Updates from Desember, 2014 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:25 am on 31 December 2014 Permalink | Balas  

    Malam-Tahun-BaruHakikat Pergantian Tahun Baru

    K.H. Rahmat ‘Abdullah (Ketua Yayasan IQRO Bekasi)

    Jika kita merenungi peristiwa pergantian tahun dan perhitungan waktu, terdapat perbedaan sangat mencolok antara manusia dan makhluk lainnya. Dengan akal yang Allah berikan mereka menghitung pergerakan benda-benda angkasa yang tertib dan pasti. Dengan naluri ingin tahu yang Allah tanamkan, mereka menjelajah tanpa lelah. Kepastian gerak dan ketertiban pola edar tata surya mengilhami mereka untuk dapat membuat catatan waktu, sejarah, dan peristiwa. Muncullah kalender atau almanak (Arab: almanakh, almunakh, artinya musim, iklim, cuaca). Ada kronometer, dari jam pasir, jam bayang-bayang sampai jam quartz dan kinetik.

    Kemudian sesuatu berubah. Mereka membanggakan catatan prasejarah yang mereka bikin-bikin sampai zaman kini. Orang berbangga dengan apa yang mereka sebut pertambahan umur dalam ulang tahun, walaupun sebenarnya yang terjadi adalah perkurangan umur. Secara umum orang merayakan tahun baru Masehi, 1 Januari-sebuah kebiasaan kaum Nasrani yang di abad-abad lalu menjajah negeri-negeri Muslim. Bahkan secara resmi juga presiden mengumumkan pergantian tahun (orang Jayakarta (Jakarta) menyebutnya Tahun Baru Blande).

    Bagi seorang Muslim yang baik, bukan pergantian tahun itu yang penting, tetapi pergantian malam dan siang. Allah menjadikannya sebagai tanda kekuasaannya. Merenunginya berarti memenuhi sebagian sifat ulil albab dan hamba yang bersyukur (QS. 3;190-191/25;62). “Ia yang menjadikan malam dan siang silih berganti, bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur”.

    Dulu orang membanggakan kaum sufi sebagai ‘putra harinya’. Sudah seharusnya tiap orang menjadi putra harinya, bahkan putra jamnya, menit, dan detiknya. Artinya ia selalu mengaktualisasi dirinya bukan pada musim-musim tahunan atau momentum-momentum, tetapi pada setiap saat dalam kehidupannya serta menjalaninya dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab.

    Terkadang kita sukar memahami gaya hidup orang lain, sebagaimana mereka pun susah memahami gaya hidup kita. Kita tidak mengerti mengapa mereka memakai busana minim, yang dalam sejarahnya adalah busana perempuan nakal. Mereka pergi ke pesta-pesta pekanan atau ulang tahun dengan wangian kelas mahal dan mobil mewah tanpa merasa minder bahwa semua itu pinjaman dari ortu. Bagaimana kalau itu hasil KKN? Siapa sih yang nyuruh tiup lilin? Kalau tidak, bagaimana akibatnya? Mengapa harus pergi berpasang-pasangan? Mengapa itu disebut modern? Apakah dengan pesta liar yang dianggap modern itu mereka langsung bisa bikin satelit, komputer, robot, dan memecahkan masalah-masalah iptek?

    Evaluasi diri tahun yang lalu Konon, di antara bahan ‘penyesalan’ orang-orang saleh di hari kiamat adalah adanya waktu kosong dalam kehidupan mereka. Tentu saja, mereka tidak mengisinya dengan maksiat. Namun, melihat betapa keberuntungan besar yang disediakan bagi mereka yang memanfaatkan seluruh hidup untuk kepentingan ibadah, jelas ‘penyesalan’ itu menjadi wajar.

    Bagaimana Rasulullah SAW. memanfaatkan waktunya secara efisien? Bayangkan, sepanjang sembilan tahun di Madinah, kaum Quraisy melancarkan tak kurang dari 62 kali gempuran besar dan kecil. 27 ghazwah, pertempuran menghadapi mereka yang dipimpinnya langsung. 35 kali sariyah, yang dipimpin para kader sahabat. Artinya, bila ada kata jeda mungkin hanya satu sampai satu setengah bulan. Banyak hadis sahih menginformasikan Rasulullah masih sempat berlomba jalan dengan istrinya. Ada saatnya beliau merangkak dengan anak-anak bermain ceria dipunggungnya. Ada saatnya beliau bercengkerama dengan rakyat jelata. Ini di luar aktivitas memimpin persidangan politik, persidangan kasus-kasus rumah tangga, kriminal, perdata, menyiapkan para calon hakim, diplomat, guru, ulama, tentara, ahli syura, dll.

    Banyak orang hidup dengan usia panjang, kadang seratus tahun. Namun, biografinya ditulis cukup dalam tiga baris: “Bapak Fulan, lahir tanggal sekian, wafat tanggal sekian”. Terukir apik di batu nisan. Sebaliknya Rasulullah SAW dengan usia 63 tahun qamariyah, sampai sekarang kajian tentang beliau masih terus berlanjut, dari berbagai aspek kehidupan dan kepemimpinannya.

    Kenyataan ini menuntut kita untuk mengaudit diri setiap hari: bagaimana caranya agar modal usia yang sudah dijatah tidak terjadi defisit, bahkan sebaliknya, dan keuntungan besar yang selalu diperoleh. Ini memang sulit, karena hal yang sering kali dihindari adalah menghitung diri sendiri. Memang getir rasanya melihat kesalahan-kesalahan diri, tetapi semua ini harus dilakukan. Dan camkanlah dalam hati untuk satu hal ini: bahwa dalam pesta ulang tahun atau dalam perhitungan usia, ada pengelabuan setan. Sesungguhnya bukan umur yang bertambah, melainkan jumlah yang sudah dilewati. Jatah sisanya semakin berkurang.

    Menyikapi hedonisme remaja masa kini Salah jika menganggap remaja saja yang doyan hura-hura. Semua dimulai dari biangnya: bapak dan ibu. Kondisi semacam ini tampaknya sudah terkonsep, dari sikap keseharian sampai cara penyambutan tahun baru, semua mencerminkan dangkalnya nilai-nilai akidah sebagian besar umat.

    Semua ini memang telah didesain dengan rapi. Dengarlah khotbah sanjungan dan ucapan terima kasih atas nama gereja yang disampaikan oleh pendeta Dr. Zwemmer di bukit Zaitun tahun 1935. Ia menekankan hal yang lebih penting daripada menyebarkan Bibel, yaitu memunculkan generasi umat Islam yang:

    1. tak mengenal Islam
    2. tidak bangga dengan Islam
    3. terputus dengan sejarah dan keagungan masa lalu pendahulu mereka
    4. hidup santai, hura-hura, serba boleh
    5. kalau tidak pindah agama, juga tidak bermutu dalam Islam
    6. lemah dan akhirnya mudah dikuasai dan didikte

    Hal yang sama bisa kita lihat dalam dokumen Protokolat Hukama’ Yahudi yang berisi sejumlah rencana busuk mereka terhadap umat Islam.

    Menjadi remaja seutuhnya Tidak adil menyalahkan remaja secara keseluruhan. Mereka hanyalah produk yang lahir dan tumbuh dalam suatu iklim. Generasi yang lemah, manja dan punya ketergantungan tinggi, lahir dan dibesarkan dalam gelimang utang luar negeri yang mencekik leher, mengundang korupsi dan menjerat umat pada jaring-jaring rentenir mancanegara. Sejarah telah membuktikan bahwa lingkungan dan keluarga adalah tempat terbaik pulangnya remaja mengadukan keluh dan mencari jawaban bagi persoalan-persoalannya.

    Remaja yang bertanggung jawab akan sangat prihatin melihat angka empat juta dalam kasus narkoba. Ia akan menjaga dengan sungguh-sungguh dirinya dan rekan-rekannya untuk tidak menambah jumlah itu. Ia tahu di bahunya dipercayakan nasib umat dan bangsa ini. Ia sadar memegang amanah kepercayaan, harapan, biaya pendidikan dan tunjangan orang tuanya. Ia memilih pahit daripada berkhianat kepada akidahnya. Di era kebangkitan ia harus punya target mengenal Islam secara benar, ikut dakwah secara proporsional, dan berprestasi sebagaimana layaknya seorang remaja. Target-target setahun ke depan Mungkin sangat klise untuk mengatakan: tampil ke depan meraih sukses. Coba duduklah dengan tenang, bayangkan ratusan ribu kader dari kelompok pemikiran yang tidak punya komitmen dengan Islam dan dakwah Islam, bahkan tidak dengan kepentingan bangsanya. Dengan terjun bebas atau dengan beasiswa, mereka berhasil mereguk ilmu sepuas-puasnya dan menduduki posisi-posisi kunci di negeri ini. Kepada siapa tanah air ini akan diserahkan? Sukses tidak selalu ditandai dengan NEM tinggi, karena remaja mungkin berprofesi sebagai pelajar atau putus sekolah karena sebab-sebab tertentu. Intinya kemandirian dan kesiapan menghadapi hari esok.

    Bila duduk di kelas tertinggi, konsentrasinya pada sukses belajar. Itu cukup sebagai bahasa fakta bagi dakwah yang cerdas dan memberdayakan, agar tidak ada lagi orang berceloteh tentang aktivis yang selalu gagal dalam studi. Bila berada di kelas pertama atau kedua, harus dirancang agar menghasilkan kontribusi yang jelas, terencana, dan terproyeksi

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 30 December 2014 Permalink | Balas  

    wanita bertaubatIstimewanya Wanita Islam

    Kaum feminis bilang susah jadi Wanita Islam, lihat saja peraturan dibawah ini :

    1. Wanita auratnya lebih susah dijaga berbanding lelaki.
    2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
    3. Wanita saksinya kurang berbanding lelaki.
    4. Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki.
    5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
    6. Wanita wajib taat kpada suaminya tetapi suami tak perlu taat pada isterinya.
    7. talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
    8. Wanita kurang dlm beribadat karena masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.

    Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya)??

    Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan?

    Itulah bandingannya dengan seorang wanita. Wanita perlu taat kepada suami tetapi lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya.

    Bukankah ibu adalah seorang wanita?

    Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, manakala lelaki menerima pusaka perlu menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.

    Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan matinya jika karena melahirkan adalah syahid.

    Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita ini: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.

    Manakala seorang wanita pula, tanggungjawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki ini: Suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

    Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui mana mana pintu Syurga yang disukainya cukup dengan 4 syarat saja : Sembahyang 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat suaminya dan menjaga kehormatannya.

    Seorang lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH akan turut menerima pahala seperti pahala orang pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

    Masya ALLAH .. demikian sayangnya ALLAH pada wanita .. kan?

    Jazakumullah Khoiron Khatsiro..

    ***

    Kiriman Sahabat: Indra Subni

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 29 December 2014 Permalink | Balas  

    tidurEtika Tidur dan Bangun

    1. Berintrospeksi diri (muhasabah) sesaat sebelum tidur.

    Sangat dianjurkan sekali bagi setiap muslim bermuhasabah (berintrospeksi diri) sesaat sebelum tidur, mengevaluasi segala perbuatan yang telah ia lakukan di siang hari. Lalu jika ia dapatkan perbuatannya baik maka hendaknya memuji kepada Allah SWT dan jika sebaliknya maka hendaknya segera memohon ampunan-Nya, kembali dan bertobat kepada-Nya.

    1. Tidur dini, berdasarkan hadits yang bersumber dari `Aisyah “Bahwasanya Rasulullah tidur pada awal malam dan bangun pada pengujung malam, lalu beliau melakukan shalat”.(Muttafaq `alaih)
    2. Disunnatkan berwudhu’ sebelum tidur, dan berbaring miring sebelah kanan.

    Al-Bara’ bin `Azib menuturkan : Rasulullah bersabda:”Apabila kamu akan tidur, maka berwudlu’lah sebagaimana wudlu’ untuk shalat, kemudian berbaringlah dengan miring ke sebelah kanan..” Dan tidak mengapa berbalik ke sebelah kiri nantinya.

    1. Disunnatkan pula mengibaskan sperei tiga kali sebelum berbaring, berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Apabila seorang dari kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengirapkan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya..” Di dalam satu riwayat dikatakan: “tiga kali”. (Muttafaq `alaih).
    2. Makruh tidur tengkurap.

    Abu Dzar menuturkan :”Nabi pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang berbaring tengkurap. Maka Nabi membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda : “Wahai Junaidab (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adalah cara berbaringnya penghuni neraka”. (H.R. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

    1. Makruh tidur di atas dak terbuka, karena di dalam hadits yang bersumber dari `Ali bin Syaiban disebutkan bahwasanya Nabi telah bersabda: “Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya”. (HR. Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, dan dinilai shahih oleh Al-Albani).
    2. Menutup pintu, jendela dan memadamkan api dan lampu sebelum tidur.

    Dari Jabir diriwayatkan bahwa sesung-guhnya Rasulullah r telah bersabda: “Padamkanlah lampu di malam hari apa bila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman”. (Muttafaq’alaih).

    1. Membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah, Surah Al-Ikhlas dan Al-Mu`awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas), karena banyak hadits-hadits shahih yang menganjurkan hal tersebut.
    2. Membaca do`a-do`a dan dzikir yang keterangannya shahih dari Rasulullah ,

    seperti : Allaahumma qinii yauma tab’atsu ‘ibaadaka “Ya Allah, peliharalah aku dari adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali segenap hamba-hamba-Mu”. Dibaca tiga kali.(HR. Abu Dawud dan di hasankan oleh Al Albani)

    Dan membaca: Bismika Allahumma Amuutu Wa ahya ” Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.” (HR. Al Bukhari)

    1. Apabila di saat tidur merasa kaget atau gelisah atau merasa ketakutan, maka disunnatkan (dianjurkan) berdo`a dengan do`a berikut ini : ” A’uudzu bikalimaatillaahit taammati min ghadhabihi Wa syarri ‘ibaadihi, wa min hamazaatisy syayaathiini wa an yahdhuruuna.”

    Aku berlindung dengan Kalimatullah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya, dari gangguan syetan dan kehadiran mereka kepadaku”. (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al Albani)

    1. Hendaknya apabila bangun tidur membaca : “Alhamdu Lillahilladzii Ahyaanaa ba’da maa Amaatanaa wa ilaihinnusyuuru” “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan-Nya, dan kepada-Nya lah kami dikembalikan.” (HR. Al-Bukhari)

    ***

    ” Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari ” Penerbit : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan Judul Asli : Adabu Al-Muslimi fi Al-Yaumi wa Al-Lailati Penulis : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Penerjemah : Musthofa ‘Aini, Lc

    Kirimah Sahabat: Abah Naufal.

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 28 December 2014 Permalink | Balas  

    tafakurTafakur “Fitnah”

    Ada banyak cara menjadi dewasa. Kadang begitu mudah, semudah membaca buku dan menemukan kearifan di tiap lembar halaman. Bahkan ada yang lebih mudah, seperti bercermin pada setiap kejadian yang terjadi pada orang lain.

    Tapi tak jarang, kita harus menempuh jalan yang begitu berat untuk menjadi dewasa dan sadar. Kita harus melewati sungai fitnah yang berarus jeram. Membelah rimba cobaan dengan kerja dan sabar. Bahkan kita harus penuh luka sebelum akhirnya memetik hikmah dan menjadi dewasa.

    Ada yang berhasil, tapi banyak pula yang gugur di tengah jalan. Orang- orang yang berhasil menjadi lebih arif sikapnya. Lebih dalam kemampuannya. Lebih luas pemahamannya. Dan lebih terbuka menerima segala. Sedangkan mereka yang gagal, telah menjadi gusar, bahkan gusar mereka melebihi sebelum fitnah datang. Sumbu emosi mereka lebih pendek dan mudah terbakar. Mereka telah gagal melanjutkan perjalanan menuju kearifan dan kedewasaan.

    Sesungguhnya, perjalanan masih sangatlah panjang. Tapi mana mungkin ditempuh dalam keadaan papah. Tak mungkin perjalanan diselesaikan tanpa kemampuan menangkap hikmah, menyerap ilmu, apalagi berjalan tanpa ma’rifat kepada-Nya. Hati yang gentar pada fitnah, benak yang gusar pada fitnah, akal yang buntu karena fitnah, akan membuat kaki kita terantuk-antuk batu dalam setiap langkah. Lalu kita akan menyerah sebelum perjalanan usai dan purna.

    Fitnah selalu ada. Semakin tinggi tingkat kearifan, maka semakin besar pula fitnah menghantam. Selayaknya fitnah harus kita jadikan ukuran. Jika waktu lalu, cobaan yang datang untuk kita selesaikan sama dengan cobaan yang kita hadapi sekarang, sungguh tak ada peningkatan apapun yang kita dapatkan.

    Ketakutan memang sering menggalikan liang kubur untuk akal sehat yang kita perlukan. Rasa gentar pun sering mengabarkan jalan semu yang menyesatkan. Jangan lari ketika fitnah datang. Jangan pula berpaling ketika cobaan menghadang. Lewati saja. Tembus saja. Sejatinya, fitnah dan cobaan adalah pintu-pintu menuju kedewasaan.

    Selama kita berpegang teguh pada tali Allah, sungguh, tak ada yang perlu ditakutkan. Sepanjang kita tak berma’syiat kepada pencipta alam, tidak perlu pula takut tak gentar.

    Tapi sebaliknya, jika kita berma’syiat kepada Allah, maka semua yang kita alami adalah awal dari kehancuran. Satu-satunya penyebab paling absolut sebuah kebinasaan adalah, karena kita berma’syiat kepada Allah. Jika sudah demikian, ketakutan akan mengepungmu. Kegalauan akan menelikung setiap langkahmu. Dan perjalanan begitu berat. Tak ada jalan lain jika sudah begitu; cepat bertaubat atau tenggelam dalam sesat.

    Dari Sahabat: Herry Nurdi

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 27 December 2014 Permalink | Balas  

    wanita sholehahAurat dan Jilbab

    Arsip Fiqh

    Rasulullah bersabda: “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

    Wanita-wanita yang digambarkan Rasul dalam hadis di atas sekarang banyak sekali kita lihat. Bahkan itu sudah menjadi sesuatu yang mentradisi dan dianggap lumrah. Mereka adalah wanita-wanita yang memakai pakaian tapi telanjang. Sebab pakaian yang mereka kenakan tak dapat menutupi apa yang Allah perintahkan untuk ditutupi.

    Budaya barat adalah penyebab fenomena ini. Sebab pakaian yang “tak layak” tersebut bukanlah merupakan budaya masyarakat Islam dan tidak pula dikenal dalam tradisi masyarakat kita. Namun itu adalah hal baru yang lantas diterima tanpa dikritisi. Tidak pula itu diuji dengan pertanyaan, bolehkah ini menurut agama, atau baikkah ini bagi kita dan pertanyaan lain yang senada. Boleh jadi karena perasaan rendah diri yang akut dan silau terhadap kemajuan barat dalam beberapa hal akhirnya banyak di antara kita yang menerima budaya barat dengan mata tertutup (atau sengaja menutup mata).

    Namun di sana kita juga melihat fajar yang mulai terbit. Kesadaran untuk kembali kepada budaya kita sendiri (baca: budaya berpakaian islami) mulai tumbuh. Betapa sekarang kita banyak melihat indahnya kibaran jilbab di mana-mana. Di kampus, di sekolah, di pasar dan bahkan di terminal-terminal. Malah di beberapa negara barat (Inggris dan Jerman misalnya) muslimah-muslimah pemakai jilbab tak lagi sulit ditemukan.

    Jelasnya saat ini sudah tak ada lagi larangan untuk mengenakan busana dan pakaian yang menutup aurat. Permasalahannya, apakah jaminan kebebasan ini kemudian segera disambut oleh para muslimah kita dengan segera kembali mengenakan pakaian takwa itu atau tidak. Yang pasti alasan dilarang oleh si ini dan si itu kini tak berlaku lagi.

    Aurat Wanita Dan Hukum Menutupnya

    Aurat wanita yang tak boleh terlihat di hadapan laki-laki lain (selain suami dan mahramnya) adalah seluruh anggota badannya kecuali wajah dan telapak tangan. Yang menjadi dasar hal ini adalah:

    1. Al-Qur’an surat Annur:

    “Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkkan khumur (Ind: jilbab)nya ke dadanya…’”

    Keterangan :

    Ayat ini menegaskan empat hal:

    1. Perintah untuk menahan pandangan dari yang diharamkan oleh Allah.
    2. Perintah untuk menjaga kemaluan dari perbuatan yang haram.
    3. Larangan untuk menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak. Para ulama mengatakan bahwa ayat ini juga menunjukkan akan haramnya menampakkan anggota badan tempat perhiasan tersebut. Sebab jika perhiasannya saja dilarang untuk ditampakkan apalagi tempat perhiasan itu berada. Sekarang marilah kita perhatikan penafsiran para sahabat dan ulama terhadap kata “…kecuali yang biasa nampak…” dalam ayat tersebut. Menurut Ibnu Umar RA. yang biasa nampak adalah wajah dan telapak tangan. Begitu pula menurut ‘Atho,’ Imam Auzai dan Ibnu Abbas RA. Hanya saja beliau (Ibnu Abbas) menambahkan cincin dalam golongan ini. Ibnu Mas’ud RA. mengatakan maksud kata tersebut adalah pakaian dan jilbab. Said bin Jubair RA. mengatakan maksudnya adalah pakaian dan wajah. Dari penafsiran para sahabat dan para ulama ini jelaslah bahwa yang boleh tampak dari tubuh seorang wanita adalah wajah dan kedua telapak tangan. Selebihnya hanyalah pakaian luarnya saja.
    4. Perintah untuk menutupkan khumur ke dada. Khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang berarti kain penutup kepala. Atau dalam bahasa kita disebut jilbab. Ini menunjukkan bahwa kepala dan dada adalah juga termasuk aurat yang harus ditutup. Berarti tidak cukup hanya dengan menutupkan jilbab pada kepala saja dan ujungnya diikatkan ke belakang. Tapi ujung jilbab tersebut harus dibiarkan terjuntai menutupi dada.
    5. Hadis riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah dengan pakaian yang tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata: “Hai Asma, seseungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini,” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR. Abu Daud dan Baihaqi).

    Keterangan :

    Hadis ini menunjukkan dua hal:

    1. Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan.
    2. Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat.

    Dari kedua dalil di atas jelaslah batasan aurat bagi wanita, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan. Dari dalil tersebut pula kita memahami bahwa menutup aurat adalah wajib. Berarti jika dilaksanakan akan menghasilkan pahala dan jika tidak dilakukan maka akan menuai dosa. Kewajiban menutup aurat ini tidak hanya berlaku pada saat solat saja namun juga pada semua tempat yang memungkinkan ada laki-laki lain bisa melihatnya.

    Selain kedua dalil di atas masih ada dalil-dalil lain yang menegaskan akan kewajiban menutup aurat ini:

    1. Dari Al-Qur’an:
    2. “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu melakukan tabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyyah dahulu” (Qs. Al-Ahzab: 33).

    Keterangan:

    Tabarruj adalah perilaku mengumbar aurat atau tidak menutup bagian tubuh yang wajib untuk ditutup. Fenomena mengumbar aurat ini adalah merupakan perilaku jahiliyyah. Bahkan diriwayatkan bahwa ritual haji pada zaman jahiliyyah mengharuskan seseorang thawaf mengelilingi ka’bah dalam keadaan bugil tanpa memandang apakah itu lelaki atau perempuan.

    Konteks ayat di atas adalah ditujukan untuk istri-istri Rasulullah. Namun keumuman ayat ini mencakup seluruh wanita muslimah. Kaidah ilmu ushul fiqh mengatakan: “Yang dijadikan pedoman adalah keumuman lafadz sebuah dalil dan bukan kekhususan sebab munculnya dalil tersebut (al ibratu bi umumil lafdzi la bikhususis sabab).

    1. “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Ahzab: 59).

    Keterangan:

    Jilbab dalam bahasa Arab berarti pakaian yang menutupi seluruh tubuh (pakaian kurung), bukan berarti jilbab dalam bahasa kita (lihat arti kata khimar di atas). Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa menutup seluruh tubuh adalah kewajiban setiap mukminah dan merupakan tanda keimanan mereka.

    1. Hadis Rasulullah, bahwasanya beliau bersabda:

    “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

    Keterangan:

    Hadis ini menjelaskan tentang ancaman bagi wanita-wanita yang membuka dan memamerkan auratnya. Yaitu siksaan api neraka. Ini menunjukkan bahwa pamer aurat dan “buka-bukaan” adalah dosa besar. Sebab perbuatan-perbuatan yang dilaknat oleh Allah atau Rasul-Nya dan yang diancam dengan sangsi duniawi (qishas, rajam, potong tangan dll) atau azab neraka adalah dosa besar.

    Syarat Pakaian Penutup Aurat Wanita

    Pada dasarnya seluruh bahan, model dan bentuk pakaian boleh dipakai, asalkan memenuhi syarat-syarat berikut

    1. Menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
    2. Tidak tipis dan tidak transparan
    3. Longgar dan tidak memperlihatkan lekuk-lekuk dan bentuk tubuh (tidak ketat)
    4. Bukan pakaian laki-laki atau menyerupai pakaian laki-laki.
    5. Tidak berwarna dan bermotif terlalu menyolok.Sebab pakaian yang menyolok akan mengundang perhatian laki-laki. Dengan alasan ini pula maka membunyikan (menggemerincingkan) perhiasan yang dipakai tidak diperbolehkan walaupun itu tersembunyi di balik pakaian.

    Wallahu a’lam bi ashshowab

    (Ulil Amin).

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 25 December 2014 Permalink | Balas  

    ujian aAlahMenyikapi Ujian Allah SWT

    “Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah : 155)

    Ketika manusia sedang diuji Allah SWT, seringkali ia merasa seolah-olah ujian yang diterimanya adalah yang paling berat. Tidak ada yang lebih berat cobaannya selain yang terjadi pada dirinya. Untuk menghilangkan persepsi semacam itu, ketika Allah memberikan ujian kepada orang-orang mukmin, Allah SWT melafadzkan bisyai’in yang artinya sedikit. Ini dimaksudkan agar bagaimanapun besarnya ujian Allah yang diberikan kepada orang-orang beriman, masih lebih kecil bila dibandingkan dengan adzab Allah kepada orang kafir di dunia atau akhirat.

    Allah bukannya tidak mampu memberi pahala kepada orang yang beriman tanpa mengujinya? Tentu saja mampu. Tetapi mengapa harus ada ujian berupa ketakutan, kelaparan dan sebagainya? Maksud ujian yang Allah berikan adalah untuk mengetahui mana dari hambaNya yang layak untuk berdakwah dan berjihad di jalan Allah dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ketika kita mendapat hidayah dari Allah dengan menjadi seorang da’i, itu pada dasarnya adalah penghargaan dari Allah. Dengan menganggapnya sebagai penghargaan, kita tidak mudah merasakan kelelahan, pusing dan jauh dari segala keluh kesah. Memang dalam perjalanan dakwah ada rintangan dan ujian, tetapi itulah seninya berdakwah.

    Ujian yang diberikan Allah kepada para hambaNya di muka bumi ini dibagi dalam empat katagori, yaitu :

    1. Ujian merupakan realitas kemanusiaan.

    Setiap manusia pasti di uji. Kita sebagai manusia jangan sampai takut diuji, karena ujian itu pasti kita alami.

    1. Ujian merupakan realitas keimanan.

    Kalau seorang manusia biasa saja pasti diuji oleh Allah, apalagi sebagai seorang mukmin. Pada dasarnya harus ada ujian untuk mengetahui kebenaran keimanan seorang mukmin. Kadang-kadang ada orang yang merasakan keimananya sudah benar lantaran hidupnya mulus-mulus saja tanpa pernah mengalami ujian. Orang seperti ini seharusnya justru bertanya tentang kebenaran imannya, kok hidupnya santai dan mulus-mulus saja. Hal ini karena Allah menyatakan “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi ? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta ” (QS Al-Ankabut : 2-3).

    1. Ujian merupakan realitas dakwah.

    Sebenarnya secara otomatis seorang mukmin adalah seorang da’i. Jadi kalau seorang mukmin saja pasti diuji, apalagi seorang dai yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga memikirkan umat.

    1. Ujian merupakan standarisasi keimanan.

    ini artinya semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, akan semakin tinggi ujiannya, semaikin tinggi ujian Allah dan lulus, maka semakin tinggi pula keimannya.

    Berbahagialah orang yang sering mendapatkan cobaan/ujian dari Allah SWT karena dengan hal itu peluang untuk meningkatkan derajat keimanannya akan semakin besar. Mudah-mudahan segala ujian yang kita terima mampu dilewati dengan sabar dan tawakal, tanpa keluh kesah, sehingga mengantarkan kita menjadi orang yang meraih kemenangan.

    ***

    (Diambil dari uraian Dr. Ahzami Sami’un Jazuli, kiriman sdr. Andria)

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 19 December 2014 Permalink | Balas  

    sabar (1)Termasuk Iman Kepada Allah: Sabar Atas Segala Takdirnya

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Firman Allah Ta’ala (artinya):

    “Tiada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun: 11)

    ‘Alqamah (‘Alqamah bin Qais bin ‘Abdullah bin Malik An-Nakha’i. Salah seorang tokoh dari ulama tabi’in. Dilahirkan pada masa hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Meninggal th. 62 H / 681M) menafsirkan iman yang tersebut dalam ayat ini dengan mengatakan:

    “Yaitu: orang ketika ditimpa musibah ia meyakini bahwa itu semua dari Allah, maka ia pun ridha dan pasrah (atas takdir-Nya).”

    Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Ada dua perkara masih dilakukan orang, padahal kedua-duanya adalah kufur, yaitu: mencela keturunan dan meratapi orang mati.”

    Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu:

    “Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah.”

    Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya maka Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia; sedang apabila Allah menghendaki keburukan pada seorang hamba-Nya maka Dia menangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya nanti di hari Kiamat.” (HR At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Sungguh, besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan; dan sungguh, Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum, diuji-Nya mereka dengan cobaan. Untuk itu, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Allah, sedang barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan dari Allah.” (Hadits hasan, menurut At-Tirmidzi)

    Kandungan tulisan ini:

    1. Tafsiran ayat dalam surah At-Taghabun. Ayat ini menunjukkan keutamaan sabar atas segala takdir Allah yang pahit, seperti musibah; dan menunjukkan pula bahwa amal termasuk dalam pengertian iman.
    2. Sabar terhadap segala cobaan termasuk iman kepada Allah.
    3. Disebutkan hukum tentang perbuatan mencela keturunan.
    4. Ancaman keras terhadap orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah (karena meratapi orang mati).
    5. Tanda apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya.
    6. Tanda apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya.
    7. Tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya.
    8. Dilarang bersikap marah dan tidak sabar atas cobaan yang diujikan Allah.
    9. Pahala bagi orang yang ridha atas cobaannya.

    ***

    Kiriman: Ayah Raihan

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

    Sumber : http://www.assunnah.or.id

     
  • erva kurniawan 2:53 am on 18 December 2014 Permalink | Balas  

    sabarTermasuk Iman Kepada Allah: Sabar Atas Segala Takdirnya

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Firman Allah Ta’ala (artinya):

    “Tiada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun: 11)

    ‘Alqamah (‘Alqamah bin Qais bin ‘Abdullah bin Malik An-Nakha’i. Salah seorang tokoh dari ulama tabi’in. Dilahirkan pada masa hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Meninggal th. 62 H / 681M) menafsirkan iman yang tersebut dalam ayat ini dengan mengatakan:

    “Yaitu: orang ketika ditimpa musibah ia meyakini bahwa itu semua dari Allah, maka ia pun ridha dan pasrah (atas takdir-Nya).”

    Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Ada dua perkara masih dilakukan orang, padahal kedua-duanya adalah kufur, yaitu: mencela keturunan dan meratapi orang mati.”

    Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu:

    “Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah.”

    Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya maka Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia; sedang apabila Allah menghendaki keburukan pada seorang hamba-Nya maka Dia menangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya nanti di hari Kiamat.” (HR At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Sungguh, besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan; dan sungguh, Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum, diuji-Nya mereka dengan cobaan. Untuk itu, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Allah, sedang barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan dari Allah.” (Hadits hasan, menurut At-Tirmidzi)

    Kandungan tulisan ini:

    1. Tafsiran ayat dalam surah At-Taghabun. Ayat ini menunjukkan keutamaan sabar atas segala takdir Allah yang pahit, seperti musibah; dan menunjukkan pula bahwa amal termasuk dalam pengertian iman.
    2. Sabar terhadap segala cobaan termasuk iman kepada Allah.
    3. Disebutkan hukum tentang perbuatan mencela keturunan.
    4. Ancaman keras terhadap orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah (karena meratapi orang mati).
    5. Tanda apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya.
    6. Tanda apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya.
    7. Tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya.
    8. Dilarang bersikap marah dan tidak sabar atas cobaan yang diujikan Allah.
    9. Pahala bagi orang yang ridha atas cobaannya.

    ***

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

    Sumber : assunnah.or.id

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 16 December 2014 Permalink | Balas  

    palestine-flagYahudi dan Ramalan Rasulullah

    Bila mengingatkan kata Yahudi, orang sering menyamakan stigma omong kosong seperti stigma “PKI” oleh pejabat Orde Baru. Peristiwa di Palestina, agresi di Iraq, dan mungkin, akan menunggu giliran lagi beberapa negeri muslim lainnya, adalah fakta nyatanya. Ramalan Rosulullah di bawah ini patut anda renungkan kembali

    Oleh Sholeh Hasyim*

    “Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang Yahudi bersembunyi dibalik batu dan pohon, lalu batu dan pohon berkata : Hai muslim ! Hai hamba Allah ! Ini Yahudi dibelakangku, kemarilah aku, bunuhlah dia ! Kecuali pohon ghorqod, maka itu adalah dari pohon-pohon orang Yahudi.” (HR. Muslim VII/188, Bukhari IV/51, Lu’lu’ wa al-Marjan III/308)

    Fenomena pertentangan antara ummat Islam dan Yahudi di Palestina semakin meningkat. Berbagai tindakan kekerasan terhadap ummat Islam tak kunjung berakhir, sekalipun bangsa-bangsa di dunia telah mengutuknya.

    Pengakuan Yahudi atas Yerusalem, ternyata menimbulkan kesalahpahaman ummat Islam dalam menyikapi Yahudi, dengan membandingan Yahudi jaman dahulu dan sekarang. Mereka menyamakan Yahudi dahulu yang beriman kepada Musa `Alaihis salaam (as) dengan Yahudi sekarang. Penyamaan sikap ini berakibat buruk baik dalam aspek aqidah maupun amal.

    Ada beberapa hal penting seperti dijelaskan dalam syariat dan sejarah; pertama, sesungguhnya Bani Israil yang mengimani ajaran Musa As berbeda dengan Yahudi sekarang. Yahudi dahulu terdiri dari kaum Muslim, dan Mukmin. Sedangkan sekarang terdiri dari kaum kafir, musyrik, dan penentang ajaran Musa yang telah keluar dari syariatnya. Bani Israil adalah keturunan Ya’qub Alaihissalam.

    Ibrahim pernah berwasiat kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. Ibrahim berkata: “Hai anak-ankakku, Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (al-Baqarah: 132). Yusuf as juga menegaskan hal yang sama,”Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah.” (Yusuf : 38)

    Ini sama dengan pesan Allah tentang orang-orang Yahudi yang mengimani ajaran Musa As. “Dan Kami jadikan di antara mereka (Bani Israil) itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami (QS. Sajdah : 24) Ayat lain mengatakan, “Dan sungguh telah Kami pilih mereka dengan pengetahuan (kami) atas bangsa-bangsa.” (ad-Dukhan: 32)

    Adapun orang-orang Yahudi yang keluar dari ajaran Musa, secara otomatis mereka telah jatuh pada kemusyrikan. Mereka yang musyrik itu seperti disebut dalam ayat-ayat berikut ini: Orang-orang Yahudi berkata, tangan Allah terbelenggu, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang mereka katakan itu (al-Maidah: 64), mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah (at-Taubah: 31). Orang- orang Yahudi berkata : Uzair itu putera Allah (at-Taubah: 30).

    Jadi, Yahudi sekarang tidak ada kaitannya dengan Yahudi yang beriman kepada Musa As. Adapun klaim mereka terhadap bumi Palestina, itu merupakan pengembangan dari kekufuran mereka terhadap Musa As. dan nabi-nabi sesudahnya. Mereka telah keluar dari tauhid dan syariat Musa As.

    Kedua : Kebanyakan Yahudi sekarang bukan berasal dari Bani Israil. Orang-orang Yahudi yang merampas wilayah Palestina sekarang, bukan berasal dari keturunan yang dulu pernah bersama-sama hidup dengan Musa as. Sekarang, Yahudi keturunan Israil, yang dikenal dengan sebutan Safaradim, tidak lebih dari 20% jumlahnya di dunia. Komunitas inipun percampuran dari berbagai etnis lain karena pernikahan dll. Sebagian kecil dari jumlah di atas, bukanlah asli keturunan Bani Israil. Adapun mayoritas kaum Yahudi di dunia yang mencapai 80%, itu berasal dari Eropa, dan berbagai negara di dunia. Mereka dikenal dengan sebutan al-Asykanazim, dimana mereka memasuki ajaran Yahudi yang sarat dengan paganisme.

    Bukti sejarah di atas menjadi jelas bahwa kaum Yahudi sekarang adalah penjajah. Mereka tidak berhak atas kepemilikan bumi Palestina, karena telah keluar dari ajaran Musa As yang benar dan mengubah-ubah kitab Taurat. Palestina adalah bumi kaum muslimin, tidak berhak bagi bangsa lain untuk memilikinya. Sesungguhnya, Palestina bukanlah milik Bani Israil, tetapi milik kaum Jabbariyin yang hidup sebelum Bani Israil. Allah mengizinkan kepada Bani Israil untuk memasuki wilayah Palestina, jika mereka masih komitmen terhadap ajaran yang benar. Jika tidak, secara otomatis izin tinggal dari Allah di Baitul Makdis telah dicabut.

    Ketiga: Sesungguhnya sifat dasar Yahudi yang diabadikan dalam al- Quran dari masa ke masa adalah pengkhianat, penakut, provokator, pemicu permusuhan, penipu, sombong dll. Sikap itu terlihat ketika mereka menyakiti Musa as. dan keluar dari ajaran Taurat. Itulah sikap dasar yang tertanam secara turun temurun. Sehingga sifat-sifat tercela mereka sebagai bagian dari agama mereka yang selalu rentan dengan perubahan. Mereka tanamkan ajaran berbahaya itu kepada anak cucu mereka dan kepada orang yang masuk agama mereka. Hanya sebagian kecil saja dari mereka yang masih memiliki komitmen terhadap Musa As ( al-Maidah: 59dan 62). Di antara mereka ada golongan pertengahan (al- Maidah: 66).

    Kehancuran Yahudi

    Hadits di atas mengajarkan kepada kita untuk merancang masa depan, sekalipun masa depan itu sesuatu yang ghaib. Dan yang bisa mengetahui hal-hal ghaib, hanyalah Allah. (QS. an-Naml: 65). Tetapi Allah mempunyai sunnatullah yang berlaku pada diri manusia. Ungkapan hadits di atas menjelaskan, peperangan yang akan terjadi bukanlah peperangan lokal antara orang Yahudi dan Muslim Palestina. Tetapi awal peperangan terhadap Yahudi yang sekarang mendominasi dunia. Apabila terjadi pertarungan global dan ummat Islam memperoleh kemenangan sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah saw, maka akan mengubah sejarah para penguasa Yahudi di dunia. Bila terjadi kekalahan, maka tidak ada lagi satu kekuasaanpun yang tertinggal untuk orang Yahudi di dunia. Ketika itu kepemimpinan dunia akan berubah dengan konsep lain yang sesuai dengan fitrah manusia.

    Jahiliyah modern sudah lama menyimpan berbagai penyakit karena mengingkari Allah dan akhirat. Dimana-mana terjadi penganiayaan, permusuhan, dekadensi moral, peperangan yang menghancurkan. Berbagai isme yang lain telah gagal dalam mengantarkan manusia modern menuju pintu gerbang kebahagiaan. Kini, manusia telah dijangkiti penyakit jiwa yang sangat akut. Mereka kehilangan harapan, kecewa, selalu dibayangi ketakutan dll. Mereka menunggu terwujudnya pandangan hidup yang bisa mencerdaskan akal, mencerahkan hati dan memperbaiki akhlaq mereka.

    Akan terjadi Nubuwwah padamu sesuai dengan kehendak Allah. Lalu Allah akan mengangkat (melenyapkan-Nya) jika Dia menghendakinya. Setelah itu, akan muncul khilafah yang sesuai dengan manhaj nubuwah. Maka sesuai dengan kehendak Allah, ia akan berada, lalu Allah akan melenyapkan jika Ia menghendaki. Kemudian akan datang raja yang zhalim. Maka iapun akan bercokol sesuai dengan kehendak-Nya. Kemudian akan ada raja yang tirani, maka iapun muncul sesuai dengan kehendak Allah, kemudian ia lenyap, jika Allah menghendaki. Baru setelah itu akan timbul kembali khilafah di atas manhaj nubuwah (HR. Ahmad dari Hdzaifah al-Yaman).

    Berbeda dengan sebagian orang Muslim, orang-orang Yahudi yakin dengan prediksi Rasulullah itu. Sampai hari ini, mereka memperbanyak menanam pohon ghorqod di kebun-kebun mereka. Mereka mengambil pengalaman dari berbagai peperangan dengan kaum muslimin pada masa Rasulullah ataupun masa intifadhah akhir-akhir ini. Pengalaman itu membuat Yahudi berusaha menghadang lajunya gerakan Islam di dunia. Harap tahu saja, simbol Yahudi internasional yang berbentuk seperti garpu, itu sesungguhnya simbol pohon ghorqod.

    Yang menjadi catatan, apakah peperangan di bumi Baitul Maqdis merupakan cikal bakal peperangan global Yahudi melawan Islam? Apalagi Yahudi dari berbagai belahan dunia telah berkumpul di satu tempat, sehingga mudah dihancurkan. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui kapan terjadinya peperangan yang menentukan nasib terakhir kaum Yahudi itu.

    Yang terpenting bagi ummat Islam sekarang adalah melakukan i’dad dan berjihad melawan Yahudi. Nash syariah dan bukti sejarah menunjukkan, perang melawan kekufuran akan senantiasa berlanjut. (QS. al-Baqarah 120 dan 109, Ali-Imran: 118). Sehingga Allah akan menolong ummat Islam, bila mereka memenuhi persyaratan untuk ditolong. Kita hanya bisa berdoa dan bekerja keras dalam menegakkan syariat di bumi. Keputusan terakhir kita serahkan kepada Allah. `Alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.• (Penulis, kontributor Suara Hidayatullah, Kudus, Jawa Tengah)

    ***

    Diambil dari Majalah Suara Hidayatullah, Edisi Khusus Milad Ke-14 Mei 2002

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 15 December 2014 Permalink | Balas  

    doaTermasuk Syirik: Istighatsah Atau Doa Kepada Selain Allah

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Firman Allah Ta’ala (artinya):

    “Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu; jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian, adalah termasuk orang-orang yang zhalim (musyrik).” (Yunus: 106)

    “Dan jika Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia; sedang jika Allah menghendaki untukmu sesuatu kebaikan, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya, Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hambaNya. Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yunus: 107)

    “Sesungguhnya mereka yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu, maka mintalah rezeki itu kepada Allah dan sembahlah Dia (saja) serta bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kamu sekalian dikembalikan.” (Al-Ankabut: 17)

    “Dan tiada yang lebih sesat daripada orang yang memohon kepada sembahan-sembahan selain Allah, yang tiada dapat memperkenankan permohonannya sampai hari Kiamat dan sembahan-sembahan itu lalai dari (memperhatikan) permohonan mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan mereka.” (Al-Ahqaf: 5-6)

    “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan di saat ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan, dan yang menjadikan kamu sekalian menjadi khalifah di bumi? Adakah sembahan (yang haq) selain Allah? Amat sedikitlah kamu mengingat(Nya).” (An-Naml: 62)

    Ath-Thabarani, dengan menyebutkan sanadnya, meriwayatkan bahwa: “Pernah terjadi pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada seorang munafik yang selalu menyakiti orang-orang mukmin, maka berkatalah salah seorang diantara mereka: “Marilah kita bersama-sama ber-istighatsah kepada Rasulullah supaya dihindarkan dari tindakan buruk orang munafik ini.” Ketika itu, bersabdalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya tidak boleh ber-istighatsah kepadaku, tetapi istighatsah itu seharusnya hanya kepada Allah saja.”

    Kandungan tulisan ini:

    1. Istighatsah pengertiannya lebih khusus daripada doa. Istighatsah ialah meminta pertolongan ketika dalam keadaan sulit supaya dibebaskan dari kesulitan itu.
    2. Tafsiran ayat pertama. Ayat pertama menunjukkan bahwa dilarang memohon kepada selain Allah karena selain-Nya tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula dapat mendatangkan bahaya kepada seseorang.
    3. Memohon kepada selain Allah adalah syirik akbar.
    4. Bahwa orang paling shaleh sekalipun, kalau dia melakukan perbuatan ini untuk mengambil hati orang lain, maka ia temasuk golongan orang yang zhalim (musyrik).
    5. Tafsiran ayat kedua. Ayat kedua menunjukkan bahwa Allah-lah yang berhak dengan segala ibadah yang dilakukan manusia, seperti doa, istighatsah dan sebagainya. Karena hanya Allah Yang Maha Kuasa, jika Dia menimpakan suatu bahaya kepada seseorang, maka tiada yang dapat menghilangkannya selain Dia sendiri, dan jika Dia menghendaki untuk seseorang suatu kebaikan, maka tiada yang dapat menolak karunia-Nya. Tiada seorangpun yang mampu menghalangi kehendak-Nya.
    6. Memohon kepada selain Allah tidak mendatangkan manfaat duniawi, disamping perbuatan itu sendiri perbuatan kafir.
    7. Tafsiran ayat ketiga. Ayat ketiga menunjukkan bahwa hanya Allah yang berhak dengan ibadah dan rasa syukur kita, dan hanya kepada-Nya seharusnya kita meminta rezeki, karena selain Allah tidak mampu memberikan rezeki.
    8. Sebagaimana surga tidak dapat diminta kecuali dari Allah, demikian halnya dengan rezeki tidak patut diminta kecuali dari-Nya.
    9. Tafsiran ayat keempat. Ayat keempat menunjukkan bahwa doa (permohonan) adalah ibadah, karena itu barangsiapa menyelewengkannya kepada selain Allah, maka dia adalah musyrik.
    10. Tiada yang lebih sesat daripada orang yang memohon kepada sesembahan selain Allah.
    11. Sesembahan selain Allah itu tidak merasa dan tidak tahu bahwa ada orang yang memohon kepadanya.
    12. Permohonan itulah yang menyebabkan sesembahan selain Allah membenci dan memusuhi orang yang memohon kepadanya (pada hari Kiamat).
    13. Permohonan ini disebut sebagai ibadah kepada sesembahan selain Allah.
    14. Dan sesembahan selain Allah itu nanti pada hari Kiamat akan mengingkari ibadah yang mereka lakukan.
    15. Permohonan inilah yang menyebabkannya menjadi orang paling sesat.
    16. Tafsiran ayat kelima. Ayat kelima menunjukkan bahwa istighatsah kepada selain Allah -karena tiada yang kuasa kecuali Dia- adalah bathil dan termasuk syirik.
    17. Hal yang mengherankan, bahwa para pemuja berhala itu mengakui bahwa tiada yang dapat memperkenankan permohonan orang yang berada dalam kesulitan selain Allah. Untuk itu, ketika mereka berada dalam keadaan sulit dan terjepit, mereka memohon kepada-Nya dengan ikhlas dan memurnikan ketaatan untuk-Nya.
    18. Hadits di atas menunjukkan tindakan preventif yang dilakukan Rasulullah Al-Musthofa, shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk melindungi benteng tauhid, dan sikap ta’addub (sopan santun) beliau kepada Allah.

    ***

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

    Sumber : assunnah.or.id

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 14 December 2014 Permalink | Balas  

    IstighfarDari Syari’at Hingga Hakikat

    Istighfar, yang berarti mohon ampunan kepada Allah SWT, merupakan tradisi ritual Islam yang sangat fundamental. Sebab dalam Istighfar itu mengandung beberapa elemen ruhani, sebagaimana banyak dikutip oleh al-Qur’an maupun Sunnah Rasulullah SAW. Masalahnya, mengapa Allah dan Rasul-Nya sangat menganjurkan agar hamba-hamba Allah terus menerus beristighfar dan bershalawat? Apa hubungannya dengan kehidupan sehari-hari, dan keselamatan kehidupan dunia akhirat? Di mana posisi Istighfar, baik secara psikologis maupun secara elementer dalam kosmik ruhani (sufistik) hamba Allah? Inilah yang akan kita kaji bersama sebagai refleksi setiap kita menggerakkan bibir kita dan mendetakkan jantung hati kita.

    Sejumlah ayat tentang Istighfar atau pertobatan sangat banyak dikutip al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, misalnya:

    “Mereka apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, segera ingat akan Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya (QS. 3:135).

    “Maka barangsiapa memuji Tuhanmu, dan memohon ampunan kepada-Nya, sungguh Dia Maha penerima Taubat. (QS. 110:3)

    “..dan orang-orang yang memohon ampun sebelum fajar.(QS. 3:17).

    “Maha Suci Engkau Wahai Allah, Tuhanku! Dan dengan segala puji bagi-Mu ya Allah Tuhanku, ampunilah aku! Sesungguhnya Engkau Maha Menerima Taubat, lagi Maha Pengasih.” (HR. al-Hakim).

    “Barang siapa memperbanyak istighfar, maka akan diberi kelapangan dalam setiap kesusahan dan jalan keluar dari kesempitan. Dan dianugerahi rezeki dari jalan yang tiada disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).

    “Sungguh hatiku didera kerinduan yang sangat dalam, sehingga aku beristighfar seratus kali setiap hari.” (HR. Muslim).

    “Meski dosa-dosamu sebanyak buih lautan, sebanyak butir pasir di padang pasir, sebanyak daun di seluruh pepohonan, atau seluruh bialangan jagad semesta, Allah SWT tetap akan selalu mengampuni, bila engkau mengucapkan doa sebanyak tiga kali sebelum engkau tidur: Astaghfirullahal ‘Adzim al-Ladzii Laailaaha Illa Huwal Hayyul Qayyuumu wa Atuubu Ilaih. (Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup dan Memelihara (kehidupan), dan aku bertobat kepada-Nya).” (HR. at-Tirmidzi).

    Makna Terdalam

    Masih puluhan ayat dan hadits yang membincangkan keutamaan Istighfar. Dalam ucapan yang sering diwiridkan oleh beliau, antara lain: “Aku Mohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung”

    Ucapan istighfar ini saja mengandung beberapa makna yang dalam:

    Pertama, hamba yang beritighfar mengakui eksistensi kehambaannya di hadapan Allah SWT. Sebab hakikat hamba adalah sosok tak berdaya dan tak berupaya, sekaligus gerak-gerik hamba yang muncul dari hamba itu sendiri tanpa penyertaan Allah, berarti adalah ucapan dan tindakan yang salah dan penuh kealpaan.

    Kedua, hamba yang beritighfar berarti mengakui tajallinya Allah dalam Asma’ Keagungan-Nya. Karena Pengampunan Allah itu sendiri merupakan manifestasi dari Kemahaagungan Allah SWT. Musyahadah hamba kepada Asma’ Keagungan-Nya, merupakan prestasi paling elementer dalam memandang, siapa sebenarnya dan apa hakikat hamba Allah itu sendiri.

    Ketiga, Istighfar berarti kefanaan hamba Allah, lebur dalam eksistensi Keagungan Allah Ta’ala. Orang yang tidak pernah beristighfar tidak pernah mampu memasuki peleburan Ilahiah, yang disebut sebagai maqam fana’ dalam tasawuf. Dan Istighfar menghantar “kesirnaan” hamba, sampai pada totalitas yang hakiki, hingga mencapai tahap al-baqa’. Yaitu Penyaksian Keabadian Ilahi dalam Keagungan-Nya. Dengan kata lain, Istighfar berarti kefanaan sifat-sifat tercela hamba, kesirnaan dosa-dosa hamba, kehancuran nafsu-nafsu buruk hamba, menuju kebaqaan sifat-sifat terpuji, menuju nafsu-nafsu muthmainnah, radhiyah dan mardhiyah, hingga nafsu ma’rifah.

    Keempat, Istighfar berarti memupus sifat-sifat ego hamba. Sebab sehebat apa pun prestasi hamba di bidang materi maupun ruhani, tidak bisa mengklaim bahwa prestasi itu semata sebagai hasil usaha hamba. Sebab tanpa anugerah Allah, usaha mencapai puncak prestasi itu tidak akan pernah terwujud. Karena itu pengakuan total bahwa, nafsu egois itu sebagai pihak yang berperan dalam segala usahanya adalah suatu tindakan dosa.

    Kelima, Istighfar merupakan tindakan yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Mahabbatullah tidak pernah terjadi manakala hamba tidak beristighfar setiap saat. Oleh sebab itu, hamba yang beristighfar menumbuhkan rindu dendam kepada Allah, karena memang cinta-Nya Allah turun kepada hamba-Nya yang beristighfar. Sebagaimana dalam al-Qur’an ditegaskan, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang menyucikan diri.”

    Keenam, orang yang beristighfar sangat dicintai oleh Nabi SAW, sebab Istighfar adalah tradisi kecintaan Nabi SAW. Istighfar berkait erat dengan “proses penyucian diri”, karenanya Istighfar adalah prasyarat bagi “Tazkiyatun Nafsi”.

    Ketujuh, Istighfar memiliki maqamat dalam kualifikasi ruhani hamba Allah. Maqam pertama, seseorang beristighfar dari segala tindakan dosanya yang dilakukan. Maqam kedua, seseorang beristighfar dari segala kealpaannya sehingga ia tidak lagi melakukan dzikrullah. Maqam ketiga, seseorang beristighfar dari segala hal selain Allah yang memasuki ruang jiwanya.

    Kedelapan, Istighfar melahirkan perdamaian kemanusiaan, karena dalam Istighfar pun ada macam Istighfar yang bersifat sosial kemanusiaan, yaitu memohonkan ampunan kepada sesama hamba Allah.

    Istighfar Individu dan Sosial

    Dalam ritualitas vertikal, seorang hamba tidak hanya meraup kebahagiaan di hadapan Allah, tanpa ia menyertakan sesama umat beriman. Justru kualitas keimanan seseorang sangat berkait erat dengan kepedulian ruhaninya terhadap orang lain. Keteladanan Rasulullah SAW, ketika saat Yaumul Mahsyar memberikan cermin kepada umatnya, bahwa kulitas ruhani Rasulullah SAW, yang melebihi para Nabi dan Rasul, terpantul pada pembelaannya akan nasib umat di hadapan Allah. Suatu sikap yang tidak dimiliki oleh para pemimpin dan para Nabi/Rasul. Sebab ketika para hamba Allah meminta syafa’at kepada para Nabi, mulai Nabi Adam as, hingga Isa al-Masih as, ternyata mereka enggan, disebabkan mereka tidak berdaya, terutama memikirkan nasibnya sendiri-sendiri. Berbeda dengan Nabi Muhammad SAW, yang justru tidak memikirkan nasib dirinya di hadapan Allah, malah yang terucap hanya kalimat: “Umatii”umatii..umatii”” (umatku”duh, umatku”umatku”).

    Justru pembelaan Nabi Muhammad SAW itulah yang memberikan kewenangan padanya, syafa’at besar yang bisa menyelamatkan umat dari siksa Allah SAW. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan agar dalam permohonan ampunan, juga menyertakan permohonan ampunan untuk sesama umat. Misalnya, Istighfar yang berbunyi:

    Astaghfurullahal ‘adzim, lii waliwaalidayya, walijami’il huquuqi waajibati ‘alayya, walijami’il muslimin wal-muslimaat wal-mu’minin wal mu’minaat al-ahyaa’I minhum wal-amwaat.

    (Aku mohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, bagiku dan bagi kedua orang tuaku, dan bagi seluruh orang yang menjadi tanggungan kewajibanku, dan bagi umat muslimin dan muslimat, dan kaum mu’minin dan mu’minat).

    Dari nilai Istighfar di atas memberikan perspektif luar biasa bagi integrasi dan dinamika sosial secara damai. Hubungan-hubungan sosial akan berlaku dengan penuh kesejatian hati ke hati, karena hubungan yang bersifat emosional negatif dinetralisir oleh istighfar sosial di atas.

    Makanya, kualitas Istighfar bukan saja ditentukan hubungan yang sangat pribadi dengan Allah, tetapi juga sejauhmana seorang hamba menghayati Istighfar sosialnya.

    Di Balik Shalawat Nabi SAW

    Apa hubungan Istighfar dengan Shalawat Nabi SAW? Mengapa dalam praktik sufi, senantiasa ada dzikir Istighfar dan Shalawat Nabi dalam setiap wirid-wiridnya?

    Hubungan Istighfar dan Shalawat, ibarat dua keping mata uang. Sebab orang yang bershalawat, mengakui dirinya sebagai hamba yang lebur dalam wahana Sunnah Nabi. Leburnya kehambaan itulah yang identik dengan kefanaan hamba ketika beristighfar.

    Shalawat Nabi, merupakan syari’at sekaligus mengandung hakikat. Disebut syari’at karena Allah SWT, memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman, agar memohonkan Shalawat dan Salam kepada Nabi. Dalam Firman-Nya:

    “Sesungguhnya Allah dan para MalaikatNya senantiasa bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang beriman bershalawatlah kepada Nabi dan mohonkan salam baginya. (QS. 33: 56)

    Beberapa hadits di bawah ini sangat mendukung firman Allah Ta’ala tersebut :

    1. Suatu hari Rasulullah SAW, datang dengan wajah tampak berseri-seri, dan bersabda: “Malaikat Jibril datang kepadaku sambil berkata, “Sangat menyenangkan untuk engkau ketahui wahai Muhammad, bahwa untuk satu shalawat dari seseorang umatmu akan kuimbangi dengan sepuluh doa baginya.” Dan sepuluh salam bagiku akan kubalas dengan sepuluh salam baginya.” (HR. an-Nasa’i)
    2. Sabda Rasulullah SAW: “Kalau orang bershalawat kepadaku, maka malaikat juga akan mendoakan keselamatan yang sama baginya, untuk itu hendaknya dilakukan, meski sedikit atau banyak.” (HR. Ibnu Majah dan Thabrani)
    3. Sabda Nabi SAW, “Manusia yang paling utama bagiku adalah yang paling banyak shalawatnya.” (HR. at-Tirmidzi)
    4. Sabdanya, “Paling bakhilnya manusia, ketika ia mendengar namaku disebut, ia tidak mengucapkan shalawat bagiku.” (HR. at-Tirmidzi). “Perbanyaklah shalawat bagiku di hari Jum’at” (HR. Abu Dawud).
    5. Sabdanya, “Sesungguhnya di bumi ada malaikat yang berkeliling dengan tujuan menyampaikan shalawat umatku kepadaku.” (HR. an-Nasa’i)
    6. Sabdanya, “Tak seorang pun yang bershalawat kepadaku, melainkan Allah mengembalikan ke ruhku, sehingga aku menjawab salam ” (HR. Abu Dawud).

    Tentu, tidak sederhana, menyelami keagungan Shalawat Nabi. Karena setiap kata dan huruf dalam shalawat yang kita ucapkan mengandung atmosfir ruhani yang sangat dahsyat. Kedahsyatan itu, tentu, karena posisi Nabi Muhammad SAW, sebagai hamba Allah, Nabiyullah, Rasulullah, Kekasih Allah dan Cahaya Allah. Dan semesta raya ini diciptakan dari Nur Muhammad, sehingga setiap detak huruf dalam Shalawat pasti mengandung elemen metafisik yang luar biasa.

    Mengapa kita musti membaca Shalawat dan Salam kepada Nabi, sedangkan Nabi adalah manusia paripurna, sudah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu maupun yang akan datang? Beberapa alasan berikut ini sangat mendukung perintah Allah SWT :

    1. Nabi Muhammad SAW adalah sentral semesta fisik dan metafisik, karena itu seluruh elemen lahir dan batin makhluk ini merupakan refleksi dari cahayanya yang agung. Bershalawat dan bersalam yang berarti mendoakan beliau, adalah bentuk lain dari proses kita menuju jati diri kehambaan yang hakiki di hadapan Allah, melalui “titik pusat gravitasi” ruhani, yaitu Muhammad Rasulullah SAW.
    2. Nabi Muhammad SAW, adalah manusia paripurna. Segala doa dan upaya untuk mencintainya, berarti kembali kepada orang yang mendoakan, tanpa reserve. Ibarat gelas yang sudah penuh air, jika kita tuangkan air pada gelas tersebut, pasti tumpah. Tumpahan itulah kembali pada diri kita, tumpahan Rahmat dan Anugerah-Nya melalui gelas piala Kekasih-Nya, Muhammad SAW.
    3. Shalawat Nabi mengandung syafa’at dunia dan akhirat. Semata karena filosofi Kecintaan Ilahi kepada Kekasih-Nya itu, meruntuhkan Amarah-Nya. Sebagaimana dalam hadits Qudsi, “Sesungguhnya Rahmat-Ku, mengalahkan Amarah-Ku.” Siksaan Allah tidak akan turun pada ahli Shalawat Nabi, karena kandungan kebajikannya yang begitu par-exellent.
    4. Shalawat Nabi, menjadi tawashul bagi perjalanan ruhani umat Islam. Getaran bibir dan detak jantung akan senantiasa membubung ke alam Samawat (alam ruhani), ketika nama Muhammad SAW disebutnya. Karena itu, mereka yang hendak menuju kepada Allah (wushul), peran Shalawat sebagai pendampingnya, karena keparipurnaan Nabi itu menjadi jaminan bagi siapa pun yang hendak bertemu dengan Yang Maha Paripurna.
    5. Muhammad, sebagai nama dan predikat, bukan sekadar lambang dari sifat-sifat terpuji, tetapi mengandung fakta tersembunyi yang universal, yang ada dalam Jiwa Muhammad SAW. Dan dialah sentral satelit ruhani yang menghubungkan hamba-hamba Allah dengan Allah. Karena sebuah penghargaan Cinta yang agung, tidak akan memiliki nilai Cinta yang hakiki manakala, estetika di balik Cinta itu, hilang begitu saja. Estetika Cinta Ilahi, justru tercermin dalam Keagungan-Nya, dan Keagungan itu ada di balik desah doa yang disampaikan hamba-hamba-Nya buat Kekasih-Nya. Wallahu A’lam.

    Para sufi memberikan pengajaran sistematis kepada umat melalui Shalawat Nabi itu sendiri. Dan Shalawat Nabi yang berjumlah ratusan macam itu, lebih banyak justru dari ajaran Nabi sendiri. Model Shalawat yang diwiridkan para pengikut tarekat, juga memiliki sanad yang sampai kepada Nabi SAW. Oleh sebab itu, Shalawat adalah cermin Nabi Muhammad SAW yang memantul melalui jutaan bahkan milyaran hamba-hamba Allah bahkan bilyunan para malaikat-Nya.

    ***

    Mohammad Luqman Hakiem, MA

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 6 December 2014 Permalink | Balas  

    syukurSyukur

    Aku tak selalu mendapatkan apa yang kusukai, oleh karena itu aku selalu menyukai apapun yang aku dapatkan.

    Kata-kata diatas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia. Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.

    Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi.

    Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam arti yang sesungguhnya. Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ”kaya”. Orang yang “kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Seorang pengarang pernah mengatakan, ”Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur.

    Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

    Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.

    Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, “Lulu, Lulu”. Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, “Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.” Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, “Lulu, Lulu”. “Orang ini juga punya masalah dengan Lulu ?” tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, “Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu”.

    Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi. Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, “Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup ditanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga”.

    Bersyukurlah!

    Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan. Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan ?

    Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu. Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar.

    Bersyukurlah untuk masa-masa sulit. Di masa itulah kamu tumbuh.

    Bersyukurlah untuk keterbatasanmu. Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang.

    Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru. Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.

    Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat. Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga.

    Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih. Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan.

    Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik. Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut. Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif. Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu.

    “Dan, tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (QS 14:7)

    Wassalam

    ***

    Kiriman: Haris Satriawan

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 3 December 2014 Permalink | Balas  

    qadarAdakah Sesuatu yang Buruk Dalam Qadar Allah?

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Dalam qadar Allah tidak ada sesuatu yang buruk, akan tetapi keburukan itu terdapat pada yang ditakdirkan. Kita tahu bahwa ada orang yang mendapatkan musibah dan ada juga yang mendapatkan untung. Musibah merupakan sesuatu yang buruk, akan tetapi keburukan itu tidaklah perbuatan Allah Ta’ala, yakni perbuatan dan takdir Allah itu bukan merupakan keburukan. Keburukan ada pada yang diperbuat oleh-Nya, bukan pada perbuatan-Nya. Allah tidaklah mentakdirkan keburukan ini melainkan untuk sesuatu kebaikan. Allah Ta’ala berfirman :

    “Artinya : Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan ulah tangan manusia“. (Ar-Rum : 41).

    Ini merupakan penjelasan penyebab kerusakan di muka bumi. Adapun mengenai hikmahnya seperti difirmankan oleh-Nya :

    “Artinya : Supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (Ar-Rum : 41).

    Jadi, musibah ini pada akhirnya merupakan kebaikan. Dengan demikian keburukan itu tidak disandarkan kepada Tuhan, akan tetapi disandarkan sesuatu yang yang diperbuat dan kepada mahluk. Ini bisa diartikan suatu keburukan dari satu sisi dan merupakan kebaikan di sisi yang lain. Kalau dilihat bencananya yang terjadi, maka itu suatu keburukan, namun jika dilihat dari akibatnya, maka itu suatu kebaikan.

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 2 December 2014 Permalink | Balas  

    qadarApa perbedaan antara Qadha’ dan Qadhar?

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Ulama berbeda pendapat mengenai perbedaan antara keduanya. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa qadar adalah taqdir (ketetapan-ketetapan atau ketentuan) Allah sejak zaman azali, sedangkan qadha’ adalah hukum Allah mengenai sesuatu ketika sesuatu itu terjadi (alias pelaksanaan qadar-Nya -pent-). Jika Allah menetapkan terjadinya sesuatu pada waktu yang ditentukan, maka itulah yang dinamakan qadar. Dan ketika telah datang waktunya terjadinya sesuatu yang telah ditetapkan sebelumnya itu, maka itulah yang dinamakan qadha’. Semacam ini banyak sekali kita dapatkan dalam Al-Qur’an, seperti firman Allah :

    “Artinya : Telah diputuskan (dilaksanakan) perkara yang kamu berdua menanyakannya kepadaku”. (Yusuf : 41).

    Juga Allah berfirman :

    “Artinya : Dan Allah melaksanakan hukum dengan adil”. (Ghafir : 20).

    Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semisal. Jadi, qadar adalah ketentuan Allah mengenai segala sesuatu pada zaman azali, sedangkan qadha’ adalah pelaksanaan dari qadar itu pada saat terjadinya.

    Ada juga ulama yang mengatakan bahwa kedua istilah itu memiliki satu makna atau satu pengertian. Namun yang kuat adalah jika keduanya disandingkan, maka keduanya memiliki perbedaan arti seperti bisa kita lihat di atas, dan jika dipisahkan atau berdiri sendiri, maka kedua istilah itu memiliki satu makna (memiliki pengertian yang sama).

    Wallahu a’lam.

     
    • lazione budy 7:15 am on 2 Desember 2014 Permalink

      penjelasannya kurang jelas.
      menurut buku yang dulu pernah saya baca, Qada itu takdir jadi sudah ketetapan Allah yang tak bias dirubah oleh makhlukNya.
      Qadar itu nasib, sudah digariskan oleh Allah tapi manusia bias merancangnya sesuai usahanya.
      Wallahu a’lam

  • erva kurniawan 1:14 am on 1 December 2014 Permalink | Balas  

    Suara Wanita : Aurat atau Bukan ? 

    wanita sholehahSuara Wanita: Aurat atau Bukan?

    Assalamualaikum wr.wb.

    Suara adalah wahana lalu lintas kata dan makna. Melalui suaralah, kehendak, pikiran, dan lagu bisa dipahami. Lalu, bagaimana bila kata dan lagu itu disenandungkan oleh perempuan? Betulkah suara wanita itu aurat?

    Selama ini suara perempuan dianggap sebagai pengundang hawa nafsu, dan sumber godaan. Bahkan dalam riwayat hadist, yang diceritakan Abdallah ibn Umar menyebutkan, perempuan adalah aurat sehingga apapun yang berbau perempuan adalah jerat setan. Maka pertanyaan yang acap muncul adalah, bolehkah mendengar nyanyian suara wanita?

    Sebenarnya kalau ditelesuri ke belakang, pandangan yang menganggap suara perempuan sebagai aurat itu dipengaruhi oleh budaya pra Islam, yang menganggap bahwa perempuan pada dasarnya diciptakan sebagai penggoda dan juga masih terkait dengan tradisi kristiani.

    Konsep aurat dalam Islam lebih menekankan pada gejala yang bersifat fisik atau jasmani dan bukan pada suara. Jika suara perempuan itu aurat, mengapa Rasulullah SAW. mengisinkan dua budak wanita menyanyi di rumahnya? selain itu, beliau juga tidak keberatan berbicara dengan kaum wanita, sebagaimana yang terjadi ketika Beliau menerima bai’at dari kaum ibu sebelum dan sesudah hijrah. Bahkan beliau pernah mendengar nyanyian seorang wanita yang bernazar untuk memukul rebana dan menyanyi di hadapan Rasulullah SAW. Ini menunjukkan bahwa suara wanita bukan aurat.

    Oleh karena itu, mendengar suara wanita tidaklah haram sebab ia bukan aurat. Tidak ada larangan wanita untuk berbicara dengan kaum lelaki kecuali apabila suaranya itu berisi bujuk rayu dan menimbulkan gairah rendah. Hal ini telah ditegaskan dalam Al-Qur’an ; ” …maka, janganlah kamu tunduk ketika berbicara (dengan manja, merayu, dan sebagainya). (sebab), nanti akan timbul keinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya (keinginan hafsu birahinya). Dan ucapkanlah perkataan yang baik (sopan santun).” QS. Al-Ahzab : 32) Begitu pula, dengan mendengarkan lagu yang dinyanyikan oleh wanita.

    Yang tidak boleh adalah, jika si penyanyi tersebut menampilkan kecantikannya dengan membuka auratnya, misalnya menonjolkan dada, betis, paha, dan bagian aurta lainnya. Inilah yang diharamkam oleh syara’, bukan karena masalah mendengarkan nyanyian wanita itu. Muhammad Ghazali, tokoh Islam terkemuka (almarhum) mengatakan, “Tidak ditemukan seorangpun diantara para ahli fiqih yang mengatakan bahwa suara wanita adalah aurat. Dan jika ada, pendapat itu isu bohong semata,” ujarnya.

    ***

    Dari berbagai Sumber/Ayu (PARAS).

    Kiriman: Dwi Nopitasari

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 30 November 2014 Permalink | Balas  

    biji kurmaBagaimana Memahami Ayat Allah di Alam

    Dalam Alqur’an dinyatakan bahwa orang yang tidak beriman adalah mereka yang tidak menaruh kepedulian akan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah di alam semesta ciptaan-Nya. Sebaliknya, ciri menonjol pada orang yang beriman adalah kemampuan memahami tanda-tanda kekuasaan sang Pencipta. Ia mengetahui bahwa semua ini diciptakan tidak dengan sia-sia, dan ia mampu memahami kesempurnaan ciptaan Allah di segala penjuru manapun. Pemahaman ini pada akhirnya menghantarkannya pada penyerahan diri, ketundukan dan rasa takut kepada-Nya. Ia adalah termasuk golongan yang berakal, yaitu “Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 190-191).

    Di banyak ayat dalam Alqur’an, pernyataan seperti, “Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” dan “terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang berakal, ” memberikan penegasan tentang pentingnya memikirkan secara mendalam tentang tanda-tanda kekuasaan Allah. Segala sesuatu yang kita saksikan dan rasakan di langit, di bumi dan segala sesuatu di antara keduanya adalah perwujudan dari kesempurnaan penciptaan oleh Allah, dan oleh karenanya menjadi bahan yang patut untuk direnungkan. Satu ayat berikut memberikan contoh akan nikmat Allah ini: “Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. An-Nahl:11).

    Sebagaimana diketahui, pohon kurma tumbuh dari sebutir biji di dalam tanah. Berawal dari biji mungil ini, yang berukuran kurang dari satu sentimeter kubik, muncul sebuah pohon besar berukuran panjang 4-5 meter dengan berat ratusan kilogram. Satu-satunya sumber bahan baku yang dapat digunakan oleh biji ini ketika tumbuh dan berkembang membentuk wujud pohon besar ini adalah tanah tempat biji tersebut berada. Bagaimanakah sebutir biji mengetahui cara membentuk sebatang pohon? Bagaimana ia dapat berpikir untuk menguraikan dan memanfaatkan zat-zat di dalam tanah yang diperlukan untuk pembentukan kayu? Bagaimana ia dapat memperkirakan bentuk dan struktur yang diperlukan dalam membentuk pohon?

    Pertanyaan yang terakhir ini sangatlah penting, sebab pohon yang pada akhirnya muncul dari biji tersebut bukanlah sekedar kayu gelondongan. Ia adalah makhluk hidup yang kompleks yang memiliki akar untuk menyerap zat-zat dari dalam tanah. Akar ini memiliki pembuluh yang mengangkut zat-zat ini dan yang memiliki cabang-cabang yang tersusun rapi sempurna. Seorang manusia akan mengalami kesulitan hanya untuk sekedar menggambar sebatang pohon. Sebaliknya sebutir biji yang tampak sederhana ini mampu membuat wujud yang sungguh sangat kompleks hanya dengan menggunakan zat-zat yang ada di dalam tanah. Pengkajian ini menyimpulkan bahwa sebutir biji ternyata sangatlah cerdas dan pintar, bahkan lebih jenius daripada kita. Mungkinkah sebutir biji memiliki kecerdasan dan daya ingat yang luar biasa? Tak diragukan lagi, pertanyaan ini memiliki satu jawaban: biji tersebut telah diciptakan oleh Dzat yang memiliki kemampuan membuat sebatang pohon. Dengan kata lain biji tersebut telah diprogram sejak awal keberadaannya.

    Dalam sebuah ayat disebutkan: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. Al-An’aam: 59).

    Dalam ayat lain Allah menyatakan: ”Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” QS. Al-An’am: 95).

    Biji hanyalah satu dari banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang diciptakan-Nya di alam semesta. Ketika manusia mulai berpikir tidak hanya menggunakan akal, akan tetapi juga dengan hati mereka, dan kemudian bertanya pada diri mereka sendiri pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”, maka mereka akan sampai pada pemahaman bahwa seluruh alam semesta ini adalah bukti kekuasaan Allah SWT.

    ***

    (Diambil dari http://www.harunyahya.com)

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 27 November 2014 Permalink | Balas  

    ilmu-adalah-pelitaKeutamaan Ilmu

    Assalamualaikum wr. wb.

    Muadz ibn Jabal pernah mengingatkan tentang arti penting ilmu pengetahuan. Kala itu Muadz mengatakn :

    1. “Pelajarilah ilmu karena hal itu merupakan perwujudan rasa takut kepada Allah. Mencarinya adalah ibadah. Mempelajarinya adalah tasbih. Membahasnya adalah jihad.Mengajarkannya kepada orang lain adalah sedekah. Mencari kepada ahlinya adalah taqarrub.
    2. Dialah teman di kala sendirian, sahabat dalam keterasingan, petunjuk dalam beragama, penolong di kala duka, penerang jalan ke surga.
    3. Allah mengangkat derajat suatu kaum dan menjadikan mereka sebagai pemimpin, tokoh dan petunjuk yang diikuti adalah karena ilmu. Tapak jejaknya diikuti, perbuatannya diperhatikan. Malaikat senang berkawan dengan mereka dan membersihkan mereka dengan kedua sayapnya.
    4. Dengan ilmu manusia bisa mentaati Allah dengan benar. Dengan ilmu pula tali silaturrahim disambung, haq dan haram diketahui. Ilmu adalah iman, amal adalah pengikutnya. Ia dianugerahkan kepada orang orang yang berbahagia, dan diharamkan untuk mereka yang celaka. Itulah segudang dari kelebihan ilmu pengetahuan.”

    HIKMAHNYA :

    1. Sumber dari segala ilmu pengetahuan adalah Tuhan, sebagai pusat dari segala pusat, hulu dari segala hulu, sumber dari segala sumber. Dengan demikian maka secara substansial ilmu pengetahuan yang hakekatnya bersumber dari Tuhan sangat luas tak terkirakan, sangat banyak jumlahnya tak terhitungkan. Bahkan Allah telah menandaskan bahwa seandainya air laut dijadikan tinta dan daun daun dijadikan kertasnya untuk mencatat semua ilmu Allah, maka semua itu tak akan mencukupinya. Sehebat apapun ilmu yang dimiliki manusia, menurut Allah itu masih sedikit jumlahnya. (“Dan tidaklah aku memberikan ilmu kepada kalian kecuali sedikit saja”).

    Dengan menyadari hal itu, maka manusia tidak sepatutnya merasa puas diri dengan pengetahuan yang dimiliki. Manusia tak sepantasnya merasa paling hebat, paling cerdas, seolah dirinya sebagai orang terhebat sejagat.Dia tak menyadari bahwa di atas langit masih ada langit. Hanya kesadaran inilah yang akhirnya mampu mendorong orang cerdas dan pandai untuk rendah hati, tidak merasa puas diri dengan pengetahuan yang dimiliki. Kerakusan yang dibolehkan hanyalah rakus terhadap ilmu pengetahuan dan kebajikan. Ketidakpuasan yang dibolehkan atas sesuatu yang dimiliki, hanyalah tak pernah merasa puas pada ilmu yang sudah dipunyai, sehingga mendorong dia untuk terus dan terus belajar dan mengkaji.

    1. Islam malah mewajibkan umatnya untuk berprinsip long life education: belajar sepanjang hidupnya. Hal ini bukan hanya berlaku bagi pria tapi juga wanita. Menuntut ilmu diwajibkan atas tiap orang islam pria dan wanita mulai dari ayunan (sejak kecil) sampai ke liang kubur. Menuntut ilmu dalam islam tak dibatasi lokasi, bahkan silahkan saja sampai ke manca negara, termasuk negeri non islam juga.

    Pada jaman Nabi Muhammad SAW misalnya, umat islam malah disuruh mencari pengetahuan dan pengalaman sampai ke negeri Cina, yang kala itu bukan sebuah negara dan bangsa Islam tapi pengetahuan Ipteknya tinggi, untuk mencapai kemajuan. (Uthlubul ‘ilma walau bisshin: Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri cina).

    1. Ilmu pengetahuan dalam islam diibaratkan cahaya (obor,pelita) sedangkan kebodohan diidentikkan dengan kegelapan. Dapat dipahami jika berjihad dalam Islam bukan hanya berperang angkat senjata, tapi mengangkat pena alias belajar mengajar adalah sebuah jihad pula. Ilmu itu cahaya. Sebab orang yang tak tahu ilmu ibadah, ibadahnya pasti ngawur, orang yang tak tahu halal dan haram, dia akan menghalalkan yang diharamkan atau mengharamkan apa yang diharamkan Tuhan. Sebab, dia memang tak tahu, tak bisa melihat (buta, gelap) mana yang benar dan salah.
    2. Aktivitas keagamaan hanya berlandas pada semangat tanpa pemahaman pengetahuan pada esensi ajaran, implementasinya bisa ngawur bahkan dapat bertentangan dengan substansi peribadatan. Orang mau sembahyang harus tahu tata cara sembahyang, harus wudhu dan tahu cara wudhu. Semua itu perlu ilmu. Bahkan Allah mengingatkan agar jangan mengatakan dan atau melakukan sesuatu yang kita tidak tahu tentang ilmunya. (“Janganlah kamu melakukan sesuatu yang kamu tidak tahu tentang ilmunya, karena sesungguhnya pendengaranmu, penglihatanmu, dan hatimu akan dimintai pertanggung jawaban.” ).
    3. Ilmu memang menempati maqam (posisi) super penting dalam ajaran Islam terutama untuk mencapai kejayaan kehidupan di dunia maupun di akhirat. Nabi Muhammad SAW menyatakan, : ” Barangsiapa menghendaki kebahagiaan hidup di dunia dapat dicapai dengan ilmu, dan barangsiapa menghendaki keduanya (kebahagian dunia dan akhirat) dapat dicapai dengan ilmu pula. Nabi Muhammad SAW. juga mengingatkan, : “Segala sesuatu ada jalannya, dan jalan untuk menuju surga adalah ilmu. Oleh karena itu, sangat dapat dimengerti jika ALLAH memerintahkan : “Taatlah kepada Allah wahai orang-orang yang menggunakan akal, yang mempunyai ilmu pengetahuan”. Oleh karena itu pula, adalah sangat aneh jika umat islam masih banyak yang kurang pengetahuannya akan ilmu, banyak yang malas belajar, dan masih memandang sebelah mata terhadap ilmu pengetahuan.

    ***

    Sumber : Kisah dan Hikmah (Dhurorudin Mashad)

    Wassalam

    Siti Nurjannah

     
  • erva kurniawan 2:55 am on 26 November 2014 Permalink | Balas  

    hijabMenjawab Keraguan Seputar Jilbab

    Menghias perbuatan maksiat adalah pekerjaan setan. Sehingga perbuatan dosa bisa nampak indah, yang haram menjadi suram dan yang maksiat kelihatan memikat. Begitu pula dalam masalah jilbab dan busana takwa ini. Banyak syubhat dan keraguan yang bisa jadi sengaja dihembuskan untuk menghalangi para wanita muslimah memperindah penampilannya dengan busana takwa.

    Tulisan ini akan mengupas tentang beberapa hal yang menimbulkan keraguan dan kebimbangan seputar jilbab, sekaligus menjawabnya insya Allah. Hal-hal tersebut antara lain:

    Jilbab adalah budaya Arab

    Ada sementara orang yang mengatakan bahwa jilbab adalah budaya dan tradisi pakaian wanita arab pada masa awal pertumbuhan Islam. Sekarang, setelah berlalu lebih dari 14 abad, budaya dan tradisi pun berubah. Cara orang berpakaian pun sudah tak seperti dulu. Karena jilbab adalah pakaian wanita arab saat itu, maka bukan saatnya lagi untuk dikenakan saat ini. Apalagi bagi orang yang tinggal di negara-negara non arab yang tentunya mempunyai budaya dan tradisi sendiri.

    Dari sini paling tidak ada dua hal yang perlu dijawab. Pertama, benarkah jilbab adalah tradisi berpakaian wanita arab pada awal pertumbuhan Islam? Kedua, benarkah jilbab hanya khusus untuk wanita arab dan tak wajib bagi muslimah non arab untuk mengenakannya?

    Imam Hakim meriwayatkan sebuah hadis yang menggambarkan saat-saat setelah turunnya ayat perintah menutup aurat, yaitu Surat Annur ayat 31: “dan hendaklah mereka menutupkan khumur- jilbab- nya ke dada mereka….” Riwayat lain menerangkan: “Wanita-wanita (ketika turun ayat tersebut) segera mengambil kain sarung mereka, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Hakim).

    Imam Bukhari juga meriwayatkan hal senada:

    “Bahwasannya ‘Aisyah RA. Berkata: “Ketika turun ayat “dan hendaklah mereka menutupkan “khumur” -jilbab- nya ke dada mereka…” maka para wanita segera mengambil kain sarung, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Bukhari).

    Kedua hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa pada saat turunnya ayat tersebut para shohabiyyah (wanita dari kalangan sahabat) sedang tidak mengenakan “khumur” (jilbab) dan memang mereka belum biasa mengenakannya. Buktinya, saat itu mereka harus merobek kain sarung mereka untuk dialih-fungsikan menjadi jilbab. Jika mereka sudah biasa memakainya tentunya jilbab itu telah tersedia dan tak perlu lagi untuk menyulap kain sarung mereka menjadi jilbab “darurat.” Dari sini jelaslah bahwa jilbab bukanlah merupakan budaya dan tradisi wanita arab pada awal pertumbuhan Islam, tetapi suatu hal yang disyariatkan oleh Islam dan dilaksanakan oleh seluruh shohabiyyah. Hingga akhirnya pakaian tersebut mentradisi dan menjadi budaya Islam. Dengan ini, berarti pertanyaan pertama telah terjawab.

    Sedang pertanyaan kedua, yakni apakah jilbab hanya untuk orang arab saja, maka ini terjawab dengan keuniversalan Islam. Islam adalah agama yang diperuntukkan bagi seluruh manusia, melampaui batas waktu dan geografi. Allah berfirman:

    “Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Qs. Saba’:28). Karena jilbab (busana penutup aurat) adalah bagian dari syariat Islam maka ia juga diperuntukkan bagi seluruh wanita muslimah di manapun ia berada hingga hari kiamat kelak.

    Jilbab hanya wajib bagi istri-istri Rasulullah

    Orang yang mengatakan bahwa jilbab (dikenal juga dengan sebutan hijab) hanyalah wajib bagi istri-istri Rasulullah berdalil dengan ayat 33 surat Al-Ahzab. Sebab konteks ayat tersebut ditujukan kepada mereka. Karenanya larangan untuk tabarruj dan kewajiban mengenakan jilbab hanyalah wajib bagi mereka saja.

    Pernyataan ini terjawab dengan dua hal:

    1. Para ahli tafsir memberikan komentar atas ayat tersebut bahwa meninggalkan tabarruj juga diperintahkan kepada seluruh wanita mukminah. Imam Al-Jashshas berkata: “Semua hal yang tersebut dalam ayat ini adalah petunjuk-petunjuk Allah bagi istri-istri rasulullah untuk menjaga mereka, dan semua itu juga ditujukan bagi wanita-wanita mukminah.” (lihat, Ahkamu Al-Qur’an karya Al-Jashshos). Imam Ibnu Katsir berkomentar: “Ini adalah hal-hal yang diperintahkan Allah kepada istri-istri Nabi, dan seluruh wanita mukminah dalam hal ini harus mengikuti mereka.” (lihat, Tafsir Ibnu Katsir).
    2. Sebutlah misalnya bahwa, benar ayat surat Al-Ahzab: 33 tersebut khusus untuk istri-istri Rasulullah, namun ada ayat lain yang dengan jelas mengatakan bahwa kewajiban berjilbab itu diperuntukkan bagi seluruh wanita mukminah. Yaitu Firman Allah: “Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkkan khumur (Ind: jilbab) nya ke dadanya…” (Qs.Annur: 31)

    Jilbab adalah sekedar simbol

    Sementara itu ada yang mengatakan bahwa jilbab hanyalah sebuah simbol. Sedang yang penting bagi seorang muslim adalah baiknya budi pekerti dan bersihnya hati. Dari pada berjilbab tapi kelakuannya berantakan, bukankah lebih baik tidak berjilbab tapi bertingkah laku baik.

    Kelihatannya kata-kata ini baik, namun sebenarnya rancu. Sebab dalam diri seorang muslim hendaknya tertanam keyakinan bahwa apapun yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya adalah baik dan seharusnya dilakukan. Baik itu simbol atau bukan. Tidaklah hanya karena suatu hal dianggap simbol lantas kita boleh meninggalkannya. Bahkan lebih dari itu, di sana ada hal-hal yang tak bisa dilogikakan namun kita tetap wajib melakukan. Misalkan wudlu karena keluar angin. Mengapa yang harus dibasuh adalah muka, tangan, kepala dan kaki. Bukankah yang lebih pantas untuk dibasuh adalah tempat keluarnya angin tersebut. Karena alasan ini pula sayyidina Umar RA. berujar tatkala mencium hajar aswad: “Sesunguhnya aku tahu kau hanyalah sebuah batu yang tak bisa mendatangkan faedah dan tidak pula menyebabkan bahaya, namun karena aku melihat Rasulullah menciummu maka aku menciummu.”

    Sikap menerima seperti inilah yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya:

    “Tidaklah patut bagi seorang mukmin dan tidak pula bagi seorang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, kemudian ia memilih yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-Ahzab: 36).

    Maka seorang muslim seharusnya memandang bahwa berjilbab juga termasuk akhlak dan perilaku yang baik. Sebab yang baik bagi seorang muslim adalah yang baik menurut Allah dan yang buruk adalah yang buruk menurut-Nya. Karenanya, menanggapi komentar di atas seharusnya seorang muslim berkata: “Lebih baik berjilbab dan mempunyai akhlak yang baik dari pada berperilaku baik tapi tidak berjilbab.” Atau: “Sayang sekali, perilakunya baik tapi kok tidak berjilbab.”

    Siapakah Yang Memikul Tanggung Jawab Ini?

    Permasalahan jilbab ini bukanlah hanya tanggung jawab para muslimah saja. Tapi setiap muslim ikut bertanggung jawab dalam hal ini. Setiap muslim berkewajiban untuk bersama-sama menciptakan situasi yang kondusif untuk pelaksanaan syariat Allah tersebut. Seorang ayah bertanggung jawab atas istri dan anak-anak putrinya. Seorang ibu bertanggung jawab atas dirinya dan anak-anak wanitanya. Dan setiap kita bertanggung jawab atas keluarga kita. Jika kita melalaikan tanggung jawab ini, secara sadar atau tidak kita telah menjerumuskan diri kita dan orang-orang yang kita cintai dalam jurang api neraka.

    Rasulullah bersabda:

    “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim).

    Allah berfirman:

    “Wahai orang-orang yang beriman, selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kejam dan keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya dan melaksanakan apa yang diperintahkan.” (Qs. Attahrim: 6).

    Wallahu a’lam bishshowab.

    (Ahmad ulil Amin)

    Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 2:36 am on 22 November 2014 Permalink | Balas  

    sakitBersyukur Ketika Sehat, Bersabar Ketika Sakit

    Hidup seorang muslim hendaknya selalu berada pada dua hal: Hal bersyukur dan sabar. Jika ia sehat, ia bersyukur dan gunakan kesehatannya untuk melakukan pekerjaan yang bermanfaat. Sebaliknya, jika sakit, ia ikhlas dan bersabar sambil terus menerus berusaha mengobatinya, disertai dengan sikap tawakal pada Allah. Ia sadar, Allah-lah zat yang mampu menyembuhkan penyakitnya. Dalam kaitan ini Allah berfirman :

    “(Yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang memberi petunjuk. Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku. Dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali). Dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” – Asy Syu’araa'; 26: 78 -82.

    Oleh karenanya berobat termasuk salah satu perintah dalam ajaran Islam. Rasulullah bersabda : “Setiap penyakit ada obatnya, maka berobatlah kamu sekalian, tetapi jangan berobat dengan sesuatu yang diharamkan”

    Di samping itu ada hal yang perlu diingatkan, untuk tidak berobat ke dukun mistik, paranormal yang mengerti ilmu gaib.

    Dalam sebuah hadist, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa yang mendatangi dukun peramal (kahin), maka sungguh dia telah kufur kepada apa (Al Qur’an) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam”

    Rasulullah sendiri tidak mampu meramalkan yang gaib, yang akan terjadi pada dirinya. Allah berfirman :

    ” Katakanlah aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudaratan, kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak- banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” – Al-A’raaf ; 7: 188

    Penyakit itu kadang kala datang dengan tiba-tiba, sementara penyembuhannya kadangkala membutuhkan waktu lama. Tidak ada sikap yang perlu dipegang selain bersabar dan bertawakal kepada Allah SWT. Rasulullah bersabda :

    “Jauhilah olehmu segala yang diharamkan, maka pasti engkau akan menjadi orang yang paling taat beribadah. Bersikaplah ridha terhadap segala apa yang telah Allah tetapkan kepadamu.” (HR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah)

    Dalam hadist lain Rasulullah bersabda pula :

    ” Aku bangga dengan seorang muslim, jika menimpa kepadanya suatu musibah ia ikhlas dan bersabar. Jika mendapatkan kebaikan, ia memuji Allah dan bersyukur. Sesungguhnya muslim itu pada segala aktivitasnya selalu akan mendapatkan pahala dari Allah sekalipun pada sesuap nasi yang ia masukkan ke dalam mulutnya.” (HR Imam Baihaqi dari Sa’ad)

    Disamping kesabaran dan ketabahan, juga harus memiliki sikap husnu-zhan (berbaik sangka) kepada Allah SWT. Apa yang terjadi pada si sakit adalah kebaikan buat dirinya. Rasulullah bersabda :

    “Aku bangga dengan orang mukmin, sesungguhnya Allah SWT tidaklah menetapkan suatu keputusan, kecuali akan berakibat baik kepadanya.” (HR Ibnu Hibban dari Anas)

    “Aku heran dengan mukmin yang gelisah menghadapi penderitaan sakitnya. Jika ia mengetahui sesuatu (pahala) yang terdapat pada sakitnya, ia pasti akan mengharapkan sakit tersebut sehingga bertemu dengan Allah SWT.” (HR Thabrani dari Ibn Mas’ud)

    Berbaik sangka kepada Allah akan melahirkan persangkaan baik pula kepada sesama manusia. Prinsip semacam inilah yang akan melahirkan sikap saling mengerti, saling memahami, senasib sepenanggungan, saling merasakan (empati), serta suka dan duka dirasakan bersama.

    Menjenguk orang yang sakit adalah puncak dari rasa persaudaraan yang harus dimiliki dan dikembangkan oleh setiap muslim. Tiada iman tanpa ukhuwah (rasa persaudaraan) yang mendalam. Rasulullah bersabda :

    ” Engkau lihat orang-orang mukmin dalam sayang menyayanginya, saling mencintai dan saling mengerti, adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuhnya sakit, maka yang lainnya akan merasakan pula panas dan demamnya.” (HR Ahmad dari Abu Umamah).

    ***

    K.H. Didin Hafidhuddin, M.Sc.

    -Sakit Menguatkan Iman-

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 21 November 2014 Permalink | Balas  

    wanitaWanita Bagi Pahlawan

    Oleh : M. Anis Matta, Lc

    Dibalik setiap pahlawan besar selalu ada seorang wanita agung. Begitu kata pepatah Arab. Wanita agung itu biasanya satu dari dua, atau dua-duanya sekaligus; sang ibu atau sang istri.

    Pepatah itu merupakan hikmah psiko-sejarah yang menjelaskan sebagian dari latar belakang kebesaran seorang pahlawan. Bahwa karya-karya besar seorang pahlawan lahir ketika seluruh energi didalam dirinya bersinergi dengan momentum diluar dirinya; tumpah ruah bagai banjir besar yang tidak terbendung. Dan tiba-tiba sebuah sosok telah hadir dalam ruang sejarah dengan tenang dan ajek.

    Apa yang telah dijelaskan oleh hikmah psiko-sejarah itu adalah sumber energi bagi para pahlawan; wanita adalah salah satunya. Wanita bagi banyak pahlawan adalah penyangga spiritual, sandaran emosional; dari sana mereka mendapat ketenangan dan kegairahan, kenyamanan dan keberanian, keamanan dan kekuatan. Laki-laki menumpahkan energi di luar rumah, dan mengumpulkannya lagi didalam rumahnya.

    Kekuatan besar yang dimiliki para wanita yang mendampingi para pahlawan adalah kelembutan, kesetiaan, cinta dan kasih sayang. Kekuatan itu sering dilukiskan seperti dermaga tempat kita menambatkan kapal, atau pohon rindang tempat sang musafir berteduh. Tapi kekuatan emosi itu sesungguhnya merupakan padang jiwa yang luas dan nyaman, tempat kita menumpahkan sisi kepolosan dan kekanakan kita, tempat kita bermain dengan lugu dan riang, saat kita melepaskan kelemahan-kelemahan kita dengan aman, saat kita merasa bukan siapa-siapa, saat kita menjadi bocah besar. Karena di tempat dan saat seperti itulah para pahlawan kita menyedot energi jiwa mereka.

    Itu sebabnya Umar bin Khattab mengatakan, “Jadilah engkau bocah di depan istrimu, tapi berubahlah menjadi lelaki perkasa ketika keadaan memanggilmu’. Kekanakan dan keperkasaan, kepolosan dan kematangan, saat lemah dan saat berani, saat bermain dan saat berkarya, adalah ambivalensi-ambivalensi kejiwaan yang justru berguna menciptakan keseimbangan emosional dalam diri para pahlawan.

    “Saya selamanya ingin menjadi bocah besar yang polos.” kata Sayyid Quthub. Para pahlawan selalu mengenang saat-saat indah ketika ia berada dalam pangkuan ibunya, dan selamanya ingin begitu ketika terbaring dalam pangkuan istrinya.

    Siapakah yang pertama kali ditemui Rasulullah SAW setelah menerima wahyu pertama dan merasakan ketakutan luar biasa? Khadijah! Maka ketika Rasulullah ditawari untuk menikah setelah Khadijah wafat, beliau mengatakan; “Dan siapakah wanita yang sanggup menggantikan peran Khadijah?”

    Itulah keajaiban dari kesederhanaan. Kesederhanaan yang sebenarnya adalah keagungan; kelembutan, kesetiaan, cinta an kasih sayang. Itulah keajaiban wanita.

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 19 November 2014 Permalink | Balas  

    Khadijah Binti KhuwailidPerempuan, Jadi Objek atau Mengobjekkan Diri?

    Oleh Iwan Hermawan, S.Pd., M.Pd.

    Seorang wanita telah dilengkapi oleh Tuhan dengan keindahan jiwa dan raga adalah sebuah kebenaran, yang sekaligus nyata dan maya, yang hanya bisa kita pahami dengan cinta kasih, dan hanya bisa kita sentuh dengan kebajikan. (Kahlil Gibran, Sayap-sayap Patah).

    POTONGAN tulisan Kahlil Gibran di atas menunjukkan, perempuan merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki daya tarik memikat serta penuh dengan misteri bagi lawan jenisnya. Keindahan tubuh dan rohaninya merupakan bagian yang mampu menarik hati dan menggoda iman kaum lelaki sehingga tidak heran jika kaum lelaki akan rela mengorbankan apa saja agar mampu menikmati dan memiliki keindahan tubuh seorang perempuan.

    Perjalanan sejarah menunjukkan, pembunuhan yang dilakukan oleh manusia pertama kali di muka bumi, yaitu pembunuhan Habil oleh Qabil, terjadi sebagai akibat rebutan perempuan. Selain itu, kisah dalam kitab suci menjelaskan Nabi Adam yang diusir oleh Tuhan dari surga juga disebabkan oleh perempuan (Siti Hawa) yang mendesaknya untuk mendekati dan memakan buah terlarang (Khuldi).

    Pada zaman Fir’aun, Nabi Musa yang saat itu masih bayi seharusnya dibunuh karena merupakan keturunan Bani Israil, tetapi tidak jadi dibunuh bahkan diangkat anak olehnya karena permintaan dari sang permaisuri. Pada zaman Cleopatra, Julius Caesar rela tidak melanjutkan ekspansinya di Mesir karena jatuh pada pelukan ratu Mesir yang terkenal karena kecantikannya. Selanjutnya, Presiden Amerika Serikat John F. Kennedi dapat takluk dan jatuh ke pelukan artis Marlyn Monroe, dan terakhir ketika Presiden Bill Clinton posisinya terancam karena ada main dengan Monica Lewinsky.

    Tidak semua perempuan hanya menjadi objek dalam kehidupan dunia, di antara mereka terdapat beberapa nama yang justru menjadi pembangkit semangat bagi orang yang mencintainya, seperti halnya Eva Duarte yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Eva Peron merupakan orang di belakang layar keberhasilan Juan Peron dalam membangun negerinya walaupun hal itu juga merupakan bagian dari ambisinya untuk menjadi orang terkenal di Argentina. Itu tercapai hingga namanya lebih dikenang oleh warga Argentina dibanding sang suami yang justru orang nomor satu di negeri itu.

    Kenyataan tersebut menunjukkan dari dulu hingga sekarang kaum laki-laki akan selalu berupaya untuk dapat meraih simpati perempuan tanpa berpikir dampak dan akibat yang akan ditanggungnya.

    Pemanfaatan perempuan

    Melihat perjalanan panjang sejarah hubungan antara laki-laki dan perempuan tidak heran jika banyak orang kemudian memanfaatkan keindahan yang dimiliki perempuan guna mencapai suatu obsesi, baik harta kekayaan, ketenaran, atau jabatan. Pada zaman dahulu, agar lurah terpakai oleh bupati, dia secara rutin harus mempersembahkan seorang perempuan yang cantik kepada bupati untuk dijadikan selir atau hanya sekadar pemuas nafsu sesaat untuk kemudian dibebaskan kembali atau dihadiahkan lagi kepada orang lain.

    Akibatnya, banyak orang tua, terutama dari golongan bawah, yang merasa bahagia jika memiliki anak perempuan yang cantik dan rupawan karena kecantikan yang dimilikinya dapat menjadi modal untuk meningkatkan taraf kehidupan ekonomi dan status keluarga.

    Di dunia modern saat ini, kedudukan perempuan tidaklah jauh berbeda dengan sebelumnya, mereka tetap dijadikan sebagai hiasan penarik laba. Bila kita perhatikan mode pakaian perempuan yang berkembang saat ini, dari hari ke hari semakin ketat melekat di tubuh dan semakin minim serta semakin bebas memperlihatkan keindahan tubuh pemakainya. Bahkan, pakaian mode untuk pakaian seragam kantor pun dibuat seseksi dan seminim mungkin agar mereka bisa memperlihatkan bagian-bagian yang menjadi daya tarik bagi lawan jenisnya. Walaupun hal itu sering kali membuat mereka risi dan tidak nyaman, mereka tidak bisa berbuat banyak karena harus menuruti apa yang telah menjadi kebijakan perusahaan atau kantor.

    Namun tidak semua perempuan yang memanfaatkan keindahan tubuhnya karena rasa terpaksa atau dimanfaatkan pihak lain. Di antara mereka ada seperti halnya Cleopatra dan Eva Peron yang memanfaatkan keindahan dan kecantikan tubuhnya guna meraih obsesi dan cita-cita agar menjadi orang terkenal dan sukses dalam menapaki jenjang karier.

    Tidak sedikit di antara mereka, terutama para pendatang baru dunia hiburan, yang dengan sengaja memanfaatkan kesintalan dan keindahan tubuhnya demi setumpuk uang dan ketenaran, bahkan tidak sedikit yang siap memberikan “servis lebih” asal tujuannya menjadi orang terkenal dapat tercapai. Dengan begitu tidak heran jika semua media kita, terutama media cetak dan elektronik dipenuhi dengan tampilan cantik seorang perempuan yang berpakaian minim atau sangat ketat, bahkan media televisi kita saat ini sudah dipenuhi dengan tayangan yang memperlihatkan goyangan pantat nakal biduanita yang mampu menarik imajinasi kaum lelaki yang menontonnya.

    Kenyataan tersebut jelas menunjukkan perempuan dengan kelemahan yang dimilikinya menjadi objek kaum laki-laki dalam memenuhi ambisinya. Namun di sisi lain, saat ini justru banyak perempuan yang memanfaatkan kelemahan laki-laki yang selalu tergoda oleh sesuatu yang indah yang dimiliki seorang perempuan guna menggapai puncak harapan.

    Penghargaan terhadap perempuan

    Para penggiat persamaan hak selalu berteriak, jangan melakukan eksploitasi perempuan guna meraih keuntungan bisnis atau berikan porsi yang sama antara perempuan dan laki-laki. Jargon-jargon tersebut selalu didengungkan di berbagai kesempatan yang tiada lain bertujuan agar perempuan memperoleh kedudukan yang sama dengan laki-laki.

    Penghargaan terhadap seorang perempuan sebenarnya harus diperlihatkan oleh perempuan itu sendiri dalam menghormati dirinya. Mereka harus mampu menghormati dirinya melalui caranya bertindak dan berperilaku dalam upayanya menggapai tujuan dan cita-cita. Mereka harus mampu mempertahankan cara hidup yang sesuai dengan norma walau persaingan untuk ke situ sangat ketat.

    Karena bagaimana mungkin seorang perempuan akan memperoleh penghargaan dari kaum lelaki jika dia sendiri tidak menghormati dan menghargai dirinya sendiri. Seperti dalam cara berpakaian di depan umum, banyak di antara mereka yang berpakaian minim dan seksi sehingga lekuk tubuhnya yang indah, seksi, dan sintal jelas terlihat dengan alasan mengikuti perkembangan mode. Kebiasaan semacam ini jelas akan mengundang lelaki iseng untuk menggodanya bahkan melecehkannya, baik melalui colekan tangan atau suitan bahkan kata-kata sapaan yang tidak senonoh.

    Jika mereka mampu berperilaku dan berpenampilan yang sesuai dengan norma yang berlaku, insya Allah, pelecehan dan kekerasan seksual yang saat ini banyak menimpa kaum perempuan dapat dihindarkan. Karena pada dasarnya, kejahatan dan pelecehan seksual banyak terjadi sebagai akibat dari penampilan si korbannya itu sendiri.

    Selain itu, melalui penghargaan terhadap diri sendiri oleh kaum perempuan diharapkan posisi perempuan yang selalu menjadi objek dalam berbagai kegiatan kaum lelaki dan dunia usaha dapat dihindarkan dan penghargaan yang layak dapat diterima oleh kaum perempuan sesuai dengan prestasi bukan rasa iba atau karena pengorbanan harga diri.

    ***

    Penulis adalah pemerhati masalah pendidikan, sosial, dan budaya

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 18 November 2014 Permalink | Balas
    Tags: Khilafah, Khilafah Islamiyah, Masyarakat Islam   

    081310_orangarabMasyarakat Islam Setelah Runtuhnya Khilafah

    Jelaslah, bahwa runtuhnya Daulah Khilafah Islamiyah telah menghilangkan salah satu unsur dari masyarakat Islami (al mujtama’ al Islami), yakni adanya sistem peraturan Islam (nizham Islam) yang mengatur hubungan dan memecahkan segala problema dalam hubungan antar kaum muslimin.  Pada tanggal 28 April 1924 Musthafa Kamal menghapus Mahkamah Syari’yah (Pengadilan Agama) di Turki, yakni pengadilan yang menggunakan syari’at Islam. Musthafa Kamal yang agen kolonialis Inggris itu pun menggantikannya dengan mengundangkan Undang-undang Sipil Swiss pada tanggal 4 Oktober 1926.  Bahkan ia menghapus pasal “Agama negara adalah Islam” dari UUD Turki pada tanggal 10 April 1928.  Para Kemalis yang setia kepada Musthafa Kamal mengganti huruf Arab yang sudah menjadi kebiasaan nenek moyang mereka selama berabad-abad dengan huruf latin yang mereka impor dari Barat pada 1 November 1928 dan pada tahun itu pula mereka mengumumkan sekularisme dalam UUD mereka.10

    Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah menyebabkan negeri-negeri Islam dikontrol dan diperintah langsung oleh para penjajah Barat.  Mereka segera menerapkan sistem peraturan Barat yang kufur itu di negeri-negeri Arab dan wilayah Islam lainnya.  Mereka pun menyusun kurikulum pendidikan yang mereka dasarkan atas asas peradaban dan kebudayaan mereka, yakni “fashlud din ‘anil hayah” (pemisahan agama dari kehidupan), yang konsekuensinya adalah pemisahan agama dari negara.  Dengan pendidikan tersebut penjajah Barat menjadikan kepribadian mereka sebagai standar kebudayaan kaum muslimin.  Penjajah Barat menjadikan peradaban mereka dan pemahaman-pemahaman hidup mereka, struktur negara mereka, sejarah, dan lingkungan mereka sebagai standar untuk otak kaum muslimin.  Tidak cukup sampai di situ, para penjajah itu bahkan memutar balikkan fakta dalam menanamkan kepribadian mereka. Mereka memutar balikkan fakta sedemikian rupa sehingga kaum muslimin menganggap para penjajah itu adalah orang mulia, bangsa teladan, dan sebuah kelompok kuat yang mau tidak mau kaum muslimin harus berjalan bersama mereka dalam menempuh kehidupan.  Dengan cara-cara yang kotor mereka menyembunyikan tampang kolonialis mereka yang sebenarnya. Oleh karena itu, kalangan kaum muslimin yang terpelajar itu pun sebenarnya telah mempelajari suatu tsaqafah yang merusak.  Mereka belajar bagaimana cara orang lain (penjajah Barat) berpikir.  Akibatnya kaum muslimin menjadi lemah untuk belajar bagaimana mereka sendiri (kaum muslimin) berpikir.11

    Pengaruh peracunan tsaqafah Barat tersebut tidak terbatas kepada kalangan terpelajar, tapi merata kepada masyarakat secara umum.  Masyarakat kaum muslimin pun diracuni oleh para penjajah Barat dengan paham kebangsaan (nasionalisme), patriotisme, dan sosialisme, serta paham-pahama kedaerahan yang sempit.  Juga masyarakat kaum muslimin diracuni dengan kemustahilan berdirinya Daulah Islamiyah dan kemustahilan persatuan dan kesatuan negeri-negeri Islam dengan adanya perbedaan kultur, penduduk, dan bahasa, sekalipun mereka merupakan suatu umat yang terikat dengan Aqidah Islamiyah yang melahirkan sistem peraturan Islam.  Selain itu mereka diracuni dengan konsep-konsep politik yang salah seperti “kedaulatan di tangan rakyat”. Mereka juga diracuni dengan slogan-slogan yang keliru seperti: “agama milik Allah dan tanah air milik masyarakat”12

    Akibat proses peracunan tersebut masyarakat di negeri-negeri Islam, termasuk negeri-negeri Arab, mengalami perubahan luar biasa.  Yang tadinya Islami, menjadi tidak Islami.  Yang tadinya diliputi pemikiran-pemikiran Islam sepenuhnya, menjadi mengadopsi banyak sekali pemikiran Barat.  Perundangan Barat pun mereka terapkan dan perjuangkan.    Sebagian besar negeri Arab dan Islam lainnya menerapkan sistem peraturan Barat.  Negeri-negeri Arab yang justru sumbernya Islam itu, sayangnya,  justru mayoritas mereka meninggalkan hukum-hukum Islam.  Tidak tersisa dari negeri-negeri tersebut selain urusan-urusan nikah, talak, cerai, rujuk dan sebagian kecil hukum Islam lainnya.  Yang menerapkan hukum Islam yang agak luas barangkali hanya Arab Saudi.  Namun untuk sistem pemeritahan Islam dan fiqih siyasah, nampaknya para penguasa kaum muslimin itu sepakat untuk meninggalkan Islam.

    Masyarakat kaum muslimin tercerai-berai menjadi lebih dari 50 negara yang kecil-kecil dan lemah-lemah.  Banyak sudah krisis yang terjadi yang menimpa negeri-negeri kaum muslimin yang tak bisa mereka selesaikan sendiri.  Sebabnya, yang paling utama adalah masing-masing negara Islam tersebut senantiasa menggantungkan penyelesaian berbagai krisis politik maupun ekonomi mereka kepada negara-negara adi daya yang berkepentingan mempertahankan dominasi mereka di negeri-negeri Islam dalam berbagai bentuk.  Organisasi Konperensi Islam yang hingga kini oleh sebagian kaum muslimin diharapkan sebagai wadah persatuan masyarakat Islam dalam mengatasi berbagai krisis yang dihadapi kaum muslimin, ternyata tak bisa banyak berbuat.  Konon lantaran masing-masing negara anggotanya lebih mengutamakan kepentingan nasional mereka (Republika, 26/5/1995).  Sungguh aneh sekali, OKI (OIC) yang beranggotakan lebih dari 50 negara Islam yang total jumlah penduduknya sekitar satu milyar itu tak mampu menyelesaikan penderitaan kaum muslimin di Palestina yang diinjak-injak hak-hak dan kehormatan mereka oleh negara kecil Yahudi Israel. 

    Itulah masyarakat kaum muslimin setelah runtuhnya khilafah.   Munculnya berbagai keanehan itu lantaran masyarakat tersebut telah kehilangan keunikannya.  Masyarakat kaum muslimin tersebut telah kehilangan ciri khas umat ini yang digambarkan Rasulullah saw. sebagai berikut :

    “Perumpamaan seorang mukmin di dalam cinta dan kasih sayangnya seperti satu tubuh, jika mengeluh salah satu anggota tubuh, maka yang lain akan merasakan demam dan panas serta tak bisa tidur”

     

    Justru masyarakat kaum muslimin yang kini jumlahnya lebih dari satu milyar itu bagaikan hidangan yang disantap dan diterkam oleh musuh-musuhnya.  Sebab mereka tidak menjadi masyarakat yang satu tubuh, yang padat dan kenyal.  Bahkan mereka bagaikan buih yang gampang diporak-porandakan !

    Ini semua lantaran kaum muslimin tidak dalam kesatuan pemikiran, perasaan, dan peraturan yang Islami.  Kontradiksi terjadi di mana-mana.  Tidak jarang kita jumpai seorang muslim di dalam masyarakat yang menurut Muhammad Husain Abdullah sebagai “masyarakat tidak unik” (al mujtama’ ghairu mutamayyiz) ini, akan menempuh keharaman seperti riba dan minum khamr dimana dalam waktu bersamaan menggemborkan bahwa siapa minum khamr berarti telah menempuh haram, dan berusaha mendapatkan kebaikan dalam melarang minum khamr.  Juga, tidak mustahil adanya seorang muslim yang senang mendengar adzan dan pembacaaan Al-Quran, dan terasa dalam dirinya perasaan ruhani, akan tetapi dia tidak sholat, tidak membaca Al-Qur’an, dan tidak menerapkan hukum-hukum Al Qur`an.


    Masyarakat Islam: Konsep, Sejarah, dan Metode Pembentukannya

    Muhammad Shiddiq Al Jawi

    10 Al Marjeh, Mouaffaq Bany, The Awakening of The Sick Man, hal. 387-388.

    11 An Nabhani, Taqiyuddin, At Takattul Al Hizbi, hal. 10-11

    12  An Nabhani, Taqiyuddin, At Takattul Al Hizbi, hal. 14-15

     
    • Candra Wiguna 9:39 pm on 22 November 2014 Permalink

      Anda menulis ini seakan pada pemerintahan Khalifah itu baik, rakyat sejahtera dan bahagia, padahal kenyataannya saat itu bangsa muslim sendiri saling berperang satu sama lain, lihat bagaimana 90 keluarga Abbasiyah dibunuh secara sadis oleh Ummayah, lihat bagaimana para pangeran Utsmani berperang satu sama lain untuk menjadi sultan. Belum permasalahan perbudakan misalnya yang masih subur di masa itu.

      Salah satu faktor mengapa Turki Utsmani itu kalah perang adalah karena dia juga diserang oleh negara Arab, artinya bahwa muslim di Arab pun tidak menyukai pemerintahan Turki dan lebih memilih bersekutu dengan Inggris. Kan lucu jika ratusan tahun setelah Turki Utsmani runtuh lantas anda membuat cerita bahwa Turki itu negara baik dan orang Inggris lah yang jahat seakan anda lebih tahu situasinya dibanding muslim yang hidup di zaman itu.

      Jangan kebanyakan baca buku HTI, cobalah baca referensi yang netral, dan anda akan sadar bahwa anda hidup di zaman yang lebih baik dengan hukum yang lebih baik dibanding pada masa kekhalifahan.

  • erva kurniawan 1:58 am on 17 November 2014 Permalink | Balas  

    Khadijah Binti KhuwailidSejarah Perkembangan Ilmu Hadis

    Dikelolakan Oleh: MC YA

    Sesungguhnya ilmu hadis merupakan salah satu cabang ilmu yang diwarisi daripada ulamak-alamak silam. Ilmu hadis yang tersedia ada sekarang sebenarnya telah melalui beberapa peringkat sehinggalah ianya menjadi satu cabang ilmu yang unik dalam islam. Jika diperhatikan dengan teliti, kita dapati sejarah perkembangan ilmu Hadis merupakan satu gambaran praktikal bagaimana Allah swt.menjaga kalam suci nabi Muhammad saw. sehingga sekarang dan menjaganya daripada ditokok tambah sebagaimana dia memelihara kesucian Al-Qur’an. Penjagaan ini jelas kita perhatikan melalui para muhaddis dalam meriwayatkan hadis dengan mementingkan kepada persoalan sanad atau jalan hadis sehinggakan Ibn Salam pernah berkata “Sesungguh sanad itu sebahagian daripada agama, kalaulah tidak kerana adanya sanad nescaya mudahlah orang bercakap apa saja yang dia suka”.

    PERINGKAT PERTAMA: PERINGKAT PERTUMBUHAN

    Peringkat ini bermula daripada zaman sahabat sehinggalah ke akhir kurun pertama hijrah atau lebih jelas lagi ianya bermula selepas daripada kewafatan baginda Rasulullah saw. Pada zaman Rasulullah saw masih hidup, sudah ada usaha-usaha untuk mengumpul dan menulis hadis sebagaimana yang dilakukan oleh Abdullah bin Amru.

    Perkara ini diakui oleh Abu Hurairah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Beliau mengakui Abdullah bin Amru lebih banyak meriwayatkan hadis daripada Rasulullah hanya disebabkan beliau menulis hadis dan Abu Hurairah tidak menulis. Namun begitu ada hadis yang melarang sahabat-sahabat baginda daripada mencatit apa-apa yang berkaitan dengan Rasulullah kerana takut ianya boleh melalaikan mereka daripada al-Quran.

    Tetapi ulamak telah memberi pandangan bahawa ada hadis yang membenarkan mereka mencatat dan menulis, secara langsung ia telah memansuhkan hadis yang melarang.

    Selain itu Khalifah Umar pernah menyarankan proses mengumpul hadis, tetapi setelah beliau beristikharah salama sebulan maka natijahnya, beliau menolak cadangan mengumpul hadis dalam bentuk penulisan ekoran daripada sikap ambil beratnya terhadap Sunah takut ianya bercampur aduk dengan kalam Allah.

    Percubaan Saidina Umar ini menunjukkan kepada kita bahawa pengumpulan hadis dari sudut hukum adalah harus dan beliau tidak berbuat demikian adalah kerana dikhuatiri sahabat pada waktu itu lebih tertumpu kepada Sunnah tidak kepada kitab Allah.

    Sikap ambil berat sahabat terhadap sunnah juga dapat kita perhatikan melalui usaha mengumpul dan memastikan kesahihan hadis sehinggakan mereka sanggup bermusafir beribu batu dengan hanya menaiki unta semata-mata untuk mencari hadis sahih sebagaimana yang berlaku ke atas Jabir bin Abdullah yang bermusafir selama sebulan ke negeri Syam, mencari dengan Abdullah bin Unais al-Ansari bagi mendapatkan hadis daripada Rasulullah saw.

    Begitu juga sebelum berakhirnya zaman sahabat telah kedapatan Sunnah dalam bentuk pengumpulan dan pembukuan antaranya ” as-Sahiifah as-Saadiqah” oleh Abdullah bin Amru, ” as-Sahiifah” oleh Jabir bin Abdullah al-Ansaari, ” as-Sahiifah as-Sahiihah” oleh Hamam bin Munabbih dan ” sahiifah Ali” oleh Saidina Ali.

    Begitulah perjalanan Sunnah pada kurun pertama.

    PERINGKAT KEDUA: PERINGKAT PENGUMPULAN

    Peringkat ini bermula dari awal kurun ke dua hingga ke awal kurun ketiga hijrah. Pada peringkat ini boleh dikatakan ilmu hadis telah sempurna dikumpul dan dibukukan. Hal demikian memandangkan kepada beberapa faktor yang mendorong ulama supaya membukukan sunnah.

    Antara faktor-faktor tersebut, kurangnya daya ingatan manusia pada zaman itu tidak sebagaimana yang zaman sahabat dan taabi’iin. Ianya telah diakui oleh Imam az-Zahabi dalam kitabnya “Tazkiratul Huffaz”. Begitu juga telah lahirnya ajaran sesat serta kumpulan yang telah terpesong daripada ajaran Islam yang sebenar seperti Mu’tazilah, Khawarij dan lain-lain.

    Faktor tersebut telah mendorong Kalifah Umar bin Abdul Aziz selaku pelopor kepada pembukuan Sunnah ini, mengarahkan ulamak untuk mengumpul segala hadis dengan tujuan untuk menyelamatkan Sunnah daripada penyelewengan dan hadis-hadis Maudhu’ (hadis yang direka dan dinisbahkan kepada Rasul).

    Begitu juga pada waktu itu telah timbulnya cabang ilmu hadis iaitu ilmu ” al-Jarh wa at-Ta’diil” bagi mengkritik periwayat hadis. Hal ini penting untuk menyelamatkan Sunnah daripada tujuan buruk mereka mencipta hadis semata-mata untuk kepentingan kumpulan-kumpulan tertentu.

    Ulama telah mula berhati-hati didalam mengambil hadis daripada periwayat hadis dan tidak meriwayatkan hadis daripada periwayat hadis yang tidak dikenali peribadinya. Ulama hadis telah memberikan perhatian khusus pada isi hadis dan sanadnya.

    Begitulah berakhirnya peringkat kedua.

    PERINGKAT KETIGA: PERINGKAT PEMBUKUAN SECARA SPESIFIK

    Peringkat ini bermula dari kurun ketiga sehingga pertengahan kurun keempat Hijrah. Kurun ketiga merupakan kurun keemasan bagi Sunnah Nabawiyyah kerana jika dilihat daripada sudut perkembangan ilmu Hadis, kita nampak pada kurun ini Sunnah telah dibukukan secara keseluruhan.

    Ulama Hadis telah mempelbagaikan pembukuaan Sunnah dan ini menunjukkan kepada kita bahawa seninya Ulamak Hadis dalam membukukan Ilmu Hadis sebagai contoh: ada Ulamak membukukan hadis dalam bentuk Masaanid yang membawa maksud, kumpulan hadis-hadis Nabi yang diriwayatkan oleh para sahabat, seperti ” Musnad Imam Ahmad”.

    Manakala Imam Bukhari dan Muslim pula mengumpul hadis dalam bentuk ” al-Jaami’ as-Sahiih” yang bermaksud, kumpulan hadis-hadis yang meliputi sebahagian besar perkara-perkara penting dalam agama termasuklah fiqih, Hari Kiamat, Adab, Sirah dan lain-lain.

    Pada waktu ini juga, telah wujudnya ilmu khas tentang jenis-jenis hadis seperti Hadis sahih, Hasan, Mursal, dan sebagainya.

    PERINGKAT KEEMPAT: ZAMAN PENULISAN SENI-SENI ILMU HADIS

    Bermula dari pertengahan kurun ke empat hingga permulaan kurun ke tujuh, ulamak pada waktu ini dengan bantuan daripada apa yang telah ditinggalkan oleh ulamak-ulamak sebelum ini telah mengembangkan lagi ilmu hadis kepada keadaan yang lebih baik. Maka kita dapat lihat hasil yang dicurahkan oleh generasi ini alam buku-buku seperti:

    Hide message history

    1. al-Muhdis al-Faasil bayna ar-Raawi wal al-wa’yii — al-Qadhi Abu Muhammad al-Waamahramzi
    2. al-Kifaayah fii i’lmi il-Riwaayah –al-Khatiib al-Baghdaadi
    3. al-Ilmaa’ fii Usuul il-Riwaayah wa as-Samaa’ –al-Qaadhi I’yaadh

    Buku-buku yang dihasilkan pada zaman ini boleh dianggap sebagai sumber utama ( al-Masaadir al-Asliyyah) dalam ilmu ini. Antara ulamak yang memainkan peranan utama pada zaman ini ialah al-Khatiib al-Baghdaadi dan al–Haakim an-Niisaabuuri.

    PERINGKAT KELIMA: PERINGKAT KEMATANGAN

    Bermula dari kurun ketujuh hingga kurun kesepuluh. Pada waktu inisetiap cabang ilmu hadis telah siap dibukukan. Antara ulamak yang mengepalai perkembangan pada masa ini ialah Ibnu Solaah yang telah mengarang kitabnya yang masyhur “uluum ul-Hadiis” Buku ini adalah yang terbaik kerana mempunyai ciri-ciri :

    1. Mempunyai Istinbat yang mendalam tentang pendapat ulamak dan kaedah-kaedah mereka
    2. menyusun takrif-takrif dan istilah ilmu hadis berdasarkan kepada pandangan ulamak tedahulu.

    iii. Menyelidiki sendiri pandngan ulamak terdahulu.

    Kitab Ibnu Solaah ini menjadi panduan kepada mereka yang datang selepasnya dan ada yang meringkas balik kitab tersebut dan ada juga yang mensyarah balik dalam bentuk yang lebih terperinci.

    Antara kitab yang dihasilkan pada masa itu selain kitab ” uluum ul-Hadiis” ialah

    1. al-Irsyaad oleh Imam Nawawi
    2. al-Tabjirah wa at-Tazkirah oleh Haafiz ul-Iraaqi
    3. lain-lain

    PERINGKAT KE ENAM: PERINGKAT TERBANTUTNYA ILMU HADIS

    Bermula dari kurun ke sepuluh hingga ke awal kurun ke dua puluh. Pada waktu ini telah terhentinyazaman perkembangan ilmu hadis diaman ilmu hadis telah sempurna sebagaimana diperingkat yang sebelumnya. Begitu juga kita tengok, waktu ini telah terhenti ijtihad dalam aspek keilmuan memandangkan kepada kurangnya ulamak yang berwibawa serta tersebarnya fitnah akhir zaman. Manusia pada waktu itu hanya mengikut apa yang telah dihasilkan oleh ulamak terdahulu. Pada waktu ini ulamak hadis hanya meringkaskan dalam bentuk baru kitab-kitab lama supaya ianya mudah difahami samaada dalam bentuk Syair ataupun al-Manzuumah (prosa) ” al-Manzuumah al-Baiquuniyyah”.

    PERINGKAT KE TUJUH: PERINGKAT KEMBALI

    Bermula dari awal kurun ke dua puluh hingga sekarang. Pada masa ini, ulamak mula sedarakan bahaya yang dihadapi oleh Sunnah yang mana terdedah kepada ancaman orientalis yang cuba sedaya upaya untuk mengelirukan mata masyarakat tentang Sunnah Nabawiyyah.

    Oleh itu ulamak telah bangkit dengan penulisan serta buku-buku untuk menangkis semula pemikiran-pemikiran yang merbahaya tentang Sunnah. Antara kitab-kitab yang dihasilkan ialah:

    1. Qawaai’du ut-Tahdiith oleh Syeikh Jamaluddin al-Qaasimi
    2. al-Hadiith wa al-Muhaddithuun oleh Syikh al-Duktuur Muhammad Abu Zahrah.

    III. Lain-lain

    Begitulah turutan perkembangan ilmu hadis dari zaman Rasulullah sehinggalah kezaman kita sekarang ini. Kita bersyukur kepada Allah kerana Hadith-hadith Rasul telah dijaga oleh ulamak dengan penjagaan yang begitu rapi sehingga hadith-hadith dapat sampai kepada kita pada hari ini. Semoga usaha-usaha yang dijalankan oleh mereka mendapat tempat disisi Allah swt.. Kita sebagai generasi yang telah jauh daripada suasana ilmu yang di tunjukkan oleh salafus us-Sooleh seharusnya berusaha untuk mendekatkan diri dengan Sunnah dan beramal denganya.

    Wallahu a’lam

    ***

    Kiriman Ukhti Retno Wahyudiaty

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 14 November 2014 Permalink | Balas  

    al-fatihahAl Fatihah, (Tafsir Al Ghazali)

    Sawaluddin Ukkas

    Surat Al Fatihah Mencakup Segala  Ilmu Pengetahuan

    Menurut Imam Al Ghazali bahwa Al Quran mengandung sepulauh dasar ilmu pengetahuan umum dan tiap-tiap ilmu itu membawahi beberapa macam ilmu :

    1. Ilmu untuk mengenal zat Allah swt.
    2. Ilmu untuk mengenal sifat-sifat Allah swt. Mengenai zat Allah swt, kita mengagungkan dan mensucikanNya dari segala sifat kekurangan : Dia tida serupa dengan sesuatu apapun. Adapun mengenal sifat-sifatNya yaitu : Dia Maha Kuasa, Maha Berkehendak, Maha Mengetahui, Hidup, Mendengar, Melihat dan Berbicara.
    3. Dialah Khalik alam semesta dan Penciptanya dan Dialah Yang meninggikan langit dan membentangkan bumi.
    4. Menjelaskan tempat kembali manusia seperti : syurga sebagai tempat pahala, neraka sebagai tempat siksa.
    5. Menjelaskan Siratal Mustaqim (jalan yang lurus) dengan meninggalkan segala perbuatan yang terceladan segala perbuatan yang tercela dan segala perangai yang rendah.
    6. Menghiasi diri dengan segala perbuatan yang mulia dan segala sifat yang utama.
    7. Menjelaskan orang-orang yang telah dianugerahi nikmat atas mereka dan memuji mereka itu.
    8. Menerangkan (akibat) orang-orang yang dzalim, orang-orang yang melanggar hukum-hukum agama dan orang-orang yang kafir.
    9. Menyebutkan perbantahan orang-orang kafir. 10. Menerangkan undang-undang hukum Allah.

    Inilah semuanya ilmu-ilmu yang tersebut di dalam Al Quran dan delapan diantaranya telah tercakup di dalam surat Al Fatihah.  Demikian pandangan Imam Al Ghazali.

    Untuk jelasnya adalah sebagai berikut :

    1. Zat Allah swt yang tercantum dalam kalimat : (Bismillahi) = Dengan nama Allah

    2. Sifat-sifat Allah dalam kalimat : (Arrahmaanirrahimi Malikiyaumiddiini) = Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Yang menguasai hari Pembalasan.

    Bahwasanya sifat Rahmah (Pengasih dan Penyayang) dan kekuasaan itu, keduanya menghendaki adanya Qudrat (sifat Maha Kuasa), Iradah (Maha Berkehendak) dan Ilmu (Maha Mengetahui). Itulah diantaranya sifat-sifat Allah yang tercantum didalam kebanyakan surat didalam Al Quran seperti firman-Nya :  Almalikul kudduusussalamul mu’minullmuhaeminul ‘aziizul jabbarul mutakabbiru. Artinya : “Dia Maha Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menganugerahkan Keamanan Yang Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Agung. (Surat Al Hasyer:23).

    3 Ilmul af’al (ilmu perbuatan Allah) yaitu : ilmu yang telah kami uraikan dahulu yang tercakup dalam firman-Nya : Rabbil’alamiina = Yang Memelihara Semesta Alam.

    Dan tersirat di dalamnya berbagai macam ilmu dan kami telah jelaskan bahwa alam itu ada dua macam : alamtinggi dan alam rendah ;

    Pada kedua alam tersebutlah berhubungan berbagai macam ilmu pengetahuan dan teknologi karena semuanya itu adalah “Af’alullah” (Perbuatan Allah) yang masuk didalam pengaruh rahmat dan pendidikan-Nya bagi semesta alam. Bahwasanya ilmu pasti dan ilmu pengetahuan alam yang keduanya telah masuk di dalam “Tarbiayatul ‘alamin” (Pendidikan semesta alam) keduanya diikuti lagi oleh berbagai ilmu teknik yang diantaranya seperti : alat pengukur waktu (jam dan sebagainya), ilmu tentang mesin penggerak (penarik benda yang berat) seperti : lokomotif dan sebagainya, ilmu pengeboran air dan minyak, ilmu tentang alat-alat persenjataan yang berat seperti : roket meriam dan sebagainya. Ilmu tentang gas beracun dan sebagainya.

    Ilmu-ilmu itulah yang menggugah bangsa-bangsa yang masih tidur dan membangunkan bangsa-bangsa Timur (Asia) dari tidur nyenyak mereka. Semuanya ini termasuk di antara keajaiban pendidikan. Demikian juga ilmu pembuatan senjata berat seperti meriam yang dapat menghancurkan orang-orang yang lalai. Ilmu tentang alat pembakar, ilmu tentang alat pembakar, ilmu untuk bangunan perumahan yang kuat; ilmu pembuatan (menggali) terusan (sungai); ilmu tentang proyeksi dalam bentuk dan letaknya; ilmu gaya gravitasi; ilmu ukur ruang; ilmu kedokteran dan ilmu pertanian. Kedua ilmu terakhir ini (Kedokteran dan pertanian) termasuk dalam lingkungan ilmu pengetahuan alam, sedangkan ilmu-ilmu sebelumnya termasuk dalam lingkungan ilmu pasti (matematika) dan semuanya itu terkandung di dalam.

    Tarbiayatul ‘alamin  Artinya : “Pendidikan Alam Semesta”

    Ketahuilah bahwa semua industri yang telah ada sekarang maupun yang akan datang semuanya bersumber dari benda-benda yang telah ada (diciptakan Allah) di dunia ini.

    4. Keterangan tentang hari akhirat yang meliputi syurga, neraka, kenikmatan dan kesengsaraan, pahala dan siksa. Al Quran telah membuat segala keterangan mengenai hal tersebut dan semunya itu termasuk di dalam ayat : Maliki yaumiddiini. Artinya : “Yang memiliki hari pembalasan (hari kemudian).”

    5.6. Keterangan tentang siratal mustaqim (jalam yang lurus) ini ada dua bagian :

    a. Meninggalkan kesesatan, kefasikan dan berbagai maksiat seperti : bohong, khianat, khianat dan zina.

    b. Menghiasi diri dengan dengan segala akhlak yang mulia seperti sifat-sifat mulia, ilmu pengetahuan, tolong-menolong, menyebarkan ilmu dan sebagainya.

    7. Keterangan tentang sejarah para Nabi, orang-orang yang saleh, orang-orang mumin dan intelektual, semuanya ini termasuk dalam ayat : Allaziina an’amta ‘alaihim Artinya : “Orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat atas mereka”.

    8. Cerita orang-orang yang telah dimurkai dan orang-orang yang sesat. Di dalam Al Quran banyak tersebut cerita tentang orang-orang yang sesat dan sejarah tingkah laku dan perbuatan mereka yang membawa kepada kehancuran dan kebinasaan. Itulah berbagai ilmu yang terkandung di dalam Al Quran dan telah tersirat di dalam surat Al Fatihah.

    Wassalam

    Syawal

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 13 November 2014 Permalink | Balas  

    al-quran 3Orang Mukmin Tercipta Penuh Cobaan

    Oleh: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdulhamid Al-Halaby

    Kata Pengantar

    Dalam kesempatan kali ini kami hadirkan ke hadapan pembaca, uraian yang sangat bagus sekali dari seorang tokoh ‘alim Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdulhamid Al-Halaby mengenai sifat-sifat seorang mukmin. Tulisan ini diterjemahkan dari Majalah Al-Ashalah edisi 15, 16 th III -15 Dzul Qa’dah 1415H, dan dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 07/th III/1419-1998.

    Orang Mukmin Tercipta Penuh Coba

    Terdapat riwayat yang shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Artinya : Sesunguhnya seorang mukmin tercipta dalam keadaan Mufattan (penuh cobaan), Tawwab (senang bertaubat), dan Nassaa’ (suka lupa), (tetapi) apabila diingatkan ia segera ingat”. (Silsilah Hadits Shahih No. 2276).

    Hadist ini merupakan hadits yang menjelaskan sifat-sifat orang mukmin, sifat-sifat yang senantiasa lengket dan menyatu dengan diri mereka, tiada pernah lepas hingga seolah-olah pakaian yang selalu menempel pada tubuh mereka dan tidak pernah terjauhkan dari mereka.

    Mufattan

    Artinya : Orang yang diuji (diberi cobaan) dan banyak ditimpa fitnah. Maksudnya : (orang mukmin) adalah orang yang waktu demi waktu selalu diuji oleh Allah dengan balaa’ (bencana) dan dosa-dosa. (Faid-Qadir 5/491).

    Dalam hal ini fitnah (cobaan) itu akan meningkatkan keimanannya, memperkuat keyakinannya dan akan mendorong semangatnya untuk terus menerus berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab dengan kelemahan dirinya, ia menjadi tahu betapa Maha Kuat dan Maha Perkasanya Allah, Rabb-nya.

    Menurut sebuah riwayat dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Perumpamaan orang mukmin ibarat sebatang pokok yang lentur diombang-ambing angin, kadang hembusan angin merobohkannya, dan kadang-kadang meluruskannya kembali. Demikianlah keadaannya sampai ajalnya datang. Sedangkan perumpamaan seorang munafik, ibarat sebatang pokok yang kaku, tidak bergeming oleh terpaan apapun hingga (ketika) tumbang, (tumbangnya) sekaligus”. (Bukhari : Kitab Al-Mardha, Bab I, Hadist No. 5643, Muslim No. 7023, 7024, 7025, 7026, 7027).

    Ya, demikianlah sifat seorang mukmin dengan keimanannya yang benar, dengan tauhidnya yang bersih dan dengan sikap iltizam (komitment)nya yang sungguh-sungguh.

    Tawaab Nasiyy

    “Artinya : Orang yang bertaubat kemudian lupa, kemudian ingat, kemudian bertaubat”. (Faid-Al Qadir 5/491).

    Seorang mukmin dengan taubatnya, berarti telah mewujudkan makna salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sifat yang terkandung dalam nama-Nya : Al-Ghaffar (Dzat yang Maha Pengampun). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar”. (Thaha : 82).

    Apabila Diingatkan, Ia Segera Ingat.

    Artinya : Bila diingatkan tentang ketaatan, ia segera bergegas melompat kepadanya, bila diingatkan tentang kemaksiatan, ia segera bertaubat daripadanya, bila diingatkan tentang kebenaran, ia segera melaksanakannya, dan bila diingatkan tentang kesalahan ia segera menjauhi dan meninggalkannya.

    Ia tidak sombong, tidak besar kepala, tidak congkak dan tidak tinggi hati, tetapi ia rendah hati kepada saudara-saudaranya, lemah lembut kepada sahabat-sahabatnya dan ramah tamah kepada teman-temannya, sebab ia tahu inilah jalan Ahlul Haq (pengikut kebenaran) dan jalannya kaum mukminin yang shalihin.

    Terhadap dirinya sendiri ia berbatin jujur serta berpenampilan luhur, sedangkan terhadap orang lain ia berperasaan lembut dan berahlak mulia, bersuri tauladan kepada insan teladan paling sempurna yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah diberi wasiat oleh Rabb-nya dengan firman-Nya :

    “Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka …..”. (Ali Imran : 159).

    Inilah sifat seorang mukmin. Ini pula jalan hidup serta manhaj perilakunya.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 12 November 2014 Permalink | Balas  

    kisah-teladan-islamKehidupan Sehari-Hari Yang Islami

    Oleh: Syaikh Abdullah bin Jaarullah bin Ibrahim Al-Jaarullah

    Kata Pengantar.

    Saudaraku….

    Dengan penuh pengharapan bahwa  kebahagian dunia dan akhirat yang akan kita dapatkan, maka  kami sampaikan risalah  yang berisikan  pertanyaan-pertanyaan  ini  kehadapan anda untuk direnungkan dan di jawab dengan perbuatan.

    Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja kami angkat kehadapan anda dengan harapan yang tulus dan cinta karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, supaya  kita  bisa mengambil  mannfaat dan faedah yang banyak darinya, disamping itu sebagai bahan kajian untuk melihat diri kita, sudah sejauh mana dan ada dimana posisinya selama ini.

    Saudaraku…

    Risalah ini dinukilkan dari buku saku yang sangat bagus dan menawan yaitu Zaad Al-Muslim Al-Yaumi (Bekalan Muslim Sehari-hari) dari hal. 51 – 55, bab Hayatu Yaumi Islami yang diambil dari kitab Al-Wabil Ash-Shoyyib oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dan diterjemahkan oleh saudara kita Fariq Gasim Anuz semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalasnya dengan pahala dan surganya.

    Kehidupan Sehari-hari Yang Islami :

    1. Apakah anda selalu shalat Fajar berjama’ah di masjid setiap hari?
    2. Apakah anda selalu menjaga Shalat yang lima waktu di masjid?
    3. Apakah anda hari ini membaca Al-Qur’an?
    4. Apakah anda rutin membaca Dzikir setelah selesai melaksanakan Shalat wajib?
    5. Apakah anda selalu menjaga Shalat sunnah Rawatib sebelum dan sesudah Shalat wajib?
    6. Apakah anda (hari ini) Khusyu dalam Shalat, menghayati apa yang anda baca?
    7. Apakah anda (hari ini) mengingat Mati dan Kubur?
    8. Apakah anda (hari ini) mengingat hari Kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya?
    9. Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak tiga kali, agar memasukkan anda ke dalam Surga? Maka sesungguhnya barang siapa yang memohon demikian, Surga berkata :”Wahai Allah Subhanahu wa Ta’ala masukkanlah ia ke dalam Surga”.
    10. Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali? Maka sesungguhnya barangsiapa yang berbuat demikian, neraka berkata :”Wahai Allah peliharalah dia dari api neraka”. (Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya :”Barangsiapa yang memohon Surga kepada Allah sebanyak tiga kali, Surga berkata :”Wahai Allah masukkanlah ia ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali, neraka berkata :”Wahai Allah selamatkanlah ia dari neraka”. (Hadits Riwayat Tirmidzi dan di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami No. 911. Jilid 6).
    11. Apakah anda (hari ini) membaca hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?
    12. Apakah anda pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik?
    13. Apakah anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau?
    14. Apakah anda (hari ini) menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?
    15. Apakah anda selalu membaca Dzikir pagi dan sore hari?
    16. Apakah anda (hari ini) telah memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala atas dosa-dosa (yang engkau perbuat -pen)?
    17. Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati Syahid? Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya :”Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidur”. (Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya).
    18. Apakah anda telah berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia menetapkan hati anda atas agama-Nya. ?
    19. Apakah anda telah mengambil kesempatan untuk berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di waktu-waktu yang mustajab?
    20. Apakah anda telah membeli buku-buku agama Islam untuk memahami agama? (Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang dipahami oleh para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena banyak juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar, pent).
    21. Apakah anda telah memintakan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah? Karena setiap mendo’akan mereka anda akan mendapat kebajikan pula.
    22. Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala (dan bersyukur kepada-Nya, pent) atas nikmat Islam?
    23. Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya?
    24. Apakah anda hari-hari ini telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya?
    25. Apakah anda dapat menahan marah yang disebabkan urusan pribadi, dan berusaha untuk marah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala saja?
    26. Apakah anda telah menjauhi sikap sombong dan membanggakan diri sendiri?
    27. Apakah anda telah mengunjungi saudara seagama, ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala?
    28. Apakah anda telah menda’wahi keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang ada hubungannya dengan diri anda?
    29. Apakah anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua?
    30. Apakah anda mengucapkan “Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raji’uun” jika mendapatkan musibah?
    31. Apakah anda hari ini mengucapkan do’a ini : ” Allahumma inii a’uudubika an usyrika bika wa anaa a’lamu wastagfiruka limaa la’alamu = Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau sedangkan aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui”. Barangsiapa yang mengucapkan yang demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghilangkan darinya syirik besar dan syirik kecil. (Lihat Shahih Al-Jami’ No. 3625).
    32. Apakah anda berbuat baik kepada tetangga?
    33. Apakah anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad, dan dengki?
    34. Apakah anda telah membersihkan lisan dari dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata-kata yang tidak ada manfaatnya?
    35. Apakah anda takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal penghasilan, makanan dan minuman, serta pakaian?
    36. Apakah anda selalu bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan?

    Saudaraku ..

    Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan, agar kita  menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat, inysa Allah.

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 11 November 2014 Permalink | Balas  

    hidayah-allahRaihlah Cinta Allah

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Sudah menjadi fitrahnya, jika manusia diciptakan Allah SWT. menjadi makluk yang sempuna diantara semua ciptaan-NYA. Namun dibalik semua kelebihan yang dimilikinya, manusia dapat terjerambab kedalam jurang kehinaan, akibat dari kekhilafan, kesalahan yang memperturutkan hawa nafsu yang ditumpuk dalam keranjang dosa dan noda.

    Tetapi manakala si hamba datang menghadapkan muka menuju Sang Khalik pemilik rahmat dan rahim, dengan penuh penyesalan mengharap ampunan atas perbuatannya, maka yang hina bisa jadi mulia, yang fasik terangkat derajat menjadi mulia.Sesuai dengan firman Allah SWT. : (QS. 42:25)

    “Dia adalah Dzat yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya yang minta ampun atas kesalahan-kesalahnnya.”

    Hikmah dapat kita ambil dari kisah-kisah dibawah ini :

    Suatu hari ketika Khalifah Umar bin Khathab ra, menyusuri jalan-jalan kota Madinah, ia bertemu seorang pemuda yang lagi membawa botol dibawah bajunya. Khalifah berkata : “Botol apa yang kau bawa dibalik bajumu!”Sesungguhnya botol itu berisi arak. Si pemudah tersebut sangat malu dan takut gemetaran, sambil merintih dalam hati. “Ya Tuhanku, janganlah engkau membuat aku malu dihadapan Umar, maka aku berjanji tidak akan minum arak lagi selamanya.”

    Kemudian si pemuda baru berani berkata, “Wahai Amirrul mukminin, botol yang kubawa ini adalah cuka.”

    “Coba perlihatkan padaku agar aku bisa melihat”. Kemudian si pemuda membuka botol dihadapan Umar ra. dan ternyata berisi cuka.

    Renungkanlah sahabatku! Makluk yang bertobat hanya karena takut kepada makluk lain, itupun Allah merubah araknya bisa berubah cuka. Itu karena ikhlasnya bertobat kepada Allah. Andaikan ada orang ahli maksiat bertobat dengan tobat nashuha (sungguh-sungguh tobat) dan menyesali dosa-dosanya, maka Allah akan mengganti semua kemaksiatannya menjadi (pahala) ketaatan, sebagaimana Allah mengganti arak menjadi cuka.

    Hikayah : Utbah Al Ghulam.

    Utbah Al-Ghulam adalah orang yang berasal dari golongan fasik. Ia sangat terkenal sebagi orang yang bejat, rusak, dan amat gemar dengan mabuk-mabukkan. Suatu hari ia memasuki pengajian Majelis Taklim Hasan Al Bashri, yang tengah membaca ayat Allah ;

    “Apakah belum datang waktunya orang-orang beriman untuk menundukkan hati mereka dalam mengingat Allah!“ (QS. 57 Al-Hadid : 16). Tidakkan hati mereka sudah sepatutnya takut!

    Suatu hari Syekh Hasan Al Bashri ra. memberikan nasehat menafsirkan ayat diatas dengan penafsiran yang amat menyentuh, sehingga banyak orang menangis. Serta merta berdirilah seorang pemuda, lalu berkata; “Wahai orang yang bertakwa dan beriman, apakah Allah masih menerima tobatnya yang lemah dan fasik seperti aku! ”

    Syekh Hasan berkata, “Bisa. Allah menerima tobat akan kejahatanmu.” Utbah Al Ghulam mendengarkan saja langsung wajahnya pucat, tubuhnya gemetar, ia berteriak keras dan langsung pingsan.

    Ketika Ghulam sadar dari pingsanya, Kyai Hasan mendekatinya dan mengucapkan syair-syair dibawah ini :

    “Wahai pemuda maksiat, kepada Tuhan yang memiliki Arsy : Mengertikah engkau balasannya orang yang berbuat maksiat! Adalah neraka syi’ir bagi mereka, ia memiliki suara nyala api : menggelegar disaat ubun-ubun terpegang. Kalau engkau menerima neraka-neraka itu, silahkan berbuat maksiat ; bila tidak. jauhilah kemaksiatan. Semua kesalahan yang engkau kerjakan ; itu berarti engkau sudah menggadaikan dirimu (di Neraka), maka bersungguh- sungguhlah untuk melepaskan diri.”

    Dan Utbah Ghulam berteriak lebih lantang, ia pun jatuh pingsan kedua kalinya. Ketika sadar, ia berkata kepada syeikh Hasan Al-Basri ra. “Wahai syeikh, apakah benar Tuhan Yang Maha Penyayang menerima tobatnya orang seperti aku!”

    Syekh menjawab, “Tiada Dzat yang mampu menerima tobat orang yang menyimpang kecuali Tuhan Yang Maha Memaafkan.”

    Kemudian Utbah Al Ghulam mengangkat kepalanya ke atas sambil melafadzkan tiga doa :

    1. Tuhanku, Engkau menerima taubatku dan mengampuni dosa dosaku, maka muliakan aku dengan mudah faham dan hafal, lalu aku bisa menghafal dan memahami yang kudengar mengenai ilmu atau Al-Qur’an.
    2. Tuhanku, muliakan aku dengan suara merdu, sehingga yang mendengar bacaanku semakin lunak hatinya sekalipun dia memiliki hati sekeras batu.
    3. Tuhanku, berikan rizki yang halal padaku dari jalan yang tidak aku duga duga.

    Allah SWT. pun mengabulkan doanya, dia mudah paham dan hafal, setiap orang yang mendengar bacaan Al-Qur’an langsung tobat, dan setiap harinya pasti ada semangkuk kuah dan dua potong roti tanpa tahu siapa yang menaruh di depan rumahnya. Hal ini terus menerus sampai ia meninggal, dalam kedaan telah menjadi seorang Aulia Allah.

    Inilah keadaan orang yang benar-benar kembali ke jalan Allah, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala kebajikan dari perbuatan bagusnya. Sebagian ulama ada yang ditanya begini, “Apakah hamba yang bertobat mengerti, adakah tobatnya diterima atau tidak!”

    Jawabnya, “Dalam hal ini tidak ada putusan hukum secara pasti, akan tetapi semuanya memiliki tanda-tanda ;

    1. Ia melihat dirinya jauh dan terhindar dari maksiat.
    2. Ia merasakan hatinya selalu gembira, dan rasanya Tuhan sangat dekat sekali.
    3. Ia dekat dengan orang orang baik dan jauh dari orang-orang yang ahli berdosa, maka ia memandang segi dunia yang sedikit sudah terlalu banyak (puas), namun segi akhirat yang sudah banyak dikerjakan masih dianggap kecil (kurang).
    4. Dia menyibukan hatinya dengan sesuatu yang diwajibkan Allah Ta’ala.
    5. Ia menjaga lisannya ( tidak berkata kotor), selalu tafakur, dan selalu menyesali dosa-dosa yang pernah dikerjakan.”

    Ya Allah himpunkan kami ke dalam orang-orang yang selalu mengingat-MU, dan jauhkan kami dari siksaan kubur dan api neraka.

    Siramilah jiwa kami dengan Rahmat dan Kasih-Mu agar kami bisa menggapai Ridhomu.Tuntunlah hati kami untuk selalu beriman kepada-Mu, hingga kami kembali kepada-MU.

    Amin…….

    ***

    Sumber : Buku Rahasia Ketajaman Hati – Imam Ghazali.

    Wassalam

    Siti Nurjannah

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 10 November 2014 Permalink | Balas  

    dzikir 2Dzikrullah (Bagian 3)

    Sawaluddin Ukkas

    Keutamaan Mengucapkan La Ilaha Illallah Dengan Ikhlas

    Diterima dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda: Artinya: “Setiap seorang hamba mengucapkan La ilaha illallah dengan ikhlas, akan dibukakan baginya pintu-pintu langit hingga ia akan tembus ke ‘arasy, selama dosa-dosa besar dijauhinya”. (Riwayat Turmudzi).

    Juga diterima dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw, bersabda: Artinya: “Baru-baruilah keimanmu!” Ditanyakan orang: “Ya Rasulullah, bagaimana caranya kami membaru-barui keimanan kami itu?” Ujarnya: “Perbanyaklah membaca La ilaha illallah!”

    Dan diterima dari Jabir bahwa Nabi saw bersabda: Artinya: “Dzikir yang paling utama ialah La ilaha illallah, sedang do’a yang paling utama ialahAlhamdulillah”. (Diriwayatkan oleh Nasa’i dan Ibnu Majah, juga oleh Hakim yang mengatakan isnadnya sah).

    Keutamaan Membaca Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir dan Lain-Lain.

    Diterima dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw bersabda: Artinya “Ada dua kalimat yang ringan diucapkan lisan, tetapi berat timbangan dan disukai oleh Allah Yang Rahman, Yaitu: “Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahir azhim”, artinya Maha suci Allah dan puji-pujian untukNya, dan Maha suci Allah yang Maha Besar”. (Riwayat Bukhari, Muslim dan Turmudzi).

    Juga dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw, bersabda: Artinya: “Bahwa mengucapkan “Subhanallah, walhamdu lillah, wala ilaha illallah, wallahu akbar”, (Maha suci Allah dan bagi Allah puji-pujian itu, tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Besar), lebih kusukai dari apa yang disinari matahari. (Riwayat Muslim dan Turmudzi).

    Diterima dari Abu Dzar ra. bahwa Nabi saw bersabda: Artinya: “Maukah kamu saya terangkan perkataan yang lebih disukai Allah?” Kata Abu Dzar: “Terangkanlah kepadaku, ya Rasulullah!” Sabdanya: “Subhanallahi wabihamdihi” (Maha suci Allah dan puji-pujian itu untukNya).

    Diterima dari Jabir ra. bahwa Nabi saw, bersabda: Artinya: “Barangsiapa yang mengucapkan “Subhanallahil ‘azhimi wabihamdih” (Mahasuci Allah Yang Mahabesar dan puji-pujian itu untukNya), akan ditanamkan untuknya sebatang pohon kurma dalam surga”. (Riwayat Turmudzi )

    Diterima dari Abdullah ra. bahwa Nabi saw bersabda: Artinya: “Pada malam saya diisrakkan saya ketemu dengan Ibrahim, Katanya “Hai Muhammad! Sampaikan salamku kepada ummatmu!, Dan terangkanlah kepada mereka bahwa surga itu subur tanahnya dan manis airnya, dan bahwa merupakan padang-padang yang terhampar luas, sedang kayu-kayu tanamannya ialah “Subhanallah walhamdulillah, wala ilaha illallah, wallahu akbar”. (Diriwayatkan oleh Turmudzi dan juga oleh Thabrani).

    Sumber: Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq

    Wassalam Syawal

     
    • Sri Mariana Kusumastanto 6:22 am on 11 November 2014 Permalink

      Assmlkm wr wb…bisakah saya mendptkan artikel : Detik2 terakhir wafatnya Rasulullah..yg dikutip oleh Retno Wahyudiati ? Terimakasih.. Bag ketiga saja…krn terhapus wkt akan sharing.

      Sampaikan Walau Satu Ay

  • erva kurniawan 7:45 am on 9 November 2014 Permalink | Balas  

    dzikir 2Dzikrullah (Bagian 2)

    Sawaluddin Ukkas

    Hinggaan Bagi Banyak Berdzikir

    Allah yang Maha Agung sebutanNya itu, menitahkan kita agar dzikir kepadaNya sebanyak-banyaknya. Orang-orang yang berakal yang dapat menarik manfaat dari merenungkan tanda-tanda kebesaranNya, dilukiskan sebagai berikut: Artinya: “Yakni orang-orang dzikir kepada Allah baik di waktu sedang berdiri, ketika duduk dan di waktu berbaring”. (Ali Imram 191)

    Dan FirmanNya pula: Artinya: “Dan terhadap orang-orang yang banyak dzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun perempuan, Allah menyediakan keampunan dan pahala yang besar“. (Al-Ahzab 35)

    Berkata Ali bin Abi Thalhah, menceritakan ucapan Ibnu Abbas ra. mengenai ayat-ayat tersebut diatas: “Allah Ta’ala tidak mewajibkan sesuatu atas hambaNya, kecuali dengan memberikan hinggaan tertentu, sedang bagi yang ‘uzur diberiNya kelonggaran , kecuali berdzikir. Mengenai ini , Allah tidak memberikan batas dimana seseorang harus berhenti. Dan Allah tidak memberikan suatu ke’uzuran buat meninggalkannya, kecuali bila ia terpaksa. FirmanNya: “Dzikirlah kepada Allah, di kala berdiri, di waktu duduk dan diwaktu berbaring!” baik siang maupun malam, di daratan maupun di lautan, di waktu mukim atau sedang bepergian, ketika kaya atau miskin, sehat atau sakit, secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.

    Adab Berdzikir

    Tujuan berdzikir ialah mensucikan jiwa dan membersihkan hati serta membangunkan nurani. Hal inilah yang diisyaratkan oleh Firman Allah: Artinya: “Dan dirikanlah shalat, karena shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar dan dzikir kepada Allah itu lebih utama lagi.!” (Al-Ankabut 45).

    Artinya buat mencegah perbuatan keji dan mungkar, dzikir kepada Allah itu lebih ampuh lagi dari shalat. Sebabnya ialah karena orang yang dzikir itu, demi hatinya terbuka terhadap Tuhannya dan lidahnya lancar menyebutNya, maka Allah akan mengirimkan cahayaNya, hingga keimanannya akan bertambah, keyakinan akan berlipat ganda. Dengan demikian hatinya akan aman dan tenteram dan puas menerima kebenaran, sebagai firmanNya: Artinya: “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka aman tenteram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah dzikir kepada Allah, maka hatipun akan merasa aman dan tenteram!” (Ar-Ro’d 28)

    Dan jika hati telah puas dan lega menerima kebenaran, maka ia akan menghadapkan perhatian kepada contoh teladan yang lebih tinggi dan akan berusaha buat mencapainya, tanpa dapat dihalangi oleh godaan-godaan nafsu, atau oleh rongrongan syahwat. Oleh karena itu kedudukan dzikir ini bukan soal remeh, sebaliknya amat penting dalam kehidupan manusia. Dan tidak masuk akal, jika hasil-hasil ini akan dapat terwujud dalam hanya dengan menyebutnya dibibir belaka. Karena gerakan lidah itu sedikit sekali faedahnya bila tidak cocok dengan sejalan dengan hati. Allah telah memberikan bimbingan mengenai tata tertib yang harus diturui seseorang bila ia sedang berdzikir, firmanNya: Artinya, “Dan dzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan tanpa mengeraskan suaramu, baik diwaktu pagi maupun petang hari, dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai!”. (Al-A’raf 205)

    Ayat tersebut memberi pertanda bahwa dzikir itu disunatkan secara sir, artinya dengan tidak mengeraskan suara. Rasulullah saw mendengar segolong manasia yang berdo,a dengan suara keras dalam salah satu perjalanan, maka sabdanya: Artinya: “Hai manusia! Pelan-pelanlah dalam bersuara, karena kamu tidaklah menyeru orang yang tuli atau di tempat yang jauh. Yang kamu seru itu Maha Mendengar lagi Maha Dekat, bahkan lebih dekat lagi kepadamu dari leher kendaraannmu!”

    Sebagaimana ia memberi petunjuk agar dalam berdzikir itu seseorang hendaklah bersikap dalam keadaan harap-harap cemas. Diantara tata tertibnya lagi ialah agar orang yang berdzikir itu bersih pakaian dan suci badan serta harum baunya, karena dengan demikian akan menambah kegairahan, disamping sedapat mungkin menghadap kiblat. Karena sebaik-baik majlis ialah yang menghadap ke arah Kiblat

    ***

    Sumber: Fikih Sunnah, Sayyid sabiq.

    Wassalam

    Syawal

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 8 November 2014 Permalink | Balas  

    Dzikrullah (Bagian 1) 

    dzikir 2Berdzikir Kepada Allah

    Sawaluddin Ukkas

    Dzikir atau mengingat Allah, ialah apa yang dilakukan oleh hati dan lisan berupa tasbih atau mensucikan Allah Ta’ala, memuji dan menyanjungNya, menyebutkan sifat-sifat kebesaran dan keagungan serta sifat-sifat keindahan dan kesempurnaan yang telah dimilikiNya.

    1. Allah telah menitahkan kita agar banyak berdzikir, Firman Allah Artinya : Hai orang-orang yang beriman! Berdzikir kamu kepada Allah sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah padaNya diwaktu pagi maupun petang. (Al Ahzab 41 -42)
    2. Allah menyatakan bahwa Ia akan mengingat orang yang ingat atau berdzikir kepadaNya : Firman Allah, artinya : Berdzikirlah kamu kepadaKu, niscaya Aku akan ingat pula kepadamu ! (Al Baqarah 152).

    Dan dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Allah berfirman : “Aku ini adalah menurut dugaan hambaKu, dan Aku menyertainya di mana saja ia berdzikir kepadaKu. Jika ia berdzikir atau ingat padaKu dalam hatinya, maka Aku akan ingat pula padanya dalam hatiKu dan dan kalau mengingatKu di depan umum, maka Aku akan mengingatnya pula di depan khalayak yang lebih baik. Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepadaKu sejengkal, Aku akan mendekatkan diriKu kepadanya sehasta, dan jika ia mendekat kepadaKu sehasta, Aku akan mendekatkan diriKu kepadanya sedepa, dan jika ia datang kepadaKu secara berjalan kaki, Aku akan datang padanya dengan berlari”.

    1. Allah SWT, telah menetapkan ahli dzikir itu sebagai golongan istimewa dan terkemuka. Sabda Rasulullah saw. : Artinya, “Telah majulah orang-orang yang istimewa !” Tanya mereka : “Siapakah orang-orang yang istimewa itu ?” Ujarnya : “Mereka ialah orang-orang yang berdzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun wanita”. (Hadits riwayat : Muslim)
    2. Orang-orang yang berdzikir itulah pada hakikatnya orang-orang yang hidup. Diterima dari Abu Musa bahwa Nabi saw bersabda : Artinya, “Perumpamaan orang-orang yang dzikir kepada Allah dengan yang tidak, adalah seperti orang yang hidup dengan yang mati !” (Riwayat Bukhari).
    3. Berdzikir merupakan pokok pangkal amal-amal saleh, maka barang siapa diberi taufik untuk melakukannya, ia telah diberi kesempatan untuk menjadi wali Allah. Oleh sebab itulah Rasul saw selalu dzikir kepada Allah setiap saatnya, dan pernah berpesan kepada seorang laki-laki yang mengatakan kepadanya ” Mengenai syari’at-syariat Islam telah banyak anda sebutkan padaku. Sekarang sebutkan pula padaku sesuatu yang harus aku pegang teguh !” Maka ujar Nabi saw : Artinya : “Mulutmu tidak akan kering disebabkan dzikir kepada Allah”. dan kepada sahabat-sahabatnya dipesankan : “Maukan kamu saya tunjukkan yang lebih utama dan lebih suci di sisi Tuhanmu, lebih meningkatkan derajatmu dan lebih berharga dari menafkahkan emas dan perak, bahkan lebih baik dari menghadapi menghadapi musuhmu dimana kamu akan berusaha akan menebas leher mereka, sebaliknya mereka berusaha akan menebas lehermu?” “Mau”, wahai Rasulullah”, ujar mereka. Maka sabdanya : “Yaitu berdzikir kepada Allah !” (Diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, juga oleh Hakim yang menyatakan isnadnya sah).
    4. Ia juga merupakan jalan kebebasan, yakni dari siksa. Diterima dari Mu’adz ra. bahwa Nabi saw. bersabda : ” Tidak satupun amal yang dikerjakan oleh anak cucu Adam, yang lebih membebaskan dari siksa Allah dari pada dzikir kepada Allah ‘azza wajallah”. (Riwaya Ahmad).

    Sumber : Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq

    Wassalam

    Syawal

     
  • erva kurniawan 8:41 am on 6 November 2014 Permalink | Balas  

    otak manusiaBerpikir

    Harun Yahya

    Banyak yang beranggapan bahwa untuk “berpikir secara mendalam”, seseorang perlu memegang kepala dengan kedua telapak tangannya, dan menyendiri di sebuah ruangan yang sunyi, jauh dari keramaian dan segala urusan yang ada. Sungguh, mereka telah menganggap “berpikir secara mendalam” sebagai sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan. Mereka berkesimpulan bahwa pekerjaan ini hanyalah untuk kalangan “filosof”.

    Padahal, sebagaimana telah disebutkan dalam pendahuluan, Allah mewajibkan manusia untuk berpikir secara mendalam atau merenung. Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada manusia untuk dipikirkan atau direnungkan:

    “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shaad, 38: 29).

    Yang ditekankan di sini adalah bahwa setiap orang hendaknya berusaha secara ikhlas sekuat tenaga dalam meningkatkan kemampuan dan kedalaman berpikir. Sebaliknya, orang-orang yang tidak mau berusaha untuk berpikir mendalam akan terus-menerus hidup dalam kelalaian yang sangat. Kata kelalaian mengandung arti “ketidakpedulian (tetapi bukan melupakan), meninggalkan, dalam kekeliruan, tidak menghiraukan, dalam kecerobohan”. Kelalaian manusia yang tidak berpikir adalah akibat melupakan atau secara sengaja tidak menghiraukan tujuan penciptaan diri mereka serta kebenaran ajaran agama. Ini adalah jalan hidup yang sangat berbahaya yang dapat menghantarkan seseorang ke neraka. Berkenaan dengan hal tersebut, Allah memperingatkan manusia agar tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang lalai:

    “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raaf, 7: 205)

    “Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman.” (QS. Maryam, 19: 39)

    Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan tentang mereka yang berpikir secara sadar, kemudian merenung dan pada akhirnya sampai kepada kebenaran yang menjadikan mereka takut kepada Allah. Sebaliknya, Allah juga menyatakan bahwa orang-orang yang mengikuti para pendahulu mereka secara taklid buta tanpa berpikir, ataupun hanya sekedar mengikuti kebiasaan yang ada, berada dalam kekeliruan. Ketika ditanya, para pengekor yang tidak mau berpikir tersebut akan menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang menjalankan agama dan beriman kepada Allah. Tetapi karena tidak berpikir, mereka sekedar melakukan ibadah dan aktifitas hidup tanpa disertai rasa takut kepada Allah. Mentalitas golongan ini sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an:

    Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”

    Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”

    Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”

    Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”

    Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?”

    “Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.” (QS. Al-Mu’minuun, 23: 84-90)

    Berpikir dapat membebaskan seseorang dari belenggu sihir Dalam ayat di atas, Allah bertanya kepada manusia, “…maka dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?. Kata disihir atau tersihir di sini mempunyai makna kelumpuhan mental atau akal yang menguasai manusia secara menyeluruh. Akal yang tidak digunakan untuk berpikir berarti bahwa akal tersebut telah lumpuh, penglihatan menjadi kabur, berperilaku sebagaimana seseorang yang tidak melihat kenyataan di depan matanya, sarana yang dimiliki untuk membedakan yang benar dari yang salah menjadi lemah. Ia tidak mampu memahami sebuah kebenaran yang sederhana sekalipun. Ia tidak dapat membangkitkan kesadarannya untuk memahami peristiwa-peristiwa luar biasa yang terjadi di sekitarnya. Ia tidak mampu melihat bagian-bagian rumit dari peristiwa-peristiwa yang ada. Apa yang menyebabkan masyarakat secara keseluruhan tenggelam dalam kehidupan yang melalaikan selama ribuan tahun serta menjauhkan diri dari berpikir sehingga seolah-olah telah menjadi sebuah tradisi adalah kelumpuhan akal ini.

    Pengaruh sihir yang bersifat kolektif tersebut dapat dikiaskan sebagaimana berikut:

    Dibawah permukaan bumi terdapat sebuah lapisan mendidih yang dinamakan magma, padahal kerak bumi sangatlah tipis. Tebal lapisan kerak bumi dibandingkan keseluruhan bumi adalah sebagaimana tebal kulit apel dibandingkan buah apel itu sendiri. Ini berarti bahwa magma yang membara tersebut demikian dekatnya dengan kita, dibawah telapak kaki kita!

    Setiap orang mengetahui bahwa di bawah permukaan bumi ada lapisan yang mendidih dengan suhu yang sangat panas, tetapi manusia tidak terlalu memikirkannya. Hal ini dikarenakan para orang tua, sanak saudara, kerabat, teman, tetangga, penulis artikel di koran yang mereka baca, produser acara-acara TV dan professor mereka di universitas tidak juga memikirkannya.

    Ijinkanlah kami mengajak anda berpikir sebentar tentang masalah ini. Anggaplah seseorang yang telah kehilangan ingatan berusaha untuk mengenal sekelilingnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada setiap orang di sekitarnya. Pertama-tama ia menanyakan tempat dimana ia berada. Apakah kira-kira yang akan muncul di benaknya apabila diberitahukan bahwa di bawah tempat dia berdiri terdapat sebuah bola api mendidih yang dapat memancar dan berhamburan dari permukaan bumi pada saat terjadi gempa yang hebat atau gunung meletus? Mari kita berbicara lebih jauh dan anggaplah orang ini telah diberitahu bahwa bumi tempat ia berada hanyalah sebuah planet kecil yang mengapung dalam ruang yang sangat luas, gelap dan hampa yang disebut ruang angkasa. Ruang angkasa ini memiliki potensi bahaya yang lebih besar dibandingkan materi bumi tersebut, misalnya: meteor-meteor dengan berat berton-ton yang bergerak dengan leluasa di dalamnya. Bukan tidak mungkin meteor-meteor tersebut bergerak ke arah bumi dan kemudian menabraknya.

    Mustahil orang ini mampu untuk tidak berpikir sedetikpun ketika berada di tempat yang penuh dengan bahaya yang setiap saat mengancam jiwanya. Ia pun akan berpikir pula bagaimana mungkin manusia dapat hidup dalam sebuah planet yang sebenarnya senantiasa berada di ujung tanduk, sangat rapuh dan membahayakan nyawanya. Ia lalu sadar bahwa kondisi ini hanya terjadi karena adanya sebuah sistim yang sempurna tanpa cacat sedikitpun. Kendatipun bumi, tempat ia tinggal, memiliki bahaya yang luar biasa besarnya, namun padanya terdapat sistim keseimbangan yang sangat akurat yang mampu mencegah bahaya tersebut agar tidak menimpa manusia. Seseorang yang menyadari hal ini, memahami bahwa bumi dan segala makhluk di atasnya dapat melangsungkan kehidupan dengan selamat hanya dengan kehendak Allah, disebabkan oleh adanya keseimbangan alam yang sempurna dan tanpa cacat yang diciptakan-Nya.

    Contoh di atas hanyalah satu diantara jutaan, atau bahkan trilyunan contoh-contoh yang hendaknya direnungkan oleh manusia. Di bawah ini satu lagi contoh yang mudah-mudahan membantu dalam memahami bagaimana “kondisi lalai” dapat mempengaruhi sarana berpikir manusia dan melumpuhkan kemampuan akalnya.

    Manusia mengetahui bahwa kehidupan di dunia berlalu dan berakhir sangat cepat. Anehnya, masih saja mereka bertingkah laku seolah-olah mereka tidak akan pernah meninggalkan dunia. Mereka melakukan pekerjaan seakan-akan di dunia tidak ada kematian. Sungguh, ini adalah sebuah bentuk sihir atau mantra yang terwariskan secara turun-temurun. Keadaan ini berpengaruh sedemikian besarnya sehingga ketika ada yang berbicara tentang kematian, orang-orang dengan segera menghentikan topik tersebut karena takut kehilangan sihir yang selama ini membelenggu mereka dan tidak berani menghadapi kenyataan tersebut. Orang yang mengabiskan seluruh hidupnya untuk membeli rumah yang bagus, penginapan musim panas, mobil dan kemudian menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah yang bagus, tidak ingin berpikir bahwa pada suatu hari mereka akan mati dan tidak akan dapat membawa mobil, rumah, ataupun anak-anak beserta mereka. Akibatnya, daripada melakukan sesuatu untuk kehidupan yang hakiki setelah mati, mereka memilih untuk tidak berpikir tentang kematian.

    Namun, cepat atau lambat setiap manusia pasti akan menemui ajalnya. Setelah itu, percaya atau tidak, setiap orang akan memulai sebuah kehidupan yang kekal. Apakah kehidupannya yang abadi tersebut berlangsung di surga atau di neraka, tergantung dari amal perbuatan selama hidupnya yang singkat di dunia. Karena hal ini adalah sebuah kebenaran yang pasti akan terjadi, maka satu-satunya alasan mengapa manusia bertingkah laku seolah-olah mati itu tidak ada adalah sihir yang telah menutup atau membelenggu mereka akibat tidak berpikir dan merenung.

    Orang-orang yang tidak dapat membebaskan diri mereka dari sihir dengan cara berpikir, yang mengakibatkan mereka berada dalam kelalaian, akan melihat kebenaran dengan mata kepala mereka sendiri setelah mereka mati, sebagaimana yang diberitakan Allah kepada kita dalam Al-Qur’an :

    “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (QS. Qaaf, 50: 22)

    Dalam ayat di atas penglihatan seseorang menjadi kabur akibat tidak mau berpikir, akan tetapi penglihatannya menjadi tajam setelah ia dibangkitkan dari alam kubur dan ketika mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di akhirat.

    Perlu digaris bawahi bahwa manusia mungkin saja membiarkan dirinya secara sengaja untuk dibelenggu oleh sihir tersebut. Mereka beranggapan bahwa dengan melakukan hal ini mereka akan hidup dengan tentram. Syukurlah bahwa ternyata sangat mudah bagi seseorang untuk merubah kondisi yang demikian serta melenyapkan kelumpuhan mental atau akalnya, sehingga ia dapat hidup dalam kesadaran untuk mengetahui kenyataan. Allah telah memberikan jalan keluar kepada manusia; manusia yang merenung dan berpikir akan mampu melepaskan diri dari belenggu sihir pada saat mereka masih di dunia. Selanjutnya, ia akan memahami tujuan dan makna yang hakiki dari segala peristiwa yang ada. Ia pun akan mampu memahami kebijaksanaan dari apapun yang Allah ciptakan setiap saat.

    Seseorang dapat berpikir kapanpun dan dimanapun Berpikir tidaklah memerlukan waktu, tempat ataupun kondisi khusus. Seseorang dapat berpikir sambil berjalan di jalan raya, ketika pergi ke kantor, mengemudi mobil, bekerja di depan komputer, menghadiri pertemuan dengan rekan-rekan, melihat TV ataupun ketika sedang makan siang. Misalnya: di saat sedang mengemudi mobil, seseorang melihat ratusan orang berada di luar. Ketika menyaksikan mereka, ia terdorong untuk berpikir tentang berbagai macam hal. Dalam benaknya tergambar penampilan fisik dari ratusan orang yang sedang disaksikannya yang sama sekali berbeda satu sama lain. Tak satupun diantara mereka yang mirip dengan yang lain. Sungguh menakjubkan: kendatipun orang-orang ini memiliki anggota tubuh yang sama, misalnya sama-sama mempunyai mata, alis, bulu mata, tangan, lengan, kaki, mulut dan hidung; tetapi mereka terlihat sangat berbeda satu sama lain. Ketika berpikir sedikit mendalam, ia akan teringat bahwa:

    Allah telah menciptakan bilyunan manusia selama ribuan tahun, semuanya berbeda satu dengan yang lain. Ini adalah bukti nyata tentang ke Maha Perkasaan dan ke Maha Besaran Allah.

    Menyaksikan manusia yang sedang lalu lalang dan bergegas menuju tempat tujuan mereka masing-masing, dapat memunculkan beragam pikiran di benak seseorang. Ketika pertama kali memandang, muncul di pikirannya: manusia yang jumlahnya banyak ini terdiri atas individu-individu yang khas dan unik. Tiap individu memiliki dunia, keinginan, rencana, cara hidup, hal-hal yang membuatnya bahagia atau sedih, serta perasaannya sendiri. Secara umum, setiap manusia dilahirkan, tumbuh besar dan dewasa, mendapatkan pendidikan, mencari pekerjaan, bekerja, menikah, mempunyai anak, menyekolahkan dan menikahkan anak-anaknya, menjadi tua, menjadi nenek atau kakek dan pada akhirnya meninggal dunia. Dilihat dari sudut pandang ini, ternyata perjalanan hidup semua manusia tidaklah jauh berbeda; tidak terlalu penting apakah ia hidup di perkampungan di kota Istanbul atau di kota besar seperti Mexico, tidak ada bedanya sedikitpun. Semua orang suatu saat pasti akan mati, seratus tahun lagi mungkin tak satupun dari orang-orang tersebut yang akan masih hidup. Menyadari kenyataan ini, seseorang akan berpikir dan bertanya kepada dirinya sendiri: “Jika kita semua suatu hari akan mati, lalu apakah gerangan yang menyebabkan manusia bertingkah laku seakan-akan mereka tak akan pernah meninggalkan dunia ini? Seseorang yang akan mati sudah sepatutnya beramal secara sungguh-sungguh untuk kehidupannya setelah mati; tetapi mengapa hampir semua manusia berkelakuan seolah-olah hidup mereka di dunia tak akan pernah berakhir?”

    Orang yang memikirkan hal-hal semacam ini lah yang dinamakan orang yang berpikir dan mencapai kesimpulan yang sangat bermakna dari apa yang ia pikirkan.

    Sebagian besar manusia tidak berpikir tentang masalah kematian dan apa yang terjadi setelahnya. Ketika mendadak ditanya,”Apakah yang sedang anda pikirkan saat ini?”, maka akan terlihat bahwa mereka sedang memikirkan segala sesuatu yang sebenarnya tidak perlu untuk dipikirkan, sehingga tidak akan banyak manfaatnya bagi mereka. Namun, seseorang bisa juga “berpikir” hal-hal yang “bermakna”, “penuh hikmah” dan “penting” setiap saat semenjak bangun tidur hingga kembali ke tempat tidur, dan mengambil pelajaran ataupun kesimpulan dari apa yang dipikirkannya.

    Dalam Al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa orang-orang yang beriman memikirkan dan merenungkan secara mendalam segala kejadian yang ada dan mengambil pelajaran yang berguna dari apa yang mereka pikirkan.

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Aali ‘Imraan, 3: 190-191).

    Ayat di atas menyatakan bahwa oleh karena orang-orang yang beriman adalah mereka yang berpikir, maka mereka mampu melihat hal-hal yang menakjubkan dari ciptaan Allah dan mengagungkan Kebesaran, Ilmu serta Kebijaksanaan Allah.

    Berpikir dengan ikhlas sambil menghadapkan diri kepada Allah Agar sebuah perenungan menghasilkan manfaat dan seterusnya menghantarkan kepada sebuah kesimpulan yang benar, maka seseorang harus berpikir positif. Misalnya: seseorang melihat orang lain dengan penampilan fisik yang lebih baik dari dirinya. Ia lalu merasa dirinya rendah karena kekurangan yang ada pada fisiknya dibandingkan dengan orang tersebut yang tampak lebih rupawan. Atau ia merasa iri terhadap orang tersebut. Ini adalah pikiran yang tidak dikehendaki Allah. Jika ridha Allah yang dicari, maka seharusnya ia menganggap bagusnya bentuk rupa orang yang ia lihat sebagai wujud dari ciptaan Allah yang sempurna. Dengan melihat orang yang rupawan sebagai sebuah keindahan yang Allah ciptakan akan memberikannya kepuasan. Ia berdoa kepada Allah agar menambah keindahan orang tersebut di akhirat. Sedang untuk dirinya sendiri, ia juga meminta kepada Allah agar dikaruniai keindahan yang hakiki dan abadi di akhirat kelak. Hal serupa seringkali dialami oleh seorang hamba yang sedang diuji oleh Allah untuk mengetahui apakah dalam ujian tersebut ia menunjukkan perilaku serta pola pikir yang baik yang diridhai Allah atau sebaliknya.

    Keberhasilan dalam menempuh ujian tersebut, yakni dalam melakukan perenungan ataupun proses berpikir yang mendatangkan kebahagiaan di akhirat, masih ditentukan oleh kemauannya dalam mengambil pelajaran atau peringatan dari apa yang ia renungkan. Karena itu, sangatlah ditekankan disini bahwa seseorang hendaknya selalu berpikir secara ikhlas sambil menghadapkan diri kepada Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an :

    “Dia lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah).” (QS. Ghaafir, 40: 13).

    ***

    hyahya.org

    Nike Fatri LisiaJan

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 5 November 2014 Permalink | Balas  

    sholat 1Menikmati Buah Ibadah Assalamualaikum wr. wb. Wahai Saudari saudaraku yang dimuliakan Allah SWT. Ibadah adalah aktifitas jasmani dan ruhani bagi orang beriman yang dimanifestasikan dalam bentuk amaliyah dan dipersembahkan kepada Allah SWT. serta mencari keridhaan- NYA. Yang dimaksud ridha adalah ketaatan yang diterima oleh Allah SWT. karena ibadah tersebut dilaksanakan semata mata untuk mendapatkan anugerah dan diniatkan penuh keikhlasan, jauh dari sifat ‘ ujub. Orang yang ridha (suka dan senang) memberikan sesuatu kepada sesamanya, adalah orang yang artinya ia menyerahkan sesuatu tersebut dilakukan dengan hati rela, tidak karena mengharapkan balasan atau ingin mendapatkan pujian. Ridha dalam ibadah berarti melaksanakan ketaatan semata mata karena Allah. Tidak ada sesuatu yang menyertainya. Orang yang ridha dalam ibadahnya, maka Allah juga ridha dalam menerima persembahan ibadahnya dan memantapkan ketaatannya murni di sisi-NYA. Orang yang ridha dalam ibadah, Allah pun ridha kepadanya. Ketika seorang hamba telah menerima keridhaan Allah dari ibadahnya yang tulus, maka ia berada dalam suasana yang membahagiakan. Tumbuh cahaya dalam hatinya, karena keridhaan Allah memberikan cahaya bagi ruhaninya. Ia akan mendapatkan kenikmatan dan kelezatan dalam ibadah sebagai anugrah pertama di saat berada di dunia. Itulah buah ibadah. Hamba Allah yang telah mendapatkan kenikmatan dari ibadahnya, adalah tanda bahwa ibadahnya telah diterima oleh SWT. Kenikmatan dari buahnya ibadah hanya dapat dirasakan tatkala si hamba sedang melaksanakannya. Jika ia belum dapat merasakan lezat dan nikmatnya ibadah, berarti ibadah yang diamalkan belum menghasilkan buah. Ibadahnya baru pada kulitnya, belum masuk kepada kedalaman isinya, sehingga buah ibadah belum dinikmatinya. Seorang ahli tasawuf berkata : ” Saya telah melaksanakan shalat lail selama dua puluh tahun, dan barulah saya mendapatkan kenikmatannya pada tahun ke dua puluh.” Seorang sufi lainnya berkata : ” Saya telah melatih diri membaca Al-Qur’an selama dua puluh tahun. Setelah dua puluh itu barulah saya merasakan dan mengenyam kenikmatannya. ” (Berarti tahun kedua puluh dari pembacaan Al-Qur’annya itu). Para Ulama salaf menjelaskan : ” Bahwasanya halawah (lezat) dan nikmatnya membaca Al-Qur’an itu akan diperoleh apabila bacaannya dilaksanakan dengan tertib, memahami maknanya, dan seakan akan berada di hadapan Rasulullah SAW, seperti beliau sedang mengajar sahabat-sahabatnya. Demikian juga apabila seseorang sedang membaca shalawat, hendaknya ia membayangkan seakan-akan sedang berada di hadapan Rasulullah SAW. Ia meresapkan bacaan shalawat itu dengan tawadhu’ seakan-akan ia sedang berdialog dengan junjungan Nabi SAW. Karena shalawat yang diucapkannya, didengar oleh Nabi SAW. di dalam kuburnya. Demikian juga apabila ia sedang membaca zikir, atau menyebut asma asma Allah dengan perasaan dan hati tulus, menghidmati kebesaran Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan-NYA. Hendaklah merasakan di kedalaman kalbunya akan keagungan Allah. Dengan cara ini ia akan merasakan nikmatnya berzikir. Seorang sufi lain berkata: ” Apabila seorang hamba bersungguh sungguh dalam ibadahnya niscaya ia akan merasakan halawah (manis) beribadah. Amal seperti inilah yang Insyah Allah akan terkabul. Ibadah yang tidak menimbulkan rasa halawah adalah ibadah yang belum bersih. Ibadah yang masih bercampur dengan kotoran-kotoran ujub dan ria. Allah SWT. mengingatkan : ” Hanyalah Allah akan menerima (ibadah) orang orang yang takwa.” (QS.Al-Maidah ayat 27). Semua amal ibadah yang dilaksanakan dengan penuh ketaatan dan dihiasi dengan keihlasan oleh seorang hamba, niscaya akan memunculkan kelezatan halawah, serta akan dianugerahkan untuknya buah ibadah di akhirat yang benar-benar indah. Sebaliknya, amal ibadah yang dilaksanakan dengan niat yang jauh dari ridha Allah, bercampur dengan kepentingan duniawi yang kotor, kemudian dihiasi dengan ujub dan ria, niscaya tidak memperoleh apa pun di dunia dan di akhirat dia akan menjadi orang yang bangrut/merugi. Walaupun demikian janganlah seorang hamba, merasa bangga atas amal ibadahnya, atau merasa puas, sebab perasaan demikian akan menodai amal ibadah dengan ujub dan ria. Akibatnya akan merusak amal. Selanjutnya ia tidak akan merasakan halawah dan kenikmatannya. *** Sumber : Diambil dari buku karya DJamaluddin Ahmad Al-Bunny. Kiriman: Dwi Nopitasari

     
  • erva kurniawan 4:06 am on 4 November 2014 Permalink | Balas  

    sholat malamMenggunakan Logika untuk mencapai keimanan

    Mencapai Keimanan Dengan Logika

    Keimanan adalah keyakinan, yang dalam Islam wajib dicapai dengan penuh kesadaran dan pengertian, karena hanya dengan inilah kesetiaan tunggal pada Islam (tauhid) bisa diharapkan, seperti halnya seorang fisikawan yang telah yakin akan keakuratan instrumennya, sehingga ia pun segera berbuat sesuatu, begitu instrumen itu mengabarkan existensi radiasi atom yang tidak pernah bisa dideteksi oleh indera fisikawan itu sendiri.

    Fitrah manusia

    Sejak adanya manusia, manusia memiliki berbagai ciri-ciri (fitrah) yang membedakannya dari mahluk lain. Manusia memiliki intuisi untuk memilih dan tidak mau menyerah pada hukum-hukum alam begitu saja. Manusia bisa mengerjakan sesuatu yang berlawanan dengan nalurinya, misal makan meski sudah kenyang (karena menghormati tuan rumah), atau tidak melawan meski disakiti (karena menjaga perasaan orang). Hal ini tidak ada pada binatang. Seekor kucing yang sudah kenyang tak mau lagi mencicipi makanan yang enak sekalipun.

    Manusia memiliki kemampuan mewariskan kepada manusia lain (atau keturunannya) hal-hal baru yang telah dipelajarinya. Inilah asal peradaban manusia. Hal ini tidak terdapat pada binatang. Seekor kera yang terlatih main musik dalam circus tidak akan mampu melatih kera lainnya. Seekor kera hanya bisa melatih seekor anak kera pada hal-hal yang memang nalurinya (memanjat, mencari buah).

    Kesamaan manusia dengan binatang hanya pada kebutuhan eksistensialnya (makan, minum, istirahat dan melanjutkan keturunan).

    Manusia mencari hakekat hidupnya

    Manusia yang telah terpenuhi kebutuhan eksistensialnya akan mulai mempertanyakan, untuk apa sebenarnya hidup itu. Hal ini karena manusia memiliki kebebasan memilih, mau hidup atau mati. Karena faktor non naluriahnya, manusia bisa putus asa dan bunuh diri, sementara tidak ada binatang yang bunuh diri kecuali hal itu dilakukannya dalam rangka mempertahankan eksistensinya juga (pada lebah misalnya).

    Pertanyaan tentang hakekat hidup ini yang memberi warna pada kehidupan manusia, yang tercermin dalam kebudayaan, yang digunakannya untuk mencapai kepuasan ruhaninya.

    Manusia membutuhkan Tuhan

    Dalam kondisi gawat yang mengancam eksistensinya (misalnya terhempas ombak di tengah samudra, sementara pertolongan hampir mustahil diharapkan), fitrah manusia akan menyuruh untuk mengharapkan suatu keajaiban.

    Demikian juga ketika seseorang sedang dihadapkan pada persoalan yang sulit, sementara pendapat dari manusia lainnya berbeda-beda, ia akan mengharapkan petunjuk yang jelas yang bisa dipegangnya. Bila manusia tersebut menemukan seseorang yang bisa dipercayainya, maka dalam kondisi dilematis ini ia cenderung merujuk pada tokoh idolanya itu.

    Dalam kondisi seperti ini, setiap manusia cenderung mencari “sesembahan”. Mungkin pada kasus pertama, sesembahan itu berupa dewa laut atau sebuah jimat pusaka. Pada kasus kedua, “sesembahan” itu bisa berupa raja (pepunden), bisa juga berupa tokoh filsafat, pemimpin revolusi bahkan seorang dukun yang sakti.

    Tanda-tanda eksistensi Tuhan

    Di luar masalah di atas, perhatian manusia terhadap alam sekitarnya membuatnya bertanya, “Mengapa bumi dan langit bisa sehebat ini, bagaimana jaring-jaring kehidupan (ekologi) bisa secermat ini, apa yang membuat semilyar atom bisa berinteraksi dengan harmoni, dan dari mana hukum- hukum alam bisa seteratur ini”.

    Pada masa lalu, keterbatasan pengetahuan manusia sering membuat mereka cepat lari pada “sesembahan” mereka setiap ada fenomena yang tak bisa mereka mengerti (misal petir, gerhana matahari). Kemajuan ilmu pengetahuan alam kemudian mampu mengungkap cara kerja alam, namun tetap tidak mampu memberikan jawaban, mengapa semua bisa terjadi.

    Ilmu alam yang pokok penyelidikannya materi, tak mampu mendapatkan jawaban itu pada alam, karena keteraturan tadi tidak melekat pada materi. Contoh yang jelas ada pada peristiwa kematian. Meski beberapa saat setelah kematian, materi pada jasad tersebut praktis belum berubah, tapi keteraturan yang membuat jasad tersebut bertahan, telah punah, sehingga jasad itu mulai membusuk.

    Bila di masa lalu, orang mengembalikan setiap fenomena alam pada suatu “sesembahan” (petir pada dewa petir, matahari pada dewa matahari), maka seiring dengan kemajuannya, sampailah manusia pada suatu fikiran, bahwa pasti ada “sesuatu” yang di belakang itu semua, “sesuatu” yang di belakang dewa petir, dewa laut atau dewa matahari, “sesuatu” yang di belakang semua hukum alam.

    “Sesuatu” itu, bila memiliki sifat-sifat ini:

    1. Maha Kuasa
    2. Tidak tergantung pada yang lain
    3. Tak dibatasi ruang dan waktu
    4. Memiliki keinginan yang absolut

    maka dia adalah Tuhan, dan berdasarkan sifat-sifat tersebut tidak mungkin zat tersebut lebih dari satu, karena dengan demikian berarti satu sifat akan tereliminasi karena bertentangan dengan sifat yang lain.

    Tuhan berkomunikasi via utusan

    Kemampuan berfikir manusia tidak mungkin mencapai zat Tuhan. Manusia hanya memiliki waktu hidup yang terhingga. Jumlah materi di alam ini juga terhingga. Dan karena jumlah kemungkinannya juga terhingga, maka manusia hanya memiliki kemampuan berfikir yang terhingga. Sedangkan zat Tuhan adalah tak terhingga (infinity). Karena itu, manusia hanya mungkin memikirkan sedikit dari “jejak-jejak” eksistensi Tuhan di alam ini. Adalah percuma, memikirkan sesuatu yang di luar “perspektif” kita.

    Karena itu, bila tidak Tuhan sendiri yang menyatakan atau “memperkenalkan” diri-Nya pada manusia, mustahil manusia itu bisa mengenal Tuhannya dengan benar. Ada manusia yang “disapa” Tuhan untuk dirinya sendiri, namun ada juga yang untuk dikirim kepada manusia-manusia lain. Hal ini karena kebanyakan manusia memang tidak siap untuk “disapa” oleh Tuhan.

    Utusan Tuhan dibekali tanda-tanda

    Tuhan mengirim kepada manusia utusan yang dilengkapi dengan tanda-tanda yang cuma bisa berasal dari Tuhan. Dari tanda-tanda itulah manusia bisa tahu bahwa utusan tadi memang bisa dipercaya untuk menyampaikan hal- hal yang sebelumnya tidak mungkin diketahuinya dari sekedar mengamati alam semesta. Karena itu perhatian yang akan kita curahkan adalah menguji, apakah tanda-tanda utusan tadi memang autentik (asli) atau tidak.

    Pengujian autentitas inilah yang sangat penting sebelum kita bisa mempercayai hal-hal yang nantinya hanyalah konsekuensi logis saja. Ibarat seorang ahli listrik yang tugas ke lapangan, tentunya ia telah menguji avometernya, dan ia telah yakin, bahwa avometer itu bekerja dengan benar pada laboratorium ujinya, sehingga bila di lapangan ia dapatkan hasil ukur yang sepintas tidak bisa dijelaskanpun, dia harus percaya alat itu. Seorang fisikawan adalah seorang manusia biasa, yang dengan matanya tak mungkin melihat atom. Tapi bila ia yakin pada instrumentasinya, maka ia harus menerima apa adanya, bila instrumen tersebut mengabarkan jumlah radiasi yang melebihi batas, sehingga misalnya reaktor nuklirnya harus segera dimatikan dulu.

    Karena yakin akan autentitas peralatannya, seorang astronom percaya adanya galaksi, tanpa perlu terbang ke ruang angkasa, seorang geolog percaya adanya minyak di kedalaman 2000 meter, tanpa harus masuk sendiri ke dalam bumi, dan seorang biolog percaya adanya dinosaurus, tanpa harus pergi ke zaman purba.

    Keyakinan pada autentitas inilah yang disebut “iman”. Sebenarnya tak ada bedanya, antara “iman” pada autentitas tanda-tanda utusan Tuhan, dengan “iman”-nya seorang fisikawan pada instrumennya. Semuanya bisa diuji. Karena bila di dunia fisika ada alat yang bekerjanya tidak stabil sehingga tidak bisa dipercaya, ada pula orang yang mengaku utusan Tuhan tapi tanda- tanda yang dibawanya tidak kuat, sehingga tidak pula bisa dipercaya.

    Menguji autentitas tanda-tanda dari Tuhan

    Tanda-tanda dari Tuhan itu hanya autentis bila menunjukkan keunggulan absolut, yang hanya dimungkinkan oleh kehendak penciptanya (yaitu Tuhan sendiri). Sesuai dengan zamannya, keunggulan tadi tidak tertandingi oleh peradaban yang ada. Dan orang pembawa keunggulan itu tidak mengakui hal itu sebagai keahliannya, namun mengatakan bahwa itu dari Tuhan !!!

    Pada zaman Nabi Musa, ketika ilmu sihir sedang jaya-jayanya, Nabi Musa yang diberi keunggulan mengalahkan semua ahli sihir, justru mengatakan bahwa ia tidak belajar sihir, namun semuanya itu hanya karena ijin Tuhan semata.

    Demikian juga Nabi Isa, yang menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan, meski masyarakatnya merupakan yang termaju dalam ilmu pengobatan pada masanya. Toh Nabi Isa hanya mengatakan semua itu karena kekuasaan Tuhan semata, dan ia bukan seorang tabib.

    Dan Nabi Muhammad? Tanda-tanda beliau sebagai utusan yang utama adalah Al-Quran. Pada saat itu Mekkah merupakan pusat kesusasteraan Arab, tempat para sastrawan top mengadu kebolehannya. Dan meski pada saat itu semua orang takjub pada keindahan ayat-ayat Al-Quran yang jauh mengungguli semua puisi dan prosa yang pernah ada, Nabi Muhammad hanya mengatakan, ayat itu bukan bikinannya, tapi datangnya dari Allah.

    Itu 14 abad yang lalu. Pada masa kini, ketika ilmu alam berkembang pesat, terbukti pula, bahwa kitab Al-Quran begitu teliti. Tidak ada ayat yang saling bertentangan satu sama lain. Dan tak ada pula ayat Al-Quran yang tidak sesuai dengan fakta-fakta ilmu alam.

    Di sisi lain, fenomena pembawa ajaran itu juga menunjukkan sisi autentitasnya. Meski mereka:

    • orang biasa yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan, juga tidak join dengan penguasa atau yang bisa menjamin kesuksesannya;
    • menyebarkan ajaran yang melawan arus, bertentangan dengan tradisi yang lazim di masyarakatnya;

    mereka berhasil dengan ajarannya, dan keberhasilan ini sudah diramalkan lebih dulu pula, dan semua itu dikatakannya karena Tuhanlah yang menolongnya.

    Konsekwensi setelah meyakini autentitas tanda-tanda kenabian Muhammad

    Setelah kita menguji autentitas tanda-tanda kenabian Muhammad dengan menggunakan segala piranti logika yang kita miliki, dan kita yakin bahwa itu asli berasal dari Tuhan, maka kita harus menerima apa adanya yang disebutkan oleh kitab Al-Quran maupun oleh hadits yang memang teruji autentis berasal dari Muhammad.

    Dan ajaran Nabi Muhammad saw ini adalah satu-satunya ajaran autentis dari Allah, yang diturunkan kepada penutup para utusan, tidak tertuju ke satu bangsa saja, tapi ke seluruh umat manusia, sampai akhir zaman.

    ***

    Sumber : Eramuslim

     
  • erva kurniawan 3:42 am on 3 November 2014 Permalink | Balas  

    ghibahMenghindar diri dari Ghibah

    Assalamualikum wr.wb.

    Wahai Saudaraku Sesama Muslim Yang Dimuliakan Allah SWT., dalam percakapan kita sehari hari seringkali tanpa kita sadari kita terjebak dalam pembicaan yang mengarah ke perbuatan menggunjing atau ghibah. Kalau mau jujur terutama kita perempuan, apabila dua atau tiga orang perempuan berkumpul, awal pembicaraan masih terasa mencakup sesuatu yang bersifat umum seperti resep masakan, model pakaian yang sedang ngetrend, atau hal hal yang berurusan dengan masalah kecantikan dan sebagainya. Tetapi selang beberapa saat kemudian pembicaraan mulai menjurus ke pribadi seseorang. Tentunya hal ini perlu kita waspadai, kalau tidak ingin jatuh dalam perbuatan dosa.

    Sudah pasti kita tidak akan mengijinkan seseorang menghidangkan jasad saudara kita yang sudah mati untuk kita makan. Tentu kita akan merasa jijik. Bisakah kita bayangkan bahwa apabila kita mengumpat saudara kita, maka itu seperti kita memakan dagingnya yang sudah menjadi bangkai? Perbuatan menggunjing (ghibah) termasuk dosa besar. Oleh karena itu, hindarilah perbuatan menggunjing pada semua kesempatan.

    Sebagai misal, jika kita hadir disuatu majelis dimana orang orang yang hadir sedang sibuk menggunjing seseorang, maka kita harus berani mengatakan kepada mereka, tentunya dengan cara yang pantas, bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah perbuatan menggunjing dan hukumnya haram. Hal ini memang terasa berat untuk kita lakukan, tapi marilah kita sama sama belajar untuk menertibkan diri dari perbuatan ghibah ini, diawali dari kita sendiri dan berusaha menerapkan pada lingkungan dekat, seperti keluarga, teman, kerabat dan seterusnya.

    Kenyataan yang banyak terjadi ialah, sebagian orang tatkala sedang bersama sama degan orang yang sedang menggunjing, dia malah ikut melakukannya. Terutama apabila dia dengan orang yang digunjingkan itu sedang ada masalah. Ia pun berpikir, inilah saat yang tepat untuk membalas dendam kepadanya lewat ucapan.

    Salah satu kisah pelajaran yang berkaitan dengan perbuatan ghibah adalah : Diceritakan bahwa salah seorang ulama mutakadim mendatangi suatu majelis. Didalam majelis tersebut orang orang yang hadir sedang membicarakan berbagai hal yang bercampur dengan ghibah. Baru saja jubah ulama tersebut menyentuh lantai majelis, dia cepat cepat bangkit meninggalkan majelis tersebut dengan perasaan sedih, sementara air mata membasahi kedua pipinya. Serentak orang orang yang hadir merasa heran. Salah seorang dari mereka cepat-cepat menemuinya dan bertanya, “Tuan yang mulia, apa yang menyebabkan anda meninggalkan majelis dan menangis? Apakah ada salah seorang dari kami yang menyakiti hatimu atau berlaku kurang ajar kepadamu?”

    Ulama tersebut menjawab, “Sesungguhnya saya tidak bersedia hadir disuatu majelis yang di dalamnya daging manusia dimakan!”

    Demikianlah ulama saleh tersebut mengungkapkan penolakan dirinya terhadap perbuatan ghibah. Yaitu, dengan meninggalkan majelis dan menangis karena perbuatan ghibah yang dilakukan kepada orang mukmin.

    Allah SWT. berfirman didalam surah Al-Hujarat ayat (12). “Dan janganlah kamu mencari cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sudahkah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka tentulah kamu merasa jijik karenanya.”

    Imam ‘Ali kw berkata, “Menggunjing adalah usaha orang yang lemah.” Imam Muhammad Al-Baqir as berkata, ” Termasuk ghibah adalah engkau mengatakan sesuatu tentang saudaramu yang Allah SWT. tutupi darinya……dan, merupakan perbuatan dusta apabila engkau mengatakan sesuatu tentang saudaramu yang tidak ada pada dirinya.”

    Ada baiknya perlahan lahan kita belajar menahan diri dari perbuatan ghibah ini, walau untuk sebagian orang dianggap sah sah saja, dengan berganti nama bergosip ria, atau ada yang berkata itu mah hanya ngerumpi biasa, mungkin terinspirasi dari berbagai publikasi infotainment yang selalu disajikan dunia pertelevisian kita, ataukah sesuatu yang mulai membudaya dalam kehidupan kita? padahal hal ini sangat dikecam keras oleh Junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW.

    Wawllahu’alam bishawab

    ***

    Sumber : Buku karya Khalil Al- Musawi

    Kiriman Sahabat Dwi Nopitasari

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 30 October 2014 Permalink | Balas  

    jenazahRingkasan Cara Pelaksanaan Jenazah

    Oleh

    Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid

    Tulisan ini hanya ringkasan dan tidak memuat dalil-dalil semua permasalahan secara terperinci. Maka barangsiapa di antara pembaca yang ingin mengetahui dalil-dalil setiap pembahasan dipersilahkan membaca kitab aslinya “Ahkaamul Janaaiz wa Bid’ihaa” karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah

    1. PADA SAAT SAKIT
    2. Orang yang sakit wajib menerima qadha (ketentuan) Allah, bersabar menghadapi serta berbaik sangka kepada Allah, semua ini baik baginya.
    3. Ia harus mempunyai perasaan takut serta harapan, yaitu takut akan siksaan Allah karena adanya dosa-dosa yang telah ia lakukan, serta harapan akan rahmat Allah.
    4. Bagaimana parahnya penyakitnya, ia tidak boleh mengangan-angan kematian, kalaupun terpaksa, maka hendaknya ia berdoa : -Allahumma ahyanii maa kanati al-hayatu khairan lii wa tawaffaniy idzaa kanati al-wafaatu khairan lii- “Artinya : Ya Allah hidupkanlah akau jika kehidupan lebih baik bagiku, matiknalah aku jika kematian lebih baik bagiku”
    5. Jika ia mempunyai kewajiban yang menyangkut hak orang lain, hendaknya menyelesaikan secepat mungkin. Jika tidak mampu hendaknya berwasiat untuk penyelesaiannya.
    6. Ia harus bersegera berwasiat
    7. MENJELANG MATI
    8. Menjelang mati, maka orang-orang yang ada di sekitarnya harus melakukan hal-hal berikut :

    [a] Mentalqin (menuntun) mengucapkan -Laa Ilaha Illal-llah- “Artinya : Tiada yang berhak disembah selain Allah”

    [b] Mendo’akan

    [c] Mengucapkan perkataan yang baik.

    1. Adapun membacakan surat Yaa sin di sisi orang yang meninggal atau menghadapkan ke kiblat maka amalan tersebut tidak ada dalilnya.
    2. Seorang muslim boleh menghadiri kematian orang non-muslim untuk menganjurkan kepadanya supaya masuk Islam (sebelum meninggal dunia).

    III. KETIKA MENINGGAL DUNIA

    Jika sudah meninggal dunia maka orang-orang yang ada disekitarnya harus melakukan hal-hal berikut :

    1. Memejamkan mata mayyit
    2. Mendo’akan
    3. Menutupnya dengan kain yang meliputi semua anggota tubuhnya. Tapi jika yang meninggal sedang melakukan ihram, maka kepala dan wajahnya tidak ditutupi
    4. Bersegera menyelenggarakan jenazahnya setelah yakin bahwa ia sudah betul-betul meninggal
    5. Menguburkan di kampung tempat ia meninggal, tidak memindahkan ke daerah lain kecuali dalam kondisi darurat. Karena memindahkan mayat ke daerah lain berarti menyalahi perintah mempercepat pelaksanaan jenazah.
    6. Bersegera menyelesaikan utang-utangnya semuanya dari harta si mayyit sendiri, mekipun sampai habis hartanya, maka negaralah yang menutupi utang-utangnya setelah ia sendiri sudah berusaha membayarnya. Jika negara tidak melakukan hal itu dan ada yang berbaik budi melunasinya, maka hal itu dibolehkan.
    7. YANG BOLEH DILAKUKAN PARA KERABATNYA DAN ORANG LAIN
    8. Boleh membuka wajah mayyit dan menciumnya, menangisi -tanpa ratapan- dalam kurung tiga hari
    9. Tatkala berita kematian sampai kepada kerabat mayyit, mereka harus :

    [a] Bersabar serta redha akan ketentuan Allah

    [b] Beristirjaa’ yaitu membaca : -Inna Lillahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun- “Artinya : Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada-Nya-lah kita akan kembal”

    1. Tidaklah menyalahi kesabaran jika ada wanita yang tidak berhias sama sekali asal tidak melebihi tiga hari setelah meninggalnya ayahnya atau selain ayahnya. Kecuali jika yang meninggal adalah suaminya, maka ia tidak berhias selama empat bulan sepuluh hari, karena hal ini ada dalilnya.
    2. Jika yang meninggal selain suaminya, maka lebih afdhal jika tidak meninggalkan perhiasannya untuk meredlakan/menyenangkan suaminya serta memuaskannya. Dan diharapkan adanya kebaikan di balik itu.
    3. HAL-HAL YANG TERLARANG

    Rasulullah telah melarang/mengharamkan hal yang selalu dilakukan oleh banyak orang disaat ada yang meninggal, hal-hal yang dilarang tersebut wajib diketahui untuk dihindari, di antaranya :

    1. Meratap, yaitu menangis berlebih-lebihan, berteriak, memukul wajah, merobek-robek kantong pakaian dan lain-lain.
    2. Mengacak-acak rambut
    3. Laki-laki memperpanjang jenggot selama beberapa hari sebagai selama beberapa hari sebagai tanda duka atas kematian seseorang. Jika duka sudah berlalu maka mereka kembali mencukur jenggot lagi.
    4. Mengumumkan kematian lewat menara-menara atau tempat lain, karena cara mengumumkan yang seperti itu terlarang dan syariat
    5. CARA MENGUMUMKAN KEMATIAN YANG DIBOLEHKAN
    6. Boleh menyampaikan berita kematian tanpa menempuh cara-cara yang diamalkan pada zaman jahiliyah dahulu. Bahkan terkadang menyampaikan berita kematian hukumnya menjadi wajib jika tidak ada yang memandikannya, mengkafani, menshalati dan lain-lain.
    7. Bagi yang menyampaikan berita kematian dibolehkan meminta kepada orang lain supaya mendo’akan mayyit, karena hal ini ada landasannya di dalam sunnah

    VII. TANDA-TANDA HUSNUL KHATIMAH

    Telah sah pejelasan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau menyebutkan beberapa tanda husnul khatimah (kematian/akhir hidu yang baik). Jika seseorang meinggal dunia dengan mengalami salah satu di antara tanda-tanda itu maka itu merupakan kabar gembira.

    1. Mengucapkan syahadat di saat meninggal
    2. Mati dengan berkeringat pada dahi
    3. Mati pada hari Jum’at atau pada malam Jum’at
    4. Mati Syahid di medan jihad
    5. Mati terkena penyait thaa’uun
    6. Mati terkena penyakit perut
    7. Mati tenggelam
    8. Mati terkena reruntuhan
    9. Mati seorang wanita hamil karenan janinnya
    10. Mati terkena penyakit paru
    11. Mati membela agama atau diri
    12. Mati membela/mempertahankan harta yang akan dirampok
    13. Mati dalam keterikatan dengan jalan Allah
    14. Mati dalam suatu amalan shalih
    15. Mati terbakar
     
  • erva kurniawan 1:55 am on 28 October 2014 Permalink | Balas  

    harta karunHarta yang penuh berkah

    Penulis:

    Achmad ibn Masduqie

    Sering sekali kita mendengar perihal harta barokah. Namun apakah sebenarnya yang dimaksud dengan harta yang barokah itu, dan apakah hubungannya dengan zakat ?

    Harta yang barokah ialah harta yang menyebabkan seseorang yang mempergunakannya memperoleh ketenangan dan ketenteraman jiwa sehingga mampu mendorongnya untuk berbuat kebaikan kepada sesama.

    Harta yang demikian inilah pada hakekatnya sangat didambakan dan dicari oleh setiap orang; sebab ketenangan dan ketenteraman jiwa itulah yang menjadi faktor penentu bagi kebahagiaan hidup seseorang.

    Dalam kitab Riyadus Shalihin dijelaskan bahwa yang dimaksud barokah adalah sesuatu yang dapat menambah kebaikan kepada sesama, ziyadatul khair ‘ala al ghair. Bila dikaitkan dengan harta, maka yang dimaksud dengan harta yang barokah itu sebagaimana dipaparkan di atas.

    Harta-harta yang barokah itu, haruslah yang halal dan baik, karena sesuatu yang diambil dari yang tidak halal dan tidak baik tidak mungkin mampu mendorong kita kepada kebaikan diri maupun orang lain, sebagaimana isyarat Allah swt. dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 168 yang artinya :

    “Wahai manusia, makanlah dari apa-apa yang ada di bumi yang halal dan yang baik. Dan janganlah kamu sekalian mengikuti jejak langkah dari Syaithan, karena sesungguhnya Syaithan itu adalah musuhmu yang nyata”.

    Dalam kesempatan yang lain Nabi Muhammad SAW juga pernah menyatakan “kullu lahmin nabata minal harom, fan naaru aula bihi.” Setiap daging yang timbul atau dihasilkan dari sesuatu yang haram maka hanyalah neraka yang patut menerimanya.

    Secara rinci yang dimaksudkan dengan halal di sini adalah:

    • Halal wujudnya, yaitu apa saja yang tidak dilarang oleh agama Islam, seperti makanan dan minuman yang tidak diharamkan oleh syari’at agama Islam.
    • Halal cara mengambil atau memperolehnya, yaitu cara mengambil atau cara memperoleh yang tidak dilarang oleh syari’at agama Islam, seperti harta yang diperoleh dari ongkos pekerjaan yang halal menurut pandangan syari’at agama Islam, sedang ongkos tersebut juga berasal dari hasil pekerjaan yang halal.
    • Halal karena tidak tercampur dengan hak milik orang lain, karena sudah dikeluarkan zakatnya. Harta yang demikian itu, jika berupa bahan makanan dan dimakan oleh seseorang, maka pengaruhnya sangat positif bagi kesehatan mental atau jiwa seseorang.

    Setiap orang yang lahir di dunia ini oleh Allah swt. telah dibekali dengan dua macam dorongan nafsu, yakni: nafsu yang mendorong manusia untuk berbuat durhaka dan nafsu yang mendorong untuk berbuat taqwa (kebajikan).

    Dalam surat As Syams ayat 7 dan 8 Allah swt. telah berfirman:

    “Demi jiwa dan apa-apa yang menyempurnakannya, maka Allah mengilhamkan pada jiwa tersebut kedurhakaan dan ketaqwaannya”.

    Kedua macam dorongan tersebut tidak dapat berwujud menjadi perbuatan yang nyata, manakala dalam diri seseorang tidak ada energi. Sedangkan energi itu adalah berasal dari bahan makanan. Sehingga apabila bahan makanan yang dimakan oleh seseorang adalah halal, maka energi yang ditimbulkan oleh bahan makanan tersebut adalah energi yang halal. Energi yang halal inilah yang mudah diserap dan dipergunakan oleh dorongan yang mengajak kepada perbuatan-perbuatan yang baik, benar dan haq.

    Sedang perbuatan-perbuatan yang baik, benar dan haq yang dilakukan oleh seseorang akan diserap oleh organ jiwa yang oleh Sigmund Freud disebut dengan “Ego Ideal”. Ego Ideal inilah yang selalu menghibur dan menenteramkan jiwa seseorang.

    Sebaliknya, jika bahan makanan yang dimakan oleh seseorang adalah berasal dari harta yang haram, maka energi yang timbul dari bahan makanan tersebut adalah energi yang haram, yang akan diserap oleh nafsu yang mengajak kepada kejelekan, kesalahan dan kebatilan.

    Manakala seseorang telah melakukan perbuatan yang jelek atau salah atau batil, maka perbuatan ini akan diserap oleh organ jiwa yang oleh Sigmund Freud disebut conscience. Kemudian conscience ini selalu menuntut jiwa manusia itu sendiri atas kejelekan atau kesalahan atau kebatilan yang telah dilakukan, sehingga ketenteraman jiwa menjadi terganggu. Semakin banyak kejelekan atau kesalahan atau kebatilan yang dilakukan oleh seseorang, maka semakin besar tuntutan dari consciense dan semakin goncang ketenangan dan ketenteraman jiwanya, sehingga pada akhinya orang yang selalu memakan makanan yang berasal dari harta yang haram akan dihadapkan pada dua alternatif, yaitu:

    • Jika kondisi jasmaninya kuat, maka jiwanya akan jebol dan akan terkena penyakit jiwa.
    • Jika kondisi jiwanya kuat, maka dia akan terserang penyakit psychosomatica.

    Sedang yang dimaksud dengan makanan yang baik menurut ayat 168 dari surat Al Baqarah di atas, adalah baik menurut syarat-syarat kesehatan. Sebab makanan yang tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan akan menyebabkan kondisi jasmani menjadi mudah terserang oleh berbagai macam penyakit. Seseorang tidak akan memperoleh ketenangan dan ketenteraman jiwa manakala badan jasmaninya selalu sakit-sakitan.

    Disamping itu perlu kita ketahui bahwa harta yang diberikan oleh Allah swt. kepada seseorang itu di dalamnya terdapat hak milik fakir miskin yang dititipkan oleh Allah swt. kepadanya. Hal ini telah diterangkan oleh Allah swt. dalam Al Qur’an surat Adz Dzaariyaat ayat 19: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”

    Harta orang miskin yang dititipkan oleh Allah swt. pada orang-orang kaya itu harus dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak, baik berupa zakat wajib maupun zakat sunnat, agar harta orang-orang kaya tersebut menjadi halal, karena tidak lagi tercampur dengan hak milik orang-orang miskin. Jadi zakat ini mempunyai peranan yang penting sekali untuk membuat harta yang kita miliki menjadi barokah karena zakat juga merupakan elemen yang menjadikan harta itu bisa memberikan kebahagiaan dan kebaikan kepada orang lain.

    Jika kita mau mengadakan penelitian atau research terhadap orang-orang kaya yang hartanya tercampur oleh harta yang tidak halal, baik wujudnya, atau cara mengambilnya, atau belum dizakati, maka kita akan mendapati kehidupan keluarga mereka itu ternyata tidak bahagia sebagaimana yang kita bayangkan. Kebahagiaan yang mereka dambakan ternyata hanya sebagai fatamorgana belaka.

    Dalam Al Qur’an surat An Nur ayat 39 Allah swt. telah berfirman:

    ” Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungannya”.

    Jadi harta yang barokah itu sangat besar peranannya dalam mencapai kebahagiaan hidup seseorang, baik di dunia maupun di akhirat. Itulah sebabnya maka Nabi Muhammad saw. pernah bersabda: “Mencari yang halal itu adalah kewajiban sesudah shalat fardlu”.

    Wallohu a’lam bish-shawab,-

     
  • erva kurniawan 2:34 am on 25 October 2014 Permalink | Balas  

    doaDo’a dengan: “Ya Allah Ampunilah Aku Jika Engkau Menghendaki”

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah ada seseorang di antara kamu yang berdo’a: “Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki”, atau berdo’a: “Ya Allah, limpahkan rahmat-Mu kepadaku jika Engkau menghendaki; tetapi hendaklah berkeinginan kuat dalam permohonannya itu, karena sesungguhnya Allah tiada sesuatu pun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu.”

    Dan disebutkan dalam riwayat Muslim:

    “Dan hendaklah ia membesarkan harapannya, karena sesungguhnya Allah tidak terasa berat bagi-Nya sesuatu yang Dia berikan.”

    Kandungan tulisan ini:

    Dilarang mengucapkan: “Jika Engkau menghendaki” dalam berdo’a.

    Alasannya, (ucapan ini menunjukkan seakan-akan Allah merasa keberatan dengan permintaan hamba-Nya atau merasa terpaksa untuk memenuhi permohonan hamba-Nya).

    Diperintahkan untuk berkeinginan kuat dalam berdo’a.

    Diperintahkan untuk membesarkan harapan dalam berdo’a.

    Alasannya, (karena Allah adalah Maha Kaya, Maha Luas karunia-Nya dan Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya).

    ***

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

     
  • erva kurniawan 7:36 am on 21 October 2014 Permalink | Balas  

    bohongLelah

    Kalau ada orang-orang yang masih terus menerus berdusta, aku tidak mengerti, terbuat dari apakah lidah mereka sehingga teramat hebat merangkai kata-kata indah menutupi kebenaran, menyembunyikan hakikat mengedepankan kepalsuan. Padahal sekali saja berdusta, sudah sedemikian lelahnya kita berpikir untuk mencari segudang alasan baru untuk dusta berikutnya, sudah sebegitu kelunya lidah ini terpaksa menari mengikuti irama gendang kepalsuan yang tak hentinya bertabuh.

    Jika masih ada sebagian orang yang saling mencaci, menghina, menggunjing, berprasangka buruk dan menjelek-jelekkan saudaranya, aku tidak tahu, sekuat apa penciuman dan mulutnya karena pada saat itu ia seperti tengaha memakan bangkai saudaranya sendiri.

    Seandainya masih beredar orang-orang yang tak hentinya berlaku sombong, angkuh dan takabbur, aku tak habis pikir, sebesar apa dirinya sehingga sangat lancang menantang kebesaran Tuhannya, dan sekuat apa tubuhnya kelak menanggung akibat dari kesombongannya. Padahal semestinya ia tahu, kesombongan adalah mutlak miliki Allah semata.

    Sekiranya tetap hidup manusia-manusia yang enggan menyisihkan sebagian harta yang dimilikinya, sementara bertebaran di seluruh penjuru bumi Allah ini anak-anak yatim piatu, fakir miskin dan orang-orang lemah, aku semakin heran, apakah ia selalu berpikir bahwa semua itu diperolehnya murni dari hasil jerih payahnya? Tak pernahkah ia tahu bahwa semua yang ada padanya itu adalah atas kehendak Allah Sang Pemberi Rizki? Yang seandainya Dia berkehendak, dengan sangat mudah pula Dia mengambil darinya?

    Mungkin saja masih ada segelintir makhluk Allah bernama manusia yang tak bosannya berzina, sungguh aku semakin bingung dibuatnya. Padahal seratus kali ayunan cambuk atau lemparan batu hingga mati bisa jadi satu-satunya alasan Allah untuk memberikan ampunan atas perbuatannya. Dan jika itu tidak dilakukannya, sudah pasti kilatan cambuk Allah di akhirat nanti bukan sekedar mematikan, tetapi menghancurkan tubuh kecil tak berarti ini. Lalu kenapa masih ada yang berani meski sekedar mendekatinya?

    Umpamanya masih hidup orang-orang yang gemar berbuat maksiat, bangga dengan dosa-dosanya, sungguh aku tidak akan pernah memahami, setebal apa kulit mereka menahan api neraka Allah, sekuat tubuh orang-orang itu menerima adzab Allah yang tak pernah berhenti.

    Namun, jika saja ada sebagian kecil dari orang-orang diatas yang berhenti melakukan semua yang dilarang Rabb-nya, ini yang sangat mudah aku pahami, tidak terlalu sulit untuk dimengerti, karena akupun pernah mengalaminya. Aku sangat tahu betul, lelah rasanya terus menerus berbuat dosa. Lelah menahan hentakan demi hentakkan yang bergemuruh di dalam dada ini setiap kali aku melakukan perbuatan maksiat. Dan lelah untuk terus memikirkan ancaman dan hukuman macam apa yang diberikan Allah kelak di hari pembalasan. Astaghfirullaah ?

    ***

    Eramuslim – Bayu Gautama

     
  • erva kurniawan 7:24 am on 20 October 2014 Permalink | Balas  

    Doa Qunut Nazilah 1Doa Qunut Nazilah

    Doa Qunut Nazilah dibaca ketika kaum muslimin terkena bencana, ancaman, penganiayaan, penindasan musuh-musuh Allah dan musuh kaum Muslimin.

    Seperti dikisahkan dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW pernah melakukan qunut selama satu bulan untuk mendoakan pembunuh-pembunuh para sahabatnya di Bir Al-Maunah.

    Dari Abu Hurairah RA :

    “Sesungguhnya bila ingin mendoakan seseorang, Nabi Muhammad SAW membacakan qunut sesudah ruku’ (Hr. Bukhari dan Ahmad bin Hambal).

    Doa Qunut Nazilah dibaca setiap sholat fardhu jahriyah (mahdzab Hanafi), sedangkan selain madzhab Hanafi, Doa Qunut Nazilah dibaca setiap kali sholat fardhu.

    Mari kita bacakan doa ini untuk saudara-saudara kita kaum muslimin dimana saja berada, khususnya yang sedang terkena ancaman, penganiayaan, dan penindasan musuh-musuh Allah.

    Inilah Doa Qunut Nazilah (Hadist diriwayatkan oleh Umar Bin Khatab) :

    Alloohummaghfir lilmu’miniina wal mu’minaat, Wal muslimiina wal muslimaat, Wa allif baina quluubihim, Wa ashlih dzaata bainahum, Wanshur ‘Alaa ‘Aduwwika wa’aduwwihim,

    Allohummal’in kafarota ahlil kitaabil ladziina, Yukadzibuuna rusulaka wayuqottiluuna auliyaa aka, Alloohumma khollif baina kalimaatihim, Wazalzil Aqdaamahum, Wa anzilbihim ba’sakalladzii layuroddu ‘anil qaumil mujrimiin,

    Bismillaahirrahmaanirrahiim, Allohumma innaanasta’iinuka

    Artinya:

    “Ya Allah ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, Ya Allah jinakkan, satu padukan hati orang-orang muslimin, Perbaikilah keadaan mereka, Tolonglah kaum muslimin untuk melawan musuh-musuh-Mu, dan musuh-musuh mereka

    Ya Allah, laknatlah orang-orang kafir yang mendustakan para RasulMu dan membunuh para kekasih-Mu, Ya Allah cerai-beraikan kesatuan kata mereka, Hancur leburkan kekuatan mereka, Dan turunkanlah bencana-Mu yang tiada tertolak lagi untuk orang-orang yang penuh dengan dosa

    Dengan menyebut nama-Mu ya Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang, Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan kepadaMu”

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 15 October 2014 Permalink | Balas  

    Shalat Jumat (Bagian 4) 

    sholat-jumatTata Cara Salat Jumat

    Adapun tata cara pelaksanaan salat Jumat, yaitu imam naik ke atas mimbar setelah tergelincirnya matahari, kemudian memberi salam. Apabila ia sudah duduk, maka muazin melaksanakan azan sebagaimana halnya azan Dhuhur. Selesai azan, berdirilah imam untuk melaksanakan khotbah yang dimulai dengan hamdalah dan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta membaca shalawat kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam. Kemudian, memberikan nasihat kepada para jamaah, mengingatkan mereka dengan suara yang lantang, menyampaikan perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, mendorong mereka untuk berbuat kebajikan, serta menakut-nakuti mereka dari berbuat keburukan, dan mengingatkan mereka dengan janji-janji kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta ancaman-ancaman-Nya. Kemudian duduk sebentar, lalu memulai khotbahnya yang kedua dengan hamdalah dan pujian kepada-Nya. Kemudian melanjutkan khotbahnya dengan pelaksanaan yang sama dengan khotbah pertama dan dengan suara yang layaknya seperti suara seorang komandan pasukan perang, sampai selesai tanpa perlu berpanjang lebar, kemudian turun dari mimbar. Selanjutnya, muazin melaksanakan iqamah untuk melaksanakan salat. Kemudian salat berjamaah dua rakaat dengan mengeraskan bacaan, dan sebaiknya surat yang dibaca pada rakaat pertama setelah al-Fatihah adalah surat Al-A’la dan pada rakaat kedua surat Al-Ghasyiah, atau pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah surat Al-Jumu’ah dan pada rakaat kedua surat Al-Munafiqun. Akan tetapi, jika imam membaca surat yang lain juga tidak apa-apa.

    Salat Sunnah Sebelum dan Sesudah Salat Jumat

    Dianjurkan salat sunnah sebelum pelaksanaan salat Jumat semampunya sampai imam naik ke mimbar, karena pada waktu itu tidak dianjurkan lagi salat sunnah, kecuali salat tahiyatul masjid bagi orang yang (terlambat) masuk ke dalam masjid. Dalam hal ini salat tetap boleh dilaksanakan sekalipun imam sedang berkhotbah, dengan catatan mempercepat pelaksanaannya sebagaimana diterangkan di atas.

    Adapun setelah salat Jumat, maka disunnahkan salat empat rakaat atau dua rakaat. Ini berdasarkan sabda Rasulullah Sallallaahu alaihi wa sallam :

    “Barangsiapa di antara kamu ingin salat setelah Jumat, maka hendaklah salat empat rakaat.” (HR Muslim).

    Dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhuma disebutkan:

    “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam salat setelah salat Jumat dua rakaat di rumah beliau.” (Muttafaq ‘alaih).

    Sebagai pengamalan hadis-hadis ini, sebagian ulama mengatakan bahwa seorang muslim apabila ingin salat sunnah setelah Jumat di masjid, maka dia salat empat rakaat dan apabila dia salat di rumah, maka dia salat dua rakaat.

    ***

    Referensi:

    Subulus Salaam, as-Son’ani

    Riyadhus Sholihin, an-Nawawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 2:29 am on 14 October 2014 Permalink | Balas  

    Shalat Jumat (Bagian 3) 

    sholat-jumatSyarat-Syarat Kewajiban Salat Jumat

    Salat Jumat diwajibkan atas setiap muslim, laki-laki yang merdeka, sudah mukallaf, sehat badan serta muqim (bukan dalam keadaan musafir). Ini berdasarkan hadis Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Salat Jumat itu wajib atas setiap muslim, dilaksanakan secara berjamaah, terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang sakit.” (HR Abu Daud dan Hakim, hadis sahih).

    Adapun bagi orang yang musafir, maka tidak wajib melaksanakan salat Jumat, sebab Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam pernah melakukan perjalanan untuk menunaikan haji, dan bertempur, namun tidak pernah diriwayatkan bahwa beliau melaksanakan salat Jumat.

    Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa Amirul Mukminin Umar Ibnul Khattab Radhiallaahu anhu melihat seseorang yang terlihat akan melakukan perjalanan, kemudian beliau mendengar ucapannya, “Seandainya hari ini bukan hari Jumat, niscaya aku akan bepergian.” Maka Khalifah Umar berkata, “Silakan Anda pergi, sesungguhnya salat Jumat itu tidak menghalangimu dari bepergian.”

    Syarat-Syarat Sahnya Salat Jumat

    Untuk sahnya salat Jumat itu ada beberapa syarat, yaitu sebagai berikut:

    1. Dilaksanakan di suatu perkampungan atau kota, karena di zaman Rasulullah tidak pernah melaksanakan, kecuali di perkampungan atau di kota. Beliau Shallallaahu alaihi wa sallam juga tidak pernah menyuruh penduduk dusun (orang pedalaman) untuk melaksanakannya. Dan, tidak pernah disebutkan bahwa ketika bepergian beliau melaksanakan salat Jumat.
    2. Meliputi dua khotbah. Ini berdasarkan pada perbuatan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam dan kebiasaan beliau (dalam melaksanakannya). Juga dikarenakan khotbah merupakan salah satu manfaat yang sangat besar dari pelaksanaan salat Jumat. Karena, ia mengandung zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, peringatan terhadap kaum muslimin, serta nasihat bagi mereka.

    ***

    Referensi:

    Subulus Salaam, as-Son’ani

    Riyadhus Sholihin, an-Nawawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 2:26 am on 13 October 2014 Permalink | Balas  

    Shalat Jumat (Bagian 2) 

    SHOLAT BERJAMAAHHal-Hal yang Disunnahkan serta Beberapa Adab Hari Jumat

    1. Mandi, Berpakaian yang Rapi, Memakai Wangi-wangian, dan Bersiwak

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Mandi hari Jumat itu wajib bagi tiap muslim yang telah baligh.” (Muttafaq ‘alaih).

    “Mandi, memakai siwak, mengusapkan parfum sebisanya pada hari Jumat dianjurkan pada setiap laki-laki yang telah baligh.” (Muttafaq ‘alaih).

    “Apa yang menghalangi salah seorang di antara kamu jika dia mempunyai kesempatan untuk memakai dua pakaian (baju dan sarung) selain pakaian kerjanya pada hari Jumat.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah, sahih).

    “Hak setiap muslim adalah siwak, mandi Jumat dan memakai minyak wangi dari rumah jika ada.” (HR Bazzar, sahih).

    1. Lebih Awal Pergi ke Masjid untuk Salat Jumat

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat seperti mandi jinabat, kemudian dia pergi ke masjid pada saat pertama, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor unta dan siapa yang berangkat pada saat kedua, maka seakan-akan ia berkurban dengan seekor sapi, dan siapa yang pergi pada saat ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor domba yang mempunyai tanduk, dan siapa yang berangkat pada saat keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor ayam, dan siapa yang berangkat pada saat kelima, maka seolah-olah dia berkurban dengan sebutir telur, dan apabila imam telah datang, maka malaikat ikut hadir mendengarkan khotbah.” (Muttafaq ‘alaih).

    1. Melakukan Salat-Salat Sunnah di Masjid Sebelum Salat Jumat Selama Imam Belum Datang

    Apabila imam telah datang, maka berhenti dari itu, kecuali salat tahiyyatul masjid tetap boleh dikerjakan, meskipun imam sedang berkhotbah, tetapi hendaknya dipercepat.

    “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jumat dan bersuci sebisa mungkin, kemudian dia memakai wangi-wangian atau memakai minyak wangi, lalu pergi ke masjid dan (di sana) tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk berjajar), kemudian dia salat yang disunnahkan baginya, dan dia diam apabila imam telah berkhutbah, terkecuali akan diampuni dosa-dosanya antara Jumat (itu) dan Jum’at berikutnya selama dia tidak berbuat dosa besar.” (HR Bukhari)

    1. Makruh Melangkahi Pundak-Pundak Orang yang Sedang Duduk dan Memisahkan (Menggeser) Mereka

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam, ketika beliau melihat seseorang yang melangkahi pundak orang-orang.

    “Duduklah, sesungguhnya kamu telah mengganggu orang lain, lagi pula kamu datang terlambat.” (HR Ahmad, Abu Daud dan an-Nasai, hadis shahih)

    “… Dan tidak memisahkan antara dua orang… niscaya akan diampuni segala dosanya dari Jumat (itu) ke Jumat berikutnya.”

    1. Berhenti dari Segala Pembicaraan dan Perbuatan Sia-Sia apabila Imam telah Datang

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Apabila kamu berkata kepada temanmu ‘diamlah’, ketika imam sedang berkhutbah pada hari Jumat, maka sesungguhnya kamu telah berbuat sia-sia.” (Muttafaq ‘alaih).

    1. Diharamkan Transaksi Jual Beli ketika Azan Sudah Mulai Berkumandang

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka segeralah mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.” (al-Jumu’ah: 9)

    1. Hendaklah Memperbanyak Membaca Shalawat serta Salam kepada Rasulullah pada Malam Jumat dan Siang Harinya

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat, sesungguhnya tidak seorang pun yang membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat kecuali diperlihatkan kepadaku shalawatnya itu.” (HR Hakim dan Baihaqi).

    “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat dan malam Jumat, maka barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR Baihaqi, hadis hasan).

    1. Disunnahkan Membaca Surat Al-Kahfi

    “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka dia akan mendapat cahaya yang terang di antara kedua Jumat itu.” (HR Hakim dan Baihaqi, hadis sahih)

    1. Bersungguh-sungguh dalam Berdoa untuk Mendapatkan Waktu yang Mustajab

    “Sesungguhnya pada hari Jumat ada saat yang apabila seorang hamba muslim mendapatinya sedang dia dalam keadaan salat dan memohon kebaikan kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.” (HR Muslim).

    Saat istijabah itu ialah pada akhir waktu hari Jumat. Ini berdasarkan hadis Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Hari Jumat terdiri dari dua belas waktu, di antaranya ada waktu di mana tidak seorang hamba muslim pun yang meminta kepada Allah suatu permintaan terkecuali akan diberikan kepadanya, maka hendaklah kalian mencarinya pada waktu terakhir, yaitu setelah Ashar.” (HR Abu Daud, Nasai dan Hakim, hadis sahih).

    Dalam hadis lain disebutkan:

    Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, “Bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam, ‘Sebaik-baik hari, di mana matahari terbit di dalamnya adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu pula dia diturunkan ke bumi, pada hari itu pula taubatnya diterima, pada hari itu pula dia wafat, pada hari itu pula kiamat akan terjadi dan tidak ada makhluk yang melata di muka bumi kecuali menunggu hari Kiamat itu dari waktu Subuh hari Jumat sampai terbit matahari karena takut pada hari Kiamat, terkecuali jin dan manusia. Di dalamnya ada satu saat yang apabila seorang hamba muslim menemuinya, sedang dia dalam keadaan salat dan memohon kepada Allah suatu kebutuhan, niscaya akan dikabulkan permohonannya’. Ka’b berkata, ‘Yang demikian itu hanya ada satu hari dalam setahun?’ Aku berkata, ‘Bahkan pada setiap hari Jumat’. Berkata Abu Hurairah, ‘Maka Ka’b membaca Taurat, kemudian berkata, ‘Benarlah perkataan Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam itu’. Abu Hurairah berkata, ‘Kemudian aku bertemu Abdullah Ibnu Salam, lalu aku ceritakan apa yang menjadi pembicaraanku dengan Ka’b, maka dia berkata, ‘Aku telah mengetahui kapan saat itu’. Abu Hurairah berkata, ‘Aku katakan kepadanya, ‘Beritahukan kepadaku hal itu’. Abdullah bin Salam berkata, ‘Waktunya adalah saat terakhir dari hari Jumat’, Aku katakan kepadanya, ‘Bagaimana mungkin padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidak seorang hamba muslim pun yang mendapatinya sedang ia dalam keadaan salat, dan pada waktu itu (setelah Ashar) tidak boleh salat. Berkatalah Abdullah bin Salam, ‘Bukankah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Barangsiapa duduk pada suatu tempat sambil menunggu (waktu) salat, maka dia dianggap dalam keadaan salat sampai dia melaksanakan salat’, Aku katakan, ‘Ya’. Dia berkata, ‘Itulah maksudnya’.” (HR Abu Daud, Tirmidzi dan Nasai, hadis sahih).

    Dikatakan pula bahwa saat tersebut adalah sejak duduknya imam di atas mimbar hingga usainya pelaksanaan salat.

    ***

    Referensi:

    Subulus Salaam, as-Son’ani

    Riyadhus Sholihin, an-Nawawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 12 October 2014 Permalink | Balas  

    Shalat Jumat (Bagian 1) 

    sholat 4Hukum Salat Jumat

    Salat Jumat hukumnya wajib bagi kaum lelaki yang telah memenuhi syarat, yaitu sebanyak dua rakaat. Adapun dalil tentangnya adalah sebagai berikut.

    “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (Al-Jumuah: 9)

    “Hendaklah orang-orang itu berhenti dari meninggalkan salat Jumat atau kalau tidak, Allah akan menutup hati mereka kemudian mereka akan menjadi orang yang lalai.” (HR Muslim)

    “Sungguh aku berniat menyuruh seseorang (menjadi imam) salat bersama-sama yang lain, kemudian aku akan membakar rumah orang-orang yang meninggalkan shalat Jumat.” (HR Muslim)

    “Salat Jumat itu wajib bagi tiap-tiap muslim, dilaksanakan secara berjamaah, terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang yang sakit.” (HR Abu Daud dan al-Hakim, hadis sahih).

    Para ulama telah sepakat bahwa salat Jumat itu wajib hukumnya.

    Keutamaan Hari Jumat

    Hari Jumat adalah hari yang penuh keberkahan, mempunyai kedudukan yang agung, dan merupakan hari yang paling utama. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik hari adalah hari Jumat, pada hari itulah diciptakan Nabi Adam, dan pada hari itu dia diturunkan ke bumi, pada hari itu pula diterima taubatnya, pada hari itu pula beliau diwafatkan, dan pada hari itu pula terjadi Kiamat…. Pada hari itu ada saat yang kalau seorang muslim menemuinya kemudian salat dan memohon segala keperluannya kepada Allah, niscaya akan dikabulkan.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, Nasai dan lainnya, hadis sahih).

    ***

    Referensi:

    Subulus Salaam, as-Son’ani

    Riyadhus Sholihin, an-Nawawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 2:38 am on 10 October 2014 Permalink | Balas  

    nabi-muhammad-saw1Hati-hati Nongkrong Di Jalan

    Berhati-hatilah duduk-duduk di pinggir jalan. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagi kami sesuatu yang tidak dapat kami tinggalkan. Dalam berkumpul itu kami berbincang-bincang.” Nabi SAW menjawab, “Kalau memang suatu keharusan, maka berilah jalan itu haknya.” Mereka bertanya lagi, “Apa yang dimaksud haknya itu, ya Rasulullah?” Nabi SAW menjawab, “Palingkan pandanganmu dan jangan menimbulkan gangguan. Jawablah tiap ucapan salam dan ber-amar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Duduk-duduk di pinggir jalan memang mengasyikkan. Disamping pasang aksi dan jual tampang, juga mengobrol ke sana ke mari, bercanda ria, dan menikmati pemandangan di depannya. Menggoda orang yang lewat, terutama perempuan tidak terlepas dari aktivitas itu. Bahkan sampai berani mengganggu dan merayu.

    Kegiatan seperti ini telah menjadi kesenangan dan membudaya di kalangan muda-mudi dari zaman ke zaman. Malahan bukan hanya pemuda-pemudi saja yang menyenangi duduk-duduk di pinggir jalan ini, tapi pada tingkat orang dewasa dan orang tua juga menyukainya.

    Di zaman Rasulullah SAW hal ini pun merupakan kesenangan para sahabat, sehingga beliau mewanti- wanti dan memberi batasan tentang adab-adab yang harus dipenuhi oleh orang-orang yang senang duduk-duduk di pinggir jalan. Di antara ketentuan-ketentuan itu seperti dalam hadits di atas :

    Pertama, palingkan pandangan. Pandangan mata, sesuatu hal yang membahayakan karena akan mempengaruhi hati dan menggerakkan nafsu birahi yang bergejolak. Walaupun cepatnya pandangan secepat larinya anak panah dari busurnya, ia akan menyangkut dalam hati. Dan hati bisa menyeret pada keinginan untuk melampiaskan hasratnya itu.

    Karena berbahaya pandangan mata itu, Allah memerintahkan untuk menundukkan pandangan itu. Perintah ini tertera dalam surah An-Nuur 30-31 :

    Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka…,”

    Ibnu Qayyim berkata, “Pandangan mata adalah penyebab dan penggerak utama adanya nafsu birahi, maka menjaga pandangan mata merupakan penjagaan atas kemaluan. Barangsiapa membiarkan pandangan matanya berkeliaran untuk melihat sela-sela kemaksiatan, sesungguhnya Allah telah menciptakan sebagai cermin dari hati. Jika hamba ini menggerakkan matanya guna memandang barang haram, niscaya hatinya akan menggerakkan dan mempengaruhi nafsu birahi dan hasratnya. Dan jika seseorang memelihara pandangan matanyanya, niscaya hati tidak akan menggerakkan nafsu birahi.

    Kedua, jangan mengganggu. Nongkrong-nongkrong di pinggir jalan terasa kurang asyik bila tidak menggoda dan mengganggu orang. Gatal lidah rasanya bila tidak melontarkan kata-kata pada orang yang lewat di depan matanya. Keinginan itu pastilah muncul bagi orang yang senang duduk- duduk di pinggir jalan, bahkan ada juga yang tujuannya memang demikian. Untuk Rasulullah SAW memberikan persyaratan untuk tidak mengganggu orang, bila pekerjaan nongkrong di pinggir jalan ini tidak bisa ditinggalkan. “Kaffuladzai”, jangan menimbulkan gangguan.

    Ketiga, membalas ucapan salam. Islam telah mengatur tentang adab-adab salam sedemikian rupa, yang mencakup hukum memberi salam, hukum menjawabnya dan siapa yang lebih duluan salam.

    Apabila berjumpa sesama muslim, Rasulullah memerintahkan untuk saling mengucapkan salam. Yang muda mendahului memberi salam kepada yang tua, yang lewat kepada yang duduk, yang berkendaraan kepada yang berjalan kaki, yang berjumlah sedikit kepada yang banyak, dan laki-laki memberi salam kepada wanita. Wanita dilarang memberi salam kepada laki-laki.

    Berdosa hukumnya bila ada salam tidak dijawab, karena hukum menjawab salam adalah wajib. Maka dengan itu Rasulullah memerintahkan untuk selalu menjawab salam orang yang lewat ketika kita nongkrong di pinggir jalan.

    Keempat, ber-amar ma’ruf nahi munkar. Bila suatu ketika di depan mata kita terjadi kezaliman, jangan sampai dibiarkan terjadi tanpa kita turun untuk mencegahnya. Sudah merupakan kewajiban bagi seseorang untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar. Cegahlah dengan tangan, atau dengan hati, tapi itu selemah-lemahnya iman. Jangan biarkan kemungkaran terjadi di depan mata kita, apalagi kita mampu untuk mencegahnya. Jika kita membiarkan, tunggulah siksa Allah di hari pembalasan kelak.

    “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla tidak menyiksa awam karena perbuatan dosa orang-orang yang khusus sehingga mereka melihat kemungkaran di hadapan mereka dan mereka mampu mencegahnya, tetapi mereka tidak mencegahnya. Kalau mereka berbuat demikian maka Allah menyiksa yang khusus dan yang awam.” (HR. Ahmad dan At-Thabrani).

    Kelima, tunjuki jalan bagi orang yang bertanya. Kewajiban lainnya bagi orang-orang yang duduk-duduk di pinggir jalan adalah memberikan bantuan dan menerangkan dengan jelas bagi orang yang memerlukan bantuan tersebut. Layani dengan baik, tanya apa keperluannya, mau ke mana, dan jawablah dengan baik lantas tunjuki jalan atau tempat yang dia cari, lebih baik lagi kalau diantarkan ke tempat yang dituju. Itulah kewajiban yang diperintahkan Rasulullah kepada orang- orang yang duduk-duduk di pinggir jalan.

    Nabi SAW mendatangi serombongan orang yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan, lalu beliau berkata, “kalau memang harus kamu lakukan maka balaslah ucapan salam dan tolonglah orang yang dizalimi. Tunjuki jalan bagi orang yang bertanya.” (HR. Abu Daud)

    Jelaslah bahwa Rasulullah SAW selalu menegur pada orang-orang yang duduk-duduk di pinggir jalan. Memalingkan pandangan, jangan mengganggu, menjawab salam, ber-amar ma’ruf nahi munkar, menolong orang yang dizalimi, dan menunjukkan jalan bagi orang yang bertanya. Bila hal-hal ini tidak bisa dilaksanakan, maka sebaiknya menghindari untuk duduk-duduk di pinggir jalan. Perbuatan ini membuka peluang untuk mengerjakan maksiat dan terus menambah tabungan dosa kita, yang akan dipertanggungjawabkan di hari kemudian. Pekerjaan yang demikian bila kita jauhi akan menghindarkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna, dan ini merupakan ciri orang beriman yang beruntung.

    “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna.” (QS. Al-Mu’minun: 1-3).

     
  • erva kurniawan 2:19 am on 7 October 2014 Permalink | Balas  

    niat baikNiat Baik Tidak Dapat Melepaskan Yang Haram

    Islam memberikan penghargaan terhadap setiap hal yang dapat mendorong untuk berbuat baik, tujuan yang mulia dan niat yang bagus, baik dalam perundang-undangannya maupun dalam seluruh pengarahannya. Untuk itulah maka Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya semua amal itu harus disertai dengan niat (ikhlas karena Allah), dan setiap orang dinilai menurut niatnya.” (Riwayat Bukhari).

    Niat yang baik itu dapat menggunakan seluruh yang mubah dan adat untuk berbakti dan taqarrub kepada Allah. Oleh karena itu siapa yang makan dengan niat untuk menjaga kelangsungan hidupnya dan memperkuat tubuh supaya dapat melaksanakan kewajibannya untuk berkhidmat kepada Allah dan ummatnya, maka makan dan minumnya itu dapat dinilai sebagai amal ibadah dan qurbah. Begitu juga, barangsiapa yang melepaskan syahwatnya kepada isterinya dengan niat untuk mendapatkan anak, atau karena menjaga diri dan keluarganya dari perbuatan maksiat, maka pelepasan syahwat tersebut dapat dinilai sebagai ibadah yang berhak mendapat pahala.

    Untuk itu pula, maka Rasulullah s.a.w. pernah menyabdakan: “Pada kemaluanmu itu ada sadaqah. Para sahabat kemudian bertanya: Apakah kalau kita melepaskan syahwat juga mendapatkan pahala? Jawab Nabi: Apakah kalau dia dilepaskan pada yang haram, dia juga akan beroleh dosa? Maka begitu jugalah halnya kalau dia lepaskan pada yang halal, dia pun akan beroleh pahala.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Begitulah, setiap perbuatan mubah yang dikerjakan oleh seorang mu’min, di dalamnya terdapat unsur niat yang dapat mengalihkan perbuatan tersebut kepada ibadah. Adapun masalah haram tetap dinilai haram, betapapun baik dan mulianya niat dan tujuan itu. Bagaimanapun baiknya rencana, selama dia itu tidak dibenarkan oleh Islam, maka selamanya yang haram itu tidak boleh dipakai alat untuk mencapai tujuan yang terpuji. Syariat Islam tidak membenarkan prinsip apa yang disebut al-ghayah tubarrirul wasilah (untuk mencapai tujuan, cara apapun dibenarkan), atau suatu prinsip yang mengatakan: al-wushulu ilal haq bil khaudhi fil katsiri minal bathil (untuk dapat memperoleh sesuatu yang baik, boleh dilakukan dengan bergelimang dalam kebatilan). Setiap tujuan baik harus dicapai dengan cara yang baik pula.

    Oleh karena itu, barangsiapa mengumpulkan uang yang diperoleh dengan jalan riba, maksiat, permainan haram, judi dan sebagainya yang dapat dikategorikan haram, dengan maksud untuk mendirikan masjid, menolong fakir miskin, yatim piatu, atau rencana-rencana baik lainnya, maka tujuan baiknya tidak akan menjadi syafaat dosa haramnya itu dihapus. Haram dalam syariat Islam tidak dapat dipengaruhi oleh tujuan dan niat.

    Sabda Rasulullah s.a.w: “Tidak seorang pun yang bekerja untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan haram kemudian ia sedekahkan, bahwa sedekahnya itu akan diterima; dan kalau dia infaqkan tidak juga mendapat barakah; dan tidak pula ia tinggalkan di belakang punggungnya (sesudah ia meninggal), melainkan dia itu sebagai perbekalan ke neraka. Sesungguhnya Allah tidak akan menghapuskan kejahatan dengan kejahatan, tetapi kejahatan dapat dihapus dengan kebaikan. Kejelekan tidaklah dapat menghapuskan kejelekan.” (Riwayat Ahmad dan lain-lain)

    ***

    Hindari hal yang haram dan segala sesuatu yang mendekatinya, karena bisa jadi hal itu menjadi penghalang dikabulkannya doa kita.

    ***

    Dikutip dari Halal dan Haram Dalam Islam, karya Dr. Yusuf Qardhawi

    Kiriman: Haris Satriawan

     
  • erva kurniawan 2:43 am on 6 October 2014 Permalink | Balas  

    Islam dan Iman: Apa Bedanya ..? 

    TauhidIslam dan Iman:  Apa Bedanya ..?

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Islam dalam pengertiannya secara umum adalah menghamba (beribadah) kepada Allah dengan cara menjalankan ibadah-ibadah yang disyari’atkan-Nya sebagaimana yang dibawa oleh para utusan-Nya sejak para rasul itu diutus hingga hari kiamat.

    Ini mencakup apa yang dibawa oleh Nuh ‘Alaihis sallam berupa hidayah dan kebenaran, juga yang dibawa oleh Musa ‘Alaihis sallam, yang dibawa oleh Isa ‘Alaihis sallam dan juga mencakup apa yang dibawa oleh Ibrahim ‘Alaihis sallam, Imamul hunafa’ (pimpinan orang-orang yang lurus), sebagaimana diterangkan oleh Allah dalam berbagai ayat-Nya yang menunjukkan bahwa syari’at-syari’at terdahulu seluruhnya adalah Islam kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

    Sedangkan Islam dalam pengertiannya secara khusus setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ajaran yang dibawa oleh beliau. Karena ajaran beliau menasakh (menghapus) seluruh ajaran yang sebelumnya, maka orang yang mengikutinya menjadi seorang muslim dan orang yang menyelisihinya bukan muslim karena ia tidak menyerahkan diri kepada Allah, akan tetapi kepada hawa nafsunya.

    Orang-orang Yahudi adalah orang-orang muslim pada zamannya Nabi Musa ‘Alaihis salllam, demikian juga orang-orang Nashrani adalah orang-orang muslim pada zamannya Nabi Isa ‘Alaihis sallam. Namun ketika telah diutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia mengkufurinya, maka mereka bukan jadi orang muslim lagi.

    Oleh karena itu tidak dibenarkan  seseorang berkeyakinan bahwa agama yang dipeluk oleh orang-orang  Yahudi dan Nashrani sekarang ini sebagai agama yang benar dan diterima di sisi Allah sebagaimana Dienul Islam.

    Bahkan orang yang berkeyakinan seperti  itu berarti telah kafir dan keluar dari dienul Islam, sebab Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Sesungguhnya Dien yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam”. (Ali-Imran : 19).

    “Artinya : Barangsiapa mencari suatu dien selain Islam, maka tidak akan diterima (dien itu) daripadanya”. (Ali-Imran : 85).

    Islam yang dimaksudkan adalah Islam yang dianugrahkan oleh Allah kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya. Allah berfirman

    “Artinya : Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepada nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai islam itu jadi agamamu”. (Al-Maidah : 3).

    Ini adalah nash yang amat jelas yang menunjukkan bahwa selain umat ini, setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihis sallam, bukan pemeluk Islam. Oleh karena itu, agama yang mereka anut tidak akan diterima oleh Allah dan tidak akan memberi manfaat pada hari kiamat. Kita tidak boleh menilainya sebagai agama yang lurus. Salah besar orang yang menilai Yahudi dan Nashrani sebagai saudara, atau bahwa agama mereka pada hari ini sama pula seperti yang dianut oleh para pendahulu mereka.

    Jika kita katakan bahwa Islam berarti menghamba diri kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan syari’at-Nya, maka dalam artian ini termasuk pula pasrah atau tunduk kepada-Nya secara zhahir maupun batin. Maka ia mencakup seluruh aspek ; aqidah, amalan maupun perkataan. Namun jika kata Islam itu disandingkan dengan Iman, maka Islam berarti amal-amal perbuatan yang zhahir berupa ucapan-ucapan lisan maupun perbuatan anggota badan. Sedangkan Iman adalah amalan batiniah yang berupa aqidah dan amal-amalan hati. Perbedaan istilah ini bisa kita lihat dalam firman Allah Ta’ala.

    “Artinya : Orang-orang Arab Badui itu berkata :’Kami telah beriman’. Katakanlah (kepada mereka) : ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu”. (Al-Hujurat : 14).

    Mengenai kisah Nabi Luth, Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri”. (Adz-Dzariyat : 35-36).

    Di sini terlihat perbedaan antara mukmin dan muslim. Rumah yang berada di negeri itu zhahirnya adalah rumah yang Islami, namun ternyata di dalamnya terdapat istri Luth yang menghianatinya dengan kekufurannya. Adapun siapa saja yang keluar dari negeri itu dan selamat, maka mereka itulah kaum beriman yang hakiki, karena keimanan telah benar-benar masuk kedalam hati mereka.

    Perbedaan istilah ini juga bisa kita lihat lebih jelas lagi dalam hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Jibril pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihis sallam mengenai Islam dan Iman. Maka beliau menjawab :”Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan berhaji ke Baitullah”. Mengenai Iman beliau menjawab :”Engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Utusan-utusan-Nya, hari AKhir, serta beriman dengan qadar yang baik dan yang buruk”.

    Walhasil, pengertian Islam secara mutlak adalah mencakup seluruh aspek agama termasuk Iman. Namun jika istilah Islam itu disandingkan dengan Iman, maka Islam ditafsirkan dengan amalan-amalan yang zhahir yang berupa perkataan lisan dan perbuatan anggota badan. Sedangkan Iman ditafsirkan dengan amalan-amalan batiniah berupa i’tiqad-i’tiqad dan amalan hati.

     
  • erva kurniawan 8:27 am on 3 October 2014 Permalink | Balas  

    haji1Indahnya Ibadah Haji

    KH. Abdullah Gymnastiar/Aa Gym

    Empat puluh empat hari berada di tanah suci bukanlah hal yang remeh. Banyak orang yang takut meninggalkan urusannya, karena takut urusannya itu menjadi berantakan. Padahal kita mati juga tidak akan merubah dunia ini. Betapa pentingnya kita hijrah karena sebetulnya masalah di kantor kita, di rumah tangga kita bukan masalah dari luar tapi pada diri kita sendiri. Sebab kalau kita jadi pemimpin sedang kita riya’, dengki, pada saat kita memimpin kitalah yang menimbulkan masalah di kantor kita.

    Kita butuh jeda, kita butuh berhenti. Kita butuh melihat siapa diri kita. Itulah yang disunnahkan Rasulullah dalam itikafnya. Kalau kita sudah membersihkan diri, mengetahui siapa diri kita, mulai punya program perbaikan maka kita kembali kerumah, kita kembali ke tempat kerja dengan kita yang lebih baik. Insya Allah perkataan kita akan lebih arif didalam memimpin rapat, hasilnya ide akan muncul, gagasan makin cemerlang, suasana makin produktif, maslahat. Kalau kita sebagai ayah pulang haji dan kita berhasil memperbaiki diri makin bijaksana, maka anak-anak menemukan figur dirumah, makin kondusif untuk perbaikan. Jadi betapa pentingnya haji, selain untuk ibadah juga sebagai sarana perbaikan diri. Bagi saudara-saudara yang sibuk bekerja tanpa punya waktu untuk menilai dirinya, itu sama saja artinya dengan punya pisau dipakai sembelih terus menerus dan akhirnya tumpul.

    Kalau punya waktu cari yang panjang tapi dengan program yang jelas. Tiap hari belajar karena kemabruran itu tergantung ilmu. Banyak orang yang pergi umroh/haji tapi tidak dengan ilmu. Susah! Nantinya ikut-ikutan. Apa yang orang lakukan dia ikutan. Contoh, mencium hajar aswad. Itu hukumnya sunnah dan dikaitkan dengan thawaf. Ada orang mencium hajar aswad mati-matian, sikut sana-sikut sini, padahal menyakiti sesama muslim itu hukumnya dosa. Untuk apa mengejar yang sunnah sampai dengan yang haram. Mungkin berhasil mengecup hajar aswad dan sampai dirumah diceritakan pula usahanya itu, udah cuma sunnah dapat yang haram diceritakan, ditambah-tambahi… ya riya’ ya dosa. Apa yang didapat? Tentu perintah Allah mencium hajar aswad bukan seperti itu.

    Nah saudara-saudaraku sekalian…

    Misalkan sholat arbain dan kesepakatan para ulama yang mengenal hadistnya itu lemah, tapi tidak terlarang untuk sholat 40x dan tidak berarti kalau kehilangan 1x dianggap bencana. Dan tidak berarti juga yang setiap hari ke mesjid boleh menghina yang lain. Penting sekali ilmu. Oleh karena itu kalau nanti haji apa sih niatnya haji? Macem-macem.

    Ada haji malu, malu-maluin maksudnya karena temannya sudah berangkat semua, dia belum. Ada haji status, yang ingin mencantumkan gelar H (haji) didepan namanya. Itu niat gelar, asal tahu saja Nabi Muhammad tidak disebut Rasulullah Haji Muhammad atau H. Umar bin Khattab,dll. Tidak dilarang tapi tidak dicontohkan. Boleh dicantumkan asal kelakuannya lebih baik dari gelarnya. Ada juga haji untuk maksiat, yang ingin dianggap sholeh. Dia cari status haji untuk menginginkan sesuatu dari hajinya. Dan yang paling buruk haji untuk menyembunyikan kemaksiatan.

    Lalu apa niat haji kita? menyempurnakan kewajiban kita, rukun Islam ke-5. Kita ingin mati dengan sempurna kewajiban kita. Perkara pahala, perkara ampunan, perkara sorga itu urusan Allah.

    Saudara-saudara sekalian

    Mulai sekarang niat, nabung untuk pergi haji. Bagi yang memakai ONH plus jaga jangan sampai jadi ujub. Kalau sudah niat, daftar, syukuran itu belum tentu berangkat. Jangan memastikan. Berangkat atau tidak itu urusan Allah dan jangan takut gagal. Pas mau berangkat jatuh sakit, nggak apa-apa. Niat sudah sampai, manasik sudah sampai, bayar sudah lunas, syukuran sudah, pergi belum siapa tahu Allah akan menyiapkan ilmu yang lebih banyak, menebalkan iman atau mungkin ada urusan dirumah yang lebih penting kita berada dirumah. Jangan malu nggak jadi berangkat. Masak kecewa atas perbuatan Allah.

    Hati-hatilah kalau haji jangan merasa kita paling bisa/paling sholeh. Dan saya anjurkan saudara jangan lupa membawa qur’an. Tidak ada yang paling enak untuk antri kecuali baca qur’an. Apalagi kalau punya target khatam, misalkan satu hari satu juz, itu antri sepanjang apapun enak. Kasian yang tidak punya kegiatan sibuk menggerutu saja. Kalau antri sebaiknya bikin target, misalkan istighfar 100x nggak pernah rugi antri itu kecuali yang tidak bisa menjaga diri. Jarang kita mempunyai waktu seperti itu.

    Dan biasakan mengalah. Tidak akan ketinggalan dengan mengalah, semua saudara kita. Memperbanyak musuh itu capek, memperbanyak saudara itu yang nikmat. Dakwah itu benar-benar dengan kelembutan/kesantunan. Bahkan bila ada orang yang berbuat jelek, balas kejelekan itu dengan berbuat baik. Maksimalnya adalah kalau ingin membalas, balas dengan perbuatan yang sama. Kalau ingin lebih baik balas dengan kebaikan sebab membalas dengan otot atau kekerasan jarang dapat meluluhkan hati. Senyuman yang tulus yang bisa meluluhkan hati.

    Haji yang mabrur itu adalah haji yang paling lemah lembut. Di Mekah, thawaf, sai kalau tidak hati-hati, kurang ilmu jadi takut ketinggalan tidak khusyu itu. Jadi hikmah yang paling penting dari haji ini diantaranya ialah bagaimana kita merasa bersaudara dengan yang lain. Ini ternyata luar biasa bisa menahan diri dari kedengkian/kemarahan. Sekarang belajar meminimalisir musuh. Mulai sekarang kita harus mulai merasa bersaudara, sepanjang seiman. Jadi hal yang terpenting bagi orang yang sudah berhaji adalah lebih merasa banyak saudaranya daripada banyak musuhnya.

    Apalagi selama haji itu jelas undangan Allah, jelas sama-sama umat Islam. Bagaimana mungkin kita membenci hanya karena perkara yang remeh. Yang pasti jaminan kita datangnya dari Allah. Allah Maha Tahu apa kebutuhan kita dibanding kita sendiri. Setiap kita melakukan apapun harus jelas manfaatnya. Kalau kita punya posisi strategis untuk perubahan diskusikan itu dengan baik. Tapi kalau kita diskusi panjang lebar tidak merubah apapun kecuali makin pening, dongkol, mubazir!

    Saudara-saudaraku sekalian…

    Bonus dari kajian kali ini adalah menikmati bersaudara satu sama lain. Minimalisir perasaan kebencian, mudah-mudahan akan terpancar sifat rahmatan lil’alamin pada diri kita.

    ***

    Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

    Semoga bermanfaat

     
  • erva kurniawan 12:33 pm on 2 October 2014 Permalink | Balas  

    sedekah 1Niat Baik Tidak Dapat Melepaskan yang Haram

    Islam memberikan penghargaan terhadap setiap hal yang dapat mendorong untuk berbuat baik, tujuan yang mulia dan niat yang bagus, baik dalam perundang-undangannya maupun dalam seluruh pengarahannya. Untuk itulah maka Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya semua amal itu harus disertai dengan niat (ikhlas karena Allah), dan setiap orang dinilai menurut niatnya.” (Riwayat Bukhari).

    Niat yang baik itu dapat menggunakan seluruh yang mubah dan adat untuk berbakti dan taqarrub kepada Allah. Oleh karena itu siapa yang makan dengan niat untuk menjaga kelangsungan hidupnya dan memperkuat tubuh supaya dapat melaksanakan kewajibannya untuk berkhidmat kepada Allah dan ummatnya, maka makan dan minumnya itu dapat dinilai sebagai amal ibadah dan qurbah. Begitu juga, barangsiapa yang melepaskan syahwatnya kepada isterinya dengan niat untuk mendapatkan anak, atau karena menjaga diri dan keluarganya dari perbuatan maksiat, maka pelepasan syahwat tersebut dapat dinilai sebagai ibadah yang berhak mendapat pahala.

    Untuk itu pula, maka Rasulullah s.a.w. pernah menyabdakan: “Pada kemaluanmu itu ada sadaqah. Para sahabat kemudian bertanya: Apakah kalau kita melepaskan syahwat juga mendapatkan pahala? Jawab Nabi: Apakah kalau dia dilepaskan pada yang haram, dia juga akan beroleh dosa? Maka begitu jugalah halnya kalau dia lepaskan pada yang halal, dia pun akan beroleh pahala.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Begitulah, setiap perbuatan mubah yang dikerjakan oleh seorang mu’min, di dalamnya terdapat unsur niat yang dapat mengalihkan perbuatan tersebut kepada ibadah. Adapun masalah haram tetap dinilai haram, betapapun baik dan mulianya niat dan tujuan itu. Bagaimanapun baiknya rencana, selama dia itu tidak dibenarkan oleh Islam, maka selamanya yang haram itu tidak boleh dipakai alat untuk mencapai tujuan yang terpuji. Syariat Islam tidak membenarkan prinsip apa yang disebut al-ghayah tubarrirul wasilah (untuk mencapai tujuan, cara apapun dibenarkan), atau suatu prinsip yang mengatakan: al-wushulu ilal haq bil khaudhi fil katsiri minal bathil (untuk dapat memperoleh sesuatu yang baik, boleh dilakukan dengan bergelimang dalam kebatilan). Setiap tujuan baik harus dicapai dengan cara yang baik pula.

    Oleh karena itu, barangsiapa mengumpulkan uang yang diperoleh dengan jalan riba, maksiat, permainan haram, judi dan sebagainya yang dapat dikategorikan haram, dengan maksud untuk mendirikan masjid, menolong fakir miskin, yatim piatu, atau rencana-rencana baik lainnya, maka tujuan baiknya tidak akan menjadi syafaat dosa haramnya itu dihapus. Haram dalam syariat Islam tidak dapat dipengaruhi oleh tujuan dan niat.

    Sabda Rasulullah s.a.w: “Tidak seorang pun yang bekerja untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan haram kemudian ia sedekahkan, bahwa sedekahnya itu akan diterima; dan kalau dia infaqkan tidak juga mendapat barakah; dan tidak pula ia tinggalkan di belakang punggungnya (sesudah ia meninggal), melainkan dia itu sebagai perbekalan ke neraka. Sesungguhnya Allah tidak akan menghapuskan kejahatan dengan kejahatan, tetapi kejahatan dapat dihapus dengan kebaikan. Kejelekan tidaklah dapat menghapuskan kejelekan.” (Riwayat Ahmad dan lain-lain)

    ***

    Hindari hal yang haram dan segala sesuatu yang mendekatinya, karena bisa jadi hal itu menjadi penghalang dikabulkannya doa kita.

    ***

    Kiriman Sahabat: Haris Satriawan

     
    • TEGUH 12:35 pm on 2 Oktober 2014 Permalink

      Ass wrwb trimakasih atas ijinnya

      Teguh S 08567789372 – 2AE44AB0
      Cenderawasih Pos – Lombok Post

  • erva kurniawan 1:39 am on 30 September 2014 Permalink | Balas  

    sufi 14Nasehat Sang Sufi

    Oleh : Siti Nurjanah

    Assalamualiaikum, Wr. Wb.

    Wahai saudaraku sesama muslim, ada tiga perkara yang wajib diperhatikan oleh setiap Mukmin di dalam seluruh keadaan, yaitu :

    1. Melaksanakan segala perintah Allah
    2. Menjauhkan diri dari segala yang haram
    3. Ridha dengan hukum-hukum atau ketentuan Allah.

    Ketiga perkara ini jangan sampai tidak ada pada seorang Mu’min. Oleh karena itu, seorang Muk’min harus memikirkan perkara ini, bertanya kepada dirinya tentang perkara ini dan mengusahakan anggota tubuhnya melakukan perkara ini.

    Wahai Saudaraku ikutlah dengan ihklas jalan yang telah ditempuh oleh Nabi besar Muhammmad SAW. dan jangan merubah jalan itu. Patutlah kepada Allah dan Rasulnya, dan jangan sekali kali berbuat durhaka.

    Bertauhidlah kepada Allah dan jangan menyekutukan-NYA. Allah itu Maha suci dan tidak mempunyai sifat-sifat tercela atau kekurangan. Janganlah ragu ragu terhadap kebenaran Allah. Bersabarlah dan berpegang-teguhlah kepada-NYA. Bermohonlah kepada-NYA dan tunggulah dengan sabar. Bersatu padulah di dalam mentaati Allah dan janganlah berpecah belah. Saling mencintailah diantara sesama dan janganlah saling mendengki. Hindarkanlah diri dari segala noda dan dosa. Hiasilah dirimu dengan keta’atan kepada Allah.

    Janganlah menjauhkan diri dari Allah dan janganlah lupa kepada-NYA. Janganlah lalai untuk bertobat kepada-Nya dan kembali kepada-NYA. Janganlah jemu untuk memohon ampun kepada Allah pada siang dan malam hari. Mudah mudahan kamu diberi rahmat dan dilindungi oleh-Nya dari marabahaya dan azab neraka, diberi kehidupan yang berbahagia di dalam surga dan diberi nikmat-nikmat oleh-NYA. Kamu akan menikmati kebahagian dan kesentosaan yang abadi di surga beserta para Nabi, orang orang shiddiq, para syuhada dan orang orang shaleh. Kamu akan hidup kekal di dalam surga itu untuk selama-lamanya.

    Wassalam

    Siti Nurjannah

    Sumber diambil dari buku karya : Syaikh Abdul Qodir Jailani.

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 29 September 2014 Permalink | Balas  

    syahadat1Tafsiran “Tauhid” Dan Syahadat “Laa ilaha illa Allah”

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Firman Allah Ta’ala:

    “Orang-orang yang diseru oleh kaum musyrikin itu, mereka sendiri senantiasa berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan mereka, siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepadaNya), dan mereka mengharapkan rahmat-Nya serta takut akan siksa-Nya, sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” (Al-Isra': 57)

    “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya; Sesungguhnya aku melepaskan diri dari segala apa yang kamu sembah, kecuali Allah saja Tuhan yang telah menciptakan aku, karena hanya Dia yang akan menunjukiku (kepada jalan kebenaran).” (Az-Zukhruf: 26-27)

    “Mereka, menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (mereka mempertuhankan pula) Al-Masih putera Maryam, padahal mereka itu tiada lain hanyalah diperintahkan untuk beribadah kepada Satu Sembahan, tiada Sembahan yang haq selain Dia. Maha Suci Allah dari perbuatan syirik mereka.” (At-Taubah: 31)

    “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, yaitu dengan mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah…” (Al-Baqarah: 165)

    Diriwayatkan dalam Shahih (Muslim), bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Barangsiapa mengucapkan Laa ilaha illa Allah dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedang hisab (perhitungan)nya adalah terserah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

    Kandungan dalam tulisan ini:

    1. Ayat dalam surah Al-Isra’. Diterangkan dalam ayat ini bantahan terhadap kaum musyrikin yang menyeru (meminta) kepada orang-orang shaleh. Maka, ayat ini mengandung sesuatu penjelasan bahwa perbuatan mereka itu syirik akbar.
    2. Ayat dalam surah Bara’ah (At-Taubah). Diterangkan dalam ayat ini bahwa kaum Ahli Kitab telah menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan diterangkan bahwa mereka tiada lain hanya diperintahkan untuk beribadah kepada Satu Sembahan yaitu Allah. Padahal tafsiran ayat ini, yang jelas dan tidak dipermasalahkan lagi, yaitu mematuhi orang-orang alim dan rahib-rahib dalam tindakan mereka yang bertentangan dengan hukum Allah; dan maksudnya bukanlah kaum Ahli Kitab itu menyembah mereka.

    Dapat diambil kesimpulan dari ayat ini bahwa tafsiran “Tauhid” dan Syahadat “Laa ilaha illa Allah” yaitu: pemurnian ketaatan kepada Allah, dengan menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya.

    1. Kata-kata Al-Khalil Ibrahim ‘alaihissalam kepada orang-orang kafir: “Sesungguhnya aku melepaskan diri dari apa yang kamu sembah, kecuali Allah saja Tuhan yang telah menciptakan aku…”

    Disini beliau mengecualikan Allah dari segala sembahan. Pembebasan diri (dari segala sembahan yang bathil) dan pernyataan setia (kepada Sembahan yang haq, yaitu Allah) adalah tafsiran yang sebenarnya dari syahadat “Laa ilaha illa Allah.” Allah Ta’ala berfirman: “Dan Ibrahim menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya, supaya mereka kembali (kepada jalan kebenaran).” (Az-Zukhruf: 28)

    1. Ayat dalam surah Al-Baqarah yang berkenaan dengan orang-orang kafir, yang dikatakan oleh Allah dalam firman-Nya: “Dan mereka tidak akan dapat keluar dari neraka.”

    Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa mereka menyembah tandingan-tandingan selain Allah, yaitu dengan mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai kecintaan yang besar kepada Allah, akan tetapi kecintaan mereka itu belum bisa memasukkan mereka ke dalam Islam.

    Dari ayat dalam surah Al-Baqarah ini dapat diambil kesimpulan bahwa tafsiran “tauhid” dan syahadat “Laa ilaha illa Allah” yaitu: pemurnian kecintaan kepada Allah yang diiringi dengan rasa rendah diri dan penghambaan hanya kepada-Nya.

    Lalu bagaimana dengan orang yang mencintai sembahan-nya lebih besar daripada kecintaannya kepada Allah? Kemudian, bagaimana dengan orang yang hanya mencintai sesembahan selain Allah itu saja dan tidak mencintai Allah?

    1. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa mengucapkan Laa ilaha illa Allah dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedang hisab (perhitungan)nya adalah terserah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

    Ini adalah termasuk hal terpenting yang menjelaskan pengertian “Laa ilaha illa Allah”. Sebab apa yang dijadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pelindung darah dan harta bukanlah sekedar mengucapkan kalimat “Laa ilaha illa Allah” itu, bukan pula dengan mengerti makna dan lafadznya, bukan pula dengan mengakui kebenaran kalimat tersebut, bahkan bukan juga tidak meminta kecuali kepada Allah saja, yang tiada sekutu bagi-Nya. Akan tetapi tidaklah haram dan terlindung harta dan darahnya hingga dia menambahkan kepada pengucapan kalimat “Laa ilaha illa Allah” itu pengingkaran kepada segala sembahan selain Allah. Jika dia masih ragu atau bimbang, maka belumlah haram dan terlindung harta dan darahnya.

    Sungguh agung dan penting sekali tafsiran “Tauhid” dan syahadat “Laa ilaha illa Allah” yang terkandung dalam hadits ini, sangat jelas keterangan yang dikemukakannya dan sangat meyakinkan argumentasi yang diajukan bagi orang yang menentang.

    ***

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

    Sumber : http://www.assunnah.or.id

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 738 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: