Updates from Januari, 2015 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:28 am on 20 January 2015 Permalink | Balas  

    gerakan-shalatRukun-Rukun Salat

    Arsip Fiqh

    Salat mempunyai rukun-rukun yang apabila salah satunya ditinggalkan, maka batallah salat tersebut. Berikut ini penjelasannya secara terperinci tentang rukun-rukun salat.

    Berniat

    Yaitu niat di hati untuk melaksanakan salat tertentu, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya.” (Muttafaq ‘alaih)

    Niat itu dilakukan bersamaan dengan melaksanakan takbiratul ihram dan mengangkat kedua tangan.

    Membaca Takbiratul Ihram

    Yaitu dengan lafazh (ucapan): “Allaahuakbar.”

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Kunci salat itu adalah bersuci, pembatas antara perbuatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu salat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan salat adalah salam.” (HR Abu Daud, At-Tirmidzi, dan lainnya: hadits shahih)

    Berdiri (bagi yang sanggup ketika melaksanakan salat wajib)

    Hal ini berdasarkan firman Allah saw, “Peliharalah segala salat(mu) dan (peliharalah) salat wustha (Ashar). Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyu’.” (QS Al-Baqarah: 238)

    Sabda Rasulullah saw kepada Imran bin Hushain, “Salatlah kamu dengan berdiri; apabila tidak mampu, maka dengan duduk; dan jika tidak mampu juga, maka salatlah dengan berbaring ke samping.” (HR Al-Bukhari)

    Membaca Surat Al-Fatihah Tiap Rakaat SalatFardu dan Salat Sunah

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Tidak sah salat seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah.” (HR Bukhari)

    Ruku’

    Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS Al-Hajj: 77)

    Juga berdasarkan sabda Nabi saw kepada seseorang yang tidak benar shalatnya: ” … kemudian ruku’lah kamu sampai kamu tuma’ninah dalam keadaan ruku’.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Bangkit dari Ruku’

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw terhadap seseorang yang salah dalam salatnya: ” … kemudian bangkitlah (dari ruku’) sampai kamu tegak lurus berdiri.” (HR Bukhari dan Muslim)

    I’tidal (berdiri setelah bangkit dari ruku’)

    Hal ini berdasarkan hadits tersebut di atas tadi dan berdasarkan hadits lain yang berbunyi: “Allah tidak akan melihat kepada salat seseorang yang tidak menegakkan tulang punggungnya di antara ruku’ dan sujudnya.” (HR Ahmad, dengan isnad shahih)

    Sujud

    Hal ini berdasarkan firman Allah SWT yang telah disebutkan di atas tadi. Juga berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Kemudian sujudlah kamu sampai kamu tuma’ninah dalam sujud.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Bangkit dari Sujud

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw:  “Kemudian bangkitlah sehingga kamu duduk dengan tuma’ninah.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Duduk di antara Dua Sujud

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw:

    “Allah tidak akan melihat kepada shalat seseorang yang tidak menegakkan tulang punggungnya di antara ruku’ dan sujudnya.” (HR Ahmad, dengan isnad shahih)

    Tuma’ninah Ketika Ruku’, Sujud, Berdiri, dan Duduk

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw kepada seseorang yang salah dalam melaksanakan shalatnya: “Sampai kamu merasakan tuma’ninah.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Tuma’ninah tersebut beliau tegaskan kepadanya pada saat ruku’, sujud, dan duduk, sedangkan i’tidal pada saat berdiri. Hakikat tuma’ninah itu ialah bahwa orang yang ruku’, sujud, duduk, atau berdiri itu berdiam sejenak, sekadar waktu yang cukup untuk membaca satu kali setelah semua anggota tubuhnya berdiam. Adapun selebihnya dari itu adalah sunah hukumnya.

    Membaca Tasyahud Akhir Serta Duduk

    Adapun tasyahhud akhir itu, maka berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud ra yang bunyinya: “Dahulu kami membaca di dalam salat sebelum diwajibkan membaca tasyahhud adalah, ‘Kesejahteraan atas Allah, kesejahteraan atas malaikat Jibril dan Mikail.’

    Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Janganlah kamu membaca itu, karena sesungguhnya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia itu sendiri adalah Maha Sejahtera, tetapi hendaklah kamu membaca:

    “Segala penghormatan, salawat dan kalimat yang baik bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah dianugerahkan kepadamu wahai Nabi. Semoga kesejahteraan dianugerahkan kepada kita dan hamba-hamba yang salih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya.” (HR An-Nasai, Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi, dengan sanad shahih)

    “Apabila salah seorang di antara kamu duduk (tasyah-hud), hendaklah dia mengucapkan: ‘Segala penghormatan, salawat dan kalimat-kalimat yang baik bagi Allah’.” (HR Abu Daud, An-Nasai dan yang lainnya, hadits ini shahih dan diriwayatkan pula dalam dalam “Shahih Bukhari dan Shahih Muslim”)

    Adapun duduk untuk tasyahud itu termasuk rukun juga karena tasyahhud akhir itu termasuk rukun.

    Membaca Salam

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Pembuka salat itu adalah bersuci, pembatas antara perbuatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu salat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan shalat adalah salam.” (HR Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits shahih )

    Melakukan Rukun-Rukun Salat Secara Berurutan

    Oleh karena itu, janganlah seseorang membaca surat Al-Fatihah sebelum takbiratul ihram dan janganlah ia sujud sebelum ruku’. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Salatlah kalian sebagaimana kalian melihatku salat.” (HR Bukhari)

    Maka apabila seseorang menyalahi urutan rukun salat sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh Rasulullah saw, seperti mendahulukan yang semestinya diakhirkan atau sebaliknya, maka batallah salatnya.

    Keterangan:

    Untuk mengetahui dengan jelas do’a-do’a dalam salat, hendaknya bagi para pembaca merujuk kepada orang-orang yang mengerti benar dalam pelaksanaan salat, atau bisa melalui buku yang menulis tentang salat secara lengkap.

    Di sini, Al-Islam tidak atau belum merasa perlu untuk mencantumkan do’a-do’a dalam salat karena hal ini dapat pembaca mencari sendiri dengan mudah. Al-Islam untuk sementara ini lebih menekankan kepada bagaimana memahami syariat dan cara pelaksanaannya.

    ***

    Sumber: Tuntunan Shalat Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 19 January 2015 Permalink | Balas  

    gerakan-shalatSyarat-Syarat Shalat

    Arsip Fiqh

    Berikut ini akan dibahas kajian tentang syarat-syarat yang harus terpenuhi sebelum shalat (terkecuali niat, yaitu syarat yang ke delapan, maka yang lebih utama dilaksanakan bersamaan dengan takbir). Wajib bagi orang yang shalat untuk memenuhi syarat-syarat itu. Apabila ada salah satu syarat yang ditinggalkan, maka shalatnya batal.

    Adapun syarat-syarat itu adalah sebagai berikut:

    Islam

    Tidak sah dan tidak diterima shalat yang dilakukan oleh orang yang masih kafir; begitu pula halnya semua amalan yang mereka lakukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik itu untuk memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam Neraka.” (QS At-Taubah: 17)

    Berakal Sehat

    Maka, tidaklah wajib shalat bagi orang gila, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Ada tiga golongan manusia yang telah diangkat pena darinya (tidak diberi beban syari’at) yaitu: orang yang tidur sampai dia terjaga; anak kecil sampai dia baligh; dan orang yang gila sampai dia sembuh.” (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)

    Baligh

    Maka, tidaklah wajib shalat itu bagi anak kecil sampai dia baligh, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Akan tetapi, anak kecil itu hendaknya diperintahkan untuk melaksanakan shalat sejak berumur tujuh tahun dan shalatnya itu sunnah baginya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Perintahkanlah anak-anak untuk melaksanakan shalat apabila telah berumur tujuh tahun, dan apabila dia telah berumur sepuluh tahun, maka pukullah dia kalau tidak melaksanakannya.” (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)

    Suci Dari Hadats Kecil dan Hadats Besar

    Hadats kecil ialah tidak dalam keadaan berwudhu dan hadats besar adalah belum mandi dari junub. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah.” (QS Al-Maidah: 6)

    Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Allah tidak akan menerima shalat yang tanpa disertai bersuci.” (HR. Muslim)

    Suci Badan, Pakaian dan Tempat Untuk Shalat

    Adapun dalil tentang suci badan adalah sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam terhadap perempuan yang keluar darah istihadhah, “Basuhlah darah yang ada pada badanmu kemudian laksanakanlah shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Adapun dalil tentang harusnya suci pakaian, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan pakaianmu, maka hendaklah kamu sucikan.” (QS Al-Muddatstsir: 4)

    Adapun dalil tentang keharusan sucinya tempat shalat yaitu hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, “Telah berdiri seorang laki-laki dusun kemudian dia kencing di masjid Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, sehingga orang-orang ramai berdiri untuk memukulinya, maka bersabdalah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, ‘Biarkanlah dia dan tuangkanlah di tempat kencingnya itu satu timba air, sesungguhnya kami diutus dengan membawa kemudahan dan tidak diutus dengan membawa kesulitan.” (HR. Al-Bukhari)

    Masuk Waktu Shalat

    Shalat tidak wajib dilaksanakan terkecuali apabila sudah masuk waktunya, dan tidak sah hukumnya shalat yang dilaksanakan sebelum masuk waktunya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS An-Nisa': 103)

    Maksudnya, shalat itu mempunyai waktu tertentu. Malaikat Jibril pun pernah turun untuk mengajari Nabi shallallaahu alaihi wasallam tentang waktu-waktu shalat. Jibril mengimaminya di awal waktu dan di akhir waktu, kemudian ia berkata kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam: “Di antara keduanya itu adalah waktu shalat.”

    Menutup Aurat

    Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS Al-A’raf: 31)

    Yang dimaksud dengan pakaian yang indah adalah yang menutup aurat. Para ulama sepakat bahwa menutup aurat adalah merupakan syarat sahnya shalat, dan barangsiapa shalat tanpa menutup aurat, sedangkan ia mampu untuk menutupinya, maka shalatnya tidak sah.

    Niat

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan (balasan) sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Menghadap Kiblat

    Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS Al-Baqarah: 144)

    ***

    Sumber: Tuntunan Shalat Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 18 January 2015 Permalink | Balas  

    siluet bicaraPengaruh Perbuatan Baik dan Ucapan Yang Baik

    Manusia senantiasa mencari lingkungan yang tenang tempat mereka dapat hidup dengan aman, gembira, dan membina persahabatan. Meskipun mereka merindukan keadaan yang demikian itu, mereka tidak pernah melakukan usaha untuk menyuburkan nilai-nilai tersebut, tetapi sebaliknya, mereka sendirilah yang menjadi penyebab terjadinya konflik dan kesengsaraan. Sering kali orang mengharapkan agar orang lain memberikan ketenangan, kedamaian, dan bersikap bersahabat. Hal ini berlaku dalam hubungan keluarga, hubungan antarpegawai di perusahaan, hubungan kemasyarakatan, maupun persoalan internasional. Namun, untuk membina persahabatan dan menciptakan kedamaian dan keamanan dibutuhkan sikap mau mengorbankan diri. Konflik dan keresahan tidak dapat dihindari jika orang-orang hanya bersikukuh pada ucapannya, jika mereka hanya mementingkan kesenangannya sendiri tanpa bersedia melakukan kompromi atau pengorbanan. Bagaimanapun, orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah tidak bersikap seperti itu. Orang-orang yang beriman tidak mementingkan diri sendiri, suka memaafkan, dan sabar. Bahkan ketika mereka dizalimi, mereka bersedia mengabaikan hak-hak mereka. Mereka menganggap bahwa kedamaian, keamanan, dan kebahagiaan orang lain lebih penting dibandingkan dengan kepentingan pribadi mereka, dan mereka menunjukkan sikap yang santun. Ini merupakan sifat mulia yang diperintahkan Allah kepada orang-orang beriman:

    “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Q.s. Fushshilat: 34-5).

    “Ajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.s. an-Nahl: 125).

    Sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut, sebagai balasan atas perbuatan baiknya bagi orang-orang yang beriman, Allah mengubah musuh mereka menjadi “teman yang setia”. Ini merupakan salah satu rahasia Allah. Bagaimanapun juga, hati manusia berada di tangan Allah. Dia mengubah hati dan pikiran siapa saja yang Dia kehendaki.

    Dalam ayat lainnya, Allah mengingatkan kita tentang pengaruh ucapan yang baik dan lemah lembut. Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun a.s. agar mendatangi Fir’aun dengan lemah lembut. Meskipun Fir’aun itu zalim, congkak, dan kejam, Allah memerintahkan rasul-Nya agar berbicara kepadanya dengan lemah lembut. Allah menjelaskan alasannya dalam al-Qur’an:

    “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Q.s. Thaha: 43-4).

    Ayat-ayat ini memberitahukan kepada orang-orang yang beriman tentang sikap yang harus mereka terapkan terhadap orang-orang kafir, musuh-musuh mereka, dan orang-orang yang sombong. Tentu saja ini mendorong kepada kesabaran, kemauan, kesopanan, dan kebijakan. Allah telah mengungkapkan sebuah rahasia bahwa Dia akan menjadikan perbuatan orang-orang beriman itu akan menghasilkan manfaat dan akan mengubah musuh-musuh menjadi teman jika mereka menaati perintah-Nya dan menjalankan akhlak yang baik.

    Wallohu a’alam bis-shawab,-

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 17 January 2015 Permalink | Balas  

    ayo-sedekahTujuan Membelanjakan Harta di Jalan Allah

    Salah satu amal ibadah yang terpenting yang dapat membersihkan kotoran kebendaan dan keruhanian, dan sebagai latihan bagi ruhani sehingga seseorang dapat mencapai derajat akhlak yang tinggi sehingga Allah akan ridha kepadanya adalah membelanjakan harta di jalan Allah. Allah telah berfirman kepada Nabi saw. agar mengambil zakat dari harta benda orang-orang beriman untuk membersihkan dan menyucikan harta tersebut.

    “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (Q.s. at-Taubah: 103).

    Meskipun demikian, perbuatan membelanjakan harta yang dapat membersihkan dan menyucikan orang-orang adalah jika dilakukan berdasarkan ketentuan yang telah disebutkan dalam al-Qur’an. Orang-orang beranggapan bahwa mereka telah menunaikan tugas mereka ketika mereka memberikan sejumlah uang yang sangat sedikit yang diberikan kepada pengemis, memberikan pakaian bekas kepada orang miskin, atau memberi makan kepada orang yang lapar. Tidak diragukan lagi bahwa perbuatan-perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang akan memperoleh pahala dari Allah jika niatnya untuk mencari ridha Allah. Namun sesungguhnya ada batas-batas yang telah ditentukan dalam al-Qur’an. Misalnya, Allah memerintahkan manusia agar menginfakkan apa saja yang melebihi keperluannya:

    “Mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.” (Q.s. al-Baqarah: 219).

    Manusia hanya memerlukan sedikit saja untuk memenuhi keperluan hidupnya di dunia. Harta benda yang di luar keperluan seseorang adalah harta yang berlebih. Yang terpenting bukan jumlah yang diberikan, tetapi apakah ia memberikannya dengan ikhlas atau tidak. Allah mengetahui segala sesuatu dan Dia telah memberi hati nurani kepada manusia untuk menetapkan hal-hal yang sesungguhnya tidak diperlukan. Menginfakkan harta benda merupakan bentuk ibadah yang mudah bagi orang-orang yang tidak dihinggapi ketamakan terhadap dunia dan yang tidak mengejar dunia, tetapi merindukan akhirat. Allah telah memerintahkan kita untuk menginfakkan sebagian dari harta kita untuk menjauhkan cinta dunia. Menginfakkan harta benda merupakan sarana untuk membersihkan diri dari sifat tamak. Tidak diragukan lagi bahwa bentuk ibadah ini sangat penting bagi orang-orang yang beriman dalam kaitannya dengan perhitungan di akhirat. Rasulullah saw. juga bersabda bahwa orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah akan dirahmati Allah:

    “Dua manusia akan dirahmati: Yang pertama adalah orang yang diberi oleh Allah al-Qur’an dan ia hidup berdasarkan al-Qur’an itu. Ia menganggap halal apa saja yang dihalalkan, dan menganggap haram apa saja yang diharamkan. Yang lain adalah orang yang diberi harta oleh Allah, dan harta itu dibelanjakannya kepada sanak keluarga dan dibelanjakan di jalan Allah.

    Manusia Harus Memberikan Apa yang Ia Cintai kepada Orang Miskin

    Orang sering kali cenderung memberikan sesuatu jika sesuatu yang diberikan itu tidak merugikan kepentingannya. Misalnya, ketika seseorang memberikan harta bendanya kepada orang miskin, sering kali ia memberikan sesuatu yang tidak lagi diperlukannya dan tidak disukainya, sudah ketinggalan mode, atau tidak layak pakai. Tampaknya orang merasa berat untuk memberikan harta benda yang dicintainya, padahal sesungguhnya kedermawanan seperti ini sangat penting untuk membersihkan diri dan agar mencintai amal kebajikan. Ini merupakan rahasia penting yang diungkapkan Allah kepada umat manusia. Allah telah menyatakan bahwa tidak ada cara lain untuk mencapai kebajikan bagi manusia kecuali melalui:

    “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan sebelum kamu menafkahkan sebagian dari harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Q.s. Ali Imran: 92).

    “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Q.s. al-Baqarah: 267).

    Membelanjakan Harta di Jalan Allah sebagai Sarana Agar Dekat Dengan-Nya

    Bagi orang yang beriman, tidak ada sesuatu pun yang lebih dirindukan daripada memperoleh keridhaan Allah dan dicintai oleh-Nya. Orang yang beriman berusaha mencari asbab untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam hidupnya. Tentang hal ini, Allah menyatakan sebagai berikut:

    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Q.s. al-Ma’idah: 35).

    Sebagai sebuah rahasia dan berita gembira bagi orang-orang beriman, Allah mengungkapkan dalam al-Qur’an bahwa apa yang dibelanjakan akan menjadi asbab untuk mencapai kedekatan dengan-Nya. Dengan demikian bagi orang yang beriman, memberikan apa yang ia cintai dan yang melebihi keperluannya kepada orang-orang miskin tidaklah sulit, tetapi merupakan kesempatan berharga untuk membuktikan bahwa ia adalah orang yang taat dan cinta kepada Allah. Tentang hal ini Allah menyatakan sebagai berikut:

    “Dan diantara orang-orang Arab Badui ada orang yang beriman kepada Allah dan hari Kiamat, dan memandang apa yang dinafkahkannya itu sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri. Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. at-Taubah: 99).

    Apa Saja yang Dinafkahkan di Jalan Allah akan Memperoleh Balasan yang Baik

    Rahasia lain yang diungkapkan tentang membelanjakan harta seseorang di jalan Allah menurut al-Qur’an adalah, bahwa apa saja yang dinafkahkannya itu pasti akan memperoleh balasan. Ini merupakan janji Allah. Orang-orang yang menafkahkan harta mereka di jalan Allah tanpa takut akan menjadi miskin, akan memperoleh rahmat yang menakjubkan dalam kehidupan mereka. Apa saja yang dibelanjakan di jalan Allah akan diganjar sepenuhnya. Sebagian ayat yang menceritakan janji tersebut adalah sebagai berikut:

    “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allahlah yang memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, maka pahalanya itu untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya.” (Q.s. al-Baqarah: 272).

    “Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya.” (Q.s. al-Anfal: 60).

    “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.’ Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Q.s. Saba': 39).

    Orang-orang yang beriman hanya mengharapkan keridhaan Allah dan surga ketika mereka memberikan harta mereka; tetapi sebagai rahasia yang diungkapkan oleh Allah, apa saja yang mereka nafkahkan akan dikembalikan lagi kepada mereka. Pengembalian ini merupakan rahmat di dunia, dan di atas segalanya, Allah menyediakan surga bagi orang-orang yang beriman. Dalam pada itu, berkebalikan dengan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, Allah akan mengurangi rezeki orang-orang yang bakhil dalam menafkahkan kekayaan mereka, atau orang yang suka mengumpulkan kekayaan yang lebih banyak dan mengabaikan batasan-batasan Allah. Salah satu ayat yang berkaitan dengan masalah ini menceritakan tentang keadaan orang-orang yang memakan riba:

    “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Q.s. al-Baqarah: 276).

    Allah memberitahukan tentang keberuntungan yang akan didapatkan oleh orang-orang yang memberikan harta mereka sebagai berikut:

    “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 261).

    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakitinya, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah ia bersih. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

    “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Q.s. al-Baqarah: 265).

    Dalam setiap ayat tersebut terdapat rahasia yang diungkapkan Allah kepada orang-orang yang beriman dalam al-Qur’an. Orang-orang yang beriman memberikan harta benda mereka hanya untuk mencari keridhaan dan rahmat Allah dan surga-Nya. Namun, menyadari tentang rahasia-rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an, mereka juga mengharapkan rahmat dan karunia Allah. Semakin banyak mereka memberikan hartanya di jalan Allah, dan semakin mereka memperhatikan apa yang diharamkan dan yang dihalalkan, Allah akan semakin menambah kekayaan mereka, tugas-tugas mereka dijadikan mudah, dan Allah memberikan kesempatan yang semakin banyak untuk menafkahkan hartanya di jalan Allah. Setiap orang beriman yang bertakwa kepada Allah dan dalam hatinya tidak ada kekhawatiran terhadap masa depan, ia akan memahami rahasia ini dalam kehidupannya.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 16 January 2015 Permalink | Balas  

    shalatShalat Berjamaah

    Arsip Fiqh

    Hukum Shalat Berjamaah

    Shalat berjamaah mempunyai keutamaan dan pahala yang sangat besar, tidak ada keringanan untuk meninggalkannya terkecuali ada uzur (yang dibenarkan dalam agama). Hadis-hadis yang merupakan dalil tentang hukum ini sangat banyak, di antaranya adalah sebagai berikut.

    Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, “Telah datang kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam seorang lelaki buta, kemudian ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang bisa menuntunku ke masjid, lalu dia mohon kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam agar diberi keringanan dan cukup shalat di rumahnya.’ Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam memberikan keringanan kepadanya. Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau memanggilnya, seraya berkata, ‘Apakah engkau mendengar suara azan (panggilan) shalat?’, ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka hendaklah kau penuhi (panggilah itu)’.” (HR Muslim).

    Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Seandainya mereka itu mengetahui pahala kedua shalat tersebut, pasti mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Aku pernah berniat memerintahkan shalat agar didirikan kemudian akan kuperintahkan salah seorang untuk mengimami shalat, lalu aku bersama beberapa orang sambil membawa beberapa ikat kayu bakar mendatangi orang-orang yang tidak hadir dalam shalat berjamaah, dan aku akan bakar rumah-rumah mereka itu.” (Muttafaq ‘alaih).

    Dari Abu Darda Radhiallaahu anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah berkumpul tiga orang, baik di suatu desa maupun di dusun, kemudian disana tidak dilaksanakan shalat berjamaah, terkecuali syaitan telah menguasai mereka. Maka hendaklah kamu senantiasa bersama jamaah (golongan yang banyak), karena sesungguhnya srigala hanya akan memangsa domba yang jauh terpisah (dari rombongannya”. (HR Ahmad, Abu Daud, Nasai, dan lainnya, hadis hasan).

    Dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa mendengar panggilan azan namun tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, terkecuali karena uzur (yang dibenarkan dalam agama).” (HR Abu Daud, Ibnu Majah, dan lainnya, hadis sahih).

    Dari Ibnu Mas’ud Radhiallaahu anhu, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam mengajari kami sunnah-sunnah (jalan-jalan petunjuk dan kebenaran) dan di antara sunnah-sunnah tersebut adalah shalat di masjid yang dikumandangkan azan di dalamnya.” (HR Muslim).

    Keutamaan Shalat Berjamaah

    Shalat berjamaah mempunyai keutamaan dan pahala yang sangat besar. Banyak sekali hadis-hadis yang menerangkan hal tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.

    Dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, “Shalat berjamaah dua puluh tujuh kali lebih utama daripada shalat sendirian.” (Muttafaq ‘alaih)

    Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, “Bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam, ‘Shalat seseorang dengan berjamaah lebih besar pahalanya sebanyak 25 atau 27 derajat daripada shalat di rumahnya atau di pasar (maksudnya shalat sendirian). Hal itu dikarenakan apabila salah seorang di antara kamu telah berwudu dengan baik kemudian pergi ke masjid, tidak ada yang menggerakkan untuk itu kecuali karena dia ingin shalat, maka tidak satu langkah pun yang dilangkahkannya kecuali dengannya dinaikkan satu derajat baginya dan dihapuskan satu kesalahan darinya sampai dia memasuki masjid. Dan apabila dia masuk masjid, maka ia terhitung shalat selama shalat menjadi penyebab baginya untuk tetap berada di dalam masjid itu, dan malaikat pun mengucapkan shalawat kepada salah seorang dari kamu selama dia duduk di tempat shalatnya. Para malaikat berkata, ‘Ya Allah, berilah rahmat kepadanya, ampunilah dia dan terimalah taubatnya.’ Selama ia tidak berbuat hal yang mengganggu dan tetap berada dalam keadaan suci.” (Muttafaq ‘alaih).

    Shalat berjamaah bisa dilaksanakan dengan seorang makmum dan seorang imam, sekalipun salah seorang di antaranya adalah anak kecil atau perempuan. Semakin banyak jumlah jamaah dalam shalat semakin disukai oleh Allah Subhanahu wa Taala.

    Dari Ibnu Abbas Radhiallaahu anhuma, ia berkata, “Aku pernah bermalam di rumah bibiku, Maimunah (salah satu istri Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam), kemudian Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam bangun untuk shalat malam, maka aku pun ikut bangun untuk shalat bersamanya, aku berdiri di samping kiri beliau, lalu beliau menarik kepalaku dan menempatkanku di samping kanannya.” (Muttafaq ‘alaih).

    Dari Abu Sa’id al-Khudri dan Abu Hurairah Radhiallaahu anhuma, keduanya berkata, “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa bangun di waktu malam hari kemudian dia membangunkan isterinya, kemudian mereka berdua shalat berjamaah, maka mereka berdua akan dicatat sebagai orang yang selalu berdzikir kepada Allah.” (HR Abu Daud dan al-Hakim, hadis sahih).

    Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiallaahu anhu, “Bahwasanya seorang laki-laki masuk masjid sedangkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam sudah shalat bersama para sahabatnya, maka beliau pun bersabda, ‘Siapa yang mau bersedekah untuk orang ini, dan menemaninya shalat.’ Lalu berdirilah salah seorang dari mereka kemudian dia shalat bersamanya.” (HR Abu Daud dan at-Tirmidzi, hadis sahih).

    Dari Ubay bin Ka’ab Radhiallaahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, Shalat seseorang bersama orang lain (berdua) lebih besar pahalanya dan lebih menyucikan daripada shalat sendirian, dan shalat seseorang ditemani oleh dua orang lain (bertiga) lebih besar pahalanya dan lebih menyucikan daripada shalat dengan ditemani satu orang (berdua), dan semakin banyak (jumlah jamaah) semakin disukai oleh Allah Taala.” (HR Ahmad, Abu Daud dan an-Nasai, hadis hasan).

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 14 January 2015 Permalink | Balas  

    korupsiHukum Ghulul

    Oleh: Azhari

    Pengertian, kriteria dan hukumnya

    Harta Ghulul adalah harta yang diperoleh oleh pejabat (pemerintah atau swasta) melalui kecurangan atau tidak syar’i, baik yang diambil harta negara maupun masyarakat.

    Barangsiapa yang berbuat curang, pada hari kiamat ia akan datang membawa hasil kecurangannya (Ali-Imran 161).

    Harta ghulul terdiri dari 4 macam:

    1. Suap (risywah)

    Setiap harta yang diberikan kepada pejabat atas suatu kepentingan, padahal semestinya urusan tersebut tanpa pembayaran.

    1. Hadiah (hibah)

    Hadiah yang diberikan kepada pejabat (mirip suap) agar memperoleh penghargaan, penilaian istimewa atau keuntungan dikemudian hari.

    Rasulullah mengangkat Ibnu Utabiyah untuk menarik zakat Bani Sulaim. Setelah kembali dan menghadap Rasulullah, Ibnu Utabiyah berkata: “Ini untuk engkau dan ini adalah hadiah yang diberikan orang kepada saya, lalu Rasulullah bersabda:

    Ini adalah (harta) untuk anda, dan ini (harta yang) dihadiahkan kepadaku. (Jika memang benar itu hadiah) apakah tidak sebaiknya ia duduk saja dirumah bapak atau ibunya, lalu (lihat) apakah hadiah itu akan diberikan kepadanya atau tidak?. Demi zat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, tidak akan ia membawa sesuatu melainkan dihari Kiamat nanti ia akan memikul (kesalahannya) diatas pundaknya (HR Bukhari No. 1922). 2)

    1. Komisi (‘amulah)

    Harta yang diperoleh hasil balas jasa transaksi antara pejabat dengan supplier pemerintah.

    1. Korupsi

    Mengambil harta negara yang bukan haknya atau melakukan mark-up suatu project pemerintah.

    Semua harta ini (4 jenis diatas) haram diambil dan harus dikembalikan kepada pemiliknya, penyuap, penerima suap dan perantaranya harus dihukum. 9)

    Rasulullah saw melaknat penyuap, penerima suap dan orang yang menyaksikan penyuapan (HR Imam Ahmad).

    Dengan demikian dapat dipahami bahwa jika seseorang untuk mengerjakan sesuatu pekerjaan telah dibayar maka apapun selain itu bukan menjadi haknya dan haram mengambilnya. Begitu juga, jika dia memanfaatkan harta perusahaan atau negara untuk kepentingan pribadinya, dalam hal ini ia telah mengambil sesuatu yang bukan haknya secara bathil dan haram hukumnya. Misal, seorang karyawan menerima souvenir sebuah pulpen, parcel diakhir tahun, amplop yang berisi uang atau uang komisi yang biasanya langsung ditransfer, mengambil harta perusahaan/negara, melakukan mark-up suatu transaksi, dan lain-lain.

    Siapa saja yang kami beri tugas melakukan sesuatu pekerjaan dan kepadanya telah kami berikan rizki (gaji) maka yang diambil olehnya selain itu adalah kecurangan (HR Abu Dawud).

    Lantas bagaimana dengan pejabat (eksekutif, legislatif dan yudikatif) yang menerima hadiah agar diterimanya laporan pertanggung-jawaban Gubernur, agar tidak diusiknya kecurangan pengusaha, agar tidak terlalu kritis kepada pemerintah (daerah maupun pusat), agar dipermudahnya membuka usaha, diperlancarnya semua urusan dipemerintahan, dan lain sebagainya. Baik hadiah tersebut berupa uang (transfer atau amplop), rumah, kavling tanah, mobil, TV dan barang lainnya, semua ini harta haram dan keharamannya berlaku bagi penerima suap, sipenyuap dan perantaranya.

    Sungguh pedih siksa Allah bagi kasus suap ini, jika hasil suap itu untuk memenuhi kebutuhan makanan, maka daging yang berasal dari hasil suap akan dibakar oleh api neraka. Jika hasil suap itu digunakan untuk membeli harta benda, maka harta itu harus dibopong dipundaknya diakhirat nanti. 8) Jika mereka menerimanya berupa kavling tanah maka sungguh tidak terbayangkan jika harus membopong kavling tanah dipundak mereka. Na’udzubillah.

    Setiap daging yang tumbuh dari usaha yang haram maka neraka lebih pantas baginya (HR Ahmad).

    Bahwa Rasulullah saw pernah mengangkatnya sebagai petugas pengumpul zakat. Beliau bersabda: “Wahai Abu Mas’ud, berangkatlah, semoga pada hari kiamat kelak aku tidak akan mendapatimu datang dalam keadaan punggungmu memikul seekor unta shadaqah yang meringkik-ringkik yang engkau curangi. Aku mejawab: “Jika demikian aku tidak jadi berangkat”. Beliau menjawab: “Aku tidak memaksamu” (HR Abu Dawud).

    Bagaimana pula, jika harta suap tersebut dinikmati oleh keluarganya. Ia-pun tetap harus mempertanggung jawabkan apa yang dimakan dan digunakan oleh keluarganya, keluarganya tidak berdosa jika mereka tidak tahu bahwa itu harta haram tetapi ikut berdosa jika tahu bahwa itu harta haram (dosa atas menikmati harta haram bukan dosa sebagai penerima suap). 8) Bagaimana pula jika harta itu diinfaqkan kepada mesjid, fakir miskin, panti Asuhan, dan lain-lain, hal ini tetap harus dipertanggung-jawabkan. Dan Allah tidak menghargai bagusnya niat dan mulianya tujuan, jika cara kerjanya diharamkan, menafkahkan harta haram tidak sah menurut Islam. 7) Sungguh suatu kedzaliman menafkahi anak istri atau memberi infaq kepada fakir miskin dengan harta haram.

    Dan, sembahlah selain Dia (Allah) sesuka kamu, katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi adalah mereka yang merugikan dirinya dan keluarganya pada hari kiamat. Bukankah yang demikian itu merupakan kerugian yang nyata (Az-Zumar 15).

    Sesungguhnya Allah itu thayib (baik), tidak menerima (suatu amal) kecuali yang baik (halal) (HR Muslim).

    Allah melarang kita untuk mencampur-adukkan antara yang haq (memberi nafkah atau infaq) dengan yang bathil (menggunakan harta haram).

    Dan janganlah kamu campur-adukkan antara yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui (Al-Baqarah 42).

    Walhasil, agar berhati-hati dalam mencari nafkah dan lebih baik berhenti sejenak memastikan harta itu halal atau haram sebelum mengambilnya. Dan mulailah dari hal-hal yang kecil dahulu semisal apakah pulpen kantor yang kita pakai digunakan juga untuk kepentingan pribadi?, apakah pulsa HP yang dibayar kantor digunakan juga untuk kepentingan pribadi?, apakah masih menerima souvenir indah (pulpen, jam meja, kalkulatror, dan lain-lain) dari Supplier (klien)?, apakah masih menerima parcel akhir tahun dari supplier?, dan lain-lain. Sehingga jika menerima yang lebih besar berupa suap atau komisi akan mantap untuk menolaknya. Begitulah orang yang bertaqwa, sangat berhati-hati melangkah bagaikan berjalan diatas batu yang tajam.

    Pembuktian dan sanksinya

    Hukum pembuktian dalam Islam sama halnya dengan hukum syara’ yang lain, merupakan hukum yang digali dari dalil yang bersifat rinci. Hukum pembuktian kadang-kadang terjadi pada kasus pidana (‘uqubat), kadang terjadi pula pada kasus-kasus perdata (mu’amalat).

    Bukti itu ada empat dalam Islam, yakni: pengakuan, sumpah, kesaksian dan dokumen-dokumen tertulis. Sedangkan indikasi (qarinah) tidak termasuk bukti.

    Pengakuan

    Pengakuan dari pelaku bahwa ia telah mengambil harta ghulul dan seorang Qadhi harus meneliti kebenaran pengakuannya itu, seperti halnya Rasulullah meneliti pengakuan zina oleh Al-Aslami (apakah engkau menyetubuhinya?, apakah seperti anak celak masuk kedalam celak?, apakah seperti timba masuk kedalam sumur? – HR Abu Dawud dan Daruquthni). Hal ini untuk memastikan bahwa ia benar-benar telah melakukannya.

    Sumpah

    Hal ini merupakan kelanjutan dari pengakuan , ia harus bersumpah atas perbuatan tersebut benar-benar telah dilakukannya. Sumpah ini atas permintaan Qadhi,

    Sumpah itu wajib didasarkan pada niat orang yang meminta (HR Muslim).

