Updates from Agustus, 2015 Toggle Comment Threads | Pintasan Kibor

  • erva kurniawan 7:47 am on 22 August 2015 Permalink | Balas  

    Keutamaan Dan Kemuliaan Do’a (2) 

    berdoa-2Keutamaan Dan Kemuliaan Do’a

    Oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih

    Bagian Kedua dari Tiga Tulisan [2/3]

    [5]. Orang yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu berdoa berdasarkan hadits Nabi bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Orang yang lemah adalah orang yang meninggalkan berdoa dan orang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil terhadap salam”. [Al-Haitsami, kitab Majma’ Az-Zawaid. Thabrani, Al-Ausath. Al-Mundziri, kitab At-Targhib berkata : Sanadnya Jayyid (bagus) dan dishahihkan Al-Albani,As-Silsilah Ash-Shahihah 2/152-153 No. 601]. Imam Manawi berkata bahwa yang dimaksud dengan ‘Ajazu an-naasi adalah orang yang paling lemah akalnya dan paling buta penglihatan hatinya, dan yang dimaksud dengan Min ‘ajzin ‘an ad-dua’i adalah lemah memohon kepada Allah terlebih pada saat kesusahan dan demikian itu bisa mendatangkan murka Allah karena dia meninggalkan perintah- Nya padahal berdoa adalah perkerjaan yang sangat ringan.[Faidhul Qadir 1/556].

    Ahli syair berkata. Janganlah kamu meminta kepada manusia, memintalah kepada Dzat yang pintu-Nya tidak pernah tertutup.

    Allah akan murka jika engkau tidak meminta-Nya, sementara manusia marah jika sering diminta. Syair di atas menjadi bantahan terhadap anggapan bahwa yang lebih baik tidak berdoa.

    [6]. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan berdoa, barangsiapa yang meninggalkan doa berarti menentang perintah Allah dan barangsiapa yang melaksanakan berarti telah memenuhi perintah-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Artinya : Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. [Al-Baqarah : 186]. Syaikh Sa’di mengatakan bahwa ayat di atas sebagai jawaban atas pertanyaan para sahabat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka bertanya : Wahai Rasulullah, apakah Allah dekat sehingga kami memohon dengan berbisik-bisik ataukah Dia jauh sehingga kami memanggil-Nya dengan berteriak ? Maka turunlah ayat Allah. [Tafsir At-Thabari dan didhaifkan oleh Imam Ahmad 3/481].

    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat”. Karena Allah adalah Dzat Yang Maha Melihat, Maha Mengetahui dan Maha Menyaksikan terhadap sesuatu yang tersembunyi, rahasia dan mengetahui perubahan pandangan mata serta isi hati. Allah juga dekat dengan hamba-Nya yang meminta dan selalu sanggup mengabulkan permintaan. Maka Allah berfirman : “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”.

    Doa adalah dua macam yaitu doa ibadah dan doa permohonan. Kedekatan Allah dengan hamba-Nya terbagi dua macam yaitu ; kedekatan ilmu-Nya dengan setiap mahluk-Nya dan kedekatan dengan hamba-Nya dalam memberikan setiap permohonan, pertolongan dan taufik kepada mereka.

    Barangsiapa yang berdoa kepada Allah dengan hati yang khusyu’ dan berdoa sesuai dengan aturan syariat serta tidak ada penghalang diterima doa tersebut seperti makan makanan yang haram atau semisalnya, maka Allah berjanji akan mengabulkan permohonan tersebut. Apalagi bila disertai hal-hal yang menyebabkan terkabulnya doa seperti memenuhi perintah Allah, meninggalkan larangan-Nya baik secara ucapan maupun perbuatan dan yakin bahwa doa tersebut akan dikabulkan. Maka Allah berfirman : “Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hedaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

    Artinya orang yang berdoa akan berada dalam kebenaran yaitu mendapatkan hidayah untuk beriman dan berbuat amal shalih serta terhindar dari kejahatan dan kekejian. [Tafsir As-Sa’di 1/224-225].

    [7]. Imam Zarkasi berkata bahwa konsentrasi dalam berdoa serta menunjukkan sikap rendah, tunduk, penghambaan dan merasa membutuhkan Allah adalah merupakan ibadah yang paling agung bahkan demikian itu menjadi syarat sahnya ibadah.

    Allah berjanji akan memberikan pahala orang yang berdoa, meskipun tidak dikabulkan doanya.

    [8]. Berdoa adalah menyibukkan diri untuk mengingat Allah sehingga timbul dalam hati rasa pengagungan terhadap kebesaran Allah dan ingin kembali kepada-Nya berhenti dari maksiat. Sering mengetuk pintu mempunyai kesempatan besar untuk masuk, sehingga ada pepatah bahwa barangsiapa yang sering mengetuk pintu, maka suatu saat akan diberi izin masuk sehingga dikatakan :”Diberi kesempatan berdoa lebih baik daripada diberi sesuatu”.

    [9]. Banyak berdoa bisa menghindarkan bencana dan musibah, sebagaimana firman Allah yang mengkisahkan tentang Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam : “Artinya : Dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”. [Maryam : 48] Dan firman Allah tentang Nabi Zakaria ‘Alaihis Salam. “Artinya : Ia berkata :’Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku”. [(Maryam : 4) Al-Azhiyah fi Ahkamil Ad’iyah hal. 38-42].

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 21 August 2015 Permalink | Balas  

    Keutamaan Dan Kemuliaan Do’a (1) 

    ibu dan anak lelakinya berdoaKeutamaan Dan Kemuliaan Do’a

    Oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih

    Bagian Pertama dari Tiga Tulisan [1/3]

    [1]. Do’a adalah ibadah berdasarkan firman Allah :

    “Artinya : Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. [Ghafir : 60].

    Imam Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Syaikh Taqiyuddin Subki berkata : Yang dimaksud doa dalam ayat di atas adalah doa yang bersifat permohonan, dan ayat berikutnya ‘an ‘ibaadatiy menunjukkan bahwa berdoa lebih khusus daripada beribadah, artinya barangsiapa sombong tidak mau beribadah, maka pasti sombong tidak mau berdoa.

    Dengan demikian ancaman ditujukan kepada orang yang meninggalkan doa karena sombong dan barangsiapa melakukan perbuatan itu, maka dia telah kafir. Adapun orang yang tidak berdoa karena sesuatu alasan, maka tidak terkena ancaman tersebut. Walaupun demikian memperbanyak doa tetap lebih baik daripada meninggalkannya sebab dalil-dalil yang menganjurkan berdoa cukup banyak. [Fathul Bari 11/98].

    Dari Nu’man bin Basyir bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Artinya : Doa adalah ibadah”, kemudian beliau membaca ayat : “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu”. [Ghafir : 60].

    Imam Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Imam At-Thaibi berkata : Sebaiknya hadits Nu’man di atas difahami secara arti bahasa, artinya berdoa adalah memperlihatkan sikap berserah diri dan membutuhkan Allah, karena tidak dianjurkan ibadah melainkan untuk berserah diri dan tunduk kepada Pencipta serta merasa butuh kepada Allah. Oleh karena itu Allah mengakhiri ayat tersebut dengan firman-Nya : “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu”. Dalam ayat ini orang yang tidak mau tunduk dan berserah diri kepada Allah disebut orang-orang yang sombong, sehingga berdoa mempunyai keutamaan di dalam ibadah, dan ancaman bagi mereka yang tidak mau berdoa adalah hina dina. [Fathul Bari 11/98].

    Catatan :

    Hadits yang berbunyi :

    “Artinya : Doa adalah initi ibadah” [Hadits Dhaif]

    [Didhaifkan Al-Albani, Ta’liq ‘ala Misykatul Masabiih 2/693 No. 2231]

    [2]. Doa adalah ibadah yang paling mulia di sisi Allah, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Artinya : Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah daripada doa”. [Sunan At-Timidzi, bab Do’a 12/263, Sunan Ibnu Majah, bab Do’a 2/341 No. 3874. Musnad Ahmad 2/362].

    Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa makna hadits tersebut adalah tidak ada sesuatu ibadah qauliyah (ucapan) yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa, sebab membandingkan sesuatu harus sesuai dengan substansinya. Sehingga pendapat yang mengatakan bahwa shalat adalah ibadah badaniyah yang paling utama sehingga hal ini tidak bertentangan dengan firman Allah.

    “Artinya : Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu”. [Al-Hujurat : 13].

    [3]. Allah murka terhadap orang-orang yang meninggalkan doa, berdasarkan hadits bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan memurkainya”. [Sunan At-Tirmidzi, bab Do’a 12/267-268].

    Imam Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Imam At-Thaibi berkata : “Makna hadits di atas yaitu barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Dia akan murka begitu pula sebaliknya Dia sangat senang apabila diminta hamba-Nya”. [Fathul Bari 11/98]

    Imam Al-Mubarak Furi berkata bahwa orang yang meninggalkan doa berarti sombong dan merasa tidak membutuhkan Allah.

    Imam At-Thaibi berkata bahwa Allah sangat senang tatkala dimintai karunia-Nya, maka barangsiapa yang tidak memohon kepada Allah, maka berhak mendapat murka-Nya.

    Dari hadits di atas menunjukkan bahwa permohonan hamba kepada Allah merupakan kewajiban yang paling agung dan paling utama, karena menghindar dari murka Allah adalah suatu yang menjadi keharusan. [Mura’atul Mashabih 7/358]

    [4]. Doa mampu menolak takdir Allah, berdasarkan hadits dari Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali doa”. [Sunan At-Tirmidzi, bab Qadar 8/305-306]

    Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa yang dimaksud adalah, takdir yang tergantung pada doa dan berdoa bisa menjadi sebab tertolaknya takdir karena takdir tidak bertolak belakang dengan masalah sebab akibat, boleh jadi terjadinya sesuatu menjadi penyebab terjadi atau tidaknya sesuatu yang lain termasuk takdir. Suatu contoh berdoa agar terhindar dari musibah, keduanya adalah takdir Allah. Boleh jadi seseorang ditakdirkan tidak berdoa sehingga terkena musibah dan seandainya dia berdoa, mungkin tidak terkena musibah, sehingga doa ibarat tameng dan musibah laksana panah. [Mura’atul Mafatih 7/354-355].

    Syaikh Utsaimin ditanya : “Kita sering mendengar orang berdoa : Ya Allah kami tidak memohon agar takdir kami dirubah akan tetapi kami meminta kelembutan dalam takdir tersebut. Apakah doa tersebut dibolehkan .?”

    Jawaban :

    Berdoa seperti itu dilarang dan haram sebab doa bisa merubah takdir seperti yang telah disebutkan dalam hadits di atas. Bahkan orang yang berdoa seperti itu menantang Allah dan seakan mengatakan : “Ya Allah takdirkanlah kepadaku apa saja yang Engkau kehendaki tetapi berilah kelembutan dalam takdir tersebut”.

    Seharusnya orang yang berdoa berketetapan hati dalam doanya, seperti berdoa : Ya Allah kami memohon rahmat-Mu dan kami berlindung dari siksaan-Mu, dan doa semisalnya. Apabila seorang berdoa kepada Allah agar tidak dirubah takdirnya, maka apa manfaatnya sementara doa bisa merubah takdir, dan bisa jadi takdir tersebut hanya bisa berubah lantaran doa. Yang penting doa tersebut di atas tidak boleh dan hendaknya dihindarkan serta barangsiapa yang mendengar doa seperti itu sebaiknya menasehatinya. [Liqa’ Babul Maftuh 5/45-46]

     
  • erva kurniawan 8:30 am on 20 August 2015 Permalink | Balas  

    Seteguh Gunung Uhud 

    gunung uhudSeteguh Gunung Uhud

    Di antara ciri orang mukmin adalah berpendirian teguh, pantang menyerah, tidak kenal mundur, dan punya keinginan yang kuat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu. (QS Al- Hujuraat: 15).

    Sedangkan ciri orang munafik adalah: Karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguan. (QS At-Taubah: 45). Keputusan yang mereka buatpun tidak lurus. Ketika keputusan itu ada di belakang mereka maka merekapun mengingkarinya, dan ketika mereka berjanji maka mereka akan melanggarnya.

    Wahai hamba Allah, ketika kilat kebenaran itu menyala terang, zhann yang ada dibenakmu itu lebih kuat, dan manfaat-manfaat yang bisa diraih jelas maka lakukanlah dengan tanpa mempertimbangkan ini itu lagi dan jangan ditangguhkan. Buanglah kata “seandainya”, “kelak akan”, dan “bisa jadi”, melajulah seperti pedang di tangan seorang pahlawan.

    Ada seorang suami yang selalu ragu untuk menceraikan isterinya yang telah membuatnya merasa tua dan miskin. Suami itu pun mengadukan permasalahannya kepada hakim. Hakim bertanya, “Berapa tahun engkau hidup bersama isterimu ini?” Jawab sang suami, “Empat tahun.” Hakim itu bertanya keheranan, “Selama empat tahun, dan engkau mampu menelan pil kehidupan?”

    Memang benar ada yang disebut kesabaran, ketabahan, dan penantian. Tapi, sampai kapan? Hanya orang yang peka yang tahu apakah sesuatu itu sempurna atau tidak, baik atau tidak, bisa dilanjutkan atau tidak? Saat itulah dia akan segera mengambil keputusan.

    Seorang penyair berkata: Obat penawar bagi yang tidak disukai adalah segera melepaskannya.

    Dari cerita-cerita tentang perjalanan hidup orang bisa ditarik garis besar bahwa keraguan dan kebingungan itu menyerang umat manusia kapan saja. Namun umumnya umat manusia itu mudah sekali ragu dan bingung.

    Pertama, pada saat menentukan tempat belajar dan spesialisasi yang akan diambil. Rata-rata calon mahasiswa ketika harus masuk pendidikan tinggi, tidak tahu harus mengambil jurusan apa, dan itu makan waktu lama untuk menimbang dan memilih. Banyak mahasiswa yang membuang- buang waktunya hingga bertahun-tahun karena ragu jurusan apa yang harus dipilih dan fakultas mana yang harus dimasuki. Ada sebagian yang ragu sebelum mendaftar, sampai akhirnya waktu pendaftaran habis. Dan, ada juga masuk jurusan apa saja, dan hanya betah setahun dua tahun. Pertamanya, masuk fakultas syariah, kemudian berpaling ke fakultas ekonomi, dan setelah beberapa semester pindah ke kedokteran. Usianya pun habis terbuang untuk berpindah-pindah jurusan.

    Seandainya dari awal mau mempelajari kemampuan dirinya, bermusyawarah, dan sering melakukan istikharah, kemudian tidak menoleh kanan kiri, niscaya akan bisa menghemat umurnya dan akan memperoleh apap yang dia inginkan dari spesialisasi yang diambilnya.

    Kedua, pada saat memilih pekerjaan yang sesuai. Sebagian orang ada yang tidak tahu apa profesi yang cocok untuk dirinya. Saat sudah menjadi pegawai, ia masuk ke perusahaan. Tak berapa kemudian ia keluar dari perusahaan itu untuk merintis usaha dagang. Karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya dalam dagang maka ia pun bangkrut, dan jatuhlah miskin. Dan, terakhir, malah luntang lantung tak punya pekerjaan.

    Saya tegaskan di sini, siapa dibukakan pintu rezki, maka hendaklah ia menekuninya. Itu berarti, rezkinya memang ada di pintu itu. Karena siapa pun menekuni satu bidang kerja niscaya akan datang kepadanya kemudahan, pertolongan dan hikmah.

    Ketiga, pada saat menentukan untuk menikah. Banyak pemuda yang maju mundur dalam menentukan isteri. Terkadang pendapat orang lain masuk mempengaruhi penentuan pilihan. Menurut bapak, ada seorang wanita yang cocok untuk anaknya, namun itu bukan pilihan anak yang bersangkutan dan tidak disetujui ibunya. Mungkin saja si anak (terpaksa) setuju dengan pilihan bapaknya, tapi akhirnya rumah tangga anaknya tidak sesuai dengan yang diharapkan dan dikehendaki.

    Nasehat yang bisa saya sumbangkan adalah bahwa Anda jangan maju, khususnya, dalam masalah pernikahan kecuali dari sisi agama, kecantikan, dan kepribadian sudah bisa diterima. Sebab masalah pernikahan adalah masalah kelangsungan hidup si wanita, dan bukan sesuatu yang ketika tidak lagi berharga, lalu dengan bebas dicampakkan begitu saja.

    Keempat, pada saat hendak menjatuhkan talak. Sehari berikutnya sudah bulat keinginannya untuk berpisah, sehari kemudian ingin hidup bersama lagi, dan sehari berikutnya berkeinginan untuk mengakhiri kebersamaannya, dan hari berikutnya berkeinginan untuk memutuskan tali hubungannya. Dengan terlalu sering berubah pikiran seperti itu, maka diapun dilanda keletihan, dirundung panas jiwa, dan rusak cara berpikirnya. Semua itu, hanya Allah yang tahu.

    Kesempitan jiwa ini harus diakhiri dengan keputusan yang pasti. Manusia itu hidup hanya sekali, hari-hari yang telah dilaluinya tidak akan berulang, jam-jam yang sudah lewat tidak akan kembali lagi. Karenanya, ia harus berusaha menikmati waktu-waktu yang tidak akan kembali itu dan agar waktu-waktu itu menghantarkan kita kepada kebahagiaan dengan cara menetapkan keputusan.

    Ketika orang muslim itu telah menetapkan keinginannya, membulatkan tekad, dan bertawakal kepada Allah setelah sebelumnya beristikharah dan meminta rekomendasi dari sana-sini, maka ia sebagaimana dikatakan di muka, jika mau maka ia akan meletakkan matanya di antara dua keinginannya, dan mau tahu apa akibat yang mungkin terjadi.

    Ia melaju bagaikan aliran air, meluncur ke depan bagaikan sabetan pedang, kokoh bagaikan jaringan waktu, dan memancar bagaikan pancaran fajar.

    Sebagaimana terbayang dalam ketegasan Nuh a.s. menghadapi kaumnya yang benci, …karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. (QS Yunus: 71).

    ***

    Dr. ‘Aidh al-Qorny

    Dari buku Laa Tahzan (Jangan Bersedih!), penerbit Qisthy Press

     
  • erva kurniawan 3:35 am on 7 August 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (20) 

    semesta alamRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (20)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Hubungan Apakah Yang Terdapat Antara Penciptaan dan Ilmu Pengetahuan?

    Seperti telah ditunjukkan dalam semua pertanyaan yang telah kami paparkan sejauh ini, teori evolusi benar-benar bertentangan dengan berbagai penemuan ilmiah. Teori ini, yang lahir pada saat tingkat ilmu pengetahuan masih terbelakang di abad ke-19, telah digugurkan oleh berbagai penemuan ilmiah secara berturut-turut.

    Kaum evolusionis, yang secara membabi-buta mendukung teori tersebut, mencari jalan keluar dengan ungkapan dusta, karena tidak ada lagi dasar ilmiah yang tersisa. Yang paling sering dilakukan adalah penggunaan ucapan yang seringkali dilontarkan “penciptaan adalah keyakinan atau iman, jadi bukan bagian dari ilmu pengetahuan”. Selanjutnya, pernyataan ini menegaskan bahwa evolusi adalah teori ilmiah, sedangkan penciptaan hanyalah sebuah keyakinan. Namun, pengulangan ucapan “evolusi adalah ilmiah, sedangkan penciptaan adalah keyakinan” sebenarnya berasal dari sudut pandang yang salah. Mereka yang terus mengulanginya adalah orang-orang yang mengacaukan ilmu pengetahuan dengan filsafat materialis. Mereka yakin bahwa ilmu pengetahuan harus tetap berada dalam batas-batas materialisme, dan mereka yang tidak materialis tidak berhak membuat pernyataan apa pun. Namun, ilmu pengetahuan itu sendiri menolak materialisme.

    Mengkaji materi tidak sama dengan menjadi seorang materialis

    Marilah, secara singkat, kita tentukan arti materialisme agar masalah ini dapat kita pelajari dengan lebih rinci. Materialisme adalah filsafat yang sudah ada sejak zaman Yunani Kuno. Dasar filsafat ini adalah gagasan yang menyatakan bahwa yang ada hanyalah materi. Berdasarkan filsafat materialis, materi sudah ada sejak awal, dan akan selalu ada untuk selamanya. Tidak ada sesuatu apa pun selain materi. Namun, pernyataan ini tidaklah ilmiah, karena tidak bisa diuji dalam percobaan dan pengamatan. Ini hanyalah suatu keyakinan, suatu dogma.

    Akan tetapi, dogma ini berbaur dengan ilmu pengetahuan di abad ke-19, bahkan menjadi landasan berpijak bagi ilmu pengetahuan. Walaupun begitu, ilmu pengetahuan tidak harus menerima materialisme. Ilmu pengetahuan mengkaji alam dan jagat raya, dan hasil kajian tersebut tidaklah dibatasi oleh penggolongan filsafat apa pun.

    Menghadapi hal ini, beberapa orang materialis sering membela diri dengan sekedar permainan kata. Mereka berkata, “Materi adalah satu-satunya bahan kajian ilmu pengetahuan, karena itu, ilmu pengetahuan haruslah bersifat materialis.” Ya, ilmu pengetahuan hanya mengkaji materi, tetapi “mengkaji materi” adalah hal yang sangat berbeda dengan “menjadi seorang materialis”. Sebabnya adalah, saat kita mengkaji materi, kita sadar bahwa materi mengandung pengetahuan dan rancangan yang begitu dahsyat, sehingga mustahil dihasilkan oleh materi itu sendiri. Kita paham bahwa pengetahuan dan rancangan tersebut adalah hasil karya sebuah kecerdasan, walaupun kita tidak bisa melihatnya secara langsung.

    Sebagai contoh, bayangkanlah sebuah gua. Kita tidak tahu apakah gua itu pernah dimasuki orang atau belum. Jika, saat kita memasuki gua itu, yang ditemukan hanyalah tanah, debu dan batu, dapat kita simpulkan bahwa di sana tak ada apa-apa selain materi yang tersebar secara acak. Namun, apabila di dinding gua terdapat lukisan-lukisan yang bagus dengan warna-warni mengagumkan, dapat kita duga bahwa ada makhluk cerdas yang pernah masuk di gua itu sebelum kita. Mungkin kita tidak dapat langsung melihat makhluk itu, tetapi keberadaannya dapat kita simpulkan dari apa yang dihasilkannya.

    Ilmu pengetahuan menentang materialisme

    Ilmu pengetahuan mengkaji alam ini dengan cara yang sama seperti dijelaskan dalam contoh di atas. Jika semua rancangan di alam ini dapat dijelaskan dengan penyebab-penyebab yang bersifat materi semata, maka ilmu pengetahuan memperkuat materialisme. Namun, ilmu pengetahuan modern telah mengungkapkan bahwa di alam ini terdapat suatu rancangan yang tak bisa dijelaskan dengan penyebab bersifat materi, dan bahwa segenap materi mengandung suatu rancangan yang diciptakan oleh Sang Pencipta.

    Contohnya, semua percobaan dan pengamatan membuktikan bahwa materi itu sendiri tidak dapat menghasilkan kehidupan. Karena itu, makhluk hidup pastilah hasil dari sebuah penciptaan metafisik. Semua percobaan evolusionis ke arah ini berakhir dengan kegagalan. Kehidupan tidak mungkin diciptakan dari materi tak-hidup. Ahli biologi evolusionis Andrew Scott membuat pengakuan berikut mengenai masalah tersebut dalam jurnal terkenal New Scientist:

    Ambillah sejumlah materi, panaskan sambil diaduk, dan tunggulah. Itulah Genesis versi modern. Gaya-gaya “dasar”, yakni gravitasi, elektromagnetisme, serta gaya ikat inti atom yang kuat dan lemah dianggap sebagai gaya yang menyempurnakan proses tersebut… Tetapi, seberapa jauhkah kisah yang disusun sangat baik ini telah benar-benar terbukti, dan seberapa besarkah yang masih berupa dugaan yang penuh harap? Sebenarnya, mekanisme dari hampir seluruh tahapan utama, dari zat-zat kimiawi pembentuk, hingga sel-sel yang paling awal diketahui, masih menjadi bahan persengketaan, atau, kalau tidak, pastilah merupakan kebingungan yang menyeluruh.

    Akar kehidupan didasarkan pada dugaan dan perdebatan karena dogma materialis bersikeras menyatakan bahwa kehidupan merupakan hasil dari materi. Akan tetapi, fakta-fakta ilmiah menunjukkan bahwa materi tidak memiliki kekuatan seperti itu. Profesor Fred Hoyle, ahli matematika dan astronomi yang dianugerahi gelar kebangsawanan untuk sumbangsihnya bagi ilmu pengetahuan, memberi ulasan berikut tentang hal ini:

    Jika terdapat sifat mendasar materi yang melalui suatu cara dapat mendorong sistem organik mengarah pada terbentuknya kehidupan, maka keberadaannya haruslah dapat diperlihatkan di laboratorium. Misalnya, seseorang bisa saja menggunakan bak kolam renang sebagai ganti “ramuan sop purba”. Isilah bak itu dengan zat-zat kimia non-biologis mana pun yang Anda sukai. Pompakan gas ke atasnya, atau ke dalamnya, sesuka Anda, dan sinarilah dengan radiasi jenis apa pun yang Anda kehendaki. Biarkan percobaan ini berlangsung selama setahun, dan lihatlah ada berapa dari 2000 tersebut (protein yang dibuat dan dihasilkan sel hidup) yang muncul dalam bak ramuan itu. Saya akan memberi jawabannya, dan ini akan menghemat waktu, tenaga dan biaya melakukan percobaan secara sungguhan. Anda tak akan mendapatkan apa pun, selain (mungkin) endapan berlendir terapung yang terdiri atas asam-asam amino serta zat-zat kimia organik sederhana lainnya.

    Sebenarnya, materialisme sedang menghadapi kesulitan yang lebih buruk. Materi tak bisa membentuk kehidupan, walaupun diberi waktu serta digabungkan dengan pengetahuan manusia – apalagi tanpa faktor-faktor tersebut.

    Kebenaran, yang baru saja kita tinjau sekilas adalah kebenaran bahwa materi itu sendiri tidak dapat merancang dan tidak berpengetahuan. Namun, jagat raya dan makhluk hidup di dalamnya mengandung rancangan dan pengetahuan yang luar biasa kompleks. Ini menunjukkan bahwa rancangan dan pengetahuan dalam jagat raya serta makhluk hidup adalah karya Pencipta yang memiliki kekuasaan serta pengetahuan yang tak terhingga – Pencipta yang telah ada sebelum materi itu sendiri ada, serta menguasai dan mengendalikannya.

    Jika kita teliti dengan cermat, inilah kesimpulan yang ilmiah sepenuhnya. Ini bukanlah “keyakinan”, melainkan kebenaran yang diperoleh sebagai hasil pengamatan akan jagat raya dan makhluk hidup yang menghuninya. Karena itulah, pendapat evolusionis “Evolusi adalah ilmiah, sedangkan penciptaan adalah keyakinan di luar wilayah ilmu pengetahuan” merupakan tipuan yang dangkal. Memang, pada abad ke-19, materialisme dikacaukan dengan ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan terbawa ke luar jalur oleh dogma materialis. Namun, perkembangan selanjutnya, di abad ke-20 dan ke-21, telah sepenuhnya menggugurkan keyakinan kuno itu. Dan, kebenaran penciptaan, yang tadinya terhalang materialisme, kini pun tampak. Seperti jelas dinyatakan majalah terkenal Newsweek, dalam edisi 27 Juli 1998-nya yang bersejarah, dengan berita utama yang berjudul Science Finds God (Ilmu Pengetahuan Menemukan Tuhan) – di balik penipuan materialis, ilmu pengetahuan menemukan Tuhan, Pencipta alam semesta dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya.

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 5 August 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (19) 

    e_coli1_enRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (19)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa Kekebalan Bakteri Terhadap Antibiotik Bukanlah Contoh Peristiwa Evolusi?

    Satu konsep biologi yang dicoba-sajikan sebagai bukti teori evolusi oleh para evolusionis adalah kekebalan atau daya tahan bakteri terhadap antibiotik. Banyak sumber evolusionis menyebutkan bahwa kekebalan terhadap antibiotik adalah sebuah contoh perkembangan makhluk hidup melalui mutasi yang menguntungkan. Hal serupa juga dikatakan tentang serangga yang menjadi kebal terhadap insektisida seperti DDT.

    Akan tetapi, kaum evolusionis pun salah dalam hal ini.

    Antibiotik adalah “molekul pembunuh” yang dihasilkan mikroorganisme untuk melawan mikroorganisme lain. Antibiotik pertama adalah penisilin, yang ditemukan oleh Alexander Flemming pada 1928. Flemming menyadari bahwa jamur (seringkali ditemukan seperti bubuk atau benang-benang di permukaan bahan organik sudah lama – penerj.) menghasilkan molekul yang mematikan bakteri Staphylococcus, dan penemuan ini merupakan titik balik dalam dunia obat-obatan. Antibiotik yang diambil dari berbagai organisme digunakan untuk melawan bakteri, dan berhasil.

    Tidak lama kemudian, hal baru ditemukan. Seiring dengan waktu, bakteri mengembangkan kekebalan terhadap antibiotik. Mekanisme kerjanya adalah sebagai berikut: sebagian besar bakteri yang diberi antibiotik akan mati, tetapi sebagian lain yang tidak terpengaruh oleh antibiotik tersebut, akan dengan cepat berkembang biak dan membentuk populasi yang sama dengan yang sebelumnya. Sehingga, seluruh populasi menjadi kebal terhadap antibiotik.

    Para evolusionis menampilkan hal ini sebagai “evolusi bakteri dengan cara beradaptasi terhadap lingkungan”.

    Akan tetapi, kenyataan sebenarnya jauh berbeda dengan penafsiran dangkal ini. Salah seorang ilmuwan yang telah melakukan penelitian mendalam di bidang ini adalah ahli biofisika Israel bernama Lee Spetner, yang juga dikenal dengan bukunya Not by Chance yang terbit tahun 1997. Spetner menyatakan, kekebalan bakteri terjadi karena dua mekanisme; namun tak satu pun dari keduanya merupakan bukti teori evolusi. Kedua mekanisme ini adalah:

    1. Perpindahan (transfer) gen-gen kekebalan yang sudah ada pada bakteri.
    2. Tumbuhnya kekebalan sebagai akibat hilangnya data genetis karena mutasi.

    Mekanisme yang pertama dibahas Profesor Spetner dalam artikel yang terbit tahun 2001:

    Sejumlah mikroorganisme dilengkapi dengan gen-gen yang memberikan kekebalan terhadap antibiotik-antibiotik ini. Kekebalan ini dapat berupa kemampuan merombak molekul antibiotik tersebut, atau mengeluarkannya dari sel … [O]rganisma yang memiliki gen-gen ini dapat memindahkannya ke bakteri lain, sehingga menjadikan bakteri tersebut kebal juga. Walaupun mekanisme kekebalan tersebut bersifat khusus terhadap satu antibiotik tertentu, kebanyakan bakteri patogen telah … berhasil mengumpulkan beberapa perangkat gen yang memberikan bakteri-bakteri tersebut kekebalan terhadap beberapa jenis antibiotik.

    Spetner lalu melanjutkan dan berkata bahwa hal ini bukanlah “bukti yang mendukung evolusi”:

    Perolehan kekebalan terhadap antibiotik dengan cara ini… bukanlah sesuatu yang dapat menjadi contoh dari mutasi yang diperlukan untuk menjelaskan peristiwa Evolusi… Perubahan genetik yang dapat mendukung teori ini semestinya tidak hanya menambahkan informasi pada genom bakteri. Perubahan genetik ini harus pula menambahkan informasi baru pada biokosmos. Perpindahan gen secara horisontal hanya menyebabkan penyebaran gen-gen yang sudah ada pada sejumlah spesies.

    Jadi, kita tak dapat berbicara tentang evolusi apa pun di sini, karena tidak ada informasi genetis baru dihasilkan: yang terjadi hanyalah informasi genetis yang sudah ada sekedar dipindahkan di antara bakteri.

    Jenis kekebalan yang kedua, yang tercipta sebagai hasil mutasi, juga bukan contoh evolusi. Spetner menulis:

    … [S]uatu mikroorganisme kadang dapat memperoleh kekebalan terhadap suatu antibiotik melalui penggantian acak sebuah nukleotida… Streptomisin, yang ditemukan Selman Waksman dan Albert Schatz, dan pertama kali dilaporkan di tahun 1944, adalah antibiotik yang dapat menjadikan bakteri dapat memperoleh kekebalan dengan cara itu. Tetapi, walaupun mutasi yang mereka alami dalam proses ini bersifat menguntungkan bagi mikroorganisme yang diberi streptomisin, mutasi tersebut tidak dapat menjadi contoh dari jenis mutasi yang diperlukan untuk mendukung Teori Neo-Darwinian (Neo Darwinian Theory atau NDT). Jenis mutasi yang memunculkan kekebalan terhadap streptomisin terjadi pada ribosom, dan menghilangkan kemampuan sel untuk mengenali dan berikatan dengan molekul antibiotik.

    Dalam bukunya Not by Chance, Spetner mengibaratkan situasi ini dengan gangguan pada hubungan antara kunci dan lubangnya. Streptomisin, ibarat kunci yang cocok dengan lubangnya, mencengkeram ribosom suatu bakteri dan menjadikannya tidak aktif. Mutasi menyebabkan hal sebaliknya, menguraikan ribosom, sehingga streptomisin tidak dapat menyerang ribosom. Walaupun ini ditafsirkan sebagai “pembentukan kekebalan bakteri terhadap streptomisin”, bakteri tidaklah diuntungkan, malah sebaliknya. Spetner menulis:

    Perubahan ini, yang terjadi pada permukaan ribosom mikroorganisme, mencegah molekul streptomisin untuk menempel dan melaksanakan fungsi antibiotiknya. Ternyata, terurainya ribosom adalah berupa hilangnya struktur khusus, dan ini berarti hilangnya informasi. Intinya adalah, Evolusi… tidak dapat dicapai dengan mutasi jenis ini, tak menjadi soal betapa pun banyaknya. Evolusi tidak dapat terjadi melalui timbunan peristiwa mutasi yang hanya merombak struktur khusus.

    Singkatnya, sebuah mutasi yang terjadi pada ribosom bakteri telah menjadikan bakteri tersebut kebal terhadap streptomisin. Alasannya adalah “rusak atau hilangnya bagian” ribosom akibat mutasi. Jadi, tidak ada informasi genetis baru yang ditambahkan. Sebaliknya, struktur ribosom terurai, yang berarti, bakteri menjadi “cacat”. (Juga, telah ditemukan bahwa ribosom pada bakteri yang telah mengalami mutasi tidak berfungsi penuh seperti ribosom pada bakteri yang normal.) Karena “cacat” ini mencegah menempelnya antibiotik pada ribosom, maka terjadilah “kekebalan terhadap antibiotik”.

    Akhirnya, tidak terdapat contoh mutasi yang “mengembangkan informasi genetis”. Para evolusionis, yang ingin menyajikan kekebalan terhadap antibiotik sebagai bukti evolusi, telah menangani masalah ini dengan tidak sungguh-sungguh, sehingga mereka salah.

    Sama halnya dengan terjadinya kekebalan serangga terhadap DDT dan insektisida sejenis. Pada umumnya, gen-gen kekebalan yang sudah ada, digunakan. Ahli biologi evolusioner, Francisco Ayala mengakui fakta ini, dan berkata: “Varian genetis yang dibutuhkan untuk terjadinya kekebalan terhadap jenis pestisida yang paling bervariasi sekali pun, tampaknya sudah ada dalam setiap populasi yang terkena senyawa-senyawa buatan manusia ini.”73 Contoh lain yang dijelaskan dengan mutasi, seperti halnya mutasi ribosom yang telah diceritakan di atas, adalah fenomena yang menyebabkan “berkurangnya informasi genetis” pada serangga.

    Dalam kasus ini, mekanisme kekebalan pada bakteri dan serangga tidak bisa dinyatakan sebagai bukti kebenaran teori evolusi. Hal ini berlaku karena teori evolusi menegaskan bahwa makhluk hidup berkembang melalui mutasi. Namun, Spetner menjelaskan bahwa kekebalan antibiotik maupun fenomena biologis lainnya bukanlah isyarat adanya mutasi semacam itu:

    Mutasi-mutasi yang diperlukan bagi terjadinya makro-evolusi belum pernah teramati. Tidak ada mutasi acak – yang dapat menjadi bukti mutasi yang dibutuhkan Teori Neo-Darwinis – pada tingkat molekuler, yang telah menambahkan sedikit pun informasi. Pertanyaan yang saya ajukan adalah: Apakah mutasi yang telah diamati merupakan jenis yang diperlukan untuk mendukung teori ini? Ternyata jawabnya adalah TIDAK!

     
  • erva kurniawan 9:29 am on 4 August 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (18) 

    dnaRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (18)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa DNA Tidak Mungkin Dijelaskan Sebagai Sebuah “Kebetulan”?

    Dengan tingkat ilmu pengetahuan yang telah dicapai kini, kita menyaksikan bahwa berbagai rancangan dan sistem kompleks yang jelas terdapat dalam makhluk hidup tidak mungkin muncul secara kebetulan. Sebagai contohnya, berkat pencapaian Proyek Genom Manusia (Human Genome Project) belakangan ini, kita dapat melihat rancangan yang menakjubkan serta kandungan informasi yang sangat banyak yang terdapat di dalam gen manusia.

    Dalam kerangka proyek tersebut, ilmuwan dari berbagai negara – dari Amerika serikat sampai Cina – telah 10 tahun bekerja untuk memecahkan 3 miliar kode kimia yang terdapat di dalam DNA. Sebagai hasilnya, kini hampir semua informasi dalam gen manusia telah disusun secara berurut.

    Walaupun kemajuan yang telah dicapai sangatlah menggairahkan dan merupakan perkembangan yang penting, seperti Dr. Fancis Collins, pimpinan Proyek Genome Manusia katakan, bahwa ini hanyalah langkah pertama dalam memecahkan kode informasi yang terkandung di dalam DNA.

    Guna memahami mengapa diperlukan waktu 10 tahun dan ratusan ilmuwan untuk menyingkapkan kode-kode pembentuk informasi ini, kita harus lebih dahulu memahami besarnya informasi yang terkandung dalam DNA.

    DNA menyingkapkan adanya sumber pengetahuan yang tak terhingga

    DNA dari satu sel manusia saja sudah berisi informasi yang cukup untuk mengisi ensiklopedi yang terdiri dari sejuta halaman. Kita tidak mungkin habis membacanya dalam seumur hidup. Jika seseorang mulai membaca satu kode DNA per detik, tanpa henti, sepanjang hari, setiap hari, akan diperlukan waktu 100 tahun. Sebab, ensiklopedia tersebut berisi hampir tiga miliar kode yang berbeda-beda. Jika kita tulis semua informasi DNA pada kertas, maka panjangnya akan membentang dari Garis Katulistiwa mencapai Kutub Utara. Ini berarti sekitar 1000 jilid buku – lebih dari cukup untuk mengisi satu perpustakaan yang besar.

    Lebih dari itu, semua informasi ini terkandung dalam inti setiap sel. Artinya, bila setiap individu terdiri dari sekitar 100 triliun buah sel, maka akan terdapat 100 triliun versi dari perpustakaan yang sama.

    Bila dibandingkan dengan jumlah informasi yang telah dicapai pengetahuan manusia hingga saat ini, kita tidak mungkin memberikan contoh yang setara besarnya. Sebuah gambaran yang sulit untuk dipercaya: 100 triliun x 1000 buku! Ini lebih banyak dibandingkan jumlah butir pasir di dunia. Lebih jauh lagi, jika kita kalikan jumlah tersebut dengan enam miliar yang kini hidup di Bumi, ditambah miliaran yang telah hidup sebelum kita, angka yang didapatkan akan berada di luar jangkauan pemahaman kita. Jumlah informasi itu mencapai ketakterhinggaan.

    Beberapa contoh ini menunjukkan betapa dahsyatnya informasi yang begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Kini manusia memiliki komputer canggih yang dapat menyimpan informasi dalam jumlah amat besar. Akan tetapi, bila kita bandingkan DNA dengan komputer tersebut, kita akan takjub menyaksikan bahwa teknologi paling mutakhir – hasil timbunan seluruh usaha dan ilmu pengetahuan manusia berabad-abad – belum mencapai kapasitas penyimpanan satu buah sel pun.

    Gene Myers adalah salah satu pakar paling terkemuka di Celera Genomics, yakni perusahaan pelaksana Proyek Genome Manusia. Perkataannya sehubungan dengan hasil proyek tersebut merupakan sebuah pernyataan tentang pengetahuan dan rancangan hebat yang terdapat dalam DNA: “Apa yang betul-betul menakjubkan saya adalah arsitektur kehidupan … Sistem ini teramat kompleks. Seolah ini telah dirancang … Ada kecerdasan luar biasa di sana.”

    Sisi menarik lainnya adalah semua makhluk hidup di planet ini telah diciptakan menurut paparan kode yang ditulis dalam bahasa yang sama ini. Tidak ada bakteri, tumbuhan ataupun hewan yang tercipta tanpa DNA. Terlihat jelas bahwa seluruh kehidupan muncul sebagai hasil berbagai pemaparan yang menggunakan satu bahasa, dan berasal dari sumber pengetahuan yang sama.

    Hal ini membawa kita kepada satu kesimpulan yang jelas. Semua kehidupan di bumi, hidup dan berkembang biak menurut informasi yang diciptakan oleh satu kecerdasan tunggal.

    Hal ini menjadikan teori evolusi sama sekali tak berarti. Sebabnya adalah, dasar teori evolusi adalah “kebetulan”, sedangkan peristiwa kebetulan tidak mampu menciptakan informasi. Jika suatu hari ditemukan sebuah ramuan obat yang sanggup melawan kanker tertulis di sehelai kertas, umat manusia akan bergabung untuk mencari tahu siapa ilmuwan yang terkait, serta bahkan memberikan penghargaan kepadanya. Tak seorang pun akan berpikir, “Jangan-jangan ramuan obat itu kebetulan tertulis akibat tumpahan tinta di kertas itu.” Setiap orang yang berakal dan mampu berpikir jernih akan beranggapan bahwa ramuan itu ditulis oleh seseorang yang telah mengkaji ilmu-ilmu kimia, fisiologi manusia, kanker dan farmakologi, secara mendalam.

    Pernyataan evolusionis, bahwa informasi pada DNA timbul secara kebetulan, sangatlah tidak masuk akal. Hal ini setara dengan mengatakan bahwa ramuan obat pada kertas tersebut juga tertulis secara kebetulan. DNA mengandung rumus molekul terperinci dari 100.000 jenis protein dan enzim, sekaligus perintah yang cermat namun rumit tentang pengaturan penggunaan zat-zat tersebut selama produksi. Disamping itu, juga terkandung rencana produksi berbagai hormon pembawa-pesan serta tata-cara komunikasi antar-sel tempat di mana zat-zat tersebut digunakan, serta segala jenis informasi lain yang rumit dan tertentu.

    Pernyataan yang mengatakan bahwa DNA – beserta semua informasi di dalamnya – tercipta secara kebetulan, atau terjadi karena sebab-sebab alamiah, adalah cermin ketidakpahaman atas permasalahan yang ada atau keyakinan buta materialis. Gagasan yang mengatakan bahwa sebuah molekul seperti DNA – beserta kandungan informasinya yang menakjubkan dan strukturnya yang kompleks – dapat dihasilkan secara kebetulan, tidak pantas dianggap serius. Tidaklah mengherankan, para evolusionis berusaha memberi penjelasan dangkal perihal sumber kehidupan, seperti juga berbagai perihal lainnya, dengan menjabarkannya sebagai “rahasia yang belum terpecahkan”.

     
  • erva kurniawan 3:25 am on 3 August 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (17) 

    metamorfosis katakRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (17)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa Peristiwa Metamorfosis Bukanlah Bukti Kebenaran Teori Evolusi?

    Beberapa jenis hewan mengalami perubahan fisik agar dapat bertahan dan beradaptasi dengan kondisi alam yang berubah-ubah. Proses ini dikenal sebagai metamorfosis. Mereka yang tak begitu memahami biologi, serta mereka yang mendukung teori evolusi, kadang-kadang mencoba menggambarkan proses itu sebagai bukti evolusi. Sumber-sumber yang menyatakan metamorfosis sebagai “contoh evolusi” adalah omong kosong. Hal ini merupakan hasil propaganda dangkal dan sempit, yang bertujuan menyesatkan mereka yang kurang paham tentang perihal ini, pendukung evolusi yang masih baru, serta guru-guru biologi Darwinis yang tidak benar-benar tahu masalahnya. Para ilmuwan yang dianggap ahli dalam bidang evolusi, dan memahami kebuntuan dan pertentangan dalam teori ini, seringkali bersikap segan bila harus mengungkapkan pernyataan yang menggelikan ini. Sebab, mereka tahu betapa pendapat tersebut tidak masuk akal …

    Kupu-kupu, lalat dan lebah adalah beberapa contoh hewan yang dikenal mengalami proses metamorfosis. Katak, yang mula-mula hidup di air lalu pindah ke darat, merupakan contoh yang lain. Hal ini tak ada kaitannya dengan evolusi, karena teori evolusi berusaha menjelaskan proses munculnya keberagaman di antara makhluk hidup melalui peristiwa mutasi yang terjadi secara tidak disengaja. Akan tetapi, metamorfosis tidak memiliki kesamaan apa pun dengan pernyataan tersebut. Metamorfosis merupakan proses yang sudah direncanakan, dan tidak ada kaitannya dengan mutasi ataupun faktor kebetulan. Metamorfosis tidaklah disebabkan oleh kebetulan. Penyebab proses ini adalah data genetis yang sudah menjadi bagian terpadu makhluk tersebut sejak lahir. Misalnya, katak memiliki informasi genetis yang memungkinkannya hidup di darat serta di bawah permukaan air. Bahkan saat masih berbentuk larva, seekor nyamuk memiliki informasi genetis tentang bentuk pupa dan dewasa. Hal serupa juga terdapat pada semua hewan yang mengalami metamorfosis.

    Metamorfosis adalah bukti penciptaan

    Penelitian ilmiah terakhir tentang metamorfosis telah menunjukkan bahwa peristiwa metamorfosis adalah proses rumit yang dikendalikan oleh beberapa gen yang berlainan. Dalam metamorfosis katak, misalnya, proses yang menyangkut ekor dikendalikan oleh lebih dari dua belas gen. Artinya, proses pembentukan ekor terjadi berkat adanya kerja sama antara beberapa bagian. Ini merupakan proses biologi yang menunjukkan ciri irreducible complexity, atau “kerumitan tak tersederhanakan”, yang berarti metamorfosis adalah bukti akan adanya penciptaan.

    Irreducible complexity adalah konsep dalam dunia ilmiah yang diungkapkan oleh Profesor Michael Behe, ahli biokimia yang dikenal atas penelitiannya yang membuktikan ketidakabsahan teori evolusi. Arti konsep ini adalah organ dan sistem kompleks berfungsi sebagai hasil kerja sama berbagai bagian penyusunnya, dan jika saja satu bagian terkecil tidak berfungsi, maka seluruh sistem atau organ akan berhenti pula. Struktur yang rumit ini tidak mungkin muncul secara kebetulan, berubah sedikit demi sedikit seperti yang diungkapkan oleh teori evolusi. Yang terjadi dalam peristiwa metamorfosis adalah irreducible complexity (kerumitan tak tersederhanakan). Proses metamorfosis terjadi melalui keseimbangan dan pewaktuan hormon yang sangat teliti, yang dipengaruhi oleh beragam gen. Kesalahan terkecil sekali pun akan mengakibatkan kematian makhluk hidup tersebut. Oleh sebab itu, tidak mungkin proses serumit ini dapat terjadi secara kebetulan dan bertahap. Karena kesalahan sekecil apa pun akan mengakibatkan kematian hewan tersebut, adalah mustahil menjelaskan peristiwa ini dengan mekanisme “trial and error” (coba-coba) atau seleksi alam, seperti pendapat evolusionis. Tidak ada satu pun makhluk yang dapat bertahan berjuta-juta tahun, untuk menunggu bagian tubuh yang diperlukannya muncul secara kebetulan.

    Mengingat semua hal di atas, jelaslah bahwa metamorfosis tidak membuktikan kebenaran teori evolusi, seperti yang diasumsikan oleh sebagian orang yang kurang paham tentang metamorfosis. Sebaliknya, apabila kita renungkan betapa rumitnya proses dan sistem pengendali metamorfosis, hewan-hewan yang mengalami metamorfosis adalah bukti yang jelas akan fakta penciptaan.

     
  • erva kurniawan 9:22 am on 2 August 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (16) 

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (16)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa Anggapan “Di Masa Depan Kebenaran Teori Evolusi Akan Terbuki” Adalah Salah?

    Ketika mereka sudah tersudut, ada di antara para pendukung teori evolusi yang mengandalkan kata-kata: “Bahkan kalau pun penemuan ilmiah masa kini tidak menegaskan kebenaran evolusi, teori ini akan terbukti dengan perkembangan ilmu yang terjadi di masa yang akan datang.”

    Ini adalah titik awal pengakuan kekalahan kaum evolusionis di arena ilmiah. Bila kita membaca yang tersirat, maka kita akan mendapatkan: “Ya, kami, para pendukung evolusi, mengakui bahwa berbagai penemuan di bidang ilmiah tidak mendukung teori kami. Oleh sebab itulah, tidak ada alternatif lain bagi kami selain menunda perihal ini ke masa depan.”

    Akan tetapi, ilmu pengetahuan tidak bekerja dengan cara berpikir seperti demikian. Seorang ilmuwan seharusnya tidak lebih dahulu meyakini sebuah teori secara buta, sambil berharap, suatu saat nanti, bukti atas kebenaran teori itu akan muncul. Ilmu pengetahuan memeriksa semua bukti yang ada, lalu menyimpulkannya. Karena itu, para ilmuwan seharusnya menerima adanya fakta “rancangan”, atau dengan kata lain fakta penciptaan, yang telah dibuktikan secara ilmiah.

    Akan tetapi, propaganda dan bujukan evolusionis masih mampu mempengaruhi orang, terutama yang tidak begitu paham tentang teori ini. Oleh sebab itu, ada baiknya bila ketiga pertanyaan berikut ini dijawab secara lengkap dan jelas:

    Kita dapat menguji keabsahan teori evolusi dengan tiga pertanyaan dasar:

    1. Bagaimana sel hidup pertama muncul?
    2. Bagaimana satu spesies dapat berubah menjadi spesies lain?
    3. Adakah bukti dalam catatan fosil bahwa makhluk hidup memang melalui proses seperti itu?

    Sejumlah besar penelitian selama abad ke-20, telah dilakukan untuk menjawab ketiga pertanyaan di atas – pertanyaan yang harus dijawab oleh teori evolusi. Akan tetapi, penelitian-penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa teori evolusi tidak dapat menjelaskan tentang kehidupan. Ini terlihat jelas dalam pembahasan yang lebih mendalam dari ketiga pertanyaan di atas:

    I. Pertanyaan tentang munculnya “sel pertama” adalah persoalan sulit yang paling mematikan bagi pendukung teori evolusi. Hasil berbagai penelitian yang berkenaan dengan hal ini menunjukkan bahwa kemunculan sel pertama tidak dapat dijelaskan oleh konsep “kebetulan”. Fred Hoyle menyatakan hal itu sebagai berikut:

    Peluang munculnya makhluk hidup dengan cara ini adalah sebanding dengan peluang angin tornado yang menyapu lahan penimbunan barang-barang bekas dan kemudian merakit sebuah pesawat Boeing 747 dari bahan-bahan yang ada di dalamnya.

    Berikut ini adalah sebuah contoh untuk melihat kontradiksi pada kaum evolusionis. Ingatlah contoh terkenal dari William Paley, dan bayangkanlah seseorang yang seumur hidupnya belum pernah melihat jam dinding. Orang itu hidup di pulau terpencil, dan suatu hari menemukan sebuah jam dinding. Bagi orang yang belum pernah melihat sebuah jam dinding dari jarak 100 meter, dia tidak bisa menentukan apa benda tersebut sebenarnya, dan mungkin tidak bisa membedakannya dari fenomena alam lain yang disebabkan oleh angin, pasir dan tanah. Namun ketika orang tersebut semakin dekat, hanya dengan melihatnya, dia akan menyadari bahwa jam itu adalah hasil suatu rancangan. Ketika lebih dekat lagi, dia tidak akan ragu sedikit pun. Tahap berikutnya, mungkin dia memeriksa berbagai bagian dari jam tersebut, dan juga sentuhan seni yang tampak jelas padanya. Ketika dia membuka tutup mesin jam dan mencermatinya, dia akan melihat bahwa di dalam jam tersebut terdapat akumulasi pengetahuan yang lebih besar, dibandingkan dengan apa yang terlihat dari luar. Benda ini adalah hasil kecerdasan. Setiap langkah penelitian selanjutnya akan menjadikan analisis ini semakin pasti.

    Sebagaimana paparan di atas, kebenaran tentang makhluk hidup muncul ke permukaan seiring dengan ilmu pengetahuan yang semakin maju. Kemajuan ilmiah telah mengungkapkan kesempurnaan makhluk hidup, baik di tingkat sistem, organ, jaringan, sel, maupun di tingkat molekul. Dengan semakin mendalamnya pengetahuan kita tentang semua hal tersebut, kita mampu melihat dengan lebih jelas sisi yang menakjubkan dari rancangan-rancangan yang ada. Evolusionis abad ke-19, yang beranggapan bahwa sel adalah suatu gumpalan mungil karbon, berada pada situasi yang sama dengan orang yang melihat jam dinding dari jarak 100 meter seperti dalam cerita di atas. Tapi di masa kini, sangatlah sulit untuk menemukan satu pun ilmuwan yang tidak mengakui bahwa masing-masing bagian dari sel adalah sebuah hasil karya dan seni serta rancangan yang sangat hebat. Bahkan pada membran dari sebuah sel yang kecil, yang memiliki sifat “penyaring selektif”, terdapat kecerdasan dan rancangan yang luar biasa. Membran tersebut mengenali berbagai atom, protein, dan molekul yang berada di sekelilingnya, seolah-olah memiliki pikirannya sendiri. Membran hanya akan membiarkan partikel-partikel yang dibutuhkan masuk ke dalam sel. (Untuk lebih jauh lagi, bacalah karya Harun Yahya, Consciousness in the Cell). Tidak seperti jam dinding tadi (yang kecerdasan rancangannya masih terbatas), organisme hidup adalah bukti kecerdasan dan rancangan yang menakjubkan. Penelitian-penelitian atas struktur makhluk hidup yang semakin mendalam dan luas ini, yang sejauh ini baru saja mengungkapkan sebagian kecil dari rancang-bangun dan fungsinya, bukanlah membuktikan evolusi, melainkan memungkinkan kita untuk memahami kebenaran penciptaan dengan lebih baik.

    II. Kaum evolusionis berpendapat, bahwa satu spesies dapat berubah menjadi spesies lain, melalui mutasi dan seleksi alam. Seluruh penelitian yang telah dilakukan dan berkaitan dengan masalah ini, menunjukkan bahwa kedua mekanisme tidak memiliki pengaruh evolusioner yang demikian. Colin Patterson, seorang ahli paleontologi senior Museum Natural History di London, menekankan fakta ini sebagai berikut :

    Tak ada yang pernah menghasilkan satu spesies melalui mekanisme seleksi alam. Tidak seorang pun hampir pernah menghasilkannya, dan kebanyakan debat neo-Darwinisme sekarang adalah seputar masalah ini.

    Penelitian tentang mutasi menunjukkan bahwa proses tersebut tidak bersifat evolusioner. Ahli genetika dari Amerika, B. G. Ranganathan, berkata:

    Pertama, mutasi sejati amat jarang terjadi di alam ini. Kedua, kebanyakan mutasi adalah berbahaya, karena perubahan struktur gen terjadi secara acak, bukan teratur. Perubahan acak apa pun pada sistem dengan tingkat keteraturan tinggi akan merusak, bukan memperbaiki. Contohnya, bila gempa bumi mengguncangkan sebuah struktur yang teratur, misalnya sebuah gedung, akan terjadi perubahan acak dalam kerangka bangunan tersebut yang, dalam segala kemungkinan, tidak akan memunculkan perbaikan.

    Seperti yang telah kita saksikan, apa yang disebutkan dalam teori evolusi sebagai mekanisme pembentuk spesies baru, sebenarnya sama sekali tidak berdampak dan justru merusak. Sekarang, kita memahami bahwa kedua mekanisme ini – yang diajukan di saat ilmu dan teknologi belum mencapai tingkat yang cukup tinggi untuk membuktikan ketidakabsahan pendapat yang hanya merupakan khayal ini – tidak memiliki pengaruh perkembangan maupun evolusi.

    III. Fosil juga menunjukkan bahwa makhluk hidup tidaklah muncul sebagai akibat proses evolusi. Makhluk hidup muncul secara tiba-tiba, sebagai hasil “rancangan” yang sempurna. Semua fosil yang telah ditemukan menegaskan hal ini. Niles Eldredge, ahli paleontologi dari Universitas Harvard dan pengawas di American Museum of Natural History menjelaskan bahwa tak mungkin fosil yang dapat ditemukan di masa depan akan dapat mengubah keadaan ini:

    Catatan fosil meloncat-loncat, dan semua bukti yang ada menunjukkan bahwa catatan itu benar adanya: celah-celah yang kita lihat menunjukkan kejadian sebenarnya dalam sejarah makhluk hidup – bukan artefak catatan fosil yang tidak lengkap.

    Robert Wesson, seorang pakar asal Amerika lain, menyatakan dalam bukunya Beyond Natural Selection di tahun 1991, bahwa “celah-celah dalam catatan fosil adalah nyata dan luar biasa”. Ia menjelaskan pernyataannya sebagai berikut:

    Celah-celah dalam catatan fosil itu memang sungguhan. Ketiadaan catatan akan percabangan yang penting sungguh luar biasa. Spesies-spesies biasanya terdapat dalam keadaan tetap, atau nyaris tetap, untuk jangka waktu yang lama; jarang terlihat adanya evolusi suatu spesies menjadi spesies yang baru, atau tidak pernah terlihat adanya evolusi suatu genus menjadi genus yang baru.

    Yang ada adalah pergantian satu oleh yang lain, dan perubahan bisa dikatakan berlangsung mendadak.

    Kesimpulannya, setelah sekitar 150 tahun berlalu sejak pertama kalinya teori evolusi diusulkan, sejak itu pula penemuan-penemuan di bidang ilmiah selalu menunjukkan bukti-bukti yang menentangnya. Semakin diteliti, semakin banyak bukti yang menunjukkan penciptaan yang sempurna, dan kian dipahami bahwa kemunculan makhluk hidup dan variasinya akibat faktor kebetulan adalah mustahil. Setiap penelitian mengungkapkan bukti baru akan adanya rancangan pada makhluk hidup, sehingga fakta penciptaan semakin jelas. Sejak masa Darwin, setiap dasawarsa yang berlalu kian mengungkapkan ketidakabsahan teori evolusi.

    Singkatnya, kemajuan ilmiah tidak mendukung teori evolusi. Oleh sebab itu, perkembangan di masa depan juga tak akan mendukung, malah akan semakin memperjelas ketidakabsahan teori ini.

    Tidak benar apabila dikatakan bahwa evolusi adalah sesuatu yang belum bisa dijawab atau diterangkan oleh ilmu pengetahuan. Juga tidak benar bahwa evolusi bisa dibuktikan di masa yang akan datang. Ilmu pengetahuan modern telah menyangkal teori evolusi di segala bidang, dan menunjukkan bahwa dari sudut pandang mana pun, proses evolusi mustahil terjadi. Adanya upaya untuk mempertahankan kepercayaan ini dengan mengatakan bahwa evolusi akan dibuktikan di masa depan, merupakan hasil dari pola pikir khayal dan mimpi kaum Marxist dan lingkungan materialis yang melihat evolusi sebagai penyokong ideologi mereka. Mereka, dengan demikian, hanyalah mencoba menghibur diri dari rasa putus asa.

    Karena itu, gagasan bahwa “evolusi akan terbukti di masa depan” tak berbeda dengan berkata “di masa depan akan terbukti bahwa Bumi terletak di punggung seekor gajah”.

     
  • erva kurniawan 9:20 am on 1 August 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (15) 

    darwin-proses-evolusi-manusiaRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (15)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa Berpikir Bahwa Tuhan Menciptakan Makhluk Hidup Melalui Proses Evolusi Adalah Salah?

    Secara ilmiah telah dibuktikan bahwa rancangan menakjubkan yang tampak di seluruh makhluk hidup dan benda mati di alam semesta ini tidaklah mungkin muncul menjadi ada akibat kekuatan alamiah buta dan ketidaksengajaan. Meskipun demikian, sebagian orang menyatakan, memang benar bahwa terdapat sang Pencipta, tetapi Dia menciptakan kehidupan melalui proses evolusi.

    Sudah sangat jelas bahwa Tuhan Yang Mahakuasa telah mencipta seluruh alam semesta dan makhluk hidup. Adalah keputusanNya untuk mencipta secara seketika ataupun bertahap. Kita hanya dapat memahami kejadiannya melalui informasi yang Tuhan berikan kepada kita (dengan kata lain, melalui ayat Al Qur’an), serta melalui bukti ilmiah yang tampak jelas di alam ini.

    Jika mencermati kedua sumber tersebut, kita tidak menyaksikan adanya peristiwa “penciptaan melalui evolusi”.

    Tuhan telah menurunkan berbagai ayat dalam Al Qur’an yang membahas tentang penciptaan manusia, kehidupan, dan alam semesta. Tak satu pun di antara ayat tersebut yang berisi keterangan tentang penciptaan melalui evolusi. Dengan kata lain, tak satu pun ayat yang berkata bahwa makhluk hidup tercipta akibat proses evolusi dari satu makhluk menjadi makhluk lain. Sebaliknya, diungkapkan dalam ayat-ayat itu, bahwa kehidupan dan jagat raya ini tercipta melalui perintah Tuhan: “Jadilah!”

    Penemuan ilmiah pun telah memperlihatkan bahwa penciptaan melalui proses evolusi adalah mustahil. Catatan fosil menunjukkan bahwa beraneka ragam spesies muncul bukan melalui evolusi satu dari yang lainnya, melainkan secara terpisah, secara tiba-tiba, serta dilengkapi dengan seluruh struktur mereka masing-masing yang khas. Dengan kata lain, penciptaan bagi setiap spesies adalah berbeda.

    Jika terdapat sesuatu seperti “penciptaan melalui evolusi”, kita sudah seharusnya dapat melihat buktinya saat ini. Tuhan telah menciptakan segala sesuatu menurut peraturan tertentu, di dalam kerangka hukum sebab-akibat. Misalnya, sudah pasti Tuhan yang menjadikan kapal dapat terapung di air. Akan tetapi, apabila kita mempelajari penyebabnya, kita akan memahami bahwa penyebabnya adalah diciptakannya pada air kekuatan yang menopang kapal. Tidak ada sesuatu pun kecuali kekuatan Tuhan yang memungkinkan burung dapat terbang. Akan tetapi, bila kita mempelajari bagaimana ini terjadi, kita akan menemukan adanya hukum aerodinamika. Oleh sebab itulah, jika makhluk hidup memang diciptakan melalui proses bertahap, maka seharusnya terdapat sistem yang dilengkapi hukum-hukum dan kemajuan-kemajuan di bidang genetika, yang dapat menjelaskan peristiwa tersebut. Lebih lanjut, kita akan mengenal adanya hukum biologi, kimia dan fisika yang lain. Akan terdapat bukti dari penelitian laboratorium yang menunjukkan bahwa satu makhluk hidup dapat berubah menjadi makhluk lain. Selain itu, dari berbagai riset tersebut, dimungkinkan pengembangan enzim, hormon, dan molekul sejenis yang tak dimiliki suatu spesies, agar spesies tersebut dapat memanfaatkannya. Tambahan lagi, kemajuan tersebut akan memungkinkan diciptakannya berbagai struktur dan organel baru yang belum pernah dimiliki spesies itu.

    Kajian-kajian laboratorium akan mampu menunjukkan contoh-contoh makhluk yang telah melalui proses mutasi, serta memperoleh manfaat dari proses tersebut. Kita juga akan mampu melihat mutasi itu diwariskan kepada generasi berikutnya, serta benar-benar menjadi bagian dari spesies. Selain itu pula, akan terdapat jutaan fosil makhluk peralihan dari masa silam, dan di masa kini akan ada makhluk hidup yang tahapan transisinya belum selesai. Pendek kata, seharusnya terdapat berbagai contoh proses seperti ini, yang tak terhitung banyaknya.

    Akan tetapi, tak ada satu pun bukti bahwa satu spesies dapat melakukan perubahan menjadi spesies lainnya. Seperti telah kita lihat, data fosil menunjukkan bahwa semua spesies makhluk hidup muncul secara tiba-tiba tanpa nenek moyang. Fakta ini, selain menghancurkan teori evolusi (yang menyatakan kehidupan muncul berdasarkan peristiwa kebetulan), juga menunjukkan ketidakabsahan pendapat bahwa Tuhan menciptakan makhluk hidup, dan kemudian makhluk tersebut berubah melalui proses.

    Tuhan menciptakan makhluk hidup secara supernatural, melalui satu perintah “Jadilah!” Ilmu pengetahuan modern menegaskan fakta ini, dan membuktikan bahwa makhluk hidup muncul secara tiba-tiba di Bumi.

    Para pendukung gagasan “Mungkin saja Tuhan menciptakan makhluk hidup di Bumi melalui proses evolusi” sebenarnya sedang mencoba membangun “titik temu” antara penciptaan dan Darwinisme. Akan tetapi ini adalah suatu kesalahan yang mendasar. Mereka tidak menyadari dasar logika Darwinisme dan filsafat yang dijunjungnya. Darwinisme bukanlah terdiri atas gagasan perubahan spesies. Sebenarnya, Darwinisme adalah suatu upaya untuk menjelaskan asal-usul makhluk melalui penyebab-penyebab yang bersifat materi belaka. Dengan kata lain, Darwinisme berupaya agar masyarakat menerima pendapat bahwa makhluk hidup adalah hasil kerja alam, dan melapisi pendapat itu dengan polesan ilmiah. Tak mungkin ada “titik temu” atau “satu landasan pijak bersama” antara filsafat naturalistik (ajaran yang tidak mengakui adanya kekuatan lain selain alam) dengan keyakinan kepada Tuhan. Adalah salah apabila kita berusaha mencari titik temu seperti itu, bersikap menyerah kepada Darwinisme, dan menganggapnya sebagai teori ilmiah. Seperti tampak dari 150 tahun sejarah teori ini, Darwinisme adalah tulang punggung filsafat materialistis dan ateisme. Pencarian titik temu tidak akan pernah dapat mengubah fakta ini.

     
  • erva kurniawan 9:15 am on 30 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (14) 

    darwin-proses-evolusi-manusiaRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (14)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa Menyangkal Teori Evolusi Disamakan dengan Menolak Perkembangan dan Kemajuan?

    Kata “evolusi” akhir-akhir ini sering digunakan dalam beberapa makna. Di antaranya, kini ada penambahan aspek sosial, sehingga, sekarang “evolusi” juga bisa berarti kemajuan umat manusia dan perkembangan teknologi. Tak ada yang salah dengan konsep “evolusi” bila digunakan dalam makna tersebut. Tak diragukan, umat manusia akan menggunakan kecerdasan, kepandaian, dan kekuatannya untuk berkembang, seiring berjalannya waktu. Dari generasi ke generasi, pengetahuan umat manusia semakin berkembang. Dengan cara yang sama, hal ini tidak membuktikan kebenaran teori evolusi itu sendiri – yang mengatakan bahwa makhluk hidup tercipta secara kebetulan – dan juga tidak sedikit pun bertentangan dengan kebenaran fakta penciptaan.

    Akan tetapi, kaum evolusionis mempermainkan arti kata ini. Konsep yang benar, dikacaukan dengan konsep yang palsu. Sebagai contoh, pernyataan “Dalam perjalanan panjang umat manusia, sebagai makhluk sosial, pengetahuan, budaya, dan teknologi yang dihasilkan, manusia selalu tetap berkembang” adalah benar. (Walaupun demikian, kita harus ingat bahwa seiring dengan waktu, yang dapat terjadi bukan saja kemajuan, melainkan juga kemunduran. Dari sudut sosiologi, ada masa-masa kemajuan, keterhentian, dan kemunduran). Akan tetapi, pernyataan “Makhluk hidup berkembang dan berubah dengan berlalunya waktu, seperti halnya manusia telah mengalami perkembangan dan kemajuan” adalah salah. Sebagai makhluk berpikir, pengetahuan manusia meningkat dan diwariskan turun-temurun, sehingga terus-menerus tercapai kemajuan; ini adalah masuk akal dan ilmiah. Akan tetapi, sama sekali tidak masuk di akal apabila dikatakan bahwa makhluk hidup berkembang dan berevolusi melalui ketidaksengajaan dan kebetulan, dengan mengikuti kehendak kondisi-kondisi alamiah yang tidak terkendali dan tanpa kesadaran.

    Semua ilmuwan terbesar dalam kemajuan ilmiah adalah penganut fakta penciptaan (kreasionis)

    Tak menjadi soal, betapapun keras upaya kaum evolusionis dalam menampilkan diri mereka sebagai pemuncul gagasan seperti inovasi (pembaruan) dan kemajuan, sejarah telah membuktikan bahwa pencetus yang sebenarnya dari inovasi dan kemajuan adalah selalu para ilmuwan beriman yang meyakini penciptaan oleh Tuhan.

    Kita dapat menyaksikan adanya ilmuwan yang beriman di setiap titik kemajuan ilmiah. Leonardo da Vinci, Copernicus, Kepler, dan Galileo, yang memulai era baru dalam ilmu astronomi, Cuvier, pendiri paleontologi, Linnaeus, pendiri sistem penggolongan modern untuk flora dan fauna, Isaac Newton, penemu hukum gravitasi, Edwin Hubble, yang menemukan adanya galaksi dan pemuaian alam semesta, serta banyak lagi, dan banyak lainnya yang meyakini Tuhan dan percaya bahwa alam semesta dan makhluk hidup adalah ciptaanNya.

    Salah satu ilmuwan terbesar di abad kedua puluh, Albert Einstein, berkata:

    Saya tak dapat membayangkan seorang ilmuwan sejati tanpa keimanan yang kuat. Situasi ini dapat dilukiskan sebagai: Ilmu tanpa agama adalah lumpuh…

    Max Planck, pendiri fisika modern berkebangsaan Jerman, berkata:

    Siapa pun yang secara sungguh-sungguh telah terlibat dalam kerja ilmiah jenis apa pun juga, akan sadar bahwa di atas pintu gerbang memasuki kuil ilmu pengetahuan tertera kalimat: Engkau harus beriman. Ini adalah sifat yang tak dapat dilepaskan dari seorang ilmuwan.

    Sejarah ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa perubahan dan kemajuan adalah hasil karya para ilmuwan yang berpaham kreasionis (meyakini penciptaan). Selain itu, tentu saja, berbagai kemajuan dalam ilmu pengetahuan di abad ke-20 dan ke-21 telah secara khusus menyajikan bukti yang amat banyak atas kebenaran fakta penciptaan. Teknologi dan ilmu pengetahuan modern telah memungkinkan kita untuk menemukan fakta bahwa alam semesta tercipta dari ketiadaan, dengan kata lain, “diciptakan”. Segenap dunia ilmiah sepakat bahwa alam semesta tercipta dan berkembang sebagai akibat sebuah ledakan titik tunggal. Dengan demikian, hancurlah sudah model alam semesta “tak hingga”, yang tidak memiliki awal ataupun akhir, yang diyakini oleh kaum materialis karena kondisi ilmu pengetahuan yang masih terbelakang di abad ke-19. Kini disadari bahwa alam semesta diciptakan, seperti tercantum dalam Al Qur’an, dan alam memiliki awal dan batasan serta mengembang seiring dengan waktu. Al Qur’an menyatakan fakta ini sebagai berikut:

    Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. Al Anbiyaa’ , 21:30)

    Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. (QS. Adz Dzaariyaat, 51:47)

    Lagi-lagi, kemajuan ilmiah di abad ke-20 lah yang memungkinkan kita menemukan semakin banyak bukti penciptaan. Mikroskop elektron mengungkapkan struktur sel, satuan terkecil pembentuk makhluk hidup, beserta bagian-bagiannya. Penemuan DNA menunjukkan kecerdasan dan pengetahuan yang tidak terhingga yang terdapat di dalam sel. Kemajuan ilmu biokimia dan fisiologi menunjukkan cara kerja sempurna di tingkat molekul pada tubuh, serta rancangan yang amat hebat, yang tak mungkin dapat dijelaskan dengan apa pun selain penciptaan.

    Bertolak belakang dari semua itu, adalah keterbelakangan ilmu pengetahuan 150 tahun yang lalu yang menyediakan lahan subur bagi tumbuhnya teori evolusi.

    Sebagai kesimpulan, adalah mustahil menganggap mereka yang meyakini penciptaan dan terus menghadirkan berbagai bukti baru tentang penciptaan ini sebagai kaum yang menolak kemajuan, perkembangan, dan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, mereka itulah pendukung terbesar bagi ketiga hal tersebut. Mereka yang sesungguhnya menolak kemajuan adalah mereka yang menutup mata terhadap semua bukti ilmiah yang sudah ada serta terus mempertahankan teori evolusi, yang sebenarnya tak lain hanya merupakan angan kosong.

     
  • erva kurniawan 9:09 am on 29 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (13) 

    cambrianRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (13)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Bagaimanakah Teori Evolusi Diruntuhkan Oleh Struktur Yang Kompleks Pada Makhluk Paling Purba?

    Dalam catatan fosil, makhluk hidup membentuk untaian atau rantai. Bila kita perhatikan rantai ini dari makhluk paling purba sampai yang paling muda, tampaklah bahwa makhluk hidup muncul dalam bentuk mikroorganisme, hewan laut tak bertulang belakang (invertebrata), ikan, amfibi, reptil, unggas, dan mamalia. Pendukung teori evolusi membahas rantai ini dengan penuh praduga, sambil berupaya menyajikannya sebagai bukti teori evolusi. Mereka menyatakan bahwa makhluk hidup berkembang dari bentuk sederhana menuju bentuk yang lebih kompleks, dan selama proses ini berlangsung, beraneka ragam makhluk hidup pun tercipta. Misalnya, para evolusionis mengemukakan, fakta tidak ditemukannya fosil manusia pada pengkajian terhadap lapisan fosil berusia 300 juta tahun merupakan salah satu bukti kebenaran evolusi. Profesor Aykut Kence, seorang evolusionis Turki, berkata:

    Anda ingin menggugurkan teori evolusi? Jika demikian, pergilah dan cari beberapa fosil manusia dari zaman Kambrium! Siapa pun yang berhasil menemukannya akan meruntuhkan teori evolusi, bahkan memenangkan hadiah Nobel atas penemuannya.56

    Perkembangan makhluk hidup dari bentuk sederhana (primitif) ke bentuk rumit (kompleks) adalah pemikiran khayal

    Mari kita bayangkan cara berpikir evolusionis yang terdapat dalam kata-kata Profesor Kence. Perkembangan makhluk hidup dari bentuk primitif ke bentuk kompleks adalah praduga evolusionis yang tak benar sedikit pun. Profesor biologi asal Amerika, Frank L. Marsh, yang mengkaji pernyataan kaum evolusionis, dalam bukunya Variation and Fixity in Nature menyatakan makhluk hidup tak dapat disusun dalam sebuah urutan yang senantiasa bersambung tanpa putus dari bentuk sederhana ke bentuk rumit.

    Dalam hal ini, pernyataan evolusionis sebenarnya dapat diruntuhkan oleh fakta kemunculan mendadak dari hampir seluruh filum hewan yang dikenal sekarang di Zaman Kambrium. Bahkan, semua hewan yang muncul secara tiba-tiba tersebut sudah memiliki struktur tubuh yang rumit, tidak sederhana – hal ini benar-benar berlawanan dengan asumsi evolusionis.

    Trilobita yang termasuk filum Arthropoda, adalah makhluk sangat rumit dengan cangkang keras, memiliki tubuh yang bersendi, dan organ-organ kompleks.. Catatan fosil telah memungkinkan pengkajian yang sangat terperinci terhadap mata trilobita. Mata trilobita terdiri atas beratus-ratus faset kecil, yang masing-masing terdiri atas dua lapisan lensa. Struktur mata ini adalah keajaiban nyata perancangan. David Raup, profesor geologi di Universitas Harvard, Rochester, dan Chicago, berkata, “Trilobita yang hidup 450 juta tahun yang silam telah memiliki rancangan optimal yang di zaman kini memerlukan insinyur optik yang terlatih baik dan imajinatif untuk mengembangkannya.”

    Sisi menarik lainnya di seputar bahasan ini adalah, lalat di zaman sekarang memiliki struktur mata yang serupa. Dengan kata lain, struktur demikian itu sudah ada selama 520 juta tahun terakhir ini.

    Pemandangan luar biasa tentang Zaman Kambrium sangat sedikit diketahui di saat Darwin menulis The Origin of Species. Setelah masa Darwin, barulah orang tahu, bahwa menurut catatan fosil, makhluk hidup muncul dengan seketika di Zaman Kambrium, dan trilobita serta hewan invertebrata lain hadir di muka bumi secara bersamaan. Dalam bukunya, Darwin tak mampu membahas sepenuhnya mengenai hal ini. Namun, ia memang membahas sedikit tentang itu dalam bab berjudul “On the sudden appearance of groups of allied species in the lowest known fossiliferous strata“ (Timbulnya secara serentak kelompok-kelompok spesies yang saling terkait dalam lapisan fosil terendah yang diketahui), ia menulis di sini tentang Zaman Silur (di masa Darwin, zaman ini mencakup pula zaman yang kini kita sebut Kambrium):

    Misalnya, saya tidak dapat meragukan bahwa semua trilobita zaman Silur merupakan keturunan yang berasal dari sejenis hewan krustasea (bangsa udang), yang tentunya telah hidup jauh sebelum Zaman Silur, dan mungkin jauh berbeda dari hewan mana pun yang telah dikenal … Karena itu, jika teori saya benar, tak pelak lagi bahwa jauh sebelum lapisan Silur paling bawah terbentuk, waktu yang amat panjang telah berlalu, mungkin sama atau jauh lebih panjang daripada selang waktu antara zaman Silur dengan masa kini; dan selama rentang masa yang sungguh panjang ini, namun belum banyak dikenal, dunia ini dipenuhi makhluk hidup. Saya tak mampu memberi jawaban yang memuaskan atas pertanyaan mengapa kita tidak menemukan bekas-bekas dari zaman purba yang sungguh panjang ini.

    Darwin berkata, “Jika teori saya benar, tak pelak lagi bahwa dunia ini dipenuhi makhluk hidup sebelum Zaman Silur.” Untuk menjawab pertanyaan, mengapa tidak terdapat fosil makhluk-makhluk itu, ia mencoba menjawab di sepanjang bukunya, dengan menggunakan alasan “catatan fosil yang sangat terbatas”. Tapi kini, catatan fosil sudah lengkap, dan menunjukkan bahwa makhluk Zaman Kambrium tak memiliki nenek moyang. Artinya, kita harus menolak kalimat Darwin yang diawali dengan “… jika teori saya benar”. Hipotesa Darwin tidak absah; karena itu, teorinya salah.

    Makhluk hidup tidak berkembang dari bentuk sederhana ke bentuk yang kompleks. Pada saat pertama kali muncul, makhluk hidup sudah teramat kompleks. Contoh lain dari hal ini adalah ikan hiu, yang menurut catatan fosil sudah ada sejak sekitar 4000 juta tahun yang lalu. Hewan ini memiliki berbagai ciri istimewa yang tidak dimiliki hewan lain yang tercipta jutaan tahun setelahnya, misalnya pertumbuhan gigi (regenerasi) setelah gigi yang lama tanggal. Contoh lainnya adalah kemiripan yang mengejutkan antara mata mamalia dan gurita yang telah hidup di Bumi berjuta-juta tahun sebelum mamalia.

    Contoh-contoh tersebut memperjelas bahwa spesies makhluk hidup tidak dapat disusun berurutan secara baik dari bentuk primitif ke bentuk kompleks.

    Fakta itu juga ditampilkan oleh hasil penelitian terhadap segi bentuk, fungsi, dan genetika makhluk hidup. Misalnya, bila kita cermati catatan fosil pada tingkat terendah, dilihat dari segi bentuk dan ukuran, tampak bahwa banyak makhluk (misalnya dinosaurus) yang berukuran jauh lebih besar daripada yang muncul kemudian.

    Demikian juga bila kita cermati dari segi fungsional makhluk hidup. Pada perkembangan struktur, telinga adalah contoh yang meruntuhkan pendapat “makhluk hidup berkembang dari bentuk primitif menuju kompleks”. Hewan amfibi memiliki rongga telinga-tengah. Akan tetapi reptil, yang muncul sesudah amfibi, mempunyai sistem yang jauh lebih sederhana. Pada reptil, sistem ini berdasarkan satu tulang kecil saja, tanpa ruang telinga-tengah.

    Kajian genetika menunjukkan hasil serupa. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa jumlah kromosom tak ada kaitannya dengan kompleksitas tubuh hewan. Misalnya, manusia memiliki 46 buah kromosom, kopepoda memiliki 6 buah, dan radiolaria (hewan yang berukuran mikroskopis) memiliki tepat 800 buah.

    Makhluk hidup diciptakan pada saat yang paling “sesuai” baginya

    Penelitian catatan fosil sesungguhnya menunjukkan, makhluk hidup muncul di masa yang paling cocok baginya. Tuhan telah menciptakan makhluk hidup secara luar biasa. Makhluk hidup diciptakan tepat sesuai dengan keadaan yang akan dihadapinya saat muncul di Bumi.

    Mari kita lihat contoh berikut ini: Bumi di kala fosil bakteri tertua muncul, yakni sekitar 3,5 miliar tahun yang silam. Kondisi suhu dan atmosfer waktu itu sama sekali tidak cocok untuk mendukung kehidupan makhluk berstruktur kompleks ataupun manusia. Demikian juga zaman Kambrium, yang menurut Kence, apabila ditemukan fosil manusia pada masa itu, teori evolusi akan runtuh. Periode ini, sekitar 530 juta tahun silam, benar-benar tak cocok bagi manusia. (Saat itu tak ada hewan di darat).

    Keadaan serupa juga tampak pada hampir seluruh zaman sesudahnya. Penelitian catatan fosil menunjukkan bahwa kondisi yang dapat mendukung kehidupan manusia baru tercapai beberapa juta tahun yang silam. Hal yang sama ini berlaku pula pada seluruh makhluk hidup lainnya. Setiap kelompok makhluk hidup muncul apabila kondisi yang mendukung bagi kehidupannya telah tercapai, dengan kata lain, “bila waktunya sudah tepat”.

    Kaum evolusionis menentang fakta ini sekuat tenaga. Mereka mengatakan bahwa kondisi pendukung itu sendirilah yang telah memunculkan makhluk hidup. Padahal, terciptanya “kondisi pendukung” hanyalah tanda bahwa “saat yang tepat telah tiba”. Makhluk hidup hanya dapat muncul melalui sebuah campur tangan yang memiliki kesadaran – dengan kata lain, melalui penciptaan oleh kekuatan hebat di luar alam.

    Karena itu, munculnya makhluk hidup secara bertahap bukanlah bukti evolusi, melainkan bukti kebijaksanaan dan pengetahuan Tuhan yang tak terhingga, Yang menciptakan makhluk hidup. Setiap kelompok makhluk hidup diciptakan untuk menyiapkan kondisi yang sesuai bagi kemunculan kelompok makhluk hidup berikutnya. Dan bagi kita, keseimbangan ekologis dengan seluruh makhluk hidup disiapkan terlebih dahulu dalam rentang waktu yang cukup panjang.

    Di lain pihak, kita harus ingat bahwa periode panjang itu hanya dirasakan “panjang” oleh kita. Bagi Tuhan, itu hanyalah “sesaat” saja. Konsep waktu hanya berlaku bagi makhluk, bukan Pencipta. Tuhan, Pencipta waktu itu sendiri, tidaklah terikat oleh waktu. (Lihat lebih jauh dalam buku Harun Yahya: Timelessness and the Reality of Fate)

    Jika kaum evolusionis hendak menunjukkan bahwa satu spesies berubah menjadi spesies lain, tak ada gunanya berkata bahwa makhluk hidup muncul di Bumi selangkah demi selangkah. Bukti yang harus mereka kemukakan adalah fosil makhluk peralihan yang menghubungkan antarspesies makhluk hidup yang berbeda ini. Teori yang menyatakan bahwa invertebrata berubah menjadi ikan, ikan menjadi reptil, reptil menjadi burung dan mamalia, harus didukung fosil sebagai buktinya. Darwin sadar akan hal itu dan menuliskan bahwa fosil semacam ini harus ditemukan dalam jumlah tak terhitung banyaknya, walaupun sejauh ini tidak pernah ditemukan satu pun. Selama 150 tahun setelah teori Darwin diajukan, fosil makhluk peralihan belum pernah ditemukan. Seperti yang diakui oleh Derek W. Ager, seorang evolusionis ahli paleontologi, catatan fosil menunjukkan “bukan evolusi bertahap, melainkan sebuah ledakan tiba-tiba sekelompok makhluk hidup di atas kepunahan kelompok yang lain.”

    Sebagai kesimpulan, sejarah kehidupan menunjukkan bahwa makhluk hidup muncul bukan sebagai hasil peristiwa kebetulan, melainkan diciptakan tahap demi tahap, dalam periode yang amat panjang. Ini amat sesuai dengan keterangan tentang penciptaan dalam Al Qur’an, yang di dalamnya Tuhan berfirman bahwa Dia menciptakan alam semesta dan semua makhluk hidup dalam “enam hari”:

    Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. As Sajdah, 32:4)

    Kata “hari” dalam ayat itu, atau yawm dalam bahasa Arab, juga berarti selang waktu yang panjang. Dengan kata lain, Al Qur’an menyebutkan bahwa kehidupan diciptakan dalam beberapa masa yang berbeda, tidak sekaligus. Penemuan di bidang geologi di zaman modern memberikan gambaran yang menegaskan hal ini.

     
  • erva kurniawan 9:04 am on 28 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (12) 

    Arti-Gigi-BungsuMasalahDan-PengobatanyaRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (12)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa Gigi Geraham Bungsu Bukanlah Bukti Kebenaran Evolusi?

    Salah satu tipuan penting dari teori evolusi adalah pernyataan yang berkaitan dengan organ vestigial (organ persisaan). Evolusionis menyatakan bahwa terdapat sejumlah organ dalam makhluk hidup yang kehilangan fungsinya seiring dengan waktu, dan kemudian lenyap. Dengan berpedoman pada hal ini, kaum evolusionis mencoba mengirimkan pesan, “Jika tubuh makhluk hidup adalah hasil penciptaan, maka seharusnya di dalamnya tidak terdapat organ yang tak berfungsi”.

    Naskah terbitan kaum evolusionis di awal abad ke-20 menyatakan bahwa tubuh manusia memiliki sekitar seratus buah organ yang sudah tidak berguna lagi. Di antaranya adalah usus buntu, tulang ekor, amandel, kelenjar pineal, telinga bagian luar, kelenjar timus, dan geraham bungsu. Akan tetapi, ilmu kedokteran telah mencapai kemajuan pesat dalam beberapa dasawarsa setelah itu. Akibatnya, tampaklah bahwa gagasan organ vestigial hanyalah takhayul. Daftar panjang buatan kaum evolusionis pun berkurang secara tajam. Kelenjar timus ternyata adalah organ yang menghasilkan sel sistem kekebalan yang penting, dan kelenjar pineal berfungsi menghasilkan hormon-hormon penting. Terungkap pula bahwa tulang ekor berfungsi untuk menopang tulang-tulang sekitar pinggul, dan telinga bagian luar berfungsi penting dalam mengenali dari arah mana bebunyian berasal. Singkat kata, terungkap bahwa ketidaktahuan adalah satu-satunya pijakan yang menopang gagasan tentang “organ vestigial”.

    Ilmu pengetahuan modern telah berulang kali menunjukkan bahwa konsep organ semacam itu adalah keliru. Namun, sebagian kaum evolusionis masih memanfaatkan pernyataan ini. Walaupun ilmu kedokteran telah membuktikan bahwa hampir semua organ itu (yang tadinya disebut-sebut sebagai “vestigial”) ternyata memiliki fungsinya masing-masing, dugaan evolusi yang tidak berdasar masih menyelimuti satu atau dua organ.

    Salah satu yang paling menonjol adalah geraham bungsu. Dalam naskah evolusionis masih tercantum anggapan bahwa gigi ini adalah bagian tubuh manusia yang telah kehilangan semua fungsinya. Sebagai buktinya, kaum evolusionis menyatakan bahwa gigi-gigi geraham bungsu ini memunculkan masalah pada sebagian besar orang, dan proses mengunyah tidak terganggu ketika gigi-gigi tersebut dicabut.

    Banyak dokter gigi, karena terpengaruh pernyataan evolusionis bahwa gigi bungsu tidak berfungsi, telah berpandangan bahwa pencabutan gigi bungsu sesuatu yang biasa, dan mereka tidak melakukan usaha pemeliharaan yang sama padanya seperti pada gigi yang lain. Akan tetapi penelitian di tahun-tahun terakhir menunjukkan, gigi bungsu memiliki fungsi mengunyah, sama seperti gigi lain. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa anggapan “gigi bungsu mengganggu posisi gigi lain” adalah sama sekali tak beralasan. Sekarang ini kritik ilmiah, tentang bagaimana masalah gigi bungsu ini bisa diatasi bukan dengan cara pencabutan, semakin meningkat. Faktanya, kesepakatan ilmiah menyatakan bahwa gigi geraham bungsu berfungsi mengunyah, sama dengan gigi lain, dan tidak ada pembenaran ilmiah yang mendukung keyakinan bahwa gigi geraham bungsu tidak memiliki kegunaan.

    Jadi, mengapa gigi geraham bungsu menimbulkan gangguan pada banyak orang? Berdasarkan penelitian para ahli di bidang ini, permasalahan gigi bungsu di masyarakat terjadi secara berbeda-beda, tergantung zaman. Kini diketahui bahwa gangguan gigi bungsu jarang terdapat di masyarakat pra-industri. Khususnya selama beberapa ratus tahun terakhir ini, manusia lebih menyukai makanan lunak daripada yang keras, sehingga pertumbuhan rahang manusia pun terganggu. Akhirnya diketahui, ternyata masalah gigi bungsu berasal dari gangguan pertumbuhan rahang akibat pola makan.

    Diketahui pula, ternyata perilaku makan masyarakat juga berpengaruh buruk pada gigi lainnya. Sebagai contoh, meningkatnya konsumsi makanan dengan kadar gula dan asam yang tinggi telah meningkatkan kerusakan gigi. Tapi, fakta itu tidak menjadikan kita berpikir bahwa semua gigi kita mengalami “atrofi” (pengecilan atau penyusutan). Hal yang sama juga berlaku pada gigi geraham bungsu. Masalah pada gigi geraham bungsu berasal dari kebiasaan makan, bukan dari “atrofi” evolusioner apa pun.

     
  • erva kurniawan 9:01 am on 27 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (11) 

    bumiRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (11)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa Teori Evolusi Tidak Diperkukuh Oleh Usia Bumi Yang Sudah Empat Miliar Tahun?

    Kaum evolusionis mendasarkan skenario mereka pada pengaruh alam dan kebetulan. Salah satu dari konsep yang paling mereka andalkan dalam hal ini adalah konsep “waktu yang panjang”. Sebagai contoh, ilmuwan Jerman, Ernst Haeckel, yang mendukung Darwin, menyatakan bahwa sebuah sel hidup dapat berasal dari lumpur biasa. Bersamaan dengan ditemukannya struktur sel hidup yang teramat rumit di abad ke-20, semakin jelaslah ketidakcerdasan pernyataan Haeckel itu. Tapi, kaum evolusionis terus-menerus menutupi kebenaran dengan konsep “waktu yang cukup panjang”.

    Dengan cara tersebut, mereka berniat melepaskan diri mereka sendiri dengan melemparkan masalah ke dalam keraguan, dan bukan menjawab pertanyaan bagaimana makhluk hidup timbul secara kebetulan. Dengan menampilkan kesan bahwa berlalunya rentang masa yang panjang dapat menjadi sesuatu yang menguntungkan dari sudut pandang kemunculan makhluk hidup dan meningkatnya keanekaragaman, mereka mengemukakan faktor waktu sebagai sesuatu yang selalu menguntungkan. Sebagai contohnya, profesor evolusionis Turki, Yaman Ors berkata: “Jika Anda ingin menguji kebenaran teori evolusi, bubuhkan campuran zat yang tepat ke dalam air, tunggulah beberapa juta tahun, maka anda akan melihat kemunculan beberapa sel.” 52

    Pernyataan itu betul-betul tidak masuk akal. Tak ada bukti bahwa hal seperti itu dapat terjadi. Munculnya makhluk hidup dari zat tak-hidup sebenarnya adalah takhayul dari Abad Pertengahan. Di zaman itu, masyarakat beranggapan bahwa makhluk hidup muncul secara tiba-tiba, disebut juga sebagai generatio spontanea atau “kemunculan tiba-tiba yang tanpa disengaja”. Menurut keyakinan masyarakat ini, angsa berasal dari pepohonan, kambing dari semangka, bahkan berudu berasal dari air yang terbentuk di awan lalu turun ke bumi sebagai hujan. Di tahun 1600-an, masyarakat percaya bahwa tikus dapat lahir dari campuran gandum dan sepotong kain kotor, dan bahwa lalat dapat terbentuk ketika lalat mati dicampur dengan madu.

    Namun, Francesco Redi, ilmuwan Italia, membuktikan bahwa tikus tidaklah berasal dari campuran gandum dan kain kotor, serta lalat tidak berasal dari campuran lalat mati dengan madu. Makhluk hidup tidak berasal dari zat tak-hidup, seperti madu atau kain kotor, melainkan sekadar menjadikan benda-benda itu sebagai perantara. Misalnya, seekor lalat hidup akan bertelur pada bangkai lalat, dan tak lama kemudian sejumlah lalat baru pun muncul. Dengan kata lain, kehidupan berasal dari kehidupan, bukan dari zat atau benda mati. Di abad ke-19, Louis Pasteur, ilmuwan Prancis, membuktikan bahwa bakteri tidak berasal dari benda mati. Hukum ini, yaitu “kehidupan hanya berasal dari kehidupan” adalah salah satu dasar biologi modern.

    Mengingat kondisi pada abad ke-17, adanya keyakinan yang aneh seperti yang telah dibahas di atas dapat kita maklumi karena pengetahuan para ilmuwan saat itu belumlah memadai. Akan tetapi di zaman kini, saat ilmu dan teknologi maju pesat, dan berbagai percobaan dan pengamatan menunjukkan bahwa makhluk hidup mustahil berasal dari zat atau benda mati, amatlah mengejutkan bila seorang evolusionis seperti Yaman Ors masih juga mempertahankan pernyataan seperti itu.

    Ilmuwan modern telah berulang kali menunjukkan bahwa hal sedemikian mustahil terjadi. Mereka telah melaksanakan percobaan-percobaan yang diatur sedemikian rupa, di laboratorium canggih, menirukan kondisi saat makhluk hidup pertama kali muncul, tapi itu semua sia-sia.

    Apabila atom-atom fosfor, kalium, magnesium, oksigen, besi, dan karbon, yang semuanya penting bagi makhluk hidup, digabungkan, yang timbul hanyalah gumpalan zat tak-hidup. Akan tetapi, kaum evolusionis menyatakan bahwa ada sekumpulan atom yang bergabung dan mengatur diri sedemikian rupa, dalam jangka waktu tertentu, dalam perbandingan paling sesuai, di saat dan tempat yang tepat, dengan segala kaitan yang diperlukan. Selanjutnya mereka nyatakan bahwa hasil pengaturan yang tepat dari atom-atom tak hidup tersebut, dan dengan semua proses yang berlangsung tanpa gangguan, muncullah manusia yang mampu melihat, mendengar, bicara, merasakan, tertawa, bersuka-cita, menderita, merasakan perasaan sakit dan suka cita, tertawa, mencintai, berbelas kasih, manghayati irama musik, menikmati makanan, membangun peradaban, serta melakukan penelitian ilmiah.

    Akan tetapi, sudah jelas bahwa walaupun semua persyaratan dan kondisi yang ditetapkan para evolusionis dipenuhi, serta berjuta-juta tahun sudah berlalu, percobaan seperti itu akan gagal.

    Para evolusionis mencoba menutupi fakta ini dengan penjelasan tipuan seperti “Segala hal adalah mungkin dengan berlalunya waktu”. Ketidakabsan pernyataan ini, yang didasarkan penggunaan “gertak“ di dalam dunia ilmiah, sangatlah jelas. Ketidakabsahan ini dapat dilihat dengan lebih jelas bila dilihat dari sudut pandang lain. Dalam sebuah contoh sederhana, mari kita tinjau faktor waktu dalam keadaan yang menguntungkan dan yang merugikan. Bayangkanlah sebuah perahu kayu di pantai, beserta seorang kapten yang dari awal memelihara kapal itu, memperbaiki, membersihkan, mengecatnya. Selama sang kapten tetap berminat pada kapal tersebut, kapal itu akan tambah menarik, aman dan terawat.

    Lalu, mari kita bayangkan kapal tersebut ditinggalkan. Kali ini, pengaruh matahari, angin, hujan, pasir dan badai akan menyebabkan kapal itu rusak, lapuk, dan akhirnya terbuang tanpa guna.

    Satu-satunya perbedaan di antara kedua skenario tadi adalah, pada kasus pertama, ada peristiwa campur-tangan yang cerdas, ahli, dan sangat berpengaruh. Waktu yang berlalu hanya akan bermanfaat, apabila dikendalikan oleh sebuah kekuatan yang cerdas. Jika tidak, waktu akan berpengaruh merusak, dan bukan memperbaiki atau membangun. Hal ini merupakan sebuah hukum ilmiah. Hukum entropi, yang dikenal sebagai “Hukum Termodinamika Kedua”, menyatakan bahwa semua sistem di alam semesta ini menuju ke arah kehancuran, penguraian, dan pembusukan apabila ditinggalkan begitu saja dalam kondisi alamiah.

    Fakta tersebut menunjukkan bahwa panjangnya umur Bumi adalah faktor yang menghancurkan pengetahuan serta keteraturan, dan menambah kekacauan. Jadi amat bertentangan dengan pendapat evolusionis. Munculnya sistem yang teratur yang didasarkan pada pengetahuan hanya dapat terjadi akibat adanya keterlibatan yang cerdas.

    Pada saat mendongeng tentang berubahnya satu spesies menjadi spesies lain, para pendukung evolusi berlindung di balik tameng “semua itu terjadi dalam jangka waktu teramat panjang”. Dengan begitu, mereka menyatakan bahwa di masa lalu berbagai hal tersebut terjadi sedemikian rupa, yang belum pernah dibuktikan oleh percobaan atau pengamatan mana pun. Walaupun demikian, segala hal di dunia dan alam semesta berjalan mengikuti hukum yang tetap. Hal ini tidak berubah seiring berjalannya waktu. Sebagai contoh, benda jatuh ke muka Bumi akibat gravitasi. Benda tidak akan jatuh ke atas dengan berjalannya waktu, bahkan dalam waktu bertriliun-triliun tahun sekalipun. Anak kadal tetaplah kadal. Hal ini terjadi karena informasi genetis yang diturunkan adalah selalu informasi kadal, dan secara alami tidak ada informasi tambahan yang bisa ditambahkan. Informasi dapat berkurang ataupun musnah, tetapi sungguh mustahil sesuatu apa pun dapat ditambahkan. Ini disebabkan penambahan informasi ke dalam sebuah sistem membutuhkan keterlibatan dan kendali dari luar yang berpengetahuan dan cerdas. Alam sendiri tidak memiliki sifat-sifat seperti itu.

    Pengulangan yang terjadi dengan berjalannya waktu, dan fakta bahwa hal ini sering terjadi, tidaklah mengubah apa pun. Sekalipun bertriliun-triliun tahun sudah berlalu, seekor burung tidak akan menetas dari telur kadal. Seekor kadal berukuran panjang, atau yang pendek – yang kuat ataupun yang lemah – akan selalu berupa kadal. Spesies yang berbeda tidak akan muncul darinya. Konsep “waktu yang sangat panjang“ merupakan sebuah tipuan yang bertujuan untuk mengeluarkan permasalahan ini dari luar lingkup percobaan dan pengamatan. Tidak ada bedanya antara 4, 40 atau 400 miliar tahun berlalu. Sebab tidak ada hukum ataupun kecenderungan alamiah yang dapat merubah kemustahilan-kemustahilan sebagaimana yang dipaparkan dalam teori evolusi menjadi hal yang benar-benar mungkin.

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 24 July 2015 Permalink | Balas  

    Aku Ingin Anak Lelakiku Menirumu 

    Nasehat IbuAku Ingin Anak Lelakiku Menirumu

    Oleh : Neno Warisman – ‘Izinkan Aku Bertutur’

    Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya: “Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!”

    Suamiku menjawab: “Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.”

    Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.

    Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatam kan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: “Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.”

    Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: “Oh ya. Ide bagus itu.”

    Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa.  Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.

    Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

    Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan.

    Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima. Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah.

    Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.

    Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu: “Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!”

    Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. “Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”

    Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu.

    Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, “Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

    Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi.

    Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya.

    Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: “Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!”

    Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam.

    Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, “Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”

    Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?

    Lalu kuambil tangan suamiku, meski  kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.

    Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

    Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: “Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”

    Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan.

    Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

    Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata:  Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!

    Amin, alhamdulillah

     
    • Firdausya 3:05 pm on 24 Juli 2015 Permalink

      Reblogged this on cherie and commented:
      ijin rebog ya pak

  • erva kurniawan 1:47 am on 22 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (8) 

    EmbrioRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (8)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    8.Pemalsuan Ilmiah Apakah Yang Menjadi Dasar Bagi Mitos “Embrio Manusia Memiliki Insang”?

    Tesis yang menyatakan bahwa makhluk hidup melalui berbagai tahapan di dalam rahim induknya, yang dapat dianggap sebagai bukti evolusi, menempati kedudukan istimewa di antara pernyataan-pernyataan tanpa bukti dari teori evolusi. Hal ini dikarenakan tesis ini, yang dikenal sebagai “rekapitulasi”dalam literatur evolusi, lebih dari sekedar penipuan ilmiah: ini adalah pemalsuan ilmiah.

    Takhayul Rekapitulasi Haeckel

    Ernst Haeckel, salah seorang pemalsu terbesar dalam sejarah ilmu pengetahuan.

    Istilah “rekapitulasi” adalah ringkasan dari pernyataan “ontogeni merekapitulasi filogeni”, yang diajukan oleh ahli biologi evolusioner, Ernst Haeckel di akhir abad kesembilan belas. Teori Haeckel ini menyatakan bahwa perkembangan embrio mengulangi proses evolusi yang dialami oleh “nenek moyang” mereka di zaman purba. Menurut teori ini, embrio manusia dalam rahim sang ibu pada awalnya menampilkan ciri-ciri fisik seekor ikan, lalu reptil, dan terakhir manusia. Pendapat ini mencetuskan pernyataan bahwa embrio memiliki “insang” dalam tahap pertumbuhannya.

    Akan tetapi, ini semua hanyalah takhayul. Perkembangan ilmiah yang telah dicapai, sejak rekapitulasi didengungkan untuk pertama kali, telah memungkinkan diujinya keabsaan pernyataan tersebut. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa doktrin rekapitulasi tidak memiliki landasan apa pun selain khayalan dan penafsiran keliru yang sengaja dilakukan kaum evolusionis.

    Kini telah diketahui bahwa apa yang disebut-sebut “insang” itu, yang tumbuh pada tahap awal perkembangan embrio manusia, sebenarnya adalah fase awal dari saluran telinga tengah, kelenjar timus dan paratiroid. Bagian embrio yang diserupakan sebagai “kantung kuning telur” ternyata adalah kantung yang berfungsi untuk menghasilkan darah bayi. Bagian yang disebut-sebut sebagai “ekor” oleh Haeckel dan pengikutnya, sebenarnya adalah tulang belakang yang tampak mirip ekor karena terbentuk lebih dulu daripada tungkai kaki.

    Inilah fakta-fakta yang diakui secara luas dalam dunia ilmiah, dan bahkan kaum evolusionis sendiri mengakuinya. George Gaylord Simpson, salah satu pendiri neo-Darwinisme, menulis:

    Haeckel salah menyatakan prinsip evolusioner yang dipakai. Sekarang dengan mantap telah dikukuhkan bahwa ontogeni tidak mengulangi filogeni. 45

    Berikut ini tercantum dalam artikel New Scientist tertanggal 16 Oktober 1999:

    [Haeckel] menamakan ini sebagai hukum biogenetika, dan gagasan ini kemudian secara luas disebut sebagai rekapitulasi. Faktanya, hukum Haeckel yang tegas itu tak lama kemudian terbukti keliru. Misalnya, embrio manusia tahap awal tidak pernah memiliki insang yang berfungsi seperti ikan, dan tak pernah melewati tahapan-tahapan yang menyerupai kera atau reptil dewasa. 46

    Dalam artikel terbitan American Scientist, kita membaca:

    Sungguh, hukum biogenetika itu sudah benar-benar mati. Hukum ini akhirnya dihilangkan dari buku teks biologi pada tahun lima puluhan. Sebagai sebuah pokok pengkajian teoritis yang serius, hukum ini ini sudah punah di tahun dua puluhan… 47

    Sebagaimana telah kita saksikan, sejak pertama kali muncul, berbagai perkembangan yang terjadi menunjukkan bahwa rekapitulasi sama sekali tidak memiliki dasar-dasar ilmiah. Walaupun demikian, berbagai perkembangan yang sama tersebut menunjukkan bahwa rekapitulasi bukan sekedar suatu penipuan ilmiah, melainkan sebuah “pemalsuan” murni.

    Gambar Palsu Haeckel

    The New York Times, pada tanggal 8 April, 2001, menyediakan ruang yang besar untuk membahas teori rancangan cerdas dan berbagai gagasan dari para ilmuwan dan ahli filsafat yang mendukung teori ini, seperti Michael Behe dan William Dembski. Secara umum dinyatakan bahwa secara ilmiah, teori rancangan cerdas adalah absah dan patut dihormati, sehingga Darwinisme akan terguncang sampai ke akarnya. Berita ini juga memuat gambar palsu buatan Haeckel dan membandingkannya dengan gambar-gambar embrio yang asli di bawah mikroskop.

    Ernst Haeckel, yang pertama kali mengajukan gagasan rekapitulasi, telah menerbitkan sejumlah gambar untuk mendukung teorinya. Haeckel membuat gambar-gambar yang telah dipalsukan, untuk menampilkan kesan bahwa embrio manusia dan ikan memiliki kemiripan! Ketika dusta ini terungkap, dia hanya dapat membela diri dengan cara berkata bahwa para evolusionis lain telah melakukan kesalahan serupa:

    Setelah pengakuan yang memalukan atas “pemalsuan” ini, saya sepatutnya menganggap diri saya tercela dan tak berguna, seandainya saya tidak merasa terhibur oleh adanya ratusan “orang hukuman” yang senasib dengan saya, di antaranya terdapat para pengamat paling terpercaya dan para ahli biologi paling terhormat. Kebanyakan dari semua gambar yang ada pada buku-buku pelajaran, makalah dan jurnal biologi terbaik, hingga tingkat yang sama, menanggung dakwaan “pemalsuan”, karena semua gambar itu tidak pasti, banyak sedikitnya sudah diubah-ubah, diatur dan dirancang. 48

    Jurnal ilmiah Science edisi 5 September, 1997, menerbitkan artikel yang mengungkapkan bahwa gambar embrio Haeckel adalah hasil penipuan. Tuisan itu, yang diberi judul “Haeckel’s Embryos: Fraud Rediscovered” (Embrio-Embrio Haeckel: Pemalsuan yang Terungkap Lagi) menyatakan berikut ini:

    Kesan yang diberikan [oleh gambar-gambar Haeckel], yang menyatakan bahwa semua embrio itu persis sama, adalah salah, ungkap Michael Richardson, seorang ahli embriologi di Fakultas Kedokteran St. George’s di London… Demikianlah, ia dan rekan-rekannya melakukan sendiri suatu penelitian pembandingan, memeriksa ulang dan memotret beberapa embrio, yang berasal dari spesies dan umur yang kira-kira setara dengan gambar Haeckel. Nyatalah bahwa semua embrio itu “seringkali tampak benar-benar berbeda luar biasa”, lapor Richardson dalam Anatomy and Embryology, terbitan bulan Agustus.49

    Science, 5 September 1997

    Kemudian, dalam artikel yang sama ini, informasi berikut ini terungkap:

    Haeckel tidak saja menambah dan mengurangi sejumlah bagian, lapor Richardson dan rekan-rekannya, tetapi ia juga memalsukan ukurannya untuk melebih-lebihkan kesamaan di antara spesies, meskipun terdapat perbedaan ukuran sebesar 10 kali. Terlebih, Haeckel menyamarkan perbedaan dengan cara tidak menyebutkan nama spesies dalam banyak kasus, seakan-akan satu contoh saja sudah benar-benar cukup untuk mewakili satu kelompok hewan secara keseluruhan. Nyatanya, Richardson dan rekan-rekannya mencermati, bahkan embrio hewan dari jenis-jenis yang erat hubungannya sekali pun, misalnya ikan, agak berlainan dalam rupa serta jalur perkembangannya. “[Gambar-gambar Haeckel] ini tampaknya sedang menjadi salah satu pemalsuan paling terkenal dalam biologi,” Richardson menyimpulkan. 50

    Patut dicatat, walaupun pemalsuan Haeckel ini sudah terungkap tahun 1901, selama hampir satu abad gambar tersebut masih terus ditampilkan dalam berbagai terbitan evolusionis, seakan-akan merupakan hukum ilmiah yang sudah terbukti. Dengan mengedepankan ideologi mereka daripada ilmu pengetahuan, mereka yang menganut keyakinan evolusionis secara tak sadar telah menyatakan pesan penting: Evolusi bukanlah ilmu pengetahuan, melainkan dogma yang terus mereka coba pertahankan, walaupun fakta ilmiah membuktikan sebaliknya.

    ===============================

    1. G. G. Simpson, W. Beck, An Introduction to Biology, Harcourt Brace and World, New York, 1965, p. 241
    2. Ken McNamara, “Embryos and Evolution,” New Scientist, vol. 12416, 16 October 1999, (emphasis added)
    3. Keith S. Thompson, “Ontogeny and Phylogeny Recapitulated,” American Scientist, vol. 76, May/June 1988, p. 273
    4. Francis Hitching, The Neck of the Giraffe: Where Darwin Went Wrong, Ticknor and Fields, New York, 1982, p. 204
    5. Elizabeth Pennisi, “Haeckel’s Embryos: Fraud Rediscovered,” Science, 5 September,
    6. Elizabeth Pennisi, “Haeckel’s Embryos: Fraud Rediscovered,” Science, 5 September, (emphasis added)
     
  • erva kurniawan 1:37 am on 21 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (7) 

    ArchaeopteryxRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (7)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa Pernyataan Bahwa Dinosaurus Berevolusi Menjadi Burung Adalah Mitos Tidak Ilmiah?

    Teori evolusi adalah sebuah dongeng yang diciptakan berdasarkan harapan bahwa yang mustahil akan menjadi kenyataan. Dalam cerita ini, burung menempati tempat yang istimewa. Dibandingkan semua yang ada, burung memiliki organ luar biasa, yakni sayap. Selain istimewa dari segi struktural, sayap burung juga menakjubkan dari segi fungsinya. Begitu menakjubkan, sehingga selama beribu-ribu tahun, umat manusia memiliki cita-cita untuk bisa terbang, dan beribu-ribu ilmuwan dan peneliti berupaya untuk menirunya. Meskipun sejumlah upaya sangat sederhana pernah dikerahkan, barulah pada abad ke-dua puluh, manusia berhasil membuat mesin yang mampu terbang. Burung sudah melakukan hal ini – yang oleh manusia baru terwujud melalui akumulasi teknologi selama beratus-ratus tahun – sejak jutaan tahun yang lalu, sejak burung tercipta. Lagi pula, anak burung dapat memiliki kemampuan untuk terbang setelah mencobanya beberapa kali saja. Banyak sifat-sifat burung yang begitu sempurna, sehingga tak mungkin disaingi oleh teknologi paling modern sekali pun.

    Gagasan “dinosaurus menumbuhkan sayap saat berusaha menangkap serangga yang terbang” bukanlah suatu lelucon, melainkan sebuah teori yang menurut kaum evolusionis amat ilmiah. Contoh ini sudah cukup untuk menunjukkan seberapa serius kita harus menanggapi kaum evolusionis

    Teori evolusi bersandar pada komentar-komentar berprasangka dan pemutarbalikkan kebenaran untuk menjelaskan kemunculan makhluk hidup dan seluruh keberagamannya. Apabila sudah menyangkut makhluk hidup seperti burung, ilmu pengetahuan pun sepenuhnya disingkirkan, dan diganti dengan kisah fantasi evolusionis. Alasan dari semua ini adalah sejenis makhluk yang oleh kaum evolusionis dinyatakan sebagai nenek moyang dari burung. Teori evolusi menandaskan bahwa nenek moyang dari burung adalah dinosaurus, anggota kelompok reptil. Pernyataan ini memunculkan dua pertanyaan yang harus dijawab. Pertama, “bagaimana dinosaurus mulai menumbuh-kembangkan sayap?” Kedua, “mengapa tidak ada jejak prekembangan semacam itu dalam catatan fosil?”

    Berkenaan dengan bahasan tentang bagaimana dinosaurus berubah menjadi burung, para evolusionis telah lama memperdebatkannya, dan mengajukan dua teori. Yang pertama adalah teori “kursorial”. Menurut teori ini, dinosaurus berubah menjadi burung dengan cara melompat dari tanah ke udara. Adapun para pendukung teori kedua tidaklah sependapat dengan teori kursorial ini. Mereka berkata, mustahil dinosaurus berubah menjadi burung dengan cara demikian. Menurut teori kedua ini, dinosaurus yang hidup di dahan pepohonan berubah menjadi burung karena berusaha melompat dari dahan ke dahan. Ini biasa disebut sebagai teori “arboreal”. Bagaimana dinosaurus bisa melompat ke udara? Jawabannya sudah tersedia: “Karena mencoba menangkap serangga terbang.”

    Akan tetapi, kita harus ajukan pertanyaan berikut ini kepada mereka yang berkata bahwa sebuah sistem penerbangan beserta sayapnya dapat muncul pada tubuh seekor dinosaurus: Bagaimanakah sistem terbang pada seekor lalat – yang jauh lebih efisien daripada helikopter yang kemudian dibentuk mengikuti sistem terbang pada lalat – terbentuk? Anda akan pahami bahwa kaum evolusionis tak memiliki jawabannya. Sudah pasti teramat tidak masuk akal bahwa suatu teori yang tak sanggup menjelaskan sistem terbang pada makhluk sekecil lalat, akan sanggup menjelaskan proses perubahan dinosaurus menjadi burung.

    Karena itulah, para ilmuwan yang berpikir secara benar pun sepakat, bahwa satu-satunya segi ilmiah pada teori tersebut adalah nama-nama yang berbahasa Latin. Pada intinya, munculnya kemampuan terbang hewan reptil hanyalah khayalan.

    Kaum evolusionis, yang berpendapat bahwa dinosaurus berubah menjadi burung, haruslah mampu memperoleh buktinya dalam catatan fosil. Jika dinosaurus memang berubah menjadi burung, harus terdapat makhluk setengah burung-setengah dinosaurus yang hidup di masa lampau, serta meninggalkan jejaknya dalam catatan fosil. Sudah bertahun-tahun lamanya, para evolusionis menyatakan bahwa seekor burung yang disebut “Archaeopteryx” merupakan bukti transisi tersebut. Akan tetapi pernyataan ini tak lain adalah sebuah penipuan besar.

    ArchaeopteryxPenipuan Tentang Archaeopteryx

    Archaeopteryx, makhluk yang dianggap sebagai nenek moyang burung modern oleh para evolusionis, hidup sekitar 150 juta tahun silam. Menurut teori ini, ada sejenis dinosaurus berukuran kecil, misalnya Velociraptors dan Dromaesaurs, yang berevolusi, yaitu menumbuhan sayap dan lalu mulai terbang. Jadi, Archaeopteryx dianggap sebagai bentuk peralihan, yang muncul dari dinosaurus – nenek moyangnya – lalu mulai terbang untuk pertama kalinya.

    Tetapi, kajian terakhir atas fosil Archaeopteryx menunjukkan bahwa penjelasan ini tidak memiliki dasar ilmiah. Archaeopteryx bukan bentuk peralihan, melainkan spesies burung yang sudah punah, yang tidak jauh berbeda dengan burung modern.

    Hingga beberapa waktu yang lalu, pendapat bahwa Archaeopteryx adalah “setengah burung” yang belum sanggup terbang sempurna merupakan pandangan yang umum diterima di kalangan kaum evolusionis. Tiadanya tulang dada atau sternum pada makhluk ini, dianggap sebagai bukti terpenting bahwa kemampuan terbangnya tidak sempurna. (Sternum adalah tulang tempat menempel otot-otot untuk terbang, yang terletak di bawah toraks. Di zaman sekarang, tulang dada terdapat pada semua jenis burung, baik yang dapat terbang maupun tidak, bahkan terdapat juga pada kelelawar, yang tergolong mamalia terbang.)

    Akan tetapi, fosil Archaeopteryx ketujuh, yang ditemukan tahun 1992, menjadi bukti penentang argumen tadi. Alasannya adalah, dalam fosil yang baru saja ditemukan ini, terdapat tulang dada yang selama ini dianggap tak ada oleh kaum evolusionis. Dalam jurnal Nature, fosil ini digambarkan sebagai berikut:

    Spesimen Archaeopteryx yang baru saja ditemukan menampakkan tulang sternum yang berbentuk persegi, yang sudah lama diperkirakan ada, tetapi belum pernah didokumentasikan. Ini menjadi tanda akan kekuatan otot terbangnya, walaupun kemampuan terbang-jauhnya masih dipertanyakan. 30

    Penemuan ini meruntuhkan tiang utama yang melandasi pernyataan bahwa Archaeopteryx adalah makhluk setengah burung, yang tak mampu terbang sempurna.

    Lagi pula, struktur bulu burung ini merupakan salah satu bukti terpenting bahwa Archaeopteryx adalah burung sejati yang dapat terbang. Struktur bulu Archaeopteryx, yang tidak simetris, tidak bisa dibedakan dari bulu burung zaman modern. Ini menandakan bahwa burung ini benar-benar bisa terbang. Seperti kata ahli paleontologi ternama, Carl O. Dunbar, “Dilihat dari bulunya, jenis [Archaeopteryx] jelas termasuk kelompok burung.” 31

    Ahli paleontologi Robert Carroll menjelaskan hal ini lebih lanjut:

    Geometri bulu yang berfungsi untuk terbang pada Archaeopteryx adalah sama persis dengan bulu burung modern yang dapat terbang, sedangkan bulu pada unggas yang tak bisa terbang adalah simetris. Pola yang dengannya bulu-bulu tersebut tersusun pada sayapnya juga masih termasuk dalam kelompok burung modern… Menurut Van Tyne dan Berger, bentuk dan ukuran relatif sayap Archaeopteryx serupa dengan yang ada pada burung yang biasa menembus rapatnya pepohonan, misalnya burung unggas yang sudah didomestikasi, merpati, burung rawa, burung pelatuk, dan kebanyakan burung layang… Bulu yang berfungsi untuk terbang ini telah berada dalam keadaan yang sama selama sedikitnya 150 juta tahun … 32

    Fakta lain yang terungkap lewat struktur bulu Archaeopteryx adalah metabolismenya yang tergolong berdarah panas. Seperti telah dibahas tadi, reptil dan – walaupun ada pendapat kaum evolusionis yang menentang ini – dinosaurus tergolong hewan berdarah dingin, yang suhu tubuhnya berubah tergantung suhu lingkungan. Lain halnya pada hewan berdarah panas, yang suhu tubuhnya diatur secara homeostatis (tidak bergantung pada suhu lingkungan di luar tubuh – penerj.). Fungsi bulu burung yang amat penting adalah pemeliharaan suhu tubuh yang senantiasa tetap. Fakta bahwa Archaeopteryx memiliki bulu membuktikan bahwa makhluk ini adalah burung sejati berdarah panas yang perlu menjaga panas tubuhnya; tidak demikian halnya pada dinosaurus.

    The Archaeopteryx is the earliest known bird ever to have been found. It lived during the Upper Juassic period about 147 million years ago. It had clawed fingers, wings and toothed jaws - part dinosaur, part bird.

    Anatomi Archaeopteryx Dan Kesalahan Kaum Evolusionis

    Kajian anatomi Archaeopteryx mengungkapkan bahwa hewan ini sudah memiliki kemampuan terbang yang lengkap sempurna, seperti burung modern. Usaha mencari kemiripan antara Archaeopteryx dengan reptil adalah tidak berdasar sedikit pun.

    Terdapat dua hal yang menjadi landasan kaum evolusionis dalam menyatakan bahwa Archaeopteryx adalah bentuk peralihan, yaitu adanya cakar pada sayap dan giginya.

    Memang benar bawa Archaeopteryx memiliki cakar pada sayapnya, dan gigi dalam paruhnya. Tapi kedua ciri ini tidak berarti Archaeopteryx berkerabat dengan reptilia. Di samping itu, terdapat dua spesies burung masa kini, touraco dan hoatzin, yang juga memiliki cakar pada sayapnya yang digunakan untuk bertengger pada dahan pohon. Kedua makhluk ini adalah burung seutuhnya, tanpa ciri-ciri reptil. Karenanya, adalah sama sekali tidak berdasar untuk mengatakan bahwa Archaeopteryx adalah bentuk peralihan, hanya karena sayapnya bercakar.

    Gigi yang terdapat dalam paruh Archaeopteryx bukanlah pula tanda bahwa burung ini adalah makhluk transisi. Kaum evolusionis telah keliru ketika menyatakan bahwa gigi-gigi tersebut adalah ciri khas yang berasal dari reptil. Hal ini disebabkan gigi bukanlah ciri khas reptil. Di zaman sekarang, terdapat reptil yang bergigi, dan ada pula yang tidak. Lagi pula, Archaeopteryx bukanlah satu-satunya burung yang bergigi. Memang benar, di masa kini tidak ada lagi burung yang bergigi. Namun, dalam catatan fosil, tampak bahwa di masa hidup Archaeopteryx dan di masa sesudahnya, dan bahkan hingga belum lama ini, terdapat sekelompok burung yang dapat digolongkan sebagai “burung bergigi”.

    Hal terpenting di sini adalah, struktur gigi Archaeopteryx dan burung bergigi lainnya sama sekali berbeda dengan struktur gigi dinosaurus, yang dianggap sebagai nenek moyang hewan jenis burung. Ahli ornitologi ternama, L. D. Martin, J. D. Stewart, dan K. N. Whetstone, mengamati bahwa pada Archaeopteryx dan burung sejenis lainnya, terdapat gigi yang tidak bergerigi, bagian bawahnya menyempit, dan akarnya melebar. Sedangkan pada dinosaurus theropoda, yang dinyatakan sebagai nenek moyang burung, terdapat gigi yang bergerigi dan berakar lurus.33 Para peneliti ini juga membandingkan tulang pergelangan kaki Archaeopteryx dengan dinosaurus. Dilaporkan bahwa tak ada kesamaan antara keduanya.34

    Penelitian para ahli anatomi seperti S. Tarsitano, M. K. Hecht, dan A. D. Walker, telah mengungkapkan adanya salah tafsir pada pernyataan John Ostrom – ahli terkemuka di bidang ini, yang berpendapat bahwa Archaeopteryx berevolusi dari dinosaurus – serta ahli lainnya yang melihat kesamaan antara tungkai kaki Archaeopteryx dan dinosaurus.35 Sebagai contohnya, A. D. Walker telah melakukan analisis bagian telinga Archaeopteryx, dan menemukan bahwa keadaannya adalah amat serupa dengan burung modern. 36

    Dalam bukunya, Icons of Evolution, ahli biologi Amerika Jonathan Wells berkomentar bahwa Archaeopteryx telah dijadikan sebuah lambang penting dari teori evolusi. Padahal, bukti-bukti menunjukkan bahwa makhluk tersebut bukanlah nenek moyang primitif dari burung. Menurut Wells, salah satu buktinya adalah dinosaurus theropoda – yang dianggap sebagai nenek moyang Archaeopteryx- – sebenarnya lebih muda daripada Archaeopteryx: “Reptil berkaki dua yang berlari di muka bumi, dan memiliki ciri-ciri yang diperkirakan terdapat pada nenek moyang Archaeopteryx, baru muncul sesudahnya.”37

    Semua penemuan ini menjadi pertanda bahwa Archaeopteryx bukanlah mata rantai transisi, melainkan hanya sejenis burung yang dapat digolongkan sebagai “burung bergigi”. Menghubungkan makhluk ini dengan dinosaurus theropoda sama sekali tidak absah. Dalam artikel berjudul “The Demise of the ‘Birds Are Dinosaurs’ Theory” (Gugurnya Teori “Burung adalah Dinosaurus”), ahli biologi Amerika Richard L. Deem menulis tentang pernyataan evolusi burung-dinosaurus dan Archaeopteryx:

    Hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa tangan dinosaurus theropoda berasal dari digit (bakal jari -terj.) I, II, dan III, sedangkan sayap burung, walaupun strukturnya tampak mirip, berasal dari digit II, III, dan IV… Terdapat sejumlah kesulitan lain yang mengganjal teori “burung adalah dinosaurus” ini. Tungkai depan theropoda jauh lebih kecil (relatif terhadap ukuran tubuh) daripada tungkai sayap Archaeopteryx. “Bakal sayap” yang kecil pada theropoda tidaklah begitu meyakinkan, terutama mengingat tubuh dinosaurus tersebut cukup berat. Hewan theropoda umumnya tidak memiliki tulang pergelangan tangan berbentuk sabit, dan memiliki sejumlah bagian penyusun pergelangan yang tidak memiliki homologi dengan tulang-tulang Archaeopteryx. Selain itu, hampir pada seluruh hewan theropoda, saraf VI keluar dari tempurung otak melalui samping, bersama-sama beberapa saraf lainnya; sedangkan pada burung, saraf VI keluar dari depan tempurung otak, melalui lubangnya tersendiri. Di samping itu, terdapat pula masalah kecil: sebagian besar jenis theropoda muncul setelah Archaeopteryx. 38

    Sekali lagi, fakta-fakta tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa Archaeopteryx maupun burung-burung purba lainnya yang sejenis bukanlah makhluk peralihan. Catatan fosil tidak menunjukkan bahwa berbagai spesies burung mengalami evolusi dari satu jenis ke jenis lainnya. Sebaliknya, catatan fosil membuktikan, burung-burung jenis modern di masa kini dan beberapa jenis burung purba seperti Archaeopteryx pernah hidup dalam satu zaman. Memang benar bahwa sebagian dari burung purba seperti Archaeopteryx dan Confuciusornis telah punah, tetapi fakta bahwa hanya sebagian saja dari spesies-spesies yang dulu pernah hidup bisa bertahan hingga masa kini tidak berarti dengan sendirnya mendukung teori evolusi.

    Burung-UntaBukti Terbaru: Kajian Atas Burung Unta Menggugurkan Cerita Burung-Dino

    Dr. Alan Feduccia

    Pukulan baru bagi pernyataan teori “burung berevolusi dari dinosaurus” datang dari penelitian embriologi burung unta. Dr. Alan Feduccia dan Dr. Julie Nowicki dari Universitas North Carolina di Chapel Hill, telah meneliti beberapa butir telur burung unta yang hidup, dan lagi-lagi menghasilkan kesimpulan bahwa tidak ada kaitan evolusi antara burung dan dinosaurus. Sebuah portal ilmiah bernama EurekAlert, yang dikelola oleh American Association for the Advancement of Science, (AAAS) melaporkan:

    Dr. Alan Feduccia dan Dr. Julie Nowicki dari Universitas North Carolina (UNC) di Chapel Hill… membuka beberapa butir telur burung unta yang hidup, dan menemukan hal yang mereka yakini sebagai bukti bahwa burung tak mungkin merupakan keturunan dinosaurus…

    Apa pun yang menjadi nenek moyang unggas di masa lalu, makhluk it pastilah berjari lima, dan bukan tangan berjari tiga seperti dinosaurus theropoda,” kata Feduccia … “Para ilmuwan sepakat, bahwa dinosaurus memperoleh tangan dengan jari kesatu, kedua dan ketiga… Penelitian kami atas embrio burung unta menunjukkan secara meyakinkan bahwa pada unggas, yang berkembang hanyalah jari kedua, ketiga dan keempat, yang pada manusia setara dengan jari telunjuk, jari tengah dan jari manis, dan kami punya foto-foto sebagai buktinya,” kata Feduccia, dosen dan mantan ketua jurusan biologi di UNC. “Ini memunculkan masalah baru bagi mereka yang bersikeras menyatakan bahwa dinosaurus adalah nenek moyang dari burung modern. Sebagai contohnya, bagaimana ‘tangan’ unggas yang berjari kedua, ketiga dan keempat, berevolusi jadi jari kesatu, kedua dan ketiga? Ini dapat dikatakan mustahil.”39

    Dalam laporan yang sama, Dr. Feduccia juga memberi ulasan penting atas ketidakabsahan – serta kedangkalan – teori “burung berevolusi dari dinosaurus”:

    “Terdapat permasalahan-permasalahan yang mustahil dipecahkan dengan teori itu,” katanya [Dr. Feduccia]. “Selain hasil penelitian kami, terdapat juga masalah penentuan zaman. Makhluk yang sekilas mirip dinosaurus-burung itu hidup sekitar 25 juta hingga 80 juta tahun setelah munculnya burung tertua, yaitu 150 juta tahun yang silam.”

    “Jika seseorang melihat kerangka ayam dan kerangka dinosaurus dengan menggunakan teropong, keduanya akan tampak serupa. Tetapi, pemeriksaan yang lebih dekat dan teliti mengungkapkan banyak perbedaan,” kata Feduccia. “Dinosaurus theropoda, misalnya, memiliki gigi yang bergerigi dan melengkung. Tetapi burung-burung yang ada pertama kali mempunyai gigi lurus, tak bergerigi, dan menyerupai paku. Kedua jenis hewan ini juga berbeda dalam proses pertumbuhan dan pergantian gigi.”40

    Bukti ini mengungkapkan, bahwa “dino-bird” (burung-dinosaurus) hanyalah sekadar lambang atau ikon Darwinisme: sebuah mitos yang dipertahankan hanya demi keyakinan dogmatis atas teori tersebut.

    sinosauropteryx_primaFosil Burung-Dinosaurus Palsu Ciptaan Kaum Evolusionis

    Sebuah fosil Sinosauropteryx.

    Dengan runtuhnya pernyataan evolusionis dalam hal fosil burung purba Archaeopteryx, teori evolusi kini menghadapi jalan buntu mengenai asal-usul burung. Karena itu, sebagian kaum evolusionis terpaksa menggunakan cara klasik – pemalsuan. Di tahun 1990-an, beberapa kali diberitakan kepada masyarakat bahwa “fosil makhluk setengah-burung dan setengah-dinosaurus telah ditemukan.” Media massa evolusionis memasang gambar-gambar makhluk yang disebut “burung dinosaurus” ini dan sebuah kampanye ke seluruh dunia pun dilancarkan. Tetapi, segera diketahui bahwa kampanye ini didasarkan pada kontradiksi dan pemalsuan.

    Tokoh pertama dalam kampanye ini adalah Sinosauropteryx, seekor dinosaurus yang ditemukan di Cina pada tahun 1996. Fosil itu diperkenalkan ke seluruh dunia sebagai “dinosaurus berbulu burung”, dan ditampilkan sebagai berita utama. Akan tetapi, pengkajian terperinci di bulan-bulan berikutnya mengungkapkan bahwa struktur yang digembar-gemborkan oleh kaum evolusionis sebagai “bulu burung” sebenarnya adalah bukan bulu burung.

    Inilah penyajian berita itu dalam artikel berjudul Plucking the Feathered Dinosaur dalam jurnal Science:

    Tipuan Dinosaurus Dalam Media Evolusionis …

    Majalah National Geographic menampilkan gambar “burung-dino” seperti ini di tahun 1999, dan menyajikannya ke seluruh dunia sebagai bukti evolusi. Dua tahun kemudian diketahui, bahwa sumber yang mengilhami gambar ini, Archaeoraptor, adalah kebohongan ilmiah.

    Tepat satu tahun silam, para ahli paleontologi sibuk memperbincangkan foto yang disebut “dinosaurus berbulu burung”, yang diedarkan di ruang pertemuan tahunan Perhimpunan Paleontologi Vertebrata. Spesimen Sinosauropteryx dari Formasi Yixian di negeri Cina menempati halaman depan The New York Times, dan dianggap oleh sebagian kalangan sebagai bukti bahwa dinosaurus merupakan asal-usul dari burung. Tapi pada pertemuan paleontologi vertebrata tahun ini, di Chicago bulan lalu, kesimpulannya agak lain: Struktur itu bukanlah bulu burung modern, kata sekitar selusin ahli paleontologi Barat yang telah menyaksikan spesimen itu … ahli paleontologi Larry Martin dari Universitas Kansas, Lawrence, berpendapat bahwa struktur tersebut adalah serat kolagen yang terurai lepas di bawah kulit – jadi, tak ada kaitannya sama sekali dengan burung.41

    Satu lagi hiruk pikuk “burung-dino” membahana di tahun 1999. Satu lagi fosil yang ditemukan di negeri Cina ditampilkan sebagai “bukti utama evolusi”. Majalah National Geographic, sumber kampanye ini, telah membuat dan mengedarkan gambar khayal “dinosaurus berbulu burung” berdasarkan rekaan fosil itu. Di beberapa negara, gambar itu menjadi berita utama. Spesies yang dikatakan hidup 125 juta tahun yang lalu ini, segera diberi nama ilmiah Archaeoraptor liaoningensis.

    Namun, fosil itu adalah palsu dan disusun secara lihai dari lima buah spesimen terpisah. Setahun kemudian, sekelompok peneliti, tiga diantaranya ahli paleontologi, membuktikan pemalsuan itu dengan bantuan tomografi komputer sinar-X. Burung-dino itu adalah hasil rekayasa evolusionis Cina. Beberapa orang amatir negeri Cina membentuk burung-dino itu dari 88 buah tulang dan batu dengan bantuan lem dan semen. Penelitian menunjukkan, Archaeoraptor ini dibentuk dengan menggunakan bagian depan kerangka burung purba, dan tubuh serta ekornya dibentuk dari tulang empat spesimen yang berbeda.

    Artikel dalam jurnal ilmiah Nature menjelaskan pemalsuan itu sebagaimana berikut:

    Fosil Archaeoraptor diumumkan sebagai “mata rantai yang hilang” serta dianggap sebagai bukti terkuat yang mungkin, setelah Archaeopteryx, yang membuktikan bahwa unggas memang hasil evolusi dari beberapa jenis dinosaurus pemakan daging. Tetapi, Archaeoraptor terungkap sebagai sebuah pemalsuan, yang berupa gabungan sejumlah tulang yang berasal dari burung primitif dan seekor dinosaurus dromaeosaurid yang tidak bisa terbang… Spesimen Archaeoraptor, yang dilaporkan sebagai hasil koleksi dari Formasi Jiufotang Kretasea Awal di Liaoning, diselundupkan dari negeri Cina dan lalu dijual di Amerika Serikat di pasar komersial… Kami simpulkan, bahwa Archaeoraptor terdiri dari dua spesies atau lebih, dan disusun setidaknya dari dua, mungkin lima, spesimen yang berbeda… 42

    Walaupun bisa dikatakan bahwa kaum evolusionis gagal mendukung teori mereka dengan bukti ilmiah, dalam satu hal mereka amat berhasil, yaitu propaganda. Unsur terpenting dalam propaganda ini adalah perbuatan membuat gambar palsu, yang disebut sebagai “rekonstruksi”. Dengan kuas di tangan, para evolusionis membuat makhluk-makhluk khayal; namun, fakta bahwa gambar-gambar ini tidak didukung oleh keberadaan fosil-fosil yang sesuai memunculkan persoalan serius bagi mereka.

    Jadi, bagaimana mungkin National Geographic bisa menyajikan pemalsuan ilmiah besar-besaran ke seluruh dunia sebagai “bukti utama kebenaran evolusi”? Jawabannya terselubung dalam khayalan evolusioner di kalangan redaksi majalah itu. National Geographic secara membabi-buta mendukung Darwinisme, dan tak ragu menggunakan alat propaganda apa pun yang dianggapnya mendukung teori itu. Akhirnya majalah ini tersangkut dalam “skandal manusia Piltdown” kedua.

    Para ilmuwan evolusionis juga menyadari sikap fanatik National Geographic. Dr. Storrs L. Olson, kepala Departemen Ornitologi di Smithsonian Institute yang ternama, mengumumkan bahwa sebelumnya ia telah mengingatkan bahwa fosil itu palsu. Akan tetapi, para eksekutif majalah itu tak menghiraukannya. Dalam suratnya untuk Peter Raven dari National Geographic, Olson menulis:

    Sebelum terbitnya artikel “Dinosaurus Memperoleh Sayap” dalam majalah National Geographic edisi Juli 1998, Lou Mazzatenta, fotografer untuk artikel Sloan, mengundang saya ke National Geographic Society agar melihat-lihat foto fosil-fosil Cina serta memberi komentar atas ceritanya. Saat itu, saya berupaya menekankan fakta yang mendukung kuat sejumlah sudut pandang alternatif yang ada selain dari yang hendak disajikan National Geographic. Akan tetapi, akhirnya telah menjadi jelas di hadapan saya bahwa National Geographic tidak tertarik pada apa pun selain dogma yang ada, yaitu burung adalah hasil evolusi dinosaurus.43

    Dalam pernyataan di USA Today, Olson berkata, “Masalahnya adalah, saat itu fosil tersebut telah diketahui oleh National Geographic sebagai palsu, tetapi informasi itu tidak diungkapkan.”44 Dengan kata lain, ia mengatakan bahwa National Geographic mempertahankan pemalsuan itu, walaupun tahu bahwa fosil yang sedang diberitakan olehnya sebagai bukti evolusi adalah palsu.

    Harus dijelaskan di sini, bahwa tindakan National Geographic bukanlah pemalsuan pertama demi mempertahankan teori evolusi. Banyak kejadian serupa sesudah teori itu pertama kali diajukan. Ahli biologi Jerman, Ernst Haeckel, membuat gambar embrio yang palsu untuk mendukung Darwin. Para evolusionis Inggris memasang rahang orang utan pada tengkorak kepala manusia, dan selama 40 tahun memamerkannya di British Museum sebagai “manusia Piltdown, bukti terbesar kebenaran evolusi.” Para evolusionis Amerika menampilkan “manusia Nebraska” dari sebuah gigi babi. Di seluruh dunia, gambar palsu yang disebut-sebut sebagai “rekonstruksi”, yang sebenarnya tidak pernah ada, telah dianggap sebagai “makhluk primitif” atau “manusia kera”.

    Singkat kata, kaum evolusionis telah mengulangi metode pemalsuan kasus manusia Piltdown. Mereka menciptakan sendiri bentuk peralihan yang tidak mampu mereka temukan. Dalam sejarah, peristiwa ini menunjukkan betapa propaganda internasional telah menipu demi teori evolusi, dan para evolusionis bersedia melakukan segala macam dusta demi mempertahankannya.

    ***

    1. Nature, vol. 382, August, 1, 1996, p. 401.
    2. Carl O. Dunbar, Historical Geology, John Wiley and Sons, New York, 1961, p. 310.
    3. Robert L. Carroll, Patterns and Processes of Vertebrate Evolution, Cambridge University Press, 1997, p. 280-81.
    4. L. D. Martin, J. D. Stewart, K. N. Whetstone, The Auk, vol. 97, 1980, p. 86.
    5. L. D. Martin, J. D. Stewart, K. N. Whetstone, The Auk, vol. 97, 1980, p. 86; L. D. Martin, “Origins of the Higher Groups of Tetrapods,” Ithaca, Comstock Publishing Association, New York, 1991, pp. 485-540.
    6. S. Tarsitano, M. K. Hecht, Zoological Journal of the Linnaean Society, vol. 69, 1980, p. 149; A. D. Walker, Geological Magazine, vol. 117, 1980, p. 595.
    7. A.D. Walker, as described in Peter Dodson, “International Archaeopteryx Conference,” Journal of Vertebrate Paleontology 5(2):177, June 1985.
    8. Jonathan Wells, Icons of Evolution, Regnery Publishing, 2000, p. 117
    9. Richard L. Deem, “Demise of the ‘Birds are Dinosaurs’ Theory,” http://www.yfiles.com/dinobird2.html.
    10. “Scientist say ostrich study confirms bird ‘hands’ unlike these of dinosaurs,” http://www.eurekalert.org/pub_releases/2002-08/uonc-sso081402.php
    11. “Scientist say ostrich study confirms bird ‘hands’ unlike these of dinosaurs,” http://www.eurekalert.org/pub_releases/2002-08/uonc-sso081402.php
    12. Ann Gibbons, “Plucking the Feathered Dinosaur,” Science, vol. 278, no. 5341, 14 November 1997, pp. 1229 – 1230
    13. “Forensic Palaeontology: The Archaeoraptor Forgery,” Nature, March29, 2001
    14. Storrs L. Olson “OPEN LETTER TO: Dr. Peter Raven, Secretary, Committee for Research and Exploration, National Geographic Society Washington, DC 20036,” Smithsonian Institution, November 1, 1999
    15. Tim Friend, “Dinosaur-bird link smashed in fossil flap,” USA Today, 25 January 2000, (emphasis added)
     
  • erva kurniawan 1:29 am on 20 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (5) 

    15apple emojiRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (5)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa Adanya Beragam Ras Bukan Bukti Kebenaran Evolusi?

    Terdapat sejumlah evolusionis yang berusaha mengajukan keragaman ras sebagai bukti kebenaran evolusi. Pada kenyataannya, pernyataan ini sebenarnya lebih sering dikeluarkan oleh para evolusionis amatir dengan pemahaman yang kurang memadai atas teori yang mereka dukung tersebut.

    Manusia pertama memiliki bahan genetis yang mengandung semua sifat dan ciri berbagai ras. Bagian tertentu bersifat dominan pada masyarakat yang berbeda-beda. Dengan demikian, terbentuklah ras manusia.

    Tesis yang diajukan oleh pendukung pernyataan itu didasarkan atas pertanyaan, “Jika, seperti dikatakan sumber-sumber agama samawi, kehidupan memang diawali oleh seorang lelaki dan seorang perempuan, mengapa beragam ras muncul?” Dengan kata lain, maksud pertanyaan itu adalah, “Karena tinggi badan, warna kulit, serta ciri fisik lain pada Adam dan Hawa hanyalah ciri fisik dua orang saja, mengapa berbagai ras dengan ciri fisik yang sama sekali berlainan dapat muncul?”

    Sebenarnya, yang menjadi dasar semua pertanyaan atau sangkalan itu adalah kurangnya pengetahuan tentang hukum-hukum genetika, atau ketidakperdulian mereka atas ilmu tersebut. Agar kita dapat memahami penyebab keragaman ras di dunia kini, kita harus lebih dahulu memahami “variasi”, suatu pokok bahasan yang terkait erat dengan pertanyaan ini.

    Variasi adalah sebuah istilah dalam ilmu genetika, yaitu peristiwa genetis yang menyebabkan timbulnya perbedaan ciri-ciri satu atau sekelompok individu dalam suatu jenis atau spesies tertentu. Sumber variasi adalah informasi genetis yang dimiliki individu dalam spesies itu. Sebagai akibat perkawinan antar individu, informasi genetis itu bergabung dalam berbagai kombinasi pada generasi berikutnya. Terjadi pertukaran materi genetis antara kromosom ayah dan kromosom ibu. Jadi, gen saling bercampur-baur. Hasilnya, terdapat ciri-ciri individual yang sangat beragam.

    Ciri-ciri fisik yang berbeda antar-ras manusia yang berbeda ditimbulkan oleh variasi yang terdapat dalam ras manusia. Semua orang di muka bumi memiliki informasi genetis yang pada dasarnya sama, namun ada yang bermata sipit, ada yang berambut merah, ada yang berhidung mancung, ada yang bertubuh pendek, tergantung sejauh mana potensi variasi informasi genetis ini.

    Agar kita memahami potensi variasi ini, cobalah bayangkan sebuah masyarakat di mana kelompok individu berambut coklat dan bermata coklat lebih dominan, dibandingkan individu-individu berambut pirang dan bermata biru. Lama-kelamaan, sebagai hasil dari perbauran dan pernikahan silang, dihasilkan keturunan berambut coklat dan bermata biru.

    Dengan perkataan lain, ciri fisik kedua kelompok itu akan bergabung dalam keturunan berikutnya dan menghasilkan penampilan baru. Bila kita bayangkan ciri fisik lainnya pun berpadu seperti itu, sangatlah jelas bahwa akan muncul variasi yang sangat beragam.

    Hal penting yang harus dipahami di sini adalah: Setiap ciri fisik ditentukan oleh dua buah gen. Salah satu gen mungkin lebih dominan, atau keduanya sama kuat. Contohnya, ada sepasang gen yang menentukan warna mata seseorang – satu gen dari ibu dan satunya lagi dari ayah. Warna mata orang tersebut ditentukan oleh gen yang dominan. Pada umumnya, warna gelap lebih dominan daripada warna terang. Jadi, bila seseorang memiliki gen mata coklat dan gen mata biru, maka warna matanya akan coklat, karena yang dominan adalah gen warna mata coklat. Namun gen yang bersifat resesif tetap diturunkan, dan mungkin muncul pada masa (generasi – terj.) selanjutnya. Dengan kata lain, pasangan ayah dan ibu yang keduanya bermata coklat dapat memperoleh anak bermata hijau. Hal ini disebabkan karena gen warna tersebut bersifat resesif dan terdapat pada kedua orangtua.

    Kaidah ini berlaku juga untuk ciri-ciri fisik lain beserta gen-gen pengaturnya. Ratusan, bahkan ribuan ciri fisik, seperti telinga, hidung, bentuk mulut, tinggi badan, struktur tulang, dan struktur, bentuk serta sifat dari sebuah organ, kesemuanya diatur dengan cara yang serupa. Berkat hal ini, informasi tak terhingga yang terdapat di dalam struktur genetis dapat diturunkan ke generasi berikutnya, tanpa harus tampak dari luar. Adam, manusia pertama, dan Hawa, mampu menurunkan informasi yang kaya dalam struktur genetis mereka kepada keturunan mereka, walau yang tampak dari luar hanya sebagian saja. Isolasi geografis yang terjadi sepanjang sejarah manusia telah mengakibatkan ciri-ciri fisik tertentu terkumpul dalam suatu kelompok. Lama-kelamaan, masing-masing kelompok memiliki ciri tubuh yang khas, misalnya struktur tulang, warna kulit, tinggi badan, dan volume tengkorak kepala. Akhirnya, terbentuklah beragam ras.

    Akan tetapi, tentunya waktu yang panjang tidak akan merubah satu hal. Tak menjadi soal, apa pun tinggi, warna kulit dan volume otak, seluruh ras adalah bagian dari spesies manusia.

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 19 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (4) 

    Cabang-Cabang Ilmu BiologiRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (4)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa teori evolusi bukanlah “dasar ilmu biologi”?

    Para evolusionis seringkali mengulang sebuah dusta yang menyatakan bahwa teori evolusi merupakan dasar ilmu hayat atau biologi… Mereka berkata bahwa biologi tak akan berkembang -bahkan tak akan ada- tanpa teori evolusi. Pernyataan ini sebenarnya tumbuh dari demagogy (langkah memenangkan simpati dengan cara menggugah emosi masyarakat – penerj.) yang disebabkan oleh rasa putus asa. Filsuf Profesor Arda Denkel, seorang tokoh terkemuka dalam dunia ilmu pengetahuan Turki, bertutur sebagai berikut:

    Selama masa pemerintahan Stalin di Uni Soviet, semua penelitian ilmiah harus sesuai dengan “materialisme dialektis”. Mereka yang beranggapan bahwa Darwinisme adalah dasar biologi sesungguhnya memiliki mentalitas dogmatis yang sama.

    Misalnya, adalah salah bila beranggapan “Menolak teori evolusi berarti sama dengan menolak ilmu biologi dan geologi serta penemuan di bidang fisika dan kimia.” Sebab, sebelum inferensi semacam itu dibuat (di sini, a modus tollens), terlebih dahulu harus ada sejumlah pengajuan penemuan di bidang biologi, geologi, kimia dan fisika, yang menyiratkan teori evolusi. Akan tetapi, berbagai penemuan atau pernyataan di bidang ilmu tersebut tidaklah menyiratkan kebenaran teori evolusi. Karena itu, hal-hal tersebut tidak membuktikan evolusi. 23

    Ditinjau dari sudut sejarah ilmu pengetahuan pun, sudah langsung jelas bahwa pernyataan ini – bahwa “evolusi adalah dasar ilmu biologi” – amatlah tidak absah, dan tak masuk akal. Jika pernyataan ini benar, artinya sebelum teori evolusi muncul, tentu di dunia ini tidak ada cabang-cabang ilmu biologi. Namun kenyataannya, banyak cabang biologi yang sudah ada dan berkembang sebelum munculnya teori evolusi – misalnya saja anatomi, fisiologi, dan paleontologi. Sebaliknya, evolusi adalah hipotesa yang muncul sesudahnya, dan oleh kaum Darwinis dipaksakan kepada masyarakat.

    Di Uni Soviet semasa pemerintahan Stalin, digunakan sebuah metode yang mirip dengan metode kaum evolusionis. Di masa itu, komunisme yang menjadi ideologi resmi Uni Soviet, menganggap bahwa “materialisme dialektik” adalah dasar setiap ilmu. Perintah Stalin adalah semua penelitian ilmiah harus sesuai dengan materialisme dialektik. Jadi, dalam semua buku tentang biologi, kimia, fisika, sejarah dan politik, bahkan kesenian, harus tercantum pengantar yang mengaitkan ilmu dengan materialisme dialektik serta pandangan Marx, Engels, dan Lenin.

    Namun, seiring runtuhnya Uni Soviet, kewajiban itu pupus. Buku pun kembali menjadi naskah ilmiah teknis yang berisi informasi yang sama. Dengan meninggalkan omong kosong seperti materialisme dialektik, ilmu pengetahuan tidaklah rugi. Justru, hal ini lebih meringankan tekanan dan kewajiban-kewajiban yang dikenakan kepadanya.

    Kini, tidak ada alasan mengapa ilmu pengetahuan harus tetap terikat pada teori evolusi. Ilmu pengetahuan adalah didasarkan pada pengamatan dan percobaan. Evolusi, sebaliknya, adalah sebuah hipotesa tentang masa silam yang tidak teramati. Lebih daripada itu, pernyataan dan pengajuan oleh teori ini selalu digugurkan oleh bukti ilmiah dan kaidah logika. Tentu, ilmu pengetahuan tidak akan rugi bila hipotesis ini ditinggalkan.

    Ahli biologi Amerika G. W. Harper berkata tentang ini:

    Sering dinyatakan bahwa Darwinisme amatlah penting bagi biologi modern. Sebaliknya, jika semua rujukan Darwinisme mendadak lenyap, pada dasarnya biologi tidak akan berubah… 24

    Kenyataannya bahkan sebaliknya, ilmu pengetahuan akan maju dengan lebih sehat dan lebih cepat, bila terbebaskan dari paksaan sebuah teori yang penuh dogmatisme, praduga, dusta, dan isi yang dibuat-buat.

    ***

    23.Arda Denkel, Cumhuriyet Bilim Teknik Eki (Bagian iptek pada surat kabar Cumhuriyet di Turki), 27 Februari, 1999

    1. G. W. Harper, “Alternatives to Evolution,” School Science Review, volume 61, September 1979, hal. 2648. 49.
     
  • erva kurniawan 1:35 am on 18 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (3) 

    jejak kakiRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (3)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Berapakah usia ummat manusia di bumi ini? Mengapa ini bukan faktor pendukung teori evolusi?

    Untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan kapan manusia pertama kali muncul di Bumi, kita harus meninjau kembali catatan fosil. Catatan ini menunjukkan bahwa umat manusia di bumi sudah berusia jutaan tahun. Penemuan ini terdiri atas kerangka dan tengkorak kepala manusia, dan jejak peninggalan berbagai bangsa yang hidup di zaman yang berbeda.

    Salah satu peninggalan manusia tertua adalah “jejak kaki” yang ditemukan oleh ahli paleontologi terkenal, Mary Leakey, tahun 1977 di daerah Laetoli, Tanzania.

    Peninggalan ini amat menghebohkan dunia ilmiah. Menurut riset, usia lapisan tempat jejak kaki ini ditemukan adalah 3,6 juta tahun. Russell Tuttle, yang menyaksikan jejak kaki itu, menulis:

    Jejak kaki itu mungkin berasal dari seorang Homo sapiens yang bertubuh kecil, tanpa alas kaki… Ciri morfologis yang dapat dikenali pada kaki makhluk yang meninggalkan jejak tersebut tak bisa dibedakan dengan kaki manusia modern. 9

    Penelitian objektif atas jejak kaki itu mengungkapkan pemilik kaki yang sebenarnya. Dua puluh buah tapak kaki itu, yang sudah menjadi fosil, berasal dari manusia modern yang berusia 10 tahun, dan 27 buah tapak kaki lainnya berasal dari manusia yang bahkan lebih muda. Kesimpulan ini dihasilkan oleh ahli paleoantropologi terkenal seperti Don Johnson dan Tim White, yang memeriksa tapak kaki penemuan Mary Leakey.

    White mengungkapkan pikirannya:

    Jangan keliru tapak kaki itu seperti berasal dari manusia modern. Jika tapak kaki itu tampak di pantai California masa kini, dan anak berusia empat tahun ditanyai tentangnya, ia akan langsung menjawab bahwa ada orang yang lewat di sana. Anak itu tak akan mampu membedakannya dengan ratusan tapak kaki lainnya yang ada di pantai. Anda juga tak akan bisa. 10

    Jejak-jejak kaki ini menyulut sebuah perdebatan penting di kalangan evolusionis. Sebab, bila mereka menerima pendapat bahwa jejak kaki itu berasal dari manusia, artinya khayalan evolusionis tentang proses peralihan dari kera menuju manusia harus gugur. Akan tetapi, di titik ini, pola pikir evolusionis yang dogmatis muncul lagi. Sekali lagi, para ilmuwan evolusionis meninggalkan cara berpikir ilmiah demi membela praduga mereka. Menurut mereka, jejak kaki di Laetoli itu berasal dari makhluk serupa kera. Russell Tuttle, satu di antara para evolusionis yang mempertahankan pernyataan ini, menulis:

    Sisa-sisa pondok batu berusia 1,7 juta tahun.

    Kesimpulannya, jejak kaki berusia 3,5 juta tahun di situs G Laetoli menyerupai jejak manusia modern yang tidak beralas kaki. Tidak ada tanda bahwa hominid Laetoli adalah biped (makhluk yang berjalan di atas dua kaki) yang lebih rendah daripada kita. Jika jejak kaki G itu tidak demikian tua usianya, kita akan mengira bahwa makhluk yang menghasilkannya adalah genus kita, Homo…. Yang pasti, kita akan mengesampingkan anggapan bahwa jejak kaki Laetoli itu berasal dari jenis Lucy, Australopithecus afarensis. 11

    Peninggalan manusia tertua lainnya adalah reruntuhan pondok batu, yang ditemukan oleh Louis Leakey tahun 1970-an di daerah Olduvai Gorge. Reruntuhan pondok itu berada pada lapisan berusia 1,7 juta tahun. Sudah diketahui bahwa struktur bangunan seperti ini, serupa dengan yang masih ada di Afrika masa kini, hanya mampu dihasilkan oleh Homo sapiens, atau dengan kata lain, manusia modern. Yang terungkap dari reruntuhan ini adalah, manusia hidup satu zaman dengan makhluk yang dianggap para evolusionis sebagai makhluk serupa kera, yang mereka anggap nenek moyangnya.

    Sebuah tulang rahang manusia berusia 2,3 juta tahun, yang ditemukan di daerah Hadar di Ethiopia, amatlah penting untuk menunjukkan bahwa manusia sudah ada di Bumi jauh lebih lama daripada yang diperkirakan para evolusionis. 12

    Majalah Discover, salah satu majalah evolusionis paling populer, di sampul muka edisi Desember 1997, memasang seraut wajah manusia berusia 800.000 tahun berdampingan dengan judul utama yang diambil dari perkataan kaum evolusionis yang terkejut, “Inikah wajah masa lalu kita?”

    Salah satu fosil manusia tertua dan paling sempurna adalah KNM-WT 1500, yang juga dikenal sebagai kerangka “Anak Turkana”. Fosil berusia 1,6 juta tahun tersebut digambarkan oleh evolusionis Donald Johanson sebagai berikut:

    Dia tinggi kurus, bentuk tubuh dan proporsi tungkainya menyerupai bangsa Afrika yang tinggal di sekitar katulistiwa zaman sekarang. Walaupun masih muda, tungkai anak ini hampir sama dengan ukuran rata-rata lelaki dewasa kulit putih di Amerika Utara. 13

    Disimpulkan, itu adalah fosil seorang anak lelaki berusia 12 tahun, yang di masa dewasa akan mencapai tinggi 1,83 m. Alan Walker, ahli paleoantropologi Amerika, berkata bahwa beliau ragu apakah “ahli patologi berkemampuan standar akan mampu membedakan kerangka fosil itu dengan manusia modern.” Tentang tengkorak kepala, Walker menulis bahwa beliau tertawa melihatnya, karena “mirip betul dengan manusia Neanderthal.” 14

    Satu fosil manusia yang paling menarik perhatian adalah fosil yang ditemukan di Spanyol tahun 1995. Fosil itu ditemukan di sebuah gua bernama Gran Dolina di daerah Atapuerca, Spanyol, oleh tiga ahli paleoantropologi berkebangsaan Spanyol dari Universitas Madrid. Fosil itu berupa anak lelaki berusia 11 tahun yang sepenuhnya mirip manusia modern. Padahal, anak itu meninggal 800.000 tahun silam. Fosil ini mengguncang keyakinan Juan Luis Arsuaga Ferreras, pemimpin penggalian Gran Dolina. Ferreras berkata:

    Kami menduga sesuatu yang amat besar, yang luar biasa -kau tahu, sesuatu yang primitif… Kami duga, anak dari masa 800.000 tahun yang silam akan seperti Anak Turkana. Tapi yang kami temukan adalah wajah yang sepenuhnya modern… Bagi saya, ini amat spektakuler – inilah jenis-jenis hal yang mengejutkan kita. Sesuatu yang amat tak terduga seperti itu. Bukan menemukan fosil; menemukan fosil juga tak terduga, dan tak apa-apa.

    Tapi hal yang paling spektakuler adalah menemukan sesuatu, yang kita duga hanya ada di masa kini, dari masa lalu. Ini semacam menemukan sesuatu seperti – seperti menemukan tape recorder di Gran Dolina. Sangat mengejutkan. Kita tidak mengharapkan menemukan kaset dan tape recorder di zaman Pleistocene Bawah. Menemukan wajah modern dari masa 800.000 tahun silam – adalah hal yang sama. Kami sangat terkejut melihatnya. 15

    manusia-neanderthal-arthursclipart-01Berubahnya Pandangan Kaum Evolusionis Tentang Manusia Neanderthal

    Sejak awal abad ke-20, kaum evolusionis telah menggambarkan manusia Neanderthal (suatu bangsa manusia yang telah punah) sebagai makhluk setengah-kera. Selama berpuluh-puluh tahun, gambar manusia Neanderthal di atas digunakan sebagai propaganda oleh kaum evolusionis.

    Akan tetapi, sejak tahun 1980-an, mitos ini mulai runtuh. Berdasarkan kajian fosil dan jejak peradaban Neanderthal, tampak bahwa mereka bukanlah makhluk setengah-kera. Misalnya, jarum berusia 26.000 tahun ini adalah bukti bahwa manusia Neanderthal adalah manusia beradab yang sudah mampu menjahit. Sebagai akibatnya, majalah terbitan evolusionis, seperti National Geographic, terpaksa menggambarkan mereka sebagai manusia beradab, seperti gambar di bawah ini.

    Telah kita lihat, penemuan fosil telah mengungkap pernyataan “evolusi manusia” sebagai sebuah dusta. Oleh media tertentu, pernyataan tersebut disajikan seolah itu fakta yang sudah terbukti. Padahal, yang ada cuma teori fiktif. Para ilmuwan evolusionis menerima hal ini, dan mengakui bahwa pernyataan “evolusi manusia” tidak didukung oleh bukti ilmiah.

    Hipotesa Rekaan Kaum Evolusionis Tak Mampu Menjelaskan Asal Usul Manusia

    Walaupun selama 150 tahun telah dilakukan penelitian – yang merupakan bentuk propaganda evolusionis – tentang asal usul manusia, fosil yang ditemukan menunjukkan bahwa manusia pertama muncul secara tiba-tiba di Bumi, tanpa “moyang serupa kera”. Ketiga hipotesa yang berbeda pada halaman ini, adalah gambar tiga skenario evolusionis yang saling bertentangan (Stephen Jay Gould, The Book of Life, 2001). Bila kita cermati, tampak ada sebuah tanda tanya di depan Homo erectus, yang ditampilkan sebagai bangsa manusia pertama di Bumi. Alasannya adalah, tak ada makhluk “serupa kera” yang bisa ditunjukkan oleh kaum evolusionis sebagai “nenek moyang manusia”. Spesies yang tampak pada gambar, yang tak ada kaitan dengan manusia, sebenarnya adalah spesies kera yang telah punah. Asal usul manusia, seperti kita lihat di sini, adalah misteri bagi kaum evolusionis, sebab asal usul manusia sama sekali bukan evolusi melainkan kreasi (penciptaan).

    Misalnya, dengan berkata “Kita muncul tiba-tiba dalam catatan fosil”, ahli paleontologi evolusionis C. A. Villie, E. P. Solomon dan P. W. Davis mengakui bahwa manusia muncul seketika, atau dengan kata lain, tanpa nenek moyang evolusioner. 16

    Mark Collard dan Bernard Wood, dua ahli antropologi evolusionis terpaksa berkata, “hipotesa filogenetis yang ada tentang evolusi manusia tampaknya sukar dipercaya.” dalam tulisan mereka tahun 2000. 17

    antapuercaGua Gran Dolina di Spanyol, tempat ditemukannya fosil Atapuerca, fosil manusia sejati.

    Setiap penemuan fosil baru semakin menyulitkan para evolusionis, walaupun ada surat kabar yang senang memasang berita utama seperti “Mata rantai yang hilang telah ditemukan.” Fosil tengkorak kepala yang ditemukan tahun 2001, yang dinamai Kenyanthropus platyops adalah contoh paling mutakhir.

    Ahli paleontologi evolusionis Daniel E. Lieberman dari Jurusan Antropologi Universitas Washington berkata dalam artikel jurnal ilmiah terkenal, Nature, tentang Kenyanthropus platyops: Sejarah evolusi manusia adalah rumit dan belum terpecahkan. Sekarang tampaknya akan semakin membingungkan dengan ditemukannya spesies dan genus lain, dari masa 3,5 juta tahun silam… Sifat Kenyanthropus platyops menimbulkan segala macam pertanyaan, tentang evolusi manusia umumnya dan perilaku spesies ini khususnya. Contohnya, mengapa makhluk ini memiliki kombinasi yang tak biasa, yaitu gigi kecil dengan wajah lebar pipih, serta lengkung tulang pipi yang terdapat di bagian anterior? Semua spesies hominin lain, yang dikenal memiliki wajah besar dan tulang pipi serupa, bergigi besar-besar. Saya duga, K. platyops pada tahun-tahun mendatang akan berperan sebagai semacam “perusak suasana”, menyoroti kebingungan yang dihadapi oleh penelitian tentang hubungan evolusioner antara makhluk hominin. 18

    Bukti mutakhir yang menghancurkan pernyataan teori evolusi tentang asal-usul manusia adalah fosil baru Sahelanthropus tchadensis yang digali di negara Chad di Afrika Tengah, musim panas 2002.

    Fosil itu telah mengacaukan dunia Darwinisme. Jurnal kelas dunia, Nature, mengakui bahwa “Tengkorak kepala yang baru ditemukan dapat menggugurkan gagasan kita tentang evolusi manusia.” 19

    Daniel Lieberman dari Universitas Harvard berkata “[Penemuan] ini akan memiliki dampak seperti bom nuklir kecil.” 20

    Alasannya: walaupun fosil tersebut berumur lebih dari 7 juta tahun, strukturnya lebih “menyerupai manusia” (menurut kriteria yang sering dipakai kaum evolusionis) dibandingkan dengan spesies kera Australopithecus berusia 5 juta tahun (yang dianggap sebagai “moyang tertua umat manusia”). Ini menunjukkan, mata rantai antara spesies kera yang telah punah, berdasarkan kriteria “kemiripannya dengan manusia” yang teramat subjektif dan penuh praduga, sepenuhnya adalah khayal belaka.

    John Whitfield, dalam artikelnya Oldest Member of Human Family Found (Anggota Tertua Keluarga Manusia Telah Ditemukan) dalam jurnal Nature edisi 11 Juli 2002, memperkukuh pendapat ini mengutip Bernard Wood, ahli antropologi evolusionis dari Universitas George Washington:

    “Ketika saya mulai kuliah kedokteran tahun 1963, evolusi manusia tampak bagai tangga,” katanya [Bernard Wood]. Tangga itu mulai dari kera, dan meningkat menuju manusia, melalui tahap-tahap perantara, makhluk yang semakin jauh dari rupa kera. Sekarang, evolusi manusia mirip semak-semak. Ada sekumpulan fosil makhluk hominid… Bagaimana hubungan antara makhluk tersebut, serta yang mana, kalau memang ada, merupakan nenek moyang manusia, masih diperdebatkan. 21

    Ulasan Henry Gee, editor senior Nature serta ahli paleoantropologi terkemuka, tentang fosil kera yang baru ditemukan sungguh patut disimak. Dalam tulisannya yang diterbitkan The Guardian, Gee mengulas tentang debat seputar fosil itu dan menulis:

    Apa pun hasilnya, tengkorak kepala itu menegaskan bahwa gagasan lama tentang mata rantai yang hilang adalah omong kosong… sekarang harusnya sudah jelas, bahwa ide mata rantai yang hilang, yang dari awal memang amat lemah, sama sekali tak bisa dilanjutkan. 22

    Seperti kita lihat, penemuan yang semakin banyak itu menghasilkan bukti-bukti yang mengguncangkan teori evolusi, bukan memperkukuhnya. Jika proses evolusi demikian memang telah terjadi, seharusnya banyak ditemukan jejaknya, dan setiap penemuan baru seharusnya memperkuat teori ini.

    Dalam The Origin of Species, Darwin menyatakan bahwa ilmu pengetahuan akan berkembang ke sana. Dalam pandangan Darwin, satu-satunya hambatan teorinya dalam catatan fosil adalah tiadanya penemuan fosil. Darwin berharap, penelitian masa mendatang akan menghasilkan penemuan fosil yang tak terhitung jumlahnya, yang akan mendukung teorinya. Akan tetapi, satu per satu penemuan ilmiah telah membuktikan impian Darwin sama sekali tak berdasar.

    Pentingnya Sisa-Sisa Peninggalan Yang Berkaitan Dengan Manusia

    Penemuan terkait dengan manusia, yang beberapa contohnya telah kita bahas di sini, mengungkapkan kebenaran yang amat penting. Khususnya, kini terungkap bahwa pernyataan evolusionis – bahwa nenek moyang manusia adalah makhluk serupa kera – adalah hasil khayalan luar biasa. Karena itu, mustahil spesies kera tersebut bisa menjadi nenek moyang manusia.

    Kesimpulannya, catatan fosil membuktikan bahwa manusia muncul di Bumi berjuta-juta tahun yang lalu, dalam wujud tepat sama dengan manusia sekarang, dan bahwa manusia telah menghuni Bumi sekian lamanya tanpa perkembangan evolusi sedikit pun. Jika kaum evolusionis memang jujur dan ilmiah, seharusnya di titik ini mereka sudah membuang proses khayal tentang kera menjadi manusia ini ke tempat sampah. Bila mereka tidak meninggalkan pohon silsilah palsu ini, jelaslah bahwa evolusi bukan teori yang dipertahankan atas nama ilmu pengetahuan, melainkan dogma yang terus dihidupkan di hadapan berbagai fakta ilmiah.

    ***

    1. Ian Anderson, “Who made the Laetoli footprints?” New Scientists, vol. 98, 12 Mei 1983, hal. 373.
    2. D. Johanson & M. A. Edey, Lucy: The Beginnings of Humankind, New York: Simon & Schuster, 1981, hal. 250
    3. R. H. Tuttle, Natural History, Maret 1990, hal. 61-64
    4. D. Johanson, Blake Edgar, From Lucy to Language, hal. 169
    5. D. Johanson, Blake Edgar, From Lucy to Language, hal. 173
    6. Boyce Rensberger, Washington Post, 19 Oktober 1984, hal. A11
    7. “Is This The Face of Our Past,” Discover, Desember 1997, hal. 97-100
    8. Villee, Solomon dan Davis, Biology, Saunders College Publishing, 1985, hal.1053
    9. Hominoid Evolution and Climatic Change in Europe, Volume 2, disunting oleh Louis de Bonis, George D. Koufos, Peter Andrews, Cambridge University Press
    10. Daniel E. Liebermann, “Another face in our family tree,” Nature, 22 Maret, 2001 (penekanan ditambahkan).
    11. John Whitfield, “Oldest member of human family found”, Nature, 11 Juli 2002
    12. D. L. Parsell, “Skull Fossil From Chad Forces Rethinking of Human Origins,” National Geographic News, 10 Juli, 2002
    13. John Whitfield, “Oldest member of human family found”, Nature, 11 Juli 2002
    14. The Guardian, 11 Juli 2002
     
  • erva kurniawan 1:31 am on 17 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (2) 

    teori evolusiRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (2)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Bagaimana keruntuhan teori evolusi membuktikan kebenaran penciptaan?

    Apabila kita bertanya bagaimana makhluk hidup muncul di muka Bumi, maka terdapat dua jawaban yang berbeda:

    Pertama, makhluk hidup muncul melalui proses evolusi. Menurut pernyataan teori evolusi, kehidupan dimulai dengan sel yang pertama. Sel pertama ini muncul karena faktor kebetulan, atau karena faktor “pembentukan mandiri”, yang secara hipotetis disebut-sebut sebagai suatu hukum alam.

    Berdasarkan faktor kebetulan dan hukum alam ini pula, sel hidup ini lalu berkembang dan berevolusi, dan dengan mengambil bentuk-bentuk yang berbeda, menghasilkan berjuta-juta spesies makhluk hidup di Bumi.

    Jawaban kedua adalah “Penciptaan”. Semua makhluk hidup ada karena diciptakan oleh Pencipta yang cerdas. Ketika kehidupan beserta berjuta-juta bentuknya – yang tak mungkin muncul secara kebetulan itu – pertama kali diciptakan, makhluk hidup telah memiliki rancangan yang lengkap, sempurna dan unggul, sama seperti yang dimilikinya sekarang. Ini dibuktikan secara jelas dan nyata, yang mana makhluk hidup paling sederhana sekali pun telah memiliki struktur dan sistem kompleks, yang mustahil tercipta sebagai akibat dari faktor kebetulan dan kondisi alam.

    Di luar kedua alternatif ini, tidak ada pernyataan atau hipotesa lainnya tentang asal muasal makhluk hidup. Menurut peraturan logika, jika satu jawaban untuk sebuah pertanyaan – yang hanya memiliki dua alternatif jawaban – terbukti salah, jawaban yang kedua pasti benar. Ini merupakan salah satu kaidah paling mendasar dalam logika, disebut sebagai inferensi disjunktif (modus tollendo ponens).

    Dengan kata lain, jika terbukti bahwa makhluk hidup di Bumi tidak berevolusi melalui kebetulan, seperti pernyataan para evolusionis, jelaslah bahwa makhluk hidup adalah karya sang Pencipta. Para ilmuwan pendukung teori evolusi sepakat akan tidak adanya alternatif ketiga. Salah satunya, Douglas Futuyma, menyatakan:

    Organisme hanya mungkin muncul di muka bumi dalam wujud telah terbentuk sempurna, atau tidak. Jika tidak, berarti organisme telah terbentuk dari spesies pendahulunya melalui suatu proses perubahan. Jika organisme muncul dalam wujud telah terbentuk sempurna, pastilah organisme itu diciptakan oleh suatu kecerdasan mahakuasa. 4

    Catatan fosil memberikan jawaban kepada Futuyma yang evolusionis itu. Paleontologi menunjukkan bahwa semua jenis makhluk hidup muncul di Bumi pada saat berlainan, sekaligus dalam sekejap dan dalam wujud yang telah sempurna terbentuk.

    Semua hasil penggalian dan penelitian selama seratus tahun atau lebih, menunjukkan bahwa -bertentangan dengan pendapat kaum evolusionis- makhluk hidup muncul secara tiba-tiba dalam wujud sempurna tanpa cacat, atau dengan kata lain makhluk hidup telah “diciptakan”. Bakteri, protozoa, cacing, moluska, dan makhluk laut tak bertulang belakang lainnya, artropoda, ikan, amfibi, reptil, unggas, dan mamalia, semua muncul seketika, lengkap dengan sistem dan organ yang kompleks. Tidak ada fosil yang dapat disebut sebagai makhluk transisi atau tahap perantara.

    Paleontologi menampilkan pesan yang sama dengan cabang ilmu lainnya: Makhluk hidup tidak berevolusi, tetapi diciptakan. Sebagai hasilnya, pada saat kaum evolusionis mencoba membuktikan teori mereka yang tidak berdasarkan fakta itu, mereka justru membuktikan kebenaran penciptaan dengan tangan mereka sendiri.

    Robert Carroll, seorang ahli paleontologi vertebrata dan seorang evolusionis yang gigih, mengakui bahwa keinginan kaum Darwinis tidak dipenuhi oleh penemuan di bidang fosil:

    Meskipun, selama lebih dari seratus tahun sejak meninggalnya Darwin telah dilangsungkan upaya pengumpulan yang intensif, catatan fosil belum juga menghasilkan gambaran mata rantai transisi yang tak terhingga jumlahnya, seperti yang ia harapkan. 5

    Ledakan Zaman Kambrium Sudah Cukup Untuk Meruntuhkan Teori Evolusi

    Jenis makhluk hidup dibagi-bagi oleh para ahli biologi menjadi kelompok-kelompok utama, seperti tumbuhan, hewan, jamur, dst. Kelompok utama ini kemudian dibagi lagi menjadi filum (dari kata phylum atau phyla). Saat menelaah berbagai filum ini, haruslah diingat bahwa setiap filum memiliki struktur fisik yang amat berlainan. Hewan jenis Artropoda (serangga, laba-laba, dan makhluk lainnya yang kakinya beruas-ruas), misalnya, adalah satu filum tersendiri, dan semua hewan dalam filum ini memiliki struktur dasar fisik yang sama. Filum Chordata meliputi hewan yang memiliki notochord atau sumsum tulang belakang (kolumna spinalis). Semua hewan berukuran besar, seperti ikan, unggas, reptil, dan mamalia yang kita kenal sehari-hari, tergolong ke dalam sub-filum Chordata yang disebut vertebrata.

    Terdapat sekitar 35 filum hewan, termasuk Moluska, yang meliputi hewan bertubuh lunak, seperti siput dan gurita, serta Nematoda, yang mencakup cacing berukuran kecil. Ciri terpenting filum ini, seperti telah kita sebutkan tadi, adalah terdapatnya ciri-ciri fisik yang amat berbeda. Kategori di bawah filum memiliki rancangan tubuh yang serupa, tetapi satu filum amatlah berbeda dari filum lainnya.

    Jadi, bagaimanakah perbedaan-perbedaan ini timbul?

    Pertama, mari kita tinjau hipotesa Darwinis. Seperti kita ketahui, Darwinisme menyatakan bahwa makhluk hidup berkembang dari satu nenek moyang yang sama, dan variasi timbul setelah melalui serentetan perubahan kecil. Jika benar demikian, artinya makhluk hidup yang pertama haruslah memiliki bentuk yang sama dan sederhana. Dan menurut teori ini pula, perbedaan di antara, dan meningkatnya kerumitan makhluk hidup, harus terjadi secara paralel seiring dengan waktu.

    Duri yang menarik:

    Hallucigenia: Salah satu makhluk yang tiba-tiba muncul di Zaman Kambrium. Seperti banyak fosil dari Zaman Kambrium lainnya, makhluk ini memiliki duri keras dan tajam di punggungnya, untuk melindungi diri dari serangan. Satu hal yang tidak bisa dijelaskan kaum evolusionis adalah bagaimana hewan seperti ini bisa memiliki sistem pertahanan yang begitu berdaya-guna, padahal tak ada hewan pemangsa di sekitarnya. Tiadanya hewan pemangsa menunjukkan bahwa duri ini tidak mungkin muncul sebagai akibat seleksi alam.

    Banyak hewan tak bertulang belakang (invertebrata) kompleks, seperti bintang laut dan ubur-ubur, secara tiba-tiba muncul sekitar 500 juta tahun yang silam tanpa moyang evolusioner sebagai pendahulu. Dengan kata lain, hewan tersebut diciptakan. Mereka tidak tampak berbeda dari hewan yang hidup sekarang.

    Menurut Darwinisme, kehidupan haruslah berupa sebatang pohon, dengan sebuah akar bersama, yang bagian atasnya berkembang menjadi cabang-cabang yang berbeda. Hipotesa ini terus-menerus ditekankan dalam sumber-sumber Darwinis, di mana gambaran tentang “pohon silsilah kehidupan” seringkali digunakan. Menurut konsep pohon ini, awalnya harus muncul satu filum, lalu berbagai filum lain perlahan-lahan muncul, dengan perubahan-perubahan kecil dan dalam tenggang waktu yang amat panjang.

    Itulah pernyataan teori evolusi. Tetapi, benarkah itu yang terjadi?

    Sama sekali tidak. Sebaliknya, binatang sudah berwujud amat kompleks dan saling berlainan sejak saat pertama kali muncul di Bumi.

    Semua filum binatang yang telah kita ketahui muncul di saat yang sama, di tengah tenggang waktu geologis yang dikenal sebagai Zaman Kambrium. Zaman Kambrium adalah periode waktu dalam ilmu geologi, yang lamanya diperkirakan kurang-lebih 65 juta tahun, sekitar 570 hingga 505 juta tahun yang silam. Tetapi, kemunculan mendadak berbagai kelompok utama hewan terjadi pada fase yang jauh lebih singkat di masa Zaman Kambrium ini, yang sering disebut dengan “ledakan Kambrium “.

    Stephen C. Meyer, P. A. Nelson, dan Paul Chien, dalam sebuah artikel yang didasarkan pada pengkajian literatur terperinci di tahun 2001, menyatakan “ledakan Kambrium terjadi dalam sepenggal waktu geologis yang teramat sempit, yang lamanya tak lebih dari 5 juta tahun.” 6

    Salah satu hewan tak bertulang belakang kompleks yang tiba-tiba muncul di Zaman Kambrium sekitar 550 juta tahun yang silam adalah fosil trilobita di atas. Salah satu ciri trilobita yang membingungkan kaum evolusionis adalah struktur mata majemuknya yang kompleks. Pada mata trilobita yang amat kompleks ini, terdapat sistem lensa majemuk. Sistem ini persis sama dengan sistem pada hewan di zaman sekarang seperti laba-laba, lebah dan lalat. Fakta bahwa sekitar 500 juta tahun silam, struktur mata yang begitu rumit muncul secara tiba-tiba, sudah cukup untuk mengantarkan teori evolusioner (yang berdasarkan faktor kebetulan) masuk ke dalam keranjang sampah.

    Sebelum itu, tak ada sedikit pun catatan fosil tentang makhluk hidup, selain yang bersel tunggal serta sedikit makhluk bersel majemuk yang amat primitif. Semua filum hewan muncul serentak dalam wujud sempurna, dalam tenggang waktu singkat Ledakan Kambrium (Lima juta tahun adalah amat singkat dalam istilah geologi!)

    Dalam bebatuan Kambrium ditemukan fosil-fasil dari makhluk-makhluk yang amat berbeda, seperti siput, trilobita, spons, ubur-ubur, bintang laut, kerang, dst.

    Kebanyakan makhluk pada lapisan ini memiliki sistem yang rumit dan struktur yang maju, misalnya mata, insang, dan sistem sirkulasi, yang persis sama dengan yang terdapat pada spesimen hewan di zaman modern. Semua truktur ini sangatlah maju dan sangat berlainan satu dengan yang lain.

    Richard Monastersky, seorang staf penulis jurnal Science News, menyatakan tentang ledakan Kambrium, yang merupakan perangkap maut bagi teori evolusi:

    Setengah miliar tahun silam, … beragam jenis hewan yang amat kompleks, yang kita lihat sekarang, tiba-tiba muncul. Saat itu, tepat di awal Zaman Kambrium di Bumi, sekitar 550 juta tahun yang lalu, menandai ledakan evolusioner yang mengisi penuh lautan dengan berbagai makhluk kompleks pertama di dunia. 7

    Prof. Philip Johnson

    Phillip Johnson, seorang profesor Universitas California di Berkeley, yang juga salah seorang kritikus Darwinisme paling menonjol di dunia, menjabarkan pertentangan antara Darwinisme dengan kebenaran paleontologis ini:

    Teori Darwinisme meramalkan adanya sebuah “kerucut peningkatan keragaman”, yang mana organisme hidup pertama, atau spesies hewan pertama, secara bertahap dan kontinyu menjadi beragam dan menciptakan tingkat taksonomi yang lebih tinggi. Namun catatan fosil binatang lebih mirip kerucut yang terbalik, yaitu banyak filum yang berada di jenjang awal, dan setelah itu semakin berkurang. 8

    Seperti diungkapkan Phillip Johnson, yang telah terjadi bukanlah terbentuknya berbagai filum secara bertahap. Jauh daripada itu, semua filum timbul serentak, dan bahkan ada yang punah dalam periode selanjutnya. Munculnya makhluk hidup yang beragam dalam wujud sempurna dan seketika, merupakan bukti penciptaan, seperti juga diakui oleh evolusionis Futuyma. Telah kita saksikan, semua penemuan ilmiah yang ada telah menyatakan bahwa pernyataan teori evolusi adalah salah, serta mengungkapkan kebenaran dari penciptaan.

    ==================================

    1. Douglas J. Futuyma, Science on Trial, Pantheon Books, New York, 1983, hal. 197
    2. Robert L. Carroll, Patterns and Processes of Vertebrate Evolution, Cambridge University Press, 1997, hal. 25 (penekanan ditambahkan).
    3. Stephen C. Meyer, P. A. Nelson, dan Paul Chien, The Cambrian Explosion: Biology’s Big Bang, 2001, hal. 2
    4. Richard Monastersky, “Mysteries of the Orient,” Discover, April 1993, hal. 40. (penekanan ditambahkan)
    5. Phillip E. Johnson, “Darwinism’s Rules of Reasoning” dalam Darwinism, Science and Philosophy oleh Buell Hearn, Foundation for Thoughts and Ethics, 1994, hal. 12. (penekanan ditambahkan)
     
  • erva kurniawan 1:23 am on 15 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (1) 

    teori evolusiRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (1)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    Pengantar

    Teori evolusi sudah berusia 150 tahun, dan juga telah berpengaruh besar pada pandangan hidup yang dianut masyarakat. Teori ini menyatakan sebuah dusta, yaitu bahwa manusia muncul ke dunia ini sebagai akibat faktor kebetulan, dan bahwa manusia adalah suatu “spesies binatang”. Lebih jauh lagi, teori ini mengajarkan bahwa satu-satunya hukum yang berlaku adalah usaha makhluk hidup, yang hanya mementingkan diri sendiri, untuk bertahan hidup. Pengaruh gagasan ini tampak di abad kesembilan belas dan kedua puluh: manusia semakin egois, akhlak masyarakat yang memburuk, semakin merebaknya sikap mementingkan diri sendiri, sikap tidak berperikemanusiaan, dan kekerasan, tumbuh berkembangnya ideologi berdarah dan diktator seperti fasisme dan komunisme, krisis individual dan sosial karena manusia semakin jauh dari akhlak agama, …

    Berbagai akibat sosial yang disebabkan oleh teori evolusi telah dibahas dalam Artikel Harun Yahya lainnya. (Lihat karya Harun Yahya The Disasters Darwinism Brought to Humanity, Communism Lies in Ambush, The Black Magic of Darwinism, serta The Religion of Darwinism). Dalam Artikel-Artikel tersebut diungkapkan bahwa teori ini, yang disebut-sebut sebagai “ilmiah”, sebenarnya sama sekali tidak memiliki dasar ilmiah; bahwa teori tersebut hanyalah sebuah skenario yang terus dipaksakan walaupun dihadapkan kepada semua fakta yang berbicara sebaliknya; dan isi teori ini tak lain takhayul belaka.

    Bagi mereka yang ingin memahami seperti apa sesungguhnya teori evolusi dan “pandangan hidup” Darwinisme, yang selama 150 tahun terakhir ini secara sistematis telah menyeret dunia ke jurang kekerasan, kebiadaban, kekejaman, dan pertikaian, sangat dianjurkan untuk membaca Artikel-Artikel tersebut.

    Artikel ini akan membahas ketidakabsahan teori evolusi pada tingkat umum. Di sini dikupas pernyataan evolusionis tentang beberapa hal, menggunakan beberapa pertanyaan yang sering diajukan orang, yang belum sepenuhnya dipahami. Jawaban yang tertera dalam Artikel ini secara ilmiah diperinci lebih jauh dalam Artikel lain karya penulis seperti The Evolution Deceit (Keruntuhan Teori Evolusi), dan Darwinism Refuted.

    1.Mengapa Teori Evolusi Tidak Absah Secara Ilmiah?

    Teori evolusi menyatakan bahwa makhluk hidup di muka bumi tercipta sebagai akibat dari peristiwa kebetulan dan muncul dengan sendirinya dari kondisi alamiah. Teori ini bukanlah hukum ilmiah maupun fakta yang sudah terbukti. Di balik topeng ilmiahnya, teori ini adalah pandangan hidup materialis yang dijejalkan ke dalam masyarakat oleh kaum Darwinis. Dasar-dasar teori ini – yang telah digugurkan oleh bukti-bukti ilmiah di segala bidang – adalah cara-cara mempengaruhi dan propaganda, yang terdiri atas tipuan, kepalsuan, kontradiksi, kecurangan, dan ilusi permainan sulap.

    Teori evolusi diajukan sebagai hipotesa rekaan di tengah konteks pemahaman ilmiah abad kesembilan belas yang masih terbelakang, yang hingga hari ini belum pernah didukung oleh percobaan atau penemuan ilmiah apa pun. Sebaliknya, semua metode yang bertujuan membuktikan keabsahan teori ini justru berakhir dengan pembuktian ketidakabsahannya.

    Namun, bahkan sekarang, masih banyak orang beranggapan bahwa evolusi adalah fakta yang sudah terbukti kebenarannya – layaknya gaya tarik bumi atau hukum benda terapung. Sebab, seperti telah dinyatakan di muka, teori evolusi sesungguhnya sangatlah berbeda dari yang diterima masyarakat selama ini. Oleh sebab itu, pada umumnya orang tidak tahu betapa buruknya landasan berpijak teori ini; betapa teori ini sudah digagalkan oleh bukti ilmiah pada setiap langkahnya; dan betapa para evolusionis terus berupaya menghidupkan teori evolusi, walaupun teori ini sudah “menghadapi ajalnya”.

    Para evolusionis hanya mengandalkan hipotesa yang tak terbukti, pengamatan yang penuh prasangka dan tak sesuai kenyataan, gambar-gambar khayal, cara-cara yang mampu mempengaruhi kejiwaan, dusta yang tak terhitung jumlahnya, serta teknik-teknik sulap.

    Kini, berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti paleontologi (cabang geologi yang mengkaji kehidupan pra-sejarah melalui fosil – penerj.), genetika, biokimia dan biologi molekuler telah membuktikan bahwa tak mungkin makhluk hidup tercipta akibat kebetulan atau muncul dengan sendirinya dari kondisi alamiah. Sel hidup, demikian dunia ilmiah sepakat, adalah struktur paling kompleks yang pernah ditemukan manusia. Ilmu pengetahuan modern mengungkapkan bahwa satu sel hidup saja memiliki struktur dan berbagai sistem rumit dan saling terkait, yang jauh lebih kompleks daripada sebuah kota besar. Struktur kompleks seperti ini hanya dapat berfungsi apabila masing-masing bagian penyusunnya muncul secara bersamaan dan dalam keadaan sudah berfungsi sepenuhnya. Jika tidak, struktur tersebut tidak akan berguna, dan semakin lama akan rusak dan musnah. Tak mungkin semua bagian penyusun sel itu berkembang secara kebetulan dalam jutaan tahun, seperti pernyataan teori evolusi. Oleh sebab itulah, rancangan yang begitu kompleks dari sebuah sel saja, sudah jelas-jelas menunjukkan bahwa Tuhan-lah yang menciptakan makhluk hidup. (Keterangan lebih rinci dapat dibaca dalam buku Harun Yahya, Miracle in the Cell).

    Akan tetapi, para pembela filsafat materialis tidak bersedia menerima fakta penciptaan karena beragam alasan ideologis. Hal ini disebabkan kemunculan dan perkembangan masyarakat yang hidup dengan berpedomankan akhlak mulia yang diajarkan agama yang sejati kepada ummat manusia melalui perintah dan larangan Tuhan bukanlah menjadi harapan kaum materialis ini.

    Masyarakat yang tumbuh tanpa nilai moral dan spiritual lebih disukai kalangan ini, sebab mereka dapat memanipulasi masyarakat yang demikian demi keuntungan duniawi mereka sendiri. Itulah sebabnya, kaum materialis mencoba terus memaksakan teori evolusi – yang berisi dusta bahwa manusia tidak diciptakan, tetapi muncul atas faktor kebetulan dan berevolusi dari jenis binatang – serta, dengan segala cara, berupaya mempertahankan teori evolusi agar tetap hidup.

    Kaum materialis meninggalkan akal sehat dan nalar, serta mempertahankan omong-kosong ini di setiap kesempatan, walaupun bukti ilmiah dengan jelas telah menghancurkan teori evolusi dan menegaskan fakta penciptaan.

    Sebenarnya telah dibuktikan bahwa adalah mustahil apabila sel hidup yang pertama – atau bahkan satu saja dari berjuta-juta molekul protein dalam sel itu – dapat muncul atas faktor kebetulan. Ini bukan saja ditunjukkan melalui berbagai percobaan dan pengamatan, melainkan juga melalui perhitungan probabilitas secara matematis. Dengan kata lain, evolusi gugur di langkah pertama: yaitu dalam menjelaskan kemunculan sel hidup yang pertama.

    Sel, satuan terkecil makhluk hidup, tidak mungkin muncul secara kebetulan dalam kondisi primitif tanpa kendali di saat Bumi masih muda – seperti yang dipaksakan kaum evolusionis kepada kita agar percaya. Jangankan dalam kondisi demikian, dalam laboratorium tercanggih di abad ini sekali pun, hal itu mustahil terjadi. Asam-asam amino, yaitu satuan pembentuk berbagai protein penyusun sel hidup, tak mampu dengan sendirinya membentuk organel-organel di dalam sel seperti mitokondria, ribosom, membran sel, ataupun retikulum endoplasma – apalagi membentuk sebuah sel yang utuh.

    Oleh sebab itu, pernyataan bahwa sel pertama terbentuk secara kebetulan melalui proses evolusi, hanyalah hasil rekaan yang sepenuhnya didasarkan pada daya khayal.

    Sel hidup, yang sampai kini masih mengandung banyak rahasia, adalah satu di antara sekian banyak kesulitan utama yang dihadapi teori evolusi.

    Dilema mengkhawatirkan lainnya (dari sudut pandang evolusionis) adalah molekul DNA yang terdapat di dalam inti sel hidup, sebuah sistem kode yang terdiri dari 3,5 miliar satuan berisi semua rincian makhluk hidup. DNA pertama kali ditemukan melalui kristalografi sinar-X pada akhir tahun 1940-an dan awal 1950-an, dan merupakan sebuah molekul raksasa dengan rancangan yang luar biasa.

    Selama bertahun-tahun, Francis Crick, pemenang hadiah Nobel, meyakini teori evolusi molekuler. Namun pada akhirnya, ia sendiri pun harus mengakui bahwa molekul yang begitu rumit tak mungkin muncul dengan sendirinya secara tiba-tiba karena kebetulan, sebagai hasil dari sebuah proses evolusi:

    Seseorang yang jujur, dengan pemahaman keilmuan yang ada sekarang, saat ini hanya dapat menyatakan bahwa asal mula kehidupan nampak bagaikan sebuah keajaiban.1

    Evolusionis berkebangsaan Turki, Profesor Ali Demirsoy, terpaksa memberikan pengakuan sebagai berikut:

    Sebenarnya, kemungkinan terbentuknya sebuah protein dan asam nukleat (DNA-RNA) adalah di luar batas perhitungan. Lebih jauh lagi, peluang munculnya suatu rantai protein adalah sedemikian kecilnya sehingga bisa disebut astronomis (tidak mungkin). 2

    Homer Jacobson, Profesor Emeritus di bidang Ilmu Kimia, menyatakan pengakuan tentang kemustahilan munculnya kehidupan akibat faktor kebetulan, sebagai berikut:

    Petunjuk untuk reproduksi rencana, untuk energi dan untuk pengambilan bagian-bagian dari lingkungan sekitar, untuk urutan pertumbuhan, dan untuk mekanisme efektor yang menerjemahkan instruksi menjadi pertumbuhan – semua itu harus ada secara serentak pada saat tersebut [saat awal munculnya kehidupan]. Kemungkinan kombinasi semua peristiwa itu secara kebetulan tampaknya sungguh luar biasa kecil … 3

    Catatan fosil pun menyajikan fakta lain, yang menjadi kekalahan telak bagi teori evolusi. Dari seluruh fosil yang telah ditemukan selama ini, tidak ada satu pun bentuk antara (bentuk peralihan) yang ditemukan, yang seharusnya ada jika makhluk hidup berevolusi tahap demi tahap dari spesies yang sederhana menjadi spesies yang lebih kompleks, seperti yang dinyatakan oleh teori evolusi.

    Jika makhluk seperti itu ada, seharusnya jumlahnya banyak sekali, berjuta-juta, bahkan bermiliar-miliar. Lebih dari itu, sisa dan kerangka makhluk semacam itu haruslah ada dalam catatan fosil. Kalau bentuk-bentuk antara ini benar-benar ada, jumlahnya akan melebihi jumlah spesies binatang yang kita kenal di masa kini. Seluruh dunia akan penuh dengan fosil makhluk tersebut.

    Para evolusionis mencari bentuk-bentuk antara ini di semua penelitian fosil yang menggebu-gebu, yang telah dilangsungkan sejak abad kesembilan belas. Akan tetapi, sama sekali tidak ditemukan jejak-jejak makhluk perantara ini, meskipun pencarian telah dilakukan dengan penuh semangat selama 150 tahun.

    Singkat kata, catatan fosil menunjukkan bahwa makhluk hidup muncul secara tiba-tiba dan dalam wujud sempurna, bukan melalui sebuah proses dari bentuk primitif menuju tahap yang lebih maju, seperti yang dinyatakan teori evolusi.

    Kaum evolusionis telah berusaha keras untuk membuktikan kebenaran teori mereka. Namun nyatanya, dengan tangannya sendiri, mereka justru telah membuktikan bahwa proses evolusi adalah mustahil.

    Kesimpulannya, ilmu pengetahuan modern mengungkapkan fakta yang tak mungkin disangkal berikut ini: Kemunculan makhluk hidup bukanlah akibat faktor kebetulan yang buta, melainkan hasil ciptaan Tuhan.

    =================

    1. Francis Crick, Life Itself: Its Origin and Nature, New York, Simon & Schuster, 1981, hal. 88
    2. Ali Demirsoy, Kalitim ve Evrim (Inheritance and evolution), Meteksan Publishing Co., Ankara, 1984, hal. 39
    3. Homer Jacobson, “Information, Reproduction and the Origin of Life,” American Scientist, Januari 1955, hal. 121.

     

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 14 July 2015 Permalink | Balas  

    Kembali Kepada Fitrah 

    maafKembali Kepada Fitrah

    Adalah suatu kebahagiaan dan nikmat yang besar ketika akhir Ramadhan kita memperoleh predikat sebagai orang yang bertakwa dan menjadi pribadi yang fitri (suci), yaitu orang-orang yang kembali pada fitrahnya.

    Kembalinya manusia kepada fitrah mengandung dua pengertian.

    Pertama, fitrah berarti suci. Artinya, manusia kembali menjadi makhluk yang suci seperti bayi yang baru dilahirkan. Hal tersebut dikarenakan manusia mendapatkan ampunan Allah pada bulan Ramadhan. Disabdakan Rasulullah: ”Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan dalam rangka mencari pahala di sisi Allah SWT, maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Muttafaqun ‘alaih). Dalam konteks hubungan sosial, ampunan (saling memaafkan) dari sesama manusia merupakan syarat sempurnanya ampunan Allah. Karena, sungguh Allah tidak akan mengampuni dosa seorang hamba hingga orang yang pernah dizaliminya mengampuni dan memaafkannya.

    Kedua, fitrah berarti agama tauhid. Fitrah dalam konteks ini adalah manusia kembali kepada perjanjiannya, antara makhluk dan Khalik (Pencipta), yaitu untuk taat, beribadah, dan mengesakan Allah SWT sebagai Tuhan yang menciptakannya, dengan jalan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Allah berfirman: ”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS 30: 30).

    Orang yang kembali kepada fitrahnya memiliki dua karakter.

    Pertama, istiqomah dalam beribadah. Orang-orang yang kembali pada fitrahnya senantiasa melakukan amal-amal saleh dan ragam ibadah secara berkesinambungan. Dan bahkan terus ditingkatkan. Mereka selalu berprinsip hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.

    Kedua, memiliki perilaku (akhlaq) yang baik. Pembinaan yang dilakukan selama bulan Ramadhan diaplikasikannya pada bulan-bulan setelah Ramadhan. Nilai-nilai seperti kejujuran, sabar, pemaaf, pemurah, dan penyayang senantiasi menghiasi kehidupannya.

    Semoga ibadah puasa yang telah kita lakukan mengantarkan kita menjadi orang-orang yang kembali kepada fitrah. Dan, semoga kita dapat memberikan sumbangsih dan manfaat bagi kemajuan umat Islam. Amin.

    ***

    (Diambil dari Hikmah Republika)

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 13 July 2015 Permalink | Balas  

    Penghujung Ramadhan 

    MERENUNGPenghujung Ramadhan

    Penghujung Ramadhan adalah saat terakhir bagi kita untuk berhenti dan merenung sejenak, menghisab amalan yang telah dilakukan. Kita masih punya kesempatan beberapa hari lagi untuk memperbaiki apa yang salah, menambah apa yang kurang, dan meningkatkan apa yang sudah baik. Bagaimanapun Allah menilai kesudahan kita, apakah kita mengakhiri Ramadhan dalam keadaan taqwa dan penuh ketaatan kepadaNya, ataukah sebaliknya?

    Marilah kita jangan berputus asa dari rahmat dan tambahkanlah rasa harap kita kepada-Nya. Berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari usaha kita bermuhasabah.

    Pertama, tetapkan satu masa khusus untuk merenung apa yang telah kita lakukan. Kemudian bandingkanlah dengan beberapa obyektif minimum yang telah kita tetapkan sebelum ramadhan, misalnya: sholat berjama’ah di mesjid 3x sehari, melakukan shalat rawatib, shalat qiyamul lail setiap hari, shalat dhuha 2x 4 rakaat seminggu, membaca Al-Quran 1 juz perhari, membaca al-matsurat, bersedekah setiap hari, dan membaca buku yang bermanfaat. Kemudian, kita tanyakan kepada diri kita sendiri, apakah amalan yang telah kita lakukan sesuai dengan obyektif yang telah disebutkan di atas? Jika ya, maka tanyakanlah apakah obyektif tersebut terlalu mudah bagi kita? Kalau terlalu mudah, maka ubahlah obyektif tersebut agar menjadi lebih menantang. Jika tidak, maka teruskanlah usaha untuk mencapat obyektif yang telah kita tetapkan tersebut pada 8 hari mendatang.

    Kedua, tingkatkan ibadah pada malam-malam 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Malam-malam ini sangat penting karena terdapatnya Lailatul Qadar pada salah satu dari malam-malam ganjil, yaitu 21, 23, 25, 27, 29 Ramadhan. Pada malam ini kebaikan yang dilakukan pada malam tersebut sama seperti melakukan kebaikan selama 1000 bulan. Oleh karena itu, tidak wajar dan merupakan suatu kesombongan bila malam tersebut kita sia-siakan. Apalagi usia kita belum tentu mampu untuk melakukan ibadah sebanyak itu.

    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam dalam malam-malam ini akan menggandakan ibadahnya. Beliau akan beri’tikaf selama 10 hari penuh di mesjid dan melakukan berbagai ibadah sepanjang beliau beri’tikaf. Untuk memaksimalkan manfaat dari peluang ini, kita memerlukan perencanaan yang komprehensif agar ibadah kita dapat dilakukan dengan baik tanpa mengganggu kewajiban yang lain. Yang paling afdhal tentu saja ialah bila kita mampu beri’tikaf selama 10 hari di mesjid tanpa terputus seperti yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Sebagian yang lain bahkan menyengaja untuk melakukan umrah pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan ini agar bisa memaksimalkan kesempatan untuk beribadah pada saat-saat terakhir ini. Namun kita juga maklum, bahwa banyak orang yang mungkin tidak memiliki kemampuan tersebut. Salah satu alternatif adalah dengan meminta cuti agar dapat melakukan i’tikaf.

    Jika ini juga tidak mungkin dilakukan, maka usahakanlah semaksimal mungkin untuk melakukan i’tikaf sebanyak yang kita mampu tanpa mengabaikan tanggung jawab kita yang lain. Adalah kurang baik bagi seorang muslim untuk kehilangan produktivitas di tempat kerja dengan alasan letih beribadah di malam harinya. Hal ini akan memburukkan nama baik Islam dan umatnya.

    Ketiga, jangan lupa untuk meningkatkan doa bagi diri sendiri dan umat Islam seluruhnya. Kita memahami bahwa saat ini umat Islam dalam keadaan tertindas, baik dari dalam maupun dari luar. Berdoalah pada hari terakhir Ramadhan ini agar Allah memberikan hidayahNya bagi kita dan umat Islam seluruhnya, serta mintalah pertolonganNya bagi kaum muslimin dimanapun mereka berada.

    Keempat, jangan lupa untuk menunaikan zakat fitrah. Masa yang sunnat adalah apabila masuk waktu maghrib di malam Idul Fitri sampai sebelum sholat Idul Fitri. Ingatlah bahwa pahala berpuasa akan tergantung diantara bumi dan langit sehingga zakat fitrah ditunaikan. Tidak membayar zakat fitrah bagi mereka yang mampu juga merupakan suatu dosa.

    Kelima, pada malam Idul Fitri tetapkanlah sedikit waktu untuk merenung akan apa-apa yang telah kita lakukan sepanjang bulan Ramadhan. Pikirkanlah langkah-langkah yang bisa kita lakukan untuk memastikan kehidupan kita sebagai seorang muslim selepas bulan Ramadhan ini, menjadi lebih baik dari sebelum Ramadhan.

    Tahun depan, belum tentu kita berjumpa dengan Ramadhan…

    ***

    (Diambil dari http://www.eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 12 July 2015 Permalink | Balas  

    I’tikaf Bagi Muslimah 

    itikafI’tikaf Bagi Muslimah

    I’tikaf juga disunnatkan bagi kaum wanita sebagaimana telah dianjurkan bagi pria. Sunnah ini telah dilaksanakan dan dicontohkan oleh isteri Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dalam riwayat Enam Imam Hadits.

    Diriwayatkan dari ’Aisyah RA bahwa, ”Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wasallam biasa i’tikaf pada hari-hari sepuluh terakhir Ramadhan sehingga mewafatkannya (sampai Beliau meninggal dunia), kemudian dilanjutkan oleh isteri-isterinya setelah sepeninggalnya” (HR. Enam Imam Hadits)

    Tetapi selain syarat-syarat yang berlaku secara umum, i’tikaf bagi kaum wanita harus memenuhi syarat berikut :

    1. Mendapat persetujuan (izin) dari suami (bagi yang telah menikah), orang tua atau wali. Dan apabila wali atau suami telah mengizinkan isterinya untuk i’tikaf, maka tidak boleh menarik kembali persetujuan itu.
    2. Agar tempat dan pelaksanaan i’tikaf bagi wanita itu memenuhi tujuan syari’at, yaitu tidak dibenarkan ikhtilath (campur baur laki-laki dan wanita) yang dapat mengakibatkan/menimbulkan fitnah yang dilarang oleh agama. Tetapi ada pendapat yang lebih afdhal bagi wanita – Wallahu’alam- ialah I’tikaf di ‘masjid’ (tempat shalat) di rumahnya sendiri.

    Meskipun demikian, wanita bisa i’tikaf di masjid tetapi lebih afdhal apabila masjid tersebut menempel (sangat berdekatan) dengan rumahnya, tidak terjadi ikhtilath dan fitnah, jama’ahnya hanya wanita, serta terdapat tempat buang air dan kamar mandi khusus wanita dan sebagainya.

    ***

    (Dikutip dari: Panduan Amaliyah Ramadhan, Editor Abu Azka, Penerbit Bina Mitra Press)

     
  • erva kurniawan 7:43 am on 10 July 2015 Permalink | Balas  

    Bila Dia Yang Kita Cintai 

    puasa 4Bila Dia Yang Kita Cintai

    Bagaimana perasaan Anda ketika akan kedatangan tamu yang menginap di rumah untuk beberapa saat? Jawabannya sih tergantung siapa tamunya. Tapi coba bayangkan. Jika yang akan mendatangi kita adalah orang-orang yang kita cintai dan kita hormati, misal bapak dan ibu, mertua, guru, temen dekat atau orang yang pernah berjasa dalam hidup kita. Sudah barang tentu kita akan dengan senang hati menyambutnya. Tak perlu ditanya akan berapa lama mereka di rumah kita. Kita pun akan segera menyiapkan sebuah kamar terbagus untuk mereka. Kemudian menyediakan jamuan istimewa untuk mereka. Siap memenuhi segala kebutuhan mereka, siap mengantar kemana pun mereka hendak pergi. Dan bila saat-saat perpisahan itu datang, duh rasanya hati ini khawatir apakah service kita mengecewakan tamu tercinta.

    Demikian halnya saat ini. Kita sedang berada di gerbang seribu bulan. Bulan yang dimuliakan Allah. Bulan yang ibadah wajibnya dilipatkan Allah hingga 70 kali lipat dan ibadah sunnahnya disamakan dengan ibadah wajib di bulan lain. Bulan penuh berkah, rahmat dan pengampunan serta pembebasan dari nafsu dan belenggu syeitan. Bulan yang didalamnya terdapat sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Pertanyaannya sederhana saja: Apakah kita gembira, bahagia dan senang dengan kedatangan bulan ini? Apakah ada hubungannya kecintaan dan kebahagiaan kita menyambut Ramadhan dengan amalan kita di dalamnya? Apa yang telah kita siapkan untuk menyambutnya. Seberapa jauh kita siap dan mempersiapkan keluarga kita untuk menyambutnya?

    Pertanyaan berikutnya: Salah satu tujuan puasa Ramadhan adalah tercapainya ketaqwaaan. Kira-kira kita yang sudah berpuasa selama 10-20 tahunan… sejak kapan kita merasa telah mencapai target taqwa tersebut. Bila jawabannya ternyata belum, kita Insya Allah masih punya kesempatan untuk merealisasikannya tahun ini. Ya… insya Allah kita mampu, asal ada kekuatan azam dan niat yang kuat. Kesempatan untuk mengukir prestasi.

    Ada 4 golongan manusia dalam sikapnya menyambut Ramadhan.

    Pertama: mukmin yang sungguh-sungguh. Mereka menganggap bulan ini sebagai peluang untuk melejitkan prestasi di hadapan Allah. Orang seperti ini senantiasa merasakan detik-detik Ramadhan sangat berharga. Mereka selalu berada dalam ketaatan. Kalau tidak sedang shalat, baca Al-Qur’an, dzikir, saling menolong dan menasehati, memenuhi kebutuhan saudaranya, dsb. Tak ada waktu terlewat kecuali untuk sesuatu yang baik dan bermanfaat.

    Kedua: orang yang niatnya baik, tapi azamnya lemah. Orang ini berniat menargetkan berbuat sesuatu di bulan Ramadhan. Mereka punya tekad berbuat baik. Tapi karena azamnya lemah, maka hanya bertahan pada awal-awal bulan saja. Kemudian mereka makin tidak merasakan kehadiran tamu ini. Baik hanya di awalnya saja setelah itu ketahuan aslinya.

    Ketiga: orang yang biasa-biasa saja. Kedatangan Ramadhan tidak memberi bekas sama sekali. Kalau ibarat tamu, ia dicuekin.

    Keempat: orang yang tidak menyukai kedatangan Ramadhan. Mereka menganggap Ramadhan sebagai penghalang bagi mereka untuk memuaskan nafsu dan segala keinginan. Mereka dengan terpaksa menerima kedatangan tamu ini tapi sesungguhnya mereka membencinya dan tidak menghormati sama sekali. Mereka menentang penutupan sementara usaha hiburan malam dan bisnis esek-esek dengan alasan ekonomi dan hak asasi.

    Di golongan mana kita berada? Jangan sampai kita merugi sebagaimana sabda Rasulullah, “Rugi dan meranalah orang yang menjumpai Ramadhan sedang dosanya belum diampuni”. Para sahabat Rasul paham akan berharganya Ramadhan sehingga berharap sepanjang tahun menjadi bulan Ramadhan. Bagaimana dengan kita? Mari kita siapkan semua semua sumber daya, baik fisik, finansial, dan ilmu untuk menyambut kedatangan tamu agung ini sebelum kita menyesal!

    ***

    (Diambil dari artikel kiriman sdr. Oki)

     
  • erva kurniawan 7:40 am on 9 July 2015 Permalink | Balas  

    Potret Manusia dibulan Romadhon 

    Menahan Amarah Di Bulan PuasaPotret Manusia di Bulan Romadhon

    Pada setiap ramadhon . Dengan berpuasa diharap kita getol berbuat kebajikan, hati orang diketuk supaya trenyuh dan rela beramal. ”Sedekah itu menutup 70 pintu kejahatan.”.

    Bulan puasa juga dimanfaatkan pengamen di biskota. Perhatikan syairnya: ”Kami di sini tidak mau menodong, tapi mengharapkan pertolongan Bapak dan Ibu sekalian. Lima ratus atau seribu perak tidak akan membuat Anda miskin. Berilah kami recehan untuk berbuka puasa….” Padahal, dia belum tentu berpuasa.

    Usai ngamen, dia sodorkan tempat uang receh. Tak ada yang menggubris, karena terkesan memaksa. Terbukti, ketika seseorang tak memenuhi angan-angannya yang selangit, mulutnya kontan nyelekit: ”Dasar, pelit!” Ia marah karena merasa sudah menghibur, tapi tak diberi imbalan.

    Potret manusia menjalankan puasa memang beragam.

    Ada seorang muslim yang berpuasa sebulan penuh. Seakan lapar dan dahaganya mencuci dosa, dan bacaan Qur’annya menggetarkan surga. Saat berbuka, kala air menyiram tenggorokan, wajahnya semringah. Sholat dan tarowihnya tak pernah lowong. Hamparan karpet sajadah di masjid jadi tali silaturahmi.

    Celakanya, keislaman itu cuma dilakukan sebulan. Sebelas bulan lain, ia kembali pada dunianya. Ia lupakan sholatnya. Sholat nek kober, ”Dia sering minum-minuman keras, katanya untuk melobi teman dan menjaga pergaulan dalam dunia bisnis. Dia tetap menyuap agar bisnisnya lancar. Dia juga mencarikan wanita panggilan untuk menyervis orang.

    Dunia pun ibarat panggung sandiwara. Ada lagi poret manusia, di mata istri dan anak anaknya makan saur dan berbuka bersama, di luaran bibir tetap basah, dan perut selalu terisi. Ada lagi yang puasa tapi tetap mengumbar amarah. Padahal, hadis Nabi menyebutkan, bahwa amarah bisa menggugurkan pahala puasa.

    Ada pula yang tetap seneng ngakali, mensiasati, membodohi orang, serta membualkan kebohongan demi kebohongan. manusia type ini berlindung di balik tutur kata lembut yang tiada cela. Suap dikatakan hibah, dan korupsi dianggap anugerah. Sogokan? ”Saya tidak pernah meminta, tapi dia yang memberi,” begitu dalih penerima sogokan.

    Kecintaan terhadap dunia benar-benar telah mengusutkan akal dan pikiran. Kadang pergulatan terhadap cinta dunia ini melelahkan dan membosankan. Banyak manusia menyadari bahwa materi telah menjajahnya. Tapi, kesadaran itu sering sekadar ”tahu”. Titik. Makanya ada hadist yang berbunyi kurang lebih ,” Cinta dunia, adalah pokok atau penyebab perbuatan dosa “. Padahal, sesungguhnya, iman yang benar itu bukan sebatas retorika, tapi penghayatan dan pengamalan kebenaran.

    Oleh sebab itu, para ustadz sering menyadarkan: ”Mari kita sucikan akal pikiran kita. Kita lepaskan keterikatan terhadap fisik kita –dalam rangka penyucian hati.” Puasa, antara lain, memang punya andil yang besar dalam mensucikan dan mencerahkan jiwa.

    Mata ditundukkan dan pendengaran disumpal agar tidak terkontaminasi oleh hal-hal yang tak perlu. Nabi bersabda, ”Barang siapa menahan pandangannya, ia akan merasakan lezatnya keimanan dalam hatinya.” Rasul juga pernah mengucapkan, ”Aku berlindung kepada-Mu ya Allah dari kejahatan pendengaran, penglihatan, hati, dan kemaluanku.”

    Ada teori bahwa manusia itu dikelompokkan dalam strata kebutuhan. Ada kebutuhan dasar yang menyangkut makan, minum, dan seks. Ada kebutuhan kasih sayang, ketenteraman, dan rasa aman. Lalu, ada kebutuhan akan perhatian dan pengakuan. Yang terakhir adalah kebutuhan aktualisasi diri.

    Ahli tasawuf atau para sufi menganggap aktualisasi diri sebagai kebutuhan penyempurnaan spiritual. ”Selama indra lahiriah kita terpaku di bumi, selama itu pula hati dan akal kita tidak berlabuh pada Allah,” kata orang sufi. Indra kita ini terlalu lemah untuk dipakai melihat kebenaran.

    Dalam bukunya, Murtadho Muthahari menulis, salah satu tahap dalam tingkat kesholihan seseorang adalah ketika seseorang sudah dapat mengendalikan nafsunya. Dia tak akan marah, walau mestinya ia bisa membalas dendam. Dia tidak sakit hati ketika seseorang menyakitinya. Nafsunya sudah terkendali. Tingkat kesadaran ruhnya sudah tinggi.

    Bagi saya, yang awam, mungkin, tataran seperti itu terasa sangat jauh. Samar-samar di ujung sana. Yang terasa dekat justru hiruk-pikuk dunia yang mengusutkan pikiran, yang menyebabkan ketidaktenangan dalam hidup. Kekecewaan demi kekecewaan mengeruhkan otak. Hati pun masih belum ngamper oleh derita sesama.

    Adakah semua ini buah kepicikan, sebagai manusia? Atau, karena selalu merasa bahwa dunia, materi, uang atau apalah namanya bisa mengatur dan menyelesaikan segala-galanya? Ya Allah ya Robb, bisakah shaumku mengikis kebusukan demi kebusukan itu?

    Selamat ber-puasa romadhon

    Sumber dari resonansi

     
  • erva kurniawan 5:59 am on 8 July 2015 Permalink | Balas  

    Rukhsah keringanan dalam Puasa 

    puasa-4Rukhsah/keringanan dalam Puasa

    Bismillahirrahmanirrahim,

    “….Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (Q.S. Al Baqarah 2:184)

    Hukum orang yang tidak berpuasa Ramadhan :

    Diperbolehkan tidak puasa pada bulan Ramadhan bagi empat golongan menurut syariat diperbolehkan tidak puasa dengan membayar kafarat2 nya untuk katagori

    1. Musafir membayar kafaratnya dengan berpuasa kembali dengan menggantinya dan wajib baginya untuk melakukannya.

    “Maka barangsiapa diantara kalian ada yang sakit atau dalamperjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Q.S. Albaqarah 184).

    2. Orang sakit. Wajib mengganti jika harapan sembuhnya terbuka lebar atau kemungkinan sehatnya sangat besar, dengan cara mengqhadha-nya

    “Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan mempunyai hutang puasa, walinya harus berpuasa (menggantikannya)” (Muttafaq Allaih)

    3. Orang Lanjut Usia Jika ia sudah lanjut mencapai usia tua dan tidak sanggup berpuasa, wajib memberikan makanan

    “Orang lanjut usia diberi keringanan untuk memberi makan setiap hari kepada orang miskin dan tidak mengganti puasanya (H.R. AdDaruquthni dan Al Hakim, Shahih)

    Boleh baginya tidak berpuasa dan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Demikian kata Ibnu Abbas menurut riwayat Al-Bukhari. Lihat kitab Tafsir Ibnu Kalsir, 1/215. Sedangkan jumlah makanan yang diberikan yaitu satu mud (genggam tangan) gandum, atau satu sha’ (+ 3 kg) dari bahan makanan lainnya. Lihat kitab ‘Lamdatul Fiqh, oleh Ibnu Qudamah, him. 28.

    4. Wanita Hamil dan Wanita menyusui. Jika khawatir keselamatan dirinya dan keselamatan janin, ia tidak wajib berpuasa. Jika ia berkecukupan, ia bersedekah setiap hari sebesar satu genggam gandum (cukup) untuk sekali makan. Dengan fidiyahnya tersebut adalah pengganti puasanya. Dan tidak wajib untuk menggantinya. Rukhsah atau keringanan ini diberikan kepada wanita yang sedang hamil/menyusui yaitu dengan memberi makan kepada orang-orang miskin.

    Firman Allah SWT. “Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin). (Q.S. Al-Baqarah 184).

    Allah memberikan keringanan dan keringanan tersebut yang sebaiknya dipergunakan dengan sebaik-baiknya dengan membayar fidiyah dan sebaiknya tidak ditunda-tunda. Allah memberikan kemudahan dan agama Islam adalah mudah.

    Cara membayarkan fidyiah bermacam-macam :

    1. Mengundang orang fakir miskin sebanyak 30 orang atau lebih untuk sekali makan saja atau memberi makan diawal waktu ramadhan sehingga waktu satu bulan puasa tersebut sudah terbayar lunas dengan fidyah tersebut. Ini lebih praktis dan tidak sulit.

    2. Memberi nasi bungkus berikut lauk pauk-nya setiap hari 1 bungkus dan diberikan langsung kepada orang fakir miskin tersebut.

    Tidak wajib untuk mengganti puasa pada kategori orang hamil/menyusui/orang tua renta karena sudah digantikan oleh fidyah tersebut. Tapi wajib baginya untuk membayar hutang puasa diluar kategori ini (point 1, 2 dan 3)

    “Sesungguhnya ibuku meninggal dunia dan keadaan mempunyai hutang puasa sebulan, apakah aku menggantikan puasanya?”. Rasulullah bersabda : Ya. Hutang Allah itu layak dibayar”. (Muttafaq Allaih)

    Semoga Allah SWT membimbing setiap langkah menuju keikhlasan dalam beribadah.

    ***

    Diintisarikan dalam suatu majelis diJakarta dan tambahan kitab : Minhajul Muslim karya Abu Jabir Al-Jazairi

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 5:07 am on 7 July 2015 Permalink | Balas  

    Puasa dan Cinta 

    puasa-4Puasa dan Cinta

    Ternyata bukan hanya umat Muhammad yang berpuasa. Sejarah mencatat, sebelum kedatangan Muhammad, umat Nabi yang lain diwajibkan berpuasa. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, sejak Nabi Nuh hingga Nabi Isa puasa wajib dilakukan tiga hari setiap bulannya. Bahkan, nabi Adam alaihissalam diperintahkan untuk tidak memakan buah khuldi, yang ditafsirkan sebagai bentuk puasa pada masa itu. “Janganlah kamu mendekati pohon ini yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim”. (Al-Baqarah: 35).

    Begitu pula nabi Musa bersama kaumnya berpuasa empat puluh hari. Nabi Isa pun berpuasa. Dalam Surah Maryam dinyatakan Nabi Zakaria dan Maryam sering mengamalkan puasa. Nabi Daud alaihissalam sehari berpuasa dan sehari berbuka pada tiap tahunnya. Nabi Muhammad saw. Sendiri sebelum diangkat menjadi Rasul telah mengamalkan puasa tiga hari setiap bulan dan turut mengamalkan puasa Asyura yang jatuh pada hari ke 10 bulan Muharram bersama masyarakat Quraisy yang lain. Malah masyarakat Yahudi yang tinggal di Madinah pada masa itu turut mengamalkan puasa Asyura.

    Begitu pula, binatang dan tumbuh-tumbuhan melakukan puasa demi kelangsungan hidupnya. Selama mengerami telur, ayam harus berpuasa. Ular pun berpuasa. Baginya berpuasa berguna untuk menjaga struktur kulitnya agar tetap keras terlindung dari sengatan matahari dan duri hingga ia tetap mampu melata di bumi. Ulat-ulat pemakan daun pun berpuasa, jika tidak ia tak kan lagi menjadi kupu-kupu dan menyerbuk bunga-bunga.

    Jika berpuasa merupakan sunnah thobi’iyyah (sunnah kehidupan) sebagai langkah untuk tetap survive, mengapa manusia tidak? Terlebih lagi jika kewajiban puasa diembankan kepada umat Islam, tentu saja memikili makna filosofis dan hikmah tersendiri. Karena, ternyata puasa bukan hanya menahan dari segala sesuatu yang merugikan diri sendiri atau orang lain, melainkan merefleksikan diri untuk turut hidup berdampingan dengan orang lain secara harmonis, memusnahkan kecemburuan sosial serta melibatkan diri dengan sikap tepa selira dengan menjalin hidup dalam kebersamaan, serta melatih diri untuk selalu peka terhadap lingkungan. Rahasia-rahasia tersebut ternyata ada pada kalimat terakhir yang teramat singkat pada ayat 183 surah al- Baqarah. Allah swt memerintahkan: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa“. (QS. Al-Baqarah:183).

    Allah swt mengakhiri ayat tersebut dengan “agar kalian bertakwa”. Syekh Musthafa Shodiq al-Rafi’ie (w. 1356 H/1937 M) dalam bukunya wahy al-Qalam mentakwil kata “takwa” dengan ittiqa, yakni memproteksi diri dari segala bentuk nafsu kebinatangan yang menganggap perut besar sebagai agama, dan menjaga humanisme dan kodrati manusia dari perilaku layaknya binatang. Dengan puasa, manusia dapat menghindari diri dari bentuk yang merugikan diri sendiri dan orang lain, sekarang atau nanti. Generasi kini atau esok.

    Jika kita bandingkan dengan ideologi lain, mazhab sosialisme yang mengalami masa kolapnya di Eropa, tak mampu mengubah, menambah dan mengurangi jatah perut pengikutnya. Mereka, para sosialisme yang dianggap sebagai “mazhab buku” tak pelak lagi memandang puasa sebagai “satu-satunya sistem sosialis yang paling unik dan justeru paling absah”! Bagaimana tidak, puasa adalah kefakiran secara ‘paksa’ (ijbari) yang ditentukan oleh syariat agama kepada seluruh umat (Islam) tanpa pandang bulu. Islam memandang sama derajat manusia, terutama soal “perut”. Mereka yang memiliki dolar, atau yang mempunyai sedikit rupiah, atau orang yang tak memiliki sepeserpun, tetap merasakan hal yang sama: lapar dan haus. Jika sholat mampu menghapus citra arogansi individual manusia diwajibkan bagi insan muslim, haji dapat mengikis perbedaan status sosial dan derajat umat manusia diwajibkan bagi yang mampu, maka puasa adalah kefakiran total insan bertakwa yang bertujuan mengetuk sensitifitas manusia dengan metode amaliah (praktis), bahwasanya kehidupan yang benar berada di balik kehidupan itu sendiri. Dan kehidupan itu mencapai suatu tahap paripurna manakala manusia memiliki kesamaan rasa, atau manusia “turut merasakan” bersama, bukan sebaliknya. Manusia mencapai derajat kesempurnaan (insan kamil) tatkala turut merasakan sensitifitas satu rasa sakit, bukan turut berebut melampiaskan segala macam hawa nafsu.

    Dari sini puasa memiliki multifungsi. Setidaknya ada tiga fungsi puasa: tazhib, ta’dib dan tadrib. Puasa adalah sarana untuk mengarahkan (tahzib), membentuk karakteristik jiwa seseorang (ta’dib), serta medium latihan untuk berupaya menjadi manusia yang kamil dan paripurna (tadrib), yang pada esensinya bermuara pada tujuan akhir puasa: takwa. Takwa dalam pengertian yang lebih umum adalah melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Takwa dan kesalehan sosial adalah dua wajah dari satu keping mata uang yang sama, mengintegral dan tak dapat dipisahkan.

    Ada sejenis kaidah jiwa, bahwasanya “cinta” timbul dari rasa sakit. Di sinilah letak rahasia besar sosial dari hikmah berpuasa. Dengan jelas dan akurat, Islam melarang keras segala bentuk makanan, minuman, aktivitas seks, penyakit hati dan ucapan merasuki perut dan jiwa orang yang berpuasa. Dari lapar dan dahaga, betapa kita dapat merasakan mereka yang berada di garis kemiskinan, manusia papa yang berada di kolong jembatan, atau kaum tunawisma yang kerap berselimutkan dingin di malam hari atau terbakar terik matahari di siang hari. Ini adalah suatu sistem, cara praktis melatih kasih sayang jiwa dan nurani manusia. Adakah cara yang paling efektif untuk melatih cinta? Bukankah kita tahu bahwa selalu ada dua mata rantai yang saling terkait: yang melihat dan yang buta, yang cendikia dan yang awam, serta yang teratur dan yang mengejutkan.

    Jika cinta antara orang kaya yang lapar terhadap orang miskin yang (juga) lapar tercipta, maka untaian hikmah kemanusiaan di dalam diri menemukan kekuasaannya sebagai “sang mesias”, juru selamat. Orang yang berpunya dan hatinya selalu diasah dengan puasa, maka telinga jiwanya mendengar suara sang fakir yang merintih. Ia tidak serta merta mendengar itu sebagai suara mohon pengharapan, melainkan permohonan akan sesuatu hal yang tidak ada jalan lain untuk disambut, direngkuh dan direspon akan makna tangisannya itu. Orang berpunya akan memaknai itu semua atas pengabdian yang tulus, iimaanan wa ihtisaaban. Semua karena Allah, karena hanya Dia Sang pemilik segala.

    ***

    Taufiq Munir Ahmad Syaubari

    Dewan Eksekutif Sanggar Kinanah, sedang menempuh S1 al-Azhar university, jurusan Akidah dan Filsafat, Kairo.

     
  • erva kurniawan 7:58 am on 3 July 2015 Permalink | Balas  

    Bila Dia yang Kita Cintai Bagaimana perasaan Anda… 

    puasa 2Bila Dia yang Kita Cintai

    Bagaimana perasaan Anda ketika akan kedatangan tamu yang menginap di rumah untuk beberapa saat? Jawabannya sih tergantung siapa tamunya. Tapi coba bayangkan. Jika yang akan mendatangi kita adalah orang-orang yang kita cintai dan kita hormati, misal bapak dan ibu, mertua, guru, temen dekat atau orang yang pernah berjasa dalam hidup kita. Sudah barang tentu kita akan dengan senang hati menyambutnya. Tak perlu ditanya akan berapa lama mereka di rumah kita. Kita pun akan segera menyiapkan sebuah kamar terbagus untuk mereka. Kemudian menyediakan jamuan istimewa untuk mereka. Siap memenuhi segala kebutuhan mereka, siap mengantar kemana pun mereka hendak pergi. Dan bila saat-saat perpisahan itu datang, duh rasanya hati ini khawatir apakah service kita mengecewakan tamu tercinta.

    Demikian halnya saat ini. Kita sedang berada di gerbang seribu bulan. Bulan yang dimuliakan Allah. Bulan yang ibadah wajibnya dilipatkan Allah hingga 70 kali lipat dan ibadah sunnahnya disamakan dengan ibadah wajib di bulan lain. Bulan penuh berkah, rahmat dan pengampunan serta pembebasan dari nafsu dan belenggu syeitan. Bulan yang didalamnya terdapat sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Pertanyaannya sederhana saja: Apakah kita gembira, bahagia dan senang dengan kedatangan bulan ini? Apakah ada hubungannya kecintaan dan kebahagiaan kita menyambut Ramadhan dengan amalan kita di dalamnya? Apa yang telah kita siapkan untuk menyambutnya. Seberapa jauh kita siap dan mempersiapkan keluarga kita untuk menyambutnya?

    Pertanyaan berikutnya: Salah satu tujuan puasa Ramadhan adalah tercapainya ketaqwaaan. Kira-kira kita yang sudah berpuasa selama 10-20 tahunan… sejak kapan kita merasa telah mencapai target taqwa tersebut. Bila jawabannya ternyata belum, kita Insya Allah masih punya kesempatan untuk merealisasikannya tahun ini. Ya… insya Allah kita mampu, asal ada kekuatan azam dan niat yang kuat. Kesempatan untuk mengukir prestasi.

    Ada 4 golongan manusia dalam sikapnya menyambut Ramadhan.

    Pertama: mukmin yang sungguh-sungguh. Mereka menganggap bulan ini sebagai peluang untuk melejitkan prestasi di hadapan Allah. Orang seperti ini senantiasa merasakan detik-detik Ramadhan sangat berharga. Mereka selalu berada dalam ketaatan. Kalau tidak sedang shalat, baca Al-Qur’an, dzikir, saling menolong dan menasehati, memenuhi kebutuhan saudaranya, dsb. Tak ada waktu terlewat kecuali untuk sesuatu yang baik dan bermanfaat.

    Kedua: orang yang niatnya baik, tapi azamnya lemah. Orang ini berniat menargetkan berbuat sesuatu di bulan Ramadhan. Mereka punya tekad berbuat baik. Tapi karena azamnya lemah, maka hanya bertahan pada awal-awal bulan saja. Kemudian mereka makin tidak merasakan kehadiran tamu ini. Baik hanya di awalnya saja setelah itu ketahuan aslinya.

    Ketiga: orang yang biasa-biasa saja. Kedatangan Ramadhan tidak memberi bekas sama sekali. Kalau ibarat tamu, ia dicuekin.

    Keempat: orang yang tidak menyukai kedatangan Ramadhan. Mereka menganggap Ramadhan sebagai penghalang bagi mereka untuk memuaskan nafsu dan segala keinginan. Mereka dengan terpaksa menerima kedatangan tamu ini tapi sesungguhnya mereka membencinya dan tidak menghormati sama sekali. Mereka menentang penutupan sementara usaha hiburan malam dan bisnis esek-esek dengan alasan ekonomi dan hak asasi.

    Di golongan mana kita berada? Jangan sampai kita merugi sebagaimana sabda Rasulullah, “Rugi dan merana lah orang yang menjumpai Ramadhan sedang dosanya belum diampuni”. Para sahabat Rasul paham akan berharganya Ramadhan sehingga berharap sepanjang tahun menjadi bulan Ramadhan. Bagaimana dengan kita? Mari kita siapkan semua semua sumber daya, baik fisik, finansial, dan ilmu untuk menyambut kedatangan tamu agung ini sebelum kita menyesal!

    ***

    (Diambil dari artikel kiriman sdr. Oki)

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 2 July 2015 Permalink | Balas  

    Kepada Siapa Puasa itu Diwajibkan? 

    puasa 4Kepada Siapa Puasa itu Diwajibkan?

    Para ulama telah sepakat (ijma’) bahwa puasa itu wajib atas orang Islam yang berakal, baligh, sehat dan menetap (tidak sedang bepergian). Sedangkan seorang wanita hendaklah ia suci dari haidh dan nifas.

    Oleh sebab itu, tidak wajib puasa atas orang kafir, orang gila, anak-anak, orang sakit, musafir, perempuan yang sedang haidh dan nifas. Begitu pula orang tua, perempuan hamil atau yang sedang menyusui.

    Di antara mereka, ada yang tidak wajib berpuasa atasnya sama sekali, seperti orang kafir atau orang gila, ada pula yang diminta agar orang tuanya menyuruhnya berpuasa (mereka adalah anak-anak), ada yang diperbolehkan berbuka dan wajib mengqadha (orang sakit dan musafir), ada yang wajib berbuka dan wajib mengqadha (perempuan yang haidh dan nifas) dan ada yang diberi keringanan berbuka, tetapi diwajibkan membayar fidyah (orang yang sudah tua-renta, baik laki-laki maupun perempuan).

    Orang Kafir dan Orang Gila

    Puasa itu merupakan ibadah islamiyah, sehingga tidak wajib bagi orang-orang yang tidak beragama Islam. Orang gila tidak termasuk mukallaf, karena dia kehilangan akal yang menjadi tempat bergantungnya taklif. Rasulullah saw besabda, “Pena (beban taklif) itu diangkat dari tiga golongan, yaitu dari orang yang gila sampai akalnya sehat, dari orang tidur sampai ia bangun, dan dari anak kecil sampai ia baligh.” (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).

    Puasa Anak-Anak

    Mengenai anak-anak -walaupun mereka tidak wajib berpuasa- sepatutnya walinya menyuruhnya agar mereka mengerjakannya, supaya mereka dapat membiasakannya dari kecil, yakni selama anak itu dapat dan mampu. Diterima dari Rubaiyi’ binti Muawwidz bahwa Rasulullah saw -pada pagi hari ‘Asyura- mengirim utusan ke desa-desa kaum Anshar untuk menyampaikan:

    “Siapa yang telah berpuasa dari pagi hari hendaklah ia meneruskan puasanya, dan siapa yang dari pagi telah berbuka, hendaknya ia mempuasakan hari yang tersisa! Maka, setelah itu pun kami berpuasa, kami bawa mereka ke masjid, kami buatkan mereka semacam alat permainan dari bulu domba. Lalu, jika ada di antara mereka yang menangis karena minta makan, kami berikan kepadanya alat permainan itu. Demikianlah berlangsung sampai dekat waktu berbuka.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Orang yang Boleh Berbuka dan Wajib Membayar Fidyah

    Orang yang telah dimakan usia (tua-renta), baik laki-laki maupun perempuan, orang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya dan orang-orang yang mempunyai pekerjaan berat yang tidak mendapatkan pekerjaan lain diberi keringanan berbuka, yakni jika berpuasa itu akan memberatkan mereka sepanjang musim dalam tahun itu. Dan sebagai tebusannya mereka wajib memberi makan seorang miskin untuk setiap hari berpuasa. Sedangkan banyaknya makanan itu terdapat perselisihan di antara ulama -karena dalam Sunnah sendiri tidak disebutkan- tetapi ada yang mengatakan 1 mud untuk 1 hari tidak puasa dan 1 mud = 6 ons makanan pokok.

    Ibnu Abbas berkata, “Diberi keringanan kepada orang yang sudah lanjut usia untuk berbuka, untuk setiap harinya hendaklah ia memberikan makan seorang miskin dan ia tidak perlu mengqadha.”

    Bukhari meriwayatkan dari ‘Atha’ bahwa ia mendengar Ibnu Abbas ra membaca ayat, “Wa ‘alal Ladziina Yuthiquunahu Fidyatun Tha’amu Miskiinin”. (Bagi orang-orang yang sulit melakukan puasa, hendaklah membayar fidyah yaitu memberi makan seorang miskin.” (Al-Baqarah: 184)

    Ibnu Abbas berkata, “Ayat itu tidaklah dinasakh/dihapus. Maksudnya adalah bagi orang tua lanjut usia, baik laki-laki maupun wanita yang telah tidak sanggup berpuasa, hendaklah memberi makan seorang miskin untuk setiap hari mereka tidak berpuasa.”

    Begitu pula orang sakit yang tidak ada harapan sembuh lagi dan tidak kuat berpuasa, hukumnya sama dengan orang tua-renta, tidak ada bedanya. Demikian pula halnya kaum buruh yang bergulat dengan pekerjaan-pekerjaan yang berat.

    Orang yang Boleh Berbuka dan Wajib Mengqadha

    Orang sakit yang masih ada harapan kesembuhannya dan musafir dibolehkan bagi keduanya untuk berbuka dan wajib mengqadha. Allah SWT berfirman, “Siapa yang sakit di antara kalian atau dalam perjalanan, hendaklah ia mengqadha pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 184).

    Orang yang sehat yang takut akan jatuh sakit disebabkan berpuasa boleh berbuka seperti orang yang sakit. Demikian juga orang yang amat kelaparan atau kehausan hingga mungkin celaka (mati), hendaklah berbuka dan mengqadha, walaupun ia seorang yang sehat dan bukan musafir. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu bunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadapmu.” (An-Nisaa’: 29).

    “Tidaklah Allah menyebabkan timbulnya kesulitan bagimu dalam agama.” (Al-Hajj: 78).

    Dan seandainya orang sakit itu berpuasa dan rela menanggung penderitan, puasanya sah. Hanya saja, tindakannya itu makruh hukumnya, karena ia tak ingin menerima keringanan yang disukai Allah SWT dan siapa tahu mungkin ia dapat bahaya karenanya.

    Rukun Puasa

    Rukun puasa ada dua, dan keduanya merupakan unsur terpenting dari hakikat puasa itu. Kedua rukun tersebut adalah pertama, niat. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT, “Dan tiadalah mereka diperintah kecuali untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT dan mengikhlaskan agama kepada-Nya semata.” (Al-Bayyinah: 5).

    Dan, sabda Nabi saw, “Setiap perbuatan itu hanyalah dengan niat, dan setiap manusia akan memperoleh apa yang diniatkannya.”

    Niat tersebut hendaknya dilakukan sebelum terbitnya fajar (masuknya waktu subuh) pada tiap malam bulan Ramadhan, berdasarkan hadis Hafshah, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa tidak membulatkan niatnya untuk melakukan puasa sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.” (HR Ahmad dan Ashhabus Sunan serta dinyatakan sahih oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

    Niat itu sah pada salah satu saat di malam hari, dan tidak disyaratkan mengucapkannya, karena ia merupakan pekerjaan hati dan tidak ada sangkut-pautnya dengan lisan. Hakikat niat adalah menyengaja suatu perbuatan demi menaati perintah Allah SWT dalam mengharapkan keridhaan-Nya. Oleh karena itu, siapa saja yang makan sahur dengan maksud akan berpuasa dan dengan menahan diri ini bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, berarti ia telah berniat. Begitupun orang yang bertekad akan menghindari segala hal yang dapat membatalkan puasa di siang hari dengan ikhlas karena Allah SWT, juga berarti telah niat, walaupun ia tidak makan sahur.

    Kemudian, menurut kebanyakan fuqaha’, niat puasa tathawwu’ (puasa sunnah) itu cukup bila waktu siang, yakni jika seseorang belum lagi makan-minum. Aisyah berkata, “Pada suatu hari Rasulullah saw datang ke rumah, lalu Rasulullah bertanya, ‘Apakah ada makanan padamu’, Aisyah menjawab, ‘Tidak ada’, kemudian Rasul bersabda, ‘Kalau begitu, saya akan berpuasa’.” (HR Muslim dan Abu Daud).

    Sementara, golongan Hanafiah mensyaratkan bahwa niat itu hendaklah terjadi sebelum zawal atau tergelincirnya matahari. Pendapat seperti ini juga merupakan pendapat yang populer di antara kedua pendapat Imam Syafi’i. Akan tetapi, Ibnu Mas’ud dan Ahmad, menurut lahir ucapan mereka, niat itu tercapai, baik sebelum atau sesudah zawal, keduanya tidak ada bedanya.

    Kedua, menahan diri dari segala yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT, “Maka sekarang, boleh kamu mencampuri mereka, dan hendaklah kamu mengusahakan apa yang diwajibkan Allah atasmu, dan makan-minumlah hingga nyata garis putih dari garis hitam berupa fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam.” (Al-Baqarah: 187).

    Yang dimaksud dengan garis putih dan garis hitam adalah terangnya siang dan gelapnya malam. Hal tersebut berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa ‘Adi bin Hatim bercerita tatkala turun ayat yang artinya, “… hingga nyata benang putih dari benang hitam berupa fajar…”, saya ambil seutas tali hitam dengan seutas tali putih, lalu saya amat-amati di waktu malam, dan ternyata tidak dapat saya bedakan. Kemudian, pagi-pagi saya mendatangi Rasulullah saw dan saya menceritakan apa yang terjadi pada saya kepadanya, lalu Rasul bersabda, “Maksudnya adalah gelapnya malam dan terangnya siang.”

    ***

    Sumber: Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 2:07 am on 1 July 2015 Permalink | Balas  

    Shaum, Proses Menuju Sukses 

    Shaum, Proses Menuju Sukses

    Perintah shaum (puasa) dalam Alquran dikaitkan dengan kepastian target mencapai sukses, “… pasti kalian menjadi orang yang takwa.”(Al-Baqarah: 183). Allah SWT menempatkan kata tattaquun dalam bentuk aktif: sedang dan akan bertakwa. Hal ini menunjukkan bahwa untuk mencapai taqwa tsb harus melalui proses. Ketika Ramadhan tiba proses menuju pendewasaan ruhani mulai bergulir; kebiasaan ibadah meningkat, semangat berzikir, salat berjamaah, melaksanakan aktivitas-aktivitas, infak,shadaqah begitu kondusif. Membaca Alquran sampai khatam ditempuh dengan semangat membara. Inilah proses tercapainya derajat takwa yang akan membawa kepada kesuksesan.

    Pendidikan apakah yang diberikan Ramadhan untuk menuju sukses?

    1. Sabar

    Dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Huzaimah ditegaskan. “Bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan ganjaran kesabaran adalah surga.” Sabar adalah memilih nilai agama dan mengesampingkan hawa nafsu. Di saat tidur lelap kita bangun untuk sahur. Masih terasa kantuk segera mengambil air wudu untuk melaksanakan salat subuh dilanjutkan dengan ta’lim kuliyah subuh. Mata sayu karena kurang tidur, tubuh letih, tetapi dengan kesabarannya dijalani dengan penuh semangat.

    2. Ikhlas

    Kata ikhlas memiliki makna yang erat kaitannya dengan akidah, ialah melaksanakan aktivitas semata-mata mengharapkan keridhaan-Nya. Puasa di bulan Ramadhan hanya dapat dilaksanakan dengan ikhlas. Karena itu, orang melaksanakan puasa tidak karena riya, dalam puasa keutamaan mengharapkan keridhaan-Nya adalah segala-galanya.

    3. Ibadah

    Ibadah adalah penghambaan diri kepada Allah SWT, pelaksanaan ibadah di bulan Ramadhan begitu semangat dan indah. Demikianlah Ramadhan sarana terbaik dalam melaksanakan pembiasaan ibadah. Ibadah adalah panggilan ruhaniah menuju Ilahi.

    4. Ihsan

    Ihsan ialah berbuat baik yang diimplementasikan dengan sikap meyakini seluruh akitivitasnya disaksikan oleh Allah SWT. Orang yang puasa di bulan Ramadhan tidak akan mencuri-curi kesempatan untuk makan dan minum karena meyakini ada Allah yang mengawasi seluruh aktifitasnya.

    5. Istiqamah

    Istiqamah adalah teguh pendirian, disiplin, tidak tergoyahkan. Di antara ayat kauniyah yg menggambarkan istiqamah, digambarkan dengan ikan yang hidup di laut. Sekalipun air yang ada di laut rasanya asin, tetapi ikan itu tubuhnya tidak ikut asin. Mengapa? karena ikan itu memiliki ruh, karena ia hidup. Orang yang melaksanakan uasa di bulan Ramadhan dilatih untuk tidak tepengaruh oleh lingkungan yang buruk malah ikut mewarnai sekitarnya.

    ***

    (Diambil dari tulisan Nandang Koswara, Mp;, milis An-Nahl)

     
  • erva kurniawan 4:31 am on 30 June 2015 Permalink | Balas  

    Optimalisasi Ibadah di Bulan Puasa 

    Selamat-Berpuasa-Puasa-Ramadhan-1431-HOptimalisasi Ibadah di Bulan Puasa

    Mungkin Anda termasuk orang yang paling sering berjumpa bulan Ramadlan dan menjalankan ibadah puasa di dalamnya. Anda mungkin juga termasuk orang-orang yang selalu bergembira dengan datangnya bulan Ramadlan dan mengisi bulan itu dengan amalan-amalan wajib dan sunnah.

    Namun, apakah perjumpaan kita dengan bulan Ramadlan itu telah mengubah diri kita, atau minimal semakin meningkatkan kualitas ibadah kita di sisi Allah swt di bulan-bulan lainnya? Pada dasarnya, refleksi keberhasilan ibadah puasa kita di bulan Ramadlan tidak hanya dilihat pada bulan Ramadlan saja, akan tetapi juga harus bisa dirasakan pada bulan-bulan berikutnya.

    Atas dasar itu, ibadah puasa kita di bulan Ramadlan bisa optimal, sudah seharusnya kita memahami tujuan puasa Ramadlan.

    Tujuan puasa Ramadlan adalah membentuk individu-individu yang selalu bertaqwa kepada Allah swt. Allah swt telah berfirman, artinya:

    “Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana puasa itu telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” [Al-Baqarah:183]

    Seorang mufassir ternama, Imam Ibnu al-‘Arabiy, menjelaskan makna firman Allah swt, “la’allakum tattaquun” sebagai berikut:

    “Dalam menafsirkan frasa ini, para ‘ulama tafsir terbagi menjadi tiga pendapat.

    Pertama, ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “la’allakum tattaquun” adalah “la’allakum tattaquun maa hurrima ‘alaikum fi’luhu” {agar kalian terjaga dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan kepada kalian}.

    Kedua, ada yang berpendapat bahwa, “la’allakum tattaquun” bermakna “la’allakum tudl’ifuun fa tattaquun” [agar kalian menjadi lemah sehingga kalian menjadi bertaqwa]. Sebab, ketika seseorang itu sedikit makannya maka syahwatnya juga akan lemah, ketika syahwatnya melemah maka makshiyyatnya juga akan sedikit.”

    Ketiga, ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan firman Allah swt “la’allakum tattaquun”, adalah la’allakum tattaquun ma fa’ala man kaana qablakum” [agar kalian terjaga dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kalian {Yahudi dan Nashrani}.” [Imam Ibnu al-‘Arabiy, Ahkaam al-Quraan, juz I/108]

    Alangkah bagusnya jika pendapat-pendapat ahli tafsir di atas kita gabungkan. Artinya, gelar taqwa akan disandang oleh orang-orang yang mengerjakan ibadah puasa di bulan Ramadlan jika ia telah mampu: (1) menghindarkan diri dari perbuatan haram, (2) melemahkan hawa nafsunya, (3) tidak meniru-niru perbuatan-perbuatan orang-orang Yahudi dan Nashrani.

    Pertama, puasa yang selama ini kita lakukan harus mampu membentuk sikap untuk selalu membenci dan menjauhi perbuatan-perbuatan, perkataan-perkataan, atau prasangka-prasangka yang diharamkan Allah swt. Seandainya ia masih terbelenggu dengan amaliah-amaliah yang diharamkan Allah, dirinya akan bersungguh-sungguh (yang direfleksikan dengan tindakan konkret) untuk melepaskan diri dari belenggu-belenggu keharaman tersebut. Ia tidak akan rela hidup tanpa dicintai dan diridloi Allah swt. Jika dalam melakukan puasa ia bisa menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa, disiplin waktunya, memenuhi sunnah-sunnah dan keutamaannya, lalu mengapa untuk ibadah-ibadah yang lain ia tidak bisa seserius dan sedisiplin tatkala mengerjakan puasa?

    Kedua, puasa harusnya semakin membersihkan qalbu kita untuk selalu bersemangat dalam ibadah dan lemah dalam bermaksiat. Dengan puasa, syahwat (nafsu negatif) harusnya bisa dilemahkan sedangkan keinginan-keinginan baik semakin ditingkatkan. Jika kita masih memuja hawa nafsu dan melemahkan tuntunan agama yang baik, sungguh puasa kita belum mendapatkan hasil yang optimum.

    Ketiga, puasa harusnya bisa menghindarkan diri kita dari upaya-upaya meniru-niru pemikiran, adat-istiadat dan peradaban kaum kafir yang bertentangan dengan Islam. Lebih jauh lagi, puasa yang selama ini kita lakukan harus mampu menjadikan diri kita hanya ridlo untuk diatur hanya dengan aturan-aturan Allah swt, bukan dengan aturan-aturan produk Yahudi dan Nashrani.

    Sungguh, jika tiga hal ini telah kita pahami bersama, tentu ibadah puasa kita di bulan Ramadlan, dan ibadah-ibadah di bulan yang lain akan bermakna dan semakin optimal.

    Wallahu A’lam bi al-Shawab.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 29 June 2015 Permalink | Balas  

    Maaf lahir batin 

    maafMaaf lahir batin

    Istaqimuu

    Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Semua amal anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu, kecuali shaum. Maka sesungguhnya shaum itu semata-mata untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya (Hr. Bukhari Muslim).

    Pernahkan Anda melihat seekor ulat bulu? Bagi kebanyakan orang, ulat bulu memang menjijikkan bahkan menakutkan. Tapi tahukah Anda kalau masa hidup seekor ulat ini ternyata tidak lama. Pada saatnya nanti ia akan mengalami fase dimana ia harus masuk ke dalam kepompong selama beberapa hari.

    Setelah itu ia pun akan keluar dalam wujud lain: ia menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang sangat indah. Jika sudah berbentuk demikian, siapa yang tidak menyukai kupu-kupu dengan sayapnya yang beraneka hiasan indah alami? Sebagian orang bahkan mungkin mencari dan kemudian mengoleksinya sebagai hobi (hiasan) ataupun untuk keperluan ilmu pengetahuan.

    Semua proses itu memperlihatkan tanda-tanda Kemahabesaran Allah. Menandakan betapa teramat mudahnya bagi Allah Azza wa Jalla, mengubah segala sesuatu dari hal yang menjijikkan, buruk, dan tidak disukai, menjadi sesuatu yang indah dan membuat orang senang memandangnya.

    Semua itu berjalan melalui suatu proses perubahan yang sudah diatur dan aturannya pun ditentukan oleh Allah, baik dalam bentuk aturan atau hukum alam (sunnatullah) maupun berdasarkan hukum yang disyariatkan kepada manusia yakin Al Qur’an dan Al Hadits.

    Jika proses metamorfosa pada ulat ini diterjemahkan ke dalam kehidupan manusia, maka saat dimana manusia dapat menjelma menjadi insan yang jauh lebih indah, momen yang paling tepat untuk terlahir kembali adalah ketika memasuki Ramadhan. Bila kita masuk ke dalam ‘kepompong’ Ramadhan, lalu segala aktivitas kita cocok dengan ketentuan-ketentuan “metamorfosa” dari Allah, niscaya akan mendapatkan hasil yang mencengangkan yakni manusia yang berderajat muttaqin, yang memiliki akhlak yang indah dan mempesona.

    Inti dari Ibadah Ramadhan ternyata adalah melatih diri agar kita dapat menguasai hawa nafsu. Allah SWT berfirman, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya.” (QS. An Nazii’at [79] : 40 – 41).

    Selama ini mungkin kita merasa kesulitan dalam mengendalikan hawa nafsu. Kenapa? Karena selama ini pada diri kita terdapat pelatihan lain yang ikut membina hawa nafsu kita ke arah yang tidak disukai Allah. Siapakah pelatih itu? Dialah syetan laknatullah, yang sangat aktif mengarahkan hawa nafsu kita. Akan tetapi memang itulah tugas syetan.

    Apalagi seperti halnya hawa nafsu, syetan pun memiliki dimensi yang sama dengan hawa nafsu yakni kedua-duanya sama-sama tak terlihat. “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuhmu karena syetan itu hanya mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala,” demikian firman Allah dalam QS. Al Fathir [25] : 6).

    Akan tetapi kita bersyukur karena pada bulan Ramadhan ini Allah mengikat erat syetan terkutuk sehingga kita diberi kesempatan sepenuhnya untuk bisa melatih diri mengendalikan hawa nafsu kita. Karenanya kesempatan seperti ini tidak boleh kita sia-siakan. Ibadah shaum kita harus ditingkatkan.

    Tidak hanya shaum atau menahan diri dari hawa nafsu perut dan seksual saja akan tetapi juga semua anggota badan kita lainnya agar mau melaksanakan amalan yang disukai Allah. Jika hawa nafsu sudah bisa kita kendalikan, maka ketika syetan dipelas kembali, mereka sudah tunduk pada keinginan kita. Dengan demikian, hidup kita pun sepenuhnya dapat dijalani dengan hawa nafsu yang berada dalam keridhaan-Nya. Inilah pangkal kebahagiaan dunia akhirat.

    Hal lain yang paling utama harus kita jaga juga dalam bulan yang sarat dengan berkah ini adalah akhlak. Barang siapa membaguskan akhlaknya pada bulan Ramadhan, Allah akan menyelamatkan dia tatkala melewati shirah di mana banyak kaki tergelincir, demikianlah sabda Rasulullah SAW.

    Pada bulan Ramadhan ini, kita dianggap sebagai tamu Allah. Dan sebagai tuan rumah, Allah sangat mengetahui bagaimana cara memperlakukan tamu-tamunya dengan baik. Akan tetapi sesungguhnya Allah hanya akan memperlakukan kita dengan baik jika kita tahu adab dan bagaimana berakhlak sebagai tamu-Nya. Salah satunya yakni dengan menjaga shaum kita sesempurna mungkin. Tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga belaka tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh kita ikut shaum.

    Mari kita perbaiki segala kekurangan dan kelalaian akhlak kita sebagai tamu Allah, karena tidak mustahil Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan terakhir yang dijalani hidup kita, jangan sampai disia-siakan.

    Semoga Allah Yang Maha Menyaksikan senantiasa melimpahkan inayah-Nya sehingga setelah ‘kepompong’ Ramadhan ini kita masuki, kita kembali pada ke-fitri-an bagaikan bayi yang baru lahir. Sebagaimana seekor ulat bulu yang keluar menjadi seekor kupu-kupu yang teramat indah dan mempesona, amiin (pesanggrahanOnline)

    ***

    Marhaban yaa Ramadhan

    Marhaban yaa Syahrul Shabr.

     
    • cvnadagroup2017 1:57 am on 29 Juni 2015 Permalink

      minal aidin walfaidzin mohon maaf lahir dan bathin

  • erva kurniawan 4:59 am on 28 June 2015 Permalink | Balas  

    Puasa Ramadhan 

    normal_berbuka-puasa-021Puasa Ramadhan

    Puasa itu ada dua macam, puasa fardhu dan puasa tathawwu’ atau puasa sunnah. Puasa fardhu ada tiga macam, yaitu puasa Ramadhan, puasa Kaffarah dan puasa Nadzar.

    Puasa Ramadhan adalah salah satu kewajiban yang di bebankan oleh Allah SWT kepada kita. Ia merupakan rukun Islam yang keempat. Kewajiban tersebut ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian puasa Ramadhan sebagaimana diwajibkannya puasa itu kepada umat-umat yang terdahulu sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.” (Al-Baqarah: 183).

    Arti Puasa

    Puasa secara bahasa (Etimologi) berarti al-imsaak (menahan). Maksudnya menahan dari apa saja. Menahan dari bicara berarti puasa bicara, menahan dari tidur berarti puasa tidur, menahan dari makan dan minum berarti puasa makan dan minum, dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT di bawah ini:

    “Inni Nadzartu lirrahmaani Shauma” (sesungguhnya aku bernadzar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih untuk berpuasa). (Maryam: 26). Puasa di sini maksudnya menahan diri dari berbicara.

    Sedang menurut istilah ulama fiqh (terminologi), puasa berarti menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa disertai niat pada malam harinya, sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

    Keutamaan Puasa

    1. Puasa itu untuk Allah (sebagai penghargaan dari-Nya), bukan untuk manusia. Artinya Allah-lah yang langsung membalasnya.

    Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, Allah Azza wa Jalla berfirman (dalam hadis Qudsi-Nya), “Semua amalan manusia adalah untuk dirinya, kecuali puasa, maka itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberinya ganjaran Puasa itu merupakan benteng, maka ketika datang saat berpuasa, janganlah seorang berkata keji atau berteriak-teriak atau mencai-maki. Seandainya dia dicaci oleh seseorang atau diajak berkelahi, hendaknya dia menjawab, ‘saya ini berpuasa’ dua kali. Demi Allah yang jiwa raga Muhammad berada pada ‘tangan’-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum daripada bau minyak kesturi. Dan orang yang berpuasa itu akan mendapat dua kegembiraan yang menyenangkan hati, yaitu di saat berbuka, ia akan bergembira dengan berbuka itu dan di saat ia menemui Tuhannya nanti, ia akan bergembira dengan puasanya.” (HR Muslim, Nasa’i dan Ahmad).

    Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Puasa itu merupakan benteng. Maka jika salah seorang di antara kalian berpuasa, janganlah ia berkata keji dan mencaki-maki. Seandainya ada orang yang mengajaknya berkelahi atau mencaci-makinya, hendaklah ia berkata, ‘saya ini berpuasa’ dua kali. Demi Allah yang jiwa raga Muhammad berada pada tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari bau minyak kesturi. Ia meninggalkan makan dan minum dan nafsu syahwatnya karena Aku. Puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku akan memberinya pahala. Sedang setiap kebajikan itu akan mendapat pahala sepuluh kali lipat.” (HR Bukhari dan Abu Daud)

    2. Apabila puasa itu dilaksanakan dengan baik dan benar, ia akan bisa memberikan syafa’at kepada orang yang melakukannya.

    “Puasa dan Alquran itu akan memberi syafaat bagi hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, ‘Ya Tuhan, Engkau larang ia makan dan memuaskan syahwatnya di waktu siang dan sekarang ia meminta syafaat kepadaku karena itu’. Lalu Alquran pun berkata, ‘Engkau larang ia tidur di waktu malam, sekarang ia meminta syafaat kepadaku mengenai itu.’ Akhirnya, syafaat kedua mereka pun di terima oleh Allah SWT.” (HR Ahmad dengan sanad yang sahih).

    3. Puasa akan dapat memasukkan orang yang melakukannya ke sorga dan menjauhkannya dari neraka.

    Dari Abu Umamah berkata, saya datang kepada Rasulullah saw lalu saya berkata kepadanya, “Perintahlah aku dengan semacam amal yang akan dapat memasukkanku ke sorga”, maka Nabi saw bersabda: “Hendaklah kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada tandingannya”. Lalu aku datangi Nabi untuk kali keduanya, maka Nabi saw bersabda: “Hendaklah kamu berpuasa.” (HR Ahmad, Nasa’i dan Hakim seraya menshahihkannya).

    Dari Abu Sa’id al-Khudri ra, Nabi saw bersabda, “Tidaklah seorang hamba itu berpuasa satu hari karena Allah kecuali Allah mesti menjauhkan dirinya dari neraka sebab puasa itu selama tujuh puluh tahun.” (HR al-Jama’ah [sekelompok ulama hadis] kecuali Abu Daud).

    Dari Sahl bin Sa’d, Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya sorga itu mempunyai sebuah pintu yang disebut ‘ar-Rayyan’ (artinya basah yang melimpah). Pada hari Kiamat akan dipanggil-panggil: “Hai, mana orang-orang yang berpuasa?” Lalu bila orang yang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu itu pun ditutupkanlah.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Keutamaan Bulan Ramadhan

    1. Pintu-pintu sorga (jalan-jalan menuju kebaikan) dibuka, pintu-pintu neraka (jalan-jalan menuju amal jelek) ditutup dan syetan-syetan (provokator amal kejahatan) dibelenggu Allah SWT.

    Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda -yakni ketika datang bulan Ramadhan-, “Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah, Allah telah mewajibkan kamu berpuasa. Pada bulan itu pintu-pintu sorga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam yang nilainya lebih berharga daripada seribu bulan. Maka, barangsiapa tidak berhasil memperoleh kebaikannya, sungguh ia tidak akan mendapatkan kebaikan itu selama-lamanya.” (HR Ahmad, Nasa’i dan Baihaqi).

    2. Orang yang melakukan kebaikan di bulan itu diperintah berbahagia dan orang yang melakukan kejahatan di bulan itu diperintah berhenti.

    “…dan seorang malaikat akan berseru, ‘Wahai pencari kebaikan, bergembiralah. Wahai pecinta kejahatan, berhentilah.” (HR Ahmad dan Nasa’i dengan sanad yang baik).

    3. Puasa Ramadhan yang kita lakukan ini menjadi pelebur atas dosa -dosa yang telah kita lakukan dari satu Ramadhan ke Ramadhan yang lain.

    Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Salat yang lima waktu, Salat Jum’at yang satu ke salat Jum’at yang lain itu menghapuskan kesalahan-kesalahan yang terdapat di antara masing-masing selama dosa besar itu dijauhi.” (HR Muslim).

    4. Apabila puasa Ramadhan itu dilakukan dengan ikhlas, maka diampunilah semua dosa-dosanya yang telah lampau.

    Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan ridha Allah SWT, maka akan diampunilah dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR Ah Ahmad, dan Ashabus Sunan).

    Referensi:

    1. Fiqhus Sunnah, Sayyid sabiq

    2. Tamamul Minnah, Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:13 am on 27 June 2015 Permalink | Balas  

    Spiritualisme dan Materialisme. 

    puasa 4Spiritualisme dan Materialisme.

    Puasa Ramadhan hakekatnya adalah melatih dan mengajari naluri (instink) manusia yang cenderung tak terkontrol. Naluri yang sulit terkotrol dan terkendali itu adalah naluri perut yang selalu menuntut untuk makan dan minum dan naluri seks yang selalu bergelora sehingga manusia kewalahan untuk mengekang dua naluri ini. Dalam sejarah manusia didapatkan dua falsafah yang dapat menguasai dan mendominasi kebanyakan manusia, yakni falsafah materialisme yang berorientsi pada materi saja, dan falsafah spiritualisme yang hanya berorientasi pada rohaniah saja.

    Orang-orang yang berorientasi materi – terdiri dari orang-orang atheis, komunis dan animisme dan berhalaisme – mereka hidup untuk dunianya saja. Mereka melepaskan kenhendak nalurinya dan tak pernah puas. Bila terpenuhi satu keinginannya, timbul keinginan baru begitu seterusnya. Sahwat manusia bila sudah terbakar maka akan mengheret dari sedikit ke yang banyak, dari banyak ke yang terbanyak. Allah mengecam orang-orang seperti ini: “Biarkanlah mereka makan, dan bersenang-senang, mereka dilalaikan oleh angan-angan dan mereka akan mengetahui akibatnya”.(QS Al Hijr 3). Ayat lain: “Orang-orang kafir mereka bersenang-senang dan makan seperti binatang ternak makan. Dan neraka adalah tempat tinggalnya”.(QS Muhammad 12) Mereka hidup di dunia ini dalam keadaan kosong. Jiwanya dikuasai nafsunya, m enghalalkan segala cara, dan dihari kiamat nanti mereka mendapat balasan yang setimpal. “Demikian itu bersenang-senang di bumi tanpa haq dan mereka sombong”.(QS Ghofir 75)

    Sementara filsafat spiritualisme yang didasarkan pada kerahiban, berpandangan bahwa pengabdian kepada Tuhan harus menekan naluri seks mengikis habis pendorong-pendorongnya dan mematikannya yang juga diatasi dengan mengurangi makan. Dengan kata lain mereka masuk dalam kancah peperangan melawan jasad manusiawinya. Filsafat ini dilakukan oleh gereja sejak dahulu kala. Orang-orang Barat dewasaa ini melepaskan diri dari filsafat gereja, mereka menggunakan waktu dan harta kekayaannya untuk memenuhi sahwat jasmaninya. Filsafat spiritualismenya telah lenyap, bahkan gereja-gereja sudah tiada lagi pengunjungnya walaupun pada hari Minggu. Seandainya masih ada, itu hanya sekelompok minoritas yang hidup di dunia Islam.

    Agama Islam adalah agama yang seimbang. Ia menghormati rohani dan jasmani sekaligus, ia memperhatikan nilai-nilai ideal manusia, tapi juga menjamin kebutuhan hidup naluri duniawinya asal dalam ruang keutamaan, ketaatan, kehormatan. Ia membolehkan manusia makan dengan catatan dalam batas kewajaran dan kehormatan. “Makanlah dan minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan tidak diiringi kesombongan”.(HR Bikhari) Islam mengimbangkan antara ruhani dan jasmani. “Ya Allah, a ku berlindung kepadamu dari lapar, karena sesungguhnya seburuk- buruk tidur adalah dalam keadaan lapar. Dan aku berlindung kepadamu dari khianat, karena itu adalah seburuk-buruk suasana kejiwaan”.(HR Abu Daud) Islam memperhatikan kehidupan dunia dan akherat, “Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertaqwa: Apa yang Tuhan kalian turunkan? mereka berkata: ‘Keuntungan bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini dan akherat lebih baik, dan sebaik tempat bagi orang-orang yang bertaqwa”.(QS AN Nahl 30)

    Ajaran Islam datang untuk mensucikan manusia, mengangkat darjatnya, ia mensucikan fisikalnya dengan mandi dan berwudlu, mensucikan jiwanya denga ruku’ dan sujud. Islam adalah jasmani dan ruhani, dunia dan akherat dengan falsafah puasa. Islam menegaskan bahwa manusia terdiri dari jasmani dan ruhani. Nilai manusia tidak terletak pada jasadnya, akan tetapi terletak pada ruhani yang menggerakkannya. Kerena ruhani inilah, Allah memerintahkan pada malaikatnya untuk hormat kepada manusia, karena ruhani datangnya dari Allah swt. Firman Allah: “Ingatlah diwaktu Tuhanmu berkata kepada para malaiakat: “Aku menciptakan manusia dari tanah, dan setelah aku sempurnakan aku tiupkan kedalamnya ruh-Ku, maka hormatlah kalian kepadanya”.(QS ShAd 71-72) Setelah itu manusia ada yang mengenali siapa yang meniupkan ruh kapadanya dan yang memuliakannya atas seluruh makhluknya. Mereka itu akan bersyukkur kepada pemberi nikmat, sementara ada manusia-manusia yang melupakan Tuhannya, melupakan kepada dzat yang meniupkan ruh kepadanya.

    Demikian juga halnya kebudayaan. Kebudayaan yang memegang kendali alam sekarang ini telah melupakan Tuhannya, melalaikan haknya. Dunia ini tidak memiliki kebudayaan yang mengakui ruhani dan jasmani, berorientasi dunia dan akherat dan menentukan hak-hak manusia disamping hak-hak Allah -kebudayaan Islam-. Puasa Ramadhan sebagaimana Rasulullah jelaskan dapat mengangkat derajat pelakunya menjadi unsur rahmat, kedamaian, ketenangan, kesucian jiwa, aklaq mulia dan perilaku yang indah ditengah-tengah masyarakat. “Bila salah seorang dari kalian berpuasa maka hendaknya ia tidakberbicara buruk dan aib. dan jangan berbicara yang tiada manfaatnya dan bila dimaki seseorang maka berkatalah, ‘Aku berpuasa'”. (HR. Bukhori). Dalam bulan Ramadhan terdapat filsafat Islam yang mengaitkan dunia dengan akhirat, mengaitkan jasmani dan ruhani, mengaitkan bumi dengan langit, mengaitkan manusia dengan wahyu, dan mengaitkan dunia dengan kitab yang menerangi jalannya dan menetukan tujuannya

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:10 am on 26 June 2015 Permalink | Balas  

    Panduan Shalat ‘Iedul Fithri Dan ‘Iedul Adhha 

    jamaah3Panduan Shalat ‘Iedul Fithri Dan ‘Iedul Adhha

    1. Diriwayatkan dari Abu Said, ia berkata : Adalah Nabi saw. pada hari raya ‘iedul fitri dan ‘iedul adhha keluar ke mushalla (padang untuk shalat), maka pertama yang beliau kerjakan adalah shalat, kemudian setelah selesai beliau berdiri menghadap kepada manusia sedang manusia masih duduk tertib pada shof mereka, lalu beliau memberi nasihat dan wasiat (khutbah) apabila beliau hendak mengutus tentara atau ingin memerintahkan sesuatu yang telah beliau putuskan,beliau perintahkan setelah selesai beliu pergi. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    2. Telah berkata Jaabir ra: Saya menyaksikan shalat ‘ied bersama Nabi saw. beliau memulai shalat sebelum khutbah tanpa adzan dan tanpa iqamah, setelah selesai beliau berdiri bertekan atas Bilal, lalu memerintahkan manusia supaya bertaqwa kepada Allah, mendorong mereka untuk taat, menasihati manusia dan memperingakan mereka, setelah selesai beliau turun mendatangai shaf wanita dan selanjutnya beliau memperingatkan mereka. (H.R : Muslim)
    3. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Umar mendapati pakaian tebal dari sutera yang dijual, lalu beliau mengambilnya dan membawa kepada Rasulullah saw. lalu berkata : Yaa Rasulullah belilah pakaian ini dan berhiaslah dengannya untuk hari raya dan untuk menerima utusan. Maka beliaupun menjawab : Sesungguhnya pakaian ini adalah bagian orang-orang yang tidak punya bagian di akherat (yakni orang kafir). (H.R Bukhary dan Muslim)
    4. Diriwayatkan dari Ummu ‘Atiyah ra. ia berkata : Rasulullah saw. memerintahkan kami keluar pada ‘iedul fitri dan ‘iedul adhha semua gadis-gadis, wanita-wanita yang haidh, wanita-wanita yang tinggal dalam kamarnya. Adapun wanita yang sedang haidh mengasingkan diri dari mushalla tempat shalat ‘ied), mereka meyaksikan kebaikan dan mendengarkan da’wah kaum muslimin (mendengarkan khutbah). Saya berkata : Yaa Rasulullah bagaimana dengan kami yang tidak mempunyai jilbab? Beliau bersabda : Supaya saudaranya meminjamkan kepadanya dari jilbabnya. (H.R : Jama’ah)
    5. Diriwayatkan dariAnas bin Malik ra. ia berkata : Adalah Nabi saw. Tidak berangkat menuju mushalla kecuali beliau memakan beberapa biji kurma, dan beliau memakannya dalam jumlah bilangan ganjil. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    6. Diriwayatkan dari Buraidah ra. ia berkata : Adalah Nabi saw keluar untuk shalat ‘iedul fitri sehingga makan terlebih dahulu dan tidak makan pada shalat ‘iedul adhha sehingga beliau kembali dari shalat ‘ied. (H.R :Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan Ahmad)
    7. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : Bahwasanya Nabi saw. Keluar untuk shalat ‘iedul fitri dua raka’at, tidak shalat sunah sebelumnya dan tidak pula sesudahnya. (H.R : Bukhary dan Muslim)
    8. Diriwayatkan dari Jaabir ra. ia berkata : Adalah Nabi saw apabila keluar untuk shalat ‘ied ke mushalla, beliau menyelisihkan jalan (yakni waktu berangkat melalui satu jalan dan waktu kembali melalui jalan yang lain (H.R : Bukhary)
    9. Diriwayatkan dari Yazid bin Khumair Arrahbiyyi ra. ia berkata : Sesungguhnya Abdullah bin Busri seorang sahabat nabi saw. Keluar bersama manusia untuk shalat ‘iedul fitri atau ‘iedul adhha, maka beliau mengingkari keterlambatan imam, lalu berkata : Sesungguhnya kami dahulu (pada zaman Nabi saw.) pada jam-jam seperti ini sudah selesai mengerjakan shalat ‘ied. Pada waktu ia berkata demikian adalah pada shalat dhuha. (H.R : Abu Daud dan Ibnu Majah)
    10. Diriwayatkan dari Abi Umair bin Anas, diriwayatkan dari seorang pamannya dari golongan Anshar, ia berkata : Mereka berkata : Karena tertutup awan maka tidak terlihat oleh kami hilal syawal, maka pada pagi harinya kami masih tetap shaum, kemudian datanglah satu kafilah berkendaraan di akhir siang, mereka bersaksi dihadapan Rasulullah saw.bahwa mereka kemarin melihat hilal. Maka Rasulullah saw. memerintahkan semua manusia (ummat Islam) agar berbuka pada hari itu dan keluar menunaikan shalat ‘ied pada hari esoknya. (H.R : Lima kecuali At-Tirmidzi)
    11. Diriwayatkan dari Azzuhri, ia berkata : Adalah manusia (para sahabat) bertakbir pada hari raya ketika mereka keluar dari rumah-rumah mereka menuju tempat shalat ‘ied sampai mereka tiba di mushalla (tempat shalat ‘ied) dan terus bertakbir sampai imam datang, apabila imam telah datang, mereka diam dan apabila imam ber takbir maka merekapun ikut bertakbir. (H.R : Ibnu Abi Syaibah)
    12. Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud ra. bertakbir pada hari-hari tasyriq dengan lafadz sbb : (artinya) : Allah maha besar, Allah maha besar, tidak ada Illah melainkan Allah dan Allah maha besar, Allah maha besar dan bagiNya segala puji. (H.R Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih)
    13. Diriwayatkan dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari neneknya, ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw. bertakbir pada shalat ‘ied dua belas kali takbir. dalam raka’at pertama tujuh kali takbir dan pada raka’at yang kedua lima kali takbir dan tidak shalat sunnah sebelumnya dan juga sesudahnya. (H.R : Amad dan Ibnu Majah)
    14. Diriwayatkan dari Samuroh, ia berkata : Adalah Nabi saw. Dalam shalat kedua hari raya beliau membaca : Sabihisma Rabbikal A’la dan hal ataka haditsul ghosiah. (H.R : Ahmad)
    15. Diriwayatkan dari Abu Waqid Allaitsi, ia berkata : Umar bin Khaththab telah menanyakan kepadaku tentang apa yang dibaca oleh Nabi saw. Waktu shalat ‘ied . Aku menjawab : beliau membaca surat (Iqtarabatissa’ah) dan Qaaf walqur’anul majid). (H.R : Muslim)
    16. Diriwayatkan dari Zaid bin Arqom ra. ia berkata : Nabi saw. Mendirikan shalat ‘ied, kemudian beliau memberikan ruhkshah / kemudahan dalam menunaikan shalat jum’at, kemudian beliau bersabda : Barang siapa yang mau shalat jum’ah, maka kerjakanlah. (H.R : Imam yang lima kecuali At-Tirmidzi)
    17. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi saw. Bersabda pada hari kamu ini, telah berkumpul dua hari raya (hari jum’ah dan hari raya), maka barang siapa yang suka shalat jum’ah, maka shalatnya diberi pahala sedang kami akan melaksanakan shalat jum’ah. (H.R : Abu Daud)

    KESIMPULAN

    Hadits-hadits tersebut memberi pelajaran kepada kita tentang adab-adab shalat hari raya sbb :

    Pakaian

    Pada saat mendirikan shalat kedua hari raya disunnahkan memakai pakaian yang paling bagus. (dalil : 3)

    Makan

    a. Sebelum berangkat shalat hari raya fitri disunnahkan makan terlebih dahulu, jika terdapat beberapa butir kurma , jika tidak ada maka makanan apa saja.

    b. Sebaliknya pada hari raya ‘iedul adhha, disunnahkan tidak makan terlebih dahulu sampai selesai shalat ‘iedul adhha. (dalil : 5 dan 6)

    Mendengungkan takbir

    a. Pada hari raya ‘iedul fitri, takbir didengungkan sejak keluar dari rumah menuju ke tempat shalat dan sesampainya di tempat shalat terus dilanjutkan takbir didengungkan sampai shalat dimulai. (dalil : 11)

    b. Pada hari raya ‘iedul adhha, takbir boleh didengungkan sejak Shubuh hari Arafah (9 Dzul Hijjah) hingga akhir hari tasyriq (13 Dzul Hijjah). (dalil : 12)

    Jalan yang dilalui

    Disunnahkan membedakan jalan yang dilalui waktu berangkat shalat hari raya dengan jalan yang dilalui di waktu pulang dari shalat ‘ied (yakni waktu berangkat melalui satu jalan, sedang waktu pulang melalui jalan yang lain). (dalil : 8)

    Bila terlambat mengetahui tibanya hari raya

    Apabila datangnya berita tibanya hari raya sudah tengah hari atau petang hari, maka hari itu diwajibkan berbuka sedang pelaksanaan shalat hari raya dilakukan pada hari esoknya. dalil : 10)

    Yang menghadiri shalat ‘ied

    Shalat ‘ied disunnahkan untuk dihadiri oleh orang dewasa baik laki-laki maupun wanita, baik wanita yang suci dari haidh maupun wanita yang sedang haidh dan juga kanak-kanak baik laki-laki maupun wanita. Wanita yang sedang haidh tidak ikut shalat, tetapi hadir untuk mendengarkan khutbah ‘ied. (dalil :4)

    Tempat shalat ‘ied

    Shalat ‘ied lebih afdhal (utama) diadakan di mushalla yaitu suatu padang yang di sediakan untuk shalat ‘ied, kecuali ada uzur hujan maka shalat diadakan di masjid. Mengadakan shalat ‘ied di masjid padahal tidak ada hujan sementara lapangan (padang) tersedia, maka ini kurang afdhal karena menyelisihi amalan Rasulullah saw. yang selalu mengadakan shalat ‘ied di mushalla (padang tempat shalat), kecuali sekali dua kali beliau mengadakan di masjid karena hujan. (dalil : 1 dan 8)

    Cara shalat ‘ied

    a. Shalat ‘ied dua raka’at, tanpa adzan dan iqamah dan tanpa shalat sunnah sebelumnya dan sesudahnya. (dalil : 1,2 dan 7)

    b. Pada raka’at pertama setelah takbiratul ihram sebelum membaca Al-Fatihah, ditambah 7 kali takbir. Sedang pada raka’at yang kedua sebelum membaca Al-Fatihah dengan takbir lima kali. (dalil 13)

    c. Setelah membaca Fatihah pada raka’at pertama di sunnahkan membaca surat (sabihisma Rabbikal a’la / surat ke 87) atau surat iqtarabatissa’ah / surat ke 54). Dan setelah membaca alFatihah pada raka’at yang kedua disunnahkan membaca surat (Hal Ataka Haditsul Ghaasyiyah / surat ke 88) atau membaca surat (Qaaf walqur’anul majid / surat ke 50).(dalil : 15)

    d. Setelah selesai shalat , imam berdiri menghadap makmum dan berkhutbah memberi nasihat-nasihat dan wasiat-wasiat, atau perintah-perintah penting.

    e. Khutbah hari raya ini boleh diadakan khusus untuk laki-laki kemudian khusus untuk wanita.

    f. Khutbah hari raya ini tidak diselingi duduk .(dalil : 1 dan 2)

    Waktu shalat

    Shalat ‘ied diadakan setelah matahari naik, tetapi sebelum masuk waktu shalat dhuha. (dalil : 9)

    Hari raya jatuh pada hari jum’ah Bila hari raya jatuh pada hari jum’ah, maka shalat jum’ah menjadi sunnah, boleh diadakan dan boleh tidak, tetapi untuk pemuka umat atau imam masjid jami’ sebaiknya tetap mengadakan shalat jum’at. (dalil : 16 dan 17)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 5:02 am on 25 June 2015 Permalink | Balas  

    Panduan Mengeluarkan Zakat Fitrah 

    zakatPanduan Mengeluarkan Zakat Fitrah

    1. Diriwayatkan dari Ibnu Umar t.ia berkata : Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah dari bulan Ramadhan satu sha’ dari kurma, atau satu sha’ dari sya’iir. atas seorang hamba, seorang merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslilmin. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    2. Diriwayatkan dari Umar bin Nafi’ dari ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata ; Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari sya’iir atas seorang hamba, merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin dan beliau memerintahkan agar di tunaikan / dikeluarkan sebelum manusia keluar untuk shalat ‘ied. (H. R : Al-Bukhary, Abu Daud dan Nasa’i)
    3. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : Rasulullah saw telah memfardhukan zakat fithrah untuk membersihkan orang yang shaum dari perbuatan sia-sia dan dari perkataan keji dan untuk memberi makan orang miskin. Barang siapa yang mengeluarkannya sebelum shalat, maka ia berarti zakat yang di terima dan barang siapa yang mengeluarkannya sesudah shalat ‘ied, maka itu berarti shadaqah seperti shadaqah biasa (bukan zakat fithrah). (H.R : Abu Daud, Ibnu Majah dan Daaruquthni)
    4. Diriwayatkan dari Hisyam bin urwah dari ayahnya dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. bersabda : Tangan di atas (memberi dan menolong) lebih baik daripada tangan di bawah (meminta-minta), mulailah orang yang menjadi tanggunganmu (keluarga dll) dan sebaik-baik shadaqah adalah yang di keluarkan dari kelebihan kekayaan (yang di perlukan oleh keluarga) (H.R : Al-Bukhary dan Ahmad)
    5. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Rasulullah sw. memerintahkan untuk mengeluarkan zakat fithrah unutk anak kecil, orang dewasa, orang merdeka dan hamba sahaya dari orang yang kamu sediakan makanan mereka (tanggunganmu). (H.R : Daaruquthni, hadits hasan)
    6. Artinya : Diriwayatkan dari Nafi’ t. berkata : Adalah Ibnu Umar menyerahkan (zakat fithrah) kepada mereka yang menerimanya (panitia penerima zakat fithrah / amil) dan mereka (para sahabat) menyerahkan zakat fithrah sehari atau dua hari sebelum ‘iedil fitri. (H.R.Al-Bukhary)
    7. Diriwayatkan dari Nafi’ : Bahwa sesungguhnya Abdullah bin Umar menyuruh orang mengeluarkan zakat fithrah kepada petugas yang kepadanya zakat fithrah di kumpulkan (amil) dua hari atau tiga hari sebelum hari raya fitri. (H.R: Malik)

    KESIMPULAN

    Hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa :

    1. Wajib bagi tiap kaum muslimin untuk mengeluarkan zakat fithrah untuk dirinya , keluarganya dan orang lain yang menjadi tanggungannya baik orang dewasa, anak kecil, laki-laki maupun wanita. (dalil : 1,2 dan 5)
    2. Yang wajib mengeluarkan zakat fithrah adalah yang mempunyai kelebihan dari keperluan untuk dirinya dan keluarganya. (dalil : 4)
    3. Sasaran zakat fithrah adalah dibagikan kepada kaum miskin dari kalangan kaum muslimin. (dalil : 3)
    4. Zakat fithrah dikeluarkan dari makanan pokok (di negeri kita adalah beras) sebanyak lebih kurang 3,1 liter untuk seorang. (dalil : 1 dan 2)
    5. Cara menyerahkan zakat fithrah adalah sebagai berikut :

    a. Bila diserahkan langsung kepada yang berhak (fakir miskin muslim) waktu penyerahannya adalah sebelum shalat ‘ied yakni malam hari raya atau setelah shalat Shubuh sebelum shalat ‘iedul fitri. (dalil : 2 dan 3)

    b. Bila diserahkan kepada amil zakat fithrah (orang yang bertugas mengumpulkan zakat fithrah), boleh diserahkan tiga,dua atau satu hari sebelum hari raya ‘iedul fitri. (dalil : 6 dan 7)

    1. Zakat fithrah disyari’atkan untuk membersihkan pelaksanaan shaum Ramadhan dari perbuatan sia-sia dan perkataan keji di waktu shaum. (dalil : 3)

    ***

    Dari Sahabat

     
    • cvnadagroup2017 6:01 am on 25 Juni 2015 Permalink

      good pos

  • erva kurniawan 11:02 am on 24 June 2015 Permalink | Balas  

    Panduan I’tikaf Ramadhan 

    itikaf2Panduan I’tikaf Ramadhan

    Diantara rangkaian ibadah-ibadah dalam bulan suci Ramadhan yang dangat dipelihara sekaligus diperintahkan (dianjurkan ) oleh Rasulullah SAW adalah i’tikaf. setiap muslim dianjurkan (disunnatkan) untuk beri’tikaf di masjid, terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. I’tikaf merupakan sarana meditasi dan kontemplasi yang sangat efektif bagi muslim dalam memelihara keislamannya khususnya dalam era globalisasi, materialisasi dan informasi kontemporer.

    Definisi I’tikaf

    Para ulama mendefinisikan i’tikaf yaitu berdiam atau tinggal di masjid dengan adab-adab tertentu, pada masa tertentu dengan niat ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT . Ibnu Hazm berkata: I’tikaf adalah berdiam di masjid dengan niat taqorrub kepada Allah SWT pada waktu tertentu pada siang atau malam hari. ( al Muhalla V/179)

    Hukum I’tikaf

    Para ulama telah berijma’ bahwa i’tikaf khususnya 10 hari terakhir bulan Ramadhan merupakan suatu ibadah yang disyariatkan dan disunnatkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sendiri senantiasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari. A’isyah, Ibnu Umar dan Anas ra meriwayatkan: “Adalah Rasulullah SAW beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan ” HR. Bukhori & Muslim) Hal ini dilakukan oleh beliau hingga wafat, kecuali pada tahun wafatnya beliau beri’tikaf selama 20 hari. Demikian halnya para shahabat dan istri beliau senantiasa melaksanakan ibadah yang amat agung ini. Imam Ahmad berkata: ” Sepengetahuan saya tak seorang pun ulama mengatakan i’tikaf bukan sunnat”.

    Fadhilah ( keutamaan ) I’tikaf

    Abu Daud pernah bertanya kepada Imam Ahmad: Tahukan anda hadits yang menunjukkan keutamaan I’tikaf? Ahmad menjawab : tidak kecuali hadits lemah. Namun demikian tidaklah mengurangi nilai ibadah I’tikaf itu sendiri sebagai taqorrub kepada Allah SWT. Dan cukuplah keuatamaanya bahwa Rasulullah SAW, para shahabat, para istri Rasulullah SAW dan para ulama’ salafus sholeh senantiasa melakukan ibadah ini.

    Macam-macam I’tikaf

    I’tikaf yang disyariatkan ada dua macam; satu sunnah, dan dua wajib. I’tikaf sunnah yaitu yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk bertaqorrub kepada Allah SWT seperti i’tikaf 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dan I’tikaf yang wajib yaitu yang didahului dengan nadzar (janji), seperti : “Kalau Allah SWT menyembuhkan sakitku ini, maka aku akan beri’tikaf.

    Waktu I’tikaf

    Untuk i’tikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinadzarkan , sedangkan i’tikaf sunnah tidak ada batasan waktu tertentu. Kapan saja pada malam atau siang hari, waktunya bisa lama dan juga bisa singkat. Ya’la bin Umayyah berkata: ” Sesungguhnya aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk i’tikaf”.

    Syarat-syarat I’tikaf

    Orang yang i’tikaf harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut : 1. Muslim.

    2. Berakal

    3. Suci dari janabah ( junub), haidh dan nifas.

    Oleh karena itu i’tikaf tidak diperbolehkan bagi orang kafir, anak yang belum mumaiyiz (mampu membedakan), orang junub, wanita haidh dan nifas.

    Rukun-rukun I’tikaf

    1. Niat (QS. Al Bayyinah : 5), (HR: Bukhori & Muslim tentang niat)

    2. Berdiam di masjid (QS. Al Baqoroh : 187)

    Disini ada dua pendapat ulama tentang masjid tempat i’tikaf . Sebagian ulama membolehkan i’tikaf disetiap masjid yang dipakai shalat berjama’ah lima waktu. Hal itu dalam rangka menghindari seringnya keluar masjid dan untuk menjaga pelaksanaan shalat jama’ah setiap waktu. Ulama lain mensyaratkan agar i’tikaf itu dilaksanakan di masjid yang dipakai buat shalat jum’at, sehingga orang yang i’tikaf tidak perlu meninggalkan tempat i’tikafnya menuju masjid lain untuk shalat jum’at. Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafi’iyah bahwa yang afdhol yaitu i’tikaf di masjid jami’, karena Rasulullah SAW i’tikaf di masjid jami’. Lebih afdhol di tiga masjid; masjid al-Haram, masjij Nabawi, dan masjid Aqsho.

    Awal dan akhir I’tikaf

    Khusus i’tikaf Ramadhan waktunya dimulai sebelum terbenam matahari malam ke 21. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : ” Barangsiapa yang ingin i’tikaf dengan ku, hendaklah ia beri’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan (HR. Bukhori). 10 (sepuluh) disini adalah jumlah malam, sedangkan malam pertama dari sepuluh itu adalah malam ke 21 atau 20. Adapun waktu keluarnya atau berakhirnya, kalau i’tikaf dilakukan 10 malam terakhir, yaitu setelah terbenam matahari, hari terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi beberapa kalangan ulama mengatakan yang lebih mustahab (disenangi) adalah menuggu sampai shalat ied.

    Hal-hal yang disunnahkan waktu i’tikaf

    Disunnahkan agar orang yang i’tikaf memperbanyak ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT , seperti shalat, membaca al-Qur’an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat kepada Nabi SAW, do’a dan sebagainya. Termasuk juga didalamnya pengajian, ceramah, ta’lim, diskusi ilmiah, tela’ah buku tafsir, hadits, siroh dan sebagainya. Namun demikian yang menjadi prioritas utama adalah ibadah-ibadah mahdhah. Bahkan sebagian ulama meninggalkan segala aktifitas ilmiah lainnya dan berkonsentrasi penuh pada ibadah-ibadah mahdhah.

    Hal-hal yang diperbolehkan bagi mu’takif (orang yang beri’tikaf)

    1. Keluar dari tempat i’tikaf untuk mengantar istri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW terhadap istrinya Shofiyah ra. (HR. Riwayat Bukhori Muslim)

    2. Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan bau badan.

    3. Keluar dari tempat keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan kecil, makan, minum (jika tidak ada yang mengantarkannya), dan segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di masjid. Tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluanya .

    4. Makan, minum, dan tidur di masjid dengan senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.

    Hal-hal yang membatalkan I’tikaf

    1. Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan, meski sebentar, karena meninggalkan salah satu rukun i’tikaf yaitu berdiam di masjid.

    2. Murtad ( keluar dari agama Islam ) (QS. 39: 65

    3. Hilangnya akal, karena gila atau mabuk

    4. Haidh

    5. Nifas

    6. Berjima’ (bersetubuh dengan istri) (QS. 2: 187). Akan tetapi memegang tanpa syahwat, tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan istri- istrinya.

    7. Pergi shalat jum’at ( bagi mereka yang membolehkan i’tikaf di mushalla yang tidak dipakai shalat jum’at)

    I’tikaf bagi Muslimah

    I’tkaf disunnahkan bagi wanita sebagaimana disunnahkan bagi pria. Selain syarat-syarat yang disebutkan tadi, i’tikaf bagi kaum wanita harus memenuhi syarat-syarat lain sbb:

    1. Mendapat izin (ridlo) suami atau orang tua. Hal itu disebabkan karena ketinggian hak suami bagi istri yang wajib ditaati, dan juga dalam rangka menghindari fitnah yang mungkin terjadi.

    2. Agar tempat i’tikaf wanita memenuhi kriteria syari’at.

    Kita telah mengetahui bahwa salah satu rukun atau syarat i’tikaf adalah masjid. Untuk kaum wanita, ulama sedikit berbeda pendapat tentang masjid yang dapat dipakai wanita beri’tikaf. Tetapi yang lebih afdhol- wallahu ‘alam- ialah tempat shalat di rumahnya. Oleh karena bagi wanita tempat shalat dirumahnya lebih afdhol dari masjid wilayahnya. Dan masjid di wilayahnya lebih afdhol dari masjid raya. Selain itu lebih seiring dengan tujuan umum syari’at Islamiyah, untuk menghindarkan wanita semaksimal mungkin dari tempat keramaian kaum pria, seperti tempat ibadah di masjid. Itulah sebabnya wanita tidak diwajibkan shalat jum’at dan shalat jama’ah di masjid. Dan seandainya ke masjid ia harus berada di belakang. Kalau demikian, maka i’tikaf yang justru membutuhkan waktu lama di masjid , seperti tidur, makan, minum, dan sebagainya lebih dipertimbangkan. Ini tidak berarti i’tikaf bagi wanita tidak diperboleh di masjid. Wanita bisa saja i’tikaf di masjid dan bahkan lebih afdhol apabila masjid tersebut menempel dengan rumahnya, jama’ahnya hanya wanita, terdapat tempat buang air dan kamar mandi khusus dan sebagainya. Wallahu ‘alam.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 23 June 2015 Permalink | Balas  

    Panduan Menggapai Lailatul Qodar 

    malam lailatul qodrPanduan Menggapai Lailatul Qodar

    Muqadimah

    Sesudah disyariatkannya ibadah shaum, dan agar umat Islam dapat merealisasikan nilai taqwa, Allah SWT melengkapi nikmat-Nya dengan memberikan adanya “Lailat al qodr”. Allah berfirman : ” Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada ” Lailat al qodr”. Tahukah kalian apakah ” Lailat al qodr” ?. Itulah malam yang lebih utama dari pada seribu bulan” (QS. Al Qodr : 1-3)

    Keutamaan Lailat al Qodr

    Ayat yang dikutip di atas jelas menunjukkan nilai utama dari ” Lailat al qodr”. Mengomentari ayat di atas Anas bin Malik ra menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan keutamaan disitu adalah bahwa amal ibadah seperti shalat, tilawah al-Qur’an, dan dzikir serta amal sosial (seperti shodaqoh dana zakat), yang dilakukan pada malam itu lebih baik dibandingkan amal serupa selama seribu bulan (tentu di luar malam lailat al qodr sendiri). Dalam riwayat lain Anas bin Malik juga menyampaikan keterangan Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya Allah mengkaruniakan ” Lailat al qodr” untuk umatku, dan tidak memberikannya kepada umat-umat sebelumnya.

    Sementara berkenaan dengan ayat 4 surat al qodr, Abdullah bin Abbas ra menyampaikan sabda Rasulullah bahwa pada saat terjadinya lailat al qodr, para malaikat turun kebumi menghampiri hamba-hamba Allah yang sedang qiyam al lail, atau melakukan dzikir, para malaikat mengucapkan salam kepada mereka. Pada malam itu pintu-pintu langit dibuka, dan Allah menerima taubat dari para hambaNya yang bertaubat. Dalam riwayat Abu Hurairah ra, seperti dilaporkan oleh Bukhori, Muslim dan al Baihaqi, Rasulullah SAW juga pernah menyampaikan , “barangsiapa melakukan qiyam ( shalat malam) pada lailat al qodr, atas dasar iman serta semata-mata mencari keridloan Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang pernah dilakukannya”. Demikian banyaknya keutamaan lailat al qodr, sehingga Ibnu Abi Syaibah pernah menyampaikan ungkapan al Hasan al Bashri, katanya : ” Saya tidak pernah tahu adanya hari atau malam yang lebih utama dari malam yang lainnya, kecuali ‘ Lailat al qodr’, karena lailat al qodr lebih utama dari (amalan) seribu bulan”.

    Hukum “Menggapai” Lailat al Qodr.

    Memperhatikan pada arahan (taujih) Rasulullah SAW, serta contoh yang beliau tampilkan dalam upaya “menggapai” lailat al qodr, dalam hal ini misalnya Umar pernah menyampaikan sabda Rasulullah SAW : ” Barangsiapa mencari lailat al qodr, hendaknya ia mencarinya pada malam kedua puluh tujuh” (HR. Ahmad). Maka para ulama’ berkesimpulan bahwa berupaya menggapai lailat al qodr hukumnya sunnah. IV. Kapankah terjadinya Lailat al Qodr Sesuai dengan firman Allah pada awal surat Al Qodr, serta pada ayat 185 surat Al Baqoroh, dan hadits Rasulullah SAW. Maka para ulama’ bersepakat bahwa ” Lailat al qodr” terjadi pada malam bulan Ramadhan. Bahkan seperti diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Abu Dzar, dan Abu Hurairah, lailat al qodr bukannya sekali terjadi pada masa Rasulullah SAW saja, malainkan ia terus berlangsung pada setiap bulan Ramadhan untuk mashlahat umat Muhammad, sampai terjadinya hari qiyamat. Adapun tentang penentuan kapan persis terjadinya lailat al qodr, para ulama berbeda pendapat disebabkan beragamnya informasi hadits Rasulullah, serta pemahaman para shahabat tentang hal tersebut. Sebagaimana tersebut dibawah ini :

    1. Lailat al qodr terjadi pada malam 17 Ramadhan, malam diturunkannya Al Qur’an. Hal ini disampaikan oleh Zaid bin Arqom, dan Abdullah bin Zubair ra. (HR. Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi dan Bukhori dalam tarikh).

    2. Lailat al qodr terjadi pada malam-malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Diriwayatkan oleh Aisyah dari sabda Rasululah SAW: “Carilah lailat al qodr pada malam-malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan” (HR. Bukhori, Muslim dan Baihaqi)

    3. Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 21 Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Abi Said al Khudri yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim.

    4. Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 23 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Abdullah bin Unais al Juhany, seperti dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim.

    5. Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 27 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Ibnu Umar, seperti dikutip oleh Ahmad. Dan seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, bahwa Umar bin al Khoththob, Hudzaifah serta sekumpulan besar shahabat, yakin bahwa lailat al qodr terjadi pada malam 27 bulan Ramadhan. Rasulullah SAW seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, juga pernah menyampaikan kepada shahabat yang telah tua dan lemah tak mampu qiyam berlama-lama dan meminta nasehat kepada beliau kapan ia bisa mendapatkan lailat al qodr, Rasulullah SAW kemudian menasehati agar ia mencarinya pada malam ke 27 bulan Ramadhan (HR. Thabroni dan Baihaqi).

    6. Seperti difahami dari riwayat Ibnu Umar dan Abi Bakrah yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim, terjadinya lailat al qodr mungkin berpindah-pindah pada malam-malam ganjil sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sesuai dengan informasi terakhir ini, dan karena langka dan pentingnya lailat al qodr, maka selayaknya setiap muslim berupaya selalu mendapatkan lailat al qodr pada sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

    Tanda-tanda terjadinya Lailat al qodr

    Seperti diriwayatkan Oleh Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: ” Pada saat terjadinya lailat al qodr itu, malam terasa jernih, terang, tenang, cuaca sejuk tidak terasa panas tidak juga dingin. Dan pada pagi harinya matahari terbit dengan jernih terang benderang tanpa tertutup sesuatu awan”.

    Apa yang perlu dilakukan pada lailat al qodr dan agar dapat menggapai lailat al qodr

    1. Lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua bentuk ibadah pada hari-hari Ramadhan, menjauhkan diri dari semua hal yang dapat mengurangi keseriusan beribadah pada hari-hari itu. Dalam peribadatan ini juga dengan mengikutsertakan keluarga. Hal itulah yang dahulu dicontohkan Rasulullah SAW.

    2. Melakukan i’tikaf dengan berupaya sekuat tenaga. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. 3. Melakukan qiyamu al lail berjama’ah, sampai dengan rekaat terakhir yang dilakukan imam, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzar ra.

    4. Memperbanyak do’a memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah dengan lafal : “Allahumma innaka ‘afuwun tuhibul afwa fa’fu ‘anni”. Hal inilah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada Aisyah ra ketika beliau bertanya : ‘ wahai Rasulullah, bila aku ketahui kedatangan lailat al qodr, apa yang mesti aku ucapkan”? (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

    Menggapai ” Lailat al qodr” bagi Muslimah

    Sebagaimana tersirat dari dialog Rasulullah SAW dengan Aisyah, istri beliau itu, maka mudah disimpulkan bahwa kaum muslimah-pun disyari’atkan dan diperbolehkan menggapai lailat al qodr . Dengan melakukan maksimalisasi ibadah yang memang diperbolehkan untuk dilakukan seorang muslimah. VIII. Khotimah Demikian panduan ringkas ini, mudah-mudahan pada bulan Ramadhan tahun ini Allah memperkenankan kita meraih ” Lailat al qodr”, malam yang utama dari 1000 bulan alias 83 tahun itu.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 9:31 am on 22 June 2015 Permalink | Balas  

    Panduan Shalat dan Shaum dalam Bepergian 

    Selamat-Berpuasa-Puasa-Ramadhan-1431-HPanduan Shalat dan Shaum dalam Bepergian

    Hukum-hukum yang berkaitan dengan safar (perjalanan) ialah mengkoshor shalat, menjama’ shalat, menyapu sepatu saat wadhu’ selama tiga hari, berbuka di bulan Ramadhan, boleh tidak shalat jam’at dan sunnat ‘ied, shalat di atas kendaraan dan tayammum. Dalam kesempatan ini – insya Allah – akan dikemukakan lebih lanjut tentang ketentuan shalat dan shaum dalam safar, yang sekaligus menegaskan bahwa bahkan dalam keadaan safar (bepergian)pun Islam memberikan panduan agar umat selalu selamat dan sejahtera.

    Shalat Dalam Safar

    Berkenaan dengan shalat, illah (sebab) adanya perjalanan membolehkan hal-hal berikut :

    1. Mengqoshor (memendekkan) shalat:

    a Pada dasarnya qoshor merupakan keringanan (rukhshoh) bagi orang yang bepergian (musafir), jika bukan untuk tujuan maksiat. Manyoritas ulama’ berkesimupulan bahwa qoshor adalah afdhol. Sebagaimana sunnah dan kebiasaan Rasulullah SAW kemudian para shahabat beliau. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Ibnu Umar Rasulullah SAW katanya: ” Aku sering menyertai Rasulullah SAW dan beliau menunaikan shalat yang asalnya empat rekaat menjadi dua rekaat, demikian pula Abu Bakar, Umar dan Ustman Rasulullah SAW.

    b. Jarak perjalanan yang membolehkan qoshor adalah yang menurut ukuran urf di zamannya dan dikatagorikan safar atau bepergiaan/ melakukan perjalanan.

    c. Persyaratan teknis melaksanakan qoshor, dikemukakan fuqoha’ sebagai berikut :

    1) Bukan safar untuk maksiat, menurut mayoritas ulama’.

    2) Mempunyai tujuan tempat tertentu dalam jarak qoshor

    3) Telah keluar rumah dan wilayah dimana ia tinggal

    4) Tidak berniat untuk tinggal menetap di tempat ia mengqoshor

    5) Tidak menjadi makmun bagi imam yang tidak mengqoshor

    6) Niat qoshor saat takbirotul ikhrom .

    2. Menjama’ (mengumpulkan) shalat

    Menjama’ shalat dhuhur dengan ashar atau naghrib dengan isya’ dibolehkan dalam safar, baik dengan jama’ taqdim (didahulukan) maupun jama’ ta’khir (diakhirkan). Asal sudah berniat untuk safar boleh menjama’ taqdim menjelang keberangkatan tanpa keluar rumah terlebih dahulu. Sedang untuk jama’ ta’khir diharuskan berniat sejak tibanya waktu shalat pertama. Sesudah adzan untuk tiap shalat dilakukan iqomah (qomat) masing-masing. Dan antara kedua shalat yang dijama’ tidak diselingi dengan shalat sunnat.

    3. Menjama’ dan mengqoshor shalat

    Selain kedua hal diatas dan disebabkan oleh alasan-alasan yang sama, syari’at Islam juga membolehkan adanya jama’ dan qoshor sekaligus, baik secara taqdim maupun ta’khir, yaitu dengan menjama’ qoshor antara shalat dhuhur dengan ashar, masing-masing dua reka’at dan menjama’ qoshor antara shalat maghrib (tetap 3 reka’at) dengan isya’ dua rekaat.

    4. Shalat di atas kendaraan

    Jika tiba waktu shalat sedang di atas kendaraan dan tidak memungkinkan untuk berhenti dulu, maka boleh menunaikan shalat di atas kendaraan dengan tetap menghadap qiblat, minimal saat takbirotul ikhrom jika untuk sampai selesai shalat tidak memungkinkan. Dan jika sejak awal sudah tidak memungkinkan menghadap qiblat, boleh menunaikannya sesuai dengan arah kendaraan. Dan boleh sambil duduk jika tidak memungkinkan melaksanakannya sambil berdiri. Diriwayatkan dari Maemun bin Mahron dari Ibnu Umar RA.katanya: ” Aku bertanya kepada Rasulullah SAW bagaimana caranya shalat di atas kapal laut? jawab beliau : “Shalatlah berdiri kecuali jika dikhawatirkan akan tenggelam ( karena oleng). Riwayat ad Daraquthni menurut syarat Bukhori dan Muslim.Asy Syaukani berkomentar: Diqiyaskan atas khawatir tenggelam, adanya udzur atau kesulitan lainnya termasuk kesulitan menghadap ke arah qiblat.

    Shaum Dalam Safar

    1. Safar (bepergian) termasuk kondisi yang membolehkan ifthor atau berbuka, artinya boleh tidak menunaikan shaum meski hukumnya wajib, seperti shaum Ramadhan, shaum nadzar, dan kafarot. Sekalipun tetap ada ketentuan untuk mengganti (mengqodho’) di waktu lain. Dalil syar’i yang mengaturnya; Al-Qur’an suarat Allah SWT Baqoroh : 185: “… Maka barangsiapa yang sakit atau dalam safar, (jika berbuka) maka hendaklah menggantinya pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kamu sekalian dan tidak menghendaki kesulitan… “.

    2. Ukuran safar yang populer dikalangan ulama’ adalah pada jarak perjalanan yang boleh mengqoshor shalat. Dan jika memperhatikan isyarat ayat, bahwa ” Allah menghendaki kemudahan bagi kamu sekalian dan tidak menghendaki kesulitan”, dapat difahami bahwa keringan (rukhshoh) dibolehkannya berbuka saat safar agar tidak terjadi kondisi yang menyulitkan ( al usr) atau memberatkan (al masyaqqoh). Sebagaimana yang difahami oleh ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi’iyah.

    3. Dengan mempertimbangkan (mura’at) terjadi tidaknya masyaqqoh, maka shaum dalam safar dapat dibedakan sebagai berikut:

    a. Shaum lebih utama (afdhol) dari pada berbuka: Bagi orang yang kuat menjalaninya tanpa suatu masyaqqoh. Demikian pendapat jumhurul ulama’ sesuai dengan taujih ayat : ” …. Dan bahwa kamu sekalian melaksanakan shaum adalah lebih baik jika kamu sekalian mengetahui nilai keutamaannya” ( QS:2:184)

    Shaum lebih baik walaupun terasa sedikit berat, jika untuk mengqodho’nya akan terasa berat. Demikian difatwakan oleh Umar bin Abdul Aziz. Shaum lebih utama bagi yang sudah biasa dan rutin bepergian relatif jauh tanpa merasakan adanya rasa berat (masyaqqoh). Dalam soal masyaqqoh, kecuali fisik yang harus dipertimbangkan, tapi kondisi ruhiyah atau kejiwaan lebih menentukan. Adalah para shahabat Rasulullah SAW biasa tetap menjalani shaum walaupun dalam keadaan perang, tanpa merasakan adanya masyaqqoh yang berarti.

    b. Berbuka lebih baik: Bagi orang yang kuat shaum tapi dikhawatirkan terganggu dengan rasa ujub (bangga) atau riya’. Sebagaimana difatwakan oleh Ibnu Umar RA. Imam Bukhori meriwayatkan hadits dari shahabat Anas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada mereka yang berbuka ketika melayani mereka yang shaum: ” Orang-orang yang berbuka hari ini meraih pahala”.

    Demikian pula berbuka lebih baik bagi orang yang belum pernah mengambil rukhshoh (keringanan ini). Sebagaimana kesimpulan Asy Syaukani tentang hadits riwayat Muslim dan an Nasa’i bahwa shahabat Hamzah bin Amr as Aslami berkata kepada Rasulullah SAW : ya Rasulullah saya kuat menjalankan shaum dalam safar bolehkah saya lakukan ? jawab beliau : ” Ini merupakan rukhshoh dari Allah ta’ala, siapa yang mengambilnya adalah baik dan siapa yang ingin shaum tidak apa-apa”.

    Berbuka adalah afdhol bahkan shaum menjadi makruh, bagi yang memaksakan shaum diperjalanan yang terdapat masyaqqoh. Dalam kontek ini Rasulullah SAW bersabda tentang musafir yang tetap shaum dalam kepayahan sehingga dikerumuni dan diteduhi orang banyak: ” Tidak merupakan kebaikan (al birr) as shaum dalam safar “. Demikian Imam Bukhori menyimpulkan. Bebrbuka dalam safar lebih baik jika akan lebih kuat untuk mengadapi musuh dalam jihad.

    Bahkan berbuka menjadi wajib hukumnya apabila panglima jihad memerintahkan untuk berbuka demi kepentingan jihad

    Dalam kajian fiqhiyah, ulama’ menyimpulkan sejumlah persyaratan untuk mengambil rukhshoh ifthor (berbuka) dalam safar. Yaitu :

    a. Merupakan perjalanan yang halal atau mubah, bukan safar untuk tujuan maksiat

    b. Perjalanan relatif jauh menurut ukuran zamannya

    c. Tidak memulai perjalanan dalam keadaan shaum agar tidak sampai membatalkan amal ibadah yang sudah dimulai.

    Bukan merupakan perjalanan yang biasa dan rutin (seperti perjalanan supir) kecuali jika terjadi masyaqqoh. Para ulama’ cenderung bahwa untuk pengamalan sendiri memilih yang afdhol dan yang ahwath (lebih berhati-hati) dari pilihan yang ada. Wallahu ta’ala ‘alam.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:30 am on 21 June 2015 Permalink | Balas  

    Fiqih Shaum Bagi Muslimah 

    ramadhan8Fiqih Shaum Bagi Muslimah

    Muqoddimah

    Dalam surat Al-Baqoroh : 183, Allah SWT memerintahkan umat Islam melaksanakan shiyam, untuk mencapai derajat taqwa. Perintah ini adalah umum, baik untuk pria maupun wanita. Tetapi dalam perincian pelaksanaan shiyam, ada beberapa hukum khusus bagi wanita. Hal ini terjadi karena perbedaan fithrah yang ada pada wanita yang tidak dimiliki oleh pria. Dalam kajian ini- insya Allah- akan dibahas hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita secara khusus.

    Panduan Umum

    1. Wanita sebagaimana pria disyari’atkan memanfaatkan bulan suci ini untuk hal-hal yang bermanfaat, dan memperbanyak menggunakan waktu untuk beribadah. Seperti memperbanyak bacaan Al-Qur’an, dzikir, do’a, shodaqoh dan lain sebagainya, karena pada bulan ini amal sholeh dilipatgandakan pahalanya.
    2. Mengajarkan kepada anak-anaknya akan nilai bulan Ramadhan bagi umat Islam, dan membiasakan mereka berpuasa secara bertahap (tadarruj), serta menerangkan hukum-hukum puasa yang bisa mereka cerna sesuai dengan tingkat kefahaman yang mereka miliki.
    3. Tidak mengabiskan waktu hanya di dapur, dengan membuat berbagai variasi makanan untuk berbuka. Memang wanita perlu menyiapkan makanan, tetapi jangan sampai hal itu menguras seluruh waktunya, karena ia juga dituntut untuk mengisi waktunya dengan beribadah dan bertaqorrub kepada Allah.
    4. Melaksanakan shalat pada waktunya (awal waktu) III. Hukum Berpuasa bagi Muslimah Berdasarkan umumnya firman Allah SWT (QS. Al-Baqoroh: 183) serta hadits Rasulullah SAW (HR.Bukhori & Muslim), maka para ulama’ ber-ijma’ bahwa hukum puasa bagi muslimah adalah wajib, apabila memenuhi syarat-syarat; antara lain: Islam, akil baligh, muqim, dan tidak ada hal-hal yang menghalangi untuk berpuasa.

    Wanita Shalat Tarawih, I’tikaf dan Lailat al Qodr

    Wanita diperbolehkan untuk melaksanakan shalat tarawih di masjid jika aman dari fitnah. Rasulullah SAW bersabda: ” Janganlah kalian melarang wanita untuk mengunjungi masjid-masjid Allah ” (HR. Bukhori). Prilaku ini juga dalakukan oleh para salafush shaleh. Namun demikian, wanita diharuskan untuk berhijab (memakai busana muslimah), tidak mengeraskan suaranya, tidak menampakkan perhiasan- perhiasannya, tidak memakai angi-wangian, dan keluar dengan izin (ridlo) suami atau orang tua. Shof wanita berada dibelakang shof pria, dan sebaik-baik shof wanita adalah shof yang di belakang (HR. Muslim). Tetapi jika ia ke masjid hanya untuk shalat, tidak untuk yang lainnya, seperti mendengarkan pengajian, mendengarkan bacaan Al-Qur’an (yang dialunkan dengan baik), maka shalat di rumahnya adalah lebih afdlol. Wanita juga diperbolehkan melakukan i’tikaf baik di masjid rumahnya maupun di masjid yang lain bila tidak menimbulkan fitnah, dan dengan mendapatkan izin suami, dan sebaiknya masjid yang dipakai i’tikaf menempel atau sangat berdekatan dengan rumahnya serta terdapat fasilitas khusus bagi wanita. Disamping itu wanita juga di perbolehkan menggapai ‘lailat al qodr’, sebagaimana hal tersebut dicontohkan Rasulullah SAW dengan sebagian isteri beliau. (Lebih lanjut lihat panduan tentang i’tikaf dan lailat al qodr).

    Wanita Haidh dan Nifas

    Shiyam dalam kondisi ini hukumnya haram. Apabila haid atau nifas keluar meski sesaat sebelum maghrib, ia wajib membatalkan puasanya dan mengqodo’nya (mengganti) pada waktu yang lain. Apabila ia suci pada siang hari, maka untuk hari itu ia tidak boleh berpuasa, sebab pada pagi harinya ia tidak dalam keadaan suci. Apabila ia suci pada malam hari Ramadhan meskipun sesaat sebelum fajar, maka puasa pada hari itu wajib atasnya, walaupun ia mandi setelah terbit fajar.

    Wanita Hamil dan Menyusui

    1. Jika wanita hamil itu takut akan keselamatan kandungannya, ia boleh berbuka.
    2. Apabila kekhawatiran ini terbukti dengan pemeriksaan secara medis dari dua dokter yang terpercaya, berbuka untuk ibu ini hukumnya wajib, demi keselamatan janin yang ada dikandungannya.
    3. Apabila ibu hamil atau menyusui khawatir akan kesehatan dirinya, bukan kesehatan anak atau janin, mayoritas ulama’ membolehkan ia berbuka, dan ia hanya wajib mengqodo’ (mengganti) puasanya. Dalam keadaan ini ia laksana orang sakit.
    4. Apabila ibu hamil atau menyusui khawatir akan keselamatan janin atau anaknya (setelah para ulama’ sepakat bahwa sang ibu boleh berbuka), mereka berbeda pendapat dalam hal: Apakah ia hanya wajib mengqodo’ ? atau hanya wajib membayar fidyah (memberi makan orang miskin setiap hari sejumlah hari yang ia tinggalkan) ? atau kedua-duanya qodho’ dan fidyah (memberi makan):
    5. Ibnu Umar dan Ibnu Abbas membolehkan hanya dengan memberi makan orang miskin setiap hari sejumlah hari yang ditinggalkan.
    6. Mayoritas ulama’ mewajibkan hanya mengqodho’.
    7. Sebagian yang lain mewajibkan kedua-duanya; qodho’ dan fidyah.
    8. DR. Yusuf Qordhowi dalam Fatawa Mu’ashiroh mengatakan bahwa ia cenderung kepada pendapat yang mengatakan cukup untuk membanyar fidyah (memberi makan orang setiap hari), bagi wanita yang tidak henti-hentinya hamil dan menyusui. Tahun ini hamil, tahun berikutnya menyusui, kemudian hamil dan menyusui, dan seterusnya, sehingga ia tidak mendapatkan kesempatan untuk mengqodho’ puasanya. Lanjut DR. Yusuf al-Qordlowi; apabila kita membebani dengan mengqodho’ puasa yang tertinggal, berarti ia harus berbuasa beberapa tahun berturut-turut sertelah itu, dan itu sangat memberatkan , sedangkan Allah tidak menghendaki kesulitan bagi hambaNya.

    Wanita yang Berusia lanjut

    Apabila puasa membuatnya sakit, maka dalam kondisi ini ia boleh tidak berpuasa. Secara umum, orang yang sudah berusia lanjut tidak bisa diharapkan untuk melaksanakan (mengqodho’) puasa pada tahun-tahun berikutnya, karena itu ia hanya wajib membayar fidyah (memberi makan orang miskin).

    Wanita dan Tablet Pengentas Haidh

    Syekh Ibnu Utsaimin menfatwakan bahwa penggunaan obat tersebut tidak dianjurkan. Bahkan bisa berakibat tidak baik bagi kesehatan wanita. Karena haid adalah hal yang telah ditakdirkan bagi wanita, dan kaum wanita di masa Rasulullah SAW tidak pernah membebani diri mereka untuk melakukan hal tersebut. Namun apabila ada yang melakukan, bagaimana hukumnya ?. Jawabnya: – Apabila darah benar-benar terhenti, puasanya sah dan tidak diperintahkan untuk mengulang. – Tetapi apabila ia ragu, apakah darah benar-benar berhenti atau tidak,maka hukumnya seperti wanita haid, ia tidak boleh melakukan puasa. ( Masa’il ash Shiyam h. 63 & Jami’u Ahkam an Nisa’ 2/393)

    Mencicipi Masakan

    Wanita yang bekerja di dapur mungkin khawatir akan masakan yang diolahnya pada bulan puasa, karena ia tidak dapat merasakan apakah masakan tersebut keasinan atau tidak atau yang lain-lainnya. Maka bolehkah ia mencicipi masakannya ?. Para ulama’ memfatwakan tidak mengapa wanita mencicipi rasa masakannya, asal sekedarnya dan tidak sampai di tenggorokan, dalam hal ini diqiyaskan dengan berkumur. (Jami’u Ahkam an Nisa’).

    Khotimah

    Demikian panduan ringkas ini, semoga para wanita muslimah dapat memaksimalkan diri beribadah selama bulan Ramadhan tahun ini, untuk meraih nilai taqwa.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 9:16 am on 20 June 2015 Permalink | Balas  

    Fiqih Shaum 

    ramadan-2012Fiqih Shaum

    Cara Menetapkan Awal Dan Akhir Bulan

    1. “Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. beliau berkata : Manusia sama melihat Hilal (bulan sabit), maka akupun mengabarkan hal itu kepada Rasululullah saw. Saya katakan : sesungguhnya saya telah melihat Hilal. Maka beliau saw. shaum dan memerintahkan semua orang agar shaum.” (H.R Abu Dawud, Al-Hakim dan Ibnu Hibban).(Hadits Shahih).
    2. “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Mulailah shaum karena melihat ru’yah dan berbukalah (akhirilah shaum Ramadhan) dengan melihat ru’yah. Apabila awan menutupi pandanganmu, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban selama Tiga Puluh hari. “(HR. Bukhary Muslim).
    3. KESIMPULAN

    a. Menetapkan awal dan akhir bulan Ramadhan dengan melihat ru’yah, meskipun bersumber dari laporan seseorang, yag penting adil (dapat dipercaya).

    b. Jika bulan sabit (Hilal) tidak terlihat karena tertutup awan, misalnya, maka bilangan bulan Sya’ban digenapkan menjadi Tiga Puluh hari. (dalil 1 dan 2).

    c. Pada dasarnya ru’yah y ang dilihat oleh penduduk di suatu negara, berlaku untuk seluruh dunia. Hal ini akan berlaku jika Khilafah ‘ Ala Minhaajinnabiy sudah tegak (dalil 2).

    4. Selama khilafah belum tegak, untuk menghindarkan meluasnya perbedaan pendapat ummat Islam tentang hal ini, sebaiknya ummat Islam mengikuti ru’yah yag nampak di negeri masing-masing. (ini hanya pendapat sebagian ulama).

    Rukun Shaum

    1. “… dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah shaum itu sampai alam…(AL-Baqarah : 187).
    2. “Adiy bin Hatim berkata : Ketika turun ayat ; artinya (…hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam…), lalu aku mengambil seutas benang hitam dan seutas benanag putih, lalu kedua utas benang itu akau simpan dibawah bantalku. Maka pada waktu malam saya amati, tetapi tidak tampak jelas, maka saya pergi menemui Rasulullah saw. dan saya ceritakan hal ini kepada beliau. Beliapun bersabda: Yang dimaksud adalah gelapnya malam dan terangnya siang (fajar). ” (H.R. Bukhary Muslim).
    3. “Allah Ta’ala berfirman : ” Dan tidaklah mereka disuruh, kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlashkan ketaatan untukNya ” Al-Bayyinah :5)
    4. “Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat, dan setiap orang mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkan.” H.R Bukhary dan Muslim).
    5. “Diriwayatkan dari Hafshah , ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. : Barangsiapa yang tidak beniat (shaum Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada shaum baginya .” (HR. Abu Dawud) Hadits Shahih.
    6. KESIMPULAN:

    Keterangan ayat dan hadit di atas memberi pelajaran kepada kita bahawa rukun shaum Ramadhan adalah sebagai – berikut :

    a.Berniat sejak malam hari (dalil 3,4 dan 5).

    b. Menahan makan, minum koitus (Jima’) dengan istri di siang hari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari (Maghrib), (dalil 1 dan 2).

    Yang Diwajibkan Shaum Ramadhan.

    1. “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian untuk shaum, sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa. ” (Al-Baqarah : 183)
    2. “Diriwayatkan dari Ali ra., ia berkata : Sesungguhnya nabi saw telah bersabda : telah diangkat pena (kewajiban syar’i/ taklif) dari tiga golongan . – Dari orang gila sehingga dia sembuh – dari orang tidur sehingga bangun – dari anak-anak sampai ia ia bermimpi / dewasa.” (H.R.Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).
    3. KESIMPULAN: Keterangan di atas mengajarkan kepada kita bahwa : yang diwajibkan shaum Ramadhan adalah: setiap orang beriman baik lelaki maupun wanita yang sudah baligh/dewasa dan sehat akal /sadar.

    Yang Dilarang Shaum

    1. “Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia berkata : Disaat kami haidh di masa Rasulullah saw, kami dilarang shaum dan diperintahkan mengqadhanya, dan kami tidak diperintah mengqadha Shalat “(H.R Bukhary Muslim).
    2. KESIMPULAN: Keterangan di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa wanita yang sedang haidh dilarang shaum sampai habis masa haidhnya, lalu melanjutkan shaumnya. Di luar Ramadhan ia wajib mengqadha shaum yag ditinggalkannya selama dalam haidh.

    Yang Diberi Kelonggaran Untuk Tidak Shaum Ramadhan

    1. “(Masa yang diwajibkan kamu shaum itu ialah) bulan Ramadhan yang padanya diturunkan Al-Qur’an, menjadi pertunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan pertunjuk, dan (menjelaskan) antara yang haq dengan yang bathil. Karenanya, siapa saja dari antara kamu yang menyaksikan anak bulan Ramadhan (atau mengetahuinya), maka hendaklah ia shaum di bulan itu; dan siapa saja yang sakit atau dalam musafir maka (bolehlah ia berbuka, kemudian wajiblah ia shaum) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Dengan ketetapan yang demikian itu) Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan, dan Ia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran. Dan juga supaya kamu cukupkan bilangan shaum (sebulan Ramadhan), dan supaya kamu membesarkan Allah karena mendapat pertunjukNya, dan supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqarah :185.)
    2. “Diriwayatkan dari Mu’adz , ia berkata : Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan atas nabi untuk shaum, maka DIA turunkan ayat (dalam surat AL-Baqarah : 183-184), maka pada saat itu barangsiapa mau shaum dan barangsiapa mau memberi makan seorang miskin, keduanya diterima. Kemudian Allah menurunkan ayat lain (AL-Baqarah : 185), maka ditetapkanlah kewajiban shaum bagi setiap orang yang mukim dan sehat dan diberi rukhsah keringanan) untuk orang yang sakit dan bermusafir dan ditetapkan cukup memberi makan orang misikin bagi oran yang sudah sangat tua dan tidak mampu shaum. ” (HR. Ahmad, Abu Dawud, AL-Baihaqi dengan sanad shahih).
    3. “Diriwayatkan dari Hamzah Al-Islamy : Wahai Rasulullah, aku dapati bahwa diriku kuat untuk shaum dalam safar, berdosakah saya? Maka beliau bersabda : hal itu adalah merupakan kemurahan dari Allah Ta’ala, maka barangsiapa yang menggunakannya maka itu suatu kebaikan dan barangsiapa yang lebih suka untuk terus shaum maka tidak ada dosa baginya ” (H.R.Muslim)
    4. “Diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudry ra. ia berkata : Kami bepergian bersama Rasulullah saw. ke Makkah, sedang kami dalam keadaan shaum. Selanjutnya ia berkata : Kami berhenti di suatu tempat. Maka Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya kamu sekalian sudah berada ditempat yang dekat dengan musuh kalian, dan berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu. Ini merupakan rukhsah, maka diantara kami ada yang masih shaum dan ada juga yang berbuka. Kemudian kami berhenti di tempat lain. Maka beliau juga bersabda: Sesungguhnya besoak kamu akan bertemu musuh, berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu sekalian,maka berbukalah. Maka ini merupakan kemestian, kamipun semuanya berbuka. Selanjutnya bila kami bepergian beserta Rasulullah saw. kami shaum .” (H.R Ahmad, Muslim dan Abu Dawud).
    5. “Diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudry ra. ia berkata : Pada suatu hari kami pergi berperang beserta Rasulullah saw. di bulan Ramadhan. Diantara kami ada yang shaum dan diantara kami ada yang berbuka . Yang shaum tidak mencela yang berbuka ,dan yang berbuka tidak mencela yang shaum. Mereka berpendapat bahwa siapa yang mendapati dirinya ada kekuatan lalu shaum, hal itu adalah baik dan barangsiapa yang mendapati dirinya lemah lalu berbuka,maka hal ini juga baik ” (HR. Ahmad dan Muslim)
    6. “Dari Jabir bin Abdullah : Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pergi menuju ke Makkah pada waktu fathu Makkah, beliau shaum sampai ke Kurraa?il Ghamiim dan semua manusia yang menyertai beliau juga shaum. Lalu dilaporkan kepada beliau bahwa manusia yang menyertai beliau merasa berat , tetapi mereka tetap shaum karena mereka melihat apa yang tuan amalkan (shaum). Maka beliau meminta segelas air lalu diminumnya. Sedang manusia melihat beliau, lalu sebagian berbuka dan sebagian lainnya tetap shaum. Kemudian sampai ke telinga beliau bahwa masih ada yang nekad untuk shaum. Maka beliaupun bersabda : mereka itu adalah durhaka. “(HR.Tirmidzy)
    7. “Ucapan Ibnu Abbas : wanita yang hamil dan wanita yang menyusui apabila khawatir atas kesehatan anak-anak mereka, maka boleh tidak shaum dan cukup membayar fidyah memberi makan orang miskin ” (Riwayat Abu Dawud). Shahih
    8. “Diriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu Umar: Bahwa sesungguhnya istrinya bertanya kepadanya (tentang shaum Ramadhan), sedang ia dalam keadaan hamil. Maka ia menjawab : Berbukalah dan berilah makan sehari seorang miskin dan tidak usah mengqadha shaum .” (Riwayat Baihaqi) Shahih.
    9. “Diriwayatkan dari Sa’id bin Abi ‘Urwah dari Ibnu Abbas beliau berkata : Apabila seorang wanita hamil khawatir akan kesehatan dirinya dan wanita yang menyusui khawatir akan kesehatan anaknya jika shaum Ramadhan. Belberkata : Keduanya boleh berbuka (tidak shaum)dan harus memberi makan sehari seorang miskin dan tidak perlu mengqadha shaum” (HR.Ath-Thabari dengan sanad shahih di atas syarat Muslim , kitab AL-irwa jilid IV hal 19).
    10. KESIMPULAN: Pelajaran yang dapat diambil dari keterangan di atas adalah :

    1) Orang Mu’min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak shaum Ramadhan, tetapi wajib mengqadha di bulan lain, mereka itu ialah : a) Orang sakit yang masih ada harapan sembuh.

    b) Orang yang bepergian (Musafir).

    Musafir yang merasa kuat boleh meneruskan shaum dalam safarnya, tetapi yang merasa lemah dan berat lebih baik berbuka, dan makruh memaksakan diri untuk shaum.

    2) Orang Mu’min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak mengerjakan shaum dan tidak wajib mengqadha, tetapi wajib fidyah (memberi makan sehari seorang miskin). Mereka adalah orang yang tidak lagi mampu mengerjakan shaum karena :

    a). Umurnya sangat tua dan lemah.

    b). Wanita yang menyusui dan khawatir akan kesehatan anaknya.

    c). Karena mengandung dan khawatir akan kesehatan dirinya.

    d). Sakit menahun yang tidak ada harapan sembuh.

    e). Orang yang sehari-hari kerjanya berat yang tidak mungkin mampu dikerjakan sambil shaum, dan tidak mendapat pekerjaan lain yang ringan. dalil 2,7,8 dan 9).

    Hal-Hal Yang Membatalkan Shaum

    1. “…dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam (fajar), kemudian sempurnakanlah shaum itu sampai malam…” Al-Baqarah : 187).
    2. “Dari Abu Hurairah ra.: bahwa sesungguhnya nabi saw. telah bersabda : Barangsiapa yang terlupa, sedang dia dalam keadaan shaum, kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan shaumnya. Hal itu karena sesungguhnya Allah hendak memberinya karunia makan dan minum ” (Hadits Shahih, riwayat Al-Jama’ah kecuali An-Nasai).
    3. Dari Abu Hurairah ra. bahwa sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Barang siapa yang muntah dengan tidak sengaja, padahal ia sedang shaum – maka tidak wajib qadha (shaumnya tetap sah), sedang barang siapa yang berusaha sehinggga muntah dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqadha (shaumnya batal). (H.R : Abu Daud dan At-Tirmidziy)
    4. Diriwayatkan dari Aisyah ra ia berkata : Disaat kami berhaidh (datang bulan) dimasa Rasulullah saw. kami dilarang shaum dan diperintah untuk mengqadhanya dan kami tidak diperintah untuk mengqadha shalat. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    5. Diriwayatkan dari Hafshah, ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. Barang siapa yang tidak berniat untuk shaum (Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada shaum baginya. (H.R : Abu Daud) hadits shahih.
    6. Telah bersabda Rasulullah saw: Bahwa sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat ……… (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    7. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Sesungguhnya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah saya terlanjur menyetubuhi istri saya (di siang hari) padahal saya dalam keadaan shaum Ramadhan), maka Rasulullah saw. bersabda : Punyakah kamu seorang budak untuk dimerdekakan? Ia menjawab : Tidak. Rasulullah saw bersabda : Mampukah kamu shaum dua bulan berturut-turut? Lelaki itu menjawab : Tidak. Beliau bersabda lagi : Punyakah kamu persediaan makanan untuk memberi makan enam puluh orang miskin? Lelaki itu menjawab : Tidak. Lalu beliau diam, maka ketika kami dalam keadaan semacam itu, Rasulullah datang dengan membawa satu keranjang kurma, lalu bertanya : dimana orang yang bertanya tadi? ambilah kurma ini dan shadaqahkan dia. Maka orang tersebut bertanya : Apakah kepada orang yang lebih miskin dari padaku ya Rasulullah? Demi Allah tidak ada diantara sudut-sudutnya (Madinah) keluarga yang lebih miskin daripada keluargaku. Maka Nabi saw. lalu tertawa sampai terlihat gigi serinya kemudian bersabda : Ambillah untuk memberi makan keluargamu. (H.R : Al-Bukhary dasn Muslim)
    8. KESIMPULAN

    Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas menerangkan kepada kita bahwa hal-hal yang dapat membatalkan shaum (Ramadhan) ialah sbb :

    a. Sengaja makan dan minum di siang hari. Bila terlupa makan dan minum di siang hari, maka tidak membatalkan shaum. (dalil : 2)

    b. Sengaja membikin muntah, bila muntah dengan tidak disengajakan, maka tidak membatalkan shaum. (dalil : 3)

    c. Pada siang hari terdetik niat untuk berbuka. (dalil : 5 dan 6)

    d. Dengan sengaja menyetubuhi istri di siang hari Ramadhan, ini disamping shaumnya batal ia terkena hukum yang berupa : memerdekakan seorang hamba, bila tidak mampu maka shaum dua bulan berturut-turut, dan bila tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin.(dalil : 7)

    e. Datang bulan di siang hari Ramadhan (sebelum waktu masuk aghrib).(dalil : 4)

    Hal-Hal Yang Boleh Dikerjakan Waktu Ibadah Shaum.

    1. Diriwayatkan dari Aisyah ra Bahwa sesungguhnya Nabi saw. dalam keadaan junub sampai waktu Shubuh sedang beliau sedang dalam keadaan shaum, kemudian mandi. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    2. Diriwayatkan dari Abi Bakar bin Abdurrahman, dari sebagian sahabat-sahabat Nabi saw. ia berkata kepadanya : Dan sungguh telah saya lihat Rasulullah saw. menyiram air di atas kepala beliau padahal beliau dalam keadaan shaum karena haus dan karena udara panas. (H.R :Ahmad, Malik dan Abu Daud)
    3. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw berbekam sedang beliau dalam keadaan shaum. (H.R : Al-Bukhary) .
    4. Diriwayatkan dari Aisyah ra Adalah Rasulullah saw mencium (istrinya) sedang beliau dalam keadaan shaum dan menggauli dan bercumbu rayu dengan istrinya (tidak sampai bersetubuh) sedang beliau dalam keadaan shaum, akan tetbeliau adalah orang yang paling kuat menahan birahinya. (H.R : Al-Jama’ah kecuali Nasa’i) hadits shahih.
    5. Diriwayatkan dari Abdullah bin Furuuj : Bahwa sesungguhnya ada seorang wanita bertanya kepada Ummu Salamah ra. Wanita itu berkata : Sesungguhnya suami saya mencium saya sedang dia dan saya dalam keadaan shaum, bagaimana pendapatmu? Maka ia menjawab : Adalah Rasulullah r pernah mencium saya sedang beliau dan saya dalam keadaan shaum. (H.R : Aththahawi dan Ahmad dengan sanad yang baik dengan mengikut syarat Muslim).
    6. Diriwayatkan dari Luqaidh bin Shabrah : Sesungguhnya Nabi saw bersabda : Apabila kamu beristinsyaaq (menghisap air ke hidung) keraskan kecuali kamu dalam keadaan shaum. (H.R : Ashhabus Sunan)
    7. Perkataan ibnu Abbas : Tidak mengapa orang yang shaum mencicipi cuka dan sesuatu yang akan dibelinya (Ahmad dan Al-Bukhary).
    8. KESIMPULAN

    Hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa hal-hal tersebut di bawah ini bila diamalkan tidak membatalkan shaum :

    a. Menyiram air ke atas kepala pada siang hari karena haus ataupun udara panas, demikian pula menyelam kedalam air pada siang hari.

    b. Menta’khirkan mandi junub setelah adzan Shubuh. (dalil : 1)

    c. Berbekam pada siang hari. (dalil : 3)

    d. Mencium, menggauli, mencumbu istri tetapi tidak sampai bersetubuh di siang hari.(dalil 4 dan 5)

    e. Beristinsyak (menghirup air kedalam hidung)terutama bila akan berwudhu, asal tidak dikuatkan menghirupnya. (dalil : 6)

    f. Disuntik di siang hari

    g. Mencicipi makanan asal tidak ditelan.(dalil :7)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:15 am on 19 June 2015 Permalink | Balas  

    Panduan Shaum Ramadhan 

    ramadhan 2Panduan Shaum Ramadhan

    Diriwayatkan dari Anas ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Apabila ada sesuatu dari urusan duniamu, maka kamu lebih tahu tentang hal itu. Jika ada urusan dienmu, maka akulah tempat kembalinya (ikuti aku). (H.R Ahmad).

    Dirwayatkan dari ‘Aisyah ra : Rasulullah saw. telah bersabda : Barangsiapa melakukan perbuatan yang bukan perintah kami, maka ia tertolak tidak diterima). Dan dalam riwayat lain: Barangsiapa yang mengada-adakan dalam perintah kami ini yang bukan dari padanya, maka ia tertolak. Sementara dalam riwayat lain : Barangsiapa yang berbuat sesuatu urusan yang lain daripada perintah kami, maka ia tertolak. (HR.Ahmad. Bukhary dan Abu Dawud).

    Kandungan dua hadits shahih di atas menerangkan dengan jelas dan tegas bahwa segala perbuatan, amalan-amalan yang hubungannya dengan dien/syari’at terutama dalam masalah ubudiyah wajib menurut panduan dan petunjuk yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. Tidak boleh ditambah dan/atau dikurangi meskipun menurut fikiran seolah-olah lebih baik.

    Diantara cara syaithan menggoda ummat Islam ialah membisikkan suatu tambahan dalam urusan Dien. Sayangnya, perkara ini dianggap soal sepele, enteng dan remeh. Padahal perbuatan seperti itu adalah merupakan suatu kerusakan yang amat fatal dan berbahaya.

    “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, katanya : Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. berkhutbah kepada manusia pada waktu haji Wada’ . Maka beliau bersabda : Sesungguhnya Syaithan telah berputus asa (dalam berusaha) agar ia disembah di bumimu ini. Tetapi ia ridha apabila (bisikannya) ditaati dalam hal selain itu; yakni suatu amalan yang kamu anggap remeh dari amalan-amalan kamu, berhati-hatilah kamu sekalian. Sesungguhnya aku telah meninggalkan untukmu , yang jika kamu berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya. Yaitu: Kitab Allah dan sunnah NabiNya. ” (HR. Hakim).

    Dengan demikian dapat difahami bagaimana Rasulullah saw. mengingatkan kita agar selalu waspada terhadap provokasi setan untuk beramal dengan menyalahi tuntunan Nabi sekalipun hal itu nampak remeh. “Diriwayatkan dari Ghudwahaif bin Al-Harits ra: ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Setiap suatu kaum mengadakan Bid’ah, pasti saat itu diangkat (dihilangkan) sunnah semisalnya. Maka berpegang teguh kepda sunnah itu lebih baik daripada mengadakan bid’ah “(HR.Ahmad). Jadi, ketika amalan bid’ah ditimbulkan betapapun kecilnya, maka pada saat yang sama Sunnah telah dimusnahkan. Pada akhirnya lama kelamaan yang nampak dalam dien ini hanyalah perkara bid’ah sedangkan yang Sunnah dan original telah tertutup. Pada saat itulah ummat Islam akan menjadi lemah dan dikuasai musuh. Insya Allah tak lama lagi kita akan menyambut kedatangan Ramadhan,dalam bulan yang penuh berkat ini kita diwajibkan menjalankan ibadah Shaum Ramadhan sebulan penuh , yang mana hal tersebut merupakan salah satu bagian dari rukun Islam. Karenanya hal tersebut amat penting.

    Berkaitan dengan hal diatas, maka kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menunaikan ibadah Shaum ini sesempurna mungkin , benar-benar bebas dari bid’ah sesuai dengan panduan yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. Untuk keperluan itulah dalam risalah yang sederhana ini diterangkan beberapa hal yang berkaitan dengan amaliah shaum Ramadhan, zakat fithrah, dan Shalat ‘Ied berdasarkan Nash-nash yang Shariih (jelas). Dalil – dalil dan kesimpulan dibuat agar mudah difahami antara hubungan amal dengan dalilnya. Dan -tak ada gading yang tak retak- kata pepatah, sudah barang tentu risalah ini sangat jauh dari sempurna, untuk menuju kesempurnaannya bantuan dari pemakai amat diharapkan. Semoga risalah ini diterima oleh Allah sebagai Amal Shalih yang bermanfaat terutama di akhirat nanti.

    1. Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra. telah bersabda Rasulullah saw:Apabila malam sudah tiba dari arah sini dan siang telah pergi dari arah sini, sedang matahari sudah terbenam, maka orang yang shaum boleh berbuka. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    2. Diriwayatkan dari Sahal bin Sa?ad : Sesungguhnya Nabi saw telahbersabda: Manusia (ummat Islam) masih dalam keadaan baik selama mentakjilkan (menyegerakan) berbuka. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    3. Diriwayatakan dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah saw berbuka denganmakan beberapa ruthaab (kurma basah) sebelum shalat, kalau tidak ada makadengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk.(H.R : Abu Daud dan Al-Hakiem)
    4. Diriwayatkan dari Salman bin Amir, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Apabila salah seorang diantara kamu shaum hendaklah berbuka dengan kurma, bila tidak ada kurma hendaklah dengan air, sesungguhnya airitu bersih. (H.R : Ahmad dan At-Tirmidzi)
    5. Diriwayatkan dari Ibnu Umar : Adalah Nabi saw. selesai berbuka Beliau berdo’a (artinya) telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap ada Insya Allah. (H.R : Ad-Daaruquthni dan Abu Daud hadits hasan)
    6. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw:Apabila makan malam telah disediakan, maka mulailah makan sebelum shalat Maghrib, janganlah mendahulukan shalat daripada makan malam itu (yang sudah terhidang). (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    7. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra: Sesungguhnya Rasulullah saw.telah bersabda : Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya makan sahur itu berkah.(H.R : Al-Bukhary)
    8. Diriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’di Yaqrib, dari Nabi saw.bersabda :Hendaklah kamu semua makan sahur, karena sahur adalah makanan yang penuh berkah. (H.R : An-Nasa’i)
    9. Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit t berkata : Kami bersahur bersama Rasulullah saw. kemudian kami bangkit untuk menunaikan shalat (Shubuh).saya berkata : Berapa saat jarak antara keduanya (antara waktu sahur danwaktu Shubuh)?Ia berkata : Selama orang membaca limapuluh ayat. (H.R :Al-Bukhary dan Muslim)
    10. Diriwayatkan dari Amru bin Maimun, ia berkata : Adalah para sahabat Muhammad saw. adalah orang yang paling menyegerakan berbuka dan melambatkan makan sahur. (H.R : Al-Baihaqi)
    11. Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila salah seorang diantara kamu mendengar adzan dan piring masih di tangannya janganlah diletakkan hendaklah ia menyelesaikan hajatnya (makan/ minum sahur) daripadanya. (H.R :Ahmad dan Abu Daud dan Al-Hakiem)
    12. Diriwayatkan dari Abu Usamah ra. ia berkata : Shalat telah di’iqamahkan, sedang segelas minuman masih di tangan Umar ra. beliau bertanya : Apakah ini boleh saya minum wahai Rasulullah ? Beliau r. menjawab : ya, lalu ia meminumnya. (H.R Ibnu Jarir)
    13. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw.orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya, dan Jibril menemuinya pada setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mentadaruskan beliau saw. al-qur’an dan benar-benar Rasulullah saw. lebih dermawan tentang kebajikan(cepat berbuat kebaikan) daripada angin yang dikirim.(HR Al-Bukhary)
    14. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata : Adalah Rasulullah saw.menggalakkan qiyamullail (shalat malam) di bulan Ramadhan tanpa memerintahkan secara wajib, maka beliau bersabda : Barang siapa yang shalat malam di bulan Ramadhan karena beriman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni baginya dosanya yang telah lalu. (H.R : Jama’ah)
    15. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Nabi saw. Apabila memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) beliau benar-benar menghidupkan malam (untuk beribadah) dan membangunkan istrinya (agar beribadah) dengan mengencangkan ikatan sarungnya (tidak mengumpuli istrinya). (H.R :Al-Bukhary dan Muslim)
    16. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata : Adalah Nabi saw. bersungguh-sungguh shalat malam pada sepuluh hari terakhir (di bulan Ramadhan) tidak seperti kesungguhannya dalam bulan selainnya. (H.R : Muslim)
    17. Diriwayatkan dari Abu salamah din Abdur Rahman, sesungguhnya ia telah bertanya kepada Aisyah ra: Bagaimana shalat malamnya Rasulullah saw di bulan Ramadhan ? maka ia menjawab : Rasulullah saw tidak pernah shalat malam lebih dari sebelas raka’at baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya, caranya : Beliau shalat empat raka’at jangan tanya baik dan panjangnya, kemudian shalat lagi empat raka’at jangan ditanya baik dan panjangnya, kemudian shalat tiga raka?at. (H.R : Al-Bukhary,Muslim dan lainnya)
    18. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. Apabila bangun shalat malam, beliau membuka dengan shalat dua raka’at yang ringan, kemudian shalat delapan raka’at, kemudian shalat witir. (H.R : Muslim)
    19. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata : Ada seorang laki-laki berdiri lalu ia berkata : Wahai Rasulullah bagaimana cara shalat malam ? Maka Rasulullah r. menjawab : Shalat malam itu dua raka’at dua raka’at. Apabila kamu khawatir masuk shalat Shubuh, maka berwitirlah satu raka’at. (H.R :Jama’ah)
    20. Dari Aisyah ra. ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw shalat di masjid, lalu para sahabat shalat sesuai dengan shalat beliau (bermakmum di belakang), lalu beliau shalat pada malam kedua dan para sahabat bermakmum dibelakangnya bertambah banyak, kemudian pada malam yang ketiga atau yang keempat mereka berkumpul, maka Rasulullah saw tidak keluar mengimami mereka. Setelah pagi hari beliau bersabda : Saya telah tahu apa yang kalian perbuat, tidak ada yang menghalangi aku untuk keluar kepada kalian (untuk mengimami shalat) melainkan aku khawatir shalat malam ini difardhukan atas kalian. Ini terjadi pada bulan Ramadhan. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    21. Dari Ubay bin Ka’ab t. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. Shalat witir dengan membaca : Sabihisma Rabbikal A’la)dan (Qul ya ayyuhal kafirun) dan (Qulhu wallahu ahad). (H.R : Ahmad, Abu Daud, Annasa’i dan Ibnu Majah)
    22. Diriwayatkan dari Hasan bin Ali t. ia berkata : Rasulullah saw. Telah mengajarkan kepadaku beberapa kata yang aku baca dalam qunut witir : artinya) Ya Allah berilah aku petunjuk beserta orang-orang yang telah engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan yang sempurna beserta orang yang telah engkau beri kesehatan yang sempurna, pimpinlah aku beserta orang yang telah Engkau pimpin, Berkatilah untukku apa yang telah Engkau berikan, peliharalah aku dari apa yang telah Engkau tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang memutuskan dan tiada yang dapat memutuskan atas Engkau, bahwa tidak akan hina siapa saja yang telah Engkau pimpin dan tidak akan mulia siapa saja yang Engkau musuhi. Maha agung Engkau wahai Rabb kami dan Maha Tinggi Engkau. (H.R : Ahmad, Abu Daud, Annasa’i, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
    23. Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda : Barang siapa yang shalat malam menepati lailatul qadar, maka diampuni dosanya yang telah lalu. (H.R : Jama’ah)
    24. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. Telah bersabda : berusahalah untuk mencari lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir. H.R : Muslim)
    25. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Dinampakkan dalam mimpi seorang laki-laki bahwa lailatul qadar pada malam kedua puluh tujuh, maka Rasulullah saw. bersabda : Sayapun bermimpi seperti mimpimu, (ditampakkan pada sepuluh malam terakhir, maka carilah ia (lailatul qadar) pada malam-malam ganjil. (H.R : Muslim)
    26. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Saya berkata kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana pendapat tuan bila saya mengetahui lailatul qadar,apa yang saya harus baca pada malam itu ? Beliau bersabda : Bacalah artinya) Yaa Allah sesungguhnya Engkau maha pemberi ampun, Engkau suka kepada keampunan maka ampunilah daku. (H.R : At-Tirmidzi dan Ahmad)
    27. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw mengamalkan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah Azza wa Jalla. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    28. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. Apabila hendak beri’tikaf, beliau shalat shubuh kemudian memasuki tempat i’tikafnya………. (H.R :Jama’ah kecuali At-Tirmidzi)
    29. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. Apabila beri’tikaf , beliau mendekatkan kepalanya kepadaku, maka aku menyisirnya, dan adalah beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena untuk memenuhi hajat manusia (buang air, mandi dll…) (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    30. Allah ta’ala berfirman : (artinya) Janganlah kalian mencampuri ereka(istri-istri kalian) sedang kalian dalam keadaan i’tikaf dalam masjid. Itulah batas-batas ketentuan Allah, maka jangan di dekati… Al-Baqarah : 187)
    31. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: Setiap amal anak bani Adam adalah untuknya kecuali shaum, ia adalah untukku dan aku yang memberikan pahala dengannya. Dan sesungguhnya shaum itu adalah benteng pertahanan, pada hari ketika kamu shaum janganlah berbuat keji , jangan berteriak-teriak (pertengkaran), apabila seorang memakinya sedang ia shaum maka hendaklah ia katakan : ” sesungguhnya saya sedang shaum” . Demi jiwa Muhammad yang ada di tanganNya sungguh bau busuknya mulut orang yang sedang shaum itu lebih wangi disisi Allah pada hari kiamat daripada kasturi. Dan bagi orang yang shaum ada dua kegembiraan, apabila ia berbuka ia gembira dengan bukanya dan apabila ia berjumpa dengan Rabbnya ia gembira karena shaumnya. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    32. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw. Telah bersabda : Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan kebohongan, maka tidak ada bagi Allah hajat (untuk menerima) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya. (H.R: Jama’ah Kecuali Muslim) Maksudnya Allah tidak merasa perlu memberi pahala shaumnya.
    33. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda kepada seorang wanita Anshar yang sering di panggil Ummu Sinan : Apa yang menghalangimu untuk melakukan haji bersama kami ? Ia menjawab : Keledai yang ada pada kami yang satu dipakai oleh ayahnya si fulan (suaminya) untuk berhaji bersama anaknya sedang yang lain di pakai untuk memberi minum anak-anak kami. Nabipun bersabda lagi Umrah di bulan Ramadhan sama dengan mengerjakan haji atau haji bersamaku. H.R : Muslim)
    34. Rasulullah sw. bersabda : Apabila datang bulan Ramadhan kerjakanlah umrah karena umrah di dalamnya (bulan Ramadhan) setingkat dengan haji. (H.R : Muslim)

    KESIMPULAN

    Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa dalam mengamalkan shaum Ramadhan kita perlu melaksanakan adab-adab sbb : 1. Berbuka apabila sudah masuk waktu Maghrib. (dalil : 6)

    Sunnah berbuka adalah sbb :

    a. Disegerakan yakni sebelum melaksanakan shalat Maghrib dengan makanan yang ringan seperti kurma, air saja, setelah itu baru melaksanakan shalat. dalil : 2,3 dan 4)

    b. Tetapi apabila makan malam sudah dihidangkan, maka terus dimakan, jangan shalat dahulu. (dalil : 6)

    c. Setelah berbuka berdo’a dengan do’a sbb : Artinya : Telah hilang rasa haus, dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap wujud insya Allah. (dalil : 5)

    2. Makan sahur. (dalil : 7 dan 8)

    Adab-adab sahur :

    a. Dilambatkan sampai akhir malam mendekati Shubuh. (dalil 9 dan 10)

    b. Apabila pada tengah makan atau minum sahur lalu mendengar adzan Shubuh, maka sahur boleh diteruskan sampai selesai, tidak perlu dihentikan di tengah sahur karena sudah masuk waktu Shubuh. (dalil 11 dan 12) * Imsak tidak ada sunnahnya dan tidak pernah diamalkan pada zaman sahabat maupun tabi’in.

    3. Lebih bersifat dermawan (banyak memberi, banyak bershadaqah, banyak menolong) dan banyak membaca al-qur’an (dalil : 13)

    4. Menegakkan shalat malam / shalat Tarawih dengan berjama’ah. Dan shalat Tarawih ini lebih digiatkan lagi pada sepuluh malam terakhir(20 hb. Sampai akhir Ramadhan). (dalil : 14,15 dan 16)

    Cara shalat Tarawih adalah :

    a. Dengan berjama’ah. (dalil : 19)

    b. Tidak lebih dari sebelas raka’at yakni salam tiap dua raka’at dikerjakan empat kali, atau salam tiap empat raka’at dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir tiga raka’at. (dalil : 17)

    c. Dibuka dengan dua raka’at yang ringan. (dalil : 18)

    d. Bacaan dalam witir : Raka’at pertama : Sabihisma Rabbika. Roka’t kedua :Qul yaa ayyuhal kafirun. Raka’at ketiga : Qulhuwallahu ahad. (dalil : 21)

    e. Membaca do’a qunut dalam shalat witir. (dalil 22)

    5. Berusaha menepati lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil. Bila dirasakan menepati lailatul qadar hendaklah lebih giat beribadah dan membaca : Yaa Allah Engkaulah pengampun, suka kepada keampunan maka ampunilah aku. (dalil : 25 dan 26)

    6. Mengerjakan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir. (dalil : 27) 7.

    Cara i’tikaf :

    a. Setelah shalat Shubuh lalu masuk ke tempat i’tikaf di masjid. (dalil 28)

    b. Tidak keluar dari tempat i’tikaf kecuali ada keperluan yang mendesak.(dalil : 29)

    a. Tidak mencampuri istri dimasa i’tikaf. (dalil : 30) 7. Mengerjakan umrah. (dalil : 33 dan 34)

    8. Menjauhi perkataan dan perbuatan keji dan menjauhi pertengkaran. (dalil : 31 dan 32)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:10 am on 18 June 2015 Permalink | Balas  

    Panduan Amalan di Bulan Ramadhan 

    ramadhan 2Panduan Amalan di Bulan Ramadhan

    Ramadhan bagi umat Islam bukan sekedar salah satu nama bulan qomariyah, tapi dia mempunyai makna tersendiri. Ramadhan bagi seorang muslim adalah rihlah dari kehidupan materialistis kepada kehidupan ruhiyah, dari kehidupan yang penuh berbagai masalah keduniaan menuju kehidupan yang penuh tazkiyatus nafs dan riyadhotur ruhiyah. Kehidupan yang penuh dengan amal taqorrub kepada Allah, mulai dari tilawah Al-Qur’an, menahan syahwat dengan shiyam, sujud dalam qiyamul lail, ber’itikaf di masjid, dan lain-lain. Semua ini dalam rangka merealisasikan inti ajaran dan hikmah puasa Ramadhan yaitu : Agar kalian menjadi orang yang bertaqwa. (Al-Baqoroh: 183 dan akhir Al-Hijr)

    Ramadhan juga merupakan bulan latihan bagi peningkatan kualitas pribadi seorang mulism. Hal itu terlihat pada esensi puasa yakni agar manusia selalu dapat meningkatkan nilainya dihadapan Allah SWT dengan bertaqwa, disamping melaksanakan amaliyah-amaliyah positif yang ada pada bulan Ramadhan. Diantara amaliyah-amaliyah Ramadhan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW baik itu amaliyah ibadah maupun amaliyah ijtijma’iyah adalah sebagai berikut:

    Shiyam (puasa)

    Amaliyah terpenting selama bulan Ramadhan tentu saja adalah shiyam (puasa), sebagaimana termaktub dalam firman Allah pada surat al Baqoroh : 183-187. Dan diantara amaliyah shiyam Ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah ialah :

    a. Berwawasan yang benar tentang puasa dengan mengetahui dan menjaga rambu-rambunya. “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi).

    b. Tidak meninggalkan shiyam, walaupun sehari, dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at Islam. Rasulullah SAW bersabda bahwa : “Barangsiapa tidak puasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshoh atau sakit, hal itu (merupakan dosa besar) yang tidak bisa ditebus bahkan seandainya ia berpuasa selama hidup” (HR At Turmudzi).

    c. Menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai shiyam. Rasulullah SAW pernah bersabda : ” Bukanlah (hakikat) shiyam itu sekedar meninggalkn makan dan minum, melainkan meninggalkan pekerti sia-sia (tak bernilai) dan kata-kata bohong” (HR Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah). Rasulullah juga pernah bersabda bahwa : ” Barangsiapa yang selama berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan mempraktekkannya, maka tidak ada nilainya bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekedar meninggalkan makan dan minum ” (Hr Bukhori dan Muslim).

    d. Bersungguh – sungguh melakukan shiyam dengan menepati aturan-aturannya. Rasulullah SAW bersabda : ” Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan sepenuh Iman dan kesungguhan, maka akan diampunkanlah dosa-dosa yang pernah dilakukan ” (HR. Bukhori, Muslim dan Abu Daud).

    e. Bersahur, makanan yang berkah (al ghoda’ al mubarok ). Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda bahwa : ” Makanan sahur semuanya bernilai berkah, maka jangan anda tinggalkan, sekalipun hanya dengan seteguk air. Allah dan para Malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur” (HR. Ahmad). Dan disunnahkan mengakhirkan waktu makan sahur .

    f. Ifthor, berbuka puasa. Rasululah pernah menyampaikan bahwa salah satu indikasi kebaikan umat manakala mereka mengikuti sunnah dengan mendahulukan ifthor (berbuka puasa) dan mengakhirkan sahur. Dalam hal berbuka puasa Rasulullah SAW juga pernah bersabda bahwa : ” Sesungguhnya termasuk hamba Allah yang paling dicintai olehNya, ialah mereka yang bersegera berbuka puasa. ” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Bahkan beliau mendahulukan ifthor walaupun hanya dengan ruthob (kurma mengkal), atau tamr (kurma) atau air saja ” (HR. Abu Daud dan Ahmad).

    g. Berdo’a. Sesudah hari itu menyelesaikan ibadah puasa dengan berifthor, Rasulullah SAW seperti prilaku yang beliau lakukan sesudah menyelesaikan suatu ibadah, dan sebagai wujud syukur kepada Allah, beliau membaca do’a sebagai berikut ; Rasulullah bahkan mensyari’atkan agar orang-orang yang berpuasa banyak memanjatkan do’a, sebab do’a mereka akan dikabulkan oleh Allah. Dalam hal ini beliau pernah bersabda bahwa : ” Ada tiga kelompok manusia yang do’anya tidak ditolak oleh Allah. Yang pertama ialah do’a orang-rang yang berpuasa sehingga mereka berbuka” (HR. Ahmad dan Turmudzi).

    Tilawah (membaca) al Qur’an

    Ramadhan adalah bulan diturunkannya al Qur’an. (QS. Al Baqoroh: 185). Pada bulan ini Malaikat Jibril pernah turun dan menderas al Qur’an dengan Rasulullah SAW (HR. Bukhori). Maka tidak aneh kalau Rasulullah SAW (yang selalu menderas al Qur’an disepanjang tahun itu) lebih sering menderasnya pada bulan Ramadhan.

    Imam az Zuhri pernah berkata : ” Apabila datang Ramadhan maka kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca al Qur’an”. Hal ini tentu saja dilakukan dengan tetap memperhatikan tajwid (kaedah membaca al Qur’an) dan esensi dasar diturunkannya al Qur’an untuk ditadabburi, dipahami dan diamalkan (QS. Shod: 29).

    Ith’am ath tho’am (memberikan makanan dan shodaqoh lainnya)

    Salah satu amaliyah Ramadhan Rasulullah ialah memberikan ifthor (santapan berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa. Seperti beliau sabdakan : “Barangsiapa yang memberi ifthor kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut ” (HR. Turmudzi dan an Nasa’i). Hal memberi makan dan sedekah selama bulan Ramadhan ini bukan hanya untuk keperluan iftor melainkan juga untuk segala kebajikan, Rasulullah yang dikenal dermawan dan penuh peduli terhadap nasib umat, pada bulan Ramadhan kedermawanan dan keperduliannya tampil lebih menonjol, kesigapan beliau dalam hal ini bahkan dimisalkan sebagai ” lebih cepat dari angin ” (HR Bukhori ).

    Memperhatikan kesehatan.

    Shaum memang termasuk kategori ibadah mahdhoh (murni), sekalipun demikian agar nilai maksimal ibadah puasa dapat diraih, Rasulullah justru mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa dibawah ini:

    a. Menyikat gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud).

    b. Berobat seperti dengan berbekam (al hijamah) seperti yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim.

    c. Memperhatikan penampilan, seperti pernah diwasiatkan oleh Rasulullah SAw kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud RA, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut. ( HR. AL Haitsami)

    Memperhatikan harmoni keluarga

    Sekalipun puasa adalah ibadah yang khusus diperuntukkan kepada Allah, yang memang juga mempunyai nilai khusus dihadapan Allah, tetapi agar hal tersebut diatas dapat terealisir dengan lebih baik, maka Rasulullah justru mensyari’atkan agar selama berpuasa umat tidak mengabaikan harmoni dan hak-hak keluarga. Seperti yang diriwayatkan oleh istri-istri beliau, Aisyah dan Ummu Salamah RA, Rasulullah tokoh yang paling baik untuk keluarga itu, selama bulan Ramadhan tetap selalu memenuhi hak-hak keluarga beliau. Bahkan ketika Rasulullah berada dalam puncak praktek ibadah shaum yakni i’tikaf, harmoni itu tetap terjaga.

    Memperhatikan aktivitas da’wah dan social

    Kontradiksi dengan kesan dan perilaku umum tentang berpuasa, Rasulullah SAW justru menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut dimuka, beliau juga aktif melakukan da’wah, kegiatan sosial, perjalanan jauh dan jihad. Dalam sembilan kali Ramadhan yang pernah beliau alami, beliau misalnya melakukan perjalanan ke Badr (tahun 2 H), Mekah ( tahun 8 H), dan ke Tabuk (tahun 9 H), mengirimkan 6 sariyah (pasukan jihad yang tidak secara langsung beliau ikuti/pimpin), melaksanakan perkawinan putrinya (Fathimah) dengan Ali RA, beliau berkeluarga dengan Hafshoh dan Zainab RA, meruntuhkan berhala-berhala Arab seperti Lata, Manat dan Suwa’, meruntuhkan masjid adh Dhiror, dll.

    Qiyam Ramadhan (sholat tarawih)

    Diantara kegiatan ibadah Rasulullah selama bulan Ramadhan ialah ibadah qiyam al lail, yang belakangan lebih populer disebut sebagai sholat tarowih. Hal demikian ini beliau lakukan bersama dengan para sahabat beliau. Sekalipun karena kekhawatiran bila akhirnya sholat tarawih (berjama’ah) itu menjadi diwajibkan oleh Allah, Rasulullah kemudian meninggalkannya. (HR. Bukhori Muslim).

    Dalam situasi itu riwayat yang shohih menyebutkan bahwa Rasulullah shalat tarowih dalam 11 reka’at dengan bacaan-bacaan yang panjang (HR. Bukhori Muslim). Tetapi ketika kekhawatiran tentang pewajiban sholat tarowih itu tidak ada lagi, kita dapatkan riwayat-riwayat lain, juga dari Umar ibn al Khothob RA, yang menyebutkan jumlah reka’at shalat tarowih adalah 21 atau 23 reka’at. (HR. Abdur Razaq dan al Baihaqi). Mensikapi perbedaan reka’at ini bagus juga bila kita cermati pendapat dan kajian dari Ibnu hajar al Asqolani asy Syafi’i, seorang tokoh yang juga dijuluki sebagai amirul mu’minin fi hadits, beliau menyampaikan bahwa : Beberapa informasi tentang jumlah reka’at tarowih itu menyiratkan ragam sholat sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing, kadang ia mampu melaksanakan shalat dalam 11 reka’at, kadang 21 dan terkadang 23 reka’at pula. Hal demikian itu kembali juga semangat dan antusiasme masing-masing. Dahulu mereka yang sholat dengan 11 reka’at itu dilakukan dengan bacaan yang panjang sehingga mereka bertelekan diatas tongkat penyangga, sementara mereka yang sholat dengan 21 atau 23 reka’at mereka membaca bacaan-bacaan yang pendek (dengan tetap memperhatikan thoma’ninah sholat) sehingga tidak menyulitkan.

    I’tikaf.

    Diantara amaliyah sunnah yang selalu dilakukan oleh Rasulullah SAw dalam bulan Ramadhan ialah i’tikaf, yakni berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Seperti dilaporkan oleh Abu Sa’id al Khudlri RA, hal demikiam ini pernah beliau lakukan pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan dan terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Ibadah yang demikian penting ini sering dianggap berat sehingga ditinggalkan oleh orang-orang Islam, maka tidak aneh kalau Imam az Zuhri berkomentar ; Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan ibadah i’tikaf, padahal Rasulullah SAW tak pernah meninggalkannya semenjak beliau datang ke madinah sehingga wafatnya disana.

    Lailat al Qodr

    Selama bulan Ramadhan ini terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer disebut sebagai lailat al Qodr, malam yang lebih berharga dari seribu bulan (QS. Al Qodr : 1-5). Rasululah tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meraih lailat al qodr terutama pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan puasa (HR. Bukhori Muslim ). Dalam hal ini Rasulullah menyampaikan bahwa : “Barangsiapa yang sholat pada malam lailatul qodr berdasarkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hr. Bukhori Muslim). Dalam keadaan ini Rasulullah mengajarkan do’a sebagai berikut :

    Umroh

    Umroh atau haji kecil itu bagus juga apabila dilaksanakan pada bulan Ramadhan, sebab nilainya bisa berlipat-lipat, sebagaimana pernah disabdakan oleh Rasulullah kepada seorang wanita dari anshor bernama Ummu Sinan: ” Agar apabila datang bulan Ramadhan ia melakukan umroh, karena nilainya setara dengan haji bersama Rasulullah SAW. (Hr. Bukhori Muslim)

    Zakat Fitrah

    Pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan amaliyah yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW ialah membayarkan zakat fithr, suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh umat Islam baik laik-laki maupun perempuan, baik dewasa maupun anak-anak (HR. Bukhori Muslim). Zakat fithr ini juga berfungsi sebagai pelengkap penyucian untuk pelaku puasa dan untuk membantu kaum fakir miskin. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

    Ramadhan bulan taubat menuju fithroh

    Selama sebulan penuh, secara berduyun-duyun umat kembali kepada Allah yang M aha Pemurah juga Maha Pengampun. Dia Dzat yang menyampaikan bahwa pada setiap malam bulan Ramadhan Allah membebaskan banyak hambaNya dari api nereka (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Karenanya inilah satu kesempatan emas agar umat dapat kembali, bertaubat agar ketika mereka selesai melaksanakan ibadah puasa mereka benar-benar kembali kepada fithrohnya. Khotimah Demikianlah sebagian amaliyah Ramadhan yang mudah dan bisa dilakukan oleh setiap muslim. Dan dengan demikian Ramadhan juga menyiratkan salah satu prinsip dasar Islam tentang moderasi dan integralitas ajarannya. Ramadhan memang bulan penuh kebaikan, sehingga Rasulullah pernah bersabda ; “Apabila orang-orang mengetahui nilai lebih Ramadhan, mereka akan berharap agar semua bulan dijadikan sebagai bulan Ramadhan”. (HR. Ibnu Huzaimah).

    Semoga Allah menerima amaliyah shiyam dan qiyam kita sekalian, aamien.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:04 am on 17 June 2015 Permalink | Balas  

    Keutamaan Bulan Ramadhan dan Keutamaan Beramal di Dalamnya 

    ramadhan 2Keutamaan Bulan Ramadhan dan Keutamaan Beramal di Dalamnya

    1. “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda : Ketika datang bulan Ramadhan: Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkat, diwajibkan atas kamu untuk shaum, dalam bulan ini pintu Jannah dibuka, pintu Neraka ditutup, Setan- Setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang nilanya sama dengan seribu bulan, maka barangsiapa diharamkan kebaikannya ( tidak beramal baik didalamnya), sungguh telah diharamkan ( tidak mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini).” ( HR. Ahmad, Nasai dan Baihaqy. Hadits Shahih Ligwahairihi).

    2. “Diriwayatkan dari Urfujah, ia berkata : Aku berada di tempat ‘Uqbah bin Furqad, maka masuklah ke tempat kami seorang dari Sahabat Nabi saw. ketika Utbah melihatnya ia merasa takut padanya, maka ia diam. ia berkata: maka ia menerangkan tentang shaum Ramadhan ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda tentang bulan Ramadhan: Di bulan Ramadhan ditutup seluruh pintu Neraka, dibuka seluruh pintu Jannah, dan dalam bulan ini Setan dibelenggu. Selanjutnya ia berkata : Dan dalam bulan ini ada malaikat yang selalu menyeru : Wahai orang yang selalu mencari/ beramal kebaikan bergembiralah anda, dan wahai orang-orang yang mencari/berbuat kejelekan berhentilah (dari perbuatan jahat) . Seruan ini terus didengungkan sampai akhir bulan Ramadhan.” (Riwayat Ahmad dan Nasai )

    3. “Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Shalat Lima waktu, Shalat Jum’at sampai Shalat Jum’at berikutnya, Shaum Ramadhan sampai Shaum Ramadhan berikutnya, adalah menutup dosa-dosa (kecil) yang diperbuat diantara keduanya, bila dosa-dosa besar dijauhi.”(H.R.Muslim)

    4. “Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Shaum dan Qur’an itu memintakan syafa?at seseorang hamba di hari Kiamat nanti. Shaum berkata : Wahai Rabbku,aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku hak untuk memintakan syafa’at baginya. Dan berkata pula AL-Qur’an : Wahai Rabbku aku telah mencegah dia tidur di malam hari ( karena membacaku ), maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memmintakan syafaat.” ( H.R. Ahmad, Hadits Hasan).

    5. “Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : bahwa sesungguhnya bagi Jannah itu ada sebuah pintu yang disebut ” Rayyaan”. Pada hari kiamat dikatakan : Dimana orang yang shaum? ( untuk masuk Jannah melalui pintu itu), jika yang terakhir diantara mereka sudah memasuki pintu itu, maka ditutuplah pintu itu.” (HR. Bukhary Muslim).

    6. Rasulullah saw. bersabda : Barangsiapa shaum Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang ( HR.Bukhary Muslim).

    **

    KESIMPULAN :

    Kesemua Hadits di atas memberi pelajaran kepada kita, tentang keutamaan bulan Ramadhan dan keutamaan beramal didalamnya, diantaranya :

    1. Bulan Ramadhan adalah:

    a. Bulan yang penuh Barakah.

    b. Pada bulan ini pintu Jannah dibuka dan pintu neraka ditutup.

    c. Pada bulan ini Setan-Setan dibelenggu.

    d. Dalam bulan ini ada satu malam yang keutamaan beramal didalamnya lebih baik daripada beramal seribu bulan di bulan lain, yakni malam LAILATUL QADR.

    e. Pada bulan ini setiap hari ada malaikat yang menyeru menasehati siapa yang berbuat baik agar bergembira dan yang berbuat ma’shiyat agar menahan diri. (dalil 1 & 2).

    2. Keutamaan beramal di bulan Ramadhan antara lain :

    a. Amal itu dapat menutup dosa-dosa kecil antara setelah Ramadhan yang lewat sampai dengan Ramadhan berikutnya.

    b. Menjadikan bulan Ramadhan memintakan syfaa’t.

    c. Khusus bagi yang shaum disediakan pintu khusus yang bernama Rayyaan untuk memasuki Jannah. ( dalil 3, 4, 5 dan 6).

    ***

    Dari Sahabat

     
    • cvnadagroup2017 12:02 pm on 17 Juni 2015 Permalink

      like

  • erva kurniawan 6:59 am on 16 June 2015 Permalink | Balas  

    Ramadhan Bulan Berkah 

    ramadhan 2Ramadhan Bulan Berkah

    Ikhwati wa akhowati fillaah, Salah satu sifat Allah SWT adalah Ia memiliki irodah (kehendak), sebagaimana firmanNya : “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).” (QS Al Qoshosh [28]:68).

    Allah memilih sesuatu yang dikehendakiNya. Allah memilih tempat yang dikehendakiNya. Allah memilih manusia yang dikehendakiNya, pilihanNya sendiri ada yang menjadi Rasul, pemimpin negara, cendekia, dsb. Allah memilih gua Hiro’ yang dikehendakiNya sebagai tempat pertemuan Rasul dan Malaikat Jibril. Allah memilih Mekkah yang dikehendakiNya sebagai kiblat kaum Muslimin dan memilih pula kota Madinah sebagai basis pertahanan Rasulullah dalam menyebarkan risalah Ilahi.

    Begitu pula halnya dengan bulan-bulan dalam setahun, Allah telah memilih Ramadhan sebagai bulan yang istimewa, yang namanya disebutkan dalam Al Qur-an. Firman Allah : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” QS Al Baqoroh [2]:185.

    Jika Allah berkehendak, tentu ada suatu maksud tertentu dibalik kehendakNya itu. Allah mengutus Rasulullah dengan satu maksud, untuk menyampaikan risalah-Nya.

    Begitu halnya dengan bulan Ramadhan, sebab Allah tidak akan mengatakan Ramadhan sebagai bulan istimewa jika tidak ada sesuatu dibalik itu. Baginda Rasulullah SAW, ketika berada di penghujung bulan Sya’ban, selalu mengatakan kepada sahabatnya : “Telah datang padamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka sambutlah kedatangannya. Telah datang bulan shiyam membawa segala keberkahan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu.” (HR. Ath Thabrani) Dalam sabdanya yang lain : “Sesungguhnya telah datang padamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah memerintahkan berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu, dibukakan segala pintu Surga, dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu syetan-syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa yang tidak diberikan kebajikan malam itu, berarti telah diharamkan baginya segala rupa kebajikan.” (HR. An Nasai dan Al Baihaqi)

    Jika kita menengok ke belakang, melihat sirah Rasulullah SAW kita akan melihat betapa banyaknya kejadian penting terjadi pada bulan Ramadhan, di antaranya :

    1. Bulan diturunkannya Al Qur-an.

    Firman Allah : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS Al Baqarah [2]:185)

    Dalam tafsir Mafatihul Ghaib, berkenaan dengan ayat diatas, Ar Razi berkata : “Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan dengan jalan menurunkan Al Qur-an. Karenanya, Allah SWT mengkhususkannya dengan satu ibadah yang sangat besar nilainya, yakni puasa (shaum). Shaum adalah satu senjata yang mengungkapkan tabir-tabir yang menghalangi kita manusia memandang nur Ilahi yang Maha Quddus. Al Qur-an adalah suatu kitab yang tiada bandingannya, pemisah yang haq dan bathil, berlaku sepanjang masa, dan menjadi pengikat seluruh ummat Islam di seluruh dunia.

    2. Bulan diturunkannya kitab-kitab suci lainnya.

    Di bulan ini pula, Allah menurunkan kitab-kitabNya yang lain kepada para Rasul, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits: “Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada 6 Ramadhan dan Injil diturunkan pada 13 Ramadhan sedangkan Al Qur-an diturunkan pada 24 Ramadhan.” (HR. Ahmad)

    Itulah keberkahan bulan Ramadhan, bulan turunnya ayat-ayat Qouliyyah, minhajul hayah bagi keberadaan manusia di muka bumi, penunjuk jalan bagi orang-orang yang mau mensucikan dirinya.

    3. Bulan pilihan Allah bagi terjadinya perang Badr.

    Perang pertama yang dilakukan kaum Muslimin, dimana perang ini menjadi penentu kelangsungan perjuangan da’wah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabatnya. Perang Badr dinamakan Allah dengan sebutan “yaumul furqon” (hari pembeda antara yang haq dan bathil), sebagaimana firmanNya : “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” QS Al Anfal [8]:41.

    Muhammad Qutb mengatakan dalam tafsirnya bahwa perang ini dari awal hingga akhirnya adalah rencana Allah SWT yang dilaksanakan dengan pimpinan dan bantuanNya. Dimana dalam jalannya pertempuran, Allah SWT memenangkan kaum Muslimin yang mempunyai personil dan persenjataan minim, ditambah kondisi fisik kaum Muslimin yang secara lahiriah lebih lemah karena sedang berpuasa, setelah menerima perintah yang baru beberapa saat diterimanya. Namun itu bukanlah hambatan untuk menang, karena kekuatan utama kaum Muslimin adalah kekuatan ruhiyyah mereka dengan keyakinan akan kebenaran janji Allah SWT. Peperangan ini membuahkan babakan baru dalam sistem gerakan Islam. Perang ini memperbaharui kondisi ummat Islam, setelah dengan sabar dan tabah menempuh tahapan-tahapan perjuangan da’wah. Lahir tatanan baru dalam kehidupan manusia, bagi penerapan hak-hak asasi serta sistem dan struktur baru bagi masyarakat dan negara.

    4. Bulan yang dipilih bagi terbukanya kota Mekkah.

    Peristiwa “fathul makkah” terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan, sekitar 10000 kaum Muslim mendatangi Makkah dari segala penjuru. Pada saat itulah terjadi fenomena kemenangan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah manapun, dimana semua musuh, hingga para pemimpinnya menerima dan mengikuti agama lawan. Ini tidak terjadi melainkan dalam sejarah Islam. Kemenangan ini hakikatnya adalah kemenangan akidah, kalimat tauhid dan bukan kemenangan individual atau balas dendam.

    5. Bulan yang dipilih Allah untuk Lailatul Qadar.

    Dijelaskan dalam firman Allah SWT : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS Al Qadr [97]:1-5)

    6. Bulan yang dipilih untuk pelaksanaan puasa dan pemindahan qiblat.

    Firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. ” QS Al Baqarah [2] : 183.

    Bersamaan dengan turunnya ayat perintah berpuasa di bulan Ramadhan, pemindahan qiblat ummat Islam dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram inipun menjadi pembeda antara yang haq dan bathil, dimana pada saat sebelumnya orang Yahudi merasa lebih benar karena puasa mereka dan kiblat mereka diikuti kaum Muslimin. Namun dengan perintah itu, maka berbedalah kaum Muslimin dengan ahlul kitab. Berbeda pula kiblat Muslimin dengan mereka, serta puasa Muslimin dengan mereka. Kecongkakan merekapun berakhir dengan barokah bulan ini.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 6:50 am on 15 June 2015 Permalink | Balas  

    Marhaban Ya Ramadhan 

    ramadhan 2Marhaban Ya Ramadhan

    Marhaban barasal dari kata rahb yang berarti luas atau lapang. Marhaban menggambarkan suasana penerimaan tetamu yang disambut dan diterima dengan lapang dada, dan penuh kegembiraan. Marhaban ya Ramadhan (selamat datang Ramadhan), mengandungi arti bahwa kita menyambut Ramadhan dengan lapang dada, penuh kegembiraan, tidak dengan keluhan.

    Rasulullah sendiri senantiasa menyambut gembira setiap datangnya Ramadhan. Dan berita gembira itu disampaikan pula kepada para sahabatnya seraya bersabda: “Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkatan. Allah telah memfardlukan atas kamu puasanya. Di dalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu surga dan dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu seluruh setan. Padanya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam itu maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebajikan” (Hr. Ahmad)

    Marhaban Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah swt. Perjalanan menuju Allah swt itu dilukiskan oleh para ulama salaf sebagai perjalanan yang banyak ujian dan tentangan. Ada gunung yang harus didaki, itulah nafsu. Digunung itu ada lereng yang curam, belukar yang hebat, bahkan banyak perompak yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak dilanjutkan. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan.

    Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat yang indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya. Untuk sampai pada tujuan tentu diperlukankan bekal yang cukup. Bekal itu adalah benih-benih kebajikan yang harus kita tabur didalam jiwa kita. Tekad yang keras dan membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarrus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:22 am on 14 June 2015 Permalink | Balas  

    Memasuki bulan Ramadhan 

    PUASAMemasuki bulan Ramadhan

    Assalaamualaikum wr.wb.

    Ketika Rasulullah SAW. sedang berkhotbah pada suatu Sholat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan “Aamin” sampai 3x(tiga kali), dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Aamin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Aamin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Aamin sampai tiga kali. Ketika selesai sholat jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “Ketika aku sedang berhotbah, datanglah Malaikat Zibril dan berbisik, hai Rasullullah aamin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.

    Do’a Malaikat Zibril itu adalah sbb: “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

    • Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
    • Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami istri;
    • Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Maka Rasullahpun mengatakan Aamin sebanyak 3 kali.

    Dapat kita bayangkan, yang berdo’a adalah Malaikat dan yang mengaminkan adalah Rasullullah dan para sahabat, dan dilakukan pada hari Jum’at. Tentunya do’a tersebut akan didengar oleh Allah SWT Saya yakin bahwa kita semua tidak ingin kalau puasa kita tidak diterima oleh Allah SWT dan hanya merasakan lapar dan dahaga belaka.

    Oleh karena itu, bersama e-mail ini saya mengucapkan : “Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika di hari- hari kemarin ada perbuatan saya yang dirasakan kurang berkenan di hati rekan/sahabat/saudara saya sekalian, baik itu kesalahan yang di sengaja maupun tidak disengaja. Semoga Allah SWT. memberi kekuatan, terutama kekuatan iman kepada kita semua dalam menghadapi Ramadhan tahun ini, Amin”.

    Wassalaamualaikum wr. wb.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 13 June 2015 Permalink | Balas  

    Puasa Ramadhan 

    ramadhan8Puasa Ramadhan

    arsip fiqh

    Puasa itu ada dua macam, puasa fardhu dan puasa tathawwu’ atau puasa sunnah. Puasa fardhu ada tiga macam, yaitu puasa Ramadhan, puasa Kaffarah dan puasa Nadzar.

    Puasa Ramadhan adalah salah satu kewajiban yang di bebankan oleh Allah SWT kepada kita. Ia merupakan rukun Islam yang keempat. Kewajiban tersebut ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian puasa Ramadhan sebagaimana diwajibkannya puasa itu kepada umat-umat yang terdahulu sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.” (Al-Baqarah: 183).

    Arti Puasa

    Puasa secara bahasa (Etimologi) berarti al-imsaak (menahan). Maksudnya menahan dari apa saja. Menahan dari bicara berarti puasa bicara, menahan dari tidur berarti puasa tidur, menahan dari makan dan minum berarti puasa makan dan minum, dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT di bawah ini:

    “Inni Nadzartu lirrahmaani Shauma” (sesungguhnya aku bernadzar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih untuk berpuasa). (Maryam: 26). Puasa di sini maksudnya menahan diri dari berbicara.

    Sedang menurut istilah ulama fiqh (terminologi), puasa berarti menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa disertai niat pada malam harinya, sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

    Keutamaan Puasa

    1. Puasa itu untuk Allah (sebagai penghargaan dari-Nya), bukan untuk manusia. Artinya Allah-lah yang langsung membalasnya.

    Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, Allah Azza wa Jalla berfirman (dalam hadis Qudsi-Nya), “Semua amalan manusia adalah untuk dirinya, kecuali puasa, maka itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberinya ganjaran Puasa itu merupakan benteng, maka ketika datang saat berpuasa, janganlah seorang berkata keji atau berteriak-teriak atau mencai-maki. Seandainya dia dicaci oleh seseorang atau diajak berkelahi, hendaknya dia menjawab, ‘saya ini berpuasa’ dua kali. Demi Allah yang jiwa raga Muhammad berada pada ‘tangan’-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum daripada bau minyak kesturi. Dan orang yang berpuasa itu akan mendapat dua kegembiraan yang menyenangkan hati, yaitu di saat berbuka, ia akan bergembira dengan berbuka itu dan di saat ia menemui Tuhannya nanti, ia akan bergembira dengan puasanya.” (HR Muslim, Nasa’i dan Ahmad).

    Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Puasa itu merupakan benteng. Maka jika salah seorang di antara kalian berpuasa, janganlah ia berkata keji dan mencaki-maki. Seandainya ada orang yang mengajaknya berkelahi atau mencaci-makinya, hendaklah ia berkata, ‘saya ini berpuasa’ dua kali. Demi Allah yang jiwa raga Muhammad berada pada tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari bau minyak kesturi. Ia meninggalkan makan dan minum dan nafsu syahwatnya karena Aku. Puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku akan memberinya pahala. Sedang setiap kebajikan itu akan mendapat pahala sepuluh kali lipat.” (HR Bukhari dan Abu Daud)

    1. Apabila puasa itu dilaksanakan dengan baik dan benar, ia akan bisa memberikan syafa’at kepada orang yang melakukannya.

    “Puasa dan Alquran itu akan memberi syafaat bagi hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, ‘Ya Tuhan, Engkau larang ia makan dan memuaskan syahwatnya di waktu siang dan sekarang ia meminta syafaat kepadaku karena itu’. Lalu Alquran pun berkata, ‘Engkau larang ia tidur di waktu malam, sekarang ia meminta syafaat kepadaku mengenai itu.’ Akhirnya, syafaat kedua mereka pun di terima oleh Allah SWT.” (HR Ahmad dengan sanad yang sahih).

    1. Puasa akan dapat memasukkan orang yang melakukannya ke sorga dan menjauhkannya dari neraka.

    Dari Abu Umamah berkata, saya datang kepada Rasulullah saw lalu saya berkata kepadanya, “Perintahlah aku dengan semacam amal yang akan dapat memasukkanku ke sorga”, maka Nabi saw bersabda: “Hendaklah kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada tandingannya”. Lalu aku datangi Nabi untuk kali keduanya, maka Nabi saw bersabda: “Hendaklah kamu berpuasa.” (HR Ahmad, Nasa’i dan Hakim seraya menshahihkannya).

    Dari Abu Sa’id al-Khudri ra, Nabi saw bersabda, “Tidaklah seorang hamba itu berpuasa satu hari karena Allah kecuali Allah mesti menjauhkan dirinya dari neraka sebab puasa itu selama tujuh puluh tahun.” (HR al-Jama’ah [sekelompok ulama hadis] kecuali Abu Daud).

    Dari Sahl bin Sa’d, Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya sorga itu mempunyai sebuah pintu yang disebut ‘ar-Rayyan’ (artinya basah yang melimpah). Pada hari Kiamat akan dipanggil-panggil: “Hai, mana orang-orang yang berpuasa?” Lalu bila orang yang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu itu pun ditutupkanlah.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Keutamaan Bulan Ramadhan

    1. Pintu-pintu sorga (jalan-jalan menuju kebaikan) dibuka, pintu-pintu neraka (jalan-jalan menuju amal jelek) ditutup dan syetan-syetan (provokator amal kejahatan) dibelenggu Allah SWT.

    Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda -yakni ketika datang bulan Ramadhan-, “Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah, Allah telah mewajibkan kamu berpuasa. Pada bulan itu pintu-pintu sorga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam yang nilainya lebih berharga daripada seribu bulan. Maka, barangsiapa tidak berhasil memperoleh kebaikannya, sungguh ia tidak akan mendapatkan kebaikan itu selama-lamanya.” (HR Ahmad, Nasa’i dan Baihaqi).

    1. Orang yang melakukan kebaikan di bulan itu diperintah berbahagia dan orang yang melakukan kejahatan di bulan itu diperintah berhenti.

    “…dan seorang malaikat akan berseru, ‘Wahai pencari kebaikan, bergembiralah. Wahai pecinta kejahatan, berhentilah.” (HR Ahmad dan Nasa’i dengan sanad yang baik)

    1. Puasa Ramadhan yang kita lakukan ini menjadi pelebur atas dosa -dosa yang telah kita lakukan dari satu Ramadhan ke Ramadhan yang lain.

    Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Salat yang lima waktu, Salat Jum’at yang satu ke salat Jum’at yang lain itu menghapuskan kesalahan-kesalahan yang terdapat di antara masing-masing selama dosa besar itu dijauhi.” (HR Muslim).

    1. Apabila puasa Ramadhan itu dilakukan dengan ikhlas, maka diampunilah semua dosa-dosanya yang telah lampau.

    Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan ridha Allah SWT, maka akan diampunilah dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR Ah Ahmad, dan Ashabus Sunan).

    Referensi:

    1. Fiqhus Sunnah, Sayyid sabiq
    2. Tamamul Minnah, Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
    • cvnadagroup2017 7:31 am on 13 Juni 2015 Permalink

  • erva kurniawan 1:25 am on 12 June 2015 Permalink | Balas  

    Perbedaan Mathla’ (Tempat Terbit Bulan) dan Implikasinya dalam Menentukan Satu Syawal 

    hilalPerbedaan Mathla’ (Tempat Terbit Bulan) dan Implikasinya dalam Menentukan Satu Syawal

    arsip fiqh

    Dalam menentukan awal Ramadhan dan awal Syawal (Idul Fitri) para ulama berbeda pendapat, sehingga tidak jarang kita saksikan bersama bahwa negara A sudah berpuasa atau sudah berhari raya, sementara negara yang lain belum berpuasa atau berhari raya. Perbedaan pendapat tersebut akhirnya bermuara kepada lahirnya dua kelompok ulama yang berbeda dalam menyikapi mathla’ (tempat terbitnya bulan).

    Kelompok pertama, mereka memandang bahwa di dunia Islam ini hanya ada satu mathla’ saja. Maksudnya, jika ada salah satu negara yang berpenduduk muslim sudah melihat bulan (meru’yah hilal), maka wajib hukumnya negara-negara Islam yang lain yang belum melihat bulan mengikuti hasil ru’yah negara tersebut. Mereka yang masuk dalam kelompok ini adalah jumhurul ulama (sebagian ulama Hanafiyah, ulama-ulama mazhab Maliki, ulama-ulama mazhab Hanbali, Malik, al-Laits, Syafi’I, Ahmad, Ibnul Qasim, sebagian kecil ulama madzhab Syafi’I, al-Qadhi Abu Thayyib, ad-Daarimi dan Abu Ali as-Sanji).

    Kelompok kedua, mereka memandang bahwa setiap negara yang berpenduduk muslim itu mempunyai mathla’ sendiri. Sehingga mereka boleh bersandar/berhujjah -dalam hal memulai puasa atau hari rayanya- dengan hasil ru’yah sendiri dan tidak harus mengikuti hasil ru’yah negara muslim yang lain. Mereka yang tergabung dalam kelompok ini adalah sebagian besar ulama mazhab Hanafi dan sebagian besar ulama mazhab Syafi’i (sedangkan imam Syafi’I sendiri berada pada kelompok pertama).

    Dalil-Dalil Masing-Masing Kelompok

    Dalil Kelompok Pertama

    Hadis Abu Hurairah dan yang lain, “Berpuasalah karena melihat bulan (hilal) dan berbukalah (berhari raya Idul Fitri) karena melihat bulan juga. Jika kamu terhalang mendung (awan) dalam melihat bulan, maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban itu menjadi 30 hari.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Jadi, hadis tersebut menunjukkan bahwa kewajiban puasa bagi umat Islam itu bergantung kepada mutlaknya ru’yah, sedangkan mutlak itu sendiri berlaku sesuai dengan kemutlakannya. Karena itu, cukuplah dalam masalah ini ru’yah yang dilakukan oleh kelompok atau perorangan.

    Hadis Nabi saw, “Puasa kamu adalah hari di mana kamu berpuasa, ifthor (hari raya Idulfitri) kamu adalah hari di mana kamu berhari raya Idulfitri dan hari raya Iduladhha kamu adalah hari di mana kamu berhari raya Iduladhha.”

    Karena itu, apabila ada seseorang yang melihat malam ketiga puluh dari bulan Sya’ban di suatu tempat, baik dekat maupun jauh, maka wajib berpuasa.

    Qiyas

    Mereka mengqiyaskan negara-negara yang jauh dengan kota-kota yang dekat dengan negara tempat ru’yah. Misalnya, mereka mengqiyaskan negara-negara seperti Indonesia, Thailand, Malasyia, dan lain-lain dengan kota-kota yang dekat dengan ru’yah seperti Mekah atau Madinah yang dekat dengan Saudi Arabia apabila melaksanakan ru’yah. Karena, menurut mereka, tidak ada perbedaan antara negara-negara tersebut, sedangkan pembedaan itu -apabila dimunculkan- maka hal itu adalah upaya mencari-cari hukum (tahakkum) yang tidak berdasarkan dalil.

    Dalil Kelompok Kedua

    Hadis Kuraib, bahwa Ummu al-Fadhl mengutus Kuraib kepada Muawiyah di Syam, lalu Kuraib berkata, aku telah datang ke Syam dan telah melaksanakan keperluan Ummu al-Fadhl, sedangkan awal Ramadhan datang kepadaku, sementara aku berada di Syam. Aku melihat bulan (hilal) pada malam Jumat, kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan, lalu Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku kemudian menyangkut masalah hilal, lalu Ibnu Abbas bertanya, “Kapan Anda melihat Hilal?” Aku menjawab, “Kami melihatnya pada malam Jumat, Ibnu Abbas bertanya, “Anda melihatnya sendiri?” Aku menjawab, “Ya,” saya melihatnya sendiri dan orang-orang lain juga, mereka semua berpuasa, begitu juga Muawiyah. Ibnu Abbas berkata, “Akan tetapi, kami melihatnya pada malam Sabtu, sehingga kami berpuasa setelah menyempurnakan bilangan 30 hari (dari Sya’ban) atau kami melihatnya sendiri. Kuraib bertanya, bukankah Anda cukup dengan ru’yah dan puasa yang dilakukan Mu’awiyah? Ibnu Abbas menjawab, “Tidak, seperti inilah Rasulullah saw memerintahkan kepada kami.”

    Hadis Ibnu Umar, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Bulan (hijriyah) itu tidak lain adalah 29 hari, maka janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihat bulan dan janganlah kamu berbuka sehingga kamu melihat bulan. Apabila kalian terhalang melihat bulan (karena mendung/awan), maka perkirakanlah bulan itu.”

    Hadis tersebut menunjukkan bahwa kewajiban berpuasa itu bergantung kepada ru’yah, akan tetapi yang dimaksud bukan ru’yah yang dilakukan oleh setiap orang, melainkan ru’yah yang dilakukan oleh sebagian orang.

    Qiyas

    Mereka mengqiyaskan perbedaan tempat terbitnya bulan dengan perbedaan tempat terbitnya matahari yang merupakan tempat bergantungnya waktu-waktu melakukan salat.

    Rasional

    Syara’ menggantungkan kewajiban melakukan puasa dengan munculnya bulan Ramadhan. Sedangkan permulaan munculnya bulan itu berbeda-beda sebab perbedaan letak negara dan kejauhannya. Perbedaan ini akan berimplikasi kepada perbedaan permulaan puasa karena perbedaan letak negara tersebut

    Kesimpulan

    Berdasarkan dalil-dalil yang dipaparkan oleh kedua kelompok tersebut, maka terasa luas dan lapang bagi umat Islam untuk menyikapi perbedaan awal puasa Ramadhan dan awal Syawal (Idulfitri). Karena, masing-masing kelompok tersebut memiliki hujjah dan dalil yang kuat dan rajih. Sehingga tidaklah terlalu menjadi persoalan besar jika umat Islam Indonesia berbeda awal Ramadhannya atau awal Syawalnya dengan umat Islam di Timur Tengah. Begitu juga, apabila umat Islam Indonesia bersama-sama melaksanakan Idulfitri dengan umat Islam Timur Tengah. Akan tetapi, alangkah indahnya jika sesama umat Islam itu bersatu dalam memulai puasa Ramadhan atau awal Syawalnya, baik umat Islam dari Indonesia maupun umat Islam dari luar Indonesia. Karena, dengan bersatunya umat Islam dalam berpuasa atau berhari raya itu akan berimplikasi pada hal-hal yang positif seperti berikut ini:

    • Akan tampak kekuatan umat Islam di mata musuh-musuhnya dan hal ini akan membuat perasaan takut di mata mereka. Sebab, secara logika, jika dalam masalah-masalah yang kecil saja umat Islam bisa bersatu, bagaimana dengan masalah besar yang sedang dihadapi mereka?
    • Kebersatuan umat Islam tersebut–tanpa pandang bulu dari mana mereka berasal dan mereka tinggal– akan menjadi modal utama untuk pembentukan khilafah Islamiyah. Karena, khilafah Islamiyah merupakan prasyarat utama untuk memberlukan ajaran dan syari’ah Islam secara menyeluruh (kaffah).

    Kemudian, sebaliknya jika memang sulit umat Islam itu dibersatukan dalam memulai Ramadhan dan mengawali Syawalnya, maka seharusnya pula umat Islam itu saling bisa menghargai antara yang satu dengan yang lainnya. Mengingat, mereka semua juga melaksanakan awal Ramadhan dan awal Syawal berdasarkan dalil-dalil yang telah dijadikan pegangan juga para Salaf Saleh. Jadi, jangan sampai antara yang satu dengan yang lainnya merasa paling benar dan menyalahkan yang lainnya. Memang, mengklaim diri sendiri paling benar itu boleh, tetapi menyalahkan orang lain yang melakukan ibadah berdasarkan dalil yang sahih pula itu tidak boleh.

    Referensi

    • Bahts Aaraaul Ulama Fikh Tilaafil Mathaali’ (Resume: Pandangan Ulama Mengenai Perbedaan Mathla’), Mahasiswa semester III, Fak. Syari’ah Univ. Imam Ibnu Sa’ud Jakarta
    • Fillial Univ. Imam Ibnu Sa’ud Riyadh, Saudi Arabia

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 11 June 2015 Permalink | Balas  

    Akankah Amalku Diterima? 

    sholat-berjamaahAkankah Amalku Diterima?

    Beramal shalih memang penting karena merupakan konsekuensi dari keimanan seseorang. Namun yang tak kalah penting adalah mengetahui persyaratan agar amal tersebut diterima di sisi Allah. Jangan sampai ibadah yang kita lakukan justru membuat Allah murka karena tidak memenuhi syarat yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan.

    Dalam mengarungi lautan hidup ini, banyak duri dan kerikil yang harus kita singkirkan satu demi satu. Demikianlah sunnatullah yang berlaku pada hidup setiap orang. Di antara manusia ada yang berhasil menyingkirkan duri dan kerikil itu sehingga selamat di dunia dan di akhirat. Namun banyak yang tidak mampu menyingkirkannya sehingga harus terkapar dalam kubang kegagalan di dunia dan akhirat.

    Kerikil dan duri-duri hidup memang telalu banyak. Maka, untuk menyingkirkannya membutuhkan waktu yang sangat panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit. Kita takut kalau seandainya kegagalan hidup itu berakhir dengan murka dan neraka Allah Subhanahuwata’ala. Akankah kita bisa menyelamatkan diri lagi, sementara kesempatan sudah tidak ada? Dan akankah ada yang merasa kasihan kepada kita padahal setiap orang bernasib sama?

    Sebelum semua itu terjadi, kini kesempatan bagi kita untuk menjawabnya dan berusaha menyingkirkan duri dan kerikil hidup tersebut. Tidak ada cara yang terbaik kecuali harus kembali kepada agama kita dan menempuh bimbingan Allah Subhanahuwata’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahuwata’ala telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwa satu-satunya jalan itu adalah dengan beriman dan beramal kebajikan. Allah berfirman:

    “Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan orang-orang yang saling menasehati dalam kebaikan dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)

    Sumpah Allah Subhanahuwata’ala dengan masa menunjukkan bahwa waktu bagi manusia sangat berharga. Dengan waktu seseorang bisa memupuk iman dan memperkaya diri dengan amal shaleh. Dan dengan waktu pula seseorang bisa terjerumus dalam perkara-perkara yang di murkai Allah Subhanahuwata’ala. Empat perkara yang disebutkan oleh Allah Subhanahuwata’ala di dalam ayat ini merupakan tanda kebahagiaan, kemenangan, dan keberhasilan seseorang di dunia dan di akhirat.

    Keempat perkara inilah yang harus dimiliki dan diketahui oleh setiap orang ketika harus bertarung dengan kuatnya badai kehidupan. Sebagaimana disebutkan Syaikh Muhammad Abdul Wahab dalam kitabnya Al Ushulu Ats Tsalasah dan Ibnu Qoyyim dalam Zadul Ma’ad (3/10), keempat perkara tersebut merupakan kiat untuk menyelamatkan diri dari hawa nafsu dan melawannya ketika kita dipaksa terjerumus ke dalam kesesatan.

    Iman Adalah Ucapan dan Perbuatan

    Mengucapkan “Saya beriman”, memang sangat mudah dan ringan di mulut. Akan tetapi bukan hanya sekedar itu kemudian orang telah sempurna imannya. Ketika memproklamirkan dirinya beriman, maka seseorang memiliki konsekuensi yang harus dijalankan dan ujian yang harus diterima, yaitu kesiapan untuk melaksanakan segala apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya baik berat atau ringan, disukai atau tidak disukai.

    Konsekuensi iman ini pun banyak macamnya. Kesiapan menundukkan hawa nafsu dan mengekangnya untuk selalu berada di atas ridha Allah termasuk konsekuensi iman. Mengutamakan apa yang ada di sisi Allah dan menyingkirkan segala sesuatu yang akan menghalangi kita dari jalan Allah juga konsekuensi iman. Demikian juga dengan memperbudak diri di hadapan Allah dengan segala unsur pengagungan dan kecintaan.

    Mengamalkan seluruh syariat Allah juga merupakan konsekuensi iman. Menerima apa yang diberitakan oleh Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam tentang perkara-perkara gaib dan apa yang akan terjadi di umat beliau merupakan konsekuensi iman. Meninggalkan segala apa yang dilarang Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam juga merupakan konsekuensi iman. Memuliakan orang-orang yang melaksanakan syari’at Allah, mencintai dan membela mereka, merupakan konsekuensi iman. Dan kesiapan untuk menerima segala ujian dan cobaan dalam mewujudkan keimanan tersebut merupakan konsekuensi dari iman itu sendiri.

    Allah berfirman di dalam Al Qur’an:

    “Alif lam mim. Apakah manusia itu menyangka bahwa mereka dibiarkan untuk mengatakan kami telah beriman lalu mereka tidak diuji. Dan sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka agar Kami benar-benar mengetahui siapakah di antara mereka yang benar-benar beriman dan agar Kami mengetahui siapakah di antara mereka yang berdusta.” (Al Ankabut: 1-3)

    Imam As Sa’dy dalam tafsir ayat ini mengatakan: “Allah telah memberitakan di dalam ayat ini tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk dari hikmah-Nya bahwa setiap orang yang mengatakan “aku beriman” dan mengaku pada dirinya keimanan, tidak dibiarkan berada dalam satu keadaan saja, selamat dari segala bentuk fitnah dan ujian dan tidak ada yang akan mengganggu keimanannya. Karena kalau seandainya perkara keimanan itu demikian (tidak ada ujian dan gangguan dalam keimanannya), niscaya tidak bisa dibedakan mana yang benar-benar beriman dan siapa yang berpura-pura, serta tidak akan bisa dibedakan antara yang benar dan yang salah.”

    Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:

    “Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi kemudian setelah mereka kemudian setelah mereka” (HR. Imam Tirmidzi dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri dan Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘Anhuma dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no.992 dan 993)

    Ringkasnya, iman adalah ucapan dan perbuatan. Yaitu, mengucapkan dengan lisan serta beramal dengan hati dan anggota badan. Dan memiliki konsekuensi yang harus diwujudkan dalam kehidupan, yaitu amal.

    Amal

    Amal merupakan konsekuensi iman dan memiliki nilai yang sangat positif dalam menghadapi tantangan hidup dan segala fitnah yang ada di dalamnya. Terlebih jika seseorang menginginkan kebahagiaan hidup yang hakiki. Allah Subhanahuwata’ala telah menjelaskan hal yang demikian itu di dalam Al Qur’an:

    “Bersegeralah kalian menuju pengampunan Rabb kalian dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah.” (Ali Imran:133)

    Imam As Sa’dy mengatakan dalam tafsirnya halaman 115: “Kemudian Allah Subhanahuwata’ala memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan-Nya dan menuju surga seluas langit dan bumi. Lalu bagaimana dengan panjangnya yang telah dijanjikan oleh Allah Subhanahuwata’ala kepada orang-orang yang bertakwa, merekalah yang pantas menjadi penduduknya dan amalan ketakwaan itu akan menyampaikan kepada surga.”

    Jelas melalui ayat ini, Allah Subhanahuwata’ala menyeru hamba-hamba-Nya untuk bersegera menuju amal kebajikan dan mendapatkan kedekatan di sisi Allah, serta bersegera pula berusaha untuk mendapatkan surga-Nya. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/169

    Allah berfirman:

    “Berlomba-lombalah kalian dalam kebajikan” (Al Baqarah: 148)

    Dalam tafsirnya halaman 55, Imam As Sa’dy mengatakan: “Perintah berlomba-lomba dalam kebajikan merupakan perintah tambahan dalam melaksanakan kebajikan, karena berlomba-lomba mencakup mengerjakan perintah tersebut dengan sesempurna mungkin dan melaksanakannya dalam segala keadaan dan bersegera kepadanya. Barang siapa yang berlomba-lomba dalam kebaikan di dunia, maka dia akan menjadi orang pertama yang masuk ke dalam surga kelak pada hari kiamat dan merekalah orang yang paling tinggi kedudukannya.”

    Dalam ayat ini, Allah dengan jelas memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk segera dan berlomba-lomba dalam amal shalih. Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:

    “Bersegeralah kalian menuju amal shaleh karena akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan gelapnya malam, di mana seorang mukmin bila berada di waktu pagi dalam keadaan beriman maka di sore harinya menjadi kafir dan jika di sore hari dia beriman maka di pagi harinya dia menjadi kafir dan dia melelang agamanya dengan harta benda dunia.” (Shahih, HR Muslim no.117 dan Tirmidzi)

    Dalam hadits ini terdapat banyak pelajaran, di antaranya kewajiban berpegang dengan agama Allah dan bersegera untuk beramal shaleh sebelum datang hal-hal yang akan menghalangi darinya. Fitnah di akhir jaman akan datang silih berganti dan ketika berakhir dari satu fitnah muncul lagi fitnah yang lain. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/170 Karena kedudukan amal dalam kehidupan begitu besar dan mulia, maka Allah Subhanahuwata’ala memerintahkan kita untuk meminta segala apa yang kita butuhkan dengan amal shaleh. Allah berfirman di dalam Al Quran:

    “Hai orang-orang yang beriman, mintalah tolong (kepada Allah) dengan penuh kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (Al Baqarah:153)

    Lalu, kalau kita telah beramal dengan penuh keuletan dan kesabaran apakah amal kita pasti diterima?

    Syarat Diterima Amal

    Amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala memiliki persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Hal ini telah disebutkan Allah Subhanahuwata’ala sendiri di dalam kitab-Nya dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam di dalam haditsnya. Syarat amal itu adalah sebagai berikut:

    Pertama, amal harus dilaksanakan dengan keikhlasan semata-mata mencari ridha Allah Subhanahuwata’ala.

    Allah Subhanahuwata’ala berfirman;

    Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan baginya agama yang lurus”. (Al Bayyinah: 5)

    Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:

    “Sesungguhnya amal-amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya.” (Shahih, HR Bukhari-Muslim)

    Kedua dalil ini sangat jelas menunjukkan bahwa dasar dan syarat pertama diterimanya amal adalah ikhlas, yaitu semata-mata mencari wajah Allah Subhanahuwata’ala. Amal tanpa disertai dengan keikhlasan maka amal tersebut tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala.

    Kedua, amal tersebut sesuai dengan sunnah (petunjuk) Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam. Beliau bersabda:

    “Dan barang siapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (Shahih, HR Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

    Dari dalil-dalil di atas para ulama sepakat bahwa syarat amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala adalah ikhlas dan sesuai dengan bimbingan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika salah satu dari kedua syarat tersebut tidak ada, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala. Dari sini sangat jelas kesalahan orang-orang yang mengatakan “Yang penting kan niatnya.” Yang benar, harus ada kesesuaian amal tersebut dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika istilah “yang penting niat” itu benar niscaya kita akan membenarkan segala perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan dalil yang penting niatnya. Kita akan mengatakan para pencuri, penzina, pemabuk, pemakan riba’, pemakan harta anak yatim, perampok, penjudi, penipu, pelaku bid’ah (perkara-perkara yang diadakan dalam agama yang tidak ada contohnya dari Rasululah shalallahu ‘alaihi wasallam) dan bahkan kesyirikan tidak bisa kita salahkan, karena kita tidak mengetahui bagaimana niatnya. Demikian juga dengan seseorang yang mencuri dengan niat memberikan nafkah kepada anak dan isterinya.

    Apakah seseorang melakukan bid’ah dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala adalah benar? Apakah orang yang meminta kepada makam wali dengan niat memuliakan wali itu adalah benar? Tentu jawabannya adalah tidak.

    Dari pembahasan di atas sangat jelas kedudukan dua syarat tersebut dalam sebuah amalan dan sebagai penentu diterimanya. Oleh karena itu, sebelum melangkah untuk beramal hendaklah bertanya pada diri kita: Untuk siapa saya beramal? Dan bagaimana caranya?

    Maka jawabannya adalah dengan kedua syarat di atas. Masalah berikutnya, juga bukan sekedar memperbanyak amal, akan tetapi benar atau tidaknya amalan tersebut. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

    “Dia Allah yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian siapakah yang paling bagus amalannya.” (Al Mulk: 2)

    Muhammad bin ‘Ajlan berkata: “Allah Subhanahuwata’ala tidak mengatakan yang paling banyak amalnya.” Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/396

    Allah Subhanahuwata’ala mengatakan yang paling baik amalnya dan tidak mengatakan yang paling banyak amalnya, yaitu amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam, sebagaimana yang telah diucapkan oleh Imam Hasan Bashri.

    Kedua syarat di atas merupakan makna dari kalimat Laa ilaaha illallah – Muhammadarrasulullah.

    Wallahu a’lam.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 10 June 2015 Permalink | Balas  

    Sikap kepada Syetan 

    itikafSikap kepada Syetan

    Oleh: Drs. H. Ahmad Yani

    Syaitan merupakan salah satu dari makhluk Allah Swt yang pada dasarnya dicipta untuk mengabdi kepada Allah Swt sebagaimana manusia dicipta juga untuk beribadah kepada-Nya. Hal ini karena syaitan berasal dari golongan jin yang sama-sama dicipta untuk mengabdi kepada Allah Swt sebagaimana firman-Nya: Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia kecuali supaya mengabdi kepadaku (QS 51:56).

    Adapun syaitan atau iblis berasal dari golongan jin disebutkan dalam firman Allah: Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “seujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis, dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?. Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim (QS 18:50).

    Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt mengemukakan sikap-sikap yang ditunjukkan oleh manusia terhadap syaitan dan menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya kita bersikap kepadanya agar dapat mewujudkan kehidupan yang baik di dunia ini sehingga membawa kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

    1. Sebagai Saudara

    Dalam bersikap kepada syaitan, ada manusia yang menjadikannya seperti saudara sehingga ia memiliki sifat-sifat yang sama sebagaimana yang dimiliki oleh syaitan, satu diantaranya adalah melakukan apa yang disebut dengan tabdzir dalam penggunaan harta, yakni menggunakan atau membelanjakan harta untuk sesuatu yang tidak dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya, baik sedikit apalagi banyak. Dalam bahasa kita hal ini diistilahkan dengan pemborosan, karena mengandung kesia-siaan.

    Orang yang melakukan hal ini disebut dengan mubadzdzir. Harta yang kita miliki, sebanyak apapun dia sangat banyak yang membutuhkannya baik untuk keluarga sendiri yang memang sangat berhak maupun orang lain seperti orang miskin dan orang yang dalam perjalanan yang memerlukan pertolongan, Allah Swt berfirman: Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya (QS 17:26-27).

    1. Sebagai pemimpin dan pelindung

    Dalam kehidupan ini, manusia membutuhkan pemimpin, namun manusia tidak boleh sembarangan memilih pemimpin, karena hal itu bisa mengakibatkan persoalan yang sangat pelik. Namun yang amat disayangkan adalah ada manusia yang menjadikan syaitan atau orang-orang yang berwatak syaitan sebagai pemimpin sehingga kepemimpinan itu membawa akibat negatif yang sangat besar, Allah Swt berfirman: Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orangn yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya menjadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah (QS 16:100).

    Kata sulthan (kekuasaan) dalam ayat di atas berasal dari kata As Salith yang maksudnya adalah minyak yang digunakan untuk menyalahan lampu/pelita yang menggunakan sumbu. Ini berarti sulthan adalah keterangan atau bukti yang menjelaskan sesuatu dengan terang dan mampu meyakinkan pihak lain, baik benar maupun salah. Syaitan memang memiliki kemampuan untuk memperdaya manusia, namun yang bisa diperdaya oleh syaitan hanyalah orang-orang yang lemah imannya, yang menjadikannya sebagai pemimpin, sama seperti virus sebuah penyakit yang hanya akan menimpa orang-orang yang tidak memiliki daya tahan tubuh yang kuat.

    Penggunaan kata wali (pelindung) terhadap syaitan juga disebutkan dalam firman Allah Swt yang artinya: Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) . Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya (QS 2:257).

    Ini berarti ada manusia yang menjadikan syaitan sebagai pemimpin dan pelindung. Kata wali bermaksud sesuatu yang langsung datang atau berada sesudah sesuatu yang lain, tidak ada perantara diantara keduanya. Ketika Allah Swt atau syaitan yang dijadikan sebagai wali oleh manusia, itu artinya manusia memiliki hubungan yang sangat dekat sehingga langsung ditolong, dibantu dan dilindungi. Ketika Allah Swt yang dijadikan sebagai wali (pemimpin dan pelindung), maka Allah Swt akan mengeluarkan manusia dari kegelapan dan kesesatan kepada cahaya yang terang, yakni petunjuk hidup yang benar, namun ketika manusia menjadikan syaitan sebagai wali, maka syaitan akan mengeluarkan manusia dari jalan hidup yang benar (cahaya) kepada kegelapan atau kesesatan yang banyak.

    1. Sebagai kawan

    Dalam kehidupan ini, manusia tidak bisa hidup sendirian, ia membutuhkan kawan yang dapat menghibur dikala duka, yang dapat membantu dikala susah dan menemaninya dikala sepi, bahkan memecahkan persoalan saat menghadapi masalah. Karena itu, manusia seharusnya menjadikan orang-orang yang baik dan shaleh sebagai kawan, karenanya Allah Swt berpesan kepada setiap mu’min untuk selalu berkawan kepada orang-orang yang shiddik (benar), Allah berfirman yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (QS 9:119).

    Karena itu amat disayangkan bila manusia menjadikan syaitan atau orang-orang yang berwatak syaitan sebagai kawan dekatnya, akibatnya merebaklah berbagai kejahatan yang disebarluaskan oleh syaitan, karena syaitan dan pengikut-pengikutnya hanya akan membuat manusia menempuh jalan hidup yang sesat hingga berujung ke neraka, Allah Swt berfirman: Diantara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang sangat jahat, yang telah ditetapkan terhadap syaitan itu, bahwa barangsiapa yang berkawan dengan dia, tentu dia akan menyesatkannya dan membawanya ke azab neraka (QS 22:4)

    1. Sebagai musuh

    Sikap terbaik yang harus ditunjukkan oleh manusia terhadap syaitan adalah menganggap dan menjadikannya sebagai musuh yang harus diperangi dan diwaspadai setiap saat. Syaitan harus diperlakukan sebagai musuh karena sepak terjangnya dalam kehidupan kita menjadi kendala besar bagi kita untuk bisa menjadi muslim yang sejati, Allah Swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (QS 2:208)

    Disamping itu, seruan Allah Swt untuk memperlakukan syaitan sebagai musuh tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang beriman, tapi juga kepada seluruh umat manusia, karena ada kebutuhan-kebutuhan manusia yang harus dipenuhinya dan ia tidak boleh menghalalkan segala cara dalam upaya mencapainya, Hal ini karena, meskipun manusia tidak beriman kepada Allah Swt atau tidak menjadi muslim, dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya, tetap saja mereka yang tidak beriman kepada Allah-pun tidak membenarkan upaya yang menghalalkan segala cara, Allah Swt berfirman: Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (QS 2:168).

    Keharusan manusia menjadikan syaitan sebagai musuh juga karena dalam kehidupan bersama, manusia sangat mendambakan kedamaian hidup, sedangkan syaitan selalu menanamkan perselisihan, permusuhan ke dalam jiwa manusia hingga akhirnya terjadi peperangan; tidak hanya dengan kata-kata tapi juga perang secara fisik dengan korban harta dan jiwa yang sedemikian banyak serta membawa dampak kejiwaan yang negatif, dan ini sebenarnya tidak dikehendaki oleh manusia, Allah Swt berfirman: Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan diantara mereka. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi manusia (QS 17:53).

    Manakala kita siap menjadikan syaitan sebagai musuh, maka setiap kita harus waspada 24 jam setiap harinya, memiliki kesiapan untuk “berperang” dengannya dalam arti tidak ada kompromi dengan syaitan, memiliki daya tahan yang kuat untuk menghalau godaan syaitan dan memohon perlindungan kepada Allah Swt dari gangguan-gangguan syaitan, bila ini yang kita lakukan, maka kita bisa menjadi orang yang bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa.

     

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 9 June 2015 Permalink | Balas  

    Taubatnya seorang Hamba ALLAH 

    taubatTaubatnya seorang Hamba Allah

    Iman seorang muslim terkadang melemah sehinga terkadang ia dikuasai hawa nafsunya, syetan merayunya untuk berbuat maksiat maka ia berbuat dzalim terhadap dirinya sendiri, menjerumuskan dirinya pada sesuatu yang diharamkan Allah.

    Allah Maha Pengasih terhadap hamba-hamba-Nya dan rahmat Allah amat luas mencakup segala sesuatu, maka barangsiapa yang bertaubat setelah melakukan kedzalimanm maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya dan mengampuninya sebagaimana firman-Nya “Maka barangsiapa bertaubat (diantara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al Maidah :39)

    Allah Maha Pemaaf dan Maha Mulia memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk bertaubat nasuha agar mereka mendapatkan kasih sayang Allah dan surga-Nya, maka Allah berfirman “Hai orang-orang yang beriman bertaubatah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukan kamu ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya” (At Tahrim :8)

    Pintu taubat masih terbuka bagi semua manusia hingga matahari terbit dari barat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya) “Sesungguhnya Allah membukakan Tangan-Nya pada malam hari agar orang yang melakukan kejahatan di siang hari bertaubat dan Dia membukakan Tangan-Nya di siang hari agar yang melakukan kejahatan di malam hari bertaubat hingga matahari terbit dari barat” (HR. Muslim no. 2759)

    Taubat nasuha bukan hanya sekedar ucapan di lidah tapi disyaratkan untuk diterimanya taubat itu, agar pelaku kejahatan mencabut akar-akar dosa secara langsung menyesali apa yang telah diperbuat, bertekad untuk tidak kembali kepada perbuatan dosa itu dan mengembalikan hak-hak orang yang didzalimi, sebaiknya taubat itu dilakukan sebelum melihat kedatangan kematian, Allah berfirman “Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejatahan lantaran kejahilan yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga datang ajal kepada seseorang diantara mereka, barulah ia mengatakan “sesungguhnya sekarang saya bertaubat” Dan tidak pula (diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah kami sediakan siksa yang pedih” (An Nisa : 17-18)

    Allah mengajak para pelaku perbuatan dosa untuk bertaubat agar Allah mengampuni mereka “Tuhanmu telah menetapkan atas diri Nya kasih sayang, (yaitu) barangsiapa yang berbuat kedzaliman di antara kamu lantaran kejahilan (kebodohan) kemudian dia bertaubat setelah mengerjakannnya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al An’am :54)

    Allah Maha pengasih terhadap hamba-hamba-Nya, mencintai orang-orang yang bertaubat dan menerima taubat mereka, sebagaimana firman-Nya “Dan Dia-lah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan” (As Syura :25). Dan firman-Nya “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (Al baqarah : 222)

    Seorang kafir jika memeluk Islam maka Allah akan gantikan semua kejahatannya dengan kebaikan dan mengampuninya dari segala dosa yang telah diperbuatnya dahulu, sebagaimana firman Allah “Katakanlah kepada orang-orang kafir itu, jika mereka berhenti dari kekafirannya niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang sudah lalu” (Al Anfal :38) Allah Maha Pengampun dan Pengasih menyukai taubat hamba-hamaba-Nya dan memerintahkan mereka untuk bertaubat agar mereka diampuni Allah, sementara syetan, jin dan manusia menginginkan mereka menyimpang dari kebenaran menuju kebatilan sebagaimana firman-Nya “Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikut hawa nafsunya bermaksud supaya kamu menyimpang sejauh-jauhnya (dari kebenaran)” (An Nisa : 27)

    Rahmat Allah mencakup segaala sesuatu, maka jika seseorang hamba telah melampaui batas pada perbuatan maksiat dan dosa, kemudian ia bertaubat maka sesungguhnya Allah akan menerima taubatnya itu dan mengampuni dosa-dosanya, sebagaiman firman-Nya “Hamba-hamba-Ku yang melampai batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah , sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya, sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Az Zumar : 53)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabada “Tuhan kita yang Maha Suci lagi Maha Tinggi turun pada kita pada setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir lalu berkata “barangsiapa berdoa kepada-Ku maka Aku akan mengabulkannya, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya” (HR. Muslim : 758)

    Jika manusia adalah lemah maka kalau berbuat dosa hendaklah ia bertaubat dan memohon ampun tiap saat karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah berfirman “Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampun kepada Allah, niscaya dia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (An Nisa : 110)

    Seorang muslim rawan untuk melakukan kesalahan dan maksiat, maka selayaknya Hide message history baginya untuk memperbanyak taubat dan mohon ampun.. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Demi Allah sesungguhnya Aku mohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali” (HR. Al Bukhari :6307)

    Allah mencintai taubat hamba-Nya dan menerima taubat itu bahkan Allah gembira dengan taubat itu sebagaimana sabda Nabi shallahllhu ‘alaihi wasallam “Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya dari pada gembiranya seorang yang kehilangan bekal bersama untanya disebuah padang yang tandus kemudian dia medapatkannya kembali unta itu”

    ***

    Mutafaq alaihi

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 8 June 2015 Permalink | Balas  

    Kehidupan : Ibarat Semut, Laba-Laba dan Lebah 

    amanah semutKehidupan : Ibarat Semut, Laba-Laba dan Lebah

    Tiga binatang kecil ini menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Qur’an. An Naml [semut], Al ‘Ankabuut [laba-laba], dan An Nahl [lebah].

    Semut, menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa berhenti. Konon, binatang ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun. Padahal usianya tidak lebih dari setahun. Ketamakannya sedemikian besar sehingga ia berusaha – dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya.

    Lain lagi uraian Al-Qur’an tentang laba-laba. Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh [ Al ‘Ankabuut; 29:41], ia bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung di sana akan binasa. Bahkan jantannya disergapnya untuk dihabisi oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Inilah gambaran yang mengerikan dari kehidupan sejenis binatang.

    Akan halnya lebah, memiliki naluri yang dalam bahasa Al-Qur’an – “atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal” [ An Nahl; 16:68]. Sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar efisen dalam penggunaan ruang. Yang dimakannya adalah serbuk sari bunga. Lebah tidak menumpuk makanan. Lebah menghasilkan lilin dan madu yg sangat manfaat bagi kita. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali jika diganggu. Bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat.

    Sikap kita dapat diibaratkan dengan berbagai jenis binatang ini. Ada yang berbudaya ‘semut’. Sering menghimpun dan menumpuk harta, menumpuk ilmu yang tidak dimanfaatkan. Budaya ‘semut’ adalah budaya ‘aji mumpung’. Pemborosan, foya-foya adalah implementasinya. Entah berapa banyak juga tipe ‘laba-laba’ yang ada di sekeliling kita. Yang hanya berpikir: “Siapa yang dapat dijadikan mangsa” Nabi Shalalahu ‘Alaihi Wasallam mengibaratkan seorang mukmin sebagai ‘lebah’. Sesuatu yang tidak merusak dan tidak menyakitkan : “Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat  dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya”

    Semoga kita menjadi ibarat lebah. Insya Allah!

    ***

    Dari Lentera Hati – M. Quraish Shihab

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 7 June 2015 Permalink | Balas  

    Sehari di Rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam 

    muhammad-2Sehari di Rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    Sebagai ummat yang diwajibkan untuk mencontoh gaya hidup Rasulullah, kita ingin melihat lebih dekat perilaku beliau sehari-hari. Dicuplik dari buku “Sehari Di Rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam” karangan Abdul Malik Ibnu M Al Qasim, artikel di bawah ini mengajak pembaca melihat dari dekat rumah beliau dan bagaimana beliau berada di rumah.

    Di samping sebelah timur Masjid Nabawi Madinah, tampak sebuah bangunan yang akan membuat kita takjub karena kesederhanaannya. Itulah tempat tinggal seorang Rasul Agung Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Rumah itu ukurannya sangat kecil dengan hamparan tikar usang dan nyaris tanpa perabot. Sebab, yang tinggal di rumah ini adalah imam para syahid yang tidak butuh dunia kecuali sebagai sarana dan tidak silau oleh gemerlap harta.

    Berdampingan dengan rumah tersebut, tampak deretan rumah-rumah petak yang dibangun dari tanah liat dan batu-batu yang tersusun. Atapnya dari pelepah kurma, berhimpit satu sama lain. Itulah rumah istri-istri beliau, pendamping setia dikala suka maupun duka.

    Hasan bin Ali, cucu beliau, pernah menceritakan keadaan rumah-rumah petak ini. “Aku pernah masuk ke dalam rumah istri-istri Rasulullah sewaktu Khalifah Usman memerintah, dan aku bisa menyentuh atapnya (yang terbuat dari rumbia kurma) dengan tanganku,” kata Hasan.

    Kembali ke rumah Rasulullah, Zaid bin Tsabit bertutur, “Anas bin Malik, pelayan Rasulullah pernah memperlihatkan kepadaku temput minum Rasulullah yang terbuat dari kayu yang keras dan dipatri dengan besi, lalu Anas berkata, ‘Wahai Tsabit, inilah tempat minum Rasulullah. Dengan gelas kayu itulah Rasulullah minum air, perasan kurma, madu dan susu.” (HR Tirmidzi)

    Sedang perabot lain yang tampak adalah baju besi yang biasa dipakai Rasulullah saat perang. Akan tetapi, tak lama sebelum beliau meninggal, baju besi itu digadaikan kepada seorang Yahudi dengan 30 karung gandum seperti yang diceritakan Aisyah.

    Makanan dan Minum

    Bagaimana dengan makanan beliau? Rasulullah tidak pernah makan kenyang. Makan hanya sekadarnya saja, bahkan beliau sering kekuarangan makanan sehingga memaksanya untuk berpuasa. Anas bin Malik bercerita, sesungguhnya tidak pernah terdapat dalam makan siang Rasulullah atau makan malamnya, roti dan daging, kecuali sangat sedikit dan kekurangan.” (HR. Tirmidzi).

    Aisyah berkata, “Keluarga Muhammad belum pernah kenyang dari roti dan gandum selama dua hari berturut-turut sampai Rasulullah meninggal.” (HR. Muslim).

    Masalahnya bukan kekurangan. Dunia ada didalam genggamannya. Datang kepada beliau unta-unta penuh muatan, zakat, emas, dan perak. Akan tetapi, seringkali harta melimpah datang, baik melalui rampasan perang maupun lainnya, namun semuanya habis dibagi-bagikan kepada ummatnya.

    Berkata Ibnu Harits, “Rasulullah shalat ashar bersama kami kemudian beliau bergegas masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian keluar dan kami pun bertanya lalu beliau menjawab, ‘Di rumah aku meninggalkan emas dari sedekah, maka aku enggan untuk menyimpannya sampai aku membagi-bagikannya.’ (HR Muslim)

    Yang Dikerjakan di Rumah

    Suatu kali Aisyah pernah ditanya, apa yang dikerjakan Rasulullah di rumah? Dijawabnya, “Seperti layaknya manusia biasa. Beliau menambal bajunya, memerah susu kambingnya, dan mengerjakan sendiri pekerjaan rumahnya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

    Bagaimana mungkin manusia pilihan yang agung itu memperbaiki sendiri terompahnya yang rusak, menambal sendiri bajunya yang robek, menyapu dan membantu mencuci pakaian. Itulah kenyataannya. Di sinilah letak keagungannya sebagai manusia sempurrna.

    Hanya saja, sesibuk apapun beliau di rumah, bila Bilal sudah mengumandangkan adzan, Rasulullah segera bergegas ke masjid sebagai imam. Al-Aswad bin Yazid berkata, “Aku bertanya kepada ibunda Aisyah, apa yang dikerjakan Nabi di rumahnya. Jawabnya, “Beliau sibuk dengan pekerjaan keluarganya, tetapi jika mendengar adzan, beliau segera keluar rumah.” (HR Muslim)

    Belum pernah Rasulullah shalat fardhu di rumahnya kecuali shalat sunnah. Selama hidupnya belum pernah beliau meninggalkan jamaah di masjid kecuali pada hari beliau dipanggil menghadap Allah kala sakit. Betapa pentingnya shalat berjamaah, sampai-sampai di kesempatan lain beliau bersabda, “Barangsiapa yang mendengar adzan dan tidak memenuhi panggilan-Nya (untuk berjamaah), tidak sah shalatnya kecuali ada halangan.” (muttafaq ‘alaih). Halangan yang dimaksud adalah sakit atau dalam keadaan tidak aman.

    Bersama Para Istri Rasulullah selalu bersikap mesra dan lembut kepada istri-istrinya. Aisyah, misalnya, sering dipanggilnya “humairaa” atau yang merah-merekah karena cantiknya.

    Kemesraan Rasulullah dengan istri-istrinya tidak hanya lewat perkataan, tetapi juga dalam perbuatan. Rasulullah sangat penuh kasih sayang dalam memperlakun istri-istrinya. Aisyah berkata, “Saya sering mandi bersama dengan Rasulullah dari satu bak.” (HR Bukhari).

    Dalam hadits lain yang diriwayatkan Ahmad, Rasulullah dan Aisyah pernah bercanda dengan berlomba lari.

    Namun perlu diingat, kemesraannya itu tak sampai melalaikan tugasnya sebagai hamba. Setiap malam ia membangunkan para istrinya untuk shalat malam. “Nabi sedang shalat, dan aku tidur terlentang di sampingnya, kemudian aku dibangunkan untuk shalat,” kata Aisyah. (HR Bukhari)

    Bahkan, sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah sangat menganjurkan agar suami istri saling membangunkan untuk shalat, walau harus dengan percikan air. Rasulullah bersabda, “Allah merahmati suami yang bangun malam lalu shalat, kemudian membangunkan istrinya untuk shalat. Kalau tidak mau bangun, wajahnya ditetesi air. Begitu juga sebaliknya, istri membangunkan suaminya untuk shalat malam.” (HR Ahmat).

    Rasulullah juga sangat memperperhatikan penampilan, agar tampak menawan. Selalu memakai minyak wangi, membawa sisir dan siwak serta selalu berhias kalau mau ke masjid. Begitu juga ketika hendak masuk rumah, beliau tidak lupa bersiwak sebagaimana yang diriwayatkan oleh Syuraih bin Hani dari Aisyah (HR Muslim)

    Tidurnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    Sebelum tidur beliau selalu berdoa: “Mahasuci Engkau ya Allah Tuhanku, karena Engkau aku meletakkan sisi badanku dan karena Engkau aku mengangkatnya. Jika engkau merenggut jiwaku maka ampunilah dia dan jika engkau melepaskannya jagalah sebagaimanna engkau menjagi hamba-hamba-Mu yang salih.” (HR Muslim)

    Pada kesempatan lain beliau bersabda, “Bila kamu hendak tidur berwudhulah kamu sebagaimana kamu berwudhu untuk shalat dan miringkanlah badanmu pada sisi sebelah kanan.” (Muttafaq ‘alaih)

    Sedangkan Aisyah meriwayatkan, “Rasulullah apabila naik ke tempat pembaringan setiap malam, menyandingkan kedua belah tangannya serta meniupnya dan dibacakan di antaranya surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas, kemudian beliau mengusap dengan kedua belah tangan itu, seluruh tubuhnya. Mulai dari kepala, wajah, dan anggota lain yang bisa diusap. Rasulullah mengulanginya sebanyak tiga kali.” (HR Bukhari)

    Pembantu Rasulullah Anas bin Malik berkata, “Aku menjadi pembantu Rasulullah selama sepuluh tahun. Belum pernah beliau berkata kepadaku, ‘mengapa kamu melakukan ini?’ dan belum pernah beliau mengatakan, ‘mengapa kau tidak melakukannya atas sesuatu yang aku tinggalkan.'” (HR Muslim)

    Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Dan selama masa sepuluh tahun itu belum pernah Anas dimarahi, atau ditanya mengapa begini, mengapa begitu. Adakah di dunia ini majikan yang tidak pernah marah? Bahkan, beliau selalu menyenangkan hati pembantunya, dan mendo’akannya.

    Rasulullah menekankan, “Mereka adalah saudara kalian. Allah menjadikan mereka di bawah kendali kalian, maka berikanlah kepada mereka makanan sebagaimana yang kalian makan. Dan berilah pakaian sebagaimana pakaian kalian. Dan janganlah sekali-kali kalian menyuruh sesuatu di luar batas kemampuannya. Dan bila kalian menyuruh sesuatu, bantulah pekerjaannya semampu kalian.” (HR Muslim).

    Rasulullah dan Anak-Anak

    Anas bin Malik, kalau kebetulan lewat dan bertemu dengan anak-anak kecil, mengucapkan salam kepada mereka. Dia berkata, “Ini selalu dilakukan oleh Rasulullah.” (HR Bukhari)

    Aisyah berkata, “Sekelompok anak kecil dibawa ke hadapan Nabi, beliau kemudian berdo’a dan menggendong anak kecil itu. Celakanya anak itu kencing membasahi baju beliau. Lalu berliau minta air dan disiramkan ke bajunya.” (HR Bukhari)

    Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah bercanda dengan cucunya, Hasan bin Ali Sambil menjulurkan lidahnya sehingga kelihatan merahnya. Hasan pun tertawa.

    Sampai-sampai pada waktu shalat pun beliau masih memberikan kasih sayang terhadap anak kecil. Pernah beliau shalat sambil menggendong Ummah putri Zainah (cucu beliau) saat beliau bersujud, Ummah didudukan di sampingnya. (HR Bukhari)

    Bertetangga

    Betapa mulia bila menjadi tetangga Rasulullah. Di mata beliau, tetangga mempunyai tempat dan kedudukan yang tinggi. Beliau kepada Abu Dzar al-Ghiffari berwasiat, “Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak gulai, perbanyaklah airnya dan bagikanlah kepada tetanggamu.” (HR Muslim)

    Rasulullah sering memperingatkan agar tidak menyakiti tetangga. Katanya, “Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman karena ulah perbuatannya.” (HR Muslim)

    Dan sebagai penghormatan dan penghargaan kepada tetangga, beliau berkata, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR Muslim)

    ***

    Kiriman Sahabat: Bambang S/Hidayatullah

     
  • erva kurniawan 2:35 am on 6 June 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (17) 

    teori darwinMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (17)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    KESIMPULAN

    Sebagaimana telah ditekankan buku ini, evolusi dan para pendukungnya terperangkap habis karena ilmu pengetahuan secara menyeluruh menolak Darwinisme. Para evolusionis menyadari hal ini dan, akibatnya, ada dalam kepanikan besar.

    Karena itu, mereka menyerang siapa saja yang membela kebenaran penciptaan dalam acara-acara diskusi, debat, dan di mana saja. Namun, karena tidak memiliki jawaban, mereka hanya mencoba meraih kembali keunggulan bicara.

    Mantik “Janganlah kita mengacaukan agama dengan ilmu pengetahuan, karena iman itu satu hal dan fakta evolusi adalah hal yang lain” dimaksudkan untuk memecah kesatuan Muslim dan melemahkan perlawanannya.

    Pesan mereka sebenarnya yang menganjurkan cara berpikir ini adalah, “Di sini ada dunia nyata, dan ini bisa dipahami lewat ilmu pengetahuan, sehingga tidak ada sesuatu yang disebut penciptaan, walaupun setiap orang adalah merdeka untuk menganut keyakinan pribadinya sendiri.”

    Namun, ini juga tipuan yang amat besar, sebab adalah fakta yang jelas bahwa Allah menciptakan alam semesta dan semua makhluk hidup dan tak-hidup. Setiap rincian di alam semesta merupakan bukti lagi atas penciptaan olehNya. Dalam kenyataannya, tiada bukti bagi teori evolusi selain pendapat dan “kepercayaan pribadi”. Muslim harus waspada akan anjuran penuh tipuan ini yang mencoba menunjukkan bahwa kebenaran penciptaan juga adalah “kepercayaan pribadi”.

    Anjuran sedemikian dengan mudah dikalahkan, sebagaimana kita baca dalam ayat berikut: Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang bathil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang bathil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat sifat yang tidak layak bagi-Nya). (QS. Al Anbiyaa’, 21: 18)

    Di balik upaya sebagian kaum Muslimin untuk menyatukan evolusi dan agama, terdapat keraguan, kepasrahan, kekurangan informasi, dan ketakpastian yang mereka rasakan saat menghadapi evolusi.

    Tetapi, kepasrahan itu sama sekali tidak perlu karena kaum evolusionis tidak memiliki dukungan atau bukti ilmiah untuk mempertahankan teori ini. Mereka memakai hasutan karena sikap bersikeras taklid demi teori mereka, dan mencoba membungkam lawan-lawan mereka dengan cara-cara tekanan psikologis atau kejiwaan. Kedudukan mereka sebenarnya tidak memiliki harapan.

    Para evolusionis Muslim tidak bisa melihat hal ini karena tidak menyadari kemajuan-kemajuan terbaru dalam ilmu pengetahuan. Orang yang kekurangan informasi terkini tentang perihal ini tentu percaya bahwa teori evolusi adalah benar.

    Akan tetapi, kekurangan informasi dapat mudah diatasi dengan cara membaca buku dan berbagai terbitan lain tentang perihal tersebut. Kaum Muslimin yang memiliki informasi rinci tentang teori evolusi tidak bisa tetap berdiam diri atau ragu-ragu di hadapan berbagai pernyataan evolusionis.

    Seiring dengan itu, merenung tentang penciptaan Allah dan seni tanpa cela yang menyungkupi alam semesta, berpegang teguh pada Al Qur’an, dan memahami sifat kebenaran yang diungkapkan Al Qur’an adalah cara-cara termudah untuk membebaskan diri dari pengaruh-pengaruh itu.

    Banyak Muslim mungkin telah menerima dan bahkan membela evolusi karena alasan-alasan yang telah dikemukakan sepanjang buku ini. Akan tetapi, akhlak Islami menghimbau setiap Muslim agar kembali ke jalan yang benar saat menyadari bahwa ia telah tersesat.

    Mendukung pemikiran Darwinis sebelum menyadari bahaya besar yang dapat diakibatkannya sama sekali tidak sama dengan meneruskan dukungan setelah menyadari bahayanya bertindak begitu. Orang bisa mendukung teori tanpa mengetahui tingkat bahaya atau ketidak-absahan ilmiahnya.

    Akan tetapi, sekali telah mempelajari kebenaran masalah ini, hal yang paling baik dan bermanfaat untuk dilakukan orang adalah langsung bertindak dan mendukung perang pemikiran melawan teori jahat ini. Allah memerintahkan para Muslimin:

    Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS. Al Anfaal, 8: 73)

    Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah, 2: 32 )

    Wallohu a’alam bish-shawab,-

    ***

    Dikirim oleh : Arland

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 5 June 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (16) 

    darwinMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (16)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Apa Yang Terjadi Jika Darwinisme Tidak Dianggap Sebagai Sebuah Ancaman?

    Bab-bab sebelumnya telah menyinggung berbagai kekeliruan, yang telah menyebabkan orang Muslim pendukung evolusi terperosok. Akan tetapi, masalah lain yang perlu ditinjau adalah bahwa teori itu mewakili suatu bahaya tersembunyi bagi banyak orang lain, sekalipun mereka tidak benar-benar mempercayainya.

    Orang Muslim yang menganggap evolusi sebagai teori yang tak berbahaya, sekalipun sangat berseberangan dengan fakta penciptaan, lalu berdiam diri dan menyaksikannya berkembang, sebenarnya sedang membantu teori itu mencengkeram masyarakat secara lebih luas dan lebih kuat. Jadi, mereka sedang membiarkan paham ateisme tumbuh lebih kuat. Karena alasan ini, kaum Muslimin harus mengerti filsafat yang mendasari teori ini.

    Evolusi adalah filsafat materialis yang diungkapkan secara “ilmiah”. Filsafat materialis, pada gilirannya, sesungguhnya berarti paham ateisme.

    Hal ini berarti setiap Muslim wajib mengobarkan perang pemikiran melawan ateisme.

    Mereka yang Menganggap bahwa Darwinisme Bukan Ancaman Adalah Keliru.

    Sebagian kaum Muslimin berpendapat bahwa evolusi itu adalah masalah masa lalu, dan sudah tak lagi diterima, dan oleh karena itu, dari sudut pandang Islam, tidak menghadirkan ancaman nyata. Akibatnya, mereka tidak melihat perlunya menyingkapkan berbagai pernyataan evolusi yang berupa dusta dan tak ilmiah. Mereka menyatakan bahwa “Darwinisme sudah mati.”

    Akan tetapi, berlawanan dengan apa yang mereka duga, masih banyak orang yang mendukung evolusi karena berbagai pengaruh filsafatnya, walaupun secara ilmiah, evolusi sudah runtuh.29 Para Darwinis masih amat berpengaruh di banyak negara, perguruan tinggi, berita, dan sekolah. Senyatanya, Darwinisme masih giat di panggung dunia, dengan menguasai lembaga-lembaga ilmiah, berita internasional, dan pandangan dunia para penguasa.

    Kaum evolusionis dapat memaksakan tekanan yang cukup besar terhadap dunia ilmiah. Pendapat-pendapat sepihak diajukan dalam terbitan ilmiah dan media, dan evolusi digambarkan seakan kebenaran mutlak. Terutama media, yang mempengaruhi sebagian besar masyarakat, melukiskan setiap tulang fosil yang ditemukan sebagai bukti baru bagi evolusi. Hal ini didukung oleh para kalangan terpelajar Darwinis di sekolah-sekolah dan perguruan-perguruan tinggi.

    Ilmuwan yang percaya kepada Tuhan dihambat dalam karir mereka, dan, karena menolak Darwinisme, buku dan ulasan karya mereka tidak diterbitkan. Lebih jauh lagi, mereka dituduh taklid dan terbelakang. Jika seorang ilmuwan di negara Barat ingin membangun karir ilmiah, ia harus menutup mata terhadap Darwinisme dan bahkan mendukungnya, terlepas dari apakah ia ingin atau tidak. Jika tidak, akan sangat sukar baginya untuk maju dalam pekerjaan pilihannya itu. 30

    Salah seorang ilmuwan pengecam teori ini yang paling terkemuka adalah Phillips E. Johnson, guru besar ilmu hukum di Univesitas California-Berkeley dan pemimpin intelektual gerakan Intelligent Design (Rancangan Cerdas),31 yang menggambarkan bagaimana teori ini digunakan sebagai senjata melawan keyakinan yang benar:

    Para pemimpin ilmu pengetahuan melihat diri terjebak dalam pertempuran mati-matian melawan kaum fundamentalis agama, julukan yang cenderung mereka berikan tanpa pandang bulu kepada siapa pun yang percaya kepada Sang Pencipta yang berperan giat dalam urusan duniawi. Para fundamentalis ini dipandang sebagai ancaman bagi kebebasan yang lepas, dan khususnya sebagai ancaman bagi dukungan masyarakat terhadap penelitian ilmiah. Sebagai mitos penciptaan paham naturalisme ilmiah, Darwinisme memainkan peran pemikiran yang sangat diperlukan dalam perang melawan fundamentalisme. Karena alasan itu, organisasi-organisasi ilmiah diabdikan untuk melindungi Darwinisme dan bukan mengujinya, dan kaidah-kaidah penelitian ilmiah telah dibentuk untuk membantu mereka agar berhasil. 32

    Menggunakan “kediktatoran intelektual” ini, kaum evolusionis mengubah sejumlah perguruan tinggi menjadi sarang pendidikan Darwinis, yang menghasilkan lulusan yang percaya bahwa filsafat materialis adalah ilmu pengetahuan. Mereka berpikir bahwa hak atas pendidikan harus dirampas dari kaum yang beriman kepada Tuhan. Satu contoh yang paling mencolok terlihat dalam sikap gusar Ali Demirsoy, seorang evolusionis dan guru besar Turki, selama debat televisi tentang evolusi. Ia melontarkan pernyataan yang senada dengan “Tidak seorang pun ilmuwan yang percaya kepada Tuhan diperbolehkan dalam perguruan tinggi. Saya akan mendepak para mukminin keluar dari perguruan-perguruan tinggi.” Pernyataan serupa itu nyata-nyata mengungkapkan sikap berprasangka kaum evolusionis.

    Kaum Muslimin mungkin terlalu berbaik sangka, karena tidak menyadari fakta sebenarnya keadaan ini, dan karena itu tak mampu membayangkan Darwinisme sebagai ancaman. Akan tetapi, para materialis dan khususnya Marxis terus mengobarkan perang yang bersungguh-sungguh melawan agama melalui dukungan “ilmiah” yang mereka peroleh dari paham Darwinisme. Itulah sebabnya, kaum Muslimin perlu sesegera mungkin membebaskan diri dari anggapan keliru bahwa Darwinisme sudah berakhir. Pada saat kaum evolusionis sedang mencanangkan perang pemikiran sedunia melawan agama, adalah salah jika mengatakan teori itu sudah mati dan memandang Darwinisme tak berbahaya.

    Menghindari Perang Pemikiran Hanya Memperkuat Darwinisme

    Mereka yang berpikir bahwa Darwinisme sudah mati atau bukan ancaman, yang menyebarkan pikiran itu di kalangan mereka sendiri, secara sadar atau tidak, membantu teori ini mendapatkan landasan baru. Saat mereka mengemukakan pendapat ini, orang pun berpikir bahwa tidak ada bahaya seperti itu. Lebih lagi, ini menghalangi tumbuhnya kepekaan pemikiran dan ilmiah terhadap propaganda, dusta, dan anjuran Darwinis, yang berarti langkah-langkah kewaspadaan tidak bisa dilakukan.

    Orang yang percaya kepada evolusi terus mempersiapkan landasan berpijak, sekalipun dengan fakta yang kedaluwarsa, dan sengit membela teori ini di setiap kesempatan. Mereka mencoba mempertahankan agar gagasan ini tetap hidup, sekalipun dengan dusta dan pengaburan makna. Karena tidak menganggap teori ini berbahaya, banyak Muslim tidak membaca atau mempelajarinya, dan karena itu tidak bisa menanggapi kaum evolusionis yang berhubungan dengan mereka secara cerdik.

    Namun, tidak sulit mempelajari dan menyerap ketidakabsahan teori ini, sebab teori ini adalah pendapat dari abad ke-19 yang telah kehilangan semua pembenaran ilmiahnya. Lebih jauh, data ilmiah tentang asal-muasal alam semesta dan kehidupan – misalnya, “penyetelan” alam semesta yang amat halus (disebut juga Prinsip Antropik), kerumitan kehidupan di aras molekul, informasi rumit dalam asal-muasal kehidupan, dan kemunculan berbagai bentuk kehidupan yang amat beragam dalam catatan fosil secara tiba-tiba, menandaskan kebenaran fakta penciptaan.

    Akan tetapi, selama mereka yang taat tidak berhasil menelaah atau mempelajari kemajuan ini, mereka akan terus kekurangan pengetahuan untuk menghadapi evolusionis secara cerdas. Jadi, mereka berupaya untuk menjawab dengan mantik yang keliru dan contoh serta keterangan yang salah. Sebelum mempergunakan bahan bacaan berlimpah yang membahas dusta gagasan Darwinis, para Muslim harus menyadari bahaya yang ada, dan meyakini perlunya perang pemikiran.

    Melihat kenyataan ini, para penganut paham penciptaan (kreasionis) melalui evolusi, yang percaya bahwa Darwinisme tidak berbahaya, sebenarnya terhitung bertanggung jawab atas sikap kaum Muslim yang tetap berdiam diri di hadapan kaum Darwinis.

    Kami katakan ini karena, sekalipun mereka tidak menganggap faktor kebetulan sebagai sebuah kemampuan mencipta, dan percaya kepada Allah, mereka tidak memiliki fakta-fakta yang dibutuhkan untuk melakukan pendekatan yang lambat dan teguh saat berhadapan dengan berbagai pernyataan evolusionis. Dan karena itu, mereka mencari jalan tengah antara pernyataan seperti itu dengan kepercayaan mereka sendiri. Hasilnya, mereka mengajukan gagasan-gagasan semacam “Allah menciptakan makhluk hidup lewat evolusi” atau “Evolusi sejalan dengan agama.”

    Akan tetapi, sebagaimana telah dijelaskan buku ini, keadaan ini tak bisa diterima siapa pun Muslim yang sungguh-sungguh percaya kepada Allah. Kaum evolusionis menyatakan mereka bicara atas nama ilmu pengetahuan, namun sebenarnya mereka berdusta dengan nama ilmu pengetahuan.

    Itulah sebabnya, para Muslim tidak boleh menaruh keyakinan kepada penipuan itu, dengan penampakan luarnya yang “ilmiah”, namun harus melihat pada pemikiran yang dibela oleh teori itu. Kegagalan dalam merasakan bangunan dan filsafat tak bertuhan tempat teori ini berpijak, maupun menganggapnya benar, berarti menyerah kepadanya dan berbagi dosa atas semua kejahatan yang diakibatkan Darwinisme pada umat manusia. Tanpa sadar, Muslim serupa itu menimbulkan bahaya besar bagi masyarakat.

    Karena itulah, kaum evolusionis Muslim harus meninjau kembali gagasan-gagasan yang mereka dukung. Menyerah kepada pihak lawan, sambil mengetahui bahwa teori itu salah, tak terbukti, dan sepenuhnya tidak amanah, serta mencoba menyesuaikan Islam dengan Darwinisme merupakan pilihan yang tak bisa diterima.

    Kita tidak boleh melupakan bahwa semua Muslim diwajibkan mengobarkan perang pemikiran untuk menjungkalkan semua gagasan yang mengingkari keberadaan Allah dan menggunakan kebenaran untuk menghancurkan dusta. Menghindari tanggung jawab, mencari kesamaan pijakan dengan kaum ateis, dan memberikan kelonggaran bagi pihak lawan atau menyerah kepada gagasan-gagasan mereka, semuanya adalah kesalahan berat.

    Misalnya, dalam suatu masyarakat tempat paham komunisme menyungkup, tugas seorang Muslim bukanlah “meng-Islamkan” komunisme. Jalan sedemikian tidak memberi manfaat apa-apa bagi agama, tetapi cuma melayani kepentingan komunisme. Tugas seorang Muslim adalah menjungkalkan komunisme sebagai sebuah filsafat, menyerangnya di aras pemikiran, dan memperlihatkan kebenaran Islam.

    Dengan cara serupa, bukanlah tugas Muslim untuk “meng-Islamkan” Darwinisme, melainkan menjungkalkan dusta besar itu di aras pemikiran dan memperlihatkan kebenaran penciptaan. Karena itulah kaum Muslimin harus bertindak secara sadar, dan tidak mendukung Darwinisme yang merupakan dasar semua filsafat ateis.

    Darwinisme Menghadirkan Ancaman Pada Masyarakat

    Tak seorang pun yang berpikir secara tak memihak, jujur, dan bebas, dapat benar-benar yakin bahwa atom-atom yang tak sadar bergabung secara tanpa sengaja, mengatur dan menyusun diri, dan akhirnya menghasilkan manusia yang berpikir, menalar, merasa, melihat, mendengar, membangun peradaban, membuat penemuan, menciptakan karya seni, bergembira, berduka, atau bahkan mempelajari atom-atom yang membentuk tubuhnya sendiri melalui mikroskop elektron. Tetapi, inilah kepercayaan tidak masuk akal yang dicekokkan teori Darwin pada masyarakat. Meskipun yang digunakan adalah peristilahan ilmiah, itulah saripati mantik Darwinis.

    Orang-orang yang menerima “mantik” demikian mulai kehilangan daya urai (analisis) dan penilaian yang nalar. Setelah menerima skenario yang paling tak mungkin ini seolah amat mantiki (masuk akal), mereka menjadi tak mampu melihat bukti yang paling nyata akan iman agama.

    Mereka ini, yang telah kehilangan kemampuan berpikir serta melihat kebenaran yang paling nyata, memahami dengan sesungguhnya anjuran dan propaganda yang mereka menjadi korbannya, dan yang membuta menerima gagasan itu hanya karena mayoritas orang menerimanya, dapat mudah ditarik ke arah mana pun.

    Setelah sampai di tahap itu, orang-orang itu bahkan tidak dapat menggunakan kecerdasan mereka sendiri, suatu keadaan yang membuat jauh lebih mudah untuk memberi mereka senjata dan mengirim mereka sebagai teroris, atau meyakinkan mereka bahwa “Darwin mengatakan orang ini berasal dari ras yang lebih rendah, jadi, engkau boleh membunuhnya.”

    Nyatanya, kerusakan yang diakibatkan pada kaum muda oleh Darwinisme di banyak negara diperkirakan tidak dapat diperbaiki. Perusuh sepakbola di Inggris, kaum neo-Nazi di Jerman, kelompok skinheads (kepala plontos) di Amerika, dan jumlah terbanyak kaum muda di seantero dunia telah kehilangan semua sifat kemanusiaan.

    Mereka ini, yang merupakan pembunuh dan monster, merupakan contoh hidup dari bahaya Darwinisme. Negara-negara itu mengalami masalah yang mengenaskan dengan kaum mudanya, sebab para pemuda itu telah menerima pendidikan Darwinis.

    Kita harus sadar bahwa orang yang dibesarkan dengan cara ini tidak akan membawa apa-apa selain bahaya bagi masyarakat tempat mereka berada. Suatu hari, para pemuda masa kini akan menjadi dewasa, pemerintah, diplomat, atau guru. Jadi, jika kita berharap melihat suatu peradaban mutakhir, secara ilmiah maju, dan nalar di masa depan, kita harus mendidik para pemuda kita dengan sasaran itu selalu di benak kita.

    Ini bisa dilakukan hanya jika kita membebaskan pemuda kita dari gagasan dan dusta Darwinis dan menjelaskan kepada mereka bahwa mereka bukan hewan yang berevolusi, tetapi diciptakan Allah, memiliki jiwa, dan mempunyai pengetahuan tertinggi di antara semua makhluk hidup. Dengan kata lain, kita harus menjelaskan kepada mereka hal yang sesungguhnya.

    Jika tahu bahwa mereka telah diciptakan dengan jiwa dan kesadaran yang mulia dan unggul, kaum muda akan menyesuaikan perilakunya. Jika diyakinkan bahwa mereka telah berevolusi dari hewan, berasal dari moyang yang sama dengan kera, dan gagasan sejenis lainnya, mereka akan melihat kehidupan sebagai sebuah pertarungan dan akan memakai segala cara untuk memenanginya.

    Generasi yang cuma mementingkan diri sendiri dan tak bertanggung jawab, tega melakukan segala kekejaman dan tanpa mengenal tenggang rasa, cinta, kehormatan, atau pun persaudaraan lalu akan muncul. Dalam perkara apa pun, mereka akan melihat diri sendiri dan orang lain pada hakikatnya sebagai tak bernilai, karena percaya bahwa semua manusia diturunkan dari hewan.

    Karena percaya tidak ada artinya menjalani hidup yang berharkat dan berakhlak, mereka akan sesukanya menampilkan segala jenis kezaliman dan kerusakan akhlak.

    Karena itu, apa yang harus dilakukan adalah memberantas kediktatoran pemikiran dan teori evolusionis di sekolah-sekolah, buku-buku, pers dan media, tataran sosial – singkatnya, di mana-mana – dan mengarahkan orang ke penalaran dan pemikiran mendalam yang diminta baik oleh Al Qur’an maupun ilmu pengetahuan.

    =================

    1. Lihat Harun Yahya, Darwinism Refuted, Goodword Books, New Delhi , 2003; Phillip E. Johnson, Reason in the Balance, Intervarsity Press, 1995; Phillip E. Johnson, The Wedge of Truth, Intervarsity Press, 2000; Benjamin Wiker, Moral Darwinism: How We Became Hedonists, Intervarsity Press, 2002
    2. Di Amerika Serikat, sejumlah ilmuwan yang mengecam Darwinisme telah didepak dari kedudukan mereka oleh lembaga Darwinis seperti American Civil Liberties Union dan National Center for Science Education. Robert deHart, seorang guru SMU, dikeluarkan di tahun 1998 hanya karena menyebutkan kepada para muridnya sejumlah keterangan yang mengecam Darwinisme.
    3. Phillip E. Johnson adalah seorang tokoh terdepan dalam perang pemikiran melawan Darwinisme. Buku-bukunya mencakup Darwin on Trial, Reason in the Balance, Defeating Darwinism by Opening Minds, Objections Sustained dan The Wedge of Truth.

    32.Philip E. Johnson, Darwin On Trial, Intervarsity Press, Downers Grove, Illinois, cetakan ke-2, 1993, p.155

     
    • lazione budy 9:26 am on 5 Juni 2015 Permalink

      dari dulu saya ga percaya sama sekali sama omong kosong ini orang,

  • erva kurniawan 1:28 am on 4 June 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (15) 

    seleksi alamMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (15)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    1. Kekeliruan Bahwa “Para Moyang” yang Disebutkan dalam Al Qur’an Merujuk kepada Nenek Moyang Evolusi

    Perihal lain yang dicoba tampilkan oleh kaum evolusionis Muslim sebagai bukti pernyataan mereka adalah ungkapan “para nenek moyang”, yang muncul dalam beberapa ayat. Menurut tafsir mereka yang keliru, ungkapan ini merujuk langsung kepada nenek moyang purba manusia. Alasan mereka untuk ini adalah, kata “nenek moyang” muncul berbentuk jamak dalam Al Qur’an. Dua ayat terkait berbunyi:

    Musa berkata (pula): “Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu.” (QS. Asy Syu’araa’, 26: 26)

    Tidak ada tuhan melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu. (QS. Ad Dukhaan, 44: 8)

    Akan tetapi, ini pernyataan yang dipaksakan karena penggunaan kata berbentuk jamak itu lumrah dan pasti tidak bisa digunakan sebagai dasar bagi tafsir evolusionis.

    Ungkapan ini muncul dalam banyak ayat lainnya, di antaranya Surat Al Baqarah: 133. Di sini, “para nenek moyang” tidak merujuk kepada proses evolusi mana pun, namun kepada generasi-generasi yang sebelumnya. Dengan cara serupa, istilah “para moyang, orang-orang sebelum” di masa lalu merujuk kepada generasi-generasi yang silam. Ungkapan ini tidak berisi makna evolusi:

    Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah, 2: 133)

    1. Kesalahan Tentang Bentuk Penciptaan Manusia

    Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah, dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada Hari Kiamat) dengan sebenar-benarnya. (QS. Nuh, 71: 17-18)

    Kaum evolusionis Muslim melihat ayat ini sebagai landasan teramat penting dalam menentukan dasar pandangan mereka. Ungkapan “Allah menumbuhkanmu dari tanah” disajikan sebagai bukti evolusi zat anorganik (zat tak hidup). Akan tetapi, sebagaimana dengan terang ditunjukkan dalam tafsir ayat, ungkapan ini menggambarkan penciptaan manusia pertama dari bumi (tanah).

    Hamdi Yazir dari Elmali mengajukan tafsir yang senada:

    Ada dua segi ayat. Pertama, mengatakan Dia menciptakanmu dari tanah berarti bahwa Dia menciptakan ayahmu dari tanah, dan memulai proses penciptaan bangsamu dengan menciptakannya dari tanah. Kedua, Dia menciptakan kalian semua dari tanah, sebab Allah menciptakan kita dari zat gizi, dari tumbuhan, dari bumi/tanah. 21

    Omer Nasuhi Bilmen mengajukan tafsir ini terhadap Surat Nuh 17-18:

    Hai manusia! Lihatlah ini. Allah membuatmu dari tanah bagai tumbuhan. Dengan kata lain, “Dia menciptakan Adam, moyangmu, dari tanah, atau anasir utamamu (zigot) terwujud dari tumbuhan dan beberapa bahan makanan lainnya yang tumbuh di bumi. Manusia lalu tumbuh dan hidup. (Lalu) hai manusia, Dia akan mengembalikanmu ke sana. Dengan kata lain: Saat engkau mati, engkau akan kembali ke bumi dan menjadi bagian dari tanah. (Dan) lalu Dia akan mengeluarkanmu dari kubur dan menggiring kalian semua ke Hari Kiamat. Semua ini adalah kenyataan. 22

    Uraian Imam Tabari menyatakan bahwa: “Allah menciptakanmu dari tanah bumi. Dia membuatmu dari ketiadaan … Dia lalu akan mengembalikanmu ke keadaan asalmu, ke bumi. Engkau akan kembali ke sebagaimana engkau sebelum diciptakan. Dia bisa membuatmu kembali hidup dari bumi jika Dia menghendaki.” 23

    Sebagaimana telah kita lihat dari tafsir para ulama Al Qur’an ini, ayat ini tidak dapat dipakai sebagai dasar penciptaan evolusi.

    Lagi pula, pernyataan tentang evolusi anorganik tidak memiliki dasar ilmiah. Gagasan bahwa zat-zat yang tak hidup bisa bersatu membentuk kehidupan merupakan gagasan tak ilmiah yang tidak diperkuat oleh percobaan dan pengamatan apa pun.

    Bahkan sebaliknya, ahli biologi Perancis Louis Pasteur (1822-1895) memperlihatkan bahwa kehidupan hanya mungkin berasal dari kehidupan. Ini menunjukkan bahwa kehidupan pasti dengan sengaja diciptakan. Dengan kata lain, Allah menciptakan semua makhluk hidup. (Untuk rincian lebih jauh tentang bukti ilmiah dan dusta evolusionis dalam hal ini, silakan merujuk ke Harun Yahya: The Evolution Deceit, Taha Publishers, London, 1999, dan Darwinism Refuted, Goodword Publishers, New Delhi, 2003.)

    1. Kekeliruan bahwa Al Qur’an Menunjuk ke Seleksi Alam

    Salah satu pernyataan evolusi yang paling dasar adalah, seleksi alam merupakan sebuah daya evolusi. Sebagaimana kita lihat di bab-bab sebelum ini, seleksi alam adalah dusta evolusionis, yang menyatakan bahwa yang kuat bertahan dan yang lemah tersingkir seiring waktu.

    Akan tetapi, ilmu pengetahuan mutakhir menunjukkan, seleksi alam tidak memiliki daya evolusi, dan tidak dapat menyebabkan satu jenis makhluk hidup berkembang, atau pun jenis makhluk hidup baru muncul. Akan tetapi, fakta-fakta ilmiah ini, yang sengaja diabaikan kaum Darwinis demi kepentingan materialisnya, juga diabaikan oleh kaum evolusionis Muslim. Beberapa kelompok Muslim mendukung pandangan taklid Darwinis ini, dan bahkan mencoba memberikan bukti Al Qur’an yang sangat dipaksakan baginya. Misalnya:

    Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali kali tidak ada pilihan bagi mereka. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). (QS. Al Qashash, 28: 68)

    Ayat ini mengungkapkan mereka yang Allah akan tunjuki jalan yang lurus serta nabi-nabi yang akan Dia umumkan sebagai utusan. Salah besar bila mengatakan bahwa ayat ini menunjuk ke seleksi alam evolusi.

    Para ulama Al Qur’an sepakat menyetujui tafsir tersebut. Misalnya, Imam Tabari mengajukan uraian berikut:

    Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dari para hambaNya, dan memilih mereka yang Dia kehendaki untuk mengikuti jalan yang lurus. Mereka tidak berhak memilih dalam hal ini. Mereka tidak berhak memilih untuk berlaku seperti yang mereka inginkan… 24

    Ulama besar Omer Nasuhi Bilmen mengajukan tafsir berikut ini:

    Dalam ayat-ayat suci ini, Allah menyatakan kekuasaanNya dalam penciptaan, bahwa Dia menyukai dan memilih siapa yang Dia kehendaki, kebijaksanaan dan kekuatanNya, keesaanNya, kejayaan dan puja-puji milikNya, perintah ilahiahNya, dan bahwa semua hambaNya akan dipanggil menghadap keberadaan ilahiahNya. Dengan kata lain, tidak seorang pun dapat menghambat kesukaan dan pilihan sang Mahakuasa dengan cara apa pun. Apa pun yang hambaNya pilih tidak dengan sendirinya bermanfaat. Dengan segala puji, Allah tidak wajib menciptakan apa yang mereka sukai dan pilih. Allah tidak mengirimkan utusan-utusanNya berdasarkan kesukaan dan pendapat kaum yang Dia kirimi utusan itu, hanya berdasarkan pilihan ilahiahNya. Hanya Dia yang mengetahui, bagaimana dan dengan cara apa kebaikan dan kemakmuran akan terwujud. Dia tak bersekutu, tak sesuatu pun bisa ada tanpa kehendakNya yang abadi, dan kehendak siapa pun tidak dapat menentang ketentuan dan pilihanNya yang mulia. 25

    Hamdi Yazir dari Elmali menafsirkan ayat itu sebagai berikut:

    Tuhanmu menciptakan dan menetapkan apa yang Dia pilih. Dengan kata lain, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih mereka yang Dia kehendaki dari mereka yang Dia telah ciptakan. Dia menetapkan bagi mereka tugas-tugas seperti kenabian dan penyampaian pesan. Mereka tidak memiliki pilihan dalam hal ini. Selain dari yang Allah tentukan, mereka tidak berhak memilih sekutu atau penyampai kabar lain. 26

    Ayat kedua yang diajukan para evolusionis Muslim adalah:

    Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Faathir, 35: 1)

    Kaum Muslimin serupa mereka itu menganjurkan ayat ini sebagai bukti pertumbuhan evolusi. Akan tetapi, mereka harus memelintir makna ayat yang sebenarnya, demi memperoleh makna demikian.

    Hal itu juga bertentangan dengan nalar dan akal sehat, karena ayat itu membahas penciptaan malaikat. Imam Tabari menafsirkan ayat itu sebagai berikut: “Dia dapat menambah jumlah sayap malaikat sebanyak yang Dia kehendaki. Dia dapat melakukan hal serupa terhadap makhluk hidup lainnya. Penciptaan dan perintah ada di tanganNya.27 ” Omer Nasuhi Bilmen sepakat, “Dia begitu berkuasa sehingga Dia menentukan jumlah sayap dan kekuatan malaikat.” 28

    1. Kekeliruan Memperlihatkan Al Qur’an sebagai Bukti untuk Mutasi

    Sebagaimana seleksi alam, para evolusionis Muslim menafsirkan secara keliru dan memaksakan ayat-ayat Al Qur’an saat membahas mutasi. Akan tetapi menganggap bahwa sebuah pergerakan alamiah, yang tidak berpengaruh apa pun kecuali merusak, bisa menjadi bukti evolusi merupakan kesalahan yang mengenaskan.

    Tidak ada pengaruh evolusi dari mutasi yang pernah teramati. (Untuk perincian lebih jauh mengenai bukti ilmiah atas hal ini, silakan melihat Harun Yahya: Darwinism Refuted, Goodword Publishers, New Delhi, 2003 dan Evolution Deceit, Taha Publishers, London, 1999.) Hal yang penting di sini adalah bukti, yang dicoba diajukan dari Al Qur’an oleh kaum evolusionis Muslim, yang percaya bahwa mutasi merupakan mekanisme evolusi. Mereka memelintir habis sejumlah ayat sehingga jauh dari makna sebenarnya. Ayat-ayat tersebut berbunyi:

    Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami ubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak (pula) sanggup kembali. (QS. Yaasin, 36: 67)

    Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina.”(QS. Al-Baqarah 2: 65)

    Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya:” “Jadilah kamu kera yang hina.” (QS. Al A’raaf, 7: 166)

    Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (QS. Al Maa-idah, 5: 60)

    Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. (QS. Al A’raaf, 7: 107)

    Bila tidak ada orang yang percaya bahwa perlu memelintir dan memaksakan kebenaran demi menemukan bukti Al Qur’an bagi evolusi, tidaklah mungkin memandang ayat-ayat itu sebagai bukti apa pun bagi mutasi.

    Empat ayat pertama berbicara tentang mukjizat Allah dalam mengubah tubuh makhluk hidup. Bahkan subjek pada ayat kelima (yakni, tongkat) tidak hidup, yang membuat tak mungkin berpendapat bahwa subjek itu mengalami mutasi. Penggambaran evolusionis Muslim terhadap ayat-ayat ini sebagai bukti evolusi menunjukkan, betapa zalim, memaksakan, dan tak Islami sebenarnya gagasan penciptaan evolusi.

    1. Kekeliruan bahwa Ada Hubungan Kekerabatan antara Manusia dan Kera dalam Al Qur’an

    Satu ayat yang seringkali keliru ditafsirkan selama debat tentang evolusi, dan yang ditafsirkan oleh sebagian orang sebagai suatu tanda dari teori itu, adalah ayat mengenai pengubahan yang Allah lakukan atas sekelompok orang Yahudi sehingga menjadi kera:

    Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman: “Jadilah kamu kera yang hina.” Maka, Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Baqarah, 2: 65-66)

    Ayat ini tidak bisa ditafsirkan dalam cara yang sejalan dengan teori evolusi, karena:

    1) Hukuman yang dimaksudkan mungkin dalam pengertian rasa keagamaan. Dengan kata lain, mungkin orang-orang Yahudi tersebut disejajarkan dengan kera dalam pengertian perangai, dan tidak dalam penampakan jasmaniah yang sebenarnya.

    2) Jika hukuman yang dimaksud terjadi dalam bentuk jasmaniah, itu merupakan keajaiban di luar hukum alam. Kita di sini berbicara tentang keajaiban di luar kekuatan alam biasa yang berlangsung seketika atas kehendak Allah, suatu penciptaan yang sadar. Evolusi menyatakan bahwa makhluk hidup, yang berlain-lainan jenis, beralih dari satu jenis ke jenis yang lain selama jutaan tahun, secara tanpa disengaja dan bertahap. Karena alasan inilah, kisah Al Qur’an di atas tidak berkaitan apa-apa dengan jalan cerita yang diajukan oleh mereka yang mendukung evolusi.

    Nyatanya, ayat yang kedua berbunyi: “Maka, Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang tersebut diubah menjadi kera sebagai peringatan bagi mereka yang akan datang kemudian.

    3) Hukuman ini terjadi hanya sekali dan pada sekelompok orang yang terbatas jumlahnya, sementara teori evolusi mengajukan jalan cerita yang tak masuk akal dan tak ilmiah bahwa kera berkerabat dengan semua manusia.

    4) Ayat itu mengatakan bahwa manusia diubah menjadi kera; evolusi mengatakan yang terjadi adalah sebaliknya.

    5) Al Qur’an 5: 60 menceritakan bahwa ada suatu masyarakat yang telah berlaku menyimpang lalu membangkitkan murka Allah dan diubah menjadi kera dan babi.

    Ayatnya berbunyi:

    Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (QS. Al Maa-idah, 5: 60)

    Dalam keadaan ini, jalinan cara berpikir yang keliru yang telah kita tinjau sepanjang buku ini menghasilkan kesimpulan yang tidak wajar, yakni ayat itu berisi bukan hanya kaitan rantai evolusi antara manusia dan kera, namun juga antara manusia dan babi! Evolusionis sekali pun tidak menyatakan ada kaitan demikian antara manusia dan babi.

    Seperti telah kita lihat sejauh ini, pernyataan bahwa sejumlah ayat Al Qur’an menuju ke arah evolusi adalah kekeliruan yang bertentangan bukan hanya dengan Al Qur’an, melainkan juga dengan pernyataan teori evolusi itu sendiri.

    ====================

    21.Hamdi Yazir dari Elmali, http: //www.kuranikerim.com/telmalili/nuh.htm

    22.Omer Nasuhi Bilmen, Turkish Edition of and Commentary on the Al Qur’an, vol. 8, h. 3851

    23.Imam at-Tabari, Tabari Commentary, vol. 6, h. 2632

    24.Imam at-Tabari, Tabari Commentary, vol. 4, h. 1707

    25.Omer Nasuhi Bilmen, Turkish Edition of and Commentary on the Al Qur’an, vol. 5, h. 2622

    26.Hamdi Yazir dari Elmali, http: //www.kuranikerim.com/telmalili/kasas.htm

    27.Imam at-Tabari, Tabari Commentary, vol. 4, h. 1877

    28.Omer Nasuhi Bilmen, Turkish Edition of and Commentary on the Al Qur’an, vol. 6, h. 2882

     

     

     
    • cvnadagroup2017 1:57 am on 4 Juni 2015 Permalink

      blog yang bagus dengan informasi yang menggugah iman, pendapat darwin itu salah kaparah……Allahu ‘alamu bissawaab

  • erva kurniawan 1:25 am on 3 June 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (14) 

    tyrannosaurusMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (14)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    1. Kekeliruan Bahwa Manusia Pertama Diciptakan dalam Waktu yang Lama

    (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesunguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah” (QS. Shaad, 38: 71)

    Kekeliruan lain dalam penciptaan evolusi berasal dari penafsiran ayat di atas secara salah. Kaum evolusionis menyatakan bahwa ruas kalimat yang digaris-bawahi di atas menunjukkan sebuah penciptaan yang lamban dalam waktu lama. Akan tetapi, bahasa Arab yang asli jelas menegaskan bahwa ini adalah murni pandangan sepihak dan seluruhnya bertentangan:

    “innii khaaliqum basyaram min thiinin” berarti “Aku adalah Dia Yang menciptakan seorang manusia dari tanah liat.”

    Ayat ini tidak mengatakan apa-apa yang seperti “Aku sedang menciptakan”. Nyatanya, ayat ini berlanjut, “Apabila Aku telah membentuknya dan meniupkan ruhKu kepadanya, tunduk sujudlah kepadanya!” Jelas dari ayat ini bahwa kata kerja menciptakan di sini terjadi dalam sekejap.

    Sungguh, tak seorang pun ulama Al Qur’an menerjemahkannya sebagai “Aku sedang menciptakan”. Misalnya, uraian Suleyman Ates, seorang ulama Muslim Turki, terbaca:

    Tuhanmu berfirman kepada para malaikat “Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat.”

    Allah mengabari para malaikat bahwa Dia akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat busuk. Setelah mengolah tanah liat ke bentuk manusia dan meniupkan ruhNya sendiri ke dalamnya, Dia memerintahkan para malaikat agar bersujud di hadapan manusia itu. Mereka semua bersujud. Hanya Setan yang tidak bersujud kepada moyang manusia, sambil berkata bahwa ia yang tercipta dari api adalah lebih baik daripada manusia yang tercipta dari tanah liat.

    Imam Tabari menerjemahkan ayat yang sama sebagai, “Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat”, dan memberikan uraian ini:

    … Allah sekali waktu mengabari para malaikat, “Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat. Selesai Aku menciptakannya, menetapkan bentuknya, dan meniupkan ruhKu ke dalam dirinya, kalian akan bersujud kepadanya.” 12

    Mereka yang membela penciptaan evolusi juga mengutip ayat berikut ini untuk mendukung pendapat bahwa manusia diciptakan melalui sebuah proses:

    Yang menciptakan segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. (QS. As Sajdah, 32: 7)

    Menurut tafsiran mereka, ungkapan yang digarisbawahi merujuk ke suatu proses, dalam hal ini proses evolusi. Namun, ungkapan itu sebenarnya sama sekali tidak merujuk ke proses semacam itu. Sebagaimana telah kami tekankan sepanjang buku ini, sangat banyak ayat melukiskan dengan rinci penciptaan oleh Allah dari ketiadaan, dan tak satu pun dari ayat-ayat itu dapat ditafsirkan bermakna penciptaan evolusi. Ayat berikut menekankan bahwa Allah dalam tindak penciptaan yang berkesinambungan.

    Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS. An Naml, 27: 64)

    Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. Al Ankabuut, 29: 19)

    Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkannya) kembali; kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS. Ar Ruum, 30: 11)

    Penciptaan yang sinambung oleh Allah, atas setiap rincian di alam semesta, tidak menyiratkan evolusi. Seperti tafsir sejenis lainnya, tafsir yang satu ini sangat dipaksakan. Lebih lagi, jika Al Qur’an dilihat secara menyeluruh, pernyataan serupa akan terlihat tidak memiliki dasar yang sejati. Omer Nasuhi Bilmen menafsirkan ayat ini sebagai berarti “…Dia menciptakan Nabi Adam dari tanah,13 ” dan Imam Tabari sebagai “Dia memulai penciptaan Adam dari tanah liat.” 14

    Para evolusionis Muslim mengutip ayat-ayat di bawah ini, khususnya bagian yang digarisbawahi, untuk mendukung pandangan mereka:

    Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. (QS. Al Infithaar, 82: 6-8)

    Namun, akan memaksakan makna ayat jika berkata bahwa ayat ini merujuk ke proses evolusi. Nyatanya, Hamdi Yazir dari Elmali menafsirkan ayat ini sebagai berikut:

    “Allah menciptakanmu. Jelaslah bahwa penciptaan di sini bermakna mengadakan sebelum menyusun tubuh dan organ-organnya, menetapkan ukuran dan bentuk, serta menyatukan bagian-bagian. Kita juga diberitahu bahwa keberadaan, saripati dari segala nikmat, adalah Rahmat dan Kebaikan Ilahiah yang terpenting.

    Dia lalu menyusun tubuh dan organ-organmu. Dikatakan bahwa “Dia menciptakanmu dari tanah/debu, lalu dari setetes mani, dan lalu menyempurnakanmu sebagai laki-laki” (QS. Al Kahfi, 18: 37) dan, sebagaimana dalam banyak ayat lainnya, bahwa manusia itu dibawa ke tahap ruh dapat ditiupkan ke dalam dirinya secara bertahap; Dia menyusun tubuh, organ-organ, dan kemampuan, serta memberimu keseimbangan dan kendali. Ada dua tafsiran bebas di sini, satu berasal dari ‘adl dan yang lain dari ta’dil. Karena keduanya berarti “menyeimbangkan” dan “mengembalikan ke keadaan wajar”, beberapa tafsiran telah dibuat, yang menyatakan bahwa “penciptaan sesuai dengan urutan” telah dibuat sempurna.

    Menurut uraian Muqatil, ungkapan dalam Surat Al Qiyaamah: 4 bahwa “Kami sungguh kuasa menyusun (ulang) jari-jemarinya,” berarti bahwa tubuh manusia berbentuk seimbang dan teratur, sebagaimana kesesuaian dan rincian organ-organ kembar (misalnya, mata, telinga, tangan, dan kaki) diketahui dari anatomi (ilmu urai tubuh). 15

    Menurut Abu Ali Farisi, ungkapan “Dia menyeimbangkanmu” sebenarnya berarti “Dia membentukmu dalam bentuk yang sebagus-bagusnya, dan dengan ukuran ini memberimu kemampuan mengerti nalar, gagasan, dan kekuatan, serta memberimu keunggulan atas tumbuhan dan makhluk hidup lain. Dia membawamu ke tingkat kematangan yang jauh melebihi makhluk hidup lain di dunia.” Ini sejalan dengan arti “Apabila Aku telah menyempurnakan bentuknya dan meniupkan ruhKu ke dalam dirinya” (QS. Al Hijr, 15: 29) dan “melebihkan mereka jauh di atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. Al Israa’, 17: 70). Semua ini adalah nikmat dan kasih sayang dari Allah. 16

    Omer Nasuhi Bilmen menafsirkan ayat itu seperti ini:

    Ya. Tuhanmu (yang menciptakanmu) memberimu wujud dari ketiadaan (lalu membentukmu), memberimu organ-organ yang bagus dan sempurna (dan menyeimbangkanmu). Dia menyeimbangkan organ-organmu, dengan keindahan yang sedap di mata dan susunan yang alami. 17

    Imam Tabari menyatakan bahwa Surat Al Infithar: 7 merujuk kepada manusia yang diciptakan dalam satu perintah:

    Hai manusia, Tuhan yang menciptakanmu membuat penciptaan itu teratur dan menghasilkanmu dalam bentuk yang sehat, teratur, dan benar. (Dengan kata lain, Dia menciptakan manusia lengkap dengan tinggi yang tertentu, ukuran yang benar, dan dalam bentuk dan rupa yang terbaik.) Allah membuatmu dengan kecantikan atau keburukan yang Dia anggap tepat. 18

    Seperti dapat dilihat dari ulasan di atas, pernyataan-pernyataannya amat jelas; semua ayat itu menunjuk ke arah penciptaan lengkap, benar, dan teratur atas manusia pertama. Pernyataan-pernyataan serupa ternyata dapat ditemukan dalam banyak ayat lain. Misalnya, Surat As Sajdah: 7-9 mengatakan:

    Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani). Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam (tubuh) nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. As Sajdah, 32: 7-9)

    Kata “penciptaan” digunakan kali pertama dalam ayat-ayat ini, yang lalu berlanjut dengan mengatakan bahwa Dia menciptakan mata, telinga, dan hati. Jadi, kita diberitahu bahwa semua tahap ini terjadi pada waktu yang sama; dengan kata lain, mata, telinga, dan hati manusia pertama diciptakan bersama-sama, dan ia diciptakan dalam sesaat. Salah besar jika mengartikan ayat-ayat ini seakan merujuk kepada evolusi manusia. Nyatanya, para ulama Islam terkemuka semuanya sepakat tentang tafsir ayat ini. Misalnya, Imam Tabari mengatakan:

    … Dia lalu memunculkan manusia sebagai makhluk lengkap dalam bentuk yang teratur, kemudian meniupkan jiwaNya ke dalam dirinya, dan membuatnya makhluk yang berbicara … Dia memberi telinga agar engkau mendengar, mata agar engkau melihat, dan hati agar engkau membedakan yang benar dan yang salah, dan engkau wajib bersyukur atas nikmat-nikmat ini… 19

    Tafsir Omer Nasuhi Bilmen berbunyi: “Tuhan menyusun manusia yang mulai berbentuk, melengkapi tubuhnya sementara masih dalam rahim ibunya, dan membentuknya dengan cara yang selayaknya (dan lalu meniupkan ruhNya ke dalam tubuhnya). Dengan kata lain, Dia memberi manusia kehidupan dan mengilhami daya penting dalam jiwanya … Tuhan memberimu kuasa (pendengaran) yang amat berguna itu sehingga, berkat itu semua, engkau dapat mendengar kata-kata yang diucapkan kepadamu, dan menciptakan mata dan hatimu agar engkau dapat melihat apa-apa di sekelilingmu dan membedakan antara yang bermanfaat dan yang tidak. Masing-masing hal ini adalah nikmat ilahi yang agung.” 20

    1. Kekeliruan Bahwa Nabi Adam Bukan Manusia Pertama

    Pernyataan lain yang diajukan menyangkut penciptaan evolusi adalah Nabi Adam AS mungkin bukan manusia pertama dan bahkan mungkin bukan manusia. (Kami memohon ampun kepada Nabi Adam AS).

    Ayat berikut diajukan sebagai bukti akan hal ini:

    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah, 2: 30)

    Mereka yang mendukung pernyataan ini berkata bahwa kata kerja bahasa Arab ja’ala dalam ungkapan “Aku akan menciptakan seorang khalifah” bermakna “mengangkat”. Dengan kata lain, mereka berpendapat bahwa Nabi Adam bukanlah manusia pertama, namun ia “diangkat” sebagai khalifah di antara banyak orang.

    Akan tetapi, dalam Al Qur’an, kata kerja ini memiliki arti berikut:

    Menciptakan, menemukan, menerjemahkan, membuat, menempatkan, dan menjadikan

    Beberapa contoh ayat Al Qur’an saat ja’ala digunakan adalah:

    Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan (ja’ala) daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak… (QS. Az Zumar, 39: 6)

    Katakanlah: “Dia-lah yang menciptakan kamu dan memberi kamu (ja’ala) pendengaran, penglihatan, dan hati. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” (QS. Al Mulk, 67: 23)

    Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan (ja’ala) matahari sebagai pelita. (QS. Nuh, 71: 16)

    Dan Allah menjadikan (ja’ala) bumi untukmu sebagai hamparan. (QS. Nuh, 71: 19)

    Sebagaimana terlihat pada ayat-ayat di atas, ja’ala memiliki banyak makna. Lebih lagi, sejumlah ayat menyatakan bahwa Nabi Adam AS diciptakan dari tanah/debu. Ayat-ayat ini menegaskan bahwa Nabi Adam AS bukanlah seorang manusia biasa di antara banyak orang, melainkan bahwa ia memiliki penciptaan yang khusus dan berbeda.

    Al Qur’an mengungkapkan fakta penting lainnya tentang Nabi Adam AS: pemindahannya dari Taman Surga. Dikatakan dalam ayat-ayat:

    Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh Setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari Surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS. Al A’raaf, 7: 27)

    Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.” Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Al Baqarah, 2: 35-36)

    Pernyataan ayat-ayat di atas sungguh-sungguh terang. Allah menciptakan Nabi Adam AS dari tanah/debu. Nabi Adam AS adalah penciptaan khusus yang muncul, pertama kali dari keberadaannya di surga, dan lalu dari pemindahannya dari surga.

    Namun, kaum evolusionis Muslim mengabaikan kebenaran yang nyata ini, dan bersikeras bahwa “surga” di sini tidak merujuk kepada Surga di akhirat, namun suatu tempat indah di Bumi, sekalipun Al Qur’an merinci ciri surga yang di dalamnya Nabi Adam AS diciptakan. Misalnya, Surga berisi para malaikat dan iblis, dan para malaikat berbicara kepada Allah. Salah jika menelurkan tafsir yang dipaksakan, dan mencari bukti evolusi, di saat ayat-ayat tentang masalah ini begitu jelasnya.

    Banyak ayat menyatakan bahwa semua orang diturunkan dari Nabi Adam AS. Sebagaimana Al Qur’an katakan:

    Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” Atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka, apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dulu?” (QS. Al A’raaf, 7: 172-173)

    Nabi Adam AS adalah manusia pertama dan utusan Allah yang pertama. Ayat-ayat begitu tegas dan jelas tentang masalah ini, sehingga tidak diperlukan uraian apa pun. Yang harus dilakukan orang hanyalah membaca Al Qur’an dengan hati yang tulus dan mendengarkan hati nurani. Allah akan mengungkapkan kebenaran kepada mereka yang membaca ayat-ayatNya dengan niat tersebut.

    =================

    12.Imam at-Tabari, Tabari Commentary, vol. 4, h. 1991

    13.Omer Nasuhi Bilmen, Turkish Edition of and Commentary on the Al Qur’an, vol. 6, h. 2763

    14.Imam at-Tabari, Tabari Commentary, vol. 4, h. 1991

    15.Hamdi Yazir dari Elmali, http: //www.kuranikerim.com/telmalili/infitar.htm

    16.Hamdi Yazir dari Elmali, http: //www.kuranikerim.com/telmalili/infitar.htm

    17.Omer Nasuhi Bilmen, Turkish Edition of and Commentary on the Al Qur’an, vol. 8, h. 3983

    18.Imam at-Tabari, Tabari Commentary, vol. 6, h. 2748

    19.Imam at-Tabari, Tabari Commentary, vol. 4, h. 1796

    20.Omer Nasuhi Bilmen, Turkish Edition of and Commentary on the Al Qur’an, h. 2764

     
    • cvnadagroup2017 2:11 am on 3 Juni 2015 Permalink

      teorinya darwin aja yang salah….

  • erva kurniawan 1:19 am on 2 June 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (13) 

    cara-mencegah-pencemaran-airMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (13)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    1. Kekeliruan Bahwa Penciptaan Dari Air Adalah Tanda Penciptaan Evolusi

    Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (QS. Al Insaan, 76: 2)

    Mereka yang membela penciptaan evolusi mencoba menunjukkan, pernyataan-pernyataan dalam banyak ayat bahwa manusia diciptakan dari air adalah bukti semua makhluk hidup muncul dari air.

    Akan tetapi, ayat-ayat itu selalu ditafsirkan oleh para ulama dan pengulas Al Qur’an sebagai merujuk kepada penciptaan dari bersatunya sel mani dan telur. Misalnya, Muhammad Hamdi Yazir dari Elmali menguraikan ayat di atas sebagai berikut:

    … ia diciptakan dari nutfah berbentuk air. Nutfah adalah air murni. Ia juga berarti air mani. Nutfah dan air mani menurut kebiasaan memiliki arti yang sama. Namun, di akhir Surat Al Qiyaamah, dikatakan “nutfah dalam mani yang ditumpahkan” (QS. Al Qiyaamah, 75: 37),

    jadi, menyatakan bahwa nutfah itu bagian dari air mani tersebut.

    Sebagaimana dikabarkan dalam Sahih al-Muslim, “Anak tidak berasal dari seluruh cairan itu”. Dan, hadits itu, membahas setiap bagian kecil dari keseluruhan itu, tidak mengatakan, “Setiap bagian dari suatu cairan”, melainkan lebih membicarakan satu bagian dari “keseluruhan cairan itu”, dan bahwa seorang anak tidak berasal dari keseluruhan cairan, namun hanya dari satu bagian. Nutfah hanyalah satu bagian murni dari air mani. 7

    Ibnu Tabari menafsirkannya sebagai berarti, “Kami telah menciptakan keturunan Adam dari percampuran cairan-cairan pembuahan lelaki dan perempuan.” 8

    Omer Basuhi Bilmen menjelaskannya dalam cara ini:

    … (Kami menciptakan manusia dari setetes nutfah yang tercampur.) Kami membentuknya dari cairan lelaki dan perempuan yang tercampur. Ya … Manusia adalah, selama suatu tenggang waktu, sebuah nutfah, dengan kata lain, air yang amat jernih dan murni, dan lalu selama tenggang waktu tertentu, sebuah ‘alaq, dengan kata lain, segumpal darah, dan lalu sebuah mudgha, dengan kata lain, segumpal daging. Kemudian, tulang-tulang terbentuk dan dibungkus daging, dan menjadi hidup …9

    Seperti kita lihat dari penjelasan-penjelasan ini, tidak ada kaitan antara penciptaan manusia dari “setetes nutfah yang tercampur” dengan pernyataan teori evolusi bahwa manusia muncul secara bertahap dari sebuah sel tunggal yang berkembang tanpa disengaja dalam air. Sebagaimana dikatakan semua pakar Al Qur’an termasyhur, ayat ini menarik perhatian kita kepada fakta penciptaan di dalam rahim ibu.

    Jika kita mencermati sebuah ayat lain, tempat dibahas tahap-tahap penciptaan manusia, kekeliruan dasar dalam berbagai uraian ini terungkap dengan jelas:

    Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur) maka (ketahuilah), sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (QS. Al Hajj, 22: 5)

    Dalam ayat ini, tahap-tahap penciptaan manusia dijabarkan. Debu atau tanah, yakni, zat-zat organik dan anorganik, yang ditemukan dalam bentuk dasarnya di permukaan dan di dalam bumi, adalah bahan mentah yang mencakup berbagai mineral dan anasir dasar dalam tubuh manusia.

    Tahap kedua adalah penyatuan zat-zat ini dalam air mani, yang dijelaskan Al Qur’an sebagai setetes nutfah yang tercampur. Tetesan ini berisi sel mani yang memiliki informasi dan susunan genetis yang diperlukan untuk membuahi telur dalam rahim ibu. Singkatnya, bahan mentah manusia adalah (tanah/debu) bumi, yang saripatinya dikumpulkan dalam setetes air mani dengan cara yang akan melahirkan manusia.

    Setelah tahap air, tahap-tahap perkembangan manusia di dalam rahim ibu dijelaskan dalam Al Qur’an. Di sisi lain, teori evolusi memperkirakan adanya berjuta-juta tahap dugaan/hipotetis (sel pertama, makhluk bersel tunggal, makhluk bersel banyak, hewan tak bertulang belakang, hewan bertulang belakang, reptil, mamalia, primata, dan tahap-tahap serupa yang tak terhitung banyaknya) antara timbulnya kehidupan di air sampai ke pembentukan manusia. Akan tetapi, dalam urutan yang disajikan ayat di atas, nyata bahwa tidak ada penjelasan yang demikian, sebab manusia mengambil bentuk ‘alaq setelah ia berbentuk setetes air.

    Karena alasan ini, jelaslah bahwa ayat di atas tidak melukiskan tahap-tahap evolusi yang berbeda yang dilalui manusia, melainkan tahap-tahap penciptaan sejak sebelum dan di dalam rahim ibu sampai masa tua.

    Ayat-ayat lain yang menyatakan bahwa manusia dan makhluk hidup lainnya diciptakan dari air juga tidak mengandung arti yang dapat dipakai untuk mendukung evolusi. Ayat-ayat berikut ini termasuk di antara ayat yang berisi pernyataan semacam itu:

    Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. Al Anbiyaa’, 21: 30)

    Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. An Nuur, 24: 45)

    Ayat-ayat di bawah ini jelas menyatakan bahwa “setetes air” itu adalah air mani:

    Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani, apabila dipancarkan (min nuthfatin idzaa tumnaa). Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati). (QS. An Najm, 53: 45-47)

    Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan ke dalam rahim (nuthfatam mim maniyyiy yumnaa)…? (QS. Al Qiyaamah, 75: 37)

    Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar (khuliqa mim maa-in dafiqin), yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. (QS. Ath Thaariq, 86: 5-7)

    Sebagian pengulas Al Qur’an ada yang berpikir bahwa “penciptaan makhluk hidup dari air” mengandung arti yang sejalan dengan teori evolusi. Akan tetapi, pandangan ini sungguh lemah. Ayat-ayat itu mengungkapkan bahwa air adalah bahan mentah bagi makhluk hidup, dengan cara mengatakan bahwa semua makhluk hidup diciptakan darinya. Nyatanya, biologi mutakhir mengungkapkan bahwa air merupakan unsur paling mendasar semua makhluk hidup, sebab tubuh manusia kira-kira 70 persennya air. Air memungkinkan gerakan dalam sel, antar-sel, dan antar-jaringan. Tanpa air, tidak akan ada kehidupan.

    1. Kekeliruan bahwa Penciptaan Itu yang Pertama dari Tanah Lalu dari Air Berarti Penciptaan Evolusi

    Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? (QS. Al Kahfi, 18: 37)

    Imam Tabari menguraikan ayat ini sebagai berikut:

    … Apakah engkau hendak mengingkari Allah yang menciptakan ayahmu Adam dari tanah/debu, lalu menciptakanmu dari cairan lelaki dan perempuan, lalu membungkusmu dalam bentuk manusia? Allah, Dia yang memberimu semua ini dan menjadikan dirimu seperti saat ini, mewujudkanmu untuk membuatmu makhluk hidup lain setelah engkau mati dan kembali ke tanah. 10

    Uraian Omer Nasuhi Bilmen atas ayat yang sama mengatakan:

    Apakah engkau mengingkari Allah Mahaperkasa yang menciptakan Nabi Adam, moyang bangsamu dan musabab penciptaanmu, (dari tanah/debu), Yang lalu menciptakanmu dan (membentukmu sebagai lelaki setelah menciptakanmu) dari nutfah dan setetes mani, Yang mewujudkanmu sebagai manusia lengkap sebagai hasil tahap-tahap kehidupan yang berbeda? Karena mengingkari hidup sesudah mati sama dengan mengingkari Allah Mahaperkasa, Yang memberimu kabar bahwa itu akan terjadi dan Yang memiliki kekuasaan untuk membuatnya terjadi. 11

    Sebagaimana ditunjukkan oleh para pengulas ini, memakai ayat-ayat sejenis itu sebagai bukti proses evolusi tidaklah lebih daripada pendapat pribadi murni, sebab dengan cara apa pun ayat-ayat itu tidak membawa makna yang dilekatkan kaum evolusionis padanya.

    Ungkapan penciptaan dari tanah/debu melukiskan penciptaan Nabi Adam, dan penciptaan dari air merujuk kepada pertumbuhan manusia, mulai dari air mani. Diperlihatkan dalam ayat berikut ini bahwa Allah menciptakan manusia langsung dari tanah liat kering.

    Ayat ini, yang menggambarkan penciptaan Nabi Adam, tidak membicarakan suatu tahap:

    Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS. Al Hijr, 15: 28-29)

    Jika kisah Al Qur’an tentang tahap-tahap penciptaan dibaca dengan cermat, sambil mengingat proses-proses yang berurut, akan segera disadari bahwa pandangan evolusi itu adalah tidak benar.

    Al Qur’an berisi banyak ayat yang menunjukkan bahwa Nabi Adam AS tidak diciptakan melalui tahap evolusi. Salah satunya berbunyi:

    Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah!” (seorang manusia), maka jadilah dia. (QS. Ali ‘Imran, 3: 59)

    Ayat di atas menyatakan bahwa Allah menciptakan Nabi Adam AS dan Isa AS, dengan cara serupa. Sebagaimana telah kami tekankan sebelumnya, Nabi Adam diciptakan tanpa orangtua, dari tanah, dengan perintah Allah “Jadilah!” Nabi Isa juga diciptakan tanpa ayah, atas kehendak Allah yang diungkapkan lewat perintah “Jadilah!” Dengan perintah ini, Maryam AS pun mengandung Isa:

    Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.” Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” Jibril berkata: Demikianlah. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” (QS. Maryam, 19: 17-21)

    Dalam ayat lain yang merujuk kepada penciptaan dari air dan tanah, bukanlah tahap-tahap evolusi yang dijelaskan, namun tahap-tahap penciptaan manusia sebelum berada dalam rahim, selama di dalamnya, dan sesudah dilahirkan.

    Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur) maka (ketahuilah), sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (QS. Al Hajj, 22: 5)

    Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya). (QS. Al Mu’min, 40: 67)

    Dari air mani, apabila dipancarkan. (QS. An Najm, 53: 46)

    ***

    7.Hamdi Yazir of Elmali, http: //www.kuranikerim.com/telmalili/insandehr.htm

    8.Imam at-Tabari, Tabari Commentary, vol. 6, h. 2684

    9.Omer Nasuhi Bilmen, Turkish Edition of and Commentary on the Al Qur’an, vol. 8, h. 3915

    1. 52. Imam at-Tabari, Tabari Commentary, vol. 3, h. 1268

    11.Omer Nasuhi Bilmen, Turkish Edition of and Commentary on the Al Qur’an, vol. 4, h. 1958

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 1 June 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (12) 

    quranMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (12)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Kekeliruan Mereka Yang Menggunakan Ayat-Ayat Al Qur’an Untuk ‘Membuktikan’ Evolusi

    Panduan dasar bagi semua Muslim yang percaya kepada Allah dan Islam adalah Al Qur’an dan Sunnah (teladan) Nabi SAW. Al Qur’an mengandung banyak ayat tentang penciptaan kehidupan dan alam semesta.

    Tidak ada dari ayat-ayat ini yang memberikan tanda, sekalipun yang paling samar, tentang penciptaan melalui evolusi.

    Dengan kata lain, Al Qur’an tidak mendukung gagasan bahwa makhluk hidup berevolusi dari satu jenis ke jenis lainnya, atau bahwa ada rantai kaitan evolusi di antara itu semua. Sebaliknya, Al Qur’an mengungkapkan bahwa Allah menciptakan kehidupan dan alam semesta secara ajaib dengan memerintahkan “Jadilah!” Jika mengingat bahwa berbagai temuan ilmiah juga menggugurkan evolusi, kita melihat sekali lagi bagaimana Al Qur’an selalu sejalan dengan ilmu pengetahuan.

    Tentu saja, jika Allah kehendaki, Dia dapat menciptakan apa pun lewat cara evolusi. Namun, tiada tanda Dia melakukan hal itu dalam Al Qur’an, dan tidak satu ayat pun mendukung pernyataan evolusionis bahwa jenis makhluk hidup berkembang secara bertahap.

    Jika penciptaan terjadi secara demikian, kita seharusnya bisa membaca rinciannya dalam Al Qur’an. Walaupun semuanya demikian jelas, sebagian kaum Muslimin yang mendukung paham Darwinisme salah menafsirkan ayat-ayat tertentu, dengan memberikan makna yang tidak sejalan dengan makna jelas dan tegas yang sebenarnya dikandung ayat-ayat itu.

    Untuk membela evolusi dan menyediakan sejumlah bukti Al Qur’an baginya, makna sejumlah ayat dipelintir, tebak-tebakan diandalkan, dan tafsir yang berprasangka dibuat.

    Tentang orang-orang dalam keadaan berbahaya ini, Allah berfirman yang berikut:

    Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah.” Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali ‘Imran, 3: 78)

    Mereka yang mengetahui Al Qur’an namun memelintir makna asli ayat-ayatnya dan sengaja salah menafsirkan ayat-ayat itu dikatakan berdusta terhadap Allah. Tak seorang Muslim pun suka rela berbuat demikian, karena terlalu takut akan akibat-akibatnya. Jadi, semua uraian yang berdasarkan dugaan dan tebakan, khususnya yang dibuat oleh mereka yang mengetahui Al Qur’an dan apa yang dikatakannya tentang masalah-masalah sepenting ini, secara akhlak tak bisa diterima.

    Tentu saja, adalah salah apabila kita menyamaratakan setiap orang yang menyatakan evolusi selaras dengan agama, sebab sebagian mereka tidak memikirkan apa makna pernyataan semacam itu, dan sebagian lain tidak menyadari bahaya-bahaya yang menyurukinya. Sekalipun demikian, tidak boleh menyesatkan orang lain tentang apa yang dikatakan Al Qur’an, dengan cara berbicara atas nama Allah, dan mencoba membuktikan evolusi dengan menggunakan ayat-ayat Al Qur’an.

    Mereka yang melakukan hal itu harus meninjau kembali beratnya akibat perbuatan mereka dan menghindarkan diri dari membuat tafsir dan uraian seperti itu, sebab Allah akan meminta tanggung jawab mereka atas kata-kata mereka. Tidak hanya mereka memperdaya diri sendiri, namun juga memperdaya orang-orang yang membaca karya-karya mereka – sungguh tanggung jawab yang berat.

    Pada akar masalahnya adalah hal ini: kaum Muslimin yang percaya evolusi menerima gagasan tersebut sebagai fakta ilmiah, sehingga mereka mendekati Al Qur’an dengan anggapan bahwa Al Qur’an harus menegaskan evolusi. Jadi, mereka memuati setiap kata yang mungkin memiliki tafsir evolusioner dengan makna yang tak mungkin dikandungnya. Apabila Al Qur’an dilihat secara utuh, atau bila ayat yang terkait dibaca dalam kaitan dengan ayat sebelum dan sesudahnya, orang dapat melihat bahwa penjelasan yang ditawarkan itu adalah dipaksakan dan tidak sah.

    Dalam bab ini, kita akan meninjau ayat-ayat yang disajikan oleh kaum Muslimin, yang menerima evolusi, sebagai bukti evolusi. Kita lalu akan menanggapi berbagai pernyataan mereka, juga dari Al Qur’an, dan membandingkan semua itu dengan tafsir yang dibuat oleh para ulama Islam yang terkemuka.

    Akan tetapi, kita harus tetap ingat akan kenyataan dasar berikut ini: Al Qur’an harus dibaca dan ditafsirkan dalam bentuk yang telah Allah ungkapkan, dengan hati yang tulus sepenuhnya dan tanpa terpengaruhi gagasan dan filsafat apa pun yang bukan Islam.

    Mendekati Al Qur’an dengan cara ini akan mengungkapkan bahwa Al Qur’an tidak berisi keterangan tentang penciptaan lewat evolusi. Sebaliknya, akan terlihat bahwa Allah menciptakan makhluk hidup dan segala sesuatu dengan perintah tunggal “Jadilah!” Jika makhluk setengah-manusia-setengah-kera memang benar-benar ada sebelum Nabi Adam, Allah akan menerangkannya dengan jelas dan mudah dimengerti. Fakta bahwa Al Qur’an amat jelas dan amat mudah dimengerti menunjukkan bahwa pernyataan tentang penciptaan evolusi tidaklah benar.

    1. Kekeliruan Bahwa Manusia Diciptakan Melalui Tahap-Tahap Evolusi

    Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. (QS. Nuh, 71: 13-14)

    Mereka yang mendukung penciptaan evolusi menafsirkan kata-kata “beberapa tingkatan kejadian” sebagai “melalui tahap-tahap evolusi”. Akan tetapi, menafsirkan kata bahasa Arab atwaran sebagai tahap-tahap evolusi, yang tak lebih daripada sebuah pendapat pribadi, tidak secara umum disepakati oleh semua ulama Islam.

    Atwar (suasana, keadaan) merupakan bentuk jamak tawru, dan tidak muncul dalam bentuk itu pada ayat Al Qur’an yang lain. Tafsiran dunia Islam atas ayat ini memperlihatkan fakta tersebut.

    Dalam tafsirnya, Muhammad Hamdi Yazir dari Elmali menerjemahkan ayat itu sebagai: “Ia menciptakanmu tahap demi tahap melalui beberapa keadaan.” Dalam uraiannya, ia melukiskan tahap-tahap ini sebagai “tahap-tahap evolusi”. Akan tetapi, penjelasan ini tidak berkaitan dengan evolusi yang menyatakan bahwa akar manusia terletak di makhluk hidup lainnya.

    Nyatanya, sesudah itu Yazir segera mengatakan bahwa tahap-tahap tersebut adalah:

    Menurut penjelasan yang diberikan Ebus Suud 1 , pertama datang unsur-unsur, lalu zat gizi, lalu adonan/campuran, lalu sel mani, lalu segumpal daging, lalu daging dan tulang, dan ini akhirnya dibentuk dengan penciptaan yang sepenuhnya berbeda.

    “Maka Mahasuci-lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al Mu’minuun, 23: 14)

    Tidakkah Allah, Sang Pencipta yang Mahaperkasa, patut dipuja dan diagungkan? Tidakkah Dia sanggup terus mengangkatmu lebih jauh dengan bentuk dan penciptaan lain? Atau tidakkah Dia juga bisa menghancurkanmu dan melemparkanmu ke dalam siksaan yang pedih? Mengapa tidak kaupikirkan semua hal ini?

    Seperti ditunjukkan semua pernyataan di atas, ayat ini menggambarkan bagaimana manusia mencapai rahim ibunya sebagai sebuah sel mani, berkembang sebagai janin dan lalu segumpal daging, dan lalu tumbuh menjadi daging dan tulang sebelum lahir ke dunia sebagai manusia.

    Dalam uraian Imam Tabari, Surat Nuh: 14 diterjemahkan sebagai “Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian”, dan ini ditafsirkan sebagai bermakna “Engkau kali pertama berbentuk sebutir sel benih, lalu Dia menciptakanmu sebagai segumpal darah, lalu sepotong kecil daging.” 2

    Omer Basuhi Bilmen menerjemahkan ayat itu sebagai “Nyatanya, Dia menciptakanmu melalui aneka tingkatan”, dan meneruskan dengan tafsir berikut:

    Dia (menciptakan)mu melalui aneka tingkatan. Engkau pertama kali adalah sebutir benih, lalu setetes darah. Engkau menjadi sepotong daging dan memiliki tulang, lalu engkau dilahirkan sebagai manusia. Tidakkah semua kejadian dan perubahan, yang bermacam-macam dan patut dijadikan contoh ini, merupakan bukti cemerlang akan keberadaan, kekuasaan, dan keagungan Tuhan Penciptaan? Mengapa engkau tidak memikirkan penciptaan dirimu sendiri? 3

    Sebagaimana kita lihat di sini, para ulama Al Qur’an Muslim sepakat bahwa penafsiran Surat Nuh: 14 merujuk kepada proses yang terlibat dalam perkembangan manusia dari penyatuan sel mani dan sel telur. Bahwa ayat tersebut harus ditafsirkan dengan cara ini adalah jelas dari azas “menafsirkan ayat Al Qur’an menurut ayat Al Qur’an lainnya”, karena dalam ayat-ayat lain Allah menjelaskan tahap-tahap penciptaan sebagai apa yang terjadi dalam rahim ibu. Itulah sebabnya, atwaran harus diterjemahkan dengan cara ini. Tidak dibenarkan menggunakan kata itu sebagai dukungan bagi teori evolusi, yang mencoba mengaitkan asal-muasal manusia dengan jenis makhluk hidup lainnya.

    1. Kekeliruan Bahwa Al Qur’an Berisi Isyarat Akan Proses Evolusi

    Bukankah sudah datang atas manusia suatu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (QS. Al Insaan, 76: 1)

    Orang-orang yang sama tersebut juga menggunakan ayat ini sebagai bukti evolusi. Dalam terjemahan yang berdasarkan penafsiran pribadi, ungkapan “saat ia bukan sesuatu yang patut disebutkan” diungkapkan sebagai pernyataan “keadaan-keadaan sebelumnya, saat manusia belum menjadi manusia”. Akan tetapi, pernyataan ini sama jauhnya dari kebenaran dengan pernyataan pertama.

    Bagian berbahasa Arab dari ruas yang digarisbawahi adalah:

    Lam yakum shay’am madzkuuraan

    lam yakun: ia bukanlah

    shay’an: sesuatu

    madzkuuraan: yang dibicarakan, disebutkan

    Mencoba menggunakan ungkapan ini sebagai bukti evolusi adalah benar-benar memaksakan kata-kata. Nyatanya, para ulama Al Qur’an tidak menafsirkan ayat ini sebagai menandakan proses evolusi. Misalnya, Hamdi Yazir dari Elmali membuat uraian berikut:

    Awalnya adalah berbagai anasir dan mineral, lalu gizi tumbuhan dan hewan – “saripati tanah” (QS. Al Mu’minuun, 23: 12) diciptakan dari semua itu dalam tahap-tahap. Lalu, sesuatu muncul amat lambat dan bertahap dari sel mani yang disaring dari semua itu. Namun, itu bukan sesuatu yang disebut manusia. Manusia tidak abadi, begitu juga zatnya; itu muncul kemudian. Manusia ada lama sesudah permulaan waktu dan penciptaan alam semesta. 4

    Omer Basuhi Bilmen menjelaskan ayat itu dengan cara ini:

    Ayat-ayat ini menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia untuk melihat dan mendengar dari setetes air saat ia belum menjadi, dan Dia telah menetapkan suatu cobaan baginya … Manusia belum ada pada awalnya, namun diciptakan belakangan sebagai tubuh dibentuk dari setetes air, tanah, dan lempung. Orang itu tidak dikenal saat itu, namanya dan mengapa ia diciptakan tak diketahui oleh penghuni Bumi dan langit. Ia lalu mulai diingatkan bahwa ia memiliki ruh. 5

    Imam Tabari menjelaskan arti ayat ini sebagai: “Begitu lama waktu telah berlalu sejak masa Adam yang di masa itu ia bahkan bukan sesuatu yang memiliki nilai atau keunggulan apa pun. Ia bukan apa-apa selain tanah liat yang lengket dan digubah.” 6

    Karena alasan ini, memandang ungkapan waktu dalam ayat ini sebagai tenggang waktu evolusi adalah murni sebuah pendapat pribadi.

    ***

    1.Ebus Suud adalah sheik Islam dan ulama zaman Ottoman yang hidup antara 1492/3-1574/5.

    1. Imam at-Tabari, Tabari Commentary, vol. 6, h. 2631

    3.Omar Nasuhi Bilmen, Turkish Edition of and Commentary on the Al Qur’an, vol. 8, h. 3851)

    4.Hamdi Yazir of Elmali, http: //www.kuranikerim.com/telmalili/insandehr.html

    5.Omer Nasuhi Bilmen, Turkish Edition of and Commentary on the Al Qur’an, vol. 8, h. 3851

    6.Imam at-Tabari, Tabari Commentary, vol. 6, h. 2684

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 30 May 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (11) 

    lebahMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (11)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Perilaku Lebah: Kebuntuan Bagi Kaum Evolusionis

    Dalam Al Qur’an, Allah mengungkapkan bahwa Dia telah mengilhami lebah dan memerintahkan kepadanya apa yang harus dilakukannya:

    Seperti kita ketahui, lebah mengumpulkan serbuk sari dan menghasilkan madu dengan cara mencampur serbuk sari dengan cairan dari tubuhnya. Untuk menyimpan madu dan membesarkan anak-anaknya, lebah membentuk sel-sel lilin heksagonal (segi enam) yang semuanya amatlah teratur, bersudut sama, dan secara umum sama sebangun. Lebah membangun sarang madu dengan sel-sel itu. Lebih jauh, lebah yang meninggalkan sarang mencari makan dan selalu kembali ke sana memiliki sistem khusus yang diciptakan Allah sehingga dapat menemukan jalan pulang.

    Bagi seekor serangga, mengetahui besarnya sudut astakona, menemukan resep lilin dan merancang sistem yang diperlukan untuk menghasilkannya dalam tubuhnya, dan memasukkan keterangan itu ke dalam DNA-nya sendiri sehingga anggota sejenisnya di masa depan memiliki kemampuan yang sama, sudah pasti tidak mungkin.

    Sudah sendirinya terbukti bahwa lebah telah diajarkan semua hal itu oleh kekuasaan yang lebih tinggi. Dengan kata lain, pengetahuan semacam itu telah diilhamkan dalam dirinya, sebagaimana diungkapkan ayat-ayat di muka.

    Allah, Yang Maha Mengetahui, menjabarkan kepada lebah apa yang harus dikerjakannya, dan lebah bertindak dalam sepenuhnya penerangan ilham itu. Perilaku sadar sedemikian merupakan bukti nyata penciptaan.

    Penelitian sifat-sifat serupa pada hewan mengungkapkan rancangan tanpa cacat dan kesadaran lebih tinggi yang melekat pada makhluk hidup. Hal-hal seperti itu menyempatkan orang sekali lagi mengerti kekuatan Allah yang tak tertandingi. Dia memiliki daya menciptakan makhluk apa pun yang Dia kehendaki dan dengan sifat-sifat apa pun yang Dia kehendaki, memiliki kekuatan tak berbatas, dan Penguasa segala sesuatu.

    Akan tetapi, kaum evolusionis percaya bahwa sifat-sifat luar biasa makhluk hidup muncul tanpa disengaja. Menurut pernyataan tak masuk akal ini, lebah belajar menghitung sudut dan berhasil menularkan pengetahuannya kepada lebah lain secara tidak disengaja atau kebetulan. Ketidaksengajaan juga mendorong munculnya sistem tubuh yg menghasilkan lilin dan madu.

    Sekadar renungan beberapa detik saja sudah cukup untuk melihat bahwa jalan cerita khayal seperti itu adalah jauh dari nalar dan ilmu pengetahuan. Allah menciptakan lebah dan memberinya kesadaran. Keajaiban penciptaan serupa itu menempatkan kaum evolusionis ke dalam sebuah kesulitan tanpa jalan keluar.

    Nabi Sulaiman Mengerti Bahasa Semut

    Telah disinggung di bagian sebelum ini bahwa kaum evolusionis menganggap makhluk hidup adalah karya ketidaksengajaan buta dan peristiwa acak. Dalam pandangan mereka, sekalipun menghadapi fakta bahwa sama sekali tiada bukti yang membenarkan pendapat khayali ini, hewan tidak memiliki kesadaran. Akan tetapi, ada banyak bukti yang membantah pernyataan mereka.

    Tinjaulah kisah dalam Al Qur’an tentang Nabi Sulaiman AS dan seekor semut betina. Menurut ayat-ayat Al Qur’an tersebut, beliau mendengar dan mengerti kata-kata semut itu, sebagaimana diceritakan ayat-ayat berikut ini:

    Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”; maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu-bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS. An Naml, 27: 18-19)

    Seperti ditegaskan ayat ini, seekor semut berkata kepada semut lainnya. Tentu, tidak mungkin makhluk yang dianggap “diciptakan” oleh ketidaksengajaan dapat memiliki sistem komunikasi khusus yang membuatnya mampu menyampaikan pesan kepada masyarakatnya, atau menunjukkan perilaku yang menandakan nalar dan akal. Makhluk yang mewujud karena kehendak Allah akan menunjukkan perilaku sadar dengan cara dan rentang yang dikehendaki Allah. Manusia bisa saja bertukar pikiran dengan makhluk semacam itu, jika Allah menghendakinya.

    Hewan-hewan, yang menurut teori evolusi, diperkirakan tidak memiliki kesadaran, ternyata menampakkan bukti adanya penalaran yang memadai, sebagaimana kita lihat dalam dua contoh ini. Mungkin kita tidak bisa mengharapkan kaum Darwinis untuk mengerti sifat luar biasa pada keadaan ini (Kita kecualikan dari sangkaan apa pun mereka yang berpikir tulus dan mengikuti petunjuk nuraninya). Akan tetapi, mereka yang berkata bahwa mereka percaya kepada keberadaan dan kekuasaan Allah, harus benar-benar memikirkan tanda-tanda semacam itu, sebab semua itu membantah evolusi. Ini, pada gilirannya, memperlihatkan bahwa evolusi tidak dapat dibela dengan cara apa pun yang mungkin.

    Penciptaan Adalah Sebuah Keajaiban

    Mengabaikan kenyataan bahwa Allah memiliki kekuasaan untuk menciptakan dan menghancurkan berperan penting dalam menyebabkan sebagian kaum Muslimin percaya kepada evolusi. Kaum evolusionis Muslim ini ada di bawah pengaruh paham naturalisme, yang menyatakan bahwa hukum-hukum alam tetap sifatnya dan tak berubah, dan bahwa tak sesuatu pun dapat berada di luar itu semua. Namun, ini kekeliruan besar.

    Yang kita maksudkan dengan “hukum alam” lahir dari tindakan Allah menciptakan dan mempertahankan benda dalam sebuah bentuk tertentu. Tidak mungkin semua itu dianggap sebagai sifat-sifat yang muncul dari dalam benda sendiri. Sebagaimana Allah tegaskan, Dia dapat mengubah hukum-hukum itu kapan saja, dan bertindak di luar cakupan semua itu.

    Kita menyebut tindakan Allah yang demikian itu sebagai mukjizat (keajaiban). Bahwa sekawanan penghuni gua yang disebutkan di muka tetap hidup selama lebih dari 300 tahun merupakan sebuah keajaiban di luar hukum-hukum alam. Mereka, yang Allah matikan dan lalu hidupkan kembali, adalah juga keajaiban. Setiap peristiwa terjadi karena Allah menghendakinya terjadi. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam batas-batas hukum tertentu adalah peristiwa “biasa”, sementara selebihnya adalah keajaiban.

    Hal yang mesti dimengerti di sini adalah, Allah tidak dibatasi oleh hukum yang Dia ciptakan. Jika Dia kehendaki, Dia dapat membalikkan semua hukum alam. Mudah bagi Allah melakukan hal itu.

    Karena sudah terperosok ke dalam pengaruh paham naturalisme yang membentuk landasan Darwinisme, para evolusionis Muslim mencoba menjelaskan asal-muasal manusia dan kehidupan lainnya berdasarkan hukum alam. Mereka percaya bahwa Allah membuat makhluk hidup terwujud dengan cara penciptaan yang dibatasi oleh hukum alam, dan karena itu membayangkan bahwa penciptaan disebabkan oleh mutasi, seleksi alam, pembentukan keragaman (variasi), dan satu makhluk hidup berubah menjadi makhluk hidup lain. Akan tetapi, salah besar bagi kaum Muslimin untuk menerima jalan pikiran “naturalis” seperti itu, sebab mukjizat-mukjizat (keajaiban) yang dilukiskan dalam Al Qur’an nyata-nyata mengungkapkan bahwa cara berpikir demikian adalah rapuh landasannya.

    Apabila kita cermati ayat-ayat yang membahas penciptaan makhluk hidup dan manusia, kita melihat bahwa penciptaan ini terjadi secara ajaib dan di luar hukum-hukum alam. Inilah bagaimana Allah mengungkapkan penciptaan makhluk hidup:

    Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya, dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. An Nuur, 24: 25)

    Ayat ini merujuk ke kelompok-kelompok utama makhluk hidup di Bumi (reptil, burung, dan mamalia) dan mengatakan bahwa Allah menciptakan itu semua dari air. Ditinjau lebih seksama, kelompok-kelompok ini tidak diciptakan “dari satu kelompok menjadi kelompok lainnya”, sebagaimana “diramalkan” oleh teori evolusi, namun “dari air”. Dengan kata lain, semua itu dibentuk secara terpisah dari satu zat yang dibentuk Allah.

    Ilmu pengetahuan mutakhir juga menegaskan bahwa satu zat tersebut adalah air, penyusun dasar setiap tubuh yang hidup. Tubuh mamalia adalah kira-kira 70 persen air. Air tubuh setiap makhluk hidup memungkinkan hubungan di antara sel-sel, maupun hubungan di dalam sel dan antar-jaringan. Sudah disepakati bahwa tiada yang bisa hidup tanpa air.

    Namun, sebagian kaum Muslimin keliru menafsirkan ayat di atas, dan mencoba memberinya makna yang lebih sejalan dengan evolusi. Akan tetapi, jelas bahwa fakta penciptaan dari air sama sekali tidak berkaitan dengan evolusi, karena teori itu tidak menyatakan bahwa semua makhluk hidup muncul dari air dan berevolusi. Sebaliknya, teori itu bertahan bahwa makhluk hidup berevolusi dari satu jenis ke jenis lain, pertentangan yang nyata dengan fakta bahwa semua kelompok makhluk hidup diciptakan dari air (dengan kata lain, semua itu diciptakan sendiri-sendiri secara terpisah).

    Penciptaan Manusia Dari Tanah Liat

    Dalam Al Qur’an, Allah mengungkapkan bahwa manusia diciptakan secara ajaib. Untuk menciptakan manusia pertama, Allah membentuk tanah liat, lalu meniupkan ruh ke dalamnya:

    (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” Maka, apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”. (QS. Shaad, 38: 71-72)

    Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. (QS. Al Mu’minuun, 23: 12)

    Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): “Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?” Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat. (QS. Ash Shaffaat, 37: 11)

    Terlihat di sini bahwa manusia tidak diciptakan dari kera atau makhluk hidup lainnya, sebagaimana kaum evolusionis Muslim inginkan kita percayai, namun dari tanah liat, suatu zat yang tak-hidup. Allah secara ajaib mengubah zat tak-hidup itu menjadi manusia dan meniupkan ruh ke dalamnya.

    Tidak ada “proses evolusi alamiah” yang bekerja di sini, melainkan penciptaan Allah yang ajaib dan langsung. Nyatanya, firmanNya sebagaimana berikut ini memperlihatkan bahwa manusia diciptakan langsung oleh kekuasaan Allah:

    Allah berfirman: “Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (QS. Shaad, 38: 75)

    Singkatnya, Al Qur’an tidak berisikan kisah “evolusi” penciptaan manusia dan makhluk hidup. Sebaliknya, Al Qur’an mengatakan bahwa Allah menciptakan semua makhluk secara ajaib dari zat-zat tak hidup seperti air dan lumpur. Sekalipun demikian, sejarah Islam menunjukkan bahwa sebagian kaum Muslimin terpengaruhi filsafat Yunani kuno, maupun oleh anasir-anasir evolusi dan materialis di kalangan Muslim sendiri, dan lalu mencoba menyesuaikan filsafat itu dengan Al Qur’an.

    Ulama dan pembaharu besar Islam, Imam Ghazali (wafat 1111), menanggapi kecenderungan ini, yang muncul di saat beliau masih hidup, dalam bukunya Tahafut al-Falasifa (Ketaklurusan Para Filsuf) dan buku lainnya. Akan tetapi, bersamaan dengan penyebaran teori evolusi selama abad ke-19 dan ke-20, pandangan-pandangan “penciptaan lewat evolusi” mulai muncul kembali di dunia Islam.

    Bab selanjutnya meninjau kekeliruan-kekeliruan yang dibuat sebagian kaum Muslimin yang membela pandangan-pandangan itu, dan menguraikan ulasan mereka tentang ayat-ayat Al Qur’an yang mereka gunakan untuk membenarkan kedudukan mereka.

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 29 May 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (10) 

    Reciting-QuranMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (10)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Bagaimana Burung Yang Dibuat Dari Tanah Oleh Nabi Isa Menjadi Hidup

    Allah menganugerahi Nabi Isa AS dengan sifat-sifat metafisik dalam kehidupan di dunia ini, sebagaimana terbaca dalam: … Al Masih ‘Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). (QS. Ali ‘Imran, 3:45) Beliau datang ke dunia tanpa bapak, berbicara selagi masih dalam buaian, dan menyembuhkan orang yang sakit secara ajaib.

    Lebih lagi, ketika Nabi Isa AS membuat sebuah benda dari tanah liat berbentuk burung, dan meniupnya, burung itu menjadi hidup atas izin Allah. Kenyataan ini dituturkan dalam Al Qur’an:

    Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah …” (QS. Ali ‘Imran,3:49)

    (ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai ‘Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa: dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, Hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku …” (QS. Al Maa-idah, 5: 110)

    Allah dapat seketika menciptakan makhluk hidup dengan cara demikian. Ini salah satu keajaiban dariNya, dan kebenaran penting yang tidak boleh diabaikan oleh kaum Muslimin yang mendukung teori evolusi.

    Contoh serupa menyangkut Nabi Ibrahim AS, dan mengungkapkan bagaimana Allah menganugerahi zat tak-hidup dengan kehidupan:

    Dan ( ingatlah ) ketika Ibrahim berkata : “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkanlah di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Baqarah, 2: 260)

    Bagaimana Istri Nabi Zakaria Yang Mandul Memperoleh Anak

    Satu contoh penciptaan yang ajaib adalah tentang kabar gembira yang diterima Nabi Zakaria AS bahwa istri beliau yang mandul akan melahirkan seorang anak:

    Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia. Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua.” Tuhan berfirman: “Demikianlah.” … (QS. Maryam, 19: 7-9)

    Seperti diungkapkan ayat-ayat di atas, penciptaan adalah masalah yang mudah bagi Allah, yang tidak memerlukan adanya penyebab apa pun untuk menciptakan. Dia menganugerahi Nabi ini dengan seorang putera, dan dengan memerintahkan bahwa hal itu harus “Jadilah!”, istri sang Nabi seketika hamil. Tuhan kita mengungkapkannya dalam lanjutan ayat itu:

    Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.” (QS. Maryam, 19: 9)

    Berbagai Contoh Pembangkitan Kembali dalam Al Qur’an

    Penciptaan dan pembangkitan kembali adalah sepenuhnya di tangan Allah, dan, sama halnya dengan penciptaan, Dia tidak memerlukan penyebab luar dalam hal pembangkitan. ada banyak contoh pembangkitan dalam Al Qur’an.

    Al Qur’an mengungkapkan bahwa setelah mati dan dikuburkan, manusia akan dibangkitkan pada Hari Kiamat:

    Itulah balasan bagi mereka, karena sesungguhnya mereka kafir kepada ayat-ayat Kami dan (karena mereka) berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?” Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka, orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran. (QS. Al Israa’, 17: 98-99)

    Sebagaimana telah kita lihat, kaum tak beriman tidak percaya bahwa manusia akan diciptakan kembali setelah mati dan menyatu dengan tanah. Contoh ini menyatakan secara ringkas keadaan yang berkaitan dengan teori evolusi. Tuhan kita, Yang akan membentuk kembali tubuh-tubuh manusia dari ketiadaan pada Hari Kiamat, juga menciptakan manusia pertama, Nabi Adam, dari ketiadaan. Ayat-ayat ini sangat penting bagi mereka yang percaya pada Al Qur’an, namun tetap bersikeras untuk percaya gagasan-gagasan evolusionis.

    Dalam kata-kata: “Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu (QS. Al An’aam, 6: 94), Al Qur’an mengacu kepada pembangkitan manusia di Hari Kiamat. Al Qur’an membuat jelas bahwa penciptaan ini akan sama dengan “penciptaan yang pertama”. Setiap orang, yang sudah mati dan menyatu dengan tanah, akan dilahirkan kembali melalui suatu penciptaan ulang di hari kemudian, dan berbentuk manusia. Itulah sebabnya, penciptaan manusia pertama menyerupai penciptaan itu, dan terjadi tidak setahap demi setahap, namun seketika dan dalam cara yang ajaib.

    Ada banyak contoh pembangkitan dalam Al Qur’an. Misalnya, Allah mengizinkan umat Nabi Musa AS untuk mengalaminya, saat Dia mematikan mereka, dan lalu menghidupkan mereka kembali. Ini dijelaskan Al Qur’an sebagai berikut:

    Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu, Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur. (QS.Al Baqarah, 2: 55-56)

    Al Qur’an berisi kisah serupa yang melibatkan lagi umat Nabi Musa AS . Allah memerintahkan mereka memukul sesosok mayat dengan daging sapi yang telah disembelih. Sebagaimana Allah ungkapkan pada ayat di atas, Dia melakukan ini untuk memperlihatkan bahwa manusia akan dibangkitkan dan untuk memastikan bahwa mereka beriman. Ini jelas sebuah mukjizat. Akan tetapi, seperti akan kita lihat di bagian ayat selanjutnya, hati orang-orang itu mengeras lagi setelah mukjizat terjadi:

    Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh-menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!”. Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti. Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Baqarah, 2: 72-74)

    Allah memberikan contoh lain:

    Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum-hukum-Nya) supaya kamu memahaminya. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati? Maka, Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu.” Kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (QS. Al Baqarah, 2: 242-243)

    Al Qur’an menceritakan contoh lainnya: keadaan yang dihadapi seseorang yang tidak mempercayai kebangkitan setelah kematian. Menurut ayat ini, Allah menyebabkan orang itu mati selama 100 tahun dan lalu membangkitkannya. Akan tetapi, sekalipun begitu lama waktu berlalu, orang itu berpikir ia mati hanya selama sehari atau bahkan kurang.

    Ketika kebenaran ini disampaikan kepadanya, ia akhirnya beriman, sebagaimana kita lihat dalam ayat berikut:

    Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka, Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapa lama kamu tinggal di sini?”. Ia menjawab: “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; dan lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang-belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah, 2: 259)

    Contoh lain menyangkut sekelompok manusia dalam gua (ashabul kahfi). Yang membedakan kisah ini dengan kisah-kisah lain adalah, dalam kisah ini mereka tidak dimatikan, melainkan hanya jatuh tertidur selama lebih daripada usia manusia yang wajar.

    Kelompok ini terdiri atas orang-orang muda yang taat beragama, yang meninggalkan kaumnya dan mengungsi ke dalam gua, karena kaum itu telah berpaling kepada paham politeisme (bertuhan banyak) dan penyembahan berhala. Akan tetapi, Allah secara ajaib menyebabkan mereka tertidur lebih dari 300 tahun di dalam gua, sebagai berikut:

    Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu. (QS. Al Kahfi, 18 : 11)

    Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). Katakanlah: “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain daripada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (QS. Al Kahfi, 18: 25-26)

    Akan tetapi, setelah itu Allah membangunkan mereka. Kisahnya berlanjut:

    Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu). Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk. (QS. Al Kahfi, 18: 12-13)

    Mereka tidak menyadari telah tertidur sekian lamanya. Mereka pikir mereka hanya tertidur selama sehari, atau beberapa jam, padahal sebenarnya selama 309 tahun. Ayat terkait menyatakan:

    Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini) ?” Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.” Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berada lamanya kamu berada (di sini). Maka, suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorang pun.” (QS. Al Kahfi, 18:19)

    Contoh-contoh sejenis yang diberikan dalam Al Qur’an secara langsung mengungkapkan bahwa Allah tidak memerlukan penyebab apa pun dalam penciptaan.

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 28 May 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (9) 

    7-Misteri-Iptek-Yang-Belum-TerpecahkanMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (9)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Ilmu Pengetahuan Tentang Ciptaan Allah

    Sejauh ini, kita telah meneliti kekeliruan besar yang dibuat para evolusionis Muslim, yang menerima pernyataan bahwa Allah menggunakan evolusi untuk menciptakan makhluk hidup. Tidak seperti para evolusionis lain, mereka tidak langsung mengatakan bahwa kehidupan muncul tanpa sengaja. Akan tetapi, dengan menyatakan bahwa Allah menggunakan evolusi dalam penciptaan olehNya, mereka suka rela maupun tidak mendukung Darwinisme dalam beberapa hal. Menurut sudut pandang mereka yang keliru, Allah pasti telah menggunakan mekanisme evolusi, seperti mutasi dan seleksi alam.

    Akan tetapi, ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa baik seleksi alam maupun mutasi tidak dapat menciptakan makhluk hidup baru. Dengan kata lain, keduanya tidak berdaya evolusi. Mereka yang mendukung gagasan penciptaan lewat evolusi berpendapat bahwa Allah menggunakan mutasi untuk mengubah data genetis makhluk hidup, sehingga makhluk itu bisa memperoleh organ yang berguna, atau bahwa pertama kali Allah menciptakan makhluk-makhluk purba dan lalu menggunakan seleksi alam untuk mengubahnya menjadi makhluk yang lebih rumit dan menyempurnakannya. Dengan kata lain, Ia menggunakan seleksi alam untuk menambahkan organ baru, membiarkan organ yang ada melemah dan berhenti tumbuh, atau bahkan meniadakannya agar satu makhluk hidup dapat berubah menjadi makhluk hidup lain.

    Adalah wajar bagi orang-orang yang tidak mengetahui perkembangan ilmiah mutakhir untuk beranggapan semacam itu, khususnya jika mereka ingin mendukung evolusi. Akan tetapi, pernyataan semacam itu bertentangan dengan fakta-fakta ilmiah. Lebih lagi, sebagaimana akan kita lihat, Al Qur’an tidak menyebutkan hal yang demikian.

    Satu hal yang harus ditegaskan: Allah tentu saja bisa menggunakan evolusi untuk menciptakan makhluk hidup jika Dia kehendaki. Namun, Al Qur’an tidak berisi tanda-tanda evolusi dan tidak satu ayat pun mendukung pernyataan evolusionis bahwa makhluk hidup muncul tahap-demi-tahap. Ilmu pengetahuan juga mengungkapkan kebohongan pernyataan itu.

    Karena keadaannya sudah teramat jelas, tidak ada peluang bagi Muslim untuk membenarkan dukungannya pada pernyataan itu. Alasan yang memungkinkan terjadinya kekeliruan seperti itu hanyalah kekurangan informasi, rasa rendah diri saat menghadapi kaum evolusionis, dan kepercayaan bahwa karena jumlah pendukung evolusi lebih besar, mereka pastilah benar.

    Allah Menciptakan Alam Semesta Dari Ketiadaan

    Allah menciptakan segalanya, dalam bentuk dan pada waktu yang Dia tetapkan, tanpa menggunakan contoh apa pun, dan dari ketiadaan. Karena Dia suci dari cacat apa pun, dan kaya tanpa membutuhkan apa pun, Dia tidak membutuhkan penyebab, sarana, atau tahap bagi penciptaan olehNya. Tak seorang pun yang boleh teperdaya oleh kenyataan bahwa segala sesuatu itu terkait dengan sebab dan hukum alam tertentu. Namun, Allah adalah di atas semua sebab dan hukum, karena Dia yang menciptakan itu semua.

    Allah, Tuhan Bumi dan langit, bisa saja melenyapkan semua sebab ini jika Dia kehendaki. Misalnya, Dia dapat menciptakan manusia yang tidak memerlukan oksigen untuk hidup, dan akibatnya, tidak memerlukan paru-paru. Menimbang hal ini, mengapa “perlu” Dia menyempurnakan paru-paru, dengan cara membuatnya berevolusi seiring dengan waktu, atau pun melalui mekanisme lainnya? Karena itu, sepenuhnya keliru apabila seseorang menganggap bahwa keagungan dan kekuatan Allah dibatasi oleh nalar dan perasaannya sendiri. Kita dapat memiliki pengetahuan hanya sebatas yang Dia izinkan.

    Allah dapat menggunakan tahap-tahap tertentu dalam penciptaan olehNya jika Dia kehendaki. Misalnya, Dia mengeluarkan tumbuhan dari sebutir benih, atau seorang manusia dari pertemuan sel mani dengan sel telur. Namun tahap-tahap ini, sebagaimana akan kita lihat nanti, sama sekali tidak berkaitan dengan evolusi, dan tidak memberikan tempat bagi ketidaksengajaan dan kebetulan. Setiap tahap dalam merekahnya tumbuhan, atau berubahnya satu sel menjadi seorang manusia “dalam bentuk yang sebaik-sebaiknya”, terjadi berkat sistem sempurna yang diciptakan oleh kekuasaanNya yang tak terhingga.

    Allah menghendaki dan menciptakan Bumi dan langit, semua yang berada di antara keduanya, dan semua makhluk hidup dan tak-hidup. Ini sangat mudah bagiNya, sebagaimana ditunjukkan dalam Al Qur’an:

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    Dialah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia. (QS. Al Mu’min, 40: 68)

    Penciptaan itu mudah bagi Allah. Sebagaimana diungkapkan ayat-ayat di atas, Dia hanya perlu berfirman “Jadilah!”, dan dengan begitu menghendaki sesuatu terjadi demikian. Banyak ayat mengungkapkan bahwa Dia menciptakan alam semesta dan makhluk hidup dalam bentuk yang sempurna.

    Kekeliruan besar bagi Muslim, jika menuruti penjelasan yang dipaksakan di hadapan kebenaran yang sudah terang ini, dan membuat pernyataan yang seolah benar bahwa Allah memanfaatkan evolusi untuk menciptakan serta menggunakan mutasi, seleksi alam, dan tahap-tahap peralihan dari kera ke manusia. Sangat keliru memberikan uraian seperti itu, demi harapan diterima di kalangan evolusionis, sebab tiada bukti baik dalam Al Qur’an maupun ilmu pengetahuan.

    Allah membuat semua hukum di alam semesta, dan memberi hukum-hukum itu bentuk yang Dia pilihkan, mewujudkan apa yang Dia kehendaki dan ketika Dia kehendaki, meliputi segala apa yang ada di Bumi dan di langit, dan mengatur segalanya dengan kekuasaanNya. Namun, sebagian orang tidak betul-betul memahami kekuatanNya, sehingga menilaiNya berdasarkan kekuatan sendiri yang terbatas. Allah mengungkapkan keberadaan mereka dalam Al Qur’an:

    Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.” … (QS. Al An’aam, 6: 91)

    Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (QS. Al Hajj, 22: 74)

    Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Tuhan dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Az Zumar, 39: 67)

    Berlawanan dengan apa yang diajukan oleh mereka yang percaya pada penciptaan lewat evolusi, Allah tidak menciptakan kera dahulu, lalu menyebabkan kera berevolusi menjadi manusia melalui bentuk-bentuk peralihan yang cacat dengan alat tubuh yang kurang.

    Melainkan, sebagaimana diungkapkan Al Qur’an, Allah menciptakan manusia dalam cara yang paling sempurna:

    Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. At Tiin, 95: 4)

    Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar. Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nya-lah kembali (mu). (QS. At Taghaabun, 64: 3)

    Ayat-ayat di atas merupakan sebagian bukti bahwa Allah menciptakan manusia dalam bentuk sempurna, dengan kata lain, bentuk manusia sekarang. Tentu saja, manusia juga memiliki sejumlah cacat dan kelemahan, semua itu mengingatkannya akan kekurangannya di hadapan Tuhannya. Kelainan bentuk dan cacat tubuh adalah bukti penciptaan yang bertujuan, sebab semua itu berguna sebagai pengingat bagi mereka yang melihatnya, dan sebagai ujian bagi yang menyandangnya.

    Sebagai bentuk dan jenis, Allah menciptakan semua makhluk hidup dengan seketika dan sempurna, tanpa memerlukan evolusi sama sekali. Kebenaran nyata ini diungkapkan Al Qur’an:

    Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Hasyr, 59: 24

    Al Qur’an melukiskan betapa mudah penciptaan itu bagi Allah:

    Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang diganti sesudah hancur itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. (QS.Yaa Siin, 36: 81)

    Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu, melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Luqman, 31: 28)

    Hal penting lain yang terabaikan oleh mereka yang percaya pada penciptaan evolusi, adalah keragaman bentuk ciptaan Allah. Allah telah mengadakan makhluk hidup yang jauh berbeda dari manusia dan hewan, misalnya malaikat dan jin. Masalah ini akan dibahas di halaman-halaman berikut.

    Malaikat Bersayap Dua, Tiga, Dan Empat

    Malaikat adalah makhluk yang selalu mematuhi perintah Allah. Al Qur’an melukiskan penciptaannya sebagai berikut:

    Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Faathir, 35: 1)

    Sebagaimana dapat kita lihat dari penggambaran di atas, bentuk malaikat jauh berbeda dengan manusia. Allah memerintahkan agar memerhatikan bentuk-bentuk ciptaan yang berbeda dalam ayat di atas.

    Ayat-ayat juga menunjukkan bagaimana malaikat tunduk kepada perintah Allah dan menaatiNya:

    Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (QS. An Nahl, 16: 49-50)

    Al Masih sekali kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya. (QS. An Nisaa’, 4: 172)

    Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim, 66: 6)

    Selain itu, malaikat diciptakan sebelum manusia. Ternyata, Allah memberitahu para malaikat ketika Dia akan menciptakan Adam, manusia pertama, dan memerintahkan mereka bersujud kepadanya.

    Pada saat yang sama, Allah memberi Nabi Adam AS, pengetahuan yang berbeda dengan yang dimiliki para malaikat, dan mengajarkannya nama-nama benda. Para malaikat tidak memiliki pengetahuan itu. Seperti dinyatakan Al Qur’an:

    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.” Mereka menjawab: “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam.” Maka, sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al Baqarah, 2: 30-34)

    Jin Diciptakan Dari Api

    Seperti malaikat, penampilan jin juga berbeda dari manusia. Ayat-ayat di bawah ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan dari tanah liat, sementara jin diciptakan dari api :

    Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (QS. Al Hijr, 15: 26-27)

    Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. Dan Dia menciptakan jin dari nyala api. (QS. Ar Rahmaan, 55: 14-15)

    Dalam Al Qur’an, Allah juga mengungkapkan tujuanNya menciptakan manusia dan jin:

    Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz Dzaariyaat, 51: 56)

    Jelas dari ayat ini bahwa, walaupun manusia dan jin adalah makhluk yang amat berbeda, keduanya diciptakan untuk menyembah hanya Allah, dengan menjalani hidup menggunakan nilai-nilai yang Dia perintahkan. Dia telah mengungkapkan dalam banyak ayat bahwa malaikat dan jin memiliki sejumlah sifat yang berbeda dari sifat manusia. Misalnya, keduanya dapat memindahkan benda:

    Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar. Siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” Berkata Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya (dan) dapat dipercaya.” (QS. An Naml, 27: 38-39).

    Al Qur’an juga menyatakan bahwa jin, sama seperti malaikat, juga diciptakan sebelum manusia. Ketika menciptakan Nabi Adam AS, Allah memerintahkan malaikat dan jin bersujud di hadapan Adam. Setelah itu, Dia mengungkapkan bahwa Setan adalah salah satu jin:

    Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. (QS. Al Kahfi, 18:50)

    Penciptaan itu masalah mudah bagi Allah, yang dapat menciptakan dari ketiadaan dan tanpa sebab apa pun. Sama seperti Dia menciptakan malaikat dan jin dalam bentuk-bentuk yang berbeda dari ketiadaan, Dia juga menciptakan manusia sebagai makhluk yang berbeda dari ketiadaan dan tanpa perlu evolusi.

    Hal serupa berlaku untuk makhluk hidup lainnya, seperti hewan dan tumbuhan. Allah menciptakan semua makhluk hidup ini seketika dari ketiadaan dan tanpa perlu berevolusi – dengan kata lain, tanpa mengubah satu makhluk hidup menjadi makhluk hidup lain. Seperti kita lihat sebelumnya, tahap-tahap yang digunakan Allah dalam penciptaan ini, yang telah disebutkan di muka, tidak berhubungan dengan ketidaksengajaan atau peristiwa acak evolusionis, karena masing-masing adalah hasil sistem tanpa cela yang dimunculkan kekuasaan dan kedaulatan Allah.

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 27 May 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (8) 

    quran_tasbih_01Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (8)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Darwinisme Menggiring Umat Manusia Dari Satu Bencana Ke Bencana Lainnya

    Di awal buku ini, telah kita lihat bagaimana kaum evolusionis Muslim memandang Darwinisme sebagai sebuah kenyataan yang secara ilmiah terbukti, dan mengabaikan wajahnya yang asli. Darwinisme, yang memberikan dukungan “ilmiah” bagi paham fasisme dan komunisme, yakni paham pemikiran paling bengis di abad ke-20, berwajah “asli” yang bahkan lebih kelam.

    Paham-paham pemikiran ini, yang mencapai puncak kekerasannya pada abad lalu, bertanggung jawab atas revolusi komunis dan tindakan kudeta fasis, juga pertarungan, pertikaian, perang saudara, dan pembagian dunia menjadi dua blok. Diktator-diktator bengis seperti Lenin, Stalin, Mao, Pol Pot, Hitler, Mussolini, dan Franco, semuanya meninggalkan bekas yang menetap.

    Sekitar 120 juta orang tewas akibat kekejaman rejim-rejim komunis saja, dan dua perang dunia saja telah meminta tumbal 65 juta jiwa. Perang Dunia II, yang dimulai dengan serbuan Hitler ke Polandia di tahun 1939, sungguh sebuah bencana bagi kemanusiaan. (Untuk rincian, lihat buku Harun Yahya, The Disasters Darwinism Brought to Humanity, Al-Attique Publishers Inc., Ontario, 2001 dan Fascism: Bloody Ideology of Darwinism, Arastirma Publishing, Istanbul, 2002).

    Darwinisme terdapat pada akar pemikiran semua malapetaka politik, ekonomi, dan akhlak ini, sebab ia memupuk dan memperkuat semua itu.

    Paham Komunisme, Fasisme, Dan Darwinisme

    Karl Marx dan Friedrich Engels, dua bapak pendiri komunisme, menyebutkan dalam buku-buku mereka, betapa kuat pengaruh paham Darwinisme pada mereka. Marx menunjukkan rasa simpatinya kepada Darwin, dengan menghadiahinya salinan buku Das Kapital yang telah diberinya catatan pribadi. Terbitan bahasa Jermannya bahkan berisi pesan yang ditulis dengan tangannya sendiri, sebagai berikut: “Untuk Charles Darwin, dari seorang pengagum sejati, dari Karl Marx.”

    Begitu pentingnya Darwinisme bagi paham komunisme, sehingga segera setelah buku Darwin diterbitkan, Engels menyurati Marx: “Darwin,  yang baru saja kubaca, sungguh bagus.” 34

    Seorang komunis Rusia terkemuka, Georgi Valentinovich Plekhanov, memandang paham Marxisme sebagai “Darwinisme dalam penerapannya pada ilmu-ilmu sosial.” 35

    Guru pembimbing paham pemikiran Hitler yang terpenting, sejarawan Jerman yang rasis Heinrich von Treitshcke, mengatakan: “Bangsa-bangsa tidak bisa makmur tanpa persaingan ketat, seperti pertarungan demi mempertahankan hidup [gagasan] Darwin”,36 yang menunjukkan asal-muasal kekerasan pada akar-akar Nazisme.

    Hitler sendiri seorang Darwinis. Memperoleh ilham dari gagasan “pertarungan demi bertahan hidup” yang dipakai Darwin, ia memberi judul karyanya yang terkenal Mein Kampf (Perjuanganku). Pada rapat umum partai di Nuremberg tahun 1933, Hitler mengumandangkan bahwa: “Ras yang lebih tinggi memperbudak ras yang lebih rendah … hak yang dapat kita lihat di alam, dan yang dapat dianggap satu-satunya hak yang dapat terpikirkan, karena berdasarkan ilmu pengetahuan.” Ini memperlihatkan betapa terpengaruhnya ia oleh Darwin. (37

    Mussolini, pemimpin fasisme Italia, juga menyukai Darwinisme sebagai pandangan dunia, dan mencoba menggunakannya untuk membenarkan serbuan Italia ke Etiopia. Franco, diktator Spanyol pada saat itu, juga menunjukkan pemikiran Darwinis baik dalam teori maupun praktik. (Lihat Harun Yahya, Fascism: Bloody Ideology of Darwinism, Arastirma Publishing, Istambul, 2002).

    Dengan mengatakan bahwa hidup adalah sebuah pertarungan yang ditakdirkan untuk dimenangi oleh si kuat, dan si lemah terkutuk untuk kalah, Darwin membuka jalan bagi kekuatan biadab, kekerasan, perang, pertikaian, dan pembantaian pada skala besar.

    Diktator-diktator yang menindas rakyat, di negerinya sendiri atau di mancanegara, begitu diilhami oleh Darwinisme sehingga mereka mematut diri dengan ajaran-ajarannya. Dalam pandangan mereka, hukum alam menghendaki si lemah dihancurkan dan dimusnahkan, dan manusia tidak mesti memiliki nilai bawaan apa pun, karena ia berasal dari hewan.

    Membela Darwinisme Mempermudah Penyebaran Paham Komunisme

    Komunisme merupakan suatu paham pemikiran yang bersikap bermusuhan, baik dalam segi dasarnya yang berupa filsafat materialis, maupun telaah sejarah yang disajikannya. Pemikiran ini mulai dengan mengingkari keberadaan Allah, dan telaah sejarahnya, yang melukiskan agama sebagai “candu masyarakat”, menyerukan pembasmian agama untuk menegakkan masyarakat komunis yang diidamkannya.

    Karena itu, semua rejim komunis memerangi agama, menyerang nilai-nilai keagamaan, menghancurkan berbagai tempat ibadah, dan melarang pelaksanaan kewajiban agama. Rejim di negara-negara seperti bekas Uni Soviet, Cina, Kamboja, Bulgaria, dan Albania telah mengikuti kebijakan yang begitu anti-agama sampai-sampai merapat ke batas, dan kadang sampai, ke pemusnahan ras (genosida).

    Darwinisme memainkan peran penting dalam paham Marxisme tentang kebencian terhadap agama. Darwin menyumbangkan bagi paham ateisme Marxis, apa yang disebut-sebut sebagai dasar ilmiah, yang menjelaskan sebab Marx dan Engels merasa amat berterima kasih kepadanya. Pujian Engels terutama mencolok : “Ia (Darwin) melontarkan pukulan paling telak kepada gagasan alam yang bersifat metafisis, dengan buktinya bahwa semua makhluk organik, tumbuhan, hewan, dan manusia sendiri, merupakan hasil proses evolusi yang berlangsung jutaan tahun.” 38

    Pertikaian terletak pada inti filsafat Marxis (materialisme dialektik), yang menyatakan bahwa alam semesta bekerja menurut hukum benturan antar-lawan. Dengan kata lain, pertarungan demi bertahan hidup di alam yang dinyatakan Darwin kini diterapkan pada masyarakat manusia. Darwinisme adalah dukungan terbesar bagi pemikiran komunisme, yang memandang sejarah manusia sebagai medan perang dan menyiapkan lahan bagi pertikaian lebih lanjut.

    Evolusionis PJ Darlington menjelaskan bahwa kekerasan adalah akibat alamiah dari kepercayaan pada teori ini:

    Pertama, pementingan diri sendiri dan kekerasan adalah sifat bawaan dalam diri kita, diwarisi dari moyang hewan kita yang paling tua … Karena itu, kekerasan adalah alamiah pada manusia; sebuah hasil evolusi.39

    Kaum Marxis percaya bahwa masyarakat akan menerima paham pemikiran mereka, jika mereka membawa masyarakat agar percaya pada Darwinisme. Mereka begitu mementingkan prinsip Darwin bahwa “kekerasan dan pertikaian merupakan hukum alam yang tak berubah.” Inilah sebabnya, semua organisasi teroris berhaluan komunis memberikan pelatihan berbulan-bulan tentang komunisme, materialisme dialektik, dan Darwinisme kepada para anggota setianya.

    Teori Darwin mendorong mereka agar percaya bahwa mereka sebenarnya hewan, dan bahwa seperti hewan, manusia harus bertarung demi bertahan hidup. Jadi, banyak pemuda menjadi makhluk mengerikan, yang amat mampu membunuh dan bahkan menjagal dengan kejam anak-anak dan bayi.

    Dengan cara ini, pemikiran komunis menyebabkan perang gerilya, perang saudara, dan tindakan terorisme berdarah di banyak negara sepanjang abad ke-20. Itulah sebabnya perang pemikiran melawan paham Darwinisme adalah begitu penting: Jika Darwinisme tersingkap sebagai gagasan sesat sebagaimana adanya dan lalu runtuh, filsafat-filsafat Marxis yang berdasar Darwinisme akan hancur.

    Karena Darwinisme berperan begitu penting dalam pemikiran anti-agama komunis, maka mendukung yang satu sama dengan mendukung yang lain. Mencoba membenarkan Darwinisme, dengan cara menyelaraskannya dengan agama, dan menyatakan Allah menggunakan evolusi untuk menciptakan makhluk hidup, adalah sama dengan membenarkan komunisme. Kaum komunis tahu bahwa agama dan Darwinisme saling bertentangan, namun berdiam diri saat menghadapi orang beriman yang menyetujui gagasan penciptaan melalui evolusi, agar kedua paham tersebut dapat menyebar dengan mudah dan semakin jauh. Yang penting adalah membuka dulu pintu menuju diterimanya Darwinisme.

    Kepercayaan komunis pada evolusi berasal dari taklid pemikiran mereka. Misalnya, seorang evolusionis guru besar kimia dan pakar DNA, Robert Shapiro, berkata bahwa pernyataan dasar teori ini (yaitu, zat tak-hidup mengatur dan menyusun diri serta membentuk DNA dan RNA) tidak berlandaskan fakta ilmiah sama sekali. Ia melanjutkan:

    Karena itu, sebuah prinsip evolusi lain harus ada untuk membawa kita menyeberangi jurang yang membentang di antara adonan kimia alamiah yang sederhana dengan pengganda (replikator) pertama yang berfungsi. Prinsip ini belum dijelaskan secara rinci atau dipertunjukkan, namun sudah diperkirakan, dan disebut dengan nama-nama seperti evolusi kimiawi dan penyusunan materi secara mandiri. Keberadaan prinsip ini diterima tanpa pertanyaan dalam filsafat materialisme dialektik… 40

    Sebagaimana telah dinyatakan Shapiro, kaum evolusionis terus membela teori evolusi karena kepatuhan buta kepada filsafat materialis. Ini menandakan bahwa dukungan apa pun bagi teori ini merupakan juga dukungan langsung bagi filsafat materialis, yang penyebarannya akhirnya pasti menyiapkan lahan pijakan bagi masuknya paham komunis ke dalam masyarakat. Kaitan ini mengungkapkan bagaimana paham komunis memperoleh kekuatannya dari paham Darwinisme.

    Kaum Muslimin yang mendukung teori evolusi perlu memikirkan kebenaran ini. Seorang Muslim tidak boleh berbagi sudut pandang dengan kaum komunis, yang telah dan terus menjadi musuh agama yang paling sengit, dan/atau mendukung sebuah pandangan yang merupakan dasar “ilmiah” bagi paham komunisme. Hal ini semakin penting jika kita menimbang bahwa komunisme belum mati, tetapi masih bertahan dalam rejim-rejim tangan besi seperti Korea Utara, dan, yang paling berbahaya, masih menguasai sistem dan budaya politis negeri Cina, sekalipun pandangannya seolah-olah “kapitalis”.

    Rasisme Darwin

    Salah satu segi terpenting namun paling sedikit diketahui tentang Darwin adalah rasismenya: Darwin menganggap orang kulit putih Eropa lebih “maju” daripada ras manusia lainnya. Karena beranggapan bahwa manusia berevolusi dari makhluk serupa kera, ia berkesimpulan bahwa ada beberapa ras yang lebih berkembang daripada ras-ras yang lain, dan ras-ras yang lain itu masih memiliki sifat-sifat kera.

    Dalam bukunya The Descent of Man, yang ia terbitkan setelah The Origin of Species, dengan terus terang Darwin menguraikan “perbedaan besar di antara manusia dari ras-ras yang berlainan.”41 Dalam bukunya, Darwin berpendapat orang kulit hitam dan Aborigin Australia adalah setara dengan gorila, dan menyimpulkan bahwa keduanya, pada saatnya, akan “disingkirkan” oleh “ras-ras beradab”. Ia mengatakan :

    Suatu saat nanti, tidak terlalu lama sampai ukuran abad, ras-ras manusia yang beradab hampir pasti akan memusnahkan dan menggantikan ras-ras biadab di seluruh dunia. Pada saat yang sama, kera-kera antropomorf (mendekati manusia) …. pasti akan punah. Jarak antara manusia dan padanan-padanan terdekatnya akan lebih lebar, karena hal tersebut akan terjadi dalam keadaan lebih beradab sebagaimana bisa kita harapkan, bahkan daripada jarak orang Kaukasia dan beberapa jenis kera serendah babon, tidak seperti sekarang, antara negro atau pribumi Australia dan gorila. 42

    Gagasan-gagasan Darwin yang tak masuk akal bukan hanya diteorikan, melainkan juga dianugerahi derajat kehormatan ilmiah dan sosial, yang memungkinkan semua gagasan itu memberikan “landasan ilmiah” terpenting bagi paham rasisme. Dengan menganggap makhluk hidup berevolusi dalam pertarungan demi bertahan hidup, Darwinisme langsung diterapkan dalam ilmu sosial. Disebut dengan “Darwinisme Sosial”, pemikiran baru ini berpendapat bahwa ras manusia yang ada saat ini menempati tingkat yang berbeda pada “tangga evolusi”, bahwa ras Eropa adalah yang paling “maju”, dan bahwa banyak ras lainnya masih memiliki ciri dan sifat “mirip kera”.

    Lebih jauh, Darwinisme tidak berhenti dengan menyediakan landasan bagi serangan rasis, namun juga membolehkan segala jenis tindakan pemberontakan dan perusakan. Prinsip “hidup itu pertarungan” ini telah menciptakan pendapat yang membenarkan penempatan bangsa lain, yang hidup damai di satu negeri yang sama, ke pusat-pusat penawanan, maupun penggunaan kekerasan dan kekuatan biadab, perang, maut, dan pembunuhan.

    Akan tetapi, Muslim yang menyadari bahwa Allah telah menciptakan dirinya dan segala yang lain, bahwa Allah telah meniupkan ruhNya ke dalam dirinya, bahwa dunia adalah tempat bagi kedamaian dan persaudaraan, bahwa semua orang adalah setara, dan bahwa tiap orang akan diadili di hari kemudian atas semua perbuatannya di dunia, tak mungkin menganiaya orang lain. Hanya mereka yang percaya bahwa mereka terwujud oleh ketidaksengajaan, tidak bertanggung jawab kepada siapa pun, tidak pernah harus bertanggung jawab atas perbuatannya, dan percaya bahwa dunia adalah tempat bagi pertikaian, yang bisa melakukan tindakan demikian.

    Itulah sebabnya, seorang Muslim harus menyimak nuraninya, sebelum menerima Darwinisme, dan apa sebabnya ia harus mengerti harga sesungguhnya jika ia mendukung sebuah teori yang telah ditolak oleh ilmu pengetahuan sendiri. Kerusakan yang diperbuat Darwinisme atas kemanusiaan sungguh nyata. Kepedihan, penderitaan, dan pertikaian yang dibawanya sudah begitu dikenal. Seperti telah kita lihat di sepanjang bab ini, cara orang dibuat agar percaya kepada gagasan dan pemikiran yang jauh dari nalar dan tak masuk akal ini, seharusnya meyakinkan kita bahwa Darwinisme adalah suatu bahaya besar.

    ===========

    1. Conway Zirkle, Evolution, Marxian Biology and the Social Scene, Philadelphia ; the University of Pennsylvania Press , 1959, h. 527 (Penebalan oleh Harun Yahya)
    2. Robert M. Young, Darwinian Evolution and Human History, Ceramah radio yang diberikan dalam sebuah kuliah Universitas Terbuka tentang Darwin ke Einstein: TelaahSejarah atas Ilmu Pengetahuan dan Agama, 1980 (Penebalan oleh Harun Yahya)
    3. L. Poliakov, Le Mythe Aryen, Editions Complexe, Calmann Lévy, Bruxelles, 1987, h. 343 (Penebalan oleh Harun Yahya)
    4. Carl Cohen, Communism, Fascism and Democracy, New York : Random House Publishing, 1967, ph. 408-409 (Penebalan oleh Harun Yahya)
    5. Fredrick Engels, Socialism: Utopian and Scientific, Part II: Science of Dialectics, http: //www.marxists.org/archive/marx/works/1880/soc-utop/ch02.htm.
    6. H. J. Darlington, Evolution for Naturalists, NY: Wiley, 1980, h. 243-244
    7. Robert Shapiro, Origins: A Sceptic’s Guide to the Creation of Life on Earth, Summit Books, New York , 1986, h. 207. (Penebalan oleh Harun Yahya)
    8. Benjamin Farrington, What Darwin Really Said, London : Sphere Books, 1971, h. 54-56
    9. Charles Darwin, The Descent of Man, 2nd ed., New York : A.L. Burt Co., 1874, h. 178

     

     
  • erva kurniawan 11:43 am on 26 May 2015 Permalink | Balas  

    Beragam Jalan Menuju Islam 

    will smithBeragam Jalan Menuju Islam

    Banyak jalan menuju Roma. Dan banyak pula jalan menuju Islam. Ada orang yang masuk Islam karena kebetulan berjumpa dengan seseorang yang memberinya Al-Quran. Ada pula yang karena berjumpa dengan seorang Muslim yang baik hati. Adapula orang-orang hanif yang hatinya senantiasa mencari kebenaran sejati dan kemudian ia temukan di dalam Islam.

    Torquato Cardilli, duta besar Italia untuk Arab Saudi, adalah contoh orang yang mendapat hidayat dan masuk Islam karena pergaulannya selama 33 tahun dengan masyarakat Muslim di berbagai negara tempat ia bertugas sebagai diplomat.

    Will Smith, aktor Hollywood papan atas yang berkulit hitam, mempunyai pengalaman yang lebih unik. Ia masuk Islam setelah menjalankan peran sebagai Muhammad Ali dalam film tentang biografi petinju legendaris itu.

    Seperti diberitakan Ummah News, media Islam asal Inggris, Smith mengaku mulai mengenal Islam, saat dia mempelajari kehidupan Muhammad Ali. Sebagaimana diketahui, Muhammada Ali sebelumnya adalah seorang penganut Nasrani bernama Cassius Clay hingga suatu saat mendapat hidayah dari Allah dan kemudian menjadi Muslim.

    Rupanya perjalanan hidup Ali itu telah memberikan inspirasi yang serupa kepada Smith. Menurut penuturan teman-teman dekat Smith, sang mega bintang yang telah memeluk Islam itu sangat berkeinginan mendalami Islam secara serius.

    michaelwolfe_tvIC__200x153Selain Cardilli dan Smith, ada pula Michael Wolfe, seorang penulis yang cukup dikenal di AS. Wolfe, tertarik Islam setelah bergaul dengan orang-orang Islam di Afrika dan Timur Tengah. Menurut Wolfe, Islam tidak pernah membeda-bedakan ras dan kulit. Sejak itulah Wolfe masuk Islam. “Saya akhirnya belajar tentang Islam dan kini telah aktif di masjid dekat rumahku di California.” Wolfe lahir dari ayah Yahudi dan ibu Kristen. Sejak masuk Islam, pria yang menulis buku tentang “Haji” itu, kini, aktif menulis buku tentang Islam. Syukur Alhamdulillah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:40 am on 25 May 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (7) 

    darwinMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (7)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Keliru Jika Mengira Charles Darwin Taat Beragama

    Sebagian besar kaum beragama yang mendukung teori evolusi berpendapat bahwa Charles Darwin taat beragama. Akan tetapi, sungguh mereka keliru, karena di masa hidupnya Charles Darwin mengungkapkan pandangan buruknya tentang Tuhan dan agama.

    Darwin memang percaya kepada Tuhan semasa mudanya, namun perlahan imannya menipis dan digantikan oleh paham ateisme di saat usianya setengah baya. Akan tetapi, tidak ia umumkan fakta ini, karena tidak ingin memancing tentangan, khususnya dari istrinya yang taat, maupun dari kerabat dekat dan lembaga agama.

    Dalam bukunya Darwin and the Darwinian Revolution, ahli sejarah Darwinis Gertrude Himmelfarb menulis: “Karena itu, gambaran menyeluruh tentang keingkaran Darwin [akan keberadaanTuhan] tidak dapat diketahui pada karya maupun riwayat hidupnya yang diterbitkan, namun terlihat hanya dalam versi asli riwayat hidup tersebut.”21

    Buku Himmelfarb juga mengungkapkan bahwa ketika putra Darwin, Francis, hendak menerbitkan bukunya The Life and Letters of Charles Darwin, istri Darwin, Emma, menentang sengit rencana itu, dan tidak hendak memberikan izin, takut surat-surat itu menimbulkan heboh setelah kematian Darwin. Emma memperingatkan puteranya untuk membuang bagian-bagian yang langsung mengacu ke paham tak bertuhan (ateisme). Seluruh keluarga khawatir bahwa pernyataan seperti itu akan menghancurkan nama harum Darwin  22

    Menurut ahli biologi Ernst Mayr, pendiri neo-Darwinisme; “Jelas bahwa Darwin  kehilangan imannya di tahun 1836-1839, sebagian besar nyata-nyata sebelum membaca Malthus. Agar tidak melukai perasaan teman-teman dan istrinya, Darwin sering menggunakan bahasa ilahiah dalam buku-bukunya, namun banyak bagian dalam buku catatannya yang menandakan, saat itu ia telah menjadi seorang ‘materialis’. 23

    Darwin selalu memerhatikan tanggapan keluarganya, dan sepanjang hidupnya berhati-hati menyembunyikan gagasannya tentang agama. Ia bertindak demikian, menurut kata-katanya sendiri, karena : Beberapa tahun silam aku sungguh-sungguh dinasehati oleh seorang kawan agar jangan pernah memasukkan apa-apa tentang agama dalam tulisan-tulisanku jika ingin memajukan ilmu pengetahuan di Inggris; dan nasehat ini mendorongku untuk tidak mempertimbangkan pembahasan yang terkait dengan kedua hal itu. Jika sebelumnya kutahu bahwa dunia akan menjadi sedemikian bebas, mungkin seharusnya aku bertindak lain. 24

    Sebagaimana bisa kita lihat dari kalimat terakhir, jika sudah merasa yakin ia tidak akan memancing tentangan, Darwin tidak akan sedemikian berhati-hati. Ketika Karl Marx (1818-1883) mengusulkan untuk mempersembahkan Das Kapital kepadanya, tegas Darwin menolak penghormatan itu dengan alasan beberapa anggota keluarganya akan merasa sakit hati jika ia dikaitkan dengan buku ateistis semacam itu 25

    Akan tetapi, kita masih bisa mengetahui sikap Darwin terhadap pokok dan kepercayaan ruhani dan agama, dalam kata-kata kepada sepupunya ini: “Kupikir semua perasaan manusia dapat ditelusuri sampai ke benihnya pada hewan.” 26

    Darwin juga menentang pengajaran agama kepada anak-anak karena keyakinannya bahwa mereka harus dibebaskan dari keyakinan agama 27

    Pandangan anti-agama ini menurun ke kaum evolusionis masa kini seolah-olah sejenis warisan. Sama seperti Darwin ingin anak-anak belajar tentang Tuhan selagi bersekolah, para evolusionis mutakhir menentang mati-matian pengajaran tentang penciptaan di sekolah-sekolah. Mereka giat berusaha di seluruh dunia agar penciptaan dikeluarkan dari kurikulum pendidikan

    Paham Tak Bertuhan Yang Dianut Darwin Dan Upaya Menyembunyikannya

    Darwin membuat pernyataan berikut tentang ketiadaan imannya, “pengingkaran [kepada Tuhan] merayapi diriku dengan pelan-pelan sekali, tetapi pada akhirnya menjadi sempurna …” 28

    Buku yang sama menggambarkan, bagaimana ayah Darwin mengajaknya bicara secara diam-diam saat ia akan melangsungkan pernikahan, dan menyarankan agar Darwin  menyembunyikan keraguan imannya dari istrinya. Akan tetapi, sejak semula Emma sadar akan iman Darwin yang terus menipis. Ketika buku Darwin Descent of Man diterbitkan, Emma mengakui kepada putrinya tentang pandangan anti-agama buku itu:

    Aku akan amat membencinya karena lagi-lagi mengesampingkan Tuhan kian jauh. 29

    Dalam sepucuk surat yang ditulisnya pada tahun 1876, Darwin menyatakan bagaimana keyakinannya menipis:

    Kesimpulan ini (paham bertuhan, atau teisme) kuat di benakku di sekitar saat, sejauh yang dapat kuingat, kutulis “Origin of Species”; dan sejak itu secara perlahan, dengan berkali-kali naik-turun, menipis… 30

    Pada saat yang sama, ia merasa aneh bahwa orang-orang selainnya mesti memiliki kepercayaan agama, dan menyatakan bahwa manusia, yang diyakininya berasal dari hewan tingkat rendah, tidak dapat meyakini kepercayaan-kepercayaan itu:

    Dapatkah pikiran manusia, yang kuyakin sepenuhnya, berkembang dari pikiran serendah yang dimiliki hewan terendah, dipercaya saat menarik kesimpulan agung seperti itu? 31

    Alasan dasar Darwin mengingkari adanya Tuhan adalah keangkuhan. Kita dapat melihatnya dalam pernyataan berikut:

    Dalam pengertian bahwa sesosok Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu harus mengatur dan mengetahui segalanya, hal ini mesti diakui; namun, sejujur-jujurnya, aku hampir tidak bisa mengakuinya. 32

    Dalam sebuah lampiran singkat yang ditulis tangan pada kisah hidupnya, ia menulis:

    Aku tidak merasakan penyesalan dari melakukan dosa besar apa pun.33

    Pernyataan Darwin, yang mengingkari keberadaan Allah dan agama, sesungguhnya mengikuti sebuah pola pikir yang tak mengenal Allah dari zaman kuno.

    Ayat Al Qur’an melukiskan bagaimana mereka yang mengingkari Allah sesungguhnya menyadari bahwa Dia ada, namun masih juga mengingkariNya karena keangkuhan:

    Dan mereka mengingkarinya* karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka, perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan. (QS.An Naml, 27: 14)

    *mukjizat-mukjizat Allah; lihat ayat ke-13.

    Hal terpenting di sini adalah: keyakinan ateisme Darwin  adalah yang paling berpengaruh dalam pembentukan teorinya. Ia memelintir fakta, pengamatan, dan bukti untuk mempertahankan prasangkanya bahwa kehidupan tidak diciptakan. Saat membaca The Origin of Species, orang melihat jelas, bagaimana Darwin bersusah-payah menolak semua bukti penciptaan (misalnya, struktur makhluk hidup yang rumit, bagaimana catatan fosil mengarah kepada kemunculan seketika, dan berbagai fakta yang menunjuk seberapa jauh batas kemungkinan makhluk hidup di alam untuk dapat menjadi berbeda satu sama lain), dan caranya menunda hal-hal yang tidak segera dapat dijelaskannya dengan mengatakan: “Mungkin hal ini akan terpecahkan suatu hari di masa datang.” Jika ia ilmuwan yang tak memihak, ia tidak akan menampakkan sikap taklid atau dogmatis demikian.Gaya dan cara Darwin sendiri menunjukkan bahwa ia seorang ateis yang memijakkan teorinya pada paham ateisme.

    “Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al An’am, 6: 111)

    Ternyata, kaum yang tak mengenal Allah (ateis) telah mendukung Darwin selama 150 tahun terakhir ini, dan berbagai paham pemikiran anti-agama menyokong Darwin justru karena paham ateisme yang dianutnya. Oleh sebab itu, dengan menimbang kenyataan ateisme Darwin, kaum Muslimin tidak boleh keliru mengira ia orang yang taat beragama, atau setidaknya tidak menentang agama, dan terus mendukungnya, teorinya, serta semua orang yang sepikiran dengannya. Jika seorang Muslim melakukan hal itu, berarti ia menempatkan dirinya bersama kaum ateis.

    ***

    1. Gertrude Hommerfarb, Darwin and the Darwinian Revolution, Elephant Paperbacks, Chicago, 1962, h. 384 (Penebalan oleh Harun Yahya)
    2. Gertrude Himmerfarb, Darwin and the Darwinian Revolution, Elephant Paperbacks, Chicago , 1962, h. 383
    3. Mayr, Ernst, ” Darwin and Natural Selection”, American Scientist, vol.65 (May/June, 1977) h. 323 (Penebalan oleh Harun Yahya)
    4. Gertrude Himmerfarb, Darwin and the Darwinian Revolution, Elephant Paperbacks, Chicago , 1962, h. 383
    5. Gertrude Himmerfarb, Darwin and the Darwinian Revolution, Elephant Paperbacks, Chicago , 1962, h. 383
    6. Gertrude Himmerfarb, Darwin and the Darwinian Revolution, Elephant Paperbacks, Chicago , 1962, h. 384
    7. Gertrude Himmerfarb, Darwin and the Darwinian Revolution, Elephant Paperbacks, Chicago , 1962, h. 385
    8. Gertrude Himmerfarb, Darwin and the Darwinian Revolution, Elephant Paperbacks, Chicago, 1962, h. 381 (Penebalan oleh Harun Yahya)
    9. Gertrude Himmerfarb, Darwin and the Darwinian Revolution, Elephant Paperbacks, Chicago , 1962, h. 382
    10. Francis Darwin, The Life and Letters of Charles Darwin, D. Appleton and Co., 1896, Chapter 1.VIII., Religion.
    11. Francis Darwin, The Life and Letters of Charles Darwin, D. Appleton and Co., 1896, Chapter 1.VIII., Religion.
    12. Francis Darwin, The Life and Letters of Charles Darwin, Charles Darwin kepada C. Lyell, D. Appleton and Co., 1896, Down, April [1860].
    13. Francis Darwin, The Life and Letters of Charles Darwin, D. Appleton and Co., 1896, CHAPTER 2.XVI.
     
  • erva kurniawan 1:32 am on 24 May 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (6) 

    Pengertian-Fosil-Pembentukan-Fosil-Waktu-GeologisMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (6)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Penelitian Fosil Membuktikan Penciptaan

    Melihat fakta-fakta di atas, kemajuan ilmiah menunjukkan bahwa seleksi alam dan mutasi tidak berdaya evolusi. Karena tidak ada mekanismenya, evolusi tidak mungkin pernah terjadi di masa lalu. Akan tetapi, kaum evolusionis masih bersikeras bahwa semua makhluk berevolusi dari satu ke lainnya, lewat proses yang lambat selama ratusan juta tahun. Kesalahan mereka disembunyikan dalam jalan pikiran ini, karena jika skenario mereka memang benar, makhluk tahap peralihan, yang tak terhitung banyaknya, dari rentang waktu tersebut seharusnya sudah terbentuk. Lebih lagi, kita seharusnya menemukan sisa-sisa fosilnya.

    Pernyataan kaum evolusionis yang tak masuk akal tampak mencolok dalam setiap perkara. Coba kita lihat perihal munculnya ikan, yang dikatakan kaum evolusionis, berasal dari invertebrata (hewan tak bertulang belakang), seperti bintang laut dan cacing laut. Jika pernyataan ini benar, seharusnya ada contoh makhluk peralihan yang jumlahnya berlimpah ruah, demi membolehkan terjadinya sebuah evolusi yang lamban.

    Dengan kata lain, kita seharusnya dapat melihat sisa fosil dari berjenis-jenis hewan (spesies) yang memiliki baik ciri-ciri ikan mau pun ciri-ciri invertebrata. Akan tetapi, walaupun banyak fosil ikan dan invertebrata ditemukan para ilmuwan, tidak pernah ada fosil makhluk peralihan, yang dapat membenarkan pernyataan evolusionis, yang ditemukan. Ketiadaan demikian, pada gilirannya, berarti evolusi tidak pernah terjadi. (Ternyata, ikan pertama di Bumi muncul di zaman geologis yang sama dengan invertebrata rumit yang pertama dikenal. Fosil ikan berasal dari 530 juta tahun yang lampau.15 Pada saat itu, yang dikenal sebagai zaman Kambrium, semua kelompok utama hewan invertebrata tiba-tiba muncul di Bumi.)

    images (1)Sebagai contoh, kaum evolusionis menyatakan bahwa bintang laut berevolusi menjadi ikan sejati setelah jutaan tahun. Berdasarkan pernyataan ini, seharusnya terdapat banyak bentuk peralihan di antara kedua jenis ikan tersebut. Akan tetapi, tidak satu pun fosil yang memiliki bentuk peralihan pernah ditemukan. Ditemukan bintang laut dan ikan dalam catatan fosil, tetapi tidak ada bentuk peralihan di antara keduanya.

    Walaupun sadar betul akan hal ini, kaum evolusionis menggunakan cara seperti hasutan atau demagogi dan bukti palsu, untuk membuat orang percaya pada evolusi. 16 Bahkan Darwin sendiri tahu bahwa catatan fosil tidak mendukung teorinya; ia cuma berharap bahwa catatan itu akan semakin berlimpah seiring berlalunya waktu, dan berbagai makhluk tahap peralihan akan ditemukan. Akan tetapi, kaum evolusionis masa kini tidak lagi memiliki harapan seperti itu. Bahkan mereka akui, catatan fosil begitu kaya dan sudah memadai untuk mengungkapkan sejarah kehidupan.

    Prof N. Heribert Nillson, ahli botani evolusionis yang ternama berkebangsaan Swedia dari Universitas Lund, mengatakan hal berikut tentang catatan fosil:

    Upaya saya untuk menunjukkan peristiwa evolusi, melalui sebuah percobaan yang sudah dilangsungkan selama lebih dari 40 tahun, sudah sepenuhnya gagal … Bahan fosil kini sudah begitu lengkap, sehingga bahkan dapat disusun berbagai kelas (makhluk hidup) baru, dan ketiadaan rangkaian makhluk tahap perantara tidak bisa dijelaskan sebagai akibat kurangnya bahan (fosil). Kekosongan itu memang ada, (dan) tidak akan pernah terisi. 17

    T Neville George, guru besar ilmu paleontologi Universitas Glasgow, menyatakan bahwa sekalipun catatan fosil sangat berlimpah, bentuk peralihan yang sudah lama dicari-cari belum juga ditemukan:

    Tidak perlu lagi meminta maaf atas kekurangan dalam catatan fosil. Dalam segi tertentu, catatan fosil itu sudah demikian berlimpah, hampir tak terkelola, dan kecepatan penemuan fosil sudah melebihi kecepatan penyusunannya … Meskipun demikian, catatan fosil tetap saja masih lebih banyak terdiri atas celah dan kesenjangan. 18

    Para evolusionis bahkan melangkah terlalu jauh, sampai-sampai mengakui bahwa bukan saja menyangkal evolusi, catatan fosil juga memberikan bukti ilmiah bagi kebenaran penciptaan. Misalnya, evolusionis ahli paleontologi Mark Czarnecki mengakui : Masalah besar dalam membuktikan teori ini ialah catatan fosil; jejak-jejak makhluk hidup yang sudah punah, yang terawetkan dalam lapisan batuan Bumi. Catatan ini tidak pernah mengungkapkan tanda-tanda adanya makhluk perantara – yang diduga Darwin –  bahkan, berbagai jenis makhluk hidup muncul dan menghilang dengan tiba-tiba, dan kejanggalan ini amat memperkuat paham penciptaan bahwa setiap jenis makhluk hidup diciptakan oleh Tuhan….(19

    Seperti telah kita lihat, kaum evolusionis menderita kekecewaan mengenaskan menyangkut makhluk tahap perantara. Tidak ada satu pun penggalian di dunia ini yang telah menghasilkan jejak adanya bentuk peralihan, sekalipun yang paling samar, sejak Darwin kali pertama mengajukannya. Temuan itu semua adalah dari jenis yang seakan bermaksud menghancurkan harapan kaum evolusionis, dan menunjukkan bahwa makhluk hidup di Bumi muncul tiba-tiba, berkembang sempurna, dan tanpa cela.

    Akan tetapi, sekalipun mengetahui bahwa bentuk peralihan tidak pernah ada, para ilmuwan evolusionis tak mau meninggalkan teori mereka. Mereka memberikan uraian berprasangka tentang sejumlah fosil. Dalam karangannya In Search of Deep Time, Henry Gee, anggota redaksi majalah termasyhur di dunia, Nature, melukiskan seberapa ilmiah sebenarnya uraian-uraian tentang fosil semacam itu:

    Kita menyusun fosil-fosil dalam suatu urutan yang mencerminkan pemerolehan bertahap dari apa saja yang kita lihat pada diri sendiri. Kita tidak mencari kebenaran, kita menciptakannya setelah kejadian, untuk disesuaikan dengan prasangka kita sendiri … Untuk mengambil sederet fosil, dan menyatakan bahwa deretan itu melambangkan satu garis keturunan, bukanlah sebuah dugaan (hipotesis) ilmiah yang dapat diuji, melainkan sebuah pernyataan yang mengandung keabsahan setara dengan dongeng sebelum tidur – menghibur, bahkan mungkin berisi pelajaran, namun tidak ilmiah. 20

    Itulah sebabnya, mengapa mereka yang beriman kepada Allah tidak boleh teperdaya oleh permainan kata dan kebohongan yang berjubah ilmiah. Salah besar, jika percaya bahwa sekelompok orang, hanya karena mereka ilmuwan, pasti berkata benar dan patut dipercaya. Ilmuwan evolusionis tidak punya rasa bersalah menyembunyikan kebenaran, memelintir fakta ilmiah, dan bahkan membuat bukti-bukti palsu untuk membela pemikiran mereka. Sejarah Darwinisme penuh dengan contoh semacam itu.

    Bila kita tinjau garis-garis besar Darwinisme yang paling dasar sekalipun, segera terlihat ketidak-absahan dan landasannya yang lapuk habis. Bila kita periksa rinciannya, keadaan ini semakin jelas. (Lihat The Evolution Deceit, Taha Publishers, London, 1999 dan Darwinism Refuted, Goodword Publishers, New Delhi, 2003 untuk keterangan lebih lanjut.)

    Berlawanan dengan apa yang dinyatakan kaum evolusionis, kita melihat suatu perancangan dan perencanaan agung dalam ciri semua makhluk hidup dan tak-hidup, ke mana pun kita memandang. Itulah tanda bahwa Allah telah menciptakan semuanya. Kaum evolusionis terus mengibarkan perlawanan sia-sianya, karena tidak ingin menerima kenyataan ini. Sebagai penganut paham materialisme sejati, mereka sedang mencoba menghidupkan kembali sesosok mayat.

    Semua ini membawa ke hanya satu kesimpulan: Darwinisme menyesatkan orang dari akal sehat, ilmu pengetahuan, dan kebenaran, serta menggiring mereka ke arah ke cara berpikir tanpa akal sehat. Orang-orang yang percaya kepada evolusi tak bersedia mengikuti jalur nalar dan ilmu pengetahuan, dan termakan omong kosong penuh takhayul yang disampaikan turun-temurun sejak tahun 1880-an saat Darwin masih hidup.

    Akhirnya, mereka mulai percaya bahwa ketidaksengajaan atau kebetulan bisa memainkan peran bersifat ilahiah, walaupun segenap alam semesta penuh dengan tanda-tanda penciptaan. Cukup melihat satu saja mekanisme tanpa cacat di langit dan di laut, pada tumbuhan dan hewan, untuk menyadari hal ini. Mengatakan bahwa semua ini karya ketidaksengajaan merupakan pelecehan nalar, akal, dan ilmu pengetahuan. Yang diperlukan adalah pengakuan atas kekuatan dan keagungan Allah, dan setelah itu, penyerahan diri kepadaNya.

    ***

    1. Pada tahun 1999, seorang paleontolog Cina menemukan fosil dua jenis ikan yang berumur kira-kira 530 juta tahun di fauna Chengjiang. Masa itu dikenal sebagai Zaman Kambria Awal. Lihat BBC News Online, 4 November 1999 .
    2. Sejarah Darwinisme meliputi sejumlah contoh terkenal bukti yang dipalsukan. “Manusia Piltdown” atau “moyang purba manusia” ternyata cuma tipuan yang dibuat dengan menggabungkan rahang orang utan dan tengkorak manusia. Ahli biologi Jerman Ernst Haeckel memalsukan gambar-gambar embrio manusia dan hewan agar tampak mirip, dan gambar-gambar palsunya menyesatkan ilmuwan selama puluhan tahun. Foto terkenal Ketllewells tentang “penghitaman industri”, yang memperlihatkan ngengat abu-abu Inggris, baru-baru ini terungkap sebagai foto-foto yang diatur di mana contoh sediaan mati direkatkan ke batang pohon. “Burung dino” yang mengejutkan, yang diberi nama ilmiah Archaeoraptor and mengguncang dunia di tahun 1998 ternyata dusta yang diolah dengan merekatkan lima fosil berbeda dari makhluk-makhluk hidup berbeda. Untuk rinciannya, lihat Harun Yahya, Darwinism Refuted, Goodword Books, New Delhi, 2003.
    3. Prof. N. Heribert Nilsson, Universitas Lund, Swedia. Ahli botani dan evolusionis ternama, sebagaimana dikutip dalam: The Earth Before Man, h.51, http: //www.netcentro.co.uk/steveb/penkhull/create3.htm. (Penebalan oleh Harun Yahya)
    4. T. Neville George, “Fossils in Evolutionary Perspective”, Science Progress, vol 48, Januari 1960, h. 1,3 (Penebalan oleh Harun Yahya)
    5. Mark Czarnecki, “The Revival of the Creationist Crusade”, MacLean’s, 19 January 1981 , h. 56
    6. Henry Gee, In Search of Deep Time, New York , The Free Press, 1999, h.116-117.
     
  • erva kurniawan 12:38 pm on 23 May 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (5) 

    earth_day_2008Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (5)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Seleksi alam dan mutasi tidak memiliki daya untuk menyebabkan perubahan bertahap (evolusi)

    Kaum evolusionis Muslim, yang mengabaikan fakta bahwa ilmu pengetahuan telah menggugurkan evolusi, juga menghadapi permasalahan sulit lainnya: pernyataan bahwa 1,5 juta jenis makhluk hidup di alam muncul sebagai akibat peristiwa alam yang tak-sadar.

    Menurut para evolusionis, sel hidup pertama terbentuk akibat berbagai reaksi kimia dalam zat tak-hidup. (Marilah kita ingat bahwa cukup banyak bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa hal ini tidak mungkin. Lebih lagi, para peneliti yang melakukan percobaan menyatukan gas-gas penyusun lapisan atmosfer awal Bumi, sekaligus berbagai keadaan lapisan atmosfer yang sesuai, tidak mampu “menghasilkan” satuan blok pembangun kehidupan yang terkecil sekali pun, yakni protein.13 ) Karena mereka gagal memunculkan organisme hidup, walaupun semua pengetahuan dan teknologi tersedia bagi mereka, secara ilmiah adalah lebih tak masuk akal lagi apabila dinyatakan bahwa ketidaksengajaan buta mampu menghasilkannya.

    Evolusi juga menyatakan bahwa kehidupan berawal dari sel pertama tersebut, yang tumbuh kian rumit, dan yang semakin lama semakin kaya dan beragam, sampai manusia dihasilkan. Singkatnya, lanjut teori itu, berbagai pergerakan tak-sadar di alam terus mengembangkan makhluk hidup. Contohnya, satu bakteri mengandung kode genetik untuk sekitar 2.000 protein, sementara manusia mengandung kode genetik untuk sekitar 200.000 protein. Dengan kata lain, suatu pergerakan tak-sadar telah “menghasilkan” data genetik untuk 198.000 protein baru, seiring dengan berlalunya waktu.

    Itu yang dinyatakan evolusi. Namun, benarkah alam berisi mekanisme atau pergerakan yang dapat menambah data genetik pada suatu makhluk hidup?

    Teori evolusi modern- juga dikenal sebagai neo-Darwinisme, yaitu versi perbaikan atas teori asli Darwin, yang ikut memperhitungkan berbagai temuan terbaru dalam ilmu genetika – mengusulkan dua mekanisme: seleksi alam dan mutasi.

    seleksi alamSeleksi alam berarti bahwa makhluk yang kuat, dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan keadaan alam, akan memenangkan pertarungan demi mempertahankan hidup, sementara yang lainnya tersisih dan lenyap. Misalnya, penurunan suhu yang terus-menerus di suatu wilayah berarti populasi hewan tertentu, yang tidak tahan terhadap suhu rendah, akan terpangkas. Pada jangka panjang, hanya hewan yang tahan suhu dingin yang bertahan hidup, dan akhirnya menjadi seluruh populasi.

    Contoh lain, dalam kasus kelinci yang hidup terus-menerus dalam ancaman hewan pemangsa, hanya yang terbaik menyesuaikan diri dengan lingkup keadaan itu (misalnya, yang dapat berlari paling cepat), bertahan hidup dan mewariskan ciri atau sifatnya kepada generasi berikutnya. Akan tetapi, pemeriksaan seksama mengungkapkan bahwa tidak ada ciri baru yang muncul di sini, karena kelinci ini tidak berubah menjadi jenis hewan atau spesies yang baru, atau pun memperoleh sifat baru. Jadi, orang tidak dapat berkata bahwa seleksi alam menyebabkan evolusi.

    Karena itu, evolusionis hanya tinggal memiliki mutasi. Agar pernyataan evolusi dapat diterima, mutasi harus mampu menambah data genetik pada suatu makhluk hidup. Mutasi dijabarkan sebagai kesalahan dalam gen makhluk hidup, yang terjadi akibat pengaruh luar (misalnya, radiasi atau penyinaran,) atau pun akibat kesalahan penyalinan DNA. Tentu saja, mutasi dapat menyebabkan perubahan, namun perubahan itu selalu merusak. Dengan kata lain, mutasi tidak bisa mengembangkan makhluk hidup; bahkan sebaliknya, selalu membahayakannya.

    Genetika mencapai kemajuan besar selama abad ke-20. Dengan mempelajari berbagai penyakit keturunan pada makhluk hidup, berdasarkan ilmu pengetahuan yang berkembang cepat, para ilmuwan memperlihatkan bahwa mutasi bukanlah perubahan hayati yang dapat menyumbangkan sesuatu bagi evolusi. Ini bertentangan dengan pernyataan evolusionis. Kemajuan-kemajuan dalam genetika khususnya menghasilkan pengetahuan bahwa sekitar 4.500 penyakit yang diduga sebagai penyakit keturunan sebenarnya disebabkan oleh mutasi.

    Agar dapat diwariskan kepada keturunan, mutasi harus terjadi pada organ perkembangbiakan (sel sperma pada lelaki, indung telur pada perempuan). Hanya perubahan genetik jenis ini yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Banyak penyakit keturunan disebabkan justru oleh perubahan pada sel-sel tersebut.

    Mutasi, di sisi lain, terjadi di organ tubuh lainnya (misalnya, hati atau otak), sehingga tidak bisa diwariskan kepada generasi berikutnya. Mutasi yang demikian, disebut “somatik”, menyebabkan banyak penyakit kanker melalui kemunduran dalam DNA sel.

    Kanker merupakan salah satu contoh paling tepat tentang kerusakan yang disebabkan oleh mutasi. Banyak faktor karsinogenik (penyebab kanker), misalnya zat kimia dan sinar ultra-ungu, sebenarnya menyebabkan mutasi. Setelah adanya temuan mutakhir tentang gen onkogenik (pendorong kanker) dan gen pencegah tumor, yang apabila tidak bekerja dengan benar, mampu menimbulkan kanker, para peneliti menyadari bagaimana mutasi menyebabkan kanker.

    Kedua jenis gen ini penting bagi sel untuk memperbanyak diri, serta bagi tubuh untuk memperbaharui diri. Jika salah satunya rusak karena mutasi, sel-sel mulai tumbuh tak terkendali dan kanker pun mulai terbentuk. Kita dapat membandingkan keadaan ini dengan pedal gas yang macet atau rem yang blong pada sebuah mobil. Dalam kedua kasus tersebut, akan terjadi tabrakan. Begitu pula, pertumbuhan sel yang tak terkendali akan menyebabkan kanker, lalu kematian. Jika mutasi merusak gen-gen ini pada saat kelahiran, seperti dalam kasus retinoblastoma (kanker sel mata), bayi yang terkena akan segera meninggal dunia.

    chernobylMutasi secara tak sengaja selalu membahayakan umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Dampak mengerikan kecelakaan nuklir pada tahun 1986 di Chernobyl menunjukkan akibat mutasi.

    Kerusakan yang diakibatkan oleh mutasi pada makhluk hidup tidak terbatas pada contoh-contoh ini saja. Hampir semua mutasi yang dapat teramati sejauh ini bersifat merusak; hanya beberapa saja yang tidak berpengaruh apa-apa. Walaupun demikian, kaum evolusionis, termasuk yang Muslim, masih mencoba mempertahankan anggapan bahwa mutasi adalah mekanisme yang berlaku dalam evolusi. Jika satu makhluk hidup memang berubah menjadi makhluk hidup lain, sebagaimana dinyatakan kaum evolusionis, mestinya terjadi berjuta-juta mutasi yang menguntungkan, dan terdapat pada semua sel benih dan peranakan.

    Ilmu pengetahuan, seiring dengan kemajuan yang terus-menerus dicapainya, telah menemukan berjuta-juta mutasi jahat, dan telah mengenali berbagai penyakit yang diakibatkannya. Akan tetapi, teori evolusi menghadapi kebingungan yang mengenaskan: para ilmuwan evolusionis tidak bisa menyebutkan satu pun mutasi yang benar-benar menambah data genetik.

    Pierre Paul Grassé, seorang ahli zoologi terkemuka Perancis, penyunting buku 35 jilid Traite de Zoologie, dan mantan ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Perancis, mengibaratkan mutasi dengan huruf yang salah diketik saat menyalin naskah tertulis. Dan, sebagaimana huruf salah ketik, mutasi tidak menambah keterangan; bahkan, merusak data yang sudah ada. Grassé menyatakan fakta ini dengan cara berikut:

    Mutasi, dalam sejarah, terjadi secara acak. Mutasi tak saling melengkapi satu sama lain, tidak juga bertambah pada generasi selanjutnya menuju arah tertentu. Mutasi mengubah apa yang sudah menetap, namun secara kacau dan salah, walaupun bagaimana … Begitu ada kekacauan, sekalipun kecil, timbul pada makhluk yang tersusun dan teratur, maka penyakit, lalu kematian, pun mengikuti. Tidak ada jalan tengah yang bisa tercipta antara gejala kehidupan dan kekacauan. 14

    Menimbang fakta ini, mutasi, sebagaimana dijelaskan Grassé, “betapa pun banyaknya, tidaklah menghasilkan evolusi jenis apa pun.” Kita dapat membandingkan akibat mutasi dengan gempa bumi. Sama seperti gempa bumi, yang tidak membantu membangun atau memperbaiki sebuah kota melainkan malah memorak-porandakannya, mutasi pun selalu berpengaruh buruk. Dari sudut pandang ini, pernyataan evolusionis tentang mutasi adalah sepenuhnya tanpa dasar. (Untuk rincian, lihat The Evolution Deceit oleh Harun Yahya, Taha Publishers, London, 1999).

    “Kaum kami telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (QS. Al Kahfi, 18:15)

    ***

    1. Jalan cerita evolusi yang terkait dengan asal-muasal kehidupan disebut teori evolusi kimiawi. Tak terhitung jumlah percobaan yang dilakukan selama abad ke-20 gagal mendukung teori ini. Percobaan Stanley Miller, percobaan yang paling terkenal, mencakup “penciptaan” atmosfer purba dugaannya dan diikuti pembentukan beberapa asam amino. Akan tetapi, belakangan diketahui bahwa atmosfer purba jauh lebih bermusuhan terhadap senyawa organik (hidup) dibandingkan dengan perkiraan miller. Tak seorang pun pernah berhasil meniru perakitan protein, blok pembangun kehidupan yang sebenarnya, dalam percobaan “evolusi kimiawi” mana pun. Untuk lebih rinci, lihat Harun Yahya: Darwinism refuted, goodword books, New Delhi , 2003.
    2. Pierre-Paul Grasse, Evolution Of Living Organisms, Academic Press, New York , 1977, h.97
     
  • erva kurniawan 1:57 am on 21 May 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (4) 

    evolusiMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (4)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Kebenaran penting yang terabaikan oleh kaum muslimin yang mendukung teori evolusi

    Dalam bab sebelumnya, telah kita bahas bagaimana kaum Muslimin yang telah diyakinkan bahwa evolusi itu adalah sebuah fakta (kenyataan), dan bukan teori, mungkin tak menyadari berbagai kemajuan ilmiah terkait dan mutakhir, yang membantah paham Darwinisme. Tiadanya kesadaran ini menghalau kaum evolusionis Muslim untuk terus menerima gagasan dan kepercayaan yang sudah dibuktikan sebagai tak absah oleh ilmu pengetahuan. Lebih jauh, mereka mengabaikan kenyataan bahwa landasan yang mendasari evolusi mencerminkan tabiat pagan (musyrik, atau tak beragama), menganggap bahwa kuasa ilahiah dimiliki oleh unsur kebetulan atau ketidak-sengajaan dan peristiwa alam, dan telah menyebabkan amat banyak penindasan, pertikaian, perang, dan berbagai malapetaka lain.

    Bab ini akan khusus membahas kenyataan itu, yang terabaikan oleh kaum evolusionis Muslim, dan menghimbau mereka agar menghentikan dukungan bagi tabiat pagan yang memberikan landasan bagi paham pemikiran materialis dan tak bertuhan.

    Evolusi adalah gagasan yunani kuno yang tak mengenal agama

    Berlawanan dengan yang dinyatakan oleh para pendukungnya, evolusi bukanlah sebuah teori ilmiah, melainkan sebuah kepercayaan musyrik. Gagasan tentang evolusi muncul pertama kalinya dalam masyarakat kuno, seperti Mesir, Babilonia, dan Sumeria, lalu mencapai para filsuf Yunani kuno. Tugu peninggalan bangsa Sumeria yang musyrik berisi pernyataan yang mengingkari penciptaan, dan menegaskan bahwa makhluk hidup muncul dengan sendirinya sebagai bagian proses yang bertahap. Menurut kepercayaan Sumeria, kehidupan muncul dengan sendirinya dari kekacauan atau pergolakan air.

    Sebagai bagian dari agama takhayul yang dianutnya, orang Mesir kuno percaya bahwa “ular, katak, cacing, dan tikus timbul dari lumpur banjir Sungai Nil”. Sama seperti orang Sumeria, orang Mesir kuno mengingkari keberadaan Sang Pencipta, dan mengira bahwa “makhluk hidup muncul dari lumpur secara kebetulan atau tanpa sengaja.”

    Pernyataan terpenting para filsuf Yunani seperti Empedocles (abad ke-5 SM), Thales (wafat 546 SM), dan Anaximander (wafat 547 SM) dari Miletus adalah bahwa makhluk hidup pertama terbentuk dari zat-zat tak-hidup seperti udara, api, dan air. Teori ini berpendapat makhluk hidup pertama muncul tiba-tiba di air, dan lalu beberapa di antaranya meninggalkan air, menyesuaikan diri hidup di darat, dan mulai menetap hidup disana.

    Thales percaya bahwa air adalah akar segenap kehidupan, bahwa tumbuhan dan hewan mulai berkembang di air, dan bahwa manusia adalah hasil akhir proses ini. Anaximander,4 filsuf sezaman Thales yang lebih muda, berpendirian bahwa “manusia tumbuh dari ikan” dan bahwa sumber kehidupan mulai dengan “segumpal massa purba”.5

    Karya puisi Anaximander Tentang Alam merupakan karya tulis pertama yang ada yang berdasarkan teori evolusi. Dalam puisi itu, ia menulis bahwa makhluk hidup muncul dari lendir yang dikeringkan oleh matahari. Ia berpikir bahwa hewan pertama berkulit sisik yang berduri, dan hidup di lautan. Sambil berubah perlahan-lahan, makhluk mirip ikan ini pindah ke darat, melepaskan kulit sisik durinya, dan akhirnya menjadi manusia.6 (Untuk lebih rinci, lihat The Religion of Darwinism, Harun Yahya, Abu’l Qasim Publishers, Jeddah, 2003).

    Teorinya bisa dianggap sebagai landasan pertama teori evolusi masa kini, karena memiliki banyak kemiripan dengan paham Darwinisme.

    Empedocles menyatukan gagasan-gagasan awal, dan mengemukakan bahwa unsur-unsur dasar (yakni, tanah, udara, api, dan air) bersatu menciptakan berbagai tubuh. Ia juga percaya bahwa manusia berkembang dari kehidupan tumbuhan, dan hanya faktor di luar kesengajaanlah yang berperan dalam proses ini.7Sebagaimana telah disebutkan, pemikiran tentang ketidaksengajaan ini beserta perannya dalam penciptaan, menjadi landasan utama ditegakkannya teori evolusi.

    Heraclitus (wafat abad ke-5 SM) menyatakan, karena alam semesta selalu dalam proses perubahan yang terus-menerus, tidak ada gunanya mempertanyakan dongeng uraian tentang awal alam semesta. Ditandaskan olehnya bahwa alam semesta tidak berawal atau berakhir. Sebaliknya, alam semesta ada begitu saja. Singkatnya,8 kepercayaan materialis, yang di atasnya berdiri evolusi, juga ada di masa Yunani kuno.

    Gagasan perkembangan seketika didukung oleh banyak filsuf Yunani lain, khususnya Aristoteles (384-322 SM). Gagasan ini mengatakan bahwa hewan, khususnya cacing, serangga, dan tumbuhan, muncul dengan sendirinya di alam, dan tidak perlu melalui proses pembuahan. Maurice Manquat, yang tersohor akan berbagai kajiannya tentang gagasan Aristoteles mengenai sejarah alam, suatu kali berkata:

    Aristoteles begitu memikirkan asal-muasal kehidupan, sampai-sampai ia menerima kemunculan seketika (bersatunya zat-zat tak-hidup untuk seketika membentuk makhluk hidup) untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa tertentu yang tidak dapat diterangkan dengan cara lain.9

    Bila diperiksa dengan seksama, tampak ada cukup banyak kemiripan antara gagasan-gagasan para pemikir evolusionis zaman dulu dengan sekarang. Akar gagasan materialis, yaitu alam semesta tak berawal dan tak berakhir, maupun pandangan evolusionis, yaitu makhluk hidup muncul sebagai akibat faktor kebetulan, terdapat dalam budaya Sumeria musyrik, dan umum di kalangan pemikir materialis Yunani. Gagasan bahwa kehidupan muncul dari air dan adonan yang disebut segumpal “massa purba”, serta bahwa makhluk hidup muncul hanya karena ketidaksengajaan, menjadi dasar kedua gagasan ini, yang masih terkait sekalipun terpisah tenggang waktu yang amat panjang.

    Jadi, kaum evolusionis Muslim mendukung sebuah teori, yang akarnya tertanam dalam gagasan kuno yang telah terbukti tidak memiliki dasar ilmiah. Lebih lagi, gagasan serupa pertama kali diusulkan oleh para pemikir materialis kuno, dan mengandung makna pagan atau musyrik.

    Sebenarnya, evolusi tidak terbatas pada budaya Sumeria kuno maupun filsuf Yunani kuno saja, sebab evolusi juga membentuk saripati berbagai sistem kepercayaan mutakhir yang besar, seperti Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme. Dengan kata lain, evolusi tidak lebih daripada sebuah teori, yang sepenuhnya bertentangan dengan keyakinan dalam Islam.

    Sebagian evolusionis Muslim, sekalipun bertentangan dengan bukti ilmiah, menyatakan bahwa Al Qur’an mendukung apa yang disebut-sebut sebagai “teori evolusi penciptaan”, dan mencoba menemukan sumber evolusi di dunia Muslim. Mereka menyatakan bahwa gagasan ini pertama kali muncul dari para pemikir Muslim dan, saat karya mereka diterjemahkan ke dalam bahasa asing, gagasan evolusionis timbul di dunia Barat.

    Akan tetapi, beberapa contoh di atas jelas mengungkapkan bahwa evolusi tidak lebih daripada sebuah kepercayaan kuno, yang lahir di masyarakat kuno yang tak beragama. Sungguh suatu kesalahan besar apabila kita mencoba membuktikan bahwa paham evolusionis, yang dibangun di atas dasar kebendaan, bisa berasal dari kaum Muslimin, padahal sama sekali tidak ada dasar ilmiah dan sejarah yang mendukung pernyataan itu.

    Ketidaksengajaan bertentangan dengan kebenaran penciptaan

    Mereka yang berpendapat bahwa evolusi tidak bertentangan dengan penciptaan, lupa akan satu hal penting: Orang seperti mereka percaya bahwa pernyataan utama Darwinisme adalah, makhluk hidup muncul melalui perubahan bertahap (evolusi) dari makhluk hidup lain. Akan tetapi, sebenarnya bukan begitu, sebab kaum evolusionis menyatakan bahwa kehidupan muncul sebagai hasil ketidaksengajaan, oleh pergerakan tak-sadar. Dengan kata lain, kehidupan di Bumi lahir tanpa Sang Pencipta, dan dengan sendirinya, dari zat-zat tak-hidup.

    Pernyataan seperti itu mengingkari keberadaan Sang Pencipta sedari awal, dan karena itu tidak dapat diterima oleh kaum Muslimin. Akan tetapi, sebagian orang Muslim, yang tidak menyadari kebenaran ini, tidak melihat adanya bahaya apabila mendukung evolusi, berdasarkan anggapan bahwa Allah bisa saja menggunakan perubahan bertahap (evolusi) dalam penciptaan makhluk hidup.

    Namun, mereka mengabaikan satu bahaya besar: walaupun mereka sedang mencoba memperlihatkan bahwa evolusi tidak bertentangan dengan agama, nyatanya mereka tengah mendukung dan menyetujui sebuah gagasan yang amat tidak mungkin dari sudut pandang mereka sendiri. Sementara itu, kaum evolusionis berpura-pura tidak melihat keadaan ini, karena hal ini membantu mereka mencapai tujuan, yaitu agar masyarakat menerima gagasan mereka.

    Melihat masalah ini sebagai seorang Muslim yang taat, da