Updates from Maret, 2016 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:00 am on 1 March 2016 Permalink | Balas  

    Jangan Dekat-dekat pada Zina 

    airmata 2Jangan Dekat-Dekat pada Zina

    Tidak mengherankan kalau seluruh agama Samawi mengharamkan dan memberantas perzinaan. Terakhir ialah Islam yang dengan keras melarang perzinaan serta memberikan ultimatum yang sangat tajam. Karena perzinaan itu dapat mengaburkan masalah keturunan, merusak keturunan, menghancurkan rumahtangga, meretakkan perhubungan, meluasnya penyakit kelamin, kejahatan nafsu dan merosotnya akhlak. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikatakan Allah:

    “Jangan kamu dekat-dekat pada perzinaan, karena sesungguhnya dia itu perbuatan yang kotor dan cara yang sangat tidak baik.” (al-Isra’: 32)

    Islam, sebagaimana kita maklumi, apabila mengharamkan sesuatu, maka ditutupnyalah jalan-jalan yang akan membawa kepada perbuatan haram itu, serta mengharamkan cara apa saja serta seluruh pendahuluannya yang mungkin dapat membawa kepada perbuatan haram itu.

    Justru itu pula, maka apa saja yang dapat membangkitkan seks dan membuka pintu fitnah baik oleh laki-laki atau perempuan, serta mendorong orang untuk berbuat yang keji atau paling tidak mendekatkan perbuatan yang keji itu, atau yang memberikan jalan-jalan untuk berbuat yang keji, maka Islam melarangnya demi untuk menutup jalan berbuat haram dan menjaga daripada perbuatan yang merusak.

    Pergaulan Bebas adalah Haram

    Di antara jalan-jalan yang diharamkan Islam ialah: Bersendirian dengan seorang perempuan lain. Yang dimaksud perempuan lain, yaitu: bukan isteri, bukan salah satu kerabat yang haram dikawin untuk selama-lamanya, seperti ibu, saudara, bibi dan sebagainya yang insya Allah nanti akan kami bicarakan selanjutnya.

    Ini bukan berarti menghilangkan kepercayaan kedua belah pihak atau salah satunya, tetapi demi menjaga kedua insan tersebut dari perasaan-perasaan yang tidak baik yang biasa bergelora dalam hati ketika bertemunya dua jenis itu, tanpa ada orang ketiganya.

    Dalam hal ini Rasulullah bersabda sebagai berikut:

    “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (Riwayat Ahmad)

    “Jangan sekali-kali salah seorang di antara kamu menyendiri dengan seorang perempuan, kecuali bersama mahramnya.”

    Imam Qurthubi dalam menafsirkan firman Allah yang berkenaan dengan isteri-isteri Nabi, yaitu yang tersebut dalam surah al-Ahzab ayat 53, yang artinya: “Apabila kamu minta sesuatu (makanan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari balik tabir. Karena yang demikian itu lebih dapat membersihkan hati-hati kamu dan hati-hati mereka itu,” mengatakan: maksudnya perasaan-perasaan yang timbul dari orang laki-laki terhadap orang perempuan, dan perasaan-perasaan perempuan terhadap laki-laki. Yakni cara seperti itu lebih ampuh untuk meniadakan perasaan-perasaan bimbang dan lebih dapat menjauhkan dari tuduhan yang bukan-bukan dan lebih positif untuk melindungi keluarga.

    Ini berarti, bahwa manusia tidak boleh percaya pada diri sendiri dalam hubungannya dengan masalah bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak halal baginya. Oleh karena itu menjauhi hal tersebut akan lebih baik dan lebih dapat melindungi serta lebih sempurna penjagaannya.

    Secara khusus, Rasulullah memperingatkan juga seorang laki-laki yang bersendirian dengan ipar. Sebab sering terjadi, karena dianggap sudah terbiasa dan memperingan hal tersebut di kalangan keluarga, maka kadang-kadang membawa akibat yang tidak baik. Karena bersendirian dengan keluarga itu bahayanya lebih hebat daripada dengan orang lain, dan fitnah pun lebih kuat. Sebab memungkinkan dia dapat masuk tempat perempuan tersebut tanpa ada yang menegur. Berbeda sekali dengan orang lain.

    Yang sama dengan ini ialah keluarga perempuan yang bukan mahramnya seperti kemanakannya baik dari pihak ayah atau ibu. Dia tidak boleh berkhalwat dengan mereka ini. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda sebagai berikut:

    “Hindarilah keluar-masuk rumah seorang perempuan. Kemudian ada seorang laki-laki dari sahabat Anshar bertanya: Ya Rasulullah! Bagaimana pendapatmu tentang ipar? Maka jawab Nabi: Bersendirian dengan ipar itu sama dengan menjumpai mati.” (Riwayat Bukhari)

    Yang dimaksud ipar, yaitu keluarga isteri/keluarga suami. Yakni, bahwa berkhalwat (bersendirian) dengan ipar membawa bahaya dan kehancuran, yaitu hancurnya agama, karena terjadinya perbuatan maksiat; dan hancurnya seorang perempuan dengan dicerai oleh suaminya apabila sampai terjadi cemburu, serta membawa kehancuran hubungan sosial apabila salah satu keluarganya itu ada yang berburuk sangka kepadanya.

    Bahayanya ini bukan hanya sekedar kepada instink manusia dan perasaan-perasaan yang ditimbulkan saja, tetapi akan mengancam eksistensi rumahtangga dan kehidupan suami-isteri serta rahasia kedua belah pihak yang dibawa-bawa oleh lidah-lidah usil atau keinginan-keinginan untuk merusak rumahtangga orang.

    Justru itu pula, Ibnul Atsir dalam menafsirkan perkataan ipar adalah sama dengan mati itu mengatakan sebagai berikut: Perkataan tersebut biasa dikatakan oleh orang-orang Arab seperti mengatakan singa itu sama dengan mati, raja itu sama dengan api, yakni bertemu dengan singa dan raja sama dengan bertemu mati dan api.

    Jadi berkhalwat dengan ipar lebih hebat bahayanya daripada berkhalwat dengan orang lain. Sebab kemungkinan dia dapat berbuat baik yang banyak kepada si ipar tersebut dan akhirnya memberatkan kepada suami yang di luar kemampuan suami, pergaulan yang tidak baik atau lainnya, Sebab seorang suami tidak merasa kikuk untuk melihat dalamnya ipar dengan keluar-masuk rumah ipar tersebut.

    Melihat Jenis Lain dengan Bersyahwat

    Di antara sesuatu yang diharamkan Islam dalam hubungannya dengan masalah gharizah, yaitu pandangan seorang laki-laki kepada perempuan dan seorang perempuan memandang laki-laki. Mata adalah kuncinya hati, dan pandangan adalah jalan yang membawa fitnah dan sampai kepada perbuatan zina. Seperti kata seorang syair kuno:

    Semua peristiwa, asalnya karena pandangan

    Kebanyakan orang masuk neraka adalah karena dosa kecil

    Permulaannya pandangan, kemudian senyum, lantas beri salam

    Kemudian berbicara, lalu berjanji; dan sesudah itu bertemu.

    Oleh karena itulah Allah menjuruskan perintahnya kepada orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan supaya menundukkan pandangannya, diiringi dengan perintah untuk memelihara kemaluannya.

    Firman Allah:

    “Katakanlah kepada orang-orang mu’min laki-laki: hendaklah mereka itu menundukkan sebagian pandangannya dan menjaga kemaluannya; karena yang demikian itu lebih bersih bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha meneliti terhadap apa-apa yang kamu kerjakan. Dan katakanlah kepada orang-orang mu’min perempuan: hendaknya mereka itu menundukkan sebagian pandangannya dan menjaga kemaluannya, dan jangan menampak-nampakkan perhiasannya kecuali apa yang biasa tampak daripadanya, dan hendaknya mereka itu melabuhkan tudung sampai ke dadanya, dan jangan menampakkan perhiasannya kecuali kepada suaminya atau kepada ayahnya atau kepada mertuanya atau kepada anak-anak laki-lakinya atau kepada anak-anak suaminya, atau kepada saudaranya atau anak-anak saudara laki-lakinya (keponakan) atau anak-anak saudara perempuannya atau kepada sesama perempuan atau kepada hamba sahayanya atau orang-orang yang mengikut (bujang) yang tidak mempunyai keinginan, yaitu orang laki-laki atau anak yang tidak suka memperhatikan aurat perempuan dan jangan memukul-mukulkan kakinya supaya diketahui apa-apa yang mereka rahasiakan dari perhiasannya.” (an-Nur: 30-31)

    Dalam dua ayat ini ada beberapa pengarahan. Dua diantaranya berlaku untuk laki-laki dan perempuan, yaitu menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sedang yang lain khusus untuk perempuan.

    Dan kalau diperhatikan pula, bahwa dua ayat tersebut memerintahkan menundukkan sebagian pandangan dengan menggunakan min tetapi dalam hal menjaga kemaluan, Allah tidak mengatakan wa yahfadhu min furujihim (dan menjaga sebagian kemaluan) seperti halnya dalam menundukkan pandangan yang dikatakan di situ yaghudh-dhu min absharihim. Ini berarti kemaluan itu harus dijaga seluruhnya tidak ada apa yang disebut toleransi sedikitpun. Berbeda dengan masalah pandangan yang Allah masih memberi kelonggaran walaupun sedikit, guna mengurangi kesulitan dan melindungi kemasalahatan, sebagaimana yang akan kita ketahui nanti. Dan apa yang dimaksud menundukkan pandangan itu bukan berarti memejamkan mata dan menundukkan kepala ke tanah. Bukan ini yang dimaksud dan ini satu hal yang tidak mungkin. Hal ini sama dengan menundukkan suara seperti yang disebutkan dalam al-Quran dan tundukkanlah sebagian suaramu (Luqman 19). Di sini tidak berarti kita harus membungkam mulut sehingga tidak berbicara.

    Tetapi apa yang dimaksud menundukkan pandangan, yaitu: menjaga pandangan, tidak dilepaskan begitu saja tanpa kendali sehingga dapat menelan perempuan-perempuan atau laki-laki yang beraksi.

    Pandangan yang terpelihara, apabila memandang kepada jenis lain tidak mengamat-amati kecantikannya dan tidak lama menoleh kepadanya serta tidak melekatkan pandangannya kepada yang dilihatnya itu.

    Oleh karena itu pesan Rasulullah kepada Sayyidina Ali:

    “Hai Ali! Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tarmizi)

    Rasulullah s.a.w. menganggap pandangan liar dan menjurus kepada lain jenis, sebagai suatu perbuatan zina mata.

    Sabda beliau:

    “Dua mata itu bisa berzina, dan zinanya ialah melihat.” (Riwayat Bukhari)

    Dinamakannya berzina, karena memandang itu salah satu bentuk bersenang-senang dan memuaskan gharizah seksual dengan jalan yang tidak dibenarkan oleh syara’. Penegasan Rasulullah ini ada persamaannya dengan apa yang tersebut dalam Injil, dimana al-Masih pernah mengatakan sebagai berikut: Orang-orang sebelummu berkata: “Jangan berzinal” Tetapi aku berkata: “Barangsiapa melihat dengan dua matanya, maka ia berzina.”

    Pandangan yang menggiurkan ini bukan saja membahayakan kemurnian budi, bahkan akan merusak kestabilan berfikir dan ketenteraman hati.

    Salah seorang penyair mengatakan:

    “Apabila engkau melepaskan pandanganmu untuk mencari kepuasan hati. Pada satu saat pandangan-pandangan itu akan menyusahkanmu jua. Engkau tidak mampu melihat semua yang kau lihat. Tetapi untuk sebagainya maka engkau tidak bisa tahan.”

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 29 February 2016 Permalink | Balas  

    Pedoman dalam Bekerja 

    kerjaPedoman dalam Bekerja

    Adapun dalam hadis, Rasulullah s.a.w. menyerukan supaya kita berdagang. Anjuran ini garis-garis ketentuannya diperkuat dengan sabda, perbuatan dan taqrirnya.

    Dalam beberapa perkataannya yang sangat bijaksana itu kita dapat mendengarkan sebagai berikut:

    “Pedagang yang beramanat dan dapat dipercaya, akan bersama orang-orang yang mati syahid nanti di hari kiamat.” (Riwayat Ibnu Majah dan al-Hakim)

    “Pedagang yang dapat dipercaya dan beramanat, akan bersama para Nabi, orang-orang yang dapat dipercaya dan orang-orang yang mati syahid.” (Riwayat al-Hakim dan Tarmizi dengan sanad hasan)

    Kita tidak heran kalau Rasulullah menyejajarkan kedudukan pedagang yang dapat dipercaya dengan kedudukan seorang mujahid dan orang-orang yang mati syahid di jalan Allah, sebab sebagaimana kita ketahui dalam percaturan hidup, bahwa apa yang disebut jihad bukan hanya terbatas dalam medan perang semata-mata tetapi meliputi lapangan ekonomi juga.

    Seorang pedagang dijanji suatu kedudukan yang begitu tinggi di sisi Allah serta pahala yang besar nanti di akhirat karena perdagangan itu pada umumnya diliputi oleh perasaan tamak dan mencari keuntungan yang besar dengan jalan apapun. Harta dapat melahirkan harta dan suatu keuntungan membangkitkan untuk mencapai keuntungan yang lebih banyak lagi. Justru itu barangsiapa berdiri di atas dasar-dasar yang benar dan amanat, maka berarti dia sebagai seorang pejuang yang mencapai kemenangan dalam pertempuran melawan hawa nafsu. Justru itu pula dia akan memperoleh kedudukan sebagai mujahidin.

    Urusan dagang sering menenggelamkan orang dalam angka dan menghitung-hitung modal dan keuntungan, sehingga di zaman Nabi pernah terjadi suatu peristiwa ada kafilah yang membawa perdagangan datang, padahal Nabi sedang berkhutbah sehingga para hadirin yang sedang mendengarkan khutbah itu menjadi kacau dan akhirnya mereka bubar menuju kepada kafilah tersebut.

    Waktu itulah kemudian turun ayat yang berbunyi sebagai berikut:

    “Apabila mereka melihat suatu perdagangan atau bunyi-bunyian, mereka lari ke tempat tersebut dan engkau ditinggalkan berdiri. Oleh karena itu katakanlah (kepada mereka) bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada bunyi-bunyian dan perdagangan itu dan Allah sebaik-baik Zat yang memberi rezeki.” (al-Jumu’ah: 11)

    Oleh karenanya, barangsiapa yang mampu bertahan pada prinsip ini, disertai dengan iman yang kuat, jiwanya penuh taqwa kepada Allah dan lidahnya komat-kamit berzikrullah, maka layak dia akan bersama orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin dan syuhada’.

    Dari fi’liyah (perbuatan) Rasulullah sendiri kiranya cukup bukti bagi kita untuk mengetahui sampai di mana kedudukan perdagangan itu, bahwa di samping beliau sangat memperhatikan segi-segi mental spiritual sehingga didirikannya masjid di Madinah demi untuk bertaqwa dan mencari keridhaan Allah dengan tujuan sebagai jami’ tempat beribadah, institut, lembaga da’wah dan pusat pemerintahan, maka Rasulullah memperhatikan pula segi-segi perekonomian. Untuk itu maka didirikannya pasar Islam yang langsung berorientasi pada syariat Islam, bukan pasar yang dikuasai oleh orang-orang Yahudi seperti halnya pasar Qainuqa’ dulu.

    Pasar Islam ini langsung diawasi oleh Rasulullah sendiri. Beliau sendiri yang mentertibkan subjek-subjeknya dan beliau pula yang langsung mengurus dengan memberi bimbingan-bimbingan dan pengarahan-pengarahan. Sehingga dengan demikian tidak ada penipuan, pengurangan timbangan, penimbunan, cukong-cukong dan lain-lain yang insya Allah hadis-hadis yang menerangkan hal itu akan kami tuturkan di bab Mu’amalat nanti dalam fasal halal dan haram tentang kehidupan secara umum bagi setiap muslim.

    Dalam sejarah perjalanan para sahabat Nabi, kita dapati juga, bahwa di antara mereka itu ada yang bekerja sebagai pedagang, pertukangan, petani dan sebagainya.

    Rasulullah berada di tengah-tengah mereka di mana ayat-ayat al-Quran itu selalu turun kepadanya, beliau berbicara kepada mereka dengan bahasa langit, dan Malaikat Jibril senantiasa datang kepadanya dengan membawa wahyu dari Allah. Semua sahabatnya mencintai beliau dengan tulus ikhlas, tidak seorang pun yang ingin meninggalkan beliau walaupun hanya sekejap mata.

    Oleh karena itu, maka kita jumpai seluruh sahabatnya masing-masing bekerja seperti apa yang dikerjakan Nabi, ada yang mengurus korma dan tanaman-tanaman, ada yang berusaha mencari pencaharian dan perusahaan. Dan yang tidak tahu tentang ajaran Nabi, berusaha sekuat tenaga untuk menanyakan kepada rekan-rekannya yang lain. Untuk itu mereka diperintahkan siapa yang mengetahui supaya menyampaikan kepada yang tidak tahu.

    Sahabat Anshar pada umumnya ahli pertanian, sedang sahabat Muhajirin pada umumnya ahli dalam perdagangan dan menempa dalam pasar. Misalnya Abdurrahman bin ‘Auf seorang muhajirin pernah disodori oleh rekannya Saad bin ar-Rabi’ salah seorang Anshar separuh kekayaan dan rumahnya serta disuruhnya memilih dari salah seorang isterinya supaya dapat melindungi kehormatan kawannya itu. Abdurrahman kemudian berkata kepada Saad: Semoga Allah memberi barakah kepadamu terhadap hartamu dan isterimu, saya tidak perlu kepadanya. Selanjutnya kata Abdurrahman: Apakah di sini ada pasar yang bisa dipakai berdagang? Jawab Saad: Ya ada, yaitu pasar Bani Qainuqa’. Maka besok paginya Abdurrahman pergi ke pasar membawa keju dan samin. Dia jual-beli di sana. Begitulah seterusnya, akhirnya dia menjadi seorang pedagang muslim yang kayaraya, sampai dia meninggal, kekayaannya masih bertumpuk-tumpuk.

    Abubakar juga bekerja sebagai pedagang, sehingga pada waktu akan dilantik sebagai khalifah beliau sedang bersiap-siap akan ke pasar. Begitu juga Umar, Usman dan lain-lain.

    Pendirian Gereja Tentang Masalah Dagang

    Begitulah masyarakat Islam dalam menghadapi dunianya dalam naungan agamanya, mereka berdagang, juga membeli. Tetapi perdagangan dan jual-belinya itu tidak sampai melupakan berzikrullah. Dimana waktu itu orang-orang di abad-abad pertengahan kebanyakannya di bawah kekuasaan raja-raja dan negara-negara Eropah Kristen masih bimbang dalam menghadapi pertentangan yang hebat antara fikiran-fikiran apa yang disebut penyelamatan yakni menyelamatkan diri dari dosa yang menyelubunginya. Fikiran ini bertentangan dengan fikiran Aklirus yang menganjurkan berusaha dan berdagang di satu pihak, dan di pihak lain adanya perkataan yang berkumandang, bahwa celakalah manusia yang berani menantang ajaran pemimpin-pemimpin agama (rijaluddin) dan sibuk dengan urusan pencaharian, perusahaan dan perdagangan. Dikatakannya juga, bahwa dosa bukan hanya suatu kejelekan yang pelakunya akan dibalas sesuai dengan banyaknya dosa yang dilakukan, tetapi dosa, seperti yang biasa dikatakan, yaitu dosa abadi dan laknat di bumi dan langit dalam kehidupan di dunia dan akhirat nanti,

    Untuk itu seorang Uskup bernama Agustine mengatakan: “Kesungguhan dalam urusan perdagangan pada hakikatnya suatu dosa, karena dapat memalingkan orang dari ingat kepada Allah,”

    Yang lain pun berkata: “Seseorang yang membeli sesuatu kemudian pulang dan menjualnya lagi dengan tidak ada imbangan yang harus dia lakukannya, maka orang tersebut akan termasuk golongan pedagang yang menjauhkan sorga dan kesuciannya.”

    Pendapat-pendapat ini tidak lebih hanya latah terhadap ajaran-ajaran Paulus yang mengatakan: Bahwa seorang penganut Masehi tidak layak menentang kawannya yang lain dengan suatu pertentangan yang mematikan. Untuk itu, maka tidak ada perdagangan yang berkembang di kalangan orang-orang Masehi.”

    Perdagangan yang Dilarang

    Islam pada prinsipnya tidak melarang perdagangan, kecuali ada unsur-unsur kezaliman, penipuan, penindasan dan mengarah kepada sesuatu yang dilarang oleh Islam. Misalnya memperdagangkan arak, babi, narkotik, berhala, patung dan sebagainya yang sudah jelas oleh Islam diharamkan, baik memakannya, mengerjakannya atau memanfaatkannya.

    Semua pekerjaan yang diperoleh dengan jalan haram adalah suatu dosa. Dan setiap daging yang tumbuh dari dosa (haram), maka nerakalah tempatnya. Orang yang memperdagangkan barang-barang haram ini tidak dapat diselamatkan karena kebenaran dan kejujurannya. Sebab pokok perdagangannya itu sendiri sudah mungkar yang ditentang dan tidak dibenarkan oleh Islam dengan jalan apapun.

    Ini tidak termasuk orang yang memperdagangkan emas dan sutera, karena kedua bahan tersebut halal buat orang-orang perempuan. Justru itu mereka ini kelak di hari kiamat tidak akan dibangkitkan dalam golongan pendurhaka yang ditempatkan di neraka Jahim.

    Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. keluar ke tempat sembahyang, tiba-tiba dilihatnya banyak manusia yang sedang berjual-beli. Kemudian Rasulullah memanggil mereka: Hai para pedagang! … Mereka pun lantas menjawab dan mengangkat kepala dan pandangannya. Maka kata Rasulullah:

    “Sesungguhnya pedagang kelak di hari kiamat akan dibangkitkan sebagai pendurhaka, kecuali orang yang takut kepada Allah, baik dan jujur.” (Riwayat Tarmizi, Ibnu Majah dan Hakim. Kata Tarmizi: hadis ini hasan sahih)

    Dari Watsilah bin al-Asqa’ ia berkata: “Rasulullah pernah keluar menuju kami –sedang kami adalah golongan pedagang– maka kata beliau: ‘Hai para pedagang, hati-hati kamu jangan sampai berdusta.'” (Riwayat Thabarani)

    Untuk itu seorang pedagang harus berhati-hati, jangan sekali-kali dia berdusta, karena dusta itu merupakan bahaya (lampu merah) bagi pedagang. Dan dusta itu sendiri dapat membawa kepada perbuatan jahat, sedang kejahatan itu dapat membawa kepada neraka.

    Di samping itu hindari pula banyak sumpah, khususnya sumpah dusta, sebab Nabi Muliammad s.a.w. pernah bersabda:

    “Tiga golongan manusia yang tidak akan dilihat Allah nanti di hari kiamat dan tidak akan dibersihkan, serta baginya adalah siksaan yang pedih, salah satu di antaranya ialah: Orang yang menyerahkan barang dagangannya (kepada pembeli) karena sumpah dusta.” (Riwayat Muslim)

    “Dari Abu Said ia berkata: Ada seorang Arab gunung berjalan membawa seekor kambing, kemudian saya bertanya kepadanya: Apa kambing itu akan kamu jual dengan tiga dirham? Ia menjawab: Demi Allah tidak! Tetapi tiba-tiba dia jual dengan tiga dirham juga. Saya utarakan hal itu kepada Nabi, maka kata Nabi: Dia telah menjual akhiratnya dengan dunianya.” (Riwayat Ibnu Hibban)

    Di samping itu si pedagang harus menjauhi penipuan, sebab orang yang menipu itu dapat keluar dari lingkungan umat Islam.

    Hindari pula pengurangan timbangan dan takaran, sebab mengurangi timbangan dan takaran itu membawa celaka, seperti firman Allah: Wailul lil muthaffifin (celakalah orang-orang yang mengurangi takaran).

    Dan hindari pulalah dari penimbunan, sehingga Allah dan RasulNya tidak akan membiarkan dia begitu saja.

    Terakhir, hindarilah perbuatan riba. Karena sesungguhnya Allah akan menghancurkannya.

    Seperti tersebut dalam hadis yang mengatakan:

    “Satu dirham uang riba dimakan oleh seseorang, sedangkan dia tahu (bahwa uang tersebut adalah uang riba), akan lebih berat (siksaannya) daripada tigapuluh enam kali berzina.”37 (R iwayat Ahmad)

    Penjelasan satu persatu persoalannya ini, insya Allah akan kami terangkan nanti di bab Mu’amalat.

    Bekerja Sebagai Pegawai

    Seorang muslim boleh saja bekerja mencari rezeki dengan jalan menjadi pegawai, baik itu pegawai negeri atau swasta, selama dia mampu memikul pekerjaannya dan dapat menunaikan kewajiban. Tetapi di samping itu seorang muslim tidak boleh mencalonkan dirinya untuk suatu pekerjaan yang bukan ahlinya, lebih-lebih menduduki jabatan hakim.

    Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa Rasulullah s.a.w. pernah bersabda sebagai berikut:

    “Siallah Amir, siallah kepala dan siallah kasir. Sungguh ada beberapa kaum yang menginginkan kulit-kulitnya itu bergantung di bintang yang tinggi, kemudian mereka akan diulurkan antara langit dan bumi, karena sesungguhnya mereka itu tidak pernah menguasai suatu pekerjaan.” (Riwayat Ibnu Hibban dan al-Hakim, ia sahkan sanadnya)

    Abu Dzar pernah juga meminta kepada Nabi untuk diberi suatu jabatan, maka oleh Nabi ditepuknya pundak Abu Dzar sambil beliau bersabda:

    “Hai Abu Dzar! Engkau orang lemah, kekuasaan adalah suatu amanat dan kelak di hari kiamat akan menyusahkan dan menyesalkan, kecuali orang yang dapat menguasainya karena haknya dan melaksanakan apa yang menjadi tugasnya.” (Riwayat Muslim)

    Dan sabda Rasulullah juga tentang masalah hakim sebagai berikut:

    “Hakim itu ada tiga macam: Satu di sorga dan dua di neraka. Yang di sorga, yaitu seorang hakim yang tahu kebenaran dan ia menghukum dengan kebenaran itu. (2) Seorang laki-laki yang tahu kebenaran tetapi dia menyimpang dari kebenaran itu, maka dia berada di neraka. (3) Seorang laki-laki yang menghukum manusia dengan membabi-buta (bodoh), maka dia di neraka.” (Riwayat Abu Daud, Tarmizi dan Ibnu Majah)

    Jadi sebaiknya seorang muslim tidak perlu ambisi kepada kedudukan-kedudukan yang besar dan berusaha di belakang kedudukan itu sekalipun dia ada kemampuan. Sebab kalau kedudukannya itu dijadikan pelindung, maka kedudukannya itu sendiri akan menghambat dia. Dan barangsiapa mengarahkan setiap tujuannya itu untuk show di permukaan bumi ini, maka dia tidak akan peroleh taufik dari lanqit.

    Telah bersabada Rasulullah s.a.w. kepadaku:

    “Hai Abdurrahman! Jangan kamu minta untuk menjadi kepala, karena kalau kamu diberinya padahal kamu tidak minta, maka kamu akan diberi pertolongan, tetapi jika kamu diberinya itu lantaran minta, maka kamu akan dibebaninya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    “Dari Anas, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: Barangsiapa mencari penyelesaian suatu hukum tetapi dia minta supaya dibela, maka hal itu akan dibebankan kepada dirinya. Dan barangsiapa dipaksakannya, maka Allah akan mengutus Malaikat supaya meluruskannya.” (Riwayat Abu Daud dan Tarmizi)

    Ini, kalau dia tidak tahu, bahwa orang lain tidak akan mampu mengatasi kekosongan itu dan apabila dia tidak tampil niscaya kemaslahatan akan berantakan dan retak tali persoalan. Kalau dia tahu hanya dialah yang mampu, maka dia boleh bersikap seperti apa yang dikisahkan al-Quran kepada kita tentang Nabiullah Yusuf a.s. dimana ia berkata kepada tuannya:

    “Jadikanlah aku untuk mengurus perbendaharaan (gudang) bumi, karena sesungguhnya aku orang yang sangat menjaga dan mengetahui.” (Yusuf: 55)

    Demikianlah tata-tertib Islam dalam mengatur masalah mencari pekerjaan-pekerjaan yang bersifat politis dan sebagainya.

    Kepegawaian yang Diharamkan

    Diperbolehkannya bekerja sebagai pegawai seperti yang kami katakan di atas, diikat dengan suatu syarat tidak menjadi pegawai yang membahayakan kaum muslimin. Oleh karena itu seorang muslim tidak halal bekerja sebagai pegawai atau prajurit dalam ketenteraan yang memerangi kaum muslimin atau bekerja sebagai pegawai dalam suatu pabrik yang memproduksi senjata untuk memerangi kaum muslimin. Dan tidak boleh seorang muslim bekerja sebagai pegawai suatu lembaga yang melawan Islam dan memerangi umatnya. Termasuk juga pegawai yang membantu kepada perbuatan zalim dan haram, seperti pekerjaan yang meribakan uang, tempat arak, tempat dansa atau di tempat-tempat permainan yang kosong dan sebagainya.

    Mereka ini semua tidak dapat dibebaskan dari dosa. Tidak berarti mereka tidak bersekutu dan tidak berbuat haram. Sebab seperti prinsip-prinsip yang telah kami kemukakan sebelumnya, bahwa menolong perbuatan haram berarti haram. Justru itulah Rasulullah s.a.w. melaknat juru tulis riba dan dua orang saksinya sebagaimana dilaknatnya orang yang makan riba. Pembuat dan pelayan yang menuangkan arak dilaknat seperti dilaknat orang yang minum.

    Ini semua berlaku dalam keadaan yang tidak terpaksa (normal) dimana seorang muslim harus memasukinya demi mencari rezeki. Kalau ternyata dalam keadaan yang memaksa, maka dapat dinilai menurut keperluannya itu, yaitu menjadi makruh dengan syarat dia harus tetap berusaha untuk mencari pekerjaan lain yang halal dan jauh dari dosa-dosa.

    Setiap muslim harus menjaga dirinya dari hal-hal yang masih syubhat, dimana syubhat itu dapat menipiskan agama dan melemahkan keyakinan, betapapun besarnya gaji dan berharganya pekerjaan tersebut.

    Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu, beralih kepada sesuatu yang tidak meragukanmu.” (Riwayat Ahmad. Tarmizi, Nasa’i, Ibnu Hibban dalam sahihnya dan Hakim, Tarmizi berkata: hadis ini hasan sahih).

    Dan sabdanya pula:

    “Seseorang tidak akan mencapai derajat muttaqin (orang-orang yang taqwa) sehingga ia meninggalkan sesuatu yang mubah karena takut kepada berbuat sesuatu yang dilarang.” (Riwayat Tarmizi)

    Pedoman Secara Umum Tentang Bekerja

    Pedoman secara umum tentang masalah kerja, yaitu Islam tidak membolehkan pengikut-pengikutnya untuk bekerja mencari uang sesuka hatinya dan dengan jalan apapun yang dimaksud. Tetapi Islam memberikan kepada mereka suatu garis pemisah antara yang boleh dan yang tidak boleh dalam mencari perbekalan hidup, dengan menitikberatkan juga kepada masalah kemaslahatan umum. Garis pemisah ini berdiri di atas landasan yang bersifat kulli (menyeluruh) yang mengatakan: “Bahwa semua jalan untuk berusaha mencari uang yang tidak menghasilkan manfaat kepada seseorang kecuali dengan menjatuhkan orang lain, adalah tidak dibenarkan. Dan semua jalan yang saling mendatangkan manfaat antara individu-individu dengan saling rela-merelakan dan adil, adalah dibenarkan.”

    Prinsip ini telah ditegaskan oleh Allah dalam firmanNya:

    “Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu memakan harta-harta saudaramu dengan cara yang batil, kecuali harta itu diperoleh dengan jalan dagang yang ada saling kerelaan dari antara kamu. Dan jangan kamu membunuh diri-diri kamu, karena sesungguhnya Allah maha belas-kasih kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan sikap permusuhan dan penganiayaan, maka kelak akan Kami masukkan dia ke dalam api neraka.” (an-Nisa’:29-30)

    Ayat ini memberikan syarat boleh dilangsungkannya perdagangan dengan dua hal:

    1. Perdagangan itu harus dilakukan atas dasar saling rela antara kedua belah pihak.
    2. Tidak boleh bermanfaat untuk satu pihak dengan merugikan pihak lain.

    Syarat kedua ini dapat kita ambil dari kata-kata dan jangan kamu membunuh diri-diri kamu.

    Perkataan ini ditafsirkan oleh ahli-ahli tafsir dalam dua pengertian yang masing-masing sesuai dengan proporsinya:

    Arti pertama: Satu sama lain tidak boleh bunuh membunuh.

    Arti kedua: Kamu tidak boleh membunuh diri diri kamu dengan tangan-tangan kamu sendiri.

    Walhasil ayat ini memberikan pengertian, bahwa setiap orang tidak boleh merugikan orang lain demi kepentingan diri sendiri (vested interest). Sebab hal demikian, seolah-olah dia menghisap darahnya dan membuka jalan kehancuran untuk dirinya sendiri. Misalnya mencuri, menyuap, berjudi, menipu, mengaburkan, mengelabui, riba dan lain-lain pekerjaan yang diperoleh dengan jalan yang tidak dibenarkan.

    Tetapi apabila sebagian itu diperoleh atas dasar saling suka sama suka, maka syarat yang terpenting jangan kamu membunuh diri kamu itu tidak ada

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 28 February 2016 Permalink | Balas  

    Terlupa Dalam Sholat (2/2) 

    sholat-berjamaahTerlupa Dalam Sholat (2/2)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Contoh-Contoh Lupa Sunat Sembahyang

    Sunat-sunat sembahyang itu terbahagi kepada dua:

    1. Sunat ab’ad. Iaitu perkara sunat yang perlu ditampung dengan sujud sahwi apabila ditinggalkan.
    2. Sunat hai’at. Iaitu perkara sunat yang tidak perlu ditampung dengan sujud sahwi apabila ditinggalkan.

    Sunat-sunat ab’ad itu terdiri daripada:

    1. Tasyahhud awal dan duduknya.
    2. Qunut subuh dan qunut witir, dan berdirinya.
    3. Shalawat ke atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika tasyahhud awal.
    4. Shalawat ke atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika qunut.
    5. Shalawat ke atas keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika tasyahhud akhir.
    6. Shalawat ke atas keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika qunut.

    Sunat-sunat hai’at pula ialah selain perkara sunat yang disebutkan di atas, antaranya seperti berikut:

    1. Mengangkat kedua belah tangan ketika takbiratulihram, ketika hendak rukuk, ketika bangkit daripada rukuk dan ketika bangkit daripada tasyahhud awal.
    2. Membaca doa iftitah.
    3. Membaca at-ta’auuz sebelum surah al-Fatihah.
    4. Membaca ayat atau surah daripada al-Qur’an selepas al-Fatihah pada dua rakaat permulaan.
    5. Melafazkan takbir ketika takbir intiqalat (takbir perpindahan daripada satu rukun ke satu rukun yang lain.
    6. Membaca tasbih ketika rukuk dan sujud.

    Berbalik pada permasalahan apabila seseorang terlupa untuk melakukan sunat-sunat sembahyang, apakah yang perlu dilakukan jika menghadapi keadaan ini? Berikut adalah beberapa contoh lupa sunat sembahyang dan cara penyelesaiannya.

    1. Lupa Melakukan Sunat Hai’at

    Jika perkara-perkara sunat hai’at ditinggalkan dengan senghaja atau tertinggal dengan sebab lupa, maka sembahyang itu tidak batal, malah tidak disunatkan sujud sahwi. Jika dilakukan juga sujud sahwi itu, sedang dia tahu perbuatan itu salah serta melakukannya dengan senghaja, maka batal sembahyangnya. Lain pula halnya, jika dia tidak mengetahui perkara itu salah atau dilakukannya kerana terlupa, maka tidak batal sembahyang tersebut

    1. Lupa Melakukan Sunat Ab’ad

    Apabila terlupa atau senghaja meninggalkan sunat ab’ad walau tertinggal lebih daripada satu,  maka sunat dilakukan sujud sahwi sebelum memberi salam.

    Umpamanya tertinggal tasyahhud awal, walaupun hanya sebahagian daripada tasyahhud awal itu seperti tertinggal huruf  (WAU) dalam ayat , (WA ANNA MUHAMMADAR-ROSULULLOH) maka disunatkan sujud sahwi sebelum memberi salam.

    Demikian juga qunut subuh atau qunut witir (tidak termasuk qunut nazilah). Jika tertinggal walau hanya satu huruf seperti tertinggal huruf  (FA’) dalam ayat , (FAINNAKA TAQDHI WALA YUQDHO ‘ALAIK) maka disunatkan sujud sahwi.

    1. Ingat Sebelum Sampai Pada Rukun Sembahyang

    Adapun jika teringat sunat ab’ad yang tertinggal itu sebelum intishab (had berdiri yang memadai untuk membaca al-Fatihah) atau sebelum sempurna sujud (iaitu sebelum meletakkan kesemua tujuh anggota sujud), maka sunat kembali untuk melakukan sunat ab’ad yang tertinggal itu.

    Umpamanya seseorang lupa melakukan tasyahhud awal kemudian dia bangkit untuk berdiri, lalu teringat sebelum intishab, maka sunat baginya kembali untuk melakukan tasyahhud awal. Jika bangkitnya itu lebih hampir kepada berdiri berbanding dengan duduk, maka sunat dilakukan sujud sahwi kerana dia melakukan perbuatan yang bukan dalam susunan sembahyang. Adapun jika bangkitnya itu lebih hampir kepada duduk berbanding dengan berdiri ataupun sama kedudukannya, maka tidak disunatkan sujud sahwi.

    Demikian juga halnya jika seseorang teringgal qunut kemudian dia menuju untuk melakukan sujud, lalu teringat sebelum sampai melakukan sujud dengan sempurna, maka sunat kembali untuk melakukan qunut yang tertinggal. Jika perbuatannya menuju kepada sujud itu sampai kepada sekurang-kurang had rukuk (bongkok badan sehingga kedua tapak tangan sampai kepada lutut), maka sunat baginya melakukan sujud sahwi kerana dia telah menambah satu rukuk.

    1. Ingat Setelah Sampai Pada Rukun Sembahyang

    Apabila teringat sunat ab’ad yang tertinggal itu setelah intishab atau sujud, maka tidak boleh kembali pada melakukan sunat ab’ad tersebut. Jika dia kembali pada melakukannya sedangkan dia tahu perbuatan itu salah ataupun senghaja melakukannya, maka batal sembahyangnya itu. Di akhir rakaat pula, sunat sujud sahwi sebelum memberi salam.

    Umpamanya seseorang lupa melakukan tasyahhud awal kemudian teringat setelah dia sampai intishab (berdiri tegak), maka tidak boleh lagi dia kembali pada melakukan tasyahhud awal. Jika dia kembali pada melakukan tasyahhud itu, maka batal sembahyangnya. Lain halnya jika dia kembali pada tasyahhud tersebut dengan sebab lupa atau tidak mengetahui akan kesalahan perbuatan itu, maka tidak batal sembahyangnya.

    Demikian juga dalam keadaan terlupa membaca qunut. Apabila teringat selepas sempurna sujud, maka tidak boleh lagi kembali pada melakukan qunut tersebut.

    1. Syak Pada Meninggalkan Sunat Ab’ad

    Jika seseorang syak pada meninggalkan sunat ab’ad, maka sunat sujud sahwi sebelum memberi salam, kerana pada asalnya dia tidak melakukan sunat ab’ad.

    Umpamanya terjadi syak pada seseorang, adakah dia telah membaca qunut ataupun tidak, atau adakah dia telah melakukan tasyahhud awal ataupun tidak, maka sunat baginya sujud sahwi.

    1. Peranan Makmum Apabila Imam Terlupa Sunat Ab’ad

    Apabila imam tertinggal sunat ab’ad kemudian teringat sebelum intishab atau sujud, lalu imam kembali melakukan yang tertinggal itu, maka wajib makmum mengikutinya walaupun makmum itu sudah intishab atau sujud. Jika makmum tidak kembali untuk mengikuti imamnya, maka batal sembahyangnya jika dia tidak berniat mufaraqah.

    Umpamanya imam tertinggal tasyahhud awal kemudian teringat sebelum imam intishab (berdiri tegak), lalu imam kembali duduk untuk melakukan tasyahhud tersebut, maka makmum wajib mengikuti imamnya itu walaupun makmum tersebut sudah sampai pada intishab.

    Adapun jika imam tertinggal tasyahhud awal kemudian teringat setelah imam intishab, lalu imam kembali pada melakukuan tasyahhud tersebut, maka makmum tidak boleh mengikuti imamnya itu. Ini kerana jika imam itu salah ataupun senghaja kembali pada melakukan tasyahhud awal, maka sembahyang imam itu batal dan makmum tidak boleh mengikuti imam yang batal sembahyangnya. Maka dalam hal ini ada dua cara yang boleh dilakukan oleh makmum. Pertama, hendaklah makmum itu mufaraqah (berpisah daripada mengikuti imam). Ataupun yang kedua, makmum menunggu imamnya dengan sangkaan imam itu kembali kepada tasyahhud awal disebabkan terlupa.

    Jika dalam hal imam kembali pada tasyahhud awal setelah imam intishab, lalu makmum pun mengikuti imamnya kembali pada tasyahhud tersebut, maka batal sembahyang makmum itu. Lain halnya jika makmum itu terlupa ataupun tidak tahu perbuatan itu salah, maka tidak batal sembahyangnya.

    Jika makmum yang terlupa melakukan tasyahhud awal lalu makmum itu berdiri intishab sedangkan imam duduk melakukan tasyahhud awal, maka makmum wajib kembali untuk mengikuti imamnya.

    Cara Mengerjakan Sujud Sahwi

    Sujud sahwi hukumnya adalah sunat apabila meninggalkan perkara yang disuruh dalam sembahyang ataupun membuat perkara yang dilarang sama ada ketika sembahyang fardhu ataupun sembahyang sunat melainkan ketika sembahyang jenazah.

    Cara melakukan sujud sahwi itu ialah dengan dua kali sujud dan sekali duduk antara dua sujud tersebut. Sujud sahwi itu dilakukan sebelum memberi salam. Segala yang diwajibkan dan disunatkan dalam sujud sahwi itu serupa dengan sujud dan duduk antara dua sujud di dalam sembahyang. Hanya ada pendapat mengatakan zikir yang dibaca dalam kedua-dua sujud sahwi itu ialah. (SUBHANA MAN-LA YANAMU WALA YAS-HU). Ini kerana zikir tersebut lebih sesuai dengan keadaannya iaitu lupa.

    Wajib berniat sujud sahwi, iaitu mengqasadkan dalam hati sujud sahwi beriringan ketika hendak melakukan sujud tanpa melafazkan niat tersebut. Jika dilafazkan niat itu maka batal sembahyang.

    Dengan penjelasan-penjelasan mengenai keadaan-keadaan lupa dalam sembahyang dan cara menyelesaikannya, mudah-mudahan akan menambahkan maklumat kita tentang sembahyang dan seterusnya sembahyang kita akan dilakukan dengan lebih sempurna.

    ***

    Kiriman Arland

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 27 February 2016 Permalink | Balas  

    Terlupa Dalam Sholat (1/2) 

    sholat 3Terlupa Dalam Sholat (1/2)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Memang tidak dinafikan bahawa lupa itu sering terjadi pada manusia. Dalam pandangan Islam orang yang lupa, tersilap dan dipaksa melakukan perkara dosa adalah dimaafkan. Sebagaimana tersebut dalam hadis yang diriwayatkan oleh  Ibnu ‘Abbas daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Baginda bersabda:

    Maksudnya: “Sesungguhnya Allah menggugurkan (dosa) daripada umatku  kerana tersilap, lupa dan yang dipaksa ke atasnya.”

    (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Lupa itu berlaku dalam semua perkara termasuk lupa  dalam sembahyang. Umpamanya terlupa melakukan syarat, rukun atau sunat sembahyang. Untuk lebih jelasnya, dihuraikan beberapa contoh-contoh lupa dalam sembahyang dan cara penyelesaiannya.

    Contoh-Contoh Lupa Syarat Sembahyang

    Syarat sembahyang adalah perkara yang mesti dilakukan sebelum mengerjakan sembahyang dan ia berterusan sehingga selesai sembahyang. Sembahyang tidak akan sah jika syarat-syarat sembahyang itu tidak ditunaikan terlebih dahulu. Syarat sembahyang itu ada lima, iaitu mengetahui waktu sembahyang, menghadap kiblat, menutup aurat, suci daripada hadas dan suci daripada najis.

    Antara contoh-contoh lupa melakukan syarat sembahyang itu seperti seseorang yang terlupa untuk bersuci daripada hadas kecil atau hadas besar. Jika teringat dan yakin yang dia tidak berwudhu atau tidak mandi wajib, maka sembahyang yang dikerjakan dalam keadaannya yang tidak suci itu adalah tidak sah. Walau bagaimanapun dia mendapat pahala atas qashadnya (niatnya) tetapi bukan mendapat pahala atas perbuatan sembahyangnya.

    Demikian juga jika dia memakai pakaian yang bernajis disebabkan lupa, sedang dia telah mengerjakan sembahyang dengan pakaian itu. Apabila teringat dan yakin yang dia memakai pakaian yang bernajis, maka tidak sah sembahyang tersebut. Oleh yang demikian hendaklah dia mengerjakan sembahyang itu semula dengan memakai pakaian yang suci daripada najis.

    Apabila seseorang tidak mengetahui sehingga dia meninggal dunia bahawa pakaian yang dipakainya ketika mengerjakan sembahyang itu ada najis, maka menurut fatwa al-Baghawi, diharapkan daripada kemurahan Allah agar tidak diambil kira. Ini kerana Allah menggugurkan dosa bagi orang yang tersilap, terlupa atau dipaksa.

    Jika terjadi syak pada diri seseorang itu sama ada dia telah berwudhu ataupun tidak, maka tidak sah sembahyangnya kerana dia syak pada asal bersuci sedang asalnya dia tidak bersuci. Adapun jika dia syak sama ada wudhunya batal ataupun tidak, maka sembahyangnya itu sah kerana dia syak pada batalnya wudhu sedangkan pada asalnya wudhunya itu masih ada.

    Contoh-Contoh Lupa Rukun Sembahyang

    Rukun-rukun sembahyang itu terbahagi kepada tiga bahagian:

    1. Rukun qalbi: Rukun yang bersangkut paut dengan hati iaiu niat.
    2. Rukun qauli: Rukun yang bersangkut paut dengan perkataan, seperti takbiratulihram dan membaca surah al-Fatihah.

    iii. Rukun fi’li: Rukun yang bersangkut paut dengan perbuatan, seperti berdiri, rukuk dan sujud.

    Perkara yang sering terjadi dalam sembahyang ialah lupa melakukan tertib sembahyang, sama ada tertib di antara rukun atau tertib di antara sunat-sunat sembahyang. Tertib di antara sunat sembahyang tidak termasuk dalam rukun sembahyang, akan tetapi hanya menjadi syarat untuk dikira sebagai sunat dan bukan menjadi syarat sah sembahyang. Seperti mendahulukan membaca at-ta’auuz  sebelum membaca iftitah, maka dalam hal ini at-ta’auuz itu diulang semula selepas membaca iftitah, kerana at-ta’auuz sebelum itu tidak dikira sebagai sunat, disebabkan ia dibaca bukan pada tempatnya. Demikian juga halnya tertib di antara sunat sembahyang dan rukun sembahyang, seperti mendahulukan membaca surah al-Qur’an sebelum membaca surah al-Fatihah.

    Sementara tertib di antara rukun sembahyang pula adalah termasuk rukun sembahyang. Jika tidak dilakukan tertib itu dengan senghaja umpamanya didahulukan rukun fi’li seperti sujud sebelum rukuk atau rukuk sebelum membaca surah al-Fatihah atau mendahulukan rukun qauli iaitu memberi salam sebelum sujud, maka sembahyang itu batal kerana mempermain-mainkannya.

    Adapun jika didahulukan rukun qauli dengan senghaja (selain memberi salam) sebelum rukun fi’li seperti mendahulukan membaca tasyahhud sebelum sujud ataupun didahulukan rukun qauli sebelum rukun qauli yang lain seperti mendahulukan shalawat sebelum membaca tasyahhud, maka tidaklah batal sembahyang itu akan tetapi hendaklah diulang semula bacaan yang didahulukannya itu (shalawat) kerana ia dibaca bukan pada tempatnya dan tanpa diulang semula yang kena dahului itu (tasyahhud).

    Bagaimana pula keadaannya jika terlupa melakukan rukun sembahyang kemudian teringat rukun yang tertinggal itu ketika dalam sembahyang ataupun sesudah selesai sembahyang. Oleh itu, eloklah disebutkan beberapa contoh-contoh lupa melakukan tertib di antara rukun sembahyang seperti berikut:

    1. Ingat Rukun Yang Tertinggal Sebelum Sampai Pada Rukun Sepertinya Di Rakaat Berikutnya

    Apabila tertinggal rukun sembahyang kemudian ingat ataupun terjadi syak sebelum sampai pada rukun sepertinya di rakaat berikutnya, maka hendaklah dilakukan dengan segera rukun yang tertinggal atau yang disyaki itu. Apa yang dilakukannya selepas rukun yang tertinggal atau yang disyaki itu adalah tidak dikira. Sebelum salam sunat melakukan sujud sahwi, kerana setiap perkara yang boleh membatalkan sembahyang jika dilakukan dengan senghaja adalah disunatkan sujud sahwi.

    Sebagai contoh hal di atas, imam atau munfarid (sembahyang seorang diri) yang lupa membaca surah al-Fatihah, kemudian teringat ketika sedang rukuk. Maka hendaklah dia berdiri semula dengan segera untuk membaca surah al-Fatihah dan rukuknya sebelum itu tidak dikira. Jika dia tidak bangkit dengan segera setelah menyedarinya, maka batal sembahyang itu.

    Imam atau munfarid yang lupa melakukan rukuk, kemudian teringat ketika sedang sujud. Maka hendaklah dia berdiri tegak semula dengan segera untuk melakukan rukuk. Manakala sujudnya sebelum itu tidak dikira.

    Demikian juga halnya jika timbul syak ketika rukuk sama ada dia telah membaca surah al-Fatihah atau tidak, maka hendaklah dia segera bangkit untuk membaca surah al-Fatihah. Jika dia menunggu walau seketika untuk mengingati perkara yang disyakinya itu, maka batallah sembahyangnya. Berbeza halnya jika terjadi syak ketika sedang qiyam (berdiri), syak sama ada dia telah membaca surah al-Fatihah atau tidak. Maka dalam hal ini, bolehlah dia menunggu untuk mengingati perkara yang disyakinya itu.

    1. Ingat Rukun Yang Tertinggal Setelah Sampai Pada Rukun Sepertinya Di Rakaat Berikutnya

    Apabila tertinggal rukun sembahyang kemudian ingat ataupun terjadi syak setelah sampai pada rukun sepertinya (seperti yang tertinggal atau yang disyaki itu), maka memadailah rukun sepertinya itu menjadi ganti kepada rukun yang tertinggal atau yang disyaki itu. Kemudian hendaklah dilakukan baki sembahyang sehingga sempurna rukun dan rakaatnya, kerana perbuatan di antara rukun yang tertinggal dan rukun sepertinya itu tidak dikira. Sebelum memberi salam disunatkan sujud sahwi.

    Untuk jelasnya, imam atau munfarid (sembahyang seorang diri) tertinggal rukuk di rakaat pertama kemudian ingat ataupun terjadi syak ketika rukuk di rakaat kedua, maka memadailah rukuk rakaat kedua itu sebagai ganti rukuk rakaat pertama yang tertinggal atau yang disyaki itu. Apa yang dilakukan antara rukuk rakaat pertama dan rukuk rakaat kedua adalah tidak dikira. Kemudian lakukanlah baki sembahyang sehingga sempurna segala rukun dan rakaat sembahyang itu.

    1. Ingat Rukun Yang Tertinggal Sesudah Memberi Salam

    Ingat rukun yang tertinggal sesudah memberi salam, maka dalam hal ini hendaklah dilihat kadar panjang atau pendeknya masa di antara sesudah memberi salam dan waktu ingat. Hendaklah dilihat juga jenis rukun yang tertinggal itu, sama ada ia niat dan takbiratulihram atau rukun selain keduanya. Jika yang tertinggal itu niat dan takbiratulihram, maka hendaklah diulang semula daripada awal sembahyang itu.

    Adapun jika rukun yang tertinggal itu selain daripada niat dan takbiratulihram serta jangka masa di antara salam dan ingat itu pendek, dan dia tidak terkena najis serta tidak banyak berkata-kata, maka lakukanlah baki rukun yang tertinggal itu tanpa mengulang semula sembahyang. Hal ini telah digambarkan dalam sebuah hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu:

    Maksudnya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah sembahyang bersama kami sama ada sembahyang zohor atau asar. (Pada rakaat kedua) Baginda memberi salam. Berkata Zulyadain kepada Baginda: “Apakah sembahyang dikurangkan wahai Rasulullah?”

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada sahabat-sahabat Baginda: “Adakah benar apa yang dikatakannya itu?”

    Mereka berkata: “Ya!” Maka Baginda menyambung sembahyang dua rakaat yang lain kemudian sujud dua kali (sujud sahwi).”

    (Hadis riwayat al-Bukhari)

    Kadar jangka masa panjang dan pendek itu adalah mengikut ‘uruf. Diiktibarkan kadar masa pendek itu seperti apa yang dinukil tentang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada khabar Zulyadain. Dalam khabar Zulyadain itu menggambarkan Baginda bangkit dan pergi ke suatu penjuru masjid, lalu ditanya oleh Zulyadain dan pertanyaan Baginda kepada sahabat serta jawapan mereka. Sementara  kadar masa panjang pula ialah apa yang melebihi daripada kadar masa yang digambarkan dalam khabar Zulyadain tersebut.

    Menurut al-Buwaithi dan Abu Ishaq, bahawa kadar jangka masa panjang itu ialah apa yang melebihi kadar masa serakaat. Sementara menurut Abu Hurairah, bahawa kadar jangka masa panjang itu ialah kadar sembahyang yang sedang dilakukan sama ada dua, tiga atau empat rakaat.

    1. Makmum Terlupa Rukun Sembahyang

    Apabila makmum teringat atau syak meninggalkan surah al-Fatihah sebelum dia melakukan rukuk dan selepas imam telah rukuk, maka hendaklah makmum membaca surah al-Fatihah itu dahulu kemudian bersegera mengikuti imamnya. Dalam hal ini makmum itu dimaafkan terkebelakang daripada imamnya sebanyak tiga rukun yang panjang.

    Sementara jika makmum itu teringat atau syak meninggalkan surah al-Fatihah selepas dia dan imam melakukan rukuk, maka janganlah makmum kembali berdiri untuk membaca surah al-Fatihah. Akan tetapi hendaklah dia mengikuti imamnya dan menambah serakaat selepas imam memberi salam.

    Adapun jika makmum itu teringat atau syak meninggalkan rukun sembahyang selain surah al-Fatihah, maka janganlah dilakukan yang tertinggal itu, bahkan hendaklah dia mengikuti imamnya dan menambah serakaat selepas imam memberi salam.

    Jika makmum itu teringat meninggalkan niat dan takbiratulihram, maka batal sembahyangnya. Demikian juga jika terjadi syak meninggalkan niat dan takbiratulihram dan berpanjangan syaknya sehingga berlalu satu rukun, maka batal sembahyangnya.

    Dalam hal hukum sunat melakukan sujud sahwi pula, tidak disunatkan sujud sahwi jika makmum terlupa sesuatu rukun yang ditinggalkannya ketika mengikuti imam. Ini kerana imam yang suci daripada hadas menanggung kekurangan makmum. Lain pula halnya jika makmum itu terlupa sesuatu rukun selepas salam imam, maka pada ketika itu imam tidak lagi menanggung makmumnya kerana sudah terputus qudwah (ikutan) itu.

    Berlainan halnya apabila terjadi pada makmum syak dan berterusan syaknya itu sehingga selesai mengikuti imam, maka disunatkan bagi makmum itu melakukan sujud sahwi selepas disempurnakannya rukun yang disyakinya itu. Ini kerana imam tidak lagi menanggung syaknya itu bahkan dia sendiri yang menanggungnya.

    1. Peranan Makmum Apabila Imam Terlupa Rukun Sembahyang

    Apabila imam terlupa melakukan perbuatan rukun sembahyang, maka sunat bagi makmum lelaki mengingati imam dengan bertasbih seperti katanya:  (SUBHANALLOH) atau seumpamanya dengan suara yang jahr (nyaring). Bagi makmum perempuan pula sunat menepuk tangannya iaitu menepuk zahir tapak tangan kanan dengan batin tapak tangan kiri atau sebaliknya. Menurut ulama Syafi’eyah, jangan menepuk tangan dengan kedua-dua batin tapak tangan (bertepuk tangan), jika dilakukan demikian itu dengan niat bermain-main maka batal sembahyangnya.

    Jika imam itu teringat rukun yang tertinggal setelah makmum mengingatinya, maka hendaklah imam itu melakukan rukun tersebut. Akan tetapi jika imam itu yakin pada dirinya tidak menambah atau mengurangi rukun sembahyang, maka hendaklah dia beramal dengan keyakinan dirinya tanpa mengikut teguran makmumnya walaupun bilangan makmum itu ramai.

    Dalam keadaan ini, apabila imam meninggalkan dengan senghaja atau lupa untuk melakukan perbuatan rukun sembahyang seperti imam lupa sujud kemudian dia terus berdiri dan tidak kembali kepada yang terlupa itu (sujud), maka tidak boleh makmum itu mengikuti imamnya akan tetapi hendaklah dia berniat mufaraqah (berpisah daripada mengikuti imam) dan makmum menyempurnakan sembahyangnya itu dengan sembahyang seorang diri.

    1. Lupa Atau Syak Bilangan Rakaat

    Seseorang yang syak bilangan rakaat ketika dalam sembahyang, umpamanya adakah dia telah melakukan tiga atau empat rakaat? Maka dalam keadaan ini hendaklah dia mengambil bilangan rakaat yang sedikit. Kemudian melakukan baki sembahyang lalu sujud sahwi sebelum salam.

    Jika teringat pada rakaat yang disyakinya itu sebelum masuk pada rakaat yang lain, maka tidak disunatkan sujud sahwi. Umpamanya di rakaat ketiga terjadi syak pada dirinya sama ada dia telah melakukan tiga atau empat rakaat. Kemudian ia teringat dalam rakaat ketiga itu bahawa dia telah melakukan tiga rakaat. Maka dalam keadaan ini tidaklah disunatkan sujud sahwi. Akan tetapi jika dia teringat sesudah sampai melakukan rakaat keempat, maka hendaklah dia melakukan sujud sahwi sebelum salam.

    Adapun jika terjadi syak selepas memberi salam, sama ada syak pada bilangan rakaat sembahyang ataupun rukun yang lainnya maka tidaklah syak itu memberi kesan apa-apa terhadapnya.

    ***

    Kiriman Arland

     
  • erva kurniawan 2:39 am on 26 February 2016 Permalink | Balas  

    Bekerja dengan Jalan Bercocok-Tanam 

    menanam-pohonBekerja dengan Jalan Bercocok-Tanam

    Di dalam al-Quran Allah menyebutkan tentang masalah mencari rezeki beberapa pokok yang harus ditepati demi suksesnya bercocok-tanam itu.

    Pertama Allah menyebutkan, bahwa bumi ini disediakan Allah untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan memproduksi. Untuk itu Ia jadikan bumi ini serba mudah dan dihamparkan, sebagai suatu nikmat yang harus diingat dan disyukuri.

    Firman Allah:

    “Allah menjadikan bumi ini untuk kamu dengan terhampar supaya kamu menjalani jalan-jalan besarnya.” (Nuh: 19-20)

    “Bumi ini diletakkan Allah untuk umat manusia, di dalamnya penuh dengan buah-buahan dan korma yang mempunyai kelopak-kelopak, biji-bijian yang mempunyai kulit dan berbau harum. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (ar-Rahman: 10-13)

    Yang kedua, Allah menyebutkan tentang air, Ia mudahkannya, dengan diturunkannya melalui jalan hujan dan mengalir di sungai-sungai, kemudian dengan air itu dihidupkanlah bumi yang tadinya mati.

    Firman Allah:

    “Dialah zat yang menurunkan air dari langit, maka dengan air itu kami keluarkan tumbuh-tumbuhan dari tiap-tiap sesuatu, maka kami keluarkan daripadanya pohon yang hijau yang daripadanya kami keluarkan biji-bijian yang bersusun-susun.” (al-An’am: 99)

    “Hendaklah manusia mau melihat makanannya. Kami curahkan air dengan deras, kemudian kami hancurkan bumi dengan sungguh-sungguh hancur kemudian kami tumbuhkan padanya biji-bijian, anggur dan sayur-mayur.” (‘Abasa: 24-28)

    Selanjutnya tentang angin yang dilepas Allah dengan membawa kegembiraan, di antaranya dapat menggiring awan dan mengkawinkan tumbuh-tumbuhan. Ini semua tersebut dalam firman Allah:

    “Dan bumi Kami hamparkannya dan Kami tancapkan di atasnya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya dari tiap-tiap sesuatu yang ditimbang. Dan Kami jadikan untuk kamu padanya sumber-sumber penghidupan dan orang-orang yang kamu tidak bisa memberi rezeki kepadanya. Dan tidak ada sesuatu benda melainkan di sisi Kamilah perbendaharaannya, dan Kami tidak menurunkan dia melainkan dengan ukuran tertentu. Dan Kami lepaskan angin untuk mengkawinkan, kemudian Kami turunkan air hujan dari langit, kemudian Kami siram kamu dengan air itu padahal bukanlah kamu yang mempunyai perbendaharaan air itu.” (al-Hijr: 19-22)

    Seluruh ayat-ayat ini merupakan peringatan Allah kepada umat manusia tentang nikmatnya bercocok-tanam serta mudahnya jalan-jalan untuk bercocok-tanam itu. Dan sabda Rasulullah s.a.w.:

    “Tidak seorang muslim pun yang menanam tanaman atau menaburkan benih, kemudian dimakan oleh burung atau manusia, melainkan dia itu baginya merupakan sedekah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Dan sabdanya pula yang artinya sebagai berikut:

    “Tidak seorang muslim pun yang menanam tanaman, kecuali apa yang dimakan merupakan sedekah baginya, dan apa yang dicuri juga merupakan sedekah baginya dan tidak juga dikurangi oleh seseorang melainkan dia itu merupakan sedekah baginya sampai hari kiamat.” (Riwayat Muslim)

    Penegasan hadis tersebut, bahwa pahalanya akan terus berlangsung selama tanaman atau benih yang ditaburkan itu dimakan atau dimanfaatkan, sekalipun yang menanam dan yang menaburkannya itu telah meninggal dunia; dan sekalipun tanaman-tanaman itu telah pindah ke tangan orang lain.

    Para ulama berpendapat: “Dalam keleluasaan kemurahan Allah, bahwa Ia memberi pahala sesudah seseorang itu meninggal dunia sebagaimana waktu dia masih hidup, yaitu berlaku pada enam golongan: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, anak saleh yang mau mendoakan orang tuanya, tanaman, biji yang ditaburkan dan binatang (kendaraan) yang disediakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.”

    Diriwayatkan, ada seorang laki-laki yang bertemu Abu Darda’ ketika itu dia menanam pohon pala. Kemudian orang laki-laki itu bertanya kepada Abu Darda’: Hai Abu Darda’! Mengapa engkau tanam pohon ini, padahal engkau sudah sangat tua, sedang pohon ini tidak akan berbuah kecuali sekian tahun lamanya. Maka Abu Darda’ menjawab: Bukankah aku yang akan memetik pahalanya di samping untuk makanan orang lain?

    Salah seorang sahabat Nabi ada yang mengatakan:

    “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. membisikkan pada telingaku ini, yaitu: Barangsiapa menanam sebuah pohon kemudian dengan tekun memeliharanya dan mengurusinya hingga berbuah, maka sesungguhnya baginya pada tiap-tiap sesuatu yang dimakan dari buahnya merupakan sedekah di sisi Allah.” (Riwayat Ahmad)

    Dari hadis-hadis ini para ulama berpendapat, bahwa bercocok-tanam (bertani) adalah pekerjaan yang paling baik. Tetapi yang lain berpendapat: Bahwa pertukangan atau pekerjaan tangan merupakan pekerjaan yang paling mulia. Sedang yang lain berpendapat: Daganglah yang paling baik. Sementara ahli penyelidik dan pentashih berpendapat:

    Seharusnya kesemuanya itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan keadaan. Kalau masalah bahan makanan yang memang sangat dibutuhkan, maka bercocok-tanam adalah pekerjaan yang lebih utama, karena dapat membantu orang banyak. Kalau yang sangat dibutuhkan itu barang-barang perdagangan karena terputusnya jalan-jalan misalnya, maka berdagang adalah yang lebih utama. Dan kalau yang dibutuhkan itu soal-soal kerajinan/pekerjaan tangan, maka pekerjaan tangan itu adalah lebih utama.33

    Perincian yang terakhir ini kiranya selaras dengan keutamaan pengetahuan ekonomi modern.

    Bercocok-Tanam yang Diharamkan

    Setiap tumbuh-tumbuhan yang diharamkan memakannya atau yang tidak boleh dipergunakan kecuali dalam keadaan darurat, maka tumbuh-tumbuhan tersebut haram ditanam, misalnya: hasyisy (ganja) dan sebagainya.

    Begitu juga tembakau kalau kita berpendapat merokok itu haram, dan inilah yang rajih, maka menanamnya berarti haram. Dan kalau berpendapat makruh, maka menanamnya pun makruh juga.

    Tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk menanam sesuatu yang haram untuk dijual kepada orang selain Islam: Sebab selamanya seorang muslim tidak boleh berbuat haram. Oleh karena itu seorang muslim tidak diperkenankan memelihara babi untuk dijual kepada orang Kristen. Dasar ini sebagaimana telah sama-sama kita maklumi, bagaimana Islam mengharamkan menjual anggur yang sudah jelas halalnya itu kepada orang yang diketahui, bahwa anggur tersebut akan dibuat arak.

    Perusahaan dan Mata-Pencaharian

    Islam menekankan umatnya supaya bercocok tanam dan mengangkat ke derajat yang tinggi serta memberikan pahala kepada pelakunya. Tetapi di balik itu Islam sangat benci kalau umatnya itu membatasi aktivitasnya hanya pada bidang pertanian atau terbatas bergelimang di dasar laut.

    Islam tidak senang umatnya menganggap cukup dalam bertani saja dan mengikuti ekor lembu. Ini dapat mengurangi keperluan umat yang sekaligus dihadapkan kepada suatu bahaya. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau Rasulullah s.a.w. pernah menegaskan, bahwa cara semacam itu merupakan sumber bencana dan bahaya serta kehinaan yang meliliti umat. Kenyataan ini dapat dibenarkan oleh keadaan.

    Untuk itu maka Rasululiah s.a.w. telah menyabdakan:

    “Apabila kamu jual-beli dengan lenah34 dan kamu berpegang pada ekor-ekor sapi, dan senang bercocok-tanam serta meninggalkan jihad, maka Allah akan memberikan suatu kehinaan atas kamu yang tidak dapat dilepaskan dia, sehingga kamu kembali kepada ajaran agamamu.” (Riwayat Abu Daud)

    Kalau begitu, maka sudah seharusnya disamping bercocok-tanam ada juga perusahaan dan mata-pencaharian lain yang kiranya dapat memenuhi unsur-unsur penghidupan yang baik dan standard umat yang tinggi dan bebas, serta negara yang kuat dan kaya-raya.

    Mata-pencaharian dan perusahaan-perusahaan ini bukan hanya dipandang mubah oleh Islam, bahkan sesuai dengan penegasan para ulama dipandangnya sebagai fardhu kifayah’ dengan pengertian, bahwa masyarakat Islami harus memperbanyak dari kalangan umatnya orang-orang yang berpengetahuan, memperbanyak perusahaan dan mata-pencaharian yang kiranya dapat mencukupi kebutuhan masyarakat itu dan dapat mengatasi segala urusannya. Maka apabila terjadi suatu kekosongan baik dari segi pengetahuan ataupun perusahaan dan tidak ada yang mengurusnya, maka seluruh masyarakat Islam itu akan berdosa, khususnya ulil amri (kepala exekutif) dan ahlul hili wal aqdi (lembaga legislatif).

    Imam Ghazali berkata: “Adapun yang termasuk fardhu kifayah, yaitu semua ilmu yang sangat diperlukan sebagai standard untuk mengurusi persoalan-persoalan duniawiah, seperti ilmu kedokteran, karena dia itu amat dibutuhkan demi menjaga kestabilan badani dan seperti ilmu hisab sebagai yang sangat dibutuhkan untuk urusan mu’amalat, pembagian wasiat, waris, dan lain-lain.

    Ilmu-ilmu ini kalau sesuatu negara itu kekosongan orang-orang yang mengerti urusan tersebut, maka seluruh penduduk negeri tersebut berdosa. Tetapi kalau ada seorang yang bekerja untuk persoalan ini, sudah dianggap cukup dan gugurlah kewajiban itu dari yang lain.