    Kesaksian

    Dalam banyak ayat dan hadits dijelaskan bahwa pada umumnya kasus ‘uqubat dan mu’amalat dengan menghadirkan 2 orang saksi laki-laki, seperti: kasus jual beli (Al-Baqarah 282), wasiat (Al-Maidah 106), Talak dan rujuk (Ath-Thalaq 2), temuan luaqathah (HR Imam Ahmad), dan lain-lain, kecuali kasus zina dengan 4 orang saksi. Sedangkan jika tidak ada saksi laki-laki maka dapat diganti dengan 2 orang saksi wanita.

    Kesaksian inipun harus disaksikan langsung oleh pemberi saksi (al-mu’ayanah), melalui panca indranya. Dan dilakukan dihadapan Qadhi pada sidang pengadilan, diluar pengadilan tidak syah.

    Dokumen

    Dokumen-dokumen yang ditanda-tangani oleh pemiliknya sendiri baik dihadapan instansi resmi maupun tidak, dokumen ini merupakan pengakuan tertulis dan tidak berbeda dengan pengakuan lisan. Begitu juga dokumen-dokumen yang dikeluarkan oleh Badan resmi dapat dijadikan bukti dipengadilan, salinan (copy) dokumen tidak dapat dijadikan bukti selama belum ada pengesahan dari Badan yang mengeluarkan. 9)

    Hukuman sanksi (‘uqubat) terdiri dari 4 macam: had, qishash, ta’zir dan mukhallafat. Sedangkan sanksi (‘uqubat) bagi pelaku ghulul adalah ta’zir (bukan had), karena harta yang dicuri merupakan harta yang syubhat (harta negara/baitul mal) dan merupakan harta milik umum, sama halnya anak mencuri harta bapaknya, istri mencuri harta suaminya maka tidak dikenai had tetapi ta’zir. Ta’zir adalah pelanggaran atas hukum syara’ (wajib dan haram), tetapi belum ditetapkan kadar sanksinya secara syar’i maka diserahkan kepada penguasa (qadhi/khalifah) untuk menetapkan sanksinya.

    Sanksi ta’zir bisa berupa hukuman mati, jilid (cambuk), penjara, pengasingan, dan lain-lain. dan sanksi ini merupakan penebus dosa bagi pelakunya, disamping itu sanksi ini sebagai pencegah agar masyarakat tidak melakukan hal yang sama. Tetapi sebelum sanksi ta’zir dilakukan maka harta ghulul harus dikembalikan terlebih dahulu kepada pemiliknya. Jika barangnya telah rusak/cacat/berkurang maka harus dikembalikan dengan barang lain yang senilai harganya.

    Barangsiapa menemukan barangnya terdapat pada seorang laki-laki maka ia yang paling berhak terhadap barang tersebut, dan orang yang menjualnya harus mengembalikan barang jualannya itu (HR Abu Dawud).

    Dalam hal ini putusan Qadhi tidak mengubah hakikat hukum syari’at, yakni tidak dapat merubah haram menjadi halal atau sebaliknya. Hakim hanya dapat menghukumi apa yang dapat dilihat, didengar dan disaksiikan para saksi, dan Qadhi manusia biasa yang bisa saja salah.Jika keputusannya salah maka Qadhi memperoleh satu pahala, sedangkan dosanya ditanggung oleh penipunya. 1)

    Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain diantara kalian dengan cara bathil dan (janganlah) kalian membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kalian dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kalian mengetahui (Al-Baqarah 188).

    Wallahua’lam,

    Maraji’:

    1. Tafsir Ibnu Katsir
    2. Tafsir Fi zhilalil Quran oleh Sayyid Quthb
    3. Shahih Bukhari
    4. Hukum pembuktian dalam Islam (Ahkamul bayyinat) oleh Ahmad ad-Da’ur
    5. Sistem sanksi dalam Islam (Nidzamul ‘uqubat) oleh Abdurrahman al-Maliki
    6. Halal haram dalam Islam oleh DR Yusuf Qaradhawi
    7. Anatomi masyarakat Islam oleh DR Yusuf Qaradhawi
    8. Halal dan haram oleh Mutawalli Sya’rawi
    9. Sistem keuangan dinegara Khilafah (Al-amwal fi daulah al-Khilafah) oleh Abdul Qadim Zallum
     
  • erva kurniawan 1:11 am on 13 January 2015 Permalink | Balas  

    Rahasia Mengapa Allah Menghapus Perbuatan Buruk Orang orang… 

    ampunRahasia Mengapa Allah Menghapus Perbuatan Buruk

    Orang-orang beriman bercita-cita memperoleh keridhaan, kasih sayang, dan surga Allah. Namun, manusia diciptakan dalam keadaan lemah dan lupa sehingga manusia melakukan banyak kesalahan dan memiliki banyak kelemahan. Allah Yang Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya dan Maha Pengasih dan Penyayang memberitahukan kita bahwa Dia akan menghapus perbuatan buruk dari hamba-Nya yang ikhlas dan akan memberikan kepada mereka pemeriksaan yang mudah:

    “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya dengan gembira.” (Q.s. al-Insyiqaq: 7-9).

    Tentu saja Allah tidak mengubah perbuatan buruk setiap orang menjadi kebaikan. Adapun sifat orang-orang beriman yang perbuatan buruknya dihapus Allah dan diampuni-Nya diberitahukan dalam al-Qur’an.

    Orang-orang yang Menjauhi Dosa-dosa Besar

    Dalam sebuah ayat Allah menyatakan:

    “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia.” (Q.s. an-Nisa': 31).

    Orang-orang yang beriman yang mengetahui fakta ini berbuat dengan sangat hati-hati dengan memperhatikan batas-batas yang ditetapkan Allah, dan mereka menghindari hal-hal yang dilarang. Jika mereka melakukan kesalahan karena kealpaannya, mereka segera berpaling kepada Allah, bertobat, dan memohon ampunan.

    Allah memberitahukan kita dalam al-Qur’an tentang hamba-hamba-Nya yang tobatnya akan diterima. Dalam hal ini, jika kita mengetahui perintah Allah, namun dengan sengaja kita melakukan dosa dan berkata, “Tidak apa-apa, apa pun yang terjadi saya akan diampuni.” Perkataan ini benar-benar menunjukkan cara berpikir yang salah, karena Allah mengampuni perbuatan dosa hamba-hamba-Nya yang dilakukan karena kealpaan dan ia segera bertobat dan tidak berniat mengulanginya lagi:

    “Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran ketidaktahuan, yang kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima tobatnya oleh Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’ Dan tidak pula orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (Q.s. an-Nisa': 17-8).

    Sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, menjauhi perbuatan dosa dengan sungguh-sungguh sangatlah penting jika seseorang ingin perbuatan-perbuatan buruknya dihapuskan, dan jika tidak menginginkan penyesalan pada hari pengadilan kelak. Dalam pada itu, seorang beriman yang melakukan suatu dosa, hendaknya secepatnya memohon ampun kepada Allah.

     

    Orang-orang yang Sibuk Mengerjakan Amal Saleh

    Dalam ayat lainnya, Allah menyatakan bahwa Dia akan menutupi perbuatan buruk orang-orang yang beramal saleh. Sebagian dari ayat-ayat yang membicarakan masalah ini adalah sebagai berikut:

    “Pada hari ketika Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari ditampakkannya kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar.” (Q.s. at-Taghabun: 9).

    “Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, maka mereka itu kejahatan mereka diganti dengan Allah dengan kebajikan. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. al-Furqan: 70).

    Setiap perbuatan dan semua tindakan yang dilakukan untuk mencari karunia Allah adalah “amal saleh”. Misalnya, perbuatan seperti menyampaikan perintah agama Allah kepada manusia, memperingatkan seseorang yang tidak mau bertawakal kepada Allah atas takdirnya, menjauhi seseorang dari menggunjing, memelihara rumah dan badan agar tetap bersih, memperluas wawasan dengan membaca dan belajar, berbicara dengan sopan, mengingatkan orang tentang akhirat, merawat orang sakit, menunjukkan perasaan cinta dan kasih sayang kepada yang lebih tua, mencari nafkah dengan cara yang halal sehingga hasilnya dapat digunakan untuk kemanfaatan orang lain, mencegah kejahatan dengan kebaikan dan kesabaran, semua itu merupakan amal saleh jika dilakukan untuk mencari keridhaan Allah.

    Orang-orang yang menginginkan agar kesalahannya diampuni dan diganti dengan kebaikan di akhirat, hendaknya selalu melakukan perbuatan yang sangat diridhai Allah. Untuk tujuan itu, hendaknya kita selalu ingat perhitungan pada Hari Pengadilan. Tentunya menjadi jelas bagaimanakah seseorang seharusnya berbuat, misalnya jika ia diletakkan di depan api neraka, kemudian kepadanya diperlihatkan perbuatan-perbuatan buruknya yang telah ia kerjakan semasa hidupnya, kemudian diingatkan bahwa ia seharusnya berbuat benar agar diampuni.

    Seseorang yang melihat api neraka, yang mendengar keputusasaan, penyesalan, dan keluh kesah para penghuni neraka yang mengalami siksaan yang pedih, dan yang menyaksikan siksa neraka dengan matanya, tentu saja akan melakukan perbuatan yang sangat diridhai Allah dan akan berusaha dengan sekuat tenaganya. Orang ini akan mengerjakan shalat tepat pada waktunya, melakukan amal saleh, tidak akan pernah lalai, tidak pernah berani melakukan perbuatan yang kurang diridhai Allah, jika ia mengetahui bahwa ada perbuatan lainnya yang lebih diridhai-Nya. Karena neraka yang ada di sisinya akan selalu mengingatkannya tentang kehidupan yang kekal abadi dan siksaan Allah. Ia akan segera melakukan apa yang diperintahkan oleh hati nuraninya. Ia akan berhati-hati dalam menjaga shalatnya. Sehingga, dalam kehidupan di dunia ini, perbuatan buruk bagi orang-orang yang melakukan amal saleh, takut kepada Allah dan hari pengadilan, bagaikan orang yang melihat neraka lalu dikembalikan ke dunia, atau bagaikan mereka selalu melihat api neraka di sisinya sehingga ia segera melakukan kebaikan. Orang-orang yang beriman ini merasa yakin tentang akhirat dan mereka sangat takut dengan azab Allah dan berusaha menjauhinya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 12 January 2015 Permalink | Balas  

    sholat 4Hal-Hal yang Dimakruhkan dalam Shalat

    Arsip Fiqh

    Hal-hal yang dimakruhkan di dalam shalat adalah sebagai berikut.

    1. Menengadahkan pandangan ke atas. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Apa yang membuat orang-orang itu mengangkat penglihatan mereka ke langit dalam shalat mereka? Hendaklah mereka berhenti dari hal itu atau (kalau tidak), niscaya akan tersambar penglihatan mereka.” (HR Bukhari dan Muslim meriwayatkannya dengan makna yang sama)
    2. Meletakkan tangan di pinggang. Hal ini berdasarkan larangan Rasulullah saw meletakkan tangan di pinggang ketika shalat. (Muttafaq ‘alaih)
    3. Menoleh atau melirik, terkecuali apabila diperlukan. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah ra. Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang seseorang yang menoleh dalam keadaan shalat, beliau menjawab,

    “Itu adalah pencurian yang dilakukan setan dari shalat seorang hamba.” (HR Bukhari dan Abu Daud)

    1. Melakukan pekerjaan yang sia-sia, serta segala perbuatan yang membuat orang lalai dalam shalatnya atau menghilangkan kekhusyuan shalatnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Hendaklah kamu tenang dalam melaksanakan shalat.” (HR Muslim)
    2. Menaikkan rambut yang terurai atau melipatkan lengah baju yang terulur. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota badan dan tidak boleh melipat baju atau menaikkan rambut (yang terulur).” (Muttafaq ‘alaih)
    3. Menyapu kerikil yang ada di tempat sujud (dengan tangan) dan meratakan tanah lebih dari sekali. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah saw, “Dari Mu’aiqib, ia berkata, ‘Rasulullah saw menyebutkan tentang menyapu di masjid (ketika shalat), maksudnya menyapu kerikil (dengan telapak tangan). Beliau bersabda, ‘Apabila memang harus berbuat begitu, maka hendaklah sekali saja’.” (HR Muslim)

    Dari Mu’aiqib pula, bahwa Rasulullah saw bersabda tentang seseorang yang meratakan tanah pada tempat sujudnya (dengan telapak tangan), beliau bersabda, “Kalau kamu melakukannya, maka hendaklah sekali saja.” (Muttafaq ‘alaih)

    1. Mengulurkan/menjulurkan pakaian sampai mengenai lantai dan menutup mulut (tanpa alasan).

    Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “Rasulullah saw melarang mengulurkan/menjulurkan pakaian sampai mengenai lantai dalam shalat dan menutup mulut.” (HR Abu Daud, Tirmizi dan lainnya, hadis hasan)

    Adapun jika menutup mulut karena suatu hal, seperti menguap ataupun yang lainnya maka hal tersebut dibolehkan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis.

    1. Shalat di hadapan makanan. Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Tidak sempurna shalat (yang dikerjakan setelah) makanan dihidangkan.” (HR Muslim)
    2. Shalat sambil menahan buang air kecil atau besar dan sebagainya yang mengganggu ketenangan hati. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Tidak sempurna shalat (yang dikerjakan setelah) makanan dihidangkan dan shalat seseorang yang menahan buang air kecil dan besar.” (HR Muslim)
    3. Shalat ketika sudah terlalu mengantuk. Rasulullah saw bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu ada yang mengantuk dalam keadaan shalat, maka hendaklah ia tidur sampai hilang rasa kantuknya. Maka sesungguhnya apabila salah seorang di antara kamu ada yang shalat dalam keadaan mengantuk, dia tidak akan tahu apa yang ia lakukan, barangkali ia bermaksud minta ampun kepada Allah, ternyata dia malah mencerca dirinya sendiri.” (Muttafaq ‘alaih)
    4. Berpanca atau mengait-ngaitkan jari-jari tangan. Hal ini karena Nabi saw pernah melihat seorang laki-laki mengait-ngaitkan jari-jemarinya diwaktu shalat yang kemudian dilepaskan oleh beliau. (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah)
    5. Melihat sesuatu yang dapat melalaikan hati. Diriwayatkan dari Aisyah bahwasannya dia berkata bahwa Rasulullah saw shalat dengan memakai kain (baju) yang terbuat dari bulu wol bergaris-garis, lalu beliau bersabda, “Garis-garis baju ini membuat lalai. Karena itu, bawalah baju ini kepada Abu Jahm dan tukarkanlah dengan baju bulu yang kasar dan polos. (HR Syaikhan/Bukhari-Muslim)

    Referensi:

    • Tuntunan Shalat Menurut Alquran & As-Sunah, Syekh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin
    • Shalat Empat Mazhab, ‘Abdul Qadir ar-Rahbawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 11 January 2015 Permalink | Balas  

    wudhu-4Wajah Orang-Orang Beriman Bercahaya, dan Wajah Orang-Orang Kafir Diliputi Kehinaan

    Salah satu rahasia yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an adalah bahwa keimanan dan kekufuran tercermin di wajah dan kulit manusia. Di beberapa ayat, Allah memberitahukan bahwa terdapat cahaya di wajah orang-orang beriman, sedangkan wajah orang-orang kafir diliputi kehinaan:

    “Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu (Q.s. asy-Syura: 45).

    “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan ada tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak pula kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan memperoleh balasan yang setimpal dan mereka diliputi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari azab Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Q.s. Yunus: 26-7).

    Sebagaimana dinyatakan dalam ayat-ayat tersebut, wajah orang-orang kafir diliputi oleh kehinaan. Sebaliknya, wajah orang-orang beriman bercahaya. Allah menyatakan bahwa mereka dikenal karena adanya bekas sujud pada wajah mereka:

    “Muhammad itu adalah Utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud (Q.s. al-Fath: 29).

    Dalam ayat-ayat lainnya, Allah memberitahukan bahwa orang-orang kafir dan orang-orang yang berdosa dikenali dari wajah mereka:

    “Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka.” (Q.s. ar-Rahman: 41).

    “Dan kalau kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka, dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (Q.s. Muhammad: 30).

    Keajaiban dan rahasia penting yang diungkapkan dalam al-Qur’an adalah adanya perubahan fisik yang terjadi pada wajah seseorang. Hal itu tergantung pada keimanan dan dosa seseorang. Keadaan ruhani menghasilkan pengaruh fisik pada tubuh, sekalipun bentuknya tetap sama, namun ekspresi wajah dapat berubah, yakni wajahnya diliputi kegelapan atau cahaya. Jika Allah menghendaki, orang yang beriman dapat melihat keajaiban ini yang ditunjukkan kepada orang-orang.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 10 January 2015 Permalink | Balas  

    al-quran 3Balasan Berakidah Islam

    Seorang yang berakidah Islam akam mendapatkan balasan dari keimanannya berupa kenikmatan dan kesenangan di Dunia, dan diakhirat. Hal ini merupakan janji Allah swt kepada kaum muslim. Kenikmatan dan kesenangan itu adalah sesutu yang pasti akan didapatkan oleh seorang muslim sebagai buah dari keimanannya kepada Allah swt, baik diharapkannya ataupun tidak diharapkannya. Akan tetapi keimanan itu harus senantiasa disertai dengan pelaksanaan segala konsekuensinya.

    A. Kenikmatan dan Kesenangan di Dunia

    1. Menjadi Golongan Terbaik dan Mulia

    “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” QS Ali Imran 110

    “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” QS Ali Imran 139

    1. Jaminan Ketenangan dan Selalu Berani Bertindak

    “Katakanlah:”Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Alloh bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal” QS At Taubah 51

    1. Jaminan Kecukupan rizki dan Menjadi Pewaris Bumi

    “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” QS Ath Thalaq 2-3

    “Dan sungguh telah kami tulis di dalam Zabur sesudah (kami tulis dalam) lauh Mahfudz, bahwasanya bumi ini diwariskan untuk hamba-hambaKu yang saleh” QS Al Anbiya 105

    “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” QS Al A’raf 96

    1. Kepuasan Akal

    Apabila jalan keimanan untuk mencapai akidah Islam yang hakiki telah dilalui dengan jalan berpikir yang cemerlang maka seorang muslim akan merasa terpuaskan akalnya. Dia akan tunduk dengan jawaban yang dipikirkannya secara cemerlang atas jawaban 3 pertanyaan yang mendasar (uqdatul kubro) pada manusia, dengan jawaban yang memuaskan dan shahih.

    1. Kemenangan atas Orang kafir

    “Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shaleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia menjadikan orang-orang yang sebelum mereka, telah berkuasa?” QS An Nuur :55

    “Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslim memerangi yahudi, kemudian kaum muslim memerangi mereka sampai akhirnya orang-orang yahudi (berlarian) berlindung di balik batu dan pepeohonan. Lalu batu dan pepohonan itu berkata, “wahai muslim?, wahai hamba Allah?, ini ada orang yahudi bersembunyi dibelakangku, kemari, dan bunuhlah dia.” HR Bukhari dan Muslim

    Masih banyak lagi ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Rosulullah saw, yang memaparkan janji-janji Allah swt yang akan diperoleh kaum muslim di dunia. Akan tetapi tentu saja syarat pertama memperoleh segala kenikmatan dan kesenangan di dunia, oleh sebab dia seorang muslim, adalah memegang teguh keimanan terhadap akidah Islam. Rosulullah saw juga tidak berpangku tangan dalam urusan memberi nafkah untuk dirinya dan keluarganya, beliau juga sempat mencari kayu bakar pada saat akan memasak makanan dengan para sahabat, bahkan juga pernah dapur rumahnya tidak ada yang dimasak selama 3 hari berturut-turut.

    Semuanya itu adalah bukti bahwa seorang muslim akan senantisa mendapatkan kemenangan, kesenangan, kenikmatan di dunia ini selama mereka senantiasa menunaikan kausalitas pekerjaan tersebut. Bukankah mudah bagi Nabi saw untuk hanya menyuruh para malaikat menghancurkan musuh-musuhnya, mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya, bahkan kehidupan yang nikmat dan kesenangan dapat diraihnya laksana hidup di dalam istana yang megah dan mewah? Akan tetapi Rosulullah saw menunaikan aspek kausalitas dalam setiap perbuatannya. Adanya kesulitan, kesusahan, kesedihan, dan kesengsaraan yang sempat ditemui oleh seorang muslim bukanlah berarti segala kenikmatan dan kesenangan yang dijanjikan Allah swt itu dusta belaka. Walaupun sudah memegang teguh keimanan kepada akidah Islam. Akan tetapi bisa saja karena dirinya tidak memenuhi kausalitas perbuatan di dunia ini, atau Allah swt berkehendak mengujinya dan akan memberikan kenikmatan dan kesenangan itu diperolehnya di akhirat kelak. Hal ini membutuhkan kewaspadaan bagi seorang muslim, apabila seluruh aspek kausalitas telah dijaga dan ditunaikannya, maka segala apapun hasilnya adalah baik baginya. Walaupun kesengsaraan dan kesusahan merupakan hasil dari perbuatan tersebut, dia akan tetap merasa menang dan bahagia karena berarti kenikmatan di akhirat akan segera didapatinya. Namun bila aspek kausalitas tidak dijaga dan ditunaikannya, maka kehancuran akan didapatinya. Lebih lagi bila dia menggantungkan harapan kepada Allah swt tetapi kausalitas tidak ditunaikan maka di dunia akan menuai kehancuran dan di akhirat tidak akan mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan yang diharapkan.

    B. Kepastian Surga dan Kenikmatannya di Akhirat

    “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” QS. Ali Imran: 133

    “Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir.” QS.Al Araf :50

    “Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” QS.Maryam: 63

    “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa, dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” QS.Al Baqarah:25

    Dan masih banyak ayat-ayat Al Qur’an yang menceritakan tentang kenikmatan surga yang disediakan bagi orang yang berakidah Islam Wallahu alam bish showab.

    ***

    Kiriman Sahabat Rachmat Kurnia

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 9 January 2015 Permalink | Balas  

    sabar (1)Terdapat Kebaikan Dalam Setiap Peristiwa

    Allah memberitahukan kita bahwa dalam setiap peristiwa yang Dia ciptakan terdapat kebaikan di dalamnya. Ini merupakan rahasia lain yang menjadikan mudah bagi orang-orang yang beriman untuk bertawakal kepada Allah. Allah menyatakan, bahkan dalam peristiwa-peristiwa yang tampaknya tidak menyenangkan terdapat kebaikan di dalamnya:

    “Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Q.s. an-Nisa': 19).

    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 216).

    Dengan memahami rahasia ini, orang-orang yang beriman menjumpai kebaikan dan keindahan dalam setiap peristiwa. Peristiwa-peristiwa yang sulit tidak membuat mereka merasa gentar dan khawatir. Mereka tetap tenang ketika menghadapi penderitaan yang ringan maupun berat. Orang-orang Muslim yang ikhlas bahkan melihat kebaikan dan hikmah Ilahi ketika mereka kehilangan seluruh harta benda mereka. Mereka tetap bersyukur kepada Allah yang telah mengkaruniakan kehidupan. Mereka yakin bahwa dengan kehilangan harta tersebut Allah sedang melindungi mereka dari perbuatan maksiat atau agar hatinya tidak terpaut dengan harta benda. Untuk itu, mereka bersyukur dengan sedalam-dalamnya kepada Allah karena kerugian di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kerugian di akhirat. Kerugian di akhirat artinya azab yang kekal abadi dan sangat pedih. Orang-orang yang tetap sibuk mengingat akhirat melihat setiap peristiwa sebagai kebaikan dan keindahan untuk menuju kehidupan akhirat. Orang-orang yang bersabar dengan penderitaan yang dialaminya akan menyadari bahwa dirinya sangat lemah di hadapan Allah, dan akan menyadari betapa mereka sangat memerlukan Dia. Mereka akan berpaling kepada Allah dengan lebih berendah diri dalam doa-doa mereka, dan dzikir mereka akan semakin mendekatkan diri mereka kepada-Nya. Tentu saja hal ini sangat bermanfaat bagi kehidupan akhirat seseorang. Dengan bertawakal sepenuhnya kepada Allah dan dengan menunjukkan kesabaran, mereka akan memperoleh ridha Allah dan akan memperoleh pahala berupa kebahagiaan abadi.

    Manusia harus mencari kebaikan dan keindahan tidak saja dalam penderitaan, tetapi juga dalam peristiwa sehari-hari. Misalnya, masakan yang dimasak dengan susah payah ternyata hangus, dengan kehendak Allah, mungkin akan bermanfaat menjauhkan dari madharat kelak di kemudian hari. Seseorang mungkin tidak diterima dalam ujian masuk perguruan tinggi untuk menggapai harapannya pada masa depan. Bagaimanapun, hendaknya ia mengetahui bahwa terdapat kebaikan dalam kegagalannya ini. Demikian pula hendaknya ia dapat berpikir bahwa barangkali Allah menghendaki dirinya agar terhindar dari situasi yang sulit, sehingga ia tetap merasa senang dengan kejadian itu. Dengan berpikir bahwa Allah telah menempatkan berbagai rahmat dalam setiap peristiwa, baik yang terlihat maupun yang tidak, orang-orang yang beriman melihat keindahan dalam bertawakal mengharapkan bimbingan Allah.

    Seseorang mungkin tidak selalu melihat kebaikan dan hikmah Ilahi di balik setiap peristiwa. Sekalipun demikian ia mengetahui dengan pasti bahwa terdapat kebaikan dalam setiap peristiwa. Ia memanjatkan doa kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya kebaikan dan hikmah Ilahi di balik segala sesuatu yang terjadi.

    Orang-orang yang menyadari bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah memiliki tujuan tidak pernah mengucapkan kata-kata, “Seandainya saya tidak melakukan…” atau “Seandainya saya tidak berkata …,” dan sebagainya. Kesalahan, kekurangan, atau peristiwa-peristiwa yang kelihatannya tidak menguntungkan, pada hakikatnya di dalamnya terdapat rahmat dan masing-masing merupakan ujian. Allah memberikan pelajaran penting dan mengingatkan manusia tentang tujuan penciptaan pada setiap orang. Bagi orang-orang yang dapat melihat dengan hati nuraninya, tidak ada kesalahan atau penderitaan, yang ada adalah pelajaran, peringatan, dan hikmah dari Allah. Misalnya, seorang Muslim yang tokonya terbakar akan melakukan mawas diri, bahkan keimanannya menjadi lebih ikhlas dan lebih lurus, ia menganggap peristiwa itu sebagai peringatan dari Allah agar tidak terlalu sibuk dan terpikat dengan harta dunia.

    Hasilnya, apa pun yang dihadapinya dalam kehidupannya, penderitaan itu pada akhirnya akan berakhir sama sekali. Seseorang yang mengenang penderitaannya akan merasa takjub bahwa penderitaan itu tidak lebih dari sekadar kenangan dalam pikiran, bagaikan orang yang mengingat kembali adegan dalam film. Oleh karena itu, akan datang suatu saat ketika pengalaman yang sangat pedih akan tinggal menjadi kenangan, bagaikan bayangan adegan dalam film. Hanya ada satu yang masih ada: bagaimanakah sikap seseorang ketika menghadapi kesulitan, dan apakah Allah ridha kepadanya atau tidak. Seseorang tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang telah ia alami, tetapi yang dimintai tanggung jawab adalah sikapnya, pikirannya, dan keikhlasannya terhadap apa yang ia alami. Dengan demikian, berusaha untuk melihat kebaikan dan hikmah Ilahi terhadap apa yang diciptakan Allah dalam situasi yang dihadapi seseorang, dan bersikap positif akan mendatangkan kebahagiaan bagi orang-orang beriman, baik di dunia maupun di akhirat. Tidak duka cita dan ketakutan yang menghinggapi orang-orang yang beriman yang memahami rahasia ini. Demikian pula, tidak ada manusia dan tidak ada peristiwa yang menjadikan rasa takut atau menderita di dunia ini dan di akhirat kelak. Allah menjelaskan rahasia ini dalam al-Qur’an sebagai berikut:

    “Kami berfirman, ‘Turunlah kamu dari surga itu. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan mereka tidak bersedih hati’.” (Q.s. al-Baqarah: 38).

    “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (Q.s. Yunus: 62-4).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 8 January 2015 Permalink | Balas  

    siluet sholatKeutamaan Shalat

    Arsip Fiqh

    Shalat adalah ibadah yang utama dan berpahala sangat besar. Banyak hadits-hadits yang menerangkan hal itu, akan tetapi dalam kesempatan ini kita cukup menyebutkan beberapa, di antaranya sebagai berikut:

    1. Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang amal yang paling utama dalam hal shalat, beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” (Muttafaq ‘alaih)
    2. Sabda Rasulullah SAW, “Bagaimana pendapat kamu sekalian, seandainya di depan pintu masuk rumah salah seorang di antara kamu ada sebuah sungai, kemudian ia mandi di sungai itu lima kali dalam sehari; apakah masih ada kotoran yang melekat di badannya?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotoran di badannya.” Bersabda Rasulullah SAW, “Maka begitu pulalah perumpamaan shalat lima kali sehari semalam; dengan shalat itu, Allah akan menghapus semua dosa.” (Muttafaq ‘alaih)
    3. Sabda Rasulullah SAW, “Tidak ada seorang muslim pun yang ketika shalat fardhu telah tiba, kemudian dia berwudhu’ dengan baik dan memperbagus kekhusyu’annya (dalam shalat) serta ruku’nya, terkecuali hal itu merupakan penghapus dosanya yang telah lalu, selama dia tidak melakukan dosa besar, dan hal itu berlaku sepanjang tahun itu.” (HR. Muslim)
    4. Sabda Rasulullah SAW, “Pokok segala perkara itu adalah Al-Islam; dan tonggak Islam itu adalah shalat; dan puncak Islam itu adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan lainnya: hadits shahih)

    ***

    Referensi: Tuntunan Shalat Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin.

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 7 January 2015 Permalink | Balas  

    tawakalRahasia Berserah Diri dan Bertawakal Kepada Allah

    Berserah diri kepada Allah merupakan ciri khusus yang dimiliki orang-orang mukmin, yang memiliki keimanan yang mendalam, yang mampu melihat kekuasaan Allah, dan yang dekat dengan-Nya. Terdapat rahasia penting dan kenikmatan jika kita berserah diri kepada Allah. Berserah diri kepada Allah maknanya adalah menyandarkan dirinya dan takdirnya dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Allah telah menciptakan semua makhluk, binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa – masing-masing dengan tujuannya sendiri-sendiri dan takdirnya sendiri-sendiri. Matahari, bulan, lautan, danau, pohon, bunga, seekor semut kecil, sehelai daun yang jatuh, debu yang ada di bangku, batu yang menyebabkan kita tersandung, baju yang kita beli sepuluh tahun yang lalu, buah persik di lemari es, ibu anda, teman kepala sekolah anda, diri anda – pendek kata segala sesuatunya, takdirnya telah ditetapkan oleh Allah jutaan tahun yang lalu. Takdir segala sesuatu telah tersimpan dalam sebuah kitab yang dalam al-Qur’an disebut sebagai ‘Lauhul-Mahfuzh’. Saat kematian, saat jatuhnya sebuah daun, saat buah persik dalam peti es membusuk, dan batu yang menyebabkan kita tersandung – pendek kata semua peristiwa, yang remeh maupun yang penting – semuanya tersimpan dalam kitab ini.

    Orang-orang yang beriman meyakini takdir ini dan mereka mengetahui bahwa takdir yang diciptakan oleh Allah adalah yang terbaik bagi mereka. Itulah sebabnya setiap detik dalam kehidupan mereka, mereka selalu berserah diri kepada Allah. Dengan kata lain, mereka mengetahui bahwa Allah menciptakan semua peristiwa ini sesuai dengan tujuan ilahiyah, dan terdapat kebaikan dalam apa saja yang diciptakan oleh Allah. Misalnya, terserang penyakit yang berbahaya, menghadapi musuh yang kejam, menghadapi tuduhan palsu padahal ia tidak bersalah, atau menghadapi peristiwa yang sangat mengerikan, semua ini tidak mengubah keimanan orang yang beriman, juga tidak menimbulkan rasa takut dalam hati mereka. Mereka menyambut dengan rela apa saja yang telah diciptakan Allah untuk mereka. Orang-orang beriman menghadapi dengan kegembiraan keadaan apa saja, keadaan yang pada umumnya bagi orang-orang kafir menyebabkan perasaan ngeri dan putus asa. Hal itu karena rencana yang paling mengerikan sekalipun, sesungguhnya telah direncanakan oleh Allah untuk menguji mereka. Orang-orang yang menghadapi semuanya ini dengan sabar dan bertawakal kepada Allah atas takdir yang telah Dia ciptakan, mereka akan dicintai dan diridhai Allah. Mereka akan memperoleh surga yang kekal abadi. Itulah sebabnya orang-orang yang beriman memperoleh kenikmatan, ketenangan, dan kegembiraan dalam kehidupan mereka karena bertawakal kepada Tuhan mereka. Inilah nikmat dan rahasia yang dijelaskan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman. Allah menjelaskan dalam al-Qur’an bahwa Dia mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (Q.s. Ali ‘Imran: 159)

    Rasulullah saw. juga menyatakan hal ini, beliau bersabda:

    “Tidaklah beriman seorang hamba Allah hingga ia percaya kepada takdir yang baik dan buruk, dan mengetahui bahwa ia tidak dapat menolak apa saja yang menimpanya (baik dan buruk), dan ia tidak dapat terkena apa saja yang dijauhkan darinya (baik dan buruk).”

    Masalah lainnya yang disebutkan dalam al-Qur’an tentang bertawakal kepada Allah adalah tentang “melakukan tindakan”. Al-Qur’an memberitahukan kita tentang berbagai tindakan yang dapat dilakukan orang-orang yang beriman dalam berbagai keadaan. Dalam ayat-ayat lainnya, Allah juga menjelaskan rahasia bahwa tindakan-tindakan tersebut yang diterima sebagai ibadah kepada Allah, tidak dapat mengubah takdir. Nabi Ya’qub a.s. menasihati putranya agar melakukan beberapa tindakan ketika memasuki kota , tetapi setelah itu beliau diingatkan agar bertawakal kepada Allah. Inilah ayat yang membicarakan masalah tersebut:

    “Dan Ya’qub berkata, ‘Hai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlainan, namun demikian aku tidak dapat melepaskan kamu barang sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri’.” (Q.s. Yusuf: 67).

    Sebagaimana dapat dilihat pada ucapan Nabi Ya’qub, orang-orang yang beriman tentu saja juga mengambil tindakan berjaga-jaga, tetapi mereka mengetahui bahwa mereka tidak dapat mengubah takdir Allah yang dikehendaki untuk mereka. Misalnya, seseorang harus mengikuti aturan lalu lintas dan tidak mengemudi dengan sembarangan. Ini merupakan tindakan yang penting dan merupakan sebuah bentuk ibadah demi keselamatan diri sendiri dan orang lain. Namun, jika Allah menghendaki bahwa orang itu meninggal karena kecelakaan mobil, maka tidak ada tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah kematiannya. Terkadang tindakan pencegahan atau suatu perbuatan tampaknya dapat menghindari orang itu dari kematian. Atau mungkin seseorang dapat melakukan keputusan penting yang dapat mengubah jalan hidupnya, atau seseorang dapat sembuh dari penyakitnya yang mematikan dengan menunjukkan kekuatannya dan daya tahannya. Namun, semua peristiwa ini terjadi karena Allah telah menetapkan yang demikian itu. Sebagian orang salah menafsirkan peristiwa-peristiwa seperti itu sebagai “mengatasi takdir seseorang” atau “mengubah takdir seseorang”. Tetapi, tak seorang pun, bahkan orang yang sangat kuat sekalipun di dunia ini yang dapat mengubah apa yang telah ditetapkan oleh Allah. Tak seorang manusia pun yang memiliki kekuatan seperti itu. Sebaliknya, setiap makhluk sangat lemah dibandingkan dengan ketetapan Allah. Adanya fakta bahwa sebagian orang tidak menerima kenyataan ini tetap tidak mengubah kebenaran. Sesungguhnya, orang yang menolak takdir juga telah ditetapkan demikian. Karena itulah orang-orang yang menghindari kematian atau penyakit, atau mengubah jalannya kehidupan, mereka mengalami peristiwa seperti ini karena Allah telah menetapkannya. Allah menceritakan hal ini dalam al-Qur’an sebagai berikut:

    “Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.s. al-Hadid: 22-3).

    Sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, peristiwa apa pun yang terjadi telah ditetapkan sebelumnya dan tertulis dalam Lauh Mahfuzh. Untuk itulah Allah menyatakan kepada manusia supaya tidak berduka cita terhadap apa yang luput darinya. Misalnya, seseorang yang kehilangan semua harta bendanya dalam sebuah kebakaran atau mengalami kerugian dalam perdagangannya, semua ini memang sudah ditetapkan. Dengan demikian mustahil baginya untuk menghindari atau mencegah kejadian tersebut. Jadi tidak ada gunanya jika merasa berduka cita atas kehilangan tersebut. Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan berbagai kejadian yang telah ditetapkan untuk mereka. Orang-orang yang bertawakal kepada Allah ketika mereka menghadapi peristiwa seperti itu, Allah akan ridha dan cinta kepadanya. Sebaliknya, orang-orang yang tidak bertawakal kepada Allah akan selalu mengalami kesulitan, keresahan, ketidakbahagiaan dalam kehidupan mereka di dunia ini, dan akan memperoleh azab yang kekal abadi di akhirat kelak. Dengan demikian sangat jelas bahwa bertawakal kepada Allah akan membuahkan keberuntungan dan ketenangan di dunia dan di akhirat. Dengan menyingkap rahasia-rahasia ini kepada orang-orang yang beriman, Allah membebaskan mereka dari berbagai kesulitan dan menjadikan ujian dalam kehidupan di dunia ini mudah bagi mereka.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:02 am on 6 January 2015 Permalink | Balas  

    siluet sholatKewajiban Mendirikan Shalat

    Arsip Fiqh

    Shalat hukumnya fardhu (wajib) bagi setiap orang yang beriman yang telah memenuhi syarat, baik laki-laki maupun perempuan. Shalat dibebankan kepada setiap kaum muslimin dan tidak boleh meninggalkannya, kecuali bagi orang gila, anak kecil yang belum baligh, dan wanita yang sedang haid atau nifas.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kita untuk mendirikan shalat, sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur’anul Karim di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, “Maka dirikanlah shalat itu, sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Q. S. An-Nisa': 103)

    “Peliharalah segala shalat(mu) dan (peliharalah) shalat wusthaa (shalat Ashar).” (Q. S. Al-Baqarah: 238)

    Dari Abdullah bin ‘Amr, pada suatu hari Rasulullah SAW menyebut-nyebut tentang shalat, sabdanya, “Barangsiapa menjaganya, maka shalat itu – baginya- menjadi cahaya, bukti keterangan dan keselamatan pada hari kiamat. Dan barangsiapa tidak mengindahkannya, ia tidak akan memperoleh cahaya, bukti keterangan dan keselamatan, sedang di hari kiamat ia akan bersama Karun, Fir’aun, Haman, dan Ubai bin Khalaf.” (HR. Ahmad, Tabarani, dan Ibn Hibban dengan sanad yang cukup baik)

    Rasulullah SAW menempatkan shalat sebagai rukun yang kedua di antara rukun-rukun Islam yang lima, sebagaimana sabdanya yang berbunyi, “Islam itu dibangun berdasarkan rukun yang lima; yaitu: Bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan Nabi Muhammad itu utusanNya, mendirikan shalat, membayar zakat, melaksanakan ibadah haji ke Baitullah dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (Muttafaq ‘alaih)

    “Pangkal segala hal adalah Islam. Sedangkan tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah berjuang di jalan Allah.” (HR. Tirmizi, dari Mu’az bin Jabal. Ia berkata, “Hadits ini adalah hasan sahih.”)

    Orang yang meninggalakan shalat karena menentang dan mengingkarinya adalah suatu kekafiran dan keluar dari agama Islam, sedangkan yang melalaikannya dihukumi sebagai orang fasik.

    Allah SWT berfirman, “Maka datanglah sesudah mereka pengganti yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Q. S. Maryam: 59)

    Dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah SAW bersabda, “Batas antara seseorang dengan kekeafiran ialah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ashab As-Sunan selain Nasa’i)

    Dari Ibn Abbas, dari Nabi SAW, ia berkata,”Buhul tali Islam dan kaidah-kaidah agama itu ada tiga, di atas ketiganyalah Islam didirikan. Barangsiapa meninggalkan salah satu di antaranya, maka ia adalah kafir yang halal darahnya. (Ketiganya) itu ialah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, mengerjakan shalat fardu, dan puasa Ramadhan.” (Hadits Abu Ya’la dengan sanad yang baik)

    Dari Ibn Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya, mengerjakan shalat dan membayar zakat. Jika mereka telah memenuhi semuanya, berarti mereka telah menjaga darah dan hartanya dari aku, kecuali berdasarkan ketentuan-ketentuan Islam. Sedangkan perhitungannya terserah kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Shalat adalah juga wasiat terakhir yang diamanatkan Rasulullah SAW kepada umatnya menjelang akhir hayatnya. Pada saat-saat hendak menghembuskan nafasnya yang terakhir beliau bersabda, “Jagalah shalat, jagalah shalat, juga hamba sahayamu!” (HR. Abu Daud dari Ali dan Ibn Majah dari Anas)

    Referensi:

    1. Al-Qur’an Al-Karim dan Al-Hadits Kutubus-Sittah.
    2. Diadaptasi dari “Tuntunan Shalat Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah,” Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin.
    3. Al-Adzkaarun Nawawiyyah, Muhyiddin Abi Zakaria bin Syaraf An-Nawawi.
    4. Fiqhus-Sunnah, Sayyid Sabiq.
    5. Shalat Empat Mazhab, ‘Abdul Qadir Ar-Rahbawi.
     
  • erva kurniawan 2:58 am on 5 January 2015 Permalink | Balas  

    siluet bicaraLisan-Lisan Berbahaya

    “Bukankah ditelungkupkannya wajah-wajah manusia di neraka adalah akibat ucapan lisan-lisan mereka?” Demikian Rasulullah menjawab pertanyaan shahabat Mu’adz bin Jabal tentang apakah manusia disiksa lantaran perkataan yang mereka ucapkan.

    Pintu Gerbang

    Benar, lisan adalah nikmat yang luar biasa dari Allah. Namun ia juga menjadi pintu fitnah yang besar. Meski tampak ringan dan sepele, kata-kata yang keluar dari lisan kita mungkin akan berakibat fatal. Menimbulkan kerusakan hebat di dunia atau menjerumuskan pelakunya ke neraka yang menyala-nyala. Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada sesuatu yang membuat seseorang lebih lama mendekam di penjara selain karena lidahnya.”

    Sedang Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan sebuah perkataan yang menjerumuskannya ke neraka dengan jarak sejauh timur dan barat.” (HR. al Bukhariy, Muslim dan Ahmad )

    Begitu besar bahaya dan madharat yang ditimbulkan oleh lisan, sehingga menjaganya agar tidak tergelincir dalam kesalahan hendaknya mendapat perhatian yang serius. Menahannya dari perkataan-perkataan yang tidak berguna dan membatasinya untuk hanya membicarakan hal-hal yang terpuji. Rasulullah bahkan menjanjikan jannah (syurga) bagi siapa saja yang bisa menjamin lisannya untuk kebaikan. Beliau bersabda,

    “Barangsiapa yang bisa menjamin bagiku apa yang ada di antara dua tulang dagu (lisan)nya dan dua kaki (kemaluan)nya, maka aku menjamin jannah baginya.” HR. al Bukhariy, Ahmad dan at Tirmidzi.

    Diam dan Bicara

    Syetan tahu, bahwa lisan merupakan pintu yang sangat menjanjikan dalam rangka menyesatkan manusia. Tabiat manusia yang menyukai kebatilan –sehingga dosa lisan terasa manis-, memudahkan para syetan melancarkan serangan mereka. Mereka akan berusaha agar manusia mengatakan hal-hal yang tidak bermanfaat dan mendatangkan madharat. Juga agar manusia tidak memanfaatkan lisan mereka untuk kebaikan.

    Dua hal yang menjadi sasaran mereka dalam menggoda manusia melalui pintu lisan ini. Yang pertama adalah agar manusia mengucapkan kebatilan (at takallum bil bathil), sedang yang kedua adalah agar manusia diam dari kebenaran (as sukut ‘anil haq). Dan syetan tidak peduli dari sasaran yang mana mereka akan menembakkan godaan.

    Untuk mencapai tujuan tersebut, syetan akan berusaha semaksimal mungkin mengajak manusia berkata-kata tanpa ilmu, tidak memberi manfaat dan mendatangkan madharat. Juga mencegah manusia agar jangan sampai mengucapkan perkataan yang bermanfaat, seperti dzikir, istighfar, tilawah Al Qur’an, menasihati sesama dalam kebenaran serta berbicara atas dasar ilmu.

    Syetan akan menjadikan manusia sebagai pasukan mereka dalam menimbulkan kerusakan di muka bumi. Mereka hiasi perkataan-perkataan batil hingga tampak menarik dan indah. Atau menakut-nakuti manusia dengan beratnya risiko yang akan mereka tanggung jika sibuk menyerukan kebenaran. Mereka akan menjadikan manusia sebagai syetan bisu atau syetan bicara, sebagaimana perkataan seorang alim, “Manusia yang berbicara batil adalah syetan berbicara, sedang manusia yang diam dari al haq adalah syetan bisu.”

    Pilihan Sulit

    Dari target syetan di atas, pembicaraan tentang lisan menjadi rumit. Berbicara atau diam ternyata sama-sama berpotensi menjadi tentara syetan. Padahal tidak ada pilihan bagi lisan selain dua hal itu, diam atau bicara. Dan tidak ada pilihan ketiga.Berbicara keliru menjadi syetan bicara, sedang diam yang keliru juga menjadi syetan bisu yang bisa jadi lebih berbahaya. Bukankah diamnya kaum muslimin pada saat harus menyerukan kebenaran atau banyaknya kemaksiatan yang merajalela bisa sangat berbahaya? Mungkin, syetan akan lebih diuntungkan dengan keadaan begini.

    Bagaimana?

    Jalan keluar dari kerumitan ini hanyalah dengan dua pilihan; berbicara yang benar atau diam yang benar. Masing-masing menjadi pilihan yang tepat menurut keadaan yang menuntutnya. Diam saat harus diam dan berbicara saat harus berbicara.

    Kita harus berusaha menjaga lisan agar tidak tergelincir kepada pembicaraan yang tidak bermanfaat. Mencampuri urusan orang lain, berbicara kosong yang tidak perlu, membicarakan kebatilan, bercanda berlebihan, dan berdusta adalah bentuk-bentuk penyelewengan lisan. Juga termasuk di antaranya adalah perkataan-perkataan keji semisal; menggunjing (ghibah), mengejek, mengolok-olok, mencela, mengumpat, mengadu domba dan yang lain.

    Akal harus senantiasa terjaga dari godaan berbicara yang tidak perlu, terbuangnya waktu dan tenaga dengan sia-sia, juga kerugian lain yang kan menimpa. Tentu saja tidak lupa menyibukkan lisan dengan hal-hal bermanfaat seperti wirid, dzikir, tilawah Al Qur’an, berdakwah, berbicara dengan ilmu dan yang lain. Benarlah Rasulullah yang bersabda,

    “Iman seorang hamba tidak akan istiqamah hingga istiqamah hatinya. Dan hatinya tidak akan istiqamah hingga istiqamah lisannya.” HR. Ahmad.

    Resapi pula perkataan shahabat Abu Darda’, “Aktifkanlah dua telingamu daripada lisanmu. Karena engkau diberi dua telinga dan satu mulut, agar engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara!”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 4 January 2015 Permalink | Balas  

    siluet bicaraLidah Tak Bertulang

    Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

    Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. Lisan memang karunia Allah yang demikian besar. Dan ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.

    Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan. Karena itu Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (Al-Ahzab: 70)

    Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. HR. Al-Imam Al-Bukhari hadits no. 6089 dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah)

    Lisan (lidah) memang tak bertulang, sekali engkau gerakkan sulit untuk kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya. Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.

    Rasulullah SAW bersabda:“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6092)

    Rasulullah SAW bersabda:Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh antara timur dan barat.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6091 dan Muslim no. 6988 dari Abu Hurairah ra)

    Al-Imam An-Nawawi ra mengatakan: “Hadits ini (yakni hadits Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim) teramat jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraaan yang baik, yaitu pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya dan kapan saja dia ragu terhadap maslahatnya, janganlah dia berbicara.” (Al-Adzkar hal. 280, Riyadhus Shalihin no. 1011)

    Al-Imam Asy-Syafi’i ra mengatakan: “Apabila dia ingin berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.” (Al-Adzkar hal. 284)

    Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi ra mengatakan: “Ketahuilah, setiap orang yang telah mendapatkan beban syariat, seharusnya menjaga lisannya dari semua pembicaraan, kecuali pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya. Bila keadaan berbicara dan diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menarik kepada pembicaraan yang haram atau dibenci, dan hal seperti ini banyak terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apapun.”

    Keutamaan Menjaga Lisan

    Memang lisan tidak bertulang. Apabila keliru menggerakkannya akan mencampakkan kita dalam murka Allah yang berakhir dengan neraka-Nya. Lisan akan memberikan ta’bir (mengungkapkan) tentang baik-buruk pemiliknya. Inilah ucapan beberapa ulama tentang bahaya lisan:

    1. Anas bin Malik ra: “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakan.”
    2. Abu Ad-Darda’ ra: “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang yaitu orang yang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu.”
    3. Al-Fudhail ra: “Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang adalah banyak berbicara dan banyak makan.”
    4. Sufyan Ats-Tsauri ra: “Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas menyebarkannya.”
    5. Al-Ahnaf bin Qais ra: “Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan lafadz (ucapan), memelihara dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan menyelamatkan dari pembicaraan yang tidak berguna, serta memberikan kewibawaan terhadap dirinya.”
    6. Abu Hatim ra: “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu, jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara. Dan bila tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”
    7. Yahya bin ‘Uqbah: “Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: ‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan dari pada lisan.”
    8. Mu’arrifh Al-‘Ijli ra: “Ada satu hal yang aku terus mencarinya semenjak 10 tahun dan aku tidak berhenti untuk mencarinya.” Seseorang bertanya kepadanya: “Apakah itu wahai Abu Al-Mu’tamir?” Mua’arrif menjawab: “Diam dari segala hal yang tidak berfaidah bagiku.”

    (Lihat Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala karya Abu Hatim Muhamad bin Hibban Al-Busti, hal. 37-42)

    Buah Menjaga Lisan

    Menjaga lisan jelas akan memberikan banyak manfaat. Di antaranya:

    1. Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6090 dan Muslim no. 48)
    2. Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya.

    Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah SAW ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab:

    “(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42)

    Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan: “Hadits ini menjelaskan larangan mengganggu orang Islam baik dengan perkataan ataupun perbuatan.” (Bahjatun Nazhirin, 3/8)

    1. Mendapat jaminan dari Rasulullah SAW untuk masuk ke surga.

    Rasulullah bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d ra:

    “Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Al-Bukhari no. 6088)

    Dalam riwayat Al-Imam At-Tirmidzi no. 2411 dan Ibnu Hibban no. 2546, dari shahabat Abu Hurairah , Rasulullah bersabda:

    “Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di antara dua rahangnya dan kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka dia akan masuk surga.”

    1. Allah akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya kepadanya.

    Rasulullah SAAW bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah ra:

    “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah mengangkat derajatnya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6092)

    Dalam riwayat Al-Imam Malik, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Bahjatun Nazhirin (3/11), dari shahabat Bilal bin Al-Harits Al-Muzani ra bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang ditentukan oleh Allah), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada hari dia berjumpa dengan Allah.”

    Demikianlah beberapa keutamaan menjaga lisan. Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya dan diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut.

    Wallahu a’lam

     
  • erva kurniawan 6:43 pm on 2 January 2015 Permalink | Balas  

    syukurAllah Menambahkan Nikmatnya Kepada Orang-Orang Yang Bersyukur

    Setiap orang sangat memerlukan Allah dalam setiap gerak kehidupannya. Dari udara untuk bernafas hingga makanan yang ia makan, dari kemampuannya untuk menggunakan tangannya hingga kemampuan berbicara, dari perasaan aman hingga perasaan bahagia, seseorang benar-benar sangat memerlukan apa yang telah diciptakan oleh Allah dan apa yang dikaruniakan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan orang tidak menyadari kelemahan mereka dan tidak menyadari bahwa mereka sangat memerlukan Allah. Mereka menganggap bahwa segala sesuatunya terjadi dengan sendirinya atau mereka menganggap bahwa segala sesuatu yang mereka peroleh adalah karena hasil jerih payah mereka sendiri. Anggapan ini merupakan kesalahan yang sangat fatal dan benar-benar tidak mensyukuri nikmat Allah. Anehnya, orang-orang yang telah menyatakan rasa terima kasihnya kepada seseorang karena telah memberi sesuatu yang remeh kepadanya, mereka menghabiskan hidupnya dengan mengabaikan nikmat Allah yang tidak terhitung banyaknya di sepanjang hidupnya. Bagaimanapun, nikmat yang diberikan Allah kepada seseorang sangatlah besar sehingga tak seorang pun yang dapat menghitungnya. Allah menceritakan kenyataan ini dalam sebuah ayat sebagai berikut:

    “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. an-Nahl: 18).

    Meskipun kenyataannya demikian, kebanyakan manusia tidak mampu mensyukuri kenikmatan yang telah mereka terima. Adapun penyebabnya diceritakan dalam al-Qur’an: Setan, yang berjanji akan menyesatkan manusia dari jalan Allah, berkata bahwa tujuan utamanya adalah untuk menjadikan manusia tidak bersyukur kepada Allah. Pernyataan setan yang mendurhakai Allah ini menegaskan pentingnya bersyukur kepada Allah:

    “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. Allah berfirman, ‘Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya’.” (Q.s. al-A’raf: 17-8).

    Dalam pada itu, orang-orang yang beriman karena menyadari kelemahan mereka, di hadapan Allah mereka memanjatkan syukur dengan rendah diri atas setiap nikmat yang diterima. Bukan hanya kekayaan dan harta benda yang disyukuri oleh orang-orang yang beriman. Karena orang-orang yang beriman mengetahui bahwa Allah adalah Pemilik segala sesuatu, mereka juga bersyukur atas kesehatan, keindahan, ilmu, hikmah, kepahaman, wawasan, dan kekuatan yang dikaruniakan kepada mereka, dan mereka mencintai keimanan dan membenci kekufuran. Mereka bersyukur karena telah dibimbing dalam kebenaran dan dimasukkan dalam golongan orang-orang beriman. Pemandangan yang indah, urusan yang mudah, keinginan yang tercapai, berita-berita yang menggembirakan, perbuatan yang terpuji, dan nikmat-nikmat lainnya, semua ini menjadikan orang-orang beriman berpaling kepada Allah, bersyukur kepada-Nya yang telah menunjukkan rahmat dan kasih sayang-Nya.

    Sebagai balasan atas kesyukurannya, sebuah pahala menunggu orang-orang yang beriman. Ini merupakan rahasia lain yang dinyatakan dalam al-Qur’an; Allah menambah nikmat-Nya kepada orang-orang yang bersyukur. Misalnya, bahkan Allah memberikan kesehatan dan kekuatan yang lebih banyak lagi kepada orang-orang yang bersyukur kepada Allah atas kesehatan dan kekuatan yang mereka miliki. Bahkan Allah mengaruniakan ilmu dan kekayaan yang lebih banyak kepada orang-orang yang mensyukuri ilmu dan kekayaan tersebut. Hal ini karena mereka adalah orang-orang yang ikhlas yang merasa puas dengan apa yang diberikan Allah dan mereka ridha dengan karunia tersebut, dan mereka menjadikan Allah sebagai pelindung mereka. Allah menceritakan rahasia ini dalam al-Qur’an sebagai berikut:

    “Dan ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (Q.s. Ibrahim: 7)

    Mensyukuri nikmat juga menunjukkan tanda kedekatan dan kecintaan seseorang kepada Allah. Orang-orang yang bersyukur memiliki kesadaran dan kemampuan untuk melihat keindahan dan kenikmatan yang dikaruniakan Allah. Rasulullah saw. juga menyebutkan masalah ini, beliau saw. bersabda:

    “Jika Allah memberikan harta kepadamu, maka akan tampak kegembiraan pada dirimu dengan nikmat dan karunia Allah itu.

    Dalam pada itu, seorang kafir atau orang yang tidak mensyukuri nikmat hanya akan melihat cacat dan kekurangan, bahkan pada lingkungan yang sangat indah, sehingga ia akan merasa tidak berbahagia dan tidak puas, maka Allah menjadikan orang-orang seperti ini hanya menjumpai berbagai peristiwa dan pemandangan yang tidak menyenangkan. Akan tetapi Allah menampakkan lebih banyak nikmat dan karunia-Nya kepada orang-orang yang ikhlas dan memiliki hati nurani.

    Bahwa Allah menambah kenikmatan kepada orang-orang yang bersyukur, ini juga merupakan salah satu rahasia dari al-Qur’an. Bagaimanapun harus kita camkan dalam hati bahwa keikhlasan merupakan prasyarat agar dapat mensyukuri nikmat. Jika seseorang menunjukkan rasa syukurnya tanpa berpaling dengan ikhlas kepada Allah dan tanpa menghayati rahmat dan kasih sayang Allah yang tiada batas, tetapi rasa syukurnya itu hanya untuk menarik perhatian orang, tentu saja ini merupakan ketidakikhlasan yang parah. Allah mengetahui apa yang tersimpan dalam hati dan mengetahui ketidakikhlasannya tersebut. Orang-orang yang memiliki niat yang tidak ikhlas bisa saja menyembunyikan apa yang tersimpan dalam hati dari orang lain. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya dari Allah. Orang-orang seperti itu bisa saja mensyukuri nikmat ketika tidak menghadapi penderitaan. Tetapi pada saat-saat berada dalam kesulitan, mungkin mereka akan mengingkari nikmat.

    Perlu diperhatikan, bahwa orang-orang mukmin sejati tetap bersyukur kepada Allah sekalipun mereka berada dalam keadaan yang sangat sulit. Seseorang yang melihat dari luar mungkin melihat berkurangnya nikmat pada diri orang-orang yang beriman. Padahal, orang-orang beriman yang mampu melihat sisi-sisi kebaikan dalam setiap peristiwa dan keadaan juga mampu melihat kebaikan dalam penderitaan tersebut. Misalnya, Allah menyatakan bahwa Dia akan menguji manusia dengan rasa takut, lapar, kehilangan harta dan jiwa. Dalam keadaan seperti itu, orang-orang beriman tetap bergembira dan merasa bersyukur, mereka berharap bahwa Allah akan memberi pahala kepada mereka berupa surga sebagai pahala atas sikap mereka yang tetap istiqamah dalam menghadapi ujian tersebut. Mereka mengetahui bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kekuatannya. Sikap istiqamah dan tawakal yang mereka jalani dalam menghadapi penderitaan tersebut akan membuahkan sifat sabar dan syukur dalam diri mereka. Dengan demikian, ciri-ciri orang yang beriman adalah tetap menunjukkan ketaatan dan bertawakal kepada-Nya, dan Allah berjanji akan menambah nikmat kepada hamba-hamba-Nya yang mensyukuri nikmat-Nya, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 1 January 2015 Permalink | Balas  

    allahTakut Kepada Allah

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Firman Allah Ta’ala (artinya):

    “Sesungguhnya mereka itu tiada lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku saja jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Ali Imran: 175)

    “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah (saja), maka mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Bara’ah/At-Taubah: 18)

    “Dan diantara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, tetapi apabila ia mendapat perlakuan yang menyakitkan karena (imannya kepada) Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai adzab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami besertamu.” Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?” (Al-Ankabut: 10)

    Diriwayatkan hadits marfu’ dari Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu:

    “Sesungguhnya termasuk lemahnya keyakinan apabila kamu mencari kerelaan manusia dengan kemurkaan Allah, memuji mereka atas rezeki Allah yang diberikan lewat mereka, dan mencela mereka atas sesuatu yang belum diberikan Allah kepadamu lewat mereka. Sesungguhnya rezeki Allah itu tidak dapat didatangkan oleh ketamakan orang yang tamak dan tidak pula dapat digagalkan oleh kebencian orang yang membenci.”

    Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

    “Barangsiapa berusaha mendapatkan ridha Allah sekalipun dengan resiko kemarahan manusia, maka Allah me-ridhai-nya dan menjadikan manusia ridha kepadanya. Dan barangsiapa berusaha mendapatkan ridha manusia dengan melakukan apa yang menimbulkan kemurkaan Allah, maka Allah murka kepadanya dan menjadikan manusia murka pula kepadanya.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahih-nya)

    Kandungan tulisan ini:

    1. Tafsiran ayat dalam surah Ali Imran. Ayat ini menunjukkan bahwa khauf (takut) termasuk ibadah yang harus ditujukan kepada Allah semata-mata, dan diantara tanda kesempurnaan iman ialah tiada merasa takut kepada siapapun selain kepada Allah saja.
    2. Tafsiran ayat dalam surah Bara’ah/At-Taubah. Ayat ini menunjukkan bahwa memurnikan rasa takut kepada Allah adalah wajib, sebagaimana shalat, zakat, dan kewajiban lainnya.
    3. Tafsiran ayat dalam surah Al-Ankabut. Ayat ini menunjukkan bahwa merasa takut akan perlakuan buruk dan menyakitkan dari manusia dikarenakan iman kepada Allah adalah termasuk takut kepada selain Allah; dan menunjukkan pula kewajiban bersabar dalam berpegang teguh pada jalan Allah.
    4. Keyakinan bisa menjadi lemah dan bisa menjadi kuat.
    5. Tanda lemahnya keyakinan, antara lain: tiga perkara yang disebutkan dalam hadits dari Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu.
    6. Memurnikan rasa takut kepada Allah termasuk kewajiban.
    7. Pahala bagi orang yang mengamalkannya.
    8. Ancaman bagi orang yang tidak mengamalkannya.

    ***

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

    Sumber : http://www.assunnah.or.id

    Kiriman Sahabat: Ayah Raihan

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 31 December 2014 Permalink | Balas  

    Malam-Tahun-BaruHakikat Pergantian Tahun Baru

    K.H. Rahmat ‘Abdullah (Ketua Yayasan IQRO Bekasi)

    Jika kita merenungi peristiwa pergantian tahun dan perhitungan waktu, terdapat perbedaan sangat mencolok antara manusia dan makhluk lainnya. Dengan akal yang Allah berikan mereka menghitung pergerakan benda-benda angkasa yang tertib dan pasti. Dengan naluri ingin tahu yang Allah tanamkan, mereka menjelajah tanpa lelah. Kepastian gerak dan ketertiban pola edar tata surya mengilhami mereka untuk dapat membuat catatan waktu, sejarah, dan peristiwa. Muncullah kalender atau almanak (Arab: almanakh, almunakh, artinya musim, iklim, cuaca). Ada kronometer, dari jam pasir, jam bayang-bayang sampai jam quartz dan kinetik.

    Kemudian sesuatu berubah. Mereka membanggakan catatan prasejarah yang mereka bikin-bikin sampai zaman kini. Orang berbangga dengan apa yang mereka sebut pertambahan umur dalam ulang tahun, walaupun sebenarnya yang terjadi adalah perkurangan umur. Secara umum orang merayakan tahun baru Masehi, 1 Januari-sebuah kebiasaan kaum Nasrani yang di abad-abad lalu menjajah negeri-negeri Muslim. Bahkan secara resmi juga presiden mengumumkan pergantian tahun (orang Jayakarta (Jakarta) menyebutnya Tahun Baru Blande).

    Bagi seorang Muslim yang baik, bukan pergantian tahun itu yang penting, tetapi pergantian malam dan siang. Allah menjadikannya sebagai tanda kekuasaannya. Merenunginya berarti memenuhi sebagian sifat ulil albab dan hamba yang bersyukur (QS. 3;190-191/25;62). “Ia yang menjadikan malam dan siang silih berganti, bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur”.

    Dulu orang membanggakan kaum sufi sebagai ‘putra harinya’. Sudah seharusnya tiap orang menjadi putra harinya, bahkan putra jamnya, menit, dan detiknya. Artinya ia selalu mengaktualisasi dirinya bukan pada musim-musim tahunan atau momentum-momentum, tetapi pada setiap saat dalam kehidupannya serta menjalaninya dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab.

    Terkadang kita sukar memahami gaya hidup orang lain, sebagaimana mereka pun susah memahami gaya hidup kita. Kita tidak mengerti mengapa mereka memakai busana minim, yang dalam sejarahnya adalah busana perempuan nakal. Mereka pergi ke pesta-pesta pekanan atau ulang tahun dengan wangian kelas mahal dan mobil mewah tanpa merasa minder bahwa semua itu pinjaman dari ortu. Bagaimana kalau itu hasil KKN? Siapa sih yang nyuruh tiup lilin? Kalau tidak, bagaimana akibatnya? Mengapa harus pergi berpasang-pasangan? Mengapa itu disebut modern? Apakah dengan pesta liar yang dianggap modern itu mereka langsung bisa bikin satelit, komputer, robot, dan memecahkan masalah-masalah iptek?

    Evaluasi diri tahun yang lalu Konon, di antara bahan ‘penyesalan’ orang-orang saleh di hari kiamat adalah adanya waktu kosong dalam kehidupan mereka. Tentu saja, mereka tidak mengisinya dengan maksiat. Namun, melihat betapa keberuntungan besar yang disediakan bagi mereka yang memanfaatkan seluruh hidup untuk kepentingan ibadah, jelas ‘penyesalan’ itu menjadi wajar.

    Bagaimana Rasulullah SAW. memanfaatkan waktunya secara efisien? Bayangkan, sepanjang sembilan tahun di Madinah, kaum Quraisy melancarkan tak kurang dari 62 kali gempuran besar dan kecil. 27 ghazwah, pertempuran menghadapi mereka yang dipimpinnya langsung. 35 kali sariyah, yang dipimpin para kader sahabat. Artinya, bila ada kata jeda mungkin hanya satu sampai satu setengah bulan. Banyak hadis sahih menginformasikan Rasulullah masih sempat berlomba jalan dengan istrinya. Ada saatnya beliau merangkak dengan anak-anak bermain ceria dipunggungnya. Ada saatnya beliau bercengkerama dengan rakyat jelata. Ini di luar aktivitas memimpin persidangan politik, persidangan kasus-kasus rumah tangga, kriminal, perdata, menyiapkan para calon hakim, diplomat, guru, ulama, tentara, ahli syura, dll.

    Banyak orang hidup dengan usia panjang, kadang seratus tahun. Namun, biografinya ditulis cukup dalam tiga baris: “Bapak Fulan, lahir tanggal sekian, wafat tanggal sekian”. Terukir apik di batu nisan. Sebaliknya Rasulullah SAW dengan usia 63 tahun qamariyah, sampai sekarang kajian tentang beliau masih terus berlanjut, dari berbagai aspek kehidupan dan kepemimpinannya.

    Kenyataan ini menuntut kita untuk mengaudit diri setiap hari: bagaimana caranya agar modal usia yang sudah dijatah tidak terjadi defisit, bahkan sebaliknya, dan keuntungan besar yang selalu diperoleh. Ini memang sulit, karena hal yang sering kali dihindari adalah menghitung diri sendiri. Memang getir rasanya melihat kesalahan-kesalahan diri, tetapi semua ini harus dilakukan. Dan camkanlah dalam hati untuk satu hal ini: bahwa dalam pesta ulang tahun atau dalam perhitungan usia, ada pengelabuan setan. Sesungguhnya bukan umur yang bertambah, melainkan jumlah yang sudah dilewati. Jatah sisanya semakin berkurang.

    Menyikapi hedonisme remaja masa kini Salah jika menganggap remaja saja yang doyan hura-hura. Semua dimulai dari biangnya: bapak dan ibu. Kondisi semacam ini tampaknya sudah terkonsep, dari sikap keseharian sampai cara penyambutan tahun baru, semua mencerminkan dangkalnya nilai-nilai akidah sebagian besar umat.

    Semua ini memang telah didesain dengan rapi. Dengarlah khotbah sanjungan dan ucapan terima kasih atas nama gereja yang disampaikan oleh pendeta Dr. Zwemmer di bukit Zaitun tahun 1935. Ia menekankan hal yang lebih penting daripada menyebarkan Bibel, yaitu memunculkan generasi umat Islam yang:

    1. tak mengenal Islam
    2. tidak bangga dengan Islam
    3. terputus dengan sejarah dan keagungan masa lalu pendahulu mereka
    4. hidup santai, hura-hura, serba boleh
    5. kalau tidak pindah agama, juga tidak bermutu dalam Islam
    6. lemah dan akhirnya mudah dikuasai dan didikte

    Hal yang sama bisa kita lihat dalam dokumen Protokolat Hukama’ Yahudi yang berisi sejumlah rencana busuk mereka terhadap umat Islam.

    Menjadi remaja seutuhnya Tidak adil menyalahkan remaja secara keseluruhan. Mereka hanyalah produk yang lahir dan tumbuh dalam suatu iklim. Generasi yang lemah, manja dan punya ketergantungan tinggi, lahir dan dibesarkan dalam gelimang utang luar negeri yang mencekik leher, mengundang korupsi dan menjerat umat pada jaring-jaring rentenir mancanegara. Sejarah telah membuktikan bahwa lingkungan dan keluarga adalah tempat terbaik pulangnya remaja mengadukan keluh dan mencari jawaban bagi persoalan-persoalannya.

    Remaja yang bertanggung jawab akan sangat prihatin melihat angka empat juta dalam kasus narkoba. Ia akan menjaga dengan sungguh-sungguh dirinya dan rekan-rekannya untuk tidak menambah jumlah itu. Ia tahu di bahunya dipercayakan nasib umat dan bangsa ini. Ia sadar memegang amanah kepercayaan, harapan, biaya pendidikan dan tunjangan orang tuanya. Ia memilih pahit daripada berkhianat kepada akidahnya. Di era kebangkitan ia harus punya target mengenal Islam secara benar, ikut dakwah secara proporsional, dan berprestasi sebagaimana layaknya seorang remaja. Target-target setahun ke depan Mungkin sangat klise untuk mengatakan: tampil ke depan meraih sukses. Coba duduklah dengan tenang, bayangkan ratusan ribu kader dari kelompok pemikiran yang tidak punya komitmen dengan Islam dan dakwah Islam, bahkan tidak dengan kepentingan bangsanya. Dengan terjun bebas atau dengan beasiswa, mereka berhasil mereguk ilmu sepuas-puasnya dan menduduki posisi-posisi kunci di negeri ini. Kepada siapa tanah air ini akan diserahkan? Sukses tidak selalu ditandai dengan NEM tinggi, karena remaja mungkin berprofesi sebagai pelajar atau putus sekolah karena sebab-sebab tertentu. Intinya kemandirian dan kesiapan menghadapi hari esok.

    Bila duduk di kelas tertinggi, konsentrasinya pada sukses belajar. Itu cukup sebagai bahasa fakta bagi dakwah yang cerdas dan memberdayakan, agar tidak ada lagi orang berceloteh tentang aktivis yang selalu gagal dalam studi. Bila berada di kelas pertama atau kedua, harus dirancang agar menghasilkan kontribusi yang jelas, terencana, dan terproyeksi

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 30 December 2014 Permalink | Balas  

    wanita bertaubatIstimewanya Wanita Islam

    Kaum feminis bilang susah jadi Wanita Islam, lihat saja peraturan dibawah ini :

    1. Wanita auratnya lebih susah dijaga berbanding lelaki.
    2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
    3. Wanita saksinya kurang berbanding lelaki.
    4. Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki.
    5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
    6. Wanita wajib taat kpada suaminya tetapi suami tak perlu taat pada isterinya.
    7. talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
    8. Wanita kurang dlm beribadat karena masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.

    Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya)??

    Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan?

    Itulah bandingannya dengan seorang wanita. Wanita perlu taat kepada suami tetapi lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya.

    Bukankah ibu adalah seorang wanita?

    Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, manakala lelaki menerima pusaka perlu menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.

    Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan matinya jika karena melahirkan adalah syahid.

    Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita ini: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.

    Manakala seorang wanita pula, tanggungjawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki ini: Suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

    Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui mana mana pintu Syurga yang disukainya cukup dengan 4 syarat saja : Sembahyang 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat suaminya dan menjaga kehormatannya.

    Seorang lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH akan turut menerima pahala seperti pahala orang pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

    Masya ALLAH .. demikian sayangnya ALLAH pada wanita .. kan?

    Jazakumullah Khoiron Khatsiro..

    ***

    Kiriman Sahabat: Indra Subni

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 29 December 2014 Permalink | Balas  

    tidurEtika Tidur dan Bangun

    1. Berintrospeksi diri (muhasabah) sesaat sebelum tidur.

    Sangat dianjurkan sekali bagi setiap muslim bermuhasabah (berintrospeksi diri) sesaat sebelum tidur, mengevaluasi segala perbuatan yang telah ia lakukan di siang hari. Lalu jika ia dapatkan perbuatannya baik maka hendaknya memuji kepada Allah SWT dan jika sebaliknya maka hendaknya segera memohon ampunan-Nya, kembali dan bertobat kepada-Nya.

    1. Tidur dini, berdasarkan hadits yang bersumber dari `Aisyah “Bahwasanya Rasulullah tidur pada awal malam dan bangun pada pengujung malam, lalu beliau melakukan shalat”.(Muttafaq `alaih)
    2. Disunnatkan berwudhu’ sebelum tidur, dan berbaring miring sebelah kanan.

    Al-Bara’ bin `Azib menuturkan : Rasulullah bersabda:”Apabila kamu akan tidur, maka berwudlu’lah sebagaimana wudlu’ untuk shalat, kemudian berbaringlah dengan miring ke sebelah kanan..” Dan tidak mengapa berbalik ke sebelah kiri nantinya.

    1. Disunnatkan pula mengibaskan sperei tiga kali sebelum berbaring, berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Apabila seorang dari kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengirapkan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya..” Di dalam satu riwayat dikatakan: “tiga kali”. (Muttafaq `alaih).
    2. Makruh tidur tengkurap.

    Abu Dzar menuturkan :”Nabi pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang berbaring tengkurap. Maka Nabi membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda : “Wahai Junaidab (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adalah cara berbaringnya penghuni neraka”. (H.R. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

    1. Makruh tidur di atas dak terbuka, karena di dalam hadits yang bersumber dari `Ali bin Syaiban disebutkan bahwasanya Nabi telah bersabda: “Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya”. (HR. Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, dan dinilai shahih oleh Al-Albani).
    2. Menutup pintu, jendela dan memadamkan api dan lampu sebelum tidur.

    Dari Jabir diriwayatkan bahwa sesung-guhnya Rasulullah r telah bersabda: “Padamkanlah lampu di malam hari apa bila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman”. (Muttafaq’alaih).

    1. Membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah, Surah Al-Ikhlas dan Al-Mu`awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas), karena banyak hadits-hadits shahih yang menganjurkan hal tersebut.
    2. Membaca do`a-do`a dan dzikir yang keterangannya shahih dari Rasulullah ,

    seperti : Allaahumma qinii yauma tab’atsu ‘ibaadaka “Ya Allah, peliharalah aku dari adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali segenap hamba-hamba-Mu”. Dibaca tiga kali.(HR. Abu Dawud dan di hasankan oleh Al Albani)

    Dan membaca: Bismika Allahumma Amuutu Wa ahya ” Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.” (HR. Al Bukhari)

    1. Apabila di saat tidur merasa kaget atau gelisah atau merasa ketakutan, maka disunnatkan (dianjurkan) berdo`a dengan do`a berikut ini : ” A’uudzu bikalimaatillaahit taammati min ghadhabihi Wa syarri ‘ibaadihi, wa min hamazaatisy syayaathiini wa an yahdhuruuna.”

    Aku berlindung dengan Kalimatullah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya, dari gangguan syetan dan kehadiran mereka kepadaku”. (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al Albani)

    1. Hendaknya apabila bangun tidur membaca : “Alhamdu Lillahilladzii Ahyaanaa ba’da maa Amaatanaa wa ilaihinnusyuuru” “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan-Nya, dan kepada-Nya lah kami dikembalikan.” (HR. Al-Bukhari)

    ***

    ” Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari ” Penerbit : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan Judul Asli : Adabu Al-Muslimi fi Al-Yaumi wa Al-Lailati Penulis : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Penerjemah : Musthofa ‘Aini, Lc

    Kirimah Sahabat: Abah Naufal.

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 28 December 2014 Permalink | Balas  

    tafakurTafakur “Fitnah”

    Ada banyak cara menjadi dewasa. Kadang begitu mudah, semudah membaca buku dan menemukan kearifan di tiap lembar halaman. Bahkan ada yang lebih mudah, seperti bercermin pada setiap kejadian yang terjadi pada orang lain.

    Tapi tak jarang, kita harus menempuh jalan yang begitu berat untuk menjadi dewasa dan sadar. Kita harus melewati sungai fitnah yang berarus jeram. Membelah rimba cobaan dengan kerja dan sabar. Bahkan kita harus penuh luka sebelum akhirnya memetik hikmah dan menjadi dewasa.

    Ada yang berhasil, tapi banyak pula yang gugur di tengah jalan. Orang- orang yang berhasil menjadi lebih arif sikapnya. Lebih dalam kemampuannya. Lebih luas pemahamannya. Dan lebih terbuka menerima segala. Sedangkan mereka yang gagal, telah menjadi gusar, bahkan gusar mereka melebihi sebelum fitnah datang. Sumbu emosi mereka lebih pendek dan mudah terbakar. Mereka telah gagal melanjutkan perjalanan menuju kearifan dan kedewasaan.

    Sesungguhnya, perjalanan masih sangatlah panjang. Tapi mana mungkin ditempuh dalam keadaan papah. Tak mungkin perjalanan diselesaikan tanpa kemampuan menangkap hikmah, menyerap ilmu, apalagi berjalan tanpa ma’rifat kepada-Nya. Hati yang gentar pada fitnah, benak yang gusar pada fitnah, akal yang buntu karena fitnah, akan membuat kaki kita terantuk-antuk batu dalam setiap langkah. Lalu kita akan menyerah sebelum perjalanan usai dan purna.

    Fitnah selalu ada. Semakin tinggi tingkat kearifan, maka semakin besar pula fitnah menghantam. Selayaknya fitnah harus kita jadikan ukuran. Jika waktu lalu, cobaan yang datang untuk kita selesaikan sama dengan cobaan yang kita hadapi sekarang, sungguh tak ada peningkatan apapun yang kita dapatkan.

    Ketakutan memang sering menggalikan liang kubur untuk akal sehat yang kita perlukan. Rasa gentar pun sering mengabarkan jalan semu yang menyesatkan. Jangan lari ketika fitnah datang. Jangan pula berpaling ketika cobaan menghadang. Lewati saja. Tembus saja. Sejatinya, fitnah dan cobaan adalah pintu-pintu menuju kedewasaan.

    Selama kita berpegang teguh pada tali Allah, sungguh, tak ada yang perlu ditakutkan. Sepanjang kita tak berma’syiat kepada pencipta alam, tidak perlu pula takut tak gentar.

    Tapi sebaliknya, jika kita berma’syiat kepada Allah, maka semua yang kita alami adalah awal dari kehancuran. Satu-satunya penyebab paling absolut sebuah kebinasaan adalah, karena kita berma’syiat kepada Allah. Jika sudah demikian, ketakutan akan mengepungmu. Kegalauan akan menelikung setiap langkahmu. Dan perjalanan begitu berat. Tak ada jalan lain jika sudah begitu; cepat bertaubat atau tenggelam dalam sesat.

    Dari Sahabat: Herry Nurdi

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 27 December 2014 Permalink | Balas  

    wanita sholehahAurat dan Jilbab

    Arsip Fiqh

    Rasulullah bersabda: “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

    Wanita-wanita yang digambarkan Rasul dalam hadis di atas sekarang banyak sekali kita lihat. Bahkan itu sudah menjadi sesuatu yang mentradisi dan dianggap lumrah. Mereka adalah wanita-wanita yang memakai pakaian tapi telanjang. Sebab pakaian yang mereka kenakan tak dapat menutupi apa yang Allah perintahkan untuk ditutupi.

    Budaya barat adalah penyebab fenomena ini. Sebab pakaian yang “tak layak” tersebut bukanlah merupakan budaya masyarakat Islam dan tidak pula dikenal dalam tradisi masyarakat kita. Namun itu adalah hal baru yang lantas diterima tanpa dikritisi. Tidak pula itu diuji dengan pertanyaan, bolehkah ini menurut agama, atau baikkah ini bagi kita dan pertanyaan lain yang senada. Boleh jadi karena perasaan rendah diri yang akut dan silau terhadap kemajuan barat dalam beberapa hal akhirnya banyak di antara kita yang menerima budaya barat dengan mata tertutup (atau sengaja menutup mata).

    Namun di sana kita juga melihat fajar yang mulai terbit. Kesadaran untuk kembali kepada budaya kita sendiri (baca: budaya berpakaian islami) mulai tumbuh. Betapa sekarang kita banyak melihat indahnya kibaran jilbab di mana-mana. Di kampus, di sekolah, di pasar dan bahkan di terminal-terminal. Malah di beberapa negara barat (Inggris dan Jerman misalnya) muslimah-muslimah pemakai jilbab tak lagi sulit ditemukan.

    Jelasnya saat ini sudah tak ada lagi larangan untuk mengenakan busana dan pakaian yang menutup aurat. Permasalahannya, apakah jaminan kebebasan ini kemudian segera disambut oleh para muslimah kita dengan segera kembali mengenakan pakaian takwa itu atau tidak. Yang pasti alasan dilarang oleh si ini dan si itu kini tak berlaku lagi.

    Aurat Wanita Dan Hukum Menutupnya

    Aurat wanita yang tak boleh terlihat di hadapan laki-laki lain (selain suami dan mahramnya) adalah seluruh anggota badannya kecuali wajah dan telapak tangan. Yang menjadi dasar hal ini adalah:

    1. Al-Qur’an surat Annur:

    “Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkkan khumur (Ind: jilbab)nya ke dadanya…’”

    Keterangan :

    Ayat ini menegaskan empat hal:

    1. Perintah untuk menahan pandangan dari yang diharamkan oleh Allah.
    2. Perintah untuk menjaga kemaluan dari perbuatan yang haram.
    3. Larangan untuk menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak. Para ulama mengatakan bahwa ayat ini juga menunjukkan akan haramnya menampakkan anggota badan tempat perhiasan tersebut. Sebab jika perhiasannya saja dilarang untuk ditampakkan apalagi tempat perhiasan itu berada. Sekarang marilah kita perhatikan penafsiran para sahabat dan ulama terhadap kata “…kecuali yang biasa nampak…” dalam ayat tersebut. Menurut Ibnu Umar RA. yang biasa nampak adalah wajah dan telapak tangan. Begitu pula menurut ‘Atho,’ Imam Auzai dan Ibnu Abbas RA. Hanya saja beliau (Ibnu Abbas) menambahkan cincin dalam golongan ini. Ibnu Mas’ud RA. mengatakan maksud kata tersebut adalah pakaian dan jilbab. Said bin Jubair RA. mengatakan maksudnya adalah pakaian dan wajah. Dari penafsiran para sahabat dan para ulama ini jelaslah bahwa yang boleh tampak dari tubuh seorang wanita adalah wajah dan kedua telapak tangan. Selebihnya hanyalah pakaian luarnya saja.
    4. Perintah untuk menutupkan khumur ke dada. Khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang berarti kain penutup kepala. Atau dalam bahasa kita disebut jilbab. Ini menunjukkan bahwa kepala dan dada adalah juga termasuk aurat yang harus ditutup. Berarti tidak cukup hanya dengan menutupkan jilbab pada kepala saja dan ujungnya diikatkan ke belakang. Tapi ujung jilbab tersebut harus dibiarkan terjuntai menutupi dada.
    5. Hadis riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah dengan pakaian yang tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata: “Hai Asma, seseungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini,” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR. Abu Daud dan Baihaqi).

    Keterangan :

    Hadis ini menunjukkan dua hal:

    1. Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan.
    2. Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat.

    Dari kedua dalil di atas jelaslah batasan aurat bagi wanita, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan. Dari dalil tersebut pula kita memahami bahwa menutup aurat adalah wajib. Berarti jika dilaksanakan akan menghasilkan pahala dan jika tidak dilakukan maka akan menuai dosa. Kewajiban menutup aurat ini tidak hanya berlaku pada saat solat saja namun juga pada semua tempat yang memungkinkan ada laki-laki lain bisa melihatnya.

    Selain kedua dalil di atas masih ada dalil-dalil lain yang menegaskan akan kewajiban menutup aurat ini:

    1. Dari Al-Qur’an:
    2. “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu melakukan tabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyyah dahulu” (Qs. Al-Ahzab: 33).

    Keterangan:

    Tabarruj adalah perilaku mengumbar aurat atau tidak menutup bagian tubuh yang wajib untuk ditutup. Fenomena mengumbar aurat ini adalah merupakan perilaku jahiliyyah. Bahkan diriwayatkan bahwa ritual haji pada zaman jahiliyyah mengharuskan seseorang thawaf mengelilingi ka’bah dalam keadaan bugil tanpa memandang apakah itu lelaki atau perempuan.

    Konteks ayat di atas adalah ditujukan untuk istri-istri Rasulullah. Namun keumuman ayat ini mencakup seluruh wanita muslimah. Kaidah ilmu ushul fiqh mengatakan: “Yang dijadikan pedoman adalah keumuman lafadz sebuah dalil dan bukan kekhususan sebab munculnya dalil tersebut (al ibratu bi umumil lafdzi la bikhususis sabab).

    1. “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Ahzab: 59).

    Keterangan:

    Jilbab dalam bahasa Arab berarti pakaian yang menutupi seluruh tubuh (pakaian kurung), bukan berarti jilbab dalam bahasa kita (lihat arti kata khimar di atas). Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa menutup seluruh tubuh adalah kewajiban setiap mukminah dan merupakan tanda keimanan mereka.

    1. Hadis Rasulullah, bahwasanya beliau bersabda:

    “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

    Keterangan:

    Hadis ini menjelaskan tentang ancaman bagi wanita-wanita yang membuka dan memamerkan auratnya. Yaitu siksaan api neraka. Ini menunjukkan bahwa pamer aurat dan “buka-bukaan” adalah dosa besar. Sebab perbuatan-perbuatan yang dilaknat oleh Allah atau Rasul-Nya dan yang diancam dengan sangsi duniawi (qishas, rajam, potong tangan dll) atau azab neraka adalah dosa besar.

    Syarat Pakaian Penutup Aurat Wanita

    Pada dasarnya seluruh bahan, model dan bentuk pakaian boleh dipakai, asalkan memenuhi syarat-syarat berikut

    1. Menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
    2. Tidak tipis dan tidak transparan
    3. Longgar dan tidak memperlihatkan lekuk-lekuk dan bentuk tubuh (tidak ketat)
    4. Bukan pakaian laki-laki atau menyerupai pakaian laki-laki.
    5. Tidak berwarna dan bermotif terlalu menyolok.Sebab pakaian yang menyolok akan mengundang perhatian laki-laki. Dengan alasan ini pula maka membunyikan (menggemerincingkan) perhiasan yang dipakai tidak diperbolehkan walaupun itu tersembunyi di balik pakaian.

    Wallahu a’lam bi ashshowab

    (Ulil Amin).

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 25 December 2014 Permalink | Balas  

    ujian aAlahMenyikapi Ujian Allah SWT

    “Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah : 155)

    Ketika manusia sedang diuji Allah SWT, seringkali ia merasa seolah-olah ujian yang diterimanya adalah yang paling berat. Tidak ada yang lebih berat cobaannya selain yang terjadi pada dirinya. Untuk menghilangkan persepsi semacam itu, ketika Allah memberikan ujian kepada orang-orang mukmin, Allah SWT melafadzkan bisyai’in yang artinya sedikit. Ini dimaksudkan agar bagaimanapun besarnya ujian Allah yang diberikan kepada orang-orang beriman, masih lebih kecil bila dibandingkan dengan adzab Allah kepada orang kafir di dunia atau akhirat.

    Allah bukannya tidak mampu memberi pahala kepada orang yang beriman tanpa mengujinya? Tentu saja mampu. Tetapi mengapa harus ada ujian berupa ketakutan, kelaparan dan sebagainya? Maksud ujian yang Allah berikan adalah untuk mengetahui mana dari hambaNya yang layak untuk berdakwah dan berjihad di jalan Allah dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ketika kita mendapat hidayah dari Allah dengan menjadi seorang da’i, itu pada dasarnya adalah penghargaan dari Allah. Dengan menganggapnya sebagai penghargaan, kita tidak mudah merasakan kelelahan, pusing dan jauh dari segala keluh kesah. Memang dalam perjalanan dakwah ada rintangan dan ujian, tetapi itulah seninya berdakwah.

    Ujian yang diberikan Allah kepada para hambaNya di muka bumi ini dibagi dalam empat katagori, yaitu :

    1. Ujian merupakan realitas kemanusiaan.

    Setiap manusia pasti di uji. Kita sebagai manusia jangan sampai takut diuji, karena ujian itu pasti kita alami.

    1. Ujian merupakan realitas keimanan.

    Kalau seorang manusia biasa saja pasti diuji oleh Allah, apalagi sebagai seorang mukmin. Pada dasarnya harus ada ujian untuk mengetahui kebenaran keimanan seorang mukmin. Kadang-kadang ada orang yang merasakan keimananya sudah benar lantaran hidupnya mulus-mulus saja tanpa pernah mengalami ujian. Orang seperti ini seharusnya justru bertanya tentang kebenaran imannya, kok hidupnya santai dan mulus-mulus saja. Hal ini karena Allah menyatakan “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi ? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta ” (QS Al-Ankabut : 2-3).

    1. Ujian merupakan realitas dakwah.

    Sebenarnya secara otomatis seorang mukmin adalah seorang da’i. Jadi kalau seorang mukmin saja pasti diuji, apalagi seorang dai yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga memikirkan umat.

    1. Ujian merupakan standarisasi keimanan.

    ini artinya semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, akan semakin tinggi ujiannya, semaikin tinggi ujian Allah dan lulus, maka semakin tinggi pula keimannya.

    Berbahagialah orang yang sering mendapatkan cobaan/ujian dari Allah SWT karena dengan hal itu peluang untuk meningkatkan derajat keimanannya akan semakin besar. Mudah-mudahan segala ujian yang kita terima mampu dilewati dengan sabar dan tawakal, tanpa keluh kesah, sehingga mengantarkan kita menjadi orang yang meraih kemenangan.

    ***

    (Diambil dari uraian Dr. Ahzami Sami’un Jazuli, kiriman sdr. Andria)

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 19 December 2014 Permalink | Balas  

    sabar (1)Termasuk Iman Kepada Allah: Sabar Atas Segala Takdirnya

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Firman Allah Ta’ala (artinya):

    “Tiada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun: 11)

    ‘Alqamah (‘Alqamah bin Qais bin ‘Abdullah bin Malik An-Nakha’i. Salah seorang tokoh dari ulama tabi’in. Dilahirkan pada masa hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Meninggal th. 62 H / 681M) menafsirkan iman yang tersebut dalam ayat ini dengan mengatakan:

    “Yaitu: orang ketika ditimpa musibah ia meyakini bahwa itu semua dari Allah, maka ia pun ridha dan pasrah (atas takdir-Nya).”

    Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Ada dua perkara masih dilakukan orang, padahal kedua-duanya adalah kufur, yaitu: mencela keturunan dan meratapi orang mati.”

    Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu:

    “Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah.”

    Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya maka Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia; sedang apabila Allah menghendaki keburukan pada seorang hamba-Nya maka Dia menangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya nanti di hari Kiamat.” (HR At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Sungguh, besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan; dan sungguh, Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum, diuji-Nya mereka dengan cobaan. Untuk itu, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Allah, sedang barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan dari Allah.” (Hadits hasan, menurut At-Tirmidzi)

    Kandungan tulisan ini:

    1. Tafsiran ayat dalam surah At-Taghabun. Ayat ini menunjukkan keutamaan sabar atas segala takdir Allah yang pahit, seperti musibah; dan menunjukkan pula bahwa amal termasuk dalam pengertian iman.
    2. Sabar terhadap segala cobaan termasuk iman kepada Allah.
    3. Disebutkan hukum tentang perbuatan mencela keturunan.
    4. Ancaman keras terhadap orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah (karena meratapi orang mati).
    5. Tanda apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya.
    6. Tanda apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya.
    7. Tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya.
    8. Dilarang bersikap marah dan tidak sabar atas cobaan yang diujikan Allah.
    9. Pahala bagi orang yang ridha atas cobaannya.

    ***

    Kiriman: Ayah Raihan

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

    Sumber : http://www.assunnah.or.id

     
  • erva kurniawan 2:53 am on 18 December 2014 Permalink | Balas  

    sabarTermasuk Iman Kepada Allah: Sabar Atas Segala Takdirnya

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Firman Allah Ta’ala (artinya):

    “Tiada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun: 11)

    ‘Alqamah (‘Alqamah bin Qais bin ‘Abdullah bin Malik An-Nakha’i. Salah seorang tokoh dari ulama tabi’in. Dilahirkan pada masa hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Meninggal th. 62 H / 681M) menafsirkan iman yang tersebut dalam ayat ini dengan mengatakan:

    “Yaitu: orang ketika ditimpa musibah ia meyakini bahwa itu semua dari Allah, maka ia pun ridha dan pasrah (atas takdir-Nya).”

    Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Ada dua perkara masih dilakukan orang, padahal kedua-duanya adalah kufur, yaitu: mencela keturunan dan meratapi orang mati.”

    Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu:

    “Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah.”

    Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya maka Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia; sedang apabila Allah menghendaki keburukan pada seorang hamba-Nya maka Dia menangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya nanti di hari Kiamat.” (HR At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Sungguh, besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan; dan sungguh, Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum, diuji-Nya mereka dengan cobaan. Untuk itu, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Allah, sedang barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan dari Allah.” (Hadits hasan, menurut At-Tirmidzi)

    Kandungan tulisan ini:

    1. Tafsiran ayat dalam surah At-Taghabun. Ayat ini menunjukkan keutamaan sabar atas segala takdir Allah yang pahit, seperti musibah; dan menunjukkan pula bahwa amal termasuk dalam pengertian iman.
    2. Sabar terhadap segala cobaan termasuk iman kepada Allah.
    3. Disebutkan hukum tentang perbuatan mencela keturunan.
    4. Ancaman keras terhadap orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah (karena meratapi orang mati).
    5. Tanda apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya.
    6. Tanda apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya.
    7. Tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya.
    8. Dilarang bersikap marah dan tidak sabar atas cobaan yang diujikan Allah.
    9. Pahala bagi orang yang ridha atas cobaannya.

    ***

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

    Sumber : assunnah.or.id

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 16 December 2014 Permalink | Balas  

    palestine-flagYahudi dan Ramalan Rasulullah

    Bila mengingatkan kata Yahudi, orang sering menyamakan stigma omong kosong seperti stigma “PKI” oleh pejabat Orde Baru. Peristiwa di Palestina, agresi di Iraq, dan mungkin, akan menunggu giliran lagi beberapa negeri muslim lainnya, adalah fakta nyatanya. Ramalan Rosulullah di bawah ini patut anda renungkan kembali

    Oleh Sholeh Hasyim*

    “Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang Yahudi bersembunyi dibalik batu dan pohon, lalu batu dan pohon berkata : Hai muslim ! Hai hamba Allah ! Ini Yahudi dibelakangku, kemarilah aku, bunuhlah dia ! Kecuali pohon ghorqod, maka itu adalah dari pohon-pohon orang Yahudi.” (HR. Muslim VII/188, Bukhari IV/51, Lu’lu’ wa al-Marjan III/308)

    Fenomena pertentangan antara ummat Islam dan Yahudi di Palestina semakin meningkat. Berbagai tindakan kekerasan terhadap ummat Islam tak kunjung berakhir, sekalipun bangsa-bangsa di dunia telah mengutuknya.

    Pengakuan Yahudi atas Yerusalem, ternyata menimbulkan kesalahpahaman ummat Islam dalam menyikapi Yahudi, dengan membandingan Yahudi jaman dahulu dan sekarang. Mereka menyamakan Yahudi dahulu yang beriman kepada Musa `Alaihis salaam (as) dengan Yahudi sekarang. Penyamaan sikap ini berakibat buruk baik dalam aspek aqidah maupun amal.

    Ada beberapa hal penting seperti dijelaskan dalam syariat dan sejarah; pertama, sesungguhnya Bani Israil yang mengimani ajaran Musa As berbeda dengan Yahudi sekarang. Yahudi dahulu terdiri dari kaum Muslim, dan Mukmin. Sedangkan sekarang terdiri dari kaum kafir, musyrik, dan penentang ajaran Musa yang telah keluar dari syariatnya. Bani Israil adalah keturunan Ya’qub Alaihissalam.

    Ibrahim pernah berwasiat kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. Ibrahim berkata: “Hai anak-ankakku, Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (al-Baqarah: 132). Yusuf as juga menegaskan hal yang sama,”Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah.” (Yusuf : 38)

    Ini sama dengan pesan Allah tentang orang-orang Yahudi yang mengimani ajaran Musa As. “Dan Kami jadikan di antara mereka (Bani Israil) itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami (QS. Sajdah : 24) Ayat lain mengatakan, “Dan sungguh telah Kami pilih mereka dengan pengetahuan (kami) atas bangsa-bangsa.” (ad-Dukhan: 32)

    Adapun orang-orang Yahudi yang keluar dari ajaran Musa, secara otomatis mereka telah jatuh pada kemusyrikan. Mereka yang musyrik itu seperti disebut dalam ayat-ayat berikut ini: Orang-orang Yahudi berkata, tangan Allah terbelenggu, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang mereka katakan itu (al-Maidah: 64), mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah (at-Taubah: 31). Orang- orang Yahudi berkata : Uzair itu putera Allah (at-Taubah: 30).

    Jadi, Yahudi sekarang tidak ada kaitannya dengan Yahudi yang beriman kepada Musa As. Adapun klaim mereka terhadap bumi Palestina, itu merupakan pengembangan dari kekufuran mereka terhadap Musa As. dan nabi-nabi sesudahnya. Mereka telah keluar dari tauhid dan syariat Musa As.

    Kedua : Kebanyakan Yahudi sekarang bukan berasal dari Bani Israil. Orang-orang Yahudi yang merampas wilayah Palestina sekarang, bukan berasal dari keturunan yang dulu pernah bersama-sama hidup dengan Musa as. Sekarang, Yahudi keturunan Israil, yang dikenal dengan sebutan Safaradim, tidak lebih dari 20% jumlahnya di dunia. Komunitas inipun percampuran dari berbagai etnis lain karena pernikahan dll. Sebagian kecil dari jumlah di atas, bukanlah asli keturunan Bani Israil. Adapun mayoritas kaum Yahudi di dunia yang mencapai 80%, itu berasal dari Eropa, dan berbagai negara di dunia. Mereka dikenal dengan sebutan al-Asykanazim, dimana mereka memasuki ajaran Yahudi yang sarat dengan paganisme.

    Bukti sejarah di atas menjadi jelas bahwa kaum Yahudi sekarang adalah penjajah. Mereka tidak berhak atas kepemilikan bumi Palestina, karena telah keluar dari ajaran Musa As yang benar dan mengubah-ubah kitab Taurat. Palestina adalah bumi kaum muslimin, tidak berhak bagi bangsa lain untuk memilikinya. Sesungguhnya, Palestina bukanlah milik Bani Israil, tetapi milik kaum Jabbariyin yang hidup sebelum Bani Israil. Allah mengizinkan kepada Bani Israil untuk memasuki wilayah Palestina, jika mereka masih komitmen terhadap ajaran yang benar. Jika tidak, secara otomatis izin tinggal dari Allah di Baitul Makdis telah dicabut.

    Ketiga: Sesungguhnya sifat dasar Yahudi yang diabadikan dalam al- Quran dari masa ke masa adalah pengkhianat, penakut, provokator, pemicu permusuhan, penipu, sombong dll. Sikap itu terlihat ketika mereka menyakiti Musa as. dan keluar dari ajaran Taurat. Itulah sikap dasar yang tertanam secara turun temurun. Sehingga sifat-sifat tercela mereka sebagai bagian dari agama mereka yang selalu rentan dengan perubahan. Mereka tanamkan ajaran berbahaya itu kepada anak cucu mereka dan kepada orang yang masuk agama mereka. Hanya sebagian kecil saja dari mereka yang masih memiliki komitmen terhadap Musa As ( al-Maidah: 59dan 62). Di antara mereka ada golongan pertengahan (al- Maidah: 66).

    Kehancuran Yahudi

    Hadits di atas mengajarkan kepada kita untuk merancang masa depan, sekalipun masa depan itu sesuatu yang ghaib. Dan yang bisa mengetahui hal-hal ghaib, hanyalah Allah. (QS. an-Naml: 65). Tetapi Allah mempunyai sunnatullah yang berlaku pada diri manusia. Ungkapan hadits di atas menjelaskan, peperangan yang akan terjadi bukanlah peperangan lokal antara orang Yahudi dan Muslim Palestina. Tetapi awal peperangan terhadap Yahudi yang sekarang mendominasi dunia. Apabila terjadi pertarungan global dan ummat Islam memperoleh kemenangan sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah saw, maka akan mengubah sejarah para penguasa Yahudi di dunia. Bila terjadi kekalahan, maka tidak ada lagi satu kekuasaanpun yang tertinggal untuk orang Yahudi di dunia. Ketika itu kepemimpinan dunia akan berubah dengan konsep lain yang sesuai dengan fitrah manusia.

    Jahiliyah modern sudah lama menyimpan berbagai penyakit karena mengingkari Allah dan akhirat. Dimana-mana terjadi penganiayaan, permusuhan, dekadensi moral, peperangan yang menghancurkan. Berbagai isme yang lain telah gagal dalam mengantarkan manusia modern menuju pintu gerbang kebahagiaan. Kini, manusia telah dijangkiti penyakit jiwa yang sangat akut. Mereka kehilangan harapan, kecewa, selalu dibayangi ketakutan dll. Mereka menunggu terwujudnya pandangan hidup yang bisa mencerdaskan akal, mencerahkan hati dan memperbaiki akhlaq mereka.

    Akan terjadi Nubuwwah padamu sesuai dengan kehendak Allah. Lalu Allah akan mengangkat (melenyapkan-Nya) jika Dia menghendakinya. Setelah itu, akan muncul khilafah yang sesuai dengan manhaj nubuwah. Maka sesuai dengan kehendak Allah, ia akan berada, lalu Allah akan melenyapkan jika Ia menghendaki. Kemudian akan datang raja yang zhalim. Maka iapun akan bercokol sesuai dengan kehendak-Nya. Kemudian akan ada raja yang tirani, maka iapun muncul sesuai dengan kehendak Allah, kemudian ia lenyap, jika Allah menghendaki. Baru setelah itu akan timbul kembali khilafah di atas manhaj nubuwah (HR. Ahmad dari Hdzaifah al-Yaman).

    Berbeda dengan sebagian orang Muslim, orang-orang Yahudi yakin dengan prediksi Rasulullah itu. Sampai hari ini, mereka memperbanyak menanam pohon ghorqod di kebun-kebun mereka. Mereka mengambil pengalaman dari berbagai peperangan dengan kaum muslimin pada masa Rasulullah ataupun masa intifadhah akhir-akhir ini. Pengalaman itu membuat Yahudi berusaha menghadang lajunya gerakan Islam di dunia. Harap tahu saja, simbol Yahudi internasional yang berbentuk seperti garpu, itu sesungguhnya simbol pohon ghorqod.

    Yang menjadi catatan, apakah peperangan di bumi Baitul Maqdis merupakan cikal bakal peperangan global Yahudi melawan Islam? Apalagi Yahudi dari berbagai belahan dunia telah berkumpul di satu tempat, sehingga mudah dihancurkan. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui kapan terjadinya peperangan yang menentukan nasib terakhir kaum Yahudi itu.

    Yang terpenting bagi ummat Islam sekarang adalah melakukan i’dad dan berjihad melawan Yahudi. Nash syariah dan bukti sejarah menunjukkan, perang melawan kekufuran akan senantiasa berlanjut. (QS. al-Baqarah 120 dan 109, Ali-Imran: 118). Sehingga Allah akan menolong ummat Islam, bila mereka memenuhi persyaratan untuk ditolong. Kita hanya bisa berdoa dan bekerja keras dalam menegakkan syariat di bumi. Keputusan terakhir kita serahkan kepada Allah. `Alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.• (Penulis, kontributor Suara Hidayatullah, Kudus, Jawa Tengah)

    ***

    Diambil dari Majalah Suara Hidayatullah, Edisi Khusus Milad Ke-14 Mei 2002

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 15 December 2014 Permalink | Balas  

    doaTermasuk Syirik: Istighatsah Atau Doa Kepada Selain Allah

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Firman Allah Ta’ala (artinya):

    “Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu; jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian, adalah termasuk orang-orang yang zhalim (musyrik).” (Yunus: 106)

    “Dan jika Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia; sedang jika Allah menghendaki untukmu sesuatu kebaikan, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya, Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hambaNya. Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yunus: 107)

    “Sesungguhnya mereka yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu, maka mintalah rezeki itu kepada Allah dan sembahlah Dia (saja) serta bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kamu sekalian dikembalikan.” (Al-Ankabut: 17)

    “Dan tiada yang lebih sesat daripada orang yang memohon kepada sembahan-sembahan selain Allah, yang tiada dapat memperkenankan permohonannya sampai hari Kiamat dan sembahan-sembahan itu lalai dari (memperhatikan) permohonan mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan mereka.” (Al-Ahqaf: 5-6)

    “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan di saat ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan, dan yang menjadikan kamu sekalian menjadi khalifah di bumi? Adakah sembahan (yang haq) selain Allah? Amat sedikitlah kamu mengingat(Nya).” (An-Naml: 62)

    Ath-Thabarani, dengan menyebutkan sanadnya, meriwayatkan bahwa: “Pernah terjadi pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada seorang munafik yang selalu menyakiti orang-orang mukmin, maka berkatalah salah seorang diantara mereka: “Marilah kita bersama-sama ber-istighatsah kepada Rasulullah supaya dihindarkan dari tindakan buruk orang munafik ini.” Ketika itu, bersabdalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya tidak boleh ber-istighatsah kepadaku, tetapi istighatsah itu seharusnya hanya kepada Allah saja.”

    Kandungan tulisan ini:

    1. Istighatsah pengertiannya lebih khusus daripada doa. Istighatsah ialah meminta pertolongan ketika dalam keadaan sulit supaya dibebaskan dari kesulitan itu.
    2. Tafsiran ayat pertama. Ayat pertama menunjukkan bahwa dilarang memohon kepada selain Allah karena selain-Nya tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula dapat mendatangkan bahaya kepada seseorang.
    3. Memohon kepada selain Allah adalah syirik akbar.
    4. Bahwa orang paling shaleh sekalipun, kalau dia melakukan perbuatan ini untuk mengambil hati orang lain, maka ia temasuk golongan orang yang zhalim (musyrik).
    5. Tafsiran ayat kedua. Ayat kedua menunjukkan bahwa Allah-lah yang berhak dengan segala ibadah yang dilakukan manusia, seperti doa, istighatsah dan sebagainya. Karena hanya Allah Yang Maha Kuasa, jika Dia menimpakan suatu bahaya kepada seseorang, maka tiada yang dapat menghilangkannya selain Dia sendiri, dan jika Dia menghendaki untuk seseorang suatu kebaikan, maka tiada yang dapat menolak karunia-Nya. Tiada seorangpun yang mampu menghalangi kehendak-Nya.
    6. Memohon kepada selain Allah tidak mendatangkan manfaat duniawi, disamping perbuatan itu sendiri perbuatan kafir.
    7. Tafsiran ayat ketiga. Ayat ketiga menunjukkan bahwa hanya Allah yang berhak dengan ibadah dan rasa syukur kita, dan hanya kepada-Nya seharusnya kita meminta rezeki, karena selain Allah tidak mampu memberikan rezeki.
    8. Sebagaimana surga tidak dapat diminta kecuali dari Allah, demikian halnya dengan rezeki tidak patut diminta kecuali dari-Nya.
    9. Tafsiran ayat keempat. Ayat keempat menunjukkan bahwa doa (permohonan) adalah ibadah, karena itu barangsiapa menyelewengkannya kepada selain Allah, maka dia adalah musyrik.
    10. Tiada yang lebih sesat daripada orang yang memohon kepada sesembahan selain Allah.
    11. Sesembahan selain Allah itu tidak merasa dan tidak tahu bahwa ada orang yang memohon kepadanya.
    12. Permohonan itulah yang menyebabkan sesembahan selain Allah membenci dan memusuhi orang yang memohon kepadanya (pada hari Kiamat).
    13. Permohonan ini disebut sebagai ibadah kepada sesembahan selain Allah.
    14. Dan sesembahan selain Allah itu nanti pada hari Kiamat akan mengingkari ibadah yang mereka lakukan.
    15. Permohonan inilah yang menyebabkannya menjadi orang paling sesat.
    16. Tafsiran ayat kelima. Ayat kelima menunjukkan bahwa istighatsah kepada selain Allah -karena tiada yang kuasa kecuali Dia- adalah bathil dan termasuk syirik.
    17. Hal yang mengherankan, bahwa para pemuja berhala itu mengakui bahwa tiada yang dapat memperkenankan permohonan orang yang berada dalam kesulitan selain Allah. Untuk itu, ketika mereka berada dalam keadaan sulit dan terjepit, mereka memohon kepada-Nya dengan ikhlas dan memurnikan ketaatan untuk-Nya.
    18. Hadits di atas menunjukkan tindakan preventif yang dilakukan Rasulullah Al-Musthofa, shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk melindungi benteng tauhid, dan sikap ta’addub (sopan santun) beliau kepada Allah.

    ***

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

    Sumber : assunnah.or.id

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 14 December 2014 Permalink | Balas  

    IstighfarDari Syari’at Hingga Hakikat

    Istighfar, yang berarti mohon ampunan kepada Allah SWT, merupakan tradisi ritual Islam yang sangat fundamental. Sebab dalam Istighfar itu mengandung beberapa elemen ruhani, sebagaimana banyak dikutip oleh al-Qur’an maupun Sunnah Rasulullah SAW. Masalahnya, mengapa Allah dan Rasul-Nya sangat menganjurkan agar hamba-hamba Allah terus menerus beristighfar dan bershalawat? Apa hubungannya dengan kehidupan sehari-hari, dan keselamatan kehidupan dunia akhirat? Di mana posisi Istighfar, baik secara psikologis maupun secara elementer dalam kosmik ruhani (sufistik) hamba Allah? Inilah yang akan kita kaji bersama sebagai refleksi setiap kita menggerakkan bibir kita dan mendetakkan jantung hati kita.

    Sejumlah ayat tentang Istighfar atau pertobatan sangat banyak dikutip al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, misalnya:

    “Mereka apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, segera ingat akan Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya (QS. 3:135).

    “Maka barangsiapa memuji Tuhanmu, dan memohon ampunan kepada-Nya, sungguh Dia Maha penerima Taubat. (QS. 110:3)

    “..dan orang-orang yang memohon ampun sebelum fajar.(QS. 3:17).

    “Maha Suci Engkau Wahai Allah, Tuhanku! Dan dengan segala puji bagi-Mu ya Allah Tuhanku, ampunilah aku! Sesungguhnya Engkau Maha Menerima Taubat, lagi Maha Pengasih.” (HR. al-Hakim).

    “Barang siapa memperbanyak istighfar, maka akan diberi kelapangan dalam setiap kesusahan dan jalan keluar dari kesempitan. Dan dianugerahi rezeki dari jalan yang tiada disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).

    “Sungguh hatiku didera kerinduan yang sangat dalam, sehingga aku beristighfar seratus kali setiap hari.” (HR. Muslim).

    “Meski dosa-dosamu sebanyak buih lautan, sebanyak butir pasir di padang pasir, sebanyak daun di seluruh pepohonan, atau seluruh bialangan jagad semesta, Allah SWT tetap akan selalu mengampuni, bila engkau mengucapkan doa sebanyak tiga kali sebelum engkau tidur: Astaghfirullahal ‘Adzim al-Ladzii Laailaaha Illa Huwal Hayyul Qayyuumu wa Atuubu Ilaih. (Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup dan Memelihara (kehidupan), dan aku bertobat kepada-Nya).” (HR. at-Tirmidzi).

    Makna Terdalam

    Masih puluhan ayat dan hadits yang membincangkan keutamaan Istighfar. Dalam ucapan yang sering diwiridkan oleh beliau, antara lain: “Aku Mohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung”

    Ucapan istighfar ini saja mengandung beberapa makna yang dalam:

    Pertama, hamba yang beritighfar mengakui eksistensi kehambaannya di hadapan Allah SWT. Sebab hakikat hamba adalah sosok tak berdaya dan tak berupaya, sekaligus gerak-gerik hamba yang muncul dari hamba itu sendiri tanpa penyertaan Allah, berarti adalah ucapan dan tindakan yang salah dan penuh kealpaan.

    Kedua, hamba yang beritighfar berarti mengakui tajallinya Allah dalam Asma’ Keagungan-Nya. Karena Pengampunan Allah itu sendiri merupakan manifestasi dari Kemahaagungan Allah SWT. Musyahadah hamba kepada Asma’ Keagungan-Nya, merupakan prestasi paling elementer dalam memandang, siapa sebenarnya dan apa hakikat hamba Allah itu sendiri.

    Ketiga, Istighfar berarti kefanaan hamba Allah, lebur dalam eksistensi Keagungan Allah Ta’ala. Orang yang tidak pernah beristighfar tidak pernah mampu memasuki peleburan Ilahiah, yang disebut sebagai maqam fana’ dalam tasawuf. Dan Istighfar menghantar “kesirnaan” hamba, sampai pada totalitas yang hakiki, hingga mencapai tahap al-baqa’. Yaitu Penyaksian Keabadian Ilahi dalam Keagungan-Nya. Dengan kata lain, Istighfar berarti kefanaan sifat-sifat tercela hamba, kesirnaan dosa-dosa hamba, kehancuran nafsu-nafsu buruk hamba, menuju kebaqaan sifat-sifat terpuji, menuju nafsu-nafsu muthmainnah, radhiyah dan mardhiyah, hingga nafsu ma’rifah.

    Keempat, Istighfar berarti memupus sifat-sifat ego hamba. Sebab sehebat apa pun prestasi hamba di bidang materi maupun ruhani, tidak bisa mengklaim bahwa prestasi itu semata sebagai hasil usaha hamba. Sebab tanpa anugerah Allah, usaha mencapai puncak prestasi itu tidak akan pernah terwujud. Karena itu pengakuan total bahwa, nafsu egois itu sebagai pihak yang berperan dalam segala usahanya adalah suatu tindakan dosa.

    Kelima, Istighfar merupakan tindakan yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Mahabbatullah tidak pernah terjadi manakala hamba tidak beristighfar setiap saat. Oleh sebab itu, hamba yang beristighfar menumbuhkan rindu dendam kepada Allah, karena memang cinta-Nya Allah turun kepada hamba-Nya yang beristighfar. Sebagaimana dalam al-Qur’an ditegaskan, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang menyucikan diri.”

    Keenam, orang yang beristighfar sangat dicintai oleh Nabi SAW, sebab Istighfar adalah tradisi kecintaan Nabi SAW. Istighfar berkait erat dengan “proses penyucian diri”, karenanya Istighfar adalah prasyarat bagi “Tazkiyatun Nafsi”.

    Ketujuh, Istighfar memiliki maqamat dalam kualifikasi ruhani hamba Allah. Maqam pertama, seseorang beristighfar dari segala tindakan dosanya yang dilakukan. Maqam kedua, seseorang beristighfar dari segala kealpaannya sehingga ia tidak lagi melakukan dzikrullah. Maqam ketiga, seseorang beristighfar dari segala hal selain Allah yang memasuki ruang jiwanya.

    Kedelapan, Istighfar melahirkan perdamaian kemanusiaan, karena dalam Istighfar pun ada macam Istighfar yang bersifat sosial kemanusiaan, yaitu memohonkan ampunan kepada sesama hamba Allah.

    Istighfar Individu dan Sosial

    Dalam ritualitas vertikal, seorang hamba tidak hanya meraup kebahagiaan di hadapan Allah, tanpa ia menyertakan sesama umat beriman. Justru kualitas keimanan seseorang sangat berkait erat dengan kepedulian ruhaninya terhadap orang lain. Keteladanan Rasulullah SAW, ketika saat Yaumul Mahsyar memberikan cermin kepada umatnya, bahwa kulitas ruhani Rasulullah SAW, yang melebihi para Nabi dan Rasul, terpantul pada pembelaannya akan nasib umat di hadapan Allah. Suatu sikap yang tidak dimiliki oleh para pemimpin dan para Nabi/Rasul. Sebab ketika para hamba Allah meminta syafa’at kepada para Nabi, mulai Nabi Adam as, hingga Isa al-Masih as, ternyata mereka enggan, disebabkan mereka tidak berdaya, terutama memikirkan nasibnya sendiri-sendiri. Berbeda dengan Nabi Muhammad SAW, yang justru tidak memikirkan nasib dirinya di hadapan Allah, malah yang terucap hanya kalimat: “Umatii”umatii..umatii”” (umatku”duh, umatku”umatku”).

    Justru pembelaan Nabi Muhammad SAW itulah yang memberikan kewenangan padanya, syafa’at besar yang bisa menyelamatkan umat dari siksa Allah SAW. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan agar dalam permohonan ampunan, juga menyertakan permohonan ampunan untuk sesama umat. Misalnya, Istighfar yang berbunyi:

    Astaghfurullahal ‘adzim, lii waliwaalidayya, walijami’il huquuqi waajibati ‘alayya, walijami’il muslimin wal-muslimaat wal-mu’minin wal mu’minaat al-ahyaa’I minhum wal-amwaat.

    (Aku mohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, bagiku dan bagi kedua orang tuaku, dan bagi seluruh orang yang menjadi tanggungan kewajibanku, dan bagi umat muslimin dan muslimat, dan kaum mu’minin dan mu’minat).

    Dari nilai Istighfar di atas memberikan perspektif luar biasa bagi integrasi dan dinamika sosial secara damai. Hubungan-hubungan sosial akan berlaku dengan penuh kesejatian hati ke hati, karena hubungan yang bersifat emosional negatif dinetralisir oleh istighfar sosial di atas.

    Makanya, kualitas Istighfar bukan saja ditentukan hubungan yang sangat pribadi dengan Allah, tetapi juga sejauhmana seorang hamba menghayati Istighfar sosialnya.

    Di Balik Shalawat Nabi SAW

    Apa hubungan Istighfar dengan Shalawat Nabi SAW? Mengapa dalam praktik sufi, senantiasa ada dzikir Istighfar dan Shalawat Nabi dalam setiap wirid-wiridnya?

    Hubungan Istighfar dan Shalawat, ibarat dua keping mata uang. Sebab orang yang bershalawat, mengakui dirinya sebagai hamba yang lebur dalam wahana Sunnah Nabi. Leburnya kehambaan itulah yang identik dengan kefanaan hamba ketika beristighfar.

    Shalawat Nabi, merupakan syari’at sekaligus mengandung hakikat. Disebut syari’at karena Allah SWT, memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman, agar memohonkan Shalawat dan Salam kepada Nabi. Dalam Firman-Nya:

    “Sesungguhnya Allah dan para MalaikatNya senantiasa bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang beriman bershalawatlah kepada Nabi dan mohonkan salam baginya. (QS. 33: 56)

    Beberapa hadits di bawah ini sangat mendukung firman Allah Ta’ala tersebut :

    1. Suatu hari Rasulullah SAW, datang dengan wajah tampak berseri-seri, dan bersabda: “Malaikat Jibril datang kepadaku sambil berkata, “Sangat menyenangkan untuk engkau ketahui wahai Muhammad, bahwa untuk satu shalawat dari seseorang umatmu akan kuimbangi dengan sepuluh doa baginya.” Dan sepuluh salam bagiku akan kubalas dengan sepuluh salam baginya.” (HR. an-Nasa’i)
    2. Sabda Rasulullah SAW: “Kalau orang bershalawat kepadaku, maka malaikat juga akan mendoakan keselamatan yang sama baginya, untuk itu hendaknya dilakukan, meski sedikit atau banyak.” (HR. Ibnu Majah dan Thabrani)
    3. Sabda Nabi SAW, “Manusia yang paling utama bagiku adalah yang paling banyak shalawatnya.” (HR. at-Tirmidzi)
    4. Sabdanya, “Paling bakhilnya manusia, ketika ia mendengar namaku disebut, ia tidak mengucapkan shalawat bagiku.” (HR. at-Tirmidzi). “Perbanyaklah shalawat bagiku di hari Jum’at” (HR. Abu Dawud).
    5. Sabdanya, “Sesungguhnya di bumi ada malaikat yang berkeliling dengan tujuan menyampaikan shalawat umatku kepadaku.” (HR. an-Nasa’i)
    6. Sabdanya, “Tak seorang pun yang bershalawat kepadaku, melainkan Allah mengembalikan ke ruhku, sehingga aku menjawab salam ” (HR. Abu Dawud).

    Tentu, tidak sederhana, menyelami keagungan Shalawat Nabi. Karena setiap kata dan huruf dalam shalawat yang kita ucapkan mengandung atmosfir ruhani yang sangat dahsyat. Kedahsyatan itu, tentu, karena posisi Nabi Muhammad SAW, sebagai hamba Allah, Nabiyullah, Rasulullah, Kekasih Allah dan Cahaya Allah. Dan semesta raya ini diciptakan dari Nur Muhammad, sehingga setiap detak huruf dalam Shalawat pasti mengandung elemen metafisik yang luar biasa.

    Mengapa kita musti membaca Shalawat dan Salam kepada Nabi, sedangkan Nabi adalah manusia paripurna, sudah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu maupun yang akan datang? Beberapa alasan berikut ini sangat mendukung perintah Allah SWT :

    1. Nabi Muhammad SAW adalah sentral semesta fisik dan metafisik, karena itu seluruh elemen lahir dan batin makhluk ini merupakan refleksi dari cahayanya yang agung. Bershalawat dan bersalam yang berarti mendoakan beliau, adalah bentuk lain dari proses kita menuju jati diri kehambaan yang hakiki di hadapan Allah, melalui “titik pusat gravitasi” ruhani, yaitu Muhammad Rasulullah SAW.
    2. Nabi Muhammad SAW, adalah manusia paripurna. Segala doa dan upaya untuk mencintainya, berarti kembali kepada orang yang mendoakan, tanpa reserve. Ibarat gelas yang sudah penuh air, jika kita tuangkan air pada gelas tersebut, pasti tumpah. Tumpahan itulah kembali pada diri kita, tumpahan Rahmat dan Anugerah-Nya melalui gelas piala Kekasih-Nya, Muhammad SAW.
    3. Shalawat Nabi mengandung syafa’at dunia dan akhirat. Semata karena filosofi Kecintaan Ilahi kepada Kekasih-Nya itu, meruntuhkan Amarah-Nya. Sebagaimana dalam hadits Qudsi, “Sesungguhnya Rahmat-Ku, mengalahkan Amarah-Ku.” Siksaan Allah tidak akan turun pada ahli Shalawat Nabi, karena kandungan kebajikannya yang begitu par-exellent.
    4. Shalawat Nabi, menjadi tawashul bagi perjalanan ruhani umat Islam. Getaran bibir dan detak jantung akan senantiasa membubung ke alam Samawat (alam ruhani), ketika nama Muhammad SAW disebutnya. Karena itu, mereka yang hendak menuju kepada Allah (wushul), peran Shalawat sebagai pendampingnya, karena keparipurnaan Nabi itu menjadi jaminan bagi siapa pun yang hendak bertemu dengan Yang Maha Paripurna.
    5. Muhammad, sebagai nama dan predikat, bukan sekadar lambang dari sifat-sifat terpuji, tetapi mengandung fakta tersembunyi yang universal, yang ada dalam Jiwa Muhammad SAW. Dan dialah sentral satelit ruhani yang menghubungkan hamba-hamba Allah dengan Allah. Karena sebuah penghargaan Cinta yang agung, tidak akan memiliki nilai Cinta yang hakiki manakala, estetika di balik Cinta itu, hilang begitu saja. Estetika Cinta Ilahi, justru tercermin dalam Keagungan-Nya, dan Keagungan itu ada di balik desah doa yang disampaikan hamba-hamba-Nya buat Kekasih-Nya. Wallahu A’lam.

    Para sufi memberikan pengajaran sistematis kepada umat melalui Shalawat Nabi itu sendiri. Dan Shalawat Nabi yang berjumlah ratusan macam itu, lebih banyak justru dari ajaran Nabi sendiri. Model Shalawat yang diwiridkan para pengikut tarekat, juga memiliki sanad yang sampai kepada Nabi SAW. Oleh sebab itu, Shalawat adalah cermin Nabi Muhammad SAW yang memantul melalui jutaan bahkan milyaran hamba-hamba Allah bahkan bilyunan para malaikat-Nya.

    ***

    Mohammad Luqman Hakiem, MA

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 6 December 2014 Permalink | Balas  

    syukurSyukur

    Aku tak selalu mendapatkan apa yang kusukai, oleh karena itu aku selalu menyukai apapun yang aku dapatkan.

    Kata-kata diatas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia. Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.

    Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi.

    Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam arti yang sesungguhnya. Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ”kaya”. Orang yang “kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Seorang pengarang pernah mengatakan, ”Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur.

    Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

    Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.

    Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, “Lulu, Lulu”. Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, “Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.” Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, “Lulu, Lulu”. “Orang ini juga punya masalah dengan Lulu ?” tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, “Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu”.

    Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi. Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, “Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup ditanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga”.

    Bersyukurlah!

    Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan. Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan ?

    Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu. Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar.

    Bersyukurlah untuk masa-masa sulit. Di masa itulah kamu tumbuh.

    Bersyukurlah untuk keterbatasanmu. Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang.

    Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru. Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.

    Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat. Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga.

    Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih. Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan.

    Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik. Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut. Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif. Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu.

    “Dan, tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (QS 14:7)

    Wassalam

    ***

    Kiriman: Haris Satriawan

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 3 December 2014 Permalink | Balas  

    qadarAdakah Sesuatu yang Buruk Dalam Qadar Allah?

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Dalam qadar Allah tidak ada sesuatu yang buruk, akan tetapi keburukan itu terdapat pada yang ditakdirkan. Kita tahu bahwa ada orang yang mendapatkan musibah dan ada juga yang mendapatkan untung. Musibah merupakan sesuatu yang buruk, akan tetapi keburukan itu tidaklah perbuatan Allah Ta’ala, yakni perbuatan dan takdir Allah itu bukan merupakan keburukan. Keburukan ada pada yang diperbuat oleh-Nya, bukan pada perbuatan-Nya. Allah tidaklah mentakdirkan keburukan ini melainkan untuk sesuatu kebaikan. Allah Ta’ala berfirman :

    “Artinya : Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan ulah tangan manusia“. (Ar-Rum : 41).

    Ini merupakan penjelasan penyebab kerusakan di muka bumi. Adapun mengenai hikmahnya seperti difirmankan oleh-Nya :

    “Artinya : Supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (Ar-Rum : 41).

    Jadi, musibah ini pada akhirnya merupakan kebaikan. Dengan demikian keburukan itu tidak disandarkan kepada Tuhan, akan tetapi disandarkan sesuatu yang yang diperbuat dan kepada mahluk. Ini bisa diartikan suatu keburukan dari satu sisi dan merupakan kebaikan di sisi yang lain. Kalau dilihat bencananya yang terjadi, maka itu suatu keburukan, namun jika dilihat dari akibatnya, maka itu suatu kebaikan.

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 2 December 2014 Permalink | Balas  

    qadarApa perbedaan antara Qadha’ dan Qadhar?

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Ulama berbeda pendapat mengenai perbedaan antara keduanya. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa qadar adalah taqdir (ketetapan-ketetapan atau ketentuan) Allah sejak zaman azali, sedangkan qadha’ adalah hukum Allah mengenai sesuatu ketika sesuatu itu terjadi (alias pelaksanaan qadar-Nya -pent-). Jika Allah menetapkan terjadinya sesuatu pada waktu yang ditentukan, maka itulah yang dinamakan qadar. Dan ketika telah datang waktunya terjadinya sesuatu yang telah ditetapkan sebelumnya itu, maka itulah yang dinamakan qadha’. Semacam ini banyak sekali kita dapatkan dalam Al-Qur’an, seperti firman Allah :

    “Artinya : Telah diputuskan (dilaksanakan) perkara yang kamu berdua menanyakannya kepadaku”. (Yusuf : 41).

    Juga Allah berfirman :

    “Artinya : Dan Allah melaksanakan hukum dengan adil”. (Ghafir : 20).

    Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semisal. Jadi, qadar adalah ketentuan Allah mengenai segala sesuatu pada zaman azali, sedangkan qadha’ adalah pelaksanaan dari qadar itu pada saat terjadinya.

    Ada juga ulama yang mengatakan bahwa kedua istilah itu memiliki satu makna atau satu pengertian. Namun yang kuat adalah jika keduanya disandingkan, maka keduanya memiliki perbedaan arti seperti bisa kita lihat di atas, dan jika dipisahkan atau berdiri sendiri, maka kedua istilah itu memiliki satu makna (memiliki pengertian yang sama).

    Wallahu a’lam.

     
    • lazione budy 7:15 am on 2 Desember 2014 Permalink

      penjelasannya kurang jelas.
      menurut buku yang dulu pernah saya baca, Qada itu takdir jadi sudah ketetapan Allah yang tak bias dirubah oleh makhlukNya.
      Qadar itu nasib, sudah digariskan oleh Allah tapi manusia bias merancangnya sesuai usahanya.
      Wallahu a’lam

  • erva kurniawan 1:14 am on 1 December 2014 Permalink | Balas  

    Suara Wanita : Aurat atau Bukan ? 

    wanita sholehahSuara Wanita: Aurat atau Bukan?

    Assalamualaikum wr.wb.

    Suara adalah wahana lalu lintas kata dan makna. Melalui suaralah, kehendak, pikiran, dan lagu bisa dipahami. Lalu, bagaimana bila kata dan lagu itu disenandungkan oleh perempuan? Betulkah suara wanita itu aurat?

    Selama ini suara perempuan dianggap sebagai pengundang hawa nafsu, dan sumber godaan. Bahkan dalam riwayat hadist, yang diceritakan Abdallah ibn Umar menyebutkan, perempuan adalah aurat sehingga apapun yang berbau perempuan adalah jerat setan. Maka pertanyaan yang acap muncul adalah, bolehkah mendengar nyanyian suara wanita?

    Sebenarnya kalau ditelesuri ke belakang, pandangan yang menganggap suara perempuan sebagai aurat itu dipengaruhi oleh budaya pra Islam, yang menganggap bahwa perempuan pada dasarnya diciptakan sebagai penggoda dan juga masih terkait dengan tradisi kristiani.

    Konsep aurat dalam Islam lebih menekankan pada gejala yang bersifat fisik atau jasmani dan bukan pada suara. Jika suara perempuan itu aurat, mengapa Rasulullah SAW. mengisinkan dua budak wanita menyanyi di rumahnya? selain itu, beliau juga tidak keberatan berbicara dengan kaum wanita, sebagaimana yang terjadi ketika Beliau menerima bai’at dari kaum ibu sebelum dan sesudah hijrah. Bahkan beliau pernah mendengar nyanyian seorang wanita yang bernazar untuk memukul rebana dan menyanyi di hadapan Rasulullah SAW. Ini menunjukkan bahwa suara wanita bukan aurat.

    Oleh karena itu, mendengar suara wanita tidaklah haram sebab ia bukan aurat. Tidak ada larangan wanita untuk berbicara dengan kaum lelaki kecuali apabila suaranya itu berisi bujuk rayu dan menimbulkan gairah rendah. Hal ini telah ditegaskan dalam Al-Qur’an ; ” …maka, janganlah kamu tunduk ketika berbicara (dengan manja, merayu, dan sebagainya). (sebab), nanti akan timbul keinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya (keinginan hafsu birahinya). Dan ucapkanlah perkataan yang baik (sopan santun).” QS. Al-Ahzab : 32) Begitu pula, dengan mendengarkan lagu yang dinyanyikan oleh wanita.

    Yang tidak boleh adalah, jika si penyanyi tersebut menampilkan kecantikannya dengan membuka auratnya, misalnya menonjolkan dada, betis, paha, dan bagian aurta lainnya. Inilah yang diharamkam oleh syara’, bukan karena masalah mendengarkan nyanyian wanita itu. Muhammad Ghazali, tokoh Islam terkemuka (almarhum) mengatakan, “Tidak ditemukan seorangpun diantara para ahli fiqih yang mengatakan bahwa suara wanita adalah aurat. Dan jika ada, pendapat itu isu bohong semata,” ujarnya.

    ***

    Dari berbagai Sumber/Ayu (PARAS).

    Kiriman: Dwi Nopitasari

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 30 November 2014 Permalink | Balas  

    biji kurmaBagaimana Memahami Ayat Allah di Alam

    Dalam Alqur’an dinyatakan bahwa orang yang tidak beriman adalah mereka yang tidak menaruh kepedulian akan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah di alam semesta ciptaan-Nya. Sebaliknya, ciri menonjol pada orang yang beriman adalah kemampuan memahami tanda-tanda kekuasaan sang Pencipta. Ia mengetahui bahwa semua ini diciptakan tidak dengan sia-sia, dan ia mampu memahami kesempurnaan ciptaan Allah di segala penjuru manapun. Pemahaman ini pada akhirnya menghantarkannya pada penyerahan diri, ketundukan dan rasa takut kepada-Nya. Ia adalah termasuk golongan yang berakal, yaitu “Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 190-191).

    Di banyak ayat dalam Alqur’an, pernyataan seperti, “Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” dan “terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang berakal, ” memberikan penegasan tentang pentingnya memikirkan secara mendalam tentang tanda-tanda kekuasaan Allah. Segala sesuatu yang kita saksikan dan rasakan di langit, di bumi dan segala sesuatu di antara keduanya adalah perwujudan dari kesempurnaan penciptaan oleh Allah, dan oleh karenanya menjadi bahan yang patut untuk direnungkan. Satu ayat berikut memberikan contoh akan nikmat Allah ini: “Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. An-Nahl:11).

    Sebagaimana diketahui, pohon kurma tumbuh dari sebutir biji di dalam tanah. Berawal dari biji mungil ini, yang berukuran kurang dari satu sentimeter kubik, muncul sebuah pohon besar berukuran panjang 4-5 meter dengan berat ratusan kilogram. Satu-satunya sumber bahan baku yang dapat digunakan oleh biji ini ketika tumbuh dan berkembang membentuk wujud pohon besar ini adalah tanah tempat biji tersebut berada. Bagaimanakah sebutir biji mengetahui cara membentuk sebatang pohon? Bagaimana ia dapat berpikir untuk menguraikan dan memanfaatkan zat-zat di dalam tanah yang diperlukan untuk pembentukan kayu? Bagaimana ia dapat memperkirakan bentuk dan struktur yang diperlukan dalam membentuk pohon?

    Pertanyaan yang terakhir ini sangatlah penting, sebab pohon yang pada akhirnya muncul dari biji tersebut bukanlah sekedar kayu gelondongan. Ia adalah makhluk hidup yang kompleks yang memiliki akar untuk menyerap zat-zat dari dalam tanah. Akar ini memiliki pembuluh yang mengangkut zat-zat ini dan yang memiliki cabang-cabang yang tersusun rapi sempurna. Seorang manusia akan mengalami kesulitan hanya untuk sekedar menggambar sebatang pohon. Sebaliknya sebutir biji yang tampak sederhana ini mampu membuat wujud yang sungguh sangat kompleks hanya dengan menggunakan zat-zat yang ada di dalam tanah. Pengkajian ini menyimpulkan bahwa sebutir biji ternyata sangatlah cerdas dan pintar, bahkan lebih jenius daripada kita. Mungkinkah sebutir biji memiliki kecerdasan dan daya ingat yang luar biasa? Tak diragukan lagi, pertanyaan ini memiliki satu jawaban: biji tersebut telah diciptakan oleh Dzat yang memiliki kemampuan membuat sebatang pohon. Dengan kata lain biji tersebut telah diprogram sejak awal keberadaannya.

    Dalam sebuah ayat disebutkan: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. Al-An’aam: 59).

    Dalam ayat lain Allah menyatakan: ”Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” QS. Al-An’am: 95).

    Biji hanyalah satu dari banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang diciptakan-Nya di alam semesta. Ketika manusia mulai berpikir tidak hanya menggunakan akal, akan tetapi juga dengan hati mereka, dan kemudian bertanya pada diri mereka sendiri pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”, maka mereka akan sampai pada pemahaman bahwa seluruh alam semesta ini adalah bukti kekuasaan Allah SWT.

    ***

    (Diambil dari http://www.harunyahya.com)

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 27 November 2014 Permalink | Balas  

    ilmu-adalah-pelitaKeutamaan Ilmu

    Assalamualaikum wr. wb.

    Muadz ibn Jabal pernah mengingatkan tentang arti penting ilmu pengetahuan. Kala itu Muadz mengatakn :

    1. “Pelajarilah ilmu karena hal itu merupakan perwujudan rasa takut kepada Allah. Mencarinya adalah ibadah. Mempelajarinya adalah tasbih. Membahasnya adalah jihad.Mengajarkannya kepada orang lain adalah sedekah. Mencari kepada ahlinya adalah taqarrub.
    2. Dialah teman di kala sendirian, sahabat dalam keterasingan, petunjuk dalam beragama, penolong di kala duka, penerang jalan ke surga.
    3. Allah mengangkat derajat suatu kaum dan menjadikan mereka sebagai pemimpin, tokoh dan petunjuk yang diikuti adalah karena ilmu. Tapak jejaknya diikuti, perbuatannya diperhatikan. Malaikat senang berkawan dengan mereka dan membersihkan mereka dengan kedua sayapnya.
    4. Dengan ilmu manusia bisa mentaati Allah dengan benar. Dengan ilmu pula tali silaturrahim disambung, haq dan haram diketahui. Ilmu adalah iman, amal adalah pengikutnya. Ia dianugerahkan kepada orang orang yang berbahagia, dan diharamkan untuk mereka yang celaka. Itulah segudang dari kelebihan ilmu pengetahuan.”

    HIKMAHNYA :

    1. Sumber dari segala ilmu pengetahuan adalah Tuhan, sebagai pusat dari segala pusat, hulu dari segala hulu, sumber dari segala sumber. Dengan demikian maka secara substansial ilmu pengetahuan yang hakekatnya bersumber dari Tuhan sangat luas tak terkirakan, sangat banyak jumlahnya tak terhitungkan. Bahkan Allah telah menandaskan bahwa seandainya air laut dijadikan tinta dan daun daun dijadikan kertasnya untuk mencatat semua ilmu Allah, maka semua itu tak akan mencukupinya. Sehebat apapun ilmu yang dimiliki manusia, menurut Allah itu masih sedikit jumlahnya. (“Dan tidaklah aku memberikan ilmu kepada kalian kecuali sedikit saja”).

    Dengan menyadari hal itu, maka manusia tidak sepatutnya merasa puas diri dengan pengetahuan yang dimiliki. Manusia tak sepantasnya merasa paling hebat, paling cerdas, seolah dirinya sebagai orang terhebat sejagat.Dia tak menyadari bahwa di atas langit masih ada langit. Hanya kesadaran inilah yang akhirnya mampu mendorong orang cerdas dan pandai untuk rendah hati, tidak merasa puas diri dengan pengetahuan yang dimiliki. Kerakusan yang dibolehkan hanyalah rakus terhadap ilmu pengetahuan dan kebajikan. Ketidakpuasan yang dibolehkan atas sesuatu yang dimiliki, hanyalah tak pernah merasa puas pada ilmu yang sudah dipunyai, sehingga mendorong dia untuk terus dan terus belajar dan mengkaji.

    1. Islam malah mewajibkan umatnya untuk berprinsip long life education: belajar sepanjang hidupnya. Hal ini bukan hanya berlaku bagi pria tapi juga wanita. Menuntut ilmu diwajibkan atas tiap orang islam pria dan wanita mulai dari ayunan (sejak kecil) sampai ke liang kubur. Menuntut ilmu dalam islam tak dibatasi lokasi, bahkan silahkan saja sampai ke manca negara, termasuk negeri non islam juga.

    Pada jaman Nabi Muhammad SAW misalnya, umat islam malah disuruh mencari pengetahuan dan pengalaman sampai ke negeri Cina, yang kala itu bukan sebuah negara dan bangsa Islam tapi pengetahuan Ipteknya tinggi, untuk mencapai kemajuan. (Uthlubul ‘ilma walau bisshin: Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri cina).

    1. Ilmu pengetahuan dalam islam diibaratkan cahaya (obor,pelita) sedangkan kebodohan diidentikkan dengan kegelapan. Dapat dipahami jika berjihad dalam Islam bukan hanya berperang angkat senjata, tapi mengangkat pena alias belajar mengajar adalah sebuah jihad pula. Ilmu itu cahaya. Sebab orang yang tak tahu ilmu ibadah, ibadahnya pasti ngawur, orang yang tak tahu halal dan haram, dia akan menghalalkan yang diharamkan atau mengharamkan apa yang diharamkan Tuhan. Sebab, dia memang tak tahu, tak bisa melihat (buta, gelap) mana yang benar dan salah.
    2. Aktivitas keagamaan hanya berlandas pada semangat tanpa pemahaman pengetahuan pada esensi ajaran, implementasinya bisa ngawur bahkan dapat bertentangan dengan substansi peribadatan. Orang mau sembahyang harus tahu tata cara sembahyang, harus wudhu dan tahu cara wudhu. Semua itu perlu ilmu. Bahkan Allah mengingatkan agar jangan mengatakan dan atau melakukan sesuatu yang kita tidak tahu tentang ilmunya. (“Janganlah kamu melakukan sesuatu yang kamu tidak tahu tentang ilmunya, karena sesungguhnya pendengaranmu, penglihatanmu, dan hatimu akan dimintai pertanggung jawaban.” ).
    3. Ilmu memang menempati maqam (posisi) super penting dalam ajaran Islam terutama untuk mencapai kejayaan kehidupan di dunia maupun di akhirat. Nabi Muhammad SAW menyatakan, : ” Barangsiapa menghendaki kebahagiaan hidup di dunia dapat dicapai dengan ilmu, dan barangsiapa menghendaki keduanya (kebahagian dunia dan akhirat) dapat dicapai dengan ilmu pula. Nabi Muhammad SAW. juga mengingatkan, : “Segala sesuatu ada jalannya, dan jalan untuk menuju surga adalah ilmu. Oleh karena itu, sangat dapat dimengerti jika ALLAH memerintahkan : “Taatlah kepada Allah wahai orang-orang yang menggunakan akal, yang mempunyai ilmu pengetahuan”. Oleh karena itu pula, adalah sangat aneh jika umat islam masih banyak yang kurang pengetahuannya akan ilmu, banyak yang malas belajar, dan masih memandang sebelah mata terhadap ilmu pengetahuan.

    ***

    Sumber : Kisah dan Hikmah (Dhurorudin Mashad)

    Wassalam

    Siti Nurjannah

     
  • erva kurniawan 2:55 am on 26 November 2014 Permalink | Balas  

    hijabMenjawab Keraguan Seputar Jilbab

    Menghias perbuatan maksiat adalah pekerjaan setan. Sehingga perbuatan dosa bisa nampak indah, yang haram menjadi suram dan yang maksiat kelihatan memikat. Begitu pula dalam masalah jilbab dan busana takwa ini. Banyak syubhat dan keraguan yang bisa jadi sengaja dihembuskan untuk menghalangi para wanita muslimah memperindah penampilannya dengan busana takwa.

    Tulisan ini akan mengupas tentang beberapa hal yang menimbulkan keraguan dan kebimbangan seputar jilbab, sekaligus menjawabnya insya Allah. Hal-hal tersebut antara lain:

    Jilbab adalah budaya Arab

    Ada sementara orang yang mengatakan bahwa jilbab adalah budaya dan tradisi pakaian wanita arab pada masa awal pertumbuhan Islam. Sekarang, setelah berlalu lebih dari 14 abad, budaya dan tradisi pun berubah. Cara orang berpakaian pun sudah tak seperti dulu. Karena jilbab adalah pakaian wanita arab saat itu, maka bukan saatnya lagi untuk dikenakan saat ini. Apalagi bagi orang yang tinggal di negara-negara non arab yang tentunya mempunyai budaya dan tradisi sendiri.

    Dari sini paling tidak ada dua hal yang perlu dijawab. Pertama, benarkah jilbab adalah tradisi berpakaian wanita arab pada awal pertumbuhan Islam? Kedua, benarkah jilbab hanya khusus untuk wanita arab dan tak wajib bagi muslimah non arab untuk mengenakannya?

    Imam Hakim meriwayatkan sebuah hadis yang menggambarkan saat-saat setelah turunnya ayat perintah menutup aurat, yaitu Surat Annur ayat 31: “dan hendaklah mereka menutupkan khumur- jilbab- nya ke dada mereka….” Riwayat lain menerangkan: “Wanita-wanita (ketika turun ayat tersebut) segera mengambil kain sarung mereka, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Hakim).

    Imam Bukhari juga meriwayatkan hal senada:

    “Bahwasannya ‘Aisyah RA. Berkata: “Ketika turun ayat “dan hendaklah mereka menutupkan “khumur” -jilbab- nya ke dada mereka…” maka para wanita segera mengambil kain sarung, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Bukhari).

    Kedua hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa pada saat turunnya ayat tersebut para shohabiyyah (wanita dari kalangan sahabat) sedang tidak mengenakan “khumur” (jilbab) dan memang mereka belum biasa mengenakannya. Buktinya, saat itu mereka harus merobek kain sarung mereka untuk dialih-fungsikan menjadi jilbab. Jika mereka sudah biasa memakainya tentunya jilbab itu telah tersedia dan tak perlu lagi untuk menyulap kain sarung mereka menjadi jilbab “darurat.” Dari sini jelaslah bahwa jilbab bukanlah merupakan budaya dan tradisi wanita arab pada awal pertumbuhan Islam, tetapi suatu hal yang disyariatkan oleh Islam dan dilaksanakan oleh seluruh shohabiyyah. Hingga akhirnya pakaian tersebut mentradisi dan menjadi budaya Islam. Dengan ini, berarti pertanyaan pertama telah terjawab.

    Sedang pertanyaan kedua, yakni apakah jilbab hanya untuk orang arab saja, maka ini terjawab dengan keuniversalan Islam. Islam adalah agama yang diperuntukkan bagi seluruh manusia, melampaui batas waktu dan geografi. Allah berfirman:

    “Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Qs. Saba’:28). Karena jilbab (busana penutup aurat) adalah bagian dari syariat Islam maka ia juga diperuntukkan bagi seluruh wanita muslimah di manapun ia berada hingga hari kiamat kelak.

    Jilbab hanya wajib bagi istri-istri Rasulullah

    Orang yang mengatakan bahwa jilbab (dikenal juga dengan sebutan hijab) hanyalah wajib bagi istri-istri Rasulullah berdalil dengan ayat 33 surat Al-Ahzab. Sebab konteks ayat tersebut ditujukan kepada mereka. Karenanya larangan untuk tabarruj dan kewajiban mengenakan jilbab hanyalah wajib bagi mereka saja.

    Pernyataan ini terjawab dengan dua hal:

    1. Para ahli tafsir memberikan komentar atas ayat tersebut bahwa meninggalkan tabarruj juga diperintahkan kepada seluruh wanita mukminah. Imam Al-Jashshas berkata: “Semua hal yang tersebut dalam ayat ini adalah petunjuk-petunjuk Allah bagi istri-istri rasulullah untuk menjaga mereka, dan semua itu juga ditujukan bagi wanita-wanita mukminah.” (lihat, Ahkamu Al-Qur’an karya Al-Jashshos). Imam Ibnu Katsir berkomentar: “Ini adalah hal-hal yang diperintahkan Allah kepada istri-istri Nabi, dan seluruh wanita mukminah dalam hal ini harus mengikuti mereka.” (lihat, Tafsir Ibnu Katsir).
    2. Sebutlah misalnya bahwa, benar ayat surat Al-Ahzab: 33 tersebut khusus untuk istri-istri Rasulullah, namun ada ayat lain yang dengan jelas mengatakan bahwa kewajiban berjilbab itu diperuntukkan bagi seluruh wanita mukminah. Yaitu Firman Allah: “Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkkan khumur (Ind: jilbab) nya ke dadanya…” (Qs.Annur: 31)

    Jilbab adalah sekedar simbol

    Sementara itu ada yang mengatakan bahwa jilbab hanyalah sebuah simbol. Sedang yang penting bagi seorang muslim adalah baiknya budi pekerti dan bersihnya hati. Dari pada berjilbab tapi kelakuannya berantakan, bukankah lebih baik tidak berjilbab tapi bertingkah laku baik.

    Kelihatannya kata-kata ini baik, namun sebenarnya rancu. Sebab dalam diri seorang muslim hendaknya tertanam keyakinan bahwa apapun yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya adalah baik dan seharusnya dilakukan. Baik itu simbol atau bukan. Tidaklah hanya karena suatu hal dianggap simbol lantas kita boleh meninggalkannya. Bahkan lebih dari itu, di sana ada hal-hal yang tak bisa dilogikakan namun kita tetap wajib melakukan. Misalkan wudlu karena keluar angin. Mengapa yang harus dibasuh adalah muka, tangan, kepala dan kaki. Bukankah yang lebih pantas untuk dibasuh adalah tempat keluarnya angin tersebut. Karena alasan ini pula sayyidina Umar RA. berujar tatkala mencium hajar aswad: “Sesunguhnya aku tahu kau hanyalah sebuah batu yang tak bisa mendatangkan faedah dan tidak pula menyebabkan bahaya, namun karena aku melihat Rasulullah menciummu maka aku menciummu.”

    Sikap menerima seperti inilah yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya:

    “Tidaklah patut bagi seorang mukmin dan tidak pula bagi seorang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, kemudian ia memilih yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-Ahzab: 36).

    Maka seorang muslim seharusnya memandang bahwa berjilbab juga termasuk akhlak dan perilaku yang baik. Sebab yang baik bagi seorang muslim adalah yang baik menurut Allah dan yang buruk adalah yang buruk menurut-Nya. Karenanya, menanggapi komentar di atas seharusnya seorang muslim berkata: “Lebih baik berjilbab dan mempunyai akhlak yang baik dari pada berperilaku baik tapi tidak berjilbab.” Atau: “Sayang sekali, perilakunya baik tapi kok tidak berjilbab.”

    Siapakah Yang Memikul Tanggung Jawab Ini?

    Permasalahan jilbab ini bukanlah hanya tanggung jawab para muslimah saja. Tapi setiap muslim ikut bertanggung jawab dalam hal ini. Setiap muslim berkewajiban untuk bersama-sama menciptakan situasi yang kondusif untuk pelaksanaan syariat Allah tersebut. Seorang ayah bertanggung jawab atas istri dan anak-anak putrinya. Seorang ibu bertanggung jawab atas dirinya dan anak-anak wanitanya. Dan setiap kita bertanggung jawab atas keluarga kita. Jika kita melalaikan tanggung jawab ini, secara sadar atau tidak kita telah menjerumuskan diri kita dan orang-orang yang kita cintai dalam jurang api neraka.

    Rasulullah bersabda:

    “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim).

    Allah berfirman:

    “Wahai orang-orang yang beriman, selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kejam dan keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya dan melaksanakan apa yang diperintahkan.” (Qs. Attahrim: 6).

    Wallahu a’lam bishshowab.

    (Ahmad ulil Amin)

    Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 2:36 am on 22 November 2014 Permalink | Balas  

    sakitBersyukur Ketika Sehat, Bersabar Ketika Sakit

    Hidup seorang muslim hendaknya selalu berada pada dua hal: Hal bersyukur dan sabar. Jika ia sehat, ia bersyukur dan gunakan kesehatannya untuk melakukan pekerjaan yang bermanfaat. Sebaliknya, jika sakit, ia ikhlas dan bersabar sambil terus menerus berusaha mengobatinya, disertai dengan sikap tawakal pada Allah. Ia sadar, Allah-lah zat yang mampu menyembuhkan penyakitnya. Dalam kaitan ini Allah berfirman :

    “(Yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang memberi petunjuk. Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku. Dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali). Dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” – Asy Syu’araa'; 26: 78 -82.

    Oleh karenanya berobat termasuk salah satu perintah dalam ajaran Islam. Rasulullah bersabda : “Setiap penyakit ada obatnya, maka berobatlah kamu sekalian, tetapi jangan berobat dengan sesuatu yang diharamkan”

    Di samping itu ada hal yang perlu diingatkan, untuk tidak berobat ke dukun mistik, paranormal yang mengerti ilmu gaib.

    Dalam sebuah hadist, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa yang mendatangi dukun peramal (kahin), maka sungguh dia telah kufur kepada apa (Al Qur’an) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam”

    Rasulullah sendiri tidak mampu meramalkan yang gaib, yang akan terjadi pada dirinya. Allah berfirman :

    ” Katakanlah aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudaratan, kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak- banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” – Al-A’raaf ; 7: 188

    Penyakit itu kadang kala datang dengan tiba-tiba, sementara penyembuhannya kadangkala membutuhkan waktu lama. Tidak ada sikap yang perlu dipegang selain bersabar dan bertawakal kepada Allah SWT. Rasulullah bersabda :

    “Jauhilah olehmu segala yang diharamkan, maka pasti engkau akan menjadi orang yang paling taat beribadah. Bersikaplah ridha terhadap segala apa yang telah Allah tetapkan kepadamu.” (HR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah)

    Dalam hadist lain Rasulullah bersabda pula :

    ” Aku bangga dengan seorang muslim, jika menimpa kepadanya suatu musibah ia ikhlas dan bersabar. Jika mendapatkan kebaikan, ia memuji Allah dan bersyukur. Sesungguhnya muslim itu pada segala aktivitasnya selalu akan mendapatkan pahala dari Allah sekalipun pada sesuap nasi yang ia masukkan ke dalam mulutnya.” (HR Imam Baihaqi dari Sa’ad)

    Disamping kesabaran dan ketabahan, juga harus memiliki sikap husnu-zhan (berbaik sangka) kepada Allah SWT. Apa yang terjadi pada si sakit adalah kebaikan buat dirinya. Rasulullah bersabda :

    “Aku bangga dengan orang mukmin, sesungguhnya Allah SWT tidaklah menetapkan suatu keputusan, kecuali akan berakibat baik kepadanya.” (HR Ibnu Hibban dari Anas)

    “Aku heran dengan mukmin yang gelisah menghadapi penderitaan sakitnya. Jika ia mengetahui sesuatu (pahala) yang terdapat pada sakitnya, ia pasti akan mengharapkan sakit tersebut sehingga bertemu dengan Allah SWT.” (HR Thabrani dari Ibn Mas’ud)

    Berbaik sangka kepada Allah akan melahirkan persangkaan baik pula kepada sesama manusia. Prinsip semacam inilah yang akan melahirkan sikap saling mengerti, saling memahami, senasib sepenanggungan, saling merasakan (empati), serta suka dan duka dirasakan bersama.

    Menjenguk orang yang sakit adalah puncak dari rasa persaudaraan yang harus dimiliki dan dikembangkan oleh setiap muslim. Tiada iman tanpa ukhuwah (rasa persaudaraan) yang mendalam. Rasulullah bersabda :

    ” Engkau lihat orang-orang mukmin dalam sayang menyayanginya, saling mencintai dan saling mengerti, adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuhnya sakit, maka yang lainnya akan merasakan pula panas dan demamnya.” (HR Ahmad dari Abu Umamah).

    ***

    K.H. Didin Hafidhuddin, M.Sc.

    -Sakit Menguatkan Iman-

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 21 November 2014 Permalink | Balas  

    wanitaWanita Bagi Pahlawan

    Oleh : M. Anis Matta, Lc

    Dibalik setiap pahlawan besar selalu ada seorang wanita agung. Begitu kata pepatah Arab. Wanita agung itu biasanya satu dari dua, atau dua-duanya sekaligus; sang ibu atau sang istri.

    Pepatah itu merupakan hikmah psiko-sejarah yang menjelaskan sebagian dari latar belakang kebesaran seorang pahlawan. Bahwa karya-karya besar seorang pahlawan lahir ketika seluruh energi didalam dirinya bersinergi dengan momentum diluar dirinya; tumpah ruah bagai banjir besar yang tidak terbendung. Dan tiba-tiba sebuah sosok telah hadir dalam ruang sejarah dengan tenang dan ajek.

    Apa yang telah dijelaskan oleh hikmah psiko-sejarah itu adalah sumber energi bagi para pahlawan; wanita adalah salah satunya. Wanita bagi banyak pahlawan adalah penyangga spiritual, sandaran emosional; dari sana mereka mendapat ketenangan dan kegairahan, kenyamanan dan keberanian, keamanan dan kekuatan. Laki-laki menumpahkan energi di luar rumah, dan mengumpulkannya lagi didalam rumahnya.

    Kekuatan besar yang dimiliki para wanita yang mendampingi para pahlawan adalah kelembutan, kesetiaan, cinta dan kasih sayang. Kekuatan itu sering dilukiskan seperti dermaga tempat kita menambatkan kapal, atau pohon rindang tempat sang musafir berteduh. Tapi kekuatan emosi itu sesungguhnya merupakan padang jiwa yang luas dan nyaman, tempat kita menumpahkan sisi kepolosan dan kekanakan kita, tempat kita bermain dengan lugu dan riang, saat kita melepaskan kelemahan-kelemahan kita dengan aman, saat kita merasa bukan siapa-siapa, saat kita menjadi bocah besar. Karena di tempat dan saat seperti itulah para pahlawan kita menyedot energi jiwa mereka.

    Itu sebabnya Umar bin Khattab mengatakan, “Jadilah engkau bocah di depan istrimu, tapi berubahlah menjadi lelaki perkasa ketika keadaan memanggilmu’. Kekanakan dan keperkasaan, kepolosan dan kematangan, saat lemah dan saat berani, saat bermain dan saat berkarya, adalah ambivalensi-ambivalensi kejiwaan yang justru berguna menciptakan keseimbangan emosional dalam diri para pahlawan.

    “Saya selamanya ingin menjadi bocah besar yang polos.” kata Sayyid Quthub. Para pahlawan selalu mengenang saat-saat indah ketika ia berada dalam pangkuan ibunya, dan selamanya ingin begitu ketika terbaring dalam pangkuan istrinya.

    Siapakah yang pertama kali ditemui Rasulullah SAW setelah menerima wahyu pertama dan merasakan ketakutan luar biasa? Khadijah! Maka ketika Rasulullah ditawari untuk menikah setelah Khadijah wafat, beliau mengatakan; “Dan siapakah wanita yang sanggup menggantikan peran Khadijah?”

    Itulah keajaiban dari kesederhanaan. Kesederhanaan yang sebenarnya adalah keagungan; kelembutan, kesetiaan, cinta an kasih sayang. Itulah keajaiban wanita.

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 19 November 2014 Permalink | Balas  

    Khadijah Binti KhuwailidPerempuan, Jadi Objek atau Mengobjekkan Diri?

    Oleh Iwan Hermawan, S.Pd., M.Pd.

    Seorang wanita telah dilengkapi oleh Tuhan dengan keindahan jiwa dan raga adalah sebuah kebenaran, yang sekaligus nyata dan maya, yang hanya bisa kita pahami dengan cinta kasih, dan hanya bisa kita sentuh dengan kebajikan. (Kahlil Gibran, Sayap-sayap Patah).

    POTONGAN tulisan Kahlil Gibran di atas menunjukkan, perempuan merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki daya tarik memikat serta penuh dengan misteri bagi lawan jenisnya. Keindahan tubuh dan rohaninya merupakan bagian yang mampu menarik hati dan menggoda iman kaum lelaki sehingga tidak heran jika kaum lelaki akan rela mengorbankan apa saja agar mampu menikmati dan memiliki keindahan tubuh seorang perempuan.

    Perjalanan sejarah menunjukkan, pembunuhan yang dilakukan oleh manusia pertama kali di muka bumi, yaitu pembunuhan Habil oleh Qabil, terjadi sebagai akibat rebutan perempuan. Selain itu, kisah dalam kitab suci menjelaskan Nabi Adam yang diusir oleh Tuhan dari surga juga disebabkan oleh perempuan (Siti Hawa) yang mendesaknya untuk mendekati dan memakan buah terlarang (Khuldi).

    Pada zaman Fir’aun, Nabi Musa yang saat itu masih bayi seharusnya dibunuh karena merupakan keturunan Bani Israil, tetapi tidak jadi dibunuh bahkan diangkat anak olehnya karena permintaan dari sang permaisuri. Pada zaman Cleopatra, Julius Caesar rela tidak melanjutkan ekspansinya di Mesir karena jatuh pada pelukan ratu Mesir yang terkenal karena kecantikannya. Selanjutnya, Presiden Amerika Serikat John F. Kennedi dapat takluk dan jatuh ke pelukan artis Marlyn Monroe, dan terakhir ketika Presiden Bill Clinton posisinya terancam karena ada main dengan Monica Lewinsky.

    Tidak semua perempuan hanya menjadi objek dalam kehidupan dunia, di antara mereka terdapat beberapa nama yang justru menjadi pembangkit semangat bagi orang yang mencintainya, seperti halnya Eva Duarte yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Eva Peron merupakan orang di belakang layar keberhasilan Juan Peron dalam membangun negerinya walaupun hal itu juga merupakan bagian dari ambisinya untuk menjadi orang terkenal di Argentina. Itu tercapai hingga namanya lebih dikenang oleh warga Argentina dibanding sang suami yang justru orang nomor satu di negeri itu.

    Kenyataan tersebut menunjukkan dari dulu hingga sekarang kaum laki-laki akan selalu berupaya untuk dapat meraih simpati perempuan tanpa berpikir dampak dan akibat yang akan ditanggungnya.

    Pemanfaatan perempuan

    Melihat perjalanan panjang sejarah hubungan antara laki-laki dan perempuan tidak heran jika banyak orang kemudian memanfaatkan keindahan yang dimiliki perempuan guna mencapai suatu obsesi, baik harta kekayaan, ketenaran, atau jabatan. Pada zaman dahulu, agar lurah terpakai oleh bupati, dia secara rutin harus mempersembahkan seorang perempuan yang cantik kepada bupati untuk dijadikan selir atau hanya sekadar pemuas nafsu sesaat untuk kemudian dibebaskan kembali atau dihadiahkan lagi kepada orang lain.

    Akibatnya, banyak orang tua, terutama dari golongan bawah, yang merasa bahagia jika memiliki anak perempuan yang cantik dan rupawan karena kecantikan yang dimilikinya dapat menjadi modal untuk meningkatkan taraf kehidupan ekonomi dan status keluarga.

    Di dunia modern saat ini, kedudukan perempuan tidaklah jauh berbeda dengan sebelumnya, mereka tetap dijadikan sebagai hiasan penarik laba. Bila kita perhatikan mode pakaian perempuan yang berkembang saat ini, dari hari ke hari semakin ketat melekat di tubuh dan semakin minim serta semakin bebas memperlihatkan keindahan tubuh pemakainya. Bahkan, pakaian mode untuk pakaian seragam kantor pun dibuat seseksi dan seminim mungkin agar mereka bisa memperlihatkan bagian-bagian yang menjadi daya tarik bagi lawan jenisnya. Walaupun hal itu sering kali membuat mereka risi dan tidak nyaman, mereka tidak bisa berbuat banyak karena harus menuruti apa yang telah menjadi kebijakan perusahaan atau kantor.

    Namun tidak semua perempuan yang memanfaatkan keindahan tubuhnya karena rasa terpaksa atau dimanfaatkan pihak lain. Di antara mereka ada seperti halnya Cleopatra dan Eva Peron yang memanfaatkan keindahan dan kecantikan tubuhnya guna meraih obsesi dan cita-cita agar menjadi orang terkenal dan sukses dalam menapaki jenjang karier.

    Tidak sedikit di antara mereka, terutama para pendatang baru dunia hiburan, yang dengan sengaja memanfaatkan kesintalan dan keindahan tubuhnya demi setumpuk uang dan ketenaran, bahkan tidak sedikit yang siap memberikan “servis lebih” asal tujuannya menjadi orang terkenal dapat tercapai. Dengan begitu tidak heran jika semua media kita, terutama media cetak dan elektronik dipenuhi dengan tampilan cantik seorang perempuan yang berpakaian minim atau sangat ketat, bahkan media televisi kita saat ini sudah dipenuhi dengan tayangan yang memperlihatkan goyangan pantat nakal biduanita yang mampu menarik imajinasi kaum lelaki yang menontonnya.

    Kenyataan tersebut jelas menunjukkan perempuan dengan kelemahan yang dimilikinya menjadi objek kaum laki-laki dalam memenuhi ambisinya. Namun di sisi lain, saat ini justru banyak perempuan yang memanfaatkan kelemahan laki-laki yang selalu tergoda oleh sesuatu yang indah yang dimiliki seorang perempuan guna menggapai puncak harapan.

    Penghargaan terhadap perempuan

    Para penggiat persamaan hak selalu berteriak, jangan melakukan eksploitasi perempuan guna meraih keuntungan bisnis atau berikan porsi yang sama antara perempuan dan laki-laki. Jargon-jargon tersebut selalu didengungkan di berbagai kesempatan yang tiada lain bertujuan agar perempuan memperoleh kedudukan yang sama dengan laki-laki.

    Penghargaan terhadap seorang perempuan sebenarnya harus diperlihatkan oleh perempuan itu sendiri dalam menghormati dirinya. Mereka harus mampu menghormati dirinya melalui caranya bertindak dan berperilaku dalam upayanya menggapai tujuan dan cita-cita. Mereka harus mampu mempertahankan cara hidup yang sesuai dengan norma walau persaingan untuk ke situ sangat ketat.

    Karena bagaimana mungkin seorang perempuan akan memperoleh penghargaan dari kaum lelaki jika dia sendiri tidak menghormati dan menghargai dirinya sendiri. Seperti dalam cara berpakaian di depan umum, banyak di antara mereka yang berpakaian minim dan seksi sehingga lekuk tubuhnya yang indah, seksi, dan sintal jelas terlihat dengan alasan mengikuti perkembangan mode. Kebiasaan semacam ini jelas akan mengundang lelaki iseng untuk menggodanya bahkan melecehkannya, baik melalui colekan tangan atau suitan bahkan kata-kata sapaan yang tidak senonoh.

    Jika mereka mampu berperilaku dan berpenampilan yang sesuai dengan norma yang berlaku, insya Allah, pelecehan dan kekerasan seksual yang saat ini banyak menimpa kaum perempuan dapat dihindarkan. Karena pada dasarnya, kejahatan dan pelecehan seksual banyak terjadi sebagai akibat dari penampilan si korbannya itu sendiri.

    Selain itu, melalui penghargaan terhadap diri sendiri oleh kaum perempuan diharapkan posisi perempuan yang selalu menjadi objek dalam berbagai kegiatan kaum lelaki dan dunia usaha dapat dihindarkan dan penghargaan yang layak dapat diterima oleh kaum perempuan sesuai dengan prestasi bukan rasa iba atau karena pengorbanan harga diri.

    ***

    Penulis adalah pemerhati masalah pendidikan, sosial, dan budaya

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 18 November 2014 Permalink | Balas
    Tags: Khilafah, Khilafah Islamiyah, Masyarakat Islam   

    081310_orangarabMasyarakat Islam Setelah Runtuhnya Khilafah

    Jelaslah, bahwa runtuhnya Daulah Khilafah Islamiyah telah menghilangkan salah satu unsur dari masyarakat Islami (al mujtama’ al Islami), yakni adanya sistem peraturan Islam (nizham Islam) yang mengatur hubungan dan memecahkan segala problema dalam hubungan antar kaum muslimin.  Pada tanggal 28 April 1924 Musthafa Kamal menghapus Mahkamah Syari’yah (Pengadilan Agama) di Turki, yakni pengadilan yang menggunakan syari’at Islam. Musthafa Kamal yang agen kolonialis Inggris itu pun menggantikannya dengan mengundangkan Undang-undang Sipil Swiss pada tanggal 4 Oktober 1926.  Bahkan ia menghapus pasal “Agama negara adalah Islam” dari UUD Turki pada tanggal 10 April 1928.  Para Kemalis yang setia kepada Musthafa Kamal mengganti huruf Arab yang sudah menjadi kebiasaan nenek moyang mereka selama berabad-abad dengan huruf latin yang mereka impor dari Barat pada 1 November 1928 dan pada tahun itu pula mereka mengumumkan sekularisme dalam UUD mereka.10

    Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah menyebabkan negeri-negeri Islam dikontrol dan diperintah langsung oleh para penjajah Barat.  Mereka segera menerapkan sistem peraturan Barat yang kufur itu di negeri-negeri Arab dan wilayah Islam lainnya.  Mereka pun menyusun kurikulum pendidikan yang mereka dasarkan atas asas peradaban dan kebudayaan mereka, yakni “fashlud din ‘anil hayah” (pemisahan agama dari kehidupan), yang konsekuensinya adalah pemisahan agama dari negara.  Dengan pendidikan tersebut penjajah Barat menjadikan kepribadian mereka sebagai standar kebudayaan kaum muslimin.  Penjajah Barat menjadikan peradaban mereka dan pemahaman-pemahaman hidup mereka, struktur negara mereka, sejarah, dan lingkungan mereka sebagai standar untuk otak kaum muslimin.  Tidak cukup sampai di situ, para penjajah itu bahkan memutar balikkan fakta dalam menanamkan kepribadian mereka. Mereka memutar balikkan fakta sedemikian rupa sehingga kaum muslimin menganggap para penjajah itu adalah orang mulia, bangsa teladan, dan sebuah kelompok kuat yang mau tidak mau kaum muslimin harus berjalan bersama mereka dalam menempuh kehidupan.  Dengan cara-cara yang kotor mereka menyembunyikan tampang kolonialis mereka yang sebenarnya. Oleh karena itu, kalangan kaum muslimin yang terpelajar itu pun sebenarnya telah mempelajari suatu tsaqafah yang merusak.  Mereka belajar bagaimana cara orang lain (penjajah Barat) berpikir.  Akibatnya kaum muslimin menjadi lemah untuk belajar bagaimana mereka sendiri (kaum muslimin) berpikir.11

    Pengaruh peracunan tsaqafah Barat tersebut tidak terbatas kepada kalangan terpelajar, tapi merata kepada masyarakat secara umum.  Masyarakat kaum muslimin pun diracuni oleh para penjajah Barat dengan paham kebangsaan (nasionalisme), patriotisme, dan sosialisme, serta paham-pahama kedaerahan yang sempit.  Juga masyarakat kaum muslimin diracuni dengan kemustahilan berdirinya Daulah Islamiyah dan kemustahilan persatuan dan kesatuan negeri-negeri Islam dengan adanya perbedaan kultur, penduduk, dan bahasa, sekalipun mereka merupakan suatu umat yang terikat dengan Aqidah Islamiyah yang melahirkan sistem peraturan Islam.  Selain itu mereka diracuni dengan konsep-konsep politik yang salah seperti “kedaulatan di tangan rakyat”. Mereka juga diracuni dengan slogan-slogan yang keliru seperti: “agama milik Allah dan tanah air milik masyarakat”12

    Akibat proses peracunan tersebut masyarakat di negeri-negeri Islam, termasuk negeri-negeri Arab, mengalami perubahan luar biasa.  Yang tadinya Islami, menjadi tidak Islami.  Yang tadinya diliputi pemikiran-pemikiran Islam sepenuhnya, menjadi mengadopsi banyak sekali pemikiran Barat.  Perundangan Barat pun mereka terapkan dan perjuangkan.    Sebagian besar negeri Arab dan Islam lainnya menerapkan sistem peraturan Barat.  Negeri-negeri Arab yang justru sumbernya Islam itu, sayangnya,  justru mayoritas mereka meninggalkan hukum-hukum Islam.  Tidak tersisa dari negeri-negeri tersebut selain urusan-urusan nikah, talak, cerai, rujuk dan sebagian kecil hukum Islam lainnya.  Yang menerapkan hukum Islam yang agak luas barangkali hanya Arab Saudi.  Namun untuk sistem pemeritahan Islam dan fiqih siyasah, nampaknya para penguasa kaum muslimin itu sepakat untuk meninggalkan Islam.

    Masyarakat kaum muslimin tercerai-berai menjadi lebih dari 50 negara yang kecil-kecil dan lemah-lemah.  Banyak sudah krisis yang terjadi yang menimpa negeri-negeri kaum muslimin yang tak bisa mereka selesaikan sendiri.  Sebabnya, yang paling utama adalah masing-masing negara Islam tersebut senantiasa menggantungkan penyelesaian berbagai krisis politik maupun ekonomi mereka kepada negara-negara adi daya yang berkepentingan mempertahankan dominasi mereka di negeri-negeri Islam dalam berbagai bentuk.  Organisasi Konperensi Islam yang hingga kini oleh sebagian kaum muslimin diharapkan sebagai wadah persatuan masyarakat Islam dalam mengatasi berbagai krisis yang dihadapi kaum muslimin, ternyata tak bisa banyak berbuat.  Konon lantaran masing-masing negara anggotanya lebih mengutamakan kepentingan nasional mereka (Republika, 26/5/1995).  Sungguh aneh sekali, OKI (OIC) yang beranggotakan lebih dari 50 negara Islam yang total jumlah penduduknya sekitar satu milyar itu tak mampu menyelesaikan penderitaan kaum muslimin di Palestina yang diinjak-injak hak-hak dan kehormatan mereka oleh negara kecil Yahudi Israel. 

    Itulah masyarakat kaum muslimin setelah runtuhnya khilafah.   Munculnya berbagai keanehan itu lantaran masyarakat tersebut telah kehilangan keunikannya.  Masyarakat kaum muslimin tersebut telah kehilangan ciri khas umat ini yang digambarkan Rasulullah saw. sebagai berikut :

    “Perumpamaan seorang mukmin di dalam cinta dan kasih sayangnya seperti satu tubuh, jika mengeluh salah satu anggota tubuh, maka yang lain akan merasakan demam dan panas serta tak bisa tidur”

     

    Justru masyarakat kaum muslimin yang kini jumlahnya lebih dari satu milyar itu bagaikan hidangan yang disantap dan diterkam oleh musuh-musuhnya.  Sebab mereka tidak menjadi masyarakat yang satu tubuh, yang padat dan kenyal.  Bahkan mereka bagaikan buih yang gampang diporak-porandakan !

    Ini semua lantaran kaum muslimin tidak dalam kesatuan pemikiran, perasaan, dan peraturan yang Islami.  Kontradiksi terjadi di mana-mana.  Tidak jarang kita jumpai seorang muslim di dalam masyarakat yang menurut Muhammad Husain Abdullah sebagai “masyarakat tidak unik” (al mujtama’ ghairu mutamayyiz) ini, akan menempuh keharaman seperti riba dan minum khamr dimana dalam waktu bersamaan menggemborkan bahwa siapa minum khamr berarti telah menempuh haram, dan berusaha mendapatkan kebaikan dalam melarang minum khamr.  Juga, tidak mustahil adanya seorang muslim yang senang mendengar adzan dan pembacaaan Al-Quran, dan terasa dalam dirinya perasaan ruhani, akan tetapi dia tidak sholat, tidak membaca Al-Qur’an, dan tidak menerapkan hukum-hukum Al Qur`an.


    Masyarakat Islam: Konsep, Sejarah, dan Metode Pembentukannya

    Muhammad Shiddiq Al Jawi

    10 Al Marjeh, Mouaffaq Bany, The Awakening of The Sick Man, hal. 387-388.

    11 An Nabhani, Taqiyuddin, At Takattul Al Hizbi, hal. 10-11

    12  An Nabhani, Taqiyuddin, At Takattul Al Hizbi, hal. 14-15

     
    • Candra Wiguna 9:39 pm on 22 November 2014 Permalink

      Anda menulis ini seakan pada pemerintahan Khalifah itu baik, rakyat sejahtera dan bahagia, padahal kenyataannya saat itu bangsa muslim sendiri saling berperang satu sama lain, lihat bagaimana 90 keluarga Abbasiyah dibunuh secara sadis oleh Ummayah, lihat bagaimana para pangeran Utsmani berperang satu sama lain untuk menjadi sultan. Belum permasalahan perbudakan misalnya yang masih subur di masa itu.

      Salah satu faktor mengapa Turki Utsmani itu kalah perang adalah karena dia juga diserang oleh negara Arab, artinya bahwa muslim di Arab pun tidak menyukai pemerintahan Turki dan lebih memilih bersekutu dengan Inggris. Kan lucu jika ratusan tahun setelah Turki Utsmani runtuh lantas anda membuat cerita bahwa Turki itu negara baik dan orang Inggris lah yang jahat seakan anda lebih tahu situasinya dibanding muslim yang hidup di zaman itu.

      Jangan kebanyakan baca buku HTI, cobalah baca referensi yang netral, dan anda akan sadar bahwa anda hidup di zaman yang lebih baik dengan hukum yang lebih baik dibanding pada masa kekhalifahan.

  • erva kurniawan 1:58 am on 17 November 2014 Permalink | Balas  

    Khadijah Binti KhuwailidSejarah Perkembangan Ilmu Hadis

    Dikelolakan Oleh: MC YA

    Sesungguhnya ilmu hadis merupakan salah satu cabang ilmu yang diwarisi daripada ulamak-alamak silam. Ilmu hadis yang tersedia ada sekarang sebenarnya telah melalui beberapa peringkat sehinggalah ianya menjadi satu cabang ilmu yang unik dalam islam. Jika diperhatikan dengan teliti, kita dapati sejarah perkembangan ilmu Hadis merupakan satu gambaran praktikal bagaimana Allah swt.menjaga kalam suci nabi Muhammad saw. sehingga sekarang dan menjaganya daripada ditokok tambah sebagaimana dia memelihara kesucian Al-Qur’an. Penjagaan ini jelas kita perhatikan melalui para muhaddis dalam meriwayatkan hadis dengan mementingkan kepada persoalan sanad atau jalan hadis sehinggakan Ibn Salam pernah berkata “Sesungguh sanad itu sebahagian daripada agama, kalaulah tidak kerana adanya sanad nescaya mudahlah orang bercakap apa saja yang dia suka”.

    PERINGKAT PERTAMA: PERINGKAT PERTUMBUHAN

    Peringkat ini bermula daripada zaman sahabat sehinggalah ke akhir kurun pertama hijrah atau lebih jelas lagi ianya bermula selepas daripada kewafatan baginda Rasulullah saw. Pada zaman Rasulullah saw masih hidup, sudah ada usaha-usaha untuk mengumpul dan menulis hadis sebagaimana yang dilakukan oleh Abdullah bin Amru.

    Perkara ini diakui oleh Abu Hurairah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Beliau mengakui Abdullah bin Amru lebih banyak meriwayatkan hadis daripada Rasulullah hanya disebabkan beliau menulis hadis dan Abu Hurairah tidak menulis. Namun begitu ada hadis yang melarang sahabat-sahabat baginda daripada mencatit apa-apa yang berkaitan dengan Rasulullah kerana takut ianya boleh melalaikan mereka daripada al-Quran.

    Tetapi ulamak telah memberi pandangan bahawa ada hadis yang membenarkan mereka mencatat dan menulis, secara langsung ia telah memansuhkan hadis yang melarang.

    Selain itu Khalifah Umar pernah menyarankan proses mengumpul hadis, tetapi setelah beliau beristikharah salama sebulan maka natijahnya, beliau menolak cadangan mengumpul hadis dalam bentuk penulisan ekoran daripada sikap ambil beratnya terhadap Sunah takut ianya bercampur aduk dengan kalam Allah.

    Percubaan Saidina Umar ini menunjukkan kepada kita bahawa pengumpulan hadis dari sudut hukum adalah harus dan beliau tidak berbuat demikian adalah kerana dikhuatiri sahabat pada waktu itu lebih tertumpu kepada Sunnah tidak kepada kitab Allah.

    Sikap ambil berat sahabat terhadap sunnah juga dapat kita perhatikan melalui usaha mengumpul dan memastikan kesahihan hadis sehinggakan mereka sanggup bermusafir beribu batu dengan hanya menaiki unta semata-mata untuk mencari hadis sahih sebagaimana yang berlaku ke atas Jabir bin Abdullah yang bermusafir selama sebulan ke negeri Syam, mencari dengan Abdullah bin Unais al-Ansari bagi mendapatkan hadis daripada Rasulullah saw.

    Begitu juga sebelum berakhirnya zaman sahabat telah kedapatan Sunnah dalam bentuk pengumpulan dan pembukuan antaranya ” as-Sahiifah as-Saadiqah” oleh Abdullah bin Amru, ” as-Sahiifah” oleh Jabir bin Abdullah al-Ansaari, ” as-Sahiifah as-Sahiihah” oleh Hamam bin Munabbih dan ” sahiifah Ali” oleh Saidina Ali.

    Begitulah perjalanan Sunnah pada kurun pertama.

    PERINGKAT KEDUA: PERINGKAT PENGUMPULAN

    Peringkat ini bermula dari awal kurun ke dua hingga ke awal kurun ketiga hijrah. Pada peringkat ini boleh dikatakan ilmu hadis telah sempurna dikumpul dan dibukukan. Hal demikian memandangkan kepada beberapa faktor yang mendorong ulama supaya membukukan sunnah.

    Antara faktor-faktor tersebut, kurangnya daya ingatan manusia pada zaman itu tidak sebagaimana yang zaman sahabat dan taabi’iin. Ianya telah diakui oleh Imam az-Zahabi dalam kitabnya “Tazkiratul Huffaz”. Begitu juga telah lahirnya ajaran sesat serta kumpulan yang telah terpesong daripada ajaran Islam yang sebenar seperti Mu’tazilah, Khawarij dan lain-lain.

    Faktor tersebut telah mendorong Kalifah Umar bin Abdul Aziz selaku pelopor kepada pembukuan Sunnah ini, mengarahkan ulamak untuk mengumpul segala hadis dengan tujuan untuk menyelamatkan Sunnah daripada penyelewengan dan hadis-hadis Maudhu’ (hadis yang direka dan dinisbahkan kepada Rasul).

    Begitu juga pada waktu itu telah timbulnya cabang ilmu hadis iaitu ilmu ” al-Jarh wa at-Ta’diil” bagi mengkritik periwayat hadis. Hal ini penting untuk menyelamatkan Sunnah daripada tujuan buruk mereka mencipta hadis semata-mata untuk kepentingan kumpulan-kumpulan tertentu.

    Ulama telah mula berhati-hati didalam mengambil hadis daripada periwayat hadis dan tidak meriwayatkan hadis daripada periwayat hadis yang tidak dikenali peribadinya. Ulama hadis telah memberikan perhatian khusus pada isi hadis dan sanadnya.

    Begitulah berakhirnya peringkat kedua.

    PERINGKAT KETIGA: PERINGKAT PEMBUKUAN SECARA SPESIFIK

    Peringkat ini bermula dari kurun ketiga sehingga pertengahan kurun keempat Hijrah. Kurun ketiga merupakan kurun keemasan bagi Sunnah Nabawiyyah kerana jika dilihat daripada sudut perkembangan ilmu Hadis, kita nampak pada kurun ini Sunnah telah dibukukan secara keseluruhan.

    Ulama Hadis telah mempelbagaikan pembukuaan Sunnah dan ini menunjukkan kepada kita bahawa seninya Ulamak Hadis dalam membukukan Ilmu Hadis sebagai contoh: ada Ulamak membukukan hadis dalam bentuk Masaanid yang membawa maksud, kumpulan hadis-hadis Nabi yang diriwayatkan oleh para sahabat, seperti ” Musnad Imam Ahmad”.

    Manakala Imam Bukhari dan Muslim pula mengumpul hadis dalam bentuk ” al-Jaami’ as-Sahiih” yang bermaksud, kumpulan hadis-hadis yang meliputi sebahagian besar perkara-perkara penting dalam agama termasuklah fiqih, Hari Kiamat, Adab, Sirah dan lain-lain.

    Pada waktu ini juga, telah wujudnya ilmu khas tentang jenis-jenis hadis seperti Hadis sahih, Hasan, Mursal, dan sebagainya.

    PERINGKAT KEEMPAT: ZAMAN PENULISAN SENI-SENI ILMU HADIS

    Bermula dari pertengahan kurun ke empat hingga permulaan kurun ke tujuh, ulamak pada waktu ini dengan bantuan daripada apa yang telah ditinggalkan oleh ulamak-ulamak sebelum ini telah mengembangkan lagi ilmu hadis kepada keadaan yang lebih baik. Maka kita dapat lihat hasil yang dicurahkan oleh generasi ini alam buku-buku seperti:

    Hide message history

    1. al-Muhdis al-Faasil bayna ar-Raawi wal al-wa’yii — al-Qadhi Abu Muhammad al-Waamahramzi
    2. al-Kifaayah fii i’lmi il-Riwaayah –al-Khatiib al-Baghdaadi
    3. al-Ilmaa’ fii Usuul il-Riwaayah wa as-Samaa’ –al-Qaadhi I’yaadh

    Buku-buku yang dihasilkan pada zaman ini boleh dianggap sebagai sumber utama ( al-Masaadir al-Asliyyah) dalam ilmu ini. Antara ulamak yang memainkan peranan utama pada zaman ini ialah al-Khatiib al-Baghdaadi dan al–Haakim an-Niisaabuuri.

    PERINGKAT KELIMA: PERINGKAT KEMATANGAN

    Bermula dari kurun ketujuh hingga kurun kesepuluh. Pada waktu inisetiap cabang ilmu hadis telah siap dibukukan. Antara ulamak yang mengepalai perkembangan pada masa ini ialah Ibnu Solaah yang telah mengarang kitabnya yang masyhur “uluum ul-Hadiis” Buku ini adalah yang terbaik kerana mempunyai ciri-ciri :

    1. Mempunyai Istinbat yang mendalam tentang pendapat ulamak dan kaedah-kaedah mereka
    2. menyusun takrif-takrif dan istilah ilmu hadis berdasarkan kepada pandangan ulamak tedahulu.

    iii. Menyelidiki sendiri pandngan ulamak terdahulu.

    Kitab Ibnu Solaah ini menjadi panduan kepada mereka yang datang selepasnya dan ada yang meringkas balik kitab tersebut dan ada juga yang mensyarah balik dalam bentuk yang lebih terperinci.

    Antara kitab yang dihasilkan pada masa itu selain kitab ” uluum ul-Hadiis” ialah

    1. al-Irsyaad oleh Imam Nawawi
    2. al-Tabjirah wa at-Tazkirah oleh Haafiz ul-Iraaqi
    3. lain-lain

    PERINGKAT KE ENAM: PERINGKAT TERBANTUTNYA ILMU HADIS

    Bermula dari kurun ke sepuluh hingga ke awal kurun ke dua puluh. Pada waktu ini telah terhentinyazaman perkembangan ilmu hadis diaman ilmu hadis telah sempurna sebagaimana diperingkat yang sebelumnya. Begitu juga kita tengok, waktu ini telah terhenti ijtihad dalam aspek keilmuan memandangkan kepada kurangnya ulamak yang berwibawa serta tersebarnya fitnah akhir zaman. Manusia pada waktu itu hanya mengikut apa yang telah dihasilkan oleh ulamak terdahulu. Pada waktu ini ulamak hadis hanya meringkaskan dalam bentuk baru kitab-kitab lama supaya ianya mudah difahami samaada dalam bentuk Syair ataupun al-Manzuumah (prosa) ” al-Manzuumah al-Baiquuniyyah”.

    PERINGKAT KE TUJUH: PERINGKAT KEMBALI

    Bermula dari awal kurun ke dua puluh hingga sekarang. Pada masa ini, ulamak mula sedarakan bahaya yang dihadapi oleh Sunnah yang mana terdedah kepada ancaman orientalis yang cuba sedaya upaya untuk mengelirukan mata masyarakat tentang Sunnah Nabawiyyah.

    Oleh itu ulamak telah bangkit dengan penulisan serta buku-buku untuk menangkis semula pemikiran-pemikiran yang merbahaya tentang Sunnah. Antara kitab-kitab yang dihasilkan ialah:

    1. Qawaai’du ut-Tahdiith oleh Syeikh Jamaluddin al-Qaasimi
    2. al-Hadiith wa al-Muhaddithuun oleh Syikh al-Duktuur Muhammad Abu Zahrah.

    III. Lain-lain

    Begitulah turutan perkembangan ilmu hadis dari zaman Rasulullah sehinggalah kezaman kita sekarang ini. Kita bersyukur kepada Allah kerana Hadith-hadith Rasul telah dijaga oleh ulamak dengan penjagaan yang begitu rapi sehingga hadith-hadith dapat sampai kepada kita pada hari ini. Semoga usaha-usaha yang dijalankan oleh mereka mendapat tempat disisi Allah swt.. Kita sebagai generasi yang telah jauh daripada suasana ilmu yang di tunjukkan oleh salafus us-Sooleh seharusnya berusaha untuk mendekatkan diri dengan Sunnah dan beramal denganya.

    Wallahu a’lam

    ***

    Kiriman Ukhti Retno Wahyudiaty

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 14 November 2014 Permalink | Balas  

    al-fatihahAl Fatihah, (Tafsir Al Ghazali)

    Sawaluddin Ukkas

    Surat Al Fatihah Mencakup Segala  Ilmu Pengetahuan

    Menurut Imam Al Ghazali bahwa Al Quran mengandung sepulauh dasar ilmu pengetahuan umum dan tiap-tiap ilmu itu membawahi beberapa macam ilmu :

    1. Ilmu untuk mengenal zat Allah swt.
    2. Ilmu untuk mengenal sifat-sifat Allah swt. Mengenai zat Allah swt, kita mengagungkan dan mensucikanNya dari segala sifat kekurangan : Dia tida serupa dengan sesuatu apapun. Adapun mengenal sifat-sifatNya yaitu : Dia Maha Kuasa, Maha Berkehendak, Maha Mengetahui, Hidup, Mendengar, Melihat dan Berbicara.
    3. Dialah Khalik alam semesta dan Penciptanya dan Dialah Yang meninggikan langit dan membentangkan bumi.
    4. Menjelaskan tempat kembali manusia seperti : syurga sebagai tempat pahala, neraka sebagai tempat siksa.
    5. Menjelaskan Siratal Mustaqim (jalan yang lurus) dengan meninggalkan segala perbuatan yang terceladan segala perbuatan yang tercela dan segala perangai yang rendah.
    6. Menghiasi diri dengan segala perbuatan yang mulia dan segala sifat yang utama.
    7. Menjelaskan orang-orang yang telah dianugerahi nikmat atas mereka dan memuji mereka itu.
    8. Menerangkan (akibat) orang-orang yang dzalim, orang-orang yang melanggar hukum-hukum agama dan orang-orang yang kafir.
    9. Menyebutkan perbantahan orang-orang kafir. 10. Menerangkan undang-undang hukum Allah.

    Inilah semuanya ilmu-ilmu yang tersebut di dalam Al Quran dan delapan diantaranya telah tercakup di dalam surat Al Fatihah.  Demikian pandangan Imam Al Ghazali.

    Untuk jelasnya adalah sebagai berikut :

    1. Zat Allah swt yang tercantum dalam kalimat : (Bismillahi) = Dengan nama Allah

    2. Sifat-sifat Allah dalam kalimat : (Arrahmaanirrahimi Malikiyaumiddiini) = Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Yang menguasai hari Pembalasan.

    Bahwasanya sifat Rahmah (Pengasih dan Penyayang) dan kekuasaan itu, keduanya menghendaki adanya Qudrat (sifat Maha Kuasa), Iradah (Maha Berkehendak) dan Ilmu (Maha Mengetahui). Itulah diantaranya sifat-sifat Allah yang tercantum didalam kebanyakan surat didalam Al Quran seperti firman-Nya :  Almalikul kudduusussalamul mu’minullmuhaeminul ‘aziizul jabbarul mutakabbiru. Artinya : “Dia Maha Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menganugerahkan Keamanan Yang Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Agung. (Surat Al Hasyer:23).

    3 Ilmul af’al (ilmu perbuatan Allah) yaitu : ilmu yang telah kami uraikan dahulu yang tercakup dalam firman-Nya : Rabbil’alamiina = Yang Memelihara Semesta Alam.

    Dan tersirat di dalamnya berbagai macam ilmu dan kami telah jelaskan bahwa alam itu ada dua macam : alamtinggi dan alam rendah ;

    Pada kedua alam tersebutlah berhubungan berbagai macam ilmu pengetahuan dan teknologi karena semuanya itu adalah “Af’alullah” (Perbuatan Allah) yang masuk didalam pengaruh rahmat dan pendidikan-Nya bagi semesta alam. Bahwasanya ilmu pasti dan ilmu pengetahuan alam yang keduanya telah masuk di dalam “Tarbiayatul ‘alamin” (Pendidikan semesta alam) keduanya diikuti lagi oleh berbagai ilmu teknik yang diantaranya seperti : alat pengukur waktu (jam dan sebagainya), ilmu tentang mesin penggerak (penarik benda yang berat) seperti : lokomotif dan sebagainya, ilmu pengeboran air dan minyak, ilmu tentang alat-alat persenjataan yang berat seperti : roket meriam dan sebagainya. Ilmu tentang gas beracun dan sebagainya.

    Ilmu-ilmu itulah yang menggugah bangsa-bangsa yang masih tidur dan membangunkan bangsa-bangsa Timur (Asia) dari tidur nyenyak mereka. Semuanya ini termasuk di antara keajaiban pendidikan. Demikian juga ilmu pembuatan senjata berat seperti meriam yang dapat menghancurkan orang-orang yang lalai. Ilmu tentang alat pembakar, ilmu tentang alat pembakar, ilmu untuk bangunan perumahan yang kuat; ilmu pembuatan (menggali) terusan (sungai); ilmu tentang proyeksi dalam bentuk dan letaknya; ilmu gaya gravitasi; ilmu ukur ruang; ilmu kedokteran dan ilmu pertanian. Kedua ilmu terakhir ini (Kedokteran dan pertanian) termasuk dalam lingkungan ilmu pengetahuan alam, sedangkan ilmu-ilmu sebelumnya termasuk dalam lingkungan ilmu pasti (matematika) dan semuanya itu terkandung di dalam.

    Tarbiayatul ‘alamin  Artinya : “Pendidikan Alam Semesta”

    Ketahuilah bahwa semua industri yang telah ada sekarang maupun yang akan datang semuanya bersumber dari benda-benda yang telah ada (diciptakan Allah) di dunia ini.

    4. Keterangan tentang hari akhirat yang meliputi syurga, neraka, kenikmatan dan kesengsaraan, pahala dan siksa. Al Quran telah membuat segala keterangan mengenai hal tersebut dan semunya itu termasuk di dalam ayat : Maliki yaumiddiini. Artinya : “Yang memiliki hari pembalasan (hari kemudian).”

    5.6. Keterangan tentang siratal mustaqim (jalam yang lurus) ini ada dua bagian :

    a. Meninggalkan kesesatan, kefasikan dan berbagai maksiat seperti : bohong, khianat, khianat dan zina.

    b. Menghiasi diri dengan dengan segala akhlak yang mulia seperti sifat-sifat mulia, ilmu pengetahuan, tolong-menolong, menyebarkan ilmu dan sebagainya.

    7. Keterangan tentang sejarah para Nabi, orang-orang yang saleh, orang-orang mumin dan intelektual, semuanya ini termasuk dalam ayat : Allaziina an’amta ‘alaihim Artinya : “Orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat atas mereka”.

    8. Cerita orang-orang yang telah dimurkai dan orang-orang yang sesat. Di dalam Al Quran banyak tersebut cerita tentang orang-orang yang sesat dan sejarah tingkah laku dan perbuatan mereka yang membawa kepada kehancuran dan kebinasaan. Itulah berbagai ilmu yang terkandung di dalam Al Quran dan telah tersirat di dalam surat Al Fatihah.

    Wassalam

    Syawal

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 13 November 2014 Permalink | Balas  

    al-quran 3Orang Mukmin Tercipta Penuh Cobaan

    Oleh: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdulhamid Al-Halaby

    Kata Pengantar

    Dalam kesempatan kali ini kami hadirkan ke hadapan pembaca, uraian yang sangat bagus sekali dari seorang tokoh ‘alim Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdulhamid Al-Halaby mengenai sifat-sifat seorang mukmin. Tulisan ini diterjemahkan dari Majalah Al-Ashalah edisi 15, 16 th III -15 Dzul Qa’dah 1415H, dan dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 07/th III/1419-1998.

    Orang Mukmin Tercipta Penuh Coba

    Terdapat riwayat yang shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Artinya : Sesunguhnya seorang mukmin tercipta dalam keadaan Mufattan (penuh cobaan), Tawwab (senang bertaubat), dan Nassaa’ (suka lupa), (tetapi) apabila diingatkan ia segera ingat”. (Silsilah Hadits Shahih No. 2276).

    Hadist ini merupakan hadits yang menjelaskan sifat-sifat orang mukmin, sifat-sifat yang senantiasa lengket dan menyatu dengan diri mereka, tiada pernah lepas hingga seolah-olah pakaian yang selalu menempel pada tubuh mereka dan tidak pernah terjauhkan dari mereka.

    Mufattan

    Artinya : Orang yang diuji (diberi cobaan) dan banyak ditimpa fitnah. Maksudnya : (orang mukmin) adalah orang yang waktu demi waktu selalu diuji oleh Allah dengan balaa’ (bencana) dan dosa-dosa. (Faid-Qadir 5/491).

    Dalam hal ini fitnah (cobaan) itu akan meningkatkan keimanannya, memperkuat keyakinannya dan akan mendorong semangatnya untuk terus menerus berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab dengan kelemahan dirinya, ia menjadi tahu betapa Maha Kuat dan Maha Perkasanya Allah, Rabb-nya.

    Menurut sebuah riwayat dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Perumpamaan orang mukmin ibarat sebatang pokok yang lentur diombang-ambing angin, kadang hembusan angin merobohkannya, dan kadang-kadang meluruskannya kembali. Demikianlah keadaannya sampai ajalnya datang. Sedangkan perumpamaan seorang munafik, ibarat sebatang pokok yang kaku, tidak bergeming oleh terpaan apapun hingga (ketika) tumbang, (tumbangnya) sekaligus”. (Bukhari : Kitab Al-Mardha, Bab I, Hadist No. 5643, Muslim No. 7023, 7024, 7025, 7026, 7027).

    Ya, demikianlah sifat seorang mukmin dengan keimanannya yang benar, dengan tauhidnya yang bersih dan dengan sikap iltizam (komitment)nya yang sungguh-sungguh.

    Tawaab Nasiyy

    “Artinya : Orang yang bertaubat kemudian lupa, kemudian ingat, kemudian bertaubat”. (Faid-Al Qadir 5/491).

    Seorang mukmin dengan taubatnya, berarti telah mewujudkan makna salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sifat yang terkandung dalam nama-Nya : Al-Ghaffar (Dzat yang Maha Pengampun). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar”. (Thaha : 82).

    Apabila Diingatkan, Ia Segera Ingat.

    Artinya : Bila diingatkan tentang ketaatan, ia segera bergegas melompat kepadanya, bila diingatkan tentang kemaksiatan, ia segera bertaubat daripadanya, bila diingatkan tentang kebenaran, ia segera melaksanakannya, dan bila diingatkan tentang kesalahan ia segera menjauhi dan meninggalkannya.

    Ia tidak sombong, tidak besar kepala, tidak congkak dan tidak tinggi hati, tetapi ia rendah hati kepada saudara-saudaranya, lemah lembut kepada sahabat-sahabatnya dan ramah tamah kepada teman-temannya, sebab ia tahu inilah jalan Ahlul Haq (pengikut kebenaran) dan jalannya kaum mukminin yang shalihin.

    Terhadap dirinya sendiri ia berbatin jujur serta berpenampilan luhur, sedangkan terhadap orang lain ia berperasaan lembut dan berahlak mulia, bersuri tauladan kepada insan teladan paling sempurna yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah diberi wasiat oleh Rabb-nya dengan firman-Nya :

    “Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka …..”. (Ali Imran : 159).

    Inilah sifat seorang mukmin. Ini pula jalan hidup serta manhaj perilakunya.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 12 November 2014 Permalink | Balas  

    kisah-teladan-islamKehidupan Sehari-Hari Yang Islami

    Oleh: Syaikh Abdullah bin Jaarullah bin Ibrahim Al-Jaarullah

    Kata Pengantar.

    Saudaraku….

    Dengan penuh pengharapan bahwa  kebahagian dunia dan akhirat yang akan kita dapatkan, maka  kami sampaikan risalah  yang berisikan  pertanyaan-pertanyaan  ini  kehadapan anda untuk direnungkan dan di jawab dengan perbuatan.

    Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja kami angkat kehadapan anda dengan harapan yang tulus dan cinta karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, supaya  kita  bisa mengambil  mannfaat dan faedah yang banyak darinya, disamping itu sebagai bahan kajian untuk melihat diri kita, sudah sejauh mana dan ada dimana posisinya selama ini.

    Saudaraku…

    Risalah ini dinukilkan dari buku saku yang sangat bagus dan menawan yaitu Zaad Al-Muslim Al-Yaumi (Bekalan Muslim Sehari-hari) dari hal. 51 – 55, bab Hayatu Yaumi Islami yang diambil dari kitab Al-Wabil Ash-Shoyyib oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dan diterjemahkan oleh saudara kita Fariq Gasim Anuz semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalasnya dengan pahala dan surganya.

    Kehidupan Sehari-hari Yang Islami :

    1. Apakah anda selalu shalat Fajar berjama’ah di masjid setiap hari?
    2. Apakah anda selalu menjaga Shalat yang lima waktu di masjid?
    3. Apakah anda hari ini membaca Al-Qur’an?
    4. Apakah anda rutin membaca Dzikir setelah selesai melaksanakan Shalat wajib?
    5. Apakah anda selalu menjaga Shalat sunnah Rawatib sebelum dan sesudah Shalat wajib?
    6. Apakah anda (hari ini) Khusyu dalam Shalat, menghayati apa yang anda baca?
    7. Apakah anda (hari ini) mengingat Mati dan Kubur?
    8. Apakah anda (hari ini) mengingat hari Kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya?
    9. Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak tiga kali, agar memasukkan anda ke dalam Surga? Maka sesungguhnya barang siapa yang memohon demikian, Surga berkata :”Wahai Allah Subhanahu wa Ta’ala masukkanlah ia ke dalam Surga”.
    10. Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali? Maka sesungguhnya barangsiapa yang berbuat demikian, neraka berkata :”Wahai Allah peliharalah dia dari api neraka”. (Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya :”Barangsiapa yang memohon Surga kepada Allah sebanyak tiga kali, Surga berkata :”Wahai Allah masukkanlah ia ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali, neraka berkata :”Wahai Allah selamatkanlah ia dari neraka”. (Hadits Riwayat Tirmidzi dan di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami No. 911. Jilid 6).
    11. Apakah anda (hari ini) membaca hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?
    12. Apakah anda pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik?
    13. Apakah anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau?
    14. Apakah anda (hari ini) menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?
    15. Apakah anda selalu membaca Dzikir pagi dan sore hari?
    16. Apakah anda (hari ini) telah memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala atas dosa-dosa (yang engkau perbuat -pen)?
    17. Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati Syahid? Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya :”Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidur”. (Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya).
    18. Apakah anda telah berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia menetapkan hati anda atas agama-Nya. ?
    19. Apakah anda telah mengambil kesempatan untuk berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di waktu-waktu yang mustajab?
    20. Apakah anda telah membeli buku-buku agama Islam untuk memahami agama? (Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang dipahami oleh para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena banyak juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar, pent).
    21. Apakah anda telah memintakan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah? Karena setiap mendo’akan mereka anda akan mendapat kebajikan pula.
    22. Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala (dan bersyukur kepada-Nya, pent) atas nikmat Islam?
    23. Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya?
    24. Apakah anda hari-hari ini telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya?
    25. Apakah anda dapat menahan marah yang disebabkan urusan pribadi, dan berusaha untuk marah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala saja?
    26. Apakah anda telah menjauhi sikap sombong dan membanggakan diri sendiri?
    27. Apakah anda telah mengunjungi saudara seagama, ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala?
    28. Apakah anda telah menda’wahi keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang ada hubungannya dengan diri anda?
    29. Apakah anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua?
    30. Apakah anda mengucapkan “Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raji’uun” jika mendapatkan musibah?
    31. Apakah anda hari ini mengucapkan do’a ini : ” Allahumma inii a’uudubika an usyrika bika wa anaa a’lamu wastagfiruka limaa la’alamu = Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau sedangkan aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui”. Barangsiapa yang mengucapkan yang demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghilangkan darinya syirik besar dan syirik kecil. (Lihat Shahih Al-Jami’ No. 3625).
    32. Apakah anda berbuat baik kepada tetangga?
    33. Apakah anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad, dan dengki?
    34. Apakah anda telah membersihkan lisan dari dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata-kata yang tidak ada manfaatnya?
    35. Apakah anda takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal penghasilan, makanan dan minuman, serta pakaian?
    36. Apakah anda selalu bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan?

    Saudaraku ..

    Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan, agar kita  menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat, inysa Allah.

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 11 November 2014 Permalink | Balas  

    hidayah-allahRaihlah Cinta Allah

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Sudah menjadi fitrahnya, jika manusia diciptakan Allah SWT. menjadi makluk yang sempuna diantara semua ciptaan-NYA. Namun dibalik semua kelebihan yang dimilikinya, manusia dapat terjerambab kedalam jurang kehinaan, akibat dari kekhilafan, kesalahan yang memperturutkan hawa nafsu yang ditumpuk dalam keranjang dosa dan noda.

    Tetapi manakala si hamba datang menghadapkan muka menuju Sang Khalik pemilik rahmat dan rahim, dengan penuh penyesalan mengharap ampunan atas perbuatannya, maka yang hina bisa jadi mulia, yang fasik terangkat derajat menjadi mulia.Sesuai dengan firman Allah SWT. : (QS. 42:25)

    “Dia adalah Dzat yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya yang minta ampun atas kesalahan-kesalahnnya.”

    Hikmah dapat kita ambil dari kisah-kisah dibawah ini :

    Suatu hari ketika Khalifah Umar bin Khathab ra, menyusuri jalan-jalan kota Madinah, ia bertemu seorang pemuda yang lagi membawa botol dibawah bajunya. Khalifah berkata : “Botol apa yang kau bawa dibalik bajumu!”Sesungguhnya botol itu berisi arak. Si pemudah tersebut sangat malu dan takut gemetaran, sambil merintih dalam hati. “Ya Tuhanku, janganlah engkau membuat aku malu dihadapan Umar, maka aku berjanji tidak akan minum arak lagi selamanya.”

    Kemudian si pemuda baru berani berkata, “Wahai Amirrul mukminin, botol yang kubawa ini adalah cuka.”

    “Coba perlihatkan padaku agar aku bisa melihat”. Kemudian si pemuda membuka botol dihadapan Umar ra. dan ternyata berisi cuka.

    Renungkanlah sahabatku! Makluk yang bertobat hanya karena takut kepada makluk lain, itupun Allah merubah araknya bisa berubah cuka. Itu karena ikhlasnya bertobat kepada Allah. Andaikan ada orang ahli maksiat bertobat dengan tobat nashuha (sungguh-sungguh tobat) dan menyesali dosa-dosanya, maka Allah akan mengganti semua kemaksiatannya menjadi (pahala) ketaatan, sebagaimana Allah mengganti arak menjadi cuka.

    Hikayah : Utbah Al Ghulam.

    Utbah Al-Ghulam adalah orang yang berasal dari golongan fasik. Ia sangat terkenal sebagi orang yang bejat, rusak, dan amat gemar dengan mabuk-mabukkan. Suatu hari ia memasuki pengajian Majelis Taklim Hasan Al Bashri, yang tengah membaca ayat Allah ;

    “Apakah belum datang waktunya orang-orang beriman untuk menundukkan hati mereka dalam mengingat Allah!“ (QS. 57 Al-Hadid : 16). Tidakkan hati mereka sudah sepatutnya takut!

    Suatu hari Syekh Hasan Al Bashri ra. memberikan nasehat menafsirkan ayat diatas dengan penafsiran yang amat menyentuh, sehingga banyak orang menangis. Serta merta berdirilah seorang pemuda, lalu berkata; “Wahai orang yang bertakwa dan beriman, apakah Allah masih menerima tobatnya yang lemah dan fasik seperti aku! ”

    Syekh Hasan berkata, “Bisa. Allah menerima tobat akan kejahatanmu.” Utbah Al Ghulam mendengarkan saja langsung wajahnya pucat, tubuhnya gemetar, ia berteriak keras dan langsung pingsan.

    Ketika Ghulam sadar dari pingsanya, Kyai Hasan mendekatinya dan mengucapkan syair-syair dibawah ini :

    “Wahai pemuda maksiat, kepada Tuhan yang memiliki Arsy : Mengertikah engkau balasannya orang yang berbuat maksiat! Adalah neraka syi’ir bagi mereka, ia memiliki suara nyala api : menggelegar disaat ubun-ubun terpegang. Kalau engkau menerima neraka-neraka itu, silahkan berbuat maksiat ; bila tidak. jauhilah kemaksiatan. Semua kesalahan yang engkau kerjakan ; itu berarti engkau sudah menggadaikan dirimu (di Neraka), maka bersungguh- sungguhlah untuk melepaskan diri.”

    Dan Utbah Ghulam berteriak lebih lantang, ia pun jatuh pingsan kedua kalinya. Ketika sadar, ia berkata kepada syeikh Hasan Al-Basri ra. “Wahai syeikh, apakah benar Tuhan Yang Maha Penyayang menerima tobatnya orang seperti aku!”

    Syekh menjawab, “Tiada Dzat yang mampu menerima tobat orang yang menyimpang kecuali Tuhan Yang Maha Memaafkan.”

    Kemudian Utbah Al Ghulam mengangkat kepalanya ke atas sambil melafadzkan tiga doa :

    1. Tuhanku, Engkau menerima taubatku dan mengampuni dosa dosaku, maka muliakan aku dengan mudah faham dan hafal, lalu aku bisa menghafal dan memahami yang kudengar mengenai ilmu atau Al-Qur’an.
    2. Tuhanku, muliakan aku dengan suara merdu, sehingga yang mendengar bacaanku semakin lunak hatinya sekalipun dia memiliki hati sekeras batu.
    3. Tuhanku, berikan rizki yang halal padaku dari jalan yang tidak aku duga duga.

    Allah SWT. pun mengabulkan doanya, dia mudah paham dan hafal, setiap orang yang mendengar bacaan Al-Qur’an langsung tobat, dan setiap harinya pasti ada semangkuk kuah dan dua potong roti tanpa tahu siapa yang menaruh di depan rumahnya. Hal ini terus menerus sampai ia meninggal, dalam kedaan telah menjadi seorang Aulia Allah.

    Inilah keadaan orang yang benar-benar kembali ke jalan Allah, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala kebajikan dari perbuatan bagusnya. Sebagian ulama ada yang ditanya begini, “Apakah hamba yang bertobat mengerti, adakah tobatnya diterima atau tidak!”

    Jawabnya, “Dalam hal ini tidak ada putusan hukum secara pasti, akan tetapi semuanya memiliki tanda-tanda ;

    1. Ia melihat dirinya jauh dan terhindar dari maksiat.
    2. Ia merasakan hatinya selalu gembira, dan rasanya Tuhan sangat dekat sekali.
    3. Ia dekat dengan orang orang baik dan jauh dari orang-orang yang ahli berdosa, maka ia memandang segi dunia yang sedikit sudah terlalu banyak (puas), namun segi akhirat yang sudah banyak dikerjakan masih dianggap kecil (kurang).
    4. Dia menyibukan hatinya dengan sesuatu yang diwajibkan Allah Ta’ala.
    5. Ia menjaga lisannya ( tidak berkata kotor), selalu tafakur, dan selalu menyesali dosa-dosa yang pernah dikerjakan.”

    Ya Allah himpunkan kami ke dalam orang-orang yang selalu mengingat-MU, dan jauhkan kami dari siksaan kubur dan api neraka.

    Siramilah jiwa kami dengan Rahmat dan Kasih-Mu agar kami bisa menggapai Ridhomu.Tuntunlah hati kami untuk selalu beriman kepada-Mu, hingga kami kembali kepada-MU.

    Amin…….

    ***

    Sumber : Buku Rahasia Ketajaman Hati – Imam Ghazali.

    Wassalam

    Siti Nurjannah

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 10 November 2014 Permalink | Balas  

    dzikir 2Dzikrullah (Bagian 3)

    Sawaluddin Ukkas

    Keutamaan Mengucapkan La Ilaha Illallah Dengan Ikhlas

    Diterima dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda: Artinya: “Setiap seorang hamba mengucapkan La ilaha illallah dengan ikhlas, akan dibukakan baginya pintu-pintu langit hingga ia akan tembus ke ‘arasy, selama dosa-dosa besar dijauhinya”. (Riwayat Turmudzi).

    Juga diterima dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw, bersabda: Artinya: “Baru-baruilah keimanmu!” Ditanyakan orang: “Ya Rasulullah, bagaimana caranya kami membaru-barui keimanan kami itu?” Ujarnya: “Perbanyaklah membaca La ilaha illallah!”

    Dan diterima dari Jabir bahwa Nabi saw bersabda: Artinya: “Dzikir yang paling utama ialah La ilaha illallah, sedang do’a yang paling utama ialahAlhamdulillah”. (Diriwayatkan oleh Nasa’i dan Ibnu Majah, juga oleh Hakim yang mengatakan isnadnya sah).

    Keutamaan Membaca Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir dan Lain-Lain.

    Diterima dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw bersabda: Artinya “Ada dua kalimat yang ringan diucapkan lisan, tetapi berat timbangan dan disukai oleh Allah Yang Rahman, Yaitu: “Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahir azhim”, artinya Maha suci Allah dan puji-pujian untukNya, dan Maha suci Allah yang Maha Besar”. (Riwayat Bukhari, Muslim dan Turmudzi).

    Juga dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw, bersabda: Artinya: “Bahwa mengucapkan “Subhanallah, walhamdu lillah, wala ilaha illallah, wallahu akbar”, (Maha suci Allah dan bagi Allah puji-pujian itu, tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Besar), lebih kusukai dari apa yang disinari matahari. (Riwayat Muslim dan Turmudzi).

    Diterima dari Abu Dzar ra. bahwa Nabi saw bersabda: Artinya: “Maukah kamu saya terangkan perkataan yang lebih disukai Allah?” Kata Abu Dzar: “Terangkanlah kepadaku, ya Rasulullah!” Sabdanya: “Subhanallahi wabihamdihi” (Maha suci Allah dan puji-pujian itu untukNya).

    Diterima dari Jabir ra. bahwa Nabi saw, bersabda: Artinya: “Barangsiapa yang mengucapkan “Subhanallahil ‘azhimi wabihamdih” (Mahasuci Allah Yang Mahabesar dan puji-pujian itu untukNya), akan ditanamkan untuknya sebatang pohon kurma dalam surga”. (Riwayat Turmudzi )

    Diterima dari Abdullah ra. bahwa Nabi saw bersabda: Artinya: “Pada malam saya diisrakkan saya ketemu dengan Ibrahim, Katanya “Hai Muhammad! Sampaikan salamku kepada ummatmu!, Dan terangkanlah kepada mereka bahwa surga itu subur tanahnya dan manis airnya, dan bahwa merupakan padang-padang yang terhampar luas, sedang kayu-kayu tanamannya ialah “Subhanallah walhamdulillah, wala ilaha illallah, wallahu akbar”. (Diriwayatkan oleh Turmudzi dan juga oleh Thabrani).

    Sumber: Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq

    Wassalam Syawal

     
    • Sri Mariana Kusumastanto 6:22 am on 11 November 2014 Permalink

      Assmlkm wr wb…bisakah saya mendptkan artikel : Detik2 terakhir wafatnya Rasulullah..yg dikutip oleh Retno Wahyudiati ? Terimakasih.. Bag ketiga saja…krn terhapus wkt akan sharing.

      Sampaikan Walau Satu Ay

  • erva kurniawan 7:45 am on 9 November 2014 Permalink | Balas  

    dzikir 2Dzikrullah (Bagian 2)

    Sawaluddin Ukkas

    Hinggaan Bagi Banyak Berdzikir

    Allah yang Maha Agung sebutanNya itu, menitahkan kita agar dzikir kepadaNya sebanyak-banyaknya. Orang-orang yang berakal yang dapat menarik manfaat dari merenungkan tanda-tanda kebesaranNya, dilukiskan sebagai berikut: Artinya: “Yakni orang-orang dzikir kepada Allah baik di waktu sedang berdiri, ketika duduk dan di waktu berbaring”. (Ali Imram 191)

    Dan FirmanNya pula: Artinya: “Dan terhadap orang-orang yang banyak dzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun perempuan, Allah menyediakan keampunan dan pahala yang besar“. (Al-Ahzab 35)

    Berkata Ali bin Abi Thalhah, menceritakan ucapan Ibnu Abbas ra. mengenai ayat-ayat tersebut diatas: “Allah Ta’ala tidak mewajibkan sesuatu atas hambaNya, kecuali dengan memberikan hinggaan tertentu, sedang bagi yang ‘uzur diberiNya kelonggaran , kecuali berdzikir. Mengenai ini , Allah tidak memberikan batas dimana seseorang harus berhenti. Dan Allah tidak memberikan suatu ke’uzuran buat meninggalkannya, kecuali bila ia terpaksa. FirmanNya: “Dzikirlah kepada Allah, di kala berdiri, di waktu duduk dan diwaktu berbaring!” baik siang maupun malam, di daratan maupun di lautan, di waktu mukim atau sedang bepergian, ketika kaya atau miskin, sehat atau sakit, secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.

    Adab Berdzikir

    Tujuan berdzikir ialah mensucikan jiwa dan membersihkan hati serta membangunkan nurani. Hal inilah yang diisyaratkan oleh Firman Allah: Artinya: “Dan dirikanlah shalat, karena shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar dan dzikir kepada Allah itu lebih utama lagi.!” (Al-Ankabut 45).

    Artinya buat mencegah perbuatan keji dan mungkar, dzikir kepada Allah itu lebih ampuh lagi dari shalat. Sebabnya ialah karena orang yang dzikir itu, demi hatinya terbuka terhadap Tuhannya dan lidahnya lancar menyebutNya, maka Allah akan mengirimkan cahayaNya, hingga keimanannya akan bertambah, keyakinan akan berlipat ganda. Dengan demikian hatinya akan aman dan tenteram dan puas menerima kebenaran, sebagai firmanNya: Artinya: “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka aman tenteram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah dzikir kepada Allah, maka hatipun akan merasa aman dan tenteram!” (Ar-Ro’d 28)

    Dan jika hati telah puas dan lega menerima kebenaran, maka ia akan menghadapkan perhatian kepada contoh teladan yang lebih tinggi dan akan berusaha buat mencapainya, tanpa dapat dihalangi oleh godaan-godaan nafsu, atau oleh rongrongan syahwat. Oleh karena itu kedudukan dzikir ini bukan soal remeh, sebaliknya amat penting dalam kehidupan manusia. Dan tidak masuk akal, jika hasil-hasil ini akan dapat terwujud dalam hanya dengan menyebutnya dibibir belaka. Karena gerakan lidah itu sedikit sekali faedahnya bila tidak cocok dengan sejalan dengan hati. Allah telah memberikan bimbingan mengenai tata tertib yang harus diturui seseorang bila ia sedang berdzikir, firmanNya: Artinya, “Dan dzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan tanpa mengeraskan suaramu, baik diwaktu pagi maupun petang hari, dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai!”. (Al-A’raf 205)

    Ayat tersebut memberi pertanda bahwa dzikir itu disunatkan secara sir, artinya dengan tidak mengeraskan suara. Rasulullah saw mendengar segolong manasia yang berdo,a dengan suara keras dalam salah satu perjalanan, maka sabdanya: Artinya: “Hai manusia! Pelan-pelanlah dalam bersuara, karena kamu tidaklah menyeru orang yang tuli atau di tempat yang jauh. Yang kamu seru itu Maha Mendengar lagi Maha Dekat, bahkan lebih dekat lagi kepadamu dari leher kendaraannmu!”

    Sebagaimana ia memberi petunjuk agar dalam berdzikir itu seseorang hendaklah bersikap dalam keadaan harap-harap cemas. Diantara tata tertibnya lagi ialah agar orang yang berdzikir itu bersih pakaian dan suci badan serta harum baunya, karena dengan demikian akan menambah kegairahan, disamping sedapat mungkin menghadap kiblat. Karena sebaik-baik majlis ialah yang menghadap ke arah Kiblat

    ***

    Sumber: Fikih Sunnah, Sayyid sabiq.

    Wassalam

    Syawal

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 8 November 2014 Permalink | Balas  

    Dzikrullah (Bagian 1) 

    dzikir 2Berdzikir Kepada Allah

    Sawaluddin Ukkas

    Dzikir atau mengingat Allah, ialah apa yang dilakukan oleh hati dan lisan berupa tasbih atau mensucikan Allah Ta’ala, memuji dan menyanjungNya, menyebutkan sifat-sifat kebesaran dan keagungan serta sifat-sifat keindahan dan kesempurnaan yang telah dimilikiNya.

    1. Allah telah menitahkan kita agar banyak berdzikir, Firman Allah Artinya : Hai orang-orang yang beriman! Berdzikir kamu kepada Allah sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah padaNya diwaktu pagi maupun petang. (Al Ahzab 41 -42)
    2. Allah menyatakan bahwa Ia akan mengingat orang yang ingat atau berdzikir kepadaNya : Firman Allah, artinya : Berdzikirlah kamu kepadaKu, niscaya Aku akan ingat pula kepadamu ! (Al Baqarah 152).

    Dan dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Allah berfirman : “Aku ini adalah menurut dugaan hambaKu, dan Aku menyertainya di mana saja ia berdzikir kepadaKu. Jika ia berdzikir atau ingat padaKu dalam hatinya, maka Aku akan ingat pula padanya dalam hatiKu dan dan kalau mengingatKu di depan umum, maka Aku akan mengingatnya pula di depan khalayak yang lebih baik. Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepadaKu sejengkal, Aku akan mendekatkan diriKu kepadanya sehasta, dan jika ia mendekat kepadaKu sehasta, Aku akan mendekatkan diriKu kepadanya sedepa, dan jika ia datang kepadaKu secara berjalan kaki, Aku akan datang padanya dengan berlari”.

    1. Allah SWT, telah menetapkan ahli dzikir itu sebagai golongan istimewa dan terkemuka. Sabda Rasulullah saw. : Artinya, “Telah majulah orang-orang yang istimewa !” Tanya mereka : “Siapakah orang-orang yang istimewa itu ?” Ujarnya : “Mereka ialah orang-orang yang berdzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun wanita”. (Hadits riwayat : Muslim)
    2. Orang-orang yang berdzikir itulah pada hakikatnya orang-orang yang hidup. Diterima dari Abu Musa bahwa Nabi saw bersabda : Artinya, “Perumpamaan orang-orang yang dzikir kepada Allah dengan yang tidak, adalah seperti orang yang hidup dengan yang mati !” (Riwayat Bukhari).
    3. Berdzikir merupakan pokok pangkal amal-amal saleh, maka barang siapa diberi taufik untuk melakukannya, ia telah diberi kesempatan untuk menjadi wali Allah. Oleh sebab itulah Rasul saw selalu dzikir kepada Allah setiap saatnya, dan pernah berpesan kepada seorang laki-laki yang mengatakan kepadanya ” Mengenai syari’at-syariat Islam telah banyak anda sebutkan padaku. Sekarang sebutkan pula padaku sesuatu yang harus aku pegang teguh !” Maka ujar Nabi saw : Artinya : “Mulutmu tidak akan kering disebabkan dzikir kepada Allah”. dan kepada sahabat-sahabatnya dipesankan : “Maukan kamu saya tunjukkan yang lebih utama dan lebih suci di sisi Tuhanmu, lebih meningkatkan derajatmu dan lebih berharga dari menafkahkan emas dan perak, bahkan lebih baik dari menghadapi menghadapi musuhmu dimana kamu akan berusaha akan menebas leher mereka, sebaliknya mereka berusaha akan menebas lehermu?” “Mau”, wahai Rasulullah”, ujar mereka. Maka sabdanya : “Yaitu berdzikir kepada Allah !” (Diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, juga oleh Hakim yang menyatakan isnadnya sah).
    4. Ia juga merupakan jalan kebebasan, yakni dari siksa. Diterima dari Mu’adz ra. bahwa Nabi saw. bersabda : ” Tidak satupun amal yang dikerjakan oleh anak cucu Adam, yang lebih membebaskan dari siksa Allah dari pada dzikir kepada Allah ‘azza wajallah”. (Riwaya Ahmad).

    Sumber : Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq

    Wassalam

    Syawal

     
  • erva kurniawan 8:41 am on 6 November 2014 Permalink | Balas  

    otak manusiaBerpikir

    Harun Yahya

    Banyak yang beranggapan bahwa untuk “berpikir secara mendalam”, seseorang perlu memegang kepala dengan kedua telapak tangannya, dan menyendiri di sebuah ruangan yang sunyi, jauh dari keramaian dan segala urusan yang ada. Sungguh, mereka telah menganggap “berpikir secara mendalam” sebagai sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan. Mereka berkesimpulan bahwa pekerjaan ini hanyalah untuk kalangan “filosof”.

    Padahal, sebagaimana telah disebutkan dalam pendahuluan, Allah mewajibkan manusia untuk berpikir secara mendalam atau merenung. Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada manusia untuk dipikirkan atau direnungkan:

    “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shaad, 38: 29).

    Yang ditekankan di sini adalah bahwa setiap orang hendaknya berusaha secara ikhlas sekuat tenaga dalam meningkatkan kemampuan dan kedalaman berpikir. Sebaliknya, orang-orang yang tidak mau berusaha untuk berpikir mendalam akan terus-menerus hidup dalam kelalaian yang sangat. Kata kelalaian mengandung arti “ketidakpedulian (tetapi bukan melupakan), meninggalkan, dalam kekeliruan, tidak menghiraukan, dalam kecerobohan”. Kelalaian manusia yang tidak berpikir adalah akibat melupakan atau secara sengaja tidak menghiraukan tujuan penciptaan diri mereka serta kebenaran ajaran agama. Ini adalah jalan hidup yang sangat berbahaya yang dapat menghantarkan seseorang ke neraka. Berkenaan dengan hal tersebut, Allah memperingatkan manusia agar tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang lalai:

    “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raaf, 7: 205)

    “Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman.” (QS. Maryam, 19: 39)

    Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan tentang mereka yang berpikir secara sadar, kemudian merenung dan pada akhirnya sampai kepada kebenaran yang menjadikan mereka takut kepada Allah. Sebaliknya, Allah juga menyatakan bahwa orang-orang yang mengikuti para pendahulu mereka secara taklid buta tanpa berpikir, ataupun hanya sekedar mengikuti kebiasaan yang ada, berada dalam kekeliruan. Ketika ditanya, para pengekor yang tidak mau berpikir tersebut akan menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang menjalankan agama dan beriman kepada Allah. Tetapi karena tidak berpikir, mereka sekedar melakukan ibadah dan aktifitas hidup tanpa disertai rasa takut kepada Allah. Mentalitas golongan ini sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an:

    Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”

    Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”

    Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”

    Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”

    Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?”

    “Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.” (QS. Al-Mu’minuun, 23: 84-90)

    Berpikir dapat membebaskan seseorang dari belenggu sihir Dalam ayat di atas, Allah bertanya kepada manusia, “…maka dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?. Kata disihir atau tersihir di sini mempunyai makna kelumpuhan mental atau akal yang menguasai manusia secara menyeluruh. Akal yang tidak digunakan untuk berpikir berarti bahwa akal tersebut telah lumpuh, penglihatan menjadi kabur, berperilaku sebagaimana seseorang yang tidak melihat kenyataan di depan matanya, sarana yang dimiliki untuk membedakan yang benar dari yang salah menjadi lemah. Ia tidak mampu memahami sebuah kebenaran yang sederhana sekalipun. Ia tidak dapat membangkitkan kesadarannya untuk memahami peristiwa-peristiwa luar biasa yang terjadi di sekitarnya. Ia tidak mampu melihat bagian-bagian rumit dari peristiwa-peristiwa yang ada. Apa yang menyebabkan masyarakat secara keseluruhan tenggelam dalam kehidupan yang melalaikan selama ribuan tahun serta menjauhkan diri dari berpikir sehingga seolah-olah telah menjadi sebuah tradisi adalah kelumpuhan akal ini.

    Pengaruh sihir yang bersifat kolektif tersebut dapat dikiaskan sebagaimana berikut:

    Dibawah permukaan bumi terdapat sebuah lapisan mendidih yang dinamakan magma, padahal kerak bumi sangatlah tipis. Tebal lapisan kerak bumi dibandingkan keseluruhan bumi adalah sebagaimana tebal kulit apel dibandingkan buah apel itu sendiri. Ini berarti bahwa magma yang membara tersebut demikian dekatnya dengan kita, dibawah telapak kaki kita!

    Setiap orang mengetahui bahwa di bawah permukaan bumi ada lapisan yang mendidih dengan suhu yang sangat panas, tetapi manusia tidak terlalu memikirkannya. Hal ini dikarenakan para orang tua, sanak saudara, kerabat, teman, tetangga, penulis artikel di koran yang mereka baca, produser acara-acara TV dan professor mereka di universitas tidak juga memikirkannya.

    Ijinkanlah kami mengajak anda berpikir sebentar tentang masalah ini. Anggaplah seseorang yang telah kehilangan ingatan berusaha untuk mengenal sekelilingnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada setiap orang di sekitarnya. Pertama-tama ia menanyakan tempat dimana ia berada. Apakah kira-kira yang akan muncul di benaknya apabila diberitahukan bahwa di bawah tempat dia berdiri terdapat sebuah bola api mendidih yang dapat memancar dan berhamburan dari permukaan bumi pada saat terjadi gempa yang hebat atau gunung meletus? Mari kita berbicara lebih jauh dan anggaplah orang ini telah diberitahu bahwa bumi tempat ia berada hanyalah sebuah planet kecil yang mengapung dalam ruang yang sangat luas, gelap dan hampa yang disebut ruang angkasa. Ruang angkasa ini memiliki potensi bahaya yang lebih besar dibandingkan materi bumi tersebut, misalnya: meteor-meteor dengan berat berton-ton yang bergerak dengan leluasa di dalamnya. Bukan tidak mungkin meteor-meteor tersebut bergerak ke arah bumi dan kemudian menabraknya.

    Mustahil orang ini mampu untuk tidak berpikir sedetikpun ketika berada di tempat yang penuh dengan bahaya yang setiap saat mengancam jiwanya. Ia pun akan berpikir pula bagaimana mungkin manusia dapat hidup dalam sebuah planet yang sebenarnya senantiasa berada di ujung tanduk, sangat rapuh dan membahayakan nyawanya. Ia lalu sadar bahwa kondisi ini hanya terjadi karena adanya sebuah sistim yang sempurna tanpa cacat sedikitpun. Kendatipun bumi, tempat ia tinggal, memiliki bahaya yang luar biasa besarnya, namun padanya terdapat sistim keseimbangan yang sangat akurat yang mampu mencegah bahaya tersebut agar tidak menimpa manusia. Seseorang yang menyadari hal ini, memahami bahwa bumi dan segala makhluk di atasnya dapat melangsungkan kehidupan dengan selamat hanya dengan kehendak Allah, disebabkan oleh adanya keseimbangan alam yang sempurna dan tanpa cacat yang diciptakan-Nya.

    Contoh di atas hanyalah satu diantara jutaan, atau bahkan trilyunan contoh-contoh yang hendaknya direnungkan oleh manusia. Di bawah ini satu lagi contoh yang mudah-mudahan membantu dalam memahami bagaimana “kondisi lalai” dapat mempengaruhi sarana berpikir manusia dan melumpuhkan kemampuan akalnya.

    Manusia mengetahui bahwa kehidupan di dunia berlalu dan berakhir sangat cepat. Anehnya, masih saja mereka bertingkah laku seolah-olah mereka tidak akan pernah meninggalkan dunia. Mereka melakukan pekerjaan seakan-akan di dunia tidak ada kematian. Sungguh, ini adalah sebuah bentuk sihir atau mantra yang terwariskan secara turun-temurun. Keadaan ini berpengaruh sedemikian besarnya sehingga ketika ada yang berbicara tentang kematian, orang-orang dengan segera menghentikan topik tersebut karena takut kehilangan sihir yang selama ini membelenggu mereka dan tidak berani menghadapi kenyataan tersebut. Orang yang mengabiskan seluruh hidupnya untuk membeli rumah yang bagus, penginapan musim panas, mobil dan kemudian menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah yang bagus, tidak ingin berpikir bahwa pada suatu hari mereka akan mati dan tidak akan dapat membawa mobil, rumah, ataupun anak-anak beserta mereka. Akibatnya, daripada melakukan sesuatu untuk kehidupan yang hakiki setelah mati, mereka memilih untuk tidak berpikir tentang kematian.

    Namun, cepat atau lambat setiap manusia pasti akan menemui ajalnya. Setelah itu, percaya atau tidak, setiap orang akan memulai sebuah kehidupan yang kekal. Apakah kehidupannya yang abadi tersebut berlangsung di surga atau di neraka, tergantung dari amal perbuatan selama hidupnya yang singkat di dunia. Karena hal ini adalah sebuah kebenaran yang pasti akan terjadi, maka satu-satunya alasan mengapa manusia bertingkah laku seolah-olah mati itu tidak ada adalah sihir yang telah menutup atau membelenggu mereka akibat tidak berpikir dan merenung.

    Orang-orang yang tidak dapat membebaskan diri mereka dari sihir dengan cara berpikir, yang mengakibatkan mereka berada dalam kelalaian, akan melihat kebenaran dengan mata kepala mereka sendiri setelah mereka mati, sebagaimana yang diberitakan Allah kepada kita dalam Al-Qur’an :

    “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (QS. Qaaf, 50: 22)

    Dalam ayat di atas penglihatan seseorang menjadi kabur akibat tidak mau berpikir, akan tetapi penglihatannya menjadi tajam setelah ia dibangkitkan dari alam kubur dan ketika mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di akhirat.

    Perlu digaris bawahi bahwa manusia mungkin saja membiarkan dirinya secara sengaja untuk dibelenggu oleh sihir tersebut. Mereka beranggapan bahwa dengan melakukan hal ini mereka akan hidup dengan tentram. Syukurlah bahwa ternyata sangat mudah bagi seseorang untuk merubah kondisi yang demikian serta melenyapkan kelumpuhan mental atau akalnya, sehingga ia dapat hidup dalam kesadaran untuk mengetahui kenyataan. Allah telah memberikan jalan keluar kepada manusia; manusia yang merenung dan berpikir akan mampu melepaskan diri dari belenggu sihir pada saat mereka masih di dunia. Selanjutnya, ia akan memahami tujuan dan makna yang hakiki dari segala peristiwa yang ada. Ia pun akan mampu memahami kebijaksanaan dari apapun yang Allah ciptakan setiap saat.

    Seseorang dapat berpikir kapanpun dan dimanapun Berpikir tidaklah memerlukan waktu, tempat ataupun kondisi khusus. Seseorang dapat berpikir sambil berjalan di jalan raya, ketika pergi ke kantor, mengemudi mobil, bekerja di depan komputer, menghadiri pertemuan dengan rekan-rekan, melihat TV ataupun ketika sedang makan siang. Misalnya: di saat sedang mengemudi mobil, seseorang melihat ratusan orang berada di luar. Ketika menyaksikan mereka, ia terdorong untuk berpikir tentang berbagai macam hal. Dalam benaknya tergambar penampilan fisik dari ratusan orang yang sedang disaksikannya yang sama sekali berbeda satu sama lain. Tak satupun diantara mereka yang mirip dengan yang lain. Sungguh menakjubkan: kendatipun orang-orang ini memiliki anggota tubuh yang sama, misalnya sama-sama mempunyai mata, alis, bulu mata, tangan, lengan, kaki, mulut dan hidung; tetapi mereka terlihat sangat berbeda satu sama lain. Ketika berpikir sedikit mendalam, ia akan teringat bahwa:

    Allah telah menciptakan bilyunan manusia selama ribuan tahun, semuanya berbeda satu dengan yang lain. Ini adalah bukti nyata tentang ke Maha Perkasaan dan ke Maha Besaran Allah.

    Menyaksikan manusia yang sedang lalu lalang dan bergegas menuju tempat tujuan mereka masing-masing, dapat memunculkan beragam pikiran di benak seseorang. Ketika pertama kali memandang, muncul di pikirannya: manusia yang jumlahnya banyak ini terdiri atas individu-individu yang khas dan unik. Tiap individu memiliki dunia, keinginan, rencana, cara hidup, hal-hal yang membuatnya bahagia atau sedih, serta perasaannya sendiri. Secara umum, setiap manusia dilahirkan, tumbuh besar dan dewasa, mendapatkan pendidikan, mencari pekerjaan, bekerja, menikah, mempunyai anak, menyekolahkan dan menikahkan anak-anaknya, menjadi tua, menjadi nenek atau kakek dan pada akhirnya meninggal dunia. Dilihat dari sudut pandang ini, ternyata perjalanan hidup semua manusia tidaklah jauh berbeda; tidak terlalu penting apakah ia hidup di perkampungan di kota Istanbul atau di kota besar seperti Mexico, tidak ada bedanya sedikitpun. Semua orang suatu saat pasti akan mati, seratus tahun lagi mungkin tak satupun dari orang-orang tersebut yang akan masih hidup. Menyadari kenyataan ini, seseorang akan berpikir dan bertanya kepada dirinya sendiri: “Jika kita semua suatu hari akan mati, lalu apakah gerangan yang menyebabkan manusia bertingkah laku seakan-akan mereka tak akan pernah meninggalkan dunia ini? Seseorang yang akan mati sudah sepatutnya beramal secara sungguh-sungguh untuk kehidupannya setelah mati; tetapi mengapa hampir semua manusia berkelakuan seolah-olah hidup mereka di dunia tak akan pernah berakhir?”

    Orang yang memikirkan hal-hal semacam ini lah yang dinamakan orang yang berpikir dan mencapai kesimpulan yang sangat bermakna dari apa yang ia pikirkan.

    Sebagian besar manusia tidak berpikir tentang masalah kematian dan apa yang terjadi setelahnya. Ketika mendadak ditanya,”Apakah yang sedang anda pikirkan saat ini?”, maka akan terlihat bahwa mereka sedang memikirkan segala sesuatu yang sebenarnya tidak perlu untuk dipikirkan, sehingga tidak akan banyak manfaatnya bagi mereka. Namun, seseorang bisa juga “berpikir” hal-hal yang “bermakna”, “penuh hikmah” dan “penting” setiap saat semenjak bangun tidur hingga kembali ke tempat tidur, dan mengambil pelajaran ataupun kesimpulan dari apa yang dipikirkannya.

    Dalam Al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa orang-orang yang beriman memikirkan dan merenungkan secara mendalam segala kejadian yang ada dan mengambil pelajaran yang berguna dari apa yang mereka pikirkan.

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Aali ‘Imraan, 3: 190-191).

    Ayat di atas menyatakan bahwa oleh karena orang-orang yang beriman adalah mereka yang berpikir, maka mereka mampu melihat hal-hal yang menakjubkan dari ciptaan Allah dan mengagungkan Kebesaran, Ilmu serta Kebijaksanaan Allah.

    Berpikir dengan ikhlas sambil menghadapkan diri kepada Allah Agar sebuah perenungan menghasilkan manfaat dan seterusnya menghantarkan kepada sebuah kesimpulan yang benar, maka seseorang harus berpikir positif. Misalnya: seseorang melihat orang lain dengan penampilan fisik yang lebih baik dari dirinya. Ia lalu merasa dirinya rendah karena kekurangan yang ada pada fisiknya dibandingkan dengan orang tersebut yang tampak lebih rupawan. Atau ia merasa iri terhadap orang tersebut. Ini adalah pikiran yang tidak dikehendaki Allah. Jika ridha Allah yang dicari, maka seharusnya ia menganggap bagusnya bentuk rupa orang yang ia lihat sebagai wujud dari ciptaan Allah yang sempurna. Dengan melihat orang yang rupawan sebagai sebuah keindahan yang Allah ciptakan akan memberikannya kepuasan. Ia berdoa kepada Allah agar menambah keindahan orang tersebut di akhirat. Sedang untuk dirinya sendiri, ia juga meminta kepada Allah agar dikaruniai keindahan yang hakiki dan abadi di akhirat kelak. Hal serupa seringkali dialami oleh seorang hamba yang sedang diuji oleh Allah untuk mengetahui apakah dalam ujian tersebut ia menunjukkan perilaku serta pola pikir yang baik yang diridhai Allah atau sebaliknya.

    Keberhasilan dalam menempuh ujian tersebut, yakni dalam melakukan perenungan ataupun proses berpikir yang mendatangkan kebahagiaan di akhirat, masih ditentukan oleh kemauannya dalam mengambil pelajaran atau peringatan dari apa yang ia renungkan. Karena itu, sangatlah ditekankan disini bahwa seseorang hendaknya selalu berpikir secara ikhlas sambil menghadapkan diri kepada Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an :

    “Dia lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah).” (QS. Ghaafir, 40: 13).

    ***

    hyahya.org

    Nike Fatri LisiaJan

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 5 November 2014 Permalink | Balas  

    sholat 1Menikmati Buah Ibadah Assalamualaikum wr. wb. Wahai Saudari saudaraku yang dimuliakan Allah SWT. Ibadah adalah aktifitas jasmani dan ruhani bagi orang beriman yang dimanifestasikan dalam bentuk amaliyah dan dipersembahkan kepada Allah SWT. serta mencari keridhaan- NYA. Yang dimaksud ridha adalah ketaatan yang diterima oleh Allah SWT. karena ibadah tersebut dilaksanakan semata mata untuk mendapatkan anugerah dan diniatkan penuh keikhlasan, jauh dari sifat ‘ ujub. Orang yang ridha (suka dan senang) memberikan sesuatu kepada sesamanya, adalah orang yang artinya ia menyerahkan sesuatu tersebut dilakukan dengan hati rela, tidak karena mengharapkan balasan atau ingin mendapatkan pujian. Ridha dalam ibadah berarti melaksanakan ketaatan semata mata karena Allah. Tidak ada sesuatu yang menyertainya. Orang yang ridha dalam ibadahnya, maka Allah juga ridha dalam menerima persembahan ibadahnya dan memantapkan ketaatannya murni di sisi-NYA. Orang yang ridha dalam ibadah, Allah pun ridha kepadanya. Ketika seorang hamba telah menerima keridhaan Allah dari ibadahnya yang tulus, maka ia berada dalam suasana yang membahagiakan. Tumbuh cahaya dalam hatinya, karena keridhaan Allah memberikan cahaya bagi ruhaninya. Ia akan mendapatkan kenikmatan dan kelezatan dalam ibadah sebagai anugrah pertama di saat berada di dunia. Itulah buah ibadah. Hamba Allah yang telah mendapatkan kenikmatan dari ibadahnya, adalah tanda bahwa ibadahnya telah diterima oleh SWT. Kenikmatan dari buahnya ibadah hanya dapat dirasakan tatkala si hamba sedang melaksanakannya. Jika ia belum dapat merasakan lezat dan nikmatnya ibadah, berarti ibadah yang diamalkan belum menghasilkan buah. Ibadahnya baru pada kulitnya, belum masuk kepada kedalaman isinya, sehingga buah ibadah belum dinikmatinya. Seorang ahli tasawuf berkata : ” Saya telah melaksanakan shalat lail selama dua puluh tahun, dan barulah saya mendapatkan kenikmatannya pada tahun ke dua puluh.” Seorang sufi lainnya berkata : ” Saya telah melatih diri membaca Al-Qur’an selama dua puluh tahun. Setelah dua puluh itu barulah saya merasakan dan mengenyam kenikmatannya. ” (Berarti tahun kedua puluh dari pembacaan Al-Qur’annya itu). Para Ulama salaf menjelaskan : ” Bahwasanya halawah (lezat) dan nikmatnya membaca Al-Qur’an itu akan diperoleh apabila bacaannya dilaksanakan dengan tertib, memahami maknanya, dan seakan akan berada di hadapan Rasulullah SAW, seperti beliau sedang mengajar sahabat-sahabatnya. Demikian juga apabila seseorang sedang membaca shalawat, hendaknya ia membayangkan seakan-akan sedang berada di hadapan Rasulullah SAW. Ia meresapkan bacaan shalawat itu dengan tawadhu’ seakan-akan ia sedang berdialog dengan junjungan Nabi SAW. Karena shalawat yang diucapkannya, didengar oleh Nabi SAW. di dalam kuburnya. Demikian juga apabila ia sedang membaca zikir, atau menyebut asma asma Allah dengan perasaan dan hati tulus, menghidmati kebesaran Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan-NYA. Hendaklah merasakan di kedalaman kalbunya akan keagungan Allah. Dengan cara ini ia akan merasakan nikmatnya berzikir. Seorang sufi lain berkata: ” Apabila seorang hamba bersungguh sungguh dalam ibadahnya niscaya ia akan merasakan halawah (manis) beribadah. Amal seperti inilah yang Insyah Allah akan terkabul. Ibadah yang tidak menimbulkan rasa halawah adalah ibadah yang belum bersih. Ibadah yang masih bercampur dengan kotoran-kotoran ujub dan ria. Allah SWT. mengingatkan : ” Hanyalah Allah akan menerima (ibadah) orang orang yang takwa.” (QS.Al-Maidah ayat 27). Semua amal ibadah yang dilaksanakan dengan penuh ketaatan dan dihiasi dengan keihlasan oleh seorang hamba, niscaya akan memunculkan kelezatan halawah, serta akan dianugerahkan untuknya buah ibadah di akhirat yang benar-benar indah. Sebaliknya, amal ibadah yang dilaksanakan dengan niat yang jauh dari ridha Allah, bercampur dengan kepentingan duniawi yang kotor, kemudian dihiasi dengan ujub dan ria, niscaya tidak memperoleh apa pun di dunia dan di akhirat dia akan menjadi orang yang bangrut/merugi. Walaupun demikian janganlah seorang hamba, merasa bangga atas amal ibadahnya, atau merasa puas, sebab perasaan demikian akan menodai amal ibadah dengan ujub dan ria. Akibatnya akan merusak amal. Selanjutnya ia tidak akan merasakan halawah dan kenikmatannya. *** Sumber : Diambil dari buku karya DJamaluddin Ahmad Al-Bunny. Kiriman: Dwi Nopitasari

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 749 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: