Updates from Februari, 2016 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 6:00 pm on 6 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 3 

    logo-halalHalal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 3

    1. Keadaan Darurat dan Pengecualiannya

    Semua binatang yang diharamkan sebagaimana tersebut di atas, adalah berlaku ketika dalam keadaan normal. Adapun ketika dalam keadaan darurat, maka hukumnya tersendiri, yaitu Halal.

    Firman Allah:

    “Allah telah menerangkan kepadamu apa-apa yang Ia telah haramkan atas kamu, kecuali kamu dalam keadaan terpaksa.” (al-An’am: 119)

    Dan di ayat lain, setelah Allah menyebut tentang haramnya bangkai, darah dan sebagainya kemudian diikutinya dengan mengatakan:

    “Barangsiapa terpaksa dengan tidak sengaja dan tidak melewati batas, maka tidak ada dosa atasnya, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih.” (al-Baqarah: 173)

    Darurat yang sudah disepakati oleh semua ulama, yaitu darurat dalam masalah makanan, karena ditahan oleh kelaparan. Sementara ulama memberikan batas darurat itu berjalan sehari-semalam, sedang dia tidak mendapatkan makanan kecuali barang-barang yang diharamkan itu. Waktu itu dia boleh makan sekedarnya sesuai dengan dorongan darurat itu dan guna menjaga dari bahaya.

    Imam Malik memberikan suatu pembatas, yaitu sekedar kenyang, dan boleh menyimpannya sehingga mendapat makanan yang lain.

    Ahli fiqih yang lain berpendapat: dia tidak boleh makan, melainkan sekedar dapat mempertahankan sisa hidupnya.

    Barangkali di sinilah jelasnya apa yang dimaksud dalam firman Allah Ghaira baghin wala ‘adin (dengan tidak sengaja dan melewati batas) itu.

    Perkataan ghairah baghin maksudnya: Tidak mencari-cari alasan karena untuk memenuhi keinginan (seleranya). Sedang yang dimaksud dengan wala ‘adin, yaitu: Tidak melewati batas ketentuan darurat. Sedang apa yang dimaksud dengan daruratnya lapar, yaitu seperti yang dijelaskan Allah dalam firmannya, dengan tegas Ia mengatakan:

    “Dan barangsiapa yang terpaksa pada (waktu) kelaparan dengan tidak sengaja untuk berbuat dosa, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih. ” (al-Maidah: 3)

    1. Daruratnya Berobat

    Daruratnya berobat, yaitu ketergantungan sembuhnya suatu penyakit pada memakan sesuatu dari barang-barang yang diharamkan itu. Dalam hal ini para ulama fiqih berbeda pendapat. Di antara mereka ada yang berpendapat, berobat itu tidak dianggap sebagai darurat yang sangat memaksa seperti halnya makan. Pendapat ini didasarkan pada sebuah hadis Nabi yang mengatakan:

    “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhanmu dengan sesuatu yang Ia haramkan atas kamu.” (Riwayat Bukhari)

    Sementara mereka ada juga yang menganggap keadaan seperti itu sebagai keadaan darurat, sehingga dianggapnya berobat itu seperti makan, dengan alasan bahwa kedua-duanya itu sebagai suatu keharusan kelangsungan hidup. Dalil yang dipakai oleh golongan yang membolehkan makan haram karena berobat yang sangat memaksakan itu, ialah hadis Nabi yang sehubungan dengan perkenan beliau untuk memakai sutera kepada Abdur-Rahman bin Auf dan az-Zubair bin Awwam yang justru karena penyakit yang diderita oleh kedua orang tersebut, padahal memakai sutera pada dasarnya adalah terlarang dan diancam.2

    Barangkali pendapat inilah yang lebih mendekati kepada jiwa Islam yang selalu melindungi kehidupan manusia dalam seluruh perundang-undangan dan rekomendasinya.

    Tetapi perkenan (rukhsah) dalam menggunakan obat yang haram itu harus dipenuhinya syarat-syarat sebagai berikut:

    1. Terdapat bahaya yang mengancam kehidupan manusia jika tidak berobat.
    2. Tidak ada obat lain yang halal sebagai ganti Obat yang haram itu.
    3. Adanya suatu pernyataan dari seorang dokter muslim yang dapat dipercaya, baik pemeriksaannya maupun agamanya (i’tikad baiknya).

    Kami katakan demikian sesuai dengan apa yang kami ketahui, dari realita yang ada dari hasil penyelidikan dokter-dokter yang terpercava, bahwa tidak ada darurat yang membolehkan makan barang-barang yang haram seperti obat. Tetapi kami menetapkan suatu prinsip di atas adalah sekedar ikhtiyat’ (bersiap-siap dan berhati-hati) yang sangat berguna bagi setiap muslim, yang kadang-kadang dia berada di suatu tempat yang di situ tidak ada obat kecuali yany haram.

    1. Perseorangan Tidak Boleh Dianggap Darurat Kalau Dia Berada Dalam Masyarakat yang di Situ Ada Sesuatu yang Dapat Mengatasi Keterpaksaannya Itu

    Tidak termasuk syarat darurat hanya karena seseorang itu tidak mempunyai makanan, bahkan tidak termasuk darurat yang membolehkan seseorang makan makanan yang haram, apabila di masyarakatnya itu ada orang, muslim atau kafir, yang masih mempunyai sisa makanan yang kiranya dapat dipakai untuk mengatasi keterpaksaannya itu. Karena prinsip masyarakat Islam adalah harus ada perasaan saling bertanggungjawab dan saling bantu-membantu dan bersatu padu bagaikan satu tubuh atau bangunan yang satu sama lain saling kuat-menguatkan.

    Salah satu hasil tinjauan yang sangat bernilai oleh para ahli fiqih Islam terhadap masalah solidaritas sosial, yaitu seperti yang pernah dikatakan oleh Ibnu Hazm: “Bahwa tidak halal bagi seorang muslim yang dalam keadaan terpaksa untuk makan bangkai atau babi, sedangkan dia masih mendapatkan makanan dari kelebihan kawannya yang muslim ataupun kafir zimmi. Karena suatu kewajiban yang harus ditunaikan oleh orang yang mempunyai makanan, yaitu memberikan makanan tersebut kepada rekannya yang sedang kelaparan.

    Kalau betul keadaannya demikian, dia tidak dapat dikategorikan terpaksa yang boleh makan bangkai dan babi. Dan dia boleh memerangi keadaan seperti itu. Kalau dia terbunuh dalam persengketaan itu, si pembunuhnya dikenakan hukuman qisas, dan kalau yang menahan uangnya itu sampai terbunuh, maka dia akan mendapat laknat dari Allah, karena dia menahan hak orang. Dia akan dapat digolongkan sebagai bughat (orang-orang yang zalim).

    Seperti firman Allah:

    “Kalau salah satunya berbuat zalim kepada yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat zalim itu sehingga mereka mau kembali kepada hukum Allah.” (al-Hujurat: 9)

    Orang yang menentang suatu perbuatan baik adalah orang berbuat jahat kepada kawannya yang mempunyai hak. Justru itulah Abubakar as-Siddiq memerangi orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 5 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 2 

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 2

    1. Daging Babi

    3) Yang ketiga ialah daging babi. Naluri manusia yang baik sudah barang tentu tidak akan menyukainya, karena makanan-makanan babi itu yang kotor-kotor dan najis. Ilmu kedokteran sekarang ini mengakui, bahwa makan daging babi itu sangat berbahaya untuk seluruh daerah, lebih-lebih di daerah panas. Ini diperoleh berdasarkan penyelidikan ilmiah, bahwa makan daging babi itu salah satu sebab timbulnya cacing pita yang sangat berbahaya. Dan barangkali pengetahuan modern berikutnya akan lebih banyak dapat menyingkap rahasia haramnya babi ini daripada hari kini. Maka tepatlah apa yang ditegaskan Allah:

    “Dan Allah mengharamkan atas mereka yang kotor-kotor.” (al-A’raf: 156)

    Sementara ahli penyelidik berpendapat, bahwa membiasakan makan daging babi dapat melemahkan perasaan cemburu terhadap hal-hal yang terlarang.

    1. Binatang Yang Disembelih Bukan Karena Allah

    4) Yang keempat ialah binatang yang disembelih bukan karena Allah, yaitu binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, misalnya nama berhala Kaum penyembah berhala (watsaniyyin) dahulu apabila hendak menyembelih binatang, mereka sebut nama-nama berhala mereka seperti Laata dan Uzza. Ini berarti suatu taqarrub kepada selain Allah dan menyembah kepada selain asma’ Allah yang Maha Besar.

    Jadi sebab (illah) diharamkannya binatang yang disembelih bukan karena Allah di sini ialah semata-mata illah agama, dengan tujuan untuk melindungi aqidah tauhid, kemurnian aqidah dan memberantas kemusyrikan dengan segala macam manifestasi berhalanya dalam seluruh lapangan.

    Allah yang menjadikan manusia, yang menyerahkan semua di bumi ini kepada manusia dan yang menjinakkan binatang untuk manusia, telah memberikan perkenan kepada manusia untuk mengalirkan darah binatang tersebut guna memenuhi kepentingan manusia dengan menyebut asma’Nya ketika menyembelih. Dengan demikian, menyebut asma’ Allah ketika itu berarti suatu pengakuan, bahwa Dialah yang menjadikan binatang yang hidup ini, dan kini telah memberi perkenan untuk menyembelihnya.

    Oleh karena itu, menyebut selain nama Allah ketika menyembelih berarti meniadakan perkenan ini dan dia berhak menerima larangan memakan binatang yang disembelih itu.

    1. Macam-Macam Bangkai

    Empat macam binatang yang disebutkan di atas adalah masih terlalu global (mujmal), dan kemudian diperinci dalam surah al-Maidah menjadi 10 macam, seperti yang telah kami sebutkan di atas dalam pembicaraan tentang bangkai, yang perinciannya adalah sebagai berikut:

    1. Al-Munkhaniqah, yaitu binatang yang mati karena dicekik, baik dengan cara menghimpit leher binatang tersebut ataupun meletakkan kepala binatang pada tempat yang sempit dan sebagainya sehingga binatang tersebut mati.
    2. Al-Mauqudzah, yaitu binatang yang mati karena dipukul dengan tongkat dan sebagainya.
    3. Al-Mutaraddiyah, yaitu binatang yang jatuh dari tempat yang tinggi sehingga mati. Yang seperti ini ialah binatang yang jatuh dalam sumur.
    4. An-Nathihah, yaitu binatang yang baku hantam antara satu dengan lain, sehingga mati.
    5. Maa akalas sabu, yaitu binatang yang disergap oleh binatang buas dengan dimakan sebagian dagingnya sehingga mati.

    Sesudah menyebutkan lima macam binatang (No. 5 sampai dengan 9) ini kemudian Allah menyatakan “Kecuali binatang yang kamu sembelih,” yakni apabila binatang-binatang tersebut kamu dapati masih hidup, maka sembelihlah. Jadi binatang-binatang tersebut menjadi halal kalau kamu sembelih dan sebagainya sebagaimana yang akan kita bicarakan di bab berikutnya.

    Untuk mengetahui kebenaran apa yang telah disebutkan di atas tentang halalnya binatang tersebut kalau masih ada sisa umur, yaitu cukup dengan memperhatikan apa yang dikatakan oleh Ali r,a. Kata Ali: “Kalau kamu masih sempat menyembelih binatang-binatang yang jatuh dari atas, yang dipukul dan yang berbaku hantam itu…, karena masih bergerak (kaki muka) atau kakinya, maka makanlah.” Dan kata Dhahhak: “Orang-orang jahiliah dahulu pernah makan binatang-binatang tersebut, kemudian Allah mengharamkannya kecuali kalau sempat disembelih. Jika dijumpai binatang-binatang tersebut masih bergerak kakinya, ekornya atau kerlingan matanya dan kemudian sempat disembelih, maka halallah dia.”1

    1. Hikmah Diharamkannya Macam-Macam Binatang di Atas

    Hikmah diharamkannya macam-macam bangkai binatang seperti tertera di atas agak kurang begitu tampak di sini. Tetapi hikmah yang lebih kuat, ialah: bahwa Allah s.w.t. mengetahui akan perlunya manusia kepada binatang, kasih sayangnya dan pemeliharaannya. Oleh karena itu tidak pantas kalau manusia dibiarkan begitu saja dengan sesukanya untuk mencekik dan menyiksa binatang dengan memukul hingga mati seperti yang biasa dilakukan oleh penggembala-penggembala yang keras hati, khususnya bagi mereka yang diupah, dan mereka yang suka mengadu binatang, misalnya mengadu antara dua kerbau, dua kambing sehingga matilah binatang-binatang tersebut atau hampir-hampir mati.

    Dari ini, maka para ulama ahli fiqih menetapkan haramnya binatang yang mati karena beradu, sekalipun terluka karena tanduk dan darahnya mengalir dari tempat penyembelihannya. Sebab maksud diharamkannya di sini, menurut apa yang saya ketahui, yaitu sebagai hukuman bagi orang yang membiarkan binatang-binatang tersebut beradu sehingga satu sama lain bunuh-membunuh. Maka diharamkannya binatang tersebut adalah merupakan suatu hukuman yang paling tepat. Adapun binatang yang disergap (dimakan) oleh binatang buas, didalamnya –dan yang terpokok– terdapat unsur penghargaan bagi manusia dan kebersihan dari sisa makanan binatang buas. Dimana hal ini biasa dilakukan orang-orang jahiliah, yaitu mereka makan sisa-sisa daging yang dimakan binatang buas, seperti kambing, unta, sapi dan sebagainya, kemudian hal tersebut diharamkan Allah buat orang-orang mu’min.

    1. Binatang yang Disembelih Untuk Berhala

    10) Perincian yang ke10 dari macam-macam binatang yang haram, yaitu: Yang disembelih untuk berhala (maa dzubiha alan nusub). Nushub sama dengan Manshub artinya: yang ditegakkan. Maksudnya yaitu berhala atau batu yang ditegakkan sebagai tanda suatu penyembahan selain Allah. Tanda-tanda ini berada di sekitar Ka’bah.

    Orang-orang jahiliah biasa menyembelih binatang untuk dihadiahkan kepada berhala-berhala tersebut dengan maksud bertaqarrub kepada Tuhannya.

    Binatang-binatang yang disembelih untuk maksud di atas termasuk salah satu macam yang disembelih bukan karena Allah.

    Baik yang disembelih bukan karena Allah ataupun yang disembelih untuk berhala, kedua-duanya adalah suatu pengagungan terhadap berhala (thaghut). Bedanya ialah: bahwa binatang yang disembelih bukan karena Allah itu, kadang-kadang disembelih untuk sesuatu patung, tetapi binatang itu sendiri jauh dari patung tersebut dan jauh dari berhala (nushub), tetapi di situ disebutnya nama thaghut (berhala). Adapun binatang yang disembelih untuk berhala, yaitu mesti binatang tersebut disembelih di dekat patung tersebut dan tidak mesti dengan menyebut nama selain Allah.

    Karena berhala-berhala dan patung-patung itu berada di sekitar Ka’bah, sedang sementara orang beranggapan, bahwa menyembelih untuk dihadiahkan kepada berhala-berhala tersebut berarti suatu penghormatan kepada Baitullah, maka anggapan seperti itu oleh al-Quran dihilangkannya dan ditetapkanlah haramnya binatang tersebut dengan nas yang tegas dan jelas, sekalipun itu difahami dari kalimat maa uhilla lighairillah (apa-apa yang disembelih bukan karena Allah).

    1. Ikan dan Belalang Dapat Dikecualikan dari Bangkai

    Ada dua binatang yang dikecualikan oleh syariat Islam dari kategori bangkai, yaitu belalang, ikan dan sebagainya dari macam binatang yang hidup di dalam air.

    Rasulullah s.a.w. ketika ditanya tentang masalah air laut, beliau menjawab:

    “Laut itu airnya suci dan bangkainya halal.” (Riwayat Ahmad dan ahli sunnah)

    Dan firman Allah yang mengatakan:

    “Dihalalkan bagi kamu binatang buruan laut dan makanannya.” (al-Maidah. 96)

    Umar berkata: Yang dimaksud shaiduhu, yaitu semua binatang yang diburu; sedang yang dimaksud tha’amuhu (makanannya), yaitu barang yang dicarinya.

    Dan kata Ibnu Abbas pula, bahwa yang dimaksud thaamuhu, yaitu bangkainya.

    Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdullah diceriterakan, bahwa Rasulullah s.a.w. pernah mengirimkan suatu angkatan, kemudian mereka itu mendapatkan seekor ikan besar yang sudah menjadi bangkai. lkan itu kemudian dimakannya selama 20 hari lebih. Setelah mereka tiba di Madinah, diceriterakanlah hal tersebut kepada Nabi, maka jawab Nabi:

    “Makanlah rezeki yang telah Allah keluarkan untuk kamu itu, berilah aku kalau kamu ada sisa. Lantas salah seorang diantara mereka ada yang memberinya sedikit. Kemudian Nabi memakannya.” (Riwayat Bukhari)

    Yang termasuk dalam kategori ikan yaitu belalang. Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. memberikan suatu perkenan untuk dimakannya walaupun sudah menjadi bangkai, karena satu hal yang tidak mungkin untuk menyembelihnya.

    Ibnu Abi Aufa mengatakan:

    “Kami pernah berperang bersama Nabi tujuh kali peperangan, kami makan belalang bersama beliau.” (Riwayat Jama’ah, kecuali Ibnu Majah)

    1. Memanfaatkan Kulit Tulang dan Rambut Bangkai

    Yang dimaksud haramnya bangkai, hanyalah soal memakannya. Adapun memanfaatkan kulitnya, tanduknya, tulangnya atau rambutnya tidaklah terlarang. Bahkan satu hal yang terpuji, karena barang-barang tersebut masih mungkin digunakan. Oleh karena itu tidak boleh disia-siakan.

    Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan, bahwa salah seorang hamba Maimunah yang telah dimerdekakan (maulah) pernah diberi hadiah seekor kambing, kemudian kambing itu mati dan secara kebetulan Rasulullah berjalan melihat bangkai kambing tersebut, maka bersabdalah beliau:

    “Mengapa tidak kamu ambil kulitnya, kemudian kamu samak dan memanfaatkan?” Para sahabat menjawab: “Itu kan bangkai!” Maka jawab Rasulullah: “Yang diharamkan itu hanyalah memakannya.” (Riwayat Jama’ah, kecuali Ibnu Majah)

    Rasulullah s.a.w. menerangkan cara untuk membersihkannya, yaitu dengan jalan disamak.

    Sabda beliau:

    “Menyamak kulit binatang itu berarti penyembelihannya.” (Riwayat Abu Daud dan Nasal)

    Yakni, bahwa menyamak kulit itu sama dengan menyembelih untuk menjadikan kambing tersebut menjadi halal.

    Dalam salah satu riwayat disebutkan:

    “Menyamak kulit bangkai itu dapat menghilangkan kotorannya.” (Riwayat al-Hakim)

    Dan diriwayatkan pula, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Kulit apa saja kalau sudah disamak, maka sungguh menjadi suci/bersih.” (Riwayat Muslim dan lain-lain)

    Kulit yang disebut dalam hadis-hadis ini adalah umum, meliputi kulit anjing dan kulit babi. Yang berpendapat demikian ialah madzhab Dhahiri, Abu Yusuf dan diperkuat oleh Imam Syaukani.

    Kata Saudah Umul Mu’minin: “Kami mempunyai kambing, kemudian kambing itu mati, lantas kami samak kulitnya dan kami pakai untuk menyimpan korma supaya menjadi manis, dan akhirnya kami jadikan suatu girbah (suatu tempat yang terbuat dari kulit binatang yang biasa dipakai oleh orang Arab zaman dahulu untuk mengambil air dan sebagainya).” (Riwayat Bukhari).

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 4 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 1 

    halalHalal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman

    SEJAK dahulu kala umat manusia berbeda-beda dalam menilai masalah makanan dan minuman mereka, ada yang boleh dan ada juga yang tidak boleh. Lebih-lebih dalam masalah makanan yang berupa binatang. Adapun masalah makanan dan minuman yang berupa tumbuh-tumbuhan, tidak banyak diperselisihkan. Dan Islam sendiri tidak mengharamkan hal tersebut, kecuali setelah menjadi arak, baik yang terbuat dari anggur, korma, gandum ataupun bahan-bahan lainnya, selama benda-benda tersebut sudah mencapai kadar memabukkan.

    Begitu juga Islam mengharamkan semua benda yang dapat menghilangkan kesadaran dan melemahkan urat serta yang membahayakan tubuh, sebagaimana akan kami sebutkan di bawah.

    Adapun soal makanan berupa binatang inilah yang terus diperselisihkan dengan hebat oleh agama-agama dan golongan.

    1. Menyembelih dan Makan Binatang Dalam Pandangan Agama Hindu

    Ada sementara golongan, misalnya Golongan Brahmana (Hindu) dan Filsuf yang mengharamkan dirinya menyembelih dan memakan binatang. Mereka cukup hidup dengan makanan-makanan dari tumbuh-tumbuhan. Golongan ini berpendapat, bahwa menyembelih binatang termasuk suatu keganasan manusia terhadap binatang hidup. Manusia tidak berhak untuk menghalang-halangi hidupnya binatang.

    Tetapi kita juga tahu dari hasil pengamatan kita terhadap alam ini, bahwa diciptanya binatang-binatang itu tidak mempunyai suatu tujuan. Sebab binatang tidak mempunyai akal dan kehendak. Bahkan secara nalurinya binatang-binatang itu dicipta guna memenuhi (khidmat) kebutuhan manusia. Oleh karena itu tidak aneh kalau manusia dapat memanfaatkan dagingnya dengan cara menyembelih, sebagaimana halnya dia juga dapat memanfaatkan tenaganya dengan cara yang lazim.

    Kita pun mengetahui dari sunnatullah (ketentuan Allah) terhadap makhluknya ini, yaitu: golongan rendah biasa berkorban untuk golongan atas. Misalnya daun-daunan yang masih hijau boleh dipotong/dipetik buat makanan binatang, dan binatang disembelih untuk makanan manusia dan, bahkan, seseorang berperang dan terbunuh untuk kepentingan orang banyak. Begitulah seterusnya.

    Haruslah diingat, bahwa dilarangnya manusia untuk menyembelih binatang tidak juga dapat melindungi binatang tersebut dari bahaya maut dan binasa. Kalau tidak berbaku hantam satu sama lain, dia juga akan mati dengan sendirinya; dan kadang-kadang mati dalam keadaan demikian itu lebih sakit daripada ketajaman pisau.

    1. Binatang yang Diharamkan Dalam Pandangan Yahudi dan Nasrani

    Dalam pandangan agama Yahudi dan Nasrani (kitabi), Allah mengharamkan kepada orang-orang Yahudi beberapa binatang laut dan darat. Penjelasannya dapat dilihat dalam Taurat (Perjanjian Lama) fasal 11 ayat 1 dan seterusnya Bab: Imamat Orang Lewi.

    Dan oleh al-Ouran disebutkan sebagian binatang yang diharamkan buat orang-orang Yahudi itu serta alasan diharamkannya, yaitu seperti yang kami sebutkan di atas, bahwa diharamkannya binatang tersebut adalah sebagai hukuman berhubung kezaliman dan kesalahan yang mereka lakukan.

    Firman Allah:

    “Dan kepada orang-orang Yahudi kami haramkan semua binatang yang berkuku, dan dari sapi dan kambing kami haramkan lemak-lemaknya, kecuali (lemak) yang terdapat di punggungnya, atau yang terdapat dalam perut, atau yang tercampur dengan tulang. Yang demikian itu kami (sengaja) hukum mereka. Dan sesungguhnya Kami adalah (di pihak) yang benar.” (al-An’am: 146)

    Demikianlah keadaan orang-orang Yahudi. Sedangkan orang-orang Nasrani sesuai dengan ketentuannya harus mengikuti orang-orang Yahudi. Karena itu Injil menegaskan, bahwa Isa a.s. datang tidak untuk mengubah hukum Taurat (Namus) tetapi untuk menggenapinya.

    Tetapi suatu kenyataan, bahwa mereka telah mengubah hukum Taurat itu. Apa yang diharamkan dalam Taurat telah dihapus oleh orang-orang Nasrani –tanpa dihapus oleh Injilnya– mereka mau mengikuti Paulus yang dipandang suci itu dalam masalah halalnya semua makanan dan minuman, kecuali yang memang disembelih untuk berhala kalau dengan tegas itu dikatakan kepada orang Kristen: “Bahwa binatang tersebut disembelih untuk berhala.”

    Paulus memberikan alasan, bahwa semua yang suci halal untuk orang yang suci, dan semua yang masuk dalam mulut tidak dapat menajiskan mulut, yang dapat menajiskan mulut ialah apa yang keluar dari mulut.

    Mereka juga telah menghalalkan babi, sekalipun dengan tegas babi itu diharamkan oleh Taurat sampai hari ini.

    1. Menurut Pandangan Orang Arab Jahiliah

    Orang-orang Arab jahiliah mengharamkan sebagian binatang karena kotor, dan sebagiannya diharamkan karena ada hubungannya dengan masalah peribadatan (ta’abbud), karena untuk bertaqarrub kepada berhala dan karena mengikuti anggapan-anggapan yang salah (waham). Seperti: Bahirah, saaibah, washilah dan ham. Yang menjelaskannya telah kami sebutkan di atas.

    Tetapi di balik itu, mereka banyak juga menghalalkan beberapa binatang yang kotor (khabaits), seperti: Bangkai dan darah yang mengalir.

    1. Islam Menghalalkan Yang Baik

    Islam datang, sedang manusia masih dalam keadaan demikian dalam memandang masalah makanan berupa binatang. Islam berada di antara suatu faham kebebasan soal makanan dan extrimis dalam soal larangan. Oleh karena itu Islam kemudian mengumandangkan kepada segenap umat manusia dengan mengatakan:

    “Hai manusia! Makanlah dari apa-apa yang ada di bumi ini yang halal dan baik, dan jangan kamu mengikuti jejak syaitan karena sesungguhnya syaitan itu musuh yang terang-terangan bagi kamu.” (al-Baqarah: 168)

    Di sini Islam memanggil manusia supaya suka makan hidangan besar yang baik, yang telah disediakan oleh Allah kepada mereka, yaitu bumi lengkap dengan isinya, dan kiranya manusia tidak mengikuti kerajaan dan jejak syaitan yang selalu menggoda manusia supaya mau mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan Allah, dan mengharamkan kebaikan-kebaikan yang dihalalkan Allah; dan syaitan juga menghendaki manusia supaya terjerumus dalam lembah kesesatan.

    Selanjutnya mengumandangkan seruannya kepada orang-orang mu’min secara khusus.

    Firman Allah:

    “Hai orang-orang yang beriman! Makanlah yang baik-baik dari apa-apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta bersyukurlah kepada Allah kalau betul-betul kamu berbakti kepadaNya. Allah hanya mengharamkan kepadamu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang disembelih bukan karena Allah. Maka barangsiapa dalam keadaan terpaksa dengan tidak sengaja dan tidak melewati batas, maka tidaklah berdosa baginya, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih.” (al-Baqarah: 172-173)

    Dalam seruannya secara khusus kepada orang-orang mu’min ini, Allah s.w.t. memerintahkan mereka supaya suka makan yang baik dan supaya mereka suka menunaikan hak nikmat itu, yaitu dengan bersyukur kepada Zat yang memberi nikmat. Selanjutnya Allah menjelaskan pula, bahwa Ia tidak mengharamkan atas mereka kecuali empat macam seperti tersebut di atas. Dan yang seperti ini disebutkan juga dalam ayat lain yang agaknya lebih tegas lagi dalam membatas yang diharamkan itu pada empat macam. Yaitu sebagaimana difirmankan Allah:

    “Katakanlah! Aku tidak menemukan tentang sesuatu yang telah diwahyukan kepadaku soal makanan yang diharamkan untuk dimakan, melainkan bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi; karena sesungguhnya dia itu kotor (rijs), atau binatang yang disembelih bukan karena Allah. Maka barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa dengan tidak sengaja dan tidak melewati batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih.” (al-An’am: 145)

    Dan dalam surah al-Maidah ayat 3 al-Quran menyebutkan binatang-binatang yang diharamkan itu dengan terperinci dan lebih banyak.

    Firman Allah:

    “Telah diharamkan atas kamu bangkai, darah, daging babi, binatang yang disembelih bukan karena Allah, yang (mati) karena dicekik, yang (mati) karena dipukul, yang (mati) karena jatuh dari atas, yang (mati) karena ditanduk, yang (mati) karena dimakan oleh binatang buas kecuali yang dapat kamu sembelih dan yang disembelih untuk berhala.” (al-Maidah: 3)

    Antara ayat ini yang menetapkan 10 macam binatang yang haram, dengan ayat sebelumnya yang menetapkan 4 macam itu, samasekali tidak bertentangan. Ayat yang baru saja kita baca ini hanya merupakan perincian dari ayat terdahulu.

    Binatang yang dicekik, dipukul, jatuh dari atas, ditanduk dan karena dimakan binatang buas, semuanya adalah termasuk dalam pengertian bangkai. Jadi semua itu sekedar perincian dari kata bangkai. Begitu juga binatang yang disembelih untuk berhala, adalah semakna dengan yang disembelih bukan karena Allah. Jadi kedua-duanya mempunyai pengertian yang sama.

    Ringkasnya: Secara global (ijmal) binatang yang diharamkan itu ada empat macam, dan kalau diperinci menjadi sepuluh.

    1. Diharamkan Bangkai dan Hikmahnya

    1) Pertama kali haramnya makanan yang disebut oleh ayat al-Quran ialah bangkai, yaitu binatang yang mati dengan sendirinya tanpa ada suatu usaha manusia yang memang sengaja disembelih atau dengan berburu.

    Hati orang-orang sekarang ini kadang-kadang bertanya-tanya tentang hikmah diharamkannya bangkai itu kepada manusia, dan dibuang begitu saja tidak boleh dimakan. Untuk persoalan ini kami menjawab, bahwa diharamkannya bangkai itu mengandung hikmah yang sangat besar sekali:

    1. a) Naluri manusia yang sehat pasti tidak akan makan bangkai dan dia pun akan menganggapnya kotor. Para cerdik pandai di kalangan mereka pasti akan beranggapan, bahwa makan bangkai itu adalah suatu perbuatan yang rendah yang dapat menurunkan harga diri manusia. Oleh karena itu seluruh agama Samawi memandangnya bangkai itu suatu makanan yang haram. Mereka tidak boleh makan kecuali yang disembelih, sekalipun berbeda cara menyembelihnya.
    2. b) Supaya setiap muslim suka membiasakan bertujuan dan berkehendak dalam seluruh hal, sehingga tidak ada seorang muslim pun yang memperoleh sesuatu atau memetik buah melainkan setelah dia mengkonkritkan niat, tujuan dan usaha untuk mencapai apa yang dimaksud. Begitulah, maka arti menyembelih –yang dapat mengeluarkan binatang dari kedudukannya sebagai bangkai– tidak lain adalah bertujuan untuk merenggut jiwa binatang karena hendak memakannya. Jadi seolah-olah Allah tidak rela kepada seseorang untuk makan sesuatu yang dicapai tanpa tujuan dan berfikir sebelumnya, sebagaimana halnya makan bangkai ini. Berbeda dengan binatang yang disembelih dan yang diburu, bahwa keduanya itu tidak akan dapat dicapai melainkan dengan tujuan, usaha dan perbuatan.
    3. c) Binatang yang mati dengan sendirinya, pada umumnya mati karena sesuatu sebab; mungkin karena penyakit yang mengancam, atau karena sesuatu sebab mendatang, atau karena makan tumbuh-tumbuhan yang beracun dan sebagainya. Kesemuanya ini tidak dapat dijamin untuk tidak membahayakan, Contohnya seperti binatang yang mati karena sangat lemah dan kerena keadaannya yang tidak normal.
    4. d) Allah mengharamkan bangkai kepada kita umat manusia, berarti dengan begitu Ia telah memberi kesempatan kepada hewan atau burung untuk memakannya sebagai tanda kasih-sayang Allah kepada binatang atau burung-burung tersebut. Karena binatang-binatang itu adalah makhluk seperti kita juga, sebagaimana ditegaskan oleh al-Quran.
    5. e) Supaya manusia selalu memperhatikan binatang-binatang yang dimilikinya, tidak membiarkan begitu saja binatangnya itu diserang oleh sakit dan kelemahan sehingga mati dan hancur. Tetapi dia harus segera memberikan pengobatan atau mengistirahatkan.

    6. Haramnya Darah Yang Mengalir

    Makanan kedua yang diharamkan ialah darah yang mengalir. Ibnu Abbas pernah ditanya tentang limpa (thihal), maka jawab beliau: Makanlah! Orang-orang kemudian berkata: Itu kan darah. Maka jawab Ibnu Abbas: Darah yang diharamkan atas kamu hanyalah darah yang mengalir.

    Rahasia diharamkannya darah yang mengalir di sini adalah justru karena kotor, yang tidak mungkin jiwa manusia yang bersih suka kepadanya. Dan inipun dapat diduga akan berbahaya, sebagaimana halnya bangkai.

    Orang-orang jahiliah dahulu kalau lapar, diambilnya sesuatu yang tajam dari tulang ataupun lainnya, lantas ditusukkannya kepada unta atau binatang dan darahnya yang mengalir itu dikumpulkan kemudian diminum. Begitulah seperti yang dikatakan oleh al-A’syaa dalam syairnya:

    Janganlah kamu mendekati bangkai

    Jangan pula kamu mengambil tulang yang tajam

    Kemudian kamu tusukkan dia untuk mengeluarkan darah.

    Oleh karena mengeluarkan darah dengan cara seperti itu termasuk menyakiti dan melemahkan binatang, maka akhirnya diharamkanlah darah tersebut oleh Allah s.w.t.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 3 February 2016 Permalink | Balas  

    Sesuatu yang Haram Berlaku Untuk Semua Orang 

    haram babi2Sesuatu yang Haram Berlaku Untuk Semua Orang

    HARAM dalam pandangan syariat Islam mempunyai ciri menyeluruh dan mengusir. Oleh karena itu tidak ada sesuatu yang diharamkan untuk selain orang Arab (ajam) tetapi halal buat orang Arab. Tidak ada sesuatu yang dilarang untuk orang kulit hitam, tetapi halal, buat orang kulit putih. Tidak ada sesuatu rukhsah yang diberikan kepada suatu tingkatan atau suatu golongan manusia, yang dengan menggunakan nama rukhsah (keringanan) itu mereka bisa berbuat jahat yang dikendalikan oleh hawa nafsunya. Mereka yang berbuat demikian itu sering menamakan dirinya pendeta, pastor, raja dan orang-orang suci. Bahkan tidak seorang muslim pun yang mempunyai keistimewaan khusus yang dapat menetapkan sesuatu hukum haram untuk orang lain, tetapi halal buat dirinya sendiri.

    Sekali-kali tidak akan begitu! Allah adalah Tuhannya orang banyak, syariatNya pun untuk semua orang. Setiap yang dihalalkan Allah dengan ketetapan undang-undangnya, berarti halal untuk segenap ummat manusia. Dan apa saja yang diharamkan, haram juga untuk seluruh manusia. Hal ini berlaku sampai hari kiamat. Misalnya mencuri, hukumnya adalah haram, baik si pelakunya itu seorang muslim ataupun bukan orang Islam; baik yang dicuri itu milik orang Islam ataupun milik orang lain. Hukumnya pun berlaku untuk setiap pencuri betapapun keturunan dan kedudukannya. Demikianlah yang dilakukan Rasulullah dan yang dikumandangkannya.

    Kata Rasulullah dalam pengumumannya itu:

    “Demi Allah! Kalau sekiranya Fatimah binti Muhammad yang mencuri, pasti akan kupotong tangannya.” (Riwayat Bukhari)

    Di zaman Nabi sudah pernah terjadi suatu peristiwa pencurian yang dilakukan oleh seorang Islam, tetapi ada suatu syubhat sekitar masalah seorang Yahudi dan seorang Muslim. Kemudian salah satu keluarganya yang Islam melepaskan tuduhan kepada seorang Yahudi dengan beberapa data yang dibuatnya dan berusaha untuk mengelakkan tuduhan terhadap rekannya yang beragama Islam itu, padahal dialah pencurinya, sehingga dia bermaksud untuk mengadukan hat tersebut kepada Nabi dengan suatu keyakinan, bahwa dia akan dapat bebas dari segala tuduhan dan hukuman. Waktu itu turunlah ayat yang menyingkap kejahatan ini dan membebaskan orang Yahudi tersebut dari segala tuduhan. Rasulullah s.a.w. mencela orang Islam tersebut dan menjatuhkan hukuman kepada pelakunya.

    Wahyu Allah berbunyi sebagai berikut:

    “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu kitab dengan benar, supaya kamu menghukum diantara manusia dengan (faham) yang Allah beritahukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi pembela orang-orang yang khianat. Dan minta ampunlah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan betas-kasih. Dan janganlah kamu membela orang-orang yang mengkhianati dirinya itu, karena sesungguhnya Allah tidak suka berkhianat dan berbuat dosa. Mereka bersembunyi (berlindung) kepada manusia, tetapi tidak mau bersembunyi kepada Allah, padahal Dia selalu bersama mereka ketika mereka mengatur siasatnya itu di waktu malam, yaitu sesuatu yang tidak diridhai dari perkataan itu, dan Allah maha meliputi semua apa yang mereka perbuat. Awaslah! Kamu ini adalah orang-orang yang membela mereka di dalam kehidupan dunia ini, maka siapakah yang akan membela mereka dari hukuman Allah kelak di hari kiamat? Atau siapakah yang akan mewakili untuk (menghadapi urusan) mereka itu?” (an Nisa’: 105-109)

    Pernah juga terjadi suatu anggapan dalam agama Yahudi, bahwa riba itu hanya haram untuk seorang Yahudi jika berhutang kepada orang Yahudi yang lain. Tetapi berhutang kepada lain Yahudi tidaklah terlarang.

    Demikianlah seperti yang tersebut dalam Ulangan 23: 19-20: “Maka tak boleh kamu mengambil bunga daripada saudaramu, baik bunga uang, baik bunga makanan, baik bunga barang sesuatu yang dapat makan bunga. Maka daripada orang lain bangsa boleh kamu mengambil bunga, tetapi daripada saudaramu tak boleh kamu mengambil bunga.”

    Sifat mereka yang seperti ini diceritakan juga oleh al-Quran, di mana mereka membolehkan berbuat khianat terhadap orang lain, dan hal semacam itu dipandangnya tidak salah dan tidak berdosa.

    Al-Quran mengatakan:

    “Di antara mereka ada beberapa orang yang apabila diserahi amanat dengan satu dinar pun, dia tidak mau menyampaikan amanat itu kepadamu, kecuali kalau kamu terus-menerus berdiri (menunggu); yang demikian itu karena mereka pernah mengatakan. tidak berdosa atas kami (untuk memakan hak) orang-orang bodoh itu, dan mereka juga berkata dusta atas (nama) Allah, padahal mereka sudah mengarti.” (Ali-Imran: 75)

    Benar mereka telah berdusta atas nama Allah, yaitu dengan bukti, bahwa agama Allah itu pada hakikatnya tidak membeda-bedakan antara suatu kaum terhadap kaum lain dan melarang berbuat khianat melalui lidah setiap rasuINya.

    Dan yang cukup kita sesalkan ialah, bahwa perasaan Israiliyah inilah yang merupakan kejahatan biadab, yang kiranya tidak patut untuk dinisbatkan kepada agama Samawi (agama Allah). Sebab budi yang luhur bahkan budi yang sebenarnya mestinya harus mempunyai ciri yang menyeluruh dan universal, sehingga tidak terjadi anggapan halal untuk ini tetapi haram untuk itu.

    Perbedaan prinsip antara kita dan golongan badaiyah (primitif) hanyalah dalam hal luasnya daerah budi/akhlak. Bukan ada atau tidak adanya budi itu. Sebab soal amanat misalnya, menurut anggapan mereka dipandang sebagai suatu sikap yang baik dan terpuji, tetapi hanya khusus antar putera sesuatu kabilah. Kalau sudah keluar dari kabilah itu atau lingkungan keluarga, boleh saja berbuat khianat; bahkan kadang-kadang dipandang siasat baik atau sampai kepada wajib.

    Pengarang Qishshatul Hadharah menceriterakan, bahwa semua golongan manusia hampir ada persesuaian dalam kepercayaan yang menunjukkan mereka lebih baik daripada yang lain. Misalnya bangsa Indian di Amerika, mereka menganggap dirinya sebagai hamba Tuhan yang terbaik. Tuhan menciptakan mareka ini sebagai manusia yang berjiwa besar khusus untuk dijadikan sebagai tauladan di mana manusia-manusia lainnya harus menaruh hormat kepadanya.

    Salah satu suku Indian itu ada yang menganggap dirinya sebagai Manusia yang tidak ada taranya. Dan suku yang lain beranggapan, bahwa dirinya itu manusia diantara sekian banyak manusia. Suku Carbion mengatakan pula hanya kamilah yang disebut manusia sesungguhnya dan seterusnya.

    Kesimpulannya, bahwa manusia primitif didalam mengatur cara pergaulannya dengan golongan lain tidak menggunakan jiwa etika yang lazim seperti yang biasa dipakai dalam berhubungan dengan kawan sesukunya.

    Ini merupakan bukti nyata, bahwa etika (akhlak) merupakan fungsi yang paling ampuh guna memperkukuh jamaah dan memperteguh kekuatannya untuk menghadapi golongan lain. Oleh karena itu persoalan etika dan larangan tidak akan dapat berlaku (sesuai) melainkan untuk penduduk golongan itu sendiri. Untuk golongan lain, tidak lebih daripada tamu. Justeru itu boleh saja mereka mengikuti tradisi golongan tersebut sekedarnya saja

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 2 February 2016 Permalink | Balas  

    Menjauhkan Diri dari Syubhat Karena Takut Terlibat dalam Haram 

    haramMenjauhkan Diri dari Syubhat Karena Takut Terlibat dalam Haram

    SALAH satu daripada rahmat Allah terhadap manusia, yaitu: Ia tidak membiarkan manusia dalam kegelapan terhadap masalah halal dan haram, bahkan yang halal dijelaskan sedang yang haram diperinci.

    FirmanNya:

    “Dan sungguh Allah telah menerangkan kepadamu apa-apa yang Ia haramkan atas kamu.” (al-An’am: 119)

    Masalah halal yang sudah jelas, boleh saja dikerjakan. Dan soal haram pun yang sudah jelas, sama sekali tidak ada rukhsah untuk mengerjakannya, selama masih dalam keadaan normal.

    Tetapi di balik itu ada suatu persoalan, yaitu antara halal dan haram. Persoalan tersebut dikenal dengan nama syubhat, suatu persoalan yang tidak begitu jelas antara halal dan haramnya bagi manusia. Hal ini bisa terjadi mungkin karena tasyabbuh (tidak jelasnya) dalil dan mungkin karena tidak jelasnya jalan untuk menerapkan nas (dalil) yang ada terhadap suatu peristiwa.

    Terhadap persoalan ini Islam memberikan suatu garis yang disebut Wara’ (suatu sikap berhati-hati karena takut berbuat haram). Dimana dengan sifat itu seorang muslim diharuskan untuk menjauhkan diri dari masalah yang masih syubhat, sehingga dengan demikian dia tidak akan terseret untuk berbuat kepada yang haram.

    Cara semacam ini termasuk menutup jalan berbuat maksiat (saddudz dzara’i) yang sudah kita bicarakan terdahulu. Disamping itu cara tersebut merupakan salah satu macam pendidikan untuk memandang lebih jauh serta penyelidikan terhadap hidup dan manusia itu sendiri.

    Dasar pokok daripada prinsip ini ialah sabda Nabi yang mengatakan:

    “Yang halal sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas, di antara keduanya itu ada beberapa perkara yang belum jelas (syubhat), banyak orang yang tidak tahu: apakah dia itu masuk bagian yang halal ataukah yang haram? Maka barangsiapa yang menjauhinya karena hendak membersihkan agama dan kehormatannya, maka dia akan selamat,. dan barangsiapa mengerjakan sedikitpun daripadanya hampir-hampir ia akan iatuh ke dalam haram, sebagaimana orang yang menggembala kambing di sekitar daerah larangan, dia hampir-hampir akan jatuh kepadanya. Ingatlah! Bahwa tiap-tiap raja mempunyai daerah larangan. Ingat pula, bahwa daerah larangan Allah itu ialah semua yang diharamkan.” (Riwayat Bukhari, Muslim dan Tarmizi, dan riwayat ini adalah lafal Tarmizi).

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 1 February 2016 Permalink | Balas  

    Keadaan Terpaksa Membolehkan Yang Terlarang 

    halalKeadaan Terpaksa Membolehkan Yang Terlarang

    ISLAM mempersempit daerah haram. Kendatipun demikian soal haram pun diperkeras dan tertutup semua jalan yang mungkin akan membawa kepada yang haram itu, baik dengan terang-terangan maupun dengan sembunyi-sembunyi. Justeru itu setiap yang akan membawa kepada haram, hukumnya haram; dan apa yang membantu untuk berbuat haram, hukumnya haram juga; dan setiap kebijakan (siasat) untuk berbuat haram, hukumnya haram. Begitulah seterusnya seperti yang telah kami sebutkan prinsip-prinsipnya di atas.

    Akan tetapi Islam pun tidak lupa terhadap kepentingan hidup manusia serta kelemahan manusia dalam menghadapi kepentingannya itu. Oleh karena itu Islam kemudian menghargai kepentingan manusia yang tiada terelakkan lagi itu, dan menghargai kelemahan-kelemahan yang ada pada manusia. Justeru itu seorang muslim dalam keadaan yang sangat memaksa, diperkenankan melakukan yang haram karena dorongan keadaan dan sekedar menjaga diri dari kebinasaan.

    Oleh karena itu Allah mengatakan, sesudah menyebut satu-persatu makanan yang diharamkan, seperti: bangkai, darah dan babi:

    “Barangsiapa dalam keadaan terpaksa dengan tidak sengaja dan tidak melewati batas, maka tiada berdosa atasnya, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih.” (al-Baqarah: 173)

    Yang semakna dengan ini diulang dalam empat surat ketika menyebut masalah makanan-makanan yang haram.

    Dan ayat-ayat ini dan nas-nas lainnya, para ahli fiqih menetapkan suatu prinsip yang sangat berharga sekali, yaitu: “Keadaan terpaksa membolehkan yang terlarang.”

    Tetapi ayat-ayat itupun tetap memberikan suatu pembatas terhadap si pelakunya (orang yang disebut dalam keadaan terpaksa) itu; yaitu dengan kata-kata ghaira baghin wala ‘aadin (tidak sengaja dan tidak melewati batas).

    Ini dapat ditafsirkan, bahwa pengertian tidak sengaja itu, maksudnya: tidak sengaja untuk mencari kelezatan. Dan perkataan tidak melewati batas itu maksudnya: tidak melewati batas ketentuan hukum.

    Dari ikatan ini, para ulama ahli fiqih menetapkan suatu prinsip lain pula, yaitu: adh-dharuratu tuqaddaru biqadriha (dharurat itu dikira-kirakan menurut ukurannya). Oleh karena itu setiap manusia sekalipun dia boleh tunduk kepada keadaan dharurat, tetapi dia tidak boleh menyerah begitu saja kepada keadaan tersebut, dan tidak boleh menjatuhkan dirinya kepada keadaan dharurat itu dengan kendali nafsunya. Tetapi dia harus tetap mengikatkan diri kepada pangkal halal dengan terus berusaha mencarinya. Sehingga dengan demikian dia tidak akan tersentuh dengan haram atau mempermudah dharurat.

    Islam dengan memberikan perkenan untuk melakukan larangan ketika dharurat itu, hanyalah merupakan penyaluran jiwa keuniversalan Islam itu dan kaidah-kaidahnya yang bersifat kulli (integral). Dan ini adalah merupakan jiwa kemudahan Islam yang tidak dicampuri oleh kesukaran dan memperingan, seperti cara yang dilakukan oleh ummat-ummat dahulu.

    Oleh karena itu benarlah apa yang dikatakan Allah dalam firmanNya:

    “Allah berkehendak memberikan kemudahan bagi kamu, dan Ia tidak menghendaki memberikan beban kesukaran kepadamu.” (al-Baqarah: 185)

    “Allah tidak menghendaki untuk memberikan kamu sesuatu beban yang berat, tetapi ia berkehendak untuk membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmatNya kepadamu supaya kamu berterimakasih.” (al-Maidah: 6)

    “Allah berkehendak untuk memberikan keringanan kepadamu, karena manusia itu dijadikan serba lemah.” (an-Nisa’: 28)

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 31 January 2016 Permalink | Balas  

    Hadits Ukhori Tentang Isra’ dan Mi’raj 

    PALESTINIANS-ISRAEL/SWAPHadits Ukhori Tentang Isra’ dan Mi’raj

    HADITS 1 :

    ========

    Diriwayatkan daripada Anas bin Malik r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Aku telah didatangi Buraq. yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari kaledai tetapi lebih kecil dari baghal. Ia merendahkan tubuhnya sehingga perut buraq tersebut mencecah bumi. Baginda bersabda lagi: Tanpa membuang waktu, aku terus menungganginya sehinggalah sampai ke Baitulmuqaddis.

    Baginda bersabda lagi: Aku mengikatnya pada tiang masjid sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para Nabi. Baginda bersabda lagi: Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan mendirikan sembahyang sebanyak dua rakaat. Setelah selesai aku terus keluar, secara tiba-tiba aku didatangi dengan semangkuk arak dan semangkuk susu oleh Jibril a.s. Aku memilih susu. Lalu Jibril a.s berkata: Engkau telah memilih fitrah.

    Lalu Jibril a.s membawaku naik ke langit. Ketika Jibril a.s meminta agar dibukakan pintu, kedengaran suara bertanya: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Apakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Lalu dibukakan pintu kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Adam a.s, beliau menyambutku serta mendoakan aku dengan kebaikan.

    Seterusnya aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Apakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Isa bin Mariam dan Yahya bin Zakaria, mereka berdua menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan.

    Aku dibawa lagi naik langit ketiga. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Apakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Yusuf a.s ternyata dia telah dikurniakan dengan kedudukan yang sangat tinggi. Dia terus menyambut aku dan mendoakan aku dengan kebaikan.

    Aku dibawa lagi naik ke langit keempat. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Apakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Idris a.s dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Firman Allah s.w.t Yang artinya: Dan kami telah mengangkat ke tempat yang tinggi derajatnya.

    Aku dibawa lagi naik ke langit kelima. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Apakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Harun a.s dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan.

    Aku dibawa lagi naik ke langit keenam. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Apakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Musa a.s dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan.

    Aku dibawa lagi naik ke langit ketujuh. Jibril a.s meminta supaya dibukakan. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Apakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Ibrahim a.s dia sedang berada dalam keadaan menyandar di Baitul Makmur. Keluasannya setiap hari memuatkan tujuh puluh ribu malaikat. Setelah keluar mereka tidak kembali lagi kepadanya.

    Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha. Daun-daunnya besar seumpama telinga gajah manakala buahnya pula sebesar tempayan. Baginda bersabda: Ketika baginda merayau-rayau meninjau kejadian Allah s.w.t, baginda dapati kesemuanya aneh-aneh. Tidak seorang pun dari makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya. Lalu Allah s.w.t memberikan wahyu kepada baginda dengan mewajibkan sembahyang lima puluh waktu sehari semalam.

    Tatakala baginda turun dan bertemu Nabi Musa a.s, dia bertanya: Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu kepada umatmu? Baginda bersabda: Sembahyang lima puluh waktu. Nabi Musa a.s berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Aku pernah mencoba Bani Israel dan memberitahu mereka.

    Baginda bersabda: Baginda kemudian kembali kepada Tuhan dan berkata: Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada umatku. Lalu Allah s.w.t mengurangkan lima waktu sembahyang dari baginda.

    Baginda kembali kepada Nabi Musa a.s dan berkata: Allah telah mengurangkan lima waktu sembahyang dariku. Nabi Musa a.s berkata: Umatmu masih tidak mampu melaksanakannya. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi.

    Baginda bersabda: Baginda tak henti-henti berulang-balik antara Tuhan dan Nabi Musa a.s, sehinggalah Allah s.w.t berfirman Yang artinya: Wahai Muhammad! Sesungguhnya aku fardukan hanyalah lima waktu sehari semalam. Setiap sembahyang fardu diganjarkan dengan sepuluh ganjaran. Oleh yang demikian, berarti lima waktu sembahyang fardu sama dengan lima puluh sembahyang fardu.

    Begitu juga sesiapa yang berniat, untuk melakukan kebaikan tetapi tidak melakukanya, niscaya akan dicatat baginya satu kebaikan. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya sesiapa yang berniat ingin melakukan kejahatan, tetapi tidak melakukannya, niscaya tidak sesuatu pun dicatat baginya. Seandainya dia mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan baginya.

    Baginda turun hingga sampai kepada Nabi Musa a.s, lalu aku memberitahu kepadanya. Dia masih lagi berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan. Baginda menyahut: Aku terlalu banyak berulang-balik kepada Tuhan, sehingga menyebabkan aku malu kepadaNya

    (HR Bukhori dalam kitab kejadian no.2968, dan kitab sifat2 terpuji no. 3305, HR Muslim dalam kitab Iman no.234)

    HADITS 2 :

    ========

    Diriwayatkan daripada Malik bin Sokso’ah r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Ketika aku berada di tepi Baitullah dalam keadaan separuh tidur, tiba-tiba aku mendengar percakapan salah seorang dari tiga lelaki yaitu yang berada di tengah-tengah.

    Lalu mereka menghampiri aku dan membawa aku ke suatu tempat. Kemudian mereka membawa sebuah bekas daripada emas yang berisi air Zamzam. Setelah itu dadaku dibedah hinggalah ke sini dan ke sini. Qatadah berkata, aku telah bertanya kepada orang yang bersamaku: Apakah yang baginda maksudkan? Beliau menjawab: Hingga ke bawah perut baginda.

    Baginda terus bersabda lagi: Hatiku telah dikeluarkan dan dibersihkan dengan air Zamzam, kemudian mereka meletakkannya kembali di tempat asal. Setelah itu diisi pula dengan iman dan hikmah, lalu dibawa pula kepadaku seekor binatang tunggangan berwarna putih yang dikenal sebagai Buraq, ia lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal. Ia mengatur langkahnya sejauh mata memandang, sementara itu aku dibawa di atas belakangnya.

    Kemudian kami pun memulaikan perjalanan hingga sampai ke langit dunia, setelah itu Jibril a.s meminta agar dibukakan pintunya, lalu ditanya: Siapa? Jawabnya: Jibril. Kemudian ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Lalu Jibril menjawab: Muhammad s.a.w. Lalu ditanya lagi: Apakah dia orang yang telah diutuskan? Jawabnya: Ya. Sejurus kemudian malaikat yang menjaga pintu tersebut membuka pintu sambil berkata: Selamat datang, sesungguhnya tetamu utama telah tiba. Lalu kami mengunjungi Nabi Adam a.s. Hadis ini menceritakan kisah yang berlaku pada ketika itu.

    Seterusnya diceritakan, bahwa Rasulullah s.a.w bertemu dengan Nabi Isa a.s dan Nabi Yahya a.s di langit kedua, manakala di langit ketiga pula baginda berjumpa dengan Nabi Yusuf a.s. Seterusnya di langit keempat bertemu pula dengan Nabi Idris a.s. Setelah sampai di langit kelima baginda bertemu pula dengan Nabi Harun a.s.

    Seterusnya Rasulullah s.a.w bersabda: Kemudian kami meneruskan perjalanan sehingga sampai di langit keenam, lalu aku menemui Nabi Musa a.s dan memberi salam kepadanya. Beliau segera menjawab: Selamat datang wahai saudara dan nabiku yang soleh. Semasa aku meningalkannya, beliau terus menangis. Lalu beliau ditanya: Apakah yang menyebabkan kamu menangis? Beliau menjawab: Wahai Tuhanku! Engkau telah mengutus pemuda ini kemudian dari ku, tetapi umatnya paling banyak memasuki Syurga berbading dengan umatku.

    Kami meneruskan lagi perjalanan sehingga sampai di langit ketujuh, lalu aku mengunjungi Nabi Ibrahim a.s. Hadis ini menjelaskan bagaimana Rasulullah s.a.w menceritakan bahwa baginda melihat empat batang sungai yang keluar dari pangkalnya yaitu dua batang sungai yang jelas kelihatan dan dua batang sungai yang samar-samar.

    Lalu Rasulullah s.a.w bertanya: Wahai Jibril! Sungai-sungai apakah ini? Jibril menjawab: Dua batang sungai yang samar-samar itu merupakan sungai Syurga, manakala yang jelas kelihatan adalah sungai Nil dan Furat.

    Seterusnya aku dibawa naik ke Baitul Makmur, lalu aku bertanya: Wahai Jibril, apakah ini? Lalu Jibril menjawab: Ini adalah Baitul Makmur, setiap hari tujuh puluh ribu Malaikat akan memasukinya. Setelah mereka keluar, mereka tidak akan memasukinya lagi kerana itu merupakan kali yang terakhir mereka memasukinya.

    Kemudian dibawa pula kepadaku dua bekas yang satunya berisi arak dan satu lagi berisi susu. Keduanya dihulurkan kepadaku lalu aku memilih susu. Maka dikatakan kepadaku: Kamu membuat pilihan yang tepat! Allah menghendakimu dan umatmu dalam keadaan fitrah iaitu kebaikan dan keutamaan. Kemudian difardukan pula kepadaku sembahyang lima puluh waktu setiap hari kemudian diceritakan kisah seterusnya hingga ke akhir Hadis

    ***

    (HR Bukhori dalam kitab kejadian no.2968, Kitab Cerita2 para Nabi no.3142 & 3176, dan kitab sifat2 terpuji no. 3598, HR Muslim dalam kitab Iman no.238)

    Arland

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 30 January 2016 Permalink | Balas  

    Risalah Shalat – 6 (Terakhir) 

    sholat 4Risalah Shalat – 6 (Terakhir)

    Diasuh oleh : Ustadz M. Anis bin Syeikh Barakbah

    Setiap Jum’at engkau selalu diingatkan di setiap mimbar agar bertakwa, tapi tak kau hiraukan, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Lebih berat lagi engkau tinggalkan, tak pernah kau kerjakan. Celaka sungguh celaka, bila tak engkau hentikan, atau ancaman yang akan kau rasakan nanti.

    “Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling darinya?. Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS. As-Sajadah:22)

    Ataukah engkau ingin mendapat azab kubur, atau akan menjadi calon-calon penghuni neraka yang sangat pedih azab siksanya.

    “Sungguh Aku isi neraka Jahanam dengan golongan jin dan manusia semuanya.” (QS. As-Sajadah:13)

    Tidak!. Sekali-kali engkau tidak menginginkan ancaman itu, yang tidak mengenal kasihan dan belas kasih

    “Sesungguhnya azabnya (neraka Jahanam) itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya ia (neraka Jahanam) itu adalah seburuk-buruknya tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. Al-Furqan:65-66)

    Apakah bukan saatnya sekarang bagi kita semua untuk kembali tunduk dan patuh terhadap perintahNya, menjalankan shalat dan menjaga waktunya, sujud mendekatkan diri kepada Yang Maha Esa, Maha Agung.

    Engkau ya Allah yang hanya pantas menyandang gelar Maha Besar, karena Maha Segalanya hanya padaMu.

    “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hadid:16)

    Ya Allah, kami masuk pintu taubatMu yang selalu Kau buka lebar, selama ajal belum sampai tenggorokan, terimalah ya Allah seperti yang telah Engkau janjikan. Dan ampunilah segala dosa kami yang lalu seperti yang telah dijanjikan oleh NabiMu Muhammad SAW.

    “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tanpa dosa.”

    Kalau tidak Engkau, kepada siapa lagi kami mengharap, karena kami tidak mengenal Tuhan selainMu. Ya Allah, ya Robbal Alamin. Al-fatihah…

    Wallohu a’lam bish-shawab,-.

     
  • erva kurniawan 2:51 am on 29 January 2016 Permalink | Balas  

    Risalah Shalat – 5 

    siluet sholatRisalah Shalat – 5

    Diasuh oleh : Ustadz M. Anis bin Syeikh Barakbah

    Wahai saudaraku, kenikmatan yang paling besar dan tak ternilai harganya, telah dikaruniakan kepadamu, kaum muslimin, dimana engkau dipilih diantara sekalian banyak manusia untuk berikrar dengan lisan dan beriman dengan hati bahwa tiada Tuhan selain Allah. Kalimat yang karenanya ditegakkan alam semesta ini, diutusnya Nabi-Nabi karenanya, dijadikan untukmu sekalian Islam sebagai agama yang diterima dan diridhoiNya, dijadikan Nabi Muhammad SAW, kekasihNya, sebagai Nabimu, yang dengan beliau, engkau menjadi sebaik-baiknya umat. Bersyukurlah, wahai saudaraku, atas nikmat-nikmat agung tersebut. Jagalah dan renungkanlah dengan mata hatimu.

    Ingatlah, wahai saudaraku, nikmat-nikmat Tuhanmu yang telah diberikanNya kepadamu. Diciptakannya engkau hingga berwujud di alam dunia ini. Dimanakah engkau sebelum itu?. Janganlah engkau menduga bahwa engkau diciptakan dalam keadaan sia-sia dan engkau tidak dikembalikan kepada asalmu, yaitu tanah, dan akan dibangkitkan lagi pada kali yang ketiga untuk mempertanggung-jawabkan perbuatanmu.

    Tidakkah engkau renungkan sesungguhnya engkau berpindah-pindah sebagai nutfah (air mani)?. Tiada yang mau memperdulikan wujudmu sebagai sperma dari bapak dan ibu, kecuali Tuhanmu yang menjaga hingga engkau berada di perut ibu kandungmu. Dipeliharalah engkau hingga engkau tumbuh di perut ibu selama 40 hari menjadi segumpal darah. Kemudian diperhatikanlah engkau selama 40 hari hingga menjadi segumpal daging. Kemudian tulang tumbuh dilapisi daging, dilengkapi engkau dengan anggota badanmu : mulut, telinga mata, hingga sempurna kejadianmu dalam bentuk manusia selama 140 hari.

    Kemudian ditiupkan ruhmu daripadaNya sampai engkau terjaga aman dalam rahim ibu. Diberinya engkau makanan selama dalam perut ibumu tanpa engkau minta dan merengek, tanpa gunakan mulut untuk memakannya, tahu-tahu telah sampai makanan dalam perutmu, hingga 9 bulan dikeluarkannya engkau dari perut yang gelap itu menuju alammu yang sekarang, dalam keadaan telanjang tanpa sehelai kain yang kau kenakan. Dalam keadaan lemah, tanpa gigi yang membantumu mengunyah makanan dan tak berfungsi di pencernaanmu. Dikeluarkannya untukmu air susu ibu yang sebelumnya kering tak berisi. Kemudian engkau tumbuh semakin besar, tegak sempurna, tapi tetap jatah rizkimu tidak dicabut olehNya. Kemudian dijadikan untukmu istri. Kemudian dikaruniainya engkau olehNya anak-anak, sedang engkau dalam keadaan sehat wal afiat.

    Tiba-tiba engkau lupa akan nikmatNya, kau lawan perintahNya, engkau campakkan seruanNya. Engkau terlena dengan kesehatanmu. Pada saat engkau sakit, siapakah yang memberikan kesembuhan untukmu?. Engkau tertipu dengan urusan duniamu!. Apakah jika semua itu dicabutnya darimu, siapakah kiranya yang dapat menolongmu?.

    Allah hendak berkata, “Apakah engkau tidak malu, wahai hambaKu?. Engkau berjalan dibumiKu, berinjak di bawah langitKu, tapi engkau tentang perintahKu!. Engkau bersenang-senang dengan rizki yang telah Kuberikan padamu, tapi engkau gunakan untuk bermaksiat padaKu. Apakah telah engkau temukan obat pencegah umur tuamu?. Atau mungkin engkau mempunyai kesaktian mantra guna untuk menolak ajalmu hingga engkau bergelimang dengan dosamu?.”

    “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang engkau selalu lari darinya.” (QS. Qof:19)

     
  • erva kurniawan 2:49 am on 28 January 2016 Permalink | Balas  

    Risalah Shalat – 4 

    shalatRisalah Shalat – 4

    Diasuh oleh : Ustadz M. Anis bin Syeikh Barakbah

    Hukum orang yang meninggalkan sholat dalam pandangan 4 madzhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah bahwa orang yang membolehkan meninggalkan sholat atau memandangnya sebagai sesuatu yang bukan wajib adalah jelas-jelas telah kafir. Adapun hukum orang yang meninggalkan sholat karena malas, para ulama berbeda pendapat :

    • Imam Hanafi

    Orang yang meninggalkan sholat karena malas, maka hukumannya dipukul hingga keluar darahnya atau dipenjarakan hingga jera dan melaksanakan sholat.

    • Imam Maliki

    Orang yang meninggalkan sholat karena malas, hukumannya dibunuh dengan pedang. Setelah mati, berlaku baginya hukum orang Islam yang lain : dimandikan, disholatkan, dikubur dan hartanya menjadi harta waris.

    • Imam Syafi’i

    Orang yang meninggalkan sholat karena malas, biarpun sekali sholat fardhu, hukumannya adalah dibunuh, dengan syarat sampai keluar waktu sholat tersebut atau sholat Jum’atnya, dan selama orang tersebut tidak beralasan walaupun berbohong. Hukuman ini dilakukan oleh penguasa negara (pemerintah Islam) atau yang berwenang sah dari pemerintah. Sebelum dibunuh, dianjurkan kepada pejabat untuk menyuruhnya bertaubat dan diberi waktu 3 hari. Kalau tetap tidak mau, dibunuh. Dan berlaku setelah mati juga hukum-hukum seperti lazimnya kaum muslimin : dimandikan, dikafani, disholati dan dikubur bersama kaum muslimin serta hartanya menjadi harta waris.

    • Imam Hanbali

    Orang yang meninggalkan sholat karena malas, biarpun sekali tanpa dilihat alasannya, dibunuh dan mati dalam keadaan kafir. Berlaku setelah mati adalah hukum orang murtad, tidak wajib dimandikan, tidak wajib dikafani, tidak boleh disholati dan tidak wajib dikuburkan. Boleh diumpankan jazadnya kepada anjing. Hartanya bukan menjadi harta waris tapi menjadi harta rampasan yang dikembalikan kepada kas negara.

    Apakah masih tersisa olehmu, wahai saudaraku, keragu-raguan?. Apakah hendak kau tunda saatnya untuk kembali ke jalan yang diridhoi-Nya setelah kau simak dan ikuti ayat-ayat Allah SWT dan hadits baginda Rasulullah SAW?. Sampai kapankah, wahai saudaraku, baju kemalasanmu yang telah kumal kau kenakan?. Kepada-Mu juga, ya Allah, kami mohon dengan mengangkat kedua tangan kami untuk Kau buka mata hati kami yang telah hitam pekat digilas jaman. Jadikan kami, ya Allah, orang-orang yang Engkau tidak haramkan taufik dan hidayah-Mu, agar dapat kami dengan mudah menjalankan dan menjaga perintah sholat-Mu.

    Amin Allahumma Amin…

     
  • erva kurniawan 2:45 am on 27 January 2016 Permalink | Balas  

    Risalah shalat – 3 

    shalat-tarawih-puasa-pertama_fullRisalah shalat – 3

    Diasuh oleh : Ustadz M. Anis bin Syeikh Barakbah

    Begitulah, wahai saudara kaum muslimin, beberapa peringatan dari Al-Qur’an dan Hadits junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, serta masih banyak lagi dalil-dalil yang lain yang tidak bisa diuraikan disini kesemuanya, yang isi dan muatannya adalah ancaman dan peringatan keras bagi orang-orang yang mengabaikan shalat. Oleh karena itu, wahai saudara, tidak ada tempat untuk sembunyi atau arah untuk lari dari kewajiban shalat itu. Yang tersisa adalah bersegeralah saudara insaf dan bertobat sebelum ajal menjemput saudara dengan selalu menjaga shalat-shalat dalam setiap waktunya dalam keadaan apapun. Kemudian segera memohon ampunan agar shalat-shalat yang telah terlewatkan selama ini diampuni dosa-dosanya dengan menggodho’ (membayar) nya dan kalaulah mampu menambah dengan shalat-shalat sunnah agar dapat menghapus dosa-dosa shalat 5 waktu yang tertinggal.

    Bergegaslah, buang lesu dan kemalasan. Perangilah hawa nafsumu dan bisikan setan yang menyuruhmu mengulur-ulur taubatmu. Ingatlah wahai saudara kaum muslimin, setiap hari, jam, menit dan detikmu, semakin mendekatkan diri anda dengan ajal. Semakin anda ulur-ulur waktu, semakin banyak pula shalat yang harus anda bayar, sedangkan maut tidak jelas kapan datangnya.

    Ketahuilah bahwa shalat selain dijanjikan ganjaran yang besar bagi yang melakukannya kelak di hari kiamat, ia juga merupakan sebab utama dalam mendapatkan pahala dan kebaikan hidup di dunia ini, diantaranya adalah keberkahan umur, kemudahan rizqi, ketentraman batin, kejernihan akal pikiran, tercegah dari perbuatan jahat dan mungkar, serta jauh dari bala. Kesemuanya itu akan diperoleh kontan dan otomatis di dunia ini bagi orang-oang yang selalu menunaikan shalat-shalatnya, lebih-lebih menambahnya dengan shalat-shalat sunnah. Hal ini adalah janji Allah dan Rasul-Nya, sedangkan janji Allah dan Rasul-Nya adalah yang paling benar.

    Firman Allah

    “Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta kepadamu rizki. Kami yang akan memberimu rizki. Dan kesudahan (yang baik) bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thoha:132)

    Wasiat Baginda Rasulillah SAW kepada sahabat Abu Hurairah :

    “Wahai Abu Hurairah, perintahkan keluargamu untuk shalat, karena sesungguhnya Allah yang akan memberimu rizki yang tanpa dapat kamu duga.” (Imam Al-Ghazali menyebutkannya di kitabnya Ihya’)

    Anjuran Rasulillah SAW kepada keluarga beliau jika ditimpa kesusahan :

    “Dirikanlah shalat, karena dengan itulah aku diperintahkan.” (Imam Al-Ghazali menyebutkannya di kitabnya Ihya’)

     
  • erva kurniawan 2:42 am on 26 January 2016 Permalink | Balas  

    Risalah shalat – 2 

    shalat gaibRisalah shalat – 2

    Diasuh oleh : Ustadz M. Anis bin Syeikh Barakbah

    Diriwayatkan bahwasannya seorang wanita dari Bani Israel datang kepada Nabi Musa AS dan berkata, “Aku telah berbuat dosa besar dan aku sungguh telah bertobat, maka mintakanlah kepada-Nya pengampunan atas dosaku dan agar menerima tobatku itu.” Berkata Nabi Musa AS, “Apa yang kamu perbuat dari dosamu.” Menjawab perempuan itu, “Aku telah berzina dan melahirkan bayi dari zinaku itu, lalu aku membunuhnya.” Mendengar hal itu, marahlah Nabi Musa AS dan berkata, “Keluar engkau wahai pelacur agar tidak turun bala berupa api dari langit yang akan membakar dan menghanguskan kita karena perbuatanmu.” Maka keluar perempuan itu dalam keadaan sedih. Lalu turunlah Jibril dan berkata kepada Nabi Musa AS, “Allah berkata kepadamu, ‘Kenapa kau usir wanita itu?. Apakah kau tidak tahu dosa yang lebih besar dari itu?.’ ” Berkata Nabi Musa AS, “Apakah ada dosa yang lebih besar dari itu.” Jibril menjawab, “Siapa-siapa yang telah dengan sengaja meninggalkan shalat.” (Risalah Tahdzirul Muslimin)

    Disebutkan dalam riwayat yang lain yang artinya :

    “Sesungguhnya yang pertama menjadi hitam muka orang-orang yang berdosa adalah orang-orang meninggalkan shalat. Dan sesungguhnya di dalam jahannam ada sebuah lembah bernama lamlam. Di dalamnya ada ular-ular besar, panjang dan berbisa yang akan menyengat orang yang meninggalkan shalat. Racunnya akan bereaksi di dalam tubuhnya selama 70 tahun, lalu karena racun itu, terlepas semua daging yang ada di badannya.”

    Diceritakan dari para ulama Salaf, bahwa ada seorang laki-laki menguburkan saudara perempuannya yang wafat. Setelah selesai mengubur, ia merasa sekantong uangnya hilang. Akhirnya ia ingat bahwa uangnya itu terbawa masuk ke kuburan ketika ia mengubur saudaranya tadi. Lalu ia kembali ke kubur hendak menggali kembali kubur saudara perempuannya. Ketika ia sedang menggali, keluar api besar dari kubur itu. Akhirnya ia urungkan niatnya itu dan menutup kembali kubur itu. Lalu sesampainya ia di rumah, ia menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. Akhirnya si ibu menceritakan bahwa saudaranya itu dulunya sering menyepelekan shalat dan mengakhirkannya hingga keluar waktunya.

    Disebutkan oleh Sayid Ahmad Zaini Dahlan sebuah riwayat :

    “Barangsiapa yang melalaikan shalat, Allah akan menyiksanya dengan 15 siksaan : 6 siksaan ketika di dunia, 3 siksaan ketika akan sekarat (sakaratul maut), 3 siksaan ketika di kuburnya dan 3 siksaan pada hari kiamat kelak.

    Adapun 6 siksaan ketika di dunia antara lain :

    1. dicabut keberkahan umurnya
    2. dihapus tanda-tanda kebaikan di raut mukanya
    3. tidak diterima apa yang diamalkannya
    4. tidak dikabulkan doanya
    5. tidak dapat bagian doa para sholihin
    6. dicabut rohnya dalam keadaan tidak beriman

    Adapun 3 siksaan ketika akan mati :

    1. mati dalam keadaan mengenaskan
    2. mati dalam keadaan lapar
    3. mati dalam keadaan haus yang sangat, yang bila diberi air sungai di dunia ini sekalipun tidak dapat hilang hausnya.

    Adapun 3 siksaan ketika di kubur :

    1. bumi menghimpit tubuhnya hingga remuk tulang-tulangnya
    2. dijadikan kuburnya sebagai bara api yang membakarnya siang dan malam
    3. diumpankan kepadanya ular bear bernama suja agro’ yang akan menggigitnya

    Adapun 3 siksaan nanti pada hari kiamat :

    1. Malaikat mendatanginya dengan rantai panas menganga dan panjang mengikatkannya ke lehernya, lalu memasukkan ke mulutnya hingga tembus ke duburnya
    2. Allah tidak memperdulikan nasibnya
    3. Allah tidak menghapus dosa-dosanya dengan siksaan-siksaan neraka yang dirasakannya.”

    (Risalah Az-Zajr Ala Tarki Ash-Sholah)

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 25 January 2016 Permalink | Balas  

    Risalah Shalat 1 

    sholat_jamaahRisalah shalat – kata pengantar

    Diasuh oleh : Ustadz M. Anis bin Syeikh Barakbah

    Bukan menjadi rahasia umum, apa yang terjadi ditengah-tengah kita kaum muslimin pada saat ini, banyak sekali diantara saudara kita kaum muslimin yang teledor dalam menunaikan shalat. Bahkan banyak sekali diantara mereka secara terang-terangan meninggalkannya secara keseluruhan. Hal ini merupakan suatu musibah yang besar yang merusak akhlak dan mental umat Islam, yang dampaknya akan menimbulkan merajalelanya kemaksiatan dan kerusakan dari tangan mereka sendiri terhadap sesamanya, serta bala yang akan diturunkan oleh Allah SWT.

    Masalah besar ini adalah beban berat di pundak pribadi-pribadi muslim yang mempunyai ghirah dan kepekaan terhadap masalah-masalah yang terjadi di kalangan saudara-saudara seiman. Hal itu bukan hanya tanggung jawab ulama dan kyai, tetapi semua muslimin yang walaupun sedikit mengetahui pentingnya shalat dalam agama, untuk tidak berpangku tangan, berdiam diri, tidak mau tahu dan membiarkan hal ini terus terjadi.

    Untuk maksud dan tujuan itu, kami susun risalah kecil ini, agar dapat berperan dan turut andil dalam menyadarkan sesama kaum muslimin untuk bangkit dari keteledorannya dan bangun dari kelalaiannya. Semoga risalah ini dengan penuh harapan kepada Allah SWT, dicatat sebagai usaha yang diridhoi-Nya dan bermanfaat bagi kaum muslimin.

    Kepada pembaca risalah ini, agar menyimak dan membaca semua isinya, kemudian dimohon agar diberikan kepada yang lain yang belum membacanya. Dan kepada yang hendak dengan ikhlas memperbanyaknya, kami sangat berterima kasih dan mudah-mudahan dijadikan sebagai amal jariyah.

    Akhirnya, kami panjatkan doa agar Allah SWT membuka mata hati kita dan segenap kaum muslimin, di bulan disusunnya risalah kecil ini, bulan Maulid junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, dilimpahkan kepada kita semua taufik dan hidayah agar menjadi orang-orang yang menegakkan shalat. Amin…

    Wassalam

    M. Anis bin Syeikh Barakbah.

    ***

    Risalah shalat – 1

    Diasuh oleh : Ustadz M. Anis bin Syeikh Barakbah

    Ketahuilah wahai kaum muslimin – semoga Allah SWT memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua – bahwa sesungguhnya shalat itu adalah syariat (perintah agama) yang dibawa dan disampaikan oleh para Nabi yang telah diutus oleh Allah SWT semenjak Nabi Adam AS sampai junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Shalat sebagai sarana seorang hamba berhubungan denga Tuhannya, setelah berikrar dengan lisan dan yakin dengan hati bahwa tiada Tuhan selain Allah (syahadat), sebagai bukti keimanan seorang hamba yang dhoif dan kepatuhan akan perintah Tuhan Yang Maha Agung. Perumpamaan shalat adalah sebagai kepala dari seluruh anggota badan. Oleh karena sangat pentingnya shalat tersebut, junjungan Nabi Besar Muhammad SAW menyatakannya sebagai tonggak atau tiang agama, sebagaimana dalam sabda beliau,

    “Shalat itu adalah tiang agama. Barangsiapa menegakkannya maka sungguh ia menegakkan agamanya, dan barangsiapa meninggalkannya maka sungguh ia menghancurkan agamanya.”

    Karena sangat pentingnya kedudukan shalat ini, banyak sekali dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi anjuran agar didirikannya.

    Anda bisa perhatikan pentingnya shalat ini, dengan peristiwa diperintahkannya shalat, yaitu peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW pada tanggal 27 Rajab, 5 tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah. Di saat yang genting bagi beliau, belum selesai beliau mengajak kaumnya untuk bertauhid dan mempertuhankan Allah, berbagai macam cobaan dan bahaya yang datang dari pembesar-pembesar Quraisy semakin berat, turunlah seruan shalat ini, yang membuat segelintir orang-orang yang beriman kepada beliau menjadi tipis imannya dan membuat orang-orang kafir mencemoohkan beliau dan menyebarkan keraguan diantara segelintir orang-orang yang beriman untuk keluar dari Islam. Peristiwa ini juga terjadi pada saat beliau menerima langsung perintah shalat 5 waktu dari Allah, sedangkan perintah yang lain seperti shodaqoh, puasa, haji, dan sebagainya tidak melalui peristiwa khusus, tetapi melalui perantara malaikat Jibril.

    Hal ini sebagai bukti kebesaran shalat dibandingkan perintah atau syariat yang lain. Oleh karena itu, tidaklah pantas bagi kita yang mengaku beriman kepada Allah SWT dan beriman kepada Baginda Rasulullah SAW, melalaikan shalat, apalagi meninggalkannya.

    Untuk lebih jauh lagi dibawah ini, dapat kita renungkan hujjah atau dalil-dalil baik dari ayat-ayat Al-Qur’an, Hadis junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, maupun dari kalam para ulama besar dahulu, yang kesemuanya menunjukkan betapa hebat dan agungnya shalat itu dan begitu keras larangan melalaikannya.

    “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat , yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Maa’un : 4-5)

    “Apa yang menyebabkan kalian masuk di dalam neraka Saqor. Mereka menjawab : kami sewaktu dulu (di dunia) tidak termasuk orang-orang yang menegakkan shalat.” (QS. Al-Mudatstsir : 42-43)

    Diriwayatkan dari sahabat Umar bin Khattab dan Abi Hurairah, bahwa Jibril datang kepada baginda Rasulullah SAW dan berkata, “Bacalah, wahai Muhammad.” Beliau menjawab, “Apa yang harus aku baca.” Jibril kemudian membaca ayat,

    “Kemudian datang setelah mereka suatu pengganti yang mensia-siakan shalat dan mengikuti hawa nafsu, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam : 59)

    Maka Beliau bertanya kepada Jibril, “Apakah umatku akan mensia-siakan shalat sepeninggalku?.” Jibril menjawab, “Ya. Akan datang nanti orang-orang dari umatmu yang mengakhirkan shalat dari waktu-waktunya dan ada yang meninggalkannya, serta mengumbar hawa nafsunya. Harta di pandangan mereka lebih baik daripada shalat.”

    Bersabda Baginda Rasulullah SAW,

    “Sesungguhnya kedudukan shalat di mata agama sebagaimana kepala dengan jasad.”

    Bersabda Baginda Rasulullah SAW,

    “Paling awalnya sesuatu dimana seorang hamba akan dihisab adalah shalatnya. Jika didapati shalatnya sempurna, maka shalat dan semua amalnya akan diterima. Dan jika didapati shalatnya kurang, maka shalat dan semua amalnya akan tertolak.” (Abu Al-Laits As-Samarqandy di dalamnya kitabnya Qurruh Al-‘Uyuun dan Ibnu Hajar di dalam kitabnya Az-Zawaajir)

    Bersabda Baginda Rasulullah SAW,

    “Barangsiapa menjamak 2 shalat tanpa udzur maka sungguh ia terkena dosa besar.” (HR. At-Turmudzi dan Al-Hakim)

    Diriwayatkan oleh Ubadah bin Shomit,

    “Telah mewasiatkan kepadaku temanku, Rasulullah SAW, dengan 7 perkara : jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu meskipun kamu dipotong-potong atau disalib, jangan meninggalkan shalat dengan sengaja, maka barangsiapa meninggalkannya dengan sengaja maka sungguh ia telah keluar dari agama…” (HR. Ath-Thabrany)

    Bersabda Baginda Rasululllah SAW,

    “Allah telah mewajibkan shalat lima waktu atas hambaNya. Barangsiapa melaksanakannya pada waktu-waktunya maka padanya terdapat cahaya dan kejelasan pada hari kiamat. Dan barangsiapa mensia-siakannya maka ia akan dikumpulkan dengan Fir’aun dan Haman1.” (Ahmad Dahlan menyebutkan di dalam kitab Risalah-nya.

    Diriwayatkan :

    “Sesungguhnya beliau pada suatu hari bersabda kepada para sahabatnya, ‘Katakanlah : jangan jadikan diantara kami orang yang celaka dan diharamkan (masuk surga).’ Kemudian beliau bertanya, ‘Tahukah kalian orang yang celaka dan diharamkan?.’ Para sahabat menjawab, ‘Siapa dia wahai Rasulullah?.’ Beliau berkata, ‘(dia adalah) orang yang meninggalkan shalat.’ ”

    Diriwayatkan oleh Ali bin Abi Tholib bahwa Baginda Rasulullah SAW bersabda,

    “Tidak ada seorang hamba meninggalkan shalat dan tidak menggantinya kecuali Allah menuliskan diatas wajahnya (sebuah tulisan) orang ini keluar dari rahmat Allah dan Saya terlepas darinya. Dan jika seorang hamba meninggalkan satu kewajiban shalat maka Allah menulis namanya di pintu api neraka.”

    Bersabda Rasulullah SAW,

    “Batas antara hamba dengan kesyirikan adalah meninggalkan shalat.” (HR. Ahmad Adz-Dzarimy, Muslim, Abu Daud, dan banyak periwayat lainnya)

    Bersabda Baginda Rasulullah SAW,

    “Ikatan yang ada antara kami dan mereka (manusia) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka sungguh ia telah keluar dari agama.” (HR. At-Turmudzi)

    Hadits Baginda Rasulullah SAW,

    “Ketika Nabi SAW datang pada suatu kaum yang dipecahkan kepala-kepala mereka dengan batu. Setiap kali pecah, kembali lagi seperti semula. Berkata beliau, ‘Wahai Jibril, siapakah mereka?.’ Jibril menjawab, ‘Mereka itu adalah orang-orang yang kepala mereka berat untuk mendirikan shalat.’ ”

    1. Haman adalah wakil dan panglima Fir’aun.
     
  • erva kurniawan 2:31 am on 24 January 2016 Permalink | Balas  

    Agama Islam 

    Islam000Agama Islam

    Oleh

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dengan Islam, Allah mengakhiri serta menyempurnakan agama-agama lain untuk para hamba-Nya. Dengan Islam pula, Allah menyempurnakan kenikmatan-Nya dan meridhoi Islam sebagai diennya. Oleh karena itu tidak ada lain yang patut diterima, selain Islam.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi ….”[Al-Ahzab:40]

    ” Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu ….” [Al Maidah : 3]

    “Artinya : Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam….” [Ali Imran : 19]

    ” Artinya : Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” [Ali Imran : 85]

    Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan seluruh umat manusia agar memeluk agama Islam karena Allah. Hal ini sebagaimana telah difirmankan-Nya kepada rasul-Nya.

    “Artinya : Katakanlah ; “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. Tidak ada Tuhan selain Dia. Yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” [Al A’raaf : 158]

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dikatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

    “Artinya : Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak seorangpun dari umat ini, Yahudi maupun Nashrani, yang mendengar tentangaku, kemudian mati tidak mengimani sesuatu yang aku diutus karenanya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” [Hadits Riwayat Muslim]

    Mengimani Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam artinya membenarkan dengan penuh penerimaan dan kepatuhan terhadap segala yang dibawanya, bukan hanya membenarkan semata. Oleh karena itulah Abu Thalib (paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) dikatakan bukan orang yang mengimani Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, walaupun ia membenarkan apa yang dibawa oleh keponakannya itu dan dia juga mengakui bahwa Islam adalah agama yang terbaik.

    Agama Islam mencakup seluruh kemaslahatan yang dikandung oleh agama-agama terdahulu. Islam mempunyai keistimewaan, yaitu relevan untuk setiap masa, tempat dan umat.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada rasul-Nya.

    Artinya : Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab itu ….” [Al Maidah :48]

    Islam dikatakan relevan untuk setiap masa, tempat dan umat, maksudnya adalah berpegang teguh pada Islam tidak akan menghilangkan kemaslahatan umum di setiap waktu dan tempat. Bahkan dengan Islam, umat akan menjadi baik. Tetapi bukan berarti Islam tunduk pada waktu, tempat dan umat, seperti yang dikehendaki sebagian orang.

    Agama Islam adalah agama yang benar. Allah menjamin kemenangan kepada orang yang memegangnya dengan baik. Hal ini dikatakan-Nya dalam firman-Nya.

    “Artinya : Dia-lah yang telah mengutus rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” [At Taubah : 33]

    “Artinya : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [An Nuur : 55]

    Agama Islam merupakan aqidah dan syariat. Islam adalah agama yang sempurna dalam aqidah dan syariat, karena:

    1. Memerintahkan bertauhid dan melarang syirik.
    2. Memerintahkan bersikap jujur dan melarang berbuat bohong/dusta.
    3. Memerintahkan berbuat adil[1] dan melarang perbuatan lalim.
    4. Memerintahkan untuk bersikap amanat dan melarang khianat.
    5. Memerintahkan untuk menepati janji dan melarang ingkar janji.
    6. Memerintahkan untuk berbakti kepada ibu-bapak serta melarang menyakitinya.
    7. Memerintahkan bersilaturahmi/menyambung hubungan dengan kerabat dekat, serta melarang memutuskannya.
    8. Memerintahkan berbuat baik dengan tetangga dan melarang berbuat jahat kepada mereka.

    Secara umum Islam memerintahkan agar bermoral baik dan melarang bermoral buruk. Islam juga memerintahkan setiap perbuatan baik, dan melarang perbuatan yang buruk.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” [An Nahl : 90]

    [Disalin dari kitab : Syarhu Ushulil Iman, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Edisi Indonesia: Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan. Penerjemah: Ali Makhtum Assalamy. Penerbit: KSA Foreigners Guidance Center In Gassim Zone, halaman : 9-13]

    _________

    Foote Note

    [1] Adil artinya menyamakan yang sama dan membedakan yang berbeda, bukan persamaan secara mutlak seperti yang dikatakan sebagian orang yang mengatakan bahwa Islam adalah agama persamaan yang mutlak. Menyamakan hal-hal yang berbeda merupakan kelaliman yang tidak dianjurkan oleh Islam, dan pelakunyapun tidak terpuji.

    Sumber : almanhaj.or.id

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 23 January 2016 Permalink | Balas  

    Amal, Warid Dan Ahwal 

    amalan baikAmal, Warid Dan Ahwal

    “Beraneka warna jenis amal perbuatan, karena beragam pula warid dan ahwal”

    Yang dimaksud warid ialah kurnia Allah yang berproses menjadi ahwal (hal ihwal) dalam diri seorang hamba. Maka seiring dengan warid dan ahwal ada bias ilmu “ma’arif robbaniyah” (teologi) serta “asror ruhaniyah” (rahasia ruhani) yang berpola dengan sifat mahmudah (sifat terpuji).

    Pengertian warid bagi para salikin  adalah kurnia Allah dalam bentuk niat dan himmah (tekad) untuk melaksanakan berbagai kegiatan amal ibadah, baik dalam arti ritual maupun sosial. Sebagai bukti adanya benih warid yang telah tertanam dilubuk hati adalah bila ada tumbuh rasa suka dan cinta dalam melaksanakan ibadah yang menjadi perilaku amal saleh salikin, juga disebut ahwal nan zahir.

    Pengertian ma’arif robbaniyah ialah ilmu mengenal Allah, seorang hamba memperoleh ilmu itu dengan melaksanakan berbagai macam amal ibadah seperti riyadhoh dan mujahadah. Lain pula asror ruhaniyah yang menjadi pengalaman batin bagi orang yang menuju kepada Allah.

    Seorang hamba yang mendapatkan warid dari Allah akan ada pada dirinya ahwal yang menuntun kepada sifat mahmudah. Maka sifat mahmudah itu bentuk nafsu sawwiyah atau mulhimah yang selalu mengekspresikan sifat-sifat terpuji, seperti melaksanakan amal ibadah secara istiqomah. Sebab istiqomah itu lebih baik dari seribu karomah. Dengan melaksanakan amal ibadah secara istiqomah, niscaya Allah membiaskan ilmu ma’arif robbaniyah yang menjadi pelita atau matahati seorang salikin, semisal khothir mahmudah (lintasan yang baik) yang datang mewarnai jiwa seorang hamba. Maka lahir amal ibadah yang terpuji seirama ikhlas.

    Nabi r bersabda:

    “Barangsiapa mengamalkan ilmu yang diketahuinya, Allah akan mewariskan ilmu yang tidak diketahuinya”. Yaitu ilmu ma’arif robbaniyah hingga merasakan asror ruhaniyah.

    Sudah menjadi bukti wujud kekuasaan Allah, bahwa kurnia-Nya itu mewarnai disegala sektor kehidupan manusia. Coba perhatikan pola hidup manusia yang beraneka ragam sifat dan perilakunya. Maka pada konteks ini, semua perilaku manusia bersumber dari warid dan ahwal yang dibiaskan Allah ke dalam hidupnya.

    Jika kita membahas tentang warid, ahwal dan amal dalam sebuah misal, tak ubahnya seperti benih, pohon dan buah yang proses pertumbuhannya tidak terlepas dari pemeliharaan. Amal saleh yang zahir itu disebut sebagai buah, maka yang perlu difahami disini bahwa buah itu ada yang busuk dan ada pula yang baik. Jadi baik dan buruknya amal seorang hamba tergantung pada ahwal yang batin. Dengan kata lain, amal lahiriyah mengikuti sikap batiniyah.

    Adanya aneka ragam amal perbuatan yang zahir disebabkan oleh adanya berbagai macam keadaan yang datang dari dalam diri seseorang, seperti ada yang suka melaksanakan shalat, ada pula yang senang menunaikan zakat dan banyak lagi perbuatan lainnya baik dalam bentuk ritual maupun sosial. Semua perbuatan itu tentu ada yang menggerakkan dan mendorongnya dari dalam diri seseorang, yaitu warid.

    Maka pengertian warid yang dimaknakan niat itu tampak pada setiap wujud amal, sebab semua amal perbuatan yang tampak adalah sesuai dengan pola niat yang ada dalam diri seseorang. Niat ialah sebuah titik permulaan teristimewa disetiap gurat amal ibadah dan muamalah lainnya. Niat menjadi tolok ukur yang sangat menentukan tentang baik buruknya suatu amal ibadah atau segala bentuk perbuatan. Apabila niatnya baik maka pada umumnya bisa membuahkan kebaikan. Sebaliknya jika niatnya jelek maka buahnya pun akan jelek pula. Sebagian para Ulama menyimpulkan fungsi dan peran niat sebagai berikut:

    “Kerap kali amal yang kecil menjadi besar (nilainya) karena baik niatnya, dan kerap kali amal yang besar jadi kecil (nilainya) karena salah niatnya”.

    Dalam sebuah hadis yang masyhur juga dinyatakan:

    “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan sesunggunya bagi setiap perbuatan itu sesuai dengan apa yang diniatkan”. (HR. Bukhori dan Muslim)

    Wallohu a’lam bis-shawab,-

    [Sumber : HIZBOEL WATHONY]

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 22 January 2016 Permalink | Balas  

    Menjawab Keraguan Seputar Jilbab 

    hijabMenjawab Keraguan Seputar Jilbab

    Menghias perbuatan maksiat adalah pekerjaan setan. Sehingga perbuatan dosa bisa nampak indah, yang haram menjadi suram dan yang maksiat kelihatan memikat. Begitu pula dalam masalah jilbab dan busana takwa ini. Banyak syubhat dan keraguan yang bisa jadi sengaja dihembuskan untuk menghalangi para wanita muslimah memperindah penampilannya dengan busana takwa.

    Tulisan ini akan mengupas tentang beberapa hal yang menimbulkan keraguan dan kebimbangan seputar jilbab, sekaligus menjawabnya insya Allah. Hal-hal tersebut antara lain:

    1. Jilbab adalah budaya Arab

    Ada sementara orang yang mengatakan bahwa jilbab adalah budaya dan tradisi pakaian wanita arab pada masa awal pertumbuhan Islam. Sekarang, setelah berlalu lebih dari 14 abad, budaya dan tradisi pun berubah. Cara orang berpakaian pun sudah tak seperti dulu. Karena jilbab adalah pakaian wanita arab saat itu, maka bukan saatnya lagi untuk dikenakan saat ini. Apalagi bagi orang yang tinggal di negara-negara non arab yang tentunya mempunyai budaya dan tradisi sendiri.

    Dari sini paling tidak ada dua hal yang perlu dijawab. Pertama, benarkah jilbab adalah tradisi berpakaian wanita arab pada awal pertumbuhan Islam? Kedua, benarkah jilbab hanya khusus untuk wanita arab dan tak wajib bagi muslimah non arab untuk mengenakannya?

    Imam Hakim meriwayatkan sebuah hadis yang menggambarkan saat-saat setelah turunnya ayat perintah menutup aurat, yaitu Surat Annur ayat 31: “dan hendaklah mereka menutupkan khumur- jilbab- nya ke dada mereka….” Riwayat lain menerangkan: “Wanita-wanita (ketika turun ayat tersebut) segera mengambil kain sarung mereka, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Hakim).

    Imam Bukhari juga meriwayatkan hal senada:

    “Bahwasannya ‘Aisyah RA. Berkata: “Ketika turun ayat “dan hendaklah mereka menutupkan “khumur” -jilbab- nya ke dada mereka…” maka para wanita segera mengambil kain sarung, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Bukhari).

    Kedua hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa pada saat turunnya ayat tersebut para shohabiyyah (wanita dari kalangan sahabat) sedang tidak mengenakan “khumur” (jilbab) dan memang mereka belum biasa mengenakannya. Buktinya, saat itu mereka harus merobek kain sarung mereka untuk dialih-fungsikan menjadi jilbab. Jika mereka sudah biasa memakainya tentunya jilbab itu telah tersedia dan tak perlu lagi untuk menyulap kain sarung mereka menjadi jilbab “darurat.” Dari sini jelaslah bahwa jilbab bukanlah merupakan budaya dan tradisi wanita arab pada awal pertumbuhan Islam, tetapi suatu hal yang disyariatkan oleh Islam dan dilaksanakan oleh seluruh shohabiyyah. Hingga akhirnya pakaian tersebut mentradisi dan menjadi budaya Islam. Dengan ini, berarti pertanyaan pertama telah terjawab.

    Sedang pertanyaan kedua, yakni apakah jilbab hanya untuk orang arab saja, maka ini terjawab dengan keuniversalan Islam. Islam adalah agama yang diperuntukkan bagi seluruh manusia, melampaui batas waktu dan geografi. Allah berfirman:

    “Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Qs. Saba’:28). Karena jilbab (busana penutup aurat) adalah bagian dari syariat Islam maka ia juga diperuntukkan bagi seluruh wanita muslimah di manapun ia berada hingga hari kiamat kelak.

    1. Jilbab hanya wajib bagi istri-istri Rasulullah

    Orang yang mengatakan bahwa jilbab (dikenal juga dengan sebutan hijab) hanyalah wajib bagi istri-istri Rasulullah berdalil dengan ayat 33 surat Al-Ahzab. Sebab konteks ayat tersebut ditujukan kepada mereka. Karenanya larangan untuk tabarruj dan kewajiban mengenakan jilbab hanyalah wajib bagi mereka saja.

    Pernyataan ini terjawab dengan dua hal:

    1. Para ahli tafsir memberikan komentar atas ayat tersebut bahwa meninggalkan tabarruj juga diperintahkan kepada seluruh wanita mukminah. Imam Al-Jashshas berkata: “Semua hal yang tersebut dalam ayat ini adalah petunjuk-petunjuk Allah bagi istri-istri rasulullah untuk menjaga mereka, dan semua itu juga ditujukan bagi wanita-wanita mukminah.” (lihat, Ahkamu Al-Qur’an karya Al-Jashshos). Imam Ibnu Katsir berkomentar: “Ini adalah hal-hal yang diperintahkan Allah kepada istri-istri Nabi, dan seluruh wanita mukminah dalam hal ini harus mengikuti mereka.” (lihat, Tafsir Ibnu Katsir).
    2. Sebutlah misalnya bahwa, benar ayat surat Al-Ahzab: 33 tersebut khusus untuk istri-istri Rasulullah, namun ada ayat lain yang dengan jelas mengatakan bahwa kewajiban berjilbab itu diperuntukkan bagi seluruh wanita mukminah. Yaitu Firman Allah:

    “Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkkan khumur (Ind: jilbab) nya ke dadanya…” (Qs.Annur: 31)

    1. Jilbab adalah sekedar simbol

    Sementara itu ada yang mengatakan bahwa jilbab hanyalah sebuah simbol. Sedang yang penting bagi seorang muslim adalah baiknya budi pekerti dan bersihnya hati. Dari pada berjilbab tapi kelakuannya berantakan, bukankah lebih baik tidak berjilbab tapi bertingkah laku baik.

    Kelihatannya kata-kata ini baik, namun sebenarnya rancu. Sebab dalam diri seorang muslim hendaknya tertanam keyakinan bahwa apapun yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya adalah baik dan seharusnya dilakukan. Baik itu simbol atau bukan. Tidaklah hanya karena suatu hal dianggap simbol lantas kita boleh meninggalkannya. Bahkan lebih dari itu, di sana ada hal-hal yang tak bisa dilogikakan namun kita tetap wajib melakukan. Misalkan wudlu karena keluar angin. Mengapa yang harus dibasuh adalah muka, tangan, kepala dan kaki. Bukankah yang lebih pantas untuk dibasuh adalah tempat keluarnya angin tersebut. Karena alasan ini pula sayyidina Umar RA. berujar tatkala mencium hajar aswad: “Sesunguhnya aku tahu kau hanyalah sebuah batu yang tak bisa mendatangkan faedah dan tidak pula menyebabkan bahaya, namun karena aku melihat Rasulullah menciummu maka aku menciummu.”

    Sikap menerima seperti inilah yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya:

    “Tidaklah patut bagi seorang mukmin dan tidak pula bagi seorang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, kemudian ia memilih yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-Ahzab: 36).

    Maka seorang muslim seharusnya memandang bahwa berjilbab juga termasuk akhlak dan perilaku yang baik. Sebab yang baik bagi seorang muslim adalah yang baik menurut Allah dan yang buruk adalah yang buruk menurut-Nya. Karenanya, menanggapi komentar di atas seharusnya seorang muslim berkata: “Lebih baik berjilbab dan mempunyai akhlak yang baik dari pada berperilaku baik tapi tidak berjilbab.” Atau: “Sayang sekali, perilakunya baik tapi kok tidak berjilbab.”

    Siapakah Yang Memikul Tanggung Jawab Ini?

    Permasalahan jilbab ini bukanlah hanya tanggung jawab para muslimah saja. Tapi setiap muslim ikut bertanggung jawab dalam hal ini. Setiap muslim berkewajiban untuk bersama-sama menciptakan situasi yang kondusif untuk pelaksanaan syariat Allah tersebut. Seorang ayah bertanggung jawab atas istri dan anak-anak putrinya. Seorang ibu bertanggung jawab atas dirinya dan anak-anak wanitanya. Dan setiap kita bertanggung jawab atas keluarga kita. Jika kita melalaikan tanggung jawab ini, secara sadar atau tidak kita telah menjerumuskan diri kita dan orang-orang yang kita cintai dalam jurang api neraka.

    Rasulullah bersabda:

    “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim).

    Allah berfirman:

    “Wahai orang-orang yang beriman, selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kejam dan keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya dan melaksanakan apa yang diperintahkan.” (Qs. Attahrim: 6). Wallahu a’lam bishshowab.

    ***

    (Ahmad ulil Amin)

    Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Arsip Fiqh (http://www.alislam.or.id/)

     
  • erva kurniawan 2:46 am on 21 January 2016 Permalink | Balas  

    Wanita Muslimah Menikah Dengan Laki-Laki Non Muslim 

    mahar pernikahanWanita Muslimah Menikah Dengan Laki-Laki Non Muslim

    Pertanyaan.

    Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya : “Bagaimana hukumnya wanita muslimah menikah dengan laki-laki non muslim?”

    Jawaban.

    Pernikahan tersebut batil karena bertentangan dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadits serta ijma’ para ulama.

    Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke Neraka, sedang Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”

    [Al-Baqarah : 221]

    Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka” [Al-Mumtahanah : 10]

    Sebab pernikahan semacam itu hanya akan merusak aqidah dan agama wanita muslimah. Oleh sebab itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam ayat di atas ” Mereka mengajak ke Neraka”. Artinya secara umum tindakan orang-orang musyrik baik segi ucapan atau perbuatan mereka selalu mengajak ke neraka. Lewat hubungan pernikahan seseorang sangat mudah mempengaruhi orang lain. Apalagi sang suami pada umumnya menghendaki dan berusaha agar sang istri mengikuti agama yang dia yakini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka” [Al-Baqarah : 120]

    Laki-laki non muslim bukan pasangan yang sesuai bagi wanita muslimah sebab dalam timbangan hukum Islam hak suami menuntut adanya kelebihan dari hak istri. Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)” [An-Nisa’:34]

    Hak-hak yang ada dalam ayat ini tidak akan tercapai apabila rumah tangga terdiri dari suami kafir dan istri seorang wanita muslimah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman” [An-Nisa : 141]

    Secara naluri zhahir maupun batin seorang istri lebih lemah dibanding suami, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Islam itu tinggi tidak bisa diungguli agama apapun”. Siapa saja yang melakukan pernikahan tersebut harus dikenakan sanksi tegas sesuai dengan hukum Islam. Barangsiapa yang melegalkan dan menganggap halal atas pernikahan tersebut, maka telah KELUAR dari agama Islam. Akan tetapi apabila seseorang melakukan pernikahan tersebut hanya ikut-ikutan dan tidak menganggap halal, maka dia telah berbuat dosa besar dan kejahatan yang sangat keji tetapi tidak keluar dari agama Islam. Dan wanita yang melakukan perbuatan tersebut harus dikenakan sanksi berupa rajam bagi wanita janda dan didera seratus kali dan dibuang selama setahun bagi wanita gadis. Tetapi bila seorang wanita melakukan perbuatan tersebut atas dasar ketidaktahuan, maka sanksi dan hukuman tersebut menjadi gugur sebab terdapat subhat di dalamnya.

    Pernikahan yang terlaksana wajib segera dibatalkan dan laki-laki non muslim tersebut harus juga dikenakan sanksi sesuai dengan yang berlaku. Bagi pihak yang berwenang harus jeli dalam melihat kemaslahatan hukum syar’i dan tegas dalam menangani kasus seperti ini. Jika secara hukum agama dan maslahat umum seorang non muslim tersebut harus dibunuh, maka langkah tersebut harus dipenuhi. [Fatawa wa Rasaail Syaikh Muhammad bin Ibrahim, juz 10/136-138]

    [Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Maratil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita-2, hal 179-181 Darul Haq]

    Sumber : almanhaj.or.id

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 20 January 2016 Permalink | Balas  

    Hal- Hal Yang Membatalkan Keislaman 

    Islam000Hal- Hal Yang Membatalkan Keislaman

    Penulis : Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz

    Segala puji bagi Allah (Subhanahu wa Ta’ala), Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi yang terahir Muhammad (Shalallahu ‘alaihi Wassalam), para keluarga dan para Sahabat beliau, serta kepada orang- orang yang setia mengikuti petunjuk beliau.

    Selanjutnya : ketahuilah, wahai saudaraku kaum muslimin, bahwa Allah (Subhanahu wa Ta’ala) telah mewajibkan kepada seluruh hamba – hambaNya untuk masuk ke dalam agama Islam dan berpegang teguh denganya serta berhati–hati untuk tidak menyimpang darinya.

    Allah juga telah mengutus NabiNya Muhammad (Shalallahu ‘alaihi Wassalam) untuk berdakwah ke dalam hal ini, dan memberitahukan bahwa barangsiapa bersedia mengikutinya akan mendapatkan petunjuk dan barangsiapa yang menolaknya akan sesat.

    Allah juga mengingatkan dalam banyak ayat- ayat Al-Qur’an untuk menghindari sebab-sebab kemurtadan, segala macam kemusyrikan dan kekafiran.

    Para ulama rahimahumullah telah menyebutkan dalam bab hukum kemurtadan, bahwa seorang muslim bisa di anggap murtad (keluar dari agama Islam) dengan berbagai macam hal yang membatalkan keislaman, yang menyebabkan halal darah dan hartanya dan di anggap keluar dari agama Islam.

    Yang paling berbahaya dan yang paling banyak terjadi ada sepuluh hal, yang di sebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama lainnya, dan kami sebutkan secara ringkas, dengan sedikit tambahan penjelasan untuk anda, agar anda dan orang – orang selain anda berhati hati dari hal ini, dengan harapan dapat selamat dan terbebas darinya.

    Pertama:

    Diantara sepuluh hal yang membatalkan keislaman tersebut adalah mempersekutukan Allah (Subhanahu wa Ta’ala) ( syirik ) dalam beribadah.

    Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman:

    Artinya : “Sesungguhnya Allah (Subhanahu wa Ta’ala) tidak mengampuni dosa syirik(menyekutukan ) kepadaNya, tetapi mengampuni dosa selain itu, kepada orang – orang yang dikehendakinya“.( Annisa’ ayat : 116)

    Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman:

    Artinya: “ sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, niscaya Allah akan mengharamkan surga baginya, dan tempat tinggalnya (kelak) adalah neraka, dan tiada seorang penolong pun bagi orang – orang zhalim” .( Al- Maidah : 72).

    Dan di antara perbuatan kemusyrikan tersebut adalah ; meminta do’a dan pertolongan kepada orang- orang yang telah mati, bernadzar dan menyembelih korban untuk mereka.

    Kedua:

    Menjadikan sesuatu sebagai perantara antara dirinya dengan Allah (Subhanahu wa Ta’ala), meminta do’a dan syafaat serta bertawakkal ( berserah diri ) kepada perantara tersebut.

    Orang yang melakukan hal itu, menurut ijma’ ulama ( kesepakatan) para ulama, adalah kafir.

    Ketiga :

    Tidak menganggap kafir orang-orang musyrik, atau ragu atas kekafiran mereka, atau membenarkan konsep mereka. Orang yang demikian ini adalah KAFIR.

    Keempat:

    Berkeyakinan bahwa tuntunan selain tuntunan Nabi Muhammad (Shalallahu ‘alaihi Wassalam) lebih sempurna, atau berkeyakinan bahwa hukum selain dari beliau lebih baik, seperti ; mereka yang mengutamakan aturan – aturan thaghut (aturan – aturan manusia yang melampaui batas serta menyimpang dari hukum Allah ), dan mengesampingkan hukum Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi Wassalam) , maka orang yang berkeyakinan demikian adalah KAFIR.

    Kelima :

    Membenci sesuatu yang telah ditetapkan oleh Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi Wassalam) , meskipun ia sendiri mengamalkannya. Orang yang sedemikian ini adalah KAFIR. Karena Allah (Subhanahu wa Ta’ala) telah berfirman :

    Artinya :Demikian itu adalah dikarenakan mereka benci terhadap apa yang di turunkan oleh Allah (Subhanahu wa Ta’ala), maka Allah (Subhanahu wa Ta’ala) menghapuskan (pahala) segala amal perbuatan mereka”. ( Muhammad : 9).

    Keenam:

    Memperolok–olok sesuatu dari ajaran Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi Wassalam), atau memperolok – olok pahala maupun siksaan yang telah menjadi ketetapan agama Allah (Subhanahu wa Ta’ala), maka orang yang demikian menjadi KAFIR, karena Allah (Subhanahu wa Ta’ala) telah berfirman :

    Artinya : “ katakanlah ( wahai Muhammad ) terhadap Allah kah dan ayat – ayat Nya serta RasulNya kalian memperolok – olok? tiada arti kalian meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman“ . (At- Taubah : 65- 66).

    Ketujuh :

    Sihir di antaranya adalah ilmu guna-guna yang merobah kecintaan seorang suami terhadap istrinya menjadi kebencian, atau yang menjadikan seseorang mencintai orang lain, atau sesuatu yang di bencinya dengan cara syaitani.dan orang yang melakukan hal itu adalah kafir, karena Allah (Subhanahu wa Ta’ ala) telah berfirman :

    Artinya :” Sedang kedua malaikat itu tidak mengajarkan (suatu sihir) kepada seorangpun, sebelum mengatakan: sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, sebab itu janganlah kamu kafir “.( Al-Baqarah : 102.

    Kedelapan:

    Membantu dan menolong orang – orang musyrik untuk memusuhi kaum muslimin.

    Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman:

    Artinya : “Dan barang siapa diantara kamu mengambil mereka (Yahudi dan Nasrani ) menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang tersebut termasuk golongan mereka. sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang – orang yang zhalim” .( Al- Maidah: 51).

    Kesembilan:

    Berkeyakinan bahwa sebagian manusia diperbolehkan tidak mengikuti syari’at Nabi Muhammad (Shalallahu ‘alaihi Wassalam) , maka yang berkeyakinan seperti ini adalah KAFIR. Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman :

    Artinya:”Barang siapa menghendaki suatu agama selain Islam, maka tidak akan diterima agama itu dari padanya, dan ia di akhirat tergolong orang- orang yang merugi”.( Ali- Imran: 85).

    Kesepuluh:

    Berpaling dari Agama Allah (Subhanahu wa Ta’ala); dengan tanpa mempelajari dan tanpa melaksanakan ajarannya. Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman :

    Artinya : “ Tiada yang lebih zhalim dari pada orang yang telah mendapatkan peringatan melalui ayat – ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling dari padanya. Sesungguhnya kami minimpakan pembalasan kepada orang yang berdosa “. ( As-Sajadah : 22).

    Dalam hal- hal yang membatalkan keislaman ini , tak ada perbedaan hukum antara yang main-main, yang sungguh-sungguh ( yang sengaja melanggar ) ataupun yang takut, kecuali orang yang di paksa. Semua itu merupakan hal-hal yang paling berbahaya dan paling sering terjadi. Maka setiap muslim hendaknya menghindari dan takut darinya. Kita berlindung kepada Allah (Subhanahu wa Ta’ala) dari hal- hal yang mendatangkan kemurkaan Nya dan kepedihan siksaanNya. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada makhluk Nya yang terbaik, para keluarga dan para sahabat beliau. Dengan ini maka habis dan selesai kata-katanya. Rahimahullah.

    Termasuk dalam nomor empat :

    Orang yang berkeyakinan bahwa aturan-aturan dan perundang – undangan yang diciptakan manusia lebih utama dari pada syariat Islam, atau bahwa syariat Islam tidak tepat untuk diterapkan pada abad ke dua puluh ini, atau berkeyakinan bahwa Islam adalah sebab kemunduran kaum muslimin, atau berkeyakinan bahwa Islam itu terbatas dalam mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya saja, dan tidak mengatur urusan kehidupan yang lain.

    Juga orang yang berpendapat bahwa melaksanakan hukum Allah Ta’ala dan memotong tangan pencuri, atau merajam pelaku zina ( muhsan) yang telah kawin tidak sesuai lagi di masa kini.

    Demikian juga orang yang berkeyakinan diperbolehkannya pengetrapan hukum selain hukum Allah (Subhanahu wa Ta’ala) dalam segi mu’amalat syar’iyyah, seperti perdagangan, sewa menyewa, pinjam meminjam, dan lain sebagainya, atau dalam menentukan hukum pidana, atau lain-lainnya, sekalipun tidak disertai dangan keyakinan bahwa hukum- hukum tersebut lebih utama dari pada syariat Islam.

    Karena dengan demikian ia telah menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah (Subhanahu wa Ta’ala) , menurut kesepakatan para ulama’.sedangkan setiap orang yang telah menghalalkan apa yang sudah jelas dan tegas diharamkan oleh Allah (Subhanahu wa Ta’ala) dalam agama, seperti zina, minum arak, riba dan penggunaan perundang- undangan selain Syariat Allah (Subhanahu wa Ta’ala), maka ia adalah KAFIR, merurut kesepakatan para umat Islam.

    Kami mohon kepada Allah (Subhanahu wa Ta’ala) agar memberi taufiq kepada kita semua untuk setiap hal yang di ridhai Nya, dan memberi petunjuk kepada kita dan kepada seluruh umat Islam jalannya yang lurus. Sesungguhnya Allah (Subhanahu wa Ta’ala) adalah Maha Mendengar dan maha Dekat. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad (Shalallahu ‘alaihi Wassalam), kepada para keluarga dan para shahabat beliau.

    (Dinukil dari kitab نواقض الإسلام oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, edisi Indonesia Hal-hal yang membatalkan Keislaman)

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 15 January 2016 Permalink | Balas  

    Mencari Kelimpahan Karunia Allah 

    kerja kerasMencari Kelimpahan Karunia Allah

    “Dan kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” (QS. Al-Israa : 12).

    Tidak diragukan lagi, ayat diatas secara tegas menerangkan bahwa salah satu hikmah silih bergantinya siang dan malam bagi orang-orang beriman, adalah untuk memberikan kesempatan mencari fadlan min Rabbikum, karunia Allah. Bahkan di dalam ayat lain, yakni surat al-Fath ayat 29, Allah SWT menerangkan sifat-sifat Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya, dimana yabtaghuna fadlan minallah, mencari karunia Allah, adalah salah satu karakteristiknya. Jelaslah, bahwa mencari karunia (fadlan) ini, bukanlah hal yang remeh dan dilakukan sesuka dan sesempatnya, tadi harus dijadikan salah satu kegiatan utama orang-orang beriman, dan menjadi salah satu karakteristik kepribadiannya.

    Hanya saja, sebagian orang menyalahartikan karunia Allah dengan membatasi dan menyempitkannya, sebagai mencari rezeki atau karunia dalam bentuk harta benda. Sehingga mencari karunia Allah, dibatasi dengan bekerja mencari uang dan penghidupan. Bekerja mencari nafkah itu sendiri, bukanlah sesuatu yang buruk, bahkan sesuatu yang akan memiliki nilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar, cara yang halal, serta tujuan yang benar pula. Tetapi karunia Allah, fadlan minallah, bukanlah rezeki. Rezeki, bukanlah sesuatu yang mesti dicari oleh orang-orang beriman, dan bahkan oleh seluruh makhluk hidup di muka bumi ini. Sebab, setiap makhluk telah ditetapkan rezekinya oleh Allah SWT. Semua makhluk telah memilikinya, sesuai dengan kebutuhan dan porsinya masing-masing. Tidak ada satu pun yang dilewatkanNya. Dalam salah satu ayat, Allah SWT berfirman: “Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberikan rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu di persembunyiannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (lauh mahfuzh).” (QS. Hud : 6).

    Rezeki yang melimpah, bukanlah tanda orang yang memperoleh karunia Allah. Harta kekayaan yang melimpah, kekuasaan yang terhimpun, ataupun jabatan yang kian memuncak, tidaklah identik dengan karunia Allah yang harus dicari orang-orang beriman. Bila sekedar untuk menumpuk kekayaan, meraih harta, atau mencapai puncak kekuasaan, orang-orang kafir pun mampu mencapainya. Bahkan para koruptor, penipu dan penjahat sekalipun, tidak sedikit hidup bergelimang harta kekayaan dan memiliki kekuasaan yang puncak. Bukan itu karunia Allah yang diharuskan orang beriman mencarinya!

    Secara bahasa, fadlan artinya luberan, limpasan atau kelebihan. Bila ada gelas yang berukuran 1 liter air, kemudian diisi 1,5 liter air. Maka setengah liter air akan menjadi limpahan, luber keluar gelasnya. Itulah fadlan! Dan limpahan itulah yang sesungguhnya dicari oleh orang-orang beriman dalam hidupnya.

    Rezeki setiap makhluk telah ada takarannya, telah tetap jatahnya, hanya tinggal setiap makhluk berusaha menjemputnya, maka ia pasti akan mendapatkannya. Namun, yang dicari orang beriman, bukanlah “jatah” rezeki yang diberikan Allah, tetapi fadlan, limpahan dari rezeki yang diperolehnya. Ia tidak mencari harta, tetapi fadlan dari harta itu. Orang beriman tidak mencari kekuasaan, tetapi fadlan dari kekuasaan itu. Begitulah seterusnya, sehingga pencarian orang beriman jauh lebih tinggi daripada orang-orang yang mengabaikan agama Allah.

    Apakah limpahan dari harta yang kita peroleh? Limpahan itu ada pada barokah harta yang diperolehnya. Barokah harta diperoleh dengan niat yang lurus, ikhtiar yang halal, dan digunakan untuk sesuatu yang bernilai amal shalih. Harta itu digunakan untuk menafkahi anak dan isterinya, ditunaikan zakatnya, diinfaqkan di jalan Allah untuk menegakkan syi’ar Islam di muka bumi ini. Itulah kelimpahan harta yang dicari orang beriman.

    Demikian pula halnya dalam kekuasaan dan amanah yang diembannya. Tinggi rendahnya kedudukan, besar kecilnya kedudukan bukanlah masalah. Hal yang dicari dari kekuasaan oleh orang beriman, adalah fadlan, kelimpahanNya. Kelimpahan dalam kekuasaan adalah manakala ia menggunakannya untuk amar ma’ruf nahyi munkar, menjadikannya sebagai sarana untuk menunaikan tugas sebagai khalifah fil ardhi, pengelola yang memakmurkan bumi dan mensejahterakan Ummat. Itulah yang dicari orang-orang beriman.

    Karena itu, tujuan orang beriman bekerja keras dengan cerdas, bukanlah dalam upaya mengunmpulkan uang dan harta kekayaan lainnya. Itu tidak perlu dicari, sebab secara sunnatullah, bila ia bekerja keras ia akan memperoleh rezkinya sesuai dengan besar kecilnya rezeki yang ia ambil.

    Demikianlah pula bila orang-orang beriman bila berjihad fi sabilillah, bukanlah untuk menggeser dan menduduki kekuasaan orang-orang yang dilawannya, sebab itupun telah menjadi sunnatullah, strategi perjuangan yang jitu dan taktik jihad yang tepat akan mengantarkan kaum muslimin pada kemenangan. Yang menjadi tujuan dari semua itu, adalah fadlan minallah, kelimpahan karunia Allah pada setiap yang diperolehnya. Itulah yang membedakan apa yang dicari oleh orang-orang beriman, dengan makhluk Allah lainnya.

    (KH. Hilman Rosyad Syihab, Lc.)

     
  • erva kurniawan 2:43 am on 14 January 2016 Permalink | Balas  

    Keistimewaan Hari Jum’at 

    sholat-jumatKeistimewaan Hari Jum’at

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sangat memuliakan hari ini, menghormatinya, dan mengkhususkannya untuk beribadah dibandingkan hari-hari lainnya. Di antara keistimewaan hari Jum’at adalah :

    1. Ia adalah hari raya/ hari besar yang berulang

    Maka tidak diperbolehkan puasa khusus pada hari itu, tanpa didahului oleh puasa sebelum maupun sesudahnya, Agar berbeda dengan Yahudi. Juga agar tubuh merasa kuat untuk melaksanakan ibadah pada hari Jum’at seperti shalat, do’a dan yang lainnya.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    “Sesungguhnya hari Jum’at adalah ‘ied (hari raya), maka jangan jadikan hari raya kalian untuk berpuasa, kecuali bila kalian puasa sebelum dan sesudahnya”. (HR. Ahmad dalam al-Musnad 15/157, hadits 8012, syech Ahmad Syakir mengatakan: sanadnya shahih.

    1. Ia bertepatan dengan hari bertambahnya kenikmatan di sorga

    Yaitu hari saat seluruh penghuni sorga dikumpulkan di Lembah yang luas, dan dibuatkan bagi mereka mimbar-mimbar dari mutiara, emas, dan mimbar dari zamrud, dan permata diatas bukit pasir dari kasturi mereka lalu melihat Allah Subhanahu Wata’ala, dengan mata kepala mereka (nyata)..

    Dan orang yang paling cepat bertemu dengan Allah adalah mereka yang dulu juga bersegera datang ke masjid, yang paling dekat dengan Allah pada hari itu, adalah mereka yang dulu paling dekat (duduknya) dengan imam (pada hari Jum’at). (Zaadul Ma’aad 1/ 63,64).

    Dalam sebuah hadist panjang yang diriwayatkan oleh Anas, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ” ???.tidak ada kerinduan yang dirasakan oleh penduduk sorga melebihi kerinduan mereka kepada hari Jum’at, agar mereka dapat melihat Tuhannya Subhanahu Wata’ala, dan kemulian-Nya. Karena itu, hari itu disebut “yaumul mazid”. (HR. Ibnu Abi Syaibah dan yang lainnya, lihat shahih at-targhib wa at-tarhiib (1/291) hadits 694.

    1. Pada hari itu ada saat dikabulkannya do’a.

    Yaitu saat dimana Allah akan memberikan apa saja yang diminta oleh hamba-Nya yang muslim. Di dalam kitab Shahih al-Bukhari Muslim terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallu ‘anhu ia berkata :

    Rasullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    “Sesungguhnya pada hari Jumat ada waktu yang apabila seorang muslim shalat bertepatan dengannya lalu ia meminta kepada Allah maka akan dikabulkan permintaanya ” dan Rasullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengisyaratkan dengan tangannya bahwa waktu itu sebentar. (HR.Bukhari{891}dan Muslim{879})

    1. Membaca surat {aliflamim tanzil /surat As-sajdah}dan{hal ata ‘alal insan /surat Al-insan), pada shalat subuh hari Jumat.

    Rasullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga telah melakukan hal tersebut {HR. Bukhori {891} dan Muslim{879}}, Ibnu Taimiyah memberikan alasannya dengan mengatakan :

    “Sesungguhnya Rasullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca surat ini pada shalat shubuh hari Jumat karena di dalamnya terkandung penjelasan peristiwa yang telah terjadi dan akan terjadi pada hari itu, kedua surat ini mengandung penjelasan tentang peciptaan Adam, tentang hari kebangkitan dan hari dikumpulkannya manusia di padang mahsyar yang semua itu terjadi pada hari jumat, membaca kedua surat ini pada hari Jumat dapat mengingatkan manusia akan peristiwa yang telah terjadi dan akan terjadi, sedangkan sujud tilawah pada shalat ini hanya sebagai ikutan bukan dimaksudkan sejak awal.

    Ibnu al-Qayyim berkata : banyak orang yang tidak mengerti mengira bahwa yang dimaksud dengan membaca surat sajdah adalah pengkhususan sujud tambahan untuk shalat fajar,dan mereka menamai sujud ini dengan sujud Jum’at, jika seseorang tidak membaca surat sajdah maka disunahkan membaca surat lain yang mengandung sujud.

    {diantara ulama yang dapat dikutip pendapatnya demikian adalah Ibrahim An-nakha’i, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar dari Ibrahim An-nakha’i melalui sanad yang dikuatkan oleh Ibnu Abi Syaiba bahwa Ibrahim An-nakha’i berkata, “Disunnahkan membaca pada shalat shubuh hari jumat surat yang mengandung sajdah.” Melalui riwayat Ibnu Abi Syaibah juga bahwa ia {Ibrahim An-nakha’i} telah membaca surat Maryam.}

    Sedang melalui jalan Ibnu Aun ia berkata : mereka membaca pada shalat subuh hari jumat surat yang mengandung sajdah. Melalui riwayatnya ia menambahkan: saya bertanya kepada Muhammad -Ibnu Sirin- tentang hal itu { membaca surat yang mengandung sajdah} ia menjawab : “tidak apa-apa.”

    Al-hafiz Ibnu Hajar mengatakan: hal ini telah dilakukan sebagian ulama Kufah dan Basrah, maka tidaklah pantas untuk mengatakanya batil { fathul bahri 2/440}}.

    Karena itu sebagian ulama memakruhkan membaca surat sajdah terus-menerus pada sholat subuh hari jumat untuk menghindari anggapan keliru orang-orang yang tidak mengerti {Zadul Ma’ad {1/375}} lihat juga pekataan Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari{ /439,440}.

    1. Disunnahkan untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada siang dan malam harinya.

    Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dari Anas:

    “Perbanyaklah shalawat pada hari Jum’at dan malam Jum’at.” (HR Baihaqi dari Anas, dan dihasankan oleh Arnauth, dan ia juga terdapat dalam Silsilah al-Shahihah /1407).

    Dan dari Aus Radhiallahu ‘anhu dia mengatakan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bersabda:

    “Sebaik-baik hari kalian adalah hari Jum’at: pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu beliau diwafatkan, pada hari itu sangkakala ditiup, pada hari itu manusia bangkit dari kubur, maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat kalian akan diperlihatkan kepadaku”, para shahabat bertanya: “wahai Rasulullah, bagaimana diperlihatkan kepada engkau sedangkan tubuh engkau sudah hancur (sudah menyatu dengan tanah ketika sudah wafat), Beliau menjawab: “sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala mengharamkan kepada bumi untuk memakan (menghancurkan) jasad para Nabi”. (HR, “al-Khamsah” kecuali At-Tirmidzi, syech Al-bani mengatakan: sanadnya sahih, kitab: “fadhlu ashalatu ‘ala an-Nabi”, hal 35).

    Ibnu Al-qayyim berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebaik-sebaik makhluk, hari Jum’at adalah penghulunya hari, dan shalawat kepada Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada hari ini (Jum’at) adalah sebuah kekhususan untuk Beliau, di samping itu ada hikmah lainnya bahwa setiap kebaikan yang didapatkan oleh umat Beliau di dunia dan akhirat adalah melalui tangan Beliau, maka Allah mengumpulkan bagi umat Nabi Muhammad dua kebaikan dunia dan akhirat, dan karamah yang paling besar yang mereka dapatkan adalah pada hari Jum’at, karena pada hari itu mereka dibangkitkan menuju rumah dan istana-istana mereka di surga, hari Jum’at juga merupakan hari penambahan kebaikan bila mereka masuk surga, hari Jum’at merupakan hari raya buat mereka di dunia, pada hari itu Allah Subhanahu Wata’ala, memenuhi permintaan dan kebutuhan-kebutuhan mereka, yang meminta tidak akan ditolak, demikianlah, mereka mengetahuinya dan mendapatkannya karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka bersyukur, berterima kasih kepadanya dan memenuhi sedikit dari hak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah dengan memperbanyak shalawat kepada Beliau pada hari ini dan malamnya. (Zaadul Ma’ad 1/376).

    1. Disunnahkan membaca surat Kahfi pada hari Jum’at dan malamnya.

    Dari Abu Sai’id Al-Khudry, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Orang yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at maka dia akan diterangi oleh cahaya antara dua Jum’at” (HR. An-Nasai, al-Baihaqi, dan Hakim, serta disahihkan oleh al-Albani dalam kitab As-shahihah”, 2651).

    Dalam riwayatnya yang lain:

    “Orang yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, akan muncul cahaya dari bawah kakinya menjulang sampai ke langit yang meneranginya pada hari Kiamat, dan dia akan diampuni antara dua Jum’at” (HR. al-Hakim, al-Baihaqi, dan disahihkan oleh Arnauth, juga diriwayatkan oleh Ad-Darimy dalam musnadnya (mauquf) pada Abu Said dan para Rawinya seluruhnya terpercaya (tsiqaat), dan seperti ini tidak mungkin berasal dari pendapat mereka, jadi hukumnya adalah hukum “marfu'”.

    Dan ibnu Qayyim Rahimahullah mengatakan: Sa’id bin mansyur menyebutkannya dari perkataan Abu Sa’id al-khudry seperti itu juga (zaadul maad 1/378).

    Ad-darimy meriwayatkannya dengan lafadz,

    “Orang yang membaca surat kahfi pada malam Jum’at dia akan diliputi cahaya antara dia dan baitul ‘atiq.” {Disahihkan oleh syekh al-Albany dalam kitab “shahihul jami’ (6471)}.

    1. Boleh shalat pada tengah hari (saat matahari tepat diatas kepala) di hari Jum’at dan tidak boleh pada hari-hari lainnya.

    Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Abu ‘Abbas Ibnu Taimiyah, berdasarkan hadits:

    “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, membersihkan badan dan bersuci, memakai minyak atau memakai wewangian, kemudian dia keluar (untuk shalat Jum’at), dia tidak memisahkan antara dua orang (tidak duduk diantara dua orang yang sudah duluan duduk, dengan memisahkan dua orang tersebut-pent), kemudian dia shalat sesuai dengan yang disyari’atkan, kemudian dia diam ketika Khatib berkhutbah, kecuali orang tersebut akan diampuni dosanya antara Jum’at tersebut dengan Jum’at yang akan datang. (HR. Bukhari, 2 / 308,309).

    Ibnu Qayyim mengatakan: dia boleh shalat sesuai yang telah dianjurkan, tapi dia tidak dianjurkan shalat ketika Imam telah keluar dari tempatnya untuk berkhutbah. (Zaadul Ma’ad, 1/378).

    1. Perbuatan baik yang dilakukan pada hari itu mendapat balasan khusus, dibandingkan hari-hari yang lainnya.

    Dari Abu Sa’id al-Khudry ia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

    “Lima perbuatan (amal), bila dilakukan oleh seseorang dalam suatu hari, Allah Subhanahu Wata’ala akan menulisnya sebagai penghuni sorga: menjenguk orang sakit, melayat jenazah, berpuasa satu hari, menunaikan shalat Jum’at, dan memerdekakan budak”. (HR, Ibnu Hibban dalam shahihnya, 713, dan dishahihkan oleh al-Albany dalam kitab “Silsilatu Al-Ahadits As-Shahihah” (As-shahihah)

    Ibnu Qayyim mengatakan,

    “Yang ke dua puluh tiga: hari Jum’at adalah hari yang disunnahkan padanya meluangkan waktu untuk beribadah, ia mempunyai keistimewaan dibandingkan hari-hari yang lainnya dengan berbagai macam ibadah yang wajib maupun yang sunnah, Allah Subhanahu Wata’ala telah menjadikan bagi setiap millah (agama) satu hari khusus untuk beribadah, dengan mengeyampingkan urusan duniawi, sedang hari Jum’at adalah hari ibadah, ia dibandingkan hari-hari yang lainnya seperti bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lainnya dan didalamnya terdapat saat dikabulkannya semua permohonan, bagai malam lailatur qadar, karena itu orang yang benar Jum’atnya dan selamat, maka akan selamat hari-harinya, orang yang benar ramadhannya dan selamat, maka akan selamat tahun-tahun yang dilaluinya, orang yang benar ibadah hajinya dan selamat, maka akan selamat sisa-sisa umurnya. Hari Jum’at merupakan barometer mingguan, Ramadhan barometer tahunan, dan ibadah haji adalah barometer kehidupan???.” (Zaadul Ma’ad 1/398).

    Dalam kesempatan yang lain, beliau menyebutkan:

    “Yang ke dua puluh lima: bersedekah pada hari itu punya kekhususan dibanding hari-hari yang lainnya, seperti kekhususan bersedekah pada bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan yang lainnya. Saya menyaksikan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah mensucikan jiwanya- bila hendak berangkat melaksanakan ibadah Jum’at, beliau membawa roti dan yang lainnya yang ia miliki, kemudian beliau menyedekahkannya secara diam-diam ???(Zaadul Ma’ad 1/407).

    Dan disebutkan dalam kitab al-Mushannaf, dari Ibnu ‘Abbas dari Ka’ab tentang hari Jum’at:

    “dan sedekah pada hari itu paling mulia???dibandingkan dengan hari-hari yang lainnya.” (Almushannaf 5558, Arnaauth mengatakan perawinya orang-orang yang terpercaya (tsiqaat), dan isnadnya shahih).

    1. Pada hari itu akan terjadi hari kiamat, alam semesta akan digulung dan dunia akan hancur, manusia akan dibangkitkan, dan digiring ketempat mereka di sorga atau neraka, pada hari ini seluruh makhluk merasa takut kecuali manusia dan jin.

    Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    “Sebaik-baik hari selama matahari masih terbit adalah hari Jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, diturunkan ke bumi, pada hari itu tobatnya diterima, dan pada hari itu beliau diwafatkan, pada hari itu kiamat akan terjadi, tidak ada satu-pun makhluk melata di muka bumi kecuali bersuara pada hari Jum’at dari mulai subuh sampai terbitnya matahari mereka takut (was-was) akan terjadinya kiamat, kecuali manusia dan jin???.. (HR. Abu Daud 1046, At-Tirmidzi 491, An-Nasa’i 1430, disahihkan oleh Arnauth dan yang lainnya.

    1. Orang yang berjalan untuk sholat Jum’at akan mendapat pahala untuk tiap langkahnya, setara dengan pahala ibadah satu tahun shalat dan puasanya.

    Hal ini berdasarkan hadits Aus bin Aus z, ia berkata: Rasulullah y bersabda:

    “Siapa yang mandi pada hari Jum’at, kemudian bersegera berangkat menuju masjid, dan menempati shaf terdepan kemudian dia diam, maka setiap langkah yang dia ayunkan mendapat pahala puasa dan shalat selama satu tahun, dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah”.

    (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan, dinyatakan shahih oleh Ibnu Huzaimah).

    1. Neraka jahannam dinyalakan setiap hari, kecuali hari Jum’at, sebagai penghormatan terhadap hari ini. (Zadul Ma’ad: 1/387).
    2. Wafat pada malam hari Jum’at atau siangnya adalah tanda husnul khatimah, yaitu dibebaskan dari fitnah (azab) kubur.

    ***

    Indra Subni

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 13 January 2016 Permalink | Balas  

    Hidup Adalah Surga 

    bersyukurHidup Adalah Surga

    Hidup adalah kumpulan hari, bulan, dan tahun yang berputar tanpa pernah kembali lagi. Setiap hari umur bertambah, usia berkurang. Hal itu berarti kematian kian dekat. Semestinya kita kian arif dan bijak menjalaninya, tetap dalam kesalehan, bertambah kuat akidah, semakin khusyuk dalam beribadah, dan mulia akhlak. Pada puncak kebaikan itu lalu kita wafat, itulah husnul khatimah.

    Kehidupan jasad hanyalah sementara di dunia. Sedangkan kehidupan roh mengalami lima fase, yaitu: arwah, rahim, dunia, barzah, dan akhirat. Berarti hidup di dunia hanya terminal pemberhentian menuju akhirat.

    Allah SWT mengingatkan, ”Kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS: Al-A’laa [87]: 17).

    Rasulullah saw menggambarkan bahwa hidup ini tak ubahnya seorang musafir yang berteduh sesaat di bawah pohon yang rindang untuk menempuh perjalanan tanpa batas. Karena itu, bekal perjalanan mesti disiapkan semaksimal mungkin.

    Sebaik-baik bekal adalah takwa (QS Albaqarah [2]:197).

    Orang bertakwa adalah orang yang sangat cerdas. Ia tidak mau terjebak pada ”keenakan” sesaat, tetapi menderita berkepanjangan. Karenanya, ia mengolah hidup yang sesaat ini menjadi berarti untuk kehidupan panjang tanpa akhir nanti.

    ”Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-Ankabuut [29]: 64).

    Hidup ini di bawah tatapan dan aturan Allah. Segalanya digulirkan dan digilirkan: hidup, lalu mati; kecil, akhirnya membesar; muda, lama-lama tua; dan muncul kesenangan, terkadang berganti kesedihan. Semua fana. Tetapi, di tengah kefanaan itu, umat Rasulullah yang paling sukses –sebagaimana dijelaskan dalam hadis– adalah yang paling banyak mengingat mati, lalu mempersiapkan hidup setelah mati.

    Akhirnya, orang-orang cerdas akan tahu, sadar, dan yakin bahwa hidup bukan untuk mati, tetapi mati itulah untuk hidup. Hidup bukan untuk hidup, tetapi untuk Yang Mahahidup. Karenanya, jangan takut mati,jangan cari mati, jangan lupa mati, dan rindukanlah mati. Mengapa? Karena, kematian adalah pintu berjumpa dengan-Nya-perjumpaan terindah antara kekasih dengan Kekasihnya.

    Subhanallaah, ternyata hidup ini surga, saudaraku.

    ***

    Indra Subni

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 9 January 2016 Permalink | Balas  

    Hukum Berburuk Sangka Dan Mencari-Cari Kesalahan 

    takwaHukum Berburuk Sangka Dan Mencari-Cari Kesalahan

    Oleh

    Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr

    RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH [Menyikapi Fenomena TAHDZIR & HAJR]

    Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]

    Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus ialah mencari-cari kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah seduta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563].

    Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik”

    Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Umar di atas ketika menafsirkan sebuah ayat dalam surat Al-Hujurat.

    Bakar bin Abdullah Al-Muzani yang biografinya bisa kita dapatkan dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib berkata : “Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu”.

    Disebutkan dalam kitab Al-Hilyah karya Abu Nu’aim (II/285) bahwa Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi berkata : “Apabila ada berita tentang tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mancarikan alasan untuknya. Apabila kamu tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah kepada dirimu sendiri, “Saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukan perbuatan tersebut”.

    Sufyan bin Husain berkata, “Aku pernah menyebutkan kejelekan seseorang di hadapan Iyas bin Mu’awiyyah. Beliaupun memandangi wajahku seraya berkata, “Apakah kamu pernah ikut memerangi bangsa Romawi?” Aku menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya lagi, “Kalau memerangi bangsa Sind, Hind (India) atau Turki?” Aku juga menjawab, “Tidak”. Beliau berkata, “Apakah layak, bangsa Romawi, Sind, Hind dan Turki selamat dari kejelekanmu sementara saudaramu yang muslim tidak selamat dari kejelekanmu?” Setelah kejadian itu, aku tidak pernah mengulangi lagi berbuat seperti itu” [Lihat Kitab Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir (XIII/121)]

    Komentar saya : “Alangkah baiknya jawaban dari Iyas bin Mu’awiyah yang terkenal cerdas itu. Dan jawaban di atas salah satu contoh dari kecerdasan beliau”.

    Abu Hatim bin Hibban Al-Busti bekata dalam kitab Raudhah Al-‘Uqala (hal.131), ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya”.

    Beliau juga berkata pad hal.133, “Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita”.

    [Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al’Abbad Al-Badr hal 17-21, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]

    Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=736&bagian=0

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 8 January 2016 Permalink | Balas  

    Dakwah ala Teletubbies 

    Dakwah-Islam1Dakwah ala Teletubbies

    “Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik”.

    Fragmen ayat di atas adalah sebuah hepotesa dari keniscayaan seorang hamba untuk melaksanakan dakwah, menyebarkan misi Islam secara paripurna.

    Manusia, disamping makhluk yang diciptakan untuk mengabdi sepenuhnya kepada Tuhan, juga punya tugas untuk melestarikan dakwah Islamiyah di atas maya.

    Dua dimensi yang sama-sama suci: sebagai seorang hamba yang menyerahkan segalanya untuk menghambakan diri-di satu sisi-dan sebagai khalifah yang mendermakan hidupnya untuk izzul islam wal muslimin-di sisi yang lain. ‘Sesungguhnya aku akan menjadikan khalifah di bumi, kata Allah. Dan jadilah Adam (yang manusia) sebagai khalifah pertama.

    Dakwah adalah tulang punggung tegaknya Islam. Sebagai prosesor penentu jalannya gerakan Islam. Tanpa dakwah, Islam hanyalah utopia. Tanpa dakwah  barangkali kita tidak pernah mengenal Islam. Revolusi yang digaungkan oleh Nabi Muhammad saw. lebih 14 abad yang silam menjadi prioritas perjalanan agama paripurna ke depan.

    Dakwah adalah kewajiban individu. Setiap orang wajib melaksanakannya. Dan dakwah bisa dilakukan dengan berbagai cara.

    Setidaknya ada tiga model dakwah yang bisa dilakukan oleh da’i, yaitu :

    1. Dakwah bil hal.

    Dakwah yang dilakukan dengan memberikan teladan yang baik. Dakwah ini adalah model dakwah yang paling efektif dan menjadi karakteristik dakwah Nabi Muhammad. ‘Sungguh dalam dirimu Muhammad terhadap teladan yang baik”. Kata Allah dalam al-Qur’an. Kenapa dakwah bil hal sangat efektif? Karena manusia lebih gampang meniru apa yang dia lihat, daripada mempraktekkan apa yang didengar dan yang dibaca.

    1. Dakwah bil-Qalam.

    Dakwah dengan melalui tulisan. Model seperti ini juga cukup efektif walaupun masih sedikit sekali kalangan para da’i yang menggunakan model dakwah seperti ini. Ada dua probabilitas yang menyebabkan sedikitnya dakwah dengan karya tulis. Pertama minimnya kemampunan menulis orang-orang Islam (baca: da’i). Kedua sedikitnya fasilitas media keislaman untuk mengekspresikan dakwah dengan model ini. Kalaupun ada, itu pun masih bisa dihitung dengan jari, selebihnya media di bawah hegemoni orang-orang ‘luar’.

    1. Dakwah bil lisan.

    Dakwah model ini menjadi ciri khas dakwah masa kini. Di pelosok desa, di tengah hangar-bingar perkotaan, pengajian, majlis taklim  marak dilakukan. Bahkan untuk mengoptimalkan retorika dakwah verbal ini, tak jarang dijumpai latihan berpidato, mulai dari teknik, metode, gaya, intonasi dan lain sebagainya. Hal ini jelas sangat menggembirakan. Setidaknya prospek dakwah verbal akan tatap cerah dan tidak akan punah.

    Namun masalah kemudian timbul. Seberapa efektifkah dakwah verbal seperti ceramah, pidato atau orasi  dapat mengubah prilaku masyarakat menjadi lebih baik? Pasalnya, kendati pengajian marak digelar di mana-mana, muballigh didatangkan dari mana-mana, dan masyarakat hadir dengan penuh semangat diiringi tampik sorak dan aplaus panjang. Setelah itu kehidupan berjalan sebagaimana biasa. Tidak ada makna yang bisa diambil dari pengajian itu. Layaknya tidak ada apa-apa. Dan prilaku masyarakat ternyata tidak semakin baik.

    Alih-alih memperbaiki prilaku, yang baik malah berbalik haluan. Dakwah verbal sudah tidak punya tenaga. Ia telah kehilangan kekuatannya, sehingga yang tampak pengajian hanyalah sederet acara seremonial yang tidak membawa kesan berarti. Naïf!.

    Lantas siapa yang salah dalam hal ini, pelaku dakwah atau masyarakatnya? Kita tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Yang jelas, metodologi dakwah yang digunakan oleh para da’i sudah semestinya dipertanyakan kembali.

    Ada sintesa menarik yang dapat dipintal dari benang kusut konteks dakwah saat ini: dakwah sudah kehilangan orientasi. Dakwah sudah tidak murni sebagai tuntunan -sich, tapi telah melebur batas menjadi tontonan ‘plus’. Aspek yang ditonjolkan oleh (sebagian) da’i masa kini bukan lagi ajaran dan pesan moralnya, tapi bagaimana ia mencari simpati dengan metode dan gaya penampilan yang kadang-kadang–entah disadari atau tidak-telah menghilangkan substansi dakwah itu sendiri.

    Metode yang kebablasan. Panggung pengajian bukan lagi menjadi pemandangan yang menyejukkan dan meneduhkan, tapi sudah disulap menjadi medan banyolan dan lawakan bahkan menjadi arena provokasi. Dan yang terjadi kemudian, da’i bukan lagi berwujud sosok ‘malaikat’ yang memikat dan menyejukkan hati, tapi ia sudah berubah wajah menjadi pelawak atau tukang mbanyol bahkan provokator yang menembaki saudara-saudaranya dengan ‘mesiu’ ayat-ayat al-Qur’an. Politisasi agama, kata Amien Rais.

    Saat ini tidak sulit untuk mencari tukang pidato. Siapa pun yang disodori mic, insya Allah akan keluar pepatah-petitihnya. Bahkan ada semacam trend yang menimbulkan kesan: asal pandai mbanyol atau mencaci maki saudara-saudaranya, bisa jadi tukang pidato. Selanjutnya masyarakat—yang tidak tahu apa-apa—dengan lugu menjulukinya kiai, ustadz dan atau muballiqh (KH. Mustafa Bisri, Melihat Diri Sendiri, 122).

    Agaknya, apa yang paling dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad saw. terhadap umatnya, saat ini benar-benar telah terjadi. Dulu, Rasulullah antara lain meramalkan bahwa akan datang atas umatnya masa-masa yang jumlah tukang pidatonya mbludak, orang alimnya sedikit dan kekacauan merajalela (al-Jami’ush Shaghier II/32).

    Dus, metode memang penting. Semua orang mengakui itu. Islam meletakkan metode pada posisi yang sangat tinggi. Bahkan  kunci sukses dakwah Rasulullah terletak pada kemampuannya menggunakan metode dengan tepat.

    Orang bijak pernah berkata ‘Metode lebih penting dari isi”. Tapi ketika metode itu diletakkan pada porsi yang tidak proporsional, maka ia hanya akan menjadi bumerang. Metode dakwah yang kebablasan hanya akan mencerabut makna dakwah itu sendiri dari akarnya.

    Dakwah adalah misi suci yang harus dilakukan dengan cara-cara yang suci pula. Misi suci dakwah adalah sebagi media transformasi untuk merubah prilaku masyarakat agar menjadi pribadi-pribadi yang ber-akhlakul karimah dengan memberikan bekal agama dan moral, bukan mencekoki mereka dengan mbanyolan dan caci maki.

    Dakwah-sekali lagi-bukan untuk memetik simpati, mencari popolaritas atau na’udzubillah -meminjam istilahnya KH. Musthafa Bisyri-untuk mengeruk amplop. Tapi bagaimana seorang da’i dapat memanusiakan manusia sehingga lebih manusiawi. Itu saja!

    Wallohu a’lam bis-shawab,-

    ***

    Arland

     
  • erva kurniawan 2:07 am on 6 January 2016 Permalink | Balas  

    Allah Tidak Memerlukan Iman Manusia 


    imanAllah Tidak Memerlukan Iman Manusia

    Abu Dzar

    “Kitab (Al Qur’an ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS.Az-Zumar:1-2)

    Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW berisi kebenaran yang harus diikuti dengan tidak mencampurkan ketaatan dengan keingkaran. Namun ada sebagian manusia yang menganggap bahwa Al-Qur’an hanyalah syair-syair yang di buat oleh Muhammad. Seperti apa yang disebutkan oleh Allah SWT sebagai bantahan terhadap orang-orang yang menganggap Al-Qur’an hanyalah sebuah syair:

    “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan,” [QS.Yaasin:69]

    Ada pula sebagian manusia yang menganggap bahwa Al-Qur’an itu hanyalah cerita orang-orang dahulu:

    “Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.”[QS. AL-Qalam (68):15)

    “Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu”.[QS. Al-Muthaffifiin (83):13)

    Dan anggapan-anggapan lain yang muncul terhadap Al-Qur’an, tapi itu semua tidaklah mengurangi kemuliaan Al-Qur’an. Asumsi-asumsi tersebut tentunya memiliki konsekwensi sikap dan apresiasi manusia terhadap Al-Qur’an. Di masa ini telah terlihat sebagian manusia yang menganggap bahwa Al-Qur’an hanyalah syair, cerita atau sihir dan akibat yang muncul atas anggapan-anggapan manusia tersebut.

    Tidak jarang kita temui di antara manusia yang mengatakan apa yang terdapat di dalam Al-Qur’an tidaklah perlu dilaksanakan, karena tertinggal dengan kemajuan jaman. Ada pula yang mengatakan bahwa ajaran yang terdapat Al-Qur’an itu sama dengan ajaran yang terdapat di Injil sekarang. Padahal Allah SWT telah mengatakan:

    “Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang mempunyai bukti yang nyata (Al Qur’an) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al Qur’an itu telah ada kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Qur’an. Dan barang siapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Qur’an, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Qur’an itu. Sesungguhnya (Al Qur’an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (QS. Hud (11):17)

    Berdasarkan ayat-ayat di atas, anggapan bahwa Al-Qur’an bukanlah sebuah kebenaran telah ada sejak Al-Qur’an di turunkan oleh Allah SWT sehingga penolakan-penolakan terhadap aturan dan risalah pun sudah terwakili oleh Arab jahiliyyah pada saat itu. Ketika mereka tidak mampu membantah Al-Qur’an maka mereka akan menghina dan mendzhalimi sang pembawa risalah dengan mengatakan gila ataupun melempari dengan kotoran dan hal-hal buruk lainnya.

    “Mereka berkata: “Hai orang yang diturunkan Al Qur’an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila“.[QS. Al-Hijr:6)

    Allah SWT membantah tuduhan mereka, seperti dalam firmanNya:

    “Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan.[QS. Al-A’raaf:84]

    Iman dan ingkar adalah sunatullah, dan hanya Allah SWT yang mampu memberi petunjuk kepada manusia. Tapi manusia haruslah ingat, bahwa Allah SWT tidak membutuhkan keimanan manusia, tapi manusia lah membutuhkan keimananan dan ketaatan pada Allah SWT. Seprti dalam firmanNya:

    “Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan Dia tidak meridai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.” (QS.Az-Zumar (39): 7)

    ***

    Munanggar Fahmi

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 4 January 2016 Permalink | Balas  

    Kitab Kuning Bicara Rokok 

    rokok-6Kitab Kuning Bicara Rokok

    Pernahkah Anda membaca Maulid al-Habsyi? Konon, pengarangnya, Sayid al-Habsyi setiap membaca shalawat kepada Nabi saw, Nabi selalu mendatanginya. Suatu ketika, beliau membaca shalawat, tetapi Nabi tidak datang.

    Beliau terus membaca shalawat dengan lebih khusyu’ lagi, tetapi Nabi tetap saja tidak datang. Akhirnya beliau mulai menyelidiki kemungkinan hal-hal yang menghalang-halangi kedatangan Nabi. Ternyata di majlisnya itu bercokol sisa puntung rokok. Segera beliau membuangnya jauh-jauh, tidak lama kemudian Nabi saw pun datang.

    Di sebuah dusun terpencil di pulau Jawa, diam seorang ulama besar, dengan pesantrennya yang megah. Santrinya melimpah ruah dari berbagai penjuru. Beliau sangat berpengaruh dan disegani oleh kalangan ulama. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang meyakini beliau sebagai wali Allah yang arif. Beliau mempunyai kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkannya, yaitu kebiasaan merokok.

    Dua proposisi (qadhiyyah) yang bertentangan di atas tidak bisa dijadikan dasar pengambilan hukum bahwa merokok itu haram, atau merokok itu halal. Karena kita konsisten bahwa dasar hukum agama yang disepakati adalah al-Kitab, al-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas.

    Merokok telah menjadi problem sosial yang merata. Tak terkecuali pesantren. Disamping karena memang efeknya yang menyebabkan bau mulut tidak sedap, rokok telah menjadi sumber keborosan keuangan, mengotori tempat-tempat umum, menyebabkan impotensi (?), menyebab-kan sakit jantung, dan yang paling berbahaya; orang yang terbiasa merokok menjadi sulit meninggalkannya alias kecanduan.

    Tak pelak lagi, kalau pengurus sejak beberapa tahun yang lalu mulai berusaha untuk mengurangi kebiasaan yang tidak baik ini. Meski, sebenarnya yang penting kita bicarakan di sini adalah mengenai apa respon fikih terhadap kebiasaan yang tidak baik ini?

    Secara global, sebelum kita berbicara dari sisi fikih, Islam sebagai agama yang bersih selalu menganjurkan kebersihan dan kesucian lahir batin bagi pemeluknya. Kebersihan batin menjadi penting, karena ia menjadi sentral pandangan Allah terhadap seseorang. Sedangkan kebersihan lahir menjadi penting pula, karena ia menjadi miniatur kebersihan batin seseorang.

    Sebagai bukti bahwa kebersihan merupakan hal yang penting dalam Islam adalah bahwa, ketika kita akan berkumpul dengan orang lain dalam pertemuan-pertemuan umum seperti shalat jum’at, shalat ‘id, belajar bersama di sekolah, akan pergi ke mesjid dan lain-lain, kita disunahkan mandi terlebih dahulu.

    Dan dalam kitab-kitab fikih, sebelum kita bertemu dengan bab tentang shalat, pilar utama dalam ajaran Islam, kita akan berpapasan dengan kitab thaharah, kesucian. Ini menjadi pertanda bahwa kesucian merupakan pintu untuk memasuki suatu ibadah ritual keagamaan yang paling besar. Tak ayal, kalau Nabi saw, mengibaratkan kesucian dengan separuhnya iman, “al-thuhur syathr al-iman”. Dan di antara serangkaian bab-bab dalam kitab thaharah tersebut, selalu terdapat bab yang secara spesifik membahas hukum bersiwak .

    Dengan redaksi yang sangat tegas, sebuah kitab menyebutkan, “siwak disunatkan dalam setiap keadaan, kecuali setelah zawal bagi yang berpuasa”. Dari redaksi ini, jelas sekali bahwa kita dianjurkan untuk membersihkan dan menyegarkan mulut kita setiap saat. Lebih-lebih ketika akan melaksanakan aktifitas-aktifitas penting seperti shalat, membaca al-Qur’an, mengaji, belajar, bangun tidur dan berubahnya mulut, siwak menjadi anjuran pokok yang harus dikerjakan yang hampir saja diwajibkan oleh Nabi saw.

    Nah, tanpa merujuk kepada pendapat ulama mengenai hukum merokok, dari penjelasan di atas, kiranya kita bisa menarik kesimpulan bahwa aktifitas merokok, lafzhan wa ma’nan, merupakan sesuatu yang bertentangan dengan batang tubuh kitab thaharah dalam Islam. Karenanya, tidak salah kalau ada yang mengatakan bahwa rokok itu bawl al-syaithan (kencingnya syetan).

    Sekarang, kalau kita berbicara rokok dari sisi fikih, dalam sejarah dikatakan bahwa tembakau baru ditemukan di dunia Islam dan mulai dikonsumsi oleh sebagian kaum muslimin sejak akhir abad ke sepuluh hijri. Yaitu masa setelah wafatnya Syeikh Zakariya al-Anshari dan Ibnu Hajar al-Haitami. Karenanya, ketetapan hukumnya baru ditemukan pada ulama-ulama fukaha setelah beliau, seperti al-Zayyadi dan lain-lain.

    Al-Luqani, dalam diskursusnya, Nashihat al-Ikhwan bi-Ijtinab al-Dukhan berkata, “Merokok terjadi pada akhir abad kesepuluh hijri. Yang pertama kali membawanya ke Negeri Romawi adalah orang-orang Inggris. Dan yang membawanya ke Maroko, adalah seorang Yahudi yang mengaku-ngaku dirinya sebagai orang bijak. Sedangkan yang membawanya ke Mesir adalah seorang Khawarij, Ahmad ibnu Abdullah, yang banyak menumpahkan darah kaum muslimin dan menghina Asyraf raja-raja Maroko”.

    Menurut al-Qaradhawi, karena kejadian merokok ini sangat baru, serta tidak adanya ketentuan hukum dari fukaha-fukaha mujtahidin, tidak pula dari ulama-ulama setelah mereka yang ahli takhrij dan tarjih dalam mazahib, serta tidak adanya pengenalan yang sempurna terhadap esensi dan konsekuensi yang ditimbulkannya berdasarkan kajian ilmiah yang orisinal, para fukaha berbeda pandangan yang sangat luas dalam hukum, sehingga dari masing-masing madzhab yang empat ada yang berpendapat haram, makruh, mubah, tafshil, dan tawaqquf (vakum).

    Dari sini jelas sekali, bahwa dari sisi fikih, hukum merokok dipertentangkan oleh masing-masing madzhab yang empat. Masing-masing madzhab memiliki empat macam pendapat; haram, makruh, mubah dan tafshil, tidak ada yang mengatakan sunat. Masing-masing pendapat bersikeras mempertahankan pendapatnya sendiri. Sehingga sampai sekarang para ulama bersepakat untuk berbeda pendapat mengenai hukum merokok.

    Dalam madzhab Syafi’i sendiri, pendapat yang mu’tamad adalah makruh tanzih. Tetapi, menurut Syeikh Ismail al-Yamani, meskipun pendapat yang mu’tamad mengatakan makruh tanzih, pada saat-saat tertentu hukum merokok disepakati keharamannya. Yaitu saat-saat yang harus dihadapi dengan kesopanan dan ketakziman, seperti merokok di hadapan orang yang sedang membaca al-Qur’an, al-hadits, tempat-tempat belajar ilmu syar’iy, atau tempat-tempat lain yang harus dihadapi dengan cara yang sopan dan takzim. Merokok di tempat-tempat seperti ini hukumnya haram, karena termasuk su’ul adab dan dianggap meremehkan majlis-majlis yang seharusnya ditakzimi.

    Dari redaksi di atas, yang berbunyi, tempat-tempat belajar ilmu syar’iy, dalam tradisi kita, bisa termasuk ruang-ruang sekolah, ruang musyawaroh, acara bahtsul masail, di dalam masjid dan sejenisnya.

    Bahkan yang lebih menarik lagi, berkaitan dengan hal di atas, Syekh Abdullah Taufiq al-Sabbagh berkata, “Yang lebih muda tidak merokok di hadapan yang lebih tua. Juga tidak merokok di hadapan mushhaf al-Qur’an. Dan sebaiknya pula tidak merokok ketika mendengarkan al-Qur’an melalui radio, seperti halnya di depan orang yang sedang membaca al-Qur’an secara langsung. Siapa yang melakukan hal-hal di atas, berarti mempersilahkan dirinya untuk dilaknat dan dijauhkan dari rahmat Allah SWT.”

    wallohu a’lam bis-shawab,-

    ***

    Arland

     
  • erva kurniawan 3:47 pm on 2 January 2016 Permalink | Balas  

    Titik Kemuliaan Ibu Rumah Tangga 

    ibu-anak-siluetTitik Kemuliaan Ibu Rumah Tangga

    “Rasa kasih sayang dalam rumah tangga memerlukan satu poros utama, dan ia adalah wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna.”

    SESAAT menjelang bunuh diri, aktris kenamaan Hollywood, Marilyn Monroe , menulis sepucuk surat untuk kaum wanita seluruh dunia. Bintang iklan yang juga supermodel paling populer itu menyampaikan sebuah penyesalannya menjalani kehidupan di dunia ini. Salah satu kutipan dalam suratnya tersebut sebagai berikut:

    “Waspadailah popularitas wahai wanita.Waspadailah setiap kegemerlapan yang menipumu. Saya adalah wanita termalang di muka bumi ini, sebab saya tidak bisa menjadi seorang ibu. Sesungguhnya wanita itu seharusnya menjadi penghuni rumah utama. Kehidupan berumah tangga dan berkeluarga secara mulia di atas segalanya. Sesungguhnya kebahagiaan wanita yang hakiki adalah dalam kehidupan rumah tangga yang mulia dan suci, bahkan kehidupan berumah tangga adalah simbol kebahagiaan wanita dan manusiawi.”

    Marilyn Monroe tak sendirian. Kini, banyak kaum perempuan barat mengikuti penyesalan Marilyn Monroe. Penyesalan ini lahir dari banyak hal yang telah mereka lakukan di luar fitrah mereka. Mereka menyesal atas kesibukannya di luar rumah. Karena kesibukan mereka di luar rumah, keluarga mereka menjadi rentan dihinggapi berbagai masalah.

    Penyelewengan, perselingkuhan suami istri, adalah masalah dominan yang kerap mengunjungi mereka. Karenanya, kegoncangan kehidupan rumah tangga, penyelewengan pendidikan anak yang menyebabkan mereka terlantar dan sengsara menjadi pelengkap penyesalan mereka. Tentu, secara fitrah, tak ada seorang wanita (ibu) yang tak menangis hatinya saat melihat anak-anaknya memiliki moral yang rusak, bebas berzina, hamil di luar nikah, aborsi, dan lain-lain. Tapi, inilah yang terjadi di barat sana.

    Kaum wanita yang hidup dalam liberalisme barat mulai menyadari bahwa persamaan, kesetaraan, dan kebebasan yang didengungkan banyak kaumnya di negeri mereka, sebetulnya telah merampas kebahagiaan mereka sendiri.

    ***

    MONROE berharap menjadi seorang ibu yang baik. Bahkan, ia menyatakan sendiri bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita adalah ketika ia mampu menjadi ibu, yang berkiprah total dalam kehidupan rumah tangga dan keluarganya. Berkhidmat dan taat sepenuhnya kepada suami, melahirkan anak, mendidiknya, membesarkannya, menjadikan mereka generasi yang taat kepada orangtua, dan generasi penerus perjuangan yang akan mampu mewujudkan peradaban mulia.

    Tentu, Monroe dan banyak kaum wanita yang kemudian menyadari kekeliruannya selama ini, melihat sebuah kemuliaan dalam status itu. Dan, secara tidak langsung, ia menyanggah bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita ada dalam gemerlapnya harta, tingginya kedudukan, pesatnya karier, dan lain-lain.

    Sesungguhnya, yang Monroe lihat adalah sebuah kebenaran yang menempatkan wanita, terutama ibu, dalam posisi yang sangat mulia. Seorang bijak mengatakan : “Anda yang beraktivitas di luar rumah, baik Anda sebagai dokter, dosen di perguruan tinggi, atau profesi-profesi akademis lainnya yang pada tempatnya tentu relevan, tetap harus memberikan kiprahnya di dalam rumah. Masalah keibuan, status sebagai istri, rumah dan rumah tangga, semuanya merupakan hal amat fundamental dan vital. Anda bukanlah wanita yang sempurna jika Anda tidak menangani urusan di dalam rumah. Rasa kasih sayang dalam rumah tangga memerlukan satu poros utama, dan itu ialah wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna.”

    Dr. Mien Uno, salah seorang tokoh perempuan negeri ini mengungkapkan hal senada. “Saya menganggap bahwa ibu rumah tangga adalah karir yang sangat terhormat. Akan tetapi, banyak masyarakat kita yang berpendapat bahwa status ibu rumah tangga bukanlah karir karena tidak bergerak dalam lingkup publik. Saya tidak mengerti yang dimaksudkan dengan lingkup publik. Bagaimanapun, menurut pendapat saya, justru ibu rumah tangga adalah posisi yang sangat terhormat karena dia melingkupi faktor-faktor sosial dengan keluarga, dengan masyarakat. Dia peletak dasar agama, kemudian sebagai seorang pendidik yang baik. Karenanya, dia berkarir sebagai ibu rumah tangga.”

    Sebuah puisi dari Chages, Challenges and Choices: Women in Develompent in Papua New Guinea, mungkin menjadi daftar lanjutan layaknya posisi ibu rumah tangga mendapat tempat terhormat dan mulia. Berikut bait-bait puisi yang dimaksud:

    Istriku Yang Tidak Bekerja

    Suatu ketika Siapa yang mengerik sagu? Siapa merawat ternak itu? Menjadi tumbuh dan menjual makanannya Hingga keluarga bertahan Siapa menimba air di sumur? Merawat dan menyayang anak-anak itu? Merawat yang sakit? Yang pekerjaannya menghabiskan waktu Yang bagi lelaki untuk minum kopi, merokok, berpolitik dengan temannya? Siapa hatinya tercurah bagi anak-anak? Yang perjuangannya Tak terlihat Tak terdengar Tak dihargai Tak terbantu Membantu pembangunan? Siapa peduli untuk bilang Benarkah Istriku tidak bekerja?

    Keterhormatan profesi ibu rumah tangga tentu tidak berhenti di titik itu. Seorang ibu rumah tangga harus berpuas hati dengan pasangannya, demikian juga sebaliknya. Mereka harus menanamkan kesetiaan dalam kehidupannya. Seorang ibu rumah tangga sepatutnya tahu kesenangan suami. Menyediakan segala keperluan yang disukainya terlebih dahulu, sebelum meminta sesuatu darinya.  Seorang ibu rumah tangga harus berupaya menumbuhkan rasa suka dan duka bersama keluarganya. Dan rahmah, berarti seorang ibu rumah tangga harus senantiasa mendasarkan setiap perilaku dan aktivitasnya di dalam rumah kepada akhlak yang mulia, serta tahu bersyukur atas nikmat yang diperoleh.

    Namun demikian, menjadi ibu rumah tangga yang mendapat kehormatan dan kemuliaan memerlukan kelayakan yang cukup. Wanita yang berhati batu, tidak pandai menaati suami, sering menuntut hak dan mengada-adakan masalah, tetapi gagal menunaikan tanggungjawab, tidak layak mendapat tempat terhormat dan mulia itu. Apalagi ia tidak mampu mewujudkan kehormatan anak-anaknya yang bakal menyambung kehidupan rumah tangga dan mewujudkan peradaban mulia. Kini, dengan catatan daftar kehormatan ibu rumah tangga, masih adakah yang menyebut bahwa ibu rumah tangga sebagai profesi terhina?

    ***

    Indra Subni

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 1 January 2016 Permalink | Balas  

    Dosa-dosa besar 

    taubat2Dosa-dosa besar

    Indra Subni

    Mengapa orang sekarang senang berbuat dosa besar, tidak takut dengan ancaman “Neraka Jahanan” yang sangat dahsyat siksaannya, yang sangat pedih siksaannya, yang kekal selamanya. Na’udzubillahi mindzalik. Astaghfirullahil’adzim, Ya Allah berilah kekuatan iman kepada saya, keluarga saya, anak-anak saya untuk menjalankan segala perintah-Mu dan untuk mejauhkan segala larangan-Mu Ya Allah.

    Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. QS.(66) At Tahriim 6

    Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. QS(7) Al A’Raaf 179

    JAUHILAH DOSA-DOSA BESAR, MENGETAHUI DOSA-DOSA BESAR SUPAYA TIDAK DILANGGAR.

    Dosa besar adalah: setiap maksiat yang mempunyai hukuman had (peraturan / hukum) di dunia atau ancaman di akhirat. Jumlah dosa-dosa besar: disebutkan oleh Ibnu Abbas, bahwa jumlahnya sampai tujuh macam lebih dekat daripada tujuh ratus macam. Hanya tidak ada yang dinamakan dosa besar jika diikuti dengan istighfar dan tidak ada yang dinamakan dosa kecil jika dilakukan terus menerus.

    Firman Allah Swt antara lain: Jika kamu jauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (syurga)”.Qs An Nisa’ 31.

    Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Qs.Al Furqaan 68,69 & 70.

    Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (Al-Furqan ayat 71&72).

    HADITS Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jauhilah perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah tentu engkau akan menjadi orang yang paling banyak ibadahnya”. (HR. Ahmad).

    1-Dosa-dosa besar (dosa yang paling besar) dalam Akidah: Syirik (musyrik) kepada Allah, yaitu beribadah atau berdo’a kepada selain Allah, mempersekutukan Allah. Rasulullah bersabda: “Do’a adalah ibadah” Hadits Riwayat Tirmidzi.

    Contoh: 1 Mengajarkan syareat untuk dunia saja, menyembunyikan ilmu, mempercayai dukun, mempercayai peramal bintang, menyembelih korban dan bernazar kepada selain Allah, menggambar orang, hewan atau sesuatu yang bernyawa, membuat atau menggantungkan patung sesuatu yang bernyawa, bersumpah selain kepada Allah, tidak mengkafirkan orang kafir, membohongi Allah dan Rasul-Nya, tenang terhadap azab Allah, menampar muka dan meratap pada waktu kematian, tidak menyukai adanya kadar, menggantungkan jimat seperti kalung tulang atau telapak tangan yang digantungkan pada anak-anak, atau tapal kuda yang digantungkan pada mobil, atau tulang yang digantungkan atau ditanam dirumah. Menanam kepala kerbau, atau kepala kambing untuk sesajen dll.

    2-Dosa besar dalam jiwa dan akal. Contoh : Dari ‘Abdullah bin ‘Amru R.A.; katanya: Rasulullah SAW: berkata: “Termasuk dosa yang paling besar adalah kalau orang mengutuk kedua orang tuanya.”Ada orang bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimana orang mengutuk ibu-bapanya?” Beliau menjawab: “kalau seseorang mencaci ibu-bapa orang lain, lalu orang lain itu membalas mencaci bapanya dan mencaci ibunya.” (HR Bukhari buku IV No. 1692).

    Dari al-Mughirah R.A., dari Nabi SAW. Beliau bersabda: “Allah telah melarang keras (mengharamkan) kamu mendurhakai ibu, melarang berbuat kikir, mengubur anak perempuan, Tuhan benci kalau kamu terlalu banyak berbicara begini begitu, terlalu banyak bertanya, serta membuang-buang harta tidak pada tempatnya.” (Hadits Shahih Bukhari buku IV No. 1693).

    Dari Anas Malik R.A., katanya: Rasulullah SAW. Pernah menyebutkan dosa-dosa besar, atau pernah ditanya orang tentang hal itu. Beliau berkata: “Mempersekutukan Allah, membunuh manusia, durhaka kepada kedua orang tua.”Setelah itu beliau berkata: “Akan saya beritahukankah kepadamu dosa besar yang paling besar?” Beliau melanjutkan”. “Perkatan bohong!” Atau beliau berkata: “Kesaksian yang dusta (palsu).”(HR Bukhari buku IV No. 1694)

    3-Dosa besar dalam harta benda, contoh : Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Qs.Al Baqarah ayat 173. Haram juga menurut ayat ini daging yang berasal dari sembelihan yang menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah.

    Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah (darah yang keluar dari tubuh), daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam bianatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya maksudnya : “Binatang yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas adalah halal kalau sempat disembelih sebelum mati”. Dan diharamkan bagimu yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, mengundi nasib dengan anak panah itu adalah kefasikan. (Qs.Al Maidah (5) ayat 3 sebagian).

    Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, suatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Qs. Al An’ Aam (6) ayat 145.

    4-Dosa besar dalam ibadah, contoh : Meninggalkan shalat atau melaksanakan di luar waktunya tanpa uzur, tidak mengeluarkan zakat, berbuka puasa pada bulan Ramadan tanpa uzur, tidak haji padahal mampu melaksanakannya, lari dari jihat di jalan Allah, meninggalkan jihat dengan jiwa, harta atau lisan bagi yang diwajibkan, meninggalkan shalat jumat atau jamaah tanpa uzur, meninggalkan perbuatan menyeru berbuat baik dan mencegah kemungkaran bagi yang mampu, tidak membersihkan kencingnya dan tidak melaksanakan ilmunya.

    5-Orang yang tidak dipedulikan Allah dan disiksa: Orang yang suka memberi, tetapi suka menyebut-nyebut pemberiannya itu. Orang yang menawar-nawarkan dagangannya dengan sumpah palsu. Orang yang suka pamer. Orang tua pezina. Raja (penguasa) pembohong. Si miskin / si kaya yang sombong.

    6-Bunuh diri , langsung masuk neraka selamanya: Dari Abu Hurairah r.a., katanya Rasulullah saw, bersabda: “Siapa yang bunuh diri dengan senjata tajam, maka senjata itu akan ditusuk-tusukannya sendiri dengan tangannya ke perutnya di neraka untuk selama-lamanya. Dan siapa yang bunuh diri dengan racun, maka dia akan meminumnya pula sedikit demi sedikit nanti di neraka, untuk selama-lamanya. Dan siapa yang bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, maka dia akan menjatuhkan dirinya pula nanti (berulang-ulang) ke neraka, untuk selama-lamanya.(HR.Muslim buku I No. 86). “Siapa yang bunuh diri dengan suatu cara, Allah akan menyiksanya di neraka jahanam dengan cara itu pula”.(HR.Muslim buku I No. 88)

    Dari Abu Hurairah r.a.,katanya: “Kami ikut perang bersama-sama Rasulullah saw. dalam perang Hunain. Rasulullah berkata kepada seorang laki-laki yang mengaku Islam, “Orang ini penghuni neraka”. Ketika kami berperang, orang itupun ikut berperang dengan gagah berani, sehingga dia terluka. Maka dilaporkan orang hal itu kepada Rasulullah saw., katanya: “Orang yang tadi Anda katakan penghuni neraka, ternyata dia berperang dengan gagah berani, dan sekarang dia tewas.” Jawab Nabi saw.,”Dia ke neraka” Hampir saja sebahagian kaum muslimin menjadi ragu. Ketika mereka sedang dalam keadaan demikian, tiba-tiba diterima berita bahwa dia belum mati, tetapi luka parah. Apabila malam telah tiba, orang itu tidak sabar menahan sakit karena lukanya itu. Lalu dia bunuh diri. Peristiwa itu dilaporkan orang pula kepada Nabi saw. Nabi saw. bersabda, “Allahu Akbar! Aku mengaku bahwa aku hamba Allah dan Rasul-Nya”. Kemudian beliau memerintahkan Bilal supaya menyiarkan kepada orang banyak, bahwa tidak akan dapat masuk sorga melainkan orang muslim (orang yang tunduk patuh). Sesungguhnya Allah menguatkan agama ini dengan orang jahat. (HR.Muslim buku I No. 89)

    Dari Syaiban r.a., katanya dia mendengar Hasan r.a., bercerita” Masa dulu, ada seorang laki-laki keluar bisul. Ketika ia tidak dapat lagi menahan sakit, ditusuknya bisulnya itu dengan anak panah, menyebabkan darah banyak keluar sehingga ia meninggal. Lalu Tuhan berfirman: Aku haramkan baginya sorga”. (karena dia sengaja bunuh diri). (HR.Muslim buku I No. 90).

    KHIANAT MERUSAK IMAN TIDAK BISA MASUK SURGA.

    Dari Umar bin Khaththab r.a., katanya: “ketika perang Khaibar sedang berkecamuk, sekelompok sahabat datang kepada Rasulullah s.a.w. Kata mereka, Si Fulan syahid. Si Fulan syahid! Ketika mereka melewati mayat seorang laki-laki mereka berkata pula, “Si Fulan syahid”. Jawab Rasulullah saw., “Sesungguhnya aku melihatnya berada dalam neraka, memakai pakaian yang dicurinya dari harta rampasan yang belum dibagi”. Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Hai, anak Kaththab! Beritahukan kepada orang banyak: “Tidak dapat masuk sorga melainkan orang-orang yang beriman”. Kata Umar, “Aku keluar, lalu kuserukan kepada orang banyak: “Ketahuilah! Sesungguhnya tidak dapat masuk sorga melainkan orang-orang yang beriman”.(HR.Muslim buku I No. 91)

    5- BERZINA Berselingkuh adalah dosa yang amat sangat besar dan sangat dibenci oleh Allah SWT.

    HUKUM-HUKUM PERZINAAN: Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Al Israa'(17) ayat 32) Penjelasan dari penulis, awas hukumannya dirajam (dilempari batu) sampai mati lhooo!, bagi yang pernah kawin (menikah), bagi yang belum pernah menikah melakukan zina hukumannya di dera (atau dipukul 100 kali).

    Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. (QS.An Nuur (24) ayat 2).

    Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina, atau laki-laki musrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mu’min. (QS.An Nuur (24) ayat 3). Pengertiannya: maksud ayat ini ialah: tidak pantas orang yang beriman kawin dengan yang berzina, demikian pula sebaliknya.

    Dan terhadap para wanita yang mengerjakan perbuatan keji (Zina, Lesbian-perempuan dengan perempuan), hendalah ada 4 (empat) orang saksi diantara kamu yang menyaksikannya. Kemudian apabila mereka telah memberi kesaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya. (QS.An Nisaa’ (4) ayat 15) .berlaku juga untuk laki-laki yang homosek (laki-laki dengan laki-laki)..

    Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji (zina, lesbian, homoseksual) diantara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Qs.An Nisaa’ (4) ayat 16).

    Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.Qs. An Nisaa’ 17.

    Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.Qs.An Nisaa’ 18

    Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia (Allah) adalah Maha Penerima taubat. (QS.An Nashr (110): 3).

    Dari Jabir bin Abdullah Al Ansari RA., bahwa seorang laki-laki dari Aslam datang kepada Rasulullah SAW. Dan menceritakan bahwa dia telah berzina. Pengakuan ini diucapkanannya empat kali. Lalu Rasulullah SAW. Menyuruh supaya orang itu dirajam (dilempari dengan batu, sampai mati). Sesungguhnya dia telah pernah kawin. (Hadits Sahih Bukhari IV No. 1817)

    Dari Abu Hurairah RA., katanya: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW. Ketika beliau sedang berada dalam mesjid. Orang itu berteriak mengatakan: “Ya Rasulullah! Sesungguhnya saya telah berzina.” Nabi tidak memperdulikan perkataan orang itu, sehingga dia mengulangi ucapannya sampai empat kali. Setelah orang itu mengakui kesalahannya sampai empat kali, Nabi SAW. Memanggilnya dan menanyakan: “Adakah engkau gila?” Dia menjawab: “Tidak!” Tanya Nabi: “Adakah engkau sudah pernah kawin?” Jawabnya: “Ya, sudah!” Lalu Nabi SAW. Berkata: “Bawalah orang ini dan rajamlah sampai mati!” (Hadits Shahih Bukhari IV No. 1818)

    Dari Anas bin Malik RA. Katanya: Ketika saya dekat Nabi SAW. Datang seorang laki-laki, lalu dia berkata: “Ya Rasulullah! Sesungguhnya saya telah melakukan suatu perbuatan yang perlu mendapat hukuman. Sebab itu, lakukanlah hukuman itu kepada saya!” Nabi tidak menanyakan kepada orang itu apa kesalahannya. Maka tibalah waktu sembahyang dan laki-laki itu sembahyang bersama Nabi SAW. Setelah Nabi selesai mengerjakan sembahyang, laki-laki tadi berdiri menemui Nabi dan mengatakan sekali lagi: “Ya Rasulullah! Sesungguhnya saya melakukan perbuatan yang perlu mendapat hukuman. Sebab itu, jalankanlah hukuman itu kepada saya menurut Kitab Allah!” Nabi berkata: “Bukankah engkau telah sembahyang bersama kami?” Jawabnya: “Ya!” Sabda Nabi: “Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa atau hukuman engkau.” (HR Bukhari IV No. 1819)

    Dari Zaid bin Khalid Al Juhani RA. Katanya: Saya mendengar Nabi SAW. Menyuruh supaya orang berzina dan belum kawin, dipukul seratus kali dan pembuangan (penjara) satu tahun. (Hadits Sahih Bukhari IV No. 1820) Dan baca Hadits Shahih Bukhari IV No. 1821 dan 1822.

    Bagi Bapak-bapak, Ibu-Ibu, Saudara-Saudaraku, Adik-Adikku dan Anak-Anakku, bila sekiranya kita sudah terlanjur berbuat keji, maka segera tinggalkan dan bertaubatlah dengan taubatan nasuha, maksudnya bertaubat yang sesungguhnya dan berjanji kepada Allah SWT tidak akan mengulanginya lagi. “Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (Qs.An Nisaa’ (4) ayat 16).

    Dosa sebesar apapun, dosa setinggi langit, dosa sebanyak buih dilautan, apabila manusia mau bertaubat dengan iman, sebelum Malaikat maut datang menjemput ruh kita, Allah SWT akan mengampuninya, asal tidak diulanginya lagi, habis bertaubat, lupa berbuat lagi, yaa percuma.

    Tidak ada dosa besar bila manusia cepat bertaubat dan tidak diulanginya lagi, sebelum maut datang dan beriman kepada Allah SWT. Tidak ada dosa kecil bila setiap saat diulanginya lagi, ya jadi dosa yang amat besar.

    HUKUMAN BAGI PENCURI

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: Laki-laki dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS.Al Maa’idah ayat 38). Maka barang siapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan tersebut dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.Al Maa’idah ayat 39)

    Tidakkah kamu tahu sesungguhnya, Allahlah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, disiksa-Nya siapa yang dikehendaki-Nya dan diampuni-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS. Al Maa’idah ayat 40).

    Penjelasan: Ayat ini Allah SWT menjelaskan hukuman terhadap orang-orang yang mencuri, baik laki-laki maupun perempuan. Pada ayat 38, setiap kejahatan ada hukumannya. Pelakunya akan dikenakan hukuman itu. Begitu pula halnya seorang pencuri akan dikenakan hukuman karena ia melanggar larangan mencuri. Seseorang, baik laki-laki maupun perempuan yang mengambil harta orang lain atau perusahaan dari tempatnya yang layak dengan diam-diam, dinamakan “pencuri”. Seorang yang telah akil balig mencuri harta orang lain dari tempatnya yang nilainya sekurang-kurangnya seperempat dinar, dengan kemauannya sendiri dan tidak dipaksa, dan mengetahui bahwa perbuatan itu haram, dilarang oleh Allah dan agama, maka orang itu sudah memenuhi syarat untuk dikenakan hukuman “potong tangan kanan”, sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT dalam ayat ini.(QS.Al Maa’idah ayat 38).

    Penetapan nilai harta yang dicuri, yang dikenakan hukum potong tangan bagi pelakunya yaitu sekurang-kurangnya “seperempat dinar” sebagaimana tersebut di atas, adalah pendapat Jumhur Ulama, baik ulama salaf maupun (Ulama Khalaf,) artinya, Pendapat lain mengatakan bahwa hukuman itu tetap dijalankan sekalipun nilai harga yang dicuri itu hanya “satu dirham”. Bahkan ada juga yang berpendapat bahwa tidak perlu adanya pembatasan nilai barang yang dicuri itu berdasarkan arti dari ayat yang sifatnya umum, nilainya sedikit atau banyak, asal ia mencuri dan dapat dibuktikan harus dipotong tangannya.

    Berdasarkan sabda Rasulullah SAW, sebagai berikut: “Rasulullah SAW, memotong tangan pencuri itu bilamana nilai (yang dicuri) seperempat dinar ke atas”. (HR. Asy Syaikhan dari ‘Aisyah). Dan beliau bersabda: “Tidaklah dipotong tangan pencuri itu kecuali pada nilai (yang dicuri) seperempat dinar”. (HR.Muslim dari ‘Aisyah.) Seorang pencuri yang telah dipotong tangan kanannya, kemudian ia mencuri lagi dengan syarat-syarat seperti semula maka dipotonglah kaki kirinya yaitu dari ujung kaki sampai pergelangan.

    Kalau ia mencuri lagi untuk ketiga kalinya, di potong lagi tangan kirinya, kalau ia mencuri lagi untuk keempat kalinya, dipotong lagi kaki kanannya.Sebagaimana sabda Rasulullah SAW mengenai pencuri sebagai berikut: “Apabila ia mencuri, potonglah tangan (kanan)nya, kalau ia mencuri lagi, potonglah kaki (kiri)nya, kalau masih mencuri lagi potonglah tangan (kiri)nya dan kalau ia masih juga mencuri potonglah kaki (kanan)nya”.(HR.Imam Syafe’i dari Abu Hurairah)

    Kalau ini semua sudah dilaksanakan tetapi ia masih juga mencuri untuk kelima kalinya, maka ia dita’zir; artinya diberi hukuman menurut yang ditetapkan oleh penguasa, misalnya dipenjarakan atau diasingkan ke tempat lain dimana ia tidak dapat lagi mencuri. Apa saja yang diperintahkan Allah SWT, pasti akan mendatangkan maslahat dan apa saja yang dilarang-Nya pasti akan mengakibatkan kerusakan dan kehancuran pabila dilanggar.

    KISAH SEORANG BANGSAWAN ARAB YANG MENCURI

    Sebab turunnya ayat No.39 Surat Al- Maa’idah tersebut diatas: Di zaman Rasulullah SAW, ada seorang perempuan mencuri. Hal ini dilaporkan kepada Rasulullah SAW oleh orang yang kecurian. Mereka berkata: “Inilah perempuan yang telah mencuri harta benda kami, kaumnya akan menebusnya”. Nabi SAW bersabda: “Potonglah tangannya”. Kaumnya menjelaskan: “Kami berani menebusnya lima ratus dinar”, Nabi SAW bersabda: “Potonglah tangannya”. Maka dipotonglah tangan kanan perempuan itu. Kemudian ia bertanya: “Apakah saya ini masih bisa diterima taubatku, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ya, engkau hari ini bersih dari dosamu seperti pada hari engkau dilahirkan oleh ibumu”. Maka turunlah ayat No.39 Surat Al Maa’idah.

    Perempuan tersebut adalah seorang dari kabilah Bani Makhzum, yang sangat mendapat perhatian dari pembesar-pembesar Quraisy. Mula-mula mereka berusaha agar perempuan tersebut bebas dari hukuman potong tangan. Lalu mereka mencari siapa kira-kira yang dapat menghubungi Rasulullah untuk membicarakan hal tersebut. Kemudian ditunjuklah Usamah ibn (bin) Zaid, karena ia adalah kesayangan Rasulullah SAW. Ketika Usamah ibn Zaid mengunjungi Rasulullah Saw, dan membicarakan hal tersebut, maka Rasulullah menjadi marah dan bersabda: “Apakah engkau akan membela sesuatu yang telah ditetapkan had dan hukumnya oleh Allah “Azza wa Jalla?”. Usamah menjawab: “Maafkanlah saya, wahai Rasulullah”.

    Sesudah itu Rasulullah SAW berpidato, antara lain beliau bersabda: “Bahwasanya yang membinasakan orang-orang sebelum kamu ialah karena sesungguhnya mereka apabila yang mencuri di antara mereka adalah orang-orang terkemuka, maka mereka membiarkannya pergi, apabila yang mencuri itu orang-orang lemah, mereka itu dijatuhi hukumannya. Saya, demi Allah yang diriku berada di dalam tangan-Nya, andaikata Fatimah anak Muhammad mencuri, pastilah saya potong tangannya”. Kemudian diperintahkanlah memotong tangan perempuan itu, maka dipotonglah tangannya. (HR.Asy-Syaikhan dari ‘Aisyah).

    Ayat No.40 Surat Al-Maa’idah, pada ayat ini Allah memperingatkan dan menekankan bahwa Allah-lah yang menguasai langit dan bumi, mengatur apa yang ada di dalamnya. Dialah yang menetapkan balasan siksa kepada orang yang mencuri sebagaimana halnya orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, mengampuni orang-orang yang bertaubat di antara mereka, penyayang kepada orang-orang yang benar-benar bertaubat dan meperbaiki amalannya, serta menyucikan dirinya dari dosa-dosa yang telah diperbuat. Dia (Allah) menyiksa orang yang dikehendaki, sebagai pendidikan dan pengaman bagi sesama manusia, sebagaimana Dia (Allah) mengasihi orang yang bertaubat, mendorong mereka untuk mensucikan diri. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu; seperti menyiksa dan mengasihani. Tidak ada sesuatu yang sulit bagi-Nya dalam mengatur segala-galanya, sesuai dengan kehendak-Nya.

    Bertaubat dari Perbuatan Dosa Besar: Wahai saudaraku seagama, jika anda telah berbuat dosa besar maka tinggalkanlah segera, bertaubat dan minta ampunlah kepada Allah serta jangan diulangi lagi (Taubatan nasuka).Sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan (kebodohan), yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana”.(Q.S.An-Nisa’ ayat 17)

    Tidak ada dosa besar bila manusia cepat bertaubat dan tidak diulanginya lagi, sebelum maut datang dan beriman kepada Allah SWT. Tidak ada dosa kecil bila setiap saat diulanginya lagi, ya jadi dosa yang amat besar.

    Saudaraku, ingatlah akan satu hari dimana seluruh manusia akan dibangkitkan dari kuburnya. Ketika ditiup terompet yang kedua kali, pada saat roh roh manusia seperti anai anai yang bertebaran dan dikumpulkan dalam satu padang yang tiada batas, yang tanahnya dari logam yang panas, tidak ada rumput maupun tumbuhan.

    Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. QS.39=Az Zumar 68-69.

    Ketika orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahanam berombong-rombongan. “Masukilah pintu-pintu neraka Jahanam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahanam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri. QS.39=Az Zumar 70&72.

    Ketika meraka diusir untukmemasuki neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. QS.17=Al Israa’ 18

    Ketika mereka dikumpulkan pada hari kiamat dan diseret atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahanam. Tiap-tiap kali nyala api Jahanam itu akan padam Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya. QS.17=Al Israa’ 97

    Ketika tujuh matahari didekatkan di atas kepala kita namun keadaan gelap gulita. Ketika seluruh Nabi ketakutan. Ketika ibu tidak memperdulikan anaknya, anak tidak memperdulikan ibunya, sanak saudara tidak kenal satu sama lain lagi, kadang satu sama lain bisa menjadi musuh, satu cahaya diatas cahaya dari hasil salat kita yang iklhas dan ridho yang akan menolong kita, dari nur (cahaya) itulah yang akan menolong roh kita nanti, insya Allah.

    Ketika manusia berbaris dengan barisan yang panjang dan masing masing hanya memperdulikan nasib dirinya, dan pada saat itu ada yang berkeringat karena rasa takut yang luar biasa hingga menenggelamkan dirinya, dan rupa rupa bentuk manusia bermacam macam tergantung dari amalannya, ada yang melihat ketika hidupnya namun buta ketika dibangkitkan, ada yang berbentuk seperti hewan, ada yang berbentuk seperti syetan, semuanya menangis, menangis karena hari itu Allah Swt sangat murka, belum pernah Allah Swt murka sebelum dan sesudah hari itu, hingga ribuan tahun manusia didiamkan Allah Swt dipadang mahsyar yang panas membara hingga Timbangan Mizan digelar itulah hari Yaumul Hisab.

    Saudaraku, bila kita tidak berusaha untuk menjauhi / menjauhkan dosa-dosa besar mulai hari ini, entah dengan apa nanti kita menjawab bila kita di sidang oleh Yang Maha Perkasa, Yang Maha Besar, Yang Maha Kuat, Yang Maha Agung, Allah Swt. Di Yaumul Hisab nanti! Di Hari Perhitungan nanti!! Ingatlah orang yang berdosa akan diseret mukanya, dan dilemparkan ke Neraka Jahanan yang sangat pedih siksanya. Coba Anda baca lagi kesengsaraan didalam neraka yang pernah saya kirim. Na’udzubillahi mindzalik, Subhanallah, Allahu’akbar. Allaahu a’lam bishshawab.

    Semoga dapat menambah iman, takwa dan mendapat derajat takwa yang tinggi disisi Allah Swt bagi yang membaca dan mengamalkan dan yang menjahui dosa-dosa besar, insya Allah. Amin Ya Rabbal a’almin.

    Barang siapa yang mau beramal shaleh, tolong tulisan ini diforward ke kawan atau sanak saudara kita.

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 23 December 2015 Permalink | Balas  

    Adakah Tradisi Mengucapkan Selamat Ulang Tahun dalam Islam? 

    Sejarah-Maulid-Nabi-MuhammadAdakah Tradisi Mengucapkan Selamat Ulang Tahun dalam Islam?

    Bismillah, Walhamdulillah, Wasshalatu ala Rasulullah, Wa ba’d

    Terus terang saja kalau pertanyaan seperti itu, maka jawabnya jelas bahwa tradisi untuk mengucapkan selamat ulang tahun memang bukan dari Islam. Paling tidak kita tidak mendapatkan dalil baik dari Al-Quran maupun Sunnah Rasulullah SAW tentang kewajiban atau anjuran atau keutamaan mengucapkan selamat ulang tahun pada seseorang.

    Artinya, secara baku perilaku itu memang tidak punya dasar dari ajaran Islam. Kalau seandainya pernah sekali waktu ada contoh dari Rasulullah SAW atau para shahabat pernah melakukannya, pastilah hal itu tertera pada hadits atau atsar para shahabt. Namun sepanjang yang kami ketahui, mereka memang tidak pernah melakukannya.

    Namun bagaimana hukumnya kalau ada yang melakukannya juga dan dia adalah seorang muslim?

    Di sinilah para ulama berbeda pendapat.

    1. Pendapat Yang Mengharamkan

    Sebagian akan mengatakan bahwa hal itu memang bid’ah dan mengada-ada. Sebab tidak ada contoh atau anjuran dari Syariah. Apalagi bahwa budaya itu berasal dari peradaban di luar Islam, dalam hal ini barangkali orang barat. Maka semakin kuatlah pendapat yang mengharamkan perayaan ulang tahun dan memberikan ucapan selamat.

    1. Yang Tidak Mengharamkan

    Namun sebagian lainnya tidak secara terburu-buru mengharamkan tradisi itu. Sebab meskipun Rasulullah SAW tidak pernah memerintahkannya, namun beliau juga tidak pernah memberi isyarat untuk melarangnya. Apalagi ini adalah bagian dari kebiasaan yang ada dalam suatu masyarakat, sehingga menurut kalangan ini bukan pada tempatnya untuk mengharamkan begitu saja tanpa ada dalil yang sharih dan kuat yang melarangnya. Dan kita tahu bahwa dalam perkara muamalat, yang berlaku adalah hukum segala sesuatu itu boleh selama tidak ada larangan yang secara jelas melarangnya.

    Sedangkan masalah anggapan bahwa hal itu menyerupai budaya suatu kaum, dijawab oleh kalangan ini dengan argumen bahwa ucapan selamat kelahiran tidak terkait dengan masalah yang bertentangan dengan syariah. Memang benar barangkali sebagian masyarakat di barat melakukannya, tetapi apakah hal itu identik dengan agama dan ajaran ritual mereka? Menurut kalangan ini, ucapan itu tidak terkait dengan ritual ibadah sebuah agama, melainkan budaya sebuah masyarakat. Dan prinsipnya Islam tidak melarang sebuah kebiasaan manakala memang tidak secara langsung ada larangan untuk melakukannya.

    Betapa banyak budaya dan produk di luar Jazirah Arabia yang nota bene bukan dari peradaban Islam yang lalu diadaptasi oleh peradaban Islam ketika penyebaran dakwah Islam sampai di negeri itu. Katakanlah misalnya masalah bentuk kubah masjid, menara, sistem administrasi pemerintahan dan masih banyak lagi hal-hal yang dimasa Rasulullah tidak dilakukan, namun para khalifah setelahnya justru mengadaptasi sekian banyak produk peradaban non Islam. Namun kita tidak mendapatkan bahwa adaptasi itu ditentang oleh ulama dengan alasan bahwa di zaman Rasulullah tidak dilakukan.

    Bahkan Rasulullah SAW tidak pernah mengisyaratkan untuk membukukan Al-Quran, namun Abu Bakar dan para khalifah sesudahnya berpkir bahwa hal itu penting dikerjakan. Pasukan Islam di masa Rasulullah SAW tidak pernah digaji, namun di masa Umar mereka digaji dari baitul mal. Dan masih banyak lagi ijtihad yang dilakukan oleh para shahabat terdekat Rasululah SAW sepeninggal beliau.

    Maka mengadaptasi sebuah produk budaya dari sebuah peradaban masyarakat selama tidak bertentangan secara syara` bukanlah hal yang terlarang. Bahkan dalam perang sekalipun Rasulullah menerima usul dari Salman Al-Farisi yang menggunakan pola tentara Persia dalam berperang dengan menggali parit.

    Kembali kepada masalah ucapan selamat uang tahun, sebenarnya kata MILAD itu hanya masalah bahasa arab saja, sehingga tidak ada perbedaan hakiki sama sekali dari sisi hukumnya. Tinggal anda pikirkan, kira-kira manakah yang menurut anda lebih tepat, ikut menghidupkan budaya yang identik dengan sebuah masyarakat yang bukan Islam, ataukah tetap menjaga simbol-simbol Islam dengan tidak menambahkannya dengan produk budaya lain?

    Yang jelas, meski tidak ada larangan dari ayat Quran atau hadits yang secara detail mengahramkan seseorang mengucapkan selamat ulang tahun, kita dengan bijak bisa membuat perbandingan. Yaitu mencoba mensyiarkan hal-hal yang secara syar`i memang punya nilai dakwah dan keislaman. Sedangkan tidak ada nilai keislamannya seperti ucapan ulang tahun, rasanya tidak perlu bercapek-capek untuk menghidupkannya.

    Mungkin bukan karena tidak boleh, tetapi karena ada sekian banyak hal yang perlu kita dihidup-hidupkan yang memang murni berasal dari Islam namun hingga kini tidak ada yang menghidupkannya. Sebaliknya, produk budaya di luar Islam itu tanpa harus kita yang menghidup-hidupkannya pun sudah ada. Jadi intinya, sebaiknya kita hemat energi dan tidak terlalu mudah untuk ikut-ikutan. Paling tidak bagi kami, tidak menghidupkan ucapan selamat ulang tahun adalah jauh lebih baik dari pada melakukannya.

    Wassalam

    Ahmad Sarwat, Lc

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 20 December 2015 Permalink | Balas  

    Refleksi Maulid Nabi SAW sebagai Pencerahan Spiritualitas 

    nabi-muhammad-rasulullah-sawRefleksi Maulid Nabi SAW sebagai Pencerahan Spiritualitas

    Oleh: Hery Sucipto

    Kelahiran Nabi Muhammad SAW tak syak lagi telah memberikan makna lain dalam kehidupan umat manusia. Secara mendasar, nabi telah mampu mengadakan perubahan-perubahan signifikan dan meletakkan dasar nilai-nilai positif dalam menjalani kehidupan ini. Dalam konteks ini, ia secara cemerlang telah melakukan apa yang biasa disebut sebagai humanisasi spiritualitas yang telah lama terjebak dalam fatalisme akibat krisis moral bangsa saat itu.

    Jika kita cermati, proses itu dilakukan nabi dengan melakukan suatu pembebasan dan pemberdayaan dalam moral-etik Islam. Konsep pemberdayaan itu memiliki parameter empirik dan operasional dalam tiga pilar: (1) Persamaan derajat kemanusiaan; (2) Adanya rasa keadilan dalam masyarakat; (3) Adanya kemerdekaan. Ketiga pilar ini oleh Hassan Hanafi (2000) disebut sebagai teologi pembebasan yang, menurut Nurcholish Madjid (1995), menjadi dasar-dasar konstitusi Madinah yang merupakan operasionalisasi semangat tauhid yakni membebaskan manusia dengan mendorong sikap kritis, dan berusaha secara konstan menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru. Ciri utama dari hal ini adalah pengakuan terhadap perlunya memperjuangkan secara serius problem bipolaritas spiritual-material manusia dengan menyusun kembali tatanan sosial menjadi tatanan yang tidak eksploitatif, berkeadilan, dan egaliter.

    Prinsip utama

    Aspek pembebasan dan pemberdayaan moral-etik Islam ini tidak lain dilakukan nabi semata sebagai upaya transformasi dan pencerahan kehidupan manusia menuju apa yang diistilahkan Alquran sebagai shiraatal mustaqiim (jalan kebenaran).

    Dalam konteks ini, setidaknya ada dua prinsip yang menjadi mainstream nabi dalam membangun masyarakat berkeadaban tadi, yang dasar-dasarnya tertuang dalam Piagam Madinah (mitsaq almadinah). Pertama, prinsip kesederajatan dan keadilan, dan kedua, prinsip inklusivisme (keterbukaan). Kedua prinsip ini kemudian dimodifikasi oleh kelompok sunni (ahl alsunnah wal-jamaah) menjadi i’tidal (konsisten), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran) dan tawasuth (moderat), yang semuanya menjadi landasan ideal sekaligus operasional mazhab sunni dalam menjalin hubungan sosial-kemasyarakatan.

    Prinsip kesederajatan dan keadilan ini mencakup semua aspek, baik politik, ekonomi, maupun hukum. Dalam aspek politik nabi mengakomodasi seluruh kepentingan. Semua rakyat mendapat hak yang sama dalam politik. Mereka tidak dibedakan berdasarkan suku maupun agama. Meskipun suku Quraisy berpredikat the best dan Islam sebagai agama dominan, tapi mereka tidak dianakemaskan. Seluruh lapisan masyarakat duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Ideologi sukuisme dan nepotisme tidak dikenal nabi.

    Sementara dalam aspek ekonomi, nabi menerapkan ajaran egalitarianisme, yakni pemerataan saham-saham ekonomi kepada seluruh masyarakat. Seluruh lapisan masyarakat punya hak yang sama untuk berusaha dan berbisnis (lihat QS Alisra: 26 dan Alhasyr: 7). Nabi sangat menentang paham kapitalisme, yang menjadikan kapital/modal hanya dikuasai oleh suatu kelompok tertentu yang secara ekonomi mapan.

    Misi egalitarianisme ini sangat tipikal dalam Islam sebab misi utama yang diemban oleh nabi bukanlah misi teologis, dalam pengertian untuk membabat orang-orang yang tidak seideologi dengan Islam, melainkan untuk membebaskan masyarakat dari cengkeraman kaum kapitalis.

    Dari sini kemudian Mansour Fakih mensinyalir perlawanan yang dilakukan kafir Quraisy bukanlah perlawanan agama (teologi) melainkan lebih ditekankan pada aspek ekonomi, karena prinsip egalitarianisme Islam berseberangan dengan konsep kapitalisme Mekkah.

    Di samping faktor politik dan ekonomi, hal sangat mendasar yang ditegakkan nabi adalah konsistensi legal (hukum). Sebagai sejarawan ulung, nabi memahami bahwa aspek hukum sangat urgen dan signifikan kaitannya dengan stabilitas suatu bangsa. Karena itulah nabi tidak pernah membedakan ”orang atas”, ”orang bawah” atau keluarganya sendiri.

    Dalam sebuah hadits, ia pernah menegaskan bahwa kehancuran suatu bangsa di masa lalu adalah karena jika ”orang atas” (alsyarif) melakukan kejahatan dibiarkan tapi bila ”orang bawah” (aldhaif) yang melakukannya pasti dihukum. Karena itu nabi juga menegaskan seandainya Fatimah pun, putri kesayangannya, melakukan kejahatan, maka dia akan menghukumnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    Dari hadits ini dapat dipahami, stabilitas suatu bangsa dan negara bisa terbangun dengan konsistensi hukum. Masyarakat beperadaban tidak akan terwujud jika hukum tidak ditegakkan dengan adil dan egaliter. Nabi sebagai manifestasi pemerintah sadar betul akan posisinya sebagai cerminan masyarakat (uswah hasanah).

    Ketertiban sosial selamanya tidak akan terwujud sepanjang negara/pemerintah tidak konsisten dengan ketentuan hukum yang berlaku. Plato pernah berkata bahwa ketertiban sosial berawal dari ketertiban negara. Maka salah satu misi Islam adalah mewujudkan suatu tatanan sosial politik yang adil, egaliter, bersih dan berwibawa dengan membangun suatu masyarakat tak berkelas (a classless society).

    Masyarakat tak berkelas artinya, struktur di dalamnya tidak membedakan antara orang elite dan orang miskin, antara kepala negara dan ketua RT. Nabi pernah bersabda ”Tidak ada kelebihan antara orang Arab dengan selain Arab (‘ajam) selain dengan takwa.”

    Inklusivisme dan moralitas

    Menurut Nurcholish Madjid (1996) keterbukaan (inklusivisme) adalah konsekuensi dari perikemanusiaan, suatu pandangan yang melihat secara positif dan optimis, yaitu pandangan bahwa manusia pada dasarnya adalah baik (QS Ala’raf: 172 dan Alrum: 70), sebelum terbukti sebaliknya.

    Berdasarkan pandangan kemanusiaan yang optimis-positif ini, kita harus memandang bahwa setiap orang mempunyai potensi untuk benar dan baik. Karena itu setiap orang mempunyai potensi untuk menyatakan pendapat dan untuk didengar. Dari pihak yang mendengar, kesediaan untuk mendengar sendiri memerlukan dasar moral yang amat penting yaitu sikap rendah hati berupa kesiapan mental untuk menyadari dan mengakui diri sendiri selalu berpotensi untuk membuat kekeliruan.

    Keterbukaan adalah kerendahan hati untuk tidak merasa selalu benar, kemudian kesediaan mendengar pendapat orang lain untuk diambil dan diikuti mana yang terbaik. Inilah yang dipraktekkan nabi dalam menegakkan Negara Madinah (negara peradaban). Tidak jarang beliau mendengar dan menerima kritik dari sahabat, terlebih sahabat Umar Ibnu Khattab yang terkenal sebagai kritikus ulung. Sahabat Umar tidak dianggap rival, makar, kontra establishment apalagi ekstrem kanan oleh nabi, meskipun kritikan-kritikan tajam keluar dari mulutnya.

    Dalam konteks ini, faktor moral juga memegang kunci penting. Fakta sejarah menunjukkan betapa banyak peradaban-peradaban besar yang tumbang akibat runtuhnya moral. Bangsa Indonesia kini sedang membangun sejarahnya sendiri, membangun peradaban baru bagi masa depan. Karenanya agar tidak bernasib seperti bangsa-bangsa masa lalu, prinsip iman menjadi penting adanya.

    Dalam agama, iman menjadi basis untuk menumbuhkan kesadaran moral. Keyakinan kepada Tuhan yang transenden, maha melihat, maha mendengar dan maha mengetahui mendorong keinsafan batin dalam diri manusia. Iman kepada Tuhan menciptakan kedamaian dan ketenteraman jiwa. Dengan cara itu manusia menjadi lebih manusiawi, lebih halus kepekaan moralnya untuk kemudian mampu menumbuhkan kesadaran sosial.

    Nabi Muhammad berhasil dengan gemilang membangun masyarakat peradaban (Madinah) sehingga dikagumi di Timur dan Barat, pada hakikatnya karena dilakukan dengan semangat sosial yang tinggi yang terpancar dari iman yang kukuh. Prinsip equal and justice dan inklusivisme yang merupakan basis tegaknya peradaban mustahil dijalankan beliau tanpa landasan ilahiyah yang kuat.

    Becermin dari sejarah Nabi Muhammad di atas, maka untuk menciptakan kawasan Indonesia yang sejuk, damai, anggun dan berwibawa, mutlak harus menempatkan moralitas di atas segala-galanya. Nabi yang tidak dilengkapi dengan DPR saja mampu membangun peradaban di Madinah, mengapa kita tidak? Padahal Bangsa Indonesia dilengkapi dengan sarana legislatif dan struktur pemerintahan yang mengakar ke bawah.

    Persoalannya tiada lain adalah krisis moral dan krisis iman. Bagaimanapun orang yang moralnya kukuh, imannya kuat pantang berbuat destruktif. Hal ini karena merasa selalu dikoordinasi oleh Tuhan, yang Mahatahu. Korupsi, kolusi, buruk sangka (prejudice), ceroboh, tirani dan sebagainya yang melanda tanah air ini karena tiadanya iman yang mapan.

    Allah berfirman, ”Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, niscaya akan Kami bukakan kepada mereka berkah dari langit dan bumi… (QS Ala’raf 96). Secara universal ayat ini mengandung makna bahwa tegaknya sebuah peradaban karena landasan transendennya kuat. Sebaliknya hancurnya sebuah peradaban, karena masyarakatnya dilanda krisis moral.

    Nah dalam kerangka kelahiran Muhamamd SAW inilah, sekiranya pelajaran maha penting di atas itu menjadi hikmah dan landasan utama kita membangun masyarakat yang manusiawi, ramah, dan santun. Maulid ini sangat tepat kita jadikan momentum untuk melakukan perenungan-perenungan atas perilaku kita selama ini, sudah manusiawi atau belum. Kita jadikan bulan maulid itu sebagai ”renaisance etika profetis” guna membangun peradaban baru yang lebih sejuk dan anggun.

    Penulis adalah Alumnus Universitas Al Azhar, Kairo-Mesir.

    Tulisan ini dikutip dari Harian Umum Republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 19 December 2015 Permalink | Balas  

    Maulid Nabi dan Kebangkitan Ummat 

    nabi-muhammad-saw1Maulid Nabi dan Kebangkitan Ummat

    Oleh: Dr. Amir Faishol Fath

    Al-Qur’an telah merekam sebuah zaman yang sangat gelap. Kebodohan dan kesombongan menjadi kebanggaan. Anak-anak kecil laki-laki yang baru lahir dibunuh begitu saja. Fir’aun yang pada waktu itu paling berkuasa mengaku dirinya tuhan. Pada saat yang demikian menyedihkan itu Allah lahirkan seorang anak kecil, yang bernama Musa, di mana kelak ia terpilih sebagai Nabi yang mengajarkan kebenaran, membangkitkan kemanusiaan, dan menyelamatkan manusia dari kesesatan.

    Jauh setelah zaman itu, pada pertengahan abad ke enam Masehi, muncul sebuah zaman yang sama. Syeikh Abul Hasan Nadwi melukiskannya sebagai puncak zaman hancurnya kemanusiaan. Akal yang Allah berikan kepada mereka, digusur dengan minuman-minuman keras yang sangat merajalela. Manusia pada waktu itu tidak lagi berjalan dengan akalnya, melainkan disetir oleh hawa nafsu kebinatangannya. Yang kuat memeras yang lemah. Wanita tidak lagi dianggap sebagai manusia, melainkan semata simbol seks dan pemuas hawa nafsu. Akidah yang dibawa para Nabi sebelumnya, lenyap ditelan kebodohan. Mereka tidak lagi menyembah Allah, Pencipta alam semesta, melainkan menyembah patung-patung yang mereka ciptakan sendiri. Buku-buku suci yang dibawa para Nabi, seperti Injil, mereka gerogoti kewahyuannya. (lihat Al Sirah Nabawiyah, oleh Abul Hasan Al Nadwi, Mansyuratul Maktabah Al Ashriyah, Bairut, 1981, hal. 19-67 ).

    Jazirah Arab pada waktu itu benar-benar dalam puncak kegelapan dan kerendahan moral. Ustadz Sayyid Qutub menggambarkannya, bahwa kedzaliman pada saat itu menjadi suatu keharusan. Jika tidak berbuat dzalim, pasti didzalimi. Minuman yang yang memabukkan, bukan hanya kebiasaan, melainkan sebuah kebanggaan.

    Pernikahan yang berjalan di tengah masyarakat pada waktu ada empat macam :

    1. Nikah seperti biasa, yang laki-laki melamar perempuannya dan menikahinya.
    2. Seorang suami yang menyuruh istrinya untuk berselingkuh dengan seorang yang ditentukan sampai hamil, dengan maksud untuk mendapatkan keturunan yang pandai, ini namanya nikah istibdha’.
    3. Seorang perempuan melakukan hubungan dengan beberapa laki-laki, jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Setelah anak itu lahir, perempuan itu memanggil semua laki-laki yang menghubunginya, lalu ia menentukan bapak sang anak itu di antara mereka.
    4. Seorang wanita melakukan hubungan dengan banyak laki-laki tak terbatas jumlahnya. Begitu wanita itu melahirkan, semua laki-laki yang pernah menghunginya berkumpul, lalu memilih siapa yang wajahnya mirip dengan anak itu sebagai bapaknya. ( lihat Ma’alim fit Tharieq, oleh Sayyed Qutub, Darusy Syuruq, Bairut 1980, hal.31-32 ).

    Dari apa yang baru saja kita paparkan, terlihat dengan jelas bahwa kemanusiaan di Jazera Arab pada waktu itu sungguh sangat hancur. Sampai-sampai seorang yang bernama Abrahah tiba-tiba berniat untuk menghancurkan Ka’bah, tempat yang sangat Allah sucikan. Suatu tindakan kebodohan yang demikian jelas. Dan Abrahah memang serius untuk menghancurkan Ka’bah. Pada waktu itu ia dan pasukan gajahnya sudah berangkat dari Yaman menuju Makkah. Namun Allah Maha tahu akan niat jahat Abrahah. Sebelum mereka mencapai tujuannya Allah segera mengirimkan burung-burung Ababil, menyebarkan kepada mereka batu-batu api neraka yang menghanguskan. (perhatikan QS.105:1-5 )

    Tidak hanya itu, pada hari yang sama, dan dalam kondisi zaman yang demikian penuh dengan kebodohan ini, seorang bayi bernama Muhammad, Allah melahirkan dari rahim seorang Ibu bernama Aminah, tepatnya 12 Rabi’ul Awal, tahun Gajah.

    Muhammad, dialah yang kemudian Allah pilih sebagai seorang Rasul, pembawa risalahNya, kepadanya Allah turunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk jalan kehidupan. Sejak itu muncul sebuah zaman baru yang sangat mengagumkan bagi bangkitnya kemanusiaan. Manusia yang benar-benar manusia, tunduk kepada Allah Penciptanya dan pencipta segala mahluk. Keadilan benar-benar ditegakkan, dan kedzaliman dihancurkan. Wanita dihargai kemanusiannya, minuman keras dilarang, kerena merusak akal dan kejahiliahan diperangi dan dimusnahkan.

    Kini kita sedang berada di sebuah zaman yang kembali penuh dengan proses penghancuran kemanusiaan, mirip dengan zaman jahiliyah sebelum Nabi SAW dilahirkan. Minuman keras disahkan, aurat wanita dipertontankan. Yang kuat memeras dan menghanguskan yang lemah. Ajaran Allah dicampakkan. Orang-orang yang mencintai Allah & Rasulnya dicemoohkan dan dipersulit jalan hidupnya, orang-orang yang memperingati Maulid Nabi untuk mengenang jasa dan perjalanan beliau malah dimusuhi.

    Akankah dalam kondisi yang sangat menyedihkan ini – Allah melahirkan seorang bayi yang kelak bangkit menjadi pembaharu, meneruskan perjuangan Rasulullah, menegakkan kebenaran, keadilan dan kemanuisaan.

    Mari kita berdo’a dan mari mulai dari diri kita untuk mengamalkan ajaran Rasulullah dengan sesungguh-sungguhnya dan sejujur-jujurnya.

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 18 December 2015 Permalink | Balas  

    Makna Hakiki Maulid Nabi Muhammad SAW 

    nabi-muhammad-rasulullah-sawMakna Hakiki Maulid Nabi Muhammad SAW

    Kelahiran seorang manusia sebetulnya merupakan perkara yang biasa saja. Bagaimana tidak? Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit dunia ini tidak henti-hentinya menyambut bayi-bayi manusia yang baru lahir. Karena perkara yang biasa-biasa saja, tidak terasa bahwa dunia ini telah dihuni lebih dari 6 miliar jiwa.

    Karena itulah barangkali, Nabi kita, Rasulullah Muhammad saw., tidak menjadikan hari kelahirannya sebagai hari yang istimewa. Demikian juga keluarga maupun para sahabat beliau. Wajar jika dalam Sirah Nabi saw. dan dalam sejarah otentik para sahabat beliau, sangat sulit ditemukan tentang adanya fragmen Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw., baik yang dilakukan oleh Nabi saw. sendiri maupun oleh para sahabat beliau. Sebab, sebagaimana manusia lainnya, secara fisik atau lahiriah, memang tidak ada yang istimewa pada diri Muhammad sebagai manusia, selain beliau adalah seorang Arab dari keturunan yang dimuliakan di tengah-tengah kaumnya. Wajarlah jika Allah SWT., melalui lisan beliau sendiri, berfirman:

    Katakanlah, “Sungguh, aku ini manusia biasa seperti kalian…”(QS Fushshilat [41]: 6).

    Lalu mengapa setiap tahun kaum Muslim saat ini begitu antusias memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.; sesuatu yang bahkan tidak dilakukan oleh Nabi saw. sendiri dan para sahabat beliau?

    Berbagai jawaban atau alasan dari mereka yang memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. biasanya bermuara pada kesimpulan, bahwa Muhammad saw. memang manusia biasa, tetapi beliau adalah nabi dan rasul yang telah diberi wahyu; beliau adalah pembawa risalah sekaligus penebar rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, kelahirannya sangat layak diperingati. Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. sendiri tidak lain merupakan sebuah sikap pengagungan dan penghormatan (ta‘zhîman wa takrîman) terhadap beliau dalam kapasitasnya sebagai nabi dan rasul; sebagai pembawa risalah sekaligus penebar rahmat bagi seluruh alam.

    Jika memang demikian kenyataannya, kita dapat memahami makna Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. yang diselenggarakan setiap tahun oleh sebagian besar kaum Muslim didunia saat ini, yakni sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan beliau dalam kapasitasnya sebagai nabi dan rasul Allah. Itulah yang menjadikan beliau sangat istimewa dibandingkan dengan manusia yang lain. Keistimewaan beliau tidak lain karena beliau diberi wahyu oleh Allah SWT, yang tidak diberikan kepada kebanyakan manusia lainnya.

    Allah SWT berfirman (masih dalam surah dan ayat yang sama):

    Katakanlah, “Sungguh, aku ini manusia biasa seperti kalian. (Hanya saja) aku telah diberi wahyu, bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, tetaplah kalian istiqamah pada jalan yang menuju kepada-Nya.” (QS Fushshilat [41]: 6).

    Makna Kelahiran Muhammad saw.

    Kelahiran Muhammad saw. tentu tidaklah bermakna apa-apa seandainya beliau tidak diangkat sebagai nabi dan rasul Allah, yang bertugas untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada umat manusia, agar mereka mau diatur dengan aturan apa saja yang telah diwahyukan-Nya kepada Nabi-Nya itu. Karena itu, Peringatan Maulid Nabi saw. pun tidak akan bermakna apa-apa—selain sebagai aktivitas ritual dan rutinitas belaka—jika kaum Muslim tidak mau diatur oleh wahyu Allah, yakni al-Quran dan as-Sunnah, yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad saw. ke tengah-tengah mereka. Sebab, Allah SWT telah berfirman:

    Apa saja yang diberikan Rasul kepada kalian, terimalah; apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah. (QS al-Hasyr [59]: 7).

    Lebih dari itu, pengagungan dan penghormatan kepada Rasulullah Muhammad saw.—yang antara lain diekspresikan dengan Peringatan Maulid Nabi saw.—sejatinya merupakan perwujudan kecintaan kepada Allah, karena Muhammad saw. adalah kekasih-Nya. Jika memang demikian kenyataannya, maka kaum Muslim wajib mengikuti sekaligus meneladani Nabi Muhammad saw. dalam seluruh aspek kehidupannya, bukan sekadar dalam aspek ibadah ritual dan akhlaknya saja.

    Allah SWT berfirman:

    Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku.”  (QS Ali Imran [3]: 31).

    Dalam ayat di atas, frasa fattabi‘ûnî (ikutilah aku) bermakna umum, karena memang tidak ada indikasi adanya pengkhususan (takhshîsh), pembatasan (taqyîd), atau penekanan (tahsyîr) hanya pada aspek-aspek tertentu yang dipraktikkan Nabi saw. Demikian juga dalam firman Allah SWT berikut:

    Sesungguhnya dalam diri Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik. (QS al-Ahzab [33]: 21).

    Ayat di atas juga bermakna umum; tidak membatasi bahwa keteladanan Rasulullah saw. yang baik hanya dalam masalah ibadah ritual atau akhlaknya saja.

    Dengan demikian, kaum Muslim dituntut untuk mengikuti dan meneladani Nabi Muhammad saw. dalam seluruh perilakunya: mulai dari akidah dan ibadahnya; makanan/minuman, pakaian, dan akhlaknya; hingga berbagai muamalah yang dilakukannya seperti dalam bidang ekonomi, sosial, politik, pendidikan, hukum, dan pemerintahan.

    Sebab, Rasulullah saw. sendiri tidak hanya mengajari kita bagaimana mengucapkan syahadat serta melaksanakan shalat, shaum, zakat, dan haji secara benar; tetapi juga mengajarkan bagaimana mencari nafkah, melakukan transaksi ekonomi, menjalani kehidupan sosial, menjalankan pendidikan, melaksanakan aktivitas politik (pengaturan masyarakat), menerapkan sanksi-sanksi hukum (‘uqûbat) bagi pelaku kriminal, dan mengatur pemerintahan/negara secara benar.

    Lalu, apakah memang Rasulullah saw. hanya layak diikuti dan diteladani dalam masalah ibadah ritual dan akhlaknya saja, tidak dalam perkara-perkara lainnya? Tentu saja tidak.

    Jika demikian, mengapa saat ini kita tidak mau meninggalkan riba dan transaksi-transaksi batil yang dibuat oleh sistem kapitalisme; tidak mau mengatur urusan sosial dengan aturan Islam; tidak mau menjalankan pendidikan dan politik Islam; tidak mau menerapkan sanksi-sanksi hukum Islam (seperti qishâsh, potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina, cambuk bagi pemabuk, hukuman mati bagi yang murtad, dll); juga tidak mau mengatur pemerintahan/negara dengan aturan-aturan Islam? Bukankah semua itu justru pernah dipraktikan oleh Rasulullah saw. selama bertahun-tahun di Madinah dalam kedudukannya sebagai kepala Negara Islam (Daulah Islamiyah)?

    Kelahiran Nabi saw.: Kelahiran Masyarakat Baru

    Sebagaimana diketahui, masa sebelum Islam adalah masa kegelapan, dan masyarakat sebelum Islam adalah masyarakat Jahiliah. Akan tetapi, sejak kelahiran (maulid) Muhammad saw. di tengah-tengah mereka, yang kemudian diangkat oleh Allah sebagai nabi dan rasul pembawa risalah Islam ke tengah-tengah mereka, dalam waktu hanya 23 tahun, masa kegelapan mereka berakhir digantikan dengan masa ‘cahaya’; masyarakat Jahiliah terkubur digantikan dengan lahirnya masyarakat baru, yakni masyarakat Islam.

    Sejak itu, Nabi Muhammad saw. adalah pemimpin di segala bidang. Ia memimpin umat di masjid, di pemerintahan, bahkan di medan pertempuran. Ia tampak seperti seorang dokter jiwa yang mengubah jiwa manusia yang biadab menjadi jiwa yg memancarkan peradaban

    Ia juga seorang politikus yang berhasil mempersatukan suku-suku Arab hanya dalam waktu kurang dari seperempat abad. Ia juga pemimpin ruhani yang melalui aktivitas ibadahnya telah mengantarkan jiwa para pengikutnya ke alam kelezatan samawiah dan keindahan suasana ilahiah.

    Karena itu, kita bisa menyimpulkan bahwa makna terpenting dari kelahiran Nabi Muhammad saw. adalah keberadaannya yang telah mampu membidani kelahiran masyarakat baru, yakni masyarakat Islam; sebuah masyarakat yang tatanan kehidupannya diatur seluruhnya oleh aturan-aturan Islam.

    Renungan

    Dari paparan di atas, jelas bahwa Peringatan Maulid Nabi saw. sejatinya dijadikan momentum bagi kaum Muslim untuk terus berusaha melahirkan kembali masyarakat baru, yakni masyarakat Islam, sebagaimana yang pernah dibidani kelahirannya oleh Rasulullah saw. di Madinah. Sebab, siapapun tahu, masyarakat sekarang tidak ada bedanya dengan masyarakat Arab pra-Islam, yakni sama-sama Jahiliah. Sebagaimana masa Jahiliah dulu, saat ini pun aturan-aturan Islam tidak diterapkan.

    Karena aturan-aturan Islam—sebagaimana aturan-aturan lain—tidak mungkin tegak tanpa adanya negara, maka menegakkan negara yang akan memberlakukan aturan-aturan Islam adalah keniscayaan. Inilah juga yang disadari benar oleh Rasulullah saw. sejak awal dakwahnya.

    Rasulullah tidak hanya menyeru manusia agar beribadah secara ritual kepada Allah dan berakhlak baik, tetapi juga menyeru mereka seluruhnya agar menerapkan semua aturan-aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Sejak awal, bahkan para pemuka bangsa Arab saat itu menyadari, bahwa secara politik dakwah Rasulullah saw. akan mengancam kedudukan dan kekuasaan mereka. Itulah yang menjadi alasan orang-orang seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Walid bin Mughirah, dan para pemuka bangsa Arab lainnya sangat keras menentang dakwah Rasulullah saw.

    Akan tetapi, semua penentangan itu akhirnya dapat diatasi oleh Rasulullah sampai beliau berhasil menegakkan kekuasaannya di Madinah sekaligus melibas kekuasaan mereka di Makkah. Rasulullah saw. bahkan berhasil menegakkan kekuasaan Islam sekaligus menghancurkan kekuasaan orang-orang kafir di seluruh jazirah Arab.

    Walhasil, dakwah seperti itulah yang juga harus dilakukan oleh kaum Muslim saat ini, yakni dakwah untuk menegakkan kekuasaan Islam yang akan memberlakukan aturan-aturan Islam, sekaligus yang akan meruntuhkan kekuasaan rezim kafir yang telah memberlakukan aturan-aturan kufur selama ini. Hanya dengan itulah Peringatan Maulid Nabi saw. yang diselenggarakan setiap tahun akan jauh lebih bermakna.

    Sebagai catatan akhir, marilah kita sambut seruan dakwah Islam dengan melibatkan diri bersama-sama dengan para pengemban dakwah untuk menegakkan syariat Islam dan membidani lahirnya kembali masyarakat baru, yakni masyarakat Islam,  Allah SWT berfirman:

    Hai orang-orang beriman, sambutlah seruan Allah dan Rasul-Nya jika Allah dan Rasul-Nya menyeru kalian menuju sesuatu yang akan menghidupkan kalian. (QS al-Anfal [8]: 24).

    Wallohu a’alam bis-shawab,-

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 17 December 2015 Permalink | Balas  

    Refleksi Maulid Nabi: Bertaklid dalam Cinta 

    muhammad 3Refleksi Maulid Nabi: Bertaklid dalam Cinta

    Di masa Khalifah Harun al-Rasyid, ada seorang pemuda di Bashrah, Iraq yang sangat kaya. Gaya hidupnya serba mewah dan glamor. Karena sikapnya yang jelek itulah pemuda tersebut tidak disukai oleh masyarakat sekitar. Bahkan ketika ia meninggal dunia, mereka enggan menghadiri janazahnya. Tiba-tiba terdengar hatif (suara ghaib), “Wahai penduduk Bashrah, hadirilah janazah wali Allah itu, karena ia mendapat tempat yang mulya di sisiku”.

    Akhirnya penduduk Bashrah menghadiri janazahnya sampai acara pemakaman. Malam harinya, mereka bermimpi bertemu dengan pemuda itu sedang yarfalu hiasan emas. Ketika ditanyai tentang keistimewaan yang diperolehnya, pemuda itu menjawab, “Karena aku selalu memuliakan hari kelahiran Nabi”.

    Konon, setiap kali bulan Rabi’ul Awal tiba, pemuda itu mempunyai acara rutin: berhias diri dengan baju baru, memakai wangi-wangian dan mengadakan walimah. Ia menyuruh orang lain agar membaca sejarah kelahiran Nabi saw, di sampingnya. ‘Ritual’ itu terus ia lakukan selama bertahun-tahun.

    Dan hal itulah yang membuatnya mendapat keistimewaan tersebut.

    ***

    Begitu istimewakah?

    Bukan rahasia bila perayaan maulid Nabi atau yang lazim kita sebut maulidurrasul ini masih sering dipertentangkan. Kelompok Islam Wahabiyah tidak mengakui peringatan maulid Nabi ini, seraya menyatakan sebagai bid’ah, sesat.

    Berdzikir, membaca shalawat tidak dipermasalahkan. Masalahnya terletak pada membuat acara khusus untuk memperingati Maulid Nabi, bukan isi di dalamnya.

    Namun kalau dirunut ke depan; Syaikh al-Islam Ibnu Taymiyah, perintis Salafiyah, madzhab kaum pembaru saat itu, ketika ditanya tentang berkumpul dan beramai-ramai berdzikir, membaca al-Quran berdoa sambil menanggalkan serban dan menangis sedangkan niat mereka bukanlah karena riya’ tetapi hanyalah kerana hendak mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Adakah perbuatan-perbuatan ini boleh diterima? Beliau menjawab,”Segala puji hanya bagi Allah, perbuatan-perbuatan itu semuanya adalah baik dan merupakan suruhan didalam Syari’ah (mustahabb) untuk berkumpul dan membaca al-Quran dan berdzikir serta berdoa.” (lihat, Majmu’ al-Fatawa Ibn Taymiyah)

    Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani telah menulis didalam, ‘Al-Durar al-Kamina fi ‘ayn al-Mi’at al-tsamina’ bahwa Ibnu Katsir, seorang Muhaddits bermadzhab Syafi’i dan pengikut utama Ibnu Taimiyyah, telah menulis sebuah kitab yang bertajuk Mawlid Rasul Allah di penghujung hidupnya.

    Ibnu Kathir membenarkan dan menggalakkan sambutan Maulid dan dalam hal 19 beliau menulis,” Malam kelahiran Nabi (s.a.w) merupakan malam yang mulia, utama, dan malam yang diberkahi dan malam yang suci, malam yang menggembirakan bagi kaum Mukmin, malam yang bercahaya-cahaya, terang benderang dan bersinar-sinar dan malam yang tidak ternilai.”

    Jalaludin al-Suyuti telah menulis di dalam, “Hawi li al-Fatawa”, Sheikhul Islam dan Imam Hadits pada zamannya, Ahmad ibn Hajar (‘Asqalani) telah ditanya mengenai menyambut Maulidurrasul (s.a.w) dan beliau telah memberi jawaban:

    Perbuatan Menyambut Maulidurrasul (s.a.w.) merupakan bid’ah yang tidak pernah diriwayatkan oleh para Salafus-soleh pada 300 tahun pertama hijrah.

    Namun, perayaan ini penuh dengan kebaikan walau terkadang terdapat hal yang tidak patut. Jika dalam acara tersebut tidak terdapat hal-hal yang melanggar syara’ maka tergolong bida’ah hasanah, tetapi jika tidak, maka bukan bid’ah hasanah.

    Diantara dalil menyambut Maulidurrasul (s.a.w), adalah hadith riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Semasa Nabi berada di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari kesepuluh Muharranm (‘Asyura) dan Baginda bertanya akan perbuatan mereka. Mereka menjawab, “Kita berpuasa karena pada hari itu Nabi Musa telah diselamatkan dan Firaun telah ditenggelamkan. Kita berpuasa sebagai ungkapan rasa syukur kita. Nabi lalu bersabda, “Kami lebih berhak mensyukurinya dari pada kalian.” Lalu diwajibkanlah berpuasa di hari asyura’ (Baca Istinbat edisi 5/Tahun I/Rabiul Awal 1421)

    Menyambut maulid Nabi itu adalah ungkapan rasa cinta kita kepada junjungan semua makhluk, Nabi Muhammad saw. Cinta kepada Nabi itu adalah identitas seorang muslim. “Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia lebih mencintaiku dari pada dirinya, keluarganya dan seluruh umat manusia.” (Hadits).

    Ala kullihal, memperingati maulid Nabi adalah perbuatan yang sangat terpuji. Menentangnya berarti menentang Nabi sendiri.

    Masalahnya sekarang, betulkah kita telah mencintai Nabi?

    Cinta kepada Nabi bukanlah asmara yang murni sebagai bentuk emosi. Cinta kepada Nabi adalah emosi yang ditumbuhkan oleh rasio dan aksi. Mencintai seseorang yang telah tiada dan tidak pernah kita kenal seringkali adalah bentuk semu. Obyek cinta memang harus kongkrit dan dikenal dengan nyata.

    Lantas bagaimana kita harus mencintai Nabi?

    Rasio juga harus berperan besar di situ. Kepekaan kita dalam membaca sebuah filsafat sejarah adalah inti dari cinta kepada Nabi. Toh, cinta kepada Nabi juga merupakan kunci kita beragama, sebagaimana iman. Kedua hal itu, idealnya harus dibangun atas dasar kesimpulan rasional dibanding sebagai sebuah kepercayaan yang turun temurun.

    Jika kita dilarang taklid dalam iman maka mestinya taklid dalam cinta adalah hal yang juga imposible.

    Konstruksi cinta Nabi harus dibangun atas dasar kekaguman dan membaca sejarah. Jadi, kecintaan itu bukan semata-mata ekspresi emosional atau pengaruh mutlak opini lingkungan. Lebih dari itu, cinta kepada Nabi adalah pengakuan hakiki atas keberadaan beliau sebagai manusia ideal.

    Di situlah, komitmen menjadikan tauladan dan semangat ittiba’ussunnah tumbuh tanpa kesemuan. Cinta Rasul yang tidak didasarkan pada penghayatan sejarah akan mudah terombang-ambing oleh derasnya figuritas berbagai tokoh.

    Kita memang tidak bisa menafikan bangunan cinta Rasul atas dasar taklid atau unsur-unsur lain di luar kekaguman. Hal itu adalah sebuah keniscayaan. Namun, kalau kita mau jujur, kita mesti bertanya kepada diri sendiri: seberapa banyak kita tahu tentang Rasul dan jejaknya, lalu seberapa lekat nama Rasul di hati kita?

    Wallohu a’alam bish-shawab,-

    wallohu a’lam bis-shawab,-

    ***

    Arland

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 5 December 2015 Permalink | Balas  

    Kafir “Kontemporer” 

    takwaKafir “Kontemporer”

    Secara literal, al-kufr (kekafiran) bermakna dladd al-imaan (lawan dari keimanan).  Kata kufr juga bermakna juhud al-ni’mah (ingkari terhadap nikmat), atau lawan dari al-syukr (syukur).  Allah swt berfirman, artinya,”Innaa bi kulli kaafiruun” [Sesungguhnya kami tidak mempercayai masing-masing mereka itu.”(28:48)]. Arti dari “kaafiruun” pada ayat ini adalah jaahiduun (orang-orang yang ingkar). [Imam Abu Bakr al-Raaziy, Mukhtaar al-Shihaah, bab kafar]

    Pada asalnya, semua hal yang menutupi sesuatu yang lain disebut dengan kekafiran.  Sebab, al-kufr juga bermakna “al-lail al-mudzlim” (malam yang gelap gulita). Ibnu Sakiit menyatakan: “Kekafiran yang melekat pada diri seseorang disebabkan karena “ni’mat” Allah swt telah tertutup pada diri mereka.”

    Secara syar’iy, al-kufr juga bermakna lawan dari keimanan.  Keimanan sendiri bermakna ‘ didefinisikan oleh banyak ‘ulama sebagai berikut:

    Imam al-Nasafiy, berpendapat, “Îman adalah pembenaran hati sampai pada tingkat kepastian dan ketundukan.” [Imam al-Nasafiy, Al-‘Aqâid al-Nasafiyyah, hal. 27-43]

    Imam Ibnu Katsir menjelaskan,”Îman yang telah ditentukan oleh syara’ dan diserukan kepada kaum muslimîn adalah berupa i’tiqâd (keyakinan), ucapan, dan perbuatan. Inilah pendapat sebagian besar Imam-imam madzhab. Bahkan, Imam Syafi’iy, Ahmad bin Hanbal,dan Abu Ubaidah menyatakan, pengertian ini sudah menjadi suatu ijma’. (kesepakatan)”. [Ibnu Katsîr, Tafsir Ibnu Katsîr, jilid.I, hal. 40]

    Imam Nawawi menyatakan, “Ahli Sunnah dari kalangan ahli hadits, para fuqaha, dan ahli kalam, telah sepakat bahwa seseorang dikategorikan muslim apabila orang tersebut tergolong sebagai ahli kiblat (melakukan sholat). Ia tidak kekal di dalam neraka. Ini tidak akan didapati kecuali setelah orang itu mengimani dienul Islâm di dalamnya hatinya, secara pasti tanpa keraguan sedikitpun, dan ia mengucapkan dua kalimat syahadat.”[ Imam Nawawi, Syarah Shahih Muslim, jilid I, hal. 49]

    Berdasarkan definisi di atas, “kufr” lebih berhubungan dengan “perbuatan hati” (I’tiqad).   Seseorang yang mengingkari Allah swt, ayat-ayat Allah dan risalah Mohammad saw secara pasti ia telah kafir.   Allah swt berfirman, artinya, “Sesungguhnya orang-orang kafir itu, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak beriman.”[2:6] Ali Al-Shabuniy menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut:”Orang-orang kafir adalah orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan mendustakan risalah Mohammad saw.”[Ali-al-Shabuniy, Shafwaat al-Tafaasir, juz I, hal.22]

    Muslim yang melanggar aturan Allah namun tidak disertai dengan i’tiqad (keyakinan) maka dirinya tidak terjatuh kepada kekafiran.   Namun, apabila pelanggarannya disertai dengan keyakinan, maka dirinya telah terjatuh dalam kekafiran.   Sebagian ‘ulama –misalnya Imam Malik—menyatakan, bahwa orang yang meninggalkan sholat secara sengaja, maka ia telah terjatuh kepada kekafiran.  Sedangkan Imam Syafi’iy berpendapat, bahwa orang yang meninggalkan sholat tidak secara otomatis keluar dari Islam (kafir).  Jika, tindakan meninggalkan sholat tersebut disertai dengan keyakinan bahwa sholat lima waktu itu tidak wajib, maka, orang semacam ini telah terjatuh ke dalam kekafiran.  Akan tetapi, jika tindakannya tidak disertai keyakinan, maka ia tidak terjatuh kepada kekafiran, namun hanya disebut maksiyat.

    Seseorang bisa terjatuh ke dalam kekafiran, jika : (1) mengingkari pokok-pokok keimanan; yakni ingkar terhadap eksistensi Allah, ayat-ayat Allah (sebagian maupun keseluruhan), dan kenabian Mohammad saw.   (2) melanggar perkara-perkara qath’iy yang sudah ditetapkan di dalam Al-Quran dan sunnah, dan dibarengi dengan sebuah keyakinan bahwa ia tidak berdosa tatkala mengerjakan perbuatan tersebut.

    Betapa banyak orang yang mengaku muslim menyatakan dengan enteng, semua agama adalah benar.   Syari’at Islam sudah ketinggalan zaman dan hanya cocok diberlakukan kepada hewan ternak.   Sebagian yang lain menyatakan bahwa, Mohammad saw bias gender.   Menerapkan Islam sama dengan romantisme sejarah, dan masih banyak lagi lontaran-lontaran yang ditujukan untuk menikam Islam dan kaum muslim.   Jikalau lontaran-lontaran semacam ini dibarengi dengan niat untuk menyakiti dan menginjak-injak kesucian Islam, tidak diragukan lagi bahwa mereka telah keluar dari Islam.

    wallahu ‘alam bi ash shawab

    ya Allah jangan Engkau hukum kami jika kami tersalah atau kami lupa

    ***

    himawan sutanto

     
  • erva kurniawan 2:38 am on 4 December 2015 Permalink | Balas  

    Sesungguhnya Agama Itu Mudah 

    kemuliaan-sholat-dhuhaSesungguhnya Agama Itu Mudah

    Oleh

    Ummu Malik

    Kerap kali manusia mengulang-ulang perkataan ini (yaitu ucapan “Sesungguhnya agama itu mudah”), akan tetapi (sebenarnya) mereka (tidak menginginkan) dengan ucapan itu, untuk tujuan memuji Islam, atau melunakkan hati (orang yang belum mengerti Islam) dan semisalnya. Yang diinginkan mereka adalah pembenaran terhadap perbuatan mereka yang menyelisihi syari’at. Bagi mereka kalimat itu adalah kalimat haq, namun yang diinginkan dengannya adalah sebuah kebatilan.

    Ketika salah seorang diantara kita ingin memperbaiki perbuatan yang menyalahi syari’at, orang-orang yang menyalahi (syari’at itu) berhujjah dengan perkataan mereka : “Islam adalah agama yang mudah”. Mereka berusaha mengambil keringanan yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, dengan sangkaan bahwa mereka telah menegakkan hujjah bagi orang yang menasehati mereka agar mengikuti syariat yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

    Orang-orang yang menyelisihi syariat itu hendaknya mengetahui bahwa Islam adalah agama yang mudah. (Akan tetapi maknanya adalah) dengan mengikuti keringanan-keringanan yang diberikan Allah Jalla Jalaluhu dan RasulNya kepada kita.

    Allah Jalla Jalaluhu dan RasulNya telah memberi keringanan bagi kita, ketika kita membutuhkan keringanan itu dan ketika adanya kesulitan dalam mengikuti (melaksanakan perintah) yang sebenarnya.

    Asal dari ungkapan ” Sesungguhnya agama itu mudah” adalah penggalan kalimat dari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Artinya : Sesungguhnya agama itu mudah, dan sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan, dan (dalam beramal) hendaklah pertengahan (yaitu tidak melebihi dan tidak mengurangi), bergembiralah kalian, serta mohonlah pertolongan (didalam ketaatan kepada Allah) dengan amal-amal kalian pada waktu kalian bersemangat dan giat”

    Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani menerangkan ungkapan “Sesungguhnya agama itu mudah” dalam kitabnya yang tiada banding (yang bernama) : Fathul Baariy Syarh Shahih Al-Bukhari 1/116. Beliau berkata : “Islam itu adalah agama yang mudah, atau dinamakan agama itu mudah sebagai ungkapan lebih (mudah) dibanding dengan agama-agama sebelumnya. Karena Allah Jalla Jalaluhu mengangkat dari umat ini beban (syariat) yang dipikulkan kepada umat-umat sebelumnya. Contoh yang paling jelas tentang hal ini adalah (dalam masalah taubat), taubatnya umat terdahulu adalah dengan membunuh diri mereka sendiri. Sedangkan taubatnya umat ini adalah dengan meninggalkan (perbuatan dosa) dan berazam (berkemauan kuat) untuk tidak mengulangi.

    Kalau kita melihat hadits ini secara teliti, dan melihat kalimat sesudah ungkapan “agama itu mudah”, kita dapati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada kita bahwa seorang muslim berkewajiban untuk tidak berlebih-lebihan dalam perkara ibadahnya, sehingga (karena berlebih-lebihan) ia akan melampui batas dalam agama, dengan membuat perkara bid’ah yang tidak ada asalnya dalam agama.

    Sebagaimana keadaan tiga orang yang ingin membuat perkara baru (dalam agama). Salah seorang di antara mereka berkata : “Saya tidak akan menikahi perempuan”, yang lain berkata : “Saya akan berpuasa sepanjang tahun dan tidak berbuka”, yang ketiga berkata : “Saya akan shalat malam semalam suntuk”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka dari hal itu semua, dan memberi pengarahan kepada mereka agar membaguskan amal mereka semampunya, dan hendaknya dalam mendekatkan diri kepada Allah Jalla Jalaluhu, (beribadah) dengan ibadah yang telah diwajibkan Allah Jalla Jalaluhu kepada mereka.

    Dan hendaknya mereka tidak membuat-buat perkara yang tidak ada asalnya dalam agama ini, karena mereka sekali-kali tidak akan mampu (mengamalkannya), (sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) ” Maka sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan”.

    Maka ungkapan “Agama itu mudah” maknanya adalah : “Bahwa agama yang Allah Jalla Jalaluhu turunkan ini semuanya mudah dalam hukum-hukum, syariat-syariatnya”. Dan kalaulah perkara (agama) diserahkan kepada manusia untuk membuatnya, niscaya seorangpun tidak akan mampu beribadah kepada Allah Jalla Jalaluhu.

    Maka jika orang-orang yang menyelisihi syariat tidak mendapatkan “kekhususan” (tidak mendapat celah sebagai pembenaran atas perbuatan mereka) dengan hadits diatas, mereka akan lari kepada hadits-hadits lain, yang dengannya mereka berhujjah bagi perbuatan mereka yang menggampang-gampangkan dalam perkara agama.

    Diantara hadits-hadits yang mereka jadikan alasan dalam masalah ini, adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Sesungguhnya Allah menyukai keringanan-keringanannya diambil sebagaimana Dia membenci kemaksiatannya didatangi/dikerjakan”

    Dalam riwayat lain.

    “Artinya : Sebagaimana Allah menyukai kewajiban-kewajibannya didatangi”

    Hadits lain adalah sabda nabi :

    “Artinya : Mudahkanlah, janganlah mempersulit dan membikin manusia lari (dari kebenaran) dan saling membantulah (dalam melaksanakan tugas) dan jangan berselisih” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

    Hadits yang ketiga.

    “Artinya : Mudahkanlah, janganlah mempersulit, dan berikanlah kabar gembira dan janganlah membikin manusia lari (dari kebenaran)”.

    Adapun hadits yang pertama, wajib bagi kita untuk mengetahui bahwa keringanan-keringanan dalam agama Islam banyak sekali, diantaranya : berbukanya musafir ketika bepergian, orang yang tertinggal dalam shalat boleh mengqadha (mengganti), orang yang tertidur atau lupa boleh mengqadha shalat, orang yang tidak mendapatkan binatang sembelihan dalam haji tamattu boleh berpuasa, tayamum sebagai ganti wudhu ketika tidak ada air atau ketika tidak mampu untuk berwudhu … dan lainnya diantara keringanan yang banyak tidak diamalkan kecuali jika terdapat kesulitan dalam melaksanakan perintah yang sebenarnya.

    Dan perlu kita perhatikan, bahwa keringanan-keringanan ini adalah syari’at Allah Jalla Jalaluhu dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dengan izin Allah Jalla Jalaluhu). Dan tidak diperbolehkan seorang muslim manapun, untuk mendatangkan (mengada-ada) keringanan (dalam masalah agama) tanpa dalil, karena hal ini adalah termasuk mengadakan perkara baru dalam agama yang tidak berdasar.

    Dan perhatikanlah wahai saudaraku sesama muslim (surat Al-Baqarah ayat 185), yang menceritakan tentang puasa dan keringanan berbuka bagi orang yang sakit atau bepergian, lalu firman Allah Jalla Jalaluhu sesudah ayat itu.

    “Artinya : Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” [Al-Baqarah : 185]

    Makna ini menerangkan makna mudah (menurut Allah Jalla Jalaluhu), yang maknanya adalah keringanan itu datangnya dari sisi Allah saja, tiada sekutu bagiNya. Atau (keringanan itu) dari syariat Rasulullah Shallallahju ‘alaihi wa sallam dengan wahyu dari Allah Jalla Jalaluhu. Ayat ini juga menerangkan bahwa makna mudah itu dengan mengikuti hukum Allah Jalla Jalaluhu (yang tiada sekutu bagiNya) dan mengikuti syariatNya. Inilah yang bekenaan dengan hadits yang pertama tadi.

    Adapun hadits yang kedua dan tiga, maka pengambilan dalil yang dilakukan oleh orang-orang yang mengikuti hawa nafsu serta menyelisihi syariat (dengan kedua hadits itu) adalah batil, dan termasuk merubah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari makna yang sebenarnya, dan keluar dari makna yang dimaksud.

    Tafsir kedua hadits yang lalu berhubungan dengan para da’i yang menyeru kepada agama Islam. Dalam kedua hadits itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memantapkan kaidah penting dari kaidah-kaidah dasar dakwah kepada Allah Jalla Jalaluhu, yaitu berdakwah dengan lemah lembut dan tidak kasar. Maka dakwah para dai yang sepatutnya disampaikan pertama kali kepada orang-orang kafir adalah Syahadat, lalu Shalat, Puasa , Zakat. Kemudian (hendaknya) mereka menjelaskan kepada manusia tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu menerangkan amal perbuatan yang wajib, yang sunnah dan yang makruh. Jika melihat suatu kesalahan yang disebabkan karena kebodohan atau lupa, maka hendaklah bersabar dan mendakwahi manusia dengan penuh kasih sayang dan kelembutan serta tidak kasar. Allah Jalla Jalaluhu berfirman.

    “Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” [Ali Imran : 159]

    Sesudah memahami hadits-hadits itu, dan penjelasan makna keringanan dan kemudahan. Maka saya berkata kepada orang-orang yang merubah dan mengganti makna-makna hadits-hadits tersebut (karena ingin mengenyangkan hawa nafsu mereka dengan perbuatan itu) :

    “Bertaqwalah kepada Allah Jalla Jalaluhu dan ikutilah apa yang diperintahkan kepada kalian, dan jauhilah laranganNya, dan tahanlah (diri kalian) dari merubah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan takutilah suatu hari yang kalian dikembalikan kepada Allah Jalla Jalaluhu lalu setiap jiwa akan disempurnakan dengan apa yang ia usahakan. Dan takutlah kalian jangan sampai diharamkan dari mendatangi telaga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantaran kalian mengganti agama Allah Jalla Jalaluhu dan merubah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

    Saya mengharapkan dari Allah Jalla Jalaluhu yang Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri agar memberi petunjuk kepada kita dan kaum muslimin seluruhnya untuk mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah NabiNya, dan agar Allah Jalla Jalaluhu mengajarkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, dan memberi manfaat dari apa yang Dia ajarkan, serta memelihara kita dari kejahatan perbuatan bid’ah dan penyelewengan, serta kejahatan mengubah dan mengganti (syariat Allah).

    ***

    Disalin dari Majalah : Al Ashalah edisi 15-16 hal 33-35, diterjemahkan oleh Majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyah Edisi : Th. I/No. 03/Dzulhijjah 1423/Februari 2003, hal 5 -6.Terbitan Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya

     
  • erva kurniawan 2:35 am on 3 December 2015 Permalink | Balas  

    Al-Walahan : Setan Spesialis Wudhu 


    wudhu 3Al-Walahan : Setan Spesialis Wudhu

    Bisa kita bayangkan, bagaimana canggihnya seorang pencuri kendaraan bermotor jika setiap hari yang dipelajari dan dikerjakan adalah mencuri motor. Ada juga pencuri spesialis elektronik, dia paling ahli soal bagaimana menggondol barang elektronik di rumah orang yang sedang lengah. Ternyata, iblis juga memiliki bala tentara yang dibekali ketrampilan khusus dan ditugasi pekerjaan yang khusus pula. Iblis menggoda manusia di setiap lini, dan di setiap lini dia siapkan setan-setan ‘spesialis’ yang pakar dalam bidangnya.

    Dalam hal wudhu misalnya, ada jenis setan khusus yang beraksi di wilayah ini. Pekerjaannya fokus untuk menggoda orang-orang yang wudhu sehingga menjadi kacau wudhunya. Setan spesialis wudhu ini disebut Nabi dengan ‘Al-Walahan’. Nabi bersabda:

    “Pada wudhu itu ada setan yang menggoda, disebut dengan Al-Walahan, maka hati-hatilah terhadapnya.” (HR Ahmad)

    Setan ini menggoda tidak hanya mengandalkan satu jurus saja untuk memperdayai mangsanya. Untuk masing-masing karakter pelaku wudhu, disiapkan satu jurus untuk melumpuhkannya.

    Waspadai Setiap Jurusnya

    Sebagian dipermainkan setan hingga sibuk mengulang-ulang lafazh niat. Saking sibuknya mengulang, ada yang rela ketinggalan rekaat untuk meng’eja’ niat. Niat memang harus dilazimi bagi setiap hamba yang hendak melakukan suatu kativitas. Akan tetapi, tak ada secuil keteranganpun dari Nabi yang shahih menunjukkan sunahnya melafazkan niat. Bahkan tidak ada dalil sekalipun berupa hadits dha’if, mursal, atau yang terdapat di musnad maupun perbuatan sahabat yang menunjukkan keharusan atau sunahnya melafazkan niat.

    Dalil yang biasa dipakai adalah hadits Nabi “segala sesuatu tergantung niatnya.” Hadits ini tidak menunjukkan sedikitpun akan perintah melafazkan niat. Jika hadits ini dimaknai sebagai niat yang dilafazkan, berarti untuk setiap amal shalih baik menolong orang tenggelam, belajar, bekerja dan aktivitas lain menuntut dilafazkan niat. Apakah orang yang melafazkan niat ketika wudhu juga melafazkan niat ketika melakukan aktivitas amal yang lain? Kalau saja itu baik, tentunya Nabi dan para sahabat melakukannya.

    Sebagian lagi digoda setan sehingga asal-asalan ketika melakukan wudhu. Dia membiarkan anggota tubuh yang mestinya wajib dibasuh, tidak terkena oleh air. Nabi mengingatkan akan hal ini dengan sabdanya:

    “Celakalah tumit dari neraka.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

    Untuk menangkal godaan ini, wajib bagi kita mengetahui, manakah anggota tubuh yang wajib dibasuh atau diusap. Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya:

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan mata kaki …” (QS. al-Maidah : 6)

    Syaikh Utsaimin menyebutkan bahwa ‘istinsyaq’ atau memasukkan air ke hidung kemudian istinsyar (mengeluarkannya) hukumnya wajib karena hidung termasuk bagian dari wajah yang dituntut untuk dibasuh.

    Telinga juga wajib untuk diusap karena termasuk bagian dari kepala sebagaimana hadits Nabi: al-udzun minar ra’si, telinga adalah bagian dari kepala.

    Boros Menggunakan Air

    Asal-asalan berwudhu adalah jurus setan yang diarahkan bagi orang yang malas. Sedangkan untuk orang yang antusias dan bersemangat, ‘al-walahan’ memiliki jurus yang lain. Yakni dia menggoda agar orang yang wudhu terlampau boros menggunakan air. Timbullah asumsi bagi orang yang berwudhu, semakin banyak air, maka semakin sempurna pula wudhunya. Padahal anggapan ini bertentangan dengan sunnatul huda. Bahkan Nabi mengingatkan umatnya akan hal itu. Beliau bersabda:

    “Sesungguhnya akan ada di antara umat ini yang melampaui batas dalam bersuci dan berdoa.” (HR Abu Dawud, Ahmad, dan An-Nasa’i, sanadnya kuat dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Ada pula hadits menyebutkan, tatkala Nabi melewati Sa’ad yang tengah berwudhu beliau bersabda: “Janganlah boros dalam menggunakan air.” Sa’ad berkata: “Apakah ada istilah pemborosan dalam hal air?” beliau menjawab: “Ya, meskipun engkau (berwudhu) di sungai yang mengalir.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad). Ibnul Qayyim menyebutkan hadits ini dalam Zaadul Ma’ad, begitu pula Ibnul Jauzi dalam kitabnya “Talbis Iblis”, hanya saja Syaikh Al-Albani menyatakan ini sebagai hadits dha’if, begitu pula dengan Al-Bushiri dalam Al-Zawa’id.

    Yang baik adalah kita tidak boros dalam menggunakan air, termasuk ketika berwudhu. Namun bukan berarti boleh meninggalkan sebagian anggota yang wajib untuk dibasuh.

    Ragu-Ragu Ketika Berwudhu

    Jurus lain yang ditujukan bagi orang yang kelewat semangat dalam hal wudhu adalah, setan menanamkan keraguan kepada orang yang berwudhu. Ketika orang itu selesai wudhu, dibisikkan di hatinya keraguan akan keabsahan wudhunya. Agar orang itu mengulangi wudhunya kembali dan hilanglah banyak keutamaan seperti takbiratul uula maupun shalat jama’ah secara umum.

    Telah datang kepada Ibnu Uqail seseorang yang terkena jurus setan ini. Dia menceritakan bahwa dirinya telah berwudhu, kemudian dia ulangi wudhunya karena ragu, bahkan dia menceburkan diri ke sungai, setelah keluar darinya diapun masih ragu akan wudhunya. Dia bertanya: “Dalam keadaan (masih ragu) seperti itu apakah saya boleh shalat?” Ibnu Uqail menjawab: “Bahkan kamu tidak lagi wajib shalat.”

    Ya, tak ada orang yang melakukan seperti itu kecuali orang yang hilang ingatan, sedangkan orang yang hilang ingatan tidak terkena kewajiban.

    Wallahu a’lam.

    ***

    (Majalah Ar risalah)

     
  • erva kurniawan 6:25 am on 2 December 2015 Permalink | Balas  

    Bagaimana Kita Mencintai Allah dan Rasulullah SAW 

    hidayah-allahBagaimana Kita Mencintai Allah dan Rasulullah SAW

    Pembaca yang budiman, tahukan Anda bagaimana cara kita mencintai Allah Ta’ala dan Rasulullah SAW itu ?!! Ketahuilah, Allah Ta’ala telah memberitahukan hal ini dalam firman-Nya:

    “Katakanlah (wahai Muhammad SAW terhadap kaum muslimin) Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imran: 31).

    Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dalam kitabnya Al-Firqatun Najiyah hal. 111 menyatakan: “Faedah dari ayat ini adalah bahwa kecintaan seorang hamba terhadap Allah itu adalah dengan ittiba’ (selalu mengikuti) terhadap apa saja yang berasal dari Rasulullah SAW, mentaati apa yang diperintahkannya dan meninggalkan semua hal yang dilarangnya seperti apa yang terdapat dalam hadits-hadits yang shohih yang telah beliau jelaskan kepada umat manusia. Dan mahabbah (kecintaan) ini tidak akan terwujud bila hanya semata-mata ucapan lisan tanpa adanya amalan yang sesuai dengan petunjuk dan tuntunan Rasulullah SAW.

    Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah dalam kitab tafsirna Taisir A-Karimir Rahman juga menjelaskan: “Ayat ini juga merupakan Al-Mizan (alat penimbang) bagi orang-orang yang mengaku benar-benar mencintai Allah. Maka tanda kecintaan seorang hamba kepada Allah itu adalah dengan ittiba’  (mengikuti) Nabi Muhammad SAW, yang mana Allah Ta’ala menjadikan ittiba’-nya seseorang pada Rasulullah dalam semua yang dida’wahkan oleh beliau SAW sebagai jalan untuk mencintai Allah dan mendapatkan keridhoan-Nya. Dan seseorang itu tidak akan mendapatkan kecintaan, keridhoan dan pahala-Nya kecuali dengan cara tashdiq (selalu membenarkan) terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM berupa Al-Kitab dan As-Sunnah, kemudian tunduk kepada perintah keduanya dan menjauhi semua hal yang dilarang oleh keduanya. Maka barangsiapa yang telah melakukan hal tersebut, Allah Ta’ala akan mencintainya dan diberi balasan berupa pahala sebagai orang-orang yang dicintai-Nya, diampunkan segala dosanya, dan akan ditutupi segala aibnya …”

    Pembaca yang budiman, jelaslah bagi kita bahwa cara yang paling tepat mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah dengan ittiba’ terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah yang dibawa oleh Rasulullah. Ini berarti wajib bagi kita merasa cukup dengan agama yang dibawa Rasulullah SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, dan kitapun yakin bahwa agama ini benar-benar telah sempurna, tidak perlu mendapatkan tambahan-tambahan untuk disesuaikan dengan perkembangan jaman atau dikurangi karena tidak cocok dengan selera jaman, Apa saja yang berasal dari Rasulullah SAW, wajib kita terima dan kita amalkan apa adanya. Sedangkan apa saja yang tidak pernah ada pada jaman Rasulullah (tidak dicontohkan oleh beliau) wajib kita tinggalkan meskipun banyak orang yang mengerjakannya. Inilah prinsip dan hakekat kecintaan seorang hamba kepada Allah swt.gif (980 bytes).

    Mengaku mencintai Allah dan mencintai Rasul-Nya dengan cara-cara selain cara tersebut di atas adalah pengakuan yang dusta dan menipu ! Karena bagaimana mungkin seseorang mengaku cinta tetapi melakukan perbuatan yang dibenci dan tidak disuka oleh kekasih yang dicintainya? Nah, contohnya adalah seperti apa yang dilakukan oleh kaum muslimin di setiap bulan Rabi’ul Awal. Mereka mengadakan acara perayaan Maulid Nabi SAW dengan niat untuk ibadah dan sebagai wujud ekspresi cinta mereka kepada Rasulullah. Benarkah begitu cara kita mengekspresikan cinta kita kepada beliau, yakni dengan mengadakan acara-acara yang tidak pernah diperintahkan dan dicontohkan oleh beliau?! Bukankan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah menjelaskan secara gamblang bagaimana mestinya kita mengekspreskan cinta kita kepada keduanya?

    Oleh karena itu benarlah apa yang pernah dikatakan oleh Imam Malik bin Anas Rahimahullah: “Barangsiapa membuat bid’ah  (perkara baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, pent) dalam agama Islam ini, dan dia memandangnya sebagai suatu kebaikan, maka sungguh dia telah menganggap dan menuduh Muhammad SAW telah mengkhianati risalah Allah (yakni wahyu yang diturunkan kepada beliau, pent). Karena sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: “Pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu … ” (QS. Al-Maidah: 3). Maka apa saja yang pada hari itu (jaman Rasulullah, pent) bukan merupakan agama, pada hari inipun bukan merupakan agama.”

    Inilah prinsip yang selalu dipegang teguh oleh para ulama Salafus Shalih, dan juga jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang istiqomah dengan prinsip-prinsip ini hingga akhir jaman. Mudah-mudahan Allah Ta’ala selalu memberikan pertolongan-Nya kepada kita dan kita berlindung dari setiap kesesatan yang dibungkus dengan baju keagamaan.

    Wallahu a’lamu bishshowwab

    Sumber : http://www.shahabat.cjb.net

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 1 December 2015 Permalink | Balas  

    Kesengsaraan Dalam Neraka 

    al-quran-yang-muliaKesengsaraan Dalam Neraka

    Allah telah menciptakan bagi manusia untuk diakhirat nanti dua tempat tinggal, yaitu “SURGA” dan “NERAKA”. Masing-masingnya akan dihuni oleh penghuni-penghuni yang telah ditentukan baginya.

    Yang akan menjadi penghuni surga antara lain ialah manusia-manusia yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya, menjalankan segala perintah agama dan menjauhkan / menjahui segala larangan agama.

    Firman Allah SWT: “Dan orang-orang yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya niscaya Ia (Allah) masukkan dia kedalam surga”. (QS. An Nisa’ ayat 13).

    Atau manusia-manusia yang beriman dan beramal saleh, sebagaimana firman Allah SWT: “Dan beri kabar gembiralah orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bahwasanya bagi mereka adalah surga” (QS.Al Baqarah: 25).

    Firman Allah SWT: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang taqwa disisi Tuhan mereka adalah surga na’im”. (QS. Al Qalm ayat 34

    Yang menjadi penghuni neraka antara lain ialah:

    Manusia-manusia yang “Fasiq”, yaitu antara lain orang-orang Islam yang tidak melaksanakan perintah Allah atau mengerjakan larangan Allah, sebagaimana difirmankan Allah: “Dan adapun orang-orang yang fasiq (kafir), maka tempat mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak ke luar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) kedalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya”. (QS. As Sajadah ayat 20). Bahkan kamu menganggapnya enteng (pen).

    Orang-orang “Munafiq”, yaitu orang-orang yang mengaku beragama Islam dengan mulutnya, dengan pengakuannya, (KTP-nya) dan mungkin juga mengerjakan sebahagian ajaran Islam, mengerti ajaran Islam namun tidak mendirikan shalat, shalatnya hari Jum’at saja, tidak membayar zakat, tetapi hatinya anti Islam, sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang munafiq itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. (QS. An Nisa’ ayat 145).

    Orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, Firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang kafir dan orang-orang musyrik tempat mereka di dalam neraka Jahanam; mereka kekal didalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk”. (QS. Al Bayinah ayat 6). Lebih hina dari binatang (pen).

    Orang-orang Islam bisa pula jadi musyrik tersebut, seperti orang-orang Islam yang menggantungkan azimat di lehernya, ditangannya, dikakinya atau dirumahnya, ke kuburan para wali minta berkah, perdukunan, dsb. Tentang menggantungkan azimat itu syirik, Nabi Muhammad SAW menyabdakan sebagai berikut: “Sesungguhnya jampi-jampi, azimat dan sihir adalah syirik”. (Hadits Riwayat: Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Hakim). Jadi orang-orang yang fasiq, munafiq, musyrik, berselingkuh, korupsi, maling, musyrik, yang melanggar larangan agama, yang melalaikan sholatnya, juga menjadi penghuni neraka.

    Kesengsaraan yang akan dialami oleh manuasia di dalam neraka antara lain:

    1. Tempatnya berdesak-desakan, sebab walaupun isinya sudah penuh sesak, namun akan ditambahi terus. Firman Allah SWT: “Pada hari Kami bertanya kepada neraka jahanam: Apakah engkau sudah penuh sesak? Neraka jahanam menjawab: Masih adakah tambahan ? (QS.Qaf ayat 30)
    2. Makanannya dari pohon zaqqum, yaitu sebangsa pohon yang tumbuh di neraka, yang amat jelek dan rasanya sangat pahit, sampai dalam perut seperti minyak atau air yang mendidih. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak berdosa. Ia (pohon zaqqum) sebagai kotoran minyak yang mendidih didalam perut. Seperti mendidihnya air yang sangat panas“. QS. Ad Dukhaan ( Kabut) ayat 43 -44, 45 dan 46.

    Buah pohon zaqqum makanan ahli neraka. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka jahim. Mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas”. QS. Ash Shaaffaat ayat 63, 64, 65, 66, dan 67.

    Allah berfirman: “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada pula makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. (Qs-Al Haaqqah (69) ayat 25 s/d 37).

    1. Minumanya air mendidih dan air nanah. Firman Allah SWT: “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak pula mendapat minuman, selain air yang mendidih dan nanah”. QS.An Naba’ ayat 24 & 25.

    Firman Allah SWT: “Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zhalim itu neraka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi dengan air seperti besi mendidih menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek”. (QS.Al Kahfi ayat 29).

    1. Pakaiannya dari api. Firman Allah SWT: “Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka”. QS. Al Hajj (Haji) ayat 19 & 20.
    2. Dikelilingi oleh api. Firman Allah SWT: “Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan dari api. Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku“. QS. Az Zumar ayat 16
    3. Tidak akan mati dan tidak pula akan hidup. Firman Allah SWT: ” Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya (peringatan), yaitu orang yang celaka yang terpanggang di dalam api yang amat besar (neraka). Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup“. QS.Al A’laa ayat 11, 12 dan 13.
    4. Setiap kali kulitnya sudah hangus akan diganti lagi dengan kulit yang baru. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami panggang mereka kedalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan pedihnya azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. QS. An Nisaa’ ayat 56.
    5. Tertutup sama sekali dari rahmat Allah. Firman Allah SWT: “Sekali-kali tidak, maksudnya sekali-kali tidak seperti apa yang mereka katakan, bahwa mereka dekat pada sisi Tuhan. Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan kepada mereka: Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan”. QS.Al Muthaffiffiin ayat 15, 16 & 17. (Kamu sepelekan, kamu anggap enteng, kamu remehkan, kamu anggap keciil-pen).
    6. Sehingga sewaktu mereka meminta kepada penghuni surga sedikit air, penghuni surga menjawab: Allah mengharamkannya atas kamu. Firman Allah SWT: “Penghuni neraka berseru kepada penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah di rezikikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir. QS.Al A’raaf ayat 50.
    7. Azab mereka yang paling ringan ialah bersandal dari api. Tetapi begitu dipakai (di injak) otak pemakainya menjadi mendidih. Sabda Nabi Muhammad SAW: “Seringan-ringan azab bagi manusia ( di neraka) ialah memakai sandal dan ikatannya dari api, mendididh otaknya karenanya, sebagai mendidihnya air di dalam kuali, ia tidak melihat ada orang lain yang (dianggapnya) lebih berat azabnya dari dia, padahal dialah orang yang paling ringan azabnya. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

    Itulah yang kami dapat kutibkan dari kitab Al Qur’an, bisa dicek langsung ke Al Qur’an, Al Qur’an adalah kitab Allah yang paling sempurna dan mutlak kebenarannya. Yang tersebut diatas sebahagian dari kesengsaraan yang akan diderita oleh penghuni-penghuni neraka. Tetapi walaupun demikian sudah sangat mengerikan sekali. Oleh sebab itu seharusnya hal ini mendorong kita untuk menghindarinya dengan segala kemampuan yang kita miliki.

    Kalau kiranya kita sudah terlanjur mengerjakan perbuatan-perbuatan yang akan membawa kita ke dalam neraka tersebut, seperti perbuatan syirik (musyrik) menyekutukan Allah, membunuh orang atau menyuruh membunuh orang yang dilarang untuk dibunuh, berzina, melacur, berselingkuh, berghibah (ghosib), korupsi, ingkar janji, berdusta, berbohong, memakan yang diharamkan dimakan, fasiq, kafir, munafiq, riya, sihir, dsb yang dilarang oleh agama, maka hendaklah kita cepat-cepat bertaubat nasuha (bertaubat atas perbuatannya dan berjanji tidak akan diulanginya lagi), memperbaiki iman dan beramal saleh sebanyak-banyaknya. Karena kalau kita sudah taubat, iman sudah baik dan amal saleh sudah banyak, maka dosa-dosa kita yang lalu itu akan diampuni oleh Allah dan diganti oleh Allah dengan kebaikan, sungguh Allah itu Maha (Amat) Pengampun dan Maha (amat besar sekali) kasih sayang-Nya kepada kita, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya.

    Firman Allah SWT: “Dan orang-orang yang tidak menyeru Tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali dengan jalan yang benar dan tidak berzina dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian itu ia akan bertemu dosa (neraka). Dilipat gandakan baginya azab pada hari kiaamat dan ia kekal di dalamnya dengan sangat hina. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan beraamal saleh, maka Allah akan menggantikan kejahatan-kejahatan mereka itu dengan kebaikan-kebaikan, karena Allah itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. QS. Al Furqan ayat 68 s/d. 70.

    Marilah kita berdo’a, semoga Allah SWT senantiasa selalu membimbing kita kejalan yang diridhoi-Nya, kejalan yang benar dan semoga Allah memberi kekuatan iman kita untuk menjauhkan dari segala perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya dan agar kita senantiasa dapat melaksanakan segala perintah-Nya dengan hati yang tulus, yang ikhlas, ridho, jadikan hidup ini sebagai ibadah, agar kita semua terhindar dari siksa neraka, dan mendapat surga yang telah dijanjikan-Nya. Insya Allah, Amien ya Rabbal ‘alamiin.

    Alhamdulillahrobbil’alamin.

    Allahu a’lam bishshawab.

    Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    ***

    Indra Subni

     
  • erva kurniawan 2:44 am on 30 November 2015 Permalink | Balas  

    Macam-Macam Hati 

    kaya hatiMacam-Macam Hati

    Sebaik-baiknya hati adalah yang bersih suci dari keburukan, yang tunduk kepada yang haaq (kebenaran) dan petunjuk yang diliputi kebaikan. Di dalam Hadits dikatakan,

    Hati itu ada 4 macam :

    1. Hati yang tidak berselaput, di dalamnya terdapat pelita yang menerangi. Ini hati orang mukmin.
    2. Hati yang hitam tak tentu tempatnya. Ini hati orang kafir.
    3. Hati yang terbelenggu diatas kulitnya. Ini hati orang munafik.
    4. Hati yang mendatar, padanya terdapat iman dan nifaq (kemunafikan). Perumpamaan iman yang meliputinya seperti batang tumbuhan yang disirami air tawar. Sedangkan perumpamaan nifaq seperti setumpuk kudis yang diselaputi nanah dan darah busuk. Maka yang mana di antara keduanya berkuasa, kesitulah hati tertarik.

    Hati yang ke-4 inilah yang terdapat pada kebanyakan kaum muslimin. Amalnya bercampur aduk sehingga keburukannya lebih banyak daripada kesempurnaannya. Dalam Hadits lain dikatakan,

    “Sesungguhnya iman itu bermula muncul di dalam hati sebagai sinar putih, lalu membesar, hingga seluruh hati menjadi putih. Sedangkan nifaq itu bermula muncul di dalam hati seperti noda-noda hitam, lalu menyebar, hingga seluruh hati menjadi hitam.”

    Sesungguhnya iman akan bertambah dengan cara menambah amal saleh disertai keikhlasan. Sedangkan nifaq akan bertambah dengan cara mengerjakan amal buruk, seperti meninggalkan perkara wajib dan melakukan larangan agama. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW,

    “Barangsiapa melakukan dosa, maka akan tumbuh dalam hatinya setitik hitam. Jika ia bertobat, maka terkikislah titik hitam itu dari hatinya. Jika ia tidak bertobat, maka menyebarlah titik hitam itu sehingga seluruh hatinya menjadi hitam.”

    Hal ini sesuai dengan firman Allah,

    “Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang mereka selalu kerjakan itu menutupi hati mereka.” (QS. 73:14)

    Seorang manusia tidak akan ditimpa suatu musibah, kecuali karena dosanya sendiri. Sebagaimana dikatakan di dalam Al-Qur’an,

    “Dan musibah apa saja yang menimpa kamu maka itu disebabkan oleh perbuatanmu sendiri.” (QS. 42:30)

    Maka dari itu, hendaklah kita berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam dosa. Jika pun sudah terlanjur, maka hendaklah bersegera bertaubat. Bukankah dikatakan di dalam Al-Qur’an,

    “Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. 49:11)

    “(Dialah) Yang mengampuni dosa dan menerima taubat, Yang pedih siksanya, Yang mempunyai karunia. Tiada tuhan selain Dia dan hanya kepada-Nya-lah tempat kembali.” (QS. 40:3)

    “Dan tiada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang kembali kepada Allah. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya.” (QS. 40:13-14)

    ***

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 29 November 2015 Permalink | Balas  

    Meluruskan hati 

    kaya hatiMeluruskan hati

    Hendaknya kita menaruh perhatian yang lebih kepada hati dan batin kita. Rasulullah SAW berkata,

    “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan amal-amal kalian, tapi sesungguhnya Allah melihat kepada hati dan niat-niat kalian.”

    Karena itu hendaknya kita menyatukan amal dengan hati, ucapan dengan amal, membenarkan niat dan keikhlasan, membersihkan batin dan meluruskan hati. Karena hal tersebut adalah sumber segala perkara.

    “Ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam tubuh ini ada segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”

    Hal tersebut dikarenakan hati itu mudah berubah dan senantiasa goncang, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,

    “Sesungguhnya hati itu lebih cepat berbolak-balik daripada makanan yang sedang mendidih dalam periuk.”

    Maka dari itu, beliau SAW sering berdoa,

    “Wahai (Tuhan) Yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.”

    Beliau SAW juga bersabda,

    “Sesungguhnya hati itu terletak antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman. Jika Dia berkehendak, diluruskannya, atau jika Dia berkehendak (yang lain), dibengkokkannya.”

    Nabi SAW sendiri sering bersumpah dengan mengatakan,

    “Tidak, demi Tuhan Yang Maha membolak-balikkan hati…”

    Allah SWT menceritakan tentang Nabi Ibrahim AS,

    “Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, pada hari dimana harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat” (QS. 26:87-89)

    Oleh karena itu, perbanyaklah membaca doa,

    “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau sesatkan hati-hati kami setelah Engkau memberikan kami hidayah, dan limpahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Pemberi.” (QS. 3:8)

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 28 November 2015 Permalink | Balas  

    Hati yang Keras dan Lalai 

    kaya hatiHati yang Keras dan Lalai

    Waspadalah dari hati yang keras (qoswah)!. Yakni kerasnya hati dan membeku sehingga nasihat pun tidak berpengaruh. Jika kematian disebut, ia tak merasa takut atau ngeri, begitu pula jika mendengar janji-janji Allah dan ancaman tentang keadaan akhirat.

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Sesuatu yang paling jauh dari Allah Ta’ala adalah hati yang keras.”

    Rasulullah SAW juga bersabda,

    “Termasuk dari sesuatu yang celaka adalah 4 perkara : hati yang keras, mata yang beku, cinta dunia dan panjang angan-angan.”

    Beliau menambahkan,

    “Ketahuilah!, Allah tidak akan menerima doa dari hati orang yang lalai.”

    Hati yang lalai adalah hati yang tidak sabar dan tidak mau tahu ketika diperingatkan karena keasyikannya bekerja dan bermain dengan keindahan dunia dan hawa nafsu.

    Firman Allah SWT,

    “Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri, penuh rasa takut, tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. 205:7)

    Allah melarang Rasul-Nya untuk tidak menjadi orang yang lalai, sebagaimana Dia melarang untuk tidak mentaati orang-orang yang lalai atau pun mengikuti jejak mereka.

    “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya lalai dari mengingat Kami serta memperturutkan hawa nafsunya, dan keadaannya itu melampaui batas.” (QS. 18:28)

    Orang-orang yang dianggap lalai jika :

    Membaca Al-Qur’an atau mendengarnya tetapi tidak merenungkan maknanya, tidak mengikuti perintah dan larangannya. Begitu pula hadits Rasulullah SAW dan ucapan para Salafus Sholih ra.

    Tidak mengingat mati dan hal-hal sesudah mati apakah ia tergolong ahlus sa’adah (orang yang bahagia) atau ahlus syaqowah (orang yang celaka), dan tidak memikirkannya.

    Tidak sering bergaul dengan ulama-ulama yang mengingatkannya tentang agamanya, menyadarkannya tentang kehidupan yang abadi, nikmat-nikmat Allah, janji dan ancaman-Nya.

    Jika ia tidak mendapatkan alim ulama, seharusnyalah buku-buku para alim ulama tersebut bisa sebagai pengantinya. Insya Allah tidak akan pernah dunia ini kosong dari dari para alim ulama, meskipun kerusakan jaman telah merata.

    “Senantiasa segolongan dari umatku yang berdiri teguh diatas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka siapapun yang menentangnya, hingga tiba ketentuan dari Allah SWT.”

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 27 November 2015 Permalink | Balas  

    Taqwa 

    taqwaTaqwa

    Ibnu Rajab Ra  (Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam): Orang- orang yang bertaqwa adalah orang  yang takut kepada Allah dan siksa-NYA ketika dia meninggalkan petunjuk  yang diketahui, dan mengharap rahmat-NYA ketika membenarkan wahyu yang dia turunkan.

    ‘Umar bin Abdul Aziz ra : Taqwa bukanlah hanya berpuasa pada siang hari, shalat malam dan menggabungkan kedua amalan ini.Namun taqwa adalah meninggalkan apa  yang diharamkan Allah SWT, dan menunaikan kewajiban-NYA. Barang siapa yang diberi karunia kebaikan setelahnya, itu adalah kebaikan diatas kebaikan.

    Tholq bin Habib ra : Taqwa adalah taat kepada Allah diatas cahaya-NYA (ilmu) dg mengharapkan pahala-NYA dan meninggalkan maksiat diats cahaya Allah SWT karena takut akan siksa-NYA.

    Ibnu Mas’ud ra : Taqwa adalah Allah ditaati dan tidak didurhakai, diingat dan tidak dilupakan, disyukuri (kenikmatan-NYA) dan tidak diingkari.

    Abu Hurairah ra : Beliau di tanya tentang taqwa, maka beliau menjawab:”apakah kamu pernah menginjak jalanan  yang berduri?”

    “ya..” Jawab penanya

    “lalu apa  yang kamu lakukan?”tanya Abu Hurairah

    Dia berkata : “Jika aku melihat duri maka aku menghindarinya, atau aku lewati atau aku memagarinya”.

    Abu Hurairah berkata : “Itulah taqwa.”

    ***

    Henri

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 26 November 2015 Permalink | Balas  

    Amal Puasa 

    amalan baikAmal Puasa

    Abullaits Assamarqandi (Tanbihull Ghafillin) meriwatkan dengan sanadnya dari Zaid bin Aslam berkata : Rasulullah berkata :

    Amal perbuatan itu ada lima, Amal dibalas sama, dan amal yang menentukan, dan amal sepuluh kali pahalanya, dan amal tujuh ratus kali pahalanya dan amal yang tidak diketahui pahalanya kecuali allah SWT.

    Adapun amal perbuatan yang balasannya sama, yaitu orang yang berbuat kejahatan dibalas satu, atau seseorang yang niat akan berbuat kebaikan tetapi tidak jadi berbuat, maka dicatatlah sebagai suatu kebaikan. Adapun amal yang menentukan maka orang menghadap kepada AllahSWT tidak menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu apapun pasti masuk ke syurga, dan orang yang menghadap kepada Allah SWT dengan mempersekutukan Allah Swt dengan lain-lainNYA maka masuk neraka.

    Adapun amal yang mendapat 10 X lipat, maka berbuat hasanat dicatat baginya 10 pahalanya. Adapun amal yang mendapat tujuh ratus, maka tiap amal memperjuangkan agama allah atau perbelanjaan dalam jihad Fisabilliah, adapun amal yang tidak diketahui pahalanya kecuali Allah sendiri adalah Puasa.

    Wassalam

    Henri

     
  • erva kurniawan 5:44 pm on 25 November 2015 Permalink | Balas  

    Macam-Macam Cinta 

    cintaMacam-Macam Cinta

    Diantara Para ulama Ada yang membagi cinta menjadi 2 bagian dan ada yg membaginya menjadi 4. Menurut  Asy Syech Muhammad bin Abdulwahab Al yamani bahwa cinta itu ada 4 :

    1. Cinta Ibadah, yaitu Mencntai Allah SWT dan Apa-apa yg dicintaiNYA dg dalil dan hadist sebagai berikut

    “Maka Allah aka mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-NYA” (Al Maidah 54 )

    “Dan Orang -orang beriman lebih cinta kepada Allah (Al Baqoroh : 165).

    1. Cinta Syirik, Yaitu Mencintai Allah SWT dan juga selain-NYA

    “Dan diantara manusia ada yang menjadikan selain Allah tandingan-tandingan (Bagi Allah),mereka mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah (Q.S : 2 :165 )

    1. Cinta Maksiat, Yaitu Cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yg diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yg diperintahkan-NYA. Allah SWT berfirman:

    “Dan Kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat” (Al Fajr :20)

    1. Cinta Tabiat, Yaitu seperti cinta kepada Anak, keluarga ,diri, harta dan perkara lain yg dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah SWY berfirman :

    “Ketika mereka (Saudara-saudara Yusuf AS) berkata : ‘Yusuf  dan Adiknya lebih dicintai oleh Bapak kita daripada kita,” (Yusuf :8).

    Jika Cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Apabila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut, sehingga seperti cinta kita kepada Allah SWT atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini beruba menjadi cinta syirik..

    (Dikutip dari Kitab Al Qaulul Mufid fi Addilatit Tauhid  hal 114 )

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 23 November 2015 Permalink | Balas  

    Mempertanyakan Otoritas Akal 

    akalMempertanyakan Otoritas Akal

    Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna. Dia dikaruniai sebuah media untuk mengenali segala sesuatu. Media untuk menampung sekian banyak memori yang ditangkap. Sarana untuk menguak rahasia ciptaan Tuhan di muka bumi. Sebuah kemampuan kognitif yang membedakannya dari makhluk-makhluk Tuhan yang lain; yaitu Akal.

    Begitu pentingnya akal, sampai-sampai al-Qur’an menyebutkannya dengan berulang-ulang. Berapa kali al-Qur’an menyinggung kalimat, Afalaa ta’qiluun (apakah kamu tidak berpikir?), fa’tabiruu ya ulil albab (hendaklah berpikir wahai orang-orang yang berakal!), Aku turunkan kitab pada kalian, mengenai diri kalian. Apakah kalian tidak berpikir?” (Qs. al-Anbiya’:10).

    Untuk menguak kandungan makna ayat-ayat “misterius” dibutuhkan sebuah akal yang benar-benar mumpuni. Wama ya’lamu ta’wilahu illa Allah wa al-rasikhuun fi al-ilm (Qs. al-Imran:7). Kalimat al-Rasikhuun berarti orang yang mempunyai pengetahuan yang luas (intelek). Gelar ini hanya bisa diperoleh oleh orang yang berakal cerdas dan tanggap.

    Wahyu Allah atau al-Qur’an menekankan perhatiannya pada dasar-dasar agama. Al-Qur’an kemudian menyerahkan tugas untuk menerjemahkannya ke dalam bentuk perintah dan petunjuk dalam kehidupan sehari-hari kepada manusia. Dia dituntut untuk menjaga dan mengembangkan hukum yang digali sesuai dengan konteks zaman. Dengan kemampuan yang dimiliki mereka menentukan sebuah hukum dari al-Qur’an. Itulah yang kemudian menyebabkan adanya istinbat, ijtihad, dan perselisihan pendapat antar cendikiawan Islam.

    Demikian pula dalam sebuah hadits, “Berpikir sekejap saja lebih baik dari pada ibadah selama 70 tahun”. Dengan akal akan dapat menguak rahasia ciptaan Allah. Dengan demikian dampak positifnya adalah bagi keimanan. Tak heran jika kemudian para intelektual Islam mengatakan bahwa akal tidak bisa dipisahkan dari Islam. Pada akhirnya mereka mengklaim Islam sebagai agama yang selalu menggunakan akal. Al-Islam diin al-‘aql.

    Di sisi lain, dalam sebuah literatur keislaman disebutkan bahwa Sayyidina ‘Ali r.a pernah bersabda “Bila akal menjadi pijakan agama, maka bagian bawah sepatu (Khuf) lebih pantas untuk dibasuh, daripada bagian atasnya” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Hadits ini diperkuat dengan statemen Imam al-Syafi’i tentang dekadensi umat Islam “Manusia tidak akan bodoh dan tidak akan berbeda pendapat kecuali ketika manusia meninggalkan lisan Arab (Islam, al-Qur’an atau wahyu) dan cenderung pada lisan Aristoteles (filsafat)”.

    Dalam redaksi di atas Imam Syafi’i memberi gambaran mengenai konsekuensi dari dua buah ajaran. Ajaran pertama lebih cenderung untuk membawa manusia pada sebuah solidaritas keagamaan yang cukup kuat; al-Qur’an yang memakai bahasa Arab. Ajaran kedua adalah ajaran yang cenderung berselisih pendapat antara satu dengan yang lain, filsafat.

    Sejarah mencatat bahwa perbedaan pendapat dalam filsafat telah menjadi tradisi. Aristoteles membantah dan menghujat Plato, gurunya sendiri. Ibnu Sina tidak sepakat dengan Aristoteles dan demikian seterusnya (lihat: Tahafut al-Falasifah, Abu Hamid al-Ghazali).

     

    Penyebab utama dari terjadinya selisih pendapat tersebut adalah karena ukuran (mizan al-fikri) yang dipakai ilmu filsafat adalah akal, sedangkan kemampuan akal per-indivudu manusia berbeda dalam menangkap dan menginterpretasi sebuah konteks sebab berbedanya kecerdasan dan ketajamannya (lihat: al-Islam wa al-Aql, Abd. Halim Mahmud).

    Maka dalam banyak ritual Islam seperti sujud, wudlu’, mandi besar dan kewajiban shalat akal seseorang tidak mampu untuk merasionalkannya: ada batas-batas tertentu yang tidak bisa dijangkaunya; ada banyak tempat yang tidak bisa dijamah oleh kemampuan kognitif seseorang.

    Di samping kadangkala akal tidak bisa memuaskan hasrat seseorang. Al-Ghazali justru terjebak dalam kebingungan setelah dia memasuki dunia filsafat. Pengembaraan rohani yang dialami al-Ghazali mencapai titik klimaksnya setelah beliau tahu inkonsistensi akal. Beliau menggambarkannya dalam kitab Munqidz min al-Dhalal: jika kita melihat benda dari jauh, maka akal mengatakan itu “A”. Setelah benda itu semakin dekat, akal akan menyuruh kita mengatakan itu “B”. Setelah benda itu ada di depan mata akal akan mengatakan bahwa itu “C” -dan keputusan terakhir itu belum tentu benar. Dari sinilah kemudian beliau meninggalkan dunia filsafat.

    Di sini sekilas ada paradoksal doktrin yang mendasar: makalah Imam ‘Ali r.a mentiadakan peran akal sama sekali dalam agama. Akal tidak memiliki peran. Padahal banyak ayat yang menganjurkan untuk memakai akal dalam menentukan hukum syara’.

    Di manakah sebetulnya posisi akal dalam Islam? Sebetulnya, jika kita telaah dengan lebih cermat dan mendalam antara agama dan akal tidak bertentangan. Bahkan justru saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Agama (al-Qur’an) tidak akan bisa dipaham tanpa bantuan akal yang cerdas (Qs. Al-Imran ayat 7). Akal tidak akan mencapai tingkatan tertinggi tanpa agama. Keduanya bagaikan prosesor dan layar monitor yang tidak bisa dipisahkan. Hanya saja, peran agama-sebagai prosesor-lebih penting dan berarti dalam menentukan langkah-langkah yang akan diambil. Artinya, ketika akal dan agama berseberangan, yang diprioritaskan adalah agama. Agama akan selalu menuntun kita pada kebenaran sejati dari Allah. Sedangkan akal terkadang justru menyeret kita pada bahaya kesesatan yang terselubung.

    Konklusinya, agama menuntun akal seseorang dalam semua aspek kehidupan yang bila ditinggalkan akan menyesatkan dan tidak pernah sampai pada kebenaran sejati. Semua aspek itu meliputi: satu, keyakinan dan akidah agama (teologi). Kedua, hukum-hukum agama (syari’at) dan ketiga Prinsip-prinsip moral dan etika (norma sosial). Selain ketiga daerah di atas, akal lebih mendominasi. Seperti untuk menjawab pelbagai permasalahan cosmos (alam, planet dan lain sebagainya) (lihat: al-Islam wa al-Aql : 27).

    Akal juga sangat dibutuhkan untuk menguak rahasia kekuasaan Allah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang seharusnya disertai dengan keimanan dan ketakwaan yang tinggi kepada Allah. Al-Qur’an sangat menganjurkan umat Islam untuk mempelajari ilmu-ilmu kauniyah (tentang alam, geografi dsb.) untuk kemajuan dan mengembalikan supremasi Islam yang hilang, seperti pada masa al-Faraby, al-Jabary, Ibnu Hamdun, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Al-Ghazaly dan tokoh lain di abad pertengahan. Terobosan fenomenal mereka memberikan catatan dengan tinta emas pada sejarah Islam.

    Dus, jika demikian, pantaslah kiranya kalau Islam kita sebut sebagai agama rasional; rasional dengan daerah kekuasaan yang ada di bawah doktrin syariat. Al-Din qa’id li al-aql. Tidak seperti praktek yang dilakukan oleh orang-orang Liberalis yang memposisikan akal sebagai qa’id (penuntun) bagi agama.

    Walluhu a’lam bis-shawab,

    ***

    Arland

     
  • erva kurniawan 5:30 pm on 22 November 2015 Permalink | Balas  

    Darah dan Kehormatan Umat Islam 

    taubat 3Darah dan Kehormatan Umat Islam

    Di hari akhir nanti, ada pihak-pihak yang akan merugi dan menyesal. Mereka adalah orang-orang yang selalu berusaha berbuat kerusakan di muka bumi. Menghidupkan kebencian dan kedengkian di kalangan manusia. Senang dengan kehancuran, pengrusakan, kekejian di kalangan mukminin. Tidak hanya itu, bahkan mereka senantiasa mengidamkan hilangnya nikmat orang lain, benci bila orang lain merasakan kesenangan dan kebahagiaan. Semua aktivitas tersebut lengkap pula dengan perilaku mereka yang suka menyakiti orang lain, baik dengan perkataan, perbuatan , atau bahkan sampai kepada pembunuhan jiwa manusia.

    Padahal kita mengetahui bahwa para hamba adalah tanggungan Allah. Terlebih lagi kaum muslimin dan orang beriman merekalah kekasih Allah sesuai dengan tingkat keimanan mereka. Ketika kaum mukminin disakiti berarti mereka menyakiti Allah dan rasulNya. Allah janjikan kepada mereka.

    ” Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan RasulNya, Allah akan melaknatinya di dunia dan akhirat dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan” (al Ahzaab 57)

    Perbuatan jelek mereka terhadap kaum muslimin berbuah keburukan dan kehinaan. Memikul dosa yang besar dan berat dengan sebab tindakan menyakitkan yang diperbuat kepada manusia. Tak heran apabila manusia menyingkir dari kekejian dan keburukan mereka. Inilah yang disinyalir oleh rasul kita alaihi ash sholatu wassalam

    ‘Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat ialah orang yang dipisahkan oleh manusia, atau ditinggalkan oleh manusia karena takut terhadap perbuatan kejinya” (hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

    Hal-hal yang termasuk kejelekan terhadap mukminin adalah menghinakan dan merendahkan kehormatan kaum mukminin. Banyak contoh untuk hal ini, diantaranya adalah membeberkan kekurangan orang beriman di muka umum, menfitnah mereka, atau memperlakukan mereka seperti hewan yang tak ada harganya. Ini semua adalah trik dan makar dari syetan yang menghasut manusia untuk mengumbar kata, berburuk sangka dan mencelakakan manusia.

    Kehormatan dan darah kaum mukminin sangat mahal di sisi Allah, tak layak bagi seorang pun menumpahkannya tanpa hak. Sungguh barang siapa yang membunuh satu jiwa di kalangan muslimin seakan-akan dia telah membunuh manusia secara keseluruhan. Dan barang siapa yang menghidupkannya seakan telah menghidupkan seluruh manusia. Mari kita jaga serta bela darah dan kehormatan kaum muslimin.

    ***

    Arland

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 6 November 2015 Permalink | Balas  

    Hukum Mencela Agama Lain 

    89masjidHukum Mencela Agama Lain

    Allah swt berfirman, “Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.  Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka.  Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (al-An’am:108).

    Islam melarang kaum muslimin mencela sesembahan orang-orang kafir tanpa pengetahuan.  Ketentuan ini ditujukan agar pencelaan itu tidak berakibat pencelaan balik terhadap Allah swt.  Mencela kekafiran, kesyirikan, dan sesembahan-sesembahan palsu selain Allah swt adalah perkara yang hukum asalnya mubah.  Akan tetapi jika pencelaan itu mengakibatkan dicelanya Allah dan kesucian kaum muslimin, maka pencelaan terhadap sesembahan-sesembahan orang-orang kafir tersebut menjadi haram dilakukan.

    Berdasar ayat di atas, para ‘ulama ushul menetapkan suatu kaidah, “Wasilah (perantara) menuju keharaman adalah haram”.  Setiap perbuatan mubah  jika disangka kuat akan mengantarkan kepada keharaman, maka perbuatan itu menjadi haram.

    Ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw yang termaktub dalam shahih Bukhari dan Muslim, “Termasuk dosa besar seorang laki-laki yang mengolok dua orang tuanya.”  Kemudian shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah saw, bagaimana seorang laki-laki itu bisa mengolok dua orang tuanya?  Rasul menjawab, “Ia mengolok bapak seorang laki-laki, dan lelaki itu mengolok bapaknya, kemudian ia mengolok ibu lelaki  itu, dan laki-laki itu balas mengolok ibunya.”

    Allah swt juga berfirman, “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang dzalim diantara mereka, dan katakanlah, “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.” (al-‘Ankabut;46)

    Ibnu Jarir dan Ibnu Abiy Hatim menuturkan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas ra, yang mengisahkan tentang komentar orang-orang kafir tatkala turun firman Allah swt,  “Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (al-An’am:108).  Orang-orang kafir pun berkata, “Wahai Mohammad, sungguh engkau hentikan pencelaanmu terhadap sesembahan-sesembahan kami, atau kami akan memaki sesembahanmu.  Kemudian Allah melarang kaum muslimin mencela berhala-berhala mereka yang mengakibatkan mereka mencela Allah tanpa batas dan tanpa pengetahuan.”

    Ayat tersebut menjelaskan bahwa setiap umat menyakini bahwa perbuatan, dan agamanya adalah paling baik.  Mereka tidak ingin seorangpun mencela agama mereka.  Mencela manusia hanyalah hak Allah.  Allah tidak memberikan mencela manusia kepada Rasul.  Para rasul, tidak lain kecuali menyampaikan dengan terang, dan berdakwah dengan hikmah, dan mau’idhah al-hasanah (contoh yang baik).

    Namun, keterangan di atas tidak boleh ditafsirkan bahwa kita harus bermanis muka, dan bersikap nifaq (terhadap aqidah agama bathil) dan meninggalkan aktivitas menyeru kepada kebenaran.  Namun, maksudnya adalah tidak “melecehkan” (sesembahan agama bathil) hingga menyebabkan terjadinya pelecehan dan penghinaan balik.

    Ketika Allah swt mengutus Musa as dan Harun as kepada Fir’aun, Allah berfirman kepada keduanya, “Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayatKu, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingatKu. Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”(Thaha:43).  Nabi Musa pun tatkala menyeru kepada raja Fir’aun, beliau as menyeru dengan perkataan yang sangat halus dan sopan, “Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling”. (Thaha:48).

    Islam memerintahkan kita untuk tidak mencela pemeluk keyakinan-keyakinan non Islam, walupun keyakinan mereka layak untuk mendapatkan celaan.  Sebab, pencelaan yang tidak didasarkan pada pengetahuan akan memadamkan cahaya aqal dan menyalakan naluri permusuhan dalam jiwa.  Selain itu, pencelaan tanpa dasar pengetahuan juga akan menutup pintu penerimaan terhadap  da’wah Islam.  Di sisi lain, Islam telah memerintahkan kita untuk menjelaskan kebathilan ‘aqidah-‘aqidah bathil, serta menunjukkan kehinaan dan keburukannya bila keyakinan itu dipeluk dan diamalkan, dengan cara yang jelas dan argumen yang kuat.

    ya Allah jangan Engkau hukum kami jika kami tersalah atau kami lupa.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 5 November 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Do’a Tak Diijabah 

    Doa masuk masjidMengapa Do’a Tak Diijabah

    (KH. Abdullah Gymnastiar)

    Pada suatu hari Sayidina Ali Karamallaahu Wajhah, berkhutbah di hadapan kaum Muslimin. Ketika beliau hendak mengakhiri khutbahnya, tiba-tiba berdirilah seseorang ditengah-tengah jamaah sambil berkata, “Ya Amirul Mu’minin, mengapa do’a kami tidak diijabah? Padahal Allah berfirman dalam Al Qur’an, “Ud’uuni astajiblakum” (berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu).

    Sayidina Ali menjawab, “Sesungguhnya hatimu telah berkhianat kepada Allah dengan delapan hal, yaitu :

    1. Engkau beriman kepada Allah, mengetahui Allah, tetapi tidak melaksanakan kewajibanmu kepada-Nya. Maka, tidak ada mamfaatnya keimananmu itu.
    2. Engkau mengatakan beriman kepada Rasul-Nya, tetapi engkau menentang sunnahnya dan mematikan syari’atnya. Maka, apalagi buah dari keimananmu itu?
    3. Engkau membaca Al Qur’an yang diturunkan melalui Rasul-Nya, tetapi tidak kau amalkan.
    4. Engkau berkata, “Sami’na wa aththa’na (Kami mendengar dan kami patuh), tetapi kau tentang ayat-ayatnya.
    5. Engkau menginginkan syurga, tetapi setiap waktu melakukan hal-hal yang dapat menjauhkanmu dari syurga. Maka, mana bukti keinginanmu itu?
    6. Setiap saat sengkau merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Allah, tetapi tetap engkau tidak bersyukur kepada-Nya.
    7. Allah memerintahkanmu agar memusuhi syetan seraya berkata, “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh bagi(mu) karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongan supaya mereka menjadi penghuni neraka yang nyala-nyala” (QS. Al Faathir [35] : 6). Tetapi kau musuhi syetan dan bersahabat dengannya.
    8. Engkau jadikan cacat atau kejelekkan orang lain di depan mata, tetapi kau sendiri orang yang sebenarnya lebih berhak dicela daripada dia.

    Nah, bagaimana mungkin do’amu diterima, padahal engkau telah menutup seluruh pintu dan jalan do’a tersebut. Bertaqwalah kepada Allah, shalihkan amalmu, bersihkan batinmu, dan lakukan amar ma’ruf nahi munkar. Nanti Allah akan mengijabah do’amu itu.

    Dalam riwayat lain, ada seorang laki-laki dating kepada Imam Ja’far Ash Shiddiq, lalu berkata, “Ada dua ayat dalam Al Qur’an yang aku paham apa maksudmu?”

    “Bagaimana dua bunyi ayat itu?” Tanya Imam Ja’far. Yang pertama berbunyi “Ud’uuni astajib lakum” (Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan bagimu), (QS. Al Mu’min [40] : 60). Lalu aku berdo’a dan aku tidak melihat do’aku diijabah,” ujarnya.

    “Apakah engkau berpikir bahwa Allah akan melanggar janji-Nya?” tanya Imam Ja’far.

    “Tidak,” jawab orang itu.

    “Lalu ayat yang kedua apa?” Tanya Imam Ja’far lagi.

    “Ayat yang kedua berbunyi “Wamaa anfaqtum min syai in fahuwa yukhlifuhuu, wahuwa khairun raaziqin” (Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rizki yang sebaik-baiknya), (QS. Saba [34] : 39). Aku telah berinfak tetapi aku tidak melihat penggantinya,” ujarnya.

    “Apakah kamu berpikir Allah melanggar janji-Nya?” tanya Imam Ja’far lagi.

    “Tidak,” jawabnya.

    “Lalu mengapa?” Tanya imam Ja’far.

    “Aku tidak tahu,” jawabnya.

    Imam Ja’far kemudian menjelaskan, “Akan kukabarkan kepadamu, Insya Allah seandainya engkau menaati Allah atas apa yang diperintahkan-Nya kepadamu, kemudian engkau berdo’a kepada-Nya, maka Allah akan mengijabah do’amu. Adapun engkau berinfak tidak melihat hasilnya, kalau engkau mencari harta yang halal, kemudian engkau infakkan harta itu di jalan yang benar, maka tidaklah infak satu dirham pun, niscaya Allah menggantinya dengan yang lebih banyak. Kalau engkau berdo’a kepada Allah, maka berdo’alah kepada-Nya dengan Jihad Do’a. Tentu Alah akan menjawab do’amu walaupun engkau orang yang berdosa.”

    “Apa yang dimaksud Jihad Do’a?” sela orang itu.

    Apabila engkau melakukan yang fardhu maka agungkanlah Allah dan limpahkanlah Dia atas segala apa yang telah ditentukan-Nya bagimu. Kemudian, bacalah shalawat kepada Nabi SAW dan bersungguh-sungguh dalam membacanya. Sampaikan pula salam kepada imammu yang memberi petunjuk. Setelah engkau membaca shalawat kepada Nabi, kenanglah nikmat Allah yang telah dicurahkan-Nya kepadamu. Lalu bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat yang telah engkau peroleh.

    Kemudian engkau ingat-ingat sekarang dosa-dosamu satu demi satu kalau bisa. Akuilah dosa itu dihadapan Allah. Akuilah apa yang engkau ingat dan minta ampun kepada-Nya atas dosa-dosa yang tak kau ingat. Bertaubatlah kepada Allah dari seluruh maksiat yang kau perbuat dan niatkan bahwa engkau tidak akan kembali melakukannya. Beristighfarlah dengan seluruh penyesalan dengan penuh keikhlasan serta rasa takut tetapi juga dipenuhi harapan.

    Kemudian bacalah, “Ya Allah, aku meminta maaf kepada-Mu atas seluruh dosaku. Aku meminta ampun dan taubat kepada-Mu. Bantulah aku untuk mentaati-Mu dan bimbinglah aku untuk melakukan apa yang Engkau wajibkan kepadaku segala hal yang engkau ridhai. Karena aku tidak melihat seseorang bisa menaklukkan kekuatan kepada-Mu, kecuali dengan kenikmatan yang Engkau berikan. Setelah itu, ucapkanlah hajatmu. Aku berharap Allah tidak akan menyiakan do’amu,” papar Imam Ja’far.

    ***

     
  • erva kurniawan 5:17 am on 4 November 2015 Permalink | Balas  

    Amar Makruf Nahi Mungkar 

    pertolongan-AllahAmar Makruf Nahi Mungkar

    “Orang-orang yang beramar makruf nahi mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. 3:104)

    Maksud beruntung disini adalah sukses dan bahagia di dunia dan akherat. Amar makruf nahi mungkar adalah syiar Islam yang terbesar dan merupakan asas Islam serta tugas utama kaum muslimin. Rasulullah SAW bersabda :

    “Barangsiapa yang melihat suatu kemungkaran diantaramu, maka hendaknya ia merubahnya dengan tangannya (kekuasaannya). Jika ia tak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tak mampu, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.”

    “Bukan dari golongan kami orang-orang yang tidak mengasihi yang muda dan tidak menghormati yang tua, serta tidak menyuruh berbuat baik dan melarang yang mungkar.”

    “Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya, hendaklah engkau beramar makruf nahi mungkar dan mencegah orang yang berbuat zalim, atau jika tidak maka Allah akan menurunkan azab-Nya kepada kamu sekalian.”

    Sabda Nabi SAW pula :

    “Jika umatku takut berkata kepada yang zalim ‘Ya zalim,’ maka terlepaslah amanat darinya,”

    yakni lenyaplah kebaikan umat itu dan dekatlah padanya masa kehancuran.

    Sikap berdiam diri karena telah yakin bahwa dakwahnya akan ditolak adalah perbuatan yang keliru. Karena berdakwah adalah hal yang paling utama. Ironisnya jika seseorang itu dicela atau dicuri hartanya meskipun sedikit, maka ia akan marah dan tidak berdiam diri. Hal itu karena ia beranggapan bahwa dunia ini lebih penting daripada agama Allah. Selain itu, mengapa mereka masih saja bergaul dengan orang-orang yang berbuat larangan, padahal mereka beralasan bahwa dakwahnya pasti ditolak. Bukankah Allah telah melarang kita untuk duduk bersama orang-orang yang enggan tunduk kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.

    Rasulullah SAW pernah menceritakan tentang Bani Israil yang melakukan kemungkaran, lalu para ulama mereka melarang, tetapi tidak diindahkan. Meskipun begitu para ulama tersebut tetap bergaul dengan mereka, yang lalu menyebabkan Allah melaknat mereka semua melalui lisan Nabi-Nabi Allah, Daud AS dan Isa bin Maryam AS. Juga demikian kisah yang terjadi pada ahlul qaryah yang dilarang untuk menangkap ikan pada hari Sabtu, tetapi mereka tetap melakukannya. Maka mereka pecah menjadi 3 golongan :

    1. Kelompok yang melanggar larangan Allah dengan tetap menangkap ikan pada hari Sabtu.
    2. Kelompok yang patuh pada larangan Allah dengan mencegah kelompok pertama, tetapi tetap bergaul dengan mereka.
    3. Kelompok yang patuh dengan mencegah kelompok pertama dan menjauhkan diri dengan mereka.

    Allah menurunkan azab kepada mereka dimana kelompok pertama dan kedua pasti terkena, karena keduanya bercampur-baur, meskipun ada diantara mereka yang tidak berbuat larangan. Hanya kelompok yang ketigalah yang selamat.

    “Kami selamatkan mereka yang melarang perbuatan buruk, dan Kami timpahkan azab yang pedih kepada orang-orang yang zalim karena mereka selalu berbuat kefasikan.”

    “Kami laknat mereka sebagaimana Kami melaknat orang-orang yang melanggar (perintah Allah) pada hari Sabtu.”

    Amar makmuf nahi mungkar tidak berarti menyingkap aib orang lain

    Nabi SAW bersabda :

    “Barangsiapa yang berusaha mengorek rahasia saudaranya, maka Allah pasti akan mengorek rahasianya.”

    Kita tidak boleh langsung percaya kepada berita-berita kecuali jika kita melihatnya sendiri bahwa pembawa berita itu adalah orang yang saleh dan dapat dipercaya. Sebab husnudz dzon kepada sesama muslim adalah wajib. Yang diwajibkan kepada kita adalah berbuat baik dan mencegah maksiat jika kita melihat seseorang yang tidak patuh terhadap perintah Allah atau melanggar hukum-Nya.

    Bijaksana dan lemah lemut dalam beramar makruf nahi mungkar

    Sifat lemah lembut dan kasih sayang adalah jalan utama dalam mengajak orang ke jalan yang benar dan patuh kepada Allah. Sebagaimana maksud hadits Nabi SAW, sifat kasih sayang jika ada dalam suatu perkara niscaya akan mendatangkan kebaikan, dan sebaliknya jika sifat tersebut tidak ada, pasti akan mendatangkan keburukan. Allah berfirman :

    “Maka dengan rahmat Allah, engkau dapat bersikap lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar dan berhati keras, tentu mereka akan semakin menjauhkan diri darimu.” (QS. 3:159)

    ***

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

    Mutiara Hikmah Nashoih Diniyyah

     
  • erva kurniawan 3:12 am on 3 November 2015 Permalink | Balas  

    Golongan yang Selamat 

    kisah-teladan-islamGolongan yang Selamat

    Rasulullah SAW bersabda :

    “Kaum Yahudi telah berpecah-belah menjadi 71 golongan. Kaum Nasrani telah berpecah-belah menjadi 72 golongan. Maka umatku juga akan berpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali 1 golongan saja.”

    Rasulullah SAW pernah ditanya oleh para sahabat tentang siapakah golongan yang selamat itu. Lalu beliau menjawab :

    “Mereka adalah orang-orang yang mengikuti langkahku, dan langkah sahabat-sahabatku.”

    Beliau SAW juga berpesan jika terjadi perpecahan maka hendaknya kita berpihak kepada golongan yang terbesar/terbanyak (As-Sawad Al-A’dhom), dan itulah golongan Ahli Sunnah Wal Jamaah. Merekalah golongan yang selamat karena selalu berpegang teguh pada Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah SAW, ajaran yang dibawa oleh para salafus sholeh (pendahulu yang shaleh) dari para sahabat dan pengikut mereka radhiyallahu anhum (semoga Allah meridhoi mereka).

    Alhamdulillah kita sekalian telah mengakui dan meridhoi Allah SWT sebagai Tuhan kita, Islam sebagai agama kita, Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul kita, Al-Qur’an sebagai pedoman kita, Ka’bah sebagai kiblat kita dan Muslimin sebagai saudara kita. Kita percaya terhadap semua Kitab yang diturunkan oleh Allah, para Rasul yang diutus-Nya, qodho dan qodar-Nya yang baik dan yang buruk, dan percaya bahwa kiamat itu pada suatu saat akan tiba. Kita percaya bahwa agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah dari Allah, dan kita mempercayai semua yang telah dibawa oleh beliau SAW. Insya Allah kita hidup dan mati atas dasar itu semua dan akan dibangkitkan bersama orang-orang yang aman, yang tidak takut dan tidak pula sedih. Amin…

    Rasulullah SAW bersabda :

    “Orang yang merasakan kelezatan iman adalah orang yang ridho bahwa Allah adalah Tuhannya, Islam adalah agamanya, dan Muhammad adalah Nabi-Nya.”

    Beliau SAW juga bersabda :

    “Barangsiapa yang membaca 3x di pagi hari dan sore hari kalimat

    ‘radhiitu billahi robban wa bil Islami diinan wa bi Muhammadin nabiyyan’

    (aku rela bahwa Allah adalah Tuhanku, Islam adalah agamaku, dan Muhammad adalah Nabiku)

    maka ia berhak mendapat keridhoan Allah SWT.”

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

    Mutiara Hikmah Nashoih Diniyyah

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 2 November 2015 Permalink | Balas  

    Mati di dalam Islam 

    sholat-jenazah-21Mati di dalam Islam

    Mengenai ayat “Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam” merupakan perintah Allah agar kita hendaknya mati dalam agama Islam. Karena Allah tidak menerima agama selain Islam, sebab hanya Islamlah agama yang diridhoi-Nya.

    “Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah adalah Islam. Barangsiapa yang mencari agama selain Islam tidak akan diterima darinya dan di akherat termasuk orang-orang yang merugi.”

    Firman-Nya lagi :

    “Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu dan telah kucukupkan atasmu nikmatku dan telah kuridhoi bagimu Islam sebagai agamamu.”

    Lantas jika Allah memerintahkan agar mati di dalam Islam, padahal Dia telah berfirman Engkau tidak mungkin memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allahlah yang memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki. Bagaimanakah ini?. Sesungguhnya manusia tidak dapat dan tidak mampu membuat dirinya mati di dalam Islam, tetapi Allahlah yang memberikan jalan baginya. Adapun tahapan-tahapan yang seharusnya dilakukan adalah sebagai berikut :

    • Menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
    • Berdoa kepada Allah untuk mewafatkannya dalam agama Islam dan dalam keadaan husnul khotimah.
    • Bersyukur kepada Allah atas nikmat Islam.
    • Takut mati dalam keadaan suul khotimah.

    Di dalam Al-Qur’an diceritakan bahwa Nabi Yusuf dan Nabi Ya’qub AS berdoa :

    “Kamu (Allah) adalah penguasa di dunia dan akherat, matikanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku bersama orang-orang yang sholeh”

    Padahal setiap Nabi adalah maksum dan pasti mati dalam keadaan Islam. Demikian pula diceritakan bahwa para tukang sihir Fir’aun yang bertobat berdoa :

    “Ya Allah, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami sebagai muslim.”

    Begitu juga wasiat Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ya’qub AS kepada anak-anaknya :

    “Wahai anakku, sesungguhnya Allah telah memilihkan kepadamu agama Islam, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam.”

    Begitulah cara Allah mengajar dan mendidik Nabi-Nabi-Nya dan para sholihin.

    Hendaknya manusia berusaha untuk menjaga dan memperkuat keislamannya dan senantiasa taat pada perintah Allah. Barangsiapa yang menggampangkan perintah Allah, dikhawatirkan ia kelak mati suul khotimah. Juga hendaknya ia menjauhi maksiat dan dosa karena hal tersebut melemahkan dan merendahkan keislamannya, membuat goyah asas-asas Islam sehingga tercabut darinya, sebagaimana firman Allah :

    “Kemudian akibat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah azab yang pedih karena mereka selalu mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu menolaknya.”

    Al-Habib Ali bin Abu Bakar As-Sakron berkata :

    “Barangsiapa yang menggampangkan adab (Nabawi) suatu ketika ia akan meninggalkan adab dan menggampangkan sunnah. Barangsiapa yang menggampangkan sunnah, suatu saat ia akan meninggalkan sunnah dan menggampangkan fardhu. Barangsiapa yang menggampangkan fardhu, dikhawatirkan ia akan mati dalam keadaan tidak membawa iman.”

    Hendaknya kita terus-menerus berdoa agar mati dalam keadaan husnul khotimah, sebagaimana yang diajarkan :

    “Yallah bihaa, yallah bihaa, yallah bi husnil khotimah”

    karena syaithon akan berkata :

    “Aduh celaka, orang yang memohon husnul khotimah itu telah mematahkan tulang punggungku. Aduh celaka, kapan ia mau membangga-banggakan amalnya?. Aku khawatir ia mengetahui tipu dayaku.”

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

    Mutiara Hikmah Nashoih Diniyyah

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 1 November 2015 Permalink | Balas  

    Takut Mati Suul Khatimah 

    jenazahTakut Mati Suul Khatimah

    Hendaknya kita banyak memuji dan bersyukur atas nikmat Islam karena itu adalah sebesar-besarnya dan setinggi-tingginya nikmat yang ada. Sekiranya Allah memberi dunia seisinya kepada seseorang tanpa memberi Islam maka itu hanya menjadi bencana baginya dan tempatnya di neraka. Sebaliknya jika Allah mengkaruniakannya Islam tanpa memberi dunia maka hal itu tidak membahayakannya dan jika ia mati dalam Islam maka tempatnya adalah di surga.

    Kita juga harus selalu merasa cemas dan takut akan suul khotimah karena tidak ada jaminan Allah untuk tidak akan merubah hati kita. Dialah yang memberi petunjuk dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Dalam hadits shahih Rasulullah SAW bersabda :

    “Demi dzat yang tiada Tuhan selain-Nya, sungguh salah seorang diantara kamu beramal dengan amal ahli surga sehingga jarak antara dia dan surga tinggal sehasta saja, lalu kitabnya mendahuluinya dan iapun beramal dengan amalan ahli neraka, maka masuklah ia ke dalam neraka. Demikian juga sesungguhnya ada diantara kamu beramal dengan amal ahli neraka sehingga jarak antara dia dan neraka tinggal sehasta saja, lalu kitabnya mendahuluinya dan iapun beramal dengan amalan ahli surga, maka masuklah ia ke dalam surga.”

    Hadits diatas telah merisaukan ahli takwa dan orang-orang yang lurus jalannya, maka bagaimana seharusnya sikap orang yang sering alpa dan keliru dalam urusan agamanya ?

    Sebagian salaf berkata :

    “Demi Allah, tiada seorangpun akan selamat dari agamanya. Jika ia diselewengkan oleh Allah, niscaya ia akan terseleweng. Oleh karena itu mereka senantiasa hidup dalam kebimbangan kalau-kalau mereka diwafatkan dalam keadaan suul khotimah meski amal mereka banyak dan dosa mereka amat sedikit”.

    Setengah dari mereka berkata :

    “Sekiranya aku diberi pilihan antara mati dalam Islam di pintu kamar dengan mati syahid di pintu rumah niscaya aku pilih mati dalam Islam di pintu kamar, karena aku tidak tahu apa yang terlintas di hatiku antara pintu kamar dan pintu rumah.”

    Seorang sholeh berkata kepada temannya :

    “Jika telah tiba ajalku kelak, hendaknya kamu duduk disamping kepalaku dan perhatikan apakah aku mati dalam Islam atau tidak. Jika engkau dapati aku mati dalam Islam, maka ambillah segala harta peninggalanku dan juallah, lalu belikan gula-gula dan buah badam, kemudian bagikanlah kepada anak-anak. Jika aku mati dalam keadaan tidak Islam, maka beritahukanlah kepada orang banyak matiku sebelum menshalati jenazahku, agar mereka mengetahui keadaan matiku sebelum menshalatinya.”

    Menjelang meninggalnya, rekannya berkata, “Aku telah mendapatinya mati dalam Islam.” Maka ia pun bersedekah kepada anak-anak.

    Kebanyakan orang-orang yang mati suul khotimah disebabkan karena ia mengabaikan shalat fardhu, zakat, suka memecah-belah kaum muslimin, suka mengurangi takaran dan timbangan, suka menipu kaum muslimin, menyusahkan dan mengelincirkan mereka, suka mengaku-ngaku sebagai wali Allah atau juga mengingkari para wali-Nya, dan melakukan perkara-perkara yang keji lainnya. Selain itu mereka adalah para ahli bid’ah dalam agama, yang menanamkan rasa ragu-ragu kepada Allah dan Rasul-Nya serta keberadaan hari akhir. Dan tiada terlindung dari semua itu kecuali orang-orang yang dirahmati Allah. Doa Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad :

    “Ya Allah, Wahai Yang Maha Mengasihi orang-orang pengasih, kami mohon kepada-Mu dengan cahaya-Mu yang pengasih utnuk mematikan kami sebagai orang-orang muslim dan mengumpulkan kami ke dalam golongan orang-orang sholeh dengan selamat, wahai Tuhan semesta alam.” Amin…

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

    Mutiara Hikmah Nashoih Diniyyah

     
  • erva kurniawan 7:26 pm on 31 October 2015 Permalink | Balas  

    Wasiat ulama tentang takwa 

    taqwaWasiat ulama tentang takwa

    Takwa adalah melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya secara lahir dan batin seraya merasakan keagungan Allah, kewibawaan, ketakutan dan rasa cemas terhadap-Nya.

    Sebagian para mufasir dalam mengartikan firman Allah “Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa” berkata, “Allah SWT harus ditaati dan tidak boleh dimaksiati, harus diingat dan tidak boleh dilupakan, harus disyukuri dan tidak boleh dikufuri.” Karena pada dasarnya manusia tidak akan mampu untuk benar-benar takwa kepada Allah meskipun dia mempunyai 1 juta jiwa, 1 juta umur dan menafkahkan hartanya untuk mentaati Allah dan mencintai-Nya. Hal itu karena Allah mempunyai hak yang amat besar atas hamba-hamba-Nya dan juga lantaran hebatnya kebesaran dan kemuliaan kedudukan-Nya yang tinggi.

    Rasulullah SAW sendiri sebagai orang yang paling sempurna dalam menunaikan hak-hak Allah berkata dalam doanya, “Aku berlindung dengan ridho-Mu dari murka-Mu. Aku berlindung dengan ampunan-Mu dari pembalasan-Mu. Aku berlindung dengan-Mu dari-Mu. Aku tak sanggup menghitung pujian atas-Mu sebagaimana Engkau memuji atas Dzat-Mu sendiri.”

    Allah SWT menciptakan malaikat-malaikat yang sejak diciptakan selalu ruku’ dan sujud kepada Allah dan selalu bertasbih dan bertaqdis, tak kenal lelah dan tak disibukkan oleh selain-Nya. Lalu kelak di hari kiamat mereka berkata, “Maha suci Engkau. Bagi-Mu segala puji. Kami tidak mengenal-Mu sebenar-benarnya pengenalan dan Kami tidak menyembah-Mu sebenar-benarnya ibadah kepada-Mu.”

    Sebagian ulama berkata, “Ayat ‘Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa’ terganti dengan ayat ‘Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuan yang ada padamu.’ ” Sebagian lagi berkata, “Ayat kedua adalah menerangkan ayat pertama dan bukan sebagai pengganti.” Pendapat kedua inilah yang insya Allah benar, karena Allah Ta’ala tidak memberatkan seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Allah berhak memerintah apa saja yang Dia kehendaki, namun Dia selalu meringankan dan memudahkan.

    “Allah hendak memberi keringanan kepadamu dan manusia itu diciptakan bersifat lemah.” (QS. 4:28)

    “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. 2:185)

    Imam Ghozali menerangkan dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin :

    Ketika turun ayat “Hanya bagi Allah-lah apa-apa yang ada di langit dan di bumi. Jika menampakkan apa yang ada di hatimu atau kamu menyembunyikannya maka pasti Allah akan menghisabnya”, para sahabat merasa gelisah. Lalu mereka datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Kami telah dibebani sesuatu yang kami tidak mampu menanggungnya.” Mereka berpahaman bahwa Allah akan membalas dan menghisab mereka baik yang mereka lakukan ataupun yang masih terlintas dalam hati. Rasulullah SAW berkata, “Apakah kalian hendak berkata sebagaimana yang dikatakan oleh Bani Israil ‘Kami dengar, tapi tidak patuh?’. Jangan begitu !. Katakanlah ‘Kami dengar dan kami patuh, kami mohon ampunan-Mu wahai Tuhan, kepada-Mu lah kami akan kembali.’ ” Lalu para sahabat memahaminya. Allah lantas menurunkan ayat-Nya :

    “Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan padanya dari Tuhannya dan begitu juga orang-orang yang beriman.” (QS. 2:285)

    Allah memberitakan bahwa oleh sebab doa orang-orang yang beriman itu, Allah tidak akan memberatkan sesuatu yang mereka tidak sanggup memikulnya, yang dibuat karena salah tidak sengaja atau lupa. Sesungguhnya Allah mengabulkan doa para sahabat dengan meringankan dan memudahkan serta mengangkat beban yang merisaukan mereka. Karena itu, kita wajib bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla. Hal ini sesuai dengan hadits :

    “Dimaafkan atas umatku kekhilafan, lupa atau perbuatan yang terpaksa dilakukan, dan juga apa yang terlintas di hati selagi mereka tidak mengatakan atau mengamalkan.”

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

    Mutiara Hikmah Nashoih Diniyyah

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 22 October 2015 Permalink | Balas  

    Etika Membaca Al-Qur’an 

    Reciting-QuranEtika Membaca Al-Qur’an

    1. Sebaiknya orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan sudah berwudhu, suci pakaiannya, badannya dan tempatnya serta telah bergosok gigi.
    2. Hendaknya memilih tempat yang tenang dan waktunya pun pas, karena hal tersebut lebih dapat konsentrasi dan jiwa lebih tenang.
    3. Hendaknya memulai tilawah dengan ta`awwudz, kemudian basmalah pada setiap awal surah selain selain surah At-Taubah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Apabila kamu akan mem-baca al-Qur’an, maka memohon perlindungan-lah kamu kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk“. (An-Nahl: 98).
    4. Hendaknya selalu memperhatikan hukum-hukum tajwid dan membunyikan huruf sesuai dengan makhrajnya serta membacanya dengan tartil (perlahan-lahan). Allah berfirman yang Subhanahu wa Ta’ala artinya: “Dan Bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan”. (Al-Muzzammil: 4).
    5. Disunnatkan memanjangkan bacaan dan memperindah suara di saat membacanya. Anas bin Malik Radhiallaahu anhu pernah ditanya: Bagaimana bacaan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam (terhadap Al-Qur’an? Anas menjawab: “Bacaannya panjang (mad), kemudian Nabi membaca “Bismillahirrahmanirrahim” sambil memanjangkan Bismillahi, dan memanjangkan bacaan ar-rahmani dan memanjangkan bacaan ar-rahim”. (HR. Al-Bukhari). Dan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam juga bersabda: “Hiasilah suara kalian dengan Al-Qur’an”. (HR. Abu Daud, dan dishahih-kan oleh Al-Albani).
    6. Hendaknya membaca sambil merenungkan dan menghayati makna yang terkandung pada ayat-ayat yang dibaca, berinteraksi dengannya, sambil memohon surga kepada Allah bila terbaca ayat-ayat surga, dan berlindung kepada Allah dari neraka bila terbaca ayat-ayat neraka.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Shad: 29).

    Dan di dalam hadits Hudzaifah ia menuturkan: “……Apabila Nabi terbaca ayat yang mengandung makna bertasbih (kepada Allah) beliau bertasbih, dan apabila terbaca ayat yang mengandung do`a, maka beliau berdo`a, dan apabila terbaca ayat yang bermakna meminta perlindungan (kepada Allah) beliau memohon perlindungan”. (HR. Muslim).

    1. Hendaknya mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan baik dan diam, tidak berbicara. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu men-dapat rahmat”. (Al-A`raf: 204).
    2. Hendaklah selalu menjaga al-Qur’an dan tekun membacanya dan mempelajarinya (bertadarus) hingga tidak lupa. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Peliharalah Al-Qur’an baik-baik, karena demi Tuhan yang diriku berada di tangan-Nya, ia benar-benar lebih liar (mudah lepas) dari pada unta yang terikat di tali kendalinya”. (HR. Al-Bukhari).
    3. Hendaknya tidak menyentuh Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman yang artinya: “Tidak akan menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”. (Al-Waqi`ah: 79).
    4. Boleh bagi wanita haid dan nifas membaca al-Qur’an dengan tidak menyentuh mushafnya menurut salah satu pendapat ulama yang lebih kuat, karena tidak ada hadits shahih dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam yang melarang hal tersebut.
    5. Disunnatkan menyaringkan bacaan Al-Qur’an selagi tidak ada unsur yang negatif, seperti riya atau yang serupa dengannya, atau dapat mengganggu orang yang sedang shalat, atau orang lain yang juga membaca Al-Qur’an.
    6. Termasuk sunnah adalah berhenti membaca bila sudah ngantuk, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “?pabila salah seorang kamu bangun di malam hari, lalu lisannya merasa sulit untuk membaca Al-Qur’an hingga tidak menyadari apa yang ia baca, maka hendaknya ia berbaring (tidur)”. (HR. Muslim).

    ***

    alsofwah.or.id

     
  • erva kurniawan 2:32 am on 21 October 2015 Permalink | Balas  

    Penyakit dan Obatnya 

    Reciting-QuranPenyakit dan Obatnya

    Oleh : Firdaus

    Sakit yang dialami manusia boleh jadi karena kelalaian memelihara kesehatan. Kelalaian itu dapat berupa tidak disiplin dalam pola makan dan minum, kurang istirahat, olahraga, maupun faktor psikologis dan lainnya. Dalam berbagai literatur Islam ditemukan informasi bahwa perut merupakan sumber utama penyakit. Oleh sebab itu, banyak sekali tuntutan Islam melalui Alquran dan hadis tentang makan dan minum untuk mengisi perut. Larangan Islam agar tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang haram dan disiplin mengonsumsi yang halal bertujuan supaya manusia sehat lahir dan batin.

    Perintah untuk sederhana dalam makan dan minum, dan menjauhkan diri dari berlebih-lebihan, mendukung agar manusia sehat. Allah berfirman, ”Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan, Allah tidak senang kepada orang yang berlebih-lebihan (QS 7: 31). Ketidaksenangan Allah terhadap orang-orang yang berlebih-lebihan ditampakkan dengan mendatangkan penyakit kepada mereka. Sehubungan dengan itu, Rasulullah SAW menganjurkan setiap Muslim untuk makan dan minum secukupnya.

    Beliau bersabda, ”Cukuplah bagi putra Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Kalaupun harus dipenuhkan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan sepertiga sisanya untuk pernapasannya.” (HR Tirmidzi). Penyakit yang menimpa seseorang boleh jadi karena cobaan dan ujian Allah. Dalam hal ini, yang bersangkutan dituntut sabar menghadapinya. Sebab, sabar dalam kondisi ini mendatangkan pahala bagi dirinya di sisi Allah. Sakit pun dapat berupa siksaan Allah terhadap seseorang karena kedurhakaan dan dosa yang dilakukan selama ini. Ini dimaksudkan Allah agar ia kembali ke jalan yang diridhai-Nya.

    Rasulullah SAW bersabda, ”Penyakit merupakan cambuk Allah di bumi ini, dengannya Dia mendidik hamba-hamba-Nya.” (Al-Hadis). Islam menganjurkan orang yang sakit untuk berobat. Sikap sabar dan rela terhadap penyakit yang menimpa diri, tidak boleh melemahkan upaya untuk berobat. Rasulullah SAW bersabda, ”Berobatlah karena tiada satu penyakit yang diturunkan Allah, kecuali diturunkan pula obat penangkalnya, selain dari satu penyakit, yaitu ketuaan.” (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi). Hadis ini melahirkan sikap optimistis bagi setiap Muslim yang sedang mengalami sakit secara fisik untuk selalu berobat kepada siapa pun, selama caranya benar dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.

    Apabila seseorang mengalami sakit mental atau kejiwaan, maka obat yang ampuh baginya adalah iman dan Alquran. Alquran dapat menjadi penawar dan melindungi manusia dari gangguan kejiwaan. Allah berfirman, ”Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS 17:82).

    Untuk itu, Alquran harus dibaca, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari agar kesehatan jiwa diperoleh. Dengan disiplin mengikuti tuntutan Islam dalam makan dan minum serta membaca dan mengamalkan Alquran akan membuat setiap Muslim sehat lahir dan batin.

    ***

    Republika

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 20 October 2015 Permalink | Balas  

    Niat 

    niatNiat

    Dalam bukunya An-Nashoih Ad-Diniyyah wal Washoyah Al-Imaaniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad memulai dengan pujian dan sholawat serta hadits Rasulullah SAW tentang pentingnya niat.

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya dan sesungguhnya segala sesuatu dibalas dengan niatnya. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa berhijrah karena dunia yang dituntutnya, atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada niat hijrahnya.” (HR. Bukhori & Muslim)

    Beliau juga bersabda, “Agama adalah nasehat.” Para sahabat bertanya, “Kepada siapa ya Rasul ?.” Beliau SAW menjawab, “Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan orang-orang awamnya.” (HR. Muslim)

    Hukum niat ada beberapa macam. Ada yang wajib seperti ketika akan shalat, puasa Ramadhan dan lain-lain. Ada pula sunnah seperti memulai sesuatu yang sifatnya sunnah.

    Hijrah ada 2 pengertian :

    • Hijrah/pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, seperti hijrahnya Rasulullah SAW, Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa dan lain-lain.
    • Hijrah dari maksiat menuju taat, sebagaimana yang dimaksud di dalam taubat.

    Hijrah juga dapat diniatkan untuk Allah, juga untuk Rasul-Nya seperti berziarah ke makam Rasulullah SAW. Beliau bersabda :

    “Barangsiapa berziarah kepadaku, maka wajiblah atasnya syafaatku.”

    Al-Habib Abdullah Al-Haddad menerangkan bahwa kitab beliau berisi nasehat keagamaan dan wasiat keimanan. Beliau berharap agar buku tersebut dapat bermanfaat dan dimanfaatkan sebagai peringatan bagi beliau dan saudara semuslim. Beliau menyusun dengan ungkapan yang mudah sehingga dapat dipahami oleh khalayak umum dan khusus dari ahli iman dan Islam. Semoga kiranya buku tersebut dikarang dengan ikhlas karena Allah Yang Maha Mulia, dapat mendekatkan antara beliau dan Allah di surga Na’im dan menjadikan buku tersebut bermanfaat secara merata bagi kaum muslimin. Amin…

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 19 October 2015 Permalink | Balas  

    Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 

    nabi-muhammad-rasulullah-sawMaulid Nabi Besar Muhammad SAW

    Oleh Erwin Ashari *

    Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai bin Hakim bin luay bin Ghalib bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Nazar bin muad bin Adnan (yang Nasabnya bersambung kepada Ismail a.s. bin Ibrahim a.s.)

    Baginda Rasulallah s.a.w. dilahirkan pada pagi hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal tahun gajah bertepatan pada tanggal 20 April tahun 571 M. Menjelang dan di saat kelahiran beliau banyak hal-hal luar biasa yang terjadi sebagai ungkapan selamat datang dari alam semesta.

    Sebagaimana diriwayatkan Baihaqi dari fatimah binti Tsaqfiah, beliau berkata: “Ketika saya menghadiri kehadiran Nabi saya melihat rumah (Tempat Nabi lahir) dipenuhi sinar, dan saya melihat bintang-bintang mendekat sehingga saya mengira bintang-bintang itu akan jatuh ke rumah tersebut.”

    Diriwayatkan juga bahwa ketika Siti Aminah Melahirkan Rasulallah, beliau melihat cahaya yang dengannya tampak jelas Istana di Syam, padahal ketika itu beliau berada di Mekah. Dan pada malam kelahiran beliau, bumi bergetar dengan getaran yang sangat dahsyat sehingga meluluhlantakkan seluruh berhala-berhala yang ada di sekitar Ka’bah dan merobohkan gereja-gereja serta istana raja Persia dan juga mematikan api yang selama ini disembah oleh warga Persia.

    Dari segi Nasab, Rasulallah terlahir dari keturunan yang memiliki prestise tinggi. Ayahnya Abdullah adalah keturunan Bani Hasyim, kabilah Arab yang sangat disegani pada saat itu. Sedangkan Ibunya, Siti Aminah tergolong bangsawan Quraisy yang sangat terpandang.

    Abdullah dan Aminah tidak termasuk ke dalam golongan penyembah berhala. Rasulallah sendiri telah menegaskan dalam sabdanya: “Sesungguhnya Allah telah memilih dari anak-anak Ibrahim Ismail. Dan memilih dari Anak-anak Ismail Kinanah. Dan memilih dari Bani Kinanah Suku Quraisy. Dan memililih dari Suku Quraisy Bani Hasyim, dan Allah memilihku dari bani Hasyim.” Jadi Rasulallah adalah orang yang terpilih dari orang dan golongan-golongan terpilih.

    Rasulullah dilahirkan ke muka bumi ini sebagai rahmat bagi alam semesta. Berbeda halnya dengan rasul-rasul sebelum beliau yang diturunkan hanya untuk golongan tertentu. Kerasulan dan Kenabian beliau pun mendapat pengakuan dari Agama-agama sebelum Islam jauh hari sebelum beliau dilahirkan.

    Seperti yang tertera di dalam Injil Barnabas pasal 72. “Sesungguhnya Aku meskipun terbebas, namun ketika sebagian manusia ketika mengatakan hakikatku adalah sebagai Tuhan dan anak Tuhan, Allah tidak menyukai pernyataan ini. Dan Allah menghendaki agar setan tidak mentertawai aku dan tidak menghinaku kelak, maka Allah membaguskan dengan kelembutan dan rahmat_nya agar tertawaan dan hinaan di dunia disebabkan kematian Yahudza. Dan semua orang mengira bahwa aku disalib. Tetapi penghinan ini akan berakhir sampai datangnya Muhammad Rasulullah. Apabila ya! datang ke dunia, maka ia akan memperingati seluruh manusia dari kekeliruan ini, dan menghilangkan perasangka ini dari hati manusia.”

    Kesaksian ini juga tertera dalam Taurat, “Dan Tuhan datang dari Sinai Dan naik dari Sả’îr dan muncul dari gunung Fârân.” Dalam buku ‘Udzmaturrasul karangan Muhammad Athiah el-Abrasyi dijelaskan bahwa ayat di atas mengandung makna kenabian tiga orang Nabi, yaitu Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s. dan Nabi Muhammad s.a.w. Gunung Sinai adalah tempat Musa a.s. Dan Allah bercakap-cakap. Adapun ‘Sa’îr” adalah nama desa di Bethlehem, tempat lahirnya Nabi Isa a.s. sedang yang dimaksud dengan “Fârân” adalah Mekah, tempat dilahirkannya nabi Muhammad s.a.w.

    Pada setiap tanggal 12 Rabiul Awwal umat Islam di seluruh dunia selalu memperingati hari kelahiran Rasul yang agung ini, yang lebih dikenal dengan istilah “Maulid Nabi” dengan berbagai macam acara yang diformat dengan nuansa Islami.

    Hal ini membuktikan keagungan Nabi Muhammad s.a.w. Bukan hanya orang muslim yang kagum kepada beliau. Orang non-Muslim juga banyak yang mengakui keangungannya. Seperti Thomas Carlyle yang mengagumi beliau dari segi kepahlawanannya. Marcus Dods dengan keberanian moralnya. Nazmi Luke dengan metode pembuktian ajarannya. dan Michael H. Hart yang terkagum-kagum dengan pengaruh yang ditinggalkannya.

    Suatu keharusan dan kewajaran bagi umat Islam untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad s.a.w agar bisa mengambil suri tauladan yang ada padanya. Sebab beliau sendiri memperingati maulidnya. Malah peringatan ini bukan hanya setahun sekali diperingatinya, melainkan setiap minggu. hal ini terbukti ketika beliau ditanya oleh seorang sahabat tentang puasa hari Senin. Beliau menjawab, “Hari senin itu adalah hari kelahiranku.” Semoga dengan peringatan Maulid Nabi kita bisa lebih dalam menghayati dan mengamalkan suri tauladan yang telah beliau berikan.

    Wallahu a’lamu bisshowab.

    ***

    • Penulis adalah Mahasiswa PS Universitas al-azhar, Cairo-Mesir.
     
  • erva kurniawan 1:17 am on 19 October 2015 Permalink | Balas  

    Shalat 

    sujud-shalat-di-masjidShalat

    Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah)dengan sabar dan shalat. (Q.S Al Baqoroh:153)

    Jika Anda diliputi ketakutan, dihimpit kesedihan, dan dicekik kerisauan, maka segeralah bangkit untuk melakukan sholat, niscaya jiwa anda akan kembali tentram dan tenang! sesungguhnya shalat itu atas izin Allah, sangatlah cukup untuk hanya sekedar menyirnakan kesedihan dan kerisauan.

    Setiap kali dirundung kegelisahan, Rasulullah SAW selalu meminta kepada BIlal bin Rabah, “Tenangkanlah kami dengan sholat, wahai Bilal. “(Al Hadist). Begitulah shlat benar-benar merupakan suatu penyejuk hati dan sumber kebahagaian bagi rasulullah SAW.

    Saya telah banyak membaca sejarah hidup beberapa tokoh kita. dan pada umumnya, mereka sama dalam satu hal: saat dihimpit banyak persoalan sulit dan menghadapi banyak cobaan, mereka meminta pertolongan Allah dengan shalat Khusyu’. Begitulah mereka mencari jalan keluar, sehingga kekuatan, semangat dan tekad hidup mereka pun pulih kembali.

    Shalat Khauf diperintahkan untuk dikerjakan pada saat-saat genting. Yakni saat nyawa terancam oleh hunusan pedang lawan yang dapat meyebabkan kekalahan. Ini merupakan isyarat bahwa sebaik-baik penenang jiwa dan penentram hati adalah shalat yang khusyu’.

    Bagi generasi umat manusia yang sedang banyak menderita penyakit kejiwaan seperti saat ini, hendaklah rajin mengenal masjid dan menempelkan keningnya diatas lantai tempat sujud dalam rangka meraih ridha Allah, dengan begitu, niscaya ia akan selamat dari berbagai himpitan bencana. Akan tetapi, bila ia tidak segera mengerjakan kedua hal tadi, niscaya airmatanya justru akan membakar kelopak matanya dan kesedihan akan menghancurkan urat syarafnya. Maka menjadi semakin jelas bahwa, seseorang memiliki kekuatan apapun yang dapat menghantarkannya kepada ketenangan dan ketentraman hati selain shalat

    Salah satu nikmat Allah yang paling besar jika kita mau berfikir adalah bahwa, shalat wajib lima waktu dalam sehari semalam dapat menebus dosa-dosa kita dan mengangkat derajat kita disisi Rabb kita. Bahkan Shalat lima waktu juga dapat menjadi obat paling mujarab untuk mengobatipelbagai kekalutan yang kita hadapi dan obat yang sangat manjur untuk berbagai macam penyakit yang kita derita. Betapapun, shalat mampu meniupkan ketulusan iman dan kejernihan iman kedalam relung hati, sehingga hati pun selalu ridha dengan apa saja yang telah ditentukan Allah.

    Lain halnya dengan orang yang lebih senang menjauhi masjid dan meninggalkan shalat. Mereka niscaya akan hidup dari satu kesusahan kesusahan yg lain, dari guncangan jiwa yang satu keguncangan jiwa yang lain, dan dari kesengsaraan satu kesengsaraan yg lain.

    “Dan Orang-orang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. (Q.s Muhammad :8).

    Wassalam

    ***

    Kiriman Sahabat Henri

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 18 October 2015 Permalink | Balas  

    3 Kesalahan yang Selalu Berulang Dalam Kehidupan Kita 

    itikaf3 Kesalahan yang Selalu Berulang Dalam Kehidupan Kita

    Pertama : Menyia-nyiakan waktu.

    Kedua : Membicarakan hal-hal yang tidak berguna. “Diantara kualitas keislaman seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak berguna untuk dirinya” (Al Hadist).

    Ketiga : Memberikan porsi perhatian terlalu besar terhadap masalah-masalah sepele. Misal Suka mendengarkan kabar burung, ramalan,dan gosip. Kesenangan seperti itu hanya membuat orang menjadi paranoid, menciptakan kecemasan didalam hati, dan melenyapkan kedamaian didalam hati.

    Rasulullah kmengajarkan kepada pamannya Abbas satu doa yang menghimpunkan antara kebahagian dunia dan akhirat : “Ya Allah, Sesungguhnya aku memohon kepadaMU ampunan dan afiat. ”

    Doa ini mencakup dan melingkupi semua hal. Didalamnya ada kebaikan dunia dan Akhirat.

    “Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala didunia, dan pahala diakhirat.” (Q.S Ali Imran :148 }

    “Ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka” Q.S Thaha ::123

    ***

    Kiriman Sahabat Henri

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 17 October 2015 Permalink | Balas  

    Takwa 

    takwaTakwa

    Dalam suatu ayat-Nya Allah berfirman,

    “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan jangan sekali-kali kamu mati kecuali mati dalam keadaan beragama Islam.”

    Isi ayat ini merupakan perintah Allah SWT kepada hamba-Nya yang mukmin agar bertakwa. Takwa juga merupakan perintah bagi orang-orang yang terdahulu,

    “Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang telah diberi kitab sebelum kamu dan juga kepadamu agar bertakwa kepada Allah.”

    Takwa merupakan kunci dan sebab yang mengantarkan kita kepada segala kebaikan dunia dan akherat serta lahir dan batin. Takwa merupakan dinding kokoh dan benteng teguh yang menyelamatkan kita dari segala keburukan.

    Manfaat takwa :

    1. Keikutsertaan Allah dalam memelihara kita

    “Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”

    1. Diberi ilmu ladunni (ilmu pemberian langsung dari Allah)

    “Bertakwalah kepada Allah niscaya Allah akan mengajarimu.”

    1. Diberi furqon (pembeda antara yang hak dan yang batil)

    “Wahai orang-orang yang beriman, jika engkau bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan kepadamu furqon, menghapuskan kesalahanmu dan mengampunimu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

    1. Selamat dari api neraka

    “Dan tak seorang pun diantaramu kecuali mendatangi neraka. Hal itu bagi Tuhanmu adalah perkara yang sudah ditetapkan. Kemudian akan selamatkan orang-orang yang bertakwa.”

    “Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka. Mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita.”

    Sebagaimana telah diketahui bahwa tak seorang pun yang dapat menahan pedihnya siksa Allah dan api neraka. Bahkan begitu dahsyatnya, sampai-sampai seluruh Nabi menangis ketakutan dan berdoa,

    “Wahai Tuhanku! Diriku, diriku. Wahai Tuhanku, selamatkanlah aku, selamatkanlah aku.”

    Kecuali junjungan kita Nabi Muhammad SAW berkata,

    “Wahai Tuhanku! Umatku umatku.”

    Jembatan (as-shirath) adalah jembatan yang amat tipis, bahkan lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Dibawahnya terdapat api neraka yang menganga. Panjangnya 500 tahun mendaki, 500 tahun mendatar dan 500 tahun menurun. Tidak ada yang menyelamatkan kita darinya kecuali dengan takwa.

    1. Dikeluarkan dari segala kesempitan, mendapat rejeki melimpah dari arah tak terduga-duga, dimudahkan segala perkaranya dan mendapat pahala yang besar.

    “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Dia akan memberi jalan keluar dan memberi rejeki dari arah yang tak terduga-duga.”

    “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan kemudahan bagi segala urusannya.”

    “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan melipat-gandakan pahala baginya.”

    1. Dijanjikan surga

    “Itulah surga yang diwariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.”

    “Perumpamaan surga yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa…”

    “Dan (dihari itu) didekatkan surga kepada orang-orang yang bertakwa.”

    “Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa di sisi Tuhan mereka adalah surga yang penuh kenikmatan.”

    “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa di dalam taman-taman, sungai-sungai dan di suatu tempat yang disukai disi Tuhan yang Maha Kuasa.”

    1. Mulia di dunia dan akherat

    “Sesungguhnya orang yang mulia disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”

    Allah mewujudkan kemuliaan seseorang pada ketakwaannya, bukan pada keturunan, harta dan selainnya. Bahkan dengan takwalah semua hal kebaikan dapat diraih.

    Disebutkan di dalam suatu syair,

    “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka ia mendapat keuntungan yang berlimpah ruah.”

    Di syair lain dikatakan,

    “Barangsiapa yang mengetahui Allah tapi tidak mengisinya dengan ma’rifah, itulah orang yang celaka.

    Tiada kemudhorotan dalam taat, segala bencana dalam ketaatan dapat dicegah. Tidaklah seorang hamba mulia dengan kekayaannya, karena kemuliaan hakiki untuk orang yang bertakwa.”

    [Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 16 October 2015 Permalink | Balas  

    Antara Kita dan Rasulullah SAW 

    nabi-muhammad-rasulullah-sawAntara Kita dan Rasulullah SAW

    Dr. Muhammad Fazlur Rahman Ansari pernah melukiskan sosok Rasulullah sebagai berikut :

    Nabi Muhammad tingginya sedang-sedang saja, agak kurus, namun bahunya lebar, berdada bidang, bertulang dan berotot kokoh. Rambutnya terurai hampir ke pundaknya, berwarna hitam pekat dan sedikit ikal. Meskipun lanjut usianya, beliau cuma memiliki kira-kira 20 lembar uban saja, itu pun barangkali karena beban yang beliau emban saat menerima “wahyu Allah”.

    Wajahnya yang jernih berbentuk bulat telur, agak memerah kekuning-kuningan. Alisnya melengkung panjang, yang mendebarkan setiap yang memandang. Bola matanya yang hitam bundar terbingkai bulu-bulu tebal dan panjang, tampak bersinar cemerlang. Nabi suci berhidung mancung namun estetis, giginya selalu diurus rajin berderet rapi, seputih mutiara. Wajahnya penuh janggut sehingga tampak jantan. Kulitnya lembut dan bersih, berwarna campuran merah-putih. Tangannya halus laksana sutra, nyaris melebihi tangan seorang gadis. Langkahnya cepat dan luwes, namun berat, bagai makhluk yang bergerak dari tempat tinggi ke tempat rendah. Andai menengokkan wajahnya, beliau juga membalikkan seluruh tubuhnya. Segenap gerak-gerik dan kehadirannya terpuji dan mengandung kharisma. Ekspresinya halus kesendu-senduan. Dan tawanya lebih jarang ketimbang senyumnya yang ramah.

    Para pejuang kebenaran yang sejati!. Barangkali tak kurang di antara kita secara fisik yang bersosok mirip-mirip Rasulullah. Namun sayang sejuta sayang, Rasulullah tawanya lebih jarang ketimbang senyum ramahnya, sebaliknya kita bahkan sering terlampau banyak tertawa cekakakan kolokan, sambil malas memberikan senyum ramah terhadap orang lain, disebabkan oleh sifat sombong dan takabur.

    Selanjutnya Rasulullah dilukiskan bahwa meskipun telah memiliki kekuasaan penuh di negerinya, dihormati oleh segala lapisan masyarakat, makan-minumnya, perabot rumah tangganya, bahkan segenap kebiasaan hidupnya sungguh amatlah sederhana. Namun sebaliknya, kita baru saja memiliki kekuasaan secuil, hidup sudah ingin mewah, makan-minumnya ingin yang mahal-mahal, cara hidup disulap menjadi ala Minak Jinggo. Feodalisme kedodoran, ditata secara jor-joran.

    Dari sejarah Islam yang tak terselewengkan, tersimak bahwa Rasulullah merupakan pelindung yang amat dipercaya oleh segenap umat yang dilindunginya. Bedanya dengan kita, tidak jarang kita ini sok melindungi rakyat, padahal kenyataannnya sebaliknya, memeras rakyat secara halus, demi kejayaan dunia yang sementara.

    Rasulullah merupakan pribadi yang anggun dan amat pendiam. Namun, andai beliau berkata, tekanannya pasti dan jujur sehingga melontarkan wibawa terhadap siapa yang mendengarnya. Sebaliknya, kita-kita ini kadang terlampau banyak mengoceh tanpa isi, yang menurut kata peribahasanya “tong kosong nyaring bunyinya !”. Karena terlampau banyak ngoceh, boro-boro wibawa muncul, sebab isi ocehannya tak sama dengan wujud amalannya.

    Keindahan pribadi Rasulullah semakin tampak pula karena sedikit makanan yang didapatnya senantiasa dibaginya kepada siapa pun yang kebetulan lewat dan membutuhkannya. Di luar rumah beliau, ada serambi yang senantiasa dipenuhi oleh fakir-miskin yang sepenuhnya hidup dari belas-asih beliau. Namun sayang, sebaliknya kita yang penuh makanan bru di juru-bro di panto, terkadang lupa kepada sang fakir yang lapar. Boro-boro membikin serambi bagi fakir-miskin, didekati orang yang berpakaian compang-camping saja, standing kita terasa anjlok ke comberan. Duit receh bagian para manusia papa lebih asyik dibelanjakan ice cream yang segar lezat ketimbang digusur hidup tak subur.

    Santapan Rasulullah sehari-hari sekedar kurma dan air atau roti tawar. Madu dan susu merupakan minuman yang disukainya, namun amat jarang ternikmati (oleh beliau) karena dianggap mewah. Sebaliknya, kita terkadang uring-uringan ngambek andai makan tak ada lauk-pauknya yang enak, kendati penghasilan teramat minim. Akhirnya yang melanda kita-kita ini “lebih besar pasak daripada tiang”, segala penyakit nemplok di badan gara-gara utang bergudang-gudang.

    Selama hidupnya, Rasulullah hampir tak pernah memukul siapa pun. Ucapan yang paling kasar yang pernah terlontar dari mulut beliau ialah “semoga dahinya berlumuran lumpur”. Tatkala diminta untuk mengutuk seseorang, beliau bahkan menjawab, “Aku diutus bukanlah untuk mengutuk seseorang, namun justru untuk mendoakan umat manusia.” Sebaliknya pukul-memukul bagi kita merupakan “pekerjaan tangan” sehari-hari, terutama memukul anak. Ucap sumpah Nabi yang dirasanya paling kasar, bahkan sebaliknya bagi kita itulah yang dirasakan paling halus. Sebelum mengucapkan kata “bedebah”, “setan”, atau “kunyuk”, rasanya sumpah-serapah kita terhadap orang lain belumlah afdol.

    Terhadap orang-orang besar, Rasulullah bersikap sopan. Dan pula terhadap si kecil, keramah-tamahannya teramat mulia. Sebaliknya, kita terkadang hanya sopan dan hormat terhadap orang-orang besar karena butuh akan koneksinya. Namun terhadap si kecil yang tidak dibutuhkan, persetan penghormatan!.

    Para pejuang kebenaran yang sejati!. Nabi Besar Muhammad Rasulullah senantiasa besar perhatiannya terhadap alam ini, yang tampak maupun yang tidak tampak, kendati beliau tunaaksara. Sebaliknya, kita yang pinter baca, gara-gara waktu cuma dihabiskan guna menumpuk-numpuk harta, alam tak terperhatikan sejengkal pun, tafakur menjadi tumpul, syukur menjadi kufur!.

    Selanjutnya, meskipun Rasulullah telah berhasil menguasai jazirah Arab, sepatu atau gamisnya yang sobek, masih saja dijahitnya sendiri, memerah susu sendiri, menyalakan perapiannya juga sendiri. Kita terkadang sebaliknya, baru menjadi penguasa yang sedeng-sedeng saja, pembantu minta lusinan. Segalanya pakai pembantu, cuma cebok saja yang tidak. Kita, sobek sepatu sedikit, lempar ke tempat sampah, takut kehilangan prestise diri. Malu palsu semarak di kalbu!.

    Bila melakukan perjalanan jauh, beliau membagi suapan dengan pembantunya. Kita juga sering membagi, namun yang kita bagi adalah perbedaan. Andai kita menikmati goreng ayam kalkun, pembantu mah cukup disodori ikan asin saja plus sambel oncom!.

    Muhammad Rasulullah amat ketat dengan dietnya lewat berpuasa penuh kerelaan. Sebaliknya kita, diet dilaksanakan karena penyakit meraja-lela. Jadi, diet kita adalah diet yang terpaksa, bukan diet yang bernilai ibadah. Oleh sebab dietnya penuh ketidak-relaan, maka sumpeklah jiwa, nesu menggebu… membarakan angkara murka!.

    Dalam kehidupan pribadinya, Rasulullah amat bijaksana. Diperlakukannya sahabat atau bukan, kaya atau miskin, kuat atau lemah, secara adil. Sebaliknya kita, termasuk saya, sering iseng membikin-bikin kebijaksanaan mendadak demi harga diri. Si kaya, kita beri tempat paling depan. Si miskin, biar gek-sor di lantai lembab. Si lemah biarlah mampus. Keadilan cuma buat segelintir orang!.

    Kemenangan militer beliau tidak menyebabkan adigung-adiguna, rasa sombong atau ingin megah, karena niat perjuangannya adalah untuk kemaslahatan bersama. Oleh sebab itu, Rasulullah tak suka mendapat semacam penghormatan protokoler yang dibikin-bikin. Namun, tak sedikit di antara kita yang sebaliknya, karena kita telah ketularan gila puji. Perjuangan kita terkadang diniati demi kedigjayaan kita sendiri, bukan niat demi kebenaran Tuhan. Oleh sebab kita sudah gila puji, maka penghormatan protokoler pun seakan menjadi idaman bagi setiap yang kuasa. Hidung mereka bangga, pundak ditarik ke langit, tatkala setiap orang berdiri keirei menyambut kedatangan kita dengan takzim, sehingga kita lupa akan rukuk dan sujud terhadap Yang Agung.

    Kehidupan Rasulullah amatlah realistis. Beliau berkuasa bukanlah untuk mendandani kekuasaannya, melainkan untuk menyelamatkan umatnya dari kebodohan. Sebaliknya, terkadang kita tidak realistis, dikarenakan berkuasa cumalah demi segembung perut. Kekuasaan kita terkadang bukan demi menghilangkan kebodohan, melainkan sebaliknya untuk membodohi umat.

    Rasulullah tinggal bersama istri-istrinya, yang dinikahinya dengan jiwa sosial itu, dalam sebuah pondok kecil yang amat sederhana beratap jerami. Tiap-tiap kamar dipisah dengan pohon-pohon palma yang direkat dengan lumpur. Sebaliknya, istri-istri kita yang denok demplon, yang dinikahi berdasarkan nafsu birahi belaka, disimpan di istana-istana mungil, di villa-villa mewah di tepi perbukitan, dengan masing-masing dihadiahi mobil-mobil luks yang mengkilap, demi saling tutup mulut, demi perdamaian antar bini.

    Masih banyak sebenarnya kepribadian Rasulullah yang amat terpuji. Namun, satu lagi saja yang perlu disampaikan, yakni ketulusan dan keikhlasan dirinya dalam menganjurkan kebajikan dan kesederhanaan, yang telah dibuktikannya secara gamblang tatkala beliau wafat. Ternyata beliau tidak meninggalkan warisan harta secuil pun. Yang ditinggalkannya cumalah “warisan ketauhidan”. Sayang, kita yang masih jauh dari ketakwaan ini melakukan sebaliknya. Berkat kerja menumpuk-numpuk kekayaan, warisan yang bergudang-gudang malah memancing perang campuh antar ahli waris. Rebutan warisan yang kerap terjadi, boro-boro menyimpulkan kuat talinya silaturrahmi, melainkan (menyebabkan) sakinah acak-acakan, saudara sekandung malah menjadi musuh bebunyutan!!

    Mudah-mudahan saja perbedaan yang menyolok ini tak tampak di masa-masa mendatang. Ingat, harta adalah modalnya ibadah!!

    ***

    [Disarikan dari Tafakur Di Galaksi Luhur, Dedi Suardi, hal. 175-179]

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 15 October 2015 Permalink | Balas  

    Cara Mengatasi Keloyoan 

    sholat 1Cara Mengatasi Keloyoan

    Satu-satunya Cara agar Tidak Loyo: Takwa kepada Allah

    Seseorang yang memahami bahwa akar dari kelalaian ini (suatu penyakit perilaku yang berbahaya) terletak pada kelemahan iman, hendaknya segera beralih kepada metode-metode yang telah diajarkan di dalam al-Qur’an guna menyembuhkan dirinya sendiri dari penyakit ini. Pertama-tama, ia mesti menyadari bahwa sumber kekuatan yang utama adalah kesadaran terhadap Allah dan mengerahkan upaya-upaya untuk mencapainya. Melalui perenungan yang dalam ia harus berjuang mencapai keimanan yang dalam pula. Ia mesti berdoa kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya, sambil tidak ragu-ragu melakukan apa saja yang dapat memperbaiki keadaannya.

    Tidak diragukan, dalam keadaan demikian ini seseorang perlu menggunakan akalnya. Di dalam al-Qur’an, Allah menunjukkan bahwa menggunakan akal adalah cara yang dapat membimbing seseorang untuk menuju ke jalan yang benar. Seseorang mesti memikirkan wujud dan kebesaran Allah, kasih sayang-Nya kepada umat manusia, dan selanjutnya memahami pentingnya berupaya untuk menggapai keridhaan-Nya. Demikian pula, ia mesti memikirkan tujuan ia diciptakan dan bagaimana Allah mengujinya. Ia mesti menyadari bahwa Allah bersamanya dan senantiasa melihat dan mendengarnya. Ia harus senantiasa mengingat bahwa apa pun yang dikerjakannya, entah itu dianggap penting atau sepele, diketahui oleh Allah dan bahwa kelak ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa-apa yang dikerjakannya pada Hari Pengadilan nanti.

    Ia juga harus mengingat bahwa kematian sangat dekat dan dapat mendatanginya secara tiba-tiba. Lagi pula, ia mesti memahami kenyataan bahwa hidup di dunia ini singkat saja dan bahwa menyibukkan diri untuk melakukan amal-amal kebajikan agar mendapat surga merupakan hal yang sangat penting.

    Ia hendaknya merenungkan betapa indahnya surga dan kesenangan luar biasa dari berbagai macam kenikmatan yang ada di sana, dan berupaya untuk memahami konsep keabadian. Ia hendaknya menyadari bahwa neraka adalah sebuah tempat yang diciptakan hanya untuk memberikan kesengsaraan kepada tubuh dan jiwa manusia; tak ada hal-hal yang baik, menggembirakan dan menyenangkan di sana, dan para penghuninya akan tinggal di sana untuk selama-lamanya. Ia harus menyadari bahwa ia akan dirundung penyesalan yang mendalam setiap saat dalam kehidupan abadinya nanti bila ia tidak mengindahkan peringatan ini dengan serius.

    Jika seseorang memikirkan dengan serius, tentulah ia akan sampai pada kesimpulan yang tepat. Ia akan melihat bahwa daripada menemui akhir seperti itu, adalah lebih mudah bila mengikuti suara hatinya dan berpegang teguh kepada agama secara sungguh-sungguh. Dengan begitu, ia akan membuat keputusan yang tepat dan mencurahkan segenap kehidupannya – tidak lebih dari beberapa dasawarsa saja – untuk mencapai keridhaan Allah, kasih sayang dan rahmat-Nya, dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh surga yang dijanjikan oleh Allah.

    Merenungkan kemungkinan untuk berada di neraka walau hanya sesaat saja menyebabkan seseorang mengubah tingkah lakunya karena neraka adalah tempat dimana rasa sesal di dunia ini dapat dibandingkan dengan rasa sesal yang dirasakan di sana. Demikian pula, tak ada rasa sakit di dunia ini yang lebih berat daripada rasa sakit di neraka.

    Dengan membaca ayat-ayat yang berkenaan dengan neraka, dalam rangka memperoleh sebuah pemahaman yang utuh tentangnya sebagai sesuatu yang mesti dihindari adalah cara yang efektif agar menjadi lebih bersemangat.

    Setiap orang hendaknya memikirkan fakta-fakta ini dan menyadari bahwa kurangnya semangat adalah hasil dari penyimpangan cara pandang atas dunia ini dan akhirat, dan selanjutnya mulai menyibukkan diri dengan amal-amal saleh sesegera mungkin. Ia harus ingat bahwa kelalaian yang ditunjukkannya dalam menghadapi kejadian-kejadian di seputar dirinya dapat menyebabkannya, pada saat itu, kehilangan kepekaan hati nuraninya secara menyeluruh.

    Dengan demikian, ia harus segera menghindari kondisi semacam itu:

    “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.s. al-Hadid: 16).

    Pada ayat lain Allah juga mengingatkan tentang mengerasnya hati:

    “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (Q.s. al-Baqarah: 74).

    Pada ayat di atas Allah telah memberikan sebuah contoh mengenai bebatuan yang darinya muncul air dan bebatuan lainnya yang pecah berantakan karena takut kepada-Nya. Takut kepada Allah, sebagaimana diungkapkan dalam contoh ini, akan membuat orang-orang yang tidak bersemangat menjadi bersemangat, dan membimbing mereka untuk menerapkan nilai-nilai kesalehan sehingga mereka dapat berlomba-lomba dalam kebajikan di jalan Allah.

    ***

    1 Yaitu mereka mengerjakan amal yang semasa hidupnya di dunia tidak memberikan manfaat apa pun kepada mereka, karena tidak disertai keimanan atau dilakukan untuk mencari keridhaan Allah.

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 14 October 2015 Permalink | Balas  

    Masjid al-Ijabah 

    masjid al ijabahMasjid al-Ijabah

    Masjid yang berada di Madinah ini selalu diziarahi oleh para jamaah haji dan umrah. Masjid al-Ijabah dikenal dengan nama Masjid Bani Mu’awiyah. Masjid al-Ijabah artinya ‘masjid diperkenankannya doa’. Letak masjid ini di bagian utara permukaan Baqi’, agak ke sebelah kiri sedikit. Masjid ini terkenal, karena di tempat itu Rasulullah pernah singgah, lalu shalat dua rakaat. Sahabat-sahabat lain yang turut bersama Rasulullah melaksanakan pula shalat yang sama. Setelah shalat, Nabi berdoa panjang sekali. Selesai berdoa Nabi menghadap ke arah para sahabatnya dan bersabda :

    “Ada tiga hal yang kudoakan kepada Allah – di tempat ini. Dua hal  dikabulkan [ijabah] oleh-Nya dan yang satu lagi tidak dikabulkan. Pertama, kumohonkan kepada Allah agar umatku jangan dibinasakan karena kekurangan (kelaparan). Permohonanaku ini dikabulkan Allah. Kedua, kupintakan agar umatku jangan disiksa (dibinasakan) dengan musibah karam (ditenggelamkan). Permintaanku yang kedua ini dikabulkan juga. Ketiga, kudoakan agar umatku jangan binasa karena perpecahan (permusuhan) sesama mereka. Doa yang ketiga ini tidak diperkenankan.” (HR Muslim)

    [Dr. H. Muslim Nasution]

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 13 October 2015 Permalink | Balas  

    Aku berhutang budi padanya (SAW) 

    MuhammadAku berhutang budi padanya (SAW)

    oleh M. H. Durrani

    Tigapuluh tahun lalu, pada usia yang masih muda, aku telah memeluk Kristen karena pengaruh sebuah Sekolah Misi. Aku telah menghabiskan sebagian besar hidupku di gereja di Inggris sebagai Pendeta Anglikan sejak 1939 hingga 1963. Islam datang pada diriku sebagai musim semi datang pada bumi yang dingin setelah musim dingin yang gelap. Demikianlah aku kembali kepelukan Islam, agama nenek-moyangku.

    Peristiwa kembaliku ke Islam ini disebabkan datangnya semacam “ilham” yang dianugerahkan padaku melalui sebuah mimpi dimana aku merasa telah diberi rahmat secara pribadi oleh Nabi Muhammad yang Suci. Kini aku bersyukur kepada Tuhan dan berdoa bagi Junjungan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, penyelamat orang-orang yang bergelimang dosa.

    Perubahan dalam hati datang semata dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Bahkan sebenarnyalah, tanpa petunjukNya, semua usaha kita mempelajari, semua usaha kita mencari, semua daya upaya kita untuk menemukan Kebenaran justru dapat membawa kita pada kesesatan…

    Aku berani mengatakan bahwa tak seorang pun yang masuk ke dalam Islam yang tak berhutang budi pada Hazrat Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Atas belas-kasihnya pada si orang tersebut, pertolongan, petunjuk, ilhamnya… dan sebagai contoh pribadi yang mulia dimana Tuhan dengan cintaNya yang besar telah mengutusnya kepada kita agar dapat kita ikuti.

    Aku pun berangsur mulai secara serius mempelajari kehidupan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Aku kemudian sadar bahwa sungguh suatu dosa menghujat orang Suci pilihan Tuhan itu, yang membangun kukuasaan Tuhan di tengah manusia murtad, penyembah berhala dan orang-orang yang berkelakuan tak terpuji.

    Dia memenuhi tugasnya dengan tidak melalui berbagai bujukan duniawi, tidak melalui tekanan-tekanan, tidak melalui cara-cara tiran, namun melalui pekerti dan ahlak yang amat memikat, melalui kepribadian dan moral yang membuat orang jatuh hati, serta melalui ajaran-ajarannya yang membuat orang yakin.

    Bisakah orang membayangkan contoh yang lebih tinggi dari pengorbanan diri, rasa kesetiakawanan dan kebaikan hati pada mahluk lain, dibanding orang yang mau mengorbankan kebahagiaan dirinya sendiri demi kebaikan orang lain ini? Sementara orang-orang lain itu – yang kebaikannya ia perjuangkan sekuat tenaga – adalah mereka yang melemparinya, memperlakukannya secara kasar, mengusirnya dan tak memberinya sejengkal pun tempat di pengasingan… dan di atas semua itu, ia tetap dengan usahanya yang sungguh-sungguh bagi kebaikan mereka?

    Adakah seorang yang jujur mau melalui penderitaan yang demikian besar untuk sebuah alasan yang mengada-ada? Dapatkah seorang yang culas, tidak jujur dan hanya berangan-angan mampu menunjukkan keteguhan dan kesungguhan yang luarbiasa bagi cita-citanya, dengan tetap tegar bertahan hingga titik akhir – dan tetap tenang serta tak sedikit pun terpengaruh – dalam menghadapi berbagai bahaya, siksaan dan rintangan macam apa pun yang bisa kita bayangkan, sementara seluruh negeri menghunus senjata melawan dirinya?

    Bukti apalagi yang kita perlukan untuk meyakini tujuan yang murni dan sempurna ini? Siapa lagi pribadi yang lebih dapat dipercaya kecuali dia yang menerima anugerah dan pemberian begitu unik melalui cara-cara penuh rahasia, toh secara gamblang dia bukakan sumber semua pencerahan dan ilham yang ia peroleh.

    Semua faktor ini membawa kita pada kesimpulan yang sulit disangkal: bahwa pribadi seperti ini sebenarnyalah seorang Utusan Tuhan – Rasulullah. Itulah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Dia adalah keajaiban dalam hal sifat-sifat yang terpuji, kesempurnaan dalam ahlak dan perilaku baik. Kepribadian dan moralnya, ajaran dan pencapaian-pencapaiannya semua tegak sebagai bukti Kenabiannya yang tak bisa dipertanyakan.

    Siapa pun manusia, yang mempelajari hidup dan ajarannya dengan tanpa prasangka, akan memberikan kesaksian bahwa sesungguhnyalah dia Nabi Utusan Tuhan sejati, dan Al-Quran, Kitab yang ia anugerahkan bagi umat manusia, adalah Kitab Wahyu Tuhan yang sebenarnya. Tak ada pencari kebenaran yang serius dan tak berprasangka mampu berkelit dari kepastian ini.

    ***

    1. H. Durrani , seorang Pendeta Anglikan Inggris keturunan India Selatan, kemudian menjadi Pendeta di Queta, Pakistan, yang memperoleh hikmah masuk ke dalam Islam. Petikan-petikan diambil dari tulisannya “Islam – The Light of My Life”.
     
  • erva kurniawan 1:01 am on 12 October 2015 Permalink | Balas  

    Apa Yang Membangkitkan Gairah Orang-Orang Beriman 

    Lemah ImanApa Yang Membangkitkan Gairah Orang-Orang Beriman

    Pengamatan atas Keindahan Ciptaan Allah

    Kemana pun seseorang memandang, ia akan mendapati contoh-contoh indahnya ciptaan Allah yang menakjubkan. Di dalam ayat-ayat al-Qur’an Allah berfirman:

    “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Q.s. Fushilat: 53).

    Orang-orang beriman senantiasa bangkit gairahnya tatkala mereka memperhatikan susunan dan kesempurnaan yang terus menerus diciptakan oleh Allah di setiap sudut alam semesta ini. Mereka menyaksikan adanya kebijakan, keagungan, dan keindahan tiada tara di balik keajaiban-keajaiban ini, dan timbul perasaan bahagia di dalam hatinya ketika merenungkan keagungan ciptaan Allah tadi.

    Mereka merasa heran tatkala memperhatikan orang-orang yang tetap tidak memiliki kepekaan atas keajaiban-keajaiban ini. Jika orang-orang semacam itu mau mendengarkan suara hati nuraninya sebentar saja dan berpikir dengan jujur, maka mereka pun pasti akan merasakan keagungan dan betapa eloknya ciptaan Allah.

    Sebagaimana dinyatakan di dalam banyak ayat al-Qur’an, kesempurnaan ciptaan Allah benar-benar sangat mengesankan sehingga siapa pun yang mau menggunakan hati nuraninya dapat menyaksikannya. Dalam sebuah ayat dinyatakan bahwa ketika orang-orang beriman memikirkan adanya keagungan di dalam ciptaan Allah, mereka pun merasa takjub:

    “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (Q.s. Ali Imran: 191).

    Orang-orang beriman yang merenungkan dengan sungguh-sungguh hal-hal yang masuk di dalam kesadarannya menyadari, bahwa penciptaan langit dan bumi merupakan tanda adanya kebijaksanaan dan kekuasaan yang abadi.

    Mereka menyadari bahwa Allah menyimpan ratusan bahkan ribuan maksud dalam setiap ciptaan-Nya dan mereka benar-benar merasa sangat takjub susunannya atas kesempurnaan.

    Tidak sebagaimana perasaan gusar yang dimiliki oleh masyarakat jahiliah, seseorang mendapat bimbingan ke jalan Allah yang lurus karena adanya rasa takjub dan bahagia. Konsekuensi dari rasa takjub dan pemahaman yang menyeluruh ini adalah semakin kuat rasa keimanan, bahwa tidak ada tuhan selain Allah.

    Semakin orang-orang beriman berpikir mengenai keindahan dan keelokan makhluk-makhluk yang terdapat di sekitar mereka, maka mereka pun semakin menyadari kekuasaan, kebijaksanaan, dan keagungan Allah, dimana merupakan satu-satunya kawan dan pelindung bagi seseorang.

    Mereka pun bersegera berdzikir kepada-Nya, memuji-Nya, dan berlindung kepada-Nya dari azab-Nya, sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas tadi: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

    Menyaksikan Rahmat dan Keindahan

    Orang-orang yang paling merasakan takjub atas berbagai rahmat Allah dan mendapatkan paling banyak kenikmatan darinya adalah mereka yang beriman. Mereka tahu bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Allah dan menyadari bahwa apa pun peristiwa yang mereka temui dan mereka lihat merupakan rahmat daripada-Nya. Dengan demikian suatu keindahan tertentu memiliki makna yang sangat berarti bagi mereka dibandingkan bagi orang-orang lainnya.

    Alasan lain mengapa orang-orang beriman dapat merasakan takjub, adalah karena mereka dapat memperhatikan secara rinci dan detail apa-apa yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Mereka yang tidak dapat menggunakan akalnya secara semestinya dan tidak merenungkan secara mendalam atas kejadian-kejadian yang ada hanya akan memahami penampakan lahirnya saja.

    Dengan demikian, rasa takjub mereka sangatlah terbatas. Akan tetapi sebaliknya, bagi orang-orang beriman, mereka mampu melihat sisi-sisi yang berkaitan dengan keimanan dan maksud-maksud Ilahiah yang terkandung di dalam segala sesuatu yang mereka jumpai.

    Dengan demikian, mereka dapat menghargai banyak detail dan rahmat yang memberikan kebahagiaan serta rasa kagum yang lebih besar.

    Alasan lainnya lagi mengapa orang-orang beriman dapat melihat rahmat-rahmat ini secara mendetail dan lebih memiliki kesan adalah sebagai berikut: seseorang yang bersikap sombong kepada Allah tidak dapat mengenali keindahan dan keajaiban ciptaan-Nya, karena bila ia mengakui kekuasaan Allah itu berarti ia mengakui kekurangan dirinya.

    Karena ia tidak dapat menerima hal ini, maka ia pun tidak akan mampu melihat keindahan yang terdapat pada makhluk-makhluk sebagaimana mestinya. Bahkan andaikata ia memperhatikan makhluk-makhluk itu, ia lebih suka menjelaskannya begitu saja dan menekan rasa kekagumannya.

    Lepas dari sikap angkuh dan kepura-puraan, orang-orang beriman tidak pernah luput dalam menghargai keindahan benda-benda dan menyaksikan kehebatan ciptaan Allah, dan mereka pun menyatakan perasaan dalam hatinya serta kekagumannya secara terbuka. Misal, tatkala mereka menyaksikan sekuntum bunga mawar atau warna ungu yang dapat ditangkap oleh mata, maka bangkitlah kebahagiaan memandang keindahan itu dan mereka pun menyadari bahwa ini adalah perwujudan dari sifat Allah yang indah “al-Jamil”.

    Keindahan dan pesona yang terpancar dari makhluk-makhluk mengarahkan mereka untuk merenungkan kekuasaan yang tidak terhingga serta keindahan sang Pencipta. Dalam perenungan ini mereka semakin merasa takjub, karena mereka dapat merasakan bahwa semua keindahan ini telah diciptakan untuk mereka dan bahwa semuanya itu adalah karunia dari Allah.

    Mereka merasakan kekaguman dengan mengetahui bahwa semua itu adalah tanda-tanda kasih sayang Allah kepada mereka. Mereka berpikir dengan bahagia bahwa sekalipun semua keindahan ini tidak banyak berarti bagi banyak orang, namun mereka telah menjadi orang-orang yang beruntung, telah menjadi kekasih-kekasih Allah yang mendapatkan kebahagiaan paling banyak dari rahmat-rahmat-Nya.

    Mereka merasa bersyukur bahwa Dia telah menganugerahkan kepada mereka kesempatan untuk melihat keindahan-keindahan ini dan telah mencurahkan karunia-Nya kepada mereka, dan mereka merasakan kebahagiaan yang amat sangat karena dapat bersyukur kepada Allah.

    Mereka merasa bahagia karena Allah telah memberinya mata untuk melihat keindahan-keindahan ini, kesadaran yang jernih untuk memahaminya, dan keimanan yang tulus untuk mensyukurinya. Mereka merasa diistimewakan, karena banyak orang yang tidak dapat menikmati kebahagiaan dari hal-hal yang indah diakibatkan oleh kebutaan ruhaninya. Namun mereka dapat melihat dan menikmati keindahan-keindahan ini karena Allah telah memilih mereka dan menjadikan mereka mencintai agama.

    Selain itu, setelah mereka merenungkan berbagai rahmat, desain-desainnya yang sempurna serta kebijakan abadi yang terwujud di dalamnya, mereka meningkatkan rasa takzim kepada Allah dan kekaguman mereka atas keindahan ciptaan-Nya. Sebagaimana firman Allah:

    “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu minta kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Q.s. Ibrahim: 34).

    Dengan demikian, mereka dalam keadaan takjub atas berbagai karunia yang tidak terkira jumlahnya yang ada di dunia ini. Dengan rasa syukur kepada Allah mereka bergembira karena berpikir bahwa Allah telah memberikan semua karunia ini dari rahmat-Nya; Ia telah memberikan karunia sebanyak ini, padahal kalau mau dapat saja Ia memberinya lebih sedikit dari ini. Allah berfirman:

    “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.s. Ibrahim: 7).

    Dengan mengingat bahwa Allah akan menambah nikmat lebih banyak lagi kepada mereka yang bersyukur adalah kebahagiaan tambahan.

    Dengan mengetahui bahwa Allah telah menciptakan bagi mereka masa hidup yang penuh dengan karunia dan keindahan serta suatu takdir yang senantiasa membawa kebaikan membuat semangat mereka segar kembali.

    Orang beriman menyadari bahwa Allah melindungi dan melimpahkan kasih sayang-Nya kepadanya setiap saat, dan kedua hal ini adalah karunia dari-Nya. Sungguh, Allah melimpahkan kasih sayangnya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan seseorang berjalan ke arah kehidupan yang menyenangkan dan membahagiakan hanyalah semata-mata karena Allah telah menetapkannya.

    Fakta ini telah ditekankan di dalam banyak ayat seperti berikut ini:

    “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia pilih.” (Q.s. al-Qashash: 68).

    “Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekufuran) kepada cahaya (iman).” (Q.s. al-Baqarah: 257).

    “Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Q.s. al-Baqarah: 213).

    Seorang yang beriman tahu bahwa ia berhutang budi atas rahmat-rahmat yang dinikmatinya itu kepada Allah. Allah telah memilihnya, memberinya kesempatan untuk hidup dengan nyaman, menjauhkannya dari kejahatan, dan menciptakannya dengan kemampuan-kemampuan khusus, dimana hal ini benar-benar sangat menyenangkannya.

    Dengan gairah ia pun kembali kepada-Nya dan bekerja sungguh-sungguh demi mendapatkan keridhaan-Nya, baik melalui sikap maupun perilakunya. Sebagaimana ketika ia mengamati keindahan-keindahan yang ada di dunia ini, ia berpikir tentang surga, pasti betapa sempurna dan tiada cacatnya keindahan-keindahan di surga sana, dan menjadi sangat bergairah untuk mencapainya.

    Semangat yang ada pada diri orang-orang beriman dinyatakan dalam sabda Nabi Muhammad saw.: “Sungguh, dalam setiap tasbih adalah sedekah, dalam setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan dalam mengatakan ‘Tidak ada tuhan selain Allah’ adalah sedekah pula.” (H.r. Muslim dan Ahmad).

    Apa yang telah disebutkan di atas tadi hanyalah sedikit contoh dari hal-hal yang membangkitkan gairah orang-orang beriman. Artikel ini terlalu terbatas untuk menyebutkan semua rincian tentang hal-hal yang diperhatikan oleh orang-orang beriman. Cakrawala pandangan mereka luas, dan kemampuan refleksi mereka juga kuat. Kesenangan yang tidak pernah dialami oleh orang-orang kafir adalah karunia besar yang dianugerahkan kepada orang-orang beriman.

    Cinta dan Persahabatan

    Kebanyakan orang mengeluh karena tidak dapat menemukan cinta dan persahabatan sejati di sepanjang hidup mereka dan benar-benar merasa yakin bahwa adalah hal yang mustahil untuk mendapatkannya. Hal ini memang benar bagi mereka yang hidup di tengah-tengah masyarakat jahiliah, yang tidak pernah meraih cinta dan persahabatan sejati, oleh karena rasa kasih sayang yang mereka berikan satu sama lain sering kali adalah karena dorongan kepentingan. Begitu mereka tidak lagi mendapatkan keuntungan-keuntungan yang dapat diraih, keakraban yang selama ini mereka anggap sebagai cinta atau persahabatan pun berakhir.

    Orang-orang yang mengalami cinta dan persahabatan sejati serta menjalaninya dengan makna yang sesungguhnya adalah orang-orang beriman. Alasan utamanya, sebagaimana dinyatakan di muka dalam buku ini, adalah karena mereka mencintai satu sama lain, bukan karena mencari keuntungan, namun hanyalah semata-mata karena orang-orang yang mereka cintai itu adalah orang-orang yang memiliki iman yang tulus dan taat.

    Apa yang membuat seseorang dicintai dan memiliki daya tarik untuk dijadikan teman adalah karena ketakwaannya kepada Allah, dan kesalehannya yang telah membuat seseorang hidup dengan nilai-nilai al-Qur’an secara cermat.

    Seseorang yang hidup dengan nilai-nilai al-Qur’an juga mengetahui karakteristik-karakteristik apa saja yang mesti dimilikinya agar dapat dijadikan sebagai seorang teman yang berharga, dan dia pun mengambil karakteristik-karakteristik ini sesempurna mungkin. Dan demikian pula, ia pun dapat mengapresiasi karakteristik-karakteristik yang dapat dikagumi pada orang lain dan dapat mencintai dengan sesungguhnya.

    Selama pemahaman mengenai hal ini senantiasa ada dan nilai-nilai Qur’ani meliputi diri mereka, kebahagiaan yang diperoleh dari cinta dan persahabatan tidak pernah hilang. Lebih jauh lagi, semakin orang itu memperlihatkan akhlak yang baik, kesenangan dan kebahagiaan yang mereka dapati dari cinta dan persahabatan pun senantiasa meningkat.

    Tatkala mereka saling memperhatikan satu sama lain sifat-sifat khas yang ada pada diri orang-orang beriman, tanda-tanda adanya iman dan nurani, ketulusan, ketakwaan kepada Allah dan kesalehan, maka gairah mereka pun semakin tumbuh subur. Gairah mereka terasa terbangkitkan karena berada di tengah-tengah lingkungan orang-orang yang mendapat keridhaan dan kasih sayang dari Allah serta senantiasa cenderung untuk berusaha meraih kedudukan yang tinggi di akhirat kelak.

    Begitulah, mereka merasa bahagia bersahabat dengan orang-orang yang oleh Allah sendiri telah dijadikan sebagai para kekasih-Nya.

    Oleh karena kecintaan di antara mereka dilandasi oleh sebuah pemahaman tentang persahabatan yang kekal selamanya, maka kecintaan itu tidak akan berkurang atau berakhir dengan adanya kematian. Sebaliknya, justru makin kekal secara sempurna.

    Dari aspek inilah pemahaman tentang cinta bagi orang-orang beriman berbeda dengan pemahaman masyarakat jahiliah. Cinta dan persahabatan pada masyarakat jahiliah tidak dilandasi niat untuk senantiasa bersama selama-lamanya, maka mereka pun tidak dapat mempraktikkan konsep-konsep kesetiaan, kepercayaan, dan amanah yang sejati.

    Jika dua orang yang mengaku sebagai kawan membuat suatu syarat khusus yang melandasi persahabatan mereka, maka itu berarti mereka dapat mengakhiri pertemanan mereka kapan saja. Kedua belah pihak yang menyadari adanya kemungkinan ini pun lalu bersikap saling hati-hati satu sama lain dan merasa tidak nyaman.

    Kehatian-hatian merusak ketulusan, dimana hal ini merupakan prasyarat dalam menjalin cinta dan persahabatan. Dalam hubungan-hubungan yang sifatnya duniawi orang-orang senantiasa memperhitungkan adanya kemungkinan berakhirnya persahabatan mereka dan, dengan demikian, mereka pun menghindari untuk menunjukkan sifat ketulusan dimana nantinya dapat membuat mereka merasa malu bila kelak keramah-tamahan ini telah berakhir.

    Di lain pihak, bagi orang-orang beriman, mereka memiliki ketulusan dan tidak pernah bersikap pura-pura. Seseorang yang berniat untuk bersama-sama dengan orang lain untuk selama-lamanya adalah seseorang yang telah memiliki komitmen untuk menunjukkan kesetiaan, cinta, dan persahabatan yang tiada putus-putusnya.

    Karakteristik istimewa mengenai cinta dan persahabatan dari orang-orang beriman ini, yaitu kesediaan untuk bersama-sama selama-lamanya, membuat mereka dapat memperoleh kebahagiaan yang besar dari kasih sayang yang mereka alami serta kegembiraan karena punya harapan untuk berada bersama-sama dengan orang-orang yang mereka cintai di surga nanti.Ini juga merupakan kesenangan, karena adanya kepastian, sehingga mereka akan bersikap setia kepada orang-orang yang mereka cintai selama-lamanya.

    Melindungi Kebenaran

    “Mengapa kamu tidak mau berperang demi membela agama Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau’.” (Q.s. an-Nisa’: 75).

    Di dalam ayat ini Allah meminta perhatian atas situasi orang-orang yang tertindas dan menunggu adanya dukungan atau sekutu. Ayat ini berkenaan dengan upaya untuk melindungi orang-orang yang tidak bersalah yang tidak mampu untuk membela hak-hak mereka sendiri, menolong mereka dan menjamin adanya keselamatan atas diri mereka sebagai sebuah tanggung jawab bagi orang-orang beriman.

    Orang-orang beriman yang memiliki kesadaran atas tanggung jawab-tanggung jawab mereka merasakan adanya hasrat dan keinginan yang sangat besar untuk menyelamatkan orang-orang yang tertindas hanya karena mereka beriman kepada Allah. Mereka memiliki nurani dan pemahaman yang tepat tentang keadilan, maka mereka pun tidak pernah mau memaafkan adanya penindasan terhadap orang-orang yang tidak bersalah; maka, mereka pun memberikan dukungan secara moral dan material. Untuk tujuan inilah gairah dan semangat mereka memberikan keberanian dan kekuatan yang sangat besar kepada mereka.

    Allah juga meminta tanggung jawab kepada orang-orang beriman untuk memerangi kemungkaran dan mencegahnya, dimana hal ini menambah semangat mereka. Memerangi kemungkaran, menghapuskan tirani dari muka bumi, dan mewujudkan perdamaian serta kesejahteraan adalah termasuk diantara perbuatan-perbuatan yang paling mulia dan luhur bagi kemanusiaan.

    Mengenai pentingnya memenuhi tugas untuk mencegah kemungkaran ini dinyatakan di dalam al-Qur’an:

    “Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (Q.s. al-A’raf: 165).

    Di dalam al-Qur’an banyak nabi yang disebutkan karena semangat dan keteguhan mereka dalam membela kebenaran dan memerangi kemungkaran. Nabi Musa a.s. misalnya, telah berjuang keras untuk menyelamatkan Bani Israel dari tirani Fir’aun. Dalam al-Qur’an, Fir’aun digambarkan sebagai “Berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.” (Q.s. Yunus: 83). Dia telah memperbudak bangsa Mesir, membunuh anak laki-laki mereka dan menistakan anak-anak perempuan mereka.

    Allah mewahyukan kepada Nabi Musa a.s.:

    “Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dan katakanlah: ‘Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israel bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk’.” (Q.s. Thaha: 47).

    Maka beliau pun mendatangi Fir’aun dan memintanya untuk menghentikan tiraninya atas bangsanya dan membiarkan mereka untuk meninggalkan Mesir bersamanya.

    Ayat ini memberikan contoh betapa Nabi Musa a.s. memikul tanggung jawab untuk melindungi bangsanya, dan untuk inilah ia berjuang tiada henti selama bertahun-tahun hingga akhirnya tirani Fir’aun pun tamat riwayatnya. Selain itu, beliau pun berjuang untuk memperkuat moral bangsanya, dan dengan sabar menyeru mereka agar memohon pertolongan kepada Allah. Sungguh, sebagai hasil dari semangat dan keteguhan yang diperlihatkannya, Allah pun memberikan kemenangan kepada beliau dan para pengikutnya atas diri Fir’aun.

    Sebagaimana diungkapkan oleh contoh-contoh semacam ini, orang-orang beriman senantiasa berada pada pihak yang benar, yaitu berada bersama-sama dengan orang-orang yang memiliki kasih sayang, toleransi, sikap siap membantu dan rela berkorban ketika menghadapi orang-orang yang melakukan keangkara-murkaan, tidak adil, dan mementingkan diri sendiri. Mereka senantiasa berjuang untuk menghentikan tirani para penindas dan membebaskan mereka yang tertindas.

    Dalam melakukan hal ini, mereka merasakan gairah dan kebahagiaan karena dapat memenuhi perintah Allah. Dan melalui amal kesalehan ini mereka menerapkan keadilan yang disukai oleh Allah, mendengarkan suara hati nurani mereka, hidup dengan nilai-nilai Qur’ani, dan menjaga keselamatan orang-orang yang tidak berdosa. Maka mereka pun memperoleh kebahagiaan dari semua amal kebajikan ini dan pahala-pahala yang mereka terima.

    Komitmen dari orang-orang beriman dalam masalah ini meningkatkan akhlak mereka. Badiuzzaman (Said Nursi) memberi tahu akan fakta bahwa mereka yang memikul tanggung jawab besar dengan niat untuk memperoleh keridhaan Allah akan mencapai kematangan moral: “Manakala seseorang punya komitmen pada dirinya sendiri dengan tujuan-tujuan yang mulia, maka amal-amalnya pun menjadi semakin ikhlas. Dan ketika ia melakukan amal-amal yang semakin banyak demi kepentingan kaum muslimin, maka dia sendiri mencapai kematangan moral.”1

    Ibadah

    Bagi orang-orang beriman mencari keridhaan dan kecintaan Allah merupakan suatu hal yang mendapat prioritas atas segala hal lainnya. Dengan demikian, sepanjang hayatnya mereka terus menerus mencari jalan untuk makin mendekatkan diri kepada-Nya. Allah telah memerintahkan:

    “Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (Q.s. al-Ma’idah: 35).

    Orang-orang beriman memandang bahwa menjalankan kewajiban-kewajiban ibadah yang diperintahkan di dalam al-Qur’an adalah termasuk sarana yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah. Meskipun demikian, mereka menyadari bahwa hanya melakukan hal ini saja tidaklah cukup, dan yang lebih penting lagi adalah adanya keikhlasan dan semangat yang dirasakan oleh seseorang ketika sedang beribadah.

    Sesungguhnya, Allah telah menyatakan bahwa daging dan darah dari hewan-hewan korban itu tidak akan sampai kepada-Nya namun ketakwaan dari orang-orang yang berkorban itulah yang akan sampai kepada-Nya:

    “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.s. al-Hajj: 37).

    Kesadaran atas fakta ini mengarahkan orang-orang beriman untuk menyibukkan diri di dalam amal-amal saleh dengan penuh semangat untuk menjalankan suatu kewajiban dalam beribadah. Mereka memahami bahwa keikhlasan adalah sifat yang paling dihargai oleh Allah. Bahwa amal-amal yang dikerjakan dengan ikhlas karena Allah mendapat penghargaan yang besar di mata Allah, juga disebutkan di dalam sebuah Hadis Nabi Muhammad saw., di mana seorang mukmin yang baik digambarkan sebagai seseorang yang merasakan kebahagiaan ketika mengerjakan shalat, menjalankan ibadah kepada Tuhannya dengan sebaik-baiknya, dan menaati-Nya ketika sedang dalam keadaan sunyi.

    Di dalam al-Qur’an banyak diberikan contoh mengenai semangat dan gairah yang dirasakan oleh orang-orang beriman dalam menjalankan ibadah. Beberapa di antaranya akan disebutkan dalam halaman-halaman selanjutnya.

    Membaca al-Qur’an

    Di dalam al-Qur’an Allah memberikan gambaran mengenai orang-orang beriman:

    “Sesungguhnya orang-orang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri.” (Q.s. as-Sajdah: 15).

    Bersujud ketika dibacakan ayat-ayat al-Qur’an merupakan tanda adanya keimanan yang kuat dan kebahagiaan yang mereka rasakan karena menjadi hamba Allah.

    Mereka merasa sangat bersuka cita karena memiliki al-Qur’an, kitab yang diwahyukan Allah yang mencakup semua pengetahuan, dengan menyadari bahwa setiap ayat dari al-Qur’an adalah manifestasi dari kasih sayang, rahmat, dan keadilan Allah terhadap diri mereka.

    Lebih jauh lagi, mereka merasakan kebahagiaan yang sangat besar di dalam jiwa mereka karena telah diberi nikmat kesadaran yang jernih sehingga mereka dapat memahami semua itu.

    Dengan demikian, mereka pun merasa dekat kepada Allah dan merasakan adanya keterikatan yang mendalam dengan-Nya, yang memberikan mereka perasaan tenang. Di dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa orang-orang beriman menyungkur sujud, menangis karena perasaan yang mereka alami tatkala mendengarkan firman-firman Allah:

    “Katakanlah: ‘Berimanlah kamu kepadaNya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).’ Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: ‘Mahasuci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (Q.s. al-Isra’: 107-9).

    Di dalam ayat-ayat di atas Allah memberitahukan bahwa al-Qur’an, manakala dibacakan kepada orang-orang beriman, meningkatkan rasa rendah diri mereka, yaitu ketakutan dan rasa takzim mereka kepada-Nya. Dan Allah memberitahukan kepada kita bahwa para nabi pun juga menyungkur sujud, sambil menangis karena perasaan mereka ketika mendengar ayat-ayat Allah:

    “Mereka adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Q.s. Maryam: 58).

    Di dalam ayat lainnya dinyatakan bahwa kulit-kulit orang-orang beriman yang takut kepada Allah bergetar manakala mereka mendengar ayat-ayat al-Qur’an:

    “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.” (Q.s. az-Zumar: 23).

    Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah Hadis Nabi Muhammad saw. bahwa orang-orang beriman mengetahui bahwa pahala bagi mereka yang membaca al-Qur’an dan berdzikir kepada Allah adalah begitu besarnya, dan hal itu semakin menambah gairah mereka: “Bertakwalah kepada Allah, karena Dialah yang akan membuat baik semua hal yang merisaukanmu. Bacalah al-Qur’an dan senantiasalah mengingat Allah, karena dengan demikian kalian akan diingat pula di langit sana, dan akan menjadi cahaya bagimu di muka bumi ini.” (H.r. Ahmad).

    Doa

    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.s. al-Baqarah: 186).

    Allah telah menyeru semua orang untuk berdoa. Dia telah memberitahukan kepada mereka bahwa Dia lebih dekat kepada mereka dibandingkan urat leher mereka sendiri. Dia mendengar mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya, dan Dia pun akan menjawab doa-doa mereka. Kesempatan yang diberikan oleh Allah tersebut kepada manusia dan bahwa Dia menjadi saksi atas segala hal yang mereka ucapkan atau pikirkan adalah penyebab munculnya rasa suka cita bagi orang-orang beriman, rasa suka cita karena mengetahui bahwa Allah ada bersama mereka, perlindungan-Nya yang senantiasa diberikan atas diri-diri mereka, dan karunia-Nya terhadap mereka.

    Dengan alasan inilah orang-orang beriman berlindung kepada Tuhan mereka dengan perasaan yang sangat mendalam, benar-benar merasakan perlunya mendapat bimbingan dari-Nya, dan senantiasa memohon pertolongan-Nya setiap saat. Penyebab kegembiraan yang lain adalah bahwa tidak ada batas bagi mereka untuk meminta apa saja kepada Allah.

    Setiap orang berpeluang untuk memohon apa saja yang diperlukannya, baik hal itu penting atau tidak penting, yang sifatnya ruhaniah maupun material. Allah menjawab doa dari hamba-hamba-Nya sesuai dengan apa yang terbaik bagi mereka.

    Bertobat untuk Mendekatkan Diri kepada Allah

    Manusia mudah membuat kesalahan. Adalah suatu hal yang mustahil untuk mengharapkan bahwa ada seseorang yang mengetahui segala hal atau dapat melakukan apa saja dengan sempurna karena dunia ini adalah tempat di mana Allah menguji manusia.

    Manusia hanya akan tinggal sementara waktu saja di dunia, di mana dia akan memperoleh sifat-sifat yang lebih baik melalui petunjuk Tuhannya, dan kemudian akan melanjutkan perjalanannya ke akhirat, yang merupakan tempat tinggalnya yang abadi.

    Itulah sebabnya mengapa kesalahan, ketidaksempurnaan dan kegagalan adalah hal lumrah di dunia ini, dimana merupakan tempat untuk melakukan ujian. Hal yang penting adalah bagaimana caranya untuk tidak terus menerus melakukan kesalahan, namun sesegera mungkin mengikuti kebenaran begitu mengenalinya, dan meninggalkan kebiasaan buruk sebelumnya.

    Proses ini terus berkesinambungan menuju penyempurnaan, sekalipun orang-orang beriman menyadari bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang lemah dan tidak sempurna. Dengan demikian, mereka pun meminta ampunan dari Allah dan bertobat. Tobat, suatu bentuk ibadah yang penting dan diperintahkan di dalam al-Qur’an, membuat mereka merasakan kebahagiaan ruhaniah.

    Manakala orang-orang beriman melakukan kesalahan, mereka tidak memperlihatkan sikap pesimis; akan tetapi mereka merasakan adanya harapan bahwa Allah akan mengampuni mereka. Begitu mereka menyadari bahwa mereka telah melakukan suatu perbuatan dosa, mereka segera meminta perlindungan kepada Allah dan memohon ampunan-Nya.

    Allah menggambarkan karakteristik dari hamba-Nya yang ikhlas ini di dalam al-Qur’an:

    “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.s. Ali Imran: 135).

    Kabar gembira dari Allah bahwa Dia menerima tobat dari hamba-hamba-Nya yang ikhlas mendatangkan harapan dan kegembiraan. Hal ini karena hingga kematian datang kepada mereka, bahkan orang yang paling jahat pun di dunia ini memiliki kesempatan untuk menyucikan dirinya dari dosa dan memperoleh atribut untuk memasuki surga.

    Allah menggambarkan rahmat dan kasih sayang-Nya terhadap semua umat manusia sebagai berikut:

    “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Q.s. az-Zumar: 53).

    Dengan merasakan kasih sayang dan rahmat Allah kepada mereka dan mengharapkan ampunan-Nya setiap saat mereka kembali kepada-Nya mendatangkan rasa cinta dan kegembiraan yang mendalam di dalam hati orang-orang beriman.

    Menyampaikan Nilai-nilai Luhur al-Qur’an

    Allah memerintahkan dibentuknya suatu jamaah di tengah-tengah umat manusia yang menyeru kepada kebaikan:

    “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.s. Ali Imran: 104).

    Sesuai dengan seruan yang tercantum di dalam ayat ini orang-orang beriman memiliki keikhlasan, berupaya untuk menyampaikan kebaikan nilai-nilai akhlak yang terdapat di dalam al-Qur’an, menunjukkan kerusakan akhlak yang terdapat di tengah-tengah masyarakat jahiliah, dan dengan kehendak Allah, membimbing manusia ke jalan yang benar. Karena mereka sendiri sudah merasakan kedamaian dan kenyamanan dengan cara hidup yang Islami, mereka pun mengharapkan agar orang lain juga dapat mengalami hal yang sama.

    Selanjutnya, karena mengetahui bahwa neraka benar-benar ada, mereka ingin melindungi semua orang dari siksaan yang kekal dengan cara mendorong mereka untuk menjalani kehidupan yang diridhai oleh Allah, karena amal-amal seseorang di dunia ini menentukan kehidupan abadinya kelak di surga atau neraka. Bahkan keselamatan abadi bagi satu orang saja punya arti yang besar bagi orang-orang beriman.

    Dengan alasan inilah mereka punya komitmen untuk mengorbankan apa saja dalam rangka menyelamatkan seseorang dari neraka dan membimbingnya menuju ampunan dan kasih sayang Allah. Barangkali mereka akan mencurahkan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun, siang dan malam, guna membantu seseorang agar menerapkan nilai-nilai Islami yang baik.

    Demikian pula, mereka pun dengan bersemangat mengeluarkan harta kekayaannya demi hal ini. Semangat yang mereka rasakan memberikan kekuatan yang besar baik secara fisik maupun ruhani. Hingga akhir hayatnya mereka tidak pernah berhenti menyampaikan pesan-pesan Allah dengan cara yang paling baik dan paling bijaksana.

    Meskipun demikian, perlu dijelaskan bahwa sekalipun semua upaya mereka tidak mendatangkan hasil atas turunnya hidayah kepada satu orang pun, mereka tidak akan pernah merasa frustrasi karena tugas dari seorang mukmin hanyalah sekadar menyampaikan pesan, sedangkan Allahlah yang sesungguhnya memberikan hidayah kepada seseorang.

    Dari al-Qur’an kita tahu bahwa banyak penyembah berhala di Mekkah yang tidak memeluk Islam, sekalipun Nabi Muhammad saw. telah melakukan berbagai upaya dengan tulus dan sungguh-sungguh. Akan tetapi usaha-usaha yang telah beliau saw. kerjakan tadi tetap mendapatkan ganjaran, dan Allah mewahyukan kepada beliau saw.:

    “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Q.s. al-Qashash: 56).

    Di dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa semua nabi telah menunjukkan komitmen yang sama dalam menyampaikan risalah dari Tuhan mereka. Kesukaran-kesukaran yang mereka hadapi tidak pernah mematahkan semangat mereka. Bahkan sebaliknya, mereka senantiasa melakukan berbagai upaya untuk menunjukkan jalan yang benar kepada umat mereka.

    Upaya-upaya penuh semangat yang telah dilakukan oleh Nabi Nuh a.s. telah digambarkan sebagai berikut:

    “Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah berdakwah kepada kaumku malam dan siang, namun dakwah itu hanya menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku berdakwah kepada mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. Kemudian sesungguhnya aku telah berdakwah kepada mereka (untuk beriman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (berdakwah kepada) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun’.” (Q.s. Nuh: 5-10).

    Sebagaimana diungkapkan dalam ayat-ayat tadi, Nabi Nuh a.s. telah menyampaikan risalah Tuhannya dengan semangat yang tinggi untuk mendamaikan hati umatnya. Meskipun mereka selalu menolak namun beliau tidak pernah patah semangat dalam menyampaikan atribut-atribut Allah. Kendati demikian, umatnya yang berkepala batu selalu saja berpaling setiap kali mereka mendengarkan kebenaran. Karena semangat dan rasa suka cita yang dirasakannya dalam menjalankan perintah Allah untuk menyampaikan pesan-Nya, Nabi Nuh a.s. tidak mencela sikap mereka namun beliau terus saja melanjutkan tugasnya dengan keteguhan yang tiada henti.

    Meskipun umatnya menunjukkan keangkuhan, beliau berupaya mencari cara-cara lain yang memungkinkan guna melunakkan hati mereka. Niat beliau adalah untuk membebaskan mereka dari kerusakan masyarakat jahiliah dengan cara mengingatkan kepada mereka mengenai kebesaran Allah, baik secara terbuka maupun tertutup.

    Perlu diingat bahwa upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Nabi Nuh a.s. dan yang lainnya dalam menyampaikan risalah ini, dengan semangat yang tinggi dan keikhlasan, tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa ganjaran. Insya Allah, setiap kata yang disampaikan dan setiap detik yang dicurahkan di jalan-Nya akan mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda.

    “Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (Q.s. at-Taubah: 112).

    Berpikir tentang Surga

    Salah satu hal yang paling menimbulkan perasaan gembira bagi orang-orang beriman adalah surga dan karunia-karunia yang akan mereka peroleh di sana. Surga adalah tempat yang selama ini belum pernah ada dalam kehidupan dunia ini; tak ada satu pun cacat dan celanya kehidupan di sana.

    Surga diciptakan bukan sebagai ujian, sebagaimana kehidupan di dunia ini, namun adalah tempat untuk memberikan ganjaran. Lagi pula, Allah memang sengaja menciptakan dunia ini sebagai tempat yang tidak sempurna sehingga umat manusia merindukan surga dan berjuang keras untuk mencapainya. Seseorang yang berjuang untuk mencapai kesempurnaan, seumur hidupnya menginginkan surga dengan semangat yang lebih besar lagi.

    Di akhirat nanti orang-orang beriman akan bergembira karena telah diselamatkan dari siksa neraka, yang selama hidupnya mereka telah berjuang untuk menghindarinya. Pada sisi lain, mereka yang memerangi agama Allah, dan orang-orang yang mengikuti al-Qur’an, serta mereka yang menentang orang-orang beriman dan berupaya menindas mereka akan mendapatkan ganjaran yang sepadan sebagai bukti keadilan Allah.

    Bagaimana ganjaran yang akan diterima oleh orang-orang semacam ini dan kegembiraan yang dirasakan oleh orang-orang beriman tatkala mereka menyaksikannya, dinyatakan di dalam al-Qur’an:

    “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang beriman. Dan apabila orang-orang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini,(2 orang-orang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Q.s. al-Muthaffifin: 29-36).

    Fakta bahwa kelak orang-orang yang tidak beriman akan mendapatkan ganjaran yang sepantasnya dari Allah, menyembuhkan luka di hati orang-orang mukmin. Sungguh, hanya dengan memikirkan janji Allah saja sudah dapat membangkitkan rasa suka cita di hati orang-orang beriman.

    Selain itu, mengingat salam dan ucapan selamat datang dari para malaikat di surga dan betapa kedudukan orang-orang beriman akan ditinggikan di sana adalah sumber kebahagiaan utama. Mereka akan bertemu dengan malaikat-malaikat Allah yang akan mengantar mereka ke surga, tempat tinggal mereka yang abadi.

    Sementara mereka yang tidak mau mengabdi kepada Allah dalam hidupnya di dunia ini, akan berada dalam ketakutan dan kesakitan ketika disergap oleh malaikat azab, sementara orang-orang beriman diiringi oleh malaikat-malaikat rahmat berada dalam kedamaian dan keamanan.

    Harapan ini membuat orang-orang beriman merasakan kegembiraan yang luar biasa. Bagaimana mereka akan dipertemukan di dalam surga nanti digambarkan di dalam al-Qur’an sebagai berikut:

    “(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum’. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Q.s. ar-Ra’d: 23-4).

    “(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): ‘Salamun ‘alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.s. an-Nahl: 32).

    Alasan lain mengapa pemikiran tentang surga ini membangkitkan kegembiraan di hati orang-orang beriman tidak ragu lagi adalah karunia yang dijanjikan kepada mereka yang selama ini belum dapat mereka bayangkan seperti apa wujudnya. Namun yang lebih membahagiakan lagi daripada itu adalah manakala mereka mendapatkan keridhaan Allah, suatu tujuan yang selama ini sangat mereka inginkan dan perjuangkan seumur hidup mereka:

    “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin(3 dan Anshar(4 dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (Q.s. at-Taubah: 100).

    Dalam ayat di atas Allah memberikan kabar gembira bahwa Dia akan meridhai orang-orang yang dimasukkan-Nya ke dalam surga. Demikianlah, ditekankan di dalam al-Qur’an bahwa karunia terbesar di dalam surga adalah keridhaan Allah:

    “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (Q.s. at-Taubah: 72).

    Selain itu, Allah memberikan kabar yang lebih baik lagi kepada orang-orang beriman mengenai karunia surga:

    “Salam, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (Q.s. Yasin: 85).

    Dan ini adalah ganjaran terbaik bagi perjuangan tulus yang telah dilakukan oleh orang-orang beriman sepanjang hidup mereka.

    Orang-orang beriman juga merasakan kegembiraan manakala memikirkan betapa indahnya surga, dimana jauh dari apa yang dapat dibayangkan oleh manusia, sekalipun sudah banyak diberikan gambaran yang rinci di dalam al-Qur’an. Allah telah berfirman bahwa di sana nanti terdapat banyak keindahan dan karunia yang selama ini pernah diinginkan oleh jiwa manusia atau yang selama ini dapat dibayangkannya.

    Cakrawala pandang manusia di dunia ini terlalu terbatas untuk dapat memberikan gambaran yang sepenuhnya mengenai berbagai macam karunia abadi tadi. Sungguh, surga dipenuhi dengan hadiah-hadiah mengejutkan yang tiada henti-hentinya bagi orang-orang beriman. Memikirkan hadiah-hadiah mengejutkan ini saja dan mengetahui bahwa mereka dengan izin Allah akan hidup kekal selamanya membuat mereka merasa sangat berbahagia.

    Bahkan sejak sekarang pun orang-orang beriman telah mengetahui karunia-karunia tertentu di surga, karena telah mendapatkan gambaran-gambaran dari al-Qur’an. Misalnya, orang-orang beriman mengetahui bahwa kelak mereka akan bersama-sama dengan kawan-kawan dan orang-orang yang mereka cintai. Mereka akan berkawan dengan para nabi, syuhada, siddiqin, dan orang-orang saleh terdahulu dan akan mendapatkan penghormatan menjadi sahabat-sahabat orang-orang suci yang diridhai oleh Allah.

    Mereka akan menemui cinta dan persahabatan sejati di sana, dan tidak akan pernah merasa bosan.

    Setan tak akan dapat mendekati para penduduk surga; ia akan dilemparkan ke dalam siksaan yang abadi di dalam api neraka, maka di surga nanti setiap orang akan memiliki sifat-sifat yang baik, tulus, dan jujur di hadapan Tuhan mereka. Di sana tidak akan dijumpai akhlak-akhlak buruk yang ada pada masyarakat jahiliah (seperti kebencian, kemarahan atau dengki); semua sifat-sifat jelek ini akan hilang untuk selama-lamanya.

    Di surga nanti tidak akan ada kesulitan-kesulitan seperti yang terdapat di dunia ini. Mereka tidak perlu cemas atas rencana-rencana jahat dari orang-orang munafik. Orang-orang beriman akan diangkat derajatnya selama-lamanya, hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan di tengah-tengah kenikmatan apa pun yang diinginkan oleh nafsu mereka.

    Semua orang akan diciptakan dengan bentuk yang sempurna dan dibebaskan dari segala macam cacat. Bentuk tubuh mereka elok, memiliki perasaan saling menyayangi dan berusia setara. Hukum-hukum alam yang berlaku sebagaimana di dunia ini tidak lagi berjalan; suatu kehidupan baru dengan kenikmatan-kenikmatan baru telah tersedia untuk mereka yang imannya terjamin.

    Selain itu, surga adalah sebuah tempat yang berisi kemegahan-kemegahan fisik seperti mahligai-mahligai, pohon-pohon yang senantiasa berbuah dan mudah dipetik, sungai madu, dan keindahan-keindahan yang menarik hati lainnya.

    Lebih dari itu, “keabadian”, sebuah konsep yang dalam pikiran manusia sulit untuk dibayangkan, berlaku di surga. Kehidupan di surga tidak hanya terbatas selama ratusan, ribuan, miliaran, atau triliunan tahun … namun kehidupan di sana adalah kehidupan yang kekal abadi.

    Manusia tidak akan merasa letih dan jenuh tinggal di sana, dan ia akan merasakan kesenangan yang besar selama-lamanya dalam setiap saat yang dilewatinya.

    Memikirkan tentang kenikmatan-kenikmatan ini, sementara dirinya masih berada di dunia, dan harapan untuk mencapai surga merupakan sumber semangat dan hasrat utama orang-orang beriman. Dengan rangsangan untuk memperoleh kenikmatan-kenikmatan tersebut, mereka menjadi semakin bergairah dan melakukan upaya-upaya yang lebih banyak untuk menjadi hamba-hamba Allah yang layak menjadi penghuni surga. Sebagaimana digambarkan di dalam al-Qur’an, mereka berlomba-lomba satu sama lain dalam melakukan amal kebajikan dan berjuang untuk menjadi pemenang terbaik untuk mendapatkan “surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Q.s. Ali Imran: 133).

    ***

    1 The Rules of Struggle, hlm. 45.

    2 Pada hari pengadilan

    3 Mereka yang berhijrah dari Mekkah dan tinggal di Madinah karena Islam.

    4 Penduduk Madinah yang telah memeluk Islam dan menolong Rasulullah saw. dan para sahabatnya yang berhijrah ke sana.

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 11 October 2015 Permalink | Balas  

    Jauhi Siksaan Kematian 

    berapa-lama-kita-dikuburJauhi Siksaan Kematian

    Written by Taufikmalin.

    Allah yang Mematikan dan menghidupkan. Allah meminta pertanggung jawaban atas tugas-tugas yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Al Qur’an adalah buku petunjuk untuk  menjalankan tugas-tugas. Nabi Muhammad saw adalah seorang manusia biasa  sebagai teladan.  Manusia demikian asyiknya dengan kehidupannya sehingga ia lupa bahwa dari hari kesehari,dari saat ke saat, ia makin mendekati MAUT.

    Maut tidak mengenal besar kecil, tua muda,miskin kaya, pangkat tinggi rendah, semua akan didatangi maut, kalau ajal sudah tiba. Inilah suatu kepastian yang tidak dapat diingkari, bahwa pada suatu hari, besok atau lusa, sebulan atau setahun, atau beberapa tahun lagi tiap diri yang hidup harus merasakan MATI.

    Dari Al Qur’an kita dapat tahu, bahwa “tiap2 yang bernyawa akan merasakan mati” (QS 29:57). Tidak mungkin dapat diperlambat atau di percepat dengan jalan apapun, sebagaimana dijelaskan dalam Al qur’an (QS.4:78).

    Kita disuruh untuk datang melayat kerumah keluarga atau teman yang meninggal dengan maksud , selain hubungan silaturrahmi, juga untuk mengingatkan bahwa kita suatu waktu akan mati.

    Kita melihat mayat terhantar didepan kita, masih cukup lengkap dengan anggota badannya, lengkap dengan panca indra di kepalanya, tetapi semua itu sudah tidak bergerak lagi, semua sudah sunyi, walaupun ia diseru oleh orang yang dikasihinya.

    Keluarga tidak hendak bercerai dengan dia, tetapi sebentar lagi badannya akan menjadi busuk, tidak mau disimpan lagi, harus lekas lekas dikuburkan.

    Inilah akhir dari perjalanan hidup manusia dan tidak akan pernah kembali !

    Dengan melayat ketempat orang meninggal,diharapkan timbul Keinsyafan dan kesadaran, agar sisa hidup yang masih tinggal supaya kita pergunakan sebaik baiknya, semanfaat faatnyauntuk manusia disekeliling kita. dengan berbuat baik, menolong, dan berkarya yang bermanfaat, serta sering beristigfar kepada Allah atas dosa 2 yang disengaja tau tidak sengaja.

    Janganlah!.kita seperti binatang korban; kambing atau lembu waktu hari Raya Haji, kitika kita melihat kambing disembelih, merintis kesakitan, tapi teman2nya yang berada  disampingnya, acuh tidak acuh saja dan tidak takut, sedangkan sebentar lagi giliran mereka mau di sembelih.

    Mereka tidak sedikit merasa takut akan disembelih dan tidak berusaha untuk menghindari malapetaka kesakitan yang akan menimpanya.

    Apakah kita yang berakal demikian pula…? Apakah tidak merasa takut akan sikasaa mati..?

    Sarat untuk dapat berjumpa dengan Allah di  syurga adalah;

    “beriman dan berbuat baik,berkarya bermanfaat, untuk orang banyak, serta tidak sirik dalam berbuat baik. Berhati bersih. Dan terakhir mohon maaf dan mohon rahmat Allah swt.

    Kalau punya kekayaan harta dan uang, lebih baik digunakan untuk menolong orang, akan menjadi pahala untuk keakhirat, dari pada menyimpan dan menumpuk harta dirumah dan di Bank.

    Sebab Al quran mengatakan bahwa harta dan anak istri mu tidak akan dapat menolong mu untuk masuk syurga.

    Kalau tidak punya harta, tapi mempunyai  pemikiran dan tenaga lebih baik dipergunakan untuk menolong famili dan orang banyak sebagai amal saleh yang dapat untuk menolong kita ke syurga. sebab ilmu dan kesehatan baik kalau tidak dimanfaatkan untuk kebaikan orang banyak tidak akan menjadikan pahala.Ilmu akan ikut bersamanya kekubur.

    APAKAH YANG AKAN TERJADI SETELAH MANUSIA MATI.?

    Jasmani atau tubuh yang sudah ditinggalkan “ROH” akan kembali ke tanah. Jasmani yang terdiri dari CEL CEL sudah tidak berarti apa apa lagi, akan membusuk dalam udara terbuka, oleh sebab itulah Islam menentukan jenazah harus lekas di kuburkan. Cel cel yang terdiri dari zat2 kimia,akan kembali dan bergabung ke-masing2 zat. Zat Ca. kembali ke zat Ca, zat asam kembali ke zat asam, air akan bergabung kembali ke air dst.

    Roh yang sudah berpisah akan kembali ke alam “Barzach” menunggu sampai hari kebangkitan, dimana “sangkala dibunyikan” dan semua bangkit dari kubur.(QS.36:51).

    Apa yang terjadi sewaktu Roh berpisah dari tubuh..? Waspadalah apabila nyawa telah sampai mendekati kerongkongan…! Keluarga berkata; siapakah yang dapat menolong nya dari sensara kematian ini…??? Diapun yakin bahwa peristiwa itu adalah sa’at perpisahan dengan dunia dan kemewahan.

    Maka bertautlah betis kanan dan betis kira.. Pada hari itu kamu dihalau menghadap Tuhan mu..! (QS 75:26-30)

    Dari Al Quran kita dapat mengetahui bahwa manusia2 yang dhurhaka dan tidak mengikuti paraturan Allah swt, Malaikat datang memukul mukul muka dan punggung mereka dan mengatakan; tanggunglah siksaan hukum Allah kepada diri mu. (QS 8:50).

    Orang orang yang melawan akan peringatan2 Tuhan, sejak dari dunia sudah disiksa, dan waktu roh berpisah juga sudah disiksa dengan pukulan pukulan keras dari Malaikat.Apalagi siksaan2 dikubur dan di Neraka.

    Inilah peringatan Allah kepada manusia yang menentang Allah.

    1. Quran memberitahukan, bagaimana tersiksanya isi Neraka dengan buah buah panas, dan berduri,minuman air mendidih dam kotor, duduk diatas api yang menyala, setiap kulit yang terbakar dan terkupas diganti dengan kulit baru yang lain..(terjemahan umum.) (QS 4:56) (74:29)

    2.”Pada hari penyesihan (hari pertanggungan jawaban) itu adalah suatu waktu tertentu, pada hari ditiupkannya “sangka kala, kamu akan datang ketempata perhentian secara berkelompok kelompok dan langit pun dibuka, makaterdapatlah beberapa pintu.

    Sedangkan gunung2 digusur sampai jadi fata morgana sesungguhnya Jahanam itu adalah pos-jaga tempat melakukan pemeriksaan oleh penjaganya dan untuk tempat kembali bagi orang orang yang dhurhaka (melampaui batas).mereka tinggal didalamnya ber abad abad lamanya.

    Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak pula mendapat minuman selain air yang mendidih dan nanah sebagai balasan yang setimpal.!!

    3…Dalam kubur kamu akan melihat dengan yakin akan neraka jahanam yang panas, yang kemudian kamu akan ditanya akan perbuatan2 kamu dengan harta,pangkat dan anak2 istri yang kamu miliki sementara. (QS. 102:1-8) (terjemahan umum)

    4.Sesungguhnya orang orang yang takut kepada Allah (mematuhi aturan2 Allah ) mendapat keberuntungan berup kebun-buah2an dan anggur pilihan dll.(QS.78 :31-33).

    1. Adapun bagi orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan mampu menahan dirinya dari hawa nafsunya.(QS79:40)

    Perlu kita renungkan peringatan2 Allah di atas, seharusnyalah kita merasa insyaf dan sadar,bahwa kita akan mati dan berpisah dengan sanak famili dan harta di dunia untukselama lamanya.

    Hendaklah kita merasa takut akan azab Allah yang pedih, baik waktu mati,waktu dalam kubur dan Neraka. Janganlah kita seperti binatang Domba yang mau disembelih  yang acu tidak acu saja akan kematian yang menimpa diri sendiri.

    Marilah kita berdoa kepada Allah swt

    Yaa Allah yaa Tuhan kami, ampunilah dosa dosa kami, baik yang kecil maupun yang besar, sengaja atau tidak sengaja, kelalaian dan ketaktahuan kami, berilah kami kekuatan bimbingan agar kami dapat melakukan perbuatan2 baik , pembicaraan-  pem bicaraan yang bermanfaat, jauhilah kami dari siksaan kematian,siksaan dalam kubur dan neraka yaa Allah. Kami takut yaa Allah, kepada siapa lagi kami mohon pertolongan kalau bukan kepada Mu, yang Berkuasa dan Maha Penyayang. yaa Allah yaa Tuhan kami. Amin.

    Terimakasih, semoga ada manfaatnya, kalau ada kesalahan mohon dimaafkan dan kalau ada yang benar itu datang dari Allah swt.

    Wabilahit taufik walhidayah

    Wassalamu’alaikum wr wb

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 10 October 2015 Permalink | Balas  

    Istri Shalihah Yang Ku Dambakan 

    istri solekhahIstri Shalihah Yang Ku Dambakan

    Oleh: Indra Subni

    “Baiti jannati” itulah untaian kata indah yang keluar dari bibir mulia Rasulullah SAW, dalam mengilustrasikan kehidupan rumah tangga beliau yang sakinah mawaddah warohamah dan penuh kebahagiaan.

    Kebahagiaan dalam rumah tangga seorang muslim tidaklah didasari oleh harta dan kecantikan semata, walau tak dapat dipungkiri, kalau keduanya merupakan salah satu faktor penunjang.

    Kalau kita cermati lebih lanjut dan menghayati kehidupan rumah tangga Rasul SAW, kita akan menemukan dua faktor utama yang menyebabkan rumah beliau seperti syurga. Dua faktor tersebut adalah suami shaleh dan istri yang shalehah, kenapa??, karena keduanya orang yang paham betul bagaimana cara membahagiakan pasangan hidupnya.

    Suami shaleh adalah seorang suami yang selalu ingat bahwa Allah memerintahkannya agar ia mempergauli istrinya dengan baik dan ia tahu bahwa istri merupakan amanah yang dititipkan Allah kepadanya, karenanya, membahagiakan istri merupakan ibadah baginya.

    Demikian pula dengan istri yang shalehah, ia mengerti betul bahwa ketaatannnya kepada suami adalah perintah Rasul dan merupakan ibadah yang dijanjikan pahala oleh yang Maha Pengasih. Begitulah, suami yang shaleh dan istri shalehah apabila mereka berdua saling mencintai maka keduanya akan selalu berusaha merealisasikan cinta tersebut dengan saling membahagiakan pasangannya. Namun jika keduanya tidak saling mencintai (kayaknya nggak mungkin, ya!!??) atau salah seorang diantara keduanya tidak mencintai yang lain atau pada saat-saat kesel dan sebel, niscaya mereka tidak akan menyakiti satu sama lain.

    Pada kesempatan kali uraian lebih menitik beratkan pembahasan tentang wanita shalehah tanpa mengurangi eksistensi pria shaleh, karena pada prinsipnya mereka mempunyai tuntutan dan pahala yang sama. Allah berfirman : “Barang siapa yang mengerjakan amalan-amalan shaleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk kedalam syurga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. (Qs 4 : 12). Lihat juga firman Qs 9 : 71 dan Qs 33 : 35.

    Rasulullah SAW sangat menganjurkan kepada para pemuda agar mereka lebih mempriorotaskan memilih dzaatuddin (baca : wanita shalihah) untuk dijadikan pendamping hidupnya. Beliau bersabda yang artinya : “Wanita dinikahi karena empat perkara : “karena hartanya, kecantikannya, nasabnya dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama (shalehah) niscaya engakau akan bahagia”. (Muttafaqun Alaih)

    Wanita shalihah?.. Ia merupakan sosok makhluk lembut yang menjadi idaman bagi setiap muslim yang shaleh. Karena pada dirinya terdapat perhiasan terindah di dunia ini sebagaimana disinyalir oleh Sang pembawa kabar gembira Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang artinya : “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita shalehah”. Lantas seperti apasih wanita shalehah itu???. Untuk mengetahui jawabannya baca aja terus, promosi nich. J

    Wanita shalehah adalah wanita yang benar-benar mengahambakan diri kepada Allah dan beribadah hanya kepadaNya. Ia menjauhkan diri dari perbuatan syirik baik kecil apalagi besar, tidak menyembah kecuali kepada Allah, tidak minta kepada kuburan atau pohon beringin, tidak memberi sesaji kepada Ratu Laut Selatan atau ratu-ratu lainnya, tidak kedukun, nggak make jimat dan banyak lagi perbuatan syirik yang dapat meluluh lantakan amal shaleh Allah berfirman yang artinya : “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada Nabi-nabi sebelummu : “Jika k amu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tetulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sambah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.

    Lebih gawat lagi Allah tidak akan mengampuni dosa syirik sebagaimana termaktub dalam firmanNya yang artinya : “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa selain dari syirik itu bagi siapa saj yang di kehendakiNya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka ia telah tesesat sejauh-jauhnya”.(QS 4 : 116)

    Wanita shalehah adalah wanita yang taat, patuh dan berbakti kepada kedua orang tuanya, Allah SWT menyelaraskan perintah beribadah hanya kepadanya dengan perintah berbuat baik dengan orang tua. Perhatiakan firman Allah dalam Qs Al-Israa’ ayat 23-24 yang artinya : “Dan Tuhanmu telah memrintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka da n ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. Lihat juga Qs 31 : 13-15

    Wanita shalihah adalah wanita yang menjadikan shalat sebagai kebahagian tersendiri baginya, seperti yang dilalkukan oleh idolanya, Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa’i dari Anas Ra : “Dan kujadikan shalat sebagai permata hatiku”. Ia tidak lalai mendirikan shalat tepat pada waktunya, khusu’ dalam shalat-shalatnya, gemar berpuasa dan bersedekah, sungguh- sungguh dalam do’anya antara takut dan penuh harap.

    Wanita shalehah?.. Jilbab adalah pakaiannya, busana muslimah yang menutup rapat seluruh auratnya, pakaian yang disyariatkan oleh Sang Penguasa jagad raya kepadanya. Allah berfirman yang artinya : “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin : “hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Jilbab adalah syi’ar islam, hanya jilbab yang menjadi pembeda antara muslimah dan wanita kafir di tempat umum. Wanita shalehah tahu apapun yang disyari’atkan Allah kepada manusia, tidak lain untuk kebaikan mereka.

    Wanita shalehah?. Dalam dirinya terkumpul kebaikan akhlak, adab baginya lebih baik dari zahab (emas), penghias bibirnya adalah zikrullah dan bacaan Al-Qur’an, pemerah pipinya adalah rasa malu, eye shadawnya gahdul bashar dan ia selalu menjaga kesuciannya sebagai aplikasi dari firman Allah yang artinya : “Katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudungnya kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasanya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudar-saudara leleki mereka, atau putra- putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (Qs 24 : 31).

    Ia juga menjaga dirinya dari sentuhan laki-laki yang bukan muhrim, baik melalui bersalaman apalagi diraba-raba. (Iiii ngeriii).Rasul SAW bersabda yang artinya : “Sekiranya ditusukkan jarum besi ke kepala salah seorang diantara kamu, itu lebih baik dari pada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (HR At-Thabroni dan Baihaqi dari mi’qol bin yasaar)

    Wanita shalehah adalah wanita yang terdidik dengan tarbiyah islamiyah, terus memperdalam ilmu syar’i, aktif dalam kegiatan dakwah beramar makruf nahi mungkar.

    Wanita shalehah.?. Ia senantisa berusaha menghindari ikhtilat, berkhalwat, apalagi pacaran. Pacaran? makhluk apaan tuh????. Tidak la yau. Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “‘Tidaklah laki-laki dan perempuan berkhalwat (berdua-duaan) kecuali yang ketiganya adalah setan”.(Hr Tirmizi)

    Wanita shalehah?. Hari-hari libur dari ritualnya ia ganti dengan hal-hal yang bermanfaat, membaca buku-buku islam, mendengar kaset-kaset ceramah, memperbanyak sedekah dan lain sebagainya.

    Pendeknya, wanita shalehah adalah sosok wanita yang taat melaksanakan perintah Allah, sungguh-sungguh terhadap kewajiban dan hirs terhadap nawafil, sehingga ia dapat menggapai cintaNya sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits qudsy yang dirwayatkan oleh Imam Bukhary dari Abi Hurairah yang artinya : “Rasul bersabda : “Allah berfirman : “Barang siapa yang menjadikan selain Ku sebagai sekutu, Aku telah mengizinkan agar ia diperangi, tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih dari yang Aku wajibkan, dan hambaku itu selalu mendekatkan diri kepadaKu dengan nawafil (amalan sunnah) sehingga Aku mencintainya, apabila Aku telah mencintainya, Akulah pendengaranya yang ia gunakan untuk m endengar dan pengelihatannya yang ia gunakan untuk melihat dan tangannya yang ia gerakan dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan, apabila ia meminta kepadaKu niscaya Aku beri dan apabila ia meminta perlindungan niscaya Aku lindungi (Hr Bukhary)

    Dan meninggalkan laranganNya, berusaha menghindari yang makhruh dan sungguh-sungguh menjauhi yang haram. Namun bukan berarti ia tak pernah melakukan kesalahan dan dan luput dari perbuatan dosa, tidak, karena tidak ada di muka bumi ini orang yang tak penah berdosa sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW yang artinya : “Setiap anak Adam pernah melakukan perbuatan dosa, dan sebaik-baiknya orang yang yang berbuat dosa adalah orang-orang yang bertaubat”. Sebagai manusia biasa, ia terkadang terjerumus pada perbuatan maksiat, akan tetapi ia akan cepat bertaubat dari kesalahannya tersebut dan bersegera menuju ampunan Allah sebagaimana termaktub dalam firmanNya yang artinya : “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapalagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Qs 3 : 135).

    Seluruh hari-harinya adalah ibadah, praktis dari bangun tidur sampai tidur lagi dipenuhi dengan ibadah, no time withouth ibadah begitulah mottonya. Maka jadilah ia seorang muslimah yang berakidah bener, ibadah seeur, akhlak bageur, berbadan seger dan otaknya pun pinter. So pemuda muslim akan ngiler, trus ngincer untuk selanjut nguber. Nah lho…..

    Wanita shalehah?. Ketika di khitbah oleh seorang muslim yang shaleh dan multazim, ia tidak menolaknya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “Jika datang kepadamu (mengkhitbah) orang yang kamu ridha dien dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia, bila tidak, akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar”. Ia memprioritaskan dua syarat dien dan akhlak, namun tidak terlalu ghulu (berlebihan) dalam menyaring dan menentukan pilihan, sebab ia tahu tidak ada orang zaman sekarang yang imannya setaraf dengan Abu Bakar atau Umar. Cukuplah baginya pemuda yang shaleh dan multazim, itulah yang ia nantikan.

    Suami?, ah gadis mana yang tidak mengenangkan suami, pendamping dan pasangan hidup, yang akan memberikan kebahagiaan dan keceriaan? Rasanya semua gadis mengimpikannya. Akan dinantinya saat-saat kedatangan sang pujaan hati dengan debar bahagia di dada, dengan rona memerah dipipi, terlambunglah angan dan teruntailah harapan : “Akankah kumiliki suami idaman nan shaleh?, suami yang dapat dijadikan tempat berbagi, tempat belajar, tempat mencurahkan isi hati , tempat bermanja, juga tempat menyerahkan ketaatan agar tercapai ridha Ilahi, suami yang menjadi qowam yang dapat menggandeng tangan pasangannya menuju syurga Allah, suami yang menjadi teladan, suami yang menjadi pendidik, suami yang menjadi kecintaan, aah pantas kiranya tak boleh sembar angan memilih suami?…

    Wanita shalehah?.. Saat memasuki jenjang pernikahan, terbetik azam dalam hatinya, untuk mengoptimalkan diri dalam mencurahkan ketaatan kepada suaminya, terngiang di telinganya nasehat seorang ibu Umamah binti Harits kepada putrinya dimalam pernihkahan sang putri tercinta : “Wahai putriku tersayang? Sesungguhnya nasehat ini jika ditinggalkan karena keagungan adab maka kutinggalkan ia untukmu. Nasehat ini merupakan peringatan bagi orang yang lalai (lupa) dan petunjuk bagi yang berakal, jika seorang wanita tidak butuh terhadap pernikahan, niscaya kedua orang tuanya lebih tidak membutuhkannya, akan tetapi keduanya sangat membutuhkannya, karena wanita diciptakan untuka lelaki dan laki-laki diciptakan untuk wanita. Putriku sayang? kini engkau akan berpisah dari udara dan dunia remaja yang akupun telah melaluinya. Kini engkau akan menjalani hidup baru yang juga pernah kujalani, menuju kehidupan yang belum engkau ketahui dan teman yang belum engkau pahami, dia akan menjadi raja dan pelindung bagimu. Jadilah engkau budaknya, niscaya dia akan menjadi budak yang dekat denganmu, ingat dan peliharalah sepuluh point yang akan menjadi modal dan simpanan bagimu.

    Yang pertama dan kedua adalah : Tunduk berkhidmat kepadanya disertai dengan qona’ah. Memperhatikan ucapannya disertai dengan to’ah (taat).

    Yang ketiga dan ke empat : menjaga persaan mata dan hidungnya, jangan sampai matanya melihat sesuatu yang jelek darimu dan jangan tercium olehnya kecuali sesuatu yang harum dan wangi.

    Adapun yang kelima dan enam : perhatikanlah watu makan dan tidurnya, karena rasa lapar dapat menimbulkan emosi dan kurang tidur bisa mengundang amarah.

    Yang ke tujuh dan delapan : menjaga hartanya serta menaruh hormat terhadap keluarganya, aturlah hartanya dengan baik dan pergauilah keluarganya sebaik mungkin.

    Dan yang ke sembilan dan sepuluh : jangan engkau maksiat dan menentangnya, jangan pula engkau beberkan rahasianya, bila engkau menentangnya maka engkau telah mengobarkan kemarahannya dan jika engkau membeberkan rahasianya niscaya engkau tidak akan merasa aman akan kepergiannya. Kemudian jangan sampai engkau menampakkan kegembiraan jika ia sedang bersedih dan jangan pula menampakkan kesedihan bila ia sedang gembira.

    Wanita shalehah?.. Ia tahu bahwa kehidupan rumah tangga tidak melulu berjalan mulus, berbentangkan permadani. Kehidupan rumah tangga tak ubahnya sebuah kapal yang berlayar di tengah samudra, terkadang tenang dengan ombak dan riak-riak kecil, namun dilain waktu angin kencang melanda, badai menghantam, ombak bergulung seakan ingin menenggelamkan kapal dan seluruh isinya. Saat seperti itulah peranan suami istri teruji, jika mereka kompak, bahu-membahu dengan saling pengertian, InsyaAllah biduk akan selamat sampai ketepian.

    Wanita shalehah?.. Ia menjadi sesuatu yang paling berharga bagi suaminya setelah ketakwaannya kepada Allah, bila dipandang oleh sang suami menimbulkan rasa bahagia dihati. Sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits yang artinya : “tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang muslim setelah takwa kepada Allah dan lebih baik baginya selain dari istri yang shalehah, apabila ia memerintahnya dia akan mentaatinya, jika ia melihat kepadanya dia membahagiakannya, jika bersumpah kepadanya dia menepatinya dan bila ia tidak berada di dekatnya dia menjaga dirinya juga harta suaminya”. (HR Ibnu Majah). Ia tidak memasukkan lelaki kerumahnya tanpa seizin sang suami dan selalu menjaga harga diri dan kepercayaan suaminya. Allah berfirman yang artinya : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan kerena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka”. (Qs 4 : 34). Ia selalu ridha dengan apa yang diberikan suami, betapapun kecilnya pemberian itu dan tidak pernah menuntut sesuatu yang tidak tergapai oleh penghasilan sang suami.

    Wanita shalehah?.. Ia sabar saat-saat sang suami meninggalkannnya untuk menuntut ilmu, mencari rizki, atau kepentingan dakwah dan menyambut kepulangan suami dengan senyum mengembang dan wajah ceria.

    Wanita shalehah?.. Apabila suaminya dilanda futur, semangatnya mengendur, ia tampil menegur “Mas kok loyyo”, memberikan motivasi dan mengobarkan semangat juangnya.

    Wanita shalehah?.. Ia selalu melahirkan generasi robbani, mengenalkan putra-putrinya kepada Allah sejak dini, bahkan sebelum sang anak itu terlahir kedunia. Mengasuhnya dengan sabar dan penuh keibuan, mendidiknya dengan pendidikan islami, mengajari Sunnah-sunnah Nabi, akhlakul karimah dan lain sebagainya. Ibu adalah madrasatul Ula bagi putra-putrinya.

    Dengan demikian ia akan menjadi mar’ah shalehah, zaujah muti’ah dan ummu madrasah. Singkatnya, wanita shalehah adalah gambaran sosok hamba Allah, pengikut Rasul, anak, istri, ibu dan anggota masyarakat yang baik dan menjadi uswah hasanah bagi orang lain.

    Indah nian alunan nasyid yang berbunyi : “Sungguh indah permata dunia, intan mutu manikam, emas dan berlian yang memikat hati. Namun tiada seindah bunga wanita shalehah harapan agama??.

    Demikianlah beberapa sifat dan karakter wanita shalehah yang kudambakan, dan juga oleh setiap pemuda muslim yang berakal sehat.

    Akankah aku mendapatkannya?

    Wallahu A’la wa A’lam

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 9 October 2015 Permalink | Balas  

    Godaan Orang Berilmu 

    bukuGodaan Orang Berilmu

    Republika, oleh : Okrisal Eka Putra

    Menuntut ilmu pengetahuan di samping merupakan kewajiban juga memerlukan kehati-hatian. Allah menyiapkan ujian yang harus kita lalui agar menjadi seorang penuntut ilmu yang ikhlas dan memberikan manfaat untuk manusia lain.

    Rasullah bersabda, ”Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk bersaing dengan ulama atau untuk berdebat dengan orang jahil atau untuk menarik perhatian orang lain, akan masuk neraka.” (Abu Hurairah).

    Hadis ini memberikan perincian tentang godaan yang sering dialami oleh para penuntut ilmu dan para ilmuwan dalam proses pengamalan ilmunya. Memang, Allah menyebutkan dalam Alquran bahwa akan meninggikan derajat orang yang memiliki ilmu dari orang yang tidak berilmu. Dalam surat Al-Mujadalah ayat 11, Allah befirman, ”Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang diberikan ilmu pengetahuan.”

    Banyak lagi kelebihan yang diberikan Allah kepada orang yang berilmu, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Bukankah para malaikat mau sujud kepada Nabi Adam setelah Allah mengajarkan beberapa ilmu kepada Nabi Adam AS, ketika sebelumnya malaikat meragukan manusia karena menganggap sebagai makhluk yang suka permusuhan. Tujuan pokok kita menuntut ilmu adalah untuk semakin tunduk dan patuh kepada ajaran Allah. Semakin tinggi ilmu yang kita raih semakin baik ibadah kita. Bukan sebaliknya, semakin banyak ilmu yang kita miliki semakin berani terhadap larangan-larangan Allah.

    Di antara godaan tersebut yaitu berupa sifat riya dan bangga dengan ilmu yang diberikan Allah. Sifat ini memang sering menggoda dan hanya orang yang dilindungi Allah yang bisa menghindarinya. Godaan pertama yang akan dihadapi adalah perasaan ingin dianggap ilmuwan agar bisa bersaing dengan ilmuwan lain. Pikiran dan emosi hanya disibukkan dengan melihat orang lain dan berusaha untuk mengunggulinya sehingga melupakan tujuan dasar menuntut ilmu.

    Godaan kedua, ini peringatan untuk orang yang suka berdebat dengan orang lain, ilmu yang diberikan Allah hanya untuk menyombongkan diri dengan keinginan untuk mengalahkan orang lain dalam berdebat agar menganggap kita lebih hebat dari lawan debat kita. Perdebatan tidak akan memberikan hasil apa-apa kecuali sifat bangga dengan ilmu yang dianugerahkan Allah.

    Dalam sebuah ayat, Allah berfirman, ”Taatlah kamu kepada Allah dan Rasul dan jangan suka berbantah-bantahan, karena hanya akan mengakibatkan kegagalan dan menghilangkan wibawamu, sabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46).

    Godaan ketiga, menuntut ilmu agar orang lain memperhatikan kita. Ini biasa terjadi bagi penuntut ilmu yang merantau ke daerah lain. Ketika pulang kampung, misalnya, ada keinginan untuk dimuliakan orang karena kita diberi Allah kesempatan kuliah, sedangkan teman-teman yang lain cuma tamat sekolah menengah saja.

    Mudah-mudahan dengan kembali merenungkan tujuan menuntut ilmu, supaya semakin taat kepada Allah, akan bisa menghindarkan diri dari godaan yang akan menjerumuskan kita ke dalam neraka. Amin.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:06 pm on 8 October 2015 Permalink | Balas  

    Telaga Cermin 

    kayu tumbang di telaga warnaTelaga Cermin

    Suatu ketika di sebuah sabana, berkumpullah kelompok harimau. Di kelompok itu, juga tinggal beberapa harimau muda yang baru mulai belajar berburu. Ada seekor harimau muda yang terlihat menjauh dari kelompok itu. Dia ingin mencari tantangan.

    Kaki-kaki mudanya melintasi rumput-rumput yang belum terjamah. Matanya terlihat waspada mengawasi sekitarnya. Tanpa disadari, kakinya menuju sebuah telaga yang menjorok ke dalam. Airnya begitu bening, memantulkan apa saja yang terlihat di atasnya. Sang harimau muda terkejut, ketika dilihatnya ada seekor harimau lain di sana. “Hei…ada harimau lain yang tinggal di dalam air.”

    Kucing besar itu masih tertegun ketika melihat harimau di telaga itu selalu mengikuti setiap gerak-geriknya. Ketika dia mundur menjauh, harimau dalam telaga itu pun ikut menghilang. Sesaat kemudian, harimau itu menyembulkan kepalanya, oh, ternyata harimau telaga itu masih ada. Dipasangnya senyum persahabatan, dan ada balasan senyum dari arah telaga. “Akan kuberitahu yang lain. Ada seekor harimau baik hati yang tinggal di tempat ini.”

    Kabar tentang harimau dalam telaga itu pun segera diberitahukannya. Ada seekor harimau lain yang tertarik, dan ingin membuktikan cerita itu. Setelah beberapa saat, sampailah dia di telaga itu. Dengan berhati-hati, hewan belang itu memperhatikan sekeliling. Ups..kakinya hampir terperosok ke dalam telaga. Dia terlihat mengaum, seraya menyembulkan kepalanya ke arah lubang telaga. “Hei…ada harimau yang sedang marah di dalam sana,” begitu pikirnya dalam hati. Harimau itu kembali menyeringai, memamerkan seluruh taring miliknya. Dia menunjukkan muka marah. Ohho, ternyata harimau dalam telaga pun tak kalah, dan melakukan tindakan serupa.

    “Ah, temanku tadi pasti berbohong.” Tak ada harimau baik dalam telaga itu. Aku hampir saja dimakannya. Lihat, wajahnya saja terlihat marah, dan selalu menggeram. Aku tak mau berteman dengan harimau dalam telaga itu.” Harimau yang masih marah itu segera bergegas pergi. Rupanya ia tidak menyadari bahwa harimau dalam telaga itu, sesungguhnya adalah pantulan dari dirinya.

    ***

    Pandangan orang lain, sama halnya dengan cermin dan telaga, adalah pantulan dari sikap kita terhadap mereka. Dugaan dan sangkaan yang kerap muncul, bisa jadi adalah refleksi dari perlakuan kita terhadap mereka. Baik dan buruknya suatu tanggapan, tak lain merupakan balasan dari diri kita sendiri. Layaknya cermin dan air telaga, semuanya akan memantulkan bayangan yang serupa. Tak kurang dan tak lebih.

    Agaknya kita perlu mencari sebuah cermin besar untuk berkaca. Menatap seluruh wajah kita, dan mengatakan kepada orang di dalam cermin itu. Tataplah dalam-dalam, seakan ingin menyelami seluruh wajah itu dan berkata, “Sudahkah saya menemukan wajah yang bersahabat di dalam sana?” Teman, cobalah menatap wajah kita dalam-dalam, dan cobalah jujur menjawabnya, “Sudahkah kutemukan wajah yang bersahabat di dalamnya?”

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 7 October 2015 Permalink | Balas  

    INDANYA BERAMAL SALEH 

    sedekahIndahnya Beramal Shaleh

    Written by Taufikmalin

    Allah Maha Penolong dan Maha Pembimbing. Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Pemurah Al Qur’an adalah sumber ilmu kebahagian, kesejahteraan, kedamaian kita. Rasulullah saw adalah orang yang istimewa dan sangat berjasa kepada kehidupan manusia sampai akhir zaman.

    Waktu kecil, saya berpendapat, bahwa amal saleh itu adalah memasukkan uang ke kotak amal yang ada di masjid atau yang sering dibawa oleh peminta-minta. Karena di kotak itu tertulis “Kotak amal”.

    Kedua, bahawa beramal saleh adalah menjalankan shalat, sedekah, mengaji, berpuasa, membayar zakat naik haji, sebagaimana di nasehatkan oleh orang tua dan guru-guru ngaji saya. Makin banyak amal saleh kita makin banyak pahala yang dicatat oleh malaikat dan inilah yang akan menolong orang masuk surga.

    Alhamdulillah, setelah membaca dan memahami buku pedoman hidup manusia yaitu Al Qur’an dan Hadits, saya mengerti bahwa yang dimaksud amal saleh itu bukan perbuatan-perbuatan dan ibadah-ibadah yang disebut diatas saja. Amal saleh juga meliputi semua perbuatan atau karya-karya yang bermanfaat untuk manusia dan makhluk Tuhan lainnya, dengan niat karena Allah swt.

    Berikut adalah contoh-contoh amal saleh yang bisa kita kerjakan sehari-hari:

    Amal-amal saleh dengan mulut:

    1. Senyum, membuat orang bahagia
    2. Berkata yang baik dan berfaedah
    3. Memberikan ilmu, sebagai guru,dosen,mubaligh, da’i dan lain-lain
    4. Menulis buku ilmu yang berfaedah untuk manusia
    5. Berniat dalam hati.

    Beramal-amal saleh dengan tindakan dan karya

    1. Mengambil duri dari jalan adalah amal saleh, apalagi;
    2. Membuat jalan dan pengairan untuk kebaikan umum
    3. Bertani , berladang, mengasilkan sayur-mayur untuk manusia
    4. Perikanan, menangkap ikan di laut dan beternak ikan
    5. Perternakan di mana ternaknya bermanfaat untuk orang banyak
    6. Berdagang, menolong mendistribusikan hasil tani dan pabrik memudahkan orang mendapatkan barang yang diperlukan
    7. Mendirikan pabrik untuk mengolah barang yang diperlukan masyarakat banyak, misalnya membuat mie instan, minyak, sabun, kecap, mobil, sepeda motor, kapal laut
    8. Mendirikan sekolah, rumah sakit, masjid, hotel dan gedung tempat bekerja, lapangan sepak bola
    9. Dan ribuan macam aktifitas lainnya yang tak terhitung banyaknya

    Semua perbuatan dan karya yang dikerjakan semata-mata untuk kebaikan hidup manusia dan makhluk lainnya, dan diniatkan karena perintah Allah swt memakmurkan bumi (QS.11:61), akan dicatat oleh malaikat sebagai amal saleh kita.

    Allah menyatakan orang-orang yang akan masuk surga itu adalah orang yang beriman dan beramal-saleh dan tidak sirik. Allah juga mengatakan orang yang masuk surga adalah yang berhati bersih (QS.26:89).

    Kalau hatinya bersih bening, maka setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata yang bermanfaat, dan menyenangkan. Tapi kalau hatinya kotor, maka yang keluar dari mulutnya adalah fitnah, gosip, berbicara yang menyakiti hati orang, berbohong, membukakan aib orang lain, dan kata kata yang dapat merugikan orang lain. Semuanya merupakan perbuatan dosa.

    Seorang pemuda bertanya, “Mengapa Allah tidak berfirman bahwa yang akan masuk surga itu adalah orang-orang yang melaksanakan shalat, atau puasa, atau zakat atau naik haji.”

    Shalat adalah latihan memperbaiki diri, bukan tujuan. Shalat adalah tiang agama, suatu latihan yang intensif dan berkelanjutan. Lima kali sehari manusia harus melapor dan menghadap Allah (shalat).

    Shalat wajib dilaksanakan agar manusia bisa mencapai derajat mulia mencintai Allah swt. Bila meninggalkannya maka dapat dikatakan sebagai sikap ingkar. Ia akan mudah dirayu oleh setan untuk diajak ke arah yang merusak, merugikan, dan menzhalimi seseorang, yang akhirnya kehidupannya di dunia sengsara, dan di akhirat akan mendapat azab yang pedih dari Allah swt.

    Janji Allah tidak pernah mungkir dan meleset. Berzakat dan naik haji adalah latihan-latihan yang intensif juga dari Allah untuk manusia. Manusia mempunyai sifat bawaan dari kecil: lemah, rakus, ingkar, zolim dan adanya setan yang selalu menipu manusia.

    Dengan latihan yang intensif itu akan terciptalah manusia yang berakhlaq mulia dan terpuji yaitu; yang selalu ingat Allah, jujur, disiplin, taat akan syariat Tuhan dan lainnya. Dalam diri mereka timbul sifat pemurah, kasih sayang, berani karena benar sabar, rajin bekerja, bersih rohani dan jasmani dan pandai bersyukur.

    Kalau kita lihat sejarah, umat islam di Arab adalah sumber ilmu;Ilmu aljabar, science, kesehatan, fisika, bahasa, mathematika, dll. Kejayaan Islam mundur setelah Negara Negara di jajah oleh penjajah dari negar2 Islam di afrika sampai ke Indonesia. Indonesia di jajah lebih kurang 350 tahun. Coba bayangkan 5 generasi dibawah pengaruh penjajah.

    Semenjak itulah para ulama-ulama memindahkan aktivitas kehidupannya ke kampung kampung, mereka bertani, mendirikan sekolah agama, agar para pemuda pemudi islam jangan sampai belajar di kota kota disekolah sekolah penjajah.

    Alhamdulillah, kita mengucapkan banyak terimakasih kepada para ulama zaman itu yang mana Umat Islam dan agamanya tidak bisa dimusnahkan. Ini suatu hal yangat positif. Agama Islam sangat berjaya di Negara Spanyol tapi bisa dimusnahkan, sehingga tiada lagi peninggalan2 islam seperti Mesdjid dll.

    Walaupun penjajah tidak bisa memusnahkan umat Islam dengan agamanya di Indonesia, tapi mereka berhasil membuat umat islam terbelakang dari kemajuan2 dibandingakan dengan negara2 lainnya. Umat Islam terbelakang dalam bermacam2 aspek penghidupan antara lain; ekonomi, ilmu pengetahuan, produktifitas, technologi, kesehatan, pertahanan dll. Indonesia menjadi suatu bangsa yang konsumtif. Artinya umat islam kita di Indonesia kurang produktif, kurang berbuat baik atau beramal saleh yang dikehendaki oleh Allah dan Rasulullah saw. Syurga didunia dan akhirat akan diberikan kepada orang orang yang banyak berbuat baik atau beramal saleh dan beriman kepada Allah.

    Sebahagian umat Islam terperangkap oleh ajaran2 yang salah kaprah, atau salah konsepsi dalam menghayati uacapan2 Rasulullah saw baik yang tertulis dalam Al Quran maupun yang tertulis di Hadits2. kita sering mendengar di Mesdji2 yang diucapkan oleh Khotib ;

    “Rasulullah saw melihat bahwa di syurga itu kebanyakan orang orang miskin, sedangkan dalam neraka kebanyakan wanita2” HR Muslim-Bukhary.

    “Dunia itu terkutuk, dan terkutuk pula seluruh isinya. Kecuali (dzikir) mengingat Allah dan yang berkaitan dengannya, orang alim (shalih) serta orang yang belajar agama.” (HR. Tirmidzi dan beliau berkata hadits ini hasan)

    “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)

    “Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR.Turmudzi, beliau berkata: hadits hasan shahih).

    Telah datang hadits shahih yang mencela orang yang menirukan gerakan seseorang, dan larangan dari yang demikian itu, dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda, ‘Sungguh saya tidak suka menirukan seseorang dan sungguh bagi saya seperti ini dan seperti ini’. Shahih dikeluarkan oleh Imam Ahmad (6/136-206), At-Tirmidzi (2501).

    Dari kelima Hadits2 diatas jelas sekali bagi kita, sebahagian para khotip2 mengajak umatnya untuk mejauhi dari pekerjaan yang produktif, membuat barang barang yang dibutuhkan oleh manusia, atau membuat fabrik2 yang bisa mengolah barang barang baku yang diberikan oleh Allah menjadi barang barang yang bermanfaat untuk kehidupan manusia; misalnya membuat fabrik speda, mobil, TV, alat2 rumah tangga, kantor dan sekolah dan pertanian dll. Sebahagaian Para khotip mengajak umatnya untuk tidak mencintai materi, menjauhi kehidupan duniawi sebagaimana orang orang Non Islam.

    Akhirnya umat menjadi kurang aktif dalam bidang produktif, ekonomi, science dan technologi dll. Inilah akibat dari penjajahan yang sangat fatal dan harus diperbaiki, dirobah, diluruskan kembali ajaran2 islam yang telah dibelokan oleh para penjajah selama 350 tahun. Sekarang kita sudah merdeka tapi belum lepas dari belenggu pemahaman penjajah.

    Marilah kita panjatkan doa kepada Allah Yang Maha mendengar dan Maha Pengampun;

    Yaa allah yaa Tuhan kami ampunilah dosa dosa kami atas kebodohan kami, kelemahan kami, kelalaian kami dan ketidak tahuan kami yaa Allah kepada siapa lagi kami bermohon kalau bukan kepada Mu yaa Allah.

    Yaa Allah yaa tuhan kami, tunjukilah kami, berilah kami kekuatan, berilah kami hidayah, berilah kami ide2 yang dapat membawa kami dari keterbelakangan, kehinaan, kelemahan dalam segala spek penghidupan. Yaa Allah yaa Tuhan kami, jadikanlah kami orang orang yang pandai mensyukuri semua pemberian Mu ini agar kami dapat mengoilahnya dengan baik dan bermanfaat untuk orang banyak.

    Yaa Allah berikalan kami ilmu pengetahuan yang luas, rezeki yang banyak agar kami dapat menolong orang yang memelukan, sumbuhkanlah kami dari segala penyakit qolbu dan fisik agar hidup kami bermanfaat untuk agama dan umat Mu yaa Allah.

    Yaa Allah jadikan lah qolbu kami qolbu yang bersih jernih dan bening yang selalu merindukanMu, jauhilah qolbu kami dari sifat; malas, benci, sombong, iri hati, dan amarah. Semoga sisa sisa hidup kami ini penuh kenikmatan dalam bekerja untuk Mu yaa Allah yaa Rabbal alamin.

    Demikianlah terimakasih semoga ada manfaatnya. Kalau ada yang benar datang dari Allah dan kalau ada yang salah datang dari kami yang lemah, mohon dimaafkan dan ditegur.

    Wassalamu’alaikum wr wb.

     
  • erva kurniawan 5:01 pm on 6 October 2015 Permalink | Balas  

    Kebencian 

    Kisah cinta Laila MajnunKebencian

    Islam adalah agama yang sangat menentang persengketaan, permusuhan, perkelahian. Sebaliknya pula Islam adalah agama yang menjunjung tinggi perdamaian dan persaudaraan. Karena begitu pentingnya hidup rukun sampai-sampai Rasulullah bersabda: “Tidaklah halal bagi seorang muslim untuk meninggalkan saudaranya lebih dari tiga malam. Keduanya juga saling bertemu, tetapi mereka tidak saling mengacuhkan satu sama lain. Yang paling baik diantara keduanya yang terlebih dahulu memberi salam.” (HR.Muslim).

    Tujuh abad yang lalu seorang penyair sufi dari Balakh, Jalaludin Rumi, suatu ketika pernah berucap “tanpa cinta dunia akan membeku”. Ungkapan ini kita rasakan sepanjang masa akan kebenarannya, terutama disaat gelompang matrealisme ateistik mendominasi dalam setiap gerak langkah manusia, dimana imbas dari pada itu semua kebrutalan saling benci- membenci seakan menjadi santapan hari-hari.

    Benci (al-karahah) adalah lawan dari emosi cinta (al-mahabbah), ia merupakan gambaran tentang perasaan menganggap tidak baik, perasaan tidak menerima atau perasaan ketidaksukaan serta merasa jijik. Juga perasaan ingin menjauhi obyek-obyek yang menimbulkan perasaan ini baik itu berupa orang, keadaan, perbuatan. Kedua hal tersebut (cinta dan benci) merupakan fitrah emosional yang telah dianugrahkan Allah SWT pada seluruh manusia. Bagi seorang muslim cinta dan benci haruslah berdasarkan proporsional syari’at. Karena bisa jadi sesuatu yang kita benci sebetulnya baik bagi kita. atau sebaliknya sesuatu yang kita cintai justru sangat buruk bagi kita. Jika halnya menjadi demikian, betapa banyaknya orang yang akan menjadi korban akibat dari tidak bisa menempatkan arti cinta dan benci ini.

    Allah SWT berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia sangat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia sangat buruk bagimu. Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah : 216).

    Muslim dan mukmin adalah dua kata selalu dikaitkan dengan kata Ahsin (berbuat baiklah)dan ahbib (cintailah), sesungguhnya kata-kata itu mengandung makna yang sangat dalam, kata mukmin berasal dari kata amnun (aman/tidak kacau). Mukmin adalah yang mampu menjaga atau menghadirkan rasa aman. Oleh karena itu apabila seseorang ingin menjadi mukmin, hendaklah memulainya dengan berbuat ihsan (kebaikan) kepada siapa saja, tetangganya, lingkungannya dan lain sebagainya bahkan sampai kepada lawan politiknya.

    Adapun akar kata muslim adalah salamun, yang dari akar kata ini melahirkan kata Islam yang mempunyai makna damai sentosa. Muslim berarti yang mampu menghadirkan kedamaian sentosa. Dalam termenologi moral Islam, bila seorang muslim bisa menghargai orang lain, menghargai hak milik orang lain, maka kedamaian akan dapat terwujud. Namun, hal tersebut akan muncul bila ia terus berpegang kepada kelima rukun Islam. Tanpa memegang teguh lima perinsip dasar Islam tersebut, mustahil kedamaian akan terwujud dilingkungan dimana ia tinggal.

    Asy Syaikh al-Allamah Al Imam Muhammad Hayat As Sindi berkata, “Janganlah kalian melakukan apa yang menyebabkan saling membenci, karena hal itu akan menyebabkan kerusakan di dunia dan di akhirat.” Al imam Al Hafizh Rajab Al Hambali pun pernah berujar tentang hal ini. Ia berkata “Sesama muslim dilarang saling membenci dalam hal selain karena Allah, apalagi atas dasar nafsu, karena sesama muslim telah dijadikan Allah bersaudara dan persaudaraan itu saling cinta bukan saling membenci.”

    Perasaan benci ibarat api dalam sekam, sewaktu-waktu ia akan bisa membakar, bila seorang pemimpin sudah tidak lagi menyayangi orang yang dipimpinnya berarti ia sudah menyimpan api dalam dirinya. Apabila suami sudah membenci sang istri, tetangga telah saling benci antara sesama tetangganya, pemimpin sudah tidak menyenangi hak milik rakyatnya, maka tiada lain mereka telah menyimpan api didalam dirinya. Kondisi seperti ini tentulah sangat berbahaya dalam tatanan hidup bermasyarakat.

    Ia (kebencian) akan dapat merusak moral dan norma-norma. Ekspresi sebuah kebencian tidak lain adalah sikap hasud yang dilarang Islam. Hasad adalah iri dan bersifat dengki terhadap orang atau kelompok lain, bahkan sebisa mungkin untuk menghilangkan atau menjatuhkan semua kepemilikan yang menjadi lawannya tersebut. Dari sinilah hasad berubah menjadi hasutan, bagaimana merekayasa isu atau gosip tanpa fakta untuk meyakinkan orang lain, agar saling membenci atau menganiaya orang lain atau kelempok tertentu.

    Rasa benci yang kemudian melahirkan permusuhan diantara umat manusia itu akan terus menumbuhkan kebencian-kebencian yang baru. Para antropolog sering berguyon bahwa untuk mendamaikan manusia dibumi ini perlu mendatangkan makhluk dari plenet lain hingga akhirnya mereka bersatu untuk melawannya.

    Keimanan mempersempit wilayah kebencian dan mencairkan permusuhan di hati orang mukmin. Seseorang tidak perlu membenci saudara seimannya hanya karena perbedaan suku bangsa, warna kulit, strata sosial, jabatan apalagi kepentingan pribadi. Kalaupun kita harus membenci, itu hanya bisa dilakukan karena Allah.

    Rasulullah SAW bersabda: “Sekuat-kuatnya ikatan iman adalah persaudaraan karena Allah, cinta karena Allah, dan membenci karena Allah.” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas).

    Al-Qur’an memuji orang-orang mukmin yang datang setelah kaum Anshar dan Muhajirin karena mereka berdo’a kepada Allah agar Allah mengahapus dosa-dosa orang-orang mukmin yang telah mendahului mereka, dan agar tidak menjadikan kebencian serta kedengkian dalam hati mereka terhadap orang-orang yang beriman.

    “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdoa : Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara- saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Dan janganlah engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al Hasyr : 10).

    Oleh karena itu persaudaraan yang hakiki adalah merupakan nikmat terbesar dalam penataan hubungan sesama muslim, hanyalah memungkinkan terjadi manakala ia terdapat ta’lif al-qalb (pertautan hati, perasaan dan pikiran) antara satu dengan yang lainnya. Sebaliknya, adalah mustahil persaudaraan itu terkait erat, manakala hati, perasaan dan pikiran saling bertentangan. Hati yang menyatu, akan menyikapi perbedaan dengan husnuzh-zhan (berbaik sangka) dan tasamuh (toleransi) .

    Rasulullah SAW bersabda: “Manusia akan tetap berada di dalam kebaikan selama dia tidak mempunyai rasa benci.” (HR. Thabrani).

    Dan dalam sebuah sabdanya, Rasulullah mengingatkan bahwa kedengkian dan kebencian merupakan salah satu penyakit umat yang sangat berbahaya, dan sangat mempengaruhi agamanya, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Penyakit umat terdahulu telah merambah kepadamu semua, yaitu: kebencian dan kedengkian. Kebencian itu adalah pencukur. Aku tidak berkata pencukur rambut, tetapi pencukur agama.” (HR. Bazzar dari Zubair).

    Wallahu ‘Alam.

    ***

    Kiriman Indra Subni

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 5 October 2015 Permalink | Balas  

    Temuan Ilmiah Terbaru Dan Al Quran 

    al-quran 3Temuan Ilmiah Terbaru Dan Al Quran

    Ayat Al Quran Dan Alam Semesta

    Dalam Surat al-Isra ayat ke-88, Allah menunjukkan keagungan Al Quran:

    “Katakanlah: ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini; niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.'” (QS. Al Isra: 88)

    Allah menurunkan Al Quran kepada manusia empat belas abad yang lalu. Beberapa fakta yang baru dapat diungkapkan dengan teknologi abad ke-21 ternyata telah dinyatakan Allah dalam Al Quran empat belas abad yang lalu. Hal ini menunjukkan bahwa Al Quran adalah salah satu bukti terpenting yang memungkinkan kita mengetahui keberadaan Allah.

    Dalam Al Quran, terdapat banyak bukti bahwa Al Quran berasal dari Allah, bahwa umat manusia tidak akan pernah mampu membuat sesuatu yang menyerupainya. Salah satu bukti ini adalah ayat-ayat (tanda-tanda) Al Quran yang terdapat di alam semesta.

    Sesuai dengan ayat “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS. Fushilat: 53), banyak informasi yang ada dalam Al Quran ini sesuai dengan yang ada di dunia eksternal. Allah-lah yang telah menciptakan alam semesta dan karenanya memiliki pengetahuan mengenai semua itu. Allah juga yang telah menurunkan Al Quran. Bagi orang-orang beriman yang teliti, sungguh-sungguh, dan arif, banyak sekali informasi dan analisis dalam Al Quran yang dapat mereka lihat dan pelajari.

    Meskipun demikian, perlu diingat bahwa Al Quran bukanlah buku ilmu pengetahuan. Tujuan diturunkannya Al Quran adalah sebagaimana yang diungkapkan dalam ayat-ayat berikut:

    “Alif lam ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan Yang Mahakuasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim: 1)

    untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir.” (QS. Al Mu’min: 54)

    Singkatnya, Allah menurunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi orang-orang beriman. Al Quran menjelaskan kepada manusia cara menjadi hamba Allah dan mencari ridha-Nya.

    Betapapun, Al Quran juga memberi informasi dasar mengenai beberapa hal seperti penciptaan alam semesta, kelahiran manusia, struktur atmosfer, dan keseimbangan di langit dan di bumi. Kenyataan bahwa informasi dalam Al Quran tersebut sesuai dengan temuan terbaru ilmu pengetahuan modern adalah hal penting, karena kesesuaian ini menegaskan bahwa Al Quran adalah “firman Allah”. Menurut ayat “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (Surat an-Nisa: 82), terdapat keserasian yang luar biasa antara pernyataan di dalam Al Quran dan dunia eksternal.

    Pada halaman-halaman berikut kita akan membahas kesamaan yang luar biasa antara informasi tentang alam semesta yang ada dalam Al Quran dan dalam ilmu pengetahuan.

    “Dia yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.” (Surat Al Mulk: 3-4)

    history.bigbangTeori Dentuman Besar (Big Bang) Dan Ajarannya

    Persoalan mengenai bagaimana alam semesta yang tanpa cacat ini mula-mula terbentuk, ke mana tujuannya, dan bagaimana cara kerja hukum-hukum yang menjaga keteraturan dan keseimbangan, sejak dulu merupakan topik yang menarik.

    Pendapat kaum materialis yang berlaku selama beberapa abad hingga awal abad ke-20 menyatakan, bahwa alam semesta memiliki dimensi tak terbatas, tidak memiliki awal, dan akan tetap ada untuk selamanya. Menurut pandangan ini, yang disebut “model alam semesta yang statis”, alam semesta tidak memiliki awal maupun akhir.

    Dengan memberikan dasar bagi filosofi materialis, pandangan ini menyangkal adanya Sang Pencipta, dengan menyatakan bahwa alam semesta ini adalah kumpulan materi yang konstan, stabil, dan tidak berubah-ubah. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi abad ke-20 menghancurkan konsep-konsep primitif seperti model alam semesta yang statis. Saat ini, pada awal abad ke-21, melalui sejumlah besar percobaan, pengamatan, dan perhitungan, fisika modern telah mencapai kesimpulan bahwa alam semesta memiliki awal, bahwa alam diciptakan dari ketiadaan dan dimulai oleh suatu ledakan besar.

    Selain itu, berlawanan dengan pendapat kaum materialis, kesimpulan ini menyatakan bahwa alam semesta tidaklah stabil atau konstan, tetapi senantiasa bergerak, berubah, dan memuai. Saat ini, fakta-fakta tersebut telah diakui oleh dunia ilmu pengetahuan. Sekarang, marilah kita lihat bagaimana fakta-fakta yang sangat penting ini dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

    “Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Surat al-Hadid: 1-2)

    alam-semestaPemuaian Alam Semesta

    Pada tahun 1929, di observatorium Mount Wilson di California, seorang astronom Amerika bernama Edwin Hubble membuat salah satu temuan terpenting dalam sejarah astronomi. Ketika tengah mengamati bintang dengan teleskop raksasa, dia menemukan bahwa cahaya yang dipancarkan bintang-bintang bergeser ke ujung merah spektrum. Ia pun menemukan bahwa pergeseran ini terlihat lebih jelas jika bintangnya lebih jauh dari bumi. Temuan ini menggemparkan dunia ilmu pengetahuan. Berdasarkan hukum-hukum fisika yang diakui, spektrum sinar cahaya yang bergerak mendekati titik pengamatan akan cenderung ungu, sementara sinar cahaya yang bergerak menjauhi titik pengamatan akan cenderung merah. Pengamatan Hubble menunjukkan bahwa cahaya dari bintang-bintang cenderung ke arah warna merah. Ini berarti bahwa bintang-bintang tersebut senantiasa bergerak menjauhi kita.

    Tidak lama sesudah itu, Hubble membuat temuan penting lainnya: Bintang dan galaksi bukan hanya bergerak menjauhi kita, namun juga saling menjauhi. Satu-satunya kesimpulan yang dapat dibuat tentang alam semesta yang semua isinya bergerak saling menjauhi adalah bahwa alam semesta itu senantiasa memuai.

    Agar lebih mudah dimengerti, bayangkan alam semesta seperti permukaan balon yang tengah ditiup. Sama seperti titik-titik pada permukaan balon akan saling menjauhi karena balonnya mengembang, benda-benda di angkasa saling menjauhi karena alam semesta terus memuai. Sebenarnya, fakta ini sudah pernah ditemukan secara teoretis. Albert Einstein, salah seorang ilmuwan termasyhur abad ini, ketika mengerjakan Teori Relativitas Umum, pada mulanya menyimpulkan bahwa persamaan yang dibuatnya menunjukkan bahwa alam semesta tidak mungkin statis. Namun, dia mengubah persamaan tersebut, dengan menambahkan sebuah “konstanta” untuk menghasilkan model alam semesta yang statis, karena hal ini merupakan ide yang dominan saat itu. Di kemudian hari Einstein menyebut perbuatannya itu sebagai “kesalahan terbesar dalam kariernya”.

    Jadi, apakah pentingnya fakta pemuaian alam semesta ini terhadap keberadaan alam semesta?

    Pemuaian alam semesta secara tidak langsung menyatakan bahwa alam semesta bermula dari satu titik tunggal. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa “satu titik tunggal” yang mengandung semua materi alam semesta ini pastilah memiliki “volume nol” dan “kepadatan tak terbatas”. Alam semesta tercipta akibat meledaknya titik tunggal yang memiliki volume nol tersebut. Ledakan hebat yang menandakan awal terbentuknya alam semesta ini dinamakan Ledakan Besar (Big Bang), dan teori ini dinamai mengikuti nama ledakan tersebut.

    Harus dikatakan di sini bahwa “volume nol” adalah istilah teoretis yang bertujuan deskriptif. Ilmu pengetahuan hanya mampu mendefinisikan konsep “ketiadaan”, yang melampaui batas pemahaman manusia, dengan menyatakan titik tunggal tersebut sebagai “titik yang memiliki volume nol”. Sebenarnya, “titik yang tidak memiliki volume” ini berarti “ketiadaan”. Alam semesta muncul dari ketiadaan. Dengan kata lain, alam semesta diciptakan.

    Fakta ini, yang baru ditemukan oleh fisika modern pada akhir abad ini, telah diberitakan Al Quran empat belas abad yang lalu:

    “Dia Pencipta langit dan bumi.” (QS. Al An’am:101)

    Jika kita membandingkan pernyataan pada ayat di atas dengan teori Ledakan Besar, terlihat kesamaan yang sangat jelas. Namun, teori ini baru diperkenalkan sebagai teori ilmiah pada abad ke-20.

    Pemuaian alam semesta merupakan salah satu bukti terpenting bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan. Meskipun fakta di atas baru ditemukan pada abad ke-20, Allah telah memberitahukan kenyataan ini kepada kita dalam Al Quran 1.400 tahun yang lalu:

    “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.” (Surat Adz-Dzariyat:47)

    Pada tahun 1948, George Gamov mengemukakan gagasan lain mengenai teori Ledakan Besar. Dia menyatakan bahwa setelah terbentuknya alam semesta dari ledakan hebat, di alam semesta seharusnya terdapat surplus radiasi, yang tersisa dari ledakan tersebut. Lebih dari itu, radiasi ini seharusnya tersebar merata di seluruh alam semesta.

    Bukti “yang seharusnya ada” ini segera ditemukan. Pada tahun 1965, dua orang peneliti bernama Arno Penzias dan Robert Wilson, menemukan gelombang ini secara kebetulan. Radiasi yang disebut “radiasi latar belakang” ini tampaknya tidak memancar dari sumber tertentu, tetapi meliputi seluruh ruang angkasa. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa gelombang panas yang memancar secara seragam dari segala arah di angkasa ini merupakan sisa dari tahapan awal Ledakan Besar. Penzias dan Wilson dianugerahi Hadiah Nobel untuk temuan ini.

    020597COBE_OVPada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit Cosmic Background Explorer (COBE) ke angkasa untuk melakukan penelitian mengenai radiasi latar belakang. Pemindai sensitif pada satelit hanya membutuhkan waktu delapan menit untuk menegaskan perhitungan Penzias dan Wilson. COBE telah menemukan sisa-sisa ledakan hebat yang mengawali terbentuknya alam semesta.

    Bukti penting lain berkenaan dengan Ledakan Besar adalah jumlah hidrogen dan helium di ruang angkasa. Pada penghitungan terbaru, diketahui bahwa konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta sesuai dengan penghitungan teoretis konsentrasi hidrogen-helium yang tersisa dari Ledakan Besar. Jika alam semesta tidak memiliki awal dan jika alam semesta ada sejak adanya keabadian (waktu yang tak terhingga), seharusnya hidrogen terpakai seluruhnya dan diubah menjadi helium.

    Semua bukti kuat ini memaksa komunitas ilmiah untuk menerima teori Ledakan Besar. Model ini merupakan titik terakhir yang dicapai oleh para ahli kosmologi berkaitan dengan awal mula dan pembentukan alam semesta.

    Dennis Sciama, yang membela teori keadaan ajeg (steady-state) bersama Fred Hoyle selama bertahun-tahun, menggambarkan posisi terakhir yang mereka capai setelah terkumpulnya semua bukti tentang teori Ledakan Besar. Sciama mengatakan bahwa ia telah ambil bagian dalam perdebatan sengit antara para pembela teori keadaan ajeg dan mereka yang menguji dan berharap dapat menyangkal teori tersebut. Dia menambahkan bahwa dulu dia membela teori keadaan ajeg bukan karena menganggap teori tersebut benar, melainkan karena berharap bahwa teori itu benar. Fred Hoyle bertahan menghadapi semua keberatan terhadap teori ini, sementara bukti-bukti yang berlawanan mulai terungkap. Selanjutnya, Sciama bercerita bahwa pertama-tama ia menentang bersama Hoyle. Akan tetapi, saat bukti-bukti mulai bertumpuk, ia mengaku bahwa perdebatan tersebut telah selesai dan teori keadaan ajeg harus dihapuskan.

    Prof. George Abel dari University of California juga mengatakan bahwa sekarang telah ada bukti yang menunjukkan bahwa alam semesta bermula miliaran tahun yang lalu, yang diawali dengan Dentuman Besar. Dia mengakui bahwa dia tidak memiliki pilihan lain kecuali menerima teori Dentuman Besar.

    Dengan kemenangan teori Dentuman Besar, konsep “zat yang kekal” yang merupakan dasar filosofi materialis dibuang ke tumpukan sampah sejarah. Jadi, apakah yang ada sebelum Dentuman Besar, dan kekuatan apakah yang menjadikan alam semesta ini “ada” melalui sebuah dentuman besar, jika sebelumnya alam semesta ini “tidak ada”? Pertanyaan ini jelas menyiratkan, dalam kata-kata Arthur Eddington, adanya fakta “yang tidak menguntungkan secara filosofis” (tidak menguntungkan bagi materialis), yaitu adanya Sang Pencipta. Athony Flew, seorang filsuf ateis terkenal, berkomentar tentang hal ini sebagai berikut:

    Semua orang tahu bahwa pengakuan itu baik bagi jiwa. Oleh karena itu, saya akan memulai dengan mengaku bahwa kaum ateis Stratonician telah dipermalukan oleh konsensus kosmologi kontemporer. Tampaknya ahli kosmologi memiliki bukti-bukti ilmiah tentang hal yang menurut St. Thomas tidak dapat dibuktikan secara filosofis; yaitu bahwa alam semesta memiliki permulaan. Sepanjang alam semesta dapat dianggap tidak memiliki akhir maupun permulaan, orang tetap mudah menyatakan bahwa keberadaan alam semesta, dan segala sifatnya yang paling mendasar, harus diterima sebagai penjelasan terakhir. Meskipun saya masih percaya bahwa hal ini tetap benar, tetapi benar-benar sulit dan tidak nyaman mempertahankan posisi ini di depan cerita Dentuman Besar.

    Banyak ilmuwan, yang tidak secara buta terkondisikan menjadi ateis, telah mengakui keberadaan Yang Maha Pencipta dalam penciptaan alam semesta. Sang Pencipta pastilah Dia yang menciptakan zat dan ruang/waktu, tetapi Dia tidak bergantung pada ciptaannya. Seorang ahli astrofisika terkenal bernama Hugh Ross mengatakan:

    Jika waktu memiliki awal yang bersamaan dengan alam semesta, seperti yang dikatakan teorema-ruang, maka penyebab alam semesta pastilah suatu wujud yang bekerja dalam dimensi waktu yang benar-benar independen dari, dan telah ada sebelum, dimensi waktu kosmos. Kesimpulan ini sangat penting bagi pemahaman kita tentang siapakah Tuhan, dan siapa atau apakah yang bukan Tuhan. Hal ini mengajarkan bahwa Tuhan bukanlah alam semesta itu sendiri, dan Tuhan tidak berada di dalamnya

    Zat dan ruang/waktu diciptakan oleh Yang Maha Pencipta, yaitu Dia yang terlepas dari gagasan tersebut. Sang Pencipta adalah Allah, Dia adalah Raja di surga dan di bumi.

    Allah memberi tahu bukti-bukti ilmiah ini dalam Kitab-Nya, yang Dia turunkan kepada kita manusia empat belas abad lalu untuk menunjukkan keberadaan-Nya.

    Wallahu Alam

    ***

    Kiriman Arland

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 4 October 2015 Permalink | Balas  

    Kesempurnaan Di Alam Semesta 

    galaksi 2Kesempurnaan Di Alam Semesta

    “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.” (QS. Al Mulk: 3-4)

    Di alam semesta, miliaran bintang dan galaksi yang tak terhitung jumlahnya bergerak dalam orbit yang terpisah. Meskipun demikian, semuanya berada dalam keserasian. Bintang, planet, dan bulan beredar pada sumbunya masing-masing dan dalam sistem yang ditempatinya masing-masing. Terkadang galaksi yang terdiri atas 200-300 miliar bintang bergerak melalui satu sama lain. Selama masa peralihan dalam beberapa contoh yang sangat terkenal yang diamati oleh para astronom, tidak terjadi tabrakan yang menyebabkan kekacauan pada keteraturan alam semesta.

    Di seluruh alam semesta, besarnya kecepatan benda-benda langit ini sangat sulit dipahami bila dibandingkan dengan standar bumi. Jarak di ruang angkasa sangatlah besar bila bandingkan dengan pengukuran yang dilakukan di bumi. Dengan ukuran raksasa yang hanya mampu digambarkan dalam angka saja oleh ahli matematika, bintang dan planet yang bermassa miliaran atau triliunan ton, galaksi, dan gugus galaksi bergerak di ruang angkasa dengan kecepatan yang sangat tinggi.

    rotasi-bumiMisalnya, bumi berotasi pada sumbunya dengan kecepatan rata-rata 1.670 km/jam. Dengan mengingat bahwa peluru tercepat memiliki kecepatan rata-rata 1.800 km/jam, jelas bahwa bumi bergerak sangat cepat meskipun ukurannya sangat besar.

    Kecepatan orbital bumi mengitari matahari kurang-lebih enam kali lebih cepat dari peluru, yakni 108.000 km/jam. (Andaikan kita mampu membuat kendaraan yang dapat bergerak secepat ini, kendaraan ini dapat mengitari bumi dalam waktu 22 menit.)

    Namun, angka-angka ini baru mengenai bumi saja. Tata surya bahkan lebih menakjubkan lagi. Kecepatan tata surya mencapai tingkat di luar batas logika manusia. Di alam semesta, meningkatnya ukuran suatu tata surya diikuti oleh meningkatnya kecepatan. Tata surya beredar mengitari pusat galaksi dengan kecepatan 720.000 km/jam. Kecepatan Bima Sakti sendiri, yang terdiri atas 200 miliar bintang, adalah 950.000 km/jam di ruang angkasa.

    Kecepatan yang luar biasa ini menunjukkan bahwa hidup kita berada di ujung tanduk. Biasanya, pada suatu sistem yang sangat rumit, kecelakaan besar sangat sering terjadi. Namun, seperti diungkapkan Allah dalam ayat di atas, sistem ini tidak memiliki “cacat” atau “tidak seimbang”. Alam semesta, seperti juga segala sesuatu yang ada di dalamnya, tidak dibiarkan “sendiri” dan sistem ini bekerja sesuai dengan keseimbangan yang telah ditentukan Allah.

    “Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya.” (QS. AlAn’am: 101-104)

    193097_sistem-tata-surya_663_382Orbit Dan Alam Semesta Yang Berotasi

    Salah satu sebab utama yang menghasilkan keseimbangan di alam semesta, tidak diragukan lagi, adalah beredarnya benda-benda angkasa sesuai dengan orbit atau lintasan tertentu. Walaupun baru diketahui akhir-akhir ini, orbit ini telah ada di dalam Al Quran:

    “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS. Al Anbiya:33)

    Bintang, planet, dan bulan berputar pada sumbunya dan dalam sistemnya, dan alam semesta yang lebih besar bekerja secara teratur seperti pada roda gigi suatu mesin. Tata surya dan galaksi kita juga bergerak mengitari pusatnya masing-masing. Setiap tahun bumi dan tata surya bergerak 500 juta kilometer menjauhi posisi sebelumnya. Setelah dihitung, diketahui bahwa bila suatu benda langit menyimpang sedikit saja dari orbitnya, hal ini akan menyebabkan hancurnya sistem tersebut. Misalnya, marilah kita lihat apa yang akan terjadi bila orbit bumi menyimpang 3 mm lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya.

    “Selagi berotasi mengitari matahari, bumi mengikuti orbit yang berdeviasi sebesar 2,8 mm dari lintasannya yang benar setiap 29 km. Orbit yang diikuti bumi tidak pernah berubah karena penyimpangan sebesar 3 mm akan menyebabkan kehancuran yang hebat. Andaikan penyimpangan orbit adalah 2,5 mm, dan bukan 2,8 mm, orbit bumi akan menjadi sangat luas dan kita semua akan membeku. Andaikan penyimpangan orbit adalah 3,1 mm, kita akan hangus dan mati.” (Bilim ve Teknik, Juli 1983)

    matahariMatahari

    Berjarak 150 juta km dari bumi, matahari menyediakan energi yang kita butuhkan secara terus-menerus.

    Pada benda angkasa yang berenergi sangat besar ini, atom hidrogen terus-menerus berubah menjadi helium. Setiap detik 616 miliar ton hidrogen berubah menjadi 612 miliar ton helium. Selama sedetik itu, energi yang dihasilkan sebanding dengan ledakan 500 juta bom atom.

    Kehidupan di bumi dimungkinkan oleh adanya energi dari matahari. Keseimbangan di bumi yang tetap dan 99% energi yang dibutuhkan untuk kehidupan disediakan oleh matahari. Separo energi ini kasatmata dan berbentuk cahaya, sedangkan sisanya berbentuk sinar ultraviolet, yang tidak kasatmata, dan berbentuk panas.

    Sifat lain dari matahari adalah memuai secara berkala seperti lonceng. Hal ini berulang setiap lima menit dan permukaan matahari bergerak mendekat dan menjauh 3 km dari bumi dengan kecepatan 1.080 km/jam.

    Matahari hanyalah salah satu dari 200 juta bintang dalam Bimasakti. Meskipun 325.599 kali lebih besar dari bumi, matahari merupakan salah satu bintang kecil yang terdapat di alam semesta. Matahari berjarak 30.000 tahun cahaya dari pusat Bimasakti, yang berdiameter 125.000 tahun cahaya. (1 tahun cahaya = 9.460.800.000.000 km.)

    solar apexPerjalanan Matahari

    “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yasin:38)

    Berdasarkan perhitungan para astronom, akibat aktivitas galaksi kita, matahari berjalan dengan kecepatan 720.000 km/jam menuju Solar Apex, suatu tempat pada bidang angkasa yang dekat dengan bintang Vega. (Ini berarti matahari bergerak sejauh kira-kira 720.000×24 = 17.280.000 km dalam sehari, begitu pula bumi yang bergantung padanya.)

    imagesLangit Tujuh Lapis

    “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.” (QS. Ath-Thalaq:12)

    Dalam Al Quran Allah menyebutkan tujuh surga atau langit. Ketika ditelaah, atmosfer bumi ternyata terbentuk dari tujuh lapisan. Di atmosfer terdapat suatu bidang yang memisahkan lapisan dengan lapisan. Berdasarkan Encyclopedia Americana (9/188), lapisan-lapisan yang berikut ini bertumpukan, bergantung pada suhu.

    Lapisan pertama TROPOSFER: Lapisan ini mencapai ketebalan 8 km di kutub dan 17 km di khatulistiwa, dan mengandung sejumlah besar awan. Setiap kilometer suhu turun sebesar 6,5 C, bergantung pada ketinggian. Pada salah satu bagian yang disebut tropopause, yang dilintasi arus udara yang bergerak cepat, suhu tetap konstan pada -57 C.

    Lapisan kedua STRATOSFER: Lapisan ini mencapai ketinggian 50 km. Di sini sinar ultraviolet diserap, sehingga panas dilepaskan dan suhu mencapai 0 C. Selama penyerapan ini, dibentuklah lapisan ozon yang penting bagi kehidupan.

    Lapisan ketiga MESOSFER: Lapisan ini mencapai ketinggian 85 km. Di sini suhu turun hingga -100 C.

    Lapisan keempat TERMOSFER: Peningkatan suhu berlangsung lebih lambat

    Lapisan kelima IONOSFER: Gas pada lapisan ini berbentuk ion. Komunikasi di bumi menjadi mungkin karena gelombang radio dipantulkan kembali oleh ionosfer.

    Lapisan keenam EKSOSFER: Karena berada di antara 500 dan 1000 km, karakteristik lapisan ini berubah sesuai aktivitas matahari.

    Lapisan ketujuh MAGNETOSFER: Di sinilah letak medan magnet bumi. Penampilannya seperti suatu bidang besar yang kosong. Partikel subatom yang bermuatan energi tertahan pada suatu daerah yang disebut sabuk radiasi Van Allen.

    Gunung Mencegah Gempa Bumi

    “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang.” (QS. Luqman:10)

    “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An-Naba:7)

    Informasi yang diperoleh melalui penelitian geologi tentang gunung sangatlah sesuai dengan ayat Al Quran. Salah satu sifat gunung yang paling signifikan adalah kemunculannya pada titik pertemuan lempengan-lempengan bumi, yang saling menekan saat saling mendekat, dan gunung ini “mengikat” lempengan-lempengan tersebut. Dengan sifat tersebut, pegunungan dapat disamakan seperti paku yang menyatukan kayu.

    Selain itu, tekanan pegunungan pada kerak bumi ternyata mencegah pengaruh aktivitas magma di pusat bumi agar tidak mencapai permukaan bumi, sehingga mencegah magma menghancurkan kerak bumi.

    batas-laut-tawar-dan-asinAir Laut Tidak Saling Bercampur

    “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS. Ar-Rahman:19-20)

    Pada ayat di atas ditekankan bahwa dua badan air bertemu, tetapi tidak saling bercampur akibat adanya batas. Bagaimana ini dapat terjadi? Biasanya, bila air dari dua lautan bertemu, diduga airnya akan saling bercampur dengan suhu dan konsentrasi garam cenderung seimbang. Namun, kenyataan yang terjadi berbeda dengan yang diperkirakan. Misalnya, meskipun Laut Tengah dan Samudra Atlantik, serta Laut Merah dan Samudra Hindia secara fisik saling bertemu, airnya tidak saling bercampur. Ini karena di antara keduanya terdapat batas. Batas ini adalah gaya yang disebut “tegangan permukaan”.

    Dua Kode Dalam Besi

    Besi adalah satu dari empat unsur yang paling berlimpah di bumi. Selama berabad-abad besi merupakan salah satu logam terpenting bagi umat manusia. Ayat yang berkenaan dengan besi adalah sebagai berikut:

    Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia.” (QS. Al Hadid:25)

    Ayat ini melibatkan dua kode matematika yang sangat menarik.

    “Al Hadid” (besi) adalah surat ke-57 di dalam Al Quran. Nilai numerik (dalam sistem “Abjad” Arab, setiap huruf memiliki nilai numerik) huruf-huruf dari kata “Al Hadid” jumlahnya sama dengan 57, yakni nomor massa besi.

    Nilai numerik (Abjad) dari kata “Hadid” (besi) sendiri, tanpa penambahan “al”, jumlahnya 26, yakni nomor atom besi.

    ***

    Wallahualam

    Kiriman Arland

     
    • ayuNisa 6:40 pm on 4 Oktober 2015 Permalink

      subhanallah … amat kecil manusia dalam hamparan ciptaan2Nya.

  • erva kurniawan 6:47 pm on 3 October 2015 Permalink | Balas  

    Hartamu Tidak Menambah Umurmu Sedetik Pun 

    sedekah 1Hartamu Tidak Menambah Umurmu Sedetik Pun

    Kapan terbetik dalam hatimu bahwa hartamu akan menambah umurmu, maka sungguh engkau seperti yang disebutkan oleh Allah ttg orang yang terus mengumpulkan harta dan pelit karena menyangka hartanya akan menambah usianya.

    Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu kami dapat mengkekalkannya.  (QS. Al-Humazah : 2-3)

    Justru sikap pelitlah yang merusak umur dan menghilangkan keberkahannya, sebaliknya perbuatan baik terlebih lagi bersedekah bagi kerabat dan fakir miskin serta anak-anak yatim yang akan menambah umurnya.

    Ingatlah engkau dilahirkan dalam kondisi tidak membawa sepeser pun harta, maka demikian pula tatkala kau dibangkitkan tidak membawa sepeser pun harta yang selama ini engkau kumpulkan siang dan malam tanpa mengenal lelah

    Namun jika hartamu kau sedekahkan di Jalan Allah, maka amal sedekahmu akan menemanimu di alam kubur dan pada hari kiamat kelak.

    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Setiap orang dibawah naungan sedekahnya hingga diputuskan hukum diantara manusia”. (HR Ahmad dan Hakim dan dishahihkan oleh Al-Albani)

    Kenapa seorang mayit memilih “bersedekah” jika bisa kembali hidup ke dunia…?

    Sebagaimana firman Allah:

    “Wahai Rabbku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah” {QS. Al Munafiqun:10}

    Kenapa dia tidak mengatakan :

    “Maka aku dapat melaksanakan umroh”

    “Maka aku dapat melakukan sholat atau puasa” dll?

    Berkata para ulama : Tidaklah seorang mayit menyebutkan “sedekah” kecuali karena dia melihat besarnya pahala dan imbas baiknya setelah dia meninggal.

    Maka, perbanyaklah bersedekah, karena seorang mukmin akan berada dibawah naungan sedekahnnya.

    Oleh : Syeikh Maher al-Mueaqly hafidzahullah

    [Imam Masjidil Haram, Mekah al-Mukarramah]

     
  • erva kurniawan 2:30 am on 26 September 2015 Permalink | Balas  

    Presiden Wanita dalam Pandangan Islam 

    pemimpin1Presiden Wanita dalam Pandangan Islam

    Fatwa dr Pusat Konsultasi Syariah

    Allah SWT. berfirman:

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengatahui”(QS Al Hujuraat 1).

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS An-Nisaa’ 59)

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS: Al Maa’idah 105).

    Dengan mengikuti landasan-landasan diatas maka kita harus merujuk pada Alqur’an dan Sunnah dalam setiap pembahasan termasuk pembahasan tentang kepemimpinan wanita. Kita tidak boleh mendahului Allah dan Rasul-Nya hanya karena mengikuti pendapat ulama atau hanya untuk menyenangkan orang lain.

    Para ulama dan fuqaha dari semua madzhab Islam baik salaf (klasik) maupun khalaf (kontemporer) telah menyepakati bahwa; TIDAK SAH DAN HARAM WANITA MENJADI KEPALA NEGARA Apabila hukum ini dilanggar, maka akan menjadi salah satu sebab kehancuran bangsa dan negara.

    Ijma’ (konsensus) para ulama tersebut di atas, di dasarkan pada beberapa dalil dan alasan berikut ini:

    1. Hadits Rasulullah saw: Artinya: “Tidak akan berjaya selama-lamanya suatu kaum yang mengangkat wanita / perempuan menjadi kepala negara”.

    (Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam shahihnya, Fathul Baari; kitab al-Fitan 13/ 53, kitab al-Maghazi 8/126, At-Tirmidzi dalam Sunannya, Tuhfatul Ahwadzi; bab al-Fitan 6/541-542, An-Nasa’i dalam Sunannya, bab larangan menempatkan wanita dalam pemerintahan, 8/227 dan Ahmad dalam musnadnya, Fathur Rabbani 19/206-207 dan 23/35).

    Sebab disabdakan hadits ini; ketika Rasulullah saw mendengar tentang pengangkatan putri raja Persia (Kisra) yang bernama Buran sebagai pengganti ayahandanya yang telah mangkat. Istimbath (pengambilan hukum) dari hadits ini berdasarkan kaidah ushul : Artinya: “Kesimpulan hukum diambil dari keumuman lafadz, bukan dari kekhususan sebab”.

    Para ulama dan fuqaha semua madzhab, baik salaf maupun khalaf sepakat memahami hadits tersebut sebagai larangan keras mengangkat wanita menjadi kepala negara. Mereka semua sepakat bahwa salah satu syarat kepala negara adalah laki-laki.

    1. Ijma’ (Kesepakatan) tersebut di atas dapat dirujuk kepada berbagai referensi (Tafsir, Hadits, Fiqh, Usul Fiqh dan Siasah Syar’iyah) diantaranya:
    2. Madzhab Hanafi: – Syarh Fathul Qadiir oleh Ibnu Hammam, 7/297-298.
    3. Madzhab Maliki: – Bulghatus Salik liaqrabil Masaalik oleh Ahmad bin Muhammad As-Shaawi, 3/261. – Tafsir al-Qhurthubi, 7/ 171
    4. Madzhab Syafi’i: -Takmilah Al-Majmu’ syarhul Muhadzaab Imam Syairaazi oleh Muhammad Najiib al-Muthi’i, 19/114 -Nihayatul Muhtaaj ilaa Syarhil Minhaaj oleh Imam ar-Ramli, 7/ 389 -Al- Ahkaam as-Sulthaniyah oleh Al-Mawardi hal 27. -Fadha’ih al- Bathiniyah oleh Imam al-Ghazali hal, 180. -Al-Mawaqif wa Syarhuha oleh al-Iji dan al-Jurjani, 8/350. -Al-Irsyaad oleh al-Juwaini , hal. 246-247 -Tafsir Ibnu Kastsir, 1/76.
    5. Madzhab Hambali: -Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah, 11/180. e. Madzhab Dhahiri: -Al- Fashlu fi al-Milal wa al- Ahwa’ wa an-Nihal oleh Ibnu Hazm, 4/166.
    6. Fiqh Kontemporer: – Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, oleh Dr. Wahbah az-Zuhaili , 6/ 693. – Min Fiqhi ad-Daulah, oleh Yusuf al-Qardhawi, hal 165.
    7. Jabatan kepala negara dalam wacana hukum Islam termasuk walayah kamilah (kepemimpinan penuh), atau walayah ‘aamah (kepemimpinan umum) yang meliputi walayah diniyah (kepemimpinan agama) dan walayah harbiyah (kepemimpinan militer).

    Di Indonesia kepala negara otomatis menjadi Pangti ABRI. Maka kedua wilayah (kepemimpinan) ini tidak dapat sepenuhnya diemban oleh wanita, sesuai dengan kodrat dan fitrahnya.

    1. Allah swt tidak pernah mengangkat wanita menjadi Nabi atau Rasul, ini tidak lain diantaranya karena kenabian dan kerasulan itu meliputi walayah diniyah dan walayah harbiyah sehingga tidak dapat sepenuhnya diamanatkan kepada wanita.
    2. Praktek dan aplikasi sejarah semenjak Khilafah Islamiyah di masa Abu Bakar ash-Shiddiq hingga Khilafah Islamiyah di Turki.

    Tak seorangpun diantara para pemegang kepemimpinan umum tersebut dari kalangan wanita sekalipun pada masa tersebut banyak tokoh wanita yang memiliki keahlian dalam berbagai bidang kehidupan. Fenomena historis ini membuktikan adanya ijma’ amali (konsensus implementatif) yang membenarkan pendapat para ulama dan fuqaha tersebut di atas.

    Masalah ini bukanlah masalah khilafiyah tetapi sudah disepakati oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Memang ada pendapat lain yang nyleneh dari satu firqoh Al-Khawarij tapi pendapat ini tidak dianggap sebagai suatu pendapat yang membatalkan ijma diatas. Begitu juga yang menentang ijma ini adalah kelompok Feminisme yang muncul dari dunia Barat yang sengaja akan menghancurkan Islam dan umat Islam terutama dari kalangan muslimah.

    Demikianlah jawaban dan tadzkirah ini kami tujukan kepada umat Islam agar tidak ikut mempercepat kehancuran bangsa dan negara yang kini tengah menghadapi berbagai krisis. Allah SWT. berfirman: Artinya: “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfa’at bagi orang-orang yang beriman”.(QS. Adz Dzaariyaat :55)

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 24 September 2015 Permalink | Balas  

    Berkorban 

    kambing-kurban-300x225Berkorban

    Oleh: KH A. Mustofa Bisri

    Allahu akbar!

    Bayangkan Anda sudah lama sekali kepingin mempunyai anak; kemudian setelah hampir putus asa, Allah menganugerahi Anda seorang anak yang luar biasa cantik. Anak itu kemudian tumbuh sebagai anak yang baik dan pintar. Kemudian setelah menginjak remaja, tiba-tiba anak Anda itu meninggal. Bagaimana kira-kira perasaan anda?

    Allahu Akbar!

    Nabi Ibrahim -‘alaihis salaam- seperti diketahui, sudah lama ingin mempunyai anak dan baru ketika sudah sangat tua Allah menganugerahi seorang anak yang rupawan dan pintar, nabi Ismail -alaihis salaam. Dan cerita selanjutnya Anda sudah tahu. Nabi Ismail a.s. tidak ‘hanya’ meninggal, tapi sang ayah sendiri diminta untuk menyembelihnya. Anda pasti tidak bisa membayangkannya. Bagaimana seorang ayah yang sudah lama mendambakan anak, ketika dambaan itu akhirnya terwujud dan si anak sudah ketok moto (di depan mata, red), disuruh menyembelih.

    Bagi kacamata kita, terutama di zaman akhir ini, hal itu tentu sangat musykil. Antara lain karena kita sudah terbiasa dengan sikap kemilikan, suka memiliki. Jangankan yang milik kita sendiri, milik orang lain pun sering kali kita ingin miliki atau kalau bisa kita rampas untuk kita sayang-sayang. Dan adakah hak milik yang lebih berharga dan lebih kita sayangi melebihi anak, belahan hati?

    Tapi, Allahu Akbar! Nabi Ibrahim a.s. yang dijuluki KhalilulLah itu sama sekali tidak merasa musykil. Karena bagi sang kekasih Allah itu, gerak-gerik lahir maupun batinnya berawal dari Kekasih Agungnya, Allah SWT. Ialah yang pertama dan paling utama (Bandingkan dengan kebanyakan kita yang memposisikan Allah di paling belakang. Biasanya setelah kepepet!). Maka bukan Ismail belahan hatinya, bukan kenangan pendambaan dan kebahagiaannya bersama puteranya itu, bukan perintah menyembelihnya, bukan bayangan kehilangan sesudahnya, dan bukan sesuatu apapun yang lain; yang pertama-tama tersirat saat diperintah -seperti setiap saat- adalah Sang Kekasih yang memerintah. Allahu Akbar!

    Barangkali yang tersisa dari rasa sayang manusiawinya hanyalah yang menampak dari pemberitahuannya kepada sang putera, “Ya bunayya, innie aaraa fil manaami anni adzbahuka, fandhur madzaa taraa?!”, “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam tidurku, aku menyembelihmu; maka pertimbangkanlah, apa pendapatmu?” Dan, Bak Bapak Bak Anak, Kacang ora tinggal lanjarane, jawaban Nabi Ismail a.s. pun menunjukkan kualitasnya sebagai hamba Allah yang titik pandang dan pertimbangannya bermula dari-Nya, “Ya abati if’al maa tu’mar, satajidunie insya Allahu minash-shaabirien.”, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; engkau akan mendapatiku insya Allah termasuk orang-orang yang tabah.”

    Allahu Akbar!

    Dua pengorbanan agung dari dua hamba Allah yang begitu total kepasrahannya. Demi Tuhan mereka, yang satu mengikhlaskan miliknya yang paling disayang: anaknya; yang lain mengikhlaskan nyawanya sendiri. Maka adalah nyata apa yang mereka nyatakan, “Inna shalaatie wa nusukie wa mahyaaya wa mamaati lillahi Rabbil ‘aalamien. Laa syarieka lahu wabidzaalika umirtu wa ana awwalul muslimien.”, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah milik Allah Tuhan semesta alam, tak ada yang ikut memiliki bersamanya; dan dengan yang demikian itulah aku diperintah dan akulah yang pertama-tama menyerahkan diri kepadaNya.”

    Allahu Akbar!

    Alangkah jauhnya teladan itu dari kita. Sekedar mengorbankan sedikit saja dari apa yang kita anggap milik kita, rasanya berat bagi kita. Apalagi menyadari bahwa semua yang ada pada kita pada hakikatnya milik Allah semata. Kita memerlukan berbagai kiat dan rekayasa dalam memotivasi diri kita untuk sekedar merelakan sebagian kecil ‘milik’ kita. Untuk membeli seekor kambing saja, kadang-kadang kita harus menghitung-hitung dan mempertimbangkan dari berbagai sudut, dari segi untung-rugi, dsb. Seringkali setelah pertimbangan yang njelimet, akhirnya kita tidak jadi membeli kambing. Kalau pun akhirnya jadi membeli untuk kurban demi Allah, kita pun memasang harapan pahala berlipat-ganda.

    Itu tidak hanya yang berkaitan dengan harta ‘milik’ kita yang bersifat materi. Di luar itu, ada yang lebih tidak tersadari oleh kebanyakan kita. Acap kali untuk memenuhi perintah Allah, kita begitu bakhil berkorban. Misalnya untuk memenuhi perintah persaudaraan, kita enggan mengorbankan sedikit penghormatan kepada sikap orang lain atau sekedar mendengarkan pendapatnya. Semua orang Islam yang naik haji, sudah pasti mendambakan ibadah hajinya mabrur. Ironinya, karena keinginan yang begitu besar mendapatkan haji mabrur, banyak yang enggan berkorban bagi kepentingan mulia lain yang juga diperintahkan Allah atau bagi menjauhi larangan-Nya. Tengoklah mereka yang bertengkar (dilarang Quran dengan firman, “wa laa jidaala”) berebut shaf salat atau tempat-tempat mustajab. Atau yang lebih parah lagi, tengoklah mereka yang ‘mati-matian’ berusaha mencium Hajar Aswad itu. Tak ada satu pun di antara mereka yang rela berkorban untuk saudaranya sesama muslim, bahkan perilaku mereka yang menyikut kesana-kemari itu, mengesankan seolah-olah mereka sedang melakukan ‘jihad fi sabilillah’ dan menganggap saudara-saudara mereka yang lain adalah musuh-musuh mereka.

    Orang yang terlalu menyintai apa yang dianggap miliknya -termasuk dirinya, pendapat, dan pendiriannya sendiri- sangat sukar dibayangkan dapat membuktikan cintanya kepada Allah melalui pengorbanan yang tulus. Maka sikap yang terbaik -tentu saja- seperti yang diajarkan Pemimpin Agung kita nabi Muhammad SAW, ialah sikap tawassuth, sederhana, sak madiyo, tengah-tengah dalam segala hal; termasuk dalam menyintai dan membenci. Dengan demikian kita akan dapat memurnikan pemujaan kita kepada-Nya sendiri dan ringan berkorban untuk-Nya. Allahu Akbar! Wallahu a’lam. (*)

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 23 September 2015 Permalink | Balas  

    Tuntunan Iedul Qurban 

    hewan-kurbanTuntunan Iedul Qurban

    Oleh : Azhari bin Muhammad Asri

    http://www.perpustakaan-islam.com

    Iedul Qurban adalah salah satu hari raya di antara dua hari raya kaum muslimin, dan merupakan rahmat Allah Subhanahu wa taala bagi ummat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Hal ini diterangkan dalam hadits Anas radiyallahu anhu, beliau berkata: Nabi shallallhu alaihi wa sallam datang, sedangkan penduduk Madinah di masa jahiliyyah memiliki dua hari raya yang mereka bersuka ria padanya (tahun baru dan hari pemuda (aunul mabud), maka (beliau) bersabda:

    “Aku datang kepada kalian, sedangkan kalian memiliki dua hari raya yang kalian bersuka ria padanya di masa jahiliyyah, kemudian Allah menggantikan untuk kalian du a hari raya yang lebih baik dari keduanya; hari Iedul Qurban dan hari Iedul Fitri.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan Al-Baghawi, shahih, lihat Ahkamul Iedain hal. 8).

    Selain itu, pada Hari Raya Qurban terdapat ibadah yang besar pahalanya di sisi Allah, yaitu shalat Ied dan menyembelih hewan kurban. Insyallah pada kesempatan kali ini kami akan menjelaskan beberapa hukum-hukum yang berkaitan dengan Iedul Qurban, agar kita bisa melaksanakan ibadah besar ini dengan disertai ilmu.

    1. Hukum Menyembelih kurban

    Para Ulama berselisih pendapat tentang hukumnya. Sedangkan menurut pendapat yang kuat hukumnya adalah wajib bagi yang memiliki kemampuan (Ahkamul Iedain hal. 26). Di antara hadits yang dijadikan dalil bagi ulama yang mewajibkan adalah:

    “Dari Abi Hurairah radliyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Barang siapa memiliki kelapangan (kemampuan) kemudian tidak berqurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat Ied kami.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah,Ad-Daruqutni, Al-Hakim, sanadnya hasan, lihat Ahkamul Iedain hal. 26).

    Dari hadits di atas diterangkan bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam melarang untuk mendekati tempat shalat Ied bagi orang yang memiliki kemampuan akan tetapi tidak berqurban. Hal itu menunjukkan bahwasanya dia telah meninggalkan suatu kewajiban yang seakan-akan tidak ada manfaatnya, bertaqarrub kepada Allah dengan dia meninggalkan kewajiban itu (Subulus Salam 4/169).

    1. Waktu Menyembelih

    Hewan kurban disembelih setelah selesai shalat Ied. Dalilnya:

    Dari Barra bin Azib radiallahuanhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya perkara yang pertama kita mulai pada hari ini adalah kita shalat kemudian menyembelih. Maka barang siapa yang melakukan hal itu, dia telah mendapatkan sunnah kami. Dan barang siapa yang telah menyembelih (sebelum shalat pent), maka sesungguhnya sembelihan itu adalah daging yang diperuntukkan bagi keluarganya, bukan termasuk hewan kurban sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1961).

    Diperbolehkan untuk mengakhirkan penyembelihan, yaitu menyembelih pada hari kedua dan ketiga setelah hari Ied. Sebagaimana diterangkan dalam hadits:

    “Dari Nabi shallallahu alai wa sallam bahwasanya beliau bersabda: setiap hari tasyriq ada sembelihan.” (HR. Ahmad 4/8 dari Jubair bin Muthim radiallahu anhu, dan dihasankan oleh Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid dalam Ahkamul iedain).

    Berkata Ibnul Qayyim: “(Kebolehan menyembelih di hari-hari tasyriq) adalah pendapat: Imam Ahmad, Malik, Abu Hanifah rahimahumullah .”

    Imam Ahmad berkata: “Ini adalah pendapat lebih dari satu shahabat Muhammad shallallahu alai wa sallam, dan Al-Atsram menyebutkan diantaranya: Ibnu Umar, Ibnu Abas radiallahu anhum.” (Zadul Maad 2/319).

    1. Tempat Menyembelih

    Dalam rangka menampakkan syiar Islam dan kaum muslimin,disunnahkan menyembelih di lapangan tempat shalat Ied. Dalilnya:

    “Dari Ibnu Umar radliyallahu anhu dari Nabi shallallahu `alaihi wa sallam : bahwasanya beliau menyembelih (kibas dan unta) dilapangan Ied.” (HR. Bukhari no. 5552 dengan Fathul Bari).

    1. Larangan Memotong Rambut dan Kuku

    Barang siapa hendak berqurban, tidak diperbolehkan bagi dia memotong rambut dan kukunya sedikitpun, setelah masuk tanggal 1 Dzulhijjah hingga shalat Ied. Dalilnya:

    “Dari Ummu Salamah, bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian hendak menyembelih, maka hendaknya dia menahan (yakni tidak memotong, pent) rambut dan kukunya.” (HR. Muslim No. 1977).

    Imam Nawawi berkata: “Maksud larangan tersebut adalah dilarang memotong kuku dengan gunting dan semacamnya, memotong ram¨but; baik gundul, memendekkan rambut,mencabutnya, membakarnya atau selain itu. Dan termasuk dalam hal ini, memotong bulu ketiak, kumis, kemaluan dan bulu lainnya yang ada di badan (Syarah Muslim 13/138).”

    Berkata Ibnu Qudamah: “Siapa yang melanggar larangan tersebut hendaknya minta ampun kepada Allah dan tidak ada fidyah (tebusan) baginya, baik dilakukan sengaja atau lupa (Al-Mughni11/96).”

    Dari keterangan di atas maka larangan tersebut menunjukkan haram. Demikian pendapat Said bin Musayyib, Rabiah, Ahmad, Ishaq, Daud dan sebagian Madzhab Syafiiyah. Dan hal itu dikuatkan oleh Imam Asy-Syaukani dalam Nailul Authar juz 5 hal. 112 dan Syaikh Ali hasan dalam Ahkamul iedain hal. 74).

    1. Jenis Sembelihan

    “Dari Jabir, berkata: Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallambersabda: Janganlah kalian menyembelih kecuali musinnah, akan tetapi jika kalian merasa berat hendaklah menyembelih Al-Jazaah(HR. Muslim 6/72 dan Abu Daud 2797).

    Syaikh Al-Albani menerangkan:

    • Musinnah yaitu jenis unta, sapi dan kambing atau kibas. Umur kambing adalah ketika masuk tahun ketiga, sedangkan unta, masuk tahun keenam.
    • Al-jazaah yaitu kambing atau kibas yang berumur setahun pas menurut pendapat jumhur ulama (Silsilah Ad-Dlaifah 1/160).

    Dan yang terbaik dari jenis sembelihan tadi adalah kibas jantan bertanduk bagus, warna putih bercampur hitam di sekitar mata dan kakinya. Yang demikian karena termasuk sifat-sifat yang disunnahkan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam dan beliau menyembelih hewan yang memiliki sifat tersebut.

    “Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah sallalahu alaihi wa sallam memerintahkan menyembelih kibas yang bertanduk baik, dan sekitar kaki, perut dan matanya berwarna hitam. Kemudian didatangkan kepada beliau, lalu disembelih.” (HR. Abu Daud, dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahih Abu Daud no. 2423).

    1. Hewan kurban Tidak Cacat

    Termasuk tuntunan Nabi shallalahu alaihi wa sallam yaitu memilih hewan yang selamat dari cacat dan memilih yang terbaik. Beliau melarang menyembelih hewan yang terputus telinganya, terpecah tanduknya, matanya pece, terputus bagian depan atau belakang telinganya, terbelah atau terkoyak telinganya. Adapun kibas yang dikebiri boleh untuk disembelih. (Ahkamul Iedain hal. 75)

    1. Boleh Berserikat

    Satu ekor hewan kurban boleh diniatkan pahalanya untuk dirinya dan keluarganya meskipun dalam jumlah yang banyak.

    Dalilnya:”Berkata Atha bin Yasar: Aku bertanya kepada Abu Ayyub Al-Anshari, bagaimana sifat sembelihan di masa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam , beliau menjawab: jika seseorang berkurban seekor kambing, maka untuk dia dan keluarganya. Kemudian mereka makan dan memberi makan dari kurban tersebut.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Malik, Al-Baihaqi dan sanadnya hasan, lihat Ahkamul Iedain hal. 76).

    “Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan kemudian tiba hari Ied. Maka kami berserikat tujuh orang pada seekor sapi dan sepuluh orang pada seekor unta.” (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 1213).

    1. Cara Menyembelih

    Menyembelih dengan pisau yang tajam, mengucapkan bismillah wallahu akbar, membaringkan sembelihan pada sisi kirinya karena yang demikian mudah bagi si penyembelih memegang pisau dengan tangan kanannya, dan menahan lehernya dengan tangan kiri. Dalil¨nya:

    “Dari Anas bin Malik, dia berkata: Bahwasanya Nabi shallallahu `alaihi wa sallam menyembelih dua ekor kibasnya yang bagus dan bertanduk. Beliau mengucapkan basmallah dan takbir dan meletakkan kakinya di samping lehernya.”(HR. Bukhari, Muslim dan lainnya).

    Dan disunnahkan bagi yang berkorban, memotong sendiri sembelihannya atau mewakilkan kepada orang lain (Ahkamul Iedain hal. 77).

    10. Membagikan Daging kurban

    Bagi yang menyembelih disunnahkan makan daging qurbannya, menghadiahkan karib kerabatnya, bershadaqah pada fakir miskin, dan menyimpannya untuk perbekalan lebih dari 3 hari. Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

    “Makanlah, simpanlah untuk perbekalan dan bershadaqahlah.”(HR.Bukhari Muslim).

    Daging sembelihan, kulitnya, rambutnya dan yang bermanfaat dari kurban tersebut tidak boleh diperjualbelikan menurut pendapat jumhur ulama, dan seorang tukang sembelih tidak mendapatkan daging kurban. Tetapi yang dia dapatkan hanyalah upah dari yang berkurban. Dalilnya:

    “Dari Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhuma, dia berkata:

    Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memerintahkan aku untuk menyembelih hewan kurbannya dan membagi-bagi dagingnya, kulitnya, dan alat-alat untuk melindungi tubuhnya, dan tidak memberi tukang potong sedikitpun dari kurban tersebut.” (HR. Bukhari Muslim).

    11. Bagi Yang Tidak Berkurban

    Kaum muslimin yang tidak mampu untuk berkorban, mereka akan mendapatkan pahala seperti halnya orang yang berkorban dari umat Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam. Hal ini diterangkan dalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

    “Bismillah Wallahu Akbar, ini (kurban) dariku dan dari umatku yang tidak menyembelih.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud no. 2436). Wallahu taala alam. Dikutip dari Majalah SALAFY

    ***

    Kontributor: Puji Hartono, 02 Desember 2001

     
  • erva kurniawan 2:16 am on 22 September 2015 Permalink | Balas  

    Luasnya Neraka Jahanam 

    taubat2Luasnya Neraka Jahanam

    Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata :

    Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad SAW pada waktu yang ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka ditanya oleh Nabi SAW : “Mengapa aku melihat kau berubah muka?”

    Jawabnya: “Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yang mengetahui bahwa Neraka Jahanam itu benar, dan siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka – suka sebelum ia merasa aman daripadanya.”

    Lalu Nabi SAW bersabda: “Ya Jibril, jelaskan padaku sifat Jahanam.”

    Jawabnya: “Ya. Ketika Allah menjadikan Jahanam, maka dinyalakan selama seribu tahun, sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. ”

    Demi Allah yang mengutus engkau dengan hak, andaikan terbuka sebesar lubang jarum niscaya akan dapat membakar penduduk dunia semuanya karena panasnya.

    Demi Allah yang mengutus engkau dengan hak, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi niscaya akan mati penduduk bumi karena panas dan dahsyatnya.

    Demi Allah yang mengutus engkau dengan hak, andaikan satu pergelangan dari rantai yang disebut dalam Al-Qur’an itu diletakkan di atas bukit, niscaya akan cair sampai ke bawah bumi yang ke tujuh.

    Demi Allah yang mengutus engkau dengan hak, andaikan seorang diujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang – orang yang diujung timur karena sangat panasnya.

    Neraka Jahanam itu sangat dalam dan perhiasannya besi, dan minumannya air panas campur nanah, dan pakaiannya potongan-potongan api. Api neraka itu ada tujuh pintu, tiap – tiap pintu ada bagiannya yang tertentu dari orang laki – laki dan perempuan.”

    Nabi SAW bertanya : “Apakah pintu – pintunya bagaikan pintu – pintu rumah kami?” Jawabnya : “Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya di bawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70,000 tahun, tiap pintu lebih panas dari yang lain 70 kali ganda.” (nota kefahaman: yaitu yang lebih bawah lebih panas)

    Tanya Rasulullah SAW : “Siapakah penduduk masing – masing pintu?”

    Jawab Jibril : “Pintu yang terbawah untuk orang – orang munafik, dan orang – orang yang kafir setelah diturunkan hidangan mukjizat Nabi Isa AS. Serta keluarga Fir’aun sedang namanya Al-Hawiyah. Pintu kedua tempat orang – orang musyrikin bernama Jahim, pintu ketiga tempat orang shobi’in bernama Saqar. Pintu ke empat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum majusi bernama Ladha, pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah. Pintu ke enam tempat orang Nasara’ bernama Sa’eir.”

    Kemudian Jibril diam segan pada Rasulullah SAW sehingga ditanya : “Mengapa tidak Kau terangkan penduduk pintu ke tujuh?” Jawabnya: “Di dalamnya orang – orang yang berdosa besar dari ummatmu yang sampai mati belum sempat bertaubat.”

    Maka Nabi SAW jatuh pingsan ketika mendengar keterangan itu, sehingga Jibril meletakkan kepala Nabi SAW dipangkuannya sehingga sadar kembali, dan sesudah sadar Nabi SAW bersabda : “Ya Jibril, sungguh besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari ummatku yang akan masuk ke dalam neraka?”

    Jawabnya: “Ya, yaitu orang yang berdosa besar dari ummatmu.” Kemudian Nabi SAW menangis, Jibril juga menangis, kemudian Nabi SAW masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang kemudian kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang selalu menangis dan minta kepada Allah.

    (dipetik dari kitab “Peringatan Bagi Yang Lalai”)

    Dari Hadith Qudsi: Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat

    Sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahari-Ku. Tahukah kamu bahwa neraka jahanam-Ku itu:

    1. Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat.
    2. Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah.
    3. Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung.
    4. Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah.
    5. Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik.
    6. Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak.
    7. Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pohon zaqqum.
    8. Di bawah setiap pohon zaqqum mempunyai 70,000 ekor ular.
    9. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandungi lautan racun yang hitam pekat.
    10. Juga di bawah setiap pohon zaqqum mempunyai 70,000 rantai.
    11. Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat.

    Mudah – mudahan dapat menimbulkan keinsafan kepada kita semua.

    Wallahua’lam.

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 21 September 2015 Permalink | Balas  

    Luasnya Neraka Jahanam 

    taubatLuasnya Neraka Jahanam

    Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata :

    Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad SAW pada waktu yang ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka ditanya oleh Nabi SAW : “Mengapa aku melihat kau berubah muka?”

    Jawabnya: “Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yg mengetahui bahwa Neraka Jahanam itu benar, dan siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka – suka sebelum ia merasa aman daripadanya.”

    Lalu Nabi SAW bersabda: “Ya Jibril, jelaskan padaku sifat Jahanam.”

    Jawabnya: “Ya. Ketika Allah menjadikan Jahanam, maka dinyalakan selama seribu tahun, sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. ”

    Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan terbuka sebesar lubang jarum niscaya akan dapat membakar penduduk dunia semuanya karena panasnya.

    Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi niscaya akan mati penduduk bumi karena panas dan dahsyatnya.

    Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu pergelangan dari rantai yg disebut dalam Al-Qur’an itu diletakkan di atas bukit, niscaya akan cair sampai ke bawah bumi yg ke tujuh.

    Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan seorang diujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang – orang yang diujung timur karena sangat panasnya.

    Neraka Jahanam itu sangat dalam dan perhiasannya besi, dan minumannya air panas campur nanah, dan pakaiannya potongan-potongan api. Api neraka itu ada tujuh pintu, tiap – tiap pintu ada bahagiannya yang tertentu dari orang laki – laki dan perempuan.”

    Nabi SAW bertanya : “Apakah pintu – pintunya bagaikan pintu – pintu rumah kami?” Jawabnya : “Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya di bawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70,000 tahun, tiap pintu lebih panas dari yang lain 70 kali ganda.” (nota kefahaman: yaitu yang lebih bawah lebih panas)

    Tanya Rasulullah SAW : “Siapakah penduduk masing – masing pintu?”

    Jawab Jibril : “Pintu yang terbawah untuk orang – orang munafik, dan orang – orang yang kafir setelah diturunkan hidangan mukjizat Nabi Isa AS. Serta keluarga Fir’aun sedang namanya Al-Hawiyah. Pintu kedua tempat orang – orang musyrikin bernama Jahim, pintu ketiga tempat orang shobi’in bernama Saqar. Pintu ke empat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum majusi bernama Ladha, pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah. Pintu ke enam tempat orang Nasara’ bernama Sa’eir.”

    Kemudian Jibril diam segan pada Rasulullah SAW sehingga ditanya : “Mengapa tidak Kau terangkan penduduk pintu ke tujuh?” Jawabnya: “Di dalamnya orang – orang yang berdosa besar dari ummatmu yang sampai mati belum sempat bertaubat.”

    Maka Nabi SAW jatuh pingsan ketika mendengar keterangan itu, sehingga Jibril meletakkan kepala Nabi SAW dipangkuannya sehingga sadar kembali, dan sesudah sadar Nabi SAW bersabda : “Ya Jibril, sungguh besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari ummatku yang akan masuk ke dalam neraka?”

    Jawabnya: “Ya, yaitu orang yang berdosa besar dari ummatmu.” Kemudian Nabi SAW menangis, Jibril juga menangis, kemudian Nabi SAW masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang kemudian kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang selalu menangis dan minta kepada Allah.

    (dipetik dari kitab “Peringatan Bagi Yang Lalai”)

    Dari Hadith Qudsi: Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat, Sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahari-Ku. Tahukah kamu bahwa neraka jahanam-Ku itu:

    1. Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat.

    2. Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah.

    3. Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung.

    4. Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah.

    5. Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik.

    6. Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak.

    7. Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pohon zaqqum.

    8. Di bawah setiap pohon zaqqum mempunyai 70,000 ekor ular.

    9. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandungi lautan racun yang hitam pekat.

    10. Juga di bawah setiap pohon zaqqum mempunyai 70,000 rantai.

    11. Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat.

    Mudah – mudahan dapat menimbulkan keinsafan kepada kita semua.

    Wallahua’lam.

     
  • erva kurniawan 11:47 am on 20 September 2015 Permalink | Balas  

    Kalau Binatang Itu Didapati Sudah Mati 

    rusaKalau Binatang Itu Didapati Sudah Mati

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Kadang-kadang terjadi, seorang pemburu melepaskan panahnya mengenai seekor binatang, tetapi binatang tersebut menghilang, beberapa saat, kemudian dijumpainya sudah mati. Hal ini bisa jadi sudah berjalan beberapa hari lamanya.

    Dalam persoalan ini, binatang tersebut bisa menjadi halal dengan beberapa syarat:

    1) Bahwa binatang tersebut tidak jatuh ke dalam air.

    Seperti yang dikatakan oleh Nabi s.a.w.:

    “Kalau kamu melemparkan panahmu, maka jika kamu dapati binatang itu sudah mati, makanlah, kecuali apabila binatang tersebut kamu dapati jatuh ke dalam air, maka kamu tidak tahu: apakah air itu yang menyebabkan binatang tersebut mati ataukah panahmu?” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    2) Tidak terdapat tanda-tanda mati karena bekas panah orang lain yang menjadi sebab matinya binatang tersebut.

    Seperti apa yang pernah ditanyakan Adi bin Hatim kepada Rasulullah s.a.w.:

    “Ya Rasulullah! Saya melempar binatang, kemudian saya dapati pada binatang tersebut ada bekas panahku yang kemarin, apakah boleh dimakan? Maka jawab Nabi, ‘Kalau kamu yakin, bahwa panahmulah yang membunuhnya dan tidak ada bekas (digigit) binatang buas, maka makanlah.'” (Riwayat Tarmizi)

    3) Binatang tersebut belum sampai busuk; sebab menurut tabiat yang wajar akan menganggap kotor dan jijik terhadap binatang yang sudah busuk, lebih-lebih kalau hal itu dimungkinkan akan membawa bahaya.

    Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. pernah berkata kepada Abu Tsa’labah al-Khasyani sebagai berikut:

    “Kalau kamu melemparkan panahmu, kemudian binatang itu menghilang sampai tiga hari dan kamu dapati sudah mati, maka makanlah selama binatang tersebut belum busuk.” (Riwayat Tarmizi)

    ***

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 19 September 2015 Permalink | Balas  

    Penyembelihan Orang Majusi dan Sebagainya 

    pesta makan dagingPenyembelihan Orang Majusi dan Sebagainya

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Para ulama berbeda pendapat tentang penyembelihan orang Majusi. Kebanyakan mereka berpendapat tidak boleh memakannya karena mereka termasuk orang musyrik.

    Sedang yang lain berpendapat halal karena Nabi s.a.w. pernah bersabda:

    “Perlakukanlah mereka itu seperti perlakuan terhadap ahli kitab.” (Riwayat Malik dan Syafi’i)

    Dan Nabi sendiri pernah menerima upeti dari Majusi Hajar. (Riwayat Bukhari).

    Oleh karena itu, Ibnu Hazim berkata di bab penyembelihan dalam kitabnya Muhalla: “Mereka itu adalah ahli kitab, oleh karena itu mereka dihukumi seperti hukum yang berlaku untuk ahli kitab dalam segala hal.” (Lihat juz 7: 456).7

    Dan shabiun (penyembah binatang) oleh Abu Hanifah dianggap sebagai ahli kitab juga.8

    Kaidah: “Apa Yang Ghaib Bagi Kita, Jangan Kita Tanyakan”

    Tidak menjadi kewajiban seorang muslim untuk menanyakan hal-hal yang tidak disaksikan, misalnya: Bagaimana cara penyembelihannya? Terpenuhi syaratnya atau tidak? Disebut asma’ Allah atau tidak? Bahkan apapun yang tidak kita saksikan sendiri tentang penyembelihannya baik dilakukan oleh seorang muslim, walaupun dia bodoh dan fasik, ataupun oleh ahli kitab, semuanya adalah halal buat kita.

    Sebab, seperti apa yang telah kita sebutkan di atas, yaitu ada suatu kaum yang bertanya kepada Nabi: “Bahwa ada satu kaum yang memberinya daging, tetapi kita tidak tahu apakah disebut asma’ Allah atau tidak. Maka jawab Nabi: Sebutlah asma’ Allah atasnya dan makanlah,” (Riwayat Bukhari).

    Berdasar hadis ini para ulama berpendapat, bahwa semua perbuatan dan pengeluaran selalu dihukumi sah dan baik, kecuali ada dalil (bukti) yang menunjukkan rusakan batalnya perbuatan tersebut.

    ***

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 18 September 2015 Permalink | Balas  

    Binatang yang Disembelih Untuk Gereja dan Hari-Hari Besar 

    pesta makan dagingBinatang yang Disembelih Untuk Gereja dan Hari-Hari Besar

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    1. Masalah pertama: Apabila tidak terdengar suara dari ahli kitab itu sebutan nama selain Allah, misalnya: Nama al-Masih dan Uzair ketika menyembelih, maka makanannya tersebut tetap halal buat orang Islam. Tetapi kalau sampai terdengar suara penyebutan nama selain Allah, maka dari kalangan ahli fiqih ada yang mengharamkannya karena termasuk apa yang disebut uhilla lighairillah (yang disembelih bukan karena Allah). Tetapi sementara ada juga yang berpendapat halal.

    Abu Darda’ pernah ditanya tentang kambing yang disembelih untuk suatu gereja yang disebut jurjas, binatang itu mereka hadiahkan buat gereja tersebut, apakah boleh kita makan? Maka jawab Abu Darda’: “Boleh.” Sebab mereka itu adalah ahli kitab yang makanannya sudah jelas halal buat kita, dan sebaliknya makanan kita pun halal buat mereka. Kemudian dia suruh memakannya.(HR.Riwayat Thabarani 1:42 z)

    Imam Malik pernah ditanya tentang sembelihan ahli kitab untuk hari-hari besar dan gereja mereka, maka kata Imam Malik: Aku memakruhkannya dan aku tidak menganggapnya haram.

    Imam Malik memakruhkannya, karena termasuk dalam kategori wara’ (berhati-hati supaya tidak jatuh ke dalam maksiat) karena kawatir kalau-kalau dia itu termasuk ke dalam apa yang disebut binatang yang disembelih bukan karena Allah. Dan ia tidak mengharamkan, karena arti dan maksud apa yang disembelih bukan karena Allah itu menurut pendapatnya, sepanjang yang dinisbatkan kepada ahli kitab, yaitu yang disembelih untuk bertaqarrub kepada Tuhan sedang mereka (ahli kitab) itu sendiri tidak memakannya. Dan apa yang disembelih dan dimakan adalah termasuk makanan mereka, sedang dalam hal ini Allah telah menegaskan: “Bahwa makanan ahli kitab itu halal buat kamu.”

    Sembelihan yang Dilakukan Oleh Ahli Kitab dengan Tenaga Listrik dan Sebagainya

    1. Masalah kedua: Apakah penyembelihan mereka itu dipersyaratkan seperti penyembelihan kita juga, yaitu dengan pisau yang tajam dan dilakukan pada leher binatang?

    Kebanyakan para ulama berpendapat demikian. Tetapi menurut fatwa pengikut-pengikut madzhab Imam Malik, bahwa yang demikian itu tidak termasuk persyaratan.

    Al-Qadhi Ibnu Arabi berkata ketika menafsiri ayat 5 surah al-Maidah itu sebagai berikut: Ini suatu dalil yang tegas, bahwa binatang buruan dan makanan ahli kitab itu adalah termasuk makan yang baik-baik (thayyibaat) yang telah dihalalkan Allah dengan mutlak. Allah mengulang-ulanginya itu hanyalah bermaksud untuk menghilangkan keragu-raguan pertentangan-pertentangan yang timbul dari perasaan-perasaan yang salah, yang memang sering menimbulkan suatu pertentangan dan memperpanjang omongan.

    Saya pernah ditanya tentang seorang Kristen yang membelit leher ayam kemudian dimasaknya, apakah itu boleh dimakan atau diambil sebagian daripadanya sebagai makanan? Maka jawab saya: Boleh dimakan, karena dia itu termasuk makanannya dan makanan pendeta dan pastor, sekalipun ini menurut kita tidak termasuk penyembelihan, namun Allah telah menghalalkan makanan mereka itu secara mutlak. Makanan apapun yang dibenarkan oleh agama mereka berarti halal buat kita, kecuali yang memang oleh Allah telah didustakan.

    Ulama-ulama kita pernah berkata: Mereka telah menyerahkan perempuan-perempuan mereka kepada kita untuk dikawin dan halal kita setubuhi, mengapa penyembelihannya tidak boleh kita makan, sedang makan tidak sama dengan setubuh, halal dan haramnya.

    Demikian pendapat Ibnul-Arabi.

    Kemudian di tempat lain ia berkata lagi: Mereka tidak makan yang bukan karena disembelih, misalnya dengan dicekik dan dipukul kepalanya (dengan tidak bermaksud menyembelih, karena itu binatang tersebut termasuk bangkai yang haram).

    Kedua pendapat beliau ini tidak bertentangan, sebab yang dimaksud ialah: Apa yang mereka anggap sebagai penyembelihan, berarti halal buat kita sekalipun menurut kita sembelihannya itu tidak benar. Dan apa yang mereka anggap itu bukan sembelihan, tidaklah halal buat kita.

    Dengan demikian, menurut mafhum musytarak apa yang disebut penyembelihan, yaitu bermaksud menyabung nyawa binatang dengan niat untuk halalnya memakan binatang tersebut.

    Ini adalah pendapat ulama-ulama Malikiyah.

    Dengan bercermin kepada apa yang telah kami sebutkan di atas, maka kita dapat mengetahui hukumnya daging-daging yang diimport dari negara-negara yang penduduknya majoritas ahli kitab, seperti ayam, corned sapi, yang semua itu kadang-kadang disembelih dengan menggunakan tenaga elektronik dan sebagainya. Selama binatang-binatang tersebut oleh mereka dianggapnya sebagai sembelihan, maka jelas halal buat kita, sesuai dengan umumnya ayat.

    Adapun daging-daging yang diimport dari negara-negara Komunis, tidak boleh kita makan. Sebab mereka itu bukan ahli kitab, bahkan mereka adalah kufur dan anti kepada semua agama dan menentang Allah serta seluruh risalahnya.

    ***