      alhamdulillah lingkungan tempat saya bekerja tidak mempermasalahkan busana muslimah yang saya kenakan sehari-hari..

  • erva kurniawan 1:22 am on 22 March 2012 Permalink | Balas  

    Kupu-Kupu 

    Kupu-Kupu

    Seorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Suatu hari lubang kecil muncul. Dia duduk dan mengamati dalam beberapa jam kupu-kupu itu ketika dia berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.

    Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya, dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.

    Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya.Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap2 mengkerut.Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yg mungkin akan berkembang dalam waktu. Semuanya tak pernah terjadi.

    Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yg menghambat dan perjuangan yg dibutuhkan kupu-kupu untukmelewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

    Kadang-kadang perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yg semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.

    Saya memohon Kekuatan ..Dan Tuhan memberi saya kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat.

    Saya memohon Kebijakan … Dan Tuhan memberi saya persoalan untuk diselesaikan.

    Saya memohon Kemakmuran …. Dan Tuhan memberi saya Otak dan Tenaga untuk bekerja.

    Saya memohon Keteguhan hati … Dan Tuhan memberi saya Bahaya untuk diatasi.

    Saya memohon Cinta …. Dan Tuhan memberi saya orang-orang bermasalah untuk ditolong.

    Saya memohon Kemurahan/kebaikan hati…. Dan Tuhan memberi saya kesempatan-kesempatan.

    Saya tidak memperoleh yg saya inginkan, saya mendapatkan segala yang saya butuhkan.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 11 March 2012 Permalink | Balas  

    Lebih Panas Mana? 

    Lebih Panas Mana?

    Seorang Raja mengumumkan sayembara:”Barangsiapa yang sanggup berendam di kolam kerajaan sepanjang malam akan dihadiahi pundi-pundi emas.” Sayembara ini sepintas terlihat mudah, namun berendam di kolam pada saat musim dingin tentu bukan perkara mudah. Walhasil, tak ada yang berani mencobanya.

    Seorang miksin dari pelosok pedesaan, karena tak tahan dengan tangisan kelaparan anaknya, memberanikan diri mengikuti sayembara itu. Pundi-pundi emas membayang di pelupuk matanya. Bayangan itulah yang mendorong dia akhirnya berangkat ke istana. Raja mempersilahkan dia masuk ke kolam istana. Sekejap saja orang miskin ini masuk ke dalamnya, ia langsung menggigil kedinginan. Giginya saling beradu, mukanya mendadak pucat dan tubuhnya perlahan meringkuk.

    Tiba-tiba ia melihat nyala api dari salah satu ruang istana. Segera saja ia bayangkan dirinya berada dekat perapian itu; ia bayangkan betapa nikmatnya duduk di ruangan itu. Mendadak rasa dingin di tubuhnya, menjadi hilang. Kekuatan imajinasi membuatnya mampu bertahan. Perlahan bayang-bayang pundi emas kembali melintas. Harapannya kembali tumbuh.

    Keesokan harinya, Raja dengan takjub mendapati si miskin masih berada di kolam istana. Si miskin telah memenangkan sayembara itu. Raja penasaran dan bertanya “rahasia” kekuatan si miskin. Dengan mantap si miskin bercerita bahwa ia mampu bertahan karena membayangkan nikmatnya berada di dekat perapian yang ia lihat di sebuah ruangan istana.

    Lama sudah waktu berjalan sejak saya baca kisah di atas sewaktu masih di Sekolah Dasar. Namun baru belakangan saya menyadari kiasan dari cerita itu. Imajinasi dan harapan akan kehidupan yang lebih baik telah menjadi semacam stimulus untuk kita bisa bertahan.

    Ketika krisis ekonomi menghadang negara kita, sekelompok orang menjadi panik tak karuan. Apa saja dilakukan mereka untuk mempertahankan kenikmatan hidup. Mulai dari menjadi spekulan mata uang, menimbun barang, menjilat penguasa dan meniupkan isu kemana-mana. Norma agama telah dilanggar untuk kepentingan duniawi belaka. Akan tetapi, segelintir orang tetap tenang karena sudah lama badan mereka di “bumi” namun jiwa mereka di “langit”.

    Kelompok terakhir ini membayangkan bagaimana nikmatnya hidup di “kampung akherat” nanti, sebagaimana yang telah dijanjikan Allah. “Pundi-pundi kasih sayang ilahi” membayang dipelupuk mata mereka.

    Bagaikan si miskin yang tubuhnya berada di dasar kolam, namun jiwanya berada di dekat perapian; bayangan “kampung akherat” membuat mereka tenang dan tidak mau melanggar norma agama. Bagaikan kisah si miskin di atas, boleh jadi Raja akan takjub mendapati mereka yang bisa bertahan di tengah krisis ini, tanpa harus menjilat kepada istana (apalagi bila jilatan itu dibumbui sejumput ayat dan hadis)

    Ada seorang muslim yang tengah berpuasa, rekan bulenya yang tinggal satu flat berulang kali mengetok pintu kamar hanya untuk memastikan apakah si muslim masih hidup atau tidak. Orang bule itu tak habis pikir bagaimana si muslim bisa bertahan hidup dan tetap beraktifitas tanpa makan-minum selama lebih dari 12 jam. Rindu “kampung akherat” menjadi jawabannya.

    Sama dengan herannya seorang rekan mendapati seorang muslimah di tengah musim panas (summer) tetap beraktifitas sambil memakai jilbab. Ketika ada yang bertanya, “apa tidak kepanasan?” Muslimah tersebut menjawab sambil tersenyum, “lebih panas mana dengan api neraka?”

    Kenikmatan “kampung akherat” rupanya jauh lebih menarik buat seorang muslim/muslimah.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Dedi Kurniadi 3:34 pm on 24 Maret 2012 Permalink

      Subhanallh,,zajakumullah khairan katsirrr…

  • erva kurniawan 1:34 am on 1 March 2012 Permalink | Balas  

    Sebuah Perenungan 

    Sebuah Perenungan

    Tuhan yang Mahabaik memberi kita ikan, tetapi kita harus mengail untuk mendapatkannya. Demikian juga Jika kamu terus menunggu waktu yang tepat, mungkin kamu tidak akan pernah mulai. Mulailah sekarang, mulailah di mana kamu berada sekarang dengan apa adanya.

    Jangan pernah pikirkan kenapa kita memilih seseorang untuk dicintai, api sadarilah bahwa cintalah yang memilih kita untuk mencintainya.

    Perkawinan memang memiliki banyak kesusahan, tetapi kehidupan lajang tidak memiliki kesenangan. Buka mata kamu lebar-lebar sebelum menikah, dan biarkan mata kamu setengah terpejam sesudahnya.

    Menikahi wanita atau pria karena kecantikannya atau ketampanannya Sama seperti membeli rumah karena lapisan catnya.

    Harta milik yang paling berharga bagi seorang pria di dunia ini adalah. hati seorang wanita. Begitu juga Persahabatan, persahabatan adalah 1 jiwa dalam 2 raga. Persahabatan sejati layaknya kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilanganNya. Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu didalam hatiMu dan akan menyanyikan kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya. Sahabat adalah tangan Tuhan untuk menjaga Kita.

    Rasa hormat tidak selalu membawa kepada persahabatan, tapi Jangan pernah menyesal untuk bertemu dengan orang lain, tapi menyesal-lah jika orang itu menyesal bertemu dengan kamu.

    Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran. Dialah hiasan dikala kamu senang dan perisai diwaktu kamu susah. Namun kamu tidak akan pernah memiliki seorang teman, jika kamu mengharapkan seseorang tanpa kesalahan. Karena semua manusia itu baik kalau kamu bisa melihat kebaikannya dan menyenangkan kalau kamu bisa melihat keunikannya tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan kalau kamu tidak bisa melihat keduanya.

    Begitu juga Kebijakan, Kebijakan itu seperti cairan, kegunaannya terletak pada penerapan yang benar, orang pintar bisa gagal karena ia memikirkan terlalu banyak hal, sedangkan orang bodoh sering kali berhasil dengan melakukan tindakan tepat. Dan Kebijakan sejati tidak datang dari pikiran kita saja, tetapi juga berdasarkan pada perasaan dan fakta.

    Tak seorang pun sempurna. Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak. Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar meskipun terbukti salah.

    Apa yang berada di belakang kita dan apa yang berada di depan kita adalah perkara kecil berbanding dengan apa yang berada di dalam kita.

    Kamu tak bisa mengubah masa lalu, tetapi dapat menghancurkan masa kini dengan mengkhawatirkan masa depan. Bila Kamu mengisi hati kamu, dengan penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran untuk masa depan, Kamu tak memiliki hari ini untuk kamu syukuri. Jika kamu berpikir tentang hari kemarin tanpa rasa penyesalan dan hari esok tanpa rasa takut, berarti kamu sudah berada dijalan yang benar menuju sukses.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 21 February 2012 Permalink | Balas  

    Lihatlah Sekeliling Kita 

    Lihatlah Sekeliling Kita

    Hal ini bermula dari sebuah perbincangan santai antara saya dan juga Manager saya di tempat kerja yang lama

    Sebagai seorang staff yg gajinya pas-pasan di bandingkan dengan manager, suatu saat saya iseng bertanya kepada manager saya di sebuah perusahaan ritel. Saya bertanya apa resepnya bahwa bapak(manager saya) boleh dibilang kaya, mobil ada 3, rumah besar, perusahaan pribadi ada 2  dengan tersenyum beliau berkata

    “Alhamdulillah semua itu adalah karunia dari Allah SWT. dan bahwasanya semua janji Allah SWT adalah benar

    Yang pertama dan utama adalah bahwasanya pendapatan yang di dapatkan adalah bukan milik kita sepenuhnya ada milik orang lain disanayaitu fakir miskin, dan saya selalu mengeluarkan zakat pendapatan saya untuk keperluan fakir miskin

    Dan rumah yang besar itu tidak saya diami sendirian, ada sekitar 6 anak asuh yang saya tanggung hidupnya dan di lain tempat ada sekitar 20 anak yatim piatu dan dhuafa yang saya berikan biaya hidup ”

    Subhanallah  saya langsung terhenyak

    Beliau melanjutkan itulah janji allah swt, bahwa apa yang sudah kita nafkahkan di jalan allah swt pasti akan di balas oleh allah swt, tidak hanya berupa harta melainkan ada hal yang terbesar yaitu kedamaian dan kemudahan serta pertolongan Allah SWT

    Astagfirullah al Aziem  ternyata saya selama ini saya salah menilai manager saya ini

    di akhir perbincangan beliau berpesan jangan lupa keluarkan zakat pendapatan kita dan usahakan untuk banyak berinfak / sedekah dan juga beribadah shalat tajahud tilawah qur’an  dan kalau bisa memberikan nafkah kepada anak yatim piatu, kaum dhuafa dan perjuangan di jalan Allah SWT itulah salah satu pembuka pintu rizqi

    ***

    yah boleh dibilang itulah salah satu yang merubah pola pikir saya selama ini  karena saya pikir bahwa pendapatan kita adalah milik kita semua

    pada awalnya saya merasa keberatan dengan mengeluarkan sejumlah uang zakat + infak / shadaqah  yang menurut saya yang hanya seorang staff ini besar jumlahnya  selain itu ada kendala kemana / lewat siapa saya akan menyalurkan zis saya

    Alhamdulillah Allah SWT memberikan kemudahan jalan keluar buat saya

    Ada kejadian penting juga yang saya ingat waktu itu adalah: saya menikah kemudian pindah kerja dan pindah rumah

    Di lingkungan rumah saya yang baru ini, kebetulan sebelah rumah saya seorang ustad dan beliau juga mengelola ZIS untuk anak yatim piatu, dan anak dhuafa saya diajak beliau keliling sekitar perumahan dan astagfirullah ternyata banyak anak yatim piatu dan dhuafa, ada yang tidurnya hanya menggunakan bale bambu dan dibawahnya ada kandang kambingnya, ada juga yang orang tuanya hanya tukang angon kebo, jadi buruh tanam / panen padi jangan kan untuk membayar uang sekolah yang besarnya Rp.20.000 sebulan, buat makan nasi aja sehari sekali itu juga susah.

    Ya Allah, amat berdosa sekali hambamu ini, di saat saya tidur lelap di kasur yang empuk, ada orang yang tidur hanya dengan bale bambu, di saat saya makan enak dan berlebihan, ada orang yang untuk makan saja sehari sekali

    Di saat saya sedang tilawah alqur’an ada orang yang tidak mampu untuk membeli alqur’an dan membacanya. Di saat saya diberikan kesehatan ada orang yang sakit bertahun tahun tidak di berikan obat. Begitulah saudaraku, cobalah kita tengok sekeliling kita. Dan cobalah untuk berbagi dengan saudara saudara kita  apa saja yang kita mampu untuk memberikannya. Marilah kita bantu saudara saudara kita untuk bisa hidup seperti kita, bisa pintar seperti kita, bisa ibadah seperti kita. Jangan takut miskin, jangan takut kekurangan Allah maha Besar

    Bahwasanya janji Allah swt adalah benar

    wallahu a’lam bisshawab..

    ***

    Oleh Teguh Prasetyo

     
    • nur 7:15 pm on 27 Februari 2012 Permalink

      Dua kenikmatan yang kebanyakan orang terlupa darinya, yaitu kesehatan dan waktu luang.

  • erva kurniawan 1:30 am on 14 February 2012 Permalink | Balas  

    Indahnya Nol 

    Indahnya Nol

    Pagi itu Kang Bejo pergi ke sawah dengan wajah sumringah sambil senyam-senyum sendiri. Padahal, baru kemaren sore padinya porak-poranda oleh tiupan Gatotkaca alias angin puting beliung. Hujan lebat mengguyuri seluruh permukaan desa. Maklum, lagi musim penghujan. Aneh, kalau mengharapkan kemarau. Melawan takdir, apa?

    Ketika berpapasan di depan kuburan, satu-satunya jalan menuju sawahnya, aku tak bisa menahan diri untuk bertanya.

    “Sugeng enjing Kang. Dungaren kok pagi ini senyam-senyum terus.”

    “Pagi, Cak Mangil. Kalau ndak senyum, musti gimana Cak.”

    “Bukannya sawah sampeyan lagi rusak dan panen terancam gagal?”

    “Lha yo wis terjadi, mau gimana lagi Cak. Awake dewe kan cuma petani. Kalau Kanjeng Gusti punya maksud lain, mau apa kita.”

    Wah, batinku, hebat tenan Kang Bejo ini. Berhektar-hektar sawahnya rusak, tapi tetap tenang.

    Memang, di desa kami, Kang Bejo ini terkenal sebagai petani yang paling rajin dan ndak banyak keinginan. Yang bikin hebat lagi, dia ndak stress ketika panennya gagal. Soalnya, aku denger di desa sebelah, Kaji Somad bunuh diri karena stress. Ikan gurame di 10 tambaknya pada mati, terkena arus bawah yang naik ke atas ketika hujan lebat kemaren. Katanya sih karena modalnya masih pinjeman dari bank. Mungkin stress ndak tahu gimana ngembaliinnya. Padahal perhitungannya sudah matang. Menjelang lebaran, kebutuhan terhadap ikan tinggi. Jika penen tahun ini sukses, dia akan untung besar. Hutang langsung lunas, bisa berangkat haji, dan masih ada sisa untuk modal. Namun hujan lebat itu telah menghancurkan segala impian dan rencannya.

    “Apa ndak sedih sampeyan Kang?”

    “Kalau mau dibawa sedih ya jadi sedih, kalau dibawa enak ya enak. Tinggal milih siapa yang membawa.”

    Wah, makin ndak ngerti saya apa maksud Kang Bejo.

    “Tinggal milih gimana, Kang? Ndak mudeng saya.”

    “Gimana bisa mudeng, lha sampeyan kalau jalan selalu buru-buru. Seperti ngejar setoran.”

    “Kan musti kerja keras Kang. Waktu musti dimanfaatin dengan sungguh-sungguh. Hari ini harus lebih baik dari hari kemaren. Bener tho, Kang?”

    “Iya, bener. Kalau pingin ngerti, monggo, coba perhatikan dan rasakan embun pagi yang menyentuh wajahmu setiap berangkat ke sawah. Jangan sawahnya mulu yang dipikirin sepanjang jalan.”

    Hebat, Kang Bejo mulai mengeluarkan ilmunya, nih..

    “Terus, apa hubungannya?”

    “Kebanyakan tanya sampeyan itu Cak, he.he.. Wis, pokoknya begitu. Rasain aja sendiri. Maaf ya, aku musti belok ke kanan, ke sawahku. Pingin ndengerin suara gemericik air. Assalamu’alaikum Cak Mangil.”

    “Walaikum salam Kang Bejo,” jawabku sambil bingung di akhir percakapan pagi itu. Bukannya dia sedih tanamannya rusak, tapi malah pingin ndengerin air. Apa asyiknya?

    Sesampainya aku di sawahku, kulihat tanaman padi yang kemaren masih rapi dan subur, kini sudah patah-patah, rusak ndak karuan. “Duh Gusti, kenapa sawahku juga kena? Mau makan apa anak istriku?” Aku lupa kalau baru saja ketemu Kang Bejo yang tenang itu. Yang ada di pikiranku hanyalah kegagalan dan kerugian di depan mata. Tubuhku lemes, ndak ada harapan. Aku memang petani baru di desa itu, dan baru kali ini mendapatkan kegagalan panen.

    Esok paginya, aku berangkat lagi ke sawah. Tiba-tiba aku ingat pesan Kang Bejo, “Coba rasakan embun pagi yang menyentuh wajahmu…”

    Sambil memanggul cangkul, sebelum menyusuri jalan, aku merasakan titik-titik kecil embun di wajahku. Aku pejamkan mata dan bernafas dalam-dalam. Kurasakan udara pagi yang sejuk menyentuh setiap permukaan lobang hidung, mengisi paru-paru, dan kurasakan dada mengembang. Kutahan sebentar, dan aaahh… Serasa lepas semua beban pikiran. Yang kurasakan hanya kesejukan di dada. Berulang-ulang kulakukan, sambil berjalan ke sawah.

    Aha.. ini rupanya yang dimaksud Kang Bejo.. Selama ini aku terlalu berpusat pada kesadaran atas, kesadaran pikiran, kepada rencana-rencana. Aku menelusuri jalan yang sama setiap hari, tapi aku tidak pernah memperhatikan jalan-jalan itu. Aku memandang pohon-pohon, tetapi aku tidak malihatnya. Aku lupa dan tidak mempedulikan sama sekali kepada kesadaran bawah, kesadaran hati, kepada embun dan udara pagi yang sejuk mengisi dadaku. Aku lupa, tanpa embun, tidak ada pagi yang sejuk. Tanpa udara sejuk dan bersih, tidak ada kesegaran dalam diri di pagi hari. Aku tidak mendengar suara-suara burung di sepanjang jalan itu.

    Kini, aku pun menikmati segala yang ada di depanku, merasakannya hingga ke dalam hati. Aku berbincang dengan embun-embun itu, menanyakan kabarnya semalam. Aku resapi suara burung di pohon-pohon pinggir jalan, kurasakan kerikil-kerikil kecil memijit-mijit kaki ku yang telanjang.

    Kurasakan sebuah pelepasan.. pelepasan yang sangat mendalam. Pelepasan pikiran. Dan kurasakan hatiku pun semakin sejuk terisi. Dalam pelepasan, kurasakan pengisian. Dalam pelepasan kurasakan keindahan. Kurasakan surga setiap hari, baik dikala sukses maupun gagal.

    Dan aku pun tersenyum, seperti Kang Bejo…

    “Sugeng enjing Cak Mangil. Tumben senyam-senyum…” sapa Kang Bejo pagi itu.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 12 February 2012 Permalink | Balas  

    Aku Tak Selalu Mendapatkan Apa Yang Kusukai, Oleh Karena Itu Aku Selalu Menyukai Apapun Yang Aku Dapatkan 

    Aku Tak Selalu Mendapatkan Apa Yang Kusukai, Oleh Karena Itu Aku Selalu Menyukai Apapun Yang Aku Dapatkan.

    Judul artikel diatas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia. Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.

    Pertama : Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam arti yang sesungguhnya.

    Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ”kaya”. Orang yang ”kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan dan orang-orang di sekitar Anda.  Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.

    Seorang pengarang pernah mengatakan,  ”Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur. Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

    Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah. Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya. Saya menjadi gemar gonta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi  rekan-rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar. Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya.  Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.

    Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, ”Lulu, Lulu.” Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, ”Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.” Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia  terkejut melihat penghuni lain itu terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, ”Lulu, Lulu”. ”Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?  ” tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, ”Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.” Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.

    Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian,  ia menjawab, ”Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup ditanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”

    Bersyukurlah !

    Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan. Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan?

    Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu . Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar .

    Bersyukurlah untuk masa-masa sulit . Di masa itulah kamu tumbuh …

    Bersyukurlah untuk keterbatasanmu . Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang .

    Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru . Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu .

    Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat . Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga .

    Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih . Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan .

    Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal baik. Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut. Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif. Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • taufiq 10:13 am on 13 Februari 2012 Permalink

      Alhamdulillah, marilah kita bersyukur kepada Allah

    • susi 7:55 pm on 31 Maret 2012 Permalink

      Assalamu’alaikum…. artikelnya sangat bermanfaat buat saya. Sekalian saya izin copas ya, Pak. Terima kasih.

    • Huda 1:35 pm on 22 Oktober 2012 Permalink

      Aku bersyukur dengan apa yangtelha Allah kurnian kepadaku selama ini.dan aku berharap,agar geliah ini adalah gelisah terakhir yg terjadi di hati.Allah,amupni dosa2ku selama ini kerna aku tidak pernah mensyukuri nikmatMu ya Allah.

  • erva kurniawan 1:31 am on 11 February 2012 Permalink | Balas  

    Berkorban itu Indah 

    Berkorban itu Indah

    Telah 2 musim hujan berlalu sehingga di mana-mana tampak pepohonan menghijau. Keliatan seekor ulat di antara dedaunan yang menghijau  bergoyang-goyang di terpa angin.

    ”Apa kabar daun hijau” katanya…..

    Tersentak daun hijau menoleh kearah suara yang datang.

    ”Ohh…kamu ulat, badanmu keliatan kurus dan kecil…mengapa ?” tanya daun hijau.

    ”Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku, bolehkan engkau membantuku sahabat ? ” kata ulat kecil.

    ”Tentu….tentu, dekatlah kemari,’daun hijau berpikir ‘ Jika aku memberikan sedikit saja daunku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau. Hanya saja aku akan keliatan berlobang-lobang…tapi tak apalah.”

    Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju ke daun hijau. Setelah makan dengan kenyang ulat berterima kasih kepada daun hijau yang telah merelakan sebagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas di dalam diri daun hijau. Sekali pun tubuhnya kini berlobang di sana sini namun ia bahagia dapat melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang lapar.

    Tidak lama berselang ketika musim panas datang daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ketanah di sapu orang dan dibakar.

    Renungan

    Apa yang berarti di kehidupan kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama ?  Nahh……akhirnya semua yang ada akan mati bagi sesamanya yang tidak menutup mata ketika sesamanya dalam kesukaran. Yang tidak membelakangi dan seolah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak meminta tolong. Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak melupakan kepentingan diri sendiri.

    Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi orang lain memang tidak mudah, tetapi indah. Ketika berkorban diri kita sendiri mnjadi seperti daun hijau yang berlobang namun sebenarnya itu tidak mempengaruhi kehidupan kita, kita akan tetap hijau…Tuhan akan tetap memberkati dan memelihara kita.

    Bagi daun hijau berkorban merupakan sesuatu perkara yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya dapat tersenyum karena pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya karena menyadari bahwa ia tidak akan selamanya tinggal menjadi daun hijau, suatu hari ia akan kering dan jatuh.

    Demikianlah kehidupan kita, hidup ini hanya sementara…kemudian kita akan mati. Itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan baik, kasih, pengorbanan, pengertian, kesetiaan, kesabaran, dan kerendahan hati.

    Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membawa sukacita tersendiri bagi anda. Kita dapat berkorban dalam banyak perkara, mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu bagi mereka, memberikan apa yang kita punyai dan masih banyak lagi pengorbanan yang dapat kita lakukan.

    Yang mana yang sering kita lakukan? Menjadi ulat kecil yang  menerima kebaikan orang atau menjadi daun hijau yang senang memberi. :-)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 31 January 2012 Permalink | Balas  

    Zalimnya Pemerintahan Ini 

    Zalimnya Pemerintahan Ini.

    Sepulang dari pengajian rutin beberapa hari lalu, saya berdiri di tepi trotoar daerah Klender. Angkot yang ditunggu belum jua lewat, sedang matahari kian memancar terik. Entah mengapa, kedua mata saya tertarik utuk memperhatikan seorang bapak tua yang tengah termangu di tepi jalan dengan sebuah gerobak kecil yang kosong. Bapak itu duduk di trotoar. Matanya memandang kosong ke arah jalan.

    Saya mendekatinya. Kami pun terlibat obrolan ringan. Pak Jumari, demikian namanya, adalah seorang penjual minyak tanah keliling yang biasa menjajakan barang dagangannya di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur. “Tapi kok gerobaknya kosong Pak, mana kaleng-kaleng minyaknya?” tanya saya.

    Pak Jumari tersenyum kecut. Sambil menghembuskan nafas panjang-panjang seakan hendak melepas semua beban yang ada di dadanya, lelaki berusia limapuluh dua tahun ini menggeleng. “Gak ada minyaknya.”

    Bapak empat anak ini bercerita jika dia tengah bingung. Mei depan, katanya, pemerintah akan mencabut subsidi harga minyak tanah. “Saya bingung. saya pasti gak bisa lagi jualan minyak. Saya gak tahu lagi harus jualan apa. modal gak ada.keterampilan gak punya..” Pak Jumari bercerita. Kedua matanya menatap kosong memandang jalanan. Tiba-tiba kedua matanya basah. Dua bulir air segera turun melewati pipinya yang cekung.

    “Maaf dik, saya menangis, saya benar-benar bingung. mau makan apa kami kelak.., ” ujarnya lagi. Kedua bahunya terguncang menahan tangis. Saya tidak mampu untuk menolongnya dan hanya bisa menghibur dengan kata-kata. Tangan saya mengusap punggungnya. Saya tahu ini tidak mampu mengurangi beban hidupnya.

    Pak Jumari bercerita jika anaknya yang paling besar kabur entah ke mana. “Dia kabur dari rumah ketika saya sudah tidak kuat lagi bayar sekolahnya di SMP. Dia mungkin malu. Sampai sekarang saya tidak pernah lagi melihat dia. Adiknya juga putus sekolah dan sekarang ngamen di jalan. Sedangkan dua adiknya lagi ikut ibunya ngamen di kereta. Entah sampai kapan kami begini .”

    Mendengar penuturannya, kedua mata saya ikut basah.

    Pak Jumari mengusap kedua matanya dengan handuk kecil lusuh yang melingkar di leher. “Dik, katanya adik wartawan.. tolong bilang kepada pemerintah kita, kepada bapak-bapak yang duduk di atas sana, keadaan saya dan banyak orang seperti saya ini sungguh-sungguh berat sekarang ini. Saya dan orang-orang seperti saya ini cuma mau hidup sederhana, punya rumah kecil, bisa nyekolahin anak, bisa makan tiap hari, itu saja. ” Kedua mata Pak Jumari menatap saya dengan sungguh-sungguh.

    “Dik, mungkin orang-orang seperti kami ini lebih baik mati… mungkin kehidupan di sana lebih baik daripada di sini yah…” Pak Jumari menerawang.

    Saya tercekat. Tak mampu berkata apa-apa. Saya tidak sampai hati menceritakan keadaan sesungguhnya yang dilakukan oleh para pejabat kita, oleh mereka-mereka yang duduk di atas singgasananya. Saya yakin Pak Jumari juga sudah tahu dan saya hanya mengangguk.

    Mereka, orang-orang seperti Pak Jumari itu telah bekerja siang malam membanting tulang memeras keringat, bahkan mungkin jika perlu memeras darah pun mereka mau. Namun kemiskinan tetap melilit kehidupannya. Mereka sangat rajin bekerja, tetapi mereka tetap melarat.

    Kontras sekali dengan para pejabat kita yang seenaknya numpang hidup mewah dari hasil merampok uang rakyat. Uang rakyat yang disebut ‘anggaran negara’ digunakan untuk membeli mobil dinas yang mewah, fasilitas alat komunikasi yang canggih, rumah dinas yang megah, gaji dan honor yang gede-gedean, uang rapat, uang transport, uang makan, akomodasi hotel berbintang nan gemerlap, dan segala macam fasilitas gila lainnya. Mumpung ada anggaran negara maka sikat sajalah!

    Inilah para perampok berdasi dan bersedan mewah, yang seharusnya bekerja untuk mensejahterakan rakyatnya namun malah berkhianat mensejahterakan diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Inilah para lintah darat yang menghisap dengan serakah keringat, darah, tulang hingga sum-sum rakyatnya sendiri. Mereka sama sekali tidak perduli betapa rakyatnya kian hari kian susah bernafas. Mereka tidak pernah perduli. Betapa zalimnya pemerintahan kita ini!

    Subsidi untuk rakyat kecil mereka hilangkan. Tapi subsidi agar para pejabat bisa hidup mewah terus saja berlangsung. Ketika rakyat antri minyak berhari-hari, para pejabat kita enak-enakan keliling dalam mobil mewah yang dibeli dari uang rakyat, menginap berhari-hari di kasur empuk hotel berbintang yang dibiayai dari uang rakyat, dan melancong ke luar negeri berkedok studi banding, juga dari uang rakyat.

    Sepanjang jalan, di dalam angkot, hati saya menangis. Bocah-bocah kecil berbaju lusuh bergantian turun naik angkot mengamen. Di perempatan lampu merah, beberapa bocah perempuan berkerudung menengadahkan tangan. Di tepi jalan, poster-poster pilkadal ditempel dengan norak. Perut saya mual dibuatnya.

    Setibanya di rumah, saya peluk dan cium anak saya satu-satunya. “Nak, ini nasi bungkus yang engkau minta.” Dia makan dengan lahap. Saya tatap dirinya dengan penuh kebahagiaan. Alhamdulillah , saya masih mampu menghidupi keluarga dengan uang halal hasil keringat sendiri, bukan numpang hidup dari fasilitas negara, mengutak-atik anggaran negara yang sesungguhnya uang rakyat, atau bagai lintah yang mengisap kekayaan negara.

    Saat malam tiba, wajah Pak Jumari kembali membayang. Saya tidak tahu apakah malam ini dia tidur dengan perut kenyang atau tidak. Saya berdoa agar Allah senantiasa menjaga dan menolong orang-orang seperti Pak Jumari, dan memberi hidayah kepada para pejabat kita yang korup. Mudah-mudahan mereka bisa kembali ke jalan yang benar. Mudah-mudahan mereka bisa kembali paham bahwa jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabk an di mahkamah akhir kelak. Mudah-mudahan mereka masih punya nurani dan mau melihat ke bawah.

    Mudah-mudahan mereka bisa lebih sering naik angkot untuk bisa mencium keringat anak-anak negeri ini yang harus bekerja hingga malam demi sesuap nasi, bukan berkeliling kota naik sedan mewah…

    Mudah-mudahan mereka lebih sering menemui para dhuafa, bukan menemui konglomerat dan pejabat… Mudah-mudahan mereka lebih sering berkeliling ke wilayah-wilayah kumuh, bukan ke mal…

    Amien Ya Allah.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Eka 1:14 pm on 7 Februari 2012 Permalink

      aminnnn yaa Rabb…

  • erva kurniawan 1:14 am on 26 January 2012 Permalink | Balas  

    Ibu Meninggal Setelah 38 Tahun Merawat Putrinya yang Koma 

    Ibu Meninggal Setelah 38 Tahun Merawat Putrinya yang Koma

    Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali … Sepenggal syair lagu itu benar-benar mengena pada sosok ibu asal AS ini. Wanita berusia 80 tahun itu selama berpuluh-puluh tahun merawat putrinya yang mengalami koma.

    Sampai akhirnya ibu penuh kasih itu meninggal, mendahului putrinya yang hingga saat ini masih terbaring dalam koma berkepanjangan.

    Kaye O’Bara menutup mata untuk selamanya di rumahnya di Miami Gardens, Florida . Kamar yang selama ini ditempatinya bersama putrinya, Edwarda sejak 1970 silam. Kaye meninggal dalam tidurnya. Dia telah bertahun-tahun menderita penyakit jantung.

    Semasa hidupnya Kaye pernah berjanji tak akan pernah meninggalkan Edwarda yang ketika itu masih remaja. J anji itu dimulai sejak Edwarda jatuh koma akibat penyakit diabetesnya 38 tahun yang lampau.

    “Kami kira dia akan hidup melampaui kami semua. Wanita itu begitu kuat,” kata keponakan Kaye, Pamela Burdgick seperti dilansir harian News.com.au, Sabtu (8/3/2008).

    Selama kurun waktu 38 tahun, kisah pengabdian Kaye kepada putrinya, Edwarda menarik simpati banyak orang. Para pengunjung yang jumlahnya tak terhitung lagi mendatangi rumah Kaye. Bahkan ada pula sebagian orang yang datang dari J epang untuk ikut merayakan ulang tahun Edwarda.

    Kisah Kaye telah dituangkan dalam buku laris karya Dr. Wayne Dyer yang berjudul A Promise Is A Promise: An Almost U nbelievable Story of a Mother’s U nconditional Love and What It Can Teach U s.

    Edwarda, penderita diabetes, mengalami flu sebelum Natal 1969. Beberapa hari kemudian kondisinya memburuk dan orangtuanya, Kaye dan suaminya, J oe, membawanya ke rumah sakit.

    Beberapa saat sebelum Edwarda kehilangan kesadarannya, remaja putri itu sempat bertanya kepada ibunya: ” J anji ibu tidak akan meninggalkan saya, janji ya?” Kaye pun berjanji tidak akan pernah meninggalkan anak perempuannya itu.

    Itulah kata-kata terakhir yang disampaikan Kaye sebelum anaknya koma berkepanjangan. Dan Kaye menepati janjinya.

    Kaye dengan teratur membalik tubuh putrinya tiap dua jam supaya tidak mengalami nyeri akibat berbaring terlalu lama. Kaye memberinya makan berupa campuran makanan bayi dan susu bubuk melalui tube, menyuntikkan insulin, memutar alunan musik, membacakan buku untuk Edwarda dan tak lelah berdoa di samping tempat tidur Edwarda supaya suatu hari nanti putrinya itu akan sadar kembali.

    Bagi Kaye, mengurus putrinya itu bukanlah beban, melainkan berkat. Kaye sangat yakin, Edwarda akan terbangun. “Bagi saya, dia hampir sadar. Kadang-kadang saya merasa mendengar dia bicara: Ibu, saya baik-baik saja,” kata Kaye kepada media AS, Miami Herald beberapa waktu lalu.

    Namun kini Kaye telah pergi untuk selamanya. Dia meninggalkan Edwarda yang masih terbaring koma entah sampai kapan. Adik Edwarda, Colleen O’Bara mengatakan, keluarga akan terus merawat Edwarda di rumah mereka. Sama seperti Kaye, Colleen juga yakin kakaknya itu akan sadar suatu hari nanti.

    Suami Kaye, J oe mengalami serangan jantung pada tahun 1972 dan meninggal dunia empat tahun kemudian. Sejak itu, Kaye mengurus Edwarda dengan menggunakan tunjangan sosial dari pemerintah dan dana pensiun suaminya, ditambah lagi dengan sumbangan dari orang-orang.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 21 January 2012 Permalink | Balas  

    Doa Yang Selalu Dikabulkan 

    Doa Yang Selalu Dikabulkan

    Helvy Tiana Rosa

    Pagi itu, dari Jakarta, saya diundang mengisi seminar di IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Saya duduk di bangku kedua dari depan sambil menunggu kedatangan pembicara lain, Mimin Aminah, yang belum saya kenal.

    Jam sembilan tepat, panitia menghampiri saya dan memperkenalkan ia yang baru saja tiba. Saya segera berdiri menyambut senyumnya yang lebih dulu merekah. Ia seorang yang bertubuh besar, ramah, dalam balutan gamis biru dan jilbab putih yang cukup panjang. Kami berjabat tangan erat, dan saat itu tegas dalam pandangan saya dua kruk (tongkat penyangga yang dikenakan-nya) serta sepasang kaki lemah dan kecil yang ditutupi kaos kaki putih. Sesaat batin saya hening, lalu melafazkan kalimat takbir dan tasbih.

    Saat acara seminar dimulai, saya mendapat giliran pertama. Saya bahagia karena para peserta tampak antusias. Begitu juga ketika giliran Mimin tiba. Semua memperhatikan dengan seksama apa yang disampaikannya. Kata-kata yang dikemukakannya indah dengan retorika yang menarik. Wawasannya luas, pengamatannya akurat.

    Saya tengah memandang wajah dengan pipi merah jambu itu saat Mimin berkata dengan nada datar. “Saya diuji Allah dengan cacat kaki ini seumur hidup saya.”

    Ia tersenyum. “Saya lahir dalam keadaan seperti ini. Mungkin banyak orang akan pesimis mengha dapi keadaan yang demikian, tetapi sejak kecil saya telah memohon sesuatu pada Allah. Saya berdoa agar saat orang lain melihat saya, tak ada yang diingat dan disebutnya kecuali Allah,” Ia terdiam sesaat dan kembali tersenyum. “Ya, agar mereka ingat Allah saat menatap saya. Itu saja.”

    Dulu tak ada orang yang menyangka bahwa ia akan bisa kuliah. “Saya kuliah di Fakultas Psikologi,” katanya seraya menambahkan bahwa teman-teman pria dan wanita di Universitas Islam Bandung-tempat kuliahnya itu-senantiasa bergantian membantunya menaiki tangga bila kuliah diadakan di lantai dua atau tiga. Bahkan mereka hafal jam datang serta jam mata kuliah yang diikutinya. “Di antara mereka ada yang membawakan sebelah tongkat saya, ada yang memapah, ada juga yang menunggu di atas,” kenangnya.

    Dan civitas academica yang lain? Menurut Mimin ia sering mendengar orang menyebut-nyebut nama Allah saat menatapnya. “Mereka berkata: Ya Allah, bisa juga ya dia kuliah,” senyumnya mengembang lagi. “Saya bahagia karena mereka menyebut nama Allah. Bahkan ketika saya berhasil menamatkan kuliah, keluarga, kerabat atau teman kembali memuji Allah. Alhamdulillah, Allah memang Maha Besar. Begitu kata mereka.”

    Muslimah bersahaja kelahiran tahun 1966 ini juga berkata bahwa ia tak pernah ber-mimpi akan ada lelaki yang mau mempersuntingnya. “Kita tahu, terkadang orang normal pun susah mendapatkan jodoh, apalagi seorang yang cacat seperti saya. Ya tawakal saja.”

    Makanya semua geger, ketika tahun 1993 ada seorang lelaki yang saleh, mapan dan normal melamarnya. “Dan lagi-lagi saat walimah, saya dengar banyak orang menyebut-nyebut nama Allah dengan takjub. Allah itu maha kuasa, ya. Maha adil! Masya Allah, Alhamdulillah, dan sebagainya,” ujarnya penuh syukur. Saya memandang Mimin dalam. Menyelami batinny a dengan mata mengembun.

    “Lalu saat saya hamil, hampir semua yang bertemu saya, bahkan orang yang tak mengenal saya, menatap takjub seraya lagi-lagi mengagungkan asma Allah. Ketika saya hamil besar, banyak orang menyarankan agar saya tidak ke bidan, melainkan ke dokter untuk operasi. Bagaimana pun saat seorang ibu melahirkan otot-otot panggul dan kaki sangat berperan. Namun saya pasrah. Saya merasa tak ada masalah dan yakin bila Allah berkehendak semua akan menjadi mudah. Dan Alhamdulillah, saya melahirkan lancar dibantu bidan,” pipi Mimin memerah kembali. “Semua orang melihat saya dan mereka mengingat Allah. Allahu Akbar, Allah memang Maha Adil, kata mereka berulang-ulang.”

    Hening. Ia terdiam agak lama.

    Mata saya basah, menyelami batin Mimin. Tiba-tiba saya merasa syukur saya teramat dangkal dibandingkan nikmatNya selama ini. Rasa malu menyergap seluruh keberadaan saya. Saya belum apa-apa. Yang selama ini telah saya lakukan bukanlah apa-apa.

    Astaghfirullah. Tiba-tiba saya ingin segera turun dari tempat saya duduk sebagai pembicara sekarang, dan pertamakalinya selama hidup saya, saya menahan airmata di atas podium. Bisakah orang ingat pada Allah saat memandang saya, seperti saat mereka memandang Mimin?

    Saat seminar usai dan Mimin dibantu turun dari panggung, pandangan saya masih kabur. Juga saat seorang (dari dua) anaknya menghambur ke pelukannya. Wajah teduh Mimin tersenyum bahagia, sementara telapak tangan kanannya berusaha membelai kepala si anak. Tiba-tiba saya seperti melihat anak saya, yang selalu bisa saya gendong kapan saya suka. Ya, Allah betapa banyak kenikmatan yang Kau berikan padaku.

    Ketika Mimin pamit seraya merangkul saya dengan erat dan berkata betapa dia men-cintai saya karena Allah, seperti ada suara menggema di seluruh rongga jiwa saya. “Subhanallah, Maha besar Engkau ya Robbi, yang telah memberi pelajaran pada saya dari pertemuan dengan hambaMu ini. Kekalkanlah persaudaraan kami di Sabilillah. Selamanya. Amin.”

    Mimin benar. Memandangnya, saya pun ingat padaNya. Dan cinta saya pada Sang Pencipta, yang menjadikan saya sebagaimana adanya, semakin mengkristal.

    ***

    (“Pelangi Nurani”: Penerbit Asy Syaamil, 2002)

     
    • farkhan 10:04 pm on 1 Februari 2012 Permalink

      subhanallah

    • akhmad sururi 12:25 pm on 18 Februari 2012 Permalink

      lahaula wala kuata illabillah ….. terima kasih kisahnya sayapun terharu betul salam ke bu mimin..

  • erva kurniawan 1:20 am on 18 January 2012 Permalink | Balas  

    Belajar dari Mbah Tuki: Menggantung Nasib pada Buah Afkir 

    Belajar dari Mbah Tuki: Menggantung Nasib pada Buah Afkir

    Usianya sudah uzur, 68 tahun, namun Mbah Tuki masih harus bergelut dengan kehidupan yang berat. Tiga cucunya menjadi tanggungannya. Sementara ia hanya mengandalkan usaha memulung buah di pasar, untuk dijual kembali

    Adzan shubuh baru saja berlalu, udara dingin pun masih melingkup. Namun Mbah Tuki sudah bersiap dengan kerja rutinnya. Selepas shalat shubuh, keranjang butut bergegas dijinjing menemaninya ke pasar buah sekitar 3 kilometer dari rumahnya. Sementara ketiga cucunya masih tidur pulas di kamar rumah kontrakkan yang sempit.

    Berjalan kaki ia menyusuri jalanan yang masih sunyi. Setiba di pasar buah kawasan Jalan Gunung Galunggung, Kargo, Denpasar, Mbah Tuki langsung beredar mencari pisang-pisang afkir, berharap masih ada bagian yang bagus. Kadang kalau ada modal, lewat pengepul ia memborong sekeranjang, harganya Rp 5 ribu.

    Begitu matahari sudah menyembul dari cakrawala dan lalu lalang manusia berangkat kerja. Mbah Tuki pulang ke rumah. Lantas pisang-pisang afkir yang dibelinya di pasar, ia ambil bagian yang masih bagus. Digoreng lantas dijual dengan cara berkeliling. Hasilnya lumayan untuk uang saku cucunya berangkat sekolah.

    Istirahat? Belum. Mbah Tuki masih kembali lagi ke pasar yang sama, kali ini ditemani cucu terkecilnya. Kali ini ia mencari jeruk, mangga, nanas atau yang buah afkir lainnya. Sama, buah-buahan afkir itu dijualnya kembali setelah dibersihkan. Yang tidak laku, ia berikan kepada anak-anak kecil di sekitar tempat tinggalnya. Selepas adzan dhuhur ia baru pulang ke rumah. Begitu setiap hari yang dikerjakan Mbah Tuki untuk menghidupi ketiga cucunya yang ditinggal kedua orang tuanya entah ke mana.

    “Menawi mboten ngeten sinten sing nyukani sangune lare-lare, kale tumbas beras kagem nedho,” (Kalau tidak begini siapa yang memberi bekal untuk anak-anak, atau beli beras untuk makan),” ujar Mbah Tuki lirih.

    Wanita renta itu kini terpaksa bekerja sendirian menghidupi tiga orang cucunya, Sri Wahyuningsih yang duduk di bangku kelas 4 SD, Alex Siswanto, dan Agus Setiawan (6 tahun). Beban hidupnya cukup berat, selain kebutuhan sehari-hari, Mbah Tuki masih harus mencari uang untuk biaya sekolah cucunya.

    Mbah Tuki tinggal bersama tiga orang cucunya di sebuah rumah kontrakkan yang disewanya Rp 250 ribu per bulan. Hampir semua warga di lingkungan Mbah Tuki adalah pendatang. Hari Raya kemarin Mbah Tuki dan cucu-cucunya tak bisa pulang ke Jember lantaran tak ada biaya. Sudah hampir lima tahun Mbah Tuki melakoni pekerjaannya, walau melelahkan, namun Mbah Tuki tidak pernah mengeluh. Semuanya dikerjakan dengan sabar, senyum selalu tersungging di sela kelelahan.

    Kepada Madani, wanita asal Jember itu mengaku tidak menyangka jika jalan hidupnya akan seperti ini. Awalnya ia datang ke Bali diajak anaknya lelakinya yang bekerja di Denpasar, 12 tahun silam. “Sekarang anak saya pergi ke Jakarta, namun sudah setahun ini tidak ada kabarnya. Istrinya pergi meninggalkan rumah saat Agus, cucu saya, baru berumur 2 tahun,” kata Mbah Tuki.

    Satu cermin lagi buat kita. Sesulit apapun pekerjaan, ternyata masih ada pekerjaan. Memang terkesan jorok, terkesan tidak berkelas, terkesan memalukan. Tapi apakah yang terkesan jorok, yang terkesan tidak berkelas dan yang terkesan memalukan lebih mulia dari pencuri, lebih mulia dari perampok, lebih baik dari para koruptor? Tentu kita sepakat, pencuri, perampok dan koruptor tidak lebih mulia dari Mbah Tuki.

    Usia Mbah Tuki sudah 68 tahun. Tapi semangat, keuletan dan tahan bantingnya tidak kalah dengan anak muda. Bagaimana dengan anak muda sekarang? Jangan mau kalah dengan mbah Tuki. Tetap semangat, ulet dan sungguh-sungguh!

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 16 January 2012 Permalink | Balas  

    Pak Rudi dan Sikat Gigi bekas 

    Pak Rudi dan Sikat Gigi bekas     

    Pada pagi itu pak Rudi pergi ke sebuah perusahaan dimana dia dipanggil untuk test wawancara untuk menjadi karyawan di Perusahaan tersebut. Saat dalam antrian panggilan untuk test, pak Rudi menyempatkan diri ke toilet untuk sekedar membersihkan muka dan mencuci tangan, karena beliau menggunakan kendaraan umum sehingga banyak debu jalanan yang ingin beliau hilangkan.

    Saat di wastafel, beliau melihat wastafel tersebut kotor dan sedikit disana sini ada kerak kerak porselen, dan disamping wastafel itu ada sikat gigi bekas yang terlihat tak terpakai. Tanpa berfikir panjang, pak Rudi membersihkan wastafel tersebut dengan sikat gigi bekas yang beliau temukan. Dan ternyata tanpa beliau sadari ada orang lain disamping beliau yang melihat perbuatan Pak Rudi tersebut, yang tak lain orang tersebut adalah orang HRD, dan orang itu yang akan mewawancara Pak Rudi.

    Ketika Pak Rudi ada di Ruang test, beliau langsung ditanya oleh sang HRD

    ” Pak, tadi saya lihat pak Rudi membersihkan wastafel dengan sikat gigi bekas, boleh saya tahu, apa tujuan bapak melakukannya, padahal bapak datang kesini bukan untuk wawancara karyawan office boy, atau cleaning service, dan yang pasti…. bapak belum tentu kami terima sebagai karyawan di perusahaan ini…”

    ” Saya melakukannya karena saya ikhlas melakukannya, dan hal itu terlepas dari masalah apakah saya akan diterima atau tidak diperusahaan ini, dan terlepas dilihat orang atau tidak saya melakukannya. Karena saya yakin Allah melihat apa yang saya kerjakan….”

    Apakah anda tahu, siapa yang diterima diperusahaan itu? ya… tentu saja pak Rudi lah orang nya…

    Angle priciple, prinsip malaikat, dimana malaikat adalah mahluk yang terbuat dari cahaya, dimana cahaya itu tidak pernah memilih. Mungkin anda sekarang bisa melihat lampu yang ada dikantor anda, atau dimana saja, atau mungkin matahari yang ada diluar sana. Perhatikan sedikit lampu atau matahari yang ada, dimana menyinari setiap benda, orang dan semua yang ada, tak peduli apakah orang tersebut baik, jahat, kaya atau miskin, tetap dibuatnya terang agar bisa terlihat…

    ***

    Dari Sahabat

     
    • annisa 8:30 am on 17 Januari 2012 Permalink

      Super sekali.., nice story.., moga kita semua bisa mempunyai angle principle dgn keikhlasan yang melekat ( tanpa pamrih), Allah tidak tidur dan sll dekat dgn hamba-Nya yg baik.., insya Allah..^_^

    • makhdy 12:55 pm on 2 Februari 2012 Permalink

      Subhanallah..terima kasih yah…sangat berkesan…izin copas yah….makasih B4…

  • erva kurniawan 1:14 am on 15 January 2012 Permalink | Balas  

    Diancam Dibunuh Setelah Bersyahadat 

    Diancam Dibunuh Setelah Bersyahadat

    Perjuangannya “memeluk” Islam dilakukan dengan penuh resiko, ia bahkan diancam bunuh. Dulu ia ingin ‘mengkristen-kan’ orang. Kini malah mengislamkan orang

    Semenjak memeluk Islam, ibunya sudah tak mengakui lagi ia sebagai anak. Ayahnya bahkan hendak menembaknya pula. Sang kakak menganggap ia sudah gila. Lalu suami menceraikannya. Oleh pengadilan dia divonis tak punya hak mengasuh kedua anaknya, kecuali meninggalkan Islam. Belum selesai sampai disitu, setelah mengenakan jilbab ia malah dikeluarkan dari tempat kerjanya. Begitulah ujian demi ujian datang menerpa Aminah Assilmi setelah memeluk Islam. Namun perempuan Amerika ini tetap tegar. Alhasil, dengan kuasa Allah, beberapa tahun kemudian neneknya yang telah berusia 100 tahun masuk Islam. Lalu bapaknya, diikuti ibu, kakak, anak lelakinya yang telah berusia 21 pun kemudian memeluk Islam. Bahkan, enam belas tahun setelah bercerai, mantan suaminya juga masuk Islam. Kini ia banyak diundang memberikan ceramah di berbagai tempat di Amerika. Satu kalimatnya yang terkenal: “Bagi saya, profesi terbaik adalah menjadi seorang ibu.” Berikut kisah lengkapnya seperti dituangkan dalam http://www.islamfortoday.com.

    Aminah Assilmi dulunya seorang juru baptis, penganut feminis yang radikal dan juga seorang jurnalis radio. Tapi kini, selepas memeluk Islam, dia bagaikan seorang duta besar bagi agama Islam. Sebagai Direktur International Union of Muslim Women atau Persatuan Wanita Muslim Internasional dia benar-benar menyuarakan kebenaran Islam. Aminah kerap mengadakan perjalanan, berceramah di kampus-kampus, menyeru pentingnya kepedulian terhadap masyarakat banyak serta berbagi pemahaman atas keyakinan yang dianutnya kini.

    Aminah sendiri, jauh sebelum mengenal Islam, awalnya berada di garda terdepan kelompok pembenci Islam. Dalam buku yang dikarangnya “Choosing Islam“, Aminah menceritakan perjumpaannya dengan Islam.

    Berawal dari kesalahan komputer

    Aminah dikenal sebagai gadis yang cerdas hingga memperoleh beasiswa selama kuliah. Disamping itu ia juga mengembangkan bisnis sendiri, berkompetisi secara professional hingga akhirnya memperoleh penghargaan (awards). Semua itu berlangsung semasa masih kuliah di perguruan tinggi. Ada kejadian menarik tatkala ia memasukkan data registrasi mata kuliah ke komputer di kampusnya. Berawal dari sinilah ia mengenal Islam hingga di kemudian hari kehidupannya berubah secara total.

    “Kejadian itu pada tahun 1975 ketika pertama kali pendaftaran mata kuliah menggunakan sistem komputer. Waktu itu saya melakukan registrasi sebuah mata kuliah. Setelah mendaftar saya pun berangkat ke Oklahoma untuk urusan bisnis,” kisahnya mengenang. Urusan bisnisnya sedikit lama, membuatnya tertunda kembali ke kampus. Dan baru muncul di kampus dua minggu setelah kuliah dimulai. Bagi dia ketinggalan pelajaran dan tugas-tugas mata kuliah tidak masalah. Namun yang membuatnya sangat terkejut adalah ketika diketahui komputer salah dalam melakukan registrasi. Di komputer namanya tertera sebagai peserta kelas Theatre, sebuah kelas dimana para mahasiswa musti unjuk kebolehan di depan peserta lainnya.

    “Saya ini gadis pendiam. Bagi saya berdiri di depan kelas adalah hal yang sangat menakutkan. Tentu saja membatalkan mata kuliah tidak mungkin lagi. Sudah sangat terlambat. Tidak hadir sama sekali selama kuliah, juga bukan pilihan yang tepat. Sebabnya saya menerima beasiswa. Bila nilai saya jatuh, beasiswa bisa dicabut,” tambahnya.

    Suami Aminah menyarankan agar ia menemui dosennya guna mencari solusi alternatif lain. Oleh sang dosen ia dianjurkan untuk masuk ke kelas lain. Namun alangkah terkejutnya Aminah tatkala masuk ke kelas alternatif itu.

    “Saya tak menduga di kelas itu banyak sekali wanita Arab berjilbab. Waktu itu saya menyebut mereka dengan “para penunggang unta”. Kontan gairah saya hilang,” kenangnya.

    Aminah tidak jadi ikut kelas tersebut dan pulang ke rumah.”Saya tidak mau berada di tengah-tengah orang-orang Arab. Saya tidak mau duduk bareng dengan orang-orang kafir kotor itu!,” tulis Aminah dalam bukunya. Suaminya, seperti biasa, tetap tenang menghadapinya.

    Dengan kalem sang suami menyebut bahwa Tuhan punya maksud tertentu atas segala apa yang terjadi. Ia lalu meminta Aminah untuk berpikir masak-masak sebelum memutuskan berhenti kuliah. Konon lagi pemberi beasiswa telah mengeluarkan dana untuk studinya itu. Selama dua hari Aminah mendekam di kamarnya guna mengambil keputusan. Akhirnya dia memutuskan kembali ke kampus. Kala itu, menurut Aminah, dia seperti merasakan seolah-olah Tuhan memberinya tugas untuk mengkristenkan mahasiswi Arab itu. Ia rasakan seperti ada sebuah misi yang musti dituntaskan segera.

    Misi Kristenisasi

    Kala kembali ke kampus, Aminah pun mulai menjalankan misi Kristenisasi kepada mahasiswi Arab itu.

    “Saya terangkan tentang neraka. Bagaimana mereka akan dibakar dan disiksa jika tak ikut ajaran Kristen. Lalu saya terangkan Yesus cinta mereka dan Yesus mati disalib untuk menebus dosa-dosa pengikutnya. Jadi kita musti ikuti dia.” terang Aminah yang mengaku heran dengan kesopanan mahasiswi Arab tersebut. Mereka tidak membantah sedikitpun dengan apa yang diterangkannya.

    “Anak-anak Arab itu kok belum tertarik juga dengan Kristen. Saya putuskan untuk mencoba cara lain. Yakni saya coba pelajari kitab mereka untuk membuktikan bahwa Islam agama salah dan Muhammad bukan Nabi,” tukasnya lagi.

    Atas permintaan Aminah, seorang mahasiswi Arab memberinya sebuah mushaf Al-Quran dan beberapa buku tentang Islam. Aminah mulai mempelajari Al-Quran berikut dengan bantuan 15 buah buku tentang Islam secara intensif. Al-Quran dibaca berulang-ulang, dikajinya berdasarkan referensi-referensi yang ada, lalu dibacanya lagi. Begitu seterusnya. Selama observasi dia selalu mencatat hal-hal yang tak disetujuinya guna membuktikan pendapatnya Islam agama salah. Kajian berjalan selama hampir satu setengah tahun.

    Cari kelemahan Islam

    Begitulah, setelah berjalan hampir dua tahun, alih-alih berupaya mengganti paham mahasiswi Islam tersebut dengan ajaran Kristen, malah Aminah yang akhirnya belajar Al-Quran. Awalnya dia mempelajari Quran untuk mencari kesalahan-kesalahan Islam, untuk membuktikan Nabi Muhammad bukan Nabi. Akan tetapi semakin dibaca, semakin tertarik ia dengan Islam.

    Tanpa disadari, perilakunya mulai sedikit berubah. Rupanya perubahan itu menarik perhatian suaminya. “Sungguh, tanpa saya sadari ada perubahan kecil dalam keseharian saya. Tapi itu sudah cukup mengganggu pikiran suami. Biasanya saban Jumat dan Sabtu kami sering pergi ke bar atau menghadiri pesta. Tapi saya tidak begitu suka lagi. Bahkan berhenti makan babi dan minum-minuman keras,” kisahnya.

    Lama- kelamaan suaminya mulai menaruh curiga dengan perubahan itu. Suaminya menduga Aminah ada hubungan gelap dengan lelaki lain. Puncaknya, mereka pisah ranjang, dan bahkan kemudian pisah apartemen. Namun Aminah masih terus mengkaji Al-Quran.

    Secara khusus dia mengaku sangat tertarik dengan apa yang dikatakan Al-Quran tentang laki-laki dan perempuan. Wanita Islam, sebelum dia mempelajari Al-Quran, dia pikir berada dalam penindasan suaminya. “Waktu itu dalam sangkaan saya suamilah yang memaksa istri, misal untuk memakai jilbab,” ujar Aminah.

    Melalui kajian intensif, dia dapati bahwa wanita Islam punya kesamaan hak dalam pekerjaan, pendidikan tanpa memperhatikan gender mereka. Yang menarik baginya, pada saat seorang wanita Islam menikah, maka dia tidak harus mengganti nama belakang (nama keluarga-red) menjadi nama keluarga suami, tapi tetap menjaga nama ayahnya. Dan banyak lagi perkara-perkara lainnya. Dari situ Aminah mengambil kesimpulan bahwa Islam atau dengan kata lain Nabi Muhammad telah mengangkat harkat dan martabat kaum wanita.

    Didatangi lelaki berjubah

    Akhirnya, satu malam seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ternyata seorang lelaki berjubah dan mengaku bernama Abdul Aziz Al-Shekh. Ia ditemani tiga orang temannya dengan pakaian yang sama. Aminah sangat terkejut dengan kedatangan pria tak diundang itu. Apalagi tatkala pria berjubah tersebut mengatakan bahwa hanya masalah waktu saja bagi Aminah untuk menjadi seorang muslim.

    “Dia berujar saya sudah siap jadi seorang Islam. Saya kontan menangkal pernyataannya itu dengan menyebut saya orang Kristen. Selama ini saya hanya coba mengkaji, bukan mau masuk Islam. Begitu kata saya malam itu,” tukas Aminah mengenang. Begitupun Aminah mempersilahkan mereka masuk karena ia ingin mengajukan beberapa pertanyaan tentang Islam yang masih menyelubungi pikirannya.

    Aminah menumpahkan semua pertanyaannya, hasil observasi selama hampir dua tahun. Abdul Azis mendengarkan dengan seksama. Tiap pertanyaan dijawabnya dengan sangat tenang dan teratur. Aminah mengaku sangat puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan. “Akhirnya, keesokan harinya, dengan disaksikan Abdul-Aziz dan tiga temannya sayapun bersyahadah. Saat itu 21 Mei 1977,” kenangnya.

    Dikucilkan Keluarga

    Segera setelah Islamnya Aminah, perlahan ujian demi ujian pun datang. Dia dikucilkan oleh keluarga dan teman-temannya. Ibunya tak mengakui lagi ia sebagai anak. Yang lebih parah, sang ayah bahkan hendak menembaknya pula. Kakak Aminah menganggap ia sudah gila dan perlu dirawat di rumah sakit jiwa. Belum berhenti disitu, suami pun menceraikannya. Yang membuat hati Aminah sangat pedih adalah kala pengadilan memutuskan dia tak punya hak mengasuh kedua anakNYA, kecuali meninggalkan Islam. “Saya meninggalkan pengadilan dengan hati yang hancur. Anda bisa bayangkan bagaimana hati seorang ibu dipisahkan dari anak-anaknya,” ujar Aminah sedih.

    Belum selesai sampai disitu, setelah mengenakan jilbab ia malah dikeluarkan dari tempat kerjanya. Namun karena kecintaannya pada Islam, penderitaan-penderitaan itu tidak membuat imannya runtuh. Aminah menyitir sebuah ayat suci Al-Quran (Ayat Kursi-red) yang bikin hatinya tenang:

    Tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi dan Allah tidak merasa berat memelihara kedua-duanya, dan Allah Maha Tinggi Lagi Maha Besar. (Q.S. 2;255).

    Anggota keluarga masuk Islam

    Meskipun keluarga mengucilkannya, Aminah tetap menjaga hubungan dengan mereka. Misalnya, ia sering berkirim surat dan selalu menulis beberapa terjemahan ayat Quran dan hadis yang berhubungan dengan masalah sosial kemanusiaan. Namun Aminah tak menyebut petuah-petuah itu dari Al-Quran. Rupanya strategi itu lumayan manjur. Lama-kelamaan ada respon positif dari anggota keluarga. Aminah pun terus berkirim surat plus kutipan-kutipan berisi ayat Quran dan hadis Nabi.

    Begitulah, dengan sabar dan doa, satu demi satu anggota keluarganya masuk Islam. Pertama, sang nenek yang sudah uzur. “Nenek berusia 100 tahun ketika menerima Islam. Persis setelah itu dia meninggal dunia. Masya Allah nenek meninggal dengan membawa buku amalan yang penuh kebajikan ke akhirat,” kisah Aminah.

    Tak lama, ayah yang dulu hendak membunuhnya juga memeluk Islam. Dua tahun kemudian, sang ibu diikuti oleh kakak Aminah juga bersyahadah. Dan yang membuat Aminah sangat gembira, anaknya yang telah beranjak dewasa (umur 21 tahun) juga mengikuti jejaknya. Yang paling mengharukan, enam belas tahun selepas Islamnya Aminah, mantan suaminya juga mengucap dua kalimah syahadah. Mantan pasangan hidupnya itu bahkan meminta maaf atas segala kekhilafannya.

    Aminah sendiri kala itu telah menikah dengan pria lain. Dia sempat didiagnosa oleh dokter mengidap penyakit kanker dan divonis tidak bisa memiliki anak lagi. Namun Allah punya kuasa. Ia tetap bisa mengandung dan diamanahi seorang anak laki-laki yang diberi nama “Barakah”.

    “Saya sangat gembira menjadi seorang Muslim. Islam adalah hidupku. Islam adalah irama hatiku. Islam adalah darah yang mengalir di sekujur tubuhku. Islam adalah kekuatanku. Islam telah membuat hidupku sangat menyenangkan. Tanpa Islam aku tak berarti apa-apanya. Andai Allah memalingkan wajah-Nya dariku, sungguh aku tak bisa bertahan hidup,” senandung Aminah Assilmi yang telah dua kali berhaji ke Mekkah.

    Tak malu tunjukkan identitas Islam

    Aminah dalam beraktifitas tak malu-malu menunjukkan keislamannya. Misal, dia mengenakan busana muslimah secara sempurna. Jilbab menutupi sekujur kepala dan rambutnya, serta busana panjang menutupi seluruh anggota tubuhnya. Sesuatu yang tidak lazim sebenarnya bagi warga di Amerika, dimana wanita umumnya gemar mempertontonkan aurat mereka.

    Satu ketika Aminah memberikan kuliah di hadapan mahasiswa yang memenuhi ruang kuliah di Universitas Tennesse tentang status wanita dalam Islam berjudul “Wanita Muslim berbicara dari balik hijabnya.”

    “Wanita muslim tidak dibatasi dalam berkarir oleh agamanya. Begitupun, bagi saya, profesi terbaik adalah menjadi seorang ibu. Karena para ibulah yang membentuk generasi masa depan,” ujar Aminah diplomatis. Wanita Islam, lanjutnya, saat ini banyak mendapat diskriminasi di lapangan hanya karena mereka berjilbab. Ia menekankan, terutama di negerinya Amerika, muslimah sangat sulit mengaktualisasikan dirinya. Pernah satu saat ketika Aminah hendak mencairkan cek di sebuah bank. Satuan pengaman bank serta merta menghardiknya seraya mengarahkan moncong senapan ke wajahnya. “Itu hanya karena saya berjilbab,” katanya.

    Aminah mengingatkan para pengeritik Islam yang kerap menyebut bahwa wanita-wanita di negeri-negeri Islam tertindas di bawah kekuasaan lelaki. Ia menjelaskan bahwa yang menindas mereka bukanlah Islam, tapi budaya setempat. Dalam Islam wanita begitu dihormati dan tinggi derajatnya. “Jangan anggap (ajaran Islam) seperti itu. Sangat bodoh,” ujarnya. Ia sangat tidak setuju Islam dijadikan kambing hitam.

    Itulah Aminah Assilmi. Dulunya memojokkan Islam dan bahkan bermaksud meng-Kristen-kan kawan sekelasnya. Berbagai ujian dan penderitaan yang datang selepas ia memeluk Islam tak membuatnya bergeming. Allah berikan ganjaran atas kesabarannya itu dengan mengirimkan hidayah kepada seluruh anggota keluarganya. Kini ia bersama organisasinya memperjuangkan agar umat Islam di Amerika mendapatkan libur di kala merayakan lebaran. Salah satu sukses yang telah mereka rengkuh adalah beredarnya perangko Idul Fitri, hasil kerjasama dengan kantor pos Amerika. Wallahu `alam bisshawab.

    ***

    Oleh:  Zulkarnain Jalil, hidayatullah.com

     
    • erensdh 9:05 pm on 16 Januari 2012 Permalink

      Semoga mereka bisa merubah wajah islam dari dalam, yang sejauh ini sangat ditakuti karena kekejaman-kekejaman para mujahidinnya (fundamentalis/radikalis islam).

    • alfamark 1:02 pm on 2 Februari 2012 Permalink

      Hoax

  • erva kurniawan 1:32 am on 12 January 2012 Permalink | Balas  

    Sepenggal Cinta dari Perempatan Jalan 

    Sepenggal Cinta dari Perempatan Jalan

    Cuaca bisa berubah setiap saat. Iklim makin tak menentu sepanjang awal tahun ini. Siang kadang terasa terik, lantas sore harinya bisa berubah gelap dan turun hujan. Namun, situasi cuaca yang kadang tak bersahabat itu tak menciutkan semangat insan Allah di suatu sudut perempatan jalan itu. Di situ, kita bisa belajar tentang arti hidup. Sebab, di sanalah cinta ini dimulai.

    Di perempatan jalan, tak jarang kita melihat gelandangan dan anak-anak jalanan berada di sudut traffict light. Ada yang memasang wajah iba meminta belas kasihan para pengendara yang kebetulan lewat. Ada pula yang gigih menjajakan koran dan majalah meski kadang kulit mereka terbakar panasnya matahari. Bagi pemerintah daerah setempat, keberadaan mereka dinilai mengganggu pemandangan dan kenyamanan. Karena itu, tak sedikit di antara pengemis jalanan tersebut kena garuk petugas ketertiban kota. Lantas, kita tak tahu bagaimana kelanjutan nasib mereka setelah itu.

    Suatu siang, saya melintas di kawasan Jl Dr Soetomo, Surabaya. Cuaca yang panas makin membuat saya tak sabar menunggu tanda lampu hijau menyala. Sejenak perhatian saya tertuju pada bocah cilik sekitar lima tahun yang sibuk menjajakan koran di antara para pengendara. Saat menuju ke arah saya, anak tersebut menawarkan harian Surya. “Surya seribu, Pak,” kata bocah itu. “Tumbas (belilah) Pak, buat makan,” pintanya setengah merengek agar korannya saya beli.

    Ya Allah, kalau sudah begitu, luluh hati ini tak tega untuk tidak membeli meski sebenarnya saya sudah membawa harian Jawa Pos. Bagaimana tidak, bocah ingusan yang seharusnya masih duduk di bangku TK itu sibuk berkelahi dengan waktu untuk tetap survive di kota metropolis seperti Surabaya ini. Dia terlalu kecil untuk mencicipi getirnya hidup di tengah jalan raya. Terlampau keras untuk merasakan sukarnya mencari uang dengan kerja keras bagi bocah seumuran dia.

    Sebelum lampu hijau menyala, selembar uang seribu rupiah sudah tertukar dengan koran Surya. Sebenarnya, terlalu siang untuk bisa mendapatkan harian pagi Surya. Namun, bila menatap rona berseri dari raut muka anak kecil tersebut, hati saya gerimis. Berapa untung bocah itu dari penjualan koran seharga seribu? Jelas, jumlah pendapatannya dari tiap koran yang terjual tidak sebanding dengan kucuran keringat dan kerja kerasnya. Dia rela jual koran, tidak sekolah, serta terkena panas dan hujan hanya untuk bisa bertahan hidup. Loper koran cilik itu bukan pengemis meski dia berjualan dengan setengah merengek. Dia begitu hanya agar bisa makan pada hari itu. Allahu akbar! Namun, hukum alam terus berputar. Saya yakin, Allah adalah hakim paling adil. Tak perlu menuntut keadilan karena Allah sekaligus jaksa paling mulia.

    Lampu hijau sudah menyala di saat saya ingin berlama-lama tertegun dengan semangat hidup anak itu. Semangat yang melecut saya agar tidak mudah mengeluh di saat menerima kesempitan. Ini bukan pelajaran yang sulit untuk dicerna dengan akal dan jiwa. Tapi, mencernanya pun membutuhkan sentuhan perasaan. Nurani harus lebih banyak bicara agar saya bisa menikmati semakin dalam pelajaran hidup dari bocah cilik tersebut.

    Kendaraan saya mulai melaju meninggalkan perempatan jalan itu. Namun, lajunya agak lambat karena hati ini terasa berat untuk segera berpisah dengan anak kecil tersebut. Ingin rasanya menyampaikan terima kasih tanpa sepatah kata pun kepadanya. Mengapa? Sebab, bocah itu mungkin tak menginginkan kata-kata sebagai ungkapan terima kasih. Layaknya bocah tersebut, yang diinginkan oleh kaum bawah dan miskin memang bukan kata-kata, apalagi janji. Mereka butuh uang untuk beli makanan. Soal perhatian, mereka tak akan pernah memikirkan siapa memedulikan siapa. Sebab, mereka merasa cuma kaum pinggiran yang terbiasa tak diperdulikan penguasa. Yang penting hari ini bisa makan, soal besok itu perkara nanti, itulah harapan mereka.

    Dan bocah penjual koran tersebut, dia jauh lebih mulia ketimbang orang yang malas berusaha. Lapangan kerja memang semakin sempit dan sulit dicari. Tapi, menjadi pengangguran karena gengsi dan malas adalah alasan yang sulit diterima. Sebab, dunia ini bukan ajang kontes menengadahkan tangan tanpa ada kemauan dan usaha. Rezeki tak datang cuma-cuma dari langit turun ke bumi. Sebab, sekarang adalah zamannya rezeki dijemput bukan ditunggu. Bocah itu telah membuktikannya lewat kerja keras ketimbang jadi peminta-minta.

    Betapa uang seribu sangat berarti bagi kaum yang hidup di jalanan seperti bocah tersebut. Memang, Allah menciptakan orang kaya dan orang miskin agar kehidupan dunia ini seimbang. Agar manusia bisa saling berbagi. Sebab, rezeki tak bisa datang tiba-tiba tanpa ada usaha meski datangnya dari Tuhan yang mahakaya. Kita terkadang tak sulit mengeluarkan lembaran puluhan ribu bahkan ratusan ribu. Apalah artinya jikalau dengan uang seribu kita berbagi kasih dengan sesama yang kekurangan seperti bocah itu. Dengan seribu rupiah, kita tidak hanya berinvestasi. Namun, kita juga bisa mengolah hati dengan becermin pada semangat hidup kaum duafa.

    “Dan bumi telah Dia bentangkan untuk makhluk-Nya. Di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang dan bijian-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka, nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS: Ar-Rahman: 10-13).

    ***

    Dari Sahabat

     
    • mahesa djenar 10:11 pm on 12 Januari 2012 Permalink

      BERBAHAGIALAH KITA ,AMIN

    • novia 3:09 pm on 13 Januari 2012 Permalink

      saya cukup terhentak membaca postingan kali ini, saya sering tidak mensyukuri pekerjaan yg telah saya miliki, bekerja di ruang AC pun saya masih sering mengeluh, ya Allah ampuni hambamu ini..

  • erva kurniawan 1:30 am on 3 January 2012 Permalink | Balas  

    Natirah Yang Berjuang 

    Natirah Yang Berjuang

    Natirah, 33 tahun adalah janda cerai sejak tiga tahun lalu. Ia ditinggal suaminya dengan diwarisi rumah tipe 21 yang baru lunas tiga tahun mendatang. Selain itu ia juga berkewajiban menghidupi anak-anak yang tiga orang, dan tetap mempertahankan mereka untuk sekolah. Yang pertama di SMK, yang terakhir masih SD. Untuk itu ia mencoba berjualan rempeyek. Namun mengandalkan usaha kecil ini tidak menyelesaikan masalah. Untungnya kecil, tak cukup untuk makan satu hari. Dalam keterbatasannya Natirah tetap punya cita-cita dapat mengantarkan anaknya hingga jenjang kuliah. Apakah mungkin, terkadang ia tertawa geli. Lulus sekolah saja rasanya sudah beruntung. Namun Natirah bukan sosok yang mudah menyerah. Ia sanggup berjuang!

    Kemudian terbersitlah didalam pikirannya bagaimana jika ia mengojek? Tapi ia tak punya motor. Apalagi wanita jadi tukang ojek sungguh hal yang tidak biasa, duh malunya! Apa kata tetangga? Namun pikiran dan perasaan malu itu hanya sekejap melintas. Nasib anak-anak dan menjaga kelangsungan hidup keluarga menghapus pikiran tersebut.

    Natirah dipinjami motor oleh kakaknya, maka Natirah memutuskan menjadi tukang ojek bagi anak-anak sekolah. Mulanya ia malu untuk menawarkan jasa, tapi kebutuhan di depan mata tak bisa dipenuhi dengan rasa malu dan gengsi. Natirah yang lulusan SMP ini perlahan menekuni profesi yang tak biasa ini. Kini ia punya sembilan pelanggan ojek. Ia mengawali waktu kerjanya sejak pukul 06.00 Satu kali angkut ia membonceng dua anak. Usai mengantar pelanggan ia pulang mengambil dagangan rempeyek, yang ia jajakan dari rumah ke rumah; warung ke warung. Jam 10.00 ia berhenti dan Natirah kembali menjemput pelanggannya, hingga waktu dzuhur. Ia setia menunggu sambil melaksanakan solat di mushala sekolah. Setelahnya ia pulang; istirahat sejenak dan kemudian mengasuh anak-anak yang ditinggal orang tuanya bekerja. Natirah membawa anak-anak itu untuk dijaga di rumahnya yang sempit. Sambil menjaga anak-anak itu, ia memasak untuk makan anaknya sepulang sekolah. Biasanya ia juga membuat adonan rempeyek untuk digoreng malam harinya. Anita anak pertamanya selalu membantu hingga larut malam untuk menggoreng dan membungkus rempeyek. Sementara anaknya yang lain belajar. Natirah sangat bersyukur jerih payahnya terbalas oleh prestasi sekolah anak-anaknya yang membanggakan.

    Menjelang Subuh, Natirah bangun untuk tahajud. Ia mengadu dan berdoa pada Allah SWT. Paginya ia merasa punya enerji baru demi membawa anak-anaknya menuju hidup yang lebih baik.

    Di Bumi Sawangan Indah, Pengasinan, Sawangan, Depok, pengemudi ojek Natirah Ratnasari dengan jilbab dan kacamata hitamnya cukup dikenal. Natirah sungguh seorang perempuan dan ibu teladan yang baik, ramah dan supel. Ia tangguh, dinamis dan ulet. Perjuangan Natirah sejogyanya menjadi inspirasi bagi kaum yang lemah dan terpuruk.

    ***

    Sebagian besar kisah ini dikutip dari REPUBLIKA.

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 30 December 2011 Permalink | Balas  

    Maaf Mas, Saya Nggak Punya Uang Kembalian 

    Maaf Mas, Saya Nggak Punya Uang Kembalian

    Cuaca hari ini sangat sangat panas. Mbah sarno terus mengayuh sepeda tuanya menyisir jalan perumahan condong catur demi menyambung hidup. Mbah sarno sudah puluhan tahun berprofesi sebagai tukang sol sepatu keliling. Jika orang lain mungkin berfikir “mau nonton apa saya malam ini?”, mbah sarno cuma bisa berfikir “saya bisa makan atau nggak malam ini?”

    Di tengah cuaca panas seperti ini pun terasa sangat sulit baginya untuk mendapatkan pelanggan. Bagi mbah sarno, setiap hari adalah hari kerja. Dimana ada peluang untuk menghasilkan rupiah, disitu dia akan terus berusaha. Hebatnya, beliau adalah orang yang sangat jujur. Meskipun miskin, tak pernah sekalipun ia mengambil hak orang lain.

    Jam 11, saat tiba di depan sebuah rumah mewah di ujung gang, diapun akhirnya mendapat pelanggan pertamanya hari ini. Seorang pemuda usia 20 tahunan, terlihat sangat terburu-buru.

    Ketika mbah sarno menampal sepatunya yang bolong, ia terus menerus melihat jam. Karena pekerjaan ini sudah digelutinya bertahun-tahun, dalam waktu singkat pun ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya.

    “Wah cepat sekali. Berapa pak?”

    “5000 rupiah mas”

    Sang pemuda pun mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya. Mbah sarno jelas kaget dan tentu ia tidak punya uang kembalian sama sekali apalagi sang pemuda ini adalah pelanggan pertamanya hari ini.

    “Wah mas gak ada uang pas ya?”

    “Nggak ada pak, uang saya tinggal selembar ini, belum dipecah pak”

    “Maaf mas, saya nggak punya uang kembalian”

    “Waduh repot juga kalo gitu. Ya sudah saya cari dulu sebentar pak ke warung depan”

    “Udah mas nggak usah repot-repot. Mas bawa dulu saja. Saya perhatikan mas lagi buru-buru. Lain waktu saja mas kalau kita ketemu lagi.”

    “Oh syukurlah kalo gitu. Ya sudah makasih ya pak.”

    Jam demi jam berlalu dan tampaknya ini hari yang tidak menguntungkan bagi mbah sarno. Dia cuma mendapatkan 1 pelanggan dan itupun belum membayar. Ia terus menanamkan dalam hatinya, “ikhlas. Insya allah akan dapat gantinya.”

    Ketika waktu menunjukkan pukul 3 lebih ia pun menyempatkan diri shalat ashar di masjid depan lapangan bola sekolah. Selesai shalat ia berdoa.

    “Ya allah, izinkan aku mencicipi secuil rezekimu hari ini. Hari ini aku akan terus berusaha, selebihnya adalah kehendakmu.”

    Selesai berdoa panjang, ia pun bangkit untuk melanjutkan pekerjaannya.

    Ketika ia akan menuju sepedanya, ia kaget karena pemuda yang tadi siang menjadi pelanggannya telah menunggu di samping sepedanya.

    “Wah kebetulan kita ketemu disini, pak. Ini bayaran yang tadi siang pak.”

    Kali ini pemuda tadi tetap mengeluarkan uang seratus ribuan. Tidak hanya selembar, tapi 5 lembar.

    “Loh loh mas? Ini mas belum mecahin uang ya? Maaf mas saya masih belum punya kembalian. Ini juga kok 5 lembar mas. Ini nggak salah ngambil mas?”

    “Sudah pak, terima saja. Kembaliannya, sudah saya terima tadi, pak. Hari ini saya tes wawancara. Telat 5 menit saja saya sudah gagal pak. Untung bapak membiarkan saya pergi dulu. Insya allah minggu depan saya berangkat ke prancis pak. Saya mohon doanya pak”

    “Tapi ini terlalu banyak mas”

    “Saya bayar sol sepatu cuma rp 5000 pak. Sisanya untuk membayar kesuksesan saya hari ini dan keikhlasan bapak hari ini.”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • arifr 9:22 pm on 30 Desember 2011 Permalink

      “tak pernah sekalipun ia mengambil hak orang lain” .luar biasa mbah Sarno

    • arramuse 9:27 pm on 30 Desember 2011 Permalink

      MasyaAllah..

      :'( ceritanya nyentuh banget..

      pengorbanan + ikhlas + sabar = Rizki yang berlipat ganda ^_^

      :)

    • Lagu Indonesia Terbaru 10:11 am on 31 Desember 2011 Permalink

      mbah Sarno emang ruaaarrr biasa… btw ini kisah nyata ato buat moral story aja, sangat menohok di hati…;-) Thanks gan buat: artikelnya… :-)

    • pungki 9:26 pm on 2 Januari 2012 Permalink

      Subhanallah… belajar ikhlas… :)

    • shinta 9:28 pm on 12 Januari 2012 Permalink

      subhanaallah…benar skali,pelajaran ikhlas dari mbah sarno…

  • erva kurniawan 1:18 am on 29 December 2011 Permalink | Balas  

    Kekuatan Doa 

    Kekuatan Doa

    Seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah supermarket. Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon agar diperbolehkan mengutang. Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja. Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan makan. Pemilik supermarket, mengusir dia keluar. Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang keluarganya.

    “Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya uang.”

    Si Pemilik Toko tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut. “Anda tidak mempunyai kartu kredit, anda tidak mempunyai garansi,” alasannya.

    Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari awal mendengarkan percakapan tadi. Dia mendekati keduanya dan berkata: “Saya akan bayar semua yang diperlukan Ibu ini.”

    Karena malu, si pemilik toko akhirnya mengatakan, “Tidak perlu, Pak. Saya sendiri akan memberikannya dengan gratis. Baiklah, apakah ibu membawa daftar belanja?

    “Ya, Pak. Ini,” katanya sambil menunjukkan sesobek kertas kumal.

    “Letakkanlah daftar belanja anda di dalam timbangan, dan saya akan memberikan gratis belanjaan anda sesuai dengan berat timbangan tersebut.”

    Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Si Ibu menundukkan kepala sebentar, menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut, lalu dengan kepala tetap tertunduk, meletakkannya ke dalam timbangan. Mata Si pemilik toko terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat ke bawah.

    Ia menatap pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil berucap kecil, “Aku tidak percaya pada yang aku lihat.”

    Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum. Lalu, si ibu kumal tadi mengambil barang-barang yang diperlukan, dan disaksikan oleh pelanggan baik hati tadi, si Pemilik toko menaruh belanjaan tersebut pada sisi timbangan yang lain. Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehingga si ibu terus mengambil barang-barang keperluannya dan si pemilik toko terus menumpuknya pada timbangan, hingga tidak muat lagi.

    Si Pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa. Karena tidak tahan, si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas daftar belanja si Ibu kumal tadi. Dan ia-pun terbelalak. Di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek: “Ya Tuhan, Hanya Engkau yang tahu apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan segalanya ke dalam tanganMu.”

    Si Pemilik Toko terdiam. Si Ibu berterimakasih kepadanya, dan meninggalkan toko dengan belanjaan gratisnya. Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang kepadanya. Si Pemilik Toko kemudian mencek dan menemukan bahwa timbangan yang dipakai tersebut ternyata rusak.

    Ternyata memang hanya TUHAN yang tahu bobot sebuah doa. KEKUATAN SEBUAH DOA Saudaraku, Segera setelah membaca cerita ini, ucapkanlah sebuah doa. Hanya itu saja. Sejenak hentikan pekerjaan kita sekarang juga dan ucapkan sebuah doa. Lalu, kita kirimkan cerita ini kepada setiap orang atau sahabat yang kita kenal. Biarlah Tali silaukhuwah ini tidak terputus, karena: “DOA ADALAH HADIAH TERBESAR DAN TERINDAH YANG KITA TERIMA, Tanpa biaya, tetapi penuh daya guna.”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • annisa 8:06 am on 2 Januari 2012 Permalink

      Subhanallah.. nice note.., semoga kita semua Umat islam di dunia mendapat hidayah, rahmat dan ampunan-Nya.. aammiinn..
      Allahuma a’ inna ala dzikrika wa syukrika wa husni ibaadatik.., ya Allah sesungguhnya aku memohon untuk dapat selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan memperbagus ibadahku.., aammiinn..YRA

    • silanaysila 7:32 am on 6 Januari 2012 Permalink

      Subahanallah

    • mahesa djenar 1:55 am on 13 Januari 2012 Permalink

      AMIIIIIIIIIIIIIIIEEEEEEEEEEEEEENNNNNNNNNNNNNNNNN……………………………….

    • iik 1:22 pm on 25 Januari 2012 Permalink

      kun paya kun hanya allah yang tahu yang terdalam dalam hati hambanya

  • erva kurniawan 1:49 am on 14 December 2011 Permalink | Balas  

    Manusia Super 

    Manusia Super

    Siang ini February 6, 2008, tanpa sengaja ,saya bertemu dua manusia super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya diatas jembatan penyeberangan setia budi, dua sosok kecil berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan “Terima kasih Oom!”. Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka.

    Kaki – kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan.

    Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta.

    “Terima kasih ya mbak semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka, tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

    “Maaf, nggak ada kembaliannya..ada uang pas nggak mbak?” mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

    “Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?” suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah.

    “Nggak punya, tukas saya !” lalu tak lama si wanita berkata “Ambil saja kembaliannya, dik !” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.

    Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang “Sudah buat kamu saja, nggak apa.. apa ambil saja !”, namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. “Maaf mbak, Cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan!” Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya.

    Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu di genggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar” Om, bisa tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek!”.

    “eeh nggak usah..nggak usah..biar aja..nih!” saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

    Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya,” Nanti dulu Om, biar ditukar dulu..sebentar”.

    “Nggak apa apa, itu buat kalian ” Lanjut saya.

    “Jangan..jangan Om, itu uang om sama mbak yang tadi juga” anak itu bersikeras.

    ” Sudah..saya Ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas!” saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.

    “Ini deh om, kalau kelamaan, maaf..” ia memberi saya delapan pack tissue

    “Buat apa ?” saya terbengong

    “Habis teman saya lama sih Om, maaf, tukar pakai tissue aja dulu” walau dikembalikan ia tetap menolak.

    Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.

    “Terima kasih Om, !”..mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan ” Duit mbak tadi gimana..? ” suara kecil yang lain menyahut “Lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin…” percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.

    Tuhan..Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang Tissue. Dua anak kecil yang bahkan belum baligh, memiliki kemuliaan diumur mereka yang begitu belia.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • ronny meilano 1:28 pm on 15 Desember 2011 Permalink

      subahanallah………..

    • muyati 8:16 pm on 15 Desember 2011 Permalink

      sebhanallah…..sangat menyentuh

  • erva kurniawan 1:10 am on 12 December 2011 Permalink | Balas  

    Sebuah Email Tentang Rumah Tuhan 

    Sebuah Email Tentang Rumah Tuhan

    Oleh : Sabrul Jamil

    Sebuah e-mail tiba di PC saya. Isinya tentang pengalaman seorang pekerja asing. Ceritanya, pekerja asing itu tiba untuk pertama kalinya di salah satu perkantoran megah di kawasan Jakarta. Usai memarkirkan mobilnya di basement, ia melihat sekelompok orang, laki dan perempuan, tengah melakukan suatu kegiatan yang aneh di matanya, di salah satu ruangan di basement tersebut. Ruang tersebut kecil dan pengap, dengan tembok rendah mengelilinginya.

    Sesampainya di atas, orang asing ini bertanya tentang apa yang dilihatnya barusan. Orang Indonesia yang kebetulan muslim menjelaskan bahwa orang-orang di basement tersebut sedang sholat, menyembah Allah, Tuhan umat Islam. Sholat adalah kewajiban yang dilaksanakan sehari lima kali. Dengan takjub orang asing itu menjawab, betapa rendahnya apresiasi umat Islam terhadap Tuhan mereka.

    Jika terhadap ia yang cuma manusia bisa disediakan tempat kerja yang lapang dan nyaman, mengapa untuk Tuhan mereka hanya tersisa sebuah ruangan pengap di basement?

    Pembaca, tidakkah keheranan orang asing itu menjadi keheranan kita juga?

    Suatu sore, di salah satu gedung tinggi di kawasan matraman. Setelah menyelesaikan suatu urusan, saya bertanya ke salah satu karyawan di gedung megah tersebut letak musholla. Sudah lewat pukul empat sore. Karyawan tadi, penuh semangat, menunjukkan letak musholla. Dengan berterima kasih, saya bergegas mengikuti arah yang ditunjukkan. Saya melewati areal parkir yang pengap, suatu kantor yang saya perkirakan markas satpam (banyak satpam yang duduk-duduk di depan kantor tersebut, dengan uniform berantakan), dan sampailah saya ke gedung mungil, dengan tulisan kusam tertempel di salah satu temboknya: MUSHOLLA.

    Musholla ini terletak persis di belakang gedung tinggi yang baru saja saya tinggalkan. Ukurannya tak lebih besar dari ruang tamu rumah saya. Temboknya setengah terbuka, dan dimanfaatkan untuk meletakkan sajadah-sajadah, dan… Helm!

    Di ruang yang sempit itu ada seseorang yang tertidur pulas. Tempat wudhu terletak tak jauh dari situ. Ada dua kran. Akhirnya, di naungi suasana pengap dan beraroma kurang sedap, saya menunaikan kewajiban saya kepada Rabb Penguasa Jagat. Ada rasa malu yang tak terkatakan, hanya sebegini apresiasi saya kepada Mu, ya Allah.

    Saya pulang, meliuk-liuk melewati kemacetan pinggiran kota, dengan setumpuk pikiran di kepala. Sudah berapa kali saya dapatkan, sebuah gedung perkantoran megah, dengan tempat sholat yang mirip dengan gudang?

    Karena tuntutan pekerjaan, saya sering keluar masuk kampus dan perkantoran. Dan situasi seperti ini sudah seperti typical: gedung megah, tinggi, dengan lobby dan ruang kerja yang nyaman, namun tak menyisakan satu ruangan pun untuk sholat, suatu ibadah yang nabi katakan sebagai tiang agama. Sebagai gantinya, pihak perkantoran menyediakan tempat sholat di basement, di sela-sela parkir kendaraan. Atau sebaliknya, tempat sholat sering diletakkan di bagian tertinggi gedung, seperti di kantor saya. Ini masih lumayan, karena tempatnya terbuka, sehingga angin dan debu jalan leluasa menerobos. Setidaknya, sholat tidak dilakukan dalam keadaan pengap.

    Tentu ada juga gedung-gedung perkantoran yang menyiapkan tempat sholat yang memadai, meski tidak harus mewah. Gedungnya terawat. Sajadah dan mukena secara teratur dibersihkan. Majalah dindingnya secara berkala diupdate.

    Pembaca yang baik, sholat adalah sejenis ibadah yang menuntut konsentrasi tinggi. Konsentrasi ini adalah awal kekhusyuan. Dengan khusyu’-lah kualitas sholat diperoleh.

    Nah, konsentrasi tentunya memerlukan daya dukung lingkungan. Lingkungan yang bising, pengap, beraroma kurang sedap, secara sunnatullah, akan mengurangi konsentrasi. Rasulullah pernah menolak sajadah yang bergambar, karena khawatir akan mengganggu konsentrasi beliau. Beliau juga memerintahkan imam untuk menyegerakan sholat apabila terdengar suara anak menangis, karena khawatir si ibu akan merasa resah dalam sholatnya. Selain itu, beliau juga secara optimal membersihkan diri. Salah satu sunnah beliau sebelum sholat adalah bersiwak (menggosok gigi), dan memakai harum-haruman.

    Dari situ kita simpulkan, salah satu syarat khusyu’ diperoleh dari situasi dan kondisi ketika sholat. Dilakukan. Terlalu arogan kalau kita menganggap situasi dan kondisi tidak mempengaruhi kekhusyuan sholat kita.

    Bagaimana sholat yang dilakukan di tempat-tempat seperti yang saya gambarkan di awal tulisan ini? Saya khawatir pelaksanaan sholat tersebut hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban.

    Sesungguhnya, yang bertanggung jawab memakmurkan masjid adalah seluruh orang beriman yang berada di wilayah masjid tersebut. Bagaimana cara mewujudkan tanggung jawab tersebut?

    Mungkin, yang pertama kali harus dibangun adalah kesadaran. Kesadaran diperoleh setelah adanya informasi, bahwa Masjid bukanlah sekedar bangunan pelengkap.

    Siapa yang harus memulai?

    Setidaknya, Anda, setelah membaca tulisan ini, mulai menyusun gagasan praktis, apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki situasi di tempat Anda (kecuali kalau Masjid di tempat Anda sudah representatif untuk beribadah). Jadikan ini sebagai peluang amal. Siapa tahu dapat menjadi jalan lain bagi kita untuk bertemu dengan senyumNya.

    ***

    Sumber: (eramuslim) Sabruljamil.Multiply.Com

     
    • annisa 1:19 pm on 22 Desember 2011 Permalink

      Saya juga punya pengalaman yg mengenaskan ttg mushola suatu gedung / mall mewah.. rasanya sediih bgt.., melihat musholla diberikan tempat sisa, di pojok yg dket dgn parkiran., yg bikin kita malas untuk melakukan sholat, namun spt-nya hal itu terjadi karena sang pemilik gedung / mall tsb bukan muslim sehingga mereka tdk punya perasaan menentukan tempat u/ BERIBADAH di tempat spt itu, sebaiknya bagi kita yg muslim ( pengurus/ pemilik) mall/ gedung perlu unjuk gigi untuk memperjuangkan agar MUSHOLLA mendapat tempat yg lebih baik dan agak luas.. ayoo.. kita bisaa..

    • fajar 9:52 pm on 23 Desember 2011 Permalink

      akhir zaman…!!! astagfirullahhaladzim…

  • erva kurniawan 1:53 am on 10 December 2011 Permalink | Balas  

    Jangan Mengeluh, Pertolongan Allah Pasti Datang 

    Jangan Mengeluh, Pertolongan Allah Pasti Datang

    Dalam menjalani hidup yang digariskan Allah Subhanahu wata’ala mungkin ada getir yang kita rasakan. Seperti hidup yang kadang terasa manis, maka kegetiran menjadi sebuah keniscayaan. Hal yang terbaik adalah senantiasa ridha atas ketetapanNya, dan berbuat yang terbaik untuk mendapatkan keridhaanNya. Bukan mengeluh, sebab hanya mereka yang tak beriman yang senantiasa putus harapan.Seperti kaum muslimin yang menjalani perang Khandaq dalam ayat 214 surat Al Baqarah di muka. Dalam kondisi paling kritis pun, seorang muslim tidak boleh memiliki prasangka buruk terhadap Allah, apalagi mengeluh terhadap kondisi yang berlaku. Ketahuilah pertolongan Allah sungguh amat dekat!

    Sore itu Rabu, tanggal 27 Juni 2007 ada sebuah sms masuk ke hp Ustadz Burhan. Sms itu berasal dari Abdul Majid rekannya dan berbunyi: NANTI MALAM SAYA MAU KE RUMAH BA’DA MAGRIB, BOLEH GA?

    Sang ustadz menjawab: BOLEH, TAPI JANGAN BA’DA MAGRIB. ABIS ISYA AJA YA…. DITUNGGU!

    Abdul Majid membalas lagi: JGN DITUNGGU, KARENA MAU “NGEREPOTIN”. ANGGAP AJA DATENG MENDADAK!

    Ustadz Burhan tidak membalas sms terakhir dan benar saja begitu shalat Isya telah didirikan, Abdul Majid pun datang ke rumah Ustadz. Abdul Majid datang ke rumah Ustadz Burhan dengan tampang kusut. Sepertinya dia lagi banyak masalah. Biasa orang sekarang, Hidup sarat dengan masalah! Saking pusing dengan masalahnya ia langsung berkata kepada ustadz dan masuk rumahnya tanpa salam: “Bang Haji, tolongin saya dong pinjemin duit barang tiga juta setengah… Saya lagi pusing nih!”

    “Emangnya ada apa Majid?” sang ustadz bertanya balik. Setahu ustadz Burhan, Abdul Majid adalah anak yang baik. Dia baru berumur 27 tahun dan belum menikah. Meski demikian, Abdul Majid mau memikirkan nasib anak-anak yatim di kampungnya, dan ia pun mendirikan sekolah gratis untuk mereka. Abdul Majid di kampungnya dikenal sebagai tuan guru.

    “Begini… saya pernah janji sama anak-anak di sekolah bahwa kalau mereka lulus ujian akhir tahun ini saya mau ajak mereka jalan-jalan ke Jakarta. Semalam saya sudah lihat raport mereka semua. Alhamdulillah mereka lulus! Tapi tiba-tiba saya terbayang janji saya tempo hari. Malam tadi saya kalkulasi, keperluan jalan-jalan adalah tiga setengah juta. Hari Jum’at raport dibagiin dan Sabtu saya mau ajak mereka semua jalan-jalan. … Tolong dong bang haji, pinjemin saya duit tiga setengah juta!” Ustadz Burhan hanya tersenyum mendengar penuturan Abdul Majid. Tulus sekali anak ini, gumamnya. Demi kepentingan anak-anak yatim sampai sedemikian hebatnya ia memikirkan.

    Sambil tersenyum dan menghibur Ustadz Burhan bilang kepada Abdul Majid: “Begini…. urusan tiga setengah juta gampang nyarinya. Asal elo dan gua malam ini dan besok mau ngerjain tiga hal:

    1) Tahajud malam ini.

    2) Berdoa sungguh-sungguh sama Allah agar Dia mau kasih duit sejumlah itu, dan

    3) Punya duit berapa sekarang di kantong?”

    Kalimat terakhir Ustadz Burhan mengagetkan Abdul Majid.

    Dengan keheranan ia bertanya, “Ada sih 250 ribu..!”

    “Boleh gak disedekahin 100 ribu?!” ustadz Burhan bertanya.

    Sambil keheranan Abdul Majid bertanya, “Disedekahin ke Antum?”

    “Nggak…. sedekahin aja kemana ente mau! Insya Allah kalo tiga hal ini elo kerjain, Allah bakal ngedatengin uang yang kita perluin. Asal kita yakin Allah bakal nolong!”

    Pembicaraan antara dua hamba Allah pun terus berlangsung. Hingga waktu menunjukkan lebih dari jam 9 malam. Ustadz Burhan pun menyuruh Abdul Majid pulang. Namun Abdul Majid belum mau berdiri dari kursi. Maka ustadz pun masuk kamar. Sejurus kemudian dia membawa 5 lembar uang limapuluh ribuan. Uang itu diberikan kepada Abdul Majid dan ia pun menghitungnya. Abdul Majid mengira bahwa keperluannya sebesar tiga juta setengah akan ditutupi oleh ustadz. Matanya berbinar saat melihat ustadz membawa lembaran kertas berwarna biru itu. Kelima lembar uang itu dihitungnya dihadapan ustadz.

    Usai menghitung Abdul Majid berkata, “Kok Cuma dua ratus lima puluh ribu doang?” Ia bertanya keheranan, mungkin jumlah yang ia dapati jauh dari harapan.

    “Iya… itu cuma segitu doang. Mudah-mudahan itu jadi pancingan. Yang penting jangan lupa tiga hal tadi. Insya Allah pasti akan ada pertolongan! ” Ustadz Burhan coba menegaskan. Tapi Abdul Majid masih belum merasa yakin. Meski sudah diantar hingga ke halaman oleh Ustadz Burhan, ia masih bertanya, “Emangnya bener kalo saya kerjain 3 hal tadi, saya bisa dapat duit Jum’at pagi?”

    Terlihat raut kebimbangan pada wajah Abdul Majid. “Jangankan Jum’at pagi, besok pagi pun kalo Allah mau pasti uang itu bisa kite dapetin. Yang penting yakin dan kerjain aja 3 hal itu!”

    Ustadz Burhan sekali lagi meyakinkan. Akhirnya Abdul Majid pun pulang bersama sepeda motornya.

    Kamis siang pukul 13 tanggal 28 Juni 2007, Abdul Majid mengirim SMS ke nomer ustadz Burhan. Sms itu berbunyi: ASSALAMU’ALAIKUM. SUDAH SIANG GINI SAYA BELOM DAPET 3,5 JT. PADAHAL SUDAH SHODAQOH. ADA CARA LAIN GA?

    Dari sms itu, Ustadz Burhan tahu bahwa Abdul Majid sedang panik. Maka beliau pun membalas: KALO UDAH SEDEKAH, SEKARANG DOA AJA YANG SUNGGUH-SUNGGUH DAN BERTAWAKKAL. PASTI ALLAH TOLONG!

    Lama tidak ada balasan sms dari Abdul Majid. Ustadz mengira bahwa Abdul Majid sudah mendapat pertolongan atas masalahnya. Namun pukul 19:56 ada sebuah sms lagi dari Abdul Majid masuk ke hpnya: ASTAGFIRULLAHAL’ ADZIM. KIRA2 SAYA DOSA APA YA? DO’A SAYA GAK DI QOBUL. Menerima sms itu Ustadz Burhan turut merasa panik. Besok pagi padahal sudah hari Jum’at. Hal yang membuat panik sang ustadz adalah bahwa dirinya telah menggiring Abdul Majid untuk masuk ke jalan Allah Subhanahu wata’ala demi menyelesaikan permasalahannya. Ustadz Burhan khawatir, andai saja pertolongan Allah itu tidak datang, pasti keyakinan Abdul Majid kepada Allah subhanahu wata’ala akan berkurang. Lama Ustadz Burhan berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala agar dia berkenan memudahkan urusan Abdul Majid.

    Usai hatinya tenang, sang ustadz membalas sms dengan menuliskan: ALLAH GAK BUTA & TULI. DIA NGELIAT DAN NGEDENGER APA YANG KITA PERLUIN. TERUS SAJA BERDOA DAN TAWAKKAL! SAYA JUGA BERDOA SEMOGA URUSAN INI AKAN DPT PERTOLONGAN. Abdul Majid tidak membalas sms. Ustadz Burhan mengira jangan-jangan dia sudah tidak percaya lagi dengan kekuatan doa. Maka Ustadz Burhan pun terus mendoakan Abdul Majid dan urusannya. Hingga saatnya kira-kira pukul 9 pagi di hari Jum’at. Ustadz Burhan mendengar suara dering masuk di hpnya. Namun karena beliau sedang berada dalam kendaraan umum, maka hp itu tidak diangkatnya.

    Tepat beberapa langkah setelah beliau turun dari metro mini yang ditumpanginya, sekali lagi hpnya berdering. Beliau tidak sempat melihat nomer penelpon pada display hp. Belum lagi beliau berucap salam, terdengarlah suara yang begitu riang di seberang: “Bang haji…. Alhamdulillah, Alhamdulillah! Ini Majid, saya sudah dapat duit tiga setengah juta itu. Bukan pinjem lagi, kebetulan ada orang ngasih… Alhamdulillah! ” Mendengar suara gembira itu, ustadz Burhan turut bersyukur.

    Beliau pun bertanya, penasaran “Bagaimana ceritanya bisa dapet duit itu?”

    “Entar saya datang ke rumah bang haji deh…. Biar bisa cerita selengkapnya. Sekarang saya mau pulang ke kampung dulu, ngejar pembagian raport. Mudah-mudahan besok pagi bisa bawa anak-anak main ke Jakarta!” Telepon itu pun ditutup dengan diakhiri suara nada riang Abdul Majid.

    Kini tinggal, ustadz Burhan bertanya-tanya darimana Allah mendatangkan pertolongan itu? Belakangan beliau tahu dari seseorang bahwa bupati dimana Abdul Majid berada memberikan bantuan kepada sekolahnya persis sebesar uang yang dibutuhkan oleh Abdul Majid. Sungguh pertolongan Allah akan datang, maka janganlah mengeluh!

    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Razin disebutkan,

    “Tuhanmu merasa heran dengan keputus-asaan hambaNya padahal pertolonganNya sudah amat dekat. Maka Allah memandangi hamba-hambaNya yang berputus asa. Dia terus tertawa memandangi hamba-hambaNya padahal Dia amat tahu bahwa pertolongannya begitu dekat.” Tafsir Ibnu Katsir.

    ***

    Oleh: Bobby Herwibowo

     
    • Bambang Sucipto.Drs (@t212kyb) 6:06 am on 10 Desember 2011 Permalink

      Assalam`mualaikum,wr,wb
      Di dalam Quran surat Ibrahim ayat 44 ada bacaan yang bunyinya min-qablu
      Yang saya ingin tanyakan :
      Kenapa kalimat qablu dibaca marfu atau dhomah padahal sebelumnya ada huruf khafadh berupa min ? Sukron satir

  • erva kurniawan 1:53 am on 6 December 2011 Permalink | Balas  

    Kejujuran 

    Kejujuran

    Kejujuran, betapa langkanya kata ini! Mencari orang yang jujur saat ini hampir sama mustahilnya denganmencari jarum di dalam tumpukan jerami. Jujur bukanlah semata-mata tidak berkata dusta. Ketika Nabi bersabda : Qulil Haq Walau Kaana Murro “katakanlah kebenaran itu walupun pahit”, sebenarnya Nabi memerintahkan kita untuk berlaku jujur dengan lidah kita. Ketika Nabi bersabda, “andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya,” sesungguhnya Nabi mengajarkan kita untuk bertindak jujur dalam penegakkan hukum meskipun terhadap keluarga sendiri. Ketika Al-Qur’an merekam kalimat suci, “sampaikanlah amanat kepada yang berhak,” sesungguhnya Allah menyuruh kita bersikap jujur ketika memegang amanah, baik selaku dosen, pejabat, ataupun pengusaha. Sewaktu Allah menghancurkan harta si Karun karena Karun bersikukuh bahwa harta itu diraihnya karena kerja kerasnya semata, bukan karena anugerah Allah, sebenarnya Allah sedang memberi peringatan kepada kita bahwa itulah azab Allah terhadap mereka yang tidak berlaku jujur akan rahmat Allah.

    Tengoklah diri kita sekarang….Masihkah tersedia kejujuran di dalam segala tindak tanduk kita? Ketika anda terima uang sogokan sebenarnya anda telah berlaku tidak jujur. Ketika anda enggan menolong rekan anda, meskipun anda sadar anda mampu menolongnya, saat itu anda telah menodai kejujuran.

    Ketika di sebuah pengajian anda ditanya jama’ah sebuah pertanyaan yang sulit, dan anda tahu bahwa anda tak mampu menjawabnya, tapi anda jawab juga dengan “putar sana-sini”, maka anda telah melanggar sebuah kejujuran (orang kini menyebutnya “kejujuran ilmiah”).

    Adakah orang jujur saat ini?

    Bahkan Yudhistira yang dalam kisah Mahabharata terkenal jujur pun sempat berbohong dihadapan Resi Durna saat perang Bharata Yudha. Dewa dalam kisah tersebut menghukum Yudhistira dengan membenamkan roda keretanya ke dalam tanah beberapa senti. Anda boleh tak percaya cerita Mahabharata ini, tapi jangan bilang bahwa anda meragukan Allah mampu menghukum kita akibat ketidakjujuran kita dengan lebih dahsyat lagi. Kalau Dewa mampu menghukum Yudhistiraseperti itu, jangan-jangan Allah akan membenamkan seluruh yang kita banggakan ke dalam tanah hanya dalam kejapan mata saja.

    Guru saya pernah bercerita ketika ada orang yg baru masuk Islam bertanya kepada Rasul bahwa ia belum mampu untuk mengikuti gerakan sholat dan kewajiban lainnya, konon, Rasul hanya memintanya untuk berlaku jujur. Ketika ada seorang warga negara Inggris yang masuk Islam, dan belum bisa sholat serta puasa, saya minta dia untuk berlaku jujur saja dahulu. Orang asing itu terperanjat. Boleh jadi dia kaget bahwa betapa Islam memandang tinggi nilai kejujuran. Kini, saya yang terperanjat dan terkaget-kaget menyaksikan perilaku kita semua yang sudah bisa sholat dan puasa namun tidak mampu berlaku jujur.

    Duh Gusti….betapa jauh prilaku kami dari contoh yang diberikan Nabi-Mu…..

    ***

    Oleh:  Miftachul Arifin

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 1 December 2011 Permalink | Balas  

    Jangan Biarkan Dirimu Hancur 

    Jangan Biarkan Dirimu Hancur

    Suatu ketika, ada seorang sahabat memulai kotbahnya dengan mengeluarkan selembar uang seratus ribu yang baru. Kemudian dia bertanya “Siapa di antara kamu yang mau uang ini, jika diberikan ikhlas padamu?” Langsung saja yang mengangkat tangan banyak sekali. Katanya lagi ” Ya, ini akan saya berikan, tapi sebelumnya biar saya melakukan hal ini”. Sahabat tersebut meremas uang kertas seratus ribu itu, menjadi gulungan kecil yang kumal.

    Kemudian dia buka lagi ke bentuk semula : lembaran seratus ribu, tapi sudah kumal sekali. Lalu dia bertanya ” Siapa yang masih mau uang ini?” Tetap saja banyak yang angkat tangan, sebanyak yang tadi.

    “Oke, akan saya kasih, tapi biarkan saya melakukan hal ini”. Dia menjatuhkan lembaran uang itu ke lantai, terus diinjak-injak pakai sepatunya yang habis berjalan di tanah becek sampai nggak karuan bentuknya. Dia tanya lagi” siapa yang masih mau?” Tangan-tangan masih saja terangkat. Masih sebanyak tadi.

    “Nah, sahabatku, sebenarnya aku dan kau sudah mengambil satu nilai yang sangat berharga dari peristiwa tadi. Kita semua masih mau uang ini walau bentuknya sudah nggak karuan lagi. Sudah jelek, kotor, kumal… tapi nilainya nggak berkurang: tetap seratus ribu rupiah.

    Sama seperti kita. Walau kau tengah jatuh, tertimpa tangga pula… tengah sakit, tengah hancur pula, atau kau gagal, nggak berdaya, terhimpit, dan merasa terhina, kecewa dan terkhianati, atau dalam keadaan apapun, kau tetap nggak kehilangan nilaimu… karena kau begitu berharga. Jangan biarkan kekecewaan, perasaan, ketakutan, sakit hati, menghancurkan kamu, harapanmu, atau cita-citamu.”

    “Kamu akan selalu tetap berharga, bagi dirimu, bagi diriku, bagi sahabatmu, bagi sahabat yang lain dan kau tetap sama dimata Tuhanmu. Dia, Tuhanmu, akan berlari mendekatimu, jika kau berjalan menuju-Nya. Aku pun sahabatmu akan melakukan hal yang sama, karena fithrah setiap diri kita akan mulia jika mencoba mendekati sifat2 Tuhan kita. Disanalah nilai dirimu berada.”

    ***

    Sumber : http://www.dudung.net

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 22 November 2011 Permalink | Balas  

    Buah Iman 

    Buah Iman

    Kebun di belakang rumah nenek ditanami berbagai jenis tanaman. Diantara tanaman-tanaman itu ada dua jenis tanaman yang bentuk daunnya sama. Kedua tanaman itu akan mudah dibedakan hanya bila sudah berbuah, karena bentuk buahnya berbeda.

    Seperti halnya tanaman, kita juga dapat mengenal orang yang bertaqwa melalui buah iman mereka. Rasulullah SAW telah memberi tauladan ‘buah-buah iman’ berupa: ‘kejujuran, kesabaran, kemurahan hati, penguasaan diri, memaafkan, berbuat baik, lemah-lembut, dan kasih sayang’.

    Apakah orang yang kita jumpai mengenal kita sebagai ‘muslim’ dari buah yang kita hasilkan dalam hidup ini?

    ***

    Oleh Beth

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 21 November 2011 Permalink | Balas  

    Syair Penjual Kacang 

    Syair Penjual Kacang

    Al-Habib , seorang yang dikasihi oleh banyak orang dan senantiasa didambakan kemuliaan hatinya, malam itu mengimami sholat isya suatu jamaah yang terdiri dari para pejabat negara dan pemuka masyarakat. Berbeda dengan adatnya, sesudah tahiyyat akhir diakhiri dengan salam, Al-Habib langsung membalikan tubuhnya, menghadapkan wajahnya kepada para jamaah dan menyorotkan matanya tajam-tajam.

    “Salah seorang dari kalian keluarlah sejenak dari ruang ini, ” katanya, “Di halaman depan sedang berdiri seorang penjual kacang godok. Keluarkan sebagian dari uang kalian, belilah barang beberapa bungkus.”

    Beberapa orang langsung berdiri dan berlari keluar, dan kembali ke ruangan beberapa saat kemudian. “Makanlah kalian semua,” lanjut Al-Habib, “Makanlah biji-biji kacang itu, yang diciptakan oleh Alloh dengan kemuliaan , yang dijual oleh kemuliaan dan dibeli oleh kemuliaan.”

    Para jamaah tak begitu memahami kata-kata Al-habib,sehingga sambil menguliti dan memakan kacang, wajah mereka tampak kosong.

    “Setiap penerimaan dan pengeluaran uang,” kata Al-Habib, “hendaklah dipertimbangkan berdasarkan nilai kemuliaan. Bagaimana mencari uang, bagaimana sifat proses datangnya uang ke saku kalian, untuk apa dan kepada siapa uang itu dibelanjakan atau diberikan, akan menjadi ibadah yang tinggi derajatnya apabila diberangkatkan dari perhitungan untuk memperoleh kemuliaan.”

    “Tetapi ya Habib,” seorang bertanya, “apa hubungan antara kita beli kacang malam ini dengan kemuliaan?”

    Al-habib menjawab, “Penjual kacang itu bekerja sampai larut malam atau bahkan sampai menjelang pagi.Ia menyusuri jalanan, menembus gang-gang kota dan kampung-kampung. Di malam hari pada umumnya orang tidur, tetapi penjual kacang itu amat yakin bahwa Alloh membagi rejeki bahkan kepada seekor nyamuk pun. Itu taqwa namanya. Berbeda dari sebagian kalian yang sering tak yakin akan kemurahan Alloh, sehingga cemas dan untuk menghilangkan kecemasan hidupnya ia lantas melakukan korupsi, menjilat atasan serta bersedia melakukan dosa apa pun saja asal mendatangkan uang.”

    Suasana menjadi hening. Para jamaah menundukkan kepala dalam-dalam. Dan Al-Habib meneruskan, “Istri dan anak penjual kacang itu menunggu di rumah, menunggu dua atau tiga ribu rupiah hasil kerja semalaman. Mereka ikhlas dalam keadaan itu. Penjual kacang itu tidak mencuri atau memperoleh uang secara jalan pintas lainnya. Kalau ia punya situasi mental mencuri, tidaklah ia akan tahan berjam-jam berjualan.”

    “Punyakah kalian ketahanan mental setinggi itu?” Al-Habib bertanya, “Lebih muliakah kalian dibanding penjual kacang itu, atau ia lebih mulia dari kalian? Lebih rendahkah derajat penjual kacang itu dibanding kalian, atau di mata Alloh ia lebih tinggi maqom-nya dari kalian? Kalau demikian, kenapa dihati kalian selalu ada perasaan dan anggapan bahwa seorang penjual kacang adalah orang rendah dan orang kecil?”

    Dan ketika akhirnya Al-Habib mengatakan, “Mahamulia Alloh yang menciptakan kacang, sangat mulia si penjual kacang itu dalam pekerjaannya, sera mulia pulalah kalian yang membeli kacang berdasar makrifat terhadap kemuliaan….”. Salah seorang berteriak, melompat dan memeluk tubuh Al -Habib erat-erat.

    ***

    Dari : Emha Ainun Nadjib

    Seribu masjid Satu jumlahnya

    Tahajjud cinta seorang hamba

    Penerbit Mizan 1995

     
    • Kopi Luwak 10:02 pm on 23 November 2011 Permalink

      Sebuah cerita ketaladanan yang pantas untuk menjadikan sebagai contoh di kehidupan nyata ini..!

    • oca 11:43 am on 15 Desember 2011 Permalink

      Subhanallah,…..smpe nangis baca na,…sangat menyentuh,.. Terimakasih y

    • susi 8:42 am on 11 April 2012 Permalink

      assalamu’alaikum… izin copas .. :)

  • erva kurniawan 1:13 am on 19 November 2011 Permalink | Balas  

    Pembunuh dan Penyembelih 

    Pembunuh dan Penyembelih

    Seusai mengaji Al-Qur’an bersama, disebuah surau, terdengar suara Pak Guru berbicara tentang keburukan kepada murid-muridnya. “Kenapa dalam kenduri tadi malam tak kita sebut Fulan membunuh ayam, melainkan Fulan menyembelih ayam? Kenapa Fulan tidak disebut pembunuh, melainkan penyembelih?”

    “Karena kebaikan dan keburukan itu bentuk pekerjaanya bisa sama, tetapi berbeda perhubungan nilai dan haknya.Kalian menggenggam sebilah pedang, kemarin kalian menebaskannya ke dahan pohon, hari ini ke leher seseorang. Yang kalian lakukan semata-mata menebaskan pedang, tetapi pada tebasan yang kedua, kalian menghadirkan sesuatu tidak pada tempatnya dan tidak pada haknya.”

    “Selembar kertas yang bersih kalian hamparkan di atas lantai rumah yang bersih: kertas itu menjadi kotoran pada lantai. Demikian pula jika kalian tidur di tengah jalan raya, sembahyang subuh di siang bolong, atau menyanyikan lagu keras-keras di rumah sakit.Keburukan adalah kebaikan yang tidak diletakkan pada ruang dan waktunya yang tepat.”

    “Makan gulai itu baik dan bergizi, tapi ia menjadi kejahatan jika kalian lakukan tanpa berbagi dengan seseorang yang kelaparan yang pada saat itu berada dalam jangkauanmu.”

    “Mengucapkan kata-kata, mengungkapkan pengetahuan atau menuturkan ilmu; betapa mulia.Tetapi pada keadaan tertentu yang kalian ucapkan adalah dusta. Jadi mengucapkan (pada menuturkan ilmu) dan mengucapkan (pada berkata dusta) itu berbeda (walaupun sama-sama berkata-kata/mengucapkan sesuatu) seperti perbedaan antara surga dan neraka.”

    “Mengambil air di sumur, mengambil bebuahan di ladang atau mengambil uang disaku; baik itu adanya. Tetapi sumur siapa, ladang siapa dan saku siapa: itulah yang menentukan apakah kalian mengambil ataukah mencuri.”

    ***

    Emha Ainun Nadjib

    Seribu masjid Satu jumlahnya

    Tahajjud cinta seorang hamba

    Penerbit Mizan 1995

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 17 November 2011 Permalink | Balas  

    Siapa Yang Tahu Maksud Allah 

    Siapa Yang Tahu Maksud Allah

    Rasulullah pada suatu waktu pernah berkisah. Pada zaman sebelum kalian, pernah ada seorang raja yang amat dzalim. Hampir setiap orang pernah merasakan ke zalimannya itu.

    Pada suatu ketika, raja zalim ini tertimpa penyakit yang sangat berat. Maka seluruh tabib yang ada pada kerajaan itu dikumpulkan. Dibawah ancaman pedang, mereka disuruh untuk menyembuhkannya. Namun sayangnya tidak ada satu tabib pun yang mampu menyembuhkannya. Hingga akhirnya ada seorang Rahib yang mengatakan bahwa penyakit sang raja itu hanya dapat disembuhkan dengan memakan sejenis ikan tertentu, yang sayangnya saat ini bukanlah musimnya ikan itu muncul ke permukaan.

    Betapa gembiranya raja mendengar kabar ini. Meskipun raja menyadari bahwa saat ini bukanlah musim ikan itu muncul ke permukaan namun disuruhnya juga semua orang untuk mencari ikan itu. Aneh bin ajaib…. walaupun belum musimnya, temyata ikan itu sangatlah mudah ditemukan. Sehingga akhirnya sembuhlah raja itu dari penyakitnya.

    Di lain waktu dan tempat, ada seorang raja yang amat terkenal kebijakannya. Ia sangat dicintai oleh rakyatnya. Pada suatu ketika, raja yang bijaksana itu jatuh sakit. Dan ternyata kesimpulan para tabib sama, yaitu obatnya adalah sejenis ikan tertentu yang saat ini sangat banyak terdapat di permukaan laut. Karena itu mereka sangat optimis rajanya akan segera pulih kembali. Tapi apa yang terjadi ? Ikan yang seharusnya banyak dijumpai di permukaan laut itu, tidak ada satu pun yang nampak..! Walaupun pihak kerajaan telah mengirimkan para ahli selamnya, tetap saja ikan itu tidak berhasil diketemukan. Sehingga akhirnya raja yang bijaksana itu pun mangkat…

    Dikisahkan para malaikat pun kebingungan dengan kejadian itu. Akhirnya mereka menghadap Tuhan dan bertanya, “Ya Tuhan kami, apa sebabnya Engkau menggiring ikan-ikan itu ke permukaan sehingga raja yang zalim itu selamat; sementara pada waktu raja yang bijaksana itu sakit, Engkau menyembunyikan ikan-ikan itu ke dasar laut sehingga akhirnya raja yang baik itu meninggal?” Tuhan pun berfirman, “Wahai para malaikat-Ku, sesungguhnya raja yang zalim itu pernah berbuat suatu kebaikan. Karena itu Aku balas kebaikannya itu, sehingga pada waktu dia datang menghadap-Ku, tidak ada lagi kebaikan sedikitpun yang dibawanya. Dan Aku akan tempatkan ia pada neraka yang paling bawah ! Sementara raja yang baik itu pernah berbuat salah kepada-Ku, karena itu Aku hukum dia dengan menyembunyikan ikan-ikan itu, sehingga nanti dia akan datang menghadap-Ku dengan seluruh kebaikannya tanpa ada sedikit pun dosa padanya, karena hukuman atas dosanya telah Kutunaikan seluruhnya di dunia!”

    Kita dapat mengambil beberapa pelajaran dari kisah bersayap ini. Pelajaran pertama adalah: Ada kesalahan yang hukumannya langsung ditunaikan Allah di dunia ini juga; sehingga dengan demikian di akhirat nanti dosa itu tidak diperhitungkan-Nya lagi. Keyakinan hal ini dapat menguatkan iman kita bila sedang tertimpa musibah.

    Pelajaran kedua adalah: Bila kita tidak pernah tertimpa musibah, jangan terlena. Jangan-jangan Allah ‘menghabiskan’ tabungan kebaikan kita. Keyakinan akan hal ini dapat menjaga kita untuk tidak terbuai dengan lezatnya kenikmatan duniawi sehingga melupakan urusan ukhrowi.

    Pelajaran ketiga adalah: Musibah yang menimpa seseorang belum tentu karena orang itu telah berbuat kekeliruan. Keyakinan ini akan dapat mencegah kita untuk tidak berprasangka buruk menyalahkannya, justru yang timbul adalah keinginan untuk membantu meringankan penderitaannya.

    Pelajaran keempat adalah: Siapa yang tahu maksud Allah?

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 15 November 2011 Permalink | Balas  

    Di Balik Kekuatan Iman 

    Di Balik Kekuatan Iman

    Assalamu’alaikum,

    Saya ingin berbagi pengalaman pribadi saya dulu semasa kuliah S1 di salah satu universitas di Amerika. Waktu itu saya tinggal dengan 3 orang yang beda agama: Catholic, Atheist (tidak percaya Tuhan itu ada), Agnostic (kepercayaan kepada Tuhan YME). Saya sebagai Muslim selalu ditanya macam-macam oleh ketiga roomate saya ini. “Mengapa harus shalat 5 kali sehari?”, “Mengapa harus wudhu?”, “Mengapa harus basuh 3-3 kali”, “Mengapa shalat harus gerakannya begitu?”, “Mengapa nggak boleh makan babi?”, etc,etc. Pertama kali saya bingung bagaimana menjelaskan secara simple dan masuk logika mereka yang sejak kecil berlatar belakang non-Muslim itu. Saya cuma bisa jawab “This is based on the laws of Allah” Mereka cuma bisa jawab: “Well, you accept those laws without questioning them?!” Saya cuma bilang “For you, your faith, for me, my faith.”

    Suatu hari, ketika salah satu dari mereka (agnostic) sedang memasak air, saya ada ide bertanya padanya: “Mengapa air harus mendidih 212F? (100C) mengapa tidak lebih atau kurang? Mengapa atom punya 7 lapisan? Mengapa planet di tata surya cuma ada 9? Mengapa mata anda 2, tidak 3, atau 1? etc.etc. Pokoknya saya tanya semua yang berhubungan dengan numbers in the nature. Saya tanya lagi “Why do you accept all those laws without questioning them?” Teman saya cuma bisa tersenyum dan menjawab, “You got me this time!”

    Pernah mereka bertiga bertanya kepada saya: “If we die as a non- Muslims who do not believe in Islam, will we go to hell in hereafter?” Saya ambil Al Qur’an English translation, saya tunjukkan ayat2 yang menjelaskan bahwa mereka yang mereject atau memilih agama selain Islam, tidak akan diterima amal mereka oleh Allah SWT, dan di akherat mereka akan merugi. Saya katakan pada mereka: “YES, IF YOU REJECT ISLAM, YOU REJECT YOUR CREATOR, YOU WILL GO TO HELL.” Saya tidak mau berbasa-basi dengan mereka dengan berkata “Oh, nggak, asal kamu berbuat baik, you’ll be fine…” atau “Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, kita semua sama ciptaanNya, Dia tidak akan memasukkan kalian ke neraka…” Tapi saya katakan apa adanya. Hasilnya?

    Mereka yang tadinya tidak pernah membaca buku2 Islam, setelah kejadian itu, meminjam buku2 Islam saya untuk dibaca. Bahkan hampir setiap kali sebelum tidur, kita berempat selalu berdiskusi tentang Islam. Alhamdulillah, sampai saya lulus, pemikiran mereka yang keliru tentang Islam telah hilang, dua roomate saya yang Catholic dan Agnostic bahkan beberapa kali datang ke masjid. Mereka berdua bahkan mencoba berpuasa di bulan Ramadhan bersama saya. Mereka berdua bertanya kemungkinan mereka masuk Islam. Si Atheist sendiri berubah status dari tidak percaya adanya Tuhan, menjadi Agnostic yang percaya tapi masih mencari kebenaran mengenai agama-agama di dunia.

    Saya tidak pernah menyangka akan begini hasilnya ketika saya TEGAS menjawab pertanyaan mereka. Kalau saya tidak tegas, mungkin mereka tidak akan takut akan possibility masuk neraka, mungkin mereka akan tenang-tenang saja tidak berusaha mencari tahu sungguh-sungguh apa itu Islam, dan kemungkinan lainnya yang bisa menghalangi mereka dari cahaya kebenaran Islam.

    Pernah saya diundang ke pesta oleh seorang teman non-Muslim di rumahnya yang megah (seperti Castle). Bapak jendral di ARMY, ibunya konglomerat di Amerika. Di belakang rumahnya saja ada tempat parkir helicopter. Ketika saya ditawari minum wine (alcoholic beverage), saya bilang “I am sorry, I am a Muslim, I don’t drink alcohol.” Mereka langsung salut, dan bertanya-tanya tentang Islam. Bahkan bapaknya teman saya langsung membawa saya ke ruang belajarnya. Saya kaget sekali ketika saya lihat di dinding terhampar sajadah bergambar Ka’bah. Di meja studinya ada Al Qur’an. Dia bilang dia beli itu semua ketika perang Desert Storm. Dia salut dengan ajaran Islam. Bahkan dia katakan lagi banyak anak buahnya di ARMY (hundreds of them) yang masuk Islam pada perang Desert Storm. Dia sendiri sedang mempelajari Islam. Waktu itu saya benar-benar tertegun ketika diajak ngobrol oleh si jendral ini.

    Dia bilang bahwa Muslims di Amerika harus bisa melobby White House terhadap policy di Mid East dan Islamic world in general. Dia bilang lagi bahwa kebijakan di Amerika banyak dipengaruhi oleh lobbynya Jews (Yahudi). Saya kaget mendengar uraian ini dari seorang Amerika kulit putih yang non-Muslim dan dari Angkatan Bersenjata pula. Padahal obrolan ini semua berasal dari omongan saya bahwa saya tidak minum alcohol karena saya Muslim. Mungkin kalau saya malu-malu berucap saya Muslim tentunya dia tidak akan ‘curhat’ kepada saya tentang hal2 di atas…

    Pernah pula, sewaktu hendak berlibur ke Indonesia, saya dan teman saya shalat di corner salah satu gedung di Chicago Intern’l Airport. Selesai shalat, ada dua orang pilot berdiri menatap kami tidak jauh dari tempat kami shalat. Seorang darinya mendekati dan menyalami kami, menjabat tangan kami, sambil bertanya dari mana kami berasal. Dia merasa senang melihat orang Islam yang taat menjalankan agamanya. Bahkan diberinya kami kartu namanya dan berpesan jangan segan-segan mengontak dia kapan saja.

    Masya Allah, tadinya sebelum saya ke Amerika, saya tidak menyangka masih ada orangorang di Amerika yang seperti itu. Sebagian dari mereka berhati hanif (lurus) dan masih mencari-cari kebenaran. Tugas kitalah sebagai Muslim menyampaikan da’wah kepada mereka. Kalau kita berpaham AGAMA ITU SAMA, buat apa lagi berda’wah? Toh, masuk Islam atau tidak, mereka tetap saja selamat (kalau asumsinya semua agama itu sama). Begitu pula dalam da’wah, kadang-kadang memang harus TEGAS dan memberikan peringatan, di samping dengan tutur kata yang baik dan bijaksana. (pembawa kabar gembira dan peringatan).

    Mudah-mudahan Allah menunjuki hati-hati mereka yang masih sungguh-sungguh seeking for the truth di mana saja mereka berada…

    Semoga bermanfaat,

    Wassalam

    ***

    Oleh Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 14 November 2011 Permalink | Balas  

    Sudah Layakkah Permintaan Kita 

    Sudah Layakkah Permintaan Kita

    Bila suatu waktu pembantu kita, mungkin karena senangnya mendapat sesuatu dari kita, mengatakan, ” Apapun permintaan Bapak hari ini akan saya penuhi “. Karena kita tahu keadaan dia, maka mungkin kita hanya mengatakan, ” Tolong kamu cuci bersih saja mobil saya “. Kita tidak mungkin meminta rumah mewah darinya, karena kita tahu tidak mungkin ia sanggup memberikan itu kepada kita.

    Sebaliknya bila pada suatu ketika misalnya Bapak Presiden menawarkan kepada kita, ” Bila ada sesuatu yang kamu inginkan dari saya, silakan kamu sebutkan”. Maka tentu kita tidak meminta bapak Presiden untuk mencucikan mobil kita, mungkin kita akan meminta agar kita dijadikan Menteri atau dijadikan Direktur di salah satu BUMN.

    Ilustrasi di atas ingin menyampaikan bahwa kita termasuk orang yang bijak bila permintaan kita selalu disesuaikan dengan kemampuan orang yang kita mintai pertolongan. Dengan demikian kita akan ditertawakan orang bila misalnya meminta dibelikan mobil mewah pada seorang tukang becak ; atau hanya meminta dibelikan sebungkus rokok pada seorang konglomerat ternama.

    Lalu bagaimana permintaan kita kepada Allah ? Apakah doa kita masih meminta sesuatu yang sifatnya ” recehan ” ? Meminta supaya kaya ? Meminta supaya mendapat jabatan yang tinggi ?

    Mengapa kita tidak meminta sesuatu yang teramat istimewa ? yaitu sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh siapa pun ?

    Bukankah hidayah, ampunan, lindungan dari siksa neraka, keteguhan iman, kekhusukan dalam ibadah atau pun petunjuk kepada jalan yang lurus hanya dapat diberikan oleh Allah saja?

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 13 November 2011 Permalink | Balas  

    Belajar Dari Burung dan Cacing 

    Belajar Dari Burung dan Cacing

    Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena himpitan kebutuhan materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing.

    Kita lihat burung tiap pagi keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak terbayang sebelumnya kemana dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan. Karena itu kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan buat keluarganya, tapi kadang makanan itu cuma cukup buat keluarganya, sementara ia harus “puasa”. Bahkan seringkali ia pulang tanpa membawa apa-apa buat keluarganya sehingga ia dan keluarganya harus “berpuasa”.

    Meskipun burung lebih sering mengalami kekurangan makanan karena tidak punya “kantor” yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia, namun yang jelas kita tidak pernah melihat ada burung yang berusaha untuk bunuh diri. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke batu cadas. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menenggelamkan diri ke sungai. Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya. Kita lihat burung tetap optimis akan rizki yang dijanjikan Allah. Kita lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya.

    Tampaknya burung menyadari benar bahwa demikianlah hidup, suatu waktu berada diatas dan di lain waktu terhempas ke bawah. Suatu waktu kelebihan dan di lain waktu kekurangan. Suatu waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.

    Sekarang marilah kita lihat hewan yang lebih lemah dari burung, yaitu cacing. Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-olah tidak mempunyai sarana yang layak untuk survive atau bertahan hidup. Ia tidak mempunyai kaki, tangan, tanduk atau bahkan mungkin ia juga tidak mempunyai mata dan telinga.

    Tetapi ia adalah makhluk hidup juga dan, sama dengan makhluk hidup lainnya, ia mempunyai perut yang apabila tidak diisi maka ia akan mati. Tapi kita lihat , dengan segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi untuk mencari rizki . Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membentur-benturkan kepalanya ke batu.

    Sekarang kita lihat manusia. Kalau kita bandingkan dengan burung atau cacing, maka sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih canggih. Tetapi kenapa manusia yang dibekali banyak kelebihan ini seringkali kalah dari burung atau cacing “ Mengapa manusia banyak yang putus asa lalu bunuh diri menghadapi kesulitan yang dihadapi “ padahal rasa-rasanya belum pernah kita lihat cacing yang berusaha bunuh diri karena putus asa.

    Rupa-rupanya kita perlu banyak belajar dari burung dan cacing.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 11 November 2011 Permalink | Balas  

    Kupu-Kupu 

    Kupu-Kupu

    Ketika menuruni tangga menuju lapangan parkir, aku menemukan seekor kupu-kupu indah terperangkap dekat kaca jendela.

    Kupu-kupu itu terus terbang menabrak kaca jendela mencari jalan keluar. Aku mengulurkan tanganku mencoba menolongnya, tetapi ia hanya hinggap sejenak lalu terbang lagi dan kembali menabrak kaca jendela. Kemudian aku mencoba menghalaunya agar keluar dari pintu, tapi ia terus saja menabrak kaca jendela.

    Akhirnya aku menangkapnya dan membawanya dengan aman ke alam bebas. Ketika aku membuka tangan untuk melepaskannya, terpikir olehku kadang alangkah miripnya tindakan kita dengan kupu-kupu itu. Dalam ketakutan dan ketidaksabaran kita, sering kita melawan bimbingan ALLOH dan melakukan usaha yang sia-sia. Padahal jika kita mau sejenak berdiam diri, ikhlas dan pasrah pada ALLOH, kita akan merasakan pertolonganNYA yang membawa kita mengatasi rintangan-rintangan menuju kebahagian yang telah disediakanNYA untuk kita……

    Wassalam,

    ***

    Oleh: Beth

     

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 10 November 2011 Permalink | Balas  

    Ibarat 

    Ibarat

    Ada beberapa perumpamaan sederhana mengenai kehidupan kita. Perumpamaan tersebut berada disekeliling kita dan mudah terjangkau oleh pikiran kita.

    Beberapa perumpamaan tersebut adalah sebagai berikut:

    • Kita pasti mengenal tukang parkir. Tidak pernah ada satu tukang parkirpun yang menyombongkan diri terhadap mobil-mobil yang datang untuk sementara parkir dan kemudian pergi meninggalkannya. Tidak pernah ada dalam ucapan tukang parkir,”Nih.  Coba lihat mobil baby benz saya!” atau tidak ada tukang parkir yang berkata”, Ini mobil BMW saya, catnya mengkilat, bagus kan! “. Ketika ada orang yang membawa kembali mobil yang diparkir tidak terbetik sedikitpun kekesalan dalam hati si tukang parkir.

    Tukang parkir tidak pernah melakukan itu semua karena dia menyadari bahwa mobil-mobil bagus yang datang kepadanya adalah bukan miliknya tapi merupakan sakadar amanah kepadanya yang harus dia jaga. Begitu juga halnya dengan kita, sewaktu kita memperoleh harta dan segala kesenangan materi maka adalah pada tempatnya bila kita meyakini bahwa harta/kekayaan yang datang kepada kita adalah anugerah dari Alloh dan adalah sepenuhnya hak Alloh untuk mengambilnya kembali. Sehingga bila ternyata harta/kekayaan yang pernah ada pada diri kita itu lepas, maka tidak menjadikan kita stress atau sakit karenanya. Semua dari Allaoh dan akan kembali kepada Alloh.

    *Pernahkah kita berdiri bersandar kepada tembok atau meja/kursi? Hal yang kita takutkan ketika kita bersandar di tembok atau meja/kursi adalah tiba-tiba tembok itu rubuh atau meja/kursi tersebut bergeser atau diambil orang secara tiba-tiba sehingga tidak ada tempat bersandar badan kita sehingga kita akan jatuh. Sama halnya dengan harta bila dalam menjalani kehidupan, harta adalah tempat bersandar kita maka pasti kita akan takut kehilangan harta tersebut. Maka ada pepatah yang kita kenal: Jangan jadikan harta itu berada dihatimu tapi jadikan harta di tanganmu. Sehingga janganlah kita menyandarkan diri kepada harta yang kita miliki sehingga mudah kemungkinan kita menjadi bakhil.

    *Kita pasti kenal – sosok fiksi – Tarzan.  konon ada cerita seorang insinyur perhutanan tersesat ditengah hutan. Perbekalan yang dibawa oleh insinyur tersebut tinggallah untuk sehari itu. Dimakannya sedikit-demi sedikit bekal yang dibawa , diirit-iritnya agar dia tidak kelaparan bila ternyata belum juga ia dapat menemukan jalan keluar dari hutan. Dalam perjalanannya dia bertemu dengan Tarzan yang sedang berjalan dengan membawa sekeranjang buah-buahan. melihat Tarzan yang membawa banyak makan maka insinyur tersebut meminta buah-buahan yang dibawa Tarzan.  Tidak disangka semua buah-buahan yang sekerangjang yang dibawa Tarzan itu diserahkan kepada si insinyur yang tersesat. Si insinyur bertanya; “Koq semuanya dikasih kepada saya?” Tarzan hanya tersenyum dan berkata, “Saya berikan semua itu karena saya tahu dimana di hutan ini saya dengan mudah akan mendapatkan kembali buah-buahan itu langsung dari pohon-pohonnya!”

    Tarzan tadi adalah orang yang mencerminkan manusia yang telah tahu dimana tempat semua makhluq menaruhkan harapan dan permohonan perolehan rejeki yakni kepada Alloh yang Maha kaya sehingga tidak ada kekhawatiran akan kekurangan harta akibat bersedekah-berzakat atau berinfaq dengan keyakinan bahwa harta tersebut adalah titipan dari Alloh yang dapat dipergunakan dan ada di dalamnya bagian yang harus dikeluarakan sebagai pembersih dan sarana berbuat kebaikan. tak ada keraguan dan kesusahan untuk berbuat itu semua karena telah tahu dimana dia bisa mengharap dalam mencarinya lagi- yaitu kepada Alloh SWT Yang Maha Kaya, Maha Pemurah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 9 November 2011 Permalink | Balas  

    Lion And Gazelle 

    Lion And Gazelle

    Kisah dari Padang Savana Afrika

    Suatu pagi seekor singa terbangun.

    “Haum…, hah, sudah siang nih…. Aku harus cepat-cepat bangkit. Aku harus menangkap gazelle, kalau tidak dapat, aku bisa kelaparan, kurus, sakit lalu… mati! Kalau aku mati bagaimana mungkin aku meneruskan keturunanku?”

    Maka, Blecet…. Sang singa melompat, berlari menuju sasaran.

    Tidak jauh dari tempat itu, seekor gazelle juga terbangun.

    “Oaehhh…,hah, matahari sudah terbit! Aku harus cepat cepat lari. Kalau aku terlambat sedetik saja, aku bisa diterkam singa! Kalau diterkam singa, kulitku akan dikelupas, berutku akan dirobek, habis sudah riwayatku, mana aku belum nikah lagi…!

    Blenyeng… Sang gazelle pun ambil langkah seribu ke tempat aman.

    Bagaimana dengan kita? Yang jelas, kita kebanyakan tidak tahu apakah kita ini singa atau gazelle. Kalau kita singa maka kita harus segera bertindak, berusaha agar mendapat kasih sayang ALLAH. Namun jika kita bertipe gazelle, tidak ada pilihan lain untuk segera bergerak, menjauhi dengan sekuat tenaga segala yang membuat ALLAH murka. Tentunya kita (harus) dapat berperan di kedua pihak karena kita tidak tahu pasti apakah satu menit lagi ALLAH masih sayang pada kita atau sebaliknya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 7 October 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Bung Hatta dan Kisah Sepatu Bally 

    Bung Hatta dan Kisah Sepatu Bally

    PADA tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

    Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.

    Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.

    “Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri,” kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini, dengan dana bantuan presiden, dana Badan Urusan Logistik, dan lain-lain.

    Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya bangsa Indonesia dapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • nasrulbintang 6:32 am on 7 Oktober 2011 Permalink

      heheeh bung hatta memang hebat…

    • dikcy 2:26 pm on 17 Oktober 2011 Permalink

      suri teladan untuk kita semua …

    • Beta 5:07 pm on 8 Februari 2012 Permalink

      terima kasih bung hatta, berangkat dari cerita sederhanamu, aku sebagai anak bangsa akan mengambil ibroh dari ceritamu.akan aku terapkan dalam kehidupanku.semoga Allah mengampuni dosa-dosamu………..

    • Magda 11:14 am on 10 Februari 2012 Permalink

      Terimakasih, artikelnya bagus sekali. Izin share di Fb ya :) Saya penggemar beliau sejak kecil. Ayah saya memiliki beberapa biografi beliau. Salah satunya adalah Bung Hatta Pribadinya dalam Kenangan yang saya baca entah berapa kali sewaktu saya masih duduk di Sekolah Dasar.

    • ophan 10:56 pm on 13 Maret 2012 Permalink

      artikelnya sangat menarik,

    • Lia 3:43 pm on 15 Agustus 2012 Permalink

      Kalau saya lihat pemimpin kita tahun 2012. Semuanya berlomba lomba mengisi tabungannya sendiri. Foke main politik uang demi mendapat jabatan gub DKI. Anggota dewan terhormat MPR/DPR tidur dirapat tapi giat korupsi dan giat menerima uang suap. Polisi cuma jadi tukang palak dan tukang pukul koruptor. Rakyat Indonesia dulu dijajah dan dirampok bangsa asing sekarang dirampok bangsa sendiri. Menyedihkan.

  • erva kurniawan 1:30 am on 28 September 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ku Malu Menjadi Wanita 

    Ku Malu Menjadi Wanita

    Oleh Meralda Nindyasti

    ” Wanita itu ibarat buku yang dijual di toko buku. ” Kata Ukhti Liana, mentor rohaniku ketika SMA.

    Ia melanjutkan ceritanya “Begini asosiasinya.. di suatu toko buku, banyak pengunjung yang datang untuk melihat-lihat buku. Tiap pengunjung memiliki kesukaan yang berbeda-beda. Karena itulah para pengunjung tersebar merata di seluruh sudut ruangan toko buku. Ia akan tertarik untuk membeli buku apabila ia rasa buku itu bagus, sekalipun ia hanya membaca sinopsis ataupun referensi buku tersebut. Bagi pengunjung yang berjiwa pembeli sejati, maka buku tersebut akan ia beli. Tentu ia memilih buku yang bersampul, karena masih baru dan terjaga. Transaksi di kasirpun segera terjadi. ”

    “iya, terus kak..?” kataku dan teman-teman, dibuat penasaran olehnya.

    “Nah, bagi pengunjung yang tidak berjiwa pembeli sejati, maka buku yang ia rasa menarik, bukannya ia beli, justru ia mencari buku dengan judul sama tapi yang tidak bersampul. Kenapa? Kerena untuk ia dibaca saat itu juga. Akibatnya, buku itu ada yang terlipat, kusam, ternoda oleh coretan, sobek, baik sedikit ataupun banyak. Bisa jadi buku yang tidak tersampul itu dibaca tidak oleh seorang saja. Tapi mungkin berkali-kali, dengan pengunjung yang berbeda tetapi berjiwa sama, yaitu bukan pembeli sejati alias pengunjung iseng yang tidak bertanggung jawab. Lama kelamaan, kasianlah buku itu, makin kusam hingga banyak yang enggan untuk membelinya” Cerita ukhti Liana.

    “Wanita itu ibarat buku. Jika ia tersampul dengan jilbab, maka itu adalah ikhtiar untuk menjaga akhlaknya. Lebih-lebih kalau jilbab itu tak hanya untuk tampilannya saja, tapi juga menjilbabkan hati.. Subhanallah..!

    Pengunjung yang membeli adalah ibarat suami, laki-laki yang telah Allah siapkan untuk mendampinginya menggenapkan ½ dienNya. Dengan gagah berani dan tanggung jawab yang tinggi, ia bersedia membeli buku itu dengan transaksi di kasir yang diibaratkan pernikahan. Bedanya, Pengunjung yang iseng, yang tidak berniat membeli, ibarat laki-laki yang kalau zaman sekarang bisa dikatakan suka pacaran. Menguak-nguak kepribadian dan kehidupan sang wanita hingga terkadang membuatnya tersakiti, merintih dengan tangisan, hingga yang paling fatal adalah ternodai dengan free-sex. Padahal tidak semua toko buku berani menjual buku-bukunya dengan fasilitas buku tersampul. Maka, tentulah toko buku itu adalah toko buku pilihan. Ia ibarat lingkungan, yang jika lingkungan itu baik maka baik pula apa-apa yang ada didalamnya. ” kata ukhti Liana.

    “wah, kalau begitu jadi wanita harus hati-hati ya..!. ” celetuk salah satu temanku.

    “Hmm, .apakah apapun di dunia ini bakal dapet yang seimbang ya, kak? Kayak itu deh, buku yang tersampul dibeli oleh pembeli yang bertanggung jawab. Itukan perumpamaan Wanita yang baik dan terjaga akhlaknya juga dapat laki-laki yang baik, bahkan insyallah mapan, sholeh, pokoknya yang baik-baik juga. Gitu ya, kak?” kata temanku.

    ” Benar, Seperti janji Allah SWT, “Wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanit yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (An-Nur:26). Dan, hanya Allah yang tak menyalahi janji. ” penjelasan ukhti Liana.

    ***

    Empat tahun berselang.. diskusi itu masih mengena dihatiku. Hingga pada suatu malam, pada suatu muhasabah menyambut usia yang bertambah, “Pff, Ya Allah… Tahu begini, Aku malu jadi wanita. ” bisikku.

    Menjadi wanita adalah amanah. Bukan amanah yang sementara. Tapi amanah sepanjang usia ini ada. Pun menjadi wanita baik itu tak mudah. Butuh iman dan ilmu kehidupan yang seiring dengan pengalaman.

    Benar. Menjadi wanita adalah pilihan. Bukan aku yang memilihnya, tapi Kau yang memilihkannya untukku. Aku tahu, Allah penggenggam segala ilmu. Sebelum Ia ciptakan aku, Ia pasti punya pertimbangan khusus, hingga akhirnya saat kulahir kedunia, Ia menjadikanku wanita. Aku sadar, tidak main-main Allah mengamanahkan ini padaku. Karena kutahu, wanita adalah makhluk yang luar biasa. Yang dari rahimnya bisa terlahir manusia semulia Rasulullah atau manusia sehina Fir’aun.

    Kalau banyak orang lain merasa bangga menjadi wanita, karena wanita layak dipuja, karena wanita cantik memesona, karena wanita bisa dibeli dengan harta, karena wanita cukup menggoda, dan lain sebagainya, maka justru sebaliknya, dengan lantang aku berkata.. “aku malu menjadi wanita!”

    Ya, Aku malu menjadi wanita, kalau faktanya wanita itu gampang diiming-iminggi harta dengan mengorbankan harga dirinya. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita itu sebagai sumber maksiat, memikat, hingga mengajak pada jalan sesat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata dari pandangan dan suara wanita yang tak terjaga sanggup memunculkan syahwat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata tindak tanduk wanita sanggup membuahkan angan-angan bagi pria. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita tak sanggup jadi ibu yang bijak bagi anaknya dan separuh hati mendampingi perjuangan suaminya.

    Sungguh, aku malu menjadi wanita yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Ya, Aku malu jika sekarang aku belum menjadi sosok wanita yang seperti Allah harapkan. Aku malu, karena itu pertanda aku belum amanah terhadap titipan Allah ini. Entahlah, dalam waktu 19 tahun ini aku sudah menjadi wanita macam apa. Aku malu.. Bahkan malu ini berbuah ketakutan, kalau-kalau pada hari akhir nanti tak ada daya bagiku untuk mempertanggungjawabkan ini semua.

    Padahal, setahuku dari Bunda Khadijah, Aisyah dan Fatimah, wanita itu makhluk yang luar biasa, penerus kehidupan. Dari kelembutan hatinya, ia sanggup menguak gelapnya dunia, menyinari dengan cinta. Dari kesholehannya akhlaknya, ia sanggup menjaga dunia dari generasi-generasi hina dengan mengajarkannya ilmu dan agama. Dari kesabaran pekertinya, ia sanggup mewarnai kehidupan dunia, hingga perjuangan itu terus ada.

    Allah, maafkan aku akan kedangkalan ilmuku dan rendahnya tekadku. Aku berlindung pada-Mu dari diriku sendiri. Bantu aku Rabb, untuk tak lagi menghadirkan kelemahan-kelemahan diri saat aku ada di dunia-Mu. Hingga kelak aku akan temui-Mu dalam kebaikan akhlak yang kuusahakan. Ya, wanita sholehah..”

    ***

    dari http://www.eramuslim.com

     
    • bib 12:20 pm on 11 Oktober 2011 Permalink

      ijin copy buat tugas cms ya mas…

    • putri 9:15 am on 14 Oktober 2011 Permalink

      izin kopi ya mas..syukron

  • erva kurniawan 1:53 am on 25 September 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Paku 

    Paku

    Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku dip agar belakang rumah setiap kali dia marah.

    Hari pertama anak itu memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah. Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.

    Akhhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku setiap hari dimana dia tidak marah.

    Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercerabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. “Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi, lihatlah lubang lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. “Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini.di hati orang.”

    “Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu kamu mencabut paku itu. Tetapi tidak peduli berapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada.dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik..”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 22 September 2011 Permalink | Balas  

    Ternyata Allah memang Universal 

    Ternyata Allah memang Universal

    “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” QS Thahaa: 14.

    Apa yang akan saya ceritakan bukanlah tentang pluralisme. Karena bagi saya sudah jelas firman Allah dalam QS Al Kafirun yang ditegaskan dalam ayat terakhir (ayat 6), lakum dinukum waliyadin. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku. Saya hanya ingin berbagi pengalaman dan pemahaman saya bahwa Allah sangat inklusif dan universal.

    Kurang lebih dua minggu yang lalu, saya ngobrol dengan salah seorang teman. Sebut saja namanya Budi. Sambil download e mail melalui pop 3 di free hot spot milik dia, kami berbincang dan bertukar cerita tentang pengalaman spiritual kami masing-masing. Saya muslim, dia nasrani. Tapi perbedaan itu tidak menghalangi keakraban kami.

    Sebenarnya kami kenal juga belum lama, mungkin baru sekitar dua atau tiga bulanan. Tapi keakraban yang muncul seolah-olah kami seperti sahabat lama. Tidak ada sama sekali batasan yang membuat kami saling sungkan. Perbincangan kami mengalir dengan lepas.

    Budi adalah seorang nasrani yang percaya dengan takdir, bahwa segala sesuatu di alam semesta ini tidak berjalan dengan sendirinya. Namun atas kehendak suatu zat yang pasti mempunyai sifat maha segala sesuatu. Berdasarkan pengakuannya, Budi percaya dengan keberadaan Allah. Menurut Budi, sepertinya dia adalah muslim meskipun secara resmi di KTP dia seorang nasrani.

    Pada dasarnya tahapan-tahapan dan proses perjalanan spiritual kami mirip satu sama lain. Dimulai dari pertanyaan dan pencarian tentang zat tunggal pencipta semesta, kemudian kami sama-sama mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada banyak orang. Tetapi tidak ada satupun jawaban yang mampu memuaskan dahaga kami. Saat mentok dan tidak tahu lagi harus bertanya kemana, kami sama-sama diberitahu oleh seseorang untuk bertanya saja kepada Yang Maha Pencipta. Ternyata, jawaban atas semua pertanyaan kami datang dengan sendirinya pada saat kami dalam kondisi hening dan khusyu menghadap kepada Tuhan.

    Dalam satu kesempatan, Budi menyebut Tuhan dengan nama Allah. Cara mengucapkannyapun menggunakan cara muslim, bukan nasrani. Saat Budi – seorang nasrani yang percaya penuh atas takdir dan keberadaan Allah- menyebut nama Allah dengan cara muslim itulah hati saya tiba-tiba tergetar. Hal ini membuat saya kaget. Saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa hati saya bergetar, padahal yang menyebut Allah bukan seorang muslim. Ah, mungkin kebetulan saja. Begitu pikir saya dalam hati.

    Namun ternyata setiap kali Budi menyebut nama Allah dengan cara muslim, setiap kali juga hati saya tergetar. Saya jadi ingat salah satu hadits qudsi yang pernah disamapaikan dalam sebuah forum pengajian umum yang menyebutkan bahwa sebenarnya yang menetapkan nama zat pencipta semesta alam sebagai Allah adalah Allah sendiri. Secara pasti saya tidak ingat, tapi kira-kira redaksionalnya berbunyi sebagai berikut: “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, Aku ingin dikenal oleh makhluk-Ku, dan dengan nama Allah-lah mereka memanggil- Ku.” (Mohon maaf apabila saya lupa dan salah kutip.)

    Dalam sebuah forum pertemuan antar penggemar acara sulur kembang di salah satu stasiun radio swasta di Banyuwangi, diceritakan bahwa ada seorang warga negara asing yang ingin bertemu dengan Tuhan. Maka dia diminta untuk memanggil-Nya dengan nama Allah. Ternyata panggilan itu disambut oleh Allah.

    Saat itu pemahaman atas nama Allah masih berada pada tataran otak saja, masih sebatas menjadi sebuah teori. Baru pada tahapan wajibul yakin. Belum tertanam dalam hati dan menjadi ‘ainul yakin ataupun haqqul yakin. Ternyata kemudian Allah memahamkan hati saya dan memberikan bukti langsung bahwa Allah milik semua makhluk-Nya di alam semesta ini. Semua manusia berhak untuk memanggil dan berkomunikasi dengan-Nya. Tanpa perkecualian. Asalkan kita percaya dan yakin sepenuh hati atas eksistensi Allah sebagai satu-satunya zat pencipta alam semesta.

    Subhanallah, ternyata Allah memang benar-benar inklusif. Tidak ada sekat-sekat bagi manusia untuk bertemu dengan-Nya. Allah sangat terbuka kepada manusia. Siapapun yang memanggil-Nya, Allah akan datang dan menyambut panggilan itu. Alhamdulillah, Allah masih meneguhkan hati saya melalui firman-Nya dalam QS Al Kafirun. Allahu akbar, hanya Allah-lah yang mampu memahamkan dan menggerakkan hati manusia. Tanpa kehendak-Nya manusia hanyalah sekedar seonggok daging belaka.

    ***

    Oleh : Aziz Fajar Ariwibowo

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 3 September 2011 Permalink | Balas  

    Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana 

    Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana

    “De’… de’…. Selamat Ulang Tahun…” bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku.

    “Hmm…” aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.

    Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku.

    Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipanku. Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to Me… Happy Birthday to Me…. Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resort di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku.

    “De…. Ade kenapa?” tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir.

    Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku.

    “Selamat ulang tahun ya De’…” bisiknya lirih. “Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan ngasih kado ini… tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut.

    Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari mana dia belajar membungkus kado seperti ini? Batinku sedikit terhibur. Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.

    “Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. Nnnng… Nggak bagus ya de?” ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai.

    Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya aku.

    “Jelek ya de’? Maaf ya de’… aku nggak bisa ngasih apa-apa…. Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya de’…” desahnya.

    Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi… mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan.

    “A’ lihat aku…,” pintaku padanya.

    Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu.

    “Tahu nggak… kamu ngasih aku banyaaaak banget,” bisikku di antara isakan. “Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya. Kamu ngasih aku dede’,” senyumku sambil mengelus perutku. “Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama….” bisikku dalam cekat.

    Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. “Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang,” isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku.

    Rabbana… mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…

    ***

    Oleh: Ust Anismata

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 31 August 2011 Permalink | Balas  

    Catatan seorang penulis 

    Catatan seorang penulis buku ini bisa menjadi pelajaran yang berharga

    “Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini, lalu aku putuskan untuk mengubah negaraku saja. Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah keluargaku. Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri.

    Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini.”

    Tidak ada yang bisa kita ubah sebelum kita mengubah diri sendiri. Tak bisa kita mengubah diri sendiri sebelum mengenal diri sendiri. Takkan kenal pada diri sendiri sebelum mampu menerima diri ini apa adanya.

    ***

    Sumber: Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 29 August 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Satu Siang di Lampu Merah 

    Satu siang di Bekasi, lampu merah menyala. Seorang nenek-nenek renta dengan hanya sebelah tangan menawarkan sapu lidi, sebelah tangannya lagi tidak nampak, hanya terlihat pangkal lengan yang kosong. Hatiku nyeri, kuturunkan kaca mobil,

    “Berapa Nek ?”“Sepuluh ribu neng… ”

    Kuulurkan sepuluh ribuan, kukira aku akan mendapat satu sapu lidi. Tapi nenek-nenek itu mengangsurkan semua, tiga sapu lidi yang dipegang dengan sebelah tangannya yang tersisa.

    “Saya cuma beli satu Nek” kataku ragu

    “Enggak pa pa neng, tiga-tiganya ini sepuluh ribu” jawab nenek itu

    Lalu nenek itu mengucapkan terima kasih yang diteruskan dengan rentetan doa untuk keselamatan dan keberkahan bagiku. Sepuluh ribu untuk tiga sapu lidi, dan untuk doa yang tak ternilai harganya….

    Tapi tiba-tiba,

    “Ngapain sih beli begituan ?” hmmmmm, teman seperjalananku protes

    “Nggak liat kenapa ?” jawabku rada sengak juga

    “Sepuluh orang aja seperti kamu, seratus ribu sehari, tiga juta sebulan”

    Aku memilih diam

    “Gaji pramusiwi saja nggak sampai segitu”

    “Nenek itu nggak mungkin jadi pramusiwi neng… ” balasku

    “Tiga juta sebulan dari sapu lidi begituan” masih saja bersungut-sungut

    “Oke, kamu gantian jadi nenek itu, tiga juta sebulan. Mau ?!!”

    Huhhhh, menguap semua protes….

    EPILOG:

    Apa susahnya berbagi sedikit keberuntungan kita, untuk ketidak beruntungan orang lain ? Ngomong-ngomong, aku sendirian di mobil, jadi kenalkan, itu tadi sisi diriku yang lain…

    ***

    Sumber: Kaskus.us

     
    • sonny 11:08 pm on 28 Januari 2012 Permalink

      hmmmm tidak ada salahnya berbagi sedikit rejeki dengan orang lain yang membutuhkan,tindakan yang tepat gan…salam :)

  • erva kurniawan 1:49 am on 28 August 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Gaji Papa Berapa? 

    Gaji Papa Berapa?

    Seperti biasa Doni, Kepala Cabang di salah satu Bank swasta di Jakarta , tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Kiran, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya Ia sudah menunggu cukup lama. “Kok, belum tidur ?” sapa Doni sambil mencium anaknya. Biasanya Kiran memang sudah lelap ketika Ia pulang dan baru terjaga ketika Ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

    Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Kiran menjawab, “Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?”.

    “Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?”.

    “Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Kiran singkat.

    “Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 Hari kerja. Sabtu dan minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?”. Kiran berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Doni beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Kiran berlari mengikutinya. “Kalo satu hari Papa dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp 40.000,- dong” katanya.

    “Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur” perintah Doni tetapi Kiran tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Kiran kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- enggak ?”.

    “Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini ? Papa capek. dan mau mandi dulu. Tidurlah”.

    “Tapi Papa…”

    Kesabaran Doni pun habis. “Papa bilang tidur !” hardiknya mengejutkan Kiran. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Doni nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Kiran di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Kiran didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.

    Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Doni berkata, “Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Kiran. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih” tanya Doni. “Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini”.

    “lya, iya, tapi buat apa ?” tanya Doni lembut.

    “Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya Ada Rp15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp 40.000,-maka setengah jam aku harus ganti Rp 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp 5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa” kata Kiran polos.

    Donipun terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Nony syarifiani m 8:40 pm on 6 September 2011 Permalink

      Kasih syg org tua mmg sgt d’prlukan,.

  • erva kurniawan 1:51 am on 26 August 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Peri dan Petani 

    Peri dan Petani

    Tulisan ini diinspirasi oleh cerita seorang sahabat. Ceritanya sebenarnya sudah banyak diketahui orang, tapi ada sedikit modifikasi yang membuatnya menjadi menarik untuk diceritakan kembali. Meski konteksnya saat sahabat saya bercerita itu cuma guyon, tapi sebenarnya ada pelajaran yang bisa dipetik. Saya berusaha menuliskannya. Enjoy!

    Alkisah ada seorang petani tua yang miskin. Dia hidup berdua saja dengan istrinya. Tiap hari dia pergi ke sawah sambil membawa cangkul besi satu-satunya miliknya, menyeberangi sebuah sungai yang cukup dalam.

    Pada suatu hari, saat menyeberangi sungai dalam perjalanan ke sawah, si petani tanpa sengaja menjatuhkan cangkulnya. Cangkul itu langsung tenggelam ke dasar sungai. Si petani tertegun sedih, meratapi kecerobohan yang membuatnya kehilangan benda miliknya yang paling berharga. Saat merenungi nasibnya itu, tiba-tiba datanglah seorang peri menghampirinya.

    “Hai petani, kenapa kau bersedih?”

    “Aku kehilangan cangkulku. Padahal hanya dengan itulah aku bisa menghidupi diri dan istriku.”

    “Baiklah…tunggu sebentar”, kata si peri. Lalu ia menghilang, dan tak lama kemudian muncullah kembali sambil membawa sebuah cangkul terbuat dari emas murni.

    “Inikah cangkulmu?”, tanya si peri.

    “Bukan. Cangkulku tidak sebagus itu. Hanya cangkul biasa saja”, jawab si petani.

    Lalu si peri menghilang kembali, dan sebentar kemudian muncul sambil membawa cangkul perak.

    “Inikah cangkulmu?”, tanya si peri kembali.

    “Bukan. Cangkulku cuma terbuat dari besi.”

    Untuk ketiga kalinya, si peri pergi, dan saat kembali kali itu dia membawa sebuah cangkul besi.

    “Inikah cangkulmu?

    Si petani mendadak terlihat gembira. “Benar…benar…inilah cangkulku…”, sahutnya sambil tersenyum.

    Si peripun ikut tersenyum, lalu berkata,”Wahai pak tani, aku salut akan kejujuranmu. Engkau tidak silau dengan hal-hal keduniawian. Sebagai anugrah, kuberikan juga cangkul emas dan cangkul perak kepadamu.” Lalu diserahkannyalah cangkul emas dan cangkul perak tadi kepada si petani.

    Si petani tentu saja bergirang hati mendapatkan rejeki tersebut. Pemberian emas dan perak itu kemudian dijualnya untuk memperbaiki tingkat kehidupannya. Meskipun mendapat rejeki besar, tapi si petani tidak berubah. Ia tetap bekerja keras dan mencoba bersikap jujur dalam setiap kesempatan.

    Suatu hari, seperti biasanya ia pergi ke sawah. Bedanya, kali ini ia ditemani istrinya. Saat menyeberangi sungai, tiba-tiba istrinya terjatuh dan hilang ditelan arus sungai. Si petani terkejut dan tidak mampu menolong istrinya, akhirnya iapun cuma bisa menangis sedih. Tiba-tiba si peri muncul kembali, dan terjadilah dialog yang mirip seperti di atas. Singkat kata, si peri pergi, dan saat kembali, ia membawa Paris Hilton (bagi yg belum tahu Paris Hilton, ia adalah selebritis jetset yang suka hidup mewah, pewaris Hilton raja jaringan hotel).

    “Inikah istrimu?”, tanya si peri sambil menyodorkan Paris Hilton.

    “Benar…benar…dialah istriku”, jawab si petani setelah melihat dan mengamati Paris Hilton dengan cermat.

    Si peri langsung berubah wajahnya. Ia kemudian berkata,”Wahai pak tani, ternyata engkau tidak jujur. Engkau mengaku memiliki sesuatu yang sebenarnya bukan milikmu. Aku kecewa…”

    Sebelum si peri melanjutkan ucapannya, si petani memotongnya,”Dengan mengakui Paris Hilton sebagai istriku, justru aku bersikap jujur, wahai peri…”

    Si peri keheranan dengan jawaban si petani. Dia bertanya,”Coba jelaskan, apa maksudmu?”

    Si petani kemudian berkata panjang lebar,”Coba pikirkan…Kalau aku tidak mengakui Paris Hilton sebagai istriku, maka engkau akan membawakanku Angelina Jolie, Demi Moore, atau selebritis lainnya, baru kemudian engkau mengembalikan istriku. Lalu engkau akan terkesan akan kejujuranku, dan akan memberiku Paris Hilton dan Angelina Jolie untuk hidup bersamaku, selain istriku sendiri.”

    Lanjut si petani,”Coba bayangkan…mana sanggup aku membiayai selebritis-selebritis itu. Dari mana aku dapat uang? Aku hanya seorang petani miskin. Karena itu aku mencoba jujur pada keadaanku. Aku tidak sanggup menghidupi mereka, lalu kuputuskan untuk menjawab seperti tadi. Aku tahu engkau kecewa, dan aku tahu jika engkau kecewa pasti aku tidak akan mendapatkan siapa-siapa, termasuk istriku sendiri. Tapi paling tidak aku tidak mengkhianati kehidupanku sendiri…”

    Dan si peripun menjadi speechless dengan jawaban si petani itu…

    **

    EPILOG:

    Saya yakin ada yang tertawa membaca cerita di atas, tapi ada juga yang tertegun. Menurut sahabat saya, moral of the storynya adalah bahwa sulit sekali bagi kita untuk tidak berprasangka kepada orang lain. Sulit karena fenomenanya terlihat jelas di hadapan kita. Bahkan saat kita sudah berusaha keras untuk tidak menaruh prasangka buruk, kadang-kadang bayangan tuduhan itu tetap muncul juga…

    Cerita di atas bisa menjadi pelajaran bagi kita yang kadang mudah menjatuhkan cap jelek kepada orang lain. Sesungguhnya cap jelek yang kita timpakan itu tidak selalu benar. Sesungguhnya terkadang yang ada hanyalah beda pandangan saja. Si peri menuduh petani tidak jujur karena dia mengakui Paris Hilton sebagai istrinya, sementara si petani berpendapat bahwa kejujuran tidak hanya sebatas pada pengakuan lisan saja. Sebelum berprasangka, kita juga perlu sadar bahwa kadang-kadang pandangan orang yang kita cap jelek itu malah lebih baik daripada pandangan kita.

    Bagi kita yang kadang menjadi korban prasangka buruk, tidak usahlah menjadi panas hati. Pahamilah bahwa prasangka tadi kadang muncul karena perbedaan pandangan atau ketidaktahuan. Jika penyebabnya memang seperti itu, komunikasi yang baik akan bisa menyelesaikan persoalan. Kalau kita bisa bersikap seperti ini, percayalah…hidup akan menjadi lebih ringan…

    Semoga bisa bermanfaat, baik untuk hiburan maupun renungan.. :-)

    PS: Untuk pak Isnaeni, terima kasih atas ceritanya yang inspiring…Semoga tidak keberatan kalau saya tuliskan sebagai note… :-)

    ***

    Oleh: Lukito Edi Nugroho

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 24 August 2011 Permalink | Balas
    Tags: Aku dan Si Genduk   

    Aku dan Si Genduk 

    Aku dan Si Genduk

    Pada suatu malam cerah bertabur bintang, aku duduk sendirian di beranda menikmati dinginnya hawa yang ditingkahi oleh suara serangga-serangga malam. Aku suka dengan suasana ini karena bisa membuatku tenang dan berkontemplasi, merenung, dan mencari jawaban dari berbagai pertanyaan tentang kehidupan. Aku bersyukur masih bisa melakukannya, karena belakangan ini aku didera berbagai problem yang begitu berat: beberapa bulan lalu di-PHK dari perusahaan dan sampai detik ini belum bisa mencari pekerjaan kembali, dan ditambah lagi penyakit maag akutku sering kambuh karena stress yang berkepanjangan. Kehidupan ekonomi keluargapun mulai goncang, karena pada dasarnya aku bukan berasal dari kaum berada dan posisiku di perusahaanpun bukanlah posisi yang bisa menghasilkan kelimpahan materi.

    Aku merasa bebanku begitu berat karena tabunganku sudah kosong. Tidak ada sumber penghasilan yang bisa diandalkan. Moral dan semangatku semakin turun. Dan hari-hari ini adalah hari-hari yang berat karena aku harus mengambil keputusan tentang sekolah si sulung kami. Si Genduk, demikian dia biasa disapa, memang bersekolah di sebuah PTN terkenal di kota besar. Himpitan ekonomi memaksaku untuk mempertanyakan keberlanjutan kuliah si Genduk yang memang memerlukan biaya besar. Dan malam ini adalah saatnya, karena kebetulan dia sedang pulang ke rumah dalam rangka liburan semester.

    Kali ini kesunyian malam tidak mampu menyembunyikan kegelisahanku. Samar-samar kudengar Bohemian Rhapsody-nya Queen dari kamar si Tole, anak kedua, saat kupanggil si Genduk.

    “ Genduk, ke sinilah sebentar. Bapak mau bicara…”

    “Ada apa pak?”, sahutnya sambil menghampiriku. Wajahnya terlihat gembira.

    Hatiku semakin tercabik-cabik melihat keceriaannya. Bohemian Rhapsody serasa pisau yang menyayat hatiku. Tidak tega rasanya menyampaikan problemku kepadanya. Tidak tega karena sebenarnya anak-anakku tidak boleh terpengaruh oleh problem tersebut. Tapi saat ini akupun tidak berdaya lagi dalam membentengi mereka dari problem finansial yang melanda keluargaku ini.

    “Nduk, bapak pengin cerita panjang, tapi kamu jangan kaget ya”, kataku sambil menatap tajam wajahnya.

    “Ada apa sih pak, kok  kayaknya serius banget. Bapak jangan lebay gitu ah..”, katanya sambil tertawa lepas.

    Ah, Nduk…andaikan saja engkau tahu perasaan bapak saat ini. Dengan menguatkan hati, mulailah kuceritakan tentang kemunduran perusahaan tempatku bekerja. Kuceritakan pula bagaimana pula akhirnya aku dan banyak karyawan lain di-PHK. Lalu kulanjutkan kisahku tentang usaha demi usaha untuk mendapatkan pekerjaan, yang semuanya gagal total. Dan akhirnya kusampaikan problem finansial yang melanda keluargaku.

    Wajah cerianya mulai menghilang, digantikan oleh wajah tegang dan sedikit cemas.

    “Lalu…apa maksud bapak mengajakku bicara malam ini?”, sergahnya.

    “Bapak tidak bisa lagi membiayai kuliahmu, Nduk…”

    Dan tiba-tiba kulihat butiran air di matanya. Dia menunduk, diam membisu. Matakupun basah. Kami berdua terdiam sesaat. Lagu Bohemian Rhapsody terdengar seperti pisau tajam yang menyayat hatiku.

    “Bapak inginnya aku harus gimana?”, kata-kata lirihnya memecah keheningan.

    “Bapak justru ingin dengar bagaimana pendapatmu”, begitu jawabku.

    Dan terjadilah sebuah percakapan yang sangat emosional. Ya Tuhan, berikanlah aku kekuatan agar aku tetap bisa tenang, berpikir jernih, dan menguatkan anakku ini.

    “Bapak tahu kan, kenapa aku memaksa untuk meneruskan kuliah? Aku ingin jadi orang yg berilmu pak. Aku ingin bisa bersekolah di luar negeri, belajar banyak hal, agar bisa bermanfaat bagi orang lain. Bukankah ini yang selalu bapak katakan kepadaku? Menjadi orang yang berguna bagi sekitarnya. Menjadi rahmatan lil alamin…Dan aku sudah memutuskan, pak. Jalanku adalah dengan belajar setinggi mungkin, agar nanti ilmuku ini bisa kubagikan kepada orang-orang di sekelilingku..”

    “Tapi sekarang mimpi itu pecah berantakan…Apa yang bisa kuharapkan jika aku tidak bisa melanjutkan kuliahku?? Apa yang bisa kulakukan kelak??”, lanjutnya sambil menangis sesenggukan.

    “Nduk, bapak tidak bilang kalau kamu harus berhenti sekolah. Bapak cuma bilang kalau mulai saat ini bapak tidak bisa mengirimi kamu uang untuk kuliah..”

    “Sama saja pak. Itu kan artinya menyuruh Genduk berhenti kuliah. Bagaimana aku harus membayar SPP dan biaya hidup??”, dia memotong dengan cepat. Ada nada emosi dan kemarahan dalam kata-katanya.

    Dia melanjutkan lagi,”Pak…kenapa selalu aku yang mengalami problem? Kenapa bukan si Tole? Bapak ingat kan, saat aku kecil, bapak dan ibu selalu memaksaku untuk mengurusi si Tole, untuk belajar melakukan tugas-tugas rumah, dan seabreg tugas lainnya. Sekarang saat bapak punya problem, aku lagi yang dikorbankan…It’s not fair, pak…”

    “Tuhan juga tidak sayang padaku…Tiap hari aku berdoa, bermohon agar cita-citaku bisa terkabul. Apa kurangnya dengan cita-citaku itu? Bukankah tujuannya juga untuk kemanfaatan orang banyak? Mengapa Tuhan tidak mendengar doaku?”

    Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Alhamdulillah,  the sense of being a father pun muncul dalam diriku, memberiku energi untuk menghiburnya dan memberinya semangat.

    “Jangan menyalahkan Tuhan, Nduk. Kamu yakin bahwa Tuhan itu Mahapenyayang kan? Bahwa Tuhan itu penolong yang sebaik-baiknya?”

    “Iyaa pak, tapiii….”

    “Yang namanya yakin itu ya yakin. 100%. Titik. Tidak ada tapi-tapian…”, sergahku.

    “Tapi kenapa Tuhan memutus cita-citaku yang baik itu? Kenapa Tuhan harus memberiku problem seperti ini?”

    “Nduk…Tahukah engkau, justru Tuhan itu sayang padamu. Kenapa kamu diberi-Nya problem? Karena Dia ingin agar kamu menjadi kuat. Kamu tahu berlian kan? Bahan dasar berlian itu apa?”, tanyaku.

    “Karbon pak. Kenapa memangnya?”

    “Karbon itu zat yang tidak berharga bukan? Tapi karbon yang mengalami tekanan dan suhu luar biasa akhirnya berubah menjadi berlian. Itulah yang dikehendaki Tuhan terhadapmu, Nduk… Tuhan ingin agar engkau menjadi manusia yang indah dan kuat, dan dengan kekuatan dan keindahan anugrah-Nya itulah kelak kamu akan membawa dunia menjadi lebih baik lagi…”

    Dia masih ragu-ragu. “Tapi aku takut pak…aku takut gagal menghadapi problem-problemku…”

    “Nduk, kamu yakin kepada Tuhan kan? Dan mestinya kamu juga pernah mendengar kata-kata-Nya bahwa Dia tidak akan mencoba umatnya melebihi kemampuan umat itu…”, aku mencoba meyakinkannya.

    Dia diam, kelihatan masih bimbang, tapi tangisnya sudah berhenti. “Aku membayangkan hidupku ke depan akan sulit sekali pak. Aku tidak ingin berhenti sekolah hanya karena bapak tidak mampu membiayaiku. Tapi aku belum tahu harus berbuat apa, pak…”

    “Memang jalanmu akan sulit, Nduk, sama dengan bapak dan kita semua. Tapi ayolah…it’s not the end of the world…Coba lihat di sekelilingmu..Berapa banyak anak-anak seusiamu yang juga punya cita-cita tinggi tapi benar-benar tidak mampu mewujudkannya? Berapa banyak di antara mereka yang putus di tengah jalan? Sementara kita, alhamdulillah masih diberi banyak rizki dan kenikmatan. Kamu pintar, IPmu bagus. Kamu bisa mencari beasiswa atau cari kerja part time. Masih banyak hal yang bisa kamu lakukan…Yang penting, marilah kita tetap bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan, termasuk problem ini…”

    Dan lanjutku, “Cobalah lihat dari masa lalumu sampai hari ini, dari masa kecilmu sampai kamu kuliah sekarang ini…Bagian mana dalam hidupmu yang tidak berada dalam lindungan dan limpahan rahmat-Nya?”

    Tiba-tiba dia mengangkat mukanya dan menatapku sambil berkata,”Bersyukurlah kepada Tuhanmu, niscaya Tuhanmu akan menambah nikmat-Nya…”. Dan dia mengatakan kalimat itu sambil tersenyum…

    Dan tiba-tiba lagu It’s My Life-nya Bon Jovi dari kamarnya si Tole seolah menyuntikkan semangat kami berdua. Tiada kata yang terucap dariku atau si Genduk, tapi saling pengertian itu sudah terbangun…Alhamdulillah.

    ***

    Oleh: Lukito Edi Nugroho, 17 Mei 2011

    — cerita ini didedikasikan untuk siapapun yang sedang mengalami problem, kecemasan, ketakutan, dan merasa tidak ada harapan lagi. Yakinlah bahwa harapan itu masih ada. Problem itu adalah latihan untuk membuat kita kuat. Semoga bermanfaat —

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 21 August 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Semua Ada Awalnya 

    Semua Ada Awalnya

    Oleh Yon’s Revolta

    Cobalah jangan menjadi orang sukses, Melainkan berusahalah untuk menjadi orang yang berharga (Einstein)

    ***

    Di depan sebuah masjid…

    Lelaki berjenggot itu nampak serius bekerja. Mengipas-ngipas bara arang dengan beberapa biji jagung muda diatasnya. Dibolak-balik agar merata sambil ditaburi bumbu sesuai pesanan pembeli. Bisa pedas, gurih atau asin. Silakan tinggal memilih saja. Aroma bumbu taburnya bisa kita hirup lezatnya dari dekat.

    Saya kurang tahu tempat tinggal penjual jagung bakar itu di mana. Belum sempat menyapa dan bercerita banyak dengannya. Kapan-kapan kalau diberi kesempatan akan saya ceritakan. Yang saya tahu, sekira sudah sebulan dia berjualan di situ.

    Apa yang menarik dari pemandangan itu.

    Mungkin biasa saja. Tapi mari kita selami lebih dalam lagi tentang fenomena itu. Barangkali, ada keping-keping hikmah yang tersisa. Keping-keping yang bisa kita petik sebagai renungan tentang kehidupan yang kita jalani selama ini.

    Di setiap tempat, apa yang kita lihat, semuanya ternyata bisa menjadi bahan renungan kita. Asalkan kita bisa memandangnya dengan cara yang berbeda. Menelisik lebih dalam atas apa yang kita kita lihat itu. Memang melihatnya tak sekedar dengan dua mata kita, tetapi perlu dengan mata jiwa, mata hati. Dengan begitu, kitapun akan bisa meresapi sampai ke hati pula.

    Hari ini, kita belajar tentang proses.

    Ijinkan saya bertanya. Adakah yang bisa menjamin bahwa orang itu memang punya cita-cita sebagai seorang penjual jagung bakar? Saya sendiri tak yakin. Saya cenderung memandang apa yang dilakukannya sebagai bagian dari proses. Mungkin dia punya cita-cita lebih dalam berbisnis. Hanya saja, sebagai langkah awal, atau bisa juga keterpaksaan karena hanya peluang itu yang ada, maka pekerjaan itu dilakukannya. Bisa jadi begitu.

    Nah, anggap saja apa yang dilakukannya kini kita alami. Kita, mungkin saat ini bekerja belum sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tentu, langkah terindah yang bisa dilakukan adalah mencintai pekerjaan kita. Anggap ini sebagai langkah awal kita untuk meniti karier yang lebih baik dikemudian hari. Sebuah bagian dari proses pencapaian cita-cita dan impian kita.

    Sudah teramat banyak cerita orang-orang yang meniti karier dari awal. Seperti orang yang awalnya penjual koran eceran kemudian menjadi “raja media’. Ya, semua itu ada awalnya. Kata pepatah cinta, ribuan mil dimulai dari satu langkah. Pertanyaannya sekarang, apakah langkah kaki kita telah terayunkan. Ataukah kita masih saja terbayang-bayang akan nikmatnya impian. Hari ini, kita coba untuk beranjak berjalan. Selangkah demi selangkah.

    Bagi yang sudah beranjak jauh, perlu sejenak menengok dan berevaluasi. Saya agak sepakat dengan kata Einstein yang saya kutip di atas. Tepatnya, jangan melulu untuk berambisi menjadi orang sukses. Tapi berusaha untuk menjadi manusia yang berharga, manusia yang mempunyai kemanfaatan tak hanya bagi dirinya sendiri, tapi bagi orang lain.

    Bagi seorang muslim, tentu paham di mana keberadaan manusia dimuka bumi ini memang ditentukan sejauhmana dia bermanfaat bagi orang lain. Kalau hanya mengejar sukses pribadi, tentu kurang afdhol.

    Khusus bagi yang sedang melangkahkan sejengkal demi sejengkal kaki meraih capaian puncak, ada baiknya kita ingat pesan Rasulullah Muhammad SAW “Berharaplah dengan kebaikan, pasti kalian akan mendapatkannya”.

    Ya, ini awalan bagi kita untuk menggapai puncak yang baik, halal, diridhoi Allah SWT, dan tentunya setelahnya tak hanya kita yang menikmatinya. Tetapi juga bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Semoga, kita bisa melakukannya.

    ***

    (yr)

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 20 August 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Aku Menangis untuk Adikku 

    Aku Menangis untuk Adikku

    Penulis : Ratu Karitasurya

    Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orangtuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

    Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatan membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

    “Siapa yang mencuri uang itu?” beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara.

    Ayah tidak mendengar siapapun mengaku, jadi beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”

    Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya! ”

    Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marah, sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai beliau kehabisan nafas.

    Sesudahnya, beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

    Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

    Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

    Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.

    Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Aku mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik. Hasil yang begitu baik.”

    Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

    Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, saya telah cukup membaca banyak buku.”

    Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti ayah mesti mengemis di jalanan, ayah akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang.

    Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak. Aku berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau tidak, ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

    Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku, “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimmu uang.”

    Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

    Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga di universitas.

    Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!” Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?

    Aku berjalan keluar dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kalau kamu adalah adikku?”

    Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu? ”

    Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apapun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. ”

    Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”

    Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

    Kali pertama aku pulang ke rumah setelah menghadiri undangan pernikahan seorang teman, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!”

    Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.”

    Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” aku menanyakannya.

    “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Di tengah kalimat itu ia berhenti.

    Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

    Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Seringkali suamiku dan aku mengundang orangtuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, dia mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

    Saat Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

    Suatu hari, ketika adikku sedang di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ia mendapat sengatan listrik, lalu masuk rumah sakit.

    Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

    Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

    Mata suamiku dipenuhi air mata. Kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”

    Lalu ia berkata, “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

    Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?”

    Tanpa berpikir, ia menjawab, “Kakak saya.”

    Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, sekolah kami ada di dusun yang berbeda. Setiap hari kakak dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Sedangkan ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

    Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.”

    Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

    ***

    Diterjemahkan dari “I Cried for My Brother Six Times”

     
    • ahmadanoval 2:51 pm on 22 Agustus 2011 Permalink

      kasian ntuh orang tua ngga nyadar bahwa agama mengajarkan kita untuk menjaga niat ucapan dan perbuatan agar ketiga2 tetap di dalam kondisi berbuat baik…..sayang niat nya baik, ucapannya tdk baik, dan perbuatannya tdk baik….ingat pak…masing2 dari kita akan diminta pertangungjawaban atas setiap perbuatannya masing-masing maksudnya sendiri2 pak……smoga orang tua macam itu sudah tdk ada lagi didunia……amiiiiiin.dan untuk sang kakak angkatlah derajat adik mu…jangan menunggu dia meminta…kasih dia melebihi apa yang dipikirkannya……amiiiin

    • wempy 11:40 pm on 11 Desember 2011 Permalink

      ahmadanoval; bisanya cuma ngehakimin aja dgo

  • erva kurniawan 1:50 am on 17 August 2011 Permalink | Balas  

    Berkah Sedekah “Buntut Singkong” 

    Berkah Sedekah “Buntut Singkong”

    Di ujung gang sebuah pasar, mangkallah seorang penjual singkong goreng (gorengan) yang setiap hari berjualan dengan penuh suka cita demi menghidupi anak dan istri tercinta.

    Pada suatu hari, datang seorang anak kecil entah dari mana asalnya. si anak berdiri di sisi gerobak kesayangan pak Singkong (sebut saja begitu) sambil memandangi gorengan panas yang baru di angkat dari penggorengan mendidih. Anak itu mengamati Pak Singkong sambil menggigiti jari telunjuknya. Selintas Pak Singkong memperhatikan dan bertanya, “Kamu mau..?” tanpa bersuara, si Anak Singkong (sebut saja begitu) mengangguk, tersungging sedikit senyum gembira penuh harap.

    Terlintas begitu saja, Pak Singkong langsung bereaksi. Ia mengambil ujung paling kecil dari potongan singkong yang tidak terjual dan langsung menceburkannya ke minyak mendidih. Lumayan, dari pada terbuang sia-sia, karena tidak ada yang mau membeli gorengan buntut singkong. Dengan penuh kegembiraan, si Anak singkong melahap buntut singkong goreng gratis dari Pak Singkong.

    Demikianlah, hal itu terulang setiap hari. Sampai pada hari keempat, Pak Singkong tidak lagi kedatangan tamu kehormatannya itu. Sampai akhirnya beberapa tahun kemudian ……..

    Dari sebuah mobil yang cukup mewah, turunlah seorang laki-laki muda gagah, perlente kata orang betawi (sebut saja Si Tampan). Dia menghampiri pak Singkong dengan senyum gagah menawan.

    “Gorengan, om?” begitu teguran khas Pak Singkong ke setiap pelanggan yang datang. “Ya, Pak. Tapi saya mau beli buntut singkong,” sambil tetap mempertahankan senyum gagah.

    Sambil tersenyum dan tidak kalah gagah (ukuran Pak Singkong ), Pak Singkong menjawab sekenanya, “Maaf Om…saya tidak jual buntut singkong.”

    Si Tampan tidak kehabisan akal, “Ah…massaaak…” katanya sambil pindah ke posisi kanan gerobak Pak Singkong sambil menggigit jari telunjuknya.

    “Masya Allah…Subhanallah,” sambil melotot terperangah terharu, “Jadi ini kamu,” demikian kata Pak Singkong dengan sedikit terbata.

    “Ya..ini saya, 20 tahun cukup untuk membuat bapak lupa sama saya?” jawab Si tampan.

    Setelah 4 Hari meminta dan makan buntut singkong, si Anak Singkong merasa cukup tenaga untuk melanjutkan hidupnya. Ia bekerja keras untuk pendidikan dan kariernya hingga akhirnya ia berhasil meraih sukses yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

    Singkatnya, sebagai ucapan terimakasih atas segala kebaikan Pak Singkong yang telah memberinya selama 4 hari dengan buntut singkongnya, Si Tampan memberangkatkan haji Pak Singkong, memberinya modal dan mengangkat derajat kehidupannya.

    **

    Demikianlah Allah akan membalas segala kebaikan seseorang yang dilakukannya dengan tulus. Allah memberi rezeki dari tempat yang tak disangka-sangka kepada setiap orang yang dikehendaki-NYA. Demikian balasan Allah atas perbuatan baik dan sedekah seseorang.

    ***

    (sumber cerita dari wisata hati).

     
    • azkaazzahra 2:06 am on 17 Agustus 2011 Permalink

      sedekah memang bisa membeli segalanya.
      salam berbagi kebaikan

    • hendri putra islamia 10:03 pm on 22 Agustus 2011 Permalink

      1.sedekh mmg ahli srga
      sbda nabi”klw ingn brsdkh sdkh kn brng yg plng kmu ska,cntai”

  • erva kurniawan 1:00 am on 14 August 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Puasa Zubaida dan Kutukan Tetangga 

    Setiap Ramadhan, Zubaida Jomaa, 44, berjuang mengajak keluarganya untuk berbuka puasa bersama setidaknya sekali dalam seminggu. Itu dilakukan untuk memberi nuansa Islam di tengah keluarganya. Nuansa Islam, di tengah kehidupan negeri tanggo Brasil, adalah sesuatu yang mahal.

    Dengan mayoritas penduduknya beragama Katolik, pemeluk agama Islam di sana tidak menonjol. “Saya ingin melihat keluarga saya duduk bersama selama bulan suci,” ujar Zubaida, seperti ditulis Islamonline.net.

    Meskipun hidup dalam masyarakat barat, wanita muslim itu ingin mengajarkan anak-anaknya arti puasa selama bulan Ramadhan. Dia menjelaskan, anak-anaknya sudah belajar berpuasa sejak umur sembilan tahun. Saat itu, banyak tetangga Zubaida yang mengutuk karena membiarkan anak kecil berpuasa. “Tapi saya tahu apa yang saya lakukan sesuai agama Allah dan itu baik untuk menanamkan nilai Islam kepada anak saya,” tegas dia.

    Selama Ramadhan, seperti Muslim di belahan bumi lain, Muslim di Brazil mendedikasikan waktu mereka untuk menjadi lebih dekat kepada Allah. Mereka lebih banyak berdoa, menahan diri dari hawa nafsu, dan melakukan perbuatan baik. Momentum Ramadhan juga dipergunakan untuk mempelajari Alquran yang mulia. “Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan berkah dalam kehidupan Muslim manapun di seluruh dunia,” kata Zubaida.

    Menurut sensus 2001, ada 27.239 Muslim di Brasil. Namun, Federasi Islam Brasil menempatkan angka pada sekitar satu setengah juta. Mayoritas Muslim adalah imigran keturunan Suriah, Palestina, dan Lebanon yang menetap di Brasil pada abad kesembilan belas selama Perang Dunia I dan pada 1970-an. Sebagian besar muslim tinggal di negara bagian Parana, Goias, Riod de Janeiro dan Sao Paulo. Ada juga jumlah masyarakat Muslim yang signifikan di Mato Grosso do Sul dan Rio Grande do Sul.

    Muslim di Brasil masih kesulitan dalam mengajarkan Islam kepada anak-anaknya. Salah satu contohnya, orangtua umumnya sulit mengajar anak-anak mereka untuk berpuasa selama bulan suci. Hal itu karena masih banyak masyarakat Brazil yang tidak mengerti ajaran agama Islam. “Banyak orang yang mengkritik dan menuduh yang tidak baik kepada keluarga saya, karena mereka tidak mengerti,” ujar Zubaidah.

    Akan tetapi, dia selalu mengajarkan bahwa Ramadhan adalah saat refleksi. Muslim merasa murni dari kotoran dan berpuasa menjadikan Muslim bersikap lebih baik. “Saya senang melihat anak-anak saya berpikir tentang makna Ramadhan yang sama,” tutup Zubaida.

    ***

    By Republika

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 12 August 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Puasa Mengharukan Si Penyapu Jalan 

    By Republika

    Hidup adalah perjuangan. Kata itu tampaknya cocok disematkan untuk Rusdijah (45). Betapa tidak, ibu beranak lima ini berjuang keras tiap hari demi bertahan hidup di tengah kerasnya kota Jakarta. Suaminya pengidap darah tinggi yang telah wafat lima tahun silam akibat terpeleset dari kamar mandi, membuatnya kian ikhlas menjalani hidup sebagai orang tua tunggal.

    Rusdijah ialah satu dari sekian banyak perempuan yang berprofesi sebagai petugas kebersihan di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. “Saya sudah lima tahun kerja ini,” ujar Rusdijah saat ditemui di Lapangan Banteng. Rusdijah mengaku, di bulan Ramadhan ini cukup sulit menjalani dua aktivitas sekaligus, berpuasa dan membersihkan lapangan. Namun hebatnya, ibu ini tetap menomorsatukan ibadah puasanya. “Capek, haus. Tapi bagaimana, puasa kan juga kewajiban,” tuturnya.

    Selain pengorbanannya yang total pada pekerjaannya itu, rupanya kisah hidup Rusdijah pun cukup memprihatinkan. “Waktu itu rumah saya kebakaran di Kwitang,” ucap Ibu yang akrab disapa Ijah ini mengawali ceritanya. Usai insiden kebakaran yang menghanguskan rumah lengkap dengan seluruh perabotannya, Ijah pindah ke Citayam. “Nggak ada satu pun barang yang tersisa,” ujarnya. Kebakaran itu, menurut dia, terjadi karena hubungan pendek arus listrik. Kebakaran itu cukup memilukan hatinya hingga kini.

    Ternyata cobaan tak berhenti sampai disitu. Selang beberapa bulan ia dan keluarga pindah ke Citayam, suaminya pengidap darah tinggi terpeleset di kamar mandi. Tak lama, sang pencari nafkah itu pun dipanggil Sang Khaliq tuk selama-lamanya. “Masih sedih kalau ingat itu,” katanya.

    Dua cobaan sudah yang telah menimpa ibu pemilik empat anak lelaki dan satu anak perempuan ini. Tetapi, Ijah tidak menyerah sedikit pun. Ia bertekad untuk melanjutkan hidupnya kembali. Sedahsyat apa pun badai menghantam. “Meski susah, hidupkan harus dilanjutkan,” ujarnya.

    Ia pun memutuskan untuk menjadi petugas kebersihan. Anak-anaknya yang lain pun giat mencari kerja. Sayangnya, dua anaknya jarang pulang. Anak perempuan satu-satunya, Riska (12) pun tak tega melihat ibunya bekerja sendiri. “Riska minta izin mau jadi tukang koran,” ungkapnya. Di lubuk hati Ijah, ia tak tega membiarkan anaknya yang waktu itu masih kelas IV SD untuk berjualan. “Ternyata Riska nggak nyerah. Dia bener-bener jadi tukang koran sama abangnya keempat,” paparnya.

    Di tengah morat-marit hidup Ijah dan keluarganya, ia pun harus menelan pil pahit lagi. Anaknya yang ketiga wafat karena sakit. “Lagi-lagi saya kehilangan,” tuturnya memilukan. Ijah pun kembali bangkit. Anak perempuannya itu rupanya yang memberinya kekuatan untuk bertahan. “Riska yang buat saya kuat hadapi hidup. Dia nggak pernah nangis dikatain teman-temannya tukang koran,” paparnya.

    Ijah pun mengakui, ternyata putri bungsunya tersebut cerdas meski memiliki kenangan memilukan. “Dulu dia nggak mau masuk sekolah. Saya nggak tahu kenapa. Astaghfirullah, saya kesal, saya tampar dia,” sesalnya. Ternyata, selang beberapa lama Riska mengakui ia tidak mau masuk sekolah lantaran takut dan trauma. “Ternyata, itu anak digertak sama kepala sekolahnya. Dikatain goblok dan bego. Ya Allah, nggak tau apa itu anak yatim,” ujar Ijah.

    Akhirnya, Ijah pun menyelidiki kenapa anaknya digertak dan dikatai dengan ucapan tak senonoh itu. “Waktu itu, anak saya ditanyain pas lagi jualan kenapa nggak sekolah. Anak saya keceplosan ‘Biar sekolah gratis tapi kan bukunya bayar’ gitu kata Riska. Eh, nggak lama itu sekolah didatangi orang DKI. Riska dianggap sumber tercemarnya nama sekolah. Dari situ saya dipaksa buat ngeluarin Riska dari sekolah,” paparnya. Namun demikian, Riska tak sedih atau pun muram usai digertak kepala sekolah tersebut. Ia hanya mogok sekolah karena trauma.

    Ijah kini hidup bahagia dengan putrinya yang kerap mengerjakan PR di kereta dan sering tertidur hingga Bojong karena saking lelahnya. “Riska tiap hari bangun pukul 04.00 pagi. Dia berangkat kan naik kereta. Dagang dulu, baru sekolah di SMPN 273 Tanah Abang. Pulang sekolah, dia dagang lagi. Uangnya nggak pernah dijajanin. Buat saya semua. Alhamdulilah, guru-gurunya bilang Riska pintar,” tutupnya penuh haru.

    ***

    Naskah: Ina Febriani/irf

    Foto: Republika/Musiron

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 11 August 2011 Permalink | Balas  

    Tarawih dengan Langit Terang di Alaska 

    By Republika

    Terletak paling utara benua Amerika dan lebih dekat dengan benua Artik membuat Alaska identik dengan musim dingin berkepanjangan. Namun, dibalik dinginnya Alaska tersimpan satu hal yang begitu menghangatkan yakni keberadaan komunitas muslim di kawasan itu. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi cukup menggambarkan betapa Islam mulai diterima dan diakui.

    Berbeda dengan saudara-saudaranya dibelahan dunia lain, komunitas muslim di Alaska memiliki perbedaan yang unik saat melaksanakan kewajibannya sebagai muslim. Khusus bulan ramadhan misalnya, muslim di Alaska melakukan sholat tarawih pada saat matahari masih bersinar terang, karena jarak antara matahari terbit dan terbenam sangat panjang pada musim panas.

    Dua Muslimah Indonesia, Amalia dan Nila, yang menetap di Anchorage, Alaska, menuturkan tantangan berpuasa di kawasan kutub itu, yakni kejanggalan alam sewaktu bertarawih dan bagaimana mendidik anak untuk menjalankan puasa di tengah lingkungan masyarakat yang mayoritas non-Muslim.

    Amalia baru saja pindah dari Las Vegas ke Anchorage, Alaska, dan puasa tahun ini merupakan yang kedua bagi dia dan keluarga. Awalnya, Amalia merasa janggal bertarawih di ‘siang bolong’.

    “Langit masih terang-terang kita udah bersolat Isya, karena faktanya memang begitu. Tetapi, kalau menunggu matahari benar-benar tenggelam nggak kuat juga walaupun sejuk karena terlalu lama, lebih dari 14 jam,“ ungkapnya seperti dikutip dari voanews.com, Senin, (23/8).

    Nila menuturkan pengalaman lain. Dia mengasuh bayinya yang baru lahir dan pada saat yang sama mendidik anaknya yang berusia lima tahun untuk berpuasa. “Memang sih susah di sini. Tetapi saya enjoy tiap tahun bersama anak saya yang pertama. Selalu saya bilang, kalau kamu puasa kamu dapat hadiah. Saya juga memiliki anak bayi, dia juga ikut bangun, tetapi saya tidak merasa terlalu repot. Saya tidak merasa capek atau malas untuk bangun,”kata Nila.

    Amalia dan Nila mengatakan, warga Muslim Indonesia di Alaska sudah diberitahu oleh sebuah lembaga Islam di Amerika agar mereka mengikuti jadwal puasa yang ditetapkan Mekah.

    ***

    voanews.com, Agung Sasongko, Ajeng Ritzki Pitakasari

     
    • yadi 5:00 pm on 16 Agustus 2011 Permalink

      saya akan berkunjung ke Alaska tahun 2012!

  • erva kurniawan 1:04 am on 5 August 2011 Permalink | Balas  

    Berpuasa di Kota Tianjin, Cina 

    Nurseffi Dwi Wahyuni – detikRamadan

    Jakarta – Bulan Ramadan 1431 H kali ini terasa berbeda bagi saya karena harus melaksanakan ibadah puasa pertama di kota Tianjin, Cina. Ini merupakan pengalaman pertama saya berpuasa di negeri orang.

    Menjalankan puasa di negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim, tentu saja memiliki keunikan tersendiri. Jangan harap akan ada toleransi terhadap orang-orang yang menjalankan ibadah puasa seperti di Indonesia. Aktivitas selama bulan Ramadan di sini, sama saja seperti bulan-bulan biasanya.

    Di sini, saya juga tidak mendengar suara adzan untuk menunjukkan waktu imsak, salat dan berbuka puasa. Karena itu, saya harus rajin melihat dan memperhatikan posisi matahari untuk menentukan waktu-waktu tersebut.

    Apalagi saat ini di China sedang musim panas sehingga suhu cuaca di sini sangat panas dan bisa mencapai 30 derajat celcius. Pada musim panas, waktu siang juga lebih panjang dari waktu malam,  sehingga secara otomatis puasa yang saya jalani juga lebih lama beberapa jam dibanding saat saya berpuasa di Indonesia.

    Jika biasanya di Jakarta  pukul 18.00 WIB  matahari sudah mulai tenggelam,maka kali ini di Cina masih terang benderang. Karena itu, pada puasa pertama kemarin, saya baru berbuka pukul 8 malam waktu Cina.

    Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah soal makanan. Kita harus berhati-hati saat memilih makanan karena belum tentu makanan yang dijual adalah makanan yang halal bagi umat muslim.

    Setidaknya kita harus bisa sedikit berbahasa Mandarin untuk bertanya apakah makanan yang kita beli itu halal atau tidak. Karena setelah saya pergi ke beberapa toko di kota ini, sebagian besar dari pegawai mereka tidak mengerti bahasa Inggris.

    Kalau mau aman, carilah rumah makan khusus muslim yang tersebar di Tianjin, atau bisa juga belanja di supermarket lalu memasaknya sendiri. Tapi meski bagaimanapun, memang lebih enak puasa di negeri sendiri.

    Tianjin, 12 Agustus 2010

    ***

    Nurseffi Wahyuni

    ramadan.detik.com/read/2010/08/13/071321/1419408/630/berpuasa-di-kota-tianjin-cina

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 17 July 2011 Permalink | Balas  

    4 Orang Istri 

    4 Orang Istri

    Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 orang istri.

    Dia mencintai istri yang keempat, dan menganugerahinya harta dan kesenangan yang banyak. Sebab, dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik buat istri keempatnya ini.

    Pedagang itu juga mencintai istrinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya ini, dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita ini kepada semua temannya. Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang lain.

    Begitu juga dengan istri yang kedua. Ia pun sangat menyukainya. Ia adalah istri yang sabar dan pengertian. Kapanpun pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan istrinya ini. Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa yang sulit.

    Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dia lah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sangsuami. Akan tetapi, sang pedagang, tak begitu mencintainya. Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun, pedagang ini tak begitu mempedulikannya.

    Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan segera meninggal. Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati. “Saat ini, aku punya 4 orang istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri.”

    Lalu, ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada istri keempatnya. “Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku? Ia terdiam. “Tentu saja tidak, “jawab istri keempat, dan pergi begitu saja tanpa berkata-kata lagi.

    Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan, ada pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya.

    Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga. “Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku? Istrinya menjawab, Hidup begitu indah disini. Aku akan menikah lagi jika kau mati. Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. Badannya mulai merasa demam.

    Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. “Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku? Sang istri menjawab pelan. “Maafkan aku,” ujarnya “Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu. Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang kini merasa putus asa.

    Tiba-tiba terdengar sebuah suara. “Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu. Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku.”

    Renungan :

    Teman, sesungguhnya kita punya 4 orang istri dalam hidup ini. Istri yang keempat, adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya.

    Istri yang ketiga, adalah status sosial dan kekayaan. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya.

    Sedangkan istri yang kedua, adalah kerabat dan teman-teman. Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.

    Dan, teman, sesungguhnya, istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita. Mungkin, kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita di akhirat kelak.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • venny 1:10 pm on 9 Agustus 2011 Permalink

      Subhanallah…bagus bngt artikelna,..terharu bngt baca na,..

      Terimakasih y,..

    • nur.lita 12:52 am on 19 Maret 2012 Permalink

      bagus sangat, meotivasi hidup kita

  • erva kurniawan 1:52 am on 4 July 2011 Permalink | Balas  

    Abid dan Alim 

    Abid dan Alim

    Suatu ketika Syetan mendatangi seorang Abid dan Alim. Si Abid seorang ahli ibadah tapi tidak memiliki ilmu yang cukup, sedangkan Si Alim selain rajin beribadah juga memiliki ilmu yang baik.

    Syetan bertanya kepada Abid, “Untuk apa kau baeribadah?”

    “Karena dengan ibadah aku akan mendapatkan surga-NYa dan tidak akan dimasukkan ke neraka-NYa.” Jawab Si Abid.

    “Bukankah Allah menciptakan surga seluas langit dan bumi?” Tanya syetan.

    ”Ya”, jawab Abid.

    “Lalu dimanakah Allah tempatkan neraka, jika surga itu seluas langit dan bumi?” Si Abid bingung, terpaku dan tak berkutik dengan jawaban tersebut.

    “Kalau begitu, Allah Cuma menciptakan surga saja, maka beribadah maupun tidak ia akan ke surga karena tidak ada tempat lain, kecuali surga. Untuk apa beribadah kalau nanti semuanya akan masuk surga?”Abid semakin bingun dan melemahlah imannya. Syetanpun tertawa karena jebakanya membawa hasil.

    Selanjutnya syetan mendatangi si Alim dan berkata sama seperti yang dikatakan kepada si Abid. Dengan tenang Si Alim menjawab “Bukankah setiap yang Allah ciptakan itu berpasang pasangan?”.

    “Lalu dimanakah Allah menempatkan neraka, sedang surga itu seluas langit dan bumi?” Tanya syetan baerusaha mempengaruhi Si Alim.“

    “Walahu ala kulli syai’in qadir. Dia mampu melakukan apa yang dia mau. Kalau dia menciptakan surga seluas langit dan bumi, dia pun akan menciptakan neraka seluas langit dan bumi pula. Dimana penempatannya, itu kekuasaan Allah,” jelas Si Alim. Syetanpun tak berdaya dengan jawaban tersebut.

    ***

    Rekan rekan sekalian, terlepas dari shohih atau tidaknya cerita tersebut, ada beberapa pelajaran menarik yang bisa kita ambil.

    Pertama, betapa pentingnya sebuah ilmu. Betapa pentingnya sebuah pemahaman yang benar. Betapa pentingnya memahami islam secara utuh, integral tidak sebagian ( parsial ). Iman, ilmu, Amal demikian hendaknya. Banyak sekali Hadist Rosulullah ataupun sahabat yang mengatakan demikian.

    Rosulullah bersabda “Satu orang fakih itu lebih berat bagi syetan daripada seribu ahli ibadah.” ( HR Tirmidzi : 5/46, No : 2681 ).

    Umar Bin Khatab Ra berkata “Kematian seribu ahli ibadah yang selalu shalat diwaktu malam dan berpuasa diwaktu siang lebih ringan daripada kematian orang cerdas yang mengetahui hal hal yang dihalalkan dan diharamklan oleh Allah” ( Jami’ul Bayanil “ilmi wa Fadlili, oleh Ibnu Abdil Bar : 1/26.

    Rosullah bersabda “Semoga Allah memberi kecerahan pada wajah seseorang yang mendengar pembicaraaan dariku, lantas ia menghafalkannya hingga dapat menyampaikan kepada orang lain. Sebab terkadang seseorang membawa suatu kepahaman ( ilmu ) kepada orang yang lebih paham daripadanya” ( HR Abu Dawud : 3/321, No 3660 dan At Tirmidzi 5/33 No. 2656.)

    Masih banyak hadist lain yang membahas tentang kelebihan sebuah ilmu dan pemahaman yang benar. Tidak mengherankan jika dalam sejarah kita lihat, Ibnu Abbas yang usianya masih sangat muda, dimasukkan sebagai salah satu anggota Majelis Syuro Amirul Mukminin Umar bin Khathab ra, karena kelebihan yang diberikan oleh ALLAH dengan pemahamannya.

    Kedua, tidak semua hal dalam agama ini bisa dijangkau oleh akal kita. Akal yang lemah ini. Menggantungkan semua hal dengan akal tersesatlah kita.Jika pertanyaan seperti yang ditanyakan Syetan diatas, dijawab dengan akal dengan ukuran dunia, tentunya akal kita akan kebingungan sendiri, karena memang tidak terjangkau. Oleh karena itu Selain mentauhidkan ALLAH dengan tulus tanpa keraguan, juga harus mengenal ALLAH secara yakin bukan hanya pengenalan intelektual saja. Jika sebuah Hadist itu shohih, Yakini, saja. Jika ditanya mengapa sholat Subuh yang baru bangun pagi 2 Raka’at, sholat Dhuhur yang sudah lelah bekerja kok malah 4 Roka’at, cukup dijawab saja “Itu yang Allah perintahkan”, titik.

    Pertanyaan pertanyaan seperti yang ditanyakan syetan diatas, sering kali terdengar dan dilontarkan oleh orang orang yang hanya mengagungkan akalnya. Salah satu dari hal ini bisa kita lihat beberapa waktu berselang, beberapa mahasiswa IAIN SGD Bandung, memasang spanduk “Wilayah Bebas Tuhan” dalam kegiatan kemahasiswaan, atau seseorang dengan tenangnya memakai kaos jaringan kafir liberal (JAKAR), atau bahkan seorang dosen yang menakwilkan Al Qur’an secara serampangan sehingga membolehkan menginjak lafal Qur’an.

    Banyak contoh dari para sahabat untuk menyikapi hal hal demikian. Bahkan saking hati hatinya Para Sabat, tabi’in atau tabi’it Tabi’in,banyak diantara meraka yang tidak mau menyibukkan diri dengan pembicaraaan yang amal tidak dibangun diatasnya. Umar Bin Khathab pernah menegur Shabigh karena sering menyibukkan diri dan bertanya kepada orang tentang beberap hal dari Al Qur’an yang tidak terkait dengan hukum taklifi (aplikatif) bahkan umar memberikan pelajaran kepadanya karena kebiasaan tersebut.

    Apa jadinya jika kita menyibukan diri bahkan berbantahan tentang bagaimana sholat di Bulan sementara, kebulan saja tidak pernah?

    Banyak orang menyia nyiakan waktu dalam memperdebatkan yang bersifat teori namun tidak membuahkan amal nyata kecuali menghabisklan suara, menumbuhkan kebencian dsb. Jika ada seseorang menanyakan tentang zat ALLAh cukup saja dijawab, sesuai petunjuk nabi “Berpikirlah tentang ciptaan Allah dan jangan berpikir tentang zat Allah, karena kalian tidak akan mampu mengetahui hakekatnya.”

    Semoga bermanfaat, mohon maaf jika ada kesalahan.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 2 July 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Penundaan 

    Penundaan

    Terdengar kabar bahwa si Setan mau pensiun. Kata kabar, dia punya tiga anak. Terjadilah persaingan berat mengenai siapa yang berhak menggantikan kedudukan sang Ayah. Sehingga, Setan harus mengumpulkan tiga anaknya untuk menjalani fit and proper test.

    “Kalau kamu yang aku pilih, apa agendamu dalam menjalankan tugas menggoda manusia-manusia lemah di muka bumi?” tanya si Setan pada anaknya yang tertua.

    “Begini, Pap, aku akan beritahukan mereka bahwa tidak ada kehidupan akhirat dan tidak ada kehidupan setelah kematian. Bahwa satu-satunya kebenaran adalah kehidupan ini sendiri, maka ayolah makan, minum, nge-sek-nge-sek, nanti waktunya mati ya mati aja.”

    “No, no, no, kalau itu agendamu nggak akan berhasil,” sergah si Setan sambil geleng-geleng kepalanya.

    “Sumpeh loh?” tanya anak Setan yang tertua itu lagi. (Namanya aja setan, jadi tidak kenal sopan santun sama orang tuanya).

    “Di bumi sana sudah terlalu banyak calo dan agen-agen Tuhan yang sudah mencuci otak manusia sejak berabad-abad. Mereka bilang ada sorga, ada neraka, ada reward and ada punishment. Mereka terlalu banyak dan nggak akan dengerin pogram kamu. Kamu pasti kalah and gagal. Sorry Nak, aku nggak bisa kasih kekuasaanku ama kamu.”

    Giliran anaknya kedua yang ditanya, “Kalau kamu yang gantiin kedudukanku, apa agenda kerjamu?” Sambil mengabaikan putra pertamanya yang sudah tereleminasi.

    “Hhhmm, Aku tidak hanya akan cukup memberitahu bahwa tidak ada surga, tidak ada neraka, dan tidak ada kehidupan akhirat, tapi lebih dari itu, aku akan berusaha meyakinkan-nya, tidak perlu takut.Hayo, kalau mau leha-leha, mau sakau, mau judi, ayo, tidak usah takut, silahkan!” Penuh semangat, dengan gaya mirip para nggota parlemen yang sedang mencari dukungan rakyat bergaya seolah-olah sedang di hadapan audience.

    “Kamu akan ‘berusaha meyakinkan’, berarti kamu belum yakin agendamu itu bisa jalan. Kamu gak pede, ah. Tidak, aku tidak akan kasih kekuasaanku kepada yang nggak pede. Kalau kamu ngomong begitu, sama saja dengan memberi peluang dan kebebasan, justru ini akan bikin mereka bosan dan muak, malah ujungnya mereka akan sadar.”

    Sambil mengabaikan lagi yang sudah tereleminasi, si Setan mengarahkan dirinya ke putra ketiganya yang pedenya oke, sangat meyakinkan, “Kamu putraku yang terakhir, kalau agendamu juga nggak jelas, terpaksa aku nggak jadi pensiun, biarin aku akan jalankan tugas ini sampai mati.”

    “Nggak perlu sampai Papi mati, aku siap dan sanggup kok. Begini Pap, aku akan bilang pada manusia, sorga itu ada, neraka juga ada, reward ada punishment juga pasti, tapi apa gunya mikirin surga dan neraka, reward juga punishment, NANTI ajalah. Nikmati aja dulu hidup ini, nanti kalau sudah berumur, atau kalau hidup kamu sudah benar-benar mapan and bisa ngejamin cucu-cucu dan cicit-cit, baru deh mulai pikirin itu”

    “Hahaha, smart! Penundaan ! Kita buanget tuh! Kamu akan mengharumkan namaku, kamu pasti sukses. Sekarang juga ambillah kekuasanku dan mulailah bekerja.

    ***

    Sumber Tulisan Oleh : Abi Maulana (GET REAL Maka Hidup Ini Menakjubkan! Penerbit Gagas Media, Cetakan pertama, 2007)

     
  • erva kurniawan 2:15 am on 24 June 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Mengapa Kita Membaca Al-Qur’an, Meskipun Kita Tak Mengerti Satupun Kata Bahasa Arab 

    Mengapa Kita Membaca Al-Qur’an, Meskipun Kita Tak Mengerti Satupun Kata Bahasa Arab

    Seorang muslim tua Amerika tinggal di sebuah perkebunan/area di sebelah timur Pegunungan Kentucky bersama cucu laki-lakinya. Setiap pagi Sang kakek bangun pagi dan duduk dekat perapian membaca Al-qur’an. Sang cucu ingin menjadi seperti kakeknya dan memcoba menirunya seperti yang disaksikannya setiap hari.

    Suatu hari ia bertanya pada kakeknya, “Kakek, aku coba membaca Al-Qur’an sepertimu tapi aku tak bisa memahaminya, dan walaupun ada sedikit yang aku pahami segera aku lupa begitu aku selesai membaca dan menutupnya. Jadi apa gunanya membaca Al-quran jika tak memahami artinya?”

    Sang kakek dengan tenang sambil meletakkan batu-batu di perapian, menjawab pertanyaan sang cucu, “Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku kembali dengan sekeranjang air.”

    Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tetapi semua air yang dibawa habis sebelum dia sampai di rumah.

    Kakeknya tertawa dan berkata, “Kamu harus berusaha lebih cepat lain kali”. Kakek itu meminta cucunya untuk kembali ke sungai bersama keranjangnya untuk mencoba lagi. Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum sampai di rumah. Dengan terengah-engah dia mengatakan kepada kakeknya, tidak mungkin membawa sekeranjang air dan dia pergi untuk mencari sebuah ember untuk menggati keranjangnya.

    Kakeknya mengatakan, “Aku tidak ingin seember air, aku ingin sekeranjang air. Kamu harus mencoba lagi lebih keras. ” Dan dia pergi ke luar untuk menyaksikan cucunya mencoba lagi. Pada saat itu, anak itu tahu bahwa hal ini tidak mungkin, tapi dia ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa meskipun dia berlari secepat mungkin, air tetap akan habis sebelum sampai di rumah. Anak itu kembali mengambil / mencelupkan keranjangnya ke sungai dan kemudian berusaha berlari secepat mungkin, tapi ketika sampai di depan kakeknya, keranjang itu kosong lagi. Dengan terengah-engah, ia berkata, “Kakek, ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja”.

    Sang kakek menjawab, “Nak, mengapa kamu berpikir ini tak ada gunanya? Coba lihat dan perhatikan baik-baik keranjang itu.”

    Anak itu memperhatikan keranjangnya dan baru ia menyadari bahwa keranjangnya nampak sangat berbeda. Keranjang itu telah berubah dari sebuah keranjang batu yang kotor, dan sekarang menjadi sebuah keranjang yang bersih, luar dan dalam.

    “Cucuku, apa yang terhadi ketika kamu membaca Qur’an? Boleh jadi kamu tidak mengerti ataupun tak memahami sama sekali, tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu menyadari kamu akan berubah, luar dan dalam. Itulah pekerjaan Allah dalam mengubah kehidupan kamu.”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • asax 12:45 pm on 28 Juni 2011 Permalink

      terima kasih.

    • venny 1:20 pm on 9 Agustus 2011 Permalink

      Subhanallah,..bikin nangis ni ceritana,..

      Semoga Allah melimpahkan rahmat Nya kepada saudara atas tulisan2 ini,.aamiin2

    • susi 8:52 am on 25 Juli 2012 Permalink

      assalamu’alaikum… izin copas ya. terima kasih

  • erva kurniawan 1:40 am on 10 June 2011 Permalink | Balas  

    Hidayah pada Secarik Kertas 

    Hidayah pada Secarik Kertas

    Oleh Muhammad Faaiz Hidayatullah

    Iqra… Iqra… Iqra… Begitu bunyi suara yang membisiki telinga saya dalam mimpi. Bisikan misterius itu mengingatkan saya pada kisah Nabi saat mendapat wahyu pertama di Gua Hira. Saya tidak menganggap mimpi itu sekadar kembang tidur yang melenakan. Itulah awal saat saya menangkap cahaya Islam. Dan secarik kertas bertuliskan ‘Islam Agama Hakiki’, kian menguatkan tekad saya untuk memilih Islam sebagai panduan hidup.

    Nama asli saya Christian Gustav, sedangkan nama hijrah saya adalah Muhammad Faaiz Hidayatullah. Saya lahir dan dibesarkan oleh orangtua dalam lingkungan keluarga Katolik yang taat dari SD hingga SMP, saya mengecap pendidikan di sekolah Katolik. Hanya di SMEA saja, saya sekolah umum yang sebagian besar siswa dan gurunya beragama Islam. Di situ, saya mulai mengenal Islam dari teman-teman maupun dari sebagian guru. Selain beiajar, kebetulan saya mengikuti kegiatan ekstra kurikuler, termasuk aktif di teater.

    Sejak itu, saya mulai mencintai dunia puisi. Entah bagaimana, hati saya tertarik pada Islam. Saya sendiri tidak tahu, apakah ini yang disebut hidayah atau bukan. Yang pasti, ada sesuatu yang mendorong saya untuk mencoba menggali dan mengenai Islam lebih dekat lagi.

    Waktu saya kelas II SMEA Tridaya, Jakarta Timur, pada suatu malam saya bermimpi pulang dari gereja, lalu masuk kamar. Di kamar, saya melihat sebuah. Al-Qur’an terletak di atas meja. Mulanya saya bertanya-tanya, ini kitab apa. Rasa ingin tahu mendorong saya membuka-buka isi kitab tersebut. Setelah saya lihat bacaannya, temyata berbeda dengan kitab suci yang biasa saya baca.

    Anehnya lagi, dalam mimpi itu saya mendengar suara entah dari mana datangnya, seperti hendak menuntun saya untuk membacanya. “Sudah, baca saja.” Meski saya katakan, “Saya tidak bisa baca.” Suara misterius itu terus mendesak saya untuk membacanya. Setelah dituntun, akhirnya saya pun membacanya. Pokoknya, saya seperti qari atau orang yang sedang mengaji, yang melantunkan ayat-ayat suci dengan lagunya. Padahal, jujur, jangankan membaca, apalagi melantunkannya dengan lagu, mengenal huruf Arab saja, saya tidak mampu.

    Begitu saya terbangun, saya tersadar bahwa itu hanya mimpi. Tapi mimpi yang bukan sembarang mimpi. Mimpi itu telah membuat sekujur tubuh saya berkeringat dingin, membuat hati saya cemas, tak nyaman, jadi pikiran, dan selalu bertanya-tanya dalam batin. Hingga akhirnya saya berdo’a dengan cara agama yang saya anut. Dalam hati saya berkata, kalau memang ini panggilan suci, saya siap mengikutinya.

    Keesokan harinya, saya curhat habis pada guru agama di sekolah. Lucunya, guru yang pertama kali saya curhat adalah guru agama Islam, yaitu Pak Masduki, baru kemudian guru agama Katotik. Pak Masduki sendiri sebetulnya tahu, bahwa saya menganut agama Katolik. Kedua guru itu begitu tulus mendengar segala kisah mimpi saya yang mencemaskan dan mendebarkan tersebut. Tapi masing-masing guru agama itu memberikan penjelasan yang berbeda. Saya pun jadi makin bingung.

    Suatu ketika, saat saya hendak keluar kelas untuk mengikuti pelajaran agama Katolik di kelas lain, saya merogoh laci meja tempat saya menaruh tas dengan maksud memeriksa apakah ada barang saya yang tertinggal. Tanpa sengaja, saya menemukan secarik kertas (seperti sobekan), bertuliskan Arab. Terjemahannya “hanya Islamlah agama yang diridhai Allah.”

    Saat itu, pikiran saya makin cemas campur kalut. Degup jantung saya terasa makin kencang. Saya bertanya-tanya dalam hati, gerangan apa di balik ini semua. Inikah skenario Tuhan untuk menuntun saya kepada sebuah jalan kebenaran? Sobekan kertas ‘misterius’ itu membuat saya panasaran untuk mencari tahu tentang Islam.

    Siang itu, saya kembali menemui Pak Masduki, seraya menceritakan apa yang baru saya alami. Pak Masduki bilang, “Chris, mungkin itu sudah panggilan. Bisa jadi itu hidayah. Tapi, itu terserah kamu. Untuk masuk Islam itu tidak ada paksaan. Apakah kamu tetap bertahan atau melepaskan akidah Katolik kamu, semua tergantung kamu. Jadi kamu sendiri yang memutuskannya.”

    Pada tanggal 20 November 1999, saat saya duduk di kelas III, tanpa ragu-ragu lagi saya resmi memeluk Islam. Pak Masduki sendiri yang membimbing saya mengucapkan kalimat syahadat, di masjid dekat sekolah. Teman-teman sekolah dan sebagian guru hadir menyaksikan saya menadi seorang Muslim.

    Saat itu saya tak kuasa menahan haru. Terlebih saat Pak Masduki memeluk saya, disusul oleh teman-teman yang lain. Jujur, tak pernah saya merasakan suasana seindah dan sebahagia ini. Dalam pelukan Pak Masduki dan teman-teman sekolah, air mata saya meleleh membasahi pipi. Usai syahadat, perasaan saya betul-betul plong. Ada sebuah kekuatan baru mengisi relung-relung kehidupan saya.

    Sebelum saya resmi memeluk Islam, mama lebih dulu sudah menjadi Muslimah, empat tahun sebelumnya (1996). Selama itu, mama tetap memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk memeluk agama yang mereka yakini. Mama tidak ingin memaksakan anak-anaknya mengikuti langkahnya. Oleh karena itu hubungan antara mama dan anak-anaknya yang beragama Katolik tetap baik.

    Sebelum mama masuk Islam, mama sudah bercerai. Saya bersama dua saudara ikut mama, sedangkan tiga saudara yang lain ikut papa. Sekalipun berpisah, papa tetap mengunjungi anak-anaknya yang diasuh oleh mama.

    Saya tak menyangkal adanya peran sang mama yang membuat saya tertarik pada Islam. Ketertarikan saya pada Islam juga saya rasakan bila memperhatikan mama sedang shalat. Wajah mama terlihat bersih dan bersinar, seperti ada pancaran cahaya yang merasuk di sekujur tubuhnya.

    Secara diam-diam, saya suka membuka-buka bacaan mama, tentang Islam. Ada beberapa buku Islam milik mama yang tersimpan di rak buku. Buku yang pertama kali dibaca saya adalah Iqra. Selain itu, saya juga membaca buku Ahmad Deedat berjudul Mengungkap tentang Bibel (Versi Islam dan Kristen). Mama sendiri tidak tahu bahwa saya sebenarnya sedang mempelajari Islam, walau dengan sembunyi-sembunyi.

    Dari kebiasaan dan hobi membaca sejak kecil, saya terdorong melahap buku apa saja, termasuk mempelajari berbagai agama. Akhirnya, ia kian intensif mempelajari Islam lewat bacaan dan bertanya pada orang yang mengerti tentang Islam.

    Yang membuat tekad saya semakin mantap untuk memeluk Islam adalah ketika saya membaca dan mengkaji Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas. Saya merasa kandungan ayat-ayat ini lebih rasional.

    Betapa berat ujian yang dihadapi saya dan mama dalam memilih jalan hidup ini. Semula kami hidup dengan ekonomi yang berkecukupan. Boleh dibilang berada, terlebih papa adalah seorang interior designer rumah tangga. Tapi sejak papa mengalami musibah kecelakaan (tahun 1992), keadaan ekonomi keluarga dirasakan sangat sulit.

    Sejak mama bercerai dengan papa, boleh dibilang membuat saya dan adik-adik saya hidup prihatin. Dulu ekonomi papa kuat. Bahkan keluarga papa banyak yang kaya. Saat masih jaya-jayanya, semua kebutuhan bisa terbeli, bahkan saya sempat kuliah beberapa semester.

    Sekarang, saya, mama dan dua adik saya ngontrak di daerah Bekasi. Sedangkan sehari-hari mama membuat kue dan menjualnya ke warung-warung terdekat. Demi tuntutan hidup, saya sendiri ikut membantu mama membuatkan kue.

    Lingkungan tempat tinggal kami dikenal Islamnya kuat. Saat mama menjajakan kue keliling kampung, tak seorang pun yang menyentuh apalagi membeli kue buatan mama. Mereka enggan membeli karena mengira kue buatan mama bercampur barang haram. Maklum, kami keturunan Cina. Saya bisa memahami, mereka belum tahu bahwa kami sudah Muslim.

    Untunglah ada seorang yang baik hati membantu kami. KH. Muhammad Saimin, yang dihormati masyarakat. Ia membeli seluruh kue jajaan mama, lalu bersama istrinya membagi-bagikannya kepada orang kampung, sambil memberi informasi bahwa kami sudah menjadi Muslim. “Kue ini halal,” kata Pak Saimin. Setelah itu, warga mulai mau membeli kue-kue mama.

    Saya tak bisa meneruskan kuliah lagi. Mau tak mau saya hanya mengandalkan ijazah SMEA (jurusan Akuntansi) untuk melamar kerja. Saya ingin sekali membantu mama dan adik-adik saya. Tapi, setiap kali saya melamar selalu ditolak karena fisik saya kurang sempurna. Saya merasakan diskriminasi dalam kehidupan saya.

    Pernah saya menemui seseorang di bagian personalia suatu perusahaan. Saat dia melihat kondisi fisik saya, dia langsung berkata, “Maaf, fisik kamu begini, jadi nggak bisa diterima.”

    Kata-kata itu saya rasakan seperti petir di siang bolong. Saya tak bisa melupakan itu. Sampai kini, saya masih merasakan minder karena fisik yang tidak sempurna. Tapi saya yakin Allah akan memberi jalan keluar yang terbaik untuk saya. Insya Allah. [Amanah-60/XVIII]

    ***

    Sumber: KotaSantri.com

     
  • erva kurniawan 9:01 am on 9 June 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah: Tangan Sang Anak 

    Kisah: Tangan Sang Anak

    Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

    Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

    Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

    Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si Bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!”

    Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar.. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya.

    Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan “Saya tidak tahu..tuan.”

    “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.

    Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik … kan !” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.

    Si Ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya. Si Anak yang tak mengerti apa apa menangis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, Si Ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

    Sedangkan Si Ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa. Si Ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

    Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan Si Anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu Si Pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si Ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab Bapak Si Anak.

    Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si Ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, Si Ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara Si Ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah.

    “Dita demam, Bu”, jawab pembantunya ringkas.

    “Kasih minum panadol aja ,” jawab Si Ibu.

    Sebelum Si Ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas.

    “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya Si Anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu.

    “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut.

    “Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si Bapak dan Ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

    Si Ibu meraung merangkul Si Anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, Si Ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, Si Anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, Si Anak bersuara dalam linangan air mata.

    “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah.. sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan Si Ibu gagal menahan rasa sedihnya.

    “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

    “Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?… Bagaimana Dita mau bermain nanti?…. Dita janji tidak akan mencoret2 mobil lagi, ” katanya berulang-ulang.

    Serasa hancur hati Si Ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya Si Anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…

    Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yang tak bertepi…, Namun…., Si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 8 June 2011 Permalink | Balas  

    Saudara yang Terabaikan 

    Saudara yang Terabaikan

    Oleh Shinta Octaviani

    Sebenarnya saya sudah sering bertemu dengan wanita dan anak gadis kecilnya itu. Baik saat menunggu di halte ataupun di dalam bis yang biasa saya naiki menuju Tsukuba Center. Seingat saya, wanita itu selalu memakai sari (pakaian khas wanita di negara-negara Asia Selatan) yang dilengkapi selendang lebar dengan warna yang senada motif pakaiannya. Kemungkinan mereka berasal dari salah satu negara yang ada di Asia Selatan.

    Pagi itu, kembali saya bertemu mereka di halte bis. Di situ hanya ada saya, wanita dan gadis kecil itu. Saya sapa mereka dengan anggukan kepala tanpa kata ataupun salam. Sebelumnya saya juga selalu berlaku demikian. Ada keraguan, muslimkah mereka? Mengingat negara-negara di Asia Selatan juga banyak yang beragama non-muslim.

    Gadis kecil dan ibunya bercakap-cakap dengan bahasa yang sama sekali tidak saya pahami. Mereka tidak menggunakan bahasa Jepang ataupun Inggris. Mereka bercakap-cakap sambil sesekali melirik ke arah saya. Sepertinya mereka membicarakan saya. Hanya saja saya tidak bisa mengerti apa isi pembicaraan mereka.

    Tiba-tiba wanita itu bergerak mendekati saya. Langkahnya terlihat ragu-ragu namun gadis kecil itu terus mendorong ibunya agar semakin mendekat.

    “Maaf, anak saya ingin tahu anda berasal dari mana?” Dia bertanya dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.

    “Dari Indonesia. ” Jawab saya sambil tersenyum kepada mereka.

    “Dan anda dari mana?”

    “Pakistan. ” Jawabnya singkat.

    Wanita itu menterjemahkan jawaban saya kepada anaknya. Mereka kembali terlibat percakapan dalam bahasa yang tidak saya pahami tadi. Mungkin mereka menggunakan bahasa dari negara asalnya. “Anak saya bilang bahwa sebelumnya dia pernah melihat anda sewaktu di masjid. ”

    Plak!. Ucapannya yang tenang itu terasa seperti tamparan ke wajah saya. Ke mana saja saya selama ini? Apa saja yang saya kerjakan? Sampai-sampai saya tidak mengenal mereka. Padahal muslim yang tinggal di Tsukuba masih sedikit (dibanding kota lainnya di Jepang). Seharusnya lebih mudah untuk mengingat wajah-wajah saudara seiman walaupun kadang tidak selalu ingat akan namanya. Wajarlah kalau gadis kecil itu mengenal saya.

    Mereka juga muslim yang berarti saudara seiman dengan saya. Tak sepantasnya saya mengabaikan mereka. Bahkan ucapan salam pun belum sempat terucap dari bibir saya. Astaghfirullah …..

    Ternyata kepekaan terhadap orang-orang yang berada di sekitar saya, masih kurang. Allah SWT telah mengingatkan saya lewat gadis kecil dan wanita itu. Melalui mereka, saya juga diingatkan kembali bahwa setiap muslim itu bersaudara. Saudara yang berhak mendapatkan salam ketika saya menjumpainya. Sama haknya seperti saudara-saudara seiman lainnya tanpa terhalang oleh suku dan asalnya.

    Wallahu’alam bisshowab.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 7 June 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ketika Masjid dan Rumah Bordil Roboh 

    Ketika Masjid dan Rumah Bordil Roboh

    Ada dua lelaki bersaudara. Keduanya adalah saudara kandung. Lahir di dalam keluarga yang taat beragama. Namun perilaku dua orang itu berbeda dan akhir hidup mereka juga berbeda.

    Yang tua, sejak kecil dikenal baik, alim dan ahli ibadah. Ia tidak suka menyakiti orang lain. Tidak suka hura-hura. Tak pernah menyentuh gelas minuman keras apalagi meminumnya. Waktu mudanya banyak dihabiskan di masjid. Ia juga tidak suka bergaul dengan wanita yang bukan mahramnya. Pernah ia dirayu seorang gadis cantik yang masih sepupunya, namun ia teguh dalam keimanannya. Karena amal perbuatannya yang baik dan akhlaknya ia dicintai oleh keluarga dan masyarakat.

    Sedangkan adiknya, sangat berbeda dengan kakaknya. Sejak kecil ia dikenal nakal. Sejak remaja sudah biasa masuk tempat maksiat. Rumah bordil adalah tempat biasa ia mangkal. Hampir tiap hari ia mabuk dan melakukan pelbagai macam maksiat di rumah bordil miliknya itu. Kadang-kadang ia juga ikut gerombolan perampok, untuk merampas harta orang lain. Saat merampok ia bahkan terkadang juga melakukan pemerkosaan. Hampir segala jenis maksiat dan perbuatan yang menjijikan telah ia lakukan untuk memuaskan hawa nafsunya. Perbuatan jahatnya itu membuat dirinya dibenci oleh keluarga dan masyarakat.

    Suatu ketika, sang kakak yang alim dan ahli ibadah merenung. Tiba-tiba dengan halus sekali nafsunya berkata padanya,

    “Sejak kecil kau selalu berbuat kebaikan dan beribadah. Kau telah mendapat tempat di hati masyarakat dan dikenal sebagai orang baik. Namun kau tidak pernah merasakan nikmatnya hidup sedikitpun. Kenapa tidak sesekali kau datang ke tempat adikmu menghibur diri di rumah bordilnya. Sesekali saja. Setelah itu kau bisa tobat. Kau bisa membaca istighfar ribuan kali dalam sholat tahujjud. Bukankah Allah itu Maha Pengampun ?”

    Bujukan hawa nafsunya itu ternyata masuk dalam pikirannya. Setan pun dengan sangat halus masuk melalui pori-pori dan aliran darah. Ia berkata pada diri sendiri, “Benar juga. Kenapa aku tidak sesekali menghibur diri ? Hidup cuma sekali. Nanti malam aku mau menari dan bersenang-senang bersama wanita cantik di rumah bordil adikku. Setelah itu aku pulang dan bertobat kepada Allah Swt. Dia Maha Pengasih lagi Maha Pengampun.”

    Sementara di rumah bordil. Adiknya juga merenung. Ia merasa jenuh dengan hidup yang dijalaninya. Nuraninya berkata,

    “Sudah bertahun-tahun aku hidup bergelimang dosa. Bermacam maksiat telah aku lakukan. Apakah aku akan hidup begini terus? Keluarga membenciku karena perbuatanku. Juga masyarakat, mereka memusuhiku karena kejahatanku. Kenapa aku tidak mencoba hidup baik-baik seperti kakak. Ah, bagaimanakah besok kalau aku telah mati. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan perbuatanku. Kalau begini terus kelak aku akan masuk neraka. Hidup susah di akhirat sana. Sementara kakakku akan hidup nikmat di surga. Tidak! Aku tidak boleh hidup dalam lembah maksiat terus. Aku harus mencoba hidup di jalan yang lurus. Nanti malam habis maghrib aku akan ke masjid tempat kakak beribadah. Aku mau tobat dan ikut shalat. Aku mau kembali ke pangkuan Allah Swt. Aku mau beribadah sepanjang sisa hidupku. Semoga saja Allah mau mengampuni dosa-dosaku yang telah lalu.”

    Dan benarlah. Ketika malam datang kedua saudara itu melakukan niatnya masing-masing. Usai shalat maghrib, sang kakak kembali ke rumah, ganti pakaian dan bergegas menuju rumah bordil. Adapun sang adik, telah pergi meninggalkan rumah bordil begitu mendengar suara azan maghrib. Jalan yang diambil dua bersaudara itu tidak sama, sehingga keduanya tidak berjumpa di tengah jalan.

    Sampai di rumah bordil sang kakak mencari adiknya. Namun tidak ada. Orang-orang yang ada di rumah bordil tidak ada yang tahu kemana adiknya itu pergi. Meskipun adiknya tidak ada ia tetap melaksanakan niatnya. Nafsu telah menguasai akal pikirannya. Ia pun menuruti segala yang diinginkan nafsunya di rumah bordil itu bersama para penari dan pelacur.

    Di tempat lain, sang adik sampai masjid tempat kakaknya biasa ibadah. Ia sudah bertekad bulat untuk tobat meninggalkan semua perbuatan buruknya. Ia mengambil air wudhu dan masuk ke dalam masjid. Ia mencari-cari kakaknya, ternyata tidak ada. Padahal biasanya kakaknya selalu beritikaf di masjid usai maghrib sampai isya. Ia bertanya pada penjaga masjid, namun ia tidak tahu kemana perginya. Meskipun tidak ada kakaknya niatnya telah bulat. Ia melakukan shalat dan beristighfar sebanyak-banyaknya dengan mata bercucuran air mata.

    Tiba-tiba bumi tergoncang dengan hebatnya.

    “Awas ada gempa ! Ada gempa !” teriak orang-orang di jalan.

    Orang-orang panik keluar dari rumah untuk menyelamatkan diri. Takut kalau-kalau rumah mereka runtuh. Sang adik yang sedang larut dalam kenikmatan tobatnya tidak beranjak dari dalam masjid. Ia tidak merasakan ada gempa. Demikian juga sang kakak yang saat itu sedang terlena di rumah bordil. Ia sama sekali tidak merasakan gempa. Goncangan gempa malam itu cukup keras. Beberapa bangunan roboh. Termasuk masjid dan rumah bordil.

    Keesokan harinya. Sang kakak ditemukan tewas diantara reruntuhan rumah bordil di samping mayat seorang penari wanita dalam keadaan yang memalukan. Sedangkan adiknya juga ditemukan tewas di antara reruntuhan masjid. Kedua tangannya mendekap sebuah mushaf di dada.

    Masyarakat yang tahu ihwal kedua kakak beradik itu meneteskan air mata. Mereka tidak habis pikir, orang yang selama ini dikenal ahli ibadah kok bisa tewas dengan cara yang sedemikian tragisnya. Sedangkan adiknya yang selama ini dikenal ahli maksiat kok bisa husnul khatimah. Dengan peristiwa itu orang-orang diberi pelajaran yang sangat berharga. Bahwa kematian bisa datang kapan saja. Hanya Allah yang tahu. Maka jangan sekali-kali iseng menuruti hawa nafsu. Siapa tahu saat sedang menuruti hawa nafsu itulah maut menjemput. Na’udzubillahi min dzalik. Bahwa niat baik harus selalu dijaga, agar Allah Swt menganugerahkan akhir hidup yang indah. Akhir hidup yang diridhai-Nya.

    “Ya Allah, karuniakanlah kepada kami keteguhan dan keistiqomahan berada dalam jalan-Mu. Karuniakanlah kepada kami husnul khatimah. Amin, ya Rabbal ‘Alamin.”

    ***

    Sumber Tulisan Oleh : Habiburrahman El Shirazy

    (Di Atas Sajadah Cinta, Penerbit Republika, Cetakan X, September 2006)

    Suatu nasihat tidak bisa memberi pengaruh sama sekali kepada hati yang sudah keras laksana sebuah batu di dalam air yang tidak bisa lunak (Imam Ghozali)

     
    • annisa 7:54 am on 16 Juni 2011 Permalink

      Subhanallah… cerita yang penuh hikmah, mudah2an kita semua yg membaca ini, diberi kekuatan oleh-Nya untuk mengendalikan hawa nafsu dan kembali pada-Nya dlm keadaan khusnul khotimah.., aammiiiin….3x

      jalan-jalan donk ke blog ku di ;

      http://myinspirations-emmy.blogspot.com

  • erva kurniawan 1:10 am on 28 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Perjalanan Seekor Burung Pipit 

    Perjalanan Seekor Burung Pipit

    Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor Burung Pipit mulai merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara yang konon kabarnya, udara disana selalu dingin dan sejuk.

    Benar, pelan-pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi. Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju. Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Si Burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat.

    Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor Kerbau yang kebetulan lewat datang menghampirinya. Namun si burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.

    Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat diatas burung tersebut. Si Burung Pipit semakin marah dan memaki-maki si Kerbau. Lagi-lagi si Kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si Burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa dia akan mati karena tak bisa bernapas.

    Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya kotoran kerbau, dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si Burung Pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puas-puasnya.

    Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian menimang nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, si Burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati.

    Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si Burung, dan tamatlah riwayat si Burung Pipit ditelan oleh si Kucing.

    ***

    Dari kisah ini, banyak pesan moral yang dapat dipakai sebagai pelajaran, diantaranya :

    1. Halaman tetangga yang nampak lebih hijau, belum tentu cocok buat kita.
    2. Baik dan buruknya penampilan, jangan dipakai sebagai satu-satunya ukuran.
    3. Apa yang pada mulanya terasa pahit dan tidak enak, kadang-kadang bisa berbalik membawa hikmah yang menyenangkan, dan demikian pula sebaliknya.
    4. Ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan lupa dan jangan terburu nafsu, agar tidak kebablasan.
    5. Waspadalah terhadap orang yang memberikan janji yang berlebihan

    ***

    Sumber : Dari Sahabat (myQuran.org)

     
    • bayu 3:38 pm on 8 Februari 2012 Permalink

      izin copas y!

  • erva kurniawan 1:39 am on 20 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah Sepotong Kain Putih 

    Kisah Sepotong Kain Putih

    Hari ini ada ribuan gulung kain, diperjual-belikan di pasar-pasar di kota ini. Hari ini ada sedemikian banyak kain putih, yang sedang dibeli, diukur dan dipotong. Hari ini ada sedemikian banyak kain putih yang siap digunakan sebagai kain kafan. Hari ini ada sedemikian banyak kain kafan yang seolah bertanya untuk siapa ia akan dibeli.

    Esok hari, siapa gerangan pembeli berikutnya. Bisa jadi kain putih itu akan dibeli orang yang tidak kita kenal, Bisa jadi kain putih itu kita sendiri yang membelinya untuk tetangga atau keluarga terdekat kita. Bisa jadi seseorang sedang membelikannya untuk jenazah kita yang sedang menunggu dikubur,

    Engkau boleh saja tertawa, tapi bisa jadi kain kafanmu ada di truk pengirim barang yang sedang diparkir di pinggir toko kain itu. Engkau boleh saja berencana, tapi bisa jadi kain kafanmu sedang dipesan si pemilik toko. Engkau boleh saja tidur nyenyak, tapi bisa jadi seorang penenun sedang memintal kain kafanmu. Engkau boleh saja menikmati keindahan alam pertanian, tapi boleh jadi seorang petani sedang memanen kapas bahan kain kafanmu.

    Kita tidak tahu kapan hidup kita berakhir. Kita juga tidak tahu kain kafan mana yang akan menemani kita di kuburan. Tapi yang jelas kain itu ada di suatu tempat,

    Kain putih itu sendiri tidak pernah tahu kepada siapa ia akan digunakan. Seandainya ia bisa berbicara, tentu ia akan meminta agar digunakan pada orang soleh yang selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan berikutnya.

    ***

    Sumber : Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 9 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah: Pemuda Dililit Utang 

    Kisah: Pemuda Dililit Utang

    Malang benar nasib pemuda ini, dililit utang sehingga tidak mampu lagi membayarnya, akhirnya dia berpikir bahwa bunuh diri adalah jalan terbaik baginya. Ditengah malam yang gelap gulita, dia mengambil tali untuk gantung diri dipohon nangka dibelakang rumahnya. Diam-diam dia memanjat pohon nangka tersebut, mengalungkan tali dilehernya, kemudian mengikatkannya di tangkai, lalu menjatuhkan dirinya kebawah. Ternyata ajalnya belum ditetapkan disini, karena tangkai tempat mengikatkan tali tidak kuat menahan beban tubuhnya sehingga tangkai pohon itu patah dan akhirnya jatuh kebawah, dan lucunya lagi dia jatuh tepat diatas tumpukan kotoran kerbau.

    Tidak puas dengan cara pertama, dia mencari cara lain. Pemuda tersebut berjalan menyusuri jalan, kemudian berhenti di tikungan tajam dimana banyak dilalui kendaraan, namun karena larut malam akibatnya kendaraan yang lewat agak jarang sehingga pemuda ini agak lama juga menunggu kendaraan yang lewat.

    Setelah menunggu agak lama akhirnya datang juga sebuah bus yang mengangkut banyak penumpang, pemuda ini lalu mengambil ancang-ancang. Selang beberapa meter jaranknya dari bus, pemuda tersebut langsung melemparkan tubuhnya ke tengah jalan, namun karena Sopir Bus itu terlalu mwas sehingga ketika melihat sesuatu ditengah jalan dia langsung membanting setir ke kiri, dan akhir-nya Pemuda tersebut terbebas dari maut, namun malangnya karena sopir bus tersebut terlalu tajam membanting setir ke kiri, akhirnya bus tersebut tidak mampu dikendalikan dan akhirnya jatuh ke jurang sehingga seluruh penumpang bus tewas saat itu juga (Inna lillah wa innaa ilaihi rooji`uun).

    Tidak puas dengan dua kali kegagalan bunuh dirinya, dia tetap bertekad bulat untuk bunuh diri, dia terus menyusuri jalan ditengah keremangan malam sambil mencari cara agar bisa bunuh diri. Beberapa jam berjalan akhirnya diapun menemukan jurang didepannya, akhirnya diapun pun memutuskan untuk menjatuhkan dirinya dan kali ini pasti berhasil pikirnya.

    Pemuda tersebut mengambil ancang-ancang, mundur beberapa langkah kebelakang dan kemudian berlari kedepan melompat ke dalam jurang, dan akhirnya meluncurlah ia kebawah, dengan harapan agar tubuhnya terhempas diatas bebatuan sehingga ia dapat mengahiri hidupnya.

    Subhaanallah, apa yang terjadi ?.., dibawah jurang sana ternyata sebuah kebun yang subur dan rimbun, tubuh pemuda itu jatuh tepat diatas pepohonan itu yang ternyata pemiliknya adalah seorang Janda yang cantik dan kaya raya. Akhirnya Janda tersebut mengambil pemuda itu di pagi hari di kebunnya dan ditemukan dalam keadaan siuman, dan pada tubuh pemuda itu hanya terdapat luka lecet kecil dan juga sedikit memar. Dan baiknya lagi Janda cantik tersebut bersedia menjadi Istri si-Pemuda dan juga bersedia melunasi hutang-hutang pemuda tersebut. Akhirnya pemuda tersebut terbebas dari hutang-hutangnya, memiliki istri cantik serta hidup serba kecukupan. Pemuda tersebut menjadi kaya raya, serta hidup mewah, akhirnya pemuda itu lupa untuk bunuh diri.

    Beberapa tahun kemudian, terjadilah peristiwa yang sangat menakutkan, disuatu malam, hujan turun lebat sekali. Pemuda tersebut bermimpi didatangi seseorang dan mengatakan kepadanya bahwa Nyawanya akan dicabut nanti tepat jam 05:00 subuh. Dia langsung bangun dengan kagetnya, dan merasakan takut yang amat sangat, tubuhnya gemetaran, dia langsung lari mengambil kunci mobil dan melarikan diri dari rumah agar terhindar dari maut. Dia menancap gas mobil dengan kencang-nya ditengah hujan yang lebat, sesekali ia melihat jam di tangan yang sudah mendekati jam 05:00 seperti yang telah ditetapkan dalam mimpinya. Jam semakin mendekati pukul 05:00, dia semakin gugup, sambil menyetir mobil dengan kencang, semakin takut, terus diperhatikan jam di tangannya yang tinggal beberapa detik lagi menunjukkan pukul 05:000. Karena semakin takutnya, dan kelamaan melihat jam di tangannya tanpa memperhatikan jalan yang dilaluinya, akhirnya mobil yang digunakannya jatuh ke jurang persis ditempat bus terguling sewaktu ia hendak bunuh diri dulu, dan tepat jam 05:00 subuh, ia meninggal dunia. Na`uuzu billah.

    –=[# Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu MEMBUNUH DIRIMU ; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. [QS.an-nisa:29] #]=–

    –=[# Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat”. [QS.al-hijr : 56] #]=–

    –=[# Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih. [QS.al-`ankabuut : 23] #]=–

    ***

    Salam rindu buat saudaraku se-iman,

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 5 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Calon Buat Ajeng 

    CERPEN: Calon Buat Ajeng

    Penulis : Asma Nadia

    **

    Calon Suami????!!!!!

    Pfui, kuhembuskan nafasku kuat-kuat. Bosan aku. Lagi-lagi calon suami yang dibicarakan. Bayangin, sudah dua bulan ini tidak ada topik yang lebih trend di rumah, selain soal suami.

    Mulai dari Papi yang selalu nyindir, sudah pengen menimang cucu. Mami yang berulang-ulang menasihatiku agar jangan terlalu pilih-pilih tebu. Lalu Bambang, adikku, yang kuharap bisa menetralisir suasana, tak urung ikut menggoda. Bahkan si kembar Rani-Rano, yang masih es em pe pun, ikut-ikutan menceramahiku.

    ”Mbak Ajeng kan udah jadi insinyur, udah waktunya dong, mikirin berkeluarga. Lagian, Rani sama Rano kan udah pengen dipanggil ’Tante dan Oom’. Tika aja yang baru kelas enam, keponakannya udah empat!”

    ”Iya, Mbak. Jaman sekarang, perempuan itu harus agresif. Mbak Ajeng sih, kerjanya belajar ama ngaji melulu!” Rano menimpali kata-kata kembarnya.

    Aku hanya bisa melotot, nemu di mana lagi pendapat kayak gitu.

    ”Udah sana kalian belajar!” hardikku agak keras.

    ”Tuh, kaaaan?!?” seru mereka berdua kompak. Huhh, dasar kembar!

    ***

    ”Ajeng…!”

    Kudengar panggilan Mami dari depan. Pelan aku bangkit dari meja belajar. Setelah merapikan jilbab, aku keluar.

    ”Ada apa, Mi?” tanyaku lunak. Sekilas sempat kulihat sosok seorang lelaki, duduk di sudut ruangan.

    Kedua bola mata Mami tampak bersinar-sinar. Oo…Oo…! Pasti ada yang nggak beres, gumamku dalam hati. Iiih..su’udzon! Tapi…. Benar saja.

    “Ajeng, kenalin. Ini tangan kanan Papi di kantor. Hebat, ya! Masih muda sudah jadi Wakil Presiden Direktur. Ayo, kenalin dulu. Ini Nak Bui….”

    ”Boy, Tante!”

    ”Eh, iya. Boi!” Aku hanya bisa menahan geli. Mami…Mami…!

    Rasa geliku mendadak hilang, ketika selama dua jam berikutnya aku harus mendengarkan obrolan Mami dengan Si Boi tadi. Bukan main, lagaknya! Batinku menggerutu sendiri, mendengar cerita-ceritanya yang melulu berbau luar negeri.

    ”Jadi, Tante, selama belajar di Harvard, saya sudah coba-coba berbisnis sendiri. Hasilnya lumayan. Saya bisa jalan-jalan keliling Amerika, bahkan Eropa setiap kali holiday!”

    Hihhh, gemas aku! Terlebih melihat pancaran kagum di wajah Mami. Benar-benar nggak peka nih anak. Kok bisa sih nggak merasa dicuekin? Tetap aja ngomong. Tak perduli aku yang cuma diam dan sesekali manggut. Kupanjatkan syukur yang tak terkira ketika akhirnya Si Boi pulang.

    Alhamdulillah!

    ***

    Kulihat Bambang tertawa. Kesal, kulemparkan bantal ke arahnya. Orang cerita panjang lebar minta advise, kok cuma diketawain?!?

    ”Bang, serius, dong! Pokoknya kalau nanti Mami nanyain kamu soal Boy, awass kalau kamu setuju!” ancamku serius.

    Bambang masih cengar-cengir.

    ”Mbak Ajeng gimana, sih? Biasanya Mbak yang nyuruh aku sabar menghadapi segala sesuatu. Lho, kok sekarang malah panasan gini? Tenang aja, Mbak, sabar! Innallaha ma’ashshabirin!” balasnya sambil mengutip salah satu ayat di Al-Quran.

    Iya, ya. Kenapa aku jadi nggak sabaran gini. Baru juga ngadepin si Boy. Astaghfirullah!

    ”Mbak bingung, Bang! Habis serumah pada mojokin semua. Kamu ngerti, kan, milih suami itu nggak mudah. Nyari yang shalih sekarang susah. Mbak nggak pengen gambling. Salah-salah pilih, resikonya besar. Nggak main-main, dunia akhirat!” Sekejap, kulihat keseriusan di matanya. Cuma sekejap, sebelum ia kembali menggodaku.

    ”Apa perlu Bambang yang nyariin???!” Lemparan bantalku kembali melayang.

    ***

    Kriiiiing…!!!

    Ups, kumatikan bunyi weker yang membangunkanku. Jam tiga lebih seperempat. Aku bangun dari tempat tidur, bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu. Kuperhatikan lampu kamar Bambang masih menyala. Sayup-sayup suara kaset murattal terdengar. Tercapai juga niatnya untuk begadang malam ini, pikirku. Heran, kebiasaan menghadapi ujian dengan pola SKS (Sistem Kebut Semalam) masih membudaya rupanya.

    Cepat kuhapuskan pikiran tentang Bambang dan ujiannya. Mataku nanar menyaksikan pantulan wajahku di cermin. Kuhapus tetesan air wudhu yang tersisa dengan handuk kecil.

    Oooohh, begini rupanya gadis di penghujung usia dua puluh sembilan? Kuperhatikan bentuk wajahku yang makin tirus. Baru kusadari, betapa pucatnya wajah itu. Entah kemana perginya rona merah yang biasa hadir di sana. Mungkin hilang termakan usia. Ya Rabbi, pantas saja Papi dan Mami begitu khawatir. Sudah sulung mereka tak cantik, menjelang tua, lagi!

    ”Ir. Ajeng Prihartini.” Kueja namaku sendiri.

    ”Jangan cemas ya ukhti, ini bukan nasib buruk!” Bisikku menghibur. Bagaimana pun aku harus tetap tawakkal pada Allah. Jodoh, rizki, dan maut, Dia yang menentukan. Berjodoh di dunia bukanlah satu kepastian yang akan kita raih dalam hidup. Tidak, ada hal lain yang lebih penting, lebih pasti. Ada kematian, maut yang pasti kita hadapi. Sesuatu yang selama ini sering kuucapkan kepada saudaraku muslimah yang lain, ketika mereka ramai meresahkan calon suami yang tak kunjung datang.

    ”Sebetulnya kita ini lucu, ya? Lebih sering mempermasalahkan pernikahan, hal yang belum tentu terjadi. Maksud Ajeng, bergulirnya waktu dan usia, nggak seharusnya membuat kita lupa untuk berpikir positif terhadap Allah. Boleh jadi calon kita ini nggak buat di dunia, tapi disediakan di surga. Mungkin Allah ingin memberikan yang lebih baik, who knows?” ujarku optimis, dua tahun yang lalu.

    Astaghfirullah! Ishbiri ya ukhti, isbiri…. Tanganku masih menengadah, berdoa, saat kudengar azan Subuh berkumandang. Hari baru kembali hadir. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, untuk satu hari lagi kesempatan beramal dan taubat, yang masih Kau berikan.

    ***

    Selesai berurusan dengan Mami untuk masalah Boy, gantian aku harus menghadapi Tante Ida yang siap mempromosikan calonnya. Duhh! Lagi-lagi aku cuma bisa manggut-manggut.

    ”Tante sih terserah Ajeng. Pokoknya lihat aja dulu. Syukur-syukur Ajeng suka. Dia anak lurah. Bapaknya termasuk juragan kerbau yang paling kaya di Jawa. Tapi nggak kampungan, kok. Anak kuliahan juga seperti kamu!” promosi Tante Ida bersemangat.

    Dua hari kemudian, Tanteku itu kembali datang dengan ’balon’nya.

    ”Junaedi. Panggil aja Juned!” Aku hanya mengangguk. Tak membalas uluran tangan yang diajukannya. Selama pembicaraan berikutnya, berkali-kali aku harus menahan diri, untuk tidak lari ke dalam. Aku tidak ingin menyinggung perasaan Tante Ida. Apalagi beliau bermaksud baik. Hanya saja, asap rokok Juned benar-benar membuatku mual. Malah nggak berhenti-henti. Habis sebatang, sambung sebatang. Persis lokomotif uap jaman dulu! Dengan berani pula ia mengomentari penampilanku.

    ”Eng…jangan tersinggung ya, Jeng. Aku suka bingung sendiri ngeliat perempuan yang memakai kerudung. Kenapa sih tidak pintar-pintar memilih warna dan mode?! Aku kalau punya isteri, pasti tak suruh beli baju yang warna-warnanya cerah, menyala. Sekaligus yang bervariasi. Seperti yang dipakai artis-artis kita yang beragama Islam itu lho, sekarang. Ndak apa-apa toh sedikit kelihatan leher atau betis?! Maksudku biar tidak terlihat seperti karung berjalan gitu lho, Jeng! Hahaha….”

    Kontan raut mukaku berubah. Tanpa menunggu rokok keenamnya habis, aku mohon diri ke dalam. Tak lama kudengar suara Juned pamitan. Alhamdulillah. Ketika Tante Ida menanyakan pendapatku, hati-hati aku menjawab.

    ”Maaf ya, Tan…, rasanya Ajeng nggak sreg. Terutama asap rokoknya itu, lho. Soalnya Ajeng punya alergi sama asap rokok. Mana kelihatannya Juned perokok berat, lagi. Maaf ya, Tan…, udah ngerepotin.” Bayang kekecewaan tampak menghiasi raut muka Tante Ida.

    ”Bener, nih…nggak nyesel? Tante cuma berusaha bantu. Ajeng juga mesti memikirkan perasaan Mami sama Papi. Susah lho, nyari yang seperti Juned. Udah ganteng, dokterandes lagi! Terlebih kamu juga sudah cukup berumur.” Bujukan Tante Ida tak mampu menggoyahkanku.

    Dengan masih kecewa, beliau beranjak keluar. Sempat kudengar Tante Ida berbicara dengan Papi dan Mami. Sempat pula kudengar komentar-komentar mereka yang bernada kecewa, sedih.

    Ya Allah, kuatkan hamba-Mu! Hari berangsur malam. Aku masih di kamar, mematung. Beragam perasaan bermain di hatiku. Sementara itu, hujan turun rintik-rintik.

    ***

    Siang begitu terik. Langkahku lesu menghampiri rumah. Capek rasanya jalan setengah harian, dari satu perpustakaan ke perpustakaan IPB lainnya. Namun buku yang kucari belum juga ketemu. Padahal buku itu sangat kuperlukan untuk menghadapi ujian pasca sarjanaku sebentar lagi. Sia-sia harapanku untuk bisa beristirahat pulang ke Depok. Kereta yang kutumpangi benar-benar penuh. Sudah untung bisa berdiri tegak, dan tidak doyong ke sana ke mari, terdesak penumpang yang lain.

    ”Assalamu’alaikum!” perasaanku kembali tidak enak, melihat Mami yang tidak sendirian. Seorang lelaki berjeans, dengan sajadah di pundak, dan kopiah di kepala, tampak menemani beliau. Jangan…jangan….

    ”Wa’alaikumussalam. Nah, ini Ajengnya sudah pulang. Ajeng, sini sayang. Kenalkan, Saleh. Putera Pak Camat yang baru lulus dari pondok pesantren di Kalimantan. Kalian pasti bisa bekerja sama mengelola kegiatan masjid di sini. Lho, Ajeng…, kok malah diam? Maaf Nak Saleh, Ajeng memang pemalu orangnya.”

    Duhh, Mami! Kali ini Mami membiarkanku berdua dengan tamunya itu. Risih, kuminta Rani mendampingiku. Dia setuju setelah aku janji akan menemaninya mendengar ceramah di Wali Songo, pekan depan. Selama Saleh berbicara, aku menunduk terus. Bisa kurasakan pandangannya yang jelalatan ke arahku. Dengan gaya bahasa yang tinggi, Saleh bercerita tentang berbagai kitab berbahasa Arab yang telah dia kuasai. Bukan main. Lalu ia mulai membahas satu persatu perbedaan pendapat di kalangan umat Islam. Soal doa qunut, perbedaan doa iftitah, masalah posisi telunjuk ketika tahiyat, dan lain-lain yang senada. Terus terang, aku tidak begitu setuju dengan caranya. Betul bahwa semuanya harus kita ketahui. Tapi bagiku, dengan makin meributkannya, hanya akan memperuncing perbedaan yang ada. Cukuplah bahwa masing-masing berpegang pada sunnah Rasulullah. Tentunya akan lebih baik, jika kita justru berusaha mencari titik temu atau persamaan, dan bukan malah memperlebar jurang perbedaan.

    ”Kalau menurut Saleh, kasus Bosnia itu bagaimana?” tanyaku mengalihkan perhatian.

    ”Oooh, itu. Ane sangat tidak setuju. Menurut pendapat dan analisa ane, tidak seharusnya masalah Bosnia itu digembar-gemborkan. Itu akan membuat sikap tersebut kian membudaya. Sudah saatnya pola sikap ngebos, dan penghargaan masyarakat terhadap orang-orang yang punya kedudukan, diarahkan sewajarnya. Agar tidak berlebihan.” ulasnya panjang lebar. Gantian aku yang bingung.

    ”Saya…saya tidak paham apa yang Saleh maksudkan.” ujarku sedikit gagap.

    ”Kenapa? Apa karena bahasa yang ane gunakan terlalu tinggi atau bagaimana, hingga Ajeng sulit memahami?” Aku tambah melongo.

    ”Bukan itu, ini…, Bosnia yang mana, yang Saleh maksudkan?” tanyaku makin bingung.

    ”Lha, yang nanya kok malah bingung?! Yang ane bicarakan tadi ya tentang Bosnia, Boss-Mania, kan maksud Ajeng?!!” Ufh, kutahan tawa yang nyaris meledak.

    Bingung aku, ternyata masih saja ada orang yang meributkan hal-hal yang relatif lebih kecil, dan melupakan masalah lain yang lebih besar. Dari sudut mataku, kulihat Rani pringas-pringis menahan geli, sambil mempermainkan kerudung pink-nya. Lucu sekali.

    ”Bukan, yang Ajeng maksudkan adalah penindasan yang terjadi pada saudara-saudara muslim kita di Negara Bosnia.” aku berusaha menjelaskan dengan sabar. Tampak Saleh manggut-manggut.

    ”Ooooh, yang itu. Ya…jelas penindasan itu tidak bisa dibenarkan. Tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan keadilan,” ujar Saleh optimis, lalu….

    ”Ngomong-ngomong, Bosnia itu di mana, sih?” Tawa Rani meledak. Duhhh, Mami!!!

    ***

    Malamnya, waktu aku protes ke Mami, soal calon-calon itu, tanpa diduga, malah Mami yang marah.

    ”Lho, kamu itu gimana toh? Kata Bambang kamu maunya sama Saleh. Pas Mami temuin, kamu bilang bukan yang seperti itu yang kamu inginkan. Jadi sebenarnya, Saleh yang mana calon kamu itu?” suara Mami meninggi.

    Aku terhenyak. Bambang yang duduk di kursi makan tersenyum simpul. Awas, kamu de’! Bisikku gemas.

    ”Bukan yang namanya Saleh, Mi. Ajeng ingin orang yang saleh, yang taat beribadah. Orang yang punya pemahaman paling tidak mendekati menyeluruhlah, tentang Islam. Yang Islamnya nggak cuma teori, tapi ada bukti. Yang nggak jelalatan memandang Ajeng terus-terusan dari ujung jilbab sampai kaos kaki, seperti hendak menawar barang dagangan. Ajeng tahu, usia Ajeng sudah jauh dari cukup. Ajeng juga pengen segera menikah. Perempuan mana sih, yang tidak ingin berkeluarga, dan punya anak?” lanjutku hampir menangis.

    ”Tapi…, tolong. Jangan menyudutkan Ajeng. Tolong Mami bantu Ajeng agar bisa tetap sabar, tetap tawakkal sama Allah. Kita memang harus berusaha, tapi jangan memaksakan diri. Biar Ajeng mesti nunggu sampai tua, Ajeng siap. Daripada bersuamikan orang yang akhlaknya tidak Islami. Tolong Ajeng, Mi…tolong!” Kusaksikan mata Mami berkaca-kaca.

    Diraihnya aku ke dalam pelukannya. Berdua kami berisakan. Papi turut menghampiri, menepuk-nepuk pundakku. Rani dan Reno terdiam di kursinya.

    ”Maafin Mami, sayang….” suara Mami lirih, memelukku makin erat.

    ***

    Kesibukanku menulis diary terhenti.

    ”Mbak Ajeng…telepon tuh!” pekik Rano keras.

    ”Dari siapa? Kalau dari Anto Boy, Didin, Juned, atau Saleh, Mbak nggak mau terima!” balasku agak keras.

    Hening, tidak ada panggilan lanjutan dari Rano. Aku lega. Alhamdulillah, sejak kejadian malam itu, perlahan topik trend kami bergeser. Mami tidak lagi menyodorkan calon-calonnya, sebelum menanyakan kesediaanku. Beberapa Oom dan Tante yang datang, harus pulang dengan kecewa karena promosi dibatalkan. Aku masih ingin menenangkan diri dulu. Kuraih pena. Dengan hati seringan kapas, aku mulai menulis:

    Kepada Calon Suamiku….

    Usiaku hari ini bertambah setahun lagi. Tiga puluh tahun sudah.

    Alhamdulillah.

    Kuharap, tahun-tahun yang berlalu, meski memudarkan keremajaanku, namun tidak akan pernah memudarkan ghirah Islamiah yang ada. Mudah-mudahan aku bisa tetap istiqamah di jalan-Nya. Ujian pasca sarjanaku sudah selesai. Sebentar lagi, satu embel-embel gelar kembali menghiasi namaku. Belum lama ini aku juga mengambil kursus jahit dan memasak. Dengan besar hati pula, Mami mesti mengakui, bahwa kemahirannya di dapur, kini sudah tersaingi.

    Alhamdulillah, sekarang aku lebih bisa berkonsentrasi untuk menulis, dan memberikan berbagai ceramah di beberapa kampus dan masjid. Baru sedikit itulah, yang bisa kulakukan sebagai perwujudan syukurku atas nikmat-Nya yang tak terhitung.

    Calon suamiku….

    Aku maklum, bila sampai detik ini kau belum juga hadir. Permasalahan yang menimpa kaum muslimin begitu banyak. Kesemuanya membentuk satu daftar panjang dalam agenda kita. Aku yakin ketidakhadiranmu semata-mata karena kesibukan dakwah yang ada. Satu kerja mulia, yang hanya sedikit orang terpanggil untuk ikut merasa bertanggung jawab. Insya Allah, hal itu akan membuat penantian ini seakan tidak pernah ada.

    Calon suamiku….

    Namun jika engkau memang disediakan untukku di dunia ini, bila kau sudah siap untuk menambah satu amanah lagi dalam kehidupan ini, yang akan menjadi nilai plus di hadapan Allah (semoga), maka datanglah. Tak usah kau cemaskan soal kuliah yang belum selesai, atau pekerjaan yang masih sambilan. Insya Allah, iman akan menjawab segalanya. Percayakan semuanya pada Allah. Jika Dia senantiasa memberikan rizki, padahal kita tidak dalam keadaan jihad di jalan-Nya, lalu bagaimana mungkin Allah akan menelantarkan kita, sedangkan kita senantiasa berjihad di sabil-Nya?! Banyaklah berdoa, Calon Suamiku, di manapun engkau berada. Insya Allah, doaku selalu menyertai usahamu.

    Wassalam, Adinda

    NB: Ngomong-ngomong, nama kamu siapa, sih?

    ”Syahril… Nama saya Syahril.”

    Deg!

    Aku tersentak. Pena yang kugenggam jatuh. Rasa-rasanya kudengar satu suara. Sedikit berjingkat, aku melangkah ke depan. Sebelum aku sempat menyibak tirai yang membatasi ruang makan dengan ruang tamu, kudengar suara Papi memanggilku.

    ”Ajeng…!” Hampir aku terjatuh, saking tergesanya menghampiri beliau. Sekilas mataku menyapu bayangan seorang lelaki berkaca mata, yang berdiri tak jauh dari Papi, dengan wajah tertunduk, rapat ke dada. Di belakangnya, Bambang berdiri dengan senyum khasnya.

    ”Nah, Nak Syahril, kenalkan, ini yang namanya Ajeng. Puteri sulung Oom. Lho, kok malah nunduk?” suara ngebas Papi kembali terdengar. Aku menoleh sesaat, yang dipanggil Syahril tetap menunduk.

    ”Ayo, salaman. Ini lho, Jeng…puteranya Mas Wismoyo, sahabat Papi sejak jaman revolusi dulu, sekaligus Ass Dos-nya Bambang di FISIP. Baru lulus ya Nak?” Syahril mengangguk. Tapi, tetap tak ada uluran tangan.

    ”Assalamu’alaikum, Ajeng. Saya Syahril.” Masya Allah! Aku masih melongo, terpana.

    “Insya Allah, hari ini saya akan berta’aruf dengan Ajeng. Kalau Ajeng setuju, khitbahnya bisa dilaksanakan besok. Sesudah itu…mudah-mudahan kita bisa jihad bareng….”

    Agak samar kudengar kalimatnya yang terakhir. Kulihat Papi tersenyum lebar, melirikku.

    ”Apa, Jeng …..khitbah? Ngelamar, ya…??”

    Aku mengangguk pendek, tersipu. Tawa Papi makin lebar. Aku masih terpana. Masya Allah, calon suamiku…eng…engng…ups, apakah…apakah…ini, kamu??? *

    ***

    Pemenang Harapan I LMCPI Annida.

    Sumber : Majalah Annida, No. 12 1415 H/1994 M

     
    • annisa 2:55 pm on 11 Mei 2011 Permalink

      walaupun hanya cerita.. tetapi kenyataannya banyak muslimah yang kesulitan mencari pendamping yang mempunyai tujuan yang sama..para ikwan,
      karena sedikitnya jumlah remaja putra yang rajin mencari ilmu agama.. so.solusinya..? tingkatkan kegiatan Rohis di sekolah dan Universitas dan buat kegiatan yang menarik..

    • sylvia 8:06 am on 12 Mei 2011 Permalink

      Subhanallah..mantap ceritanya :D

    • asfi 6:57 am on 28 Mei 2011 Permalink

      ceritanya nyentuh banget…..

    • asha gusti 7:17 am on 4 November 2011 Permalink

      ceritanya menyentuh sekali…..

  • erva kurniawan 1:13 am on 3 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Di Atas Sajadah Cinta 

    CERPEN: Di Atas Sajadah Cinta

    Penulis: Habiburrahman El Shirazy

    KOTA KUFAH terang oleh sinar purnama. Semilir angin yang bertiup dari utara membawa hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Namun geliat hidup kota Kufah masih terasa.

    Di serambi masjid Kufah, seorang pemuda berdiri tegap menghadap kiblat. Kedua matanya memandang teguh ke tempat sujud. Bibirnya bergetar melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hati dan seluruh gelegak jiwanya menyatu dengan Tuhan, Pencipta alam semesta. Orang-orang memanggilnya “Zahid” atau “Si Ahli Zuhud”, karena kezuhudannya meskipun ia masih muda. Dia dikenal masyarakat sebagai pemuda yang paling tampan dan paling mencintai masjid di kota Kufah pada masanya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di dalam masjid, untuk ibadah dan menuntut ilmu pada ulama terkemuka kota Kufah. Saat itu masjid adalah pusat peradaban, pusat pendidikan, pusat informasi dan pusat perhatian.

    Pemuda itu terus larut dalam samudera ayat Ilahi. Setiap kali sampai pada ayat-ayat azab, tubuh pemuda itu bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. Neraka bagaikan menyala-nyala dihadapannya. Namun jika ia sampai pada ayat-ayat nikmat dan surga, embun sejuk dari langit terasa bagai mengguyur sekujur tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan. Ia bagai mencium aroma wangi para bidadari yang suci.

    Tatkala sampai pada surat Asy Syams, ia menangis,

    “fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha. qad aflaha man zakkaaha. wa qad khaaba man dassaaha …” (maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan, sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya …)

    Hatinya bertanya-tanya. Apakah dia termasuk golongan yang mensucikan jiwanya. Ataukah golongan yang mengotori jiwanya? Dia termasuk golongan yang beruntung, ataukah yang merugi?

    Ayat itu ia ulang berkali-kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang. Akhirnya ia pingsan.

    ***

    Sementara itu, di pinggir kota tampak sebuah rumah mewah bagai istana. Lampu-lampu yang menyala dari kejauhan tampak berkerlap-kerlip bagai bintang gemintang. Rumah itu milik seorang saudagar kaya yang memiliki kebun kurma yang luas dan hewan ternak yang tak terhitung jumlahnya.

    Dalam salah satu kamarnya, tampak seorang gadis jelita sedang menari-nari riang gembira. Wajahnya yang putih susu tampak kemerahan terkena sinar yang terpancar bagai tiga lentera yang menerangi ruangan itu. Kecantikannya sungguh memesona. Gadis itu terus menari sambil mendendangkan syair-syair cinta,

    “in kuntu ‘asyiqatul lail fa ka’si musyriqun bi dhau’ wal hubb al wariq …” (jika aku pencinta malam maka gelasku memancarkan cahaya dan cinta yang mekar …)

    ***

    Gadis itu terus menari-nari dengan riangnya. Hatinya berbunga-bunga. Di ruangan tengah, kedua orangtuanya menyungging senyum mendengar syair yang didendangkan putrinya. Sang ibu berkata, “Abu Afirah, putri kita sudah menginjak dewasa. Kau dengarkanlah baik-baik syair-syair yang ia dendangkan.”

    “Ya, itu syair-syair cinta. Memang sudah saatnya dia menikah. Kebetulan tadi siang di pasar aku berjumpa dengan Abu Yasir. Dia melamar Afirah untuk putranya, Yasir.”

    “Bagaimana, kau terima atau…?”

    “Ya jelas langsung aku terima. Dia ‘kan masih kerabat sendiri dan kita banyak berhutang budi padanya. Dialah yang dulu menolong kita waktu kesusahan. Di samping itu Yasir itu gagah dan tampan.”

    “Tapi bukankah lebih baik kalau minta pendapat Afirah dulu?”

    “Tak perlu! Kita tidak ada pilihan kecuali menerima pinangan ayah Yasir. Pemuda yang paling cocok untuk Afirah adalah Yasir.”

    “Tapi, engkau tentu tahu bahwa Yasir itu pemuda yang tidak baik.”

    “Ah, itu gampang. Nanti jika sudah beristri Afirah, dia pasti juga akan tobat! Yang penting dia kaya raya.”

    ***

    Pada saat yang sama, di sebuah tenda mewah, tak jauh dari pasar Kufah. Seorang pemuda tampan dikelilingi oleh teman-temannya. Tak jauh darinya seorang penari melenggak lenggokan tubuhnya diiringi suara gendang dan seruling.

    “Ayo bangun, Yasir. Penari itu mengerlingkan matanya padamu!” bisik temannya.

    “Be…benarkah?”

    “Benar. Ayo cepatlah. Dia penari tercantik kota ini. Jangan kau sia-siakan kesempatan ini, Yasir!”

    “Baiklah. Bersenang-senang dengannya memang impianku.”

    Yasir lalu bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiri sang penari. Sang penari mengulurkan tangan kanannya dan Yasir menyambutnya. Keduanya lalu menari-nari diiringi irama seruling dan gendang. Keduanya benar-benar hanyut dalam kelenaan. Dengan gerakan mesra penari itu membisikkan sesuatu ketelinga Yasir,

    “Apakah Anda punya waktu malam ini bersamaku?” Yasir tersenyum dan menganggukan kepalanya. Keduanya terus menari dan menari. Suara gendang memecah hati. Irama seruling melengking-lengking. Aroma arak menyengat nurani. Hati dan pikiran jadi mati.

    ***

    Keesokan harinya.

    Usai shalat dhuha, Zahid meninggalkan masjid menuju ke pinggir kota. Ia hendak menjenguk saudaranya yang sakit. Ia berjalan dengan hati terus berzikir membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ia sempatkan ke pasar sebentar untuk membeli anggur dan apel buat saudaranya yang sakit.

    Zahid berjalan melewati kebun kurma yang luas. Saudaranya pernah bercerita bahwa kebun itu milik saudagar kaya, Abu Afirah. Ia terus melangkah menapaki jalan yang membelah kebun kurma itu. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat titik hitam. Ia terus berjalan dan titik hitam itu semakin membesar dan mendekat. Matanya lalu menangkap di kejauhan sana perlahan bayangan itu menjadi seorang sedang menunggang kuda. Lalu sayup-sayup telinganya menangkap suara,

    “Toloong! Toloong!!”

    Suara itu datang dari arah penunggang kuda yang ada jauh di depannya. Ia menghentikan langkahnya. Penunggang kuda itu semakin jelas.

    “Toloong! Toloong!!”

    Suara itu semakin jelas terdengar. Suara seorang perempuan. Dan matanya dengan jelas bisa menangkap penunggang kuda itu adalah seorang perempuan. Kuda itu berlari kencang.

    “Toloong! Toloong hentikan kudaku ini! Ia tidak bisa dikendalikan!”

    Mendengar itu Zahid tegang. Apa yang harus ia perbuat. Sementara kuda itu semakin dekat dan tinggal beberapa belas meter di depannya. Cepat-cepat ia menenangkan diri dan membaca shalawat. Ia berdiri tegap di tengah jalan. Tatkala kuda itu sudah sangat dekat ia mengangkat tangan kanannya dan berkata keras,

    “Hai kuda makhluk Allah, berhentilah dengan izin Allah!”

    Bagai pasukan mendengar perintah panglimanya, kuda itu meringkik dan berhenti seketika. Perempuan yang ada dipunggungnya terpelanting jatuh. Perempuan itu mengaduh. Zahid mendekati perempuan itu dan menyapanya,

    “Assalamu’alaiki. Kau tidak apa-apa?”

    Perempuan itu mengaduh. Mukanya tertutup cadar hitam. Dua matanya yang bening menatap Zahid. Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan,

    “Alhamdulillah, tidak apa-apa. Hanya saja tangan kananku sakit sekali. Mungkin terkilir saat jatuh.”

    “Syukurlah kalau begitu.”

    Dua mata bening di balik cadar itu terus memandangi wajah tampan Zahid. Menyadari hal itu Zahid menundukkan pandangannya ke tanah. Perempuan itu perlahan bangkit. Tanpa sepengetahuan Zahid, ia membuka cadarnya. Dan tampaklah wajah cantik nan memesona,

    “Tuan, saya ucapkan terima kasih. Kalau boleh tahu siapa nama Tuan, dari mana dan mau ke mana Tuan?”

    Zahid mengangkat mukanya. Tak ayal matanya menatap wajah putih bersih memesona. Hatinya bergetar hebat. Syaraf dan ototnya terasa dingin semua. Inilah untuk pertama kalinya ia menatap wajah gadis jelita dari jarak yang sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya beradu pandang. Sang gadis terpesona oleh ketampanan Zahid, sementara gemuruh hati Zahid tak kalah hebatnya. Gadis itu tersenyum dengan pipi merah merona, Zahid tersadar, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya. “Innalillah. Astagfirullah,” gemuruh hatinya.

    “Namaku Zahid, aku dari masjid mau mengunjungi saudaraku yang sakit.”

    “Jadi, kaukah Zahid yang sering dibicarakan orang itu? Yang hidupnya cuma di dalam masjid?”

    “Tak tahulah. Itu mungkin Zahid yang lain.” kata Zahid sambil membalikkan badan. Ia lalu melangkah.

    “Tunggu dulu Tuan Zahid! Kenapa tergesa-gesa? Kau mau kemana? Perbincangan kita belum selesai!”

    “Aku mau melanjutkan perjalananku!”

    Tiba-tiba gadis itu berlari dan berdiri di hadapan Zahid. Terang saja Zahid gelagapan. Hatinya bergetar hebat menatap aura kecantikan gadis yang ada di depannya. Seumur hidup ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini.

    “Tuan aku hanya mau bilang, namaku Afirah. Kebun ini milik ayahku. Dan rumahku ada di sebelah selatan kebun ini. Jika kau mau silakan datang ke rumahku. Ayah pasti akan senang dengan kehadiranmu. Dan sebagai ucapan terima kasih aku mau menghadiahkan ini.”

    Gadis itu lalu mengulurkan tangannya memberi sapu tangan hijau muda. “Tidak usah.”

    “Terimalah, tidak apa-apa! Kalau tidak Tuan terima, aku tidak akan memberi jalan!”

    Terpaksa Zahid menerima sapu tangan itu. Gadis itu lalu minggir sambil menutup kembali mukanya dengan cadar. Zahid melangkahkan kedua kakinya melanjutkan perjalanan.

    ***

    Saat malam datang membentangkan jubah hitamnya, kota Kufah kembali diterangi sinar rembulan. Angin sejuk dari utara semilir mengalir.

    Afirah terpekur di kamarnya. Matanya berkaca-kaca. Hatinya basah. Pikirannya bingung. Apa yang menimpa dirinya. Sejak kejadian tadi pagi di kebun kurma hatinya terasa gundah. Wajah bersih Zahid bagai tak hilang dari pelupuk matanya. Pandangan matanya yang teduh menunduk membuat hatinya sedemikian terpikat. Pembicaraan orang-orang tentang kesalehan seorang pemuda di tengah kota bernama Zahid semakin membuat hatinya tertawan. Tadi pagi ia menatap wajahnya dan mendengarkan tutur suaranya. Ia juga menyaksikan wibawanya. Tiba-tiba air matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam hati ia berkata,

    “Inikah cinta? Beginikah rasanya? Terasa hangat mengaliri syaraf. Juga terasa sejuk di dalam hati. Ya Rabbi, tak aku pungkiri aku jatuh hati pada hamba-Mu yang bernama Zahid. Dan inilah untuk pertama kalinya aku terpesona pada seorang pemuda. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Ya Rabbi, izinkanlah aku mencintainya.”

    Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Ia teringat sapu tangan yang ia berikan pada Zahid. Tiba-tiba ia tersenyum,

    “Ah sapu tanganku ada padanya. Ia pasti juga mencintaiku. Suatu hari ia akan datang kemari.”

    Hatinya berbunga-bunga. Wajah yang tampan bercahaya dan bermata teduh itu hadir di pelupuk matanya.

    ***

    Sementara itu di dalam masjid Kufah tampak Zahid yang sedang menangis di sebelah kanan mimbar. Ia menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam shalat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sejak ia bertemu dengan Afirah di kebun kurma tadi pagi ia tidak bisa mengendalikan gelora hatinya. Aura kecantikan Afirah bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam relung-relung hatinya. Aura itu selalu melintas dalam shalat, baca Al-Quran dan dalam apa saja yang ia kerjakan. Ia telah mencoba berulang kali menepis jauh-jauh aura pesona Afirah dengan melakukan shalat sekhusyu’-khusyu’-nya namun usaha itu sia-sia.

    “Ilahi, kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini. Engkau Mahatahu atas apa yang menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan cinta-Mu. Namun Engkau juga tahu, hatiku ini tak mampu mengusir pesona kecantikan seorang makhluk yang Engkau ciptakan. Saat ini hamba sangat lemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan suaranya Ilahi, berilah padaku cawan kesejukan untuk meletakkan embun-embun cinta yang menetes-netes dalam dinding hatiku ini. Ilahi, tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling Engkau ridhai. Aku serahkan hidup matiku untuk-Mu.” Isak Zahid mengharu biru pada Tuhan Sang Pencipta hati, cinta, dan segala keindahan semesta.

    Zahid terus meratap dan mengiba. Hatinya yang dipenuhi gelora cinta terus ia paksa untuk menepis noda-noda nafsu. Anehnya, semakin ia meratap embun-embun cinta itu semakin deras mengalir. Rasa cintanya pada Tuhan. Rasa takut akan azab-Nya. Rasa cinta dan rindu-Nya pada Afirah. Dan rasa tidak ingin kehilangannya. Semua bercampur dan mengalir sedemikian hebat dalam relung hatinya. Dalam puncak munajatnya ia pingsan.

    Menjelang subuh, ia terbangun. Ia tersentak kaget. Ia belom shalat tahajjud. Beberapa orang tampak tengah asyik beribadah bercengkerama dengan Tuhannya. Ia menangis, ia menyesal. Biasanya ia sudah membaca dua juz dalam shalatnya.

    “Ilahi, jangan kau gantikan bidadariku di surga dengan bidadari dunia. Ilahi, hamba lemah maka berilah kekuatan!”

    Ia lalu bangkit, wudhu, dan shalat tahajjud. Di dalam sujudnya ia berdoa,

    “Ilahi, hamba mohon ridha-Mu dan surga. Amin. Ilahi lindungi hamba dari murkamu dan neraka. Amin. Ilahi, jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba pada Afirah pada-Mu, hamba terlalu lemah untuk menanggung-Nya. Amin. Ilahi, hamba memohon ampunan-Mu, rahmat-Mu, cinta-Mu, dan ridha-Mu. Amin.”

    ***

    Pagi hari, usai shalat dhuha Zahid berjalan ke arah pinggir kota. Tujuannya jelas yaitu melamar Afirah. Hatinya mantap untuk melamarnya. Di sana ia disambut dengan baik oleh kedua orangtua Afirah. Mereka sangat senang dengan kunjungan Zahid yang sudah terkenal ketakwaannya di seantero penjuru kota. Afiah keluar sekejab untuk membawa minuman lalu kembali ke dalam. Dari balik tirai ia mendengarkan dengan seksama pembicaraan Zahid dengan ayahnya. Zahid mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu melamar Afirah.

    Sang ayah diam sesaat. Ia mengambil nafas panjang. Sementara Afirah menanti dengan seksama jawaban ayahnya. Keheningan mencekam sesaat lamanya. Zahid menundukkan kepala ia pasrah dengan jawaban yang akan diterimanya. Lalu terdengarlah jawaban ayah Afirah,

    “Anakku Zahid, kau datang terlambat. Maafkan aku, Afirah sudah dilamar Abu Yasir untuk putranya Yasir beberapa hari yang lalu, dan aku telah menerimanya.”

    Zahid hanya mampu menganggukan kepala. Ia sudah mengerti dengan baik apa yang didengarnya. Ia tidak bisa menyembunyikan irisan kepedihan hatinya. Ia mohon diri dengan mata berkaca-kaca. Sementara Afirah, lebih tragis keadaannya. Jantungnya nyaris pecah mendengarnya. Kedua kakinya seperti lumpuh seketika. Ia pun pingsan saat itu juga.

    ***

    Zahid kembali ke masjid dengan kesedihan tak terkira. Keimanan dan ketakwaan Zahid ternyata tidak mampu mengusir rasa cintanya pada Afirah. Apa yang ia dengar dari ayah Afirah membuat nestapa jiwanya. Ia pun jatuh sakit. Suhu badannya sangat panas. Berkali-kali ia pingsan. Ketika keadaannya kritis seorang jamaah membawa dan merawatnya di rumahnya. Ia sering mengigau. Dari bibirnya terucap kalimat tasbih, tahlil, istigfhar dan … Afirah.

    Kabar tentang derita yang dialami Zahid ini tersebar ke seantero kota Kufah. Angin pun meniupkan kabar ini ke telinga Afirah. Rasa cinta Afirah yang tak kalah besarnya membuatnya menulis sebuah surat pendek,

    =======================================

    Kepada Zahid,

    Assalamu’alaikum

    Aku telah mendengar betapa dalam rasa cintamu padaku. Rasa cinta itulah yang membuatmu sakit dan menderita saat ini. Aku tahu kau selalu menyebut diriku dalam mimpi dan sadarmu. Tak bisa kuingkari, aku pun mengalami hal yang sama. Kaulah cintaku yang pertama. Dan kuingin kaulah pendamping hidupku selama-lamanya. Zahid, Kalau kau mau. Aku tawarkan dua hal padamu untuk mengobati rasa haus kita berdua. Pertama, aku akan datang ke tempatmu dan kita bisa memadu cinta. Atau kau datanglah ke kamarku, akan aku tunjukkan jalan dan waktunya.

    Wassalam Afirah

    =======================================

    Surat itu ia titipkan pada seorang pembantu setianya yang bisa dipercaya. Ia berpesan agar surat itu langsung sampai ke tangan Zahid. Tidak boleh ada orang ketiga yang membacanya. Dan meminta jawaban Zahid saat itu juga.

    Hari itu juga surat Afirah sampai ke tangan Zahid. Dengan hati berbunga-bunga Zahid menerima surat itu dan membacanya. Setelah tahu isinya seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia menarik nafas panjang dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Dengan berlinang air mata ia menulis untuk Afirah :

    =======================================

    Kepada Afirah,

    Salamullahi’alaiki,

    Benar aku sangat mencintaimu. Namun sakit dan deritaku ini tidaklah semata-mata karena rasa cintaku padamu. Sakitku ini karena aku menginginkan sebuah cinta suci yang mendatangkan pahala dan diridhai Allah ‘Azza Wa Jalla’. Inilah yang kudamba. Dan aku ingin mendamba yang sama. Bukan sebuah cinta yang menyeret kepada kenistaan dosa dan murka-Nya. Afirah, Kedua tawaranmu itu tak ada yang kuterima. Aku ingin mengobati kehausan jiwa ini dengan secangkir air cinta dari surga. Bukan air timah dari neraka. Afirah, “Inni akhaafu in ‘ashaitu Rabbi adzaaba yaumin ‘adhim!” ( Sesungguhnya aku takut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada Rabb-ku. Az Zumar : 13 ) Afirah, Jika kita terus bertakwa. Allah akan memberikan jalan keluar. Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini kecuali menangis pada-Nya. Tidak mudah meraih cinta berbuah pahala. Namun aku sangat yakin dengan firmannya : “Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (yaitu surga).” Karena aku ingin mendapatkan seorang bidadari yang suci dan bai