Updates from Desember, 2014 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:14 am on 1 December 2014 Permalink | Balas  

    Suara Wanita : Aurat atau Bukan ? 

    wanita sholehahSuara Wanita: Aurat atau Bukan?

    Assalamualaikum wr.wb.

    Suara adalah wahana lalu lintas kata dan makna. Melalui suaralah, kehendak, pikiran, dan lagu bisa dipahami. Lalu, bagaimana bila kata dan lagu itu disenandungkan oleh perempuan? Betulkah suara wanita itu aurat?

    Selama ini suara perempuan dianggap sebagai pengundang hawa nafsu, dan sumber godaan. Bahkan dalam riwayat hadist, yang diceritakan Abdallah ibn Umar menyebutkan, perempuan adalah aurat sehingga apapun yang berbau perempuan adalah jerat setan. Maka pertanyaan yang acap muncul adalah, bolehkah mendengar nyanyian suara wanita?

    Sebenarnya kalau ditelesuri ke belakang, pandangan yang menganggap suara perempuan sebagai aurat itu dipengaruhi oleh budaya pra Islam, yang menganggap bahwa perempuan pada dasarnya diciptakan sebagai penggoda dan juga masih terkait dengan tradisi kristiani.

    Konsep aurat dalam Islam lebih menekankan pada gejala yang bersifat fisik atau jasmani dan bukan pada suara. Jika suara perempuan itu aurat, mengapa Rasulullah SAW. mengisinkan dua budak wanita menyanyi di rumahnya? selain itu, beliau juga tidak keberatan berbicara dengan kaum wanita, sebagaimana yang terjadi ketika Beliau menerima bai’at dari kaum ibu sebelum dan sesudah hijrah. Bahkan beliau pernah mendengar nyanyian seorang wanita yang bernazar untuk memukul rebana dan menyanyi di hadapan Rasulullah SAW. Ini menunjukkan bahwa suara wanita bukan aurat.

    Oleh karena itu, mendengar suara wanita tidaklah haram sebab ia bukan aurat. Tidak ada larangan wanita untuk berbicara dengan kaum lelaki kecuali apabila suaranya itu berisi bujuk rayu dan menimbulkan gairah rendah. Hal ini telah ditegaskan dalam Al-Qur’an ; ” …maka, janganlah kamu tunduk ketika berbicara (dengan manja, merayu, dan sebagainya). (sebab), nanti akan timbul keinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya (keinginan hafsu birahinya). Dan ucapkanlah perkataan yang baik (sopan santun).” QS. Al-Ahzab : 32) Begitu pula, dengan mendengarkan lagu yang dinyanyikan oleh wanita.

    Yang tidak boleh adalah, jika si penyanyi tersebut menampilkan kecantikannya dengan membuka auratnya, misalnya menonjolkan dada, betis, paha, dan bagian aurta lainnya. Inilah yang diharamkam oleh syara’, bukan karena masalah mendengarkan nyanyian wanita itu. Muhammad Ghazali, tokoh Islam terkemuka (almarhum) mengatakan, “Tidak ditemukan seorangpun diantara para ahli fiqih yang mengatakan bahwa suara wanita adalah aurat. Dan jika ada, pendapat itu isu bohong semata,” ujarnya.

    ***

    Dari berbagai Sumber/Ayu (PARAS).

    Kiriman: Dwi Nopitasari

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 30 November 2014 Permalink | Balas  

    biji kurmaBagaimana Memahami Ayat Allah di Alam

    Dalam Alqur’an dinyatakan bahwa orang yang tidak beriman adalah mereka yang tidak menaruh kepedulian akan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah di alam semesta ciptaan-Nya. Sebaliknya, ciri menonjol pada orang yang beriman adalah kemampuan memahami tanda-tanda kekuasaan sang Pencipta. Ia mengetahui bahwa semua ini diciptakan tidak dengan sia-sia, dan ia mampu memahami kesempurnaan ciptaan Allah di segala penjuru manapun. Pemahaman ini pada akhirnya menghantarkannya pada penyerahan diri, ketundukan dan rasa takut kepada-Nya. Ia adalah termasuk golongan yang berakal, yaitu “Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 190-191).

    Di banyak ayat dalam Alqur’an, pernyataan seperti, “Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” dan “terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang berakal, ” memberikan penegasan tentang pentingnya memikirkan secara mendalam tentang tanda-tanda kekuasaan Allah. Segala sesuatu yang kita saksikan dan rasakan di langit, di bumi dan segala sesuatu di antara keduanya adalah perwujudan dari kesempurnaan penciptaan oleh Allah, dan oleh karenanya menjadi bahan yang patut untuk direnungkan. Satu ayat berikut memberikan contoh akan nikmat Allah ini: “Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. An-Nahl:11).

    Sebagaimana diketahui, pohon kurma tumbuh dari sebutir biji di dalam tanah. Berawal dari biji mungil ini, yang berukuran kurang dari satu sentimeter kubik, muncul sebuah pohon besar berukuran panjang 4-5 meter dengan berat ratusan kilogram. Satu-satunya sumber bahan baku yang dapat digunakan oleh biji ini ketika tumbuh dan berkembang membentuk wujud pohon besar ini adalah tanah tempat biji tersebut berada. Bagaimanakah sebutir biji mengetahui cara membentuk sebatang pohon? Bagaimana ia dapat berpikir untuk menguraikan dan memanfaatkan zat-zat di dalam tanah yang diperlukan untuk pembentukan kayu? Bagaimana ia dapat memperkirakan bentuk dan struktur yang diperlukan dalam membentuk pohon?

    Pertanyaan yang terakhir ini sangatlah penting, sebab pohon yang pada akhirnya muncul dari biji tersebut bukanlah sekedar kayu gelondongan. Ia adalah makhluk hidup yang kompleks yang memiliki akar untuk menyerap zat-zat dari dalam tanah. Akar ini memiliki pembuluh yang mengangkut zat-zat ini dan yang memiliki cabang-cabang yang tersusun rapi sempurna. Seorang manusia akan mengalami kesulitan hanya untuk sekedar menggambar sebatang pohon. Sebaliknya sebutir biji yang tampak sederhana ini mampu membuat wujud yang sungguh sangat kompleks hanya dengan menggunakan zat-zat yang ada di dalam tanah. Pengkajian ini menyimpulkan bahwa sebutir biji ternyata sangatlah cerdas dan pintar, bahkan lebih jenius daripada kita. Mungkinkah sebutir biji memiliki kecerdasan dan daya ingat yang luar biasa? Tak diragukan lagi, pertanyaan ini memiliki satu jawaban: biji tersebut telah diciptakan oleh Dzat yang memiliki kemampuan membuat sebatang pohon. Dengan kata lain biji tersebut telah diprogram sejak awal keberadaannya.

    Dalam sebuah ayat disebutkan: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. Al-An’aam: 59).

    Dalam ayat lain Allah menyatakan: ”Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” QS. Al-An’am: 95).

    Biji hanyalah satu dari banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang diciptakan-Nya di alam semesta. Ketika manusia mulai berpikir tidak hanya menggunakan akal, akan tetapi juga dengan hati mereka, dan kemudian bertanya pada diri mereka sendiri pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”, maka mereka akan sampai pada pemahaman bahwa seluruh alam semesta ini adalah bukti kekuasaan Allah SWT.

    ***

    (Diambil dari http://www.harunyahya.com)

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 27 November 2014 Permalink | Balas  

    ilmu-adalah-pelitaKeutamaan Ilmu

    Assalamualaikum wr. wb.

    Muadz ibn Jabal pernah mengingatkan tentang arti penting ilmu pengetahuan. Kala itu Muadz mengatakn :

    1. “Pelajarilah ilmu karena hal itu merupakan perwujudan rasa takut kepada Allah. Mencarinya adalah ibadah. Mempelajarinya adalah tasbih. Membahasnya adalah jihad.Mengajarkannya kepada orang lain adalah sedekah. Mencari kepada ahlinya adalah taqarrub.
    2. Dialah teman di kala sendirian, sahabat dalam keterasingan, petunjuk dalam beragama, penolong di kala duka, penerang jalan ke surga.
    3. Allah mengangkat derajat suatu kaum dan menjadikan mereka sebagai pemimpin, tokoh dan petunjuk yang diikuti adalah karena ilmu. Tapak jejaknya diikuti, perbuatannya diperhatikan. Malaikat senang berkawan dengan mereka dan membersihkan mereka dengan kedua sayapnya.
    4. Dengan ilmu manusia bisa mentaati Allah dengan benar. Dengan ilmu pula tali silaturrahim disambung, haq dan haram diketahui. Ilmu adalah iman, amal adalah pengikutnya. Ia dianugerahkan kepada orang orang yang berbahagia, dan diharamkan untuk mereka yang celaka. Itulah segudang dari kelebihan ilmu pengetahuan.”

    HIKMAHNYA :

    1. Sumber dari segala ilmu pengetahuan adalah Tuhan, sebagai pusat dari segala pusat, hulu dari segala hulu, sumber dari segala sumber. Dengan demikian maka secara substansial ilmu pengetahuan yang hakekatnya bersumber dari Tuhan sangat luas tak terkirakan, sangat banyak jumlahnya tak terhitungkan. Bahkan Allah telah menandaskan bahwa seandainya air laut dijadikan tinta dan daun daun dijadikan kertasnya untuk mencatat semua ilmu Allah, maka semua itu tak akan mencukupinya. Sehebat apapun ilmu yang dimiliki manusia, menurut Allah itu masih sedikit jumlahnya. (“Dan tidaklah aku memberikan ilmu kepada kalian kecuali sedikit saja”).

    Dengan menyadari hal itu, maka manusia tidak sepatutnya merasa puas diri dengan pengetahuan yang dimiliki. Manusia tak sepantasnya merasa paling hebat, paling cerdas, seolah dirinya sebagai orang terhebat sejagat.Dia tak menyadari bahwa di atas langit masih ada langit. Hanya kesadaran inilah yang akhirnya mampu mendorong orang cerdas dan pandai untuk rendah hati, tidak merasa puas diri dengan pengetahuan yang dimiliki. Kerakusan yang dibolehkan hanyalah rakus terhadap ilmu pengetahuan dan kebajikan. Ketidakpuasan yang dibolehkan atas sesuatu yang dimiliki, hanyalah tak pernah merasa puas pada ilmu yang sudah dipunyai, sehingga mendorong dia untuk terus dan terus belajar dan mengkaji.

    1. Islam malah mewajibkan umatnya untuk berprinsip long life education: belajar sepanjang hidupnya. Hal ini bukan hanya berlaku bagi pria tapi juga wanita. Menuntut ilmu diwajibkan atas tiap orang islam pria dan wanita mulai dari ayunan (sejak kecil) sampai ke liang kubur. Menuntut ilmu dalam islam tak dibatasi lokasi, bahkan silahkan saja sampai ke manca negara, termasuk negeri non islam juga.

    Pada jaman Nabi Muhammad SAW misalnya, umat islam malah disuruh mencari pengetahuan dan pengalaman sampai ke negeri Cina, yang kala itu bukan sebuah negara dan bangsa Islam tapi pengetahuan Ipteknya tinggi, untuk mencapai kemajuan. (Uthlubul ‘ilma walau bisshin: Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri cina).

    1. Ilmu pengetahuan dalam islam diibaratkan cahaya (obor,pelita) sedangkan kebodohan diidentikkan dengan kegelapan. Dapat dipahami jika berjihad dalam Islam bukan hanya berperang angkat senjata, tapi mengangkat pena alias belajar mengajar adalah sebuah jihad pula. Ilmu itu cahaya. Sebab orang yang tak tahu ilmu ibadah, ibadahnya pasti ngawur, orang yang tak tahu halal dan haram, dia akan menghalalkan yang diharamkan atau mengharamkan apa yang diharamkan Tuhan. Sebab, dia memang tak tahu, tak bisa melihat (buta, gelap) mana yang benar dan salah.
    2. Aktivitas keagamaan hanya berlandas pada semangat tanpa pemahaman pengetahuan pada esensi ajaran, implementasinya bisa ngawur bahkan dapat bertentangan dengan substansi peribadatan. Orang mau sembahyang harus tahu tata cara sembahyang, harus wudhu dan tahu cara wudhu. Semua itu perlu ilmu. Bahkan Allah mengingatkan agar jangan mengatakan dan atau melakukan sesuatu yang kita tidak tahu tentang ilmunya. (“Janganlah kamu melakukan sesuatu yang kamu tidak tahu tentang ilmunya, karena sesungguhnya pendengaranmu, penglihatanmu, dan hatimu akan dimintai pertanggung jawaban.” ).
    3. Ilmu memang menempati maqam (posisi) super penting dalam ajaran Islam terutama untuk mencapai kejayaan kehidupan di dunia maupun di akhirat. Nabi Muhammad SAW menyatakan, : ” Barangsiapa menghendaki kebahagiaan hidup di dunia dapat dicapai dengan ilmu, dan barangsiapa menghendaki keduanya (kebahagian dunia dan akhirat) dapat dicapai dengan ilmu pula. Nabi Muhammad SAW. juga mengingatkan, : “Segala sesuatu ada jalannya, dan jalan untuk menuju surga adalah ilmu. Oleh karena itu, sangat dapat dimengerti jika ALLAH memerintahkan : “Taatlah kepada Allah wahai orang-orang yang menggunakan akal, yang mempunyai ilmu pengetahuan”. Oleh karena itu pula, adalah sangat aneh jika umat islam masih banyak yang kurang pengetahuannya akan ilmu, banyak yang malas belajar, dan masih memandang sebelah mata terhadap ilmu pengetahuan.

    ***

    Sumber : Kisah dan Hikmah (Dhurorudin Mashad)

    Wassalam

    Siti Nurjannah

     
  • erva kurniawan 2:55 am on 26 November 2014 Permalink | Balas  

    hijabMenjawab Keraguan Seputar Jilbab

    Menghias perbuatan maksiat adalah pekerjaan setan. Sehingga perbuatan dosa bisa nampak indah, yang haram menjadi suram dan yang maksiat kelihatan memikat. Begitu pula dalam masalah jilbab dan busana takwa ini. Banyak syubhat dan keraguan yang bisa jadi sengaja dihembuskan untuk menghalangi para wanita muslimah memperindah penampilannya dengan busana takwa.

    Tulisan ini akan mengupas tentang beberapa hal yang menimbulkan keraguan dan kebimbangan seputar jilbab, sekaligus menjawabnya insya Allah. Hal-hal tersebut antara lain:

    Jilbab adalah budaya Arab

    Ada sementara orang yang mengatakan bahwa jilbab adalah budaya dan tradisi pakaian wanita arab pada masa awal pertumbuhan Islam. Sekarang, setelah berlalu lebih dari 14 abad, budaya dan tradisi pun berubah. Cara orang berpakaian pun sudah tak seperti dulu. Karena jilbab adalah pakaian wanita arab saat itu, maka bukan saatnya lagi untuk dikenakan saat ini. Apalagi bagi orang yang tinggal di negara-negara non arab yang tentunya mempunyai budaya dan tradisi sendiri.

    Dari sini paling tidak ada dua hal yang perlu dijawab. Pertama, benarkah jilbab adalah tradisi berpakaian wanita arab pada awal pertumbuhan Islam? Kedua, benarkah jilbab hanya khusus untuk wanita arab dan tak wajib bagi muslimah non arab untuk mengenakannya?

    Imam Hakim meriwayatkan sebuah hadis yang menggambarkan saat-saat setelah turunnya ayat perintah menutup aurat, yaitu Surat Annur ayat 31: “dan hendaklah mereka menutupkan khumur- jilbab- nya ke dada mereka….” Riwayat lain menerangkan: “Wanita-wanita (ketika turun ayat tersebut) segera mengambil kain sarung mereka, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Hakim).

    Imam Bukhari juga meriwayatkan hal senada:

    “Bahwasannya ‘Aisyah RA. Berkata: “Ketika turun ayat “dan hendaklah mereka menutupkan “khumur” -jilbab- nya ke dada mereka…” maka para wanita segera mengambil kain sarung, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Bukhari).

    Kedua hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa pada saat turunnya ayat tersebut para shohabiyyah (wanita dari kalangan sahabat) sedang tidak mengenakan “khumur” (jilbab) dan memang mereka belum biasa mengenakannya. Buktinya, saat itu mereka harus merobek kain sarung mereka untuk dialih-fungsikan menjadi jilbab. Jika mereka sudah biasa memakainya tentunya jilbab itu telah tersedia dan tak perlu lagi untuk menyulap kain sarung mereka menjadi jilbab “darurat.” Dari sini jelaslah bahwa jilbab bukanlah merupakan budaya dan tradisi wanita arab pada awal pertumbuhan Islam, tetapi suatu hal yang disyariatkan oleh Islam dan dilaksanakan oleh seluruh shohabiyyah. Hingga akhirnya pakaian tersebut mentradisi dan menjadi budaya Islam. Dengan ini, berarti pertanyaan pertama telah terjawab.

    Sedang pertanyaan kedua, yakni apakah jilbab hanya untuk orang arab saja, maka ini terjawab dengan keuniversalan Islam. Islam adalah agama yang diperuntukkan bagi seluruh manusia, melampaui batas waktu dan geografi. Allah berfirman:

    “Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Qs. Saba’:28). Karena jilbab (busana penutup aurat) adalah bagian dari syariat Islam maka ia juga diperuntukkan bagi seluruh wanita muslimah di manapun ia berada hingga hari kiamat kelak.

    Jilbab hanya wajib bagi istri-istri Rasulullah

    Orang yang mengatakan bahwa jilbab (dikenal juga dengan sebutan hijab) hanyalah wajib bagi istri-istri Rasulullah berdalil dengan ayat 33 surat Al-Ahzab. Sebab konteks ayat tersebut ditujukan kepada mereka. Karenanya larangan untuk tabarruj dan kewajiban mengenakan jilbab hanyalah wajib bagi mereka saja.

    Pernyataan ini terjawab dengan dua hal:

    1. Para ahli tafsir memberikan komentar atas ayat tersebut bahwa meninggalkan tabarruj juga diperintahkan kepada seluruh wanita mukminah. Imam Al-Jashshas berkata: “Semua hal yang tersebut dalam ayat ini adalah petunjuk-petunjuk Allah bagi istri-istri rasulullah untuk menjaga mereka, dan semua itu juga ditujukan bagi wanita-wanita mukminah.” (lihat, Ahkamu Al-Qur’an karya Al-Jashshos). Imam Ibnu Katsir berkomentar: “Ini adalah hal-hal yang diperintahkan Allah kepada istri-istri Nabi, dan seluruh wanita mukminah dalam hal ini harus mengikuti mereka.” (lihat, Tafsir Ibnu Katsir).
    2. Sebutlah misalnya bahwa, benar ayat surat Al-Ahzab: 33 tersebut khusus untuk istri-istri Rasulullah, namun ada ayat lain yang dengan jelas mengatakan bahwa kewajiban berjilbab itu diperuntukkan bagi seluruh wanita mukminah. Yaitu Firman Allah: “Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkkan khumur (Ind: jilbab) nya ke dadanya…” (Qs.Annur: 31)

    Jilbab adalah sekedar simbol

    Sementara itu ada yang mengatakan bahwa jilbab hanyalah sebuah simbol. Sedang yang penting bagi seorang muslim adalah baiknya budi pekerti dan bersihnya hati. Dari pada berjilbab tapi kelakuannya berantakan, bukankah lebih baik tidak berjilbab tapi bertingkah laku baik.

    Kelihatannya kata-kata ini baik, namun sebenarnya rancu. Sebab dalam diri seorang muslim hendaknya tertanam keyakinan bahwa apapun yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya adalah baik dan seharusnya dilakukan. Baik itu simbol atau bukan. Tidaklah hanya karena suatu hal dianggap simbol lantas kita boleh meninggalkannya. Bahkan lebih dari itu, di sana ada hal-hal yang tak bisa dilogikakan namun kita tetap wajib melakukan. Misalkan wudlu karena keluar angin. Mengapa yang harus dibasuh adalah muka, tangan, kepala dan kaki. Bukankah yang lebih pantas untuk dibasuh adalah tempat keluarnya angin tersebut. Karena alasan ini pula sayyidina Umar RA. berujar tatkala mencium hajar aswad: “Sesunguhnya aku tahu kau hanyalah sebuah batu yang tak bisa mendatangkan faedah dan tidak pula menyebabkan bahaya, namun karena aku melihat Rasulullah menciummu maka aku menciummu.”

    Sikap menerima seperti inilah yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya:

    “Tidaklah patut bagi seorang mukmin dan tidak pula bagi seorang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, kemudian ia memilih yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-Ahzab: 36).

    Maka seorang muslim seharusnya memandang bahwa berjilbab juga termasuk akhlak dan perilaku yang baik. Sebab yang baik bagi seorang muslim adalah yang baik menurut Allah dan yang buruk adalah yang buruk menurut-Nya. Karenanya, menanggapi komentar di atas seharusnya seorang muslim berkata: “Lebih baik berjilbab dan mempunyai akhlak yang baik dari pada berperilaku baik tapi tidak berjilbab.” Atau: “Sayang sekali, perilakunya baik tapi kok tidak berjilbab.”

    Siapakah Yang Memikul Tanggung Jawab Ini?

    Permasalahan jilbab ini bukanlah hanya tanggung jawab para muslimah saja. Tapi setiap muslim ikut bertanggung jawab dalam hal ini. Setiap muslim berkewajiban untuk bersama-sama menciptakan situasi yang kondusif untuk pelaksanaan syariat Allah tersebut. Seorang ayah bertanggung jawab atas istri dan anak-anak putrinya. Seorang ibu bertanggung jawab atas dirinya dan anak-anak wanitanya. Dan setiap kita bertanggung jawab atas keluarga kita. Jika kita melalaikan tanggung jawab ini, secara sadar atau tidak kita telah menjerumuskan diri kita dan orang-orang yang kita cintai dalam jurang api neraka.

    Rasulullah bersabda:

    “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim).

    Allah berfirman:

    “Wahai orang-orang yang beriman, selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kejam dan keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya dan melaksanakan apa yang diperintahkan.” (Qs. Attahrim: 6).

    Wallahu a’lam bishshowab.

    (Ahmad ulil Amin)

    Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 2:36 am on 22 November 2014 Permalink | Balas  

    sakitBersyukur Ketika Sehat, Bersabar Ketika Sakit

    Hidup seorang muslim hendaknya selalu berada pada dua hal: Hal bersyukur dan sabar. Jika ia sehat, ia bersyukur dan gunakan kesehatannya untuk melakukan pekerjaan yang bermanfaat. Sebaliknya, jika sakit, ia ikhlas dan bersabar sambil terus menerus berusaha mengobatinya, disertai dengan sikap tawakal pada Allah. Ia sadar, Allah-lah zat yang mampu menyembuhkan penyakitnya. Dalam kaitan ini Allah berfirman :

    “(Yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang memberi petunjuk. Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku. Dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali). Dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” – Asy Syu’araa'; 26: 78 -82.

    Oleh karenanya berobat termasuk salah satu perintah dalam ajaran Islam. Rasulullah bersabda : “Setiap penyakit ada obatnya, maka berobatlah kamu sekalian, tetapi jangan berobat dengan sesuatu yang diharamkan”

    Di samping itu ada hal yang perlu diingatkan, untuk tidak berobat ke dukun mistik, paranormal yang mengerti ilmu gaib.

    Dalam sebuah hadist, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa yang mendatangi dukun peramal (kahin), maka sungguh dia telah kufur kepada apa (Al Qur’an) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam”

    Rasulullah sendiri tidak mampu meramalkan yang gaib, yang akan terjadi pada dirinya. Allah berfirman :

    ” Katakanlah aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudaratan, kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak- banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” – Al-A’raaf ; 7: 188

    Penyakit itu kadang kala datang dengan tiba-tiba, sementara penyembuhannya kadangkala membutuhkan waktu lama. Tidak ada sikap yang perlu dipegang selain bersabar dan bertawakal kepada Allah SWT. Rasulullah bersabda :

    “Jauhilah olehmu segala yang diharamkan, maka pasti engkau akan menjadi orang yang paling taat beribadah. Bersikaplah ridha terhadap segala apa yang telah Allah tetapkan kepadamu.” (HR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah)

    Dalam hadist lain Rasulullah bersabda pula :

    ” Aku bangga dengan seorang muslim, jika menimpa kepadanya suatu musibah ia ikhlas dan bersabar. Jika mendapatkan kebaikan, ia memuji Allah dan bersyukur. Sesungguhnya muslim itu pada segala aktivitasnya selalu akan mendapatkan pahala dari Allah sekalipun pada sesuap nasi yang ia masukkan ke dalam mulutnya.” (HR Imam Baihaqi dari Sa’ad)

    Disamping kesabaran dan ketabahan, juga harus memiliki sikap husnu-zhan (berbaik sangka) kepada Allah SWT. Apa yang terjadi pada si sakit adalah kebaikan buat dirinya. Rasulullah bersabda :

    “Aku bangga dengan orang mukmin, sesungguhnya Allah SWT tidaklah menetapkan suatu keputusan, kecuali akan berakibat baik kepadanya.” (HR Ibnu Hibban dari Anas)

    “Aku heran dengan mukmin yang gelisah menghadapi penderitaan sakitnya. Jika ia mengetahui sesuatu (pahala) yang terdapat pada sakitnya, ia pasti akan mengharapkan sakit tersebut sehingga bertemu dengan Allah SWT.” (HR Thabrani dari Ibn Mas’ud)

    Berbaik sangka kepada Allah akan melahirkan persangkaan baik pula kepada sesama manusia. Prinsip semacam inilah yang akan melahirkan sikap saling mengerti, saling memahami, senasib sepenanggungan, saling merasakan (empati), serta suka dan duka dirasakan bersama.

    Menjenguk orang yang sakit adalah puncak dari rasa persaudaraan yang harus dimiliki dan dikembangkan oleh setiap muslim. Tiada iman tanpa ukhuwah (rasa persaudaraan) yang mendalam. Rasulullah bersabda :

    ” Engkau lihat orang-orang mukmin dalam sayang menyayanginya, saling mencintai dan saling mengerti, adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuhnya sakit, maka yang lainnya akan merasakan pula panas dan demamnya.” (HR Ahmad dari Abu Umamah).

    ***

    K.H. Didin Hafidhuddin, M.Sc.

    -Sakit Menguatkan Iman-

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 21 November 2014 Permalink | Balas  

    wanitaWanita Bagi Pahlawan

    Oleh : M. Anis Matta, Lc

    Dibalik setiap pahlawan besar selalu ada seorang wanita agung. Begitu kata pepatah Arab. Wanita agung itu biasanya satu dari dua, atau dua-duanya sekaligus; sang ibu atau sang istri.

    Pepatah itu merupakan hikmah psiko-sejarah yang menjelaskan sebagian dari latar belakang kebesaran seorang pahlawan. Bahwa karya-karya besar seorang pahlawan lahir ketika seluruh energi didalam dirinya bersinergi dengan momentum diluar dirinya; tumpah ruah bagai banjir besar yang tidak terbendung. Dan tiba-tiba sebuah sosok telah hadir dalam ruang sejarah dengan tenang dan ajek.

    Apa yang telah dijelaskan oleh hikmah psiko-sejarah itu adalah sumber energi bagi para pahlawan; wanita adalah salah satunya. Wanita bagi banyak pahlawan adalah penyangga spiritual, sandaran emosional; dari sana mereka mendapat ketenangan dan kegairahan, kenyamanan dan keberanian, keamanan dan kekuatan. Laki-laki menumpahkan energi di luar rumah, dan mengumpulkannya lagi didalam rumahnya.

    Kekuatan besar yang dimiliki para wanita yang mendampingi para pahlawan adalah kelembutan, kesetiaan, cinta dan kasih sayang. Kekuatan itu sering dilukiskan seperti dermaga tempat kita menambatkan kapal, atau pohon rindang tempat sang musafir berteduh. Tapi kekuatan emosi itu sesungguhnya merupakan padang jiwa yang luas dan nyaman, tempat kita menumpahkan sisi kepolosan dan kekanakan kita, tempat kita bermain dengan lugu dan riang, saat kita melepaskan kelemahan-kelemahan kita dengan aman, saat kita merasa bukan siapa-siapa, saat kita menjadi bocah besar. Karena di tempat dan saat seperti itulah para pahlawan kita menyedot energi jiwa mereka.

    Itu sebabnya Umar bin Khattab mengatakan, “Jadilah engkau bocah di depan istrimu, tapi berubahlah menjadi lelaki perkasa ketika keadaan memanggilmu’. Kekanakan dan keperkasaan, kepolosan dan kematangan, saat lemah dan saat berani, saat bermain dan saat berkarya, adalah ambivalensi-ambivalensi kejiwaan yang justru berguna menciptakan keseimbangan emosional dalam diri para pahlawan.

    “Saya selamanya ingin menjadi bocah besar yang polos.” kata Sayyid Quthub. Para pahlawan selalu mengenang saat-saat indah ketika ia berada dalam pangkuan ibunya, dan selamanya ingin begitu ketika terbaring dalam pangkuan istrinya.

    Siapakah yang pertama kali ditemui Rasulullah SAW setelah menerima wahyu pertama dan merasakan ketakutan luar biasa? Khadijah! Maka ketika Rasulullah ditawari untuk menikah setelah Khadijah wafat, beliau mengatakan; “Dan siapakah wanita yang sanggup menggantikan peran Khadijah?”

    Itulah keajaiban dari kesederhanaan. Kesederhanaan yang sebenarnya adalah keagungan; kelembutan, kesetiaan, cinta an kasih sayang. Itulah keajaiban wanita.

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 19 November 2014 Permalink | Balas  

    Khadijah Binti KhuwailidPerempuan, Jadi Objek atau Mengobjekkan Diri?

    Oleh Iwan Hermawan, S.Pd., M.Pd.

    Seorang wanita telah dilengkapi oleh Tuhan dengan keindahan jiwa dan raga adalah sebuah kebenaran, yang sekaligus nyata dan maya, yang hanya bisa kita pahami dengan cinta kasih, dan hanya bisa kita sentuh dengan kebajikan. (Kahlil Gibran, Sayap-sayap Patah).

    POTONGAN tulisan Kahlil Gibran di atas menunjukkan, perempuan merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki daya tarik memikat serta penuh dengan misteri bagi lawan jenisnya. Keindahan tubuh dan rohaninya merupakan bagian yang mampu menarik hati dan menggoda iman kaum lelaki sehingga tidak heran jika kaum lelaki akan rela mengorbankan apa saja agar mampu menikmati dan memiliki keindahan tubuh seorang perempuan.

    Perjalanan sejarah menunjukkan, pembunuhan yang dilakukan oleh manusia pertama kali di muka bumi, yaitu pembunuhan Habil oleh Qabil, terjadi sebagai akibat rebutan perempuan. Selain itu, kisah dalam kitab suci menjelaskan Nabi Adam yang diusir oleh Tuhan dari surga juga disebabkan oleh perempuan (Siti Hawa) yang mendesaknya untuk mendekati dan memakan buah terlarang (Khuldi).

    Pada zaman Fir’aun, Nabi Musa yang saat itu masih bayi seharusnya dibunuh karena merupakan keturunan Bani Israil, tetapi tidak jadi dibunuh bahkan diangkat anak olehnya karena permintaan dari sang permaisuri. Pada zaman Cleopatra, Julius Caesar rela tidak melanjutkan ekspansinya di Mesir karena jatuh pada pelukan ratu Mesir yang terkenal karena kecantikannya. Selanjutnya, Presiden Amerika Serikat John F. Kennedi dapat takluk dan jatuh ke pelukan artis Marlyn Monroe, dan terakhir ketika Presiden Bill Clinton posisinya terancam karena ada main dengan Monica Lewinsky.

    Tidak semua perempuan hanya menjadi objek dalam kehidupan dunia, di antara mereka terdapat beberapa nama yang justru menjadi pembangkit semangat bagi orang yang mencintainya, seperti halnya Eva Duarte yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Eva Peron merupakan orang di belakang layar keberhasilan Juan Peron dalam membangun negerinya walaupun hal itu juga merupakan bagian dari ambisinya untuk menjadi orang terkenal di Argentina. Itu tercapai hingga namanya lebih dikenang oleh warga Argentina dibanding sang suami yang justru orang nomor satu di negeri itu.

    Kenyataan tersebut menunjukkan dari dulu hingga sekarang kaum laki-laki akan selalu berupaya untuk dapat meraih simpati perempuan tanpa berpikir dampak dan akibat yang akan ditanggungnya.

    Pemanfaatan perempuan

    Melihat perjalanan panjang sejarah hubungan antara laki-laki dan perempuan tidak heran jika banyak orang kemudian memanfaatkan keindahan yang dimiliki perempuan guna mencapai suatu obsesi, baik harta kekayaan, ketenaran, atau jabatan. Pada zaman dahulu, agar lurah terpakai oleh bupati, dia secara rutin harus mempersembahkan seorang perempuan yang cantik kepada bupati untuk dijadikan selir atau hanya sekadar pemuas nafsu sesaat untuk kemudian dibebaskan kembali atau dihadiahkan lagi kepada orang lain.

    Akibatnya, banyak orang tua, terutama dari golongan bawah, yang merasa bahagia jika memiliki anak perempuan yang cantik dan rupawan karena kecantikan yang dimilikinya dapat menjadi modal untuk meningkatkan taraf kehidupan ekonomi dan status keluarga.

    Di dunia modern saat ini, kedudukan perempuan tidaklah jauh berbeda dengan sebelumnya, mereka tetap dijadikan sebagai hiasan penarik laba. Bila kita perhatikan mode pakaian perempuan yang berkembang saat ini, dari hari ke hari semakin ketat melekat di tubuh dan semakin minim serta semakin bebas memperlihatkan keindahan tubuh pemakainya. Bahkan, pakaian mode untuk pakaian seragam kantor pun dibuat seseksi dan seminim mungkin agar mereka bisa memperlihatkan bagian-bagian yang menjadi daya tarik bagi lawan jenisnya. Walaupun hal itu sering kali membuat mereka risi dan tidak nyaman, mereka tidak bisa berbuat banyak karena harus menuruti apa yang telah menjadi kebijakan perusahaan atau kantor.

    Namun tidak semua perempuan yang memanfaatkan keindahan tubuhnya karena rasa terpaksa atau dimanfaatkan pihak lain. Di antara mereka ada seperti halnya Cleopatra dan Eva Peron yang memanfaatkan keindahan dan kecantikan tubuhnya guna meraih obsesi dan cita-cita agar menjadi orang terkenal dan sukses dalam menapaki jenjang karier.

    Tidak sedikit di antara mereka, terutama para pendatang baru dunia hiburan, yang dengan sengaja memanfaatkan kesintalan dan keindahan tubuhnya demi setumpuk uang dan ketenaran, bahkan tidak sedikit yang siap memberikan “servis lebih” asal tujuannya menjadi orang terkenal dapat tercapai. Dengan begitu tidak heran jika semua media kita, terutama media cetak dan elektronik dipenuhi dengan tampilan cantik seorang perempuan yang berpakaian minim atau sangat ketat, bahkan media televisi kita saat ini sudah dipenuhi dengan tayangan yang memperlihatkan goyangan pantat nakal biduanita yang mampu menarik imajinasi kaum lelaki yang menontonnya.

    Kenyataan tersebut jelas menunjukkan perempuan dengan kelemahan yang dimilikinya menjadi objek kaum laki-laki dalam memenuhi ambisinya. Namun di sisi lain, saat ini justru banyak perempuan yang memanfaatkan kelemahan laki-laki yang selalu tergoda oleh sesuatu yang indah yang dimiliki seorang perempuan guna menggapai puncak harapan.

