Updates from Oktober, 2015 Toggle Comment Threads | Pintasan Kibor

  • erva kurniawan 1:01 am on 12 October 2015 Permalink | Balas  

    Apa Yang Membangkitkan Gairah Orang-Orang Beriman 

    Lemah ImanApa Yang Membangkitkan Gairah Orang-Orang Beriman

    Pengamatan atas Keindahan Ciptaan Allah

    Kemana pun seseorang memandang, ia akan mendapati contoh-contoh indahnya ciptaan Allah yang menakjubkan. Di dalam ayat-ayat al-Qur’an Allah berfirman:

    “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Q.s. Fushilat: 53).

    Orang-orang beriman senantiasa bangkit gairahnya tatkala mereka memperhatikan susunan dan kesempurnaan yang terus menerus diciptakan oleh Allah di setiap sudut alam semesta ini. Mereka menyaksikan adanya kebijakan, keagungan, dan keindahan tiada tara di balik keajaiban-keajaiban ini, dan timbul perasaan bahagia di dalam hatinya ketika merenungkan keagungan ciptaan Allah tadi.

    Mereka merasa heran tatkala memperhatikan orang-orang yang tetap tidak memiliki kepekaan atas keajaiban-keajaiban ini. Jika orang-orang semacam itu mau mendengarkan suara hati nuraninya sebentar saja dan berpikir dengan jujur, maka mereka pun pasti akan merasakan keagungan dan betapa eloknya ciptaan Allah.

    Sebagaimana dinyatakan di dalam banyak ayat al-Qur’an, kesempurnaan ciptaan Allah benar-benar sangat mengesankan sehingga siapa pun yang mau menggunakan hati nuraninya dapat menyaksikannya. Dalam sebuah ayat dinyatakan bahwa ketika orang-orang beriman memikirkan adanya keagungan di dalam ciptaan Allah, mereka pun merasa takjub:

    “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (Q.s. Ali Imran: 191).

    Orang-orang beriman yang merenungkan dengan sungguh-sungguh hal-hal yang masuk di dalam kesadarannya menyadari, bahwa penciptaan langit dan bumi merupakan tanda adanya kebijaksanaan dan kekuasaan yang abadi.

    Mereka menyadari bahwa Allah menyimpan ratusan bahkan ribuan maksud dalam setiap ciptaan-Nya dan mereka benar-benar merasa sangat takjub susunannya atas kesempurnaan.

    Tidak sebagaimana perasaan gusar yang dimiliki oleh masyarakat jahiliah, seseorang mendapat bimbingan ke jalan Allah yang lurus karena adanya rasa takjub dan bahagia. Konsekuensi dari rasa takjub dan pemahaman yang menyeluruh ini adalah semakin kuat rasa keimanan, bahwa tidak ada tuhan selain Allah.

    Semakin orang-orang beriman berpikir mengenai keindahan dan keelokan makhluk-makhluk yang terdapat di sekitar mereka, maka mereka pun semakin menyadari kekuasaan, kebijaksanaan, dan keagungan Allah, dimana merupakan satu-satunya kawan dan pelindung bagi seseorang.

    Mereka pun bersegera berdzikir kepada-Nya, memuji-Nya, dan berlindung kepada-Nya dari azab-Nya, sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas tadi: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

    Menyaksikan Rahmat dan Keindahan

    Orang-orang yang paling merasakan takjub atas berbagai rahmat Allah dan mendapatkan paling banyak kenikmatan darinya adalah mereka yang beriman. Mereka tahu bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Allah dan menyadari bahwa apa pun peristiwa yang mereka temui dan mereka lihat merupakan rahmat daripada-Nya. Dengan demikian suatu keindahan tertentu memiliki makna yang sangat berarti bagi mereka dibandingkan bagi orang-orang lainnya.

    Alasan lain mengapa orang-orang beriman dapat merasakan takjub, adalah karena mereka dapat memperhatikan secara rinci dan detail apa-apa yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Mereka yang tidak dapat menggunakan akalnya secara semestinya dan tidak merenungkan secara mendalam atas kejadian-kejadian yang ada hanya akan memahami penampakan lahirnya saja.

    Dengan demikian, rasa takjub mereka sangatlah terbatas. Akan tetapi sebaliknya, bagi orang-orang beriman, mereka mampu melihat sisi-sisi yang berkaitan dengan keimanan dan maksud-maksud Ilahiah yang terkandung di dalam segala sesuatu yang mereka jumpai.

    Dengan demikian, mereka dapat menghargai banyak detail dan rahmat yang memberikan kebahagiaan serta rasa kagum yang lebih besar.

    Alasan lainnya lagi mengapa orang-orang beriman dapat melihat rahmat-rahmat ini secara mendetail dan lebih memiliki kesan adalah sebagai berikut: seseorang yang bersikap sombong kepada Allah tidak dapat mengenali keindahan dan keajaiban ciptaan-Nya, karena bila ia mengakui kekuasaan Allah itu berarti ia mengakui kekurangan dirinya.

    Karena ia tidak dapat menerima hal ini, maka ia pun tidak akan mampu melihat keindahan yang terdapat pada makhluk-makhluk sebagaimana mestinya. Bahkan andaikata ia memperhatikan makhluk-makhluk itu, ia lebih suka menjelaskannya begitu saja dan menekan rasa kekagumannya.

    Lepas dari sikap angkuh dan kepura-puraan, orang-orang beriman tidak pernah luput dalam menghargai keindahan benda-benda dan menyaksikan kehebatan ciptaan Allah, dan mereka pun menyatakan perasaan dalam hatinya serta kekagumannya secara terbuka. Misal, tatkala mereka menyaksikan sekuntum bunga mawar atau warna ungu yang dapat ditangkap oleh mata, maka bangkitlah kebahagiaan memandang keindahan itu dan mereka pun menyadari bahwa ini adalah perwujudan dari sifat Allah yang indah “al-Jamil”.

    Keindahan dan pesona yang terpancar dari makhluk-makhluk mengarahkan mereka untuk merenungkan kekuasaan yang tidak terhingga serta keindahan sang Pencipta. Dalam perenungan ini mereka semakin merasa takjub, karena mereka dapat merasakan bahwa semua keindahan ini telah diciptakan untuk mereka dan bahwa semuanya itu adalah karunia dari Allah.

    Mereka merasakan kekaguman dengan mengetahui bahwa semua itu adalah tanda-tanda kasih sayang Allah kepada mereka. Mereka berpikir dengan bahagia bahwa sekalipun semua keindahan ini tidak banyak berarti bagi banyak orang, namun mereka telah menjadi orang-orang yang beruntung, telah menjadi kekasih-kekasih Allah yang mendapatkan kebahagiaan paling banyak dari rahmat-rahmat-Nya.

    Mereka merasa bersyukur bahwa Dia telah menganugerahkan kepada mereka kesempatan untuk melihat keindahan-keindahan ini dan telah mencurahkan karunia-Nya kepada mereka, dan mereka merasakan kebahagiaan yang amat sangat karena dapat bersyukur kepada Allah.

    Mereka merasa bahagia karena Allah telah memberinya mata untuk melihat keindahan-keindahan ini, kesadaran yang jernih untuk memahaminya, dan keimanan yang tulus untuk mensyukurinya. Mereka merasa diistimewakan, karena banyak orang yang tidak dapat menikmati kebahagiaan dari hal-hal yang indah diakibatkan oleh kebutaan ruhaninya. Namun mereka dapat melihat dan menikmati keindahan-keindahan ini karena Allah telah memilih mereka dan menjadikan mereka mencintai agama.

    Selain itu, setelah mereka merenungkan berbagai rahmat, desain-desainnya yang sempurna serta kebijakan abadi yang terwujud di dalamnya, mereka meningkatkan rasa takzim kepada Allah dan kekaguman mereka atas keindahan ciptaan-Nya. Sebagaimana firman Allah:

    “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu minta kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Q.s. Ibrahim: 34).

    Dengan demikian, mereka dalam keadaan takjub atas berbagai karunia yang tidak terkira jumlahnya yang ada di dunia ini. Dengan rasa syukur kepada Allah mereka bergembira karena berpikir bahwa Allah telah memberikan semua karunia ini dari rahmat-Nya; Ia telah memberikan karunia sebanyak ini, padahal kalau mau dapat saja Ia memberinya lebih sedikit dari ini. Allah berfirman:

    “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.s. Ibrahim: 7).

    Dengan mengingat bahwa Allah akan menambah nikmat lebih banyak lagi kepada mereka yang bersyukur adalah kebahagiaan tambahan.

    Dengan mengetahui bahwa Allah telah menciptakan bagi mereka masa hidup yang penuh dengan karunia dan keindahan serta suatu takdir yang senantiasa membawa kebaikan membuat semangat mereka segar kembali.

    Orang beriman menyadari bahwa Allah melindungi dan melimpahkan kasih sayang-Nya kepadanya setiap saat, dan kedua hal ini adalah karunia dari-Nya. Sungguh, Allah melimpahkan kasih sayangnya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan seseorang berjalan ke arah kehidupan yang menyenangkan dan membahagiakan hanyalah semata-mata karena Allah telah menetapkannya.

    Fakta ini telah ditekankan di dalam banyak ayat seperti berikut ini:

    “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia pilih.” (Q.s. al-Qashash: 68).

    “Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekufuran) kepada cahaya (iman).” (Q.s. al-Baqarah: 257).

    “Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Q.s. al-Baqarah: 213).

    Seorang yang beriman tahu bahwa ia berhutang budi atas rahmat-rahmat yang dinikmatinya itu kepada Allah. Allah telah memilihnya, memberinya kesempatan untuk hidup dengan nyaman, menjauhkannya dari kejahatan, dan menciptakannya dengan kemampuan-kemampuan khusus, dimana hal ini benar-benar sangat menyenangkannya.

    Dengan gairah ia pun kembali kepada-Nya dan bekerja sungguh-sungguh demi mendapatkan keridhaan-Nya, baik melalui sikap maupun perilakunya. Sebagaimana ketika ia mengamati keindahan-keindahan yang ada di dunia ini, ia berpikir tentang surga, pasti betapa sempurna dan tiada cacatnya keindahan-keindahan di surga sana, dan menjadi sangat bergairah untuk mencapainya.

    Semangat yang ada pada diri orang-orang beriman dinyatakan dalam sabda Nabi Muhammad saw.: “Sungguh, dalam setiap tasbih adalah sedekah, dalam setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan dalam mengatakan ‘Tidak ada tuhan selain Allah’ adalah sedekah pula.” (H.r. Muslim dan Ahmad).

    Apa yang telah disebutkan di atas tadi hanyalah sedikit contoh dari hal-hal yang membangkitkan gairah orang-orang beriman. Artikel ini terlalu terbatas untuk menyebutkan semua rincian tentang hal-hal yang diperhatikan oleh orang-orang beriman. Cakrawala pandangan mereka luas, dan kemampuan refleksi mereka juga kuat. Kesenangan yang tidak pernah dialami oleh orang-orang kafir adalah karunia besar yang dianugerahkan kepada orang-orang beriman.

    Cinta dan Persahabatan

    Kebanyakan orang mengeluh karena tidak dapat menemukan cinta dan persahabatan sejati di sepanjang hidup mereka dan benar-benar merasa yakin bahwa adalah hal yang mustahil untuk mendapatkannya. Hal ini memang benar bagi mereka yang hidup di tengah-tengah masyarakat jahiliah, yang tidak pernah meraih cinta dan persahabatan sejati, oleh karena rasa kasih sayang yang mereka berikan satu sama lain sering kali adalah karena dorongan kepentingan. Begitu mereka tidak lagi mendapatkan keuntungan-keuntungan yang dapat diraih, keakraban yang selama ini mereka anggap sebagai cinta atau persahabatan pun berakhir.

    Orang-orang yang mengalami cinta dan persahabatan sejati serta menjalaninya dengan makna yang sesungguhnya adalah orang-orang beriman. Alasan utamanya, sebagaimana dinyatakan di muka dalam buku ini, adalah karena mereka mencintai satu sama lain, bukan karena mencari keuntungan, namun hanyalah semata-mata karena orang-orang yang mereka cintai itu adalah orang-orang yang memiliki iman yang tulus dan taat.

    Apa yang membuat seseorang dicintai dan memiliki daya tarik untuk dijadikan teman adalah karena ketakwaannya kepada Allah, dan kesalehannya yang telah membuat seseorang hidup dengan nilai-nilai al-Qur’an secara cermat.

    Seseorang yang hidup dengan nilai-nilai al-Qur’an juga mengetahui karakteristik-karakteristik apa saja yang mesti dimilikinya agar dapat dijadikan sebagai seorang teman yang berharga, dan dia pun mengambil karakteristik-karakteristik ini sesempurna mungkin. Dan demikian pula, ia pun dapat mengapresiasi karakteristik-karakteristik yang dapat dikagumi pada orang lain dan dapat mencintai dengan sesungguhnya.

    Selama pemahaman mengenai hal ini senantiasa ada dan nilai-nilai Qur’ani meliputi diri mereka, kebahagiaan yang diperoleh dari cinta dan persahabatan tidak pernah hilang. Lebih jauh lagi, semakin orang itu memperlihatkan akhlak yang baik, kesenangan dan kebahagiaan yang mereka dapati dari cinta dan persahabatan pun senantiasa meningkat.

    Tatkala mereka saling memperhatikan satu sama lain sifat-sifat khas yang ada pada diri orang-orang beriman, tanda-tanda adanya iman dan nurani, ketulusan, ketakwaan kepada Allah dan kesalehan, maka gairah mereka pun semakin tumbuh subur. Gairah mereka terasa terbangkitkan karena berada di tengah-tengah lingkungan orang-orang yang mendapat keridhaan dan kasih sayang dari Allah serta senantiasa cenderung untuk berusaha meraih kedudukan yang tinggi di akhirat kelak.

    Begitulah, mereka merasa bahagia bersahabat dengan orang-orang yang oleh Allah sendiri telah dijadikan sebagai para kekasih-Nya.

    Oleh karena kecintaan di antara mereka dilandasi oleh sebuah pemahaman tentang persahabatan yang kekal selamanya, maka kecintaan itu tidak akan berkurang atau berakhir dengan adanya kematian. Sebaliknya, justru makin kekal secara sempurna.

    Dari aspek inilah pemahaman tentang cinta bagi orang-orang beriman berbeda dengan pemahaman masyarakat jahiliah. Cinta dan persahabatan pada masyarakat jahiliah tidak dilandasi niat untuk senantiasa bersama selama-lamanya, maka mereka pun tidak dapat mempraktikkan konsep-konsep kesetiaan, kepercayaan, dan amanah yang sejati.

    Jika dua orang yang mengaku sebagai kawan membuat suatu syarat khusus yang melandasi persahabatan mereka, maka itu berarti mereka dapat mengakhiri pertemanan mereka kapan saja. Kedua belah pihak yang menyadari adanya kemungkinan ini pun lalu bersikap saling hati-hati satu sama lain dan merasa tidak nyaman.

    Kehatian-hatian merusak ketulusan, dimana hal ini merupakan prasyarat dalam menjalin cinta dan persahabatan. Dalam hubungan-hubungan yang sifatnya duniawi orang-orang senantiasa memperhitungkan adanya kemungkinan berakhirnya persahabatan mereka dan, dengan demikian, mereka pun menghindari untuk menunjukkan sifat ketulusan dimana nantinya dapat membuat mereka merasa malu bila kelak keramah-tamahan ini telah berakhir.

    Di lain pihak, bagi orang-orang beriman, mereka memiliki ketulusan dan tidak pernah bersikap pura-pura. Seseorang yang berniat untuk bersama-sama dengan orang lain untuk selama-lamanya adalah seseorang yang telah memiliki komitmen untuk menunjukkan kesetiaan, cinta, dan persahabatan yang tiada putus-putusnya.

    Karakteristik istimewa mengenai cinta dan persahabatan dari orang-orang beriman ini, yaitu kesediaan untuk bersama-sama selama-lamanya, membuat mereka dapat memperoleh kebahagiaan yang besar dari kasih sayang yang mereka alami serta kegembiraan karena punya harapan untuk berada bersama-sama dengan orang-orang yang mereka cintai di surga nanti.Ini juga merupakan kesenangan, karena adanya kepastian, sehingga mereka akan bersikap setia kepada orang-orang yang mereka cintai selama-lamanya.

    Melindungi Kebenaran

    “Mengapa kamu tidak mau berperang demi membela agama Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau’.” (Q.s. an-Nisa’: 75).

    Di dalam ayat ini Allah meminta perhatian atas situasi orang-orang yang tertindas dan menunggu adanya dukungan atau sekutu. Ayat ini berkenaan dengan upaya untuk melindungi orang-orang yang tidak bersalah yang tidak mampu untuk membela hak-hak mereka sendiri, menolong mereka dan menjamin adanya keselamatan atas diri mereka sebagai sebuah tanggung jawab bagi orang-orang beriman.

    Orang-orang beriman yang memiliki kesadaran atas tanggung jawab-tanggung jawab mereka merasakan adanya hasrat dan keinginan yang sangat besar untuk menyelamatkan orang-orang yang tertindas hanya karena mereka beriman kepada Allah. Mereka memiliki nurani dan pemahaman yang tepat tentang keadilan, maka mereka pun tidak pernah mau memaafkan adanya penindasan terhadap orang-orang yang tidak bersalah; maka, mereka pun memberikan dukungan secara moral dan material. Untuk tujuan inilah gairah dan semangat mereka memberikan keberanian dan kekuatan yang sangat besar kepada mereka.

    Allah juga meminta tanggung jawab kepada orang-orang beriman untuk memerangi kemungkaran dan mencegahnya, dimana hal ini menambah semangat mereka. Memerangi kemungkaran, menghapuskan tirani dari muka bumi, dan mewujudkan perdamaian serta kesejahteraan adalah termasuk diantara perbuatan-perbuatan yang paling mulia dan luhur bagi kemanusiaan.

    Mengenai pentingnya memenuhi tugas untuk mencegah kemungkaran ini dinyatakan di dalam al-Qur’an:

    “Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (Q.s. al-A’raf: 165).

    Di dalam al-Qur’an banyak nabi yang disebutkan karena semangat dan keteguhan mereka dalam membela kebenaran dan memerangi kemungkaran. Nabi Musa a.s. misalnya, telah berjuang keras untuk menyelamatkan Bani Israel dari tirani Fir’aun. Dalam al-Qur’an, Fir’aun digambarkan sebagai “Berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.” (Q.s. Yunus: 83). Dia telah memperbudak bangsa Mesir, membunuh anak laki-laki mereka dan menistakan anak-anak perempuan mereka.

    Allah mewahyukan kepada Nabi Musa a.s.:

    “Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dan katakanlah: ‘Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israel bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk’.” (Q.s. Thaha: 47).

    Maka beliau pun mendatangi Fir’aun dan memintanya untuk menghentikan tiraninya atas bangsanya dan membiarkan mereka untuk meninggalkan Mesir bersamanya.

    Ayat ini memberikan contoh betapa Nabi Musa a.s. memikul tanggung jawab untuk melindungi bangsanya, dan untuk inilah ia berjuang tiada henti selama bertahun-tahun hingga akhirnya tirani Fir’aun pun tamat riwayatnya. Selain itu, beliau pun berjuang untuk memperkuat moral bangsanya, dan dengan sabar menyeru mereka agar memohon pertolongan kepada Allah. Sungguh, sebagai hasil dari semangat dan keteguhan yang diperlihatkannya, Allah pun memberikan kemenangan kepada beliau dan para pengikutnya atas diri Fir’aun.

    Sebagaimana diungkapkan oleh contoh-contoh semacam ini, orang-orang beriman senantiasa berada pada pihak yang benar, yaitu berada bersama-sama dengan orang-orang yang memiliki kasih sayang, toleransi, sikap siap membantu dan rela berkorban ketika menghadapi orang-orang yang melakukan keangkara-murkaan, tidak adil, dan mementingkan diri sendiri. Mereka senantiasa berjuang untuk menghentikan tirani para penindas dan membebaskan mereka yang tertindas.

    Dalam melakukan hal ini, mereka merasakan gairah dan kebahagiaan karena dapat memenuhi perintah Allah. Dan melalui amal kesalehan ini mereka menerapkan keadilan yang disukai oleh Allah, mendengarkan suara hati nurani mereka, hidup dengan nilai-nilai Qur’ani, dan menjaga keselamatan orang-orang yang tidak berdosa. Maka mereka pun memperoleh kebahagiaan dari semua amal kebajikan ini dan pahala-pahala yang mereka terima.

    Komitmen dari orang-orang beriman dalam masalah ini meningkatkan akhlak mereka. Badiuzzaman (Said Nursi) memberi tahu akan fakta bahwa mereka yang memikul tanggung jawab besar dengan niat untuk memperoleh keridhaan Allah akan mencapai kematangan moral: “Manakala seseorang punya komitmen pada dirinya sendiri dengan tujuan-tujuan yang mulia, maka amal-amalnya pun menjadi semakin ikhlas. Dan ketika ia melakukan amal-amal yang semakin banyak demi kepentingan kaum muslimin, maka dia sendiri mencapai kematangan moral.”1

    Ibadah

    Bagi orang-orang beriman mencari keridhaan dan kecintaan Allah merupakan suatu hal yang mendapat prioritas atas segala hal lainnya. Dengan demikian, sepanjang hayatnya mereka terus menerus mencari jalan untuk makin mendekatkan diri kepada-Nya. Allah telah memerintahkan:

    “Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (Q.s. al-Ma’idah: 35).

    Orang-orang beriman memandang bahwa menjalankan kewajiban-kewajiban ibadah yang diperintahkan di dalam al-Qur’an adalah termasuk sarana yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah. Meskipun demikian, mereka menyadari bahwa hanya melakukan hal ini saja tidaklah cukup, dan yang lebih penting lagi adalah adanya keikhlasan dan semangat yang dirasakan oleh seseorang ketika sedang beribadah.

    Sesungguhnya, Allah telah menyatakan bahwa daging dan darah dari hewan-hewan korban itu tidak akan sampai kepada-Nya namun ketakwaan dari orang-orang yang berkorban itulah yang akan sampai kepada-Nya:

    “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.s. al-Hajj: 37).

    Kesadaran atas fakta ini mengarahkan orang-orang beriman untuk menyibukkan diri di dalam amal-amal saleh dengan penuh semangat untuk menjalankan suatu kewajiban dalam beribadah. Mereka memahami bahwa keikhlasan adalah sifat yang paling dihargai oleh Allah. Bahwa amal-amal yang dikerjakan dengan ikhlas karena Allah mendapat penghargaan yang besar di mata Allah, juga disebutkan di dalam sebuah Hadis Nabi Muhammad saw., di mana seorang mukmin yang baik digambarkan sebagai seseorang yang merasakan kebahagiaan ketika mengerjakan shalat, menjalankan ibadah kepada Tuhannya dengan sebaik-baiknya, dan menaati-Nya ketika sedang dalam keadaan sunyi.

    Di dalam al-Qur’an banyak diberikan contoh mengenai semangat dan gairah yang dirasakan oleh orang-orang beriman dalam menjalankan ibadah. Beberapa di antaranya akan disebutkan dalam halaman-halaman selanjutnya.

    Membaca al-Qur’an

    Di dalam al-Qur’an Allah memberikan gambaran mengenai orang-orang beriman:

    “Sesungguhnya orang-orang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri.” (Q.s. as-Sajdah: 15).

    Bersujud ketika dibacakan ayat-ayat al-Qur’an merupakan tanda adanya keimanan yang kuat dan kebahagiaan yang mereka rasakan karena menjadi hamba Allah.

    Mereka merasa sangat bersuka cita karena memiliki al-Qur’an, kitab yang diwahyukan Allah yang mencakup semua pengetahuan, dengan menyadari bahwa setiap ayat dari al-Qur’an adalah manifestasi dari kasih sayang, rahmat, dan keadilan Allah terhadap diri mereka.

    Lebih jauh lagi, mereka merasakan kebahagiaan yang sangat besar di dalam jiwa mereka karena telah diberi nikmat kesadaran yang jernih sehingga mereka dapat memahami semua itu.

    Dengan demikian, mereka pun merasa dekat kepada Allah dan merasakan adanya keterikatan yang mendalam dengan-Nya, yang memberikan mereka perasaan tenang. Di dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa orang-orang beriman menyungkur sujud, menangis karena perasaan yang mereka alami tatkala mendengarkan firman-firman Allah:

    “Katakanlah: ‘Berimanlah kamu kepadaNya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).’ Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: ‘Mahasuci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (Q.s. al-Isra’: 107-9).

    Di dalam ayat-ayat di atas Allah memberitahukan bahwa al-Qur’an, manakala dibacakan kepada orang-orang beriman, meningkatkan rasa rendah diri mereka, yaitu ketakutan dan rasa takzim mereka kepada-Nya. Dan Allah memberitahukan kepada kita bahwa para nabi pun juga menyungkur sujud, sambil menangis karena perasaan mereka ketika mendengar ayat-ayat Allah:

    “Mereka adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Q.s. Maryam: 58).

    Di dalam ayat lainnya dinyatakan bahwa kulit-kulit orang-orang beriman yang takut kepada Allah bergetar manakala mereka mendengar ayat-ayat al-Qur’an:

    “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.” (Q.s. az-Zumar: 23).

    Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah Hadis Nabi Muhammad saw. bahwa orang-orang beriman mengetahui bahwa pahala bagi mereka yang membaca al-Qur’an dan berdzikir kepada Allah adalah begitu besarnya, dan hal itu semakin menambah gairah mereka: “Bertakwalah kepada Allah, karena Dialah yang akan membuat baik semua hal yang merisaukanmu. Bacalah al-Qur’an dan senantiasalah mengingat Allah, karena dengan demikian kalian akan diingat pula di langit sana, dan akan menjadi cahaya bagimu di muka bumi ini.” (H.r. Ahmad).

    Doa

    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.s. al-Baqarah: 186).

    Allah telah menyeru semua orang untuk berdoa. Dia telah memberitahukan kepada mereka bahwa Dia lebih dekat kepada mereka dibandingkan urat leher mereka sendiri. Dia mendengar mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya, dan Dia pun akan menjawab doa-doa mereka. Kesempatan yang diberikan oleh Allah tersebut kepada manusia dan bahwa Dia menjadi saksi atas segala hal yang mereka ucapkan atau pikirkan adalah penyebab munculnya rasa suka cita bagi orang-orang beriman, rasa suka cita karena mengetahui bahwa Allah ada bersama mereka, perlindungan-Nya yang senantiasa diberikan atas diri-diri mereka, dan karunia-Nya terhadap mereka.

    Dengan alasan inilah orang-orang beriman berlindung kepada Tuhan mereka dengan perasaan yang sangat mendalam, benar-benar merasakan perlunya mendapat bimbingan dari-Nya, dan senantiasa memohon pertolongan-Nya setiap saat. Penyebab kegembiraan yang lain adalah bahwa tidak ada batas bagi mereka untuk meminta apa saja kepada Allah.

    Setiap orang berpeluang untuk memohon apa saja yang diperlukannya, baik hal itu penting atau tidak penting, yang sifatnya ruhaniah maupun material. Allah menjawab doa dari hamba-hamba-Nya sesuai dengan apa yang terbaik bagi mereka.

    Bertobat untuk Mendekatkan Diri kepada Allah

    Manusia mudah membuat kesalahan. Adalah suatu hal yang mustahil untuk mengharapkan bahwa ada seseorang yang mengetahui segala hal atau dapat melakukan apa saja dengan sempurna karena dunia ini adalah tempat di mana Allah menguji manusia.

    Manusia hanya akan tinggal sementara waktu saja di dunia, di mana dia akan memperoleh sifat-sifat yang lebih baik melalui petunjuk Tuhannya, dan kemudian akan melanjutkan perjalanannya ke akhirat, yang merupakan tempat tinggalnya yang abadi.

    Itulah sebabnya mengapa kesalahan, ketidaksempurnaan dan kegagalan adalah hal lumrah di dunia ini, dimana merupakan tempat untuk melakukan ujian. Hal yang penting adalah bagaimana caranya untuk tidak terus menerus melakukan kesalahan, namun sesegera mungkin mengikuti kebenaran begitu mengenalinya, dan meninggalkan kebiasaan buruk sebelumnya.

    Proses ini terus berkesinambungan menuju penyempurnaan, sekalipun orang-orang beriman menyadari bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang lemah dan tidak sempurna. Dengan demikian, mereka pun meminta ampunan dari Allah dan bertobat. Tobat, suatu bentuk ibadah yang penting dan diperintahkan di dalam al-Qur’an, membuat mereka merasakan kebahagiaan ruhaniah.

    Manakala orang-orang beriman melakukan kesalahan, mereka tidak memperlihatkan sikap pesimis; akan tetapi mereka merasakan adanya harapan bahwa Allah akan mengampuni mereka. Begitu mereka menyadari bahwa mereka telah melakukan suatu perbuatan dosa, mereka segera meminta perlindungan kepada Allah dan memohon ampunan-Nya.

    Allah menggambarkan karakteristik dari hamba-Nya yang ikhlas ini di dalam al-Qur’an:

    “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.s. Ali Imran: 135).

    Kabar gembira dari Allah bahwa Dia menerima tobat dari hamba-hamba-Nya yang ikhlas mendatangkan harapan dan kegembiraan. Hal ini karena hingga kematian datang kepada mereka, bahkan orang yang paling jahat pun di dunia ini memiliki kesempatan untuk menyucikan dirinya dari dosa dan memperoleh atribut untuk memasuki surga.

    Allah menggambarkan rahmat dan kasih sayang-Nya terhadap semua umat manusia sebagai berikut:

    “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Q.s. az-Zumar: 53).

    Dengan merasakan kasih sayang dan rahmat Allah kepada mereka dan mengharapkan ampunan-Nya setiap saat mereka kembali kepada-Nya mendatangkan rasa cinta dan kegembiraan yang mendalam di dalam hati orang-orang beriman.

    Menyampaikan Nilai-nilai Luhur al-Qur’an

    Allah memerintahkan dibentuknya suatu jamaah di tengah-tengah umat manusia yang menyeru kepada kebaikan:

    “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.s. Ali Imran: 104).

    Sesuai dengan seruan yang tercantum di dalam ayat ini orang-orang beriman memiliki keikhlasan, berupaya untuk menyampaikan kebaikan nilai-nilai akhlak yang terdapat di dalam al-Qur’an, menunjukkan kerusakan akhlak yang terdapat di tengah-tengah masyarakat jahiliah, dan dengan kehendak Allah, membimbing manusia ke jalan yang benar. Karena mereka sendiri sudah merasakan kedamaian dan kenyamanan dengan cara hidup yang Islami, mereka pun mengharapkan agar orang lain juga dapat mengalami hal yang sama.

    Selanjutnya, karena mengetahui bahwa neraka benar-benar ada, mereka ingin melindungi semua orang dari siksaan yang kekal dengan cara mendorong mereka untuk menjalani kehidupan yang diridhai oleh Allah, karena amal-amal seseorang di dunia ini menentukan kehidupan abadinya kelak di surga atau neraka. Bahkan keselamatan abadi bagi satu orang saja punya arti yang besar bagi orang-orang beriman.

    Dengan alasan inilah mereka punya komitmen untuk mengorbankan apa saja dalam rangka menyelamatkan seseorang dari neraka dan membimbingnya menuju ampunan dan kasih sayang Allah. Barangkali mereka akan mencurahkan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun, siang dan malam, guna membantu seseorang agar menerapkan nilai-nilai Islami yang baik.

    Demikian pula, mereka pun dengan bersemangat mengeluarkan harta kekayaannya demi hal ini. Semangat yang mereka rasakan memberikan kekuatan yang besar baik secara fisik maupun ruhani. Hingga akhir hayatnya mereka tidak pernah berhenti menyampaikan pesan-pesan Allah dengan cara yang paling baik dan paling bijaksana.

    Meskipun demikian, perlu dijelaskan bahwa sekalipun semua upaya mereka tidak mendatangkan hasil atas turunnya hidayah kepada satu orang pun, mereka tidak akan pernah merasa frustrasi karena tugas dari seorang mukmin hanyalah sekadar menyampaikan pesan, sedangkan Allahlah yang sesungguhnya memberikan hidayah kepada seseorang.

    Dari al-Qur’an kita tahu bahwa banyak penyembah berhala di Mekkah yang tidak memeluk Islam, sekalipun Nabi Muhammad saw. telah melakukan berbagai upaya dengan tulus dan sungguh-sungguh. Akan tetapi usaha-usaha yang telah beliau saw. kerjakan tadi tetap mendapatkan ganjaran, dan Allah mewahyukan kepada beliau saw.:

    “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Q.s. al-Qashash: 56).

    Di dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa semua nabi telah menunjukkan komitmen yang sama dalam menyampaikan risalah dari Tuhan mereka. Kesukaran-kesukaran yang mereka hadapi tidak pernah mematahkan semangat mereka. Bahkan sebaliknya, mereka senantiasa melakukan berbagai upaya untuk menunjukkan jalan yang benar kepada umat mereka.

    Upaya-upaya penuh semangat yang telah dilakukan oleh Nabi Nuh a.s. telah digambarkan sebagai berikut:

    “Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah berdakwah kepada kaumku malam dan siang, namun dakwah itu hanya menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku berdakwah kepada mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. Kemudian sesungguhnya aku telah berdakwah kepada mereka (untuk beriman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (berdakwah kepada) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun’.” (Q.s. Nuh: 5-10).

    Sebagaimana diungkapkan dalam ayat-ayat tadi, Nabi Nuh a.s. telah menyampaikan risalah Tuhannya dengan semangat yang tinggi untuk mendamaikan hati umatnya. Meskipun mereka selalu menolak namun beliau tidak pernah patah semangat dalam menyampaikan atribut-atribut Allah. Kendati demikian, umatnya yang berkepala batu selalu saja berpaling setiap kali mereka mendengarkan kebenaran. Karena semangat dan rasa suka cita yang dirasakannya dalam menjalankan perintah Allah untuk menyampaikan pesan-Nya, Nabi Nuh a.s. tidak mencela sikap mereka namun beliau terus saja melanjutkan tugasnya dengan keteguhan yang tiada henti.

    Meskipun umatnya menunjukkan keangkuhan, beliau berupaya mencari cara-cara lain yang memungkinkan guna melunakkan hati mereka. Niat beliau adalah untuk membebaskan mereka dari kerusakan masyarakat jahiliah dengan cara mengingatkan kepada mereka mengenai kebesaran Allah, baik secara terbuka maupun tertutup.

    Perlu diingat bahwa upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Nabi Nuh a.s. dan yang lainnya dalam menyampaikan risalah ini, dengan semangat yang tinggi dan keikhlasan, tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa ganjaran. Insya Allah, setiap kata yang disampaikan dan setiap detik yang dicurahkan di jalan-Nya akan mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda.

    “Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (Q.s. at-Taubah: 112).

    Berpikir tentang Surga

    Salah satu hal yang paling menimbulkan perasaan gembira bagi orang-orang beriman adalah surga dan karunia-karunia yang akan mereka peroleh di sana. Surga adalah tempat yang selama ini belum pernah ada dalam kehidupan dunia ini; tak ada satu pun cacat dan celanya kehidupan di sana.

    Surga diciptakan bukan sebagai ujian, sebagaimana kehidupan di dunia ini, namun adalah tempat untuk memberikan ganjaran. Lagi pula, Allah memang sengaja menciptakan dunia ini sebagai tempat yang tidak sempurna sehingga umat manusia merindukan surga dan berjuang keras untuk mencapainya. Seseorang yang berjuang untuk mencapai kesempurnaan, seumur hidupnya menginginkan surga dengan semangat yang lebih besar lagi.

    Di akhirat nanti orang-orang beriman akan bergembira karena telah diselamatkan dari siksa neraka, yang selama hidupnya mereka telah berjuang untuk menghindarinya. Pada sisi lain, mereka yang memerangi agama Allah, dan orang-orang yang mengikuti al-Qur’an, serta mereka yang menentang orang-orang beriman dan berupaya menindas mereka akan mendapatkan ganjaran yang sepadan sebagai bukti keadilan Allah.

    Bagaimana ganjaran yang akan diterima oleh orang-orang semacam ini dan kegembiraan yang dirasakan oleh orang-orang beriman tatkala mereka menyaksikannya, dinyatakan di dalam al-Qur’an:

    “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang beriman. Dan apabila orang-orang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini,(2 orang-orang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Q.s. al-Muthaffifin: 29-36).

    Fakta bahwa kelak orang-orang yang tidak beriman akan mendapatkan ganjaran yang sepantasnya dari Allah, menyembuhkan luka di hati orang-orang mukmin. Sungguh, hanya dengan memikirkan janji Allah saja sudah dapat membangkitkan rasa suka cita di hati orang-orang beriman.

    Selain itu, mengingat salam dan ucapan selamat datang dari para malaikat di surga dan betapa kedudukan orang-orang beriman akan ditinggikan di sana adalah sumber kebahagiaan utama. Mereka akan bertemu dengan malaikat-malaikat Allah yang akan mengantar mereka ke surga, tempat tinggal mereka yang abadi.

    Sementara mereka yang tidak mau mengabdi kepada Allah dalam hidupnya di dunia ini, akan berada dalam ketakutan dan kesakitan ketika disergap oleh malaikat azab, sementara orang-orang beriman diiringi oleh malaikat-malaikat rahmat berada dalam kedamaian dan keamanan.

    Harapan ini membuat orang-orang beriman merasakan kegembiraan yang luar biasa. Bagaimana mereka akan dipertemukan di dalam surga nanti digambarkan di dalam al-Qur’an sebagai berikut:

    “(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum’. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Q.s. ar-Ra’d: 23-4).

    “(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): ‘Salamun ‘alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.s. an-Nahl: 32).

    Alasan lain mengapa pemikiran tentang surga ini membangkitkan kegembiraan di hati orang-orang beriman tidak ragu lagi adalah karunia yang dijanjikan kepada mereka yang selama ini belum dapat mereka bayangkan seperti apa wujudnya. Namun yang lebih membahagiakan lagi daripada itu adalah manakala mereka mendapatkan keridhaan Allah, suatu tujuan yang selama ini sangat mereka inginkan dan perjuangkan seumur hidup mereka:

    “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin(3 dan Anshar(4 dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (Q.s. at-Taubah: 100).

    Dalam ayat di atas Allah memberikan kabar gembira bahwa Dia akan meridhai orang-orang yang dimasukkan-Nya ke dalam surga. Demikianlah, ditekankan di dalam al-Qur’an bahwa karunia terbesar di dalam surga adalah keridhaan Allah:

    “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (Q.s. at-Taubah: 72).

    Selain itu, Allah memberikan kabar yang lebih baik lagi kepada orang-orang beriman mengenai karunia surga:

    “Salam, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (Q.s. Yasin: 85).

    Dan ini adalah ganjaran terbaik bagi perjuangan tulus yang telah dilakukan oleh orang-orang beriman sepanjang hidup mereka.

    Orang-orang beriman juga merasakan kegembiraan manakala memikirkan betapa indahnya surga, dimana jauh dari apa yang dapat dibayangkan oleh manusia, sekalipun sudah banyak diberikan gambaran yang rinci di dalam al-Qur’an. Allah telah berfirman bahwa di sana nanti terdapat banyak keindahan dan karunia yang selama ini pernah diinginkan oleh jiwa manusia atau yang selama ini dapat dibayangkannya.

    Cakrawala pandang manusia di dunia ini terlalu terbatas untuk dapat memberikan gambaran yang sepenuhnya mengenai berbagai macam karunia abadi tadi. Sungguh, surga dipenuhi dengan hadiah-hadiah mengejutkan yang tiada henti-hentinya bagi orang-orang beriman. Memikirkan hadiah-hadiah mengejutkan ini saja dan mengetahui bahwa mereka dengan izin Allah akan hidup kekal selamanya membuat mereka merasa sangat berbahagia.

    Bahkan sejak sekarang pun orang-orang beriman telah mengetahui karunia-karunia tertentu di surga, karena telah mendapatkan gambaran-gambaran dari al-Qur’an. Misalnya, orang-orang beriman mengetahui bahwa kelak mereka akan bersama-sama dengan kawan-kawan dan orang-orang yang mereka cintai. Mereka akan berkawan dengan para nabi, syuhada, siddiqin, dan orang-orang saleh terdahulu dan akan mendapatkan penghormatan menjadi sahabat-sahabat orang-orang suci yang diridhai oleh Allah.

    Mereka akan menemui cinta dan persahabatan sejati di sana, dan tidak akan pernah merasa bosan.

    Setan tak akan dapat mendekati para penduduk surga; ia akan dilemparkan ke dalam siksaan yang abadi di dalam api neraka, maka di surga nanti setiap orang akan memiliki sifat-sifat yang baik, tulus, dan jujur di hadapan Tuhan mereka. Di sana tidak akan dijumpai akhlak-akhlak buruk yang ada pada masyarakat jahiliah (seperti kebencian, kemarahan atau dengki); semua sifat-sifat jelek ini akan hilang untuk selama-lamanya.

    Di surga nanti tidak akan ada kesulitan-kesulitan seperti yang terdapat di dunia ini. Mereka tidak perlu cemas atas rencana-rencana jahat dari orang-orang munafik. Orang-orang beriman akan diangkat derajatnya selama-lamanya, hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan di tengah-tengah kenikmatan apa pun yang diinginkan oleh nafsu mereka.

    Semua orang akan diciptakan dengan bentuk yang sempurna dan dibebaskan dari segala macam cacat. Bentuk tubuh mereka elok, memiliki perasaan saling menyayangi dan berusia setara. Hukum-hukum alam yang berlaku sebagaimana di dunia ini tidak lagi berjalan; suatu kehidupan baru dengan kenikmatan-kenikmatan baru telah tersedia untuk mereka yang imannya terjamin.

    Selain itu, surga adalah sebuah tempat yang berisi kemegahan-kemegahan fisik seperti mahligai-mahligai, pohon-pohon yang senantiasa berbuah dan mudah dipetik, sungai madu, dan keindahan-keindahan yang menarik hati lainnya.

    Lebih dari itu, “keabadian”, sebuah konsep yang dalam pikiran manusia sulit untuk dibayangkan, berlaku di surga. Kehidupan di surga tidak hanya terbatas selama ratusan, ribuan, miliaran, atau triliunan tahun … namun kehidupan di sana adalah kehidupan yang kekal abadi.

    Manusia tidak akan merasa letih dan jenuh tinggal di sana, dan ia akan merasakan kesenangan yang besar selama-lamanya dalam setiap saat yang dilewatinya.

    Memikirkan tentang kenikmatan-kenikmatan ini, sementara dirinya masih berada di dunia, dan harapan untuk mencapai surga merupakan sumber semangat dan hasrat utama orang-orang beriman. Dengan rangsangan untuk memperoleh kenikmatan-kenikmatan tersebut, mereka menjadi semakin bergairah dan melakukan upaya-upaya yang lebih banyak untuk menjadi hamba-hamba Allah yang layak menjadi penghuni surga. Sebagaimana digambarkan di dalam al-Qur’an, mereka berlomba-lomba satu sama lain dalam melakukan amal kebajikan dan berjuang untuk menjadi pemenang terbaik untuk mendapatkan “surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Q.s. Ali Imran: 133).

    ***

    1 The Rules of Struggle, hlm. 45.

    2 Pada hari pengadilan

    3 Mereka yang berhijrah dari Mekkah dan tinggal di Madinah karena Islam.

    4 Penduduk Madinah yang telah memeluk Islam dan menolong Rasulullah saw. dan para sahabatnya yang berhijrah ke sana.

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 11 October 2015 Permalink | Balas  

    Jauhi Siksaan Kematian 

    berapa-lama-kita-dikuburJauhi Siksaan Kematian

    Written by Taufikmalin.

    Allah yang Mematikan dan menghidupkan. Allah meminta pertanggung jawaban atas tugas-tugas yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Al Qur’an adalah buku petunjuk untuk  menjalankan tugas-tugas. Nabi Muhammad saw adalah seorang manusia biasa  sebagai teladan.  Manusia demikian asyiknya dengan kehidupannya sehingga ia lupa bahwa dari hari kesehari,dari saat ke saat, ia makin mendekati MAUT.

    Maut tidak mengenal besar kecil, tua muda,miskin kaya, pangkat tinggi rendah, semua akan didatangi maut, kalau ajal sudah tiba. Inilah suatu kepastian yang tidak dapat diingkari, bahwa pada suatu hari, besok atau lusa, sebulan atau setahun, atau beberapa tahun lagi tiap diri yang hidup harus merasakan MATI.

    Dari Al Qur’an kita dapat tahu, bahwa “tiap2 yang bernyawa akan merasakan mati” (QS 29:57). Tidak mungkin dapat diperlambat atau di percepat dengan jalan apapun, sebagaimana dijelaskan dalam Al qur’an (QS.4:78).

    Kita disuruh untuk datang melayat kerumah keluarga atau teman yang meninggal dengan maksud , selain hubungan silaturrahmi, juga untuk mengingatkan bahwa kita suatu waktu akan mati.

    Kita melihat mayat terhantar didepan kita, masih cukup lengkap dengan anggota badannya, lengkap dengan panca indra di kepalanya, tetapi semua itu sudah tidak bergerak lagi, semua sudah sunyi, walaupun ia diseru oleh orang yang dikasihinya.

    Keluarga tidak hendak bercerai dengan dia, tetapi sebentar lagi badannya akan menjadi busuk, tidak mau disimpan lagi, harus lekas lekas dikuburkan.

    Inilah akhir dari perjalanan hidup manusia dan tidak akan pernah kembali !

    Dengan melayat ketempat orang meninggal,diharapkan timbul Keinsyafan dan kesadaran, agar sisa hidup yang masih tinggal supaya kita pergunakan sebaik baiknya, semanfaat faatnyauntuk manusia disekeliling kita. dengan berbuat baik, menolong, dan berkarya yang bermanfaat, serta sering beristigfar kepada Allah atas dosa 2 yang disengaja tau tidak sengaja.

    Janganlah!.kita seperti binatang korban; kambing atau lembu waktu hari Raya Haji, kitika kita melihat kambing disembelih, merintis kesakitan, tapi teman2nya yang berada  disampingnya, acuh tidak acuh saja dan tidak takut, sedangkan sebentar lagi giliran mereka mau di sembelih.

    Mereka tidak sedikit merasa takut akan disembelih dan tidak berusaha untuk menghindari malapetaka kesakitan yang akan menimpanya.

    Apakah kita yang berakal demikian pula…? Apakah tidak merasa takut akan sikasaa mati..?

    Sarat untuk dapat berjumpa dengan Allah di  syurga adalah;

    “beriman dan berbuat baik,berkarya bermanfaat, untuk orang banyak, serta tidak sirik dalam berbuat baik. Berhati bersih. Dan terakhir mohon maaf dan mohon rahmat Allah swt.

    Kalau punya kekayaan harta dan uang, lebih baik digunakan untuk menolong orang, akan menjadi pahala untuk keakhirat, dari pada menyimpan dan menumpuk harta dirumah dan di Bank.

    Sebab Al quran mengatakan bahwa harta dan anak istri mu tidak akan dapat menolong mu untuk masuk syurga.

    Kalau tidak punya harta, tapi mempunyai  pemikiran dan tenaga lebih baik dipergunakan untuk menolong famili dan orang banyak sebagai amal saleh yang dapat untuk menolong kita ke syurga. sebab ilmu dan kesehatan baik kalau tidak dimanfaatkan untuk kebaikan orang banyak tidak akan menjadikan pahala.Ilmu akan ikut bersamanya kekubur.

    APAKAH YANG AKAN TERJADI SETELAH MANUSIA MATI.?

    Jasmani atau tubuh yang sudah ditinggalkan “ROH” akan kembali ke tanah. Jasmani yang terdiri dari CEL CEL sudah tidak berarti apa apa lagi, akan membusuk dalam udara terbuka, oleh sebab itulah Islam menentukan jenazah harus lekas di kuburkan. Cel cel yang terdiri dari zat2 kimia,akan kembali dan bergabung ke-masing2 zat. Zat Ca. kembali ke zat Ca, zat asam kembali ke zat asam, air akan bergabung kembali ke air dst.

    Roh yang sudah berpisah akan kembali ke alam “Barzach” menunggu sampai hari kebangkitan, dimana “sangkala dibunyikan” dan semua bangkit dari kubur.(QS.36:51).

    Apa yang terjadi sewaktu Roh berpisah dari tubuh..? Waspadalah apabila nyawa telah sampai mendekati kerongkongan…! Keluarga berkata; siapakah yang dapat menolong nya dari sensara kematian ini…??? Diapun yakin bahwa peristiwa itu adalah sa’at perpisahan dengan dunia dan kemewahan.

    Maka bertautlah betis kanan dan betis kira.. Pada hari itu kamu dihalau menghadap Tuhan mu..! (QS 75:26-30)

    Dari Al Quran kita dapat mengetahui bahwa manusia2 yang dhurhaka dan tidak mengikuti paraturan Allah swt, Malaikat datang memukul mukul muka dan punggung mereka dan mengatakan; tanggunglah siksaan hukum Allah kepada diri mu. (QS 8:50).

    Orang orang yang melawan akan peringatan2 Tuhan, sejak dari dunia sudah disiksa, dan waktu roh berpisah juga sudah disiksa dengan pukulan pukulan keras dari Malaikat.Apalagi siksaan2 dikubur dan di Neraka.

    Inilah peringatan Allah kepada manusia yang menentang Allah.

    1. Quran memberitahukan, bagaimana tersiksanya isi Neraka dengan buah buah panas, dan berduri,minuman air mendidih dam kotor, duduk diatas api yang menyala, setiap kulit yang terbakar dan terkupas diganti dengan kulit baru yang lain..(terjemahan umum.) (QS 4:56) (74:29)

    2.”Pada hari penyesihan (hari pertanggungan jawaban) itu adalah suatu waktu tertentu, pada hari ditiupkannya “sangka kala, kamu akan datang ketempata perhentian secara berkelompok kelompok dan langit pun dibuka, makaterdapatlah beberapa pintu.

    Sedangkan gunung2 digusur sampai jadi fata morgana sesungguhnya Jahanam itu adalah pos-jaga tempat melakukan pemeriksaan oleh penjaganya dan untuk tempat kembali bagi orang orang yang dhurhaka (melampaui batas).mereka tinggal didalamnya ber abad abad lamanya.

    Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak pula mendapat minuman selain air yang mendidih dan nanah sebagai balasan yang setimpal.!!

    3…Dalam kubur kamu akan melihat dengan yakin akan neraka jahanam yang panas, yang kemudian kamu akan ditanya akan perbuatan2 kamu dengan harta,pangkat dan anak2 istri yang kamu miliki sementara. (QS. 102:1-8) (terjemahan umum)

    4.Sesungguhnya orang orang yang takut kepada Allah (mematuhi aturan2 Allah ) mendapat keberuntungan berup kebun-buah2an dan anggur pilihan dll.(QS.78 :31-33).

    1. Adapun bagi orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan mampu menahan dirinya dari hawa nafsunya.(QS79:40)

    Perlu kita renungkan peringatan2 Allah di atas, seharusnyalah kita merasa insyaf dan sadar,bahwa kita akan mati dan berpisah dengan sanak famili dan harta di dunia untukselama lamanya.

    Hendaklah kita merasa takut akan azab Allah yang pedih, baik waktu mati,waktu dalam kubur dan Neraka. Janganlah kita seperti binatang Domba yang mau disembelih  yang acu tidak acu saja akan kematian yang menimpa diri sendiri.

    Marilah kita berdoa kepada Allah swt

    Yaa Allah yaa Tuhan kami, ampunilah dosa dosa kami, baik yang kecil maupun yang besar, sengaja atau tidak sengaja, kelalaian dan ketaktahuan kami, berilah kami kekuatan bimbingan agar kami dapat melakukan perbuatan2 baik , pembicaraan-  pem bicaraan yang bermanfaat, jauhilah kami dari siksaan kematian,siksaan dalam kubur dan neraka yaa Allah. Kami takut yaa Allah, kepada siapa lagi kami mohon pertolongan kalau bukan kepada Mu, yang Berkuasa dan Maha Penyayang. yaa Allah yaa Tuhan kami. Amin.

    Terimakasih, semoga ada manfaatnya, kalau ada kesalahan mohon dimaafkan dan kalau ada yang benar itu datang dari Allah swt.

    Wabilahit taufik walhidayah

    Wassalamu’alaikum wr wb

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 10 October 2015 Permalink | Balas  

    Istri Shalihah Yang Ku Dambakan 

    istri solekhahIstri Shalihah Yang Ku Dambakan

    Oleh: Indra Subni

    “Baiti jannati” itulah untaian kata indah yang keluar dari bibir mulia Rasulullah SAW, dalam mengilustrasikan kehidupan rumah tangga beliau yang sakinah mawaddah warohamah dan penuh kebahagiaan.

    Kebahagiaan dalam rumah tangga seorang muslim tidaklah didasari oleh harta dan kecantikan semata, walau tak dapat dipungkiri, kalau keduanya merupakan salah satu faktor penunjang.

    Kalau kita cermati lebih lanjut dan menghayati kehidupan rumah tangga Rasul SAW, kita akan menemukan dua faktor utama yang menyebabkan rumah beliau seperti syurga. Dua faktor tersebut adalah suami shaleh dan istri yang shalehah, kenapa??, karena keduanya orang yang paham betul bagaimana cara membahagiakan pasangan hidupnya.

    Suami shaleh adalah seorang suami yang selalu ingat bahwa Allah memerintahkannya agar ia mempergauli istrinya dengan baik dan ia tahu bahwa istri merupakan amanah yang dititipkan Allah kepadanya, karenanya, membahagiakan istri merupakan ibadah baginya.

    Demikian pula dengan istri yang shalehah, ia mengerti betul bahwa ketaatannnya kepada suami adalah perintah Rasul dan merupakan ibadah yang dijanjikan pahala oleh yang Maha Pengasih. Begitulah, suami yang shaleh dan istri shalehah apabila mereka berdua saling mencintai maka keduanya akan selalu berusaha merealisasikan cinta tersebut dengan saling membahagiakan pasangannya. Namun jika keduanya tidak saling mencintai (kayaknya nggak mungkin, ya!!??) atau salah seorang diantara keduanya tidak mencintai yang lain atau pada saat-saat kesel dan sebel, niscaya mereka tidak akan menyakiti satu sama lain.

    Pada kesempatan kali uraian lebih menitik beratkan pembahasan tentang wanita shalehah tanpa mengurangi eksistensi pria shaleh, karena pada prinsipnya mereka mempunyai tuntutan dan pahala yang sama. Allah berfirman : “Barang siapa yang mengerjakan amalan-amalan shaleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk kedalam syurga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. (Qs 4 : 12). Lihat juga firman Qs 9 : 71 dan Qs 33 : 35.

    Rasulullah SAW sangat menganjurkan kepada para pemuda agar mereka lebih mempriorotaskan memilih dzaatuddin (baca : wanita shalihah) untuk dijadikan pendamping hidupnya. Beliau bersabda yang artinya : “Wanita dinikahi karena empat perkara : “karena hartanya, kecantikannya, nasabnya dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama (shalehah) niscaya engakau akan bahagia”. (Muttafaqun Alaih)

    Wanita shalihah?.. Ia merupakan sosok makhluk lembut yang menjadi idaman bagi setiap muslim yang shaleh. Karena pada dirinya terdapat perhiasan terindah di dunia ini sebagaimana disinyalir oleh Sang pembawa kabar gembira Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang artinya : “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita shalehah”. Lantas seperti apasih wanita shalehah itu???. Untuk mengetahui jawabannya baca aja terus, promosi nich. J

    Wanita shalehah adalah wanita yang benar-benar mengahambakan diri kepada Allah dan beribadah hanya kepadaNya. Ia menjauhkan diri dari perbuatan syirik baik kecil apalagi besar, tidak menyembah kecuali kepada Allah, tidak minta kepada kuburan atau pohon beringin, tidak memberi sesaji kepada Ratu Laut Selatan atau ratu-ratu lainnya, tidak kedukun, nggak make jimat dan banyak lagi perbuatan syirik yang dapat meluluh lantakan amal shaleh Allah berfirman yang artinya : “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada Nabi-nabi sebelummu : “Jika k amu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tetulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sambah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.

    Lebih gawat lagi Allah tidak akan mengampuni dosa syirik sebagaimana termaktub dalam firmanNya yang artinya : “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa selain dari syirik itu bagi siapa saj yang di kehendakiNya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka ia telah tesesat sejauh-jauhnya”.(QS 4 : 116)

    Wanita shalehah adalah wanita yang taat, patuh dan berbakti kepada kedua orang tuanya, Allah SWT menyelaraskan perintah beribadah hanya kepadanya dengan perintah berbuat baik dengan orang tua. Perhatiakan firman Allah dalam Qs Al-Israa’ ayat 23-24 yang artinya : “Dan Tuhanmu telah memrintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka da n ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. Lihat juga Qs 31 : 13-15

    Wanita shalihah adalah wanita yang menjadikan shalat sebagai kebahagian tersendiri baginya, seperti yang dilalkukan oleh idolanya, Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa’i dari Anas Ra : “Dan kujadikan shalat sebagai permata hatiku”. Ia tidak lalai mendirikan shalat tepat pada waktunya, khusu’ dalam shalat-shalatnya, gemar berpuasa dan bersedekah, sungguh- sungguh dalam do’anya antara takut dan penuh harap.

    Wanita shalehah?.. Jilbab adalah pakaiannya, busana muslimah yang menutup rapat seluruh auratnya, pakaian yang disyariatkan oleh Sang Penguasa jagad raya kepadanya. Allah berfirman yang artinya : “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin : “hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Jilbab adalah syi’ar islam, hanya jilbab yang menjadi pembeda antara muslimah dan wanita kafir di tempat umum. Wanita shalehah tahu apapun yang disyari’atkan Allah kepada manusia, tidak lain untuk kebaikan mereka.

    Wanita shalehah?. Dalam dirinya terkumpul kebaikan akhlak, adab baginya lebih baik dari zahab (emas), penghias bibirnya adalah zikrullah dan bacaan Al-Qur’an, pemerah pipinya adalah rasa malu, eye shadawnya gahdul bashar dan ia selalu menjaga kesuciannya sebagai aplikasi dari firman Allah yang artinya : “Katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudungnya kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasanya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudar-saudara leleki mereka, atau putra- putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (Qs 24 : 31).

    Ia juga menjaga dirinya dari sentuhan laki-laki yang bukan muhrim, baik melalui bersalaman apalagi diraba-raba. (Iiii ngeriii).Rasul SAW bersabda yang artinya : “Sekiranya ditusukkan jarum besi ke kepala salah seorang diantara kamu, itu lebih baik dari pada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (HR At-Thabroni dan Baihaqi dari mi’qol bin yasaar)

    Wanita shalehah adalah wanita yang terdidik dengan tarbiyah islamiyah, terus memperdalam ilmu syar’i, aktif dalam kegiatan dakwah beramar makruf nahi mungkar.

    Wanita shalehah.?. Ia senantisa berusaha menghindari ikhtilat, berkhalwat, apalagi pacaran. Pacaran? makhluk apaan tuh????. Tidak la yau. Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “‘Tidaklah laki-laki dan perempuan berkhalwat (berdua-duaan) kecuali yang ketiganya adalah setan”.(Hr Tirmizi)

    Wanita shalehah?. Hari-hari libur dari ritualnya ia ganti dengan hal-hal yang bermanfaat, membaca buku-buku islam, mendengar kaset-kaset ceramah, memperbanyak sedekah dan lain sebagainya.

    Pendeknya, wanita shalehah adalah sosok wanita yang taat melaksanakan perintah Allah, sungguh-sungguh terhadap kewajiban dan hirs terhadap nawafil, sehingga ia dapat menggapai cintaNya sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits qudsy yang dirwayatkan oleh Imam Bukhary dari Abi Hurairah yang artinya : “Rasul bersabda : “Allah berfirman : “Barang siapa yang menjadikan selain Ku sebagai sekutu, Aku telah mengizinkan agar ia diperangi, tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih dari yang Aku wajibkan, dan hambaku itu selalu mendekatkan diri kepadaKu dengan nawafil (amalan sunnah) sehingga Aku mencintainya, apabila Aku telah mencintainya, Akulah pendengaranya yang ia gunakan untuk m endengar dan pengelihatannya yang ia gunakan untuk melihat dan tangannya yang ia gerakan dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan, apabila ia meminta kepadaKu niscaya Aku beri dan apabila ia meminta perlindungan niscaya Aku lindungi (Hr Bukhary)

    Dan meninggalkan laranganNya, berusaha menghindari yang makhruh dan sungguh-sungguh menjauhi yang haram. Namun bukan berarti ia tak pernah melakukan kesalahan dan dan luput dari perbuatan dosa, tidak, karena tidak ada di muka bumi ini orang yang tak penah berdosa sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW yang artinya : “Setiap anak Adam pernah melakukan perbuatan dosa, dan sebaik-baiknya orang yang yang berbuat dosa adalah orang-orang yang bertaubat”. Sebagai manusia biasa, ia terkadang terjerumus pada perbuatan maksiat, akan tetapi ia akan cepat bertaubat dari kesalahannya tersebut dan bersegera menuju ampunan Allah sebagaimana termaktub dalam firmanNya yang artinya : “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapalagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Qs 3 : 135).

    Seluruh hari-harinya adalah ibadah, praktis dari bangun tidur sampai tidur lagi dipenuhi dengan ibadah, no time withouth ibadah begitulah mottonya. Maka jadilah ia seorang muslimah yang berakidah bener, ibadah seeur, akhlak bageur, berbadan seger dan otaknya pun pinter. So pemuda muslim akan ngiler, trus ngincer untuk selanjut nguber. Nah lho…..

    Wanita shalehah?. Ketika di khitbah oleh seorang muslim yang shaleh dan multazim, ia tidak menolaknya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “Jika datang kepadamu (mengkhitbah) orang yang kamu ridha dien dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia, bila tidak, akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar”. Ia memprioritaskan dua syarat dien dan akhlak, namun tidak terlalu ghulu (berlebihan) dalam menyaring dan menentukan pilihan, sebab ia tahu tidak ada orang zaman sekarang yang imannya setaraf dengan Abu Bakar atau Umar. Cukuplah baginya pemuda yang shaleh dan multazim, itulah yang ia nantikan.

    Suami?, ah gadis mana yang tidak mengenangkan suami, pendamping dan pasangan hidup, yang akan memberikan kebahagiaan dan keceriaan? Rasanya semua gadis mengimpikannya. Akan dinantinya saat-saat kedatangan sang pujaan hati dengan debar bahagia di dada, dengan rona memerah dipipi, terlambunglah angan dan teruntailah harapan : “Akankah kumiliki suami idaman nan shaleh?, suami yang dapat dijadikan tempat berbagi, tempat belajar, tempat mencurahkan isi hati , tempat bermanja, juga tempat menyerahkan ketaatan agar tercapai ridha Ilahi, suami yang menjadi qowam yang dapat menggandeng tangan pasangannya menuju syurga Allah, suami yang menjadi teladan, suami yang menjadi pendidik, suami yang menjadi kecintaan, aah pantas kiranya tak boleh sembar angan memilih suami?…

    Wanita shalehah?.. Saat memasuki jenjang pernikahan, terbetik azam dalam hatinya, untuk mengoptimalkan diri dalam mencurahkan ketaatan kepada suaminya, terngiang di telinganya nasehat seorang ibu Umamah binti Harits kepada putrinya dimalam pernihkahan sang putri tercinta : “Wahai putriku tersayang? Sesungguhnya nasehat ini jika ditinggalkan karena keagungan adab maka kutinggalkan ia untukmu. Nasehat ini merupakan peringatan bagi orang yang lalai (lupa) dan petunjuk bagi yang berakal, jika seorang wanita tidak butuh terhadap pernikahan, niscaya kedua orang tuanya lebih tidak membutuhkannya, akan tetapi keduanya sangat membutuhkannya, karena wanita diciptakan untuka lelaki dan laki-laki diciptakan untuk wanita. Putriku sayang? kini engkau akan berpisah dari udara dan dunia remaja yang akupun telah melaluinya. Kini engkau akan menjalani hidup baru yang juga pernah kujalani, menuju kehidupan yang belum engkau ketahui dan teman yang belum engkau pahami, dia akan menjadi raja dan pelindung bagimu. Jadilah engkau budaknya, niscaya dia akan menjadi budak yang dekat denganmu, ingat dan peliharalah sepuluh point yang akan menjadi modal dan simpanan bagimu.

    Yang pertama dan kedua adalah : Tunduk berkhidmat kepadanya disertai dengan qona’ah. Memperhatikan ucapannya disertai dengan to’ah (taat).

    Yang ketiga dan ke empat : menjaga persaan mata dan hidungnya, jangan sampai matanya melihat sesuatu yang jelek darimu dan jangan tercium olehnya kecuali sesuatu yang harum dan wangi.

    Adapun yang kelima dan enam : perhatikanlah watu makan dan tidurnya, karena rasa lapar dapat menimbulkan emosi dan kurang tidur bisa mengundang amarah.

    Yang ke tujuh dan delapan : menjaga hartanya serta menaruh hormat terhadap keluarganya, aturlah hartanya dengan baik dan pergauilah keluarganya sebaik mungkin.

    Dan yang ke sembilan dan sepuluh : jangan engkau maksiat dan menentangnya, jangan pula engkau beberkan rahasianya, bila engkau menentangnya maka engkau telah mengobarkan kemarahannya dan jika engkau membeberkan rahasianya niscaya engkau tidak akan merasa aman akan kepergiannya. Kemudian jangan sampai engkau menampakkan kegembiraan jika ia sedang bersedih dan jangan pula menampakkan kesedihan bila ia sedang gembira.

    Wanita shalehah?.. Ia tahu bahwa kehidupan rumah tangga tidak melulu berjalan mulus, berbentangkan permadani. Kehidupan rumah tangga tak ubahnya sebuah kapal yang berlayar di tengah samudra, terkadang tenang dengan ombak dan riak-riak kecil, namun dilain waktu angin kencang melanda, badai menghantam, ombak bergulung seakan ingin menenggelamkan kapal dan seluruh isinya. Saat seperti itulah peranan suami istri teruji, jika mereka kompak, bahu-membahu dengan saling pengertian, InsyaAllah biduk akan selamat sampai ketepian.

    Wanita shalehah?.. Ia menjadi sesuatu yang paling berharga bagi suaminya setelah ketakwaannya kepada Allah, bila dipandang oleh sang suami menimbulkan rasa bahagia dihati. Sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits yang artinya : “tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang muslim setelah takwa kepada Allah dan lebih baik baginya selain dari istri yang shalehah, apabila ia memerintahnya dia akan mentaatinya, jika ia melihat kepadanya dia membahagiakannya, jika bersumpah kepadanya dia menepatinya dan bila ia tidak berada di dekatnya dia menjaga dirinya juga harta suaminya”. (HR Ibnu Majah). Ia tidak memasukkan lelaki kerumahnya tanpa seizin sang suami dan selalu menjaga harga diri dan kepercayaan suaminya. Allah berfirman yang artinya : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan kerena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka”. (Qs 4 : 34). Ia selalu ridha dengan apa yang diberikan suami, betapapun kecilnya pemberian itu dan tidak pernah menuntut sesuatu yang tidak tergapai oleh penghasilan sang suami.

    Wanita shalehah?.. Ia sabar saat-saat sang suami meninggalkannnya untuk menuntut ilmu, mencari rizki, atau kepentingan dakwah dan menyambut kepulangan suami dengan senyum mengembang dan wajah ceria.

    Wanita shalehah?.. Apabila suaminya dilanda futur, semangatnya mengendur, ia tampil menegur “Mas kok loyyo”, memberikan motivasi dan mengobarkan semangat juangnya.

    Wanita shalehah?.. Ia selalu melahirkan generasi robbani, mengenalkan putra-putrinya kepada Allah sejak dini, bahkan sebelum sang anak itu terlahir kedunia. Mengasuhnya dengan sabar dan penuh keibuan, mendidiknya dengan pendidikan islami, mengajari Sunnah-sunnah Nabi, akhlakul karimah dan lain sebagainya. Ibu adalah madrasatul Ula bagi putra-putrinya.

    Dengan demikian ia akan menjadi mar’ah shalehah, zaujah muti’ah dan ummu madrasah. Singkatnya, wanita shalehah adalah gambaran sosok hamba Allah, pengikut Rasul, anak, istri, ibu dan anggota masyarakat yang baik dan menjadi uswah hasanah bagi orang lain.

    Indah nian alunan nasyid yang berbunyi : “Sungguh indah permata dunia, intan mutu manikam, emas dan berlian yang memikat hati. Namun tiada seindah bunga wanita shalehah harapan agama??.

    Demikianlah beberapa sifat dan karakter wanita shalehah yang kudambakan, dan juga oleh setiap pemuda muslim yang berakal sehat.

    Akankah aku mendapatkannya?

    Wallahu A’la wa A’lam

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 9 October 2015 Permalink | Balas  

    Godaan Orang Berilmu 

    bukuGodaan Orang Berilmu

    Republika, oleh : Okrisal Eka Putra

    Menuntut ilmu pengetahuan di samping merupakan kewajiban juga memerlukan kehati-hatian. Allah menyiapkan ujian yang harus kita lalui agar menjadi seorang penuntut ilmu yang ikhlas dan memberikan manfaat untuk manusia lain.

    Rasullah bersabda, ”Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk bersaing dengan ulama atau untuk berdebat dengan orang jahil atau untuk menarik perhatian orang lain, akan masuk neraka.” (Abu Hurairah).

    Hadis ini memberikan perincian tentang godaan yang sering dialami oleh para penuntut ilmu dan para ilmuwan dalam proses pengamalan ilmunya. Memang, Allah menyebutkan dalam Alquran bahwa akan meninggikan derajat orang yang memiliki ilmu dari orang yang tidak berilmu. Dalam surat Al-Mujadalah ayat 11, Allah befirman, ”Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang diberikan ilmu pengetahuan.”

    Banyak lagi kelebihan yang diberikan Allah kepada orang yang berilmu, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Bukankah para malaikat mau sujud kepada Nabi Adam setelah Allah mengajarkan beberapa ilmu kepada Nabi Adam AS, ketika sebelumnya malaikat meragukan manusia karena menganggap sebagai makhluk yang suka permusuhan. Tujuan pokok kita menuntut ilmu adalah untuk semakin tunduk dan patuh kepada ajaran Allah. Semakin tinggi ilmu yang kita raih semakin baik ibadah kita. Bukan sebaliknya, semakin banyak ilmu yang kita miliki semakin berani terhadap larangan-larangan Allah.

    Di antara godaan tersebut yaitu berupa sifat riya dan bangga dengan ilmu yang diberikan Allah. Sifat ini memang sering menggoda dan hanya orang yang dilindungi Allah yang bisa menghindarinya. Godaan pertama yang akan dihadapi adalah perasaan ingin dianggap ilmuwan agar bisa bersaing dengan ilmuwan lain. Pikiran dan emosi hanya disibukkan dengan melihat orang lain dan berusaha untuk mengunggulinya sehingga melupakan tujuan dasar menuntut ilmu.

    Godaan kedua, ini peringatan untuk orang yang suka berdebat dengan orang lain, ilmu yang diberikan Allah hanya untuk menyombongkan diri dengan keinginan untuk mengalahkan orang lain dalam berdebat agar menganggap kita lebih hebat dari lawan debat kita. Perdebatan tidak akan memberikan hasil apa-apa kecuali sifat bangga dengan ilmu yang dianugerahkan Allah.

    Dalam sebuah ayat, Allah berfirman, ”Taatlah kamu kepada Allah dan Rasul dan jangan suka berbantah-bantahan, karena hanya akan mengakibatkan kegagalan dan menghilangkan wibawamu, sabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46).

    Godaan ketiga, menuntut ilmu agar orang lain memperhatikan kita. Ini biasa terjadi bagi penuntut ilmu yang merantau ke daerah lain. Ketika pulang kampung, misalnya, ada keinginan untuk dimuliakan orang karena kita diberi Allah kesempatan kuliah, sedangkan teman-teman yang lain cuma tamat sekolah menengah saja.

    Mudah-mudahan dengan kembali merenungkan tujuan menuntut ilmu, supaya semakin taat kepada Allah, akan bisa menghindarkan diri dari godaan yang akan menjerumuskan kita ke dalam neraka. Amin.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:06 pm on 8 October 2015 Permalink | Balas  

    Telaga Cermin 

    kayu tumbang di telaga warnaTelaga Cermin

    Suatu ketika di sebuah sabana, berkumpullah kelompok harimau. Di kelompok itu, juga tinggal beberapa harimau muda yang baru mulai belajar berburu. Ada seekor harimau muda yang terlihat menjauh dari kelompok itu. Dia ingin mencari tantangan.

    Kaki-kaki mudanya melintasi rumput-rumput yang belum terjamah. Matanya terlihat waspada mengawasi sekitarnya. Tanpa disadari, kakinya menuju sebuah telaga yang menjorok ke dalam. Airnya begitu bening, memantulkan apa saja yang terlihat di atasnya. Sang harimau muda terkejut, ketika dilihatnya ada seekor harimau lain di sana. “Hei…ada harimau lain yang tinggal di dalam air.”

    Kucing besar itu masih tertegun ketika melihat harimau di telaga itu selalu mengikuti setiap gerak-geriknya. Ketika dia mundur menjauh, harimau dalam telaga itu pun ikut menghilang. Sesaat kemudian, harimau itu menyembulkan kepalanya, oh, ternyata harimau telaga itu masih ada. Dipasangnya senyum persahabatan, dan ada balasan senyum dari arah telaga. “Akan kuberitahu yang lain. Ada seekor harimau baik hati yang tinggal di tempat ini.”

    Kabar tentang harimau dalam telaga itu pun segera diberitahukannya. Ada seekor harimau lain yang tertarik, dan ingin membuktikan cerita itu. Setelah beberapa saat, sampailah dia di telaga itu. Dengan berhati-hati, hewan belang itu memperhatikan sekeliling. Ups..kakinya hampir terperosok ke dalam telaga. Dia terlihat mengaum, seraya menyembulkan kepalanya ke arah lubang telaga. “Hei…ada harimau yang sedang marah di dalam sana,” begitu pikirnya dalam hati. Harimau itu kembali menyeringai, memamerkan seluruh taring miliknya. Dia menunjukkan muka marah. Ohho, ternyata harimau dalam telaga pun tak kalah, dan melakukan tindakan serupa.

    “Ah, temanku tadi pasti berbohong.” Tak ada harimau baik dalam telaga itu. Aku hampir saja dimakannya. Lihat, wajahnya saja terlihat marah, dan selalu menggeram. Aku tak mau berteman dengan harimau dalam telaga itu.” Harimau yang masih marah itu segera bergegas pergi. Rupanya ia tidak menyadari bahwa harimau dalam telaga itu, sesungguhnya adalah pantulan dari dirinya.

    ***

    Pandangan orang lain, sama halnya dengan cermin dan telaga, adalah pantulan dari sikap kita terhadap mereka. Dugaan dan sangkaan yang kerap muncul, bisa jadi adalah refleksi dari perlakuan kita terhadap mereka. Baik dan buruknya suatu tanggapan, tak lain merupakan balasan dari diri kita sendiri. Layaknya cermin dan air telaga, semuanya akan memantulkan bayangan yang serupa. Tak kurang dan tak lebih.

    Agaknya kita perlu mencari sebuah cermin besar untuk berkaca. Menatap seluruh wajah kita, dan mengatakan kepada orang di dalam cermin itu. Tataplah dalam-dalam, seakan ingin menyelami seluruh wajah itu dan berkata, “Sudahkah saya menemukan wajah yang bersahabat di dalam sana?” Teman, cobalah menatap wajah kita dalam-dalam, dan cobalah jujur menjawabnya, “Sudahkah kutemukan wajah yang bersahabat di dalamnya?”

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 7 October 2015 Permalink | Balas  

    INDANYA BERAMAL SALEH 

    sedekahIndahnya Beramal Shaleh

    Written by Taufikmalin

    Allah Maha Penolong dan Maha Pembimbing. Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Pemurah Al Qur’an adalah sumber ilmu kebahagian, kesejahteraan, kedamaian kita. Rasulullah saw adalah orang yang istimewa dan sangat berjasa kepada kehidupan manusia sampai akhir zaman.

    Waktu kecil, saya berpendapat, bahwa amal saleh itu adalah memasukkan uang ke kotak amal yang ada di masjid atau yang sering dibawa oleh peminta-minta. Karena di kotak itu tertulis “Kotak amal”.

    Kedua, bahawa beramal saleh adalah menjalankan shalat, sedekah, mengaji, berpuasa, membayar zakat naik haji, sebagaimana di nasehatkan oleh orang tua dan guru-guru ngaji saya. Makin banyak amal saleh kita makin banyak pahala yang dicatat oleh malaikat dan inilah yang akan menolong orang masuk surga.

    Alhamdulillah, setelah membaca dan memahami buku pedoman hidup manusia yaitu Al Qur’an dan Hadits, saya mengerti bahwa yang dimaksud amal saleh itu bukan perbuatan-perbuatan dan ibadah-ibadah yang disebut diatas saja. Amal saleh juga meliputi semua perbuatan atau karya-karya yang bermanfaat untuk manusia dan makhluk Tuhan lainnya, dengan niat karena Allah swt.

    Berikut adalah contoh-contoh amal saleh yang bisa kita kerjakan sehari-hari:

    Amal-amal saleh dengan mulut:

    1. Senyum, membuat orang bahagia
    2. Berkata yang baik dan berfaedah
    3. Memberikan ilmu, sebagai guru,dosen,mubaligh, da’i dan lain-lain
    4. Menulis buku ilmu yang berfaedah untuk manusia
    5. Berniat dalam hati.

    Beramal-amal saleh dengan tindakan dan karya

    1. Mengambil duri dari jalan adalah amal saleh, apalagi;
    2. Membuat jalan dan pengairan untuk kebaikan umum
    3. Bertani , berladang, mengasilkan sayur-mayur untuk manusia
    4. Perikanan, menangkap ikan di laut dan beternak ikan
    5. Perternakan di mana ternaknya bermanfaat untuk orang banyak
    6. Berdagang, menolong mendistribusikan hasil tani dan pabrik memudahkan orang mendapatkan barang yang diperlukan
    7. Mendirikan pabrik untuk mengolah barang yang diperlukan masyarakat banyak, misalnya membuat mie instan, minyak, sabun, kecap, mobil, sepeda motor, kapal laut
    8. Mendirikan sekolah, rumah sakit, masjid, hotel dan gedung tempat bekerja, lapangan sepak bola
    9. Dan ribuan macam aktifitas lainnya yang tak terhitung banyaknya

    Semua perbuatan dan karya yang dikerjakan semata-mata untuk kebaikan hidup manusia dan makhluk lainnya, dan diniatkan karena perintah Allah swt memakmurkan bumi (QS.11:61), akan dicatat oleh malaikat sebagai amal saleh kita.

    Allah menyatakan orang-orang yang akan masuk surga itu adalah orang yang beriman dan beramal-saleh dan tidak sirik. Allah juga mengatakan orang yang masuk surga adalah yang berhati bersih (QS.26:89).

    Kalau hatinya bersih bening, maka setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata yang bermanfaat, dan menyenangkan. Tapi kalau hatinya kotor, maka yang keluar dari mulutnya adalah fitnah, gosip, berbicara yang menyakiti hati orang, berbohong, membukakan aib orang lain, dan kata kata yang dapat merugikan orang lain. Semuanya merupakan perbuatan dosa.

    Seorang pemuda bertanya, “Mengapa Allah tidak berfirman bahwa yang akan masuk surga itu adalah orang-orang yang melaksanakan shalat, atau puasa, atau zakat atau naik haji.”

    Shalat adalah latihan memperbaiki diri, bukan tujuan. Shalat adalah tiang agama, suatu latihan yang intensif dan berkelanjutan. Lima kali sehari manusia harus melapor dan menghadap Allah (shalat).

    Shalat wajib dilaksanakan agar manusia bisa mencapai derajat mulia mencintai Allah swt. Bila meninggalkannya maka dapat dikatakan sebagai sikap ingkar. Ia akan mudah dirayu oleh setan untuk diajak ke arah yang merusak, merugikan, dan menzhalimi seseorang, yang akhirnya kehidupannya di dunia sengsara, dan di akhirat akan mendapat azab yang pedih dari Allah swt.

    Janji Allah tidak pernah mungkir dan meleset. Berzakat dan naik haji adalah latihan-latihan yang intensif juga dari Allah untuk manusia. Manusia mempunyai sifat bawaan dari kecil: lemah, rakus, ingkar, zolim dan adanya setan yang selalu menipu manusia.

    Dengan latihan yang intensif itu akan terciptalah manusia yang berakhlaq mulia dan terpuji yaitu; yang selalu ingat Allah, jujur, disiplin, taat akan syariat Tuhan dan lainnya. Dalam diri mereka timbul sifat pemurah, kasih sayang, berani karena benar sabar, rajin bekerja, bersih rohani dan jasmani dan pandai bersyukur.

    Kalau kita lihat sejarah, umat islam di Arab adalah sumber ilmu;Ilmu aljabar, science, kesehatan, fisika, bahasa, mathematika, dll. Kejayaan Islam mundur setelah Negara Negara di jajah oleh penjajah dari negar2 Islam di afrika sampai ke Indonesia. Indonesia di jajah lebih kurang 350 tahun. Coba bayangkan 5 generasi dibawah pengaruh penjajah.

    Semenjak itulah para ulama-ulama memindahkan aktivitas kehidupannya ke kampung kampung, mereka bertani, mendirikan sekolah agama, agar para pemuda pemudi islam jangan sampai belajar di kota kota disekolah sekolah penjajah.

    Alhamdulillah, kita mengucapkan banyak terimakasih kepada para ulama zaman itu yang mana Umat Islam dan agamanya tidak bisa dimusnahkan. Ini suatu hal yangat positif. Agama Islam sangat berjaya di Negara Spanyol tapi bisa dimusnahkan, sehingga tiada lagi peninggalan2 islam seperti Mesdjid dll.

    Walaupun penjajah tidak bisa memusnahkan umat Islam dengan agamanya di Indonesia, tapi mereka berhasil membuat umat islam terbelakang dari kemajuan2 dibandingakan dengan negara2 lainnya. Umat Islam terbelakang dalam bermacam2 aspek penghidupan antara lain; ekonomi, ilmu pengetahuan, produktifitas, technologi, kesehatan, pertahanan dll. Indonesia menjadi suatu bangsa yang konsumtif. Artinya umat islam kita di Indonesia kurang produktif, kurang berbuat baik atau beramal saleh yang dikehendaki oleh Allah dan Rasulullah saw. Syurga didunia dan akhirat akan diberikan kepada orang orang yang banyak berbuat baik atau beramal saleh dan beriman kepada Allah.

    Sebahagian umat Islam terperangkap oleh ajaran2 yang salah kaprah, atau salah konsepsi dalam menghayati uacapan2 Rasulullah saw baik yang tertulis dalam Al Quran maupun yang tertulis di Hadits2. kita sering mendengar di Mesdji2 yang diucapkan oleh Khotib ;

    “Rasulullah saw melihat bahwa di syurga itu kebanyakan orang orang miskin, sedangkan dalam neraka kebanyakan wanita2” HR Muslim-Bukhary.

    “Dunia itu terkutuk, dan terkutuk pula seluruh isinya. Kecuali (dzikir) mengingat Allah dan yang berkaitan dengannya, orang alim (shalih) serta orang yang belajar agama.” (HR. Tirmidzi dan beliau berkata hadits ini hasan)

    “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)

    “Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR.Turmudzi, beliau berkata: hadits hasan shahih).

    Telah datang hadits shahih yang mencela orang yang menirukan gerakan seseorang, dan larangan dari yang demikian itu, dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda, ‘Sungguh saya tidak suka menirukan seseorang dan sungguh bagi saya seperti ini dan seperti ini’. Shahih dikeluarkan oleh Imam Ahmad (6/136-206), At-Tirmidzi (2501).

    Dari kelima Hadits2 diatas jelas sekali bagi kita, sebahagian para khotip2 mengajak umatnya untuk mejauhi dari pekerjaan yang produktif, membuat barang barang yang dibutuhkan oleh manusia, atau membuat fabrik2 yang bisa mengolah barang barang baku yang diberikan oleh Allah menjadi barang barang yang bermanfaat untuk kehidupan manusia; misalnya membuat fabrik speda, mobil, TV, alat2 rumah tangga, kantor dan sekolah dan pertanian dll. Sebahagaian Para khotip mengajak umatnya untuk tidak mencintai materi, menjauhi kehidupan duniawi sebagaimana orang orang Non Islam.

    Akhirnya umat menjadi kurang aktif dalam bidang produktif, ekonomi, science dan technologi dll. Inilah akibat dari penjajahan yang sangat fatal dan harus diperbaiki, dirobah, diluruskan kembali ajaran2 islam yang telah dibelokan oleh para penjajah selama 350 tahun. Sekarang kita sudah merdeka tapi belum lepas dari belenggu pemahaman penjajah.

    Marilah kita panjatkan doa kepada Allah Yang Maha mendengar dan Maha Pengampun;

    Yaa allah yaa Tuhan kami ampunilah dosa dosa kami atas kebodohan kami, kelemahan kami, kelalaian kami dan ketidak tahuan kami yaa Allah kepada siapa lagi kami bermohon kalau bukan kepada Mu yaa Allah.

    Yaa Allah yaa tuhan kami, tunjukilah kami, berilah kami kekuatan, berilah kami hidayah, berilah kami ide2 yang dapat membawa kami dari keterbelakangan, kehinaan, kelemahan dalam segala spek penghidupan. Yaa Allah yaa Tuhan kami, jadikanlah kami orang orang yang pandai mensyukuri semua pemberian Mu ini agar kami dapat mengoilahnya dengan baik dan bermanfaat untuk orang banyak.

    Yaa Allah berikalan kami ilmu pengetahuan yang luas, rezeki yang banyak agar kami dapat menolong orang yang memelukan, sumbuhkanlah kami dari segala penyakit qolbu dan fisik agar hidup kami bermanfaat untuk agama dan umat Mu yaa Allah.

    Yaa Allah jadikan lah qolbu kami qolbu yang bersih jernih dan bening yang selalu merindukanMu, jauhilah qolbu kami dari sifat; malas, benci, sombong, iri hati, dan amarah. Semoga sisa sisa hidup kami ini penuh kenikmatan dalam bekerja untuk Mu yaa Allah yaa Rabbal alamin.

    Demikianlah terimakasih semoga ada manfaatnya. Kalau ada yang benar datang dari Allah dan kalau ada yang salah datang dari kami yang lemah, mohon dimaafkan dan ditegur.

    Wassalamu’alaikum wr wb.

     
  • erva kurniawan 5:01 pm on 6 October 2015 Permalink | Balas  

    Kebencian 

    Kisah cinta Laila MajnunKebencian

    Islam adalah agama yang sangat menentang persengketaan, permusuhan, perkelahian. Sebaliknya pula Islam adalah agama yang menjunjung tinggi perdamaian dan persaudaraan. Karena begitu pentingnya hidup rukun sampai-sampai Rasulullah bersabda: “Tidaklah halal bagi seorang muslim untuk meninggalkan saudaranya lebih dari tiga malam. Keduanya juga saling bertemu, tetapi mereka tidak saling mengacuhkan satu sama lain. Yang paling baik diantara keduanya yang terlebih dahulu memberi salam.” (HR.Muslim).

    Tujuh abad yang lalu seorang penyair sufi dari Balakh, Jalaludin Rumi, suatu ketika pernah berucap “tanpa cinta dunia akan membeku”. Ungkapan ini kita rasakan sepanjang masa akan kebenarannya, terutama disaat gelompang matrealisme ateistik mendominasi dalam setiap gerak langkah manusia, dimana imbas dari pada itu semua kebrutalan saling benci- membenci seakan menjadi santapan hari-hari.

    Benci (al-karahah) adalah lawan dari emosi cinta (al-mahabbah), ia merupakan gambaran tentang perasaan menganggap tidak baik, perasaan tidak menerima atau perasaan ketidaksukaan serta merasa jijik. Juga perasaan ingin menjauhi obyek-obyek yang menimbulkan perasaan ini baik itu berupa orang, keadaan, perbuatan. Kedua hal tersebut (cinta dan benci) merupakan fitrah emosional yang telah dianugrahkan Allah SWT pada seluruh manusia. Bagi seorang muslim cinta dan benci haruslah berdasarkan proporsional syari’at. Karena bisa jadi sesuatu yang kita benci sebetulnya baik bagi kita. atau sebaliknya sesuatu yang kita cintai justru sangat buruk bagi kita. Jika halnya menjadi demikian, betapa banyaknya orang yang akan menjadi korban akibat dari tidak bisa menempatkan arti cinta dan benci ini.

    Allah SWT berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia sangat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia sangat buruk bagimu. Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah : 216).

    Muslim dan mukmin adalah dua kata selalu dikaitkan dengan kata Ahsin (berbuat baiklah)dan ahbib (cintailah), sesungguhnya kata-kata itu mengandung makna yang sangat dalam, kata mukmin berasal dari kata amnun (aman/tidak kacau). Mukmin adalah yang mampu menjaga atau menghadirkan rasa aman. Oleh karena itu apabila seseorang ingin menjadi mukmin, hendaklah memulainya dengan berbuat ihsan (kebaikan) kepada siapa saja, tetangganya, lingkungannya dan lain sebagainya bahkan sampai kepada lawan politiknya.

    Adapun akar kata muslim adalah salamun, yang dari akar kata ini melahirkan kata Islam yang mempunyai makna damai sentosa. Muslim berarti yang mampu menghadirkan kedamaian sentosa. Dalam termenologi moral Islam, bila seorang muslim bisa menghargai orang lain, menghargai hak milik orang lain, maka kedamaian akan dapat terwujud. Namun, hal tersebut akan muncul bila ia terus berpegang kepada kelima rukun Islam. Tanpa memegang teguh lima perinsip dasar Islam tersebut, mustahil kedamaian akan terwujud dilingkungan dimana ia tinggal.

    Asy Syaikh al-Allamah Al Imam Muhammad Hayat As Sindi berkata, “Janganlah kalian melakukan apa yang menyebabkan saling membenci, karena hal itu akan menyebabkan kerusakan di dunia dan di akhirat.” Al imam Al Hafizh Rajab Al Hambali pun pernah berujar tentang hal ini. Ia berkata “Sesama muslim dilarang saling membenci dalam hal selain karena Allah, apalagi atas dasar nafsu, karena sesama muslim telah dijadikan Allah bersaudara dan persaudaraan itu saling cinta bukan saling membenci.”

    Perasaan benci ibarat api dalam sekam, sewaktu-waktu ia akan bisa membakar, bila seorang pemimpin sudah tidak lagi menyayangi orang yang dipimpinnya berarti ia sudah menyimpan api dalam dirinya. Apabila suami sudah membenci sang istri, tetangga telah saling benci antara sesama tetangganya, pemimpin sudah tidak menyenangi hak milik rakyatnya, maka tiada lain mereka telah menyimpan api didalam dirinya. Kondisi seperti ini tentulah sangat berbahaya dalam tatanan hidup bermasyarakat.

    Ia (kebencian) akan dapat merusak moral dan norma-norma. Ekspresi sebuah kebencian tidak lain adalah sikap hasud yang dilarang Islam. Hasad adalah iri dan bersifat dengki terhadap orang atau kelompok lain, bahkan sebisa mungkin untuk menghilangkan atau menjatuhkan semua kepemilikan yang menjadi lawannya tersebut. Dari sinilah hasad berubah menjadi hasutan, bagaimana merekayasa isu atau gosip tanpa fakta untuk meyakinkan orang lain, agar saling membenci atau menganiaya orang lain atau kelempok tertentu.

    Rasa benci yang kemudian melahirkan permusuhan diantara umat manusia itu akan terus menumbuhkan kebencian-kebencian yang baru. Para antropolog sering berguyon bahwa untuk mendamaikan manusia dibumi ini perlu mendatangkan makhluk dari plenet lain hingga akhirnya mereka bersatu untuk melawannya.

    Keimanan mempersempit wilayah kebencian dan mencairkan permusuhan di hati orang mukmin. Seseorang tidak perlu membenci saudara seimannya hanya karena perbedaan suku bangsa, warna kulit, strata sosial, jabatan apalagi kepentingan pribadi. Kalaupun kita harus membenci, itu hanya bisa dilakukan karena Allah.

    Rasulullah SAW bersabda: “Sekuat-kuatnya ikatan iman adalah persaudaraan karena Allah, cinta karena Allah, dan membenci karena Allah.” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas).

    Al-Qur’an memuji orang-orang mukmin yang datang setelah kaum Anshar dan Muhajirin karena mereka berdo’a kepada Allah agar Allah mengahapus dosa-dosa orang-orang mukmin yang telah mendahului mereka, dan agar tidak menjadikan kebencian serta kedengkian dalam hati mereka terhadap orang-orang yang beriman.

    “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdoa : Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara- saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Dan janganlah engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al Hasyr : 10).

    Oleh karena itu persaudaraan yang hakiki adalah merupakan nikmat terbesar dalam penataan hubungan sesama muslim, hanyalah memungkinkan terjadi manakala ia terdapat ta’lif al-qalb (pertautan hati, perasaan dan pikiran) antara satu dengan yang lainnya. Sebaliknya, adalah mustahil persaudaraan itu terkait erat, manakala hati, perasaan dan pikiran saling bertentangan. Hati yang menyatu, akan menyikapi perbedaan dengan husnuzh-zhan (berbaik sangka) dan tasamuh (toleransi) .

    Rasulullah SAW bersabda: “Manusia akan tetap berada di dalam kebaikan selama dia tidak mempunyai rasa benci.” (HR. Thabrani).

    Dan dalam sebuah sabdanya, Rasulullah mengingatkan bahwa kedengkian dan kebencian merupakan salah satu penyakit umat yang sangat berbahaya, dan sangat mempengaruhi agamanya, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Penyakit umat terdahulu telah merambah kepadamu semua, yaitu: kebencian dan kedengkian. Kebencian itu adalah pencukur. Aku tidak berkata pencukur rambut, tetapi pencukur agama.” (HR. Bazzar dari Zubair).

    Wallahu ‘Alam.

    ***

    Kiriman Indra Subni

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 5 October 2015 Permalink | Balas  

    Temuan Ilmiah Terbaru Dan Al Quran 

    al-quran 3Temuan Ilmiah Terbaru Dan Al Quran

    Ayat Al Quran Dan Alam Semesta

    Dalam Surat al-Isra ayat ke-88, Allah menunjukkan keagungan Al Quran:

    “Katakanlah: ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini; niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.'” (QS. Al Isra: 88)

    Allah menurunkan Al Quran kepada manusia empat belas abad yang lalu. Beberapa fakta yang baru dapat diungkapkan dengan teknologi abad ke-21 ternyata telah dinyatakan Allah dalam Al Quran empat belas abad yang lalu. Hal ini menunjukkan bahwa Al Quran adalah salah satu bukti terpenting yang memungkinkan kita mengetahui keberadaan Allah.

    Dalam Al Quran, terdapat banyak bukti bahwa Al Quran berasal dari Allah, bahwa umat manusia tidak akan pernah mampu membuat sesuatu yang menyerupainya. Salah satu bukti ini adalah ayat-ayat (tanda-tanda) Al Quran yang terdapat di alam semesta.

    Sesuai dengan ayat “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS. Fushilat: 53), banyak informasi yang ada dalam Al Quran ini sesuai dengan yang ada di dunia eksternal. Allah-lah yang telah menciptakan alam semesta dan karenanya memiliki pengetahuan mengenai semua itu. Allah juga yang telah menurunkan Al Quran. Bagi orang-orang beriman yang teliti, sungguh-sungguh, dan arif, banyak sekali informasi dan analisis dalam Al Quran yang dapat mereka lihat dan pelajari.

    Meskipun demikian, perlu diingat bahwa Al Quran bukanlah buku ilmu pengetahuan. Tujuan diturunkannya Al Quran adalah sebagaimana yang diungkapkan dalam ayat-ayat berikut:

    “Alif lam ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan Yang Mahakuasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim: 1)

    untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir.” (QS. Al Mu’min: 54)

    Singkatnya, Allah menurunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi orang-orang beriman. Al Quran menjelaskan kepada manusia cara menjadi hamba Allah dan mencari ridha-Nya.

    Betapapun, Al Quran juga memberi informasi dasar mengenai beberapa hal seperti penciptaan alam semesta, kelahiran manusia, struktur atmosfer, dan keseimbangan di langit dan di bumi. Kenyataan bahwa informasi dalam Al Quran tersebut sesuai dengan temuan terbaru ilmu pengetahuan modern adalah hal penting, karena kesesuaian ini menegaskan bahwa Al Quran adalah “firman Allah”. Menurut ayat “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (Surat an-Nisa: 82), terdapat keserasian yang luar biasa antara pernyataan di dalam Al Quran dan dunia eksternal.

    Pada halaman-halaman berikut kita akan membahas kesamaan yang luar biasa antara informasi tentang alam semesta yang ada dalam Al Quran dan dalam ilmu pengetahuan.

    “Dia yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.” (Surat Al Mulk: 3-4)

    history.bigbangTeori Dentuman Besar (Big Bang) Dan Ajarannya

    Persoalan mengenai bagaimana alam semesta yang tanpa cacat ini mula-mula terbentuk, ke mana tujuannya, dan bagaimana cara kerja hukum-hukum yang menjaga keteraturan dan keseimbangan, sejak dulu merupakan topik yang menarik.

    Pendapat kaum materialis yang berlaku selama beberapa abad hingga awal abad ke-20 menyatakan, bahwa alam semesta memiliki dimensi tak terbatas, tidak memiliki awal, dan akan tetap ada untuk selamanya. Menurut pandangan ini, yang disebut “model alam semesta yang statis”, alam semesta tidak memiliki awal maupun akhir.

    Dengan memberikan dasar bagi filosofi materialis, pandangan ini menyangkal adanya Sang Pencipta, dengan menyatakan bahwa alam semesta ini adalah kumpulan materi yang konstan, stabil, dan tidak berubah-ubah. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi abad ke-20 menghancurkan konsep-konsep primitif seperti model alam semesta yang statis. Saat ini, pada awal abad ke-21, melalui sejumlah besar percobaan, pengamatan, dan perhitungan, fisika modern telah mencapai kesimpulan bahwa alam semesta memiliki awal, bahwa alam diciptakan dari ketiadaan dan dimulai oleh suatu ledakan besar.

    Selain itu, berlawanan dengan pendapat kaum materialis, kesimpulan ini menyatakan bahwa alam semesta tidaklah stabil atau konstan, tetapi senantiasa bergerak, berubah, dan memuai. Saat ini, fakta-fakta tersebut telah diakui oleh dunia ilmu pengetahuan. Sekarang, marilah kita lihat bagaimana fakta-fakta yang sangat penting ini dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

    “Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Surat al-Hadid: 1-2)

    alam-semestaPemuaian Alam Semesta

    Pada tahun 1929, di observatorium Mount Wilson di California, seorang astronom Amerika bernama Edwin Hubble membuat salah satu temuan terpenting dalam sejarah astronomi. Ketika tengah mengamati bintang dengan teleskop raksasa, dia menemukan bahwa cahaya yang dipancarkan bintang-bintang bergeser ke ujung merah spektrum. Ia pun menemukan bahwa pergeseran ini terlihat lebih jelas jika bintangnya lebih jauh dari bumi. Temuan ini menggemparkan dunia ilmu pengetahuan. Berdasarkan hukum-hukum fisika yang diakui, spektrum sinar cahaya yang bergerak mendekati titik pengamatan akan cenderung ungu, sementara sinar cahaya yang bergerak menjauhi titik pengamatan akan cenderung merah. Pengamatan Hubble menunjukkan bahwa cahaya dari bintang-bintang cenderung ke arah warna merah. Ini berarti bahwa bintang-bintang tersebut senantiasa bergerak menjauhi kita.

    Tidak lama sesudah itu, Hubble membuat temuan penting lainnya: Bintang dan galaksi bukan hanya bergerak menjauhi kita, namun juga saling menjauhi. Satu-satunya kesimpulan yang dapat dibuat tentang alam semesta yang semua isinya bergerak saling menjauhi adalah bahwa alam semesta itu senantiasa memuai.

    Agar lebih mudah dimengerti, bayangkan alam semesta seperti permukaan balon yang tengah ditiup. Sama seperti titik-titik pada permukaan balon akan saling menjauhi karena balonnya mengembang, benda-benda di angkasa saling menjauhi karena alam semesta terus memuai. Sebenarnya, fakta ini sudah pernah ditemukan secara teoretis. Albert Einstein, salah seorang ilmuwan termasyhur abad ini, ketika mengerjakan Teori Relativitas Umum, pada mulanya menyimpulkan bahwa persamaan yang dibuatnya menunjukkan bahwa alam semesta tidak mungkin statis. Namun, dia mengubah persamaan tersebut, dengan menambahkan sebuah “konstanta” untuk menghasilkan model alam semesta yang statis, karena hal ini merupakan ide yang dominan saat itu. Di kemudian hari Einstein menyebut perbuatannya itu sebagai “kesalahan terbesar dalam kariernya”.

    Jadi, apakah pentingnya fakta pemuaian alam semesta ini terhadap keberadaan alam semesta?

    Pemuaian alam semesta secara tidak langsung menyatakan bahwa alam semesta bermula dari satu titik tunggal. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa “satu titik tunggal” yang mengandung semua materi alam semesta ini pastilah memiliki “volume nol” dan “kepadatan tak terbatas”. Alam semesta tercipta akibat meledaknya titik tunggal yang memiliki volume nol tersebut. Ledakan hebat yang menandakan awal terbentuknya alam semesta ini dinamakan Ledakan Besar (Big Bang), dan teori ini dinamai mengikuti nama ledakan tersebut.

    Harus dikatakan di sini bahwa “volume nol” adalah istilah teoretis yang bertujuan deskriptif. Ilmu pengetahuan hanya mampu mendefinisikan konsep “ketiadaan”, yang melampaui batas pemahaman manusia, dengan menyatakan titik tunggal tersebut sebagai “titik yang memiliki volume nol”. Sebenarnya, “titik yang tidak memiliki volume” ini berarti “ketiadaan”. Alam semesta muncul dari ketiadaan. Dengan kata lain, alam semesta diciptakan.

    Fakta ini, yang baru ditemukan oleh fisika modern pada akhir abad ini, telah diberitakan Al Quran empat belas abad yang lalu:

    “Dia Pencipta langit dan bumi.” (QS. Al An’am:101)

    Jika kita membandingkan pernyataan pada ayat di atas dengan teori Ledakan Besar, terlihat kesamaan yang sangat jelas. Namun, teori ini baru diperkenalkan sebagai teori ilmiah pada abad ke-20.

    Pemuaian alam semesta merupakan salah satu bukti terpenting bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan. Meskipun fakta di atas baru ditemukan pada abad ke-20, Allah telah memberitahukan kenyataan ini kepada kita dalam Al Quran 1.400 tahun yang lalu:

    “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.” (Surat Adz-Dzariyat:47)

    Pada tahun 1948, George Gamov mengemukakan gagasan lain mengenai teori Ledakan Besar. Dia menyatakan bahwa setelah terbentuknya alam semesta dari ledakan hebat, di alam semesta seharusnya terdapat surplus radiasi, yang tersisa dari ledakan tersebut. Lebih dari itu, radiasi ini seharusnya tersebar merata di seluruh alam semesta.

    Bukti “yang seharusnya ada” ini segera ditemukan. Pada tahun 1965, dua orang peneliti bernama Arno Penzias dan Robert Wilson, menemukan gelombang ini secara kebetulan. Radiasi yang disebut “radiasi latar belakang” ini tampaknya tidak memancar dari sumber tertentu, tetapi meliputi seluruh ruang angkasa. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa gelombang panas yang memancar secara seragam dari segala arah di angkasa ini merupakan sisa dari tahapan awal Ledakan Besar. Penzias dan Wilson dianugerahi Hadiah Nobel untuk temuan ini.

    020597COBE_OVPada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit Cosmic Background Explorer (COBE) ke angkasa untuk melakukan penelitian mengenai radiasi latar belakang. Pemindai sensitif pada satelit hanya membutuhkan waktu delapan menit untuk menegaskan perhitungan Penzias dan Wilson. COBE telah menemukan sisa-sisa ledakan hebat yang mengawali terbentuknya alam semesta.

    Bukti penting lain berkenaan dengan Ledakan Besar adalah jumlah hidrogen dan helium di ruang angkasa. Pada penghitungan terbaru, diketahui bahwa konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta sesuai dengan penghitungan teoretis konsentrasi hidrogen-helium yang tersisa dari Ledakan Besar. Jika alam semesta tidak memiliki awal dan jika alam semesta ada sejak adanya keabadian (waktu yang tak terhingga), seharusnya hidrogen terpakai seluruhnya dan diubah menjadi helium.

    Semua bukti kuat ini memaksa komunitas ilmiah untuk menerima teori Ledakan Besar. Model ini merupakan titik terakhir yang dicapai oleh para ahli kosmologi berkaitan dengan awal mula dan pembentukan alam semesta.

    Dennis Sciama, yang membela teori keadaan ajeg (steady-state) bersama Fred Hoyle selama bertahun-tahun, menggambarkan posisi terakhir yang mereka capai setelah terkumpulnya semua bukti tentang teori Ledakan Besar. Sciama mengatakan bahwa ia telah ambil bagian dalam perdebatan sengit antara para pembela teori keadaan ajeg dan mereka yang menguji dan berharap dapat menyangkal teori tersebut. Dia menambahkan bahwa dulu dia membela teori keadaan ajeg bukan karena menganggap teori tersebut benar, melainkan karena berharap bahwa teori itu benar. Fred Hoyle bertahan menghadapi semua keberatan terhadap teori ini, sementara bukti-bukti yang berlawanan mulai terungkap. Selanjutnya, Sciama bercerita bahwa pertama-tama ia menentang bersama Hoyle. Akan tetapi, saat bukti-bukti mulai bertumpuk, ia mengaku bahwa perdebatan tersebut telah selesai dan teori keadaan ajeg harus dihapuskan.

    Prof. George Abel dari University of California juga mengatakan bahwa sekarang telah ada bukti yang menunjukkan bahwa alam semesta bermula miliaran tahun yang lalu, yang diawali dengan Dentuman Besar. Dia mengakui bahwa dia tidak memiliki pilihan lain kecuali menerima teori Dentuman Besar.

    Dengan kemenangan teori Dentuman Besar, konsep “zat yang kekal” yang merupakan dasar filosofi materialis dibuang ke tumpukan sampah sejarah. Jadi, apakah yang ada sebelum Dentuman Besar, dan kekuatan apakah yang menjadikan alam semesta ini “ada” melalui sebuah dentuman besar, jika sebelumnya alam semesta ini “tidak ada”? Pertanyaan ini jelas menyiratkan, dalam kata-kata Arthur Eddington, adanya fakta “yang tidak menguntungkan secara filosofis” (tidak menguntungkan bagi materialis), yaitu adanya Sang Pencipta. Athony Flew, seorang filsuf ateis terkenal, berkomentar tentang hal ini sebagai berikut:

    Semua orang tahu bahwa pengakuan itu baik bagi jiwa. Oleh karena itu, saya akan memulai dengan mengaku bahwa kaum ateis Stratonician telah dipermalukan oleh konsensus kosmologi kontemporer. Tampaknya ahli kosmologi memiliki bukti-bukti ilmiah tentang hal yang menurut St. Thomas tidak dapat dibuktikan secara filosofis; yaitu bahwa alam semesta memiliki permulaan. Sepanjang alam semesta dapat dianggap tidak memiliki akhir maupun permulaan, orang tetap mudah menyatakan bahwa keberadaan alam semesta, dan segala sifatnya yang paling mendasar, harus diterima sebagai penjelasan terakhir. Meskipun saya masih percaya bahwa hal ini tetap benar, tetapi benar-benar sulit dan tidak nyaman mempertahankan posisi ini di depan cerita Dentuman Besar.

    Banyak ilmuwan, yang tidak secara buta terkondisikan menjadi ateis, telah mengakui keberadaan Yang Maha Pencipta dalam penciptaan alam semesta. Sang Pencipta pastilah Dia yang menciptakan zat dan ruang/waktu, tetapi Dia tidak bergantung pada ciptaannya. Seorang ahli astrofisika terkenal bernama Hugh Ross mengatakan:

    Jika waktu memiliki awal yang bersamaan dengan alam semesta, seperti yang dikatakan teorema-ruang, maka penyebab alam semesta pastilah suatu wujud yang bekerja dalam dimensi waktu yang benar-benar independen dari, dan telah ada sebelum, dimensi waktu kosmos. Kesimpulan ini sangat penting bagi pemahaman kita tentang siapakah Tuhan, dan siapa atau apakah yang bukan Tuhan. Hal ini mengajarkan bahwa Tuhan bukanlah alam semesta itu sendiri, dan Tuhan tidak berada di dalamnya

    Zat dan ruang/waktu diciptakan oleh Yang Maha Pencipta, yaitu Dia yang terlepas dari gagasan tersebut. Sang Pencipta adalah Allah, Dia adalah Raja di surga dan di bumi.

    Allah memberi tahu bukti-bukti ilmiah ini dalam Kitab-Nya, yang Dia turunkan kepada kita manusia empat belas abad lalu untuk menunjukkan keberadaan-Nya.

    Wallahu Alam

    ***

    Kiriman Arland

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 4 October 2015 Permalink | Balas  

    Kesempurnaan Di Alam Semesta 

    galaksi 2Kesempurnaan Di Alam Semesta

    “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.” (QS. Al Mulk: 3-4)

    Di alam semesta, miliaran bintang dan galaksi yang tak terhitung jumlahnya bergerak dalam orbit yang terpisah. Meskipun demikian, semuanya berada dalam keserasian. Bintang, planet, dan bulan beredar pada sumbunya masing-masing dan dalam sistem yang ditempatinya masing-masing. Terkadang galaksi yang terdiri atas 200-300 miliar bintang bergerak melalui satu sama lain. Selama masa peralihan dalam beberapa contoh yang sangat terkenal yang diamati oleh para astronom, tidak terjadi tabrakan yang menyebabkan kekacauan pada keteraturan alam semesta.

    Di seluruh alam semesta, besarnya kecepatan benda-benda langit ini sangat sulit dipahami bila dibandingkan dengan standar bumi. Jarak di ruang angkasa sangatlah besar bila bandingkan dengan pengukuran yang dilakukan di bumi. Dengan ukuran raksasa yang hanya mampu digambarkan dalam angka saja oleh ahli matematika, bintang dan planet yang bermassa miliaran atau triliunan ton, galaksi, dan gugus galaksi bergerak di ruang angkasa dengan kecepatan yang sangat tinggi.

    rotasi-bumiMisalnya, bumi berotasi pada sumbunya dengan kecepatan rata-rata 1.670 km/jam. Dengan mengingat bahwa peluru tercepat memiliki kecepatan rata-rata 1.800 km/jam, jelas bahwa bumi bergerak sangat cepat meskipun ukurannya sangat besar.

    Kecepatan orbital bumi mengitari matahari kurang-lebih enam kali lebih cepat dari peluru, yakni 108.000 km/jam. (Andaikan kita mampu membuat kendaraan yang dapat bergerak secepat ini, kendaraan ini dapat mengitari bumi dalam waktu 22 menit.)

    Namun, angka-angka ini baru mengenai bumi saja. Tata surya bahkan lebih menakjubkan lagi. Kecepatan tata surya mencapai tingkat di luar batas logika manusia. Di alam semesta, meningkatnya ukuran suatu tata surya diikuti oleh meningkatnya kecepatan. Tata surya beredar mengitari pusat galaksi dengan kecepatan 720.000 km/jam. Kecepatan Bima Sakti sendiri, yang terdiri atas 200 miliar bintang, adalah 950.000 km/jam di ruang angkasa.

    Kecepatan yang luar biasa ini menunjukkan bahwa hidup kita berada di ujung tanduk. Biasanya, pada suatu sistem yang sangat rumit, kecelakaan besar sangat sering terjadi. Namun, seperti diungkapkan Allah dalam ayat di atas, sistem ini tidak memiliki “cacat” atau “tidak seimbang”. Alam semesta, seperti juga segala sesuatu yang ada di dalamnya, tidak dibiarkan “sendiri” dan sistem ini bekerja sesuai dengan keseimbangan yang telah ditentukan Allah.

    “Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya.” (QS. AlAn’am: 101-104)

    193097_sistem-tata-surya_663_382Orbit Dan Alam Semesta Yang Berotasi

    Salah satu sebab utama yang menghasilkan keseimbangan di alam semesta, tidak diragukan lagi, adalah beredarnya benda-benda angkasa sesuai dengan orbit atau lintasan tertentu. Walaupun baru diketahui akhir-akhir ini, orbit ini telah ada di dalam Al Quran:

    “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS. Al Anbiya:33)

    Bintang, planet, dan bulan berputar pada sumbunya dan dalam sistemnya, dan alam semesta yang lebih besar bekerja secara teratur seperti pada roda gigi suatu mesin. Tata surya dan galaksi kita juga bergerak mengitari pusatnya masing-masing. Setiap tahun bumi dan tata surya bergerak 500 juta kilometer menjauhi posisi sebelumnya. Setelah dihitung, diketahui bahwa bila suatu benda langit menyimpang sedikit saja dari orbitnya, hal ini akan menyebabkan hancurnya sistem tersebut. Misalnya, marilah kita lihat apa yang akan terjadi bila orbit bumi menyimpang 3 mm lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya.

    “Selagi berotasi mengitari matahari, bumi mengikuti orbit yang berdeviasi sebesar 2,8 mm dari lintasannya yang benar setiap 29 km. Orbit yang diikuti bumi tidak pernah berubah karena penyimpangan sebesar 3 mm akan menyebabkan kehancuran yang hebat. Andaikan penyimpangan orbit adalah 2,5 mm, dan bukan 2,8 mm, orbit bumi akan menjadi sangat luas dan kita semua akan membeku. Andaikan penyimpangan orbit adalah 3,1 mm, kita akan hangus dan mati.” (Bilim ve Teknik, Juli 1983)

    matahariMatahari

    Berjarak 150 juta km dari bumi, matahari menyediakan energi yang kita butuhkan secara terus-menerus.

    Pada benda angkasa yang berenergi sangat besar ini, atom hidrogen terus-menerus berubah menjadi helium. Setiap detik 616 miliar ton hidrogen berubah menjadi 612 miliar ton helium. Selama sedetik itu, energi yang dihasilkan sebanding dengan ledakan 500 juta bom atom.

    Kehidupan di bumi dimungkinkan oleh adanya energi dari matahari. Keseimbangan di bumi yang tetap dan 99% energi yang dibutuhkan untuk kehidupan disediakan oleh matahari. Separo energi ini kasatmata dan berbentuk cahaya, sedangkan sisanya berbentuk sinar ultraviolet, yang tidak kasatmata, dan berbentuk panas.

    Sifat lain dari matahari adalah memuai secara berkala seperti lonceng. Hal ini berulang setiap lima menit dan permukaan matahari bergerak mendekat dan menjauh 3 km dari bumi dengan kecepatan 1.080 km/jam.

    Matahari hanyalah salah satu dari 200 juta bintang dalam Bimasakti. Meskipun 325.599 kali lebih besar dari bumi, matahari merupakan salah satu bintang kecil yang terdapat di alam semesta. Matahari berjarak 30.000 tahun cahaya dari pusat Bimasakti, yang berdiameter 125.000 tahun cahaya. (1 tahun cahaya = 9.460.800.000.000 km.)

    solar apexPerjalanan Matahari

    “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yasin:38)

    Berdasarkan perhitungan para astronom, akibat aktivitas galaksi kita, matahari berjalan dengan kecepatan 720.000 km/jam menuju Solar Apex, suatu tempat pada bidang angkasa yang dekat dengan bintang Vega. (Ini berarti matahari bergerak sejauh kira-kira 720.000×24 = 17.280.000 km dalam sehari, begitu pula bumi yang bergantung padanya.)

    imagesLangit Tujuh Lapis

    “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.” (QS. Ath-Thalaq:12)

    Dalam Al Quran Allah menyebutkan tujuh surga atau langit. Ketika ditelaah, atmosfer bumi ternyata terbentuk dari tujuh lapisan. Di atmosfer terdapat suatu bidang yang memisahkan lapisan dengan lapisan. Berdasarkan Encyclopedia Americana (9/188), lapisan-lapisan yang berikut ini bertumpukan, bergantung pada suhu.

    Lapisan pertama TROPOSFER: Lapisan ini mencapai ketebalan 8 km di kutub dan 17 km di khatulistiwa, dan mengandung sejumlah besar awan. Setiap kilometer suhu turun sebesar 6,5 C, bergantung pada ketinggian. Pada salah satu bagian yang disebut tropopause, yang dilintasi arus udara yang bergerak cepat, suhu tetap konstan pada -57 C.

    Lapisan kedua STRATOSFER: Lapisan ini mencapai ketinggian 50 km. Di sini sinar ultraviolet diserap, sehingga panas dilepaskan dan suhu mencapai 0 C. Selama penyerapan ini, dibentuklah lapisan ozon yang penting bagi kehidupan.

    Lapisan ketiga MESOSFER: Lapisan ini mencapai ketinggian 85 km. Di sini suhu turun hingga -100 C.

    Lapisan keempat TERMOSFER: Peningkatan suhu berlangsung lebih lambat

    Lapisan kelima IONOSFER: Gas pada lapisan ini berbentuk ion. Komunikasi di bumi menjadi mungkin karena gelombang radio dipantulkan kembali oleh ionosfer.

    Lapisan keenam EKSOSFER: Karena berada di antara 500 dan 1000 km, karakteristik lapisan ini berubah sesuai aktivitas matahari.

    Lapisan ketujuh MAGNETOSFER: Di sinilah letak medan magnet bumi. Penampilannya seperti suatu bidang besar yang kosong. Partikel subatom yang bermuatan energi tertahan pada suatu daerah yang disebut sabuk radiasi Van Allen.

    Gunung Mencegah Gempa Bumi

    “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang.” (QS. Luqman:10)

    “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An-Naba:7)

    Informasi yang diperoleh melalui penelitian geologi tentang gunung sangatlah sesuai dengan ayat Al Quran. Salah satu sifat gunung yang paling signifikan adalah kemunculannya pada titik pertemuan lempengan-lempengan bumi, yang saling menekan saat saling mendekat, dan gunung ini “mengikat” lempengan-lempengan tersebut. Dengan sifat tersebut, pegunungan dapat disamakan seperti paku yang menyatukan kayu.

    Selain itu, tekanan pegunungan pada kerak bumi ternyata mencegah pengaruh aktivitas magma di pusat bumi agar tidak mencapai permukaan bumi, sehingga mencegah magma menghancurkan kerak bumi.

    batas-laut-tawar-dan-asinAir Laut Tidak Saling Bercampur

    “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS. Ar-Rahman:19-20)

    Pada ayat di atas ditekankan bahwa dua badan air bertemu, tetapi tidak saling bercampur akibat adanya batas. Bagaimana ini dapat terjadi? Biasanya, bila air dari dua lautan bertemu, diduga airnya akan saling bercampur dengan suhu dan konsentrasi garam cenderung seimbang. Namun, kenyataan yang terjadi berbeda dengan yang diperkirakan. Misalnya, meskipun Laut Tengah dan Samudra Atlantik, serta Laut Merah dan Samudra Hindia secara fisik saling bertemu, airnya tidak saling bercampur. Ini karena di antara keduanya terdapat batas. Batas ini adalah gaya yang disebut “tegangan permukaan”.

    Dua Kode Dalam Besi

    Besi adalah satu dari empat unsur yang paling berlimpah di bumi. Selama berabad-abad besi merupakan salah satu logam terpenting bagi umat manusia. Ayat yang berkenaan dengan besi adalah sebagai berikut:

    Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia.” (QS. Al Hadid:25)

    Ayat ini melibatkan dua kode matematika yang sangat menarik.

    “Al Hadid” (besi) adalah surat ke-57 di dalam Al Quran. Nilai numerik (dalam sistem “Abjad” Arab, setiap huruf memiliki nilai numerik) huruf-huruf dari kata “Al Hadid” jumlahnya sama dengan 57, yakni nomor massa besi.

    Nilai numerik (Abjad) dari kata “Hadid” (besi) sendiri, tanpa penambahan “al”, jumlahnya 26, yakni nomor atom besi.

    ***

    Wallahualam

    Kiriman Arland

     
    • ayuNisa 6:40 pm on 4 Oktober 2015 Permalink

      subhanallah … amat kecil manusia dalam hamparan ciptaan2Nya.

  • erva kurniawan 6:47 pm on 3 October 2015 Permalink | Balas  

    Hartamu Tidak Menambah Umurmu Sedetik Pun 

    sedekah 1Hartamu Tidak Menambah Umurmu Sedetik Pun

    Kapan terbetik dalam hatimu bahwa hartamu akan menambah umurmu, maka sungguh engkau seperti yang disebutkan oleh Allah ttg orang yang terus mengumpulkan harta dan pelit karena menyangka hartanya akan menambah usianya.

    Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu kami dapat mengkekalkannya.  (QS. Al-Humazah : 2-3)

    Justru sikap pelitlah yang merusak umur dan menghilangkan keberkahannya, sebaliknya perbuatan baik terlebih lagi bersedekah bagi kerabat dan fakir miskin serta anak-anak yatim yang akan menambah umurnya.

    Ingatlah engkau dilahirkan dalam kondisi tidak membawa sepeser pun harta, maka demikian pula tatkala kau dibangkitkan tidak membawa sepeser pun harta yang selama ini engkau kumpulkan siang dan malam tanpa mengenal lelah

    Namun jika hartamu kau sedekahkan di Jalan Allah, maka amal sedekahmu akan menemanimu di alam kubur dan pada hari kiamat kelak.

    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Setiap orang dibawah naungan sedekahnya hingga diputuskan hukum diantara manusia”. (HR Ahmad dan Hakim dan dishahihkan oleh Al-Albani)

    Kenapa seorang mayit memilih “bersedekah” jika bisa kembali hidup ke dunia…?

    Sebagaimana firman Allah:

    “Wahai Rabbku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah” {QS. Al Munafiqun:10}

    Kenapa dia tidak mengatakan :

    “Maka aku dapat melaksanakan umroh”

    “Maka aku dapat melakukan sholat atau puasa” dll?

    Berkata para ulama : Tidaklah seorang mayit menyebutkan “sedekah” kecuali karena dia melihat besarnya pahala dan imbas baiknya setelah dia meninggal.

    Maka, perbanyaklah bersedekah, karena seorang mukmin akan berada dibawah naungan sedekahnnya.

    Oleh : Syeikh Maher al-Mueaqly hafidzahullah

    [Imam Masjidil Haram, Mekah al-Mukarramah]

     
  • erva kurniawan 2:30 am on 26 September 2015 Permalink | Balas  

    Presiden Wanita dalam Pandangan Islam 

    pemimpin1Presiden Wanita dalam Pandangan Islam

    Fatwa dr Pusat Konsultasi Syariah

    Allah SWT. berfirman:

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengatahui”(QS Al Hujuraat 1).

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS An-Nisaa’ 59)

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS: Al Maa’idah 105).

    Dengan mengikuti landasan-landasan diatas maka kita harus merujuk pada Alqur’an dan Sunnah dalam setiap pembahasan termasuk pembahasan tentang kepemimpinan wanita. Kita tidak boleh mendahului Allah dan Rasul-Nya hanya karena mengikuti pendapat ulama atau hanya untuk menyenangkan orang lain.

    Para ulama dan fuqaha dari semua madzhab Islam baik salaf (klasik) maupun khalaf (kontemporer) telah menyepakati bahwa; TIDAK SAH DAN HARAM WANITA MENJADI KEPALA NEGARA Apabila hukum ini dilanggar, maka akan menjadi salah satu sebab kehancuran bangsa dan negara.

    Ijma’ (konsensus) para ulama tersebut di atas, di dasarkan pada beberapa dalil dan alasan berikut ini:

    1. Hadits Rasulullah saw: Artinya: “Tidak akan berjaya selama-lamanya suatu kaum yang mengangkat wanita / perempuan menjadi kepala negara”.

    (Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam shahihnya, Fathul Baari; kitab al-Fitan 13/ 53, kitab al-Maghazi 8/126, At-Tirmidzi dalam Sunannya, Tuhfatul Ahwadzi; bab al-Fitan 6/541-542, An-Nasa’i dalam Sunannya, bab larangan menempatkan wanita dalam pemerintahan, 8/227 dan Ahmad dalam musnadnya, Fathur Rabbani 19/206-207 dan 23/35).

    Sebab disabdakan hadits ini; ketika Rasulullah saw mendengar tentang pengangkatan putri raja Persia (Kisra) yang bernama Buran sebagai pengganti ayahandanya yang telah mangkat. Istimbath (pengambilan hukum) dari hadits ini berdasarkan kaidah ushul : Artinya: “Kesimpulan hukum diambil dari keumuman lafadz, bukan dari kekhususan sebab”.

    Para ulama dan fuqaha semua madzhab, baik salaf maupun khalaf sepakat memahami hadits tersebut sebagai larangan keras mengangkat wanita menjadi kepala negara. Mereka semua sepakat bahwa salah satu syarat kepala negara adalah laki-laki.

    1. Ijma’ (Kesepakatan) tersebut di atas dapat dirujuk kepada berbagai referensi (Tafsir, Hadits, Fiqh, Usul Fiqh dan Siasah Syar’iyah) diantaranya:
    2. Madzhab Hanafi: – Syarh Fathul Qadiir oleh Ibnu Hammam, 7/297-298.
    3. Madzhab Maliki: – Bulghatus Salik liaqrabil Masaalik oleh Ahmad bin Muhammad As-Shaawi, 3/261. – Tafsir al-Qhurthubi, 7/ 171
    4. Madzhab Syafi’i: -Takmilah Al-Majmu’ syarhul Muhadzaab Imam Syairaazi oleh Muhammad Najiib al-Muthi’i, 19/114 -Nihayatul Muhtaaj ilaa Syarhil Minhaaj oleh Imam ar-Ramli, 7/ 389 -Al- Ahkaam as-Sulthaniyah oleh Al-Mawardi hal 27. -Fadha’ih al- Bathiniyah oleh Imam al-Ghazali hal, 180. -Al-Mawaqif wa Syarhuha oleh al-Iji dan al-Jurjani, 8/350. -Al-Irsyaad oleh al-Juwaini , hal. 246-247 -Tafsir Ibnu Kastsir, 1/76.
    5. Madzhab Hambali: -Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah, 11/180. e. Madzhab Dhahiri: -Al- Fashlu fi al-Milal wa al- Ahwa’ wa an-Nihal oleh Ibnu Hazm, 4/166.
    6. Fiqh Kontemporer: – Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, oleh Dr. Wahbah az-Zuhaili , 6/ 693. – Min Fiqhi ad-Daulah, oleh Yusuf al-Qardhawi, hal 165.
    7. Jabatan kepala negara dalam wacana hukum Islam termasuk walayah kamilah (kepemimpinan penuh), atau walayah ‘aamah (kepemimpinan umum) yang meliputi walayah diniyah (kepemimpinan agama) dan walayah harbiyah (kepemimpinan militer).

    Di Indonesia kepala negara otomatis menjadi Pangti ABRI. Maka kedua wilayah (kepemimpinan) ini tidak dapat sepenuhnya diemban oleh wanita, sesuai dengan kodrat dan fitrahnya.

    1. Allah swt tidak pernah mengangkat wanita menjadi Nabi atau Rasul, ini tidak lain diantaranya karena kenabian dan kerasulan itu meliputi walayah diniyah dan walayah harbiyah sehingga tidak dapat sepenuhnya diamanatkan kepada wanita.
    2. Praktek dan aplikasi sejarah semenjak Khilafah Islamiyah di masa Abu Bakar ash-Shiddiq hingga Khilafah Islamiyah di Turki.

    Tak seorangpun diantara para pemegang kepemimpinan umum tersebut dari kalangan wanita sekalipun pada masa tersebut banyak tokoh wanita yang memiliki keahlian dalam berbagai bidang kehidupan. Fenomena historis ini membuktikan adanya ijma’ amali (konsensus implementatif) yang membenarkan pendapat para ulama dan fuqaha tersebut di atas.

    Masalah ini bukanlah masalah khilafiyah tetapi sudah disepakati oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Memang ada pendapat lain yang nyleneh dari satu firqoh Al-Khawarij tapi pendapat ini tidak dianggap sebagai suatu pendapat yang membatalkan ijma diatas. Begitu juga yang menentang ijma ini adalah kelompok Feminisme yang muncul dari dunia Barat yang sengaja akan menghancurkan Islam dan umat Islam terutama dari kalangan muslimah.

    Demikianlah jawaban dan tadzkirah ini kami tujukan kepada umat Islam agar tidak ikut mempercepat kehancuran bangsa dan negara yang kini tengah menghadapi berbagai krisis. Allah SWT. berfirman: Artinya: “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfa’at bagi orang-orang yang beriman”.(QS. Adz Dzaariyaat :55)

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 24 September 2015 Permalink | Balas  

    Berkorban 

    kambing-kurban-300x225Berkorban

    Oleh: KH A. Mustofa Bisri

    Allahu akbar!

    Bayangkan Anda sudah lama sekali kepingin mempunyai anak; kemudian setelah hampir putus asa, Allah menganugerahi Anda seorang anak yang luar biasa cantik. Anak itu kemudian tumbuh sebagai anak yang baik dan pintar. Kemudian setelah menginjak remaja, tiba-tiba anak Anda itu meninggal. Bagaimana kira-kira perasaan anda?

    Allahu Akbar!

    Nabi Ibrahim -‘alaihis salaam- seperti diketahui, sudah lama ingin mempunyai anak dan baru ketika sudah sangat tua Allah menganugerahi seorang anak yang rupawan dan pintar, nabi Ismail -alaihis salaam. Dan cerita selanjutnya Anda sudah tahu. Nabi Ismail a.s. tidak ‘hanya’ meninggal, tapi sang ayah sendiri diminta untuk menyembelihnya. Anda pasti tidak bisa membayangkannya. Bagaimana seorang ayah yang sudah lama mendambakan anak, ketika dambaan itu akhirnya terwujud dan si anak sudah ketok moto (di depan mata, red), disuruh menyembelih.

    Bagi kacamata kita, terutama di zaman akhir ini, hal itu tentu sangat musykil. Antara lain karena kita sudah terbiasa dengan sikap kemilikan, suka memiliki. Jangankan yang milik kita sendiri, milik orang lain pun sering kali kita ingin miliki atau kalau bisa kita rampas untuk kita sayang-sayang. Dan adakah hak milik yang lebih berharga dan lebih kita sayangi melebihi anak, belahan hati?

    Tapi, Allahu Akbar! Nabi Ibrahim a.s. yang dijuluki KhalilulLah itu sama sekali tidak merasa musykil. Karena bagi sang kekasih Allah itu, gerak-gerik lahir maupun batinnya berawal dari Kekasih Agungnya, Allah SWT. Ialah yang pertama dan paling utama (Bandingkan dengan kebanyakan kita yang memposisikan Allah di paling belakang. Biasanya setelah kepepet!). Maka bukan Ismail belahan hatinya, bukan kenangan pendambaan dan kebahagiaannya bersama puteranya itu, bukan perintah menyembelihnya, bukan bayangan kehilangan sesudahnya, dan bukan sesuatu apapun yang lain; yang pertama-tama tersirat saat diperintah -seperti setiap saat- adalah Sang Kekasih yang memerintah. Allahu Akbar!

    Barangkali yang tersisa dari rasa sayang manusiawinya hanyalah yang menampak dari pemberitahuannya kepada sang putera, “Ya bunayya, innie aaraa fil manaami anni adzbahuka, fandhur madzaa taraa?!”, “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam tidurku, aku menyembelihmu; maka pertimbangkanlah, apa pendapatmu?” Dan, Bak Bapak Bak Anak, Kacang ora tinggal lanjarane, jawaban Nabi Ismail a.s. pun menunjukkan kualitasnya sebagai hamba Allah yang titik pandang dan pertimbangannya bermula dari-Nya, “Ya abati if’al maa tu’mar, satajidunie insya Allahu minash-shaabirien.”, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; engkau akan mendapatiku insya Allah termasuk orang-orang yang tabah.”

    Allahu Akbar!

    Dua pengorbanan agung dari dua hamba Allah yang begitu total kepasrahannya. Demi Tuhan mereka, yang satu mengikhlaskan miliknya yang paling disayang: anaknya; yang lain mengikhlaskan nyawanya sendiri. Maka adalah nyata apa yang mereka nyatakan, “Inna shalaatie wa nusukie wa mahyaaya wa mamaati lillahi Rabbil ‘aalamien. Laa syarieka lahu wabidzaalika umirtu wa ana awwalul muslimien.”, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah milik Allah Tuhan semesta alam, tak ada yang ikut memiliki bersamanya; dan dengan yang demikian itulah aku diperintah dan akulah yang pertama-tama menyerahkan diri kepadaNya.”

    Allahu Akbar!

    Alangkah jauhnya teladan itu dari kita. Sekedar mengorbankan sedikit saja dari apa yang kita anggap milik kita, rasanya berat bagi kita. Apalagi menyadari bahwa semua yang ada pada kita pada hakikatnya milik Allah semata. Kita memerlukan berbagai kiat dan rekayasa dalam memotivasi diri kita untuk sekedar merelakan sebagian kecil ‘milik’ kita. Untuk membeli seekor kambing saja, kadang-kadang kita harus menghitung-hitung dan mempertimbangkan dari berbagai sudut, dari segi untung-rugi, dsb. Seringkali setelah pertimbangan yang njelimet, akhirnya kita tidak jadi membeli kambing. Kalau pun akhirnya jadi membeli untuk kurban demi Allah, kita pun memasang harapan pahala berlipat-ganda.

    Itu tidak hanya yang berkaitan dengan harta ‘milik’ kita yang bersifat materi. Di luar itu, ada yang lebih tidak tersadari oleh kebanyakan kita. Acap kali untuk memenuhi perintah Allah, kita begitu bakhil berkorban. Misalnya untuk memenuhi perintah persaudaraan, kita enggan mengorbankan sedikit penghormatan kepada sikap orang lain atau sekedar mendengarkan pendapatnya. Semua orang Islam yang naik haji, sudah pasti mendambakan ibadah hajinya mabrur. Ironinya, karena keinginan yang begitu besar mendapatkan haji mabrur, banyak yang enggan berkorban bagi kepentingan mulia lain yang juga diperintahkan Allah atau bagi menjauhi larangan-Nya. Tengoklah mereka yang bertengkar (dilarang Quran dengan firman, “wa laa jidaala”) berebut shaf salat atau tempat-tempat mustajab. Atau yang lebih parah lagi, tengoklah mereka yang ‘mati-matian’ berusaha mencium Hajar Aswad itu. Tak ada satu pun di antara mereka yang rela berkorban untuk saudaranya sesama muslim, bahkan perilaku mereka yang menyikut kesana-kemari itu, mengesankan seolah-olah mereka sedang melakukan ‘jihad fi sabilillah’ dan menganggap saudara-saudara mereka yang lain adalah musuh-musuh mereka.

    Orang yang terlalu menyintai apa yang dianggap miliknya -termasuk dirinya, pendapat, dan pendiriannya sendiri- sangat sukar dibayangkan dapat membuktikan cintanya kepada Allah melalui pengorbanan yang tulus. Maka sikap yang terbaik -tentu saja- seperti yang diajarkan Pemimpin Agung kita nabi Muhammad SAW, ialah sikap tawassuth, sederhana, sak madiyo, tengah-tengah dalam segala hal; termasuk dalam menyintai dan membenci. Dengan demikian kita akan dapat memurnikan pemujaan kita kepada-Nya sendiri dan ringan berkorban untuk-Nya. Allahu Akbar! Wallahu a’lam. (*)

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 23 September 2015 Permalink | Balas  

    Tuntunan Iedul Qurban 

    hewan-kurbanTuntunan Iedul Qurban

    Oleh : Azhari bin Muhammad Asri

    http://www.perpustakaan-islam.com

    Iedul Qurban adalah salah satu hari raya di antara dua hari raya kaum muslimin, dan merupakan rahmat Allah Subhanahu wa taala bagi ummat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Hal ini diterangkan dalam hadits Anas radiyallahu anhu, beliau berkata: Nabi shallallhu alaihi wa sallam datang, sedangkan penduduk Madinah di masa jahiliyyah memiliki dua hari raya yang mereka bersuka ria padanya (tahun baru dan hari pemuda (aunul mabud), maka (beliau) bersabda:

    “Aku datang kepada kalian, sedangkan kalian memiliki dua hari raya yang kalian bersuka ria padanya di masa jahiliyyah, kemudian Allah menggantikan untuk kalian du a hari raya yang lebih baik dari keduanya; hari Iedul Qurban dan hari Iedul Fitri.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan Al-Baghawi, shahih, lihat Ahkamul Iedain hal. 8).

    Selain itu, pada Hari Raya Qurban terdapat ibadah yang besar pahalanya di sisi Allah, yaitu shalat Ied dan menyembelih hewan kurban. Insyallah pada kesempatan kali ini kami akan menjelaskan beberapa hukum-hukum yang berkaitan dengan Iedul Qurban, agar kita bisa melaksanakan ibadah besar ini dengan disertai ilmu.

    1. Hukum Menyembelih kurban

    Para Ulama berselisih pendapat tentang hukumnya. Sedangkan menurut pendapat yang kuat hukumnya adalah wajib bagi yang memiliki kemampuan (Ahkamul Iedain hal. 26). Di antara hadits yang dijadikan dalil bagi ulama yang mewajibkan adalah:

    “Dari Abi Hurairah radliyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Barang siapa memiliki kelapangan (kemampuan) kemudian tidak berqurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat Ied kami.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah,Ad-Daruqutni, Al-Hakim, sanadnya hasan, lihat Ahkamul Iedain hal. 26).

    Dari hadits di atas diterangkan bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam melarang untuk mendekati tempat shalat Ied bagi orang yang memiliki kemampuan akan tetapi tidak berqurban. Hal itu menunjukkan bahwasanya dia telah meninggalkan suatu kewajiban yang seakan-akan tidak ada manfaatnya, bertaqarrub kepada Allah dengan dia meninggalkan kewajiban itu (Subulus Salam 4/169).

    1. Waktu Menyembelih

    Hewan kurban disembelih setelah selesai shalat Ied. Dalilnya:

    Dari Barra bin Azib radiallahuanhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya perkara yang pertama kita mulai pada hari ini adalah kita shalat kemudian menyembelih. Maka barang siapa yang melakukan hal itu, dia telah mendapatkan sunnah kami. Dan barang siapa yang telah menyembelih (sebelum shalat pent), maka sesungguhnya sembelihan itu adalah daging yang diperuntukkan bagi keluarganya, bukan termasuk hewan kurban sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1961).

    Diperbolehkan untuk mengakhirkan penyembelihan, yaitu menyembelih pada hari kedua dan ketiga setelah hari Ied. Sebagaimana diterangkan dalam hadits:

    “Dari Nabi shallallahu alai wa sallam bahwasanya beliau bersabda: setiap hari tasyriq ada sembelihan.” (HR. Ahmad 4/8 dari Jubair bin Muthim radiallahu anhu, dan dihasankan oleh Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid dalam Ahkamul iedain).

    Berkata Ibnul Qayyim: “(Kebolehan menyembelih di hari-hari tasyriq) adalah pendapat: Imam Ahmad, Malik, Abu Hanifah rahimahumullah .”

    Imam Ahmad berkata: “Ini adalah pendapat lebih dari satu shahabat Muhammad shallallahu alai wa sallam, dan Al-Atsram menyebutkan diantaranya: Ibnu Umar, Ibnu Abas radiallahu anhum.” (Zadul Maad 2/319).

    1. Tempat Menyembelih

    Dalam rangka menampakkan syiar Islam dan kaum muslimin,disunnahkan menyembelih di lapangan tempat shalat Ied. Dalilnya:

    “Dari Ibnu Umar radliyallahu anhu dari Nabi shallallahu `alaihi wa sallam : bahwasanya beliau menyembelih (kibas dan unta) dilapangan Ied.” (HR. Bukhari no. 5552 dengan Fathul Bari).

    1. Larangan Memotong Rambut dan Kuku

    Barang siapa hendak berqurban, tidak diperbolehkan bagi dia memotong rambut dan kukunya sedikitpun, setelah masuk tanggal 1 Dzulhijjah hingga shalat Ied. Dalilnya:

    “Dari Ummu Salamah, bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian hendak menyembelih, maka hendaknya dia menahan (yakni tidak memotong, pent) rambut dan kukunya.” (HR. Muslim No. 1977).

    Imam Nawawi berkata: “Maksud larangan tersebut adalah dilarang memotong kuku dengan gunting dan semacamnya, memotong ram¨but; baik gundul, memendekkan rambut,mencabutnya, membakarnya atau selain itu. Dan termasuk dalam hal ini, memotong bulu ketiak, kumis, kemaluan dan bulu lainnya yang ada di badan (Syarah Muslim 13/138).”

    Berkata Ibnu Qudamah: “Siapa yang melanggar larangan tersebut hendaknya minta ampun kepada Allah dan tidak ada fidyah (tebusan) baginya, baik dilakukan sengaja atau lupa (Al-Mughni11/96).”

    Dari keterangan di atas maka larangan tersebut menunjukkan haram. Demikian pendapat Said bin Musayyib, Rabiah, Ahmad, Ishaq, Daud dan sebagian Madzhab Syafiiyah. Dan hal itu dikuatkan oleh Imam Asy-Syaukani dalam Nailul Authar juz 5 hal. 112 dan Syaikh Ali hasan dalam Ahkamul iedain hal. 74).

    1. Jenis Sembelihan

    “Dari Jabir, berkata: Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallambersabda: Janganlah kalian menyembelih kecuali musinnah, akan tetapi jika kalian merasa berat hendaklah menyembelih Al-Jazaah(HR. Muslim 6/72 dan Abu Daud 2797).

    Syaikh Al-Albani menerangkan:

    • Musinnah yaitu jenis unta, sapi dan kambing atau kibas. Umur kambing adalah ketika masuk tahun ketiga, sedangkan unta, masuk tahun keenam.
    • Al-jazaah yaitu kambing atau kibas yang berumur setahun pas menurut pendapat jumhur ulama (Silsilah Ad-Dlaifah 1/160).

    Dan yang terbaik dari jenis sembelihan tadi adalah kibas jantan bertanduk bagus, warna putih bercampur hitam di sekitar mata dan kakinya. Yang demikian karena termasuk sifat-sifat yang disunnahkan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam dan beliau menyembelih hewan yang memiliki sifat tersebut.

    “Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah sallalahu alaihi wa sallam memerintahkan menyembelih kibas yang bertanduk baik, dan sekitar kaki, perut dan matanya berwarna hitam. Kemudian didatangkan kepada beliau, lalu disembelih.” (HR. Abu Daud, dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahih Abu Daud no. 2423).

    1. Hewan kurban Tidak Cacat

    Termasuk tuntunan Nabi shallalahu alaihi wa sallam yaitu memilih hewan yang selamat dari cacat dan memilih yang terbaik. Beliau melarang menyembelih hewan yang terputus telinganya, terpecah tanduknya, matanya pece, terputus bagian depan atau belakang telinganya, terbelah atau terkoyak telinganya. Adapun kibas yang dikebiri boleh untuk disembelih. (Ahkamul Iedain hal. 75)

    1. Boleh Berserikat

    Satu ekor hewan kurban boleh diniatkan pahalanya untuk dirinya dan keluarganya meskipun dalam jumlah yang banyak.

    Dalilnya:”Berkata Atha bin Yasar: Aku bertanya kepada Abu Ayyub Al-Anshari, bagaimana sifat sembelihan di masa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam , beliau menjawab: jika seseorang berkurban seekor kambing, maka untuk dia dan keluarganya. Kemudian mereka makan dan memberi makan dari kurban tersebut.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Malik, Al-Baihaqi dan sanadnya hasan, lihat Ahkamul Iedain hal. 76).

    “Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan kemudian tiba hari Ied. Maka kami berserikat tujuh orang pada seekor sapi dan sepuluh orang pada seekor unta.” (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 1213).

    1. Cara Menyembelih

    Menyembelih dengan pisau yang tajam, mengucapkan bismillah wallahu akbar, membaringkan sembelihan pada sisi kirinya karena yang demikian mudah bagi si penyembelih memegang pisau dengan tangan kanannya, dan menahan lehernya dengan tangan kiri. Dalil¨nya:

    “Dari Anas bin Malik, dia berkata: Bahwasanya Nabi shallallahu `alaihi wa sallam menyembelih dua ekor kibasnya yang bagus dan bertanduk. Beliau mengucapkan basmallah dan takbir dan meletakkan kakinya di samping lehernya.”(HR. Bukhari, Muslim dan lainnya).

    Dan disunnahkan bagi yang berkorban, memotong sendiri sembelihannya atau mewakilkan kepada orang lain (Ahkamul Iedain hal. 77).

    10. Membagikan Daging kurban

    Bagi yang menyembelih disunnahkan makan daging qurbannya, menghadiahkan karib kerabatnya, bershadaqah pada fakir miskin, dan menyimpannya untuk perbekalan lebih dari 3 hari. Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

    “Makanlah, simpanlah untuk perbekalan dan bershadaqahlah.”(HR.Bukhari Muslim).

    Daging sembelihan, kulitnya, rambutnya dan yang bermanfaat dari kurban tersebut tidak boleh diperjualbelikan menurut pendapat jumhur ulama, dan seorang tukang sembelih tidak mendapatkan daging kurban. Tetapi yang dia dapatkan hanyalah upah dari yang berkurban. Dalilnya:

    “Dari Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhuma, dia berkata:

    Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memerintahkan aku untuk menyembelih hewan kurbannya dan membagi-bagi dagingnya, kulitnya, dan alat-alat untuk melindungi tubuhnya, dan tidak memberi tukang potong sedikitpun dari kurban tersebut.” (HR. Bukhari Muslim).

    11. Bagi Yang Tidak Berkurban

    Kaum muslimin yang tidak mampu untuk berkorban, mereka akan mendapatkan pahala seperti halnya orang yang berkorban dari umat Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam. Hal ini diterangkan dalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

    “Bismillah Wallahu Akbar, ini (kurban) dariku dan dari umatku yang tidak menyembelih.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud no. 2436). Wallahu taala alam. Dikutip dari Majalah SALAFY

    ***

    Kontributor: Puji Hartono, 02 Desember 2001

     
  • erva kurniawan 2:16 am on 22 September 2015 Permalink | Balas  

    Luasnya Neraka Jahanam 

    taubat2Luasnya Neraka Jahanam

    Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata :

    Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad SAW pada waktu yang ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka ditanya oleh Nabi SAW : “Mengapa aku melihat kau berubah muka?”

    Jawabnya: “Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yang mengetahui bahwa Neraka Jahanam itu benar, dan siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka – suka sebelum ia merasa aman daripadanya.”

    Lalu Nabi SAW bersabda: “Ya Jibril, jelaskan padaku sifat Jahanam.”

    Jawabnya: “Ya. Ketika Allah menjadikan Jahanam, maka dinyalakan selama seribu tahun, sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. ”

    Demi Allah yang mengutus engkau dengan hak, andaikan terbuka sebesar lubang jarum niscaya akan dapat membakar penduduk dunia semuanya karena panasnya.

    Demi Allah yang mengutus engkau dengan hak, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi niscaya akan mati penduduk bumi karena panas dan dahsyatnya.

    Demi Allah yang mengutus engkau dengan hak, andaikan satu pergelangan dari rantai yang disebut dalam Al-Qur’an itu diletakkan di atas bukit, niscaya akan cair sampai ke bawah bumi yang ke tujuh.

    Demi Allah yang mengutus engkau dengan hak, andaikan seorang diujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang – orang yang diujung timur karena sangat panasnya.

    Neraka Jahanam itu sangat dalam dan perhiasannya besi, dan minumannya air panas campur nanah, dan pakaiannya potongan-potongan api. Api neraka itu ada tujuh pintu, tiap – tiap pintu ada bagiannya yang tertentu dari orang laki – laki dan perempuan.”

    Nabi SAW bertanya : “Apakah pintu – pintunya bagaikan pintu – pintu rumah kami?” Jawabnya : “Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya di bawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70,000 tahun, tiap pintu lebih panas dari yang lain 70 kali ganda.” (nota kefahaman: yaitu yang lebih bawah lebih panas)

    Tanya Rasulullah SAW : “Siapakah penduduk masing – masing pintu?”

    Jawab Jibril : “Pintu yang terbawah untuk orang – orang munafik, dan orang – orang yang kafir setelah diturunkan hidangan mukjizat Nabi Isa AS. Serta keluarga Fir’aun sedang namanya Al-Hawiyah. Pintu kedua tempat orang – orang musyrikin bernama Jahim, pintu ketiga tempat orang shobi’in bernama Saqar. Pintu ke empat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum majusi bernama Ladha, pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah. Pintu ke enam tempat orang Nasara’ bernama Sa’eir.”

    Kemudian Jibril diam segan pada Rasulullah SAW sehingga ditanya : “Mengapa tidak Kau terangkan penduduk pintu ke tujuh?” Jawabnya: “Di dalamnya orang – orang yang berdosa besar dari ummatmu yang sampai mati belum sempat bertaubat.”

    Maka Nabi SAW jatuh pingsan ketika mendengar keterangan itu, sehingga Jibril meletakkan kepala Nabi SAW dipangkuannya sehingga sadar kembali, dan sesudah sadar Nabi SAW bersabda : “Ya Jibril, sungguh besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari ummatku yang akan masuk ke dalam neraka?”

    Jawabnya: “Ya, yaitu orang yang berdosa besar dari ummatmu.” Kemudian Nabi SAW menangis, Jibril juga menangis, kemudian Nabi SAW masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang kemudian kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang selalu menangis dan minta kepada Allah.

    (dipetik dari kitab “Peringatan Bagi Yang Lalai”)

    Dari Hadith Qudsi: Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat

    Sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahari-Ku. Tahukah kamu bahwa neraka jahanam-Ku itu:

    1. Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat.
    2. Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah.
    3. Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung.
    4. Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah.
    5. Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik.
    6. Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak.
    7. Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pohon zaqqum.
    8. Di bawah setiap pohon zaqqum mempunyai 70,000 ekor ular.
    9. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandungi lautan racun yang hitam pekat.
    10. Juga di bawah setiap pohon zaqqum mempunyai 70,000 rantai.
    11. Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat.

    Mudah – mudahan dapat menimbulkan keinsafan kepada kita semua.

    Wallahua’lam.

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 21 September 2015 Permalink | Balas  

    Luasnya Neraka Jahanam 

    taubatLuasnya Neraka Jahanam

    Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata :

    Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad SAW pada waktu yang ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka ditanya oleh Nabi SAW : “Mengapa aku melihat kau berubah muka?”

    Jawabnya: “Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yg mengetahui bahwa Neraka Jahanam itu benar, dan siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka – suka sebelum ia merasa aman daripadanya.”

    Lalu Nabi SAW bersabda: “Ya Jibril, jelaskan padaku sifat Jahanam.”

    Jawabnya: “Ya. Ketika Allah menjadikan Jahanam, maka dinyalakan selama seribu tahun, sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. ”

    Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan terbuka sebesar lubang jarum niscaya akan dapat membakar penduduk dunia semuanya karena panasnya.

    Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi niscaya akan mati penduduk bumi karena panas dan dahsyatnya.

    Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu pergelangan dari rantai yg disebut dalam Al-Qur’an itu diletakkan di atas bukit, niscaya akan cair sampai ke bawah bumi yg ke tujuh.

    Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan seorang diujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang – orang yang diujung timur karena sangat panasnya.

    Neraka Jahanam itu sangat dalam dan perhiasannya besi, dan minumannya air panas campur nanah, dan pakaiannya potongan-potongan api. Api neraka itu ada tujuh pintu, tiap – tiap pintu ada bahagiannya yang tertentu dari orang laki – laki dan perempuan.”

    Nabi SAW bertanya : “Apakah pintu – pintunya bagaikan pintu – pintu rumah kami?” Jawabnya : “Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya di bawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70,000 tahun, tiap pintu lebih panas dari yang lain 70 kali ganda.” (nota kefahaman: yaitu yang lebih bawah lebih panas)

    Tanya Rasulullah SAW : “Siapakah penduduk masing – masing pintu?”

    Jawab Jibril : “Pintu yang terbawah untuk orang – orang munafik, dan orang – orang yang kafir setelah diturunkan hidangan mukjizat Nabi Isa AS. Serta keluarga Fir’aun sedang namanya Al-Hawiyah. Pintu kedua tempat orang – orang musyrikin bernama Jahim, pintu ketiga tempat orang shobi’in bernama Saqar. Pintu ke empat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum majusi bernama Ladha, pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah. Pintu ke enam tempat orang Nasara’ bernama Sa’eir.”

    Kemudian Jibril diam segan pada Rasulullah SAW sehingga ditanya : “Mengapa tidak Kau terangkan penduduk pintu ke tujuh?” Jawabnya: “Di dalamnya orang – orang yang berdosa besar dari ummatmu yang sampai mati belum sempat bertaubat.”

    Maka Nabi SAW jatuh pingsan ketika mendengar keterangan itu, sehingga Jibril meletakkan kepala Nabi SAW dipangkuannya sehingga sadar kembali, dan sesudah sadar Nabi SAW bersabda : “Ya Jibril, sungguh besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari ummatku yang akan masuk ke dalam neraka?”

    Jawabnya: “Ya, yaitu orang yang berdosa besar dari ummatmu.” Kemudian Nabi SAW menangis, Jibril juga menangis, kemudian Nabi SAW masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang kemudian kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang selalu menangis dan minta kepada Allah.

    (dipetik dari kitab “Peringatan Bagi Yang Lalai”)

    Dari Hadith Qudsi: Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat, Sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahari-Ku. Tahukah kamu bahwa neraka jahanam-Ku itu:

    1. Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat.

    2. Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah.

    3. Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung.

    4. Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah.

    5. Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik.

    6. Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak.

    7. Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pohon zaqqum.

    8. Di bawah setiap pohon zaqqum mempunyai 70,000 ekor ular.

    9. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandungi lautan racun yang hitam pekat.

    10. Juga di bawah setiap pohon zaqqum mempunyai 70,000 rantai.

    11. Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat.

    Mudah – mudahan dapat menimbulkan keinsafan kepada kita semua.

    Wallahua’lam.

     
  • erva kurniawan 11:47 am on 20 September 2015 Permalink | Balas  

    Kalau Binatang Itu Didapati Sudah Mati 

    rusaKalau Binatang Itu Didapati Sudah Mati

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Kadang-kadang terjadi, seorang pemburu melepaskan panahnya mengenai seekor binatang, tetapi binatang tersebut menghilang, beberapa saat, kemudian dijumpainya sudah mati. Hal ini bisa jadi sudah berjalan beberapa hari lamanya.

    Dalam persoalan ini, binatang tersebut bisa menjadi halal dengan beberapa syarat:

    1) Bahwa binatang tersebut tidak jatuh ke dalam air.

    Seperti yang dikatakan oleh Nabi s.a.w.:

    “Kalau kamu melemparkan panahmu, maka jika kamu dapati binatang itu sudah mati, makanlah, kecuali apabila binatang tersebut kamu dapati jatuh ke dalam air, maka kamu tidak tahu: apakah air itu yang menyebabkan binatang tersebut mati ataukah panahmu?” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    2) Tidak terdapat tanda-tanda mati karena bekas panah orang lain yang menjadi sebab matinya binatang tersebut.

    Seperti apa yang pernah ditanyakan Adi bin Hatim kepada Rasulullah s.a.w.:

    “Ya Rasulullah! Saya melempar binatang, kemudian saya dapati pada binatang tersebut ada bekas panahku yang kemarin, apakah boleh dimakan? Maka jawab Nabi, ‘Kalau kamu yakin, bahwa panahmulah yang membunuhnya dan tidak ada bekas (digigit) binatang buas, maka makanlah.'” (Riwayat Tarmizi)

    3) Binatang tersebut belum sampai busuk; sebab menurut tabiat yang wajar akan menganggap kotor dan jijik terhadap binatang yang sudah busuk, lebih-lebih kalau hal itu dimungkinkan akan membawa bahaya.

    Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. pernah berkata kepada Abu Tsa’labah al-Khasyani sebagai berikut:

    “Kalau kamu melemparkan panahmu, kemudian binatang itu menghilang sampai tiga hari dan kamu dapati sudah mati, maka makanlah selama binatang tersebut belum busuk.” (Riwayat Tarmizi)

    ***

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 19 September 2015 Permalink | Balas  

    Penyembelihan Orang Majusi dan Sebagainya 

    pesta makan dagingPenyembelihan Orang Majusi dan Sebagainya

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Para ulama berbeda pendapat tentang penyembelihan orang Majusi. Kebanyakan mereka berpendapat tidak boleh memakannya karena mereka termasuk orang musyrik.

    Sedang yang lain berpendapat halal karena Nabi s.a.w. pernah bersabda:

    “Perlakukanlah mereka itu seperti perlakuan terhadap ahli kitab.” (Riwayat Malik dan Syafi’i)

    Dan Nabi sendiri pernah menerima upeti dari Majusi Hajar. (Riwayat Bukhari).

    Oleh karena itu, Ibnu Hazim berkata di bab penyembelihan dalam kitabnya Muhalla: “Mereka itu adalah ahli kitab, oleh karena itu mereka dihukumi seperti hukum yang berlaku untuk ahli kitab dalam segala hal.” (Lihat juz 7: 456).7

    Dan shabiun (penyembah binatang) oleh Abu Hanifah dianggap sebagai ahli kitab juga.8

    Kaidah: “Apa Yang Ghaib Bagi Kita, Jangan Kita Tanyakan”

    Tidak menjadi kewajiban seorang muslim untuk menanyakan hal-hal yang tidak disaksikan, misalnya: Bagaimana cara penyembelihannya? Terpenuhi syaratnya atau tidak? Disebut asma’ Allah atau tidak? Bahkan apapun yang tidak kita saksikan sendiri tentang penyembelihannya baik dilakukan oleh seorang muslim, walaupun dia bodoh dan fasik, ataupun oleh ahli kitab, semuanya adalah halal buat kita.

    Sebab, seperti apa yang telah kita sebutkan di atas, yaitu ada suatu kaum yang bertanya kepada Nabi: “Bahwa ada satu kaum yang memberinya daging, tetapi kita tidak tahu apakah disebut asma’ Allah atau tidak. Maka jawab Nabi: Sebutlah asma’ Allah atasnya dan makanlah,” (Riwayat Bukhari).

    Berdasar hadis ini para ulama berpendapat, bahwa semua perbuatan dan pengeluaran selalu dihukumi sah dan baik, kecuali ada dalil (bukti) yang menunjukkan rusakan batalnya perbuatan tersebut.

    ***

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 18 September 2015 Permalink | Balas  

    Binatang yang Disembelih Untuk Gereja dan Hari-Hari Besar 

    pesta makan dagingBinatang yang Disembelih Untuk Gereja dan Hari-Hari Besar

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    1. Masalah pertama: Apabila tidak terdengar suara dari ahli kitab itu sebutan nama selain Allah, misalnya: Nama al-Masih dan Uzair ketika menyembelih, maka makanannya tersebut tetap halal buat orang Islam. Tetapi kalau sampai terdengar suara penyebutan nama selain Allah, maka dari kalangan ahli fiqih ada yang mengharamkannya karena termasuk apa yang disebut uhilla lighairillah (yang disembelih bukan karena Allah). Tetapi sementara ada juga yang berpendapat halal.

    Abu Darda’ pernah ditanya tentang kambing yang disembelih untuk suatu gereja yang disebut jurjas, binatang itu mereka hadiahkan buat gereja tersebut, apakah boleh kita makan? Maka jawab Abu Darda’: “Boleh.” Sebab mereka itu adalah ahli kitab yang makanannya sudah jelas halal buat kita, dan sebaliknya makanan kita pun halal buat mereka. Kemudian dia suruh memakannya.(HR.Riwayat Thabarani 1:42 z)

    Imam Malik pernah ditanya tentang sembelihan ahli kitab untuk hari-hari besar dan gereja mereka, maka kata Imam Malik: Aku memakruhkannya dan aku tidak menganggapnya haram.

    Imam Malik memakruhkannya, karena termasuk dalam kategori wara’ (berhati-hati supaya tidak jatuh ke dalam maksiat) karena kawatir kalau-kalau dia itu termasuk ke dalam apa yang disebut binatang yang disembelih bukan karena Allah. Dan ia tidak mengharamkan, karena arti dan maksud apa yang disembelih bukan karena Allah itu menurut pendapatnya, sepanjang yang dinisbatkan kepada ahli kitab, yaitu yang disembelih untuk bertaqarrub kepada Tuhan sedang mereka (ahli kitab) itu sendiri tidak memakannya. Dan apa yang disembelih dan dimakan adalah termasuk makanan mereka, sedang dalam hal ini Allah telah menegaskan: “Bahwa makanan ahli kitab itu halal buat kamu.”

    Sembelihan yang Dilakukan Oleh Ahli Kitab dengan Tenaga Listrik dan Sebagainya

    1. Masalah kedua: Apakah penyembelihan mereka itu dipersyaratkan seperti penyembelihan kita juga, yaitu dengan pisau yang tajam dan dilakukan pada leher binatang?

    Kebanyakan para ulama berpendapat demikian. Tetapi menurut fatwa pengikut-pengikut madzhab Imam Malik, bahwa yang demikian itu tidak termasuk persyaratan.

    Al-Qadhi Ibnu Arabi berkata ketika menafsiri ayat 5 surah al-Maidah itu sebagai berikut: Ini suatu dalil yang tegas, bahwa binatang buruan dan makanan ahli kitab itu adalah termasuk makan yang baik-baik (thayyibaat) yang telah dihalalkan Allah dengan mutlak. Allah mengulang-ulanginya itu hanyalah bermaksud untuk menghilangkan keragu-raguan pertentangan-pertentangan yang timbul dari perasaan-perasaan yang salah, yang memang sering menimbulkan suatu pertentangan dan memperpanjang omongan.

    Saya pernah ditanya tentang seorang Kristen yang membelit leher ayam kemudian dimasaknya, apakah itu boleh dimakan atau diambil sebagian daripadanya sebagai makanan? Maka jawab saya: Boleh dimakan, karena dia itu termasuk makanannya dan makanan pendeta dan pastor, sekalipun ini menurut kita tidak termasuk penyembelihan, namun Allah telah menghalalkan makanan mereka itu secara mutlak. Makanan apapun yang dibenarkan oleh agama mereka berarti halal buat kita, kecuali yang memang oleh Allah telah didustakan.

    Ulama-ulama kita pernah berkata: Mereka telah menyerahkan perempuan-perempuan mereka kepada kita untuk dikawin dan halal kita setubuhi, mengapa penyembelihannya tidak boleh kita makan, sedang makan tidak sama dengan setubuh, halal dan haramnya.

    Demikian pendapat Ibnul-Arabi.

    Kemudian di tempat lain ia berkata lagi: Mereka tidak makan yang bukan karena disembelih, misalnya dengan dicekik dan dipukul kepalanya (dengan tidak bermaksud menyembelih, karena itu binatang tersebut termasuk bangkai yang haram).

    Kedua pendapat beliau ini tidak bertentangan, sebab yang dimaksud ialah: Apa yang mereka anggap sebagai penyembelihan, berarti halal buat kita sekalipun menurut kita sembelihannya itu tidak benar. Dan apa yang mereka anggap itu bukan sembelihan, tidaklah halal buat kita.

    Dengan demikian, menurut mafhum musytarak apa yang disebut penyembelihan, yaitu bermaksud menyabung nyawa binatang dengan niat untuk halalnya memakan binatang tersebut.

    Ini adalah pendapat ulama-ulama Malikiyah.

    Dengan bercermin kepada apa yang telah kami sebutkan di atas, maka kita dapat mengetahui hukumnya daging-daging yang diimport dari negara-negara yang penduduknya majoritas ahli kitab, seperti ayam, corned sapi, yang semua itu kadang-kadang disembelih dengan menggunakan tenaga elektronik dan sebagainya. Selama binatang-binatang tersebut oleh mereka dianggapnya sebagai sembelihan, maka jelas halal buat kita, sesuai dengan umumnya ayat.

    Adapun daging-daging yang diimport dari negara-negara Komunis, tidak boleh kita makan. Sebab mereka itu bukan ahli kitab, bahkan mereka adalah kufur dan anti kepada semua agama dan menentang Allah serta seluruh risalahnya.

    ***

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 17 September 2015 Permalink | Balas  

    Sembelihan Ahli Kitab 

    menyembelih sapiSembelihan Ahli Kitab

    Kita tahu bagaimana Islam memperkeras persoalan penyembelihan dan menganggap penting persoalan ini. Hal ini adalah justru karena orang-orang musyrik Arab dan pengikut-pengikut agama lain telah menjadikan penyembelihan termasuk persoalan ibadah, bahkan masuk persoalan keyakinan dan pokok kepercayaan agama. Oleh karena itu menyembelih, mereka jadikan sebagai sesuatu cara untuk berbakti kepada tuhannya, maka disembelihnya binatang untuk berhala atau dengan menyebut nama tuhannya. Kemudian datanglah Islam menghapus cara-cara ini dan mewajibkan untuk tidak menyebut kecuali asma’ Allah, serta mengharamkan binatang yang disembelih untuk berhala dan dengan menyebut nama berhala.

    Kemudian setelah ahli kitab yang semula adalah bertauhid itu telah banyak dipengaruhi oleh perasaan-perasaan syirik dan samasekali tidak melepaskan dari kesyirikanriya yang dulu-dulu, sehingga sementara orang Islam menganggap, bahwa mereka tidak bisa lagi bergaul dan bertemu dengan mereka sebagaimana halnya terhadap orang-orang musyrik lainnya, maka Allah memberikan perkenan (rukhsah) kepada mereka untuk makan makanan ahli kitab sebagaimana halnya dalam persoalan-persoalan perkawinan. Hal ini ditegaskan Allah dalam firmanNya yang merupakan ayat terakhir, yaitu:

    “Hari ini dihalalkan yang baik-baik buat kamu dan begitu juga makanan orang-orang yang pernah diberi kitab (ahli kitab) adalah halal buat kamu, dan sebaliknya makananmu halal buat mereka.” (al-Maidah: 5)

    Maksud ayat di atas secara ringkas: bahwa hari ini semua yang baik, halal buat kamu, karena itu tidak ada lagi apa yang disebut: Bahirah, saibah, washilah dan ham. Dan makanan ahli kitab pun halal buat kamu sesuai dengan hukum asal dimana sama sekali Allah tidak mengharamkannya, dan sebaliknya makananmu pun halal buat mereka. Jadi kamu boleh makan binatang yang disembelih dan diburu oleh ahli kitab, dan sebaliknya kamu boleh memberi makan ahli kitab dengan binatang yang kamu sembelih atau yang kamu buru.

    Islam bersifat keras terhadap orang musyrik tetapi terhadap ahli kitab sangat lunak dan mempermudah, karena mereka ini lebih dekat kepada orang mu’min, sebab sama-sama mengakui wahyu Allah, mengakui kenabian dan pokok-pokok agama secara global. Justru itu pula kita dianjurkan untuk menaruh mawaddah terhadap mereka, boleh makan makanan mereka, boleh kawin dengan perempuan-perempuan mereka dan bergaul dengan baik bersama mereka. Sebab kalau mereka itu sudah bergaul dengan kita dan memeluk Islam dengan penuh keyakinan dan kesadaran, mereka pun akan tahu bahwa agama kita itu justru agama mereka juga dalam pengertian yang lebih tinggi, lebih sempurna bentuk-bentuknya dan lebih bersih lembaran-lembarannya dari segala macam bid’ah, kebatilan dan persekutuan.

    Perkataan makanan ahli kitab adalah suatu ungkapan yang bersifat umum, meliputi seluruh macam makanan: sembelihannya, biji-bijiannya dan sebagainya. Semua ini halal buat kita, selama barang-barang tersebut tidak termasuk kategori haram, karena zatnya seperti darah, bangkai dan daging babi. Semua ini tidak boleh kita makan dengan ijma’ ulama, baik barang-barang tersebut makanan ahli kitab ataupun milik orang muslim.

    ***

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 16 September 2015 Permalink | Balas  

    Hikmah Menyebut Asma’ Allah Waktu Menyembelih Perintah untuk… 

    kurbanHikmah Menyebut Asma’ Allah Waktu Menyembelih

    Perintah untuk menyebut asma’ Allah ketika menyembelih terkandung rahasia yang halus sekali, yang kiranya perlu untuk direnungkan dan diperhatikan:

    Ditinjau dari segi perbedaannya dengan orang musyrik. Bahwa orang-orang musyrik dan orang-orang jahiliah selalu menyebut nama-nama tuhan dan berhala mereka ketika menyembelih. Kalau orang-orang musyrik berbuat demikian, mengapa orang mu’min tidak menyebut nama Tuhannya?

    Segi kedua, yaitu bahwa binatang dan manusia sama-sama makhluk Allah yang hidup dan bernyawa. Oleh karena itu mengapa manusia akan mentang-mentang begitu saja mencabutnya binatang tersebut, tanpa minta izin kepada penciptanya yang juga mencipta seluruh isi bumi ini? Justru itu menyebut asma’ Allah di sini merupakan suatu pemberitahuan izin Allah, yang seolah-olah manusia itu mengatakan: Aku berbuat ini bukan karena untuk memusuhi makhluk Allah, bukan pula untuk merendahkannya, tetapi adalah justru dengan nama Allah kami sembelih binatang itu dan dengan nama Allah juga kami berburu dan dengan namaNya juga kami makan.

    ***

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

     
  • erva kurniawan 11:23 am on 15 September 2015 Permalink | Balas  

    Rahasia Penyembelihan dan Hikmahnya 

    kurbanRahasia Penyembelihan dan Hikmahnya

    Rahasia penyembelihan, menurut yang kami ketahui, yaitu melepaskan nyawa binatang dengan jalan yang paling mudah, yang kiranya meringankan dan tidak menyakiti. Untuk itu maka disyaratkan alat yang dipakai harus tajam, supaya lebih cepat memberi pengaruh.

    Di samping itu dipersyaratkan juga, bahwa penyembelihan itu harus dilakukan pada leher, karena tempat ini yang lebih dekat untuk memisahkan hidup binatang dan lebih mudah.

    Dan dilarang menyembelih binatang dengan menggunakan gigi dan kuku, karena penyembelihan dengan alat-alat tersebut dapat menyakiti binatang. Pada umumnya alat-alat tersebut hanya bersifat mencekik.

    Nabi memerintahkan, supaya pisau yang dipakai itu tajam dan dengan cara yang sopan.

    Sabda Nabi:

    “Sesungguhnya Allah mewajibkan untuk berbuat baik kepada sesuatu. Oleh karena itu jika kamu membunuh, maka perbaikilah cara membunuhnya, dan apabila kamu menyembelih maka perbaikilah cara menyembelihnya dan tajamkanlah pisaunya serta mudahkanlah penyembelihannya itu.” (Riwayat Muslim)

    Di antara bentuk kebaikan ialah seperti apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, bahwa Rasulullah memerintahkan supaya pisaunya itu yang tajam.

    Sabda Nabi:

    “Apabila salah seorang di antara kamu memotong (binatang), maka sempurnakanlah.” (Riwayat Ibnu Majah)

    Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwa ada seorang yang membaringkan seekor kambing sambil ia mengasah pisaunya, maka kata Nabi:

    “Apakah kamu akan membunuhnya, sesudah dia menjadi bangkai? Mengapa tidak kamu asah pisaumu itu sebelum binatang tersebut kamu baringkan?” (Riwayat Hakim)

    Umar Ibnul-Khattab pernah juga melihat seorang laki-laki yang mengikat kaki seekor kambing dan diseretnya untuk disembelih, maka kata Umar: ‘Sial kamu! Giringlah dia kepada mati dengan suatu cara yang baik.’ (Riwayat Abdurrazzaq).

    Begitulah kita dapati pemikiran secara umum dalam permasalahan ini, yaitu yang pada pokoknya harus menaruh belas-kasih kepada binatang dan meringankan dia dari segala penderitaan dengan segala cara yang mungkin.

    Orang-orang jahiliah dahulu suka memotong kelasa unta (bhs Jawa, punuk) dan jembel kambing dalam keadaan hidup. Cara semacam itu adalah menyiksa binatang. Oleh karena itu Rasulullah s.a.w. kemudian menghalangi maksud mereka dan mengharamkan memanfaatkan binatang dengan cara semacam itu.

    Maka kata Nabi:

    “Daging yang dipotong dari binatang dalam keadaan hidup, berarti bangkai.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi dan Hakim)

    ***

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 14 September 2015 Permalink | Balas  

    Penyembelihan Hewan Secara Islam 

    Sembelih-BinatangPenyembelihan Hewan Secara Islam

    Menyembelih Sebagai Syarat Halalnya Binatang

    Binatang-binatang darat yang halal dimakan itu ada dua macam:

    Binatang-binatang tersebut mungkin untuk ditangkap, seperti unta, sapi, kambing dan binatang-binatang jinak lainnya, misalnya binatang-binatang peliharaan dan burung-burung yang dipelihara di rumah-rumah.

    Binatang-binatang yang tidak dapat ditangkap.

    Untuk binatang-binatang yang mungkin ditangkap seperti tersebut di atas, supaya dapat dimakan, Islam memberikan persyaratan harus disembelih menurut aturan syara’.

    Syarat-Syarat Penyembelihan Menurut Syara’

    Penyembelihan menurut syara’ yang dimaksud, hanya bisa sempurna jika terpenuhinya syarat-syarat sebagai berikut:

    1). Binatang tersebut harus disembelih atau ditusuk (nahr) dengan suatu alat yang tajam yang dapat mengalirkan darah dan mencabut nyawa binatang tersebut, baik alat itu berupa batu ataupun kayu.

    “Alirkanlah darahnya dengan apa saja yang kamu suka, dan sebutlah nama Allah atasnya.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Nasal, Ibnu Majah, Hakim dan Ibnu Hibban)

    2). Penyembelihan atau penusukan (nahr) itu harus dilakukan di leher binatang tersebut, yaitu: bahwa kematian binatang tersebut justru sebagai akibat dari terputusnya urat nadi atau kerongkongannya.

    Penyembelihan yang paling sempurna, yaitu terputusnya kerongkongan, tenggorokan dan urat nadi.

    Persyaratan ini dapat gugur apabila penyembelihan itu ternyata tidak dapat dilakukan pada tempatnya yang khas, misalnya karena binatang tersebut jatuh dalam sumur, sedang kepalanya berada di bawah yang tidak mungkin lehernya itu dapat dipotong; atau karena binatang tersebut menentang sifat kejinakannya. Waktu itu boleh diperlakukan seperti buronan, yang cukup dilukai dengan alat yang tajam di bagian manapun yang mungkin.

    Raafi’ bin Khadij menceriterakan:

    “Kami pernah bersama Nabi dalam suatu bepergian, kemudian ada seekor unta milik orang kampung melarikan diri, sedang mereka tidak mempunyai kuda, untuk mengejar, maka ada seorang laki-laki yang melemparnya dengan panah. Kemudian bersabdalah Nabi: ‘Binatang ini mempunyai sifat primitif seperti primitifnya binatang biadab (liar), oleh karena itu apa saja yang dapat dikerjakan, kerjakanlah; begitulah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    3). Tidak disebut selain asma’ Allah; dan ini sudah disepakati oleh semua ulama. Sebab orang-orang jahiliah bertaqarrub kepada Tuhan dan berhalanya dengan cara menyembelih binatang, yang ada kalanya mereka sebut berhala-berhala itu ketika menyembelih, dan ada kalanya penyembelihannya itu diperuntukkan kepada sesuatu berhala tertentu. Untuk itulah maka al-Quran melarangnya, yaitu sebagaimana disebutkan dalam firmannya:

    “Dan binatang yang disembelih karena selain Allah … dan binatang yang disembelih untuk berhala.” (al-Maidah: 3)

    4). Harus disebutnya nama Allah (membaca bismillah) ketika menyembelih. Ini menurut zahir nas al-Quran yang mengatakan:

    “Makanlah dari apa-apa yang disebut asma’ Allah atasnya, jika kamu benar-benar beriman kepada ayat-ayatNya.” (al-An’am: 118)

    “Dan janganlah kamu makan dari apa-apa yang tidak disebut asma’ Allah atasnya, karena sesungguhnya dia itu suatu kedurhakaan.” (al-An’am: 121)

    Dan sabda Rasulullah s.a.w.:

    “Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebut asma’ Allah atasnya, maka makanlah dia.” (Riwayat Bukhari)

    Di antara yang memperkuat persyaratan ini, ialah beberapa hadis shahih yang mengharuskan menyebut asma’ Allah ketika melepaskan panah atau anjing berburu, sebagaimana akan diterangkan nanti.

    Sementara ulama ada juga yang berpendapat, bahwa menyebut asma’ Allah itu sudah menjadi suatu keharusan, akan tetapi tidak harus ketika menyembelihnya itu. Bisa juga dilakukan ketika makan. Sebab kalau ketika makan itu telah disebutnya asma’ Allah bukanlah berarti dia makan sesuatu yang disembelih dengan tidak disebut asma’ Allah. Karena sesuai dengan ceritera Aisyah, bahwa ada beberapa orang yang baru masuk Islam menanyakan kepada Rasulullah:

    “Sesungguhnya suatu kaum memberi kami daging, tetapi kami tidak tahu apakah mereka itu menyebut asma’ Allah atau tidak? Dan apakah kami boleh makan daripadanya atau tidak? Maka jawab Nabi: ‘Sebutlah asma’ Allah dan makanlah.'” (Riwayat Bukhari)

     
  • erva kurniawan 10:52 am on 12 September 2015 Permalink | Balas  

    Dalil Makanan Haram 

    kodok lembuDalil Makanan Haram

    Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk memilih makanan yang halal serta menjauhi makanan haram. Rasulullah bersabda :

    “Dari Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah saw bersabda: ” Sesungguhnya Allah baik tidak menerima kecuali hal-hal yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mu’min sebagaimana yang diperintahkan kepada para rasul, Allah berfirman: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”,

    Dan firmanNya yang lain: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu” Kemudian beliau mencontohkan seorang laki-laki, dia telah menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut serta berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit: Yaa Rabbi ! Yaa Rabbi ! Sedangkan ia memakan makanan yang haram, dan pakaiannya yang ia pakai dari harta yang haram, dan ia meminum dari minuman yang haram, dan dibesarkan dari hal-hal yang haram, bagaimana mungkin akan diterima do’anya”. (HR Muslim no. 1015)

    Makanan HARAM :

    1. BANGKAI

    Yaitu hewan yang mati bukan karena disembelih atau diburu. Hukumnya jelas haram dan bahaya yang ditimbulkannya bagi agama dan badan manusia sangat nyata, sebab pada bangkai terdapat darah yang mengendap sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan. Bangkai ada beberapa macam sbb :

    1. Al-Munkhaniqoh yaitu hewan yang mati karena tercekik baik secara sengaja atau tidak. B. Al-Mauqudhah yaitu hewan yang mati karena dipukul dengan alat/benda keras hingga mati olehnya atau disetrum dengan alat listrik. C. Al-Mutaraddiyah yaitu hewan yang mati karena jatuh dari tempat tinggi atau jatuh ke dalam sumur sehingga mati. D. An-Nathihah yaitu hewan yang mati karena ditanduk oleh hewan lainnya (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim 3/22 oleh Imam Ibnu Katsir).

    Sekalipun bangkai haram hukumnya tetapi ada yang dikecualikan yaitu bangkai ikan dan belalang berdasarkan hadits: “Dari Ibnu Umar berkata: ” Dihalalkan untuk dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai yaitu ikan dan belalang, sedang dua darah yaitu hati dan limpa.” (Shahih. Lihat Takhrijnya dalam Al-Furqan hal 27 edisi 4/Th.11)

    Rasululah juga pernah ditanya tentang air laut, maka beliau bersabda: “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.”:

    (Shahih. Lihat Takhrijnya dalam Al-Furqan 26 edisi 3/Th 11) Syaikh Muhammad Nasiruddin Al–Albani berkata dalam Silsilah As-Shahihah (no.480): “Dalam hadits ini terdapat faedah penting yaitu halalnya setiap bangkai hewan laut sekalipun terapung di atas air (laut)? Beliau menjawab: “Sesungguhnya yang terapung itu termasuk bangkainya sedangkan Rasulullah bersabda: “Laut itu seci airnya dan halal bangkainya” (HR. Daraqutni: 538)

    Adapun hadits tentang larangan memakan sesuatu yang terapung di atas laut tidaklah shahih. (Lihat pula Al-Muhalla (6/60-65) oleh Ibnu Hazm dan Syarh Shahih Muslim (13/76) oleh An-Nawawi).

    1. DARAH

    Yaitu darah yang mengalir sebagaimana dijelaskan dalam ayat lainnya: “Atau darah yang mengalir” (QS. Al-An’Am: 145) Demikianlah dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Sa’id bin Jubair. Diceritakan bahwa orang-orang jahiliyyah dahulu apabila seorang diantara mereka merasa lapar, maka dia mengambil sebilah alat tajam yang terbuat dari tulang atau sejenisnya, lalu digunakan untuk memotong unta atau hewan yang kemudian darah yang keluar dikumpulkan dan dibuat makanan/minuman. Oleh karena itulah, Allah mengharamkan darah pada umat ini. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/23-24). Sekalipun darah adalah haram, tetapi ada pengecualian yaitu hati dan limpa berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas tadi. Demikian pula sisa-sisa darah yang menempel pada daging atau leher setelah disembelih. Semuanya itu hukumnya halal. Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: ” Pendapat yang benar, bahwa darah yang diharamkan oleh Allah adalah darah yang mengalir. Adapun sisa darah yang menempel pada daging, maka tidak ada satupun dari kalangan ulama’ yang mengharamkannya”. (Dinukil dari Al-Mulakhas Al-Fiqhi 2/461 oleh Syaikh Dr. Shahih Al-Fauzan).

    1. DAGING BABI

    Babi baik peliharaan maupun liar, jantan maupun betina. Dan mencakup seluruh anggota tubuh babi sekalipun minyaknya. Tentang keharamannya, telah ditandaskan dalam al-Qur’an, hadits dan ijma’ ulama.

    1. SEMBELIHAN UNTUK SELAIN ALLAH

    Yakni setiap hewan yang disembelih dengan selain nama Allah hukumnya haram, karena Allah mewajibkan agar setiap makhlukNya disembelih dengan nama-Nya yang mulia. Oleh karenanya, apabila seorang tidak mengindahkan hal itu bahkan menyebut nama selain Allah baik patung, taghut, berhala dan lain sebagainya , maka hukum sembelihan tersebut adalah haram dengan kesepakatan ulama.

    1. HEWAN YANG DITERKAM BINATANG BUAS

    Yakni hewan yang diterkam oleh harimau, serigala atau anjing lalu dimakan sebagiannya kemudia mati karenanya, maka hukumnya adalah haram sekalipun darahnya mengalir dan bagian lehernya yang kena. Semua itu hukumnya haram dengan kesepakatan ulama. Orang-orang jahiliyah dulu biasa memakan hewan yang diterkam oleh binatang buas baik kambing, unta,sapi dsb, maka Allah mengharamkan hal itu bagi kaum mukminin. Adapun hewan yang diterkam binatang buasa apabila dijumpai masih hidup (bernyawa) seperti kalau tangan dan kakinya masih bergerak atau masih bernafas kemudian disembelih secara syar’i, maka hewan tersebut adalah halal karena telah disembelih secara halal.

    1. BINATANG BUAS BERTARING

    Hal ini berdasarkan hadits : “Dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda: “Setiap binatang buas yang bertaring adalah haram dimakan” (HR. Muslim no. 1933) Perlu diketahui bahwa hadits ini mutawatir sebagaimana ditegaskan Imam Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (1/125) dan Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam I’lamul Muwaqqi’in (2/118-119) Maksudnya “dziinaab” yakni binatang yang memiliki taring atau kuku tajam untuk melawan manusia seperti serigala, singa,anjing, macan tutul, harimau,beruang,kera dan sejenisnya. Semua itu haram dimakan”. (Lihat Syarh Sunnah (11/234) oleh Imam Al-Baghawi).

    Hadits ini secara jelas menunjukkan haramnya memakan binatang buas yang bertaring bukan hanaya makruh saja. Pendapat yang menyatakan makruh saja adalah pendapat yang salah. (lihat At-Tamhid (1/111) oleh Ibnu Abdil Barr, I’lamul Muwaqqi’in (4-356) oleh Ibnu Qayyim dan As-Shahihah no. 476 oleh Al-Albani. Imam Ibnu Abdil Barr juga mengatakan dalam At-Tamhid (1/127): “Saya tidak mengetahui persilangan pendapat di kalangan ulama kaum muslimin bahwa kera tidak boleh dimakan dan tidak boleh dijual karena tidak ada manfaatnya. Dan kami tidak mengetahui seorang ulama’pun yang membolehkan untuk memakannya. Demikianpula anjing, gajah dan seluruh binatang buas yang bertaring. Semuanya sama saja bagiku (keharamannya). Dan hujjah adalah sabda Nabi saw bukan pendapat orang….”.

    Para ulama berselisih pendapat tentang musang. Apakah termasuk binatang buas yang haram ataukah tidak? Pendapat yang rajih bahwa musang adalah halal sebagaimana pendapat Imam Ahmad dan Syafi’i berdasarkan hadits :

    “Dari Ibnu Abi Ammar berkata: Aku pernah bertanya kepada Jabir tentang musang, apakah ia termasuk hewan buruan? Jawabnya: “Ya”. Lalu aku bertanya: apakah boleh dimakan? Beliau menjawab: Ya. Aku bertanya lagi: Apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah? Jawabnya: Ya. (Shahih. HR. Abu Daud (3801), Tirmidzi (851), Nasa’i (5/191) dan dishahihkan Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al- Baihaqi, Ibnu Qoyyim serta Ibnu Hajar dalam At-Talkhis Habir (1/1507). Lantas apakah hadits Jabir ini bertentangan dengan hadits larangan di atas? ! Imam Ibnu Qoyyim menjelaskan dalam I’lamul Muwaqqi’in (2/120) bahwa tidak ada kontradiksi antara dua hadits di atas. Sebab musang tidaklah termasuk kategori binatang buas, baik ditinjau dari segi bahasa maupun segi urf (kebiasaan) manusia. Penjelasan ini disetujui oleh Al-Allamah Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (5/411) dan Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani dalam At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah (3-28)

    1. BURUNG YANG BERKUKU TAJAM

    Hal ini berdasarkan hadits : Dari Ibnu Abbas berkata:

    “Rasulullah melarang dari setiap hewan buas yang bertaring dan berkuku tajam” (HR Muslim no. 1934)

    Imam Al-Baghawi berkata dalam Syarh Sunnah (11/234): “Demikian juga setiap burung yang berkuku tajam seperti burung garuda,elang dan sejenisnya”. Imam Nawawi berkata dalam Syarh Shahih Muslim 13/72-73:

    “Dalam hadits ini terdapat dalil bagi madzab Syafi’i, Abu Hanifah, Ahmad, Daud dan mayoritas ulama tentang haramnya memakan binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam.”

    1. KHIMAR AHLIYYAH (KELEDAI JINAK)

    Hal ini berdasarkan hadits: “Dari Jabir berkata: “Rasulullah melarang pada perang khaibar dari (makan) daging khimar dan memperbolehkan daging kuda”. (HR Bukhori no. 4219 dan Muslim no. 1941) dalam riwayat lain disebutkan begini : “Pada perang Khaibar, mereka menyembelih kuda, bighal dan khimar. Lalu Rasulullah melarang dari bighal dan khimar dan tidak melarang dari kuda. (Shahih. HR Abu Daud (3789), Nasa’i (7/201), Ahmad (3/356), Ibnu Hibban (5272), Baihaqi (9/327), Daraqutni (4/288-289) dan Al-Baghawi dalam Syarhu Sunnah no. 2811). Dalam hadits di atas terdapat dua masalah : Pertama : Haramnya keledai jinak. Ini merupakan pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in dan ulama setelah mereka berdasarkan hadits-hadits shahih dan jelas seperti di atas. Adapaun keledai liar, maka hukumnya halal dengan kesepakatan ulama. (Lihat Sailul Jarrar (4/99) oleh Imam Syaukani). Kedua: Halalnya daging kuda. Ini merupakan pendapat Zaid bin Ali, Syafi’i, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan mayoritass ulama salaf berdasarkan hadits-hadits shahih dan jelas di atas. Ibnu Abi Syaiban meriwayatkan dengan sanadnya yang sesuai syarat Bukhari Muslim dari Atha’ bahwa beliau berkata kepada Ibnu Juraij: ” Salafmu biasa memakannya (daging kuda)”. Ibnu Juraij berkata: “Apakah sahabat Rasulullah? Jawabnya : Ya. (Lihat Subulus Salam (4/146-147) oleh Imam As-Shan’ani).

    1. AL-JALLALAH

    Hal ini berdasarkan hadits : “Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah melarang dari jalalah unta untuk dinaiki. (HR. Abu Daud no. 2558 dengan sanad shahih). “Dalam riwayat lain disebutkan: Rasulullah melarang dari memakan jallalah dan susunya.” (HR. Abu Daud : 3785, Tirmidzi: 1823 dan Ibnu Majah: 3189). “Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata: Rasulullah melarang dari keledai jinak dan jalalah, menaiki dan memakan dagingnya. “(HR Ahmad (2/219) dan dihasankan Al-Hafidz dalam Fathul Bari 9/648).

    Maksud Al-Jalalah yaitu setiap hewan baik hewan berkaki empat maupun berkaki dua-yang makanan pokoknya adalah kotoran-kotoran seperti kotoran manuasia/hewan dan sejenisnya. (Fahul Bari 9/648). Ibnu Abi Syaiban dalam Al-Mushannaf (5/147/24598) meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau mengurung ayam yang makan kotoran selama tiga hari. (Sanadnya shahih sebagaimana dikatakan Al-Hafidz dalam Fathul Bari 9/648). Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (11/254) juga berkata: “Kemudian menghukumi suatu hewan yang memakan kotoran sebagai jalalah perlu diteliti. Apabila hewan tersebut memakan kotoran hanya bersifat kadang-kadang, maka ini tidak termasuk kategori jalalah dan tidak haram dimakan seperti ayam dan sejenisnya…” Hukum jalalah haram dimakan sebagaimana pendapat mayoritas Syafi’iyyah dan Hanabilah. Pendapat ini juga ditegaskan oleh Ibnu Daqiq Al-‘Ied dari para fuqaha’ serta dishahihkan oleh Abu Ishaq Al-Marwazi, Al-Qoffal, Al-Juwaini, Al-Baghawi dan Al-Ghozali. (Lihat Fathul Bari (9/648) oleh Ibnu Hajar). Sebab diharamkannya jalalah adalah perubahan bau dan rasa daging dan susunya. Apabila pengaruh kotoran pada daging hewan yang membuat keharamannya itu hilang, maka tidak lagi haram hukumnya, bahkan hukumnya hahal secara yakin dan tidak ada batas waktu tertentu. Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan (9/648): “Ukuran waktu boelhnya memakan hewan jalalah yaitu apabila bau kotoran pada hewan tersebut hilang dengan diganti oleh sesuatu yang suci menurut pendapat yang benar.”. Pendapat ini dikuatkan oleh imam Syaukani dalam Nailul Authar (7/464) dan Al-Albani dan At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah (3/32).

    1. AD-DHAB (HEWAN SEJENIS BIAWAK) BAGI YANG MERASA JIJIK DARINYA

    Berdasarkan hadits: “Dari Abdur Rahman bin Syibl berkata: Rasulullah melarang dari makan dhab (hewan sejenis biawak). (Hasan. HR Abu Daud (3796), Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa Tarikh (2/318), Baihaqi (9/326) dan dihasankan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9/665) serta disetujui oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 2390). Benar terdapat beberapa hadits yang banayk sekali dalam Bukhari Muslim dan selainnya yang menjelaskan bolehnya makan dhob baik secara tegas berupa sabda Nabi maupun taqrir (persetujuan Nabi). Diantaranya , Hadits Abdullah bin Umar secara marfu’ (samapai pada nabi)” “Dhab, saya tidak memakannya dan saya juga tidak mengharamkannya.” (HR Bukhari no.5536 dan Muslim no. 1943)

    1. HEWAN YANG DIPERINTAHKAN AGAMA SUPAYA DIBUNUH

    “Dari Aisyah berkata: Rasulullah bersabda: Lima hewan fasik yang hendaknya dibunuh, baik di tanah halal maupun haram yaitu ular, tikus, anjing hitam. ” (HR. Muslim no. 1198 dan Bukhari no. 1829 dengan lafadz “kalajengking: gantinya “ular” ) Imam ibnu Hazm mengatakan dalam Al-Muhalla (6/73-74): “Setiap binatang yang diperintahkan oleh Rasulullah supaya dibunuh maka tidak ada sembelihan baginya, karena Rasulullah melarang dari menyia-nyiakan harta dan tidak halal membunuh binatang yang dimakan” (Lihat pula Al-Mughni (13/323) oleh Ibnu Qudamah dan Al-Majmu’ Syarh Muhadzab (9/23) oleh Nawawi).

    “Dari Ummu Syarik berkata bahwa Nabi memerintahkan supaya membunuh tokek/cecak” (HR. Bukhari no. 3359 dan Muslim 2237). Imam Ibnu Abdil Barr berkata dalam At-Tamhid (6/129)” “Tokek/cecak telah disepakati keharaman memakannya”.

    1. HEWAN YANG DILARANG UNTUK DIBUNUH

    “Dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah melarang membunuh 4 hewan : semut, tawon, burung hud-hud dan burung surad. ” (HR Ahmad (1/332,347), Abu Daud (5267), Ibnu Majah (3224), Ibnu Hibban (7/463) dan dishahihkan Baihaqi dan Ibnu Hajar dalam At-Talkhis 4/916). Imam syafi’i dan para sahabatnya mengatakan: “Setiap hewan yang dilarang dibunuh berarti tidak boleh dimakan, karena seandainya boleh dimakan, tentu tidak akan dilarang membunuhnya.” (Lihat Al-Majmu’ (9/23) oleh Nawawi). Haramnya hewan-hewan di atas merupakan pendapat mayoritas ahli ilmu sekalipun ada perselisihan di dalamnya kecuali semut, nampaknya disepakati keharamannya. (Lihat Subul Salam 4/156, Nailul Authar 8/465-468, Faaidhul Qadir 6/414 oleh Al-Munawi).

    “Dari Abdur Rahman bin Utsman Al-Qurasyi bahwasanya seorang tabib pernah bertanya kepada Rasulullah tentang kodok/katak dijadikan obat, lalu Rasulullah melarang membunuhnya. (HR Ahmad (3/453), Abu Daud (5269), Nasa’i (4355), Al-Hakim (4/410-411), Baihaqi (9/258,318) dan dishahihkan Ibnu Hajar dan Al-Albani). Haramnya katak secara mutlak merupakan pendapat Imam Ahmad dan beberapa ulama lainnya serta pendapat yang shahih dari madzab Syafe’i. Al-Abdari menukil dari Abu Bakar As-Shidiq, Umar, Utsman dan Ibnu Abbas bahwa seluruh bangkai laut hukumnya halal kecuali katak (lihat pula Al-Majmu’ (9/35) , Al-Mughni (13/345), Adhwaul Bayan (1/59) oleh Syaikh As-Syanqithi, Aunul Ma’bud (14/121) oleh Adzim Abadi dan Taudhihul Ahkam (6/26) oleh Al-Bassam)

    BINATANG YANG HIDUP DI 2 (DUA) ALAM

    Sejauh ini BELUM ADA DALIL dari Al Qur’an dan hadits yang shahih yang menjelaskan tentang haramnya hewan yang hidup di dua alam (laut dan darat). Dengan demikian binatang yang hidup di dua alam dasar hukumnya “asal hukumnya adalah halal kecuali ada dalil yang mengharamkannya.

    Berikut contoh beberapa dalil hewan hidup di dua alam :

    KEPITING – hukumnya HALAL sebagaimana pendapat Atha’ dan Imam Ahmad. (Lihat Al-Mughni 13/344 oleh Ibnu Qudamah dan Al-Muhalla 6/84 oleh Ibnu Hazm).

    KURA-KURA dan PENYU – juga HALAL sebagaimana madzab Abu Hurairah, Thawus, Muhammad bin Ali, Atha’, Hasan Al-Bashri dan fuqaha’ Madinah. (Lihat Al-Mushannaf (5/146) Ibnu Abi Syaibah dan Al-Muhalla (6/84).

    ANJING LAUT – juga HALAL sebagaimana pendapat imam Malik, Syafe’i, Laits, Syai’bi dan Al-Auza’i (lihat Al-Mughni 13/346).

    KATAK/KODOK – hukumnya HARAM secara mutlak menurut pendapat yang rajih karena termasuk hewan yang dilarang dibunuh sebagaimana penjelasan di atas.

    Semoga bermanfaat.

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 30 August 2015 Permalink | Balas  

    Syukurnya Seorang Buta 

    syukur (1)Syukurnya Seorang Buta

    Imam Bukhari (hadits no 3464) dan Muslim (hadits no 2964) meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shalallahu alaihi wa salam pernah bercerita: ”Dahulu ada tiga orang Bani Israil yang masing-masing menderita suatu penyakit. Orang pertama diserang penyakit kudis disekujur tubuhnya, orang kedua tidak memiliki sehelai rambut pun di kepalanya (botak) dan orang ketiga menderita cacat pada matanya sehingga tidak bisa melihat (buta). Allah ingin menguji mereka dengan mengutus malaikat-Nya.

    Malaikatpun mendatangi orang pertama seraya bertanya: ”Apa yang paling anda inginkan?” Jawabnya: ”Warna dan kulit yang indah serta hilangnya seluruh cacat di tubuhku yang membuat manusia menjauhiku.” Malaikat lalu mengusapnya sehingga segala cacat di kulitnya hilang dan berganti warna kulit yang indah. Malaikat lalu bertanya lagi: ”Binatang (ternak) apa yang anda inginkan?” Jawabnya: ”Unta…-atau sapi-” (perawi ragu). Lantas diapun diberi unta yang sedang bunting dan malaikat berdoa: ”Semoga Allah memberkahimu dengan binatang itu.”.

    Selanjutnya malaikat mendatangi orang yang botak dan bertanya: ”Apa yang paling anda inginkan?” Jawabnya: ”Rambut yang indah serta hilangnya seluruh cacat yang membuat manusia lari dariku.” Malaikat lalu mengusapnya sehingga cacat di kepalanya hilang dan diberi rambut yang indah. Malaikat lalu bertanya lagi: ”Binatang apa yang paling anda inginkan?” Jawabnya: ”Sapi”. Lantas diapun diberi seekor sapi bunting dan malaikat berdoa: ”Semoga Allah memberkahimu dengan binatang itu.”

    Kemudian malaikat mendatangi orang ketiga (si buta) dengan pertanyaan yang sama: ”Apakah sesuatu yang paling anda inginkan?” Jawabnya: ”Semoga Allah menyembuhkan mataku hingga aku dapat melihat.” Malaikat lalu mengusapnya sehingga dia dapat melihat. Malaikat lalu bertanya lagi: ”Binatang apa yang paling anda inginkan?” Jawabnya: ”Kambing”. Lantas diapun diberi kambing bunting dan malaikat berdoa: ”Semoga Allah memberkahimu dengan binatang itu.”

    Waktu terus berputar, hari datang silih berganti, bulan terus berganti dan tahun demi tahun pun berlalu. Ternak mereka makin berkembang biak dan bertambah banyak, hingga masing-masing mempunyai sebuah lembah yang mereka pergunakan untuk menggembala ternaknya masing-masing. Lembah unta, lembah sapi, dan lembah kambing.

    Tibalah saatnya bagi Allah untuk menguji mereka.

    Malaikat kembali mendatangi orang pertama yang kini adalah orang kaya dan tidak lagi berkudis. Malaikat tersebut datang dengan wujud dan keadaan orang tersebut sebelum jadi kaya, yaitu seorang miskin lagi berkudis. Kemudian mengatakan: ”Saya seorang miskin yang kehabisan bekal dalam perjalanan, hari ini tiada yang dapat menolong diri saya kecuali Allah kemudian tuan. Saya memohon kepada tuan yang telah dikaruniai kulit yang indah untuk berkenan kiranya memberikan sedikit harta demi kelangsungan perjalanan saya”. Si kudis menjawab: ”Tidak, kebutuhanku yang lain masih banyak.” Malaikat berkata: ”Sepertinya dulu saya pernah mengenal tuan. Bukankah dahulunya tuan adalah seorang yang berkudis lalu Allah sembuhkan? Dan dahulu tuan adalah seorang fakir lalu Allah cukupkan?” Dia menjawab: ”Harta ini adalah warisan nenek moyang sejak dulu”. Kata Malaikat: ”Jikalau engkau dusta maka Allah akan merubah tuan seperti keadaan semula”.

    Berikutnya malaikat mendatangi orang kedua. Malaikat menyerupai wujudnya ketika masih miskin dan botak dahulu seraya mengajukan permintaan yang serupa dengan orang kedua tadi. Jawaban yang diperoleh pun tak berbeda dengan jawaban orang pertama. Akhirnya malaikat berkata: ”Jikalau engkau dusta, maka Allah akan merubah tuan seperti semula”.

    Malaikat kemudian mendatangi orang ketiga dengan rupa seorang buta yang miskin seraya mengatakan: ”Saya orang miskin yang kehabisan bekal dalam perjalanan. hari ini tiada yang dapat menolong diri saya kecuali Allah, kemudian tuan. Saya memohon kepada tuan yang telah disembuhkan oleh Allah untuk berkenan kiranya memberi saya sedikit harta demi kelangsungan perjalanan saya ini”. Jawab si buta: ”Dahulu aku adalah seorang buta, kemudian Allah menyembuhkanku. Maka ambillah apa saja dan berapapun yang anda mau dan tinggalkan yang anda tidak suka. Demi Allah, saya tidak merasa keberatan bila anda mengambil sesuatu untuk Allah”. Malaikat menjawab: ”Tahanlah hartamu, ambillah kembali. Sesungguhnya kalian sedang diuji. Allah telah meridhoimu dan murka kepada saudaramu”.

    Su Buta dengan ikhlas hati memberikan hartanya kepada malaikat tersebut yang dalam pandangannya adalah seorang yang membutuhkan bantuan. Maka Allah memberkahinya dan dia tetap memiliki hartanya. Berbeda halnya dengan kedua rekannya terdahulu yang ternyata dia berubah menjadi seorang bakhil. Setelah berubah menjadi orang kaya dan berharta, keduanya lupa akan kewajibannya, yaitu bersyukur kepada Allah dan memberikan hak orang lain yang juga membutuhkan uluran tangannya. Maka dikembalikanlah keadaan mereka sebagaimana semula.

    Dari kisah di atas kita dapat mengambil banyak hikmah dan pelajaran yang sangat berharga. Di antaranya:

    1. Iman akan adanya para malaikat yang diciptakan Allah dari cahaya.
    2. Malaikat dapat menjelma seperti wujud bani Adam.
    3. Wajibnya bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah.
    4. Syukur nikmat merupakan sebab keridhaan Allah.
    5. Penetapan sifat ”Ridho” dan ”Murka” bagi Allah sebagaimana aqidah salaf.
    6. Sifat bakhil dan dusta merupakan penyebab murka Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana terjadi pada si kudis dan si botak.
    7. Jujur dan dermawan merupakan sifat yagn mulia sebagaimana sifat si buta di atas.
    8. Harta yang sedikit tapi disyukuri itu lebih baik daripada banyak tapi tidak disyukuri sebagaimana harta si buta yang hanya kambing dibanding harta si kudis dan si botak yaitu unta dan sapi.
    9. Keutamaan shadaqah dan belas kasih terhadap fakir miskin. 10. Pentingnya ilmu kisah karena lebih mendalam di hati manusia.

    ***

    Sumber: Majalah Al Furqon edisi 1 tahun II

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 29 August 2015 Permalink | Balas  

    Almanak Dunia 

    hilalAlmanak Dunia

    Umar bin Khottob adalah orang pertama yang membuat kalender hijriyah dan menjadikannya sebagai awal dari tahun Islam. Ia juga menjadikan bulan Muharram sebagai awal tahun Hijryah karena bulan itu adalah awal dari bulan-bulan yang diharamkan untuk berperang. Sejak saat itulah sejarah arab mengenal tahun Hijriyah. Dan mulai diadakannya peringatan awal tahun itu pada masa Daulah Fathimiyah.

    Sebelumnya, arab jahiliyah menggunakan sistem kalender bulan. Setahunnya terdapat 12 bulan. Awal bulan dimulai sejak terlihatnya bulan sabit dan diakhiri ketika bulan sabit terlihat lagi. Nama-nama bulan mereka sama seperti nama yang ada sekarang yaitu ; Muharram, Shafar, Rabi’ul Awwal, Rabi’u Tsani, Jumada Ula, Jumada Akhiroh, Rajab, Sya’ban, Romadlon, Syawwal, Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah. Tetapi mereka belum menggunakan tahun pada kalender mereka. Namun mereka acap kali menandainya dengan nama peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada saat itu seperti tahun gajah.

    Perlu diketahui bahwa kalender adalah aturan untuk mengukur waktu yang bersandar pada gerak planet di angkasa, khususnya bumi dan bulan. Bumi mengelilingi matahari selama 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik, atau mendekati 365 seperempat hari. Begitu pula berbagai bangsa, mereka mengambil gerakan bulan terhadap bumi sebagai patokan kalender mereka. Biasanya masa sebulan ialah masa antara munculnya bulan sabit hingga munculnya kembali.

    Orang-orang Mesir kuno ialah orang pertama yang mengukur jarak tahun matahari secara tepat. Mereka membagi setahun dengan 12 bulan, setiap bulan 30 hari dengan 5 hari ekstra setiap akhirnya. Kemudian menambahkan sehari penuh setiap 4 tahun sekali karena adanya pergeseran waktu seperempat hari di setiap tahunnya. Dari model kalender Mesirlah dibuat kalender Qibti. Adapun nam-nama bulannya; Tut, Babah, Kihk, Thubah, Amsyir, Bramhat, Bermuda, Basynis, Baunah, Abib, Misry.

    Sedang kalender bulan Eropa seperti yang kita ketahui dimulai oleh bangsa Romawi, kemudian direvisi oleh Julius Caesar pada tahun 45 sebelum Masehi. Lalu pada tahun 1582 Masehi Gregory XIII mematok awal Januari sebagai awal tahun sebagai ganti dari 25 Maret. Terdapat kemiripan antara kalender Suryani dengan kalender Gregory. Adapun bulan-bulannya sebagai berikut; Shirin Awwal, Shirin Tsani, Kanun Awwal, Kanun Tsani, Shabat, Adzar, Nisan, Ayar, Hiziran, Tamuz, Ab, Ailul. Ailul terdiri dari 28 hari, sedang Kanun Awwal dan Kanun Tsani 31 hari. Sisanya antara 30-31 hari.

    Nah, kalo bukan kita sebagai seorang muslim yang menggunakannya, siapa lagi yang akan melestarikannya?

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 28 August 2015 Permalink | Balas  

    Manusia yang Meninggalkan Sholat 

    sholat-berjamaahManusia yang Meninggalkan Sholat

    Assalamualaikum, Untuk renungan kita bersama… Insyallah.

    Dari manuscript lama yang tercatat di atas kulit kambing yang dijumpai dan ditemukan berkurun masehi di sebuah negara “Middle East”. Orang yang menulis tidak dapat diketahui. Ini adalah sesuatu yang harus direnungkan dan di pikirkan bersama bukan sekedar dibaca dan dilupakan, agar kita semua dapat menghindarkan diri kita terjatuh dalam golongan seperti dalam manusript dibawah. Amin……

    1. Seorang Nasrani berkata, ” Saya amat bersyukur kepada Allah walaupun saya dilahirkan dalam bangsa Nasrani. Ini karena saya lebih mulia dari bangsa Majusi[Penyembah Api] “.
    2. Seorang Majusi pula berkata, ” Saya juga berasa amat bersyukur kepada Allah walaupun saya dilahirkan dalam bangsa Majusi. Ini karena saya lebih mulia dari orang kafir [Menduakan Tuhan]”.
    • Coba kita meneliti dua perkataan diatas, kita dapati, kedua – duanya kafir dan tidak mengaku mereka kafir dan mereka saling membandingkan dengan orang kafir, coba kita lihat pula apa orang kafir berkata,..
    1. Seorang Kafir pula berkata, ” Saya juga rasa bersyukur kepada Allah walaupun saya dilahirkan kafir. Ini karena kafir lebih mulia dari dilahirkan sebagai seekor anjing”.
    2. Anjing pula berkata, ” Saya juga bersyukur kepada Allah walaupun saya dilahirkan sebagai anjing “. Ini karena anjing lebih mulia dari dilahirkan sebagai seekor babi.
    • Mari kita terka apakah kesudahan perkataan ini, dan coba kita terka apakah yang babi akan katakan dan siapakah yang babi akan bandingkan dengan dia,…
    1. Babi pula berkata, ” Saya juga bersyukur kepada Allah walaupun saya dilahirkan sebagai seekor babi. Ini karena saya lebih mulia dari manusia yang tidak sholat “.

    Ini adalah sebuah manuscript yang memberi kesadaran kepada umat Islam yang masih tidur dan juga umat yang selalu membandingkan diri mereka dengan insan yang lebih buruk dan lemah dari mereka. Jika ini berkelanjutan, umat Islam tidak akan maju. Tercatat didalam Al-Quran, bahwa umat islam yang meninggalkan sholatnya akan menjadi semakin banyak dan lumrah pada akhir zaman… adakah ini akan berlaku atau sedang berlaku atau telah berlaku?

    1. Manusia pula berkata, ” Saya ini kufur sebab tak sembahyang, tapi bersyukur masih diberi nikmat hidup di dunia oleh Allah sebelum mati dan masuk neraka “.

    Sesungguhnya mati itu adalah benar, azab neraka itu adalah benar dan syurga itu adalah benar… maha suci ALLAH.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 27 August 2015 Permalink | Balas  

    Jangan Hidup Seperti Burung 

    siluet burungJangan Hidup Seperti Burung

    Dalam al-Qur’an terdapat kisah yang sangat menarik untuk dijadikan uswah. Di mana ada seorang ibu yang bercita-cita ingin menjadikan anknya seorang hamba yang shalih. Hamba yang akan menegakkan agama Allah di permukaan bumi.

    Kisah itu tertuang pada surah Ali ‘Imran 35: “(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’.”

    Dia tidak menginginkan anaknya menjadi seorang yang punya gelar kesarjanaan, jabatan dan kedudukan yang terhormat. Dia tidak menginginkan sesuatu yang sifatnya keduniawian yang hanya berkisar pada pemenuhan kebutuhan perut, syahwat dan tempat tinggal.

    Mencari nafkah memang perlu, bahkan wajib. Demikian juga mencari tempat tinggal, juga perlu. Akan tetapi hidup yang dikaruniakan Allah ini, bukan hanya untuk mencari makan, lalu menikah dan beranak pinak saja. Setelah anaknya dewasa disuruhlah mereka mencari nafkah sendiri.

    Jika hidup hanya seperti ini, sama dengan hidupnya burung. Pagi-pagi sudah bertebaran mencari makanan, kembali ke sarang perutnya sudah kenyang. Anak-anaknya yang masih kecil-kecil di dalam sarang dikasih makanan yang dibawanya. Malamnya kumpul kembali sekeluarga di sarang. Pekerjaan ini terus berlangsung setiap hari sampai anaknya bisa mencari makan sendiri. Burung-burung yang telah dewasa mengerjakan pula rutinitas seperti seniornya. Mencari makan, kawin, bikin rumah dan membesarkan anak.

    Bila gelar, pangkat dan kedudukan yang tinggi hanya untuk memenuhi kebutuhan perut dan di bawah perut, tentulah hidupnya berada pada derajat yang rendah. Tidak ada cita-cita lain dalam hidupnya kecuali untuk itu. Bekerja untuk mencari makan. Makan untuk bekerja. Berputar terus dari itu ke itu.

    Padahal tugas manusia bukan untuk itu. Tugas manusia adalah menjadi khalifah, wakil Allah di muka bumi. Sebagai wakil Allah, haruslah ia berusaha menjalankan aturan-aturan Allah di permukaan bumi. Menegakkan kalimah-Nya dan memenangkan agama-Nya.

    Jika hidup hanya unutk mencari makan saja, cecak pun bisa. Dia yang hanya menempel di dinding dan tidak bisa terbang, tapi tetap bisa hidup dengan memakan hewan-hewan yang punya sayap. Dia hanya menunggu nyamuk-nyamuk yang kekenyangan hinggap di dinding, sehingga dapat menangkapnya dengan mudah.

    Lihatlah istri ‘Imran, dia hanya mencita-citakan anaknya menjadi anak yang shalih dan berkhidmat di Baitul Maqdis. Dia tidak mencita- citakan anaknya mendapatkan pangkat, kedudukan, kekayaan dan lain sebagainya yang sifatnya hanya duniawi semata.

    Adakah di zaman sekarang ini seorang ibu yang mempunyai cita-cita seperti itu? Rasanya hanya sedikit orang saja yang mempunyai cita- cita seperti itu. Pastilah kita dapati kebanyakan ibu-ibu menghendaki anaknya mempunyai status sosial yang tinggi. Punya gelar, kedudukan, pangkat, jabatan, atau menjadi orang kaya.

    Cita-cita yang dimiliki istri ‘Imran ini memang langka dan aneh menurut ukuran dan pola pandang orang sekarang. Tapi itulah cita-cita yang akan membedakan kedudukan manusia dengan makhluk lainnya. Manusia mulia karena fungsi kekhalifahannya didayagunakan. Yakni menegakkan kalimah tauhid di belahan bumi manapun. Itulah tugas utama seorang hamba. Dari tingkat rasul sampai kepada tingkat kita sebagai manusia biasa.

    Sang ibu bila mempunyai cita-cita yang mulia ini, janganlah lupa bila telah terlahir seorang anak, maka cepat-cepatlah meminta pertolongan, perlindungan dan pemeliharaan Allah dari syetan yang terkutuk. Syetan tidak akan tinggal diam membiarkan anak tersebut mencapai cita- citanya. Pastilah dia akan menggoda, merayu dan membisikkan bisikannya yang penuh tipu daya agar anak tersebut langkah-langkahnya menyimpang dan tersesat. Syetan akan berusaha menggelincirkannya pada jalan yang menjerumuskannya pada kemungkaran.

    Inilah perlunya meminta pertolongan dan perlindungan Allah. Jika Allah telah melindunginya pastilah dia akan terpelihara dari godaan syetan yang akan menyesatkannya.

    Akan tetapi cita-cita yang luhur, agung dan mulia saja belum cukup untuk mendapatkan anak yang diidam-idamkan itu. Masih ada perangkat lain yang menunjang tercapainya tujuan ini. Yakni pendidikan dan lingkungan.

    Maryam -anak keluarga ‘Imran- menjadi hamba yang shalihah dan taat berkat adanya didikan dan lingkungan yang mengantarkannya. Dia dididik oleh manusia pilihan Allah, Nabi Zakaria. Maryam dididiknya dengan baik dan pemeliharaan yang penuh kasih sayang. Tumbuhlah Maryam menjadi seorang manusia yang suci. Manusia yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT.

    Jelaslah di sini bahwa untuk mewujudkan cita-cita itu perlu pendidikan, lingkungan dan suasana yang mendukung. Keinginan untuk menjadikan anak yang shalih harus didukung faktor-faktor tersebut. Tanpa itu, jangan harap bisa menjadi kenyataan. Berat untuk mewujudkan kalau anak-anak kita dididik dengan pendidikan yang jauh dari norma-norma agama.

    Pendidikan yang berkiblat ke Barat yang sekuler, adalah pendidikan yang membentuk kepribadian anak menjadi materialistis dan hedonis. Ditambah lagi dengan lingkungan yang bisa menyeret pada tindak kelakuan menyimpang dari fitrah kemanusiaan. Yang hanya menumbuhkembangkan dominasi nafsu dan mematikan peran serta ruh.

    Langkah-langkah yang dipakai atau digunakan untuk membentuk anak yang shalih dan mempunyai cita-cita menegakkan kalimah Allah adalah dengan memasukkan anak-anak kita pada tempat yang telah dikondisikan untuk itu. Di tempat yang sudah menyiapkan perangkat-perangkat yang memprogram proses penumbuhan cita-cita mulia ini. Lingkungan dan pendidikan yang bisa menjabarkan tentang tugas dan kewajiban seorang hamba yang diciptakan Allah.

    Apa perlunya Allah menciptakan manusia? Dan apa peranannya di muka bumi? Apakah hanya untuk makan, kawin dan bikin pondokan? Perlu sekali kita sebagai seorang muslim untuk mengetahui itu semua. Apalah artinya kita hidup di dunia ini bila tidak mengetahui peran dan fungsi kita. Tidak ada nilai lebih yang kita dapati, bila dalam kehidupan ini tidak mengetahui arah dan tujuannya.

    Untuk mencari tempat atau lingkungan seperti itu di zaman sekarang ini memang cukuplah sulit. Lingkungan yang ditata secara alamiah, ilmiah dan Islamiah. Lingkungan yang menumbuhkembangkan ghirah keislaman dan pendayagunaan peranan manusia sebagai seorang khalifah. Seseorang yang menjadi pesuruh-pesuruh Allah dalam menerapkan aturan- aturan-Nya, ayat-ayat-Nya atau ketentuan-ketentuan-Nya di permukaan bumi. Seseorang yang akan berjuang terus selama kalimah la ilaha illallah belum bisa ditegakkan. Selama syariat-syariat Allah belum dijalankan. Dan selama firman-firman Allah belum diterapkan.

    Kesulitan untuk mencari tempat seperti ini janganlah menjadikan kita berputus asa. Insya Allah bila kita telah mencita-citakan untuk li i’laikalimatillah yang mulia dan berusaha untuk terus mencari, pastilah Allah akan mengantarkan kita pada tempat yang diidamkan. Allah SWT akan mengantarkan dan menunjuki jalan kepada hamba-Nya yang selalu mencari kebenaran. Hidayah Allah akan diberikan kepada makhluk yang Dia kehendaki.

    Sungguh agung cita-cita ini. Tiada lagi cita-cita yang bisa mengantarkan kemuliaan kecuali cita-cita menegakkan kalimah Allah. Berbahagialah hamba-hamba Allah yang berkeinginan mendapatkan derajat kemanusiaan yang tertinggi dan terhormat. Cita-cita yang akan mendapatkan imbalan dari Allah berupa kenikmatan yang tiada taranya, yakni jannah. Kenikmatan yang belum pernah terlintas pada pendengaran, penglihatan, dan hati. Hidup kekal selamanya dalamnya.

    ***

    eramuslim

     
  • erva kurniawan 2:01 am on 26 August 2015 Permalink | Balas  

    Harta yang Penuh Berkah 

    harta karunHarta yang Penuh Berkah

    Sering sekali kita mendengar perihal harta barokah. Namun apakah sebenarnya yang dimaksud dengan harta yang barokah itu, dan apakah hubungannya dengan zakat ?

    Harta yang barokah ialah harta yang menyebabkan seseorang yang mempergunakannya memperoleh ketenangan dan ketenteraman jiwa sehingga mampu mendorongnya untuk berbuat kebaikan kepada sesama. Harta yang demikian inilah pada hakekatnya sangat didambakan dan dicari oleh setiap orang; sebab ketenangan dan ketenteraman jiwa itulah yang menjadi faktor penentu bagi kebahagiaan hidup seseorang.

    Dalam kitab Riyadus Shalihin dijelaskan bahwa yang dimaksud barokah adalah sesuatu yang dapat menambah kebaikan kepada sesama, ziyadatul khair ‘ala al ghair. Bila dikaitkan dengan harta, maka yang dimaksud dengan harta yang barokah itu sebagaimana dipaparkan di atas.

    Harta-harta yang barokah itu, haruslah yang halal dan baik, karena sesuatu yang diambil dari yang tidak halal dan tidak baik tidak mungkin mampu mendorong kita kepada kebaikan diri maupun orang lain, sebagaimana isyarat Allah swt. dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 168 yang artinya :

    “Wahai manusia, makanlah dari apa-apa yang ada di bumi yang halal dan yang baik. Dan janganlah kamu sekalian mengikuti jejak langkah dari Syaithan, karena sesungguhnya Syaithan itu adalah musuhmu yang nyata”.

    Dalam kesempatan yang lain Nabi Muhammad juga pernah menyatakan kullu lahmin nabata minal harom, fan naaru aula bihi. Setiap daging yang timbul atau dihasilkan dari sesuatu yang haram maka hanyalah neraka yang patut menerimanya.

    Secara rinci yang dimaksudkan dengan halal di sini adalah:

    1. Halal wujudnya, yaitu apa saja yang tidak dilarang oleh agama Islam, seperti makanan dan minuman yang tidak diharamkan oleh syari’at agama Islam.
    2. Halal cara mengambil atau memperolehnya, yaitu cara mengambil atau cara memperoleh yang tidak dilarang oleh syari’at agama Islam, seperti harta yang diperoleh dari ongkos pekerjaan yang halal menurut pandangan syari’at agama Islam, sedang ongkos tersebut juga berasal dari hasil pekerjaan yang halal.
    3. Halal karena tidak tercampur dengan hak milik orang lain, karena sudah dikeluarkan zakatnya. Harta yang demikian itu, jika berupa bahan makanan dan dimakan oleh seseorang, maka pengaruhnya sangat positif bagi kesehatan mental atau jiwa seseorang.

    Setiap orang yang lahir di dunia ini oleh Allah swt. telah dibekali dengan dua macam dorongan nafsu, yakni: nafsu yang mendorong manusia untuk berbuat durhaka dan nafsu yang mendorong untuk berbuat taqwa (kebajikan). Dalam surat As Syams ayat 7 dan 8 Allah swt. telah berfirman:

    “Demi jiwa dan apa-apa yang menyempurnakannya, maka Allah mengilhamkan pada jiwa tersebut kedurhakaan dan ketaqwaannya”.

    Kedua macam dorongan tersebut tidak dapat berwujud menjadi perbuatan yang nyata, manakala dalam diri seseorang tidak ada energi. Sedangkan energi itu adalah berasal dari bahan makanan. Sehingga apabila bahan makanan yang dimakan oleh seseorang adalah halal, maka energi yang ditimbulkan oleh bahan makanan tersebut adalah energi yang halal. Energi yang halal inilah yang mudah diserap dan dipergunakan oleh dorongan yang mengajak kepada perbuatan-perbuatan yang baik, benar dan haq. Sedang perbuatan-perbuatan yang baik, benar dan haq yang dilakukan oleh seseorang akan diserap oleh organ jiwa yang oleh Sigmund Freud disebut dengan “Ego Ideal”. Ego Ideal inilah yang selalu menghibur dan menenteramkan jiwa seseorang. Sebaliknya, jika bahan makanan yang dimakan oleh seseorang adalah berasal dari harta yang haram, maka energi yang timbul dari bahan makanan tersebut adalah energi yang haram, yang akan diserap oleh nafsu yang mengajak kepada kejelekan, kesalahan dan kebatilan.

    Manakala seseorang telah melakukan perbuatan yang jelek atau salah atau batil, maka perbuatan ini akan diserap oleh organ jiwa yang oleh Sigmund Freud disebut conscience. Kemudian conscience ini selalu menuntut jiwa manusia itu sendiri atas kejelekan atau kesalahan atau kebatilan yang telah dilakukan, sehingga ketenteraman jiwa menjadi terganggu. Semakin banyak kejelekan atau kesalahan atau kebatilan yang dilakukan oleh seseorang, maka semakin besar tuntutan dari consciense dan semakin goncang ketenangan dan ketenteraman jiwanya, sehingga pada akhinya orang yang selalu memakan makanan yang berasal dari harta yang haram akan dihadapkan pada dua alternatif, yaitu:

    1. Jika kondisi jasmaninya kuat, maka jiwanya akan jebol dan akan terkena penyakit jiwa.
    2. Jika kondisi jiwanya kuat, maka dia akan terserang penyakit psychosomatica.

    Sedang yang dimaksud dengan makanan yang baik menurut ayat 168 dari surat Al Baqarah di atas, adalah baik menurut syarat-syarat kesehatan. Sebab makanan yang tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan akan menyebabkan kondisi jasmani menjadi mudah terserang oleh berbagai macam penyakit. Seseorang tidak akan memperoleh ketenangan dan ketenteraman jiwa manakala badan jasmaninya selalu sakit-sakitan.

    Disamping itu perlu kita ketahui bahwa harta yang diberikan oleh Allah swt. kepada seseorang itu di dalamnya terdapat hak milik fakir miskin yang dititipkan oleh Allah swt. kepadanya. Hal ini telah diterangkan oleh Allah swt. dalam Al Qur’an surat Adz Dzaariyaat ayat 19: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”

    Harta orang miskin yang dititipkan oleh Allah swt. pada orang-orang kaya itu harus dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak, baik berupa zakat wajib maupun zakat sunnat, agar harta orang-orang kaya tersebut menjadi halal, karena tidak lagi tercampur dengan hak milik orang-orang miskin. Jadi zakat ini mempunyai peranan yang penting sekali untuk membuat harta yang kita miliki menjadi barokah karena zakat juga merupakan elemen yang menjadikan harta itu bisa memberikan kebahagiaan dan kebaikan kepada orang lain.

    Jika kita mau mengadakan penelitian atau research terhadap orang-orang kaya yang hartanya tercampur oleh harta yang tidak halal, baik wujudnya, atau cara mengambilnya, atau belum dizakati, maka kita akan mendapati kehidupan keluarga mereka itu ternyata tidak bahagia sebagaimana yang kita bayangkan. Kebahagiaan yang mereka dambakan ternyata hanya sebagai fatamorgana belaka.

    Dalam Al Qur’an surat An Nur ayat 39 Allah swt. telah berfirman: ” Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungannya”.

    Jadi harta yang barokah itu sangat besar peranannya dalam mencapai kebahagiaan hidup seseorang, baik di dunia maupun di akhirat. Itulah sebabnya maka Nabi Muhammad saw. pernah bersabda: “Mencari yang halal itu adalah kewajiban sesudah shalat fardlu”.

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 25 August 2015 Permalink | Balas  

    Adab Menziarahi Orang Sakit 

    sakitAdab Menziarahi Orang Sakit

    Menziarahi orang sakit adalah sunat dan digalakkan oleh Islam. Perbuatan ini dapat mempereratkan lagi hubungan silatul rahim sesama Islam.

    Amalan ziarah di kalangan orang-orang Islam dituntut dilakukan pada bila-bila masa bukan hanya sekadar dalam masa sakit sahaja. Amalan ziarah ini telah dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. terhadap kaum keluarga, yang tua, bujang dan lain-lain. Amalan seumpama ini mendapat ganjaran yang besar, sebagaimana yang disarankan oleh Baginda Rasulullah s.a.w. Maksudnya:

    “Daripada Abu Hurairah r.a. katanya: bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Barangsiapa yang menziarahi orang sakit atau menziarahi saudaranya kerana Allah Taala, maka terdengarlah suara yang memanggil dan mengatakan bagus dan bagus langkah mu dan ambillah tempat tinggal mu di dalam syurga”

    (Riwayat: at-Tirmizi)

    Antara adab menziarahi orang sakit ialah:

    1. Jangan duduk terlalu lama ketika menziarahi pesakit kerana perbuatan ini boleh mengganggunya.
    2. Ketika berada disisinya, hendaklah kita sentuh dan pegang tangannya kemudian letakkan tangan di dahinya dan tanya tentang penyakit dan keadaannya sekarang.
    3. Hendaklah kita doakan agar cepat sembuh dengan menyebut: Semoga Allah menyembuhkan… (sebutkan nama dan pangkatnya).
    4. Doa dan ceritakan tentang kelebihan sakit yang dialami oleh para sahabat, Rasul dan Nabi dan juga orang beriman supaya pesakit itu tidak merasa resah gelisah terhadap kesakitan yang dialaminya.
    5. Berikanlah nasihat-nasihat yang baik serta ucapkan perkataan “Sabarlah sakit ini adalah salah satu ujian Allah dan cubaan semata-mata di atas ketakwaan seseorang terhadap Allah kerana sakit ini juga, seseorang memperolehi ganjaran pahala yang banyak”.
    6. Jangan makan makanan yang dihadiahkan kepadanya atau makanan yang telah disediakan untuknya. Sekiranya kita makan makanan tersebut, hilanglah pahala ibadah ziarah itu.

    Sunat dibacakan doa untuknya yang bermaksud:

    “Ya Allah ! Hilangkanlah penyakitnya, wahai Tuhan bagi manusia sembuhkanlah, Engkaulah yang menyembuhkan tidak ada sembuhan melainkan sembuhan dariMu jua, sesuatu sembuhan yang tidak meninggalkan sebarang penyakit”.

    ***

    (Riwayat at-Tirmizi)

     
  • erva kurniawan 7:52 am on 24 August 2015 Permalink | Balas  

    Meninggalkan Doa 


    berdoa1
    Meninggalkan Doa

    Oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih

    Termasuk kekeliruan manusia yang paling besar adalah meninggalkan berdoa dan menjauhinya, demikian itu disebabkan oleh beberapa hal.

    Sebagian orang beranggapan bahwa tidak berdoa lebih baik daripada berdoa, jelas anggapan ini bertentangan dengan dalil-dalil dari Al- Qur’an maupun hadits-hadits.

    Imam Hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa Qusyairy meriwayatkan dalam kitab Ar-Risalah tentang perbedaan pendapat dalam masalah berdoa mana yang lebih baik berdoa atau diam tidak berdoa dan rela menerima ketentuan takdir. Sebagian ulama bependapat bahwa lebih baik berdoa sebab dalil-dalil tentang doa banyak sekali dan berdoa sebagai bukti sikap rendah diri dan rasa membutuhkan.

    Sebagian yang lainnya berpendapat bahwa diam dan rela menerima putusan takdir lebih baik daripada berdoa sebagai bukti penyerahan dan kerelaan penuh dalam menerima pembagian dan karunia Allah. Orang yang berdoa tidak tahu apa yang telah diputuskan untuknya jika Allah telah mentakdirkan apa yang sedang diminta berarti memohon sesuatu yang sudah diberikan, dan apabila Allah tidak mentakdirkan apa yang diminta berarti melawan kehendak.

    Jawaban dari masalah tersebut sebagai berikut.

    Doa adalah bagian dari ibadah sebagai bukti ketundukkan dan bukti kelemahan kita dihadapan Allah.

    Jika dia berkeyakinan bahwa tidak akan terjadi kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan, bukan berarti berdoa adalah tindakan melawan takdir akan tetapi untuk memperlihatkan rasa ketundukan kepada Allah. Karena berdoa memiliki beberapa keutamaan ; antara lain mendapatkan pahala dari Allah atau untuk mendapatkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi kecuali harus berdoa, karena Allah menjadikan setiap sesuatu dengan sebab-sebabnya. [Fathul Bari 11/98]

    Catatan :

    [1]. Hadits yang berbunyi.

    “Artinya : Barangsiapa yang sibuk berdzikir kepadaKu sehingga lupa berdoa, maka Aku akan memberinya sesuatu yang lebih baik dari apa yang Aku berikan kepada orang yang berdoa” [Hadits Dhaif, didhaifkan oleh Ibnu Hajar, Fathul Bari 11/138]

    [2]. Ucapan : “Mengilmui tentang sifat-sifatKu cukup bagi hambaKu dari pada meminta kepadaKu”, adalah ucapan yang tidak benar bila disandarkan kepada Nabi Ibrahim bahkan ucapan tersebut batil. Sebab Allah tetap memerintahkan kita untuk berdoa, padahal Dia lebih tahu tentang sifat dan keadaan makhlukNya. [Al-Fawaid Al-Muntaqa hal.39]

    [3]. Setan mendatangi seseorang lalu membisikkan godaan agar dia enggan berdoa, dan setan berkata : Wahai manusia, kamu adalah hamba yang banyak berbuat dosa dan ahli maksiat, bagaimana kamu berdoa kepada Allah sementara kamu sering meninggalkan perintahNya, lalu orang tersebut tergoda dan berhenti berdoa. Imam Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa Ibnu `Uyainah berkata : Janganlah kalian berhenti berdoa tatkala merasa berdosa sebab Allah telah mengabulkan doa hambaNya yang paling jahat yaitu Iblis tatkala berdoa.

    “Artinya : Ya Allah beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan” [Al-A’raaf : 14] [Fathul Bari 11/144-145]

    Banyak manusia tidak mengerti kautamaan dan kemuliaan berdoa. Al- Mubarak Furi berkata : Ketahuilah bahwa berdoa dan memohon kepada Allah adalah ibadah yang paling utama dan mulia, Allah memerintahkan kepada hambaNya dan Allah menjamin akan mengkabulkan doa tersebut. [Mar’atul Mafatih 7/339]

    Imam Syafi’i berkata dalam syairnya.

    Apakah kamu melecehkan dan meremehkan do’a.
    Kamu tidak tahu rahasia yang terkandung dalam berdo’a
    Panah di malam hari tidak bisa ditelusuri
    Namun semua pasti mempunyai batas akhir.

    [Disalin dari buku Jahalatun Nas Fid Du’a edisi Indonesia Kesalahan Dalam Berdo’a hal. 33-36 Darul Haq]

     
  • erva kurniawan 7:49 am on 23 August 2015 Permalink | Balas  

    Keutamaan Dan Kemualiaan Do’a (3) 

    berdoaKeutamaan dan Kemualiaan Do’a

    Oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih

    Bagian Terakhir dari Tiga Tulisan [3/3]

    [10]. Sebagian orang hanya berdoa sekali atau dua kali dan setelah merasa tidak dikabulkan, lalu berhenti berdoa. Jelas tindakan seperti itu adalah tindakan yang keliru bahkan dia harus terus menerus mengulangi doanya hingga Allah mengabulkannya.

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Do’a seorang hamba akan selalu dikabulkan selagi tidak memohon sesuatu yang berdosa atau pemutusan kerabat, atau tidak tergesa-gesa. Mereka bertanya : Apa yang dimaksud tergesa-gesa ? Beliau menjawab : ” Dia berkata ; Saya berdoa berkali-kali tidak dikabulkan, lalu dia merasa menyesal kemudian meninggalkan doa”. [Shahih Muslim, kitab Dzikir wa Do’a 4/87].

    Menurut Imam An-Nawawi yang dimaksud menyesal adalah meninggalkan doa. [Syarh Shahih Muslim 17/52].

    Maka seharusnya seorang hamba harus terus berdoa dan tidak boleh bosan serta merasa tidak dikabulkan doanya. Dalam ucapan : “Saya berdoa berkali-kali tetapi tidak dikabulkan”.

    Syaikh Al-Mubarak Furi mengatakan bahwa Syaikh Al-Qari berkata : “Yang dimaksud dengan kalimat tersebut adalah tidak melihat hasil doa saya. Terkadang merasa doanya lambat dikabulkan atau putus asa dari berdoa dan keduanya tercela. Perlu diketahui, ada waktu tertentu untuk terkabulnya doa, sebagaimana yang diriwayatkan bahwa doa Musa dan Harun agar Fir’aun dihancurkan oleh Allah baru terkabul setelah empat puluh tahun. Adapun berputus asa dari rahmat Allah tidak akan terjadi kecuali atas orang-orang kafir”. [Mura’atul Mafatih 7/348].

    Imam Hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa di dalam hadits di atas terdapat etika berdoa yaitu terus mengajukan permohonan dan tidak berputus asa dalam berdoa sebab demikian itu merupakan bagian dari sikap ketundukan dan penyerahan diri kepada Allah serta merasa membutuhkan Allah, oleh karena itu sebagian ulama salaf berkata : “Kami lebih takut dihalangi untuk berdoa daripada dihalangi terkabulnya doa”.

    Imam Ad-Dawudi berkata : “Dikhawatirkan orang yang mengatakan bahwa dia selalu berdoa tetapi tidak dikabulkan maka doanya benar-benar tidak dikabulkan, atau benar-benar tidak dikabulkan penangguhan siksa akhirat atau pengampunan dosa-dosanya”.

    Imam Ibnul Jauzi berkata : “Ketahuilah bahwa doa orang mukmin tidak mungkin ditolak, boleh jadi ditunda pengkabulannya lebih baik atau digantikan sesuatu yang lebih maslahat dari pada yang diminta baik di dunia atau di akhirat. Sebaiknya seorang hamba tidak meninggalkan berdoa kepada Rabbnya sebab doa adalah ibadah yaitu ibadah penyerahan dan ketundukan kepada Allah”. [Fathul Bari 7/348 ]

    Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa beliau berkata : “Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkena sihir orang Yahudi bernama Lubaid bin A’sham, beliau berkata sehingga seakan-akan Rasulullah melakukan sesuatu padahal tidak melakukannya hingga pada suatu malam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kemudian berdoa dan terus berdoa”. [Shahih Muslim, kitab Salam bab Sihir 7/14]

    Imam An-Nawawi berkata bahwa hadits di atas menekankan kepada setiap hamba tatkala tertimpa bencana atau musibah untuk memperbanyak doa dan terus berserah diri kepada Allah. [Syarh Shahih Muslim 7/14].

    Dari Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa tatkala saya mulai bertempur saat perang Badr saya kembali dengan cepat untuk melihat apa yang dikerjakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata beliau sedang bersujud dan membaca : Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Kekal, Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Kekal, kemudian saya kembali bertempur, lalu saya kembali lagi ke tempat Rasulullah, saya temui beliau dalam keadaan sujud, kemudian saya kembali bertempur lalu saya kembali ke tempat beliau dan saya temui masih membaca doa tersebut sehingga Allah memberikan kemenangan”. [Sunan At-Tirmidzi, bab Doa 13/78. Dishahihkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/98]

    Dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Tidak ada seorang muslim berdoa kepada Allah di dunia dengan suatu permohonan kecuali Allah akan mengabulkannya atau menghilangkan daripadanya keburukan yang semisalnya, selagi tidak berdoa sesuatu dosa atau pemutusan kerabat. Ada seorang laki-laki dari suatu kaum berkata : Jikalau begitu saya akan memperbanyak (doa). Beliau bersabda : ‘”Allah mengabulkan doa lebih banyak daripada yang kalian minta”. [Sunan At-Tirmidzi, bab Doa 13/78. Dishahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul bari 11/98].

    [11]. Hadits yang berbunyi.

    “Artinya : Allah mencintai orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berdoa”. [Hadits Dhaif, Al-Albani berkata dalam Silsilah Dhaifah bahwa hadits ini bathil 2/96-97].

    Disalin dari buku Jahalatun nas fid du’a, edisi Indonesia Kesalahan dalam Berdoa, oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih, hal. 47- 51, terbitan Darul Haq, penerjemah Zaenal Abidin, Lc

     
  • erva kurniawan 7:47 am on 22 August 2015 Permalink | Balas  

    Keutamaan Dan Kemuliaan Do’a (2) 

    berdoa-2Keutamaan Dan Kemuliaan Do’a

    Oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih

    Bagian Kedua dari Tiga Tulisan [2/3]

    [5]. Orang yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu berdoa berdasarkan hadits Nabi bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Orang yang lemah adalah orang yang meninggalkan berdoa dan orang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil terhadap salam”. [Al-Haitsami, kitab Majma’ Az-Zawaid. Thabrani, Al-Ausath. Al-Mundziri, kitab At-Targhib berkata : Sanadnya Jayyid (bagus) dan dishahihkan Al-Albani,As-Silsilah Ash-Shahihah 2/152-153 No. 601]. Imam Manawi berkata bahwa yang dimaksud dengan ‘Ajazu an-naasi adalah orang yang paling lemah akalnya dan paling buta penglihatan hatinya, dan yang dimaksud dengan Min ‘ajzin ‘an ad-dua’i adalah lemah memohon kepada Allah terlebih pada saat kesusahan dan demikian itu bisa mendatangkan murka Allah karena dia meninggalkan perintah- Nya padahal berdoa adalah perkerjaan yang sangat ringan.[Faidhul Qadir 1/556].

    Ahli syair berkata. Janganlah kamu meminta kepada manusia, memintalah kepada Dzat yang pintu-Nya tidak pernah tertutup.

    Allah akan murka jika engkau tidak meminta-Nya, sementara manusia marah jika sering diminta. Syair di atas menjadi bantahan terhadap anggapan bahwa yang lebih baik tidak berdoa.

    [6]. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan berdoa, barangsiapa yang meninggalkan doa berarti menentang perintah Allah dan barangsiapa yang melaksanakan berarti telah memenuhi perintah-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Artinya : Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. [Al-Baqarah : 186]. Syaikh Sa’di mengatakan bahwa ayat di atas sebagai jawaban atas pertanyaan para sahabat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka bertanya : Wahai Rasulullah, apakah Allah dekat sehingga kami memohon dengan berbisik-bisik ataukah Dia jauh sehingga kami memanggil-Nya dengan berteriak ? Maka turunlah ayat Allah. [Tafsir At-Thabari dan didhaifkan oleh Imam Ahmad 3/481].

    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat”. Karena Allah adalah Dzat Yang Maha Melihat, Maha Mengetahui dan Maha Menyaksikan terhadap sesuatu yang tersembunyi, rahasia dan mengetahui perubahan pandangan mata serta isi hati. Allah juga dekat dengan hamba-Nya yang meminta dan selalu sanggup mengabulkan permintaan. Maka Allah berfirman : “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”.

    Doa adalah dua macam yaitu doa ibadah dan doa permohonan. Kedekatan Allah dengan hamba-Nya terbagi dua macam yaitu ; kedekatan ilmu-Nya dengan setiap mahluk-Nya dan kedekatan dengan hamba-Nya dalam memberikan setiap permohonan, pertolongan dan taufik kepada mereka.

    Barangsiapa yang berdoa kepada Allah dengan hati yang khusyu’ dan berdoa sesuai dengan aturan syariat serta tidak ada penghalang diterima doa tersebut seperti makan makanan yang haram atau semisalnya, maka Allah berjanji akan mengabulkan permohonan tersebut. Apalagi bila disertai hal-hal yang menyebabkan terkabulnya doa seperti memenuhi perintah Allah, meninggalkan larangan-Nya baik secara ucapan maupun perbuatan dan yakin bahwa doa tersebut akan dikabulkan. Maka Allah berfirman : “Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hedaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

    Artinya orang yang berdoa akan berada dalam kebenaran yaitu mendapatkan hidayah untuk beriman dan berbuat amal shalih serta terhindar dari kejahatan dan kekejian. [Tafsir As-Sa’di 1/224-225].

    [7]. Imam Zarkasi berkata bahwa konsentrasi dalam berdoa serta menunjukkan sikap rendah, tunduk, penghambaan dan merasa membutuhkan Allah adalah merupakan ibadah yang paling agung bahkan demikian itu menjadi syarat sahnya ibadah.

    Allah berjanji akan memberikan pahala orang yang berdoa, meskipun tidak dikabulkan doanya.

    [8]. Berdoa adalah menyibukkan diri untuk mengingat Allah sehingga timbul dalam hati rasa pengagungan terhadap kebesaran Allah dan ingin kembali kepada-Nya berhenti dari maksiat. Sering mengetuk pintu mempunyai kesempatan besar untuk masuk, sehingga ada pepatah bahwa barangsiapa yang sering mengetuk pintu, maka suatu saat akan diberi izin masuk sehingga dikatakan :”Diberi kesempatan berdoa lebih baik daripada diberi sesuatu”.

    [9]. Banyak berdoa bisa menghindarkan bencana dan musibah, sebagaimana firman Allah yang mengkisahkan tentang Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam : “Artinya : Dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”. [Maryam : 48] Dan firman Allah tentang Nabi Zakaria ‘Alaihis Salam. “Artinya : Ia berkata :’Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku”. [(Maryam : 4) Al-Azhiyah fi Ahkamil Ad’iyah hal. 38-42].

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 21 August 2015 Permalink | Balas  

    Keutamaan Dan Kemuliaan Do’a (1) 

    ibu dan anak lelakinya berdoaKeutamaan Dan Kemuliaan Do’a

    Oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih

    Bagian Pertama dari Tiga Tulisan [1/3]

    [1]. Do’a adalah ibadah berdasarkan firman Allah :

    “Artinya : Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. [Ghafir : 60].

    Imam Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Syaikh Taqiyuddin Subki berkata : Yang dimaksud doa dalam ayat di atas adalah doa yang bersifat permohonan, dan ayat berikutnya ‘an ‘ibaadatiy menunjukkan bahwa berdoa lebih khusus daripada beribadah, artinya barangsiapa sombong tidak mau beribadah, maka pasti sombong tidak mau berdoa.

    Dengan demikian ancaman ditujukan kepada orang yang meninggalkan doa karena sombong dan barangsiapa melakukan perbuatan itu, maka dia telah kafir. Adapun orang yang tidak berdoa karena sesuatu alasan, maka tidak terkena ancaman tersebut. Walaupun demikian memperbanyak doa tetap lebih baik daripada meninggalkannya sebab dalil-dalil yang menganjurkan berdoa cukup banyak. [Fathul Bari 11/98].

    Dari Nu’man bin Basyir bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Artinya : Doa adalah ibadah”, kemudian beliau membaca ayat : “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu”. [Ghafir : 60].

    Imam Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Imam At-Thaibi berkata : Sebaiknya hadits Nu’man di atas difahami secara arti bahasa, artinya berdoa adalah memperlihatkan sikap berserah diri dan membutuhkan Allah, karena tidak dianjurkan ibadah melainkan untuk berserah diri dan tunduk kepada Pencipta serta merasa butuh kepada Allah. Oleh karena itu Allah mengakhiri ayat tersebut dengan firman-Nya : “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu”. Dalam ayat ini orang yang tidak mau tunduk dan berserah diri kepada Allah disebut orang-orang yang sombong, sehingga berdoa mempunyai keutamaan di dalam ibadah, dan ancaman bagi mereka yang tidak mau berdoa adalah hina dina. [Fathul Bari 11/98].

    Catatan :

    Hadits yang berbunyi :

    “Artinya : Doa adalah initi ibadah” [Hadits Dhaif]

    [Didhaifkan Al-Albani, Ta’liq ‘ala Misykatul Masabiih 2/693 No. 2231]

    [2]. Doa adalah ibadah yang paling mulia di sisi Allah, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Artinya : Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah daripada doa”. [Sunan At-Timidzi, bab Do’a 12/263, Sunan Ibnu Majah, bab Do’a 2/341 No. 3874. Musnad Ahmad 2/362].

    Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa makna hadits tersebut adalah tidak ada sesuatu ibadah qauliyah (ucapan) yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa, sebab membandingkan sesuatu harus sesuai dengan substansinya. Sehingga pendapat yang mengatakan bahwa shalat adalah ibadah badaniyah yang paling utama sehingga hal ini tidak bertentangan dengan firman Allah.

    “Artinya : Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu”. [Al-Hujurat : 13].

    [3]. Allah murka terhadap orang-orang yang meninggalkan doa, berdasarkan hadits bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan memurkainya”. [Sunan At-Tirmidzi, bab Do’a 12/267-268].

    Imam Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Imam At-Thaibi berkata : “Makna hadits di atas yaitu barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Dia akan murka begitu pula sebaliknya Dia sangat senang apabila diminta hamba-Nya”. [Fathul Bari 11/98]

    Imam Al-Mubarak Furi berkata bahwa orang yang meninggalkan doa berarti sombong dan merasa tidak membutuhkan Allah.

    Imam At-Thaibi berkata bahwa Allah sangat senang tatkala dimintai karunia-Nya, maka barangsiapa yang tidak memohon kepada Allah, maka berhak mendapat murka-Nya.

    Dari hadits di atas menunjukkan bahwa permohonan hamba kepada Allah merupakan kewajiban yang paling agung dan paling utama, karena menghindar dari murka Allah adalah suatu yang menjadi keharusan. [Mura’atul Mashabih 7/358]

    [4]. Doa mampu menolak takdir Allah, berdasarkan hadits dari Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali doa”. [Sunan At-Tirmidzi, bab Qadar 8/305-306]

    Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa yang dimaksud adalah, takdir yang tergantung pada doa dan berdoa bisa menjadi sebab tertolaknya takdir karena takdir tidak bertolak belakang dengan masalah sebab akibat, boleh jadi terjadinya sesuatu menjadi penyebab terjadi atau tidaknya sesuatu yang lain termasuk takdir. Suatu contoh berdoa agar terhindar dari musibah, keduanya adalah takdir Allah. Boleh jadi seseorang ditakdirkan tidak berdoa sehingga terkena musibah dan seandainya dia berdoa, mungkin tidak terkena musibah, sehingga doa ibarat tameng dan musibah laksana panah. [Mura’atul Mafatih 7/354-355].

    Syaikh Utsaimin ditanya : “Kita sering mendengar orang berdoa : Ya Allah kami tidak memohon agar takdir kami dirubah akan tetapi kami meminta kelembutan dalam takdir tersebut. Apakah doa tersebut dibolehkan .?”

    Jawaban :

    Berdoa seperti itu dilarang dan haram sebab doa bisa merubah takdir seperti yang telah disebutkan dalam hadits di atas. Bahkan orang yang berdoa seperti itu menantang Allah dan seakan mengatakan : “Ya Allah takdirkanlah kepadaku apa saja yang Engkau kehendaki tetapi berilah kelembutan dalam takdir tersebut”.

    Seharusnya orang yang berdoa berketetapan hati dalam doanya, seperti berdoa : Ya Allah kami memohon rahmat-Mu dan kami berlindung dari siksaan-Mu, dan doa semisalnya. Apabila seorang berdoa kepada Allah agar tidak dirubah takdirnya, maka apa manfaatnya sementara doa bisa merubah takdir, dan bisa jadi takdir tersebut hanya bisa berubah lantaran doa. Yang penting doa tersebut di atas tidak boleh dan hendaknya dihindarkan serta barangsiapa yang mendengar doa seperti itu sebaiknya menasehatinya. [Liqa’ Babul Maftuh 5/45-46]

     
  • erva kurniawan 8:30 am on 20 August 2015 Permalink | Balas  

    Seteguh Gunung Uhud 

    gunung uhudSeteguh Gunung Uhud

    Di antara ciri orang mukmin adalah berpendirian teguh, pantang menyerah, tidak kenal mundur, dan punya keinginan yang kuat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu. (QS Al- Hujuraat: 15).

    Sedangkan ciri orang munafik adalah: Karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguan. (QS At-Taubah: 45). Keputusan yang mereka buatpun tidak lurus. Ketika keputusan itu ada di belakang mereka maka merekapun mengingkarinya, dan ketika mereka berjanji maka mereka akan melanggarnya.

    Wahai hamba Allah, ketika kilat kebenaran itu menyala terang, zhann yang ada dibenakmu itu lebih kuat, dan manfaat-manfaat yang bisa diraih jelas maka lakukanlah dengan tanpa mempertimbangkan ini itu lagi dan jangan ditangguhkan. Buanglah kata “seandainya”, “kelak akan”, dan “bisa jadi”, melajulah seperti pedang di tangan seorang pahlawan.

    Ada seorang suami yang selalu ragu untuk menceraikan isterinya yang telah membuatnya merasa tua dan miskin. Suami itu pun mengadukan permasalahannya kepada hakim. Hakim bertanya, “Berapa tahun engkau hidup bersama isterimu ini?” Jawab sang suami, “Empat tahun.” Hakim itu bertanya keheranan, “Selama empat tahun, dan engkau mampu menelan pil kehidupan?”

    Memang benar ada yang disebut kesabaran, ketabahan, dan penantian. Tapi, sampai kapan? Hanya orang yang peka yang tahu apakah sesuatu itu sempurna atau tidak, baik atau tidak, bisa dilanjutkan atau tidak? Saat itulah dia akan segera mengambil keputusan.

    Seorang penyair berkata: Obat penawar bagi yang tidak disukai adalah segera melepaskannya.

    Dari cerita-cerita tentang perjalanan hidup orang bisa ditarik garis besar bahwa keraguan dan kebingungan itu menyerang umat manusia kapan saja. Namun umumnya umat manusia itu mudah sekali ragu dan bingung.

    Pertama, pada saat menentukan tempat belajar dan spesialisasi yang akan diambil. Rata-rata calon mahasiswa ketika harus masuk pendidikan tinggi, tidak tahu harus mengambil jurusan apa, dan itu makan waktu lama untuk menimbang dan memilih. Banyak mahasiswa yang membuang- buang waktunya hingga bertahun-tahun karena ragu jurusan apa yang harus dipilih dan fakultas mana yang harus dimasuki. Ada sebagian yang ragu sebelum mendaftar, sampai akhirnya waktu pendaftaran habis. Dan, ada juga masuk jurusan apa saja, dan hanya betah setahun dua tahun. Pertamanya, masuk fakultas syariah, kemudian berpaling ke fakultas ekonomi, dan setelah beberapa semester pindah ke kedokteran. Usianya pun habis terbuang untuk berpindah-pindah jurusan.

    Seandainya dari awal mau mempelajari kemampuan dirinya, bermusyawarah, dan sering melakukan istikharah, kemudian tidak menoleh kanan kiri, niscaya akan bisa menghemat umurnya dan akan memperoleh apap yang dia inginkan dari spesialisasi yang diambilnya.

    Kedua, pada saat memilih pekerjaan yang sesuai. Sebagian orang ada yang tidak tahu apa profesi yang cocok untuk dirinya. Saat sudah menjadi pegawai, ia masuk ke perusahaan. Tak berapa kemudian ia keluar dari perusahaan itu untuk merintis usaha dagang. Karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya dalam dagang maka ia pun bangkrut, dan jatuhlah miskin. Dan, terakhir, malah luntang lantung tak punya pekerjaan.

    Saya tegaskan di sini, siapa dibukakan pintu rezki, maka hendaklah ia menekuninya. Itu berarti, rezkinya memang ada di pintu itu. Karena siapa pun menekuni satu bidang kerja niscaya akan datang kepadanya kemudahan, pertolongan dan hikmah.

    Ketiga, pada saat menentukan untuk menikah. Banyak pemuda yang maju mundur dalam menentukan isteri. Terkadang pendapat orang lain masuk mempengaruhi penentuan pilihan. Menurut bapak, ada seorang wanita yang cocok untuk anaknya, namun itu bukan pilihan anak yang bersangkutan dan tidak disetujui ibunya. Mungkin saja si anak (terpaksa) setuju dengan pilihan bapaknya, tapi akhirnya rumah tangga anaknya tidak sesuai dengan yang diharapkan dan dikehendaki.

    Nasehat yang bisa saya sumbangkan adalah bahwa Anda jangan maju, khususnya, dalam masalah pernikahan kecuali dari sisi agama, kecantikan, dan kepribadian sudah bisa diterima. Sebab masalah pernikahan adalah masalah kelangsungan hidup si wanita, dan bukan sesuatu yang ketika tidak lagi berharga, lalu dengan bebas dicampakkan begitu saja.

    Keempat, pada saat hendak menjatuhkan talak. Sehari berikutnya sudah bulat keinginannya untuk berpisah, sehari kemudian ingin hidup bersama lagi, dan sehari berikutnya berkeinginan untuk mengakhiri kebersamaannya, dan hari berikutnya berkeinginan untuk memutuskan tali hubungannya. Dengan terlalu sering berubah pikiran seperti itu, maka diapun dilanda keletihan, dirundung panas jiwa, dan rusak cara berpikirnya. Semua itu, hanya Allah yang tahu.

    Kesempitan jiwa ini harus diakhiri dengan keputusan yang pasti. Manusia itu hidup hanya sekali, hari-hari yang telah dilaluinya tidak akan berulang, jam-jam yang sudah lewat tidak akan kembali lagi. Karenanya, ia harus berusaha menikmati waktu-waktu yang tidak akan kembali itu dan agar waktu-waktu itu menghantarkan kita kepada kebahagiaan dengan cara menetapkan keputusan.

    Ketika orang muslim itu telah menetapkan keinginannya, membulatkan tekad, dan bertawakal kepada Allah setelah sebelumnya beristikharah dan meminta rekomendasi dari sana-sini, maka ia sebagaimana dikatakan di muka, jika mau maka ia akan meletakkan matanya di antara dua keinginannya, dan mau tahu apa akibat yang mungkin terjadi.

    Ia melaju bagaikan aliran air, meluncur ke depan bagaikan sabetan pedang, kokoh bagaikan jaringan waktu, dan memancar bagaikan pancaran fajar.

    Sebagaimana terbayang dalam ketegasan Nuh a.s. menghadapi kaumnya yang benci, …karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. (QS Yunus: 71).

    ***

    Dr. ‘Aidh al-Qorny

    Dari buku Laa Tahzan (Jangan Bersedih!), penerbit Qisthy Press

     
  • erva kurniawan 3:35 am on 7 August 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (20) 

    semesta alamRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (20)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Hubungan Apakah Yang Terdapat Antara Penciptaan dan Ilmu Pengetahuan?

    Seperti telah ditunjukkan dalam semua pertanyaan yang telah kami paparkan sejauh ini, teori evolusi benar-benar bertentangan dengan berbagai penemuan ilmiah. Teori ini, yang lahir pada saat tingkat ilmu pengetahuan masih terbelakang di abad ke-19, telah digugurkan oleh berbagai penemuan ilmiah secara berturut-turut.

    Kaum evolusionis, yang secara membabi-buta mendukung teori tersebut, mencari jalan keluar dengan ungkapan dusta, karena tidak ada lagi dasar ilmiah yang tersisa. Yang paling sering dilakukan adalah penggunaan ucapan yang seringkali dilontarkan “penciptaan adalah keyakinan atau iman, jadi bukan bagian dari ilmu pengetahuan”. Selanjutnya, pernyataan ini menegaskan bahwa evolusi adalah teori ilmiah, sedangkan penciptaan hanyalah sebuah keyakinan. Namun, pengulangan ucapan “evolusi adalah ilmiah, sedangkan penciptaan adalah keyakinan” sebenarnya berasal dari sudut pandang yang salah. Mereka yang terus mengulanginya adalah orang-orang yang mengacaukan ilmu pengetahuan dengan filsafat materialis. Mereka yakin bahwa ilmu pengetahuan harus tetap berada dalam batas-batas materialisme, dan mereka yang tidak materialis tidak berhak membuat pernyataan apa pun. Namun, ilmu pengetahuan itu sendiri menolak materialisme.

    Mengkaji materi tidak sama dengan menjadi seorang materialis

    Marilah, secara singkat, kita tentukan arti materialisme agar masalah ini dapat kita pelajari dengan lebih rinci. Materialisme adalah filsafat yang sudah ada sejak zaman Yunani Kuno. Dasar filsafat ini adalah gagasan yang menyatakan bahwa yang ada hanyalah materi. Berdasarkan filsafat materialis, materi sudah ada sejak awal, dan akan selalu ada untuk selamanya. Tidak ada sesuatu apa pun selain materi. Namun, pernyataan ini tidaklah ilmiah, karena tidak bisa diuji dalam percobaan dan pengamatan. Ini hanyalah suatu keyakinan, suatu dogma.

    Akan tetapi, dogma ini berbaur dengan ilmu pengetahuan di abad ke-19, bahkan menjadi landasan berpijak bagi ilmu pengetahuan. Walaupun begitu, ilmu pengetahuan tidak harus menerima materialisme. Ilmu pengetahuan mengkaji alam dan jagat raya, dan hasil kajian tersebut tidaklah dibatasi oleh penggolongan filsafat apa pun.

    Menghadapi hal ini, beberapa orang materialis sering membela diri dengan sekedar permainan kata. Mereka berkata, “Materi adalah satu-satunya bahan kajian ilmu pengetahuan, karena itu, ilmu pengetahuan haruslah bersifat materialis.” Ya, ilmu pengetahuan hanya mengkaji materi, tetapi “mengkaji materi” adalah hal yang sangat berbeda dengan “menjadi seorang materialis”. Sebabnya adalah, saat kita mengkaji materi, kita sadar bahwa materi mengandung pengetahuan dan rancangan yang begitu dahsyat, sehingga mustahil dihasilkan oleh materi itu sendiri. Kita paham bahwa pengetahuan dan rancangan tersebut adalah hasil karya sebuah kecerdasan, walaupun kita tidak bisa melihatnya secara langsung.

    Sebagai contoh, bayangkanlah sebuah gua. Kita tidak tahu apakah gua itu pernah dimasuki orang atau belum. Jika, saat kita memasuki gua itu, yang ditemukan hanyalah tanah, debu dan batu, dapat kita simpulkan bahwa di sana tak ada apa-apa selain materi yang tersebar secara acak. Namun, apabila di dinding gua terdapat lukisan-lukisan yang bagus dengan warna-warni mengagumkan, dapat kita duga bahwa ada makhluk cerdas yang pernah masuk di gua itu sebelum kita. Mungkin kita tidak dapat langsung melihat makhluk itu, tetapi keberadaannya dapat kita simpulkan dari apa yang dihasilkannya.

    Ilmu pengetahuan menentang materialisme

    Ilmu pengetahuan mengkaji alam ini dengan cara yang sama seperti dijelaskan dalam contoh di atas. Jika semua rancangan di alam ini dapat dijelaskan dengan penyebab-penyebab yang bersifat materi semata, maka ilmu pengetahuan memperkuat materialisme. Namun, ilmu pengetahuan modern telah mengungkapkan bahwa di alam ini terdapat suatu rancangan yang tak bisa dijelaskan dengan penyebab bersifat materi, dan bahwa segenap materi mengandung suatu rancangan yang diciptakan oleh Sang Pencipta.

    Contohnya, semua percobaan dan pengamatan membuktikan bahwa materi itu sendiri tidak dapat menghasilkan kehidupan. Karena itu, makhluk hidup pastilah hasil dari sebuah penciptaan metafisik. Semua percobaan evolusionis ke arah ini berakhir dengan kegagalan. Kehidupan tidak mungkin diciptakan dari materi tak-hidup. Ahli biologi evolusionis Andrew Scott membuat pengakuan berikut mengenai masalah tersebut dalam jurnal terkenal New Scientist:

    Ambillah sejumlah materi, panaskan sambil diaduk, dan tunggulah. Itulah Genesis versi modern. Gaya-gaya “dasar”, yakni gravitasi, elektromagnetisme, serta gaya ikat inti atom yang kuat dan lemah dianggap sebagai gaya yang menyempurnakan proses tersebut… Tetapi, seberapa jauhkah kisah yang disusun sangat baik ini telah benar-benar terbukti, dan seberapa besarkah yang masih berupa dugaan yang penuh harap? Sebenarnya, mekanisme dari hampir seluruh tahapan utama, dari zat-zat kimiawi pembentuk, hingga sel-sel yang paling awal diketahui, masih menjadi bahan persengketaan, atau, kalau tidak, pastilah merupakan kebingungan yang menyeluruh.

    Akar kehidupan didasarkan pada dugaan dan perdebatan karena dogma materialis bersikeras menyatakan bahwa kehidupan merupakan hasil dari materi. Akan tetapi, fakta-fakta ilmiah menunjukkan bahwa materi tidak memiliki kekuatan seperti itu. Profesor Fred Hoyle, ahli matematika dan astronomi yang dianugerahi gelar kebangsawanan untuk sumbangsihnya bagi ilmu pengetahuan, memberi ulasan berikut tentang hal ini:

    Jika terdapat sifat mendasar materi yang melalui suatu cara dapat mendorong sistem organik mengarah pada terbentuknya kehidupan, maka keberadaannya haruslah dapat diperlihatkan di laboratorium. Misalnya, seseorang bisa saja menggunakan bak kolam renang sebagai ganti “ramuan sop purba”. Isilah bak itu dengan zat-zat kimia non-biologis mana pun yang Anda sukai. Pompakan gas ke atasnya, atau ke dalamnya, sesuka Anda, dan sinarilah dengan radiasi jenis apa pun yang Anda kehendaki. Biarkan percobaan ini berlangsung selama setahun, dan lihatlah ada berapa dari 2000 tersebut (protein yang dibuat dan dihasilkan sel hidup) yang muncul dalam bak ramuan itu. Saya akan memberi jawabannya, dan ini akan menghemat waktu, tenaga dan biaya melakukan percobaan secara sungguhan. Anda tak akan mendapatkan apa pun, selain (mungkin) endapan berlendir terapung yang terdiri atas asam-asam amino serta zat-zat kimia organik sederhana lainnya.

    Sebenarnya, materialisme sedang menghadapi kesulitan yang lebih buruk. Materi tak bisa membentuk kehidupan, walaupun diberi waktu serta digabungkan dengan pengetahuan manusia – apalagi tanpa faktor-faktor tersebut.

    Kebenaran, yang baru saja kita tinjau sekilas adalah kebenaran bahwa materi itu sendiri tidak dapat merancang dan tidak berpengetahuan. Namun, jagat raya dan makhluk hidup di dalamnya mengandung rancangan dan pengetahuan yang luar biasa kompleks. Ini menunjukkan bahwa rancangan dan pengetahuan dalam jagat raya serta makhluk hidup adalah karya Pencipta yang memiliki kekuasaan serta pengetahuan yang tak terhingga – Pencipta yang telah ada sebelum materi itu sendiri ada, serta menguasai dan mengendalikannya.

    Jika kita teliti dengan cermat, inilah kesimpulan yang ilmiah sepenuhnya. Ini bukanlah “keyakinan”, melainkan kebenaran yang diperoleh sebagai hasil pengamatan akan jagat raya dan makhluk hidup yang menghuninya. Karena itulah, pendapat evolusionis “Evolusi adalah ilmiah, sedangkan penciptaan adalah keyakinan di luar wilayah ilmu pengetahuan” merupakan tipuan yang dangkal. Memang, pada abad ke-19, materialisme dikacaukan dengan ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan terbawa ke luar jalur oleh dogma materialis. Namun, perkembangan selanjutnya, di abad ke-20 dan ke-21, telah sepenuhnya menggugurkan keyakinan kuno itu. Dan, kebenaran penciptaan, yang tadinya terhalang materialisme, kini pun tampak. Seperti jelas dinyatakan majalah terkenal Newsweek, dalam edisi 27 Juli 1998-nya yang bersejarah, dengan berita utama yang berjudul Science Finds God (Ilmu Pengetahuan Menemukan Tuhan) – di balik penipuan materialis, ilmu pengetahuan menemukan Tuhan, Pencipta alam semesta dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya.

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 5 August 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (19) 

    e_coli1_enRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (19)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa Kekebalan Bakteri Terhadap Antibiotik Bukanlah Contoh Peristiwa Evolusi?

    Satu konsep biologi yang dicoba-sajikan sebagai bukti teori evolusi oleh para evolusionis adalah kekebalan atau daya tahan bakteri terhadap antibiotik. Banyak sumber evolusionis menyebutkan bahwa kekebalan terhadap antibiotik adalah sebuah contoh perkembangan makhluk hidup melalui mutasi yang menguntungkan. Hal serupa juga dikatakan tentang serangga yang menjadi kebal terhadap insektisida seperti DDT.

    Akan tetapi, kaum evolusionis pun salah dalam hal ini.

    Antibiotik adalah “molekul pembunuh” yang dihasilkan mikroorganisme untuk melawan mikroorganisme lain. Antibiotik pertama adalah penisilin, yang ditemukan oleh Alexander Flemming pada 1928. Flemming menyadari bahwa jamur (seringkali ditemukan seperti bubuk atau benang-benang di permukaan bahan organik sudah lama – penerj.) menghasilkan molekul yang mematikan bakteri Staphylococcus, dan penemuan ini merupakan titik balik dalam dunia obat-obatan. Antibiotik yang diambil dari berbagai organisme digunakan untuk melawan bakteri, dan berhasil.

    Tidak lama kemudian, hal baru ditemukan. Seiring dengan waktu, bakteri mengembangkan kekebalan terhadap antibiotik. Mekanisme kerjanya adalah sebagai berikut: sebagian besar bakteri yang diberi antibiotik akan mati, tetapi sebagian lain yang tidak terpengaruh oleh antibiotik tersebut, akan dengan cepat berkembang biak dan membentuk populasi yang sama dengan yang sebelumnya. Sehingga, seluruh populasi menjadi kebal terhadap antibiotik.

    Para evolusionis menampilkan hal ini sebagai “evolusi bakteri dengan cara beradaptasi terhadap lingkungan”.

    Akan tetapi, kenyataan sebenarnya jauh berbeda dengan penafsiran dangkal ini. Salah seorang ilmuwan yang telah melakukan penelitian mendalam di bidang ini adalah ahli biofisika Israel bernama Lee Spetner, yang juga dikenal dengan bukunya Not by Chance yang terbit tahun 1997. Spetner menyatakan, kekebalan bakteri terjadi karena dua mekanisme; namun tak satu pun dari keduanya merupakan bukti teori evolusi. Kedua mekanisme ini adalah:

    1. Perpindahan (transfer) gen-gen kekebalan yang sudah ada pada bakteri.
    2. Tumbuhnya kekebalan sebagai akibat hilangnya data genetis karena mutasi.

    Mekanisme yang pertama dibahas Profesor Spetner dalam artikel yang terbit tahun 2001:

    Sejumlah mikroorganisme dilengkapi dengan gen-gen yang memberikan kekebalan terhadap antibiotik-antibiotik ini. Kekebalan ini dapat berupa kemampuan merombak molekul antibiotik tersebut, atau mengeluarkannya dari sel … [O]rganisma yang memiliki gen-gen ini dapat memindahkannya ke bakteri lain, sehingga menjadikan bakteri tersebut kebal juga. Walaupun mekanisme kekebalan tersebut bersifat khusus terhadap satu antibiotik tertentu, kebanyakan bakteri patogen telah … berhasil mengumpulkan beberapa perangkat gen yang memberikan bakteri-bakteri tersebut kekebalan terhadap beberapa jenis antibiotik.

    Spetner lalu melanjutkan dan berkata bahwa hal ini bukanlah “bukti yang mendukung evolusi”:

    Perolehan kekebalan terhadap antibiotik dengan cara ini… bukanlah sesuatu yang dapat menjadi contoh dari mutasi yang diperlukan untuk menjelaskan peristiwa Evolusi… Perubahan genetik yang dapat mendukung teori ini semestinya tidak hanya menambahkan informasi pada genom bakteri. Perubahan genetik ini harus pula menambahkan informasi baru pada biokosmos. Perpindahan gen secara horisontal hanya menyebabkan penyebaran gen-gen yang sudah ada pada sejumlah spesies.

    Jadi, kita tak dapat berbicara tentang evolusi apa pun di sini, karena tidak ada informasi genetis baru dihasilkan: yang terjadi hanyalah informasi genetis yang sudah ada sekedar dipindahkan di antara bakteri.

    Jenis kekebalan yang kedua, yang tercipta sebagai hasil mutasi, juga bukan contoh evolusi. Spetner menulis:

    … [S]uatu mikroorganisme kadang dapat memperoleh kekebalan terhadap suatu antibiotik melalui penggantian acak sebuah nukleotida… Streptomisin, yang ditemukan Selman Waksman dan Albert Schatz, dan pertama kali dilaporkan di tahun 1944, adalah antibiotik yang dapat menjadikan bakteri dapat memperoleh kekebalan dengan cara itu. Tetapi, walaupun mutasi yang mereka alami dalam proses ini bersifat menguntungkan bagi mikroorganisme yang diberi streptomisin, mutasi tersebut tidak dapat menjadi contoh dari jenis mutasi yang diperlukan untuk mendukung Teori Neo-Darwinian (Neo Darwinian Theory atau NDT). Jenis mutasi yang memunculkan kekebalan terhadap streptomisin terjadi pada ribosom, dan menghilangkan kemampuan sel untuk mengenali dan berikatan dengan molekul antibiotik.

    Dalam bukunya Not by Chance, Spetner mengibaratkan situasi ini dengan gangguan pada hubungan antara kunci dan lubangnya. Streptomisin, ibarat kunci yang cocok dengan lubangnya, mencengkeram ribosom suatu bakteri dan menjadikannya tidak aktif. Mutasi menyebabkan hal sebaliknya, menguraikan ribosom, sehingga streptomisin tidak dapat menyerang ribosom. Walaupun ini ditafsirkan sebagai “pembentukan kekebalan bakteri terhadap streptomisin”, bakteri tidaklah diuntungkan, malah sebaliknya. Spetner menulis:

    Perubahan ini, yang terjadi pada permukaan ribosom mikroorganisme, mencegah molekul streptomisin untuk menempel dan melaksanakan fungsi antibiotiknya. Ternyata, terurainya ribosom adalah berupa hilangnya struktur khusus, dan ini berarti hilangnya informasi. Intinya adalah, Evolusi… tidak dapat dicapai dengan mutasi jenis ini, tak menjadi soal betapa pun banyaknya. Evolusi tidak dapat terjadi melalui timbunan peristiwa mutasi yang hanya merombak struktur khusus.

    Singkatnya, sebuah mutasi yang terjadi pada ribosom bakteri telah menjadikan bakteri tersebut kebal terhadap streptomisin. Alasannya adalah “rusak atau hilangnya bagian” ribosom akibat mutasi. Jadi, tidak ada informasi genetis baru yang ditambahkan. Sebaliknya, struktur ribosom terurai, yang berarti, bakteri menjadi “cacat”. (Juga, telah ditemukan bahwa ribosom pada bakteri yang telah mengalami mutasi tidak berfungsi penuh seperti ribosom pada bakteri yang normal.) Karena “cacat” ini mencegah menempelnya antibiotik pada ribosom, maka terjadilah “kekebalan terhadap antibiotik”.

    Akhirnya, tidak terdapat contoh mutasi yang “mengembangkan informasi genetis”. Para evolusionis, yang ingin menyajikan kekebalan terhadap antibiotik sebagai bukti evolusi, telah menangani masalah ini dengan tidak sungguh-sungguh, sehingga mereka salah.

    Sama halnya dengan terjadinya kekebalan serangga terhadap DDT dan insektisida sejenis. Pada umumnya, gen-gen kekebalan yang sudah ada, digunakan. Ahli biologi evolusioner, Francisco Ayala mengakui fakta ini, dan berkata: “Varian genetis yang dibutuhkan untuk terjadinya kekebalan terhadap jenis pestisida yang paling bervariasi sekali pun, tampaknya sudah ada dalam setiap populasi yang terkena senyawa-senyawa buatan manusia ini.”73 Contoh lain yang dijelaskan dengan mutasi, seperti halnya mutasi ribosom yang telah diceritakan di atas, adalah fenomena yang menyebabkan “berkurangnya informasi genetis” pada serangga.

    Dalam kasus ini, mekanisme kekebalan pada bakteri dan serangga tidak bisa dinyatakan sebagai bukti kebenaran teori evolusi. Hal ini berlaku karena teori evolusi menegaskan bahwa makhluk hidup berkembang melalui mutasi. Namun, Spetner menjelaskan bahwa kekebalan antibiotik maupun fenomena biologis lainnya bukanlah isyarat adanya mutasi semacam itu:

    Mutasi-mutasi yang diperlukan bagi terjadinya makro-evolusi belum pernah teramati. Tidak ada mutasi acak – yang dapat menjadi bukti mutasi yang dibutuhkan Teori Neo-Darwinis – pada tingkat molekuler, yang telah menambahkan sedikit pun informasi. Pertanyaan yang saya ajukan adalah: Apakah mutasi yang telah diamati merupakan jenis yang diperlukan untuk mendukung teori ini? Ternyata jawabnya adalah TIDAK!

     
  • erva kurniawan 9:29 am on 4 August 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (18) 

    dnaRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (18)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa DNA Tidak Mungkin Dijelaskan Sebagai Sebuah “Kebetulan”?

    Dengan tingkat ilmu pengetahuan yang telah dicapai kini, kita menyaksikan bahwa berbagai rancangan dan sistem kompleks yang jelas terdapat dalam makhluk hidup tidak mungkin muncul secara kebetulan. Sebagai contohnya, berkat pencapaian Proyek Genom Manusia (Human Genome Project) belakangan ini, kita dapat melihat rancangan yang menakjubkan serta kandungan informasi yang sangat banyak yang terdapat di dalam gen manusia.

    Dalam kerangka proyek tersebut, ilmuwan dari berbagai negara – dari Amerika serikat sampai Cina – telah 10 tahun bekerja untuk memecahkan 3 miliar kode kimia yang terdapat di dalam DNA. Sebagai hasilnya, kini hampir semua informasi dalam gen manusia telah disusun secara berurut.

    Walaupun kemajuan yang telah dicapai sangatlah menggairahkan dan merupakan perkembangan yang penting, seperti Dr. Fancis Collins, pimpinan Proyek Genome Manusia katakan, bahwa ini hanyalah langkah pertama dalam memecahkan kode informasi yang terkandung di dalam DNA.

    Guna memahami mengapa diperlukan waktu 10 tahun dan ratusan ilmuwan untuk menyingkapkan kode-kode pembentuk informasi ini, kita harus lebih dahulu memahami besarnya informasi yang terkandung dalam DNA.

    DNA menyingkapkan adanya sumber pengetahuan yang tak terhingga

    DNA dari satu sel manusia saja sudah berisi informasi yang cukup untuk mengisi ensiklopedi yang terdiri dari sejuta halaman. Kita tidak mungkin habis membacanya dalam seumur hidup. Jika seseorang mulai membaca satu kode DNA per detik, tanpa henti, sepanjang hari, setiap hari, akan diperlukan waktu 100 tahun. Sebab, ensiklopedia tersebut berisi hampir tiga miliar kode yang berbeda-beda. Jika kita tulis semua informasi DNA pada kertas, maka panjangnya akan membentang dari Garis Katulistiwa mencapai Kutub Utara. Ini berarti sekitar 1000 jilid buku – lebih dari cukup untuk mengisi satu perpustakaan yang besar.

    Lebih dari itu, semua informasi ini terkandung dalam inti setiap sel. Artinya, bila setiap individu terdiri dari sekitar 100 triliun buah sel, maka akan terdapat 100 triliun versi dari perpustakaan yang sama.

    Bila dibandingkan dengan jumlah informasi yang telah dicapai pengetahuan manusia hingga saat ini, kita tidak mungkin memberikan contoh yang setara besarnya. Sebuah gambaran yang sulit untuk dipercaya: 100 triliun x 1000 buku! Ini lebih banyak dibandingkan jumlah butir pasir di dunia. Lebih jauh lagi, jika kita kalikan jumlah tersebut dengan enam miliar yang kini hidup di Bumi, ditambah miliaran yang telah hidup sebelum kita, angka yang didapatkan akan berada di luar jangkauan pemahaman kita. Jumlah informasi itu mencapai ketakterhinggaan.

    Beberapa contoh ini menunjukkan betapa dahsyatnya informasi yang begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Kini manusia memiliki komputer canggih yang dapat menyimpan informasi dalam jumlah amat besar. Akan tetapi, bila kita bandingkan DNA dengan komputer tersebut, kita akan takjub menyaksikan bahwa teknologi paling mutakhir – hasil timbunan seluruh usaha dan ilmu pengetahuan manusia berabad-abad – belum mencapai kapasitas penyimpanan satu buah sel pun.

    Gene Myers adalah salah satu pakar paling terkemuka di Celera Genomics, yakni perusahaan pelaksana Proyek Genome Manusia. Perkataannya sehubungan dengan hasil proyek tersebut merupakan sebuah pernyataan tentang pengetahuan dan rancangan hebat yang terdapat dalam DNA: “Apa yang betul-betul menakjubkan saya adalah arsitektur kehidupan … Sistem ini teramat kompleks. Seolah ini telah dirancang … Ada kecerdasan luar biasa di sana.”

    Sisi menarik lainnya adalah semua makhluk hidup di planet ini telah diciptakan menurut paparan kode yang ditulis dalam bahasa yang sama ini. Tidak ada bakteri, tumbuhan ataupun hewan yang tercipta tanpa DNA. Terlihat jelas bahwa seluruh kehidupan muncul sebagai hasil berbagai pemaparan yang menggunakan satu bahasa, dan berasal dari sumber pengetahuan yang sama.

    Hal ini membawa kita kepada satu kesimpulan yang jelas. Semua kehidupan di bumi, hidup dan berkembang biak menurut informasi yang diciptakan oleh satu kecerdasan tunggal.

    Hal ini menjadikan teori evolusi sama sekali tak berarti. Sebabnya adalah, dasar teori evolusi adalah “kebetulan”, sedangkan peristiwa kebetulan tidak mampu menciptakan informasi. Jika suatu hari ditemukan sebuah ramuan obat yang sanggup melawan kanker tertulis di sehelai kertas, umat manusia akan bergabung untuk mencari tahu siapa ilmuwan yang terkait, serta bahkan memberikan penghargaan kepadanya. Tak seorang pun akan berpikir, “Jangan-jangan ramuan obat itu kebetulan tertulis akibat tumpahan tinta di kertas itu.” Setiap orang yang berakal dan mampu berpikir jernih akan beranggapan bahwa ramuan itu ditulis oleh seseorang yang telah mengkaji ilmu-ilmu kimia, fisiologi manusia, kanker dan farmakologi, secara mendalam.

    Pernyataan evolusionis, bahwa informasi pada DNA timbul secara kebetulan, sangatlah tidak masuk akal. Hal ini setara dengan mengatakan bahwa ramuan obat pada kertas tersebut juga tertulis secara kebetulan. DNA mengandung rumus molekul terperinci dari 100.000 jenis protein dan enzim, sekaligus perintah yang cermat namun rumit tentang pengaturan penggunaan zat-zat tersebut selama produksi. Disamping itu, juga terkandung rencana produksi berbagai hormon pembawa-pesan serta tata-cara komunikasi antar-sel tempat di mana zat-zat tersebut digunakan, serta segala jenis informasi lain yang rumit dan tertentu.

    Pernyataan yang mengatakan bahwa DNA – beserta semua informasi di dalamnya – tercipta secara kebetulan, atau terjadi karena sebab-sebab alamiah, adalah cermin ketidakpahaman atas permasalahan yang ada atau keyakinan buta materialis. Gagasan yang mengatakan bahwa sebuah molekul seperti DNA – beserta kandungan informasinya yang menakjubkan dan strukturnya yang kompleks – dapat dihasilkan secara kebetulan, tidak pantas dianggap serius. Tidaklah mengherankan, para evolusionis berusaha memberi penjelasan dangkal perihal sumber kehidupan, seperti juga berbagai perihal lainnya, dengan menjabarkannya sebagai “rahasia yang belum terpecahkan”.

     
  • erva kurniawan 3:25 am on 3 August 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (17) 

    metamorfosis katakRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (17)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa Peristiwa Metamorfosis Bukanlah Bukti Kebenaran Teori Evolusi?

    Beberapa jenis hewan mengalami perubahan fisik agar dapat bertahan dan beradaptasi dengan kondisi alam yang berubah-ubah. Proses ini dikenal sebagai metamorfosis. Mereka yang tak begitu memahami biologi, serta mereka yang mendukung teori evolusi, kadang-kadang mencoba menggambarkan proses itu sebagai bukti evolusi. Sumber-sumber yang menyatakan metamorfosis sebagai “contoh evolusi” adalah omong kosong. Hal ini merupakan hasil propaganda dangkal dan sempit, yang bertujuan menyesatkan mereka yang kurang paham tentang perihal ini, pendukung evolusi yang masih baru, serta guru-guru biologi Darwinis yang tidak benar-benar tahu masalahnya. Para ilmuwan yang dianggap ahli dalam bidang evolusi, dan memahami kebuntuan dan pertentangan dalam teori ini, seringkali bersikap segan bila harus mengungkapkan pernyataan yang menggelikan ini. Sebab, mereka tahu betapa pendapat tersebut tidak masuk akal …

    Kupu-kupu, lalat dan lebah adalah beberapa contoh hewan yang dikenal mengalami proses metamorfosis. Katak, yang mula-mula hidup di air lalu pindah ke darat, merupakan contoh yang lain. Hal ini tak ada kaitannya dengan evolusi, karena teori evolusi berusaha menjelaskan proses munculnya keberagaman di antara makhluk hidup melalui peristiwa mutasi yang terjadi secara tidak disengaja. Akan tetapi, metamorfosis tidak memiliki kesamaan apa pun dengan pernyataan tersebut. Metamorfosis merupakan proses yang sudah direncanakan, dan tidak ada kaitannya dengan mutasi ataupun faktor kebetulan. Metamorfosis tidaklah disebabkan oleh kebetulan. Penyebab proses ini adalah data genetis yang sudah menjadi bagian terpadu makhluk tersebut sejak lahir. Misalnya, katak memiliki informasi genetis yang memungkinkannya hidup di darat serta di bawah permukaan air. Bahkan saat masih berbentuk larva, seekor nyamuk memiliki informasi genetis tentang bentuk pupa dan dewasa. Hal serupa juga terdapat pada semua hewan yang mengalami metamorfosis.

    Metamorfosis adalah bukti penciptaan

    Penelitian ilmiah terakhir tentang metamorfosis telah menunjukkan bahwa peristiwa metamorfosis adalah proses rumit yang dikendalikan oleh beberapa gen yang berlainan. Dalam metamorfosis katak, misalnya, proses yang menyangkut ekor dikendalikan oleh lebih dari dua belas gen. Artinya, proses pembentukan ekor terjadi berkat adanya kerja sama antara beberapa bagian. Ini merupakan proses biologi yang menunjukkan ciri irreducible complexity, atau “kerumitan tak tersederhanakan”, yang berarti metamorfosis adalah bukti akan adanya penciptaan.

    Irreducible complexity adalah konsep dalam dunia ilmiah yang diungkapkan oleh Profesor Michael Behe, ahli biokimia yang dikenal atas penelitiannya yang membuktikan ketidakabsahan teori evolusi. Arti konsep ini adalah organ dan sistem kompleks berfungsi sebagai hasil kerja sama berbagai bagian penyusunnya, dan jika saja satu bagian terkecil tidak berfungsi, maka seluruh sistem atau organ akan berhenti pula. Struktur yang rumit ini tidak mungkin muncul secara kebetulan, berubah sedikit demi sedikit seperti yang diungkapkan oleh teori evolusi. Yang terjadi dalam peristiwa metamorfosis adalah irreducible complexity (kerumitan tak tersederhanakan). Proses metamorfosis terjadi melalui keseimbangan dan pewaktuan hormon yang sangat teliti, yang dipengaruhi oleh beragam gen. Kesalahan terkecil sekali pun akan mengakibatkan kematian makhluk hidup tersebut. Oleh sebab itu, tidak mungkin proses serumit ini dapat terjadi secara kebetulan dan bertahap. Karena kesalahan sekecil apa pun akan mengakibatkan kematian hewan tersebut, adalah mustahil menjelaskan peristiwa ini dengan mekanisme “trial and error” (coba-coba) atau seleksi alam, seperti pendapat evolusionis. Tidak ada satu pun makhluk yang dapat bertahan berjuta-juta tahun, untuk menunggu bagian tubuh yang diperlukannya muncul secara kebetulan.

    Mengingat semua hal di atas, jelaslah bahwa metamorfosis tidak membuktikan kebenaran teori evolusi, seperti yang diasumsikan oleh sebagian orang yang kurang paham tentang metamorfosis. Sebaliknya, apabila kita renungkan betapa rumitnya proses dan sistem pengendali metamorfosis, hewan-hewan yang mengalami metamorfosis adalah bukti yang jelas akan fakta penciptaan.

     
  • erva kurniawan 9:22 am on 2 August 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (16) 

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (16)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa Anggapan “Di Masa Depan Kebenaran Teori Evolusi Akan Terbuki” Adalah Salah?

    Ketika mereka sudah tersudut, ada di antara para pendukung teori evolusi yang mengandalkan kata-kata: “Bahkan kalau pun penemuan ilmiah masa kini tidak menegaskan kebenaran evolusi, teori ini akan terbukti dengan perkembangan ilmu yang terjadi di masa yang akan datang.”

    Ini adalah titik awal pengakuan kekalahan kaum evolusionis di arena ilmiah. Bila kita membaca yang tersirat, maka kita akan mendapatkan: “Ya, kami, para pendukung evolusi, mengakui bahwa berbagai penemuan di bidang ilmiah tidak mendukung teori kami. Oleh sebab itulah, tidak ada alternatif lain bagi kami selain menunda perihal ini ke masa depan.”

    Akan tetapi, ilmu pengetahuan tidak bekerja dengan cara berpikir seperti demikian. Seorang ilmuwan seharusnya tidak lebih dahulu meyakini sebuah teori secara buta, sambil berharap, suatu saat nanti, bukti atas kebenaran teori itu akan muncul. Ilmu pengetahuan memeriksa semua bukti yang ada, lalu menyimpulkannya. Karena itu, para ilmuwan seharusnya menerima adanya fakta “rancangan”, atau dengan kata lain fakta penciptaan, yang telah dibuktikan secara ilmiah.

    Akan tetapi, propaganda dan bujukan evolusionis masih mampu mempengaruhi orang, terutama yang tidak begitu paham tentang teori ini. Oleh sebab itu, ada baiknya bila ketiga pertanyaan berikut ini dijawab secara lengkap dan jelas:

    Kita dapat menguji keabsahan teori evolusi dengan tiga pertanyaan dasar:

    1. Bagaimana sel hidup pertama muncul?
    2. Bagaimana satu spesies dapat berubah menjadi spesies lain?
    3. Adakah bukti dalam catatan fosil bahwa makhluk hidup memang melalui proses seperti itu?

    Sejumlah besar penelitian selama abad ke-20, telah dilakukan untuk menjawab ketiga pertanyaan di atas – pertanyaan yang harus dijawab oleh teori evolusi. Akan tetapi, penelitian-penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa teori evolusi tidak dapat menjelaskan tentang kehidupan. Ini terlihat jelas dalam pembahasan yang lebih mendalam dari ketiga pertanyaan di atas:

    I. Pertanyaan tentang munculnya “sel pertama” adalah persoalan sulit yang paling mematikan bagi pendukung teori evolusi. Hasil berbagai penelitian yang berkenaan dengan hal ini menunjukkan bahwa kemunculan sel pertama tidak dapat dijelaskan oleh konsep “kebetulan”. Fred Hoyle menyatakan hal itu sebagai berikut:

    Peluang munculnya makhluk hidup dengan cara ini adalah sebanding dengan peluang angin tornado yang menyapu lahan penimbunan barang-barang bekas dan kemudian merakit sebuah pesawat Boeing 747 dari bahan-bahan yang ada di dalamnya.

    Berikut ini adalah sebuah contoh untuk melihat kontradiksi pada kaum evolusionis. Ingatlah contoh terkenal dari William Paley, dan bayangkanlah seseorang yang seumur hidupnya belum pernah melihat jam dinding. Orang itu hidup di pulau terpencil, dan suatu hari menemukan sebuah jam dinding. Bagi orang yang belum pernah melihat sebuah jam dinding dari jarak 100 meter, dia tidak bisa menentukan apa benda tersebut sebenarnya, dan mungkin tidak bisa membedakannya dari fenomena alam lain yang disebabkan oleh angin, pasir dan tanah. Namun ketika orang tersebut semakin dekat, hanya dengan melihatnya, dia akan menyadari bahwa jam itu adalah hasil suatu rancangan. Ketika lebih dekat lagi, dia tidak akan ragu sedikit pun. Tahap berikutnya, mungkin dia memeriksa berbagai bagian dari jam tersebut, dan juga sentuhan seni yang tampak jelas padanya. Ketika dia membuka tutup mesin jam dan mencermatinya, dia akan melihat bahwa di dalam jam tersebut terdapat akumulasi pengetahuan yang lebih besar, dibandingkan dengan apa yang terlihat dari luar. Benda ini adalah hasil kecerdasan. Setiap langkah penelitian selanjutnya akan menjadikan analisis ini semakin pasti.

    Sebagaimana paparan di atas, kebenaran tentang makhluk hidup muncul ke permukaan seiring dengan ilmu pengetahuan yang semakin maju. Kemajuan ilmiah telah mengungkapkan kesempurnaan makhluk hidup, baik di tingkat sistem, organ, jaringan, sel, maupun di tingkat molekul. Dengan semakin mendalamnya pengetahuan kita tentang semua hal tersebut, kita mampu melihat dengan lebih jelas sisi yang menakjubkan dari rancangan-rancangan yang ada. Evolusionis abad ke-19, yang beranggapan bahwa sel adalah suatu gumpalan mungil karbon, berada pada situasi yang sama dengan orang yang melihat jam dinding dari jarak 100 meter seperti dalam cerita di atas. Tapi di masa kini, sangatlah sulit untuk menemukan satu pun ilmuwan yang tidak mengakui bahwa masing-masing bagian dari sel adalah sebuah hasil karya dan seni serta rancangan yang sangat hebat. Bahkan pada membran dari sebuah sel yang kecil, yang memiliki sifat “penyaring selektif”, terdapat kecerdasan dan rancangan yang luar biasa. Membran tersebut mengenali berbagai atom, protein, dan molekul yang berada di sekelilingnya, seolah-olah memiliki pikirannya sendiri. Membran hanya akan membiarkan partikel-partikel yang dibutuhkan masuk ke dalam sel. (Untuk lebih jauh lagi, bacalah karya Harun Yahya, Consciousness in the Cell). Tidak seperti jam dinding tadi (yang kecerdasan rancangannya masih terbatas), organisme hidup adalah bukti kecerdasan dan rancangan yang menakjubkan. Penelitian-penelitian atas struktur makhluk hidup yang semakin mendalam dan luas ini, yang sejauh ini baru saja mengungkapkan sebagian kecil dari rancang-bangun dan fungsinya, bukanlah membuktikan evolusi, melainkan memungkinkan kita untuk memahami kebenaran penciptaan dengan lebih baik.

    II. Kaum evolusionis berpendapat, bahwa satu spesies dapat berubah menjadi spesies lain, melalui mutasi dan seleksi alam. Seluruh penelitian yang telah dilakukan dan berkaitan dengan masalah ini, menunjukkan bahwa kedua mekanisme tidak memiliki pengaruh evolusioner yang demikian. Colin Patterson, seorang ahli paleontologi senior Museum Natural History di London, menekankan fakta ini sebagai berikut :

    Tak ada yang pernah menghasilkan satu spesies melalui mekanisme seleksi alam. Tidak seorang pun hampir pernah menghasilkannya, dan kebanyakan debat neo-Darwinisme sekarang adalah seputar masalah ini.

    Penelitian tentang mutasi menunjukkan bahwa proses tersebut tidak bersifat evolusioner. Ahli genetika dari Amerika, B. G. Ranganathan, berkata:

    Pertama, mutasi sejati amat jarang terjadi di alam ini. Kedua, kebanyakan mutasi adalah berbahaya, karena perubahan struktur gen terjadi secara acak, bukan teratur. Perubahan acak apa pun pada sistem dengan tingkat keteraturan tinggi akan merusak, bukan memperbaiki. Contohnya, bila gempa bumi mengguncangkan sebuah struktur yang teratur, misalnya sebuah gedung, akan terjadi perubahan acak dalam kerangka bangunan tersebut yang, dalam segala kemungkinan, tidak akan memunculkan perbaikan.

    Seperti yang telah kita saksikan, apa yang disebutkan dalam teori evolusi sebagai mekanisme pembentuk spesies baru, sebenarnya sama sekali tidak berdampak dan justru merusak. Sekarang, kita memahami bahwa kedua mekanisme ini – yang diajukan di saat ilmu dan teknologi belum mencapai tingkat yang cukup tinggi untuk membuktikan ketidakabsahan pendapat yang hanya merupakan khayal ini – tidak memiliki pengaruh perkembangan maupun evolusi.

    III. Fosil juga menunjukkan bahwa makhluk hidup tidaklah muncul sebagai akibat proses evolusi. Makhluk hidup muncul secara tiba-tiba, sebagai hasil “rancangan” yang sempurna. Semua fosil yang telah ditemukan menegaskan hal ini. Niles Eldredge, ahli paleontologi dari Universitas Harvard dan pengawas di American Museum of Natural History menjelaskan bahwa tak mungkin fosil yang dapat ditemukan di masa depan akan dapat mengubah keadaan ini:

    Catatan fosil meloncat-loncat, dan semua bukti yang ada menunjukkan bahwa catatan itu benar adanya: celah-celah yang kita lihat menunjukkan kejadian sebenarnya dalam sejarah makhluk hidup – bukan artefak catatan fosil yang tidak lengkap.

    Robert Wesson, seorang pakar asal Amerika lain, menyatakan dalam bukunya Beyond Natural Selection di tahun 1991, bahwa “celah-celah dalam catatan fosil adalah nyata dan luar biasa”. Ia menjelaskan pernyataannya sebagai berikut:

    Celah-celah dalam catatan fosil itu memang sungguhan. Ketiadaan catatan akan percabangan yang penting sungguh luar biasa. Spesies-spesies biasanya terdapat dalam keadaan tetap, atau nyaris tetap, untuk jangka waktu yang lama; jarang terlihat adanya evolusi suatu spesies menjadi spesies yang baru, atau tidak pernah terlihat adanya evolusi suatu genus menjadi genus yang baru.

    Yang ada adalah pergantian satu oleh yang lain, dan perubahan bisa dikatakan berlangsung mendadak.

    Kesimpulannya, setelah sekitar 150 tahun berlalu sejak pertama kalinya teori evolusi diusulkan, sejak itu pula penemuan-penemuan di bidang ilmiah selalu menunjukkan bukti-bukti yang menentangnya. Semakin diteliti, semakin banyak bukti yang menunjukkan penciptaan yang sempurna, dan kian dipahami bahwa kemunculan makhluk hidup dan variasinya akibat faktor kebetulan adalah mustahil. Setiap penelitian mengungkapkan bukti baru akan adanya rancangan pada makhluk hidup, sehingga fakta penciptaan semakin jelas. Sejak masa Darwin, setiap dasawarsa yang berlalu kian mengungkapkan ketidakabsahan teori evolusi.

    Singkatnya, kemajuan ilmiah tidak mendukung teori evolusi. Oleh sebab itu, perkembangan di masa depan juga tak akan mendukung, malah akan semakin memperjelas ketidakabsahan teori ini.

    Tidak benar apabila dikatakan bahwa evolusi adalah sesuatu yang belum bisa dijawab atau diterangkan oleh ilmu pengetahuan. Juga tidak benar bahwa evolusi bisa dibuktikan di masa yang akan datang. Ilmu pengetahuan modern telah menyangkal teori evolusi di segala bidang, dan menunjukkan bahwa dari sudut pandang mana pun, proses evolusi mustahil terjadi. Adanya upaya untuk mempertahankan kepercayaan ini dengan mengatakan bahwa evolusi akan dibuktikan di masa depan, merupakan hasil dari pola pikir khayal dan mimpi kaum Marxist dan lingkungan materialis yang melihat evolusi sebagai penyokong ideologi mereka. Mereka, dengan demikian, hanyalah mencoba menghibur diri dari rasa putus asa.

    Karena itu, gagasan bahwa “evolusi akan terbukti di masa depan” tak berbeda dengan berkata “di masa depan akan terbukti bahwa Bumi terletak di punggung seekor gajah”.

     
  • erva kurniawan 9:20 am on 1 August 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (15) 

    darwin-proses-evolusi-manusiaRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (15)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa Berpikir Bahwa Tuhan Menciptakan Makhluk Hidup Melalui Proses Evolusi Adalah Salah?

    Secara ilmiah telah dibuktikan bahwa rancangan menakjubkan yang tampak di seluruh makhluk hidup dan benda mati di alam semesta ini tidaklah mungkin muncul menjadi ada akibat kekuatan alamiah buta dan ketidaksengajaan. Meskipun demikian, sebagian orang menyatakan, memang benar bahwa terdapat sang Pencipta, tetapi Dia menciptakan kehidupan melalui proses evolusi.

    Sudah sangat jelas bahwa Tuhan Yang Mahakuasa telah mencipta seluruh alam semesta dan makhluk hidup. Adalah keputusanNya untuk mencipta secara seketika ataupun bertahap. Kita hanya dapat memahami kejadiannya melalui informasi yang Tuhan berikan kepada kita (dengan kata lain, melalui ayat Al Qur’an), serta melalui bukti ilmiah yang tampak jelas di alam ini.

    Jika mencermati kedua sumber tersebut, kita tidak menyaksikan adanya peristiwa “penciptaan melalui evolusi”.

    Tuhan telah menurunkan berbagai ayat dalam Al Qur’an yang membahas tentang penciptaan manusia, kehidupan, dan alam semesta. Tak satu pun di antara ayat tersebut yang berisi keterangan tentang penciptaan melalui evolusi. Dengan kata lain, tak satu pun ayat yang berkata bahwa makhluk hidup tercipta akibat proses evolusi dari satu makhluk menjadi makhluk lain. Sebaliknya, diungkapkan dalam ayat-ayat itu, bahwa kehidupan dan jagat raya ini tercipta melalui perintah Tuhan: “Jadilah!”

    Penemuan ilmiah pun telah memperlihatkan bahwa penciptaan melalui proses evolusi adalah mustahil. Catatan fosil menunjukkan bahwa beraneka ragam spesies muncul bukan melalui evolusi satu dari yang lainnya, melainkan secara terpisah, secara tiba-tiba, serta dilengkapi dengan seluruh struktur mereka masing-masing yang khas. Dengan kata lain, penciptaan bagi setiap spesies adalah berbeda.

    Jika terdapat sesuatu seperti “penciptaan melalui evolusi”, kita sudah seharusnya dapat melihat buktinya saat ini. Tuhan telah menciptakan segala sesuatu menurut peraturan tertentu, di dalam kerangka hukum sebab-akibat. Misalnya, sudah pasti Tuhan yang menjadikan kapal dapat terapung di air. Akan tetapi, apabila kita mempelajari penyebabnya, kita akan memahami bahwa penyebabnya adalah diciptakannya pada air kekuatan yang menopang kapal. Tidak ada sesuatu pun kecuali kekuatan Tuhan yang memungkinkan burung dapat terbang. Akan tetapi, bila kita mempelajari bagaimana ini terjadi, kita akan menemukan adanya hukum aerodinamika. Oleh sebab itulah, jika makhluk hidup memang diciptakan melalui proses bertahap, maka seharusnya terdapat sistem yang dilengkapi hukum-hukum dan kemajuan-kemajuan di bidang genetika, yang dapat menjelaskan peristiwa tersebut. Lebih lanjut, kita akan mengenal adanya hukum biologi, kimia dan fisika yang lain. Akan terdapat bukti dari penelitian laboratorium yang menunjukkan bahwa satu makhluk hidup dapat berubah menjadi makhluk lain. Selain itu, dari berbagai riset tersebut, dimungkinkan pengembangan enzim, hormon, dan molekul sejenis yang tak dimiliki suatu spesies, agar spesies tersebut dapat memanfaatkannya. Tambahan lagi, kemajuan tersebut akan memungkinkan diciptakannya berbagai struktur dan organel baru yang belum pernah dimiliki spesies itu.

    Kajian-kajian laboratorium akan mampu menunjukkan contoh-contoh makhluk yang telah melalui proses mutasi, serta memperoleh manfaat dari proses tersebut. Kita juga akan mampu melihat mutasi itu diwariskan kepada generasi berikutnya, serta benar-benar menjadi bagian dari spesies. Selain itu pula, akan terdapat jutaan fosil makhluk peralihan dari masa silam, dan di masa kini akan ada makhluk hidup yang tahapan transisinya belum selesai. Pendek kata, seharusnya terdapat berbagai contoh proses seperti ini, yang tak terhitung banyaknya.

    Akan tetapi, tak ada satu pun bukti bahwa satu spesies dapat melakukan perubahan menjadi spesies lainnya. Seperti telah kita lihat, data fosil menunjukkan bahwa semua spesies makhluk hidup muncul secara tiba-tiba tanpa nenek moyang. Fakta ini, selain menghancurkan teori evolusi (yang menyatakan kehidupan muncul berdasarkan peristiwa kebetulan), juga menunjukkan ketidakabsahan pendapat bahwa Tuhan menciptakan makhluk hidup, dan kemudian makhluk tersebut berubah melalui proses.

    Tuhan menciptakan makhluk hidup secara supernatural, melalui satu perintah “Jadilah!” Ilmu pengetahuan modern menegaskan fakta ini, dan membuktikan bahwa makhluk hidup muncul secara tiba-tiba di Bumi.

    Para pendukung gagasan “Mungkin saja Tuhan menciptakan makhluk hidup di Bumi melalui proses evolusi” sebenarnya sedang mencoba membangun “titik temu” antara penciptaan dan Darwinisme. Akan tetapi ini adalah suatu kesalahan yang mendasar. Mereka tidak menyadari dasar logika Darwinisme dan filsafat yang dijunjungnya. Darwinisme bukanlah terdiri atas gagasan perubahan spesies. Sebenarnya, Darwinisme adalah suatu upaya untuk menjelaskan asal-usul makhluk melalui penyebab-penyebab yang bersifat materi belaka. Dengan kata lain, Darwinisme berupaya agar masyarakat menerima pendapat bahwa makhluk hidup adalah hasil kerja alam, dan melapisi pendapat itu dengan polesan ilmiah. Tak mungkin ada “titik temu” atau “satu landasan pijak bersama” antara filsafat naturalistik (ajaran yang tidak mengakui adanya kekuatan lain selain alam) dengan keyakinan kepada Tuhan. Adalah salah apabila kita berusaha mencari titik temu seperti itu, bersikap menyerah kepada Darwinisme, dan menganggapnya sebagai teori ilmiah. Seperti tampak dari 150 tahun sejarah teori ini, Darwinisme adalah tulang punggung filsafat materialistis dan ateisme. Pencarian titik temu tidak akan pernah dapat mengubah fakta ini.

     
  • erva kurniawan 9:15 am on 30 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (14) 

    darwin-proses-evolusi-manusiaRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (14)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa Menyangkal Teori Evolusi Disamakan dengan Menolak Perkembangan dan Kemajuan?

    Kata “evolusi” akhir-akhir ini sering digunakan dalam beberapa makna. Di antaranya, kini ada penambahan aspek sosial, sehingga, sekarang “evolusi” juga bisa berarti kemajuan umat manusia dan perkembangan teknologi. Tak ada yang salah dengan konsep “evolusi” bila digunakan dalam makna tersebut. Tak diragukan, umat manusia akan menggunakan kecerdasan, kepandaian, dan kekuatannya untuk berkembang, seiring berjalannya waktu. Dari generasi ke generasi, pengetahuan umat manusia semakin berkembang. Dengan cara yang sama, hal ini tidak membuktikan kebenaran teori evolusi itu sendiri – yang mengatakan bahwa makhluk hidup tercipta secara kebetulan – dan juga tidak sedikit pun bertentangan dengan kebenaran fakta penciptaan.

    Akan tetapi, kaum evolusionis mempermainkan arti kata ini. Konsep yang benar, dikacaukan dengan konsep yang palsu. Sebagai contoh, pernyataan “Dalam perjalanan panjang umat manusia, sebagai makhluk sosial, pengetahuan, budaya, dan teknologi yang dihasilkan, manusia selalu tetap berkembang” adalah benar. (Walaupun demikian, kita harus ingat bahwa seiring dengan waktu, yang dapat terjadi bukan saja kemajuan, melainkan juga kemunduran. Dari sudut sosiologi, ada masa-masa kemajuan, keterhentian, dan kemunduran). Akan tetapi, pernyataan “Makhluk hidup berkembang dan berubah dengan berlalunya waktu, seperti halnya manusia telah mengalami perkembangan dan kemajuan” adalah salah. Sebagai makhluk berpikir, pengetahuan manusia meningkat dan diwariskan turun-temurun, sehingga terus-menerus tercapai kemajuan; ini adalah masuk akal dan ilmiah. Akan tetapi, sama sekali tidak masuk di akal apabila dikatakan bahwa makhluk hidup berkembang dan berevolusi melalui ketidaksengajaan dan kebetulan, dengan mengikuti kehendak kondisi-kondisi alamiah yang tidak terkendali dan tanpa kesadaran.

    Semua ilmuwan terbesar dalam kemajuan ilmiah adalah penganut fakta penciptaan (kreasionis)

    Tak menjadi soal, betapapun keras upaya kaum evolusionis dalam menampilkan diri mereka sebagai pemuncul gagasan seperti inovasi (pembaruan) dan kemajuan, sejarah telah membuktikan bahwa pencetus yang sebenarnya dari inovasi dan kemajuan adalah selalu para ilmuwan beriman yang meyakini penciptaan oleh Tuhan.

    Kita dapat menyaksikan adanya ilmuwan yang beriman di setiap titik kemajuan ilmiah. Leonardo da Vinci, Copernicus, Kepler, dan Galileo, yang memulai era baru dalam ilmu astronomi, Cuvier, pendiri paleontologi, Linnaeus, pendiri sistem penggolongan modern untuk flora dan fauna, Isaac Newton, penemu hukum gravitasi, Edwin Hubble, yang menemukan adanya galaksi dan pemuaian alam semesta, serta banyak lagi, dan banyak lainnya yang meyakini Tuhan dan percaya bahwa alam semesta dan makhluk hidup adalah ciptaanNya.

    Salah satu ilmuwan terbesar di abad kedua puluh, Albert Einstein, berkata:

    Saya tak dapat membayangkan seorang ilmuwan sejati tanpa keimanan yang kuat. Situasi ini dapat dilukiskan sebagai: Ilmu tanpa agama adalah lumpuh…

    Max Planck, pendiri fisika modern berkebangsaan Jerman, berkata:

    Siapa pun yang secara sungguh-sungguh telah terlibat dalam kerja ilmiah jenis apa pun juga, akan sadar bahwa di atas pintu gerbang memasuki kuil ilmu pengetahuan tertera kalimat: Engkau harus beriman. Ini adalah sifat yang tak dapat dilepaskan dari seorang ilmuwan.

    Sejarah ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa perubahan dan kemajuan adalah hasil karya para ilmuwan yang berpaham kreasionis (meyakini penciptaan). Selain itu, tentu saja, berbagai kemajuan dalam ilmu pengetahuan di abad ke-20 dan ke-21 telah secara khusus menyajikan bukti yang amat banyak atas kebenaran fakta penciptaan. Teknologi dan ilmu pengetahuan modern telah memungkinkan kita untuk menemukan fakta bahwa alam semesta tercipta dari ketiadaan, dengan kata lain, “diciptakan”. Segenap dunia ilmiah sepakat bahwa alam semesta tercipta dan berkembang sebagai akibat sebuah ledakan titik tunggal. Dengan demikian, hancurlah sudah model alam semesta “tak hingga”, yang tidak memiliki awal ataupun akhir, yang diyakini oleh kaum materialis karena kondisi ilmu pengetahuan yang masih terbelakang di abad ke-19. Kini disadari bahwa alam semesta diciptakan, seperti tercantum dalam Al Qur’an, dan alam memiliki awal dan batasan serta mengembang seiring dengan waktu. Al Qur’an menyatakan fakta ini sebagai berikut:

    Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. Al Anbiyaa’ , 21:30)

    Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. (QS. Adz Dzaariyaat, 51:47)

    Lagi-lagi, kemajuan ilmiah di abad ke-20 lah yang memungkinkan kita menemukan semakin banyak bukti penciptaan. Mikroskop elektron mengungkapkan struktur sel, satuan terkecil pembentuk makhluk hidup, beserta bagian-bagiannya. Penemuan DNA menunjukkan kecerdasan dan pengetahuan yang tidak terhingga yang terdapat di dalam sel. Kemajuan ilmu biokimia dan fisiologi menunjukkan cara kerja sempurna di tingkat molekul pada tubuh, serta rancangan yang amat hebat, yang tak mungkin dapat dijelaskan dengan apa pun selain penciptaan.

    Bertolak belakang dari semua itu, adalah keterbelakangan ilmu pengetahuan 150 tahun yang lalu yang menyediakan lahan subur bagi tumbuhnya teori evolusi.

    Sebagai kesimpulan, adalah mustahil menganggap mereka yang meyakini penciptaan dan terus menghadirkan berbagai bukti baru tentang penciptaan ini sebagai kaum yang menolak kemajuan, perkembangan, dan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, mereka itulah pendukung terbesar bagi ketiga hal tersebut. Mereka yang sesungguhnya menolak kemajuan adalah mereka yang menutup mata terhadap semua bukti ilmiah yang sudah ada serta terus mempertahankan teori evolusi, yang sebenarnya tak lain hanya merupakan angan kosong.

     
  • erva kurniawan 9:09 am on 29 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (13) 

    cambrianRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (13)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Bagaimanakah Teori Evolusi Diruntuhkan Oleh Struktur Yang Kompleks Pada Makhluk Paling Purba?

    Dalam catatan fosil, makhluk hidup membentuk untaian atau rantai. Bila kita perhatikan rantai ini dari makhluk paling purba sampai yang paling muda, tampaklah bahwa makhluk hidup muncul dalam bentuk mikroorganisme, hewan laut tak bertulang belakang (invertebrata), ikan, amfibi, reptil, unggas, dan mamalia. Pendukung teori evolusi membahas rantai ini dengan penuh praduga, sambil berupaya menyajikannya sebagai bukti teori evolusi. Mereka menyatakan bahwa makhluk hidup berkembang dari bentuk sederhana menuju bentuk yang lebih kompleks, dan selama proses ini berlangsung, beraneka ragam makhluk hidup pun tercipta. Misalnya, para evolusionis mengemukakan, fakta tidak ditemukannya fosil manusia pada pengkajian terhadap lapisan fosil berusia 300 juta tahun merupakan salah satu bukti kebenaran evolusi. Profesor Aykut Kence, seorang evolusionis Turki, berkata:

    Anda ingin menggugurkan teori evolusi? Jika demikian, pergilah dan cari beberapa fosil manusia dari zaman Kambrium! Siapa pun yang berhasil menemukannya akan meruntuhkan teori evolusi, bahkan memenangkan hadiah Nobel atas penemuannya.56

    Perkembangan makhluk hidup dari bentuk sederhana (primitif) ke bentuk rumit (kompleks) adalah pemikiran khayal

    Mari kita bayangkan cara berpikir evolusionis yang terdapat dalam kata-kata Profesor Kence. Perkembangan makhluk hidup dari bentuk primitif ke bentuk kompleks adalah praduga evolusionis yang tak benar sedikit pun. Profesor biologi asal Amerika, Frank L. Marsh, yang mengkaji pernyataan kaum evolusionis, dalam bukunya Variation and Fixity in Nature menyatakan makhluk hidup tak dapat disusun dalam sebuah urutan yang senantiasa bersambung tanpa putus dari bentuk sederhana ke bentuk rumit.

    Dalam hal ini, pernyataan evolusionis sebenarnya dapat diruntuhkan oleh fakta kemunculan mendadak dari hampir seluruh filum hewan yang dikenal sekarang di Zaman Kambrium. Bahkan, semua hewan yang muncul secara tiba-tiba tersebut sudah memiliki struktur tubuh yang rumit, tidak sederhana – hal ini benar-benar berlawanan dengan asumsi evolusionis.

    Trilobita yang termasuk filum Arthropoda, adalah makhluk sangat rumit dengan cangkang keras, memiliki tubuh yang bersendi, dan organ-organ kompleks.. Catatan fosil telah memungkinkan pengkajian yang sangat terperinci terhadap mata trilobita. Mata trilobita terdiri atas beratus-ratus faset kecil, yang masing-masing terdiri atas dua lapisan lensa. Struktur mata ini adalah keajaiban nyata perancangan. David Raup, profesor geologi di Universitas Harvard, Rochester, dan Chicago, berkata, “Trilobita yang hidup 450 juta tahun yang silam telah memiliki rancangan optimal yang di zaman kini memerlukan insinyur optik yang terlatih baik dan imajinatif untuk mengembangkannya.”

    Sisi menarik lainnya di seputar bahasan ini adalah, lalat di zaman sekarang memiliki struktur mata yang serupa. Dengan kata lain, struktur demikian itu sudah ada selama 520 juta tahun terakhir ini.

    Pemandangan luar biasa tentang Zaman Kambrium sangat sedikit diketahui di saat Darwin menulis The Origin of Species. Setelah masa Darwin, barulah orang tahu, bahwa menurut catatan fosil, makhluk hidup muncul dengan seketika di Zaman Kambrium, dan trilobita serta hewan invertebrata lain hadir di muka bumi secara bersamaan. Dalam bukunya, Darwin tak mampu membahas sepenuhnya mengenai hal ini. Namun, ia memang membahas sedikit tentang itu dalam bab berjudul “On the sudden appearance of groups of allied species in the lowest known fossiliferous strata“ (Timbulnya secara serentak kelompok-kelompok spesies yang saling terkait dalam lapisan fosil terendah yang diketahui), ia menulis di sini tentang Zaman Silur (di masa Darwin, zaman ini mencakup pula zaman yang kini kita sebut Kambrium):

    Misalnya, saya tidak dapat meragukan bahwa semua trilobita zaman Silur merupakan keturunan yang berasal dari sejenis hewan krustasea (bangsa udang), yang tentunya telah hidup jauh sebelum Zaman Silur, dan mungkin jauh berbeda dari hewan mana pun yang telah dikenal … Karena itu, jika teori saya benar, tak pelak lagi bahwa jauh sebelum lapisan Silur paling bawah terbentuk, waktu yang amat panjang telah berlalu, mungkin sama atau jauh lebih panjang daripada selang waktu antara zaman Silur dengan masa kini; dan selama rentang masa yang sungguh panjang ini, namun belum banyak dikenal, dunia ini dipenuhi makhluk hidup. Saya tak mampu memberi jawaban yang memuaskan atas pertanyaan mengapa kita tidak menemukan bekas-bekas dari zaman purba yang sungguh panjang ini.

    Darwin berkata, “Jika teori saya benar, tak pelak lagi bahwa dunia ini dipenuhi makhluk hidup sebelum Zaman Silur.” Untuk menjawab pertanyaan, mengapa tidak terdapat fosil makhluk-makhluk itu, ia mencoba menjawab di sepanjang bukunya, dengan menggunakan alasan “catatan fosil yang sangat terbatas”. Tapi kini, catatan fosil sudah lengkap, dan menunjukkan bahwa makhluk Zaman Kambrium tak memiliki nenek moyang. Artinya, kita harus menolak kalimat Darwin yang diawali dengan “… jika teori saya benar”. Hipotesa Darwin tidak absah; karena itu, teorinya salah.

    Makhluk hidup tidak berkembang dari bentuk sederhana ke bentuk yang kompleks. Pada saat pertama kali muncul, makhluk hidup sudah teramat kompleks. Contoh lain dari hal ini adalah ikan hiu, yang menurut catatan fosil sudah ada sejak sekitar 4000 juta tahun yang lalu. Hewan ini memiliki berbagai ciri istimewa yang tidak dimiliki hewan lain yang tercipta jutaan tahun setelahnya, misalnya pertumbuhan gigi (regenerasi) setelah gigi yang lama tanggal. Contoh lainnya adalah kemiripan yang mengejutkan antara mata mamalia dan gurita yang telah hidup di Bumi berjuta-juta tahun sebelum mamalia.

    Contoh-contoh tersebut memperjelas bahwa spesies makhluk hidup tidak dapat disusun berurutan secara baik dari bentuk primitif ke bentuk kompleks.

    Fakta itu juga ditampilkan oleh hasil penelitian terhadap segi bentuk, fungsi, dan genetika makhluk hidup. Misalnya, bila kita cermati catatan fosil pada tingkat terendah, dilihat dari segi bentuk dan ukuran, tampak bahwa banyak makhluk (misalnya dinosaurus) yang berukuran jauh lebih besar daripada yang muncul kemudian.

    Demikian juga bila kita cermati dari segi fungsional makhluk hidup. Pada perkembangan struktur, telinga adalah contoh yang meruntuhkan pendapat “makhluk hidup berkembang dari bentuk primitif menuju kompleks”. Hewan amfibi memiliki rongga telinga-tengah. Akan tetapi reptil, yang muncul sesudah amfibi, mempunyai sistem yang jauh lebih sederhana. Pada reptil, sistem ini berdasarkan satu tulang kecil saja, tanpa ruang telinga-tengah.

    Kajian genetika menunjukkan hasil serupa. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa jumlah kromosom tak ada kaitannya dengan kompleksitas tubuh hewan. Misalnya, manusia memiliki 46 buah kromosom, kopepoda memiliki 6 buah, dan radiolaria (hewan yang berukuran mikroskopis) memiliki tepat 800 buah.

    Makhluk hidup diciptakan pada saat yang paling “sesuai” baginya

    Penelitian catatan fosil sesungguhnya menunjukkan, makhluk hidup muncul di masa yang paling cocok baginya. Tuhan telah menciptakan makhluk hidup secara luar biasa. Makhluk hidup diciptakan tepat sesuai dengan keadaan yang akan dihadapinya saat muncul di Bumi.

    Mari kita lihat contoh berikut ini: Bumi di kala fosil bakteri tertua muncul, yakni sekitar 3,5 miliar tahun yang silam. Kondisi suhu dan atmosfer waktu itu sama sekali tidak cocok untuk mendukung kehidupan makhluk berstruktur kompleks ataupun manusia. Demikian juga zaman Kambrium, yang menurut Kence, apabila ditemukan fosil manusia pada masa itu, teori evolusi akan runtuh. Periode ini, sekitar 530 juta tahun silam, benar-benar tak cocok bagi manusia. (Saat itu tak ada hewan di darat).

    Keadaan serupa juga tampak pada hampir seluruh zaman sesudahnya. Penelitian catatan fosil menunjukkan bahwa kondisi yang dapat mendukung kehidupan manusia baru tercapai beberapa juta tahun yang silam. Hal yang sama ini berlaku pula pada seluruh makhluk hidup lainnya. Setiap kelompok makhluk hidup muncul apabila kondisi yang mendukung bagi kehidupannya telah tercapai, dengan kata lain, “bila waktunya sudah tepat”.

    Kaum evolusionis menentang fakta ini sekuat tenaga. Mereka mengatakan bahwa kondisi pendukung itu sendirilah yang telah memunculkan makhluk hidup. Padahal, terciptanya “kondisi pendukung” hanyalah tanda bahwa “saat yang tepat telah tiba”. Makhluk hidup hanya dapat muncul melalui sebuah campur tangan yang memiliki kesadaran – dengan kata lain, melalui penciptaan oleh kekuatan hebat di luar alam.

    Karena itu, munculnya makhluk hidup secara bertahap bukanlah bukti evolusi, melainkan bukti kebijaksanaan dan pengetahuan Tuhan yang tak terhingga, Yang menciptakan makhluk hidup. Setiap kelompok makhluk hidup diciptakan untuk menyiapkan kondisi yang sesuai bagi kemunculan kelompok makhluk hidup berikutnya. Dan bagi kita, keseimbangan ekologis dengan seluruh makhluk hidup disiapkan terlebih dahulu dalam rentang waktu yang cukup panjang.

    Di lain pihak, kita harus ingat bahwa periode panjang itu hanya dirasakan “panjang” oleh kita. Bagi Tuhan, itu hanyalah “sesaat” saja. Konsep waktu hanya berlaku bagi makhluk, bukan Pencipta. Tuhan, Pencipta waktu itu sendiri, tidaklah terikat oleh waktu. (Lihat lebih jauh dalam buku Harun Yahya: Timelessness and the Reality of Fate)

    Jika kaum evolusionis hendak menunjukkan bahwa satu spesies berubah menjadi spesies lain, tak ada gunanya berkata bahwa makhluk hidup muncul di Bumi selangkah demi selangkah. Bukti yang harus mereka kemukakan adalah fosil makhluk peralihan yang menghubungkan antarspesies makhluk hidup yang berbeda ini. Teori yang menyatakan bahwa invertebrata berubah menjadi ikan, ikan menjadi reptil, reptil menjadi burung dan mamalia, harus didukung fosil sebagai buktinya. Darwin sadar akan hal itu dan menuliskan bahwa fosil semacam ini harus ditemukan dalam jumlah tak terhitung banyaknya, walaupun sejauh ini tidak pernah ditemukan satu pun. Selama 150 tahun setelah teori Darwin diajukan, fosil makhluk peralihan belum pernah ditemukan. Seperti yang diakui oleh Derek W. Ager, seorang evolusionis ahli paleontologi, catatan fosil menunjukkan “bukan evolusi bertahap, melainkan sebuah ledakan tiba-tiba sekelompok makhluk hidup di atas kepunahan kelompok yang lain.”

    Sebagai kesimpulan, sejarah kehidupan menunjukkan bahwa makhluk hidup muncul bukan sebagai hasil peristiwa kebetulan, melainkan diciptakan tahap demi tahap, dalam periode yang amat panjang. Ini amat sesuai dengan keterangan tentang penciptaan dalam Al Qur’an, yang di dalamnya Tuhan berfirman bahwa Dia menciptakan alam semesta dan semua makhluk hidup dalam “enam hari”:

    Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. As Sajdah, 32:4)

    Kata “hari” dalam ayat itu, atau yawm dalam bahasa Arab, juga berarti selang waktu yang panjang. Dengan kata lain, Al Qur’an menyebutkan bahwa kehidupan diciptakan dalam beberapa masa yang berbeda, tidak sekaligus. Penemuan di bidang geologi di zaman modern memberikan gambaran yang menegaskan hal ini.

     
  • erva kurniawan 9:04 am on 28 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (12) 

    Arti-Gigi-BungsuMasalahDan-PengobatanyaRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (12)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa Gigi Geraham Bungsu Bukanlah Bukti Kebenaran Evolusi?

    Salah satu tipuan penting dari teori evolusi adalah pernyataan yang berkaitan dengan organ vestigial (organ persisaan). Evolusionis menyatakan bahwa terdapat sejumlah organ dalam makhluk hidup yang kehilangan fungsinya seiring dengan waktu, dan kemudian lenyap. Dengan berpedoman pada hal ini, kaum evolusionis mencoba mengirimkan pesan, “Jika tubuh makhluk hidup adalah hasil penciptaan, maka seharusnya di dalamnya tidak terdapat organ yang tak berfungsi”.

    Naskah terbitan kaum evolusionis di awal abad ke-20 menyatakan bahwa tubuh manusia memiliki sekitar seratus buah organ yang sudah tidak berguna lagi. Di antaranya adalah usus buntu, tulang ekor, amandel, kelenjar pineal, telinga bagian luar, kelenjar timus, dan geraham bungsu. Akan tetapi, ilmu kedokteran telah mencapai kemajuan pesat dalam beberapa dasawarsa setelah itu. Akibatnya, tampaklah bahwa gagasan organ vestigial hanyalah takhayul. Daftar panjang buatan kaum evolusionis pun berkurang secara tajam. Kelenjar timus ternyata adalah organ yang menghasilkan sel sistem kekebalan yang penting, dan kelenjar pineal berfungsi menghasilkan hormon-hormon penting. Terungkap pula bahwa tulang ekor berfungsi untuk menopang tulang-tulang sekitar pinggul, dan telinga bagian luar berfungsi penting dalam mengenali dari arah mana bebunyian berasal. Singkat kata, terungkap bahwa ketidaktahuan adalah satu-satunya pijakan yang menopang gagasan tentang “organ vestigial”.

    Ilmu pengetahuan modern telah berulang kali menunjukkan bahwa konsep organ semacam itu adalah keliru. Namun, sebagian kaum evolusionis masih memanfaatkan pernyataan ini. Walaupun ilmu kedokteran telah membuktikan bahwa hampir semua organ itu (yang tadinya disebut-sebut sebagai “vestigial”) ternyata memiliki fungsinya masing-masing, dugaan evolusi yang tidak berdasar masih menyelimuti satu atau dua organ.

    Salah satu yang paling menonjol adalah geraham bungsu. Dalam naskah evolusionis masih tercantum anggapan bahwa gigi ini adalah bagian tubuh manusia yang telah kehilangan semua fungsinya. Sebagai buktinya, kaum evolusionis menyatakan bahwa gigi-gigi geraham bungsu ini memunculkan masalah pada sebagian besar orang, dan proses mengunyah tidak terganggu ketika gigi-gigi tersebut dicabut.

    Banyak dokter gigi, karena terpengaruh pernyataan evolusionis bahwa gigi bungsu tidak berfungsi, telah berpandangan bahwa pencabutan gigi bungsu sesuatu yang biasa, dan mereka tidak melakukan usaha pemeliharaan yang sama padanya seperti pada gigi yang lain. Akan tetapi penelitian di tahun-tahun terakhir menunjukkan, gigi bungsu memiliki fungsi mengunyah, sama seperti gigi lain. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa anggapan “gigi bungsu mengganggu posisi gigi lain” adalah sama sekali tak beralasan. Sekarang ini kritik ilmiah, tentang bagaimana masalah gigi bungsu ini bisa diatasi bukan dengan cara pencabutan, semakin meningkat. Faktanya, kesepakatan ilmiah menyatakan bahwa gigi geraham bungsu berfungsi mengunyah, sama dengan gigi lain, dan tidak ada pembenaran ilmiah yang mendukung keyakinan bahwa gigi geraham bungsu tidak memiliki kegunaan.

    Jadi, mengapa gigi geraham bungsu menimbulkan gangguan pada banyak orang? Berdasarkan penelitian para ahli di bidang ini, permasalahan gigi bungsu di masyarakat terjadi secara berbeda-beda, tergantung zaman. Kini diketahui bahwa gangguan gigi bungsu jarang terdapat di masyarakat pra-industri. Khususnya selama beberapa ratus tahun terakhir ini, manusia lebih menyukai makanan lunak daripada yang keras, sehingga pertumbuhan rahang manusia pun terganggu. Akhirnya diketahui, ternyata masalah gigi bungsu berasal dari gangguan pertumbuhan rahang akibat pola makan.

    Diketahui pula, ternyata perilaku makan masyarakat juga berpengaruh buruk pada gigi lainnya. Sebagai contoh, meningkatnya konsumsi makanan dengan kadar gula dan asam yang tinggi telah meningkatkan kerusakan gigi. Tapi, fakta itu tidak menjadikan kita berpikir bahwa semua gigi kita mengalami “atrofi” (pengecilan atau penyusutan). Hal yang sama juga berlaku pada gigi geraham bungsu. Masalah pada gigi geraham bungsu berasal dari kebiasaan makan, bukan dari “atrofi” evolusioner apa pun.

     
  • erva kurniawan 9:01 am on 27 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (11) 

    bumiRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (11)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa Teori Evolusi Tidak Diperkukuh Oleh Usia Bumi Yang Sudah Empat Miliar Tahun?

    Kaum evolusionis mendasarkan skenario mereka pada pengaruh alam dan kebetulan. Salah satu dari konsep yang paling mereka andalkan dalam hal ini adalah konsep “waktu yang panjang”. Sebagai contoh, ilmuwan Jerman, Ernst Haeckel, yang mendukung Darwin, menyatakan bahwa sebuah sel hidup dapat berasal dari lumpur biasa. Bersamaan dengan ditemukannya struktur sel hidup yang teramat rumit di abad ke-20, semakin jelaslah ketidakcerdasan pernyataan Haeckel itu. Tapi, kaum evolusionis terus-menerus menutupi kebenaran dengan konsep “waktu yang cukup panjang”.

    Dengan cara tersebut, mereka berniat melepaskan diri mereka sendiri dengan melemparkan masalah ke dalam keraguan, dan bukan menjawab pertanyaan bagaimana makhluk hidup timbul secara kebetulan. Dengan menampilkan kesan bahwa berlalunya rentang masa yang panjang dapat menjadi sesuatu yang menguntungkan dari sudut pandang kemunculan makhluk hidup dan meningkatnya keanekaragaman, mereka mengemukakan faktor waktu sebagai sesuatu yang selalu menguntungkan. Sebagai contohnya, profesor evolusionis Turki, Yaman Ors berkata: “Jika Anda ingin menguji kebenaran teori evolusi, bubuhkan campuran zat yang tepat ke dalam air, tunggulah beberapa juta tahun, maka anda akan melihat kemunculan beberapa sel.” 52

    Pernyataan itu betul-betul tidak masuk akal. Tak ada bukti bahwa hal seperti itu dapat terjadi. Munculnya makhluk hidup dari zat tak-hidup sebenarnya adalah takhayul dari Abad Pertengahan. Di zaman itu, masyarakat beranggapan bahwa makhluk hidup muncul secara tiba-tiba, disebut juga sebagai generatio spontanea atau “kemunculan tiba-tiba yang tanpa disengaja”. Menurut keyakinan masyarakat ini, angsa berasal dari pepohonan, kambing dari semangka, bahkan berudu berasal dari air yang terbentuk di awan lalu turun ke bumi sebagai hujan. Di tahun 1600-an, masyarakat percaya bahwa tikus dapat lahir dari campuran gandum dan sepotong kain kotor, dan bahwa lalat dapat terbentuk ketika lalat mati dicampur dengan madu.

    Namun, Francesco Redi, ilmuwan Italia, membuktikan bahwa tikus tidaklah berasal dari campuran gandum dan kain kotor, serta lalat tidak berasal dari campuran lalat mati dengan madu. Makhluk hidup tidak berasal dari zat tak-hidup, seperti madu atau kain kotor, melainkan sekadar menjadikan benda-benda itu sebagai perantara. Misalnya, seekor lalat hidup akan bertelur pada bangkai lalat, dan tak lama kemudian sejumlah lalat baru pun muncul. Dengan kata lain, kehidupan berasal dari kehidupan, bukan dari zat atau benda mati. Di abad ke-19, Louis Pasteur, ilmuwan Prancis, membuktikan bahwa bakteri tidak berasal dari benda mati. Hukum ini, yaitu “kehidupan hanya berasal dari kehidupan” adalah salah satu dasar biologi modern.

    Mengingat kondisi pada abad ke-17, adanya keyakinan yang aneh seperti yang telah dibahas di atas dapat kita maklumi karena pengetahuan para ilmuwan saat itu belumlah memadai. Akan tetapi di zaman kini, saat ilmu dan teknologi maju pesat, dan berbagai percobaan dan pengamatan menunjukkan bahwa makhluk hidup mustahil berasal dari zat atau benda mati, amatlah mengejutkan bila seorang evolusionis seperti Yaman Ors masih juga mempertahankan pernyataan seperti itu.

    Ilmuwan modern telah berulang kali menunjukkan bahwa hal sedemikian mustahil terjadi. Mereka telah melaksanakan percobaan-percobaan yang diatur sedemikian rupa, di laboratorium canggih, menirukan kondisi saat makhluk hidup pertama kali muncul, tapi itu semua sia-sia.

    Apabila atom-atom fosfor, kalium, magnesium, oksigen, besi, dan karbon, yang semuanya penting bagi makhluk hidup, digabungkan, yang timbul hanyalah gumpalan zat tak-hidup. Akan tetapi, kaum evolusionis menyatakan bahwa ada sekumpulan atom yang bergabung dan mengatur diri sedemikian rupa, dalam jangka waktu tertentu, dalam perbandingan paling sesuai, di saat dan tempat yang tepat, dengan segala kaitan yang diperlukan. Selanjutnya mereka nyatakan bahwa hasil pengaturan yang tepat dari atom-atom tak hidup tersebut, dan dengan semua proses yang berlangsung tanpa gangguan, muncullah manusia yang mampu melihat, mendengar, bicara, merasakan, tertawa, bersuka-cita, menderita, merasakan perasaan sakit dan suka cita, tertawa, mencintai, berbelas kasih, manghayati irama musik, menikmati makanan, membangun peradaban, serta melakukan penelitian ilmiah.

    Akan tetapi, sudah jelas bahwa walaupun semua persyaratan dan kondisi yang ditetapkan para evolusionis dipenuhi, serta berjuta-juta tahun sudah berlalu, percobaan seperti itu akan gagal.

    Para evolusionis mencoba menutupi fakta ini dengan penjelasan tipuan seperti “Segala hal adalah mungkin dengan berlalunya waktu”. Ketidakabsan pernyataan ini, yang didasarkan penggunaan “gertak“ di dalam dunia ilmiah, sangatlah jelas. Ketidakabsahan ini dapat dilihat dengan lebih jelas bila dilihat dari sudut pandang lain. Dalam sebuah contoh sederhana, mari kita tinjau faktor waktu dalam keadaan yang menguntungkan dan yang merugikan. Bayangkanlah sebuah perahu kayu di pantai, beserta seorang kapten yang dari awal memelihara kapal itu, memperbaiki, membersihkan, mengecatnya. Selama sang kapten tetap berminat pada kapal tersebut, kapal itu akan tambah menarik, aman dan terawat.

    Lalu, mari kita bayangkan kapal tersebut ditinggalkan. Kali ini, pengaruh matahari, angin, hujan, pasir dan badai akan menyebabkan kapal itu rusak, lapuk, dan akhirnya terbuang tanpa guna.

    Satu-satunya perbedaan di antara kedua skenario tadi adalah, pada kasus pertama, ada peristiwa campur-tangan yang cerdas, ahli, dan sangat berpengaruh. Waktu yang berlalu hanya akan bermanfaat, apabila dikendalikan oleh sebuah kekuatan yang cerdas. Jika tidak, waktu akan berpengaruh merusak, dan bukan memperbaiki atau membangun. Hal ini merupakan sebuah hukum ilmiah. Hukum entropi, yang dikenal sebagai “Hukum Termodinamika Kedua”, menyatakan bahwa semua sistem di alam semesta ini menuju ke arah kehancuran, penguraian, dan pembusukan apabila ditinggalkan begitu saja dalam kondisi alamiah.

    Fakta tersebut menunjukkan bahwa panjangnya umur Bumi adalah faktor yang menghancurkan pengetahuan serta keteraturan, dan menambah kekacauan. Jadi amat bertentangan dengan pendapat evolusionis. Munculnya sistem yang teratur yang didasarkan pada pengetahuan hanya dapat terjadi akibat adanya keterlibatan yang cerdas.

    Pada saat mendongeng tentang berubahnya satu spesies menjadi spesies lain, para pendukung evolusi berlindung di balik tameng “semua itu terjadi dalam jangka waktu teramat panjang”. Dengan begitu, mereka menyatakan bahwa di masa lalu berbagai hal tersebut terjadi sedemikian rupa, yang belum pernah dibuktikan oleh percobaan atau pengamatan mana pun. Walaupun demikian, segala hal di dunia dan alam semesta berjalan mengikuti hukum yang tetap. Hal ini tidak berubah seiring berjalannya waktu. Sebagai contoh, benda jatuh ke muka Bumi akibat gravitasi. Benda tidak akan jatuh ke atas dengan berjalannya waktu, bahkan dalam waktu bertriliun-triliun tahun sekalipun. Anak kadal tetaplah kadal. Hal ini terjadi karena informasi genetis yang diturunkan adalah selalu informasi kadal, dan secara alami tidak ada informasi tambahan yang bisa ditambahkan. Informasi dapat berkurang ataupun musnah, tetapi sungguh mustahil sesuatu apa pun dapat ditambahkan. Ini disebabkan penambahan informasi ke dalam sebuah sistem membutuhkan keterlibatan dan kendali dari luar yang berpengetahuan dan cerdas. Alam sendiri tidak memiliki sifat-sifat seperti itu.

    Pengulangan yang terjadi dengan berjalannya waktu, dan fakta bahwa hal ini sering terjadi, tidaklah mengubah apa pun. Sekalipun bertriliun-triliun tahun sudah berlalu, seekor burung tidak akan menetas dari telur kadal. Seekor kadal berukuran panjang, atau yang pendek – yang kuat ataupun yang lemah – akan selalu berupa kadal. Spesies yang berbeda tidak akan muncul darinya. Konsep “waktu yang sangat panjang“ merupakan sebuah tipuan yang bertujuan untuk mengeluarkan permasalahan ini dari luar lingkup percobaan dan pengamatan. Tidak ada bedanya antara 4, 40 atau 400 miliar tahun berlalu. Sebab tidak ada hukum ataupun kecenderungan alamiah yang dapat merubah kemustahilan-kemustahilan sebagaimana yang dipaparkan dalam teori evolusi menjadi hal yang benar-benar mungkin.

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 24 July 2015 Permalink | Balas  

    Aku Ingin Anak Lelakiku Menirumu 

    Nasehat IbuAku Ingin Anak Lelakiku Menirumu

    Oleh : Neno Warisman – ‘Izinkan Aku Bertutur’

    Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya: “Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!”

    Suamiku menjawab: “Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.”

    Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.

    Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatam kan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: “Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.”

    Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: “Oh ya. Ide bagus itu.”

    Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa.  Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.

    Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

    Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan.

    Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima. Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah.

    Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.

    Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu: “Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!”

    Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. “Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”

    Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu.

    Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, “Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

    Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi.

    Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya.

    Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: “Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!”

    Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam.

    Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, “Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”

    Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?

    Lalu kuambil tangan suamiku, meski  kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.

    Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

    Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: “Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”

    Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan.

    Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

    Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata:  Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!

    Amin, alhamdulillah

     
    • Firdausya 3:05 pm on 24 Juli 2015 Permalink

      Reblogged this on cherie and commented:
      ijin rebog ya pak

  • erva kurniawan 1:47 am on 22 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (8) 

    EmbrioRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (8)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    8.Pemalsuan Ilmiah Apakah Yang Menjadi Dasar Bagi Mitos “Embrio Manusia Memiliki Insang”?

    Tesis yang menyatakan bahwa makhluk hidup melalui berbagai tahapan di dalam rahim induknya, yang dapat dianggap sebagai bukti evolusi, menempati kedudukan istimewa di antara pernyataan-pernyataan tanpa bukti dari teori evolusi. Hal ini dikarenakan tesis ini, yang dikenal sebagai “rekapitulasi”dalam literatur evolusi, lebih dari sekedar penipuan ilmiah: ini adalah pemalsuan ilmiah.

    Takhayul Rekapitulasi Haeckel

    Ernst Haeckel, salah seorang pemalsu terbesar dalam sejarah ilmu pengetahuan.

    Istilah “rekapitulasi” adalah ringkasan dari pernyataan “ontogeni merekapitulasi filogeni”, yang diajukan oleh ahli biologi evolusioner, Ernst Haeckel di akhir abad kesembilan belas. Teori Haeckel ini menyatakan bahwa perkembangan embrio mengulangi proses evolusi yang dialami oleh “nenek moyang” mereka di zaman purba. Menurut teori ini, embrio manusia dalam rahim sang ibu pada awalnya menampilkan ciri-ciri fisik seekor ikan, lalu reptil, dan terakhir manusia. Pendapat ini mencetuskan pernyataan bahwa embrio memiliki “insang” dalam tahap pertumbuhannya.

    Akan tetapi, ini semua hanyalah takhayul. Perkembangan ilmiah yang telah dicapai, sejak rekapitulasi didengungkan untuk pertama kali, telah memungkinkan diujinya keabsaan pernyataan tersebut. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa doktrin rekapitulasi tidak memiliki landasan apa pun selain khayalan dan penafsiran keliru yang sengaja dilakukan kaum evolusionis.

    Kini telah diketahui bahwa apa yang disebut-sebut “insang” itu, yang tumbuh pada tahap awal perkembangan embrio manusia, sebenarnya adalah fase awal dari saluran telinga tengah, kelenjar timus dan paratiroid. Bagian embrio yang diserupakan sebagai “kantung kuning telur” ternyata adalah kantung yang berfungsi untuk menghasilkan darah bayi. Bagian yang disebut-sebut sebagai “ekor” oleh Haeckel dan pengikutnya, sebenarnya adalah tulang belakang yang tampak mirip ekor karena terbentuk lebih dulu daripada tungkai kaki.

    Inilah fakta-fakta yang diakui secara luas dalam dunia ilmiah, dan bahkan kaum evolusionis sendiri mengakuinya. George Gaylord Simpson, salah satu pendiri neo-Darwinisme, menulis:

    Haeckel salah menyatakan prinsip evolusioner yang dipakai. Sekarang dengan mantap telah dikukuhkan bahwa ontogeni tidak mengulangi filogeni. 45

    Berikut ini tercantum dalam artikel New Scientist tertanggal 16 Oktober 1999:

    [Haeckel] menamakan ini sebagai hukum biogenetika, dan gagasan ini kemudian secara luas disebut sebagai rekapitulasi. Faktanya, hukum Haeckel yang tegas itu tak lama kemudian terbukti keliru. Misalnya, embrio manusia tahap awal tidak pernah memiliki insang yang berfungsi seperti ikan, dan tak pernah melewati tahapan-tahapan yang menyerupai kera atau reptil dewasa. 46

    Dalam artikel terbitan American Scientist, kita membaca:

    Sungguh, hukum biogenetika itu sudah benar-benar mati. Hukum ini akhirnya dihilangkan dari buku teks biologi pada tahun lima puluhan. Sebagai sebuah pokok pengkajian teoritis yang serius, hukum ini ini sudah punah di tahun dua puluhan… 47

    Sebagaimana telah kita saksikan, sejak pertama kali muncul, berbagai perkembangan yang terjadi menunjukkan bahwa rekapitulasi sama sekali tidak memiliki dasar-dasar ilmiah. Walaupun demikian, berbagai perkembangan yang sama tersebut menunjukkan bahwa rekapitulasi bukan sekedar suatu penipuan ilmiah, melainkan sebuah “pemalsuan” murni.

    Gambar Palsu Haeckel

    The New York Times, pada tanggal 8 April, 2001, menyediakan ruang yang besar untuk membahas teori rancangan cerdas dan berbagai gagasan dari para ilmuwan dan ahli filsafat yang mendukung teori ini, seperti Michael Behe dan William Dembski. Secara umum dinyatakan bahwa secara ilmiah, teori rancangan cerdas adalah absah dan patut dihormati, sehingga Darwinisme akan terguncang sampai ke akarnya. Berita ini juga memuat gambar palsu buatan Haeckel dan membandingkannya dengan gambar-gambar embrio yang asli di bawah mikroskop.

    Ernst Haeckel, yang pertama kali mengajukan gagasan rekapitulasi, telah menerbitkan sejumlah gambar untuk mendukung teorinya. Haeckel membuat gambar-gambar yang telah dipalsukan, untuk menampilkan kesan bahwa embrio manusia dan ikan memiliki kemiripan! Ketika dusta ini terungkap, dia hanya dapat membela diri dengan cara berkata bahwa para evolusionis lain telah melakukan kesalahan serupa:

    Setelah pengakuan yang memalukan atas “pemalsuan” ini, saya sepatutnya menganggap diri saya tercela dan tak berguna, seandainya saya tidak merasa terhibur oleh adanya ratusan “orang hukuman” yang senasib dengan saya, di antaranya terdapat para pengamat paling terpercaya dan para ahli biologi paling terhormat. Kebanyakan dari semua gambar yang ada pada buku-buku pelajaran, makalah dan jurnal biologi terbaik, hingga tingkat yang sama, menanggung dakwaan “pemalsuan”, karena semua gambar itu tidak pasti, banyak sedikitnya sudah diubah-ubah, diatur dan dirancang. 48

    Jurnal ilmiah Science edisi 5 September, 1997, menerbitkan artikel yang mengungkapkan bahwa gambar embrio Haeckel adalah hasil penipuan. Tuisan itu, yang diberi judul “Haeckel’s Embryos: Fraud Rediscovered” (Embrio-Embrio Haeckel: Pemalsuan yang Terungkap Lagi) menyatakan berikut ini:

    Kesan yang diberikan [oleh gambar-gambar Haeckel], yang menyatakan bahwa semua embrio itu persis sama, adalah salah, ungkap Michael Richardson, seorang ahli embriologi di Fakultas Kedokteran St. George’s di London… Demikianlah, ia dan rekan-rekannya melakukan sendiri suatu penelitian pembandingan, memeriksa ulang dan memotret beberapa embrio, yang berasal dari spesies dan umur yang kira-kira setara dengan gambar Haeckel. Nyatalah bahwa semua embrio itu “seringkali tampak benar-benar berbeda luar biasa”, lapor Richardson dalam Anatomy and Embryology, terbitan bulan Agustus.49

    Science, 5 September 1997

    Kemudian, dalam artikel yang sama ini, informasi berikut ini terungkap:

    Haeckel tidak saja menambah dan mengurangi sejumlah bagian, lapor Richardson dan rekan-rekannya, tetapi ia juga memalsukan ukurannya untuk melebih-lebihkan kesamaan di antara spesies, meskipun terdapat perbedaan ukuran sebesar 10 kali. Terlebih, Haeckel menyamarkan perbedaan dengan cara tidak menyebutkan nama spesies dalam banyak kasus, seakan-akan satu contoh saja sudah benar-benar cukup untuk mewakili satu kelompok hewan secara keseluruhan. Nyatanya, Richardson dan rekan-rekannya mencermati, bahkan embrio hewan dari jenis-jenis yang erat hubungannya sekali pun, misalnya ikan, agak berlainan dalam rupa serta jalur perkembangannya. “[Gambar-gambar Haeckel] ini tampaknya sedang menjadi salah satu pemalsuan paling terkenal dalam biologi,” Richardson menyimpulkan. 50

    Patut dicatat, walaupun pemalsuan Haeckel ini sudah terungkap tahun 1901, selama hampir satu abad gambar tersebut masih terus ditampilkan dalam berbagai terbitan evolusionis, seakan-akan merupakan hukum ilmiah yang sudah terbukti. Dengan mengedepankan ideologi mereka daripada ilmu pengetahuan, mereka yang menganut keyakinan evolusionis secara tak sadar telah menyatakan pesan penting: Evolusi bukanlah ilmu pengetahuan, melainkan dogma yang terus mereka coba pertahankan, walaupun fakta ilmiah membuktikan sebaliknya.

    ===============================

    1. G. G. Simpson, W. Beck, An Introduction to Biology, Harcourt Brace and World, New York, 1965, p. 241
    2. Ken McNamara, “Embryos and Evolution,” New Scientist, vol. 12416, 16 October 1999, (emphasis added)
    3. Keith S. Thompson, “Ontogeny and Phylogeny Recapitulated,” American Scientist, vol. 76, May/June 1988, p. 273
    4. Francis Hitching, The Neck of the Giraffe: Where Darwin Went Wrong, Ticknor and Fields, New York, 1982, p. 204
    5. Elizabeth Pennisi, “Haeckel’s Embryos: Fraud Rediscovered,” Science, 5 September,
    6. Elizabeth Pennisi, “Haeckel’s Embryos: Fraud Rediscovered,” Science, 5 September, (emphasis added)
     
  • erva kurniawan 1:37 am on 21 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (7) 

    ArchaeopteryxRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (7)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa Pernyataan Bahwa Dinosaurus Berevolusi Menjadi Burung Adalah Mitos Tidak Ilmiah?

    Teori evolusi adalah sebuah dongeng yang diciptakan berdasarkan harapan bahwa yang mustahil akan menjadi kenyataan. Dalam cerita ini, burung menempati tempat yang istimewa. Dibandingkan semua yang ada, burung memiliki organ luar biasa, yakni sayap. Selain istimewa dari segi struktural, sayap burung juga menakjubkan dari segi fungsinya. Begitu menakjubkan, sehingga selama beribu-ribu tahun, umat manusia memiliki cita-cita untuk bisa terbang, dan beribu-ribu ilmuwan dan peneliti berupaya untuk menirunya. Meskipun sejumlah upaya sangat sederhana pernah dikerahkan, barulah pada abad ke-dua puluh, manusia berhasil membuat mesin yang mampu terbang. Burung sudah melakukan hal ini – yang oleh manusia baru terwujud melalui akumulasi teknologi selama beratus-ratus tahun – sejak jutaan tahun yang lalu, sejak burung tercipta. Lagi pula, anak burung dapat memiliki kemampuan untuk terbang setelah mencobanya beberapa kali saja. Banyak sifat-sifat burung yang begitu sempurna, sehingga tak mungkin disaingi oleh teknologi paling modern sekali pun.

    Gagasan “dinosaurus menumbuhkan sayap saat berusaha menangkap serangga yang terbang” bukanlah suatu lelucon, melainkan sebuah teori yang menurut kaum evolusionis amat ilmiah. Contoh ini sudah cukup untuk menunjukkan seberapa serius kita harus menanggapi kaum evolusionis

    Teori evolusi bersandar pada komentar-komentar berprasangka dan pemutarbalikkan kebenaran untuk menjelaskan kemunculan makhluk hidup dan seluruh keberagamannya. Apabila sudah menyangkut makhluk hidup seperti burung, ilmu pengetahuan pun sepenuhnya disingkirkan, dan diganti dengan kisah fantasi evolusionis. Alasan dari semua ini adalah sejenis makhluk yang oleh kaum evolusionis dinyatakan sebagai nenek moyang dari burung. Teori evolusi menandaskan bahwa nenek moyang dari burung adalah dinosaurus, anggota kelompok reptil. Pernyataan ini memunculkan dua pertanyaan yang harus dijawab. Pertama, “bagaimana dinosaurus mulai menumbuh-kembangkan sayap?” Kedua, “mengapa tidak ada jejak prekembangan semacam itu dalam catatan fosil?”

    Berkenaan dengan bahasan tentang bagaimana dinosaurus berubah menjadi burung, para evolusionis telah lama memperdebatkannya, dan mengajukan dua teori. Yang pertama adalah teori “kursorial”. Menurut teori ini, dinosaurus berubah menjadi burung dengan cara melompat dari tanah ke udara. Adapun para pendukung teori kedua tidaklah sependapat dengan teori kursorial ini. Mereka berkata, mustahil dinosaurus berubah menjadi burung dengan cara demikian. Menurut teori kedua ini, dinosaurus yang hidup di dahan pepohonan berubah menjadi burung karena berusaha melompat dari dahan ke dahan. Ini biasa disebut sebagai teori “arboreal”. Bagaimana dinosaurus bisa melompat ke udara? Jawabannya sudah tersedia: “Karena mencoba menangkap serangga terbang.”

    Akan tetapi, kita harus ajukan pertanyaan berikut ini kepada mereka yang berkata bahwa sebuah sistem penerbangan beserta sayapnya dapat muncul pada tubuh seekor dinosaurus: Bagaimanakah sistem terbang pada seekor lalat – yang jauh lebih efisien daripada helikopter yang kemudian dibentuk mengikuti sistem terbang pada lalat – terbentuk? Anda akan pahami bahwa kaum evolusionis tak memiliki jawabannya. Sudah pasti teramat tidak masuk akal bahwa suatu teori yang tak sanggup menjelaskan sistem terbang pada makhluk sekecil lalat, akan sanggup menjelaskan proses perubahan dinosaurus menjadi burung.

    Karena itulah, para ilmuwan yang berpikir secara benar pun sepakat, bahwa satu-satunya segi ilmiah pada teori tersebut adalah nama-nama yang berbahasa Latin. Pada intinya, munculnya kemampuan terbang hewan reptil hanyalah khayalan.

    Kaum evolusionis, yang berpendapat bahwa dinosaurus berubah menjadi burung, haruslah mampu memperoleh buktinya dalam catatan fosil. Jika dinosaurus memang berubah menjadi burung, harus terdapat makhluk setengah burung-setengah dinosaurus yang hidup di masa lampau, serta meninggalkan jejaknya dalam catatan fosil. Sudah bertahun-tahun lamanya, para evolusionis menyatakan bahwa seekor burung yang disebut “Archaeopteryx” merupakan bukti transisi tersebut. Akan tetapi pernyataan ini tak lain adalah sebuah penipuan besar.

    ArchaeopteryxPenipuan Tentang Archaeopteryx

    Archaeopteryx, makhluk yang dianggap sebagai nenek moyang burung modern oleh para evolusionis, hidup sekitar 150 juta tahun silam. Menurut teori ini, ada sejenis dinosaurus berukuran kecil, misalnya Velociraptors dan Dromaesaurs, yang berevolusi, yaitu menumbuhan sayap dan lalu mulai terbang. Jadi, Archaeopteryx dianggap sebagai bentuk peralihan, yang muncul dari dinosaurus – nenek moyangnya – lalu mulai terbang untuk pertama kalinya.

    Tetapi, kajian terakhir atas fosil Archaeopteryx menunjukkan bahwa penjelasan ini tidak memiliki dasar ilmiah. Archaeopteryx bukan bentuk peralihan, melainkan spesies burung yang sudah punah, yang tidak jauh berbeda dengan burung modern.

    Hingga beberapa waktu yang lalu, pendapat bahwa Archaeopteryx adalah “setengah burung” yang belum sanggup terbang sempurna merupakan pandangan yang umum diterima di kalangan kaum evolusionis. Tiadanya tulang dada atau sternum pada makhluk ini, dianggap sebagai bukti terpenting bahwa kemampuan terbangnya tidak sempurna. (Sternum adalah tulang tempat menempel otot-otot untuk terbang, yang terletak di bawah toraks. Di zaman sekarang, tulang dada terdapat pada semua jenis burung, baik yang dapat terbang maupun tidak, bahkan terdapat juga pada kelelawar, yang tergolong mamalia terbang.)

    Akan tetapi, fosil Archaeopteryx ketujuh, yang ditemukan tahun 1992, menjadi bukti penentang argumen tadi. Alasannya adalah, dalam fosil yang baru saja ditemukan ini, terdapat tulang dada yang selama ini dianggap tak ada oleh kaum evolusionis. Dalam jurnal Nature, fosil ini digambarkan sebagai berikut:

    Spesimen Archaeopteryx yang baru saja ditemukan menampakkan tulang sternum yang berbentuk persegi, yang sudah lama diperkirakan ada, tetapi belum pernah didokumentasikan. Ini menjadi tanda akan kekuatan otot terbangnya, walaupun kemampuan terbang-jauhnya masih dipertanyakan. 30

    Penemuan ini meruntuhkan tiang utama yang melandasi pernyataan bahwa Archaeopteryx adalah makhluk setengah burung, yang tak mampu terbang sempurna.

    Lagi pula, struktur bulu burung ini merupakan salah satu bukti terpenting bahwa Archaeopteryx adalah burung sejati yang dapat terbang. Struktur bulu Archaeopteryx, yang tidak simetris, tidak bisa dibedakan dari bulu burung zaman modern. Ini menandakan bahwa burung ini benar-benar bisa terbang. Seperti kata ahli paleontologi ternama, Carl O. Dunbar, “Dilihat dari bulunya, jenis [Archaeopteryx] jelas termasuk kelompok burung.” 31

    Ahli paleontologi Robert Carroll menjelaskan hal ini lebih lanjut:

    Geometri bulu yang berfungsi untuk terbang pada Archaeopteryx adalah sama persis dengan bulu burung modern yang dapat terbang, sedangkan bulu pada unggas yang tak bisa terbang adalah simetris. Pola yang dengannya bulu-bulu tersebut tersusun pada sayapnya juga masih termasuk dalam kelompok burung modern… Menurut Van Tyne dan Berger, bentuk dan ukuran relatif sayap Archaeopteryx serupa dengan yang ada pada burung yang biasa menembus rapatnya pepohonan, misalnya burung unggas yang sudah didomestikasi, merpati, burung rawa, burung pelatuk, dan kebanyakan burung layang… Bulu yang berfungsi untuk terbang ini telah berada dalam keadaan yang sama selama sedikitnya 150 juta tahun … 32

    Fakta lain yang terungkap lewat struktur bulu Archaeopteryx adalah metabolismenya yang tergolong berdarah panas. Seperti telah dibahas tadi, reptil dan – walaupun ada pendapat kaum evolusionis yang menentang ini – dinosaurus tergolong hewan berdarah dingin, yang suhu tubuhnya berubah tergantung suhu lingkungan. Lain halnya pada hewan berdarah panas, yang suhu tubuhnya diatur secara homeostatis (tidak bergantung pada suhu lingkungan di luar tubuh – penerj.). Fungsi bulu burung yang amat penting adalah pemeliharaan suhu tubuh yang senantiasa tetap. Fakta bahwa Archaeopteryx memiliki bulu membuktikan bahwa makhluk ini adalah burung sejati berdarah panas yang perlu menjaga panas tubuhnya; tidak demikian halnya pada dinosaurus.

    The Archaeopteryx is the earliest known bird ever to have been found. It lived during the Upper Juassic period about 147 million years ago. It had clawed fingers, wings and toothed jaws - part dinosaur, part bird.

    Anatomi Archaeopteryx Dan Kesalahan Kaum Evolusionis

    Kajian anatomi Archaeopteryx mengungkapkan bahwa hewan ini sudah memiliki kemampuan terbang yang lengkap sempurna, seperti burung modern. Usaha mencari kemiripan antara Archaeopteryx dengan reptil adalah tidak berdasar sedikit pun.

    Terdapat dua hal yang menjadi landasan kaum evolusionis dalam menyatakan bahwa Archaeopteryx adalah bentuk peralihan, yaitu adanya cakar pada sayap dan giginya.

    Memang benar bawa Archaeopteryx memiliki cakar pada sayapnya, dan gigi dalam paruhnya. Tapi kedua ciri ini tidak berarti Archaeopteryx berkerabat dengan reptilia. Di samping itu, terdapat dua spesies burung masa kini, touraco dan hoatzin, yang juga memiliki cakar pada sayapnya yang digunakan untuk bertengger pada dahan pohon. Kedua makhluk ini adalah burung seutuhnya, tanpa ciri-ciri reptil. Karenanya, adalah sama sekali tidak berdasar untuk mengatakan bahwa Archaeopteryx adalah bentuk peralihan, hanya karena sayapnya bercakar.

    Gigi yang terdapat dalam paruh Archaeopteryx bukanlah pula tanda bahwa burung ini adalah makhluk transisi. Kaum evolusionis telah keliru ketika menyatakan bahwa gigi-gigi tersebut adalah ciri khas yang berasal dari reptil. Hal ini disebabkan gigi bukanlah ciri khas reptil. Di zaman sekarang, terdapat reptil yang bergigi, dan ada pula yang tidak. Lagi pula, Archaeopteryx bukanlah satu-satunya burung yang bergigi. Memang benar, di masa kini tidak ada lagi burung yang bergigi. Namun, dalam catatan fosil, tampak bahwa di masa hidup Archaeopteryx dan di masa sesudahnya, dan bahkan hingga belum lama ini, terdapat sekelompok burung yang dapat digolongkan sebagai “burung bergigi”.

    Hal terpenting di sini adalah, struktur gigi Archaeopteryx dan burung bergigi lainnya sama sekali berbeda dengan struktur gigi dinosaurus, yang dianggap sebagai nenek moyang hewan jenis burung. Ahli ornitologi ternama, L. D. Martin, J. D. Stewart, dan K. N. Whetstone, mengamati bahwa pada Archaeopteryx dan burung sejenis lainnya, terdapat gigi yang tidak bergerigi, bagian bawahnya menyempit, dan akarnya melebar. Sedangkan pada dinosaurus theropoda, yang dinyatakan sebagai nenek moyang burung, terdapat gigi yang bergerigi dan berakar lurus.33 Para peneliti ini juga membandingkan tulang pergelangan kaki Archaeopteryx dengan dinosaurus. Dilaporkan bahwa tak ada kesamaan antara keduanya.34

    Penelitian para ahli anatomi seperti S. Tarsitano, M. K. Hecht, dan A. D. Walker, telah mengungkapkan adanya salah tafsir pada pernyataan John Ostrom – ahli terkemuka di bidang ini, yang berpendapat bahwa Archaeopteryx berevolusi dari dinosaurus – serta ahli lainnya yang melihat kesamaan antara tungkai kaki Archaeopteryx dan dinosaurus.35 Sebagai contohnya, A. D. Walker telah melakukan analisis bagian telinga Archaeopteryx, dan menemukan bahwa keadaannya adalah amat serupa dengan burung modern. 36

    Dalam bukunya, Icons of Evolution, ahli biologi Amerika Jonathan Wells berkomentar bahwa Archaeopteryx telah dijadikan sebuah lambang penting dari teori evolusi. Padahal, bukti-bukti menunjukkan bahwa makhluk tersebut bukanlah nenek moyang primitif dari burung. Menurut Wells, salah satu buktinya adalah dinosaurus theropoda – yang dianggap sebagai nenek moyang Archaeopteryx- – sebenarnya lebih muda daripada Archaeopteryx: “Reptil berkaki dua yang berlari di muka bumi, dan memiliki ciri-ciri yang diperkirakan terdapat pada nenek moyang Archaeopteryx, baru muncul sesudahnya.”37

    Semua penemuan ini menjadi pertanda bahwa Archaeopteryx bukanlah mata rantai transisi, melainkan hanya sejenis burung yang dapat digolongkan sebagai “burung bergigi”. Menghubungkan makhluk ini dengan dinosaurus theropoda sama sekali tidak absah. Dalam artikel berjudul “The Demise of the ‘Birds Are Dinosaurs’ Theory” (Gugurnya Teori “Burung adalah Dinosaurus”), ahli biologi Amerika Richard L. Deem menulis tentang pernyataan evolusi burung-dinosaurus dan Archaeopteryx:

    Hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa tangan dinosaurus theropoda berasal dari digit (bakal jari -terj.) I, II, dan III, sedangkan sayap burung, walaupun strukturnya tampak mirip, berasal dari digit II, III, dan IV… Terdapat sejumlah kesulitan lain yang mengganjal teori “burung adalah dinosaurus” ini. Tungkai depan theropoda jauh lebih kecil (relatif terhadap ukuran tubuh) daripada tungkai sayap Archaeopteryx. “Bakal sayap” yang kecil pada theropoda tidaklah begitu meyakinkan, terutama mengingat tubuh dinosaurus tersebut cukup berat. Hewan theropoda umumnya tidak memiliki tulang pergelangan tangan berbentuk sabit, dan memiliki sejumlah bagian penyusun pergelangan yang tidak memiliki homologi dengan tulang-tulang Archaeopteryx. Selain itu, hampir pada seluruh hewan theropoda, saraf VI keluar dari tempurung otak melalui samping, bersama-sama beberapa saraf lainnya; sedangkan pada burung, saraf VI keluar dari depan tempurung otak, melalui lubangnya tersendiri. Di samping itu, terdapat pula masalah kecil: sebagian besar jenis theropoda muncul setelah Archaeopteryx. 38

    Sekali lagi, fakta-fakta tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa Archaeopteryx maupun burung-burung purba lainnya yang sejenis bukanlah makhluk peralihan. Catatan fosil tidak menunjukkan bahwa berbagai spesies burung mengalami evolusi dari satu jenis ke jenis lainnya. Sebaliknya, catatan fosil membuktikan, burung-burung jenis modern di masa kini dan beberapa jenis burung purba seperti Archaeopteryx pernah hidup dalam satu zaman. Memang benar bahwa sebagian dari burung purba seperti Archaeopteryx dan Confuciusornis telah punah, tetapi fakta bahwa hanya sebagian saja dari spesies-spesies yang dulu pernah hidup bisa bertahan hingga masa kini tidak berarti dengan sendirnya mendukung teori evolusi.

    Burung-UntaBukti Terbaru: Kajian Atas Burung Unta Menggugurkan Cerita Burung-Dino

    Dr. Alan Feduccia

    Pukulan baru bagi pernyataan teori “burung berevolusi dari dinosaurus” datang dari penelitian embriologi burung unta. Dr. Alan Feduccia dan Dr. Julie Nowicki dari Universitas North Carolina di Chapel Hill, telah meneliti beberapa butir telur burung unta yang hidup, dan lagi-lagi menghasilkan kesimpulan bahwa tidak ada kaitan evolusi antara burung dan dinosaurus. Sebuah portal ilmiah bernama EurekAlert, yang dikelola oleh American Association for the Advancement of Science, (AAAS) melaporkan:

    Dr. Alan Feduccia dan Dr. Julie Nowicki dari Universitas North Carolina (UNC) di Chapel Hill… membuka beberapa butir telur burung unta yang hidup, dan menemukan hal yang mereka yakini sebagai bukti bahwa burung tak mungkin merupakan keturunan dinosaurus…

    Apa pun yang menjadi nenek moyang unggas di masa lalu, makhluk it pastilah berjari lima, dan bukan tangan berjari tiga seperti dinosaurus theropoda,” kata Feduccia … “Para ilmuwan sepakat, bahwa dinosaurus memperoleh tangan dengan jari kesatu, kedua dan ketiga… Penelitian kami atas embrio burung unta menunjukkan secara meyakinkan bahwa pada unggas, yang berkembang hanyalah jari kedua, ketiga dan keempat, yang pada manusia setara dengan jari telunjuk, jari tengah dan jari manis, dan kami punya foto-foto sebagai buktinya,” kata Feduccia, dosen dan mantan ketua jurusan biologi di UNC. “Ini memunculkan masalah baru bagi mereka yang bersikeras menyatakan bahwa dinosaurus adalah nenek moyang dari burung modern. Sebagai contohnya, bagaimana ‘tangan’ unggas yang berjari kedua, ketiga dan keempat, berevolusi jadi jari kesatu, kedua dan ketiga? Ini dapat dikatakan mustahil.”39

    Dalam laporan yang sama, Dr. Feduccia juga memberi ulasan penting atas ketidakabsahan – serta kedangkalan – teori “burung berevolusi dari dinosaurus”:

    “Terdapat permasalahan-permasalahan yang mustahil dipecahkan dengan teori itu,” katanya [Dr. Feduccia]. “Selain hasil penelitian kami, terdapat juga masalah penentuan zaman. Makhluk yang sekilas mirip dinosaurus-burung itu hidup sekitar 25 juta hingga 80 juta tahun setelah munculnya burung tertua, yaitu 150 juta tahun yang silam.”

    “Jika seseorang melihat kerangka ayam dan kerangka dinosaurus dengan menggunakan teropong, keduanya akan tampak serupa. Tetapi, pemeriksaan yang lebih dekat dan teliti mengungkapkan banyak perbedaan,” kata Feduccia. “Dinosaurus theropoda, misalnya, memiliki gigi yang bergerigi dan melengkung. Tetapi burung-burung yang ada pertama kali mempunyai gigi lurus, tak bergerigi, dan menyerupai paku. Kedua jenis hewan ini juga berbeda dalam proses pertumbuhan dan pergantian gigi.”40

    Bukti ini mengungkapkan, bahwa “dino-bird” (burung-dinosaurus) hanyalah sekadar lambang atau ikon Darwinisme: sebuah mitos yang dipertahankan hanya demi keyakinan dogmatis atas teori tersebut.

    sinosauropteryx_primaFosil Burung-Dinosaurus Palsu Ciptaan Kaum Evolusionis

    Sebuah fosil Sinosauropteryx.

    Dengan runtuhnya pernyataan evolusionis dalam hal fosil burung purba Archaeopteryx, teori evolusi kini menghadapi jalan buntu mengenai asal-usul burung. Karena itu, sebagian kaum evolusionis terpaksa menggunakan cara klasik – pemalsuan. Di tahun 1990-an, beberapa kali diberitakan kepada masyarakat bahwa “fosil makhluk setengah-burung dan setengah-dinosaurus telah ditemukan.” Media massa evolusionis memasang gambar-gambar makhluk yang disebut “burung dinosaurus” ini dan sebuah kampanye ke seluruh dunia pun dilancarkan. Tetapi, segera diketahui bahwa kampanye ini didasarkan pada kontradiksi dan pemalsuan.

    Tokoh pertama dalam kampanye ini adalah Sinosauropteryx, seekor dinosaurus yang ditemukan di Cina pada tahun 1996. Fosil itu diperkenalkan ke seluruh dunia sebagai “dinosaurus berbulu burung”, dan ditampilkan sebagai berita utama. Akan tetapi, pengkajian terperinci di bulan-bulan berikutnya mengungkapkan bahwa struktur yang digembar-gemborkan oleh kaum evolusionis sebagai “bulu burung” sebenarnya adalah bukan bulu burung.

    Inilah penyajian berita itu dalam artikel berjudul Plucking the Feathered Dinosaur dalam jurnal Science:

    Tipuan Dinosaurus Dalam Media Evolusionis …

    Majalah National Geographic menampilkan gambar “burung-dino” seperti ini di tahun 1999, dan menyajikannya ke seluruh dunia sebagai bukti evolusi. Dua tahun kemudian diketahui, bahwa sumber yang mengilhami gambar ini, Archaeoraptor, adalah kebohongan ilmiah.

    Tepat satu tahun silam, para ahli paleontologi sibuk memperbincangkan foto yang disebut “dinosaurus berbulu burung”, yang diedarkan di ruang pertemuan tahunan Perhimpunan Paleontologi Vertebrata. Spesimen Sinosauropteryx dari Formasi Yixian di negeri Cina menempati halaman depan The New York Times, dan dianggap oleh sebagian kalangan sebagai bukti bahwa dinosaurus merupakan asal-usul dari burung. Tapi pada pertemuan paleontologi vertebrata tahun ini, di Chicago bulan lalu, kesimpulannya agak lain: Struktur itu bukanlah bulu burung modern, kata sekitar selusin ahli paleontologi Barat yang telah menyaksikan spesimen itu … ahli paleontologi Larry Martin dari Universitas Kansas, Lawrence, berpendapat bahwa struktur tersebut adalah serat kolagen yang terurai lepas di bawah kulit – jadi, tak ada kaitannya sama sekali dengan burung.41

    Satu lagi hiruk pikuk “burung-dino” membahana di tahun 1999. Satu lagi fosil yang ditemukan di negeri Cina ditampilkan sebagai “bukti utama evolusi”. Majalah National Geographic, sumber kampanye ini, telah membuat dan mengedarkan gambar khayal “dinosaurus berbulu burung” berdasarkan rekaan fosil itu. Di beberapa negara, gambar itu menjadi berita utama. Spesies yang dikatakan hidup 125 juta tahun yang lalu ini, segera diberi nama ilmiah Archaeoraptor liaoningensis.

    Namun, fosil itu adalah palsu dan disusun secara lihai dari lima buah spesimen terpisah. Setahun kemudian, sekelompok peneliti, tiga diantaranya ahli paleontologi, membuktikan pemalsuan itu dengan bantuan tomografi komputer sinar-X. Burung-dino itu adalah hasil rekayasa evolusionis Cina. Beberapa orang amatir negeri Cina membentuk burung-dino itu dari 88 buah tulang dan batu dengan bantuan lem dan semen. Penelitian menunjukkan, Archaeoraptor ini dibentuk dengan menggunakan bagian depan kerangka burung purba, dan tubuh serta ekornya dibentuk dari tulang empat spesimen yang berbeda.

    Artikel dalam jurnal ilmiah Nature menjelaskan pemalsuan itu sebagaimana berikut:

    Fosil Archaeoraptor diumumkan sebagai “mata rantai yang hilang” serta dianggap sebagai bukti terkuat yang mungkin, setelah Archaeopteryx, yang membuktikan bahwa unggas memang hasil evolusi dari beberapa jenis dinosaurus pemakan daging. Tetapi, Archaeoraptor terungkap sebagai sebuah pemalsuan, yang berupa gabungan sejumlah tulang yang berasal dari burung primitif dan seekor dinosaurus dromaeosaurid yang tidak bisa terbang… Spesimen Archaeoraptor, yang dilaporkan sebagai hasil koleksi dari Formasi Jiufotang Kretasea Awal di Liaoning, diselundupkan dari negeri Cina dan lalu dijual di Amerika Serikat di pasar komersial… Kami simpulkan, bahwa Archaeoraptor terdiri dari dua spesies atau lebih, dan disusun setidaknya dari dua, mungkin lima, spesimen yang berbeda… 42

    Walaupun bisa dikatakan bahwa kaum evolusionis gagal mendukung teori mereka dengan bukti ilmiah, dalam satu hal mereka amat berhasil, yaitu propaganda. Unsur terpenting dalam propaganda ini adalah perbuatan membuat gambar palsu, yang disebut sebagai “rekonstruksi”. Dengan kuas di tangan, para evolusionis membuat makhluk-makhluk khayal; namun, fakta bahwa gambar-gambar ini tidak didukung oleh keberadaan fosil-fosil yang sesuai memunculkan persoalan serius bagi mereka.

    Jadi, bagaimana mungkin National Geographic bisa menyajikan pemalsuan ilmiah besar-besaran ke seluruh dunia sebagai “bukti utama kebenaran evolusi”? Jawabannya terselubung dalam khayalan evolusioner di kalangan redaksi majalah itu. National Geographic secara membabi-buta mendukung Darwinisme, dan tak ragu menggunakan alat propaganda apa pun yang dianggapnya mendukung teori itu. Akhirnya majalah ini tersangkut dalam “skandal manusia Piltdown” kedua.

    Para ilmuwan evolusionis juga menyadari sikap fanatik National Geographic. Dr. Storrs L. Olson, kepala Departemen Ornitologi di Smithsonian Institute yang ternama, mengumumkan bahwa sebelumnya ia telah mengingatkan bahwa fosil itu palsu. Akan tetapi, para eksekutif majalah itu tak menghiraukannya. Dalam suratnya untuk Peter Raven dari National Geographic, Olson menulis:

    Sebelum terbitnya artikel “Dinosaurus Memperoleh Sayap” dalam majalah National Geographic edisi Juli 1998, Lou Mazzatenta, fotografer untuk artikel Sloan, mengundang saya ke National Geographic Society agar melihat-lihat foto fosil-fosil Cina serta memberi komentar atas ceritanya. Saat itu, saya berupaya menekankan fakta yang mendukung kuat sejumlah sudut pandang alternatif yang ada selain dari yang hendak disajikan National Geographic. Akan tetapi, akhirnya telah menjadi jelas di hadapan saya bahwa National Geographic tidak tertarik pada apa pun selain dogma yang ada, yaitu burung adalah hasil evolusi dinosaurus.43

    Dalam pernyataan di USA Today, Olson berkata, “Masalahnya adalah, saat itu fosil tersebut telah diketahui oleh National Geographic sebagai palsu, tetapi informasi itu tidak diungkapkan.”44 Dengan kata lain, ia mengatakan bahwa National Geographic mempertahankan pemalsuan itu, walaupun tahu bahwa fosil yang sedang diberitakan olehnya sebagai bukti evolusi adalah palsu.

    Harus dijelaskan di sini, bahwa tindakan National Geographic bukanlah pemalsuan pertama demi mempertahankan teori evolusi. Banyak kejadian serupa sesudah teori itu pertama kali diajukan. Ahli biologi Jerman, Ernst Haeckel, membuat gambar embrio yang palsu untuk mendukung Darwin. Para evolusionis Inggris memasang rahang orang utan pada tengkorak kepala manusia, dan selama 40 tahun memamerkannya di British Museum sebagai “manusia Piltdown, bukti terbesar kebenaran evolusi.” Para evolusionis Amerika menampilkan “manusia Nebraska” dari sebuah gigi babi. Di seluruh dunia, gambar palsu yang disebut-sebut sebagai “rekonstruksi”, yang sebenarnya tidak pernah ada, telah dianggap sebagai “makhluk primitif” atau “manusia kera”.

    Singkat kata, kaum evolusionis telah mengulangi metode pemalsuan kasus manusia Piltdown. Mereka menciptakan sendiri bentuk peralihan yang tidak mampu mereka temukan. Dalam sejarah, peristiwa ini menunjukkan betapa propaganda internasional telah menipu demi teori evolusi, dan para evolusionis bersedia melakukan segala macam dusta demi mempertahankannya.

    ***

    1. Nature, vol. 382, August, 1, 1996, p. 401.
    2. Carl O. Dunbar, Historical Geology, John Wiley and Sons, New York, 1961, p. 310.
    3. Robert L. Carroll, Patterns and Processes of Vertebrate Evolution, Cambridge University Press, 1997, p. 280-81.
    4. L. D. Martin, J. D. Stewart, K. N. Whetstone, The Auk, vol. 97, 1980, p. 86.
    5. L. D. Martin, J. D. Stewart, K. N. Whetstone, The Auk, vol. 97, 1980, p. 86; L. D. Martin, “Origins of the Higher Groups of Tetrapods,” Ithaca, Comstock Publishing Association, New York, 1991, pp. 485-540.
    6. S. Tarsitano, M. K. Hecht, Zoological Journal of the Linnaean Society, vol. 69, 1980, p. 149; A. D. Walker, Geological Magazine, vol. 117, 1980, p. 595.
    7. A.D. Walker, as described in Peter Dodson, “International Archaeopteryx Conference,” Journal of Vertebrate Paleontology 5(2):177, June 1985.
    8. Jonathan Wells, Icons of Evolution, Regnery Publishing, 2000, p. 117
    9. Richard L. Deem, “Demise of the ‘Birds are Dinosaurs’ Theory,” http://www.yfiles.com/dinobird2.html.
    10. “Scientist say ostrich study confirms bird ‘hands’ unlike these of dinosaurs,” http://www.eurekalert.org/pub_releases/2002-08/uonc-sso081402.php
    11. “Scientist say ostrich study confirms bird ‘hands’ unlike these of dinosaurs,” http://www.eurekalert.org/pub_releases/2002-08/uonc-sso081402.php
    12. Ann Gibbons, “Plucking the Feathered Dinosaur,” Science, vol. 278, no. 5341, 14 November 1997, pp. 1229 – 1230
    13. “Forensic Palaeontology: The Archaeoraptor Forgery,” Nature, March29, 2001
    14. Storrs L. Olson “OPEN LETTER TO: Dr. Peter Raven, Secretary, Committee for Research and Exploration, National Geographic Society Washington, DC 20036,” Smithsonian Institution, November 1, 1999
    15. Tim Friend, “Dinosaur-bird link smashed in fossil flap,” USA Today, 25 January 2000, (emphasis added)
     
  • erva kurniawan 1:29 am on 20 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (5) 

    15apple emojiRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (5)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa Adanya Beragam Ras Bukan Bukti Kebenaran Evolusi?

    Terdapat sejumlah evolusionis yang berusaha mengajukan keragaman ras sebagai bukti kebenaran evolusi. Pada kenyataannya, pernyataan ini sebenarnya lebih sering dikeluarkan oleh para evolusionis amatir dengan pemahaman yang kurang memadai atas teori yang mereka dukung tersebut.

    Manusia pertama memiliki bahan genetis yang mengandung semua sifat dan ciri berbagai ras. Bagian tertentu bersifat dominan pada masyarakat yang berbeda-beda. Dengan demikian, terbentuklah ras manusia.

    Tesis yang diajukan oleh pendukung pernyataan itu didasarkan atas pertanyaan, “Jika, seperti dikatakan sumber-sumber agama samawi, kehidupan memang diawali oleh seorang lelaki dan seorang perempuan, mengapa beragam ras muncul?” Dengan kata lain, maksud pertanyaan itu adalah, “Karena tinggi badan, warna kulit, serta ciri fisik lain pada Adam dan Hawa hanyalah ciri fisik dua orang saja, mengapa berbagai ras dengan ciri fisik yang sama sekali berlainan dapat muncul?”

    Sebenarnya, yang menjadi dasar semua pertanyaan atau sangkalan itu adalah kurangnya pengetahuan tentang hukum-hukum genetika, atau ketidakperdulian mereka atas ilmu tersebut. Agar kita dapat memahami penyebab keragaman ras di dunia kini, kita harus lebih dahulu memahami “variasi”, suatu pokok bahasan yang terkait erat dengan pertanyaan ini.

    Variasi adalah sebuah istilah dalam ilmu genetika, yaitu peristiwa genetis yang menyebabkan timbulnya perbedaan ciri-ciri satu atau sekelompok individu dalam suatu jenis atau spesies tertentu. Sumber variasi adalah informasi genetis yang dimiliki individu dalam spesies itu. Sebagai akibat perkawinan antar individu, informasi genetis itu bergabung dalam berbagai kombinasi pada generasi berikutnya. Terjadi pertukaran materi genetis antara kromosom ayah dan kromosom ibu. Jadi, gen saling bercampur-baur. Hasilnya, terdapat ciri-ciri individual yang sangat beragam.

    Ciri-ciri fisik yang berbeda antar-ras manusia yang berbeda ditimbulkan oleh variasi yang terdapat dalam ras manusia. Semua orang di muka bumi memiliki informasi genetis yang pada dasarnya sama, namun ada yang bermata sipit, ada yang berambut merah, ada yang berhidung mancung, ada yang bertubuh pendek, tergantung sejauh mana potensi variasi informasi genetis ini.

    Agar kita memahami potensi variasi ini, cobalah bayangkan sebuah masyarakat di mana kelompok individu berambut coklat dan bermata coklat lebih dominan, dibandingkan individu-individu berambut pirang dan bermata biru. Lama-kelamaan, sebagai hasil dari perbauran dan pernikahan silang, dihasilkan keturunan berambut coklat dan bermata biru.

    Dengan perkataan lain, ciri fisik kedua kelompok itu akan bergabung dalam keturunan berikutnya dan menghasilkan penampilan baru. Bila kita bayangkan ciri fisik lainnya pun berpadu seperti itu, sangatlah jelas bahwa akan muncul variasi yang sangat beragam.

    Hal penting yang harus dipahami di sini adalah: Setiap ciri fisik ditentukan oleh dua buah gen. Salah satu gen mungkin lebih dominan, atau keduanya sama kuat. Contohnya, ada sepasang gen yang menentukan warna mata seseorang – satu gen dari ibu dan satunya lagi dari ayah. Warna mata orang tersebut ditentukan oleh gen yang dominan. Pada umumnya, warna gelap lebih dominan daripada warna terang. Jadi, bila seseorang memiliki gen mata coklat dan gen mata biru, maka warna matanya akan coklat, karena yang dominan adalah gen warna mata coklat. Namun gen yang bersifat resesif tetap diturunkan, dan mungkin muncul pada masa (generasi – terj.) selanjutnya. Dengan kata lain, pasangan ayah dan ibu yang keduanya bermata coklat dapat memperoleh anak bermata hijau. Hal ini disebabkan karena gen warna tersebut bersifat resesif dan terdapat pada kedua orangtua.

    Kaidah ini berlaku juga untuk ciri-ciri fisik lain beserta gen-gen pengaturnya. Ratusan, bahkan ribuan ciri fisik, seperti telinga, hidung, bentuk mulut, tinggi badan, struktur tulang, dan struktur, bentuk serta sifat dari sebuah organ, kesemuanya diatur dengan cara yang serupa. Berkat hal ini, informasi tak terhingga yang terdapat di dalam struktur genetis dapat diturunkan ke generasi berikutnya, tanpa harus tampak dari luar. Adam, manusia pertama, dan Hawa, mampu menurunkan informasi yang kaya dalam struktur genetis mereka kepada keturunan mereka, walau yang tampak dari luar hanya sebagian saja. Isolasi geografis yang terjadi sepanjang sejarah manusia telah mengakibatkan ciri-ciri fisik tertentu terkumpul dalam suatu kelompok. Lama-kelamaan, masing-masing kelompok memiliki ciri tubuh yang khas, misalnya struktur tulang, warna kulit, tinggi badan, dan volume tengkorak kepala. Akhirnya, terbentuklah beragam ras.

    Akan tetapi, tentunya waktu yang panjang tidak akan merubah satu hal. Tak menjadi soal, apa pun tinggi, warna kulit dan volume otak, seluruh ras adalah bagian dari spesies manusia.

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 19 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (4) 

    Cabang-Cabang Ilmu BiologiRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (4)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Mengapa teori evolusi bukanlah “dasar ilmu biologi”?

    Para evolusionis seringkali mengulang sebuah dusta yang menyatakan bahwa teori evolusi merupakan dasar ilmu hayat atau biologi… Mereka berkata bahwa biologi tak akan berkembang -bahkan tak akan ada- tanpa teori evolusi. Pernyataan ini sebenarnya tumbuh dari demagogy (langkah memenangkan simpati dengan cara menggugah emosi masyarakat – penerj.) yang disebabkan oleh rasa putus asa. Filsuf Profesor Arda Denkel, seorang tokoh terkemuka dalam dunia ilmu pengetahuan Turki, bertutur sebagai berikut:

    Selama masa pemerintahan Stalin di Uni Soviet, semua penelitian ilmiah harus sesuai dengan “materialisme dialektis”. Mereka yang beranggapan bahwa Darwinisme adalah dasar biologi sesungguhnya memiliki mentalitas dogmatis yang sama.

    Misalnya, adalah salah bila beranggapan “Menolak teori evolusi berarti sama dengan menolak ilmu biologi dan geologi serta penemuan di bidang fisika dan kimia.” Sebab, sebelum inferensi semacam itu dibuat (di sini, a modus tollens), terlebih dahulu harus ada sejumlah pengajuan penemuan di bidang biologi, geologi, kimia dan fisika, yang menyiratkan teori evolusi. Akan tetapi, berbagai penemuan atau pernyataan di bidang ilmu tersebut tidaklah menyiratkan kebenaran teori evolusi. Karena itu, hal-hal tersebut tidak membuktikan evolusi. 23

    Ditinjau dari sudut sejarah ilmu pengetahuan pun, sudah langsung jelas bahwa pernyataan ini – bahwa “evolusi adalah dasar ilmu biologi” – amatlah tidak absah, dan tak masuk akal. Jika pernyataan ini benar, artinya sebelum teori evolusi muncul, tentu di dunia ini tidak ada cabang-cabang ilmu biologi. Namun kenyataannya, banyak cabang biologi yang sudah ada dan berkembang sebelum munculnya teori evolusi – misalnya saja anatomi, fisiologi, dan paleontologi. Sebaliknya, evolusi adalah hipotesa yang muncul sesudahnya, dan oleh kaum Darwinis dipaksakan kepada masyarakat.

    Di Uni Soviet semasa pemerintahan Stalin, digunakan sebuah metode yang mirip dengan metode kaum evolusionis. Di masa itu, komunisme yang menjadi ideologi resmi Uni Soviet, menganggap bahwa “materialisme dialektik” adalah dasar setiap ilmu. Perintah Stalin adalah semua penelitian ilmiah harus sesuai dengan materialisme dialektik. Jadi, dalam semua buku tentang biologi, kimia, fisika, sejarah dan politik, bahkan kesenian, harus tercantum pengantar yang mengaitkan ilmu dengan materialisme dialektik serta pandangan Marx, Engels, dan Lenin.

    Namun, seiring runtuhnya Uni Soviet, kewajiban itu pupus. Buku pun kembali menjadi naskah ilmiah teknis yang berisi informasi yang sama. Dengan meninggalkan omong kosong seperti materialisme dialektik, ilmu pengetahuan tidaklah rugi. Justru, hal ini lebih meringankan tekanan dan kewajiban-kewajiban yang dikenakan kepadanya.

    Kini, tidak ada alasan mengapa ilmu pengetahuan harus tetap terikat pada teori evolusi. Ilmu pengetahuan adalah didasarkan pada pengamatan dan percobaan. Evolusi, sebaliknya, adalah sebuah hipotesa tentang masa silam yang tidak teramati. Lebih daripada itu, pernyataan dan pengajuan oleh teori ini selalu digugurkan oleh bukti ilmiah dan kaidah logika. Tentu, ilmu pengetahuan tidak akan rugi bila hipotesis ini ditinggalkan.

    Ahli biologi Amerika G. W. Harper berkata tentang ini:

    Sering dinyatakan bahwa Darwinisme amatlah penting bagi biologi modern. Sebaliknya, jika semua rujukan Darwinisme mendadak lenyap, pada dasarnya biologi tidak akan berubah… 24

    Kenyataannya bahkan sebaliknya, ilmu pengetahuan akan maju dengan lebih sehat dan lebih cepat, bila terbebaskan dari paksaan sebuah teori yang penuh dogmatisme, praduga, dusta, dan isi yang dibuat-buat.

    ***

    23.Arda Denkel, Cumhuriyet Bilim Teknik Eki (Bagian iptek pada surat kabar Cumhuriyet di Turki), 27 Februari, 1999

    1. G. W. Harper, “Alternatives to Evolution,” School Science Review, volume 61, September 1979, hal. 2648. 49.
     
  • erva kurniawan 1:35 am on 18 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (3) 

    jejak kakiRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (3)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Berapakah usia ummat manusia di bumi ini? Mengapa ini bukan faktor pendukung teori evolusi?

    Untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan kapan manusia pertama kali muncul di Bumi, kita harus meninjau kembali catatan fosil. Catatan ini menunjukkan bahwa umat manusia di bumi sudah berusia jutaan tahun. Penemuan ini terdiri atas kerangka dan tengkorak kepala manusia, dan jejak peninggalan berbagai bangsa yang hidup di zaman yang berbeda.

    Salah satu peninggalan manusia tertua adalah “jejak kaki” yang ditemukan oleh ahli paleontologi terkenal, Mary Leakey, tahun 1977 di daerah Laetoli, Tanzania.

    Peninggalan ini amat menghebohkan dunia ilmiah. Menurut riset, usia lapisan tempat jejak kaki ini ditemukan adalah 3,6 juta tahun. Russell Tuttle, yang menyaksikan jejak kaki itu, menulis:

    Jejak kaki itu mungkin berasal dari seorang Homo sapiens yang bertubuh kecil, tanpa alas kaki… Ciri morfologis yang dapat dikenali pada kaki makhluk yang meninggalkan jejak tersebut tak bisa dibedakan dengan kaki manusia modern. 9

    Penelitian objektif atas jejak kaki itu mengungkapkan pemilik kaki yang sebenarnya. Dua puluh buah tapak kaki itu, yang sudah menjadi fosil, berasal dari manusia modern yang berusia 10 tahun, dan 27 buah tapak kaki lainnya berasal dari manusia yang bahkan lebih muda. Kesimpulan ini dihasilkan oleh ahli paleoantropologi terkenal seperti Don Johnson dan Tim White, yang memeriksa tapak kaki penemuan Mary Leakey.

    White mengungkapkan pikirannya:

    Jangan keliru tapak kaki itu seperti berasal dari manusia modern. Jika tapak kaki itu tampak di pantai California masa kini, dan anak berusia empat tahun ditanyai tentangnya, ia akan langsung menjawab bahwa ada orang yang lewat di sana. Anak itu tak akan mampu membedakannya dengan ratusan tapak kaki lainnya yang ada di pantai. Anda juga tak akan bisa. 10

    Jejak-jejak kaki ini menyulut sebuah perdebatan penting di kalangan evolusionis. Sebab, bila mereka menerima pendapat bahwa jejak kaki itu berasal dari manusia, artinya khayalan evolusionis tentang proses peralihan dari kera menuju manusia harus gugur. Akan tetapi, di titik ini, pola pikir evolusionis yang dogmatis muncul lagi. Sekali lagi, para ilmuwan evolusionis meninggalkan cara berpikir ilmiah demi membela praduga mereka. Menurut mereka, jejak kaki di Laetoli itu berasal dari makhluk serupa kera. Russell Tuttle, satu di antara para evolusionis yang mempertahankan pernyataan ini, menulis:

    Sisa-sisa pondok batu berusia 1,7 juta tahun.

    Kesimpulannya, jejak kaki berusia 3,5 juta tahun di situs G Laetoli menyerupai jejak manusia modern yang tidak beralas kaki. Tidak ada tanda bahwa hominid Laetoli adalah biped (makhluk yang berjalan di atas dua kaki) yang lebih rendah daripada kita. Jika jejak kaki G itu tidak demikian tua usianya, kita akan mengira bahwa makhluk yang menghasilkannya adalah genus kita, Homo…. Yang pasti, kita akan mengesampingkan anggapan bahwa jejak kaki Laetoli itu berasal dari jenis Lucy, Australopithecus afarensis. 11

    Peninggalan manusia tertua lainnya adalah reruntuhan pondok batu, yang ditemukan oleh Louis Leakey tahun 1970-an di daerah Olduvai Gorge. Reruntuhan pondok itu berada pada lapisan berusia 1,7 juta tahun. Sudah diketahui bahwa struktur bangunan seperti ini, serupa dengan yang masih ada di Afrika masa kini, hanya mampu dihasilkan oleh Homo sapiens, atau dengan kata lain, manusia modern. Yang terungkap dari reruntuhan ini adalah, manusia hidup satu zaman dengan makhluk yang dianggap para evolusionis sebagai makhluk serupa kera, yang mereka anggap nenek moyangnya.

    Sebuah tulang rahang manusia berusia 2,3 juta tahun, yang ditemukan di daerah Hadar di Ethiopia, amatlah penting untuk menunjukkan bahwa manusia sudah ada di Bumi jauh lebih lama daripada yang diperkirakan para evolusionis. 12

    Majalah Discover, salah satu majalah evolusionis paling populer, di sampul muka edisi Desember 1997, memasang seraut wajah manusia berusia 800.000 tahun berdampingan dengan judul utama yang diambil dari perkataan kaum evolusionis yang terkejut, “Inikah wajah masa lalu kita?”

    Salah satu fosil manusia tertua dan paling sempurna adalah KNM-WT 1500, yang juga dikenal sebagai kerangka “Anak Turkana”. Fosil berusia 1,6 juta tahun tersebut digambarkan oleh evolusionis Donald Johanson sebagai berikut:

    Dia tinggi kurus, bentuk tubuh dan proporsi tungkainya menyerupai bangsa Afrika yang tinggal di sekitar katulistiwa zaman sekarang. Walaupun masih muda, tungkai anak ini hampir sama dengan ukuran rata-rata lelaki dewasa kulit putih di Amerika Utara. 13

    Disimpulkan, itu adalah fosil seorang anak lelaki berusia 12 tahun, yang di masa dewasa akan mencapai tinggi 1,83 m. Alan Walker, ahli paleoantropologi Amerika, berkata bahwa beliau ragu apakah “ahli patologi berkemampuan standar akan mampu membedakan kerangka fosil itu dengan manusia modern.” Tentang tengkorak kepala, Walker menulis bahwa beliau tertawa melihatnya, karena “mirip betul dengan manusia Neanderthal.” 14

    Satu fosil manusia yang paling menarik perhatian adalah fosil yang ditemukan di Spanyol tahun 1995. Fosil itu ditemukan di sebuah gua bernama Gran Dolina di daerah Atapuerca, Spanyol, oleh tiga ahli paleoantropologi berkebangsaan Spanyol dari Universitas Madrid. Fosil itu berupa anak lelaki berusia 11 tahun yang sepenuhnya mirip manusia modern. Padahal, anak itu meninggal 800.000 tahun silam. Fosil ini mengguncang keyakinan Juan Luis Arsuaga Ferreras, pemimpin penggalian Gran Dolina. Ferreras berkata:

    Kami menduga sesuatu yang amat besar, yang luar biasa -kau tahu, sesuatu yang primitif… Kami duga, anak dari masa 800.000 tahun yang silam akan seperti Anak Turkana. Tapi yang kami temukan adalah wajah yang sepenuhnya modern… Bagi saya, ini amat spektakuler – inilah jenis-jenis hal yang mengejutkan kita. Sesuatu yang amat tak terduga seperti itu. Bukan menemukan fosil; menemukan fosil juga tak terduga, dan tak apa-apa.

    Tapi hal yang paling spektakuler adalah menemukan sesuatu, yang kita duga hanya ada di masa kini, dari masa lalu. Ini semacam menemukan sesuatu seperti – seperti menemukan tape recorder di Gran Dolina. Sangat mengejutkan. Kita tidak mengharapkan menemukan kaset dan tape recorder di zaman Pleistocene Bawah. Menemukan wajah modern dari masa 800.000 tahun silam – adalah hal yang sama. Kami sangat terkejut melihatnya. 15

    manusia-neanderthal-arthursclipart-01Berubahnya Pandangan Kaum Evolusionis Tentang Manusia Neanderthal

    Sejak awal abad ke-20, kaum evolusionis telah menggambarkan manusia Neanderthal (suatu bangsa manusia yang telah punah) sebagai makhluk setengah-kera. Selama berpuluh-puluh tahun, gambar manusia Neanderthal di atas digunakan sebagai propaganda oleh kaum evolusionis.

    Akan tetapi, sejak tahun 1980-an, mitos ini mulai runtuh. Berdasarkan kajian fosil dan jejak peradaban Neanderthal, tampak bahwa mereka bukanlah makhluk setengah-kera. Misalnya, jarum berusia 26.000 tahun ini adalah bukti bahwa manusia Neanderthal adalah manusia beradab yang sudah mampu menjahit. Sebagai akibatnya, majalah terbitan evolusionis, seperti National Geographic, terpaksa menggambarkan mereka sebagai manusia beradab, seperti gambar di bawah ini.

    Telah kita lihat, penemuan fosil telah mengungkap pernyataan “evolusi manusia” sebagai sebuah dusta. Oleh media tertentu, pernyataan tersebut disajikan seolah itu fakta yang sudah terbukti. Padahal, yang ada cuma teori fiktif. Para ilmuwan evolusionis menerima hal ini, dan mengakui bahwa pernyataan “evolusi manusia” tidak didukung oleh bukti ilmiah.

    Hipotesa Rekaan Kaum Evolusionis Tak Mampu Menjelaskan Asal Usul Manusia

    Walaupun selama 150 tahun telah dilakukan penelitian – yang merupakan bentuk propaganda evolusionis – tentang asal usul manusia, fosil yang ditemukan menunjukkan bahwa manusia pertama muncul secara tiba-tiba di Bumi, tanpa “moyang serupa kera”. Ketiga hipotesa yang berbeda pada halaman ini, adalah gambar tiga skenario evolusionis yang saling bertentangan (Stephen Jay Gould, The Book of Life, 2001). Bila kita cermati, tampak ada sebuah tanda tanya di depan Homo erectus, yang ditampilkan sebagai bangsa manusia pertama di Bumi. Alasannya adalah, tak ada makhluk “serupa kera” yang bisa ditunjukkan oleh kaum evolusionis sebagai “nenek moyang manusia”. Spesies yang tampak pada gambar, yang tak ada kaitan dengan manusia, sebenarnya adalah spesies kera yang telah punah. Asal usul manusia, seperti kita lihat di sini, adalah misteri bagi kaum evolusionis, sebab asal usul manusia sama sekali bukan evolusi melainkan kreasi (penciptaan).

    Misalnya, dengan berkata “Kita muncul tiba-tiba dalam catatan fosil”, ahli paleontologi evolusionis C. A. Villie, E. P. Solomon dan P. W. Davis mengakui bahwa manusia muncul seketika, atau dengan kata lain, tanpa nenek moyang evolusioner. 16

    Mark Collard dan Bernard Wood, dua ahli antropologi evolusionis terpaksa berkata, “hipotesa filogenetis yang ada tentang evolusi manusia tampaknya sukar dipercaya.” dalam tulisan mereka tahun 2000. 17

    antapuercaGua Gran Dolina di Spanyol, tempat ditemukannya fosil Atapuerca, fosil manusia sejati.

    Setiap penemuan fosil baru semakin menyulitkan para evolusionis, walaupun ada surat kabar yang senang memasang berita utama seperti “Mata rantai yang hilang telah ditemukan.” Fosil tengkorak kepala yang ditemukan tahun 2001, yang dinamai Kenyanthropus platyops adalah contoh paling mutakhir.

    Ahli paleontologi evolusionis Daniel E. Lieberman dari Jurusan Antropologi Universitas Washington berkata dalam artikel jurnal ilmiah terkenal, Nature, tentang Kenyanthropus platyops: Sejarah evolusi manusia adalah rumit dan belum terpecahkan. Sekarang tampaknya akan semakin membingungkan dengan ditemukannya spesies dan genus lain, dari masa 3,5 juta tahun silam… Sifat Kenyanthropus platyops menimbulkan segala macam pertanyaan, tentang evolusi manusia umumnya dan perilaku spesies ini khususnya. Contohnya, mengapa makhluk ini memiliki kombinasi yang tak biasa, yaitu gigi kecil dengan wajah lebar pipih, serta lengkung tulang pipi yang terdapat di bagian anterior? Semua spesies hominin lain, yang dikenal memiliki wajah besar dan tulang pipi serupa, bergigi besar-besar. Saya duga, K. platyops pada tahun-tahun mendatang akan berperan sebagai semacam “perusak suasana”, menyoroti kebingungan yang dihadapi oleh penelitian tentang hubungan evolusioner antara makhluk hominin. 18

    Bukti mutakhir yang menghancurkan pernyataan teori evolusi tentang asal-usul manusia adalah fosil baru Sahelanthropus tchadensis yang digali di negara Chad di Afrika Tengah, musim panas 2002.

    Fosil itu telah mengacaukan dunia Darwinisme. Jurnal kelas dunia, Nature, mengakui bahwa “Tengkorak kepala yang baru ditemukan dapat menggugurkan gagasan kita tentang evolusi manusia.” 19

    Daniel Lieberman dari Universitas Harvard berkata “[Penemuan] ini akan memiliki dampak seperti bom nuklir kecil.” 20

    Alasannya: walaupun fosil tersebut berumur lebih dari 7 juta tahun, strukturnya lebih “menyerupai manusia” (menurut kriteria yang sering dipakai kaum evolusionis) dibandingkan dengan spesies kera Australopithecus berusia 5 juta tahun (yang dianggap sebagai “moyang tertua umat manusia”). Ini menunjukkan, mata rantai antara spesies kera yang telah punah, berdasarkan kriteria “kemiripannya dengan manusia” yang teramat subjektif dan penuh praduga, sepenuhnya adalah khayal belaka.

    John Whitfield, dalam artikelnya Oldest Member of Human Family Found (Anggota Tertua Keluarga Manusia Telah Ditemukan) dalam jurnal Nature edisi 11 Juli 2002, memperkukuh pendapat ini mengutip Bernard Wood, ahli antropologi evolusionis dari Universitas George Washington:

    “Ketika saya mulai kuliah kedokteran tahun 1963, evolusi manusia tampak bagai tangga,” katanya [Bernard Wood]. Tangga itu mulai dari kera, dan meningkat menuju manusia, melalui tahap-tahap perantara, makhluk yang semakin jauh dari rupa kera. Sekarang, evolusi manusia mirip semak-semak. Ada sekumpulan fosil makhluk hominid… Bagaimana hubungan antara makhluk tersebut, serta yang mana, kalau memang ada, merupakan nenek moyang manusia, masih diperdebatkan. 21

    Ulasan Henry Gee, editor senior Nature serta ahli paleoantropologi terkemuka, tentang fosil kera yang baru ditemukan sungguh patut disimak. Dalam tulisannya yang diterbitkan The Guardian, Gee mengulas tentang debat seputar fosil itu dan menulis:

    Apa pun hasilnya, tengkorak kepala itu menegaskan bahwa gagasan lama tentang mata rantai yang hilang adalah omong kosong… sekarang harusnya sudah jelas, bahwa ide mata rantai yang hilang, yang dari awal memang amat lemah, sama sekali tak bisa dilanjutkan. 22

    Seperti kita lihat, penemuan yang semakin banyak itu menghasilkan bukti-bukti yang mengguncangkan teori evolusi, bukan memperkukuhnya. Jika proses evolusi demikian memang telah terjadi, seharusnya banyak ditemukan jejaknya, dan setiap penemuan baru seharusnya memperkuat teori ini.

    Dalam The Origin of Species, Darwin menyatakan bahwa ilmu pengetahuan akan berkembang ke sana. Dalam pandangan Darwin, satu-satunya hambatan teorinya dalam catatan fosil adalah tiadanya penemuan fosil. Darwin berharap, penelitian masa mendatang akan menghasilkan penemuan fosil yang tak terhitung jumlahnya, yang akan mendukung teorinya. Akan tetapi, satu per satu penemuan ilmiah telah membuktikan impian Darwin sama sekali tak berdasar.

    Pentingnya Sisa-Sisa Peninggalan Yang Berkaitan Dengan Manusia

    Penemuan terkait dengan manusia, yang beberapa contohnya telah kita bahas di sini, mengungkapkan kebenaran yang amat penting. Khususnya, kini terungkap bahwa pernyataan evolusionis – bahwa nenek moyang manusia adalah makhluk serupa kera – adalah hasil khayalan luar biasa. Karena itu, mustahil spesies kera tersebut bisa menjadi nenek moyang manusia.

    Kesimpulannya, catatan fosil membuktikan bahwa manusia muncul di Bumi berjuta-juta tahun yang lalu, dalam wujud tepat sama dengan manusia sekarang, dan bahwa manusia telah menghuni Bumi sekian lamanya tanpa perkembangan evolusi sedikit pun. Jika kaum evolusionis memang jujur dan ilmiah, seharusnya di titik ini mereka sudah membuang proses khayal tentang kera menjadi manusia ini ke tempat sampah. Bila mereka tidak meninggalkan pohon silsilah palsu ini, jelaslah bahwa evolusi bukan teori yang dipertahankan atas nama ilmu pengetahuan, melainkan dogma yang terus dihidupkan di hadapan berbagai fakta ilmiah.

    ***

    1. Ian Anderson, “Who made the Laetoli footprints?” New Scientists, vol. 98, 12 Mei 1983, hal. 373.
    2. D. Johanson & M. A. Edey, Lucy: The Beginnings of Humankind, New York: Simon & Schuster, 1981, hal. 250
    3. R. H. Tuttle, Natural History, Maret 1990, hal. 61-64
    4. D. Johanson, Blake Edgar, From Lucy to Language, hal. 169
    5. D. Johanson, Blake Edgar, From Lucy to Language, hal. 173
    6. Boyce Rensberger, Washington Post, 19 Oktober 1984, hal. A11
    7. “Is This The Face of Our Past,” Discover, Desember 1997, hal. 97-100
    8. Villee, Solomon dan Davis, Biology, Saunders College Publishing, 1985, hal.1053
    9. Hominoid Evolution and Climatic Change in Europe, Volume 2, disunting oleh Louis de Bonis, George D. Koufos, Peter Andrews, Cambridge University Press
    10. Daniel E. Liebermann, “Another face in our family tree,” Nature, 22 Maret, 2001 (penekanan ditambahkan).
    11. John Whitfield, “Oldest member of human family found”, Nature, 11 Juli 2002
    12. D. L. Parsell, “Skull Fossil From Chad Forces Rethinking of Human Origins,” National Geographic News, 10 Juli, 2002
    13. John Whitfield, “Oldest member of human family found”, Nature, 11 Juli 2002
    14. The Guardian, 11 Juli 2002
     
  • erva kurniawan 1:31 am on 17 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (2) 

    teori evolusiRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (2)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    1. Bagaimana keruntuhan teori evolusi membuktikan kebenaran penciptaan?

    Apabila kita bertanya bagaimana makhluk hidup muncul di muka Bumi, maka terdapat dua jawaban yang berbeda:

    Pertama, makhluk hidup muncul melalui proses evolusi. Menurut pernyataan teori evolusi, kehidupan dimulai dengan sel yang pertama. Sel pertama ini muncul karena faktor kebetulan, atau karena faktor “pembentukan mandiri”, yang secara hipotetis disebut-sebut sebagai suatu hukum alam.

    Berdasarkan faktor kebetulan dan hukum alam ini pula, sel hidup ini lalu berkembang dan berevolusi, dan dengan mengambil bentuk-bentuk yang berbeda, menghasilkan berjuta-juta spesies makhluk hidup di Bumi.

    Jawaban kedua adalah “Penciptaan”. Semua makhluk hidup ada karena diciptakan oleh Pencipta yang cerdas. Ketika kehidupan beserta berjuta-juta bentuknya – yang tak mungkin muncul secara kebetulan itu – pertama kali diciptakan, makhluk hidup telah memiliki rancangan yang lengkap, sempurna dan unggul, sama seperti yang dimilikinya sekarang. Ini dibuktikan secara jelas dan nyata, yang mana makhluk hidup paling sederhana sekali pun telah memiliki struktur dan sistem kompleks, yang mustahil tercipta sebagai akibat dari faktor kebetulan dan kondisi alam.

    Di luar kedua alternatif ini, tidak ada pernyataan atau hipotesa lainnya tentang asal muasal makhluk hidup. Menurut peraturan logika, jika satu jawaban untuk sebuah pertanyaan – yang hanya memiliki dua alternatif jawaban – terbukti salah, jawaban yang kedua pasti benar. Ini merupakan salah satu kaidah paling mendasar dalam logika, disebut sebagai inferensi disjunktif (modus tollendo ponens).

    Dengan kata lain, jika terbukti bahwa makhluk hidup di Bumi tidak berevolusi melalui kebetulan, seperti pernyataan para evolusionis, jelaslah bahwa makhluk hidup adalah karya sang Pencipta. Para ilmuwan pendukung teori evolusi sepakat akan tidak adanya alternatif ketiga. Salah satunya, Douglas Futuyma, menyatakan:

    Organisme hanya mungkin muncul di muka bumi dalam wujud telah terbentuk sempurna, atau tidak. Jika tidak, berarti organisme telah terbentuk dari spesies pendahulunya melalui suatu proses perubahan. Jika organisme muncul dalam wujud telah terbentuk sempurna, pastilah organisme itu diciptakan oleh suatu kecerdasan mahakuasa. 4

    Catatan fosil memberikan jawaban kepada Futuyma yang evolusionis itu. Paleontologi menunjukkan bahwa semua jenis makhluk hidup muncul di Bumi pada saat berlainan, sekaligus dalam sekejap dan dalam wujud yang telah sempurna terbentuk.

    Semua hasil penggalian dan penelitian selama seratus tahun atau lebih, menunjukkan bahwa -bertentangan dengan pendapat kaum evolusionis- makhluk hidup muncul secara tiba-tiba dalam wujud sempurna tanpa cacat, atau dengan kata lain makhluk hidup telah “diciptakan”. Bakteri, protozoa, cacing, moluska, dan makhluk laut tak bertulang belakang lainnya, artropoda, ikan, amfibi, reptil, unggas, dan mamalia, semua muncul seketika, lengkap dengan sistem dan organ yang kompleks. Tidak ada fosil yang dapat disebut sebagai makhluk transisi atau tahap perantara.

    Paleontologi menampilkan pesan yang sama dengan cabang ilmu lainnya: Makhluk hidup tidak berevolusi, tetapi diciptakan. Sebagai hasilnya, pada saat kaum evolusionis mencoba membuktikan teori mereka yang tidak berdasarkan fakta itu, mereka justru membuktikan kebenaran penciptaan dengan tangan mereka sendiri.

    Robert Carroll, seorang ahli paleontologi vertebrata dan seorang evolusionis yang gigih, mengakui bahwa keinginan kaum Darwinis tidak dipenuhi oleh penemuan di bidang fosil:

    Meskipun, selama lebih dari seratus tahun sejak meninggalnya Darwin telah dilangsungkan upaya pengumpulan yang intensif, catatan fosil belum juga menghasilkan gambaran mata rantai transisi yang tak terhingga jumlahnya, seperti yang ia harapkan. 5

    Ledakan Zaman Kambrium Sudah Cukup Untuk Meruntuhkan Teori Evolusi

    Jenis makhluk hidup dibagi-bagi oleh para ahli biologi menjadi kelompok-kelompok utama, seperti tumbuhan, hewan, jamur, dst. Kelompok utama ini kemudian dibagi lagi menjadi filum (dari kata phylum atau phyla). Saat menelaah berbagai filum ini, haruslah diingat bahwa setiap filum memiliki struktur fisik yang amat berlainan. Hewan jenis Artropoda (serangga, laba-laba, dan makhluk lainnya yang kakinya beruas-ruas), misalnya, adalah satu filum tersendiri, dan semua hewan dalam filum ini memiliki struktur dasar fisik yang sama. Filum Chordata meliputi hewan yang memiliki notochord atau sumsum tulang belakang (kolumna spinalis). Semua hewan berukuran besar, seperti ikan, unggas, reptil, dan mamalia yang kita kenal sehari-hari, tergolong ke dalam sub-filum Chordata yang disebut vertebrata.

    Terdapat sekitar 35 filum hewan, termasuk Moluska, yang meliputi hewan bertubuh lunak, seperti siput dan gurita, serta Nematoda, yang mencakup cacing berukuran kecil. Ciri terpenting filum ini, seperti telah kita sebutkan tadi, adalah terdapatnya ciri-ciri fisik yang amat berbeda. Kategori di bawah filum memiliki rancangan tubuh yang serupa, tetapi satu filum amatlah berbeda dari filum lainnya.

    Jadi, bagaimanakah perbedaan-perbedaan ini timbul?

    Pertama, mari kita tinjau hipotesa Darwinis. Seperti kita ketahui, Darwinisme menyatakan bahwa makhluk hidup berkembang dari satu nenek moyang yang sama, dan variasi timbul setelah melalui serentetan perubahan kecil. Jika benar demikian, artinya makhluk hidup yang pertama haruslah memiliki bentuk yang sama dan sederhana. Dan menurut teori ini pula, perbedaan di antara, dan meningkatnya kerumitan makhluk hidup, harus terjadi secara paralel seiring dengan waktu.

    Duri yang menarik:

    Hallucigenia: Salah satu makhluk yang tiba-tiba muncul di Zaman Kambrium. Seperti banyak fosil dari Zaman Kambrium lainnya, makhluk ini memiliki duri keras dan tajam di punggungnya, untuk melindungi diri dari serangan. Satu hal yang tidak bisa dijelaskan kaum evolusionis adalah bagaimana hewan seperti ini bisa memiliki sistem pertahanan yang begitu berdaya-guna, padahal tak ada hewan pemangsa di sekitarnya. Tiadanya hewan pemangsa menunjukkan bahwa duri ini tidak mungkin muncul sebagai akibat seleksi alam.

    Banyak hewan tak bertulang belakang (invertebrata) kompleks, seperti bintang laut dan ubur-ubur, secara tiba-tiba muncul sekitar 500 juta tahun yang silam tanpa moyang evolusioner sebagai pendahulu. Dengan kata lain, hewan tersebut diciptakan. Mereka tidak tampak berbeda dari hewan yang hidup sekarang.

    Menurut Darwinisme, kehidupan haruslah berupa sebatang pohon, dengan sebuah akar bersama, yang bagian atasnya berkembang menjadi cabang-cabang yang berbeda. Hipotesa ini terus-menerus ditekankan dalam sumber-sumber Darwinis, di mana gambaran tentang “pohon silsilah kehidupan” seringkali digunakan. Menurut konsep pohon ini, awalnya harus muncul satu filum, lalu berbagai filum lain perlahan-lahan muncul, dengan perubahan-perubahan kecil dan dalam tenggang waktu yang amat panjang.

    Itulah pernyataan teori evolusi. Tetapi, benarkah itu yang terjadi?

    Sama sekali tidak. Sebaliknya, binatang sudah berwujud amat kompleks dan saling berlainan sejak saat pertama kali muncul di Bumi.

    Semua filum binatang yang telah kita ketahui muncul di saat yang sama, di tengah tenggang waktu geologis yang dikenal sebagai Zaman Kambrium. Zaman Kambrium adalah periode waktu dalam ilmu geologi, yang lamanya diperkirakan kurang-lebih 65 juta tahun, sekitar 570 hingga 505 juta tahun yang silam. Tetapi, kemunculan mendadak berbagai kelompok utama hewan terjadi pada fase yang jauh lebih singkat di masa Zaman Kambrium ini, yang sering disebut dengan “ledakan Kambrium “.

    Stephen C. Meyer, P. A. Nelson, dan Paul Chien, dalam sebuah artikel yang didasarkan pada pengkajian literatur terperinci di tahun 2001, menyatakan “ledakan Kambrium terjadi dalam sepenggal waktu geologis yang teramat sempit, yang lamanya tak lebih dari 5 juta tahun.” 6

    Salah satu hewan tak bertulang belakang kompleks yang tiba-tiba muncul di Zaman Kambrium sekitar 550 juta tahun yang silam adalah fosil trilobita di atas. Salah satu ciri trilobita yang membingungkan kaum evolusionis adalah struktur mata majemuknya yang kompleks. Pada mata trilobita yang amat kompleks ini, terdapat sistem lensa majemuk. Sistem ini persis sama dengan sistem pada hewan di zaman sekarang seperti laba-laba, lebah dan lalat. Fakta bahwa sekitar 500 juta tahun silam, struktur mata yang begitu rumit muncul secara tiba-tiba, sudah cukup untuk mengantarkan teori evolusioner (yang berdasarkan faktor kebetulan) masuk ke dalam keranjang sampah.

    Sebelum itu, tak ada sedikit pun catatan fosil tentang makhluk hidup, selain yang bersel tunggal serta sedikit makhluk bersel majemuk yang amat primitif. Semua filum hewan muncul serentak dalam wujud sempurna, dalam tenggang waktu singkat Ledakan Kambrium (Lima juta tahun adalah amat singkat dalam istilah geologi!)

    Dalam bebatuan Kambrium ditemukan fosil-fasil dari makhluk-makhluk yang amat berbeda, seperti siput, trilobita, spons, ubur-ubur, bintang laut, kerang, dst.

    Kebanyakan makhluk pada lapisan ini memiliki sistem yang rumit dan struktur yang maju, misalnya mata, insang, dan sistem sirkulasi, yang persis sama dengan yang terdapat pada spesimen hewan di zaman modern. Semua truktur ini sangatlah maju dan sangat berlainan satu dengan yang lain.

    Richard Monastersky, seorang staf penulis jurnal Science News, menyatakan tentang ledakan Kambrium, yang merupakan perangkap maut bagi teori evolusi:

    Setengah miliar tahun silam, … beragam jenis hewan yang amat kompleks, yang kita lihat sekarang, tiba-tiba muncul. Saat itu, tepat di awal Zaman Kambrium di Bumi, sekitar 550 juta tahun yang lalu, menandai ledakan evolusioner yang mengisi penuh lautan dengan berbagai makhluk kompleks pertama di dunia. 7

    Prof. Philip Johnson

    Phillip Johnson, seorang profesor Universitas California di Berkeley, yang juga salah seorang kritikus Darwinisme paling menonjol di dunia, menjabarkan pertentangan antara Darwinisme dengan kebenaran paleontologis ini:

    Teori Darwinisme meramalkan adanya sebuah “kerucut peningkatan keragaman”, yang mana organisme hidup pertama, atau spesies hewan pertama, secara bertahap dan kontinyu menjadi beragam dan menciptakan tingkat taksonomi yang lebih tinggi. Namun catatan fosil binatang lebih mirip kerucut yang terbalik, yaitu banyak filum yang berada di jenjang awal, dan setelah itu semakin berkurang. 8

    Seperti diungkapkan Phillip Johnson, yang telah terjadi bukanlah terbentuknya berbagai filum secara bertahap. Jauh daripada itu, semua filum timbul serentak, dan bahkan ada yang punah dalam periode selanjutnya. Munculnya makhluk hidup yang beragam dalam wujud sempurna dan seketika, merupakan bukti penciptaan, seperti juga diakui oleh evolusionis Futuyma. Telah kita saksikan, semua penemuan ilmiah yang ada telah menyatakan bahwa pernyataan teori evolusi adalah salah, serta mengungkapkan kebenaran dari penciptaan.

    ==================================

    1. Douglas J. Futuyma, Science on Trial, Pantheon Books, New York, 1983, hal. 197
    2. Robert L. Carroll, Patterns and Processes of Vertebrate Evolution, Cambridge University Press, 1997, hal. 25 (penekanan ditambahkan).
    3. Stephen C. Meyer, P. A. Nelson, dan Paul Chien, The Cambrian Explosion: Biology’s Big Bang, 2001, hal. 2
    4. Richard Monastersky, “Mysteries of the Orient,” Discover, April 1993, hal. 40. (penekanan ditambahkan)
    5. Phillip E. Johnson, “Darwinism’s Rules of Reasoning” dalam Darwinism, Science and Philosophy oleh Buell Hearn, Foundation for Thoughts and Ethics, 1994, hal. 12. (penekanan ditambahkan)
     
  • erva kurniawan 1:23 am on 15 July 2015 Permalink | Balas  

    Runtuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (1) 

    teori evolusiRuntuhnya “Teori Evolusi” Dalam 20 Pertanyaan (1)

    Harun yahya

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    Pengantar

    Teori evolusi sudah berusia 150 tahun, dan juga telah berpengaruh besar pada pandangan hidup yang dianut masyarakat. Teori ini menyatakan sebuah dusta, yaitu bahwa manusia muncul ke dunia ini sebagai akibat faktor kebetulan, dan bahwa manusia adalah suatu “spesies binatang”. Lebih jauh lagi, teori ini mengajarkan bahwa satu-satunya hukum yang berlaku adalah usaha makhluk hidup, yang hanya mementingkan diri sendiri, untuk bertahan hidup. Pengaruh gagasan ini tampak di abad kesembilan belas dan kedua puluh: manusia semakin egois, akhlak masyarakat yang memburuk, semakin merebaknya sikap mementingkan diri sendiri, sikap tidak berperikemanusiaan, dan kekerasan, tumbuh berkembangnya ideologi berdarah dan diktator seperti fasisme dan komunisme, krisis individual dan sosial karena manusia semakin jauh dari akhlak agama, …

    Berbagai akibat sosial yang disebabkan oleh teori evolusi telah dibahas dalam Artikel Harun Yahya lainnya. (Lihat karya Harun Yahya The Disasters Darwinism Brought to Humanity, Communism Lies in Ambush, The Black Magic of Darwinism, serta The Religion of Darwinism). Dalam Artikel-Artikel tersebut diungkapkan bahwa teori ini, yang disebut-sebut sebagai “ilmiah”, sebenarnya sama sekali tidak memiliki dasar ilmiah; bahwa teori tersebut hanyalah sebuah skenario yang terus dipaksakan walaupun dihadapkan kepada semua fakta yang berbicara sebaliknya; dan isi teori ini tak lain takhayul belaka.

    Bagi mereka yang ingin memahami seperti apa sesungguhnya teori evolusi dan “pandangan hidup” Darwinisme, yang selama 150 tahun terakhir ini secara sistematis telah menyeret dunia ke jurang kekerasan, kebiadaban, kekejaman, dan pertikaian, sangat dianjurkan untuk membaca Artikel-Artikel tersebut.

    Artikel ini akan membahas ketidakabsahan teori evolusi pada tingkat umum. Di sini dikupas pernyataan evolusionis tentang beberapa hal, menggunakan beberapa pertanyaan yang sering diajukan orang, yang belum sepenuhnya dipahami. Jawaban yang tertera dalam Artikel ini secara ilmiah diperinci lebih jauh dalam Artikel lain karya penulis seperti The Evolution Deceit (Keruntuhan Teori Evolusi), dan Darwinism Refuted.

    1.Mengapa Teori Evolusi Tidak Absah Secara Ilmiah?

    Teori evolusi menyatakan bahwa makhluk hidup di muka bumi tercipta sebagai akibat dari peristiwa kebetulan dan muncul dengan sendirinya dari kondisi alamiah. Teori ini bukanlah hukum ilmiah maupun fakta yang sudah terbukti. Di balik topeng ilmiahnya, teori ini adalah pandangan hidup materialis yang dijejalkan ke dalam masyarakat oleh kaum Darwinis. Dasar-dasar teori ini – yang telah digugurkan oleh bukti-bukti ilmiah di segala bidang – adalah cara-cara mempengaruhi dan propaganda, yang terdiri atas tipuan, kepalsuan, kontradiksi, kecurangan, dan ilusi permainan sulap.

    Teori evolusi diajukan sebagai hipotesa rekaan di tengah konteks pemahaman ilmiah abad kesembilan belas yang masih terbelakang, yang hingga hari ini belum pernah didukung oleh percobaan atau penemuan ilmiah apa pun. Sebaliknya, semua metode yang bertujuan membuktikan keabsahan teori ini justru berakhir dengan pembuktian ketidakabsahannya.

    Namun, bahkan sekarang, masih banyak orang beranggapan bahwa evolusi adalah fakta yang sudah terbukti kebenarannya – layaknya gaya tarik bumi atau hukum benda terapung. Sebab, seperti telah dinyatakan di muka, teori evolusi sesungguhnya sangatlah berbeda dari yang diterima masyarakat selama ini. Oleh sebab itu, pada umumnya orang tidak tahu betapa buruknya landasan berpijak teori ini; betapa teori ini sudah digagalkan oleh bukti ilmiah pada setiap langkahnya; dan betapa para evolusionis terus berupaya menghidupkan teori evolusi, walaupun teori ini sudah “menghadapi ajalnya”.

    Para evolusionis hanya mengandalkan hipotesa yang tak terbukti, pengamatan yang penuh prasangka dan tak sesuai kenyataan, gambar-gambar khayal, cara-cara yang mampu mempengaruhi kejiwaan, dusta yang tak terhitung jumlahnya, serta teknik-teknik sulap.

    Kini, berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti paleontologi (cabang geologi yang mengkaji kehidupan pra-sejarah melalui fosil – penerj.), genetika, biokimia dan biologi molekuler telah membuktikan bahwa tak mungkin makhluk hidup tercipta akibat kebetulan atau muncul dengan sendirinya dari kondisi alamiah. Sel hidup, demikian dunia ilmiah sepakat, adalah struktur paling kompleks yang pernah ditemukan manusia. Ilmu pengetahuan modern mengungkapkan bahwa satu sel hidup saja memiliki struktur dan berbagai sistem rumit dan saling terkait, yang jauh lebih kompleks daripada sebuah kota besar. Struktur kompleks seperti ini hanya dapat berfungsi apabila masing-masing bagian penyusunnya muncul secara bersamaan dan dalam keadaan sudah berfungsi sepenuhnya. Jika tidak, struktur tersebut tidak akan berguna, dan semakin lama akan rusak dan musnah. Tak mungkin semua bagian penyusun sel itu berkembang secara kebetulan dalam jutaan tahun, seperti pernyataan teori evolusi. Oleh sebab itulah, rancangan yang begitu kompleks dari sebuah sel saja, sudah jelas-jelas menunjukkan bahwa Tuhan-lah yang menciptakan makhluk hidup. (Keterangan lebih rinci dapat dibaca dalam buku Harun Yahya, Miracle in the Cell).

    Akan tetapi, para pembela filsafat materialis tidak bersedia menerima fakta penciptaan karena beragam alasan ideologis. Hal ini disebabkan kemunculan dan perkembangan masyarakat yang hidup dengan berpedomankan akhlak mulia yang diajarkan agama yang sejati kepada ummat manusia melalui perintah dan larangan Tuhan bukanlah menjadi harapan kaum materialis ini.

    Masyarakat yang tumbuh tanpa nilai moral dan spiritual lebih disukai kalangan ini, sebab mereka dapat memanipulasi masyarakat yang demikian demi keuntungan duniawi mereka sendiri. Itulah sebabnya, kaum materialis mencoba terus memaksakan teori evolusi – yang berisi dusta bahwa manusia tidak diciptakan, tetapi muncul atas faktor kebetulan dan berevolusi dari jenis binatang – serta, dengan segala cara, berupaya mempertahankan teori evolusi agar tetap hidup.

    Kaum materialis meninggalkan akal sehat dan nalar, serta mempertahankan omong-kosong ini di setiap kesempatan, walaupun bukti ilmiah dengan jelas telah menghancurkan teori evolusi dan menegaskan fakta penciptaan.

    Sebenarnya telah dibuktikan bahwa adalah mustahil apabila sel hidup yang pertama – atau bahkan satu saja dari berjuta-juta molekul protein dalam sel itu – dapat muncul atas faktor kebetulan. Ini bukan saja ditunjukkan melalui berbagai percobaan dan pengamatan, melainkan juga melalui perhitungan probabilitas secara matematis. Dengan kata lain, evolusi gugur di langkah pertama: yaitu dalam menjelaskan kemunculan sel hidup yang pertama.

    Sel, satuan terkecil makhluk hidup, tidak mungkin muncul secara kebetulan dalam kondisi primitif tanpa kendali di saat Bumi masih muda – seperti yang dipaksakan kaum evolusionis kepada kita agar percaya. Jangankan dalam kondisi demikian, dalam laboratorium tercanggih di abad ini sekali pun, hal itu mustahil terjadi. Asam-asam amino, yaitu satuan pembentuk berbagai protein penyusun sel hidup, tak mampu dengan sendirinya membentuk organel-organel di dalam sel seperti mitokondria, ribosom, membran sel, ataupun retikulum endoplasma – apalagi membentuk sebuah sel yang utuh.

    Oleh sebab itu, pernyataan bahwa sel pertama terbentuk secara kebetulan melalui proses evolusi, hanyalah hasil rekaan yang sepenuhnya didasarkan pada daya khayal.

    Sel hidup, yang sampai kini masih mengandung banyak rahasia, adalah satu di antara sekian banyak kesulitan utama yang dihadapi teori evolusi.

    Dilema mengkhawatirkan lainnya (dari sudut pandang evolusionis) adalah molekul DNA yang terdapat di dalam inti sel hidup, sebuah sistem kode yang terdiri dari 3,5 miliar satuan berisi semua rincian makhluk hidup. DNA pertama kali ditemukan melalui kristalografi sinar-X pada akhir tahun 1940-an dan awal 1950-an, dan merupakan sebuah molekul raksasa dengan rancangan yang luar biasa.

    Selama bertahun-tahun, Francis Crick, pemenang hadiah Nobel, meyakini teori evolusi molekuler. Namun pada akhirnya, ia sendiri pun harus mengakui bahwa molekul yang begitu rumit tak mungkin muncul dengan sendirinya secara tiba-tiba karena kebetulan, sebagai hasil dari sebuah proses evolusi:

    Seseorang yang jujur, dengan pemahaman keilmuan yang ada sekarang, saat ini hanya dapat menyatakan bahwa asal mula kehidupan nampak bagaikan sebuah keajaiban.1

    Evolusionis berkebangsaan Turki, Profesor Ali Demirsoy, terpaksa memberikan pengakuan sebagai berikut:

    Sebenarnya, kemungkinan terbentuknya sebuah protein dan asam nukleat (DNA-RNA) adalah di luar batas perhitungan. Lebih jauh lagi, peluang munculnya suatu rantai protein adalah sedemikian kecilnya sehingga bisa disebut astronomis (tidak mungkin). 2

    Homer Jacobson, Profesor Emeritus di bidang Ilmu Kimia, menyatakan pengakuan tentang kemustahilan munculnya kehidupan akibat faktor kebetulan, sebagai berikut:

    Petunjuk untuk reproduksi rencana, untuk energi dan untuk pengambilan bagian-bagian dari lingkungan sekitar, untuk urutan pertumbuhan, dan untuk mekanisme efektor yang menerjemahkan instruksi menjadi pertumbuhan – semua itu harus ada secara serentak pada saat tersebut [saat awal munculnya kehidupan]. Kemungkinan kombinasi semua peristiwa itu secara kebetulan tampaknya sungguh luar biasa kecil … 3

    Catatan fosil pun menyajikan fakta lain, yang menjadi kekalahan telak bagi teori evolusi. Dari seluruh fosil yang telah ditemukan selama ini, tidak ada satu pun bentuk antara (bentuk peralihan) yang ditemukan, yang seharusnya ada jika makhluk hidup berevolusi tahap demi tahap dari spesies yang sederhana menjadi spesies yang lebih kompleks, seperti yang dinyatakan oleh teori evolusi.

    Jika makhluk seperti itu ada, seharusnya jumlahnya banyak sekali, berjuta-juta, bahkan bermiliar-miliar. Lebih dari itu, sisa dan kerangka makhluk semacam itu haruslah ada dalam catatan fosil. Kalau bentuk-bentuk antara ini benar-benar ada, jumlahnya akan melebihi jumlah spesies binatang yang kita kenal di masa kini. Seluruh dunia akan penuh dengan fosil makhluk tersebut.

    Para evolusionis mencari bentuk-bentuk antara ini di semua penelitian fosil yang menggebu-gebu, yang telah dilangsungkan sejak abad kesembilan belas. Akan tetapi, sama sekali tidak ditemukan jejak-jejak makhluk perantara ini, meskipun pencarian telah dilakukan dengan penuh semangat selama 150 tahun.

    Singkat kata, catatan fosil menunjukkan bahwa makhluk hidup muncul secara tiba-tiba dan dalam wujud sempurna, bukan melalui sebuah proses dari bentuk primitif menuju tahap yang lebih maju, seperti yang dinyatakan teori evolusi.

    Kaum evolusionis telah berusaha keras untuk membuktikan kebenaran teori mereka. Namun nyatanya, dengan tangannya sendiri, mereka justru telah membuktikan bahwa proses evolusi adalah mustahil.

    Kesimpulannya, ilmu pengetahuan modern mengungkapkan fakta yang tak mungkin disangkal berikut ini: Kemunculan makhluk hidup bukanlah akibat faktor kebetulan yang buta, melainkan hasil ciptaan Tuhan.

    =================

    1. Francis Crick, Life Itself: Its Origin and Nature, New York, Simon & Schuster, 1981, hal. 88
    2. Ali Demirsoy, Kalitim ve Evrim (Inheritance and evolution), Meteksan Publishing Co., Ankara, 1984, hal. 39
    3. Homer Jacobson, “Information, Reproduction and the Origin of Life,” American Scientist, Januari 1955, hal. 121.

     

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 14 July 2015 Permalink | Balas  

    Kembali Kepada Fitrah 

    maafKembali Kepada Fitrah

    Adalah suatu kebahagiaan dan nikmat yang besar ketika akhir Ramadhan kita memperoleh predikat sebagai orang yang bertakwa dan menjadi pribadi yang fitri (suci), yaitu orang-orang yang kembali pada fitrahnya.

    Kembalinya manusia kepada fitrah mengandung dua pengertian.

    Pertama, fitrah berarti suci. Artinya, manusia kembali menjadi makhluk yang suci seperti bayi yang baru dilahirkan. Hal tersebut dikarenakan manusia mendapatkan ampunan Allah pada bulan Ramadhan. Disabdakan Rasulullah: ”Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan dalam rangka mencari pahala di sisi Allah SWT, maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Muttafaqun ‘alaih). Dalam konteks hubungan sosial, ampunan (saling memaafkan) dari sesama manusia merupakan syarat sempurnanya ampunan Allah. Karena, sungguh Allah tidak akan mengampuni dosa seorang hamba hingga orang yang pernah dizaliminya mengampuni dan memaafkannya.

    Kedua, fitrah berarti agama tauhid. Fitrah dalam konteks ini adalah manusia kembali kepada perjanjiannya, antara makhluk dan Khalik (Pencipta), yaitu untuk taat, beribadah, dan mengesakan Allah SWT sebagai Tuhan yang menciptakannya, dengan jalan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Allah berfirman: ”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS 30: 30).

    Orang yang kembali kepada fitrahnya memiliki dua karakter.

    Pertama, istiqomah dalam beribadah. Orang-orang yang kembali pada fitrahnya senantiasa melakukan amal-amal saleh dan ragam ibadah secara berkesinambungan. Dan bahkan terus ditingkatkan. Mereka selalu berprinsip hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.

    Kedua, memiliki perilaku (akhlaq) yang baik. Pembinaan yang dilakukan selama bulan Ramadhan diaplikasikannya pada bulan-bulan setelah Ramadhan. Nilai-nilai seperti kejujuran, sabar, pemaaf, pemurah, dan penyayang senantiasi menghiasi kehidupannya.

    Semoga ibadah puasa yang telah kita lakukan mengantarkan kita menjadi orang-orang yang kembali kepada fitrah. Dan, semoga kita dapat memberikan sumbangsih dan manfaat bagi kemajuan umat Islam. Amin.

    ***

    (Diambil dari Hikmah Republika)

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 13 July 2015 Permalink | Balas  

    Penghujung Ramadhan 

    MERENUNGPenghujung Ramadhan

    Penghujung Ramadhan adalah saat terakhir bagi kita untuk berhenti dan merenung sejenak, menghisab amalan yang telah dilakukan. Kita masih punya kesempatan beberapa hari lagi untuk memperbaiki apa yang salah, menambah apa yang kurang, dan meningkatkan apa yang sudah baik. Bagaimanapun Allah menilai kesudahan kita, apakah kita mengakhiri Ramadhan dalam keadaan taqwa dan penuh ketaatan kepadaNya, ataukah sebaliknya?

    Marilah kita jangan berputus asa dari rahmat dan tambahkanlah rasa harap kita kepada-Nya. Berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari usaha kita bermuhasabah.

    Pertama, tetapkan satu masa khusus untuk merenung apa yang telah kita lakukan. Kemudian bandingkanlah dengan beberapa obyektif minimum yang telah kita tetapkan sebelum ramadhan, misalnya: sholat berjama’ah di mesjid 3x sehari, melakukan shalat rawatib, shalat qiyamul lail setiap hari, shalat dhuha 2x 4 rakaat seminggu, membaca Al-Quran 1 juz perhari, membaca al-matsurat, bersedekah setiap hari, dan membaca buku yang bermanfaat. Kemudian, kita tanyakan kepada diri kita sendiri, apakah amalan yang telah kita lakukan sesuai dengan obyektif yang telah disebutkan di atas? Jika ya, maka tanyakanlah apakah obyektif tersebut terlalu mudah bagi kita? Kalau terlalu mudah, maka ubahlah obyektif tersebut agar menjadi lebih menantang. Jika tidak, maka teruskanlah usaha untuk mencapat obyektif yang telah kita tetapkan tersebut pada 8 hari mendatang.

    Kedua, tingkatkan ibadah pada malam-malam 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Malam-malam ini sangat penting karena terdapatnya Lailatul Qadar pada salah satu dari malam-malam ganjil, yaitu 21, 23, 25, 27, 29 Ramadhan. Pada malam ini kebaikan yang dilakukan pada malam tersebut sama seperti melakukan kebaikan selama 1000 bulan. Oleh karena itu, tidak wajar dan merupakan suatu kesombongan bila malam tersebut kita sia-siakan. Apalagi usia kita belum tentu mampu untuk melakukan ibadah sebanyak itu.

    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam dalam malam-malam ini akan menggandakan ibadahnya. Beliau akan beri’tikaf selama 10 hari penuh di mesjid dan melakukan berbagai ibadah sepanjang beliau beri’tikaf. Untuk memaksimalkan manfaat dari peluang ini, kita memerlukan perencanaan yang komprehensif agar ibadah kita dapat dilakukan dengan baik tanpa mengganggu kewajiban yang lain. Yang paling afdhal tentu saja ialah bila kita mampu beri’tikaf selama 10 hari di mesjid tanpa terputus seperti yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Sebagian yang lain bahkan menyengaja untuk melakukan umrah pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan ini agar bisa memaksimalkan kesempatan untuk beribadah pada saat-saat terakhir ini. Namun kita juga maklum, bahwa banyak orang yang mungkin tidak memiliki kemampuan tersebut. Salah satu alternatif adalah dengan meminta cuti agar dapat melakukan i’tikaf.

    Jika ini juga tidak mungkin dilakukan, maka usahakanlah semaksimal mungkin untuk melakukan i’tikaf sebanyak yang kita mampu tanpa mengabaikan tanggung jawab kita yang lain. Adalah kurang baik bagi seorang muslim untuk kehilangan produktivitas di tempat kerja dengan alasan letih beribadah di malam harinya. Hal ini akan memburukkan nama baik Islam dan umatnya.

    Ketiga, jangan lupa untuk meningkatkan doa bagi diri sendiri dan umat Islam seluruhnya. Kita memahami bahwa saat ini umat Islam dalam keadaan tertindas, baik dari dalam maupun dari luar. Berdoalah pada hari terakhir Ramadhan ini agar Allah memberikan hidayahNya bagi kita dan umat Islam seluruhnya, serta mintalah pertolonganNya bagi kaum muslimin dimanapun mereka berada.

    Keempat, jangan lupa untuk menunaikan zakat fitrah. Masa yang sunnat adalah apabila masuk waktu maghrib di malam Idul Fitri sampai sebelum sholat Idul Fitri. Ingatlah bahwa pahala berpuasa akan tergantung diantara bumi dan langit sehingga zakat fitrah ditunaikan. Tidak membayar zakat fitrah bagi mereka yang mampu juga merupakan suatu dosa.

    Kelima, pada malam Idul Fitri tetapkanlah sedikit waktu untuk merenung akan apa-apa yang telah kita lakukan sepanjang bulan Ramadhan. Pikirkanlah langkah-langkah yang bisa kita lakukan untuk memastikan kehidupan kita sebagai seorang muslim selepas bulan Ramadhan ini, menjadi lebih baik dari sebelum Ramadhan.

    Tahun depan, belum tentu kita berjumpa dengan Ramadhan…

    ***

    (Diambil dari http://www.eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 12 July 2015 Permalink | Balas  

    I’tikaf Bagi Muslimah 

    itikafI’tikaf Bagi Muslimah

    I’tikaf juga disunnatkan bagi kaum wanita sebagaimana telah dianjurkan bagi pria. Sunnah ini telah dilaksanakan dan dicontohkan oleh isteri Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dalam riwayat Enam Imam Hadits.

    Diriwayatkan dari ’Aisyah RA bahwa, ”Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wasallam biasa i’tikaf pada hari-hari sepuluh terakhir Ramadhan sehingga mewafatkannya (sampai Beliau meninggal dunia), kemudian dilanjutkan oleh isteri-isterinya setelah sepeninggalnya” (HR. Enam Imam Hadits)

    Tetapi selain syarat-syarat yang berlaku secara umum, i’tikaf bagi kaum wanita harus memenuhi syarat berikut :

    1. Mendapat persetujuan (izin) dari suami (bagi yang telah menikah), orang tua atau wali. Dan apabila wali atau suami telah mengizinkan isterinya untuk i’tikaf, maka tidak boleh menarik kembali persetujuan itu.
    2. Agar tempat dan pelaksanaan i’tikaf bagi wanita itu memenuhi tujuan syari’at, yaitu tidak dibenarkan ikhtilath (campur baur laki-laki dan wanita) yang dapat mengakibatkan/menimbulkan fitnah yang dilarang oleh agama. Tetapi ada pendapat yang lebih afdhal bagi wanita – Wallahu’alam- ialah I’tikaf di ‘masjid’ (tempat shalat) di rumahnya sendiri.

    Meskipun demikian, wanita bisa i’tikaf di masjid tetapi lebih afdhal apabila masjid tersebut menempel (sangat berdekatan) dengan rumahnya, tidak terjadi ikhtilath dan fitnah, jama’ahnya hanya wanita, serta terdapat tempat buang air dan kamar mandi khusus wanita dan sebagainya.

    ***

    (Dikutip dari: Panduan Amaliyah Ramadhan, Editor Abu Azka, Penerbit Bina Mitra Press)

     
  • erva kurniawan 7:43 am on 10 July 2015 Permalink | Balas  

    Bila Dia Yang Kita Cintai 

    puasa 4Bila Dia Yang Kita Cintai

    Bagaimana perasaan Anda ketika akan kedatangan tamu yang menginap di rumah untuk beberapa saat? Jawabannya sih tergantung siapa tamunya. Tapi coba bayangkan. Jika yang akan mendatangi kita adalah orang-orang yang kita cintai dan kita hormati, misal bapak dan ibu, mertua, guru, temen dekat atau orang yang pernah berjasa dalam hidup kita. Sudah barang tentu kita akan dengan senang hati menyambutnya. Tak perlu ditanya akan berapa lama mereka di rumah kita. Kita pun akan segera menyiapkan sebuah kamar terbagus untuk mereka. Kemudian menyediakan jamuan istimewa untuk mereka. Siap memenuhi segala kebutuhan mereka, siap mengantar kemana pun mereka hendak pergi. Dan bila saat-saat perpisahan itu datang, duh rasanya hati ini khawatir apakah service kita mengecewakan tamu tercinta.

    Demikian halnya saat ini. Kita sedang berada di gerbang seribu bulan. Bulan yang dimuliakan Allah. Bulan yang ibadah wajibnya dilipatkan Allah hingga 70 kali lipat dan ibadah sunnahnya disamakan dengan ibadah wajib di bulan lain. Bulan penuh berkah, rahmat dan pengampunan serta pembebasan dari nafsu dan belenggu syeitan. Bulan yang didalamnya terdapat sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Pertanyaannya sederhana saja: Apakah kita gembira, bahagia dan senang dengan kedatangan bulan ini? Apakah ada hubungannya kecintaan dan kebahagiaan kita menyambut Ramadhan dengan amalan kita di dalamnya? Apa yang telah kita siapkan untuk menyambutnya. Seberapa jauh kita siap dan mempersiapkan keluarga kita untuk menyambutnya?

    Pertanyaan berikutnya: Salah satu tujuan puasa Ramadhan adalah tercapainya ketaqwaaan. Kira-kira kita yang sudah berpuasa selama 10-20 tahunan… sejak kapan kita merasa telah mencapai target taqwa tersebut. Bila jawabannya ternyata belum, kita Insya Allah masih punya kesempatan untuk merealisasikannya tahun ini. Ya… insya Allah kita mampu, asal ada kekuatan azam dan niat yang kuat. Kesempatan untuk mengukir prestasi.

    Ada 4 golongan manusia dalam sikapnya menyambut Ramadhan.

    Pertama: mukmin yang sungguh-sungguh. Mereka menganggap bulan ini sebagai peluang untuk melejitkan prestasi di hadapan Allah. Orang seperti ini senantiasa merasakan detik-detik Ramadhan sangat berharga. Mereka selalu berada dalam ketaatan. Kalau tidak sedang shalat, baca Al-Qur’an, dzikir, saling menolong dan menasehati, memenuhi kebutuhan saudaranya, dsb. Tak ada waktu terlewat kecuali untuk sesuatu yang baik dan bermanfaat.

    Kedua: orang yang niatnya baik, tapi azamnya lemah. Orang ini berniat menargetkan berbuat sesuatu di bulan Ramadhan. Mereka punya tekad berbuat baik. Tapi karena azamnya lemah, maka hanya bertahan pada awal-awal bulan saja. Kemudian mereka makin tidak merasakan kehadiran tamu ini. Baik hanya di awalnya saja setelah itu ketahuan aslinya.

    Ketiga: orang yang biasa-biasa saja. Kedatangan Ramadhan tidak memberi bekas sama sekali. Kalau ibarat tamu, ia dicuekin.

    Keempat: orang yang tidak menyukai kedatangan Ramadhan. Mereka menganggap Ramadhan sebagai penghalang bagi mereka untuk memuaskan nafsu dan segala keinginan. Mereka dengan terpaksa menerima kedatangan tamu ini tapi sesungguhnya mereka membencinya dan tidak menghormati sama sekali. Mereka menentang penutupan sementara usaha hiburan malam dan bisnis esek-esek dengan alasan ekonomi dan hak asasi.

    Di golongan mana kita berada? Jangan sampai kita merugi sebagaimana sabda Rasulullah, “Rugi dan meranalah orang yang menjumpai Ramadhan sedang dosanya belum diampuni”. Para sahabat Rasul paham akan berharganya Ramadhan sehingga berharap sepanjang tahun menjadi bulan Ramadhan. Bagaimana dengan kita? Mari kita siapkan semua semua sumber daya, baik fisik, finansial, dan ilmu untuk menyambut kedatangan tamu agung ini sebelum kita menyesal!

    ***

    (Diambil dari artikel kiriman sdr. Oki)

     
  • erva kurniawan 7:40 am on 9 July 2015 Permalink | Balas  

    Potret Manusia dibulan Romadhon 

    Menahan Amarah Di Bulan PuasaPotret Manusia di Bulan Romadhon

    Pada setiap ramadhon . Dengan berpuasa diharap kita getol berbuat kebajikan, hati orang diketuk supaya trenyuh dan rela beramal. ”Sedekah itu menutup 70 pintu kejahatan.”.

    Bulan puasa juga dimanfaatkan pengamen di biskota. Perhatikan syairnya: ”Kami di sini tidak mau menodong, tapi mengharapkan pertolongan Bapak dan Ibu sekalian. Lima ratus atau seribu perak tidak akan membuat Anda miskin. Berilah kami recehan untuk berbuka puasa….” Padahal, dia belum tentu berpuasa.

    Usai ngamen, dia sodorkan tempat uang receh. Tak ada yang menggubris, karena terkesan memaksa. Terbukti, ketika seseorang tak memenuhi angan-angannya yang selangit, mulutnya kontan nyelekit: ”Dasar, pelit!” Ia marah karena merasa sudah menghibur, tapi tak diberi imbalan.

    Potret manusia menjalankan puasa memang beragam.

    Ada seorang muslim yang berpuasa sebulan penuh. Seakan lapar dan dahaganya mencuci dosa, dan bacaan Qur’annya menggetarkan surga. Saat berbuka, kala air menyiram tenggorokan, wajahnya semringah. Sholat dan tarowihnya tak pernah lowong. Hamparan karpet sajadah di masjid jadi tali silaturahmi.

    Celakanya, keislaman itu cuma dilakukan sebulan. Sebelas bulan lain, ia kembali pada dunianya. Ia lupakan sholatnya. Sholat nek kober, ”Dia sering minum-minuman keras, katanya untuk melobi teman dan menjaga pergaulan dalam dunia bisnis. Dia tetap menyuap agar bisnisnya lancar. Dia juga mencarikan wanita panggilan untuk menyervis orang.

    Dunia pun ibarat panggung sandiwara. Ada lagi poret manusia, di mata istri dan anak anaknya makan saur dan berbuka bersama, di luaran bibir tetap basah, dan perut selalu terisi. Ada lagi yang puasa tapi tetap mengumbar amarah. Padahal, hadis Nabi menyebutkan, bahwa amarah bisa menggugurkan pahala puasa.

    Ada pula yang tetap seneng ngakali, mensiasati, membodohi orang, serta membualkan kebohongan demi kebohongan. manusia type ini berlindung di balik tutur kata lembut yang tiada cela. Suap dikatakan hibah, dan korupsi dianggap anugerah. Sogokan? ”Saya tidak pernah meminta, tapi dia yang memberi,” begitu dalih penerima sogokan.

    Kecintaan terhadap dunia benar-benar telah mengusutkan akal dan pikiran. Kadang pergulatan terhadap cinta dunia ini melelahkan dan membosankan. Banyak manusia menyadari bahwa materi telah menjajahnya. Tapi, kesadaran itu sering sekadar ”tahu”. Titik. Makanya ada hadist yang berbunyi kurang lebih ,” Cinta dunia, adalah pokok atau penyebab perbuatan dosa “. Padahal, sesungguhnya, iman yang benar itu bukan sebatas retorika, tapi penghayatan dan pengamalan kebenaran.

    Oleh sebab itu, para ustadz sering menyadarkan: ”Mari kita sucikan akal pikiran kita. Kita lepaskan keterikatan terhadap fisik kita –dalam rangka penyucian hati.” Puasa, antara lain, memang punya andil yang besar dalam mensucikan dan mencerahkan jiwa.

    Mata ditundukkan dan pendengaran disumpal agar tidak terkontaminasi oleh hal-hal yang tak perlu. Nabi bersabda, ”Barang siapa menahan pandangannya, ia akan merasakan lezatnya keimanan dalam hatinya.” Rasul juga pernah mengucapkan, ”Aku berlindung kepada-Mu ya Allah dari kejahatan pendengaran, penglihatan, hati, dan kemaluanku.”

    Ada teori bahwa manusia itu dikelompokkan dalam strata kebutuhan. Ada kebutuhan dasar yang menyangkut makan, minum, dan seks. Ada kebutuhan kasih sayang, ketenteraman, dan rasa aman. Lalu, ada kebutuhan akan perhatian dan pengakuan. Yang terakhir adalah kebutuhan aktualisasi diri.

    Ahli tasawuf atau para sufi menganggap aktualisasi diri sebagai kebutuhan penyempurnaan spiritual. ”Selama indra lahiriah kita terpaku di bumi, selama itu pula hati dan akal kita tidak berlabuh pada Allah,” kata orang sufi. Indra kita ini terlalu lemah untuk dipakai melihat kebenaran.

    Dalam bukunya, Murtadho Muthahari menulis, salah satu tahap dalam tingkat kesholihan seseorang adalah ketika seseorang sudah dapat mengendalikan nafsunya. Dia tak akan marah, walau mestinya ia bisa membalas dendam. Dia tidak sakit hati ketika seseorang menyakitinya. Nafsunya sudah terkendali. Tingkat kesadaran ruhnya sudah tinggi.

    Bagi saya, yang awam, mungkin, tataran seperti itu terasa sangat jauh. Samar-samar di ujung sana. Yang terasa dekat justru hiruk-pikuk dunia yang mengusutkan pikiran, yang menyebabkan ketidaktenangan dalam hidup. Kekecewaan demi kekecewaan mengeruhkan otak. Hati pun masih belum ngamper oleh derita sesama.

    Adakah semua ini buah kepicikan, sebagai manusia? Atau, karena selalu merasa bahwa dunia, materi, uang atau apalah namanya bisa mengatur dan menyelesaikan segala-galanya? Ya Allah ya Robb, bisakah shaumku mengikis kebusukan demi kebusukan itu?

    Selamat ber-puasa romadhon

    Sumber dari resonansi

     
  • erva kurniawan 5:59 am on 8 July 2015 Permalink | Balas  

    Rukhsah keringanan dalam Puasa 

    puasa-4Rukhsah/keringanan dalam Puasa

    Bismillahirrahmanirrahim,

    “….Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (Q.S. Al Baqarah 2:184)

    Hukum orang yang tidak berpuasa Ramadhan :

    Diperbolehkan tidak puasa pada bulan Ramadhan bagi empat golongan menurut syariat diperbolehkan tidak puasa dengan membayar kafarat2 nya untuk katagori

    1. Musafir membayar kafaratnya dengan berpuasa kembali dengan menggantinya dan wajib baginya untuk melakukannya.

    “Maka barangsiapa diantara kalian ada yang sakit atau dalamperjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Q.S. Albaqarah 184).

    2. Orang sakit. Wajib mengganti jika harapan sembuhnya terbuka lebar atau kemungkinan sehatnya sangat besar, dengan cara mengqhadha-nya

    “Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan mempunyai hutang puasa, walinya harus berpuasa (menggantikannya)” (Muttafaq Allaih)

    3. Orang Lanjut Usia Jika ia sudah lanjut mencapai usia tua dan tidak sanggup berpuasa, wajib memberikan makanan

    “Orang lanjut usia diberi keringanan untuk memberi makan setiap hari kepada orang miskin dan tidak mengganti puasanya (H.R. AdDaruquthni dan Al Hakim, Shahih)

    Boleh baginya tidak berpuasa dan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Demikian kata Ibnu Abbas menurut riwayat Al-Bukhari. Lihat kitab Tafsir Ibnu Kalsir, 1/215. Sedangkan jumlah makanan yang diberikan yaitu satu mud (genggam tangan) gandum, atau satu sha’ (+ 3 kg) dari bahan makanan lainnya. Lihat kitab ‘Lamdatul Fiqh, oleh Ibnu Qudamah, him. 28.

    4. Wanita Hamil dan Wanita menyusui. Jika khawatir keselamatan dirinya dan keselamatan janin, ia tidak wajib berpuasa. Jika ia berkecukupan, ia bersedekah setiap hari sebesar satu genggam gandum (cukup) untuk sekali makan. Dengan fidiyahnya tersebut adalah pengganti puasanya. Dan tidak wajib untuk menggantinya. Rukhsah atau keringanan ini diberikan kepada wanita yang sedang hamil/menyusui yaitu dengan memberi makan kepada orang-orang miskin.

    Firman Allah SWT. “Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin). (Q.S. Al-Baqarah 184).

    Allah memberikan keringanan dan keringanan tersebut yang sebaiknya dipergunakan dengan sebaik-baiknya dengan membayar fidiyah dan sebaiknya tidak ditunda-tunda. Allah memberikan kemudahan dan agama Islam adalah mudah.

    Cara membayarkan fidyiah bermacam-macam :

    1. Mengundang orang fakir miskin sebanyak 30 orang atau lebih untuk sekali makan saja atau memberi makan diawal waktu ramadhan sehingga waktu satu bulan puasa tersebut sudah terbayar lunas dengan fidyah tersebut. Ini lebih praktis dan tidak sulit.

    2. Memberi nasi bungkus berikut lauk pauk-nya setiap hari 1 bungkus dan diberikan langsung kepada orang fakir miskin tersebut.

    Tidak wajib untuk mengganti puasa pada kategori orang hamil/menyusui/orang tua renta karena sudah digantikan oleh fidyah tersebut. Tapi wajib baginya untuk membayar hutang puasa diluar kategori ini (point 1, 2 dan 3)

    “Sesungguhnya ibuku meninggal dunia dan keadaan mempunyai hutang puasa sebulan, apakah aku menggantikan puasanya?”. Rasulullah bersabda : Ya. Hutang Allah itu layak dibayar”. (Muttafaq Allaih)

    Semoga Allah SWT membimbing setiap langkah menuju keikhlasan dalam beribadah.

    ***

    Diintisarikan dalam suatu majelis diJakarta dan tambahan kitab : Minhajul Muslim karya Abu Jabir Al-Jazairi

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 5:07 am on 7 July 2015 Permalink | Balas  

    Puasa dan Cinta 

    puasa-4Puasa dan Cinta

    Ternyata bukan hanya umat Muhammad yang berpuasa. Sejarah mencatat, sebelum kedatangan Muhammad, umat Nabi yang lain diwajibkan berpuasa. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, sejak Nabi Nuh hingga Nabi Isa puasa wajib dilakukan tiga hari setiap bulannya. Bahkan, nabi Adam alaihissalam diperintahkan untuk tidak memakan buah khuldi, yang ditafsirkan sebagai bentuk puasa pada masa itu. “Janganlah kamu mendekati pohon ini yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim”. (Al-Baqarah: 35).

    Begitu pula nabi Musa bersama kaumnya berpuasa empat puluh hari. Nabi Isa pun berpuasa. Dalam Surah Maryam dinyatakan Nabi Zakaria dan Maryam sering mengamalkan puasa. Nabi Daud alaihissalam sehari berpuasa dan sehari berbuka pada tiap tahunnya. Nabi Muhammad saw. Sendiri sebelum diangkat menjadi Rasul telah mengamalkan puasa tiga hari setiap bulan dan turut mengamalkan puasa Asyura yang jatuh pada hari ke 10 bulan Muharram bersama masyarakat Quraisy yang lain. Malah masyarakat Yahudi yang tinggal di Madinah pada masa itu turut mengamalkan puasa Asyura.

    Begitu pula, binatang dan tumbuh-tumbuhan melakukan puasa demi kelangsungan hidupnya. Selama mengerami telur, ayam harus berpuasa. Ular pun berpuasa. Baginya berpuasa berguna untuk menjaga struktur kulitnya agar tetap keras terlindung dari sengatan matahari dan duri hingga ia tetap mampu melata di bumi. Ulat-ulat pemakan daun pun berpuasa, jika tidak ia tak kan lagi menjadi kupu-kupu dan menyerbuk bunga-bunga.

    Jika berpuasa merupakan sunnah thobi’iyyah (sunnah kehidupan) sebagai langkah untuk tetap survive, mengapa manusia tidak? Terlebih lagi jika kewajiban puasa diembankan kepada umat Islam, tentu saja memikili makna filosofis dan hikmah tersendiri. Karena, ternyata puasa bukan hanya menahan dari segala sesuatu yang merugikan diri sendiri atau orang lain, melainkan merefleksikan diri untuk turut hidup berdampingan dengan orang lain secara harmonis, memusnahkan kecemburuan sosial serta melibatkan diri dengan sikap tepa selira dengan menjalin hidup dalam kebersamaan, serta melatih diri untuk selalu peka terhadap lingkungan. Rahasia-rahasia tersebut ternyata ada pada kalimat terakhir yang teramat singkat pada ayat 183 surah al- Baqarah. Allah swt memerintahkan: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa“. (QS. Al-Baqarah:183).

    Allah swt mengakhiri ayat tersebut dengan “agar kalian bertakwa”. Syekh Musthafa Shodiq al-Rafi’ie (w. 1356 H/1937 M) dalam bukunya wahy al-Qalam mentakwil kata “takwa” dengan ittiqa, yakni memproteksi diri dari segala bentuk nafsu kebinatangan yang menganggap perut besar sebagai agama, dan menjaga humanisme dan kodrati manusia dari perilaku layaknya binatang. Dengan puasa, manusia dapat menghindari diri dari bentuk yang merugikan diri sendiri dan orang lain, sekarang atau nanti. Generasi kini atau esok.

    Jika kita bandingkan dengan ideologi lain, mazhab sosialisme yang mengalami masa kolapnya di Eropa, tak mampu mengubah, menambah dan mengurangi jatah perut pengikutnya. Mereka, para sosialisme yang dianggap sebagai “mazhab buku” tak pelak lagi memandang puasa sebagai “satu-satunya sistem sosialis yang paling unik dan justeru paling absah”! Bagaimana tidak, puasa adalah kefakiran secara ‘paksa’ (ijbari) yang ditentukan oleh syariat agama kepada seluruh umat (Islam) tanpa pandang bulu. Islam memandang sama derajat manusia, terutama soal “perut”. Mereka yang memiliki dolar, atau yang mempunyai sedikit rupiah, atau orang yang tak memiliki sepeserpun, tetap merasakan hal yang sama: lapar dan haus. Jika sholat mampu menghapus citra arogansi individual manusia diwajibkan bagi insan muslim, haji dapat mengikis perbedaan status sosial dan derajat umat manusia diwajibkan bagi yang mampu, maka puasa adalah kefakiran total insan bertakwa yang bertujuan mengetuk sensitifitas manusia dengan metode amaliah (praktis), bahwasanya kehidupan yang benar berada di balik kehidupan itu sendiri. Dan kehidupan itu mencapai suatu tahap paripurna manakala manusia memiliki kesamaan rasa, atau manusia “turut merasakan” bersama, bukan sebaliknya. Manusia mencapai derajat kesempurnaan (insan kamil) tatkala turut merasakan sensitifitas satu rasa sakit, bukan turut berebut melampiaskan segala macam hawa nafsu.

    Dari sini puasa memiliki multifungsi. Setidaknya ada tiga fungsi puasa: tazhib, ta’dib dan tadrib. Puasa adalah sarana untuk mengarahkan (tahzib), membentuk karakteristik jiwa seseorang (ta’dib), serta medium latihan untuk berupaya menjadi manusia yang kamil dan paripurna (tadrib), yang pada esensinya bermuara pada tujuan akhir puasa: takwa. Takwa dalam pengertian yang lebih umum adalah melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Takwa dan kesalehan sosial adalah dua wajah dari satu keping mata uang yang sama, mengintegral dan tak dapat dipisahkan.

    Ada sejenis kaidah jiwa, bahwasanya “cinta” timbul dari rasa sakit. Di sinilah letak rahasia besar sosial dari hikmah berpuasa. Dengan jelas dan akurat, Islam melarang keras segala bentuk makanan, minuman, aktivitas seks, penyakit hati dan ucapan merasuki perut dan jiwa orang yang berpuasa. Dari lapar dan dahaga, betapa kita dapat merasakan mereka yang berada di garis kemiskinan, manusia papa yang berada di kolong jembatan, atau kaum tunawisma yang kerap berselimutkan dingin di malam hari atau terbakar terik matahari di siang hari. Ini adalah suatu sistem, cara praktis melatih kasih sayang jiwa dan nurani manusia. Adakah cara yang paling efektif untuk melatih cinta? Bukankah kita tahu bahwa selalu ada dua mata rantai yang saling terkait: yang melihat dan yang buta, yang cendikia dan yang awam, serta yang teratur dan yang mengejutkan.

    Jika cinta antara orang kaya yang lapar terhadap orang miskin yang (juga) lapar tercipta, maka untaian hikmah kemanusiaan di dalam diri menemukan kekuasaannya sebagai “sang mesias”, juru selamat. Orang yang berpunya dan hatinya selalu diasah dengan puasa, maka telinga jiwanya mendengar suara sang fakir yang merintih. Ia tidak serta merta mendengar itu sebagai suara mohon pengharapan, melainkan permohonan akan sesuatu hal yang tidak ada jalan lain untuk disambut, direngkuh dan direspon akan makna tangisannya itu. Orang berpunya akan memaknai itu semua atas pengabdian yang tulus, iimaanan wa ihtisaaban. Semua karena Allah, karena hanya Dia Sang pemilik segala.

    ***

    Taufiq Munir Ahmad Syaubari

    Dewan Eksekutif Sanggar Kinanah, sedang menempuh S1 al-Azhar university, jurusan Akidah dan Filsafat, Kairo.

     
  • erva kurniawan 7:58 am on 3 July 2015 Permalink | Balas  

    Bila Dia yang Kita Cintai Bagaimana perasaan Anda… 

    puasa 2Bila Dia yang Kita Cintai

    Bagaimana perasaan Anda ketika akan kedatangan tamu yang menginap di rumah untuk beberapa saat? Jawabannya sih tergantung siapa tamunya. Tapi coba bayangkan. Jika yang akan mendatangi kita adalah orang-orang yang kita cintai dan kita hormati, misal bapak dan ibu, mertua, guru, temen dekat atau orang yang pernah berjasa dalam hidup kita. Sudah barang tentu kita akan dengan senang hati menyambutnya. Tak perlu ditanya akan berapa lama mereka di rumah kita. Kita pun akan segera menyiapkan sebuah kamar terbagus untuk mereka. Kemudian menyediakan jamuan istimewa untuk mereka. Siap memenuhi segala kebutuhan mereka, siap mengantar kemana pun mereka hendak pergi. Dan bila saat-saat perpisahan itu datang, duh rasanya hati ini khawatir apakah service kita mengecewakan tamu tercinta.

    Demikian halnya saat ini. Kita sedang berada di gerbang seribu bulan. Bulan yang dimuliakan Allah. Bulan yang ibadah wajibnya dilipatkan Allah hingga 70 kali lipat dan ibadah sunnahnya disamakan dengan ibadah wajib di bulan lain. Bulan penuh berkah, rahmat dan pengampunan serta pembebasan dari nafsu dan belenggu syeitan. Bulan yang didalamnya terdapat sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Pertanyaannya sederhana saja: Apakah kita gembira, bahagia dan senang dengan kedatangan bulan ini? Apakah ada hubungannya kecintaan dan kebahagiaan kita menyambut Ramadhan dengan amalan kita di dalamnya? Apa yang telah kita siapkan untuk menyambutnya. Seberapa jauh kita siap dan mempersiapkan keluarga kita untuk menyambutnya?

    Pertanyaan berikutnya: Salah satu tujuan puasa Ramadhan adalah tercapainya ketaqwaaan. Kira-kira kita yang sudah berpuasa selama 10-20 tahunan… sejak kapan kita merasa telah mencapai target taqwa tersebut. Bila jawabannya ternyata belum, kita Insya Allah masih punya kesempatan untuk merealisasikannya tahun ini. Ya… insya Allah kita mampu, asal ada kekuatan azam dan niat yang kuat. Kesempatan untuk mengukir prestasi.

    Ada 4 golongan manusia dalam sikapnya menyambut Ramadhan.

    Pertama: mukmin yang sungguh-sungguh. Mereka menganggap bulan ini sebagai peluang untuk melejitkan prestasi di hadapan Allah. Orang seperti ini senantiasa merasakan detik-detik Ramadhan sangat berharga. Mereka selalu berada dalam ketaatan. Kalau tidak sedang shalat, baca Al-Qur’an, dzikir, saling menolong dan menasehati, memenuhi kebutuhan saudaranya, dsb. Tak ada waktu terlewat kecuali untuk sesuatu yang baik dan bermanfaat.

    Kedua: orang yang niatnya baik, tapi azamnya lemah. Orang ini berniat menargetkan berbuat sesuatu di bulan Ramadhan. Mereka punya tekad berbuat baik. Tapi karena azamnya lemah, maka hanya bertahan pada awal-awal bulan saja. Kemudian mereka makin tidak merasakan kehadiran tamu ini. Baik hanya di awalnya saja setelah itu ketahuan aslinya.

    Ketiga: orang yang biasa-biasa saja. Kedatangan Ramadhan tidak memberi bekas sama sekali. Kalau ibarat tamu, ia dicuekin.

    Keempat: orang yang tidak menyukai kedatangan Ramadhan. Mereka menganggap Ramadhan sebagai penghalang bagi mereka untuk memuaskan nafsu dan segala keinginan. Mereka dengan terpaksa menerima kedatangan tamu ini tapi sesungguhnya mereka membencinya dan tidak menghormati sama sekali. Mereka menentang penutupan sementara usaha hiburan malam dan bisnis esek-esek dengan alasan ekonomi dan hak asasi.

    Di golongan mana kita berada? Jangan sampai kita merugi sebagaimana sabda Rasulullah, “Rugi dan merana lah orang yang menjumpai Ramadhan sedang dosanya belum diampuni”. Para sahabat Rasul paham akan berharganya Ramadhan sehingga berharap sepanjang tahun menjadi bulan Ramadhan. Bagaimana dengan kita? Mari kita siapkan semua semua sumber daya, baik fisik, finansial, dan ilmu untuk menyambut kedatangan tamu agung ini sebelum kita menyesal!

    ***

    (Diambil dari artikel kiriman sdr. Oki)

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 2 July 2015 Permalink | Balas  

    Kepada Siapa Puasa itu Diwajibkan? 

    puasa 4Kepada Siapa Puasa itu Diwajibkan?

    Para ulama telah sepakat (ijma’) bahwa puasa itu wajib atas orang Islam yang berakal, baligh, sehat dan menetap (tidak sedang bepergian). Sedangkan seorang wanita hendaklah ia suci dari haidh dan nifas.

    Oleh sebab itu, tidak wajib puasa atas orang kafir, orang gila, anak-anak, orang sakit, musafir, perempuan yang sedang haidh dan nifas. Begitu pula orang tua, perempuan hamil atau yang sedang menyusui.

    Di antara mereka, ada yang tidak wajib berpuasa atasnya sama sekali, seperti orang kafir atau orang gila, ada pula yang diminta agar orang tuanya menyuruhnya berpuasa (mereka adalah anak-anak), ada yang diperbolehkan berbuka dan wajib mengqadha (orang sakit dan musafir), ada yang wajib berbuka dan wajib mengqadha (perempuan yang haidh dan nifas) dan ada yang diberi keringanan berbuka, tetapi diwajibkan membayar fidyah (orang yang sudah tua-renta, baik laki-laki maupun perempuan).

    Orang Kafir dan Orang Gila

    Puasa itu merupakan ibadah islamiyah, sehingga tidak wajib bagi orang-orang yang tidak beragama Islam. Orang gila tidak termasuk mukallaf, karena dia kehilangan akal yang menjadi tempat bergantungnya taklif. Rasulullah saw besabda, “Pena (beban taklif) itu diangkat dari tiga golongan, yaitu dari orang yang gila sampai akalnya sehat, dari orang tidur sampai ia bangun, dan dari anak kecil sampai ia baligh.” (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).

    Puasa Anak-Anak

    Mengenai anak-anak -walaupun mereka tidak wajib berpuasa- sepatutnya walinya menyuruhnya agar mereka mengerjakannya, supaya mereka dapat membiasakannya dari kecil, yakni selama anak itu dapat dan mampu. Diterima dari Rubaiyi’ binti Muawwidz bahwa Rasulullah saw -pada pagi hari ‘Asyura- mengirim utusan ke desa-desa kaum Anshar untuk menyampaikan:

    “Siapa yang telah berpuasa dari pagi hari hendaklah ia meneruskan puasanya, dan siapa yang dari pagi telah berbuka, hendaknya ia mempuasakan hari yang tersisa! Maka, setelah itu pun kami berpuasa, kami bawa mereka ke masjid, kami buatkan mereka semacam alat permainan dari bulu domba. Lalu, jika ada di antara mereka yang menangis karena minta makan, kami berikan kepadanya alat permainan itu. Demikianlah berlangsung sampai dekat waktu berbuka.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Orang yang Boleh Berbuka dan Wajib Membayar Fidyah

    Orang yang telah dimakan usia (tua-renta), baik laki-laki maupun perempuan, orang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya dan orang-orang yang mempunyai pekerjaan berat yang tidak mendapatkan pekerjaan lain diberi keringanan berbuka, yakni jika berpuasa itu akan memberatkan mereka sepanjang musim dalam tahun itu. Dan sebagai tebusannya mereka wajib memberi makan seorang miskin untuk setiap hari berpuasa. Sedangkan banyaknya makanan itu terdapat perselisihan di antara ulama -karena dalam Sunnah sendiri tidak disebutkan- tetapi ada yang mengatakan 1 mud untuk 1 hari tidak puasa dan 1 mud = 6 ons makanan pokok.

    Ibnu Abbas berkata, “Diberi keringanan kepada orang yang sudah lanjut usia untuk berbuka, untuk setiap harinya hendaklah ia memberikan makan seorang miskin dan ia tidak perlu mengqadha.”

    Bukhari meriwayatkan dari ‘Atha’ bahwa ia mendengar Ibnu Abbas ra membaca ayat, “Wa ‘alal Ladziina Yuthiquunahu Fidyatun Tha’amu Miskiinin”. (Bagi orang-orang yang sulit melakukan puasa, hendaklah membayar fidyah yaitu memberi makan seorang miskin.” (Al-Baqarah: 184)

    Ibnu Abbas berkata, “Ayat itu tidaklah dinasakh/dihapus. Maksudnya adalah bagi orang tua lanjut usia, baik laki-laki maupun wanita yang telah tidak sanggup berpuasa, hendaklah memberi makan seorang miskin untuk setiap hari mereka tidak berpuasa.”

    Begitu pula orang sakit yang tidak ada harapan sembuh lagi dan tidak kuat berpuasa, hukumnya sama dengan orang tua-renta, tidak ada bedanya. Demikian pula halnya kaum buruh yang bergulat dengan pekerjaan-pekerjaan yang berat.

    Orang yang Boleh Berbuka dan Wajib Mengqadha

    Orang sakit yang masih ada harapan kesembuhannya dan musafir dibolehkan bagi keduanya untuk berbuka dan wajib mengqadha. Allah SWT berfirman, “Siapa yang sakit di antara kalian atau dalam perjalanan, hendaklah ia mengqadha pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 184).

    Orang yang sehat yang takut akan jatuh sakit disebabkan berpuasa boleh berbuka seperti orang yang sakit. Demikian juga orang yang amat kelaparan atau kehausan hingga mungkin celaka (mati), hendaklah berbuka dan mengqadha, walaupun ia seorang yang sehat dan bukan musafir. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu bunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadapmu.” (An-Nisaa’: 29).

    “Tidaklah Allah menyebabkan timbulnya kesulitan bagimu dalam agama.” (Al-Hajj: 78).

    Dan seandainya orang sakit itu berpuasa dan rela menanggung penderitan, puasanya sah. Hanya saja, tindakannya itu makruh hukumnya, karena ia tak ingin menerima keringanan yang disukai Allah SWT dan siapa tahu mungkin ia dapat bahaya karenanya.

    Rukun Puasa

    Rukun puasa ada dua, dan keduanya merupakan unsur terpenting dari hakikat puasa itu. Kedua rukun tersebut adalah pertama, niat. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT, “Dan tiadalah mereka diperintah kecuali untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT dan mengikhlaskan agama kepada-Nya semata.” (Al-Bayyinah: 5).

    Dan, sabda Nabi saw, “Setiap perbuatan itu hanyalah dengan niat, dan setiap manusia akan memperoleh apa yang diniatkannya.”

    Niat tersebut hendaknya dilakukan sebelum terbitnya fajar (masuknya waktu subuh) pada tiap malam bulan Ramadhan, berdasarkan hadis Hafshah, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa tidak membulatkan niatnya untuk melakukan puasa sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.” (HR Ahmad dan Ashhabus Sunan serta dinyatakan sahih oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

    Niat itu sah pada salah satu saat di malam hari, dan tidak disyaratkan mengucapkannya, karena ia merupakan pekerjaan hati dan tidak ada sangkut-pautnya dengan lisan. Hakikat niat adalah menyengaja suatu perbuatan demi menaati perintah Allah SWT dalam mengharapkan keridhaan-Nya. Oleh karena itu, siapa saja yang makan sahur dengan maksud akan berpuasa dan dengan menahan diri ini bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, berarti ia telah berniat. Begitupun orang yang bertekad akan menghindari segala hal yang dapat membatalkan puasa di siang hari dengan ikhlas karena Allah SWT, juga berarti telah niat, walaupun ia tidak makan sahur.

    Kemudian, menurut kebanyakan fuqaha’, niat puasa tathawwu’ (puasa sunnah) itu cukup bila waktu siang, yakni jika seseorang belum lagi makan-minum. Aisyah berkata, “Pada suatu hari Rasulullah saw datang ke rumah, lalu Rasulullah bertanya, ‘Apakah ada makanan padamu’, Aisyah menjawab, ‘Tidak ada’, kemudian Rasul bersabda, ‘Kalau begitu, saya akan berpuasa’.” (HR Muslim dan Abu Daud).

    Sementara, golongan Hanafiah mensyaratkan bahwa niat itu hendaklah terjadi sebelum zawal atau tergelincirnya matahari. Pendapat seperti ini juga merupakan pendapat yang populer di antara kedua pendapat Imam Syafi’i. Akan tetapi, Ibnu Mas’ud dan Ahmad, menurut lahir ucapan mereka, niat itu tercapai, baik sebelum atau sesudah zawal, keduanya tidak ada bedanya.

    Kedua, menahan diri dari segala yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT, “Maka sekarang, boleh kamu mencampuri mereka, dan hendaklah kamu mengusahakan apa yang diwajibkan Allah atasmu, dan makan-minumlah hingga nyata garis putih dari garis hitam berupa fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam.” (Al-Baqarah: 187).

    Yang dimaksud dengan garis putih dan garis hitam adalah terangnya siang dan gelapnya malam. Hal tersebut berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa ‘Adi bin Hatim bercerita tatkala turun ayat yang artinya, “… hingga nyata benang putih dari benang hitam berupa fajar…”, saya ambil seutas tali hitam dengan seutas tali putih, lalu saya amat-amati di waktu malam, dan ternyata tidak dapat saya bedakan. Kemudian, pagi-pagi saya mendatangi Rasulullah saw dan saya menceritakan apa yang terjadi pada saya kepadanya, lalu Rasul bersabda, “Maksudnya adalah gelapnya malam dan terangnya siang.”

    ***

    Sumber: Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 2:07 am on 1 July 2015 Permalink | Balas  

    Shaum, Proses Menuju Sukses 

    Shaum, Proses Menuju Sukses

    Perintah shaum (puasa) dalam Alquran dikaitkan dengan kepastian target mencapai sukses, “… pasti kalian menjadi orang yang takwa.”(Al-Baqarah: 183). Allah SWT menempatkan kata tattaquun dalam bentuk aktif: sedang dan akan bertakwa. Hal ini menunjukkan bahwa untuk mencapai taqwa tsb harus melalui proses. Ketika Ramadhan tiba proses menuju pendewasaan ruhani mulai bergulir; kebiasaan ibadah meningkat, semangat berzikir, salat berjamaah, melaksanakan aktivitas-aktivitas, infak,shadaqah begitu kondusif. Membaca Alquran sampai khatam ditempuh dengan semangat membara. Inilah proses tercapainya derajat takwa yang akan membawa kepada kesuksesan.

    Pendidikan apakah yang diberikan Ramadhan untuk menuju sukses?

    1. Sabar

    Dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Huzaimah ditegaskan. “Bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan ganjaran kesabaran adalah surga.” Sabar adalah memilih nilai agama dan mengesampingkan hawa nafsu. Di saat tidur lelap kita bangun untuk sahur. Masih terasa kantuk segera mengambil air wudu untuk melaksanakan salat subuh dilanjutkan dengan ta’lim kuliyah subuh. Mata sayu karena kurang tidur, tubuh letih, tetapi dengan kesabarannya dijalani dengan penuh semangat.

    2. Ikhlas

    Kata ikhlas memiliki makna yang erat kaitannya dengan akidah, ialah melaksanakan aktivitas semata-mata mengharapkan keridhaan-Nya. Puasa di bulan Ramadhan hanya dapat dilaksanakan dengan ikhlas. Karena itu, orang melaksanakan puasa tidak karena riya, dalam puasa keutamaan mengharapkan keridhaan-Nya adalah segala-galanya.

    3. Ibadah

    Ibadah adalah penghambaan diri kepada Allah SWT, pelaksanaan ibadah di bulan Ramadhan begitu semangat dan indah. Demikianlah Ramadhan sarana terbaik dalam melaksanakan pembiasaan ibadah. Ibadah adalah panggilan ruhaniah menuju Ilahi.

    4. Ihsan

    Ihsan ialah berbuat baik yang diimplementasikan dengan sikap meyakini seluruh akitivitasnya disaksikan oleh Allah SWT. Orang yang puasa di bulan Ramadhan tidak akan mencuri-curi kesempatan untuk makan dan minum karena meyakini ada Allah yang mengawasi seluruh aktifitasnya.

    5. Istiqamah

    Istiqamah adalah teguh pendirian, disiplin, tidak tergoyahkan. Di antara ayat kauniyah yg menggambarkan istiqamah, digambarkan dengan ikan yang hidup di laut. Sekalipun air yang ada di laut rasanya asin, tetapi ikan itu tubuhnya tidak ikut asin. Mengapa? karena ikan itu memiliki ruh, karena ia hidup. Orang yang melaksanakan uasa di bulan Ramadhan dilatih untuk tidak tepengaruh oleh lingkungan yang buruk malah ikut mewarnai sekitarnya.

    ***

    (Diambil dari tulisan Nandang Koswara, Mp;, milis An-Nahl)

     
  • erva kurniawan 4:31 am on 30 June 2015 Permalink | Balas  

    Optimalisasi Ibadah di Bulan Puasa 

    Selamat-Berpuasa-Puasa-Ramadhan-1431-HOptimalisasi Ibadah di Bulan Puasa

    Mungkin Anda termasuk orang yang paling sering berjumpa bulan Ramadlan dan menjalankan ibadah puasa di dalamnya. Anda mungkin juga termasuk orang-orang yang selalu bergembira dengan datangnya bulan Ramadlan dan mengisi bulan itu dengan amalan-amalan wajib dan sunnah.

    Namun, apakah perjumpaan kita dengan bulan Ramadlan itu telah mengubah diri kita, atau minimal semakin meningkatkan kualitas ibadah kita di sisi Allah swt di bulan-bulan lainnya? Pada dasarnya, refleksi keberhasilan ibadah puasa kita di bulan Ramadlan tidak hanya dilihat pada bulan Ramadlan saja, akan tetapi juga harus bisa dirasakan pada bulan-bulan berikutnya.

    Atas dasar itu, ibadah puasa kita di bulan Ramadlan bisa optimal, sudah seharusnya kita memahami tujuan puasa Ramadlan.

    Tujuan puasa Ramadlan adalah membentuk individu-individu yang selalu bertaqwa kepada Allah swt. Allah swt telah berfirman, artinya:

    “Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana puasa itu telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” [Al-Baqarah:183]

    Seorang mufassir ternama, Imam Ibnu al-‘Arabiy, menjelaskan makna firman Allah swt, “la’allakum tattaquun” sebagai berikut:

    “Dalam menafsirkan frasa ini, para ‘ulama tafsir terbagi menjadi tiga pendapat.

    Pertama, ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “la’allakum tattaquun” adalah “la’allakum tattaquun maa hurrima ‘alaikum fi’luhu” {agar kalian terjaga dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan kepada kalian}.

    Kedua, ada yang berpendapat bahwa, “la’allakum tattaquun” bermakna “la’allakum tudl’ifuun fa tattaquun” [agar kalian menjadi lemah sehingga kalian menjadi bertaqwa]. Sebab, ketika seseorang itu sedikit makannya maka syahwatnya juga akan lemah, ketika syahwatnya melemah maka makshiyyatnya juga akan sedikit.”

    Ketiga, ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan firman Allah swt “la’allakum tattaquun”, adalah la’allakum tattaquun ma fa’ala man kaana qablakum” [agar kalian terjaga dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kalian {Yahudi dan Nashrani}.” [Imam Ibnu al-‘Arabiy, Ahkaam al-Quraan, juz I/108]

    Alangkah bagusnya jika pendapat-pendapat ahli tafsir di atas kita gabungkan. Artinya, gelar taqwa akan disandang oleh orang-orang yang mengerjakan ibadah puasa di bulan Ramadlan jika ia telah mampu: (1) menghindarkan diri dari perbuatan haram, (2) melemahkan hawa nafsunya, (3) tidak meniru-niru perbuatan-perbuatan orang-orang Yahudi dan Nashrani.

    Pertama, puasa yang selama ini kita lakukan harus mampu membentuk sikap untuk selalu membenci dan menjauhi perbuatan-perbuatan, perkataan-perkataan, atau prasangka-prasangka yang diharamkan Allah swt. Seandainya ia masih terbelenggu dengan amaliah-amaliah yang diharamkan Allah, dirinya akan bersungguh-sungguh (yang direfleksikan dengan tindakan konkret) untuk melepaskan diri dari belenggu-belenggu keharaman tersebut. Ia tidak akan rela hidup tanpa dicintai dan diridloi Allah swt. Jika dalam melakukan puasa ia bisa menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa, disiplin waktunya, memenuhi sunnah-sunnah dan keutamaannya, lalu mengapa untuk ibadah-ibadah yang lain ia tidak bisa seserius dan sedisiplin tatkala mengerjakan puasa?

    Kedua, puasa harusnya semakin membersihkan qalbu kita untuk selalu bersemangat dalam ibadah dan lemah dalam bermaksiat. Dengan puasa, syahwat (nafsu negatif) harusnya bisa dilemahkan sedangkan keinginan-keinginan baik semakin ditingkatkan. Jika kita masih memuja hawa nafsu dan melemahkan tuntunan agama yang baik, sungguh puasa kita belum mendapatkan hasil yang optimum.

    Ketiga, puasa harusnya bisa menghindarkan diri kita dari upaya-upaya meniru-niru pemikiran, adat-istiadat dan peradaban kaum kafir yang bertentangan dengan Islam. Lebih jauh lagi, puasa yang selama ini kita lakukan harus mampu menjadikan diri kita hanya ridlo untuk diatur hanya dengan aturan-aturan Allah swt, bukan dengan aturan-aturan produk Yahudi dan Nashrani.

    Sungguh, jika tiga hal ini telah kita pahami bersama, tentu ibadah puasa kita di bulan Ramadlan, dan ibadah-ibadah di bulan yang lain akan bermakna dan semakin optimal.

    Wallahu A’lam bi al-Shawab.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 29 June 2015 Permalink | Balas  

    Maaf lahir batin 

    maafMaaf lahir batin

    Istaqimuu

    Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Semua amal anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu, kecuali shaum. Maka sesungguhnya shaum itu semata-mata untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya (Hr. Bukhari Muslim).

    Pernahkan Anda melihat seekor ulat bulu? Bagi kebanyakan orang, ulat bulu memang menjijikkan bahkan menakutkan. Tapi tahukah Anda kalau masa hidup seekor ulat ini ternyata tidak lama. Pada saatnya nanti ia akan mengalami fase dimana ia harus masuk ke dalam kepompong selama beberapa hari.

    Setelah itu ia pun akan keluar dalam wujud lain: ia menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang sangat indah. Jika sudah berbentuk demikian, siapa yang tidak menyukai kupu-kupu dengan sayapnya yang beraneka hiasan indah alami? Sebagian orang bahkan mungkin mencari dan kemudian mengoleksinya sebagai hobi (hiasan) ataupun untuk keperluan ilmu pengetahuan.

    Semua proses itu memperlihatkan tanda-tanda Kemahabesaran Allah. Menandakan betapa teramat mudahnya bagi Allah Azza wa Jalla, mengubah segala sesuatu dari hal yang menjijikkan, buruk, dan tidak disukai, menjadi sesuatu yang indah dan membuat orang senang memandangnya.

    Semua itu berjalan melalui suatu proses perubahan yang sudah diatur dan aturannya pun ditentukan oleh Allah, baik dalam bentuk aturan atau hukum alam (sunnatullah) maupun berdasarkan hukum yang disyariatkan kepada manusia yakin Al Qur’an dan Al Hadits.

    Jika proses metamorfosa pada ulat ini diterjemahkan ke dalam kehidupan manusia, maka saat dimana manusia dapat menjelma menjadi insan yang jauh lebih indah, momen yang paling tepat untuk terlahir kembali adalah ketika memasuki Ramadhan. Bila kita masuk ke dalam ‘kepompong’ Ramadhan, lalu segala aktivitas kita cocok dengan ketentuan-ketentuan “metamorfosa” dari Allah, niscaya akan mendapatkan hasil yang mencengangkan yakni manusia yang berderajat muttaqin, yang memiliki akhlak yang indah dan mempesona.

    Inti dari Ibadah Ramadhan ternyata adalah melatih diri agar kita dapat menguasai hawa nafsu. Allah SWT berfirman, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya.” (QS. An Nazii’at [79] : 40 – 41).

    Selama ini mungkin kita merasa kesulitan dalam mengendalikan hawa nafsu. Kenapa? Karena selama ini pada diri kita terdapat pelatihan lain yang ikut membina hawa nafsu kita ke arah yang tidak disukai Allah. Siapakah pelatih itu? Dialah syetan laknatullah, yang sangat aktif mengarahkan hawa nafsu kita. Akan tetapi memang itulah tugas syetan.

    Apalagi seperti halnya hawa nafsu, syetan pun memiliki dimensi yang sama dengan hawa nafsu yakni kedua-duanya sama-sama tak terlihat. “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuhmu karena syetan itu hanya mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala,” demikian firman Allah dalam QS. Al Fathir [25] : 6).

    Akan tetapi kita bersyukur karena pada bulan Ramadhan ini Allah mengikat erat syetan terkutuk sehingga kita diberi kesempatan sepenuhnya untuk bisa melatih diri mengendalikan hawa nafsu kita. Karenanya kesempatan seperti ini tidak boleh kita sia-siakan. Ibadah shaum kita harus ditingkatkan.

    Tidak hanya shaum atau menahan diri dari hawa nafsu perut dan seksual saja akan tetapi juga semua anggota badan kita lainnya agar mau melaksanakan amalan yang disukai Allah. Jika hawa nafsu sudah bisa kita kendalikan, maka ketika syetan dipelas kembali, mereka sudah tunduk pada keinginan kita. Dengan demikian, hidup kita pun sepenuhnya dapat dijalani dengan hawa nafsu yang berada dalam keridhaan-Nya. Inilah pangkal kebahagiaan dunia akhirat.

    Hal lain yang paling utama harus kita jaga juga dalam bulan yang sarat dengan berkah ini adalah akhlak. Barang siapa membaguskan akhlaknya pada bulan Ramadhan, Allah akan menyelamatkan dia tatkala melewati shirah di mana banyak kaki tergelincir, demikianlah sabda Rasulullah SAW.

    Pada bulan Ramadhan ini, kita dianggap sebagai tamu Allah. Dan sebagai tuan rumah, Allah sangat mengetahui bagaimana cara memperlakukan tamu-tamunya dengan baik. Akan tetapi sesungguhnya Allah hanya akan memperlakukan kita dengan baik jika kita tahu adab dan bagaimana berakhlak sebagai tamu-Nya. Salah satunya yakni dengan menjaga shaum kita sesempurna mungkin. Tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga belaka tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh kita ikut shaum.

    Mari kita perbaiki segala kekurangan dan kelalaian akhlak kita sebagai tamu Allah, karena tidak mustahil Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan terakhir yang dijalani hidup kita, jangan sampai disia-siakan.

    Semoga Allah Yang Maha Menyaksikan senantiasa melimpahkan inayah-Nya sehingga setelah ‘kepompong’ Ramadhan ini kita masuki, kita kembali pada ke-fitri-an bagaikan bayi yang baru lahir. Sebagaimana seekor ulat bulu yang keluar menjadi seekor kupu-kupu yang teramat indah dan mempesona, amiin (pesanggrahanOnline)

    ***

    Marhaban yaa Ramadhan

    Marhaban yaa Syahrul Shabr.

     
    • cvnadagroup2017 1:57 am on 29 Juni 2015 Permalink

      minal aidin walfaidzin mohon maaf lahir dan bathin

  • erva kurniawan 4:59 am on 28 June 2015 Permalink | Balas  

    Puasa Ramadhan 

    normal_berbuka-puasa-021Puasa Ramadhan

    Puasa itu ada dua macam, puasa fardhu dan puasa tathawwu’ atau puasa sunnah. Puasa fardhu ada tiga macam, yaitu puasa Ramadhan, puasa Kaffarah dan puasa Nadzar.

    Puasa Ramadhan adalah salah satu kewajiban yang di bebankan oleh Allah SWT kepada kita. Ia merupakan rukun Islam yang keempat. Kewajiban tersebut ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian puasa Ramadhan sebagaimana diwajibkannya puasa itu kepada umat-umat yang terdahulu sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.” (Al-Baqarah: 183).

    Arti Puasa

    Puasa secara bahasa (Etimologi) berarti al-imsaak (menahan). Maksudnya menahan dari apa saja. Menahan dari bicara berarti puasa bicara, menahan dari tidur berarti puasa tidur, menahan dari makan dan minum berarti puasa makan dan minum, dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT di bawah ini:

    “Inni Nadzartu lirrahmaani Shauma” (sesungguhnya aku bernadzar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih untuk berpuasa). (Maryam: 26). Puasa di sini maksudnya menahan diri dari berbicara.

    Sedang menurut istilah ulama fiqh (terminologi), puasa berarti menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa disertai niat pada malam harinya, sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

    Keutamaan Puasa

    1. Puasa itu untuk Allah (sebagai penghargaan dari-Nya), bukan untuk manusia. Artinya Allah-lah yang langsung membalasnya.

    Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, Allah Azza wa Jalla berfirman (dalam hadis Qudsi-Nya), “Semua amalan manusia adalah untuk dirinya, kecuali puasa, maka itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberinya ganjaran Puasa itu merupakan benteng, maka ketika datang saat berpuasa, janganlah seorang berkata keji atau berteriak-teriak atau mencai-maki. Seandainya dia dicaci oleh seseorang atau diajak berkelahi, hendaknya dia menjawab, ‘saya ini berpuasa’ dua kali. Demi Allah yang jiwa raga Muhammad berada pada ‘tangan’-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum daripada bau minyak kesturi. Dan orang yang berpuasa itu akan mendapat dua kegembiraan yang menyenangkan hati, yaitu di saat berbuka, ia akan bergembira dengan berbuka itu dan di saat ia menemui Tuhannya nanti, ia akan bergembira dengan puasanya.” (HR Muslim, Nasa’i dan Ahmad).

    Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Puasa itu merupakan benteng. Maka jika salah seorang di antara kalian berpuasa, janganlah ia berkata keji dan mencaki-maki. Seandainya ada orang yang mengajaknya berkelahi atau mencaci-makinya, hendaklah ia berkata, ‘saya ini berpuasa’ dua kali. Demi Allah yang jiwa raga Muhammad berada pada tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari bau minyak kesturi. Ia meninggalkan makan dan minum dan nafsu syahwatnya karena Aku. Puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku akan memberinya pahala. Sedang setiap kebajikan itu akan mendapat pahala sepuluh kali lipat.” (HR Bukhari dan Abu Daud)

    2. Apabila puasa itu dilaksanakan dengan baik dan benar, ia akan bisa memberikan syafa’at kepada orang yang melakukannya.

    “Puasa dan Alquran itu akan memberi syafaat bagi hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, ‘Ya Tuhan, Engkau larang ia makan dan memuaskan syahwatnya di waktu siang dan sekarang ia meminta syafaat kepadaku karena itu’. Lalu Alquran pun berkata, ‘Engkau larang ia tidur di waktu malam, sekarang ia meminta syafaat kepadaku mengenai itu.’ Akhirnya, syafaat kedua mereka pun di terima oleh Allah SWT.” (HR Ahmad dengan sanad yang sahih).

    3. Puasa akan dapat memasukkan orang yang melakukannya ke sorga dan menjauhkannya dari neraka.

    Dari Abu Umamah berkata, saya datang kepada Rasulullah saw lalu saya berkata kepadanya, “Perintahlah aku dengan semacam amal yang akan dapat memasukkanku ke sorga”, maka Nabi saw bersabda: “Hendaklah kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada tandingannya”. Lalu aku datangi Nabi untuk kali keduanya, maka Nabi saw bersabda: “Hendaklah kamu berpuasa.” (HR Ahmad, Nasa’i dan Hakim seraya menshahihkannya).

    Dari Abu Sa’id al-Khudri ra, Nabi saw bersabda, “Tidaklah seorang hamba itu berpuasa satu hari karena Allah kecuali Allah mesti menjauhkan dirinya dari neraka sebab puasa itu selama tujuh puluh tahun.” (HR al-Jama’ah [sekelompok ulama hadis] kecuali Abu Daud).

    Dari Sahl bin Sa’d, Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya sorga itu mempunyai sebuah pintu yang disebut ‘ar-Rayyan’ (artinya basah yang melimpah). Pada hari Kiamat akan dipanggil-panggil: “Hai, mana orang-orang yang berpuasa?” Lalu bila orang yang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu itu pun ditutupkanlah.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Keutamaan Bulan Ramadhan

    1. Pintu-pintu sorga (jalan-jalan menuju kebaikan) dibuka, pintu-pintu neraka (jalan-jalan menuju amal jelek) ditutup dan syetan-syetan (provokator amal kejahatan) dibelenggu Allah SWT.

    Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda -yakni ketika datang bulan Ramadhan-, “Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah, Allah telah mewajibkan kamu berpuasa. Pada bulan itu pintu-pintu sorga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam yang nilainya lebih berharga daripada seribu bulan. Maka, barangsiapa tidak berhasil memperoleh kebaikannya, sungguh ia tidak akan mendapatkan kebaikan itu selama-lamanya.” (HR Ahmad, Nasa’i dan Baihaqi).

    2. Orang yang melakukan kebaikan di bulan itu diperintah berbahagia dan orang yang melakukan kejahatan di bulan itu diperintah berhenti.

    “…dan seorang malaikat akan berseru, ‘Wahai pencari kebaikan, bergembiralah. Wahai pecinta kejahatan, berhentilah.” (HR Ahmad dan Nasa’i dengan sanad yang baik).

    3. Puasa Ramadhan yang kita lakukan ini menjadi pelebur atas dosa -dosa yang telah kita lakukan dari satu Ramadhan ke Ramadhan yang lain.

    Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Salat yang lima waktu, Salat Jum’at yang satu ke salat Jum’at yang lain itu menghapuskan kesalahan-kesalahan yang terdapat di antara masing-masing selama dosa besar itu dijauhi.” (HR Muslim).

    4. Apabila puasa Ramadhan itu dilakukan dengan ikhlas, maka diampunilah semua dosa-dosanya yang telah lampau.

    Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan ridha Allah SWT, maka akan diampunilah dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR Ah Ahmad, dan Ashabus Sunan).

    Referensi:

    1. Fiqhus Sunnah, Sayyid sabiq

    2. Tamamul Minnah, Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:13 am on 27 June 2015 Permalink | Balas  

    Spiritualisme dan Materialisme. 

    puasa 4Spiritualisme dan Materialisme.

    Puasa Ramadhan hakekatnya adalah melatih dan mengajari naluri (instink) manusia yang cenderung tak terkontrol. Naluri yang sulit terkotrol dan terkendali itu adalah naluri perut yang selalu menuntut untuk makan dan minum dan naluri seks yang selalu bergelora sehingga manusia kewalahan untuk mengekang dua naluri ini. Dalam sejarah manusia didapatkan dua falsafah yang dapat menguasai dan mendominasi kebanyakan manusia, yakni falsafah materialisme yang berorientsi pada materi saja, dan falsafah spiritualisme yang hanya berorientasi pada rohaniah saja.

    Orang-orang yang berorientasi materi – terdiri dari orang-orang atheis, komunis dan animisme dan berhalaisme – mereka hidup untuk dunianya saja. Mereka melepaskan kenhendak nalurinya dan tak pernah puas. Bila terpenuhi satu keinginannya, timbul keinginan baru begitu seterusnya. Sahwat manusia bila sudah terbakar maka akan mengheret dari sedikit ke yang banyak, dari banyak ke yang terbanyak. Allah mengecam orang-orang seperti ini: “Biarkanlah mereka makan, dan bersenang-senang, mereka dilalaikan oleh angan-angan dan mereka akan mengetahui akibatnya”.(QS Al Hijr 3). Ayat lain: “Orang-orang kafir mereka bersenang-senang dan makan seperti binatang ternak makan. Dan neraka adalah tempat tinggalnya”.(QS Muhammad 12) Mereka hidup di dunia ini dalam keadaan kosong. Jiwanya dikuasai nafsunya, m enghalalkan segala cara, dan dihari kiamat nanti mereka mendapat balasan yang setimpal. “Demikian itu bersenang-senang di bumi tanpa haq dan mereka sombong”.(QS Ghofir 75)

    Sementara filsafat spiritualisme yang didasarkan pada kerahiban, berpandangan bahwa pengabdian kepada Tuhan harus menekan naluri seks mengikis habis pendorong-pendorongnya dan mematikannya yang juga diatasi dengan mengurangi makan. Dengan kata lain mereka masuk dalam kancah peperangan melawan jasad manusiawinya. Filsafat ini dilakukan oleh gereja sejak dahulu kala. Orang-orang Barat dewasaa ini melepaskan diri dari filsafat gereja, mereka menggunakan waktu dan harta kekayaannya untuk memenuhi sahwat jasmaninya. Filsafat spiritualismenya telah lenyap, bahkan gereja-gereja sudah tiada lagi pengunjungnya walaupun pada hari Minggu. Seandainya masih ada, itu hanya sekelompok minoritas yang hidup di dunia Islam.

    Agama Islam adalah agama yang seimbang. Ia menghormati rohani dan jasmani sekaligus, ia memperhatikan nilai-nilai ideal manusia, tapi juga menjamin kebutuhan hidup naluri duniawinya asal dalam ruang keutamaan, ketaatan, kehormatan. Ia membolehkan manusia makan dengan catatan dalam batas kewajaran dan kehormatan. “Makanlah dan minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan tidak diiringi kesombongan”.(HR Bikhari) Islam mengimbangkan antara ruhani dan jasmani. “Ya Allah, a ku berlindung kepadamu dari lapar, karena sesungguhnya seburuk- buruk tidur adalah dalam keadaan lapar. Dan aku berlindung kepadamu dari khianat, karena itu adalah seburuk-buruk suasana kejiwaan”.(HR Abu Daud) Islam memperhatikan kehidupan dunia dan akherat, “Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertaqwa: Apa yang Tuhan kalian turunkan? mereka berkata: ‘Keuntungan bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini dan akherat lebih baik, dan sebaik tempat bagi orang-orang yang bertaqwa”.(QS AN Nahl 30)

    Ajaran Islam datang untuk mensucikan manusia, mengangkat darjatnya, ia mensucikan fisikalnya dengan mandi dan berwudlu, mensucikan jiwanya denga ruku’ dan sujud. Islam adalah jasmani dan ruhani, dunia dan akherat dengan falsafah puasa. Islam menegaskan bahwa manusia terdiri dari jasmani dan ruhani. Nilai manusia tidak terletak pada jasadnya, akan tetapi terletak pada ruhani yang menggerakkannya. Kerena ruhani inilah, Allah memerintahkan pada malaikatnya untuk hormat kepada manusia, karena ruhani datangnya dari Allah swt. Firman Allah: “Ingatlah diwaktu Tuhanmu berkata kepada para malaiakat: “Aku menciptakan manusia dari tanah, dan setelah aku sempurnakan aku tiupkan kedalamnya ruh-Ku, maka hormatlah kalian kepadanya”.(QS ShAd 71-72) Setelah itu manusia ada yang mengenali siapa yang meniupkan ruh kapadanya dan yang memuliakannya atas seluruh makhluknya. Mereka itu akan bersyukkur kepada pemberi nikmat, sementara ada manusia-manusia yang melupakan Tuhannya, melupakan kepada dzat yang meniupkan ruh kepadanya.

    Demikian juga halnya kebudayaan. Kebudayaan yang memegang kendali alam sekarang ini telah melupakan Tuhannya, melalaikan haknya. Dunia ini tidak memiliki kebudayaan yang mengakui ruhani dan jasmani, berorientasi dunia dan akherat dan menentukan hak-hak manusia disamping hak-hak Allah -kebudayaan Islam-. Puasa Ramadhan sebagaimana Rasulullah jelaskan dapat mengangkat derajat pelakunya menjadi unsur rahmat, kedamaian, ketenangan, kesucian jiwa, aklaq mulia dan perilaku yang indah ditengah-tengah masyarakat. “Bila salah seorang dari kalian berpuasa maka hendaknya ia tidakberbicara buruk dan aib. dan jangan berbicara yang tiada manfaatnya dan bila dimaki seseorang maka berkatalah, ‘Aku berpuasa'”. (HR. Bukhori). Dalam bulan Ramadhan terdapat filsafat Islam yang mengaitkan dunia dengan akhirat, mengaitkan jasmani dan ruhani, mengaitkan bumi dengan langit, mengaitkan manusia dengan wahyu, dan mengaitkan dunia dengan kitab yang menerangi jalannya dan menetukan tujuannya

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:10 am on 26 June 2015 Permalink | Balas  

    Panduan Shalat ‘Iedul Fithri Dan ‘Iedul Adhha 

    jamaah3Panduan Shalat ‘Iedul Fithri Dan ‘Iedul Adhha

    1. Diriwayatkan dari Abu Said, ia berkata : Adalah Nabi saw. pada hari raya ‘iedul fitri dan ‘iedul adhha keluar ke mushalla (padang untuk shalat), maka pertama yang beliau kerjakan adalah shalat, kemudian setelah selesai beliau berdiri menghadap kepada manusia sedang manusia masih duduk tertib pada shof mereka, lalu beliau memberi nasihat dan wasiat (khutbah) apabila beliau hendak mengutus tentara atau ingin memerintahkan sesuatu yang telah beliau putuskan,beliau perintahkan setelah selesai beliu pergi. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    2. Telah berkata Jaabir ra: Saya menyaksikan shalat ‘ied bersama Nabi saw. beliau memulai shalat sebelum khutbah tanpa adzan dan tanpa iqamah, setelah selesai beliau berdiri bertekan atas Bilal, lalu memerintahkan manusia supaya bertaqwa kepada Allah, mendorong mereka untuk taat, menasihati manusia dan memperingakan mereka, setelah selesai beliau turun mendatangai shaf wanita dan selanjutnya beliau memperingatkan mereka. (H.R : Muslim)
    3. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Umar mendapati pakaian tebal dari sutera yang dijual, lalu beliau mengambilnya dan membawa kepada Rasulullah saw. lalu berkata : Yaa Rasulullah belilah pakaian ini dan berhiaslah dengannya untuk hari raya dan untuk menerima utusan. Maka beliaupun menjawab : Sesungguhnya pakaian ini adalah bagian orang-orang yang tidak punya bagian di akherat (yakni orang kafir). (H.R Bukhary dan Muslim)
    4. Diriwayatkan dari Ummu ‘Atiyah ra. ia berkata : Rasulullah saw. memerintahkan kami keluar pada ‘iedul fitri dan ‘iedul adhha semua gadis-gadis, wanita-wanita yang haidh, wanita-wanita yang tinggal dalam kamarnya. Adapun wanita yang sedang haidh mengasingkan diri dari mushalla tempat shalat ‘ied), mereka meyaksikan kebaikan dan mendengarkan da’wah kaum muslimin (mendengarkan khutbah). Saya berkata : Yaa Rasulullah bagaimana dengan kami yang tidak mempunyai jilbab? Beliau bersabda : Supaya saudaranya meminjamkan kepadanya dari jilbabnya. (H.R : Jama’ah)
    5. Diriwayatkan dariAnas bin Malik ra. ia berkata : Adalah Nabi saw. Tidak berangkat menuju mushalla kecuali beliau memakan beberapa biji kurma, dan beliau memakannya dalam jumlah bilangan ganjil. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    6. Diriwayatkan dari Buraidah ra. ia berkata : Adalah Nabi saw keluar untuk shalat ‘iedul fitri sehingga makan terlebih dahulu dan tidak makan pada shalat ‘iedul adhha sehingga beliau kembali dari shalat ‘ied. (H.R :Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan Ahmad)
    7. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : Bahwasanya Nabi saw. Keluar untuk shalat ‘iedul fitri dua raka’at, tidak shalat sunah sebelumnya dan tidak pula sesudahnya. (H.R : Bukhary dan Muslim)
    8. Diriwayatkan dari Jaabir ra. ia berkata : Adalah Nabi saw apabila keluar untuk shalat ‘ied ke mushalla, beliau menyelisihkan jalan (yakni waktu berangkat melalui satu jalan dan waktu kembali melalui jalan yang lain (H.R : Bukhary)
    9. Diriwayatkan dari Yazid bin Khumair Arrahbiyyi ra. ia berkata : Sesungguhnya Abdullah bin Busri seorang sahabat nabi saw. Keluar bersama manusia untuk shalat ‘iedul fitri atau ‘iedul adhha, maka beliau mengingkari keterlambatan imam, lalu berkata : Sesungguhnya kami dahulu (pada zaman Nabi saw.) pada jam-jam seperti ini sudah selesai mengerjakan shalat ‘ied. Pada waktu ia berkata demikian adalah pada shalat dhuha. (H.R : Abu Daud dan Ibnu Majah)
    10. Diriwayatkan dari Abi Umair bin Anas, diriwayatkan dari seorang pamannya dari golongan Anshar, ia berkata : Mereka berkata : Karena tertutup awan maka tidak terlihat oleh kami hilal syawal, maka pada pagi harinya kami masih tetap shaum, kemudian datanglah satu kafilah berkendaraan di akhir siang, mereka bersaksi dihadapan Rasulullah saw.bahwa mereka kemarin melihat hilal. Maka Rasulullah saw. memerintahkan semua manusia (ummat Islam) agar berbuka pada hari itu dan keluar menunaikan shalat ‘ied pada hari esoknya. (H.R : Lima kecuali At-Tirmidzi)
    11. Diriwayatkan dari Azzuhri, ia berkata : Adalah manusia (para sahabat) bertakbir pada hari raya ketika mereka keluar dari rumah-rumah mereka menuju tempat shalat ‘ied sampai mereka tiba di mushalla (tempat shalat ‘ied) dan terus bertakbir sampai imam datang, apabila imam telah datang, mereka diam dan apabila imam ber takbir maka merekapun ikut bertakbir. (H.R : Ibnu Abi Syaibah)
    12. Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud ra. bertakbir pada hari-hari tasyriq dengan lafadz sbb : (artinya) : Allah maha besar, Allah maha besar, tidak ada Illah melainkan Allah dan Allah maha besar, Allah maha besar dan bagiNya segala puji. (H.R Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih)
    13. Diriwayatkan dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari neneknya, ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw. bertakbir pada shalat ‘ied dua belas kali takbir. dalam raka’at pertama tujuh kali takbir dan pada raka’at yang kedua lima kali takbir dan tidak shalat sunnah sebelumnya dan juga sesudahnya. (H.R : Amad dan Ibnu Majah)
    14. Diriwayatkan dari Samuroh, ia berkata : Adalah Nabi saw. Dalam shalat kedua hari raya beliau membaca : Sabihisma Rabbikal A’la dan hal ataka haditsul ghosiah. (H.R : Ahmad)
    15. Diriwayatkan dari Abu Waqid Allaitsi, ia berkata : Umar bin Khaththab telah menanyakan kepadaku tentang apa yang dibaca oleh Nabi saw. Waktu shalat ‘ied . Aku menjawab : beliau membaca surat (Iqtarabatissa’ah) dan Qaaf walqur’anul majid). (H.R : Muslim)
    16. Diriwayatkan dari Zaid bin Arqom ra. ia berkata : Nabi saw. Mendirikan shalat ‘ied, kemudian beliau memberikan ruhkshah / kemudahan dalam menunaikan shalat jum’at, kemudian beliau bersabda : Barang siapa yang mau shalat jum’ah, maka kerjakanlah. (H.R : Imam yang lima kecuali At-Tirmidzi)
    17. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi saw. Bersabda pada hari kamu ini, telah berkumpul dua hari raya (hari jum’ah dan hari raya), maka barang siapa yang suka shalat jum’ah, maka shalatnya diberi pahala sedang kami akan melaksanakan shalat jum’ah. (H.R : Abu Daud)

    KESIMPULAN

    Hadits-hadits tersebut memberi pelajaran kepada kita tentang adab-adab shalat hari raya sbb :

    Pakaian

    Pada saat mendirikan shalat kedua hari raya disunnahkan memakai pakaian yang paling bagus. (dalil : 3)

    Makan

    a. Sebelum berangkat shalat hari raya fitri disunnahkan makan terlebih dahulu, jika terdapat beberapa butir kurma , jika tidak ada maka makanan apa saja.

    b. Sebaliknya pada hari raya ‘iedul adhha, disunnahkan tidak makan terlebih dahulu sampai selesai shalat ‘iedul adhha. (dalil : 5 dan 6)

    Mendengungkan takbir

    a. Pada hari raya ‘iedul fitri, takbir didengungkan sejak keluar dari rumah menuju ke tempat shalat dan sesampainya di tempat shalat terus dilanjutkan takbir didengungkan sampai shalat dimulai. (dalil : 11)

    b. Pada hari raya ‘iedul adhha, takbir boleh didengungkan sejak Shubuh hari Arafah (9 Dzul Hijjah) hingga akhir hari tasyriq (13 Dzul Hijjah). (dalil : 12)

    Jalan yang dilalui

    Disunnahkan membedakan jalan yang dilalui waktu berangkat shalat hari raya dengan jalan yang dilalui di waktu pulang dari shalat ‘ied (yakni waktu berangkat melalui satu jalan, sedang waktu pulang melalui jalan yang lain). (dalil : 8)

    Bila terlambat mengetahui tibanya hari raya

    Apabila datangnya berita tibanya hari raya sudah tengah hari atau petang hari, maka hari itu diwajibkan berbuka sedang pelaksanaan shalat hari raya dilakukan pada hari esoknya. dalil : 10)

    Yang menghadiri shalat ‘ied

    Shalat ‘ied disunnahkan untuk dihadiri oleh orang dewasa baik laki-laki maupun wanita, baik wanita yang suci dari haidh maupun wanita yang sedang haidh dan juga kanak-kanak baik laki-laki maupun wanita. Wanita yang sedang haidh tidak ikut shalat, tetapi hadir untuk mendengarkan khutbah ‘ied. (dalil :4)

    Tempat shalat ‘ied

    Shalat ‘ied lebih afdhal (utama) diadakan di mushalla yaitu suatu padang yang di sediakan untuk shalat ‘ied, kecuali ada uzur hujan maka shalat diadakan di masjid. Mengadakan shalat ‘ied di masjid padahal tidak ada hujan sementara lapangan (padang) tersedia, maka ini kurang afdhal karena menyelisihi amalan Rasulullah saw. yang selalu mengadakan shalat ‘ied di mushalla (padang tempat shalat), kecuali sekali dua kali beliau mengadakan di masjid karena hujan. (dalil : 1 dan 8)

    Cara shalat ‘ied

    a. Shalat ‘ied dua raka’at, tanpa adzan dan iqamah dan tanpa shalat sunnah sebelumnya dan sesudahnya. (dalil : 1,2 dan 7)

    b. Pada raka’at pertama setelah takbiratul ihram sebelum membaca Al-Fatihah, ditambah 7 kali takbir. Sedang pada raka’at yang kedua sebelum membaca Al-Fatihah dengan takbir lima kali. (dalil 13)

    c. Setelah membaca Fatihah pada raka’at pertama di sunnahkan membaca surat (sabihisma Rabbikal a’la / surat ke 87) atau surat iqtarabatissa’ah / surat ke 54). Dan setelah membaca alFatihah pada raka’at yang kedua disunnahkan membaca surat (Hal Ataka Haditsul Ghaasyiyah / surat ke 88) atau membaca surat (Qaaf walqur’anul majid / surat ke 50).(dalil : 15)

    d. Setelah selesai shalat , imam berdiri menghadap makmum dan berkhutbah memberi nasihat-nasihat dan wasiat-wasiat, atau perintah-perintah penting.

    e. Khutbah hari raya ini boleh diadakan khusus untuk laki-laki kemudian khusus untuk wanita.

    f. Khutbah hari raya ini tidak diselingi duduk .(dalil : 1 dan 2)

    Waktu shalat

    Shalat ‘ied diadakan setelah matahari naik, tetapi sebelum masuk waktu shalat dhuha. (dalil : 9)

    Hari raya jatuh pada hari jum’ah Bila hari raya jatuh pada hari jum’ah, maka shalat jum’ah menjadi sunnah, boleh diadakan dan boleh tidak, tetapi untuk pemuka umat atau imam masjid jami’ sebaiknya tetap mengadakan shalat jum’at. (dalil : 16 dan 17)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 5:02 am on 25 June 2015 Permalink | Balas  

    Panduan Mengeluarkan Zakat Fitrah 

    zakatPanduan Mengeluarkan Zakat Fitrah

    1. Diriwayatkan dari Ibnu Umar t.ia berkata : Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah dari bulan Ramadhan satu sha’ dari kurma, atau satu sha’ dari sya’iir. atas seorang hamba, seorang merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslilmin. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    2. Diriwayatkan dari Umar bin Nafi’ dari ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata ; Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari sya’iir atas seorang hamba, merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin dan beliau memerintahkan agar di tunaikan / dikeluarkan sebelum manusia keluar untuk shalat ‘ied. (H. R : Al-Bukhary, Abu Daud dan Nasa’i)
    3. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : Rasulullah saw telah memfardhukan zakat fithrah untuk membersihkan orang yang shaum dari perbuatan sia-sia dan dari perkataan keji dan untuk memberi makan orang miskin. Barang siapa yang mengeluarkannya sebelum shalat, maka ia berarti zakat yang di terima dan barang siapa yang mengeluarkannya sesudah shalat ‘ied, maka itu berarti shadaqah seperti shadaqah biasa (bukan zakat fithrah). (H.R : Abu Daud, Ibnu Majah dan Daaruquthni)
    4. Diriwayatkan dari Hisyam bin urwah dari ayahnya dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. bersabda : Tangan di atas (memberi dan menolong) lebih baik daripada tangan di bawah (meminta-minta), mulailah orang yang menjadi tanggunganmu (keluarga dll) dan sebaik-baik shadaqah adalah yang di keluarkan dari kelebihan kekayaan (yang di perlukan oleh keluarga) (H.R : Al-Bukhary dan Ahmad)
    5. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Rasulullah sw. memerintahkan untuk mengeluarkan zakat fithrah unutk anak kecil, orang dewasa, orang merdeka dan hamba sahaya dari orang yang kamu sediakan makanan mereka (tanggunganmu). (H.R : Daaruquthni, hadits hasan)
    6. Artinya : Diriwayatkan dari Nafi’ t. berkata : Adalah Ibnu Umar menyerahkan (zakat fithrah) kepada mereka yang menerimanya (panitia penerima zakat fithrah / amil) dan mereka (para sahabat) menyerahkan zakat fithrah sehari atau dua hari sebelum ‘iedil fitri. (H.R.Al-Bukhary)
    7. Diriwayatkan dari Nafi’ : Bahwa sesungguhnya Abdullah bin Umar menyuruh orang mengeluarkan zakat fithrah kepada petugas yang kepadanya zakat fithrah di kumpulkan (amil) dua hari atau tiga hari sebelum hari raya fitri. (H.R: Malik)

    KESIMPULAN

    Hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa :

    1. Wajib bagi tiap kaum muslimin untuk mengeluarkan zakat fithrah untuk dirinya , keluarganya dan orang lain yang menjadi tanggungannya baik orang dewasa, anak kecil, laki-laki maupun wanita. (dalil : 1,2 dan 5)
    2. Yang wajib mengeluarkan zakat fithrah adalah yang mempunyai kelebihan dari keperluan untuk dirinya dan keluarganya. (dalil : 4)
    3. Sasaran zakat fithrah adalah dibagikan kepada kaum miskin dari kalangan kaum muslimin. (dalil : 3)
    4. Zakat fithrah dikeluarkan dari makanan pokok (di negeri kita adalah beras) sebanyak lebih kurang 3,1 liter untuk seorang. (dalil : 1 dan 2)
    5. Cara menyerahkan zakat fithrah adalah sebagai berikut :

    a. Bila diserahkan langsung kepada yang berhak (fakir miskin muslim) waktu penyerahannya adalah sebelum shalat ‘ied yakni malam hari raya atau setelah shalat Shubuh sebelum shalat ‘iedul fitri. (dalil : 2 dan 3)

    b. Bila diserahkan kepada amil zakat fithrah (orang yang bertugas mengumpulkan zakat fithrah), boleh diserahkan tiga,dua atau satu hari sebelum hari raya ‘iedul fitri. (dalil : 6 dan 7)

    1. Zakat fithrah disyari’atkan untuk membersihkan pelaksanaan shaum Ramadhan dari perbuatan sia-sia dan perkataan keji di waktu shaum. (dalil : 3)

    ***

    Dari Sahabat

     
    • cvnadagroup2017 6:01 am on 25 Juni 2015 Permalink

      good pos

  • erva kurniawan 11:02 am on 24 June 2015 Permalink | Balas  

    Panduan I’tikaf Ramadhan 

    itikaf2Panduan I’tikaf Ramadhan

    Diantara rangkaian ibadah-ibadah dalam bulan suci Ramadhan yang dangat dipelihara sekaligus diperintahkan (dianjurkan ) oleh Rasulullah SAW adalah i’tikaf. setiap muslim dianjurkan (disunnatkan) untuk beri’tikaf di masjid, terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. I’tikaf merupakan sarana meditasi dan kontemplasi yang sangat efektif bagi muslim dalam memelihara keislamannya khususnya dalam era globalisasi, materialisasi dan informasi kontemporer.

    Definisi I’tikaf

    Para ulama mendefinisikan i’tikaf yaitu berdiam atau tinggal di masjid dengan adab-adab tertentu, pada masa tertentu dengan niat ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT . Ibnu Hazm berkata: I’tikaf adalah berdiam di masjid dengan niat taqorrub kepada Allah SWT pada waktu tertentu pada siang atau malam hari. ( al Muhalla V/179)

    Hukum I’tikaf

    Para ulama telah berijma’ bahwa i’tikaf khususnya 10 hari terakhir bulan Ramadhan merupakan suatu ibadah yang disyariatkan dan disunnatkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sendiri senantiasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari. A’isyah, Ibnu Umar dan Anas ra meriwayatkan: “Adalah Rasulullah SAW beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan ” HR. Bukhori & Muslim) Hal ini dilakukan oleh beliau hingga wafat, kecuali pada tahun wafatnya beliau beri’tikaf selama 20 hari. Demikian halnya para shahabat dan istri beliau senantiasa melaksanakan ibadah yang amat agung ini. Imam Ahmad berkata: ” Sepengetahuan saya tak seorang pun ulama mengatakan i’tikaf bukan sunnat”.

    Fadhilah ( keutamaan ) I’tikaf

    Abu Daud pernah bertanya kepada Imam Ahmad: Tahukan anda hadits yang menunjukkan keutamaan I’tikaf? Ahmad menjawab : tidak kecuali hadits lemah. Namun demikian tidaklah mengurangi nilai ibadah I’tikaf itu sendiri sebagai taqorrub kepada Allah SWT. Dan cukuplah keuatamaanya bahwa Rasulullah SAW, para shahabat, para istri Rasulullah SAW dan para ulama’ salafus sholeh senantiasa melakukan ibadah ini.

    Macam-macam I’tikaf

    I’tikaf yang disyariatkan ada dua macam; satu sunnah, dan dua wajib. I’tikaf sunnah yaitu yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk bertaqorrub kepada Allah SWT seperti i’tikaf 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dan I’tikaf yang wajib yaitu yang didahului dengan nadzar (janji), seperti : “Kalau Allah SWT menyembuhkan sakitku ini, maka aku akan beri’tikaf.

    Waktu I’tikaf

    Untuk i’tikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinadzarkan , sedangkan i’tikaf sunnah tidak ada batasan waktu tertentu. Kapan saja pada malam atau siang hari, waktunya bisa lama dan juga bisa singkat. Ya’la bin Umayyah berkata: ” Sesungguhnya aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk i’tikaf”.

    Syarat-syarat I’tikaf

    Orang yang i’tikaf harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut : 1. Muslim.

    2. Berakal

    3. Suci dari janabah ( junub), haidh dan nifas.

    Oleh karena itu i’tikaf tidak diperbolehkan bagi orang kafir, anak yang belum mumaiyiz (mampu membedakan), orang junub, wanita haidh dan nifas.

    Rukun-rukun I’tikaf

    1. Niat (QS. Al Bayyinah : 5), (HR: Bukhori & Muslim tentang niat)

    2. Berdiam di masjid (QS. Al Baqoroh : 187)

    Disini ada dua pendapat ulama tentang masjid tempat i’tikaf . Sebagian ulama membolehkan i’tikaf disetiap masjid yang dipakai shalat berjama’ah lima waktu. Hal itu dalam rangka menghindari seringnya keluar masjid dan untuk menjaga pelaksanaan shalat jama’ah setiap waktu. Ulama lain mensyaratkan agar i’tikaf itu dilaksanakan di masjid yang dipakai buat shalat jum’at, sehingga orang yang i’tikaf tidak perlu meninggalkan tempat i’tikafnya menuju masjid lain untuk shalat jum’at. Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafi’iyah bahwa yang afdhol yaitu i’tikaf di masjid jami’, karena Rasulullah SAW i’tikaf di masjid jami’. Lebih afdhol di tiga masjid; masjid al-Haram, masjij Nabawi, dan masjid Aqsho.

    Awal dan akhir I’tikaf

    Khusus i’tikaf Ramadhan waktunya dimulai sebelum terbenam matahari malam ke 21. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : ” Barangsiapa yang ingin i’tikaf dengan ku, hendaklah ia beri’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan (HR. Bukhori). 10 (sepuluh) disini adalah jumlah malam, sedangkan malam pertama dari sepuluh itu adalah malam ke 21 atau 20. Adapun waktu keluarnya atau berakhirnya, kalau i’tikaf dilakukan 10 malam terakhir, yaitu setelah terbenam matahari, hari terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi beberapa kalangan ulama mengatakan yang lebih mustahab (disenangi) adalah menuggu sampai shalat ied.

    Hal-hal yang disunnahkan waktu i’tikaf

    Disunnahkan agar orang yang i’tikaf memperbanyak ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT , seperti shalat, membaca al-Qur’an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat kepada Nabi SAW, do’a dan sebagainya. Termasuk juga didalamnya pengajian, ceramah, ta’lim, diskusi ilmiah, tela’ah buku tafsir, hadits, siroh dan sebagainya. Namun demikian yang menjadi prioritas utama adalah ibadah-ibadah mahdhah. Bahkan sebagian ulama meninggalkan segala aktifitas ilmiah lainnya dan berkonsentrasi penuh pada ibadah-ibadah mahdhah.

    Hal-hal yang diperbolehkan bagi mu’takif (orang yang beri’tikaf)

    1. Keluar dari tempat i’tikaf untuk mengantar istri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW terhadap istrinya Shofiyah ra. (HR. Riwayat Bukhori Muslim)

    2. Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan bau badan.

    3. Keluar dari tempat keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan kecil, makan, minum (jika tidak ada yang mengantarkannya), dan segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di masjid. Tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluanya .

    4. Makan, minum, dan tidur di masjid dengan senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.

    Hal-hal yang membatalkan I’tikaf

    1. Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan, meski sebentar, karena meninggalkan salah satu rukun i’tikaf yaitu berdiam di masjid.

    2. Murtad ( keluar dari agama Islam ) (QS. 39: 65

    3. Hilangnya akal, karena gila atau mabuk

    4. Haidh

    5. Nifas

    6. Berjima’ (bersetubuh dengan istri) (QS. 2: 187). Akan tetapi memegang tanpa syahwat, tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan istri- istrinya.

    7. Pergi shalat jum’at ( bagi mereka yang membolehkan i’tikaf di mushalla yang tidak dipakai shalat jum’at)

    I’tikaf bagi Muslimah

    I’tkaf disunnahkan bagi wanita sebagaimana disunnahkan bagi pria. Selain syarat-syarat yang disebutkan tadi, i’tikaf bagi kaum wanita harus memenuhi syarat-syarat lain sbb:

    1. Mendapat izin (ridlo) suami atau orang tua. Hal itu disebabkan karena ketinggian hak suami bagi istri yang wajib ditaati, dan juga dalam rangka menghindari fitnah yang mungkin terjadi.

    2. Agar tempat i’tikaf wanita memenuhi kriteria syari’at.

    Kita telah mengetahui bahwa salah satu rukun atau syarat i’tikaf adalah masjid. Untuk kaum wanita, ulama sedikit berbeda pendapat tentang masjid yang dapat dipakai wanita beri’tikaf. Tetapi yang lebih afdhol- wallahu ‘alam- ialah tempat shalat di rumahnya. Oleh karena bagi wanita tempat shalat dirumahnya lebih afdhol dari masjid wilayahnya. Dan masjid di wilayahnya lebih afdhol dari masjid raya. Selain itu lebih seiring dengan tujuan umum syari’at Islamiyah, untuk menghindarkan wanita semaksimal mungkin dari tempat keramaian kaum pria, seperti tempat ibadah di masjid. Itulah sebabnya wanita tidak diwajibkan shalat jum’at dan shalat jama’ah di masjid. Dan seandainya ke masjid ia harus berada di belakang. Kalau demikian, maka i’tikaf yang justru membutuhkan waktu lama di masjid , seperti tidur, makan, minum, dan sebagainya lebih dipertimbangkan. Ini tidak berarti i’tikaf bagi wanita tidak diperboleh di masjid. Wanita bisa saja i’tikaf di masjid dan bahkan lebih afdhol apabila masjid tersebut menempel dengan rumahnya, jama’ahnya hanya wanita, terdapat tempat buang air dan kamar mandi khusus dan sebagainya. Wallahu ‘alam.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 23 June 2015 Permalink | Balas  

    Panduan Menggapai Lailatul Qodar 

    malam lailatul qodrPanduan Menggapai Lailatul Qodar

    Muqadimah

    Sesudah disyariatkannya ibadah shaum, dan agar umat Islam dapat merealisasikan nilai taqwa, Allah SWT melengkapi nikmat-Nya dengan memberikan adanya “Lailat al qodr”. Allah berfirman : ” Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada ” Lailat al qodr”. Tahukah kalian apakah ” Lailat al qodr” ?. Itulah malam yang lebih utama dari pada seribu bulan” (QS. Al Qodr : 1-3)

    Keutamaan Lailat al Qodr

    Ayat yang dikutip di atas jelas menunjukkan nilai utama dari ” Lailat al qodr”. Mengomentari ayat di atas Anas bin Malik ra menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan keutamaan disitu adalah bahwa amal ibadah seperti shalat, tilawah al-Qur’an, dan dzikir serta amal sosial (seperti shodaqoh dana zakat), yang dilakukan pada malam itu lebih baik dibandingkan amal serupa selama seribu bulan (tentu di luar malam lailat al qodr sendiri). Dalam riwayat lain Anas bin Malik juga menyampaikan keterangan Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya Allah mengkaruniakan ” Lailat al qodr” untuk umatku, dan tidak memberikannya kepada umat-umat sebelumnya.

    Sementara berkenaan dengan ayat 4 surat al qodr, Abdullah bin Abbas ra menyampaikan sabda Rasulullah bahwa pada saat terjadinya lailat al qodr, para malaikat turun kebumi menghampiri hamba-hamba Allah yang sedang qiyam al lail, atau melakukan dzikir, para malaikat mengucapkan salam kepada mereka. Pada malam itu pintu-pintu langit dibuka, dan Allah menerima taubat dari para hambaNya yang bertaubat. Dalam riwayat Abu Hurairah ra, seperti dilaporkan oleh Bukhori, Muslim dan al Baihaqi, Rasulullah SAW juga pernah menyampaikan , “barangsiapa melakukan qiyam ( shalat malam) pada lailat al qodr, atas dasar iman serta semata-mata mencari keridloan Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang pernah dilakukannya”. Demikian banyaknya keutamaan lailat al qodr, sehingga Ibnu Abi Syaibah pernah menyampaikan ungkapan al Hasan al Bashri, katanya : ” Saya tidak pernah tahu adanya hari atau malam yang lebih utama dari malam yang lainnya, kecuali ‘ Lailat al qodr’, karena lailat al qodr lebih utama dari (amalan) seribu bulan”.

    Hukum “Menggapai” Lailat al Qodr.

    Memperhatikan pada arahan (taujih) Rasulullah SAW, serta contoh yang beliau tampilkan dalam upaya “menggapai” lailat al qodr, dalam hal ini misalnya Umar pernah menyampaikan sabda Rasulullah SAW : ” Barangsiapa mencari lailat al qodr, hendaknya ia mencarinya pada malam kedua puluh tujuh” (HR. Ahmad). Maka para ulama’ berkesimpulan bahwa berupaya menggapai lailat al qodr hukumnya sunnah. IV. Kapankah terjadinya Lailat al Qodr Sesuai dengan firman Allah pada awal surat Al Qodr, serta pada ayat 185 surat Al Baqoroh, dan hadits Rasulullah SAW. Maka para ulama’ bersepakat bahwa ” Lailat al qodr” terjadi pada malam bulan Ramadhan. Bahkan seperti diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Abu Dzar, dan Abu Hurairah, lailat al qodr bukannya sekali terjadi pada masa Rasulullah SAW saja, malainkan ia terus berlangsung pada setiap bulan Ramadhan untuk mashlahat umat Muhammad, sampai terjadinya hari qiyamat. Adapun tentang penentuan kapan persis terjadinya lailat al qodr, para ulama berbeda pendapat disebabkan beragamnya informasi hadits Rasulullah, serta pemahaman para shahabat tentang hal tersebut. Sebagaimana tersebut dibawah ini :

    1. Lailat al qodr terjadi pada malam 17 Ramadhan, malam diturunkannya Al Qur’an. Hal ini disampaikan oleh Zaid bin Arqom, dan Abdullah bin Zubair ra. (HR. Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi dan Bukhori dalam tarikh).

    2. Lailat al qodr terjadi pada malam-malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Diriwayatkan oleh Aisyah dari sabda Rasululah SAW: “Carilah lailat al qodr pada malam-malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan” (HR. Bukhori, Muslim dan Baihaqi)

    3. Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 21 Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Abi Said al Khudri yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim.

    4. Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 23 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Abdullah bin Unais al Juhany, seperti dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim.

    5. Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 27 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Ibnu Umar, seperti dikutip oleh Ahmad. Dan seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, bahwa Umar bin al Khoththob, Hudzaifah serta sekumpulan besar shahabat, yakin bahwa lailat al qodr terjadi pada malam 27 bulan Ramadhan. Rasulullah SAW seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, juga pernah menyampaikan kepada shahabat yang telah tua dan lemah tak mampu qiyam berlama-lama dan meminta nasehat kepada beliau kapan ia bisa mendapatkan lailat al qodr, Rasulullah SAW kemudian menasehati agar ia mencarinya pada malam ke 27 bulan Ramadhan (HR. Thabroni dan Baihaqi).

    6. Seperti difahami dari riwayat Ibnu Umar dan Abi Bakrah yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim, terjadinya lailat al qodr mungkin berpindah-pindah pada malam-malam ganjil sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sesuai dengan informasi terakhir ini, dan karena langka dan pentingnya lailat al qodr, maka selayaknya setiap muslim berupaya selalu mendapatkan lailat al qodr pada sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

    Tanda-tanda terjadinya Lailat al qodr

    Seperti diriwayatkan Oleh Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: ” Pada saat terjadinya lailat al qodr itu, malam terasa jernih, terang, tenang, cuaca sejuk tidak terasa panas tidak juga dingin. Dan pada pagi harinya matahari terbit dengan jernih terang benderang tanpa tertutup sesuatu awan”.

    Apa yang perlu dilakukan pada lailat al qodr dan agar dapat menggapai lailat al qodr

    1. Lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua bentuk ibadah pada hari-hari Ramadhan, menjauhkan diri dari semua hal yang dapat mengurangi keseriusan beribadah pada hari-hari itu. Dalam peribadatan ini juga dengan mengikutsertakan keluarga. Hal itulah yang dahulu dicontohkan Rasulullah SAW.

    2. Melakukan i’tikaf dengan berupaya sekuat tenaga. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. 3. Melakukan qiyamu al lail berjama’ah, sampai dengan rekaat terakhir yang dilakukan imam, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzar ra.

    4. Memperbanyak do’a memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah dengan lafal : “Allahumma innaka ‘afuwun tuhibul afwa fa’fu ‘anni”. Hal inilah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada Aisyah ra ketika beliau bertanya : ‘ wahai Rasulullah, bila aku ketahui kedatangan lailat al qodr, apa yang mesti aku ucapkan”? (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

    Menggapai ” Lailat al qodr” bagi Muslimah

    Sebagaimana tersirat dari dialog Rasulullah SAW dengan Aisyah, istri beliau itu, maka mudah disimpulkan bahwa kaum muslimah-pun disyari’atkan dan diperbolehkan menggapai lailat al qodr . Dengan melakukan maksimalisasi ibadah yang memang diperbolehkan untuk dilakukan seorang muslimah. VIII. Khotimah Demikian panduan ringkas ini, mudah-mudahan pada bulan Ramadhan tahun ini Allah memperkenankan kita meraih ” Lailat al qodr”, malam yang utama dari 1000 bulan alias 83 tahun itu.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 9:31 am on 22 June 2015 Permalink | Balas  

    Panduan Shalat dan Shaum dalam Bepergian 

    Selamat-Berpuasa-Puasa-Ramadhan-1431-HPanduan Shalat dan Shaum dalam Bepergian

    Hukum-hukum yang berkaitan dengan safar (perjalanan) ialah mengkoshor shalat, menjama’ shalat, menyapu sepatu saat wadhu’ selama tiga hari, berbuka di bulan Ramadhan, boleh tidak shalat jam’at dan sunnat ‘ied, shalat di atas kendaraan dan tayammum. Dalam kesempatan ini – insya Allah – akan dikemukakan lebih lanjut tentang ketentuan shalat dan shaum dalam safar, yang sekaligus menegaskan bahwa bahkan dalam keadaan safar (bepergian)pun Islam memberikan panduan agar umat selalu selamat dan sejahtera.

    Shalat Dalam Safar

    Berkenaan dengan shalat, illah (sebab) adanya perjalanan membolehkan hal-hal berikut :

    1. Mengqoshor (memendekkan) shalat:

    a Pada dasarnya qoshor merupakan keringanan (rukhshoh) bagi orang yang bepergian (musafir), jika bukan untuk tujuan maksiat. Manyoritas ulama’ berkesimupulan bahwa qoshor adalah afdhol. Sebagaimana sunnah dan kebiasaan Rasulullah SAW kemudian para shahabat beliau. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Ibnu Umar Rasulullah SAW katanya: ” Aku sering menyertai Rasulullah SAW dan beliau menunaikan shalat yang asalnya empat rekaat menjadi dua rekaat, demikian pula Abu Bakar, Umar dan Ustman Rasulullah SAW.

    b. Jarak perjalanan yang membolehkan qoshor adalah yang menurut ukuran urf di zamannya dan dikatagorikan safar atau bepergiaan/ melakukan perjalanan.

    c. Persyaratan teknis melaksanakan qoshor, dikemukakan fuqoha’ sebagai berikut :

    1) Bukan safar untuk maksiat, menurut mayoritas ulama’.

    2) Mempunyai tujuan tempat tertentu dalam jarak qoshor

    3) Telah keluar rumah dan wilayah dimana ia tinggal

    4) Tidak berniat untuk tinggal menetap di tempat ia mengqoshor

    5) Tidak menjadi makmun bagi imam yang tidak mengqoshor

    6) Niat qoshor saat takbirotul ikhrom .

    2. Menjama’ (mengumpulkan) shalat

    Menjama’ shalat dhuhur dengan ashar atau naghrib dengan isya’ dibolehkan dalam safar, baik dengan jama’ taqdim (didahulukan) maupun jama’ ta’khir (diakhirkan). Asal sudah berniat untuk safar boleh menjama’ taqdim menjelang keberangkatan tanpa keluar rumah terlebih dahulu. Sedang untuk jama’ ta’khir diharuskan berniat sejak tibanya waktu shalat pertama. Sesudah adzan untuk tiap shalat dilakukan iqomah (qomat) masing-masing. Dan antara kedua shalat yang dijama’ tidak diselingi dengan shalat sunnat.

    3. Menjama’ dan mengqoshor shalat

    Selain kedua hal diatas dan disebabkan oleh alasan-alasan yang sama, syari’at Islam juga membolehkan adanya jama’ dan qoshor sekaligus, baik secara taqdim maupun ta’khir, yaitu dengan menjama’ qoshor antara shalat dhuhur dengan ashar, masing-masing dua reka’at dan menjama’ qoshor antara shalat maghrib (tetap 3 reka’at) dengan isya’ dua rekaat.

    4. Shalat di atas kendaraan

    Jika tiba waktu shalat sedang di atas kendaraan dan tidak memungkinkan untuk berhenti dulu, maka boleh menunaikan shalat di atas kendaraan dengan tetap menghadap qiblat, minimal saat takbirotul ikhrom jika untuk sampai selesai shalat tidak memungkinkan. Dan jika sejak awal sudah tidak memungkinkan menghadap qiblat, boleh menunaikannya sesuai dengan arah kendaraan. Dan boleh sambil duduk jika tidak memungkinkan melaksanakannya sambil berdiri. Diriwayatkan dari Maemun bin Mahron dari Ibnu Umar RA.katanya: ” Aku bertanya kepada Rasulullah SAW bagaimana caranya shalat di atas kapal laut? jawab beliau : “Shalatlah berdiri kecuali jika dikhawatirkan akan tenggelam ( karena oleng). Riwayat ad Daraquthni menurut syarat Bukhori dan Muslim.Asy Syaukani berkomentar: Diqiyaskan atas khawatir tenggelam, adanya udzur atau kesulitan lainnya termasuk kesulitan menghadap ke arah qiblat.

    Shaum Dalam Safar

    1. Safar (bepergian) termasuk kondisi yang membolehkan ifthor atau berbuka, artinya boleh tidak menunaikan shaum meski hukumnya wajib, seperti shaum Ramadhan, shaum nadzar, dan kafarot. Sekalipun tetap ada ketentuan untuk mengganti (mengqodho’) di waktu lain. Dalil syar’i yang mengaturnya; Al-Qur’an suarat Allah SWT Baqoroh : 185: “… Maka barangsiapa yang sakit atau dalam safar, (jika berbuka) maka hendaklah menggantinya pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kamu sekalian dan tidak menghendaki kesulitan… “.

    2. Ukuran safar yang populer dikalangan ulama’ adalah pada jarak perjalanan yang boleh mengqoshor shalat. Dan jika memperhatikan isyarat ayat, bahwa ” Allah menghendaki kemudahan bagi kamu sekalian dan tidak menghendaki kesulitan”, dapat difahami bahwa keringan (rukhshoh) dibolehkannya berbuka saat safar agar tidak terjadi kondisi yang menyulitkan ( al usr) atau memberatkan (al masyaqqoh). Sebagaimana yang difahami oleh ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi’iyah.

    3. Dengan mempertimbangkan (mura’at) terjadi tidaknya masyaqqoh, maka shaum dalam safar dapat dibedakan sebagai berikut:

    a. Shaum lebih utama (afdhol) dari pada berbuka: Bagi orang yang kuat menjalaninya tanpa suatu masyaqqoh. Demikian pendapat jumhurul ulama’ sesuai dengan taujih ayat : ” …. Dan bahwa kamu sekalian melaksanakan shaum adalah lebih baik jika kamu sekalian mengetahui nilai keutamaannya” ( QS:2:184)

    Shaum lebih baik walaupun terasa sedikit berat, jika untuk mengqodho’nya akan terasa berat. Demikian difatwakan oleh Umar bin Abdul Aziz. Shaum lebih utama bagi yang sudah biasa dan rutin bepergian relatif jauh tanpa merasakan adanya rasa berat (masyaqqoh). Dalam soal masyaqqoh, kecuali fisik yang harus dipertimbangkan, tapi kondisi ruhiyah atau kejiwaan lebih menentukan. Adalah para shahabat Rasulullah SAW biasa tetap menjalani shaum walaupun dalam keadaan perang, tanpa merasakan adanya masyaqqoh yang berarti.

    b. Berbuka lebih baik: Bagi orang yang kuat shaum tapi dikhawatirkan terganggu dengan rasa ujub (bangga) atau riya’. Sebagaimana difatwakan oleh Ibnu Umar RA. Imam Bukhori meriwayatkan hadits dari shahabat Anas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada mereka yang berbuka ketika melayani mereka yang shaum: ” Orang-orang yang berbuka hari ini meraih pahala”.

    Demikian pula berbuka lebih baik bagi orang yang belum pernah mengambil rukhshoh (keringanan ini). Sebagaimana kesimpulan Asy Syaukani tentang hadits riwayat Muslim dan an Nasa’i bahwa shahabat Hamzah bin Amr as Aslami berkata kepada Rasulullah SAW : ya Rasulullah saya kuat menjalankan shaum dalam safar bolehkah saya lakukan ? jawab beliau : ” Ini merupakan rukhshoh dari Allah ta’ala, siapa yang mengambilnya adalah baik dan siapa yang ingin shaum tidak apa-apa”.

    Berbuka adalah afdhol bahkan shaum menjadi makruh, bagi yang memaksakan shaum diperjalanan yang terdapat masyaqqoh. Dalam kontek ini Rasulullah SAW bersabda tentang musafir yang tetap shaum dalam kepayahan sehingga dikerumuni dan diteduhi orang banyak: ” Tidak merupakan kebaikan (al birr) as shaum dalam safar “. Demikian Imam Bukhori menyimpulkan. Bebrbuka dalam safar lebih baik jika akan lebih kuat untuk mengadapi musuh dalam jihad.

    Bahkan berbuka menjadi wajib hukumnya apabila panglima jihad memerintahkan untuk berbuka demi kepentingan jihad

    Dalam kajian fiqhiyah, ulama’ menyimpulkan sejumlah persyaratan untuk mengambil rukhshoh ifthor (berbuka) dalam safar. Yaitu :

    a. Merupakan perjalanan yang halal atau mubah, bukan safar untuk tujuan maksiat

    b. Perjalanan relatif jauh menurut ukuran zamannya

    c. Tidak memulai perjalanan dalam keadaan shaum agar tidak sampai membatalkan amal ibadah yang sudah dimulai.

    Bukan merupakan perjalanan yang biasa dan rutin (seperti perjalanan supir) kecuali jika terjadi masyaqqoh. Para ulama’ cenderung bahwa untuk pengamalan sendiri memilih yang afdhol dan yang ahwath (lebih berhati-hati) dari pilihan yang ada. Wallahu ta’ala ‘alam.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:30 am on 21 June 2015 Permalink | Balas  

    Fiqih Shaum Bagi Muslimah 

    ramadhan8Fiqih Shaum Bagi Muslimah

    Muqoddimah

    Dalam surat Al-Baqoroh : 183, Allah SWT memerintahkan umat Islam melaksanakan shiyam, untuk mencapai derajat taqwa. Perintah ini adalah umum, baik untuk pria maupun wanita. Tetapi dalam perincian pelaksanaan shiyam, ada beberapa hukum khusus bagi wanita. Hal ini terjadi karena perbedaan fithrah yang ada pada wanita yang tidak dimiliki oleh pria. Dalam kajian ini- insya Allah- akan dibahas hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita secara khusus.

    Panduan Umum

    1. Wanita sebagaimana pria disyari’atkan memanfaatkan bulan suci ini untuk hal-hal yang bermanfaat, dan memperbanyak menggunakan waktu untuk beribadah. Seperti memperbanyak bacaan Al-Qur’an, dzikir, do’a, shodaqoh dan lain sebagainya, karena pada bulan ini amal sholeh dilipatgandakan pahalanya.
    2. Mengajarkan kepada anak-anaknya akan nilai bulan Ramadhan bagi umat Islam, dan membiasakan mereka berpuasa secara bertahap (tadarruj), serta menerangkan hukum-hukum puasa yang bisa mereka cerna sesuai dengan tingkat kefahaman yang mereka miliki.
    3. Tidak mengabiskan waktu hanya di dapur, dengan membuat berbagai variasi makanan untuk berbuka. Memang wanita perlu menyiapkan makanan, tetapi jangan sampai hal itu menguras seluruh waktunya, karena ia juga dituntut untuk mengisi waktunya dengan beribadah dan bertaqorrub kepada Allah.
    4. Melaksanakan shalat pada waktunya (awal waktu) III. Hukum Berpuasa bagi Muslimah Berdasarkan umumnya firman Allah SWT (QS. Al-Baqoroh: 183) serta hadits Rasulullah SAW (HR.Bukhori & Muslim), maka para ulama’ ber-ijma’ bahwa hukum puasa bagi muslimah adalah wajib, apabila memenuhi syarat-syarat; antara lain: Islam, akil baligh, muqim, dan tidak ada hal-hal yang menghalangi untuk berpuasa.

    Wanita Shalat Tarawih, I’tikaf dan Lailat al Qodr

    Wanita diperbolehkan untuk melaksanakan shalat tarawih di masjid jika aman dari fitnah. Rasulullah SAW bersabda: ” Janganlah kalian melarang wanita untuk mengunjungi masjid-masjid Allah ” (HR. Bukhori). Prilaku ini juga dalakukan oleh para salafush shaleh. Namun demikian, wanita diharuskan untuk berhijab (memakai busana muslimah), tidak mengeraskan suaranya, tidak menampakkan perhiasan- perhiasannya, tidak memakai angi-wangian, dan keluar dengan izin (ridlo) suami atau orang tua. Shof wanita berada dibelakang shof pria, dan sebaik-baik shof wanita adalah shof yang di belakang (HR. Muslim). Tetapi jika ia ke masjid hanya untuk shalat, tidak untuk yang lainnya, seperti mendengarkan pengajian, mendengarkan bacaan Al-Qur’an (yang dialunkan dengan baik), maka shalat di rumahnya adalah lebih afdlol. Wanita juga diperbolehkan melakukan i’tikaf baik di masjid rumahnya maupun di masjid yang lain bila tidak menimbulkan fitnah, dan dengan mendapatkan izin suami, dan sebaiknya masjid yang dipakai i’tikaf menempel atau sangat berdekatan dengan rumahnya serta terdapat fasilitas khusus bagi wanita. Disamping itu wanita juga di perbolehkan menggapai ‘lailat al qodr’, sebagaimana hal tersebut dicontohkan Rasulullah SAW dengan sebagian isteri beliau. (Lebih lanjut lihat panduan tentang i’tikaf dan lailat al qodr).

    Wanita Haidh dan Nifas

    Shiyam dalam kondisi ini hukumnya haram. Apabila haid atau nifas keluar meski sesaat sebelum maghrib, ia wajib membatalkan puasanya dan mengqodo’nya (mengganti) pada waktu yang lain. Apabila ia suci pada siang hari, maka untuk hari itu ia tidak boleh berpuasa, sebab pada pagi harinya ia tidak dalam keadaan suci. Apabila ia suci pada malam hari Ramadhan meskipun sesaat sebelum fajar, maka puasa pada hari itu wajib atasnya, walaupun ia mandi setelah terbit fajar.

    Wanita Hamil dan Menyusui

    1. Jika wanita hamil itu takut akan keselamatan kandungannya, ia boleh berbuka.
    2. Apabila kekhawatiran ini terbukti dengan pemeriksaan secara medis dari dua dokter yang terpercaya, berbuka untuk ibu ini hukumnya wajib, demi keselamatan janin yang ada dikandungannya.
    3. Apabila ibu hamil atau menyusui khawatir akan kesehatan dirinya, bukan kesehatan anak atau janin, mayoritas ulama’ membolehkan ia berbuka, dan ia hanya wajib mengqodo’ (mengganti) puasanya. Dalam keadaan ini ia laksana orang sakit.
    4. Apabila ibu hamil atau menyusui khawatir akan keselamatan janin atau anaknya (setelah para ulama’ sepakat bahwa sang ibu boleh berbuka), mereka berbeda pendapat dalam hal: Apakah ia hanya wajib mengqodo’ ? atau hanya wajib membayar fidyah (memberi makan orang miskin setiap hari sejumlah hari yang ia tinggalkan) ? atau kedua-duanya qodho’ dan fidyah (memberi makan):
    5. Ibnu Umar dan Ibnu Abbas membolehkan hanya dengan memberi makan orang miskin setiap hari sejumlah hari yang ditinggalkan.
    6. Mayoritas ulama’ mewajibkan hanya mengqodho’.
    7. Sebagian yang lain mewajibkan kedua-duanya; qodho’ dan fidyah.
    8. DR. Yusuf Qordhowi dalam Fatawa Mu’ashiroh mengatakan bahwa ia cenderung kepada pendapat yang mengatakan cukup untuk membanyar fidyah (memberi makan orang setiap hari), bagi wanita yang tidak henti-hentinya hamil dan menyusui. Tahun ini hamil, tahun berikutnya menyusui, kemudian hamil dan menyusui, dan seterusnya, sehingga ia tidak mendapatkan kesempatan untuk mengqodho’ puasanya. Lanjut DR. Yusuf al-Qordlowi; apabila kita membebani dengan mengqodho’ puasa yang tertinggal, berarti ia harus berbuasa beberapa tahun berturut-turut sertelah itu, dan itu sangat memberatkan , sedangkan Allah tidak menghendaki kesulitan bagi hambaNya.

    Wanita yang Berusia lanjut

    Apabila puasa membuatnya sakit, maka dalam kondisi ini ia boleh tidak berpuasa. Secara umum, orang yang sudah berusia lanjut tidak bisa diharapkan untuk melaksanakan (mengqodho’) puasa pada tahun-tahun berikutnya, karena itu ia hanya wajib membayar fidyah (memberi makan orang miskin).

    Wanita dan Tablet Pengentas Haidh

    Syekh Ibnu Utsaimin menfatwakan bahwa penggunaan obat tersebut tidak dianjurkan. Bahkan bisa berakibat tidak baik bagi kesehatan wanita. Karena haid adalah hal yang telah ditakdirkan bagi wanita, dan kaum wanita di masa Rasulullah SAW tidak pernah membebani diri mereka untuk melakukan hal tersebut. Namun apabila ada yang melakukan, bagaimana hukumnya ?. Jawabnya: – Apabila darah benar-benar terhenti, puasanya sah dan tidak diperintahkan untuk mengulang. – Tetapi apabila ia ragu, apakah darah benar-benar berhenti atau tidak,maka hukumnya seperti wanita haid, ia tidak boleh melakukan puasa. ( Masa’il ash Shiyam h. 63 & Jami’u Ahkam an Nisa’ 2/393)

    Mencicipi Masakan

    Wanita yang bekerja di dapur mungkin khawatir akan masakan yang diolahnya pada bulan puasa, karena ia tidak dapat merasakan apakah masakan tersebut keasinan atau tidak atau yang lain-lainnya. Maka bolehkah ia mencicipi masakannya ?. Para ulama’ memfatwakan tidak mengapa wanita mencicipi rasa masakannya, asal sekedarnya dan tidak sampai di tenggorokan, dalam hal ini diqiyaskan dengan berkumur. (Jami’u Ahkam an Nisa’).

    Khotimah

    Demikian panduan ringkas ini, semoga para wanita muslimah dapat memaksimalkan diri beribadah selama bulan Ramadhan tahun ini, untuk meraih nilai taqwa.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 9:16 am on 20 June 2015 Permalink | Balas  

    Fiqih Shaum 

    ramadan-2012Fiqih Shaum

    Cara Menetapkan Awal Dan Akhir Bulan

    1. “Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. beliau berkata : Manusia sama melihat Hilal (bulan sabit), maka akupun mengabarkan hal itu kepada Rasululullah saw. Saya katakan : sesungguhnya saya telah melihat Hilal. Maka beliau saw. shaum dan memerintahkan semua orang agar shaum.” (H.R Abu Dawud, Al-Hakim dan Ibnu Hibban).(Hadits Shahih).
    2. “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Mulailah shaum karena melihat ru’yah dan berbukalah (akhirilah shaum Ramadhan) dengan melihat ru’yah. Apabila awan menutupi pandanganmu, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban selama Tiga Puluh hari. “(HR. Bukhary Muslim).
    3. KESIMPULAN

    a. Menetapkan awal dan akhir bulan Ramadhan dengan melihat ru’yah, meskipun bersumber dari laporan seseorang, yag penting adil (dapat dipercaya).

    b. Jika bulan sabit (Hilal) tidak terlihat karena tertutup awan, misalnya, maka bilangan bulan Sya’ban digenapkan menjadi Tiga Puluh hari. (dalil 1 dan 2).

    c. Pada dasarnya ru’yah y ang dilihat oleh penduduk di suatu negara, berlaku untuk seluruh dunia. Hal ini akan berlaku jika Khilafah ‘ Ala Minhaajinnabiy sudah tegak (dalil 2).

    4. Selama khilafah belum tegak, untuk menghindarkan meluasnya perbedaan pendapat ummat Islam tentang hal ini, sebaiknya ummat Islam mengikuti ru’yah yag nampak di negeri masing-masing. (ini hanya pendapat sebagian ulama).

    Rukun Shaum

    1. “… dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah shaum itu sampai alam…(AL-Baqarah : 187).
    2. “Adiy bin Hatim berkata : Ketika turun ayat ; artinya (…hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam…), lalu aku mengambil seutas benang hitam dan seutas benanag putih, lalu kedua utas benang itu akau simpan dibawah bantalku. Maka pada waktu malam saya amati, tetapi tidak tampak jelas, maka saya pergi menemui Rasulullah saw. dan saya ceritakan hal ini kepada beliau. Beliapun bersabda: Yang dimaksud adalah gelapnya malam dan terangnya siang (fajar). ” (H.R. Bukhary Muslim).
    3. “Allah Ta’ala berfirman : ” Dan tidaklah mereka disuruh, kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlashkan ketaatan untukNya ” Al-Bayyinah :5)
    4. “Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat, dan setiap orang mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkan.” H.R Bukhary dan Muslim).
    5. “Diriwayatkan dari Hafshah , ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. : Barangsiapa yang tidak beniat (shaum Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada shaum baginya .” (HR. Abu Dawud) Hadits Shahih.
    6. KESIMPULAN:

    Keterangan ayat dan hadit di atas memberi pelajaran kepada kita bahawa rukun shaum Ramadhan adalah sebagai – berikut :

    a.Berniat sejak malam hari (dalil 3,4 dan 5).

    b. Menahan makan, minum koitus (Jima’) dengan istri di siang hari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari (Maghrib), (dalil 1 dan 2).

    Yang Diwajibkan Shaum Ramadhan.

    1. “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian untuk shaum, sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa. ” (Al-Baqarah : 183)
    2. “Diriwayatkan dari Ali ra., ia berkata : Sesungguhnya nabi saw telah bersabda : telah diangkat pena (kewajiban syar’i/ taklif) dari tiga golongan . – Dari orang gila sehingga dia sembuh – dari orang tidur sehingga bangun – dari anak-anak sampai ia ia bermimpi / dewasa.” (H.R.Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).
    3. KESIMPULAN: Keterangan di atas mengajarkan kepada kita bahwa : yang diwajibkan shaum Ramadhan adalah: setiap orang beriman baik lelaki maupun wanita yang sudah baligh/dewasa dan sehat akal /sadar.

    Yang Dilarang Shaum

    1. “Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia berkata : Disaat kami haidh di masa Rasulullah saw, kami dilarang shaum dan diperintahkan mengqadhanya, dan kami tidak diperintah mengqadha Shalat “(H.R Bukhary Muslim).
    2. KESIMPULAN: Keterangan di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa wanita yang sedang haidh dilarang shaum sampai habis masa haidhnya, lalu melanjutkan shaumnya. Di luar Ramadhan ia wajib mengqadha shaum yag ditinggalkannya selama dalam haidh.

    Yang Diberi Kelonggaran Untuk Tidak Shaum Ramadhan

    1. “(Masa yang diwajibkan kamu shaum itu ialah) bulan Ramadhan yang padanya diturunkan Al-Qur’an, menjadi pertunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan pertunjuk, dan (menjelaskan) antara yang haq dengan yang bathil. Karenanya, siapa saja dari antara kamu yang menyaksikan anak bulan Ramadhan (atau mengetahuinya), maka hendaklah ia shaum di bulan itu; dan siapa saja yang sakit atau dalam musafir maka (bolehlah ia berbuka, kemudian wajiblah ia shaum) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Dengan ketetapan yang demikian itu) Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan, dan Ia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran. Dan juga supaya kamu cukupkan bilangan shaum (sebulan Ramadhan), dan supaya kamu membesarkan Allah karena mendapat pertunjukNya, dan supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqarah :185.)
    2. “Diriwayatkan dari Mu’adz , ia berkata : Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan atas nabi untuk shaum, maka DIA turunkan ayat (dalam surat AL-Baqarah : 183-184), maka pada saat itu barangsiapa mau shaum dan barangsiapa mau memberi makan seorang miskin, keduanya diterima. Kemudian Allah menurunkan ayat lain (AL-Baqarah : 185), maka ditetapkanlah kewajiban shaum bagi setiap orang yang mukim dan sehat dan diberi rukhsah keringanan) untuk orang yang sakit dan bermusafir dan ditetapkan cukup memberi makan orang misikin bagi oran yang sudah sangat tua dan tidak mampu shaum. ” (HR. Ahmad, Abu Dawud, AL-Baihaqi dengan sanad shahih).
    3. “Diriwayatkan dari Hamzah Al-Islamy : Wahai Rasulullah, aku dapati bahwa diriku kuat untuk shaum dalam safar, berdosakah saya? Maka beliau bersabda : hal itu adalah merupakan kemurahan dari Allah Ta’ala, maka barangsiapa yang menggunakannya maka itu suatu kebaikan dan barangsiapa yang lebih suka untuk terus shaum maka tidak ada dosa baginya ” (H.R.Muslim)
    4. “Diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudry ra. ia berkata : Kami bepergian bersama Rasulullah saw. ke Makkah, sedang kami dalam keadaan shaum. Selanjutnya ia berkata : Kami berhenti di suatu tempat. Maka Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya kamu sekalian sudah berada ditempat yang dekat dengan musuh kalian, dan berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu. Ini merupakan rukhsah, maka diantara kami ada yang masih shaum dan ada juga yang berbuka. Kemudian kami berhenti di tempat lain. Maka beliau juga bersabda: Sesungguhnya besoak kamu akan bertemu musuh, berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu sekalian,maka berbukalah. Maka ini merupakan kemestian, kamipun semuanya berbuka. Selanjutnya bila kami bepergian beserta Rasulullah saw. kami shaum .” (H.R Ahmad, Muslim dan Abu Dawud).
    5. “Diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudry ra. ia berkata : Pada suatu hari kami pergi berperang beserta Rasulullah saw. di bulan Ramadhan. Diantara kami ada yang shaum dan diantara kami ada yang berbuka . Yang shaum tidak mencela yang berbuka ,dan yang berbuka tidak mencela yang shaum. Mereka berpendapat bahwa siapa yang mendapati dirinya ada kekuatan lalu shaum, hal itu adalah baik dan barangsiapa yang mendapati dirinya lemah lalu berbuka,maka hal ini juga baik ” (HR. Ahmad dan Muslim)
    6. “Dari Jabir bin Abdullah : Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pergi menuju ke Makkah pada waktu fathu Makkah, beliau shaum sampai ke Kurraa?il Ghamiim dan semua manusia yang menyertai beliau juga shaum. Lalu dilaporkan kepada beliau bahwa manusia yang menyertai beliau merasa berat , tetapi mereka tetap shaum karena mereka melihat apa yang tuan amalkan (shaum). Maka beliau meminta segelas air lalu diminumnya. Sedang manusia melihat beliau, lalu sebagian berbuka dan sebagian lainnya tetap shaum. Kemudian sampai ke telinga beliau bahwa masih ada yang nekad untuk shaum. Maka beliaupun bersabda : mereka itu adalah durhaka. “(HR.Tirmidzy)
    7. “Ucapan Ibnu Abbas : wanita yang hamil dan wanita yang menyusui apabila khawatir atas kesehatan anak-anak mereka, maka boleh tidak shaum dan cukup membayar fidyah memberi makan orang miskin ” (Riwayat Abu Dawud). Shahih
    8. “Diriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu Umar: Bahwa sesungguhnya istrinya bertanya kepadanya (tentang shaum Ramadhan), sedang ia dalam keadaan hamil. Maka ia menjawab : Berbukalah dan berilah makan sehari seorang miskin dan tidak usah mengqadha shaum .” (Riwayat Baihaqi) Shahih.
    9. “Diriwayatkan dari Sa’id bin Abi ‘Urwah dari Ibnu Abbas beliau berkata : Apabila seorang wanita hamil khawatir akan kesehatan dirinya dan wanita yang menyusui khawatir akan kesehatan anaknya jika shaum Ramadhan. Belberkata : Keduanya boleh berbuka (tidak shaum)dan harus memberi makan sehari seorang miskin dan tidak perlu mengqadha shaum” (HR.Ath-Thabari dengan sanad shahih di atas syarat Muslim , kitab AL-irwa jilid IV hal 19).
    10. KESIMPULAN: Pelajaran yang dapat diambil dari keterangan di atas adalah :

    1) Orang Mu’min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak shaum Ramadhan, tetapi wajib mengqadha di bulan lain, mereka itu ialah : a) Orang sakit yang masih ada harapan sembuh.

    b) Orang yang bepergian (Musafir).

    Musafir yang merasa kuat boleh meneruskan shaum dalam safarnya, tetapi yang merasa lemah dan berat lebih baik berbuka, dan makruh memaksakan diri untuk shaum.

    2) Orang Mu’min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak mengerjakan shaum dan tidak wajib mengqadha, tetapi wajib fidyah (memberi makan sehari seorang miskin). Mereka adalah orang yang tidak lagi mampu mengerjakan shaum karena :

    a). Umurnya sangat tua dan lemah.

    b). Wanita yang menyusui dan khawatir akan kesehatan anaknya.

    c). Karena mengandung dan khawatir akan kesehatan dirinya.

    d). Sakit menahun yang tidak ada harapan sembuh.

    e). Orang yang sehari-hari kerjanya berat yang tidak mungkin mampu dikerjakan sambil shaum, dan tidak mendapat pekerjaan lain yang ringan. dalil 2,7,8 dan 9).

    Hal-Hal Yang Membatalkan Shaum

    1. “…dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam (fajar), kemudian sempurnakanlah shaum itu sampai malam…” Al-Baqarah : 187).
    2. “Dari Abu Hurairah ra.: bahwa sesungguhnya nabi saw. telah bersabda : Barangsiapa yang terlupa, sedang dia dalam keadaan shaum, kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan shaumnya. Hal itu karena sesungguhnya Allah hendak memberinya karunia makan dan minum ” (Hadits Shahih, riwayat Al-Jama’ah kecuali An-Nasai).
    3. Dari Abu Hurairah ra. bahwa sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Barang siapa yang muntah dengan tidak sengaja, padahal ia sedang shaum – maka tidak wajib qadha (shaumnya tetap sah), sedang barang siapa yang berusaha sehinggga muntah dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqadha (shaumnya batal). (H.R : Abu Daud dan At-Tirmidziy)
    4. Diriwayatkan dari Aisyah ra ia berkata : Disaat kami berhaidh (datang bulan) dimasa Rasulullah saw. kami dilarang shaum dan diperintah untuk mengqadhanya dan kami tidak diperintah untuk mengqadha shalat. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    5. Diriwayatkan dari Hafshah, ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. Barang siapa yang tidak berniat untuk shaum (Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada shaum baginya. (H.R : Abu Daud) hadits shahih.
    6. Telah bersabda Rasulullah saw: Bahwa sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat ……… (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    7. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Sesungguhnya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah saya terlanjur menyetubuhi istri saya (di siang hari) padahal saya dalam keadaan shaum Ramadhan), maka Rasulullah saw. bersabda : Punyakah kamu seorang budak untuk dimerdekakan? Ia menjawab : Tidak. Rasulullah saw bersabda : Mampukah kamu shaum dua bulan berturut-turut? Lelaki itu menjawab : Tidak. Beliau bersabda lagi : Punyakah kamu persediaan makanan untuk memberi makan enam puluh orang miskin? Lelaki itu menjawab : Tidak. Lalu beliau diam, maka ketika kami dalam keadaan semacam itu, Rasulullah datang dengan membawa satu keranjang kurma, lalu bertanya : dimana orang yang bertanya tadi? ambilah kurma ini dan shadaqahkan dia. Maka orang tersebut bertanya : Apakah kepada orang yang lebih miskin dari padaku ya Rasulullah? Demi Allah tidak ada diantara sudut-sudutnya (Madinah) keluarga yang lebih miskin daripada keluargaku. Maka Nabi saw. lalu tertawa sampai terlihat gigi serinya kemudian bersabda : Ambillah untuk memberi makan keluargamu. (H.R : Al-Bukhary dasn Muslim)
    8. KESIMPULAN

    Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas menerangkan kepada kita bahwa hal-hal yang dapat membatalkan shaum (Ramadhan) ialah sbb :

    a. Sengaja makan dan minum di siang hari. Bila terlupa makan dan minum di siang hari, maka tidak membatalkan shaum. (dalil : 2)

    b. Sengaja membikin muntah, bila muntah dengan tidak disengajakan, maka tidak membatalkan shaum. (dalil : 3)

    c. Pada siang hari terdetik niat untuk berbuka. (dalil : 5 dan 6)

    d. Dengan sengaja menyetubuhi istri di siang hari Ramadhan, ini disamping shaumnya batal ia terkena hukum yang berupa : memerdekakan seorang hamba, bila tidak mampu maka shaum dua bulan berturut-turut, dan bila tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin.(dalil : 7)

    e. Datang bulan di siang hari Ramadhan (sebelum waktu masuk aghrib).(dalil : 4)

    Hal-Hal Yang Boleh Dikerjakan Waktu Ibadah Shaum.

    1. Diriwayatkan dari Aisyah ra Bahwa sesungguhnya Nabi saw. dalam keadaan junub sampai waktu Shubuh sedang beliau sedang dalam keadaan shaum, kemudian mandi. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    2. Diriwayatkan dari Abi Bakar bin Abdurrahman, dari sebagian sahabat-sahabat Nabi saw. ia berkata kepadanya : Dan sungguh telah saya lihat Rasulullah saw. menyiram air di atas kepala beliau padahal beliau dalam keadaan shaum karena haus dan karena udara panas. (H.R :Ahmad, Malik dan Abu Daud)
    3. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw berbekam sedang beliau dalam keadaan shaum. (H.R : Al-Bukhary) .
    4. Diriwayatkan dari Aisyah ra Adalah Rasulullah saw mencium (istrinya) sedang beliau dalam keadaan shaum dan menggauli dan bercumbu rayu dengan istrinya (tidak sampai bersetubuh) sedang beliau dalam keadaan shaum, akan tetbeliau adalah orang yang paling kuat menahan birahinya. (H.R : Al-Jama’ah kecuali Nasa’i) hadits shahih.
    5. Diriwayatkan dari Abdullah bin Furuuj : Bahwa sesungguhnya ada seorang wanita bertanya kepada Ummu Salamah ra. Wanita itu berkata : Sesungguhnya suami saya mencium saya sedang dia dan saya dalam keadaan shaum, bagaimana pendapatmu? Maka ia menjawab : Adalah Rasulullah r pernah mencium saya sedang beliau dan saya dalam keadaan shaum. (H.R : Aththahawi dan Ahmad dengan sanad yang baik dengan mengikut syarat Muslim).
    6. Diriwayatkan dari Luqaidh bin Shabrah : Sesungguhnya Nabi saw bersabda : Apabila kamu beristinsyaaq (menghisap air ke hidung) keraskan kecuali kamu dalam keadaan shaum. (H.R : Ashhabus Sunan)
    7. Perkataan ibnu Abbas : Tidak mengapa orang yang shaum mencicipi cuka dan sesuatu yang akan dibelinya (Ahmad dan Al-Bukhary).
    8. KESIMPULAN

    Hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa hal-hal tersebut di bawah ini bila diamalkan tidak membatalkan shaum :

    a. Menyiram air ke atas kepala pada siang hari karena haus ataupun udara panas, demikian pula menyelam kedalam air pada siang hari.

    b. Menta’khirkan mandi junub setelah adzan Shubuh. (dalil : 1)

    c. Berbekam pada siang hari. (dalil : 3)

    d. Mencium, menggauli, mencumbu istri tetapi tidak sampai bersetubuh di siang hari.(dalil 4 dan 5)

    e. Beristinsyak (menghirup air kedalam hidung)terutama bila akan berwudhu, asal tidak dikuatkan menghirupnya. (dalil : 6)

    f. Disuntik di siang hari

    g. Mencicipi makanan asal tidak ditelan.(dalil :7)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:15 am on 19 June 2015 Permalink | Balas  

    Panduan Shaum Ramadhan 

    ramadhan 2Panduan Shaum Ramadhan

    Diriwayatkan dari Anas ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Apabila ada sesuatu dari urusan duniamu, maka kamu lebih tahu tentang hal itu. Jika ada urusan dienmu, maka akulah tempat kembalinya (ikuti aku). (H.R Ahmad).

    Dirwayatkan dari ‘Aisyah ra : Rasulullah saw. telah bersabda : Barangsiapa melakukan perbuatan yang bukan perintah kami, maka ia tertolak tidak diterima). Dan dalam riwayat lain: Barangsiapa yang mengada-adakan dalam perintah kami ini yang bukan dari padanya, maka ia tertolak. Sementara dalam riwayat lain : Barangsiapa yang berbuat sesuatu urusan yang lain daripada perintah kami, maka ia tertolak. (HR.Ahmad. Bukhary dan Abu Dawud).

    Kandungan dua hadits shahih di atas menerangkan dengan jelas dan tegas bahwa segala perbuatan, amalan-amalan yang hubungannya dengan dien/syari’at terutama dalam masalah ubudiyah wajib menurut panduan dan petunjuk yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. Tidak boleh ditambah dan/atau dikurangi meskipun menurut fikiran seolah-olah lebih baik.

    Diantara cara syaithan menggoda ummat Islam ialah membisikkan suatu tambahan dalam urusan Dien. Sayangnya, perkara ini dianggap soal sepele, enteng dan remeh. Padahal perbuatan seperti itu adalah merupakan suatu kerusakan yang amat fatal dan berbahaya.

    “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, katanya : Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. berkhutbah kepada manusia pada waktu haji Wada’ . Maka beliau bersabda : Sesungguhnya Syaithan telah berputus asa (dalam berusaha) agar ia disembah di bumimu ini. Tetapi ia ridha apabila (bisikannya) ditaati dalam hal selain itu; yakni suatu amalan yang kamu anggap remeh dari amalan-amalan kamu, berhati-hatilah kamu sekalian. Sesungguhnya aku telah meninggalkan untukmu , yang jika kamu berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya. Yaitu: Kitab Allah dan sunnah NabiNya. ” (HR. Hakim).

    Dengan demikian dapat difahami bagaimana Rasulullah saw. mengingatkan kita agar selalu waspada terhadap provokasi setan untuk beramal dengan menyalahi tuntunan Nabi sekalipun hal itu nampak remeh. “Diriwayatkan dari Ghudwahaif bin Al-Harits ra: ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Setiap suatu kaum mengadakan Bid’ah, pasti saat itu diangkat (dihilangkan) sunnah semisalnya. Maka berpegang teguh kepda sunnah itu lebih baik daripada mengadakan bid’ah “(HR.Ahmad). Jadi, ketika amalan bid’ah ditimbulkan betapapun kecilnya, maka pada saat yang sama Sunnah telah dimusnahkan. Pada akhirnya lama kelamaan yang nampak dalam dien ini hanyalah perkara bid’ah sedangkan yang Sunnah dan original telah tertutup. Pada saat itulah ummat Islam akan menjadi lemah dan dikuasai musuh. Insya Allah tak lama lagi kita akan menyambut kedatangan Ramadhan,dalam bulan yang penuh berkat ini kita diwajibkan menjalankan ibadah Shaum Ramadhan sebulan penuh , yang mana hal tersebut merupakan salah satu bagian dari rukun Islam. Karenanya hal tersebut amat penting.

    Berkaitan dengan hal diatas, maka kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menunaikan ibadah Shaum ini sesempurna mungkin , benar-benar bebas dari bid’ah sesuai dengan panduan yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. Untuk keperluan itulah dalam risalah yang sederhana ini diterangkan beberapa hal yang berkaitan dengan amaliah shaum Ramadhan, zakat fithrah, dan Shalat ‘Ied berdasarkan Nash-nash yang Shariih (jelas). Dalil – dalil dan kesimpulan dibuat agar mudah difahami antara hubungan amal dengan dalilnya. Dan -tak ada gading yang tak retak- kata pepatah, sudah barang tentu risalah ini sangat jauh dari sempurna, untuk menuju kesempurnaannya bantuan dari pemakai amat diharapkan. Semoga risalah ini diterima oleh Allah sebagai Amal Shalih yang bermanfaat terutama di akhirat nanti.

    1. Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra. telah bersabda Rasulullah saw:Apabila malam sudah tiba dari arah sini dan siang telah pergi dari arah sini, sedang matahari sudah terbenam, maka orang yang shaum boleh berbuka. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    2. Diriwayatkan dari Sahal bin Sa?ad : Sesungguhnya Nabi saw telahbersabda: Manusia (ummat Islam) masih dalam keadaan baik selama mentakjilkan (menyegerakan) berbuka. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    3. Diriwayatakan dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah saw berbuka denganmakan beberapa ruthaab (kurma basah) sebelum shalat, kalau tidak ada makadengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk.(H.R : Abu Daud dan Al-Hakiem)
    4. Diriwayatkan dari Salman bin Amir, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Apabila salah seorang diantara kamu shaum hendaklah berbuka dengan kurma, bila tidak ada kurma hendaklah dengan air, sesungguhnya airitu bersih. (H.R : Ahmad dan At-Tirmidzi)
    5. Diriwayatkan dari Ibnu Umar : Adalah Nabi saw. selesai berbuka Beliau berdo’a (artinya) telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap ada Insya Allah. (H.R : Ad-Daaruquthni dan Abu Daud hadits hasan)
    6. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw:Apabila makan malam telah disediakan, maka mulailah makan sebelum shalat Maghrib, janganlah mendahulukan shalat daripada makan malam itu (yang sudah terhidang). (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    7. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra: Sesungguhnya Rasulullah saw.telah bersabda : Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya makan sahur itu berkah.(H.R : Al-Bukhary)
    8. Diriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’di Yaqrib, dari Nabi saw.bersabda :Hendaklah kamu semua makan sahur, karena sahur adalah makanan yang penuh berkah. (H.R : An-Nasa’i)
    9. Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit t berkata : Kami bersahur bersama Rasulullah saw. kemudian kami bangkit untuk menunaikan shalat (Shubuh).saya berkata : Berapa saat jarak antara keduanya (antara waktu sahur danwaktu Shubuh)?Ia berkata : Selama orang membaca limapuluh ayat. (H.R :Al-Bukhary dan Muslim)
    10. Diriwayatkan dari Amru bin Maimun, ia berkata : Adalah para sahabat Muhammad saw. adalah orang yang paling menyegerakan berbuka dan melambatkan makan sahur. (H.R : Al-Baihaqi)
    11. Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila salah seorang diantara kamu mendengar adzan dan piring masih di tangannya janganlah diletakkan hendaklah ia menyelesaikan hajatnya (makan/ minum sahur) daripadanya. (H.R :Ahmad dan Abu Daud dan Al-Hakiem)
    12. Diriwayatkan dari Abu Usamah ra. ia berkata : Shalat telah di’iqamahkan, sedang segelas minuman masih di tangan Umar ra. beliau bertanya : Apakah ini boleh saya minum wahai Rasulullah ? Beliau r. menjawab : ya, lalu ia meminumnya. (H.R Ibnu Jarir)
    13. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw.orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya, dan Jibril menemuinya pada setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mentadaruskan beliau saw. al-qur’an dan benar-benar Rasulullah saw. lebih dermawan tentang kebajikan(cepat berbuat kebaikan) daripada angin yang dikirim.(HR Al-Bukhary)
    14. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata : Adalah Rasulullah saw.menggalakkan qiyamullail (shalat malam) di bulan Ramadhan tanpa memerintahkan secara wajib, maka beliau bersabda : Barang siapa yang shalat malam di bulan Ramadhan karena beriman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni baginya dosanya yang telah lalu. (H.R : Jama’ah)
    15. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Nabi saw. Apabila memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) beliau benar-benar menghidupkan malam (untuk beribadah) dan membangunkan istrinya (agar beribadah) dengan mengencangkan ikatan sarungnya (tidak mengumpuli istrinya). (H.R :Al-Bukhary dan Muslim)
    16. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata : Adalah Nabi saw. bersungguh-sungguh shalat malam pada sepuluh hari terakhir (di bulan Ramadhan) tidak seperti kesungguhannya dalam bulan selainnya. (H.R : Muslim)
    17. Diriwayatkan dari Abu salamah din Abdur Rahman, sesungguhnya ia telah bertanya kepada Aisyah ra: Bagaimana shalat malamnya Rasulullah saw di bulan Ramadhan ? maka ia menjawab : Rasulullah saw tidak pernah shalat malam lebih dari sebelas raka’at baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya, caranya : Beliau shalat empat raka’at jangan tanya baik dan panjangnya, kemudian shalat lagi empat raka’at jangan ditanya baik dan panjangnya, kemudian shalat tiga raka?at. (H.R : Al-Bukhary,Muslim dan lainnya)
    18. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. Apabila bangun shalat malam, beliau membuka dengan shalat dua raka’at yang ringan, kemudian shalat delapan raka’at, kemudian shalat witir. (H.R : Muslim)
    19. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata : Ada seorang laki-laki berdiri lalu ia berkata : Wahai Rasulullah bagaimana cara shalat malam ? Maka Rasulullah r. menjawab : Shalat malam itu dua raka’at dua raka’at. Apabila kamu khawatir masuk shalat Shubuh, maka berwitirlah satu raka’at. (H.R :Jama’ah)
    20. Dari Aisyah ra. ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw shalat di masjid, lalu para sahabat shalat sesuai dengan shalat beliau (bermakmum di belakang), lalu beliau shalat pada malam kedua dan para sahabat bermakmum dibelakangnya bertambah banyak, kemudian pada malam yang ketiga atau yang keempat mereka berkumpul, maka Rasulullah saw tidak keluar mengimami mereka. Setelah pagi hari beliau bersabda : Saya telah tahu apa yang kalian perbuat, tidak ada yang menghalangi aku untuk keluar kepada kalian (untuk mengimami shalat) melainkan aku khawatir shalat malam ini difardhukan atas kalian. Ini terjadi pada bulan Ramadhan. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    21. Dari Ubay bin Ka’ab t. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. Shalat witir dengan membaca : Sabihisma Rabbikal A’la)dan (Qul ya ayyuhal kafirun) dan (Qulhu wallahu ahad). (H.R : Ahmad, Abu Daud, Annasa’i dan Ibnu Majah)
    22. Diriwayatkan dari Hasan bin Ali t. ia berkata : Rasulullah saw. Telah mengajarkan kepadaku beberapa kata yang aku baca dalam qunut witir : artinya) Ya Allah berilah aku petunjuk beserta orang-orang yang telah engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan yang sempurna beserta orang yang telah engkau beri kesehatan yang sempurna, pimpinlah aku beserta orang yang telah Engkau pimpin, Berkatilah untukku apa yang telah Engkau berikan, peliharalah aku dari apa yang telah Engkau tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang memutuskan dan tiada yang dapat memutuskan atas Engkau, bahwa tidak akan hina siapa saja yang telah Engkau pimpin dan tidak akan mulia siapa saja yang Engkau musuhi. Maha agung Engkau wahai Rabb kami dan Maha Tinggi Engkau. (H.R : Ahmad, Abu Daud, Annasa’i, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
    23. Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda : Barang siapa yang shalat malam menepati lailatul qadar, maka diampuni dosanya yang telah lalu. (H.R : Jama’ah)
    24. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. Telah bersabda : berusahalah untuk mencari lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir. H.R : Muslim)
    25. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Dinampakkan dalam mimpi seorang laki-laki bahwa lailatul qadar pada malam kedua puluh tujuh, maka Rasulullah saw. bersabda : Sayapun bermimpi seperti mimpimu, (ditampakkan pada sepuluh malam terakhir, maka carilah ia (lailatul qadar) pada malam-malam ganjil. (H.R : Muslim)
    26. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Saya berkata kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana pendapat tuan bila saya mengetahui lailatul qadar,apa yang saya harus baca pada malam itu ? Beliau bersabda : Bacalah artinya) Yaa Allah sesungguhnya Engkau maha pemberi ampun, Engkau suka kepada keampunan maka ampunilah daku. (H.R : At-Tirmidzi dan Ahmad)
    27. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw mengamalkan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah Azza wa Jalla. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    28. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. Apabila hendak beri’tikaf, beliau shalat shubuh kemudian memasuki tempat i’tikafnya………. (H.R :Jama’ah kecuali At-Tirmidzi)
    29. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. Apabila beri’tikaf , beliau mendekatkan kepalanya kepadaku, maka aku menyisirnya, dan adalah beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena untuk memenuhi hajat manusia (buang air, mandi dll…) (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    30. Allah ta’ala berfirman : (artinya) Janganlah kalian mencampuri ereka(istri-istri kalian) sedang kalian dalam keadaan i’tikaf dalam masjid. Itulah batas-batas ketentuan Allah, maka jangan di dekati… Al-Baqarah : 187)
    31. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: Setiap amal anak bani Adam adalah untuknya kecuali shaum, ia adalah untukku dan aku yang memberikan pahala dengannya. Dan sesungguhnya shaum itu adalah benteng pertahanan, pada hari ketika kamu shaum janganlah berbuat keji , jangan berteriak-teriak (pertengkaran), apabila seorang memakinya sedang ia shaum maka hendaklah ia katakan : ” sesungguhnya saya sedang shaum” . Demi jiwa Muhammad yang ada di tanganNya sungguh bau busuknya mulut orang yang sedang shaum itu lebih wangi disisi Allah pada hari kiamat daripada kasturi. Dan bagi orang yang shaum ada dua kegembiraan, apabila ia berbuka ia gembira dengan bukanya dan apabila ia berjumpa dengan Rabbnya ia gembira karena shaumnya. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    32. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw. Telah bersabda : Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan kebohongan, maka tidak ada bagi Allah hajat (untuk menerima) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya. (H.R: Jama’ah Kecuali Muslim) Maksudnya Allah tidak merasa perlu memberi pahala shaumnya.
    33. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda kepada seorang wanita Anshar yang sering di panggil Ummu Sinan : Apa yang menghalangimu untuk melakukan haji bersama kami ? Ia menjawab : Keledai yang ada pada kami yang satu dipakai oleh ayahnya si fulan (suaminya) untuk berhaji bersama anaknya sedang yang lain di pakai untuk memberi minum anak-anak kami. Nabipun bersabda lagi Umrah di bulan Ramadhan sama dengan mengerjakan haji atau haji bersamaku. H.R : Muslim)
    34. Rasulullah sw. bersabda : Apabila datang bulan Ramadhan kerjakanlah umrah karena umrah di dalamnya (bulan Ramadhan) setingkat dengan haji. (H.R : Muslim)

    KESIMPULAN

    Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa dalam mengamalkan shaum Ramadhan kita perlu melaksanakan adab-adab sbb : 1. Berbuka apabila sudah masuk waktu Maghrib. (dalil : 6)

    Sunnah berbuka adalah sbb :

    a. Disegerakan yakni sebelum melaksanakan shalat Maghrib dengan makanan yang ringan seperti kurma, air saja, setelah itu baru melaksanakan shalat. dalil : 2,3 dan 4)

    b. Tetapi apabila makan malam sudah dihidangkan, maka terus dimakan, jangan shalat dahulu. (dalil : 6)

    c. Setelah berbuka berdo’a dengan do’a sbb : Artinya : Telah hilang rasa haus, dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap wujud insya Allah. (dalil : 5)

    2. Makan sahur. (dalil : 7 dan 8)

    Adab-adab sahur :

    a. Dilambatkan sampai akhir malam mendekati Shubuh. (dalil 9 dan 10)

    b. Apabila pada tengah makan atau minum sahur lalu mendengar adzan Shubuh, maka sahur boleh diteruskan sampai selesai, tidak perlu dihentikan di tengah sahur karena sudah masuk waktu Shubuh. (dalil 11 dan 12) * Imsak tidak ada sunnahnya dan tidak pernah diamalkan pada zaman sahabat maupun tabi’in.

    3. Lebih bersifat dermawan (banyak memberi, banyak bershadaqah, banyak menolong) dan banyak membaca al-qur’an (dalil : 13)

    4. Menegakkan shalat malam / shalat Tarawih dengan berjama’ah. Dan shalat Tarawih ini lebih digiatkan lagi pada sepuluh malam terakhir(20 hb. Sampai akhir Ramadhan). (dalil : 14,15 dan 16)

    Cara shalat Tarawih adalah :

    a. Dengan berjama’ah. (dalil : 19)

    b. Tidak lebih dari sebelas raka’at yakni salam tiap dua raka’at dikerjakan empat kali, atau salam tiap empat raka’at dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir tiga raka’at. (dalil : 17)

    c. Dibuka dengan dua raka’at yang ringan. (dalil : 18)

    d. Bacaan dalam witir : Raka’at pertama : Sabihisma Rabbika. Roka’t kedua :Qul yaa ayyuhal kafirun. Raka’at ketiga : Qulhuwallahu ahad. (dalil : 21)

    e. Membaca do’a qunut dalam shalat witir. (dalil 22)

    5. Berusaha menepati lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil. Bila dirasakan menepati lailatul qadar hendaklah lebih giat beribadah dan membaca : Yaa Allah Engkaulah pengampun, suka kepada keampunan maka ampunilah aku. (dalil : 25 dan 26)

    6. Mengerjakan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir. (dalil : 27) 7.

    Cara i’tikaf :

    a. Setelah shalat Shubuh lalu masuk ke tempat i’tikaf di masjid. (dalil 28)

    b. Tidak keluar dari tempat i’tikaf kecuali ada keperluan yang mendesak.(dalil : 29)

    a. Tidak mencampuri istri dimasa i’tikaf. (dalil : 30) 7. Mengerjakan umrah. (dalil : 33 dan 34)

    8. Menjauhi perkataan dan perbuatan keji dan menjauhi pertengkaran. (dalil : 31 dan 32)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:10 am on 18 June 2015 Permalink | Balas  

    Panduan Amalan di Bulan Ramadhan 

    ramadhan 2Panduan Amalan di Bulan Ramadhan

    Ramadhan bagi umat Islam bukan sekedar salah satu nama bulan qomariyah, tapi dia mempunyai makna tersendiri. Ramadhan bagi seorang muslim adalah rihlah dari kehidupan materialistis kepada kehidupan ruhiyah, dari kehidupan yang penuh berbagai masalah keduniaan menuju kehidupan yang penuh tazkiyatus nafs dan riyadhotur ruhiyah. Kehidupan yang penuh dengan amal taqorrub kepada Allah, mulai dari tilawah Al-Qur’an, menahan syahwat dengan shiyam, sujud dalam qiyamul lail, ber’itikaf di masjid, dan lain-lain. Semua ini dalam rangka merealisasikan inti ajaran dan hikmah puasa Ramadhan yaitu : Agar kalian menjadi orang yang bertaqwa. (Al-Baqoroh: 183 dan akhir Al-Hijr)

    Ramadhan juga merupakan bulan latihan bagi peningkatan kualitas pribadi seorang mulism. Hal itu terlihat pada esensi puasa yakni agar manusia selalu dapat meningkatkan nilainya dihadapan Allah SWT dengan bertaqwa, disamping melaksanakan amaliyah-amaliyah positif yang ada pada bulan Ramadhan. Diantara amaliyah-amaliyah Ramadhan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW baik itu amaliyah ibadah maupun amaliyah ijtijma’iyah adalah sebagai berikut:

    Shiyam (puasa)

    Amaliyah terpenting selama bulan Ramadhan tentu saja adalah shiyam (puasa), sebagaimana termaktub dalam firman Allah pada surat al Baqoroh : 183-187. Dan diantara amaliyah shiyam Ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah ialah :

    a. Berwawasan yang benar tentang puasa dengan mengetahui dan menjaga rambu-rambunya. “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi).

    b. Tidak meninggalkan shiyam, walaupun sehari, dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at Islam. Rasulullah SAW bersabda bahwa : “Barangsiapa tidak puasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshoh atau sakit, hal itu (merupakan dosa besar) yang tidak bisa ditebus bahkan seandainya ia berpuasa selama hidup” (HR At Turmudzi).

    c. Menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai shiyam. Rasulullah SAW pernah bersabda : ” Bukanlah (hakikat) shiyam itu sekedar meninggalkn makan dan minum, melainkan meninggalkan pekerti sia-sia (tak bernilai) dan kata-kata bohong” (HR Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah). Rasulullah juga pernah bersabda bahwa : ” Barangsiapa yang selama berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan mempraktekkannya, maka tidak ada nilainya bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekedar meninggalkan makan dan minum ” (Hr Bukhori dan Muslim).

    d. Bersungguh – sungguh melakukan shiyam dengan menepati aturan-aturannya. Rasulullah SAW bersabda : ” Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan sepenuh Iman dan kesungguhan, maka akan diampunkanlah dosa-dosa yang pernah dilakukan ” (HR. Bukhori, Muslim dan Abu Daud).

    e. Bersahur, makanan yang berkah (al ghoda’ al mubarok ). Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda bahwa : ” Makanan sahur semuanya bernilai berkah, maka jangan anda tinggalkan, sekalipun hanya dengan seteguk air. Allah dan para Malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur” (HR. Ahmad). Dan disunnahkan mengakhirkan waktu makan sahur .

    f. Ifthor, berbuka puasa. Rasululah pernah menyampaikan bahwa salah satu indikasi kebaikan umat manakala mereka mengikuti sunnah dengan mendahulukan ifthor (berbuka puasa) dan mengakhirkan sahur. Dalam hal berbuka puasa Rasulullah SAW juga pernah bersabda bahwa : ” Sesungguhnya termasuk hamba Allah yang paling dicintai olehNya, ialah mereka yang bersegera berbuka puasa. ” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Bahkan beliau mendahulukan ifthor walaupun hanya dengan ruthob (kurma mengkal), atau tamr (kurma) atau air saja ” (HR. Abu Daud dan Ahmad).

    g. Berdo’a. Sesudah hari itu menyelesaikan ibadah puasa dengan berifthor, Rasulullah SAW seperti prilaku yang beliau lakukan sesudah menyelesaikan suatu ibadah, dan sebagai wujud syukur kepada Allah, beliau membaca do’a sebagai berikut ; Rasulullah bahkan mensyari’atkan agar orang-orang yang berpuasa banyak memanjatkan do’a, sebab do’a mereka akan dikabulkan oleh Allah. Dalam hal ini beliau pernah bersabda bahwa : ” Ada tiga kelompok manusia yang do’anya tidak ditolak oleh Allah. Yang pertama ialah do’a orang-rang yang berpuasa sehingga mereka berbuka” (HR. Ahmad dan Turmudzi).

    Tilawah (membaca) al Qur’an

    Ramadhan adalah bulan diturunkannya al Qur’an. (QS. Al Baqoroh: 185). Pada bulan ini Malaikat Jibril pernah turun dan menderas al Qur’an dengan Rasulullah SAW (HR. Bukhori). Maka tidak aneh kalau Rasulullah SAW (yang selalu menderas al Qur’an disepanjang tahun itu) lebih sering menderasnya pada bulan Ramadhan.

    Imam az Zuhri pernah berkata : ” Apabila datang Ramadhan maka kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca al Qur’an”. Hal ini tentu saja dilakukan dengan tetap memperhatikan tajwid (kaedah membaca al Qur’an) dan esensi dasar diturunkannya al Qur’an untuk ditadabburi, dipahami dan diamalkan (QS. Shod: 29).

    Ith’am ath tho’am (memberikan makanan dan shodaqoh lainnya)

    Salah satu amaliyah Ramadhan Rasulullah ialah memberikan ifthor (santapan berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa. Seperti beliau sabdakan : “Barangsiapa yang memberi ifthor kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut ” (HR. Turmudzi dan an Nasa’i). Hal memberi makan dan sedekah selama bulan Ramadhan ini bukan hanya untuk keperluan iftor melainkan juga untuk segala kebajikan, Rasulullah yang dikenal dermawan dan penuh peduli terhadap nasib umat, pada bulan Ramadhan kedermawanan dan keperduliannya tampil lebih menonjol, kesigapan beliau dalam hal ini bahkan dimisalkan sebagai ” lebih cepat dari angin ” (HR Bukhori ).

    Memperhatikan kesehatan.

    Shaum memang termasuk kategori ibadah mahdhoh (murni), sekalipun demikian agar nilai maksimal ibadah puasa dapat diraih, Rasulullah justru mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa dibawah ini:

    a. Menyikat gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud).

    b. Berobat seperti dengan berbekam (al hijamah) seperti yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim.

    c. Memperhatikan penampilan, seperti pernah diwasiatkan oleh Rasulullah SAw kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud RA, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut. ( HR. AL Haitsami)

    Memperhatikan harmoni keluarga

    Sekalipun puasa adalah ibadah yang khusus diperuntukkan kepada Allah, yang memang juga mempunyai nilai khusus dihadapan Allah, tetapi agar hal tersebut diatas dapat terealisir dengan lebih baik, maka Rasulullah justru mensyari’atkan agar selama berpuasa umat tidak mengabaikan harmoni dan hak-hak keluarga. Seperti yang diriwayatkan oleh istri-istri beliau, Aisyah dan Ummu Salamah RA, Rasulullah tokoh yang paling baik untuk keluarga itu, selama bulan Ramadhan tetap selalu memenuhi hak-hak keluarga beliau. Bahkan ketika Rasulullah berada dalam puncak praktek ibadah shaum yakni i’tikaf, harmoni itu tetap terjaga.

    Memperhatikan aktivitas da’wah dan social

    Kontradiksi dengan kesan dan perilaku umum tentang berpuasa, Rasulullah SAW justru menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut dimuka, beliau juga aktif melakukan da’wah, kegiatan sosial, perjalanan jauh dan jihad. Dalam sembilan kali Ramadhan yang pernah beliau alami, beliau misalnya melakukan perjalanan ke Badr (tahun 2 H), Mekah ( tahun 8 H), dan ke Tabuk (tahun 9 H), mengirimkan 6 sariyah (pasukan jihad yang tidak secara langsung beliau ikuti/pimpin), melaksanakan perkawinan putrinya (Fathimah) dengan Ali RA, beliau berkeluarga dengan Hafshoh dan Zainab RA, meruntuhkan berhala-berhala Arab seperti Lata, Manat dan Suwa’, meruntuhkan masjid adh Dhiror, dll.

    Qiyam Ramadhan (sholat tarawih)

    Diantara kegiatan ibadah Rasulullah selama bulan Ramadhan ialah ibadah qiyam al lail, yang belakangan lebih populer disebut sebagai sholat tarowih. Hal demikian ini beliau lakukan bersama dengan para sahabat beliau. Sekalipun karena kekhawatiran bila akhirnya sholat tarawih (berjama’ah) itu menjadi diwajibkan oleh Allah, Rasulullah kemudian meninggalkannya. (HR. Bukhori Muslim).

    Dalam situasi itu riwayat yang shohih menyebutkan bahwa Rasulullah shalat tarowih dalam 11 reka’at dengan bacaan-bacaan yang panjang (HR. Bukhori Muslim). Tetapi ketika kekhawatiran tentang pewajiban sholat tarowih itu tidak ada lagi, kita dapatkan riwayat-riwayat lain, juga dari Umar ibn al Khothob RA, yang menyebutkan jumlah reka’at shalat tarowih adalah 21 atau 23 reka’at. (HR. Abdur Razaq dan al Baihaqi). Mensikapi perbedaan reka’at ini bagus juga bila kita cermati pendapat dan kajian dari Ibnu hajar al Asqolani asy Syafi’i, seorang tokoh yang juga dijuluki sebagai amirul mu’minin fi hadits, beliau menyampaikan bahwa : Beberapa informasi tentang jumlah reka’at tarowih itu menyiratkan ragam sholat sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing, kadang ia mampu melaksanakan shalat dalam 11 reka’at, kadang 21 dan terkadang 23 reka’at pula. Hal demikian itu kembali juga semangat dan antusiasme masing-masing. Dahulu mereka yang sholat dengan 11 reka’at itu dilakukan dengan bacaan yang panjang sehingga mereka bertelekan diatas tongkat penyangga, sementara mereka yang sholat dengan 21 atau 23 reka’at mereka membaca bacaan-bacaan yang pendek (dengan tetap memperhatikan thoma’ninah sholat) sehingga tidak menyulitkan.

    I’tikaf.

    Diantara amaliyah sunnah yang selalu dilakukan oleh Rasulullah SAw dalam bulan Ramadhan ialah i’tikaf, yakni berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Seperti dilaporkan oleh Abu Sa’id al Khudlri RA, hal demikiam ini pernah beliau lakukan pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan dan terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Ibadah yang demikian penting ini sering dianggap berat sehingga ditinggalkan oleh orang-orang Islam, maka tidak aneh kalau Imam az Zuhri berkomentar ; Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan ibadah i’tikaf, padahal Rasulullah SAW tak pernah meninggalkannya semenjak beliau datang ke madinah sehingga wafatnya disana.

    Lailat al Qodr

    Selama bulan Ramadhan ini terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer disebut sebagai lailat al Qodr, malam yang lebih berharga dari seribu bulan (QS. Al Qodr : 1-5). Rasululah tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meraih lailat al qodr terutama pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan puasa (HR. Bukhori Muslim ). Dalam hal ini Rasulullah menyampaikan bahwa : “Barangsiapa yang sholat pada malam lailatul qodr berdasarkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hr. Bukhori Muslim). Dalam keadaan ini Rasulullah mengajarkan do’a sebagai berikut :

    Umroh

    Umroh atau haji kecil itu bagus juga apabila dilaksanakan pada bulan Ramadhan, sebab nilainya bisa berlipat-lipat, sebagaimana pernah disabdakan oleh Rasulullah kepada seorang wanita dari anshor bernama Ummu Sinan: ” Agar apabila datang bulan Ramadhan ia melakukan umroh, karena nilainya setara dengan haji bersama Rasulullah SAW. (Hr. Bukhori Muslim)

    Zakat Fitrah

    Pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan amaliyah yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW ialah membayarkan zakat fithr, suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh umat Islam baik laik-laki maupun perempuan, baik dewasa maupun anak-anak (HR. Bukhori Muslim). Zakat fithr ini juga berfungsi sebagai pelengkap penyucian untuk pelaku puasa dan untuk membantu kaum fakir miskin. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

    Ramadhan bulan taubat menuju fithroh

    Selama sebulan penuh, secara berduyun-duyun umat kembali kepada Allah yang M aha Pemurah juga Maha Pengampun. Dia Dzat yang menyampaikan bahwa pada setiap malam bulan Ramadhan Allah membebaskan banyak hambaNya dari api nereka (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Karenanya inilah satu kesempatan emas agar umat dapat kembali, bertaubat agar ketika mereka selesai melaksanakan ibadah puasa mereka benar-benar kembali kepada fithrohnya. Khotimah Demikianlah sebagian amaliyah Ramadhan yang mudah dan bisa dilakukan oleh setiap muslim. Dan dengan demikian Ramadhan juga menyiratkan salah satu prinsip dasar Islam tentang moderasi dan integralitas ajarannya. Ramadhan memang bulan penuh kebaikan, sehingga Rasulullah pernah bersabda ; “Apabila orang-orang mengetahui nilai lebih Ramadhan, mereka akan berharap agar semua bulan dijadikan sebagai bulan Ramadhan”. (HR. Ibnu Huzaimah).

    Semoga Allah menerima amaliyah shiyam dan qiyam kita sekalian, aamien.

    ***

    Dari Sahabat