    Justru itu tidak mengherankan kalau kita katakan: Bahwa ilmu kedokteran (kesehatan) dan hisab termasuk fardhu kifayah. Begitu juga pokok perindustrian seperti ilmu pertanian, pertenunan dan siasah bahkan ilmu bekam dan klermaker termasuk juga fardhu kifayah. Sebab kalau suatu negara kefakiman ahli bekam, niscaya kebinasaan mengancam, yang berarti pula mereka menyerahkan dirinya kepada kebinasaan. Padahal Zat yang menurunkan penyakit, Dia juga menurunkan obatnya dan Ia membimbing umat manusia untuk menggunakan obat-obatan tersebut dan telah juga dipersiapkan cara-cara untuk menemukannya. Oleh karena itu kita tidak boleh mencampakkan diri kepada kebinasaan dengan cara meremehkan persoalan tersebut.”35

    Al-Quran telah mengisyaratkan supaya memperbanyak bidang-bidang perindustrian dengan disebutnya sebagai nikmat kurnia Allah. Misalnya firman Allah yang menceriterakan tentang Nabi Daud:

    “Dan Kami lunakkan besi baginya. Hendaklah kamu membuat baju besi yang panjang dan ukurlah dalam lubangnya.” (Saba’: 10- 11)

    “Dan Kami ajar dia untuk membuat pakaian buat kamu untuk menjaga kamu dari bahayamu, apakah kamu mau berterimakasih?” al-Anbiya’: 80)

    Kemudian tentang Nabi Sulaiman, Allah berfirman juga:

    “Dan Kami alirkan kepadanya mata air tembaga, dan dari antara jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya, dan barangsiapa yang berpaling di antara mereka dari perintah Kami, maka akan Kami rasakan dia dari siksaan api yang, menyala. Para jin itu bekerja untuk Sulaiman menurut apa yang ia inginkan, misalnya gedung-gedung yang tinggi, patung patung dan piring-piring model kolam dan kuali yang tetap. Kerjakanlah hai keluarga Daud dengan penuh kesyukuran.” (Saba’: 12-13)

    Dan tentang Dzul Qarnain dengan bendungan raksasanya (great wall) itu, Allah berfirman:

    “Dia berkata: Apa yang Tuhanku tetapkan aku padanya lebih baik. Oleh karena itu bantulah aku dengan sungguh-sungguh, maka akan kubuat satu bendungan (pembatas) antara kamu dan mereka. Bawalah kepadaku kepingan-kepingan besi sehingga apabila sudah sama antara dua gunung itu, ia pun berkata: Tiuplah. Sehingga apabila ia telah jadikan api, maka ia berkata: Bawalah kepadaku akan kutuangi tembaga di atasnya. Dengan demikian maka mereka tidak dapat mendakinya dan tidak dapat melubanginya.” (al-Kahfi: 95-97)

    Selanjutnya tentang kisah Nabi Nuh dengan cara membuat perahunya, dimana Allah memberikan isyarat betapa besarnya perahunya itu bagaikan gunung yang akan mengarungi laut.

    Maka firman Allah:

    “Di antara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah adanya perahu di laut bagaikan gunung.” (as-Syura: 32)

    Dalam beberapa surah, Allah banyak menyebutkan tentang masalah cara-cara berburu dengan segala macam bentuk dan jenisnya, sejak dari cara berburu ikan dan binatang-binatang laut sampai kepada berburu binatang darat. Disebutkan juga bagaimana cara menyelam untuk mengeluarkan lulu’ (mutiara), marjan dan sebagainya.

    Lebih dari itu semua, al-Quran telah menyadarkan manusia akan nilai daripada besi yang belum pernah dibicarakan oleh kitab-kitab agama sebelumnya. Maka setelah Allah menyebutkan tentang diutusnya para Rasul dan diturunkannya kitab, kemudian Allah berfirman:

    “Dan kami turunkan besi, yang padanya ada kekuatan yang sangat dan bermanfaat buat manusia.” (al-Hadid: 25)

    Oleh karena itu tidak mengherankan, kalau surah yang membicarakan masalah besi ini disebut juga surah al-Hadid (besi).

    Seluruh perusahaan dan mata-pencaharian yang dapat menutupi kebutuhan masyarakat atau yang dapat mendatangkan manfaat yang nyata, maka semua itu termasuk amal saleh apabila semua itu dilakukan dengan ikhlas dan dilaksanakan menurut perintah agama.

    Islam menganggap tinggi beberapa pekerjaan yang kadang-kadang oleh manusia dinilai sangat rendah, misalnya menggembala kambing yang biasa diabaikan oleh manusia. Malah mereka tidak mau menilainya sebagai pekerjaan yang baik. Namun Rasulullah s.a.w. tetap berkata:

    “Allah tidak mengutus seorang Nabi pun melainkan dia itu menggembala kambing. Waktu para sahabat mendengar perkataan itu, mereka kemudian bertanya: Dan engkau, ya Rasulullah? Jawab Nabi: Ya! Saya juga menggembala kambing dengan upah beberapa karat, milik penduduk Makkah.” (Riwayat Bukhari)

    Muhammad sebagai utusan Allah dan penutup sekalian Nabi, juga menggembala kambing, dan itupun bukan kambingnya sendiri tetapi ia menggembala dengan upah milik sebagian penduduk Makkah. Diterangkannya ini kepada umatnya untuk mengajar mereka, bahwa kebesaran justru dimiliki oleh orang-orang yang suka bekerja, bukan oleh orang yang suka berfoya-foya dan penganggur.

    Al-Quran pun mengkisahkan kepada kita tentang kisah Nabi Musa a.s., bahwa dia juga bekerja sebagai buruh bagi seorang yang sangat tua. Dia bekerja sebagai buruh selama 8 tahun sebagai persyaratan untuk dikawinkan dengan salah seorang puterinya. Nabi Musa dinilai orang tua tersebut sebagai pekerja yang baik dan buruh yang terpuji. Maka benarlah dugaan puteri orang tua itu, di mana salah satunya ada yang berkata: “Hai, ayah! Ambillah buruh dia itu, karena sebaik-baik orang yang engkau ambil buruh haruslah orang yang kuat dan terpercaya.” (al-Qashash: 26).

    Ibnu Abbas meriwayatkan, bahwa Daud bekerja sebagai tukang besi untuk membuat baju besi. Adam bekerja sebagai petani, Nuh sebagai tukang kayu, Idris sebagai klermaker sedang Musa sebagai penggembala kambing. (Riwayat Hakim).

    Untuk itulah setiap muslim harus menyiapkan diri untuk mencari pencaharian, sebab tidak seorang nabi pun kecuali bekerja dalam salah satu lapangan pencaharian.

    Nabi Muhammad s.a.w. dalam salah satu hadisnya mengatakan:

    “Tidak makan seseorang satu makanan sedikitpun yang lebih baik, melainkan dia makan atas usahanya sendiri,dan Nabi Daud makan dari hasil pekerjaanya sendiri.” (Riwayat Bukhari)

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 25 February 2016 Permalink | Balas  

    Bekerja dan Usaha 

    kerja kerasBekerja dan Usaha

    FIRMAN Allah:

    “Dialah zat yang menjadikan bumi ini mudah buat kamu. Oleh karena itu berjalanlah di permukaannya dan makanlah dari rezekinya.” (al-Mulk: 15)

    Ayat ini merupakan mabda’ (prinsip) Islam. Bumi ini oleh Allah diserahkan kepada manusia dan dimudahkannya. Justru itu manusia harus memanfaatkan nikmat yang baik ini serta berusaha di seluruh seginya untuk mencari anugerah Allah itu.

    Diamnya Orang yang Mampu Bekerja adalah Haram

    Setiap muslim tidak halal bermalas-malas bekerja untuk mencari rezeki dengan dalih karena sibuk beribadah atau tawakkal kepada Allah, sebab langit ini tidak akan mencurahkan hujan emas dan perak.

    Tidak halal juga seorang muslim hanya menggantungkan dirinya kepada sedekah orang, padahal dia masih mampu berusaha untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri dan keluarga serta tanggungannya. Untuk itu Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Sedekah tidak halal buat orang kaya dan orang yang masih mempunyai kekuatan dengan sempurna.” (Riwayat Tarmizi)

    Dan yang sangat ditentang oleh Nabi serta diharamkannya terhadap diri seorang muslim, yaitu meminta-minta kepada orang lain dengan mencucurkan keringatnya. Hal mana dapat menurunkan harga diri dan karamahnya padahal dia bukan terpaksa harus minta-minta.

    Kepada orang yang suka minta-minta padahal tidak begitu memerlukan, Rasulullah s.a.w. pernah bersabda sebagai berikut:

    “Orang yang minta-minta padahal tidak begitu memerlukan, sama halnya dengan orang yang memungut bara api.” (Riwayat Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah dalam sahihnya)

    Dan sabdanya pula:

    “Barangsiapa meminta-minta pada orang lain untuk menambah kekayaan hartanya tanpa sesuatu yang menghajatkan, maka berarti dia menampar mukanya sampai hari kiamat, dan batu dari neraka yang membara itu dimakannya. Oleh karena itu siapa yang mau, persedikitlah dan siapa yang mau berbanyaklah.” (Riwayat Tarmizi)

    Dan sabdanya pula:

    “Senantiasa minta-minta itu dilakukan oleh seseorang di antara kamu, sehingga dia akan bertemu Allah, dan tidak ada di mukanya sepotong daging.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Suara yang keras ini dicanangkan oleh Rasulullah, demi melindungi harga diri seorang muslim dan supaya seorang muslim membiasakan hidup yang suci serta percaya pada diri sendiri dan jauh dari menggantungkan diri pada orang lain.

    Bilakah Minta-Minta Itu Diperkenankan?

    Namun Rasulullah s.a.w. masih juga memberikan suatu pembatas justru karena ada suatu kepentingan yang mendesak. Oleh karena itu barangsiapa sangat memerlukan untuk meminta-minta atau mohon bantuan dari pemerintah dan juga kepada perorangan, maka waktu itu tidaklah dia berdoa untuk mengajukan permintaan.

    Karena ada sabda Nabi:

    “Sesungguhnya meminta-minta itu sama dengan luka-luka, yang dengan meminta-minta itu berarti seseorang melukai mukanya sendiri, oleh karena itu barangsiapa mau tetapkanlah luka itu pada mukanya, dan barangsiapa mau tinggalkanlah, kecuali meminta kepada sultan atau meminta untuk suatu urusan yang tidak didapat dengan jalan lain.” (Riwayat Abu, Daud dan Nasa’i)

    Qabishah bin al-Mukhariq berkata:

    “Saya menanggung suatu beban yang berat, kemudian saya datang kepada Nabi untuk meminta-minta, maka jawab Nabi: Tinggallah di sini sehingga ada sedekah datang kepada saya, maka akan saya perintahkan sedekah itu untuk diberikan kepadamu. Lantas ia pun berkata: Hai Qabishah! Sesungguhnya minta-minta itu tidak halal, melainkan bagi salah satu dari tiga orang: (1) Seorang laki-laki yang menanggung beban yang berat, maka halallah baginya meminta-minta sehingga dia dapat mengatasinya kemudian sesudah itu dia berhenti. (2) Seorang laki-laki yang ditimpa suatu bahaya yang membinasakan hartanya, maka halallah baginya meminta-minta sehingga dia mendapatkan suatu standard untuk hidup. (3) Seorang laki-laki yang ditimpa suatu kemiskinan sehingga ada tiga dari orang-orang pandai dari kaumnya mengatakan: Sungguh si anu itu ditimpa suatu kemiskinan, maka halallah baginya meminta-minta sehingga dia mendapatkan suatu standard hidup. Selain itu, meminta-minta hai Qabishah, adalah haram, yang melakukannya berarti makan barang haram.” (Riwayat Muslim, Abu Daud dan Nasa’i)

    Jaga Harga Diri dengan Bekerja

    Nabi menghapuskan semua fikiran yang menganggap hina terhadap orang yang bekerja, bahkan beliau mengajar sahabat-sahabatnya untuk menjaga harga diri dengan bekerja apapun yang mungkin, serta dipandang rendah orang yang hanya menggantungkan dirinya kepada bantuan orang lain.

    Maka sabda Nabi:

    “Sungguh seseorang yang membawa tali, kemudian ia membawa seikat kayu di punggungnya lantas dijualnya, maka dengan itu Allah menjaga dirinya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka yang diminta itu memberi atau menolaknya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Untuk itu setiap muslim dibolehkan bekerja, baik dengan jalan bercocok-tanam, berdagang, mendirikan pabrik, pekerjaan apapun atau menjadi pegawai, selama pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak dilakukan dengan jalan haram, atau membantu perbuatan haram atau bersekutu dengan haram.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 2:34 am on 24 February 2016 Permalink | Balas  

    Memelihara Anjing 

    anjingMemelihara Anjing Tanpa Ada Keperluan

    Termasuk yang dilarang oleh Nabi ialah memelihara anjing di dalam rumah tanpa ada suatu keperluan.

    Banyak kita ketahui, ada beberapa orang yang berlebih-lebihan dalam memberikan makan anjingnya, sedang kepada manusia mereka sangat pelit. Ada pula yang kita saksikan orang-orang yang tidak cukup membiayai anjingnya itu dengan hartanya untuk melatih anjing, bahkan seluruh hatinya dicurahkan kepada anjing itu, sedang dia acuh tak acuh terhadap kerabatnya dan melupakan tetangga dan saudaranya.

    Adanya anjing dalam rumah seorang muslim memungkinkan terdapatnya najis pada bejana dan sebagainya karena jilatan anjing itu.

    Dimana Rasulullah s.a.w. telah bersabda:

    “Apabila anjing menjilat dalam bejana kamu, maka cucilah dia tujuh kali, salah satu di antaranya dengan tanah. ” (Riwayat Bukhari)

    Sebagian ulama ada yang berpendapat, bahwa hikmah dilarangnya memelihara anjing di rumah ialah: Kalau anjing itu menyalak dapat menakutkan tetamu yang datang, bisa membuat lari orang-orang yang datang akan meminta dan dapat mengganggu orang yang sedang jalan.

    Rasulullah s.a.w. pernah mengatakan:

    “Malaikat Jibril datang kepadaku, kemudian ia berkata kepadaku sebagai berikut: Tadi malam saya datang kepadamu, tidak ada satupun yang menghalang-halangi aku untuk masuk kecuali karena di pintu rumahmu ada patung dan di dalamnya ada korden yang bergambar, dan di dalam rumah itu ada pula anjing. Oleh karena itu perintahkanlah supaya kepala patung itu dipotong untuk dijadikan seperti keadaan pohon dan perintahkanlah pula supaya korden itu dipotong untuk dijadikan dua bantal yang diduduki, dan diperintahkanlah anjing itu supaya dikeluarkan (Riwayat Abu Daud, Nasa’I, Tarmizi dan Ibnu Hibban)

    Anjing yang dilarang dalam hadis ini hanyalah anjing yang dipelihara tanpa ada keperluan.

    Memelihara Anjing Pemburu dan Penjaga, Hukumnya Mubah

    Adapun anjing yang dipelihara karena ada kepentingan, misalnya untuk berburu, menjaga tanaman, menjaga binatang dan sebagainya dapat dikecualikan dari hukum ini. Sebab dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim dan lain-lain, Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Barangsiapa memelihara anjing, selain anjing pemburu atau penjaga tanaman dan binatang, maka pahalanya akan berkurang setiap hari satu qirat.” (Riwayat Jamaah)

    Berdasar hadis tersebut, sebagian ahli fiqih berpendapat, bahwa larangan memelihara anjing itu hanya makruh, bukan haram, sebab kalau sesuatu yang haram samasekali tidak boleh diambil/dikerjakan baik pahalanya itu berkurang atau tidak.

    Dilarangnya memelihara anjing dalam rumah, bukan berarti kita bersikap keras terhadap anjing atau kita diperintah untuk membunuhnya. Sebab Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Andaikata anjing-anjing itu bukan umat seperti umat-umat yang lain, niscaya saya perintahkan untuk dibunuh.” (Riwayat Abu Daud dan Tarmizi)

    Dengan hadis tersebut Nabi mengisyaratkan kepada suatu pengertian yang besar dan realita yang tinggi sekali nilainya seperti halnya yang ditegaskan juga oleh al-Quran:

    “Tidak ada satupun binatang di bumi dan burung yang terbang dengan dua sayapnya, melainkan suatu umat seperti kamu juga.” (al-An’am: 38)

    Rasulullah pernah juga mengkisahkan kepada para sahabatnya tentang seorang laki-laki yang menjumpai anjing di padang pasir, anjing itu menyalak-nyalak sambil makan debu karena kehausan. Lantas orang laki-laki tersebut menuju sebuah sumur dan melepas sepatunya kemudian dipenuhi air, lantas minumlah anjing tersebut dengan puas.

    Setelah itu Nabi bersabda:

    “Karena itu Allah berterimakasih kepada orang yang memberi pertolongan itu serta mengampuni dosanya.” (Riwayat Bukhari)

    Pengetahuan Ilmu Modern Tentang Memelihara Anjing

    Barangkali akan kita jumpai di tempat-tempat kita ini beberapa orang yang sedang asyik terhadap Barat, sehingga mereka menganggap Barat itu mempunyai kehalusan budi dan perikeimanusiaan yang tinggi serta menaruh kasih-sayang kepada semua binatang yang hidup. Mereka menganggapnya, bahwa Islam itu bersikap keras terhadap binatang yang dapat dipercaya, tunduk dan beramanat.

    Kepada mereka ini akan kami bawakan suatu artikel ilmiah yang sangat berharga sekali, ditulis oleh seorang sarjana spesialis dari Jerman. Artikel tersebut menjelaskan betapa bahayanya yang akan ditimbulkan karena memelihara anjing. Ia mengatakan: “Bertambahnya musibah yang diderita umat manusia pada tahun terakhir yang disebabkan oleh anjing, memaksa kita untuk memperhatikan secara khusus tentang betapa bahaya yang nampak sekali yang disebabkan oleh anjing, lebih-lebih situasinya bukan terbatas karena memelihara itu, tetapi sampai kepada bermain-main dan menciumi serta mengusap-usap anjing dengan tangan oleh anak-anak kecil dan orang-orang dewasa. Bahkan banyak sekali anjing-anjing itu menjilat bekas bekas makanan yang ada di piring orang tempat menyimpan makanan dan minuman manusia.”

    Kebiasaan-kebiasaan jelek yang kami sebutkan di atas akan sangat bertentangan dengan perasaan yang sehat dan tidak mungkin dapat diterima oleh kesopanan manusia. Lebih lebih persoalan ini sangat kontradiksi dengan kebersihan dan kesehatan. Tetapi kami tidak akan membicarakan persoalan ini ditinjau dari segi tersebut, karena telah menyimpang dari pokok persoalan yang sedang dibahas dalam studi ilmiah ini. Biarlah itu kita serahkan kepada masalah pendidikan budi-pekarti dan pendidikan jiwa untuk menentukannya.

    Di sini akan kita tinjau dari segi kesehatan –dan itulah yang kami anggap sangat urgen dalam pembahasan ini– sebab bahaya yang sangat mengancam kesehatan manusia dan kehidupannya yang disebabkan memelihara anjing tidak boleh dianggap remeh. Banyak orang yang terpaksa harus mengorbankan uang yang tidak sedikit karena digigit oleh anjing, apabila cacing pita anjing itu justru yang menyebabkan penyakit yang berkepanjangan. Bahkan tidak kurang juga penderita yang akhirnya menemui ajalnya.

    Cacing ini bentuknya sangat kecil sekali, dan disebut cacing pita anjing. Cacing ini akan tampak pada diri manusia dalam bentuk jerawat. Cacing ini terdapat juga pada binatang-binatang lain terutama babi, tetapi pertumbuhannya tidak secepat cacing pita anjing. Terdapat juga pada anak-anak anjing hutan dan serigala, tetapi jarang ada pada kucing.

    Cacing pita anjing ini berbeda sangat dengan cacing-cacing pita lainnya, dan sangat kecil sekali, sehingga hampir-hampir tidak dapat dilihat, dan tidak dikira dia itu hidup kecuali setelah beberapa tahun lamanya

    Selanjutnya Dr. Graard Pentsmar menulis artikel tersebut berkata: Perkembangan tumbuhnya cacing pita anjing ini dalam ilmu hewan ada beberapa keanehan tersendiri, misalnya satu telur dapat menumbuhkan kepala-kepala cacing pita yang banyak sekali dengan membawa bisul-bisul (jerawat) yang timbul karena cacing tersebut. Telur-telur ini akan memungkinkan untuk menumbuhkan jerawat-jerawat yang berbeda-beda pula. Demikianlah, bahwa kepala-kepala cacing yang ditumbuhkan karena bisul-bisul itu akan berubah menjadi cacing-cacing pita lagi yang dapat terbentuk dengan sempurna dan berkembang dalam usus-usus anjing.

    Cacing-cacing ini tidak dapat tumbuh pada diri manusia dan hewan, melainkan berupa jerawat-jerawat dan bisul-bisul baru yang satu lama lain sangat berbeda dengan cacing pita itu sendiri. Bisul yang terdapat pada binatang tidak bisa lebih dari sebesar kepal, dan itupun sebenarnya sangat jarang sekali. Justru itu kalau diperhatikan, bahwa timbangan hati akan bisa bertambah yang kadang-kadang tambahnya itu mencapai 5 sampai 10 kali dari berat hati biasa. Tetapi bisul yang ada pada manusia bisa mencapai sebesar kepal tangan atau sebesar kepala anak kecil dan penuh dengan nanah yang beratnya 10 sampai 20 kati.

    Kebanyakan bisul ini menyerang hati manusia dan akan nampak dalam bentuknya yang berbeda-beda, tetapi, kebanyakan kemudian pindah pada paru-paru, lengan, limpa dan anggota yang lain. Semua ini dapat berubah bentuk maupun keadaannya dengan perubahan yang besar sekali, sehingga dalam waktu relatif pendek sukar untuk dapat dibedakan dari yang biasa.

    Walhasil, bahwa bisul ini kalau sampai timbul sangat mengancam kesehatan dan hidupnya si penderita dan berat untuk kita bisa mengetahui perkembangan sejarah hidupnya, membiaknya dan membentuknya. Sampai hari ini belum ada jalan untuk mengobatinya. Cuma kadang-kadang cacing-cacing ini akan mati dengan sendirinya dan kadang-kadang justru bahan-bahan yang tidak dapat diterima oleh tubuh itu sendiri yang bekerja untuk membinasakan kuman-kuman tersebut. Menurut penyelidikan yang mutakhir, bahwa tubuh manusia yang dalam keadaan seperti ini justru menjadi bahan obat untuk melawan kuman tersebut serta mematikan bekerjanya racun.

    Dan yang sangat menyedihkan, bahwa matinya cacing-cacing itu jarang sekali tidak meninggalkan pengaruh dan menimbulkan bahaya, dibandingkan dengan lainnya. Lebih-lebih cara untuk memberantas penyakit ini dengan jalan kimia tidak lagi berguna. Satu-satunya jalan ialah dengan operasi. Lama tidak dioperasi si penderita tidak akan dapat lolos dari mara-bahaya. Yakni pengobatan cara lain tidak lagi berguna.

    Sebab-sebab ini semua, memaksa kita untuk berbuat cara-cara yang mungkin guna memberantas penyakit yang sangat berbahaya demi melindungi manusia dari bahaya yang datangnya misterius itu.

    Prof. Dr. Nawalr dalam analisanya tentang bangkai di Jerman, mengatakan: Bahwa di Jerman penderitaan yang dialami oleh umat manusia yang disebabkan bisul cacing pita anjing tidak kurang dari 1% atau lebih. Sedang negara-negara lain yang diserang penyakit ini, yaitu di bagian selatan Nederland, Daimasia, Krim, Islandia, Tenggara Australia, propinsi Frisland di negeri Belanda dimana anjing-anjing selalu dipakai untuk menarik, maka penderitaan yang ditimbulkan karena cacing pita tidak kurang dari 12%. Sedang di Islandia sendiri antara 43% penduduk negara tersebut yang menderita karena bisul cacing pita.

    Kalau kita sudah tahu betapa kerugian yang akan menimbulkan makanan manusia yang ditimbulkan oleh binatang yang membahayakan ini sampai kepada bahaya yang mengancam kesehatan manusia karena adanya cacing pita itu, maka tidak seorang pun yang akan menentang, bahwa menjauhkan binatang ini adalah termasuk salah satu keharusan, demi menjaga dan melindungi makanan rakyat. Lebih-lebih segi-segi yang mungkin dapat menyelamatkannya hingga kini masih sangat mengkawatirkan. Dari saat ke saat, wabah ini akan menular.

    Jalan yang paling ampuh untuk memberantas wabah ini ialah kita harus bekerja dengan giat untuk mengurung cacing pita ini hanya pada anjing dan dijaga jangan sampai tersebar luas. Hal ini kita tempuh, justru kita tidak lagi mampu untuk melarang orang jangan memelihara anjing samasekali … Dan jangan dilupakan juga kita harus mengobati anjing itu sendiri, yaitu dengan jalan menghilangkan cacing pitanya yang terdapat dalam usus-ususnya itu. Caranya ialah mengoperasi anjing-anjing tersebut, dan ini telah biasa dilakukan terhadap anjing pelacak dan penjaga.

    Dan demi menjaga kesehatan dan kelangsungan hidup manusia, dapat juga kiranya dijaga dengan teliti sekali, jangan bermain-main dan berdekat-dekat dengan anjing. Begitu pula anak-anak supaya tidak membiasakan bergaul dengan anjing, jangan biarkan tangannya dijilat anjing dan jangan diperkenankan anjing-anjing itu tinggal di tempat bermainnya anak-anak. Sebab sangat disesalkan, sering kita lihat ada beberapa anjing yang berkeliaran di tempat-tempat olahraga anak-anak.

    Disamping itu harus disediakan pula bejana-bejana khusus untuk makanan anjing. Jangan dibiarkan anjing-anjing itu menjilat piring-piring yang biasa dipakai makan manusia. Jangan pula dibiarkan anjing-anjing itu keluar-masuk di kedai-kedai makanan, pasar-pasar umum, warung-warung dan sebagainya. Dan semua orang pun harus mengambil bagian khusus untuk menghindarkan anjing dari apa saja yang bersentuhan dengan makanan dan minuman manusia.

    Dengan demikian, maka kita pun tahu betapa Nabi Muhammad melarang kita untuk bergaul dengan anjing dan memperingatkan kita jangan sampai bejana-bejana kita itu dijilat oleh anjing serta melarang memelihara anjing, kecuali karena diperlukan. Betapa pula sesuainya ajaran Muhammad dengan pengetahuan modern dan ilmu kedokteran yang mutakhir!

    Dalam hal ini kami tidak akan memperpanjang perkataan, kiranya cukup apa yang dikatakan al-Quran:

    “Muhammad tidak berbicara yang keluar dari hawa nafsunya. Tidak lain yang dikatakan itu melainkan wahyu yang diwahyukan.” (an-Najm: 3-4)

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 23 February 2016 Permalink | Balas  

    Gambar yang Terhina adalah Halal 

    kesetGambar yang Terhina adalah Halal

    Setiap perubahan dalam masalah gambar yang tidak mungkin diagung-agungkan sampai kepada yang paling hina, dapat pindah dari lingkungan makruh kepada lingkungan halal. Dalam hal ini ada sebuah hadis yang menerangkan, bahwa Jibril a.s. pernah minta izin kepada Nabi untuk masuk rumahnya, kemudian kata Nabi kepada Jibril:

    “Masuklah! Tetapi Jibril menjawab: Bagaimana saya masuk, sedang di dalam rumahmu itu ada korden yang penuh gambar! Tetapi kalau kamu tetap akan memakainya, maka putuskanlah kepalanya atau potonglah untuk dibuat bantal atau buatlah tikar.” (Riwayat Nasa’i Ban Ibnu Hibban)

    Oleh karena itulah ketika Aisyah melihat ada tanda kemarahan dalam wajah Nabi karena ada korden yang banyak gambarnya itu, maka korden tersebut dipotong dan dipakai dua sandaran, karena gambar tersebut sudah terhina dan jauh daripada menyamai gambar-gambar yang diagung-agungkan.

    Beberapa ulama salaf pun ada yang memakai gambar yang terhina itu, dan mereka menganggap bukan suatu dosa. Misalnya Urwah, dia bersandar pada sandaran yang ada gambarnya, di antaranya gambar burung dan orang laki-laki. Kemudian Ikrimah berkata: Mereka itu memakruhkan gambar yang didirikan (patung) sedang yang diinjak kaki, misalnya di lantai, bantal dan sebagainya, mereka menganggap tidak apa-apa.

    Photografi

    Satu hal yang tidak diragukan lagi, bahwa semua persoalan gambar dan menggambar, yang dimaksud ialah gambar-gambar yang dipahat atau dilukis, seperti yang telah kami sebutkan di alas.

    Adapun masalah gambar yang diambil dengan menggunakan sinar matahari atau yang kini dikenal dengan nama fotografi, maka ini adalah masalah baru yang belum pernah terjadi di zaman Rasulullah s.a.w. dan ulama-ulama salaf. Oleh karena itu apakah hal ini dapat dipersamakan dangan hadis-hadis yang membicarakan masalah melukis dan pelukisnya seperti tersebut di atas?

    Orang-orang yang berpendirian, bahwa haramnya gambar itu terbatas pada yang berjasad (patung), maka foto bagi mereka bukan apa-apa, lebih-lebih kalau tidak sebadan penuh. Tetapi bagi orang yang berpendapat lain, apakah foto semacam ini dapat dikiaskan dengan gambar yang dilukis dengan menggunakan kuas? Atau apakah barangkali illat (alasan) yang telah ditegaskan dalam hadis masalah pelukis, yaitu diharamkannya melukis lantaran menandingi ciptaan Allah –tidak dapat diterapkan pada fotografi ini? Sedang menurut ahli-ahli usul-fiqih kalau illatnya itu tidak ada, yang dihukum pun (ma’lulnya) tidak ada.

    Jelasnya persoalan ini adalah seperti apa yang pernah difatwakan oleh Syekh Muhammad Bakhit, Mufti Mesir: “Bahwa fotografi itu adalah merupakan penahanan bayangan dengan suatu alat yang telah dikenal oleh ahli-ahli teknik (tustel). Cara semacam ini sedikitpun tidak ada larangannya.

    Karena larangan menggambar, yaitu mengadakan gambar yang semula tidak ada dan belum dibuat sebelumnya yang bisa menandingi (makhluk) ciptaan Allah. Sedang pengertian semacam ini tidak terdapat pada gambar yang diambil dengan alat (tustel).”

    Sekalipun ada sementara orang yang ketat sekali dalam persoalan gambar dengan segala macam bentuknya, dan menganggap makruh sampai pun terhadap fotografi, tetapi satu hal yang tidak diragukan lagi, bahwa mereka pun akan memberikan rukhshah terhadap hal-hal yang bersifat darurat karena sangat dibutuhkannya, atau karena suatu maslahat yang mengharuskan, misalnya kartu penduduk, paspor, foto-foto yang dipakai alat penerangan yang di situ sedikitpun tidak ada tanda-tanda pengagungan. atau hal yang bersifat merusak aqidah. Foto dalam persoalan ini lebih dibutuhkan daripada melukis dalam pakaian-pakaian yang oleh Rasulullah sendiri sudah dikecualikannya.

    Subjek Gambar

    Yang sudah pasti, bahwa subjek gambar mempunyai pengaruh soal haram dan halalnya. Misalnya gambar yang subjeknya itu menyalahi aqidah dan syariat serta tata kesopanan agama, semua orang Islam mengharamkannya.

    Oleh karena itu gambar-gambar perempuan telanjang, setengah telanjang, ditampakkannya bagian-bagian anggota khas wanita dan tempat-tempat yang membawa fitnah, dan digambar dalam tempat-tempat yang cukup membangkitkan syahwat dan menggairahkan kehidupan duniawi sebagaimana yang kita lihat di majalah-majalah, surat-surat khabar dan bioskop, semuanya itu tidak diragukan lagi tentang haramnya baik yang menggambar, yang menyiarkan ataupun yang memasangnya di rumah-rumah, kantor-kantor, toko-toko dan digantung di dinding-dinding. Termasuk juga haramnya kesengajaan untuk memperhatikan gambar-gambar tersebut.

    Termasuk yang sama dengan ini ialah gambar-gambar orang kafir, orang zalim dan orang-orang fasik yang oleh orang Islam harus diberantas dan dibenci dengan semata-mata mencari keridhaan Allah. Setiap muslim tidak halal melukis atau menggambar pemimpin-pemimpin yang anti Tuhan, atau pemimpin yang menyekutukan Allah dengan sapi, api atau lainnya, misalnya orang-orang Yahudi, Nasrani yang ingkar akan kenabian Muhammad, atau pemimpin yang beragama Islam tetapi tidak mau berhukum dengan hukum Allah; atau orang-orang yang gemar menyiarkan kecabulan dan kerusakan dalam masyarakat seperti bintang-bintang film dan biduan-biduan.

    Termasuk haram juga ialah gambar-gambar yang dapat dinilai sebagai menyekutukan Allah atau lambang-lambang sementara agama yang samasekali tidak diterima oleh Islam, gambar berhala, salib dan sebagainya.

    Barangkali seperai dan bantal-bantal di zaman Nabi banyak yang memuat gambar-gambar semacam ini. Oleh karena itu dalam riwayat Bukhari diterangkan; bahwa Nabi tidak membiarkan salib di rumahnya, kecuali dipatahkan.

    Ibnu Abbas meriwayatkan:

    “Sesungguhnya Rasulullah s.a. w. pada waktu tahun penaklukan Makkah melihat patung-patung di dalam Baitullah, maka ia tidak mau masuk sehingga ia menyuruh, kemudian dihancurkan.” (Riwayat Bukhari).

    Tidak diragukan lagi, bahwa patung-patung yang dimaksud adalah patung yang dapat dinilai sebagai berhala orang-orang musyrik Makkah dan lambang kesesatan mereka di zaman-zaman dahulu.

    Ali bin Abu Talib juga berkata:

    “Rasulullah s.a.w. dalam (melawat) suatu jenazah ia bersabda: Siapakah di kalangan kamu yang akan pergi ke Madinah, maka jangan biarkan di sana satupun berhala kecuali harus kamu hancurkan, dan jangan ada satupun kubur (yang bercungkup) melainkan harus kamu ratakan dia, dan jangan ada satupun gambar kecuali harus kamu hapus dia? Kemudian ada seorang laki-laki berkata: Saya! Ya, Rasulullah! Lantas ia memanggil penduduk Madinah, dan pergilah si laki-laki tersebut. Kemudian ia kembali dan berkata: Saya tidak akan membiarkan satupun berhala kecuali saya hancurkan dia, dan tidak akan ada satupun kuburan (yang bercungkup) kecuali saya ratakan dia dan tidak ada satupun gambar kecuali saya hapus dia. Kemudian Rasulullah bersabda: Barangsiapa kembali kepada salah satu dari yang tersebut maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad s.a.w.” (Riwayat Ahmad; dan berkata Munziri: Isya Allah sanadnya baik)

    Barangkali tidak lain gambar-gambar/patung-patung yang diperintahkan Rasulullah s.a.w. untuk dihancurkan itu, melainkan karena patung-patung tersebut adalah lambang kemusyrikan jahiliah yang oleh Rasulullah sangat dihajatkan kota Madinah supaya bersih dari pengaruh-pengaruhnya. Justru itulah, kembali kepada hal-hal di atas berarti dinyatakan kufur terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad.

    Kesimpulan Hukum Gambar dan Yang Menggambar

    Dapat kami simpulkan hukum masalah gambar dan yang menggambar sebagai berikut:

    Macam-macam gambar yang sangat diharamkan ialah gambar-gambar yang disembah selain Allah, seperti Isa al-Masih dalam agama Kristen. Gambar seperti ini dapat membawa pelukisnya menjadi kufur, kalau dia lakukan hal itu dengan pengetahuan dan kesengajaan.

    Begitu juga pemahat-pemahat patung, dosanya akan sangat besar apabila dimaksudkan untuk diagung-agungkan dengan cara apapun. Termasuk juga terlibat dalam dosa, orang-orang yang bersekutu dalam hal tersebut.

    Termasuk dosa juga, orang-orang yang melukis sesuatu yang tidak disembah, tetapi bertujuan untuk menandingi ciptaan Allah. Yakni dia beranggapan, bahwa dia dapat mencipta jenis baru dan membuat seperti pembuatan Allah. Kalau begitu keadaannya dia bisa menjadi kufur. Dan ini tergantung kepada niat si pelukisnya itu sendiri.

    Di bawah lagi patung-patung yang tidak disembah, tetapi termasuk yang diagung-agungkan, seperti patung raja-raja, kepala negara, para pemimpin dan sebagainya yang dianggap keabadian mereka itu dengan didirikan monumen-monumen yang dibangun di lapangan-lapangan dan sebagainya. Dosanya sama saja, baik patung itu satu badan penuh atau setengah badan.

    Di bawahnya lagi ialah patung-patung binatang dengan tidak ada maksud untuk disucikan atau diagung-agungkan, dikecualikan patung mainan anak-anak dan yang tersebut dari bahan makanan seperti manisan dan sebagainya.

    Selanjutnya ialah gambar-gambar di pagan yang oleh pelukisnya atau pemiliknya sengaja diagung-agungkan seperti gambar para penguasa dan pemimpin, lebih-lebih kalau gambar-gambar itu dipancangkan dan digantung. Lebih kuat lagi haramnya apabila yang digambar itu orang-orang zalim, ahli-ahli fasik dan golongan anti Tuhan. Mengagungkan mereka ini berarti telah meruntuhkan Islam.

    Di bawah itu ialah gambar binatang-binatang dengan tidak ada maksud diagung-agungkan, tetapi dianggap suatu manifestasi pemborosan. Misalnya gambar gambar di dinding dan sebagainya. Ini hanya masuk yang dimakruhkan.

    Adapun gambar-gambar pemandangan, misalnya pohon-pohonan, korma, lautan, perahu, gunung dan sebagainya, maka ini tidak dosa samasekali baik si pelukisnya ataupun yang menyimpannya, selama gambar-gambar tersebut tidak melupakan ibadah dan tidak sampai kepada pemborosan. Kalau sampai demikian, hukumnya makruh.

    Adapun fotografi, pada prinsipnya mubah, selama tidak mengandung objek yang diharamkan, seperti disucikan oleh pemiliknya secara keagamaan atau disanjung-sanjung secara keduniaan. Lebih-lebih kalau yang disanjung-sanjung itu justru orang-orang kafir dan ahli-ahli fasik, misalnya golongan penyembah berhala, komunis dan seniman-seniman yang telah menyimpang.

    Terakhir, apabila patung dan gambar yang diharamkan itu bentuknya diuubah atau direndahkan (dalam bentuk gambar), maka dapat pindah dari lingkungan haram menjadi halal. Seperti gambar-gambar di lantai yang biasa diinjak oleh kaki dan sandal.

     

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 22 February 2016 Permalink | Balas  

    Saf-Saf Sholat (3/3) 

    shalat gaibSaf-Saf Sholat (3/3)

    Berada Di Belakang Saf Seorang Diri

    Adalah makruh hukumnya jika seorang makmum itu berada seorang diri di belakang saf sedangkan di hadapannya masih ada ruang yang kosong. Oleh itu disunatkan baginya mengisi tempat kosong itu. Akan tetapi jika di hadapan makmum itu tiada ruangan kecuali di belakang saf sahaja, maka mengikut pendapat yang shahih, di antaranya Syeikh Abu Hamid dan selainnya daripada nash Syafie, adalah disunatkan bagi makmum yang berada seorang diri di belakang saf itu menarik seorang daripada makmum yang berada di hadapannya. Disunatkan juga bagi makmum yang ditarik ke belakang itu bekerjasama iaitu berundur ke saf belakang bersama-sama dengan makmum yang seorang diri itu, demi untuk kesempurnaan saf dan mengelakkan juga daripada pendapat ulama lain yang mengatakan bahawa berada seorang diri di belakang saf itu batal sembahyang sebagaimana mereka berpegang kepada sebuah hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Tidak ada sembahyang bagi makmum seorang diri yang di belakang saf”. (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Akan tetapi mengikut ashhab bahawa hujah atau dalil mereka berdasarkan hadis itu adalah bermaksud bahawa tiada sempurna sembahyang bagi seorang yang di belakang saf, bukannya bermaksud tidak sah sembahyang. Dan takwil atau maksud hadis yang dinyatakan oleh ashhab ini adalah yang wadhih iaitu jelas. Mengikut pendapat Syeikh Abu Hamid dan selainnya lagi bahawa tidak boleh bagi makmum yang seorang diri itu menarik makmum di hadapannya melainkan sesudah dia mengangkat takbirratul ihram. Dalam keadaan di atas iaitu jika seorang makmum berada seorang diri di belakang saf adalah tidak membatalkan sembahyang hanya makruh hukumnya. (Majmuk 4/189-190)

    Kanak-Kanak Berada Dalam Saf Lelaki Dewasa

    Apa yang ingin dijelaskan di sini ialah mengenai hukum kanak-kanak lelaki yang belum baligh dan belum berkhatan berada di dalam saf orang lelaki dewasa. Adakah kehadiran mereka itu merosakkan saf atau fadhilat sembahyang berjemaah dan adakah boleh dikeluarkan mereka itu dari saf tersebut supaya diisikan tempatnya itu oleh lelaki dewasa?

    Dalam kumpulan fatwa Imam Ibnu Hajar, menurut qaul yang muktamad, bahawa kanak-kanak lelaki apabila mereka mendahului orang-orang yang baligh ke saf yang pertama, tiada harus (tidak boleh) bagi orang-orang yang baligh itu mengeluarkan mereka dari saf yang pertama itu, karena kanak-kanak lelaki itu adalah jenis orang lelaki.

    Seterusnya Ibnu Hajar menerangkan bahawa bukanlah maksud kanak-kanak lelaki datang dahulu itu sebagai kehadiran mereka terlebih dahulu ke masjid daripada orang dewasa tetapi maksudnya mereka hanya mendahului pada saf yang pertama sekalipun sebelum didirikan sembahyang. Maka pada ketika itu tidaklah boleh diketepikan kanak-kanak lelaki dari saf mereka untuk diberikan kepada lelaki dewasa.

    Daripada perkataan Imam Ibnu Hajar di atas ini, apabila kanak-kanak lelaki datang ke masjid dan dia telah duduk di dalam mana-mana saf sembahyang dengan tujuan hendak sembahyang mengikut imam, sama ada sembahyang Jumaat atau sebagainya, maka orang dewasa tidak boleh mengalih dan mengeluarkan kanak-kanak lelaki tersebut dari saf-saf mereka itu.

    Adapun hukum kanak-kanak lelaki yang belum berkhatan yang tidak diketahui adakah dia membersihkan qulfahnya (kulupnya) atau tidak, apabila dia berada dalam saf tersebut, adakah ianya merosakkan saf dan adakah sedemikian itu menghilangkan fadhilat pahala berjemaah, berkata Al-Imam Al-Sayyid Abdullah bin ‘Umar bin Abu Bakar bin Yahya di dalam kitab Bughyah Al-Mustarsyidin:

    “Jika ada di dalam saf sesiapa yang tidak sah sembahyangnya seperti ada najis padanya, atau ada lahn (seperti tidak betul bacaan Fatihahnya) atau ada pada saf yang di hadapan orang yang berkeadaan sedemikian, maka tiadalah luput fadhilat (tidak hilang kelebihan pahala) berjemaah ke atas orang-orang yang berdiri di belakang mereka, sekalipun lebih jauh saf mereka dari saf orang yang sah sembahyangnya, sekadar boleh muat seorang berdiri pada masalah yang pertama (iaitu ada najis padanya atau ada lahn) dan lebih jauh dari tiga hasta pada masalah yang kedua (iaitu ada pada saf yang di hadapan orang yang berkeadaan sedemikian). Kecuali, jika orang-orang yang berada pada saf-saf di belakang itu mengetahui akan batal sembahyang orang yang tersebut itu dan sembahyangnya itu tidak sah pada pendapat ulama yang sah bertaklid padanya dan mereka berkuasa mengeluarkan orang-orang yang tidak sah sembahyang mereka itu dari saf-saf mereka dengan tiada takut (apa-apa kemudaratan) ke atas diri atau harta atau nama (apabila mereka mengeluarkan orang-orang yang tidak sah sembahyang mereka dari saf-saf mereka itu). Karena fadhilat pahala berjemaah boleh diperolehi dengan mengikut seorang imam yang mana makmum tidak mengetahui imam itu berhadas (padahal dia berhadas). Adalah lebih utama tidak mengetahui akan batal sembahyang orang-orang yang dia tidak ada sangkut paut di antaranya dan di antara orang yang batal sembahyangnya itu, dan karena berjauh-jauh (dari satu saf kepada satu saf) dengan ada suatu keuzuran seperti panas (seperti di Masjid Al-Haram ada saf jauh-jauh dan putus karena panas terik matahari pada tempat-tempat lapang), tidak meluputkan fadhilat berjemaah. Maka begitu juga di sini (makmum yang batal sembahyangnya berada dalam saf-saf sembahyang) dan karena dia berhak di tempat itu dengan sebab dia telah datang dahulu serta taklidnya yang mengatakan sah sembahyang dan begitu juga jika dia tidak bertaklid (kepada mana-mana ulama) di atas asas bahawa orang awam itu tiada mempunyai mazhab.

    Maka dari itu diketahui, bahawa barangsiapa telah berada di dalam saf, tidak harus (tidak boleh) diketepikan dia itu dari safnya, melainkan jika diketahui sembahyangnya batal dengan ijma’ ulama, atau dia beriktikad bahawa sembahyang orang itu rosak ketika dia mengerjakan sembahyangnya itu.”

    Maka jika didapati kanak-kanak lelaki yang dibawa oleh bapanya duduk dalam mana-mana saf sembahyang dan tidak diketahui kanak-kanak itu sudah berkhatan atau belum, dan tidak diketahui sama ada dia telah membersihkan qulfahnya (kulupnya) atau belum, maka menurut pendapat atau fatwa Al-’Allamah Al-Sayyid Abdullah bin Yahya yang di atas ini perkara itu tidak meluputkan fadhilat sembahyang berjemaah dan sah sembahyang orang yang berada dekat dengan kanak-kanak itu di dalam saf-saf itu.

    Penutup

    Melalui penjelasan mengenai adab-adab dan permasalahan kedudukan makmum dan imam di dalam saf sembahyang, sayugialah diharapkan kepada kita semua untuk memenuhi tuntutan atau galakan syara’ di dalam permasalahan saf-saf sembahyang. Demi mendapatkan pahala dan fadhilat berjemaah yang lebih sempurna.

    Oleh yang demikian, diharapkan kepada para jemaah agar memberi kerjasama dalam menyempurnakan saf-saf sembahyang seperti memberi ruangan kepada makmum yang hendak masuk ke saf mereka, memberi isyarat kepada makmum yang lain supaya meluruskan atau memenuhi saf yang kosong dan sebagainya. Begitu juga, imam-imam disunatkan agar menyuruh atau menyeru para makmum untuk membetulkan dan menyempurnakan saf-saf mereka.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan di dalam sebuah hadis Baginda bahawa mendirikan atau meluruskan saf itu adalah sebahagian daripada kesempurnaan dan keelokan sembahyang berjemaah.

    ***

    Kiriman Arland

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 21 February 2016 Permalink | Balas  

    Saf-Saf Sholat (2/3) 

    shalat gaibSaf-Saf Sholat (2/3)

    Kelebihan Saf Pertama

    Dalam beberapa hadis ada menyebutkan kelebihan atau fadhilat saf yang pertama itu, di mana jika mereka mengetahui akan kelebihannya, nescaya mereka akan berebut-rebut untuk mendapatkannya sehingga terpaksa diadakan undian. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya:

    “Andaikata mereka tahu apa yang ada di dalam saf yang depan, nescaya akan di adakan undian”. (Hadis riwayat Muslim)

    Sabda Baginda lagi yang maksudnya :

    “Andaikata orang-orang tahu apa yang terdapat di dalam azan dan saf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan cara berundi di antara mereka, pasti mereka mahu mengundinya. Andaikata mereka tahu apa yang terdapat di dalam hal melakukan sembahyang, pasti mereka berlumba-lumba mendapatkannya. Andaikata mereka tahu apa yang terdapat di dalam sembahyang Isya dan Subuh, pasti mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak”. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

    Dalam hadis yang lain sabda Baginda yang maksudnya :

    “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya mengucapkan selawat (selawat Allah: rahmat dan selawat malaikat: istighfar) terhadap makmum-makmum di baris pertama”. (Hadis riwayat Abu Daud dan Nasa’i)

    Sepakat para fuqaha bahawa saf yang afdhal atau lebih utama bagi lelaki sama ada bersama mereka kanak-kanak atau perempuan adalah saf yang pertama. Begitu juga bagi perempuan yang tidak bersama mereka makmum lelaki atau berjemaah bersama dengan lelaki tetapi ada penghalang atau tabir antara keduanya, maka yang afdhalnya di saf yang pertama. Akan tetapi jika perempuan itu berjemaah bersama dengan lelaki tanpa ada penghalang atau tabir, maka yang afdhal atau lebih utama bagi perempuan itu saf yang terakhir, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Sebaik-baik saf bagi lelaki adalah saf yang pertama, dan sejelik-jeliknya ialah saf yang terakhir. Sebaik-baik saf bagi wanita adalah saf yang paling belakang, dan sejelik-jeliknya ialah saf yang pertama”.  (Hadis riwayat Muslim)

    Di antara kelebihan-kelebihan yang ada di dalam saf juga ialah mengambil tempat dalam kedudukan di sebelah kanan imam lebih afdhal atau utama daripada kedudukan sebelah kiri imam. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya mengucapkan selawat kepada makmum di saf-saf kanan”. (Hadis riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah)

    Kedudukan Imam dan Makmum

    Makmum hendaklah berada di belakang imam. Adalah batal sembahyang makmun itu jika dia berada di hadapan imam. Manakala jika imam dan makmun dalam kedudukan yang sama maka tidaklah batal sembahyang mereka, akan tetapi hukumnya adalah makruh.

    Disunatkan juga agar kedudukan atau tempat imam tidaklah tinggi dibandingkan dengan kedudukan makmumnya, begitu juga sebaliknya iaitu kedudukan makmum tidaklah tinggi dibandingkan dengan kedudukan imam, melainkan jika imam itu bertujuan untuk mengajar makmumnya perbuatan sembahyang atau makmum itu bertujuan untuk menyampaikan takbir imam kepada makmum yang lain. Dalam keadaan ini, makmum tersebut adalah digalakkan untuk meninggikan tempat kedudukannya. (Majmuk 4/190-191, 4/186-187)

    Di antara adab-adabnya juga ialah imam disunatkan berada di antara tengah-tengah saf makmum yang berada di belakang. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Jadikanlah kedudukan imam itu berdiri di tengah-tengah dan penuhilah celah-celah saf (yang kosong)”. (Hadis riwayat Abu Daud)

    Kedudukan Makmum Tunggal Dalam Saf Sembahyang

    Apabila sembahyang jemaah itu hanya dengan seorang makmum, maka disunatkan baginya berada di sebelah kanan imam, tetapi hendaklah ke belakang sedikit daripada imam. Manakala jika makmum berada di sebelah kiri atau di belakang imam, disunatkan baginya untuk berpindah ke sebelah kanan dengan menjaga daripada perkara-perkara yang membatalkan sembahyang seperti bergerak lebih daripada tiga kali berturut-turut. Walau bagaimanapun, hanya makruh hukumnya jika dia terus berada di kiri atau di belakang imam. Jika makmum itu tidak juga berpindah disebabkan jahil atau sebagainya, maka disunatkan bagi imam itu memindahkan makmum atau memindahkan dirinya supaya berada di depan sebelah kiri makmum, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas Radiallahu ‘anhuma katanya yang maksudnya :

    “Pada suatu malam saya tidur di rumah Maimunah dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alahi wasallam berada di sana malam itu. Beliau berwudhu dan berdiri untuk sembahyang. Saya bersamanya dan berdiri di sebelah kirinya tetapi beliau memindahkan saya ke sebelah kanannya”. (Hadis riwayat Bukhari)

    Kehadiran Makmum Kedua Ketika Imam Sedang Sembahyang

    Apabila makmum yang lain baru datang (masbuk) walaupun kanak-kanak, sedangkan makmum yang pertama berada di sebelah kanan imam dalam keadaan mereka berdiri, maka dalam hal ini, kedudukannya adalah mengikut keadaan tertentu:

    Pertama, jika di hadapan imam itu luas dan di belakang makmum sempit, maka imam hendaklah bergerak ke hadapan. Manakala jika sebaliknya iaitu luas di belakang makmum dan sempit di hadapan imam, maka hendaklah makmum itu tadi berundur ke belakang.

    Kedua, jika kedua-dua tempat itu luas, maka yang afdhalnya mengikut pendapat yang shahih makmum hendaklah berundur ke belakang dan imam tidak perlu berpindah ke depan kerana mereka mengikut imam. Manakala jika makmum kedua itu datang dalam keadaan mereka duduk atau sujud, maka tidak boleh mereka bergerak ke belakang atau ke hadapan sehinggalah sesudah mereka berdiri semula.

    Dalam semua keadaan ini, jika mereka menyalahi aturan saf yang telah ditentukan, seperti seorang makmum berdiri di sebelah kiri atau belakang imam atau dua orang makmum berdiri di sebelah kanan atau kiri imam dan di antara kedua mereka ada yang berdiri di belakang dan seorang lagi berdiri di sebelah kanan imam atau sebagainya, adalah sah juga sembahyang mereka dan tidak perlu lagi diulang ataupun melakukan sujud sahwi, tetapi makruh hukumnya mereka melakukan kesalahan tersebut. (Majmuk 4/184-185)

    Dalam keadaan jemaah yang ramai pula, yang dihadiri oleh orang yang baligh, kanak-kanak lelaki, khuntsa dan perempuan, disunatkan lelaki yang baligh itu berada di saf hadapan kemudian diikuti oleh kanak-kanak, khuntsa (orang-orang yang tidak diketahui jantinanya adakah lelaki atau perempuan kerana memiliki alat kemaluan lelaki dan perempuan atau tidak memiliki alat kemaluan lelaki dan perempuan) dan baharulah jemaah perempuan di saf yang terakhir. Manakala jika dihadiri oleh ramai jemaah lelaki, seorang kanak-kanak lelaki, seorang khuntsa dan seorang perempuan, maka jemaah lelaki berada di saf hadapan bersama-sama dengan kanak-kanak tersebut kemudian diikuti di belakang mereka khuntsa seorang diri dan baharulah jemaah perempuan berdiri seorang diri di belakang khuntsa. Jika makmum terdiri daripada seorang kanak-kanak lelaki, seorang khuntsa dan seorang perempuan, maka kanak-kanak itu berdiri di sebelah kanan imam kemudian diikuti oleh khuntsa di belakang kanak-kanak itu dan di belakang khuntsa diikuti pula oleh jemaah perempuan.

    ***

    Kiriman Arland

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 20 February 2016 Permalink | Balas  

    Saf-Saf Sholat (1/3) 

    shalat gaibSaf-Saf Sholat (1/3)

    Pengertian saf dari segi bahasa adalah barisan yang lurus daripada setiap sesuatu, seperti saf dalam sembahyang jemaah, peperangan dan sebagainya. Manakala pengertiannya dari segi istilah pula tidak lari maknanya dengan pengertian dari segi bahasa. Apa yang ingin dijelaskan di sini penjelasan mengenai masalah-masalah saf dalam sembahyang berjemaah.

    Saf Dalam Sembahyang Jemaah

    Jumhur ulama berpendapat bahawa disunatkan bagi makmum meluruskan saf-saf mereka ketika bersembahyang jemaah supaya janganlah ada sebahagian jemaah terkehadapan atau terkebelakang daripada jemaah yang lainnya sehingga menyebabkan tidak sama dan tidak lurus saf mereka. Ketika makmum berdiri, mereka hendaklah meluruskan saf dalam keadaan berdekatkan bahu dengan bahu, kaki dengan kaki dan tumit dengan tumit makmum yang lainnya sehingga tidak ada ruang yang kosong dan renggang. Maka dalam hal ini, imam adalah disunatkan menyuruh makmumnya meluruskan saf-saf mereka sebagaimana yang sering kita dengar sebelum imam mendirikan sembahyang, kerana meluruskan saf itu termasuk dalam kesempurnaan dan keelokan sembahyang. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya:

    “Luruskanlah saf-saf kamu, kerana sesungguhnya meluruskan saf itu termasuk kesempurnaan sembahyang”. (Hadis riwayat Muslim)

    Sabda Baginda lagi yang maksudnya :

    “Luruskanlah saf di dalam sembahyang, kerana meluruskan saf itu termasuk keelokan sembahyang”. (Hadis riwayat Muslim)

    Mengikut pendapat sebahagian ulama seperti Ibnu Hajar dan sebahagian ulama hadis bahawa meluruskan saf itu hukumnya wajib. Barangsiapa yang melampaui batas (barisan) adalah haram hukumnya, kerana suruhan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadis Baginda supaya meluruskan saf adalah menunjukkan perintah wajib. Hal ini jelas diterangkan dengan adanya ancaman mengenainya melalui sebuah hadis yang memerintahkan taswiyyah (meluruskan saf). Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Sungguh kamu mahu meluruskan saf-saf kamu atau Allah akan menggantikan di antara wajah-wajah kamu”. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

    Dalam kitab Syarah Shahih Muslim ada menyatakan pendapat-pendapat atau qaul mengenai maksud hadis di atas. Di antaranya pendapat yang mengatakan bahawa maksud “Allah akan menggantikan di antara wajah-wajah kamu” ialah mengubah atau menukarkan shurah atau bentuk rupanya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Allah menjadikan bentuk rupanya dengan bentuk keledai”. (Hadis riwayat Bukhari)

    Pendapat yang azhhar bagi maksud hadis di atas itu, ialah terjadi di antara mereka (orang yang tidak meluruskan saf) permusuhan, kebencian dan perselisihan lubuk hati. (Syarah Shahih Muslim 3/131)

    Walau bagaimanapun menurut Ibnu Hajar tidak meluruskan saf dalam sembahyang jemaah itu tidaklah membatalkan sembahyang. (Al-Mausu’ah Al-Feqhiah 27/35-36)

     Keutamaan Memenuhi Saf Pertama

    Telah sepakat para fuqaha adalah sunat bagi para jemaah untuk memenuhi saf yang pertama terlebih dahulu sehingga tidak ada ruang yang kosong atau renggang. Kemudian baharulah diikuti dengan saf yang kedua dan seterusnya, berdasarkan hadis-hadis yang shahih menyentuh perkara ini. Di antaranya, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Sempurnakanlah oleh kamu saf yang depan (saf yang pertama), kemudian saf-saf berikutnya, maka saf yang kurang itu (disebabkan sedikit makmum) hendaklah (saf yang kurang itu berada) di saf bahagian belakang”.

    (Hadis riwayat Abu Daud dan Nasa’i)

    Oleh yang demikian tidak digalakkan ke atas jemaah untuk mendirikan saf yang kedua atau berikutnya melainkan selepas sempurnanya saf yang pertama atau berikutnya. Dalam erti kata lain, jangan dibiarkan saf yang di hadapan makmum itu kosong atau renggang, bahkan disunatkan ke atas mereka mengisinya.

    Adalah disunatkan juga ke atas makmum yang berada di hadapan memberi ruangan kepada makmum yang hendak masuk ke saf tersebut selagi ada ruang baginya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Luruskanlah oleh kamu saf-saf dan sejajarkanlah di antara bahu-bahu kamu, tutupi celah-celah dan berlaku lembutlah ketika memegang tangan saudaramu (waktu merapatkan saf), dan janganlah kamu biarkan celah-celah (yang kosong) itu untuk syaitan. Barangsiapa menghubungkan saf, maka Allah menghubungkannya (dengan rahmatNya) dan barangsiapa memutuskan saf, maka Allah memutuskannya (daripada rahmat dan pertolonganNya)”. (Hadis riwayat Abu Daud)

    ***

    Kiriman Arland

     
  • erva kurniawan 2:10 am on 19 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram Perhiasan 

    perhiasan-emasHalal dan Haram Perhiasan

    Hikmah Diharamkannya Emas dan Sutera Terhadap Laki-Laki

    Di haramkannya dua perkara tersebut terhadap laki-laki, Islam bermaksud kepada suatu tujuan pendidikan moral yang tinggi; sebab Islam sebagai agama perjuangan dan kekuatan, harus selalu melindungi sifat keperwiraan laki-laki dari segala macam bentuk kelemahan, kejatuhan dan kemerosotan. Seorang laki-laki yang oleh Allah telah diberi keistimewaan susunan anggotanya yang tidak seperti susunan keanggotaan wanita, tidak layak kalau dia meniru wanita-wanita ayu yang melebihkan pakaiannya sampai ke tanah dan suka bermegah-megah dengan perhiasan dan pakaian.

    Dibalik itu ada suatu tujuan sosial. Yakni, bahwa diharamkannya emas dan sutera bagi laki-laki adalah salah satu bagian daripada program Islam dalam rangka memberantas hidup bermewah-mewahan. Hidup bermewah-mewahan dalam pandangan al-Quran adalah sama dengan suatu kemerosotan yang akan menghancurkan sesuatu umat. Hidup bermewah-mewahan adalah merupakan manifestasi kejahatan sosial, dimana segolongan kecil bermewah-mewahan dengan cincin emas atas biaya golongan banyak yang hidup miskin lagi papa. Sesudah itu dilanjutkan dengan suatu sikap permusuhan terhadap setiap ajakan yang baik dan memperbaiki.

    Dalam hat ini al-Quran telah menyatakan:

    “Dan apabila kami hendak menghancurkan suatu desa, maka kami perbanyak orang-orang yang bergelimang dalam kemewahan, kemudian mereka itu berbuat fasik di desa tersebut, maka akan terbuktilah atas desa tersebut suatu ketetapan, kemudian kami hancurkan desa tersebut dengan sehancur-hancurnya.” (al-Isra’: 16)

    Dan firman Allah pula:

    “Kami tidak mengutus di suatu desa, seorang pun utusan (Nabi) melainkan akan berkatalah orang-orang yang bergelimang dalam kemewahan itu. Sesungguhnya kami tidak percaya terhadap kerasulanmu itu.” (Saba’: 34)

    Untuk menerapkan jiwa al-Quran ini, maka Nabi Muhammad s.a.w. telah mengharamkan seluruh bentuk kemewahan dengan segala macam manifestasinya dalam kehidupan seorang muslim.

    Sebagaimana diharamkannya emas dan sutera terhadap laki-laki, maka begitu juga diharamkan untuk semua laki-laki dan perempuan menggunakan bejana emas dan perak. Sebagaimana akan tersebut nanti.

    Dan di balik itu semua, dapat pula ditinjau dari segi ekonomi, bahwa emas adalah standard uang internasional. Oleh karena itu tidak patut kalau bejana atau perhiasan buat orang laki-laki.

    Hikmah Dibolehkannya Untuk Wanita

    Dikecualikannya kaum wanita dari hukum ini adalah untuk memenuhi perasaan, sesuai dengan tuntutan sifat kewanitaannya dan kecenderungan fitrahnya kepada suka berhias; tetapi dengan syarat tidak boleh berhias yang dapat menarik kaum pria dan membangkitkan syahwat.

    Untuk itu, maka dalam hadis Nabi diterangkan:

    “Siapa saja perempuan yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka perempuan tersebut dianggap berzina, dan tiap-tiap mata ada zinanya.” (Riwayat Nasai, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

    Dan firman Allah yang mengatakan:

    “Janganlah perempuan-perempuan itu memukul-mukulkan kakinya di tanah, supaya diketahui apa yang mereka sembunyikan dari perhiasannya.” (an-Nur: 31)

    Pakaian Wanita Islam

    Islam mengharamkan perempuan memakai pakaian yang membentuk dan tipis sehingga nampak kulitnya. Termasuk diantaranya ialah pakaian yang dapat mempertajam bagian-bagian tubuh, khususnya tempat-tempat yang membawa fitnah, seperti: buah dada, paha, dan sebagainya.

    Dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah saya lihat keduanya itu: (l) Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka pakai buat memukul orang (penguasa yang kejam); (2) Perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat dan mencenderungkan orang lain kepada perbuatan maksiat, rambutnya sebesar punuk unta. Mereka ini tidak akan bisa masuk sorga, dan tidak akan mencium bau sorga, padahal bau sorga itu tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian.” (Riwayat Muslim, Babul Libas)

    Mereka dikatakan berpakaian, karena memang mereka itu melilitkan pakaian pada tubuhnya, tetapi pada hakikatnya pakaiannya itu tidak berfungsi menutup aurat, karena itu mereka dikatakan telanjang, karena pakaiannya terlalu tipis sehingga dapat memperlihatkan kulit tubuh, seperti kebanyakan pakaian perempuan sekarang ini.

    Bukhtun adalah salah satu macam daripada unta yang mempunyai kelasa (punuk) besar; rambut orang-orang perempuan seperti punuk unta tersebut karena rambutnya ditarik ke atas.

    Dibalik keghaiban ini, seolah-olah Rasulullah melihat apa yang terjadi di zaman sekarang ini yang kini diwujudkan dalam bentuk penataan rambut, dengan berbagai macam mode dalam salon-salon khusus, yang biasa disebut salon kecantikan, dimana banyak sekali laki-laki yang bekerja pada pekerjaan tersebut dengan upah yang sangat tinggi.

    Tidak cukup sampai di situ saja, banyak pula perempuan yang merasa kurang puas dengan rambut asli pemberian Allah. Untuk itu mereka belinya rambut palsu yang disambung dengan rambutnya yang asli, supaya nampak lebih menyenangkan dan lebih cantik, sehingga dengan demikian dia akan menjadi perempuan yang menarik dan memikat hati.

    Satu hal yang sangat mengherankan, justru persoalan ini sekarang sering dikaitkan dengan masalah penjajahan politik dan kejatuhan moral, dan ini dapat dibuktikan oleh suatu kenyataan yang terjadi, dimana para penjajah politik itu dalam usahanya untuk menguasai rakyat sering menggunakan sesuatu yang dapat membangkitkan syahwat dan untuk dapat mengalihkan pandangan manusia, dengan diberinya kesenangan yang kiranya dengan kesenangannya itu manusia tidak lagi mau memperhatikan persoalannya yang lebih umum.

    Laki-Laki Menyerupai Perempuan dan Perempuan Menyerupai Laki-Laki

    Rasulullah s.a.w. pernah mengumumkan, bahwa perempuan dilarang memakai pakaian laki-laki dan laki-laki dilarang memakai pakaian perempuan.15 Disamping itu beliau melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.16 Termasuk diantaranya, ialah tentang bicaranya, geraknya, cara berjalannya, pakaiannya, dan sebagainya.

    Sejahat-jahat bencana yang akan mengancam kehidupan manusia dan masyarakat, ialah karena sikap yang abnormal dan menentang tabiat. Sedang tabiat ada dua: tabiat laki-laki dan tabiat perempuan. Masing-masing mempunyai keistimewaan tersendiri. Maka jika ada laki-laki yang berlagak seperti perempuan dan perempuan bergaya seperti laki-laki, maka ini berarti suatu sikap yang tidak normal dan meluncur ke bawah.

    Rasulullah s.a.w. pernah menghitung orang-orang yang dilaknat di dunia ini dan disambutnya juga oleh Malaikat, diantaranya ialah laki-laki yang memang oleh Allah dijadikan betul-betul laki-laki, tetapi dia menjadikan dirinya sebagai perempuan dan menyerupai perempuan; dan yang kedua, yaitu perempuan yang memang dicipta oleh Allah sebagai perempuan betul-betul, tetapi kemudian dia menjadikan dirinya sebagai laki-laki dan menyerupai orang laki-laki (Hadis Riwayat Thabarani). Justru itu pulalah, maka Rasulullah s.a.w. melarang laki-laki memakai pakaian yang dicelup dengan ‘ashfar (zat warna berwarna kuning yang biasa dipakai untuk mencelup pakaian-pakaian wanita di zaman itu).

    Ali r.a. mengatakan:

    “Rasulullah s. a. w. pernah melarang aku memakai cincin emas dan pakaian sutera dan pakaian yang dicelup dengan ‘ashfar” (Hadis Riwayat Thabarani)

    Ibnu Umar pun pernah meriwayatkan:

    “Bahwa Rasulullah s.a.w. pernah melihat aku memakai dua pakaian yang dicelup dengan ‘ashfar, maka sabda Nabi: ‘Ini adalah pakaian orang-orang kafir, oleh karena itu jangan kamu pakai dia.'”

    Pakaian Untuk Berfoya-foya dan Kesombongan

    Ketentuan secara umum dalam hubungannya dengan masalah menikmati hal-hal yang baik, yang berupa makanan, minuman ataupun pakaian, yaitu tidak boleh berlebih-lebihan dan untuk kesombongan.

    Berlebih-lebihan, yaitu melewati batas ketentuan dalam menikmati yang halal. Dan yang disebut kesombongan, yaitu erat sekali hubungannya dengan masalah niat, dan hati manusia itu berkait dengan masalah yang zahir. Dengan demikian apa yang disebut kesombongan itu ialah bermaksud untuk bermegah-megah dan menunjuk-nunjukkan serta menyombongkan diri terhadap orang lain. Padahal Allah samasekali tidak suka terhadap orang yang sombong.

    Seperti firmanNya:

    “Allah tidak suka kepada setiap orang yang angkuh dan sombong.” (al-Hadid: 23)

    Dan Rasulullah s.a.w. juga bersabda:

    “Barangsiapa melabuhkan kainnya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya nanti di hari kiamat.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Kemudian agar setiap muslim dapat menjauhkan diri dari hal-hal yang menyebabkan kesombongan, maka Rasulullah s.a.w. melarang berpakaian yang berlebih-lebihan, dimana hal tersebut akan dapat menimbulkan perasaan angkuh, membanggakan diri pada orang lain dengan bentuk-bentuk lahiriah yang kosong itu.

    Di dalam hadisnya, Rasulullah s.a.w. bersabda sebagai berikut,

    “Barangsiapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan, maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan nanti di hari kiamat.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah dengan sanad yang dipercaya)

    Ada seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar tentang pakaian apa yang harus dipakainya? Maka jawab Ibnu Umar: “yaitu pakaian yang kiranya kamu tidak akan dihina oleh orang-orang bodoh dan tidak dicela oleh kaum filsuf.” (Riwayat Thabarani)

    Berlebih-Lebihan Dalam Berhias dengan Mengubah Ciptaan Allah

    Islam menentang sikap berlebih-lebihan dalam berhias sampai kepada suatu batas yang menjurus kepada suatu sikap mengubah ciptaan Allah yang oleh al-Quran dinilai, bahwa mengubah ciptaan Allah itu sebagai salah satu ajakan syaitan kepada pengikut-pengikutnya, dimana syaitan akan berkata kepada pengikutnya itu sebagai berikut:

    “Sungguh akan kami pengaruhi mereka itu, sehingga mereka mau mengubah ciptaan Allah.” (an-Nisa’: 119)

    Tatoo, Kikir Gigi dan Operasi Kecantikan Hukumnya Haram

    Mentatoo badan dan mengikir gigi adalah perbuatan yang dilaknat oleh Rasulullah s.a.w., seperti tersebut dalam hadisnya:

    “Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan yang mentatoo dan minta ditatoo, dan yang mengikir gigi dan yang minta dikikir giginya.” (Riwayat Thabarani)

    Tatoo, yaitu memberi tanda pada muka dan kedua tangan dengan warna biru dalam bentuk ukiran. Sebagian orang-orang Arab, khususnya kaum perempuan, mentatoo sebagian besar badannya. Bahkan sementara pengikut-pengikut agama membuatnya tatoo dalam bentuk persembahan dan lambang-lambang agama mereka, misalnya orang-orang Kristen melukis salib di tangan dan dada mereka.

    Perbuatan-perbuatan yang rusak ini dilakukan dengan menyiksa dan menyakiti badan, yaitu dengan menusuk-nusukkan jarum pada badan orang yang ditatoo itu.

    Semua ini menyebabkan laknat, baik terhadap yang mentatoo ataupun orang yang minta ditatoo.

    Dan yang disebut mengikir gigi, yaitu merapikan dan memendekkan gigi. Biasanya dilakukan oleh perempuan. Karena itu Rasulullah melaknat perempuan-perempuan yang mengerjakan perbuatan ini (tukang kikir) dan minta supaya dikikir.

    Kalau ada laki-laki yang berbuat demikian, maka dia akan lebih berhak mendapat laknat.

    Termasuk diharamkan seperti halnya mengikir gigi, yaitu menjarangkan gigi. Dalam hal ini Rasulullah pernah melaknatnya, yaitu seperti tersebut dalam hadisnya:

    “Dilaknat perempuan-perempuan yang menjarangkan giginya supaya menjadi cantik, yang mengubah ciptaan Allah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Yang disebut al-Falaj, yaitu meletakkan sesuatu di sela-sela gigi, supaya nampak agak sedikit jarang. Di antara perempuan memang ada yang oleh Allah dicipta demikian, tetapi ada juga yang tidak begitu. Kemudian dia meletakkan sesuatu di sela-sela gigi yang berhimpitan itu, supaya giginya menjadi jarang. Perbuatan ini dianggap mengelabui orang lain dan berlebih-lebihan dalam berhias yang samasekali bertentangan dengan jiwa Islam yang sebenarnya.

    Dari hadis-hadis yang telah kita sebutkan di atas, maka kita dapat mengetahui tentang hukum operasi kecantikan seperti yang terkenal sekarang karena perputaran kebudayaan badan dan syahwat, yakni kebudayaan Barat materialistis, sehingga banyak sekali perempuan dan laki-laki yang mengorbankan uangnya beratus bahkan beribu-ribu untuk mengubah bentuk hidung, payudara atau yang lain. Semua ini termasuk yang dilaknat Allah dan RasulNya, karena di dalamnya terkandung penyiksaan dan perubahan bentuk ciptaan Allah tanpa ada suatu sebab yang mengharuskan untuk berbuat demikian, melainkan hanya untuk pemborosan dalam hal-hal yang bersifat show dan lebih mengutamakan pada bentuk, bukan inti; lebih mementingkan jasmani daripada rohani.

    Adapun kalau ternyata orang tersebut mempunyai cacat yang kiranya akan dapat menjijikkan pandangan, misalnya karena ada daging tambah yang dapat menimbulkan sakit secara perasaan ataupun secara kejiwaan kalau daging lebih itu dibiarkan, maka waktu itu tidak berdosa orang untuk berobat selama untuk tujuan demi menghilangkan penyakit yang bersarang dan mengancam hidupnya. Karena Allah tidak menjadikan agama buat kita ini dengan penuh kesukaran.

    Barangkali yang memperkuat permasalahan tersebut di atas, yaitu tentang hadis “dilaknat perempuan-perempuan yang menjarangkan giginya supaya cantik” seperti tersebut di atas. Dari hadis itu pula dapat difahamkan, bahwa yang tercela itu ialah perempuan yang mengerjakan hal tersebut semata-mata untuk tujuan keindahan dan kecantikan yang dusta. Tetapi kalau hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan penyakit atau bahaya yang mengancam, maka sedikitpun tidak ada halangan. Wallahu a’lam!

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 18 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram Pakaian dan Perhiasan 

    perhiasan-emasHalal dan Haram Pakaian dan Perhiasan

    ISLAM memperkenankan kepada setiap muslim, bahkan menyuruh supaya geraknya baik, elok dipandang dan hidupnya teratur dengan rapi untuk menikmati perhiasan dan pakaian yang telah dicipta Allah.

    Adapun tujuan pakaian dalam pandangan Islam ada dua macam; yaitu, guna menutup aurat dan berhias. Ini adalah merupakan pemberian Allah kepada umat manusia seluruhnya, di mana Allah telah menyediakan pakaian dan perhiasan, kiranya mereka mau mengaturnya sendiri.

    Maka berfirmanlah Allah s.w.t.:

    “Hai anak-cucu Adam! Sungguh Kami telah menurunkan untuk kamu pakaian yang dapat menutupi aurat-auratmu dan untuk perhiasan.” (al-A’raf: 26)

    Barangsiapa yang mengabaikan salah satu dari dua perkara di atas, yaitu berpakaian untuk menutup aurat atau berhias, maka sebenarnya orang tersebut telah menyimpang dari ajaran Islam dan mengikuti jejak syaitan. Inilah rahasia dua seruan yang dicanangkan Allah kepada umat manusia, sesudah Allah mengumandangkan seruanNya yang terdahulu itu, dimana dalam dua seruanNya itu Allah melarang keras kepada mereka telanjang dan tidak mau berhias, yang justru keduanya itu hanya mengikuti jejak syaitan belaka.

    Untuk itulah maka Allah berfirman:

    “Hai anak-cucu Adam! Jangan sampai kamu dapat diperdayakan oleh syaitan, sebagaimana mereka telah dapat mengeluarkan kedua orang tuamu (Adam dan Hawa) dari sorga, mereka dapat menanggalkan pakaian kedua orang tuamu itu supaya kelihatan kedua auratnya.” (al-A’raf: 27)

    “Hai anak-cucu Adam! Pakailah perhiasanmu di tiap-tiap masjid dan makanlah dan minumlah tetapi jangan berlebih-lebihan (boros).” (al-A’raf: 31)

    Islam mewajibkan kepada setiap muslim supaya menutup aurat, dimana setiap manusia yang berbudaya sesuai dengan fitrahnya akan malu kalau auratnya itu terbuka. Sehingga dengan, demikian akan berbedalah manusia dari binatang yang telanjang.

    Seruan Islam untuk menutup aurat ini berlaku bagi setiap manusia, kendati dia seorang diri terpencil dari masyarakat, sehingga kesopanannya itu merupakan kesopanan yang dijiwai oleh agama dan moral yang tinggi.

    Bahaz bin Hakim dari ayahnya dari datuknya menceriterakan, kata datuknya itu:

    “Ya, Rasulullah! Aurat kami untuk apa harus kami pakai, dan apa yang harus kami tinggalkan? Jawab Nabi. ‘Jagalah auratmu itu kecuali terhadap isterimu atau hamba sahayamu.’ Aku bertanya lagi: ‘Ya, Rasulullah! Bagaimana kalau suatu kaum itu bergaul satu sama lain?’ Jawab Nabi, ‘Kalau kamu dapat supaya tidak seorang pun yang melihatnya, maka janganlah dia melihat.’ Aku bertanya lagi: ‘Bagaimana kalau kami sendirian?’ Jawab Nabi, ‘Allah tabaraka wa Ta’ala, lebih berhak (seseorang) malu kepadaNya.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi, Ibnu Majah, Hakim dan Baihaqi)

    Islam Agama Bersih dan Cantik

    Sebelum Islam mencenderung kepada masalah perhiasan dan gerak yang baik, terlebih dahulu Islam mengerahkan kecenderungannya yang lebih besar kepada masalah kebersihan adalah merupakan dasar pokok bagi setiap perhiasan yang baik dan pemandangan yang elok.

    Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah s.a.w. pernah bersabda sebagai berikut:

    “Menjadi bersihlah kamu, karena sesungguhnya Islam itu bersih.” (Riwayat Ibnu Hibban)

    Dan sabdanya pula:

    “Kebersihan itu dapat mengajak orang kepada iman. Sedang iman itu akan bersama pemiliknya ke sorga.” (Riwayat Thabarani)

    Rasulullah s.a.w. sangat menekankan tentang masalah kebersihan pakaian, badan, rumah dan jalan-jalan. Dan lebih serius lagi, yaitu tentang kebersihan gigi, tangan dan kepala.

    Ini bukan suatu hal yang mengherankan, karena Islam telah meletakkan suci (bersih) sebagai kunci bagi peribadatannya yang tertinggi yaitu shalat. Oleh karena itu tidak akan diterima sembahyangnya seorang muslim sehingga badannya bersih, pakaiannya bersih dan tempat yang dipakai pun dalam keadaan bersih. Ini belum termasuk kebersihan yang diwajibkan terhadap seluruh badan atau pada anggota badan. Kebersihan yang wajib ini dalam Islam dilakukan dengan mandi dan wudhu’.

    Kalau suasana bangsa Arab itu dikelilingi oleh suasana pedesaan padang pasir di mana orang-orangnya atau kebanyakan mereka itu telah merekat dengan meremehkan urusan kebersihan dan berhias, maka Nabi Muhammad s.a.w. waktu itu memberikan beberapa bimbingan yang cukup dapat membangkitkan, serta nasehat-nasehat yang jitu, sehingga mereka naik dari sifat-sifat primitif menjadi bangsa modern dan dari bangsa yang sangat kotor menjadi bangsa yang cukup necis.

    Pernah ada seorang laki-laki datang kepada Nabi, rambut dan jenggotnya morat-marit tidak terurus, kemudian Nabi mengisyaratkan, seolah-olah memerintah supaya rambutnya itu diperbaiki, maka orang tersebut kemudian memperbaikinya, dan setelah itu dia kembali lagi menghadap Nabi.

    Maka kata Nabi:

    “Bukankah ini lebih baik daripada dia datang sedang rambut kepalanya morat-marit seperti syaitan?” (Riwayat Malik)

    Dan pernah juga Nabi melihat seorang laki-laki yang kepalanya kotor sekali.

    Maka sabda Nabi:

    “Apakah orang ini tidak mendapatkan sesuatu yang dengan itu dia dapat meluruskan rambutnya?”

    Pernah juga Nabi melihat seorang yang pakaiannya kotor sekali, maka apa kata Nabi:

    “Apakah orang ini tidak mendapatkan sesuatu yang dapat dipakai mencuci pakaiannya?” (Riwayat Abu Daud)

    Dan pernah ada seorang laki-laki datang kepada Nabi, pakaiannya sangat menjijikkan, maka tanya Nabi kepadanya:

    “Apakah kamu mempunyai uang?” Orang tersebut menjawab: “Ya! saya punya” Nabi bertanya lagi. “Dari mana uang itu?” Orang itupun kemudian menjawab: “Dari setiap harta yang Allah berikan kepadaku.” Maka kata Nabi: “Kalau Allah memberimu harta, maka sungguh Dia (lebih senang) menyaksikan bekas nikmatNya yang diberikan kepadamu dan bekas kedermawananNya itu.” (Riwayat Nasa’i)

    Masalah kebersihan ini lebih ditekankan lagi pada hari-hari berkumpul, misalnya: Pada hari Jum’at dan Hari raya. Dalam hal ini Nabi pun pernah bersabda:

    “Sebaiknyalah salah seorang di antara kamu –jika ada rezeki– memakai dua pakaian untuk hari Jum’at, selain pakaian kerja.” (Riwayat Abu Daud)

    Emas dan Sutera Asli Haram Untuk Orang Laki-Laki

    Kalau Islam telah memberikan perkenan bahkan menyerukan kepada umatnya supaya berhias dan menentang keras kepada siapa yang mengharamkannya, yaitu seperti yang dikatakan Allah dalam al-Quran:

    “Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah dikeluarkan untuk hambaNya dan begitu juga rezeki-rezeki yang baik (halal)?” (al-A’raf: 32)

    Maka dibalik itu Islam telah mengharamkan kepada orang laki-laki dua macam perhiasan, di mana kedua perhiasan tersebut justru paling manis buat kaum wanita. Dua macam perhiasan itu ialah:

    1. Berhias dengan emas.
    2. Memakai kain sutera asli.

    Ali bin Abu Talib r.a. berkata:

    “Rasulullah s.a.w. mengambil sutera, ia letakkan di sebelah kanannya, dan ia mengambil emas kemudian diletakkan di sebelah kirinya, lantas ia berkata: Kedua ini haram buat orang laki-laki dari umatku.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah)

    Tetapi Ibnu Majah menambah:

    “halal buat orang-orang perempuan.”

    Dan Saiyidina Umar pernah juga berkata:

    “Aku pernah mendengar Rasulullah s.a. w. bersabda: ‘Jangan kamu memakai sutera, karena barangsiapa memakai di dunia, nanti di akhirat tidak lagi memakainya.'” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Dan tentang masalah pakaian sutera Nabi pun pernah juga bersabda:

    “Sesungguhnya ini adalah pakaian orang yang (nanti di akhirat) tidak ada sedikitpun bagian baginya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Dan tentang masalah emas, Nabi s.a.w. pernah melihat seorang laki-laki memakai cincin emas di tangannya, kemudian oleh Nabi dicabutnya cincin itu dan dibuang ke tanah.

    Kemudian beliau bersabda:

    “Salah seorang diantara kamu ini sengaja mengambil bara api kemudian ia letakkan di tangannya. Setelah Rasulullah pergi, kepada si laki-laki tersebut dikatakan: ‘Ambillah cincinmu itu dan manfaatkanlah.’ Maka jawabnya: ‘Tidak! Demi Allah, saya tidak mengambil cincin yang telah dibuang oleh Rasulullah.'” (Riwayat Muslim)

    Dan seperti cincin, menurut apa yang kami saksikan di kalangan orang-orang kaya, yaitu mereka memakai pena emas, jam emas, gelang emas, kaling rokok emas, mulut(?)/gigi emas dan seterusnya.

    Adapun memakai cincin perak, buat orang laki-laki jelas telah dihalalkan oleh Rasulullah s.a.w., sebagaimana tersebut dalam hadis riwayat Bukhari, bahwa Rasulullah sendiri memakai cicin perak, yang kemudian cincin itu pindah ke tangan Abubakar, kemudian pindah ke tangan Umar dan terakhir pindah ke tangan Usman sehingga akhirnya jatuh ke sumur Aris (di Quba’).

    Tentang logam-logam yang lain seperti besi dan sebagainya tidak ada satupun nas yang mengharamkannya, bahkan yang ada adalah sebaliknya, yaitu Rasulullah s.a.w. pernah menyuruh kepada seorang laki-laki yang hendak kawin dengan sabdanya:

    “Berilah (si perempuan itu) mas kawin, walaupun dengan satu cincin dari besi.” (Riwayat Bukhari)

    Dari hadis inilah, maka Imam Bukhari beristidlal untuk menetapkan halalnya memakai cincin besi.

    Memakai pakaian sutera dapat diberikan keringanan (rukhshah) apabila ada suatu keperluan yang berhubungan dengan masalah kesehatan, yaitu sebagaimana Rasulullah pernah mengizinkan Abdur-Rahman bin ‘Auf dan az-Zubair bin Awwam untuk memakai sutera karena ada luka di bagian badannya.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 17 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram Memelihara Rambut 

    rambutwarna280Halal dan Haram Memelihara Rambut

    Menipiskan Alis

    Salah satu cara berhias yang berlebih-lebihan yang diharamkan Islam, yaitu mencukur rambut alis mata untuk ditinggikan atau disamakan. Dalam hal ini Rasulullah pernah melaknatnya, seperti tersebut dalam hadis:

    “Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan-perempuan yang mencukur alisnya atau minta dicukurkan alisnya.” (Riwayat Abu Daud, dengan sanad yang hasan. Demikian menurut apa yang tersebut dalam Fathul Baari)

    Sedang dalam Bukhari disebut:

    Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan-perempuan yang minta dicukur alisnya.

    Lebih diharamkan lagi, jika mencukur alis itu dikerjakan sebagai simbol bagi perempuan-perempuan cabul.

    Sementara ulama madzhab Hanbali berpendapat, bahwa perempuan diperkenankan mencukur rambut dahinya, mengukir, memberikan cat merah (make up) dan meruncingkan ujung matanya, apabila dengan seizin suami, karena hal tersebut termasuk berhias.

    Tetapi oleh Imam Nawawi diperketat, bahwa mencukur rambut dahi itu samasekali tidak boleh. Dan dibantahnya dengan membawakan riwayat yang tersebut dalam Sunan Abu Daud: Bahwa yang disebut namishah (mencukur alis) sehingga tipis sekali. Dengan demikian tidak termasuk menghias muka dengan menghilangkan bulu-bulunya.

    Imam Thabari meriwayatkan dari isterinya Abu Ishak, bahwa satu ketika dia pernah ke rumah Aisyah, sedang isteri Abu Ishak adalah waktu itu masih gadis nan jelita. Kemudian dia bertanya: Bagaimana hukumnya perempuan yang menghias mukanya untuk kepentingan suaminya? Maka jawab Aisyah: Hilangkanlah kejelekan-kejelekan yang ada pada kamu itu sedapat mungkin.

    Menyambung Rambut

    Termasuk perhiasan perempuan yang terlarang ialah menyambung rambut dengan rambut lain, baik rambut itu asli atau imitasi seperti yang terkenal sekarang ini dengan nama wig.

    Imam Bukhari meriwayatkan dari jalan Aisyah, Asma’, Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar dan Abu Hurairah sebagai berikut:

    “Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan yang menyambung rambut atau minta disambungkan rambutnya.”

    Bagi laki-laki lebih diharamkan lagi, baik dia itu bekerja sebagai tukang menyambung seperti yang dikenal sekarang tukang rias ataupun dia minta disambungkan rambutnya, jenis perempuan-perempuan wadam (laki-laki banci) seperti sekarang ini.

    Persoalan ini oleh Rasulullah s.a.w, diperkeras sekali dan digiatkan untuk memberantasnya. Sampai pun terhadap perempuan yang rambutnya gugur karena sakit misalnya, atau perempuan yang hendak menjadi pengantin untuk bermalam pertama dengan suaminya, tetap tidak boleh rambutnya itu disambung.

    Aisyah meriwayatkan:

    “Seorang perempuan Anshar telah kawin, dan sesungguhnya dia sakit sehingga gugurlah rambutnya, kemudian keluarganya bermaksud untuk menyambung rambutnya, tetapi sebelumnya mereka bertanya dulu kepada Nabi, maka jawab Nabi: Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut dan yang minta disambung rambutnya.” (Riwayat Bukhari)

    Asma’ juga pernah meriwayatkan:

    “Ada seorang perempuan bertanya kepada Nabi s.a.w.: Ya Rasulullah, sesungguhnya anak saya terkena suatu penyakit sehingga gugurlah rambutnya, dan saya akan kawinkan dia apakah boleh saya sambung rambutnya? Jawab Nabi: Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut dan yang minta disambungkan rambutnya.” (Riwayat Bukhari)

    Said bin al-Musayib meriwayatkan:

    “Muawiyah datang ke Madinah dan ini merupakan kedatangannya yang paling akhir di Madinah, kemudian ia bercakap-cakap dengan kami. Lantas Muawiyah mengeluarkan satu ikat rambut dan ia berkata: Saya tidak pernah melihat seorangpun yang mengerjakan seperti ini kecuali orang-orang Yahudi, dimana Rasulullah s.a.w. sendiri menamakan ini suatu dosa yakni perempuan yang menyambung rambut (adalah dosa).”

    Dalam satu riwayat dikatakan, bahwa Muawiyah berkata kepada penduduk Madinah:

    “Di mana ulama-ulamamu? Saya pernah mendengar sendiri Rasulullah s.a.w. bersabda: Sungguh Bani Israel rusak karena perempuan-perempuannya memakai ini (cemara).” (Riwayat Bukhari)

    Rasulullah menamakan perbuatan ini zuur (dosa) berarti memberikan suatu isyarat akan hikmah diharamkannya hal tersebut. Sebab hal ini tak ubahnya dengan suatu penipuan, memalsu dan mengelabui. Sedang Islam benci sekali terhadap perbuatan menipu; dan samasekali antipati terhadap orang yang menipu dalam seluruh lapangan muamalah, baik yang menyangkut masalah material ataupun moral. Kata Rasulullah s.a.w.:

    “Barangsiapa menipu kami, bukanlah dari golongan kami.” (Riwayat Jamaah sahabat)

    Al-Khaththabi berkata: Adanya ancaman yang begitu keras dalam persoalan-persoalan ini, karena di dalamnya terkandung suatu penipuan. Oleh karena itu seandainya berhias seperti itu dibolehkan, niscaya cukup sebagai jembatan untuk bolehnya berbuat bermacam-macam penipuan. Di samping itu memang ada unsur perombakan terhadap ciptaan Allah. Ini sesuai dengan isyarat hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud yang mengatakan “… perempuan-perempuan yang merombak ciptaan Allah.”

    Yang dimaksud oleh hadis-hadis tersebut di atas, yaitu menyambung rambut dengan rambut, baik rambut yang dimaksud itu rambut asli ataupun imitasi. Dan ini pulalah yang dimaksud dengan memalsu dan mengelabui. Adapun kalau dia sambung dengan kain atau benang dan sabagainya, tidak masuk dalam larangan ini. Dan dalam hal inf Said bin Jabir pernah mengatakan:

    “Tidak mengapa kamu memakai benang.”

    Yang dimaksud [tulisan Arab] di sini ialah benang sutera atau wool yang biasa dipakai untuk menganyam rambut (jw. kelabang), dimana perempuan selalu memakainya untuk menyambung rambut. Tentang kebolehan memakai benang ini telah dikatakan juga oleh Imam Ahmad.21

    Semir Rambut

    Termasuk dalam masalah perhiasan, yaitu menyemir rambut kepala atau jenggot yang sudah beruban.

    Sehubungan dengan masalah ini ada satu riwayat yang menerangkan, bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak memperkenankan menyemir rambut dan merombaknya, dengan suatu anggapan bahwa berhias dan mempercantik diri itu dapat menghilangkan arti beribadah dan beragama, seperti yang dikerjakan oleh para rahib dan ahli-ahli Zuhud yang berlebih-lebihan itu. Namun Rasulullah s.a.w. melarang taqlid pada suatu kaum dan mengikuti jejak mereka, agar selamanya kepribadian umat Islam itu berbeda, lahir dan batin. Untuk itulah maka dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w. mengatakan:

    “Sesungguhnya orang-orang Yahudi tidak mau menyemir rambut, karena itu berbedalah kamu dengan mereka.” (Riwayat Bukhari)

    Perintah di sini mengandung arti sunnat, sebagaimana biasa dikerjakan oleh para sahabat, misalnya Abubakar dan Umar. Sedang yang lain tidak melakukannya, seperti Ali, Ubai bin Kaab dan Anas.

    Tetapi warna apakah semir yang dibolehkan itu? Dengan warna hitam dan yang lainkah atau harus menjauhi warna hitam? Namun yang jelas, bagi orang yang sudah tua, ubannya sudah merata baik di kepalanya ataupun jenggotnya, tidak layak menyemir dengan warna hitam. Oleh karena itu tatkala Abubakar membawa ayahnya Abu Kuhafah ke hadapan Nabi pada hari penaklukan Makkah, sedang Nabi melihat rambutnya bagaikan pohon tsaghamah yang serba putih buahnya maupun bunganya.

    Untuk itu, maka bersabdalah Nabi:

    “Ubahlah ini (uban) tetapi jauhilah warna hitam.” (Riwayat Muslim)

    Adapun orang yang tidak seumur dengan Abu Kuhafah (yakni belum begitu tua), tidaklah berdosa apabila menyemir rambutnya itu dengan warna hitam. Dalam hal ini az-Zuhri pernah berkata: “Kami menyemir rambut dengan warna hitam apabila wajah masih nampak muda, tetapi kalau wajah sudah mengerut dan gigi pun telah goyah, kami tinggalkan warna hitam tersebut.”

    Termasuk yang membolehkan menyemir dengan warna hitam ini ialah segolongan dari ulama salaf termasuk para sahabat, seperti: Saad bin Abu Waqqash, Uqbah bin Amir, Hasan, Husen, Jarir dan lain-lain.

    Sedang dari kalangan para ulama ada yang berpendapat tidak boleh warna hitam kecuali dalam keadaan perang supaya dapat menakutkan musuh, kalau mereka melihat tentara-tentara Islam semuanya masih nampak muda.

    Dan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dzar mengatakan:

    “Sebaik-baik bahan yang dipakai untuk menyemir uban ialah pohon inai dan katam.” (Riwayat Tarmizi dan Ashabussunan)

    Inai berwarna merah, sedang katam sebuah pohon yang tumbuh di zaman Rasulullah s.a.w. yang mengeluarkan zat berwarna hitam kemerah-merahan.

    Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa Abubakar menyemir rambutnya dengan inai dan katam, sedang Umar hanya dengan inai saja.

    Memelihara Jenggot

    Termasuk yang urgen dalam permasalahan kita ini, ialah tentang memelihara jenggot. Untuk ini Ibnu Umar telah meriwayatkan dari Nabi s.a.w. yang mengatakan sebagai berikut:

    “Berbedalah kamu dengan orang-orang musyrik, peliharalah jenggot dan cukurlah kumis.” (Riwayat Bukhari)

    Perkataan i’fa (pelihara) dalam riwayat lain diartikan tarkuha wa ibqaauha (tinggalkanlah dan tetapkanlah).

    Hadis ini menerangkan alasan diperintahkannya untuk memelihara jenggot dan mencukur kumis, yaitu supaya berbeda dengan orang-orang musyrik. Sedang yang dimaksud orang-orang musyrik di sini ialah orang-orang Majusi penyembah api, dimana mereka itu biasa menggunting jenggotnya, bahkan ada yang mencukurnya.

    Perintah Rasulullah ini mengandung pendidikan untuk umat Islam supaya mereka mempunyai kepribadian tersendiri serta berbeda dengan orang kafir lahir dan batin, yang tersembunyi maupun yang tampak. Lebih-lebih dalam hal mencukur jenggot ini ada unsur-unsur menentang fitrah dan menyerupai orang perempuan. Sebab jenggot adalah lambang kesempurnaan laki-laki dan tanda-tanda yang membedakan dengan jenis lain.

    Namun demikian, bukan berarti samasekali tidak boleh memotong jenggot dimana kadang-kadang jenggot itu kalau dibiarkan bisa panjang yang menjijikkan yang dapat mengganggu pemiliknya. Untuk itulah maka jenggot yang demikian boleh diambil/digunting kebawah maupun kesamping, sebagaimana tersebut dalam hadis rlwayat Tarmizi. Hal ini pernah juga dikerjakan oleh sementara ulama salaf, seperti kata Iyadh: “Mencukur, menggunting dan mencabut jenggot dimakruhkan. Tetapi kalau diambil dari panjangnya atau ke sampingnya apabila ternyata jenggot itu besar (tebal), maka itu satu hal yang baik.”

    Dan Abu Syamah juga berkata: “Terdapat suatu kaum yang biasa mencukur jenggotnya. Berita yang terkenal, bahwa yang berbuat demikian itu ialah orang-orang Majusi, bahwa mereka itu biasa mencukur jenggotnya.”

    Kami berpendapat: Bahwa kebanyakan orang-orang Islam yang mencukur jenggotnya itu lantaran mereka meniru musuh-musuh mereka dan kaum penjajah negeri mereka dan orang-orang Yahudi dan Kristen. Sebagaimana kelazimannya, bahwa orang-orang yang kalah senantiasa meniru orang yang menang. Mereka melakukan hal itu jelas telah lupa kepada perintah Rasulullah yang menyuruh supaya mereka berbeda dengan orang-orang kafir. Di samping itu mereka telah lupa pula terhadap larangan Nabi tentang menyerupai orang kafir, seperti yang tersebut dalam hadisnya yang mengatakan:

    “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia itu termasuk golongan mereka.” (Riwayat Abu Dawud)

    Kebanyakan ahli-ahli fiqih yang berpendapat tentang haramnya mencukur jenggot itu berdalil perintah Rasul di atas. Sedang tiap-tiap perintah asalnya menunjukkan pada wajib, lebih-lebih Rasulullah sendiri telah memberikan alasan perintahnya itu supaya kita berbeda dengan orang-orang kafir. Dan berbeda dengan orang kafir itu sendiri hukumnya wajib pula.

    Tidak seorang pun ulama salaf yang meninggalkan kewajiban ini. Tetapi sementara ulama-ulama sekarang ada yang membolehkan mencukur jenggot karena terpengaruh oleh keadaan dan memang karena bencana yang telah meluas. Mereka ini berpendapat, bahwa memelihara jenggot itu termasuk perbuatan Rasulullah yang bersifat duniawiah, bukan termasuk persoalan syara’ yang harus ditaati. Tetapi yang benar, bahwa memelihara jenggot itu bukan sekedar fi’liyah Nabi, bahkan ditegaskan pula dengan perintah dan disertai alasan supaya berbeda dengan orang kafir,

    Ibnu Taimiyah menegaskan, bahwa berbeda dengan orang kafir adalah suatu hal yang oleh syara’ ditekankan. Dan menyerupai orang kafir dalam lahiriahnya dapat menimbulkan perasaan kasih dalam hatinya, sebagaimana perasaan kasih dalam batin dapat menimbulkan perasaan dalam lahir. Ini sudah dibuktikan sendiri oleh suatu kenyataan dan diperoleh berdasarkan suatu percobaan.

    Selanjutnya ia berkata: Al-Quran, Hadis dan Ijma’ sudah menegaskan terhadap perintah supaya berbeda dengan orang kafir dan dilarang menyerupai mereka secara keseluruhannya. Apa saja yang kiranya menimbulkan kerusakan walaupun agak tersembunyi, maka sudah dapat dikaitkan dengan suatu hukum dan dapat dinyatakan haram. Maka dalam hal menyerupai orang kafir pada lahiriahnya sudah merupakan sebab untuk menyerupai akhlak dan perbuatannya yang tercela, bahkan akan bisa berpengaruh pada kepercayaan. Pengaruhnya ini memang tidak dapat dikonkritkan, dan kejelekan yang ditimbulkan akibat dari sikap menyerupai itu sendiri kadang-kadang tidak begitu jelas, bahkan kadang-kadang sukar dibuktikan. Tetapi setiap hal yang menjadi sebab timbulnya suatu kerusakan, syara’ menganggapnya suatu hal yang haram.25

    Dari keterangan-keterangan di atas dapat kita simpulkan, bahwa masalah mencukur jenggot ini ada tiga pendapat:

    Pendapat pertama: Hukumnya haram. Yang berpendapat demikian, ialah Ibnu Taimiyah dan lain-lain.

    Pendapat kedua: Makruh. Yang berpendapat demikian ialah Iyadh, sebagaimana tersebut dalam Fathul Bari. Sedang ulama lain tidak ada yang berpendapat demikian.

    Pendapat ketiga: Mubah. Yang berpendapat demikian sementara ulama sekarang.

    Tetapi barangkali yang agak moderat dan bersikap tengah-tengah yaitu pendapat yang menyatakan makruh. Sebab tiap-tiap perintah tidak selamanya menunjukkan pada wajib, sekalipun dalam hal ini Nabi telah memberikan alasannya supaya berbeda dengan orang kafir. Perbandingan yang lebih mendekati kepada persoalan ini ialah tentang perintah menyemir rambut supaya berbeda dengan orang Yahudi dan Kristen. Tetapi sebagian sahabat ada yang tidak mengerjakannya. Oleh karena itu perintah tersebut sekedar menunjukkan sunnat.

    Betul tidak ada seorang pun ulama salaf yang mencukur jenggot, tetapi barangkali saja karena mereka tidak begitu memerlukan, karena memelihara jenggot waktu itu sudah menjadi kebiasaan mereka

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:44 pm on 16 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram Dalam Rumah 

    rumah21Halal dan Haram Dalam Rumah

    RUMAH adalah tempat yang dipakai seseorang untuk melindungi kebiasaan-kebiasaan tabiat dan dapat melepaskan diri dari ikatan-ikatan masyarakat sehingga dengan demikian tubuh ini bisa istirahat dan jiwa bisa tenang.

    Untuk itulah Allah berfirman dalam hubungannya dengan mengetengahkan kenikmatannya kepada manusia:

    “Allah menjadikan untuk kamu rumah-rumah kamu sebagai tempat ketenangan.” (an-Nahl: 80)

    Rasulullah s.a.w. senang sekali rumah yang luas, dan dimasukkan sebagai unsur kebahagiaan duniawi.

    Maka sabdanya:

    “Empat hal yang membawa kebahagiaan, yaitu perempuan salehah, rumah yang luas, tetangga yang baik dan kendaraan yang enak.” (Riwayat Ibnu Hibban)

    Dan doa yang sering diucapkan Nabi ialah:

    “Ya Allah! Ampunilah dosaku, luaskanlah rumahku, berilah barakah dalam rezekiku! Kemudian beliau ditanya: Mengapa doa ini yang banyak engkau baca, ya Rasulullah? Maka jawab Nabi: Apa ada sesuatu yang lain yang kamu cintai?” (Riwayat Nasa’i dan Ibnu Sunni)

    Rasulullah juga memerintahkan supaya rumah-rumah kita itu bersih, agar nampak syiar Islam yang diantaranya ialah bersih, dan agar merupakan tanda yang dapat membedakan seorang muslim dengan orang lain yang menurut penilaian agamanya, bahwa kotor itu merupakan salah satu wasilah untuk berkorban kepada Allah.

    Sabda Rasulullah s.a.w.:

    “Sesungguhnya Allah itu baik, Dia suka kepada yang baik. Dia juga bersih, suka kepada yang bersih. Dia juga mulia, suka kepada yang mulia. Dia juga dermawan, sangat suka kepada yang dermawan. Oleh karena itu bersihkanlah halaman rumahmu, jangan kamu menyerupai orang-orang Yahudi.” (Riwayat Tarmizi)

    Lambang-Lambang Kemewahan dan Kemusyrikan

    Seorang muslim tidak dilarang untuk menghias rumahnya dengan karangan bunga yang warna-warni, dan ukiran-ukiran serta hiasan yang halal.

    Sebab Allah telah berfirman:

    “Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah ia keluarkan untuk hamba-hambanya?” (al-A’raf: 32)

    Betul seorang muslim tidak berdosa untuk menghias rumahnya, pakaiannya, sandalnya dan sebagainya.

    Sebab Rasulullah pernah juga bersabda:

    “Tidak akan masuk sorga orang yang dalam hatinya ada seberat zarrah daripada kesombongan. Kemudian ada seorang laki-laki yang bertanya: Ya Rasulullah! Seseorang itu biasa senang kalau pakaiannya itu baik dan sandalnya pun baik pula, apakah itu termasuk sombong? Jawab Nabi. Sesungguhnya Allah itu baik, Ia suka kepada yang baik.” (Riwayat Muslim)

    Dan di satu riwayat disebutkan:

    “Ada seorang laki-laki ganteng datang kepada Nabi, kemudian ia bertanya: Saya ini sangat suka kepada keindahan, dan saya sendiri telah diberi keindahan itu sebagaimana engkau lihat, sehingga aku tidak suka kalau ada seseorang yang mau mengatasi aku dengan menyamai sandalnya, apakah ini termasuk sombong ya Rasulullah? Jawab Nabi.”Tidak!” Sebab yang disebut sombong ialah menolak kebenaran dan menghina orang lain.” (Riwayat Abu Daud)

    Namun demikian, Islam tidak suka kepada berlebih-lebihan dalam segala hal. Dan Nabi sendiri tidak senang seorang muslim yang rumahnya itu penuh dengan lambang-lambang kemewahan dan berlebih-lebihan yang sangat dicela oleh al-Quran, atau rumahnya itu ada lambang-lambang kemusyrikan yang sangat ditentang oleh Agama Tauhid dengan segala macam senjata yang mungkin.

    Bejana Emas dan Perak

    Untuk itulah, maka Islam mengharamkan membuat bejana dari emas atau perak dan seperei-seperei sutera murni dalam rumah seorang muslim. Nabi sendiri memberikan ancaman keras terhadap orang yang cenderung kepada cara-cara ini.

    Kata Ummu Salamah ummul mu’minin:

    “Sesungguhnya orang yang makan dan minum dengan bejana emas dan perak, maka akan gemercik suara api neraka dalam perutnya.” (Riwayat Muslim)

    Dan Huzaifah juga pernah mengatakan:

    “Rasulullah melarang kami minum dengan bejana emas dan perak atau kita makan dengannya, dan melarang memakai pakaian sutera tipis dan sutera tebal serta dilarang kita duduk di atasnya. Kemudian Nabi bersabda pula: Kain ini untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia, dan untuk kamu nanti di akhirat.” (Riwayat Bukhari)

    Jadi kalau kita dilarang memakainya, berarti haram juga membuatnya untuk hiasan.

    Diharamkan bejana emas/perak dan seperei-seperei sutera itu, berlaku untuk laki-laki dan perempuan. Sedang hikmahnya agama mengharamkan hal-hal tersebut dengan suatu tujuan untuk membersihkan rumah dari unsur-unsur kemewahan/berlebih-lebihan.

    Tepat sekali apa yang dikatakan Ibnu Qudamah: hal tersebut di atas berlaku sama antara laki-laki dan perempuan karena umumnya hadis, dan karena alasan diharamkannya justru karena berlebih-lebihan dan kesombongan serta dapat memecahkan perasaan hati orang-orang fakir. Pengertian seperti ini meliputi kedua belah pihak. Adapun dibolehkannya perempuan berhias dengan emas dan sutera adalah demi kepentingan suami, bukan untuk orang lain.

    Kalau ditanyakan: Andaikata alasan diharamkannya itu seperti yang tersebut di atas, niscaya mutiara dan sebagainya adalah juga diharamkan karena harganya lebih tinggi? Untuk masalah ini akan kami jawab sebagai berikut: Mutiara (yakut) itu tidak begitu dikenal di kalangan orang miskin, oleh karena itu tidak dapat memecahkan perasaan hati mereka jika orang-orang kaya itu menjadikan benda ini sebagai hiasan, walaupun sesudah itu mereka menjadi kenal dengan yakut. Dan justru jarangnya yakut itu sendiri menyebabkan tidak ada orang kaya yang memakainya sebagai hiasan, sehingga dengan demikian tidak perlu lagi diharamkan walaupun ada perbedaan harga yang sangat menyolok.

    Ditinjau dari segi ekonomi, seperti yang telah kami sebutkan juga dalam hikmah diharamkannya emas untuk orang laki-laki, maka di bab ini hikmah tersebut akan lebih nampak dan lebih jelas. Sebab emas dan perak merupakan standard uang internasional yang oleh Allah dijadikan sebagai ukuran harga uang dan sebagai standard yang akan menentukan harga itu dengan adil serta memudahkan peredaran uang di kalangan orang banyak. Maka atas bimbingan Allah kepada umat manusia untuk menggunakan uang sebagai nikmat yang diberikan kepada mereka, uang tersebut harus diedarkan di kalangan orang banyak, jangan ditahan di rumah dalam bentuk uang yang tersimpan, atau dihilangkan dalam bentuk bejana dan alat-alat perhiasan lainnya.

    Betapa indahnya pula apa yang dikatakan Imam Ghazali dalam Syukur Nikmat didalam bukunya Ihya’. Ia mengatakan sebagai berikut: “Siapapun yang menjadikan dirham dan dinar sebagai bejana dari emas dan perak, berarti dia telah kufur nikmah (tidak tahu berterimakasih), dan dia lebih jahat daripada menyimpannya. Karena hal seperti ini sama halnya dengan orang yang memaksa kepala negara untuk bekerja sebagai tukang tenun dan tukang sapu tanpa upah, atau untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh manusia-manusia rendahan. Jadi menahan harta, lebih rendah dari itu semua. Sebab perkakas dari tanah, besi, timah dan tembaga menduduki fungsi emas dan perak sebagai alat untuk menjaga makanan supaya tidak rusak. Karena fungsi bejana pada hakikatnya adalah guna menjaga makanan. Maka tanpa uang alat-alat dari tanah dan besi itu tidak dapat memenuhi apa yang dimaksud.

    Jelasnya, barangsiapa yang kurang faham persoalan ini, kiranya cukup memahami terjemahan Tuhan dalam hal tersebut yang dilukiskan dalam bentuk ungkapannya: “barangsiapa minum dengan bejana emas atau perak, maka seolah-olah suara api neraka itu gemercik dalam perutnya.”

    Bentuk larangan ini jangan diartikan mempersempit gerak umat Islam dalam rumahtangga, sebab dalam masalah halal yang baik, mempunyai lapangan yang sangat luas. Berapa banyak bejana dari perunggu, dari kaca, dari tanah, dari tembaga dan dari tambang-tambang lain yang lebih bagus. Berapa banyak pula seperai dan bantal dari katun dan kapuk yang lebih indah daripada bahan lain!

    Islam Mengharamkan Patung

    Islam mengharamkan dalam rumahtangga Islam meliputi masalah patung. Sebab adanya patung dalam suatu rumah, menyebabkan Malaikat akan jauh dari rumah itu, padahal Malaikat akan membawa rahmat dan keridhaan Allah untuk isi rumah tersebut.

    Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

    “Sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk suatu rumah yang di dalamnya ada patung.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Ulama-ulama berkata: Malaikat tidak mau masuk rumah yang ada patungnya, karena pemiliknya itu menyerupai orang kafir, dimana mereka biasa meletakkan patung dalam rumah-rumah mereka untuk diagungkan. Untuk itulah Malaikat tidak suka dan mereka tidak mau masuk bahkan menjauh dari rumah tersebut.

    Oleh karenanya, Islam melarang keras seorang muslim bekerja sebagai tukang pemahat patung, sekalipun dia membuat patung itu untuk orang lain.

    Sabda Rasulullah s.a.w.:

    “Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya nanti di hari kiamat, yaitu orang-orang yang menggambar gambar-gambar ini. Dalam satu riwayat dikatakan: Orang-orang yang menandingi ciptaan Allah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Dan Rasulullah s.a.w. memberitahukan juga dengan sabdanya:

    “Barangsiapa membuat gambar (patung) nanti di hari kiamat dia akan dipaksa untuk meniupkan roh padanya; padahal dia selamanya tidak akan bisa meniupkan roh itu.” (Riwayat Bukhari)

    Maksud daripada hadis ini, bahwa dia akan dituntut untuk menghidupkan patung tersebut.

    Perintah ini sebenarnya hanya suatu penghinaan dan mematahkan, sebab dia tidak mungkin dapat

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 15 February 2016 Permalink | Balas  

    Lukisan dan Ukiran 

    siluet bukuLukisan dan Ukiran

    Demikianlah pendirian Islam terhadap gambar yang bertubuh, yakni yang sekarang dikenal dengan patung atau monumen. Tetapi bagaimanakah hukumnya gambar-gambar dan lukisan-lukisan seni yang dilukis di lembaran-lembaran, seperti kertas, pakaian, dinding, lantai, uang dan sebagainya itu?

    Jawabnya: Bahwa hukumnya tidak jelas, kecuali kita harus melihat gambar itu sendiri untuk tujuan apa? Di mana dia itu diletakkan? Bagaimana diperbuatnya? Dan apa tujuan pelukisnya itu?

    Kalau lukisan seni itu berbentuk sesuatu yang disembah selain Allah, seperti gambar al-Masih bagi orang-orang Kristen atau sapi bagi orang-orang Hindu dan sebagainya, maka bagi si pelukisnya untuk tujuan-tujuan di atas, tidak lain dia adalah menyiarkan kekufuran dan kesesatan. Dalam hal ini berlakulah baginya ancaman Nabi yang begitu keras:

    “Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya nanti di hari kiamat ialah orang-orang yang menggambar.” (Riwayat Muslim)

    Imam Thabari berkata: “Yang dimaksud dalam hadis ini, yaitu orang-orang yang menggambar sesuatu yang disembah selain Allah, sedangkan dia mengetahui dan sengaja. Orang yang berbuat demikian adalah kufur. Tetapi kalau tidak ada maksud seperti di atas, maka dia tergolong orang yang berdosa sebab menggambar saja.”

    Yang seperti ini ialah orang yang menggantungkan gambar-gambar tersebut untuk dikuduskan. Perbuatan seperti ini tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim, kecuali kalau agama Islam itu dibuang di belakang punggungnya.

    Dan yang lebih mendekati persoalan ini ialah orang yang melukis sesuatu yang tidak biasa disembah, tetapi dengan maksud untuk menandingi ciptaan Allah. Yakni dia beranggapan, bahwa dia dapat membuat dan menciptakan jenis terbaru seperti ciptaan Allah. Orang yang melukis dengan tujuan seperti itu jelas telah keluar dari agama Tauhid. Terhadap orang ini berlakulah hadis Nabi yang mengatakan:

    “Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya ialah orang-orang yang menandingi ciptaan Allah.” (Riwayat Muslim)

    Persoalan ini tergantung pada niat si pelukisnya itu sendiri.

    Barangkali hadis ini dapat diperkuat dengan hadis yang mengatakan:

    “Siapakah orang yang lebih berbuat zalim selain orang yang bekerja membuat seperti pembuatanku? Oleh karena itu cobalah mereka membuat biji atau zarrah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Allah mengungkapkan firmanNya di sini dengan kata-kata “dzahaba yakhluqu kakhalqi” (dia bekerja untuk membuat seperti pembuatanku), ini menunjukkan adanya suatu kesengajaan untuk menandingi dan menentang kekhususan Allah dalam ciptaannya dan keindahannya. Oleh karena itu Allah menentang mereka supaya membuat sebutir zarrah. Ia memberikan isyarat, bahwa mereka itu benar-benar bersengaja untuk maksud tersebut. Justru itu Allah akan membalas mereka itu nanti dan mengatakan kepada mereka: “Hidupkan apa yang kamu cipta itu!” Mereka dipaksa untuk meniupkan roh ke dalam lukisannya itu, padahal dia tidak akan mampu.

    Termasuk gambar/lukisan yang diharamkan, yaitu gambar/lukisan yang dikuduskan (disucikan) oleh pemiliknya secara keagamaan atau diagung-agungkan secara keduniaan.

    Untuk yang pertama: Seperti gambar-gambar Malaikat dan para Nabi, misalnya Nabi Ibrahim, Ishak, Musa dan sebagainya. Gambar-gambar ini biasa dikuduskan oleh orang-orang Nasrani, dan kemudian sementara orang-orang Islam ada yang menirunya, yaitu dengan melukiskan Ali, Fatimah dan lain-lain.

    Sedang untuk yang kedua: Seperti gambar raja-raja, pemimpin-pemimpin dan seniman-seniman. Ini dosanya tidak seberapa kalau dibandingkan dengan yang pertama tadi. Tetapi akan meningkat dosanya, apabila yang dilukis itu orang-orang kafir, orang-orang yang zalim atau orang-orang yang fasik. Misalnya para hakim yang menghukum dengan selain hukum Allah, para pemimpin yang mengajak umat untuk berpegang kepada selain agama Allah atau seniman-seniman yang mengagung-agungkan kebatilan dan menyiar-nyiarkan kecabulan di kalangan umat.

    Kebanyakan gambar-gambar/lukisan-lukisan di zaman Nabi dan sesudahnya, adalah lukisan-lukisan yang disucikan dan diagung-agungkan. Sebab pada umumnya lukisan-lukisan itu adalah buatan Rum dan Parsi (Nasrani dan Majusi). Oleh karena itu tidak dapat melepaskan pengaruhnya terhadap pengkultusan kepada pemimpin-pemimpin agama dan negara.

    Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Abu Dhuha pernah berkata sebagai berikut: Saya dan Masruq berada di sebuah rumah yang di situ ada beberapa patung. Kemudian Masruq berkata kepadaku: Apakah ini patung Kaisar? Saya jawab: Tidak! Ini adalah patung Maryam.

    Masruq bertanya demikian, karena menurut anggapannya, bahwa lukisan itu buatan Majusi dimana mereka biasa melukis raja-raja mereka di bejana-bejana. Tetapi akhirnya ketahuan, bahwa patung tersebut adalah buatan orang Nasrani.

    Dalam kisah ini Masruq kemudian berkata: Saya pernah mendengar Ibnu Mas’ud menceriterakan apa yang ia dengar dari Nabi s.a.w., bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya di sisi Allah, ialah para pelukis.”

    Selain gambar-gambar di atas, yaitu misalnya dia menggambar/melukis makhluk-makhluk yang tidak bernyawa seperti tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, laut, gunung, matahari, bulan, bintang dan sebagainya. Maka hal ini sedikitpun tidak berdosa dan tidak ada pertentangan samasekali di kalangan para ulama.

    Tetapi gambar-gambar yang bernyawa kalau tidak ada unsur-unsur larangan seperti tersebut di atas, yaitu bukan untuk disucikan dan diagung-agungkan dan bukan pula untuk maksud menyaingi ciptaan Allah, maka menurut hemat saya tidak haram. Dasar daripada pendapat ini adalah hadis sahih, antara lain:

    “Dari Bisir bin Said dari Zaid bin Khalid dari Abu Talhah sahabat Nabi, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada gambar.” (Riwayat Muslim)

    Bisir berkata: Sesudah itu Zaid mengadukan. Kemudian kami jenguk dia, tiba-tiba di pintu rumah Zaid ada gambarnya. Lantas aku bertanya kepada Ubaidillah al-Khaulani anak tiri Maimunah isteri Nabi: Apakah Zaid belum pernah memberitahumu tentang gambar pada hari pertama? Kemudian Ubaidillah berkata: Apakah kamu tidak pernah mendengar dia ketika ia berkata: “Kecuali gambar di pakaian.”

    Tarmizi meriwayatkan dengan sanadnya dari Utbah, bahwa dia pernah masuk di rumah Abu Talhah al-Ansari untuk menjenguknya, tiba-tiba di situ ada Sahal bin Hanif. Kemudian Abu Talhah menyuruh orang supaya mencabut seprei yang di bawahnya (karena ada gambarnya). Sahal lantas bertanya kepada Abu Talhah: Mengapa kau cabut dia? Abu Talhah menjawab: Karena ada gambarnya, dimana hal tersebut telah dikatakan oleh Nabi yang barangkali engkau telah mengetahuinya. Sahal kemudian bertanya lagi: Apakah beliau (Nabi) tidak pernah berkata: “Kecuali gambar yang ada di pakaian?” Abu Talhah kemudian menjawab: Betul! Tetapi itu lebih menyenangkan hatiku.” (Kata Tarmizi: hadis ini hasan sahih)

    Tidakkah dua hadis di atas sudah cukup untuk menunjukkan, bahwa gambar yang dilarang itu ialah yang berjasad atau yang biasa kita istilahkan dengan patung? Adapun gambar-gambar ataupun lukisan-lukisan di papan, pakaian, lantai, tembok dan sebagainya tidak ada satupun nas sahih yang melarangnya.

    Betul di situ ada beberapa hadis sahih yang menerangkan bahwa Nabi menampakkan ketidak-sukaannya, tetapi itu sekedar makruh saja. Karena di situ ada unsur-unsur menyerupai orang-orang yang bermewah-mewah dan penggemar barang-barang rendahan.

    Imam Muslim meriwayatkan dari jalan Zaid bin Khalid al-Juhani dari Abu Talhah al-Ansari, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan patung. Saya (Zaid) kemudian bertanya kepada Aisyah: Sesungguhnya ini (Abu Talhah) memberitahuku, bahwa Rasulullah s.a.w. telah bersabda. Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan patung. Apakah engkau juga demikian? Maka kata Aisyah: Tidak! Tetapi saya akan menceriterakan kepadamu apa yang pernah saya lihat Nabi kerjakan, yaitu: Saya lihat Nabi keluar dalam salah satu peperangan, kemudian saya membuat seprei korden (yang ada gambarnya) untuk saya pakai menutup pintu. Setelah Nabi datang, ia melihat korden tersebut. Saya lihat tanda marah pada wajahnya, lantas dicabutnya korden tersebut sehingga disobek atau dipotong sambil ia berkata: Sesungguhnya Allahi tidak menyuruh kita untuk memberi pakaian kepada batu dan tanah. Kata Aisyah selanjutnya: Kemudian kain itu saya potong daripadanya untuk dua bantal dan saya penuhi dengan kulit buah-buahan, tetapi Rasulullah sama sekali tidak mencela saya terhadap yang demikian itu.” (Riwayat Muslim)

    Hadis tersebut tidak lebih hanya menunjukkan makruh tanzih karena memberikan pakaian kepada dinding dengan korden yang bergambar.

    Imam Nawawi berkata: hadis tersebut tidak menunjukkan haram, karena hakikat perkataan sesungguhnya Allah tidak menyuruh kita itu tidak dapat dipakai untuk menunjukkan wajib, sunnat atau haram.

    Yang semakna dengan ini diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dari jalan Aisyah pula, ia berkata:

    “Saya mempunyai tabir padanya ada gambar burung, sedang setiap orang yang masuk akan menghadapnya (akan melihatnya), kemudian Nabi berkata kepadaku: Pindahkanlah ini, karena setiap saya masuk dan melihatnya maka saya ingat dunia.”(Riwayat Muslim)

    Dalam hadis ini Rasulullah s.a.w. tidak menyuruh Aisyah supaya memotongnya, tetapi beliau hanya menyuruh memindahkan ke tempat lain. Ini menunjukkan ketidaksukaan Nabi melihat, bahwa di hadapannya ada gambar tersebut yang dapat mengingatkan kebiasaan dunia dengan seluruh aneka keindahannya itu; lebih-lebih beliau selalu sembahyang sunnat di rumah. Sebab seprai-seprai dan korden-korden yang bergambar sering memalingkan hati daripada kekhusyu’an dan pemusatan menghadap untuk bermunajat kepada Allah. Ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari jalan Anas, ia mengatakan: Bahwa korden Aisyah dipakai untuk menutupi samping rumahnya, kemudian Nabi menyuruh dia dengan sabdanya:

    “Singkirkanlah korden itu dariku, karena gambar-gambarnya selalu tampak dalam sembahyangku.” (Riwayat Bukhari)

    Dengan demikian jelas, bahwa Nabi sendiri membenarkan di rumahnya ada tabir/korden yang bergambar burung dan sebagainya.

    Dari hadis-hadis itu pula, sementara ulama salaf berpendapat: “Bahwa gambar yang dilarang itu hanyalah yang ada bayangannya, adapun yang tidak ada bayangannya tidak menqapa.”27

    Pendapat ini diperkuat oleh hadis Qudsi yang mengatakan: “Siapakah yang terlebih menganiaya selain orang yang bekerja untuk membuat seperti ciptaanKu? Oleh karena itu cobalah mereka membuat zarrah, cobalah mereka membuat beras belanda!” (Riwayat Bukhari).

    Ciptaan Allah sebagaimana kita lihat, bukan terlukis di atas dataran tetapi berbentuk dan berjisim, sebagaimana Dia katakan:

    “Dialah Zat yang membentuk kamu di dalam rahim bagaimanapun Ia suka.” (ali-Imran: 6)

    Tidak ada yang menentang pendapat ini selain hadis yang diriwayatkan Aisyah, dalam salah satu riwayat Bukhari dan Muslim, yang berbunyi sebagai berikut:

    “Sesungguhnya Aisyah membeli bantal yang ada gambar-gambarnya, maka setelah Nabi melihatnya ia berdiri di depan pintu, tidak mau masuk. Setelah Aisyah melihat ada tanda kemarahan di wajah Nabi, maka Aisyah bertanya: Apakah saya harus bertobat kepada Allah dan RasulNya, apa salah saya? Jawab Nabi: Mengapa bantal itu begitu macam? Jawab Aisyah: Saya beli bantal ini untuk engkau pakai duduk dan dipakai bantal. Maka jawab Rasulullah pula: Yang membuat gambar-gambar ini nanti akan disiksa, dan akan dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah apa yang kamu buat itu. Lantas Nabi melanjutkan pembicaraannya: Sesungguhnya rumah yang ada gambarnya tidak akan dimasuki Malaikat. Dan Imam Muslim menambah dalam salah satu riwayat Aisyah, ia (Aisyah) mengatakan: Kemudian bantal itu saya jadikan dua buah untuk bersandar, dimana Nabi biasa bersandar dengan dua sandaran tersebut di rumah. Yakni Aisyah membelah bantal tersebut digunakan untuk dua sandaran.” (Riwayat Muslim)

    Akan tetapi hadis ini, nampaknya, bertentangan dengan sejumlah hal-hal sebagai berikut:

    1) Dalam riwayat yang berbeda-beda nampak bertentangan. Sebagian menunjukkan bahwa Nabi s.a.w. menggunakan tabir/korden yang bergambar yang kemudian dipotong-potong dan dipakai bantal. Sedang sebagian lagi menunjukkan, bahwa beliau samasekali tidak menggunakannya.

    2) Sebagian riwayat-riwayat itu hanya sekedar menunjukkan makruh. Sedang kemakruhannya itu karena korden tembok itu bergambar yang dapat menggambarkan semacam berlebih-lebihan yang ia (Rasulullah) tidak senang. Oleh karena itu dalam Riwayat Muslim, ia berkata: ”Sesungguhnya Allah tidak menyuruh kita supaya memberi pakaian pada batu dan tanah.”

    3) Hadis Muslim yang diriwayatkan oleh Aisyah itu sendiri menggambarkan di rumahnya ada tabir/korden yang bergambar burung. Kemudian Nabi menyuruh dipindahkan, dengan kata-katanya: “Pindahkanlah, karena saya kalau melihatnya selalu ingat dunia!” Ini tidak menunjukkan kepada haram secara mutlak.

    4) Bertentangan dengan hadis qiram (tabir) yang ada di rumah Aisyah juga, kemudian oleh Nabi disuruhnya menyingkirkan, sebab gambar-gambarnya itu selalu tampak dalam shalat. Sehingga kata al-Hafidh: “Hadis ini dengan hadis di atas sukar sekali dikompromikan (jama’), sebab hadis ini menunjukkan Nabi membenarkannya, dan beliau shalat sedang tabir tersebut tetap terpampang, sehingga beliau perintahkan Aisyah untuk menyingkirkannya, karena melihat gambar-gambar tersebut dalam shalat dan dapat mengingatkan yang bukan-bukan, bukan semata-mata karena gambarnya itu.

    Akhirnya al-Hafidh berusaha untuk menjama’ hadis-hadis tersebut sebagai berikut: hadis pertama, karena terdapat gambar binatang bernyawa sedang hadis kedua gambar selain binatang … Akan tetapi inipun bertentangan pula dengan hadis qiram yang jelas di situ bergambar burung.

    5) Bertentangan dengan hadis Abu Talhah al-Ansari yang mengecualikan gambar dalam pakaian. Karena itu Imam Qurthubi berpendapat: “Dua hadis itu dapat dijama’ sebagai berikut: hadis Aisyah dapat diartikan makruh, sedang hadis Abu Talhah menunjukkan mubah secara mutlak yang sama sekali tidak menafikan makruh di atas.” Pendapat ini dibenarkan oleh al-Hafidh Ibnu Hajar.

    6) Rawi hadis namruqah (bantal) ada seorang bernama al-Qasim bin Muhammad bin Abubakar, keponakan Aisyah sendiri, ia membolehkan gambar yang tidak ada bayangannya, yaitu seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Aun, ia berkata: “Saya masuk di rumah al-Qasim di Makkah sebelah atas, saya lihat di rumahnya itu ada korden yang ada gambar trenggiling dan burung garuda.”28

    Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata; Barangkali al-Qasim berpegang pada keumuman hadis Nabi yang mengatakan kecuali gambar dalam pakaian dan seolah-olah dia memahami keingkaran Nabi terhadap Aisyah yang menggantungkan korden yang bergambar dan menutupi dinding. Faham ini diperkuat dengan hadisnya yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh kita supaya memberi pakaian batu dan tanah.” Sedang al-Qasim adalah salah seorang ahli fiqih Madinah yang tujuh, dia juga termasuk orang pilihan pada zaman itu, dia pula rawi hadis namruqah itu. Maka jika dia tidak memaham rukhsakh terhadap korden yang dia pasang itu, niscaya dia tidak akan menggunakannya.

    Tetapi di samping itu tampaknya ada kemungkinan yang tampak pada hadis-hadis yang berkenaan dengan masalah gambar dan pelukisnya, yaitu bahwa Rasulullah s.a.w. memperkeras persoalan ini pada periode pertama dari kerasulannya, dimana waktu itu kaum muslimin baru saja meninggalkan syirik dan menyembah berhala serta mengagung-agungkan patung. Tetapi setelah aqidah tauhid itu mendalam kedalam jiwa dan akar-akarnya telah menghunjam kedalam hati dan pikiran, maka beliau memberi perkenan (rukhshah) dalam hal gambar yang tidak berjasad, yang hanya sekedar ukiran dan lukisan. Kalau tidak begitu, niscaya beliau tidak suka adanya tabir/korden yang bergambar di dalam rumahnya; dan ia pun tidak akan memberikan perkecualian tentang lukisan dalam pakaian, termasuk juga dalam kertas dan dinding.

    Ath-Thahawi, salah seorang dari ulama madzhab Hanafi berpendapat: Syara’ melarang semua gambar pada permulaan waktu, termasuk lukisan pada pakaian, karena mereka baru saja meninggalkan menyembah patung. Oleh karena itu secara keseluruhan gambar dilarang. Tetapi setelah larangan itu berlangsung lama, kemudian dibolehkan gambar yang ada pada pakaian karena suatu darurat. Syara’ pun kemudian membolehkan gambar yang tidak berjasad karena sudah dianggap orang-orang bodoh tidak lagi mengagungkannya, sedang yang berjasad tetap dilarang.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 14 February 2016 Permalink | Balas  

    Hikmah Diharamkannya Patung 

    siluet patungHikmah Diharamkannya Patung

    1) Di antara rahasia diharamkannya patung ini, walaupun dia itu bukan satu-satunya sebab, seperti anggapan sementara orang yaitu untuk membela kemurnian Tauhid, dan supaya jauh dari menyamai orang-orang musyrik yang menyembah berhala-berhala mereka yang dibuatnya oleh tangan-tangan mereka sendiri, kemudian dikuduskan dan mereka berdiri di hadapannya dengan penuh khusyu’.

    Kesungguhan Islam untuk melindungi Tauhid dari setiap macam penyerupaan syirik telah mencapai puncaknya. Islam dalam ikhtiarnya ini dan kesungguhannya itu senantiasa berada di jalan yang benar. Sebab sudah pernah terjadi di kalangan umat-umat terdahulu, dimana mereka itu membuat patung orang-orang yang saleh mereka yang telah meninggal dunia kemudian disebut-sebutnya nama mereka itu. Lama-kelamaan dan dengan sedikit demi sedikit orang-orang saleh yang telah dilukiskan dalam bentuk patung itu dikuduskan, sehingga akhirnya dijadikan sebagai Tuhan yang disembah selain Allah; diharapkan, dan ditakuti serta diminta barakahnya. Hal ini pernah terjadi pada kaum Wud, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.

    Tidak heran kalau dalam suatu agama yang dasar-dasar syariatnya itu selalu menutup pintu kerusakan, bahwa akan ditutup seluruh lubang yang mungkin akan dimasuki oleh syirik yang sudah terang maupun yang masih samar untuk menyusup ke dalam otak dan hati, atau jalan-jalan yang akan dilalui oleh penyerupaan kaum penyembah berhala dan pengikut-pengikut agama yang suka berlebih-lebihan. Lebih-lebih Islam itu sendiri bukan undang-undang manusia yang ditujukan untuk satu generasi atau dua generasi, tetapi suatu undang-undang untuk seluruh umat manusia di seantero dunia ini sampai hari kiamat nanti. Sebab sesuatu yang kini masih belum diterima oleh suatu lingkungan, tetapi kadang-kadang dapat diterima oleh lingkungan lain; dan sesuatu yang kini dianggap ganjil dan mustahil, tetapi di satu saat akan menjadi suatu kenyataan, entah kapan waktunya, dekat atau jauh.

    2) Rahasia diharamkannya patung bagi pemahatnya, sebab seorang pelukis yang sedang memahat patung itu akan diliputi perasaan sok, sehingga seolah-olah dia dapat menciptakan suatu makhluk yang tadinya belum ada atau dia dapat membuat jenis baru yang bisa hidup yang terbuat dari tanah.

    Sudah sering terjadi seorang pemahat patung dalam waktu yang relatif lama, maka setelah patung itu dapat dirampungkan lantas dia berdiri di hadapan patung tersebut dengan mengaguminya, sehingga seolah-olah dia berbicara dengan patung tersebut dengan penuh kesombongan: Hai patung! Bicaralah!

    Untuk itulah maka Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Sesungguhnya orang-orang yang membuat patung-patung ini nanti di hari kiamat akan disiksa dan dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah patung yang kamu buat itu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Dan dalam hadis Qudsi, Allah s.w.t. berfirman pula:

    “Siapakah orang yang lebih menganiaya selain orang yang bekerja untuk membuat sesuatu seperti pembuatanku? Oleh karena itu cobalah mereka membuat zarrah (benda yang kecil), cobalah mereka membuat sebutir beras belanda.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    3) Orang-orang yang berbicara dalam persoalan seni ini tidak berhenti dalam suatu batas tertentu saja, tetapi mereka malah melukis (memahat) wanita-wanita telanjang atau setengah telanjang. Mereka juga melukis (dan juga memahat) lambang-lambang kemusyrikandan syiar-syiar agama lainnya, seperti salib, berhala dan lain-lain yang pada prinsipnya tidak dapat diterima oleh Islam.

    4) Lebih dari itu semua, bahwa patung-patung itu selalu menjadi kemegahan orang-orang yang berlebihan, mereka penuhinya istana-istana mereka dengan patung-patung, kamar-kamar mereka dihias dengan patung dan, mereka buatnya seni-seni pahat (patung) dari berbagai lambang.

    Kalau agama Islam dengan gigih memberantas seluruh bentuk kemewahan dengan segala kemegahan dan macamnya, yang terdiri dari emas dan perak, maka tidak terlalu jauh kalau agama ini mengharamkan patung-patung itu, sebagai lambang kemegahan, dalam rumah-rumah orang Islam.

    Bimbingan Islam dalam Mengabadikan Orang Besar

    Barangkali akan ada orang berkata: Apakah tidak memenuhi suatu maksud umat untuk mengembalikan sebagian keindahan yang pernah dicapai oleh orang-orang besar kita yang telah berhasil mengisi lembaran sejarah yang berharga itu, lantas para pembesar itu diabadikan dalam bentuk patung agar menjadi peringatan generasi berikutnya terhadap jasa-jasa dan keunggulan yang pernah mereka capai; sebab peringatan bangsa itu sering dilupakan dan pertukaran malam dan siang itu sendiri sebenarnya yang membawa lupa?

    Untuk menjawab persoalan ini, perlu dijelaskan, bahwa Islam samasekali tidak suka berlebih-lebihan dalam menghargai seseorang, betapapun tingginya kedudukan orang tersebut, baik mereka yang masih hidup ataupun yang sudah mati.

    Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

    “Jangan kamu menghormat aku seperti orang-orang Nasrani menghormati Isa bin Maryam, tetapi katakanlah, bahwa Muhammad itu hamba Allah dan RasulNya.” (Riwayat Bukhari dan lain-lain)

    Mereka bermaksud akan berdiri apabila melihat Nabi, sebagai suatu penghormatan kepadanya dan untuk mengagungkan kedudukannya.

    Cara semacam itu dilarang oleh Nabi dengan sabdanya:

    “Jangan kamu berdiri seperti orang-orang ajam (selain Arab) yang berdiri untuk menghormat satu sama lain.” (Riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah)

    Beliau pun memberikan suatu peringatan kepada umatnya, sikap yang berlebih-lebihan terhadap kedudukan Nabi sesudah beliau mati, maka bersabdalah Nabi sebagai berikut:

    “Jangan kamu menjadikan kuburku ini sebagai tempat hariraya.” (Riwayat Abu Daud)

    Dan dalam doanya kepada Tuhannya beliau mengatakan:

    “Ya Allah! Jangan engkau jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah.” (Riwayat Malik)

    Ada beberapa orang datang kepada Nabi s.a.w., mereka itu memanggil Nabi dengan kata-katanya:

    “Hai orang baik kami dan anak orang baik kami, hai tuan kami dan anak tuan kami.”

    Mendengar panggilan seperti itu, Nabi kemudian menegurnya dengan sabdanya sebagai berikut:

    “Hai manusia! Ucapkanlah seperti ucapanmu biasa atau hampir seperti ucapanmu yang biasa itu, jangan kamu dapat diperdayakan oleh syaitan. Saya adalah Muhammad, hamba Allah dan pesuruhNya. Saya tidak suka kamu mengangkat aku lebih dari kedudukanku yang telah Allah tempatkan aku.” (Riwayat Nasa’i)

    Agama ini (baca Islam) pendiriannya dalam masalah menghormat orang, tidak suka seseorang itu diangkat-angkat seperti berhala yang didirikan dengan biaya beribu-ribu supaya orang-orang memberikan penghormatan kepadanya.

    Banyak sekali material yang dimasukkan oleh penganjur-penganjur kebesaran dan jurukunci tempat-tempat bersejarah melalui pintu orang-orang atau pengikut dan ekornya yang telah mampu mendirikan berhala ini. Dengan begitu, maka pada hakikatnya mereka ini telah menyesatkan rakyat dengan menggunakan orang-orang besar yang jujur itu.

    Keabadian hakiki yang dikenal di kalangan umat Islam hanyalah Allah yang mengetahui segala yang rahasia dan tersembunyi, yang tidak sesat dan tidak lupa. Sedang kebanyakan para pembesar yang namanya diabadikan di sisi Allah adalah orang-orang yang tidak begitu dikenal oleh manusia. Hal ini justru karena Allah suka kepada orang-orang yang baik, taqwa dan tidak perlu menampak-nampakkan kepada orang lain. Mereka ini apabila datang tidak dikenal, dan apabila pergi tidak dicari.

    Sekalipun keabadian itu sangat perlu bagi manusia, tetapi tidak mesti dengan didirikannya patung untuk orang-orang besar yang perlu diabadikan itu. Cara untuk mengabadikan yang dibenarkan oleh Islam ialah mengabadikan mereka itu ke dalam hati dan lisan, yaitu dengan menyebut kesuksesan perjuangan mereka dan peninggalan-peninggalan yang baik-baik yang ditinggalkan untuk generasi sesudah mereka. Dengan demikian mereka itu akan selalu menjadi sebutan orang-orang belakangan.

    Rasulullah s.a.w. sendiri dan begitu juga para khalifah dan pemuka-pemuka Islam lainnya, tidak ada yang diabadikan dengan berbentuk materi dan patung-patung yang terbuat dari batu yang dipahat.

    Keabadian mereka itu semata-mata adalah karena sifat-sifat baiknya (manaqibnya) yang diceriterakan oleh orang-orang dulu (salaf) kepada orang-orang belakangan (khalaf) dan yang diceriterakan oleh orang-orang tua kepada anak-anaknya. Sifat beliau itu tertanam dalam hati, selalu disebut dalam lisan, selalu mengumandang di majlis dan klub-klub serta memenuhi hati, walaupun tanpa diwujudkan dengan patung dan gambar.

    Rukhsah Dalam Permainan Anak-Anak

    Kalau macam daripada patung itu tidak dimaksudkan untuk diagung-agungkan dan tidak berlebih-lebihan serta tidak ada suatu unsur larangan di atas, maka dalam hal ini Islam tidak akan bersempit dada dan tidak menganggap hal tersebut suatu dosa. Misalnya permainan anak-anak berupa pengantin-pengantinan, kucing-kucingan, dan binatang-binatang lainnya. Patung-patung ini semua hanya sekedar pelukisan untuk permainan dan menghibur anak-anak.

    Oleh karena itu kata Aisyah:

    “Aku biasa bermain-main dengan anak-anakan perempuan (boneka perempuan) di sisi Rasulullah s.a.w. dan kawan-kawanku datang kepadaku, kemudian mereka menyembunyikan boneka-boneka tersebut karena takut kepada Rasulullah s.a.w., tetapi Rasulullah s.a.w. malah senang dengan kedatangan kawan-kawanku itu, kemudian mereka bermain-main bersama aku.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Dan dalam salah satu riwayat diterangkan:

    “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pada suatu hari bertanya kepada Aisyah: Apa ini? Jawab Aisyah: Ini anak-anak perempuanku (boneka perempuanku); kemudian Rasulullah bertanya lagi: Apa yang di tengahnya itu? Jawab Aisyah: Kuda. Rasulullah bertanya lagi: Apa yang di atasnya itu? Jawab Aisyah: Itu dua sayapnya. Kata Rasulullah: Apa ada kuda yang bersayap? Jawab Aisyah: Belumkah engkau mendengar, bahwa Sulaiman bin Daud a.s. mempunyai kuda yang mempunyai beberapa sayap? Kemudian Rasulullah tertawa sehingga nampak gigi gerahamnya.” (Riwayat Abu Daud)

    Yang dimaksud anak-anak perempuan di sini ialah boneka pengantin yang biasa dipakai permainan oleh anak-anak kecil. Sedang Aisyah waktu itu masih sangat muda.

    Imam Syaukani mengatakan: hadis ini menunjukkan, bahwa anak-anak kecil boleh bermain-main dengan boneka (patung). Tetapi Imam Malik melarang laki-laki yang akan membelikan boneka untuk anak perempuannya. Dan Qadhi Iyadh berpendapat bahwa anak-anak perempuan bermain-main dengan boneka perempuan itu suatu rukhsah (keringanan).

    Termasuk sama dengan permainan anak-anak, yaitu patung-patungan yang terbuat dari kue-kue dan dijual pada hari besar (hari raya) dan sebagainya kemudian tidak lama kue-kue tersebut dimakannya.

    Patung yang Tidak Sempurna dan Cacat

    Di dalam hadis disebutkan, bahwa Jibril a.s. tidak mau masuk rumah Rasulullah s.a.w. karena di pintu rumahnya ada sebuah patung. Hari berikutnya pun tidak mau masuk, sehingga ia mengatakan kepada Nabi Muhammad:

    “Perintahkanlah supaya memotong kepala patung itu. Maka dipotonglah dia sehingga menjadi seperti keadaan pohon.” (Riwayat Abu Daud, Nasai, Tarmizi dan Ibnu Hibban)

    Dari hadis ini segolongan ulama ada yang berpendapat diharamkannya gambar itu apabila dalam keadaan sempurna, tetapi kalau salah satu anggotanya itu tidak ada yang kiranya tanpa anggota tersebut tidak mungkin dapat hidup, maka membuat patung seperti itu hukumnya mubah,

    Tetapi menurut tinjauan yang benar berdasar permintaan Jibril untuk memotong kepala patung sehingga menjadi seperti keadaan pohon, bahwa yang mu’tabar (diakui) di sini bukan karena tidak berpengaruhnya sesuatu anggota yang kurang itu terhadap hidupnya patung tersebut, atau patung itu pasti akan mati jika tanpa anggota tersebut. Namun yang jelas, patung tersebut harus dicacat supaya tidak terjadi suatu kemungkinan untuk diagungkannya setelah anggotanya tidak ada.

    Cuma suatu hal yang tidak diragukan lagi, jika direnungkan dan kita insafi, bahwa patung separuh badan yang dibangun di kota guna mengabadikan para raja dan orang-orang besar, haramnya lebih tegas daripada patung kecil satu badan penuh yang hanya sekedar untuk hiasan rumah

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 13 February 2016 Permalink | Balas  

    Ibadah Yang Lebih Baik 

    shalat-khusyuIbadah Yang Lebih Baik

    Kisah Rabi’ah Al-Adawiyah, wanita sufi

    Ketika Rabi’ah ditanya tentang hakikat imannya, ia menjawab, “Aku tidak beribadah kepada Allah karena takut kepadaNya. Sehingga aku serupa saja dengan budak/pelayan yang buruk yang bekerja dengan rasa takut terhadap majikannya.

    Aku beribadah bukan karena mengharapkan surga sehingga aku serupa dengan budak yang buruk yang diberi sesuatu untuk pekerjaannya.

    Tetapi aku beribadah kepada Allah karena cinta dan rinduku kepada-Nya.”

    Kisah seorang Arab badui

    Seorang arab badui memasuki memasuki masjid lalu shalat. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a memandangnya dengan penuh perhatian.

    Seusai orang itu shalat, sambil memegang cambuk, Ali r.a. mendekatinya dan menyuruhnya mengulangi shalatnya. Sang badui lalu memperbagus shalatnya dengan kesempurnaan, khusyu’ dan thuma’ninah.

    Seusai shalat, Ali bin Abi Thalib r.a. bertanya : “Shalat mana yang lebih baik, yang pertama atau yang kedua?”

    Orang badui itu menjawab dengan polos, “Tentu saja yang pertama, sebab aku melakukannya untuk Allah, sedangkan shalat yang kedua karena aku takut kena cambuk Amirul Mukminin.

    ***

    L.Meilany

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 12 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 9 

    narkobaHalal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 9

    Narkotik

    Al-KHAMRU maa khaamaral aqla (arak ialah semua bahan yang dapat menutupi akal), suatu ungkapan yang pernah dikatakan oleh Umar Ibnul-Khattab dari atas mimbar Rasulullah s.a.w. Kalimat ini memberikan pengertian yang tajam sekali tentang apa yang dimaksud arak itu. Sehingga dengan demikian tidak banyak lagi pertanyaan-pertanyaan dan kesamaran.

    Demikianlah, maka setiap yang dapat mengganggu fikiran dan mengeluarkan akal dari tabiatnya yang sebenarnya, adalah disebut arak yang dengan tegas telah diharamkan Allah dan Rasul sampai hari kiamat nanti.

    Dari itu pula, semua bahan yang kini dikenal dengan nama narkotik, seperti ganja, marijuana dan sebagainya yang sudah terkenal pengaruhnya terhadap perasaan dan akal fikiran, sehingga yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh, dapat melupakan suatu kenyataan, dapat mengkhayal yang tidak akan terjadi dan orang bisa tenggelam dalam mimpi dan lamunan yang bukan-bukan. Orang yang minum bahan ini dapat melupakan dirinya, agamanya dan dunianya serta tenggelam dalam lembah khayal.

    Ini, belum lagi apa yang akan terjadi pada tubuh manusia, bahwa narkotik dapat melumpuhkan anggota tubuh manusia dan menurunkan kesehatan.

    Lebih dari itu, narkotik dapat mengganggu kemurnian jiwa, dan menghancurkan moral, meruntuhkan iradah dan melemahkan perasaan untuk melaksanakan kewajiban yang oleh pecandu-pecandu dijadikan sebagai alat untuk meracuni tubuh masyarakat.

    Dibalik itu semua, narkotik dapat menghabiskan uang dan merobohkan rumahtangga. Uang yang dipakai untuk membeli bahan tersebut adalah standard rumahtangga yang mungkin juga oleh pecandu-pecandu narkotik akan diambilnya dari harta standard hidup anak-anaknya; dan mungkin juga dia akan berbelok ke suatu jalan yang tidak baik justru untuk mengambil keuntungan dari penjualan narkotik.

    Kalau di atas telah kita sebutkan bahwa perbuatan haram itu dapat membawa kepada keburukan dan bahaya, maka bagi kita sudah cukup jelas tentang haramnya bahan yang amat jelek ini, yang tidak diragukan lagi bahayanya terhadap kesehatan, jiwa, moral, masyarakat dan perekonomian.

    Haramnya narkotik ini telah disepakati oleh ahli-ahli fiqih yang pada zamannya dikenal dengan nama alkhabaits (yang jelek-jelek).

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam tinjauannya, mengatakan: “Ganja (hasyisy) adalah bahan yang haram, baik orang yang merasakan itu mabuk ataupun tidak … Hasyisy ini selalu dipakai oleh orang-orang jahat, karena di dalamnya mengandung unsur-unsur yang memabukkan dan menyenangkan. Biasanya dicampur dengan minuman-minuman yang memabukkan.

    Bedanya hasyisy dengan arak, bahwa arak dapat menimbulkan suatu reaksi dan pertentangan. Tetapi hasyisy dapat menimbulkan suatu krisis dan kelemahan. Justru itu dia dapat merusak fikiran dan membuka pintu syahwat serta hilangnya perasaan semangat (ghirah). Justru itu dia lebih berbahaya daripada minuman keras.

    Ini sudah pernah terjadi di kalangan orang-orang Tartar.

    Dan bagi yang merasakannya, sedikit ataupun banyak didera 80 atau 40 kali.

    Barangsiapa yang dengan terang-terangan merasakan hasyisy ini dia akan ditempatkan sebagaimana halnya orang yang terang-terangan minum arak, dan dalam beberapa hal lebih buruk daripada arak. Untuk itu dia akan dikenakan hukuman sebagaimana hukuman yang berlaku bagi peminum arak.”

    Kata Ibnu Taimiyah selanjutnya: “Menurut kaidah syara’, semua barang haram yang dapat mengganggu jiwa seperti arak, zina dan sebagainya dikenakan hukum had (hukuman tindak kriminal), sedang yang tidak mengganggu jiwa seperti makan bangkai dikenakan tindakan ta’zir.11 Sedang hasyisy termasuk bahan yang barangsiapa merasakannya berat untuk mau berhenti. Hukum haramnya telah ditegaskan dalam al-Quran dan Sunnah terhadap orang yang merasakannya sebagaimana makan makanan lainnya.”12

    Setiap yang Berbahaya Dimakan atau Diminum, Tetap Haram

    Di sini ada suatu kaidah yang menyeluruh dan telah diakuinya dalam syariat Islam, yaitu bahwa setiap muslim tidak diperkenankan makan atau minum sesuatu yang dapat membunuh, lambat ataupun cepat, misalnya racun dengan segala macamnya; atau sesuatu yang membahayakan termasuk makan atau minum yang terlalu banyak yang menyebabkan sakit. Sebab seorang muslim itu bukan menjadi milik dirinya sendiri, tetapi dia adalah milik agama dan umatnya. Hidupnya, kesehatannya, hartanya dan seluruh nikmat yang diberikan Allah kepadanya adalah sebagai barang titipan (amanat). Oleh karena itu dia tidak boleh meneledorkan amanat itu.

    Firman Allah:

    “Janganlah kamu membunuh diri-diri kamu, karena sesungguhnya Allah Maha Belas-kasih kepadamu.” (an-Nisa’: 29)

    “Jangan kamu mencampakkan diri-diri kamu kepada kebinasaan.” (al-Baqarah: 195)

    Dan Rasulullah s.a.w. pun bersabda:

    “Tidak boleh membuat bahaya dan membalas bahaya.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah)

    Sesuai dengan kaidah ini, maka kami berpendapat: sesungguhnya rokok (tembakau) selama hal itu dinyatakan membahayakan, maka menghisap rokok hukumnya adalah haram. Lebih-lebih kalau dokter spesialis sudah menetapkan hal tersebut kepada seseorang tertentu.

    Kalaupun toh ditakdirkan tidak jelas bahayanya terhadap kesehatan seseorang, tetapi yang jelas adalah membuang-buang uang untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, baik untuk agama ataupun untuk urusan dunia. Sedang dalam hadisnya dengan tegas Rasulullah s.a.w. melarang membuang-buang harta.

    Larangan ini dapat diperkuat lagi, kalau ternyata harta tersebut amat dibutuhkan untuk dirinya sendiri, atau keluarganya

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 11 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 8 

    miras arakHalal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 8

    1. Tinggalkan Tempat Persidangan Arak

    Berdasar sunnah Nabi, orang Islam diharuskan meninggalkan tempat persidangan arak, termasuk juga berduduk-duduk dengan orang yang sedang minum arak.

    Diriwayatkan dari Umar r.a. bahwa dia pernah mendengar Rasulullah s,a.w. bersabda:

    “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah duduk pada suatu hidangan yang padanya diedarkan arak.” (Riwayat Ahmad)

    Setiap muslim diperintah untuk menghentikan kemungkaran kalau menyaksikannya. Tetapi kalau tidak mampu dia harus menyingkir dan menjaga masyarakat dan keluarganya.

    Dalam salah satu kisah diceriterakan, bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah mendera orang-orang yang minum arak dan yang ikut menyaksikan persidangan mereka itu, sekalipun orang yang menyaksikan itu tidak turut minum bersama mereka.

    Dan diriwayatkan pula, bahwa pernah ada suatu kaum yang diadukan kepadanya karena minum arak, kemudian beliau memerintahkan agar semuanya didera. Lantas ada orang yang berkata: ‘Bahwa di antara mereka itu ada yang berpuasa.’ Maka jawab Umar: ‘Dera dulu dia!’

    Apakah kamu tidak mendengarkan firman Allah yang mengatakan;

    “Sungguh Allah telah menurunkan kepadamu dalam al-Ouran, bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah ditentangnya dan diejeknya. Oleh karena itu jangan kamu duduk bersama mereka, sehingga mereka itu tenggelam dalam omongan lain, sebab sesungguhnya kamu kalau demikian keadaannya adalah sama dengan mereka.” (an-Nisa’: 140)

    1. Khamar Adalah Penyakit Bukan Obat

    Dengan nas-nas yang jelas, maka Islam dengan gigih memberantas arak dan menjauhkan umat Islam dari arak, serta dibuatnya suatu pagar antara umat Islam dan arak itu. Tidak ada satupun pintu yang terbuka, betapapun sempitnya pintu itu, buat meraihnya.

    Tidak seorang Islam pun yang diperkenankan minum arak walaupun hanya sedikit. Tidak juga diperkenankan untuk menjual, membeli, menghadiahkan ataupun membuatnya. Disamping itu tidak pula diperkenankan menyimpan di tokonya atau di rumahnya. Termasuk juga dilarang menghidangkan arak dalam perayaan-perayaan, baik kepada orang Islam ataupun kepada orang lain. Juga dilarang mencampurkan arak pada makanan ataupun minuman.

    Tinggal ada satu segi yang sering oleh sementara orang ditanyakan, yaitu tentang arak dipakai untuk berobat Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. pernah menjawab kepada orang yang bertanya tentang hukum arak. Lantas Nabi menjawab: Dilarang! Kata laki-laki itu kemudian: “Innama nashna’uha liddawa’ (kami hanya pakai untuk berobat).

    Maka jawab Nabi selanjutnya:

    “Arak itu bukan obat, tetapi penyakit.” (Riwayat Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tarmizi)

    Dan sabdanya pula:

    Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat, dan menjadikan untuk kamu bahwa tiap penyakit ada obatnya, oleh karena itu berobatlah, tetapi jangan berobat dengan yang haram.” (Riwayat Abu Daud)

    Dan Ibnu Mas’ud pernah juga mengatakan perihal minuman yang memabukkan: “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhanmu dengan sesuatu yang Ia haramkan atas kamu.” (Riwayat Bukhari).

    Memang tidak mengherankan kalau Islam melarang berobat dengan arak dan benda-benda lain yang diharamkannya, sebab diharamkannya sesuatu, sesuai dengan analisa Ibnul Qayim, mengharuskan untuk dijauhi selamanya dengan jalan apapun. Maka kalau arak itu boleh dipakai untuk berobat, berarti ada suatu anjuran supaya mencintai dan menggunakan arak itu. Ini jelas berlawanan dengan apa yang dimaksud oleh syara’.

    Selanjutnya kata Ibnul Qayim: Membolehkan berobat dengan arak, lebih-lebih bagi jiwa yang ada kecenderungan terhadap arak, akan cukup menarik orang untuk meminumnya demi memenuhi selera dan untuk bersenang-senang, terutama orang yang mengerti akan manfaatnya arak dan dianggapnya dapat menghilangkan sakitnya, maka pasti dia akan menggunakan arak guna kesembuhan penyakitnya itu.

    Sebenarnya obat-obat yang haram itu tidak lebih hanya kira-kira saja dapat menyembuhkan.

    Ibnul Qayim memperingatkan juga yang ditinjau dari segi kejiwaan, ia mengatakan: “Bahwa syaratnya sembuh dari penyakit haruslah berobat yang dapat diterima akal, dan yakin akan manfaatnya obat itu serta adanya barakah kesembuhan yang dibuatnya oleh Allah. Sedang dalam hal ini telah dimaklumi, bahwa setiap muslim sudah berkeyakinan akan haramnya arak, yang karena keyakinannya ini dapat mencegah orang Islam untuk mempercayai kemanfaatan dan barakahnya arak itu, dan tidak bisa jadi seorang muslim dengan keyakinannya semacam itu untuk berhusnundz-dzan (beranggapan baik) terhadap arak dan dianggapnya sebagai obat yang dapat diterima akal. Bahkan makin tingginya iman seseorang, makin besar pula kebenciannya terhadap arak dan makin tidak baik keyakinannya terhadap arak itu. Sebab kepribadian seorang muslim harus membenci arak. Kalau demikian halnya, arak adalah penyakit, bukan obat.”

    Walaupun demikian, kalau sampai terjadi keadaan darurat, maka darurat itu dalam pandangan syariat Islam ada hukumnya tersendiri.

    Oleh karena itu, kalau seandainya arak atau obat yang dicampur dengan arak itu dapat dinyatakan sebagai obat untuk sesuatu penyakit yang sangat mengancam kehidupan manusia, dimana tidak ada obat lainnya kecuali arak, dan saya sendiri percaya hal itu tidak akan terjadi, dan setelah mendapat pengesahan dari dokter muslim yang mahir dalam ilmu kedokteran dan mempunyai jiwa semangat (ghirah) terhadap agama, maka dalam keadaan demikian berdasar kaidah agama yang selalu membuat kemudahan dan menghilangkan beban yang berat, maka berobat dengan arak tidaklah dilarang, dengan syarat dalam batas seminimal mungkin.

    Sesuai dengan firman Allah:

    “Barangsiapa terpaksa dengan tidak sengaja dan tidak melewati batas maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih.” (al-An’am: 145)

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 10 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 7 

    arakHalal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 7

    Khamar (Arak)

    KHAMAR adalah bahan yang mengandung alkohol yang memabukkan.

    Untuk lebih jelasnya, di sini akan kami sebutkan beberapa bahaya khamar terhadap pribadi seseorang, baik akalnya, tubuhnya, agamanya dan dunianya. Akan kami jelaskan juga betapa bahayanya terhadap rumahtangga ditinjau dari segi pemeliharaannya maupun pengurusannya terhadap isteri dan anak-anak. Dan akan kami bentangkan juga betapa mengancamnya arak terhadap masyarakat dan bangsa dalam existensinya, baik yang berupa moral maupun etika.

    Sungguh benar apa yang dikatakan oleh salah seorang penyelidik, bahwa tidak ada bahaya yang lebih parah yang diderita manusia, selain bahaya arak. Kalau diadakan penyelidikan secara teliti di rumah-rumah sakit, bahwa kebanyakan orang yang gila dan mendapat gangguan saraf adalah disebabkan arak. Dan kebanyakan orang yang bunuh diri ataupun yang membunuh kawannya adalah disebabkan arak. Termasuk juga kebanyakan orang yang mengadukan dirinya karena diliputi oleh suasana kegelisahan, orang yang membawa dirinya kepada lembah kebangkrutan dan menghabiskan hak miliknya, adalah disebabkan oleh arak.

    Begitulah, kalau terus diadakan suatu penelitian yang cermat, niscaya akan mencapai batas klimaks yang sangat mengerikan yang kita jumpai, bahwa nasehat-nasehat, kecil sekali artinya.

    Orang-orang Arab dalam masa kejahilannya selalu disilaukan untuk minum khamar dan menjadi pencandu arak. Ini dapat dibuktikan dalam bahasa mereka yang tidak kurang dari 100 hama dibuatnya untuk mensifati khamar itu. Dalam syair-syairnya mereka puji khamar itu, termasuk sloki-slokinya, pertemuan-pertemuannya dan sebagainya.

    Setelah Islam datang, dibuatnyalah rencana pendidikan yang sangat bijaksana sekali, yaitu dengan bertahap khamar itu dilarang. Pertama kali yang dilakukan, yaitu dengan melarang mereka untuk mengerjakan sembahyang dalam keadaan mabuk, kemudian meningkatkan dengan diterangkan bahayanya sekalipun manfaatnya juga ada, dan terakhir baru Allah turunkan ayat secara menyeluruh dan tegas, yaitu sebagaimana firmanNya:

    “Hai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya arak, judi, berhala, dan undian adalah kotor dari perbuatan syaitan. Oleh karena itu jauhilah dia supaya kamu bahagia. Syaitan hanya bermaksud untuk mendatangkan permusuhan dan kebencian di antara kamu disebabkan khamar dan judi, serta menghalangi kamu ingat kepada Allah dan sembahyang. Apakah kamu tidak mau berhenti?” (al-Maidah: 90-91)

    Dalam kedua ayat tersebut Allah mempertegas diharamkannya arak dan judi yang diiringi pula dengan menyebut berhala dan undian dengan dinilainya sebagai perbuatan najis (kotor). Kata-kata His (kotor, najis) ini tidak pernah dipakai dalam al-Quran, kecuali terhadap hal yang memang sangat kotor dan jelek.

    Khamar dan judi adalah berasal dari perbuatan syaitan, sedang syaitan hanya gemar berbuat yang tidak baik dan mungkar. Justru itulah al-Quran menyerukan kepada umat Islam untuk menjauhi kedua perbuatan itu sebagai jalan untuk menuju kepada kebagiaan.

    Selanjutnya al-Quran menjelaskan juga tentang bahaya arak dan judi dalam masyarakat, yang di antaranya dapat mematahkan orang untuk mengerjakan sembahyang dan menimbulkan permusuhan dan kebencian. Sedang bahayanya dalam jiwa, yaitu dapat menghalang untuk menunaikan kewajiban-kewajiban agama, diantaranya ialah zikrullah dan sembahyang.

    Terakhir al-Quran menyerukan supaya kita berhenti dari minum arak dan bermain judi. Seruannya diungkapkan dengan kata-kata yang tajam sekali, yaitu dengan kata-kata: fahal antum muntahun? (apakah kamu tidak mau berhenti?).

    Jawab seorang mu’min terhadap seruan ini: “Ya, kami telah berhenti, ya Allah!”

    Orang-orang mu’min membuat suatu keanehan sesudah turunnya ayat tersebut, yaitu ada seorang laki-laki yang sedang membawa sloki penuh arak, sebagiannya telah diminum, tinggal sebagian lagi yang sisa. Setelah ayat tersebut sampai kepadanya, gelas tersebut dilepaskan dan araknya dituang ke tanah.

    Banyak sekali negara-negara yang mengakui bahaya arak ini, baik terhadap pribadi, rumah tangga ataupun tanah air. Sementara ada yang berusaha untuk memberantasnya dengan menggunakan kekuatan undang-undang dan kekuasaan, seperti Amerika, tetapi akhirnya mereka gagal. Tidak dapat seperti yang pernah dicapai oleh Islam di dalam memberantas dan menghilangkan arak ini.

    Dari kalangan kepala-kepala gereja bertentangan dalam menilai bagaimana pandangan Kristen terhadap masalah arak, justru karena di Injil ditegaskan: “Bahwa arak yang sedikit itu baik buat perut.”

    Kalau omongan itu betul, niscaya yang sedikit itu perlu dihentikan, sebab minum arak sedikit, dapat membawa kepada banyak. Gelas pertama akan disambut dengan gelas kedua dan begitulah seterusnya sehingga akhirnya menjadi terbiasa.

    1. Setiap Yang Memabukkan Berarti Arak

    Pertama kali yang dicanangkan Nabi Muhammad s.a.w. tentang masalah arak, yaitu beliau tidak memandangnya dari segi bahan yang dipakai untuk membuat arak itu, tetapi beliau memandang dari segi pengaruh yang ditimbulkan, yaitu memabukkan. Oleh karena itu bahan apapun yang nyata-nyata memabukkan berarti dia itu arak, betapapun merek dan nama yang dipergunakan oleh manusia; dan bahan apapun yang dipakai. Oleh sebab itu Beer dan sebagainya dapat dihukumi haram.

    Rasulullah s.a.w. pernah ditanya tentang minuman yang terbuat dari madu, atau dari gandum dan sya’ir yang diperas sehingga menjadi keras. Nabi Muhammad sesuai dengan sifatnya berbicara pendek tetapi padat, maka didalam menjawab pertanyaan tersebut beliau sampaikan dengan kalimat yang pendek juga, tetapi padat:

    “Semua yang memabukkan berarti arak, dan setiap arak adalah haram.” (Riwayat Muslim)

    Dan Umar pun mengumumkan pula dari atas mimbar Nabi, “Bahwa yang dinamakan arak ialah apa-apa yang dapat menutupi fikiran.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

    1. Minum Sedikit

    Untuk kesekian kalinya Islam tetap bersikap tegas terhadap masalah arak. Tidak lagi dipandang kadar minumannya, sedikit atau banyak. Kiranya arak telah cukup dapat menggelincirkan kaki manusia. Oleh karena itu sedikitpun tidak boleh disentuh.

    Justru itu pula Rasulullah s.a.w. pernah menegaskan:

    “Minuman apapun kalau banyaknya itu memabukkan, maka sedikitnya pun adalah haram.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi)

    “Minuman apapun kalau sebanyak furq6 itu memabukkan, maka sepenuh tapak tangan adalah haram.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi)

    1. Memperdagangkan Arak

    Rasulullah tidak menganggap sudah cukup dengan mengharamkan minum arak, sedikit ataupun banyak, bahkan memperdagangkan pun tetap diharamkan, sekalipun dengan orang di luar Islam. Oleh karena itu tidak halal hukumnya seorang Islam mengimport arak, atau memproduser arak, atau membuka warung arak, atau bekerja di tempat penjualan arak.

    Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. pernah melaknatnya, yaitu seperti tersebut dalam riwayat di bawah ini:

    “Rasulullah s.a.w. melaknat tentang arak, sepuluh golongan: (1) yang memerasnya, (2) yang minta diperaskannya, (3) yang meminumnya, (4) yang membawanya, (5) yang minta dihantarinya, (6) yang menuangkannya, (7) yang menjualnya, (8) yang makan harganya, (9) yang membelinya, (10) yang minta dibelikannya.” (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)

    Setelah ayat al-Quran surah al-Maidah (90-91) itu turun, Rasulullah s.a.w. kemudian bersabda:

    “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan arak, maka barangsiapa yang telah mengetahui ayat ini dan dia masih mempunyai arak walaupun sedikit, jangan minum dan jangan menjualnya.” (Riwayat Muslim)

    Rawi hadis tersebut menjelaskan, bahwa para sahabat kemudian mencegat orang-orang yang masih menyimpan arak di jalan-jalan Madinah lantas dituangnya ke tanah.

    Sebagai cara untuk membendung jalan yang akan membawa kepada perbuatan yang haram (saddud dzara’ik), maka seorang muslim dilarang menjual anggur kepada orang yang sudah diketahui, bahwa anggur itu akan dibuat arak. Karena dalam salah satu hadis dikatakan:

    “Barangsiapa menahan anggurnya pada musim-musim memetiknya, kemudian dijual kepada seorang Yahudi atau Nasrani atau kepada tukang membuat arak, maka sungguh jelas dia akan masuk neraka.” (Riwayat Thabarani)

    1. Seorang Muslim Tidak Boleh Menghadiahkan Arak

    Kalau menjual dan memakan harga arak itu diharamkan bagi seorang muslim, maka menghadiahkannya walaupun tanpa ganti, kepada seorang Yahudi, Nasrani atau yang lain, tetap haram juga.

    Seorang muslim tidak boleh menghadiahkan atau menerima hadiah arak. Sebab seorang muslim adalah baik, dia tidak boleh menerima kecuali yang baik pula.

    Diriwayatkan, ada seorang laki-laki yang memberi hadiah satu guci arak kepada Nabi s.a.w., kemudian Nabi memberitahu bahwa arak telah diharamkan Allah. Orang laki-laki itu bertanya:

    Rajul: Bolehkah saya jual?

    Nabi: Zat yang mengharamkan meminumnya, mengharamkannya juga menjualnya.

    Rajul: Bagaimana kalau saya hadiahkan raja kepada orang Yahudi?

    Nabi: Sesungguhnya Allah yang telah mengharamkan arak, mengharamkan juga untuk dihadiahkan kepada orang Yahudi.

    Rajul: Habis, apa yang harus saya perbuat?

    Nabi: Tuang saja di selokan air. (Al-Humaidi dalam musnadnya)

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 9 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 6 

    pemburuHalal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 6

    Kalau Binatang Itu Didapati Sudah Mati

    Kadang-kadang terjadi, seorang pemburu melepaskan panahnya mengenai seekor binatang, tetapi binatang tersebut menghilang, beberapa saat, kemudian dijumpainya sudah mati. Hal ini bisa jadi sudah berjalan beberapa hari lamanya.

    Dalam persoalan ini, binatang tersebut bisa menjadi halal dengan beberapa syarat:

    1) Bahwa binatang tersebut tidak jatuh ke dalam air.

    Seperti yang dikatakan oleh Nabi s.a.w.:

    “Kalau kamu melemparkan panahmu, maka jika kamu dapati binatang itu sudah mati, makanlah, kecuali apabila binatang tersebut kamu dapati jatuh ke dalam air, maka kamu tidak tahu: apakah air itu yang menyebabkan binatang tersebut mati ataukah panahmu?” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    2) Tidak terdapat tanda-tanda mati karena bekas panah orang lain yang menjadi sebab matinya binatang tersebut.

    Seperti apa yang pernah ditanyakan Adi bin Hatim kepada Rasulullah s.a.w.:

    “Ya Rasulullah! Saya melempar binatang, kemudian saya dapati pada binatang tersebut ada bekas panahku yang kemarin, apakah boleh dimakan? Maka jawab Nabi, ‘Kalau kamu yakin, bahwa panahmulah yang membunuhnya dan tidak ada bekas (digigit) binatang buas, maka makanlah.'” (Riwayat Tarmizi)

    3) Binatang tersebut belum sampai busuk; sebab menurut tabiat yang wajar akan menganggap kotor dan jijik terhadap binatang yang sudah busuk, lebih-lebih kalau hal itu dimungkinkan akan membawa bahaya.

    Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. pernah berkata kepada Abu Tsa’labah al-Khasyani sebagai berikut:

    “Kalau kamu melemparkan panahmu, kemudian binatang itu menghilang sampai tiga hari dan kamu dapati sudah mati, maka makanlah selama binatang tersebut belum busuk.” (Riwayat Tarmizi)

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 8 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 5 

    ayam4Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 5

    1. Menyembelih Sebagai Syarat Halalnya Binatang

    Binatang-binatang darat yang halal dimakan itu ada dua macam:

    • Binatang-binatang tersebut mungkin untuk ditangkap, seperti unta, sapi, kambing dan binatang-binatang jinak lainnya, misalnya binatang-binatang peliharaan dan burung-burung yang dipelihara di rumah-rumah.
    • Binatang-binatang yang tidak dapat ditangkap.

    Untuk binatang-binatang yang mungkin ditangkap seperti tersebut di atas, supaya dapat dimakan, Islam memberikan persyaratan harus disembelih menurut aturan syara’.

    1. Syarat-Syarat Penyembelihan Menurut Syara’

    Penyembelihan menurut syara’ yang dimaksud, hanya bisa sempurna jika terpenuhinya syarat-syarat sebagai berikut:

    1). Binatang tersebut harus disembelih atau ditusuk (nahr) dengan suatu alat yang tajam yang dapat mengalirkan darah dan mencabut nyawa binatang tersebut, baik alat itu berupa batu ataupun kayu.

    ‘Adi bin Hatim ath-Thai pernah bertanya kepada Rasulullah s.a.w.: “Ya Rasulullah! Kami berburu dan menangkap seekor binatang, tetapi waktu itu kami tidak mempunyai pisau, hanya batu tajam dan belahan tongkat yang kami miliki, dapatkah itu kami pakai untuk menyembelih?” Maka jawab Nabi:

    “Alirkanlah darahnya dengan apa saja yang kamu suka, dan sebutlah nama Allah atasnya.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Nasal, Ibnu Majah, Hakim dan Ibnu Hibban)

    2). Penyembelihan atau penusukan (nahr) itu harus dilakukan di leher binatang tersebut, yaitu: bahwa kematian binatang tersebut justru sebagai akibat dari terputusnya urat nadi atau kerongkongannya.

    Penyembelihan yang paling sempurna, yaitu terputusnya kerongkongan, tenggorokan dan urat nadi.

    Persyaratan ini dapat gugur apabila penyembelihan itu ternyata tidak dapat dilakukan pada tempatnya yang khas, misalnya karena binatang tersebut jatuh dalam sumur, sedang kepalanya berada di bawah yang tidak mungkin lehernya itu dapat dipotong; atau karena binatang tersebut menentang sifat kejinakannya. Waktu itu boleh diperlakukan seperti buronan, yang cukup dilukai dengan alat yang tajam di bagian manapun yang mungkin.

    Raafi’ bin Khadij menceriterakan:

    “Kami pernah bersama Nabi dalam suatu bepergian, kemudian ada seekor unta milik orang kampung melarikan diri, sedang mereka tidak mempunyai kuda, untuk mengejar, maka ada seorang laki-laki yang melemparnya dengan panah. Kemudian bersabdalah Nabi: ‘Binatang ini mempunyai sifat primitif seperti primitifnya binatang biadab (liar), oleh karena itu apa saja yang dapat dikerjakan, kerjakanlah; begitulah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    3). Tidak disebut selain asma’ Allah; dan ini sudah disepakati oleh semua ulama. Sebab orang-orang jahiliah bertaqarrub kepada Tuhan dan berhalanya dengan cara menyembelih binatang, yang ada kalanya mereka sebut berhala-berhala itu ketika menyembelih, dan ada kalanya penyembelihannya itu diperuntukkan kepada sesuatu berhala tertentu. Untuk itulah maka al-Quran melarangnya, yaitu sebagaimana disebutkan dalam firmannya:

    “Dan binatang yang disembelih karena selain Allah … dan binatang yang disembelih untuk berhala.” (al-Maidah: 3)

    4). Harus disebutnya nama Allah (membaca bismillah) ketika menyembelih. Ini menurut zahir nas al-Quran yang mengatakan:

    “Makanlah dari apa-apa yang disebut asma’ Allah atasnya, jika kamu benar-benar beriman kepada ayat-ayatNya.” (al-An’am: 118)

    “Dan janganlah kamu makan dari apa-apa yang tidak disebut asma’ Allah atasnya, karena sesungguhnya dia itu suatu kedurhakaan.” (al-An’am: 121)

    Dan sabda Rasulullah s.a.w.:

    “Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebut asma’ Allah atasnya, maka makanlah dia.” (Riwayat Bukhari)

    Di antara yang memperkuat persyaratan ini, ialah beberapa hadis shahih yang mengharuskan menyebut asma’ Allah ketika melepaskan panah atau anjing berburu, sebagaimana akan diterangkan nanti.

    Sementara ulama ada juga yang berpendapat, bahwa menyebut asma’ Allah itu sudah menjadi suatu keharusan, akan tetapi tidak harus ketika menyembelihnya itu. Bisa juga dilakukan ketika makan. Sebab kalau ketika makan itu telah disebutnya asma’ Allah bukanlah berarti dia makan sesuatu yang disembelih dengan tidak disebut asma’ Allah. Karena sesuai dengan ceritera Aisyah, bahwa ada beberapa orang yang baru masuk Islam menanyakan kepada Rasulullah:

    “Sesungguhnya suatu kaum memberi kami daging, tetapi kami tidak tahu apakah mereka itu menyebut asma’ Allah atau tidak? Dan apakah kami boleh makan daripadanya atau tidak? Maka jawab Nabi: ‘Sebutlah asma’ Allah dan makanlah.'” (Riwayat Bukhari)

    1. Rahasia Penyembelihan dan Hikmahnya

    Rahasia penyembelihan, menurut yang kami ketahui, yaitu melepaskan nyawa binatang dengan jalan yang paling mudah, yang kiranya meringankan dan tidak menyakiti. Untuk itu maka disyaratkan alat yang dipakai harus tajam, supaya lebih cepat memberi pengaruh.

    Di samping itu dipersyaratkan juga, bahwa penyembelihan itu harus dilakukan pada leher, karena tempat ini yang lebih dekat untuk memisahkan hidup binatang dan lebih mudah.

    Dan dilarang menyembelih binatang dengan menggunakan gigi dan kuku, karena penyembelihan dengan alat-alat tersebut dapat menyakiti binatang. Pada umumnya alat-alat tersebut hanya bersifat mencekik.

    Nabi memerintahkan, supaya pisau yang dipakai itu tajam dan dengan cara yang sopan.

    Sabda Nabi:

    “Sesungguhnya Allah mewajibkan untuk berbuat baik kepada sesuatu. Oleh karena itu jika kamu membunuh, maka perbaikilah cara membunuhnya, dan apabila kamu menyembelih maka perbaikilah cara menyembelihnya dan tajamkanlah pisaunya serta mudahkanlah penyembelihannya itu.” (Riwayat Muslim)

    Di antara bentuk kebaikan ialah seperti apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, bahwa Rasulullah memerintahkan supaya pisaunya itu yang tajam.

    Sabda Nabi:

    “Apabila salah seorang di antara kamu memotong (binatang), maka sempurnakanlah.” (Riwayat Ibnu Majah)

    Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwa ada seorang yang membaringkan seekor kambing sambil ia mengasah pisaunya, maka kata Nabi:

    “Apakah kamu akan membunuhnya, sesudah dia menjadi bangkai? Mengapa tidak kamu asah pisaumu itu sebelum binatang tersebut kamu baringkan?” (Riwayat Hakim)

    Umar Ibnul-Khattab pernah juga melihat seorang laki-laki yang mengikat kaki seekor kambing dan diseretnya untuk disembelih, maka kata Umar: ‘Sial kamu! Giringlah dia kepada mati dengan suatu cara yang baik.’ (Riwayat Abdurrazzaq).

    Begitulah kita dapati pemikiran secara umum dalam permasalahan ini, yaitu yang pada pokoknya harus menaruh belas-kasih kepada binatang dan meringankan dia dari segala penderitaan dengan segala cara yang mungkin.

    Orang-orang jahiliah dahulu suka memotong kelasa unta (bhs Jawa, punuk) dan jembel kambing dalam keadaan hidup. Cara semacam itu adalah menyiksa binatang. Oleh karena itu Rasulullah s.a.w. kemudian menghalangi maksud mereka dan mengharamkan memanfaatkan binatang dengan cara semacam itu.

    Maka kata Nabi:

    “Daging yang dipotong dari binatang dalam keadaan hidup, berarti bangkai.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi dan Hakim)

    1. Hikmah Menyebut Asma’ Allah Waktu Menyembelih

    Perintah untuk menyebut asma’ Allah ketika menyembelih terkandung rahasia yang halus sekali, yang kiranya perlu untuk direnungkan dan diperhatikan:

    Ditinjau dari segi perbedaannya dengan orang musyrik. Bahwa orang-orang musyrik dan orang-orang jahiliah selalu menyebut nama-nama tuhan dan berhala mereka ketika menyembelih. Kalau orang-orang musyrik berbuat demikian, mengapa orang mu’min tidak menyebut nama Tuhannya?

    Segi kedua, yaitu bahwa binatang dan manusia sama-sama makhluk Allah yang hidup dan bernyawa. Oleh karena itu mengapa manusia akan mentang-mentang begitu saja mencabutnya binatang tersebut, tanpa minta izin kepada penciptanya yang juga mencipta seluruh isi bumi ini? Justru itu menyebut asma’ Allah di sini merupakan suatu pemberitahuan izin Allah, yang seolah-olah manusia itu mengatakan: Aku berbuat ini bukan karena untuk memusuhi makhluk Allah, bukan pula untuk merendahkannya, tetapi adalah justru dengan nama Allah kami sembelih binatang itu dan dengan nama Allah juga kami berburu dan dengan namaNya juga kami makan.

    1. Sembelihan Ahli Kitab

    Kita tahu bagaimana Islam memperkeras persoalan penyembelihan dan menganggap penting persoalan ini. Hal ini adalah justru karena orang-orang musyrik Arab dan pengikut-pengikut agama lain telah menjadikan penyembelihan termasuk persoalan ibadah, bahkan masuk persoalan keyakinan dan pokok kepercayaan agama. Oleh karena itu menyembelih, mereka jadikan sebagai sesuatu cara untuk berbakti kepada tuhannya, maka disembelihnya binatang untuk berhala atau dengan menyebut nama tuhannya. Kemudian datanglah Islam menghapus cara-cara ini dan mewajibkan untuk tidak menyebut kecuali asma’ Allah, serta mengharamkan binatang yang disembelih untuk berhala dan dengan menyebut nama berhala.

    Kemudian setelah ahli kitab yang semula adalah bertauhid itu telah banyak dipengaruhi oleh perasaan-perasaan syirik dan samasekali tidak melepaskan dari kesyirikanriya yang dulu-dulu, sehingga sementara orang Islam menganggap, bahwa mereka tidak bisa lagi bergaul dan bertemu dengan mereka sebagaimana halnya terhadap orang-orang musyrik lainnya, maka Allah memberikan perkenan (rukhsah) kepada mereka untuk makan makanan ahli kitab sebagaimana halnya dalam persoalan-persoalan perkawinan. Hal ini ditegaskan Allah dalam firmanNya yang merupakan ayat terakhir, yaitu:

    “Hari ini dihalalkan yang baik-baik buat kamu dan begitu juga makanan orang-orang yang pernah diberi kitab (ahli kitab) adalah halal buat kamu, dan sebaliknya makananmu halal buat mereka.” (al-Maidah: 5)

    Maksud ayat di atas secara ringkas: bahwa hari ini semua yang baik, halal buat kamu, karena itu tidak ada lagi apa yang disebut: Bahirah, saibah, washilah dan ham. Dan makanan ahli kitab pun halal buat kamu sesuai dengan hukum asal dimana samasekali Allah tidak mengharamkannya, dan sebaliknya makananmu pun halal buat mereka. Jadi kamu boleh makan binatang yang disembelih dan diburu oleh ahli kitab, dan sebaliknya kamu boleh memberi makan ahli kitab dengan binatang yang kamu sembelih atau yang kamu buru.

    Islam bersifat keras terhadap orang musyrik tetapi terhadap ahli kitab sangat lunak dan mempermudah, karena mereka ini lebih dekat kepada orang mu’min, sebab sama-sama mengakui wahyu Allah, mengakui kenabian dan pokok-pokok agama secara global. Justru itu pula kita dianjurkan untuk menaruh mawaddah terhadap mereka, boleh makan makanan mereka, boleh kawin dengan perempuan-perempuan mereka dan bergaul dengan baik bersama mereka. Sebab kalau mereka itu sudah bergaul dengan kita dan memeluk Islam dengan penuh keyakinan dan kesadaran, mereka pun akan tahu bahwa agama kita itu justru agama mereka juga dalam pengertian yang lebih tinggi, lebih sempurna bentuk-bentuknya dan lebih bersih lembaran-lembarannya dari segala macam bid’ah, kebatilan dan persekutuan.

    Perkataan makanan ahli kitab adalah suatu ungkapan yang bersifat umum, meliputi seluruh macam makanan: sembelihannya, biji-bijiannya dan sebagainya. Semua ini halal buat kita, selama barang-barang tersebut tidak termasuk kategori haram, karena zatnya seperti darah, bangkai dan daging babi. Semua ini tidak boleh kita makan dengan ijma’ ulama, baik barang-barang tersebut makanan ahli kitab ataupun milik orang muslim.

    Sampai di sini selesailah pembicaraan kita tentang masalah binatang yang halal dan haram. Sekarang tinggal yang perlu untuk diterangkan kepada orang-orang Islam beberapa masalah yang sangat urgen, yaitu:

    6.1. Binatang yang Disembelih Untuk Gereja dan Hari-Hari Besar

    1. Masalah pertama: Apabila tidak terdengar suara dari ahli kitab itu sebutan nama selain Allah, misalnya: Nama al-Masih dan Uzair ketika menyembelih, maka makanannya tersebut tetap halal buat orang Islam. Tetapi kalau sampai terdengar suara penyebutan nama selain Allah, maka dari kalangan ahli fiqih ada yang mengharamkannya karena termasuk apa yang disebut uhilla lighairillah (yang disembelih bukan karena Allah). Tetapi sementara ada juga yang berpendapat halal.

    Abu Darda’ pernah ditanya tentang kambing yang disembelih untuk suatu gereja yang disebut jurjas, binatang itu mereka hadiahkan buat gereja tersebut, apakah boleh kita makan? Maka jawab Abu Darda’: “Boleh.” Sebab mereka itu adalah ahli kitab yang makanannya sudah jelas halal buat kita, dan sebaliknya makanan kita pun halal buat mereka. Kemudian dia suruh memakannya.6

    Imam Malik pernah ditanya tentang sembelihan ahli kitab untuk hari-hari besar dan gereja mereka, maka kata Imam Malik: Aku memakruhkannya dan aku tidak menganggapnya haram.

    Imam Malik memakruhkannya, karena termasuk dalam kategori wara’ (berhati-hati supaya tidak jatuh ke dalam maksiat) karena kawatir kalau-kalau dia itu termasuk ke dalam apa yang disebut binatang yang disembelih bukan karena Allah. Dan ia tidak mengharamkan, karena arti dan maksud apa yang disembelih bukan karena Allah itu menurut pendapatnya, sepanjang yang dinisbatkan kepada ahli kitab, yaitu yang disembelih untuk bertaqarrub kepada Tuhan sedang mereka (ahli kitab) itu sendiri tidak memakannya. Dan apa yang disembelih dan dimakan adalah termasuk makanan mereka, sedang dalam hal ini Allah telah menegaskan: “Bahwa makanan ahli kitab itu halal buat kamu.”

    6.2. Sembelihan yang Dilakukan Oleh Ahli Kitab dengan Tenaga Listrik dan Sebagainya

    1. Masalah kedua: Apakah penyembelihan mereka itu dipersyaratkan seperti penyembelihan kita juga, yaitu dengan pisau yang tajam dan dilakukan pada leher binatang?

    Kebanyakan para ulama berpendapat demikian. Tetapi menurut fatwa pengikut-pengikut madzhab Imam Malik, bahwa yang demikian itu tidak termasuk persyaratan.

    Al-Qadhi Ibnu Arabi berkata ketika menafsiri ayat 5 surah al-Maidah itu sebagai berikut: Ini suatu dalil yang tegas, bahwa binatang buruan dan makanan ahli kitab itu adalah termasuk makan yang baik-baik (thayyibaat) yang telah dihalalkan Allah dengan mutlak. Allah mengulang-ulanginya itu hanyalah bermaksud untuk menghilangkan keragu-raguan pertentangan-pertentangan yang timbul dari perasaan-perasaan yang salah, yang memang sering menimbulkan suatu pertentangan dan memperpanjang omongan.

    Saya pernah ditanya tentang seorang Kristen yang membelit leher ayam kemudian dimasaknya, apakah itu boleh dimakan atau diambil sebagian daripadanya sebagai makanan? Maka jawab saya: Boleh dimakan, karena dia itu termasuk makanannya dan makanan pendeta dan pastor, sekalipun ini menurut kita tidak termasuk penyembelihan, namun Allah telah menghalalkan makanan mereka itu secara mutlak. Makanan apapun yang dibenarkan oleh agama mereka berarti halal buat kita, kecuali yang memang oleh Allah telah didustakan.

    Ulama-ulama kita pernah berkata: Mereka telah menyerahkan perempuan-perempuan mereka kepada kita untuk dikawin dan halal kita setubuhi, mengapa penyembelihannya tidak boleh kita makan, sedang makan tidak sama dengan setubuh, halal dan haramnya.

    Demikian pendapat Ibnul-Arabi.

    Kemudian di tempat lain ia berkata lagi: Mereka tidak makan yang bukan karena disembelih, misalnya dengan dicekik dan dipukul kepalanya (dengan tidak bermaksud menyembelih, karena itu binatang tersebut termasuk bangkai yang haram).

    Kedua pendapat beliau ini tidak bertentangan, sebab yang dimaksud ialah: Apa yang mereka anggap sebagai penyembelihan, berarti halal buat kita sekalipun menurut kita sembelihannya itu tidak benar. Dan apa yang mereka anggap itu bukan sembelihan, tidaklah halal buat kita.

    Dengan demikian, menurut mafhum musytarak apa yang disebut penyembelihan, yaitu bermaksud menyabung nyawa binatang dengan niat untuk halalnya memakan binatang tersebut.

    Ini adalah pendapat ulama-ulama Malikiyah.

    Dengan bercermin kepada apa yang telah kami sebutkan di atas, maka kita dapat mengetahui hukumnya daging-daging yang diimport dari negara-negara yang penduduknya majoritas ahli kitab, seperti ayam, corned sapi, yang semua itu kadang-kadang disembelih dengan menggunakan tenaga elektronik dan sebagainya. Selama binatang-binatang tersebut oleh mereka dianggapnya sebagai sembelihan, maka jelas halal buat kita, sesuai dengan umumnya ayat.

    Adapun daging-daging yang diimport dari negara-negara Komunis, tidak boleh kita makan. Sebab mereka itu bukan ahli kitab, bahkan mereka adalah kufur dan anti kepada semua agama dan menentang Allah serta seluruh risalahnya.

    6.3. Penyembelihan Orang Majusi dan Sebagainya

    Para ulama berbeda pendapat tentang penyembelihan orang Majusi. Kebanyakan mereka berpendapat tidak boleh memakannya karena mereka termasuk orang musyrik.

    Sedang yang lain berpendapat halal karena Nabi s.a.w. pernah bersabda:

    “Perlakukanlah mereka itu seperti perlakuan terhadap ahli kitab.” (Riwayat Malik dan Syafi’i)

    Dan Nabi sendiri pernah menerima upeti dari Majusi Hajar. (Riwayat Bukhari).

    Oleh karena itu, Ibnu Hazim berkata di bab penyembelihan dalam kitabnya Muhalla: “Mereka itu adalah ahli kitab, oleh karena itu mereka dihukumi seperti hukum yang berlaku untuk ahli kitab dalam segala hal.” (Lihat juz 7: 456).7

    Dan shabiun (penyembah binatang) oleh Abu Hanifah dianggap sebagai ahli kitab juga.8

    6.4. Kaidah: “Apa Yang Ghaib Bagi Kita, Jangan Kita Tanyakan”

    Tidak menjadi kewajiban seorang muslim untuk menanyakan hal-hal yang tidak disaksikan, misalnya: Bagaimana cara penyembelihannya? Terpenuhi syaratnya atau tidak? Disebut asma’ Allah atau tidak? Bahkan apapun yang tidak kita saksikan sendiri tentang penyembelihannya baik dilakukan oleh seorang muslim, walaupun dia bodoh dan fasik, ataupun oleh ahli kitab, semuanya adalah halal buat kita.

    Sebab, seperti apa yang telah kita sebutkan di atas, yaitu ada suatu kaum yang bertanya kepada Nabi: “Bahwa ada satu kaum yang memberinya daging, tetapi kita tidak tahu apakah disebut asma’ Allah atau tidak. Maka jawab Nabi: Sebutlah asma’ Allah atasnya dan makanlah,” (Riwayat Bukhari).

    Berdasar hadis ini para ulama berpendapat, bahwa semua perbuatan dan pengeluaran selalu dihukumi sah dan baik, kecuali ada dalil (bukti) yang menunjukkan rusakan batalnya perbuatan tersebut.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 2:42 am on 7 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 4 

    ikan laut segarHalal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 4

    Binatang Laut dan Darat

    Binatang, dilihat dari segi tempatnya ada dua macam: Binatang laut dan binatang darat.

    1. Binatang laut yaitu semua binatang yang hidupnya di dalam air

    Binatang ini semua halal, didapat dalam keadaan bagaimanapun, apakah waktu diambilnya itu masih dalam keadaan hidup ataupun sudah bangkai, terapung atau tidak. Binatang-binatang tersebut berupa ikan ataupun yang lain, seperti: anjing laut, babi laut dan sebagainya.

    Bagi yang mengambilnya tidak lagi perlu diperbincangkan, apakah dia seorang muslim ataupun orang kafir. Dalam hal ini Allah memberikan keleluasaan kepada hamba-hambaNya dengan memberikan perkenan (mubah) untuk makan semua binatang laut, tidak ada satupun yang diharamkan dan tidak ada satupun persyaratan untuk menyembelihnya seperti yang berlaku pada binatang lainnya. Bahkan Allah menyerahkan bulat-bulat kepada manusia untuk mengambil dan menjadikannya sebagai modal kekayaan menurut kebutuhannya dengan usaha semaksimal mungkin untuk tidak menyiksanya.

    Firman Allah:

    “Dialah Zat yang memudahkan laut supaya kamu makan daripadanya daging yang lembut.” (an-Nahl: 14)

    “Dihalalkan buat kamu binatang buronan laut dan makanannya sebagai perbekalan buat kamu dan untuk orang-orang yang belayar.” (al-Maidah: 96)

    Di sini Allah menyampaikan secara umum, tidak ada satupun yang dikhususkan, sedang Allah tidak akan lupa (wamakana rabbuka nasiyan).

    1. Binatang darat yang haram

    Tentang binatang darat, al-Quran tidak jelas menentukan yang haram, melainkan babi, darah, bangkai dan yang disembelih bukan karena Allah, sebagaimana telah disebutkan dalam beberapa ayat terdahulu, dengan susunan yang terbatas pada empat macam dan diperinci menjadi 10 macam.

    Tetapi di samping itu al-Quran juga mengatakan:

    “Dan Allah mengharamkan atas mereka yang kotor-kotor.” (al-A’raf: 157)

    Yang disebut Khabaits (yang kotor-kotor), yaitu semua yang dianggap kotor oleh perasaan manusia secara umum, kendati beberapa prinsip mungkin menganggap tidak kotor. Justru itu Rasulullah dalam hadisnya melarang makan keledai kota pada hari Khaibar.

    Hadisnya itu berbunyi sebagai berikut:

    “Rasulullah s.a.w. melarang makan daging keledai kota pada hari perang Khaibar.”4 (Riwayat Bukhari)

    Dan untuk itu diriwayatkan bahwa Rasulullah melarang binatang yang bertaring dan burung yang berkuku mencengkeram:

    “Rasulullah melarang makan semua binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku mencengkeram.” (Riwayat Bukhari)

    Yang dimaksud Binatang Was (siba’), yaitu binatang yang menangkap binatang lainnya dan memakan dengan bengis, seperti singa, serigala dan lain-lain. Dan apa yang dimaksud dengan burung yang berkuku (dzi mikhlabin minath-thairi), yaitu yang kukunya itu dapat melukai, seperti burung elang, rajawali, ruak-ruak bangkai dan burung yang sejenis dengan elang.

    Ibnu Abbas berpendapat, bahwa binatang yang haram dimakan itu hanya empat seperti yang tersebut dalam ayat. Seolah-olah beliau menganggap hadis-hadis di atas dan lain-lain sebagai mengatakan makruh, bukan haram. Atau mungkin karena hadis-hadis tersebut tidak sampai kepadanya.

    Ibnu Abbas juga pernah berkata: “Bahwa orang-orang jahiliah pernah makan sesuatu dan meninggalkan sesuatu karena dipandang kotor. Kemudian Allah mengutus nabiNya dan menurunkan kitabNya. Di situlah menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Oleh karena itu, apa yang dihalalkan, berarti halal, dan apa yang diharamkan, berarti haram, sedang yang didiamkan berarti dimaafkan (halal). Kemudian ia membaca ayat:

    “Katakanlah! Saya tidak mendapatkan sesuatu yang diwahyukan kepadaku tentang makanan yang diharamkan bagi orang yang mau makan kecuali …” (al-An’am: 145)5

    Berdasar ayat ini, Ibnu Abbas berpendapat bahwa daging keledai kota itu halal.

    Pendapat Ibnu Abbas ini diikuti oleh Imam Malik, dimana beliau tidak menganggap haram terhadap binatang-binatang buas dan sebagainya, tetapi ia hanya menganggap makruh.

    Yang sudah pasti, bahwa penyembelihan secara syara’ tidak mempengaruhi halalnya binatang-binatang yang haram itu, tetapi mempengaruhi terhadap sucinya kulit sehingga tidak perlu lagi disamak.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 6:00 pm on 6 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 3 

    logo-halalHalal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 3

    1. Keadaan Darurat dan Pengecualiannya

    Semua binatang yang diharamkan sebagaimana tersebut di atas, adalah berlaku ketika dalam keadaan normal. Adapun ketika dalam keadaan darurat, maka hukumnya tersendiri, yaitu Halal.

    Firman Allah:

    “Allah telah menerangkan kepadamu apa-apa yang Ia telah haramkan atas kamu, kecuali kamu dalam keadaan terpaksa.” (al-An’am: 119)

    Dan di ayat lain, setelah Allah menyebut tentang haramnya bangkai, darah dan sebagainya kemudian diikutinya dengan mengatakan:

    “Barangsiapa terpaksa dengan tidak sengaja dan tidak melewati batas, maka tidak ada dosa atasnya, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih.” (al-Baqarah: 173)

    Darurat yang sudah disepakati oleh semua ulama, yaitu darurat dalam masalah makanan, karena ditahan oleh kelaparan. Sementara ulama memberikan batas darurat itu berjalan sehari-semalam, sedang dia tidak mendapatkan makanan kecuali barang-barang yang diharamkan itu. Waktu itu dia boleh makan sekedarnya sesuai dengan dorongan darurat itu dan guna menjaga dari bahaya.

    Imam Malik memberikan suatu pembatas, yaitu sekedar kenyang, dan boleh menyimpannya sehingga mendapat makanan yang lain.

    Ahli fiqih yang lain berpendapat: dia tidak boleh makan, melainkan sekedar dapat mempertahankan sisa hidupnya.

    Barangkali di sinilah jelasnya apa yang dimaksud dalam firman Allah Ghaira baghin wala ‘adin (dengan tidak sengaja dan melewati batas) itu.

    Perkataan ghairah baghin maksudnya: Tidak mencari-cari alasan karena untuk memenuhi keinginan (seleranya). Sedang yang dimaksud dengan wala ‘adin, yaitu: Tidak melewati batas ketentuan darurat. Sedang apa yang dimaksud dengan daruratnya lapar, yaitu seperti yang dijelaskan Allah dalam firmannya, dengan tegas Ia mengatakan:

    “Dan barangsiapa yang terpaksa pada (waktu) kelaparan dengan tidak sengaja untuk berbuat dosa, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih. ” (al-Maidah: 3)

    1. Daruratnya Berobat

    Daruratnya berobat, yaitu ketergantungan sembuhnya suatu penyakit pada memakan sesuatu dari barang-barang yang diharamkan itu. Dalam hal ini para ulama fiqih berbeda pendapat. Di antara mereka ada yang berpendapat, berobat itu tidak dianggap sebagai darurat yang sangat memaksa seperti halnya makan. Pendapat ini didasarkan pada sebuah hadis Nabi yang mengatakan:

    “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhanmu dengan sesuatu yang Ia haramkan atas kamu.” (Riwayat Bukhari)

    Sementara mereka ada juga yang menganggap keadaan seperti itu sebagai keadaan darurat, sehingga dianggapnya berobat itu seperti makan, dengan alasan bahwa kedua-duanya itu sebagai suatu keharusan kelangsungan hidup. Dalil yang dipakai oleh golongan yang membolehkan makan haram karena berobat yang sangat memaksakan itu, ialah hadis Nabi yang sehubungan dengan perkenan beliau untuk memakai sutera kepada Abdur-Rahman bin Auf dan az-Zubair bin Awwam yang justru karena penyakit yang diderita oleh kedua orang tersebut, padahal memakai sutera pada dasarnya adalah terlarang dan diancam.2

    Barangkali pendapat inilah yang lebih mendekati kepada jiwa Islam yang selalu melindungi kehidupan manusia dalam seluruh perundang-undangan dan rekomendasinya.

    Tetapi perkenan (rukhsah) dalam menggunakan obat yang haram itu harus dipenuhinya syarat-syarat sebagai berikut:

    1. Terdapat bahaya yang mengancam kehidupan manusia jika tidak berobat.
    2. Tidak ada obat lain yang halal sebagai ganti Obat yang haram itu.
    3. Adanya suatu pernyataan dari seorang dokter muslim yang dapat dipercaya, baik pemeriksaannya maupun agamanya (i’tikad baiknya).

    Kami katakan demikian sesuai dengan apa yang kami ketahui, dari realita yang ada dari hasil penyelidikan dokter-dokter yang terpercava, bahwa tidak ada darurat yang membolehkan makan barang-barang yang haram seperti obat. Tetapi kami menetapkan suatu prinsip di atas adalah sekedar ikhtiyat’ (bersiap-siap dan berhati-hati) yang sangat berguna bagi setiap muslim, yang kadang-kadang dia berada di suatu tempat yang di situ tidak ada obat kecuali yany haram.

    1. Perseorangan Tidak Boleh Dianggap Darurat Kalau Dia Berada Dalam Masyarakat yang di Situ Ada Sesuatu yang Dapat Mengatasi Keterpaksaannya Itu

    Tidak termasuk syarat darurat hanya karena seseorang itu tidak mempunyai makanan, bahkan tidak termasuk darurat yang membolehkan seseorang makan makanan yang haram, apabila di masyarakatnya itu ada orang, muslim atau kafir, yang masih mempunyai sisa makanan yang kiranya dapat dipakai untuk mengatasi keterpaksaannya itu. Karena prinsip masyarakat Islam adalah harus ada perasaan saling bertanggungjawab dan saling bantu-membantu dan bersatu padu bagaikan satu tubuh atau bangunan yang satu sama lain saling kuat-menguatkan.

    Salah satu hasil tinjauan yang sangat bernilai oleh para ahli fiqih Islam terhadap masalah solidaritas sosial, yaitu seperti yang pernah dikatakan oleh Ibnu Hazm: “Bahwa tidak halal bagi seorang muslim yang dalam keadaan terpaksa untuk makan bangkai atau babi, sedangkan dia masih mendapatkan makanan dari kelebihan kawannya yang muslim ataupun kafir zimmi. Karena suatu kewajiban yang harus ditunaikan oleh orang yang mempunyai makanan, yaitu memberikan makanan tersebut kepada rekannya yang sedang kelaparan.

    Kalau betul keadaannya demikian, dia tidak dapat dikategorikan terpaksa yang boleh makan bangkai dan babi. Dan dia boleh memerangi keadaan seperti itu. Kalau dia terbunuh dalam persengketaan itu, si pembunuhnya dikenakan hukuman qisas, dan kalau yang menahan uangnya itu sampai terbunuh, maka dia akan mendapat laknat dari Allah, karena dia menahan hak orang. Dia akan dapat digolongkan sebagai bughat (orang-orang yang zalim).

    Seperti firman Allah:

    “Kalau salah satunya berbuat zalim kepada yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat zalim itu sehingga mereka mau kembali kepada hukum Allah.” (al-Hujurat: 9)

    Orang yang menentang suatu perbuatan baik adalah orang berbuat jahat kepada kawannya yang mempunyai hak. Justru itulah Abubakar as-Siddiq memerangi orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 5 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 2 

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 2

    1. Daging Babi

    3) Yang ketiga ialah daging babi. Naluri manusia yang baik sudah barang tentu tidak akan menyukainya, karena makanan-makanan babi itu yang kotor-kotor dan najis. Ilmu kedokteran sekarang ini mengakui, bahwa makan daging babi itu sangat berbahaya untuk seluruh daerah, lebih-lebih di daerah panas. Ini diperoleh berdasarkan penyelidikan ilmiah, bahwa makan daging babi itu salah satu sebab timbulnya cacing pita yang sangat berbahaya. Dan barangkali pengetahuan modern berikutnya akan lebih banyak dapat menyingkap rahasia haramnya babi ini daripada hari kini. Maka tepatlah apa yang ditegaskan Allah:

    “Dan Allah mengharamkan atas mereka yang kotor-kotor.” (al-A’raf: 156)

    Sementara ahli penyelidik berpendapat, bahwa membiasakan makan daging babi dapat melemahkan perasaan cemburu terhadap hal-hal yang terlarang.

    1. Binatang Yang Disembelih Bukan Karena Allah

    4) Yang keempat ialah binatang yang disembelih bukan karena Allah, yaitu binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, misalnya nama berhala Kaum penyembah berhala (watsaniyyin) dahulu apabila hendak menyembelih binatang, mereka sebut nama-nama berhala mereka seperti Laata dan Uzza. Ini berarti suatu taqarrub kepada selain Allah dan menyembah kepada selain asma’ Allah yang Maha Besar.

    Jadi sebab (illah) diharamkannya binatang yang disembelih bukan karena Allah di sini ialah semata-mata illah agama, dengan tujuan untuk melindungi aqidah tauhid, kemurnian aqidah dan memberantas kemusyrikan dengan segala macam manifestasi berhalanya dalam seluruh lapangan.

    Allah yang menjadikan manusia, yang menyerahkan semua di bumi ini kepada manusia dan yang menjinakkan binatang untuk manusia, telah memberikan perkenan kepada manusia untuk mengalirkan darah binatang tersebut guna memenuhi kepentingan manusia dengan menyebut asma’Nya ketika menyembelih. Dengan demikian, menyebut asma’ Allah ketika itu berarti suatu pengakuan, bahwa Dialah yang menjadikan binatang yang hidup ini, dan kini telah memberi perkenan untuk menyembelihnya.

    Oleh karena itu, menyebut selain nama Allah ketika menyembelih berarti meniadakan perkenan ini dan dia berhak menerima larangan memakan binatang yang disembelih itu.

    1. Macam-Macam Bangkai

    Empat macam binatang yang disebutkan di atas adalah masih terlalu global (mujmal), dan kemudian diperinci dalam surah al-Maidah menjadi 10 macam, seperti yang telah kami sebutkan di atas dalam pembicaraan tentang bangkai, yang perinciannya adalah sebagai berikut:

    1. Al-Munkhaniqah, yaitu binatang yang mati karena dicekik, baik dengan cara menghimpit leher binatang tersebut ataupun meletakkan kepala binatang pada tempat yang sempit dan sebagainya sehingga binatang tersebut mati.
    2. Al-Mauqudzah, yaitu binatang yang mati karena dipukul dengan tongkat dan sebagainya.
    3. Al-Mutaraddiyah, yaitu binatang yang jatuh dari tempat yang tinggi sehingga mati. Yang seperti ini ialah binatang yang jatuh dalam sumur.
    4. An-Nathihah, yaitu binatang yang baku hantam antara satu dengan lain, sehingga mati.
    5. Maa akalas sabu, yaitu binatang yang disergap oleh binatang buas dengan dimakan sebagian dagingnya sehingga mati.

    Sesudah menyebutkan lima macam binatang (No. 5 sampai dengan 9) ini kemudian Allah menyatakan “Kecuali binatang yang kamu sembelih,” yakni apabila binatang-binatang tersebut kamu dapati masih hidup, maka sembelihlah. Jadi binatang-binatang tersebut menjadi halal kalau kamu sembelih dan sebagainya sebagaimana yang akan kita bicarakan di bab berikutnya.

    Untuk mengetahui kebenaran apa yang telah disebutkan di atas tentang halalnya binatang tersebut kalau masih ada sisa umur, yaitu cukup dengan memperhatikan apa yang dikatakan oleh Ali r,a. Kata Ali: “Kalau kamu masih sempat menyembelih binatang-binatang yang jatuh dari atas, yang dipukul dan yang berbaku hantam itu…, karena masih bergerak (kaki muka) atau kakinya, maka makanlah.” Dan kata Dhahhak: “Orang-orang jahiliah dahulu pernah makan binatang-binatang tersebut, kemudian Allah mengharamkannya kecuali kalau sempat disembelih. Jika dijumpai binatang-binatang tersebut masih bergerak kakinya, ekornya atau kerlingan matanya dan kemudian sempat disembelih, maka halallah dia.”1

    1. Hikmah Diharamkannya Macam-Macam Binatang di Atas

    Hikmah diharamkannya macam-macam bangkai binatang seperti tertera di atas agak kurang begitu tampak di sini. Tetapi hikmah yang lebih kuat, ialah: bahwa Allah s.w.t. mengetahui akan perlunya manusia kepada binatang, kasih sayangnya dan pemeliharaannya. Oleh karena itu tidak pantas kalau manusia dibiarkan begitu saja dengan sesukanya untuk mencekik dan menyiksa binatang dengan memukul hingga mati seperti yang biasa dilakukan oleh penggembala-penggembala yang keras hati, khususnya bagi mereka yang diupah, dan mereka yang suka mengadu binatang, misalnya mengadu antara dua kerbau, dua kambing sehingga matilah binatang-binatang tersebut atau hampir-hampir mati.

    Dari ini, maka para ulama ahli fiqih menetapkan haramnya binatang yang mati karena beradu, sekalipun terluka karena tanduk dan darahnya mengalir dari tempat penyembelihannya. Sebab maksud diharamkannya di sini, menurut apa yang saya ketahui, yaitu sebagai hukuman bagi orang yang membiarkan binatang-binatang tersebut beradu sehingga satu sama lain bunuh-membunuh. Maka diharamkannya binatang tersebut adalah merupakan suatu hukuman yang paling tepat. Adapun binatang yang disergap (dimakan) oleh binatang buas, didalamnya –dan yang terpokok– terdapat unsur penghargaan bagi manusia dan kebersihan dari sisa makanan binatang buas. Dimana hal ini biasa dilakukan orang-orang jahiliah, yaitu mereka makan sisa-sisa daging yang dimakan binatang buas, seperti kambing, unta, sapi dan sebagainya, kemudian hal tersebut diharamkan Allah buat orang-orang mu’min.

    1. Binatang yang Disembelih Untuk Berhala

    10) Perincian yang ke10 dari macam-macam binatang yang haram, yaitu: Yang disembelih untuk berhala (maa dzubiha alan nusub). Nushub sama dengan Manshub artinya: yang ditegakkan. Maksudnya yaitu berhala atau batu yang ditegakkan sebagai tanda suatu penyembahan selain Allah. Tanda-tanda ini berada di sekitar Ka’bah.

    Orang-orang jahiliah biasa menyembelih binatang untuk dihadiahkan kepada berhala-berhala tersebut dengan maksud bertaqarrub kepada Tuhannya.

    Binatang-binatang yang disembelih untuk maksud di atas termasuk salah satu macam yang disembelih bukan karena Allah.

    Baik yang disembelih bukan karena Allah ataupun yang disembelih untuk berhala, kedua-duanya adalah suatu pengagungan terhadap berhala (thaghut). Bedanya ialah: bahwa binatang yang disembelih bukan karena Allah itu, kadang-kadang disembelih untuk sesuatu patung, tetapi binatang itu sendiri jauh dari patung tersebut dan jauh dari berhala (nushub), tetapi di situ disebutnya nama thaghut (berhala). Adapun binatang yang disembelih untuk berhala, yaitu mesti binatang tersebut disembelih di dekat patung tersebut dan tidak mesti dengan menyebut nama selain Allah.

    Karena berhala-berhala dan patung-patung itu berada di sekitar Ka’bah, sedang sementara orang beranggapan, bahwa menyembelih untuk dihadiahkan kepada berhala-berhala tersebut berarti suatu penghormatan kepada Baitullah, maka anggapan seperti itu oleh al-Quran dihilangkannya dan ditetapkanlah haramnya binatang tersebut dengan nas yang tegas dan jelas, sekalipun itu difahami dari kalimat maa uhilla lighairillah (apa-apa yang disembelih bukan karena Allah).

    1. Ikan dan Belalang Dapat Dikecualikan dari Bangkai

    Ada dua binatang yang dikecualikan oleh syariat Islam dari kategori bangkai, yaitu belalang, ikan dan sebagainya dari macam binatang yang hidup di dalam air.

    Rasulullah s.a.w. ketika ditanya tentang masalah air laut, beliau menjawab:

    “Laut itu airnya suci dan bangkainya halal.” (Riwayat Ahmad dan ahli sunnah)

    Dan firman Allah yang mengatakan:

    “Dihalalkan bagi kamu binatang buruan laut dan makanannya.” (al-Maidah. 96)

    Umar berkata: Yang dimaksud shaiduhu, yaitu semua binatang yang diburu; sedang yang dimaksud tha’amuhu (makanannya), yaitu barang yang dicarinya.

    Dan kata Ibnu Abbas pula, bahwa yang dimaksud thaamuhu, yaitu bangkainya.

    Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdullah diceriterakan, bahwa Rasulullah s.a.w. pernah mengirimkan suatu angkatan, kemudian mereka itu mendapatkan seekor ikan besar yang sudah menjadi bangkai. lkan itu kemudian dimakannya selama 20 hari lebih. Setelah mereka tiba di Madinah, diceriterakanlah hal tersebut kepada Nabi, maka jawab Nabi:

    “Makanlah rezeki yang telah Allah keluarkan untuk kamu itu, berilah aku kalau kamu ada sisa. Lantas salah seorang diantara mereka ada yang memberinya sedikit. Kemudian Nabi memakannya.” (Riwayat Bukhari)

    Yang termasuk dalam kategori ikan yaitu belalang. Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. memberikan suatu perkenan untuk dimakannya walaupun sudah menjadi bangkai, karena satu hal yang tidak mungkin untuk menyembelihnya.

    Ibnu Abi Aufa mengatakan:

    “Kami pernah berperang bersama Nabi tujuh kali peperangan, kami makan belalang bersama beliau.” (Riwayat Jama’ah, kecuali Ibnu Majah)

    1. Memanfaatkan Kulit Tulang dan Rambut Bangkai

    Yang dimaksud haramnya bangkai, hanyalah soal memakannya. Adapun memanfaatkan kulitnya, tanduknya, tulangnya atau rambutnya tidaklah terlarang. Bahkan satu hal yang terpuji, karena barang-barang tersebut masih mungkin digunakan. Oleh karena itu tidak boleh disia-siakan.

    Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan, bahwa salah seorang hamba Maimunah yang telah dimerdekakan (maulah) pernah diberi hadiah seekor kambing, kemudian kambing itu mati dan secara kebetulan Rasulullah berjalan melihat bangkai kambing tersebut, maka bersabdalah beliau:

    “Mengapa tidak kamu ambil kulitnya, kemudian kamu samak dan memanfaatkan?” Para sahabat menjawab: “Itu kan bangkai!” Maka jawab Rasulullah: “Yang diharamkan itu hanyalah memakannya.” (Riwayat Jama’ah, kecuali Ibnu Majah)

    Rasulullah s.a.w. menerangkan cara untuk membersihkannya, yaitu dengan jalan disamak.

    Sabda beliau:

    “Menyamak kulit binatang itu berarti penyembelihannya.” (Riwayat Abu Daud dan Nasal)

    Yakni, bahwa menyamak kulit itu sama dengan menyembelih untuk menjadikan kambing tersebut menjadi halal.

    Dalam salah satu riwayat disebutkan:

    “Menyamak kulit bangkai itu dapat menghilangkan kotorannya.” (Riwayat al-Hakim)

    Dan diriwayatkan pula, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Kulit apa saja kalau sudah disamak, maka sungguh menjadi suci/bersih.” (Riwayat Muslim dan lain-lain)

    Kulit yang disebut dalam hadis-hadis ini adalah umum, meliputi kulit anjing dan kulit babi. Yang berpendapat demikian ialah madzhab Dhahiri, Abu Yusuf dan diperkuat oleh Imam Syaukani.

    Kata Saudah Umul Mu’minin: “Kami mempunyai kambing, kemudian kambing itu mati, lantas kami samak kulitnya dan kami pakai untuk menyimpan korma supaya menjadi manis, dan akhirnya kami jadikan suatu girbah (suatu tempat yang terbuat dari kulit binatang yang biasa dipakai oleh orang Arab zaman dahulu untuk mengambil air dan sebagainya).” (Riwayat Bukhari).

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 4 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 1 

    halalHalal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman

    SEJAK dahulu kala umat manusia berbeda-beda dalam menilai masalah makanan dan minuman mereka, ada yang boleh dan ada juga yang tidak boleh. Lebih-lebih dalam masalah makanan yang berupa binatang. Adapun masalah makanan dan minuman yang berupa tumbuh-tumbuhan, tidak banyak diperselisihkan. Dan Islam sendiri tidak mengharamkan hal tersebut, kecuali setelah menjadi arak, baik yang terbuat dari anggur, korma, gandum ataupun bahan-bahan lainnya, selama benda-benda tersebut sudah mencapai kadar memabukkan.

    Begitu juga Islam mengharamkan semua benda yang dapat menghilangkan kesadaran dan melemahkan urat serta yang membahayakan tubuh, sebagaimana akan kami sebutkan di bawah.

    Adapun soal makanan berupa binatang inilah yang terus diperselisihkan dengan hebat oleh agama-agama dan golongan.

    1. Menyembelih dan Makan Binatang Dalam Pandangan Agama Hindu

    Ada sementara golongan, misalnya Golongan Brahmana (Hindu) dan Filsuf yang mengharamkan dirinya menyembelih dan memakan binatang. Mereka cukup hidup dengan makanan-makanan dari tumbuh-tumbuhan. Golongan ini berpendapat, bahwa menyembelih binatang termasuk suatu keganasan manusia terhadap binatang hidup. Manusia tidak berhak untuk menghalang-halangi hidupnya binatang.

    Tetapi kita juga tahu dari hasil pengamatan kita terhadap alam ini, bahwa diciptanya binatang-binatang itu tidak mempunyai suatu tujuan. Sebab binatang tidak mempunyai akal dan kehendak. Bahkan secara nalurinya binatang-binatang itu dicipta guna memenuhi (khidmat) kebutuhan manusia. Oleh karena itu tidak aneh kalau manusia dapat memanfaatkan dagingnya dengan cara menyembelih, sebagaimana halnya dia juga dapat memanfaatkan tenaganya dengan cara yang lazim.

    Kita pun mengetahui dari sunnatullah (ketentuan Allah) terhadap makhluknya ini, yaitu: golongan rendah biasa berkorban untuk golongan atas. Misalnya daun-daunan yang masih hijau boleh dipotong/dipetik buat makanan binatang, dan binatang disembelih untuk makanan manusia dan, bahkan, seseorang berperang dan terbunuh untuk kepentingan orang banyak. Begitulah seterusnya.

    Haruslah diingat, bahwa dilarangnya manusia untuk menyembelih binatang tidak juga dapat melindungi binatang tersebut dari bahaya maut dan binasa. Kalau tidak berbaku hantam satu sama lain, dia juga akan mati dengan sendirinya; dan kadang-kadang mati dalam keadaan demikian itu lebih sakit daripada ketajaman pisau.

    1. Binatang yang Diharamkan Dalam Pandangan Yahudi dan Nasrani

    Dalam pandangan agama Yahudi dan Nasrani (kitabi), Allah mengharamkan kepada orang-orang Yahudi beberapa binatang laut dan darat. Penjelasannya dapat dilihat dalam Taurat (Perjanjian Lama) fasal 11 ayat 1 dan seterusnya Bab: Imamat Orang Lewi.

    Dan oleh al-Ouran disebutkan sebagian binatang yang diharamkan buat orang-orang Yahudi itu serta alasan diharamkannya, yaitu seperti yang kami sebutkan di atas, bahwa diharamkannya binatang tersebut adalah sebagai hukuman berhubung kezaliman dan kesalahan yang mereka lakukan.

    Firman Allah:

    “Dan kepada orang-orang Yahudi kami haramkan semua binatang yang berkuku, dan dari sapi dan kambing kami haramkan lemak-lemaknya, kecuali (lemak) yang terdapat di punggungnya, atau yang terdapat dalam perut, atau yang tercampur dengan tulang. Yang demikian itu kami (sengaja) hukum mereka. Dan sesungguhnya Kami adalah (di pihak) yang benar.” (al-An’am: 146)

    Demikianlah keadaan orang-orang Yahudi. Sedangkan orang-orang Nasrani sesuai dengan ketentuannya harus mengikuti orang-orang Yahudi. Karena itu Injil menegaskan, bahwa Isa a.s. datang tidak untuk mengubah hukum Taurat (Namus) tetapi untuk menggenapinya.

    Tetapi suatu kenyataan, bahwa mereka telah mengubah hukum Taurat itu. Apa yang diharamkan dalam Taurat telah dihapus oleh orang-orang Nasrani –tanpa dihapus oleh Injilnya– mereka mau mengikuti Paulus yang dipandang suci itu dalam masalah halalnya semua makanan dan minuman, kecuali yang memang disembelih untuk berhala kalau dengan tegas itu dikatakan kepada orang Kristen: “Bahwa binatang tersebut disembelih untuk berhala.”

    Paulus memberikan alasan, bahwa semua yang suci halal untuk orang yang suci, dan semua yang masuk dalam mulut tidak dapat menajiskan mulut, yang dapat menajiskan mulut ialah apa yang keluar dari mulut.

    Mereka juga telah menghalalkan babi, sekalipun dengan tegas babi itu diharamkan oleh Taurat sampai hari ini.

    1. Menurut Pandangan Orang Arab Jahiliah

    Orang-orang Arab jahiliah mengharamkan sebagian binatang karena kotor, dan sebagiannya diharamkan karena ada hubungannya dengan masalah peribadatan (ta’abbud), karena untuk bertaqarrub kepada berhala dan karena mengikuti anggapan-anggapan yang salah (waham). Seperti: Bahirah, saaibah, washilah dan ham. Yang menjelaskannya telah kami sebutkan di atas.

    Tetapi di balik itu, mereka banyak juga menghalalkan beberapa binatang yang kotor (khabaits), seperti: Bangkai dan darah yang mengalir.

    1. Islam Menghalalkan Yang Baik

    Islam datang, sedang manusia masih dalam keadaan demikian dalam memandang masalah makanan berupa binatang. Islam berada di antara suatu faham kebebasan soal makanan dan extrimis dalam soal larangan. Oleh karena itu Islam kemudian mengumandangkan kepada segenap umat manusia dengan mengatakan:

    “Hai manusia! Makanlah dari apa-apa yang ada di bumi ini yang halal dan baik, dan jangan kamu mengikuti jejak syaitan karena sesungguhnya syaitan itu musuh yang terang-terangan bagi kamu.” (al-Baqarah: 168)

    Di sini Islam memanggil manusia supaya suka makan hidangan besar yang baik, yang telah disediakan oleh Allah kepada mereka, yaitu bumi lengkap dengan isinya, dan kiranya manusia tidak mengikuti kerajaan dan jejak syaitan yang selalu menggoda manusia supaya mau mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan Allah, dan mengharamkan kebaikan-kebaikan yang dihalalkan Allah; dan syaitan juga menghendaki manusia supaya terjerumus dalam lembah kesesatan.

    Selanjutnya mengumandangkan seruannya kepada orang-orang mu’min secara khusus.

    Firman Allah:

    “Hai orang-orang yang beriman! Makanlah yang baik-baik dari apa-apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta bersyukurlah kepada Allah kalau betul-betul kamu berbakti kepadaNya. Allah hanya mengharamkan kepadamu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang disembelih bukan karena Allah. Maka barangsiapa dalam keadaan terpaksa dengan tidak sengaja dan tidak melewati batas, maka tidaklah berdosa baginya, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih.” (al-Baqarah: 172-173)

    Dalam seruannya secara khusus kepada orang-orang mu’min ini, Allah s.w.t. memerintahkan mereka supaya suka makan yang baik dan supaya mereka suka menunaikan hak nikmat itu, yaitu dengan bersyukur kepada Zat yang memberi nikmat. Selanjutnya Allah menjelaskan pula, bahwa Ia tidak mengharamkan atas mereka kecuali empat macam seperti tersebut di atas. Dan yang seperti ini disebutkan juga dalam ayat lain yang agaknya lebih tegas lagi dalam membatas yang diharamkan itu pada empat macam. Yaitu sebagaimana difirmankan Allah:

    “Katakanlah! Aku tidak menemukan tentang sesuatu yang telah diwahyukan kepadaku soal makanan yang diharamkan untuk dimakan, melainkan bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi; karena sesungguhnya dia itu kotor (rijs), atau binatang yang disembelih bukan karena Allah. Maka barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa dengan tidak sengaja dan tidak melewati batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih.” (al-An’am: 145)

    Dan dalam surah al-Maidah ayat 3 al-Quran menyebutkan binatang-binatang yang diharamkan itu dengan terperinci dan lebih banyak.

    Firman Allah:

    “Telah diharamkan atas kamu bangkai, darah, daging babi, binatang yang disembelih bukan karena Allah, yang (mati) karena dicekik, yang (mati) karena dipukul, yang (mati) karena jatuh dari atas, yang (mati) karena ditanduk, yang (mati) karena dimakan oleh binatang buas kecuali yang dapat kamu sembelih dan yang disembelih untuk berhala.” (al-Maidah: 3)

    Antara ayat ini yang menetapkan 10 macam binatang yang haram, dengan ayat sebelumnya yang menetapkan 4 macam itu, samasekali tidak bertentangan. Ayat yang baru saja kita baca ini hanya merupakan perincian dari ayat terdahulu.

    Binatang yang dicekik, dipukul, jatuh dari atas, ditanduk dan karena dimakan binatang buas, semuanya adalah termasuk dalam pengertian bangkai. Jadi semua itu sekedar perincian dari kata bangkai. Begitu juga binatang yang disembelih untuk berhala, adalah semakna dengan yang disembelih bukan karena Allah. Jadi kedua-duanya mempunyai pengertian yang sama.

    Ringkasnya: Secara global (ijmal) binatang yang diharamkan itu ada empat macam, dan kalau diperinci menjadi sepuluh.

    1. Diharamkan Bangkai dan Hikmahnya

    1) Pertama kali haramnya makanan yang disebut oleh ayat al-Quran ialah bangkai, yaitu binatang yang mati dengan sendirinya tanpa ada suatu usaha manusia yang memang sengaja disembelih atau dengan berburu.

    Hati orang-orang sekarang ini kadang-kadang bertanya-tanya tentang hikmah diharamkannya bangkai itu kepada manusia, dan dibuang begitu saja tidak boleh dimakan. Untuk persoalan ini kami menjawab, bahwa diharamkannya bangkai itu mengandung hikmah yang sangat besar sekali:

    1. a) Naluri manusia yang sehat pasti tidak akan makan bangkai dan dia pun akan menganggapnya kotor. Para cerdik pandai di kalangan mereka pasti akan beranggapan, bahwa makan bangkai itu adalah suatu perbuatan yang rendah yang dapat menurunkan harga diri manusia. Oleh karena itu seluruh agama Samawi memandangnya bangkai itu suatu makanan yang haram. Mereka tidak boleh makan kecuali yang disembelih, sekalipun berbeda cara menyembelihnya.
    2. b) Supaya setiap muslim suka membiasakan bertujuan dan berkehendak dalam seluruh hal, sehingga tidak ada seorang muslim pun yang memperoleh sesuatu atau memetik buah melainkan setelah dia mengkonkritkan niat, tujuan dan usaha untuk mencapai apa yang dimaksud. Begitulah, maka arti menyembelih –yang dapat mengeluarkan binatang dari kedudukannya sebagai bangkai– tidak lain adalah bertujuan untuk merenggut jiwa binatang karena hendak memakannya. Jadi seolah-olah Allah tidak rela kepada seseorang untuk makan sesuatu yang dicapai tanpa tujuan dan berfikir sebelumnya, sebagaimana halnya makan bangkai ini. Berbeda dengan binatang yang disembelih dan yang diburu, bahwa keduanya itu tidak akan dapat dicapai melainkan dengan tujuan, usaha dan perbuatan.
    3. c) Binatang yang mati dengan sendirinya, pada umumnya mati karena sesuatu sebab; mungkin karena penyakit yang mengancam, atau karena sesuatu sebab mendatang, atau karena makan tumbuh-tumbuhan yang beracun dan sebagainya. Kesemuanya ini tidak dapat dijamin untuk tidak membahayakan, Contohnya seperti binatang yang mati karena sangat lemah dan kerena keadaannya yang tidak normal.
    4. d) Allah mengharamkan bangkai kepada kita umat manusia, berarti dengan begitu Ia telah memberi kesempatan kepada hewan atau burung untuk memakannya sebagai tanda kasih-sayang Allah kepada binatang atau burung-burung tersebut. Karena binatang-binatang itu adalah makhluk seperti kita juga, sebagaimana ditegaskan oleh al-Quran.
    5. e) Supaya manusia selalu memperhatikan binatang-binatang yang dimilikinya, tidak membiarkan begitu saja binatangnya itu diserang oleh sakit dan kelemahan sehingga mati dan hancur. Tetapi dia harus segera memberikan pengobatan atau mengistirahatkan.

    6. Haramnya Darah Yang Mengalir

    Makanan kedua yang diharamkan ialah darah yang mengalir. Ibnu Abbas pernah ditanya tentang limpa (thihal), maka jawab beliau: Makanlah! Orang-orang kemudian berkata: Itu kan darah. Maka jawab Ibnu Abbas: Darah yang diharamkan atas kamu hanyalah darah yang mengalir.

    Rahasia diharamkannya darah yang mengalir di sini adalah justru karena kotor, yang tidak mungkin jiwa manusia yang bersih suka kepadanya. Dan inipun dapat diduga akan berbahaya, sebagaimana halnya bangkai.

    Orang-orang jahiliah dahulu kalau lapar, diambilnya sesuatu yang tajam dari tulang ataupun lainnya, lantas ditusukkannya kepada unta atau binatang dan darahnya yang mengalir itu dikumpulkan kemudian diminum. Begitulah seperti yang dikatakan oleh al-A’syaa dalam syairnya:

    Janganlah kamu mendekati bangkai

    Jangan pula kamu mengambil tulang yang tajam

    Kemudian kamu tusukkan dia untuk mengeluarkan darah.

    Oleh karena mengeluarkan darah dengan cara seperti itu termasuk menyakiti dan melemahkan binatang, maka akhirnya diharamkanlah darah tersebut oleh Allah s.w.t.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 3 February 2016 Permalink | Balas  

    Sesuatu yang Haram Berlaku Untuk Semua Orang 

    haram babi2Sesuatu yang Haram Berlaku Untuk Semua Orang

    HARAM dalam pandangan syariat Islam mempunyai ciri menyeluruh dan mengusir. Oleh karena itu tidak ada sesuatu yang diharamkan untuk selain orang Arab (ajam) tetapi halal buat orang Arab. Tidak ada sesuatu yang dilarang untuk orang kulit hitam, tetapi halal, buat orang kulit putih. Tidak ada sesuatu rukhsah yang diberikan kepada suatu tingkatan atau suatu golongan manusia, yang dengan menggunakan nama rukhsah (keringanan) itu mereka bisa berbuat jahat yang dikendalikan oleh hawa nafsunya. Mereka yang berbuat demikian itu sering menamakan dirinya pendeta, pastor, raja dan orang-orang suci. Bahkan tidak seorang muslim pun yang mempunyai keistimewaan khusus yang dapat menetapkan sesuatu hukum haram untuk orang lain, tetapi halal buat dirinya sendiri.

    Sekali-kali tidak akan begitu! Allah adalah Tuhannya orang banyak, syariatNya pun untuk semua orang. Setiap yang dihalalkan Allah dengan ketetapan undang-undangnya, berarti halal untuk segenap ummat manusia. Dan apa saja yang diharamkan, haram juga untuk seluruh manusia. Hal ini berlaku sampai hari kiamat. Misalnya mencuri, hukumnya adalah haram, baik si pelakunya itu seorang muslim ataupun bukan orang Islam; baik yang dicuri itu milik orang Islam ataupun milik orang lain. Hukumnya pun berlaku untuk setiap pencuri betapapun keturunan dan kedudukannya. Demikianlah yang dilakukan Rasulullah dan yang dikumandangkannya.

    Kata Rasulullah dalam pengumumannya itu:

    “Demi Allah! Kalau sekiranya Fatimah binti Muhammad yang mencuri, pasti akan kupotong tangannya.” (Riwayat Bukhari)

    Di zaman Nabi sudah pernah terjadi suatu peristiwa pencurian yang dilakukan oleh seorang Islam, tetapi ada suatu syubhat sekitar masalah seorang Yahudi dan seorang Muslim. Kemudian salah satu keluarganya yang Islam melepaskan tuduhan kepada seorang Yahudi dengan beberapa data yang dibuatnya dan berusaha untuk mengelakkan tuduhan terhadap rekannya yang beragama Islam itu, padahal dialah pencurinya, sehingga dia bermaksud untuk mengadukan hat tersebut kepada Nabi dengan suatu keyakinan, bahwa dia akan dapat bebas dari segala tuduhan dan hukuman. Waktu itu turunlah ayat yang menyingkap kejahatan ini dan membebaskan orang Yahudi tersebut dari segala tuduhan. Rasulullah s.a.w. mencela orang Islam tersebut dan menjatuhkan hukuman kepada pelakunya.

    Wahyu Allah berbunyi sebagai berikut:

    “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu kitab dengan benar, supaya kamu menghukum diantara manusia dengan (faham) yang Allah beritahukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi pembela orang-orang yang khianat. Dan minta ampunlah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan betas-kasih. Dan janganlah kamu membela orang-orang yang mengkhianati dirinya itu, karena sesungguhnya Allah tidak suka berkhianat dan berbuat dosa. Mereka bersembunyi (berlindung) kepada manusia, tetapi tidak mau bersembunyi kepada Allah, padahal Dia selalu bersama mereka ketika mereka mengatur siasatnya itu di waktu malam, yaitu sesuatu yang tidak diridhai dari perkataan itu, dan Allah maha meliputi semua apa yang mereka perbuat. Awaslah! Kamu ini adalah orang-orang yang membela mereka di dalam kehidupan dunia ini, maka siapakah yang akan membela mereka dari hukuman Allah kelak di hari kiamat? Atau siapakah yang akan mewakili untuk (menghadapi urusan) mereka itu?” (an Nisa’: 105-109)

    Pernah juga terjadi suatu anggapan dalam agama Yahudi, bahwa riba itu hanya haram untuk seorang Yahudi jika berhutang kepada orang Yahudi yang lain. Tetapi berhutang kepada lain Yahudi tidaklah terlarang.

    Demikianlah seperti yang tersebut dalam Ulangan 23: 19-20: “Maka tak boleh kamu mengambil bunga daripada saudaramu, baik bunga uang, baik bunga makanan, baik bunga barang sesuatu yang dapat makan bunga. Maka daripada orang lain bangsa boleh kamu mengambil bunga, tetapi daripada saudaramu tak boleh kamu mengambil bunga.”

    Sifat mereka yang seperti ini diceritakan juga oleh al-Quran, di mana mereka membolehkan berbuat khianat terhadap orang lain, dan hal semacam itu dipandangnya tidak salah dan tidak berdosa.

    Al-Quran mengatakan:

    “Di antara mereka ada beberapa orang yang apabila diserahi amanat dengan satu dinar pun, dia tidak mau menyampaikan amanat itu kepadamu, kecuali kalau kamu terus-menerus berdiri (menunggu); yang demikian itu karena mereka pernah mengatakan. tidak berdosa atas kami (untuk memakan hak) orang-orang bodoh itu, dan mereka juga berkata dusta atas (nama) Allah, padahal mereka sudah mengarti.” (Ali-Imran: 75)

    Benar mereka telah berdusta atas nama Allah, yaitu dengan bukti, bahwa agama Allah itu pada hakikatnya tidak membeda-bedakan antara suatu kaum terhadap kaum lain dan melarang berbuat khianat melalui lidah setiap rasuINya.

    Dan yang cukup kita sesalkan ialah, bahwa perasaan Israiliyah inilah yang merupakan kejahatan biadab, yang kiranya tidak patut untuk dinisbatkan kepada agama Samawi (agama Allah). Sebab budi yang luhur bahkan budi yang sebenarnya mestinya harus mempunyai ciri yang menyeluruh dan universal, sehingga tidak terjadi anggapan halal untuk ini tetapi haram untuk itu.

    Perbedaan prinsip antara kita dan golongan badaiyah (primitif) hanyalah dalam hal luasnya daerah budi/akhlak. Bukan ada atau tidak adanya budi itu. Sebab soal amanat misalnya, menurut anggapan mereka dipandang sebagai suatu sikap yang baik dan terpuji, tetapi hanya khusus antar putera sesuatu kabilah. Kalau sudah keluar dari kabilah itu atau lingkungan keluarga, boleh saja berbuat khianat; bahkan kadang-kadang dipandang siasat baik atau sampai kepada wajib.

    Pengarang Qishshatul Hadharah menceriterakan, bahwa semua golongan manusia hampir ada persesuaian dalam kepercayaan yang menunjukkan mereka lebih baik daripada yang lain. Misalnya bangsa Indian di Amerika, mereka menganggap dirinya sebagai hamba Tuhan yang terbaik. Tuhan menciptakan mareka ini sebagai manusia yang berjiwa besar khusus untuk dijadikan sebagai tauladan di mana manusia-manusia lainnya harus menaruh hormat kepadanya.

    Salah satu suku Indian itu ada yang menganggap dirinya sebagai Manusia yang tidak ada taranya. Dan suku yang lain beranggapan, bahwa dirinya itu manusia diantara sekian banyak manusia. Suku Carbion mengatakan pula hanya kamilah yang disebut manusia sesungguhnya dan seterusnya.

    Kesimpulannya, bahwa manusia primitif didalam mengatur cara pergaulannya dengan golongan lain tidak menggunakan jiwa etika yang lazim seperti yang biasa dipakai dalam berhubungan dengan kawan sesukunya.

    Ini merupakan bukti nyata, bahwa etika (akhlak) merupakan fungsi yang paling ampuh guna memperkukuh jamaah dan memperteguh kekuatannya untuk menghadapi golongan lain. Oleh karena itu persoalan etika dan larangan tidak akan dapat berlaku (sesuai) melainkan untuk penduduk golongan itu sendiri. Untuk golongan lain, tidak lebih daripada tamu. Justeru itu boleh saja mereka mengikuti tradisi golongan tersebut sekedarnya saja

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 2 February 2016 Permalink | Balas  

    Menjauhkan Diri dari Syubhat Karena Takut Terlibat dalam Haram 

    haramMenjauhkan Diri dari Syubhat Karena Takut Terlibat dalam Haram

    SALAH satu daripada rahmat Allah terhadap manusia, yaitu: Ia tidak membiarkan manusia dalam kegelapan terhadap masalah halal dan haram, bahkan yang halal dijelaskan sedang yang haram diperinci.

    FirmanNya:

    “Dan sungguh Allah telah menerangkan kepadamu apa-apa yang Ia haramkan atas kamu.” (al-An’am: 119)

    Masalah halal yang sudah jelas, boleh saja dikerjakan. Dan soal haram pun yang sudah jelas, sama sekali tidak ada rukhsah untuk mengerjakannya, selama masih dalam keadaan normal.

    Tetapi di balik itu ada suatu persoalan, yaitu antara halal dan haram. Persoalan tersebut dikenal dengan nama syubhat, suatu persoalan yang tidak begitu jelas antara halal dan haramnya bagi manusia. Hal ini bisa terjadi mungkin karena tasyabbuh (tidak jelasnya) dalil dan mungkin karena tidak jelasnya jalan untuk menerapkan nas (dalil) yang ada terhadap suatu peristiwa.

    Terhadap persoalan ini Islam memberikan suatu garis yang disebut Wara’ (suatu sikap berhati-hati karena takut berbuat haram). Dimana dengan sifat itu seorang muslim diharuskan untuk menjauhkan diri dari masalah yang masih syubhat, sehingga dengan demikian dia tidak akan terseret untuk berbuat kepada yang haram.

    Cara semacam ini termasuk menutup jalan berbuat maksiat (saddudz dzara’i) yang sudah kita bicarakan terdahulu. Disamping itu cara tersebut merupakan salah satu macam pendidikan untuk memandang lebih jauh serta penyelidikan terhadap hidup dan manusia itu sendiri.

    Dasar pokok daripada prinsip ini ialah sabda Nabi yang mengatakan:

    “Yang halal sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas, di antara keduanya itu ada beberapa perkara yang belum jelas (syubhat), banyak orang yang tidak tahu: apakah dia itu masuk bagian yang halal ataukah yang haram? Maka barangsiapa yang menjauhinya karena hendak membersihkan agama dan kehormatannya, maka dia akan selamat,. dan barangsiapa mengerjakan sedikitpun daripadanya hampir-hampir ia akan iatuh ke dalam haram, sebagaimana orang yang menggembala kambing di sekitar daerah larangan, dia hampir-hampir akan jatuh kepadanya. Ingatlah! Bahwa tiap-tiap raja mempunyai daerah larangan. Ingat pula, bahwa daerah larangan Allah itu ialah semua yang diharamkan.” (Riwayat Bukhari, Muslim dan Tarmizi, dan riwayat ini adalah lafal Tarmizi).

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 1 February 2016 Permalink | Balas  

    Keadaan Terpaksa Membolehkan Yang Terlarang 

    halalKeadaan Terpaksa Membolehkan Yang Terlarang

    ISLAM mempersempit daerah haram. Kendatipun demikian soal haram pun diperkeras dan tertutup semua jalan yang mungkin akan membawa kepada yang haram itu, baik dengan terang-terangan maupun dengan sembunyi-sembunyi. Justeru itu setiap yang akan membawa kepada haram, hukumnya haram; dan apa yang membantu untuk berbuat haram, hukumnya haram juga; dan setiap kebijakan (siasat) untuk berbuat haram, hukumnya haram. Begitulah seterusnya seperti yang telah kami sebutkan prinsip-prinsipnya di atas.

    Akan tetapi Islam pun tidak lupa terhadap kepentingan hidup manusia serta kelemahan manusia dalam menghadapi kepentingannya itu. Oleh karena itu Islam kemudian menghargai kepentingan manusia yang tiada terelakkan lagi itu, dan menghargai kelemahan-kelemahan yang ada pada manusia. Justeru itu seorang muslim dalam keadaan yang sangat memaksa, diperkenankan melakukan yang haram karena dorongan keadaan dan sekedar menjaga diri dari kebinasaan.

    Oleh karena itu Allah mengatakan, sesudah menyebut satu-persatu makanan yang diharamkan, seperti: bangkai, darah dan babi:

    “Barangsiapa dalam keadaan terpaksa dengan tidak sengaja dan tidak melewati batas, maka tiada berdosa atasnya, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih.” (al-Baqarah: 173)

    Yang semakna dengan ini diulang dalam empat surat ketika menyebut masalah makanan-makanan yang haram.

    Dan ayat-ayat ini dan nas-nas lainnya, para ahli fiqih menetapkan suatu prinsip yang sangat berharga sekali, yaitu: “Keadaan terpaksa membolehkan yang terlarang.”

    Tetapi ayat-ayat itupun tetap memberikan suatu pembatas terhadap si pelakunya (orang yang disebut dalam keadaan terpaksa) itu; yaitu dengan kata-kata ghaira baghin wala ‘aadin (tidak sengaja dan tidak melewati batas).

    Ini dapat ditafsirkan, bahwa pengertian tidak sengaja itu, maksudnya: tidak sengaja untuk mencari kelezatan. Dan perkataan tidak melewati batas itu maksudnya: tidak melewati batas ketentuan hukum.

    Dari ikatan ini, para ulama ahli fiqih menetapkan suatu prinsip lain pula, yaitu: adh-dharuratu tuqaddaru biqadriha (dharurat itu dikira-kirakan menurut ukurannya). Oleh karena itu setiap manusia sekalipun dia boleh tunduk kepada keadaan dharurat, tetapi dia tidak boleh menyerah begitu saja kepada keadaan tersebut, dan tidak boleh menjatuhkan dirinya kepada keadaan dharurat itu dengan kendali nafsunya. Tetapi dia harus tetap mengikatkan diri kepada pangkal halal dengan terus berusaha mencarinya. Sehingga dengan demikian dia tidak akan tersentuh dengan haram atau mempermudah dharurat.

    Islam dengan memberikan perkenan untuk melakukan larangan ketika dharurat itu, hanyalah merupakan penyaluran jiwa keuniversalan Islam itu dan kaidah-kaidahnya yang bersifat kulli (integral). Dan ini adalah merupakan jiwa kemudahan Islam yang tidak dicampuri oleh kesukaran dan memperingan, seperti cara yang dilakukan oleh ummat-ummat dahulu.

    Oleh karena itu benarlah apa yang dikatakan Allah dalam firmanNya:

    “Allah berkehendak memberikan kemudahan bagi kamu, dan Ia tidak menghendaki memberikan beban kesukaran kepadamu.” (al-Baqarah: 185)

    “Allah tidak menghendaki untuk memberikan kamu sesuatu beban yang berat, tetapi ia berkehendak untuk membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmatNya kepadamu supaya kamu berterimakasih.” (al-Maidah: 6)

    “Allah berkehendak untuk memberikan keringanan kepadamu, karena manusia itu dijadikan serba lemah.” (an-Nisa’: 28)

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 31 January 2016 Permalink | Balas  

    Hadits Ukhori Tentang Isra’ dan Mi’raj 

    PALESTINIANS-ISRAEL/SWAPHadits Ukhori Tentang Isra’ dan Mi’raj

    HADITS 1 :

    ========

    Diriwayatkan daripada Anas bin Malik r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Aku telah didatangi Buraq. yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari kaledai tetapi lebih kecil dari baghal. Ia merendahkan tubuhnya sehingga perut buraq tersebut mencecah bumi. Baginda bersabda lagi: Tanpa membuang waktu, aku terus menungganginya sehinggalah sampai ke Baitulmuqaddis.

    Baginda bersabda lagi: Aku mengikatnya pada tiang masjid sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para Nabi. Baginda bersabda lagi: Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan mendirikan sembahyang sebanyak dua rakaat. Setelah selesai aku terus keluar, secara tiba-tiba aku didatangi dengan semangkuk arak dan semangkuk susu oleh Jibril a.s. Aku memilih susu. Lalu Jibril a.s berkata: Engkau telah memilih fitrah.

    Lalu Jibril a.s membawaku naik ke langit. Ketika Jibril a.s meminta agar dibukakan pintu, kedengaran suara bertanya: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Apakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Lalu dibukakan pintu kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Adam a.s, beliau menyambutku serta mendoakan aku dengan kebaikan.

    Seterusnya aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Apakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Isa bin Mariam dan Yahya bin Zakaria, mereka berdua menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan.

    Aku dibawa lagi naik langit ketiga. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Apakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Yusuf a.s ternyata dia telah dikurniakan dengan kedudukan yang sangat tinggi. Dia terus menyambut aku dan mendoakan aku dengan kebaikan.

    Aku dibawa lagi naik ke langit keempat. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Apakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Idris a.s dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Firman Allah s.w.t Yang artinya: Dan kami telah mengangkat ke tempat yang tinggi derajatnya.

    Aku dibawa lagi naik ke langit kelima. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Apakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Harun a.s dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan.

    Aku dibawa lagi naik ke langit keenam. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Apakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Musa a.s dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan.

    Aku dibawa lagi naik ke langit ketujuh. Jibril a.s meminta supaya dibukakan. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Apakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Ibrahim a.s dia sedang berada dalam keadaan menyandar di Baitul Makmur. Keluasannya setiap hari memuatkan tujuh puluh ribu malaikat. Setelah keluar mereka tidak kembali lagi kepadanya.

    Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha. Daun-daunnya besar seumpama telinga gajah manakala buahnya pula sebesar tempayan. Baginda bersabda: Ketika baginda merayau-rayau meninjau kejadian Allah s.w.t, baginda dapati kesemuanya aneh-aneh. Tidak seorang pun dari makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya. Lalu Allah s.w.t memberikan wahyu kepada baginda dengan mewajibkan sembahyang lima puluh waktu sehari semalam.

    Tatakala baginda turun dan bertemu Nabi Musa a.s, dia bertanya: Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu kepada umatmu? Baginda bersabda: Sembahyang lima puluh waktu. Nabi Musa a.s berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Aku pernah mencoba Bani Israel dan memberitahu mereka.

    Baginda bersabda: Baginda kemudian kembali kepada Tuhan dan berkata: Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada umatku. Lalu Allah s.w.t mengurangkan lima waktu sembahyang dari baginda.

    Baginda kembali kepada Nabi Musa a.s dan berkata: Allah telah mengurangkan lima waktu sembahyang dariku. Nabi Musa a.s berkata: Umatmu masih tidak mampu melaksanakannya. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi.

    Baginda bersabda: Baginda tak henti-henti berulang-balik antara Tuhan dan Nabi Musa a.s, sehinggalah Allah s.w.t berfirman Yang artinya: Wahai Muhammad! Sesungguhnya aku fardukan hanyalah lima waktu sehari semalam. Setiap sembahyang fardu diganjarkan dengan sepuluh ganjaran. Oleh yang demikian, berarti lima waktu sembahyang fardu sama dengan lima puluh sembahyang fardu.

    Begitu juga sesiapa yang berniat, untuk melakukan kebaikan tetapi tidak melakukanya, niscaya akan dicatat baginya satu kebaikan. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya sesiapa yang berniat ingin melakukan kejahatan, tetapi tidak melakukannya, niscaya tidak sesuatu pun dicatat baginya. Seandainya dia mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan baginya.

    Baginda turun hingga sampai kepada Nabi Musa a.s, lalu aku memberitahu kepadanya. Dia masih lagi berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan. Baginda menyahut: Aku terlalu banyak berulang-balik kepada Tuhan, sehingga menyebabkan aku malu kepadaNya

    (HR Bukhori dalam kitab kejadian no.2968, dan kitab sifat2 terpuji no. 3305, HR Muslim dalam kitab Iman no.234)

    HADITS 2 :

    ========

    Diriwayatkan daripada Malik bin Sokso’ah r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Ketika aku berada di tepi Baitullah dalam keadaan separuh tidur, tiba-tiba aku mendengar percakapan salah seorang dari tiga lelaki yaitu yang berada di tengah-tengah.

    Lalu mereka menghampiri aku dan membawa aku ke suatu tempat. Kemudian mereka membawa sebuah bekas daripada emas yang berisi air Zamzam. Setelah itu dadaku dibedah hinggalah ke sini dan ke sini. Qatadah berkata, aku telah bertanya kepada orang yang bersamaku: Apakah yang baginda maksudkan? Beliau menjawab: Hingga ke bawah perut baginda.

    Baginda terus bersabda lagi: Hatiku telah dikeluarkan dan dibersihkan dengan air Zamzam, kemudian mereka meletakkannya kembali di tempat asal. Setelah itu diisi pula dengan iman dan hikmah, lalu dibawa pula kepadaku seekor binatang tunggangan berwarna putih yang dikenal sebagai Buraq, ia lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal. Ia mengatur langkahnya sejauh mata memandang, sementara itu aku dibawa di atas belakangnya.

    Kemudian kami pun memulaikan perjalanan hingga sampai ke langit dunia, setelah itu Jibril a.s meminta agar dibukakan pintunya, lalu ditanya: Siapa? Jawabnya: Jibril. Kemudian ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Lalu Jibril menjawab: Muhammad s.a.w. Lalu ditanya lagi: Apakah dia orang yang telah diutuskan? Jawabnya: Ya. Sejurus kemudian malaikat yang menjaga pintu tersebut membuka pintu sambil berkata: Selamat datang, sesungguhnya tetamu utama telah tiba. Lalu kami mengunjungi Nabi Adam a.s. Hadis ini menceritakan kisah yang berlaku pada ketika itu.

    Seterusnya diceritakan, bahwa Rasulullah s.a.w bertemu dengan Nabi Isa a.s dan Nabi Yahya a.s di langit kedua, manakala di langit ketiga pula baginda berjumpa dengan Nabi Yusuf a.s. Seterusnya di langit keempat bertemu pula dengan Nabi Idris a.s. Setelah sampai di langit kelima baginda bertemu pula dengan Nabi Harun a.s.

    Seterusnya Rasulullah s.a.w bersabda: Kemudian kami meneruskan perjalanan sehingga sampai di langit keenam, lalu aku menemui Nabi Musa a.s dan memberi salam kepadanya. Beliau segera menjawab: Selamat datang wahai saudara dan nabiku yang soleh. Semasa aku meningalkannya, beliau terus menangis. Lalu beliau ditanya: Apakah yang menyebabkan kamu menangis? Beliau menjawab: Wahai Tuhanku! Engkau telah mengutus pemuda ini kemudian dari ku, tetapi umatnya paling banyak memasuki Syurga berbading dengan umatku.

    Kami meneruskan lagi perjalanan sehingga sampai di langit ketujuh, lalu aku mengunjungi Nabi Ibrahim a.s. Hadis ini menjelaskan bagaimana Rasulullah s.a.w menceritakan bahwa baginda melihat empat batang sungai yang keluar dari pangkalnya yaitu dua batang sungai yang jelas kelihatan dan dua batang sungai yang samar-samar.

    Lalu Rasulullah s.a.w bertanya: Wahai Jibril! Sungai-sungai apakah ini? Jibril menjawab: Dua batang sungai yang samar-samar itu merupakan sungai Syurga, manakala yang jelas kelihatan adalah sungai Nil dan Furat.

    Seterusnya aku dibawa naik ke Baitul Makmur, lalu aku bertanya: Wahai Jibril, apakah ini? Lalu Jibril menjawab: Ini adalah Baitul Makmur, setiap hari tujuh puluh ribu Malaikat akan memasukinya. Setelah mereka keluar, mereka tidak akan memasukinya lagi kerana itu merupakan kali yang terakhir mereka memasukinya.

    Kemudian dibawa pula kepadaku dua bekas yang satunya berisi arak dan satu lagi berisi susu. Keduanya dihulurkan kepadaku lalu aku memilih susu. Maka dikatakan kepadaku: Kamu membuat pilihan yang tepat! Allah menghendakimu dan umatmu dalam keadaan fitrah iaitu kebaikan dan keutamaan. Kemudian difardukan pula kepadaku sembahyang lima puluh waktu setiap hari kemudian diceritakan kisah seterusnya hingga ke akhir Hadis

    ***

    (HR Bukhori dalam kitab kejadian no.2968, Kitab Cerita2 para Nabi no.3142 & 3176, dan kitab sifat2 terpuji no. 3598, HR Muslim dalam kitab Iman no.238)

    Arland

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 30 January 2016 Permalink | Balas  

    Risalah Shalat – 6 (Terakhir) 

    sholat 4Risalah Shalat – 6 (Terakhir)

    Diasuh oleh : Ustadz M. Anis bin Syeikh Barakbah

    Setiap Jum’at engkau selalu diingatkan di setiap mimbar agar bertakwa, tapi tak kau hiraukan, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Lebih berat lagi engkau tinggalkan, tak pernah kau kerjakan. Celaka sungguh celaka, bila tak engkau hentikan, atau ancaman yang akan kau rasakan nanti.

    “Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling darinya?. Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS. As-Sajadah:22)

    Ataukah engkau ingin mendapat azab kubur, atau akan menjadi calon-calon penghuni neraka yang sangat pedih azab siksanya.

    “Sungguh Aku isi neraka Jahanam dengan golongan jin dan manusia semuanya.” (QS. As-Sajadah:13)

    Tidak!. Sekali-kali engkau tidak menginginkan ancaman itu, yang tidak mengenal kasihan dan belas kasih

    “Sesungguhnya azabnya (neraka Jahanam) itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya ia (neraka Jahanam) itu adalah seburuk-buruknya tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. Al-Furqan:65-66)

    Apakah bukan saatnya sekarang bagi kita semua untuk kembali tunduk dan patuh terhadap perintahNya, menjalankan shalat dan menjaga waktunya, sujud mendekatkan diri kepada Yang Maha Esa, Maha Agung.

    Engkau ya Allah yang hanya pantas menyandang gelar Maha Besar, karena Maha Segalanya hanya padaMu.

    “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hadid:16)

    Ya Allah, kami masuk pintu taubatMu yang selalu Kau buka lebar, selama ajal belum sampai tenggorokan, terimalah ya Allah seperti yang telah Engkau janjikan. Dan ampunilah segala dosa kami yang lalu seperti yang telah dijanjikan oleh NabiMu Muhammad SAW.

    “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tanpa dosa.”

    Kalau tidak Engkau, kepada siapa lagi kami mengharap, karena kami tidak mengenal Tuhan selainMu. Ya Allah, ya Robbal Alamin. Al-fatihah…

    Wallohu a’lam bish-shawab,-.

     
  • erva kurniawan 2:51 am on 29 January 2016 Permalink | Balas  

    Risalah Shalat – 5 

    siluet sholatRisalah Shalat – 5

    Diasuh oleh : Ustadz M. Anis bin Syeikh Barakbah

    Wahai saudaraku, kenikmatan yang paling besar dan tak ternilai harganya, telah dikaruniakan kepadamu, kaum muslimin, dimana engkau dipilih diantara sekalian banyak manusia untuk berikrar dengan lisan dan beriman dengan hati bahwa tiada Tuhan selain Allah. Kalimat yang karenanya ditegakkan alam semesta ini, diutusnya Nabi-Nabi karenanya, dijadikan untukmu sekalian Islam sebagai agama yang diterima dan diridhoiNya, dijadikan Nabi Muhammad SAW, kekasihNya, sebagai Nabimu, yang dengan beliau, engkau menjadi sebaik-baiknya umat. Bersyukurlah, wahai saudaraku, atas nikmat-nikmat agung tersebut. Jagalah dan renungkanlah dengan mata hatimu.

    Ingatlah, wahai saudaraku, nikmat-nikmat Tuhanmu yang telah diberikanNya kepadamu. Diciptakannya engkau hingga berwujud di alam dunia ini. Dimanakah engkau sebelum itu?. Janganlah engkau menduga bahwa engkau diciptakan dalam keadaan sia-sia dan engkau tidak dikembalikan kepada asalmu, yaitu tanah, dan akan dibangkitkan lagi pada kali yang ketiga untuk mempertanggung-jawabkan perbuatanmu.

    Tidakkah engkau renungkan sesungguhnya engkau berpindah-pindah sebagai nutfah (air mani)?. Tiada yang mau memperdulikan wujudmu sebagai sperma dari bapak dan ibu, kecuali Tuhanmu yang menjaga hingga engkau berada di perut ibu kandungmu. Dipeliharalah engkau hingga engkau tumbuh di perut ibu selama 40 hari menjadi segumpal darah. Kemudian diperhatikanlah engkau selama 40 hari hingga menjadi segumpal daging. Kemudian tulang tumbuh dilapisi daging, dilengkapi engkau dengan anggota badanmu : mulut, telinga mata, hingga sempurna kejadianmu dalam bentuk manusia selama 140 hari.

    Kemudian ditiupkan ruhmu daripadaNya sampai engkau terjaga aman dalam rahim ibu. Diberinya engkau makanan selama dalam perut ibumu tanpa engkau minta dan merengek, tanpa gunakan mulut untuk memakannya, tahu-tahu telah sampai makanan dalam perutmu, hingga 9 bulan dikeluarkannya engkau dari perut yang gelap itu menuju alammu yang sekarang, dalam keadaan telanjang tanpa sehelai kain yang kau kenakan. Dalam keadaan lemah, tanpa gigi yang membantumu mengunyah makanan dan tak berfungsi di pencernaanmu. Dikeluarkannya untukmu air susu ibu yang sebelumnya kering tak berisi. Kemudian engkau tumbuh semakin besar, tegak sempurna, tapi tetap jatah rizkimu tidak dicabut olehNya. Kemudian dijadikan untukmu istri. Kemudian dikaruniainya engkau olehNya anak-anak, sedang engkau dalam keadaan sehat wal afiat.

    Tiba-tiba engkau lupa akan nikmatNya, kau lawan perintahNya, engkau campakkan seruanNya. Engkau terlena dengan kesehatanmu. Pada saat engkau sakit, siapakah yang memberikan kesembuhan untukmu?. Engkau tertipu dengan urusan duniamu!. Apakah jika semua itu dicabutnya darimu, siapakah kiranya yang dapat menolongmu?.

    Allah hendak berkata, “Apakah engkau tidak malu, wahai hambaKu?. Engkau berjalan dibumiKu, berinjak di bawah langitKu, tapi engkau tentang perintahKu!. Engkau bersenang-senang dengan rizki yang telah Kuberikan padamu, tapi engkau gunakan untuk bermaksiat padaKu. Apakah telah engkau temukan obat pencegah umur tuamu?. Atau mungkin engkau mempunyai kesaktian mantra guna untuk menolak ajalmu hingga engkau bergelimang dengan dosamu?.”

    “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang engkau selalu lari darinya.” (QS. Qof:19)

     
  • erva kurniawan 2:49 am on 28 January 2016 Permalink | Balas  

    Risalah Shalat – 4 

    shalatRisalah Shalat – 4

    Diasuh oleh : Ustadz M. Anis bin Syeikh Barakbah

    Hukum orang yang meninggalkan sholat dalam pandangan 4 madzhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah bahwa orang yang membolehkan meninggalkan sholat atau memandangnya sebagai sesuatu yang bukan wajib adalah jelas-jelas telah kafir. Adapun hukum orang yang meninggalkan sholat karena malas, para ulama berbeda pendapat :

    • Imam Hanafi

    Orang yang meninggalkan sholat karena malas, maka hukumannya dipukul hingga keluar darahnya atau dipenjarakan hingga jera dan melaksanakan sholat.

    • Imam Maliki

    Orang yang meninggalkan sholat karena malas, hukumannya dibunuh dengan pedang. Setelah mati, berlaku baginya hukum orang Islam yang lain : dimandikan, disholatkan, dikubur dan hartanya menjadi harta waris.

    • Imam Syafi’i

    Orang yang meninggalkan sholat karena malas, biarpun sekali sholat fardhu, hukumannya adalah dibunuh, dengan syarat sampai keluar waktu sholat tersebut atau sholat Jum’atnya, dan selama orang tersebut tidak beralasan walaupun berbohong. Hukuman ini dilakukan oleh penguasa negara (pemerintah Islam) atau yang berwenang sah dari pemerintah. Sebelum dibunuh, dianjurkan kepada pejabat untuk menyuruhnya bertaubat dan diberi waktu 3 hari. Kalau tetap tidak mau, dibunuh. Dan berlaku setelah mati juga hukum-hukum seperti lazimnya kaum muslimin : dimandikan, dikafani, disholati dan dikubur bersama kaum muslimin serta hartanya menjadi harta waris.

    • Imam Hanbali

    Orang yang meninggalkan sholat karena malas, biarpun sekali tanpa dilihat alasannya, dibunuh dan mati dalam keadaan kafir. Berlaku setelah mati adalah hukum orang murtad, tidak wajib dimandikan, tidak wajib dikafani, tidak boleh disholati dan tidak wajib dikuburkan. Boleh diumpankan jazadnya kepada anjing. Hartanya bukan menjadi harta waris tapi menjadi harta rampasan yang dikembalikan kepada kas negara.

    Apakah masih tersisa olehmu, wahai saudaraku, keragu-raguan?. Apakah hendak kau tunda saatnya untuk kembali ke jalan yang diridhoi-Nya setelah kau simak dan ikuti ayat-ayat Allah SWT dan hadits baginda Rasulullah SAW?. Sampai kapankah, wahai saudaraku, baju kemalasanmu yang telah kumal kau kenakan?. Kepada-Mu juga, ya Allah, kami mohon dengan mengangkat kedua tangan kami untuk Kau buka mata hati kami yang telah hitam pekat digilas jaman. Jadikan kami, ya Allah, orang-orang yang Engkau tidak haramkan taufik dan hidayah-Mu, agar dapat kami dengan mudah menjalankan dan menjaga perintah sholat-Mu.

    Amin Allahumma Amin…

     
  • erva kurniawan 2:45 am on 27 January 2016 Permalink | Balas  

    Risalah shalat – 3 

    shalat-tarawih-puasa-pertama_fullRisalah shalat – 3

    Diasuh oleh : Ustadz M. Anis bin Syeikh Barakbah

    Begitulah, wahai saudara kaum muslimin, beberapa peringatan dari Al-Qur’an dan Hadits junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, serta masih banyak lagi dalil-dalil yang lain yang tidak bisa diuraikan disini kesemuanya, yang isi dan muatannya adalah ancaman dan peringatan keras bagi orang-orang yang mengabaikan shalat. Oleh karena itu, wahai saudara, tidak ada tempat untuk sembunyi atau arah untuk lari dari kewajiban shalat itu. Yang tersisa adalah bersegeralah saudara insaf dan bertobat sebelum ajal menjemput saudara dengan selalu menjaga shalat-shalat dalam setiap waktunya dalam keadaan apapun. Kemudian segera memohon ampunan agar shalat-shalat yang telah terlewatkan selama ini diampuni dosa-dosanya dengan menggodho’ (membayar) nya dan kalaulah mampu menambah dengan shalat-shalat sunnah agar dapat menghapus dosa-dosa shalat 5 waktu yang tertinggal.

    Bergegaslah, buang lesu dan kemalasan. Perangilah hawa nafsumu dan bisikan setan yang menyuruhmu mengulur-ulur taubatmu. Ingatlah wahai saudara kaum muslimin, setiap hari, jam, menit dan detikmu, semakin mendekatkan diri anda dengan ajal. Semakin anda ulur-ulur waktu, semakin banyak pula shalat yang harus anda bayar, sedangkan maut tidak jelas kapan datangnya.

    Ketahuilah bahwa shalat selain dijanjikan ganjaran yang besar bagi yang melakukannya kelak di hari kiamat, ia juga merupakan sebab utama dalam mendapatkan pahala dan kebaikan hidup di dunia ini, diantaranya adalah keberkahan umur, kemudahan rizqi, ketentraman batin, kejernihan akal pikiran, tercegah dari perbuatan jahat dan mungkar, serta jauh dari bala. Kesemuanya itu akan diperoleh kontan dan otomatis di dunia ini bagi orang-oang yang selalu menunaikan shalat-shalatnya, lebih-lebih menambahnya dengan shalat-shalat sunnah. Hal ini adalah janji Allah dan Rasul-Nya, sedangkan janji Allah dan Rasul-Nya adalah yang paling benar.

    Firman Allah

    “Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta kepadamu rizki. Kami yang akan memberimu rizki. Dan kesudahan (yang baik) bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thoha:132)

    Wasiat Baginda Rasulillah SAW kepada sahabat Abu Hurairah :

    “Wahai Abu Hurairah, perintahkan keluargamu untuk shalat, karena sesungguhnya Allah yang akan memberimu rizki yang tanpa dapat kamu duga.” (Imam Al-Ghazali menyebutkannya di kitabnya Ihya’)

    Anjuran Rasulillah SAW kepada keluarga beliau jika ditimpa kesusahan :

    “Dirikanlah shalat, karena dengan itulah aku diperintahkan.” (Imam Al-Ghazali menyebutkannya di kitabnya Ihya’)

     
  • erva kurniawan 2:42 am on 26 January 2016 Permalink | Balas  

    Risalah shalat – 2 

    shalat gaibRisalah shalat – 2

    Diasuh oleh : Ustadz M. Anis bin Syeikh Barakbah

    Diriwayatkan bahwasannya seorang wanita dari Bani Israel datang kepada Nabi Musa AS dan berkata, “Aku telah berbuat dosa besar dan aku sungguh telah bertobat, maka mintakanlah kepada-Nya pengampunan atas dosaku dan agar menerima tobatku itu.” Berkata Nabi Musa AS, “Apa yang kamu perbuat dari dosamu.” Menjawab perempuan itu, “Aku telah berzina dan melahirkan bayi dari zinaku itu, lalu aku membunuhnya.” Mendengar hal itu, marahlah Nabi Musa AS dan berkata, “Keluar engkau wahai pelacur agar tidak turun bala berupa api dari langit yang akan membakar dan menghanguskan kita karena perbuatanmu.” Maka keluar perempuan itu dalam keadaan sedih. Lalu turunlah Jibril dan berkata kepada Nabi Musa AS, “Allah berkata kepadamu, ‘Kenapa kau usir wanita itu?. Apakah kau tidak tahu dosa yang lebih besar dari itu?.’ ” Berkata Nabi Musa AS, “Apakah ada dosa yang lebih besar dari itu.” Jibril menjawab, “Siapa-siapa yang telah dengan sengaja meninggalkan shalat.” (Risalah Tahdzirul Muslimin)

    Disebutkan dalam riwayat yang lain yang artinya :

    “Sesungguhnya yang pertama menjadi hitam muka orang-orang yang berdosa adalah orang-orang meninggalkan shalat. Dan sesungguhnya di dalam jahannam ada sebuah lembah bernama lamlam. Di dalamnya ada ular-ular besar, panjang dan berbisa yang akan menyengat orang yang meninggalkan shalat. Racunnya akan bereaksi di dalam tubuhnya selama 70 tahun, lalu karena racun itu, terlepas semua daging yang ada di badannya.”

    Diceritakan dari para ulama Salaf, bahwa ada seorang laki-laki menguburkan saudara perempuannya yang wafat. Setelah selesai mengubur, ia merasa sekantong uangnya hilang. Akhirnya ia ingat bahwa uangnya itu terbawa masuk ke kuburan ketika ia mengubur saudaranya tadi. Lalu ia kembali ke kubur hendak menggali kembali kubur saudara perempuannya. Ketika ia sedang menggali, keluar api besar dari kubur itu. Akhirnya ia urungkan niatnya itu dan menutup kembali kubur itu. Lalu sesampainya ia di rumah, ia menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. Akhirnya si ibu menceritakan bahwa saudaranya itu dulunya sering menyepelekan shalat dan mengakhirkannya hingga keluar waktunya.

    Disebutkan oleh Sayid Ahmad Zaini Dahlan sebuah riwayat :

    “Barangsiapa yang melalaikan shalat, Allah akan menyiksanya dengan 15 siksaan : 6 siksaan ketika di dunia, 3 siksaan ketika akan sekarat (sakaratul maut), 3 siksaan ketika di kuburnya dan 3 siksaan pada hari kiamat kelak.

    Adapun 6 siksaan ketika di dunia antara lain :

    1. dicabut keberkahan umurnya
    2. dihapus tanda-tanda kebaikan di raut mukanya
    3. tidak diterima apa yang diamalkannya
    4. tidak dikabulkan doanya
    5. tidak dapat bagian doa para sholihin
    6. dicabut rohnya dalam keadaan tidak beriman

    Adapun 3 siksaan ketika akan mati :

    1. mati dalam keadaan mengenaskan
    2. mati dalam keadaan lapar
    3. mati dalam keadaan haus yang sangat, yang bila diberi air sungai di dunia ini sekalipun tidak dapat hilang hausnya.

    Adapun 3 siksaan ketika di kubur :

    1. bumi menghimpit tubuhnya hingga remuk tulang-tulangnya
    2. dijadikan kuburnya sebagai bara api yang membakarnya siang dan malam
    3. diumpankan kepadanya ular bear bernama suja agro’ yang akan menggigitnya

    Adapun 3 siksaan nanti pada hari kiamat :

    1. Malaikat mendatanginya dengan rantai panas menganga dan panjang mengikatkannya ke lehernya, lalu memasukkan ke mulutnya hingga tembus ke duburnya
    2. Allah tidak memperdulikan nasibnya
    3. Allah tidak menghapus dosa-dosanya dengan siksaan-siksaan neraka yang dirasakannya.”

    (Risalah Az-Zajr Ala Tarki Ash-Sholah)

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 25 January 2016 Permalink | Balas  

    Risalah Shalat 1 

    sholat_jamaahRisalah shalat – kata pengantar

    Diasuh oleh : Ustadz M. Anis bin Syeikh Barakbah

    Bukan menjadi rahasia umum, apa yang terjadi ditengah-tengah kita kaum muslimin pada saat ini, banyak sekali diantara saudara kita kaum muslimin yang teledor dalam menunaikan shalat. Bahkan banyak sekali diantara mereka secara terang-terangan meninggalkannya secara keseluruhan. Hal ini merupakan suatu musibah yang besar yang merusak akhlak dan mental umat Islam, yang dampaknya akan menimbulkan merajalelanya kemaksiatan dan kerusakan dari tangan mereka sendiri terhadap sesamanya, serta bala yang akan diturunkan oleh Allah SWT.

    Masalah besar ini adalah beban berat di pundak pribadi-pribadi muslim yang mempunyai ghirah dan kepekaan terhadap masalah-masalah yang terjadi di kalangan saudara-saudara seiman. Hal itu bukan hanya tanggung jawab ulama dan kyai, tetapi semua muslimin yang walaupun sedikit mengetahui pentingnya shalat dalam agama, untuk tidak berpangku tangan, berdiam diri, tidak mau tahu dan membiarkan hal ini terus terjadi.

    Untuk maksud dan tujuan itu, kami susun risalah kecil ini, agar dapat berperan dan turut andil dalam menyadarkan sesama kaum muslimin untuk bangkit dari keteledorannya dan bangun dari kelalaiannya. Semoga risalah ini dengan penuh harapan kepada Allah SWT, dicatat sebagai usaha yang diridhoi-Nya dan bermanfaat bagi kaum muslimin.

    Kepada pembaca risalah ini, agar menyimak dan membaca semua isinya, kemudian dimohon agar diberikan kepada yang lain yang belum membacanya. Dan kepada yang hendak dengan ikhlas memperbanyaknya, kami sangat berterima kasih dan mudah-mudahan dijadikan sebagai amal jariyah.

    Akhirnya, kami panjatkan doa agar Allah SWT membuka mata hati kita dan segenap kaum muslimin, di bulan disusunnya risalah kecil ini, bulan Maulid junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, dilimpahkan kepada kita semua taufik dan hidayah agar menjadi orang-orang yang menegakkan shalat. Amin…

    Wassalam

    M. Anis bin Syeikh Barakbah.

    ***

    Risalah shalat – 1

    Diasuh oleh : Ustadz M. Anis bin Syeikh Barakbah

    Ketahuilah wahai kaum muslimin – semoga Allah SWT memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua – bahwa sesungguhnya shalat itu adalah syariat (perintah agama) yang dibawa dan disampaikan oleh para Nabi yang telah diutus oleh Allah SWT semenjak Nabi Adam AS sampai junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Shalat sebagai sarana seorang hamba berhubungan denga Tuhannya, setelah berikrar dengan lisan dan yakin dengan hati bahwa tiada Tuhan selain Allah (syahadat), sebagai bukti keimanan seorang hamba yang dhoif dan kepatuhan akan perintah Tuhan Yang Maha Agung. Perumpamaan shalat adalah sebagai kepala dari seluruh anggota badan. Oleh karena sangat pentingnya shalat tersebut, junjungan Nabi Besar Muhammad SAW menyatakannya sebagai tonggak atau tiang agama, sebagaimana dalam sabda beliau,

    “Shalat itu adalah tiang agama. Barangsiapa menegakkannya maka sungguh ia menegakkan agamanya, dan barangsiapa meninggalkannya maka sungguh ia menghancurkan agamanya.”

    Karena sangat pentingnya kedudukan shalat ini, banyak sekali dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi anjuran agar didirikannya.

    Anda bisa perhatikan pentingnya shalat ini, dengan peristiwa diperintahkannya shalat, yaitu peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW pada tanggal 27 Rajab, 5 tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah. Di saat yang genting bagi beliau, belum selesai beliau mengajak kaumnya untuk bertauhid dan mempertuhankan Allah, berbagai macam cobaan dan bahaya yang datang dari pembesar-pembesar Quraisy semakin berat, turunlah seruan shalat ini, yang membuat segelintir orang-orang yang beriman kepada beliau menjadi tipis imannya dan membuat orang-orang kafir mencemoohkan beliau dan menyebarkan keraguan diantara segelintir orang-orang yang beriman untuk keluar dari Islam. Peristiwa ini juga terjadi pada saat beliau menerima langsung perintah shalat 5 waktu dari Allah, sedangkan perintah yang lain seperti shodaqoh, puasa, haji, dan sebagainya tidak melalui peristiwa khusus, tetapi melalui perantara malaikat Jibril.

    Hal ini sebagai bukti kebesaran shalat dibandingkan perintah atau syariat yang lain. Oleh karena itu, tidaklah pantas bagi kita yang mengaku beriman kepada Allah SWT dan beriman kepada Baginda Rasulullah SAW, melalaikan shalat, apalagi meninggalkannya.

    Untuk lebih jauh lagi dibawah ini, dapat kita renungkan hujjah atau dalil-dalil baik dari ayat-ayat Al-Qur’an, Hadis junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, maupun dari kalam para ulama besar dahulu, yang kesemuanya menunjukkan betapa hebat dan agungnya shalat itu dan begitu keras larangan melalaikannya.

    “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat , yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Maa’un : 4-5)

    “Apa yang menyebabkan kalian masuk di dalam neraka Saqor. Mereka menjawab : kami sewaktu dulu (di dunia) tidak termasuk orang-orang yang menegakkan shalat.” (QS. Al-Mudatstsir : 42-43)

    Diriwayatkan dari sahabat Umar bin Khattab dan Abi Hurairah, bahwa Jibril datang kepada baginda Rasulullah SAW dan berkata, “Bacalah, wahai Muhammad.” Beliau menjawab, “Apa yang harus aku baca.” Jibril kemudian membaca ayat,

    “Kemudian datang setelah mereka suatu pengganti yang mensia-siakan shalat dan mengikuti hawa nafsu, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam : 59)

    Maka Beliau bertanya kepada Jibril, “Apakah umatku akan mensia-siakan shalat sepeninggalku?.” Jibril menjawab, “Ya. Akan datang nanti orang-orang dari umatmu yang mengakhirkan shalat dari waktu-waktunya dan ada yang meninggalkannya, serta mengumbar hawa nafsunya. Harta di pandangan mereka lebih baik daripada shalat.”

    Bersabda Baginda Rasulullah SAW,

    “Sesungguhnya kedudukan shalat di mata agama sebagaimana kepala dengan jasad.”

    Bersabda Baginda Rasulullah SAW,

    “Paling awalnya sesuatu dimana seorang hamba akan dihisab adalah shalatnya. Jika didapati shalatnya sempurna, maka shalat dan semua amalnya akan diterima. Dan jika didapati shalatnya kurang, maka shalat dan semua amalnya akan tertolak.” (Abu Al-Laits As-Samarqandy di dalamnya kitabnya Qurruh Al-‘Uyuun dan Ibnu Hajar di dalam kitabnya Az-Zawaajir)

    Bersabda Baginda Rasulullah SAW,

    “Barangsiapa menjamak 2 shalat tanpa udzur maka sungguh ia terkena dosa besar.” (HR. At-Turmudzi dan Al-Hakim)

    Diriwayatkan oleh Ubadah bin Shomit,

    “Telah mewasiatkan kepadaku temanku, Rasulullah SAW, dengan 7 perkara : jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu meskipun kamu dipotong-potong atau disalib, jangan meninggalkan shalat dengan sengaja, maka barangsiapa meninggalkannya dengan sengaja maka sungguh ia telah keluar dari agama…” (HR. Ath-Thabrany)

    Bersabda Baginda Rasululllah SAW,

    “Allah telah mewajibkan shalat lima waktu atas hambaNya. Barangsiapa melaksanakannya pada waktu-waktunya maka padanya terdapat cahaya dan kejelasan pada hari kiamat. Dan barangsiapa mensia-siakannya maka ia akan dikumpulkan dengan Fir’aun dan Haman1.” (Ahmad Dahlan menyebutkan di dalam kitab Risalah-nya.

    Diriwayatkan :

    “Sesungguhnya beliau pada suatu hari bersabda kepada para sahabatnya, ‘Katakanlah : jangan jadikan diantara kami orang yang celaka dan diharamkan (masuk surga).’ Kemudian beliau bertanya, ‘Tahukah kalian orang yang celaka dan diharamkan?.’ Para sahabat menjawab, ‘Siapa dia wahai Rasulullah?.’ Beliau berkata, ‘(dia adalah) orang yang meninggalkan shalat.’ ”

    Diriwayatkan oleh Ali bin Abi Tholib bahwa Baginda Rasulullah SAW bersabda,

    “Tidak ada seorang hamba meninggalkan shalat dan tidak menggantinya kecuali Allah menuliskan diatas wajahnya (sebuah tulisan) orang ini keluar dari rahmat Allah dan Saya terlepas darinya. Dan jika seorang hamba meninggalkan satu kewajiban shalat maka Allah menulis namanya di pintu api neraka.”

    Bersabda Rasulullah SAW,

    “Batas antara hamba dengan kesyirikan adalah meninggalkan shalat.” (HR. Ahmad Adz-Dzarimy, Muslim, Abu Daud, dan banyak periwayat lainnya)

    Bersabda Baginda Rasulullah SAW,

    “Ikatan yang ada antara kami dan mereka (manusia) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka sungguh ia telah keluar dari agama.” (HR. At-Turmudzi)

    Hadits Baginda Rasulullah SAW,

    “Ketika Nabi SAW datang pada suatu kaum yang dipecahkan kepala-kepala mereka dengan batu. Setiap kali pecah, kembali lagi seperti semula. Berkata beliau, ‘Wahai Jibril, siapakah mereka?.’ Jibril menjawab, ‘Mereka itu adalah orang-orang yang kepala mereka berat untuk mendirikan shalat.’ ”

    1. Haman adalah wakil dan panglima Fir’aun.
     
  • erva kurniawan 2:31 am on 24 January 2016 Permalink | Balas  

    Agama Islam 

    Islam000Agama Islam

    Oleh

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dengan Islam, Allah mengakhiri serta menyempurnakan agama-agama lain untuk para hamba-Nya. Dengan Islam pula, Allah menyempurnakan kenikmatan-Nya dan meridhoi Islam sebagai diennya. Oleh karena itu tidak ada lain yang patut diterima, selain Islam.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi ….”[Al-Ahzab:40]

    ” Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu ….” [Al Maidah : 3]

    “Artinya : Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam….” [Ali Imran : 19]

    ” Artinya : Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” [Ali Imran : 85]

    Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan seluruh umat manusia agar memeluk agama Islam karena Allah. Hal ini sebagaimana telah difirmankan-Nya kepada rasul-Nya.

    “Artinya : Katakanlah ; “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. Tidak ada Tuhan selain Dia. Yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” [Al A’raaf : 158]

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dikatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

    “Artinya : Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak seorangpun dari umat ini, Yahudi maupun Nashrani, yang mendengar tentangaku, kemudian mati tidak mengimani sesuatu yang aku diutus karenanya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” [Hadits Riwayat Muslim]

    Mengimani Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam artinya membenarkan dengan penuh penerimaan dan kepatuhan terhadap segala yang dibawanya, bukan hanya membenarkan semata. Oleh karena itulah Abu Thalib (paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) dikatakan bukan orang yang mengimani Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, walaupun ia membenarkan apa yang dibawa oleh keponakannya itu dan dia juga mengakui bahwa Islam adalah agama yang terbaik.

    Agama Islam mencakup seluruh kemaslahatan yang dikandung oleh agama-agama terdahulu. Islam mempunyai keistimewaan, yaitu relevan untuk setiap masa, tempat dan umat.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada rasul-Nya.

    Artinya : Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab itu ….” [Al Maidah :48]

    Islam dikatakan relevan untuk setiap masa, tempat dan umat, maksudnya adalah berpegang teguh pada Islam tidak akan menghilangkan kemaslahatan umum di setiap waktu dan tempat. Bahkan dengan Islam, umat akan menjadi baik. Tetapi bukan berarti Islam tunduk pada waktu, tempat dan umat, seperti yang dikehendaki sebagian orang.

    Agama Islam adalah agama yang benar. Allah menjamin kemenangan kepada orang yang memegangnya dengan baik. Hal ini dikatakan-Nya dalam firman-Nya.

    “Artinya : Dia-lah yang telah mengutus rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” [At Taubah : 33]

    “Artinya : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [An Nuur : 55]

    Agama Islam merupakan aqidah dan syariat. Islam adalah agama yang sempurna dalam aqidah dan syariat, karena:

    1. Memerintahkan bertauhid dan melarang syirik.
    2. Memerintahkan bersikap jujur dan melarang berbuat bohong/dusta.
    3. Memerintahkan berbuat adil[1] dan melarang perbuatan lalim.
    4. Memerintahkan untuk bersikap amanat dan melarang khianat.
    5. Memerintahkan untuk menepati janji dan melarang ingkar janji.
    6. Memerintahkan untuk berbakti kepada ibu-bapak serta melarang menyakitinya.
    7. Memerintahkan bersilaturahmi/menyambung hubungan dengan kerabat dekat, serta melarang memutuskannya.
    8. Memerintahkan berbuat baik dengan tetangga dan melarang berbuat jahat kepada mereka.

    Secara umum Islam memerintahkan agar bermoral baik dan melarang bermoral buruk. Islam juga memerintahkan setiap perbuatan baik, dan melarang perbuatan yang buruk.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” [An Nahl : 90]

    [Disalin dari kitab : Syarhu Ushulil Iman, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Edisi Indonesia: Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan. Penerjemah: Ali Makhtum Assalamy. Penerbit: KSA Foreigners Guidance Center In Gassim Zone, halaman : 9-13]

    _________

    Foote Note

    [1] Adil artinya menyamakan yang sama dan membedakan yang berbeda, bukan persamaan secara mutlak seperti yang dikatakan sebagian orang yang mengatakan bahwa Islam adalah agama persamaan yang mutlak. Menyamakan hal-hal yang berbeda merupakan kelaliman yang tidak dianjurkan oleh Islam, dan pelakunyapun tidak terpuji.

    Sumber : almanhaj.or.id

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 23 January 2016 Permalink | Balas  

    Amal, Warid Dan Ahwal 

    amalan baikAmal, Warid Dan Ahwal

    “Beraneka warna jenis amal perbuatan, karena beragam pula warid dan ahwal”

    Yang dimaksud warid ialah kurnia Allah yang berproses menjadi ahwal (hal ihwal) dalam diri seorang hamba. Maka seiring dengan warid dan ahwal ada bias ilmu “ma’arif robbaniyah” (teologi) serta “asror ruhaniyah” (rahasia ruhani) yang berpola dengan sifat mahmudah (sifat terpuji).

    Pengertian warid bagi para salikin  adalah kurnia Allah dalam bentuk niat dan himmah (tekad) untuk melaksanakan berbagai kegiatan amal ibadah, baik dalam arti ritual maupun sosial. Sebagai bukti adanya benih warid yang telah tertanam dilubuk hati adalah bila ada tumbuh rasa suka dan cinta dalam melaksanakan ibadah yang menjadi perilaku amal saleh salikin, juga disebut ahwal nan zahir.

    Pengertian ma’arif robbaniyah ialah ilmu mengenal Allah, seorang hamba memperoleh ilmu itu dengan melaksanakan berbagai macam amal ibadah seperti riyadhoh dan mujahadah. Lain pula asror ruhaniyah yang menjadi pengalaman batin bagi orang yang menuju kepada Allah.

    Seorang hamba yang mendapatkan warid dari Allah akan ada pada dirinya ahwal yang menuntun kepada sifat mahmudah. Maka sifat mahmudah itu bentuk nafsu sawwiyah atau mulhimah yang selalu mengekspresikan sifat-sifat terpuji, seperti melaksanakan amal ibadah secara istiqomah. Sebab istiqomah itu lebih baik dari seribu karomah. Dengan melaksanakan amal ibadah secara istiqomah, niscaya Allah membiaskan ilmu ma’arif robbaniyah yang menjadi pelita atau matahati seorang salikin, semisal khothir mahmudah (lintasan yang baik) yang datang mewarnai jiwa seorang hamba. Maka lahir amal ibadah yang terpuji seirama ikhlas.

    Nabi r bersabda:

    “Barangsiapa mengamalkan ilmu yang diketahuinya, Allah akan mewariskan ilmu yang tidak diketahuinya”. Yaitu ilmu ma’arif robbaniyah hingga merasakan asror ruhaniyah.

    Sudah menjadi bukti wujud kekuasaan Allah, bahwa kurnia-Nya itu mewarnai disegala sektor kehidupan manusia. Coba perhatikan pola hidup manusia yang beraneka ragam sifat dan perilakunya. Maka pada konteks ini, semua perilaku manusia bersumber dari warid dan ahwal yang dibiaskan Allah ke dalam hidupnya.

    Jika kita membahas tentang warid, ahwal dan amal dalam sebuah misal, tak ubahnya seperti benih, pohon dan buah yang proses pertumbuhannya tidak terlepas dari pemeliharaan. Amal saleh yang zahir itu disebut sebagai buah, maka yang perlu difahami disini bahwa buah itu ada yang busuk dan ada pula yang baik. Jadi baik dan buruknya amal seorang hamba tergantung pada ahwal yang batin. Dengan kata lain, amal lahiriyah mengikuti sikap batiniyah.

    Adanya aneka ragam amal perbuatan yang zahir disebabkan oleh adanya berbagai macam keadaan yang datang dari dalam diri seseorang, seperti ada yang suka melaksanakan shalat, ada pula yang senang menunaikan zakat dan banyak lagi perbuatan lainnya baik dalam bentuk ritual maupun sosial. Semua perbuatan itu tentu ada yang menggerakkan dan mendorongnya dari dalam diri seseorang, yaitu warid.

    Maka pengertian warid yang dimaknakan niat itu tampak pada setiap wujud amal, sebab semua amal perbuatan yang tampak adalah sesuai dengan pola niat yang ada dalam diri seseorang. Niat ialah sebuah titik permulaan teristimewa disetiap gurat amal ibadah dan muamalah lainnya. Niat menjadi tolok ukur yang sangat menentukan tentang baik buruknya suatu amal ibadah atau segala bentuk perbuatan. Apabila niatnya baik maka pada umumnya bisa membuahkan kebaikan. Sebaliknya jika niatnya jelek maka buahnya pun akan jelek pula. Sebagian para Ulama menyimpulkan fungsi dan peran niat sebagai berikut:

    “Kerap kali amal yang kecil menjadi besar (nilainya) karena baik niatnya, dan kerap kali amal yang besar jadi kecil (nilainya) karena salah niatnya”.

    Dalam sebuah hadis yang masyhur juga dinyatakan:

    “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan sesunggunya bagi setiap perbuatan itu sesuai dengan apa yang diniatkan”. (HR. Bukhori dan Muslim)

    Wallohu a’lam bis-shawab,-

    [Sumber : HIZBOEL WATHONY]

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 22 January 2016 Permalink | Balas  

    Menjawab Keraguan Seputar Jilbab 

    hijabMenjawab Keraguan Seputar Jilbab

    Menghias perbuatan maksiat adalah pekerjaan setan. Sehingga perbuatan dosa bisa nampak indah, yang haram menjadi suram dan yang maksiat kelihatan memikat. Begitu pula dalam masalah jilbab dan busana takwa ini. Banyak syubhat dan keraguan yang bisa jadi sengaja dihembuskan untuk menghalangi para wanita muslimah memperindah penampilannya dengan busana takwa.

    Tulisan ini akan mengupas tentang beberapa hal yang menimbulkan keraguan dan kebimbangan seputar jilbab, sekaligus menjawabnya insya Allah. Hal-hal tersebut antara lain:

    1. Jilbab adalah budaya Arab

    Ada sementara orang yang mengatakan bahwa jilbab adalah budaya dan tradisi pakaian wanita arab pada masa awal pertumbuhan Islam. Sekarang, setelah berlalu lebih dari 14 abad, budaya dan tradisi pun berubah. Cara orang berpakaian pun sudah tak seperti dulu. Karena jilbab adalah pakaian wanita arab saat itu, maka bukan saatnya lagi untuk dikenakan saat ini. Apalagi bagi orang yang tinggal di negara-negara non arab yang tentunya mempunyai budaya dan tradisi sendiri.

    Dari sini paling tidak ada dua hal yang perlu dijawab. Pertama, benarkah jilbab adalah tradisi berpakaian wanita arab pada awal pertumbuhan Islam? Kedua, benarkah jilbab hanya khusus untuk wanita arab dan tak wajib bagi muslimah non arab untuk mengenakannya?

    Imam Hakim meriwayatkan sebuah hadis yang menggambarkan saat-saat setelah turunnya ayat perintah menutup aurat, yaitu Surat Annur ayat 31: “dan hendaklah mereka menutupkan khumur- jilbab- nya ke dada mereka….” Riwayat lain menerangkan: “Wanita-wanita (ketika turun ayat tersebut) segera mengambil kain sarung mereka, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Hakim).

    Imam Bukhari juga meriwayatkan hal senada:

    “Bahwasannya ‘Aisyah RA. Berkata: “Ketika turun ayat “dan hendaklah mereka menutupkan “khumur” -jilbab- nya ke dada mereka…” maka para wanita segera mengambil kain sarung, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Bukhari).

    Kedua hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa pada saat turunnya ayat tersebut para shohabiyyah (wanita dari kalangan sahabat) sedang tidak mengenakan “khumur” (jilbab) dan memang mereka belum biasa mengenakannya. Buktinya, saat itu mereka harus merobek kain sarung mereka untuk dialih-fungsikan menjadi jilbab. Jika mereka sudah biasa memakainya tentunya jilbab itu telah tersedia dan tak perlu lagi untuk menyulap kain sarung mereka menjadi jilbab “darurat.” Dari sini jelaslah bahwa jilbab bukanlah merupakan budaya dan tradisi wanita arab pada awal pertumbuhan Islam, tetapi suatu hal yang disyariatkan oleh Islam dan dilaksanakan oleh seluruh shohabiyyah. Hingga akhirnya pakaian tersebut mentradisi dan menjadi budaya Islam. Dengan ini, berarti pertanyaan pertama telah terjawab.

    Sedang pertanyaan kedua, yakni apakah jilbab hanya untuk orang arab saja, maka ini terjawab dengan keuniversalan Islam. Islam adalah agama yang diperuntukkan bagi seluruh manusia, melampaui batas waktu dan geografi. Allah berfirman:

    “Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Qs. Saba’:28). Karena jilbab (busana penutup aurat) adalah bagian dari syariat Islam maka ia juga diperuntukkan bagi seluruh wanita muslimah di manapun ia berada hingga hari kiamat kelak.

    1. Jilbab hanya wajib bagi istri-istri Rasulullah

    Orang yang mengatakan bahwa jilbab (dikenal juga dengan sebutan hijab) hanyalah wajib bagi istri-istri Rasulullah berdalil dengan ayat 33 surat Al-Ahzab. Sebab konteks ayat tersebut ditujukan kepada mereka. Karenanya larangan untuk tabarruj dan kewajiban mengenakan jilbab hanyalah wajib bagi mereka saja.

    Pernyataan ini terjawab dengan dua hal:

    1. Para ahli tafsir memberikan komentar atas ayat tersebut bahwa meninggalkan tabarruj juga diperintahkan kepada seluruh wanita mukminah. Imam Al-Jashshas berkata: “Semua hal yang tersebut dalam ayat ini adalah petunjuk-petunjuk Allah bagi istri-istri rasulullah untuk menjaga mereka, dan semua itu juga ditujukan bagi wanita-wanita mukminah.” (lihat, Ahkamu Al-Qur’an karya Al-Jashshos). Imam Ibnu Katsir berkomentar: “Ini adalah hal-hal yang diperintahkan Allah kepada istri-istri Nabi, dan seluruh wanita mukminah dalam hal ini harus mengikuti mereka.” (lihat, Tafsir Ibnu Katsir).
    2. Sebutlah misalnya bahwa, benar ayat surat Al-Ahzab: 33 tersebut khusus untuk istri-istri Rasulullah, namun ada ayat lain yang dengan jelas mengatakan bahwa kewajiban berjilbab itu diperuntukkan bagi seluruh wanita mukminah. Yaitu Firman Allah:

    “Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkkan khumur (Ind: jilbab) nya ke dadanya…” (Qs.Annur: 31)

    1. Jilbab adalah sekedar simbol

    Sementara itu ada yang mengatakan bahwa jilbab hanyalah sebuah simbol. Sedang yang penting bagi seorang muslim adalah baiknya budi pekerti dan bersihnya hati. Dari pada berjilbab tapi kelakuannya berantakan, bukankah lebih baik tidak berjilbab tapi bertingkah laku baik.

    Kelihatannya kata-kata ini baik, namun sebenarnya rancu. Sebab dalam diri seorang muslim hendaknya tertanam keyakinan bahwa apapun yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya adalah baik dan seharusnya dilakukan. Baik itu simbol atau bukan. Tidaklah hanya karena suatu hal dianggap simbol lantas kita boleh meninggalkannya. Bahkan lebih dari itu, di sana ada hal-hal yang tak bisa dilogikakan namun kita tetap wajib melakukan. Misalkan wudlu karena keluar angin. Mengapa yang harus dibasuh adalah muka, tangan, kepala dan kaki. Bukankah yang lebih pantas untuk dibasuh adalah tempat keluarnya angin tersebut. Karena alasan ini pula sayyidina Umar RA. berujar tatkala mencium hajar aswad: “Sesunguhnya aku tahu kau hanyalah sebuah batu yang tak bisa mendatangkan faedah dan tidak pula menyebabkan bahaya, namun karena aku melihat Rasulullah menciummu maka aku menciummu.”

    Sikap menerima seperti inilah yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya:

    “Tidaklah patut bagi seorang mukmin dan tidak pula bagi seorang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, kemudian ia memilih yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-Ahzab: 36).

    Maka seorang muslim seharusnya memandang bahwa berjilbab juga termasuk akhlak dan perilaku yang baik. Sebab yang baik bagi seorang muslim adalah yang baik menurut Allah dan yang buruk adalah yang buruk menurut-Nya. Karenanya, menanggapi komentar di atas seharusnya seorang muslim berkata: “Lebih baik berjilbab dan mempunyai akhlak yang baik dari pada berperilaku baik tapi tidak berjilbab.” Atau: “Sayang sekali, perilakunya baik tapi kok tidak berjilbab.”

    Siapakah Yang Memikul Tanggung Jawab Ini?

    Permasalahan jilbab ini bukanlah hanya tanggung jawab para muslimah saja. Tapi setiap muslim ikut bertanggung jawab dalam hal ini. Setiap muslim berkewajiban untuk bersama-sama menciptakan situasi yang kondusif untuk pelaksanaan syariat Allah tersebut. Seorang ayah bertanggung jawab atas istri dan anak-anak putrinya. Seorang ibu bertanggung jawab atas dirinya dan anak-anak wanitanya. Dan setiap kita bertanggung jawab atas keluarga kita. Jika kita melalaikan tanggung jawab ini, secara sadar atau tidak kita telah menjerumuskan diri kita dan orang-orang yang kita cintai dalam jurang api neraka.

    Rasulullah bersabda:

    “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim).

    Allah berfirman:

    “Wahai orang-orang yang beriman, selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kejam dan keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya dan melaksanakan apa yang diperintahkan.” (Qs. Attahrim: 6). Wallahu a’lam bishshowab.

    ***

    (Ahmad ulil Amin)

    Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Arsip Fiqh (http://www.alislam.or.id/)

     
  • erva kurniawan 2:46 am on 21 January 2016 Permalink | Balas  

    Wanita Muslimah Menikah Dengan Laki-Laki Non Muslim 

    mahar pernikahanWanita Muslimah Menikah Dengan Laki-Laki Non Muslim

    Pertanyaan.

    Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya : “Bagaimana hukumnya wanita muslimah menikah dengan laki-laki non muslim?”

    Jawaban.

    Pernikahan tersebut batil karena bertentangan dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadits serta ijma’ para ulama.

    Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke Neraka, sedang Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”

    [Al-Baqarah : 221]

    Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka” [Al-Mumtahanah : 10]

    Sebab pernikahan semacam itu hanya akan merusak aqidah dan agama wanita muslimah. Oleh sebab itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam ayat di atas ” Mereka mengajak ke Neraka”. Artinya secara umum tindakan orang-orang musyrik baik segi ucapan atau perbuatan mereka selalu mengajak ke neraka. Lewat hubungan pernikahan seseorang sangat mudah mempengaruhi orang lain. Apalagi sang suami pada umumnya menghendaki dan berusaha agar sang istri mengikuti agama yang dia yakini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka” [Al-Baqarah : 120]

    Laki-laki non muslim bukan pasangan yang sesuai bagi wanita muslimah sebab dalam timbangan hukum Islam hak suami menuntut adanya kelebihan dari hak istri. Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)” [An-Nisa’:34]

    Hak-hak yang ada dalam ayat ini tidak akan tercapai apabila rumah tangga terdiri dari suami kafir dan istri seorang wanita muslimah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman” [An-Nisa : 141]

    Secara naluri zhahir maupun batin seorang istri lebih lemah dibanding suami, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Islam itu tinggi tidak bisa diungguli agama apapun”. Siapa saja yang melakukan pernikahan tersebut harus dikenakan sanksi tegas sesuai dengan hukum Islam. Barangsiapa yang melegalkan dan menganggap halal atas pernikahan tersebut, maka telah KELUAR dari agama Islam. Akan tetapi apabila seseorang melakukan pernikahan tersebut hanya ikut-ikutan dan tidak menganggap halal, maka dia telah berbuat dosa besar dan kejahatan yang sangat keji tetapi tidak keluar dari agama Islam. Dan wanita yang melakukan perbuatan tersebut harus dikenakan sanksi berupa rajam bagi wanita janda dan didera seratus kali dan dibuang selama setahun bagi wanita gadis. Tetapi bila seorang wanita melakukan perbuatan tersebut atas dasar ketidaktahuan, maka sanksi dan hukuman tersebut menjadi gugur sebab terdapat subhat di dalamnya.

    Pernikahan yang terlaksana wajib segera dibatalkan dan laki-laki non muslim tersebut harus juga dikenakan sanksi sesuai dengan yang berlaku. Bagi pihak yang berwenang harus jeli dalam melihat kemaslahatan hukum syar’i dan tegas dalam menangani kasus seperti ini. Jika secara hukum agama dan maslahat umum seorang non muslim tersebut harus dibunuh, maka langkah tersebut harus dipenuhi. [Fatawa wa Rasaail Syaikh Muhammad bin Ibrahim, juz 10/136-138]

    [Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Maratil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita-2, hal 179-181 Darul Haq]

    Sumber : almanhaj.or.id

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 20 January 2016 Permalink | Balas  

    Hal- Hal Yang Membatalkan Keislaman 

    Islam000Hal- Hal Yang Membatalkan Keislaman

    Penulis : Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz

    Segala puji bagi Allah (Subhanahu wa Ta’ala), Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi yang terahir Muhammad (Shalallahu ‘alaihi Wassalam), para keluarga dan para Sahabat beliau, serta kepada orang- orang yang setia mengikuti petunjuk beliau.

    Selanjutnya : ketahuilah, wahai saudaraku kaum muslimin, bahwa Allah (Subhanahu wa Ta’ala) telah mewajibkan kepada seluruh hamba – hambaNya untuk masuk ke dalam agama Islam dan berpegang teguh denganya serta berhati–hati untuk tidak menyimpang darinya.

    Allah juga telah mengutus NabiNya Muhammad (Shalallahu ‘alaihi Wassalam) untuk berdakwah ke dalam hal ini, dan memberitahukan bahwa barangsiapa bersedia mengikutinya akan mendapatkan petunjuk dan barangsiapa yang menolaknya akan sesat.

    Allah juga mengingatkan dalam banyak ayat- ayat Al-Qur’an untuk menghindari sebab-sebab kemurtadan, segala macam kemusyrikan dan kekafiran.

    Para ulama rahimahumullah telah menyebutkan dalam bab hukum kemurtadan, bahwa seorang muslim bisa di anggap murtad (keluar dari agama Islam) dengan berbagai macam hal yang membatalkan keislaman, yang menyebabkan halal darah dan hartanya dan di anggap keluar dari agama Islam.

    Yang paling berbahaya dan yang paling banyak terjadi ada sepuluh hal, yang di sebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama lainnya, dan kami sebutkan secara ringkas, dengan sedikit tambahan penjelasan untuk anda, agar anda dan orang – orang selain anda berhati hati dari hal ini, dengan harapan dapat selamat dan terbebas darinya.

    Pertama:

    Diantara sepuluh hal yang membatalkan keislaman tersebut adalah mempersekutukan Allah (Subhanahu wa Ta’ala) ( syirik ) dalam beribadah.

    Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman:

    Artinya : “Sesungguhnya Allah (Subhanahu wa Ta’ala) tidak mengampuni dosa syirik(menyekutukan ) kepadaNya, tetapi mengampuni dosa selain itu, kepada orang – orang yang dikehendakinya“.( Annisa’ ayat : 116)

    Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman:

    Artinya: “ sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, niscaya Allah akan mengharamkan surga baginya, dan tempat tinggalnya (kelak) adalah neraka, dan tiada seorang penolong pun bagi orang – orang zhalim” .( Al- Maidah : 72).

    Dan di antara perbuatan kemusyrikan tersebut adalah ; meminta do’a dan pertolongan kepada orang- orang yang telah mati, bernadzar dan menyembelih korban untuk mereka.

    Kedua:

    Menjadikan sesuatu sebagai perantara antara dirinya dengan Allah (Subhanahu wa Ta’ala), meminta do’a dan syafaat serta bertawakkal ( berserah diri ) kepada perantara tersebut.

    Orang yang melakukan hal itu, menurut ijma’ ulama ( kesepakatan) para ulama, adalah kafir.

    Ketiga :

    Tidak menganggap kafir orang-orang musyrik, atau ragu atas kekafiran mereka, atau membenarkan konsep mereka. Orang yang demikian ini adalah KAFIR.

    Keempat:

    Berkeyakinan bahwa tuntunan selain tuntunan Nabi Muhammad (Shalallahu ‘alaihi Wassalam) lebih sempurna, atau berkeyakinan bahwa hukum selain dari beliau lebih baik, seperti ; mereka yang mengutamakan aturan – aturan thaghut (aturan – aturan manusia yang melampaui batas serta menyimpang dari hukum Allah ), dan mengesampingkan hukum Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi Wassalam) , maka orang yang berkeyakinan demikian adalah KAFIR.

    Kelima :

    Membenci sesuatu yang telah ditetapkan oleh Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi Wassalam) , meskipun ia sendiri mengamalkannya. Orang yang sedemikian ini adalah KAFIR. Karena Allah (Subhanahu wa Ta’ala) telah berfirman :

    Artinya :Demikian itu adalah dikarenakan mereka benci terhadap apa yang di turunkan oleh Allah (Subhanahu wa Ta’ala), maka Allah (Subhanahu wa Ta’ala) menghapuskan (pahala) segala amal perbuatan mereka”. ( Muhammad : 9).

    Keenam:

    Memperolok–olok sesuatu dari ajaran Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi Wassalam), atau memperolok – olok pahala maupun siksaan yang telah menjadi ketetapan agama Allah (Subhanahu wa Ta’ala), maka orang yang demikian menjadi KAFIR, karena Allah (Subhanahu wa Ta’ala) telah berfirman :

    Artinya : “ katakanlah ( wahai Muhammad ) terhadap Allah kah dan ayat – ayat Nya serta RasulNya kalian memperolok – olok? tiada arti kalian meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman“ . (At- Taubah : 65- 66).

    Ketujuh :

    Sihir di antaranya adalah ilmu guna-guna yang merobah kecintaan seorang suami terhadap istrinya menjadi kebencian, atau yang menjadikan seseorang mencintai orang lain, atau sesuatu yang di bencinya dengan cara syaitani.dan orang yang melakukan hal itu adalah kafir, karena Allah (Subhanahu wa Ta’ ala) telah berfirman :

    Artinya :” Sedang kedua malaikat itu tidak mengajarkan (suatu sihir) kepada seorangpun, sebelum mengatakan: sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, sebab itu janganlah kamu kafir “.( Al-Baqarah : 102.

    Kedelapan:

    Membantu dan menolong orang – orang musyrik untuk memusuhi kaum muslimin.

    Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman:

    Artinya : “Dan barang siapa diantara kamu mengambil mereka (Yahudi dan Nasrani ) menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang tersebut termasuk golongan mereka. sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang – orang yang zhalim” .( Al- Maidah: 51).

    Kesembilan:

    Berkeyakinan bahwa sebagian manusia diperbolehkan tidak mengikuti syari’at Nabi Muhammad (Shalallahu ‘alaihi Wassalam) , maka yang berkeyakinan seperti ini adalah KAFIR. Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman :

    Artinya:”Barang siapa menghendaki suatu agama selain Islam, maka tidak akan diterima agama itu dari padanya, dan ia di akhirat tergolong orang- orang yang merugi”.( Ali- Imran: 85).

    Kesepuluh:

    Berpaling dari Agama Allah (Subhanahu wa Ta’ala); dengan tanpa mempelajari dan tanpa melaksanakan ajarannya. Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman :

    Artinya : “ Tiada yang lebih zhalim dari pada orang yang telah mendapatkan peringatan melalui ayat – ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling dari padanya. Sesungguhnya kami minimpakan pembalasan kepada orang yang berdosa “. ( As-Sajadah : 22).

    Dalam hal- hal yang membatalkan keislaman ini , tak ada perbedaan hukum antara yang main-main, yang sungguh-sungguh ( yang sengaja melanggar ) ataupun yang takut, kecuali orang yang di paksa. Semua itu merupakan hal-hal yang paling berbahaya dan paling sering terjadi. Maka setiap muslim hendaknya menghindari dan takut darinya. Kita berlindung kepada Allah (Subhanahu wa Ta’ala) dari hal- hal yang mendatangkan kemurkaan Nya dan kepedihan siksaanNya. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada makhluk Nya yang terbaik, para keluarga dan para sahabat beliau. Dengan ini maka habis dan selesai kata-katanya. Rahimahullah.

    Termasuk dalam nomor empat :

    Orang yang berkeyakinan bahwa aturan-aturan dan perundang – undangan yang diciptakan manusia lebih utama dari pada syariat Islam, atau bahwa syariat Islam tidak tepat untuk diterapkan pada abad ke dua puluh ini, atau berkeyakinan bahwa Islam adalah sebab kemunduran kaum muslimin, atau berkeyakinan bahwa Islam itu terbatas dalam mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya saja, dan tidak mengatur urusan kehidupan yang lain.

    Juga orang yang berpendapat bahwa melaksanakan hukum Allah Ta’ala dan memotong tangan pencuri, atau merajam pelaku zina ( muhsan) yang telah kawin tidak sesuai lagi di masa kini.

    Demikian juga orang yang berkeyakinan diperbolehkannya pengetrapan hukum selain hukum Allah (Subhanahu wa Ta’ala) dalam segi mu’amalat syar’iyyah, seperti perdagangan, sewa menyewa, pinjam meminjam, dan lain sebagainya, atau dalam menentukan hukum pidana, atau lain-lainnya, sekalipun tidak disertai dangan keyakinan bahwa hukum- hukum tersebut lebih utama dari pada syariat Islam.

    Karena dengan demikian ia telah menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah (Subhanahu wa Ta’ala) , menurut kesepakatan para ulama’.sedangkan setiap orang yang telah menghalalkan apa yang sudah jelas dan tegas diharamkan oleh Allah (Subhanahu wa Ta’ala) dalam agama, seperti zina, minum arak, riba dan penggunaan perundang- undangan selain Syariat Allah (Subhanahu wa Ta’ala), maka ia adalah KAFIR, merurut kesepakatan para umat Islam.

    Kami mohon kepada Allah (Subhanahu wa Ta’ala) agar memberi taufiq kepada kita semua untuk setiap hal yang di ridhai Nya, dan memberi petunjuk kepada kita dan kepada seluruh umat Islam jalannya yang lurus. Sesungguhnya Allah (Subhanahu wa Ta’ala) adalah Maha Mendengar dan maha Dekat. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad (Shalallahu ‘alaihi Wassalam), kepada para keluarga dan para shahabat beliau.

    (Dinukil dari kitab نواقض الإسلام oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, edisi Indonesia Hal-hal yang membatalkan Keislaman)

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 15 January 2016 Permalink | Balas  

    Mencari Kelimpahan Karunia Allah 

    kerja kerasMencari Kelimpahan Karunia Allah

    “Dan kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” (QS. Al-Israa : 12).

    Tidak diragukan lagi, ayat diatas secara tegas menerangkan bahwa salah satu hikmah silih bergantinya siang dan malam bagi orang-orang beriman, adalah untuk memberikan kesempatan mencari fadlan min Rabbikum, karunia Allah. Bahkan di dalam ayat lain, yakni surat al-Fath ayat 29, Allah SWT menerangkan sifat-sifat Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya, dimana yabtaghuna fadlan minallah, mencari karunia Allah, adalah salah satu karakteristiknya. Jelaslah, bahwa mencari karunia (fadlan) ini, bukanlah hal yang remeh dan dilakukan sesuka dan sesempatnya, tadi harus dijadikan salah satu kegiatan utama orang-orang beriman, dan menjadi salah satu karakteristik kepribadiannya.

    Hanya saja, sebagian orang menyalahartikan karunia Allah dengan membatasi dan menyempitkannya, sebagai mencari rezeki atau karunia dalam bentuk harta benda. Sehingga mencari karunia Allah, dibatasi dengan bekerja mencari uang dan penghidupan. Bekerja mencari nafkah itu sendiri, bukanlah sesuatu yang buruk, bahkan sesuatu yang akan memiliki nilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar, cara yang halal, serta tujuan yang benar pula. Tetapi karunia Allah, fadlan minallah, bukanlah rezeki. Rezeki, bukanlah sesuatu yang mesti dicari oleh orang-orang beriman, dan bahkan oleh seluruh makhluk hidup di muka bumi ini. Sebab, setiap makhluk telah ditetapkan rezekinya oleh Allah SWT. Semua makhluk telah memilikinya, sesuai dengan kebutuhan dan porsinya masing-masing. Tidak ada satu pun yang dilewatkanNya. Dalam salah satu ayat, Allah SWT berfirman: “Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberikan rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu di persembunyiannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (lauh mahfuzh).” (QS. Hud : 6).

    Rezeki yang melimpah, bukanlah tanda orang yang memperoleh karunia Allah. Harta kekayaan yang melimpah, kekuasaan yang terhimpun, ataupun jabatan yang kian memuncak, tidaklah identik dengan karunia Allah yang harus dicari orang-orang beriman. Bila sekedar untuk menumpuk kekayaan, meraih harta, atau mencapai puncak kekuasaan, orang-orang kafir pun mampu mencapainya. Bahkan para koruptor, penipu dan penjahat sekalipun, tidak sedikit hidup bergelimang harta kekayaan dan memiliki kekuasaan yang puncak. Bukan itu karunia Allah yang diharuskan orang beriman mencarinya!

    Secara bahasa, fadlan artinya luberan, limpasan atau kelebihan. Bila ada gelas yang berukuran 1 liter air, kemudian diisi 1,5 liter air. Maka setengah liter air akan menjadi limpahan, luber keluar gelasnya. Itulah fadlan! Dan limpahan itulah yang sesungguhnya dicari oleh orang-orang beriman dalam hidupnya.

    Rezeki setiap makhluk telah ada takarannya, telah tetap jatahnya, hanya tinggal setiap makhluk berusaha menjemputnya, maka ia pasti akan mendapatkannya. Namun, yang dicari orang beriman, bukanlah “jatah” rezeki yang diberikan Allah, tetapi fadlan, limpahan dari rezeki yang diperolehnya. Ia tidak mencari harta, tetapi fadlan dari harta itu. Orang beriman tidak mencari kekuasaan, tetapi fadlan dari kekuasaan itu. Begitulah seterusnya, sehingga pencarian orang beriman jauh lebih tinggi daripada orang-orang yang mengabaikan agama Allah.

    Apakah limpahan dari harta yang kita peroleh? Limpahan itu ada pada barokah harta yang diperolehnya. Barokah harta diperoleh dengan niat yang lurus, ikhtiar yang halal, dan digunakan untuk sesuatu yang bernilai amal shalih. Harta itu digunakan untuk menafkahi anak dan isterinya, ditunaikan zakatnya, diinfaqkan di jalan Allah untuk menegakkan syi’ar Islam di muka bumi ini. Itulah kelimpahan harta yang dicari orang beriman.

    Demikian pula halnya dalam kekuasaan dan amanah yang diembannya. Tinggi rendahnya kedudukan, besar kecilnya kedudukan bukanlah masalah. Hal yang dicari dari kekuasaan oleh orang beriman, adalah fadlan, kelimpahanNya. Kelimpahan dalam kekuasaan adalah manakala ia menggunakannya untuk amar ma’ruf nahyi munkar, menjadikannya sebagai sarana untuk menunaikan tugas sebagai khalifah fil ardhi, pengelola yang memakmurkan bumi dan mensejahterakan Ummat. Itulah yang dicari orang-orang beriman.

    Karena itu, tujuan orang beriman bekerja keras dengan cerdas, bukanlah dalam upaya mengunmpulkan uang dan harta kekayaan lainnya. Itu tidak perlu dicari, sebab secara sunnatullah, bila ia bekerja keras ia akan memperoleh rezkinya sesuai dengan besar kecilnya rezeki yang ia ambil.

    Demikianlah pula bila orang-orang beriman bila berjihad fi sabilillah, bukanlah untuk menggeser dan menduduki kekuasaan orang-orang yang dilawannya, sebab itupun telah menjadi sunnatullah, strategi perjuangan yang jitu dan taktik jihad yang tepat akan mengantarkan kaum muslimin pada kemenangan. Yang menjadi tujuan dari semua itu, adalah fadlan minallah, kelimpahan karunia Allah pada setiap yang diperolehnya. Itulah yang membedakan apa yang dicari oleh orang-orang beriman, dengan makhluk Allah lainnya.

    (KH. Hilman Rosyad Syihab, Lc.)

     
  • erva kurniawan 2:43 am on 14 January 2016 Permalink | Balas  

    Keistimewaan Hari Jum’at 

    sholat-jumatKeistimewaan Hari Jum’at

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sangat memuliakan hari ini, menghormatinya, dan mengkhususkannya untuk beribadah dibandingkan hari-hari lainnya. Di antara keistimewaan hari Jum’at adalah :

    1. Ia adalah hari raya/ hari besar yang berulang

    Maka tidak diperbolehkan puasa khusus pada hari itu, tanpa didahului oleh puasa sebelum maupun sesudahnya, Agar berbeda dengan Yahudi. Juga agar tubuh merasa kuat untuk melaksanakan ibadah pada hari Jum’at seperti shalat, do’a dan yang lainnya.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    “Sesungguhnya hari Jum’at adalah ‘ied (hari raya), maka jangan jadikan hari raya kalian untuk berpuasa, kecuali bila kalian puasa sebelum dan sesudahnya”. (HR. Ahmad dalam al-Musnad 15/157, hadits 8012, syech Ahmad Syakir mengatakan: sanadnya shahih.

    1. Ia bertepatan dengan hari bertambahnya kenikmatan di sorga

    Yaitu hari saat seluruh penghuni sorga dikumpulkan di Lembah yang luas, dan dibuatkan bagi mereka mimbar-mimbar dari mutiara, emas, dan mimbar dari zamrud, dan permata diatas bukit pasir dari kasturi mereka lalu melihat Allah Subhanahu Wata’ala, dengan mata kepala mereka (nyata)..

    Dan orang yang paling cepat bertemu dengan Allah adalah mereka yang dulu juga bersegera datang ke masjid, yang paling dekat dengan Allah pada hari itu, adalah mereka yang dulu paling dekat (duduknya) dengan imam (pada hari Jum’at). (Zaadul Ma’aad 1/ 63,64).

    Dalam sebuah hadist panjang yang diriwayatkan oleh Anas, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ” ???.tidak ada kerinduan yang dirasakan oleh penduduk sorga melebihi kerinduan mereka kepada hari Jum’at, agar mereka dapat melihat Tuhannya Subhanahu Wata’ala, dan kemulian-Nya. Karena itu, hari itu disebut “yaumul mazid”. (HR. Ibnu Abi Syaibah dan yang lainnya, lihat shahih at-targhib wa at-tarhiib (1/291) hadits 694.

    1. Pada hari itu ada saat dikabulkannya do’a.

    Yaitu saat dimana Allah akan memberikan apa saja yang diminta oleh hamba-Nya yang muslim. Di dalam kitab Shahih al-Bukhari Muslim terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallu ‘anhu ia berkata :

    Rasullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    “Sesungguhnya pada hari Jumat ada waktu yang apabila seorang muslim shalat bertepatan dengannya lalu ia meminta kepada Allah maka akan dikabulkan permintaanya ” dan Rasullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengisyaratkan dengan tangannya bahwa waktu itu sebentar. (HR.Bukhari{891}dan Muslim{879})

    1. Membaca surat {aliflamim tanzil /surat As-sajdah}dan{hal ata ‘alal insan /surat Al-insan), pada shalat subuh hari Jumat.

    Rasullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga telah melakukan hal tersebut {HR. Bukhori {891} dan Muslim{879}}, Ibnu Taimiyah memberikan alasannya dengan mengatakan :

    “Sesungguhnya Rasullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca surat ini pada shalat shubuh hari Jumat karena di dalamnya terkandung penjelasan peristiwa yang telah terjadi dan akan terjadi pada hari itu, kedua surat ini mengandung penjelasan tentang peciptaan Adam, tentang hari kebangkitan dan hari dikumpulkannya manusia di padang mahsyar yang semua itu terjadi pada hari jumat, membaca kedua surat ini pada hari Jumat dapat mengingatkan manusia akan peristiwa yang telah terjadi dan akan terjadi, sedangkan sujud tilawah pada shalat ini hanya sebagai ikutan bukan dimaksudkan sejak awal.

    Ibnu al-Qayyim berkata : banyak orang yang tidak mengerti mengira bahwa yang dimaksud dengan membaca surat sajdah adalah pengkhususan sujud tambahan untuk shalat fajar,dan mereka menamai sujud ini dengan sujud Jum’at, jika seseorang tidak membaca surat sajdah maka disunahkan membaca surat lain yang mengandung sujud.

    {diantara ulama yang dapat dikutip pendapatnya demikian adalah Ibrahim An-nakha’i, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar dari Ibrahim An-nakha’i melalui sanad yang dikuatkan oleh Ibnu Abi Syaiba bahwa Ibrahim An-nakha’i berkata, “Disunnahkan membaca pada shalat shubuh hari jumat surat yang mengandung sajdah.” Melalui riwayat Ibnu Abi Syaibah juga bahwa ia {Ibrahim An-nakha’i} telah membaca surat Maryam.}

    Sedang melalui jalan Ibnu Aun ia berkata : mereka membaca pada shalat subuh hari jumat surat yang mengandung sajdah. Melalui riwayatnya ia menambahkan: saya bertanya kepada Muhammad -Ibnu Sirin- tentang hal itu { membaca surat yang mengandung sajdah} ia menjawab : “tidak apa-apa.”

    Al-hafiz Ibnu Hajar mengatakan: hal ini telah dilakukan sebagian ulama Kufah dan Basrah, maka tidaklah pantas untuk mengatakanya batil { fathul bahri 2/440}}.

    Karena itu sebagian ulama memakruhkan membaca surat sajdah terus-menerus pada sholat subuh hari jumat untuk menghindari anggapan keliru orang-orang yang tidak mengerti {Zadul Ma’ad {1/375}} lihat juga pekataan Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari{ /439,440}.

    1. Disunnahkan untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada siang dan malam harinya.

    Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dari Anas:

    “Perbanyaklah shalawat pada hari Jum’at dan malam Jum’at.” (HR Baihaqi dari Anas, dan dihasankan oleh Arnauth, dan ia juga terdapat dalam Silsilah al-Shahihah /1407).

    Dan dari Aus Radhiallahu ‘anhu dia mengatakan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bersabda:

    “Sebaik-baik hari kalian adalah hari Jum’at: pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu beliau diwafatkan, pada hari itu sangkakala ditiup, pada hari itu manusia bangkit dari kubur, maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat kalian akan diperlihatkan kepadaku”, para shahabat bertanya: “wahai Rasulullah, bagaimana diperlihatkan kepada engkau sedangkan tubuh engkau sudah hancur (sudah menyatu dengan tanah ketika sudah wafat), Beliau menjawab: “sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala mengharamkan kepada bumi untuk memakan (menghancurkan) jasad para Nabi”. (HR, “al-Khamsah” kecuali At-Tirmidzi, syech Al-bani mengatakan: sanadnya sahih, kitab: “fadhlu ashalatu ‘ala an-Nabi”, hal 35).

    Ibnu Al-qayyim berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebaik-sebaik makhluk, hari Jum’at adalah penghulunya hari, dan shalawat kepada Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada hari ini (Jum’at) adalah sebuah kekhususan untuk Beliau, di samping itu ada hikmah lainnya bahwa setiap kebaikan yang didapatkan oleh umat Beliau di dunia dan akhirat adalah melalui tangan Beliau, maka Allah mengumpulkan bagi umat Nabi Muhammad dua kebaikan dunia dan akhirat, dan karamah yang paling besar yang mereka dapatkan adalah pada hari Jum’at, karena pada hari itu mereka dibangkitkan menuju rumah dan istana-istana mereka di surga, hari Jum’at juga merupakan hari penambahan kebaikan bila mereka masuk surga, hari Jum’at merupakan hari raya buat mereka di dunia, pada hari itu Allah Subhanahu Wata’ala, memenuhi permintaan dan kebutuhan-kebutuhan mereka, yang meminta tidak akan ditolak, demikianlah, mereka mengetahuinya dan mendapatkannya karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka bersyukur, berterima kasih kepadanya dan memenuhi sedikit dari hak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah dengan memperbanyak shalawat kepada Beliau pada hari ini dan malamnya. (Zaadul Ma’ad 1/376).

    1. Disunnahkan membaca surat Kahfi pada hari Jum’at dan malamnya.

    Dari Abu Sai’id Al-Khudry, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Orang yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at maka dia akan diterangi oleh cahaya antara dua Jum’at” (HR. An-Nasai, al-Baihaqi, dan Hakim, serta disahihkan oleh al-Albani dalam kitab As-shahihah”, 2651).

    Dalam riwayatnya yang lain:

    “Orang yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, akan muncul cahaya dari bawah kakinya menjulang sampai ke langit yang meneranginya pada hari Kiamat, dan dia akan diampuni antara dua Jum’at” (HR. al-Hakim, al-Baihaqi, dan disahihkan oleh Arnauth, juga diriwayatkan oleh Ad-Darimy dalam musnadnya (mauquf) pada Abu Said dan para Rawinya seluruhnya terpercaya (tsiqaat), dan seperti ini tidak mungkin berasal dari pendapat mereka, jadi hukumnya adalah hukum “marfu'”.

    Dan ibnu Qayyim Rahimahullah mengatakan: Sa’id bin mansyur menyebutkannya dari perkataan Abu Sa’id al-khudry seperti itu juga (zaadul maad 1/378).

    Ad-darimy meriwayatkannya dengan lafadz,

    “Orang yang membaca surat kahfi pada malam Jum’at dia akan diliputi cahaya antara dia dan baitul ‘atiq.” {Disahihkan oleh syekh al-Albany dalam kitab “shahihul jami’ (6471)}.

    1. Boleh shalat pada tengah hari (saat matahari tepat diatas kepala) di hari Jum’at dan tidak boleh pada hari-hari lainnya.

    Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Abu ‘Abbas Ibnu Taimiyah, berdasarkan hadits:

    “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, membersihkan badan dan bersuci, memakai minyak atau memakai wewangian, kemudian dia keluar (untuk shalat Jum’at), dia tidak memisahkan antara dua orang (tidak duduk diantara dua orang yang sudah duluan duduk, dengan memisahkan dua orang tersebut-pent), kemudian dia shalat sesuai dengan yang disyari’atkan, kemudian dia diam ketika Khatib berkhutbah, kecuali orang tersebut akan diampuni dosanya antara Jum’at tersebut dengan Jum’at yang akan datang. (HR. Bukhari, 2 / 308,309).

    Ibnu Qayyim mengatakan: dia boleh shalat sesuai yang telah dianjurkan, tapi dia tidak dianjurkan shalat ketika Imam telah keluar dari tempatnya untuk berkhutbah. (Zaadul Ma’ad, 1/378).

    1. Perbuatan baik yang dilakukan pada hari itu mendapat balasan khusus, dibandingkan hari-hari yang lainnya.

    Dari Abu Sa’id al-Khudry ia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

    “Lima perbuatan (amal), bila dilakukan oleh seseorang dalam suatu hari, Allah Subhanahu Wata’ala akan menulisnya sebagai penghuni sorga: menjenguk orang sakit, melayat jenazah, berpuasa satu hari, menunaikan shalat Jum’at, dan memerdekakan budak”. (HR, Ibnu Hibban dalam shahihnya, 713, dan dishahihkan oleh al-Albany dalam kitab “Silsilatu Al-Ahadits As-Shahihah” (As-shahihah)

    Ibnu Qayyim mengatakan,

    “Yang ke dua puluh tiga: hari Jum’at adalah hari yang disunnahkan padanya meluangkan waktu untuk beribadah, ia mempunyai keistimewaan dibandingkan hari-hari yang lainnya dengan berbagai macam ibadah yang wajib maupun yang sunnah, Allah Subhanahu Wata’ala telah menjadikan bagi setiap millah (agama) satu hari khusus untuk beribadah, dengan mengeyampingkan urusan duniawi, sedang hari Jum’at adalah hari ibadah, ia dibandingkan hari-hari yang lainnya seperti bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lainnya dan didalamnya terdapat saat dikabulkannya semua permohonan, bagai malam lailatur qadar, karena itu orang yang benar Jum’atnya dan selamat, maka akan selamat hari-harinya, orang yang benar ramadhannya dan selamat, maka akan selamat tahun-tahun yang dilaluinya, orang yang benar ibadah hajinya dan selamat, maka akan selamat sisa-sisa umurnya. Hari Jum’at merupakan barometer mingguan, Ramadhan barometer tahunan, dan ibadah haji adalah barometer kehidupan???.” (Zaadul Ma’ad 1/398).

    Dalam kesempatan yang lain, beliau menyebutkan:

    “Yang ke dua puluh lima: bersedekah pada hari itu punya kekhususan dibanding hari-hari yang lainnya, seperti kekhususan bersedekah pada bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan yang lainnya. Saya menyaksikan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah mensucikan jiwanya- bila hendak berangkat melaksanakan ibadah Jum’at, beliau membawa roti dan yang lainnya yang ia miliki, kemudian beliau menyedekahkannya secara diam-diam ???(Zaadul Ma’ad 1/407).

    Dan disebutkan dalam kitab al-Mushannaf, dari Ibnu ‘Abbas dari Ka’ab tentang hari Jum’at:

    “dan sedekah pada hari itu paling mulia???dibandingkan dengan hari-hari yang lainnya.” (Almushannaf 5558, Arnaauth mengatakan perawinya orang-orang yang terpercaya (tsiqaat), dan isnadnya shahih).

    1. Pada hari itu akan terjadi hari kiamat, alam semesta akan digulung dan dunia akan hancur, manusia akan dibangkitkan, dan digiring ketempat mereka di sorga atau neraka, pada hari ini seluruh makhluk merasa takut kecuali manusia dan jin.

    Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    “Sebaik-baik hari selama matahari masih terbit adalah hari Jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, diturunkan ke bumi, pada hari itu tobatnya diterima, dan pada hari itu beliau diwafatkan, pada hari itu kiamat akan terjadi, tidak ada satu-pun makhluk melata di muka bumi kecuali bersuara pada hari Jum’at dari mulai subuh sampai terbitnya matahari mereka takut (was-was) akan terjadinya kiamat, kecuali manusia dan jin???.. (HR. Abu Daud 1046, At-Tirmidzi 491, An-Nasa’i 1430, disahihkan oleh Arnauth dan yang lainnya.

    1. Orang yang berjalan untuk sholat Jum’at akan mendapat pahala untuk tiap langkahnya, setara dengan pahala ibadah satu tahun shalat dan puasanya.

    Hal ini berdasarkan hadits Aus bin Aus z, ia berkata: Rasulullah y bersabda:

    “Siapa yang mandi pada hari Jum’at, kemudian bersegera berangkat menuju masjid, dan menempati shaf terdepan kemudian dia diam, maka setiap langkah yang dia ayunkan mendapat pahala puasa dan shalat selama satu tahun, dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah”.

    (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan, dinyatakan shahih oleh Ibnu Huzaimah).

    1. Neraka jahannam dinyalakan setiap hari, kecuali hari Jum’at, sebagai penghormatan terhadap hari ini. (Zadul Ma’ad: 1/387).
    2. Wafat pada malam hari Jum’at atau siangnya adalah tanda husnul khatimah, yaitu dibebaskan dari fitnah (azab) kubur.

    ***

    Indra Subni

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 13 January 2016 Permalink | Balas  

    Hidup Adalah Surga 

    bersyukurHidup Adalah Surga

    Hidup adalah kumpulan hari, bulan, dan tahun yang berputar tanpa pernah kembali lagi. Setiap hari umur bertambah, usia berkurang. Hal itu berarti kematian kian dekat. Semestinya kita kian arif dan bijak menjalaninya, tetap dalam kesalehan, bertambah kuat akidah, semakin khusyuk dalam beribadah, dan mulia akhlak. Pada puncak kebaikan itu lalu kita wafat, itulah husnul khatimah.

    Kehidupan jasad hanyalah sementara di dunia. Sedangkan kehidupan roh mengalami lima fase, yaitu: arwah, rahim, dunia, barzah, dan akhirat. Berarti hidup di dunia hanya terminal pemberhentian menuju akhirat.

    Allah SWT mengingatkan, ”Kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS: Al-A’laa [87]: 17).

    Rasulullah saw menggambarkan bahwa hidup ini tak ubahnya seorang musafir yang berteduh sesaat di bawah pohon yang rindang untuk menempuh perjalanan tanpa batas. Karena itu, bekal perjalanan mesti disiapkan semaksimal mungkin.

    Sebaik-baik bekal adalah takwa (QS Albaqarah [2]:197).

    Orang bertakwa adalah orang yang sangat cerdas. Ia tidak mau terjebak pada ”keenakan” sesaat, tetapi menderita berkepanjangan. Karenanya, ia mengolah hidup yang sesaat ini menjadi berarti untuk kehidupan panjang tanpa akhir nanti.

    ”Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-Ankabuut [29]: 64).

    Hidup ini di bawah tatapan dan aturan Allah. Segalanya digulirkan dan digilirkan: hidup, lalu mati; kecil, akhirnya membesar; muda, lama-lama tua; dan muncul kesenangan, terkadang berganti kesedihan. Semua fana. Tetapi, di tengah kefanaan itu, umat Rasulullah yang paling sukses –sebagaimana dijelaskan dalam hadis– adalah yang paling banyak mengingat mati, lalu mempersiapkan hidup setelah mati.

    Akhirnya, orang-orang cerdas akan tahu, sadar, dan yakin bahwa hidup bukan untuk mati, tetapi mati itulah untuk hidup. Hidup bukan untuk hidup, tetapi untuk Yang Mahahidup. Karenanya, jangan takut mati,jangan cari mati, jangan lupa mati, dan rindukanlah mati. Mengapa? Karena, kematian adalah pintu berjumpa dengan-Nya-perjumpaan terindah antara kekasih dengan Kekasihnya.

    Subhanallaah, ternyata hidup ini surga, saudaraku.

    ***

    Indra Subni

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 9 January 2016 Permalink | Balas  

    Hukum Berburuk Sangka Dan Mencari-Cari Kesalahan 

    takwaHukum Berburuk Sangka Dan Mencari-Cari Kesalahan

    Oleh

    Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr

    RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH [Menyikapi Fenomena TAHDZIR & HAJR]

    Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]

    Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus ialah mencari-cari kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah seduta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563].

    Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik”

    Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Umar di atas ketika menafsirkan sebuah ayat dalam surat Al-Hujurat.

    Bakar bin Abdullah Al-Muzani yang biografinya bisa kita dapatkan dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib berkata : “Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu”.

    Disebutkan dalam kitab Al-Hilyah karya Abu Nu’aim (II/285) bahwa Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi berkata : “Apabila ada berita tentang tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mancarikan alasan untuknya. Apabila kamu tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah kepada dirimu sendiri, “Saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukan perbuatan tersebut”.

    Sufyan bin Husain berkata, “Aku pernah menyebutkan kejelekan seseorang di hadapan Iyas bin Mu’awiyyah. Beliaupun memandangi wajahku seraya berkata, “Apakah kamu pernah ikut memerangi bangsa Romawi?” Aku menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya lagi, “Kalau memerangi bangsa Sind, Hind (India) atau Turki?” Aku juga menjawab, “Tidak”. Beliau berkata, “Apakah layak, bangsa Romawi, Sind, Hind dan Turki selamat dari kejelekanmu sementara saudaramu yang muslim tidak selamat dari kejelekanmu?” Setelah kejadian itu, aku tidak pernah mengulangi lagi berbuat seperti itu” [Lihat Kitab Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir (XIII/121)]

    Komentar saya : “Alangkah baiknya jawaban dari Iyas bin Mu’awiyah yang terkenal cerdas itu. Dan jawaban di atas salah satu contoh dari kecerdasan beliau”.

    Abu Hatim bin Hibban Al-Busti bekata dalam kitab Raudhah Al-‘Uqala (hal.131), ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya”.

    Beliau juga berkata pad hal.133, “Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita”.

    [Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al’Abbad Al-Badr hal 17-21, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]

    Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=736&bagian=0

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 8 January 2016 Permalink | Balas  

    Dakwah ala Teletubbies 

    Dakwah-Islam1Dakwah ala Teletubbies

    “Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik”.

    Fragmen ayat di atas adalah sebuah hepotesa dari keniscayaan seorang hamba untuk melaksanakan dakwah, menyebarkan misi Islam secara paripurna.

    Manusia, disamping makhluk yang diciptakan untuk mengabdi sepenuhnya kepada Tuhan, juga punya tugas untuk melestarikan dakwah Islamiyah di atas maya.

    Dua dimensi yang sama-sama suci: sebagai seorang hamba yang menyerahkan segalanya untuk menghambakan diri-di satu sisi-dan sebagai khalifah yang mendermakan hidupnya untuk izzul islam wal muslimin-di sisi yang lain. ‘Sesungguhnya aku akan menjadikan khalifah di bumi, kata Allah. Dan jadilah Adam (yang manusia) sebagai khalifah pertama.

    Dakwah adalah tulang punggung tegaknya Islam. Sebagai prosesor penentu jalannya gerakan Islam. Tanpa dakwah, Islam hanyalah utopia. Tanpa dakwah  barangkali kita tidak pernah mengenal Islam. Revolusi yang digaungkan oleh Nabi Muhammad saw. lebih 14 abad yang silam menjadi prioritas perjalanan agama paripurna ke depan.

    Dakwah adalah kewajiban individu. Setiap orang wajib melaksanakannya. Dan dakwah bisa dilakukan dengan berbagai cara.

    Setidaknya ada tiga model dakwah yang bisa dilakukan oleh da’i, yaitu :

    1. Dakwah bil hal.

    Dakwah yang dilakukan dengan memberikan teladan yang baik. Dakwah ini adalah model dakwah yang paling efektif dan menjadi karakteristik dakwah Nabi Muhammad. ‘Sungguh dalam dirimu Muhammad terhadap teladan yang baik”. Kata Allah dalam al-Qur’an. Kenapa dakwah bil hal sangat efektif? Karena manusia lebih gampang meniru apa yang dia lihat, daripada mempraktekkan apa yang didengar dan yang dibaca.

    1. Dakwah bil-Qalam.

    Dakwah dengan melalui tulisan. Model seperti ini juga cukup efektif walaupun masih sedikit sekali kalangan para da’i yang menggunakan model dakwah seperti ini. Ada dua probabilitas yang menyebabkan sedikitnya dakwah dengan karya tulis. Pertama minimnya kemampunan menulis orang-orang Islam (baca: da’i). Kedua sedikitnya fasilitas media keislaman untuk mengekspresikan dakwah dengan model ini. Kalaupun ada, itu pun masih bisa dihitung dengan jari, selebihnya media di bawah hegemoni orang-orang ‘luar’.

    1. Dakwah bil lisan.

    Dakwah model ini menjadi ciri khas dakwah masa kini. Di pelosok desa, di tengah hangar-bingar perkotaan, pengajian, majlis taklim  marak dilakukan. Bahkan untuk mengoptimalkan retorika dakwah verbal ini, tak jarang dijumpai latihan berpidato, mulai dari teknik, metode, gaya, intonasi dan lain sebagainya. Hal ini jelas sangat menggembirakan. Setidaknya prospek dakwah verbal akan tatap cerah dan tidak akan punah.

    Namun masalah kemudian timbul. Seberapa efektifkah dakwah verbal seperti ceramah, pidato atau orasi  dapat mengubah prilaku masyarakat menjadi lebih baik? Pasalnya, kendati pengajian marak digelar di mana-mana, muballigh didatangkan dari mana-mana, dan masyarakat hadir dengan penuh semangat diiringi tampik sorak dan aplaus panjang. Setelah itu kehidupan berjalan sebagaimana biasa. Tidak ada makna yang bisa diambil dari pengajian itu. Layaknya tidak ada apa-apa. Dan prilaku masyarakat ternyata tidak semakin baik.

    Alih-alih memperbaiki prilaku, yang baik malah berbalik haluan. Dakwah verbal sudah tidak punya tenaga. Ia telah kehilangan kekuatannya, sehingga yang tampak pengajian hanyalah sederet acara seremonial yang tidak membawa kesan berarti. Naïf!.

    Lantas siapa yang salah dalam hal ini, pelaku dakwah atau masyarakatnya? Kita tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Yang jelas, metodologi dakwah yang digunakan oleh para da’i sudah semestinya dipertanyakan kembali.

    Ada sintesa menarik yang dapat dipintal dari benang kusut konteks dakwah saat ini: dakwah sudah kehilangan orientasi. Dakwah sudah tidak murni sebagai tuntunan -sich, tapi telah melebur batas menjadi tontonan ‘plus’. Aspek yang ditonjolkan oleh (sebagian) da’i masa kini bukan lagi ajaran dan pesan moralnya, tapi bagaimana ia mencari simpati dengan metode dan gaya penampilan yang kadang-kadang–entah disadari atau tidak-telah menghilangkan substansi dakwah itu sendiri.

    Metode yang kebablasan. Panggung pengajian bukan lagi menjadi pemandangan yang menyejukkan dan meneduhkan, tapi sudah disulap menjadi medan banyolan dan lawakan bahkan menjadi arena provokasi. Dan yang terjadi kemudian, da’i bukan lagi berwujud sosok ‘malaikat’ yang memikat dan menyejukkan hati, tapi ia sudah berubah wajah menjadi pelawak atau tukang mbanyol bahkan provokator yang menembaki saudara-saudaranya dengan ‘mesiu’ ayat-ayat al-Qur’an. Politisasi agama, kata Amien Rais.

    Saat ini tidak sulit untuk mencari tukang pidato. Siapa pun yang disodori mic, insya Allah akan keluar pepatah-petitihnya. Bahkan ada semacam trend yang menimbulkan kesan: asal pandai mbanyol atau mencaci maki saudara-saudaranya, bisa jadi tukang pidato. Selanjutnya masyarakat—yang tidak tahu apa-apa—dengan lugu menjulukinya kiai, ustadz dan atau muballiqh (KH. Mustafa Bisri, Melihat Diri Sendiri, 122).

    Agaknya, apa yang paling dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad saw. terhadap umatnya, saat ini benar-benar telah terjadi. Dulu, Rasulullah antara lain meramalkan bahwa akan datang atas umatnya masa-masa yang jumlah tukang pidatonya mbludak, orang alimnya sedikit dan kekacauan merajalela (al-Jami’ush Shaghier II/32).

    Dus, metode memang penting. Semua orang mengakui itu. Islam meletakkan metode pada posisi yang sangat tinggi. Bahkan  kunci sukses dakwah Rasulullah terletak pada kemampuannya menggunakan metode dengan tepat.

    Orang bijak pernah berkata ‘Metode lebih penting dari isi”. Tapi ketika metode itu diletakkan pada porsi yang tidak proporsional, maka ia hanya akan menjadi bumerang. Metode dakwah yang kebablasan hanya akan mencerabut makna dakwah itu sendiri dari akarnya.

    Dakwah adalah misi suci yang harus dilakukan dengan cara-cara yang suci pula. Misi suci dakwah adalah sebagi media transformasi untuk merubah prilaku masyarakat agar menjadi pribadi-pribadi yang ber-akhlakul karimah dengan memberikan bekal agama dan moral, bukan mencekoki mereka dengan mbanyolan dan caci maki.

    Dakwah-sekali lagi-bukan untuk memetik simpati, mencari popolaritas atau na’udzubillah -meminjam istilahnya KH. Musthafa Bisyri-untuk mengeruk amplop. Tapi bagaimana seorang da’i dapat memanusiakan manusia sehingga lebih manusiawi. Itu saja!

    Wallohu a’lam bis-shawab,-

    ***

    Arland

     
  • erva kurniawan 2:07 am on 6 January 2016 Permalink | Balas  

    Allah Tidak Memerlukan Iman Manusia 


    imanAllah Tidak Memerlukan Iman Manusia

    Abu Dzar

    “Kitab (Al Qur’an ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS.Az-Zumar:1-2)

    Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW berisi kebenaran yang harus diikuti dengan tidak mencampurkan ketaatan dengan keingkaran. Namun ada sebagian manusia yang menganggap bahwa Al-Qur’an hanyalah syair-syair yang di buat oleh Muhammad. Seperti apa yang disebutkan oleh Allah SWT sebagai bantahan terhadap orang-orang yang menganggap Al-Qur’an hanyalah sebuah syair:

    “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan,” [QS.Yaasin:69]

    Ada pula sebagian manusia yang menganggap bahwa Al-Qur’an itu hanyalah cerita orang-orang dahulu:

    “Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.”[QS. AL-Qalam (68):15)

    “Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu”.[QS. Al-Muthaffifiin (83):13)

    Dan anggapan-anggapan lain yang muncul terhadap Al-Qur’an, tapi itu semua tidaklah mengurangi kemuliaan Al-Qur’an. Asumsi-asumsi tersebut tentunya memiliki konsekwensi sikap dan apresiasi manusia terhadap Al-Qur’an. Di masa ini telah terlihat sebagian manusia yang menganggap bahwa Al-Qur’an hanyalah syair, cerita atau sihir dan akibat yang muncul atas anggapan-anggapan manusia tersebut.

    Tidak jarang kita temui di antara manusia yang mengatakan apa yang terdapat di dalam Al-Qur’an tidaklah perlu dilaksanakan, karena tertinggal dengan kemajuan jaman. Ada pula yang mengatakan bahwa ajaran yang terdapat Al-Qur’an itu sama dengan ajaran yang terdapat di Injil sekarang. Padahal Allah SWT telah mengatakan:

    “Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang mempunyai bukti yang nyata (Al Qur’an) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al Qur’an itu telah ada kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Qur’an. Dan barang siapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Qur’an, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Qur’an itu. Sesungguhnya (Al Qur’an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (QS. Hud (11):17)

    Berdasarkan ayat-ayat di atas, anggapan bahwa Al-Qur’an bukanlah sebuah kebenaran telah ada sejak Al-Qur’an di turunkan oleh Allah SWT sehingga penolakan-penolakan terhadap aturan dan risalah pun sudah terwakili oleh Arab jahiliyyah pada saat itu. Ketika mereka tidak mampu membantah Al-Qur’an maka mereka akan menghina dan mendzhalimi sang pembawa risalah dengan mengatakan gila ataupun melempari dengan kotoran dan hal-hal buruk lainnya.

    “Mereka berkata: “Hai orang yang diturunkan Al Qur’an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila“.[QS. Al-Hijr:6)

    Allah SWT membantah tuduhan mereka, seperti dalam firmanNya:

    “Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan.[QS. Al-A’raaf:84]

    Iman dan ingkar adalah sunatullah, dan hanya Allah SWT yang mampu memberi petunjuk kepada manusia. Tapi manusia haruslah ingat, bahwa Allah SWT tidak membutuhkan keimanan manusia, tapi manusia lah membutuhkan keimananan dan ketaatan pada Allah SWT. Seprti dalam firmanNya:

    “Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan Dia tidak meridai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.” (QS.Az-Zumar (39): 7)

    ***

    Munanggar Fahmi

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 4 January 2016 Permalink | Balas  

    Kitab Kuning Bicara Rokok 

    rokok-6Kitab Kuning Bicara Rokok

    Pernahkah Anda membaca Maulid al-Habsyi? Konon, pengarangnya, Sayid al-Habsyi setiap membaca shalawat kepada Nabi saw, Nabi selalu mendatanginya. Suatu ketika, beliau membaca shalawat, tetapi Nabi tidak datang.

    Beliau terus membaca shalawat dengan lebih khusyu’ lagi, tetapi Nabi tetap saja tidak datang. Akhirnya beliau mulai menyelidiki kemungkinan hal-hal yang menghalang-halangi kedatangan Nabi. Ternyata di majlisnya itu bercokol sisa puntung rokok. Segera beliau membuangnya jauh-jauh, tidak lama kemudian Nabi saw pun datang.

    Di sebuah dusun terpencil di pulau Jawa, diam seorang ulama besar, dengan pesantrennya yang megah. Santrinya melimpah ruah dari berbagai penjuru. Beliau sangat berpengaruh dan disegani oleh kalangan ulama. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang meyakini beliau sebagai wali Allah yang arif. Beliau mempunyai kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkannya, yaitu kebiasaan merokok.

    Dua proposisi (qadhiyyah) yang bertentangan di atas tidak bisa dijadikan dasar pengambilan hukum bahwa merokok itu haram, atau merokok itu halal. Karena kita konsisten bahwa dasar hukum agama yang disepakati adalah al-Kitab, al-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas.

    Merokok telah menjadi problem sosial yang merata. Tak terkecuali pesantren. Disamping karena memang efeknya yang menyebabkan bau mulut tidak sedap, rokok telah menjadi sumber keborosan keuangan, mengotori tempat-tempat umum, menyebabkan impotensi (?), menyebab-kan sakit jantung, dan yang paling berbahaya; orang yang terbiasa merokok menjadi sulit meninggalkannya alias kecanduan.

    Tak pelak lagi, kalau pengurus sejak beberapa tahun yang lalu mulai berusaha untuk mengurangi kebiasaan yang tidak baik ini. Meski, sebenarnya yang penting kita bicarakan di sini adalah mengenai apa respon fikih terhadap kebiasaan yang tidak baik ini?

    Secara global, sebelum kita berbicara dari sisi fikih, Islam sebagai agama yang bersih selalu menganjurkan kebersihan dan kesucian lahir batin bagi pemeluknya. Kebersihan batin menjadi penting, karena ia menjadi sentral pandangan Allah terhadap seseorang. Sedangkan kebersihan lahir menjadi penting pula, karena ia menjadi miniatur kebersihan batin seseorang.

    Sebagai bukti bahwa kebersihan merupakan hal yang penting dalam Islam adalah bahwa, ketika kita akan berkumpul dengan orang lain dalam pertemuan-pertemuan umum seperti shalat jum’at, shalat ‘id, belajar bersama di sekolah, akan pergi ke mesjid dan lain-lain, kita disunahkan mandi terlebih dahulu.

    Dan dalam kitab-kitab fikih, sebelum kita bertemu dengan bab tentang shalat, pilar utama dalam ajaran Islam, kita akan berpapasan dengan kitab thaharah, kesucian. Ini menjadi pertanda bahwa kesucian merupakan pintu untuk memasuki suatu ibadah ritual keagamaan yang paling besar. Tak ayal, kalau Nabi saw, mengibaratkan kesucian dengan separuhnya iman, “al-thuhur syathr al-iman”. Dan di antara serangkaian bab-bab dalam kitab thaharah tersebut, selalu terdapat bab yang secara spesifik membahas hukum bersiwak .

    Dengan redaksi yang sangat tegas, sebuah kitab menyebutkan, “siwak disunatkan dalam setiap keadaan, kecuali setelah zawal bagi yang berpuasa”. Dari redaksi ini, jelas sekali bahwa kita dianjurkan untuk membersihkan dan menyegarkan mulut kita setiap saat. Lebih-lebih ketika akan melaksanakan aktifitas-aktifitas penting seperti shalat, membaca al-Qur’an, mengaji, belajar, bangun tidur dan berubahnya mulut, siwak menjadi anjuran pokok yang harus dikerjakan yang hampir saja diwajibkan oleh Nabi saw.

    Nah, tanpa merujuk kepada pendapat ulama mengenai hukum merokok, dari penjelasan di atas, kiranya kita bisa menarik kesimpulan bahwa aktifitas merokok, lafzhan wa ma’nan, merupakan sesuatu yang bertentangan dengan batang tubuh kitab thaharah dalam Islam. Karenanya, tidak salah kalau ada yang mengatakan bahwa rokok itu bawl al-syaithan (kencingnya syetan).

    Sekarang, kalau kita berbicara rokok dari sisi fikih, dalam sejarah dikatakan bahwa tembakau baru ditemukan di dunia Islam dan mulai dikonsumsi oleh sebagian kaum muslimin sejak akhir abad ke sepuluh hijri. Yaitu masa setelah wafatnya Syeikh Zakariya al-Anshari dan Ibnu Hajar al-Haitami. Karenanya, ketetapan hukumnya baru ditemukan pada ulama-ulama fukaha setelah beliau, seperti al-Zayyadi dan lain-lain.

    Al-Luqani, dalam diskursusnya, Nashihat al-Ikhwan bi-Ijtinab al-Dukhan berkata, “Merokok terjadi pada akhir abad kesepuluh hijri. Yang pertama kali membawanya ke Negeri Romawi adalah orang-orang Inggris. Dan yang membawanya ke Maroko, adalah seorang Yahudi yang mengaku-ngaku dirinya sebagai orang bijak. Sedangkan yang membawanya ke Mesir adalah seorang Khawarij, Ahmad ibnu Abdullah, yang banyak menumpahkan darah kaum muslimin dan menghina Asyraf raja-raja Maroko”.

    Menurut al-Qaradhawi, karena kejadian merokok ini sangat baru, serta tidak adanya ketentuan hukum dari fukaha-fukaha mujtahidin, tidak pula dari ulama-ulama setelah mereka yang ahli takhrij dan tarjih dalam mazahib, serta tidak adanya pengenalan yang sempurna terhadap esensi dan konsekuensi yang ditimbulkannya berdasarkan kajian ilmiah yang orisinal, para fukaha berbeda pandangan yang sangat luas dalam hukum, sehingga dari masing-masing madzhab yang empat ada yang berpendapat haram, makruh, mubah, tafshil, dan tawaqquf (vakum).

    Dari sini jelas sekali, bahwa dari sisi fikih, hukum merokok dipertentangkan oleh masing-masing madzhab yang empat. Masing-masing madzhab memiliki empat macam pendapat; haram, makruh, mubah dan tafshil, tidak ada yang mengatakan sunat. Masing-masing pendapat bersikeras mempertahankan pendapatnya sendiri. Sehingga sampai sekarang para ulama bersepakat untuk berbeda pendapat mengenai hukum merokok.

    Dalam madzhab Syafi’i sendiri, pendapat yang mu’tamad adalah makruh tanzih. Tetapi, menurut Syeikh Ismail al-Yamani, meskipun pendapat yang mu’tamad mengatakan makruh tanzih, pada saat-saat tertentu hukum merokok disepakati keharamannya. Yaitu saat-saat yang harus dihadapi dengan kesopanan dan ketakziman, seperti merokok di hadapan orang yang sedang membaca al-Qur’an, al-hadits, tempat-tempat belajar ilmu syar’iy, atau tempat-tempat lain yang harus dihadapi dengan cara yang sopan dan takzim. Merokok di tempat-tempat seperti ini hukumnya haram, karena termasuk su’ul adab dan dianggap meremehkan majlis-majlis yang seharusnya ditakzimi.

    Dari redaksi di atas, yang berbunyi, tempat-tempat belajar ilmu syar’iy, dalam tradisi kita, bisa termasuk ruang-ruang sekolah, ruang musyawaroh, acara bahtsul masail, di dalam masjid dan sejenisnya.

    Bahkan yang lebih menarik lagi, berkaitan dengan hal di atas, Syekh Abdullah Taufiq al-Sabbagh berkata, “Yang lebih muda tidak merokok di hadapan yang lebih tua. Juga tidak merokok di hadapan mushhaf al-Qur’an. Dan sebaiknya pula tidak merokok ketika mendengarkan al-Qur’an melalui radio, seperti halnya di depan orang yang sedang membaca al-Qur’an secara langsung. Siapa yang melakukan hal-hal di atas, berarti mempersilahkan dirinya untuk dilaknat dan dijauhkan dari rahmat Allah SWT.”

    wallohu a’lam bis-shawab,-

    ***

    Arland

     
  • erva kurniawan 3:47 pm on 2 January 2016 Permalink | Balas  

    Titik Kemuliaan Ibu Rumah Tangga 

    ibu-anak-siluetTitik Kemuliaan Ibu Rumah Tangga

    “Rasa kasih sayang dalam rumah tangga memerlukan satu poros utama, dan ia adalah wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna.”

    SESAAT menjelang bunuh diri, aktris kenamaan Hollywood, Marilyn Monroe , menulis sepucuk surat untuk kaum wanita seluruh dunia. Bintang iklan yang juga supermodel paling populer itu menyampaikan sebuah penyesalannya menjalani kehidupan di dunia ini. Salah satu kutipan dalam suratnya tersebut sebagai berikut:

    “Waspadailah popularitas wahai wanita.Waspadailah setiap kegemerlapan yang menipumu. Saya adalah wanita termalang di muka bumi ini, sebab saya tidak bisa menjadi seorang ibu. Sesungguhnya wanita itu seharusnya menjadi penghuni rumah utama. Kehidupan berumah tangga dan berkeluarga secara mulia di atas segalanya. Sesungguhnya kebahagiaan wanita yang hakiki adalah dalam kehidupan rumah tangga yang mulia dan suci, bahkan kehidupan berumah tangga adalah simbol kebahagiaan wanita dan manusiawi.”

    Marilyn Monroe tak sendirian. Kini, banyak kaum perempuan barat mengikuti penyesalan Marilyn Monroe. Penyesalan ini lahir dari banyak hal yang telah mereka lakukan di luar fitrah mereka. Mereka menyesal atas kesibukannya di luar rumah. Karena kesibukan mereka di luar rumah, keluarga mereka menjadi rentan dihinggapi berbagai masalah.

    Penyelewengan, perselingkuhan suami istri, adalah masalah dominan yang kerap mengunjungi mereka. Karenanya, kegoncangan kehidupan rumah tangga, penyelewengan pendidikan anak yang menyebabkan mereka terlantar dan sengsara menjadi pelengkap penyesalan mereka. Tentu, secara fitrah, tak ada seorang wanita (ibu) yang tak menangis hatinya saat melihat anak-anaknya memiliki moral yang rusak, bebas berzina, hamil di luar nikah, aborsi, dan lain-lain. Tapi, inilah yang terjadi di barat sana.

    Kaum wanita yang hidup dalam liberalisme barat mulai menyadari bahwa persamaan, kesetaraan, dan kebebasan yang didengungkan banyak kaumnya di negeri mereka, sebetulnya telah merampas kebahagiaan mereka sendiri.

    ***

    MONROE berharap menjadi seorang ibu yang baik. Bahkan, ia menyatakan sendiri bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita adalah ketika ia mampu menjadi ibu, yang berkiprah total dalam kehidupan rumah tangga dan keluarganya. Berkhidmat dan taat sepenuhnya kepada suami, melahirkan anak, mendidiknya, membesarkannya, menjadikan mereka generasi yang taat kepada orangtua, dan generasi penerus perjuangan yang akan mampu mewujudkan peradaban mulia.

    Tentu, Monroe dan banyak kaum wanita yang kemudian menyadari kekeliruannya selama ini, melihat sebuah kemuliaan dalam status itu. Dan, secara tidak langsung, ia menyanggah bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita ada dalam gemerlapnya harta, tingginya kedudukan, pesatnya karier, dan lain-lain.

    Sesungguhnya, yang Monroe lihat adalah sebuah kebenaran yang menempatkan wanita, terutama ibu, dalam posisi yang sangat mulia. Seorang bijak mengatakan : “Anda yang beraktivitas di luar rumah, baik Anda sebagai dokter, dosen di perguruan tinggi, atau profesi-profesi akademis lainnya yang pada tempatnya tentu relevan, tetap harus memberikan kiprahnya di dalam rumah. Masalah keibuan, status sebagai istri, rumah dan rumah tangga, semuanya merupakan hal amat fundamental dan vital. Anda bukanlah wanita yang sempurna jika Anda tidak menangani urusan di dalam rumah. Rasa kasih sayang dalam rumah tangga memerlukan satu poros utama, dan itu ialah wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna.”

    Dr. Mien Uno, salah seorang tokoh perempuan negeri ini mengungkapkan hal senada. “Saya menganggap bahwa ibu rumah tangga adalah karir yang sangat terhormat. Akan tetapi, banyak masyarakat kita yang berpendapat bahwa status ibu rumah tangga bukanlah karir karena tidak bergerak dalam lingkup publik. Saya tidak mengerti yang dimaksudkan dengan lingkup publik. Bagaimanapun, menurut pendapat saya, justru ibu rumah tangga adalah posisi yang sangat terhormat karena dia melingkupi faktor-faktor sosial dengan keluarga, dengan masyarakat. Dia peletak dasar agama, kemudian sebagai seorang pendidik yang baik. Karenanya, dia berkarir sebagai ibu rumah tangga.”

    Sebuah puisi dari Chages, Challenges and Choices: Women in Develompent in Papua New Guinea, mungkin menjadi daftar lanjutan layaknya posisi ibu rumah tangga mendapat tempat terhormat dan mulia. Berikut bait-bait puisi yang dimaksud:

    Istriku Yang Tidak Bekerja

    Suatu ketika Siapa yang mengerik sagu? Siapa merawat ternak itu? Menjadi tumbuh dan menjual makanannya Hingga keluarga bertahan Siapa menimba air di sumur? Merawat dan menyayang anak-anak itu? Merawat yang sakit? Yang pekerjaannya menghabiskan waktu Yang bagi lelaki untuk minum kopi, merokok, berpolitik dengan temannya? Siapa hatinya tercurah bagi anak-anak? Yang perjuangannya Tak terlihat Tak terdengar Tak dihargai Tak terbantu Membantu pembangunan? Siapa peduli untuk bilang Benarkah Istriku tidak bekerja?

    Keterhormatan profesi ibu rumah tangga tentu tidak berhenti di titik itu. Seorang ibu rumah tangga harus berpuas hati dengan pasangannya, demikian juga sebaliknya. Mereka harus menanamkan kesetiaan dalam kehidupannya. Seorang ibu rumah tangga sepatutnya tahu kesenangan suami. Menyediakan segala keperluan yang disukainya terlebih dahulu, sebelum meminta sesuatu darinya.  Seorang ibu rumah tangga harus berupaya menumbuhkan rasa suka dan duka bersama keluarganya. Dan rahmah, berarti seorang ibu rumah tangga harus senantiasa mendasarkan setiap perilaku dan aktivitasnya di dalam rumah kepada akhlak yang mulia, serta tahu bersyukur atas nikmat yang diperoleh.

    Namun demikian, menjadi ibu rumah tangga yang mendapat kehormatan dan kemuliaan memerlukan kelayakan yang cukup. Wanita yang berhati batu, tidak pandai menaati suami, sering menuntut hak dan mengada-adakan masalah, tetapi gagal menunaikan tanggungjawab, tidak layak mendapat tempat terhormat dan mulia itu. Apalagi ia tidak mampu mewujudkan kehormatan anak-anaknya yang bakal menyambung kehidupan rumah tangga dan mewujudkan peradaban mulia. Kini, dengan catatan daftar kehormatan ibu rumah tangga, masih adakah yang menyebut bahwa ibu rumah tangga sebagai profesi terhina?

    ***

    Indra Subni

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 1 January 2016 Permalink | Balas  

    Dosa-dosa besar 

    taubat2Dosa-dosa besar

    Indra Subni

    Mengapa orang sekarang senang berbuat dosa besar, tidak takut dengan ancaman “Neraka Jahanan” yang sangat dahsyat siksaannya, yang sangat pedih siksaannya, yang kekal selamanya. Na’udzubillahi mindzalik. Astaghfirullahil’adzim, Ya Allah berilah kekuatan iman kepada saya, keluarga saya, anak-anak saya untuk menjalankan segala perintah-Mu dan untuk mejauhkan segala larangan-Mu Ya Allah.

    Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. QS.(66) At Tahriim 6

    Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. QS(7) Al A’Raaf 179

    JAUHILAH DOSA-DOSA BESAR, MENGETAHUI DOSA-DOSA BESAR SUPAYA TIDAK DILANGGAR.

    Dosa besar adalah: setiap maksiat yang mempunyai hukuman had (peraturan / hukum) di dunia atau ancaman di akhirat. Jumlah dosa-dosa besar: disebutkan oleh Ibnu Abbas, bahwa jumlahnya sampai tujuh macam lebih dekat daripada tujuh ratus macam. Hanya tidak ada yang dinamakan dosa besar jika diikuti dengan istighfar dan tidak ada yang dinamakan dosa kecil jika dilakukan terus menerus.

    Firman Allah Swt antara lain: Jika kamu jauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (syurga)”.Qs An Nisa’ 31.

    Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Qs.Al Furqaan 68,69 & 70.

    Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (Al-Furqan ayat 71&72).

    HADITS Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jauhilah perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah tentu engkau akan menjadi orang yang paling banyak ibadahnya”. (HR. Ahmad).

    1-Dosa-dosa besar (dosa yang paling besar) dalam Akidah: Syirik (musyrik) kepada Allah, yaitu beribadah atau berdo’a kepada selain Allah, mempersekutukan Allah. Rasulullah bersabda: “Do’a adalah ibadah” Hadits Riwayat Tirmidzi.

    Contoh: 1 Mengajarkan syareat untuk dunia saja, menyembunyikan ilmu, mempercayai dukun, mempercayai peramal bintang, menyembelih korban dan bernazar kepada selain Allah, menggambar orang, hewan atau sesuatu yang bernyawa, membuat atau menggantungkan patung sesuatu yang bernyawa, bersumpah selain kepada Allah, tidak mengkafirkan orang kafir, membohongi Allah dan Rasul-Nya, tenang terhadap azab Allah, menampar muka dan meratap pada waktu kematian, tidak menyukai adanya kadar, menggantungkan jimat seperti kalung tulang atau telapak tangan yang digantungkan pada anak-anak, atau tapal kuda yang digantungkan pada mobil, atau tulang yang digantungkan atau ditanam dirumah. Menanam kepala kerbau, atau kepala kambing untuk sesajen dll.

    2-Dosa besar dalam jiwa dan akal. Contoh : Dari ‘Abdullah bin ‘Amru R.A.; katanya: Rasulullah SAW: berkata: “Termasuk dosa yang paling besar adalah kalau orang mengutuk kedua orang tuanya.”Ada orang bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimana orang mengutuk ibu-bapanya?” Beliau menjawab: “kalau seseorang mencaci ibu-bapa orang lain, lalu orang lain itu membalas mencaci bapanya dan mencaci ibunya.” (HR Bukhari buku IV No. 1692).

    Dari al-Mughirah R.A., dari Nabi SAW. Beliau bersabda: “Allah telah melarang keras (mengharamkan) kamu mendurhakai ibu, melarang berbuat kikir, mengubur anak perempuan, Tuhan benci kalau kamu terlalu banyak berbicara begini begitu, terlalu banyak bertanya, serta membuang-buang harta tidak pada tempatnya.” (Hadits Shahih Bukhari buku IV No. 1693).

    Dari Anas Malik R.A., katanya: Rasulullah SAW. Pernah menyebutkan dosa-dosa besar, atau pernah ditanya orang tentang hal itu. Beliau berkata: “Mempersekutukan Allah, membunuh manusia, durhaka kepada kedua orang tua.”Setelah itu beliau berkata: “Akan saya beritahukankah kepadamu dosa besar yang paling besar?” Beliau melanjutkan”. “Perkatan bohong!” Atau beliau berkata: “Kesaksian yang dusta (palsu).”(HR Bukhari buku IV No. 1694)

    3-Dosa besar dalam harta benda, contoh : Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Qs.Al Baqarah ayat 173. Haram juga menurut ayat ini daging yang berasal dari sembelihan yang menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah.

    Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah (darah yang keluar dari tubuh), daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam bianatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya maksudnya : “Binatang yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas adalah halal kalau sempat disembelih sebelum mati”. Dan diharamkan bagimu yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, mengundi nasib dengan anak panah itu adalah kefasikan. (Qs.Al Maidah (5) ayat 3 sebagian).

    Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, suatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Qs. Al An’ Aam (6) ayat 145.

    4-Dosa besar dalam ibadah, contoh : Meninggalkan shalat atau melaksanakan di luar waktunya tanpa uzur, tidak mengeluarkan zakat, berbuka puasa pada bulan Ramadan tanpa uzur, tidak haji padahal mampu melaksanakannya, lari dari jihat di jalan Allah, meninggalkan jihat dengan jiwa, harta atau lisan bagi yang diwajibkan, meninggalkan shalat jumat atau jamaah tanpa uzur, meninggalkan perbuatan menyeru berbuat baik dan mencegah kemungkaran bagi yang mampu, tidak membersihkan kencingnya dan tidak melaksanakan ilmunya.

    5-Orang yang tidak dipedulikan Allah dan disiksa: Orang yang suka memberi, tetapi suka menyebut-nyebut pemberiannya itu. Orang yang menawar-nawarkan dagangannya dengan sumpah palsu. Orang yang suka pamer. Orang tua pezina. Raja (penguasa) pembohong. Si miskin / si kaya yang sombong.

    6-Bunuh diri , langsung masuk neraka selamanya: Dari Abu Hurairah r.a., katanya Rasulullah saw, bersabda: “Siapa yang bunuh diri dengan senjata tajam, maka senjata itu akan ditusuk-tusukannya sendiri dengan tangannya ke perutnya di neraka untuk selama-lamanya. Dan siapa yang bunuh diri dengan racun, maka dia akan meminumnya pula sedikit demi sedikit nanti di neraka, untuk selama-lamanya. Dan siapa yang bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, maka dia akan menjatuhkan dirinya pula nanti (berulang-ulang) ke neraka, untuk selama-lamanya.(HR.Muslim buku I No. 86). “Siapa yang bunuh diri dengan suatu cara, Allah akan menyiksanya di neraka jahanam dengan cara itu pula”.(HR.Muslim buku I No. 88)

    Dari Abu Hurairah r.a.,katanya: “Kami ikut perang bersama-sama Rasulullah saw. dalam perang Hunain. Rasulullah berkata kepada seorang laki-laki yang mengaku Islam, “Orang ini penghuni neraka”. Ketika kami berperang, orang itupun ikut berperang dengan gagah berani, sehingga dia terluka. Maka dilaporkan orang hal itu kepada Rasulullah saw., katanya: “Orang yang tadi Anda katakan penghuni neraka, ternyata dia berperang dengan gagah berani, dan sekarang dia tewas.” Jawab Nabi saw.,”Dia ke neraka” Hampir saja sebahagian kaum muslimin menjadi ragu. Ketika mereka sedang dalam keadaan demikian, tiba-tiba diterima berita bahwa dia belum mati, tetapi luka parah. Apabila malam telah tiba, orang itu tidak sabar menahan sakit karena lukanya itu. Lalu dia bunuh diri. Peristiwa itu dilaporkan orang pula kepada Nabi saw. Nabi saw. bersabda, “Allahu Akbar! Aku mengaku bahwa aku hamba Allah dan Rasul-Nya”. Kemudian beliau memerintahkan Bilal supaya menyiarkan kepada orang banyak, bahwa tidak akan dapat masuk sorga melainkan orang muslim (orang yang tunduk patuh). Sesungguhnya Allah menguatkan agama ini dengan orang jahat. (HR.Muslim buku I No. 89)

    Dari Syaiban r.a., katanya dia mendengar Hasan r.a., bercerita” Masa dulu, ada seorang laki-laki keluar bisul. Ketika ia tidak dapat lagi menahan sakit, ditusuknya bisulnya itu dengan anak panah, menyebabkan darah banyak keluar sehingga ia meninggal. Lalu Tuhan berfirman: Aku haramkan baginya sorga”. (karena dia sengaja bunuh diri). (HR.Muslim buku I No. 90).

    KHIANAT MERUSAK IMAN TIDAK BISA MASUK SURGA.

    Dari Umar bin Khaththab r.a., katanya: “ketika perang Khaibar sedang berkecamuk, sekelompok sahabat datang kepada Rasulullah s.a.w. Kata mereka, Si Fulan syahid. Si Fulan syahid! Ketika mereka melewati mayat seorang laki-laki mereka berkata pula, “Si Fulan syahid”. Jawab Rasulullah saw., “Sesungguhnya aku melihatnya berada dalam neraka, memakai pakaian yang dicurinya dari harta rampasan yang belum dibagi”. Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Hai, anak Kaththab! Beritahukan kepada orang banyak: “Tidak dapat masuk sorga melainkan orang-orang yang beriman”. Kata Umar, “Aku keluar, lalu kuserukan kepada orang banyak: “Ketahuilah! Sesungguhnya tidak dapat masuk sorga melainkan orang-orang yang beriman”.(HR.Muslim buku I No. 91)

    5- BERZINA Berselingkuh adalah dosa yang amat sangat besar dan sangat dibenci oleh Allah SWT.

    HUKUM-HUKUM PERZINAAN: Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Al Israa'(17) ayat 32) Penjelasan dari penulis, awas hukumannya dirajam (dilempari batu) sampai mati lhooo!, bagi yang pernah kawin (menikah), bagi yang belum pernah menikah melakukan zina hukumannya di dera (atau dipukul 100 kali).

    Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. (QS.An Nuur (24) ayat 2).

    Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina, atau laki-laki musrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mu’min. (QS.An Nuur (24) ayat 3). Pengertiannya: maksud ayat ini ialah: tidak pantas orang yang beriman kawin dengan yang berzina, demikian pula sebaliknya.

    Dan terhadap para wanita yang mengerjakan perbuatan keji (Zina, Lesbian-perempuan dengan perempuan), hendalah ada 4 (empat) orang saksi diantara kamu yang menyaksikannya. Kemudian apabila mereka telah memberi kesaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya. (QS.An Nisaa’ (4) ayat 15) .berlaku juga untuk laki-laki yang homosek (laki-laki dengan laki-laki)..

    Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji (zina, lesbian, homoseksual) diantara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Qs.An Nisaa’ (4) ayat 16).

    Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.Qs. An Nisaa’ 17.

    Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.Qs.An Nisaa’ 18

    Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia (Allah) adalah Maha Penerima taubat. (QS.An Nashr (110): 3).

    Dari Jabir bin Abdullah Al Ansari RA., bahwa seorang laki-laki dari Aslam datang kepada Rasulullah SAW. Dan menceritakan bahwa dia telah berzina. Pengakuan ini diucapkanannya empat kali. Lalu Rasulullah SAW. Menyuruh supaya orang itu dirajam (dilempari dengan batu, sampai mati). Sesungguhnya dia telah pernah kawin. (Hadits Sahih Bukhari IV No. 1817)

    Dari Abu Hurairah RA., katanya: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW. Ketika beliau sedang berada dalam mesjid. Orang itu berteriak mengatakan: “Ya Rasulullah! Sesungguhnya saya telah berzina.” Nabi tidak memperdulikan perkataan orang itu, sehingga dia mengulangi ucapannya sampai empat kali. Setelah orang itu mengakui kesalahannya sampai empat kali, Nabi SAW. Memanggilnya dan menanyakan: “Adakah engkau gila?” Dia menjawab: “Tidak!” Tanya Nabi: “Adakah engkau sudah pernah kawin?” Jawabnya: “Ya, sudah!” Lalu Nabi SAW. Berkata: “Bawalah orang ini dan rajamlah sampai mati!” (Hadits Shahih Bukhari IV No. 1818)

    Dari Anas bin Malik RA. Katanya: Ketika saya dekat Nabi SAW. Datang seorang laki-laki, lalu dia berkata: “Ya Rasulullah! Sesungguhnya saya telah melakukan suatu perbuatan yang perlu mendapat hukuman. Sebab itu, lakukanlah hukuman itu kepada saya!” Nabi tidak menanyakan kepada orang itu apa kesalahannya. Maka tibalah waktu sembahyang dan laki-laki itu sembahyang bersama Nabi SAW. Setelah Nabi selesai mengerjakan sembahyang, laki-laki tadi berdiri menemui Nabi dan mengatakan sekali lagi: “Ya Rasulullah! Sesungguhnya saya melakukan perbuatan yang perlu mendapat hukuman. Sebab itu, jalankanlah hukuman itu kepada saya menurut Kitab Allah!” Nabi berkata: “Bukankah engkau telah sembahyang bersama kami?” Jawabnya: “Ya!” Sabda Nabi: “Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa atau hukuman engkau.” (HR Bukhari IV No. 1819)

    Dari Zaid bin Khalid Al Juhani RA. Katanya: Saya mendengar Nabi SAW. Menyuruh supaya orang berzina dan belum kawin, dipukul seratus kali dan pembuangan (penjara) satu tahun. (Hadits Sahih Bukhari IV No. 1820) Dan baca Hadits Shahih Bukhari IV No. 1821 dan 1822.

    Bagi Bapak-bapak, Ibu-Ibu, Saudara-Saudaraku, Adik-Adikku dan Anak-Anakku, bila sekiranya kita sudah terlanjur berbuat keji, maka segera tinggalkan dan bertaubatlah dengan taubatan nasuha, maksudnya bertaubat yang sesungguhnya dan berjanji kepada Allah SWT tidak akan mengulanginya lagi. “Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (Qs.An Nisaa’ (4) ayat 16).

    Dosa sebesar apapun, dosa setinggi langit, dosa sebanyak buih dilautan, apabila manusia mau bertaubat dengan iman, sebelum Malaikat maut datang menjemput ruh kita, Allah SWT akan mengampuninya, asal tidak diulanginya lagi, habis bertaubat, lupa berbuat lagi, yaa percuma.

    Tidak ada dosa besar bila manusia cepat bertaubat dan tidak diulanginya lagi, sebelum maut datang dan beriman kepada Allah SWT. Tidak ada dosa kecil bila setiap saat diulanginya lagi, ya jadi dosa yang amat besar.

    HUKUMAN BAGI PENCURI

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: Laki-laki dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS.Al Maa’idah ayat 38). Maka barang siapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan tersebut dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.Al Maa’idah ayat 39)

    Tidakkah kamu tahu sesungguhnya, Allahlah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, disiksa-Nya siapa yang dikehendaki-Nya dan diampuni-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS. Al Maa’idah ayat 40).

    Penjelasan: Ayat ini Allah SWT menjelaskan hukuman terhadap orang-orang yang mencuri, baik laki-laki maupun perempuan. Pada ayat 38, setiap kejahatan ada hukumannya. Pelakunya akan dikenakan hukuman itu. Begitu pula halnya seorang pencuri akan dikenakan hukuman karena ia melanggar larangan mencuri. Seseorang, baik laki-laki maupun perempuan yang mengambil harta orang lain atau perusahaan dari tempatnya yang layak dengan diam-diam, dinamakan “pencuri”. Seorang yang telah akil balig mencuri harta orang lain dari tempatnya yang nilainya sekurang-kurangnya seperempat dinar, dengan kemauannya sendiri dan tidak dipaksa, dan mengetahui bahwa perbuatan itu haram, dilarang oleh Allah dan agama, maka orang itu sudah memenuhi syarat untuk dikenakan hukuman “potong tangan kanan”, sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT dalam ayat ini.(QS.Al Maa’idah ayat 38).

    Penetapan nilai harta yang dicuri, yang dikenakan hukum potong tangan bagi pelakunya yaitu sekurang-kurangnya “seperempat dinar” sebagaimana tersebut di atas, adalah pendapat Jumhur Ulama, baik ulama salaf maupun (Ulama Khalaf,) artinya, Pendapat lain mengatakan bahwa hukuman itu tetap dijalankan sekalipun nilai harga yang dicuri itu hanya “satu dirham”. Bahkan ada juga yang berpendapat bahwa tidak perlu adanya pembatasan nilai barang yang dicuri itu berdasarkan arti dari ayat yang sifatnya umum, nilainya sedikit atau banyak, asal ia mencuri dan dapat dibuktikan harus dipotong tangannya.

    Berdasarkan sabda Rasulullah SAW, sebagai berikut: “Rasulullah SAW, memotong tangan pencuri itu bilamana nilai (yang dicuri) seperempat dinar ke atas”. (HR. Asy Syaikhan dari ‘Aisyah). Dan beliau bersabda: “Tidaklah dipotong tangan pencuri itu kecuali pada nilai (yang dicuri) seperempat dinar”. (HR.Muslim dari ‘Aisyah.) Seorang pencuri yang telah dipotong tangan kanannya, kemudian ia mencuri lagi dengan syarat-syarat seperti semula maka dipotonglah kaki kirinya yaitu dari ujung kaki sampai pergelangan.

    Kalau ia mencuri lagi untuk ketiga kalinya, di potong lagi tangan kirinya, kalau ia mencuri lagi untuk keempat kalinya, dipotong lagi kaki kanannya.Sebagaimana sabda Rasulullah SAW mengenai pencuri sebagai berikut: “Apabila ia mencuri, potonglah tangan (kanan)nya, kalau ia mencuri lagi, potonglah kaki (kiri)nya, kalau masih mencuri lagi potonglah tangan (kiri)nya dan kalau ia masih juga mencuri potonglah kaki (kanan)nya”.(HR.Imam Syafe’i dari Abu Hurairah)

    Kalau ini semua sudah dilaksanakan tetapi ia masih juga mencuri untuk kelima kalinya, maka ia dita’zir; artinya diberi hukuman menurut yang ditetapkan oleh penguasa, misalnya dipenjarakan atau diasingkan ke tempat lain dimana ia tidak dapat lagi mencuri. Apa saja yang diperintahkan Allah SWT, pasti akan mendatangkan maslahat dan apa saja yang dilarang-Nya pasti akan mengakibatkan kerusakan dan kehancuran pabila dilanggar.

    KISAH SEORANG BANGSAWAN ARAB YANG MENCURI

    Sebab turunnya ayat No.39 Surat Al- Maa’idah tersebut diatas: Di zaman Rasulullah SAW, ada seorang perempuan mencuri. Hal ini dilaporkan kepada Rasulullah SAW oleh orang yang kecurian. Mereka berkata: “Inilah perempuan yang telah mencuri harta benda kami, kaumnya akan menebusnya”. Nabi SAW bersabda: “Potonglah tangannya”. Kaumnya menjelaskan: “Kami berani menebusnya lima ratus dinar”, Nabi SAW bersabda: “Potonglah tangannya”. Maka dipotonglah tangan kanan perempuan itu. Kemudian ia bertanya: “Apakah saya ini masih bisa diterima taubatku, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ya, engkau hari ini bersih dari dosamu seperti pada hari engkau dilahirkan oleh ibumu”. Maka turunlah ayat No.39 Surat Al Maa’idah.

    Perempuan tersebut adalah seorang dari kabilah Bani Makhzum, yang sangat mendapat perhatian dari pembesar-pembesar Quraisy. Mula-mula mereka berusaha agar perempuan tersebut bebas dari hukuman potong tangan. Lalu mereka mencari siapa kira-kira yang dapat menghubungi Rasulullah untuk membicarakan hal tersebut. Kemudian ditunjuklah Usamah ibn (bin) Zaid, karena ia adalah kesayangan Rasulullah SAW. Ketika Usamah ibn Zaid mengunjungi Rasulullah Saw, dan membicarakan hal tersebut, maka Rasulullah menjadi marah dan bersabda: “Apakah engkau akan membela sesuatu yang telah ditetapkan had dan hukumnya oleh Allah “Azza wa Jalla?”. Usamah menjawab: “Maafkanlah saya, wahai Rasulullah”.

    Sesudah itu Rasulullah SAW berpidato, antara lain beliau bersabda: “Bahwasanya yang membinasakan orang-orang sebelum kamu ialah karena sesungguhnya mereka apabila yang mencuri di antara mereka adalah orang-orang terkemuka, maka mereka membiarkannya pergi, apabila yang mencuri itu orang-orang lemah, mereka itu dijatuhi hukumannya. Saya, demi Allah yang diriku berada di dalam tangan-Nya, andaikata Fatimah anak Muhammad mencuri, pastilah saya potong tangannya”. Kemudian diperintahkanlah memotong tangan perempuan itu, maka dipotonglah tangannya. (HR.Asy-Syaikhan dari ‘Aisyah).

    Ayat No.40 Surat Al-Maa’idah, pada ayat ini Allah memperingatkan dan menekankan bahwa Allah-lah yang menguasai langit dan bumi, mengatur apa yang ada di dalamnya. Dialah yang menetapkan balasan siksa kepada orang yang mencuri sebagaimana halnya orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, mengampuni orang-orang yang bertaubat di antara mereka, penyayang kepada orang-orang yang benar-benar bertaubat dan meperbaiki amalannya, serta menyucikan dirinya dari dosa-dosa yang telah diperbuat. Dia (Allah) menyiksa orang yang dikehendaki, sebagai pendidikan dan pengaman bagi sesama manusia, sebagaimana Dia (Allah) mengasihi orang yang bertaubat, mendorong mereka untuk mensucikan diri. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu; seperti menyiksa dan mengasihani. Tidak ada sesuatu yang sulit bagi-Nya dalam mengatur segala-galanya, sesuai dengan kehendak-Nya.

    Bertaubat dari Perbuatan Dosa Besar: Wahai saudaraku seagama, jika anda telah berbuat dosa besar maka tinggalkanlah segera, bertaubat dan minta ampunlah kepada Allah serta jangan diulangi lagi (Taubatan nasuka).Sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan (kebodohan), yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana”.(Q.S.An-Nisa’ ayat 17)

    Tidak ada dosa besar bila manusia cepat bertaubat dan tidak diulanginya lagi, sebelum maut datang dan beriman kepada Allah SWT. Tidak ada dosa kecil bila setiap saat diulanginya lagi, ya jadi dosa yang amat besar.

    Saudaraku, ingatlah akan satu hari dimana seluruh manusia akan dibangkitkan dari kuburnya. Ketika ditiup terompet yang kedua kali, pada saat roh roh manusia seperti anai anai yang bertebaran dan dikumpulkan dalam satu padang yang tiada batas, yang tanahnya dari logam yang panas, tidak ada rumput maupun tumbuhan.

    Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. QS.39=Az Zumar 68-69.

    Ketika orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahanam berombong-rombongan. “Masukilah pintu-pintu neraka Jahanam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahanam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri. QS.39=Az Zumar 70&72.

    Ketika meraka diusir untukmemasuki neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. QS.17=Al Israa’ 18

    Ketika mereka dikumpulkan pada hari kiamat dan diseret atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahanam. Tiap-tiap kali nyala api Jahanam itu akan padam Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya. QS.17=Al Israa’ 97

    Ketika tujuh matahari didekatkan di atas kepala kita namun keadaan gelap gulita. Ketika seluruh Nabi ketakutan. Ketika ibu tidak memperdulikan anaknya, anak tidak memperdulikan ibunya, sanak saudara tidak kenal satu sama lain lagi, kadang satu sama lain bisa menjadi musuh, satu cahaya diatas cahaya dari hasil salat kita yang iklhas dan ridho yang akan menolong kita, dari nur (cahaya) itulah yang akan menolong roh kita nanti, insya Allah.

    Ketika manusia berbaris dengan barisan yang panjang dan masing masing hanya memperdulikan nasib dirinya, dan pada saat itu ada yang berkeringat karena rasa takut yang luar biasa hingga menenggelamkan dirinya, dan rupa rupa bentuk manusia bermacam macam tergantung dari amalannya, ada yang melihat ketika hidupnya namun buta ketika dibangkitkan, ada yang berbentuk seperti hewan, ada yang berbentuk seperti syetan, semuanya menangis, menangis karena hari itu Allah Swt sangat murka, belum pernah Allah Swt murka sebelum dan sesudah hari itu, hingga ribuan tahun manusia didiamkan Allah Swt dipadang mahsyar yang panas membara hingga Timbangan Mizan digelar itulah hari Yaumul Hisab.

    Saudaraku, bila kita tidak berusaha untuk menjauhi / menjauhkan dosa-dosa besar mulai hari ini, entah dengan apa nanti kita menjawab bila kita di sidang oleh Yang Maha Perkasa, Yang Maha Besar, Yang Maha Kuat, Yang Maha Agung, Allah Swt. Di Yaumul Hisab nanti! Di Hari Perhitungan nanti!! Ingatlah orang yang berdosa akan diseret mukanya, dan dilemparkan ke Neraka Jahanan yang sangat pedih siksanya. Coba Anda baca lagi kesengsaraan didalam neraka yang pernah saya kirim. Na’udzubillahi mindzalik, Subhanallah, Allahu’akbar. Allaahu a’lam bishshawab.

    Semoga dapat menambah iman, takwa dan mendapat derajat takwa yang tinggi disisi Allah Swt bagi yang membaca dan mengamalkan dan yang menjahui dosa-dosa besar, insya Allah. Amin Ya Rabbal a’almin.

    Barang siapa yang mau beramal shaleh, tolong tulisan ini diforward ke kawan atau sanak saudara kita.

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 23 December 2015 Permalink | Balas  

    Adakah Tradisi Mengucapkan Selamat Ulang Tahun dalam Islam? 

    Sejarah-Maulid-Nabi-MuhammadAdakah Tradisi Mengucapkan Selamat Ulang Tahun dalam Islam?

    Bismillah, Walhamdulillah, Wasshalatu ala Rasulullah, Wa ba’d

    Terus terang saja kalau pertanyaan seperti itu, maka jawabnya jelas bahwa tradisi untuk mengucapkan selamat ulang tahun memang bukan dari Islam. Paling tidak kita tidak mendapatkan dalil baik dari Al-Quran maupun Sunnah Rasulullah SAW tentang kewajiban atau anjuran atau keutamaan mengucapkan selamat ulang tahun pada seseorang.

    Artinya, secara baku perilaku itu memang tidak punya dasar dari ajaran Islam. Kalau seandainya pernah sekali waktu ada contoh dari Rasulullah SAW atau para shahabat pernah melakukannya, pastilah hal itu tertera pada hadits atau atsar para shahabt. Namun sepanjang yang kami ketahui, mereka memang tidak pernah melakukannya.

    Namun bagaimana hukumnya kalau ada yang melakukannya juga dan dia adalah seorang muslim?

    Di sinilah para ulama berbeda pendapat.

    1. Pendapat Yang Mengharamkan

    Sebagian akan mengatakan bahwa hal itu memang bid’ah dan mengada-ada. Sebab tidak ada contoh atau anjuran dari Syariah. Apalagi bahwa budaya itu berasal dari peradaban di luar Islam, dalam hal ini barangkali orang barat. Maka semakin kuatlah pendapat yang mengharamkan perayaan ulang tahun dan memberikan ucapan selamat.

    1. Yang Tidak Mengharamkan

    Namun sebagian lainnya tidak secara terburu-buru mengharamkan tradisi itu. Sebab meskipun Rasulullah SAW tidak pernah memerintahkannya, namun beliau juga tidak pernah memberi isyarat untuk melarangnya. Apalagi ini adalah bagian dari kebiasaan yang ada dalam suatu masyarakat, sehingga menurut kalangan ini bukan pada tempatnya untuk mengharamkan begitu saja tanpa ada dalil yang sharih dan kuat yang melarangnya. Dan kita tahu bahwa dalam perkara muamalat, yang berlaku adalah hukum segala sesuatu itu boleh selama tidak ada larangan yang secara jelas melarangnya.

    Sedangkan masalah anggapan bahwa hal itu menyerupai budaya suatu kaum, dijawab oleh kalangan ini dengan argumen bahwa ucapan selamat kelahiran tidak terkait dengan masalah yang bertentangan dengan syariah. Memang benar barangkali sebagian masyarakat di barat melakukannya, tetapi apakah hal itu identik dengan agama dan ajaran ritual mereka? Menurut kalangan ini, ucapan itu tidak terkait dengan ritual ibadah sebuah agama, melainkan budaya sebuah masyarakat. Dan prinsipnya Islam tidak melarang sebuah kebiasaan manakala memang tidak secara langsung ada larangan untuk melakukannya.

    Betapa banyak budaya dan produk di luar Jazirah Arabia yang nota bene bukan dari peradaban Islam yang lalu diadaptasi oleh peradaban Islam ketika penyebaran dakwah Islam sampai di negeri itu. Katakanlah misalnya masalah bentuk kubah masjid, menara, sistem administrasi pemerintahan dan masih banyak lagi hal-hal yang dimasa Rasulullah tidak dilakukan, namun para khalifah setelahnya justru mengadaptasi sekian banyak produk peradaban non Islam. Namun kita tidak mendapatkan bahwa adaptasi itu ditentang oleh ulama dengan alasan bahwa di zaman Rasulullah tidak dilakukan.

    Bahkan Rasulullah SAW tidak pernah mengisyaratkan untuk membukukan Al-Quran, namun Abu Bakar dan para khalifah sesudahnya berpkir bahwa hal itu penting dikerjakan. Pasukan Islam di masa Rasulullah SAW tidak pernah digaji, namun di masa Umar mereka digaji dari baitul mal. Dan masih banyak lagi ijtihad yang dilakukan oleh para shahabat terdekat Rasululah SAW sepeninggal beliau.

    Maka mengadaptasi sebuah produk budaya dari sebuah peradaban masyarakat selama tidak bertentangan secara syara` bukanlah hal yang terlarang. Bahkan dalam perang sekalipun Rasulullah menerima usul dari Salman Al-Farisi yang menggunakan pola tentara Persia dalam berperang dengan menggali parit.

    Kembali kepada masalah ucapan selamat uang tahun, sebenarnya kata MILAD itu hanya masalah bahasa arab saja, sehingga tidak ada perbedaan hakiki sama sekali dari sisi hukumnya. Tinggal anda pikirkan, kira-kira manakah yang menurut anda lebih tepat, ikut menghidupkan budaya yang identik dengan sebuah masyarakat yang bukan Islam, ataukah tetap menjaga simbol-simbol Islam dengan tidak menambahkannya dengan produk budaya lain?

    Yang jelas, meski tidak ada larangan dari ayat Quran atau hadits yang secara detail mengahramkan seseorang mengucapkan selamat ulang tahun, kita dengan bijak bisa membuat perbandingan. Yaitu mencoba mensyiarkan hal-hal yang secara syar`i memang punya nilai dakwah dan keislaman. Sedangkan tidak ada nilai keislamannya seperti ucapan ulang tahun, rasanya tidak perlu bercapek-capek untuk menghidupkannya.

    Mungkin bukan karena tidak boleh, tetapi karena ada sekian banyak hal yang perlu kita dihidup-hidupkan yang memang murni berasal dari Islam namun hingga kini tidak ada yang menghidupkannya. Sebaliknya, produk budaya di luar Islam itu tanpa harus kita yang menghidup-hidupkannya pun sudah ada. Jadi intinya, sebaiknya kita hemat energi dan tidak terlalu mudah untuk ikut-ikutan. Paling tidak bagi kami, tidak menghidupkan ucapan selamat ulang tahun adalah jauh lebih baik dari pada melakukannya.

    Wassalam

    Ahmad Sarwat, Lc

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 20 December 2015 Permalink | Balas  

    Refleksi Maulid Nabi SAW sebagai Pencerahan Spiritualitas 

    nabi-muhammad-rasulullah-sawRefleksi Maulid Nabi SAW sebagai Pencerahan Spiritualitas

    Oleh: Hery Sucipto

    Kelahiran Nabi Muhammad SAW tak syak lagi telah memberikan makna lain dalam kehidupan umat manusia. Secara mendasar, nabi telah mampu mengadakan perubahan-perubahan signifikan dan meletakkan dasar nilai-nilai positif dalam menjalani kehidupan ini. Dalam konteks ini, ia secara cemerlang telah melakukan apa yang biasa disebut sebagai humanisasi spiritualitas yang telah lama terjebak dalam fatalisme akibat krisis moral bangsa saat itu.

    Jika kita cermati, proses itu dilakukan nabi dengan melakukan suatu pembebasan dan pemberdayaan dalam moral-etik Islam. Konsep pemberdayaan itu memiliki parameter empirik dan operasional dalam tiga pilar: (1) Persamaan derajat kemanusiaan; (2) Adanya rasa keadilan dalam masyarakat; (3) Adanya kemerdekaan. Ketiga pilar ini oleh Hassan Hanafi (2000) disebut sebagai teologi pembebasan yang, menurut Nurcholish Madjid (1995), menjadi dasar-dasar konstitusi Madinah yang merupakan operasionalisasi semangat tauhid yakni membebaskan manusia dengan mendorong sikap kritis, dan berusaha secara konstan menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru. Ciri utama dari hal ini adalah pengakuan terhadap perlunya memperjuangkan secara serius problem bipolaritas spiritual-material manusia dengan menyusun kembali tatanan sosial menjadi tatanan yang tidak eksploitatif, berkeadilan, dan egaliter.

    Prinsip utama

    Aspek pembebasan dan pemberdayaan moral-etik Islam ini tidak lain dilakukan nabi semata sebagai upaya transformasi dan pencerahan kehidupan manusia menuju apa yang diistilahkan Alquran sebagai shiraatal mustaqiim (jalan kebenaran).

    Dalam konteks ini, setidaknya ada dua prinsip yang menjadi mainstream nabi dalam membangun masyarakat berkeadaban tadi, yang dasar-dasarnya tertuang dalam Piagam Madinah (mitsaq almadinah). Pertama, prinsip kesederajatan dan keadilan, dan kedua, prinsip inklusivisme (keterbukaan). Kedua prinsip ini kemudian dimodifikasi oleh kelompok sunni (ahl alsunnah wal-jamaah) menjadi i’tidal (konsisten), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran) dan tawasuth (moderat), yang semuanya menjadi landasan ideal sekaligus operasional mazhab sunni dalam menjalin hubungan sosial-kemasyarakatan.

    Prinsip kesederajatan dan keadilan ini mencakup semua aspek, baik politik, ekonomi, maupun hukum. Dalam aspek politik nabi mengakomodasi seluruh kepentingan. Semua rakyat mendapat hak yang sama dalam politik. Mereka tidak dibedakan berdasarkan suku maupun agama. Meskipun suku Quraisy berpredikat the best dan Islam sebagai agama dominan, tapi mereka tidak dianakemaskan. Seluruh lapisan masyarakat duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Ideologi sukuisme dan nepotisme tidak dikenal nabi.

    Sementara dalam aspek ekonomi, nabi menerapkan ajaran egalitarianisme, yakni pemerataan saham-saham ekonomi kepada seluruh masyarakat. Seluruh lapisan masyarakat punya hak yang sama untuk berusaha dan berbisnis (lihat QS Alisra: 26 dan Alhasyr: 7). Nabi sangat menentang paham kapitalisme, yang menjadikan kapital/modal hanya dikuasai oleh suatu kelompok tertentu yang secara ekonomi mapan.

    Misi egalitarianisme ini sangat tipikal dalam Islam sebab misi utama yang diemban oleh nabi bukanlah misi teologis, dalam pengertian untuk membabat orang-orang yang tidak seideologi dengan Islam, melainkan untuk membebaskan masyarakat dari cengkeraman kaum kapitalis.

    Dari sini kemudian Mansour Fakih mensinyalir perlawanan yang dilakukan kafir Quraisy bukanlah perlawanan agama (teologi) melainkan lebih ditekankan pada aspek ekonomi, karena prinsip egalitarianisme Islam berseberangan dengan konsep kapitalisme Mekkah.

    Di samping faktor politik dan ekonomi, hal sangat mendasar yang ditegakkan nabi adalah konsistensi legal (hukum). Sebagai sejarawan ulung, nabi memahami bahwa aspek hukum sangat urgen dan signifikan kaitannya dengan stabilitas suatu bangsa. Karena itulah nabi tidak pernah membedakan ”orang atas”, ”orang bawah” atau keluarganya sendiri.

    Dalam sebuah hadits, ia pernah menegaskan bahwa kehancuran suatu bangsa di masa lalu adalah karena jika ”orang atas” (alsyarif) melakukan kejahatan dibiarkan tapi bila ”orang bawah” (aldhaif) yang melakukannya pasti dihukum. Karena itu nabi juga menegaskan seandainya Fatimah pun, putri kesayangannya, melakukan kejahatan, maka dia akan menghukumnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    Dari hadits ini dapat dipahami, stabilitas suatu bangsa dan negara bisa terbangun dengan konsistensi hukum. Masyarakat beperadaban tidak akan terwujud jika hukum tidak ditegakkan dengan adil dan egaliter. Nabi sebagai manifestasi pemerintah sadar betul akan posisinya sebagai cerminan masyarakat (uswah hasanah).

    Ketertiban sosial selamanya tidak akan terwujud sepanjang negara/pemerintah tidak konsisten dengan ketentuan hukum yang berlaku. Plato pernah berkata bahwa ketertiban sosial berawal dari ketertiban negara. Maka salah satu misi Islam adalah mewujudkan suatu tatanan sosial politik yang adil, egaliter, bersih dan berwibawa dengan membangun suatu masyarakat tak berkelas (a classless society).

    Masyarakat tak berkelas artinya, struktur di dalamnya tidak membedakan antara orang elite dan orang miskin, antara kepala negara dan ketua RT. Nabi pernah bersabda ”Tidak ada kelebihan antara orang Arab dengan selain Arab (‘ajam) selain dengan takwa.”

    Inklusivisme dan moralitas

    Menurut Nurcholish Madjid (1996) keterbukaan (inklusivisme) adalah konsekuensi dari perikemanusiaan, suatu pandangan yang melihat secara positif dan optimis, yaitu pandangan bahwa manusia pada dasarnya adalah baik (QS Ala’raf: 172 dan Alrum: 70), sebelum terbukti sebaliknya.

    Berdasarkan pandangan kemanusiaan yang optimis-positif ini, kita harus memandang bahwa setiap orang mempunyai potensi untuk benar dan baik. Karena itu setiap orang mempunyai potensi untuk menyatakan pendapat dan untuk didengar. Dari pihak yang mendengar, kesediaan untuk mendengar sendiri memerlukan dasar moral yang amat penting yaitu sikap rendah hati berupa kesiapan mental untuk menyadari dan mengakui diri sendiri selalu berpotensi untuk membuat kekeliruan.

    Keterbukaan adalah kerendahan hati untuk tidak merasa selalu benar, kemudian kesediaan mendengar pendapat orang lain untuk diambil dan diikuti mana yang terbaik. Inilah yang dipraktekkan nabi dalam menegakkan Negara Madinah (negara peradaban). Tidak jarang beliau mendengar dan menerima kritik dari sahabat, terlebih sahabat Umar Ibnu Khattab yang terkenal sebagai kritikus ulung. Sahabat Umar tidak dianggap rival, makar, kontra establishment apalagi ekstrem kanan oleh nabi, meskipun kritikan-kritikan tajam keluar dari mulutnya.

    Dalam konteks ini, faktor moral juga memegang kunci penting. Fakta sejarah menunjukkan betapa banyak peradaban-peradaban besar yang tumbang akibat runtuhnya moral. Bangsa Indonesia kini sedang membangun sejarahnya sendiri, membangun peradaban baru bagi masa depan. Karenanya agar tidak bernasib seperti bangsa-bangsa masa lalu, prinsip iman menjadi penting adanya.

    Dalam agama, iman menjadi basis untuk menumbuhkan kesadaran moral. Keyakinan kepada Tuhan yang transenden, maha melihat, maha mendengar dan maha mengetahui mendorong keinsafan batin dalam diri manusia. Iman kepada Tuhan menciptakan kedamaian dan ketenteraman jiwa. Dengan cara itu manusia menjadi lebih manusiawi, lebih halus kepekaan moralnya untuk kemudian mampu menumbuhkan kesadaran sosial.

    Nabi Muhammad berhasil dengan gemilang membangun masyarakat peradaban (Madinah) sehingga dikagumi di Timur dan Barat, pada hakikatnya karena dilakukan dengan semangat sosial yang tinggi yang terpancar dari iman yang kukuh. Prinsip equal and justice dan inklusivisme yang merupakan basis tegaknya peradaban mustahil dijalankan beliau tanpa landasan ilahiyah yang kuat.

    Becermin dari sejarah Nabi Muhammad di atas, maka untuk menciptakan kawasan Indonesia yang sejuk, damai, anggun dan berwibawa, mutlak harus menempatkan moralitas di atas segala-galanya. Nabi yang tidak dilengkapi dengan DPR saja mampu membangun peradaban di Madinah, mengapa kita tidak? Padahal Bangsa Indonesia dilengkapi dengan sarana legislatif dan struktur pemerintahan yang mengakar ke bawah.

    Persoalannya tiada lain adalah krisis moral dan krisis iman. Bagaimanapun orang yang moralnya kukuh, imannya kuat pantang berbuat destruktif. Hal ini karena merasa selalu dikoordinasi oleh Tuhan, yang Mahatahu. Korupsi, kolusi, buruk sangka (prejudice), ceroboh, tirani dan sebagainya yang melanda tanah air ini karena tiadanya iman yang mapan.

    Allah berfirman, ”Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, niscaya akan Kami bukakan kepada mereka berkah dari langit dan bumi… (QS Ala’raf 96). Secara universal ayat ini mengandung makna bahwa tegaknya sebuah peradaban karena landasan transendennya kuat. Sebaliknya hancurnya sebuah peradaban, karena masyarakatnya dilanda krisis moral.

    Nah dalam kerangka kelahiran Muhamamd SAW inilah, sekiranya pelajaran maha penting di atas itu menjadi hikmah dan landasan utama kita membangun masyarakat yang manusiawi, ramah, dan santun. Maulid ini sangat tepat kita jadikan momentum untuk melakukan perenungan-perenungan atas perilaku kita selama ini, sudah manusiawi atau belum. Kita jadikan bulan maulid itu sebagai ”renaisance etika profetis” guna membangun peradaban baru yang lebih sejuk dan anggun.

    Penulis adalah Alumnus Universitas Al Azhar, Kairo-Mesir.

    Tulisan ini dikutip dari Harian Umum Republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 19 December 2015 Permalink | Balas  

    Maulid Nabi dan Kebangkitan Ummat 

    nabi-muhammad-saw1Maulid Nabi dan Kebangkitan Ummat

    Oleh: Dr. Amir Faishol Fath

    Al-Qur’an telah merekam sebuah zaman yang sangat gelap. Kebodohan dan kesombongan menjadi kebanggaan. Anak-anak kecil laki-laki yang baru lahir dibunuh begitu saja. Fir’aun yang pada waktu itu paling berkuasa mengaku dirinya tuhan. Pada saat yang demikian menyedihkan itu Allah lahirkan seorang anak kecil, yang bernama Musa, di mana kelak ia terpilih sebagai Nabi yang mengajarkan kebenaran, membangkitkan kemanusiaan, dan menyelamatkan manusia dari kesesatan.

    Jauh setelah zaman itu, pada pertengahan abad ke enam Masehi, muncul sebuah zaman yang sama. Syeikh Abul Hasan Nadwi melukiskannya sebagai puncak zaman hancurnya kemanusiaan. Akal yang Allah berikan kepada mereka, digusur dengan minuman-minuman keras yang sangat merajalela. Manusia pada waktu itu tidak lagi berjalan dengan akalnya, melainkan disetir oleh hawa nafsu kebinatangannya. Yang kuat memeras yang lemah. Wanita tidak lagi dianggap sebagai manusia, melainkan semata simbol seks dan pemuas hawa nafsu. Akidah yang dibawa para Nabi sebelumnya, lenyap ditelan kebodohan. Mereka tidak lagi menyembah Allah, Pencipta alam semesta, melainkan menyembah patung-patung yang mereka ciptakan sendiri. Buku-buku suci yang dibawa para Nabi, seperti Injil, mereka gerogoti kewahyuannya. (lihat Al Sirah Nabawiyah, oleh Abul Hasan Al Nadwi, Mansyuratul Maktabah Al Ashriyah, Bairut, 1981, hal. 19-67 ).

    Jazirah Arab pada waktu itu benar-benar dalam puncak kegelapan dan kerendahan moral. Ustadz Sayyid Qutub menggambarkannya, bahwa kedzaliman pada saat itu menjadi suatu keharusan. Jika tidak berbuat dzalim, pasti didzalimi. Minuman yang yang memabukkan, bukan hanya kebiasaan, melainkan sebuah kebanggaan.

    Pernikahan yang berjalan di tengah masyarakat pada waktu ada empat macam :

    1. Nikah seperti biasa, yang laki-laki melamar perempuannya dan menikahinya.
    2. Seorang suami yang menyuruh istrinya untuk berselingkuh dengan seorang yang ditentukan sampai hamil, dengan maksud untuk mendapatkan keturunan yang pandai, ini namanya nikah istibdha’.
    3. Seorang perempuan melakukan hubungan dengan beberapa laki-laki, jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Setelah anak itu lahir, perempuan itu memanggil semua laki-laki yang menghubunginya, lalu ia menentukan bapak sang anak itu di antara mereka.
    4. Seorang wanita melakukan hubungan dengan banyak laki-laki tak terbatas jumlahnya. Begitu wanita itu melahirkan, semua laki-laki yang pernah menghunginya berkumpul, lalu memilih siapa yang wajahnya mirip dengan anak itu sebagai bapaknya. ( lihat Ma’alim fit Tharieq, oleh Sayyed Qutub, Darusy Syuruq, Bairut 1980, hal.31-32 ).

    Dari apa yang baru saja kita paparkan, terlihat dengan jelas bahwa kemanusiaan di Jazera Arab pada waktu itu sungguh sangat hancur. Sampai-sampai seorang yang bernama Abrahah tiba-tiba berniat untuk menghancurkan Ka’bah, tempat yang sangat Allah sucikan. Suatu tindakan kebodohan yang demikian jelas. Dan Abrahah memang serius untuk menghancurkan Ka’bah. Pada waktu itu ia dan pasukan gajahnya sudah berangkat dari Yaman menuju Makkah. Namun Allah Maha tahu akan niat jahat Abrahah. Sebelum mereka mencapai tujuannya Allah segera mengirimkan burung-burung Ababil, menyebarkan kepada mereka batu-batu api neraka yang menghanguskan. (perhatikan QS.105:1-5 )

    Tidak hanya itu, pada hari yang sama, dan dalam kondisi zaman yang demikian penuh dengan kebodohan ini, seorang bayi bernama Muhammad, Allah melahirkan dari rahim seorang Ibu bernama Aminah, tepatnya 12 Rabi’ul Awal, tahun Gajah.

    Muhammad, dialah yang kemudian Allah pilih sebagai seorang Rasul, pembawa risalahNya, kepadanya Allah turunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk jalan kehidupan. Sejak itu muncul sebuah zaman baru yang sangat mengagumkan bagi bangkitnya kemanusiaan. Manusia yang benar-benar manusia, tunduk kepada Allah Penciptanya dan pencipta segala mahluk. Keadilan benar-benar ditegakkan, dan kedzaliman dihancurkan. Wanita dihargai kemanusiannya, minuman keras dilarang, kerena merusak akal dan kejahiliahan diperangi dan dimusnahkan.

    Kini kita sedang berada di sebuah zaman yang kembali penuh dengan proses penghancuran kemanusiaan, mirip dengan zaman jahiliyah sebelum Nabi SAW dilahirkan. Minuman keras disahkan, aurat wanita dipertontankan. Yang kuat memeras dan menghanguskan yang lemah. Ajaran Allah dicampakkan. Orang-orang yang mencintai Allah & Rasulnya dicemoohkan dan dipersulit jalan hidupnya, orang-orang yang memperingati Maulid Nabi untuk mengenang jasa dan perjalanan beliau malah dimusuhi.

    Akankah dalam kondisi yang sangat menyedihkan ini – Allah melahirkan seorang bayi yang kelak bangkit menjadi pembaharu, meneruskan perjuangan Rasulullah, menegakkan kebenaran, keadilan dan kemanuisaan.

    Mari kita berdo’a dan mari mulai dari diri kita untuk mengamalkan ajaran Rasulullah dengan sesungguh-sungguhnya dan sejujur-jujurnya.

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 18 December 2015 Permalink | Balas  

    Makna Hakiki Maulid Nabi Muhammad SAW 

    nabi-muhammad-rasulullah-sawMakna Hakiki Maulid Nabi Muhammad SAW

    Kelahiran seorang manusia sebetulnya merupakan perkara yang biasa saja. Bagaimana tidak? Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit dunia ini tidak henti-hentinya menyambut bayi-bayi manusia yang baru lahir. Karena perkara yang biasa-biasa saja, tidak terasa bahwa dunia ini telah dihuni lebih dari 6 miliar jiwa.

    Karena itulah barangkali, Nabi kita, Rasulullah Muhammad saw., tidak menjadikan hari kelahirannya sebagai hari yang istimewa. Demikian juga keluarga maupun para sahabat beliau. Wajar jika dalam Sirah Nabi saw. dan dalam sejarah otentik para sahabat beliau, sangat sulit ditemukan tentang adanya fragmen Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw., baik yang dilakukan oleh Nabi saw. sendiri maupun oleh para sahabat beliau. Sebab, sebagaimana manusia lainnya, secara fisik atau lahiriah, memang tidak ada yang istimewa pada diri Muhammad sebagai manusia, selain beliau adalah seorang Arab dari keturunan yang dimuliakan di tengah-tengah kaumnya. Wajarlah jika Allah SWT., melalui lisan beliau sendiri, berfirman:

    Katakanlah, “Sungguh, aku ini manusia biasa seperti kalian…”(QS Fushshilat [41]: 6).

    Lalu mengapa setiap tahun kaum Muslim saat ini begitu antusias memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.; sesuatu yang bahkan tidak dilakukan oleh Nabi saw. sendiri dan para sahabat beliau?

    Berbagai jawaban atau alasan dari mereka yang memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. biasanya bermuara pada kesimpulan, bahwa Muhammad saw. memang manusia biasa, tetapi beliau adalah nabi dan rasul yang telah diberi wahyu; beliau adalah pembawa risalah sekaligus penebar rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, kelahirannya sangat layak diperingati. Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. sendiri tidak lain merupakan sebuah sikap pengagungan dan penghormatan (ta‘zhîman wa takrîman) terhadap beliau dalam kapasitasnya sebagai nabi dan rasul; sebagai pembawa risalah sekaligus penebar rahmat bagi seluruh alam.

    Jika memang demikian kenyataannya, kita dapat memahami makna Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. yang diselenggarakan setiap tahun oleh sebagian besar kaum Muslim didunia saat ini, yakni sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan beliau dalam kapasitasnya sebagai nabi dan rasul Allah. Itulah yang menjadikan beliau sangat istimewa dibandingkan dengan manusia yang lain. Keistimewaan beliau tidak lain karena beliau diberi wahyu oleh Allah SWT, yang tidak diberikan kepada kebanyakan manusia lainnya.

    Allah SWT berfirman (masih dalam surah dan ayat yang sama):

    Katakanlah, “Sungguh, aku ini manusia biasa seperti kalian. (Hanya saja) aku telah diberi wahyu, bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, tetaplah kalian istiqamah pada jalan yang menuju kepada-Nya.” (QS Fushshilat [41]: 6).

    Makna Kelahiran Muhammad saw.

    Kelahiran Muhammad saw. tentu tidaklah bermakna apa-apa seandainya beliau tidak diangkat sebagai nabi dan rasul Allah, yang bertugas untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada umat manusia, agar mereka mau diatur dengan aturan apa saja yang telah diwahyukan-Nya kepada Nabi-Nya itu. Karena itu, Peringatan Maulid Nabi saw. pun tidak akan bermakna apa-apa—selain sebagai aktivitas ritual dan rutinitas belaka—jika kaum Muslim tidak mau diatur oleh wahyu Allah, yakni al-Quran dan as-Sunnah, yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad saw. ke tengah-tengah mereka. Sebab, Allah SWT telah berfirman:

    Apa saja yang diberikan Rasul kepada kalian, terimalah; apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah. (QS al-Hasyr [59]: 7).

    Lebih dari itu, pengagungan dan penghormatan kepada Rasulullah Muhammad saw.—yang antara lain diekspresikan dengan Peringatan Maulid Nabi saw.—sejatinya merupakan perwujudan kecintaan kepada Allah, karena Muhammad saw. adalah kekasih-Nya. Jika memang demikian kenyataannya, maka kaum Muslim wajib mengikuti sekaligus meneladani Nabi Muhammad saw. dalam seluruh aspek kehidupannya, bukan sekadar dalam aspek ibadah ritual dan akhlaknya saja.

    Allah SWT berfirman:

    Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku.”  (QS Ali Imran [3]: 31).

    Dalam ayat di atas, frasa fattabi‘ûnî (ikutilah aku) bermakna umum, karena memang tidak ada indikasi adanya pengkhususan (takhshîsh), pembatasan (taqyîd), atau penekanan (tahsyîr) hanya pada aspek-aspek tertentu yang dipraktikkan Nabi saw. Demikian juga dalam firman Allah SWT berikut:

    Sesungguhnya dalam diri Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik. (QS al-Ahzab [33]: 21).

    Ayat di atas juga bermakna umum; tidak membatasi bahwa keteladanan Rasulullah saw. yang baik hanya dalam masalah ibadah ritual atau akhlaknya saja.

    Dengan demikian, kaum Muslim dituntut untuk mengikuti dan meneladani Nabi Muhammad saw. dalam seluruh perilakunya: mulai dari akidah dan ibadahnya; makanan/minuman, pakaian, dan akhlaknya; hingga berbagai muamalah yang dilakukannya seperti dalam bidang ekonomi, sosial, politik, pendidikan, hukum, dan pemerintahan.

    Sebab, Rasulullah saw. sendiri tidak hanya mengajari kita bagaimana mengucapkan syahadat serta melaksanakan shalat, shaum, zakat, dan haji secara benar; tetapi juga mengajarkan bagaimana mencari nafkah, melakukan transaksi ekonomi, menjalani kehidupan sosial, menjalankan pendidikan, melaksanakan aktivitas politik (pengaturan masyarakat), menerapkan sanksi-sanksi hukum (‘uqûbat) bagi pelaku kriminal, dan mengatur pemerintahan/negara secara benar.

    Lalu, apakah memang Rasulullah saw. hanya layak diikuti dan diteladani dalam masalah ibadah ritual dan akhlaknya saja, tidak dalam perkara-perkara lainnya? Tentu saja tidak.

    Jika demikian, mengapa saat ini kita tidak mau meninggalkan riba dan transaksi-transaksi batil yang dibuat oleh sistem kapitalisme; tidak mau mengatur urusan sosial dengan aturan Islam; tidak mau menjalankan pendidikan dan politik Islam; tidak mau menerapkan sanksi-sanksi hukum Islam (seperti qishâsh, potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina, cambuk bagi pemabuk, hukuman mati bagi yang murtad, dll); juga tidak mau mengatur pemerintahan/negara dengan aturan-aturan Islam? Bukankah semua itu justru pernah dipraktikan oleh Rasulullah saw. selama bertahun-tahun di Madinah dalam kedudukannya sebagai kepala Negara Islam (Daulah Islamiyah)?

    Kelahiran Nabi saw.: Kelahiran Masyarakat Baru

    Sebagaimana diketahui, masa sebelum Islam adalah masa kegelapan, dan masyarakat sebelum Islam adalah masyarakat Jahiliah. Akan tetapi, sejak kelahiran (maulid) Muhammad saw. di tengah-tengah mereka, yang kemudian diangkat oleh Allah sebagai nabi dan rasul pembawa risalah Islam ke tengah-tengah mereka, dalam waktu hanya 23 tahun, masa kegelapan mereka berakhir digantikan dengan masa ‘cahaya’; masyarakat Jahiliah terkubur digantikan dengan lahirnya masyarakat baru, yakni masyarakat Islam.

    Sejak itu, Nabi Muhammad saw. adalah pemimpin di segala bidang. Ia memimpin umat di masjid, di pemerintahan, bahkan di medan pertempuran. Ia tampak seperti seorang dokter jiwa yang mengubah jiwa manusia yang biadab menjadi jiwa yg memancarkan peradaban

    Ia juga seorang politikus yang berhasil mempersatukan suku-suku Arab hanya dalam waktu kurang dari seperempat abad. Ia juga pemimpin ruhani yang melalui aktivitas ibadahnya telah mengantarkan jiwa para pengikutnya ke alam kelezatan samawiah dan keindahan suasana ilahiah.

    Karena itu, kita bisa menyimpulkan bahwa makna terpenting dari kelahiran Nabi Muhammad saw. adalah keberadaannya yang telah mampu membidani kelahiran masyarakat baru, yakni masyarakat Islam; sebuah masyarakat yang tatanan kehidupannya diatur seluruhnya oleh aturan-aturan Islam.

    Renungan

    Dari paparan di atas, jelas bahwa Peringatan Maulid Nabi saw. sejatinya dijadikan momentum bagi kaum Muslim untuk terus berusaha melahirkan kembali masyarakat baru, yakni masyarakat Islam, sebagaimana yang pernah dibidani kelahirannya oleh Rasulullah saw. di Madinah. Sebab, siapapun tahu, masyarakat sekarang tidak ada bedanya dengan masyarakat Arab pra-Islam, yakni sama-sama Jahiliah. Sebagaimana masa Jahiliah dulu, saat ini pun aturan-aturan Islam tidak diterapkan.

    Karena aturan-aturan Islam—sebagaimana aturan-aturan lain—tidak mungkin tegak tanpa adanya negara, maka menegakkan negara yang akan memberlakukan aturan-aturan Islam adalah keniscayaan. Inilah juga yang disadari benar oleh Rasulullah saw. sejak awal dakwahnya.

    Rasulullah tidak hanya menyeru manusia agar beribadah secara ritual kepada Allah dan berakhlak baik, tetapi juga menyeru mereka seluruhnya agar menerapkan semua aturan-aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Sejak awal, bahkan para pemuka bangsa Arab saat itu menyadari, bahwa secara politik dakwah Rasulullah saw. akan mengancam kedudukan dan kekuasaan mereka. Itulah yang menjadi alasan orang-orang seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Walid bin Mughirah, dan para pemuka bangsa Arab lainnya sangat keras menentang dakwah Rasulullah saw.

    Akan tetapi, semua penentangan itu akhirnya dapat diatasi oleh Rasulullah sampai beliau berhasil menegakkan kekuasaannya di Madinah sekaligus melibas kekuasaan mereka di Makkah. Rasulullah saw. bahkan berhasil menegakkan kekuasaan Islam sekaligus menghancurkan kekuasaan orang-orang kafir di seluruh jazirah Arab.

    Walhasil, dakwah seperti itulah yang juga harus dilakukan oleh kaum Muslim saat ini, yakni dakwah untuk menegakkan kekuasaan Islam yang akan memberlakukan aturan-aturan Islam, sekaligus yang akan meruntuhkan kekuasaan rezim kafir yang telah memberlakukan aturan-aturan kufur selama ini. Hanya dengan itulah Peringatan Maulid Nabi saw. yang diselenggarakan setiap tahun akan jauh lebih bermakna.

    Sebagai catatan akhir, marilah kita sambut seruan dakwah Islam dengan melibatkan diri bersama-sama dengan para pengemban dakwah untuk menegakkan syariat Islam dan membidani lahirnya kembali masyarakat baru, yakni masyarakat Islam,  Allah SWT berfirman:

    Hai orang-orang beriman, sambutlah seruan Allah dan Rasul-Nya jika Allah dan Rasul-Nya menyeru kalian menuju sesuatu yang akan menghidupkan kalian. (QS al-Anfal [8]: 24).

    Wallohu a’alam bis-shawab,-

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 17 December 2015 Permalink | Balas  

    Refleksi Maulid Nabi: Bertaklid dalam Cinta 

    muhammad 3Refleksi Maulid Nabi: Bertaklid dalam Cinta

    Di masa Khalifah Harun al-Rasyid, ada seorang pemuda di Bashrah, Iraq yang sangat kaya. Gaya hidupnya serba mewah dan glamor. Karena sikapnya yang jelek itulah pemuda tersebut tidak disukai oleh masyarakat sekitar. Bahkan ketika ia meninggal dunia, mereka enggan menghadiri janazahnya. Tiba-tiba terdengar hatif (suara ghaib), “Wahai penduduk Bashrah, hadirilah janazah wali Allah itu, karena ia mendapat tempat yang mulya di sisiku”.

    Akhirnya penduduk Bashrah menghadiri janazahnya sampai acara pemakaman. Malam harinya, mereka bermimpi bertemu dengan pemuda itu sedang yarfalu hiasan emas. Ketika ditanyai tentang keistimewaan yang diperolehnya, pemuda itu menjawab, “Karena aku selalu memuliakan hari kelahiran Nabi”.

    Konon, setiap kali bulan Rabi’ul Awal tiba, pemuda itu mempunyai acara rutin: berhias diri dengan baju baru, memakai wangi-wangian dan mengadakan walimah. Ia menyuruh orang lain agar membaca sejarah kelahiran Nabi saw, di sampingnya. ‘Ritual’ itu terus ia lakukan selama bertahun-tahun.

    Dan hal itulah yang membuatnya mendapat keistimewaan tersebut.

    ***

    Begitu istimewakah?

    Bukan rahasia bila perayaan maulid Nabi atau yang lazim kita sebut maulidurrasul ini masih sering dipertentangkan. Kelompok Islam Wahabiyah tidak mengakui peringatan maulid Nabi ini, seraya menyatakan sebagai bid’ah, sesat.

    Berdzikir, membaca shalawat tidak dipermasalahkan. Masalahnya terletak pada membuat acara khusus untuk memperingati Maulid Nabi, bukan isi di dalamnya.

    Namun kalau dirunut ke depan; Syaikh al-Islam Ibnu Taymiyah, perintis Salafiyah, madzhab kaum pembaru saat itu, ketika ditanya tentang berkumpul dan beramai-ramai berdzikir, membaca al-Quran berdoa sambil menanggalkan serban dan menangis sedangkan niat mereka bukanlah karena riya’ tetapi hanyalah kerana hendak mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Adakah perbuatan-perbuatan ini boleh diterima? Beliau menjawab,”Segala puji hanya bagi Allah, perbuatan-perbuatan itu semuanya adalah baik dan merupakan suruhan didalam Syari’ah (mustahabb) untuk berkumpul dan membaca al-Quran dan berdzikir serta berdoa.” (lihat, Majmu’ al-Fatawa Ibn Taymiyah)

    Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani telah menulis didalam, ‘Al-Durar al-Kamina fi ‘ayn al-Mi’at al-tsamina’ bahwa Ibnu Katsir, seorang Muhaddits bermadzhab Syafi’i dan pengikut utama Ibnu Taimiyyah, telah menulis sebuah kitab yang bertajuk Mawlid Rasul Allah di penghujung hidupnya.

    Ibnu Kathir membenarkan dan menggalakkan sambutan Maulid dan dalam hal 19 beliau menulis,” Malam kelahiran Nabi (s.a.w) merupakan malam yang mulia, utama, dan malam yang diberkahi dan malam yang suci, malam yang menggembirakan bagi kaum Mukmin, malam yang bercahaya-cahaya, terang benderang dan bersinar-sinar dan malam yang tidak ternilai.”

    Jalaludin al-Suyuti telah menulis di dalam, “Hawi li al-Fatawa”, Sheikhul Islam dan Imam Hadits pada zamannya, Ahmad ibn Hajar (‘Asqalani) telah ditanya mengenai menyambut Maulidurrasul (s.a.w) dan beliau telah memberi jawaban:

    Perbuatan Menyambut Maulidurrasul (s.a.w.) merupakan bid’ah yang tidak pernah diriwayatkan oleh para Salafus-soleh pada 300 tahun pertama hijrah.

    Namun, perayaan ini penuh dengan kebaikan walau terkadang terdapat hal yang tidak patut. Jika dalam acara tersebut tidak terdapat hal-hal yang melanggar syara’ maka tergolong bida’ah hasanah, tetapi jika tidak, maka bukan bid’ah hasanah.

    Diantara dalil menyambut Maulidurrasul (s.a.w), adalah hadith riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Semasa Nabi berada di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari kesepuluh Muharranm (‘Asyura) dan Baginda bertanya akan perbuatan mereka. Mereka menjawab, “Kita berpuasa karena pada hari itu Nabi Musa telah diselamatkan dan Firaun telah ditenggelamkan. Kita berpuasa sebagai ungkapan rasa syukur kita. Nabi lalu bersabda, “Kami lebih berhak mensyukurinya dari pada kalian.” Lalu diwajibkanlah berpuasa di hari asyura’ (Baca Istinbat edisi 5/Tahun I/Rabiul Awal 1421)

    Menyambut maulid Nabi itu adalah ungkapan rasa cinta kita kepada junjungan semua makhluk, Nabi Muhammad saw. Cinta kepada Nabi itu adalah identitas seorang muslim. “Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia lebih mencintaiku dari pada dirinya, keluarganya dan seluruh umat manusia.” (Hadits).

    Ala kullihal, memperingati maulid Nabi adalah perbuatan yang sangat terpuji. Menentangnya berarti menentang Nabi sendiri.

    Masalahnya sekarang, betulkah kita telah mencintai Nabi?

    Cinta kepada Nabi bukanlah asmara yang murni sebagai bentuk emosi. Cinta kepada Nabi adalah emosi yang ditumbuhkan oleh rasio dan aksi. Mencintai seseorang yang telah tiada dan tidak pernah kita kenal seringkali adalah bentuk semu. Obyek cinta memang harus kongkrit dan dikenal dengan nyata.

    Lantas bagaimana kita harus mencintai Nabi?

    Rasio juga harus berperan besar di situ. Kepekaan kita dalam membaca sebuah filsafat sejarah adalah inti dari cinta kepada Nabi. Toh, cinta kepada Nabi juga merupakan kunci kita beragama, sebagaimana iman. Kedua hal itu, idealnya harus dibangun atas dasar kesimpulan rasional dibanding sebagai sebuah kepercayaan yang turun temurun.

    Jika kita dilarang taklid dalam iman maka mestinya taklid dalam cinta adalah hal yang juga imposible.

    Konstruksi cinta Nabi harus dibangun atas dasar kekaguman dan membaca sejarah. Jadi, kecintaan itu bukan semata-mata ekspresi emosional atau pengaruh mutlak opini lingkungan. Lebih dari itu, cinta kepada Nabi adalah pengakuan hakiki atas keberadaan beliau sebagai manusia ideal.

    Di situlah, komitmen menjadikan tauladan dan semangat ittiba’ussunnah tumbuh tanpa kesemuan. Cinta Rasul yang tidak didasarkan pada penghayatan sejarah akan mudah terombang-ambing oleh derasnya figuritas berbagai tokoh.

    Kita memang tidak bisa menafikan bangunan cinta Rasul atas dasar taklid atau unsur-unsur lain di luar kekaguman. Hal itu adalah sebuah keniscayaan. Namun, kalau kita mau jujur, kita mesti bertanya kepada diri sendiri: seberapa banyak kita tahu tentang Rasul dan jejaknya, lalu seberapa lekat nama Rasul di hati kita?

    Wallohu a’alam bish-shawab,-

    wallohu a’lam bis-shawab,-

    ***

    Arland

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 5 December 2015 Permalink | Balas  

    Kafir “Kontemporer” 

    takwaKafir “Kontemporer”

    Secara literal, al-kufr (kekafiran) bermakna dladd al-imaan (lawan dari keimanan).  Kata kufr juga bermakna juhud al-ni’mah (ingkari terhadap nikmat), atau lawan dari al-syukr (syukur).  Allah swt berfirman, artinya,”Innaa bi kulli kaafiruun” [Sesungguhnya kami tidak mempercayai masing-masing mereka itu.”(28:48)]. Arti dari “kaafiruun” pada ayat ini adalah jaahiduun (orang-orang yang ingkar). [Imam Abu Bakr al-Raaziy, Mukhtaar al-Shihaah, bab kafar]

    Pada asalnya, semua hal yang menutupi sesuatu yang lain disebut dengan kekafiran.  Sebab, al-kufr juga bermakna “al-lail al-mudzlim” (malam yang gelap gulita). Ibnu Sakiit menyatakan: “Kekafiran yang melekat pada diri seseorang disebabkan karena “ni’mat” Allah swt telah tertutup pada diri mereka.”

    Secara syar’iy, al-kufr juga bermakna lawan dari keimanan.  Keimanan sendiri bermakna ‘ didefinisikan oleh banyak ‘ulama sebagai berikut:

    Imam al-Nasafiy, berpendapat, “Îman adalah pembenaran hati sampai pada tingkat kepastian dan ketundukan.” [Imam al-Nasafiy, Al-‘Aqâid al-Nasafiyyah, hal. 27-43]

    Imam Ibnu Katsir menjelaskan,”Îman yang telah ditentukan oleh syara’ dan diserukan kepada kaum muslimîn adalah berupa i’tiqâd (keyakinan), ucapan, dan perbuatan. Inilah pendapat sebagian besar Imam-imam madzhab. Bahkan, Imam Syafi’iy, Ahmad bin Hanbal,dan Abu Ubaidah menyatakan, pengertian ini sudah menjadi suatu ijma’. (kesepakatan)”. [Ibnu Katsîr, Tafsir Ibnu Katsîr, jilid.I, hal. 40]

    Imam Nawawi menyatakan, “Ahli Sunnah dari kalangan ahli hadits, para fuqaha, dan ahli kalam, telah sepakat bahwa seseorang dikategorikan muslim apabila orang tersebut tergolong sebagai ahli kiblat (melakukan sholat). Ia tidak kekal di dalam neraka. Ini tidak akan didapati kecuali setelah orang itu mengimani dienul Islâm di dalamnya hatinya, secara pasti tanpa keraguan sedikitpun, dan ia mengucapkan dua kalimat syahadat.”[ Imam Nawawi, Syarah Shahih Muslim, jilid I, hal. 49]

    Berdasarkan definisi di atas, “kufr” lebih berhubungan dengan “perbuatan hati” (I’tiqad).   Seseorang yang mengingkari Allah swt, ayat-ayat Allah dan risalah Mohammad saw secara pasti ia telah kafir.   Allah swt berfirman, artinya, “Sesungguhnya orang-orang kafir itu, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak beriman.”[2:6] Ali Al-Shabuniy menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut:”Orang-orang kafir adalah orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan mendustakan risalah Mohammad saw.”[Ali-al-Shabuniy, Shafwaat al-Tafaasir, juz I, hal.22]

    Muslim yang melanggar aturan Allah namun tidak disertai dengan i’tiqad (keyakinan) maka dirinya tidak terjatuh kepada kekafiran.   Namun, apabila pelanggarannya disertai dengan keyakinan, maka dirinya telah terjatuh dalam kekafiran.   Sebagian ‘ulama –misalnya Imam Malik—menyatakan, bahwa orang yang meninggalkan sholat secara sengaja, maka ia telah terjatuh kepada kekafiran.  Sedangkan Imam Syafi’iy berpendapat, bahwa orang yang meninggalkan sholat tidak secara otomatis keluar dari Islam (kafir).  Jika, tindakan meninggalkan sholat tersebut disertai dengan keyakinan bahwa sholat lima waktu itu tidak wajib, maka, orang semacam ini telah terjatuh ke dalam kekafiran.  Akan tetapi, jika tindakannya tidak disertai keyakinan, maka ia tidak terjatuh kepada kekafiran, namun hanya disebut maksiyat.

    Seseorang bisa terjatuh ke dalam kekafiran, jika : (1) mengingkari pokok-pokok keimanan; yakni ingkar terhadap eksistensi Allah, ayat-ayat Allah (sebagian maupun keseluruhan), dan kenabian Mohammad saw.   (2) melanggar perkara-perkara qath’iy yang sudah ditetapkan di dalam Al-Quran dan sunnah, dan dibarengi dengan sebuah keyakinan bahwa ia tidak berdosa tatkala mengerjakan perbuatan tersebut.

    Betapa banyak orang yang mengaku muslim menyatakan dengan enteng, semua agama adalah benar.   Syari’at Islam sudah ketinggalan zaman dan hanya cocok diberlakukan kepada hewan ternak.   Sebagian yang lain menyatakan bahwa, Mohammad saw bias gender.   Menerapkan Islam sama dengan romantisme sejarah, dan masih banyak lagi lontaran-lontaran yang ditujukan untuk menikam Islam dan kaum muslim.   Jikalau lontaran-lontaran semacam ini dibarengi dengan niat untuk menyakiti dan menginjak-injak kesucian Islam, tidak diragukan lagi bahwa mereka telah keluar dari Islam.

    wallahu ‘alam bi ash shawab

    ya Allah jangan Engkau hukum kami jika kami tersalah atau kami lupa

    ***

    himawan sutanto

     
  • erva kurniawan 2:38 am on 4 December 2015 Permalink | Balas  

    Sesungguhnya Agama Itu Mudah 

    kemuliaan-sholat-dhuhaSesungguhnya Agama Itu Mudah

    Oleh

    Ummu Malik

    Kerap kali manusia mengulang-ulang perkataan ini (yaitu ucapan “Sesungguhnya agama itu mudah”), akan tetapi (sebenarnya) mereka (tidak menginginkan) dengan ucapan itu, untuk tujuan memuji Islam, atau melunakkan hati (orang yang belum mengerti Islam) dan semisalnya. Yang diinginkan mereka adalah pembenaran terhadap perbuatan mereka yang menyelisihi syari’at. Bagi mereka kalimat itu adalah kalimat haq, namun yang diinginkan dengannya adalah sebuah kebatilan.

    Ketika salah seorang diantara kita ingin memperbaiki perbuatan yang menyalahi syari’at, orang-orang yang menyalahi (syari’at itu) berhujjah dengan perkataan mereka : “Islam adalah agama yang mudah”. Mereka berusaha mengambil keringanan yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, dengan sangkaan bahwa mereka telah menegakkan hujjah bagi orang yang menasehati mereka agar mengikuti syariat yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

    Orang-orang yang menyelisihi syariat itu hendaknya mengetahui bahwa Islam adalah agama yang mudah. (Akan tetapi maknanya adalah) dengan mengikuti keringanan-keringanan yang diberikan Allah Jalla Jalaluhu dan RasulNya kepada kita.

    Allah Jalla Jalaluhu dan RasulNya telah memberi keringanan bagi kita, ketika kita membutuhkan keringanan itu dan ketika adanya kesulitan dalam mengikuti (melaksanakan perintah) yang sebenarnya.

    Asal dari ungkapan ” Sesungguhnya agama itu mudah” adalah penggalan kalimat dari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Artinya : Sesungguhnya agama itu mudah, dan sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan, dan (dalam beramal) hendaklah pertengahan (yaitu tidak melebihi dan tidak mengurangi), bergembiralah kalian, serta mohonlah pertolongan (didalam ketaatan kepada Allah) dengan amal-amal kalian pada waktu kalian bersemangat dan giat”

    Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani menerangkan ungkapan “Sesungguhnya agama itu mudah” dalam kitabnya yang tiada banding (yang bernama) : Fathul Baariy Syarh Shahih Al-Bukhari 1/116. Beliau berkata : “Islam itu adalah agama yang mudah, atau dinamakan agama itu mudah sebagai ungkapan lebih (mudah) dibanding dengan agama-agama sebelumnya. Karena Allah Jalla Jalaluhu mengangkat dari umat ini beban (syariat) yang dipikulkan kepada umat-umat sebelumnya. Contoh yang paling jelas tentang hal ini adalah (dalam masalah taubat), taubatnya umat terdahulu adalah dengan membunuh diri mereka sendiri. Sedangkan taubatnya umat ini adalah dengan meninggalkan (perbuatan dosa) dan berazam (berkemauan kuat) untuk tidak mengulangi.

    Kalau kita melihat hadits ini secara teliti, dan melihat kalimat sesudah ungkapan “agama itu mudah”, kita dapati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada kita bahwa seorang muslim berkewajiban untuk tidak berlebih-lebihan dalam perkara ibadahnya, sehingga (karena berlebih-lebihan) ia akan melampui batas dalam agama, dengan membuat perkara bid’ah yang tidak ada asalnya dalam agama.

    Sebagaimana keadaan tiga orang yang ingin membuat perkara baru (dalam agama). Salah seorang di antara mereka berkata : “Saya tidak akan menikahi perempuan”, yang lain berkata : “Saya akan berpuasa sepanjang tahun dan tidak berbuka”, yang ketiga berkata : “Saya akan shalat malam semalam suntuk”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka dari hal itu semua, dan memberi pengarahan kepada mereka agar membaguskan amal mereka semampunya, dan hendaknya dalam mendekatkan diri kepada Allah Jalla Jalaluhu, (beribadah) dengan ibadah yang telah diwajibkan Allah Jalla Jalaluhu kepada mereka.

    Dan hendaknya mereka tidak membuat-buat perkara yang tidak ada asalnya dalam agama ini, karena mereka sekali-kali tidak akan mampu (mengamalkannya), (sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) ” Maka sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan”.

    Maka ungkapan “Agama itu mudah” maknanya adalah : “Bahwa agama yang Allah Jalla Jalaluhu turunkan ini semuanya mudah dalam hukum-hukum, syariat-syariatnya”. Dan kalaulah perkara (agama) diserahkan kepada manusia untuk membuatnya, niscaya seorangpun tidak akan mampu beribadah kepada Allah Jalla Jalaluhu.

    Maka jika orang-orang yang menyelisihi syariat tidak mendapatkan “kekhususan” (tidak mendapat celah sebagai pembenaran atas perbuatan mereka) dengan hadits diatas, mereka akan lari kepada hadits-hadits lain, yang dengannya mereka berhujjah bagi perbuatan mereka yang menggampang-gampangkan dalam perkara agama.

    Diantara hadits-hadits yang mereka jadikan alasan dalam masalah ini, adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Sesungguhnya Allah menyukai keringanan-keringanannya diambil sebagaimana Dia membenci kemaksiatannya didatangi/dikerjakan”

    Dalam riwayat lain.

    “Artinya : Sebagaimana Allah menyukai kewajiban-kewajibannya didatangi”

    Hadits lain adalah sabda nabi :

    “Artinya : Mudahkanlah, janganlah mempersulit dan membikin manusia lari (dari kebenaran) dan saling membantulah (dalam melaksanakan tugas) dan jangan berselisih” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

    Hadits yang ketiga.

    “Artinya : Mudahkanlah, janganlah mempersulit, dan berikanlah kabar gembira dan janganlah membikin manusia lari (dari kebenaran)”.

    Adapun hadits yang pertama, wajib bagi kita untuk mengetahui bahwa keringanan-keringanan dalam agama Islam banyak sekali, diantaranya : berbukanya musafir ketika bepergian, orang yang tertinggal dalam shalat boleh mengqadha (mengganti), orang yang tertidur atau lupa boleh mengqadha shalat, orang yang tidak mendapatkan binatang sembelihan dalam haji tamattu boleh berpuasa, tayamum sebagai ganti wudhu ketika tidak ada air atau ketika tidak mampu untuk berwudhu … dan lainnya diantara keringanan yang banyak tidak diamalkan kecuali jika terdapat kesulitan dalam melaksanakan perintah yang sebenarnya.

    Dan perlu kita perhatikan, bahwa keringanan-keringanan ini adalah syari’at Allah Jalla Jalaluhu dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dengan izin Allah Jalla Jalaluhu). Dan tidak diperbolehkan seorang muslim manapun, untuk mendatangkan (mengada-ada) keringanan (dalam masalah agama) tanpa dalil, karena hal ini adalah termasuk mengadakan perkara baru dalam agama yang tidak berdasar.

    Dan perhatikanlah wahai saudaraku sesama muslim (surat Al-Baqarah ayat 185), yang menceritakan tentang puasa dan keringanan berbuka bagi orang yang sakit atau bepergian, lalu firman Allah Jalla Jalaluhu sesudah ayat itu.

    “Artinya : Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” [Al-Baqarah : 185]

    Makna ini menerangkan makna mudah (menurut Allah Jalla Jalaluhu), yang maknanya adalah keringanan itu datangnya dari sisi Allah saja, tiada sekutu bagiNya. Atau (keringanan itu) dari syariat Rasulullah Shallallahju ‘alaihi wa sallam dengan wahyu dari Allah Jalla Jalaluhu. Ayat ini juga menerangkan bahwa makna mudah itu dengan mengikuti hukum Allah Jalla Jalaluhu (yang tiada sekutu bagiNya) dan mengikuti syariatNya. Inilah yang bekenaan dengan hadits yang pertama tadi.

    Adapun hadits yang kedua dan tiga, maka pengambilan dalil yang dilakukan oleh orang-orang yang mengikuti hawa nafsu serta menyelisihi syariat (dengan kedua hadits itu) adalah batil, dan termasuk merubah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari makna yang sebenarnya, dan keluar dari makna yang dimaksud.

    Tafsir kedua hadits yang lalu berhubungan dengan para da’i yang menyeru kepada agama Islam. Dalam kedua hadits itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memantapkan kaidah penting dari kaidah-kaidah dasar dakwah kepada Allah Jalla Jalaluhu, yaitu berdakwah dengan lemah lembut dan tidak kasar. Maka dakwah para dai yang sepatutnya disampaikan pertama kali kepada orang-orang kafir adalah Syahadat, lalu Shalat, Puasa , Zakat. Kemudian (hendaknya) mereka menjelaskan kepada manusia tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu menerangkan amal perbuatan yang wajib, yang sunnah dan yang makruh. Jika melihat suatu kesalahan yang disebabkan karena kebodohan atau lupa, maka hendaklah bersabar dan mendakwahi manusia dengan penuh kasih sayang dan kelembutan serta tidak kasar. Allah Jalla Jalaluhu berfirman.

    “Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” [Ali Imran : 159]

    Sesudah memahami hadits-hadits itu, dan penjelasan makna keringanan dan kemudahan. Maka saya berkata kepada orang-orang yang merubah dan mengganti makna-makna hadits-hadits tersebut (karena ingin mengenyangkan hawa nafsu mereka dengan perbuatan itu) :

    “Bertaqwalah kepada Allah Jalla Jalaluhu dan ikutilah apa yang diperintahkan kepada kalian, dan jauhilah laranganNya, dan tahanlah (diri kalian) dari merubah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan takutilah suatu hari yang kalian dikembalikan kepada Allah Jalla Jalaluhu lalu setiap jiwa akan disempurnakan dengan apa yang ia usahakan. Dan takutlah kalian jangan sampai diharamkan dari mendatangi telaga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantaran kalian mengganti agama Allah Jalla Jalaluhu dan merubah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

    Saya mengharapkan dari Allah Jalla Jalaluhu yang Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri agar memberi petunjuk kepada kita dan kaum muslimin seluruhnya untuk mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah NabiNya, dan agar Allah Jalla Jalaluhu mengajarkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, dan memberi manfaat dari apa yang Dia ajarkan, serta memelihara kita dari kejahatan perbuatan bid’ah dan penyelewengan, serta kejahatan mengubah dan mengganti (syariat Allah).

    ***

    Disalin dari Majalah : Al Ashalah edisi 15-16 hal 33-35, diterjemahkan oleh Majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyah Edisi : Th. I/No. 03/Dzulhijjah 1423/Februari 2003, hal 5 -6.Terbitan Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya

     
  • erva kurniawan 2:35 am on 3 December 2015 Permalink | Balas  

    Al-Walahan : Setan Spesialis Wudhu 


    wudhu 3Al-Walahan : Setan Spesialis Wudhu

    Bisa kita bayangkan, bagaimana canggihnya seorang pencuri kendaraan bermotor jika setiap hari yang dipelajari dan dikerjakan adalah mencuri motor. Ada juga pencuri spesialis elektronik, dia paling ahli soal bagaimana menggondol barang elektronik di rumah orang yang sedang lengah. Ternyata, iblis juga memiliki bala tentara yang dibekali ketrampilan khusus dan ditugasi pekerjaan yang khusus pula. Iblis menggoda manusia di setiap lini, dan di setiap lini dia siapkan setan-setan ‘spesialis’ yang pakar dalam bidangnya.

    Dalam hal wudhu misalnya, ada jenis setan khusus yang beraksi di wilayah ini. Pekerjaannya fokus untuk menggoda orang-orang yang wudhu sehingga menjadi kacau wudhunya. Setan spesialis wudhu ini disebut Nabi dengan ‘Al-Walahan’. Nabi bersabda:

    “Pada wudhu itu ada setan yang menggoda, disebut dengan Al-Walahan, maka hati-hatilah terhadapnya.” (HR Ahmad)

    Setan ini menggoda tidak hanya mengandalkan satu jurus saja untuk memperdayai mangsanya. Untuk masing-masing karakter pelaku wudhu, disiapkan satu jurus untuk melumpuhkannya.

    Waspadai Setiap Jurusnya

    Sebagian dipermainkan setan hingga sibuk mengulang-ulang lafazh niat. Saking sibuknya mengulang, ada yang rela ketinggalan rekaat untuk meng’eja’ niat. Niat memang harus dilazimi bagi setiap hamba yang hendak melakukan suatu kativitas. Akan tetapi, tak ada secuil keteranganpun dari Nabi yang shahih menunjukkan sunahnya melafazkan niat. Bahkan tidak ada dalil sekalipun berupa hadits dha’if, mursal, atau yang terdapat di musnad maupun perbuatan sahabat yang menunjukkan keharusan atau sunahnya melafazkan niat.

    Dalil yang biasa dipakai adalah hadits Nabi “segala sesuatu tergantung niatnya.” Hadits ini tidak menunjukkan sedikitpun akan perintah melafazkan niat. Jika hadits ini dimaknai sebagai niat yang dilafazkan, berarti untuk setiap amal shalih baik menolong orang tenggelam, belajar, bekerja dan aktivitas lain menuntut dilafazkan niat. Apakah orang yang melafazkan niat ketika wudhu juga melafazkan niat ketika melakukan aktivitas amal yang lain? Kalau saja itu baik, tentunya Nabi dan para sahabat melakukannya.

    Sebagian lagi digoda setan sehingga asal-asalan ketika melakukan wudhu. Dia membiarkan anggota tubuh yang mestinya wajib dibasuh, tidak terkena oleh air. Nabi mengingatkan akan hal ini dengan sabdanya:

    “Celakalah tumit dari neraka.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

    Untuk menangkal godaan ini, wajib bagi kita mengetahui, manakah anggota tubuh yang wajib dibasuh atau diusap. Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya:

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan mata kaki …” (QS. al-Maidah : 6)

    Syaikh Utsaimin menyebutkan bahwa ‘istinsyaq’ atau memasukkan air ke hidung kemudian istinsyar (mengeluarkannya) hukumnya wajib karena hidung termasuk bagian dari wajah yang dituntut untuk dibasuh.

    Telinga juga wajib untuk diusap karena termasuk bagian dari kepala sebagaimana hadits Nabi: al-udzun minar ra’si, telinga adalah bagian dari kepala.

    Boros Menggunakan Air

    Asal-asalan berwudhu adalah jurus setan yang diarahkan bagi orang yang malas. Sedangkan untuk orang yang antusias dan bersemangat, ‘al-walahan’ memiliki jurus yang lain. Yakni dia menggoda agar orang yang wudhu terlampau boros menggunakan air. Timbullah asumsi bagi orang yang berwudhu, semakin banyak air, maka semakin sempurna pula wudhunya. Padahal anggapan ini bertentangan dengan sunnatul huda. Bahkan Nabi mengingatkan umatnya akan hal itu. Beliau bersabda:

    “Sesungguhnya akan ada di antara umat ini yang melampaui batas dalam bersuci dan berdoa.” (HR Abu Dawud, Ahmad, dan An-Nasa’i, sanadnya kuat dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Ada pula hadits menyebutkan, tatkala Nabi melewati Sa’ad yang tengah berwudhu beliau bersabda: “Janganlah boros dalam menggunakan air.” Sa’ad berkata: “Apakah ada istilah pemborosan dalam hal air?” beliau menjawab: “Ya, meskipun engkau (berwudhu) di sungai yang mengalir.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad). Ibnul Qayyim menyebutkan hadits ini dalam Zaadul Ma’ad, begitu pula Ibnul Jauzi dalam kitabnya “Talbis Iblis”, hanya saja Syaikh Al-Albani menyatakan ini sebagai hadits dha’if, begitu pula dengan Al-Bushiri dalam Al-Zawa’id.

    Yang baik adalah kita tidak boros dalam menggunakan air, termasuk ketika berwudhu. Namun bukan berarti boleh meninggalkan sebagian anggota yang wajib untuk dibasuh.

    Ragu-Ragu Ketika Berwudhu

    Jurus lain yang ditujukan bagi orang yang kelewat semangat dalam hal wudhu adalah, setan menanamkan keraguan kepada orang yang berwudhu. Ketika orang itu selesai wudhu, dibisikkan di hatinya keraguan akan keabsahan wudhunya. Agar orang itu mengulangi wudhunya kembali dan hilanglah banyak keutamaan seperti takbiratul uula maupun shalat jama’ah secara umum.

    Telah datang kepada Ibnu Uqail seseorang yang terkena jurus setan ini. Dia menceritakan bahwa dirinya telah berwudhu, kemudian dia ulangi wudhunya karena ragu, bahkan dia menceburkan diri ke sungai, setelah keluar darinya diapun masih ragu akan wudhunya. Dia bertanya: “Dalam keadaan (masih ragu) seperti itu apakah saya boleh shalat?” Ibnu Uqail menjawab: “Bahkan kamu tidak lagi wajib shalat.”

    Ya, tak ada orang yang melakukan seperti itu kecuali orang yang hilang ingatan, sedangkan orang yang hilang ingatan tidak terkena kewajiban.

    Wallahu a’lam.

    ***

    (Majalah Ar risalah)

     
  • erva kurniawan 6:25 am on 2 December 2015 Permalink | Balas  

    Bagaimana Kita Mencintai Allah dan Rasulullah SAW 

    hidayah-allahBagaimana Kita Mencintai Allah dan Rasulullah SAW

    Pembaca yang budiman, tahukan Anda bagaimana cara kita mencintai Allah Ta’ala dan Rasulullah SAW itu ?!! Ketahuilah, Allah Ta’ala telah memberitahukan hal ini dalam firman-Nya:

    “Katakanlah (wahai Muhammad SAW terhadap kaum muslimin) Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imran: 31).

    Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dalam kitabnya Al-Firqatun Najiyah hal. 111 menyatakan: “Faedah dari ayat ini adalah bahwa kecintaan seorang hamba terhadap Allah itu adalah dengan ittiba’ (selalu mengikuti) terhadap apa saja yang berasal dari Rasulullah SAW, mentaati apa yang diperintahkannya dan meninggalkan semua hal yang dilarangnya seperti apa yang terdapat dalam hadits-hadits yang shohih yang telah beliau jelaskan kepada umat manusia. Dan mahabbah (kecintaan) ini tidak akan terwujud bila hanya semata-mata ucapan lisan tanpa adanya amalan yang sesuai dengan petunjuk dan tuntunan Rasulullah SAW.

    Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah dalam kitab tafsirna Taisir A-Karimir Rahman juga menjelaskan: “Ayat ini juga merupakan Al-Mizan (alat penimbang) bagi orang-orang yang mengaku benar-benar mencintai Allah. Maka tanda kecintaan seorang hamba kepada Allah itu adalah dengan ittiba’  (mengikuti) Nabi Muhammad SAW, yang mana Allah Ta’ala menjadikan ittiba’-nya seseorang pada Rasulullah dalam semua yang dida’wahkan oleh beliau SAW sebagai jalan untuk mencintai Allah dan mendapatkan keridhoan-Nya. Dan seseorang itu tidak akan mendapatkan kecintaan, keridhoan dan pahala-Nya kecuali dengan cara tashdiq (selalu membenarkan) terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM berupa Al-Kitab dan As-Sunnah, kemudian tunduk kepada perintah keduanya dan menjauhi semua hal yang dilarang oleh keduanya. Maka barangsiapa yang telah melakukan hal tersebut, Allah Ta’ala akan mencintainya dan diberi balasan berupa pahala sebagai orang-orang yang dicintai-Nya, diampunkan segala dosanya, dan akan ditutupi segala aibnya …”

    Pembaca yang budiman, jelaslah bagi kita bahwa cara yang paling tepat mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah dengan ittiba’ terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah yang dibawa oleh Rasulullah. Ini berarti wajib bagi kita merasa cukup dengan agama yang dibawa Rasulullah SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, dan kitapun yakin bahwa agama ini benar-benar telah sempurna, tidak perlu mendapatkan tambahan-tambahan untuk disesuaikan dengan perkembangan jaman atau dikurangi karena tidak cocok dengan selera jaman, Apa saja yang berasal dari Rasulullah SAW, wajib kita terima dan kita amalkan apa adanya. Sedangkan apa saja yang tidak pernah ada pada jaman Rasulullah (tidak dicontohkan oleh beliau) wajib kita tinggalkan meskipun banyak orang yang mengerjakannya. Inilah prinsip dan hakekat kecintaan seorang hamba kepada Allah swt.gif (980 bytes).

    Mengaku mencintai Allah dan mencintai Rasul-Nya dengan cara-cara selain cara tersebut di atas adalah pengakuan yang dusta dan menipu ! Karena bagaimana mungkin seseorang mengaku cinta tetapi melakukan perbuatan yang dibenci dan tidak disuka oleh kekasih yang dicintainya? Nah, contohnya adalah seperti apa yang dilakukan oleh kaum muslimin di setiap bulan Rabi’ul Awal. Mereka mengadakan acara perayaan Maulid Nabi SAW dengan niat untuk ibadah dan sebagai wujud ekspresi cinta mereka kepada Rasulullah. Benarkah begitu cara kita mengekspresikan cinta kita kepada beliau, yakni dengan mengadakan acara-acara yang tidak pernah diperintahkan dan dicontohkan oleh beliau?! Bukankan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah menjelaskan secara gamblang bagaimana mestinya kita mengekspreskan cinta kita kepada keduanya?

    Oleh karena itu benarlah apa yang pernah dikatakan oleh Imam Malik bin Anas Rahimahullah: “Barangsiapa membuat bid’ah  (perkara baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, pent) dalam agama Islam ini, dan dia memandangnya sebagai suatu kebaikan, maka sungguh dia telah menganggap dan menuduh Muhammad SAW telah mengkhianati risalah Allah (yakni wahyu yang diturunkan kepada beliau, pent). Karena sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: “Pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu … ” (QS. Al-Maidah: 3). Maka apa saja yang pada hari itu (jaman Rasulullah, pent) bukan merupakan agama, pada hari inipun bukan merupakan agama.”

    Inilah prinsip yang selalu dipegang teguh oleh para ulama Salafus Shalih, dan juga jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang istiqomah dengan prinsip-prinsip ini hingga akhir jaman. Mudah-mudahan Allah Ta’ala selalu memberikan pertolongan-Nya kepada kita dan kita berlindung dari setiap kesesatan yang dibungkus dengan baju keagamaan.

    Wallahu a’lamu bishshowwab

    Sumber : http://www.shahabat.cjb.net

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 1 December 2015 Permalink | Balas  

    Kesengsaraan Dalam Neraka 

    al-quran-yang-muliaKesengsaraan Dalam Neraka

    Allah telah menciptakan bagi manusia untuk diakhirat nanti dua tempat tinggal, yaitu “SURGA” dan “NERAKA”. Masing-masingnya akan dihuni oleh penghuni-penghuni yang telah ditentukan baginya.

    Yang akan menjadi penghuni surga antara lain ialah manusia-manusia yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya, menjalankan segala perintah agama dan menjauhkan / menjahui segala larangan agama.

    Firman Allah SWT: “Dan orang-orang yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya niscaya Ia (Allah) masukkan dia kedalam surga”. (QS. An Nisa’ ayat 13).

    Atau manusia-manusia yang beriman dan beramal saleh, sebagaimana firman Allah SWT: “Dan beri kabar gembiralah orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bahwasanya bagi mereka adalah surga” (QS.Al Baqarah: 25).

    Firman Allah SWT: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang taqwa disisi Tuhan mereka adalah surga na’im”. (QS. Al Qalm ayat 34

    Yang menjadi penghuni neraka antara lain ialah:

    Manusia-manusia yang “Fasiq”, yaitu antara lain orang-orang Islam yang tidak melaksanakan perintah Allah atau mengerjakan larangan Allah, sebagaimana difirmankan Allah: “Dan adapun orang-orang yang fasiq (kafir), maka tempat mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak ke luar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) kedalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya”. (QS. As Sajadah ayat 20). Bahkan kamu menganggapnya enteng (pen).

    Orang-orang “Munafiq”, yaitu orang-orang yang mengaku beragama Islam dengan mulutnya, dengan pengakuannya, (KTP-nya) dan mungkin juga mengerjakan sebahagian ajaran Islam, mengerti ajaran Islam namun tidak mendirikan shalat, shalatnya hari Jum’at saja, tidak membayar zakat, tetapi hatinya anti Islam, sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang munafiq itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. (QS. An Nisa’ ayat 145).

    Orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, Firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang kafir dan orang-orang musyrik tempat mereka di dalam neraka Jahanam; mereka kekal didalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk”. (QS. Al Bayinah ayat 6). Lebih hina dari binatang (pen).

    Orang-orang Islam bisa pula jadi musyrik tersebut, seperti orang-orang Islam yang menggantungkan azimat di lehernya, ditangannya, dikakinya atau dirumahnya, ke kuburan para wali minta berkah, perdukunan, dsb. Tentang menggantungkan azimat itu syirik, Nabi Muhammad SAW menyabdakan sebagai berikut: “Sesungguhnya jampi-jampi, azimat dan sihir adalah syirik”. (Hadits Riwayat: Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Hakim). Jadi orang-orang yang fasiq, munafiq, musyrik, berselingkuh, korupsi, maling, musyrik, yang melanggar larangan agama, yang melalaikan sholatnya, juga menjadi penghuni neraka.

    Kesengsaraan yang akan dialami oleh manuasia di dalam neraka antara lain:

    1. Tempatnya berdesak-desakan, sebab walaupun isinya sudah penuh sesak, namun akan ditambahi terus. Firman Allah SWT: “Pada hari Kami bertanya kepada neraka jahanam: Apakah engkau sudah penuh sesak? Neraka jahanam menjawab: Masih adakah tambahan ? (QS.Qaf ayat 30)
    2. Makanannya dari pohon zaqqum, yaitu sebangsa pohon yang tumbuh di neraka, yang amat jelek dan rasanya sangat pahit, sampai dalam perut seperti minyak atau air yang mendidih. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak berdosa. Ia (pohon zaqqum) sebagai kotoran minyak yang mendidih didalam perut. Seperti mendidihnya air yang sangat panas“. QS. Ad Dukhaan ( Kabut) ayat 43 -44, 45 dan 46.

    Buah pohon zaqqum makanan ahli neraka. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka jahim. Mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas”. QS. Ash Shaaffaat ayat 63, 64, 65, 66, dan 67.

    Allah berfirman: “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada pula makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. (Qs-Al Haaqqah (69) ayat 25 s/d 37).

    1. Minumanya air mendidih dan air nanah. Firman Allah SWT: “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak pula mendapat minuman, selain air yang mendidih dan nanah”. QS.An Naba’ ayat 24 & 25.

    Firman Allah SWT: “Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zhalim itu neraka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi dengan air seperti besi mendidih menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek”. (QS.Al Kahfi ayat 29).

    1. Pakaiannya dari api. Firman Allah SWT: “Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka”. QS. Al Hajj (Haji) ayat 19 & 20.
    2. Dikelilingi oleh api. Firman Allah SWT: “Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan dari api. Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku“. QS. Az Zumar ayat 16
    3. Tidak akan mati dan tidak pula akan hidup. Firman Allah SWT: ” Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya (peringatan), yaitu orang yang celaka yang terpanggang di dalam api yang amat besar (neraka). Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup“. QS.Al A’laa ayat 11, 12 dan 13.
    4. Setiap kali kulitnya sudah hangus akan diganti lagi dengan kulit yang baru. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami panggang mereka kedalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan pedihnya azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. QS. An Nisaa’ ayat 56.
    5. Tertutup sama sekali dari rahmat Allah. Firman Allah SWT: “Sekali-kali tidak, maksudnya sekali-kali tidak seperti apa yang mereka katakan, bahwa mereka dekat pada sisi Tuhan. Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan kepada mereka: Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan”. QS.Al Muthaffiffiin ayat 15, 16 & 17. (Kamu sepelekan, kamu anggap enteng, kamu remehkan, kamu anggap keciil-pen).
    6. Sehingga sewaktu mereka meminta kepada penghuni surga sedikit air, penghuni surga menjawab: Allah mengharamkannya atas kamu. Firman Allah SWT: “Penghuni neraka berseru kepada penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah di rezikikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir. QS.Al A’raaf ayat 50.
    7. Azab mereka yang paling ringan ialah bersandal dari api. Tetapi begitu dipakai (di injak) otak pemakainya menjadi mendidih. Sabda Nabi Muhammad SAW: “Seringan-ringan azab bagi manusia ( di neraka) ialah memakai sandal dan ikatannya dari api, mendididh otaknya karenanya, sebagai mendidihnya air di dalam kuali, ia tidak melihat ada orang lain yang (dianggapnya) lebih berat azabnya dari dia, padahal dialah orang yang paling ringan azabnya. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

    Itulah yang kami dapat kutibkan dari kitab Al Qur’an, bisa dicek langsung ke Al Qur’an, Al Qur’an adalah kitab Allah yang paling sempurna dan mutlak kebenarannya. Yang tersebut diatas sebahagian dari kesengsaraan yang akan diderita oleh penghuni-penghuni neraka. Tetapi walaupun demikian sudah sangat mengerikan sekali. Oleh sebab itu seharusnya hal ini mendorong kita untuk menghindarinya dengan segala kemampuan yang kita miliki.

    Kalau kiranya kita sudah terlanjur mengerjakan perbuatan-perbuatan yang akan membawa kita ke dalam neraka tersebut, seperti perbuatan syirik (musyrik) menyekutukan Allah, membunuh orang atau menyuruh membunuh orang yang dilarang untuk dibunuh, berzina, melacur, berselingkuh, berghibah (ghosib), korupsi, ingkar janji, berdusta, berbohong, memakan yang diharamkan dimakan, fasiq, kafir, munafiq, riya, sihir, dsb yang dilarang oleh agama, maka hendaklah kita cepat-cepat bertaubat nasuha (bertaubat atas perbuatannya dan berjanji tidak akan diulanginya lagi), memperbaiki iman dan beramal saleh sebanyak-banyaknya. Karena kalau kita sudah taubat, iman sudah baik dan amal saleh sudah banyak, maka dosa-dosa kita yang lalu itu akan diampuni oleh Allah dan diganti oleh Allah dengan kebaikan, sungguh Allah itu Maha (Amat) Pengampun dan Maha (amat besar sekali) kasih sayang-Nya kepada kita, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya.

    Firman Allah SWT: “Dan orang-orang yang tidak menyeru Tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali dengan jalan yang benar dan tidak berzina dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian itu ia akan bertemu dosa (neraka). Dilipat gandakan baginya azab pada hari kiaamat dan ia kekal di dalamnya dengan sangat hina. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan beraamal saleh, maka Allah akan menggantikan kejahatan-kejahatan mereka itu dengan kebaikan-kebaikan, karena Allah itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. QS. Al Furqan ayat 68 s/d. 70.

    Marilah kita berdo’a, semoga Allah SWT senantiasa selalu membimbing kita kejalan yang diridhoi-Nya, kejalan yang benar dan semoga Allah memberi kekuatan iman kita untuk menjauhkan dari segala perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya dan agar kita senantiasa dapat melaksanakan segala perintah-Nya dengan hati yang tulus, yang ikhlas, ridho, jadikan hidup ini sebagai ibadah, agar kita semua terhindar dari siksa neraka, dan mendapat surga yang telah dijanjikan-Nya. Insya Allah, Amien ya Rabbal ‘alamiin.

    Alhamdulillahrobbil’alamin.

    Allahu a’lam bishshawab.

    Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    ***

    Indra Subni

     
  • erva kurniawan 2:44 am on 30 November 2015 Permalink | Balas  

    Macam-Macam Hati 

    kaya hatiMacam-Macam Hati

    Sebaik-baiknya hati adalah yang bersih suci dari keburukan, yang tunduk kepada yang haaq (kebenaran) dan petunjuk yang diliputi kebaikan. Di dalam Hadits dikatakan,

    Hati itu ada 4 macam :

    1. Hati yang tidak berselaput, di dalamnya terdapat pelita yang menerangi. Ini hati orang mukmin.
    2. Hati yang hitam tak tentu tempatnya. Ini hati orang kafir.
    3. Hati yang terbelenggu diatas kulitnya. Ini hati orang munafik.
    4. Hati yang mendatar, padanya terdapat iman dan nifaq (kemunafikan). Perumpamaan iman yang meliputinya seperti batang tumbuhan yang disirami air tawar. Sedangkan perumpamaan nifaq seperti setumpuk kudis yang diselaputi nanah dan darah busuk. Maka yang mana di antara keduanya berkuasa, kesitulah hati tertarik.

    Hati yang ke-4 inilah yang terdapat pada kebanyakan kaum muslimin. Amalnya bercampur aduk sehingga keburukannya lebih banyak daripada kesempurnaannya. Dalam Hadits lain dikatakan,

    “Sesungguhnya iman itu bermula muncul di dalam hati sebagai sinar putih, lalu membesar, hingga seluruh hati menjadi putih. Sedangkan nifaq itu bermula muncul di dalam hati seperti noda-noda hitam, lalu menyebar, hingga seluruh hati menjadi hitam.”

    Sesungguhnya iman akan bertambah dengan cara menambah amal saleh disertai keikhlasan. Sedangkan nifaq akan bertambah dengan cara mengerjakan amal buruk, seperti meninggalkan perkara wajib dan melakukan larangan agama. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW,

    “Barangsiapa melakukan dosa, maka akan tumbuh dalam hatinya setitik hitam. Jika ia bertobat, maka terkikislah titik hitam itu dari hatinya. Jika ia tidak bertobat, maka menyebarlah titik hitam itu sehingga seluruh hatinya menjadi hitam.”

    Hal ini sesuai dengan firman Allah,

    “Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang mereka selalu kerjakan itu menutupi hati mereka.” (QS. 73:14)

    Seorang manusia tidak akan ditimpa suatu musibah, kecuali karena dosanya sendiri. Sebagaimana dikatakan di dalam Al-Qur’an,

    “Dan musibah apa saja yang menimpa kamu maka itu disebabkan oleh perbuatanmu sendiri.” (QS. 42:30)

    Maka dari itu, hendaklah kita berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam dosa. Jika pun sudah terlanjur, maka hendaklah bersegera bertaubat. Bukankah dikatakan di dalam Al-Qur’an,

    “Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. 49:11)

    “(Dialah) Yang mengampuni dosa dan menerima taubat, Yang pedih siksanya, Yang mempunyai karunia. Tiada tuhan selain Dia dan hanya kepada-Nya-lah tempat kembali.” (QS. 40:3)

    “Dan tiada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang kembali kepada Allah. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya.” (QS. 40:13-14)

    ***

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 29 November 2015 Permalink | Balas  

    Meluruskan hati 

    kaya hatiMeluruskan hati

    Hendaknya kita menaruh perhatian yang lebih kepada hati dan batin kita. Rasulullah SAW berkata,

    “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan amal-amal kalian, tapi sesungguhnya Allah melihat kepada hati dan niat-niat kalian.”

    Karena itu hendaknya kita menyatukan amal dengan hati, ucapan dengan amal, membenarkan niat dan keikhlasan, membersihkan batin dan meluruskan hati. Karena hal tersebut adalah sumber segala perkara.

    “Ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam tubuh ini ada segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”

    Hal tersebut dikarenakan hati itu mudah berubah dan senantiasa goncang, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,

    “Sesungguhnya hati itu lebih cepat berbolak-balik daripada makanan yang sedang mendidih dalam periuk.”

    Maka dari itu, beliau SAW sering berdoa,

    “Wahai (Tuhan) Yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.”

    Beliau SAW juga bersabda,

    “Sesungguhnya hati itu terletak antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman. Jika Dia berkehendak, diluruskannya, atau jika Dia berkehendak (yang lain), dibengkokkannya.”

    Nabi SAW sendiri sering bersumpah dengan mengatakan,

    “Tidak, demi Tuhan Yang Maha membolak-balikkan hati…”

    Allah SWT menceritakan tentang Nabi Ibrahim AS,

    “Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, pada hari dimana harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat” (QS. 26:87-89)

    Oleh karena itu, perbanyaklah membaca doa,

    “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau sesatkan hati-hati kami setelah Engkau memberikan kami hidayah, dan limpahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Pemberi.” (QS. 3:8)

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 28 November 2015 Permalink | Balas  

    Hati yang Keras dan Lalai 

    kaya hatiHati yang Keras dan Lalai

    Waspadalah dari hati yang keras (qoswah)!. Yakni kerasnya hati dan membeku sehingga nasihat pun tidak berpengaruh. Jika kematian disebut, ia tak merasa takut atau ngeri, begitu pula jika mendengar janji-janji Allah dan ancaman tentang keadaan akhirat.

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Sesuatu yang paling jauh dari Allah Ta’ala adalah hati yang keras.”

    Rasulullah SAW juga bersabda,

    “Termasuk dari sesuatu yang celaka adalah 4 perkara : hati yang keras, mata yang beku, cinta dunia dan panjang angan-angan.”

    Beliau menambahkan,

    “Ketahuilah!, Allah tidak akan menerima doa dari hati orang yang lalai.”

    Hati yang lalai adalah hati yang tidak sabar dan tidak mau tahu ketika diperingatkan karena keasyikannya bekerja dan bermain dengan keindahan dunia dan hawa nafsu.

    Firman Allah SWT,

    “Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri, penuh rasa takut, tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. 205:7)

    Allah melarang Rasul-Nya untuk tidak menjadi orang yang lalai, sebagaimana Dia melarang untuk tidak mentaati orang-orang yang lalai atau pun mengikuti jejak mereka.

    “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya lalai dari mengingat Kami serta memperturutkan hawa nafsunya, dan keadaannya itu melampaui batas.” (QS. 18:28)

    Orang-orang yang dianggap lalai jika :

    Membaca Al-Qur’an atau mendengarnya tetapi tidak merenungkan maknanya, tidak mengikuti perintah dan larangannya. Begitu pula hadits Rasulullah SAW dan ucapan para Salafus Sholih ra.

    Tidak mengingat mati dan hal-hal sesudah mati apakah ia tergolong ahlus sa’adah (orang yang bahagia) atau ahlus syaqowah (orang yang celaka), dan tidak memikirkannya.

    Tidak sering bergaul dengan ulama-ulama yang mengingatkannya tentang agamanya, menyadarkannya tentang kehidupan yang abadi, nikmat-nikmat Allah, janji dan ancaman-Nya.

    Jika ia tidak mendapatkan alim ulama, seharusnyalah buku-buku para alim ulama tersebut bisa sebagai pengantinya. Insya Allah tidak akan pernah dunia ini kosong dari dari para alim ulama, meskipun kerusakan jaman telah merata.

    “Senantiasa segolongan dari umatku yang berdiri teguh diatas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka siapapun yang menentangnya, hingga tiba ketentuan dari Allah SWT.”

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 27 November 2015 Permalink | Balas  

    Taqwa 

    taqwaTaqwa

    Ibnu Rajab Ra  (Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam): Orang- orang yang bertaqwa adalah orang  yang takut kepada Allah dan siksa-NYA ketika dia meninggalkan petunjuk  yang diketahui, dan mengharap rahmat-NYA ketika membenarkan wahyu yang dia turunkan.

    ‘Umar bin Abdul Aziz ra : Taqwa bukanlah hanya berpuasa pada siang hari, shalat malam dan menggabungkan kedua amalan ini.Namun taqwa adalah meninggalkan apa  yang diharamkan Allah SWT, dan menunaikan kewajiban-NYA. Barang siapa yang diberi karunia kebaikan setelahnya, itu adalah kebaikan diatas kebaikan.

    Tholq bin Habib ra : Taqwa adalah taat kepada Allah diatas cahaya-NYA (ilmu) dg mengharapkan pahala-NYA dan meninggalkan maksiat diats cahaya Allah SWT karena takut akan siksa-NYA.

    Ibnu Mas’ud ra : Taqwa adalah Allah ditaati dan tidak didurhakai, diingat dan tidak dilupakan, disyukuri (kenikmatan-NYA) dan tidak diingkari.

    Abu Hurairah ra : Beliau di tanya tentang taqwa, maka beliau menjawab:”apakah kamu pernah menginjak jalanan  yang berduri?”

    “ya..” Jawab penanya

    “lalu apa  yang kamu lakukan?”tanya Abu Hurairah

    Dia berkata : “Jika aku melihat duri maka aku menghindarinya, atau aku lewati atau aku memagarinya”.

    Abu Hurairah berkata : “Itulah taqwa.”

    ***

    Henri

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 26 November 2015 Permalink | Balas  

    Amal Puasa 

    amalan baikAmal Puasa

    Abullaits Assamarqandi (Tanbihull Ghafillin) meriwatkan dengan sanadnya dari Zaid bin Aslam berkata : Rasulullah berkata :

    Amal perbuatan itu ada lima, Amal dibalas sama, dan amal yang menentukan, dan amal sepuluh kali pahalanya, dan amal tujuh ratus kali pahalanya dan amal yang tidak diketahui pahalanya kecuali allah SWT.

    Adapun amal perbuatan yang balasannya sama, yaitu orang yang berbuat kejahatan dibalas satu, atau seseorang yang niat akan berbuat kebaikan tetapi tidak jadi berbuat, maka dicatatlah sebagai suatu kebaikan. Adapun amal yang menentukan maka orang menghadap kepada AllahSWT tidak menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu apapun pasti masuk ke syurga, dan orang yang menghadap kepada Allah SWT dengan mempersekutukan Allah Swt dengan lain-lainNYA maka masuk neraka.

    Adapun amal yang mendapat 10 X lipat, maka berbuat hasanat dicatat baginya 10 pahalanya. Adapun amal yang mendapat tujuh ratus, maka tiap amal memperjuangkan agama allah atau perbelanjaan dalam jihad Fisabilliah, adapun amal yang tidak diketahui pahalanya kecuali Allah sendiri adalah Puasa.

    Wassalam

    Henri

     
  • erva kurniawan 5:44 pm on 25 November 2015 Permalink | Balas  

    Macam-Macam Cinta 

    cintaMacam-Macam Cinta

    Diantara Para ulama Ada yang membagi cinta menjadi 2 bagian dan ada yg membaginya menjadi 4. Menurut  Asy Syech Muhammad bin Abdulwahab Al yamani bahwa cinta itu ada 4 :

    1. Cinta Ibadah, yaitu Mencntai Allah SWT dan Apa-apa yg dicintaiNYA dg dalil dan hadist sebagai berikut

    “Maka Allah aka mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-NYA” (Al Maidah 54 )

    “Dan Orang -orang beriman lebih cinta kepada Allah (Al Baqoroh : 165).

    1. Cinta Syirik, Yaitu Mencintai Allah SWT dan juga selain-NYA

    “Dan diantara manusia ada yang menjadikan selain Allah tandingan-tandingan (Bagi Allah),mereka mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah (Q.S : 2 :165 )

    1. Cinta Maksiat, Yaitu Cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yg diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yg diperintahkan-NYA. Allah SWT berfirman:

    “Dan Kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat” (Al Fajr :20)

    1. Cinta Tabiat, Yaitu seperti cinta kepada Anak, keluarga ,diri, harta dan perkara lain yg dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah SWY berfirman :

    “Ketika mereka (Saudara-saudara Yusuf AS) berkata : ‘Yusuf  dan Adiknya lebih dicintai oleh Bapak kita daripada kita,” (Yusuf :8).

    Jika Cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Apabila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut, sehingga seperti cinta kita kepada Allah SWT atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini beruba menjadi cinta syirik..

    (Dikutip dari Kitab Al Qaulul Mufid fi Addilatit Tauhid  hal 114 )

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 23 November 2015 Permalink | Balas  

    Mempertanyakan Otoritas Akal 

    akalMempertanyakan Otoritas Akal

    Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna. Dia dikaruniai sebuah media untuk mengenali segala sesuatu. Media untuk menampung sekian banyak memori yang ditangkap. Sarana untuk menguak rahasia ciptaan Tuhan di muka bumi. Sebuah kemampuan kognitif yang membedakannya dari makhluk-makhluk Tuhan yang lain; yaitu Akal.

    Begitu pentingnya akal, sampai-sampai al-Qur’an menyebutkannya dengan berulang-ulang. Berapa kali al-Qur’an menyinggung kalimat, Afalaa ta’qiluun (apakah kamu tidak berpikir?), fa’tabiruu ya ulil albab (hendaklah berpikir wahai orang-orang yang berakal!), Aku turunkan kitab pada kalian, mengenai diri kalian. Apakah kalian tidak berpikir?” (Qs. al-Anbiya’:10).

    Untuk menguak kandungan makna ayat-ayat “misterius” dibutuhkan sebuah akal yang benar-benar mumpuni. Wama ya’lamu ta’wilahu illa Allah wa al-rasikhuun fi al-ilm (Qs. al-Imran:7). Kalimat al-Rasikhuun berarti orang yang mempunyai pengetahuan yang luas (intelek). Gelar ini hanya bisa diperoleh oleh orang yang berakal cerdas dan tanggap.

    Wahyu Allah atau al-Qur’an menekankan perhatiannya pada dasar-dasar agama. Al-Qur’an kemudian menyerahkan tugas untuk menerjemahkannya ke dalam bentuk perintah dan petunjuk dalam kehidupan sehari-hari kepada manusia. Dia dituntut untuk menjaga dan mengembangkan hukum yang digali sesuai dengan konteks zaman. Dengan kemampuan yang dimiliki mereka menentukan sebuah hukum dari al-Qur’an. Itulah yang kemudian menyebabkan adanya istinbat, ijtihad, dan perselisihan pendapat antar cendikiawan Islam.

    Demikian pula dalam sebuah hadits, “Berpikir sekejap saja lebih baik dari pada ibadah selama 70 tahun”. Dengan akal akan dapat menguak rahasia ciptaan Allah. Dengan demikian dampak positifnya adalah bagi keimanan. Tak heran jika kemudian para intelektual Islam mengatakan bahwa akal tidak bisa dipisahkan dari Islam. Pada akhirnya mereka mengklaim Islam sebagai agama yang selalu menggunakan akal. Al-Islam diin al-‘aql.

    Di sisi lain, dalam sebuah literatur keislaman disebutkan bahwa Sayyidina ‘Ali r.a pernah bersabda “Bila akal menjadi pijakan agama, maka bagian bawah sepatu (Khuf) lebih pantas untuk dibasuh, daripada bagian atasnya” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Hadits ini diperkuat dengan statemen Imam al-Syafi’i tentang dekadensi umat Islam “Manusia tidak akan bodoh dan tidak akan berbeda pendapat kecuali ketika manusia meninggalkan lisan Arab (Islam, al-Qur’an atau wahyu) dan cenderung pada lisan Aristoteles (filsafat)”.

    Dalam redaksi di atas Imam Syafi’i memberi gambaran mengenai konsekuensi dari dua buah ajaran. Ajaran pertama lebih cenderung untuk membawa manusia pada sebuah solidaritas keagamaan yang cukup kuat; al-Qur’an yang memakai bahasa Arab. Ajaran kedua adalah ajaran yang cenderung berselisih pendapat antara satu dengan yang lain, filsafat.

    Sejarah mencatat bahwa perbedaan pendapat dalam filsafat telah menjadi tradisi. Aristoteles membantah dan menghujat Plato, gurunya sendiri. Ibnu Sina tidak sepakat dengan Aristoteles dan demikian seterusnya (lihat: Tahafut al-Falasifah, Abu Hamid al-Ghazali).

     

    Penyebab utama dari terjadinya selisih pendapat tersebut adalah karena ukuran (mizan al-fikri) yang dipakai ilmu filsafat adalah akal, sedangkan kemampuan akal per-indivudu manusia berbeda dalam menangkap dan menginterpretasi sebuah konteks sebab berbedanya kecerdasan dan ketajamannya (lihat: al-Islam wa al-Aql, Abd. Halim Mahmud).

    Maka dalam banyak ritual Islam seperti sujud, wudlu’, mandi besar dan kewajiban shalat akal seseorang tidak mampu untuk merasionalkannya: ada batas-batas tertentu yang tidak bisa dijangkaunya; ada banyak tempat yang tidak bisa dijamah oleh kemampuan kognitif seseorang.

    Di samping kadangkala akal tidak bisa memuaskan hasrat seseorang. Al-Ghazali justru terjebak dalam kebingungan setelah dia memasuki dunia filsafat. Pengembaraan rohani yang dialami al-Ghazali mencapai titik klimaksnya setelah beliau tahu inkonsistensi akal. Beliau menggambarkannya dalam kitab Munqidz min al-Dhalal: jika kita melihat benda dari jauh, maka akal mengatakan itu “A”. Setelah benda itu semakin dekat, akal akan menyuruh kita mengatakan itu “B”. Setelah benda itu ada di depan mata akal akan mengatakan bahwa itu “C” -dan keputusan terakhir itu belum tentu benar. Dari sinilah kemudian beliau meninggalkan dunia filsafat.

    Di sini sekilas ada paradoksal doktrin yang mendasar: makalah Imam ‘Ali r.a mentiadakan peran akal sama sekali dalam agama. Akal tidak memiliki peran. Padahal banyak ayat yang menganjurkan untuk memakai akal dalam menentukan hukum syara’.

    Di manakah sebetulnya posisi akal dalam Islam? Sebetulnya, jika kita telaah dengan lebih cermat dan mendalam antara agama dan akal tidak bertentangan. Bahkan justru saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Agama (al-Qur’an) tidak akan bisa dipaham tanpa bantuan akal yang cerdas (Qs. Al-Imran ayat 7). Akal tidak akan mencapai tingkatan tertinggi tanpa agama. Keduanya bagaikan prosesor dan layar monitor yang tidak bisa dipisahkan. Hanya saja, peran agama-sebagai prosesor-lebih penting dan berarti dalam menentukan langkah-langkah yang akan diambil. Artinya, ketika akal dan agama berseberangan, yang diprioritaskan adalah agama. Agama akan selalu menuntun kita pada kebenaran sejati dari Allah. Sedangkan akal terkadang justru menyeret kita pada bahaya kesesatan yang terselubung.

    Konklusinya, agama menuntun akal seseorang dalam semua aspek kehidupan yang bila ditinggalkan akan menyesatkan dan tidak pernah sampai pada kebenaran sejati. Semua aspek itu meliputi: satu, keyakinan dan akidah agama (teologi). Kedua, hukum-hukum agama (syari’at) dan ketiga Prinsip-prinsip moral dan etika (norma sosial). Selain ketiga daerah di atas, akal lebih mendominasi. Seperti untuk menjawab pelbagai permasalahan cosmos (alam, planet dan lain sebagainya) (lihat: al-Islam wa al-Aql : 27).

    Akal juga sangat dibutuhkan untuk menguak rahasia kekuasaan Allah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang seharusnya disertai dengan keimanan dan ketakwaan yang tinggi kepada Allah. Al-Qur’an sangat menganjurkan umat Islam untuk mempelajari ilmu-ilmu kauniyah (tentang alam, geografi dsb.) untuk kemajuan dan mengembalikan supremasi Islam yang hilang, seperti pada masa al-Faraby, al-Jabary, Ibnu Hamdun, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Al-Ghazaly dan tokoh lain di abad pertengahan. Terobosan fenomenal mereka memberikan catatan dengan tinta emas pada sejarah Islam.

    Dus, jika demikian, pantaslah kiranya kalau Islam kita sebut sebagai agama rasional; rasional dengan daerah kekuasaan yang ada di bawah doktrin syariat. Al-Din qa’id li al-aql. Tidak seperti praktek yang dilakukan oleh orang-orang Liberalis yang memposisikan akal sebagai qa’id (penuntun) bagi agama.

    Walluhu a’lam bis-shawab,

    ***

    Arland

     
  • erva kurniawan 5:30 pm on 22 November 2015 Permalink | Balas  

    Darah dan Kehormatan Umat Islam 

    taubat 3Darah dan Kehormatan Umat Islam

    Di hari akhir nanti, ada pihak-pihak yang akan merugi dan menyesal. Mereka adalah orang-orang yang selalu berusaha berbuat kerusakan di muka bumi. Menghidupkan kebencian dan kedengkian di kalangan manusia. Senang dengan kehancuran, pengrusakan, kekejian di kalangan mukminin. Tidak hanya itu, bahkan mereka senantiasa mengidamkan hilangnya nikmat orang lain, benci bila orang lain merasakan kesenangan dan kebahagiaan. Semua aktivitas tersebut lengkap pula dengan perilaku mereka yang suka menyakiti orang lain, baik dengan perkataan, perbuatan , atau bahkan sampai kepada pembunuhan jiwa manusia.

    Padahal kita mengetahui bahwa para hamba adalah tanggungan Allah. Terlebih lagi kaum muslimin dan orang beriman merekalah kekasih Allah sesuai dengan tingkat keimanan mereka. Ketika kaum mukminin disakiti berarti mereka menyakiti Allah dan rasulNya. Allah janjikan kepada mereka.

    ” Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan RasulNya, Allah akan melaknatinya di dunia dan akhirat dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan” (al Ahzaab 57)

    Perbuatan jelek mereka terhadap kaum muslimin berbuah keburukan dan kehinaan. Memikul dosa yang besar dan berat dengan sebab tindakan menyakitkan yang diperbuat kepada manusia. Tak heran apabila manusia menyingkir dari kekejian dan keburukan mereka. Inilah yang disinyalir oleh rasul kita alaihi ash sholatu wassalam

    ‘Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat ialah orang yang dipisahkan oleh manusia, atau ditinggalkan oleh manusia karena takut terhadap perbuatan kejinya” (hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

    Hal-hal yang termasuk kejelekan terhadap mukminin adalah menghinakan dan merendahkan kehormatan kaum mukminin. Banyak contoh untuk hal ini, diantaranya adalah membeberkan kekurangan orang beriman di muka umum, menfitnah mereka, atau memperlakukan mereka seperti hewan yang tak ada harganya. Ini semua adalah trik dan makar dari syetan yang menghasut manusia untuk mengumbar kata, berburuk sangka dan mencelakakan manusia.

    Kehormatan dan darah kaum mukminin sangat mahal di sisi Allah, tak layak bagi seorang pun menumpahkannya tanpa hak. Sungguh barang siapa yang membunuh satu jiwa di kalangan muslimin seakan-akan dia telah membunuh manusia secara keseluruhan. Dan barang siapa yang menghidupkannya seakan telah menghidupkan seluruh manusia. Mari kita jaga serta bela darah dan kehormatan kaum muslimin.

    ***

    Arland

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 6 November 2015