    Penghargaan terhadap perempuan

    Para penggiat persamaan hak selalu berteriak, jangan melakukan eksploitasi perempuan guna meraih keuntungan bisnis atau berikan porsi yang sama antara perempuan dan laki-laki. Jargon-jargon tersebut selalu didengungkan di berbagai kesempatan yang tiada lain bertujuan agar perempuan memperoleh kedudukan yang sama dengan laki-laki.

    Penghargaan terhadap seorang perempuan sebenarnya harus diperlihatkan oleh perempuan itu sendiri dalam menghormati dirinya. Mereka harus mampu menghormati dirinya melalui caranya bertindak dan berperilaku dalam upayanya menggapai tujuan dan cita-cita. Mereka harus mampu mempertahankan cara hidup yang sesuai dengan norma walau persaingan untuk ke situ sangat ketat.

    Karena bagaimana mungkin seorang perempuan akan memperoleh penghargaan dari kaum lelaki jika dia sendiri tidak menghormati dan menghargai dirinya sendiri. Seperti dalam cara berpakaian di depan umum, banyak di antara mereka yang berpakaian minim dan seksi sehingga lekuk tubuhnya yang indah, seksi, dan sintal jelas terlihat dengan alasan mengikuti perkembangan mode. Kebiasaan semacam ini jelas akan mengundang lelaki iseng untuk menggodanya bahkan melecehkannya, baik melalui colekan tangan atau suitan bahkan kata-kata sapaan yang tidak senonoh.

    Jika mereka mampu berperilaku dan berpenampilan yang sesuai dengan norma yang berlaku, insya Allah, pelecehan dan kekerasan seksual yang saat ini banyak menimpa kaum perempuan dapat dihindarkan. Karena pada dasarnya, kejahatan dan pelecehan seksual banyak terjadi sebagai akibat dari penampilan si korbannya itu sendiri.

    Selain itu, melalui penghargaan terhadap diri sendiri oleh kaum perempuan diharapkan posisi perempuan yang selalu menjadi objek dalam berbagai kegiatan kaum lelaki dan dunia usaha dapat dihindarkan dan penghargaan yang layak dapat diterima oleh kaum perempuan sesuai dengan prestasi bukan rasa iba atau karena pengorbanan harga diri.

    ***

    Penulis adalah pemerhati masalah pendidikan, sosial, dan budaya

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 18 November 2014 Permalink | Balas
    Tags: Khilafah, Khilafah Islamiyah, Masyarakat Islam   

    081310_orangarabMasyarakat Islam Setelah Runtuhnya Khilafah

    Jelaslah, bahwa runtuhnya Daulah Khilafah Islamiyah telah menghilangkan salah satu unsur dari masyarakat Islami (al mujtama’ al Islami), yakni adanya sistem peraturan Islam (nizham Islam) yang mengatur hubungan dan memecahkan segala problema dalam hubungan antar kaum muslimin.  Pada tanggal 28 April 1924 Musthafa Kamal menghapus Mahkamah Syari’yah (Pengadilan Agama) di Turki, yakni pengadilan yang menggunakan syari’at Islam. Musthafa Kamal yang agen kolonialis Inggris itu pun menggantikannya dengan mengundangkan Undang-undang Sipil Swiss pada tanggal 4 Oktober 1926.  Bahkan ia menghapus pasal “Agama negara adalah Islam” dari UUD Turki pada tanggal 10 April 1928.  Para Kemalis yang setia kepada Musthafa Kamal mengganti huruf Arab yang sudah menjadi kebiasaan nenek moyang mereka selama berabad-abad dengan huruf latin yang mereka impor dari Barat pada 1 November 1928 dan pada tahun itu pula mereka mengumumkan sekularisme dalam UUD mereka.10

    Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah menyebabkan negeri-negeri Islam dikontrol dan diperintah langsung oleh para penjajah Barat.  Mereka segera menerapkan sistem peraturan Barat yang kufur itu di negeri-negeri Arab dan wilayah Islam lainnya.  Mereka pun menyusun kurikulum pendidikan yang mereka dasarkan atas asas peradaban dan kebudayaan mereka, yakni “fashlud din ‘anil hayah” (pemisahan agama dari kehidupan), yang konsekuensinya adalah pemisahan agama dari negara.  Dengan pendidikan tersebut penjajah Barat menjadikan kepribadian mereka sebagai standar kebudayaan kaum muslimin.  Penjajah Barat menjadikan peradaban mereka dan pemahaman-pemahaman hidup mereka, struktur negara mereka, sejarah, dan lingkungan mereka sebagai standar untuk otak kaum muslimin.  Tidak cukup sampai di situ, para penjajah itu bahkan memutar balikkan fakta dalam menanamkan kepribadian mereka. Mereka memutar balikkan fakta sedemikian rupa sehingga kaum muslimin menganggap para penjajah itu adalah orang mulia, bangsa teladan, dan sebuah kelompok kuat yang mau tidak mau kaum muslimin harus berjalan bersama mereka dalam menempuh kehidupan.  Dengan cara-cara yang kotor mereka menyembunyikan tampang kolonialis mereka yang sebenarnya. Oleh karena itu, kalangan kaum muslimin yang terpelajar itu pun sebenarnya telah mempelajari suatu tsaqafah yang merusak.  Mereka belajar bagaimana cara orang lain (penjajah Barat) berpikir.  Akibatnya kaum muslimin menjadi lemah untuk belajar bagaimana mereka sendiri (kaum muslimin) berpikir.11

    Pengaruh peracunan tsaqafah Barat tersebut tidak terbatas kepada kalangan terpelajar, tapi merata kepada masyarakat secara umum.  Masyarakat kaum muslimin pun diracuni oleh para penjajah Barat dengan paham kebangsaan (nasionalisme), patriotisme, dan sosialisme, serta paham-pahama kedaerahan yang sempit.  Juga masyarakat kaum muslimin diracuni dengan kemustahilan berdirinya Daulah Islamiyah dan kemustahilan persatuan dan kesatuan negeri-negeri Islam dengan adanya perbedaan kultur, penduduk, dan bahasa, sekalipun mereka merupakan suatu umat yang terikat dengan Aqidah Islamiyah yang melahirkan sistem peraturan Islam.  Selain itu mereka diracuni dengan konsep-konsep politik yang salah seperti “kedaulatan di tangan rakyat”. Mereka juga diracuni dengan slogan-slogan yang keliru seperti: “agama milik Allah dan tanah air milik masyarakat”12

    Akibat proses peracunan tersebut masyarakat di negeri-negeri Islam, termasuk negeri-negeri Arab, mengalami perubahan luar biasa.  Yang tadinya Islami, menjadi tidak Islami.  Yang tadinya diliputi pemikiran-pemikiran Islam sepenuhnya, menjadi mengadopsi banyak sekali pemikiran Barat.  Perundangan Barat pun mereka terapkan dan perjuangkan.    Sebagian besar negeri Arab dan Islam lainnya menerapkan sistem peraturan Barat.  Negeri-negeri Arab yang justru sumbernya Islam itu, sayangnya,  justru mayoritas mereka meninggalkan hukum-hukum Islam.  Tidak tersisa dari negeri-negeri tersebut selain urusan-urusan nikah, talak, cerai, rujuk dan sebagian kecil hukum Islam lainnya.  Yang menerapkan hukum Islam yang agak luas barangkali hanya Arab Saudi.  Namun untuk sistem pemeritahan Islam dan fiqih siyasah, nampaknya para penguasa kaum muslimin itu sepakat untuk meninggalkan Islam.

    Masyarakat kaum muslimin tercerai-berai menjadi lebih dari 50 negara yang kecil-kecil dan lemah-lemah.  Banyak sudah krisis yang terjadi yang menimpa negeri-negeri kaum muslimin yang tak bisa mereka selesaikan sendiri.  Sebabnya, yang paling utama adalah masing-masing negara Islam tersebut senantiasa menggantungkan penyelesaian berbagai krisis politik maupun ekonomi mereka kepada negara-negara adi daya yang berkepentingan mempertahankan dominasi mereka di negeri-negeri Islam dalam berbagai bentuk.  Organisasi Konperensi Islam yang hingga kini oleh sebagian kaum muslimin diharapkan sebagai wadah persatuan masyarakat Islam dalam mengatasi berbagai krisis yang dihadapi kaum muslimin, ternyata tak bisa banyak berbuat.  Konon lantaran masing-masing negara anggotanya lebih mengutamakan kepentingan nasional mereka (Republika, 26/5/1995).  Sungguh aneh sekali, OKI (OIC) yang beranggotakan lebih dari 50 negara Islam yang total jumlah penduduknya sekitar satu milyar itu tak mampu menyelesaikan penderitaan kaum muslimin di Palestina yang diinjak-injak hak-hak dan kehormatan mereka oleh negara kecil Yahudi Israel. 

    Itulah masyarakat kaum muslimin setelah runtuhnya khilafah.   Munculnya berbagai keanehan itu lantaran masyarakat tersebut telah kehilangan keunikannya.  Masyarakat kaum muslimin tersebut telah kehilangan ciri khas umat ini yang digambarkan Rasulullah saw. sebagai berikut :

    “Perumpamaan seorang mukmin di dalam cinta dan kasih sayangnya seperti satu tubuh, jika mengeluh salah satu anggota tubuh, maka yang lain akan merasakan demam dan panas serta tak bisa tidur”

     

    Justru masyarakat kaum muslimin yang kini jumlahnya lebih dari satu milyar itu bagaikan hidangan yang disantap dan diterkam oleh musuh-musuhnya.  Sebab mereka tidak menjadi masyarakat yang satu tubuh, yang padat dan kenyal.  Bahkan mereka bagaikan buih yang gampang diporak-porandakan !

    Ini semua lantaran kaum muslimin tidak dalam kesatuan pemikiran, perasaan, dan peraturan yang Islami.  Kontradiksi terjadi di mana-mana.  Tidak jarang kita jumpai seorang muslim di dalam masyarakat yang menurut Muhammad Husain Abdullah sebagai “masyarakat tidak unik” (al mujtama’ ghairu mutamayyiz) ini, akan menempuh keharaman seperti riba dan minum khamr dimana dalam waktu bersamaan menggemborkan bahwa siapa minum khamr berarti telah menempuh haram, dan berusaha mendapatkan kebaikan dalam melarang minum khamr.  Juga, tidak mustahil adanya seorang muslim yang senang mendengar adzan dan pembacaaan Al-Quran, dan terasa dalam dirinya perasaan ruhani, akan tetapi dia tidak sholat, tidak membaca Al-Qur’an, dan tidak menerapkan hukum-hukum Al Qur`an.


    Masyarakat Islam: Konsep, Sejarah, dan Metode Pembentukannya

    Muhammad Shiddiq Al Jawi

    10 Al Marjeh, Mouaffaq Bany, The Awakening of The Sick Man, hal. 387-388.

    11 An Nabhani, Taqiyuddin, At Takattul Al Hizbi, hal. 10-11

    12  An Nabhani, Taqiyuddin, At Takattul Al Hizbi, hal. 14-15

     
    • Candra Wiguna 9:39 pm on 22 November 2014 Permalink

      Anda menulis ini seakan pada pemerintahan Khalifah itu baik, rakyat sejahtera dan bahagia, padahal kenyataannya saat itu bangsa muslim sendiri saling berperang satu sama lain, lihat bagaimana 90 keluarga Abbasiyah dibunuh secara sadis oleh Ummayah, lihat bagaimana para pangeran Utsmani berperang satu sama lain untuk menjadi sultan. Belum permasalahan perbudakan misalnya yang masih subur di masa itu.

      Salah satu faktor mengapa Turki Utsmani itu kalah perang adalah karena dia juga diserang oleh negara Arab, artinya bahwa muslim di Arab pun tidak menyukai pemerintahan Turki dan lebih memilih bersekutu dengan Inggris. Kan lucu jika ratusan tahun setelah Turki Utsmani runtuh lantas anda membuat cerita bahwa Turki itu negara baik dan orang Inggris lah yang jahat seakan anda lebih tahu situasinya dibanding muslim yang hidup di zaman itu.

      Jangan kebanyakan baca buku HTI, cobalah baca referensi yang netral, dan anda akan sadar bahwa anda hidup di zaman yang lebih baik dengan hukum yang lebih baik dibanding pada masa kekhalifahan.

  • erva kurniawan 1:58 am on 17 November 2014 Permalink | Balas  

    Khadijah Binti KhuwailidSejarah Perkembangan Ilmu Hadis

    Dikelolakan Oleh: MC YA

    Sesungguhnya ilmu hadis merupakan salah satu cabang ilmu yang diwarisi daripada ulamak-alamak silam. Ilmu hadis yang tersedia ada sekarang sebenarnya telah melalui beberapa peringkat sehinggalah ianya menjadi satu cabang ilmu yang unik dalam islam. Jika diperhatikan dengan teliti, kita dapati sejarah perkembangan ilmu Hadis merupakan satu gambaran praktikal bagaimana Allah swt.menjaga kalam suci nabi Muhammad saw. sehingga sekarang dan menjaganya daripada ditokok tambah sebagaimana dia memelihara kesucian Al-Qur’an. Penjagaan ini jelas kita perhatikan melalui para muhaddis dalam meriwayatkan hadis dengan mementingkan kepada persoalan sanad atau jalan hadis sehinggakan Ibn Salam pernah berkata “Sesungguh sanad itu sebahagian daripada agama, kalaulah tidak kerana adanya sanad nescaya mudahlah orang bercakap apa saja yang dia suka”.

    PERINGKAT PERTAMA: PERINGKAT PERTUMBUHAN

    Peringkat ini bermula daripada zaman sahabat sehinggalah ke akhir kurun pertama hijrah atau lebih jelas lagi ianya bermula selepas daripada kewafatan baginda Rasulullah saw. Pada zaman Rasulullah saw masih hidup, sudah ada usaha-usaha untuk mengumpul dan menulis hadis sebagaimana yang dilakukan oleh Abdullah bin Amru.

    Perkara ini diakui oleh Abu Hurairah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Beliau mengakui Abdullah bin Amru lebih banyak meriwayatkan hadis daripada Rasulullah hanya disebabkan beliau menulis hadis dan Abu Hurairah tidak menulis. Namun begitu ada hadis yang melarang sahabat-sahabat baginda daripada mencatit apa-apa yang berkaitan dengan Rasulullah kerana takut ianya boleh melalaikan mereka daripada al-Quran.

    Tetapi ulamak telah memberi pandangan bahawa ada hadis yang membenarkan mereka mencatat dan menulis, secara langsung ia telah memansuhkan hadis yang melarang.

    Selain itu Khalifah Umar pernah menyarankan proses mengumpul hadis, tetapi setelah beliau beristikharah salama sebulan maka natijahnya, beliau menolak cadangan mengumpul hadis dalam bentuk penulisan ekoran daripada sikap ambil beratnya terhadap Sunah takut ianya bercampur aduk dengan kalam Allah.

    Percubaan Saidina Umar ini menunjukkan kepada kita bahawa pengumpulan hadis dari sudut hukum adalah harus dan beliau tidak berbuat demikian adalah kerana dikhuatiri sahabat pada waktu itu lebih tertumpu kepada Sunnah tidak kepada kitab Allah.

    Sikap ambil berat sahabat terhadap sunnah juga dapat kita perhatikan melalui usaha mengumpul dan memastikan kesahihan hadis sehinggakan mereka sanggup bermusafir beribu batu dengan hanya menaiki unta semata-mata untuk mencari hadis sahih sebagaimana yang berlaku ke atas Jabir bin Abdullah yang bermusafir selama sebulan ke negeri Syam, mencari dengan Abdullah bin Unais al-Ansari bagi mendapatkan hadis daripada Rasulullah saw.

    Begitu juga sebelum berakhirnya zaman sahabat telah kedapatan Sunnah dalam bentuk pengumpulan dan pembukuan antaranya ” as-Sahiifah as-Saadiqah” oleh Abdullah bin Amru, ” as-Sahiifah” oleh Jabir bin Abdullah al-Ansaari, ” as-Sahiifah as-Sahiihah” oleh Hamam bin Munabbih dan ” sahiifah Ali” oleh Saidina Ali.

    Begitulah perjalanan Sunnah pada kurun pertama.

    PERINGKAT KEDUA: PERINGKAT PENGUMPULAN

    Peringkat ini bermula dari awal kurun ke dua hingga ke awal kurun ketiga hijrah. Pada peringkat ini boleh dikatakan ilmu hadis telah sempurna dikumpul dan dibukukan. Hal demikian memandangkan kepada beberapa faktor yang mendorong ulama supaya membukukan sunnah.

    Antara faktor-faktor tersebut, kurangnya daya ingatan manusia pada zaman itu tidak sebagaimana yang zaman sahabat dan taabi’iin. Ianya telah diakui oleh Imam az-Zahabi dalam kitabnya “Tazkiratul Huffaz”. Begitu juga telah lahirnya ajaran sesat serta kumpulan yang telah terpesong daripada ajaran Islam yang sebenar seperti Mu’tazilah, Khawarij dan lain-lain.

    Faktor tersebut telah mendorong Kalifah Umar bin Abdul Aziz selaku pelopor kepada pembukuan Sunnah ini, mengarahkan ulamak untuk mengumpul segala hadis dengan tujuan untuk menyelamatkan Sunnah daripada penyelewengan dan hadis-hadis Maudhu’ (hadis yang direka dan dinisbahkan kepada Rasul).

    Begitu juga pada waktu itu telah timbulnya cabang ilmu hadis iaitu ilmu ” al-Jarh wa at-Ta’diil” bagi mengkritik periwayat hadis. Hal ini penting untuk menyelamatkan Sunnah daripada tujuan buruk mereka mencipta hadis semata-mata untuk kepentingan kumpulan-kumpulan tertentu.

    Ulama telah mula berhati-hati didalam mengambil hadis daripada periwayat hadis dan tidak meriwayatkan hadis daripada periwayat hadis yang tidak dikenali peribadinya. Ulama hadis telah memberikan perhatian khusus pada isi hadis dan sanadnya.

    Begitulah berakhirnya peringkat kedua.

    PERINGKAT KETIGA: PERINGKAT PEMBUKUAN SECARA SPESIFIK

    Peringkat ini bermula dari kurun ketiga sehingga pertengahan kurun keempat Hijrah. Kurun ketiga merupakan kurun keemasan bagi Sunnah Nabawiyyah kerana jika dilihat daripada sudut perkembangan ilmu Hadis, kita nampak pada kurun ini Sunnah telah dibukukan secara keseluruhan.

    Ulama Hadis telah mempelbagaikan pembukuaan Sunnah dan ini menunjukkan kepada kita bahawa seninya Ulamak Hadis dalam membukukan Ilmu Hadis sebagai contoh: ada Ulamak membukukan hadis dalam bentuk Masaanid yang membawa maksud, kumpulan hadis-hadis Nabi yang diriwayatkan oleh para sahabat, seperti ” Musnad Imam Ahmad”.

    Manakala Imam Bukhari dan Muslim pula mengumpul hadis dalam bentuk ” al-Jaami’ as-Sahiih” yang bermaksud, kumpulan hadis-hadis yang meliputi sebahagian besar perkara-perkara penting dalam agama termasuklah fiqih, Hari Kiamat, Adab, Sirah dan lain-lain.

    Pada waktu ini juga, telah wujudnya ilmu khas tentang jenis-jenis hadis seperti Hadis sahih, Hasan, Mursal, dan sebagainya.

    PERINGKAT KEEMPAT: ZAMAN PENULISAN SENI-SENI ILMU HADIS

    Bermula dari pertengahan kurun ke empat hingga permulaan kurun ke tujuh, ulamak pada waktu ini dengan bantuan daripada apa yang telah ditinggalkan oleh ulamak-ulamak sebelum ini telah mengembangkan lagi ilmu hadis kepada keadaan yang lebih baik. Maka kita dapat lihat hasil yang dicurahkan oleh generasi ini alam buku-buku seperti:

    Hide message history

    1. al-Muhdis al-Faasil bayna ar-Raawi wal al-wa’yii — al-Qadhi Abu Muhammad al-Waamahramzi
    2. al-Kifaayah fii i’lmi il-Riwaayah –al-Khatiib al-Baghdaadi
    3. al-Ilmaa’ fii Usuul il-Riwaayah wa as-Samaa’ –al-Qaadhi I’yaadh

    Buku-buku yang dihasilkan pada zaman ini boleh dianggap sebagai sumber utama ( al-Masaadir al-Asliyyah) dalam ilmu ini. Antara ulamak yang memainkan peranan utama pada zaman ini ialah al-Khatiib al-Baghdaadi dan al–Haakim an-Niisaabuuri.

    PERINGKAT KELIMA: PERINGKAT KEMATANGAN

    Bermula dari kurun ketujuh hingga kurun kesepuluh. Pada waktu inisetiap cabang ilmu hadis telah siap dibukukan. Antara ulamak yang mengepalai perkembangan pada masa ini ialah Ibnu Solaah yang telah mengarang kitabnya yang masyhur “uluum ul-Hadiis” Buku ini adalah yang terbaik kerana mempunyai ciri-ciri :

    1. Mempunyai Istinbat yang mendalam tentang pendapat ulamak dan kaedah-kaedah mereka
    2. menyusun takrif-takrif dan istilah ilmu hadis berdasarkan kepada pandangan ulamak tedahulu.

    iii. Menyelidiki sendiri pandngan ulamak terdahulu.

    Kitab Ibnu Solaah ini menjadi panduan kepada mereka yang datang selepasnya dan ada yang meringkas balik kitab tersebut dan ada juga yang mensyarah balik dalam bentuk yang lebih terperinci.

    Antara kitab yang dihasilkan pada masa itu selain kitab ” uluum ul-Hadiis” ialah

    1. al-Irsyaad oleh Imam Nawawi
    2. al-Tabjirah wa at-Tazkirah oleh Haafiz ul-Iraaqi
    3. lain-lain

    PERINGKAT KE ENAM: PERINGKAT TERBANTUTNYA ILMU HADIS

    Bermula dari kurun ke sepuluh hingga ke awal kurun ke dua puluh. Pada waktu ini telah terhentinyazaman perkembangan ilmu hadis diaman ilmu hadis telah sempurna sebagaimana diperingkat yang sebelumnya. Begitu juga kita tengok, waktu ini telah terhenti ijtihad dalam aspek keilmuan memandangkan kepada kurangnya ulamak yang berwibawa serta tersebarnya fitnah akhir zaman. Manusia pada waktu itu hanya mengikut apa yang telah dihasilkan oleh ulamak terdahulu. Pada waktu ini ulamak hadis hanya meringkaskan dalam bentuk baru kitab-kitab lama supaya ianya mudah difahami samaada dalam bentuk Syair ataupun al-Manzuumah (prosa) ” al-Manzuumah al-Baiquuniyyah”.

    PERINGKAT KE TUJUH: PERINGKAT KEMBALI

    Bermula dari awal kurun ke dua puluh hingga sekarang. Pada masa ini, ulamak mula sedarakan bahaya yang dihadapi oleh Sunnah yang mana terdedah kepada ancaman orientalis yang cuba sedaya upaya untuk mengelirukan mata masyarakat tentang Sunnah Nabawiyyah.

    Oleh itu ulamak telah bangkit dengan penulisan serta buku-buku untuk menangkis semula pemikiran-pemikiran yang merbahaya tentang Sunnah. Antara kitab-kitab yang dihasilkan ialah:

    1. Qawaai’du ut-Tahdiith oleh Syeikh Jamaluddin al-Qaasimi
    2. al-Hadiith wa al-Muhaddithuun oleh Syikh al-Duktuur Muhammad Abu Zahrah.

    III. Lain-lain

    Begitulah turutan perkembangan ilmu hadis dari zaman Rasulullah sehinggalah kezaman kita sekarang ini. Kita bersyukur kepada Allah kerana Hadith-hadith Rasul telah dijaga oleh ulamak dengan penjagaan yang begitu rapi sehingga hadith-hadith dapat sampai kepada kita pada hari ini. Semoga usaha-usaha yang dijalankan oleh mereka mendapat tempat disisi Allah swt.. Kita sebagai generasi yang telah jauh daripada suasana ilmu yang di tunjukkan oleh salafus us-Sooleh seharusnya berusaha untuk mendekatkan diri dengan Sunnah dan beramal denganya.

    Wallahu a’lam

    ***

    Kiriman Ukhti Retno Wahyudiaty

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 14 November 2014 Permalink | Balas  

    al-fatihahAl Fatihah, (Tafsir Al Ghazali)

    Sawaluddin Ukkas

    Surat Al Fatihah Mencakup Segala  Ilmu Pengetahuan

    Menurut Imam Al Ghazali bahwa Al Quran mengandung sepulauh dasar ilmu pengetahuan umum dan tiap-tiap ilmu itu membawahi beberapa macam ilmu :

    1. Ilmu untuk mengenal zat Allah swt.
    2. Ilmu untuk mengenal sifat-sifat Allah swt. Mengenai zat Allah swt, kita mengagungkan dan mensucikanNya dari segala sifat kekurangan : Dia tida serupa dengan sesuatu apapun. Adapun mengenal sifat-sifatNya yaitu : Dia Maha Kuasa, Maha Berkehendak, Maha Mengetahui, Hidup, Mendengar, Melihat dan Berbicara.
    3. Dialah Khalik alam semesta dan Penciptanya dan Dialah Yang meninggikan langit dan membentangkan bumi.
    4. Menjelaskan tempat kembali manusia seperti : syurga sebagai tempat pahala, neraka sebagai tempat siksa.
    5. Menjelaskan Siratal Mustaqim (jalan yang lurus) dengan meninggalkan segala perbuatan yang terceladan segala perbuatan yang tercela dan segala perangai yang rendah.
    6. Menghiasi diri dengan segala perbuatan yang mulia dan segala sifat yang utama.
    7. Menjelaskan orang-orang yang telah dianugerahi nikmat atas mereka dan memuji mereka itu.
    8. Menerangkan (akibat) orang-orang yang dzalim, orang-orang yang melanggar hukum-hukum agama dan orang-orang yang kafir.
    9. Menyebutkan perbantahan orang-orang kafir. 10. Menerangkan undang-undang hukum Allah.

    Inilah semuanya ilmu-ilmu yang tersebut di dalam Al Quran dan delapan diantaranya telah tercakup di dalam surat Al Fatihah.  Demikian pandangan Imam Al Ghazali.

    Untuk jelasnya adalah sebagai berikut :

    1. Zat Allah swt yang tercantum dalam kalimat : (Bismillahi) = Dengan nama Allah

    2. Sifat-sifat Allah dalam kalimat : (Arrahmaanirrahimi Malikiyaumiddiini) = Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Yang menguasai hari Pembalasan.

    Bahwasanya sifat Rahmah (Pengasih dan Penyayang) dan kekuasaan itu, keduanya menghendaki adanya Qudrat (sifat Maha Kuasa), Iradah (Maha Berkehendak) dan Ilmu (Maha Mengetahui). Itulah diantaranya sifat-sifat Allah yang tercantum didalam kebanyakan surat didalam Al Quran seperti firman-Nya :  Almalikul kudduusussalamul mu’minullmuhaeminul ‘aziizul jabbarul mutakabbiru. Artinya : “Dia Maha Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menganugerahkan Keamanan Yang Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Agung. (Surat Al Hasyer:23).

    3 Ilmul af’al (ilmu perbuatan Allah) yaitu : ilmu yang telah kami uraikan dahulu yang tercakup dalam firman-Nya : Rabbil’alamiina = Yang Memelihara Semesta Alam.

    Dan tersirat di dalamnya berbagai macam ilmu dan kami telah jelaskan bahwa alam itu ada dua macam : alamtinggi dan alam rendah ;

    Pada kedua alam tersebutlah berhubungan berbagai macam ilmu pengetahuan dan teknologi karena semuanya itu adalah “Af’alullah” (Perbuatan Allah) yang masuk didalam pengaruh rahmat dan pendidikan-Nya bagi semesta alam. Bahwasanya ilmu pasti dan ilmu pengetahuan alam yang keduanya telah masuk di dalam “Tarbiayatul ‘alamin” (Pendidikan semesta alam) keduanya diikuti lagi oleh berbagai ilmu teknik yang diantaranya seperti : alat pengukur waktu (jam dan sebagainya), ilmu tentang mesin penggerak (penarik benda yang berat) seperti : lokomotif dan sebagainya, ilmu pengeboran air dan minyak, ilmu tentang alat-alat persenjataan yang berat seperti : roket meriam dan sebagainya. Ilmu tentang gas beracun dan sebagainya.

    Ilmu-ilmu itulah yang menggugah bangsa-bangsa yang masih tidur dan membangunkan bangsa-bangsa Timur (Asia) dari tidur nyenyak mereka. Semuanya ini termasuk di antara keajaiban pendidikan. Demikian juga ilmu pembuatan senjata berat seperti meriam yang dapat menghancurkan orang-orang yang lalai. Ilmu tentang alat pembakar, ilmu tentang alat pembakar, ilmu untuk bangunan perumahan yang kuat; ilmu pembuatan (menggali) terusan (sungai); ilmu tentang proyeksi dalam bentuk dan letaknya; ilmu gaya gravitasi; ilmu ukur ruang; ilmu kedokteran dan ilmu pertanian. Kedua ilmu terakhir ini (Kedokteran dan pertanian) termasuk dalam lingkungan ilmu pengetahuan alam, sedangkan ilmu-ilmu sebelumnya termasuk dalam lingkungan ilmu pasti (matematika) dan semuanya itu terkandung di dalam.

    Tarbiayatul ‘alamin  Artinya : “Pendidikan Alam Semesta”

    Ketahuilah bahwa semua industri yang telah ada sekarang maupun yang akan datang semuanya bersumber dari benda-benda yang telah ada (diciptakan Allah) di dunia ini.

    4. Keterangan tentang hari akhirat yang meliputi syurga, neraka, kenikmatan dan kesengsaraan, pahala dan siksa. Al Quran telah membuat segala keterangan mengenai hal tersebut dan semunya itu termasuk di dalam ayat : Maliki yaumiddiini. Artinya : “Yang memiliki hari pembalasan (hari kemudian).”

    5.6. Keterangan tentang siratal mustaqim (jalam yang lurus) ini ada dua bagian :

    a. Meninggalkan kesesatan, kefasikan dan berbagai maksiat seperti : bohong, khianat, khianat dan zina.

    b. Menghiasi diri dengan dengan segala akhlak yang mulia seperti sifat-sifat mulia, ilmu pengetahuan, tolong-menolong, menyebarkan ilmu dan sebagainya.

    7. Keterangan tentang sejarah para Nabi, orang-orang yang saleh, orang-orang mumin dan intelektual, semuanya ini termasuk dalam ayat : Allaziina an’amta ‘alaihim Artinya : “Orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat atas mereka”.

    8. Cerita orang-orang yang telah dimurkai dan orang-orang yang sesat. Di dalam Al Quran banyak tersebut cerita tentang orang-orang yang sesat dan sejarah tingkah laku dan perbuatan mereka yang membawa kepada kehancuran dan kebinasaan. Itulah berbagai ilmu yang terkandung di dalam Al Quran dan telah tersirat di dalam surat Al Fatihah.

    Wassalam

    Syawal

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 13 November 2014 Permalink | Balas  

    al-quran 3Orang Mukmin Tercipta Penuh Cobaan

    Oleh: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdulhamid Al-Halaby

    Kata Pengantar

    Dalam kesempatan kali ini kami hadirkan ke hadapan pembaca, uraian yang sangat bagus sekali dari seorang tokoh ‘alim Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdulhamid Al-Halaby mengenai sifat-sifat seorang mukmin. Tulisan ini diterjemahkan dari Majalah Al-Ashalah edisi 15, 16 th III -15 Dzul Qa’dah 1415H, dan dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 07/th III/1419-1998.

    Orang Mukmin Tercipta Penuh Coba

    Terdapat riwayat yang shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Artinya : Sesunguhnya seorang mukmin tercipta dalam keadaan Mufattan (penuh cobaan), Tawwab (senang bertaubat), dan Nassaa’ (suka lupa), (tetapi) apabila diingatkan ia segera ingat”. (Silsilah Hadits Shahih No. 2276).

    Hadist ini merupakan hadits yang menjelaskan sifat-sifat orang mukmin, sifat-sifat yang senantiasa lengket dan menyatu dengan diri mereka, tiada pernah lepas hingga seolah-olah pakaian yang selalu menempel pada tubuh mereka dan tidak pernah terjauhkan dari mereka.

    Mufattan

    Artinya : Orang yang diuji (diberi cobaan) dan banyak ditimpa fitnah. Maksudnya : (orang mukmin) adalah orang yang waktu demi waktu selalu diuji oleh Allah dengan balaa’ (bencana) dan dosa-dosa. (Faid-Qadir 5/491).

    Dalam hal ini fitnah (cobaan) itu akan meningkatkan keimanannya, memperkuat keyakinannya dan akan mendorong semangatnya untuk terus menerus berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab dengan kelemahan dirinya, ia menjadi tahu betapa Maha Kuat dan Maha Perkasanya Allah, Rabb-nya.

    Menurut sebuah riwayat dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Perumpamaan orang mukmin ibarat sebatang pokok yang lentur diombang-ambing angin, kadang hembusan angin merobohkannya, dan kadang-kadang meluruskannya kembali. Demikianlah keadaannya sampai ajalnya datang. Sedangkan perumpamaan seorang munafik, ibarat sebatang pokok yang kaku, tidak bergeming oleh terpaan apapun hingga (ketika) tumbang, (tumbangnya) sekaligus”. (Bukhari : Kitab Al-Mardha, Bab I, Hadist No. 5643, Muslim No. 7023, 7024, 7025, 7026, 7027).

    Ya, demikianlah sifat seorang mukmin dengan keimanannya yang benar, dengan tauhidnya yang bersih dan dengan sikap iltizam (komitment)nya yang sungguh-sungguh.

    Tawaab Nasiyy

    “Artinya : Orang yang bertaubat kemudian lupa, kemudian ingat, kemudian bertaubat”. (Faid-Al Qadir 5/491).

    Seorang mukmin dengan taubatnya, berarti telah mewujudkan makna salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sifat yang terkandung dalam nama-Nya : Al-Ghaffar (Dzat yang Maha Pengampun). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar”. (Thaha : 82).

    Apabila Diingatkan, Ia Segera Ingat.

    Artinya : Bila diingatkan tentang ketaatan, ia segera bergegas melompat kepadanya, bila diingatkan tentang kemaksiatan, ia segera bertaubat daripadanya, bila diingatkan tentang kebenaran, ia segera melaksanakannya, dan bila diingatkan tentang kesalahan ia segera menjauhi dan meninggalkannya.

    Ia tidak sombong, tidak besar kepala, tidak congkak dan tidak tinggi hati, tetapi ia rendah hati kepada saudara-saudaranya, lemah lembut kepada sahabat-sahabatnya dan ramah tamah kepada teman-temannya, sebab ia tahu inilah jalan Ahlul Haq (pengikut kebenaran) dan jalannya kaum mukminin yang shalihin.

    Terhadap dirinya sendiri ia berbatin jujur serta berpenampilan luhur, sedangkan terhadap orang lain ia berperasaan lembut dan berahlak mulia, bersuri tauladan kepada insan teladan paling sempurna yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah diberi wasiat oleh Rabb-nya dengan firman-Nya :

    “Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka …..”. (Ali Imran : 159).

    Inilah sifat seorang mukmin. Ini pula jalan hidup serta manhaj perilakunya.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 12 November 2014 Permalink | Balas  

    kisah-teladan-islamKehidupan Sehari-Hari Yang Islami

    Oleh: Syaikh Abdullah bin Jaarullah bin Ibrahim Al-Jaarullah

    Kata Pengantar.

    Saudaraku….

    Dengan penuh pengharapan bahwa  kebahagian dunia dan akhirat yang akan kita dapatkan, maka  kami sampaikan risalah  yang berisikan  pertanyaan-pertanyaan  ini  kehadapan anda untuk direnungkan dan di jawab dengan perbuatan.

    Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja kami angkat kehadapan anda dengan harapan yang tulus dan cinta karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, supaya  kita  bisa mengambil  mannfaat dan faedah yang banyak darinya, disamping itu sebagai bahan kajian untuk melihat diri kita, sudah sejauh mana dan ada dimana posisinya selama ini.

    Saudaraku…

    Risalah ini dinukilkan dari buku saku yang sangat bagus dan menawan yaitu Zaad Al-Muslim Al-Yaumi (Bekalan Muslim Sehari-hari) dari hal. 51 – 55, bab Hayatu Yaumi Islami yang diambil dari kitab Al-Wabil Ash-Shoyyib oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dan diterjemahkan oleh saudara kita Fariq Gasim Anuz semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalasnya dengan pahala dan surganya.

    Kehidupan Sehari-hari Yang Islami :

    1. Apakah anda selalu shalat Fajar berjama’ah di masjid setiap hari?
    2. Apakah anda selalu menjaga Shalat yang lima waktu di masjid?
    3. Apakah anda hari ini membaca Al-Qur’an?
    4. Apakah anda rutin membaca Dzikir setelah selesai melaksanakan Shalat wajib?
    5. Apakah anda selalu menjaga Shalat sunnah Rawatib sebelum dan sesudah Shalat wajib?
    6. Apakah anda (hari ini) Khusyu dalam Shalat, menghayati apa yang anda baca?
    7. Apakah anda (hari ini) mengingat Mati dan Kubur?
    8. Apakah anda (hari ini) mengingat hari Kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya?
    9. Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak tiga kali, agar memasukkan anda ke dalam Surga? Maka sesungguhnya barang siapa yang memohon demikian, Surga berkata :”Wahai Allah Subhanahu wa Ta’ala masukkanlah ia ke dalam Surga”.
    10. Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali? Maka sesungguhnya barangsiapa yang berbuat demikian, neraka berkata :”Wahai Allah peliharalah dia dari api neraka”. (Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya :”Barangsiapa yang memohon Surga kepada Allah sebanyak tiga kali, Surga berkata :”Wahai Allah masukkanlah ia ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali, neraka berkata :”Wahai Allah selamatkanlah ia dari neraka”. (Hadits Riwayat Tirmidzi dan di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami No. 911. Jilid 6).
    11. Apakah anda (hari ini) membaca hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?
    12. Apakah anda pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik?
    13. Apakah anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau?
    14. Apakah anda (hari ini) menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?
    15. Apakah anda selalu membaca Dzikir pagi dan sore hari?
    16. Apakah anda (hari ini) telah memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala atas dosa-dosa (yang engkau perbuat -pen)?
    17. Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati Syahid? Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya :”Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidur”. (Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya).
    18. Apakah anda telah berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia menetapkan hati anda atas agama-Nya. ?
    19. Apakah anda telah mengambil kesempatan untuk berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di waktu-waktu yang mustajab?
    20. Apakah anda telah membeli buku-buku agama Islam untuk memahami agama? (Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang dipahami oleh para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena banyak juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar, pent).
    21. Apakah anda telah memintakan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah? Karena setiap mendo’akan mereka anda akan mendapat kebajikan pula.
    22. Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala (dan bersyukur kepada-Nya, pent) atas nikmat Islam?
    23. Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya?
    24. Apakah anda hari-hari ini telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya?
    25. Apakah anda dapat menahan marah yang disebabkan urusan pribadi, dan berusaha untuk marah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala saja?
    26. Apakah anda telah menjauhi sikap sombong dan membanggakan diri sendiri?
    27. Apakah anda telah mengunjungi saudara seagama, ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala?
    28. Apakah anda telah menda’wahi keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang ada hubungannya dengan diri anda?
    29. Apakah anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua?
    30. Apakah anda mengucapkan “Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raji’uun” jika mendapatkan musibah?
    31. Apakah anda hari ini mengucapkan do’a ini : ” Allahumma inii a’uudubika an usyrika bika wa anaa a’lamu wastagfiruka limaa la’alamu = Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau sedangkan aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui”. Barangsiapa yang mengucapkan yang demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghilangkan darinya syirik besar dan syirik kecil. (Lihat Shahih Al-Jami’ No. 3625).
    32. Apakah anda berbuat baik kepada tetangga?
    33. Apakah anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad, dan dengki?
    34. Apakah anda telah membersihkan lisan dari dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata-kata yang tidak ada manfaatnya?
    35. Apakah anda takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal penghasilan, makanan dan minuman, serta pakaian?
    36. Apakah anda selalu bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan?

    Saudaraku ..

    Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan, agar kita  menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat, inysa Allah.

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 11 November 2014 Permalink | Balas  

    hidayah-allahRaihlah Cinta Allah

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Sudah menjadi fitrahnya, jika manusia diciptakan Allah SWT. menjadi makluk yang sempuna diantara semua ciptaan-NYA. Namun dibalik semua kelebihan yang dimilikinya, manusia dapat terjerambab kedalam jurang kehinaan, akibat dari kekhilafan, kesalahan yang memperturutkan hawa nafsu yang ditumpuk dalam keranjang dosa dan noda.

    Tetapi manakala si hamba datang menghadapkan muka menuju Sang Khalik pemilik rahmat dan rahim, dengan penuh penyesalan mengharap ampunan atas perbuatannya, maka yang hina bisa jadi mulia, yang fasik terangkat derajat menjadi mulia.Sesuai dengan firman Allah SWT. : (QS. 42:25)

    “Dia adalah Dzat yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya yang minta ampun atas kesalahan-kesalahnnya.”

    Hikmah dapat kita ambil dari kisah-kisah dibawah ini :

    Suatu hari ketika Khalifah Umar bin Khathab ra, menyusuri jalan-jalan kota Madinah, ia bertemu seorang pemuda yang lagi membawa botol dibawah bajunya. Khalifah berkata : “Botol apa yang kau bawa dibalik bajumu!”Sesungguhnya botol itu berisi arak. Si pemudah tersebut sangat malu dan takut gemetaran, sambil merintih dalam hati. “Ya Tuhanku, janganlah engkau membuat aku malu dihadapan Umar, maka aku berjanji tidak akan minum arak lagi selamanya.”

    Kemudian si pemuda baru berani berkata, “Wahai Amirrul mukminin, botol yang kubawa ini adalah cuka.”

    “Coba perlihatkan padaku agar aku bisa melihat”. Kemudian si pemuda membuka botol dihadapan Umar ra. dan ternyata berisi cuka.

    Renungkanlah sahabatku! Makluk yang bertobat hanya karena takut kepada makluk lain, itupun Allah merubah araknya bisa berubah cuka. Itu karena ikhlasnya bertobat kepada Allah. Andaikan ada orang ahli maksiat bertobat dengan tobat nashuha (sungguh-sungguh tobat) dan menyesali dosa-dosanya, maka Allah akan mengganti semua kemaksiatannya menjadi (pahala) ketaatan, sebagaimana Allah mengganti arak menjadi cuka.

    Hikayah : Utbah Al Ghulam.

    Utbah Al-Ghulam adalah orang yang berasal dari golongan fasik. Ia sangat terkenal sebagi orang yang bejat, rusak, dan amat gemar dengan mabuk-mabukkan. Suatu hari ia memasuki pengajian Majelis Taklim Hasan Al Bashri, yang tengah membaca ayat Allah ;

    “Apakah belum datang waktunya orang-orang beriman untuk menundukkan hati mereka dalam mengingat Allah!“ (QS. 57 Al-Hadid : 16). Tidakkan hati mereka sudah sepatutnya takut!

    Suatu hari Syekh Hasan Al Bashri ra. memberikan nasehat menafsirkan ayat diatas dengan penafsiran yang amat menyentuh, sehingga banyak orang menangis. Serta merta berdirilah seorang pemuda, lalu berkata; “Wahai orang yang bertakwa dan beriman, apakah Allah masih menerima tobatnya yang lemah dan fasik seperti aku! ”

    Syekh Hasan berkata, “Bisa. Allah menerima tobat akan kejahatanmu.” Utbah Al Ghulam mendengarkan saja langsung wajahnya pucat, tubuhnya gemetar, ia berteriak keras dan langsung pingsan.

    Ketika Ghulam sadar dari pingsanya, Kyai Hasan mendekatinya dan mengucapkan syair-syair dibawah ini :

    “Wahai pemuda maksiat, kepada Tuhan yang memiliki Arsy : Mengertikah engkau balasannya orang yang berbuat maksiat! Adalah neraka syi’ir bagi mereka, ia memiliki suara nyala api : menggelegar disaat ubun-ubun terpegang. Kalau engkau menerima neraka-neraka itu, silahkan berbuat maksiat ; bila tidak. jauhilah kemaksiatan. Semua kesalahan yang engkau kerjakan ; itu berarti engkau sudah menggadaikan dirimu (di Neraka), maka bersungguh- sungguhlah untuk melepaskan diri.”

    Dan Utbah Ghulam berteriak lebih lantang, ia pun jatuh pingsan kedua kalinya. Ketika sadar, ia berkata kepada syeikh Hasan Al-Basri ra. “Wahai syeikh, apakah benar Tuhan Yang Maha Penyayang menerima tobatnya orang seperti aku!”

    Syekh menjawab, “Tiada Dzat yang mampu menerima tobat orang yang menyimpang kecuali Tuhan Yang Maha Memaafkan.”

    Kemudian Utbah Al Ghulam mengangkat kepalanya ke atas sambil melafadzkan tiga doa :

    1. Tuhanku, Engkau menerima taubatku dan mengampuni dosa dosaku, maka muliakan aku dengan mudah faham dan hafal, lalu aku bisa menghafal dan memahami yang kudengar mengenai ilmu atau Al-Qur’an.
    2. Tuhanku, muliakan aku dengan suara merdu, sehingga yang mendengar bacaanku semakin lunak hatinya sekalipun dia memiliki hati sekeras batu.
    3. Tuhanku, berikan rizki yang halal padaku dari jalan yang tidak aku duga duga.

    Allah SWT. pun mengabulkan doanya, dia mudah paham dan hafal, setiap orang yang mendengar bacaan Al-Qur’an langsung tobat, dan setiap harinya pasti ada semangkuk kuah dan dua potong roti tanpa tahu siapa yang menaruh di depan rumahnya. Hal ini terus menerus sampai ia meninggal, dalam kedaan telah menjadi seorang Aulia Allah.

    Inilah keadaan orang yang benar-benar kembali ke jalan Allah, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala kebajikan dari perbuatan bagusnya. Sebagian ulama ada yang ditanya begini, “Apakah hamba yang bertobat mengerti, adakah tobatnya diterima atau tidak!”

    Jawabnya, “Dalam hal ini tidak ada putusan hukum secara pasti, akan tetapi semuanya memiliki tanda-tanda ;

    1. Ia melihat dirinya jauh dan terhindar dari maksiat.
    2. Ia merasakan hatinya selalu gembira, dan rasanya Tuhan sangat dekat sekali.
    3. Ia dekat dengan orang orang baik dan jauh dari orang-orang yang ahli berdosa, maka ia memandang segi dunia yang sedikit sudah terlalu banyak (puas), namun segi akhirat yang sudah banyak dikerjakan masih dianggap kecil (kurang).
    4. Dia menyibukan hatinya dengan sesuatu yang diwajibkan Allah Ta’ala.
    5. Ia menjaga lisannya ( tidak berkata kotor), selalu tafakur, dan selalu menyesali dosa-dosa yang pernah dikerjakan.”

    Ya Allah himpunkan kami ke dalam orang-orang yang selalu mengingat-MU, dan jauhkan kami dari siksaan kubur dan api neraka.

    Siramilah jiwa kami dengan Rahmat dan Kasih-Mu agar kami bisa menggapai Ridhomu.Tuntunlah hati kami untuk selalu beriman kepada-Mu, hingga kami kembali kepada-MU.

    Amin…….

    ***

    Sumber : Buku Rahasia Ketajaman Hati – Imam Ghazali.

    Wassalam

    Siti Nurjannah

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 10 November 2014 Permalink | Balas  

    dzikir 2Dzikrullah (Bagian 3)

    Sawaluddin Ukkas

    Keutamaan Mengucapkan La Ilaha Illallah Dengan Ikhlas

    Diterima dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda: Artinya: “Setiap seorang hamba mengucapkan La ilaha illallah dengan ikhlas, akan dibukakan baginya pintu-pintu langit hingga ia akan tembus ke ‘arasy, selama dosa-dosa besar dijauhinya”. (Riwayat Turmudzi).

    Juga diterima dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw, bersabda: Artinya: “Baru-baruilah keimanmu!” Ditanyakan orang: “Ya Rasulullah, bagaimana caranya kami membaru-barui keimanan kami itu?” Ujarnya: “Perbanyaklah membaca La ilaha illallah!”

    Dan diterima dari Jabir bahwa Nabi saw bersabda: Artinya: “Dzikir yang paling utama ialah La ilaha illallah, sedang do’a yang paling utama ialahAlhamdulillah”. (Diriwayatkan oleh Nasa’i dan Ibnu Majah, juga oleh Hakim yang mengatakan isnadnya sah).

    Keutamaan Membaca Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir dan Lain-Lain.

    Diterima dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw bersabda: Artinya “Ada dua kalimat yang ringan diucapkan lisan, tetapi berat timbangan dan disukai oleh Allah Yang Rahman, Yaitu: “Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahir azhim”, artinya Maha suci Allah dan puji-pujian untukNya, dan Maha suci Allah yang Maha Besar”. (Riwayat Bukhari, Muslim dan Turmudzi).

    Juga dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw, bersabda: Artinya: “Bahwa mengucapkan “Subhanallah, walhamdu lillah, wala ilaha illallah, wallahu akbar”, (Maha suci Allah dan bagi Allah puji-pujian itu, tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Besar), lebih kusukai dari apa yang disinari matahari. (Riwayat Muslim dan Turmudzi).

    Diterima dari Abu Dzar ra. bahwa Nabi saw bersabda: Artinya: “Maukah kamu saya terangkan perkataan yang lebih disukai Allah?” Kata Abu Dzar: “Terangkanlah kepadaku, ya Rasulullah!” Sabdanya: “Subhanallahi wabihamdihi” (Maha suci Allah dan puji-pujian itu untukNya).

    Diterima dari Jabir ra. bahwa Nabi saw, bersabda: Artinya: “Barangsiapa yang mengucapkan “Subhanallahil ‘azhimi wabihamdih” (Mahasuci Allah Yang Mahabesar dan puji-pujian itu untukNya), akan ditanamkan untuknya sebatang pohon kurma dalam surga”. (Riwayat Turmudzi )

    Diterima dari Abdullah ra. bahwa Nabi saw bersabda: Artinya: “Pada malam saya diisrakkan saya ketemu dengan Ibrahim, Katanya “Hai Muhammad! Sampaikan salamku kepada ummatmu!, Dan terangkanlah kepada mereka bahwa surga itu subur tanahnya dan manis airnya, dan bahwa merupakan padang-padang yang terhampar luas, sedang kayu-kayu tanamannya ialah “Subhanallah walhamdulillah, wala ilaha illallah, wallahu akbar”. (Diriwayatkan oleh Turmudzi dan juga oleh Thabrani).

    Sumber: Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq

    Wassalam Syawal

     
    • Sri Mariana Kusumastanto 6:22 am on 11 November 2014 Permalink

      Assmlkm wr wb…bisakah saya mendptkan artikel : Detik2 terakhir wafatnya Rasulullah..yg dikutip oleh Retno Wahyudiati ? Terimakasih.. Bag ketiga saja…krn terhapus wkt akan sharing.

      Sampaikan Walau Satu Ay

  • erva kurniawan 7:45 am on 9 November 2014 Permalink | Balas  

    dzikir 2Dzikrullah (Bagian 2)

    Sawaluddin Ukkas

    Hinggaan Bagi Banyak Berdzikir

    Allah yang Maha Agung sebutanNya itu, menitahkan kita agar dzikir kepadaNya sebanyak-banyaknya. Orang-orang yang berakal yang dapat menarik manfaat dari merenungkan tanda-tanda kebesaranNya, dilukiskan sebagai berikut: Artinya: “Yakni orang-orang dzikir kepada Allah baik di waktu sedang berdiri, ketika duduk dan di waktu berbaring”. (Ali Imram 191)

    Dan FirmanNya pula: Artinya: “Dan terhadap orang-orang yang banyak dzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun perempuan, Allah menyediakan keampunan dan pahala yang besar“. (Al-Ahzab 35)

    Berkata Ali bin Abi Thalhah, menceritakan ucapan Ibnu Abbas ra. mengenai ayat-ayat tersebut diatas: “Allah Ta’ala tidak mewajibkan sesuatu atas hambaNya, kecuali dengan memberikan hinggaan tertentu, sedang bagi yang ‘uzur diberiNya kelonggaran , kecuali berdzikir. Mengenai ini , Allah tidak memberikan batas dimana seseorang harus berhenti. Dan Allah tidak memberikan suatu ke’uzuran buat meninggalkannya, kecuali bila ia terpaksa. FirmanNya: “Dzikirlah kepada Allah, di kala berdiri, di waktu duduk dan diwaktu berbaring!” baik siang maupun malam, di daratan maupun di lautan, di waktu mukim atau sedang bepergian, ketika kaya atau miskin, sehat atau sakit, secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.

    Adab Berdzikir

    Tujuan berdzikir ialah mensucikan jiwa dan membersihkan hati serta membangunkan nurani. Hal inilah yang diisyaratkan oleh Firman Allah: Artinya: “Dan dirikanlah shalat, karena shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar dan dzikir kepada Allah itu lebih utama lagi.!” (Al-Ankabut 45).

    Artinya buat mencegah perbuatan keji dan mungkar, dzikir kepada Allah itu lebih ampuh lagi dari shalat. Sebabnya ialah karena orang yang dzikir itu, demi hatinya terbuka terhadap Tuhannya dan lidahnya lancar menyebutNya, maka Allah akan mengirimkan cahayaNya, hingga keimanannya akan bertambah, keyakinan akan berlipat ganda. Dengan demikian hatinya akan aman dan tenteram dan puas menerima kebenaran, sebagai firmanNya: Artinya: “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka aman tenteram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah dzikir kepada Allah, maka hatipun akan merasa aman dan tenteram!” (Ar-Ro’d 28)

    Dan jika hati telah puas dan lega menerima kebenaran, maka ia akan menghadapkan perhatian kepada contoh teladan yang lebih tinggi dan akan berusaha buat mencapainya, tanpa dapat dihalangi oleh godaan-godaan nafsu, atau oleh rongrongan syahwat. Oleh karena itu kedudukan dzikir ini bukan soal remeh, sebaliknya amat penting dalam kehidupan manusia. Dan tidak masuk akal, jika hasil-hasil ini akan dapat terwujud dalam hanya dengan menyebutnya dibibir belaka. Karena gerakan lidah itu sedikit sekali faedahnya bila tidak cocok dengan sejalan dengan hati. Allah telah memberikan bimbingan mengenai tata tertib yang harus diturui seseorang bila ia sedang berdzikir, firmanNya: Artinya, “Dan dzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan tanpa mengeraskan suaramu, baik diwaktu pagi maupun petang hari, dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai!”. (Al-A’raf 205)

    Ayat tersebut memberi pertanda bahwa dzikir itu disunatkan secara sir, artinya dengan tidak mengeraskan suara. Rasulullah saw mendengar segolong manasia yang berdo,a dengan suara keras dalam salah satu perjalanan, maka sabdanya: Artinya: “Hai manusia! Pelan-pelanlah dalam bersuara, karena kamu tidaklah menyeru orang yang tuli atau di tempat yang jauh. Yang kamu seru itu Maha Mendengar lagi Maha Dekat, bahkan lebih dekat lagi kepadamu dari leher kendaraannmu!”

    Sebagaimana ia memberi petunjuk agar dalam berdzikir itu seseorang hendaklah bersikap dalam keadaan harap-harap cemas. Diantara tata tertibnya lagi ialah agar orang yang berdzikir itu bersih pakaian dan suci badan serta harum baunya, karena dengan demikian akan menambah kegairahan, disamping sedapat mungkin menghadap kiblat. Karena sebaik-baik majlis ialah yang menghadap ke arah Kiblat

    ***

    Sumber: Fikih Sunnah, Sayyid sabiq.

    Wassalam

    Syawal

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 8 November 2014 Permalink | Balas  

    Dzikrullah (Bagian 1) 

    dzikir 2Berdzikir Kepada Allah

    Sawaluddin Ukkas

    Dzikir atau mengingat Allah, ialah apa yang dilakukan oleh hati dan lisan berupa tasbih atau mensucikan Allah Ta’ala, memuji dan menyanjungNya, menyebutkan sifat-sifat kebesaran dan keagungan serta sifat-sifat keindahan dan kesempurnaan yang telah dimilikiNya.

    1. Allah telah menitahkan kita agar banyak berdzikir, Firman Allah Artinya : Hai orang-orang yang beriman! Berdzikir kamu kepada Allah sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah padaNya diwaktu pagi maupun petang. (Al Ahzab 41 -42)
    2. Allah menyatakan bahwa Ia akan mengingat orang yang ingat atau berdzikir kepadaNya : Firman Allah, artinya : Berdzikirlah kamu kepadaKu, niscaya Aku akan ingat pula kepadamu ! (Al Baqarah 152).

    Dan dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Allah berfirman : “Aku ini adalah menurut dugaan hambaKu, dan Aku menyertainya di mana saja ia berdzikir kepadaKu. Jika ia berdzikir atau ingat padaKu dalam hatinya, maka Aku akan ingat pula padanya dalam hatiKu dan dan kalau mengingatKu di depan umum, maka Aku akan mengingatnya pula di depan khalayak yang lebih baik. Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepadaKu sejengkal, Aku akan mendekatkan diriKu kepadanya sehasta, dan jika ia mendekat kepadaKu sehasta, Aku akan mendekatkan diriKu kepadanya sedepa, dan jika ia datang kepadaKu secara berjalan kaki, Aku akan datang padanya dengan berlari”.

    1. Allah SWT, telah menetapkan ahli dzikir itu sebagai golongan istimewa dan terkemuka. Sabda Rasulullah saw. : Artinya, “Telah majulah orang-orang yang istimewa !” Tanya mereka : “Siapakah orang-orang yang istimewa itu ?” Ujarnya : “Mereka ialah orang-orang yang berdzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun wanita”. (Hadits riwayat : Muslim)
    2. Orang-orang yang berdzikir itulah pada hakikatnya orang-orang yang hidup. Diterima dari Abu Musa bahwa Nabi saw bersabda : Artinya, “Perumpamaan orang-orang yang dzikir kepada Allah dengan yang tidak, adalah seperti orang yang hidup dengan yang mati !” (Riwayat Bukhari).
    3. Berdzikir merupakan pokok pangkal amal-amal saleh, maka barang siapa diberi taufik untuk melakukannya, ia telah diberi kesempatan untuk menjadi wali Allah. Oleh sebab itulah Rasul saw selalu dzikir kepada Allah setiap saatnya, dan pernah berpesan kepada seorang laki-laki yang mengatakan kepadanya ” Mengenai syari’at-syariat Islam telah banyak anda sebutkan padaku. Sekarang sebutkan pula padaku sesuatu yang harus aku pegang teguh !” Maka ujar Nabi saw : Artinya : “Mulutmu tidak akan kering disebabkan dzikir kepada Allah”. dan kepada sahabat-sahabatnya dipesankan : “Maukan kamu saya tunjukkan yang lebih utama dan lebih suci di sisi Tuhanmu, lebih meningkatkan derajatmu dan lebih berharga dari menafkahkan emas dan perak, bahkan lebih baik dari menghadapi menghadapi musuhmu dimana kamu akan berusaha akan menebas leher mereka, sebaliknya mereka berusaha akan menebas lehermu?” “Mau”, wahai Rasulullah”, ujar mereka. Maka sabdanya : “Yaitu berdzikir kepada Allah !” (Diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, juga oleh Hakim yang menyatakan isnadnya sah).
    4. Ia juga merupakan jalan kebebasan, yakni dari siksa. Diterima dari Mu’adz ra. bahwa Nabi saw. bersabda : ” Tidak satupun amal yang dikerjakan oleh anak cucu Adam, yang lebih membebaskan dari siksa Allah dari pada dzikir kepada Allah ‘azza wajallah”. (Riwaya Ahmad).

    Sumber : Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq

    Wassalam

    Syawal

     
  • erva kurniawan 8:41 am on 6 November 2014 Permalink | Balas  

    otak manusiaBerpikir

    Harun Yahya

    Banyak yang beranggapan bahwa untuk “berpikir secara mendalam”, seseorang perlu memegang kepala dengan kedua telapak tangannya, dan menyendiri di sebuah ruangan yang sunyi, jauh dari keramaian dan segala urusan yang ada. Sungguh, mereka telah menganggap “berpikir secara mendalam” sebagai sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan. Mereka berkesimpulan bahwa pekerjaan ini hanyalah untuk kalangan “filosof”.

    Padahal, sebagaimana telah disebutkan dalam pendahuluan, Allah mewajibkan manusia untuk berpikir secara mendalam atau merenung. Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada manusia untuk dipikirkan atau direnungkan:

    “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shaad, 38: 29).

    Yang ditekankan di sini adalah bahwa setiap orang hendaknya berusaha secara ikhlas sekuat tenaga dalam meningkatkan kemampuan dan kedalaman berpikir. Sebaliknya, orang-orang yang tidak mau berusaha untuk berpikir mendalam akan terus-menerus hidup dalam kelalaian yang sangat. Kata kelalaian mengandung arti “ketidakpedulian (tetapi bukan melupakan), meninggalkan, dalam kekeliruan, tidak menghiraukan, dalam kecerobohan”. Kelalaian manusia yang tidak berpikir adalah akibat melupakan atau secara sengaja tidak menghiraukan tujuan penciptaan diri mereka serta kebenaran ajaran agama. Ini adalah jalan hidup yang sangat berbahaya yang dapat menghantarkan seseorang ke neraka. Berkenaan dengan hal tersebut, Allah memperingatkan manusia agar tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang lalai:

    “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raaf, 7: 205)

    “Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman.” (QS. Maryam, 19: 39)

    Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan tentang mereka yang berpikir secara sadar, kemudian merenung dan pada akhirnya sampai kepada kebenaran yang menjadikan mereka takut kepada Allah. Sebaliknya, Allah juga menyatakan bahwa orang-orang yang mengikuti para pendahulu mereka secara taklid buta tanpa berpikir, ataupun hanya sekedar mengikuti kebiasaan yang ada, berada dalam kekeliruan. Ketika ditanya, para pengekor yang tidak mau berpikir tersebut akan menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang menjalankan agama dan beriman kepada Allah. Tetapi karena tidak berpikir, mereka sekedar melakukan ibadah dan aktifitas hidup tanpa disertai rasa takut kepada Allah. Mentalitas golongan ini sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an:

    Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”

    Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”

    Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”

    Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”

    Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?”

    “Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.” (QS. Al-Mu’minuun, 23: 84-90)

    Berpikir dapat membebaskan seseorang dari belenggu sihir Dalam ayat di atas, Allah bertanya kepada manusia, “…maka dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?. Kata disihir atau tersihir di sini mempunyai makna kelumpuhan mental atau akal yang menguasai manusia secara menyeluruh. Akal yang tidak digunakan untuk berpikir berarti bahwa akal tersebut telah lumpuh, penglihatan menjadi kabur, berperilaku sebagaimana seseorang yang tidak melihat kenyataan di depan matanya, sarana yang dimiliki untuk membedakan yang benar dari yang salah menjadi lemah. Ia tidak mampu memahami sebuah kebenaran yang sederhana sekalipun. Ia tidak dapat membangkitkan kesadarannya untuk memahami peristiwa-peristiwa luar biasa yang terjadi di sekitarnya. Ia tidak mampu melihat bagian-bagian rumit dari peristiwa-peristiwa yang ada. Apa yang menyebabkan masyarakat secara keseluruhan tenggelam dalam kehidupan yang melalaikan selama ribuan tahun serta menjauhkan diri dari berpikir sehingga seolah-olah telah menjadi sebuah tradisi adalah kelumpuhan akal ini.

    Pengaruh sihir yang bersifat kolektif tersebut dapat dikiaskan sebagaimana berikut:

    Dibawah permukaan bumi terdapat sebuah lapisan mendidih yang dinamakan magma, padahal kerak bumi sangatlah tipis. Tebal lapisan kerak bumi dibandingkan keseluruhan bumi adalah sebagaimana tebal kulit apel dibandingkan buah apel itu sendiri. Ini berarti bahwa magma yang membara tersebut demikian dekatnya dengan kita, dibawah telapak kaki kita!

    Setiap orang mengetahui bahwa di bawah permukaan bumi ada lapisan yang mendidih dengan suhu yang sangat panas, tetapi manusia tidak terlalu memikirkannya. Hal ini dikarenakan para orang tua, sanak saudara, kerabat, teman, tetangga, penulis artikel di koran yang mereka baca, produser acara-acara TV dan professor mereka di universitas tidak juga memikirkannya.

    Ijinkanlah kami mengajak anda berpikir sebentar tentang masalah ini. Anggaplah seseorang yang telah kehilangan ingatan berusaha untuk mengenal sekelilingnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada setiap orang di sekitarnya. Pertama-tama ia menanyakan tempat dimana ia berada. Apakah kira-kira yang akan muncul di benaknya apabila diberitahukan bahwa di bawah tempat dia berdiri terdapat sebuah bola api mendidih yang dapat memancar dan berhamburan dari permukaan bumi pada saat terjadi gempa yang hebat atau gunung meletus? Mari kita berbicara lebih jauh dan anggaplah orang ini telah diberitahu bahwa bumi tempat ia berada hanyalah sebuah planet kecil yang mengapung dalam ruang yang sangat luas, gelap dan hampa yang disebut ruang angkasa. Ruang angkasa ini memiliki potensi bahaya yang lebih besar dibandingkan materi bumi tersebut, misalnya: meteor-meteor dengan berat berton-ton yang bergerak dengan leluasa di dalamnya. Bukan tidak mungkin meteor-meteor tersebut bergerak ke arah bumi dan kemudian menabraknya.

    Mustahil orang ini mampu untuk tidak berpikir sedetikpun ketika berada di tempat yang penuh dengan bahaya yang setiap saat mengancam jiwanya. Ia pun akan berpikir pula bagaimana mungkin manusia dapat hidup dalam sebuah planet yang sebenarnya senantiasa berada di ujung tanduk, sangat rapuh dan membahayakan nyawanya. Ia lalu sadar bahwa kondisi ini hanya terjadi karena adanya sebuah sistim yang sempurna tanpa cacat sedikitpun. Kendatipun bumi, tempat ia tinggal, memiliki bahaya yang luar biasa besarnya, namun padanya terdapat sistim keseimbangan yang sangat akurat yang mampu mencegah bahaya tersebut agar tidak menimpa manusia. Seseorang yang menyadari hal ini, memahami bahwa bumi dan segala makhluk di atasnya dapat melangsungkan kehidupan dengan selamat hanya dengan kehendak Allah, disebabkan oleh adanya keseimbangan alam yang sempurna dan tanpa cacat yang diciptakan-Nya.

    Contoh di atas hanyalah satu diantara jutaan, atau bahkan trilyunan contoh-contoh yang hendaknya direnungkan oleh manusia. Di bawah ini satu lagi contoh yang mudah-mudahan membantu dalam memahami bagaimana “kondisi lalai” dapat mempengaruhi sarana berpikir manusia dan melumpuhkan kemampuan akalnya.

    Manusia mengetahui bahwa kehidupan di dunia berlalu dan berakhir sangat cepat. Anehnya, masih saja mereka bertingkah laku seolah-olah mereka tidak akan pernah meninggalkan dunia. Mereka melakukan pekerjaan seakan-akan di dunia tidak ada kematian. Sungguh, ini adalah sebuah bentuk sihir atau mantra yang terwariskan secara turun-temurun. Keadaan ini berpengaruh sedemikian besarnya sehingga ketika ada yang berbicara tentang kematian, orang-orang dengan segera menghentikan topik tersebut karena takut kehilangan sihir yang selama ini membelenggu mereka dan tidak berani menghadapi kenyataan tersebut. Orang yang mengabiskan seluruh hidupnya untuk membeli rumah yang bagus, penginapan musim panas, mobil dan kemudian menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah yang bagus, tidak ingin berpikir bahwa pada suatu hari mereka akan mati dan tidak akan dapat membawa mobil, rumah, ataupun anak-anak beserta mereka. Akibatnya, daripada melakukan sesuatu untuk kehidupan yang hakiki setelah mati, mereka memilih untuk tidak berpikir tentang kematian.

    Namun, cepat atau lambat setiap manusia pasti akan menemui ajalnya. Setelah itu, percaya atau tidak, setiap orang akan memulai sebuah kehidupan yang kekal. Apakah kehidupannya yang abadi tersebut berlangsung di surga atau di neraka, tergantung dari amal perbuatan selama hidupnya yang singkat di dunia. Karena hal ini adalah sebuah kebenaran yang pasti akan terjadi, maka satu-satunya alasan mengapa manusia bertingkah laku seolah-olah mati itu tidak ada adalah sihir yang telah menutup atau membelenggu mereka akibat tidak berpikir dan merenung.

    Orang-orang yang tidak dapat membebaskan diri mereka dari sihir dengan cara berpikir, yang mengakibatkan mereka berada dalam kelalaian, akan melihat kebenaran dengan mata kepala mereka sendiri setelah mereka mati, sebagaimana yang diberitakan Allah kepada kita dalam Al-Qur’an :

    “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (QS. Qaaf, 50: 22)

    Dalam ayat di atas penglihatan seseorang menjadi kabur akibat tidak mau berpikir, akan tetapi penglihatannya menjadi tajam setelah ia dibangkitkan dari alam kubur dan ketika mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di akhirat.

    Perlu digaris bawahi bahwa manusia mungkin saja membiarkan dirinya secara sengaja untuk dibelenggu oleh sihir tersebut. Mereka beranggapan bahwa dengan melakukan hal ini mereka akan hidup dengan tentram. Syukurlah bahwa ternyata sangat mudah bagi seseorang untuk merubah kondisi yang demikian serta melenyapkan kelumpuhan mental atau akalnya, sehingga ia dapat hidup dalam kesadaran untuk mengetahui kenyataan. Allah telah memberikan jalan keluar kepada manusia; manusia yang merenung dan berpikir akan mampu melepaskan diri dari belenggu sihir pada saat mereka masih di dunia. Selanjutnya, ia akan memahami tujuan dan makna yang hakiki dari segala peristiwa yang ada. Ia pun akan mampu memahami kebijaksanaan dari apapun yang Allah ciptakan setiap saat.

    Seseorang dapat berpikir kapanpun dan dimanapun Berpikir tidaklah memerlukan waktu, tempat ataupun kondisi khusus. Seseorang dapat berpikir sambil berjalan di jalan raya, ketika pergi ke kantor, mengemudi mobil, bekerja di depan komputer, menghadiri pertemuan dengan rekan-rekan, melihat TV ataupun ketika sedang makan siang. Misalnya: di saat sedang mengemudi mobil, seseorang melihat ratusan orang berada di luar. Ketika menyaksikan mereka, ia terdorong untuk berpikir tentang berbagai macam hal. Dalam benaknya tergambar penampilan fisik dari ratusan orang yang sedang disaksikannya yang sama sekali berbeda satu sama lain. Tak satupun diantara mereka yang mirip dengan yang lain. Sungguh menakjubkan: kendatipun orang-orang ini memiliki anggota tubuh yang sama, misalnya sama-sama mempunyai mata, alis, bulu mata, tangan, lengan, kaki, mulut dan hidung; tetapi mereka terlihat sangat berbeda satu sama lain. Ketika berpikir sedikit mendalam, ia akan teringat bahwa:

    Allah telah menciptakan bilyunan manusia selama ribuan tahun, semuanya berbeda satu dengan yang lain. Ini adalah bukti nyata tentang ke Maha Perkasaan dan ke Maha Besaran Allah.

    Menyaksikan manusia yang sedang lalu lalang dan bergegas menuju tempat tujuan mereka masing-masing, dapat memunculkan beragam pikiran di benak seseorang. Ketika pertama kali memandang, muncul di pikirannya: manusia yang jumlahnya banyak ini terdiri atas individu-individu yang khas dan unik. Tiap individu memiliki dunia, keinginan, rencana, cara hidup, hal-hal yang membuatnya bahagia atau sedih, serta perasaannya sendiri. Secara umum, setiap manusia dilahirkan, tumbuh besar dan dewasa, mendapatkan pendidikan, mencari pekerjaan, bekerja, menikah, mempunyai anak, menyekolahkan dan menikahkan anak-anaknya, menjadi tua, menjadi nenek atau kakek dan pada akhirnya meninggal dunia. Dilihat dari sudut pandang ini, ternyata perjalanan hidup semua manusia tidaklah jauh berbeda; tidak terlalu penting apakah ia hidup di perkampungan di kota Istanbul atau di kota besar seperti Mexico, tidak ada bedanya sedikitpun. Semua orang suatu saat pasti akan mati, seratus tahun lagi mungkin tak satupun dari orang-orang tersebut yang akan masih hidup. Menyadari kenyataan ini, seseorang akan berpikir dan bertanya kepada dirinya sendiri: “Jika kita semua suatu hari akan mati, lalu apakah gerangan yang menyebabkan manusia bertingkah laku seakan-akan mereka tak akan pernah meninggalkan dunia ini? Seseorang yang akan mati sudah sepatutnya beramal secara sungguh-sungguh untuk kehidupannya setelah mati; tetapi mengapa hampir semua manusia berkelakuan seolah-olah hidup mereka di dunia tak akan pernah berakhir?”

    Orang yang memikirkan hal-hal semacam ini lah yang dinamakan orang yang berpikir dan mencapai kesimpulan yang sangat bermakna dari apa yang ia pikirkan.

    Sebagian besar manusia tidak berpikir tentang masalah kematian dan apa yang terjadi setelahnya. Ketika mendadak ditanya,”Apakah yang sedang anda pikirkan saat ini?”, maka akan terlihat bahwa mereka sedang memikirkan segala sesuatu yang sebenarnya tidak perlu untuk dipikirkan, sehingga tidak akan banyak manfaatnya bagi mereka. Namun, seseorang bisa juga “berpikir” hal-hal yang “bermakna”, “penuh hikmah” dan “penting” setiap saat semenjak bangun tidur hingga kembali ke tempat tidur, dan mengambil pelajaran ataupun kesimpulan dari apa yang dipikirkannya.

    Dalam Al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa orang-orang yang beriman memikirkan dan merenungkan secara mendalam segala kejadian yang ada dan mengambil pelajaran yang berguna dari apa yang mereka pikirkan.

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Aali ‘Imraan, 3: 190-191).

    Ayat di atas menyatakan bahwa oleh karena orang-orang yang beriman adalah mereka yang berpikir, maka mereka mampu melihat hal-hal yang menakjubkan dari ciptaan Allah dan mengagungkan Kebesaran, Ilmu serta Kebijaksanaan Allah.

    Berpikir dengan ikhlas sambil menghadapkan diri kepada Allah Agar sebuah perenungan menghasilkan manfaat dan seterusnya menghantarkan kepada sebuah kesimpulan yang benar, maka seseorang harus berpikir positif. Misalnya: seseorang melihat orang lain dengan penampilan fisik yang lebih baik dari dirinya. Ia lalu merasa dirinya rendah karena kekurangan yang ada pada fisiknya dibandingkan dengan orang tersebut yang tampak lebih rupawan. Atau ia merasa iri terhadap orang tersebut. Ini adalah pikiran yang tidak dikehendaki Allah. Jika ridha Allah yang dicari, maka seharusnya ia menganggap bagusnya bentuk rupa orang yang ia lihat sebagai wujud dari ciptaan Allah yang sempurna. Dengan melihat orang yang rupawan sebagai sebuah keindahan yang Allah ciptakan akan memberikannya kepuasan. Ia berdoa kepada Allah agar menambah keindahan orang tersebut di akhirat. Sedang untuk dirinya sendiri, ia juga meminta kepada Allah agar dikaruniai keindahan yang hakiki dan abadi di akhirat kelak. Hal serupa seringkali dialami oleh seorang hamba yang sedang diuji oleh Allah untuk mengetahui apakah dalam ujian tersebut ia menunjukkan perilaku serta pola pikir yang baik yang diridhai Allah atau sebaliknya.

    Keberhasilan dalam menempuh ujian tersebut, yakni dalam melakukan perenungan ataupun proses berpikir yang mendatangkan kebahagiaan di akhirat, masih ditentukan oleh kemauannya dalam mengambil pelajaran atau peringatan dari apa yang ia renungkan. Karena itu, sangatlah ditekankan disini bahwa seseorang hendaknya selalu berpikir secara ikhlas sambil menghadapkan diri kepada Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an :

    “Dia lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah).” (QS. Ghaafir, 40: 13).

    ***

    hyahya.org

    Nike Fatri LisiaJan

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 5 November 2014 Permalink | Balas  

    sholat 1Menikmati Buah Ibadah Assalamualaikum wr. wb. Wahai Saudari saudaraku yang dimuliakan Allah SWT. Ibadah adalah aktifitas jasmani dan ruhani bagi orang beriman yang dimanifestasikan dalam bentuk amaliyah dan dipersembahkan kepada Allah SWT. serta mencari keridhaan- NYA. Yang dimaksud ridha adalah ketaatan yang diterima oleh Allah SWT. karena ibadah tersebut dilaksanakan semata mata untuk mendapatkan anugerah dan diniatkan penuh keikhlasan, jauh dari sifat ‘ ujub. Orang yang ridha (suka dan senang) memberikan sesuatu kepada sesamanya, adalah orang yang artinya ia menyerahkan sesuatu tersebut dilakukan dengan hati rela, tidak karena mengharapkan balasan atau ingin mendapatkan pujian. Ridha dalam ibadah berarti melaksanakan ketaatan semata mata karena Allah. Tidak ada sesuatu yang menyertainya. Orang yang ridha dalam ibadahnya, maka Allah juga ridha dalam menerima persembahan ibadahnya dan memantapkan ketaatannya murni di sisi-NYA. Orang yang ridha dalam ibadah, Allah pun ridha kepadanya. Ketika seorang hamba telah menerima keridhaan Allah dari ibadahnya yang tulus, maka ia berada dalam suasana yang membahagiakan. Tumbuh cahaya dalam hatinya, karena keridhaan Allah memberikan cahaya bagi ruhaninya. Ia akan mendapatkan kenikmatan dan kelezatan dalam ibadah sebagai anugrah pertama di saat berada di dunia. Itulah buah ibadah. Hamba Allah yang telah mendapatkan kenikmatan dari ibadahnya, adalah tanda bahwa ibadahnya telah diterima oleh SWT. Kenikmatan dari buahnya ibadah hanya dapat dirasakan tatkala si hamba sedang melaksanakannya. Jika ia belum dapat merasakan lezat dan nikmatnya ibadah, berarti ibadah yang diamalkan belum menghasilkan buah. Ibadahnya baru pada kulitnya, belum masuk kepada kedalaman isinya, sehingga buah ibadah belum dinikmatinya. Seorang ahli tasawuf berkata : ” Saya telah melaksanakan shalat lail selama dua puluh tahun, dan barulah saya mendapatkan kenikmatannya pada tahun ke dua puluh.” Seorang sufi lainnya berkata : ” Saya telah melatih diri membaca Al-Qur’an selama dua puluh tahun. Setelah dua puluh itu barulah saya merasakan dan mengenyam kenikmatannya. ” (Berarti tahun kedua puluh dari pembacaan Al-Qur’annya itu). Para Ulama salaf menjelaskan : ” Bahwasanya halawah (lezat) dan nikmatnya membaca Al-Qur’an itu akan diperoleh apabila bacaannya dilaksanakan dengan tertib, memahami maknanya, dan seakan akan berada di hadapan Rasulullah SAW, seperti beliau sedang mengajar sahabat-sahabatnya. Demikian juga apabila seseorang sedang membaca shalawat, hendaknya ia membayangkan seakan-akan sedang berada di hadapan Rasulullah SAW. Ia meresapkan bacaan shalawat itu dengan tawadhu’ seakan-akan ia sedang berdialog dengan junjungan Nabi SAW. Karena shalawat yang diucapkannya, didengar oleh Nabi SAW. di dalam kuburnya. Demikian juga apabila ia sedang membaca zikir, atau menyebut asma asma Allah dengan perasaan dan hati tulus, menghidmati kebesaran Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan-NYA. Hendaklah merasakan di kedalaman kalbunya akan keagungan Allah. Dengan cara ini ia akan merasakan nikmatnya berzikir. Seorang sufi lain berkata: ” Apabila seorang hamba bersungguh sungguh dalam ibadahnya niscaya ia akan merasakan halawah (manis) beribadah. Amal seperti inilah yang Insyah Allah akan terkabul. Ibadah yang tidak menimbulkan rasa halawah adalah ibadah yang belum bersih. Ibadah yang masih bercampur dengan kotoran-kotoran ujub dan ria. Allah SWT. mengingatkan : ” Hanyalah Allah akan menerima (ibadah) orang orang yang takwa.” (QS.Al-Maidah ayat 27). Semua amal ibadah yang dilaksanakan dengan penuh ketaatan dan dihiasi dengan keihlasan oleh seorang hamba, niscaya akan memunculkan kelezatan halawah, serta akan dianugerahkan untuknya buah ibadah di akhirat yang benar-benar indah. Sebaliknya, amal ibadah yang dilaksanakan dengan niat yang jauh dari ridha Allah, bercampur dengan kepentingan duniawi yang kotor, kemudian dihiasi dengan ujub dan ria, niscaya tidak memperoleh apa pun di dunia dan di akhirat dia akan menjadi orang yang bangrut/merugi. Walaupun demikian janganlah seorang hamba, merasa bangga atas amal ibadahnya, atau merasa puas, sebab perasaan demikian akan menodai amal ibadah dengan ujub dan ria. Akibatnya akan merusak amal. Selanjutnya ia tidak akan merasakan halawah dan kenikmatannya. *** Sumber : Diambil dari buku karya DJamaluddin Ahmad Al-Bunny. Kiriman: Dwi Nopitasari

     
  • erva kurniawan 4:06 am on 4 November 2014 Permalink | Balas  

    sholat malamMenggunakan Logika untuk mencapai keimanan

    Mencapai Keimanan Dengan Logika

    Keimanan adalah keyakinan, yang dalam Islam wajib dicapai dengan penuh kesadaran dan pengertian, karena hanya dengan inilah kesetiaan tunggal pada Islam (tauhid) bisa diharapkan, seperti halnya seorang fisikawan yang telah yakin akan keakuratan instrumennya, sehingga ia pun segera berbuat sesuatu, begitu instrumen itu mengabarkan existensi radiasi atom yang tidak pernah bisa dideteksi oleh indera fisikawan itu sendiri.

    Fitrah manusia

    Sejak adanya manusia, manusia memiliki berbagai ciri-ciri (fitrah) yang membedakannya dari mahluk lain. Manusia memiliki intuisi untuk memilih dan tidak mau menyerah pada hukum-hukum alam begitu saja. Manusia bisa mengerjakan sesuatu yang berlawanan dengan nalurinya, misal makan meski sudah kenyang (karena menghormati tuan rumah), atau tidak melawan meski disakiti (karena menjaga perasaan orang). Hal ini tidak ada pada binatang. Seekor kucing yang sudah kenyang tak mau lagi mencicipi makanan yang enak sekalipun.

    Manusia memiliki kemampuan mewariskan kepada manusia lain (atau keturunannya) hal-hal baru yang telah dipelajarinya. Inilah asal peradaban manusia. Hal ini tidak terdapat pada binatang. Seekor kera yang terlatih main musik dalam circus tidak akan mampu melatih kera lainnya. Seekor kera hanya bisa melatih seekor anak kera pada hal-hal yang memang nalurinya (memanjat, mencari buah).

    Kesamaan manusia dengan binatang hanya pada kebutuhan eksistensialnya (makan, minum, istirahat dan melanjutkan keturunan).

    Manusia mencari hakekat hidupnya

    Manusia yang telah terpenuhi kebutuhan eksistensialnya akan mulai mempertanyakan, untuk apa sebenarnya hidup itu. Hal ini karena manusia memiliki kebebasan memilih, mau hidup atau mati. Karena faktor non naluriahnya, manusia bisa putus asa dan bunuh diri, sementara tidak ada binatang yang bunuh diri kecuali hal itu dilakukannya dalam rangka mempertahankan eksistensinya juga (pada lebah misalnya).

    Pertanyaan tentang hakekat hidup ini yang memberi warna pada kehidupan manusia, yang tercermin dalam kebudayaan, yang digunakannya untuk mencapai kepuasan ruhaninya.

    Manusia membutuhkan Tuhan

    Dalam kondisi gawat yang mengancam eksistensinya (misalnya terhempas ombak di tengah samudra, sementara pertolongan hampir mustahil diharapkan), fitrah manusia akan menyuruh untuk mengharapkan suatu keajaiban.

    Demikian juga ketika seseorang sedang dihadapkan pada persoalan yang sulit, sementara pendapat dari manusia lainnya berbeda-beda, ia akan mengharapkan petunjuk yang jelas yang bisa dipegangnya. Bila manusia tersebut menemukan seseorang yang bisa dipercayainya, maka dalam kondisi dilematis ini ia cenderung merujuk pada tokoh idolanya itu.

    Dalam kondisi seperti ini, setiap manusia cenderung mencari “sesembahan”. Mungkin pada kasus pertama, sesembahan itu berupa dewa laut atau sebuah jimat pusaka. Pada kasus kedua, “sesembahan” itu bisa berupa raja (pepunden), bisa juga berupa tokoh filsafat, pemimpin revolusi bahkan seorang dukun yang sakti.

    Tanda-tanda eksistensi Tuhan

    Di luar masalah di atas, perhatian manusia terhadap alam sekitarnya membuatnya bertanya, “Mengapa bumi dan langit bisa sehebat ini, bagaimana jaring-jaring kehidupan (ekologi) bisa secermat ini, apa yang membuat semilyar atom bisa berinteraksi dengan harmoni, dan dari mana hukum- hukum alam bisa seteratur ini”.

    Pada masa lalu, keterbatasan pengetahuan manusia sering membuat mereka cepat lari pada “sesembahan” mereka setiap ada fenomena yang tak bisa mereka mengerti (misal petir, gerhana matahari). Kemajuan ilmu pengetahuan alam kemudian mampu mengungkap cara kerja alam, namun tetap tidak mampu memberikan jawaban, mengapa semua bisa terjadi.

    Ilmu alam yang pokok penyelidikannya materi, tak mampu mendapatkan jawaban itu pada alam, karena keteraturan tadi tidak melekat pada materi. Contoh yang jelas ada pada peristiwa kematian. Meski beberapa saat setelah kematian, materi pada jasad tersebut praktis belum berubah, tapi keteraturan yang membuat jasad tersebut bertahan, telah punah, sehingga jasad itu mulai membusuk.

    Bila di masa lalu, orang mengembalikan setiap fenomena alam pada suatu “sesembahan” (petir pada dewa petir, matahari pada dewa matahari), maka seiring dengan kemajuannya, sampailah manusia pada suatu fikiran, bahwa pasti ada “sesuatu” yang di belakang itu semua, “sesuatu” yang di belakang dewa petir, dewa laut atau dewa matahari, “sesuatu” yang di belakang semua hukum alam.

    “Sesuatu” itu, bila memiliki sifat-sifat ini:

    1. Maha Kuasa
    2. Tidak tergantung pada yang lain
    3. Tak dibatasi ruang dan waktu
    4. Memiliki keinginan yang absolut

    maka dia adalah Tuhan, dan berdasarkan sifat-sifat tersebut tidak mungkin zat tersebut lebih dari satu, karena dengan demikian berarti satu sifat akan tereliminasi karena bertentangan dengan sifat yang lain.

    Tuhan berkomunikasi via utusan

    Kemampuan berfikir manusia tidak mungkin mencapai zat Tuhan. Manusia hanya memiliki waktu hidup yang terhingga. Jumlah materi di alam ini juga terhingga. Dan karena jumlah kemungkinannya juga terhingga, maka manusia hanya memiliki kemampuan berfikir yang terhingga. Sedangkan zat Tuhan adalah tak terhingga (infinity). Karena itu, manusia hanya mungkin memikirkan sedikit dari “jejak-jejak” eksistensi Tuhan di alam ini. Adalah percuma, memikirkan sesuatu yang di luar “perspektif” kita.

    Karena itu, bila tidak Tuhan sendiri yang menyatakan atau “memperkenalkan” diri-Nya pada manusia, mustahil manusia itu bisa mengenal Tuhannya dengan benar. Ada manusia yang “disapa” Tuhan untuk dirinya sendiri, namun ada juga yang untuk dikirim kepada manusia-manusia lain. Hal ini karena kebanyakan manusia memang tidak siap untuk “disapa” oleh Tuhan.

    Utusan Tuhan dibekali tanda-tanda

    Tuhan mengirim kepada manusia utusan yang dilengkapi dengan tanda-tanda yang cuma bisa berasal dari Tuhan. Dari tanda-tanda itulah manusia bisa tahu bahwa utusan tadi memang bisa dipercaya untuk menyampaikan hal- hal yang sebelumnya tidak mungkin diketahuinya dari sekedar mengamati alam semesta. Karena itu perhatian yang akan kita curahkan adalah menguji, apakah tanda-tanda utusan tadi memang autentik (asli) atau tidak.

    Pengujian autentitas inilah yang sangat penting sebelum kita bisa mempercayai hal-hal yang nantinya hanyalah konsekuensi logis saja. Ibarat seorang ahli listrik yang tugas ke lapangan, tentunya ia telah menguji avometernya, dan ia telah yakin, bahwa avometer itu bekerja dengan benar pada laboratorium ujinya, sehingga bila di lapangan ia dapatkan hasil ukur yang sepintas tidak bisa dijelaskanpun, dia harus percaya alat itu. Seorang fisikawan adalah seorang manusia biasa, yang dengan matanya tak mungkin melihat atom. Tapi bila ia yakin pada instrumentasinya, maka ia harus menerima apa adanya, bila instrumen tersebut mengabarkan jumlah radiasi yang melebihi batas, sehingga misalnya reaktor nuklirnya harus segera dimatikan dulu.

    Karena yakin akan autentitas peralatannya, seorang astronom percaya adanya galaksi, tanpa perlu terbang ke ruang angkasa, seorang geolog percaya adanya minyak di kedalaman 2000 meter, tanpa harus masuk sendiri ke dalam bumi, dan seorang biolog percaya adanya dinosaurus, tanpa harus pergi ke zaman purba.

    Keyakinan pada autentitas inilah yang disebut “iman”. Sebenarnya tak ada bedanya, antara “iman” pada autentitas tanda-tanda utusan Tuhan, dengan “iman”-nya seorang fisikawan pada instrumennya. Semuanya bisa diuji. Karena bila di dunia fisika ada alat yang bekerjanya tidak stabil sehingga tidak bisa dipercaya, ada pula orang yang mengaku utusan Tuhan tapi tanda- tanda yang dibawanya tidak kuat, sehingga tidak pula bisa dipercaya.

    Menguji autentitas tanda-tanda dari Tuhan

    Tanda-tanda dari Tuhan itu hanya autentis bila menunjukkan keunggulan absolut, yang hanya dimungkinkan oleh kehendak penciptanya (yaitu Tuhan sendiri). Sesuai dengan zamannya, keunggulan tadi tidak tertandingi oleh peradaban yang ada. Dan orang pembawa keunggulan itu tidak mengakui hal itu sebagai keahliannya, namun mengatakan bahwa itu dari Tuhan !!!

    Pada zaman Nabi Musa, ketika ilmu sihir sedang jaya-jayanya, Nabi Musa yang diberi keunggulan mengalahkan semua ahli sihir, justru mengatakan bahwa ia tidak belajar sihir, namun semuanya itu hanya karena ijin Tuhan semata.

    Demikian juga Nabi Isa, yang menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan, meski masyarakatnya merupakan yang termaju dalam ilmu pengobatan pada masanya. Toh Nabi Isa hanya mengatakan semua itu karena kekuasaan Tuhan semata, dan ia bukan seorang tabib.

    Dan Nabi Muhammad? Tanda-tanda beliau sebagai utusan yang utama adalah Al-Quran. Pada saat itu Mekkah merupakan pusat kesusasteraan Arab, tempat para sastrawan top mengadu kebolehannya. Dan meski pada saat itu semua orang takjub pada keindahan ayat-ayat Al-Quran yang jauh mengungguli semua puisi dan prosa yang pernah ada, Nabi Muhammad hanya mengatakan, ayat itu bukan bikinannya, tapi datangnya dari Allah.

    Itu 14 abad yang lalu. Pada masa kini, ketika ilmu alam berkembang pesat, terbukti pula, bahwa kitab Al-Quran begitu teliti. Tidak ada ayat yang saling bertentangan satu sama lain. Dan tak ada pula ayat Al-Quran yang tidak sesuai dengan fakta-fakta ilmu alam.

    Di sisi lain, fenomena pembawa ajaran itu juga menunjukkan sisi autentitasnya. Meski mereka:

    • orang biasa yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan, juga tidak join dengan penguasa atau yang bisa menjamin kesuksesannya;
    • menyebarkan ajaran yang melawan arus, bertentangan dengan tradisi yang lazim di masyarakatnya;

    mereka berhasil dengan ajarannya, dan keberhasilan ini sudah diramalkan lebih dulu pula, dan semua itu dikatakannya karena Tuhanlah yang menolongnya.

    Konsekwensi setelah meyakini autentitas tanda-tanda kenabian Muhammad

    Setelah kita menguji autentitas tanda-tanda kenabian Muhammad dengan menggunakan segala piranti logika yang kita miliki, dan kita yakin bahwa itu asli berasal dari Tuhan, maka kita harus menerima apa adanya yang disebutkan oleh kitab Al-Quran maupun oleh hadits yang memang teruji autentis berasal dari Muhammad.

    Dan ajaran Nabi Muhammad saw ini adalah satu-satunya ajaran autentis dari Allah, yang diturunkan kepada penutup para utusan, tidak tertuju ke satu bangsa saja, tapi ke seluruh umat manusia, sampai akhir zaman.

    ***

    Sumber : Eramuslim

     
  • erva kurniawan 3:42 am on 3 November 2014 Permalink | Balas  

    ghibahMenghindar diri dari Ghibah

    Assalamualikum wr.wb.

    Wahai Saudaraku Sesama Muslim Yang Dimuliakan Allah SWT., dalam percakapan kita sehari hari seringkali tanpa kita sadari kita terjebak dalam pembicaan yang mengarah ke perbuatan menggunjing atau ghibah. Kalau mau jujur terutama kita perempuan, apabila dua atau tiga orang perempuan berkumpul, awal pembicaraan masih terasa mencakup sesuatu yang bersifat umum seperti resep masakan, model pakaian yang sedang ngetrend, atau hal hal yang berurusan dengan masalah kecantikan dan sebagainya. Tetapi selang beberapa saat kemudian pembicaraan mulai menjurus ke pribadi seseorang. Tentunya hal ini perlu kita waspadai, kalau tidak ingin jatuh dalam perbuatan dosa.

    Sudah pasti kita tidak akan mengijinkan seseorang menghidangkan jasad saudara kita yang sudah mati untuk kita makan. Tentu kita akan merasa jijik. Bisakah kita bayangkan bahwa apabila kita mengumpat saudara kita, maka itu seperti kita memakan dagingnya yang sudah menjadi bangkai? Perbuatan menggunjing (ghibah) termasuk dosa besar. Oleh karena itu, hindarilah perbuatan menggunjing pada semua kesempatan.

    Sebagai misal, jika kita hadir disuatu majelis dimana orang orang yang hadir sedang sibuk menggunjing seseorang, maka kita harus berani mengatakan kepada mereka, tentunya dengan cara yang pantas, bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah perbuatan menggunjing dan hukumnya haram. Hal ini memang terasa berat untuk kita lakukan, tapi marilah kita sama sama belajar untuk menertibkan diri dari perbuatan ghibah ini, diawali dari kita sendiri dan berusaha menerapkan pada lingkungan dekat, seperti keluarga, teman, kerabat dan seterusnya.

    Kenyataan yang banyak terjadi ialah, sebagian orang tatkala sedang bersama sama degan orang yang sedang menggunjing, dia malah ikut melakukannya. Terutama apabila dia dengan orang yang digunjingkan itu sedang ada masalah. Ia pun berpikir, inilah saat yang tepat untuk membalas dendam kepadanya lewat ucapan.

    Salah satu kisah pelajaran yang berkaitan dengan perbuatan ghibah adalah : Diceritakan bahwa salah seorang ulama mutakadim mendatangi suatu majelis. Didalam majelis tersebut orang orang yang hadir sedang membicarakan berbagai hal yang bercampur dengan ghibah. Baru saja jubah ulama tersebut menyentuh lantai majelis, dia cepat cepat bangkit meninggalkan majelis tersebut dengan perasaan sedih, sementara air mata membasahi kedua pipinya. Serentak orang orang yang hadir merasa heran. Salah seorang dari mereka cepat-cepat menemuinya dan bertanya, “Tuan yang mulia, apa yang menyebabkan anda meninggalkan majelis dan menangis? Apakah ada salah seorang dari kami yang menyakiti hatimu atau berlaku kurang ajar kepadamu?”

    Ulama tersebut menjawab, “Sesungguhnya saya tidak bersedia hadir disuatu majelis yang di dalamnya daging manusia dimakan!”

    Demikianlah ulama saleh tersebut mengungkapkan penolakan dirinya terhadap perbuatan ghibah. Yaitu, dengan meninggalkan majelis dan menangis karena perbuatan ghibah yang dilakukan kepada orang mukmin.

    Allah SWT. berfirman didalam surah Al-Hujarat ayat (12). “Dan janganlah kamu mencari cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sudahkah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka tentulah kamu merasa jijik karenanya.”

    Imam ‘Ali kw berkata, “Menggunjing adalah usaha orang yang lemah.” Imam Muhammad Al-Baqir as berkata, ” Termasuk ghibah adalah engkau mengatakan sesuatu tentang saudaramu yang Allah SWT. tutupi darinya……dan, merupakan perbuatan dusta apabila engkau mengatakan sesuatu tentang saudaramu yang tidak ada pada dirinya.”

    Ada baiknya perlahan lahan kita belajar menahan diri dari perbuatan ghibah ini, walau untuk sebagian orang dianggap sah sah saja, dengan berganti nama bergosip ria, atau ada yang berkata itu mah hanya ngerumpi biasa, mungkin terinspirasi dari berbagai publikasi infotainment yang selalu disajikan dunia pertelevisian kita, ataukah sesuatu yang mulai membudaya dalam kehidupan kita? padahal hal ini sangat dikecam keras oleh Junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW.

    Wawllahu’alam bishawab

    ***

    Sumber : Buku karya Khalil Al- Musawi

    Kiriman Sahabat Dwi Nopitasari

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 30 October 2014 Permalink | Balas  

    jenazahRingkasan Cara Pelaksanaan Jenazah

    Oleh

    Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid

    Tulisan ini hanya ringkasan dan tidak memuat dalil-dalil semua permasalahan secara terperinci. Maka barangsiapa di antara pembaca yang ingin mengetahui dalil-dalil setiap pembahasan dipersilahkan membaca kitab aslinya “Ahkaamul Janaaiz wa Bid’ihaa” karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah

    1. PADA SAAT SAKIT
    2. Orang yang sakit wajib menerima qadha (ketentuan) Allah, bersabar menghadapi serta berbaik sangka kepada Allah, semua ini baik baginya.
    3. Ia harus mempunyai perasaan takut serta harapan, yaitu takut akan siksaan Allah karena adanya dosa-dosa yang telah ia lakukan, serta harapan akan rahmat Allah.
    4. Bagaimana parahnya penyakitnya, ia tidak boleh mengangan-angan kematian, kalaupun terpaksa, maka hendaknya ia berdoa : -Allahumma ahyanii maa kanati al-hayatu khairan lii wa tawaffaniy idzaa kanati al-wafaatu khairan lii- “Artinya : Ya Allah hidupkanlah akau jika kehidupan lebih baik bagiku, matiknalah aku jika kematian lebih baik bagiku”
    5. Jika ia mempunyai kewajiban yang menyangkut hak orang lain, hendaknya menyelesaikan secepat mungkin. Jika tidak mampu hendaknya berwasiat untuk penyelesaiannya.
    6. Ia harus bersegera berwasiat
    7. MENJELANG MATI
    8. Menjelang mati, maka orang-orang yang ada di sekitarnya harus melakukan hal-hal berikut :

    [a] Mentalqin (menuntun) mengucapkan -Laa Ilaha Illal-llah- “Artinya : Tiada yang berhak disembah selain Allah”

    [b] Mendo’akan

    [c] Mengucapkan perkataan yang baik.

    1. Adapun membacakan surat Yaa sin di sisi orang yang meninggal atau menghadapkan ke kiblat maka amalan tersebut tidak ada dalilnya.
    2. Seorang muslim boleh menghadiri kematian orang non-muslim untuk menganjurkan kepadanya supaya masuk Islam (sebelum meninggal dunia).

    III. KETIKA MENINGGAL DUNIA

    Jika sudah meninggal dunia maka orang-orang yang ada disekitarnya harus melakukan hal-hal berikut :

    1. Memejamkan mata mayyit
    2. Mendo’akan
    3. Menutupnya dengan kain yang meliputi semua anggota tubuhnya. Tapi jika yang meninggal sedang melakukan ihram, maka kepala dan wajahnya tidak ditutupi
    4. Bersegera menyelenggarakan jenazahnya setelah yakin bahwa ia sudah betul-betul meninggal
    5. Menguburkan di kampung tempat ia meninggal, tidak memindahkan ke daerah lain kecuali dalam kondisi darurat. Karena memindahkan mayat ke daerah lain berarti menyalahi perintah mempercepat pelaksanaan jenazah.
    6. Bersegera menyelesaikan utang-utangnya semuanya dari harta si mayyit sendiri, mekipun sampai habis hartanya, maka negaralah yang menutupi utang-utangnya setelah ia sendiri sudah berusaha membayarnya. Jika negara tidak melakukan hal itu dan ada yang berbaik budi melunasinya, maka hal itu dibolehkan.
    7. YANG BOLEH DILAKUKAN PARA KERABATNYA DAN ORANG LAIN
    8. Boleh membuka wajah mayyit dan menciumnya, menangisi -tanpa ratapan- dalam kurung tiga hari
    9. Tatkala berita kematian sampai kepada kerabat mayyit, mereka harus :

    [a] Bersabar serta redha akan ketentuan Allah

    [b] Beristirjaa’ yaitu membaca : -Inna Lillahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun- “Artinya : Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada-Nya-lah kita akan kembal”

    1. Tidaklah menyalahi kesabaran jika ada wanita yang tidak berhias sama sekali asal tidak melebihi tiga hari setelah meninggalnya ayahnya atau selain ayahnya. Kecuali jika yang meninggal adalah suaminya, maka ia tidak berhias selama empat bulan sepuluh hari, karena hal ini ada dalilnya.
    2. Jika yang meninggal selain suaminya, maka lebih afdhal jika tidak meninggalkan perhiasannya untuk meredlakan/menyenangkan suaminya serta memuaskannya. Dan diharapkan adanya kebaikan di balik itu.
    3. HAL-HAL YANG TERLARANG

    Rasulullah telah melarang/mengharamkan hal yang selalu dilakukan oleh banyak orang disaat ada yang meninggal, hal-hal yang dilarang tersebut wajib diketahui untuk dihindari, di antaranya :

    1. Meratap, yaitu menangis berlebih-lebihan, berteriak, memukul wajah, merobek-robek kantong pakaian dan lain-lain.
    2. Mengacak-acak rambut
    3. Laki-laki memperpanjang jenggot selama beberapa hari sebagai selama beberapa hari sebagai tanda duka atas kematian seseorang. Jika duka sudah berlalu maka mereka kembali mencukur jenggot lagi.
    4. Mengumumkan kematian lewat menara-menara atau tempat lain, karena cara mengumumkan yang seperti itu terlarang dan syariat
    5. CARA MENGUMUMKAN KEMATIAN YANG DIBOLEHKAN
    6. Boleh menyampaikan berita kematian tanpa menempuh cara-cara yang diamalkan pada zaman jahiliyah dahulu. Bahkan terkadang menyampaikan berita kematian hukumnya menjadi wajib jika tidak ada yang memandikannya, mengkafani, menshalati dan lain-lain.
    7. Bagi yang menyampaikan berita kematian dibolehkan meminta kepada orang lain supaya mendo’akan mayyit, karena hal ini ada landasannya di dalam sunnah

    VII. TANDA-TANDA HUSNUL KHATIMAH

    Telah sah pejelasan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau menyebutkan beberapa tanda husnul khatimah (kematian/akhir hidu yang baik). Jika seseorang meinggal dunia dengan mengalami salah satu di antara tanda-tanda itu maka itu merupakan kabar gembira.

    1. Mengucapkan syahadat di saat meninggal
    2. Mati dengan berkeringat pada dahi
    3. Mati pada hari Jum’at atau pada malam Jum’at
    4. Mati Syahid di medan jihad
    5. Mati terkena penyait thaa’uun
    6. Mati terkena penyakit perut
    7. Mati tenggelam
    8. Mati terkena reruntuhan
    9. Mati seorang wanita hamil karenan janinnya
    10. Mati terkena penyakit paru
    11. Mati membela agama atau diri
    12. Mati membela/mempertahankan harta yang akan dirampok
    13. Mati dalam keterikatan dengan jalan Allah
    14. Mati dalam suatu amalan shalih
    15. Mati terbakar
     
  • erva kurniawan 1:55 am on 28 October 2014 Permalink | Balas  

    harta karunHarta yang penuh berkah

    Penulis:

    Achmad ibn Masduqie

    Sering sekali kita mendengar perihal harta barokah. Namun apakah sebenarnya yang dimaksud dengan harta yang barokah itu, dan apakah hubungannya dengan zakat ?

    Harta yang barokah ialah harta yang menyebabkan seseorang yang mempergunakannya memperoleh ketenangan dan ketenteraman jiwa sehingga mampu mendorongnya untuk berbuat kebaikan kepada sesama.

    Harta yang demikian inilah pada hakekatnya sangat didambakan dan dicari oleh setiap orang; sebab ketenangan dan ketenteraman jiwa itulah yang menjadi faktor penentu bagi kebahagiaan hidup seseorang.

    Dalam kitab Riyadus Shalihin dijelaskan bahwa yang dimaksud barokah adalah sesuatu yang dapat menambah kebaikan kepada sesama, ziyadatul khair ‘ala al ghair. Bila dikaitkan dengan harta, maka yang dimaksud dengan harta yang barokah itu sebagaimana dipaparkan di atas.

    Harta-harta yang barokah itu, haruslah yang halal dan baik, karena sesuatu yang diambil dari yang tidak halal dan tidak baik tidak mungkin mampu mendorong kita kepada kebaikan diri maupun orang lain, sebagaimana isyarat Allah swt. dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 168 yang artinya :

    “Wahai manusia, makanlah dari apa-apa yang ada di bumi yang halal dan yang baik. Dan janganlah kamu sekalian mengikuti jejak langkah dari Syaithan, karena sesungguhnya Syaithan itu adalah musuhmu yang nyata”.

    Dalam kesempatan yang lain Nabi Muhammad SAW juga pernah menyatakan “kullu lahmin nabata minal harom, fan naaru aula bihi.” Setiap daging yang timbul atau dihasilkan dari sesuatu yang haram maka hanyalah neraka yang patut menerimanya.

    Secara rinci yang dimaksudkan dengan halal di sini adalah:

    • Halal wujudnya, yaitu apa saja yang tidak dilarang oleh agama Islam, seperti makanan dan minuman yang tidak diharamkan oleh syari’at agama Islam.
    • Halal cara mengambil atau memperolehnya, yaitu cara mengambil atau cara memperoleh yang tidak dilarang oleh syari’at agama Islam, seperti harta yang diperoleh dari ongkos pekerjaan yang halal menurut pandangan syari’at agama Islam, sedang ongkos tersebut juga berasal dari hasil pekerjaan yang halal.
    • Halal karena tidak tercampur dengan hak milik orang lain, karena sudah dikeluarkan zakatnya. Harta yang demikian itu, jika berupa bahan makanan dan dimakan oleh seseorang, maka pengaruhnya sangat positif bagi kesehatan mental atau jiwa seseorang.

    Setiap orang yang lahir di dunia ini oleh Allah swt. telah dibekali dengan dua macam dorongan nafsu, yakni: nafsu yang mendorong manusia untuk berbuat durhaka dan nafsu yang mendorong untuk berbuat taqwa (kebajikan).

    Dalam surat As Syams ayat 7 dan 8 Allah swt. telah berfirman:

    “Demi jiwa dan apa-apa yang menyempurnakannya, maka Allah mengilhamkan pada jiwa tersebut kedurhakaan dan ketaqwaannya”.

    Kedua macam dorongan tersebut tidak dapat berwujud menjadi perbuatan yang nyata, manakala dalam diri seseorang tidak ada energi. Sedangkan energi itu adalah berasal dari bahan makanan. Sehingga apabila bahan makanan yang dimakan oleh seseorang adalah halal, maka energi yang ditimbulkan oleh bahan makanan tersebut adalah energi yang halal. Energi yang halal inilah yang mudah diserap dan dipergunakan oleh dorongan yang mengajak kepada perbuatan-perbuatan yang baik, benar dan haq.

    Sedang perbuatan-perbuatan yang baik, benar dan haq yang dilakukan oleh seseorang akan diserap oleh organ jiwa yang oleh Sigmund Freud disebut dengan “Ego Ideal”. Ego Ideal inilah yang selalu menghibur dan menenteramkan jiwa seseorang.

    Sebaliknya, jika bahan makanan yang dimakan oleh seseorang adalah berasal dari harta yang haram, maka energi yang timbul dari bahan makanan tersebut adalah energi yang haram, yang akan diserap oleh nafsu yang mengajak kepada kejelekan, kesalahan dan kebatilan.

    Manakala seseorang telah melakukan perbuatan yang jelek atau salah atau batil, maka perbuatan ini akan diserap oleh organ jiwa yang oleh Sigmund Freud disebut conscience. Kemudian conscience ini selalu menuntut jiwa manusia itu sendiri atas kejelekan atau kesalahan atau kebatilan yang telah dilakukan, sehingga ketenteraman jiwa menjadi terganggu. Semakin banyak kejelekan atau kesalahan atau kebatilan yang dilakukan oleh seseorang, maka semakin besar tuntutan dari consciense dan semakin goncang ketenangan dan ketenteraman jiwanya, sehingga pada akhinya orang yang selalu memakan makanan yang berasal dari harta yang haram akan dihadapkan pada dua alternatif, yaitu:

    • Jika kondisi jasmaninya kuat, maka jiwanya akan jebol dan akan terkena penyakit jiwa.
    • Jika kondisi jiwanya kuat, maka dia akan terserang penyakit psychosomatica.

    Sedang yang dimaksud dengan makanan yang baik menurut ayat 168 dari surat Al Baqarah di atas, adalah baik menurut syarat-syarat kesehatan. Sebab makanan yang tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan akan menyebabkan kondisi jasmani menjadi mudah terserang oleh berbagai macam penyakit. Seseorang tidak akan memperoleh ketenangan dan ketenteraman jiwa manakala badan jasmaninya selalu sakit-sakitan.

    Disamping itu perlu kita ketahui bahwa harta yang diberikan oleh Allah swt. kepada seseorang itu di dalamnya terdapat hak milik fakir miskin yang dititipkan oleh Allah swt. kepadanya. Hal ini telah diterangkan oleh Allah swt. dalam Al Qur’an surat Adz Dzaariyaat ayat 19: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”

    Harta orang miskin yang dititipkan oleh Allah swt. pada orang-orang kaya itu harus dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak, baik berupa zakat wajib maupun zakat sunnat, agar harta orang-orang kaya tersebut menjadi halal, karena tidak lagi tercampur dengan hak milik orang-orang miskin. Jadi zakat ini mempunyai peranan yang penting sekali untuk membuat harta yang kita miliki menjadi barokah karena zakat juga merupakan elemen yang menjadikan harta itu bisa memberikan kebahagiaan dan kebaikan kepada orang lain.

    Jika kita mau mengadakan penelitian atau research terhadap orang-orang kaya yang hartanya tercampur oleh harta yang tidak halal, baik wujudnya, atau cara mengambilnya, atau belum dizakati, maka kita akan mendapati kehidupan keluarga mereka itu ternyata tidak bahagia sebagaimana yang kita bayangkan. Kebahagiaan yang mereka dambakan ternyata hanya sebagai fatamorgana belaka.

    Dalam Al Qur’an surat An Nur ayat 39 Allah swt. telah berfirman:

    ” Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungannya”.

    Jadi harta yang barokah itu sangat besar peranannya dalam mencapai kebahagiaan hidup seseorang, baik di dunia maupun di akhirat. Itulah sebabnya maka Nabi Muhammad saw. pernah bersabda: “Mencari yang halal itu adalah kewajiban sesudah shalat fardlu”.

    Wallohu a’lam bish-shawab,-

     
  • erva kurniawan 2:34 am on 25 October 2014 Permalink | Balas  

    doaDo’a dengan: “Ya Allah Ampunilah Aku Jika Engkau Menghendaki”

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah ada seseorang di antara kamu yang berdo’a: “Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki”, atau berdo’a: “Ya Allah, limpahkan rahmat-Mu kepadaku jika Engkau menghendaki; tetapi hendaklah berkeinginan kuat dalam permohonannya itu, karena sesungguhnya Allah tiada sesuatu pun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu.”

    Dan disebutkan dalam riwayat Muslim:

    “Dan hendaklah ia membesarkan harapannya, karena sesungguhnya Allah tidak terasa berat bagi-Nya sesuatu yang Dia berikan.”

    Kandungan tulisan ini:

    Dilarang mengucapkan: “Jika Engkau menghendaki” dalam berdo’a.

    Alasannya, (ucapan ini menunjukkan seakan-akan Allah merasa keberatan dengan permintaan hamba-Nya atau merasa terpaksa untuk memenuhi permohonan hamba-Nya).

    Diperintahkan untuk berkeinginan kuat dalam berdo’a.

    Diperintahkan untuk membesarkan harapan dalam berdo’a.

    Alasannya, (karena Allah adalah Maha Kaya, Maha Luas karunia-Nya dan Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya).

    ***

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

     
  • erva kurniawan 7:36 am on 21 October 2014 Permalink | Balas  

    bohongLelah

    Kalau ada orang-orang yang masih terus menerus berdusta, aku tidak mengerti, terbuat dari apakah lidah mereka sehingga teramat hebat merangkai kata-kata indah menutupi kebenaran, menyembunyikan hakikat mengedepankan kepalsuan. Padahal sekali saja berdusta, sudah sedemikian lelahnya kita berpikir untuk mencari segudang alasan baru untuk dusta berikutnya, sudah sebegitu kelunya lidah ini terpaksa menari mengikuti irama gendang kepalsuan yang tak hentinya bertabuh.

    Jika masih ada sebagian orang yang saling mencaci, menghina, menggunjing, berprasangka buruk dan menjelek-jelekkan saudaranya, aku tidak tahu, sekuat apa penciuman dan mulutnya karena pada saat itu ia seperti tengaha memakan bangkai saudaranya sendiri.

    Seandainya masih beredar orang-orang yang tak hentinya berlaku sombong, angkuh dan takabbur, aku tak habis pikir, sebesar apa dirinya sehingga sangat lancang menantang kebesaran Tuhannya, dan sekuat apa tubuhnya kelak menanggung akibat dari kesombongannya. Padahal semestinya ia tahu, kesombongan adalah mutlak miliki Allah semata.

    Sekiranya tetap hidup manusia-manusia yang enggan menyisihkan sebagian harta yang dimilikinya, sementara bertebaran di seluruh penjuru bumi Allah ini anak-anak yatim piatu, fakir miskin dan orang-orang lemah, aku semakin heran, apakah ia selalu berpikir bahwa semua itu diperolehnya murni dari hasil jerih payahnya? Tak pernahkah ia tahu bahwa semua yang ada padanya itu adalah atas kehendak Allah Sang Pemberi Rizki? Yang seandainya Dia berkehendak, dengan sangat mudah pula Dia mengambil darinya?

    Mungkin saja masih ada segelintir makhluk Allah bernama manusia yang tak bosannya berzina, sungguh aku semakin bingung dibuatnya. Padahal seratus kali ayunan cambuk atau lemparan batu hingga mati bisa jadi satu-satunya alasan Allah untuk memberikan ampunan atas perbuatannya. Dan jika itu tidak dilakukannya, sudah pasti kilatan cambuk Allah di akhirat nanti bukan sekedar mematikan, tetapi menghancurkan tubuh kecil tak berarti ini. Lalu kenapa masih ada yang berani meski sekedar mendekatinya?

    Umpamanya masih hidup orang-orang yang gemar berbuat maksiat, bangga dengan dosa-dosanya, sungguh aku tidak akan pernah memahami, setebal apa kulit mereka menahan api neraka Allah, sekuat tubuh orang-orang itu menerima adzab Allah yang tak pernah berhenti.

    Namun, jika saja ada sebagian kecil dari orang-orang diatas yang berhenti melakukan semua yang dilarang Rabb-nya, ini yang sangat mudah aku pahami, tidak terlalu sulit untuk dimengerti, karena akupun pernah mengalaminya. Aku sangat tahu betul, lelah rasanya terus menerus berbuat dosa. Lelah menahan hentakan demi hentakkan yang bergemuruh di dalam dada ini setiap kali aku melakukan perbuatan maksiat. Dan lelah untuk terus memikirkan ancaman dan hukuman macam apa yang diberikan Allah kelak di hari pembalasan. Astaghfirullaah ?

    ***

    Eramuslim – Bayu Gautama

     
  • erva kurniawan 7:24 am on 20 October 2014 Permalink | Balas  

    Doa Qunut Nazilah 1Doa Qunut Nazilah

    Doa Qunut Nazilah dibaca ketika kaum muslimin terkena bencana, ancaman, penganiayaan, penindasan musuh-musuh Allah dan musuh kaum Muslimin.

    Seperti dikisahkan dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW pernah melakukan qunut selama satu bulan untuk mendoakan pembunuh-pembunuh para sahabatnya di Bir Al-Maunah.

    Dari Abu Hurairah RA :

    “Sesungguhnya bila ingin mendoakan seseorang, Nabi Muhammad SAW membacakan qunut sesudah ruku’ (Hr. Bukhari dan Ahmad bin Hambal).

    Doa Qunut Nazilah dibaca setiap sholat fardhu jahriyah (mahdzab Hanafi), sedangkan selain madzhab Hanafi, Doa Qunut Nazilah dibaca setiap kali sholat fardhu.

    Mari kita bacakan doa ini untuk saudara-saudara kita kaum muslimin dimana saja berada, khususnya yang sedang terkena ancaman, penganiayaan, dan penindasan musuh-musuh Allah.

    Inilah Doa Qunut Nazilah (Hadist diriwayatkan oleh Umar Bin Khatab) :

    Alloohummaghfir lilmu’miniina wal mu’minaat, Wal muslimiina wal muslimaat, Wa allif baina quluubihim, Wa ashlih dzaata bainahum, Wanshur ‘Alaa ‘Aduwwika wa’aduwwihim,

    Allohummal’in kafarota ahlil kitaabil ladziina, Yukadzibuuna rusulaka wayuqottiluuna auliyaa aka, Alloohumma khollif baina kalimaatihim, Wazalzil Aqdaamahum, Wa anzilbihim ba’sakalladzii layuroddu ‘anil qaumil mujrimiin,

    Bismillaahirrahmaanirrahiim, Allohumma innaanasta’iinuka

    Artinya:

    “Ya Allah ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, Ya Allah jinakkan, satu padukan hati orang-orang muslimin, Perbaikilah keadaan mereka, Tolonglah kaum muslimin untuk melawan musuh-musuh-Mu, dan musuh-musuh mereka

    Ya Allah, laknatlah orang-orang kafir yang mendustakan para RasulMu dan membunuh para kekasih-Mu, Ya Allah cerai-beraikan kesatuan kata mereka, Hancur leburkan kekuatan mereka, Dan turunkanlah bencana-Mu yang tiada tertolak lagi untuk orang-orang yang penuh dengan dosa

    Dengan menyebut nama-Mu ya Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang, Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan kepadaMu”

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 15 October 2014 Permalink | Balas  

    Shalat Jumat (Bagian 4) 

    sholat-jumatTata Cara Salat Jumat

    Adapun tata cara pelaksanaan salat Jumat, yaitu imam naik ke atas mimbar setelah tergelincirnya matahari, kemudian memberi salam. Apabila ia sudah duduk, maka muazin melaksanakan azan sebagaimana halnya azan Dhuhur. Selesai azan, berdirilah imam untuk melaksanakan khotbah yang dimulai dengan hamdalah dan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta membaca shalawat kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam. Kemudian, memberikan nasihat kepada para jamaah, mengingatkan mereka dengan suara yang lantang, menyampaikan perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, mendorong mereka untuk berbuat kebajikan, serta menakut-nakuti mereka dari berbuat keburukan, dan mengingatkan mereka dengan janji-janji kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta ancaman-ancaman-Nya. Kemudian duduk sebentar, lalu memulai khotbahnya yang kedua dengan hamdalah dan pujian kepada-Nya. Kemudian melanjutkan khotbahnya dengan pelaksanaan yang sama dengan khotbah pertama dan dengan suara yang layaknya seperti suara seorang komandan pasukan perang, sampai selesai tanpa perlu berpanjang lebar, kemudian turun dari mimbar. Selanjutnya, muazin melaksanakan iqamah untuk melaksanakan salat. Kemudian salat berjamaah dua rakaat dengan mengeraskan bacaan, dan sebaiknya surat yang dibaca pada rakaat pertama setelah al-Fatihah adalah surat Al-A’la dan pada rakaat kedua surat Al-Ghasyiah, atau pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah surat Al-Jumu’ah dan pada rakaat kedua surat Al-Munafiqun. Akan tetapi, jika imam membaca surat yang lain juga tidak apa-apa.

    Salat Sunnah Sebelum dan Sesudah Salat Jumat

    Dianjurkan salat sunnah sebelum pelaksanaan salat Jumat semampunya sampai imam naik ke mimbar, karena pada waktu itu tidak dianjurkan lagi salat sunnah, kecuali salat tahiyatul masjid bagi orang yang (terlambat) masuk ke dalam masjid. Dalam hal ini salat tetap boleh dilaksanakan sekalipun imam sedang berkhotbah, dengan catatan mempercepat pelaksanaannya sebagaimana diterangkan di atas.

    Adapun setelah salat Jumat, maka disunnahkan salat empat rakaat atau dua rakaat. Ini berdasarkan sabda Rasulullah Sallallaahu alaihi wa sallam :

    “Barangsiapa di antara kamu ingin salat setelah Jumat, maka hendaklah salat empat rakaat.” (HR Muslim).

    Dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhuma disebutkan:

    “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam salat setelah salat Jumat dua rakaat di rumah beliau.” (Muttafaq ‘alaih).

    Sebagai pengamalan hadis-hadis ini, sebagian ulama mengatakan bahwa seorang muslim apabila ingin salat sunnah setelah Jumat di masjid, maka dia salat empat rakaat dan apabila dia salat di rumah, maka dia salat dua rakaat.

    ***

    Referensi:

    Subulus Salaam, as-Son’ani

    Riyadhus Sholihin, an-Nawawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 2:29 am on 14 October 2014 Permalink | Balas  

    Shalat Jumat (Bagian 3) 

    sholat-jumatSyarat-Syarat Kewajiban Salat Jumat

    Salat Jumat diwajibkan atas setiap muslim, laki-laki yang merdeka, sudah mukallaf, sehat badan serta muqim (bukan dalam keadaan musafir). Ini berdasarkan hadis Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Salat Jumat itu wajib atas setiap muslim, dilaksanakan secara berjamaah, terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang sakit.” (HR Abu Daud dan Hakim, hadis sahih).

    Adapun bagi orang yang musafir, maka tidak wajib melaksanakan salat Jumat, sebab Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam pernah melakukan perjalanan untuk menunaikan haji, dan bertempur, namun tidak pernah diriwayatkan bahwa beliau melaksanakan salat Jumat.

    Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa Amirul Mukminin Umar Ibnul Khattab Radhiallaahu anhu melihat seseorang yang terlihat akan melakukan perjalanan, kemudian beliau mendengar ucapannya, “Seandainya hari ini bukan hari Jumat, niscaya aku akan bepergian.” Maka Khalifah Umar berkata, “Silakan Anda pergi, sesungguhnya salat Jumat itu tidak menghalangimu dari bepergian.”

    Syarat-Syarat Sahnya Salat Jumat

    Untuk sahnya salat Jumat itu ada beberapa syarat, yaitu sebagai berikut:

    1. Dilaksanakan di suatu perkampungan atau kota, karena di zaman Rasulullah tidak pernah melaksanakan, kecuali di perkampungan atau di kota. Beliau Shallallaahu alaihi wa sallam juga tidak pernah menyuruh penduduk dusun (orang pedalaman) untuk melaksanakannya. Dan, tidak pernah disebutkan bahwa ketika bepergian beliau melaksanakan salat Jumat.
    2. Meliputi dua khotbah. Ini berdasarkan pada perbuatan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam dan kebiasaan beliau (dalam melaksanakannya). Juga dikarenakan khotbah merupakan salah satu manfaat yang sangat besar dari pelaksanaan salat Jumat. Karena, ia mengandung zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, peringatan terhadap kaum muslimin, serta nasihat bagi mereka.

    ***

    Referensi:

    Subulus Salaam, as-Son’ani

    Riyadhus Sholihin, an-Nawawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 2:26 am on 13 October 2014 Permalink | Balas  

    Shalat Jumat (Bagian 2) 

    SHOLAT BERJAMAAHHal-Hal yang Disunnahkan serta Beberapa Adab Hari Jumat

    1. Mandi, Berpakaian yang Rapi, Memakai Wangi-wangian, dan Bersiwak

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Mandi hari Jumat itu wajib bagi tiap muslim yang telah baligh.” (Muttafaq ‘alaih).

    “Mandi, memakai siwak, mengusapkan parfum sebisanya pada hari Jumat dianjurkan pada setiap laki-laki yang telah baligh.” (Muttafaq ‘alaih).

    “Apa yang menghalangi salah seorang di antara kamu jika dia mempunyai kesempatan untuk memakai dua pakaian (baju dan sarung) selain pakaian kerjanya pada hari Jumat.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah, sahih).

    “Hak setiap muslim adalah siwak, mandi Jumat dan memakai minyak wangi dari rumah jika ada.” (HR Bazzar, sahih).

    1. Lebih Awal Pergi ke Masjid untuk Salat Jumat

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat seperti mandi jinabat, kemudian dia pergi ke masjid pada saat pertama, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor unta dan siapa yang berangkat pada saat kedua, maka seakan-akan ia berkurban dengan seekor sapi, dan siapa yang pergi pada saat ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor domba yang mempunyai tanduk, dan siapa yang berangkat pada saat keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor ayam, dan siapa yang berangkat pada saat kelima, maka seolah-olah dia berkurban dengan sebutir telur, dan apabila imam telah datang, maka malaikat ikut hadir mendengarkan khotbah.” (Muttafaq ‘alaih).

    1. Melakukan Salat-Salat Sunnah di Masjid Sebelum Salat Jumat Selama Imam Belum Datang

    Apabila imam telah datang, maka berhenti dari itu, kecuali salat tahiyyatul masjid tetap boleh dikerjakan, meskipun imam sedang berkhotbah, tetapi hendaknya dipercepat.

    “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jumat dan bersuci sebisa mungkin, kemudian dia memakai wangi-wangian atau memakai minyak wangi, lalu pergi ke masjid dan (di sana) tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk berjajar), kemudian dia salat yang disunnahkan baginya, dan dia diam apabila imam telah berkhutbah, terkecuali akan diampuni dosa-dosanya antara Jumat (itu) dan Jum’at berikutnya selama dia tidak berbuat dosa besar.” (HR Bukhari)

    1. Makruh Melangkahi Pundak-Pundak Orang yang Sedang Duduk dan Memisahkan (Menggeser) Mereka

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam, ketika beliau melihat seseorang yang melangkahi pundak orang-orang.

    “Duduklah, sesungguhnya kamu telah mengganggu orang lain, lagi pula kamu datang terlambat.” (HR Ahmad, Abu Daud dan an-Nasai, hadis shahih)

    “… Dan tidak memisahkan antara dua orang… niscaya akan diampuni segala dosanya dari Jumat (itu) ke Jumat berikutnya.”

    1. Berhenti dari Segala Pembicaraan dan Perbuatan Sia-Sia apabila Imam telah Datang

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Apabila kamu berkata kepada temanmu ‘diamlah’, ketika imam sedang berkhutbah pada hari Jumat, maka sesungguhnya kamu telah berbuat sia-sia.” (Muttafaq ‘alaih).

    1. Diharamkan Transaksi Jual Beli ketika Azan Sudah Mulai Berkumandang

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka segeralah mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.” (al-Jumu’ah: 9)

    1. Hendaklah Memperbanyak Membaca Shalawat serta Salam kepada Rasulullah pada Malam Jumat dan Siang Harinya

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat, sesungguhnya tidak seorang pun yang membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat kecuali diperlihatkan kepadaku shalawatnya itu.” (HR Hakim dan Baihaqi).

    “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat dan malam Jumat, maka barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR Baihaqi, hadis hasan).

    1. Disunnahkan Membaca Surat Al-Kahfi

    “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka dia akan mendapat cahaya yang terang di antara kedua Jumat itu.” (HR Hakim dan Baihaqi, hadis sahih)

    1. Bersungguh-sungguh dalam Berdoa untuk Mendapatkan Waktu yang Mustajab

    “Sesungguhnya pada hari Jumat ada saat yang apabila seorang hamba muslim mendapatinya sedang dia dalam keadaan salat dan memohon kebaikan kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.” (HR Muslim).

    Saat istijabah itu ialah pada akhir waktu hari Jumat. Ini berdasarkan hadis Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Hari Jumat terdiri dari dua belas waktu, di antaranya ada waktu di mana tidak seorang hamba muslim pun yang meminta kepada Allah suatu permintaan terkecuali akan diberikan kepadanya, maka hendaklah kalian mencarinya pada waktu terakhir, yaitu setelah Ashar.” (HR Abu Daud, Nasai dan Hakim, hadis sahih).

    Dalam hadis lain disebutkan:

    Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, “Bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam, ‘Sebaik-baik hari, di mana matahari terbit di dalamnya adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu pula dia diturunkan ke bumi, pada hari itu pula taubatnya diterima, pada hari itu pula dia wafat, pada hari itu pula kiamat akan terjadi dan tidak ada makhluk yang melata di muka bumi kecuali menunggu hari Kiamat itu dari waktu Subuh hari Jumat sampai terbit matahari karena takut pada hari Kiamat, terkecuali jin dan manusia. Di dalamnya ada satu saat yang apabila seorang hamba muslim menemuinya, sedang dia dalam keadaan salat dan memohon kepada Allah suatu kebutuhan, niscaya akan dikabulkan permohonannya’. Ka’b berkata, ‘Yang demikian itu hanya ada satu hari dalam setahun?’ Aku berkata, ‘Bahkan pada setiap hari Jumat’. Berkata Abu Hurairah, ‘Maka Ka’b membaca Taurat, kemudian berkata, ‘Benarlah perkataan Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam itu’. Abu Hurairah berkata, ‘Kemudian aku bertemu Abdullah Ibnu Salam, lalu aku ceritakan apa yang menjadi pembicaraanku dengan Ka’b, maka dia berkata, ‘Aku telah mengetahui kapan saat itu’. Abu Hurairah berkata, ‘Aku katakan kepadanya, ‘Beritahukan kepadaku hal itu’. Abdullah bin Salam berkata, ‘Waktunya adalah saat terakhir dari hari Jumat’, Aku katakan kepadanya, ‘Bagaimana mungkin padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidak seorang hamba muslim pun yang mendapatinya sedang ia dalam keadaan salat, dan pada waktu itu (setelah Ashar) tidak boleh salat. Berkatalah Abdullah bin Salam, ‘Bukankah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Barangsiapa duduk pada suatu tempat sambil menunggu (waktu) salat, maka dia dianggap dalam keadaan salat sampai dia melaksanakan salat’, Aku katakan, ‘Ya’. Dia berkata, ‘Itulah maksudnya’.” (HR Abu Daud, Tirmidzi dan Nasai, hadis sahih).

    Dikatakan pula bahwa saat tersebut adalah sejak duduknya imam di atas mimbar hingga usainya pelaksanaan salat.

    ***

    Referensi:

    Subulus Salaam, as-Son’ani

    Riyadhus Sholihin, an-Nawawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 12 October 2014 Permalink | Balas  

    Shalat Jumat (Bagian 1) 

    sholat 4Hukum Salat Jumat

    Salat Jumat hukumnya wajib bagi kaum lelaki yang telah memenuhi syarat, yaitu sebanyak dua rakaat. Adapun dalil tentangnya adalah sebagai berikut.

    “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (Al-Jumuah: 9)

    “Hendaklah orang-orang itu berhenti dari meninggalkan salat Jumat atau kalau tidak, Allah akan menutup hati mereka kemudian mereka akan menjadi orang yang lalai.” (HR Muslim)

    “Sungguh aku berniat menyuruh seseorang (menjadi imam) salat bersama-sama yang lain, kemudian aku akan membakar rumah orang-orang yang meninggalkan shalat Jumat.” (HR Muslim)

    “Salat Jumat itu wajib bagi tiap-tiap muslim, dilaksanakan secara berjamaah, terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang yang sakit.” (HR Abu Daud dan al-Hakim, hadis sahih).

    Para ulama telah sepakat bahwa salat Jumat itu wajib hukumnya.

    Keutamaan Hari Jumat

    Hari Jumat adalah hari yang penuh keberkahan, mempunyai kedudukan yang agung, dan merupakan hari yang paling utama. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik hari adalah hari Jumat, pada hari itulah diciptakan Nabi Adam, dan pada hari itu dia diturunkan ke bumi, pada hari itu pula diterima taubatnya, pada hari itu pula beliau diwafatkan, dan pada hari itu pula terjadi Kiamat…. Pada hari itu ada saat yang kalau seorang muslim menemuinya kemudian salat dan memohon segala keperluannya kepada Allah, niscaya akan dikabulkan.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, Nasai dan lainnya, hadis sahih).

    ***

    Referensi:

    Subulus Salaam, as-Son’ani

    Riyadhus Sholihin, an-Nawawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 2:38 am on 10 October 2014 Permalink | Balas  

    nabi-muhammad-saw1Hati-hati Nongkrong Di Jalan

    Berhati-hatilah duduk-duduk di pinggir jalan. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagi kami sesuatu yang tidak dapat kami tinggalkan. Dalam berkumpul itu kami berbincang-bincang.” Nabi SAW menjawab, “Kalau memang suatu keharusan, maka berilah jalan itu haknya.” Mereka bertanya lagi, “Apa yang dimaksud haknya itu, ya Rasulullah?” Nabi SAW menjawab, “Palingkan pandanganmu dan jangan menimbulkan gangguan. Jawablah tiap ucapan salam dan ber-amar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Duduk-duduk di pinggir jalan memang mengasyikkan. Disamping pasang aksi dan jual tampang, juga mengobrol ke sana ke mari, bercanda ria, dan menikmati pemandangan di depannya. Menggoda orang yang lewat, terutama perempuan tidak terlepas dari aktivitas itu. Bahkan sampai berani mengganggu dan merayu.

    Kegiatan seperti ini telah menjadi kesenangan dan membudaya di kalangan muda-mudi dari zaman ke zaman. Malahan bukan hanya pemuda-pemudi saja yang menyenangi duduk-duduk di pinggir jalan ini, tapi pada tingkat orang dewasa dan orang tua juga menyukainya.

    Di zaman Rasulullah SAW hal ini pun merupakan kesenangan para sahabat, sehingga beliau mewanti- wanti dan memberi batasan tentang adab-adab yang harus dipenuhi oleh orang-orang yang senang duduk-duduk di pinggir jalan. Di antara ketentuan-ketentuan itu seperti dalam hadits di atas :

    Pertama, palingkan pandangan. Pandangan mata, sesuatu hal yang membahayakan karena akan mempengaruhi hati dan menggerakkan nafsu birahi yang bergejolak. Walaupun cepatnya pandangan secepat larinya anak panah dari busurnya, ia akan menyangkut dalam hati. Dan hati bisa menyeret pada keinginan untuk melampiaskan hasratnya itu.

    Karena berbahaya pandangan mata itu, Allah memerintahkan untuk menundukkan pandangan itu. Perintah ini tertera dalam surah An-Nuur 30-31 :

    Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka…,”

    Ibnu Qayyim berkata, “Pandangan mata adalah penyebab dan penggerak utama adanya nafsu birahi, maka menjaga pandangan mata merupakan penjagaan atas kemaluan. Barangsiapa membiarkan pandangan matanya berkeliaran untuk melihat sela-sela kemaksiatan, sesungguhnya Allah telah menciptakan sebagai cermin dari hati. Jika hamba ini menggerakkan matanya guna memandang barang haram, niscaya hatinya akan menggerakkan dan mempengaruhi nafsu birahi dan hasratnya. Dan jika seseorang memelihara pandangan matanyanya, niscaya hati tidak akan menggerakkan nafsu birahi.

    Kedua, jangan mengganggu. Nongkrong-nongkrong di pinggir jalan terasa kurang asyik bila tidak menggoda dan mengganggu orang. Gatal lidah rasanya bila tidak melontarkan kata-kata pada orang yang lewat di depan matanya. Keinginan itu pastilah muncul bagi orang yang senang duduk- duduk di pinggir jalan, bahkan ada juga yang tujuannya memang demikian. Untuk Rasulullah SAW memberikan persyaratan untuk tidak mengganggu orang, bila pekerjaan nongkrong di pinggir jalan ini tidak bisa ditinggalkan. “Kaffuladzai”, jangan menimbulkan gangguan.

    Ketiga, membalas ucapan salam. Islam telah mengatur tentang adab-adab salam sedemikian rupa, yang mencakup hukum memberi salam, hukum menjawabnya dan siapa yang lebih duluan salam.

    Apabila berjumpa sesama muslim, Rasulullah memerintahkan untuk saling mengucapkan salam. Yang muda mendahului memberi salam kepada yang tua, yang lewat kepada yang duduk, yang berkendaraan kepada yang berjalan kaki, yang berjumlah sedikit kepada yang banyak, dan laki-laki memberi salam kepada wanita. Wanita dilarang memberi salam kepada laki-laki.

    Berdosa hukumnya bila ada salam tidak dijawab, karena hukum menjawab salam adalah wajib. Maka dengan itu Rasulullah memerintahkan untuk selalu menjawab salam orang yang lewat ketika kita nongkrong di pinggir jalan.

    Keempat, ber-amar ma’ruf nahi munkar. Bila suatu ketika di depan mata kita terjadi kezaliman, jangan sampai dibiarkan terjadi tanpa kita turun untuk mencegahnya. Sudah merupakan kewajiban bagi seseorang untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar. Cegahlah dengan tangan, atau dengan hati, tapi itu selemah-lemahnya iman. Jangan biarkan kemungkaran terjadi di depan mata kita, apalagi kita mampu untuk mencegahnya. Jika kita membiarkan, tunggulah siksa Allah di hari pembalasan kelak.

    “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla tidak menyiksa awam karena perbuatan dosa orang-orang yang khusus sehingga mereka melihat kemungkaran di hadapan mereka dan mereka mampu mencegahnya, tetapi mereka tidak mencegahnya. Kalau mereka berbuat demikian maka Allah menyiksa yang khusus dan yang awam.” (HR. Ahmad dan At-Thabrani).

    Kelima, tunjuki jalan bagi orang yang bertanya. Kewajiban lainnya bagi orang-orang yang duduk-duduk di pinggir jalan adalah memberikan bantuan dan menerangkan dengan jelas bagi orang yang memerlukan bantuan tersebut. Layani dengan baik, tanya apa keperluannya, mau ke mana, dan jawablah dengan baik lantas tunjuki jalan atau tempat yang dia cari, lebih baik lagi kalau diantarkan ke tempat yang dituju. Itulah kewajiban yang diperintahkan Rasulullah kepada orang- orang yang duduk-duduk di pinggir jalan.

    Nabi SAW mendatangi serombongan orang yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan, lalu beliau berkata, “kalau memang harus kamu lakukan maka balaslah ucapan salam dan tolonglah orang yang dizalimi. Tunjuki jalan bagi orang yang bertanya.” (HR. Abu Daud)

    Jelaslah bahwa Rasulullah SAW selalu menegur pada orang-orang yang duduk-duduk di pinggir jalan. Memalingkan pandangan, jangan mengganggu, menjawab salam, ber-amar ma’ruf nahi munkar, menolong orang yang dizalimi, dan menunjukkan jalan bagi orang yang bertanya. Bila hal-hal ini tidak bisa dilaksanakan, maka sebaiknya menghindari untuk duduk-duduk di pinggir jalan. Perbuatan ini membuka peluang untuk mengerjakan maksiat dan terus menambah tabungan dosa kita, yang akan dipertanggungjawabkan di hari kemudian. Pekerjaan yang demikian bila kita jauhi akan menghindarkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna, dan ini merupakan ciri orang beriman yang beruntung.

    “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna.” (QS. Al-Mu’minun: 1-3).

     
  • erva kurniawan 2:19 am on 7 October 2014 Permalink | Balas  

    niat baikNiat Baik Tidak Dapat Melepaskan Yang Haram

    Islam memberikan penghargaan terhadap setiap hal yang dapat mendorong untuk berbuat baik, tujuan yang mulia dan niat yang bagus, baik dalam perundang-undangannya maupun dalam seluruh pengarahannya. Untuk itulah maka Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya semua amal itu harus disertai dengan niat (ikhlas karena Allah), dan setiap orang dinilai menurut niatnya.” (Riwayat Bukhari).

    Niat yang baik itu dapat menggunakan seluruh yang mubah dan adat untuk berbakti dan taqarrub kepada Allah. Oleh karena itu siapa yang makan dengan niat untuk menjaga kelangsungan hidupnya dan memperkuat tubuh supaya dapat melaksanakan kewajibannya untuk berkhidmat kepada Allah dan ummatnya, maka makan dan minumnya itu dapat dinilai sebagai amal ibadah dan qurbah. Begitu juga, barangsiapa yang melepaskan syahwatnya kepada isterinya dengan niat untuk mendapatkan anak, atau karena menjaga diri dan keluarganya dari perbuatan maksiat, maka pelepasan syahwat tersebut dapat dinilai sebagai ibadah yang berhak mendapat pahala.

    Untuk itu pula, maka Rasulullah s.a.w. pernah menyabdakan: “Pada kemaluanmu itu ada sadaqah. Para sahabat kemudian bertanya: Apakah kalau kita melepaskan syahwat juga mendapatkan pahala? Jawab Nabi: Apakah kalau dia dilepaskan pada yang haram, dia juga akan beroleh dosa? Maka begitu jugalah halnya kalau dia lepaskan pada yang halal, dia pun akan beroleh pahala.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Begitulah, setiap perbuatan mubah yang dikerjakan oleh seorang mu’min, di dalamnya terdapat unsur niat yang dapat mengalihkan perbuatan tersebut kepada ibadah. Adapun masalah haram tetap dinilai haram, betapapun baik dan mulianya niat dan tujuan itu. Bagaimanapun baiknya rencana, selama dia itu tidak dibenarkan oleh Islam, maka selamanya yang haram itu tidak boleh dipakai alat untuk mencapai tujuan yang terpuji. Syariat Islam tidak membenarkan prinsip apa yang disebut al-ghayah tubarrirul wasilah (untuk mencapai tujuan, cara apapun dibenarkan), atau suatu prinsip yang mengatakan: al-wushulu ilal haq bil khaudhi fil katsiri minal bathil (untuk dapat memperoleh sesuatu yang baik, boleh dilakukan dengan bergelimang dalam kebatilan). Setiap tujuan baik harus dicapai dengan cara yang baik pula.

    Oleh karena itu, barangsiapa mengumpulkan uang yang diperoleh dengan jalan riba, maksiat, permainan haram, judi dan sebagainya yang dapat dikategorikan haram, dengan maksud untuk mendirikan masjid, menolong fakir miskin, yatim piatu, atau rencana-rencana baik lainnya, maka tujuan baiknya tidak akan menjadi syafaat dosa haramnya itu dihapus. Haram dalam syariat Islam tidak dapat dipengaruhi oleh tujuan dan niat.

    Sabda Rasulullah s.a.w: “Tidak seorang pun yang bekerja untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan haram kemudian ia sedekahkan, bahwa sedekahnya itu akan diterima; dan kalau dia infaqkan tidak juga mendapat barakah; dan tidak pula ia tinggalkan di belakang punggungnya (sesudah ia meninggal), melainkan dia itu sebagai perbekalan ke neraka. Sesungguhnya Allah tidak akan menghapuskan kejahatan dengan kejahatan, tetapi kejahatan dapat dihapus dengan kebaikan. Kejelekan tidaklah dapat menghapuskan kejelekan.” (Riwayat Ahmad dan lain-lain)

    ***

    Hindari hal yang haram dan segala sesuatu yang mendekatinya, karena bisa jadi hal itu menjadi penghalang dikabulkannya doa kita.

    ***

    Dikutip dari Halal dan Haram Dalam Islam, karya Dr. Yusuf Qardhawi

    Kiriman: Haris Satriawan

     
  • erva kurniawan 2:43 am on 6 October 2014 Permalink | Balas  

    Islam dan Iman: Apa Bedanya ..? 

    TauhidIslam dan Iman:  Apa Bedanya ..?

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Islam dalam pengertiannya secara umum adalah menghamba (beribadah) kepada Allah dengan cara menjalankan ibadah-ibadah yang disyari’atkan-Nya sebagaimana yang dibawa oleh para utusan-Nya sejak para rasul itu diutus hingga hari kiamat.

    Ini mencakup apa yang dibawa oleh Nuh ‘Alaihis sallam berupa hidayah dan kebenaran, juga yang dibawa oleh Musa ‘Alaihis sallam, yang dibawa oleh Isa ‘Alaihis sallam dan juga mencakup apa yang dibawa oleh Ibrahim ‘Alaihis sallam, Imamul hunafa’ (pimpinan orang-orang yang lurus), sebagaimana diterangkan oleh Allah dalam berbagai ayat-Nya yang menunjukkan bahwa syari’at-syari’at terdahulu seluruhnya adalah Islam kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

    Sedangkan Islam dalam pengertiannya secara khusus setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ajaran yang dibawa oleh beliau. Karena ajaran beliau menasakh (menghapus) seluruh ajaran yang sebelumnya, maka orang yang mengikutinya menjadi seorang muslim dan orang yang menyelisihinya bukan muslim karena ia tidak menyerahkan diri kepada Allah, akan tetapi kepada hawa nafsunya.

    Orang-orang Yahudi adalah orang-orang muslim pada zamannya Nabi Musa ‘Alaihis salllam, demikian juga orang-orang Nashrani adalah orang-orang muslim pada zamannya Nabi Isa ‘Alaihis sallam. Namun ketika telah diutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia mengkufurinya, maka mereka bukan jadi orang muslim lagi.

    Oleh karena itu tidak dibenarkan  seseorang berkeyakinan bahwa agama yang dipeluk oleh orang-orang  Yahudi dan Nashrani sekarang ini sebagai agama yang benar dan diterima di sisi Allah sebagaimana Dienul Islam.

    Bahkan orang yang berkeyakinan seperti  itu berarti telah kafir dan keluar dari dienul Islam, sebab Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Sesungguhnya Dien yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam”. (Ali-Imran : 19).

    “Artinya : Barangsiapa mencari suatu dien selain Islam, maka tidak akan diterima (dien itu) daripadanya”. (Ali-Imran : 85).

    Islam yang dimaksudkan adalah Islam yang dianugrahkan oleh Allah kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya. Allah berfirman

    “Artinya : Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepada nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai islam itu jadi agamamu”. (Al-Maidah : 3).

    Ini adalah nash yang amat jelas yang menunjukkan bahwa selain umat ini, setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihis sallam, bukan pemeluk Islam. Oleh karena itu, agama yang mereka anut tidak akan diterima oleh Allah dan tidak akan memberi manfaat pada hari kiamat. Kita tidak boleh menilainya sebagai agama yang lurus. Salah besar orang yang menilai Yahudi dan Nashrani sebagai saudara, atau bahwa agama mereka pada hari ini sama pula seperti yang dianut oleh para pendahulu mereka.

    Jika kita katakan bahwa Islam berarti menghamba diri kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan syari’at-Nya, maka dalam artian ini termasuk pula pasrah atau tunduk kepada-Nya secara zhahir maupun batin. Maka ia mencakup seluruh aspek ; aqidah, amalan maupun perkataan. Namun jika kata Islam itu disandingkan dengan Iman, maka Islam berarti amal-amal perbuatan yang zhahir berupa ucapan-ucapan lisan maupun perbuatan anggota badan. Sedangkan Iman adalah amalan batiniah yang berupa aqidah dan amal-amalan hati. Perbedaan istilah ini bisa kita lihat dalam firman Allah Ta’ala.

    “Artinya : Orang-orang Arab Badui itu berkata :’Kami telah beriman’. Katakanlah (kepada mereka) : ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu”. (Al-Hujurat : 14).

    Mengenai kisah Nabi Luth, Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri”. (Adz-Dzariyat : 35-36).

    Di sini terlihat perbedaan antara mukmin dan muslim. Rumah yang berada di negeri itu zhahirnya adalah rumah yang Islami, namun ternyata di dalamnya terdapat istri Luth yang menghianatinya dengan kekufurannya. Adapun siapa saja yang keluar dari negeri itu dan selamat, maka mereka itulah kaum beriman yang hakiki, karena keimanan telah benar-benar masuk kedalam hati mereka.

    Perbedaan istilah ini juga bisa kita lihat lebih jelas lagi dalam hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Jibril pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihis sallam mengenai Islam dan Iman. Maka beliau menjawab :”Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan berhaji ke Baitullah”. Mengenai Iman beliau menjawab :”Engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Utusan-utusan-Nya, hari AKhir, serta beriman dengan qadar yang baik dan yang buruk”.

    Walhasil, pengertian Islam secara mutlak adalah mencakup seluruh aspek agama termasuk Iman. Namun jika istilah Islam itu disandingkan dengan Iman, maka Islam ditafsirkan dengan amalan-amalan yang zhahir yang berupa perkataan lisan dan perbuatan anggota badan. Sedangkan Iman ditafsirkan dengan amalan-amalan batiniah berupa i’tiqad-i’tiqad dan amalan hati.

     
  • erva kurniawan 8:27 am on 3 October 2014 Permalink | Balas  

    haji1Indahnya Ibadah Haji

    KH. Abdullah Gymnastiar/Aa Gym

    Empat puluh empat hari berada di tanah suci bukanlah hal yang remeh. Banyak orang yang takut meninggalkan urusannya, karena takut urusannya itu menjadi berantakan. Padahal kita mati juga tidak akan merubah dunia ini. Betapa pentingnya kita hijrah karena sebetulnya masalah di kantor kita, di rumah tangga kita bukan masalah dari luar tapi pada diri kita sendiri. Sebab kalau kita jadi pemimpin sedang kita riya’, dengki, pada saat kita memimpin kitalah yang menimbulkan masalah di kantor kita.

    Kita butuh jeda, kita butuh berhenti. Kita butuh melihat siapa diri kita. Itulah yang disunnahkan Rasulullah dalam itikafnya. Kalau kita sudah membersihkan diri, mengetahui siapa diri kita, mulai punya program perbaikan maka kita kembali kerumah, kita kembali ke tempat kerja dengan kita yang lebih baik. Insya Allah perkataan kita akan lebih arif didalam memimpin rapat, hasilnya ide akan muncul, gagasan makin cemerlang, suasana makin produktif, maslahat. Kalau kita sebagai ayah pulang haji dan kita berhasil memperbaiki diri makin bijaksana, maka anak-anak menemukan figur dirumah, makin kondusif untuk perbaikan. Jadi betapa pentingnya haji, selain untuk ibadah juga sebagai sarana perbaikan diri. Bagi saudara-saudara yang sibuk bekerja tanpa punya waktu untuk menilai dirinya, itu sama saja artinya dengan punya pisau dipakai sembelih terus menerus dan akhirnya tumpul.

    Kalau punya waktu cari yang panjang tapi dengan program yang jelas. Tiap hari belajar karena kemabruran itu tergantung ilmu. Banyak orang yang pergi umroh/haji tapi tidak dengan ilmu. Susah! Nantinya ikut-ikutan. Apa yang orang lakukan dia ikutan. Contoh, mencium hajar aswad. Itu hukumnya sunnah dan dikaitkan dengan thawaf. Ada orang mencium hajar aswad mati-matian, sikut sana-sikut sini, padahal menyakiti sesama muslim itu hukumnya dosa. Untuk apa mengejar yang sunnah sampai dengan yang haram. Mungkin berhasil mengecup hajar aswad dan sampai dirumah diceritakan pula usahanya itu, udah cuma sunnah dapat yang haram diceritakan, ditambah-tambahi… ya riya’ ya dosa. Apa yang didapat? Tentu perintah Allah mencium hajar aswad bukan seperti itu.

    Nah saudara-saudaraku sekalian…

    Misalkan sholat arbain dan kesepakatan para ulama yang mengenal hadistnya itu lemah, tapi tidak terlarang untuk sholat 40x dan tidak berarti kalau kehilangan 1x dianggap bencana. Dan tidak berarti juga yang setiap hari ke mesjid boleh menghina yang lain. Penting sekali ilmu. Oleh karena itu kalau nanti haji apa sih niatnya haji? Macem-macem.

    Ada haji malu, malu-maluin maksudnya karena temannya sudah berangkat semua, dia belum. Ada haji status, yang ingin mencantumkan gelar H (haji) didepan namanya. Itu niat gelar, asal tahu saja Nabi Muhammad tidak disebut Rasulullah Haji Muhammad atau H. Umar bin Khattab,dll. Tidak dilarang tapi tidak dicontohkan. Boleh dicantumkan asal kelakuannya lebih baik dari gelarnya. Ada juga haji untuk maksiat, yang ingin dianggap sholeh. Dia cari status haji untuk menginginkan sesuatu dari hajinya. Dan yang paling buruk haji untuk menyembunyikan kemaksiatan.

    Lalu apa niat haji kita? menyempurnakan kewajiban kita, rukun Islam ke-5. Kita ingin mati dengan sempurna kewajiban kita. Perkara pahala, perkara ampunan, perkara sorga itu urusan Allah.

    Saudara-saudara sekalian

    Mulai sekarang niat, nabung untuk pergi haji. Bagi yang memakai ONH plus jaga jangan sampai jadi ujub. Kalau sudah niat, daftar, syukuran itu belum tentu berangkat. Jangan memastikan. Berangkat atau tidak itu urusan Allah dan jangan takut gagal. Pas mau berangkat jatuh sakit, nggak apa-apa. Niat sudah sampai, manasik sudah sampai, bayar sudah lunas, syukuran sudah, pergi belum siapa tahu Allah akan menyiapkan ilmu yang lebih banyak, menebalkan iman atau mungkin ada urusan dirumah yang lebih penting kita berada dirumah. Jangan malu nggak jadi berangkat. Masak kecewa atas perbuatan Allah.

    Hati-hatilah kalau haji jangan merasa kita paling bisa/paling sholeh. Dan saya anjurkan saudara jangan lupa membawa qur’an. Tidak ada yang paling enak untuk antri kecuali baca qur’an. Apalagi kalau punya target khatam, misalkan satu hari satu juz, itu antri sepanjang apapun enak. Kasian yang tidak punya kegiatan sibuk menggerutu saja. Kalau antri sebaiknya bikin target, misalkan istighfar 100x nggak pernah rugi antri itu kecuali yang tidak bisa menjaga diri. Jarang kita mempunyai waktu seperti itu.

    Dan biasakan mengalah. Tidak akan ketinggalan dengan mengalah, semua saudara kita. Memperbanyak musuh itu capek, memperbanyak saudara itu yang nikmat. Dakwah itu benar-benar dengan kelembutan/kesantunan. Bahkan bila ada orang yang berbuat jelek, balas kejelekan itu dengan berbuat baik. Maksimalnya adalah kalau ingin membalas, balas dengan perbuatan yang sama. Kalau ingin lebih baik balas dengan kebaikan sebab membalas dengan otot atau kekerasan jarang dapat meluluhkan hati. Senyuman yang tulus yang bisa meluluhkan hati.

    Haji yang mabrur itu adalah haji yang paling lemah lembut. Di Mekah, thawaf, sai kalau tidak hati-hati, kurang ilmu jadi takut ketinggalan tidak khusyu itu. Jadi hikmah yang paling penting dari haji ini diantaranya ialah bagaimana kita merasa bersaudara dengan yang lain. Ini ternyata luar biasa bisa menahan diri dari kedengkian/kemarahan. Sekarang belajar meminimalisir musuh. Mulai sekarang kita harus mulai merasa bersaudara, sepanjang seiman. Jadi hal yang terpenting bagi orang yang sudah berhaji adalah lebih merasa banyak saudaranya daripada banyak musuhnya.

    Apalagi selama haji itu jelas undangan Allah, jelas sama-sama umat Islam. Bagaimana mungkin kita membenci hanya karena perkara yang remeh. Yang pasti jaminan kita datangnya dari Allah. Allah Maha Tahu apa kebutuhan kita dibanding kita sendiri. Setiap kita melakukan apapun harus jelas manfaatnya. Kalau kita punya posisi strategis untuk perubahan diskusikan itu dengan baik. Tapi kalau kita diskusi panjang lebar tidak merubah apapun kecuali makin pening, dongkol, mubazir!

    Saudara-saudaraku sekalian…

    Bonus dari kajian kali ini adalah menikmati bersaudara satu sama lain. Minimalisir perasaan kebencian, mudah-mudahan akan terpancar sifat rahmatan lil’alamin pada diri kita.

    ***

    Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

    Semoga bermanfaat

     
  • erva kurniawan 12:33 pm on 2 October 2014 Permalink | Balas  

    sedekah 1Niat Baik Tidak Dapat Melepaskan yang Haram

    Islam memberikan penghargaan terhadap setiap hal yang dapat mendorong untuk berbuat baik, tujuan yang mulia dan niat yang bagus, baik dalam perundang-undangannya maupun dalam seluruh pengarahannya. Untuk itulah maka Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya semua amal itu harus disertai dengan niat (ikhlas karena Allah), dan setiap orang dinilai menurut niatnya.” (Riwayat Bukhari).

    Niat yang baik itu dapat menggunakan seluruh yang mubah dan adat untuk berbakti dan taqarrub kepada Allah. Oleh karena itu siapa yang makan dengan niat untuk menjaga kelangsungan hidupnya dan memperkuat tubuh supaya dapat melaksanakan kewajibannya untuk berkhidmat kepada Allah dan ummatnya, maka makan dan minumnya itu dapat dinilai sebagai amal ibadah dan qurbah. Begitu juga, barangsiapa yang melepaskan syahwatnya kepada isterinya dengan niat untuk mendapatkan anak, atau karena menjaga diri dan keluarganya dari perbuatan maksiat, maka pelepasan syahwat tersebut dapat dinilai sebagai ibadah yang berhak mendapat pahala.

    Untuk itu pula, maka Rasulullah s.a.w. pernah menyabdakan: “Pada kemaluanmu itu ada sadaqah. Para sahabat kemudian bertanya: Apakah kalau kita melepaskan syahwat juga mendapatkan pahala? Jawab Nabi: Apakah kalau dia dilepaskan pada yang haram, dia juga akan beroleh dosa? Maka begitu jugalah halnya kalau dia lepaskan pada yang halal, dia pun akan beroleh pahala.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Begitulah, setiap perbuatan mubah yang dikerjakan oleh seorang mu’min, di dalamnya terdapat unsur niat yang dapat mengalihkan perbuatan tersebut kepada ibadah. Adapun masalah haram tetap dinilai haram, betapapun baik dan mulianya niat dan tujuan itu. Bagaimanapun baiknya rencana, selama dia itu tidak dibenarkan oleh Islam, maka selamanya yang haram itu tidak boleh dipakai alat untuk mencapai tujuan yang terpuji. Syariat Islam tidak membenarkan prinsip apa yang disebut al-ghayah tubarrirul wasilah (untuk mencapai tujuan, cara apapun dibenarkan), atau suatu prinsip yang mengatakan: al-wushulu ilal haq bil khaudhi fil katsiri minal bathil (untuk dapat memperoleh sesuatu yang baik, boleh dilakukan dengan bergelimang dalam kebatilan). Setiap tujuan baik harus dicapai dengan cara yang baik pula.

    Oleh karena itu, barangsiapa mengumpulkan uang yang diperoleh dengan jalan riba, maksiat, permainan haram, judi dan sebagainya yang dapat dikategorikan haram, dengan maksud untuk mendirikan masjid, menolong fakir miskin, yatim piatu, atau rencana-rencana baik lainnya, maka tujuan baiknya tidak akan menjadi syafaat dosa haramnya itu dihapus. Haram dalam syariat Islam tidak dapat dipengaruhi oleh tujuan dan niat.

    Sabda Rasulullah s.a.w: “Tidak seorang pun yang bekerja untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan haram kemudian ia sedekahkan, bahwa sedekahnya itu akan diterima; dan kalau dia infaqkan tidak juga mendapat barakah; dan tidak pula ia tinggalkan di belakang punggungnya (sesudah ia meninggal), melainkan dia itu sebagai perbekalan ke neraka. Sesungguhnya Allah tidak akan menghapuskan kejahatan dengan kejahatan, tetapi kejahatan dapat dihapus dengan kebaikan. Kejelekan tidaklah dapat menghapuskan kejelekan.” (Riwayat Ahmad dan lain-lain)

    ***

    Hindari hal yang haram dan segala sesuatu yang mendekatinya, karena bisa jadi hal itu menjadi penghalang dikabulkannya doa kita.

    ***

    Kiriman Sahabat: Haris Satriawan

     
    • TEGUH 12:35 pm on 2 Oktober 2014 Permalink

      Ass wrwb trimakasih atas ijinnya

      Teguh S 08567789372 – 2AE44AB0
      Cenderawasih Pos – Lombok Post

  • erva kurniawan 1:39 am on 30 September 2014 Permalink | Balas  

    sufi 14Nasehat Sang Sufi

    Oleh : Siti Nurjanah

    Assalamualiaikum, Wr. Wb.

    Wahai saudaraku sesama muslim, ada tiga perkara yang wajib diperhatikan oleh setiap Mukmin di dalam seluruh keadaan, yaitu :

    1. Melaksanakan segala perintah Allah
    2. Menjauhkan diri dari segala yang haram
    3. Ridha dengan hukum-hukum atau ketentuan Allah.

    Ketiga perkara ini jangan sampai tidak ada pada seorang Mu’min. Oleh karena itu, seorang Muk’min harus memikirkan perkara ini, bertanya kepada dirinya tentang perkara ini dan mengusahakan anggota tubuhnya melakukan perkara ini.

    Wahai Saudaraku ikutlah dengan ihklas jalan yang telah ditempuh oleh Nabi besar Muhammmad SAW. dan jangan merubah jalan itu. Patutlah kepada Allah dan Rasulnya, dan jangan sekali kali berbuat durhaka.

    Bertauhidlah kepada Allah dan jangan menyekutukan-NYA. Allah itu Maha suci dan tidak mempunyai sifat-sifat tercela atau kekurangan. Janganlah ragu ragu terhadap kebenaran Allah. Bersabarlah dan berpegang-teguhlah kepada-NYA. Bermohonlah kepada-NYA dan tunggulah dengan sabar. Bersatu padulah di dalam mentaati Allah dan janganlah berpecah belah. Saling mencintailah diantara sesama dan janganlah saling mendengki. Hindarkanlah diri dari segala noda dan dosa. Hiasilah dirimu dengan keta’atan kepada Allah.

    Janganlah menjauhkan diri dari Allah dan janganlah lupa kepada-NYA. Janganlah lalai untuk bertobat kepada-Nya dan kembali kepada-NYA. Janganlah jemu untuk memohon ampun kepada Allah pada siang dan malam hari. Mudah mudahan kamu diberi rahmat dan dilindungi oleh-Nya dari marabahaya dan azab neraka, diberi kehidupan yang berbahagia di dalam surga dan diberi nikmat-nikmat oleh-NYA. Kamu akan menikmati kebahagian dan kesentosaan yang abadi di surga beserta para Nabi, orang orang shiddiq, para syuhada dan orang orang shaleh. Kamu akan hidup kekal di dalam surga itu untuk selama-lamanya.

    Wassalam

    Siti Nurjannah

    Sumber diambil dari buku karya : Syaikh Abdul Qodir Jailani.

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 29 September 2014 Permalink | Balas  

    syahadat1Tafsiran “Tauhid” Dan Syahadat “Laa ilaha illa Allah”

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Firman Allah Ta’ala:

    “Orang-orang yang diseru oleh kaum musyrikin itu, mereka sendiri senantiasa berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan mereka, siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepadaNya), dan mereka mengharapkan rahmat-Nya serta takut akan siksa-Nya, sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” (Al-Isra': 57)

    “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya; Sesungguhnya aku melepaskan diri dari segala apa yang kamu sembah, kecuali Allah saja Tuhan yang telah menciptakan aku, karena hanya Dia yang akan menunjukiku (kepada jalan kebenaran).” (Az-Zukhruf: 26-27)

    “Mereka, menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (mereka mempertuhankan pula) Al-Masih putera Maryam, padahal mereka itu tiada lain hanyalah diperintahkan untuk beribadah kepada Satu Sembahan, tiada Sembahan yang haq selain Dia. Maha Suci Allah dari perbuatan syirik mereka.” (At-Taubah: 31)

    “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, yaitu dengan mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah…” (Al-Baqarah: 165)

    Diriwayatkan dalam Shahih (Muslim), bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Barangsiapa mengucapkan Laa ilaha illa Allah dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedang hisab (perhitungan)nya adalah terserah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

    Kandungan dalam tulisan ini:

    1. Ayat dalam surah Al-Isra’. Diterangkan dalam ayat ini bantahan terhadap kaum musyrikin yang menyeru (meminta) kepada orang-orang shaleh. Maka, ayat ini mengandung sesuatu penjelasan bahwa perbuatan mereka itu syirik akbar.
    2. Ayat dalam surah Bara’ah (At-Taubah). Diterangkan dalam ayat ini bahwa kaum Ahli Kitab telah menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan diterangkan bahwa mereka tiada lain hanya diperintahkan untuk beribadah kepada Satu Sembahan yaitu Allah. Padahal tafsiran ayat ini, yang jelas dan tidak dipermasalahkan lagi, yaitu mematuhi orang-orang alim dan rahib-rahib dalam tindakan mereka yang bertentangan dengan hukum Allah; dan maksudnya bukanlah kaum Ahli Kitab itu menyembah mereka.

    Dapat diambil kesimpulan dari ayat ini bahwa tafsiran “Tauhid” dan Syahadat “Laa ilaha illa Allah” yaitu: pemurnian ketaatan kepada Allah, dengan menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya.

    1. Kata-kata Al-Khalil Ibrahim ‘alaihissalam kepada orang-orang kafir: “Sesungguhnya aku melepaskan diri dari apa yang kamu sembah, kecuali Allah saja Tuhan yang telah menciptakan aku…”

    Disini beliau mengecualikan Allah dari segala sembahan. Pembebasan diri (dari segala sembahan yang bathil) dan pernyataan setia (kepada Sembahan yang haq, yaitu Allah) adalah tafsiran yang sebenarnya dari syahadat “Laa ilaha illa Allah.” Allah Ta’ala berfirman: “Dan Ibrahim menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya, supaya mereka kembali (kepada jalan kebenaran).” (Az-Zukhruf: 28)

    1. Ayat dalam surah Al-Baqarah yang berkenaan dengan orang-orang kafir, yang dikatakan oleh Allah dalam firman-Nya: “Dan mereka tidak akan dapat keluar dari neraka.”

    Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa mereka menyembah tandingan-tandingan selain Allah, yaitu dengan mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai kecintaan yang besar kepada Allah, akan tetapi kecintaan mereka itu belum bisa memasukkan mereka ke dalam Islam.

    Dari ayat dalam surah Al-Baqarah ini dapat diambil kesimpulan bahwa tafsiran “tauhid” dan syahadat “Laa ilaha illa Allah” yaitu: pemurnian kecintaan kepada Allah yang diiringi dengan rasa rendah diri dan penghambaan hanya kepada-Nya.

    Lalu bagaimana dengan orang yang mencintai sembahan-nya lebih besar daripada kecintaannya kepada Allah? Kemudian, bagaimana dengan orang yang hanya mencintai sesembahan selain Allah itu saja dan tidak mencintai Allah?

    1. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa mengucapkan Laa ilaha illa Allah dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedang hisab (perhitungan)nya adalah terserah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

    Ini adalah termasuk hal terpenting yang menjelaskan pengertian “Laa ilaha illa Allah”. Sebab apa yang dijadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pelindung darah dan harta bukanlah sekedar mengucapkan kalimat “Laa ilaha illa Allah” itu, bukan pula dengan mengerti makna dan lafadznya, bukan pula dengan mengakui kebenaran kalimat tersebut, bahkan bukan juga tidak meminta kecuali kepada Allah saja, yang tiada sekutu bagi-Nya. Akan tetapi tidaklah haram dan terlindung harta dan darahnya hingga dia menambahkan kepada pengucapan kalimat “Laa ilaha illa Allah” itu pengingkaran kepada segala sembahan selain Allah. Jika dia masih ragu atau bimbang, maka belumlah haram dan terlindung harta dan darahnya.

    Sungguh agung dan penting sekali tafsiran “Tauhid” dan syahadat “Laa ilaha illa Allah” yang terkandung dalam hadits ini, sangat jelas keterangan yang dikemukakannya dan sangat meyakinkan argumentasi yang diajukan bagi orang yang menentang.

    ***

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

    Sumber : http://www.assunnah.or.id

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 28 September 2014 Permalink | Balas  

    pertolongan allahMengisi Hidup Dengan Akhlak Mulia

    Wahai saudaraku sesama muslim, merosotnya nilai nilai moral dan budi pekerti yang baik, disebabkan karena sebagian umat islam semakin jauh dari dua warisan yang ditinggalkan oleh Nabi Besar kita Muhammad SAW. yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.

    Kilauan dunia yang membuat terlena telah membius kita sehingga terlelap dalam buaiannya, tapi manakala kita tersadar, rasanya betapa kecil kita di hadapan Allah Ta’ala dengan segala Kebesaran-NYA.

    Lezat dan manisnya dunia membuat kita terkadang jauh dari akhlak nul karimah, sehingga terkadang yang berkecukupan merasa lebih hebat dan tinggi daripada yang berkekurangan, yang berkedudukan mengagungkan dirinya diatas takhta kehormatan, tanpa peduli memikirkan nasib atau keadaan mereka yang berada di bawah, tapi manakala semua kenikmatan itu diambil kembali oleh pemilik-NYA, maka tak satu kekuatan yang dapat menahannya.

    Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi sekaligus kekasih-NYA, dengan memuji padanya dan menampakkan nikmat dihadapan Nabi-NYA.

    “Dan sesungguhnya engkau memiliki akhlak yaang agung.” (QS,68 Al-Qolam : 4)

    Aisyah ra. berkata : “Ahlak Rasulullah SAW. adalah Al-Qur’an.”

    Seorang lelaki bertanya kepada Nabi mengenai budi pekerti yang baik (ahlak), kemudian Nabi SAW. membaca firman Allah : ” Jadilah kamu seorang pemaaf dan perintahkan orang orang untuk mengerjakan kebajikan, serta jauhilah orang orang yang jahil.” ( QS.7 : 199)

    Lalu beliau SAW. bersabda : ” Dia bisa menyambungkan orang yang memutuskanmu, memberi orang yang memutusmu, yang menghalangimu, serta memaafkan orang yang menganiaya.”

    Sabda Nabi Muhammad SAW. ” Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan ahlak yang mulia.” Lebih lanjut Nabi bersabda : ” Sesuatu yang paling berat dalam timbangan amal kelak di hari kiamat ialah takwa kepada Allah dan ahlak yang mulia.”

    Seorang lelaki datang kepada Nabi SAW. dan bertanya : ” Apa yang disebut agama, ya Rasul !” Nabi SAW. menjawab : ” Ahlak yang mulia.”

    Lelaki itu datang lagi ke arah kiri dan kanan beliau SAW. dan berkata : ” Agama itu apa, ya Rasul ! ” Nabi SAW. bersabda : ” Kebaikan ahlak yang mulia.” Lelaki tersebut datang lagi dari arah kiri dan kanan beliau, dan berkata : ” Apa yang disebut agama, ” Ya rasul ! ” Sabda Nabi SAW. : ” Apa kamu tidak juga paham, dia agama adalah akhlak yang baik dan mulia, dan janganlah kamu marah.” ( Pen, berarti gak boleh cepat emosi, tetapi harus bisa menahan amarah).

    Lelaki itu bertanya lagi,”Apa yang disebut kecelakaan, Ya Rasul ! ” Sabda Nabi SAW. : ” Kejelekan budi pekerti.”

    Kata Fudlail ra. : ia berkata kepada Nabi SAW. : ‘Sesungguhnya si fulan berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari, namun dia wanita yang ahlaknya jelek, yang selalu menyakiti tetangga dengan mulutnya,”

    Nabi SAW. bersabda ; ” Untuk dia tidak ada kebaikan, dan dia termasuk penghuni neraka.”

    Kata Abu Darda ra. bahwa Nabi SAW. bersabda : ” Pertama kali yang diletakkan dalam timbangan amal ialah budi pekerti yang baik dan kemurahan hati.”

    Nabi SAW. bersabda : ” Sungguh Allah telah mensucikan agama dengan Dzat-Nya, maka buat agamamu tidak pantas kecuali murahnya hati dan baiknya budi pekerti. Dan hiasilah agamamu dengan keduanya.”

    Nabi SAW. bersabda : ” Kebaikan budi pekerti ialah budi pekerti Allah Yang Agung.”

    Dikatakan : ” Ya Rasul, manakah orang yang paling utama !” Nabi SAW. menjawab: ” Yang paling baik budi pekertinya.”

    Nabi juga bersabda ” Kamu tidak akan mampu menguasai manusia dengan harta bendamu, maka kuasailah mereka dengan kecerahan wajah dan budi pekerti yang baik.”

    Melalui Abu hurairah ra. bahwa Nabi SAW. bersabda ; ” Kemuliaan seorang mukmin terletak di agamanya, keturunannya, ahlak baiknya, keperwiraan, dan akalnya.”

    Nabi SAW. bersabda pula : ” Sesungguhnya orang yang paling aku cintai diantara kalian, ialah kelak di hari kiamat tempatnya amat dekat antara aku dan kamu. Dia adalah orang orang yang baik budi pekertinya.”

    ***

    Kiriman Sahabat: Zevry Yudha Prakasha

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 27 September 2014 Permalink | Balas  

    hijab 2Langkah Setan Menelanjangi Wanita

    Setan dalam menggoda manusia memiliki berbagai macam strategi, dan yang sering dipakai adalah dengan memanfaatkan hawa nafsu, yang memang memiliki kecenderungan mengajak kepada keburukan (ammaratun bis su’). Setan tahu persis kecenderungan nafsu kita, dia terus berusaha agar manusia keluar dari garis yang telah ditentukan Allah, termasuk melepaskan hijab atau pakaian muslimah. Berikut ini tahapan-tahapannya.

    1. Menghilangkan Definisi Hijab

    Dalam tahap ini setan membisik-kan kepada para wanita, bahwa pakaian apapun termasuk hijab (penutup) itu tidak ada kaitannya dengan agama, ia hanya sekedar pakaian atau mode hiasan bagi para wanita. Jadi tidak ada pakaian syar’i, pakaian ya pakaian, apa pun bentuk dan namanya.

    Sehingga akibatnya, ketika zaman telah berubah, atau kebudayaan manusia telah berganti, maka tidak ada masalah pakaian ikut ganti juga. Demikian pula ketika seseorang berpindah dari suatu negeri ke negeri yang lain, maka harus menyesuaikan diri dengan pakaian penduduknya, apapun yang mereka pakai.

    Berbeda halnya jika seorang wanita berkeyakinan, bahwa hijab adalah pakaian syar’i (identitas keislaman), dan memakainya adalah ibadah bukan sekedar mode. Biarpun hidup kapan saja dan di mana saja, maka hijab syar’i tetap dipertahankan.

    Apabila seorang wanita masih bertahan dengan prinsip hijabnya, maka setan beralih dengan strategi yang lebih halus. Caranya?

    Pertama, Membuka Bagian Tangan

    Telapak tangan mungkin sudah terbiasa terbuka, maka setan mem-bisik kan kepada para wanita agar ada sedikit peningkatan model yakni membuka bagian hasta (siku hingga telapak tangan). “Ah tidak apa-apa, kan masih pakai jilbab dan pakai baju panjang? Begitu bisikan setan. Dan benar sang wanita akhirnya memakai pakain model baru yang menampakkan tangannya, dan ternyata para lelaki yang melihat nya juga biasa-biasa saja. Maka setan berbisik,” Tuh tidak apa-apa kan?

    Kedua, Membuka Leher dan Dada

    Setelah menampakkan tangan menjadi kebiasaan, maka datanglah setan untuk membisikkan hal baru lagi. “Kini buka tangan sudah lumrah, maka perlu ada peningkatan model pakaian yang lebih maju lagi, yakni terbuka bagian atas dada kamu.” Tapi jangan sebut sebagai pakaian terbuka, hanya sekedar sedikit untuk mendapatkan hawa, agar tidak gerah. Cobalah! Orang pasti tidak akan peduli, sebab hanya bagian kecil saja yang terbuka.

    Maka dipakailah pakaian model baru yang terbuka bagian leher dan dadanya dari yang model setengah lingkaran hingga yang model bentuk huruf “V” yang tentu menjadikan lebih terlihat lagi bagian sensitif lagi dari dadanya.

    Ketiga, Berpakian Tapi Telanjang

    Setan berbisik lagi, “Pakaian kok hanya gitu-gitu saja, cari model atau bahan lain yang lebih bagus! Tapi apa ya? Sang wanita bergumam. “Banyak model dan kain yang agak tipis, lalu bentuknya dibuat yang agak ketat biar lebih enak dipandang,” setan memberi ide baru.

    Maka tergodalah si wanita, di carilah model pakaian yang ketat dan kain yang tipis bahkan transparan. “Nggak apa-apa kok, kan potongan pakaiannya masih panjang, hanya bahan dan modelnya saja yang agak berbeda, biar nampak lebih feminin,” begitu dia menambahkan. Walhasil pakaian tersebut akhirnya membudaya di kalangan wanita muslimah, makin hari makin bertambah ketat dan transparan, maka jadilah mereka wanita yang disebut oleh Nabi sebagai wanita kasiyat ‘ariyat (berpakaian tetapi telanjang).

    Keempat, Agak di Buka Sedikit

    Setelah para wanita muslimah mengenakan busana yang ketat, maka setan datang lagi. Dan sebagaimana biasanya dia menawarkan ide baru yang sepertinya segar dan enak, yakni dibisiki wanita itu, “Pakaian seperti ini membuat susah berjalan atau duduk, soalnya sempit, apa nggak sebaiknya di belah hingga lutut atau mendekati paha?” Dengan itu kamu akan lebih leluasa, lebih kelihatan lincah dan enerjik.”

    Lalu dicobalah ide baru itu, dan memang benar dengan dibelah mulai bagian bawah hingga lutut atau mendekati paha ternyata membuat lebih enak dan leluasa, terutama ketika akan duduk atau naik ke jok mobil. “Yah tersingkap sedikit nggak apa-apa lah, yang penting enjoy,” katanya.

    Inilah tahapan awal setan merusak kaum wanita, hingga tahap ini pakaian masih tetap utuh dan panjang, hanya model, corak, potongan dan bahan saja yang dibuat berbeda dengan hijab syar’i yang sebenarnya. Maka kini mulailah setan pada tahapan berikutnya.

    2. Terbuka Sedikit Demi Sedikit

    Kini setan melangkah lagi, dengan trik dan siasat lain yang lebih ampuh, tujuannya agar para wanita menampak kan bagian aurat tubuhnya.

    Pertama, Membuka Telapak Kaki dan Tumit

    Setan Berbisik kepada para wanita, “Baju panjang benar-benar membuat repot, kalau hanya dengan membelah sedikit bagiannya masih kurang leluasa, lebih enak kalau di potong saja hingga atas mata kaki.” Ini baru agak longgar. “Oh ada yang kelupaan, kalau kamu bakai baju demikian, maka jilbab yang besar tidak cocok lagi, sekarang kamu cari jilbab yang kecil agar lebih serasi dan gaul, toh orang tetap menamakannya dengan jilbab.”

    Maka para wanita yang terpengaruh dengan bisikan ini buru-buru mencari model pakaian yang dimaksudkan. Tak ketinggalan sepatu hak tinggi, yang kalau untuk berjalan mengeluarkan suara yang menarik perhatian orang.

    Kedua, Membuka Seperempat Hingga Separuh Betis

    Terbuka telapak kaki telah biasa ia lakukan, dan ternyata orang-orang yang melihat juga tidak begitu peduli. Maka setan kembali berbisik, “Ternyata kebanyakan manusia menyukai apa yang kamu lakukan, buktinya mereka tidak bereaksi apa-apa, kecuali hanya beberapa orang. Kalau langkah kakimu masih kurang leluasa, maka cobalah kamu cari model lain yang lebih enak, bukankah kini banyak rok setengah betis dijual di pasaran? Tidak usah terlalu mencolok, hanya terlihat kira-kira sepuluh senti saja.” Nanti kalau sudah terbiasa, baru kamu cari model baru yang terbuka hingga setengah betis.”

    Benar-benar bisikan setan dan hawa nafsu telah menjadi penasehat pribadinya, sehingga apa yang saja yang dibisikkan setan dalam jiwanya dia turuti. Maka terbiasalah dia mema-kai pakaian yang terlihat separuh betisnya kemana saja dia pergi.

    Ketiga, Terbuka Seluruh Betis

    Kini di mata si wanita, zaman benar-benar telah berubah, setan telah berhasil membalikkan pandangan jernihnya. Terkadang sang wanita berpikir, apakah ini tidak menyelisihi para wanita di masa Nabi dahulu. Namun buru-buru bisikan setan dan hawa nafsu menyahut, “Ah jelas enggak, kan sekarang zaman sudah berubah, kalau zaman dulu para lelaki mengangkat pakaiannya hingga setengah betis, maka wanitanya harus menyelisihi dengan menjulurkannya hingga menutup telapak kaki, tapi kini lain, sekarang banyak laki-laki yang menurunkan pakaiannya hingga bawah mata kaki, maka wanitanya harus menyelisihi mereka yaitu dengan mengangkatnya hingga setengah betis atau kalau perlu lebih ke atas lagi, sehingga nampak seluruh betisnya.”

    Tetapi… apakah itu tidak menjadi fitnah bagi kaum laki-laki,” gumamnya. “Fitnah? Ah itu kan zaman dulu, di masa itu kaum laki-laki tidak suka kalau wanita menampakkan auratnya, sehingga wanita-wanita mereka lebih banyak di rumah dan pakaian mereka sangat tertutup. Tapi sekarang sudah berbeda, kini kaum laki-laki kalau melihat bagian tubuh wanita yang terbuka malah senang dan mengatakan ooh atau wow, bukankah ini berarti sudah tidak ada lagi fitnah, karena sama-sama suka? Lihat saja model pakaian di sana-sini, dari yang di emperan hingga yang yang bermerek kenamaan, seperti Kristian Dior, semuanya menawarkan model yang dirancang khusus untuk wanita maju di zaman ini. Kalau kamu tidak mengikuti model itu akan menjadi wanita yang ketinggalan zaman.”

    Demikianlah, maka pakaian yang menampakkan seluruh betis biasa dia kenakan, apalagi banyak para wanita yang memakainya dan sedikit sekali orang yang mempermasalahkan itu. Kini tibalah saatnya setan melancarkan tahap terakhir dari siasatnya untuk melucuti hijab wanita.

    3. Serba Mini

    Setelah pakaian yang menampak kan betis menjadi pakaian sehari-hari dan dirasa biasa-biasa saja, maka datanglah bisikan setan yang lain. “Pakaian membutuhkan variasi, jangan itu-itu saja, sekarang ini modelnya rok mini, dan agar serasi rambut kepala harus terbuka, sehingga benar-benar kelihatan indah.”

    Maka akhirnya rok mini yang menampakkan bagian bawah paha dia pakai, bajunya pun bervariasi, ada yang terbuka hingga lengan tangan, terbuka bagian dada sekaligus bagian punggung nya dan berbagai model lain yang serba pendek dan mini. Koleksi pakaiannya sangat beraneka ragam, ada pakaian pesta, berlibur, pakaian kerja, pakaian resmi, pakaian malam, sore, musim panas, musim dingin dan lain-lain, tak ketinggalan celana pendek separuh paha pun dia miliki, model dan warna rambut juga ikut bervariasi, semuanya telah dicoba. Begitulah sesuatu yang sepertinya mustahil untuk dilakukan, ternyata kalau sudah dihiasi oleh setan, maka segalanya menjadi serba mungkin dan diterima oleh manusia.

    Hingga suatu ketika, muncul ide untuk mandi di kolam renang terbuka atau mandi di pantai, di mana semua wanitanya sama, hanya dua bagian paling rawan saja yang tersisa untuk ditutupi, kemaluan dan buah dada. Mereka semua mengenakan pakaian yang sering disebut dengan “bikini”. Karena semuanya begitu, maka harus ikut begitu, dan na’udzu billah bisikan setan berhasil, tujuannya tercapai, “Menelanjangi Kaum Wanita.” Selanjutnya terserah kamu wahai wanita, kalian semua sama, telanjang di hadapan laki-laki lain, di tempat umum. Aku berlepas diri kalau nanti kelak kalian sama-sama di neraka. Aku hanya menunjukkan jalan, engkau sendiri yang melakukan itu semua, maka tanggung sendiri semua dosamu” Setan tak mau ambil resiko.

    Penutup

    Demikian halus, cara yang digunakan setan, sehingga manusia terjerumus dalam dosa tanpa terasa. Maka hendaklah kita semua, terutama orang tua jika melihat gejala menyimpang pada anak-anak gadis dan para wanita kita sekecil apapun, segera secepatnya diambil tindakan. Jangan biarkan berlarut-larut, karena kalau dibiarkan dan telah menjadi kebiasaan, maka sangat sulit bagi kita untuk mengatasinya. Membiarkan mereka membuka aurat berarti merelakan mereka mendapatkan laknat Allah, kasihanilah mereka, selamatkan para wanita muslimah, jangan jerumuskan mereka ke dalam kebinasaan yang menyeng-sarakan, baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu a’lam bis shawab.

    ***

    Sumber ide dan pokok pikiran: Kitab “At ta’ari asy syaithani”, Adnan ath-Thursyah, disadur dengan bebas.

    Dari Kiriman Sahabat: Iwan Wahyu D.

     
  • erva kurniawan 6:59 am on 26 September 2014 Permalink | Balas  

    Lailaha ilallahTauhid; Hakekat Dan Kedudukannya

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Firman Allah Ta’ala:

    “Aku menciptakan jin dan manusia, tiada lain hanyalah untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariat: 56).

    Ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah Ta’ala dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan inilah hakekat agama Islam, karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata-mata yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya dengan penuh rasa rendah diri dan cinta.

    Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Dan suatu amal diterima oleh Allah sebagai suatu ibadah apabila diniati ikhlas, semata-mata karena Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut.” (An-Nahl: 36)

    Thaghut yaitu setiap yang diagungkan -selain Allah- dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia, ataupun syetan. Menjauhi thaghut yaitu mengingkari, membencinya, tidak mau menyembah dan memujanya dalam bentuk dan dengan cara apapun.

    “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya mencapai usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka, serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu kepada mereka berdua dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka keduanya telah mendidikku waktu kecil.” (Al-Isra': 23-24)

    “Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah (saja) dan janganlah berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya.” (An-Nisaa': 36)

    Syirik yaitu memperlakukan sesuatu -selain Allah- sama dengan Allah dalam hal yang merupakan hak khusus bagi-Nya.

    “Katakanlah (Muhammad): Marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, berbuat baiklah kepada kedua orang tua, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikianlah yang diwasiatkan Allah kepadamu, supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga ia mencapai kedewasaannya, dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diwasiatkan Allah kepadamu, agar kamu ingat. Dan (kubacakan): Sungguh inilah jalan-Ku, berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu akan menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diwasiatkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Al An’am: 151-153).

    Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

    “Barang siapa yang ingin melihat wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tertera diatasnya cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman Allah Ta’ala:…(surah Al-An’am 151-153, seperti tersebut di atas).”

    Mu’adz bin Jabal, radhiyallahu ‘anhu, menuturkan:

    “Aku pernah diboncengkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai. Lalu beliau bersabda kepadaku: Hai Mu’adz, tahukah kamu apakah hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliaupun bersabda: Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh hamba-Nya adalah supaya mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya. Aku bertanya: Ya Rasulullah, tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang? Beliau menjawab: Janganlah kamu menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri.” (HR Bukhari dan Muslim dalam shahih mereka)

    ***

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

    Sumber : http://www.assunnah.or.id

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 12 September 2014 Permalink | Balas  

    muhammadKepemimpinan Rosullulloh SAW

    Nabi Muhammad saw. adalah pemimpin dunia yang terbesar sepanjang sejarah. Karena hanya dalam waktu 23 tahun (kurang dari seperempat abad), dengan biaya kurang dari satu persen biaya yang dipergunakan untuk revolusi Perancis dan dengan korban kurang dari seribu orang. Beliau telah menghasilkan tiga karya besar yang belum pernah dicapai oleh pemimpin yang manapun di seluruh dunia sejak Nabi Adam as. sampai sekarang. Tiga karya besar tersebut adalah:

    1. Mengesakan Tuhan

    Artinya, Nabi Besar Muhammad saw. telah berhasil menjadikan bangsa Arab yang semula mempercayai Tuhan sebanyak 360 (berfaham polytheisme) menjadi bangsa yang memiliki keyakinan tauhid mutlak atau monotheisme absolut.

    1. Kesatuan ummat

    Artinya, Nabi Besar Muhammad saw. telah berhasil menjadikan bangsa Arab yang semua selalu melakukan permusuhan dan peperangan antar suku dan antar kabilah, menjadi bangsa yang bersatu padu dalam ikatan keimanan dalam naungan agama Islam.

    1. Kesatuan pemerintahan

    Artinya, Nabi Besar Muhammad saw. telah berhasil membimbing bangsa Arab yang selamanya belum pernah memiliki pemerintahan sendiri yang merdeka dan berdaulat, karena bangsa Arab adalah bangsa yang selalu dijajah oleh Persia dan Romawi, menjadi bangsa yang mampu mendirikan negara kesatuan yang terbentang luas mulai dari benua Afrika sampai Asia.

    Kunci dari keberhasilan perjuangan beliau dalam waktu relatif singkat itu adalah terletak pada tiga hal:

    1. Keunggulan agama Islam
    2. Ketepatan sistem dan metode yang beliau pergunakan untuk berda’wah.
    3. Kepribadian beliau.

    Keunggulan agama Islam terletak pada delapan sifat yang tidak dimiliki oleh agama-agama lainnya di seluruh dunia ini, yaitu:

    1. Agama Islam itu adalah agama fithrah.
    2. Agama Islam itu adalah mudah, rational dan praktis.
    3. Agama Islam itu adalah agama yang mempersatukan antara kehidupan jasmani dan rohani dan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi.
    4. Agama Islam itu adalah agama yang menjaga keseimbangan antara kehiduan individual dan kehidupan bermasyarakat.
    5. Agama Islam itu adalah merupakan jalan hidup yang sempurna.
    6. Agama Islam itu adalah agama yang universal dan manusiawi.
    7. Agama Islam itu adalah agama yang stabil dan sekaligus berkembang.
    8. Agama Islam itu adalah agama yang tidak mengenal perubahan.

    Sistem dakwah yang dipergunakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. adalah:

    1. Menanamkan benih iman di hati ummat manusia dan menggemblengnya sampai benar-benar mantap.
    2. Mengajak mereka yang telah memiliki iman yang kuat dan mantap untuk beribadah menjalankan kewajiban-kewajiban agama Islam dengan tekun dan berkesinambungan secara bertahap.
    3. Mengajak mereka yang telah kuat dan mantap iman mereka serta telah tekun menjalankan ibadah secara berkelanjutan untuk mengamalkan budi pekerti yang luhur.

    Metode da’wah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. adalah:

    1. Hikmah, yaitu kata-kata yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dan yang bathil.
    2. Nasihat yang baik.
    3. Menolak bantahan dari orang-orang yang menentangnya dengan memberikan argumentasi yang jauh lebih baik, sehingga mereka yang menentang da’wah beliau tidak dapat berkutik.
    4. Memperlakukan musuh-musuh beliau seperti memperlakukan sahabat karib.

    Keempat methoda da’wah beliau di atas, disebutkan oleh Allah swt. dalam Al Qur’an al Karim dalam surat:

    An Nahl ayat 125:

    “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”

    Surat Fushshilat ayat 34:

    “Dan tiadalah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”.

    Kepribadian Nabi Besar Muhammad saw. yang sangat menunjang da’wah beliau disebutkan dalam Al Qur’an sebagai berikut:

    1. Bersikap lemah-lembut.
    2. Selalu mema’afkan kesalahan orang lain betapapun besar kesalahan tersebu selama kesalahan tersebut terhadap pribadi beliau.
    3. Memintakan ampun dosa dan kesalahan orang lain kepada Allah swt., jika kesalahan tersebut terhadap Allah swt.
    4. Selalu mengajak bermusyawarah dengan para sahabat beliau dalam urusan dunia dan beliau selalu konkwen memegang hasil kepautusan musyawarah.
    5. Jika beliau ingin melakukan sesuatu, maka beliau selalu bertawakkal kepada Allah swt. dalam arti: direncanakan dengan matang, diprogramkan, diperhitungkan anggarannya dan ditentukan sistem kerjanya.

    Kelima kepribadian Nabi Besar Muhammad saw. tersebut di atas, dituturkan oleh Allah swt. dalam surat Ali Imran ayat 159:

    “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.

    Wallohu a’lam bish-shawab,

    ***

    Dikirim oleh : Retno Wahyudiaty

     
  • erva kurniawan 6:56 am on 6 September 2014 Permalink | Balas  

    gambar-tata-suryaAl Qur’an dan kajian ilmu pengetahuan

    Subhanallah, Maha Suci Allah dengan segala ciptaan-Nya

    Ternyata Al-Qur’an telah mengetahui dahulu apa apa yang telah ditemukan oleh manusia dewasa ini, dibawah ini beberapa kutipan dari ayat Al-Quran mengenai hal tersebut, renungkan mungkinkah pada saat Al-Qur’an diturunkan hal tersebut bisa diketahui ??

    Relativitas Waktu

    “..Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu.” (Al Qur’an, 22:47)

    “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Al Qur’an, 32:5)

    Fungsi Gunung

    “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…” (Al Qur’an, 21:31)

    Sebagaimana terlihat, dinyatakan dalam ayat tersebut bahwa gunung-gunung berfungsi mencegah goncangan di permukaan bumi.

    Kenyataan ini tidaklah diketahui oleh siapapun di masa ketika Al Qur’an diturunkan. Nyatanya, hal ini baru saja terungkap sebagai hasil penemuan geologi modern.

    Lautan yang Tidak Bercampur Satu Sama Lain

    “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing.” (Al Qur’an, 55:19-20)

    Sifat lautan yang saling bertemu, akan tetapi tidak bercampur satu sama lain ini telah ditemukan oleh para ahli kelautan baru-baru ini. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan “tegangan permukaan”, air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. (Davis, Richard A., Jr. 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, s. 92-93. )

    Pergerakan Gunung

    “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Qur’an, 27:88 )

    Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)

    Kadar Hujan

    “Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (Al Qur’an, 43:11)

    Kadar dalam hujan ini pun sekali lagi telah ditemukan melalui penelitian modern. Diperkirakan dalam satu detik, sekitar 16 juta ton air menguap dari bumi. Angka ini menghasilkan 513 trilyun ton air per tahun. Angka ini ternyata sama dengan jumlah hujan yang jatuh ke bumi dalam satu tahun. Hal ini berarti air senantiasa berputar dalam suatu siklus yang seimbang menurut “ukuran atau kadar” tertentu. Kehidupan di bumi bergantung pada siklus air ini. Bahkan sekalipun manusia menggunakan semua teknologi yang ada di dunia ini, mereka tidak akan mampu membuat siklus seperti ini.

    Setetes Mani

    “Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan?” (Al Qur’an, 75:36-37)

    Selama persetubuhan seksual, 250 juta sperma terpancar dari si laki-laki pada satu waktu. Sperma-sperma melakukan perjalanan 5-menit yang sulit di tubuh si ibu sampai menuju sel telur. Hanya seribu dari 250 juta sperma yang berhasil mencapai sel telur. Sel telur, yang berukuran setengah dari sebutir garam, hanya akan membolehkan masuk satu sperma. Artinya, bahan manusia bukan mani seluruhnya, melainkan hanya sebagian kecil darinya.

    Al-Qur’an memberi tahu kita bahwa manusia tidak terbuat dari mani selengkapnya, tetapi hanya bagian kecil darinya. Bahwa tekanan khusus dalam pernyataan ini mengumumkan suatu fakta yang baru ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern itu merupakan bukti bahwa pernyataan tersebut berasal dari Ilahi.

    Pembungkusan Tulang oleh Otot

    “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (Al Qur’an, 23:14)

    Segumpal Darah Yang Melekat di Rahim

    “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq (segumpal darah). Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.” (Al Qur’an, 96:1-3)

    Arti kata “‘alaq” dalam bahasa Arab adalah “sesuatu yang menempel pada suatu tempat”. Kata ini secara harfiah digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah.

    Tentunya bukanlah suatu kebetulan bahwa sebuah kata yang demikian tepat digunakan untuk zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu. Hal ini sekali lagi membuktikan bahwa Al Qur’an merupakan wahyu dari Allah, Tuhan Semesta Alam.

    Garis Edar

    “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33)

    “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:38

    Menurut perhitungan para ahli astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solar Apex. Ini berarti matahari bergerak sejauh kurang lebih 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya, semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana.

    Fungsi Matahari Dan Bulan

    “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Al-Qur’an 10:5)

    Jumlah Bulan

    “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan..” (Al-Quran 9:36)

    Pemisahan Langit dan Bumi

    “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Al Qur’an, 21:30)

    Mengembangnya Alam Semesta

    “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47)

    Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.

    Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi. Sebuah alam semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak menjauhi satu sama lain, berarti bahwa alam semesta tersebut terus-menerus “mengembang”. Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun berikutnya memperkokoh fakta bahwa alam semesta terus mengembang. Kenyataan ini diterangkan dalam Al Qur’an pada saat tak seorang pun mengetahuinya. Ini dikarenakan Al Qur’an adalah firman Allah, Sang Pencipta, dan Pengatur keseluruhan alam semesta.

    Pembentukan Hujan

    “Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira” (Al Qur’an, 30: 48 )

    Sarang Lebah Dan madu sebagai Obat

    “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia””.

    “kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan” (Al-Quran 16:68-69)

    ***

    Dari Sahabat, kiriman Lesmana, Kunkun

     
  • erva kurniawan 3:25 am on 3 September 2014 Permalink | Balas  

    ibu dan  anakJika Sang Ibu Hobi Menyumpahi Buah Hatinya

    Penulis: Ummu Raihanah

    Sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari seorang ibu yang jengkel atas kenakalan atau kesalahan anak-anaknya melaknat atau menyumpahi mereka. Baik dengan kata-kata yang kotor (tidak pantas) ataupun do’a yang tidak baik. Sehingga sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging. Sang ibu tidak pernah merasa bersalah ataupun berdosa atas perbuatannya tersebut. Sambil bersungut-sungut dan mengumpat ia pun berlalu, meninggalkan buah hatinya dalam keadaan menangis.

    Memang profesi sebagai ibu rumah tangga mempunyai tugas yang seabrek-abrek, ibarat pekerja ibu mempunyai jam kerja yang tidak terbatas tidak seperti layaknya wanita karir kantoran yang mempunyai jadwal kerja antar 6-8 jam. Selepas itu ia bisa beristirahat dengan tenang. Sedangkan bagi ibu yang memiliki anak haruslah menjaga mereka 24 jam, belum melayani suami, memasak, mengurus rumah, menggosok pakaian, dan lain-lainnya duh capeknya!!!

    Beruntunglah para ibu yang suaminya menyediakan khadimah atau pembantu di rumah untuk meringankan tugasnya. Bagaimana bila sang suami tidak mampu? Tentu dialah yang harus menyelesaikan tugas itu sendirian, dan biasanya bila sang ibu kelelahan kondisinya sangatlah labil sedikit saja buah hatinya melakukan hal-hal yang menurutnya tidak sewajarnya, maka terkadang tidak dapat mengontrol emosinya. Jadi buntut-buntutnya keluarlah cercaan, cacian, makian, laknat dan sumpah yang tidak baik kepada anak-anak mereka. Ironisnya sang ayah yang mendengar terkadang hanya diam saja. Lalu bagaimana sebenarnya islam memandang hal ini??

    Memang jauhnya seseorang dari din yang mulia ini akan menyeret mereka dalam dosa dan maksiat bahkan terkadang mereka secara tak sadar telah menzhalimi hamba-hamba-Nya. Karena itu wajiblah bagi semua muslim dan juga muslimah mempelajari agama ini agar mereka terhindar dari apa yang di haramkan Allah dan mengerjakan apa yang di perintah-Nya.

    Karena itu wahai ukhti-ukhti muslimah tetaplah semangat dalam menuntut ilmu syariat agar Allah selalu membimbingmu.

    Islam melarang orangtua melaknat anak-anak mereka, bukan hanya itu kitapun dilarang menyumpahi diri kita sendiri ketika kita marah karena sesungguhnya kita tidak mengetahui kapan saatnya perkataan ataupun do’a (baik maupun buruk) yang kita ucapkan akan di kabulkan.

    Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu anhu, dia menceritakan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam telah bersabda:

    ”Janganlah kalian menyumpahi diri kalian, dan jangan pula menyumpahi anak-anak kalian dan harta kalian, kalian tidak mengetahui saat permintaan (do’a) dikabulkan sehingga Allah akan mengabulkan sumpah itu” (HR.Muslim)

    Hadits diatas menjelaskan bahwa ada waktu-waktu baik yang didalamnya akan dikabulkan doa, karena itu hadits ini melarang kita untuk menyumpahi diri, putera-puteri kita, dan harta kekayaan kita, supaya sumpah itu tidak bertepatan dengan waktu pengabulan do’a sehingga selamat dari bahaya.

    Tetapi sayangnya sebagaimana penulis paparkan diatas banyak dari kaum ibu yang melaknat dan menyumpahi anak-anak mereka. Mereka beralasan bahwa sebenarnya mereka tidak bermaksud demikian. Padahal sebagaimana kita ketahui alasan tersebut tidak dapat diterima karena larangannya telah jelas dan tegas.

    Penulis mendapati pengalaman yang bisa dijadikan ibrah bersama, kisah nyata yang patut untuk dijadikan renungan bersama bagi para ibu-ibu.

    Tak jauh lokasinya dari rumah penulis pada waktu itu ada tetangga ana mendapati seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia 9 tahun ditemukan tewas tersambar petir. Dus, berdatanganlah semua orang untuk melihatnya tak lama kemudian datanglah sang ibu yang menangis terisak-isak kemudian menjerit karena tidak mengira anaknya telah mati.

    Setelah beberapa waktu kemudian penulis mendengar bahwa sebab kematian anaknya tersebut adalah akibat dari sumpah siibunya sendiri yang pada waktu ketika ia marah ia menyumpahi anaknya agar tersambar petir. waliyyadzu billah…akhirnya sumpahnya tersebut dikabulkan Allah dan menyesallah sang ibu dengan penyesalan yang teramat mendalam. Nasi sudah menjadi bubur…..

    Kisah lainnya yang tak jauh berbeda juga masih sama terjadi dekat lokasi penulis…. Seorang anak laki-laki berusia kira-kira 7 tahun ditemukan tewas tenggelam di sungai. Peristiwa ini belumlah lama terjadi kira-kira 4 bulan yang lalu kejadiannya pun demikian anak tersebut terkena sumpah ibunya.

    Ibunya yang marah mendoakan kematian bagi anaknya tersebut. Dalam hujan gerimis anak itupun keluar bermain dengan kawan-kawannya ketika dia berjalan ditepian sungai malang kakinya tergelincir tenggelamlah ia kedalamnya. Kawan-kawannya tak kuasa menolongnya mereka berusaha mencari pertolongan orang dewasa, akhirnya sang anakpun terangkat ke tepi akan tetapi dia telah meninggal karena terlalu banyak menelan air sungai dan meraunglah sang ibu…..dengan ucapan bahwa dia tidak bersungguh-sungguh menyumpahi anaknya….semua orang yang hadir hanya lah terhenyak… ya … kiranya sumpah dan laknat telah menjadi budaya bagi kaum ibu-ibu kita. Sehingga sangatlah disesalkan anak-anak mereka menjadi korban.

    Sungguh sangat tragis dan menyedihkan jauhnya kita dari agama ini membuat kita terjerumus dalam kesalahan yang fatal. Semoga Allah membimbing kita semua dan mengampuni dosa-dosa kita.

    Sebenarnya banyak tips yang bisa di pelajari oleh para ibu rumah tangga agar mereka mampu mengontrol emosi mereka ketika marah.

    1. Ketika ibu marah, ingatlah bahwa Allah selalu mengawasi kita dan ingatlah bahwa anak tidaklah langsung tumbuh menjadi dewasa, kita juga dulunya anak-anak yang terkadang nakal dan menjengkelkan orangtua kita.
    2. Tarik nafas dalam-dalam dan santai (relaks) diam sejenak pandang anak dengan wajah yang lain dari biasanya tunjukkan ketidak sukaan kita akan ulah mereka, bila ibu ingin melotot atau merenggutkan muka maka lakukanlah agar anak takut
    3. Bila kedua cara diatas belum bisa menguasai emosi ibu segeralah ucapkan istighfar bila ibu ingin mengeraskan suara maka lakukanlah sehingga anak mendengar ucapan ibu, dan ingat ucapan istighfar itu akan terekam dalam otak anak-anak kita sehingga ketika mereka marah atau melakukan kesalahan secara otomatis mereka akan meniru kita
    4. Sebagaimana yang penulis jelaskan diatas bahwa kondisi seseorang mudah marah terkadang karena kelelahan, kerjakanlah pekerjaan rumah tangga apa yang ibu sanggup jangan memaksakan diri, tidurlah segera ketika anak-anak tidur sehingga ibu mempunyai waktu untuk beristirahat, dan tentu saja kerjasama antara suami istri sangat penting sekali dalam rumah tangga. Berilah pengertian kepada suami mengapa ibu tidak bisa menyelesaikan tugas rumah tangga ibu dengan penjelasan yang baik dan cara yang hikmah insya Allah suami ibu akan mengerti. Sehingga kebiasaan yang buruk menyumpahi anak ketika marah insya Allah akan berkurang sedikit demi sedikit.
    5. Jangan lupa berdo’alah kepada Allah agar Dia Yang Maha Kuasa merubah kebiasaan buruk ini sesungguhnya hati Ibu dalam genggaman-Nya. Insya Allah, kita tidak akan senang lagi menyumpahi anak-anak kita ketika marah.

    Wallahu’alam bisshawwab.

    Sumber:

    • 30 Larangan Wanita, Amr bin Abdul Mun’im, Pustaka Azzam.
    • Pengalaman pribadi
     
  • erva kurniawan 2:14 am on 2 September 2014 Permalink | Balas  

    syahadat1Amal-amal Penyelamat Umat Muhammad

    Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

    Suatu ketika terjadi tabrakan yang sangat keras antara dua kendaraan, yang menyebabkan pengendaranya luka berat. Masyarakat pun berdatangan untuk memberikan pertolongan.

    Pengendara pertama yang ditolong ternyata seorang pemuda. Wajahnya bersih bersinar dan tampak tersenyum kendati tubuhnya penuh luka. Ia tengah menghadapi sakaratul maut. Kedua bibirnya tampak bergerak-gerak seperti mengucapkan sesuatu.

    Seseorang yang menolongnya mencoba mendekatkan telinganya ke bibir pemuda itu, ia tercenung bercampur haru dan takjub. Apa yang didengarnya? Ternyata pemuda itu tengah melafalkan ayat suci Alquran hingga menghembuskan napas terakhirnya.

    Adapun pengendara kedua, juga seorang pemuda. Tubuhnya penuh luka, dan bibirnya pun bergerak-gerak seperti mengucapkan sesuatu. Si penolong itu merasa penasaran dan mendekatkan telinganya ke bibir sang pemuda. Apa yang didengarnya? Ternyata dari bibir pemuda itu terlantun sebuah lagu //rock//, dan ini terus terdengar dari mulutnya hingga tarikan napasnya yang penghabisan.

    Belakangan si penolong mengetahui lebih jauh tentang siapa pemuda yang pertama tadi. Ternyata pemuda itu tengah melakukan tugas rutin yang dilakukannya setiap bulan, yaitu mengunjungi fakir miskin di suatu kampung untuk membagikan makanan dan pakaian bekas yang ia kumpulkan selama satu bulan.

    Saat kejadian itu pun tampak di mobilnya beberapa bungkus makanan dan pakaian. Sementara di dashboard mobilnya ditemukan beberapa kaset bacaan Alquran dan ceramah.

    Bagaimana dengan pemuda yang satunya lagi? Tentu tidak perlu diungkapkan lebih lanjut di sini. Hanya saja, dengan kejadian tersebut, si penolong dan tentu kita semua seakan diberi gambaran oleh Allah SWT tentang amal seseorang ketika hidup dan kira-kira apa yang dialami keduanya setelah nyawanya tercerabut.

    Oleh karena itu, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menukilkan sebuah Hadis Rasulullah yang cukup panjang tentang amalan-amalan yang bisa menyelamatkan seseorang dari kesulitan di akhirat kelak. Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Madini berbunyi, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku semalam bermimpi melihat hal yang sangat menakjubkan. Aku melihat seorang dari umatku yang didatangi oleh malaikat untuk mencabut nyawanya, lalu datang amalnya kepadanya dalam berbakti kepada dua orang tuanya, sehingga amal itu membuat malaikat itu kembali lagi.

    Aku melihat seseorang yang telah dipersiapkan kepadanya siksa kubur, lalu datang wudhunya, sehingga wudhunya itu menyelamatkannya dari siksa kubur.

    Aku melihat seseorang yang telah dikepung banyak setan, lalu datang kepadanya zikirnya kepada Allah, sehingga zikirnya itu mengusir setan-setan tersebut darinya.

    Aku melihat seseorang yang kehausan, sedang tiap kali ia mendekati telaga, ia diusir darinya. Lalu, datanglah shaum Ramadhannya, sehingga shaumnya itu memberikan minum kepadanya.

    Aku melihat seseorang di mana para nabi masing-masing duduk dalam halaqah, ia diusir dan dilarang untuk bergabung ke dalamnya. Lalu, datanglah mandinya dari hadas besar, sehingga mandinya itu membimbing ia dengan memegang tangannya seraya mendudukannya di sampingku.

    Aku melihat seseorang yang di depannya gelap sekali, begitu pula di belakang, atas, dan bawahnya, sehingga ia kebingungan mencari arah jalannya. Datanglah kepadanya haji dan umrahnya, lalu keduanya mengeluarkan ia dari kegelapan tersebut dan memasukkannya ke dalam tempat yang terang sekali.

    Aku melihat seseorang yang melindungi mukanya dengan tangannya dari panasnya kobaran api, lalu datang sedekahnya kepadanya dengan menutupi kobaran api dari mukanya seraya membimbingnya ke hadapan Allah SWT.

    Aku melihat seseorang yang mengajak bicara orang-orang mukmin, tetapi mereka mendiamkannya. Datanglah silaturahminya seraya berkata, ‘Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya ia adalah orang yang melakukan silaturahmi, maka ajaklah dia bicara’. Maka, orang tersebut diajak bicara oleh semua orang mukmin dan mereka mengulurkan tangan untuk berjabatan dengannya, sementara ia pun mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan mereka.

    Aku melihat seseorang yang telah dicengkeram Malaikat Jabaniyyah, lalu datanglah kepadanya amal ma’ruf nahyi munkar-nya, hingga amalnya itu menyelamatkan ia dari siksa Jabaniyyah dan memasukannya ke dalam lingkungan malaikat rahmat.

    Aku melihat seseorang yang jalannya merangkak dengan kedua lututnya dan di depannya terdapat tabir yang memisahkan ia dengan Allah, lalu datanglah akhlak baiknya seraya memegang tangan dan membimbingnya ke hadirat Allah SWT.

    Aku melihat seseorang yang catatan amalnya datang dari sebelah kirinya, lalu datanglah takwanya kepada Allah dan mengambil buku tersebut dengan meletakkannya di tangan kanannya.

    Aku melihat orang yang timbangan amalnya sangat ringan, lalu datang anak-anaknya yang meninggal waktu kecil, sehingga mereka memberatkan timbangan amal baiknya tersebut.

    Aku melihat seseorang yang berdiri di tebing Jahannam, lalu datanglah harapannya kepada Allah, hingga harapannya itu menyelamatkannya dari Jahannam dan ia berjalan menuju syurga dengan selamat.

    Aku melihat seseorang yang terpelanting di atas neraka, lalu datanglah air matanya karena takut pada Allah, hingga air mata itu menyelamatkannya dari jatuh ke neraka.

    Aku melihat seseorang yang tengah berada di atas jembatan dengan tubuh gemetar, lalu datang husnudzannya pada Allah, hingga sikapnya itu menjadikan dia tenang dan ia pun berjalan dengan lancar.

    Aku melihat seseorang yang jatuh bangun di atas jembatan. Terkadang ia merangkak, terkadang pula ia menggantung. Lalu datanglah shalatnya menegakkan kedua kakinya dan menyelamatkannya hingga ia mampu menyeberangi jembatan sampai ke pintu syurga.

    Aku pun melihat pula seseorang yang telah sampai ke pintu syurga, semua pintu ditutup baginya. Lalu datanglah syahadatnya, sehingga dibukalah pintu syurga dan ia pun bisa masuk ke dalamnya”.

    Itulah gambaran tentang amalan-amalan yang dengan izin Allah SWT bisa menjadi penyelamat umat Muhammad SAW yang benar-benar melaksanakan perintah Allah dan sunnah Rasulullah dengan hati ikhlas.

    ps: Tolong disebarkan kepada saudara kita yang belum membacanya. Semoga kebaikan anda dibalas ALLAH SWT.

     
  • erva kurniawan 9:49 am on 21 August 2014 Permalink | Balas  

    puasa 2Fidyah Puasa

    (DSNI Nurul Islam)

    Fidyah berarti penebus [kesalahan]. Yang dimaksud ialah suatu kewajiban memberi makan seorang miskin untuk orang-orang yang tidak dapat menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan.

    Firman Alloh :

    “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya [jika mereka tidak berpuasa] membayar fidyah [yaitu] memberi makan seorang miskin. [QS. Al-Baqarah, 2 : 184].

    SEBAB-SEBAB YANG MENGHARUSKAN MEMBAYAR FIDYAH

    1. Tidak mampu melakukan ibadah puasa, seperti para orang tua yang sudah kesulitan melaksanakannya, maka dibolehkan untuk berbuka dan wajib membayar fidyah sebanyak hari yang ditinggalkannya. Dan jika mereka pun tidak mampu membayar fidyah maka gugurlah seluruh kewajiban darinya karena Alloh tidak membebani suatu jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya.

    Ibnu Abbas berkata, bahwa hukum fidyah tersebut berlaku bagi laki-laki dan perempuan yang sudah sangat tua, yang keduanya tidak kuat untuk puasa, sehingga sebagai keduanya wajib memberi makan : tiap-tiap satu hari satu orang miskin [Tafsir Ibnu Katsir].

    Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas berkata :

    “Telah diberi kelonggaran [rukhsah] bagi orang yang sangat tua apabila ia berbuka, memberi makan [fidyah], dan tidak ada kewajiban meng-qhada atasnya.” [HR. Daruquthni dan Al-Hakim].

    1. Wanita hamil dan menyusui karena khawatir akan keselamatan anaknya, wajib baginya untuk membayar fidyah dan meng-qhada shaum yang ditinggalkannya. Demikian ini menurut pendapat jumhur ulama, sedang menurut Abu Hanifah cukup dengan meng-qhada puasa saja.

    Sesungguhnya Rasululloh SAW bersabda :

    “Sesungguhnya Alloh Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia telah menggugurkan kewajiban puasa musafir, dan juga menggugurkan separuh dari shalatnya. [Alloh menggugurkan juga kewajibannya] puasa dari perempuan yang menyusui.” [HR. Tirmidzi].

    1. Dan wajib atas orang yang mengakhirkan qadha puasa hingga masuk Ramadhan berikutnya karena kelalaiannya. Sedangkan bagi orang yang mengakhirkan qadha puasa karena sakit, atau bepergian, atau haidh, nifas, hamil dan menyusui, maka tidak ada kewajiban atas mereka untuk membayar fidyah.
    2. Juga termasuk kepada orang-orang yang harus membayar fidyah bagi yang tidak sanggup menjalankan ibadah puasanya itu adalh orang-orang yang bekerja keras untuk penghidupannya [misalnya menarik becak, kuli angkut pelabuhan dan pekerjaan-pekerjaan berat yang menuntut kekuatan fisik lainnya], orang yang jika berpuasa akan sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh. Orang yang membayar fidyah ini tentu saja tidak wajib lagi melakukan qadha puasa.

    Fidyah menurut Abu Hanifah adalah 1/2 sha’ dari tepung gandum atau ± 3,125 gr gandum atau kurma [makanan pokok] atau yang seharga dengannya, sedang menurut jumhur adalah 1 ‘mud sekitar 5/6 liter [= ukuran zakat fitrah] dari makanan menurut kebiasaan yang berlaku pada suatu wilayah, dikalikan dengan berapa hari seseorang meninggalkan puasa.

    ***

    Reference:

    • Al-Qur’an Al-Karim.
    • Kitab Hadits Shahih Bukhari.
    • Fisqhus Sunnah, Sayyid Sabiq.
    • Tamamul Minnah, Syekh Muhammad Nashirudin al-Albani.
    • Syarah Ihya ulumuddin, Al-Ghazali, Said Hawwa.
    • Fiqh Zakat Dr. Yusuf Al Qaradhawi.
    • Makalah-makalah & artikel-artikel.
     
  • erva kurniawan 7:37 am on 19 August 2014 Permalink | Balas  

    Keluarga SakinahBila Rumah Tangga Cinta Dunia

    Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

    “Dan tiadalah kehidupan di dunia ini, melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesunguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui” Al-Ankabut ayat 64

    Seakan telah menjadi bagian yang sangat standar dari skenario kehidupan ini, bahwa hampir sepanjang rentang usia dunia hingga saat ini, betapa banyak orang yang selama hidupnya begitu disibukkan oleh kerja keras, peras keringat banting tulang dalm mencari penghidupan, persis seperti ketakutan tidak kebagian makan. Apa yang telah diperolehnya dikumpul-kumpulkan dan ditimbun dengan seksama demi agar anak-anaknya terjamin masa depannya.

    Ada juga orang yang dalam hidupnya teramat merindukan penghargaan dan penghormatan, sehingga hari-harinya begitu disibukan dengan memperindah rumah, mematut-matut diri, membeli aneka asesori, dan sebagainya, yang semua itu notabene dilakukan semata-mata ingin dihargai orang.

    Inilah fenomena kehidupan yang menunjukan betapa manusia dalam kehidupannya akan selalu berpeluang dekat dengan hawa nafsu yan merugikan. Oleh sebab itu, bagi siapa pun yang berniat mengayuh bahtera rumah tangga, hendaknya jangan membayangkan rumah tangga akan beroleh kebahagiaan dan ketenangan bila hanya dipenuhi dengan hal-hal duniawi belaka. Karena, segala asesoris duniawi diberikan oleh Alloh kepada orang yang terlaknat sekalipun.

    Sekiranya tujuan sebuah rumah tangga hanya duniawi belaka, maka batapa para penghuninya akan merasakan letih lahir batin karena energinya akan lebih banyak terkuras oleh segala bentuk pemikiran tentang taktik dan siasat, serta nafsu menggebu untuk mengejar-ngejarnya terus menerus siang malam. Padahal, apa yang didapatkannya tak lebih dari apa yang telah ditetapkan Alloh untuknya. Walhasil, hari-harinya akan terjauhkan dari ketenteraman batin dan keindahan hidup yang hakiki karena tak ubahnya seorang budak. Ya, budak dunia !

    Alloh ‘Azza wa jalla memang telah berfirman untuk siapa pun yang menyikapi dunia dengan cara apa pun : cara hak maupun cara bathil. “Hai dunia, titah-Nya, “ladeni orang yang sungguh-sungguh mengabdikan dirinya kepada-Ku. Akan tetapi sebaliknya, perbudak orang yang hidupnya hanya menghamba kepada-Mu” !

    Rumah tangga yang hanya ingin dipuji karena asesoris duniawi yang dimilikinya, yang sibuk hanya menilai kebahagiaan dan kemuliaan datang dari perkara duniawi, adalah rumah tangga yang pasti akan diperbudak olehnya.

    Rumah tangga yang tujuannya hanya Alloh, ketika mendapatkan karunia duniawi, akan bersimpuh penuh rasa syukur kehadiratnya. Sama sekali tidak akan pernah kecewa dengan seberapa pun yang Alloh berikan kepada-Nya. Demikian pun manakala Alloh mengamininya kembali dari tangannya, sekali-kali tidak akan pernah kecewa karena yakin bahwa semua ini hanyalah titipannya belaka.

    Pendek kata adanya duniawi di sisinya tidak membuatnya sombong tiadanya pun tiada pernah membuatnya menderita dan sengsara, apalagi jadi merasa rendah diri karenanya. Lebih-lebih lagi dalam hal ikhtiar dalam mendapatkan karunia duniawi tersebut. Baginya yang penting bukan perkara dapat atau tidak dapat, melainkan bagaimana agar dalam rangka menyongsong hati tetap terpelihara, sehingga Alloh tetap ridha kepadanya. Jumlah yang didapat tidaklah menjadi masalah, namun kejujuran dalam menyongsongnya inilah yang senantiasa diperhatikan sungguh-sungguh. Karena, nilainya bukanlah dari karunia duniawi yang diperolehnya, melainkan dari sikap terhadapnya.

    Oleh karena itu, rumah tangga yang tujuannya Alloh Azza wa Jalla sama sekali tidak akan silau dan terpedaya oleh ada atau tidak adanya segala perkara duniawi ini. Karena, yang penting baginya,ketika aneka asesoris duniawi itu tergenggam di tangan, tetap membuat Alloh suka. Sebaliknya, ketika semua itu tidak tersandang, Alloh tetap ridha. Demikian pun gerak ikhtiarnya akan membuahkan cinta darinya.

    Merekalah para penghuni rumah tanggga yang memahami hakikat kehidupan dunia ini. Dunia, bagaimana pun hanyalah senda gurau dan permainan belaka, sehingga yang mereka cari sesungguhnya bukan lagi dunianya itu sendiri, melainkan Dzat yang Maha memiliki dunia. Bila orang-orang pencinta dunia bekerja sekeras-kerasanya untuk mencari uang, maka mereka bekerja demi mencari dzat yang Maha membagikan uang kalau orang lain sibuk mengejar prestasi demi ingin dihargai dan dipuji sesama manusia, maka mereka pun akan sibuk mengejar prestasi demi mendapatkan penghargaan dan pujian dari Dia yang Maha menggerakan siapapun yang menghargai dan memuji

    Perbedaan itu, jadinya begitu jelas dan tegas bagaikan siang dan malam. Bagi rumah tangga yang tujuannya yang hanya asesoris duniawi pastilah aneka kesibukannya itu semata-mata sebatas ingin mendapatkan ingin mendapatkan yang satu itu saja sedangkan bagi rumah tangga yang hanya Alloh yang menjadi tujuan dan tumpuan harapannnya, maka otomatis yang dicarinya pun langsung tembus kepada Dzat Maha pemilik dan penguasa segala-galanya.

    Pastikan rumah tangga kita tidak menjadi pencinta dunia. Karena, betapa banyak rumah tangga yang bergelimang harta, tetapi tidak pernah berbahagia. Betapa tak sedikit rumah tangga yang tinggi pangkat, gelar dan jabatannya, tetapi tidak pernah menemukan kesejukan hati. Memang, kebahagian yang hakiki itu hanyalah bagi orang-orang yang disukai dan dicintai oleh-Nya.

    “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, periasam dan bermegah-megahan diantara kamu, serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya menguning, kemudian menjadi hancur dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Alloh serta keridoannya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Q.S.Al-Hadid ayat 20]. Wallahu ‘alam

    ***

    (fzyqn)

    [manajemenqolbu.com]

     
  • erva kurniawan 7:29 am on 18 August 2014 Permalink | Balas  

    quranGelap Gulita Yang Tindih-Bertindih

    Ketika anda berada di ruangan yang gelap gulita, apa yang bisa anda lakukan? Tentu saja anda akan meraba-raba untuk menemukan jalan sambil mengerahkan daya insting anda. Anda tak tahu jalan untuk keluar, nafas anda sesak dan kegelisahan mulai menyelimuti anda. Tak ada sebersit cahayapun yang menyinari tempat anda berada.

    Sekarang bayangkan bila hidup anda tak disinari oleh cahaya ilahi. Tentu saja anda pun akan berputar-putar tanpa arah di dalam kegelapan. Atau dalam bahasa Al-Qur’an: “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia, mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS 24: 40)

    Di saat keadaan gelap gulita, jiwa gelisah dan anda tak tahu apa yang harus anda kerjakan, beban kerjapun semakin menumpuk, himpitan ekonomi menghadang langkah anda, tubuh anda bergetar dan semuanya menjadi serba tak berarturan dan serba salah, jika hal ini menimpa anda maka carilah cahaya ilahi agar anda dapat keluar dari kegelapan itu.

    Bagaimana caranya mencari cahaya ilahi yang akan menerangi hati anda?

    “dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah!” (QS 74:4-5)

    Mari kita bersihkan pakaian kita.tengoklah diri kita di cermin, berapa banyak pakaian kesombongan, pakaian riya’, pakaian dengki, pakaian takabur yang kita kenakan. Pakaian itu kita percantik dengan segala macam asesoris seperti lalai mengingat Allah, enggan bersedekah, merasa berat untuk pergi haji, dan lain sebagainya. Maka bersihkanlah segala macam pakaian lengkap dengan asesorisnya tersebut. Setelah itu usahakanlah untuk tak mengenakan pakaian itu selamanya.

    Sekarang tengoklah hati anda, rasakan cahaya ilahi mulai masuk ke dalam relung hati. “Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki…”(QS 24: 35)

    Mari kita kumpulkan cahaya ilahi itu mulai sekarang, dari hari ke hari hingga di hari kiamat nanti kita berdo’a, sebagaimana terekam dalam QS 66:28 : “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Berbahagialah mereka yang mendapat cahaya ilahi….

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:18 am on 13 August 2014 Permalink | Balas  

    pernikahan erva kurniawan dan titiki rahayuningsBermesra, Berpahala dan Menghapus Dosa

    Kemesraan hubungan suami istri tentunya merupakan dambaan setiap keluarga. Kemesraan bukan hanya ada pada saat suami istri melakukan hubungan seksual (jima’) saja, akan tetapi ada banyak hal yang dapat menjadikan hubungan suami istri mesra dan harmoni.”

    Hal ini terkadang tidak disadari, sehingga jarang dilakukan secara sadar untuk menjaga kemesraan tersebut. Padahal bila dilakukan dengan niat yang benar dapat menambah kemesraan, mendapat pahala dan sekaligus dapat menghapus dosa-dosa.

    Kita sebagai muslim patut bersyukur, karena Rasululloh SAW sebagai uswah terbaik kita telah memberikan tuntunan yang lengkap termasuk dalam hal menjaga kemesraan hubungan suami istri. Dengan demikian kita tidak perlu mencari-cari sumber lain yang kadang justeru menjerumuskan ke dalam hal-hal yang melanggar syari’at. Beberapa hal yang dituntunkan Rasululloh SAW dalam menjaga kemesraan hubungan suami istri, antara lain :

    a.   Bergandengan Tangan

    Bergandengan tangan (saling memegang tangan) nampaknya merupakan hal sepele yang kadang dilupakan oleh pasangan suami istri. Padahal bila ini dilakukan dengan lemah lembut dan perasaan kasih sayang yang mendalam, merupakan satu hal yang dapat menjadikan suasana semakin mesra bagi pasangan tersebut. Ini sangat bermanfaat jika sebelumnya ada hal-hal yang kurang mengenakkan, sehingga untuk membicarakannya perlu suasana yang tenang dan penuh kasih sayang.

    Yang lebih penting lagi, bila dilakukan dengan niat untuk mencari keridhoan Alloh, ketika seorang suami memegang tangan istrinya dengan penuh kasih sayang, dosa-dosa mereka akan keluar melalui celah-celah jari tangan mereka, seperti yang diriwayatkan dalam hadits dari Abu Sa’id.

    Ada perkataan bijak yang perlu dipertimbangkan setiap pasutri : “Sungguh bila seorang suami memandang istrinya (dengan rasa kasih sayang) dan istrinya juga memandang suaminya (dengan rasa kasih sayang), maka Alloh akan memandang keduanya dengan pandangan kasih sayang. Dan bila suami memegang tapak tangan istrinya, maka dosa-dosa mereka keluar dari celah-celah jari mereka.”

    b.   Membelai

    Hal yang kedua yang dicontohkan Rasululloh SAW, yang menambah kemesraan hubungan suami istri adalah membelai. Dengan belaian yang lembut penuh kasih sayang dari suaminya, seorang istri akan merasakan ketenangan batin, sehingga hal ini dapat menjadikan dia semakin sayang kepada suaminya. Hal ini dilakukan Rasululloh SAW kepada para istrinya, sekalipun beliau belum akan mencampurinya. Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat :

    “Rasululloh SAW biasa setiap hari tidak melupakan untuk mengunjungi kami (para istrinya) seorang demi seorang. Beliau menghampirinya dan membelainya, sekalipun tidak mencampurinya, sehingga sampai ke tempat istri yang tiba gilirannya, lalu bermalam disitu.” (HR. Abu Dawud).

    Hal ini kadang tidak dilakukan oleh pasangan suami istri, karena mungkin dinilai memperlakukan istri seperti kanak-kanak, atau memang belum mengetahui bahwa hal ini sebenarnya diperlukan istri untuk menunjukkan kasih sayangnya.

    c.   Mencium

    Ada cara lain untuk menciptakan suasana kemesraan suami istri yang juga dicontohkan Rasululloh SAW, diantaranya adalah beliau mencium istrinya sekalipun ia sedang berpuasa. Berciuman merupakan cara sederhana dan mudah dilakukan untuk tetap menjaga kemesraan suami istri.

    Berciuman tidak hanya dilakukan ketika akan melakukan hubungan seksual. Hal ini baik juga dilakukan pada saat terlarang untuk berhubungan seksual. Misalnya ketika sedang berpuasa dan saat istri sedang haid atau nifas. Pada saat-saat itu kemesraan tetap harus dijaga. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya :

    Dari Umar bin Abu Salamah, sungguh ia pernah bertanya kepada Rasululloh SAW : “Apakah seorang yang berpuasa boleh mencium?” Beliau menjawab : “Tanyakan kepada orang ini (maksudnya Ummu Salamah).” Lalu (Ummu Salamah) memberitahukan bahwa Rasululloh sering berbuat begitu… “ (HR. Muslim).

    Dalam beberapa riwayat lain juga dijelaskan bahwa Rasululloh SAW pernah mencium istrinya setelah beliau berwudhu sebelum menjalankan sholat.

    d.   Tidur Seranjang

    Jika suami istri tidur seranjang, tentunya lebih banyak hal yang dilakukan dalam bermesraan. Dengan tidur satu ranjang memungkinkan mereka saling berdekapan dan berpelukan. Hal ini menjadikan keduanya merasa tentram dan tenang. Hal ini juga dapat menjadi wahana hiburan atau penyegaran setelah melakukan tugas rutin sehari-hari.

    Mengingat pentingnya tidur seranjang ini, maka Rasululloh SAW mencontohkan bahwa, beliau tetap tidur seranjang dengan istrinya sekalipun istrinya sedang haidh, seperti diceritakan pada sebuah hadits :

    Dari Aisyah ra, ujarnya : “Rasululloh SAW dahulu biasa menyuruh kami berkain, lalu beliau sentuhkan dirinya padaku, padahal saya sedang haidh.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Sebaliknya seorang istri yang tidak bersedia tidur seranjang akan mendapat laknat malaikat, sebagaiman sabda Rasululloh SAW pada hadits berikut :

    Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : “Rasululloh SAW pernah bersabda : “Jika seorang istri semalaman tidur memisahkan diri dengan suaminya, maka malaikat melaknatnya hingga shubuh.” (HR. Bukhari).

    e.   Mandi Bersama

    Mandi bersama juga merupakan hal penting untuk menjaga kemesraan suami istri. Mandi bersama dapat menjadikan hiburan yang menyenangkan sekaligus menyegarkan. Rasululloh SAW sebagai tauladan kita juga mencontohkan mandi bersama istrinya, sebagaimana diriwayatkan pada hadits berikut :

    Dari Aisyah ra, ia berkata : “Aku biasa mandi bersama Rasululloh SAW dalam satu tempat mandi. Antara tanganku dan tangan beliau saling bergantian mengambil air, tetapi beliau mendahului aku, sehingga aku berkata : “Sisakan untukku, sisakan untukku”. Ketika itu kami sedang junub.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Di samping sebagai sarana menambah kemesraan hubungan suami istri, seorang istri yang memandikan suaminya dengan niat mencari ridho Alloh akan mendapatkan rahmat. Hal ini dijelaskan pada hadits berikut :

    Dari Aisyah ra, ia berkata : “Rasululloh SAW pernah bersabda : “Semoga Alloh merahmati suami yang dimandikan istrinya dan ditutup (kekurangan) akhlaqnya.” (HR. Baihaqi).

    Itulah beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menambah kemesraan hubungan suami istri sesuai dengan tuntunan Rasululloh SAW, dengan harapan kita mendapat pahala dan sekaligus dosa-dosa kita terampuni.

    Sumber : Majalah NIKAH, oleh Abu Fathimah.

     
  • erva kurniawan 4:54 am on 12 August 2014 Permalink | Balas  

    pengemisHukum Orang Yang Menjadikan Mengemis Sebagai Profesi

    Syaikh Abul Hasan Musthafa bin Ismail As-Sulaimani Al-Mishri

    Syaikh Abul Hasan Musthafa bin Ismail As-Sulaimani Al-Mishri ditanya : Kami menjumpai sebagian orang yang menjadikan meminta-minta dan mengemis sebagai profesi, sehingga ia dapat memiliki rumah, kendaraan dan dapat menanam saham di perusahaan-perusahaan. Kami sering menjumpai mereka di masjid-masjid atau di pinggir-pinggir jalan menengadahkan tangannya kepada orang-orang yang lalu lalang. Bagaimana sikap kami terhadap mereka .?

    Jawaban Beliau:

    Tentu saja itu adalah perbuatan tercela. Cinta dunia telah menyeret orang-orang seperti itu untuk menjual agama dan kehormatannya. Sedangkan orang-orang yang yakin (akan agamanya) dan memiliki kejujuran akan terhindar dari perbuatan seperti itu. Allah telah menyebutkan sifat mereka, yaitu memelihara diri dari meminta-minta di dalam Al-Qur’an.

    “Artinya : (Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat oleh jihad di jalan Allah mereka tidak dapat berusaha di muka bumi. Orang yang tidak tahu menyangka mereka orang-orang kaya karena menahan diri dari meminta-minta” [Al-Baqarah : 273]

    Oleh sebab itu, wajib memberikan nasehat kepada peminta-minta seperti itu tanpa mencela dan mempermalukan mereka, kecuali jika dampak buruk perbuatan mereka tersebut tidak dapat dibendung, saat itu perlu ditegur dengan keras, dan hendaklah memberikan nasehat dan peringatan kepada mereka. Dengan menyampaikan beberapa hadits Nabi, di antaranya :

    1.   Hadits Ibnu Umar dari Rasulullah, beliau bersabda.

    “Artinya : Senantiasa seseorang meminta-minta hingga ia datang pada hari kiamat tanpa membawa sekerat dagingpun di wajahnya” [Muttafaqun ‘Alaihi]

    2.   Hadits Abu Said dari Rasulullah, beliau bersabda.

    “Artinya : Barangsiapa yang menjaga kehormatan dirinya, niscaya Allah akan menjaga kehormatannya, barangsiapa yang merasa cukup, niscaya Allah akan men-cukupinya, barangsiapa berlatih kesabaran, niscaya Allah akan mencurahkan kesabaran baginya, dan tiada seorangpun mendapat karunia yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran” [Muttafaqun ‘Alaihi]

    3.   Hadits Hakim bin Hizam di dalam Shahihain ia berkata.

    Aku pernah meminta sesuatu kepada Rasulullah, lalu beliau memberikannya, kemudian aku kembali meminta kepada beliau, beliau masih memberikannya, demikianlah sampai tiga kali. Kemudian beliau berkata :

    “Artinya : Wahai Hakim, harta ini memang indah dan manis, barangsiapa yang mengambilnya dengan kelapangan hati -yaitu dengan kezuhudan dari penerima dan kerelaan hati yang memberi- niscaya akan dilimpahkan berkah baginya. Sebaliknya, barangsiapa yang menerima dengan ketamakan, pasti tidak akan dilimpahkan berkah baginya. Bagaikan orang makan yang tidak kunjung kenyang, dan tangan yang diatas lebih baik dari pada tangan yang dibawah”.

    Hakim berkata : Ya Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran. Saya tidak akan menerima pemberian apapun dari seseorang sepeninggalmu selamanya -yaitu aku tidak akan mengurangi hartanya dan tidak akan meminta-minta kepadanya-. [Lihat “Fathul Bari” III : 336]

    Kemudian pada masa Khalifah Abu Bakar, beliau memanggilnya untuk memberi hadiah kepadanya dari baitul-maal, namun Hakim menolaknya. Juga pada masa Khalifah Umar, beliau juga memanggil Hakim untuk memberinya hadiah, namun ia pun menolaknya. Sehingga Umar berkata : Wahai Kaum Muslimin, saya membuat persaksian kepada kamu bahwa saya telah memberi kepada Hakim bagiannya dari harta Fa’i tetapi ia enggan menerimanya. Demikianlah, Hakim tetap tidak mau menerima dari seorangpun sepeninggal Rasulullah hingga ia meninggal dunia.

    Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan satu riwayat Ibnu Rahuyah bahwa ketika Hakim wafat, tidak ada seorangpun yang lebih kaya dari beliau. Namun sanad riwayat ini perlu diteliti kembali.

    4.   Hadits Az-Zubeir bin Awwam dari Rasulullah beliau bersabda.

    “Artinya : Sekiranya salah seorang dari kamu membawa tali lalu pergi ke bukit untuk mencari kayu, kemudian ia pikul ke pasar untuk menjualnya demi mejaga kehormatannya, niscaya yang demikian itu lebih baik dari pada meminta-minta kepada orang lain, baik diberi maupun di tolak” [Hadits Riwayat Musim]

    5.   Hadits Abu Hurairah dari Rasulullah beliau bersabda.

    “Artinya : Barangsiapa yang meminta-minta untuk memperbanyak hartanya, tiada lain ia hanyalah memperbanyak bara api kemudian terserah kepadanya akan memperbanyak bara api tersebut atau menguranginya” [Hadits Riwayat Muslim]

    6.   Hadits Habsyi bin Junadah dari Rasulullah beliau bersabda.

    “Artinya : Barangsiapa yang meminta-minta bukan karena kefakirannya, maka seakan-akan ia telah memakan bara api” [Hadits Riwayat Ahmad]

    Dan banyak sekali hadits-hadits lain tentang kejelekan meminta-minta dan tentang keutamaan bersabar dan menjaga kehormatan diri. Telah dirangkum sebagian besar hadits-hadits tersebut di dalam buku berjudul “Dzammul-Mas’alah” karangan Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i. Semoga Allah menjaga beliau dari kejelekan-kejelakan. Di dalam buku itu Syaikh Muqbil menjelaskan adanya indikasi penularan penyakit berbahaya ini -yaitu berlomba-lomba memperbanyak harta- dari para pengemis tersebut kepada sebagian orang yang mengaku sebagai juru dakwah. Tentu saja sikap semacam ini justru membuat hina ilmu dan dirinya di hadapan khalayak umum.

    Benarlah yang dikatakan oleh seorang penyair :

    Seandainya Ahli Ilmu menjaga kehormatan ilmunya, tentulah ilmu itu akan menjaga kehormatan dirinya, dan sekiranya ia agungkan ilmu itu di dalam dirinya tentulah ia akan dihormati. akan tetapi jika ia menyia-nyiakan ilmu tersebut, niscaya ilmu itu akan membuatnya hina, serta mengotorinya dengan ketamakan hawa nafsunya hingga menjadi hitam kelam

    Penyair lain berkata :

    Aku menjaga kehormatan diriku dengan harta ku, dan aku tidak akan mengotorinya di dalam kubangan harta, tidak ada keberkahan bagi kehormatan yang tercemar dengan harta dunia.

    Penyair lain berkata :

    Kita menata kemilau dunia dengan merobek-robek kehormatan agama kita. Tiada satupun yang berhasil kita raih, baik dunia apalagi agama (akhirat) kita. Betapa beruntungnya seorang hamba yang mengutamakan kehendak Rabbnya, serta mempergunakan dunianya untuk menggapai masa depan (akhirat)nya

    Penyair lain mengatakan :

    Sesungguhnya ada beberapa hamba Allah yang bijaksana, mereka menjauhi dunia karena takut fitnah (godaan), mereka renungkan lalu mereka menyadari bahwa dunia bukan tempat tinggal hidup abadi, mereka anggap dunia ini bagaikan samudra, dan mereka mempergunakan amal shalih sebagai bahteranya

    Bukankah Allah hanya meminta kepada kita keistiqomahan di atas agama-Nya .? Dan agar mengajak ummat untuk melakukan kebaikan-kebaikan, serta menjelaskan kepada mereka jalan terbaik untuk meraihnya, yaitu mengajak mereka untuk membantu para pelaksana proses belajar mengajar agar manfaat dari proses belajar mengajar ini dapat dirasakan oleh segenap kaum muslimin diamanpun mereka berada. Apalagi pada zaman sekarang ini sangat sedikit orang-orang yang menyadari urgensi ilmu di dalam penyebaran dakwah. Jangan sampai masalah dana menjadi penyebab kebencian dan antipati masyarakat terhadap dakwah.

    Semoga Allah menjaga kita semua dari segala keburukan, dan memudahkan kita untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. Sesungguhnya Ia Maha memberi lagi Maha Mulia.

    Catatan :

    Kita juga tidak boleh menyamaratakan semua peminta-minta. Kita tidak boleh menuduh mereka macam-macam, karena hal itu termasuk buruk sangka tanpa alasan. Seharusnya kita bersyukur kepada Allah yang telah menjaga kita dari meminta-minta. Allah berfirman :

    “Artinya : Dan terhadap orang yang meminta-minta makan janganlah kamu menghardiknya” [Ad-Dhuha : 10]

    Ayat ini umum bagi semua peminta-minta, kecuali jika kita mengetahui bahwa dia adalah orang jahat.

    Adapun tentang hadits :

    “Artinya : Setiap peminta-minta punya hak ( untuk diberi ) walaupun ia datang dengan mengendarai kuda” adalah hadits dhaif (lemah) dinyatakan dhaif oleh Syaikh Al-Albani [Lihat “Silsilah Hadits Dhaif” No. 1378]

    **

    Disalin dari buku Silsilah Al-Fatawa Asy-Syar’iyah edisi Indonesia Bunga Rampai Fatwa-Fatwa Syar’iyah oleh Syaikh Abul Hasan Musthafa bin Ismail As-Sulaimani Al-Mishri, terbitan Pustaka At-Tibyan hal. 70 – 74. Penerjemah Abu Ihsan

     
  • erva kurniawan 2:10 am on 10 August 2014 Permalink | Balas  

    berdoaDoa yang Indah

    Ada suatu doa lama tapi indah yang biasa diucapkan oleh para nelayan di pantai Perancis : “O, Tuhan, laut Mu begitu luas dan perahuku begitu kecil.”

    Hanya sampai di situ saja bunyinya. Ada yang mengatakan itu sama sekali bukan doa, hanya sekedar menggumam atau ungkapan kekaguman… Tetapi dari ucapan itu kita bisa memperoleh suatu landasan dan pangkal dari semua doa adalah : Manusia yang dengan penuh kesadaran-keikhlasan berdiri dihadapan Tuhan Yang Maha Agung.

    “Ya Allah, Tuhanku, Tolonglah aku supaya aku mensyukuri nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan berikanlah kesempatan kepadaku untuk berbuat baik yang Engkau  ridha-i dan masukkanlah aku ke dalam sayang-Mu-pemeliharaan-Mu dan pergaulan orang-orang yang baik-baik” ( dari An Naml : 19)

    Amin Ya Robbal Alamin

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:46 am on 9 August 2014 Permalink | Balas  

    38berdoaZikir-zikir Setelah Solat Fardhu.

    Dalam buku “Sifat Shalat Nabi” karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin :

    Sesuai shalat, hendaklah ia membaca dzikir setelah shalat diantaranya mengucapkan istighfar “astaghfirullah” sebanyak tiga kali.

    Kemudian membaca : “Allaahumma antas salaam waminkas salaam, tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam” (H.R Muslim).

    Kemudian membaca : “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu, wahuwa ‘alaa kulli syai’in qadiir, Allaahumma laa maani’a limaa a’thaita walaa mu’ thiya limaa mana’ta, walaa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu” (Muttafaqun ‘alaihi)

    Kemudian membaca : “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qadiir, laa ilaaha illallaahu walaa na’budu illa iyyaahu, lahun ni’mah walahul fadhl walahuts tsanaa’ul hasan, laa ilaaha illallaahu mukhlishiina lahud diin walau karihal kaafiruun” (H.R Muslim)

    Kemudian membaca : – Subhaanallah 33x – Alhamdulillaah 33x – Allaahu Akbar 33x

    Setelah itu mengucapkan : “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qadiir” 1x (H.R Muslim).

    Setelah itu, hendaklah ia membaca ayat kursi (Al Baqarah ayat 255), berdasarkan sebuah hadits riwayat An Nasai dalam kitab “Amalul Yaumi wal Lailah” dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Hadits Shahih no 972.

    Lalu membaca surat Al-Ikhlas, surat Al-Falaq, dan surat An-Naas, berdasarkan sebuah hadits riwayat Abu Dawud dan telah dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab “Shahih Abu Dawud” no 1348.

    ***

    Dari Sahabat

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 731 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: